Eps 4 Pembakaran Kuil Thian Lok Si - Kho Ping Hoo
Baca online Pembakaran Kuil Thian Lok Si - Kho Ping Hoo
Cersil Pembakaran Kuil Thian Lok Si - Kho Ping Hoo.
Dengan singkat Siauw Eng menceritakan pengalamannya dan diam-diam Cin Pau terkejut juga, karena kalau hwesio itu dapat menghadapi Siauw Eng dengan tangan kosong selama lima puluh jurus bahkan telah merampas dan mengembalikan pedang gadis ini, tentu ia memiliki kepandaian yang tak boleh dibuat gegabah.
Keduanya lalu mencari kuda Siauw Eng dan segera kembali ke kota raja.
Di sepanjang jalan mereka bercakap-cakap seakan-akan mereka telah menjadi kenalan baik dan melihat sikap Siauw Eng yang sama sekali tidak malu-malu itu, diam-diam Cin Pau mempunyai anggapan lain.
Kalau dulunya ia menganggap Siauw Eng sombong dan galak, sekarang dianggapnya gadis itu jujur dan sopan, bahkan menarik hati sekali.
Setelah Siauw Eng pergi, Sian Kon Hosiang menghela napas dan berkata kepada hwesio muka hitam itu.
"Lokoai, sungguh jahat sekali perwira she Can itu. Ia telah menghasut semua orang gagah untuk memusuhi kita."
Dengan muka bersungut-sungut si muka hitam itu berkata.
"Salahmu sendiri, sute. Telah berkali-kali kukatakan bahwa manusia jahat seperti Can Kok itu harus dilenyapkan dari muka bumi agar jangan membuat kekacauan lagi, akan tetapi kau selalu melarang. Dia menaruh dendam semenjak kukalahkan dulu ketika ia mengejarmu dan karena ia agaknya tahu pula bahwa kau adalah pemuda yang dulu dikejar-kejarnya, maka tentu saja ia takkan berhenti sebelum menghancurkan kita sebagai pembalasan dendam. Kalau kau suka, malam ini juga aku dapat pergi ke rumahnya dan menghabiskan nyawanya yang kotor itu."
Sian Kong Hosiang menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
"Bukan demikianlah jalan keluar yang harus diambil oleh orang-orang yang membersihkan batin seperti kita, Lokoai!"
"Ah, kau lebih sabar dan sulit dari pada Pek Seng Suhu!"
Sambil bersungut-sungut akan tetapi tidak berani membantah, si muka hitam lalu mengiringkan sutenya itu melompat turun dari atas genteng.
"Besok kalau mereka datang menyerang, apakah kau juga tidak hendak melawan?"
"Bagaimana besok sajalah. Kita hanya membela diri dan baru turun tangan apabila mereka mengganggu,"
Jawab Sian Kong Hosiang dengan sabar akan tetapi tetap.
Hwesio muka hitam yang disebut Lokoai ini memang adalah hwesio yang dulu mengalahkan Can Kok.
Dia mempunyai riwayat hidup yang cukup menarik.
Sebelum ia menggunduli kepalanya dan masuk menjadi hwesio, namanya adalah Li Song Ek dan ia terkenal sebagai seorang perampok yang kejam dan ganas serta memiliki ilmu silat tinggi.
Pada suatu hari, di dalam hutan yang menjadi daerah operasinya, kebetulan sekali lewat Bu Eng Cu Tiauw It Lojin.
Li Song Ek tidak kenal kepada orang tua ini dan turun tangan merampoknya, akan tetapi ia ternyata telah menemui batu.
Dengan mudah saja Bu Eng Cu telah menjatuhkannya.
Kepala perampok yang bermuka hitam dan yang amat menyombongkan kepandaian sendiri ini tentu saja merasa penasaran sekali mengapa seorang kakek dengan tangan kosong mudah saja menjatuhkannya dalam dua tiga jurus.
Berkali-kali, ia bangun dan menyerang lagi, akan tetapi kesudahannya hebat.
Tiap kali ia menyerang selalu ia terjungkal.
Akhirnya dia menyerah dan berlutut di depan Bu Eng Cu Tiauw It Lojin, mohon menjadi muridnya.
Bu Eng Cu Tiauw It Lojin kasihan melihat orang kasar yang telah menjalani cara hidup sesat ini.
Ia melihat bahwa orang ini pada hakekatnya jujur dan tidak jahat, bahkan memiliki bakat cukup baik dalam ilmu silat.
Maka ia lalu mengajukan syarat bahwa apabila Li Song Ek mau bertobat dan suka menjadi hwesio, ia mau mengampuninya dan memberi pelajaran silat.
Karena hatinya telah tetap dan bulat hendak menebus dosa, pada saat itu juga Li Song Ek membubarkan semua anak buahnya dan dengan pedang lalu mencukur rambutnya hingga gundul plontos.
Kemudian ia ikut Bu Eng Cu merantau sambil menerima latihan ilmu silat dari kakek sakti itu.
Bu Eng Cu tidak hanya memberi latihan ilmu silat, akan tetapi juga ilmu batin untuk membersihkan batin bekas kepala perampok itu.
Benar saja, Li Song Ek menjadi sadar dari pada segala dosa yang pernah diperbuatnya, maka setelah ia diperkenankan melakukan perjalanan merantau seorang diri, Ia lalu mempergunakan ilmu kepandaiannya untuk menolong orang.
Oleh karena mukanya buruk dan hitam sedangkan tubuhnya agak bongkok, maka orang-orang memberi julukan kepadanya Sin-jiu Lokoai atau Setan Tua Tangan Sakti.
Ia suka sekali dengan julukan ini hingga selanjutnya ia memperkenalkan diri dengan nama baru ini dan namanya sendiri telah dilupakan.
Biarpun perangainya telah berubah, namun sifat kersa dan tak mau kalah di dalam hatinya tetap belum lenyap.
Setiap kali ia mendengar ada orang pandai, tentu ia ingin mencoba kepandaian orang itu.
Pada suatu hari, ia tiba di kuil Thian Lok Si.
Para hwesio menyambutnya dengan ramah tamah dan baik, dan kepadanya lalu dihidangkan makanan dan masakan dari sayur tanpa daging.
Hal ini membuat Sin-jiu Lokoai merasa tak puas.
"Mana daging dan arak? Saudara-saudara harap jangan terlalu kikir, betapapun juga aku adalah seorang tamu yang harus dihormati sepantasnya. Kalau saudara-saudara datang ke tempatku, biarpun aku hanya mempunyai seekor ayam atau seekor babi, tentu akan kupotong dan dagingnya kusuguhkan kepada saudara-saudara. Adapun tentang arak wangi, kalau aku tidak punya uang, aku bisa berhutang kepada warung arak."
Para hwesio yang menyambutnya saling pandang dengan melongo. Selama hidup, mereka belum pernah melihat hwesio yang seaneh ini.
"Saudara yang baik,"
Kata seorang di antara mereka.
"Kami di sini tidak memiliki babi atau ayam."
"Ha, ha, ha, jangan kau membohong, itu tak baik bagi seorang hwesio. Bukan ayamkah yang berjalan di sana itu?"
Ia lalu menuding ke arah pekarangan depan di mana memang terdapat dua ekor ayam gemuk sedang makan cacing.
"Itu bukan ayam kami, itu adalah ayam tetangga,"
Kata hwesio tadi.
"Meminjam ayam tetangga untuk menghormati tamu apa salahnya? Besok kan dapat diganti dengan uang!"
Sambil berkata demikian, Lokoai lalu memungut batu kecil dan sekali ia mengayunkan tangannya, seekor ayam roboh berkelonjotan dan mati seketika itu juga.
Ternyata bahwa batu kecil itu telah menyambar lehernya hingga leher ayam itu hampir putus, seperti disembeli dengan pisau tajam saja.
"Nah, itu sudah ada daging ayam harap saudara jangan berlaku kikir dan suka memasakkan daging ayam itu untuk saudaramu yang kelaparan ini!"
Kejadian ini membuat semua hwesio yang berada di situ menjadi tak senang dan juga kuatir.
"Saudara, bagaimana seorang suci berlaku seperti ini? Apakah kau lupa bahwa Sang Buddha menyintai segala benda di dunia ini dan kita sekali-kali tidak boleh mengganggunya hanya untuk kesenangan diri sendiri saja? Apalagi membunuh nyawa ayam untuk dimakan dagingnya. Dan minum arak lagi. Bukankah arak itu minuman yang bisa mengotorkan pikiran dan batin? Saudaraku yang baik, bagaimana kau masih belum insaf dan sadar?"
Tiba-tiba Lokoai tertawa tergelak-gelak.
"Ha, ha, ha, ini semua memang masih bodoh! Kenapakah hwesio tidak boleh makan daging dan minum arak? Kita ini bermulut, berperut, dan mempunyai rasa yang ingin menikmati kelezatan makanan. Mengapa berpura-pura alim di luar akan tetapi di dalam hati mengilar melihat dan mengenangkan makanan lezat? Aku tak dapat begitu, biarpun kepalaku telah menjadi gundul. Kalau aku suka, aku makan saja, karena hal itu baik bagi mulut dan perut. Kalian tidak suka, sudahlah, aku sendiri masih sanggup untuk menghabiskan seekor ayam saja."
"Omitohud..."
Tiba-tiba terdengar suara perlahan dan halus dan seorang hwesio tua keluar dari dalam. Hwesio ini adalah Pek Seng Hwesio yang menjadi ketua dari Thian Lok Si.
"Sungguh picik dan sempit pandangan saudara ini, akan tetapi hal itu dapat dimaafkan karena kau masih bodoh."
Lokoai ketika melihat seorang hwesio tua yang bersikap lemah lembut keluar dan datang-datang menganggapnya picik dan sempit pandangan serta menyebutnya masih bodoh, segera melompat berdiri dengan marah.
"Kau ini siapa, datang-datang berani memaki padaku? Aku Sin-jiu Lokoai tidak biasa menerima hinaan orang."
"Pantas, pantas..."
Kata Pek Seng Hwesio.
"jadi saudara yang bernama Sin-jiu Lokoai? Pinceng adalah Pek Seng Hwesio, ketua dari kuil ini."
"Mengapa kau menyebutku picik dan bodoh?"
Tanya Lokoai dengan marah sekali.
"Nah, nah... seorang hwesio yang masih bisa marah-marah seperti kau, bukankah itu bodoh? Memang nafsu itu berantai, satu timbul lalu membangkitkan yang lain! Nafsumu yang serakah akan makanan barang berjiwa itulah yang membangkitkan dan membesarkan nafsu amarah yang kini berkobar di dadamu. Pelajaran sang Buddha berdasarkan cinta kasih, cinta kasih yang suci murni terhadap segala benda di dunia ini, dan pelajaran memutuskan diri dari belenggu karma yang yang menimbulkan segala kesengsaraan dunia. Apakah nafsumu masih begitu tebal dan kau masih begitu senang terbelenggu oleh rantai-rantai emas dari karma? Bagaimana kau dapat mengendalikan nafsu-nafsumu apabila kau masih menuruti segala keinginan makan enak dan minum arak?"
"Pek Seng Hwesio,"
Kata Lokoai dengan mata bersinar.
"telah lama aku mendengar tentang kelihaianmu, tidak tahunya kau hanya lihai dalam hal memutar lidah. Ingin kulihat apakah kedua tanganmu juga selihai lidahmu!"
Sambil berkata demikian, setan tua itu lalu melompat maju, menerjang dengan sebuah pukulan kilat ke arah dada Pek Seng Hwesio.
Akan tetapi hwesio tua itu tidak berkelit sama sekali, hanya mengangkat tangan kirinya dan ketika pukulan tiba, ia menyambut pukulan itu dengan telapak tangannya, dan sungguh aneh!
Menurut lazimnya, kalau dipukul sekeras-kerasnya, orang itu tentu akan terpental ke belakang, akan tetapi kali ini sebaliknya.
Bukan Pek Seng Hwesio yang terpental, akan tetapi bahkan tubuh Sin-jiu Lokoai yang mencelat ke belakang seakan-akan ia dilempar oleh tenaga raksasa.
Ternyata bahwa Pek Seng Hwesio telah menggunakan tenaga lweekang yang tinggi dan dipusatkan di telapak tangannya hingga ketika kepalan tangan Lokoai tiba, ia lalu mendorong si muka hitam itu sambil mengembalikan tenaga pukulan.
Sin-jiu Lokoai yang hanya merasa betapa telapak tangan Pek Seng Hwesio lunak sekali dan tiba-tiba tubuhnya terdorong ke belakang tanpa dapat di tahan lagi, menjadi terheran-heran dan penasaran sekali.
Setelah bangkit kembali, ia lalu menubruk maju pula.
Akan tetapi, kembali ia kena didorong roboh ke belakang.
Sampai tiga kali ia menyerang dan tiga kali pula ia terguling hingga akhirnya ia insaf bahwa ilmu kepandaian Pek Seng Hwesio benar-benar sangat tinggi, maka serta merta ia lalu menjatuhkan diri berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Semenjak saat itu, Lokoai lalu tinggal di dalam kuil Thian Lok Si dan menjadi murid Pek Seng Hwesio.
Tentu saja ilmu silatnya maju pesat, juga batinnya menjadi lebih bersih serta wataknya menjadi agak lunak, tidak sekeras dulu walaupun harus diakui bahwa sifatnya yang berangasan dan kasar itu tidak mudah lenyap.
Ketika Can Kok dulu mengejar Un Kong Sian dan Lin Hwa, perwira ini roboh dengan mudah ditangan Lokoai.
Dan setelah Pek Seng Hwesio menerima Un Kong Sian sebagai murid yang tersayang, Lokoai masih tetap berada di situ, bahkan ia merasa amat sayang pula kepada Un Kong Sian yang memiliki ilmu kepandaian lebih tinggi darinya.
Kemudian Pek Seng Hwesio melakukan perjalanan merantau ke barat dan menyerahkan pimpinan kuil ke dalam tangan Un Kong Sian yang telah mengganti nama menjadi Sian Kong Hosiang, dan Lokoai masih tetap berada di situ membantu sutenya.
Biarpun ia menjadi saudara tua dalam perguruan, namun Lokoai yang maklum bahwa ilmu kepandaian Sian Kong Hosiang lebih tinggi darinya, lagi pula dalam segala hal, hwesio muda ini lebih pintar dan lebih terpelajar, maka ia selalu menurut dan tak pernah membantah.
Demikian pun, dalam menghadapi serangan Siauw Eng dan menghadapi kemungkinan serbuan para perwira di bawah pimpinan Can Kok, Lokoai selalu menurut kehendak dan keputusan Sian Kong Hosiang.
Ketika Siauw Eng dan Cin Pau tiba di rumah Gak Song Ki menjelang fajar, Gak Song Ki dengan heran dan kuatir bertanya dari mana mereka datang.
Siauw Eng terus terang menuturkan pengalamannya di kuil Thian Lok Si hingga dengan mengerutkan jidat Gak Song Ki menegur.
"Siauw Eng, lain kali kau janganlah suka berlaku lancang dan membawa kemauan sendiri. Masih untung bahwa kau tidak mengalami bencana dalam perjalanan malam tadi. Kalau sampai kau mendapat celaka dalam tangan hwesio jahat itu, apakah bukan berarti kau membikin susah orang tuamu?"
Siauw Eng menundukkan kepala saja dan menerima salah, karena memang ia telah terlalu memandang ringan hwesio-hwesio di Thian Lok Si.
"Biarlah, kami berdua yang nanti akan membalaskan penasaran hatimu, Siauw Eng,"
Kata Bok San Cu yang selalu memanjakan muridnya.
Kemudian Gak Song Ki, Bok San Cu, Cin San Cu dan Cin Pau lalu menuju ke rumah Can Kok di mana telah berkumpul orang-orang gagah lainnya.
Setelah itu, mereka beramai lalu berangkat ke kuil Thian Lok Si, diiringkan oleh sepasukan tentara di bawah pimpinan Can Kok, sebanyak seratus orang.
Di sepanjang jalan, rakyat yang melihat pasukan tentara kerajaan ini menyingkir ketakutan oleh karena mereka sudah sering mendengar bahwa semenjak terjadinya pemberontakan petani, banyak penangkapan telah diadakan dan dilakukan oleh tentara kerajaan dengan tuduhan bekas pemberontak.
Ketika pasukan itu tiba di depan kuil, semua orang yang sedang bersembahyang di kuil itu pada lari dengan takut, meninggalkan kuil itu.
Sin-jiu Lokoai mengepalai para hwesio melakukan penjagaan dan Lokoai ini sendiri maju menyambut para perwira dengan muka gagah dan tak gentar sedikitpun.
Pada saat itu, Sian Kong Hosiang sedang duduk bersamadhi di dalam kamarnya hingga yang bertugas mewakilinya dan memimpin para hwesio adalah si muka hitam.
Hwesio di Thian Lok Si berjumlah enampuluh tiga orang dan semuanya sedikit banyak memiliki kepandaian ilmu silat hingga mereka telah bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.
Semua hwesio ini memang mempunyai perasaan tidak puas dan tidak suka kepada kaisar, dan rata-rata mereka bersimpati kepada para petani yang dulu memberontak karena mereka maklum bahwa kaisar dan kaki tangannya hanyalah serombongan orang-orang yang menghisap rakyat jelata belaka.
