Ceritasilat Novel Online

Bukit Pemakan Manusia 11

Eps 11 Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung

Baca online Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung

Cersil Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung.

Menyusul kemudian, dia mengelupas pula lapisan dalam dari garam tadi dan dimasukkan ke dalam mangkuk lain yang berisi air mendidih.

Air didalam dua mangkuk yang telah diberi campuran tadi, segera dipersembahkan kepada Patoko untuk dicicipi.

Dengan cepat Patoko meneguk air garam tersebut setegukan, kemudian serunyanya dengan gembira.

"Garam, garam.... yang betul garam, coba kalian cicipi !"

Maka kelima orang sesepuh tersebut turut mencicipi seorang setegukan unnu membuktikan memang garam.

Kemudian Dukun itu mempersembahkan mangkuk yang lain kepada Patoko, dengan cepat Tatoko meneguk setegukan, namun dengan cepat ia merasa tertipu dan buru-buru muntahkan keluarkan keluar air tersebut, paras muka nya berubah hebat.

Ke lima orang sesepuh kampung ikut mencicipi air mana, ternyata hasilnya sama saja.

Ternyata air yang mereka cicipi dari mangkuk kedua ini tidak terasa asin, sebaliknya malah terasa getir sekali.

Patoko menjadi naik darah, dia menurunkan perintah untuk membekuk tamu-tamu bangsa Han itu lalu dibakar mati.

Namun Mao Tin-hong mempunyai perhitungan sendiri, dia tahu, dengan kepandaian silat yang dimiliki Sun Tiong-lo sekalian, tak nanti orang-orang Tok-hoa-biau bisa membelenggu mereka secara mudah.

Bahkan diapun tahu, bila tindakannya kurang berhati-hati sehingga Sun Tiong-lo berhasil mengetahui jejaknya, hal ini bisa membuatnya semakin berabe.

Oleh sebab itu usulnya kemudian.

"Kepala suku kau tak boleh berbuat demikian karena ini sangat berbahaya !"

"Bahaya apanya ?"

"Mereka mempunyai ilmu sihir yang sangat hebat, bila dalam malunya menjadi marah, bisa jadi dia akan membunuh kita semua !"

"Lantas bagaimana baiknya ?"

Sambil tertawa Mao Tin hong menempelkan bibirnya disisi telinga kepala suku itu dan membisikkan sesuatu. Sekulum senyuman segera menghiasi raut wajah Patoko, buru-buru pujinya berulang kali.

"Bagus bagus sekali, sebuah cara yang amat bagus, suatu idee yang sangat tepat!"

Maka Mao Tin bong memohon diri lebih dulu, alasannya dia masih harus melaksanakan tugas lain.

Padahal ia tidak pergi jauh, melainkan bersembunyi dibalik tempat kegelapan untuk mengikuti perubahan selanjutnya.

Ternyata rencana yang disusun berlangsung seperti apa yang dia harapkan.

Di bawab pengawasan yang ketat dari Patoko, juga untuk menghindari pertempuran berdarah yang akan berlangsung, karena bila pertarungan benar-benar terjadi, suku Biauw berjumlah begitu banyak, serangan tulup mereka pun berbahaya maka Sun Tiong lo sekalian menerima syarat yang diajukan Patoko untuk melalui selat ular tersebut.

Hanya saja, Sun Tiong lo sekalian para jago tidak habis mengerti apa sebabnya Patoko bisa merubah sikap secara tiba-tiba terhadap diri mereka.

Hou-ji pandai sekali menangkap ular, diapun menguasai sifat ular ular beracun, dalam keadaan yang terdesak untuk menerima syarat dari Patoko, dia bersikeras meminta untuk berangkat melewati selat ular sesudah fajar menyingsing besok.

Patoko menerima usul itu, sedangkan Mao Tin hong yang mengikuti kejadian mana secara diam-diam, tidak menunggu lebih jauh, dia segera berangkat selangkah leoih dahulu menuju ke suku leher panjang untuk mempersiapkan rencana lain yang jauh lebih keji.

Kalau menurut keadaan pada umumnya, dia tidak seharusnya berangkat sebelum menyaksikan penyelesaian dari persoalan tersebut, akan tetapi dia kelewat licik, dia tahu terlepas apakah Sun Tiong lo sekalian dipat menembusi selat ular atau tidak yang pasti mereka telah mengikat tali permusuhan dengan suku Biau yang berdiam di selat ular beracun.

Sebab apabila Sun Tiong lo dapat melewati selat tersebut berarti mereka harus membunuh ular besar yang dianggap kramat oleh suku Biau dari selat ular beracun, padahal ular itu merupakan "Dewa agung"

Bagi orang-orang tersebut bagaimana mungkin dendam kesumat tersebut dapat berakhir dengan begitu saja?

Sebaliknya bila tak mampu untuk menembusinya berarti mereka akan terluka atau tewas, Patoko sendiripun tak akan menyudahi persoalan sampai disitu saja, bila pertarungan berdarah terjadi, saat itu Sun Tiong lo sekalian pasti akan mengalami kesulitan yang semakin besar.

Itulah sebabnya Mao Tin hong tak ingin berada dalam situasi berbahaya semacam itu, dia memutuskan untuk berangkat selangkah lebih duluan.

Bila orang berhati baik, biasanya selalu dilindungi Thian.

Ke esokan harinya, disaat Sun Tiong lo sekalian bersiap sedia memasuki selat ular dibawah pengawasan yang ketat dari segenap anggota suku Biau, tiba-tiba saja datang bintang penolong yang sama sekali di luar dugaan.

Patoko yang menyaksikan saatnya telah tiba, sedang mendesak Sun Tiong lo sekalian untuk melakukan perjalanan memasuki selat tersebut.

Sambil menggigit bibir, Sun Tiong lo segera mempersiapkan pedangnya untuk meneruskan perjalanan Mendadak.

"Toooong! Tooong ! Tooong !"

Bunyi tambur bergema datang secara bertalu-talu. Mendengar suara tambur tersebut, berubah hebat paras muka Patoka, cepat-cepat teriaknya kepada Sun Tiong lo sekalian.

"Tamu bangsa Han, harap tunggu dulu!"

Sun Tiong lo segera berhenti sambil berpaling kepada Patoko katanya.

"Kepala suku ada perintah apa?"

Dengan suara lantang Patoko berteriak.

"Suara tambur terlarang dari suku kami telah dibunyikan, berarti telah terjadi suatu peristiwa besar, harap tamu bangsa Han menunggu sebentar, setelah memperoleh laporan dari anak buah kami, belum terlambat untuk melanjutkan perjalanan!"

Tentu saja Sun Tiong lo menyanggupi permintaan tersebut, bahkan terus memperhatikan keadaan sekeliling sana.

Pada saat itulah, para busu dari suku ular beracun, dengan terbagi menjadi dua barisan bersikap seperti melindungi dan menyambut tamu agung saja, mereka datang mendekati mengiringi seorang lelaki tua dan dua orang lelaki bertubuh kekar.

Siapakah ketiga orang itu?

Mereka tak lain adalnh Lo hoa biau serta Tarsi dan Saila.

Kini, dandanan dari Lo hoa biau berubah sama sekali.

Dia bertelanjang tubuh.

hanya sebuah koteka menutupi bagian alat kelaminnya, sepasang tangan dirangkap didepan dada seperti seorang pendeta, sementara dalam genggaman tersebut terdapat sebilah pisau belati.

Diatas tubuh Lo hoa biau pun penuh coreng moreng gambar gambar aneh yang berwarna warni.

Di antara gambar-gambar tersebut nampak seekor ular aneh yang sedang menjulurkan lidahnya, seekor macan tutul yang garang, wajah siluman aneh bertelinga besar serta seorang gadis cantik yang menarik.

Tarsi serta Saila bertelanjang dada pula, hanya mereka mengenakan celana dalam.

Kedua orang itu mengikuti di belakang Lo-hoa Biau langkah mereka tegap dan gagah.

Paras ketiga orang itu amat serius, sorot matanya tidak memandang kearah mana-mana, selangkah demi selangkah mereka maju terus kedepan.

Begitu banyak anggota suku Biau ular beracun yang kumpul disana, namun suasana begitu hening, sepi, tak kedengaran suara.

Setiap kali Lo hoa biau berjalan melewati hadapan mereka, serentak orang-orang itu menundukkan kepalanya dan menyambut dengan wajah amat serius.

Sementara itu, Patoko telah maju menyambut dengan langkah lebar, sembari mengangkat tinggi-tinggi tongkat ularnya ke atas, seru nya dengan bahasa Biau.

"Pengikut dewa agung, silahkan diutarakan, kalian minta Patoko untuk berbuat apa saja !"

Sementara kejadian tersebut berlangsung Sun Tiong-lo sekalian hanya berdiri dengan mata terbelalak dan mulut melongo, mereka tidak mengetahui apa gerangan yang telah terjadi.

Mo Kiau-jiu pernah berdiam diwilayah Biau, dia cukup mengetahui akan peristiwa semacam ini, segera katanya memberi penjelasan.

"Patoko sedang bertanya kepada ke tiga orang itu, mereka ada perintah apa ?"

"Bukankah ke tiga orang itu adalah pelayan suku Biau yang bekerja di rumah penginapan oangsa Han dalam kota Kim-sah-cay ?"

Tanya Sun Tiong-lo keheranan. Mo Kiau jiu segera manggut-manggut.

"Benar, tapi sekarang mereka tampil sebagai Dewa pengorbanan darah dari suku Biau, atau sama artinya sebagai utusan khusus dari Dewa agung, oleh sebab itu Patoko menyebut mereka sebagai pengikut dewa agung !"

"Apa sih yg dimaksud dengan Dewa pengorbanan darah ?"

Tanya nona Kim tiba-tiba, Mo Kiau-jiu segera menjelaskan.

"Barang siapa mengangkat sumpah semacam ini berarti dia bakal mati, apabila tiada penderitaan atau permusuhan yang amat besar, biasanya mereka tidak akan berbuat demikian"

"Penderitaan apakah yang mereka derita ?"

Tanya Sun Tiong-lo. Mo Kiu-jiu segera menggeleng.

"Sekarang masih belum tahu, agaknya Patoko hendak bertanya, sebentar pun kita akan menjadi jelas."

Betul juga, Lo hoa biau segera menjawab.

"Aku mempunyai dendam sakit hati, atas nama semua dewa agung dari suku Biau kami telah bersumpah, tujuan kami adalah gua Pek hoa tong, entah berhasil atau tidak, sampai waktunya kami bersumpah akan mencincang tubuh kami sendiri untuk dipersembahkan kepada dewa"

Patoko segera mengangkat tongkat ularnya tinggi-tinggi sembari berteriak keras.

"Dewa agung akan melindungi utusan dewa, usaha kali ini pasti akan berhasil dengan sukses!"

Mo Kiao jiu sebagai juru penterjemah segera menyampaikan apa yang didengar kepada para jago. Seusai menuturkan tanya jawab antara Lo-hoa biau dengan Patoko, Mo Kiau jiu berkata lagi.

"Sun sauhiap-aku lihat kejadian ini agak aneh, kita tak perlu menyeberangi selat ular lagi, ternyata Lo hoa biau memilih kita untuk mengiringi perjalanannya sampai di gua Pek hoa tong!"

Benar juga, ditengah sorak sorai segenap anggota suku Biau, Lo boa biau berjalan menghampiri Sun Tiong Lo. kemudian sambil me narik tangan pemuda itu bisiknya dengan bahasa Han.

"Jangan melawan, aku datang untuk menolong kalian, ikuti saja diriku untuk berlalu dari sini."

Sudah barang tentu Sun Tiong lo tidak akan menampik mereka berdua segera berjalan mendekati selat ular.

Dengan amat hikmat Lo hoa biau bersujud didepan selat tersebut, kemudian menggunakan pisau belati yang di bawanya merobek lengan kirinya sehingga darah meleleh didepan selat Kemudian dia menarik tangan Soen Tiong lo dan dibawah cahaya obor berangkatlah menuju kearah jalanan ke suku leher panjang.

Tarsi dan Saila mengikuti dibelakang Lo hoa biau, sedangkan Hou ji sekalian mengikuti dibelakang Tarsi, lambat laun mereka telah jauh meninggalkan wilayah Selat Ular Beracun.

Hingga bayangan tubuh dari orang-orang suku Biau selat ular beracun tak nampak lagi Lo hoa biau baru menghentikan langkahnya, setelah menengok sekejap ke sekeliling tempat itu, ujarnya kepada Sun Tiong lo dengan wajah serius.

"Aku masih ingat tuan she Sun bukan?"

Sun Tiong lo segera mengangguk.

"Ya, benar aku pernah memanggilmu sebagai sobat lama sewaktu berada dirumah penginapan Kim sah cay. masih ingat?"

"Tentu saja masih iigat"

Lo hoa biau tertawa. Sun Tiong lo segera mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya lagi.

"Siapa sih musuh besarmu? Mengapa tak segan-segan mengangkat sumpah seberat ini, bahkan datang menyelamatkan kami?"

Agak tertegun Lo hoa biau sesudah agar perkataan tersebut, dia balik bertanya.

"Han kek (tuan bangsa Han), kaupun mengetahui akan hal ini?"

Sun Tiong lo lalu tertawa.

"Baru saja kudengar dari sahabatku, sesungguhnya apa sih yang telah terjadi?"

Lo hoa biau seperti merasa tak tentram, dia berpaling dan memandang sekejap lagi kesekeliling tempat itu. kemudian baru berkata.

"Sekarang jangan banyak bertanya dulu, mari kita lanjutkan perjalanan meunju kedepan, apakah Han kek sudah melihat batu besar di depan sana? Nah kita berjalan dulu hingga ke belakang batu besar itu, disana baru akan ku terangkan semua persoalannya"

Sun Tiong lo tidak bertanya lagi, dengan langkah lebar dia berjalan dengan menuju ke depan. Sesampainya di belakang batu besar tersebut, Lo hoa biau baru berkata kepada Tarsi.

"Tarsi, bagaimana kalau kau yang menjaga."

"Tak usah kuatir, serahkan saja padaku!"

Loa hoa biau manggut-manggut, kepada Sun Tiong-lo ujarnya kemudian.

"Han kek, kemana pergi kelima kuli kasar dari rumah penginapan kami itu?"

"Setibanya di Tiok hoa tong mereka telah balik sendiri."

Lo hoa biau manggut-manggut, katanya.

"Han kek, tahukah kau baru saja kalian lolos dari ancaman kematian yang mengerikan?"

"Ooooh, apakah sobat tua maksudkan perjalanan kami menembusi selat ular?"

Lo-hoa biau membelalakkan matanya lebar-lebar, kemudian menjawab.

"Tentu saja, dewa ular yang berdiam dalam selat ular tersebut telah berusia beberapa ratus tahun, kekuatannya luar biasa, belum pernah ada manusia atau binatang yang berhasil meloloskan diri dan selat tersebut dalam keadaan selamat!"

Sun Tiong lo enggan untuk banyak berdebat dengan Lo hoa biau, segera serunya.

"Sobat lama, kalau begitu aku harus mengucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu."

Sesudah menghela napas panjang, Lo hoa biau menyambung.

"Aku tahu kalau Han kek belum mengerti mari biar kujelaskan kepadamu, sekarang coba kalian buka buntalan kalian dan ambillah untaian mutiara kaca serta kain berkembang-kembang itu !"

Sebelum Sun Tiong lo menjawab, Kang Tat dan Thio Yok sim telah membuka buntalan tersebut. Kembali Lo hoa biau itu berkata.

"Mana buntalan yang berisi lentera?"

"Disini!"

Ban Cuan membawa buntalan Ientera sambil berjalan mendekat.

"Sekarang, ambillah untaian mutiara kristal dan kain tersebut!"

Kang Tat dan Tbio Yok sim mengeluarkan buntalan berisi kain serta kantong kulit berisi untaian mutiara kristal, begitu dibuka para jago sama-sama menjerit kaget dan berdiri tertegun ditempat, untuk beberapa saat lamanya mereka tak sanggup mengucapkan sepatah kata-pun.

Bungkusan kain yang pernah mereka periksa berisikan kain warna-wami, sekarang telah berubah menjadi potongan-potongan kain putih yang diatasnya dilukisi dengan manusia aneh berleher panjang berwarna hitam yang sangat tak sedap dipandang.

Dengan cepat Sun Tiong lo menyadari apa gerangan yang telah terjadi, ujarnya kemudian.

"Sobat lama, apakah Ceng Bun keng yang sengaja bermain gila dengan kami?"

Dengan wajah pilu dan sedih Lo hoa biau menggelengkan kepalanya berulang-ulang.

"Bukan, majikkanku telah mati terbunuh !"

"Aaaai !"

Sun Tiong lo menjerit kaget sesudah mendengar ucapan tersebut.

"Apa yang terjadi ? Mengapa bisa begini ? Kapan peristiwa tersebut berlangsung ?"

Lo hoa biau menghela napas sedih.

"Aaaai, aku enggan membicarakan peristiwa yang amat tragis itu, lebih baik membicarakan persoalan yang menyangkut Han-kek saja."

Sesudah berhenti sejenak, tiba-tiba serunya.

"Ambil kemari garam-garam bata tersebut."

Waktu itu, Sun Tiong-lo sekalian sudah menyadari kalau seluruh barang hadiah yang mereka persiapkan sudah timbul masalah.

Sangkoan Ki mengambil garam bata tersebut dari buntalan dan segera diangsurkan kedepan.

Lo hoa biau menerima garam bata itu, kemudian ujarnya kepada semua orang.

"Sekarang, garam ini akan kuedarkan kepada kalian, setiap orang boleh menjilat sekali!"

"Mengapa harus begini ? Aku ogah !"

Nona Kim yang jijik segera memprotes. Sun Tiong lo segera menyambut garam bata itu seraya berkata.

"Adik Kim tak usah mencoba, sedang yang lain lebih baik menuruti perkataan dari sobat lama ini untuk mencicipinya, siapa tahu akan mencicipi suatu rasa yang aneh !"

Maka setiap orang menjilat sekali pada garam bata tersebut.

Aah, semua orang mengatakan bahwa itu garam bata asli.

^ooODWOoo^ TIBA-TIBA Lo hoa-biau mengambil pisau belatinya dan memotong garam bata tersebut persis dari tengahnya, garam bata itu segera terpotong menjadi dua bagian.

Kembali Lo hoa biau berkata.

"Sekarang, silahkan setiap orang menjilat garam ini, cuma yang dijilat harus pada bagian yang kupotong barusan."

Semua orang menurut dan menjilat pada bagian yang terpotong, dengan cepat semua orang merasakan kegetiran yang luar biasa.

Saat itulah Lo hoa biau baru membeberkan semua kejadian seperti apa yang dia ketahui.

Akhirnya dia menunjuk ke arah ke dua puluhan batang lentera berlilin putih itu, ujarnya.

"Han-kek sekalian, seandainya kalian mempercayai kalau lentera berlilin putih ini merupakan lentera asli, maka kalian benar-benar akan tertipu mentah-mentah dan mati secara penasaran !"

Nona Kim mengambil sebatang lilin kemudian diperhatikannya beberapa saat, kemudian serunya.

"Sudah jelas kalau lilin ini berkwalitet tinggi !"

"Yaa, seperti juga garam bata tersebut, yang benar adalah barang setengah tulen setengah palsu !"

Kata Lo hoa piau sembari menuding ke arah garam bata itu. Betapapun lihaynya Sangkoan Ki, ternyata diapun tidak berhasil menemukan penyakit dari lilin tersebut, katanya kemudian.

"Aku rasa tiada kemungkinan untuk memalsukan lilin ini !"

Lo hoa-biau segera menggelengkan kepala nya berulang kali, katanya.

"Lilin ini mempunyai ketinggian lima inci dengan besar yang lumayan, pada lapisan satu inci bagian atas, sekeliling lilin ini serta setengah inci bagian bawah memang dilapisi lilin dan kwalitet paling baik, tapi tiga inci setengah yeng berada dibagian tengah, justeru diisi dengan obat peledak yang berkuatan dahsyat!"

Lohoa-biau menerangkan.

"Oh, mengerti aku sekarang."

Seru Sangkoan Ki sok pintar.

"bila lilin ini disulut maka dalam seperminum teh pertama tak akan terjadi perubahan apa apa tapi bila bagian satu inci diatas sudah habis. maka lilin itu akan segera meledak."

Besar benar sok ngerti pemuda itu.

"Salah."

Lo hoa-biau menggelengkan kepalanya.

"tidak sampai sehembusan napas setelah lilin itu disulut, obat peledaknya akan segera meledak."

Lo-boa-biau menjelaskan.

"Bukankah bagian atasnya masih terdapat lilin asli sepanjang satu inci ?"

Bantah Sangkoan Ki sembari berkerut kening.

"Benar, tapi sumbu lilin justeru dihubungkan langsung dengan pusat obat peledak, sehingga begitu bertemu api, sumbu itu akan terbakar langsung kebawah. Apakah tidak meledak lilin itu bila sudah bertemu dengan api?"

Mo Kiau jiu mengerdipkan matanya berulang kali, ucapnya kemudian.

"Ah, tidak benar, bukankah Ceng Bun keng telah mencoba sebatang dihadapan kami ? Kenyataannya tidak meledek ?"

"Benar, karena lilin yang dicobakan dihadapan kalian tidak berisi obat peledak, melainkan sumbu biasa !"

Mendadak Sun Tiong-lo berhenti, mengambil lilin dari tangan nona Kim kemudian berjalan menjauh langkah lebar, setelah meletakkan lilin itu diatas tanah.

ia berjalan balik.

Kemudian digunakan kertas yang dibungkus dengan batu, kemudian di sulut dengan api dan disentilkan ke ujung sumbu lilin tersebut tampaknya ia hendak membuktikan kebenaran cari ucapan mana.

Disaat gerakan bunga api dari kertas tersebut jatuh diatas sumbu lilin itu terpancar sekilas cahaya aneh pada ujung lilin tadi menyusul kemudian terjadilah suatu ledakan dahsyat yang menggetarkan seluruh jagad.

Padahal jarak antara mereka dengan lilin tersebut masih sepuluh kaki lebih, namun hempasan pasir dan batu yang memancar ke empat penjuru toh terasa menyayat badan.

Bayangkan saja, seandainya puluhan lilin di sulut bersama, apa yang bakal terjadi dengan kawanan jago tersebut?

Mungkinkah tubuh mereka turut hancur musnah.

Setelah meledak lewat Sun Tiong lo memeriksa kembali bekas ledakan tersebut, ternyata permukaan tanah itu melesak kedalam tiga depa dengan lebar satu kaki akibat ledakan mana, betapa dahsyatnya tenaga ledakan tersebut bisa dilihat dari sini.

Berubah hebat paras muka Sun Tiong lo setelah menyaksikan kesemuanya itu, seandainya Lo hoa-biau tidak memperingatkan mereka, sudah pasti dia bersama para jago lainnya akan mati tanpa tempat kubur.

Dari sini, para jago pun semakin memahami betapa mengerikan dan kejamnya rencana dari Mao Tin hong tersebut.

Dalam kobaran api dendam yang menyala-nyala, para jago segera menyatakan solidaritas nya terhadap perjuangan Lo hoa biau sekalian bertiga dalam usahanya mencari balas.

Dengan kehadiran Lo hoa biau dalam rombongan, maka mereka pun dapat terlepas dari keadaan orang buta menunggang kuda, menjelang saat beristirahat maka bersama-sama merundingkan suatu siasat bagus untuk menghadapi siasat busuk Mao Tin hong selanjutnya.

"Orang she Mao itu terlalu jahat"

Demikian Lo hoa biau berkata.

"siapa tahu dia sedang bersembunyi dalam kegelapan barusan dan melihat jelas semua persoalan yang terjadi dalam selat ular beracun. akan tetapi dia bukan dewa, dengan mudah kita dapat menyelidiki hal tersebut."

"Tolong tanya bagaimana cara untuk menyelidikinya ?"

Lo hoa biau menuding bukit lm san didepan sana, kemudian ujarnya.

"Tak jauh setelah memasuki mulut bukit itu merupakan wilayah kekuasaan suku biau berleher panjang, bila orang she Mao itu tidak mengetahui kejadian malam tadi, aku percaya dia pasti bermain setan lagi dihadapan kepala suku Biau berleher panjang l"

"Ehmmm..."

Sun Tiong lo manggut-manggut.

"Setelah bermain setan, apa pula yang bisa dilakukan ?"

"Dengan kedudukanku sebagai seorang anggota suku Biau, sembilan puluh persen bisa kuduga kalau dia akan mengatakan garam yang dibawa Han kek sekalian palsu, dengan begitu bila kepala suku Biau berleher panjang membuktikan kepalsuan garam tersebut, sudah pasti mereka akan menyerang kita !"

"Untung kita sudah mengetahui tentang penyakit kain warna-warni tersebut, tentu saja kita tak akan mencari kesulitan buat diri sendiri asalkan kita kupas lapisan luar dari garam tersebut dan dihadiahkan kepada suku Biau berleher panjang, aku rasa hal ini sudah lebih dari cukup !"

Suatu akal bagus tiba-tiba melintas didalam benak Sun Tiong lo, sambil tertawa segera ujarnya.

"Tidak usah, aku mempunyai sebuah cara yang dapat membuat Mao Tin hong mencari mampus buat diri sendiri, bisa membuat kepala suku Biau membencinya hingga merasuk ke tulang sumsum !"

Mendengar ucapan mana, Lo-hoa-biau menggelengkan kepalanya dengan wajah tidak percaya. Nona Kim juga segera bertanya.

"Engkoh Lo, cara bagus apakah yang kau miliki ?"

Sun Tionglo hanya tertawa tanpa menjawab sebaliknya malah berkata kepada Lo hoa biau.

"Aku hanya ingin bertanya kepadamu, apakah rakyat suku Biau gemar dengan kain putih?"

"AsaI ada kain, mereka pasti senang, tapi lukisan manusia aneh dengan tinta hitam ini merupakan pantangan paling besar bagi anggota suku Biau berleher panjang, bila kau tak dapat mengemukakan alasannya dengan tepat-terpaksa bersiap siaplah untuk melangsungkan pertempuran berdarah..."

Sun Tiong-lo segera tertawa.

"Kalau masalahnya hanya tinta hitam itu mah gampang untuk diselesaikan, aku jamin tak bakal terjadi persoalan lagi"

"Oooo... apakah Han kek bersedia menerangkan lebih jelas lagi ?"

Pinta Lo hoa biau. Sun Tiong lo segera menggeleng.

"Sekarang, lebih baik jangan ditanyakan dulu, sampai waktunya apa yang kukatakan kepada kepala suku Biau berleher panjang tolong sobat tua sudi menterjemahkan ke dalam bahasa suku Biau, tanggung tak bakal terjadi persoalan lagi!"

Namun Lo hoa biau masih tidak tenang, kembali serunya.

"Han kek. persoalan ini menyangkut soal mati hidup!"

"Tak usah kuatir, harap kau tak usah kuatir"

Kata Sun Tiong lo dengan suara tegas.

"aku tak akan menggunakan nyawaku sebagai bahan gurauan saja..!"

Lo hoa biau kehabisan daya, terpaksa dia manggut-manggut.

Sementara semua orang beristirahat Sun Tiong lo mengeluarkan dua batang lilin berobat peledak itu kemudian dengan ujung jarinya secara berhati-hati sekali mengorek keluar sumbu peledak itu dan menuang keluar isi obat peledak yang masih tersisa didalamnya Semua orang memperhatikan tingkah lakunya, namun mereka hanya bisa melongo dan tak tahu apa gerangan yang sebenarnya terjadi.

Ketika selesai bekerja, Sun Tiong lo memasukkan kedua batang lilin tersebut kedalam sakunya.

Kemudian dia berpesan kepada Hoa ji agar menyimpan sisa lilin kedalam buntalan dan di gembol diatas punggung.

^ooo^dw^ooo^ MENDEKATI LOHOR, salah seorang panglima perang andalan suku Biau berleher panjang yang bersama "Caa-Ki"

Dengan memimpin enam puluh orang prajurit tempurnya setengah menyambut setengah menggusur membawa Sun Tiong lo sekalian beserta Lo hoa biau dan Tarsi Saila memasuki daerah mereka...

Berhubung Lo hoa biau telah mengangkat sumpah berat, oleh kepala suku dianggap sebagai "sahabat dewa", sambutan yang diberikan arnat hormat dan berlebihan.

Tarsi serta SaiIa jadi turut kecipratan sambutan yang berlebihan tersebut.

Tapi berbeda sekali terhadap Sun Tiong-lo sekalian, mereka dicurigai sebagai musuh.

Terutama sekali sang dukun yang tak pernah berpisah dari sisi kepala sukunya, dengan sorot mata yang buas dia mengamati terus gerak-gerik Sun Tionglo Mula pertama, Lo hoa-biau melakukan upacara persembahan lebih dulu terhadap dewa bertelinga besar dengan menggunakan darah segarnya, seusai upacara, Lo hoa-biau diterima sebagai tamu agung, dan saat itulah kepala suku baru menanyakan maksud kedatangan Sun Tiong lo.

Dengan alasan hendak mencari bahan obat-obatan Sun Tiong lo mengatakan minta izin untuk lewat tempat tersebut, bahkan mengatakan ada hadiah hendak dipersembahkan.

Menyusul kemudian, Sun Tiong lo mengeluarkan tiga puluh batang garam bata serta kain putih tersebut.

Ketika menyaksikan lukisan diatas kain putih tersebut, paras muka kepala suku segera berubah hebat, ditatapnya Sun Tiong-Io dengan penuh kegusaran serentak dia melompat bangun agaknya bersiap sedia hendak menurunkan perintah penyerangan.

