Eps 4 Raja Silat - Chin Hung
Baca online Raja Silat - Chin Hung
Cersil Raja Silat - Chin Hung.
Kiranya waktu itu sesudah Liem Tou berhasil menerjang keluar dari pintu ruangan Cie Eng Tong antara dirinya segera terjadilah suatu pertempuran yang amat sengit melawan Au Hay Ong Bo itu, karena kepandaian mereka seimbang karena itu untuk beberapa waktu lamanya tidak ada seorang diantara mereka yang menderita kalah.
Au Hay Ong Bo yang di dalam hatinya hanya punya tujuan terhadap Liem Tou seorang, ketika melihat Liem Tou melarikan diri dari dalam ruangan itu bagaimana pun juga membuat pikirannya sedikit bercabang, dengan kesempatan itulah gadis cantik pengangon kambing untuk beberapa saat lamanya berhasil menduduki diatas angin.
Siapa tahu dengan menggunakan kesempatan itulah si Ang in sin pian itu cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung sudah melancarkan serangan kembali ke arah si golok naga hijau Sie Piauw tauw, bagaimana pun juga karena usia yang sudah tinggi ditambah lagi kepandalan silatnya memang sudah kalah satu tingkat dari Ang in sin pian itu tidak sampai mencapai dua puluh jurus sekali lagi si golok naga hijau sudah terjerumus kedalam keadaan yang sangat berbahaya.
Muridnya yang tertua Oei Poh ketika melihat suhunya terdesak dibawah angin bahkan keadaannya sangat bahaya segera menerjunkah diri ke dalam kancah pertarungan, pada saat yang bersamaan pula Lie Kian Poo sudah munculkan diri menahan serangannya mau tak mau terjadilah suatu pertempuran yang amat sengit antara Oei Poh dengan Lie Kian Poo.
Waktu semakin lama keadaan dari si goloknaga hijau Sie Piauw tauw semakin babaya lagi, pecut sakti yang berada ditangan Ang in sin pian sudah menutupi seluruh tubuhnya bahkan menekan badannya makin lama semakin berat, setiap saat nyawanya mungkin bisa melayang di bawah serangan cambuk tersebut.
Gadis cantik pengangon kambing yang melihat keadaannya itu terpaksa harus melepaskan diri Au Hay Ong Bo untuk memberikan bantuannya.
Di dalam hati Au Hay Ong Bo hanya punya satu tujuan saja yaitu membalaskan sakit hati putri kesayangannya, begitu gadis cantik pengangon kambing itu menghindar ke samping dengan cepat dia merebut keluar dari pintu untuk mengejar Liem Tou.
Setelah gadis cantik pengangon kambing berhasil menolong golok naga hijau Sie piauw tauw itu keluar dari bencana kematian segera terjadilah pertempuran sengit melawan diri Pouw Sak San, tapi sewaktu dilihatnya Au Hay Ong Bo sudah tidak berada dalam ruangan dengan tergesa-gesa dia pimpin si golok naga hijau bersama muridnya turun dari gunung itu.
Sesudah meloloskan diri dari cengkeraman Ang in sin pian inilah dia baru bisa lari kearah Liem Tou dimana tadi melarikan dirinya sedang saat itu bertepatan sewaktu Au Hay Ong Bo menerobos setiap rumah untuk mencari jejak Liem Tou, dengan cepat dia mengerahkan ilmu meringankan tubuh Hui Si Ya In atau terbang layang bagaikan mega meloncat naik ke puncak pohon yang lebat, dari sanalah dia bisa melihat semua pemandangan di dalam perkampungan itu sehingga sewaktu Liem Tou bersembunyi di rumah Lie Siauw Ie orang lain tidak bisa tahu sebaliknya dia bisa melihat semuanya dengan teramat jelas.
Dia terus manyembunyikan dirinya sehingga dilihatnya Pouw Beng menggedor pintu dan Liem Tou di dalam keadaaan yang amat berbahaya, sampai waktu itulah dia baru bersuit nyaring kemudian mengeluarkan kata kata tersebut, dia sengaja berbuat begitu untuk memancing pergi Ang in sin pian serta Au Hay Ong Bo sekalian sehingga dengan begitu Liem Tou memperoleh kesempatan untuk melarikan diri.
Sewaktu Liem Tou tadi mendengar suara seruan dari gadis cantik pengangon kambing itu semula dia dibuat ragu ragu untuk beberapa saat lamanya kini mendengar cungcu sekalian sudah pada bubaran dan mengejar kearah mana datangnya suara tadi pikirnya segera berputar kembali, saat ini dia sudah sadar peristiwa apa yang sudah terjadi, karenanya dengan amat cemas ujarnya kepada Lie Siauw le serta ibunya.
"Pek-bo, cici, aku mau pergi harap Pekbo serta Cici baik-baik jaga diri."
Sambil berkata dia putar tubuhnya siap berlari dari sana.
"Adik Tou tunggu sebentar"
Mendadak Lie Siauw Ie rnembentak dengan keras menahan kepergiannya.
Liem Tou menjadi bingung dengan cepat ia menoleh kebelakang, terlihatlah Lie Siauw le dengan wajah penuh air mata sedang berlutut di hadapan ibunya memberi mohon dengan suara yang amat pedihnya.
"Ibu, hari ini le jie mau turun gunung bersama sama adik Tou, tentu ibu bisa mengabulkan bukan?"
Mendengar permintaan anaknya ini ibunya Siauw Ie menjadi amat terperanjat tanpa disadari dia sudah mundur setengah langkah kebelakang.
"Kau kau bilang apa?? "
Tanyanya dengan suara gemetar sedang pedangnya dengan tertegun memandang wajah Lie Siauw le.
Dalam hati Lie Siauw Ie merasakan hatinya begitu hancur, tapi ketika teringat akan waktu, waktu yang lalu mendesak paksaan dengan paksakan diri sambungnya.
"Ibu, putrimu tahu saat ini kau orang tua merasa sangat terkejut, tapi sikap dari orang-orang keluarga Pouw betul-betul membuat putrimu tidak tahan lagi, jika putrimu berada di sini malah sebaliknya mendatangkan berbagai kesulitan kepada ibu, ini hari aku aku mau turun gunng bersama-sama adik Tou tentunya ibu bisa mengabulkan permintaanku ini,bukan? paling lama satu tahun asalkan kepandaian silat adik Tou sudah berhasil dilatihnya pasti putrimu akan kembali lagi."
Lie hujien ketika mendengar perkataan dari putrinya ini dalam hati betul-betul merasa sangat sedih sekali, selama ini dia hidap bersama-sama dengan Lie Siauw Ie sudah tentu tidak akan reIa ditinggal pergi oleh putrinya, tanpa terasa air matanya sudah meleleh keluar dengan derasnya, sambil bungkam seribu bahasa dia gelengkan kepalanya.
Tetapi bagaimana pun juga perasan seorang ibu jauh lebih tajam dan mengerti akan perasaan putrinya, cintanya terhadap Lie Siauw Ie boleh kata cinta yang muncul dari dasar lubuk hatinya, kini melihat dia bersama Liem Tou memangnya sepasang manusla yang setimpal walaupun di dalam hati dia merasa seperti diiris-iris tanpa terasa gelengkan kepalanya sudah berubah anggukkan tanda setuju sedang pada airmukanya pun muncul senyuman yang amat manis, sahutnya dengan suara yang rendah.
"Kalian pergilah, asalkan kalian berdua bisa berkumpul menjadi satu, hatiku sudah merasa amat gembira."
Dengan wajah penuh air mata Lie Siauw le mendongakkan kepalanya memandang wajah ibunya yang amat ramah dan kasih penuh kasih sayang itu, mendadak sepasang tangannya sudah menubruk sepasang lutut ibunya.
"Oooh ... ibu, wajahmu mengapa bisa berubah menjadi begini rupa?"
Teriaknya sambil menangis tersedu sedu "Kau bukannya sedang tertawa sungguh-sungguh, aku tidak akan pergi, tidak jadi pergi, kau jangan salahkan aku"
Perasaan antara cinta kasih ibu dengan anak yang mucul secara tiba-tiba membuat Lie-si tidak kuat menahan gejolak hatinya, dengaa cepat dia merangkul badan Lie Siauw le sembari menangis dengan amat sedihnya, untuk beberapa saat lamanya dia tak sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun.
Waktu itu Liem Tou yang melihat sikap mereka ibu beranak, tanpa terasa juga meneteskan air matanya, teringat olehnya keadaan dirinya yang sejak kecil sudah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya, segera dia mendorong pintu sambil ujarnya kepada mereka berdua.
"Pek bo, cici aku mau pergi dulu."
Sehabis berkata dia putar tubuhnya kembali berlari keluar. Baru saja berjalan dua langkah dari tempat semula mendadak Lie Siauw Ie dengan wajah penuh air mata mendongak keatas.
"Cici."
Teriaknya dengan suara yang menyedihkan sekali.
Mendengar suara panggilan yang penuh perasaan duka itu Liem Tou hanya merasakan hatinya diiris-iris dengan pisau tajam tubuhnya yang bergerak maju dengan sendirinya tertahan kembali ketempat semula.
Dengan pandangan penuh perasaan sedih dia memandang wajah Lie Siauw le lama sekali mereka berdua saling berpandang-pandangan.
Agaknya di dalam hati mereka berdua siapa pun tidak ada yang mau berpisah kembali hal ini bisa dilihat dari sinar mata mereka yang penuh kesedihan.
Lie-si yang melihat keadaan mereka dari samping dalam hatinya serasa tergetar amat keras sekali, pikirnya diam-diam.
"Kenapa aku harus berbuat demikian kejam? Sudah jelas cinta mereka berdua sudah mencapai pada titik puncak, sekali pun le-jie amat ku sayangi tapi bagaimana aku bisa berbuat demikian sehingga mereka berdua menjadi berpisah kembali?? Apalagi perkataan dari le-jie tadi memang ada betulnya, kenapa aku bisa berbuat demikian tolol"
Berpikir sampai disitu segera dia melepaskan kembali rangkulannya pada diri Lie Siauw Ie.
"Liem Tou."
Teriaknya sembari mengangkat kepalanya memandang tajam ke arah Liem Tou.
"Kau tunggulah sebentar, aku ada perkataan yang hendak kusampaikan kepadamu"
Waktu ini perasaan cinta kasihnya sudah berubah menjadi kemantapan dengan demikian air muka yang sangat angker pun berubah menjadi penuh kewibawaan.
"Liem Tou"
Sambungnya kembali.
"Aku tahu sifatmu sangat jujur dan merupakan seorang yang bisa dipercaya. Mulai saat ini juga aku akan serahkan Siauw Ie kepada dirimu walau pun dia jauh lebih tua dua tahun dari dirimu tapi bagaimana pun juga dia masih merupakan seorang gadis suci, sesudah turun gunung kau harus betul-betul jaga dan melindungi dirinya. Semoga saja sejak kini kau bisa berlatih ilmu silat lebih giat lagi sehingga bisa kembali ke atas gunung secepat mungkin agar aku yang menunggu pun tak usah menanti Iebih lama lagi"
"Ibu aku tidak jadi pergi "
Teriak Lie Siauw Ie kemudian sesudah mendengar omongan ibunya ini.'Aku mau tinggal disini untuk mngawani ibu hidup hingga akhir jaman."
Cinta kasih serta keagungan dari kasih sayang seorang ibu walau pun harus berbuat bagaimana pun rela berkorban demi putrinya yang tercinta.
"Boanpwee takkan membiarkan Ie cici diganggu"
"Ie jie, kau harus dengar omonganku "
Ujarnya lagi dengan penuh rasa sayang.
"Kau bisa pergi bersama-sama Liem Tou hal ini sudah menjadi keinginanmu, apalagi dnegan berbuat begini kau akan lolos dari siksaan orang-orang keluarga Pouw, kau bisa lolos dari bencana sudah tentu ibumu pun ikut bergembira. Pergilah, ibumu masih bisa menjaga dan mengurusi diriku sendiri. Ie-jie, kau tak perlu kuatir lagi"
Lie Siauw Ie hanya bisa menundukkan kepalanya saja sambil melelehkan air mata, sepatah kata pun tak bisa diucapkan kembali.
Liem Tou yang berdiri disamping melihat dia tak berbicara lagi segera tahu kalau Lie Siauw Ie sudah menyetujui untuk pergi bersama-sama dia, karena itulah dengan sangat hormat sekal dia bungkukkan diri didepan Lie si untuk memberi hormat.
"Pekbo, harap kau berlega hati"
Ujarnya dengan penuh perasaan hormat.
"Sekali pun tubuh boanpwee hancur lebur pasti akan melindungi keselamatan Ie-cici. Boanpwee tak akan membiarkan Ie-cici diganggu orang lain sehingga mendapatkan cidera, bilamana Ie-cici terjadi urusan silahkan pekbo cari boanpwee untuk dimintai pertanggungjawaban"
Melihat perkataan dari Liem Tou yang penuh semangat dan lucu itu tanpa terasa Lie-si sudah anggukkan kepala sembari tertawa.
"Begitu pun juga baik,"
Sahutnya sambil tersenyum.
"Keadaan di dalam dunia kangouw sangat berbahaya sekali, orang-orang banyak yang licik dan kejam jauh berbeda dengan di rumah, sehingga jangan sampai terjerumus ke dalam lembah kehinaan. Nah..sekarang kalian cepatlah pergi."
Sekali lagi Liem Tou bungkukkan badan memberi hormat sembari tambahnya.
"Cukup Pekbo tunggu satu tahun saja, boanpwee serta Ie-cici tentu akan kembali ke perkampungan untuk menyambangi diri Pekbo"
Segera dia menarik tangan Lie Siauw le dan ujarnya.
"Cici waktu sangat mendesak sekali kita tak bisa buang-buang waktu kembali, ayoh jalan."
Lie Siauw Ie tak memberikan jawabannya mendadak dia jatuhkan diri berlutut dihadapan ibunya kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya memberi hormat lama sekali baru panggilnya.
"Ibu…"
Perkataan selanjutnya tak sanggup diucapkan kembali.
Waktu Liem Tou benar-benar merasakan waktu yang amat mendesak dia tak berani menunda waktu kembali, dengan sekuat tenaga ditariknya badan Siauw le untuk bangkit kemudian meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Waktu itu Lie si pun ikut bantu mendesak Lie Siauw le agar cepat meninggalkan tempat itu sampai saat itulah dengan perasaan berat ia baru bangkit berdiri, satu Iangkah bergerak maju satu kali menoleh kebelakang, dengan perasaan hati yang amat berat dia mengikuti diri Liem Tou meninggalkan tempat itu.
Begitu sampai di luaran segera dia tahu kalau orang-orang yang mengepung di sekeliling tempat itu sudah dipancing itu gadis cantik pengangon kambing ke perkampungan bagian belakang, dergan begitu jika dia mau turun gunung haruslah melalui tiga tempat rintangan maut yang berada di depan.
Diam-diam pikirnya dalam hati.
"Dengan kepandaianku pada saat ini untuk melewati sungai kematian serta tebing maut mungkin masih sanggup tapi jembatan pencabut nyawa itu..."
Tapi urusan sudah sampai begitu rupa walau pun di dalam hati dia tahu tidak punya pegangan yang kuat terpaksa dengan menempuh bahaya harus dicoba juga.
Sesudah mengambil keputusan di dalam hatinya, dengan menggandeng tangan Lie Siauw Ie dia melanjutkan perjalanannya kedepan.
"Cici, ayoh jalan,"
Teriaknya.
Saat ini malam hari sudah menjelang datang cuaca amat gelap sehingga sukar melihat tempat jauh.
Liem Tou serta Lie Siauw le segera melayangkan badannya ke depan menuju ke gunung bagian depan.
Tidak selang beberapa lama sampailah mereka berdua ditepi jembatan pencabut nyawa.
"Cici "
Tanya Liem Tou dengan suara perlahan..
"Sungai kematian serta Tebing maut sudah sukar untuk menahan diriku, tapi Jembatan pencabut nyawa ini keadaannya memang sungguh luar biasa bahayanya, cukup tidak tenang sedikit saja badan kita bisa hancur ditelan dasar jurang yang teramat dalam itu, bagaimana baiknya kita melewati tempat ini?"
"Adik Tou "
Sahut Lie Siauw Ie sembari menghela napas panjang.
"Sejak kau meningalkan atas gunung waktu itu di dalam hatiku sudah punya maksud untuk turun gunung mencari dirimu. Jien Cui cici pernah memberi pelajaran ilmu meringankan tubuh kepadaku mungkin kini sudah bisa digunakan untuk melewati tempat ini, biarlah aku lewat dulu."
Liem Tou yang mendengar perkataan dari Lie Siauw Ie ini segera tahu bahwa sekali pun ilmu meringankan tubuhnya sudah mendapatkan kemajuan tapi selama ini belum pernah sungguh-sungguh mencoba untuk melewati jembatan pencabut nyawa ini, karenanya dengan perasaan tidak tenan jengahnya.
"Cici tempat ini bukanlah tempat untuk main-main biarlah adik Tou mencoba terlebih dulu"
"Tadi dia sudah bilang tak punya pegangan jika.."
Berpikir sampai disini tanpa terasa lagi Lie Siauw Ie sudah menghembuskan napas dingin, dengan cepat ujarnya.
"Jangan... jangan..Iebih baik kita cari cara yang lain saja untuk turun gunung ."
Dengan perkataan Lie Siauw Ie ini agaknya Liem Tou sudah dibuat ragu-ragu juga oleh kemampuan dirinya untuk balik ke perkampungan bagian belakang sudan tidak mungkin terjadi apalagi satu satunya jalan baginya sekarang untuk meloloskan diri hanya jalan ini saja membuat hatinya seketika itu juga dibuat bingung sekali.
Tapi ketika mengingat kekejamam dari Au Hay Ong Bo serta si Ang in sin pian itu Cung cu dari perkampungan le Hee Cung hatinya jadi mantap kembali, segera dia maju ke pinggir jembatan siap untuk menyeberanginya.
Melihat hal itu Lie Siauw Ie menjadi terperanjat.
"Adik Tou, jangan"
Teriaknya dengan keras.
Tetapi Liern Tou sudah pusatkan tenaga dalamnya, dengan satu kali loncatan dia telah meloncat ke atas kawat baja yang menghubungkan tebing yang satu dengan tebing yang lain ini, dengan menutulkan kakinya bagaikan burung walet Liem Tou sudah berhasil menyeberangi jembatan pencabut nyawa itu.
Lie Siauw Ie menjadi sangat girang sekali, dengan cepat dia bergerak siap menyeberangi juga jembatan itu.
"Cici tunggu dulu,"
Mendadak Liem Tou berteriak dengan keras. Dengan dua kali loncatan dia berbalik kembali ke sisi Siauw le, sambungnya lagi.
"Beruntung aku bisa melewati jembatan ini tapi cici dapat menyeberangi atau tidak belum bisa ditentukan sekarang.Kini aku sudah dapatkan cara harap cici mau mencobanya terlebih dulu, bisa menyeberangi atau tidak dapat kita ketahui."
Siauw Ie menjadi sangat heran, dengan perasaan ingin tahu dia pandang wajah Liem Tou, lama kemudian barulah tanyanya.
"Kau punya cara apa untuk mengetahui aku bisa menyeberangi jembatan ini atau tidak ?"
"Itu soal gampang,"
Sahut Liem Tou sembari tersenyum.
"Asalkan ilmu meriangankan tubuh cici bisa mengalahkan ilmuku sudah tentu cici bisa menyeberangi tempat ini. Sekarang baiklah kita masing masing meloncat ke atas sekali, jika cici bisa meloncat !ebih tinggi dari diriku itu tandanya ilmu cici lebih tinggi dari diriku."
"Baiklah"
Sahut Lie Siauw Ie menyetujuinya.
Demikianlah mereka berdua segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk kemudian bersama sama meloncat ke atas udara.
Dengan loncatan ini segera terlihatlah kalau Lie Siauw Ie ternyata bisa meloncat sama tingginya dengan loncatan Liem Tou hal ini menunjukkan kalau kepandaian ilmu meringankan tubuh dari Lie Siauw Ie memang seimbang dengan kepandaiannya Liem Tou membuat dalam hati mereka berdua diam-diam merasa amat girang sekali.
Pada saat mereka sedang merasa gembira itulah mendadak ...
dari ujung jembatan pencabut nyawa sebelah sana secara samar samar berkumandang datang suara manusia yang makin lama semakin mendekat.
"Hmmm . hmmm ...bangsat Hek Loo jie dari Siok-to siang Moo ternyata begitu berani mencari gara-gara dengan partai Kiem Thian Pay kita, ini hari dia dapat loloskan diri boleh dikata keuntungan yang besar bagi dirinya, hmmm ..."
Mendengar perkataan itu Liem Tou serta Lie Siauw Ie menjadi amat terkejut, tanpa terasa lagi mereka berdua sudah mengeluarkan suara tertahan, masing-masing segera meloncat ke samping batu batu cadas dan menyembunyikan dirinya.
Beberapa saat kemudian dari bawah tebing kelihatan meluncur datang beberapa sosok bayangan manusia yang amat cepat, ditinjau dari gerakannya yang begitu ringan dan lincah sudah jelas kalau mereka merupakan jagoan yang berkepandaian sangat tinggi dan terkenal di dalam dunia kangouw saat ini, saat ini jarak mereka dengan tempat persembunyian Liem Tou masih sangat jauh sehingga sangat sukar untuk melihat jelas wajah mereka.
Perlahan-lahan beberapa sosok bayangan itu makin mendekat lagi akhirnya sudah tiba di ujung jembatan pencabut nyawa itu, saat inilah Liem Tou baru melihat mereka ternyata adalah si Soat Hu Li serta Song beng Lan sekalian dari Kiem Thian Pay.
"Cici"
Ujarnya kemudian kepada Lie Siauw Ie dengan suara yang amat lirih.
"Mereka-mereka itu semua adalah jago-jago dari Kiem Thian Pay yang berpusat di daerah Au Hay, orang orang itulah yang ditugaskan oleh Au Hay Ong Bo untuk datang menawan diriku."
"Adik Tou"
Tanya Lie Siauw Ie dengan parasaan heran.
"Bagaimana kau bisa kenal dengan orang orang itu ? Jika didengar dengan perkataan siluman tua itu agaknya kau pernah mematikan putrinya, sebetulnya kau sudah terjadi urusan apa ?"
Ditanyai begitu oleh Lie Siauw Ie seketika itu juga mengingatkan Liem Tou atas peristiwa yang terjadi, dengan perasaan amat gusar sahut nya.
"Hmmm ..kurang sedikit budak anjing itu menyebabkan nyawaku hilang ditangannya, karena dia membuat jago-jago dari golongan Pek-to maupun Hek-to pada mencari diriku, bukan saja dia sudah kurung aku di dalam sebuah gua yang siang malam tidak melihat udara di tengah gunung Ngo Lian Hong bahkan sering dia pukul hingga aku terluka parah, akhirnya aku kirim satu pukulan maut yang mencabut nyawanya sehingga dendamku selama ini bisa kubalas."
"Adik Tou"
Ujar Lie Siauw Ie sembari menghe!a napas perlahan.
'Sejak saat itu kau turun gunung, siang malam aku selalu memikirkan keselamatan dirimu tidak kusangka kau betul-betul menemui kesulitan dan berbagai siksaan yang begitu hebat.
Heei .
Dengan peruh kemesraan Liem Tou memeluk pinggang Lie Siauw Ie, ujarnya dengan nada penuh kasih sayang.
"Cici, aku pun selalu merindukan diri cici sejak aku dengar berita yang mengatakan cici menjadi gila, aku.. tahukah.. adikmu menjadi sedih sekali, hanya aku gemas tidak punya sayap sehingga bisa cepat terbang ke sisi cici dan melihat keadaan yang sesungguhnya."
"Waktu itu aku hanya pura-pura gila,"
Sahutnya sembari tersenyum.
"Saat itu aku betul-betul galak sekali, orang-orang keluarga Pouw yang tidak tahu malu itu setiap hari datang ke rumah ku mendesak ibuku agar aku dijodohkan dengan Pouw Siauw Ling, karena gusarnya aku terus saja pura-pura menjadi gila dan kasih hajaran pada mereka, jika bukannya saya mau dengar omongan ibuku serta Jien Coei cici hendak ngasih hajaran mereka dengan senjata rahasianya Cu Gien Ciam."
Setelah mendengar kisah inilah Liem Tou baru sadar kembali kejadian apa yang sudah terjadi.
Saat ini si Soat Hu Li serta Song Beng Lan sudah berhasil melewati jembatan Pencabut nyawa itu dan melanjutkan perjalanan mereka menuju ke dalam perkampungan le Hee Cung.
oooXooo Sesudah melihat bayangan mereka sekalian lenyap dibalik perkampungan barulah Liem Tou berani munculkan dirinya, sembari menarik tangan Lie Siauw Ie ujarnya.
"Cici, meminjam kesempatan tidak ada orang yang menyeberangi jembatan in marilah kita cepat berlalu"
Kedua orang itu dengan cepat meloncat bangun dan berdiri menuju ke tepi jembatan.
"Cici"ujar Liem Tou kembali.
"Kau meloncatlah terlebih dulu tapi harus berhati-hati"
"Tidak"
Bantah Lie Siauw le dengan cepat.
"Kau menyeberanglah terlebih dulu."
Siapa tahu perkataan ini diucapkan dari dalam Perkampungan secara tiba-tiba berkumandang datang beberapa kali suitan yang amat nyaring dan memekikkan telinga kemudian disusul dengan suara suitan yang saling susul-menyusul dari segala penjuru.
Dengan cepat Liem Tou menoleh ke belakang terlihatlah sinar obor yang terang benderang sudah mulai muncul di seluruh penjuru sekitar perkampungan itu kemudian dengan cepat bergerak menuju ke arah mereka berada bahkan di depan gerombolan orang-orang yang membawa obor itu berkelebat sesosok bayangan putih yang amat jelas sekali.
Dibelakang bayangan putih itu muncullah berpuluh puluh bayangan hitam yang mengejar dari belakangnya gerakan mereka ketat cepat bagaikan bertiupnya angin taupan, hanya di dalam sekejap saja titik-titik hitam itu sudah mula mendekat.
Segera Liem Tou menjadi sadar kembali bahwa mereka-mereka itu pastilah orang orang yang sedang mengejar diri gadis cantik pengangon kambing yang memakai pakaian warna putih itu, tanpa terasa lagi dia menjadi sangat terkejut, perasaan terperanjat ini bukanlah dikarenakan kuatir atas keselamatan gadis cantik pengangon kambing itu melainkan karena arah yang dituju mereka semua justru mengarah dimana kini dia berdua berada.
Dia tahu walau pun usia dari gadis cantik pengangon kambing itu masih sangat muda tapi kepandaian silatnya betul-betul sudah mendapatkan warisan dari ayahnya Lie Loo jie, ayahnya Lie Loo jie terbukti bisa melawan Thian Pian Siauw cu dengan seimbang sudah tentu Au Hay Ong Bo tidak mungkin berhasil melukai dirinya.
Tapi yang membuat pikirannya menjadi bingung adalah arah yang jurusan mereka tempuh, jika mereka berdua tidak lekas-lekas meninggalkan tempat ini pastitah jejak mereka segera akan ditemukan, sampai waktu itu sudahlah mesti tidak mungkin baginya untuk melarikan diri.
Berpikir sampai disini tanpa berpikir lebih panjang lagi dengan cemas teriaknya.
"Cici, mereka sudah datang, kalau kau tidak mau lawan terlebih dulu baiklah aku yang menyeberangi dulu."
Sehabis berkata segera dia pusatkan tenaga dalamnya kemudian meloncati Jembatan Pencabut nyawa itu.
Tanpa mereka duga sesosok bayangan hitam sejak tadi sudah mengincar diri mereka bahkan semua perkataan yang mereka berdua katakan sudah didengar olehnya, orang itu dengan rapatnya menyembunyikan dirinya di samping Liem Tou berada di tengah jembatan baru melancarkan serangan mengganggu dirinya.
Orang yang sembunyi di sisi jembatan pencabut nyawa itu bukan lain adalah salah satu anggota dari Siok to Siang Mo, Hek Loo-jie adanya.
Tadi sesudah dikejar oleh Soat Hu Li serta Song Beng Lan sekalian dari Kiem Thian Pay sehingga memaksa dia melarikan diri turun gunung dengan cepat dia menyelinapkan dirinya di suatu tempat kegelapan, dengan tidak perduli hubungan persaudaraan selama tiga tahun lamanya dia menyiksa dan menganiaya Hek Lotoa hanya bertujuan merebut kitab pusaka To Kong Pit Liok, ternyata sebelum dia peroleh sudah keburu didapatkan oleh Liem Tou, sudah tentu saat ini dia tidak rela meninggalkan puncak gunung Ha Mo San ini begitu saja.
Menanti sesudah beberapa orang jago dari Kiem Thian Pay ini naik kembali ke atas gunung dengan perlahan barulah dia meloncat keluar dari tempat persembunyiannya untuk selanjutnya meloncat ke pinggir tebing di samping Jembatan pencabut nyawa tersebut.
Saat itulah secara tiba-tiba dia merasa di samping jembatan ada orang yang sedang bersembunyi, dengan cepat dia menyingkir ke samping untuk melihat jelas orang tersebut.
Tak terkira girang hatinya setelah diketahui mereka ternyata adalah sepasang muda-mudi yang tidak bukan adalah Liem Tou serta Lie Siauw Ie.
Diam-diam dalam hatinya mulai mengambil perhitungan, pikirnya.
"Hmmm..kali ini jika itu kitab pusaka To Kong Pit Liok sekali lagi lolos dari tanganku maka bangsat cilik she Liem itu harus dimusnahkan agar itu kitab pusaka untuk selamanya terkubur di dasar jurang "
Begitulah ketika dilihatnya Liem Tou sudah berada di tengah jembatan Pencabut nyawa itu secara tiba-tiba dia tertawa tergelak dengan amat kerasnya.
"Hey Liem Tou "teriaknya dengan berang.
"Kali ini aku mau lihat kau lolos tidak dari cengkeraman aku orang tua."