Can Kok mencabut keluar surat perintah dari kaisar dan dengan suara nyaring lalu berkata.
"Atas nama Kaisar yang mulia, kuil Thian Lok Si harus ditutup dan semua hwesio yang berada di sini harus menyerah untuk menjadi tawanan!"
Lokoai melangkah maju dan menuding dengan tangannya.
"Can-ciangkun, kau dulu membuat onar di sini dan pernah berusaha menghina dan membikin kotor tempat suci ini, apakah sekarang kau hendak mengulang perbuatan rendah itu lagi?"
"Hwesio jahat, jangan kau sombong. Beranikah kau membantah perintah kaisar?"
Tiba-tiba Pauw Su Kam melompat ke depan sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya hendak memukul.
"Siapa yang hendak membantah perintah? Akan tetapi, kami tidak mau begitu saja menyerah menjadi tawanan sebelum dibuktikan kesalahan kami!"
"Kau telah memberontak, berlaku jahat dan menipu rakyat, masih hendak minta bukti lagi?"
Bentak Can Kok sambil mencabut pedangnya dan memberi tanda kepada anak buahnya yang segera maju mengurung.
"Itu adalah fitnahan belaka, dan aku tahu fitnahan ini datang dari mulutmu yang kotor dan jahat!"
Kata Lokoai dengan marah.
"Bangsat gundul!"
Pauw Su Kam menubruk maju dan memukul dengan ilmu Ang se-ciang ke arah dada Lokoai.
Akan tetapi sambil tertawa menghina, Lokoai lalu menangkis dengan dorongan dari samping hingga tubuh Pauw Su Kam terhuyung-huyung.
Dari gerakan ini saja dapat dibuktikan kelihaian setan tua bermuka hitam itu.
Dan gerakan pertama ini pula yang mencetuskan perang hebat di antara hwesio-hwesio Thian Lok Si dan aparat tentara kerajaan.
Kedua pihak menerjang maju dan sebentar saja ramailah kuil itu dengan suara senjata beradu dan orang-orang berteriak memaki serta kaki tangan bergerak dengan maksud merobohkan lawan.
Lokoai mengamuk bagaikan seekor naga hitam dan setelah ia dikeroyok oleh Pauw Su Kam, Can Kok dan Kongsan Hengte, barulah empat orang ini dapat menahan amukannya dan mereka bertempur dengan hebat sekali.
Lokoai mempergunakan sebuah tongkat besi yang diputar hebat dan mengandung tenaga luar biasa besarnya hingga tiap kali senjata lawan bertemu dengan tongkatnya, lawannya itu merasa betapa tangan mereka menjadi sakit.
Akan tetapi, oleh karena keempat pengeroyok inipun bukanlah lawan-lawan yang rendah ilmu silatnya, maka Lokoai harus mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menjaga diri, terutama dari kedua saudara dari Kongsan itu yang memainkan poan-koan pit dan joan-pian secara luar biasa sekali.
Seratus orang anggauta tentara kerajaan lalu menyerbu ke dalam, disambut oleh enam puluh tiga orang hwesio dari Thian Lok Si hingga terjadilah perang yang amat dahsyat.
Biarpun jumlah para hwesio itu kalah banyak, namun berkat perlawanan mereka yang penuh semangat dan ilmu silat mereka yang cukup baik, maka keadaan menjadi seimbang dan boleh dibilang setiap orang hwesio menghadapi dua orang pengeroyok.
Ketika melihat betapa empat orang kawan mereka dapat menahan amukan Lokoai, maka Gak Song Ki lalu lari ke dalam untuk melakukan penggeledahan, diikuti oleh Cin San Cu, Bok San Cu, Kim-i Lokai, dan Cin Pau, sedangkan orang-orang gagah lain lalu mengamuk membantu para tentara untuk membasmi hwesio-hwesio itu.
Kalau saja Cin Pau tidak ikut dengan Gak Song Ki menyerbu ke dalam, tentu ia akan merasa heran sekali melihat betapa kadang-kadang Lokai mengeluarkan jurus-jurus ilmu silat yang sama betul dengan ilmu silat yang ia pelajari dari suhunya Tiauw It Lojin.
Akan tetapi, oleh karena iapun ingin sekali melihat apa yang berada di dalam kuil itu dan yang menjadi kejahatan kuil ini, maka ia ikut masuk ke dalam.
Pada saat itu, atas bantuan para orang gagah, pihak hwesio terdesak hebat dan telah mulai jatuh korban-korban di pihak mereka.
Can Kok lalu memberi aba-aba dan beberapa orang anak buahnya yang telah mendapat tugas khusus lalu lari ke belakang dan mulai menyalakan api membakar kuil Thian Lok Si bagian belakang.
Beberapa orang hwesio hendak menghalangi perbuatan kejam ini, akan tetapi mereka ini roboh di bawah sabetan pedang para tentara kerajaan hingga makin banyaklah kurban yang roboh mandi darah.
Pada saat Gak Song Ki dan kawan-kawannya berada di ruang tengah, tiba-tiba terdengar suara halus.
"Omitohud! Alangkah kejam kalian ini. Terpaksa pinceng turun tangan!"
Dan berkelebatlah bayangan Sian Kong Hosiang dengan sebatang pedang di tangan.
Cin San Cu dan Bok San Cu, dibantu oleh Kim-i Lokai, lalu maju menyerang dan mereka ini terkejut sekali menyaksikan kehebatan gerakan pedang hwesio ini.
Dengan mengeroyok tiga, masih saja mereka tak dapat mendesak Sian Kong Hosiang yang memainkan pedangnya secara luar biasa cepatnya hingga sinar pedangnya berubah menjadi sinar putih menyilau mata yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Gak Song Ki ikut pula mengeroyok, akan tetapi sekali saja pedangnya terbentur oleh sinar pedang Sian Kong Hosiang, ia menjerit dan pedangnya terpental jauh, terlepas dari tangannya.
Ia lalu mengambil pedang itu lagi, akan tetapi berdiri bengong saja tidak berani mengeroyok lagi.
Adapun Cin Pau, pada saat melihat wajah hwesio itu, hatinya berdebar dan ia berdiri diam seperti patung.
Di manakah ia pernah melihat wajah yang tampan dan halus ini??
Kemudian, ketika ia melihat gerakan pedang Sian Kong Hosiang, ia makin terkejut.
Itulah Kui Hwa Koan Kiam-hwat dari Beng Hong Tosu.
Kalau begitu hwesio ini tentu murid Beng Hong Tosu, dan...
wajah itu...
tiba-tiba ia teringat dan hampir saja Cin Pau memekik karena girang dan heran, juga terkejut.
Kalau begitu, hwesio ini tentulah Un Kong Sian.
"Ong taihiap, lekas bantu mereka!"
Kata Gak Song Ki melihat betapa pemuda itu masih berdiri saja dengan bengong.
Cin Pau lalu mencabut pedangnya dan melompat ke dalam kalangan pertempuran.
Ketika Sian Kong Hosiang melihat seorang pemuda baju putih melompat dengan gerakan dari cabang persilatannya, ia menjadi sangat terkejut.
Terlebih lagi herannya ketika melihat bahwa pemuda itu memegang pedang Pek Kim Kiam, pedang suhunya.
"Kau siapa?"
Bentaknya sambil memutar pedang menangkis desakan ketiga orang lawannya. Akan tetapi, Cin Pau bahkan menjawab dengan sebuah pertanyaan pula.
"Apakah suhu ini murid Beng Hong Tosu?"
"Dari mana kau curi pedang guruku itu?"
Bentak Sian Kong Hosiang dan mendengar suara ini, tidak ragu-ragu lagi hati Cin Pau karena inilah suara Un Kong Sian.
"Ayahnya"
Yang dulu amat disayanginya itu.
"Apakah kau Un Kong Sian??"
Tanyanya lagi sambil menggunakan Pek Kim Kiam menangkis tiga pasang senjata mereka yang mengeroyok Sian Kong Hosiang.
"Gilakah kau??"
Bok San Cu berseru ketika melihat betapa Cin Pau menangkis serangannya terhadap hwesio itu.
"Siapa... siapa kau yang tahu namaku..."
Hwesio itu memandang dengan mata terbelalak.
"Ayah..."
Tiba-tiba Cin Pau berseru keras sekali dan melompat ke arah hwesio itu, lalu berdiri di dekatnya menghadapi ketiga orang pengeroyoknya.
"Cin Pau... kau...???"
Suara Sian Kong Hosiang mengandung sedu tertahan karena terharunya, akan tetapi ia tidak diberi kesempatan untuk berkata banyak-banyak, karena Kim-i Lokai, Cin San Cu dan Bok san Cu mendesak hebat dengan marah sekali.
"Jangan kuatir, ayah, mari kita bereskan ketiga orang penjilat kaisar ini!"
Kata Cin Pau dengan gagah dan sambil tersenyum ia lalu memainkan pedangnya dengan ilmu pedang Kui Hwa Koan Kiam-hwat secara cepat sekali hingga Sian Kong Hosiang yang melihat ini menjadi heran dan kagum.
Timbul kegembiraan di hati hwesio ini.
Sambil memperdengarkan suara ketawanya yang sudah bertahun-tahun tak pernah keluar dari mulutnya, ia berkata.
"Cin Pau... benar... kau Cin Pau...!"
Lalu ia mainkan pedangnya demikian hebatnya hingga kedua orang tua dan muda ini dengan cepat membuat Kim-i Lokai, Cin San Cu dan Bok San Cu menjadi terkejut dan terpaksa melompat mundur karena tidak kuat menghadapi dua batang pedang yang dimainkan sedemikian cepat dan gesitnya.
Sedangkan Gak Song Ki yang melihat dan mendengar pernyataan Cin Pau itu, berdiri bengong dan terheran-heran.
"Siapakah pemuda ini?"
Pikirnya sambil menduga-duga.
Pada saat itu, dari luar menyerbu masuk Kongsan Hengte, Pauw Su Kam, dan Can Kok.
Mereka ini segera maju mengurung Sian Kong Hosiang dan Cin Pau hingga kedua orang ini terpaksa berlaku hati-hati dan mengeluarkan kepandaian karena pengeroyoknya yang berjumlah tujuh orang ini terdiri dari orang-orang yang berilmu tinggi.
Apalagi Kim-i Lokai, dan kedua orang tokoh dari Gobi-san, mereka ini merupakan lawan-lawan berat yang sukar dirobohkan.
"Cin Pau, mari kita pergi, jangan melayani orang-orang sesat ini!"
Sian Kong Hosiang berkata dan biarpun pada saat itu Cin Pau ingin mengamuk dan membasmi musuh-musuh yang mencelakakan ayah angkatnya ini akan tetapi suara Sian Kong Hosiang yang berpengaruh dan halus itu tak kuasa ia membantahnya.
Akan tetapi, ketujuh orang pengeroyoknya tidak mau melepaskan mereka begitu saja.
"Pemberontak-pemberontak rendah! Kalian hendak lari ke mana?"
Seru Pauw Su Kam dengan garang dan ia maju sambil memainkan pedangnya.
Orang ini timbul kegalakkan dan keberaniannya oleh karena melihat bahwa ia maju mengurung dengan enam orang lainnya yang tinggi ilmu kepandaiannya, maka ia pikir bahwa bertujuh ia takkan takut dikalahkan.
Tidak tahunya Cin Pau amat sebal melihat lagaknya ini dan sambil berseru keras, sebuah tendangan pemuda itu tak dapat dielakkan lagi mampir di dadanya hingga sambil menjerit keras orang she Pauw ini roboh bergulingan dan tak dapat bangun lagi.
Ternyata ujung kaki Cin Pau telah berhasil mematahkan sebuah tulang iganya hingga walaupun hal itu tidak membahayakan jiwanya, namun terpaksa akan membuat ia tak dapat meninggalkan pembaringan sedikitnya sebulan.
"Mari, ayah!"
Cin Pau mengajak dan kedua orang ini sambil memutar pedangnya lalu melompat keluar dari kuil Thian Lok Si.
Ketika tiba di luar, alangkah terkejut dan sedih hati Sian Kong Hosiang melihat betapa kuilnya yang besar dan megah telah mulai terbakar sedangkan di halaman depan sedikitnya tiga puluh orang hwesio telah rebah mandi darah, terluka berat atau tewas.
Sisanya masih melakukan perlawanan dengan nekat dan penuh semangat hingga korban yang roboh di pihak penyerbu juga tidak kalah banyaknya.
"Omitohud!"
Sian Kong Hosiang mengeluh dan ketika beberapa orang tentara mencoba untuk datang menghalangi mereka, ia menyampok dengan ujung lengan baju kirinya hingga tiga orang penyerbu itu bagaikan kena disapu angin puyuh, berguling-guling di atas lantai saling tubruk dengan kawan sendiri, yang lain-lain tidak berani maju lagi.
Dan pada saat itu, Sian Kong Hosiang melihat tubuh Sin-jiu Lokoai yang menggeletak dengan tubuh penuh luka dan telah tewas.
"Lokoai...!"
Teriaknya dan cepat sekali Sian Kong Hosiang lalu menyambar jenazah suhengnya ini. Kemudian dengan suara keras ia berteriak.
"Saudaraku sekalian! Lari tinggalkan tempat ini, jangan menambah-nambah dosa lagi dan habisi pertempuran kejam ini!"
Sambil berkata demikian, Sian Kong Hosiang lalu melompat jauh, diikuti oleh Cin Pau.
Tubuh Lokoai masih terpondong oleh hwesio itu.
Sedangkan semua hwesio yang mendengar perintah Sian Kong Hosiang ini, lalu melarikan diri secepatnya, meninggalkan tempat itu.
Sungguh mengerihkan sekali keadaan di luar dan di halaman depan kuil Thian Lok Si.
Mayat manusia bertumpuk malang-melintang, sedangkan kuil itu sendiri mulai dimakan api dengan hebatnya, yang bergulung-gulung ke atas mengeluarkan bunyi berkerotokan karena bambu pecah.
Para tentara yang masih berada di situ, sebagian menolong dan merawat kawan-kawan yang terluka atau binasa, sebagian pula berdiri bersorak-sorak menyoraki kuil yang dimakan api.
Tidak kurang pula di antaranya yang diam-diam mengumpulkan benda-benda berharga dari dalam kuil.
Orang-orang kampung semenjak tadi telah menyingkir jauh-jauh dan bersembunyi, hampir tak berani bernapas.
Ternyata bahwa ketika menghadapi keempat pengeroyoknya yang perkasa itu, akhirnya Sin-jiu Lokai Li Song Ek tidak kuat melawan lebih lama lagi, lebih-lebih ketika di antara orang-orang gagah yang tadi membantu tentara lalu maju mengeroyoknya pula.
Akhirnya, setelah menjatuhkan beberapa orang, ia lalu menjadi kurban keroyokan banyak senjata dan roboh dengan tubuh penuh luka.
Can Kok merasa gembira sekali karena dapat membalas dendam, biarpun ia masih merasa penasaran dan tidak puas melihat betapa Un Kong Sian masih dapat melarikan diri.
Yang membuat mereka penasaran dan heran adalah Cin Pau, pemuda baju putih yang tadinya diharapkan untuk membantu itu ternyata bahkan membantu Sian Kong Hosiang.
Hanya Gak Song Ki sendiri yang diam-diam merasa menyesal dengan terjadinya pembakaran kuil ini dan ia merasa kasihan kepada Sian Kong Hosiang, karena dari sikap hwesio itu ia merasa ragu-ragu untuk percaya bahwa hwesio itu adalah seorang jahat.
Dan yang membuat ia termenung bagaikan menghadapi teka teki adalah ketika mendengar betapa Cin Pau menyebut "Ayah"
Kepada hwesio itu.
Ia mendengar dari Can Kok bahwa Sian Kong Hosiang adalah Un Kong Sian, sute dari kedua pemberontak Khu Tiong dan Ma Gi, Akan tetapi sepanjang pengetahuannya, Un Kong Sian tidak punya anak bahkan telah bercerai dari isterinya, mengapa sekarang orang she Un itu tahu-tahu telah mempunyai seorang putera yang demikian lihainya?
Can Kok memang telah dapat mengetahui rahasia Un Kong Sian, yakni dengan jalan "membeli"
Seorang hwesio dari kuil Thian Lok Si dan juga ia telah mencari keterangan pada janda Un Kong Sian, yakni Bi Nio yang sudah diceraikan dan yang telah kembali ke rumah orang tuanya.
Dengan hati girang karena merasa berhasil dalam usahanya membasmi kuil Thian Lok Si, Can Kok dan kawan-kawannya lalu kembali ke kota raja untuk membuat laporan kepada kaisar.
Peristiwa pembakaran kuil Thian Lok Si itu takkan dapat dilupakan oleh penduduk di sekeliling daerah itu, yang dianggapnya perbuatan biadab yang amat kejam.
Setelah para tentara itu pergi sambil membawa kurban-kurban dari pihak mereka, barulah para penduduk berani keluar.
Akan tetapi mereka tidak berani mencoba untuk memadamkan api yang mengamuk dan membakar kuil, hanya mereka lalu bergotong royong menolong para hwesio yang terluka serta menguburkan mereka yang telah tewas.