Tapi Sun Tiong-Io lewat penterjemahannya Lo-hoa-biau segera memberi penjelasan.

"Aku tahu kalau hal ini merupakan pantangan bagi suku kalian, sesungguhnya semuanya ini hasil perbuatan dari seorang Han kek she Mao, dia sengaja membuat rusak kain putih yang hendak kupersembahkan kepada kepala suku, agar kepala suku marah kepadanya. Tapi kepala suku tak usah kuatir, aku mempunyai cara yang bagus untuk menghilangkan semua noda lukisan diatas kain itu, bahkan hilang lenyap tak membekas, bila kurang percaya, silahkan kepala suku menitahkan seseorang untuk mengambil sebaskom air, asal telah kubuktikan pasti kepala suku akan percaya."

"Hmm, Han kek penipu !"

Dengus kepala suku. Sun Tionglo tertawa, dia mengeluarkan sebatang garam bata, kemudian ujarnya.

"Kepala suku sudah tahu kalau benda itu palsu."

Sengaja katanya.

"Benda apakah itu ?"

"Garam aneh !"

"Kepala suku."

Segera berkerut kening, sambil memandang wajah Lo hoa biau yang baru saja menerjemahkan ucapan itu ke bahasa Biau dia berseru.

"Apa itu garam aneh? Belum pernah kudengar."

Ketika Lo hoa biau menanyakan hal ini kepada Sun Tiong-lo, tentu saja dia mengetahui maksud hati pemuda itu, bahkan sangat mengagumi kelihayan siasatnya.

Maka sambil berlagak rahasia, ujarnya kepada kepala suku.

"Harap kepala suku mengambil dua buah kantung, sekalian persiapkan air sebaskom, sebentar segala sesuatunya akan menjadi jelas."

Kepala suku berpaling ke arah sang dukun dengan itu segera mengangguk sambil mengulap kan tangmnya.

Dua buah kantung kulit dan sebaskom air segera dipersiapkan orang dalam waktu singkat.

Sun Tiong lo meminjam pisau miliki Lo hoa biau, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun dia memotong lapisan garam yang asli menjadi tiga puluh potong dan disimpan kedalam sebuah kantung.

Sedangkan bagian yang terasa getir, sebangsa bahan pemutih itu kedalam baskom berisi air.

Dengan cepat bahan pemutih yang terasa getir itu larut kedalam air dan merata, maka Sun Tiong lo segera turun tangan menceburkan kain-kain yang kotor tadi kedalam air yang telah dicampur dengan bahan pemutih tersebut.

Suatu kejadian yang mungkin dianggap ajaib pun segera berlangsung dihadapan segenap suku Biau berleher panjang yang hadir disana.

Setelah direndam dan dicuci didalam air baskom tersebut, lukisan hitam yang mengotori kain putih tadi menjadi bilang lenyap-sebagai gantinya kain itu putih bersih kembali.

Maka Sun Tiong lo segera memberi tanda kepada Hou ji, mereka bersama sama membentangkan kain putih itu.

Kain putih itu nampaknya bertambah putih, sedang noda hitam tadi lenyap tak berbekas.

Bagi kita, mungkin kejadian tersebut merupakan sesuatu yang wajar karena bekerjanya bahan kimia, lain halnya dimata suku Biau-berleher panjang yang mesih terpencil hidupnya dan belum berkembang pengetahuannya itu, peristiwa mana segera dianggap oleh semua orang sebagai suatu peristiwa yang sangat ajaib.

Maka sedari kepala sukunya sampai ke anak buahnya, mereka bersama sama menjerit kaget.

Terutama sekali sang dukun tersebut, untuk beberapa saat lamanya dia sampai tidak mampu untuk mengucapkan sepatah katapun.

Menggunakan kesempatan inilah, La hoa biau segera berkata kepada kepala suku.

"Harap menitahkan orang untuk mengeluarkan kain itu dan dijemur diatas teriknya matahari !"

Setelah kepala suku menurunkan perintah, Lo hoa biau menuding lagi isi kantung yang lain sembari berkata.

"Apakah kepala suku dan dukun tidak mencoba dulu isi kantung tersebut ? Coba dirasakan besarkah garam atau bukan ?"

Dukun yang licik segera menitahkan beberapa orang rakyatnya untuk mencoba.

Ketika selesai mencoba, orang-orang itu segera bersorak sorai dengan girangnya.

Tak menunggu pertanyaan dari kepala suku Lo-hoa biau segera berkata lagi kepada para rakyat suku Biau tersebut.

"lnilah hadiah yang dibawa para Han-kek ini untuk kepala suku serta semua orang, nama nya garam aneh, pada lapisan luar berisi garam dan bisa dimakan, sedangkan bagian yang dalam bisa digunakan untuk membersihkan semua noda kotor."

"Oleh karena Han-kek kuatir semua orang itu mengerti cara memakai benda bagus ini, lagipula tahu kalau ada orang jahat she Mao yang ingin mengacau secara diam-diam, maka kami sengaja membagi dulu benda benda tersebut agar kalau jangan salah pakai.

"Sejak kini, apalagi kalian ingin menggunakan garam, maka ambillah dari dalam kantung ini, sebaliknya bila ingin mencuci kain yang kotor maka gunakanlah lapisan yang di dalamnya, nah sekarang ambillah benda-benda tersebut."

Lo hoa biau menjelaskan hal ini itu dengan menggunakan bahasa suku Biau, apalagi diapun berada dalam status "Utusan dewa"

Yang sedang melakukan sumpah berat, tentu saja perkataannya dipercayai setiap orang.

Dengan begitu rencana busuk dari Mao Tin hong pun lagi-lagi mengalami kegagalan total.

Pagi tadi, Sun Tiong lo telah melangsungkan perundingan yang cukup mendalam dengan Lo hoa biau, kini Sun Tiong lo memberi tanda kepadanya dan Lo hoa biau segera manggut-manggut tanda mengerti.

Ketika para suku Biau tersebut telah menggotong pergi garam dan bahan pemutih tersebut Lo hoa biau berkata lagi kepada kepala suku.

"Kepala suku, aku dengar orang berkata di tempat Dewa Agung berdiam terdapat sebuah batu besar yang menghalangi jalanan sehingga perjalanan menuju kesitu agak terganggu, benarkah demikian?"

"Benar, batu itu menjengkelkan!"

Kepalanya suku mengangguk.

"Mengapa tidak disingkirkan saja?"

Kepalanya suku memandang sekejap kearah Lo hoa biau, kemudian sahutnya cepat.

"Disingkirkan? Utusan dewa, kau tidak tahu batu itu tingginya dua kaki dengan lebar satu kaki, beratnya bukan kepalang, tenaga lelaki sebanyak dua tiga puluh orang pun belum tentu sanggup untuk menyingkirkannya!"

"Oooh, bagaimana kalau tenaganya diperbanyak?"

Dengan cepat Kepala suku menggeleng.

"Apa gunanya? jalanan itu lebarnya dua kaki, di singkirkan kekiri juga menyumbat jalan, begitu pula kearah kanan, kecuali kalau memiliki tenaga yang dahsyat seperti Dewa agung yang bisa meledakkan batu itu sehingga hancur berkeping-keping!"

Lo hoa biau sengaja berkerut kening, kemudian ujarnya.

"Kepala suku sekembali aku dari gua Pek-hna tong nanti, pertama-tama akan kugunakan lengan kiriku untuk mempersembahkan Dewa agung disini, bila jalanannya kurang lebar, mungkin Dewa agung akan melimpahkan kemarahannya kepada kami."

Kepala suku itu tak takut langit tidak takut bumi, tetapi dia takut sekali dengan batu berbentuk kepala manusia yang tingginya beberapa kaki itu, di atas batu besar ttu terdapat tonjolan batu lain seperti telinga besar, dari sinilah munculnya asal usulnya dewa bertelinga besar itu.

Mendengar ucapan dari Lo hoa biau tersebut, terutama tentang kemungkinan marahnya sang dewa, paras muka kepala suku itu kontan saja berubah hebat Melihat hal mana, Lo hoa biau menjadi gembira setengah mati, segera ujarnya lagi.

"Bukankah dukun kalian memiliki kemampuan yang luar biasa ? Dia pasti punya akal"

Sang dukun menjadi melongo, ucapan tersebut benar-benar membuatnya mati kutu dan ketakutan setengah mati.

Akhirnya dengan mata yang gugup dia celingukan ke sana ke mari, jelas kalau hatinya sedang kalut.

Tampaknya kepala suku menganggap ucapan tersebut masuk diakal kepada sang dukun segera serunya.

"Kau pernah berkata kalau memiliki kepandaian yang biasa seperti Dewa agung, Nah sepantasnya bila kau yang melaksanakan pekerjaan ini.."

Sang dukun hanya berdiri bodoh, untuk beberapa saat lamanya dia tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Dengan cepat Lo-hoa-biau mendekati dukun itu, kemudian bisiknya.

"Sstt, Han kek she Sun itu mempunyai kemampuan dan kekuatan untuk membantumu mari ikut aku, asal dia bersedia membantumu urusan pasti beres, cuma setelah itu kau harus menuruti perkataannya!"

Dukun itu menjadi sangat gembira, bersama Lo hoa biau mereka menghampiri Sun Tiong lo.

Dua orang itu segera berunding dengan suara rendah, akhirnya dukun itu memperoleh janji dan merasa, bukan saja ia tidak rnengganggu Sun Tiong Io sekalian bahkan bahkan sikapnya malah sangat menaruh hormat.

Sesudah mendapat petunjuk dari Lo hoa biau, Dukun itu kembali ke samping kepala sukunya dan berkata.

"Aku akan melakukannya, tengah malam nanti harap kepala suku dan segenap rakyat kita datang menyaksikan kelihayanku!"

Tengah malam itu, semua rakyat suku Biau berleher panjang telah berkumpul.

Dukun itu sambil membawa sebuah tongkat pendek berwarna putih, yang sebenarnya cuma sepasang kayu biasa melompat dan menari di seputar batu raksasa itu bagaikan orang gila, sebentar tertawa sebentar menangis dia bersandiwara terus.

Bahkan sambil memainkan peranannya, tiada hentinya dia memandang kearah Lo hou biau sambil menunggu tanda darinya.

Mereka telah berjanji, bila Lo hoa biau bangkit berdiri maka dia akan menuding kearah batu cadas raksasa tersebut dengan kayu putihnya, sedangkan kejadian selanjutnya bukan urusan nya karena semuanya sudah diaturkan orang lain.

Begitulah dalam mencak-mencak nya macam orang kesurupan, mendadak dia melihat Lo-hoa biau memberi kode rahasia.

Serentak dia berhenti menari, kemudian sambil memicingkan matanya dia berlagak seakan-akan sedang berdoa untuk memohon kekuatan sakti dari para dewa.

Padahal dia sedang menantikan kode rahasia berikutnya dari Lo hoa biau, dia kuatir salah waktu dalam adegannya.

Mendadak Lo hoa biau bangkit berdiri !

inilah kode rahasia yang sedang dinanti-nantikan.

Cepat si Dukun menjerit sekeras-kerasnya, kemudian tongkat ditangan kirinya ditudingkan ke arah batu cadas tersebut.

Menyusul kemudian kayu ditangan kanannya turut ditudingkan ke arah batu cadas yang berada dikejauhan.

Segenap rakyat suku Biau berleher patjang segera membelalakkan matanya lebar-lebar sambil mengawasi semua gerak gerik dukunnya.

Kekuatan sakti .

kekuatan sakti ...

kekuatan sakti yang tiada taranya.

Terdengar dua kali ledakan dahsyat yaag menggetarkan seluruh jagad, bersamaan dengan digetarkannya sepasang tongkat dikiri kanan tangan dukun itu ledakan keras bergema.

Lalu setelah ledakan tersebut lewat, batu cadas raksasa yang selama ini menyumbat jalan pun turut hilang lenyap hingga tak berbekas...

Maka sorak sorai yang gegap gempita pun berkumandang memecahkan keheningan, semua orang makin menganggap dukunnya maha sakti dan melebihi dewa.

Tentu saja sang dukun itu seorang yang mengetahui keadaan yang sesungguhnya, rasa terima kasih dan hormatnya kepada Sun Tiong lo pun semakin berlipat ganda.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***

Jilid 42 ANCAMAN bahaya kini telah hilang, habis gelap terbitlah terang dengan aman sentausa Sun Tiong lo sekalian bersama Lo hoa biau dan Tarsi, Saila melanjutkan perjalanannya meninggalkan suku Biau berleher panjang.

Selewatnya gua suku Biau berleber panjang mereka akan sampai di gua Pek hoa tong.

Diantara ke dua wilayah tersebut terbentang wilayah seluas dua puluh li yang merupakan daerah tak bertuan.

Sun Tioig-lo sekalian bersama Lo hoa biau semua tahu, sejak kini mereka benar-benar telah menginjak jalan mati hidup yang penuh dengan ancaman bahaya yang sebenarnya, mereka harus bertindak dengan sangat berhati-hati.

Maka didaerah tak bertuan itulah mereka beristirahat sambil merundingkan rencana selanjutnya.

^oooOdwOooo^ BANGUNAN berloteng yang megah dan indah, berdiri kokoh dibalik sebuah bukit.

Siapapun tak akan menyangka kalau diwilayah suku Biau yang terpencil terdapat bangunan yang begitu megah dan mewahnya.

Padahal bangunan tersebut hanya sebagian dari sebuah kompleks bangunan besar, tapi oleh karena disinilah terletak pusat dari seluruh bangunan tersebut, maka dari sini pula cerita ini dimulai...

Kentongan pertama baru menjelang, cahaya lentera menerangi bangunan berloteng tersebut.

Sebuah meja berkaki delapan yang terbuat dari kayu cendana dikelilingi oleh beberapa buah kursi yang beralaskan kasur dengan sulaman yang indah.

Duduk di sebelah kiri adalah pemilik kebun Pek hoa wan.

sesungguhnya dia adalah gembong iblis wanita yang hatinya tidak begitu jahat dan cara kerjanya tidak begitu kejam.

Jin Jin, siiblis wanita ini hanya berpandangan dan berjiwa agak sempit saja.

Duduk dikursi sebelah kanan adalah Mao Tin hong, bajingan tengik yang berhati busuk dan buas.

Bi kui, sipelayan wanita duduk di samping Jin Jin sambil membawa poci berisi arak Pek-hoa liok.

Mao Tin hong, menggerakkan tangan kirinya untuk menerima cawan kemala tersebut, setelah menghirup setegukkan, dia meletakkan cawannya kemeja dan menundukkan kepalanya sembari menggeleng, helaan napaspun berkumandang memecahkan keheningan.

"Hei, mengapa kau?"

Jin Jin segera menegur setelah memandang sekejap wajah Mao Tin-hong.

Kin sikap Jin Jin telah berubah, dia pun jauh lebih sopan, luwes dan tahu diri.

Mao Tin hong masih saja menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Aaah... Tidak mengapa, hatiku saja yang terasa kacau."

Ia menyahut lirih.

"Gara-gara Sun Tiong-lo lagi ?"

Kata Jin Jin. Pelan-pelan Mao Tin-hong mendongakkan kepalanya, lalu berkata.

"Yaa, dia bersama musuh tangguh dalam jumlah yang banyak telah berhasil melewati suku Biau berleher panjang semalam."

Jin Jin baru merasakan seriusnya persoalan sesudah mendengar ucapan tersebut, katanya.

"Ya mereka sudah seharusnya sampai disini"

"Aku dapat melewati perintang tanpa mengalami hambatan atau gangguan apapun karena akan membawa lencana kemalamu, tapi tidak demikian dengan mereka, namun dalam kenyataannya mereka dapat melampaui wilayah yang dikuasai suku Biau berleher panjang tanpa menghadapi hambatan atau rintangan apa saja, kejadian sungguh membuat hati orang tidak tenteram."

"Oh, jadi menurut anggapanmu suku Biau berleher panjang tentu akan menghalangi mereka?"

Kembali Mao Tin-hong menggeleng.

"Aku tidak berkata demikian, namun paling tidak sepantasnya bila mereka menjumpai banyak kesulitan lebih dahulu sebelum tiba di sini."

"Ehm. dari sini dapat dibuktikan kalau orang she Sun tersebut benar-benar memiliki kemampuan yang hebat!"

Sekali lagi Mao Tin-hong menghela napas panjang.

"Ya, tentu saja, sepanjang jalan aku telah peroleh banyak kabar berita tentang dirinya dan semua kabar tersebut membuat hati orang merasa terkejut."

Katanya kemudian.

"Mengapa tidak kau kemukakan kepadaku?"

Perintah Jin Jin sembari berkerut kening.

"Setiap kau pulang kemari, tentunya melalui kota Kim-sah Cay bukan? Apakah kau kenal dengan Ceng Bun keng yang mengusahakan rumah penginapan itu? Bagaimana menurut pendapat mu tentang dirinya..."

Jin Jin segera tertawa.

"Dia amat jujur dan hidup sederhana selama banyak tahun, namun aku tak tahu kalau dia adalah anggota dunia persilatan!"

Diam-diam Mao Tin hong terkejut.

"Tepat sekali perkataanmu dia memang seorang jagoan Bu lim yang sangat lihay dimasa lampau !"

Kembali Jin Jin tertawa, ia dapat melepaskan kehidupannya sebagai seorang anggota persilatan dan hidup menyepi ditengah desa yang terpencil, aku memujinya sebagai orang yang cukup pintar."

"Betul!"

Mao Thin hong manggut-manggut, ketika aku pulang kemari kali ini, dalam rumah penginapannyalah aku menginap, dahulu aku pernah bersua satu kali dengannya, maka diapun tidak merahasiakan identitasnya lagi terhadap diriku"

"Lantas mengapa dia hidup mengasingkan diri di kota Kim sah cay yang terpencil ini?"

Mao Tin hong segera menggeleng.

"Dia alasan yang biasanya menbuat orang persilatan hidup mengasingkan diri, pertama karena pikirannya tak bisa terbuka sehingga ingin mengundurkan diri dari keramaian dunia kedua dipaksa atau dipojokkan oleh musuh besar sehingga terpaksa harus hidup mengasingkan diri."

"Oh, tidakkah mungkin ada atasan yang ketiga?"

"Mungkinkah masih ada alasan yang ketiga?", Mao Tin hong balik bertanya sambil berkerut kening.

"Siapa bilang tak ada"

Sambung Bi kui li atau si pelayan cepat "semisalnya saja mendapat perintah dari seseorang untuk hidup mengasingkan diri, padahal secara diam-diam mengawasi seseorang atau menyelidiki sesuatu, toh kejadian semacam ini sesuatu yang wajar"

Terkesiap juga Mao Tin hong setelah mendengar perkataan ini, tapi dia berlagak seakan-akan hal itu menang wajar, sahutnya.

"Yaa, benar! Kemungkinan semacam ini memang ada."

"Tuan!"

Bi kui li segera mendengus.

"bukan kemungkinan semacam ini memang ada, tetapi memang demikianlah keadaan yang sebenarnya."

Mao Tin hong berusaha keras untuk mengendalikan gejolak perasaan kaget dan ngeri didalam hatinya lalu berkata.

"Mengapa kau bisa sedemikian yakin?"

Bi kui li tertawa cekikikan.

"Tuan, kau tak usah berlagak pilon lagi, majikan dan budak sudah semenjak dulu tahu kalau Ceng bun keng adalah orangnya tuan, dulu dia sengaja ditempatkan di kota Kim sah cay, tujuannya tidak lain adalah untuk mengawasi majikan!"

Mao Tin hong memang tidak malu disebut manusia licik yang banyak akal muslihatnya, walaupun rahasianya dibongkar terang-terangan oleh Bi kui li, ternyata paras mukanya sama sekali tidak berubah jadi memerah, malah ujarnya kemudian sambil tertawa.

"Dia bukan orangku, oleh karena aku pernah menyelamatkan selembar jiwanya, dia rela tinggal di wilayah Biau untuk selamanya."

"Aku tak ambil perduli, aku hanya ingin tahu ada persoalan apakah sehingga secara mendadak kau menyinggung tentang dirinya ?"

Mao Tin-hong menghela napas panjang.

"Aaai, dia telah meninggal dunia, tewas di tangan Sun Tiong-Io..."

"Sungguh ?"

Paras muka Jin Jin berubah hebat sesudah mendengar perkataan itu.

"Masa aku bohong ?"

Mao Tin-hong menunjukkan wajah yang tak kalah seriusnya.

"Apa sebabnya orang she Sun membunuh dirinya ?"

Tanya Jin Jin lagi sambil berkerut kening.

"Kalau dibicarakan kembali seharusnya kesalahannya Ceng Bun-keng sendiri, dia tahu kalau kali ini aku sedang kabur kewilayah Biau untuk menghindari musuh tangguhku, rupanya timbul niatnya untuk membalas budi dulu secara diam-diam tanpa sepengetahuanku.

"KebetuIan sekali Sun Tiong lo sekalian tinggal di rumah penginapannya setelah tiba di Kim sah cay, ketika ia disuruh mempersiapkan barang keperluannya, secara diam-diam ia telah bermain setan dengan benda-benda tersebut.

"Garam diganti dengan obat pemutih, kain warna warni berubah warna, aku tahu akan maksudnya agar semua kepala suku menganggap Sun Tiong lo sebagai penipu dan mengusirnya keluar dari wilayah Biau..."

"Bila kejadian ini benar-benar berlangsung bisa disimpulkan kalau sifat Ceng Bun keng terlampau keji dan buas !"

"Bagaimana maksud perkataanmu ini ?"

Mao Tin hong berlagak seakan-akan tidak mengerti.

"Sebagai anggota suku Biau, kami paling benci dengan segala manusia penipu, garam kalau bukan garam, kain warna warni ternyata bukan kain warna-warni, bukan hanya penipu bahkan menghina orang, bayangkan saja bagaimana mungkin orang she Sun itu dapat meninggalkan wilayah Biau dalam keadaan hidup"

"Aaaah, betul! Kenapa aku tidak berpikir sampai seserius itu..."

Jin Jin mengerling sekejap ke arahnya tanpa memberi tanggapan apapun... sebaliknya Bi kui li segera berseru dengan suara dingin.

"Tuan, selanjutnya kau harus ingat dan hapal diluar kepala terhadap pantangan-pantangan tersebut!"

Mao Tin heng segera merasa kalau persoalan tersebut sangat tidak menguntungkan baginya, ia harus mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, maka ujarnya.

"Bagaimana pun juga, selanjutnya aku toh tak akan beribut dengan siapa pun, bila dapat hidup lebih lanjut pun sudah lebih dari cukup"

Tatkala mengucapkan perkataan tersebut, sikapnya menunjukkan keramahan yang besar, bahkan kepalanya pun turut ditundukkan rendah-rendah.

Begitu dia menunduk Bi kui li dan Jin jin segera saling bertukar pandangan dengan cepat.

Maka Bi-kui-li pun berkata lagi.

"Majikan, apakah perlu menambah arak ?"

"Tak usah, pergilah tidur."

Jin Jin menggeleng. Bi kui li mengiakan, dia letakkan teko arak ke meja kemudian mengundurkan diri. Setelah kepergian Bi kui-li, dengan nada bersungguh hati Jin Jin berkata.

"Tin hong, apakah semalam orang she Sun dan rombongannya baru melewati daerah yang dihuni orang-orang suku Biau berleher panjang?"

Mao Tin-hong tak dapat meraba apa maksud Jin Jin mengajukan pertanyaan tersebut, terpaksa sahutnya.

"Mereka telah berhasil melampauinya, jadi semestinya saat-saat ini sudah memasuki daerah Pek-hoa-tong."

"Sebenarnya Cang Bun keng mati ditangan siapa ?"

Kembali wanita itu bertanya. Tergerak hati Mao Tin hong sesudah mendengar ucapan tersebut, secara licik dia berkata pula.

"Aku tidak menyaksikan peristiwa tersebut dengan mata kepala sendiri, aku tak berbicara secara sembarangan tapi yang pasti ada sangkut pautnya dengan orang she Sun tersebut."

"Oh ! Tin-hong, aku ingin bertanya kepadamu, apa rencanamu yang sesungguhnya terhadap orang she Sun tersebut ? Diselesaikan secara baik-baikan atau kau baru puas bila berhasil membunuhnya ? Katakan saja kepada ku secara berterus terang."

"Sewaktu masih berada di telaga Tong-ting ou, bukankah sudah kujelaskan tentang persoalan ini ?"

Mao Tin hong segera menunjukkan sikap tidak mengerti.

"Lain dulu lain sekarang, toh jalan pemikiran manusia seringkali dapat berubah-ubah."

"Jalan pemikiranku tak akan berubah. aku dapat bersua kembali denganmu hal ini sudah merupakan suatu keberuntungkan yang di limpahkan Thian untukku, bila aku dapat menemanimu sepanjang masa, tiada ambisi terhadap duaia persilatan bukankah hal ini jauh lebih berbahaya daripada apa pun jua ?"

Sekilas perubahan aneh menghiasi wajah Jin Jin, ujarnya lagi.

"Tin hong, aku hendak mengajukan satu pertanyaan lagi kepadamu, tapi kau harus menjawab dengan sejujurnya."

"Tentu saja aku akan menjawab dengan jujur."

Jin Jin berpikir sebentar lalu ujamya.

"Tin hong, dengarkan baikbaik, tiada manusia yang tak pernah bersalah di dunia ini, watak manusia memang gemar yang baru, seringkali berubah-ubah, kalau hanya berubahnya saja tak menjadi soal, tapi kalau berubah menjadi tak benar, sepantasnya kalau kita dapat merubah kesalahan tersebut ke jalan yang benar.

"Sekarang, aku berharap kau dapat melupakan semua perkataan yang pernah kita bicara kah selagi berada di telaga Tong ting-ou tempo bari, anggap saja hal tersebut itu seolah-olah tidak pernah terjadi, anggap pula saat inilah kita baru bersua kembali..."

"Mengapa harus demikian?"

Tanya Mao Tin hong keheranan.

"Bila kau bersedia mendengaikan lebih lanjut, maka segala sesuatunya akanlah menjadi terang"

Ujar Jm Jin serius "sikapku terhadapmu maupun cara kerjaku setelah ini, semuanya tergantung kepada jawabanmu yang akan kau utarakan sebentar, dan hal ini amat penting, aku harap kau suka mengingatnya baik-baik?"

"Baik, akan kuingat selalu perkataanmu itu, tak akan kulupakan kembali."

Jin Jin tertawa.

"Kalau begitu, ceritakanlah kepadaku semua perbuatan dan peristiwa yang telah terjadi semenjak kau meninggalkan aku di Telaga Tong ting ou hingga kau tiba kembali kembali kemarin cuma kau jangan mencoba untuk membohongi aku."

"Tin hong, sekali lagi kuulangi, semua perkataan yang pernah kau ucapkan selagi berada di telaga Tong ting ou, kita anggap tidak pernah ada, anggap saja tidak pernah terjadi, kau mengerti bukan?"

Tentu saja Mao Tin hong mengerti, ucapan dari Jin Jin ibarat memberi peringatan kepada dirinya, meski dia sudah meninggalkan telaga Tong Ting ou lebih dahulu, namun semua peristiwa yang kemudian terjadi di ketahui olehnya dengan jelas.

Itulah sebabnya dia baru berkata demikian kepadanya dan menganggap perkataan yang pernah dibicarakan sewaktu berada di telaga Tong Ting Ou tempo hari tak masuk hitungan atau dengan perkataan lain, seandainya dia mempunyai pandangan yang lainpun tak jadi soal asalkan saja dia mengaku terus terang.

Tapi mana mungkin Mao Tin hong berani mengutarakan semua perbuatannya termasuk menanam bahan peledak didalam perahu, usahanya mencelakai Sun Tiong lo sepanjang jalan serta perbuatannya membunuh Ceng Bua-keng untuk menghilangkan saksi?

Selain daripada itu, diapun mempunyai tujuan lain, dia masih ingin untung-untungan, menurut anggapannya hal ini disebabkan Jin Jin terlampau memahami tentang wataknya maka dengan menggunakan tipu muslihat, perempuan itu berusaha untuk mengungkap semua latar belakang perbuatannya.

Oleh karena itu, setelah berpikir sejenak, dia menuturkan kembali semua perkataan yang pernah diutarakan dulu hanya disana sini dilakukan sedikit perubahan.

Jin Jin menundukkan kepala-nya rendah-rendah, ia nampak seperti sangat menderita.

Selang berapa saat kemudian, Jm Jin mendongakkan kepalanya lagi sambil memandang kearah Mao Tin hong.

lalu katanya.

"Tin hong, kali ini pun tidak masuk hitungan. aku berharap kau bersedia memberitahu kan hal hal yang lebih segar saja"

Cukup, bagi Jin Jin yang berulang kali selalu memberi kesempatan kepada Mao Tin hong.

"Untuk mempertahan harga dirinya, Iama keIamaan hal ini bisa Mao Tin hong mengungkapkan hal yang sejujurnya. Siapa tahu Mao Tin hong memang berwatak jelek, ia belum saja mau merubah caranya berbicara. Akhirnya dengan wajah sedingin es, Jin Jin berkata.

"Bagus sekali, kalau begitu aku ingin mengajukan pertanyaan kepadamu..."

"Tanyakan saja, asal kuketahui pasti akan kuungkapkan."

"Manakala kau tak bermaksud membunuh Sun Tiong lo, mengapa setelah aku dan Bi kui serta sekalian anak buahku meninggalkan peralu besar tersebut, kau telah memuat perahu tersebut dengan bahan peledak?"

Mao Tin hong tertegun, tapi dengan cepat katanya.

"Tujuanku untuk meledakkan perahu itu tak-lain agar mereka tak dapat mencariku ke wilayah Biau"

Paras muka Jin Jin berubah semakin tak sedap dipandang, ia tertawa dingin lalu serunya.