Bersamaan suara bentakan tersebut Hek Looji meloncat keluar dari tempat persembunyiannya kemudian meloncat ke atas rantai jembatan pencabut nyawa itu siap menghadapi serangan musuh.
Munculnyr Hek Looji secara mendadak ini membuat Liem Tou betul-betul merasa amat terperanjat, bila Lie Siauw Ie yang berada di belakangnya begitu dilihatnya Hek Looji muncul secara tiba-tiba menghalangi kepergian mereka segera menjerit keras.
"Adik Tou cepat kembali ... adik Tou cepat kembali..."
Liem Tou seudiri juga tahu kalau Hek Looji sedang menghalangi perjalanan mereka, segera dia tarik napas panjang untuk memberatkan badannya di atas kawat sedang dalarn hati diam-diam mulai mengambil keputusan.
Dia tahu jika saat itu Hek Looji melancarkan serangan ke arahnya, bagi dirinya tempat untuk menghindarkan diri tidak mungkin ada bahkan jika menerima serangan musuh dengan keras lawan keras hal ini akan mengakibatkan berat badannya semakin bertambah sehingga kemungkinan kawat yang diinjak akan putus.
Didalam keadaan yang amat kritis itulah suatu pikiran berkelebat didalam hatinya, tanpa berpikir panjang lagi dia sudah mengikutr suara teriakan dari Lie Siauw le, tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas udara kemudian bersalto beberapa kali, ujung kakinya menutul kawat rantai siap meloncat balik ke tempai semula.
Dengan gerakannya ini sama saja suatu kesalahan di tambah lagi dengan kesalahan yang lain, segera terdengar Hek Looji tertawa keras sambil bentaknya."
"He he he .. Liem Tou, jika kau betul-betul berani meloncat ke sini kemungkinan karena memandang pada itu kitab pusaka To Kong Pit Liok aku tidak akan sampai mencelakai nyawamu, tapi kini kau malah balik ke arah sebelah sana, kau jangan salahkan hatiku terlalu kejam. Hey Liem Tou , ini hari pada setahun lagi merupakan ulang tahun kematianmu yang pertama, he he . pergilah."
"Cring .."
Suatu suara yang sangat nyaring segera berkumandang dari bawah kaki Liem Tou.
Mendengar suara itu Liem Tou menjadi sangat terperanjat, dalam anggapannya tentu Hek Loo jie sedang menyambit senjata-senjata rahasia yang amat berbisa, tubuhnya dengan cepat melompat ke tengah udara untuk kemudian melayang kembali ke tempat semula.
Pada saat itulah dia memandang ke bawah, terlihatlah kegelapan di bawah kakinya gelap gulita kawat rantai yang semula terbentang di bawah kakinya kini sudah lenyap tanpa bekas, yang ada hanyalah suatu jurang yang dalamnya sampai tak tampak dasarnya.
"Celaka!"
Teriaknya dengan keras.
Dengan cepat dia menarik hawa murninya dalam pusar, walaupun kini kawat sudah terputus, dia tetap berusaha untuk bersalto dan berjumpalitan ditengah udara.
Apa daya kemauan ada tapi tenaga kurang, apalagi jarak dimana dia kini berada dengan tepi tebing ada berpuluh puluh kaki jauhnya, tubuhnya dengan cepat meluncur ke bawah dengan kecepatan yang luar biasa.
Melihat keadaan dari Liem Tou, Lie Siauw le merasa betul-betul seperti disambar petir, tanpa terasa lagi dia sudah berteriak amat keras.
"Adik Tou..Adik Tou !"
Teriaknya belum sampai terdengar, Liem Tou dengan menggunakan tenaganya yang terakhir juga sedang berteriak.
"Cici..! "
Tapi kata cici yang terakhir sudah berkumandang keluar dari dalam jurang yang dalamnya puluhan kaki dari atas tebing.
Perubahan yang terjadi secara taba-tiba itu membuat Lie Siauw le seketika itu juga kehilangan kesadarannya, di tengah suara tertawa Hek loo jie yang amat keras itu sekali lagi teriaknya.
"Adik Tou .. adik Tou .."
Tubuhnya dengan cepat berkelebat terjun ke dalam dasar jurang yang sangat dalam itu.
Pada waktu Lie Siauw le terjun kedalam jurang menyusul diri Liem Tou itulah dari tepi jurang secara mendadak berkumandang suara bentakan yang sangat nyaring disusul dengan berkelebatnya bayangan putih yang amat cepat melayang kedalam jurang, hanya di dalam sekejap saja bayangan itu sudah lenyap dari pandangan.
Menanti Au Hay Ong Bo serta Ang in sin pian sekalian tiba di tepi jurang terlihatlah suasana di dalam jurang sudah berubah tenang kembali, diantara mereka hanya Au Hay Ong Bo seorang saja yarg memiliki kepandaian silat paling tinggi masih sempat melihat sesosok bayangan putih yang berkelebat dengan amat cepatnya kemudian lenyap.
Keesokan harinya, berita kematian Liem Tou, Lie Siauw Ie serta gadis cantik pengangon kambing yang binasa di dasar jurang tepi Jembatan pencabut nyawa dari sekarang tersebar kepada orang yang lain, tidak sampai satu dua jam seluruh perkampungan Ie Hee Cung sudah tahu akan berita tersebut.
Lie si itu ibunya Lie Siauw le sejak ditinggal pergi oleh puterinya berserta Liem Tou selama semalaman sudah merasa sedih kini mendengar kematian mereka berdua di dasar jurang seperti juga guntur yang menyambarnya disiang hari bolong.
Semula dia masih tidak mau percaya atas berita itu, tetapi sesudah melihat dengan mata kepala sendiri kalau rantai jembatan pencabut nyawa itu betul-betul sudah putus barulah dia mau percaya dengan berteriak keras dia sudah jatuh tak sadarkan diri.
Akhirnya walau pun berhasil ditolong oleh orang lain tapi tetap tak mau meninggalkan tempat itu.
Selama tiga hari tiga malam lamanya dia terus menangis saja, bila bukannya ada orang yang menjaga di sampingnya mungkin sejak semula dia sudah ikut terjunkan diri ke dalam jurang menyusul putrinya.
Sampai hari keempat tangisan dari ibunya Lie Siauw le sudah mulai serak sedang air matanya pun sudah kering, karena itulah sepasang matanya menjadi buta.
Pada hari kelima dia meninggal dunia dengan tenang semua rakyat di dalam perkampungan tidak ada yang merasa sedih dan menghela napas atas peristiwa ini.
Kira balik kepada Liem Tou yang menggunakan tenaganya yang terakhir berteriak "Cici"
Tubuhnya dengan cepat bagaikan kilat meluncur ke kebawah dengan amat santarnya.
Waktu ini dia merasakan angin dingin yang menyambar badannya hingga menusuk ke tulang sumsum, pada waktu itu dia tidak sanggup membuka matanya hanya di dalam hati secara diam-diam dengan sedih menghela napas panjang.
"Habislah sudah, kali ini habislah sudah diriku!"
Tetapi walau pun dia tidak punya harapan lagi untuk hidup di dalam benaknya masih pikirkan suatu keinginan untuk meloloskan diri dari bencana ini.
Tanpa terasa lagi semangatnya menjadi berkobar kembali dengan paksakan diri dia pentangkan matanya lebar-lebar.
Mendadak pandangan matanya terbentur dengan berjuta-juta bintang yang memancarkan sinar gemerlapan di angkasa, hatinya menjadi teramat heran, pikirnya.
"Waktu ini aku sedang jatuh ke dalam jurang dan meluncur dengan cepatnya mengarah dasar jurang yang amat curam, darimana datangnya bintang-bintang di hadapanku ini?"
Pada waktu pikirannya sedang berputar itulah cepat cepat dia tutup semua pernapasannya diikuti suatu gerakan yang amat keras sekali.
Liem Tou hanya merasakan punggungnya terbentur dengan benda yang amat keras sehingga menggetarkan seluruh isi badannya, pandangannya menjadi kabur dan berkunang-kunan ketika itu juga dia jatuh tidak sadarkan diri.
Entah lewat beberapa waktu lamanya, di tengah pingsannya dia merasakan pinggangnya teramat sakit sehingga dia menjadi sadar kembali tanpa bisa mencegah darah segar segera memancar keluar dari mulutnya dengan amat keras.
Waktu itulah dia baru sedikit merasakan badannya menjadi segar, perlahan lahan suaranya dipentang lebar-lebar dan memandang keadaan sekeliling tempat itu.
Terlihatlah tepat disisi dimana dia berbaring terdapatlah sebuah sungai lebar yang airnya mengalir dengan amat deras, bilamana dirinya terjatuh tepat di atas sungai apa yang akan terjadi selanjutnya?
hal ini membuat Liem Tou merasa bulu kuduknya pada berdiri.
Perlahan-lahan dia merangkak bangun dari atas batu cadas, dimana tadi dia berbaring kemudian memandang keadaan sekitar tempat itu.
Terlihatlah dua buah puncak yang amat tinggi mengelilingi suatu lembah yang sempit, pohon rotan tumbuh dengan lebatnya diseluruh tebing sehingga menyerupai naga yang sedang berkelompok ditambah dengan suara teriakan kera-kera, pemandangannya sangat indah sekali.
Melihat pemandangan ini Liem Tou yang baru sadar dari pingsannya menjadi termangu-mangu.
"Tempat manakah ini?"
Pikirnya dalam hati. Mendadak dalam ingatannya berkelebat suatu syair dari penyair terkenal"
Lie Thay Pak"
Didalam syairnya "Ha Kiang Ling"
Yang memuat kata-kata.
"Suara kera saling sahut-menyahut memenuhi dua tebing, perahu layar berdayung melalui gunung curam".
"Apa mungkin aku sudah sampai di selat Sam Shia?? kalau begitu gunung yang berada di depan pastilah gunung Wu San.?"
Dia pandang sebentar keadaan cuaca, awan berkumpul dan bertumpuk-tumpuk amat tebal meinbuat cuaca agak gelap sehingga mirip sekali hendak turun hujan lebat, perlahan-lahan dia bangkit berdri dan melemaskan ototnya, semua badan terasa amat linu dan kaku bahkan terasa amat sakit apalagi badannya yang tadi separuh terpendam di dalam air kini terasa mulai mengejang dan memutih.
Dia tidak berani meloncat kembali ke dalam sungai, selangkah demi selangkah dia mulai berjalan melalui batu cadas yang amat curam, belum sampai beberapa kaki jauhnya terasa mulai tergoyang dan terhuyung-huyung, tak tertahan sekali lagi dia menjatuhkan diri keatas tanah tidur di atas batu itu.
Mananti dirasanya suatu hawa dingin menusuk ke dalam badannya barulah dia sadar kembali dari pulasnya, saat itu hujan sedang turun dengan amat derasnya cuaca amat gelap agaknya malam hari sudah tiba sahingga empat penjuru hanya terlihat kegelapan saja air sungai mendebur memecahkan ombak di tepian membuat suasana begitu sunyi sangat menyeramkan.
Liem Tou yang kejauhan kini benar benar di buat bingung oleh keadaan yang dihadapinya, perutnya lapar, badannya dingin apalagi di tengah selat yang sunyi di antara kedua gunung yang amat tinggi, harus kemanakah dia pergi?
kemana dia harus meneduh menangsal perutnya yang lapar?
Waktu ini biar pun badannya terasa amat linu dan lelah mau tak mau dia harus berdiri juga, waktu ini buat dirinya hanya dua jalan saja untuk melanjutkan hidupnya pergi dari sana atau tetap berbaring di tempat itu tetapi kedua jalan ini pun harus menempuh bahaya.
Pada waktu Liem Tou sedang ragu-ragu itulah dari tempat kejauhan secara samar-samar terdengar suara orang yang sedang bersembahyang dan memuji Budha, suara ini perlahan sekali tetapi cukup membuat semangat Liem Tou berkobar kembali pikirannya.
Di tengah selat yang begitu sunyi begini liarnya bagaimana bisa ada suara sembahyangan jika didengar dari suara itu di sekitar tempat ini pasti ada kelenting.
Berpikir sampai disini matanya mulai berkeliaran memandang sekeliling tempat itu, walau pun waktu ini cuaca sangat gelap tapi dia bisa melihat sekitar tempat itu dengan amat jelas, hal ini disebabkan latihan yang diperoleh secara tidak sengaja sewaktu dikurung didalam gua gelap diatas puncak Giok Lian Hong.
Tetapi walau pun sudah dipandang beberapa waktu, jangan di kata kelenting sakalipun bayangannya juga tidak tampak.
Tetapi dia tidak menjadi putus asa, disaat ini dia membutuhkan tempat berteduh, tempat untuk mendahar karenanya dengan lebih teliti lagi dia pandang dan mendengar benar juga dari samping sebelah kanannya secara samar samar mulai terdengar kembali suara sembahyang itu.
Cepat cepat dia meraba keatas dengan mencekal ranting ranting yang tumbuh disekeliling tempat itu untung saja pisau pusaka pemberian gadis cantik pengangon kambing masih ada sehingga banyak membantu gerakannya kali ini.
Beberapa saat kemudian mendadak tempat yang diinjak berubah, tangga tangga batu yang masih utuh muncul dihadapannya, walaupun waktu ini tangga tangga batu itu tertutup oleh rerumput tetapi keadaaanya amat bersih dan terawat, melihat hal tai Liem Tou segera sadar di tempat itu pasti ada penghuninya.
Ternyata dugaannya sedikitpun tidak salah semakin dia berjalan dengan mengikuti tangga-tangga batu itu suara sembahyangan tersebut semakin terdengar jelas, bahkan bisa terdengar setiap kata kata yang diucapkan, suara orang itu amat rendah dan berat bahkan memiliki suatu daya tarik yang menggidikkan.
Waktu ini Liem Tou betul-betul merasa lapar dan dahaga ditambah lagi mendengar suara sembahyangan yang mempunyai daya pengaruh aneh, kontan saja badannya mulai terhuyung-huyung dan jatuh terduduk.
Cepat-cepat dia duduk bersila dan mulai mengatur pernapasannya dengan mengikuti petunjuk dari kitab pusaka Toa Loo Cin Keng dalam bagian pernapasan.
Tidak selang lama kemudian seluruh badannya mulai terasa menjadi segar dan bertenaga kembali.
Tetapi pada saat itu juga terdengar suara jeritan serta cit-citan kera-kera yang amat santar kemudian disusul dengan suara berlarinya kera-kera itu untuk menyembunyikan dari keempat panjuru.
Melihat hal ini diam diam pikir Liem Tou didalam hatinya.
"Kera-kera itu melarikan diri dengan begitu gugup, apa mungkin sudah kedatangan binatang buas lainnya?"
Berpikir sampai disini tanpa terasa hatinya menjadi berdebar dengan amat keras sedang pisaunya pun dipegang semakin kencang, matanya bagaikan mata elang dengan tajam memperhatikan sekeliling tempat itu.
Mendadak terlihat olehnya dari ujung puncak penyeberangan berkelebat bayangan manusia dengan cepatnya, hanya di dalam sekejap mata sudah lenyap dari pandangan.
Liem Tou menjadi melengak.
"Siapa mereka itu ?"
Pikirnya di dalam hati. Mcndadak suara sembahyangan yang tadi terdengar berhenti secara tiba tiba disusul suara bentakan seseorang dengan nadanya yang amat rendah dan berat.
"Sicu dari mana yang sudah datang ? ? Cepat sebutkan namamu."
"Siapa orang ini ?"
Pikir Liem Tou dengan amat terperanjat."Jika didengar dari nada suaranya kini dia berada kurang lebih seratus langkah dari tempat aku berdiri sekarang tetapi bagaimana dia bisa tahu kedatanganku ini?
Hmmm tenaga dalamnya tentu amat sempurna sekali, kalau tidak bagaimana dia bisa tahu tempat persembunyianku ?
Lebih baik aku keluar saja untuk minta bertemu."
Baru saja dia mau keluar dari tempat persembunyiannya mendadak suara tertawa yang amat panjang memekikkan telinga kemudian disusul jawaban dari seseorang.
"Pengemis busuk serta aku Thiat Sie-poa rongsokan dari daerah Tionggoan ingin bertemu dengan Chie Liong To atau Penjahat naga merah yang terkenal pada dua puluh tahun yang lalu."
Sekali lagi Liem Tou dibuat terperanjat setelah mendengar suara orang itu karena orang itu adalah Thiat Sie sianseng serta pengemis pemabok, ada dua orang itu disini berarti dirinya juga mendapatkan pertolongan karenanya hatinya menjadi amat girang sekali, cepat-cepat dia siap keluar untuk berteriak.
Tetapi pikirannya segera berubah, pikirnya.
"Lihat-lihat dulu mereka bardua datang kemari ada urusan apa?"
Karenanya pandangannya mendadak berubah terlihatah sebuah selat yang amat kecil muncul dihadapannya selat itu bentuknya amat aneh sekali dan berbentuk amat sempit sehingga bila dilihat dari atas sangat mirip sebuah retakan kecil diantara dua gunung tinggi.
Liem Tou merangkak semakin mendekat lagi, terlihatlah sebuah rumah yang amat besar bentuknya muncul di hadapannya, rumah itu tidak mirip sebagai sebuah kelenting tempat beribadah melainkan sebuah rumah hartawan yang sangat besar dan kokoh.
Waktu ini didepan pintu rumah berdirilah si pengemis pemabok serta si Thiat Sie poa sedang dihadapannya berdirilah seorang hwesio gundul dengan bentuk badan tinggi besar.
Walaupun pandangan mata Liem Tou amat tajam tetapi waktu ini tak dapat melihat lebih jelas lagi bagaimana bentuk wajah hwesio gundul itu, hanya saja sepasang matanya memancarkan sinar yang amat tajam dan menyilaukan saban orang yang memandang ke arahnya.
Liem Tou tahu orang itu pastilah seorang Bu lim yang mempunyai kepandain sillat yang amat tinggi, dia tak berani berlaku gegabah maka dengan perlahan tubuhnya mundur kemball dua langkah kebelakang, dua langkah untuk menyembunyikan diri.
Siapa tahu baru saja badannya mundur dua langkah ke belakang mundadak tubuhnya menginjak suatu benda yang amat Iemas dan empuk, cepat-cepat dia tundukkan kepalanya memandangnya.
"Haaa "
Sesosok mayat menggeletak di atas tanah dengan keadaan mengenaskan.
Liem Tou benar-benar terperanjat melihat keadaan mayat itu, dengan memberanikan diri dia menjongkok dihadapan mayat tersebut dan meIihat lebih jelas lagi, kiranya dia adalah ciangbunjin dari partai Bu Toug pay Leng Ceng Cu adanya.
Keadaan mayat dari ciangbunjin Bu Tong pay ini masih segar hal ini membuktikan baru saja dia binasa belum lama hanya saja badannya sudah hancur oleh pukulan yang amat hebat.
Liem Tou segera tahu kalau tempat ini adalah tempat berbahaya.
Seketika itu juga dia memandang kembali ke arah si pengemis pemabok dan Thiat Sie poa kelihatan mereka bertiga sedang membicarakan sesuatu, agaknya mereka berdua tidak mangetahui kalau Leng Ceng Cu sudah binasa pikirnya.
"Buat apa meraka datang kemari mencari hweesio gundul itu ?"
Terdengar hweesio gundul itu dengan suaranya yang amat rendah dan berat sudab angkat bicara kembali.
"Orang budiman tak berbohong, kalian kemari ada urusan apa ? Si penjahat naga merah sekali pun berupa bajingan besar pada tempo hari tapi kini sudah menjadi pendeta. Aku sangat tidak senang melihat kalian beberapa kali datang mengacau ketenangan padaku"
"Terhadap kau kami berdua masih bisa menyebut kau sebagai seorang Cianpwee"
Jawab si Thiat Sie-poa."
Tapi kami berdua terang-terangan baru kali ini datang berkunjung bagaimana kau mengatakan sudah berkali kali?
Omong terus, terang saja kami datang kemari hanya bertujuan pada kitab pusaka To Kong Pit Liok itu saja"
Mendengar disebutkannya kitab pusaka To Kong Pit Liok pikirnya Liem Tou seketika itu juga berkelebat suatu ingatan pikirnya.
"Sewaktu Hek Loo toa menjelang kematiannya dia pernah menulis sebuah hurup Wu dengan darahnya, apa mungkin gunung Wu san ini yang ditunjuk ?"
Setelah mendengar perkataan dari si Thiat siepoa ini agaknya si penjahat naga merah dibuat gusar.
"Siapa yang beritahukan urusan ini kepada kalian ?"
Bentaknya.
"Selain dia siapa lagi ?"
Seru Thiat Siepoa sembari memukulkan siepoanya pulang pergi. Dia berhenti sebentar lalu sambungnya lagi.
"Tapi, agaknya kitab pusaka To Kong Pit Liok itu sampai kini belum kau dapatkan, bukan begitu ?"
Saat ini si pengemis pemabok yang berada di sampingnya ikut angkat bicara.
"Haa... haaa, ..hey Thiat Sie heng aku tidak percaya sie poa rongsokanmu itu bisa begitu lihay"
"Ha ha ha... kalau tidak percaya nanti kau boleh lihat sendiri"
Jawab Thiat sie poa tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kau tidak pikir bila dia sudah peroleh kitab pusaka To Kong Pit Liok itu buat apa masih berada disini ?"
"Hmm, cukup "
Dengus si penjahat naga merah memotong pembicaraan mereka.
"Walau pun saat ini kitab pusaka To Kong Pit Liok belum aku dapatkan tapi sudah berada di dalam cengkeramanku, ini hari kalian sudah mangetahui rahasia ini jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup. Leng Ceng Cu dari Bu Toug pay juga seperti kalian tidak tahu diri kini sudah binasa ditanganku, aku kira kalian berdua pun sebentar lagi akan seperti dia"
Si Thiat Siepoa serta si pengemis pemabok menjadi amat terperanjat, bersama-sama tanyanya.
"Apa benar perkataanmu itu?"
"Hm..hm..siapa yang menipu kalian?"
Mendadak dengan disertai suara bentakan yang keras dia melancarkan satu serangan dahsyat.
"Lihat serangan"
"Blaaam.."suara yang dahsyat memecahkan kesunyian menyerang Thiat sie poa berdua. Bersamaan dengan serangan dahsyat itu Thiat sie poa berteriak keras.
"Hey pengemis busuk hati-hati."
Liem Tou yang bersembunyi dibalik batu tahu bahwa diantara mereka bertiga sudah melakukan pertempuran karenanya dia bergerak lebih mendekat lagi.
Terlihatlah si penjahat naga merah berdiri tegak ditempat semula sedang si Thiat sie poa serta si pengenais pemabok berdiri berpisah, yang satu di sebelah kiri yang lain di sebelah kanan dengan pandangan tajam memandang gerak-gerik si penjahat naga merah itu.
Terdengar sipenjabat naga merah itu tertawa dingin lagi, ujarnya.
"Didalam Bu lim waktu ini selain Lie Loojie, si majikan elang sakti serta Loo Ciang dari partai Kiem Thian Pay, seperti kalian-kalian ini hanya gentong-gentong nasi semua, buat apa hantar kematian dengan sia-sa"
Selesai berkata tangannya dengan mangerahkan tenaga pukulan yang amat dahsyat melancarkan satu pukulan hebat mengarah si Thiat sie poa yang berada disebelah kanan agaknya si Thiat sie sianseng tahu bahwa dia bukan tandingannya, badannya dengan cepat melayang dua kaki kebelakang menghindari datangaya serangan tersebut.
Sedangkan sipengemis pemabok dengan meminjam kesempatan sewaktu dia sedang melancarkan satu serangan kearah Thiat sie sianseng tadi segera melancarkan satu serangan mengarah perutnya.
Siapa tahu si penjahat naga merah sama sekali tak manggubris datangnya serangan itu, menanti serangan tersebut hampir mengenai tubuhnya mendadak si penjahat naga merah mengebutkan ujung bajunya.
"Hey pengemis tua, jangan "
Teriak si Thia sie sianseng ketika melihat keadaan yang sangat kritis itu.
Tapi keadaan sudah terlambat, tubuh si pengemis pemabok seketika itu juga dipukul mundur tujuh delapan langkah ke belakang oleh serangan tak berwujud itu.
Tanpa terasa Liem Tou merasa kuatir juga atas keselamatan si pengemis pemabok, agaknya dia sudah terluka parah oleh serangan itu, begitu badannya mundur kebelakang dengan terbuyung-huyung kemudian jatuh duduk ketanah,tidak bergerak lagi.
Hal ini jauh berada diluar dugaan semua orang.
Liem Tou sendiri juga amat terperanjat, dia sama sekali tidak menduga kepandaian silat dari si penjahat naga merah bisa begitu lihaynya, bersamaan pula dia merasa cemas terhadap keselamatan dari si pengemis pemabok, kini dia sudah jatuh terduduk, jika misalnya si penjahat naga merah melancarkan satu serangan kembali apa yang akan terjadi atas diri si pengemis pemabok?
Untung saja sipeniahat naga merah tidak melakukan hal ini, mendadak dia putar badannya mendesak kearah si Thiat sie poa.
"Kali ini habis sudah"
Pikir Liem Tou di dalam hati.
"Tadi sekali pun si Thiat Sie sianseng serta si pengemis pemabok bergabung pun masih bukan tandingannya, apalagi kini yang satunya sudah terlalca parah mana mungkin Thiat sie-sianseng kuat menahan serangannya?"
Mendadak si Thiat si non bersuit panjang dengan amat nyaringnya sehingga menggetarkan seluruh selat, badannya dengan cepat bagaikan kilat melayang dan melarikan diri keluar selat.
Waktu itu Liem Tou sedang memusatkan semua perhatiannya menonton jalannya pertempuran, ketika dilihatnya Thiat sie poa melarikan diri kearahnya cepat cepat dia menyembunyikan dirinya kesamping dan pada saat yang bertepatan pula tubuh Thiat sie poa sudah berkelebat melalui sisi badannya.
"Hmmm. Kau mau melarikan diri?"
Bentak si penjahat naga merah dengan suaranya yang dingin rendah dan amat berat.
Badannya dengan cepat mengejar dari arah lakang, hanya didalam sekejap mata kedua bayangan itu sudah lenyap dari pandangan, harya terdengar suara kera-kera yang ribut berteriak dan melarikan diri diseberang sana.
Setelah melihat kedua bayangan itu lenyap dari pandangan, barulah Liem Tou berani menghunjukkan dirinya untuk menolong diri si pengemis pemabok, badannya dengan cepat bangkit berdiri dari tempat persembunyiannya dan berjalan menuju kesisi badan si pengemis pemabok, ujarnya.
"Cianpwee bagaimana keadaan lukamu?"
Waktu ini si pengemis pemabok sedang duduk bersila mengerahkan tenaganya untuk menyembuhkan luka yang diseritanya, karena itu terhadap semua perkataan dari Liem Tou dia sama sekali tidak mendengarkan.
Melihat hal ini Liem Tou betul-betul menjadi amat cemas sekali, jika tiba-tiba si penjahat naga merah balik kembali apa yang akan terjadi?
Terpaksa Liem Tou berdiri di sisinya menanti dengan cemas, dia akan menunggu si pengemis pemabok selesai menyembuhkan lukanya untuk kemudian bersama-sama meninggalkan tempat bahaya ini.
Pandangannya perlahan-lahan dialihkan ke atas bangunan besar di hadapannya, kelihatan rumah itu dibuat dari tembok yang kokoh, pintunya bercat merah dan kelihatan sangat megah sekali.
Suatu keiuginan untuk tahu segera, muncul meliputi hatinya tanpa terasa Iagi dia sudah berjalan mendekati pintu bangunan itu.
Baru saja kakinya menginjak pintu rumah, segera terilhatlah keadaan di dalam ruangan amat bersih sekali hanya saja secara samar-samar terdengar suara rintihan yang amat perlahan.
Tanpa terasa Liem Tou menjadi terte gun dibuatnya, cepat cepat dia hentikan langkahnya dan mendengarkan suara itu dengan seluruh perhatiannya.
Agaknya suara rintihan tersebut berasal dari ruangan sebelah kiri, hatinya segera berpikir dan mengambil keputusan, sedang langkah kakinya pun sudah berputar ke arah sebelah kiri.
Baru saja berjalan dua langkah, mendadak suara rintihan berubah menjadi perkataan yang tidak jelas, hanya saja suara itu amat lama dan perlahan sehingga Liem Tou harus menghentikan langkahnya dan mendengar lebih teliti lagi.
Lama sekali barulah dia bisa mendengar kaa kata itu.
"Mo Ku Tiauw Cong Ci Cie Tong..."
Mendengar kata-kata itu Liem Tou saking terperanjatnya hampir-hampir menjerit kaget, inilah kata-kata atau kode rahasia untuk mendapatkan kitab pusaka "To Kong Pit Liok"
Itu, semangatnya tanpa terasa berkobar kembali, cepat-cepat jawabnya.
"Pak Bun Kong Cen Tui Ja Kang ."
Selesai dia mengeluarkan kata-kata ini orang di sebelah sana segera memperkeras suaranya bahkan kali ini Liem Tou sudah mendengar suara itu berasal dari seorang perempuan sambungnya.
"Pek Hwie Sian Po Tong Ang Hwee."
"Wu Ting Liau Soat Ta Cuang."
"Siapa kau ?"
Tanya orang itu lagi.
"Makan tanpa ikan, pergi tanpa kereta tak punya rumah tinggal, hamba bukan manusia,"
Jawab Liem Tou cepat. Segera terdengarlah suara orang itu berubah menjadi amat nyaring dan penuh diliputi kegembiraan.
"Ooh. sudah datang..sudah datang "
Serunya kegirangan."Akhirnya, datang juga orangnya, tapi kau bukan In-jien ku aku tahu kau bukan tuan penolongku bukan begitu ? sekarang beritahukan kepadaku. Apakah tuan panolongku baik baik saja ?"
Mendengar pertanyaan ini Liem Tou betul-betul dibuat bingung harus memberi jawaban yang bagaimana, akhirnya sesudah berpikir keras beberapa waktu lamanya barulah sahutnya.