Sedangkan sisa para hwesio yang terluput dari pada kebinasaan, melarikan diri cerai berai mencari tempat perlindungan sendiri-sendiri.
Mereka ini hanya dapat menyesali nasib dan termenung memikirkan dosa apakah yang telah mereka perbuat pada penjelmaan di waktu dahulu hingga kini mereka mengalami bencana sebesar itu.
Sian Kong Hosiang mengajak Cin pau melarikan diri ke dalam sebuah hutan di luar kota Tiang-an, dan setelah mereka berhenti berlari dan berdiri di bawah pohon, Sian Kong Hosiang lalu memeluk Cin Pau dan berkata.
"Anak muda, betulkah kau Cin Pau putera Lin Hwa?"
"Cin Pau menjatuhkan diri berlutut dan menjawab.
"Betul ayah, telah beberapa hari aku mencarimu di Tiang-an hingga terbujuk oleh Can-ciangkun untuk membantu menyerbu kuil Thian Lok Si yang katanya menjadi sarang penjahat."
Dengan singkat Cin Pau lalu menuturkan pengalamannya hingga berulang-ulang Sian Kong Hosiang menghela napas panjang.
"Memang Can Kok berhati jahat dan menaruh dendam besar, padahal kuil Thian Lok Si tidak pernah bersalah kepadanya."
Kemudian ia menuturkan kepada Cin Pau tentang pengalamannya dulu ketika melarikan diri dengan ibu pemuda itu dan bersembunyi di kuil Thian Lok Si dan betapa Can Kok mendapat hajaran dari Lokoai yang sekarang telah menjadi mayat itu.
Kemudian mereka berdua lalu menggali lubang di dalam hutan itu dan menguburkan jenazah Lokoai yang malang itu.
Setelah penguburan itu selesai, Cin Pau lalu menyatakan bahwa maksudnya mencari Sian Kong Hosiang ialah untuk menanyakan di mana adanya kuburan ayahnya dan Ma Gi yang tewas karena keroyokan para perwira.
"Eh, jadi kau telah diberitahu oleh ibumu bahwa aku bukan ayahmu sejati?"
Kata Sian Kong Hosiang.
"Kalau begitu, mengapa kau masih menyebut ayah kepadaku?"
"Aku lebih suka menyebut ayah kepadamu, karena kau seorang yang mulia dan menurut ibuku, budimu tak kurang besarnya dari pada seorang ayah sejati."
Sian Kong Hosiang menghela napas dengan terharu, karena tak disangkanya bahwa pertolongan yang dulu ia berikan kepada Lin Hwa masih terus diingat dan disimpan dalam hati janda yang malang itu.
"Kuburan ayahmu dan Ma suheng berada di dalam hutan ketiga dari tempat ini, dan aku seringkali mengunjunginya. Jenazah kedua suhengku itu dikubur oleh dua orang pengembala yang baik hati, akan tetapi aku tidak membuka rahasia mereka karena kuatir kalau sampai diketahui orang tentang kedua makam itu, tentu akan diganggu. Sampai sekarang seorang di antara kedua pengembala itu masih belum tahu jenazah siapa yang mereka kubur dan pengembala ini masih berada di sekitar tempat itu."
Pada keesokkan harinya, setelah bermalam di dalam hutan untuk bersembunyi karena kuatir kalau-kalau para perwira masih mengejar dan mencari mereka, mereka lalu pergi ke dalam hutan di mana terdapat makam Khu Tiong dan Ma Gi.
Cin Pau lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kedua kuburan itu dan menangis keras dengan sedihnya.
Karena Sian Kong Hosiang sendiri tidak tahu yang mana makam Khu Tiong dan yang mana Ma Gi, maka Cin Pau lalu menangisi kedua kuburan itu dengan sedih.
"Ayah, kepada siapakah aku harus membalas dendam ini? Kakekku terbunuh sekeluarganya, ayah binasa dikeroyok, ibu hidup menderita, semua ini karena perbuatan perwira-perwira itu. Yang manakah yang harus ku balas? Apakah aku harus membasmi setiap orang perwira kerajaaan? Katakanlah, ayah, hatiku bingung, pikiranku gelap, agaknya aku takkan merasa puas sebelum membalas dendam ini!"
Sian Kong Hosiang termenung.
"Cin Pau, jangan menurutkan hati panas dan nafsu menggelora. Kau tentu telah mendengar riwayat kakek dan ayahmu dari ibumu. Kakekmu dan kakek keluarga Ma dua orang sastrawan besar itu telah menulis kitab yang menggerakkan hati rakyat hingga tercetuslah pemberontakan kaum petani. Mereka berdua itu dikhianati oleh Pangeran Gu Mo Tek dan ayahmu serta pamanmu Ma Gi telah bertindak melakukan pembalasan dendam dengan membunuh pangeran Gu Mo Tek yang berhati palsu itu, bahkan telah membunuh pula dua orang putera pangeran itu. Siapa lagi yang menaruh dendam dan siapa lagi yang harus balas-membalas? Anakku, janganlah kita dibawa hanyut oleh karma yang selalu mencari kurban. Coba saja kau bayangkan, kalau saja balas membalas ini tidak diakhiri, tentu akan berlarut-larut terus, bahkan keturunanmu sendiri kelak akan tersangkut dan terbawa-bawa. Dan apakah gunanya semua itu? Lihatlah, pembakaran kuil Thian Lok Si agaknyapun menjadi sebuah akibat dari pada peristiwa keluarga Khu dan Ma itu, dan kalau seandainya sekarang semua hwesio membalas dendam kepada semua penyerbu, kemudian keturunan semua penyerbu itu membalas pula, bukankah hal balas membalas ini takkan ada akhirnya?"
Cin Pau tak dapat berkata apa-apa lagi, hanya menubruk ayah angkatnya sambil menangis.
Kemudia ia berlutut lagi di depan kedua makam itu sambil mendekam tak bergerak.
Sian Kong Hosiang mendiamkan saja karena pada saat seperti itu, lebih baik Cin Pau menghabiskan rasa dukanya dan tak perlu diganggu agar rasa penasaran dan kebencian serta dendam yang mulai bertumbuh dihati anak muda ini, akan lenyap dengan sendirinya.
Akan tetapi, tanpa disangka-sangka, pada saat itu terdengar suara kaki kuda mendatangi.
Cin Pau seakan-akan tidak mendengar suara ini, akan tetapi Sian Kong Hosiang telah berdiri dan berlaku waspada, karena disangkanya bahwa yang datang itu tentulah rombongan perwira yang mengejar dan mencari mereka.
Akan tetapi ketika penunggang-penunggang kuda itu muncul dari satu tikungan, ternyata bahwa mereka itu adalah tiga orang penunggang kuda yang masih muda-muda, seorang pemuda dan dua orang gadis cantik yang sama sekali tidak dikenal oleh hwesio ini.
"Cin Pau! Mengapa kau menangis di sini?"
Tiba-tiba seorang di antara kedua orang gadis itu, yang berpakaian merah dan berwajah cantik jelita sekali, turun dari kudanya dan berlari menghampiri Cin Pau yang masih berlutut.
Mendengar suara ini, Cin Pau cepat melompat bangun dengan muka merah dan mata bernyala-nyala.
"Kau...? Apakah kau datang hendak melanjutkan kekejaman ayahmu, kekejaman segala perwira? Apakah kau hendak menawan dan membunuhku? Boleh, boleh! Kalian bertiga, putera puteri perwira yang kaya raya dan gagah, majulah dan mari kita mengadu jiwa di depan makam orang tuaku!"
Sambil berkata demikian Cin Pau mencabut pedangnya Pek Kin Kiam dan melintangkan pedang itu di dadanya. Siauw Eng memandang dengan mata terbelalak dan wajah pucat.
"Cin Pau... apakah kau sudah menjadi gila?"
Tanyanya sambil memandang muka pemuda yang telah banyak berobah semenjak kemarin itu. Wajah ini sekarang nampak kusut dan mengandung kedukaan besar.
"Aku masih terheran-heran mendengar cerita ayah bahwa kau telah membantu penjahat di kuil Thian Lok Si. Aku tidak sengaja mencarimu, dan mengajak kedua saudara Gu ini untuk melihat dua makam yang pernah kulihat ini dan yang menimbulkan keheranan di dalam hatiku. Mengapa kau bersikap begini, Cin Pau? Kau... kau anak siapakah dan kuburan siapakah ini?"
Sian Kong Hosiang hendak mencegah, akan tetapi Cin Pau yang sudah marah dan gelap pikirannya itu lalu berkata dengan suara gagah.
"Inilah kuburan ayahku dan pamanku, kuburan orang-orang gagah Khu Tiong dan Ma Gi. Akulah putera Khu Tiong yang telah terbunuh mati oleh para perwira biadab, mungkin ayahmu Gak Song Ki itupun ikut pula bercampur tangan dan membunuh ayahku. Sekarang mereka membasmi kuil Thian Lok Si menghina ayah angkatku ini, dan kau datang hendak... mengadu jiwa dengan aku?"
Makin pucatlah wajah Siauw Eng, sedangkan Hwee Lian mengeluarkan seruan tertahan dan wajahnya juga pucat sekali.
Sebaliknya Gu Liong ketika mendengar bahwa pemuda baju putih ini adalah putera Khu Tiong, musuh besar yang telah membunuh ayahnya itu, menjadi marah sekali dan memandang penuh kebencian.
Sementara itu, Sian Kong Hosiang tiba-tiba berseru keras dan dari kedua mata hwesio ini mengalirlah air mata.
Ia memandang kepada Siauw Eng dengan mata terbelalak dan mulut celangap, kemudian ia melangkah maju mendekati gadis itu dan sambil menuding ia berkata gagap.
"Kau... kau... mukamu sama benar dengan Souw Kwei Lan... katakanlah, apakah kau anak Souw Kwei Lan...? Apakah Gak Song Ki ayah tirimu...?"
Wajah Sian Kong Hosiang menjadi pucat sekali hingga tidak hanya ketiga orang muda itu yang kaget, akan tetapi bahkan Cin Pau juga terkejut sekali dan heran.
Sebaliknya, Siauw Eng tak terasa lagi mundur dua tindak menghadapi pertanyaan hwesio ini.
Ketika ia memandang, teringatlah ia bahwa hwesio ini adalah kepala hwesio di kuil Thian Lok Si, maka ia makin terkejut sekali.
Ia mengangguk-angguk dan berkata dengan bibir gemetar.
"Be... benar, ibuku adalah Souw Kwei Lan! Akan tetapi... omongan apakah yang kau ucapkan tentang ayah tiri? Gak Song Ki adalah ayahku, ayah sejati."
"Omitohud... Nasib... kau kejam, kau telah mempermainkan anak-anak ini... Nona, ketika malam kemarin kau datang menyerbu, persamaanmu dengan wajah Kwei Lan telah berkesan di dalam hatiku. Kau... kau..."
Hwesio itu memandang ke arah dua makam itu dengan wajah pucat.
"kau adalah puteri tunggal dari suhengku Ma Gi. Seorang di antara dua orang yang kini terkubur di dalam tanah ini adalah ayahmu sejati. Kau adalah anak Ma Gi!"
"Gila!"
Siauw Eng cepat bagaikan kilat mencabut pedangnya dan menusuk ke arah dada Sian Kong Hosiang.
Ia merasa begitu terhina hingga ia lupa diri dan menyerang.
Akan tetapi, Cin Pau cepat menggunakan pedangnya menangkis tusukan ini, karena kalau ia tidak cepat-cepat menangkis tentu pedang Siauw Eng telah bersarang ke dalam dada Sian Kong Hosiang yang di dalam keharuannya yang besar tak berdaya untuk menggerakkan tubuh dan bagaikan buta menghadapi tusukan itu.
"Siauw Eng! Jangan kau mengganggu ayahku!"
"Apa...? Ayahmu lagi...?"
"Ayahku yang sejati adalah yang berada di dalam kuburan ini bersama... bersama... ayahmu. Dan dia ini adalah ayah angkatku."
"Kau gila! Dia inipun gila! Kalian semua orang-orang gila!! Aku...aku adalah anak Gak Song Ki... aku... aku bukan anak pemberontak!"
Dengan wajahnya yang pucat, Siauw Eng mulai menangis.
"Tenang dan sabarlah, nona. Bukan dengan sengaja pinceng melukai hatimu dan rahasia ini tidak sengaja terbuka di sini. Memang sudah menjadi kehendak Thian agaknya. Kau pulanglah dan tanyakanlah hal ini kepada ibumu. Betapun juga, dia tentu akan menceritakan kepadamu sejelasnya."
"Tidak... tidak..."
Kata Siauw Eng sambil menggeleng-gelengkan kepala dan memandang kepada Sian Kong Hosiang, tidak... kau bohong! Katakanlah bahwa kau membohong, kau menipuku... katakanlah bahwa hal ini tidak benar..."
"Kau memang anak Ma suheng, tak bisa salah lagi,"
Kata Sian Kong Hosiang dengan suara tetap.
Dengan isak tertahan Siauw eng lalu lari ke arah kudanya, melompat cepat dan membedal kuda itu bagaikan gila.
Sementara itu, Hwee Lian dan Gu Liong untuk beberapa lama tidak dapat berkata sesuatu.
Berita ini terlampau mengejutkan hati mereka.
Kenyataan bahwa mereka telah mendapatkan makam dari kedua musuh besar keluarga mereka tak berarti penting lagi, bahkan kenyataan bahwa Cin Pau pemuda baju putih itu adalah putera pemberontak Khu Tiong juga tidak sangat penting.
Akan tetapi berita bahwa Siauw Eng adalah puteri Ma Gi, sungguh-sungguh merupakan berita mengejutkan dan hebat.
Sungguh sebuah hal yang sama sekali tak pernah dilupakannya, tak pernah diduga-duga.
Gu Liong lalu majukan kudanya dengan pedang terangkat, siap menggempur Cin Pau, akan tetapi Hwee Lian berseru.
"Suheng, jangan!"
Dan ketika Gu Liong menahan kudanya memandang, ternyata bahwa Hwee Lian telah mengucurkan air mata sambil menatap wajah Cin Pau.
"Kau... kau musuh besar keluargaku,"
Katanya setengah berbisik akan tetapi cukup terdengar oleh Cin Pau yang menjadi bingung.
Sebelum ia sempat bertanya, kedua saudara itu telah membalapkan kuda mereka meninggalkan tempat itu.
Cin Pau berdiri termangu-mangu dengan hati tidak karuan.
Kenyataan atau dugaan bahwa Siauw Eng adalah puteri tunggal Ma Gi, jadi seorang yang bernasib sama dengan dia sendiri, Kecuali bahwa ibu gadis itu telah kawin lagi dengan seorang perwira sedangkan ibunya sendiri mengasingkan diri di puncak Kunlun-san, membuat perasaaan dan pikirannya terhadap Siauw Eng berubah sama sekali.
Tadinya, semenjak pertemuannya dengan Un Kong Sian yang kini telah menjadi Sian Kong Hosiang, ia merasa benci kepada Gak Song Ki dan otomatis ia pun menaruh hati tak senang kepada Siauw Eng yang dianggapnya sebagai puteri seorang perwira berarti menjadi musuhnya pula.
Akan tetapi sekarang ia merasa iba, suka, dan...
girang bahwa Siauw Eng bukan puteri perwira akan tetapi bahkan puteri Ma Gi, sahabat baik dan saudara seperguruan ayahnya.
Cucu Ma Eng, sasterawan tua yang menjadi kawan baik kakeknya Khu Liok itu.
Dengan demikian, maka keturunan keluarga Khu dan Ma yang terakhir adalah dia dan Siauw Eng, atau Khu Cin Pau dan Ma Siauw Eng.
"Cin Pau, tak salah lagi, nona tadi tentulah puteri Ma Gi. Adatnya keras dan tabah seperti ayahnya. Sebagai keturunan terakhir dari keluarga Ma, dia harus kita bela. Kalau sampai para perwira mengetahui bahwa dia anak Ma Gi, tentu dia akan mengalami bencana. Kenalkah kau kepada dua orang saudara tadi?"
"Mereka adalah Gu liong dan Gu Hwee Lian!"
"Apa?"
Sian Kong Hosiang membelalakkan matanya.
"Tak heran mereka membencimu setelah mengetahui bahwa kau putera Khu Tiong. Mereka itu adalah keturunan kedua saudara Gu, putera pangeran Gu Mo Tek yang terbunuh oleh kedua suhengku!"
"Begitukah??"
Cin Pau juga menjadi kaget sekali karena tak disangkanya bahwa di depan kuburan ayahnya dan Ma Gi tadi telah berkumpul empat putera puteri dari ke empat orang yang saling bermusuhan itu.
Alangkah anehnya.
Akan tetapi ia segera ingat akan nasib Siauw Eng, maka segera ia berkata.
"Ayah, kalau begitu, aku hendak menyusul adik Siauw Eng!"
"Baik, kau pergilah dan kalau perlu, kau bela dia dan bawa ke sini!"
Kata Sian Kong Hosiang.
Cin Pau lalu melompat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu sedangkan Sian Kong Hosiang lalu menuju ke dusun Ma Cin Kiang untuk melihat bekas kuilnya dan seberapa dapat mencari para hwesio yang melarikan diri.