"Bagaimana pula penjelasanmu dengan surat yang kau tinggalkan dalam ruang perahu untuk Sun Tiong lo dan racun jahat yang kau poleskan diatas kertas surat tersebut ?"

Mao Tin hong mati kutunya, dia tak sanggup menjawab dan cuma membungkam seriba bahasa. Jin Jin segera berkata lebih jauh.

"Bagaimana pula penjelasanmu tentang meracuni kuda dirumah penginapan serta peristiwa dipeternakan milik Liok Siang ?"

Mao Tin hong mulai duduk tak tenang, kepalanya ditundukkan semakin rendah, tapi rasa benci dan dendamnya pun semakin bertambah-tambah. Setelah mendengus dingin kembali Jin Jin berseru.

"Bagaimana pula dengan penjelasanmu tentang perundingan rahasia yang terjadi dalam ruang rahasia kota Kim sah cay, dimana kau memberi petunjuk kepada Ceng Bun keng untuk melakukan pelbagai tindakan ?"

Waktu itu bukan saja Mao Tin hong tidak menyesal atau malu atas kejadian tersebut dia malah merencanakan suatu idee yang jauh lebih keji dan buas.

Tampaknya Jin Jin belum habis berkata, ia menyambung lebih jauh.

"Membinasakan Ceng Bun-keng didepan wilayah Tiok hoa-tong, mengapa sih hatimu begitu kejam dan tak berperi kemanusiaan ?"

Mendadak Mao Tin hong mendongakkan kepalanya kemudian berseru.

"Siapa yang berkata demikian ?"

Jin Jin menatap lekat-lekat, kemudian berkata.

"Tiga orang budak dari Cang Bun keng tak segan-segan mengangkat sumpah berdarah yang paling berat dengan maksud membalaskan dendam bagi kematian Ceng Bun keng, peristiwa ini sudah tersebar luas di seluruh wilayah Biau !"

Wanita itu menerangkan "Tapi apa sangkut pautnya kejadian tersebut denganku ?"

Mao Tin hong berlagak bodoh. Mendadak Jin Jin melompat bangun, kemudian sambil berjalan menghampiri Mao Tin-hong, serunya.

"Ucapan "anak jadah"

Mu yang kau ucapkan tanpa sengaja serta tindak tandukmu yang aneh telah memaksa Lo hoa biau serta kedua orang budak lainnya menguntil kau dan Ceng Bun keng secara diam-diam.

"Dengan mata kepala sendiri mereka saksikan kau melakukan perbuatan keji itu, oleh sebab kejadian inilah mereka lantas mengangkat sumpah darah yang paling berat bagi suku Biau kami untuk menuntut balas, kemudian setelah membakar jenazah Ceng Bun keng, mereka menyusulmu hingga kemari !"

"Dimana orangnya sekarang ? Suruh mereka keluar, aku bersedia diadu dengan mereka !"

Ucapan mana kontan membuat Jin Jin menjadi tertegun lalu termenung beberapa saat lamanya.

"Jangan-jangan dia memang benar-benar terfitnah ?"

Siapa tahu belum habis ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba Jin-jin merasakan dibawah teteknya terasa sakit sekali, menyutul kemudian sekujur tubuhnya tak bisa berkutik Iagi.

Dengan cepat dia sadar, Mao Tin hong telah turun tangan secara tiba-tiba menotok jalan darahnya.

Kendatipun dia tak mampu berkutik, mulutnya masih dapat berbicara serunya kemudian dengan penuh kebencian.

"Mao Tin hong, kau manusia anjing yang berhati serigala, mengapa tidak kau bayangkan kalau dirimu sedang berada dalam Pek hoa wan ku? Berani benar kau turun tangan sekeji ini."

Mao Tin hong tertawa.

"Tak perlu gelisah. kesemuanya ini merupakan hasil dari perbuatanmu sendiri, kau anggap lohu sudah melupakan kejadian dulu? Huuh Coba kalau kau tak mencelakai aku dulu hingga tiap kali aku tak mampu melebihi orang lain, mana mungkin aku akan mengalami keadaan seperti apa yang kuhadapi sekarang!"

"Mau apa kau sekarang?"

Bentak Jin Jin kemudian Mao Tin hong tidak menjawab, sambil tertawa dia berjalan menuju kesamping meja.

^ooodwooo^ PERTAMA-TAMA dia membuka laci kecil tersebut untuk mengeluarkan kitab pusaka, kemudian sambil diperlihatkan kepada Jin Jin, katanya.

"Perempuan rendah, sekarang locu akan memeriksa kitab ini dengan sebaik-baiknya, kemudian dengan mempergunakan ilmu barisan untuk mengurung mampus orang she Sun beserta begundal-begundalnya, dan akhirnya aku akan menghukum kau bersama Bi kui si budak sialan itu!"

Jin Jin tertawa seram.

"Heehhh... heedweh... hehh...Mao Tin hong, kalau begitu silahkan saja kau nikmati kitab tersebut, sehalaman demi sehalaman periksalah dengan seksama, aku tanggung selesai membaca kitab itu, kau akan merasa puas sekali!"

Sambil mendengus dingin, Mao Tin hong membuka halaman pertama dari kitab tersebut.

Tapi apa yang kemudian terlihat memburu paras mukanya berubah hebat, cepat-cepat dia membalikkan halaman berikutnya, tak lama kemudian dia sudah membanting buku itu ke tanah lalu menghampiri Jin Jin dengan penuh kegusaran.

Ternyata kitab tersebut telah berubah menjadi se

Jilid kitab tanpa kata alias kertas putih biasa. Sambil menuding kearah Jin Jin, Mao Tin hong membentak dengan amat gusarnya.

"Perempuan rendah keturunan anjing, mana kitab pusaka itu?"

Jin Jin segera tertawa terbahak-bahak.

"Haah... haah... haah... bukankah kitab yang berada ditanganmu itu adalah kitab pusaka?"

Mao Tin hong teramat gusar, sambil mendengus dia menampar wajah Jin Jin keras-keras, makinya.

"Perempuan anjing, sekali lagi locu peringatkan padamu, bila kau tak mau mengatakan dimanakah kitab pusaka tersebut kau simpan sehingga membangkitkan kemarahan locu, hmm, locu bersumpah akan membuatmu mati tak bisa, hiduppun tak dapat hingga kau menderita setengah mati."

Jin jin menggertak giginya kencang-kencang kemudian berseru dengan nada dendam.

"Mao Tin hong, anggap saja aku memang buta sehingga membukakan pintu untuk bajingan seperti kau, sekarang kau masih memiliki kepandaian apa lagi? Keluarkan saja semuanya kalau mengharapkan kitab pusaka itu.... Hmm! jangan bermimpi disiang bolong!"

"Baik!"

Dengus Mao Tin-hong.

"locu akan menyuruh kau rasakan kenikmatan terlebih dulu!"

Begitu seusai berkata, dia lantas turun tangan dan secepat silat menotok delapan buah jalan darah penting disekujur badaa Jin jin. Menyusul kemudian katanya sambil tertawa seram.

"lnilah cara yang dinamakan jit cian-coan im meh hoat, siapa saja yang memperoleh pendidikan dengan cara ini akan merasakan penderitaan yang luar biasa, jangankan kau si perempuan tengik, sekalipun lelaki yang berotot kawat tulang besi pun tak bakal tahan.

"Sebentar, bila kau benar-benar sudah merasa tak tahan, mohonlah kepada locu untuk melepaskan dirimu, mengingat kita pernah tidur sepembaringan dan hidup bersama selama banyak tahun, bisa jadi akan kuberi sebuah kesempatan bagimu.

"Cuma kalau kau hanya merengek belaka mah tak ada gunanya, kau harus menyebutkan dahulu dimana kitab pusaka tersebut kau simpan kalau tidak Locu pun tak akan memperdulikan kau. Aku pun akan turun tangan sendiri untuk melakukan pencarian !"

Waktu itu, Jin Jin sudah merasakan sekujur badannya amat sakit bagaikan dicincang dengan pisau, katanya kemudian dengan suara yang gemetar.

"Mao Tin-hong, kan boleh melototkan sepasang matamu, tapi jangan harap aku bersedia memberitahukan hal tersebut kepadamu !"

Rasa sakit, linu, kaku, kejang, dan gatal saling menyusul datangnya menyiksa sekujur tubuhnya, bahkan datangnya beruntun tiada henti hentinya, akan tetapi Jin Jin masih tetap menggertak gigi menahan diri, merintih pun tidak.

Mao Tin-hong yang menyaksikan kejadian tersebut segera merasakan hatinya tergerak.

Pelbagai pikiran segera berkecamuk dalam benaknya, dia berusaha untuk memecahkan kejadian yang sedang dihadapinya sekarang.

Sebab dia cukup mengetahui akan kekejaman dirinya sekarang, jangan lagi Jin Jin hanya seorang perempuan lemah, sekalipun seorang lelaki yang terdiri dari otot kawat tulang besi pun pasti akan meraung-raung kesakitan.

Namun ketika diperiksanya kembali keadaan Jin Jin, dia semakin terkesiap lagi.

Walaupun pada waktu iiu Jin Jin sama sekali tidak merintih ataupun jerit kesakitan, akan tetapi sekujur badannya gemetar keras, keadaannya sungguh mengenaskan tapi selewatnya beberapa waktu, dia seperti dapat mengendalikan kembali rasa sakit akibat siksaan mana, bahkan menunjukkan sikap seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu apapun.

Bukan saja semua penderitaan dan siksaan yang semula menghiasi wajah Jin Jin hilang lenyap tak berbekas, malahan dia memandang ketus kearah Mao Tin hong sambil tertawa.

Senyuman mana semakin menggidikkan perasaan Mao Tin hong,setelah tertawa dingin, Jin jin mulai berkata.

"Percuma saja bila kau ingin menyiksa diriku, dengan cara apapun tidak bakal mempan. Mao Tin hong! Kau hanya bisa membunuhku dikala aku tidak bertenaga untuk memberikan perlawanan, tapi bila kau mengharapkan aku bertekuk lutut dan menerima ancamanmu... huh! Lebih baik tak usah bermimpi di siang hari bolong."

"Baik, membunuh ya membunuh, kau anggap locu tak berani menghabisi nyawa anjingmu?"

Seru Mao Tin hong dengan gemas.

Sambil berkata telapak tangannya segera di ayun kan keatas siap menghantam batok kepala Jin jin.

Perempuan itu sama sekali tak gentar, makin ditatapnya wajah lawan dengan pandangan yang dingin dan angkuh.

Tiba-tiba Mao Tin hong menarik kembali telapak tangannya kemudian berkata.

"Bila aku bunuh dirimu dengan begini saja, hmm, mengenakkan bagi dirimu! Locu akan menahanmu kemudian menyiksamu secara perlahan-lahan, mungkin kau sudah lupa betapa keji dan buasnya kau menyiksa aku dimasa lalu..."

Jin jin tidak mengucapkan sepatah kata pun dia hanya tertawa dingin tiada hentinya.

Selangkah demi selangkah Mao Tin hong maju kedepan menghampiri Jin Jin kemudian menggerayangi tubuhnya dan akhirnya dia menekan di atas nadi Jin Jin sambil mencoba beberapa waktu.

Tak lama kemudian dia tertawa seram sembari berkata.

"Walaupun aku tidak mengetahui dengan dasar apakah kau dapat melawan siksaan dari pemotongan nadiku, namun aku telah mencoba kalau seluruh jalan darah didalam tubuhmu memang benar-benar tertotok.

"Begini pun ada baiknya juga, sekarang musuh tertahan didalam barisanmu itu dan belum mampu menyerbu masuk kemari, mumpung masih ada kesempatan locu harus menikmati kehangatan tubuhmu lebih dahulu, sekarang aku sudah tak mampu untuk menggunakan ilmu Soh-li-tay hoat untuk mencelakai orang lain, sedangkan locu justeru sudah banyak tahun mempelajari ilmu sakti untuk membalas dendam kepadamu, sekarang aku akan membuatmu tersiksa sepanjang masa, hidup tak bisa matipun tak dapat."

Begitu selesai berkata, dia membalikkan badan dan menutupi semua pintu dan jendela baru berada disekitar ruangan, kemudian membopong Jin jin keatas pembaringan gading dan ...

"Breet!"

Merobek pakaian yang dikenakan.

Sekarang Jin jin baru takut, dia benar-benar merasa ketakutan setengah mati.

Sesungguhnya dia dapat melawan siksaan dari ilmu pemotong nadi tadi.

karena sejak lama dia telah melatih ilmu Ban-mo-im-lek, sehingga siksaan dan penderitaan dari otot mau pun tubuh bagian luar dapat diatasi olehnya.

Tapi disaat lelaki perempuan melakukan senggama, dimana hawa panas yang dan hawa dingin Im berpadu, maka disaat itulah bersatunya segenap kekuatan dan hawa tubuh dari ke dua jenis manusia tersebut.

Betapa pun sempurnanya tenaga dalam seseorang, didalam keadaan demikian tak dapat lagi untuk mengendalikan diri.

Sekarang Jin jin tak mampu mengeluarkan ilmu Im kangnya, ini berarti dia tak berdaya untuk melindungi keadaan dirinya, bila Mao Tin hong menggunakan ilmu Hian im kang untuk mencelakainya, niscaya keadaan nya akan sangat mengenaskan.

Dalam keadaan tak berdaya seperti ini, niscaya hawa murni Goan im nya akan muntah keluar, bila Goan im sampai muntah keluar, tenaga dalamnya akan turut punah bukan saja wajahnya akan berubah hebat, tubuhnya pun akan ikut tersiksa sehingga tak karuan bentuknya.

Sayangnya, kendatipun kenyataan dapat berubah menjadi begini namun ia tak berdaya untuk mencegah, Hanya cemas saja pun tak akan bisa membantu banyak, dalam keadaan seperti ini dia segera memperoleh sebuah cara menyerempet bahaya yang sangat bagus.

Setelah tertawa seram katanya kemudian.

"Mao Tin-hong, Bersediakah kau untuk mendengarkan dahulu sepatah dua patah kata ku?"

"Bersedia, apakah kau hendak memberitahukan tempat penyimpanan kitab pusaka itu ?"

Sahut Mao Tin hong sambil tertawa seram. Jin Jin segera mendengus dingin.

"Hmm ! Kalau soal itu mah jangan bermimpi pada siang hari bolong..."

Sekali lagi Mao Tin hong tertawa seram.

"Heeh... heeeh... heeh... kecuali masalah tersebut, lebih baik soal yang lain tidak usah dibicarakan Iagi, sekarang locu hanya ingin merasakan nikmatnya kehangatan tubuhmu, soal lain tak perlu dibicarakan lagi."

Sembari berkata, dia mulai turun tangan melepaskan pakaian sendiri.

Hancur lebur perasaan hati Jin-jin pada saat ini, seandainya Mao Tin hong mulai meraba bagian tubuhnya yang terlarang itu, dia sadar bahwa dirinya tak akan mampu menguasai diri lagi, akibatnya tak akan terlukiskan lagi dengan kata-kata.

Sekarang Jin jin tahu bahwa banyak berbicara itu tidak ada gunanya, dia memutar biji matanya dan sebuah akal bagus melintas dalam benaknya, dia merasa paling baik jangan sampai mati, maka setiap cara harus dicoba lebih dulu.

Maka dengan cepat perempuan itu berseru.

"Jangan dipandang kita berdua telah saling bermusuhan sekarang, tapi dalam melakukan perbuatan ini, paling baik kalau ada kerja sama diantara kedua belah pihak, kalau tidak, kegembiraan yang diperoleh sepihak apalah artinya ?"

"Mari, kau cukup menepuk bebas jalan darah pada pinggangku saja sehingga pinggulku dapat bergerak, kau pun tak usah kuatir aku tak bakal main setan denganmu, tapi justeru dengan demikian maka kegembiraan yang kita peroleh sewaktu "bermain"

Hati akan bertambah kenikmatannya, bagaimana ?"

Merdengar ucapan mana, Mao Tin-hong jadi tertegun dan segera menghentikan pekerjaannya.

Dia mulai merenungkan arti dari perkataan Jin-jin tersebut, sebenarnya apa maksud dan tujuannya ?

Ditatapnya kemudian wajah Jin Jin lekat-lekat, dia merasa Jin Jin dalam keadaan telanjang bulat sangat menawan hati, bukan begitu saja, bahkan wajahnyapun menunjukkan perasaan gembira.

Ini jelas ada yang tak beres, jelas hal ini menunjukkan ada bagian yang tak beres.

Mao Tin-hong yang licik segera merasakan ketidak beresan tersebut, ia merasa pasti ada hal-hal yang tidak benar dengan perempuan itu, terutama dengan ucapannya yang terakhir.

Menurut rencananya semula, ia hendak menghisap lebih dulu tenaga Goan Im milik Jin Jin agar tenaga dalam yang dimiliki perempuan itu sama sekali punah, kemudian dengan berbagai macam siksaan dia akan memaksa perempuan itu untuk mengatakan dimanakah kitab pusakanya disimpan.

Tapi secara tiba-tiba dia mendengar perkataan tersebut, kemudian menyaksikan pula kegembiraan Jin Jin, seolah sangat berharap ia dapat melakukan hal tersebut baginya, sebagai seorang manusia yang pernah tertipu satu kali, sudah barang tentu dia harus bertindak lebih berhati-hati sekarang.

Akhirnya setelah memutar otak sekian waktu dia mengambil sebuah keputusan.

Setelah tertawa seram, katanya.

"Ooh... benarkah kau ingin mencari kenikmatan bersamaku dalam permainan ini ?"

"Sesungguhnya permainan semacam ini harus dikerjakan dua orang bersama-sama dengan demikian kenikmatannya baru luar biasa, memangnya aku salah berbicara?"

Jin jin tertawa. Mao Tin hong mendengus dingin.

"Hmmm, maaf ! walaupun kau mempunyai kegembiraan untuk berbuat demikian, sayangnya locu. Justeru tidak mempunyai keasyikan untuk berbuat demikian kau anggap locu mudah tertipu oleh siasatmu? Hmm jangan harap locu akan memenuhi keinginanmu itu !"

"Coba lihat rupanya kau memang banyak curiga! Kau tahu oleh karena aku sudah terjatuh ketanganmu dan mengerti bahwa cepat atau lambat aku bekal mampus, tidak pantas kah kucari kenikmatan dan kegembiraan menjelang saat ajal ku..."

Mao Tin hong segera meludah ke atas tanah, kemudian menukas.

"Setelah menikmati kegembiraan kemudian merenggut nyawa locu? Hmmmmm ..sekarang tiada kesempatan sebaik ini lagi bagiku, enyah kau kebawah!"

Sembari berseru, dia lantas menghajar tubuh Jin jin sehingga terguling jatuh dari atas pembaringan gading.

Menyusul kemudian dengan penuh amarah dia membuka pmtu kamar dan keluar dari sana.

Baru saja Mao Tin hong melangkah keluar, Jin jin seperti baru bangkit kembali dari kematian, dia menghembuskan napas panjang.

Diam-diam ia bersyukur atas keberuntungan sendiri keberuntungan diri yang dapat memanfaatkan kesempatan baik tersebut dengan sewajarnya, ditambah lagi Mao Tin hong memang dasarnya banyak curiga, sekarang adanya ibarat burung yang pernah dibidik orang, sedikit gerakan saja telah membuatnya panik.

Namun cara ini hanya menggertak orang berapa saat dan tak mungkin bertahan kelewat lama, dia harus segera mencari akal lain.

Sekarang dia hanya berharap Bi kui dapat melihat gelagat yang kurang baik dan menyembunyikan diri, agar Mao Tin hong tak mampu untuk membekuknya.

Seandainya hal ini terjadi, bisa jadi dia masih ada harapan untuk melarikan diri.

Tentu saja Jin Jin pun tahu kalau cara menotok jalan darah dari Mao Tin hong ini tak mungkin bisa dibebaskan totokan jalan darah pada sepasang kakinya.

Asalkan sepasang kakinya dapat digerakan serta merta harapannya untuk melarikan diri pun akan bertambah besar.

Oleh sebab itu, Jin Jin telah melimpahkan segenap pengharapannya kepada Bi Kui.

Dikala dia sedang berpikir dengan perasaan kalut dan gelisah waktu itu Mao Tin hongpun sedang menjelajahi semua tempat tinggal orang-orang yang berada dalam kebun Pek hoa wan untuk menemukan jejak Bi Kui.

Bi Kui merupakan orang kepercayaan dari Wancu, sedangkan dalam Pek hoa wan tersebut telah berlaku suatu peraturan semenjak tempat tersebut didirikan, yakni segenap anak buahnya tak boleh ada seorang lelakipun.

Betul didalam wilayah Pek hoa tong, lelaki suku Biau jauh lebih banyak ketimbang perempuannya, namun tak seorang lelaki suku Biau pun yang berani melangkah masuk kedalam kebun Pek hoa wan,hal mana menyebabkan daerah sekitar lima li dari kebun Pek hoa wan bebas dari kaum lelaki.

Itulah sebabnya Bi Kui bukan hanya orang kepercayaan Jin Jin saja, diapun terhitung congkoan dari kebun Pek hoa wan, dia mempunyai dayang-dayang khusus untuk melayani kebutuhannya.

Jin jin mencintainya, ia berikan suatu daerah dalam Pek hoa wan yang disebut Pek ho kek untuk tempat tinggal Bi Kui, maka begitu meninggalkan Jin jin.

Mao Tin hong langsung menuju ke bangunan Pek ho kek.

Apa yang dilihat selain sejumlah dayang, ia tak berhasil menjumpai bayangan tubuh Bi Kui Pek bo kek tersebut.

Ketika ditanyakan kepada para dayang, ada yang mengatakan Bi Kui sedang memetik bunga di kebun, ada pula yang mengatakan setengah jam berselang Bi Kui pergi ke gua Cing swan tong untuk menyeduhkan air teh bagi majikannya.

Kebun bunga maupun gua Cing swan tong terletak disatu jalanan yang sama, orang harus melalui kebun bunga lebih dulu kemudian baru mendaki ke bukit untuk mencapai gua Cing swan tong, maka Mao Tin hong segera menuju kesana.

Dalam kebun bunga, ia temukan keranjang bunga milik Bi Kui.

Sambil manggut-manggut, dia melanjutkan perjalanannya mendaki ke atas bukit.

Tak salah lagi, Bi Kui tentu meninggalkan-keranjang bunganya di kebun bunga untuk menuju ke gua Cing-swan-totig, betul ia temukan botol perak untuk menyeduh air teh, akan tetapi bayangan tubuh Bi Kui tak dijumpai, Mao Tin hong segera berkerut kening.

Diperiksanya botoI perak itu dengan seksama, ternyata botol itu sudah penuh berisi air dingin, hal ini membuktikan kalau Bi Kui telah kemari, bahkan baru saja masih berada di sana, sebab botol perak itu masih terasa hangat.

Namun tak sesosok bayangan manusia pun yang jumpai disitu, sesungguhnya apa yang telah terjadi ?

"Geledah!"

Dengan cepat Mao Tin-hong mengambil keputusan di hati.

Perlu diketahui gua Cing swan tong terletak diatas bukit Cing swan-san.

Bukit ini menjadi termasbur oleh karena di sltu terdapat sumber mata air yang berhawa dingin.

Bukit Cing swan tong meliputi daerah seluas tiga li, tidak termasuk tinggi ataupun luas, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, Mao Tin hong hanya membutuhkan waktu sepertanak nasi saja untuk menjelajahi bukit tersebut.

Tiada bayangan manusia yang ditemukan kesitu, apalagi bayangan dari Bi Kui.

"Heran, kemana larinya Bi Kui ?"

Tanpa te rasa bajingan ini mulai berpikir.

Cepat dia balik kembali ke sumber mata air dalam gua Cing swan tong, namun botol perak diatas batu, kini sudah lenyap tak berbekas.

Tanpa berpikikir panjang, secepat sambaran petir Mao Tin hong meluncur kembali menuju ke kebun bunga.

Ternyata dugaannva tidak meleset, keranjang bunga dikebun itupun sudah hilang lenyap.

Mao Tin hong tertawa sendiri, dia menduga Bi Kui tentu berlalu karena urusan pribadinya, gara gara ia terlampau terburu-buru napsu dan tidak menunggu lebih lama, alhasil perjalanannya sia-sia belaka.

Maka secepatnya dia balik kembali ke tempat tinggal Jin jin.

Waktu itu jin jin masih terkapar diatas tanah tak berkutik barang sedikitpun jua.

Di tinjau dari hal ini, maka dapat di simpulkan Bi Kui belum sampai disitu, sekarang jika dia bukan berada di Pek ho kek untuk merias bunga, sudah pasti sedang berada di dapur untuk menyeduh air teh.

Mao Tin hong menyusul kedapur lebih dulu, botol perak memang berada diatas meja, sedangkan diatas tungku nampak air sedang dimasak.

Mao Tio hong tertawa, ia berangkat ke Pek bo kek.

Setelah berada di dalam ruangan, ia jumpai budak Li hoa sedang merias bunga kedalam pot.

"Li hoa, mana Bi Kui?"

Mao Tin hong menegur.

"Congkoan sedang berada di kamar kecil."

Jawab Li Hoa dengan sikap yang hormat.

"Berada di kamar kecil"

Berarti sedang "berhajad", Mao Tin hongpun manggut-manggut, tentu saja kurang leluasa baginya untuk menyusul ke tempat semacam itu, ia putuskan untuk menanti hingga Bi Kui selesai dengan buang hajadnya.

Siapa tahu tunggu punya tunggu, yang di tunggu belum nampak juga, akhirnya habis sudah kesabaran Mao Tin hong segera perintahnya kepada Li Hoa.

"Eei, cepat kau suruh dia keluar, ada urusan penting hendak kubicarakan dengannya."

Li Hoa mengiakan dengan hormat, kemudian menuju ke kamar kecil disamping ruangan.

Diketuknya pintu kamar kecil itu beberapa kali, siapa tahu suasana tetap hening meski sudah diketuk berulang-ulang, namun tiada sedikit suara pun yang berkumandang.

Mao Tin hong segera menyadari ketidak beresan disitu.

ia mendorong Li hoa menendang pintu ruangan keras-keras.

"Blaammm !"

Pintu ruangan terbuka, namun tidak nampak bayangan tubuh Bi Kui, sedang jendela belakang terpentang lebar.

Dalam keadaan demikian, Mao Tin hong tidak usah berpikir panjang lagi, cepat dia melejit ke udara dan meluncur balik ke tempat tinggal Jin Jin.

Jin Jin yang sebenarnya tertotok jalan darahnya dan tergeletak tak berkutik di tanah kini sudah tak nampak batang hidungnya lagi.

Mao Tin hong meraung penuh kegusaran, dia mengejar keluar.

Baru melangkah kembali dia tertegun.

Kemana dia harus pergi ?

Ke mana larinya Jin jin dan Bi Kui ?

Pek-hoa wan begitu luas, sekalipun dia pernah menjelajahi seluruh daerah tersebut dulu, tapi selisih banyak tahun, sulit baginya untuk mengenali daerah tersebut satu per satu.

Cukup bagi Jin-Jin dan Bi Kui untuk menyembunyikan diri di suatu tempat, namun baginya sudah merupakan pekerjaaan setengah mati untuk menemukan jejak mereka.

Membayangkan sampai disitu, makin meluap hawa amarah yang membara dalam dada Mao Tin hong akhirnya sambil menggertak gigi dia memutuskan untuk melakukan tindakan secara keji.

Sesungguhnya dia memang tak bermaksud menetap di wilayah Biau, justru karena dipojokkan oleh keadaan, sedang hanya Jin Jin seorang yang dapat melindunginya, terpaksa ia merat kemari.

Namun dibicarakan yang benar, sebenarnya dia lebih berhasrat untuk mengincar kitab pusaka orang.

Sekarang musuh tangguh telah semakin mendekat, posisinya makin berbahaya, namun ia cukup tahu akan kelihayan barisan Siu gun toh tin, ditambah pula dengan berbagai tempat jebakan dalam Pek hoa-tong, jangan toh manusia burungpun sukar untuk menembusi tempat tersebut.

Kini dia sudah memuruskan untuk melaksanakan rencana k^j'nya, dia akan melakukan penggeledahan selangkah demi selangkah mulai dari tempat kediaman Jin jin, dia harus menemukan kitab pusaka tersebut serta Jin jin dan Bi Kui.

Walaupun sifatnya hanya untung-untungan, siapa tahu dalam gugupnya untuk melarikan diri, Jin jin tak sempat lagi untuk membawa kabur kitab pusaka yang disembunyikan itu?

Seandainya demikian, cepat atau lambat kitab pusaka itu pasti akan terjatuh ke tangannya.

Kini seluruh tempat tinggal Jin jin telah digeledah dengan teliti.

Diantaranya termasuk pula almari, lantai-lantai, bantal maupun kasur.

Alhasil tidak dijumpai kitab pusaka tersebut.

Setelah mendengus dingin, dia segera menitahkan pelayan untuk membunyikan-genta emas.

Bergetarnya suara genta emas disambut segenap pelayan dari Pek hoa wan dengan penuh tanda tanya, serentak mereka berkumpul semua didepan ruangan Jin Jin.

Terhadap kawanan dayang itu, Mao Tin-hong membentak dengan suara keras.

"Diantara kalian, siapa yang tahu ke mana perginya Wancu serta Bi Kui."

Tiada yang menjawab, semua dayang menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Bagus sekali."

Mao Tin hong tertawa seram.