"Caybe bernama Liem Tou dan Hek Loo cian pwee-lah yang perintahkan aku datang kemari, entah bagaimana sebutan dari cianpwee disana, sekarang berada dimana, apakah cayhe boleh bertemu ?"
Jilid 14 . Kerbau sakti mengamuk "Oooh kau.. kau bernama Liem Tou ???"
Seru orang itu.
"Baiklah tapi kau tak usah bertemu, aku hanya seorang nenek yang buta sepasang matanya, pada lima tahun yang lalu berkat pertolongan tuan penolongku nyawaku berhasil diselamatkan hingga hari ini maka aku mau dengan rela menjagakan harta kekayaannya di tempat ini dan menanti orang yang menggunakan kode rahasia itu datang mengambil barang tersebut sekarang kau sudah datang, aku boleh serahkan barang itu kepadamu."
Hati Liem Tou terasa bergetar oleh kata-katanya ini, dia merasa ikut berduka atas kejadian yang menimpa padanya karena itu segera sahutnya.
"Kalau memangnya cianpwee tidak ingin bertemu dengan cayhe, cayhe akan turut perintah."
"Sekarang aku mau beritahukan tempat simpannya barang barang tuan penolongku, ujar orang itu lagi.
"Barang itu sekarang disimpan didalam sebuah sumur kering di belakang halaman rumah ini, karena mataku sudah buta belum perlu aku kesana untuk melihat dan tak tahu barang barang berharga apa saja yang berada disana, tapi aku hanya tahu di dalam sumur kering itu ada sebuah jalan rahasia yang menghubungkan tempat itu dengan sungai. Baiklah perkataan sudah kujelaskan sekarang aku mau pergi."
Mendadak terdengarlah orang itu menangis dengan amat sedihnya, Liem Tou yang teringat akan kata-kata terakhir mendadak hatinya menjadi bergidik, cepat tanyanya.
"Cianpwee, kau kenapa ??"
"Bagaimana pun aku tak bisa hidup lebih lama lagi "
Jawab orang itu dengan nada gemetar.
"Dulu aku terus menerus menahan siksaan dari hweesio gundul terkutuk itu hal ini dikarenakan urusan dititipkan tuan penolong padaku belum selesai kerjakan kini urusan sudah selesai kerjakan kini urusan sudah selesai berarti hari siksaan bagiku juga sudah habis. Hanya saying aku tidak pernah melihat wajah puteraku dan menceriterakan ayahnya dan membutanya mataku sehingga sampai akhir hidupku aku benar-benar merasa sayang."
Liem Tou segera termenung berpikir sebentar, sahutnya kemudian.
"Asalkan boanpwee berhasil mendapatkan kitab pusaka To Koan Pit Liok itu dan berhasil memperoleh kepandaian silatnya, sesudah keluar dari selat ini boanpwee akan bantu menyelesaikan urusan cianpwee itu, asalkan cianpwee ada perintah aku Liem Tou pasti akan mengerjakannya, hanya saja siapa nama puteramu itu?"
"Putraku bernama Sun Ci Sie"
Jawab orang itu dengan suara yang penuh berterimakasih.
"Musuh besarnya adalah Kioe Lang Wan Kouw dari gunung Im San tolong sampaikan urusan ini kepada putraku."
Terhadap nama Sun Ci Sie ini Liem Tou sama sekali belum pernah mendengar tapi Kioe Lan Wan Kouw dari gunung Im san dia pernah bertemu sewaktu berada di lembah cupu-cupu, dia tahu urusan ini pasti menyangkut suatu pembunuhan yang berdarah tapi mendadak dia teringat kembali si hwcesio gundul yang sedang keluar dari selat itu, ujarnya kemudian.
"Boanpwee sudah tahu harap cianpwee legakan hatimu, hweesio bangsat itu mungkin segera akan kembali, boanpwee saat ini bukan tandingannya. Selamat tinggal."
Baru dia selesai berbicara mendadak suara jeritan ngeri berkumandang datang dari arah kamar itu. Liem Tou menjadi amat terperanjat, teriaknya.
"Cianpwee..cianpwee…"
Suasana tetap sunyi tak terdengar suara jawaban dari orang itu, hal ini membuktikan kalau orang itu sudah menemui ajalnya, tanpa disadari Liem Tou sudah meneteskan air matanya saking sedih melihat kejadian yang menyedihkan itu Sesudah lewat beberapa waktu kemudian pikirmya kemudian didalam hati.
"Tempat harta dari Hek Loo toa birada di-tempat ini, tentunya kitab pusaka To Kong-Pit Liok berada ditempat ini pula, kini harus cepat-cepat keluar dari rumah bangunan ini kemudian bersama sama dengan si pengemis pemabok yang terluka masuk kedalam sumur kering itu, apalagi sumur itu menembus kedalam sungai, aku tak takut sampai menjadi lapar karena ini."
Selesai mengambil keputusan segera dia berjalan keluar dari rumah bangunan itu mendadak dia berdiri melongo.
Kiranya si pengemis pemabok yang semula duduk semudi didepan bangunan itu kini sudah lenyap dari tempat itu.
cepat cepat dia berlari mencari dirinya disekeliling tempat itu.
Walaupun sudah dicari setengah harian jangan dikata si pengemis pemabok sampai di bayangannya pun tak kelihatan, pada perjalanan kembali itulah dia menjumpai pohon buah-buahan yang amat banyak, selesai menangsal perutnya dipetiknya lagi beberapa buah untuk bekal.
Sedang dia enak-enaknya mendahar buah-buahan itu, dari seberang hutan sebelah sana tiba tiba terdengar suara pekikan kera yang amat ramai, Liem Tou tahu tentu si penjahat naga merah itu sudah kembali.
Dia tidak berani berayal, bagaikan kilat cepatnya dia berkelebat melalui rumah bangunan itu menuju ke belakang halaman di samping sumur kering.
Semula dia menggunakan sebuah buah yang dilemparkan kedalam untuk mengukur dalamnya sumur kering itu, setelah dirasanya tidak terlalu dalam dengan tangan kiri mencekal pisau belati untuk melindungi dirinya, tanpa berpikir panjang lagi dia meloncat masuk ke dalam.
Sesampainya didasar sumur terlihatlah olehnya ditempat itu terdapatlah sebuah lubang kecil yang cukup untuk seorang saja, karena takut ada binatang binatang berbisa yang berada didalam sesudah dipandangnya beberapa saat baru dia mecorobos masuk ke dalam.
Belum jauh dia menerobos sampailah di sebuah tempat yang tempat itu tertutup dengan pintu yang terbuat dari kayu, perlahan lahan dia mendorong pintu itu dan masuk kedalam.
Begitu pintu tersebut terbuka, segera terlihatlah sinar yang cemerlang dan menyilaukan mata berkelabat menyinari ruangan, Liem Tou yang baru saja keluar dari tempat kegelapan seketika itu juga merasa matanya pedas dan perih oleh sinar tajam tersebut.
Lama sekali barulah Liem Tou membuka matanya dengan perlahan, saat itulah dia baru melihat sebuah ruangan batu yang mewah muncul dihadapannya, disebuah pojok ruangan terdapat sebuah intan sebesar batu kepalan memancarkan sinarnya, semuanya berjumlah sembilan buah.
Disamping sebelah kiri itu terdapat pembaringan, disamping pembaringan berjejer lima buah peti besar berwarna merah darah.
Melihat hal itu pikiian Liem Tou segera bekerja dia tahu basil rampokan Hek Lootoa selama hidupnya tentu disimpan didalam kelima peti besar berwarna merah darah itu.
Perlahan lahan pandangannya dialihkan ke samping, dinding ruangan sebelah kanan tergantung sebuah lukisan pemandangan yang indah.
Sesudah dipandangnya beberapa waktu lukisan itu, mendadak dalam pikirannya berkelebat suatu ingatan, cepat cepat dia berjalan mendekati lukisan itu dan mengangkatnya kesana ke samping.
Tidak salah di belakang lukisan itu terdapat sebuah pintu kecil pada dinding itu, dia tahu pintu inilah yang menghubungkan ruangan ini dengan sungai.
Sekali lagi dia memeriksa isi ruangan ini dengan amat teliti, sesudah dirasanya tidak ada tempat lain yang mencurigakan barulah dia mulai membuka peti peti besar berwarna merah itu, didalam sebuah peti semuanya berisikan intan intan permata serta mutu manikam yang indah dan berharga, harganya jauh melebihi sebuah kota, tetapi terhadap semuanya ini dia tidak ambil perduli.
Akhirnya didalam peti keempat dia menemukan kotak pualam yang berwarna hijau mengkilap, cepat-cepat dijemputnya kotak itu dan dibuka.
Isinya tak lain dan tak bukan kitab pusaka "To Kong Pit Liok"
Yang sudah menggegerkan dunia kangouw. Saking girangnya Liem Tou sudah lupa daratan, dia berteriak teriak dan meloncat didalam ruangan itu serunya.
"Oooh akhirnya aku dapatkan juga."
Mendadak teringat kembali olehnya waktu dia terjatuh dari atas jembatan pencabut nyawa itu, bagaimana keadaan Ie cicinya sekarang???
Jika dia mengira dirinya sudah binasa, didalam keadaan amat sedih bilamana mengambil keputusan pendek apa jadinya???"
Ketika berpikir sampai disini perasaan girang yang meluap luap seketika itu juga lenyap tanpa bekas, perasaan bergidik muncul memenuhi seluruh benaknya, hampir hampir dia mau membuka pintu rahasia itu untuk berlari keluar dan kembali keatas gunung Ha Mo leng untuk melihat hal yang sesungguhnya.
Setelah melalui suatu pemikiran yang lebih mendalam dan lebih teliti akhirnya dia berhasil menguasai golakan di dalam hatinya, dia harus berhasil memiliki kepandaian silat yang termuat didalam kitab pusaka To Kong Pit Liok itu terlebih dahulu kemudian baru pergi mencari dia.
Demikianlah sejak hari itu Liem Tou berdiam didalam ruangan batu didasar sumur kering iiu untuk mempelajari ilmu sakti yang termuat di dalam kitab pusaka To Kong Pit Liok tersebut.
Hari berganti hari bulan berganti bulan, di dalam sekejap saja satu tahun sudah berlalu dengan amat cepatnya ...
Didalam satu tahun ini topan yang melanda dunia kangouw bergolak semakin merghebat, di setiap kota kota besar selalu terjadi beberapa kejadian perampokan yang menggetarkan seluruh dunia kangouw bahkan gerak gerik dari perampok itu sangai gesit dan amat misterius.
Siapa saja tidak ada yang pernah melihat wajah sesungguhnya dari perampok itu, hal ini membuat setiap pelancongan dan hartawan-hartawan disetiap kota dan disetiap karesidenan menjadi kacau dan setiap hari merasa hatinya tidak tenteram.
Bersamaan dengan kejadian itn pembunuhan serta bentrokan yang terjadi antara orang orang golongan Pek to maupun dari Kalangan Hek to semakin hari semakin menghebat membuat seluruh dunia kongauw menjadi lautan darah, Setiap orang yang hidup pada waktu itu hanya merasakan hatinya terus menerus berdebar, tidak ada sehari pun bisa hidup dengan tenang.
Hari itu cahaya matahari memancarkan sinarnya dengan amat tenang menerangi seluruh tebing curam diatas gunung Go bie yang juga merupakan tempat kediaman dari si cangkul pualam Lie Sang beserta putrinya si gadis cantik pengangon kambng Lie Wan Giok, pemandangan yang indah ditambah dengan kicauan burung memecahkan kesunyian di pagi hari membuat suasana betul betul terasa nyaman dan menyegarkan.
Tebing Leng Ay tempat kediaman Lie Sang terletak dipuncak yang teratas dari gunung Go bie ini, awan bersih berkelompok kelompok berjubal jubal memenuhi angkasa sehingga laksana ombak yang menggulung ditengah samudra, puncak Go bie lainnya muncal ditengah mega laksana kelompok naga yang sedang menari, pemandangannya amat indah sekali.
Saat itu Lie Loo jie dengan menggendong tangan berdiri ditepi tebing, sambil memandang awan yang berkejar kejaran senandungnya dengan suara yang nyaring.
"Hutan belantara (Liem) lebat bagaikan sutera, gunung bersalju (Han San) dan daerah sekitarnya membawa keperihan hati.
". Kiranya dia sedang merindukan sutenya Liem Cong yang karena dikalahkan oleh Thian Pian Siauw cu kemudian bersama sama putranya meninggalkan keramaian Bu lim untuk mengasingkan diri ditempai pegunungan yang sunyi. Mendadak. , . dari bawah tebing terdengar suara dengusan kerbau yang amat keras kemudian disusul berkelebatnya dua orang gadis cantik berbaju putih dengan masing masing menunggang seekor kambing yang tinggi besar dengan menerjang awan berlari mendatang, gadis gadis cantik yang berada diatas kerbau serta kambing itu kelihatan sedikitpun tidak terasa payah di dalam mendaki pegunungan Go bie yang amat terjal dan berbahaya itu, bahkan bagaikan kilat cepatnya berlari mendatang. Sesampai diatas tebing mereka berdua bersama sama menghentikan tunggangannya masing masing. Terdengar si cangkul pualam Lie Sang dengan tertawa ujarnya.
"Wan jie. le jie, kalian berdua bukannya berlatih silat sebaliknya berlari lari turun tebing jika sampai bertemu kembali dengan Siauw cu di jalanan yang naik kegunung Go bie untuk mencari balas aku mau lihat dengan menggunakan cara apa kalian hendak menghadapi dia??"
"Tia."
Jawab si gadis cantik pengangon kambing sembari tertawa manis.
"Jangan dikata Siauw cu jahanam itu tidak berani datang lagi, sekali pun datang dengan kepandaian silat yang dimiliki Ie cici sekarang ini ditambah dengan tenaga gabungan kami berdua aku kira cukup untuk menahan serangannya."
Selesai berkata dia menoleh kearah gadis cantik berbaju putih lainnya kemudian tambahnya sembari tertawa.
"Ie cici, kau bilang betul tidak??"
Kiranya gadis cantik berbaju putih itu bukan lain adalah Lie Siauw le tempo hari sewaktu dia meloncat kedalam jurang disamping Jembatan pencabut nyawa itu untuk menyusul Liem Tou untung berhasil, ditolong oleh si gadis cantik pengangon kambing yang tepat pada waktunya tiba ditempat kejadian kemudian membawanya ke atas gunung Go-bie, saat ini dia sudah mengangkat si cangkul pualam Lie Sang sebagai suhunya dengan sendirinya terhadap si gadis cantik pengangon kambing boleh dikata sebagai suci-moay .
"Perkataan dari suhu sedikitpun tidak salah"
Terdengar Lie Siauw le menjawab sembari tertawa.
"Lain kali kita lebih baik tidak usah bermain main lagi kebawah puncak." 'Hmma Wan jie coba kaulihat Ie cicimu sangat penurut"
Puji Lie Sang sembari mengangguk.
"Dengan kepandaian silat yang kalian miliki saat ini walaupun untuk beberapa waktu Siauw cu jahanam itu tidak sanggup melukai kalian terapi lebih baik sadikit berhati hati lagi."
Belum selesai dia berbicara ditengah lautan awan di bawah puncak secara tiba-tiba muncul berpuluh puluh bintik hitam disertai dengan suara tertawa panjang yang memekikkan telinga berkelebat mendatang.
Begitu si cangkul pualam Lie Seng mendengar suara panjang itu ditambah dengan beberapa titik hitam tersebut segera ujarnya kepada si gadis cantik pengangon kambing serta Siauw Ie yang berada disisinya.
"Coba kalian lihat, baru saja membicarakan Cau Chau, Cau Chau sudah datang. Ini hari aku mau lihat kalian berdua melawan dia secara berbareng."
Selesai berkata diapun tertawa terbahak-bahak kepada banyangan hitam yang berada di bawah tebing serunya.
"Untuk kedua kalinya Ke Siauw cu mendatangi Tebing Leng Ay ku ini. aku kira pasti ada petunjuk petunjuk lainnya, aku Lie loo jie sudah menduga kedatangamu sejak tadi sudah menanti di tempat ini."
"Perkataanku sudah aku jelaskan pada waktu yang lampau"
Terdengar suara jawaban dari Thian Pian Siauw-cu dari bawah tebing.
"Bilamana bukannya kau terus menerus mengganggu urusanku aku juga tidak dua kali mangganggu ketenanganmu, waku ini kita berdua boleh dikata merupakan pimpinan dari seluruh jago didalam Bu-lim, untuk mencari orang ketiga yang bisa melawan kita agaknya merupakan urusan yang mustahil, pada waktu yang lalu didalam perubahan jurus serangan kau sudah menemui sedikit kemenangan, ini hari bagaimana jika kau mene ima tiga kali pukulan telapakku kembali?? jika sekali kau peroleh kemenangan maka aku takluk kepadamu bahkan sejak ini hari tidak akan datang mengganggu tempat tinggalmu ini"
"Ha ha ha ... Perkatasn dari Ke Siauw-cu apa tidak merasa terlalu berlebih lebihan?"
Seru si cangkul pualam Lie Sang sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Jangan dikata diluar orang ada orang diluar langit ada langit, cukup kita bicarakan urusan yang berada dihadapan kita. Loo ciang dari partai Kiem Thian Pay sesudah melakukan latihan bertahun-tahun sekarang bukanlah Loo ciang dahulu sewaktu berada dipertemuan Tiong Lam san. saat ini daerah sekitar Thien Ling sudah berada dalam kekuasaannya bahkan orang didalam Bu lim tidak ada yang berani bermusuhan secara terang-terangan dengan mereka"
Dia berhenti sebentar kemudian sambungnya lagi.
"Apalagi perampokan-perampokan yang terjadi baru baru ini ada orang yang mengatakaa itu semua perbuatan dari si penjahat naga merah yang sudah lenyap pada tahun yang lalu, kepandaiannya sangat tinggi dan lihay sekali, apa kau berani berkata selain kau serta aku Lie Loo Jie sudah tidak dapat orang yang merupakan tandinganmu?"
Waktu itu titik titik hitam terbang diatas mega ini sudah menyebar keempat penjuru kemudian mengepung seluruh puncak Leng Ay dengan rapatnya, kiranya titik titik hitam itu adalah sejenis burung elang yang besar kecil banyak sekali.
Sebentar kemudian terlihatlah bayangan hijau berkelebat si Thian Pian Siauw cu sudah berdiri dihadapannya Lie Loo jie.
Dandanannya saat ini persis dengan dandanannya sewaktu berada di dalam lembah cupu cupu, dengan memakai jubah berwarna hijau dia menuding tajam wajah Lie Loo jie, sahutnya.
"Perduli amat bagaimana dengan si penjahat naga merah atau si Loo Ciang, ini hari aku biar menganggap Lie Sang seorang sebagai musuhku"
"Mereka berdua yang satu adalah musuh yang dikalahkan dibawah serangan aku orang she Ke yang lain adalah cecunguk yang tidak berani menongol di siang hari, hal ini sama sekali tidak perlu aku orang sbe Ke pikirkan, mari . mari ... mari. Sebetulnya kau berani tidak menerima tiga kali puhulanku??"
Lie Sang yang melihat sikap Thian pian Siauw cu begitu congkak tanpa terasa hatinya merasa sedikit gusar juga, air mukanya berubah semakin keren baru saja mau buka suara untuk berbicara, mendadak dari antara awan yang berbaris itu berkumandang datang suara yang amat nyaring sekali.
"Hey Ke Siauwcu, omonganmu sungguh besar sekali, ini hari aku mau buktikan kepadamu kalau didalam dunia kangouw saat iai masih ada orang yang bisa mengalahkan dirimu."
Perkataan ini diucapkan amat tegas dan kuat sekali, setiap kata diucapkan penuh disertai tenaga dalam yang kuat, hal ini memperlihatkan kalau tenaga dalam orang itu sudah dilatih mencapai pada taraf kesempurnaan.
Lie Sang maupun Thian Pian Siauwcu yang mendengsr perkatan itu bersama-sama merasa terperanjat, tanyanya berbareng.
"Jago dari mana yang sudah berkunjung, silahkan munculkan diri untuk bertemu."
"Seorang Bubeng Siauwcut, tidak berani mengutarakan nama sebutanku,"
Sahut orang itu cepat. Terdengar orang itu secara tiba-tiba mempertinggi suaranya.
"Ke Siauwcu "
Bentaknya dengan keras.
"Sekarang juga aku mau minta petunjuk dari dirimu."
Pada saat dia selesai berbicara itulah mendadak kawanan elang yang berteriak ngeri kemudian disusul satu demi satu rontok jatuh ke bawah dan binasa seketika itu juga.
Melibat hal ini Thian Pian Siauwcu menjadi teramat kaget, sembari teriak keras badannya bagaikan kilat cepatnya berkelebat kebawah menubruk kearah dimana berasalnya suara itu.
Saat itu sigadis cantik pcngangon kambing mau pun Lie Siauw le sesudah melihat ada beberapa elang yang terjatuh di depannya, cepat-cepat dijemputnya beberapa ekor.
Tanpi berasa mereka bersama sama menjulurkan lidahnya.
Kalian tahu apa yang sudah terjadi?
Bilamana ada burung elang yang rontok terkena senjata rahasia hal itu bukankah urusan yang aneh, tetapi hal ini sudah terjadi.
Burung burung elang yang sedang terbang di angkasa itu terkena sambaran senjata rahasia dan binasa seketika itu juga bahkan senjata rahasia yang digunakan bukao lain adalah butiran butiran mutiara yang mengeluarkan sinar cahaya yang amat terang dan sangat berharga sekali, sudah tentu gadis cantik pengangon kambing maupun Lie-Siauw le dibuat menjulurkan lidahnya.
Sampai si cangkul pualam Lie Sang yang memiliki pengalaman amat luaspun tidak tahu asal usulnya dari orang itu, jangan dikata siapa yang sudah dating pun dia tidak tahu.
Kemisteriusan orang itu betul betul membuat orang menjadi bingung dan diliputi oleh tanda tanya.
Setelah termenung, pikirnya kemudian.
"Apa mungkin Au Hay Ong dari Kiem Thian Pay sudah tiba? Tapi Au Hay Ong pernah bertemu satu kali dengan aku sewaktu diadakan pertemuan diatas gunung Tiong Lam San, agaknya nada suaranya bukan dia. Sewaktu dia sedang termenung berpikir, keras itulah tampak bayangan hijau itu berkelebat kembali. Thian Pian Siauwcu sekali lagi meloncat naik kepuncak gunung dari antara lautan mega yang tebal itu. Terlihatlah air mu kanya sudah berubah hijau membesi, dengan pandangan mata amat tajam dia pandang diri Lie Loo jie.
"Tentu Keheng sudah berjumpa dengan orang itu bukan?"
Tanya si cangkul pualam Lie Sang dengan nada lembut.
"Dia orang sebenarnya macam apa? Jika dilihat ternyata dia berani mencari setori dengan kamu orang, manusia itu pastilah memiliki kepandaian yang amat lihay."
Mendengar perkataan sicangkul pualam Lie-Sang ini, sepasang mata dari Thian Pian Siauw cu melotot keluar dengan amat bulat, teriaknya gusar.
"Lie Sang, kau tidak perlu ikut bersusah atas bencana yang kualami, ini hari aku orang she Ke kecundang ditangan orang lain bahkan sampai bayangan orang lain pun tidak kelihatan sungguh memalukan sekali."
"Hmm. hmm, manusia yang beraninya bersembunyi sembunyi bisa terhitung Hoohan macam apa?"
Baru saja dia selesai berbicara mendadak orang orang yang berada dibawah puncak sudah mengangkat bicara kembali.
"Ke Siauwcu!"
Serunya.
"Aku bukannya takut kepadamu, ini hari karena ada urusan yang harus aku bereskan tak bisa melayani kau lebih lama lagi, tapi bilamana kau merasa tidak puas boleh kita tentukan saja waktu untuk bertanding. Heee , . heee ..bagaimana?"
"Siapa sebetulnya kau orang?"
Teriak Thian Pian Siauwcu keras keras.
"Maaf hal ini tidak bisa kuberitahukan."
"Baiklah, kalau begitu tanggal lima bulan kelima aku menanti kau dipuncak pertama daerah| Cing Jan."
Sehabis berkata kepada Lie Loojie ujarnya pula.
"Lie Sang, sampai waktunya kau pun datang juga, perkataan yang aku orang she Ke katakan selamanya tak akan diubah kembali. Tiga kali pukulan telapak sampai pada waktunya aku mau menjajal juga"
Selesai berkata dia tidak menanti jawaban dari Lie Loojie segera dia putar tubuh dan meloncat setinggi tiga kaki kedepan lalu berjumpalitan beberapa kali ditengah udara hanya di dalam sekejap mata dia sudah lenyap tanpa bekas.
Si cangkul pualam yang melihat kedatanganya amat cepat perginya pun amat cepat tanpa terasa sudah tertawa.
Ujarnya kepada orang yang berada dibawah puncak.
"Jago berkepandaian tinggi darimana yang sudah datang berkunjung, kenapa tidak munculkan diri untuk bertemu?"
Sekalipun berulang kali perkataan itu diucap tapi keadaan dari bawah puncak tetap sunyi sunyi saja sedikitpan tidak ada suara sahutan.
Dalam anggapan Lie Looojie tentu orang itu sudah pergi karenanya sehabis berdiri beberapa saat lamanya dia menoleh kebelakang.
Waktu itulah mendadak dia merasakan segulung angin yans amat ringan berkelebat dari sisi tubuhnya, bagaimanapun juga kepandaian silat dari si cangkul pualam ini sangat lihay sekali.
Mendadak dia hanya merasakan sesosok bayangan manusia berkelebat, belum sempat dia melihat jelas wajah orang itu bayangan tersebut sudah lenyap, cepat cepat dia menoleh kembali kebelakang terlihatlah kambing yang semula berdiri sejajar dengan kerbau itu tiba tiba berpekik nyaring kemudian lari keempat penjuru dan menerjang terus kebawah tebing.
"Siapa kau berani mengacau di atas puncak Leng Ayku ini!"
Bentak Lie Loo jie dengan keras.
Tubuhnya dengan cepat menerjang kebawah tebing mengejar kearah dimana berlarinya kerbau tersebut.
Tenaga dalam mau pun ilmu meringankan tubuh yang diiatih Lie Loojie waktu ini boleh dikata sudah mencapai pada taraf kesempurnaan dan jauh berada diatas jago jago berkepandaian tinggi dari Bu lim lainnya.
Sesudah dilihatnya ada orang yang mengajak guyon didepannya dengan tak sadar dia tidak mau melepaskannya dengan begitu saja, siapa tahu ternyata kejadian kali ini diluar dugaannya, kerbau yang semula menerobos ketengah gumpalan mega kini larinya semakin cepat lagi hanya di dalam sekejap mata kecepatannya bertambah puluhan kali lipat.
Jangan dikata untuk menangkap, hanya untuk mengejar saja sudah tidak sanggup.
Tanpa disadari si cangkul pualam Lie Sang sudah berdiri tertegun ditepi puncak, perasaan gusar mulai membakar hatinya tetapi ketika teringat akan kepandaian silat orang itu ternyata bisa lewat disamping badannya tanpa dia sadari hatinya terasa tergetar juga, dalam hati diam diam pikirnya.
"Didalam Bu Iim waktu ini masih ada siapa lagi yang memiliki kepandaian silat begitu tingginya? Apa mungkin Au Hay Ong Bo dari Kiem Thian Pay. Ciang Can adanya? Tetapi kelihatannya tidak mirip sewaktu didalam pertemuan diatas gunung Tiong Lam san kepandaiannya bisa sejajar dengan suteku Liem Coe sekalipun didalam beberapa tahun ini dia berlatih mati matian belum tentu bisa mencpaai taraf yang seperti ini selain dia hanya ada seorang penjahat naga merah saja yang memiliki kepanduan yang sedemikian tingginya. Tetapi aku tidak percaya kepandaian silatnya sudah berhasil dilatih sebegitu lihaynya, apa mungkin seorang penjahat bisa memiliki kepandaian yang demikian lihaynya "
Sedang dia berpikir dengan amat serius terdengar si gadis cantik pengangon kambing sudah berteriak dangan keras.
"Tia, Tia cepat kembali."
Didalam anggapan Lie Sang, ditempat sana pasti sudah terjadi suatu urusan, dengan gugup ia meloncat naik ke atas puncak kemudian berlari ke samping badan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le.
Terlihatlah mereka berdua waktu ini sedang berdiri mematung disana sedang pada tangan masing-masing mencekal sebuah kantongan kecil yang terbuat dari kulit.
"Wan jie, le jie sudah terjadi urusan apa ?"
Tanya si cangkul pualam dengan perasaan cemas.
Perlahan lahan gadis cantik pengangon kambing mengangsurkan kantong kecil yang dibuat dari kulit itu ke tangan Lie Loo jie.
Lie Loojie segera menerima dan membuka buntalan tersebut, serentetan sinar yang amat menyilaukan mata segera memancar keluar dari dalam kantongan, itu berisikan intan permata yang sangat indah indah dan mahal harganya.
Hal ini berada jauh diluar dugaan Lie Loojie semula, seketika itu juga membuat dia berdiri termangu mangu, sesaat kemudian barulah tanyanya.
"Wan jie, ini ini ... sebetulnya sudah terjadi urusan apa ? Barang barang ini berasal dari siapa ?"
"Tia, kantongan kantongan ini digantungkan diatas tanduk kambing itu, putrimu sama sekali tidak memperhatikan orang yang menghantarkan barang-barang ini."
"Haaa ?"
Teriak Lie Loojie keheranan.
"Hal ini amat aneh sekali. Ehmm sungguh aneh sekali."
Segera tanyanya pula kepada Lie Siauw Ie.
"Didalam kantonganmu itu apa juga berisikan intan permata yang mahal harganya ?"
Lie Siauw Ie segera mengangsurkan kantongan itu ke tangan Lie Loo jie sembari sahutnya.
"Tecu belum melihatnya."
Cepat Lie Loojie membuka kantangan itu dan melihat isinya, didalam kantongan itu selain berisikan intan permata yaug mahal harganya masih terdapat juga dua buah lempengan besi yang besar.