Siauw Eng membalapkan kudanya secepat mungkin hingga kuda itu berlari cepat bagaikan sedang berkejaran dengan angin.
Disepanjang jalan, air mata Siauw Eng mengucur deras sekali.
Benarkah ia anak pemberontak, anak Ma Gi yang kabarnya memberontak dan bahkan menjadi pembunuh ayah Gu Liong dan Gu Hwee Lian?
Dia anak orang yang selama ini menimbulkan jijik dan bencinya karena menurut semua orang, kedua orang pemberontak itu telah membunuh pangeran Gu Mo Tek, kakek Gu Liong dan Hwee Lian, dan yang menjadi orang buruan pemerintah?
Akan tetapi, mengapa ibunya menjadi isteri Gak Song Ki?
Dan Gak Song Ki telah dianggapnya seperti ayah sendiri, betapa tidak?
Gak Song Ki demikian baik budi dan mulia terhadapnya, begitu mencinta dan menyayang.
Dan ayahnya ini dimaki-maki oleh Cin Pau yang kalau benar-benar ia anak Ma Gi, adalah putera kawan baik ayahnya itu.
Ah, dia tidak percaya.
Tak mungkin dia anak seorang pemberontak rendah.
Orang di kota Tiang-an terkejut sekali melihat Siauw Eng melarikan kudanya hingga hampir saja menubruk beberapa orang yang sedang berjalan di jalan raya.
Mereka semua mengenal Siauw Eng, mengenal Gobi Ang Sianli yang gagah dan cantik jelita, mengenal puteri perwira Gak Song Ki ini yang disohorkan menjadi kembang kota Tiang-an.
Bahkan kaisar sendiri telah mendengar namanya dan di dalam hati, kaisar ini ingin sekali menyaksikan kecantikannya.
Semua pangeran muda di kota raja kenal padanya dan mengagumi tiada habisnya.
Untung ia memiliki kepandaian tinggi dan menjadi puteri Gak-ciangkun yang terkenal gagah dan disegani orang, kalau tidak, tentu telah banyak datang orang dan pemuda menggodanya.
Ketika tiba di depan gedung orang tuanya, Siauw Eng melompat turun dari kudanya dan membiarkan kuda yang terengah-engah dan penuh peluh tubuhnya itu begitu saja, hingga seorang pelayan segera menghampiri untuk merawat kuda itu.
Siauw Eng berlari masuk ke dalam rumah dengan pipi masih basah air mata.
Ia langsung menuju ke kamar ibunya.
Kwei Lan ketika itu sedang duduk di dalam kamar dan menyulam.
Nyonya yang cantik ini sudah agak tua dan karena ia hidup serba kecukupan dan cukup berbahagia, melihat puterinya telah dewasa, berkepandaian tinggi dan cantik jelita, juga suaminya amat mencintainya, maka hatinya menjadi tenteram dan beruntung hingga ia menjadi agak gemuk.
Kerjanya tiap hari hanya menyulam saja dengan hati senang.
Alangkah terkejutnya ketika melihat puterinya masuk ke dalam kamar sambil berlari-lari dan ketika ia bertemu pandang dengan Siauw Eng, terlepaslah kain yang sedang disulamnya.
Pandangan mata puterinya begitu aneh dan liar menakutkan.
"Eng-ji, kau kenapakah?"
Tegurnya sambil berdiri.
"Ibu...!"
Siauw Eng maju menubruk dan memeluk ibunya. Tak tertahan pula gadis ini menangis sesenggukan di dalam pelukan ibunya.
"Eh, eh anak nakal! Kau kenapakah? Apakah kau berkelahi dengan orang? Siapa yang mengganggumu?"
Siauw Eng menekan desakan sedu sedan yang membuatnya sukar membuka mulut.
Kemudian ia menarik tangan ibunya dan mereka berdua duduk di atas pembaringan.
Dengan kedua tangan masih memegangi tangan ibunya, ia lalu bertanya.
"Ibu, sayangkah kau kepadaku?"
"Eh, eh,"
Kata ibunya sambil tersenyum, akan tetapi kedua matanya memandang penuh kecemasan.
"pertanyaan apakah ini? Sudah tentu aku sayang kepadamu, anak bodoh!"
"Kalau ibu sayang kepadaku, jawablah, segala pertanyaanku terus terang."
"Tentu saja, pertanyaan apakah?"
"Ibu, siapakah sebenarnya Khu Tiong dan Ma Gi?"
Bukan main terkejutnya nyonya ini mendapat pertanyaan demikian dari puterinya.
Siauw Eng merasa betapa kedua tangan ibunya tiba-tiba menjadi dingin dan nyonya itu segera menarik kedua tangannya dari pegangan Siauw Eng.
"Kedua orang itu? Mereka adalah dua orang pemberontak yang telah mendapat hukuman, bukankah kau pernah mendengar tentang mereka?"
Kwei Lan berhasil membuat suaranya terdengar wajar dan tidak gemetar.
"Ibu, apakah ayahku yang sekarang ini, ayahku perwira Gak Song Ki ini, adalah ayahku yang sejati?"
Kini nyonya itu tak kuasa menahan getaran yang membuat ia menjadi pucat.
"Eng-ji, setan manakah yang telah memasuki pikiranmu? Tentu saja ia adalah ayahmu sejati. Apakah kau hendak menghina ibumu sendiri?"
"Ibu... bebar-benarkah kau tega menipu anakmu sendiri? Ibu... aku... tadi... aku telah mendapatkan kuburan mereka, kuburan Khu Tiong dan Ma Gi!" (Lanjut ke
Jilid 08) Pembakaran Kuil Thian Lok Si (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo
Jilid 08
"Apa...!!??"
Berita ini benar-benar mengagetkan hati nyonya itu sehingga tak terasa pula ia berdiri dengan kedua kaki menggigil. Siauw Eng menubruk ibunya dan membawa ibunya duduk di atas pembaringan.
"Ibu, ampunkan anakmu. Aku tidak bermaksud buruk, aku hanya menuntut hakku untuk mengetahui hal yang sebenarnya terjadi. Ceritakanlah, ibu, tentu ada hubungan sesuatu antara kau dan... Ma Gi. Orang bilang bahwa Ma Gi adalah ayahku, betulkah ini??"
Kwei Lan mendengar ucapan anaknya ini bagaikan mendengar suara yang turun dari angkasa raya, yang membuatnya serasa dalam mimpi.
"Ceritakanlah, anakku, ceritakanlah semua apa yang telah terjadi dan apa pula yang kau lihat di kuburan itu,"
Katanya dengan bibir gemetar dan wajah pucat, sedangkan kedua matanya memandang jauh.
Sambil menangis dan dengan suara terputus-putus Siauw Eng lalu menceritakan betapa ia bertemu dengan Cin Pau yang mengaku menjadi putera Khu Tiong dan di situ ada pula seorang hwesio ayah angkat Cin Pau yang menyatakan bahwa ia adalah anak Ma Gi.
"Bagaimana muka hwesio itu?"
"Sikapnya lemah lembut dan halus tutur sapanya, mukanya pucat, halus dan tampan, usianya sebaya dengan ayah."
Kwei Lan mengangguk-angguk.
"Siapa namanya?"
"Sian Kong Hosiang..."
"Hm, memang benar dia! Tentu Kong Sian, siapa lagi,"
Nyonya itu berkata dengan suara perlahan.
"Ibu, betulkah semua itu? Betulkah katanya bahwa aku bukan puteri ayah yang sekarang dan bahwa aku adalah anak Ma Gi?"
Ibunya dengan wajah pucat dan air mata mulai berlinang di kedua matanya yang indah, lalu memeluk anaknya dan berkata perlahan.
"Eng-ji, anakku yang tersayang. Dengarlah, akan tetapi kau harus tetapkan hatimu, nak. Kau tahu bahwa ayahmu amat baik kepadamu, amat mulia terhadap kita. Dengarlah... memang ketika aku bertemu dengan ayahmu, aku sedang mengandung engkau. Dulu... ketika kau masih dalam kandungan, aku adalah isteri Ma Gi, putera dari sasterawan besar Ma Eng. Kemudian, karena menuliskan kitab yang menghina kaisar, maka kakekmu bersama sasterawan besar Khu Liok serumah tangga telah dijatuhi hukuman oleh kaisar. Sekeluarga dibunuh semua. Ma Gi atau ayahmu itu, bersama Khu Tiong putera Khu Liok, lalu mengamuk hebat dan mereka berdua akhirnya juga dibunuh oleh para perwira yang menjalankan tugas perintah kaisar. Ketika pembunuhan terjadi, ayahmu yang sekarang, perwira Gak Song Ki ini, merasa kasihan melihat aku yang sedang mengandung, maka ia lalu membawa lari aku ke rumahnya ini. Di sini aku dirawat dengan baik sekali sampai kau lahir dengan selamat. Kemudian... kemudian ia meminangku, nak, dan... dan terpaksa aku menerimanya hingga aku menjadi isterinya sampai sekarang ini..."
Dengan kedua mata terbelalak dan wajah pucat sekali, sedangkan air matanya mulai turun lagi membasahi pipinya, Siauw Eng mendengarkan penuturan ibunya. Ia memandang kepada wajah ibunya tanpa berkedip.
"Mengapa kau merahasiakan hal ini kepadaku, ibu?"
"Untuk kebaikanmu sendiri, Eng-ji, dan juga atas permintaan ayahmu yang amat mencintaimu seperti anak sendiri."
Tiba-tiba Siauw Eng menarik tangannya dari pegangan ibunya.
"Jadi seluruh keluarga Khu dan ma dibunuh dan ditumpas habis oleh para perwira sedangkan ibu sendiri enak-enak menjadi isteri seorang perwira dan hidup mewah?"
"Siauw Eng...!!"
Ibunya menjerit sambil menutup mukanya lalu menangis.
"Jadi... kakek dibunuh, ayah dibunuh, nenek dibunuh, semua anggauta keluargaku dibunuh oleh para perwira, akan tetapi ibu..., ibu tidak bersakit hati, tidak menaruh dendam bahkan lalu menjadi nyonya perwira Gak...? Ah, aku... aku merasa terhina dan rendah sekali! Lebih baik pada waktu itupun aku ikut mati dalam kandungan ibu bersama seluruh keluarga Ma!"
"Siauw Eng...!"
Kata-kata ini merupakan tikaman hebat sekali yang membuat nyonya itu serentak bangun dan hendak menampar muka anaknya, akan tetapi tubuhnya menjadi lemas dan akhirnya ia roboh pingsan di atas pembaringan.
Pada saat itu Gak Song Ki berlari mendatangi dari luar.
Perwira ini baru saja datang dari istana untuk membuat laporan kepada kaisar tentang penyerbuan kuil Thian Lok Si, dan begitu tiba di rumah, ia mendengar tentang sikap Siauw Eng yang ganjil.
Ia segera berlari masuk dengan hati penuh kekuatiran, dan ketika mendengar suara Siauw Eng yang keras sedang berkata-kata kepada ibunya, ia segera menuju ke kamar isterinya.
Alangkah terkejutnya ketika ia melihat isterinya telah roboh pingsan di atas ranjang sedangkan anaknya itu berdiri dengan muka merah dan air mata bercucuran.
"Siauw Eng... ibumu kenapakah...?"
Tanya Gak Song Ki sambil menubruk isterinya dengan kuatir.
Akan tetapi Siauw Eng tidak menjawab, hanya memandang dengan sinar mata tak senang.
Gak Song Ki tidak memperdulikan anaknya, lalu memijit-mijit kepala dan leher isterinya.
Setelah ditarik urat pada lehernya, maka siumanlah Kwei Lan sambil mengeluh perlahan.
Ketika ia membuka mata dan melihat suaminya telah berada di situ dengan muka kuatir, sedangkan Siauw Eng masih berdiri bagaikan patung, ia lalu menangis sedih.
Gak Song Ki merasa lega bahwa isterinya telah siuman dan dapat menangis, maka ia lalu memandang kepada Siauw eng dengan mata penuh cela dan tegur.
"Siauw Eng, apa yang telah kau lakukan kepada ibumu?"
Dan jawaban yang keluar dari mulut Siauw Eng membuat ia merasa seakan-akan ada kilat menyambar dari luar kamar.
"Gak-ciangkun, aku bicara dengan ibuku sendiri, harap kau jangan ikut campur dan suka keluar dari kamar!"
Gak Song Ki memandang wajah Siauw Eng seakan-akan gadis itu adalah makhluk aneh yang baru saja datang dari lain dunia.
"Siauw Eng, kau... kau adalah anakku, mengapa kau bicara seperti itu? Aku ayahmu!"
Dengan suara tanpa irama Siauw Eng menjawab.
"Ayahku adalah Ma Gi dan sudah tewas dikeroyok oleh perwira-perwira, mungkin kau sendiripun ikut mengeroyok!"
Maka tahulah Gak Song Ki bahwa anak ini telah mengetahui akan rahasia yang ditutupinya rapat-rapat itu.
"Betapapun juga, Eng-ji, aku telah menganggapmu seperti anak sendiri dan memelihara serta mendidikmu sejak kau lahir."
Ucapan yang penuh tuntutan ini bahkan makin memperbesar api kemarahan yang berkobar di dada Siauw Eng.
"Orang she Gak!"
Katanya sambil menuding muka Gak Song Ki.
"Kau baik kepadaku oleh karena itu termasuk siasatmu untuk memikat hati ibuku! Kau bunuh ayahku dan kau pikat ibuku! Bagus...!! Anehkah itu kalau sekarang aku mencabut pedang dan menganggap kau sebagai musuh besarku?"
"Siauw Eng..."
Kwei Lan mengeluh panjang mendengar ucapan anaknya ini.
Gak Song Ki mulai marah melihat sikap Siauw Eng ini.
Timbul perlawanan di dalam hatinya, karena betapun ia sayang kepada gadis ini, akan tetapi ia tetap adalah seorang perwira tinggi yang tentu saja tidak mau dihina orang sedemikian rupa.
"Siauw Eng!! Ucapan dan sikapmu ini hanya menunjukkan bahwa jiwa pemberontak ayahmu tetap mempengaruhimu. Kau berdarah pemberontak dan tak kenal budi orang. Habis, kalau betul kau adalah puteri Ma Gi, kalau betul bahwa aku telah mengawini ibumu, sekarang kau mau berbuat apakah? Kau mau bunuh aku? Boleh, boleh, kau kira aku takut mati."
Kenyataan-kenyataan dan terbongkarnya rahasia itu secara hebat telah melukai batin Siauw Eng dan menekan jiwanya hingga gadis ini seakan-akan menjadi mata gelap dan bingung.
Pertimbangannya telah patah dan ia tidak dapat berpikir secara sehat pula.
Yang memenuhi benaknya pada saat itu hanyalah marah, kecewa, dendam, malu, dan sakit hati.
Mendengar ucapan Gak Song Ki, ia bergerak cepat dan tahu-tahu ia mencabut keluar pedangnya.
"Orang she Gak! Kau kira aku tidak berani menusukkan pedang ini di dadamu? Katakanlah bahwa kau telah ikut membunuh ayahku, ikut membunuh kakekku, ikut membunuh seluruh keluargaku kecuali ibuku yang cantik!"
Sambil berkata demikian, Siauw Eng memandang dengan mata berapi dan pedangnya sudah siap menusuk.
"Siauw Eng, aku adalah seorang perwira yang telah bersumpah setia kepada kaisar!"
Kata Gak Song Ki sambil mengangkat dada.
"betapapun juga, aku hanya menjalankan tugas kewajibanku dengan setia. Aku tidak membunuh siapa-siapa dengan hati membenci, akan tetapi hanya menjalankan tugas semata! Jangankan keluarga Khu dan Ma, biarpun kausendiri atau orang tuaku sendiri apabila memberontak, sudah menjadi tugasku untuk membasminya!"
"Bagus, sekarang lawanlah! Aku juga pemberontak... ingat! Aku anak pemberontak!!"
Sambil berkata demikian, Siauw Eng lalu menyerang dengan pedangnya.
Gak Song Ki bukanlah orang lemah, dan cepat perwira ini lalu mengelak dan mencabut pedangnya.
Perang tanding antara ayah tiri dan anak yang tadinya saling mencinta seperti ayah dan anak tulen itu terjadi dengan hebatnya di dalam kamar, sedangkan Kwei Lan hanya memandang dengan mata terbelalak dan tubuh menggigil.
Akan tetapi, Gak Song Ki yang pada dasar hatinya amat menyayang Siauw Eng, tentu saja tidak tega untuk melawan dengan sungguh-sungguh dan ia tadi mencabut pedang hanya untuk menangkis saja.
Selain dari pada itu, memang ilmu pedangnya masih kalah setingkat jika dibandingkan dengan anak tirinya ini, maka setelah bertempur di tempat sempit itu beberapa lamanya, sebuah tendangan Siauw Eng telah mengenai lututnya dengan tepat hingga ia roboh terguling.
Siauw Eng bagaikan seekor harimau betina yang marah, segera menubruk untuk memberi tikaman terakhir.
"Siauw Eng...!"
Ibunya menjerit ngeri dan tiba-tiba melihat betapa wajah ayah tirinya yang berada di bawah ini tersenyum tenang menanti datangnya tusukan, Siauw Eng menggigil seluruh tubuhnya dan tangannya menjadi lemas.