"tampaknya kalian semua amat setia terhadap majikan, hmm. kesetiaan kalian sangat mengagumkan Iohu, cuma kalian harus tahu, hal mana tak akan bermanfaat untuk kalian sendiri, percaya atau tidak terserah, tapi lohu punya cara untuk menyuruh kalian berbicara sejujurnya !"

Setelah berhenti sejenak, dia membentak lebih lanjut.

"Li-hoa, keluar !"

"Ada apa?"

Li-hoa muncul dari barisan.

"Kemana larinya Jin Jin dan Bi Kui ?"

Bentak Mao Tin-hong sambil menyeringai seram. Li hoa segera menggeleng.

"Budak benar-benar tidak tahu..."

"Heeehh... heehh... heeehh... kau adalah orang kepercayaan Bi Kui, adalah orang kepercayaan Jin jin, aku tak percaya kalau kau tak tahu kemana mereka telah kabur! Baik, bila kau enggan menjiwab, lohu akan memaksamu untuk berbicara!"

Selangkah demi selangkah dia maju mendekat, kemudian menotok jalan darah Li Hoa. Sambil mengempit tubuh Li hoa menuju ke kamar tidur Jin jin. kembali ia berseru kepada kelompok dayang diluar.

"Tak ada manfaatnya bagi kalian untuk membungkam, dengarkan baik-baik, locu akan menggeledah seluruh Pek hoa wan ini, setiap kali menggeledah satu tempat, aku akan bertanya sekali kepada kalian."

"Bila kalian tahu tapi enggan menjawab, tak apa! Sebab hal itu justru akan merugikan kalian sendiri, Lohu akan membakar habis semua tempat yang telah ku geledah, lalu membakar kamu semua dalam keadaan hidup-hidup !"

Ancaman ini sungguh teramat keji, kawanan dayang itu menjadi panik dan ketakutan setengah mati.

Begitu habis berkata, Mao Tin hong mengebaskan tangan kanannya ke depan, sebutir pe luru segera meluncur ke dalam kamar Jin jin dan meledak, api dengan cepat berkobar dan membakar semua benda yang berada disekeliIingnya.

Api yang membakar kelambu cepat merembet ke tempat lain, seluruh kamar segera berubah menjadi lautan api.

Mao Tin-hong memang iblis berhati kejam, walaupun dia menotok jalan darah Li hoa sehingga tak mampu berkutik, namun dia tidak menotok jalan darah bisunya.

Begitu kebakaran berkobar di dalam kamar tersebut, Li Hoa segera menjerit-jerit minta tolong.

Suaranya yang memilukan hati dan menyayat perasaan ini sungguh mengerikan sekali, pucat pias paras muka segenap dayang lainnya yang berkumpul diluar kamar.

Mao Tia-hoi.g berbuat sangat licik, sementara api berkobar diatas pembaringan Li hoa justru diletakkan tak jauh dari pintu belakang, jaraknya dengan kobaran api itu masih ada satu kaki Iebih, jadi untuk beberapa waktu api tak akan sampai merambat ke tubuhnya.

Tapi justru karena hal demikian Li hoa malah menjerit-jerit minta tolong.

"Baik, bila kau bersedia menerangkan kepergian Jin jin dan Bi Kui, lohu pun bersedia menyelamatkan jiwamu !"

Bentak Mao Tin-hong kemudian dengan suara lantang.

"Budak benar-benar tidak tahu,"

Pekik Li hoa memilukan hati. Mao Tin hong mendengus dingin.

"Hahaha, bagus sekali, kalau begitu jangan salahkan aku kalau membiarkan tubuhmu terjilat api dan mati hangus !"

Li Hoa benar-benar pecah nyalinya, dia menangis meraungraung, teriaknya kemudian dengan suara memelas.

"Oooh, cici cici sekalian yang baik, tolonglah aku ! Bila kalian mengetahui jejak majikan segera katakanlah kepadanya, api sudah mendekati pada sisi tubuhku, ooooh... cici sekalian, tolonglah aku... tolong lah aku..."

Mao Tin-bong memperhatikan kawanan dayang tersebnt dengan pandangan dingin, ia saksikan dayang dayang tersebut tertunduk dengan wajah pucat pias, tubuhnya gemetar keras, namun tak seorangpun yang bersuara.

Menyaksikan hal mana, dia memutar biji matanya sambil berpikir sejenak lalu bentaknya kepada Li Hoa.

"Tampaknya nasibmu memang jelek, api segera akan menghanguskan seluruh tubuhmu, coba kau lihat ! Cici-cici mu yang kau anggap saudara sendiri di hari biasa, sekarang pada membungkam diri, tak seorang pun diantara mereka yang bersedia menolongmu..."

Isak tangis dan jeritan pilu Li Hoa semakin menjadi-jadi, seperti orang kalap ia berteriak.

"Oooh... cici sekalian, itu mohon belas kasihan kalian... tolonglah aku... selamatkanlah jiwaku.... ooooooh... cici semua, api semakin mendeketiku, ooh, tolong, toIong."

Tiada seorang pun yang menjawab, kawanan dayang itu masih saja membungkam diri. Mao Tin bong sangat mendongkol dia mendengus lalu serunya.

"Li Hoa, lebih baik pasrah pada nasib ! Mereka tak akan menolongmu tampaknya bagi mereka lebih penting setia kepada Jin jin dari pada menyelamatkan jiwamu, sekarang hanya satu jalan bagimu untuk menyelamatkan diri, cepat katakan dimana Jin jin telah menyembunyikan diri !"

"Budak sudah bilang, budak tidak tahu, budak benar-benar tidak tahu."

Mao Tin hong tertawa makin seram.

"Tak apa, lohu toh tidak memaksamu harus mengaku, mau menjawab atau tidak, terserah"

"Tapi api ini... api ini... aah..."

Li Hoa menjerit semakin pilu.

Rupanya api sudah mulai membakar daerah disekitar kakinya.

Betul kakinya belum terbakar, namun hawa panas yang menyengat badan telah menggarang tubuh Li Hoa sehingga tak sanggup menahan diri lagi, tubuhnya tak mampu berkutik sedang hatinya ketakutan setengah mati, tat terlukiskan bagaimana menderitanya dia sekarang.

Mao Tin-hong segera membentak keras.

"Orang pertama yang menjadi korban adalah Li Hoa, tapi orang kedua, orang ketiga adalah kalian semua kecuali ada diantara kalian yang mau menjawab kemana kaburnya Jin Jin dan Bi Kui, kalau tidak..."

Api telah membakar sepatu dan kaos kaki Li Hoa, dayang itu mulai menjerit kesakitan suaranya yang memilukan hati bagaikan jeritan setan ditengah malam buta, menyayat hati, mendirikan bulu roma orang, membuat ucapan Mao Tin hong segera terputus.

Bukannya beriba hati atas kejadian mana, Mao Tin hong malah mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Api memang tak kenal belas kasihan, dalam waktu singkat sekujur tubuh Li Hoa telah tertelan oleh kobaran api yang semakin membara, jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang lagi untuk terakhir kalinya, setelah itu suasana menjadi hening, sepi...

hanya suara api yang berkobar saja memecahkan keheningan.

Para dayang menundukkan kepalanya rendah-rendah, air mata bercucuran membasahi wajah mereka.

Seorang rekan mereka telah tewas secara mengenaskan tewas dihadapan mereka sendiri.

Mendadak Mao Tin-hong membentak lagi dengan suara menggeledek.

"Sekarang, kalian harus mengikuti lohu menuju ke pagoda Pekbo-kek..."

Di bawah ancaman, kawasan dayang itu tak berani membangkang, mereka segera mengikuti di belakang Mao Tin hong. Setibanya di Pek bo-kek, dengan suara lantang Mao Tin hong berseru kembali.

"Thian hiang, Im kiok, kalian berdua keluar."

"Tuan"

Dengan suara gempar Thian hiang dan Im Kiok memohon.

"budak benar-benar tak tahu dimanakah majikan berada, bila kami tahu. masa kami tidak mengaku? Apa lagi setelah di utarakan pun belum tentu majikan menghukum mati kami, sedang kalau tidak mengaku...."

"Betul..."

Tukas Mao Tin hong.

"begitu juga dengan lohu, bila kalian bersedia menjawab, bukan saja lohu akan membebaskan kalian, bahkan akan kuberi hadiah besar, sebaliknya kalau tetap tak mau menjawab, terpaksa hanya jalan kematian yang tersedia!"

"Tuan, kami benar-benar tidak mengetahui tentang hal ini..."

Rengek Thian hiang ketakutan. Mao Tin hong mendengus dingin.

"Lohu tidak ambil perduli, pokoknya kalian berdua masuk!"

Im Kok memandang Thian hiang, baru saja Thian hiang hendak beranjak, Im Kiok segera menghalanginya. Mao Tin hong menyaksikan kejadian tersebut segera menegur.

"Ada apa? Im Kiok, apakah kau hendak menyampaikan sesuatu?"

"Benar. aku hendak berbicara!"

Lm Kiok mengangguk. Mao Tin hong segera manggut-manggut.

"Ada hubungan dengan tempat persembunyian Jin-Jin?"

Kembali Im Kiok mengangguk.

"Benar, bersediakah kau mendengarkannya?"

"Tentu saja bersedia!"

Mao Tin-hong tertawa.

"Tapi aku punya syarat."

Ucapan mana disambut Mao Tin hong dengan kerutan dahi.

"Apapun syarat yang kau ajukan, lohu pasti akan mengabulkan."

Akhirnya dia berkata.

"Hmm! Hatimu jauh lebih beracun daripada kalajengking, setelah persoalan ini lewat melepaskan kami dalam hidup pun sudah merupakan sesuatu yang luar biasa, kalau dibilang kau hendak melaksanakan syarat mana, haaya setan yang percaya."

"Ooh... jadi maksudmu aku harus berjanji?"

"Apa gunanya berjanji? Aku minta kau segera melaksanakannya,saat ini juga."

Ucap Im Kiok keras. Mao Tin hong segera tertawa dingin.

"Heeeh... heeehh... heeehh... besar amat nyalimu...!"

Tegurnya. Im Kiok sedikitpun tidak merasa takut.

"Paling banter aku mengalami nasib yang sama seperti enci Li hoa, mampus terbakar! Apa yang mesti harus kutakuti !"

Bila orang tidak takut mati, siapapun tak dapat mengapa-apa kan dia, maka Mao Tin hong segera merubah taktiknya.

"Baik, utarakan syaratmu itu!"

"Sewaktu majikan dan congkoan berlalu, dia lewat pesanggrahan Im-sui-siau-ci, kebetulan aku sedang menyapu disitu maka aku mengetahui arah kabur dari majikan dan congkoan..."

"Tak usah banyak bicara, katakan saja kemana mereka telah kabur..."

Tukas Mao Tin hong. Im Kiok tidak menggubris, dia melanjutkan kembali kata-katanya.

"Oleh karena itu, bila kau ingin mengetahui kemana perginya majikan dan congkoan, silahkan saja bertanya kepadaku seorang, namun sebelum melaksanakan syarat yang kuajukan, jangan harap aku akan menjawab pertanyaanmu !"

"Apa syaratmu ?"

"Persoalan iui tiada sangkut pautnya dengan para cici dan adik semua, kau harus membukakan mereka dan memerintahkan mereka pergi lebih dulu !"

Mao Tim hong menganggap kawanan dayang tersebut sudah ibaratnya domba didepan mulut harimau, sekalipun dilepaskan sekarang, toh akhirnya akan berhasil dikumpulkan kembali secara mudah bila dia menginginkan.

Maka Mao Tin hong segera mengangguk.

"Boleh, lohu akan segera menurunkan perintah !"

Setelah berhenti sejenak, ia lantas berseru kepada kawanan dayang itu.

"Disini sudah tak ada urusan kalian lagi, cepat kembali ketempat masing-masing !"

Mendengar seruan tersebut, tanpa terasa para dayang mendongakkan kepalanya dan bersama-sama menatap wajah Im Kiok. Dengan wajah serius Im Kiok segera berseru kepada kawanan dayang tersebut.

"Cici dan adik sekalian, silahkan kembali ke tempat masing-masing, bila kalian belum melupakan pesan dari majikan tua dan subo seharusnya kalian tahu bahwa bencana besar telah melanda Pek-hoa-wan kita hari ini.

"Didalam surat wasiat majikan tua telah di perintahkan jika hari semacam ini telah tiba, maka cici dan adik sekalian diharuskan menuju ke Lak-toan-Sin-koan untuk menembus dosa, sekarang kumohon kepada kalian untuk segera menuju kesana."

Mendengar perkataan tersebut para dayang itu segera menunjukkan perasaan gembira.

Ketika keadaan tersebut terlihat oleh Mao Tin hong, kecurigaannya segera timbul.

Ia berpikir sejenak, kemudian mengulapkan tangannya mencegah kawanan dayang itu mengundurkan diri, teriaknya.

"Tunggu sebentar !"

Kawanan dayang itu segera berhenti, sedang Im Kiok langsung menegur.

"Apa maksudmu berbuat demikian ?"

Mao Tin hong mendengus dingin.

"Hmm ! Dimanakah letak Lak-toan sin koan yang kau maksudkan barusan ?"

Serunya.

"Oooh soal ini ?"

Im Kiong tertawa.

"disetiap ruangan bangunan ini pasti terdapat meja altar yang memelihara patung dewa Lak-toan kua-sin, dan kemudian yang dimaksudkan sebagai Lak-toan adalah enam lukisan garis pendek dalam pat-kwa, bagaimana? kau tidak mengerti tentang hal ini..."

"Ooooh, rupanya begitu..."

Mao Tin hong mengangguk. Belum habis dia berkata, Im Kiok telah menyela kembali.

"Apakah mereka sudah boleh pergi sekarang?"

Sekali lagi Mao Tin hong mengangguk.

Dengan suara lantang Im Kiok segera berseru.

-oo0dw0oo-SIAU-MOAY mohon kepada cici dan adik sekalian agar jangan lupa mewakili siau-moay untuk memasang hio dan bersembahyang setiba di istana Lak toan seng kiong nanti, mohonkan keselamatan bagi siau-moay...

nah, kalian boleh pergi sekarang !"

Serentak para dayang itu membalikkan bada ndan berlalu dari sana, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka telah lenyap dari pandangan mata...

Hingga kawanan dayang tersebut telah pergi jauh, Mao Tin hong baru berkata lagi dengan kening berkerut.

"Aneh, mengapa mereka menuju ke suatu tempat yang sama ?"

Im Kiok mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap ke arah Mao Tin hong, kemudian ia menjawab.

"Apa sih yang aneh ?"

"Bukankah kau bilang, mereka diharuskan kembali ke tempatnya masing-masing."

"Tahukah kau dimana aku berdiam ?"

"Kau tinggal di pesanggrahan In sui-siu-cu bukan ?"

Im Kiok mengangguk.

"BetuI, sekarang mereka menuju ke tempat kediamanku lebih dulu untuk membacakan doa bagiku, ini dilakukan sebagai pernyataan rasa terima kasih mereka kepadaku, apakah berbuat demikianpun tidak boleh...?"

"Boleh, tentu saja boleh."

Jawab Mao Tin hong sambil mengawasi terus kawanan dayang yang telah menjauh itu.

"cuma, apa sebabnya mereka berlalu dengan cepat, seolah-olah tergesa-gesa sekali ?"

"Kalau soal ini mah harus ditanyakan kepadamu sendiri !"

"Tanya kepadaku ?"

Mao Tin hong agak tertegun.

"apa yang ditanyakan kepadaku ?"

"Hmmm.! Kau kejam seperti ular beracun, hatimu jahat seperti racun kala jengking, hatimu hitam, buas seperti binatang liar, kekejaman dan kebengisanmu tiada duanya di dunia ini, tentu saja mereka menganggap lebih aman untuk berlalu secepatnya meninggalkan dirimu."

Ucapan mana kontan mengobarkan hawa amarah Mao Tin hong, agak sewot dia membentak "lm Kiok, lohu peringatkan kepadamu untuk berbicara lebih berhati-hati Iagi!"

Namun Im Kiok sedikitpun tidak gentar, dia malah menantang dengan garang.

"Kalau tidak berhati-hati kenapa? Memangnya kau hendak membunuhku?"

Mao Tin hong semakin gusar.

"Jangan kau anggap lohu tak berani membunuhmu karena aku masih membutuhkan kau? Hm, jika kau lanjutkan ulahmu itu. hati-hati kalau kusiksa dirimu lebih dulu!"

Im Kiok kembali tertawa.

"Sudah hampir, aku toh sudah hampir tak berguna lagi, sampai waktunya kau boleh berbuat sesuka hatimu atas diriku ini!"

"Hmmmm, tak usah banyak ngebacot lagi, ayo jawab, Jin Jin dan Bi Kui bersembunyi di mana ?"

Dengus Mao Tin-hong.

"Kalau aku harus menjelaskan, mungkin kau tak akan jelas. lebih baik aku menghantarmu ke sana saja."

Kata Im Kiok kemudian.

"Bagus, mari kita berangkat sekarang!"

Im Kiok pun menganggukkan kepalanya.

"Betul, kita memang harus berangkat sekarang juga, ikutilah aku..."

Katanya.

"Tunggu dulu !"

Mendadak Mao Tin-hong berseru kembali, agaknya ia teringat akan sesuatu, bila kita harus berjalan demikian, lohu tetap merasa kuatir !"

"Terserah, mau menotok jalan darahku juga boleh,"

Kata Im Kiok pasrah.

"tetapi aku hendak menjelaskan dahulu, di tempat itu terdapat sebuah daerah yang tak mungkin dapat dilalui tanpa tenaga dalam, bila sampai waktunya aku tak mampu lewat, jangan kau salah kan diriku."

Kata Im Kiok menjelaskan. Mao Tin hong segera berkerut kening.

"Kalau begitu lohu harus memperingatkan dirimu lagi "

Dan akhirnya dia berkata.

"bila kau berani main setan, jangan salahkan bila lohu akan menghajar dirimu habis-habisan!"

Im Kiok tidak ambil perduli dia segera berjalan. Mao Tin hong tak mau ketinggalan, dia pun menyusul dibelakangnyii secara ketat. Berapa saat kemudian, tiba-tiba Mio Tin-hong berseru.

"Hei mengapa kita mengambil jalan yang searah dengan tempat yang dituju budak-budak tadi?"

"Tentu saja"

Dengus Im Kiok.

"majikan melalui pesanggrahan Insut siu-cu sebelum melarikan diri, bila kita hendak menyusulnya tentu saja harus melalui pula tempat itu, apalagi para cici dan adik sedang memasang hio untukku disitu, aku seharusnya pula melalui tempat mana...!"

Mao Tin hong segera terbungkam dalam seribu bahasa, tapi entah mengapa dia selalu merasa kalau hal ini ada yang kurang beres.

Sedapat mungkin Mao Tin-hong berusaha untuk mengendalikan perasaan gusarnya, namun dalam hati kecilnya ia telah memutuskan bila persoalan telah selesai, dia akan menyiksa In Kiok habis-habisan sebelum akhirnya di hukum mati.

Hanya saja dia tak dapat menemukan di manakah letak ketidak beresan tersebut, maka disamping meningkatkan kewaspadaannya, dia membungkam dalam seribu bahasa.

Perjalanan yang ditempuh Im Kiok tidak terlalu cepat, dengan tak sabar Mao Tin hong segera berseru.

"Apakah kau tak bisa berjalan lebih cepat lagi ?"

"Tentu saja dapat"

Jengek Im Kiok.

"justru aku kuatir kalau terlalu cepat malah menimbulkan kecurigaanmu, kalau sampai mengira aku ingin kabur bukankah aku bakal mati penasaran?"

"Hmmm, tajam amat selembar bibirmu !"

Mao Tin hong mendengus dingin.

"Kau juga mempunyai hati yang hitam dan busuk !"

Sambung Im Kiok cepat.

Maka diapun tak banyak bertanya lagi, diikutinya Im kiok dengan mulut membungkam.

Kini Im kiok melanjutkan perjalanannya dengan lebih cepat lagi mau tidak mau Mao-Tin hong harus meningkatkan kewaspadaannya untu menghadapi segala kemungkinan.

Akhirnya tibalah mereka tak jauh dari pesanggrahan In sui sian cu...

Pertama-tama Im Kiok melompati jembatan Jit khong tay kiau lebih dulu, kemudian baru masuk ke dalam pesangrahan In sui siau cu.

Mao Tin hong menitahkan kepada Im kiok agar berjalan tak lebih tiga kaki lebih jauh darinya, agar setiap saat dia dapat melancarkan serangannya.

Im Kiok tidak memasuki ruang tengah pesanggrahan ln sui siau cu, melainkan berbelok kesebelah kiri terus menuju kebelakang.

Mao Tin hong juga tidak banyak bertanya, sepanjang jalan dia hanya memperhatikan keadaan disekitar situ dengan seksama.

Di sebelah kiri terdapat sebuah bangunam loteng kecil, di belakang loteng adalah kolam yang besarnya berapa bau.

Saat inilah Im Kiok membalikkan badannya sembari berkata.

"Majikan dan congkoan pernah melewati loteng ini!"

Mao Tin hong mencoba untuk mengawasi sekejap bangunan loteng itu, lalu bertanya.

"Mengapa tak nampak seorang dayang pun?"

"Mungkin mereka telah kembali."

"Tapi sepanjang jalan tidak aku jumpai seorang manusiapun?"

Seru Mao Tin bong semakin keheranan. Dengan cepat Im Kiok menggeleng.

"Waah, soal ini mah aku kurang jelas, untung saja yang kita cari sekarang adalah majikan dan Bi Kui!"

Mao Tin hong berpikir sejenak, lalu katanya.

"Apakah mereka berdua berada diatas loteng?"

Sekali lagi Im Kiok menggeleng.

"Aku tak berani memastikan, mungkin berada disitu, mungkin juga tidak ada."

Mao Tin hong segera berkerut kening, ia makin memperhatikan gerak gerik Im Kiok dengan lebih seksama.

Sementara itu Im Kiok telah membuka pintu loteng namun dia tidak masuk kedalam melainkan berpaling memandang kearah Mao Tin hong.

Mao Tin hong memahami arti dari tindakan tersebut, lm Kiok sedang menantikan perintahnya.

Sejak tadi Mao Tin hong memperhatikan bangunan loteng itu dengan seksama, loteng itu berdiri sendiri dari lingkungan bangunan lainnya.

Berdiri sendiri disitu sama artinya tiada jalan mundur lainnya, diapun tak usah kuatir Im Kiok akan melarikan diri, maka setelah berputar satu lingkaran mengitari bangunan loteng itu, ujarnya kemudian kepada Im Kiok.

"Masuklah lebih dulu untuk melihat-lihat!"

"Jika tidak berada di bangunan loteng ini, sudah pasti majikan berada di Thian gwa thian (langit diluar langit) !"

"Oooh, dimanakah letaknya Thian gwa thian itu ?"

Sambil melangkah masuk ke dalam bangunan loteng itu, Im Kiok menjawab.

"Tak jauh letaknya dari sini, tempat itu merupakan sebuah tempat yang sangat menarik."

Sembari berkata dia lantas berjalan menuju ke dalam loteng.

Tempat ini merupakan bawah loteng bukan diatas loteng, suasana didalamnya amat gelap gulita sehingga sukar untuk melihat jelas keadaan didalam ruangan tersebut.

Waktu itu Mao Tin hong sedang ikut beranjak masuk ke dalam ruangan.

Mendadak...

"Aduuuh..."

Im Kiok menjerit kesakitan. Serta merta Mao Tin hong menyelinap mundur sejauh beberapa kaki dengan cekatan.

"Blaaaammm....!"

Pintu bangunan loteng itu tertutup dari bagian dalam, kemudian tidak kedengaran suara apa apa lagi. Sambil berkerut kening Mao Tin-hong membentak dengan suara dalam dan berat.

"Bi Kui, keluar kau !"

Suasana didalam bangunan loteng itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, tiada orang yang menjawab.

Anehnya In Kiok pun tidak menimbulkan suara iagi, mungkin ia sudah dibekuk Bi Kui.

^oooOdwOooo^ MAO TIN HONG mendengus dingin, kembali dia berseru.

"Jin Jin, walaupun kau ditolong Bi Kui dan berhasil kabur kemari, namun ilmu menotok jalan darah lohu tak akan bisa dibebaskan siapa pun jua, selama hidup kau akan tersiksa terus, mengapa tidak munculkan diri saja untuk bersua dengan lohu ?"

Suasana didalam loteng itu masih tetap hening, seakan-akan sebuah bangunan kosong belaka. Kembali Mao Tin-hong membentak.

"Kau harus tahu, kesabaran lohu ada batasnya, kalian mau menjawab tidak pertanyaanku?"

"Kau sedang berbicara dengan siap? ?"

Saat itulah seseorang menegur dari dalam loteng. Mendengar suara itu Mao Tin hong tertegun serunya kemudian.

"Kau Im Kiok ?"

"Kau anggap nama nonamu juga bisa disebut oleh tua bangka celaka yang tidak mengenal budi macam kau ?"

Dengan cepat Mao Tin-hong menyadari apa gerangan yang telah terjadi, segera bentaknya dengan suara menggeledek.

"Budak anjing, kau berani membohongi aku?"

Ternyata orang yang berada di dalam bangunan itu memang In Kiok, terdengar dia tertawa terkekeh-kekeh.

"Mengapa tidak berani ? Untuk membohongi tua baka celaka macam kau, pada hakekatnya lebih gampang daripada membohongi seekor anjing budukan !"

Kemarahan Mao Tin hong menjadi meledak, dia segera mengayunkan telapak tangannya menghajar pintu loteng tersebut.

Dengan tenaga dalamnya yang telah mencapai puncak kesempurnaan, dimana angin pukulannya menyambar lewat, pintu loteng segera tergetar hancur berantakan, bahkan bangunan loteng itupun turut bergoncang sangat keras, keadaannya sungguh menggidikan hati orang.

Tapi Im Kiok justru tidak gentar, malah sambungnya.

"Kepandaian bagus, bila punya nyali ayolah ikut nonamu masuk ke bangunan ini !"

Sewaktu mengucapkan perkataan itu, gadis tersebut masih tetap bersembunyi dibalik kegelapan, tak nampak bayangan manusianya menampakkan diri.

Selesai mengucapkan perkataan tersebut, tak kedengaran suara apa-apa lagi disitu.

Dengan cepat Mao Tin hong melancarkan sebuah pukulan dahsyat ketengah udara, kemudian tubuhnya ikut menerobos pula ke dalam bangunan itu...

Setelah berada dalam bangunan, sorot matanya mengawasi sekeliling tempat itu dengan seksama, akan tetapi dia tidak menemukan bayangan tubuh dari Im Kiok.

Setelah diamati lagi dengan lebih seksama, dia segera menemukan sesuatu...

Lantai disudut dinding sebelah kiri baru saja merapat, rupanya di tempat itu terdapat sebuah lorong bawah tanah.

Mao Tin hong mendengus dingin, dia maju ke depan dan segera membuka lantai tersebut.

Dibawah lorong sana amat gelap gulita tapi nampaknya terdapat undak-undakan batu.

Sementara Mao Tin-hong masih termenung dan tak tahu bagaimara harus menghadapi kejadian tersebut, dari bawah sana berkumandang suara tanya jawab.

"Bagaimana? Apakah tua bangka itu berada di atas?"

Suara pembicara jelas merupakan si Bi kui. Seorang yang lain ternyata adalah Im Kiok segera menjawab dengan nyaring.

"Ya, dia berada disitu, bahkan bisa jadi dia telah berubah menjadi si ikan bluntak yang mempunyai perut gede, maklum karena mendongkoInya.

"Menurut pendapatmu, mungkinkah dia akan sampai kemari ?"

"Mau apa dia kemari ? menghantar kematiannya ? Hmm !"

"Kau mesti tahu tua bangka tersebut licik tapi pintar, aku rasa dia tak akan berani turun kemarin ayo kita pergi saja."

"Pada majikan, apa di dalam ?"

"Yaa, semuanya berada disini, sebab hanya tempat ini saja yang aman, majikan bilang tua bangka itu memiliki kepandaian silat yang terlampau tinggi sedangkan jalan darah majikan pun belum terbebas dari pengaruh totokan sehingga tak mampu bergerak ! ia menitahkan kepada kita agar bersabar diri dan jangan sembarangan bergerak !"

"Ooooh, tadi si tua bangka itu bilang kalau memang sampai jalan darah majikan tak bakal bisa dibebaskan jadi dia bersungguh-sungguh ?"

Seru Im Kiok kemudian. Bi Kui menghela napas panjang.

"Hai, siapa bilang bukan sungguhan ? Kami sudah hampir mati saking gelisahnya !"

"Coba kau lihat, datas sana terdapat sinar terarg, delapan puluh persen tua bangka itu pasti berhasil menemukan mulut lorong rahasia ini dan lagi sedang menyadap pembicaraan kita, bagaimana kalau kubikin panas hati si tua bangka tersebut agar turun kemari dan menghantar kematiannya."

"Sudahlah"

Sahut Bi Kui setelah termenung sejenak.

"bagaimanapun juga, toh tua bangka tersebut tak akan bisa lolos, cepat atau lambat memberesi dia aku pikir sama saja !"

"Hingga kini aku masih keheranan, bagaimana sih ceritanya majikan sampai mengetahui kalau tua bangka itu sedang mengacau ?"

Kembali Bi Kui menghela napas panjang.

"Aaaai... sesungguhnya majikan tidak menuruti perkataannya dengan pulang ke wilayah Biau terlebih dulu, sebaliknya secara diam-diam kita ikuti gerak-geriknya, sudah barang tentu segala perbuatan dan tingkah lakunya dapat kami saksikan dan kita ikuti semuanya dengan jelas dan terang !"

Im kiok segera mendengus dingin.