Melihat benda itu Lie Loojie menjadi tertegun bercampur terperanjat.
Sebelum dia sempat angkat bicara si gadis cantik pengangon kambing yang berdiri disisinya sudah berkata.
"Tia, ke dua buah lempengan besi itu bukankah barang yang tidak pernah menjauhi badanmu ? Bagaimana bisa berada di kantongan itu?"
Waktu itulah si pacul pualam baru sadar kembali cepat cepat dia merogoh kedalam sakunya Ternyata kedua lempengan besi yang berada di dalam sakunya itu entah sejak kapan sudah lenyap dan muncul di dalam kentongan kulit itu.
Walaupun dia tahu hal ini pasti kerjaan tangan tangan jahil tetapi tidak usah dikatakan sudah jelas tertera, dia sudah menemui kekalahan ditangan orang lain.
Teringat akan hal ini tanpa terasa dia merasa bergidik dan berdiri mematung beberapa waktu lamanya disana, air mukanya perlahan demi perlahan berubah menjadi amat angker.
Si gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw Ie yang berdiri disisinya setelah melihat kejadian ini pun didalam hati diam-diam merasa ngeri bercampur sedih.
Lama sekali baru terdengar Lie Loo jie bergumam seorang diri.
"Siapa yang begitu berani mempermainkan aku? aku pasti akan cari dia umtuk menjajal ilmunya."
Walaupun perkataan ini diucapkan dengan amat perlahan sekali tetapi agaknya orang yang berada di bawah tebing itu dapat mendengar dengan amat jelas.
Baru saja dia selesai berbicara terdengar orang itu dengan nada yang kuat bagaikan pukulan martil tertawa tergelak ujarnya.
"Bilamana bukannya kau berani mempermainkan orang lain terlebih dulu, orang lain masa berani mempermainkan dirimu? Lie Loo jie waktu ini didalam Bu lim sudah bergolak dengan amat dahyatnya, banjir darah mulai membasahi seluruh daratan Tionggoan bagaimana kau bisa tenangnya bisa hidup disini? sungguh membuat orang merasa menyesal"
"Kau orang kalau memangnya tidak ingin hunjukkan diri apa tidak mau meninggalkan nama juga?"
Teriak Lie Loo jie kemudian.
"Siapa sebenarnya kamu orang, dengan aku Lie Sang merupakan kawan atau lawan?"
"Ha ha ha..Lie Loo jie, asalkan kau mau melakukan perjalanan di daerah Tionggoan sudah tentu kenal siapakah aku, tapi maaf ini kali aku tak bisa memberitahukan."
"Baiklah"
Seru Lie Loo jie kemudian sesudah termenung berpikir sebentar.
"Tidak perduli bagaimanapun aku mau temui kau orang. Besok pagi aku akan melakukan perjalanan ke arah Tionggoan, coba kau bicara kita mau bertemu dimana."
"Saat itu aku percaya bisa bertemu kembali dengan kau buat apa kita tentukan waktu dan tempat saat ini juga? masih ada lagi aku mendapat pesan dari kawanku katakan kepada muridmu supaya dia jangan lupa akan janjinya untuk bertemu pada musim rontok yang akan datang."
Lie Siauw le yang mendengar omongan itu segera merasakan badannya tergetar dengan amat kerasnya didalam dada, urusan yang dipikirkan siang malam selama satu tahun ini ternyata bisa diucapkan orang lain pada hari ini juga membuat dia menjadi lupa, teriaknya dengan keras.
"Siapa nama kawanmu itu?? cepat katakan,"
Lie Siauw le ingin cepat-cepat mengetahui nama orang itu sebaliknya jawab dari orang yang berada dibawah tebing amat lambat sekali baru terdengar dia memberikan jawabannya.
"Dia she Liem, namanya apa kiranya kau tahu bukan". Ketegangan dari Lie Siauw le betul betul mencapai pada puncaknya, mendadak dengan mengeluarkan suara teriakkan keras dia menangis dengan amat keras, kemudian dengan cepat menubruk kearah diri gadis cantik pengangon kambing, ujarnya dengan perasaan amat girang.
"Oooh, benar benar dia masih hidup. Adik Tou masih hidup"
Mendadak dia putar kepalanya kembali, dengan menahan melelehnya air mata teriaknya kembali kearah lautan mega itu.
"Kawanmu itu kini berada dimana? cepat beritahukan kepadaku, aku mau bertemu dengan dia". Dari bawah puncak tetap tenang tidak terdengar suara jawaban.
"Hey . , ..dimana temanmu sekarang berada??"
Sekali lagi Lie Siauw le berteriak keras.
Tetapi walaupun dia berteriak berkali kali tetap tidak terdengar suara jawaban dari bawah tebing, agaknya orang itu sudah pergi dari sana membuat Lie Siauw le merasa sangat kecewa.
Tetapi tiba tiba didalam benaknya berkelebat suatu ingatan, kepada Lie Loo jie ujarnya.
"Suhu, kapan kau orang tua melakukan perjalanan kedaerah Tionggoan? dapatkah le jie ikut dengan suhu??"
Lie Loojie melirik sekejap kearahnyn, didalam hati dia tahu kali ini dia mau ikut berkelana sudah tentu bermaksud hendak mencari berita dari Liem Tou.
Sebetulnya bagi dia untuk melakukan perjalanan bersama sama dengan gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le bukanlah urusan yang berat, tetapi ketika teringat akan gerak gerik yang misterius dari orang itu ditambah lagi kepandaian silatnya yang amat lihay membuat hatinya mendadak ragu ragu.
Ujarnya kemudian dengan serius.
"Apa yang le pikirkan loohu sudah tahu semua, sejak dari dulu aku sudah beritahukan kepadamu, Liem Tou punya sangkut paut dan hubungan yang sangat erat dengan aku orang tua, kali ini aku melakukan perjalanan kedaerah Tionggoan sudah tentu sekalian mencari berita tentang dirinya, lebih baik kau bersama sama Wan jie tinggal disini untuk berlatih ilmu silat bilamana aku memperoleh berita tentang Liem Tou maka akan segera kembali memberi kabar kepadamu"
Mendengar perkataan dari Lie Loo jie ini Lie Siauw le tidak berani membantah, dengan berdiam diri dia menyingkir kesamping. Ujar Lie Loo jie kembali kepada mereka berdua.
"Wan jie, sekalipun terhadap kepandaian silat yang dimuat dalam kitab pusaka Toa Loo-Cin Keng kau sudah pernah belajar tetapi belum sampai pada taraf kesempurnaan, ini hari aku pergi bilamana dalam waktu tiga bulan belum kembali, kalian berdua boleh pergi ke puncak pertama di daerah Cing jan pada tanggal lima bulan lima, tetapi didalam waktu waktu ini kalian harus berlatih dengan sungguh sungguh ilmu kalian."
Si gadis cantik pangangon kambing mau pun Lie-Siauw le berkail kali menyahut atas nasehat tersebut.
Selesai memberikan pesan pesannya, bagaikan kilat cepatnya Lie Loo jie melayang turun ke bawah puncak, laksana seekor burung elang hanya didalam sekejap saja dia sudah ditelan lautan mega yang amat tebal itu.
Setelah dilihatnya bayangan dari Lie Loo jie lenyap dari pandangan barulah sigadis cantik pengangon kambing beserta Lie Siauw le dengan masing maiing membawa kantongan kulit berjalan kembali kedalam gua.
"Ie Cici aku benar benar merasa kuatir atas keselamatan Tia"
Ujar Lie Wan Giok sesampainya didalam gua "Orang yang datang ini hari entah berasal dari aliran mana?
Pertama tama dia mengejutkan Thian Pian Siauw cu sehingga membuat dia melarikan diri kemudian mencuri lempengan besinya Tia, hal ini memperlihatkan kalau kepandaian orang itu amat lihay sekali, bilamana dia adalah musuh ayahku mungkin dengan berkelananya Tia kali ini bisa menemui suatu urusan"
Lie Siauw Ie yang melihat kekuatiran dari gadis cantik pengangon kambing cepat cepat menghibur.
"Wan moay, perkataanmu ini memang tidak salah, tetapi aku berani memastikan orang itu bukan musuh ayahmu, bahkan mungkin ayahmu adalah tuan penolongnya? kalau tidak kenapa tidak ada angin tidak ada hujan dia memberi dua kantongan intan berlian? bahkan jika di dengar dari nadanya agaknya dia sama sekali tidak punya maksud bermusuhan dengan kita. Wan moay, harap kau bisa berlega hati."
Biasanya Lie Siauw le jadi orang berpikiran tajam, dengan diucapkannya perkataan ini segera membuat gadis cantik pengangon kambing itu menjadi tenang kembali, tetapi pada saat itulah sewaktu ia mengangkat kepalanya terlihatlah diatas dinding gua tertancap sebuah pisau belati yang amat tajam.
"Haaa .."
Teriak gadis cantik pengangon kambing itu dengan amat terperanjat.
"Ie cici hati-hati dalam gua ini sudah kedatangan orang."
Dengan cepat dia meloncat keatas mencabut kembali pisau belati itu, sesudah dilihatnya dengan teliti sekali lagi dia berteriak keras.
"le cici, pisau belati ini milikku, pada tempo hari ini pisau belati ini aku berikan kepada Tou koko, bagaimana sekarang bisa tertancap di sini?"
Mendengar perkataan ini dalam hati Lie-Siauw Ie merasa tergetar dengan keras, serunya.
"Wan moay moay kau harus memeriksa lebih teliti lagi, pisau belati ini apa betul betul pisau belati yang kau berikan kepada adik Tou?"
"Barangku sendiri bagaimana aku bisa salah, tapi ..sungguh aneh urusan ini"
Mendadak suatu ingatan berkelebat didalam benaknya, sinar matanya yang indah memancarkan suatu sinar yang amat aneh.
"Ie cici, aku punya suatu pikiran yang aneh entah benar atau tidak?"
Ujarnya kemudian sambil memandang tajam wajah Lie Siauw le.
"Kenapa.? Yang sedang kau pikirkan urusan apa?"
"Aku pikir orang yang baru saja datang itu apa mungkin .."
"Kau bilang dia adalah adik Tou?"
Sambung Lie Siauw le dengan cepat.
Teringat akan diri Liem Tou sepasang mata dari Lie Siauw le memerah kembali dan meneteskan air matanya.
Hal ini membuat gadis cantik pengangon kambing yang berada disisinya menjadi bingung, ujarnya.
"Ie cici, kenapa kau menangis? Kalau pisau belati ini bisa muncul disini berarti juga Liem Tou koko masih hidup, seharusnya kau bergembira bagaimana malah menjadi menangis?"
"Adik Wan pikiranku tidak sama dengan pikiranmu"
Sahut Lie Siauw le sembari menahan isak tangisnya.
"Sekalipun adik Tou tidak mati sewaktu jatuh dari Jembatan pencabut nyawa, tetapi orang yang datang ini hari pasti bukanlah dia, coba kau pikir hanya di dalam satu tahun apa mungkin dia berhasil melatih kepandaian silatnya sebegitu tinggi? Jika bukan dia yang datang tapi pisau belati ini bisa muncul disini berarti juga dia..dia .."
Bicara sampai disini dia tidak bisa menahan perasaan sedihnya lagi, suara tangisan yang lebih menyedihkan bermunculan dari mulutnya.
"Cici"
Hibur gadis cantik pengangon kambing itu dengan lembut sedang tangannya mulai membimbing badannya.
"Kiranya kau berpikir begitu, tetapi terang terangan orang tadi mengatakan supaya kau jangan melupakan perjanjian pada musim Rontok yang akan datang, apakah hal ini adalah palsu??"
Mendengar peringatan dari gadis cantik pengangon kambing ini, Lie Siauw le menjadi sadar kembali, segera dia menghentikan tangisnya dan berganti dengan senyuman malu.
"Wan moay"
Ujarnya dengan perlahan.
"Aku punya satu permintaan entah kau mau mengabulkan atau tidak. Setelah aku tahu kalau adik Tou tidak binasa didasar jurang Jembatan pencabut nyawa itu hatiku menjadi kacau, aku rencana besok pagi mau turun gunung untuk mencari dia, apakah Wan moay mau menemani aku turun gunung?"
"Ie cici, bukankah Tia menyuruh kita berlatih kepandaian silat?"
Bantah gadis cantik pengangon kambing tersebut.
"Bukankah sama saja dengan sewaktu kita bersama-sama turun gunung menghadiri diatas puncak pertama daerah Ciog Jan pada bulan lima tanggal lima saat itu masih ada kesempatan untuk mencarinya?"
Lie Siauw le menggelengkan kepalanya perlahan.
"Suhu memang berpesan begitu, tetapi aku . Ooh, Wan Moay. Aku benar benar tidak punya cara yang lain lagi, aku hanya ingin cepat cepat bertemu kembali dengan adik Tou, Wan Moay mari temani aku turun gunung, nanti bilamana suhu menegur bisa aku yang memikul semuanya."
Si gadis cantik pengangon kambing tahu walau pun dia mencegah Lie Siauw le untuk turun gunung juga percuma, dia pasti tak akan bisa pusatkan perhatiannya uatuk berlatih silat, setelah termenung beberapa waktu lamanya akhirnya mengangguk juga.
"Baiklah, besok pagi kita turun gunung."
Saking girangnya Lie Siauw le segera menubruk memeluk diri gadis cantik pengangon kambing erat erat.
"Ooo kau betul betul adik yang baik"
Kedua orang gadis itu segera bersama-sama tertawa riang.
Keesokan harinya menyiapkan buntalannya si gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw le segera turun gunung bersama sama dengan kawanan kambingnya sesudah menutup pintu gua terlebih dahulu.
Kedua orang yang membawa bekal butiran intan permata yang mahal harganya sudah tentu tidak takut kekurangan biaya ditengah jalan.
Dengan menumpang sebuah perahu layar mereka melanjutkan perjalanannya menuju kearah le Cho, melalui selat Sam Shia setelah mengarungi sungai selama tiga hari akhirnya sampai juga di daerah keresidenan Oh Cing.
Hari itu perahu yang mereka tumpangi berlabuh dttepi pantai, pemandangan tempat itu amat indah sekali.
Sewaktu gadis cantik pengangon kambing beserta Lie Siauw le menikmati keindahan alam itulah mendadak dari tepian sebelah kiri berkumandang datang suara bentrokan senjata yang amat ramai sekali diselingi dengan suara jeritan ngeri yang amat menyeramkan.
"Ie cici"
Ujar gadis cantik pangangon kambing itu.
"Coba kau dengar ditepi sebelah kiri ada orang yang sedang melakukan pertempuran sengit, kedengarannya tidak kurang dari puluhan orang banyaknya, entah mereka bertempur disebabkan urusan apa. Bagaimana kalau kita pergi melihat sebentar?"
Keinginan dari gadis cantik pengangon kambing ini timbul karena ingin tahunya, tetapi Lie Siauw le tidak sama dengan jalan pikirannya.
Dia tahu Liem Tou punya banyak musuh, kini dia masih hidup didunia sudah tentu setiap saat bisa berjumpa dengan musuh musuh tangguhnya itu, kini setelah mendengar ada orang sedang bertempur dengan amat seru hatinya menjadi tertarik, kemungkinan sekali orang yang sedang bertempur itu adalah diri Liem Tou.
Tidak menanti gadis cantik pengangon kambing itu mendesak untuk kedua kalinya dia sudah siap meloncat turun dari perahu.
"Baiklah, Wan moay ayoh kita kesana"
Serunya.
Cepat cepat mereka perintahkan pemilik perahu itu untuk minggir ketepi, belum sampai perahu itu betul betul mepet dengan tepian, mereka berdua bagaikan burung walet dengan sangat ringannya sudah meloncat ke daratan dan lari menuju kearah pertempuaran itu.
Setelah melewati tanah bekas sawah sampailah disebuab kaki gunung yang ditumbuhi dengan rerumput yang amat subur terlihatlah berpuluh puluh orang toosu dengan pakaian hijau kuning tak menentu sedang mengurung tiga orang yang melawan serangan pedang mereka dengan menggunakan seluruh tenaga yang ada.
Gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw Ie siapa pun tidak tahu asal usul mereka, karenanya saat ini hanya menonton jalannya pertempuran dari samping.
Terhadap nama nama jagoan Bu lim gadis cantik pengangon kambing ini pernah mendapat tahu dari ayahnya Lie Loo jie, sekali pun dia tidak tahu semuanya, tetapi sebagian besar kenal juga karenanya setelah melihat dandanan ketiga orang itu tanpa terasa lagi saking herannya dia sudah menjerit tertahan, pikirnya.
"Orang yang dikurung di tempat itu bukankah anggota anggota dari Tionggoan Ngo Koay yaitu sisiucay bunutung, si pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng?? selamanya mereka bertiga melakukan pekerjaan bajik, kenapa kini dikeroyok oleh kawanan toosu itu?"
Berpikir sampzj disini s;gera ujarnya kepada Lie Siauw Ie.
"le cici, coba kau lihat orang yang dikeroyok itu bukankah si siucay buutung, pengemis pemabok serta si Thiat sie sianseng dari Tionggoan Ngo Koay?"
Swwaktu Liem Tou bersembunyi didalam rumahnya di gunung Ha Mo Leng dia telah mendengar cerita tentang Tionggoan Ngo Koay ini dari mulut Liem Tou, karenanya tanpa terasa diapun menjerit tertahan, ujarnya.
"Kawanan toosu ini pasti bukan orang baik-baik, selamanya Tionggoan Sam Koay ini melakukan kebajikan, mari kita tolong mereka"
"Ie cici kau belum pernah melakukan perjalanan didalam dunia kangouw bagaimana bisa tahu kalau toosu itu bukan manusia baik-baik?"
Tegur gadis cantik pengangon kambing itu.
"Lebih baik kita menonton saja."
Air muka Sie Siauw le segara berubah merah dan tak bisa mengucapkan sepatah katapun, sedang didalam hatinya dia merasa kuatir dan risau atas keselamatan dari si siucay buntung, si pengemis pemabok serta si Thiat sie sianseng.
Keadaan dari si pengemis berserta kawan-kawannya waktu ini memang benar benar amat berbahaya, tampak mereka bertiga dengan pundak menempel pundak masing masing melawan musuh musuh yang menyerang dari arah depannya, kipas si siucay buntung, tongkat Tah Kauw Pang dari pengemis pemabok serta siepoa dari Thiat sie lianseng dengan menimbulkan suara santar dan sambaran angin yang amat tajam mempertahan dirinya dari serangan musuh, membuat toosu-toosu itu tidak berani berlaku gegabah.
Sebaliknya juitru toosu-toosu itu menyerang dengan tidak mernperdulikaa nyawanya sendiri, terlihatlah diantara puluhan orang itu hanya ada tiga orang saja ilmu kepandaiannya agak tinggian.
Tetapi siapapun diantara setiap toosu tooosu itu tidak mau mundur, dengan nekat dia menerjang terus kedepan membuat pertempuran kali ini benar benar sengit dan jatuh korban amat banyak sekali.
Si siucay buntung, pengemis pemabok mau pun Thiat Sie Sianseng dengan air muka sangat serius menghadapi terus musuh musuhnya yang kalap ini, agaknya pertempuran sengit ini ditimbulkan aleh suatu urusan yang amat besar.
Pada saat yang amat kritis itulah dari kaki gunung sebelah kiri secara tiba tiba muncul kembali dua puluh orang Toosu dengan dandanan sama berlari mendatang.
Salah seorang Toosu berpakaian warna kuning yang bertindak sebagai pimpinan didalam rombongan itu dari kejauhan, sudah berteriak keras.
"Saudara-saudara sekalian ayoh pada maju tangkap bangsat terkutuk ini, walaupun ini hari anak murid dari Bu tong Pay harus binasa semua kita harus tangkap juga ketiga orang bangsat terkutuk ini untuk membalaskan dendam sakit hati dari Ciangbunjin kita."
Toosu toosu itu segera berteriak keras menyambut perintah pimpinan mereka kemudian maju menyerang lebih nekad lagi.
Si gadis cantik pengangon kambing beserta Lie Siauw te yang mendengarkan percakapan mereka dari pinggiran saat ini baru merasa sedikit tidak sabaran, kini mereka baru tahu si siucay buntung, pengemis pemabok serta si Thiat Sie sianseng sudah membunuh mereka punya ciangbunjin dan kini mereka bersama-sama mengerubuti diri mereka bertiga untuk membalaskan sakit hati Ciangbunjin mereka.
Tiba tiba terdengar pengemis pemabok menggembor dengan suara keras.
"Kalian hidung hidung kerbau dari Bu tong pay yang tidak tahu diri, sebetulnya dari antara kalian siapa yang sudah melihat kalau Ciangbunjin si hidung kerbau kalian itu kami yang bunuh! Mata kalian sudah buta semua yaaah!"
"Anak jadah yang harus dicacah tutup mulut anjingmu!"
Balas bentak salah seorang toosu dari antara gerombolan toosu toosu lainnya.
"Pada waktu ini didalam Bu lim siapa yang tidak tahu kalau Ciangbun suheng kami dibunuh oleh kalian bertiga? serahkan nyawamu"
Diikuti suara teriakan yang membakar semangat kawan kawannya.
"Ayoh murid murid Bu tong pay. terjang terus maju bunuh mereka mereka ini."
Diikuti dengan suara bentakan yang nyaring Toosu Toosu sekalian yang mengepung di empat penjuru segera bersama sama membentak nyaring sehingga menggetarkan seluiuh dataran pegunungan itu.
"Ayoh bunuh!"
Bagaikan air bah yang menerjang pantai mirip juga geiombang dahsyat yang menggulung ditengah samudra bebas, para Toosu itu dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri melancarkan serangan bergabung mengarah si siucay buntung, pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng bertiga.
Keadaan yang demikian menegangkan dan mengerikan ini membuat si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le yang menonton di pinggir merasa ikut tegang, keringat dingin mengucur dengan amat derasnya sedang air mukanya perlahan demi perlahan berubah menjadi pucat pasi, pikirnya.
"Habis ..habis sudah, walaupun kepandaian mereka bertiga jauh lebih tinggipun tak akan sanggup untuk menshan serangan gabungan Toosu-toosu itu yang laksana menggulungnya ombak dahsyat ditengah samudra bebas."
Tetapi urusan ternyata sudah terjadi jauh diluar dugaan mereka berdua, sekali pun Bu-tong serta Siauw lim merupakan dua partai besar yang disegani didalam Bu lim dan kepandaian silat mereka mempunyai kemampuan yang meyakinkan tetapi pada saat ini merupakan saat saat lemahnya kedua partai besar tersebut, sehingga walaupun mereka mempunyai anak murid yang berjumlah sangat banyak tetapi kini justru bertemunya dengan tiga orang anggota Tionggoan Ngo Koay sudah tentu tak sanggup untuk mengapa apakah mereka.
Ketika mereka bertiga milihat para Toosu-Toosu dari Butong pay itu menyerang mereka dengan tidak memperdulikan nyawanya sendiri, si siucay buntung, pengemis pemabok mau pun Thiat Sie sianseng pun terpaksa menggerakkan senjata andalannya, masing masing orang sendiri-sendiri, Terdengar suara bentakan yang amat keras masing masing pihak segera bertemu muka dan terjadilah suatu pertempuran yang amat sengit.
Suara teriak-teriakan ngeri bermuncullan iring mengiring disertai dengan muncratnya darah segar membasahi empat penjuru, murid murid Bu tong pay ada tujuh delapan orang lagi yang celaka di tangan senjata mereka bertiga.
Pertempuran yang sangat menyeramkan inilah membuat gadis cantik pengangon kambing mau pun Lie Siauw le yang menonton hampir saja merasa tidak tahan, ujar gadis cantik pengangon kambing itu tiba tiba.
"le ciei mereka bunuh membunuh dengan demikian mengerikannya, cepat kita carikan jalan untuk menghindarkan hal hal yang tidak di inginkan"
"Omonganmu sedikitpun tidak salah,"
Sahut Lie Siauw le mengangguk.
"Kita harus cepat-cepat cari cara yang lain untuk memisah pertempuran yang mengerikan ini"
Mendadak didalam benaknya berkelebat suatu ingatan, tambahnya lagi.
"Tetapi urusan ini sangat bahaya sekali, sedikit kita salah bertindak bisa bisa api yang berkobar akan membakar badan kita sendiri."
"Hhmmm .., benar, bilamana bukannya karena hal itu sejak tadi aku sudah turun tangan."
Berpikir akan hal ini membuat mereka berdua ragu ragu, masing masing saling pandang memandang untuk beberapa waktu lamanya, mereka betul betul dibuat gugup dan kelabakan sendiri.
Mendadak ..suara dengusan kerbau yang berat tetapi sangat dikenal olehnya berkumandang datang dari tempat kejauhan, mendengar suara itu baik gadis cantik pengangon kambing itu maupun Lie Siauw le sendiri masing masing dibuat melengak, walaupun sampai waktu ini mereka tidak mengucapkan sepatah katapun juga tetapi anggapan mereka sudah merasa kalau dengusan kerbau itu mirip sekali dengan suara dengusan kerbau milik mereka.
Baru saja Lie Siauw le mau membuka mulutnya untuk berbicara mendadak dari sebelah pinggiran pegunungan itu terdengar suara derapan kaki yang amat ramai tetapi mantap berlari mendatang, mereka berdua cepat cepat menoleh kearah mana ...
sedikitpun tidak salah, kerbau itu memang milik mereka, kerbau yang berada dipuncak Leng Ay gunung Go bie tempo hari tetapi larinya kali ini amat aneh sekali bahkan amat cepat sekali.
Terang-terangan tadi terdengar suara dengusannya masih jauh bagaimana didalam sekejab mata saja sudah tiba disini?
Saking heran dan tertegunnya mereka berdua seketika itu juga dibuat olehnya melongo longo dan melompong sambil memandang datangnya kerbau itu dengan pandangan terpesona.
Tampak kaki kerbau itu berlari dengan cepatnya tanpa menempel tanah, hanya didalam sekejap mata sudah menerjang ketengah kalangan pertempuran yang sedang mencapai pada puncak ketegangannya bahkan menerjang kiri dan kanan samping dengan seenaknya laksana ditempat itu tak ada orangnya saja.
Kalau hanya menerjang saja masih biasa, kali sambil menerjang kerbau itu menyepak dan menanduk orang orang itu, seekor kerbau bagaikan bayangan setan saja menerjang kesana menerjang kemari tanpa ada yang bisa menahan serangannya dalam sekejap saja membuat orang-orang yang sedang bertempur itu menjadi kalang kabut dibuatnya sehingga suasana menjadi kacau balau termasuk juga Tionggoan Sam Koay mereka dibuat terheran heran oleh munculnya kerbau secara misterius ini.
Kerbau ini seperti ada sukmanya saja tidak perduli dia menerjang menyepak maupun menanduk orang orang yang sedang bertempur itu ditepi tidak seorangpun yang terluka oleh terjangannya yang kalap ini bahkan senjata senjata tajam yang dicekal oleh toosu toosu itu hanya cukup didalam seperminuan teh saja sudah pada terlepas dari tangan mereka, seorang pun tak ada yang lolos.
Toosu-toosu itu menjadi benar benar terperanjat oleh munculnya keajaiban ini.
ketika mereka berusaha untuk memandang kerbau itu lebih teliti lagi kerbau itu sudah berkelebat bagaikan angin yang berlalu, sehingga mereka hanya bisa melihat bayangan kerbau yang kerkelebat menyambar kesana menyambar kesini saja.
Seketika itu juga membuat Tionggoan Sam-Koay, gadis cantik pesangon kambing serta Lie Siauw Ie menjadi melongo dibuatnya, bagaimana pun juga mereka percaya kalau seekor kerbau yang bodoh dan tidak berakal itu bisa melakukan pekerjaan seperti ini bahkan sudah terjadi di depan matanya sendiri, mau tidak percaya juga tak mungkin bisa.
Sewaktu Tionggoan Sam Koay sedang termangu mangu itulah mendadak kerbau itu dengan k-kecepatan yang luar biasa sudah menerjang kearah mereka bertiga.
"Celaka..."
Teriaknya tertahan, mereka belum habis diteriakkan senjata kipas pentungan Tah Kau Pang serta Sie Poa mereka bertiga sudah dipukul jatuh oleh terjangan kerbau itu.
Tanpa terasa mereka bertiga menjadi amat gusar sekali, cepat cepat tubuhnya menubruk kedepan merebut kembali senjatanya masing-masing kemudian putar tubuhnya siap menerjang ke arah kerbau itu, siapa tahu kerbau tersebut sudah lari dengan amat cepatnya dari sana dan berada kurang lebih puluhan kaki jauhnya dan kemudian terdengar lagi suara derapan kakinya yang amat ramai diselingi dengan suara dengusan beratnya, hanya dalam sekejap mata dia sudah lari tanpa bekas.
Kini ditengah lapangan itu hanya tinggal para toosu-toosu.
Tionggoan Sam Koay, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang berdiri terpaku di tempat masing masing.
Lama sekali ...
tiba tiba terdengar salah seorang murid Bu tong pay berteriak dengan keras.
"Ayoh maju, bunuh"
Seketika itu juga mem buat semua orang menjadi sadar kembali dari lamunannya.
Dengan menggunakan kesempatan itu juga Thiat Sie sianseng cepat cepat berteriak kepada si siucay buntung serta si pengemis pemabok.
"Ayoh jalan, kita cari si penjahat naga merah untuk bikin perhitungan."
Seketika itu juga mereka bertiga menggerakkan kakinya bagaikan kilat cepatnya berlari melewati gunung itu untuk melarikan djri dari sana.
Anak murid dari Bu tong pay sudah tentu tidak mau untuk melepaskan mereka bertiga dengan begitu saja, bagaikan kawanan tawon mereka bersama-sama melakuka pengejaran dengan kencangnya, hanya didalam sekejap mata semua orang sudah pada pergi dari sana dan kini hanya tinggal beberapa sosok mayat serta Toosu-toosu yang terluka parah, mereka yang terluka pada merintih dan mengaduh dengan lemahnya, keadaannya sangat ngeri dan menyeramkan.