Bagaimana ia bisa membunuh orang yang selalu baik kepadanya, yang dulu sering menggendongnya, menimang-nimangnya, bahkan mendidiknya ilmu silat dengan penuh kesayangan?
Dengan hati hancur dara itu lalu melarikan diri keluar sambil menahan sedu sedannya.
"Siauw Eng...!"
Terdengar ibunya memanggil.
"Siauw Eng...!"
Suara Gak Song Ki terdengar pula.
Akan tetapi, Siauw Eng tidak memperdulikan mereka dan berlari terus dengan cepatnya.
Pada saat itu, terlihat serombongan orang yang dipimpin oleh Can Kok mendatangi dengan cepat dan ketika mereka melihat Siauw Eng, Can Kok lalu memberi aba-aba dan semua orang yang ternyata adalah tentara-tentara kerajaan itu lalu maju mengejar dan mengurung.
"Tangkap pemberontak!"
Seru mereka. Siauw Eng menjadi marah sekali. Dengan pedang di tangan ia menanti kedatangan mereka dan setelah dekat ia lalu berseru keras.
"Ya, akulah anak pemberontak Ma Gi! Ayoh maju, siapa yang berani, cobalah tangkap aku, Gobi Ang Sianli!"
Beberapa orang anak buah Can Kok maju menyerbu akan tetapi begitu tubuh Siauw Eng berkelebat merupakan cahaya merah, dua orang pengeroyok telah roboh mandi darah.
"Ayoo, pembunuh-pembunuh ayahku, pembunuh kakekku dan sekeluargaku! Majulah menerima pembalasan keturunan keluarga Ma!"
Siauw Eng dengan nekad menyerbu dan mengamuk.
Setiap lawan yang mencoba menyambutnya, baru beberapa gebrakan saja terus roboh tak kuat menghadapi dara yang gagah dan sedang marah, hebat itu.
Can Kok terpaksa maju dengan senjata kongce yang diandalkan di tangan, lalu membantu mengeroyok dengan hebat.
Siauw Eng tidak menjadi gentar, bahkan lalu mengamuk lebih hebat lagi.
Ternyata bahwa Can Kok mendengar berita dari Gu Liong dan ibunya.
Memang semenjak dulu, ibu Gu Liong, yakni nyonya janda Gu Keng Siu itu, menaruh dendam hebat kepada keluarga Khu dan Ma dan selalu mengharapkan untuk dapat membalas dendam itu kepada keturunan kedua keluarga yang telah membunuh suaminya itu.
Kini ia mendengar dari Gu Liong bahwa keturunan keluarga yang dibencinya itu masih ada, yakni Cin Pau dan Siauw Eng, maka segera ia mengadakan hubungan dengan Can Kok yang serta merta memimpin beberapa orang anak buahnya untuk menawan Siauw Eng.
Gu Liong sendiri tidak ikut mengeroyok karena ia dan ibunya mempunyai tugas lain yang lebih mengerikan dan kejam, yakni Gu Liong dipaksa oleh ibunya untuk mengantarkannya pergi ke makam kedua musuh besar itu.
Telah lama Can Kok memang menaruh hati iri terhadap Gak Song Ki yang mempunyai kedudukan lebih tinggi darinya.
Biarpun di luarnya ia selalu bersikap ramah tamah dan hormat, akan tetapi di dalam hati ia merasa iri dan dengki.
Kini mendengar bahwa puteri Gak Song Ki itu ternyata adalah anak tiri dan adalah keturunan langsung dari Ma Gi, Ia menjadi girang dan segera pergi dengan maksud membikin cemar dan malu nama perwira itu, dan menawan Siauw Eng.
Kebetulan sekali rombongan bertemu dengan Siauw Eng yang hendak melarikan diri, maka segera ia maju menyerang.
Namun, ia menghadapi perlawanan yang tak disangka-sangka semula.
Pedang Siauw Eng ganas sekali dan dara itu sukar didekati.
Siapa berani mendekati tentu menjadi kurban pedang.
Bahkan kongce dari perwira itu sendiri tak banyak berdaya menghadapi pedang Siauw Eng.
Karena bencinya kepada perwira ini, Siauw Eng lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk melakukan serangan bertubi-tubi.
Kalau saja tidak banyak anak buahnya yang membantu, pasti perwira she Can itupun tidak kuat menahan serbuan Siauw Eng yang hebat ini.
Pada saat itu, terdengar bentakan.
"Pemberontak kecil sungguh ganas."
Suara ini adalah suara Kim-i Lokai, pengemis tua yang masih berada di kota raja yang datang bersama-sama Pauw Su Kam, suheng dari Can Kok itu.
Dengan datangnya dua orang lihai itu, keadaan menjadi berubah dan kini Siauw Eng terkurung rapat dan terdesak hebat sekali.
Siauw Eng melawan dengan nekat dan mati-matian, mengeluarkan kedua ilmu pedangnya Sin-Coa Kiamhwat dan Pek-Tiauw Kiamhwat berganti-ganti.
Akan tetapi, ia menghadapai Kim-i Lokai yang tingkat ilmu kepandaiannya sudah sejajar dengan kedua guru nona itu sendiri, sedangkan Pauw Su Kam juga memiliki ilmu kepandaian yang tak boleh dipandang ringan, maka tentu saja makin lama ia makin terkurung rapat oleh senjata-senjata lawan.
"Siauw Eng, jangan takut, aku datang membantu!"
Terdengar seruan garang dan berkelebatlah bayangan putih yang gesit sekali.
Cin Pau yang menyusul telah tiba pada saat yang tepat dan membantu Siauw Eng menghadapi lawannya yang banyak dan lihai itu.
Hebat sekali sepak terjang kedua anak muda itu yang bertempur saling membelakangi hingga tidak ada lawan dapat berlaku curang.
Seorang diri Cin Pau dikeroyok oleh Kim-i Lokai, Pauw Su Kam, dan Can Kok yang merasa girang sekali dengan datangnya Cin Pau.
"Bagus, kedua turunan pemberontak telah masuk perangkap. Kita tawan keduanya!"
Kata Can Kok yang segera memberi perintah kepada seorang pembantunya untuk mendatangkan bala bantuan dari istana.
Cin Pau maklum akan berbahayanya keadaan mereka, maka sambil memutar-mutar pedangnya dan memainkan jurus-jurus paling istimewa dari Kui Hwa Koan Kiamhwat hingga Kim-i Lokai dan kawan-kawannya dapat didesak mundur.
"Siauw Eng, mari kita pergi dari sini!"
Kata Cin Pau sambil menarik tangan gadis itu.
Siauw Eng juga insaf akan keadaan yang amat berbahaya, apalagi kalau jago-jago tua yang lain datang, terutama ia takut sekali kalau-kalau kedua orang gurunya datang.
Ia tidak tahu bahwa semua jago-jago silat yang membantu pembasmian kuil Thian Lok Si telah pulang dan hanya Kim-i Lokai dan Pauw Su Kam saja yang masih berada di situ.
Maka dengan cepat ia lalu melompat keluar kepungan sambil memutar-mutar pedangnya.
Para anak buah tentara kerajaan tidak berani menghalangi mereka karena setiap orang yang berani mencoba menghalangi dengan mudah dirobohkan oleh kedua pemuda pemudi lihai itu.
Mereka berdua lalu melarikan diri dengan cepat, dikejar oleh musuh-musuhnya yang berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan senjata.
Akan tetapi ilmu lari cepat kedua anak muda itu sudah mencapai tingkat tinggi hinggahanya Kim-i Lokai saja yang dapat menyamai kepandaian mereka, akan tetapi, seorang diri saja, pengemis tua itu tidak berani turun tangan karena maklum bahwa ia takkan menang menghadapi kedua jago muda itu.
Setelah tiba di dalam hutan dan melihat bahwa tidak ada musuh yang berani mengejar lagi, Siauw Eng tiba-tiba lalu menangis sedih.
Cin Pau menghela napas panjang dan ia maklum apa yang disedihkan gadis ini, maka ia lalu menghibur dengan halus.
"Siauw Eng, janganlah kau berduka. Ketahuilah bahwa kita bernasib sama, akan tetapi baru sekarang kau mengalami kesedihan dan penderitaan. Sedangkan aku, aku dan ibuku, semenjak peristiwa menyedihkan itu terjadi, kami berdua telah menderita hebat."
Ia menghela napas lagi.
"Semenjak ayah meninggal karena keroyokan para perwira atas perintah kaisar, maka ibuku hidup terasing dan bertapa di puncak Kunlun-san, tidak pernah turun gunung dan melihat dunia ramai lagi."
"Lebih baik begitu!"
Kata Siauw Eng dengan tiba-tiba merasa mendongkol sekali terhadap ibunya sendiri.
"Jauh lebih baik hidup sengsara seperti itu dari pada seperti... seperti ibuku..."
Cin Pau sudah mendengar dari Sian Kong Hosiang tentang riwayat ibu Siauw Eng, maka ia lalu berkata menghibur.
"Jangan terlalu menyalahkan ibumu, Siauw Eng. Ingatlah bahwa ketika ia ditinggal mati oleh ayahmu, ia masih muda dan sedang mengandung. Mungkin sekali, ini hanya pendapat dan dugaanku, ia menerima pinangan perwira she Gak itu karena ia menjaga nasibmu atau... atau... siapa tahu karena pada waktu itu ia masih muda sekali."
Mereka lalu saling menuturkan riwayat semenjak kecil dan ketika mendengar tentang pembelaan Un Kong Sian yang sekarang telah menjadi Sian Kong Hosiang itu, Siauw Eng merasa menyesal sekali mengapa tadinya iapun ikut kena ditipu dan menganggap bahwa kuil Thian Lok Si adalah sarang penjahat.
"Mereka itu bohong belaka!"
Kata Cin Pau dengan mata berapi.
"Kuil Thian Lok Si tak pernah menjadi sarang penjahat dan hwesio-hwesio di kuil itu tak pernah melakukan kejahatan. Ini adalah bujukan dan gosokan dari Can Kok, perwira yang berhati busuk itu. Kita harus berhati-hati terhadap perwira itu, karena kalau dipikir-pikir musuh kita yang terbesar adalah Can-ciangkun itu."
"Akan tetapi... ayah... ayah tiriku juga ikut menyerbu Thian Lok Si dan mungkin dulu ikut pula membasmi keluarga kita,"
Kata Siauw Eng dengan gemas, akan tetapi suaranya mengandung kesedihan dan kekecewaan.
"Tentu saja, ayahmu adalah seorang perwira kerajaan, maka setiap perintah raja harus dikerjakannya dengan setia dan taat."
"Cin Pau, pernah kau melihat ayahku?"
Pemuda itu memandang heran.
"Aneh sekali pertanyaanmu ini. Tadi telah kuceritakan bahwa ketika ayah kita gugur, akupun masih berada dalam kandungan ibu. Bagaimana aku bisa melihat ayahmu atau ayahku?"
"Aku... aku ingin melihat wajah ayahku...,"
Kata Siauw Eng dengan suara lemah dan seperti anak kecil yang merengek ingin sesuatu.
Cin Pau maklum bahwa gadis ini sedang bingung sekali dan hal ini tak perlu dibuat heran.
Gadis ini semenjak kecil hidup mewah dan dimanjakan, dalam keadaan kaya raya, disayangi ayah bundanya.
Sekarang, tiba-tiba saja, ia mendapat kenyataan bahwa ayah yang biasanya menyayanginya itu adalah seorang musuh besar, bahwa ayahnya yang tulen adalah seorang pemberontak yang selama ini ia benci.
Dan kini, ia telah melarikan diri dari rumah, berpisah dari ayah bundanya, bahkan dikejar-kejar oleh para perwira dan mungkin selanjutnya akan menjadi orang buruan.
Tentu saja peristiwa ini merupakan tekanan yang hebat sekali pada hati dan perasaan Siauw eng.
"Siauw Eng, mulai saat ini, pandanglah aku sebagai sahabatmu satu-satunya yang bersedia membelamu dengan jiwa dan raga,"
Kata Cin Pau dengan sungguh-sungguh hingga Siauw Eng merasa terharu dan memandangnya dengan kedua mata basah.
"Cin Pau... antarkanlah aku ke makam ayahku..."
Cin Pau mengangguk dan keduanya lalu berjalan perlahan menuju ke hutan di mana terdapat dua makam Khu Tiong dan Ma Gi, ayah mereka itu.
Ketika mendengar dari Gu Liong dan ibunya bahwa Siauw Eng adalah anak Ma Gi dan Cin Pau anak Khu Tiong, Maka Can Kok selain merasa girang dan berusaha menangkap mereka, juga merasa kuatir karena kedua anak muda yang gagah perkasa itu merupakan musuh-musuh yang tangguh dan yang masih berkeliaran bebas hingga membahayakan keselamatannya.
Oleh karena itu, setelah Siauw Eng dan Cin Pau yang dikepungnya itu dapat melepaskan diri, Can Kok segera memberi kabar ke istana, memberi laporan kepada kaisar bahwa dua orang pemberontak muda, keturunan keluarga Khu dan Ma, mengacau dan hendak melanjutkan pemberontakan kakek mereka.
Kaisar terkejut sekali, apalagi ketika mendengar bahwa seorang di antara kedua orang pemberontak itu adalah Gobi Ang Sianli yang telah terkenal namanya di kota raja, dan alangkah marahnya ketika ia mendengar bahwa pemberontak ini semenjak kecil telah dipelihara dan dididik oleh Gak Song Ki, perwiranya yang setia itu.
Ia lalu mengeluarkan perintah kepada Can Kok untuk menangkap Gak Song Ki dan isteri pemberontak Ma Gi yang kini menjadi isterinya itu.
Juga perintah itu mengharuskan ditangkapnya Siauw Eng dan Cin Pau serta Sian Kong Hosiang, ketua Thian Lok Si yang dapat lolos itu.
Semua itu berkat kelicinan dan kecerdikan Can Kok hingga sekali gus ia mendapat surat kuasa dari Kaisar untuk menawan atau membunuh musuh-musuh dan orang-orang yang tidak disukainya.
Kemudian Can Kok menyatakan kekhawatirannya karena pihak musuh adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi, maka ia mohon diberi bantuan perwira-perwira yang pandai.
Kaisar lalu memerintahkan kepada tiga orang perwira yang merupakan panglima besar dan tokoh tertinggi, yakni yang bernama Mau Kun Liong, Oey Houw, dan Oey See In.
Selain mendapat bantuan ketiga panglima ini, Can Kok juga memberi kabar kepada kawan-kawan lamanya, yakni Kongsan Hong-te dan kedua tosu dari Gobi-san, Cin San Cu dan Bok San Cu, oleh karena ia maklum bahwa biarpun Siauw Eng dan Gak Song Ki adalah murid-murid kedua orang tosu ini, akan tetapi Cin San Cu dan Bok San Cu adalah tosu-tosu yang taat dan setia kepada Kaisar.
Dengan senjata surat perintah Kaisar, maka ia yakin bahwa kedua orang tosu itu tentu akan suka membantu untuk menawan murid-murid sendiri.
Setelah membawa surat perintah penangkapan dari kaisar, Can Kok tanpa membuang waktu lagi lalu membawa sepasukan pengawal dan ketiga orang panglima itu, langsung menuju ke gedung Gak Song Ki untuk menangkap perwira ini beserta isterinya.
"Gak Song Ki, kau dan nyonya Ma Gi menyerahlah untuk menjadi tawanan. Kami datang atas perintah kaisar!"
Kata Can Kok dengan sombong sambil memperlihatkan surat perintah itu.
Gak Song Ki adalah seorang perwira yang setia, maka setelah berlutut terhadap surat perintah kaisar itu dan menyatakan ketaatannya, ia lalu menggandeng tangan Kwei Lan dan mengikuti rombongan yang menangkapnya itu.
Seluruh isi rumah menangis sedih karena peristiwa ini dan orang-orang menjadi ribut mendengar betapa perwira Gak Song Ki beserta isterinya telah ditawan oleh kaisar.
"Can-ciangkun, aku telah dapat menduga bahwa kau lah yang berdiri di belakang semua ini,"
Kata Gak Song Ki ketika ia mulai berjalan meninggalkan rumahnya untuk dibawa ke tempat tahanan.
"Pengkhianat jangan banyak membuka mulut!"
Bentak Can Kok.
"kau telah melindungi anak isteri pemberontak besar, percuma saja hendak menyangkal dosa-dosamu yang pantas mendapat hukuman mati!"
Gak Song Ki hanya menggigit bibir saja karena ia maklum bahwa dalam keadaan tak berdaya ini, makin banyak ia bicara, makin hebat pula Can Kok akan menghina.
Karena urusan kali ini menyangkut diri seorang perwira tinggi, maka yang akan menjadi hakim adalah kaisar sendiri dan sementara menanti pengadilan, kedua suami isteri yang malang itu dimasukkan ke dalam sebuah tempat tahanan yang kokoh kuat dan terjaga oleh anak buah Can Kok sendiri.
Sementara itu, kalangan perwira geger ketika mendengar tentang penangkapan ini.
Gak Song Ki adalah seorang perwira yang telah banyak membuat jasa, selain ini, telah beberapa keturunan nenek moyangnya menjadi panglima-panglima yang setia kepada raja, bahkan ayahnya dulu adalah seorang panglima besar yang telah terkenal sebagai pembela kaisar yang paling gagah dan setia, maka penangkapan ini dianggap kurang adil dan menimbulkan gelisah di kalangan mereka.