"Hmmm ! Lantas mau apa dia memasuki kebun Pek-hoa wan ini...?"

"Soal ini pernah kutanyakan kepada majikan, menurut majikan mereka pernah menjadi suami istri, lagi pula majikan selalu berharap agar dia mau meninggalkan jalan sesat untuk kembali ke jalan yang benar. siapa tahu gara-gara niatnya tersebut, dia harus mengalami kerugian besar ditangan tua bangka tersebut."

Mendengar perkataan mana, Im Kiok menjadi gusar sekali, serunya kemudian.

"Kalau kupikir kembali persoalan ini, semakin kupikir semakin panas hatiku, kasihan kepada enci Li hoa, dia telah dibakar hiduphidup sampai mati, hingga kinipun pekikan kesakitan yang memilukan hati seakan-akan masih mendengung disisi telingaku, aku harus mencaci-maki dan menyumpahi bangsat tua itu."

Berbicara sampai disini, Mao Tin hong segera mendengar suara umpatan dari lm Kiok.

"Orang she Mao, bajingan tua she Mao, kau tua bangka celaka, telur busuk bangkotan, kalau memang lelaki sejati ayo cepat menggelinding turun kebawah. Huuuh, aku lihat kau si anak jadah tak akan bernyali.."

Belum habis umpatannya itu, Bi kui sudah membujuknya.

"Sudahlah, ayo kita cepat pergi, majikan sedang menunggu kedatangan kita, sudah kubilang kebun Pek hoa wan tak punya jalan mundur, jalan keluarpun sudah dihadang oleh Sun sauhiap dan kawan-kawannya, cepat atau lambat dia akan mampus."

"Aku justru sangat berharap dia bisa turun kemari, biar mampus ditangan kita saja."

Sela lm Kiok cepat.

Suara pembicaraan tersebut makin lama semakin menjauh, dan akhirnya sudah tak kedengaran suaranya lagi.

Mao Tin hong berdiri bodoh didalam loteng, pelbagai pikiran berkecamuk di benaknya.

Turun ke bawah ?

Dia kuatir terperangkap oleh siasat busuk orang-orang itu.

Tidak turun ?

Dangan kehadiran Bi kui disana, berarti Jin jin pasti berada pula disana, berarti pula kitab pusaka tersebut berada pula dibawah sana, bila dia berani turun kebawah, niscaya semua benda tersebut akan jatuh ke tangannya.

Lama sekali dia berpikir sebelum akhirnya mengambil satu keputusan, dia harus turun ke bawah !

Yaa, harus turun ke bawah !

Dia yakin dengan kepandaian silat yang dimilikinya, tak mungkin ada orang yang mampu menandingi kemampuannya, bila dia mau berhati-hati, kenapa mesti takut terhadap sekelompok kaum perempuan ?"

Berpikir sarnpai disini, dia lantas atap beranjak menuruni anak tangga tersebut.

"Tunggu sebentar !"

Kembali satu ingatan melintas didalam benaknya dan menghalangi niatnya. Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, Mao Tin hong bergumam seorang diri.

"Jangan, jangan bertindak gegabah, lebih baik kupikirkan lebih dulu tindakan ini masak-masak sebelum melangkah lebih jauh."

Dengan cepat dia mencopot papan di atas lantai tersebut dan menghancurkannya sehingga remuk berkeping-keping, dengan begitu muncullah sebuah lubang gua yang gelap.

Apa isi dibawah lorong rahasia tersebut?

...

Tak terpikirkan oleh pikirannya.

Diambilnya sebuah kursi lalu duduk disisi lorong rahasia tersebut sambil termenung.

Apa maksud yang sebenarnya dari tanya jawab Im Kiok serta Bi Kui tadi?

Aku tidak percaya kalau mereka tidak tahu bahwa pembicaraannya kudengar, tapi mereka mengapa sengaja?

Kalau toh sudah tahu kalau aku turut mendengarkan pembicaraan tersebut, mengapa mereka tiu masih berbicara terus tanpa berusaha untuk merahasiakan?

Hmm!

Kalau begitu, ucapan mereka bukan suatu pembicaraan yang jujur dan sesungguhnya, siapa tahu kalau mereka sedang mengatur siasat untuk menjebaknya nanti?

Yaaa, betul!

Jadi tanya jawab mereka memang sengaja dilakukan agar dia turut mendengarkannya.

Jikalau betul begini, berarti persoalannya tak dapat dianggap main-main, aku harus berpikir lebih mendalam lagi sebelum mengambil tindakkan selanjutnya.

Bila mereka persiapkan jebakan yang berlapis-lapis dibawah sana, jikalau dia nekad turun ke bawah, niscaya dirinya akan celaka, siapa tahu kalau mereka kuatir diriku tak berani turun, maka sengaja menggunakan tipu muslihat untuk menjebakku ?

Sekarang mereka sudah sengaja memperdengarkan tanya jawab ini kepadanya, ini membuktikan kalau dibawah sana mesti ada jebakan namun tak akan mampu membelenggu dirinya, maka itulah mereka memakai siasat licik ini.

Aku mengerti, mereka takut aku benar-benar turun ke bawah maka sengaja mereka katakan begini begitu hmmm...

hmmm...

budak sekalian bila ingin beradu permainan busuk denganku, kalian masih ketinggalan jauh sekali.

Berpikir sampai disitu, mendadak Mao Tin hong melompat bangun dan bertekad untuk mencobanya.

Turun sih pasti turun, cuma dia enggan untuk turun ke bawah dengan begitu saja.

Mula-mula dia mencari dulu sebuah lentera didalam ruang loteng itu dan menyulutnya.

Kemudian dengan menggunakan tenaga dalamnya dia menekan meja kursi dan peralatan lainnya sehingga hancur berkeping-keping dengan hancuran kayu tersebut dibuatnya sebuah api unggun yang diletakkan dibawah Iorong rahasia dengan demikian keadaan dibawah lorong sana menjadi terang benderang.

Rupanya bawah lorong itu merupakan undak-undakan batu yang semuanya terdiri dari dua puluh dua buah undakan.

Dibawah undak-undakan merupakan suatu lorong yang berdinding batu, tiada benda lain yang nampak.

Ia menunggu hingga kobaran api pada kayu-kayu tersebut hingga habis terbakar, kemudian baru melayang turun dengan kecepatan luar biasa.

Siapa tahu, baru saja tubuhnya melayang turun ke dalam lorong rahasia tersebut, segera berkumandanglah suara gemuruh yang memekikkan telinga, menanti dia mendongakkan kepaIanya, ternyata mulut lorong rahasia tersebut sudah tertutup rapat.

Dengan lentera ditangan, terpaksa Mao Tin hong menaiki kembali undak-undakan tersebut dan meraba pintu lorong dengan tangan, dengan cepat hatinya terkesiap.

Ternyata pintu rahasia itu terbuat dari baja yang tebalnya beberapa inci, kuat dan lagi keras.

Sekarang Mao Tin hong mulai gugup dan gelisah, dengan tertutupnya pintu rahasia tersebut berarti jalan mundurnya tersumbat...

"Aah, jangan-jangan kawanan budak tersebut sengaja bertanya jawab, agar dia mencari penyakit buat diri sendiri dengan memasuki lorong rahasia ini ?"

Demikian dia mulai berpikir.

Makin dipikir dia merasa jalan pemikirannya makin benar, sayang nasi sudah menjadi bubur, segala sesuatunya telah terlambat, dalam keadaan demikian terpaksa dia hanya dapat meneruskan perjalanannya menuju kedepan.

Maka dengan berhati-hati sekali dia maju ke depan, langkahnya amat lambat.

Tapi tiba-tiba saja dia mendongakan kepalanya sambil menjerit tertahan.

Rupanya diatas dinding batu disebelah depan sana, tertera beberapa huruf besar yang berwarna merah darah.

"Kau berani datang? Silahkan maju terus kedepan."

Berbicara yang sejujurnya, kalau bisa mundur Mao Tin hong pasti akan memilih mundur saja, tapi sayang jalan baginya sekarang tinggaI satu.

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa ia harus berhati-hati dan sambil menahan debaran hatinya yang makin menjadi, selangkah demi selangkah dia terus maju ke muka.

Kembali dia sampai disebuah tikungan lorong, kemudian setelah berbelok dia maju lagi kedepan.

Ternyata didepan sana tiada jebakan apa-apa, maka dengan perasaan lega dia maju lagi ke-depan.

Baru saja maju beberapa langkah diatas dinding batu kembali muncul beberapa buah huruf besar berwarna merah darah yang berbunyi demikian.

"Mao Tin hong, didepan sana adalah tempat untuk mengubur tulang belulangmu"

Selain gugup dan cemas, Mao Tin hong mulai mendongkol bercampur gusar. Dia maju lagi ke depan, maju terus ke muka, akhirnya dia menangkap cahaya terang. Sambil tertawa Mao Tin hong segera bergumam.

"Oooh, rupanya hanya tipu muslihat saja, hampir saja aku tertipu oleh permainan busuk semacam ini!"

Sambil bergumam dia melanjutkan perjalanannya dengan langkah lebar dan langsung menuju ke tempat yang terang dan terbuka itu.

Pada jarak berapa kaki dari tempat yang terbuka itu, sekali lagi dia berhenti secara tiba-tiba.

"Keningnya berkerut semakin kencang, kemudian dengan gemas dia mendengus dingin. Ternyata diatas dinding batu itu muncul kembali serangkaian huruf besar dari warna merah yang berbunyi.

"Mengingat hubungan suami istri, kau boleh melihat sinar dulu sebelum mampus."

Mao Tin hong segera tertawa seram, gumamnya.

"Heeeh... heehh.. perempuan jalang, kalau toh kau berhasrat membunuhku, masa kau mempunyai kebaikan hati seperti ini? sekarang aku baru mengerti, rupanya kau sengaja memancing aku untuk kemari, baik-apa yang mesti kutakuti?"

Seraya berkata dia segera menerjang keluar dari lorong rahasia tersebut menuju ketempat yang terbuka itu.

Begitu keluar dari lorong rahasia itu, Mao Tin hong segera menyaksikan suatu pemandangan yang sama sekali berbeda.

Dulu Mao Tin-hong pernah berdiam selama dua tahun di dalam kebun Pek hoa-wan dan sekalipun amat singkat namun terhadap suasana kebun maupun daerah di sekitarnya boleh dibilang sudah hapal sekali, bahkan hampir semua tempat pernah dijelajahi olehnya.

Tapi apa yang terlihat didepan mata sekarang, ternyata masih begitu asing dan belum pernah terlihat olehnya selama ini.

Dengan ketajaman matanya dia dapat memeriksa keadaan sejauh berapa li di hadapannya, hal mana bukan sesuatu yang aneh karena bisa dilakukan semua orang, yang cukup mengejutkan adalah pemandangan yang terlihat olehnya sekarang.

Pertama tama yang terlihat olehnya sebuah gardu kecil yang sangat indah, dulu belum pernah tempat ini di jumpai, lebih lebih tidak terlihat lagi dimanakah tempat itu terletak Gardu kecil itu tingginya tiga kaki dengan atap yang berwarna hijau dan bercahaya terang.

Di dalam gardu tiada meja ataupun kursi, tapi ada perabot lainnya.

Sebuah kursi beroda berada ditengah gardu, Jin jin duduk disitu dengan wajah sedingin es.

Di belakang kursi sebelah kiri berdiri Bi-kui, sedang disebelah kanannya berdiri Im-kiok mereka berdiri dengan wajah angker dan penuh kegusaran.

Pada bagian belakang berdiri lah berderet-deret dayang dari Pek hoa wan, semua dayang memancarkan sinar tajam dan mengawasi wajah Mao Tin hong tanpa berkedip, agaknya mereka sangat tidak terima dengan musibah yang menimpa rekan-rekannya.

Jin jin bukan duduk berhadapan dengannya, dia duduk dengan setengah miring kedepan.

Di mukanya terdapat banyak sekali benda-benda yang aneh, benda-benda tersebut kebanyakan tertutup oleh sebuah pilar besar berwarna merah sehingga sukar dilihat dengan jelas.

Namun Mao Tin hong dapat mengenali kalau diantara benda benda tersebut terdapat hiolo dan benda benda untuk sembahyang lainnya, ditambah pula dengan sebilah pedang.

Mao Tin hong berpaling lagi ke sekeliling tempat tersebut ia kembali dibikin keheranan.

Disekeliling gardu terdapat banyak ranting kayu, kebanyakan ranting-ranting itu ditancap dibelakang bata besar atau kecil, dau dibelakang ranting ranting kayu itu tampak banyak sekali rumah rumah mungil.

Dibilang rumah mungil memang tepat, sebab rumah-rumah tersebut kecil seperti rumah-rumahan mainan kanak kanak?

hanya saja mainan ini dibuat lebih bagus.

Ketika diamati lebih jauh, haaahahaha...

Bukan saja ada rumah-rumahan kecil, bahkan ada jembatan kecil, gunung-gunungan, air mancur, selokan...

Mao Tin hong menggelengkan kepalanya berulang kali, seandainya bukan disiang hari bolong, pada hakekatnya dia akan menyangka bila dirinya sedang berada dinegeri liliput.

Pokoknya kecuali gardu yang dipakai Jin-Jin sekalian saat ini, semua benda yang terdapat disitu berada dalam ukuran yang kecil sekali.

Kecuali benda-benda tadi, ternyata di sana tidak nampak benda lainnya.

Mao Tin hong agak tertegun dan dibuat berdiri bodoh untuk beberapa saat lamanya.

Dia termenung dan termenung terus, untuk beberapa saat tidak diketahui apa yang mesti dilakukan.

Pada saat itulah, Im kiok yang berada di dalam gardu itu membentak keras.

"Orang she Mao, Wancu kami ada perintah menyuruhmu untuk merangkak dan menerima kematian !"

Mao Tin-hong gusar sekali, setelah mendengus dia siap maju lebih ke depan, tapi ingatan lain segera melintas membuatnya kembali berhenti.

Sesudah menggeleng, diam-diam dia memutar biji matanya sambil berpikir.

"Tunggu dulu, aku tak boleh bertindak gegabah, seandainya sampai tertipu, bisa mampus aku ?"

Baru berpikir sampai disitu, disisi telinganya kembali bergema suara dari Bi-kui.

"Mao Tin hong, masih ingat dengan perkataan aku Bi-kui sewaktu berada di perahu besar ditengah telaga Tong-ting ou ? sekarang kau berani berniat keji terhadap majikanku, baik, Aku..."

Belum habis dia berbicara, Mao Tin-hong sudah membentak dengan suara dalam.

"Tutup mulutmu budak ingusan, suruh Jin jin berbicara denganku..!"

"Kau jangan keblinger duIu, kau anggap majikan kami itu siapa ? Memangnya kau pantas untuk bercakap-cakap dengan majikan kami ? Terus terang saja kukatakan. saat inilah ajalmu sudah tiba !"

Mao Tin hoag tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh... haaah... haaah... sudah belasan tahun aku hidup berkelana dalam dunia persilatan, pengalaman macam apapun sudah kualami, aku tak percaya kalau perahuku bakal karam dalam selokan macam pecomberan kalian ini. Budak bangsat, kau jangan sombong dulu, masih terlalu awal bagimu untuk ngebacot yang bukan-bukan !"

Dalam keadaan seperti ini, bagaimana mungkin Mao Tin hong masih mempunyai waktu untuk banyak berbicara lagi, apa pula dia memang bukan seorang manusia yang suka banyak berbicara, dia berbuat demikian justru karena ada tujuan tertentu.

Siapa tahu Bi kui jauh lebih lihay daripada Im kiok, segera ujarnya.

"Mao Tin-hong, tipu muslihatmu itu mungkin saja dapat membohongi Wancu kami yang poIos, tapi buat nyonya mudamu ? Huuuh, tak bakat ada gunanya, lebih baik simpan saja akal bulusmu itu !"

"Kini jalan mundurmu sudah buntu, hanya ada dua jalan saja yang dapat kau tempuh, ke satu menerima kematian dan ke dua berada untuk selamanya ditempat ini sebelum pelan-pelan mampus karena kelaparan dan kehausan.

"Dengan berterus terang nyonya mudamu ingin memberitahukan beberapa patah kata kepadamu, tiga kaki disekitar tempatmu berpijak sekarang adalah daerah aman, tapi jangan mencoba melewati wilayah tiga kaki, kalau tidak maka kau akan segera terjerumus ke dalam barisan majikan kami."

Lebib baik kau jangan mengandalkan cara masuk keluar dari barisan yang pernah kau pelajari, sebab sama sekali tak ada gunanya, barisan ini yang hidup dan tergantung dari gerak-gerik manusianya, jika kau berani melewati daerah seluas tiga kaki yakin kau tentu akan mampus.

"Kau ketakutan bukan? Nyonya muda dapat melihatnya, masuk ke barisan pasti mampus lebih baik tinggal saja disana sambil merasakan bagaimana enaknya kelaparan dan kehausan sebelum akhirnya mampus, anggap saja hal ini sebagai pembalasan untuk perbuatan-perbuatan busukmu!"

Mao Tin hong sangat marah, dia membentak keras-keras.

"Budak sialan, bila aku takut dengan barisan busuk kalian itu, tak nanti aku berani turun tangan terhadap anjing perempuan cabul tersebut, cuma sayang aku masih ada urusan penting saat ini."

Belum habis dia berkata.

"Bi Kui sudah menukas dengan setengah mengejek.

"Tak usah mimpi, coba berpalinglah kau lihat apakah disini masih tersedia jalan ketiga yang dapat menghantar kau pergi dengan selamat?"

Mendengar ucapan tersebut Mao Tin hong segera berpaling, seketika itu juga paras muka nya berubah hebat.

MuIut gua yang terbuka dan bersinar cerah tadi ternyata sudah lenyap tak berbekas di saat dia berbincang-bincang dengan Bi Kui barusan.

Di belakang tubuhnya terbentang padang pasir yang lamat-lamat diselimuti kabut tebal, dalam sekilas pandangan saja dapat di duga kalau di balik kesemuanya itu terdapat banyak jebakan dan hawa pembunuhan yang mematikan atau dengan perkataan lain jalan mundurnya benar-benar buntu.

TimbuI niatnya untuk mencoba, maka diambilnya sebutir bata sebesar kepalan dan segera dilontarkan ke arah belakang tubuhnya.

Bersamaan dengan tindakannya tersebut, dia memusatkan semua perhatiannya untuk memperhatikan batu tadi.

Tampak batu yang terjatuh diatas pasir itu tiba tiba tergulung oleh kabut yang tebal sehingga menimbulkan gumpalan asap yang menutupi pandangan mata, dalam waktu singkat kabut telah menyelimuti seluruh jagad membuat batu tadi lenyap tak berbekas.

Menyaksikan kejadian tersebut, Mao Tin hong menjadi tertegun dan melongo untuk beberapa saat.

Bi Kui yang berada dalam gardu tiba tiba mengejek lagi.

"Yaaa, betul, dicoba lagi, ambillah batu dan timpuklah sejauh tiga kaki, coba dilihat apa yang bakal terjadi !"

Mao Tin hong tak perlu mencoba lagi, sekarang dia sudah sadar kalau Bi Kui tidak bohong, daerah seluas tiga kaki disekeliling tempat itu memang tak aman, kecuali itu setiap jengkal tanah disekitar sana benar-benar berbahaya sekali.

Setelah berhenti sejenak, kembali Bi Kui berkata.

"Aku hendak memberitahukan sebuah kabar lagi kepadamu, budak-budak suku Biau dari Ceng Bun keng tak segan-segan melakukan sumpah darah untuk membuat pembalasan denganmu, kini orangnya sudah sampai disini.

"Sebagai mana kau ketahui, Wancu sudah mengetahui perbuatan busuk mu sepaujang jalan, ditambah lagi si Lo hoa biao telah datang ke Biau tiok hiat hu melaporkan semua perbuatan busukmu kepada Wan cu.

"Dan untuk menghadapi keadaan tersebut Wancu telah mengundang Sun sauhiap sekalian masuk kedalam kebun ini. sekalipun kau bersedia untuk tetap tinggal disini sambil menunggu ajal dengan menahan lapar, aku kuatir hal mana tak mungkin dapat kau lakukan..."

Mao Tin hong berkerut kenlng, baru saja dia akan berbicara, satu ingatan lain telah melintas kembali dalam benaknya.

"Goblok aku!"

Demikian ia berpikir.

"mengapa aku mesti bersilat lidah dengan kawanan budak busuk itu ? Mengapa tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari jalan ke luar !"

Berpendapat demikian, maka dia tidak menggubris lagi ejekan dari Bi-kui, kembali dia membungkukkan badannya mengambil tiga biji batu, sebutir dilemparkan ke arah tiga kaki belakang tubuhnya dan satu lagi disambitkan ke arah dua kaki tujuh delapan depa di depan tubuhnya.

Begitu batuan terjatuh ke tanah, sama sekali tidak nampak sesuatu perubahan pun.

Mao Tin hong merasakan hatinya semakin berat dan tercekam dalam kemurungan, ternyata apa yang diucapkan Bi Kui memang tepat sekali.

Menyaksikan kejadian tersebut, tentu saja Bi Kui tidak berdiam diri saja, kembali dia mengejek.

"Nah, bagaimana hasilnya ? Nonamu tidak berbohong bukan ? Hmmm ! Saat pembalasan mu telah tiba."

Rasa benci, dendam dan muak tiba-tiba muncul dari dalam hati Mao Tin-hong, dia ingin sekali mencincang budak tersebut sampai hancur berkeping keping, tapi ingatan lain kembali melintas dalam benaknya, dia lantas berusaha keras untuk menahan gejolak perasaannya dan menarik napas panjang-panjang untuk menenangkan pernapasan.

Menyusul kemudian dia putar otak lagi untuk mencari suatu cara untuk menghadapi keadaan serta berusaha untuk melarikan diri dari situ.

Akhirnya dia sudah memahami, apa yang dikatakan Bi Kui memang tidak bohong, sebentar lagi Sun Tiong lo dan Sangkoan Ki sekalian pasti akan munculkan diri disana.

Berpikir sampai disitu, mendadak ia seperti mendapat satu akal bagus, tiba-tiba saja ia tertawa seram.

Dalam pada itu Jin Jin dan sekalian dayangnya yang berada dalam gardu mulai berbisik-bisik pula merundingkan persoalan tersebut...

Pertama-tama Bi Kui yang berkata lebih dahulu.

"Wancu, menurut pendapatmu, mungkinkah dia hendak melakukan permainan busuk lagi?"

"Aku cukup memahami jalan pikirannya!"

Kata Jin Jin dengan suara dingin. Bi Kui tertegun setelah mendngar ucapan tersebut, cepat dia berseru.

"Apakah dia hendak melarikan diri..."

Dengan cepat Jin Jin menggeleng, tukasnya.

"Tidak, dia hendak mengambil tindakan dengan racun melawan racun..!"

Agaknya Bi Kui belum juga mengerti, dia masih saja berdiri termangu-mangu sambil mengawasi wajah Jin Jin.

Pelan-pelan Jin Jin mengalihkan sorot matanya memandang Mao Tin hong yang berada di kejauhan, kemudian katanya lagi.

"Dia licik dan berakal busuk, dari perkataan "tiga kaki di muka dan di belakang aman"

Kamu tadi ia seperti berhasil menemukan titik kelemahan dan menganggap dirinya itu sudah memperoleh akal untuk menghadapi keadaan."

"Kalau toh daerah di muka dan belakang tiga kaki adalah tempat yang aman, maka jikalau dia tak berkutik, tentu saja tak akan terjerumus pula dalam mara bahaya.

"Sebaliknya jika kita hendak membekuknya jelas kemampuan kita bukan tandingannya. tentu saja dia tak akan takuti. Sedangkan Sun sau hiap sekalian meski dapat membunuhnya, tapi mereka harus melewati barisan itu lebih duIu."

"Aku mengerti!"

Tukas Bi Kui.

"dia menganggap Sun Sauhiap sekalian tak mungkin bisa mendekati dirinya?"

"Yaaa, demikianlah keadaannya."

Bi Kui segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Manusia goblok!"

Serunya kemudian.

"masa kita tak bisa menghentikan barisan ini untuk sementara waktu sampai Sun sauhiap sekalian sudah memasuki barisan tersebut baru menggerakkan lagi barisan mana?"

Jin jin segera menggeleng.

"Tak mungkin, dia tidak tahu tak mungkin"

"Tidak mungkin ?"

Bi Kui tertegun.

"mengapa tidak mungkin ?"

Jin Jin menghembuskan napas panjang.

"Mao Tin hong pernah menyaksikan jalan hidup, jalan mati serta cara masuk keluar dari ilmu barisan ini, begitu barisan berhenti maka dia akan segera menemukan jalan hidup untuk melarikan diri, dan besar kemungkinannya da akan menerjang keluar dari kepungan barisan ini !"

Bi Kui berpikir sebentar, lalu katanya.

"Sekalipun dia bisa melepaskan diri dari kurungan ilmu barisan ini. masa dapat kabur dari tempat ini dengan selamat ?"

"Tentu saja, dibawah pengejaran Sun sauhiap yang ketat, cepat atau lambat dia akan tertawan juga, namun hasil seperti itu bukan kehendak hatiku, maka aku tak bisa menghentikan gerakan dari ilmu barisan ini..."

"Kehendak hati Wancu adalah..."

Bi kui merasa bingung dan tidak habis mengerti. Paras muka Jin Jin berubah menjadi amat serius, pelan-pelan dia berkata.

"Semenjak lo wancu mendirikan kebun ini belum pernah ada umat persilatan yang begitu berani masuk keluar dari kebun ini sekehendak hati sendiri, bila Sun sauhiap sekalian juga menyerbu masuk dengan kekerasan, maka aku..."

"J i k a Sun sauhiap mohon ber t emu dengan t at a cara adat ist iadat y ang ber laku ? "

Sela Bi Kui . J in j in memandang sek ejap k earah Bi Kui , lalu berkat a.

"Sejak kemarin malam dia sudah menyebarkan kekuatannya untuk mengawasi gerak-gerik kebun ini, lama sekali mereka belum juga pergi, beginikah cara bertemu menurut tata cara adat istiadat orang persilatan ?"

Bi Kui tak mampu menjawab, terpaksa dia menundukan kepalanya rendah-rendah. Pada saat itulah Im kiok buka suara .

"Wan cu, budak handuk melaporkan sesuatu!"

Jin-Jin mengalihkan pandangannya memperhatikan Mao Tin hong dikejauhan sana, lalu menyahut.

"Katakanlah, ada urusan apa?"

"Maaf bila budak berterus terang, bukankah Sun sauhiap sekalian tahu kalau Wancu hendak bertemu dengan manusia yang lupa budi itu ditelaga Tong ting ou? Bahkan Sun tayhiap pun merasakan bagaimana perahu itu dimuati obat peledak..."

"Bicara yang penting-penting saja, yang sudah lewat tak perlu disinggung Iagi!"

Tukas Jin Jin setengah membentak. Im Kiok mengiakan, diapun berkata lagi.

"Wancu, maksud budak oleh karena berbagai peristiwa tersebut membuat Sun sauhiap meningkatkan kewaspadaannya dalam menghadapi setiap masalah, bagaimana mungkin mereka bisa tahu kalau peristiwa ini tidak melibatkan Wancu secara langsung?"

Perkataan ini segera menyadarkan Bi Kui maka dengan cepat dia menyela.

"Betul Wancu, sebelum Sun sauhiap sekalian memahami keadaan Wancu yang sebenarnya, tentu saja dia akan menganggap hingga kini Wancu masih membelai bajingan she Mao itu, maka..."

Jin jin segera mengulapkan tangannya sambil menukas.

"Perduli bagaimanakah jalan pemikirannya sudah sepantasnya jika mohon bertemu dengan menggunakan peraturan dunia parsilatan."

Bi Kui memandang sekejap kearah Im Kiok kemudian tidak banyak berbicara lagi, Im Kiok masih saja bertanya lagi.

"Lohoa biau bersama Tarsi dan Saila..."

Jin jin mendengus sambil menukas.

"Kau benar-benar pikun, mereka adalah mereka, Sun Tiong lo adalah Sun Tiong lo, mereka datang bertemu dengan menggunakan sumpah darah dari adat Biau, sudah barang tentu kejadian tersebut sama sekali berbeda..."

"Tapi menurut lo hoa biau, Sun sauhiap sekalian adalah sahabat sahabat yang dia undang datang ?"

Tukas Bi kui. Kembali Jin Jin tertawa dingin.

"Heh... heeh... heeh... aku hanya bekerja menurut peraturan dan adat bangsa Biau, jadi aku hanya mengijinkan Lo hoa biau mempunyai dua orang pembantu, yakni Tarsi dan Saila, sedangkan Sun Tiong lo sekalian adalah bukan."

Setiap patah katanya diucapkan dengan tegas, memaksa Im kiok dan Bi kui hanya bisa membungkam dalam seribu bahasa.

Sementara itu, Mao Tin hong yang terkurung didalam barisan selain tenang dan santai bahkan duduk diatas tanah.

Sekarang dia sudah mengerti bahwa pemandangan yang disaksikan olehnya hanya pandangan semu, maka dia bersikap lebih hati-hati, orang mengira dia sedang duduk bersantai padahal otaknya tak pernah berhenti untuk mencari bagaimana bisa menemukan akal guna melarikan diri.

Mula-mula dia berpikir setelah memasuki lorong rahasia tadi, dia bukan berjalan ke arah tenggara melainkan lurus ke depan sejauh beberapa kaki, dalam hal ini dia percaya tak bakal saIah.

kalau toh hal ini tak keliru, berarti beberapa kaki di belakang tubuhnya merupakan mulut gua lorong dimana dia munculkan diri tadi, sedang tempat yang berbahaya berarti terletak hanya tiga kaki dibelakang tubuhnya.