Si gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw le yang memiliki hati yang welas kasih kini melibat pemandangan yang demikian mengerikan sudah tentu tidak mau berdiam diri, cepat cepat mereka mendskati Toosu-toosu yang terluka itu untuk membantu membalut luka luka mereka.
Setelah semuanya selesai barulah mereka berdua kembali keperahu.
Lama sekali Lie Siauw Ie tundukkan kepalanya termenung terus, si gadis cantik pengangon kambing yang melihat keadaannya segera mendekati dirinya.
"Cici, kau sedang pikirkan apa ? "
Tanyanya.
"Urusan tadi sungguh aneh sekali,"
Sahut Lis Siauw Ie sambil memandang kearah tempat kejauhan.
"Kau merasa tidak kalau kerbau itu sedikit mencurigakan ?"
"Ehmmm ... aku kira peristiwa tadi pasti ada sangkut pautnya dengan orang yang menghadiahkan intan permata kepada kita ini, sewaktu kerbau tadi menerjang ke tengah kalangan pertempuran kecepatannya luar biasa, sebelum aku melihat lebih jelas lagi kerbau itu sudah berhasil menjatuhkan senjata senjata orang itu, kemungkinan sekali disamping kerbau ada seseorang bersembunyi."
"Betul"
Teriak Lie Siauw Ie kemudian.
"Kenapa aku tak berpikir sampai disana? Orang itu pasti bersembunyi disamping kerbau tersebut hanya saja kita tak sempat untuk meiihat lebih jelas lagi."
Dia berhenti sebentar lalu sambungnya lagi "Wan Moay, aku lihat memangnya kerbau itu muncul di tempat ini maka orang itu pun pasti berada tidak jauh dari tempat sini, bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan melalui darat saja ?"
Gadis cantik pengangon kambing itu tidak punya usul lagi maka kedua orang itu lalu mendarat di tempat itu, sesudah menyuruh tukang perahu itu pergi mereka berdua dengan menunggang seekor kambing melakukan perjalanan kedepan.
Belum jauh mereka berjalan mendadak si gadis cantik pengangon kambing itu menghentikan tunggangannya.
"Cici, kita mau kemana??"
Tanyanya tiba tiba. Diingatkan akan hal ini Lie Siauw Ie menjadi melengak, tetapi pikirnya cepat berputar.
"Wan moay , bukankah kerbau tadi berlari ke sana?"
Ujarnya kemudian sembari menunding kearah Utara.
"Lebih baik kita melanjutkan perjalanan kearah sana."
"Benar. benar"
Jawab gadis cantik pengangon kambing itu sembari mengangguk.
"Bagaimanapun juga kita harus mengadu nasib, bilamana bisa bertemu yah syukur kalau tidak bertemu dengan melalui berbagai daerah keresidenan di daerah Tionggoan ini kita bisa menanti sekalian pertemuan di puncak pertama di daerah Cing Jan pada bulan kelima tanggal lima yang akan datang."
Baru saja dia selesai berbicara mendadak di atas tanah ditepi jalan terlihatlah gambar seekor kerbau dengan dua tanduknya yang runcing menunjuk kearah Utara tanpa terasa gadis cantik pengangon kambing itu menjerit tertahan, serunya.
Karya .
Chin Hung aka.
Lahirnya Dedengkot Silat diterjemahkan oleh Tjan Ing Djoe tahun 1969 Upload by Masrizki di Indozone Ebook by Dewi Kangzusi
http.//kangzusi.com/
Jilid 15.
Penjahat Naga Merah ClCI, COBA KAU LIHAT APA INI ?
Dengan cepat Lie Siauw Ie bungkukkan badannya dan memeriksa dengan lebih teliti lagi, tampaklah olehnya bahwa lukisan kerbau itu sedikitpun tak ada tanda tanda yang istimewa, ujarnya kemudian sesudah berpikir sebentar.
"Aku lihat lukisan ini pasti ada kegunaannya, hanya tak tahu siapa yang menggambar? Agaknya tanduk kerbau ini menunjukkan satu arah tertentu, pastilah orang itu menunjukkan arah sana. Tidak urung arah yang kita tuju adalah sama mari kita ikuti saja terus."
Kedua orang itu segera meloncat turun dari punggung kambing dan melanjutkan perjalanannya dengan berlari sedang dibelakang mereka berlari mengikuti terus kawanan kambing tersebut.
Dengan wajah mereka berdua yang amat cantik dan menggiurkan ditambah kawanan kambing yang menimbulkan suara gemuruh yang menggetarkan seluruh bumi, tak perduli mereka tiba ditempat manapun pasti menarik perhatian orang banyak.
Ternyata dugaan mereka tidak salah setelah mengikuti tanda panah itu ditempat yang menyolok tampak lagi dua buah gambar tanduk kerbau dan akhirnya disebuah pohon basar juga tumbuh dengan dedaunan yang amat lebat terlihatlah sebuah benda putih persegi panjang yang digantungkan pada ranting dan berkibar tak henti-hentinya ditiup angin.
Mereka berdua cepat-cepat lari ke sana, setelah dekat barulah melihat yang semula diduga sebagai benda putih itu ternyata tak lain adalah kulit pohon yang disayat oleh orang, sedang diatas pohon itu jelas terlihat beberapa buruf kata yang ditulis dengan amat jelasnya.
Tulisan itu diukir sedalam beberapa coen hal itu membuktikan kalau tenaga dalam orang itu sudah mencapai pada taraf kesempurnaan, si gadis cantik pengangon kambing itu setelah melihat hal itu diam diam merasa terperanjat pikirnya.
Tulisan ini jalas ditulis dengan menggunakan ilmu jari Kiem Kong Cie, jika dilihat dari dalamnya tulisan ini jelas tenaga dalamnya sudah mecapai pada puncaknya, sekalipun Tia sendiri belum tentu bisa melakukannya.
Ujarnya kemudian kepada Lie Siaw Ie.
"Cici orang yang meninggalkan tulisan ini pasti merupakan cianpwee yang berkepandaian tinggi, kalau tidak siapa lagi yang bisa memiliki kepandaian begitu tinggi ??"
"Wan moay cepat berangkat "
Tiba tiba Lie Siauw Ie berteriak dengan keras.
"Malam ini dikota Tang Yang suhu mau berunding dengan orang."
Si gadis cantik pengangon kambing menjadi melengak.
"Cici kau bilang apa ?"
"Coba kau baca tulisan ini,"
Sen Lie Siaw Ie sambil menuding kearah tulisan itu. Waktu itulah si gadis cantik pengangon kambing baru memperhatikan tulisan pada kulit pohon itu yang kira kira bermaksud.
"Malam ini diluar kota Tang Yang Lie Loo jie akan berkelahi dengan si penjahat naga merah dikuil Siang Liang Sie, cepat pergi menonton."
Agaknya Lie Siauw Ie tak tahu siapakah si penjahat naga merah itu, tanyanya kemudian.
"Wan-moay, siapakah si penjahat naga merah itu ??"
"Pada duapuluh tahun yang lalu si penjahat naga merah ini sudah menggetarkan seluruh dunia kangouw. Pekerjaan pekerjaan busuk yang dilakukan bukan saja merampok bahkan membunuh orang semau hatinya. Pada waktu dekat ini tiba tiba muncul kembali didalam Bulim dan mengganggu banyak kota besar. Pada dua puluh tahun yang lalu Tia pernah pergi mencari dia tapi dengan secara tiba tiba dia menyembunyikan dirinya, tak disangka kali ini bisa bertemu muka kembali, pertempuran malam ini pasti amat sengit"
"Wan moay kau pernah bertemu dengan orang ini ?"
Tanya Lie Siauw Ie kembali. Si gadis cantik pengangon kambing gelengkan kepalanya "Jago jago pada dua puluh tahun yang lalu mana mungkin aku pernah menjumpainya, hanya saja "
Mendadak didalam benaknya berkelebat kembali bayangan dari Ang in sin pian itu Cungcu dari Ie He Cang, sambungnya kembali.
"Hanya saja Cungcu adalah ahli warisnya, apa kau masih tak mengerti ??"
"Oooh ... kiranya Cungcu adalah ahli waris dari seorang penjahat terkenal dari Bu lim, bilamana orang orang perkampungan tahu masalah ini mereka pasti tidak akan membiarkan dia merebut kedudukan sebagai Cungcu. Wan Moay ayoh berangkat, malam ini kita harus bisa melihat bagaimana bentuk wajahnya itu penjahat naga merah"
Mareka berdua segera membawa kawanan kambingnya melakukan perjalanan kembali menuju ke kota Tang Yang, tak sampai dua jam mereka tiba di dalam kota tersebut.
Bukannya mereka langsung menuju ke dalam kota sebaliknya mencari terlebih dahulu sebuah rumah penginapan diluar kota untuk beristirahat bahkan menanyakan pula letak kuil Siang Lian Si yang letaknya kurang lebih dua puluh li diluar kota sebelah barat itu.
Menanti matahari sudah lenyap dan dibalik gunung berganti cuaca yaog agak remang remang barulah si gadis cantik pengangon kambing berpesan kepada si pelayan rumah penginapan itu.
"Kawanan kambing ini untuk sementara kami titipkan disini, malam ini kami berdua mau masuk ke dalam kota dan belum tentu kembali., kalian tak usah menunggu."
Pelayan itu segera menyahut dan melaksanakan apa yang telah diperintahkan.
Selesai membereskan pakaian serta tidak lupa menggembol senjata rahasia, sigadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie segera berangkat menuju ke kota sebelah barat dan dari sana berlari menuju kekuil Siang Lian Si.
Jarak dua puluh li bagi orang yang berkepandaian bukanlah jauh.
Tidak sampai satu jam kemudian sudah terlihatlah bangunan kuil yang berdiri dengan angkernya dipinggiran sebuah bukit, bangunan kuil tersebut kelihatan amat kokoh dan angker sekali, apalagi atapnya yang berwarna merah darah membuat keadaannya semakin serem.
Dengan cepat mereka berdua berkelebat menuju keluar kuil, ujar si gadis cantik pengangon kambing kemudian dengan suara lirih.
"Ayo kita masuk dan melihat apakah Tia sudah tiba?"
"Wan moay, kita harus lebih berhati hati"
Ujar Lie Siauw Ie.
"Jikalau si penjahat naga merah itu datang terlebih dahulu dan sampai di temui oleh dia sekalipun kita turun tangan bersama belum tentu bisa menangkan dirinya"
"le cici, kau tidak usah terlalu pandang tinggi dirinya"
Sahut gadis cantik pengangon kambing itu tertawa geli.
Ini hari bisa memperoleh kesempatan seperti ini kita harus coba coba juga kepandaiannya.
Saat itu bilamana siauw-moay sudah tidak kuat kau baru turun tangan membantu.
Dengan keganasan serta kelihayan dari Thian Pian Siauw cu pun kita herdua tidak ada gunanya harus takuti dia orang?
bagaimana hebatnya kepandaian silat si penjahat naga merah ini siapapun tidak ada yaag tahu, kemungkinan sekali dia hanya sebuah macan kertas juga belum tentu." 'Bukannya kita takut padanya, hanya saja didalam melakukan pskerjaan kita harus selalu berhati hati.
Gadis cantik psngangon kambing itu tertawa kembali, dia tidak banyak bicara lagi tubuhnya segera amelayang masuk kedalam kuil dan disusul oleh Lie Siauw Ie dari belakang.
Sesudah masuk kedalam halaman kuil Siang Lian si itu tampaklah sebuah jalan kecil yang panjangnya beberapa kaki terbentang di tengah halaman, sedang disampingnya tumbuhlah pohon pobon siong dengan amat lebatnya, keadaan begitu sunyi tak terdengar sedikit suarapun, suasana serta keadaan yang begitu sunyi dan begitu menyeramkan membuat gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw Ie merasa di dalam hatinya merasa berdesir juga.
Sedang perasaan tegangpun mulai mencekam tubuh mereka berdua, langkah kakinya semakin diperingan sedang semua perhatiannya ditujukan pada gerak gerik disekelilingnya.
Selesai melewati jalan kecil yang amat panjang itu dihadapannya muncullah sebuah ruang bangunan yang amat angker dan megah, pintu ruangan tersebut tertutup dengan rapat, baru saja gadis cantik pengangon kambing itu mau memberi tahu kepada Lie Siauw le untuk meloncat naik ke atas atap mendadak dari luar kuil terdengar suara pembicaraan beberapa orang.
Gadis cantik pengangon kambing itu tidak berani berlaku ayal lagi, cepat cepat dia menarik tangan Lie Siauw Ie untuk bersembunyi dibelakang sebuah pohon besar, ujarnya deagan suara perlahan.
"Ie cici, coba kau dengar, agaknya diluar kuil ada orang yang sedang berbicara, apakah mungkin Tia atau si panjahat naga merah sekalian yang sudah datang?"
Lie Siauw Ie hanya gelengkan kepalanya dan mendengarkan lebih cermat lagi, mendadak pintu kuil terbuka lebar dan masukklah tiga orang.
Pandangan sigadis cantik pengangon kambing yang lebih tajam di dalam sekali pandang saja segera bisa melihat kalau mereka itu adalah si-Thiat sie poa, si siucsy buntung serta si pengemis pemabok.
Terdengar suara dari si siucay buntung sedang berkata.
'Benar, memang ada disini, dahulu aku masih menganggap si penjauat naga merah ini adalah seorang lelaki sejati tak disangka dia bisa melakukan pekerjaan yang mencelakai orang lain ..' "Hmmm, jika ini hari kita bertemu muka lagi jangan sampai membiarkan dia lolos kembali, kepandaian bangsat itu sangat lihay."
Thiat Sie sianseng tertawa, ujarnya.
"Aku juga. Tidak sampai kentongan ketiga mereka pasti datang, sejak pertemuan kita setahun yang lalu digunung Wu san dan si pengemis busuk terluka ditangannya tentu ini hari kepandaiannya lebih lihay lagi, waktu itu jikalau bukannya aku mengandalkan gerakan dari Sah cap lak Thian Kang Hwee Sioe Poo yang punya perubahan aneh dan memancing dia berlari disekeliling gunung tenteu si pengemis busuk tidak akan sempat mengobati lukanya dan meloloskan diri dari sana"
Dia berhenti sebentar kemudian sambungnya lagi.
"Jika ditinjau dari keadaan seperti ini lebih baik kita jangan berhadapan secara langsung dengan dia. Untung saja ini hari bertambah dengan Lie Loo jie seorang sehingga kedudukan kita lebih menguntungkan."
"Ha la ha ... tidak disangka sie poa rongsokanmu itu masih mempunyai pikiran untuk membokong orang, sungguh aneh, sungguh sangat aneh ..."
Mendengar omongan itu Thiat Sie sienseng tertawa terbahak bahak.
"Si penjahat naga merah mencelakai orang terlebih dahulu sehingga membuat para hidung kerbau itu mengejar kita terus menerus bilamana ini hari kita bisa menguasai dia dengan menggunakan akal, aku kira hal ini tidak melanggar peraturan Bu lim. Saat itu mereka sudah berjalan sampai didepan pintu ruangan yang amat megah itu. Gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Liauw Ie sekarang baru tahu kiranya toosu toosu Bu tong pay bisa cari mereka untuk balas dendam, hal ini dikarenakan fitnahan dari si penjahat naga merah, tidak aneh kalau mereka mau cari si penjahat naga merah untuk mencari balas. Ketiga orang itu setelah mengetahui pintu ruangan tertutup rapat, masing masing saling memandang sekejap, setelah itu tampak si siucay buntung yang pertama tama menutulkan ujung kakinya yang tinggal sebelah melayang ke atas atap rumah disusul si pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng dan bersembunyi di balik wuwungan rumah. Dengan tidak mengucapkan sepatah katapun si gadis cantik pengangon kambing itupan menutulkan kakinya dan meloncat naik keatas rumah untuk selanjutnya bersembunyi dibalik wuwungan rumah. Lie Siauw Ie yang melibat gadis cantik peengangon kambing ikut meloncat naik, diapun siap siap meloncat pula, siapa tahu mendadak dari luar kuil terdengar suara dengusan kerbau yang amat berat, seketika itu juga membuat dia melengak, pikirnya.
"Ternyata dia datang juga, ternyata dia dalangnya juga"
Di dalam hati Lie Siauw Ie terus menerus memikirkan diri Liem Tou dengan sendirinya terhadap manusia misterius itu diapun menaruh perhatian penuh, kini mendengar suara dengusan dari seekor kerbau sudah tentu membuat pikirannya segera berubah.
Bukannya dia ikut meloncat naik keatas wuwungan rurmh sebaliknva malah berlari keluar dari kuil, tidak salah lagi kurang lebih beberapa kaki diluar kuil berdirilah seekor kerbau.
Cepat cepat Lie Siauw Ie berlari mendekat ke arah kerbau tersebut, tetapi pada saat yang bersamaan pula kerbau itu mendadak putar tubuh dan lari dari sana Lie Siauw Ie menjadi gusar, bentaknya nyaring "Binatang, kau mau lari kemana?"
Dengan cepat dia kerahkan tenaga dalamnya untuk mengejar dari belakang, siapa tahu larinya kerbau itu makin lama semakin kencang semakin cepat, lama kelamaan Lie Siauw Ie yang mengejar dari belakang semakin mengejar semakin menjauhi kuil itu.
Lie Siauw Ie menjadi amat gemas, dengan cepat dia mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya dengan "Liu Im Hui Sie atau terbang layang mengitari selat dari kitab pusaka Toa Loo Cin Keng, laksana bertiupnya angin kencang dia mengejar lebih cepat lagi kearah larinya kerbau itu.
Agaknya kerbau itu mendengar adanya sambaran baju dibelakangnya, terdengar dia mendengus berat mendadak larinya dua kali lipat lebih cepat dari semula, membuat Lie Siauw-Ie sikali lagi ketinggalan lebih jauh.
Lie Siauw Ie menjadi amat gusar, dengan cepat dirautnya segenggam senjata rahasia Kioe Cu Gien Ciam dan disambit dengan dahsyatnya kearah kerbau itu.
Siapa tahu seperti juga dibelakang punggungnya ada mata, mendadak kerbau itu putar tubuhnya dan menyusup ke sebelah kiri, hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap ditengah gerombolan pohon.
Sekali lagi Lie Siauw Ie membentak dengan keras tubuhnya dengan cepat ikut menyusup ke dalam semak semak itu, tetapi pada waktu itulah kerbau tersebut sudah lenyap tanpa bekas.
Tanpa terasa lagi dia menundukkan kepalanya dengan lemas, dalam bati dia tahu sekalipun mengejar juga tiada guna karenanya segera dia putar tubuh siap kembali ke arah kuil Siang Lian Si.
Mendadak...
suara rintihan yang amat perlahan berkumandang datang dari sebelah kirinya.
Lie Siauw Ie menjadi amat heran, cepat-cepat dia mencari dimana berasalnya suara tersebut.
Belum sampai puluhan kaki dia berjalan terlihatlah sesosok tubuh menggeletak di atas tanah, sedang kerbau tersebut berdiri disamping tubuhnya dan makan rumput dengan amat tenangnya.
Dalam hati Lie Siauw Ie hanya merasakan hatinya tergetar amat keras, pikirnya.
"Apakah orang ini adalah manusia misterius itu? Dengan meminjam sinar bintang yang memancarkan sinarnya remang remang dia pandangi wajah orang itu lebih teliti lagi, mendadak dia menjadi amat terperanjat, teriaknya.
"Adik Tou, kau ... kau ... bagaimana kau berada disini ?"
Tapi ... tiba tiba bayangan sewaktu Liem Tou jatuh ke dalam jurang di bawah Jembatan pencabut nyawa terbayang kembali didalam be naknya, teriaknya lagi.
"Oooh adik Tou, kau sungguh sungguh tidak mati, kau sungguh tidak mati ??? Bagaimana kau bisa lolos dari maut ? ? "
Sambil berteriak serta merta tubuhnya menubruk ke dalam pangkuan Liem Tou yang sedang berbaring di atas tanah, sedang air mata mengucur keluar dengan amat derasnya.
"Oooh Ie cici, kau ? Aku sudah naik ke atas Ie Hee Cung tapi disana aku tak melihat kau, kiranya kau berada disini .."Kau sudah naik ke Ie Hee Cung?"
Potong Sie Siauw Ie cepat. Apa kau telah bertemu dengan ibuku "
Perlahan lahau Liem Tou bangun dan duduk kembali, mendadak Lie Siauw Ie melihat sinar matanya amat tajam sekali bahkan amat berbeda dengan setahun yang lalu tanpa terasa dia jadi tertegun, pikirnya.
"Apakah didalam satu tahun ini adik Tou betul betul sudah barhasil melatih ilmu silatnya ? Kalau tidak bagaimana sinar matanya bisa begitu tajam dan bersinar ? ?"
Waktu ini Liem Tou sedang memandangi wajah Lie Siauw Ie dengan terpesona agaknya dia mau mengucapkan sesuatu mandadak dibatalkan kembali.
Melihat perubahan wajahnya itu dalam hati Lie Siauw Ie merasa berdesir, teriaknya.
"Adik Tou kenapa kau tidak mau berbicara?? Ibuku kenapa ?"
Sekali lagi Liem Tou dibuat ragu ragu oleh pertanyaan ini. akhirnya sahutnya sambil mengangguk.
"Aku sudah bertemu dengan beliau, dia sekarang masih sehat waalfiat."
Agaknya Lie Siauw Ie bisa mepercayai perkataanaya ini, terdengar dia bertanya kembali.
"Adik Tou. bagaimana kau bisa berbaring disini seorang diri ???"
"Sesudah aku naik ke atas gunung Ha Mo san dan mencari kau dimana mana tidak disangka ditengah jalan sudah bertemu dengan kerbau ini, agaknya dia masih ingat dengan majikannya melibat aku ada di sana segera dia berjalan mendekati aku demikianlah dengan menunggang kerbau ini aku bisa berkelana ke mana mana, setiap kali aku bertemu dengan orang pasti kutanyakan apakah sudah bertemu dengan kau, siapa tahu larinya kerbau ini lebih cepat beberapa kali lipat dari dahulu karena saking lelahnya tak terasa aku sudah tertidur ditempat ini"
Liem Tou sama sekali tak bicara jujur Kiranya dia yang sudah mempelajari ilmu dari kitab pusaka "To Kong Pit Liok"
Di ruangan sumur kering itu dia tidak memperoleh suatu kesukaran apa apa dikarenakan dia pernah mempelajari ilmu silat dari kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng' ditambah lagi latihan tenaga dalamnya sewaktu berada di gua gelap diatas puncak Ngo Lian-Hong memberikan dasar yang amat bagus buat dirinya, karena itu tak sampai sebulan lamanya dua jalan darahnya sudah berbasil ditembusi sehingga kepandaiannya pun bertambah lipat ganda Ketika mencapai setahun lamanya baik tenaga dalam maupun ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai taraf paling atas.
diapun dengan tekun mempelajari isi dsri kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng"
Sehinggi tanpa dia sadari ilmu silanya sudah mencapai pada tingkatan paling atas dan boleh dikata sudah terhitung sebagai jago nomor wahid di dalam Bu lim.
Sebetulnya kitab pusaka To Kong Pit Liok ini berisikan ajaran rahasia dari ilmu silat ting atas, mana mungkin Lem Tou bisa berbasil menguasai seluruh isinya hanya di dalam satu tahun saja ?
Dikarenakan di dalam batinya dia terus menerus merindukan diri Lie Siauw Ie walaupun dia benar benar belum menguasai dari kitab pusaka "To Kong Pit Liok"
Dia keluar juga dari dasar sumur kering itu.
Waktu itu suasana didalam bangunan tersebut amat sunyi sekali, setelah diperiksa sekali disekitar tempat itu pada sebuah ruangan kamar ditemuinya sesosok mayat yang kini tinggal tulang belulangnya saja, dia tahu tengkorak itu pasti tengkorak wanita yang memberi tahukan tempat disimpannya kitab pusaka "To-Kong Pit Liok"
Itu.
bahkan dirinya sudah menyanggupi untuk mencarikan puteranya dan beritahukan siapakah musuh besarnya.
Dia berdiam beberapa waktu lamanya di dalam ruangan itu, mendadak dibagian dada tengkorak tersebut kelihatan tertinggal sebuah lempengan perak, cepat cspat dipungutnya benda itu.
Terlihatlah psda sebuah lempengan perak itu terukir sebuah gambar burung hong yang berkaki tunggal, dia tidak tahu apa maksud gambar itu dengan perasaan heran disimpannya benda itu ke dalam saku lalu keluar dari sana.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya hanya di dalam sekejap mata dia telah sampai disamping sungai dibawah gunung Wu san itu.
Waktu itu cuaca sudah menunjukkan tengah malam, dikarenakan gembira dan inginnya segera berjumpa dengan Lie Siauw Ie secepat mungkin membuat dia sedikit lupa daratan suara suitan panjang segera memecahkan kesunyian, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya Liem Tou berlari mengikuti tepian sungai, hanya terlihat bayangan hitam ysug berkelebat dengan cepatnya, dalam sekejap mata saja lima puluh li sudah dilalui tanpa terasa.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat cepat inilah didalam satu malam dia sudah menempuh suatu perjalanan yang jauh sekali, pada keesokan harinya dia telah berada didalam kota Ciang Kong dibawah gunung Cing Jan.
Tanpa beristirahat lagi dia melanjutkan perjalanannya menuju ke atas gunung Ha Mo San.
Dengan kepandaian siat yang dimiliki sekarang ini untuk melewati ketiga rintangan bahaya itu sudah tentu tidak dipandang sebelah matapun olehnya, hanya didalam satu kali loncatan rintangan maut itu.
Sungai Kematian, Tebing maut serta Jembatan pencabut nyawa sudah dilalui tanpa susah susah.
Hari itu juga dia sudah tiba di perkampungan Ie Hee Cung di atas gunung Ha Mo Leng, dengan kecepatannya gerakan waktu ini sudah tentu tak seorang pun yang merasa akan kunjungannya ini.
Pertama tama dia berlari menuju ke rumahnya Lie Siauw Ie, ketika dilihatnya pintu maupun jendela dikunci dengan amat rapatnya tanpa disadari dia sudah berdiri tertegun.
Sekalipun dia sudah mencarinya diseluruh pelosok perkampungan itu jangan dikata Lie Siauw Ie serta ibunya sekalipun bayangannya pun tak kelihatan, di dalam keadaan yang apa boleh buat terpaksa dia harus munculkan diri untnk bertanya kepada seorang rakyat dari perkampungan.
Ketika orang itu melihat kalau yang muncul adalah Liem Tou walaupun didalam hati dia merasa heran tetapi dengan sejujurnya mau juga dia menceritakan keadaan yang telah terjadi atas diri Lie Siauw Ie serta ibunya.
Pada waktu diketahuinya bagaimana Lie Siauw Ie mengikuti dirinya terjun ke dalam jurang di bawah Jembatan pencabut nyawa, kemudian ibunyapun ikut binasa karena sedihnya, untuk beberapa waktu lamanya hampir hampir dia dibuat jatuh pingsan.
Demikianlah sejak hari itu dia tentulah menangis dengan amat sedihnya didepan kuburan ayahnya.
Karena kejadian itu setiap malam rakyat dari Perkampungan Ie Hee Cung tentu mendengar adanya suara tangisan seseorang yang tidak di arah munculnya sehingga membuat seluruh perkampungan menjadi gempar, tetapi Liem Tou tidak ingin diketahui kemunculannya disana karenanya hingga saat ini seluruh rakyat dari perkampungan masih menganggap peristiwa tersebut sebagai suatu teka teki.
Tiga hari kemudian perasaan masgul yang mengganjal hati Liem Tou sudah agak mengendor, Waktu itulah dia baru meninggalkan gunung Ha Me Leng.
Disebabkan diapun mendengar kalau sigadis cantik pengangon kambing ikut terjun bersama sama Lie Siauw Ie, di didalam hati segera mengambil keputusan untuk naik keatas gunung Go bie.
Didalam perjalanan ini dia mendengar adanya perampokan perampokan yang amat dahsyat didalam Bu lim, membuat hatinya semakin mendendam pada orang orang yang bermaksud jahat.
Diapun heran kenapa siapa s'cangkul pualam Lie Sang sebagai seseorang dedengkotnya Bu lim hanya berpeluk tangan saja didalam peristiwa ini.
Karena itulah sewaktu dia tiba diatas gunung Go bie dengan kata kata pedas dia membuat Thian Pian Siauw cu menjadi jengkel dan pergi dari sana, kemudian menghadiahkan intan dan membawa pergi kerbaunya, disampmg itu mencuri lempengan besi milik Lie Loo jie untuk mancing dia muncul kembali dalam Bu lim.
Karena tak ingin muncul kembali diantara Lie Loo jie sekalian makanya sewaktu berada dikuil Siang Lian si dia hanya memancing Lie-Siauw Ie seorang saja untuk bertemu dan melepaskan rindunya.
Sekalipun saat ini Liem Tou tak mau bicara terus terang sehingga membuat Lie Siauw Ie menaruh sedikit perasaan curiga karena cintanya kepadanya membuat dia tidak mau pikirkan hal ini lagi di dalam hatinya, dia hanya menganggap dikarenakan banyaknya musuh di dalam Bulim memang seharusnya dia sedikit menyembunyikan kepandaian silatnya.
Kini berganti Lie Siauw Ie yang menceritakan kisahnya bagaimana dia ditolong oleh gadis cantik pengangon kambing kemudian mengangkat Lie Loo jie sebagai suhunya dan berhasil mempelajari isi dari kitab pusaka Toa Loo Cin Keng, lalu bagaiman mereka dipancing oleh seorang manusia misterius sehingga terpaksa turun gunung.
Selesai mendengar kisahnya ini mendadak Liem Tou menjerit keras.
"Oooh Ie cici, kenapa tidak kau katakan sejak tadi? Pertempuran antar dua jago Bu lim yang memiliki kepandaian silat yang amat tinggi pasti menarik sekaii, ayoh kita berangkat"
Lie Siauw Ie angkat kepalanya memandang terlebih dulu keadaan cuaca, setelah diketahui waktu itu sudah menunjukkan kentongan yang kedua dan takut gadis cantik pengangon kambing mencari dia ditempat lain, sahutnya.