Terutama sekali Gan Hok, ayah tiri Hwee Lian.
Ketika mendengar dari puterinya yang datang-datang menangis dan menuturkan bagaimana ia telah mengalami hal-hal yang mengejutkan di depan kedua makam pemberontak dan mendapat kenyataan yang mengagetkan bahwa Siauw Eng adalah anak pemberontak Ma Gi, lalu berkata kepada isterinya dan anaknya.
"Sudahlah, kalian jangan ikut campur dalam urusan ini. Ingat bahwa biarpun ayah Hwee Lian tewas dalam tangan kedua orang pemberontak Khu dan Ma, akan tetapi mereka berdua juga sudah tewas pula di tangan petugas-petugas hingga boleh dibilang segala perhitungan telah beres dan lunas. Perlu apa kita harus ikut mencampuri urusan ini pula? Sekarang kalian berdua adalah keluargaku, bukan keluarga Gu lagi, dan aku tidak suka kalau harus mengotorkan tangan menanam bibit permusuhan dengan keluarga Khu dan Ma!"
Hwee Lian menjawab ucapan ayahnya dengan hati terharu.
"Kau benar, ayah. Memang, aku sendiri tidak bisa memusuhi Siauw Eng, tidak hanya karena ilmu kepandaiannya yang tinggi, akan tetapi juga karena ia begitu baik dan telah kuanggap seperti saudara sendiri. Bagaimana aku sanggup untuk menjadi musuhnya, biarpun ayah kami dulu bermusuhan?"
"Sebetulnya ayahmu dulu pun tidak bermusuh dengan Khu Tiong dan Ma Gi, anakku,"
Kata nyonya Gan Hok yang berhati sabar hingga nyonya inipun telah lama menanam rasa sakit hatinya.
"bahkan ketika kakekmu pangeran Gu dan kedua orang sasterawan tua she Khu dan Ma itu masih bersahabat bahkan mengangkat saudara, ayahmu dan kedua orang itu hidup rukun dan damai bagaikan sekeluarga. Ayahmu hanya terbawa-bawa, demikianpun Khu Tiong dan Ma Gi, terbawa-bawa oleh persoalan yang timbul antara pengeran Gu kakekmu itu dan kedua orang sasterawan tua, dan ayahmu menjadi kurban dari pada kedua saudara yang sedang mata gelap dan mengamuk itu."
Demikianlah, ketiga orang ini dengan penuh kesadaran telah dapat menolak godaan nafsu dendam hingga mereka tidak mau ikut mencampuri urusan balas dendam yang turun temurun ini.
Akan tetapi ketika Gan Hok mendengar tentang ditawannya Gak Song Ki dengan isterinya, ia menjadi terkejut sekali dan perwira ini segera keluar dari gedungnya untuk mencari tahu dan kalau mungkin menolong sahabatnya itu.
Siauw Eng dan Cin Pau dengan perlahan berjalan menuju ke makam orang tua mereka.
Mereka tidak banyak bercakap, terbenam dalam lamunan masing-masing.
Tak pernah disangkanya bahwa kini mereka berjalan berdua di dalam hutan sebagai dua orang yang dikejar-kejar dan dimusuhi kaisar.
Perbedaan keadaan mereka yang amat besar dulu itu kini musnah sama sekali dan membuat mereka senasib sependeritaan, saling dekat saling membela, Seperti halnya kedua orang ayah mereka yang sampai matipun berada dalam keadaan berkumpul dan berjajar.
Ketika mereka masuk ke dalam hutan yang mereka tuju, senja telah mulai mendatang, maka mereka lalu mempercepat langkah untuk tiba di makam itu sebelum gelap.
Akan tetapi ketika mereka telah tiba tak jauh dari makam, tiba-tiba mereka mendengar suara orang dan ringkik kuda.
Mereka mempercepat lari sambil mengintai dan alangkah kaget kedua orang muda itu ketika melihat bahwa yang berada di situ adalah serombongan orang yang menggali kuburan ayah mereka.
Dan orang-orang ini dikepalai oleh Can Kok sendiri, bersama tiga orang panglima.
Gu Liong juga nampak berada di situ, bersama seorang wanita yang Siauw Eng kenal sebagai ibu pemuda itu.
"Kejam...!"
Siauw Eng berbisik kepada Cin Pau sambil memandang dengan mata terbelalak.
"Agaknya nyonya Gu Keng Siu hendak membalas dendam kepada kerangka kedua ayah kita..."
Saking merasa ngeri dan marah, Siauw Eng memegang lengan Cin Pau yang juga menegang karena pemuda ini mengepal tinjunya.
"Ingat baik-baik,"
Terdengar Can Kok berkata kepada para pencangkul itu yang telah mulai menemukan kedua kerangka yang dikubur di situ.
"yang tertusuk panah tulang-tulang iganya adalah kerangka pemberontak Khu Tiong. Ia mampus dengan anak panah tertancap di dada. Sedangkan rangka Ma Gi kalau tidak salah tentu tulang pahanya telah patah, karena dulu ketika ia mampus, beberapa bacokan mengenai pahanya dengan keras sekali. Kita kumpulkan tulang-tulang mereka itu untuk dipertontonkan kepada rakyat agar tidak ada yang berani main berontak-berontakan lagi!"
"Sesudah itu kita berikan tulang-tulang itu kepada anjing-anjing kelaparan supaya dimakan!"
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita, yakni suara nyonya Gu Keng Siu.
Suara ini biarpun halus dan merdu akan tetapi terdengar amat menyeramkan sehingga Siauw Eng merasa bergidik.
Juga Cin Pau menggertakkan gigi mendengar betapa tulang-tulang ayahnya hendak diberikan kepada anjing.
Can Kok mendengar ucapan ini, tertawa bergelak dan berkata.
"Alangkah bencimu kepada mereka, Gu-hujin."
"Kalau mereka masih hidup, aku sanggup minum darah mereka!"
Terdengar pula suara yang halus itu berkata lagi.
"Dan aku takkan berhenti sebelum dapat membunuh keturunan pemberontak-pemberontak jahat yang telah membunuh suamiku ini!"
Tiba-tiba seorang di antara para pencangkul itu berkata.
"Nah, inilah kerangka Khu Tiong! Ada anak panah menembus tulang-tulang iganya."
"Yang satu ini tentu tulang kerangka Ma Gi kata pencangkul yang lain. Tulang-tulang itu lalu diangkat dan dipisahkan menjadi dua bungkus. Dan pada saat itu, Siauw Eng dan Cin Pau tak kuat menahan kemarahan hati mereka lebih lama lagi. Dengan pedang terhunus mereka keluar dari tempat persembunyian dan berseru.
"Orang-orang rendah berhati binatang!"
Secepat kilat mereka lalu menyambar ke arah para pencangkul yang sedang membungkus tulang-tulang itu dan, beberapa tendangan mereka membuat para pencangkul itu jatuh bangun dan ada pula yang terlempar ke dalam lubang kuburan yang mereka gali tadi.
Cin Pau lalu mengambil bungkusan tulang ayahnya yang tadi telah dilihatnya dari tempat persembunyian, sedangkan Siauw Eng lalu menyambar bungkusan tulang ayahnya pula.
Dengan amarah yang meluap-luap, Siauw Eng menerjang kepada nyonya Gu Keng Siu sedangkan Cin Pau lalu menerjang Can Kok.
Akan tetapi, tiba-tiba ketiga orang panglima itu membentak keras.
Ketika Siauw Eng menyerang ibunya, Gu Liong cepat menangkis dan terjadi pertempuran di antara kedua orang muda ini, akan tetapi oleh karena kepandaian Gu Liong memang jauh berada di bawah tingkat kepandaian Siauw Eng, sebentar saja pedangnya telah terpental.
Seorang panglima yang bertubuh tinggi besar lalu maju dengan golok di tangan.
Ini adalah panglima pilihan dari kaisar, yang bernama Mau Kun Liong.
Tenaganya besar dan kepandaiannya tinggi sehingga ketika ia menangkis pedang Siauw Eng, Gadis ini menjadi terkejut karena ternyata bahwa tangkisan itu telah membuat telapak tangannya terasa pedas.
Ia berlaku hati-hati sekali dan melawan dengan ilmu pedang Sin-coa Kiamhwat yang lihai, namun perwira tinggi besar itu dapat melawannya dengan baik.
Sementara itu, Can Kok yang diserang oleh Cin Pau, melompat mundur dengan ketakutan.
Perwira yang licik ini sudah pernah melihat kehebatan sepak terjang Cin Pau, maka sekarang tentu saja ia tidak berani menghadapi pemuda gagah perkasa ini seorang diri.
Cin Pau mendesak terus, akan tetapi tiba-tiba dua orang perwira yang gagah maju menyambutnya dengan golok mereka.
Dua orang ini adalah Oey Houw dan Oey See In yang mendapat julukan Tiang-an Ji-Koai-To atau Dua Golok Setan dari Tiang-an.
Memang permainan golok kedua orang she Oey ini hebat sekali.
Golok mereka lebar dan tipis, tajamnya bukan main dan karena golok mereka amat ringan sedangkan tenaganya amat besar, maka gerakan mereka juga cepat sekali hingga golok yang lebar itu merupakan sinar putih yang berkelebatan bagaikan dua ekor naga berebut mustika.
Cin Pau diam-diam terkejut melihat kegagahan dua orang panglima kaisar ini dan tahulah dia bahwa Can Kok telah mendapat bantuan panglima-panglima berkepandaian tinggi dari istana.
Ketika ia mengerling ke arah Siauw Eng, ia mendapat kenyataan bahwa dara baju merah itupun sedang menghadapi seorang panglima tinggi besar bersenjata golok pula.
Melihat permainan golok lawan Siauw Eng itu, diam-diam ia mengeluh karena ketiga orang ini benar-benar merupakan lawan tangguh, sedangkan di situ masih terdapat Can Kok, Gu Liong, dan banyak anggauta tentara.
"Eng-moi, mari pergi!!"
Serunya keras dan oleh karena keadaan telah mulai gelap dan ternyata lawannya amat tangguh, Siauw Eng juga merasa bahwa lebih baik melarikan diri oleh karena sekarang tulang rangka ayahnya telah berada di tangannya.
Ia lalu mengeluarkan jurus berbahaya dari Sin-coa Kiamhwat dan pedangnya menyapu ke arah pinggang dan terus dibalikkan pula menyapu kaki lawan.
Gerakan ini cepat dan dahsyat, maka Mau-ciangkun tidak berani menangkis dan melompat tinggi ke belakang hingga Siauw Eng mendapat kesempatan untuk melompat jauh dan hendak melarikan diri.
Akan tetapi, karena ia tidak menduganya dan berlaku kurang hati-hati, tiba-tiba ia merasa punggungnya sakit sekali.
Untung ia telah mengerahkan tenaganya untuk menolak serangan ini dan piauw yang menyerang punggungnya itu hanya menancap sedikit, akan tetapi cukup untuk membuat ia merasa sakit dan pundaknya terasa kaku.
Cin Pau telah dapat melompat jauh, akan tetapi, ketika ia melihat betapa Siauw Eng telah terkena piauw yang dilepas oleh Mau-ciangkun, ia menjadi terkejut sekali.
Cepat ia mengeluarkan biji-biji caturnya dan ketika ia mengayun tangan, dua buah biji catur melayang ke arah pelepas piauw yang melukai Siauw Eng itu.
Mau Kun Liong cepat berkelit, akan tetapi sebuah biji catur lagi tetap saja melanggar lehernya hingga ia roboh sambil berteriak ngeri.
Kembali Cin Pau mengayunkan tangannya empat biji catur melayang ke arah dua orang lawannya tadi yang juga hendak mengejar.
Akan tetapi kedua saudara Oey ini sudah tahu akan kelihaian biji catur Cin Pau, maka dengan golok di tangan diputar cepat mereka berhasil menyampok biji-biji catur itu.
"Kejar mereka! Kejar pemberontak-pemberontak itu!"
Can Kok berseru marah, hatinya mendongkol sekali melihat betapa kedua orang muda itu kembali berani muncul, bahkan telah mencuri tulang kerangka yang ia suruh gali tadi.
Akan tetapi, Cin pau telah mempergunakan kesempatan itu untuk menghampiri Siauw Eng yang berlari sambil terhuyung-huyung, lalu ia memegang tangan gadis itu dan terus diajak lari cepat.
Kawanan perwira mencoba untuk mengejar, akan tetapi malam telah menjelang datang dan keadaan di hutan itu mulai menjadi gelap.
Mereka merasa ngeri terhadap biji-biji catur Cin Pau yang berbahaya itu, maka mereka membatalkan maksud hendak mengejar terus, bahkan kedua saudara Oey lalu menolong Mau Kun Liong yang menjadi kurban biji catur Cin Pau yang ganas itu.
Untung sekali biji catur itu hanya mendatangkan luka dan memutuskan urat kecil saja, kalau dilepas dengan maksud membunuh, tentu jiwa Mau-ciangkun takkan tertolong lagi.
Setelah berlari jauh Siauw Eng mengeluh dan Cin Pau lalu mengajaknya berhenti.
"Kau terluka, Siauw Eng?"
Tanyanya, karena biarpun tadi ia melihat gadis itu terhuyung-huyung setelah panglima tinggi besar itu melepas piauw, akan tetapi di dalam gelap ia tidak melihat bagian mana yang terluka.
"Punggungku... aku kurang hati-hati dan piauw itu sama sekali tidak bersuara..."
Kata Siauw Eng yang melepaskan buntalan kerangka di atas tanah dan ia sendiripun lalu menjatuhkan diri duduk di atas rumput.
Cin Pau juga meletakkan bungkusan kerangka ayahnya pula dan berlutut di dekat Siauw Eng.
"Di Punggung? Bagaimana rasanya?"
"Tidak apa-apa, hanya... piauw itu masih menancap agaknya."
"Jangan kau bergerak, biar aku mencabutnya."
Sambil berkata demikian, di dalam gelap Cin Pau meraba punggung gadis itu.
"Benar saja, sebatang piauw yang licin dan kecil menancap di punggung, dekat pundak kanannya.
"Biar aku membuat api dulu, jangan kau banyak bergerak!"
Kata Cin Pau yang lalu membuat api dari kayu-kayu kering.
"Jangan, Cin Pau, nanti mereka tahu tempat kita."
"Tidak apa, biar mereka datang kalau berani. Mengobati lukamu lebih penting lagi dan bagaimana aku bisa mengobatinya di tempat yang gelap?"
Setelah api unggun itu menyala, Cin pau lalu memeriksa punggung Siauw Eng dan ternyata bahwa piauw itu bentuknya licin, kecil dan panjang bulat.
Oleh karena piauw ini licin dan bulat, maka ketika dilontarkan tidak mendatangkan banyak suara, laju lurus seperti ular menyambar.
"Siauw Eng, terpaksa aku merobek bajumu di bagian punggung ini,"
Kata Cin Pau agak ragu-ragu dan malu.
Gadis itu hanya mengangguk sambil menggigit bibir.
Setelah pemuda itu merobek pakaian Siauw Eng di bagian yang terluka, maka terlihat betapa piauw itu menancap di kulit gadis yang halus dan putih itu.
"Awas, aku mencabutnya, jangan banyak bergerak!"
Siauw Eng menahan sakit sambil menggigit bibirnya dan peluh memenuhi keningnya karena Cin Pau harus berlaku hati-hati sekali dalam mencabut piauw itu karena ternyata bahwa ujung senjata rahasia ini dipasangi kaitan kecil.
Kalau saja ia kurang hati-hati mencabutnya, tentu kaitan itu akan terlepas dan tertinggal di dalam daging hingga membahayakan luka di punggung itu.
Sebagaimana diketahui, ibu Cin Pau, yaitu Lin Hwa adalah puteri seorang ahli pengobatan yang juga mewarisi kepandaian ayahnya itu, maka Cin Pau juga mengerti tentang pengobatan, mendapat pelajaran dari ibunya hingga ia selalu membawa bekal obat bubuk untuk menjaga kalau-kalau ia terluka, terutama sekali membawa obat-obat yang khusus digunakan sebagai penolak dan penyembuh luka terkena senjata beracun.
Akan tetapi, setelah memeriksa dengan teliti, ia mendapat kenyataan bahwa biarpun piauw dari perwira tinggi besar itu bisa membahayakan jiwanya namun tidak mengandung racun hingga luka itu hanya nampak merah karena keluarnya darah.
Ia menjadi lega dan setelah menaruh obat pada luka itu, ia lalu memberikan mantelnya kepada Siauw Eng untuk dipakai menutupi bajunya yang bolong di bagian punggung itu.
Setelah diberi obat, dan piauw itu dicabut dari punggungnya.
Siauw Eng merasa enak dan tidak sakit lagi, maka gadis ini lalu menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon di dekat api unggun dan tak lama kemudiania tertidur pulas.
Cin Pau tidak mau mengganggu, bahkan ia lalu menyelimutkan ujung mantel yang panjang itu pada kedua kaki Siauw Eng, lalu duduk menjaga dekat api unggun.