Berpikir demikian, Mao Tin hong sangat gembira, sedemikian girangnya sampai tak terlukiskan dengan kata-kata.

Namun dia mengerti gardu yang nampaknya amat jauh itu bisa jadi hanya berjarak sampai lima kaki saja dihadapannya, maka walaupun hatinya gembira namun tak sampai di-perlihatkan keluar.

Seandainya berganti orang lain, saat ini mereka pasti sudah mulai bertindak.

Namun Mao Tin hong memang manusia luar biasa, dia lain daripada yang lain, hingga kini tubuhnya masih tetap tak berkutik ditempat semula.

Menyusul kemudian ia mulai memikirkan langkah yang kedua, dia percaya setelah gua itu ditemukan maka dia pasti dapat kabur melalui jalanan semula.

Tapi, bukankah pintu masuk diluar sana sudah tersumbat ?

Apakah hal ini bukan berarti jalanannya sudah buntu?

Berpikir sampai di situ, mendadak muncul setitik harapan didalam hatinya.

BetuI!

Yaa betul!

Tak usah melalui pintu masuk yang semula...

Tapi, tanpa melalui jalan semula, bagaimana mungkin dia bisa meloloskan diri?

Sambil bertopang dagu, dia tetap duduk bersantai, siapapun yang melihat sikapnya sekarang pasti akan mengira dia akan bertahan lebih jauh.

Padahal siapa yang menduga kalau otaknya justru sedang diputar tiada habisnya untuk mencari seribu macam akal.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, dia mulai menggeliat dan merogoh ke sakunya.

Psau belati sakti yang tak pernah berpisah dari pinggangnya masid berada ditempat, senjata mustika yang tajamnya luar biasa itu memberikan harapan baginya, membuat rasa percayanya pada kemampuan sendiri makin meningkat.

Dia sudah bersiap-siap melakukan tindakan maka pelan-pelan dia bangkit berdiri.

Untuk menutupi gerakan yang hendak di lakukan, dia harus berusaha mengelabuhi orang lain lebih dulu.

Tiba-tiba ia menuding ke arah Jin jin sambil berseru.

"Jin jin aku hendak berbicara denganmu !"

Jin jin segera memberi tanda kepada Bi Kui untuk mewakilinya menjawab, sebab dia sudah tak sudi lagi berbicara dengan Mao Tin hong.

"Bila ingin berbicara, katakan saja dengan cepat!"

Seru Bi Kui kemudian.

"Aku menghendaki Jin-jin yang menjawab!"

Bi Kui mendengus.

"Hmmm! Wancu sudah bilang, sejak sekarang dia taa akan sudi berbicara lagi dengan bajingan macam kau !"

Mao Tin hong menyeringai seram.

"Bi Kui, biIa aku dapat lolos dari barisan ini kau mesti berhati-hati !"

Ancamannya.

"Lolos dari kepungan ini ?"

Jengek Bi Kui sambil tertawa.

"nampaknya kau sedang bermimpi disiang hari bolong !"

Tujuan yang sebenarnya dari Mao Tin hong adalah untuk memancing perhatian orang banyak, maka perkataan apa pun harus dia utarakan seperti ini agar lebih menarik perhatian orang.

Setelah tertawa seram katanya lagi.

"Coba saksikan sendiri nanti, jangan kau anggap hanya dengan pemandangan semu yang berjarak beberapa kaki saja, maka kalian dapat menipu lohu habis-habisan, sekarang juga akan kubuktikan kelihayanku untuk kalian semua !"

Selesai berkata, dia lantas menyentilkan jari tangannya ke arah gardu.

Padahal gardu itu nampaknya berada amat jauh sekali, mustahil tempat sejauh itu bisa tercapai oleh sentilan jari tangannya...

Tapi manusia memang makhluk yang aneh, seperti orang dewasa membohongi anak kecil saja, pura-pura melemparkan cawan ke arah lawan, meski orang tahu kalau hanya di tipu toh tanpa disadari tangannya digerakkan juga untuk menyambut.

Oleh sebab itu Jin Jin yang berada dalam gardu itu selain mendengus dingin dan sama sekali tidak melakukan tindakan apapun, toh tanpa disadari badannya bergerak juga seolah-olah hendak menghindari sesuatu.

Pada dasarnya Mao Tin hong memang bertujuan menggertak orang, sedikit kekuatanpun tidak disertakan dalam gerakan mana, melihat Bi Kui, Im Kiok dan sekalian dayang menunjukkan wajah terperanjat, kontan saja dia tertawa terbahak-bahak.

Ditengah gelak tertawa tersebut, serunya lantang.

"Jangan takut, jangan takut, laho hanya menggoda kalian saja !"

Im Kiok sangat marah, segera bentaknya.

"Mao Tin hong, kematian sudah berada di depan mata, kau masih saja..."

Belum selesai dia berkata Mio Tin-hong sudah menyentil lagi ke arah gardu sambil membentak.

"Kita buktikan saja siapa yang bakal mampus lebih dulu... !"

Kali ini para dayang ini tidak takut lagi, sebab mereka tahu kalau gerakan mana hanya tipu muslihat belaka.

Siapa tahu kali ini berbeda sekali dengan yang semula gerakan menyentil itu bukan hanya gertak sambal belaka.

Menyusul sentilan jari tangan dari Mao Tin hong itu, nampak serentetan cahaya tajam melesat ke tengah udara dan persis meledak dekat tiang pilar dalam gardu tersebut.

Diiringi ledakan dahsyat yang menggelegar, tampak api dan asap membumbung tinggi ke-angkasa.

Menyusul kemudian kembali meluncur datang serentetan cahaya tajam, sekali Iagi terdengar ledakan keras, seluruh gardu itu tahu-tahu sudah terselimut oleh asap yang tebal.

Jin Jin tahu kalau peluru yang dibawa Mao Tin hong tidak banyak jumlahnya, kepada para dayang dia cepat berseru.

Jangan takut, peluru tersebut tak mungkin dapat memasuki gardu kita!"

Benar.

ke dua peluru itu hanya meledak di pilar bagian luar dari gardu tersebut, sekalipun asap amat tebal namun tak berhasil menembusi gardu.

Dari sini dapat disimpulkan kalau gardu itu mempunyai pelindung lain.

Setelah asap menipis dan api mengecil, pandangan disekeliling tempat itu pun dapat terlihat kembali.

Api sudah padam, asap telah membuyar, segala sesuatunya sudah berubah seperti seperti sedia kala.

Tapi aneh ditengah lapisan kabut yang tebal itulah Mao Tin hong sudah hilang lenyap secara aneh.

Kenyataan tersebut kontan saja mengejutkan kawanan wanita yang berada disana.

B i K u i y a a g p e r t a m a t a m u b e r s e r u t e r t a h a n l e b i h d u l u .

"W a n c u , d i a ... d i a t e l a h k a b u r ! "

"I a b i s a k a b u r k e m a n a ? A n e h ! "

S e r u I m K i o k p u l a s a m b i l mengawasi keadaan disekeliling tempat itu, Jin-jin tidak menjawab, hanya sorot mata nya dialihkan ke tempat dimana Mao Tin bong semula berdiri.

Selang berapa saat kemudian.

Jin-jin baru mendengus dingin sambil berseru.

"Benar-benar manusia yang licik dan berakal busuk, kau terlalu memandang rendah aku!"

Mendengar ucapan tersebut, Bi Kui segera bertanya.

"Apakah Wancu tahu ke manakah dia telah melarikan diri ?"

Jin-Jin manggut-manggut.

"Dia sudah kabur kembali kedalam lorong rahasia tersebut !"

Sahutnya. Im Kiok berkerut kening.

"Seluruh angkasa sudah tertutup rapat, lorong rahasia itu tak mungkin bisa dipakai untuk melarikan diri, sekalipun dia dapat balik kesitu, masakah dapat kabur dengan selamat?"

"Dalam hal ini dia sendiripun tidak begitu yakin, mungkin dia beranggapan dengan kembalinya ke lorong rahasia, berarti kesempatan buat hidup jauh lebih besar daripada tetap berada disini"

"Wancu, dalam lorong bawah tanah itu meski terdapat berbagai jebakan namun belum cukup untuk membekuk bajingan busuk itu, sekarang dia sudah kabur kedalam lorong tersebut terpaksa kita hnrus membiarkan dia mati kelaparan disitu !"

Jin jin tertawa.

"Kalian anggap aku tak mampu membekuknya. Buru-buru Bi Kui menyahut.

"Sebelum Wancu terkena sergapannya, tentu saja mampu untuk membekuknya tapi sekarang..."

"Aku tetap punya akal, cuma harus menggunakan tenaga lebih banyak..."

Kata Jin jin sambil mengulapkan tangannya. Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menyambung lebih jauh.

"Disini sudah tak ada urusan Iagi, sekalipun dia muncul kembali dari mulut gua dan ingin menyerbu barisan inipun hal tersebut tak mungkin bisa terjadi, sekarang kita perlu menuju kedepan sana dan coba lihat apa yang hendak dilakukan oleh Sun Tiong lo..."

Bi Kui dan Im Kiok saling bertukar pandangan sekejap, kemudian dengan lm Kiok yang mendorong kereta dorong Jin jin, pelan-pelan mereka menuruni gardu tersebut dan bergerak menuju kesisi kiri barisan tersebut.

Yang tersisa kini hanyalah kobaran api yang berkedip di tengah barisan, segala sesuatunya telah pulih kembali seperti sedia kala, bayangan tubuh Jin-jin dan kawanan perempuan itupun sudah lenyap tak berbekas.

Dalam ruang tamu Pek hoa wan yang megah, Jin jin duduk ditengah ruangan dengan para pelayan berderet di kedua belah sisi ruangan, mereka sedang menyambut kedatangan para pendekar dengan tata cara yang hikmat.

Sun Tiong-lo duduk disamping tuan rumah, dia sedang menunggu jawaban dari Jin-jin.

Disisi kiri Jin-jin berdiri Bi Kui.

di kanan ada Im kiok, dua orang dayang muncul menghidangkan air teh.

Beberapa saat kemudian Jin jin baru berkata.

"Sayang sekali kami tak sempat bersua dengan sauhiap sekalian sewaktu berada di telaga Tong ting-ou tempo hari!"

Dengan hormat sekali Sun Tiong lo membungkukkan badannya lalu menjawab.

"Aku pun berpendapat sama, sudah lama mengagumi nama besar Wancu."

Jin-jin tersenyum.

"Ji sauhiap, kedatangan kalian sudah terlambat beberapa hari !"

Katanya kemudian.

"Oooh bolehkah aku tahu apa yang Wancu maksudkan ?"

Sun Tiong lo bertanya.

"Sekarang Mao Tin hong sudah terjurumus dalam keadaan yang amat bahaya!"

"Boleh aku tanya Wancu, apakah dia bisa mampus setiap saat ?"

Sun Tiong-lo berkerut kening. Jin jin mengangguk.

"Yaa, begitulah yang kumaksudkan !"

Sun Tiong lo termenung lagi beberapa saat, kemudian dia berkata lebih jauh.

"Aku siap mendengar penjelasan dari wancu!"

"Mao Tin hong berambisi besar dan berhati buas, setelah menyergap dan mencelakai diriku, dia ingin menguasai Pek hoa wan ku ini, maksudnya dia hendak mempergunakan barisan dari kebun kami untuk menghadapi sauhiap sekalian! "Kalau toh dia begitu tak berperasaan dan tak mengenal budi, tentu saja aku tak dapat membiarkan dia bebas merdeka dengan begitu saja maka kupancing dia memasuki barisan tersebut, walaupun ditengah jalan dia menyadari bahaya dan menghindar..."

Belum habis perkataan tersebut diutarakan? Bau ji sudah tak tahan, dia segera menukas.

"Kalau toh sudah menghindar itu berarti dia belum masuk perangkap bukan?"

Jin-jin mengerling sekejap kearah Bau ji, kemudian menjawab kembali.

"Benar, sekarang dia sudah terkurung dalam suatu lorong bawah tanah, ujung yang satu sudah tersumbat sama sekali sehingga malaikat pun jangan harap bisa lewat, sedangkan bagi yang lain berhadapan dergan barisan, bila berani menyerbu keluar berarti jiwanya akan melayang!"

Bau ji segera melompat bangun sambil berkata.

"Tolong Wancu suka memberi petunjuk kepada kami dimanakah lorong bawah itu terletak..."

"Mau apa kau ?"

Tegur Jin jin sambil berkerut kening.

"Tentu saja hendak membalas dendam!"

Bau ji nampak agak terpengaruh emosi. Jin jin berkerut kening makin kencang, katanya lebih jauh.

"Jadi maksud Sun sauhiap, kau hendak turun tangan di dalam Pek hoa wan kami ini?"

"Di mana dia berada, disitulah aku akan turun tangan!"

Jawab Bau ji dengan cepat. Jin-jin segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Sun Tiong lo, kemudian ujarnya lebih jauh.

"Ji siuhiap dan kakakmu sungguh berbeda...."

"Harap wancu tak usah kuatir"

Cepat cepat Sun Tiong lo berkata.

"betapa pun dalamnya rasa benci dan dendam kami dengan saudara Mao Tin hong, selama kami masih berada di tempat ini dan belum memperoleh ijin dari Wancu, tak mungkin kami akan turun tangan secara sembarangan...!"

Pelan-pelan paras muka Jin Jin berubah jadi tenang kembali sesudah tersenyum dia berkata.

"Aaah, tak berani ilmu silat sauhiap berdua amat liehay, sedang para pendekar yang lainpun merupakan jago kelas satu dalam dunia persilatan, aku tidak lebih hanya seorang wanita lemah, aku tak berani..." -oo0dw0ooo-

Jilid 44

"BUKAN BEGITU maksud perkataan kami tadi."

Sun Tiong lo berkata serius.

"Wancu berhak atas segala sesuatu yang berlangsung dalam wilayah kekuasaannya, jadi kami merasa wajib untuk meminta ijin kepadamu."

Kembali Jin jin tertawa.

"Mana, mana, sekalipun aku benar-benar menampik, mungkin saja sauhiap sekalian akan memaksa dengan kekerasan !"

Sun Tiong lo segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aah, tidak mungkin, kami pasti akan mohon persetujuan dan pengertian lebih dulu dari Wancu"

Jin jin menghembuskan napas panjang.

"Padahal dergan tenaga dalam yang dimiliki sauhiap, hal ini tak perlu dilakukan !"

Bau ji berkerut kening, mendadak dia menyela dari samping dengan suara keras.

"Wancu, bolehkah aku bertanya, dapatkah kami turun tangan dengan segera ?"

Sun Tiong lo kuatir Jin Jin akan berubah pikiran, maka cepatcepat tegurnya kepada Bau ji.

"Toako, persoalan semacam ini tak perlu dilakukan secara tergesa-gesa, bagaimana kalau aku rundingkan dulu dengan Wancu ?"

Bau ji tidak menjawab, dia cuma manggut-manggut berulang kali. Jin jin yang menyaksikan kesemuanya ini tanpa terasa segera berkata.

"Sauhiap bersaudara saling hormat menghormati, kejadian ini sungguh patut dikagumi dan disanjung..."

"Aaah. mana, mana . ."

Sun Tiong lo merendah. Kemudian setelah berhenti sejenak dia baru berkata lebih jauh.

"Apakah Wancu mempunyai kesulitan dalam memberi petunjuk dimana letak lorong bawah tanah tersebut?"

"Apakan menurut sauhiap, aku harus memberi petunjuk?"

Jin jin balik bertanya. Sun Tiong lo segera tertawa.

"Bukanya harus atau tidak, yang paling penting dapatkan atau tidak."

"Mana... mana, menurut siauhiap dapatkan aku memberitahukan tempat tersebut kepadamu ?"

Jin jin balas tertawa. Sun Tiong lo memang tidak malu disebut seorang pendekar sejati, dengan serius dia berkata.

"Bila aku yang menghadapi pertanyaan ini, maka aku akan menjawab.

"Tidak dapat..."

Bau ji menjadi tertegun setelah mendengar-perkataan ini, tanpa terasa dia berseru.

"Jite, kau..."

"Coba toako bayangkan."

Sela Sun Tiong lo cepat.

"sebagai seorang Wancu ternama, mana dia tak berkemampuan untuk membekuk sendiri manusia yang munafik dan tidak mengenal budi itu sehingga memerlukan bantuan dari orang luar?"

Jin jin segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Haahh... haaahh.. sekarang aku baru tahu saja Ji sauhiap memiliki kepandaian silat yang sangat lihay, dalam tehnik berbicarapun kau mempunyai kelebihan yang mengagumkan, sungguh membuat aku kagum setengah mati."

"Wancu terlalu memuji!"

Sun Tong lo tertawa. Jin-jin merenung sejenak, lalu dengan suara yang dalam dia berkata lagi.

"Terus terang saja kukatakan, aku memang bermaksud demikian, Mao Tin hong berani menganiaya aku. membakar rumah tinggalku, membunuh dayangku. aku harus menangkapnya hidup-hidup untuk dijatuhi hukuman yang setimpal..."

Kembali Bau ji hendak buka mulut, tapi Hou ji segera mencegahnya sambil berbisik.

"Tak ada gunanya banyak berbicara sekarang, mengapa kita tidak saksikan bagaimana Siau liong menghadapi keadaan tersebut..?"

Bau ji berbisik pula.

"Kita harus mencincang bajingan she Mao tersebut, bila dia sampai berhasil membekuknya..."

"Apa sih faedahnya berdebat pada saat ini?"

Tukas Hou ji.

"apalagi bagaimanakah situasi nya masih belum diketahui"

Bau ji tidak berbicara lagi, dia lantas membungkam dalam seribu bahasa. Sementara Sun Tiong lo sedang berkata kepada Jin jin.

"Hal ini sudah merupakan suatu keharusan bagi Wancu, sudah barang tentu aku tak akan mengajukan permintaan yang berlebihan tapi kami masih tetap berharap kepada Wancu agar mengijinkan kami semua untuk menyaksikan cara kerja Wancu didalam usaha membekuk bajngan tersebut."

"Ooooh... hal ini dikarenakan Sauhiap tidak percaya kepadaku, atau sauhiap menganggap aku tidak becus dalam menangkap orang?"

Sun Tiong lo hanya tertawa belaka tanpa menjawab, hal ini membuat Jin jin segera mengerdipkan matanya berulang kali. Mendadak.... Dari sisi telinga Jin jin berkumandang suara bisikan.

"Jalan darah disebagian tubuh Wancu tertotok, apakah hal tersebut dikarenakan ulah dari bajingan Mao ?"

Mendengar ucapan itu, berubah hebat paras muka Jin jin, tanpa terasa dia mengalihkan sorot matanya ke wajah Sun Tiong lo. Manyusul kemudian terdengar suara bisikan tadi berkumandang lebih jauh.

"Aku tak ingin membiarkan para rekanku tahu jika Wancu sudah tak mampu bergerak lagi sekehendak hati sendiri, maka itulah sengaja aku berbisik dengan ilmu menyampaikan suara, bila betul demikian aku akan segera mencari alasan untuk mengundurkan diri lebih dulu.

"Bila kami mengundurkan diri nanti, harap Wancu mencari alasan untuk menahan diriku seorang ditempat ini dan mengantar rekan-rekan lainnya ke kamar penerima tamu, aku mengerti ilmu pertabiban, siapa tahu kalau aku bisa membebaskan dirimu dari pengaruh totokan tersebut ?"

Sekali lagi nampak Jin jin tertegun, bahkan terlintas pula perasaan gembira. Baru saja dia hendak bertanya bagaimana dia mesti berbicara, mendadak Sun Tiong lo telah berkata.

"Beglni saja, untuk sementara waktu aku akan mengundurkan diri lebih dulu, silahkan Wancu mempertimbangkan hal tersebut masak-masak kemudian baru memberi kabar, entah bagaimana pendapatmu?"

Jin jin mengerdipkan matanya berulangkali, kemudian menyahut.

"Begi... begitupun ada baiknya juga"

Maka Sun Tiong lo sekalian segera bangkit berdiri dan mohon diri. Sewaktu rombongan tersebut hampir mencapai pintu, seperti apa yang dipesankan Sun-Tiong lo tadi, Jin jin segera bsrseru.

"Harap Ji sauhiap tunggu sebentar!"

"Silahkan wancu berkata!"

Sun Tiong lo segera membalikan badannya. Jin Jin berlagak termenung sebentar, kemudian baru berkata.

"Harap para pendekar beristirahat dulu di-kamar penerima tamu sedang Ji sauhiap tunggu sebentar lagi, siapa tahu dalam perbincangan yang lebih mendalam, kita bisa mengambil jalan tengah."

"Nah, ini dia yang sangat kuharapkan, akan kuturuti tanpa membantah."

Dengan cepat Sun Tiong lo berseru.

"Tidak"

Dengus nona Kim tiba tiba.

"akupun akan tetap tinggal disini."

Sun Tiong lo yang mendengar perkataan tersebut, buru-buru menyambung.

"Adik Kim, temanilah para jago, sebentar saja aku akan kembali keruang penerima tamu."

Kemudian setelah terhenti sejenak, dengan ilmu menyampaikan suara ia berbisik.

"Dia sudah terkena serangan gelap dari bajingan Mao, aku bermaksud menolongnya agar bisa memperoleh kesempatan untuk membekuk bangsat tersebut!"

Kini nona Kim baru mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, maka diapun berkata.

"Baiklah, cuma kau harus cepat balik lho..."

Sun Tiong lo manggut-manggut sambil mengiakan, maka para jago pun diiringi pelayan wanita berlalu dari ruangan tersebut.

Menanti semua jago sudah berlalu dari hadapan mukanya, Sun Tiong lo baru balik kembali ke tempat duduknya semula.

Jin jin memandang sekejap para pelayan yang berada dikiri dan kanan, mendadak ujarnya sambil mengulapkan tangan.

"Kecuali Bi kui kalian semua mundur dari ini!"

Para pelayan mengiakan dan serentak mengundurkan diri dari ruangan. Kembali Jin jin berpaling ke arah Bi Kui sembari berkata.

"Ruangan dalam sudah hancur, doronglah aku masuk ke ruang rahasia dari ruang tengah ini!"

Bi Kui tertegun setelah mendengar ucapan itu, bisiknya dengan cepat.

"Wancu, mengapa dihadapan musuh kau menyampaikan suruh budak mendorongmu..."

"Sejak tadi Ji sauhiap sudah tahu kalau jalan darahku telah ditotok orang!"

Tukas Jin jin tertawa. Berubah hebat selembar wajah Bi kui setelah mendengar ucapan tersebut.

"Kalau memang begini, bukankah keadaannya jauh lebih menakutkan..?"

Dia berseru. Sekali lagi Jin-jin tertawa.

"Bagaimana menakutkannya?"

Bi Kui seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun akhirnya diurungkan. Jin jin yang melihat hal mana dengan cepat menyambung.

"Apakan kau takut aku terjatuh ke tangan Ji Sauhiap?"

"Harap wancu maklum, mau tak mau budak harus mempunyai pikiran demikian."

"Tak mungkin, kalau Ji sauhiap hendak bertindak, dengan kepandaian silat yang dia miliki, mungkin aku sudah terjatuh ketangannya sedari tadi, masa harus menunggu hingga sekarang?"

Merah padam selembar wajah Bi Kui karena jengah, dia lantas manggut-manggut, ucapnya kepada Sun Tiong lo.

"Harap sauhiap memaafkan kelancanganku !"

"Tidak !"

Sahut Sun Tiong lo serius.

"demi kesetiaanmu terhadap majikan, aku malah kagum dan hormat atas sikapmu ini."

Dengan tersipu-sipu Bi Kui menundukkan kepalanya rendahrendah dan tidak berbicara lagi.

"Pergilah."

Perintah Jin jin kemudian.

"apa-lagi yang kau nantikan?"

Maka Bi Kui segera mendorong kereta duduk dari Jin jin berangkat ke ruang rahasia.

^oo^dw^oo^ SEBUAH pembaringan mungil dengan kelambu berwarna merah jambu yang indah.

Bau harum semerbak tersiar diseluruh ruangan.

Mendadak terdengar keluhan lirih, menyusuI kemudian Jin jin meluruskan kakinya dan pelan-pelan bangun duduk.

Sun Tiong lo yang bermandikan keringat sedang menyeka air keringat sembari berkata.

"Untung saja tidak sampai menyia-nyiakan pengharapanmu."

Dia berdiri disamping pembaringan dengan sekulum senyuman menghiasi wajahnya.

Mendadak sebuah tangan yang lembut dan halus mencekal pergelangan tangannya.

Baru saja Sun Tiong lo berkerut kening Jin jin telah buka suara dan berkata lagi.

"Ji sauhiap, entah bagaimana caraku untuk menyatakan rasa terima kasihku kepadamu."

Diam-diam Sun Tiong lo menghembuskan napas panjang, sekarang dia baru mengerti apa sebabnya Jin jin mencekal dirinya barusan, ternyata ia berbuat demikian sebab terdorong oleh perasaan terima kasihnya yang tebal.

Maka dia lantas tersenyum.

"Wancu, bila kau menggunakan kata berterima kasih dalam hal ini, bukankah hal tersebut kelewat asing namanya ?"

Jin jin tertawa getir.

"Tidak, aku benar merasa berterima kasih sekali sehingga sukar terutarakan keluar..."

Memandang tangan yang masih menggenggam pergelangan tangannya, Sun Tiong lo berkata lebih jauh.

"Silahkan Wancu mencoba untuk mengerahkan tenaga dalam, coba kita lihat apakah ada halangan ?"

Jin jin memalingkan sorot matanya mengikuti arah pandangan Sun Tiong lo, dengan cepat dia memahami apa gerangan yang terjadi dengan wajah memerah buru buru dia menarik kembali tangannya, kemudian sambil menundukkan kepalanya rendah rendah dia berbisik lirih.

"Sauhiap maafkan kelancanganku."

Sun Tiong lo merasa segan untuk banyak berbicara, maka segera serunya.

"Wancu lebih baik segera kau coba tenaga dalammu kemudian bersemedi lah beberapa saat."

Jin Jin mengangguk sebagai jawaban. Kemudian setelah mencoba mengerahkan tenaga dia berkata.

"Sudah sembuh, aku benar-benar sudah sembuh kembali."

Sambil berkata dia lantas melompat turun dari atas pembaringannya.

Pakaian yang sesungguhnya memang setengah terbuka dan tidak rapi, kini semakin terbuka lagi sehingga bagian-bagian tertentu nampak menonjol keluar.

Buru-buru Sun Tiong lo membalikkan badannya kemudian berseru.

"Kalau toh Wancu sudah sehat kembali, aku ingin memohon diri lebih dulu."

Jin jin hendak mengucapkan sesuatu, namun niat tersebut kemudian segera diurungkan, dia memandang sekejap bayangan punggung Sun Tiong lo, kemudian pesannya kepada Bi Kui yang berdiri di sisinya.

"Antarlah Sun sauhiap kembali ke kamar, siapkan pula hidangan dan tempat tidur."

Bi Kui mengiakan dan berlalu dari situ. Sedangkan Sun Tiong lo masih tetap membelakangi Jin jin katanya.

"Kuucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Wancu !"

Jin jin tertawa.

"Sauhiap sudah boleh membalikkan badan, aku sudah selesai berpakaian."

Sun Tiong lo tertawa dan membalikkan badannya kembali kemudian katanya.

"Apakah Wancu masih ada pesan lagi ?"

Jin jin menatap wajah Sun Tiong lo lekat-lekat, kemudian ujarnya.

"Mengapa sauhiap tidak bertanya tentang masalah Mao Tin hong ?"

"Aku pasti akan bertanya, cuma bukan sekarang."

Sahut Sun Tiong lo serius.

"aku menolong Wancu membebaskan diri dari pengaruh totokan karena aku bertindak demi kebenaran dalam dunia persilatan, bila menolong disertai permintaan, itu namanya perbuatan yang tidak terpuji !"

Jin jin semakin terharu dibuatnya, cepat dia berkata.

"Aku mengira tiada manusia Kuncu lagi didunia ini, siapa tahu aku telah menjumpainya hari ini. baik, silahkan sauhiap beristirahat, paling lama satu jam kemudian aku pasti akan mengirim kabar gembira."

Sun Tiong lo tertawa sambil mengucapkan terima kasih, kemudian mengikuti Bi Kui keluar dari ruangan rahasia tersebut. Ditengah jalan tiba-tiba Bi Kui bertanya.

"Sauhiap, ada beberapa persoalan ingin kutanyakan kepadamu."

"Ooh, silahkan nona ajukan !"

Sahut Sun Tiong lo sembari manggut-manggut.

"Nona tadi, sesungguhnya apanya sauhiap?"

Sun Tiong lo tahu kalau nona Kim yang dimaksudkan oleh dayang ini, maka sahutnya.

"Dia adalah seorang rekan seperjuanganku, sahabat perempuanku yang paling karib!"

"Ooh... betapa baiknya nasib dia."

Menggunakan kesempatan tersebut Sun-Tiong lo segera berkata dengan cepat.

"Setiap manusia yang ada dikolong langit sesungguhnya bernasib sama. asal kau menghadapinya dengan ketulusan hati serta kejujuran, maka yang kau peroleh pun ketulusan hati serta kejujuran!"

Bi kui segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aaah, belum tentu demikian"

Serunya singkat.

"buktinya sikap Wancu kami terhadap Mao Tin hong boleh dibilang cukup tulus hati dan..."

Tapi Sun Tiong lo segera menggelengkan pula kepalanya.

"Sekarang, mungkin memang begitu, bagaimana dengan sikapnya dimasa lampau?"