"Baiklah ayoh kita berangkat"
Mereka berdua segera berjilan keluar dian-tara semak semak, terlihatlah kerbau itu mengikuti dengan tenangnya dari belakang.
"Entah bagaimana kerbau itu bisa berubah menjadi amat cerdik dan sakti"
Ujar Liem Tou lagi.
"Ayoh kita naiki saja"
"Sungguh!"
Seru Lie Siauw Ie ragu, karena dia sudah dua kali melihat gerak gerik yang aneh dari kerbau itu "Apa ada kalanya dia meninggalkan dirimu seorang diri?'' Dalam hati diam diam Liem Tou merasa geli, dia tahu tentu dalam hatinya sudah menaruh perasaan curiga, dengan wajah yang kebingungan ujarnya.
"Cici bagaimana kau bisa bertanya begini? aku kira dia akan pergi sendiri sewaktu aku tertidur pulas, kecuali itu dia belum pernah meninggalkan samping tubuhku"
Lie Siauw Ie diam diri tidak berbicara lagi, demikinlah kedua orang itu segera naik keatas punggung kerbau dan melarikannya memenuju ke kuil Siang Lian Si.
Sesampainya di depan kuil, terlihatlah suasana di sekeliling tempat itu masih tetap sunyi senyap saja, ujarnya dengan suara perlahan.
"Adik Tou, entah mereka sudah datang atau belum? Lebih baik gerak gerik kita sedikit berhati hati"
Liem Tou mengangguk tanda setuju, sesudah meloncat turun dari tunggangannya dia menepuk punggung kerbau itu.
"Sana pergi sendiri!"
Kerbau itu seperti juga mengerti atas perkataannya, dengan mendengus perlahan dia meninggalkan tempat itu.
Sesudah memasuki pintu kuil mendadak Lie-Siauw Ie berkelebat melanjutkan langkahnya dengan bersembunyi dibalik pohon pohon siong.
Liem Tou pun segera mengikuti dari belakangnya.
Terdengar suara yang perlahan ujar Lie Siauw Ie.
"Wan-moay menguntit diri Tionggoan Sam-Koay menuju kebelakang ruangan ketika dia tidak tampak diriku hatinya tentu sedang risau dan bingung."
Dengan ketajaman telinga Liem Tou saat ini mendadak dia dapat mendengar dibalik tembok ada orarg yang sedang berbicara dengan suara perlahan, ketika di dengar lebih teliti lagi dia baru tahu itu adalah suara dari Tioag-goan Sam Koay pikirnya Si pengemis pemabok sudah pernah bertemu dengan aku ketika masih berada digunung Wu san, walaupun saat itu dia sedang pusatkan perhatiannya untuk menyembuhkan luka dalamnya tapi dia tahu atas kehadiranku, jika aku munculkan diriku saat ini maka rahasiaku pasti akan kebongkar saat ini juga, untuk mengelabui orang lain akan menjadi lebih sukar lagi.
Berpikir akan hal ini segera ujarnya kepada Lie Siauw Ie.
'Cici kau pergilah kesana, coba lihat dia bersembunyi dimana, biariah aku bersembunyi disini saja untuk menanti Kedatangan cici"
Lie Siauw Ie segera mengangguk, tampak tubuhnya dengan amat ringan melayang naik keatas wuwungan kemudian berlari menuju ke halaman belakang.
Liem Tou yang melihat gerak gerik Lie Siauw Ie amat ringan dan memang jauh berbeda dengan setahun yang lalu di dalam hati diam diam ikut bergembira juga, segera dia tidak mau berdiam diri dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi berkelebat mengikuti dengan kencang dari belakangnya.
Liem Tou yang sudah ada diatas wuwungan rumah hanya dalam sekali pandangan sudah melihat kalau Tionggoan Sam Koay bersembunyi di balik wuwungan rumah sebelah belakang dan saat ini sedang guyon, sedang gadis cantik pengangon kambing bersembunnyi dibalik tembok kurang lebih tiga kaki dari tempat persembunyian Tionggoan Sam Koay, saat ini dia sedang melihat ke kanan melihat ke kiri dengan bingungnya.
Liem Tou tahu waktu ini dia pasti sedang risau karena Lie Siauw Ie tak mengikuti dirinya.
Pada saat itulah Lie Siauw Ie sudah muncul disana, gadis cantik pengangon kambing itu menjadi semakin bingung dibuatnya mau panggil takut tempat persembunyiannya diketahui tidak memanggil tidak mungkin.
Mendadak si siucay buntung membentak dengan amat keras.
"Siapa yang datang 7"
"Aduh celaka "
Pikir gadis cantik pengangon kambing di dalam hati. Bila ditemui oleh mereka kita pasti celaka"
Terlihatlah tubuh Lie Siauw Ie berkelebat dengan amat cepatnya, laksana dengan seekor kucing dengan lincahnya sudah meloncat turun dari atas wuwungan dan bersembunyi dipojokan yang gelap Tampak tiga sosok bayangan berkelebat Tionggoan Sam Koay sudah muncul diatas atap rumah dan mulai memeriksa disekeliling tempat itu.
Terdenngar si siucay buntung dengan nada keheranan sedang berkata.
"Terang terangan aku dengar suara langkah manusia, bagaimana melihat orangnya?"
"Perkataan dari kau si siucay buntung sedikit pun tidak salah,"
Sambung si pengemis pemabok.
"Apa mungkin si penjahat naga merah atau Lie Loo jie? Mendengar perkataan dari si pengemis pemabok ini tanpa terasa mereka bertiga sudah putar tubuhnya kembali dan berdiri bersama sama, saat ini dengan saling pandang memandang berdiri melongo disana. Liem Tou yang melihat keadaan mereka segera tahu, tentunya setelah merasakan pahit getirnya sewaktu melawan si penjahat naga merah digunung Wu san mereka sudah tahu kelihayannya dan tidak berani berlaku gegabah. Diam diam didalam hati merasa geli juga kepingin sekali dia melihat dengan cara bagaimana mereka bertiga mau menghadapi diri si penjahat naga merah itu. Berpikir sampai disini Liem Tou tidak mau berpikir panjang lagi, segera dia meninggalkan tempat itu untuk bersembunyi diatas pohon siong. Kentongan ketiga dengan cepat menjelang, tiba tiba dari dalam kuil Siang Liap si berkumandang suara genta yang dipukul bertalu talu Dengan perlahan pintu ruangan tengah terbuka dan muncul puluhan Hweesio gundul dari dalam, masing masing pada merangkap tangannya didepan dada, semangatnya tinggi dan mempertahankan keangkeran dari wajahnya masing masing. Terakhir muncullah seorang Hweesio tua yang kurus kering seperti lidi dengan kulit badan hitam gelap. Sesampainya di depan pintu kepalanya yang semula ditundukkan rendah rendah tiba tiba di angkat keatas dan memancarkan sinar yang tajam memandang kesekeliling tempat itu kemudian disusul dengan suatu senyuman yang amat dingin menghiasi bibirnya. Dalam hati Liem Tou merasa tergetar amat keras, pikirnya.
"Ini sungguh amat aneh, dengan ketajaman mata dari Hwiesio tua ini boleh dikata kepandaian silatnya sudah memcapai taraf kesempurnaan, bagaimana didalam Bulim tidak pernah terdengar namanya?"
Belum selesai dia berpikir mendadak dari luar kuil muncul sesosok bayangan hitam yang berkelebat dengan amat cepatnya menuju kearah kuil, setiap lompatannya bisa mencapai puluhan kaki jauhnya bahkan secara samar samar terdengar suara dengusan kerbaunya yang amat nyaring.
Liem Tou tahu orang ini pasti Lie Loo jie atau diri si penjahat naga merah, dengan sendirinya diapun ikut bersiap diri.
Gerakau orang itu amat cepat sekali, hanya di dalam sekejap mata dia sudah memasuki pintu kuil, waktu inilah Liem Tou baru bisa melihat jelas kalau orang itu tidak lain adalah si penjahat naga merah.
Tampak tubuhnya yang kokoh kekar begitu masuk ke dalam kuil segera jatuhkan diri berlutut dihadapan Hweesio berwajah hitam itu.
Belum sampai tubuh penjahat naga merah itu mencapai permukaan tanah Hweesio tua itu sudah kebaskan tangannya "Tidak perlu!"
Sedang matanya diam diam mulai memberi tanda kepada si penjahat naga merah ita, ujung jarinya dengan gerakan cepat menunjuk keatas wuwungan rumah.
Melihat kelakuannya itu Liem Tou merasa hatinya tergetar amat keras, dia tahu Hwsesio tua itu amat lihay sekali dan kini sedang memberi tahu tempat persembunyian dari gadis cantik pengangon kambing.
Lie Siauw Ie beserta Tionggoan Sam Koay.
Dengan gugup dia mengerahkan kepandaian saktinya, dengan ilmu untuk menyampaikan suara, ujarnya kepada orang orang itu.
"Hwesio kurus berwajah hitam itu smat lihay. Dia sudah tahu tempat persembunyian kalian, cepat cepat menyingkir dan jangan berlaku gegabah"
Baru saja selesai berbicara suara dengusan kerbaunya berkumandang kembali, tampak sesosok bayangan hitam bsrkelebat hanya didalam sekejap mata saja sudah memasuki pinta kuil.
"Hmmm ...sungguh lihay sekali"
Puji Liem-Tou di dalam hati. Terdengar Hweesio kurus berwajah hitam berbisik bisik kepada si penjahat naga merah.
"Dia sudah datang, kau harus hadapi dirinya sebaik mungkin."
Si penjahat naga merah sedikit mengangguk, mendadak dia tertawa panjang dengan amat kerasnya sehingga menggetarkan seluruh bumi, ujarnya keras.
"Loolap menanti kedatangan dari Lie sicu!"
Baru saja dia selesai berkata, tampak sesosok bayangan abu abu berkelabat, si cangkul pualam Lie Sang dengan dandanan seorang petani sudah muncul disini, sahutnya.
"Hey penjahat naga merah kau sungguh lihay sekali, apa yang disiarkan dalam Bu lim agak nya bukanlah omongan kosong belaka. disini aku Lie Loo jie beri hormat terlebih dulu "
Selesai berkata dia merangkap tangannya memberi hormat bersamaan pula mataaya berkelebat memandang keadaan disekeliling tempat itu.
Mendadak matanya berhenti diatas tubuh Hweesio tua berwajah hitam itu, air mukanya segera berubah amat hebat.
Kelihatannya dia dibuat terkejut oleh ketajaman matanya.
Lama sekali dia baru terdengar dia buka mulut berkata.
"Tolong tanya apakah Thaysu adalah Thiat-Bok Taysu yang pernah menggetarkan Bu lim pada tiga puluh tahun yang lalu?? Hweesio kurus berwajah hitam itu membuka sedikit matanya kemudian dipejamkan kembali.
"Kalau kau sudah tahu Loolap pada tiga puluh tahun yang lalu sudah punya nama tentu kau akan melaporkan diri sebagai boanpwee. kenapa tidak berlaku hormat?"
Serunya dengan dingin.
"Kau apa tidak tahu kuil Siang Lian si ini adalah tempat semediku selama tiga puluh tahun ini, selamanya aku tidak akan membiarkan manusia semacam kau masuk disini dengan seenaknya."
Si pacul pualam Lie Sang ketika melihat dia memaki dirinya, sekalipun tahu kelihayannya tapi dalam hati merasa mengkel juga, baru saja mau balas memaki mendadak dari ujung kuil berkelebat sesosok bayangan putih, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ia sudah muncul dihadapannya.
Gadis cantik pengangon kambing itu mana tahu kelihayan dari Thiat Bok Thaysu, lantas dia tertawa dingin balas makinya.
Hmmm, namamu tidak sesuai dengan sebutannya, apa itu Thiat Bok Thaysu segala macam.
Hnmm, tidak lebih hanya manusia pandai bicara besar.
Bilamana bukannya ayahku diajak bertanding dengan muridmu yang suka merampok si penjahat naga merah, kami tidak akan menginjak tempatmu yang menyeramkan ini."
Si pacul pualam Lie Sang sama sekali tidak menduga kalau gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie bisa muncul ditempat itu, segera makinya.
"Wan jie, Ie jie kenapa kalian juga datang?? bukankah sebelum aku pergi sudah memberi tahu padamu untuk jangan turun gunung???"
Waktu itulah si penjahat naga merah sudah membentak dengan amat gusar.
"Budak darimana berani mengacau disini!"
Sebelumnya si gadis cantik pengangon kambing sudah siap mau menjawab perkataan ayahnya, kini mendadak mendengar si penjahat naga merah itu memaki dirinya dia menjadi jengkel, bentaknya keras "Kau bajingan perampok, aku suruh kau gelinding terlebih dulu dari sini!' Mendadak tubuhnya dengan kectpatan luar biasa menerjang ke depan melancarkan serangan dahyat mengarah lambung si penjahat naga merah itu, melihat datangnya serangan, si naga merah tidak menjadi gugup, dia membetak keras ujung bajunya dikebut ke depan mendadak dengan disertai angin pukulan yang amat santar balas menyerang diri gadis cantik pengangon kambing itu.
Si cangkul pualam Lie Sang menjadi amat terperanjat, belum sempat dia membentak untuk putrinya berkelahi, dari atas atap mendadak berkelebat angin pukulan yang amat dahsyat menahan datangnya serangan dari penjahat naga merah itu kemudian disusul munculnya si siucay buntung, si pengemis pemabok serta si Thiat sie siaaseng tiga orang.
Baru saja mereka bertiga muncul terdengar si siucay buntung sudah memaki sambil menuding karah penjahat naga merah.
"Kau mau bermusuhan dengan Lie Loo-cianpwee dari partai Toen si pay, kami tidak mau ikut campur, tetapi ini hari kita harus selesaikan hutang-hutang kita lebih dulu terang terangan Ciangbunjin dari Bu tong pay Leng Cing-Cu sudah dibinasakan dibawah tanganmu kenapa kau memfitnah orang lain ?? Kenapa kau menuduh kami sehingga hidung hidung kerbau itu pada mencari kami ... apa ini termasuk peraturan Bu lim ? ?"
Si penjahat naga merah ketika melihat yang muncul adalah si siucay buntung bertiga segera tahu kalau mereka bertiga bukanlah tandingannya sendiri, sama sekali dia tak mau menggubris mereka, kepada Lie Loo jie ujarnya.
"Hey orang she-Lie, kau adalah pimpinan Bu-lim pada waktu ini Loolap ikut merasa gembira, tetapi omonganmu harus sedikit genah, kau bilang perampokan perampokan yang sudah terjadi didaerah Tionggoan adalah perbuatanku bahkan menganjurkan jago jago didalam Bu-lim memusuhi aku, aku mau tanya kau berdasarkan apa bisa ngomong begitu ? Dan apa kamu tahu kalau itu pekerjaan dari Loolap ?"
"Ha ha ha ha ... nama dari si penjahat naga merah siapapun telah mengenal, selamanya sesudah melakukan perampokan tidak pernah meninggalkan kehidupan bahkan meninggalkan ular merah sebagai tanda perampokan. Perampokan yang telah terjadi baru baru ini semuanya ada tanda ular merah coba kau pikir jika bukan kau yang berbuat, siapa lagi ?".
"Tidak salah pada dua puluh tahun yang lalu aku pernah melakukan pekerjaan itu. Bantah si penjahat naga merah itu Tetapi dua puluh tahun kemudian apa kau berani pastikan aku yang melakukan pekerjaan itu ? Kau berani pastikan tidak ada orang yang meminjam namaku ?"
Si cangkul pualam Lie Sang yang melihat dia mau mungkir terus menjadi amat gusar.
"Pinjam namamu atau tidak aku Lie Loo jie tidak mau tahu, ini hari kita sudah bertemu muka disini, sedikit dikitnya aku harus basmi kau dari muka bumi."
Liem Tou yang mendengar perkataan ini diam diam memuji .
"Bagus, seharusnya memang begitu."
Si siucay buntung yang melihat selama ini perkataannya tak digubris tak merasa menjadi gusar juga, mendadak bentaknya.
"Bajingan perampok, lebih baik kita bereskan perhitungan kita terlebih dahulu."
Kipas ditangannya dengan disertai angin sambaran yang dahsyat menyambar ke depan, bersama pula teriaknya kepada kawan kawan lainnya "Hey pengemis busuk, Sie poa rongsokan mari terjang."
Si pengemis pemabok maupun Thiat sie sian iseng tidak mau berayal lagi, tongkat Tah Kauw Pang serta Sie poa besinya dengan menerjang dari sebelah kiri dan kanan bersama sama menerjang ke arah musuhnya.
Melihat datangnya serangan gabungan itu penjahat naga merah seperti tak melihat sepasang dari sebuah ujung bajunya yang dikebut kedepan sedang tubuhnya meloncat mundur dua tiga kaki kebelakang, agaknya dia tidak ingin bertempur melawan mereka.
Pada saat inilah hweesio berwajah hitam yang bernama Thiat Bok Thaysu merangkap tangannya memuji pada Buddha.
"O-min to hud"
Suarananya walaupun tidak keras tapi di dalam pendengaran masing masing terasa bagai auman singa yang amat keras sehinhga menggetarkan hati masing masing.
Liem Tou yang sudah mempelajari ilmu sakti sudah tentu tidak sampai terpengaruh oleh suara itu, tapi diam diam diapun merasa terperanjat juga oleh kedahsyatan ilmu itu, pikirnya.
"Bilamana orang ini ikut campur di dalam pertempuran ini, bukan saja Tionggoan Sam-Koay bukan tandingannya sekalipun Lie Loo jie sendiri belum tentu bisa memperoleh kemenangan dari dirinya"
Berpikir sampai disini tanpa terasa lagi seluruh perhatiannya sudah dipusatkan pada diri Thiat Bok Thaysu, asalkan dia perlihatkan sedikit gerak gerik maka Liem Tou bersiap siap turun tangan untuk menolong orang.
Terdengar si siucay buntung sudah membentak kembali.
"Hay bajingan perampok jangan lari aku dengar kau pernah menggetarkan dunia kangouw dengan mengandalkan cambuk Cie lion pian, ini hari aku ingin menjajal kepandaianmu didalam permainan cambuk Cie liong pian ini."
Selesai berkata dengan suara yang lebih dipertinggi teriaknya.
"Pengemis busuk, Sie poa rongsokan ayo serang, hey bajingan perampok cepat cabut senjatamu!"
Selesai berkata ujung kakinya yang tinggal sebelah sedikit menutul keatas permukaan tanah kipasnya dengan menggunakan jurus "Thian-Way Lay Im"
Atau luar langit, muncul mega menyerang bawah ketiak dari naga merah itu.
Si pengemis pemabok maupun Thiat Sie Sian seng tidak akan membiarkan si siucay buntung akan bertempur satu lawan satu dengan penjahat naga merah itu, mereka berdua cepat cepat maju menyerang kedepan.
Si penjahat naga merah yang dua kali dikerubuti kini benar benar dibuat gusar oleh tingkah laku mereka itu, tubuhnya dengan cepat berputar dua jari tangan kirinya dengan dahsyatnya.
Menjepit datangnya serangan kipas dari si siucay buntung, sedang telapak kanannya dengan melancarkan dua serangan berturut turut menyambut datangnya serangan dari si pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng hanya di dalam sekejap mata dia harus menahan serangan dari tiga jago berkepandaian tinggi dari Bu lim kelihatannya sedikitpun tidak merasa berat.
Mendadak Thiat Bok Thaysu mementangkan matanya lebar lebar, dengan suara yang berat bentaknya.
"Tahan, kuil Siang Lian Si ini bukan tempat untuk bertempur". Si penjahat naga merah yang mendengar perkataan itu dengan cepat menarik kembali serangannya dan meloncat kebelakang.
"Benar hey orang she Lie, bentaknya mendadak. Kau tidak perlu menggunakan dengan menunjuk ketiga manusia aneh ini untuk bertempur terlebih dulu dengan aku Hmm. .. hmm. .-jangan harap kau bisa memperolah keuntungan dari kelicikanmu ini. Si cangkul pualam Lie Sang menjadi amat gusar sekali.
"Bajingan perampok naga merah kau tidak usah memnfitnah orang dengan kata kata itu, Tionggoan Sam Koay adalah lelaki sejati tidak mungkin mereka mau diperalat orang lain. Kau sendiri yang sudah melakukan kecurangan dengan memfitnah mereka kini malah bilang orang lain yang curang. Mari. .. mari... aku mau coba coba kepandaian silat dari penjahat naga merah yang pada dua puluh tahun yang lalu pernah menggetarkan dunia kangouw"
Selesai berkata mendadak sepasang tangannya mencabut kearah pinggangnya. Sreet . ."
Pada tangan kanannya sudah bertambah dengan sebilah golok tipis yang memacarkan sinar mata tajam sedang pada tangan kirinya bertambah dengan sebuah lempengan besi sebesar telur itik ujarnya.
"Bajingan perampok naga merah cepat cabut senjatamu ...cambuk Cie liong pian, mari kita bertempur sebanyak tiga ratus jurus, kita lihat siapa yang lebih kuat di antara kita". Agaknya si penjahat naga merah itu tidak berani mengambil keputusan sendiri, dia menoleh sekejap memandang ke arah Thiat Bok Thaysu, dengan perlahan Thiat Thiok Thaysu mengangguk, setelah itu barulah dia berani memberikan jawabannya.
"Baiklah orang she Lie, bilamana kau bisa bertahan sampai kalah dibiwah serangan cambuk Cie Liong pian ku ini sebanyak tiga ratus jurus maka aku akan mengaku kalah dan mulai saat ini tidak akan bertemu kembali dengan kau. Tetapi sebelum itu kau harus tahu perampokan berkali kali yang terjadi didalam Bu lim bukanlah aku yang melakukan, sudahlah ayoh kita mulai bertempur."
Dengan cepat tangannya mencabut keluar cambuk Cie Liong piannya dari pinggang, sedikit pergelangan tangannya digerakkan cambuk yang semula lemas, seketika itu juga menjadi tegang laksana sebuah tombak.
Lie Loo jie yang melihat penjahat naga merah itu sudah mencabut keluar senjatanya, dia tidak berlaku sungkan sungkan lagi, segera tubuhnya mendesak kedepan melancarkan serangan dahsyat.
Pada saat yang bersamaan itulah mendadak gadis cantik pengangon kambing itu berkelebat sambil melintangkan ssruling pualam didepan dada bentaknya dengan keras.
"Sebelum kau melawan ayahku terlebih dulu harus mengalahkan seruling pualamku terlebih dulu, kalau tidak . .. Hmmm kau manusia semacam apa berani melawan ayahku???"
Agaknya si penjahat naga merah sama sekali tidak menduga kalau gadis cantik pengangon kambing itu bisa menghalangi serangannya, untuk sesaat hawa amarahnya semakin memuncak.
Cambuk Cie Liong piannya dengan tidak menimbulkan angin sambaran sedikitpun meluncur ke depan laksana sambaran kilat.
Tampak sinar merah berkelabat ujung cambuk tersebut sudah berada didepan gadis cantik pengangon kambing itu Menanti Lie Wan Giok sadar, kembali bayangan cambuk itu laksana seekor ular dengan dahsyatnya sudah mengurung seluruh tubuhnya.
Untuk menghindar tidak sempat untuk melancarkan seranganpun tidak sanggup, di dalam keadaan yang amat kritis itu dia menjerit keras, tangannya diangkat keatas siap siap menahan serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Dalam hati si penjahat naga merah itu menjadi amat girang, dia mengira bahwa serangannya kali ini pasti memenuhi sasarannya, siapa tahu pada saat yang amat kritis itulah ....
Plaaak.
"disertai suara yang amat nyaring telapak tangannya terasa tergetar dengan amat kerasnya, sebuah ranting pohon siong pada saat yang bersamaan jatuh keatas tanah. Diam diam di dalam hati dia merasa amat terperanjat, pada saat dia menjadi tertegun itulah mendadak sinar yang amat dingin berkelebat di depan matanya, golok tipis dari Loo jie dengan disertai sinar gemerlapan yang menyilaukan mata bagaikan kilat cepatnya mengurung seluruh tubuhnya. Si penjahat naga merah tidak berani berlaku ayal, dengan gusar dia mendengus pergelangan tangannya mengencang cambuk Ci Liong Piannya dengan memancarkan kabut merah membalik keasal semula kemudian menangkis datangnya sinar yang menyilaukan mata itu.
"Traang."
Cambuk Cie Liong Pian serta golok tipis itu terbentur menjadi satu membuat percikan bunga api memenuhi empat penjuru.
Lie Loo jie maupun si penjahat naga merah masing masing mundur dua langkah ke belakang.
Cepat cepat Lie Loo-jie memeriksa goloknya, ketika dilihatnya tidak mengalami cidera, baru ujarnya dengan serius.
"Bajingan perampok naga merah, permainan cambukmu sangat hebat dan bukan nama kosong belaka. Dengan kepandaian silatmu sekarang ini memang didalam Bu lim sukar ada tandingan kenapa kau gemar melakukan perampokan yang merupakan pekerjaan rendah ? sungguh aku orang She Lie tidak paham"
Saat ini si penjahat naga merah sedang melintangkan cambuknya didepan dada siap menerima serangan musuh, ketika mendengar perkataan itu dia semakin gusar.
"Orang she Lie kau jangan memfitnah orang seenaknya saja"
Bentaknya dengan keras.
"Sejak tadi aku sudah jelaskan, perampokan yang terjadi didaerah Tionggoan bukan aku yang melakukan, kau dengar tidak"
Lie Loo jie menjadi melengak Sebenarnya dia bisa turun dari gunung Go bie dan melakukan perjalanan dikarenaka hatinya terbakar oleh kata kata Liem Tou.
Sesudah bsrada didaerah Tionggoan dia dengar kalau setiap tempat yang mengalami perampokan tentu tertinggal tanda ular merah dia pastikan hal itu pekerjaan si penjahat naga merah, ini hari dia berjanji untuk bertempur disini sebetulnya memang dikarenakan urusan itu.
Ketika si penjahat naga merah melihat Lie Loo jie dibuat tertegun oleh perkataannya dengan gusar sambungnya lagi.
"Loolap berani berjanji dengan kamu orang sudah tentu tidak akan takut kau menggunakan akal licik sekalipun akalmu jauh lebih hebat aku juga takkan takut padamu."
Bersamaan waktu selesainya dia berbicara cambuk Cie Liong Piannva digetarkan sedang tubuhnya maju dua langkah kedepan dan melototi musuhnya dengan amat gusar.
Lie Loo jie merupakan jagoan Bu Lim angkatan tua, kini dihadapan Tionggoan Sam Koay, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie mendapat malu serta makian dari si penjahat naga merah itu tak urung merasa gusar juga.
"Bajingan perampok naga merah kau jangan sembarangan memaki orang, aku si cangkul pualam Lie Siang jadi orang suk terang terangan mana mau menggunakan akal licik melukai dirimu ? ?? Mendadak si penjahat naga merah tertawa terbahak bahak, dengan wajah yang amat adem serunya.
"Orang she Lie, kau tak perlu menempelkan emas pada wajah sendiri, sebelum malam ini karena mendengar kata orang aku menganggap kau sebagai seorang jagoan yang patut dihormati tak disangka kaupun merupakan manusia rendah yang tak tahu malu "
Sekonyong konyong dia mempertinggi suara nya, bentaknya dengan keras "Orang she Lie aku mau tanya, perjanjian kita malam ini untuk bertanding didalam kuil Siang Lian si sama sekali tak diketahui oleh ketiga orang itu kedua perempuan itu adalah muridmu aku tidak mau ungkap lagi tetapi ketiga orang anggota dari Tionggoan Ngo Koay itu sudah bersembunyi disini, terang terangan kau sengaja mengatur rencana untuk membokong aku apa hal ini tak bisa dikatakan manusia rendah?"
Pikiran Lie Loo jie segera berputar, setelah lewat beberapa lama waktu dia pikir memang benar perkataan dia itu, karena tidak sanggup memberikan jawabannya dengan amat gusar jawabnya.
"Tionggoan Ngo Koay dengan aku Lie Sang tak ada sangkut pautnya, dia mau datang kesini apa hubungannya dengan aku orang ? Kau bajingan rampok tidak usah banyak putar lidah lagi menambah dosa orang lain. Bila kau sudah merasa jeri lebih baik ini hari mengundurkan diri dari Bu lim saja dan tidak melakukan pekerjaan jahat lagi, maka aku Lie Sang tidak akan mengapa apakan kamu orang apabila tidak, jangan salahkan aku turun tangan berat terhadap dirimu, perkataanku sudah cukup jelas sekarang kau pikirlah lebih jelas lagi"
Si penjahat naga merah tertawa terbahak bahak baru saja mau mengucapkan beberapa patah kata yang menyindir diri Lie Loo jie mendadak si siucay buntung, pengemis pemabok dan Thiat Sie sianseng sudah melayang ke hadapannya, sambil menuding ke depan wajahnya maki mereka.
"Bangsat gundul yang tidak tahu malu, hutang lama di antara kita belum dilunasi sudah mau mencari gara cara lagi, kau sungguh keterlaluan. Ayoh serang."
Berkali kali Tionggoan Sam Koay melancarkan serangan mendesak terus terhadap dirinya, tak urung si penjahat naga merah itu menjadi gusar juga.
napsu membunuhnya timbul dengan gusarnya ia membentak keras.
Jubah bajunya berkilat laksana kilat cepatnya dia berkelebat ke samping menghindarkan diri dari semua ancaman serangan ketiga senjata tajam itu, kakinya sedikit miring kesamping tubuhnya mendadak menjatuhkan diri kebelakang sedang cambuk Cie Liong piannya dengan disertai sambaran angin yang amat santar menotok ke arah si siucay buntung yang berada paling depan.