Entah mengapa, semenjak saat bertemu dengan Siauw Eng yang dikeroyok oleh perwira-perwira, ia merasa seakan-akan ia mempunyai tugas untuk membela dan melindungi gadis ini.
Pada keesokkan harinya, Cin Pau menyatakan bahwa ia hendak membakar tulang-tulang kerangka kedua ayah mereka itu.
"Tulang-tulang ini tidak baik dibawa kemana-mana, bahkan berbahaya sekali. Dulu ibu pernah bercerita bahwa tulang-tulang manusia yang sudah lama terkubur di dalam tanah apabila dikeluarkan kadang-kadang mengandung racun yang jahat dan berbahaya bagi manusia hidup. Maka, lebih baik kita sempurnakan tulang-tulang kerangka kedua ayah kita ini, kemudian abunya kita bawa ke Kunlun-san untuk memberitahukan dan memberikannya kepada ibuku dan selanjutnya mengubur abu ini secara baik-baik. Sebelum kita bertindak lebih jauh, aku hendak minta nasehat suhu dan ibu."
"Terserah kepadamu, Cin Pau, akan tetapi, aku takkan bisa hidup bahagia sebelum membalas dendam kepada semua perwira jahat itu dan membunuh kaisar yang telah menghukum keluarga kita!"
Gadis ini masih merasa sakit hati dan marah sekali hingga cita-cita satu-satunya yang terkandung dalam hatinya hanya membalas dendam.
"Memang, kita harus membalas dendam, akan tetapi kurang baik kalau kita bertindak secara sembrono dan menuruti hawa nafsu belaka. Dalam pandanganku, tidak semua perwira busuk dan jahat belaka, di antaranya banyak pula yang baik, seperti ayah tirimu itu, kurasa tak patut kalau ia dimasukkan daftar perwira-perwira jahat."
Siauw Eng menggigit bibirnya.
"Ia... ia telah membawa lari ibu, ia... ia telah membujuk ibuku..."
Cin Pau menarik napas panjang. Ia tahu bahwa gadis ini terlalu terluka hatinya dan terlalu keras kepala, hingga kurang baik kalau terlalu didesak dan dibantah.
"Betapapun juga, harus diingat bahwa keadaan mereka itu kuat sekali. Baru tiga orang perwira yang membantu Can Kok tadi saja sudah merupakan lawan-lawan yang tangguh, apalagi kalau ditambah Kim-i Lokai dan yang lain-lain. Kita harus minta bantuan suhu dan juga ayah angkatku."
"Kau takut?"
Tiba-tiba timbul pula kekerasan hati Siauw Eng. Memang gadis ini pemberani sekali dan boleh dikata ia tidak kenal arti takut dalam melaksanakan cita-citanya. Cin Pau menggeleng-geleng kepala.
"Aku tidak takut, Siauw Eng, hanya berhati-hati. Apa artinya kalau kita bergerak akan tetapi tidak berhasil bahkan terkena celaka pula? Bukankah itu berarti usaha kita akan kandas dan sia-sia belaka? Akan tetapi, biarlah kita rundingkan hal itu nanti saja. Sekarang paling perlu kita menyempurnakan tulang-tulang kedua ayah kita ini."
Kali ini Siauw Eng tidak membantah.
Ia lalu membantu Cin Pau mengumpulkan banyak kayu kering yang mudah didapat dan dikumpulkan dari dalam hutan itu, lalu menumpuk kayu itu menjadi dua bagian.
Setelah itu, atas petunjuk-petunjuk Cinpau, mereka lalu mengatur tulang-tulang itu sedapat-dapatnya di tempat yang betul hingga merupakan kerangka yang utuh, dibaringkan telentang dan berjajar.
Siauw Eng melakukan pekerjaan ini sambil menangis terisak-isak hingga Cin Pau juga tidak dapat menahan keluarnya air mata.
"Siauw Eng... hati-hatilah kau, jangan menggunakan tanganmu untuk meraba mukamu. Biarkan saja air matamu mengalir turun, dan sekali-kali kau tidak boleh menggunakan tanganmu untuk menjamah mukamu. Perhatikan ini baik-baik, Siauw Eng, demi keselamatanmu sendiri!"
Siauw Eng mengangguk-angguk dan menahan mengalirnya air mata seberapa dapat.
Akhirnya selesailah pekerjaan itu dan Cin Pau lalu mencampurkan semacam obat bubuk putih dengan air dan mereka lalu mencuci tangan dengan campuran obat itu untuk membersihkan dan membinasakan kuman-kuman yang mungkin menempel di tangan mereka dari tulang-tulang itu.
Keduanya lalu berlutut di depan tumpukan tulang itu sambil mengheningkan cipta, memohon berkah dari roh ayah masing-masing.
Setelah itu, mereka lalu menyalakan api yang membakar kayu-kayu kering itu dengan cepat..
Oleh karena kayu-kayu yang ditumpuk di bawah, di pinggir dan di atas tulang-tulang itu kering sekali, maka dengan mudah kayu-kayu itu dimakan api hingga sebentar saja api berkobar hebat dan asapnya bergulung-gulung ke atas.
Angin bertiup perlahan seakan-akan tangan-tangan yang tidak kelihatan membantu mengipasi api itu hingga menjadi makin hebat dan panas.
Kedua anak muda itu berlutut lagi sambil memandang api yang membakar tulang-tulang ayah mereka.
Setelah api yang membakar tulang-tulang itu padam, maka semua tulang rangka telah menjadi abu.
Dengan hati-hati, teliti, dan penuh hormat kedua orang muda itu lalu mengumpulkan abu ayah mereka ke dalam kain membungkus tulang tadi.
Mereka begitu asyik dalam pekerjaan itu hingga tidak tahu bahwa sepasang mata memandang mereka dari balik pohon dengan penuh perhatian.
Kemudian pemilik sepasang mata itu, seorang pengembala, keluar dari tempat mengintainya dan menghampiri mereka lalu menegur.
"Jiwi ini sedang mengapakah? Apakah yang jiwi bakar dan itu abu apakah?"
Cin Pau dan Siauw Eng menengok, dan ketika Siauw Eng melihat bahwa yang datang adalah pengembala penanam jenazah ayahnya, ia lalu berkata kepada Cin Pau.
"Inilah dia orangnya yang telah begitu baik hati untuk mengubur jenazah kedua orang tua kita."
Cin Pau segera berdiri dan menjura kepada orang itu dengan hormat.
"Ah, kebetulan sekali. Telah lama siauwte ingin sekali bertemu dengan orang budiman yang telah mengubur jenazah ayah dan pamanku untuk menyampaikan penghargaan dan pernyataan terima kasihku."
Pengembala itu tersenyum.
"Hal yang kecil itu apa artinya untuk disebut-sebut? Setiap orangpun tentu akan melakukan hal itu apabila ia melihat jenazah sesama manusia terlantar di tengah hutan. Jadi mereka itu adalah ayah kalian? Bagus, bagus, aku merasa girang sekali bahwa akhirnya mereka ada juga yang mengaku. Tak ada yang lebih menyedihkan bagi orang yang telah mati kecuali kalau tidak ada orang yang mau mengakui namanya lagi. Dan jiwi ini membakar apakah?"
"Kami telah membakar tulang-tulang rangka ayah kami dan ini adalah abu mereka,"
Kata Siauw Eng. Pengembala itu mengangguk-angguk.
"Kalian orang-orang muda yang berbakti."
Kemudian ia memandang sekeliling seakan-akan takut kalau kata-kata yang hendak diucapkannya ini terdengar oleh orang lain.
"Jiwi aku telah tahu bahwa kedua kuburan itu telah dibongkar orang. Hal ini membuat aku merasa penasaran dan heran, maka aku lalu mencari keterangan dan... ternyata bahwa kuburan itu adalah kuburan kedua orang she Khu dan Ma yang namanya telah menggemparkan seluruh dunia. Orang-orang boleh menyebutnya pemberontak, akan tetapi bagiku tetap mereka itu orang-orang gagah yang gugur dengan pedang di tangan. Makin banggalah hatiku karena akulah orangnya yang telah menguburkan mereka. Di kota raja aku telah mendengar hal yang aneh-aneh."
"Apalagi yang kau dengar?"
Tanya Cin Pau tertarik.
"Aku mendengar banyak sekali hal-hal aneh, diantaranya bahwa kabarnya kedua orang gagah yang jenazahnya kukubur itu masih mempunyai keturunan, bahkan keturunan yang seorang adalah seorang gadis muda yang semenjak kecil dipelihara oleh seorang perwira! Kiranya kaulah nona, anak itu!! Dan anak yang seorang lagi, yang dikabarkan sebagai pemuda baju putih yang gagah perkasa, tentu kau sendiri! Ah, ah, dan sekarang secara kebetulan sekali aku bertemu dengan jiwi dan menyaksikan betapa tulang-tulang suci kedua enghiong (orang gagah) ini diabukan. Sungguh aku seorang yang beruntung sekali, tidak seperti perwira she Gak yang malang..."
Ia menarik napas panjang.
"Perwira she Gak yang malang? Ada apakah dengan dia?"
Tanya Cin Pau penuh perhatian, sedangkan biarpun ia diam saja, namun hati Siauw Eng berdebar mendengar nama ayah tirinya disebut-sebut. Kembali pengembala itu menghela napas.
"Memang dunia ini aneh dan kadang-kadang perbuatan baik dan benar tidak mendapat upah dan hadiah, bahkan mendatangkan malapetaka. Oleh karena menolong ibu nona ini dan memelihara nona sampai besar, sekarang perwira she Gak itu ditangkap oleh kaisar, beserta isterinya, diseret-seret di sepanjang jalan dan diperlakukan dengan penuh hinaan oleh perwira Can..."
Tiba-tiba Siauw Eng melompat berdiri, lalu mengikatkan buntalan abu di atas punggungnya dan secepat kilat ia lalu lari menuju ke Tiang-an.
Mendengar betapa ibu dan ayah tirinya ditangkap dan diseret-seret oleh Can Kok, ia tak dapat menahan gelora dan kemarahan hatinya lagi, lalu pada saat itu juga melompat pergi hendak menolong ayah tirinya, terutama ibunya dan menghukum kepada perwira Can yang menghina orang tuanya itu.
"Siauw Eng, tunggu...!"
Cin Pau berseru sambil mengikatkan pula buntalan abu tulang-tulang ayahnya dipunggungnya dan berlari mengejar.
Oleh karena memang ilmu berlari cepat dari Cin Pau masih lebih tinggi tingkatnya, maka ia berhasil menyusul gadis itu dan memegang tangannya.
"Nanti dulu, Eng-moi. Kau mau kemana?"
"Kemana lagi? Apakah aku harus membiarkan saja ibuku ditawan dan dihina orang? Akan membunuh anjing she Can itu dan berusaha menolong ibu!"
Jawabnya dengan marah sekali. Cin Pau maklum bahwa kehendak gadis ini takkan dapat ditahan atau dihalanginya lagi, maka terpaksa ia lalu berkata sungguh-sungguh.
"Marilah, adikku, mari kita pergi bersama. Biar kita berdua memberi pelajaran kepada penjahat-penjahat kejam itu. Akan tetapi, menurut pendapatku, soal membalas dendam kepada Can Kok adalah soal kedua. Yang terpenting sekarang ialah kita harus berusaha membebaskan dan menolong Gak-ciangkun dan ibumu!"
Biarpun baru sebentar berkumpul dengan pemuda itu, namun Siauw Eng telah mendapat keyakinan betapa luas pandangan Cin Pau dan betapa cerdiknya pemuda itu, maka ia lalu menurut saja.
Demikianlah, mereka berlari-lari cepat menuju ke kota raja.
Cin Pau maklum bahwa mereka berdua sedang dicari-cari dan pintu gerbang dijaga keras sekali, maka ia mengajak Siauw Eng bersembunyi di dekat tembok kota dan menanti datangnya malam.
Malam itu gelap gulita, karena udara tertutup awan tebal.
Keadaan di rumah tahanan di mana Gak Song Ki dan Kwei Lan dikeram, sunyi sekali.
Beberapa orang penjaga dengan golok terhunus menjaga di sekeliling rumah itu, dan tiga orang penjaga lain duduk di ruang dalam depan pintu kamar tahanan sambil main dadu.
Dua bayangan yang gesit sekali gerakannya mengintai dari jauh, memandang ke arah rumah tahanan itu dengan mata tajam.
Mereka ini adalah Cin Pau dan Siauw Eng yang telah berhasil melewati tembok kota tanpa terlihat oleh penjaga.
Ketika dua orang penjaga sedang berjalan agak jauh dari rumah tahanan itu, tiba-tiba mereka roboh tanpa dapat mengeluarkan teriakan sedikitpun karena jalan darah thian-hu-hiat mereka telah tertotok oleh jari-jari tangan Cin Pau dan Siauw Eng yang cepat dan tepat gerakannya.
Dengan kaki mereka, kedua orang muda itu menyepak tubuh para penjaga yang telah menjadi lemas dan pingsan itu ke tempat gelap.
Kemudian mereka terus maju ke dekat pintu gerbang di mana duduk pula tiga orang penjaga di atas bangku sambil bercakap-cakap.
"Siapa?"
Seorang di antaranya membentak ketika melihat dua bayangan berkelebat di dekat mereka, akan tetapi sebagai jawaban, tangan Cin Pau dan Siauw Eng bergerak cepat dan ketiga orang itu pun telah tertotok, seorang oleh Siauw Eng dan dua orang oleh Cin Pau.
Kemudian kedua anak muda yang gagah itu terus masuk ke dalam.
Tiga orang penjaga yang sedang main dadu terkejut sekali melihat kedatangan mereka yang tiba-tiba itu, akan tetapi dengan cepat Cin Pau dan Siauw Eng dengan pedang di tangan telah melompat dan menodong dengan ujung pedang.
"Jangan bergerak dan banyak ribut!"
Kata Cin Pau dan sebelum ketiga orang penjaga itu sempat melawan, ia mengulurkan tangan kirinya dan menotok pula.
Ilmu totok dari Cin Pau memang ajaib karena ia memperoleh didikan khusus dari Tiauw It Lojin yang menjadi ahli dalam ilmu kepandaian ini.
Mereka lalu membuka pintu kamar tahanan, mempergunakan kunci yang berada dalam kantong seorang di antara ketiga penjaga itu.
Ketika pintu terbuka, Siauw Eng menubruk maju dan ia menangis sambil memeluk ibunya yang duduk menyandar tembok dengan wajah pucat dan tubuh lemas.
Sedangkan ayah tirinya ternyata telah mengalami pukulan-pukulan karena mukanya bengkak-bengkak dan iapun duduk di atas lantai menyandar tembok dengan tubuh lemas.
"Siauw Eng..."
Kwei Lan berbisik lemah sambil menangis melihat puterinya datang.
"Ibu... ibu, ampunkan anakmu ibu... mari ibu dan ayah ikut aku pergi dari sini!"
"Tak usah, Siauw Eng, tinggalkan kami."
Kata Gak Song Ki dengan angkuh. Mendengar ucapan ayah tirinya ini, Siauw Eng lalu menjatuhkan diri dan memeluk ayah tirinya.
"Ayah... ayahku... ampunkanlah aku. Aku marah kepada ayah dalam keadaan tak sadar dan gelap pikiran. Mari aku tolong kau ayah, mari kita keluar dan mengamuk, kita bunuh anjing Can Kok itu. Kalau perlu kita menyerbu ke istana dan membunuh Kaisar agar orang-orang tahu bahwa ayah dan anak perwira Gak bukanlah orang-orang lemah yang boleh dihina sesukanya."
Runtuhlah air mata Gak Song Ki mendengar ucapan anak tiri yang amat disayangnya ini.
"Jangan berkata demikian, anakku, kau tahu bahwa aku adalah seorang perwira yang setia."
"Akan tetapi kau difitnah orang, ayah!"
Gak Song Ki menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas.
"Biarlah, memang aku pantas mendapat hukuman ini. Aku pantas mendapat hukuman mati. Siauw Eng, kau tidak tahu, sekarang lebih baik aku terus terang saja... aku... akulah yang dulu diberi tugas memimpin penyerbuan pada keluarga Ma, dan... dan aku pernah menendang ibu mertua Kwei Lan ketika nenek itu hendak membela menantunya. Aku masih ingat baik-baik hal ini... dan... dan penyesalan saja tiada artinya. Aku harus terhukum... aku berdosa, nak..."
Terdengar isak tangis dari Siauw Eng dan Kwei Lan.
Pada saat itu para penjaga lain telah dapat menemukan tubuh kawan-kawan mereka yang tertotok, maka ramailah para penjaga itu menyerbu ke dalam kamar tahanan.
Cin Pau dengan pedang di tangan menjaga di pintu dan segera pertempuran hebat terjadi.
Pemuda ini dikeroyok oleh belasan orang penjaga, akan tetapi pedangnya yang bergerak bagaikan seekor naga sakti mengamuk itu membuat belasan pengeroyoknya tidak berdaya.
Bahkan beberapa orang telah roboh kena tendang, kena pukul, atau tertusuk pedang.
"Siauw Eng, cepat!"
Kata Cin Pau.
"Bawa ayah ibumu keluar dari sini!"
Siauw Eng membujuk-bujuk sambil menangis, akan tetapi Gak Song Ki berkata tegas.