Perkataan ini ibarat sebuah tongkat besi yang dipukulkan ke atas kepalanya keras-keras, seketika itu juga membuat Bi Kui merasa amat terkesiap. Dengan cepat Sun Tiong lo berkata lebih jauh.

"Aku tahu bahwa nona sangat pintar, moga-moga saja kau dapat bersikap tulus hati dan jujur terhadap orang yang kau kasihi dikemudian hari, jangan melupakan jasa orang, dan janganlah karena suatu kesalahan kecil berakibat melupakan jasa baiknya dulu. Ketahuilah lelaki didunia ini bukan semuanya tidak berperasaan..."

Bi kui menundukkan kepalanya rendah-rendah tanpa berbicara, agaknya dia tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Setelah menghela napas panjang, Sun Tiong lo berkata lebih lanjut.

"Sangkoan tayhiap sama sekali tidak mendendam terhadap nona..."

Tertegun Bi kui mendengar ucapan tersebut, serunya dengan dengan cepat agak keheranan.

"Siapa Sangkoan tayhiap itu ?"

"Dia bukan lain adalah Kwa Cun seng, kakak misan Mao Tin hong sewaktu berada di-perahu dalam telaga Tong Ting ou tempo hari."

Merah membara selembar wajah Bi Kui setelah mendengar peristiwa itu disinggung, kepalanya ditundukkan semakin rendah, teringat kembali perbuatan cabul dan tindak tanduk jalangnya dimasa lampau, bagaimana mungkin dia tidak jengah dibuatnya ?

Bagaimanapun jalangnya Bi kui dimasa lampau, dia tak dapat dibandingkan dengan kawanan pelacur dirumah-rumah hiburan, sebagai perempuan, dia masih tetap mempunyai perasaan malu, dan perasaan cinta pun tak bisa terhapus dengan begitu saja dari dalam hati kecilnya.

Memang dimasa lalu perbuatan Jin Jin mau pun Bi kui amat memalukan kalau didengar dan menjengahkan bila dipandang semua perbuatan serta tingkah lakunya boleh dibilang amat brutal, namun sekarang sesudah sadar kembali dari impian, dia menjadi malunya bukan kepalang.

Rasa malu yang bertubi tubi membuat ia semakin insaf akan kesalahan besar yang pernah diperbuatnya di masa lalu.

Yaa, dalam keadaan begini, siapa pula yang bisa mengangkat kepalanya ?

Dia Bi Kui, hanya bisa menundukkan kepalanya dengan wajah tersipu sipu, lalu sahutnya lirih.

"Sauhiap, harap kau sudi mewakili budak untuk mohonkan maaf yang sebesar-besarnya kepada Sangkoan tayhiap !"

"Pasti akan kusampaikan."

Sahut Sun Tiong lo tertawa.

"selanjutnya bila nona membutuhkan bantuan dari kami semua, katakan saja secara terus terang, dengan senang hati kami semua akan membantumu dengan segala kemampuan yang kami miliki."

"Terima kasih banyak sauhiap atas kebaikanmu"

Bi Kui betul-betul merasa terharu dan terima kasih.

"cukup menyaksikan pada bantuan sauhiap sekalian untuk wancu kami, budak sekalian sudah merasa telah banyak menerima kebaikan kalian"

Sementara pembicaraan berlangsung, mereka sudah tiba dimuka kamar penerima tamo maka Bi kui segera mohon diri untuk mengundurkan diri.

Dengan perasaan yang tenang dan terbuka, Sun Tiong lo melangkah masuk ke dalam ruangan penerima tamu dengan langkah lebar, Ketika Bau ji sekalian menyaksikan dia sudah kembali, serentak pada berkerumun untuk menanyakan keadaan.

Sun Tiong lo tahu bahwa semua orang telah mengetahui tentang tertotoknya jalan darah Jin Jin dari mulut nona Kim, maka secara ringkas dia menuturkan tindakan pertolongan yang telah dilakukan olehnya dan sebagai akhir kata dia menambahkan "Mungkin Wancu tak akan menampik permintaan kita untuk membekuk bajingan she Mao tersebut."

"Kalau memang begitu, mengapa hal tersebut tak dikatakan kepadamu?"

Tanya Bau ji.

"Dia telah menanyakan soal itu kepadaku, adalah aku sendiri yang tak ingin membicarakan masalah tersebut dengan segera!"

"Oooh, apakah hal ini dikarenakan soal kepercayaan ?"

Sun Tiong lo manggut-manggut.

"Yaa, kita membantu orang tanpa pamrih, apakah kita mesti menuntut balas jasa setelah menolongnya terbebas dari totokan..?"

"Betul, kalau begitu baiklah kita menunggu sampai dia mengabarkan sendiri kepada kita"

"Aku rasa, tidak seharusnya kita mempercayainya dengan begitu saja..."

Mendadak Sangkoan Ki berkata dengan kening berkerut kencang. Nona Kim melirik sekejap ke arah Sangkoan Ki, lalu bertanya.

"Atas dasar apa kau berkata demikian ?"

"Sesungguhnya dia dan bajingan Mao adalah sepasang suami istri, di saat jalan darahnya tertotok, tentu saja hatinya marah dan dendam, tapi setelah jalan darahnya bebas, masa dia bersedia untuk mengijinkan kepada kita guna membekuk bangsat itu?"

"Lantas bagaimana baiknya menurut pendapatmu?"

Tanya nona Kim lebih jauh.

"Seharusnya kita menguasahi gerak-gerik mereka secara diam-diam."

Jangan dilihat Mo Kiau jiu adalah musuh bebuyutan Sangkoan Ki, namun pandangannya terhadap masalah ini ternyata seirama dan searah. Tampak Mo Kiau jiu manggut-manggut sembari menimbrung.

"Yaa, betul! Memang seharusnya kita berbuat demikian!"

"Tidak, bila kita sampai berbuat demikian maka hal ini akan menodai harga diri kita sendiri."

Tolak Sun Tiong lo tegas-tegas dengan wajah serius.

"Bila menghadapi musuh, kita harus tahu lawan tahu diri dengan begitu kemenangan barulah berada didepan mata, siapa berani menjamin kalau Jin jin tidak mempunyai maksud tujuan lain?"

"Aku berani menjamin Wancu tak akan mempunyai maksud tujuan lain!"

Sun Tiong lo segera menegaskan.

Oleh karena pemuda itu sudah berkata demikian, sudah barang tentu tiada orang yang berani berkata apa-apa lagi dan persoalan diputuskan begitu.

^oo@dw@oo^ WALAUPUN malam itu tidak terlalu gelap, namun suasana diempat penjuru gelap gulita, sukar melihat pemandangan disekeliling sana dengan nyata.

Sebab tempat tersebut merupakan lorong bawah tanah, sedikitpun tiada cahaya luar yang dapat masuk kesana.

Maka Jin jin menitahkan kepada Bi Kui dan In kiok timuk mempersiapkan sebuah lentera dan berdiri dikiri kanan untuk memasuki lorong bawah tanah tersebut.

Mereka sedang melakukan pencarian yang lebih seksama lagi untuk menemukan jejak Mao Tin hong.

Sudah barang tentu Jin jin sangat hapal dengan daerah sekitar lorong bawah tanah itu, apalagi jalan menuju keruang bawah memang hanya sebuah.

Setengah jalan sudah mereka tempuh, namun belum juga nampak bayangan dari Mao Tin-hong.

Maju lagi beberapa langkah, dibawah cahaya lentera yang menyinari sekeliling tempat tersebut, Jin jin segera menurunkan tangannya mencegah In kiok dan Bi kui untuk maju lebih kemuka, katanya.

"Setelah membelok pada tikungan didepan sana lalu berjalan lima kaki lagi, kita akan sampai dimulut gua yang disegel tersebut, aku menduga bajingan she Mao itu bisa jadi bersembunyi ditempat kegelapan dekat tikungan tadi, kita mesti meningkatkan kewaspadaan, hati-hati kalau sampai tersergap olehnya."

"Wancu, ijinkanlah budak untuk berjalan dimuka."

Seru Bi kui tiba-tiba sambil menyelinap kemuka.

Seandainya Mao Tin hong betul-betuI menyembunyikan diri dekat tikungan tersebut dan apa bila Bi kui jalan di muka, maka apabila ada sergapan, niscaya budak itu akan mati lebih duIu.

Tapi, begitu Mao Tin hong menampakkan jejaknya, niscaya dia tak akan mampu untuk melepaskan diri lagi.

Jadi tindakan dari dayang ini boleh dibilang suatu langkah menyerempet bahaya.

Dimasa lalu, sekalipun Bi-kui dapat pula berbuat demikian, tapi hal tersebut sudah pasti dilakukan karena menjalankan perintah atau paling tidak untuk mencari muka.

Berbeda sekali dengan hari ini, dia munculkan diri atas dasar kerelaan serta kemauan sendiri tanpa paksaan ataupun mempunyai maksud tujuan tertentu.

Tentu saja Jin jin tidak memperkenankan dayang kesayangannya itu menyerempet bahaya, cepat cegahnya.

"Tidak usah, kita punya cara lain!"

Berbicara sampai disitu, mendadak Jin jin bergeser ke depan lalu sekuat tenaga melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke arah tengah lorong.

Bila disitu ada orang sedang bersembunyi sudah pasti dia akan segera menampakkan diri.

Siapa tahu walaupun serangan sudah dilepaskan namun tiada reaksi apapun, rupanya lorong tersebut berada dalam keadaan kosong tanpa seorang manusiapun.

Dibawah sorotan cahaya lampu, apa yang terpapar didepan mata membuat Jin jin dan dayang-dayangnya menjadi melongo dan berdiri kaku..

Pintu masuk menuju ke lorong masih tetap tertutup rapat, tapi pada jarak tiga depa dari pintu masuk tersebut telah terbuka sebuah gua besar, dari situlah cahaya matahari memancar masuk.

Sambil mendepak-depak kakinya ke tanah lantaran gemas, Jin jin berseru.

"Aduh celaka, sudah pasti bajingan itu membawa pisau mestika yang amat tajam. kalau tidak bagaimana mungkin dia bisa membuat pintu lain untuk meloloskan diri ?".

"Ayo kita kejar, sudah pasti dia tak akan kabur terlampau jauh.

"Walaupun dia tak akan lepas dari wilayah Pek hoa wan, aku lihat bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk menemukan jejaknya. Alasan ini dapat dipahami oleh Bi kui maupun oleh Im kiok, Pek hoa wan memang tidak mempunyai jalan keluar lain kecuali melalui satu-satunya jalan yang tersedia, sebab empat penjuru berupa bukit terjal yang betul-betul berbahaya, jangan lagi manusia, burungpun sukar melewati tempat itu. Bila ingin kabur melalui tempat semula, berarti dia harus melewati barisan lebih dulu, Mao Tin hong cukup memahami kelihayan dari ilmu barisan tersebut dan menyadari akan-kemampuan sendiri, tak mungkin dia akan menempuh jalan tersebut. Oleh sebab itu dapat disimpulkan kalau dia telah melarikan diri ke suatu tempat diantara gerombolan bukit curam itu, justru karena itulah bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk menemukan seseorang diantara tanah perbukitan yang luas itu. Kini Mao Tin hong sudah kabur, berarti tetap tinggal dalam lorong pun tiada gunanya, maka Jin jin mengulapkan tangannya dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun keluar dan lorocg rahasia tersebut... Menanti dia sudah berada kembali di permukaan tanah, tanpa terasa keningnya berkerut dan langkahnya terasa berat. Rupanya untuk membalas budi kebaikan Sun Tiong lo yang lelah menyembuhkan lukanya, selain itu diapun beranggapan bahwa dia akan semudah merogoh barang dalam saku sendiri untuk membekuk Mao Tin bong kali ini, maka dia memasuki lorong rahasia tersebut tanpa mengundang para jago uatuk melakukan perjalanan bersama-sama. Siapa sangka apa yang terjadi ternyata di luar dugaannya, Mao Tin hong telah melarikan diri dari kepungan. Bagaimana mungkin dia bisa menerangkan hal ini pada para jago? setelah berpikir cukup lama, akhirnya dia memutuskan dalam hatinya, dia bersumpah akan menangkap kembali Mao Tin hong dan menyerahkannya kepada para jago. Maka dengan wajah serius dia membalikkan badannya menggapai Im kiok, lalu ujarnya.

"Pergilah ke ruang penerima tamu dan ceritakan keadaan yang sebenarnya kepada Sun sauhiap, katakanlah bahwa aku telah membawa semua anak buahku melakukan pencarian di sekeliling bukit ini setelah mengetahui Mao Tin hong meloloskan diri dari kepungan.

"Bila ada diantara para jago yang menyindir atau mencemooh, bahkan menghina aku, kau tak boleh ribut dengan mereka, cukup katakan kepada Ji sauhiap, asal aku belum mati maka budi tersebut pasti akan kubalas !"

Walaupun In kiok mengiakan berulang kali, namun dia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya semula.

"Wancu!"

Katanya kemudian.

"empat bukit amat luas, sedangkan daerah disitu berbahaya sekali..."

"Kalau berbahaya lantas kenapa?"

Tanya Jin jin sembari menarik muka.

"memangnya aku tak boleh kesana?"

"Menurut pendapat budak, bagaimana kalau Wancu mengundang kedatangan Sun sauhiap agar datang sendiri kemari serta menerangkan duduk persoalan yang sebenarnya, kemudian bergabung dengan para pendekar, kita bisa memecahkan diri dalam beberapa rombongan uttnk melakukan penggeledahan disekeliling bukit ini."

Jin jin segera tertawa getir.

"Kalau sebelum datang ke lorong rahasia ini kita memberi kabar dulu kepada mereka, tentu saja kita bisa minta bantuan mereka untuk melakukan pencarian bersama ke sekeliling bukit sini, tapi sekarang... ibaratnya orang lagi makan empedu, walaupun pahit rasanya, namun sukar untuk diutarakan."

"Apakah majikan kuatir bila para jago tidak percaya ?"

Sela Bi kui dari samping. Untuk kesekian kalinya Jin jin tertawa getir.

"Bila kau yang menghadapi persoalan seperti ini, apakah kau akan percaya."

Dengan cepat Bi kui menyambung.

"Bukan begitu persoalannya, andaikan para jago tidak percaya sekarang, sekalipun kita undang mereka tadi untuk bersama-sama datang kemari, bila mereka jumpai orangnya sudah kabur, toh paling tidak akan timbul kecurigaan dalam hatinya."

"Ehmm, betul juga ! Namun suasana waktu itu sudah pasti lebih mudah dijelaskan daripada kita sekarang !"

Bi-kui tak ingin Jin jin menyerempet bahaya, dengan cepat ia berkata lagi.

"Menurut pendapat budak, Sun Ji hiap adalah seoran yang berdada lapang dan berpandangan luas, mustahil dia akan menilai seseorang dengan jiwa kerdil, sudah seharusnya majikan-menuruti segala sesuatunya dengan cara blak-blakan, kemudian kita baru berupaya untuk melakukan pencarian terhadap bajingan she Mao tersebut..."

Tapi Jin jin sudah menggelengkan kepalanya kembali.

"Sudahlah, kau tak usah banyak berbicara lagi, aku sudah menetapkan begini!"

Sesudah berhenti sejenak, dia berpaling ke arah Im kiok dan ujarnya lagi sambil menggoyangkan tangannya berulang kali.

"Ayo cepat pergi, selesai menunaikan tugas itu kau boleh menanti dalam kebun, bila menyaksikan bajingan Mao belum kabur kedalam tanah perbukitan gunakan api lima warna dan sepuluh dentuman untuk memberi kabar kepadaku !"

Menyaksikan keseriusan majikannya.

lm kiok tak berani banyak berbicara lagi dia mengiakan dan segera berlalu dari situ.

Dari kawanan dayangnya Jin jin pun memilih dua belas orang yang bernyali paling besar tapi berilmu silat tinggi, lalu bersama Bi Kui sekalian berenam bersama-sama berangkat ke bukit untuk melakukan pencarian.

Sebelum berangkat meninggalkan tempat itu, terlebih dulu Jin-jin mencoba untuk menelaah keadaan situasinya lebih dulu, kalau di tinjau dari keadaan yang dilakukan Mao Tin hong sewaktu kabur, demi keamanannya mungkin sekali dia akan kabur ke tanah perbukitan disebelah barat.

Walaupun Jin jin berpendapat demikian, namun terlebih dulu dia melakukan penggeledahan disekitar kebun, lalu mengikuti berbagai petunjuk yang diperoleh dia menyimpulkan sembilan puluh persen Mao Tin-hong sudah kabur ke bukit sebelah barat.

Maka iapun memimpin anak buahnya berangkat kearah barat untuk melakukan pengejaran.

^oo@dw@oo^ Sun Tiong-lo mengundang masuk Im-kiok dan menanyakan duduk perkaranya.

Sangkoan Ki yang mengetahui hal tersebut, sambil mendengus dingin segera ujarnya kepada Im kiok.

"Nona, kenyataankah yang kau katakan barusan."

Im kiok sudah mendapat pesan dari Jin jin agar menahan diri, maka sahutnya gamblang.

"Percaya atau tidak terserah kalian sendiri, tapi yang jelas majikan kami tak perlu membohongi kalian !"

Mo Kiau jiu segera tertawa terkekeh-kekeh, selanya tiba-tiba.

"Nona, apa sebabnya majikan kalian tidak memberi kabar lebih dulu kepada kami sebelum memasuki ke lorong rahasia untuk menangkap orang ?"

"BiIa kami bisa menduga sejak semula kalau ada kemungkinan bagi bajingan she Mao tersebut untuk melarikan diri, sudah pasti ma jikan kami akan mengundang saudara sekalian untuk berangkat bersama kesana, cuma... bila kalian tidak menemukan orangnya ditempat, masa kalian tak akan menaruh curiga pula terhadap kami ?"

Sangkoan Ki segera tertawa dingin.

"Terus terang saja kalau berbicara, bukankah majikan she Mao itu adalah satu keluarga dengan majikan kalian..."

"ltu dulu."

Tukas Im kiok dengan suara gemetar.

"sekarang Sun ji sauhiap sudah paham, mereka berdua sudah menjadi musuh bebuyutan.

"Hmm, tadi majikan kalian pernah menerangkan kalau tempat terkurungnya she Mao itu ibaratnya jaring langit jala bumi mustahil dia bisa kabur, tapi kenyataannya dia sudah melarikan diri, apa salah jika kami tak percaya?"

Kata Bau ji pula dengan suara sedingin es.

Walaupun Im kiok sudah mendapat pesan agar tidak ribut atau membantah perkataan orang, namun dalam keadaan demikian sulit rasanya untuk menahan sabar terus menerus.

Maka sambil berkerut kening dan memandang sekejap kearah Bau ji.

katanya dengan nada yang tinggi.

"Kejadian yang sesungguhnya telah kuterangkan, dan akupun telah mendapat perintah dari majikanku agar tidak ribut atau membantah perkataan kalian, pokoknva majikan kami bertujuan untuk mengikat tali persahabatan dengan hati yang tulus, nah aku sudah selesai berbicara..."

Perkataan "aku sudah selesai berbicara"

Itu dapat dirasakan oleh setiap orang sebagai kata "mohon diri"

Sangkoan Ki segera memandang sekejap ke arah Mo Kiau jiu sembari memberi tanda, kemudian ujarnya dengan cepat.

"Nona Im kiok, harap kau mendengarkan dulu sepatah kataku."

Sekarang Im kiok sedih tahu kalau Sang-koan Ki adalah "Kwa Cun-seng", terhadapnya boleh dibilang tidak menaruh kesan yang terlalu baik.

Mendengar perkataan tersebut dengan kening berkerut dan nada kurang sabar katanya "Silahkan Sangkoan tayhiap berbicara."

"Tolong tanya wancu saat ini berada dimana ?"

Tanya Sangkoan Ki sambil tertawa.

"Majikan telah membawa kakak dan adikku untuk melakukan pencarian disekitar bukit dengan maksud membekuk bajingan she Mao tersebut."

"Bolehkah lohu sekalian meninjau lorong bawah tanah yang pernah dipakai untuk menyekap bajingan she Mao tersebut ?"

"Tentu saja boleh, mari !"

Sahut Im kiok. Selama ini Sun Tiong lo hanya membungkam terus dalam seribu bahasa, tiba-tiba dia mencegah semua orang untuk beranjak pergi katanya.

"Saudara sekalian, aku sangat mempercayai perkataan dari nona In kiok, Wancu telah bersikap terus terang kepadaku akupun tahu kalau peristiwa tersebut berlangsung diluar dugaan, dalam keadaan terdesak rupanya Wancu menitahkan kepada nona Im kiok untuk menyampaikan kabar ini, sedang ia sendiri sedang memburu bajingan she Mao tersebut !"

"Kepandaian silat yang dimiliki bajingan Mao itu sangat lihay. kemampuannya luar biasa, sekalipun Wancu dan semua enghiong perempuan lebih menguntungkan dalam soal posisi dan cepat atau lambat pasti akan berhasil membekuk bajingan she Mao tersebut, namun bila sampai terjadi pertarungan, sudah jelas Wancu masih belum mampu untuk menandinginya."

"Sekarang, bajingan Mao sudah kabur dan menyembunyikan diri diatas bukit, yang paling penting buat kita sekarang adalah membekuk tua bangka tersebut secepatnya, sedangkan soal lorong bawah tanah yang pernah dipakai untuk mengurungnya, lebih baik kita periksa dikemudian hari saja !"

Pada hakekatnya Sun Tiong lo sudah menjadi pemimpinnya para jago lainnya, setelah dia memberikan pemyataannya maka meski para jago lainnya kurang setuju dengan pendapat tersebut, tak seorangpun yang berani berbicara lagi.

Apalagi memang situasi sudah gawat dan mereka turut buru buru membekuk buronan tersebut Maka tanpa banyak berbicara lagi semua orang berangkat mengikuti dibelakang Im kiok.

Tatkala mereka berjalan keluar dari ruang penerima tamu, Hou ji yang pertama-tama menemukan sesuatu, katanya sambil menuding ke arah bukit disebelah barat sana.

"Siau liong cepat lihat, dibukit sebelah barat terdapat serombongan manusia!"

Mendengar seruan terhebat semua orang berpaling, lm kiok segera berkata pula.

"Mereka adalah majikan kami bersama para saudara lainnya..."

Sun Tiong lo termenung sambil berpikir sejenak, kemudian dia bertanya.

"Apakah nona Im kiok akan turut ke situ?"

Im kiok segera menggeleng.

"Majikan telah berpesan agar budak masih tetap tinggal di sini sambil berjaga-jaga meng hadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan..."

Sun Tiong lo segera manggut-manggut "Kalau toh demikian harap nona laksanakan perintah dari wancu kalian."

Im kiok memandang sekejap ke arah rombongan manusia dibukit sebelah barat sana, kemudian bertanya lagi.

"Bagaimana dengan sauhiap sendiri ?"

Tentu saja Sun liong lo memahami maksud hati Im kiok tersebut maka sahutnya.

"Aku hendak menyusul wancu sekalian agar bisa bersama-sama merundingkan tentang pengepungan."

Agaknya Im kiok masih tidak lega, cepat katanya kembali.

"Untuk membalas budi kebaikan sauhiap, Wan cu telah melakukan hal tersebut, disaat dia menyaksikan bajingan Mao kabur dari kepungan, dia sudah bertekad untuk membekuk buronan tersebut, akav tetapi kepandaian silat yang dimiliki bajingan she mao itu..."

"Tak usah kuatir nona."

Tukas Sun Tiong lo "dengan cepat kami akan berhasil menyusul Wan cu sekalian sedangkan didalam rencana kami nanti sudah pasti tak akan memberi kesempatan kepada Wancu untuk menyerempet bahaya."

Mendengar perkataan itu, Im kiok segera menjura dalam-dalam dengan wajah serius.

"Sauhiap benar-benar berbudi luhur, budak merasa lega sekali setelah ada janji dari sau hiap."

Sun Tiong lo tak ingin menerima hormat mana dengan cepat dia berkelit kesamping sembari berkata.

"Silahkan nona berlalu, akupun akan segera naik keatas bukit."

In kiok mengiakan dengan hormat, maka Sun Tiong lo memimpin para jago lainnya berangkat menuju ke bukit sebelah barat.

^oo^dw^oo^ TANAH perbukitan bersusun-susun, pohon dengan daun yang rindang dan lebat menyelimuti seluruh permukaan, kabut tebal menyelimuti permukaan membuat suasana terasa menyeramkan.

Di permulaan musim kemarau ini, terlihat sesosok bayang manusia sedang berkelebat lewat ditengah hutan belantara yang Iuas, dia berlarian dengan langkah tergesa-gesa, bahkan kerap kali berpaling kearah jalan semula.

Malam sudah tiba, suasana, gelap gulita, Dimana langit cukup bersih, maka diapun kerap kali mendongakkan kepalanya untuk memperhatikan letak bintang.

Orang ini tak lain adalah biang pembunuh Mao Tin hong yang sedang melarikan diri.

Kemarin, dengan mengandalkan pedang mestikanya yang tajam, ia berhasil membuat sebuah lubang ditepi pintu lorong yang tertutup dan kabur dari situ.

Dia langsung kabur masuk ke jalan bukit dengan hutan belantara yang sangat lebat itu.

Meskipun dia tahu kalau disekitar sana tiada jalan lewat, namun lebih baik menghindari barisan yang tak berperasaan atau bertemu dengan Jin jin yang sudah pasti menghadang disitu.

Ia pernah memperhatikan keadaan di belakang sana dan menentukan pula jejak dari para pengejarnya, sekalipun kedua belah pihak belum saling beriring, namun jaraknya hanya selisih setengah bukit.

Maka dia berubah arah tujuannya, dengan mengandalkan kepandaian silatnya yang lihay dia mencoba untuk melewati sebuah tebing yang curam dan beralih dari bukit sebelah barat menuju ke bukit sebelah utara.

Sejak dia mengalihkan arahnya, beberapa kali Mao Tin hong mencoba untuk melakukan pengintaian dari tempat yang tinggi, namun kali ini dia tidak berhasil menemukan jejak para pengejarnya, meski hatinya jauh lebih lega namun dia masih tetap kabur terus ke arah depan.

Sebab dia sudah mengambil keputusan, dari arah utara dia akan beralih arah umur, bila demikian adanya maka dia akan bergerak ke arah yang berlawanan dengan pengejarnya, siapa tahu dia berhasil kabur dari kurungan dan kembali ke daratan Tionggoan?

Hari ini seharian penuh dia kabur terus tanpa berhenti, bukan saja tidak nampak jejak para pengejarnya, burung atau hewan pun jarang sekali dijumpai.

Pada mulanya dia masih belum merasakan apa-apa, tapi lama kelamaan timbul juga suatu perasaan aneh dalam hatinya.

Mula pertama dia mendengus dulu suatu bau yang sangat aneh, menyusul kemudian dia menyaksikan pepohonan dan tumbuhtumbuhan yang hidup disitu berbentuk sangat aneh, warnanya putih seperti susu tapi berdaun kering dan layu.

Tanpa terasa dia menghentikan perjalanan sambil berkerut kening.

Dengan pengalamannya yang sangat luas serta pemeriksaannya yang seksana, hatinya segera dibuat amat terkejut.

Ia mulai teringat kembali dengan ucapan Jin jin dahulu, karena daerah utara merupakan daerah yang berbahaya, terutama sekali daerah yang mendekati arah timur, boleh dibilang merupakan wilayah yang terakhir di wilayah Biau, belum pernah ada orang yang berani mendekati tempat tersebut.

Menurut Jin jin, haI ini disebabkan dalam sekitar hutan belantara itu terdapat sebuah kolam air yang luas sekali dengan kabut beracun yang jahat menyelimuti sepanjang tahun, baik manusia ataupun hewan yang melewati tempat itu pasti akan tewas tanpa ampun.

Sekarang dalam tergesa-gesanya untuk melarikan diri, ternyata dia sudah mendekati daerah berkabut beracun itu.

Masih untung dia cepat menyadari akan hal ini, sekalipun sudah melewati ujung dari daerah berbahaya tersebut untungnya saja masih belum masuk lebih ke dalam, bila dia mundur sekarang juga, sudah barang tentu jiwanya akan tetap selamat.

Dan untung pula para pengejar belum mencapai ditempat itu.

sehingga diapun tak usah berpikir dengan terburu napsu.

Tapi setelah dia memikirkan persoalan itu lebih seksama hatinya mulai gugup dan bingung.

Sebetulnya dia berencana untuk kabur dari utara menuju ke arah timur, dengan demikian dia dapat menghindari barisan yang maha dahsyat tersebut.

Tapi kenyataan yang terbentang didepan mata sekarang menunjukan bahwa hal tersebut tidak mungkin bisa terlaksana.

Bila dia ingin berbelok kearah timur melalui tempat itu, maka pertama-tama harus dapat menembusi jantung kabut beracun tersebut lebih dahulu, atau dengan perkataan lain jangan harap bisa menuju kearah timur melalui daerah utara.

Kalau cara ini tak bisa terwujud, berarti tinggal satu jalan lagi yakni mundur kearah ke arah utara atau dari barat lari kearah selatan namun cara inipun mustahil bisa dilakukan oleh Mao Tin hong, sebab para pengejar sedang berpusat dikedua daerah tersebut.

Dengan demikian ia betul-betul berada dalam posisi terjepit maju tak bisa mundurpun tak dapat, untuk sesaat diapun menjadi tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Untung saja para pengejarnya belum sampai menyusuI ke sana, berarti dia masih punya waktu untuk berpikir sebentar, maka dia pun mundur sejauh beberapa li, mencari tempat untuk berteduh dan mulai memutar otaknya.