Si siucay buntung yang punya pengalaman luas di dalam menghadapi lawan sudah tentu tahu akan kelihayannya, kipasnya disontek keatas sedang tubuhnya tetap bergerak dengan meminjam kesempatan ini meloncat mundur beberapa kaki jauhnya Agaknya si penjahat naga merah memang sengaja mencari gara gara pada dia seorang saja, si pengemis pemabok maupun si Thiat Sie sian seng dia tidak mau gubris sama sekali.
Tampak tangannya sedikit digetarkan ujung cambuknya segera berubah menjadi suatu bunga bunga berwarna merah darah yang amat banyaknya, sedikit ujung baju sebelah kirinya dikebutkan, bunga bunga warna merah darsh itu dengan dahsyatnya mengurung seluruh tubuh si siucay buntung itu.
Si pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng yang melihat penjahat naga merah itu hanya mencari gara gara pada si siucay buntung seorang didalam hati merasa amat terperanjat, mereka tahu seluruh kepandaian silatnya yang paling diandalkan adalah permainan cambuk Cie liong Pian ini bahkan permainannya amat ganas, dahsyat dan mengerikan, sudah pasti si siucay buntung bukan tandingannya.
Segera mereka bersama sama membentak keras toya Tah Kauw Pang dari si pengemis pemabok menyerang dari sebelah kiri sedang Sie Poa dari Thiat Sie sianseng menyerang dari kanan, bersama sama dengan mempertaruhkan nyawa masing masing menerjang dengan hebatnya mengancam punggung penjahat naga merah itu.
Saat ini dalam hati Lie Loo jie tahu kalau mereka tahu bertiga bukanlah tandingan dari penjahat naga merah itu, tetapi dia sudah berjanji terlebih dulu untuk tidak turun tangan sudah tentu tidak leluasa, buatnya untuk membantu makanya dia terpaksa hanya monoton jalannya pertempuran dari samping tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Liem Tou yang menyembunyikan diri di balik pohon siong disamping terus menerus memperhatikan dan bersiap diri terhadap hweesio kurus berwarna hitam si Thiat Bok Thaysu itu dia pun sudah bersiap sedia untuk turun tangan menolong orang setiap saat, kini ketika dilihatnya si pengemis pemabok serta Thiat Sie sian seng menyerang punggung penjahat naga merah itu dengan hebatnya, segera dia tahu sekalipun Si siucay lolos dari bahaya tetapi penjahat naga merah itupun akan berusaha menolong dirinya pula.
Ternyata dugaannya sedikitpun tidak salah.
ketika penjahat naga merah mendengar dari belakang badannya menyambar datang suara angin serangan dia segera tahu dirinya tidak mampu untuk menahannya, bilamana dirinya tidak mau menggubris serangan itu sekalipun cambuknya akan berhasil melukai diri siucay buntung itu tetapi dirinyapun tidak terhindar akan terluka parah juga.
Berpikir sampoi disini dia segera menyentak kembali cambuknya pergelangan tangannya diputar dengan jurus "Kim Liong Ban Cou"
Atau naga emas mengebas tiang, tubuhnya tanpa berputar lagi cambuk Cie Liong Piannya diputar disekeliling tubuhnya untuk melindungi tubuhnya.
Walaupun kepandaian silat dari pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng bukan tandingan dari penjahat naga merah itu tetapi mereka pun sudah memiliki kepandaian yang amat lama di dalam menghadapi musuh musuhnya, begitu dilihatnya penjahat naga merah itu menghindarkan diri dari serangan tersebut dengan putarkan cambuknya di sekeliling tubuhnya mereka segera tahu mungkin di dalam hal ini sudah tersembunyi suatu serangan mematikan.
Ketika dilihatnya si siucay buntung sudah lolos dari bahaya merekapun cepat cepat menarik kembali serangan serangan yang mendesak.
Tubuh mereka cepat cepat diperendah, kuda kudanya diperkuat oleh senjata senjata yang semula menyerang musuh mendadak ditarik kembali kebelakang sedang ujung kakinya dengan bersamaan waktunya menutul permukaan tanah dan melayang mundur kedua belah sisi.
Ketika menoleh kembali ke arah penjahat naga merah itu tampaklah dia masih berdiri ditempat semula, saat ini cambuk Cie Liong Piannya sudah ditarik kembali dan dilipatkan pada pergelangan tangannya hanya saja sepasang matanya dengan memancarkan sinar kemarahan yang memuncak memandang dengan gusarnya kearah mereka bertiga, sepatah kata pun tidak diucapkan.
Tiga orang yang kini sudih menduduki tiga tempat dengan bentuk segitigapun dengan tajamnya memperhatikan terus gerak gerik dari penjahat naga merah itu.
Diam diam Tiat Sie-sianseng mulai memukul pulang pergi bijii biji Sie poanya untuk melihat bahaya atau tidaknya.
Wajahnya kelihatan sebentar berubah girang sebentar berubah murung dan sebentar lagi berubah menjadi agak kebingungan, agaknya dia menemui suatu urusan yang rumit.
Baru saja dia berpikir dengan keras mendadak terdengar penjahat naga merah sudah membentak dengan keras.
"Orang she Lie, kau tunggulah sebentar Ketiga manusia aneh ini sudah bosan hidup, biarlah aku bereskan mereka terlebih dulu kemudian baru cari kau kembali!"
Suaranya mendadak berubah menjadi amat dingin sambungnya kembali.
Jilid 16.
Pertempuran Di Kuil Siang Lian Si "TIONGGOAN NGO KOAY JUGA merupakan jagoan yang sudah ternama didalam Bu lim, dua puluh tahun yang lalu sewaktu kalian baru saja muncul aku sudah pernah dengar nama kalian, ini hari apa kalian bertiga betul betul mau mencari gara gara dengan aku orang?"
Selesai berkata sapasang matanya dengan tidak henti2-nya berkelebat memandang ketiga orang itu bergantian.
Sekalipun Thiat Sie sianseng belum selesai menghitungkan nasib mereka tapi mendengar perkataan itu segera sahutnya.
"Penjahat naga merah hanya seorang bajingan saja didalam Bu lim, kini kami bertiga berani mencari kau entah itu bencana atau bahagia kau takkan menjerikan hati siapapun, semua ini dikarenakan hati bajinganmu yang tidak jujur dan sudah memfitnah orang lain sehingga hidung hidung kerbau dari Bu tong pay mengejar kami terus. Hmm, kau mau menakutkan siapa lagi."
"Hmm, baiklah,"
Teriak penjahat naga merah itu sambil mendengus dingin.
"Mari kalian rasakan kelihayan dari permainan cambuk Cie Liong Pian ku ini, bila aku kecundang ditangan kalian sejak ini hari takkan muncul kembali didalam Bu lim"
"Bagus"
Sambung Thiat Sie siauseng dikalahkan oleh permainan cambukmu itu didalam tiga puluh jurus, bukan saja kami serahkan nyawa kami bahkan sejak ini hari didalam Bu lim kekurangan nama kami bertiga"
Si cangkul pualam yang mendengar percakapan mereka berempat diam diam pikirnya didalam bati.
"Salah, salah. Jika ditinjau dari permainan cambuk naga merah ini dia memang mempunyai kelihayan yang melebihi orang lain, seharusnyalah Thiat Sie sianseng itu hanya dikarenakan gusarnya tetapi dengan ucapannya ini berarti juga dia sudah terlaiu memandang rendah musuhnya"
Berpikir sampai disini dalam hati Lie Loo jie segera muncul keinginannya untuk membantu Tionggoan Sam Koay, ujarnya kemudian.
"Pertemuan malam ini sebetulnya merupakan urusan kami berdua dengan penjahat nga merah. siapa yang mau kalian kacau dengan jalan? Bilamana kalian benar benar punya minat untuk bertempur lawan bajingan tua ini kenapa kau sebelum ada rencana bertempur tidak janjikan lain waktu ditempat lain juga? Buat apa kalian mengganggu perjanjianku dengan dirinya ? ?"
Beberapa patah perkataan dari Lie Loo jie ini bila didengar kelihatan kalau mengandung nada teguran, si siucay buntung yang sifatnya agak keras dan kasar ketika mendengar perkataan itu didalam hatinya merasa tidak puas, baru saja dia membuka mulutnya membantah, Thiat Sie sianseng yang diantara mereka bertiga mempunyai pikiran amat cermat segera tahu maksud hati dari Lie Lo jie itu, dengan gugup dia membungkuk untuk memberi hormat.
Lie Loo jie loocianpwae tak tahu kejahatan hati diri penjahat naga merah itu sudab mencapai puncaknya, pada tahun yang lalu bukan saja sudah melukai pengemis tua diatas gunung Wu san bahkan setelah membinasakan ciangbunjin Bu tong pay Leng Cing Ci dan membiarkan mayatnya mengggeletak ditengah hutan dia memfitnah urusan itu kepada kami.
Hal ini membuat hidung hidung dari kerbau Bu tong Pay menjadi percaya benar benar dan mengejar kami terus untuk menuntut balas.
Dia berhenti sebentar untuk menghela napas panjang, kemudian sambungnya lagi.
"Ini hari mendadak kami menemukan tanda kepala kerbau yang cianpwee tinggalkan, waktu itulah kami baru tahu cianpwee sudah berjanji dengan penjahat naga merah untuk bertempur disini, kami bertiga memangnya sedang mencari dia maka segera kami bertiga berangkat kesini untuk mencari balas, sama sekali kami tidak punya maksud untuk mengganggu cianpwee, harap dimaafkan... dimaafkan. Beberapa perkataan ini seketika itu membuat Lie Loo jie berdiri tertegun, apa itu tanda kepala kerbau???? Tia benar."
Ujar gadis cantik pengangon kam bing itu mendadak ketika melihatnya Wajah ayabnya diliputi oleh perasaan amat bingung."
Wan jie serta le cici bisa menemui tempat ini semuanya dikarenakan bantuan tanda kepala kerbau itu kalau tidak mana mungkin kami tahu kalau Tia ada disini???"
Liem Tou yang mendengarkan omongan mereka itu diam diam merasa amat geli pikirnya "Bilamana bukannya tindakanku itu malam ini kau Lie Loo jie akan menemui kesulitan untuk keluar dari kuil Siang lian si ini".
Lie Loo jie segara termenung berpikir beberapa saat lamanya dia benar benar merasa tidak paham bagaimana bisa timbul urusan ini.
Mendadak makinya kepada penjahat naga merah itn dengan gusar.
Bajingan tua, kau sedang mempersiapkan permainan apa terhadapku aku orang?
aku kira perbuatan itu tentu kau yang lakukan kalau tidak mana mungkin ada orang ketiga yang tahu?' Penjahat naga merah itu ketika mendengar Lie Loo jie menyalahkan peristiwa ini kepada dirinya dalam hati menjadi amat gusar sekali.
Sebetulnya perjanjian untuk bertempur didalam kuil Siang lian si ini adalah siasat liciknya, karena Thiat Bok Thaysu adalah susiok-nya dia bersiap siap untuk mengerubuti Lie Loo jie hingga binasa setelah itu Thian Pian Siauw cu serta Au Hay Ong Bo dari Kiam Thian Pay dia tidak akan takut lagi.
Siapa tahu siasatnya yang licik ini sudah diganggu oleh munculnya Tionggoan Sam Koay, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le bahkan kini Lie Loo jie malah melemparkan kesalahan itu kepadanya sudah tentu kegusarannya tidak bisa ditahan lagi.
Saking gusarnya penjahat naga merah ini tidak sanggup untuk mengucapkan sepatah kata pun hawa murninya segera dikerahkan keseluruh tubuhnya, telapak kirinya mendadak dibabat kearah Lie Loo jie dengan dahsyatnya segera terasalah segulung angin pukulan yang amat dahsyat membelah bumi.
Bersamaan waktunya pula cambuk Cie Liong Pian ditangan kanannya dengan amat cepat di sontek menotok dada Lie Loo jie.
Lie Loo jie ying melihat penjahat naga merah itu menyerang dirinya dengan tidak bersuara, segera berteriak "Bagus sekali!' Kuda kudanya segera diperkuat, bersamaan pula telapak kirinya didorong kedepan naenyambut datangnya serangan tersebut dia bersiap-siap untuk menerima serangan musuh dengan keras lawan keras.
Siapa tahu baru saja Lie Loo jie mendorong telapak tangannya mendadak terasa olehnya datangnya angin serangan amat aneh sekali, dalam hati dia menjadi amat terperanjat, dengan gusarnya dia berteriak keras, sinar golok segera berkelebat diikuti berkelebatnya bayangan abu abu, tubuhnya dengan amat cepat sudah melayang sejauh dua puluh kaki jauhnya.
Saking gusarnya selutuh tubuh Lie Loo jie kelihatan gemetar dengan amat keras.
Kiranya serangan telapak dari penjahat naga merah tadi adalah sebuah serangan kosong belaka, sedang serangan cambuk Cie Liong Pian yang disusul dari belakang merupakan serangan yang sungguh sungguh, menanti setelah Lie-Loo jie angkat telapak tangannya untuk menyambut datangnya serangan cambuk Cie Liong Piannya mendadak dengan menembus angin pu kulan menyambut datangnya serangan tersebut.
Jika bukannya Lie Loo jie mengubah gerakanannya yang berbenturan dengan ujung cambuk pasti akan menemui kerugian besar.
Lie Loo jie sama sekali tidak menduga kalau penjahat naga merah itu amat licik, setelah termenung sebentar dari dalam sakunya dia mengambil keluar lempengan besinya.
Golok tipis ditangan kanannya dengan menggunakan jurus "Pek Liong Hwee Thian"
Atau naga putih kembali ke langit berjalan kekedudukan Hong pintu ke Tong Kong menusuk dada penjahat naga merah itu.
Ujung cambuk dari penjahat naga merah itu dengan cepat dikibaskan kedepan dengan menggunakan jurus "Yu Liong Tiauw Su"
Ntau naga berputar kehilangan kepala tepat menutupi dadanya, kaki kirinya segera bergeser satu langkah kedepan sedang cambuk dengan disertai angin serangan yang amat santar dengan datar membabat kedepan.
Lie Loo jie tidak mau memperlihatkan kelemahannya entah dengan menggunakan gerakan apa tiba tiba tubuhnya dengan mendatar melayang keatas dan dengan mudahnya berhasil menghindarkan diri dari serangan tersebut.
Begitu kakinya mencapai permukaan tanah golok tipis segera memainkan ilmu golok "Toa Loo Ciet cap Jie To Hoat"
Yang meliputi ilmu golok dari berbagai aliran, terlihat sinar yang menyilaukan mata memenuhi angkasa hanya didalam sekejap mata dia sudah melancarkan sembilan jurus banyaknya bahkan setiap jurus memiliki perubahan yang amat aneh sekali Liem Tou yang bersembunyi dibalik pohon Siong diam diam memuji atas kelihayan permainan goloknya.
"Ilmu golok yang bagus"
Penjahat naga merah itu agaknya juga tahu kelihayan musuhnya, ketika melihat serangan ter sebut segera dia tahu Lie Loo jie sudah mengeluarkan ilmu "Toa Loo To Hoat"
Yang dia pingin menjajalnya dia tidak berani berlaku ayal lagi cambuk Cie Liong Piannya diputar ke atas dengan menggunakan ilmu "Liong Hwee Pian Hoat"
Cambuk diputar sehingga berubah menjadi gulungan merah yang amat berkelebat diantara sambaran golok yang menyilaukan mata itu.
Pertempuran sengit antara Lie Loo jie serta penjahat naga merah saat ini dilakukan dengan amat cepatnya, didalam pandangan Tiongoan Sam Koay, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie mereka hanya melihat bayangan berkelabat simpang siur tanpa bisa lihat lihat jurus jurus apa yang sudah mereka gunakan.
Tetapi Liem Tou yang sudah berhasil mempelajari kitab pusaka To Kong Pit Liok adalah lain, dia dapat melihat setiap jurus jurus serangan yang dimainkan kedua orang itu, bahkan setiap orang tidak ada jang mau mengalah masing masing dengan menggunakan jurus jurus yang ampuh untuk nengalahkan pihak lawannya, keadaaan waktu itu betul batul amat bahaya sekali.
Liem Tou yang menonton jalannya pertempuran tersebut diam diam dalam hati merasa amat terperanjat.
Dia tahu kepandaian silat dari mereka berdua seimbang apalagi kini bertemu musuh tangguh, untuk beberapa saat lamanya tentu tidak mungkin bisa diputuskan siapa yang menang, dia yang berdiri disamping dengan tenangnya mulai memperhatikan setiap jurus jurus serangan mereka kemudian secara diam diam mengingatnya didalam hati.
Kurang lebih seperminum teh kemudian Lie Loo jie serta penjahat naga merah itu sudah bertempur mencapai dua ratus jurus banyaknya.
Akhirnya Liam Tou dapat melihat juga gerakan dari penjahat naga merah itu semakin lama semakin perlahan, sebaliknya serangan dari Lie Loo jie semakin mengencang bahkan berkali kali berubah dengan, berbagai macam ilmu golok yang berbeda beda.
Liem Tou yang melihat akan hal itu diam-diam merasa amat girang pikirnya.
"Akhirnya Lie Loo jie bisa menangkan satu tingkat dari penjahat naga merah itu"
Pada saat yang amat tegang itulah mendadak Thiat Bok Thaysu yang berdiri dipinggiran memuji keagungan Bnuda.
"O-min-to-hud"
Dengan perlahan lahan dia mulai berjalan mendekati kalangan dimana Lie Loo-jie serta penjahat naga merah sedang bertempur dengan amat sengitnya, setelah terdengar puluhan hwee sio yang selama ini berdiam diri terus menerus mulai bersama sama memuji Budha.
"O ..Min ..To ..Hud .."
Mendadak mereka mulai membaca doa doa untuk kematian.
"Doa kematian"
Ini biasanya dibaca oleh para hweesio hweesio sebelum jenazah yang hendak dikebumikan itu dimakamkan, tapi bagaimana bisa dibaca pada saat ini???"
Kalau cuma itu masih tidak mengapa, bersamaan waktu itu juga didalam sekejap mata puluhan hweesio hweesio itu mulai menyebar disekeliling kuil Siang Lian Si itu, setiap termbok setiap pintu semuanya ada hweesio yang menjaga hanya saja mereka sama sekali tidak mencabut senjata tajam masing masing tetapi dengan tenangnya terus membaca doa kemattan itu.
Liem Tou yang melihat adanya perubahan secara tiba tiba ini segera merasa ada sedikit urusan yang tidak beres, ketika melihat ketengah kalangan lagi terlihatlah kekalahan penjahat naga merah sudah mulai kelihatan dengan nyata, permainan cambuknya mulai kacau sedangkan keringat dingin dengan sangat derasa mengucur keluar membasahi seluruh badannya.
Sambaran angin dari golok tipis Lie Loo jie pun semakin lama semakin dahsyat, bukan saja menimbulkan hawa sambaran yang menggidikkan bahkan puluhan kaki disekelilingnya dilindungi oleh sinar golok yang amat rapat itu.
Tapi Thiat Bok Thaysu semakin berjalan semakin mendekat, pada luarnya sekalipun kelihatan dia masih pejamkan matanya seperti tidak ada urusan padahal Liem Tou tabu setiao tindak dia maju kedepan berarti Lie Loo jie semakin bertambah bahaya lagi keadaannya.
Pada saat inilah sisiucay buntung, pengemis pemabok, Thiat Sie Sianseng, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sudah melihat adanya perubahan, secara mendadak itu, mereka tahu semua sudah terjatuh didalam ku rungan orang lain.
Tanpa terasa lagi mereka menjadi amat gusar, bersama sama dengan amat dahsyatnya menubruk kearah Thiat Bok Thaysu.
Thiat Bok Thaysu sama sekali tidak ambil perduli, hanya dengan perlahan lahan pujinya lagi.
"O mi to hud"
Sepasang mata dari Liem Tou segera berputar dengan amat tajamnya, mendadak dari aats ubun ubun Thiat Bok Taysu itu muncul segumpul hawa hitam yang amat tipis, dia tahu tentunya dia sedang mengerahkan ilmunya yang beracun, tanpa terasa lagi hatinya semakin me rasa terkejut.
Pikirannya dengan cepat berkelebat, tanpa pikir panjang lagi tenaga dalamnya dikerahkan segera terasalah segulung sambaran angin amat dahsyat menggulung keluar.
Ternyata Thiat Bok Thaysu amat libay sekali, hanva sedikit Liem Tou bergerak dia segera sudah berasa, bahkan tahu kalau musuhnya memiliki ilmu silat yang amat lihay, air mukanya segera berubah amat hebat, sepasang matanya yang semula dipejamkan rapat rapat kini dipentangkan lebar lebar dengan pandangan yang amat dingin bentaknya.
"Siapa!"
Seluruh jarinya yang smat tajam dengan cepat dipentangkan, bagaikan meluncurkan jarum jarum kecil dari ujung jarinya segera tampaklah segulung hawa hitam meluncur kearah po hon siong itu dengan cepat menyambut datangnya sambaran angin dari Liem Tou itu.
Mendadak Thiat Bok Thaysu mendengus dengan berat, sepasang telapaknya dibalik dengan menghadap keatas dia melancarkan dua gulung angin yang dahsyat membantu hawa hitamnya tadi, dengan paksa akhirnya berhasil juga menahan datangnya angin serangan dari Liem Tou tadi.
Pada waktu itulah senjata senjata tajam dari Tionggoaa Sam Koay, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sudah menubruk kearah tubuhnya.
Thiat Bok Thaysu yang baru saja turun tangan siapa akan tahu sudah bertemu dengan musuh yang tangguh didalam hatinya benar benar merasa amat terkejut bercampur gusar, sebetulnya dia ingin melemparkan kemangkelan ini pada tubuh ke lima orang tersebut, tetapi pukulan yang amat dahsyat dari Liem Tou tadi sudah membuat hatinya merasa sedikit jeri.
Akhirnya dia terpaksa manahan sabar, tubuhnya melayang mundur tiga kaki dari tempat itu dan berdiri tertegun.
Gadis cantik pengangon kambing yang melibat Thiat Bok Thaysu sudah berhasil dipaksa mundur sedang si penjahat naga merah itupun sudah dibuat kalang kabut oleh serangan gencar golok tipis ayahnya di dalam hati merasa amat girang sekali, dia tahu sipenjahat naga merah sudah berhasil dikuasai ayahnya.
Mendadak Thiat Bok Thaysu membentak dengan keras juga, tubuhnya yang kurus kering dan berwarna hitam gelap itu bagaikan kilat cepatnya sudah melayang kedepan, bersamaan pula waktunya hweesio hweesio yang berdiri ditempat keempat penjuru mulai membentak keras, mereka bersama sama mencabut keluar senjatanya mating masing kemudian dengan ganasnya mulai mengurung tempat itu.
Tionggoan Sam Koay, gudis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le sama sekali tidak menduga kalau Thiat Bok Thaysu bisa melakukan hal ini dengan amat cepat, baru saja mendengar suara bentakannya bayangan manusia sudah berkelebat dengan amat rapat disekeliling tempat itu.
Ketika mereka berlima sadar kembali hendak mencabut keluar ssnjatanya untuk menangkis waktu sudah terlambat, sepasang telapak tangan dari Ihiat Bok Thaysu sudah berkelebat dihadapan mereka berlima siap untuk mencabut nyawanya.
Mendadak ...
, disaat yang amat kritis itu dari belakang tubuhnya secara tiba tiba terdengar suara dengusan yang amat berat, seketika itu juga beberapa orang merasakan telinganya amat panas sekali.
Thiat Bok Thaysu merasa amat gusar sekali selagi dia membentak keras, matanya dengan cepat kelihatannya memandang ke empat penjuru sedang air mukanya jelas memperlihatkan perasaan heran dan ragu ragunya.
Para hweesio yang maju menyerang kini sudah berada tepat dihadapan Tionggoan Sam-Koay, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, seketika itu juga terjadilah pertempuran sengit diantara mereka.
Sebaliknya pertempuran Lie Loo jie dengan si penjahat naga merah itupun telah mencapai pada puncaknya, terdengar Lie Loo jie membentak dengan amat kerasnya.
"Lepas !"
Terlihat sinar merah berkelebat, cambuk Cie Liong Pian ditangan penjahat naga merah itu segera terlepas dari tangannya dan melayang tersangkut diatas dahan pohon siong.
Tetapi disaat yang bersamaan pula Thiat Bok Thayau sudah membentak keras "Tahan."
Para hweesio yang sedang bertempur segera menarik kembali senjatanya masing-masing dan mundur kebelakang.
Terdengar Lie Loo jie sembari tertawa panjang dengan amat nyaring ujarnya.
Bajingan tua, pada dua puluh tahun yang lalu untung kau cepat cepat bersembunyi sehingga aku tidak sempat bertemu muka dengan kau, tapi ini hari boleh dikata aku benar banar merasa puas."
Selesai berkata dia tertawa panjang dengan nyaring membuat penjshat naga merab saking jengkelnya mendengus tak henti hentinya.
Seluruh tubuhnya seperti dikerumuni berjuta juta semut gemetar dengan amat kerasnya.
Lama sekali barulah ujarnya.
"Sen.. senjata...senjata Loolap...Loolap sudah terlepas, kita.. .kita...coba coba lagi dalam ..dalam permainan ilmu pukulan".
"Ha ha ha.. .hey bajingan tua, jika kau merssa tidak puas marilah aku menyambut seranganmu kembali."
"Bagus"
Kuda kudanya ditekan kebelakang, mendadak telapak tangannya dengan disertai angin pukulan yang amat dahsyat menggulung kedepan. Tiba tiba Lie Loo jie menyingkir kesamping dua langkah, bentaknya.
"Tahan, biar aku bicara lebih dulu. Bajingan tua, malam ini aku tidak ada kesempatan buat bertanding kembali, jika kau benar benar ingin mengadu ilmu pukulan baiknya pada bulan lima tanggal lima kita bertemu kembali diatas puncak pertama didaerah Cing Jan."
Agaknya pertempuran tadi cukup melatih dirinya ysng untuk pertama kali sejak puluhan tshun yang lalu bertemu dengan musuh amat tangguh ketika mendengar Lie Loo jie berkata begitu hatinya menjadi amat girang.
"Baik, Loohu sampai waktunya pasti datang."
Mendadak Thiat Bok Thaysu yang berdiri disamping tertawa dingin.
"Sutit harap jangan percaya omongannya sehingga tidak terjatuh didalam siasatnya yang licin, menurut pendapat susiokmu pertempuran senjata tadi sedikit mencurigakan, bukannya sutit betul betul dikalahkan olehnya". Sipenjahat naga merah yang secara tiba tiba mendengar perkataan yang sama sekali tidak genah dari Thiat Bok Tbaysu ini tak terasa lagi sudah dibuat melengak, pikirnya didalam hati.
"Hmm... dia orang sedang menerangkan soal apa kepadaku dengan melalui kata kata itu"
Terpaksa dia bungkam dalam seribu bahasa. Lie Loo jie sendiripun merasa datangnya perkataan tersebut terlalu mendadak.
"Lalu menurut pendapat dari Thaysu kau orang merasa ada sebab sebab lain apa lagi"
Tanyanya dingin.
"Hey si cangkul pualam Lie Sang, namamu terkenal diseluruh dunia kangouw, tetapi aku orang sama sekali tidak menduga kalau namamu itu kosong belaka tidak sesuai dengan orangnya, urusanmu sendiri tidak tahu malah tanya orang lain, apa macamnya itu"
Maki Thiat Bok Tbaysu sambil melototkan matanya.
"Secara terang terangan kau orang sudah sembunyikan pembantu yang bersembunyi ditempat kegelapan lalu secara diam diam membokong orang lain kenapa kau sekarang mungkir kembali? he ...hee ... mungkin kau masih bisa mengelabuhi mata orang lain, tetapi jangan harap bisa lolos dari pandangan Loolap."
Lie Loo jie yang mendengar perkataan itu semakin dibuat bingung.
"Hmm jika kau memastikan disekitar tempat ini ada orang yang hadir akan tetapi dengan cara bersembunyi, sekarang saja coba engkau katakan siapa siapa orang yang hadir tanpa diundang. Ayoh jawab dan tunjukkan. Hmmm. Kalau bicara jangan sembarangan tanpa ujung tanpa ekor sehingga membuat semua orang kebingungan."
Siapa tahu dia berbicara mendadak dari luar kuil Siang Lian Si berkumandang datang suara derapan kaki yang amat santer sekali dari tempat kejauhan yang semakin lama semakin mendekat, pikiran Lie Looajie segera berputar, pikirnya.
"Eeeeei apa sungguh sungguh ada beberapa orang yang hadir kesini ?"
Suara derapan kaki itu dengan amat cepatnya sudah sampai di depan kuil membuat para hweesio, Lie Loo jie maupun Tionggoan San Koay sekalipun yang mendengar suara aneh itu menjadi melengak semua dibuatnya.
"Hmmm. Silahkan kawan kawan tampakkan diri untuk bertemu dengan Loolap"
Seru Thiat Bok Thaysu dengan suara yang amat dingin. Baru saja dia selesai berkata mendadak . ."Braaak "
Dua buah pintu kuil yang semula tertutup rapat secara tiba tiba terbuka lebar lalu dari luar kuil menerjang masuk seekor binataeg yang agak samar samar.
Semua orang yang melibat masuknya seekor binatang ke dalam kuil dongan gerakan yang begitu ganas dalam hati diam diam merasa sangat terkejut sekali, walapun masing masing orang memiliki kepandaian silat yang amat lihay tetapi kejadian yang muncul diluar dugaan ini membuat hati mereka merasa keder juga, masing masing dengan cepat mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan.
Tetapi ketika binatang aneh itu sudah melewati pintu mendadak dia berhenti tidak bergerak sama sekali bahkan secara perlahan lahan ia mulai memperdengarkan suara dengusan yang sangat rendah, saat itulah semua orang baru dapat melihat kalau binatang tersebut adalah seekor kerbau.
Seketika itu juga Thiat Bok Thaysu maupun si penjahat naga merab menjadi tersipu sipu sedangkan Lie Loo jie serta Tionggoan Sam Koay bersama sama tertawa terbahak bahak.
"Oooh ... kiranya yang Thaysu maksudkan dengan orang yang bersembunyi ditempai kegelapan dan membuantu aku secara diam diam adalah manusia macam ini "
Ejek Lie Loo jie dengan cepat.
"Haaa, haaa ... kalau memangnya demikian bukankah Thaysu kau orang sudah terlalu pandang hina Sutemu sendiri"
Walaupun beberapa perkataan dari Lie Loo jie hanya bernada guyon tetapi dihadapan hweesio yang begitu banyak mana mau Thiat Bok Thaysu berdiam diri saja.
"Hey orang she Lie"
Bentaknya dengan amat gusar, kau manusia anjing ...
jangan salahkan bencana yang menimpa kau orang saat ini adalah disebabkan kesalahanmu sendiri, ayoh pada cabut keluar senjata tajam kalian ...
kita jangan kasih mereka lolos barang seorang pun."
Tubuhnya segera menubruk kedepan terlebih dahulu sambil meluncurkan satu pukulan menghajar tubuh Lie Loo jie, sedangkan para hweesio yang ada diempat penjurupun dengan disertai suara bentakan yang gegap gempita sehingga menggetarkan seluruh permukaan bagaikan menggulungnya air bah dengan dahsyatnya menghantam diri Tiongoan Sam Koay serta si gadis cantik pengangon kambing.
Melihat suasana tersebut Lie Loo jie segera tahu bahwa suatu pertempuran yang amat sengit bakal terjadi, buat dirinya sendiri dia orang sama sekali tidak kuatir tetapi hatinya merasa amat cemas terhadap diri Lie Siauw le serta si gadis cantik prngangoH kambing, teriaknya kemudian dengan suara keras.
"Wan jie, Ie jie...hati hati kalian menghadapi musuh."
Saat ini angin pukulan dari Thiat Bok Thaysu sudah sampai, untuk menghindarkan diri tidak sempat lagi terpaksa dengan memperkuat kuda-kuda dia menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
"Braak..."
Dua gulung angin pukulan yang amat dahsyat menghantam menjadi satu sehingga mengakibatkan getarnya seluruh permukaan.
Tampak tubuh Thiat Bok Thaysu cuma sedikit bergoyang sebaliknya Lie Loo jie terdesak mundur dua langkah kebelakang bahkan kedua belah lengannya mulai terasa amat linu sekali, tak tertahan dalam hati dia merasa bergidik juga, pikirnya.
"Bajingan tua itu tidak kusangka sekali dia orang bisa memiliki tenaga dalam yang demikian dahsyat... kelihatannya pertempuran malam ini agak merugikan pihakku. Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak-terasa segulung angin pukulan yang jauh lebih dahsyat dari tadi menghantam tubuhnya dengan amat keras, dia menjadi terkejut dan menggeliat kesamping. Kiranya dengan mengambil kesempatan itu Thiat Bok Thysu sekali lagi melancarkan serangannya yang amat dahsyat sedangkan mulut nya berteriak.
"Hey tua bangka kau orang masih tunggu apa lagi!!"
Sipenjahat naga merah yang mendengar teriakan dari paman gurunya ini tidak berani ber laku ayal lagi, ujung jubahnya dikebut kedepan dengan disertai hawa pukulan yang amat dahsyat dia melancarkan bokongan dari sebelah samping.
Melihat serangan gabungan dari mereka berdua dalam hati Lie Loo jie segera menjadi paham kembali, kiranya si penjahat naga merah sengaja mengundang dirinya untuk bertanding dikuil Siang Liang Si karena ditempat itu sudah diatur satu jebakan yang amat kejam sekali, dalam hati diapun sadar bahwa pertempurannya malam ini sangat mempengaruhi nama baiknya dikemudian hati, sedikit dia berbuat ceroboh maka nama besar yang didapatkannya selama puluhan tahun ini akan hancur berantakan sama sekali, bahkan nyawapun sukar untuk dipertahankan.
Karenanya dia tidak berani menghadapi dua orang musuh tangguh sekaligus hatinya terus menerus mengkuatirkan keselamatan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, secara diam diam dia melirik sekejap ke arah mereka.
Walaupun musuh musuhnya dengan saling berhadapan, ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah untuk menghindarkan diri dari serangan gabungan dari Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah.
Kelihatannya si gadis cantik pengangon kambing, Lie Siauw Ie serta Tionggoan Sam Koay sekalian sedang bertempur dengan sengitnya melawan hweesio hweesio itu, tetapi hal yang bikin benar benar hatinya merasa terperanjat ada lah kepandaian silat yang demikian tingginya dari pada hweesio hweesio itu, walaupun saat ini mereka berlima masih bisa mempertahankan dirinya tetapi jika waktu berlangsung lebih lama lagi urusan tentunya akan menjadi berubah.
Lie Loo jie yang melihat situasi yang sangat tidak menguntungkan bagi dirinya segera memikirkan satu akal didalam benaknya saat ini dia tidak banyak bertingkah dengan Thiat Bok Thaysu sekalian, tiba tiba tubuhnya meloncat ke tengah udara lalu berjumpalitan dan berlalu dari sana.
'Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah mana mau melepaskan dia orang begitu saja dengan cepat mereka mengejar dari belakang, empat buah telapak tangan bersama sama melancarkan tenaga pukulan laksana menggulungnya ombak ditengah samudra.
Lie Loo jie segera mengerahkan tenaga murninya, mendadak dia bersuit panjang sehingga laksana pekikan naga sakti membuat suaranya bergema sampai beberapa li jauhnya, terhadap datangnya serangan dari kedua orang itu dia sama sekali tak menggubris, ujang kakinya menutul permukaan tanah lagi lalu meloncat naik ke atas wuwungan rumah.
"Ayoh pergi dari sini."
Serunya dengan keras.
"Kita cari tempat yang sunyi untuk menggebrak sepuas hati."
Diikuti dengan beberapa kali loncatan dia berlalu menuju ke halaman belakang dari kuil tersebut.
Ternyata Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah tidak berpikir panjang lagi dan mengikuti dari belakang, walaupua mereka berdua tidak percaya atas perkataan dari Lie-Loo jie itu tetapi dalam hati menganggap Lie Loo jie mau melarikan dirinya karena itu masing masing segera meloncat ke atas wuwungan rumah untuk melakukan pengejaran dengan sangat cepatnya, Lie Loo jie yang melihat akalnya termakan oleh pihak musuh hatinya merasa sangat senang sekali, dia berlari terus dengan sangat cepatnya menuju kedepan.
Kurang lebih seperminum teh kemudian sudah dirasakan mereka telah jauh meninggalkan kuil Siang Lian Si mendadak sambil putar badannya dia berhenti berlari dan pada saat itulah terlihat Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah sedang menyusul datang dari puluhan kaki dibelakang tubuhnya.
Lie Loo jie tidak ragu ragu legi, hawa murninya segera disalurkan dari pusar mengelilingi seluruh tubuhnya dengan disertai suatu pukulan angin yang sangat dahsyat dia melancarkan suatu pukulan menghantam ke arah depan sehingga membuat dua kaki disekeliling tempat itu segera terkurung didalam angin pukulannya.
Thiat Bok Thaysu yang pandawgan serta penglihatannya lebih tajam segera merasakan situasi yang berbeda, teriaknya dengan cepat.
"Awas !"
Bersama sama sipenjahat naga merah mareka berpencar menjadi dua dengan berdiri pada suatu arah yang berlawanan.
Tetapi saat ini Lie Loo jie sudah punya suatu pegangan yang kuat.
tubuhnya mendadak maju dua langkah ke depan dan gerakan itu khusus mencari penjahat naga merah tak menunggu sampai dia orang berdiri dengan tegak berturut turut dia melancarkan tiga pukulan gencar menghantam tubuhnya.
Si penjahat naga merah yang berada didalam situasi semacam ini boleh dikata berwda ditengah keadaan yang amat berbahaya, tetapi bagaimanapun dia bukanlah manusia yang memiliki kepandaian rendah dengan susah payah dia ber hasil juga menghindarkan diri dari dua buah serangan yang pertama tetapi ketika serangan yang ketiga menyusul dia tidak sanggup untuk menghindar kembali, terpaksa dengan keras lawan Keras dia menerima datangnya serangan tersebut.
Tetapi didalam keadaan amat gugup mana dia orang sanggup menerima datangnya serangan yang amat dahsyat itu.
"Braak,"
Ditengah suara bentrokan yang amat keras tubuhnya dengan sempoyongan mundur tujuh, delapan langkah kebelakang darah segar muncrat keluar dari mulutnya dengan kepala berasa pening sekali, jelas sekali dia sudah menderita luka dalam yang tidak ringan.
Thiat Bok Thaysu sama sekali tidak menyangka Lie Loo jie bisa memperlihatkan permainan ini, melihat si penjahat naga merah sudah mendapatkan kerugian yang tidak ringan, dengan amat gusarnya dia membentak keras, tubuhnya secara tiba tiba mendesak maju lebih dekat lagi lalu melancarkan pukulan menghajar tubuh Lie Loo jie.
Dalam hati Lie Loo jie memangnya tidak bermaksud mencelakai nyawa dari si penjahat naga merah itu karenana dia tidak perlu menambahi dengan satu pukukn kembali, melihat datangnya serangan yang begitu gencar dari Thiat Bok Taysu dia segera tertawa ter bahak-bahak dan mengundurkan diri dua kaki jauhnya kebelakang.
"Haaa ..haaa ..Thiat Bok Thaysu!"
Teriaknya dengan suara yang amat nyaring.
Pada dua tiga puluh tahun yang lalu sipenjahat naga merah pernah menggetarkan seluruh dunia persilatan, waktu itu aku betul hetul kagum atas nama besarnya tetapi siapa iahu.
siapa tahu dia cuma seorang manusia rendah yang tidak tahu malu.
Hadiahku pada malam ini bilamana ingin membalasnya aku siorang tua akan menantinya pada puncak pertama diatas Cing Jan bulan lima tanggal lima yang akan datang, selamat tinggal Selesai berbicara mendadak dia pntar tubuhnya, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya "Liu Im Hwee Si"
Atau mengikuti awan terbang melayang dia berlalu dari tempat itu dengan cepatnya.
Menanti Thiat Bok Thaysu sadar kembali dari lamunannya hendak melakukan pengejaran Lie Loo jie sudah meninggalkan tempat itu amat jauh sekali.
Dia menjadi sangat gusar sekali, sambil mendepak depakkan kakinya ke atas tanah dia Orang memaki tak henti hentinya, terpaksa dia balik kembali untuk memeriksa keadaan luka dari penjahat naga merah.
Kita balik pada Lie Loo jie yang berhasil meloloskan diri dari gencetan Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah, hatinya yang terus menerus memikirkan keselamatan dari gadis esntik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sewaktu dilihatnya Thiat Bok Thaysu tidak melakukan pengejaran, dengan cepat dia me mengerahkan ilmunya berlari balik kedalam kuil Siang Lian Si.
Beberapa saat kemudian kuil Siang Lian Si secara samar samar sudah muncul dihadapannya, saat itulah dia dapat mendengar suara pertempuran yang amat sengit diselingi dengan suara kesakitan yang menyayatkan hati berku-mandang datang dengan jelasnya, dia orang segera tahu pertempuran didalam kuil itu sudah mencapai pada puncaknya.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang lebih dahsyat dia berlari semakin cepat lagi menuju kearab kuil.
Mendadak ...Suara dengusan kerbau yang amat keras bergema memenuhi seluruh permukaan, suara itu semakin lama semakin keras,,dan semakin laa semakin mengerikan kedengarannya, jelas sang kerbau sudah dibuat kalap.
Sebetulnya sejak kerbau itu menerjang masuk kedalam kuil, Lie Loo jie sudah mengenal kembali kalau kerbau tersebut adalah kerbau yang diberikan kepada Liem Tou lalu menghilang secara mendadak itu, kini mendengus suara dengusan yang amat cemas dari kerbau itu dia orang segera tahu kalau gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le sudah menemui bahaya, dengan semakin cepat lagi dia berlari kearah dapan.
Sebentar saja dia sudah tiba didalam kuil Siang Lian Si, ketika dia mendongakkan kepala tetlihatlah diatas wuwungan rumah terdapat bayangan manusia yang sedang berkelebat diselingi sambaran sinar golok yang gemerlapan.
Tionggoan Sam Koay.
gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le mereka itu masing masing orang sedang melawan dua orang musuh.
Hanya didadam sekali pandang dia bisa melihat siapa menang siapa kalah, dengan disertai suara bentakan yang amat keras sesosok bayangan manunusia dengan cepatnya melayang keatas dan menuburk kearah Lie Siauw Ie, hanya dalam sekali gebrakan saja dimana angin pukulannya menyambar dua orang hweesio dengan disertai suara jeritan kesakitan tersapu jatuh dari atas wuwungan rumah.
"Suhu!"
Teriak Lie Siauw Ie kemudian setelah dilihatnya siapa orang yang baru saja me nolong dirinya.
Lie Loo jie mana ada kesempatan untuk menjawab, dia cuma mendengus perlahan sedang tubuhnya dengan amat cepat melayang kesamping tubuh si gadis cantik pengangon kambing itu, dengan menggunakan cara yang sama pula dia membereskan dua orang hweesio yang sedang mendesak putrinya mati matian itu.
"Ayah, coba kau lihat kerbau itu"
Teriak gadis cantik pengangon kambing itu, kemudian setelah si Lie Loo jie berhasil menyingkirkan ke dua orang hweesio itu.
Lie Loo-jie tidak menyahut, setelah dilihatnya baik si gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw Ie tidak menemui cidera segera dia memaki.
"Lihat kerbau, kerbau apa ? Suruh kalian jangan ikut turun gunung kenapa kamu orang tidak mau dengar omonganku !! Ayoh cepat pergi dari sini"
Tetapi sewaktu mendengar perkataan dari gadis cantik pengangon kambing tak terasa dia pun menunduk ke bawah, jika tidak masih melihat mengapa begitu dia melihat ke bawah terasa hatinya berdebar debar dengan amat keras nya, seluruh tubuhnya terasa mendingin.
Kiranya dibawah ruangan tersebut telah dipenuhi dengan mayat mayat yang bergelimpangan memenuhi seluruh permukaan tanah menyerupai sebuah selokan kecil.
Beberapa puluh hweesio lainnya yang masih hidup tampak sedang melarikan diri dikejar oleh kerbau tersebut dengan amat kencangnya.
Diantara terjangan serta injakkannya yang amat keras beberapa puluh hweesio tersebut hanya didalam sekejap saja sudah tinggal beberapa orang saja yang berlari dengan terbirit-birit sambil berteriak teriak ketakutan, Dengan perlahan pandangan Lie Loo jie beralih ketempat lain.
seketika itu juga dia menemukan juga kalau diatas pohonpun sudah di penuhi dengan hweesio yang sedang bersembunyi disana sambil mulutnya komat kamit membaca doa minta keselamatan.
Situasi yang benar benar sangat mengerikan ini membuat Lie Loo jie merasa agak tidak tega, baru saja dia hendak membentak kerbau itu untuk menghentikan gerakannya meudadak terdengar sipengemis pemabok membentak keras.
"Pergi"
"Bluuuk.. ."sipengemis pemabok itu dengan amat cepatnya berhasil menghajar jatuh seorang bweesio kebawah atap. Ketika..kerbau tersebut melihat adanya manusia yang jauh dari atas dengan cepat tubuhnya menerjang maju kedepan, ditengah injakan injakan yang anat keras serta suara jeritan ngeri yang menyayat hati, perut hweesio itu sudah pecah dan terkoyak koyak sehingga isi perut pada berhamburan, seketika itu juga hweesio itu menemui ajalnya. Terasa lagi Lie Loo jie gelengkan kepalanya, teriaknya kemudian dengan suara yang amat nyaring.
"Tiongoan Sam Hiap su!! biarkan mereka pergi saja."
Si siucay buntung, pengemis pemabok serta Thiat Sie Sianseng ketika mendengsr suara seruan dari Lie Loo jie dengan cepat meloncat mundur kebelakang membiarkan kelima orang hweesio tersebut berlari terbirit birit dari sana.
Le Loo jie segera membentak kembali.
"Su!!"
Agaknya dia punya maksud untuk menghentikan gerakan dari kerbau tersebit, siapa tahu setelah mendengar teriakan tersebut bukannya berhenti bergerak kerbau tersebut malah semakin mempercepat kejarannya kearah beberapa orang hweesio itu, Lie Loo jie menjadi keheran heranan.
"Haaa apakah kerbau ini sudah berubah sifatya?? sebetulnya kerbau adalah sama dengan anjing yang merupskan binatang paling setia terhadtp majikannya, kenapa kali ini pengalaman tersebut tidak cocok. Pada saat pikirannya berputar itulah kerbau tersebut berhasil menerjang seorang hweesio kembali, terdengar hweesio itu menjerit kesakitan darah segar segera mengucur -keluar dengan amat derasnya, pada punggunguya sudah bertambah dengan dua lubang besar terkena tanduknya kerbau itu, seketika itu dia juga jatuh binasa. Lie Loo jie semakin cemas lagi, berturut turut dia berteriak beberapa kali untuk berusaha menghentikan sang kerbau yang sudah kalap itu.
"Su.Su. Su."
Lalu gumamnya seorang diri.
"Jika tidak berhenti lagi, aku segera akan membinasakan dirinya,"
Tetapi kerbau itu sama sekali tidak mau mendengar bentakannya, dia masih meneruskan terjangannya.
Saat ini.
Lie Loo jie benar benar sudah tidak bisa menahan sabar lagi, bentaknya keras.
Binatang, hutang nyawa harus diganti nyawa kau jangan salahkan aku siorang tua akan turun tangan jahat kepadamu?"
Tubuhnya dengan cepat melayang turun ke-bawah telapak tangannya bagaikan kilat cepatnya sudah melancarkan serangan menghajar punggung ketbau itu.
Jika dibicarakan dari kehebatan serta kesempurnaan dari ilmu silat Lie Loo jie untuk menbinasakan kerbau itu sama gampangnya dengan mengsmbil barang dari sakunya sendiri saja, hal itu merupakan suatu pekerjaan yang sederhana sekali.
Siapa duga kerbau itupun mempunyai perasaan yang amat tajam sekali, baru saja Lie Loo jie melancarkan serangannya kedepan mendadak kerbau itu menarik punggungnya kembali kedalam, dengan disertai suara desiran yang berat kaki belakangnya melancarkan tendangan lalu kabur dengan amat cepatnya kedepan.
Hanya didalam beberapa kali lompatan saja dia sudah berada sangat jauh dari kakek itu membuat pukulan dari Lie Loo jie seketika itu juga menyambar permukaan tanah membuat pasir serta kerikil pada melayang memenuhi angkasa.
Beberapa saat kemudian kembali kerbau itu berhasil menyandak seorang hweesio yang sedang lari ketakutan.
"Binatang terkutuk"
Bentak Lie Loo jie dengan amat gusarnya.
Tubuhnya dengan cepat melayang kedepan mengejar dibelakang tubuh kerbau itu, dengan tepat mengarah pantat kerbau tersebut, dia melancarkan dua buah serangan dahsyat tanpa ada ampun.
Kerbau itu seperti dibelakang ada pantatnya, ternyata dengan cepat sudah menggelindingkan badannya keatas tanah dan dengan persis berhasil menghindarkan datangnya serangan tersebut.
Terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati, angin pukulan dari Lie Loo jie bukannya berbasil membinasakan kerbau itu sebaliknya dengan tepat menghatam tubuh hweesio yang sedang lari ketakutan itu, darah segar segera muncrat dari tubuhnya dan seketika itu juga menemui ajalnya.
Kali ini Lie Loo jie benar benar dibuat kheki sampai wajahnyapun berubah menjadi pucat ke hijau hijauan, tangannya dengan cepat melayang kedepan, dua buah lempengan besi yang selamanya tidak pernah dipergunakan dengan meninggalkan suara desiran yang amat keras menyambar kedepan mengancam sepasang mata dari kerbau itu.
Kelihatannya lempengan besi itu segera akan menghajar sepasang mata dari sang kerbau itu, mendadak dia menolehkan kepalanya disertai suara ringkikan perlahan, lempengan besi terse but dengan tepatnya berhasil menghajar lehernya tetapi sama sekali tidak menimbulkan perubahan apapun bagi dirinya serangan itu lenyap bagaikan ditelan gelombang samudra.
Sekalipun Lie Loo jie mempunyai pengalaman yang amat luas dengan pengetahuan tentang kejadian aneh yang amat banyak kali ini benar berar dibuat tertegun juga oleh kejadian yang baru saja ditemuinya ini dengan mata terbelalak mulut melongo dia berdiri tertegun memandangi kerbau itu.
Sedangkan kerbau itupun tidak merasa takut lagi dengan cepat menghentikan larinya bahkan sepasang matanya yang bulat dengan gayanya mengejek memandangi dirinya.
Melihat hal itu Lie Loo jie semakin mendongkol, tetapi kali ini dia bergerak maju dengan langkah yang amat perlahan sekali, kemudian pikirnya.
"Hmmm. asalkan aku berhasil mendekati badanmu, tidak akan terlalu sukar lagi untuk menawan kau binatang."
Siapa tahu kejadian yang aneh sekali lagi muncul dihadapan mukanya setiap kali dia maju satu langkah maka kerbau itu ikut mundur satu langkah kebelakang.
boleh dikata dia tidak bisa mengapa apakan dirinya.
Tidak terasa lagi Lie Loo jie merasa hatinya seperti dibakar, pikirnya dengan gemas.
"Aku si cangkul pualam Lie Sang sudah pernah manjagoi seluruh dunia persilatan selama puluhan tahun lamanya ternyata hari ini tidak sanggup untuk menguasai seekor kerbau saja. Aiii hal ini sungguh memalukan namaku yang sudah terkenal tersebut."
Berpikir akan hal ini nafsu membunuhnya menjadi timbul kembali, dengan cepat dia menyalurkan seluruh hawa murninya pada kedua belah telapak tangannya, dia bersiap siap menbinasakan kerbau tersebut didalam satu kali pukulan saja sehingga mukanya sedikit dapat terlindung Tiba-tiba .
...Suatu suitan nyaring dari Thiat Bok Thaysu telah menembus awan berkumandang datang, Lie Loo jie menjadi kaget, disadari kembali apa yang akan terjadi, dengan cepat memrandang ke arah Tionggoan Sam Koay, si gadis cantik pengangon kambing serta Lis Siauw-Ie berseru dengan keras.
"Kalian kenapa tidak pergi dari sini !! Mau tunggu apa lagi haaa !!"
"Suhu, bagaimana dengan Liem Tou?"
Tanya Lie Siauw Ie mendadak ketika teringat kembali kepada diri Liem Tou.
"Apa ?"
Tanya Lie Loo jie keheranan.
"Kau sedang bicara apa ? Kau sudah bertemu dengan Liem Tou?"
"Benar,"
Sahut Lie Siauw Ie membenarkan.
"Semula dia berada diatas pohon siong tetapi sekarang telah ienyap, kemungkinan sekali dia bersembunyi ditempat lain. jika kita pergi semua bagaimana dia orang ?"
Perkauan dari Lie Siauw Ie ini diucapkan terlalu mendadak, membuat Lie Loo jie setengah percaya setengah tidak, untuk beberapa saat lamanya pikirannya berputar terus dengan amat kerasnya.
Tiba tiba ...
sepertinya dia sedang memahami sesuatu, dengan tanpa dia sadari kepalanya sudah ditolehkan ke arah kerbau itu mendatanginya dengan melotot.
Meiihat Lie Loo jie memandangi dirinya dengan mata melotot terdengar kerbau tersebut segera meringkuk keras lalu jejakkan empat buah kakinya kebelakang dan hanya dalam beberapa kali loncatan saja dia sudah mengelilingi satu kali dalam halaman itu lalu dengan kencangnya menerjang keluar dari pintu kuil.
Cuma didalam beberapa saat saja suara derapan kakinya makin lama semakin menjauh dan akhirnya lenyap dari pendengaran.
Saat ini suara suitan dari Thiat Bok Thaysu berkumandang kembali, agaknya sebentar lagi dia sudah akan tiba disana Dangan cepat Lie Loo jie mendesak Tiong goan Sam Koay.
sigadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le untuk cepat meninggalkan tempat itu.
Tampak Thiat Si sianseng merangkap tangan nya menjura lalu ujarnya.
Cian pwee kalau memangnya memerintahkan kami berbuat demikian, boapwee sekali tidak akan berani membantah, selamat tinggal."
Selesai berkata bersama sama dengan kedua orang temannya mereka meioncat turun dari wuwungan runah kemudian dengan amat cepat nya berlalu dari sana, hanya di dalam sekejap saja mereka sudah lenyap dari pandangan.
Sebaliknya sigadis cantik pengangon Kambing serta Lie Siauw le yang sudah bertemu kembali dengan Lie Loo jie mana mau pergi dari sana seperti halnya dengan Tionggoan Sam Koay.
mereka tetap berdiri disana dengan ragu ragu.
"Wan jie, Wie jie kenapa kalian tidak pergi juga!!!"
Teriak Lie Loo jie kembali dengan keras."
Tenaga dalam dari Thiat Bok hweesio amat kuat sekali bahkan aku sendiripun tidak sanggup untuk menandingi dirinya apa kalian kira dengan kepandaianmu masih bisa bertahan terhadap serangan nya?"
Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat Lie Loo jie menjadi marah dia segera memperlihatkan sifat alemannya, dia menganggap asalkan dia berbuat demikian tentu ayahnya akan segera menjadi gembira kembali.
"Tia."
Ujarnya dengan nada aleman.
"Aku serta Ie cici memangnya mau ikut kau orang tua melakukan perjalanan."
"Tutup mulut."
Mendadak Lie Loo jie membentak dengan amat gusarnya.
"Apa yang sudah aku pesankan kepada kalian!! Haaa!! kenapa kalian sengaja tidak mau mendengarkan omonganku!! sekarang aku tidak mau mengurus kalian lagi, ayoh cepat pergi dari sini."
Suaranya keras nadanyapun amat kasar, sama sekali berbeda dengan sifatnya pada hari hari biasa.
Sigadis cantik pengangon kambing menjadi sedikit melengak, lalu dengan mata memerah hampir hampir menangis serunya.
"Tia, kau tidak tahu, , . ."
Sebenarnya dia menceritakan suatu yang ditinggalkan didalam gua mereka, siapa tahu baru saja dia mengucapkan sepatah kata suara dengusan kerbau dari luar kuil sudah bergema kembali tak henti hentinya diikuti suara derapan kaki yang keras mulai mendekati dari arah jauh Beberapa orang itu tak terasa lagi sudah mengalihkan pandangannya keluar kuil sedangkan sigadis cantik pengangon kambing itupun dengan sendirinya menghentikan pembicaraan selanjutnya.
Didalam sekejap saja kerbau yang telah pergi tadi sudah menerjang masuk kembali kedalam kuil, tetapi pada tanduknya kali ini sudah tergantung seseorang.
Meiihat kejadian itu mereka bertiga jadi kebingungan dan merasa amat terkejut sekali, Mendadak....
"Touw titi, itu dia Touw titi,"
Teriak Lie Siauw Ie dengan amat keras.
Tubuhnya dengan cepat melayang turun dari wuwungan rumah dan dengan menyambut datangnya kerbau tersebut dia menerjang ke depan, agaknya dia bermaksud menyambar orang yang sudah tergantung pada tanduk kerbau itu Kiranya hanya dalam sekali pandang itulah Lie Siauw le sudah mengenal kembali, kalau orang itu adalah Liem Tou.
"Ie jie, jangan."
Teriak Lie Loo jie dengan terperanjat sewaktu dipandangnya Lie Siauw Ie menubruk ke arah kerbau tersebut.
Tetapi saat ini Lie Siauw Ie sudah berada kurang lebih beberapa depa dari kerbau itu, untuk mencegah sudah tidak sempat lagi kelihatan nya Lie Siauw Ie segera akan kena sambar oleh kerbau yang sedang menerjang ke arahnya dengan amat ganasnya itu.
Pada saat Lie Loo jie serta Lie Siauw Ie merasa terperanjat sehinga keriingat dingin mengucur keluar membasahi bajunya itulah tiba tiba kerbau itu mundur dua langkah kebelakang, de ngan bentakan rendah mendadak kerbau itu meloncat melalui atas kepala lalu menerjang kedalam ruangan kuil yang amat megah itu.
"Suhu .... suhu ..."
Teriak Lie Siauw Ie dengan amat cemas.
"Dia adalah Liem Tou, suhu kau tolonglah dirinya."
Tanpa menanti jawaban lagi dia pun berlari mengikuti kerbau tersebut menerjang masuk ke dalam ruangan megah itu.
Lie Loo jie tahu dia mau tidak mau harus turun tangan untuk memberi bantuan, melihat si gadis cantik pengangon kambing masih ada di-atas genteng cepat gapenya.
"Ayoh ikut aku turun ke bawah."
Si gadis cantik pengangon kambing dengan cepat melayang turun ke bawah mengikuti diri Lie Loo jie masuk kedalam ruangan megah itu.
Terasa keadaan didalam ruangan megah itu amat seram dan dingin sekali, suasananya amat sunyi dan gelap, cuma ada serentetan sinar yang amat samar memancar keluar secara samar samar dari patung Budha diatas meja sembahyangan Lie Loo jie yang terang terangan melihat Lie Siauw Ie dengan mengikuti kerbau itu menerjang masuk kedalam ruangan ternyata kini sudah lenyap tak tampak hatinya menjadi amat keheranan kepada sigadis cantik pengangon kambing ujarnya dengan suara perlahan-"cepat perhatikan lebih teliti lagi Lie Siauw Ie sudah pergi kemana!!"
Selesai berkata kepadanya segera berputar menyapu sekejap kearah sekeliling tempat itu.
mendadak disebelah kiri dekat ujung tembok dia melihat adanya sebuah genta besar yang tergantung ditengah udara genta itu cuma ditahan dengan seutas tali tanpa adanya rak untuk menyimpannya, barang barang yang diatur seperti ini memang sangat mencurigakan sekali tak terasa lagi Lie Loo jie menjadi curiga juga sarunya.
Baca Juga: Asmara Si Pedang Tumpul Kho Ping Hoo
Baca Juga: Mestika Golok Naga 2