"Tidak anakku. Kalau kami ikut keluar, kami hanya akan menjadi perintang saja dan akhirnya kalian berdua akan mendapat celaka. Keluarlah kau bersama Cin Pau, ia... ia pemuda yang baik dan gagah. Kalau kau memang hendak membalas dendam, bunuhlah Can Kok. Dia orang jahat dan hatiku akan puas dan biarpun mati, mataku akan meram karena kau, anakku yang baik, telah dapat membalaskan dendam hatiku terhadap Can Kok yang khianat dan jahat!"
Siauw Eng menubruk ibunya sambil menangis.
"Ibu, ibu... kalau kau tidak mau keluar, bagaimana aku dapat meninggalkan kau dalam keadaan begini?"
Ibu yang mencintai anaknya itu mendekap kepala Siauw Eng pada dadanya.
"Anakku, aku tak dapat meninggalkan suamiku. Ia amat baik kepadaku dan juga kepadamu, maka biarlah aku juga menyatakan kesetiaanku dan mengawaninya sampai mati. Kau pergilah nak, lihat, kawanmu itu terdesak dan dikeroyok, apakah kau tidak mau membantunya?"
Siauw Eng menengok dan benar saja, sekarang para pengeroyok bertambah banyak karena seorang penjaga telah lari memberi laporan, bahkan di antara mereka terdapat beberapa orang perwira.
Siauw Eng berseru keras dan segera melompat membantu Cin Pau dan mengamuk hebat.
Makin banyaklah jatuhnya kurban dan tiba-tiba dari luar terdengar bentakan suara Can Kok yang memberi aba-aba untuk mengurung makin rapat.
"Siauw Eng, terpaksa kita harus pergi,"
Kata Cin Pau dengan kuatir. Siauw Eng sebetulnya tidak mau pergi, akan tetapi dengan suara memilukan, ibunya berseru.
"Eng-ji, pergilah kau. Kalau sampai kau mendapat celaka di sini, aku takkan mau mengampunkan kau!!"
"Ibu..."
Siauw Eng menahan isaknya dan terpaksa ia lalu menyerbu hebat bersama Cin Pau membuka jalan keluar.
Kemudian, sebelum Can Kok dan perwira-perwira lain sempat masuk membantu karena tempat itu sudah penuh sesak dengan para tentara yang datang mengurung.
Cin Pau dan Siauw Eng telah dapat keluar dan melompat ke atas genteng.
Ketiga orang panglima yang membantu Can Kok, yakni Mau Kun Liong, Oey Houw dan Oey See In, mengejar, akan tetapi Cin Pau menghajar mereka dengan biji-biji caturnya hingga mereka itu terpaksa melompat turun kembali karena mereka merasa takut terhadap serangan biji-biji catur yang istimewa itu.
Kesempatan ini digunakan oleh (Lanjut ke
Jilid 09 -Tamat) Pembakaran Kuil Thian Lok Si (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo
Jilid 09 (Tamat) Cin Pau dan Siauw Eng untuk menghilang di dalam gelap.
Dengan marah sekali Can Kok lalu membawa kedua orang tawanannya pindah tempat, dan tempat tahanan baru ini terjaga keras sekali sampai tiba saatnya keputusan hukuman dijatuhkan oleh Kaisar.
Sedangkan Siauw Eng sambil menangis sedih pergi mengikuti Cin Pau dan lari keluar dari kota Tiang-an.
"Cin Pau, apakah yang harus kita lakukan sekarang? Ayah dan ibu tidak mau keluar dari tempat tahanan."
"Ah... apakah yang harus kulakukan?"
Cin Pau menarik napas panjang. Ia merasa kasihan sekali kepada Siauw Eng, dan dengan suara menghibur ia berkata.
"Ayah tirimu benar-benar seorang jantan yang jujur. Benar bahwa ia dulu telah melakukan kesalahan, akan tetapi itu adalah karena terdorong oleh rasa sukanya kepada ibumu dan karena kini ia telah membuat pengakuan dan menyesalkan kesalahannya, maka ia dapat disebut seorang gagah. Juga kesetiaannya terhadap Kaisar patut dihormati karena memang demikianlah seharusnya seorang perwira. Kita hanya dapat berdoasemoga Kaisar akan dapat membedakan mana perwira yang setia dan mana yang curang. Orang yang paling jahat dalam hal ini adalah Can Kok. Dia yang memusuhi keluarga kita, dia yang membasmi dan membakar kuil Thian Lok Si, dan sekarang dia pula yang menjadi gara-gara hingga ayah ibumu tertawan!"
"Kita harus membunuhnya sekarang juga!"
Kata Siauw Eng dengan marah sekali.
"Memang, kita harus berusaha membinasakan penjahat ini, sesuai dengan permintaan ayah tirimu tadi."
Dan pada keesokkan harinya, dengan kepandaiannya tentang obat-obatan, Cin Pau melumuri mukanya dengan semacam bedak hingga kulitnya menjadi kekuning-kuningan.
Ia mengganti model ikatan rambutnya dan mengganti pakaiannya pula, sedang Siauw Eng lalu berpakaian sebagai seorang anak muda pelajar yang tampan sekali.
Pedang mereka, mereka sembunyikan di dalam baju yang lebar dan longgar.
Dengan dandanan seperti ini, siang-siang mereka dapat masuk melalui pintu gerbang kota tanpa menimbulkan kecurigaan.
Mereka langsung menuju ke gedung Can Kok.
Cin Pau dan Siauw Eng terlalu memandang rendah kepada perwira ini.
Sebetulnya dalam siasat dan tipu muslihat, kedua anak muda ini bukanlah lawan Can Kok yang sudah berpengalaman dan yang memang pada dasarnya cerdik dan penuh akal.
Ia sudah dapat menduga akan hal ini, maka diam-diam ia menaruh mata-mata di tiap pintu gerbang, bahkan di seluruh kota ia menyebar mata-mata.
Oleh karena itu, ketika Cin Pau dan Siauw Eng memasuki pintu gerbang, biarpun mereka menyamar, namun mereka ini hanya dapat mengelabuhi mata para penjaga saja.
Mata para mata-mata yang cerdik tak dapat mereka tipu dan mereka telah tahu bahwa kedua orang muda ini adalah orang-orang yang harus mereka cari dan awasi.
Maka sebelum Cin Pau dan Siauw Eng tiba di depan rumah gedung Can-ciangkun, perwira ini telah lebih dahulu mengetahuinya.
Ketika Cin Pau dan Siauw Eng melihat betapa rumah gedung itu sunyi sekali, bahkan di luar rumah juga tidak terlihat adanya orang atau penjaga, mereka menjadi girang sekali dan dengan cepat mereka lalu masuk ke dalam halaman depan.
Mereka bermaksud untuk berpura-pura mencari Can-ciangkun dan percaya bahwa penjaga-penjaga tentu takkan mengenal mereka.
Akan tetapi oleh karena tidak melihat adanya orang di situ, mereka terus maju sampai di pintu depan yang terbuka lebar.
Dari pintu ini mereka melihat Can Kok duduk di ruang depan, duduk seorang diri.
Ketika mendengar suara tindakan mereka, perwira itu menengok dan pada mukanya terbayang keheranan seperti biasanya orang melihat datangnya tamu-tamu yang tak dikenal.
"Jiwi siapakah? Dan ada keperluan apa?"
Tanyanya dengan suara biasa dan berdiri dari bangkunya.
"Kami hendak mohon bertemu dengan Can-ciangkun,"
Kata Cin Pau sedangkan Siauw Eng menahan marahnya sedapat mungkin. Mereka melangkah maju mendekati perwira itu.
"Can-ciangkun tidak berada di rumah,"
Jawab Can Kok sambil menjura dan pada saat ia menjura itu, dari tangannya melayang dua batang piauw yang semenjak tadi telah disediakan.
Cin Pau cepat mengelak, demikianpun Siauw Eng dan kedua orang muda ini cepat-cepat mencabut keluar pedang mereka dan menyerang.
Akan tetapi, sambil tertawa Can Kok melarikan diri ke dalam, dikejar oleh Cin Pau dan Siauw Eng.
Mereka kini berada di ruang dalam yang luas dan tiba-tiba dari seluruh penjuru muncul Mau Kun Liong, Oey Houw, Oey See In, dan beberapa orang perwira lain.
Mereka ini serentak mengurungnya dengan serangan-serangan hebat.
Bukan main terkejut hati Siauw Eng dan Cin Pau melihat hal ini.
Ternyata bahwa perwira she Can itu benar-benar luar biasa cerdiknya.
Akan tetapi, hal ini mereka ketahui setelah terlambat karena perwira-perwira itu tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk banyak berpikir dan menyesali kesembronoan sendiri.
Senjata mereka bergerak cepat bagaikan hujan menyerang secara bertubi-tubi kepada dua orang muda itu.
Cin Pau dan Siauw Eng menggigit bibir dan memutar-mutar pedang dengan hebatnya.
Mereka mengerti bahwa keadaan mereka berbahaya sekali, akan tetapi mereka tidak mau menyerah begitu saja dan melakukan perlawanan nekad dan mati-matian.
Akan tetapi, kepandaian ketiga orang panglima itu yang khusus diperbantukan untuk menghadapi lawan-lawan tangguh ini, cukup cekatan dan dengan bantuan perwira-perwira lain, keadaan Cin Pau dan Siauw Eng benar-benar berbahaya dan terdesak sekali.
Adapun Can Kok yang maklum bahwa kedua orang muda itu sengaja datang hendak mencari dan membunuhnya, telah pergi bersembunyi dan mengintai pertempuran itu dengan hati girang.
Cin Pau dan Siauw Eng segera mencari jalan keluar karena kedua anak muda itu maklum bahwa kalau mereka tidak dapat melarikan diri, akhirnya mereka tentu akan binasa.
Maka dengan mengerahkan tenaga dan kepandaian, Cin Pau dan Siauw Eng dapat merobohkan masing-masing seorang lawan.
Kegagahan ini membuat perwira-perwira lain menjadi gentar, kecuali tiga orang panglima itu yang masih mendesak dan mengurung dengan rapatnya.
Sementara itu, diam-diam Can Kok mengerahkan banyak sekali tentara mencegat di halaman depan sehingga jalan keluar bagi Cin Pau dan Siauw Eng tertutup.
Hal ini diketahui pula oleh Cin Pau dan Siauw Eng karena para tentara itu berteriak-teriak di luar rumah, maka tentu saja kedua orang muda ini menjadi makin gelisah.
Tiba-tiba Cin Pau memutar pedangnya dengan gerak tipu Hing Sau Chian Kun atau serampang bersih ribuan tentara.
Diputar-putar pedangnya terus ke bawah hingga beberapa kali pedangnya menyerampang ke arah lawan-lawannya yang terpaksa mengelak mundur, dan kesempatan ini dipergunakan oleh Cin Pau untuk memegang lengan kiri Siauw Eng dan menariknya lari ke dalam.
Ia maklum bahwa jalan keluar telah tertutup, maka jalan satu-satunya ialah lari ke dalam dan mencoba untuk keluar dari pintu belakang.
Ketiga orang panglima dan lima orang perwira mengejar mereka.
Cin Pau dan Siauw Eng yang berlari secara membuta karena tidak tahu harus mengambil jalan ke mana, memasuki pintu dan tiba di dalam sebuah kamar yang mewah dan indah dan di kamar ini kembali mereka mengalami hal yang mengejutkan lagi betapa lihainya orang she Can itu.
Kamar itu cukup lebar dan mempunyai jendela yang lebar pula.
Dari lubang jendela, Cin Pau dan Siauw Eng dapat melihat bahwa di luar kamar itu adalah taman bunga yang indah.
Maka mereka menjadi girang sekali dan cepat berlari ke arah jendela itu.
Akan tetapi, ketika mereka berlari di atas lantai yang bertilamkan permadani tebal dan indah itu, tiba-tiba tubuh mereka terjeblos ke bawah, ke dalam lubang besar yang tertutup permadani.
Cin Pau dan Siauw Eng berseru keras karena terkejut, akan tetapi mereka tidak keburu melompat pergi dan berikut permadani tebal itu, tubuh mereka melayang ke bawah.
Untung sekali mereka memiliki ginkang yang tinggi hingga mereka bisa menggerakkan tubuh ketika melayang dan bisa mengatur hingga jatuh mereka dengan kaki di bawah dan tidak mengalami luka-luka.
Akan tetapi, baru saja mereka terjatuh di dalam sebuah kamar yang berbentuk bulat, tiba-tiba dari kanan kiri masuk asap putih bergulung-gulung yang tebal.
Asap ini berbau pedas sekali dan biarpun mereka mencoba untuk menahan napas namun asap itu telah membuat mata mereka pedas dan panas hingga tak dapat dibuka dan hidung telah terasa perih, Akhirnya Cin Pau dan Siauw Eng tak tahan lagi, sekali saja mereka bernapas dan menyedot asap putih yang telah memenuhi kamar itu, mereka terguling dalam keadaan pingsan.
Ketika tersadar dan siuman kembali, Cin Pau dan Siauw Eng mendapatkan bahwa mereka telah terpisah satu sama lain, keduanya berada dalam sebuah kamar terpisah dan kamar itu terbuat dari pada batu yang kuat dan kokoh sekali.
Pintu tunggal yang terdapat di situ berjeruji besa tebal dan kuat sebesar lengan, hingga ketika mereka mencoba untuk membetotnya, mereka maklum bahwa tenaga mereka takkan dapat mematahkan atau menarik besi itu.
Mereka telah terkurung bagaikan burung dalam sangkar, tak berdaya sama sekali.
Isi kantong mereka, pedang, dan bahkan bungkusan abu telah lenyap dirampas orang.
Biarpun mereka tidak terikat kaki tangannya, namun dengan tangan kosong, apakah daya mereka menghadapi perwira-perwira yang tangguh, terutama Can Kok yang banyak tipu muslihatnya itu?
Mereka hanya dapat menunggu dan mengambil keputusan untuk melawan mati-matian apabila mereka datang hendak menangkapnya.
Biarpun kamar mereka terpisah, namun berdekatan sehingga dengan berdiri di dekat jeruji besi yang merupakan pintu, mereka dapat saling pandang dan dapat pula bercakap-cakap.
Akan tetapi, kini mereka hanya dapat saling pandang saja tanpa dapat mengeluarkan kata-kata.
Akhirnya Cin Pau dapat juga berkata dengan suara menghibur.
"Siauw Eng, baiknya kita masih belum tewas. Dan lebih baik lagi, kita berada di sini berdua hingga betapapun juga, kita dapat saling membantu. Kalau mereka datang hendak menangkap, kita melawan dengan mati-matian mengadu jiwa."
"Tentu, aku lebih baik mati dari pada menjadi tawanan di tangan mereka,"
Jawab Siauw Eng dengan gagah dan sedikitpun gadis ini tidak kelihatan takut hingga menimbulkan kagum dalam hati Cin Pau.
Tiba-tiba pintu kamar di luar kedua kurungan itu terbuka dan masuklah berbondong-bondong beberapa orang perwira, dikepalai oleh Can Kok yang tertewa gembira.
"Lihatlah, cuwi, lihatlah! Pemberontak-pemberontak liar dan ganas ini akhirnya harus tunduk dan menyerah ditanganku. Ha, ha, ha!"
Yang masuk ternyata selain ketiga orang panglima, juga nampak Gu Liong, Hwee Lian, dan nyonya Gu Keng Siu.
Nyonya Gu Keng Siu nampak gembira sekali dan sambil menuding kepada kedua orang muda dalam kurungan itu, ia berkata dengan suaranya yang halus dan nyaring.
"Hm, akhirnya kalian tertangkap juga. Baru puaslah hatiku melihat dua orang keturunan terakhir dari keparat-keparat she Khu dan Ma mampus dalam keadaan rendah dan sebagai pemberontak-pemberontak jahat!"
Cin Pau dan Siauw Eng cepat membalikkan tubuh dan berdiri membelakangi mereka dengan tubuh tegak lurus seakan-akan menganggap tidak ada harganya untuk berhadapan dengan mereka.
Mereka tidak melihat betapa mata Hwee Lian menjadi merah dan juga Gu Liong memandang ke arah Siauw Eng dengan tertegun dan susah.
Sebenarnya Gu Liong amat sayang dan mencintai Siauw Eng dan gadis ini telah lama dirindukannya.
Hanya sikap Siauw Eng yang angkuh dan tinggi hati itulah yang membuat ia ragu-ragu dan tidak berani menyatakan perasaannya.
Ketika mendengar bahwa Siauw Eng adalah puteri dari Ma Gi, musuh besar yang telah membunuh ayahnya, timbul kemarahan di dalam hatinya, akan tetapi ia tidak bisa membenci gadis ini bahkan kini setelah melihat betapa gadis itu tertawan dan maut menantinya, ia merasa kasihan sekali.
Ia tidak tahu bahwa juga Hwee Lian, gadis yang pendiam dan halus itu, hampir tak dapat menahan air matanya melihat Siauw Eng dan Cin Pau tertawan.
Gadis ini kebetulan saja berada di situ karena diam-diam iapun ingin mendengar nasib kedua orang ini dan karenanya ia selalu mengikuti Gu Liong.
Baca Juga: Pedang Pusaka Naga Putih 2
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 9