Lama-lama kemudian akhirnya dia harus mengambil keputusan dengan cermat, oleh karena maju terus berarti mati, maka dia memutuskan akan balik saja ke belakang, siapa tahu kalau perjalanan bisa ditempuh, dengan sangat berhati-hati tindakan ini justru diluar dugaan orang Iain ?.

SeteIah mengambil keputusan meski sudah sangat lelah namun demi keselamatan terpaksa dia harus berangkat pada malam itu juga,dengan langkah yang ringan dan berhati-hati, dia meneruskan kembali perjaIanannya.

Mengetahui dirinya sudah terjerumus didaerah kabut beracun, dalam beberapa pertimbangan kemudian Mao Tin hong terpaksa lurus balik melalui jalan semula, dia harus menanggung resiko bertemu dengan musuh ditengah jalan..

Sementara perjalanan masih di tempuh, mendadak Mao Tin hong mendengar suara manusia sedang berbicara.

Bila ada manusia sedang berbicara ditempat ini, tanpa berpikir dua kali Mao Tin-hong segera menyangka sebagai Jin jin dengan anak buahnya atau kalau bukan tentu Sun Tiong lo dengan para jago lainnya.

Dengan perasaan tercekat, buru-buru dia kabur ke belakang sebatang pohon besar dan menyembunyikan diri disana.

Memang mengenaskan sekali, seorang pentolan dunia persilatan yang pernah disanjung dan dihormati oleh umat persilatan di seluruh dunia, sekarang harus menyembunyikan diri bagaikan anjing terkena gebuk, bukan saja tidak memiliki kegagahan lagi seperti dulu, bahkan dari mendengar suaranya sudah dibuat ketakutan setengah mati...

Bahkan sambil bersembunyi dibelakang pohon besar, bernapas keras-keras pun tak berani.

Bukan cuma begitu, jantungnyapun turut berdebar amat keras, seakan-akan kuatir sekali kalau sampai bertemu dengan musuh2nya....

Semua pernapasan dihimpun hawa murninya disalurkan ke seluruh badan, dia telah bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Sekarang dia masih belum tahu kalau Sun Tiong lo sekalian bukan saja sudah bertemu dengan Jin jin, bahkan mereka telah bergabung menjadi satu.

Namun dia cukup paham, entah rombongan yang manapun dari kedua rombongan itu, sudah pasti tak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja.

Maka dia telah mengambil perhitungan yang paling jelek, bilamana perlu dia harus membunuh sebanyak mungkin untuk mengembalikan modal.

Diapun berpikir demikian seandainya yang muncul adalah rombongan dari Jin-jin walaupun dia diiringi segerombolan dayang-dayangnya namun ia bisa memandang sebelah mata terhadap mereka, sebab dia yakin mampu melukai musuhnya lalu mundur dengan selamat.

Tapi kalau yang datang adalah Sun Tiong lo dengan rombongannya...

Diam-diam dia menggelengkan kepala berulang kali, dia cukup tahu kaIau nasibnya sudah amat tragis, bila hari ini harus bertemu dengan mereka, berarti kematian sudah berada didepan mata.

Mao Tin hong yang berada dalam keadaan seperti ini sungguh mencekam sekali keadaannya, rasa kaget, ngeri bercampur takut bercampur aduk menjadi satu.

Pepatah kuno bilang.

Kalau rejeki pasti bukan bencana, kalau bencana siapa-pun tak akan terhindar.

Ada pula yang berkata begini .

Yang harus datang, akhirnya pasti akan datang juga.

Maka suara pembicaraan manusia itupun kian lama kian bertambah mendekat, Mao Tin hong juga makin lama merasa hatinya makin ketakutan setengah mati.

Ternyata yang muncul adalah seorang lelaki dan seorang perempuan, bahkan mereka tidak maju lebih kedepan, melainkan berbelok kesebelah kiri pohon dan menelusuri sebuah jalan setapak.

Ditengah malam yang sepi, pembicaraan ke dua orang itu dapat terdengar jelas, apa Iagi didaerah yang tak bermanusia sama sekali, tidak heran kalau sepasang laki perempuan itu berbicara tanpa ragu.

Terdengar yang pria serang berkata.

"Aku merasa tubuhku ini makin hari makin bertambah lembek saja rasanya, aai."

Begitu mendengar suara dan nada pembicaraan tersebut, Mao Tin-hong sudah merasa hatinya agak lega separuh. Menyusul kemudian yang perempuan menyahut.

"Tapi sekarang kita tak usah kuatir lagi, apabila kita berhasil juga memperoleh buah Cu-ko tersebut !"

"Buah Cu-ko...?"

Sepasang telinga Mao Tin hong yang seakanakan berdiri tegak seperti keledai yang sedang mendengarkan sesuatu suara aneh. Lelaki tadi kembali berkata.

"Tapi apalah gunanya? Paling banter hanya bisa hidup terus, namun kepandaian silatku tak pernah akan pulih kembali, kita harus bersembunyi lagi ditempat yang terpencil macam neraka ini... hmmm..!"

"Sudahlah, tahanlah keadaan sedikit"

Hibur perempuan itu.

"dunia persilatan amat berbahaya, orang-orang dalam persilatanpun licik dan busuk hatinya, coba kau lihat siapa sih diantara sekian jago kenamaan dalam dunia persilatan yang berhasil memperoleh akhir hidup secara baik?"

"Sekalipun ilnu silatmu sudah punah sekarang dan tak mungkin bisa pulih kembali untuk selamanya, namun ibarat sayang kehilangan kuda, siap tahu kalau akibat musibah malah memperoleh keuntungan? Asal kita berdua dapat hidup berdampingan secara begini sampai tua nanti, oooh, . bukankah hidup kita ini sangat berbahagia?"

Lelaki tadi kembali mendengus dingin.

"Tentu saja bahagia, kepandaian silatmu bertambah maju dengan pesatnya, mendaki bukit menyeberangi jurang semuanya bisa kau lakukan dengan mudah tentu saja kau bahagia, tapi kau jangan lupa, aku..."

"Coba lihat kau melamun lagi"

Tukas perempuan itu cepat.

"coba kalau aku tidak mesti berburu dan mencari bahan makanan, aku benar-benar tak sudi menggunakan ilmu silatku lagi, aku tak ingin berpisah denganmu meski hanya sedikitpun!"

Lelaki itu menghela napas berat, lalu membelokkan pokok pembicaraan kesoal lain, ujarnya.

"Kalau kita bisa hidup dengan aman dan sentausa, hal ini masih mendingan, kuatirnya bila suatu hari bencana besar muncul di depan mata, mau kabur tak bisa, mau menghindar sukar bisa jadi aku harus menggorok leher untuk menghabisi nyawa sendiri !"

Perempuan itu nampak amat sabar dan tabah, kembali dia menghibur dengan lembut.

"Kau tak usah kuatir, tak ada manusia yang bisa sampai disini, atau seandainya ada. aku toh yakin masih sanggup untuk melindungi keselamatan jiwamu !"

"Sudahlah"

Kata lelaki yang berpikiran sempit itu, suami istri memang seharusnya sehidup semati, tapi bila bencana tiba, siapa tahu akan menyelamatkan diri sendiri ?

Sekarang saja kau bisa berkata begini, coba kalau sampai keadaan tersebut yang pasti kau akan terbang dan aku yang mampus !"

Tampaknya habis sudah kesabaran perempuan itu, dengan suara dalam dia segera berseru.

"Apa maksudmu berkata demikian ?"

"Jangan marah, mungkin aku sedang kesal sehingga mengucapkan kata2 yang kurang sedap"

Karena lelaki itu sudah mengaku salah, yang perempuan pun tidak menegur lebih jauh, kata nya kemudian.

"Mari kita percepat langkah kita cepat sampai rumah dan cepat beristirahat."

Lelaki itu mengiakan menyusul kemudian langkahnya dipercepat dan makin lama suara nya semakin menjauh.

Mao Tin hong yang bersembunyi di belakang pohon justru tertawa girang sambil diam-diam bertepuk tangan, dia seperti menang lotre serarus juta saja.

Dalam keadaan begini, dia seakan-akan lupa kalau musuh tangguh masih mengejarnya, sambil keluar dari belakang pohon gumamnya seorang diri.

"Bagus, bagus sekali, inilah yang dinamakan "Bila takdir belum sampai, Thian akan merubah jalan"

Dasar nasib aku Mao locu masih baik. heeeh... heeeh... heeeh... ternyata aku dapat berjumpa dengan sepasang lelaki perempuan anjing tersebut disini. !"

Kemudian setelah berhenti sejenak, sambil bertepuk tangan dia bergumam lagi.

"Locu akan menguntil di belakang mereka lalu melakukan suatu kunjungan yang sama sekali diluar dugaan mereka, setelah itu yang laki di jagal, sedang yang perempuan, heeeh... heeeh..."

Dasar bajingan tua, dimana ada kesempatan, niat jahatnya segera muncul. Dengan bangga dia tertawa dingin berulang kali, kemudian gumamnya lebih jauh.

"Seandainya tempat itu cukup rahasia dan terpencil letaknya, aku akan hidup satu atau dua tahun baru keluar dari wilayah Biau ini, apalagi jika buah Cu ko dapat menambah tenaga dalamku... heeeh... heeeh silahkan saja perempuan cabul itu hidup tenang berapa waktu, haaah... haa.."

Sambil tertawa seram tiada hentinya, dia segera melompat ke depan dan melakukan pengejaran.

Waktu itu, laki dan perempuan tersebut belum keluar dari hutan belantara tersebut namun suara tertawa dingin dan gumaman Mao Tin hong yang lirih tak sampai mengejutkan mereka.

Namun Mao Tin hong tidak seharusnya lupa daratan pada saat ini serta tertawa terbahak-bahak.

Betul suara tertawanya tidak terhitung keras sekali, toh suara mana terdengar juga oleh perempuan yang berada didepan.

Perempuan tersebut bukan cuma pintar, pengalamannyapun sangat luas, dengan cepat dia tahu kalau gelagat tidak menguntungkan.

Sedangkan yang lelaki, kurang tenaga dalam nya sudah punah, apalagi benaknya sedang dipenuhi oleh persoalan yang pelik, maka dia sama sekali tidak mendengar atau merasakan apa-apa.

Perempuan itu sama sekali tidak berpaling namun otaknya berputar keras mencari akal bagus untuk menghadapi keadaan tersebut, akhirnya dia menemukan sebuah akal bagus dan segera melaksanakannya menurut rencana.

Jalan punya jalan, mendadak perempuan itu berbisik.

"Kita tak usah pulang kerumah kediaman, bagaimana berkunjung dulu keloteng Si hunlo?"

Laki-laki itu nampak tertegun kemudian katanya.

"Hari sudah begini malam, masa kau hendak berlatih ilmu lagi?"

Perempuan itu menggeleng pelan.

"Tidak, aku masih ada urusan penting yang harus segera diselesaikan."

"Kalau hendak pergi, pergilah seorang diri, aku sudah lelah !"

Dengus lelaki itu tak sabar. Perempuan itu segera merendahkan suaranya dan berbisik.

"Dengarkan perkataanku, tak usah berpaling, dibelakang kita ada orang yang menguntil secara diam-diam, kalau kita langsung pulang maka ibaratnya memancing srigala masuk ke rumah, lebih baik kita menuju ke Si-hun-lo saja agar lebih gampang membereskan dirinya."

Mendengar perkataan tersebut, berubah hebat paras muka lelaki itu, agak gugup dia berbisik.

"Kau... kau tidak salah mendengar."

"Bagaimana mungkin aku bisa salah mendengar ?"

Sahut perempuan itu sambil berkerut kening. Lelaki tersebut menjadi gugup bercampur kaget, dengan cepat dia berseru kembali.

"Tahukah kau siapa dia ? Apa sebabnya mengejar kita ?"

Perempuan itu menggeleng cepat.

"Belum kulihat orangnya, tapi bisa jadi di karena kan buah Cu ko tersebut !"

"Padahal daerah kabut beracun ini jauh dari keramaian manusia, bagaimana mungkin ada orang bisa sampai disini ? Aneh betuI."

Lelaki itu semakin tak tenang. Kemudian setelah berhenti sejenak, dengan nada gelisah kuatir dia berkata lagi.

"Mampukah kita mengurungnya di loteng Si hun-loo ?"

"Dapat, coba dengarkan dengan seksama, setelah masuk kedalam loteng nanti, kau harus selekasnya masuk ke ruang semedi di atas loteng, apa pun yang akan terjadi diluar, kau tak usah munculkan diri."

"Buah Cu ko itu simpan saja dalam sakumu bila aku berhasil mengurung orang tersebut maka akan kuketok pintu tiga kali sebagai kode, sampai waktunya kau boleh membukakan pintu bagiku, jangan lupa !"

Sembari berkata perempuan itu mengeluarkan sebiji buah Cu ko dari sakunya dan diserahkan pada sang lelaki untuk menyimpannya.

Waktu itu Mao Tin hong masih belum sadar kalau jejaknya sudah ketahuan, bahkan dia masih mempunyai perhitungan yang begitu matang sehingga makin dipikir semakin bangga hatinya, dia menganggap kejadian ini bagaikan itik panggang yang siap dihidangkan.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** SEMENTARA itu sepasang laki perempuan yang berada didepan telah mempercepat langkahnya.

Diam-diam Mao Tin hong kegirangan, dia menganggap tujuannya sudah semakin mendekati didepan mata.

Tak selang berapa saat kemudian, sepasang laki perempuan itu sudah berjalan keluar dari hutan.

Berhubung keadaan medan didepan sana terlalu terbuka dan hampir tiada tempat untuk menyembunyikan diri.

maka dia mengambil keputusan untuk memperjauh kuntitannya.

Kini sepasang laki perempuan tersebut sudah menelusuri sebuah jalan setapak dan membelok beberapa tikungan.

Mao Tin hong menunggu sampai seperminum teh lamanya kemudian baru menyusul dari belakang.

Siapa tahu begitu sampai ditempat tikungan tersebut, aneh !

Bayangan tubuh dari laki perempuan tersebut sudah lenyap tak berbekas.

Kejadian ini kontan saja membuat Mao Tia liong sangat cemas.

dia percepat larinya dan mengejar lebih jauh.

Akhirnya ia berhasil menemukan kembali jejak dari laki perempuan itu, ternyata tersebut bukit diatas sebidang tanah yang luas berdiri sebuah perkampungan kecil, dalam perkampungan hanya terdapat sebuah bangunan loteng, ke sanalah laki perempuan itu pergi.

Setelah mengetahui arah tujuan dari korbannya, Mao Tia hong tidak terlampau terburu napsu lagi, pertama-tama dia memperhatikan dulu keadaan disekitar sana, kemudian memperhatikan pula situasi disekitar perkampungan.

dengan cepat dirasakan bahwa tempat tersebut memang merupakan sebuah tempat persembunyian yang amat bagus.

Maka dengan langkah lebar dia berjalan menuju ke arah perkampungan tersebut.

Ketika mendekati perkampungan tersebut, tiba tiba Mao Tin hong meningkatkan kewaspadaannya.

Dengan cepat dia menghentikan langkahnya kemudian mengernyitkan sepasang alis matanya.

Ternyata dia menemukan kalau perkampungan tersebut dibangun aneh dan sangat istimewa.

Perkampuagan itu menempati daerah seluas berapa hektar, bila dibandingkan perkampungan biasa memang agak kecilan, tapi saat ini terutama diwilayah seperti ini.

Mao Tin hong merasa perkampungan tersebut cukup besar.

Yang paling membuat hatinya gelisah adalah bangunan didalam perkampungan tersebut.

Didalam perkampungan tersebut, selain bunga dan pepohonan.

hanya sebuah bangunan loteng kecil yang indah dan mentereng saja berada disitu.

Kalau dibilang kecil bentuknya memang betul, namun menterengnya mungkin tiada bandingannya dikolong langit ini.

Baik atap, tiang maupun bahan bangunan lainnya boleh dibilang memakai bahan bangunan berkwalitet tinggi.

Padahal tempat ini tak lebih hanya sebuah wilayah terpencil diwilayah Biau yang dekat dengan kolam beracun.

Siapa yang berdiam disitu?

Dan siapa pula yang membangun perkampungan dengan bangunan loteng kecil itu?

Jangan-jangan sepasang laki perempuan anjing itu?

"Tidak.

Sudah pasti bukan mereka, mereka !

Hmm!

Meskipun yang perempuan itu mempunyai jiwa pertukangan.

sayang, tidak kenal seni, apalagi yang laki laki, dia tak lebih hanya seorang bajingan tengik yang kemaruk perempuan, harta dan kedudukan.

Berdasarkan kemampuan kedua orang itu, jangan lagi berapa bulan atau tahun, separuh hidup merekapun belum tentu sanggup membangun loteng semacam itu.

Lantas siapa ?

Yaa, siapa ?

Mungkinkah ditempat ini hidup seorang jago berilmu tinggi ?

Mungkinkah sepasang laki-perempuan anjing itu berjodoh dan diterima oleh tokoh sakti itu sebagai muridnya hingga mereka harus hidup mengasingkan diri disana.

"Mungkin ya, hal ini ada kemungkinannya !"

Ya betul, cukup berdasarkan buah Cu ko yang dibicarakan sepasang laki perempuan anjing itu, benda mestika yang merupakan mestika langka dalam dunia ini mana mungkin bisa mereka kenali dengan begitu saja ?

Kalau benda "Cu-ko"

Nya saja tidak kenal, bagaimana mungkin bisa dipetik ?

Baru aneh namanya kalau semuanya serba kebetulan dan mereka benar-benar bisa mendapatkan sebiji buah Cu-ko.

Berdasarkan dari dugaan itu, Mao Tin hong menganggap dalam loteng itu pasti ada penghuninya, dan penghuni dalam loteng itu sudah pasti adalah seorang Tokoh persilatan yang sudah lama mengasingkan diri dari keramaian dunia.

Berpikir sampai disini, Mao Tin hong benar-benar tidak berani masuk, dia hanya bisa berdiri termangu-mangu diluar perkampungan saja.

Tapi setelah berpikir lebih Ianjut, dia berpendapat kalau dia harus memasuki bangunan loteng itu.

Oleh karena sekarang dia sudah terpojok sehingga maju tak bisa mundurpun tak dapat, hanya ada satu jalan ini saja yang dapat ditempuh, maka sambil menghimpun tenaga dalamnya bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan, dia memasuki perkampungan tersebut dengan berhati-hati sekali.

Pintu perkampungan yang lama sudah rusak, kini telah diganti dengan dua lembar pintu baru.

Ke dua lembar pintu baru itu terbuat dari kayu, hal mana menambah kecurigaan dan kesangsian dalam hatinya, dia tidak habis mengerti manusia macam apakah pemilik perkampungan tersebut.

Sudah berapa tombak dia memasuki perkampungan itu, namun tiada yang menghadang, tiada yang menegur, suasana masih tetap sunyi-senyap tak kedengaran suara apa-apa.

Tapi justru makin sepi suasananya, makin berhati-hati dia melangkah ke daIam.

Tiba dipintu loteng, pelan-pelan dia mendorong pintu tersebut ke belakang.

Dalam dugaannya semula, pintu loteng itu pasti tertutup rapat-rapat, tapi bagaimana kenyataannya ?

Hanya sekali dorongan pelan saja, pintu itu sudah terbuka lebar.

Mao Tin hong berkerut kening, kemudian setelah berpikir sejenak akhirnya dia melangkah masuk ke dalam.

Demi keselamatan sendiri disamping menyelidiki keadaan dalam bangunan loteng itu, Mao Tin hong telah mengambil keputusan untuk memasukinya, maka setelah melangkah ke dalam dia segera menegur.

"Adakah seseorang disini ?"

Didalam dugaannya, tak mungkin ada orang yang akan menjawab pertanyaannya itu, sebab entah siapakah pemilik bangunan loteng itu dan apa maksudnya membangun disana, yang pasti dia tak ingin berjumpa dengan orang luar.

Sebagaimana diketahui, dia masuk setelah sepasang laki-perempuan itu masuk, berarti sepasang laki perempuan itu bisa jadi telah mengetahui jejaknya dan melaporkan hal ini kepada pemilik bangunan loteng itu, sedang pemilik bangunan loteng itu tentu akan memandang dirinya sebagai musuh.

Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaannya, baru selesai dia berbicara, suara jawaban sudah terdengar berkumandang.

Jawaban itu muncul dari atas loteng.

"Mao sancu, silahkan naik ke loteng !"

Begitu mendengar suaranya, Mao Tin hong segera mengetahui siapa yang sedang berbicara, seharusnya dia tak perlu kuatir terhadap orang ini, tapi anehnya sekujur badannya bergetar keras begitu mendengar teguran mana.

Sementara Mao Tin hong masih tertegun, suara dari atas loteng telah berkumandang kembali.

"Bagaimana? Apakah Mao sancu tak mau memberi muka?"

Terpaksa Mao Tin hong harus menenangkan gejolak perasaannya, kemudian menyahut.

"Kukira siapa, ternyata Su nio dan.."

Su nio?

Betul, orang yang berada diloteng itu memang Su nio dari bukit pemakan manusia dulu, dari sini dapat disimpulkan kalau lelaki yang berada bersamanya tak lain adalah Khong It-hong Baru saja Mao Tin hong menyebutkan nama "Su-nio", dari atas loteng lantas berkumandang lagi seruan dingin.

"Mao sancu, selirmu Su-nio yang dulu sudah lama mampus, yang berhadapan muka dengan sancu sekarang adalah aku, aku she nona dari keluarga Mo!"

Ucapan "aku she Mo"

Dan "nona dari keluarga Mo"

Ini bagi Mao Tin-hong boleh dibilang jauh lebih mengejutkan dan mengerikan hatinya ketimbang kemunculan Sun Tiong lo secara tiba-tiba dihadapan matanya.

Dari balik matanya memancar keluar sorot mata ketakutan untuk sesaat sulit baginya untuk menjawab pertanyaaan tersebut.

Tapi "Su nio", bukan, yang benar adalah nona Mo sudah berkata lagi.

"Sancu, bila dugaanku tak salah, tampaknya kau sedang ketakutan ?"

"Sunio, siapa suruh kau mengacau belo? Siapa bilang kalau kau she Mo ?"

Mau Tin hong berkerut kening. Nona Mo segera tertawa.

"Kalau ayahku sendiri yang bilang, masa hal ini bisa salah ?"

Sahutnya kemudian. Sekali lagi Mao Tin hong merasakan hatinya terkesiap.

"Ayahmu? Omong kosong, masa kau tahu siapa ayahmu ? Dia berasal dari marga apa ?"

Kembali nona Mo mendengus dingin.

"Sudahlah orang she Mao. percuma saja sandiwaramu itu, terus terang saja kukatakan kepadamu, pembunuhan berdarah dari keluarga Mo dan penghinaan serta aib yang pernah kuterima akan kutuntut balas kepadamu sekarang juga !"

Diam-diam Mao Tin-hong menggigit bibirnya kencang-kencang, kemudian katanya.

"Baiklah, terserah apapun yang hendak kau ucapkan, tapi akupun harus mengatakan pula kepadamu secara terus terang, kau tidak she Mo, Mo Kiau jiu bukan ayahmu !"

Pelan-pelan nona Mo menampakkan dirinya dari tempat persembunyiannya, kemudian setelah tertawa dingin kemudian dia berkata.

"Aneh, aku toh belum pernah memberitahukan kepadamu kalau ayahku adalah Mo Kiau jiu ? Darimana kau bisa tahu?"

Sekali Iagi Mao Tin hong dibikin tertegun, tapi dengan cepat dia berkata lagi.

"Sekalipun kau tak pernah mengatakannya, namun aku hanya kenal dengan seorang saja yang she Mo."

"Cuuuh ..."

Nona Mo mendesis penuh amarah "mengapa tidak kau katakan bahwa cuma Mo Kiau jiu seorang yang mempunyai ikatan saat ajalmu !"

Mao Tin hong memutar sepasang biji matanya, memandang sekejap kesana kemari, mendadak dia mengalihkan pembicaraan ke soal lain katanya.

"Jangan kita persoalkan dulu masalah tersebut Su nio, lohu ingin berjumpa dulu dengan pemilik loteng ini !".

"Dengarkan baik-baik, aku bernama nona Mo."

Hardik nona Mo dengan marah. Tiba-tiba Mao Tin hong melototkan sepasang matanya bulat-bulat, lalu bentaknya.

"Budak sialan, kau anggap aku sudah tak mampu membunuhmu sekarang juga ?"

Nona Mo tertawa dingin pula.

"Betul, aku tahu apa yang sedang kau pikir kan dalam hatimu, sekarang bukankah kau ingin mencari dulu siapa gerangan pemilik loteng! ini kemudian baru membekukku disaat aku sedang tidak siap."

"ltu menurut pendapatmu."

Tukas Mao Tin hong.

"seandainya aku tak ingin melepaskan dirimu, betapapun cerdiknya kau dan Khong It hong, waktu itu memangnya bisa kabur dari cengkeramanku ?"

Mendengar ucapan mana Nona Mo segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Heeehh... heeeh... wah, wah. wah. kalau begitu kau memang orang yang saleh bajik dan bijaksana !"

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan kembali dengan suara keras.

"Mao Tin hong. nonapun ingin memberitahukan kepadamu secara terus terang, Khong It hong berada didalam loteng ini cuma sayang..."

Mao Tin hong sengaja berlaku laping dada, katanya kemudian sambil tertawa.

"Sudahlah, anggap saja kau memang nona Mo. sekarang undanglah pemilik loteng agar munculkan diri."

"Asal kau dapat memasuki loteng ini, seperti apa yang telah kukatakan tadi, akan ku undang kau untuk naik ke atas loteng !"

Kata nona Mo pula sambil tartawa lebar.

"Ooooh..."

Mao Tin hong mendongakkan kepalanya dan mulai memperhatikan keadaan disekeliling bangunan loteng tersebut.

Perabot dalam loteng itu amat sederhana tapi segala sesuatunya teratur sangat rapi.

Anak tangga berada disebelah kanan pintu masuk dan melingkar ke atas hingga berhenti diatas loteng sebelah kiri, oleh sebab itu bawah loteng terbentang sebuah ruangan meja baja yang antik, dibelakang meja merupakan sebuah bangku panjang.

Di sebelah kanan meja baja terdapat sebuah patung sastrawan yang terbuat dari kayu, tingginya seperti manusia biasa dan sedang duduk sambil membaca buku.

Disebelah kiri meja baja merupakan sebuah lampu duduk dengan lilin yang masih utuh, namun belum disulut.

Pada dinding ruangan terdapat lukisan-lukisan orang kenamaan.

Di sebelah kanan ruangan, kecuali terdapat anak tangga yang melingkar pada bagian depan, dibagian belakang terdapat sebuah almari buku yang sangat besar, selain itu terdapat pula sebuah rak antik yang diletakkan dekat dinding berseberangan dengan pintu masuk..

Mao Tin hong mencoba untuk memperhatikan anak tangga melingkar tersebut, nampaknya bukan terbuat dari dari kayu namun semuanya terbuat amat indah dan artistik.

Mao Tin hong berdiri di pintu masuk bawah loteng yang tak jauh letaknya dari loteng bagian atas, dia hanya sempat melihat bagian kiri dan kanannya, sedangkan bagian atasnya sama sekali tidak terlihat.

Walaupun demikian dia dapat melihat tiga bagian Iainnya, disebelah samping berupa jendela, dibalik pintu tentu saja kamar tidur atau mungkin juga kamar baca atau kamar tamu.

Kalau dilihat dari keadaan bangunan tersebut, tampaknya tiada jebakan apapun.

Sementara dia masih termenung, nona Mo telah berkata lagi.

"Bagaimana? Apakah segala sesuatunya telah terlihat jelas?"

Mao Tin hong segera tertawa.

"Ehmm, boleh dibilang tempat ini merupakan sebuah loteng yang cukup indah."

Baru saja dia selesai berkata, Nona Mo telah mengucapkan katakata yang menggidikkan hati.

"Benar, tentu saja boleh dibilang sebuah loteng yang sangat indah, tapi aku pikir lebih cocok kalau tempat ini dinamakan uang raja akhirat atau sarang naga gua harimau, sebab nama tersebut jauh lebih cocok!"

Mao Tin hong segera mendengus dingin.

"pengetahuan lohu sudah cukup luas, gertak sambalmu itu tak akan bisa membuat hatiku keder."

"Tentu saja"

Nona Mo segera menimpali lagi dengan suara amat dingin.

"Itulah sebabnya silahkan Mao Toa sancu naik keatas loteng!?"

Saat ini Mao Tin hong sudah cukup berpengalaman, tentu saja dia tak sudi tertipu dengan begitu saja, sambil tertawa dingin tiada hentinya dia menggeleng, lalu sambil menunjuk kearah kursi dibelakang meja katanya.

"Lohu sudah letih, tolong kau sampaikan kepada pemilik loteng ini agar dia saja yang turun sendiri!"

Mendadak nona Mo tertawa cekikikan "Haaah... haaahh... betul-betul seorang pemberani, beginikah macam Sancu dari Bukit pemakan manusia?"

Walaupun panas hatinya namun Mao Tin hong masih berusaha untuk menahan sindiran tersebut, dengan cepat dia tertawa hambar.

"Sudah, terserah apa pun yang hendak kau katakan, pokoknya lohu akan menunggu kedatangan pemilik loteng disini saja"

Selesai berkata dia lantas melangkah kedepan dan menuju kebelakang meja baca itu. Mendadak nona Mo berseru lagi sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Mao sancu, beranikah kau duduk dikursi itu?"

Disaat dia mengucapkan perkataan tersebut persis disaat Mao Tin hong hendak duduk.

Baca Juga: Pembakaran Kuil Thian Lok Si 4

Baca Juga: Pedang Asmara 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert