Eps 2 Mestika Golok Naga - Kho Ping Hoo
Baca online Mestika Golok Naga - Kho Ping Hoo
Cersil Mestika Golok Naga - Kho Ping Hoo.
Nama saya An Kiong, ini isteri saya dan empat orang anak saya yang berusia dari lima tahun sampai lima belas tahun.
Kalau ji-wi tidak keberatan, kami ingin sekali mengetahui nama ji-wi yang mulia."
Sikap amat rendah hati ini menggerakkan hati Ban-Tok Sian-Li.
Biasanya ia tidak pernah memperkenaIkan nama aslinya, hanya memperkenalkan nama julukannya saja.
Akan tetapi karena hartawan An bukan orang kangouw, dan tidak perlu ia menyembunyikan namanya, maka ia kini memperkenaIkan nama aslinya, bahkan tidak menyebut nama julukannya.
"Aku bernama Souw Hian Li dan muridku ini bernama The Siang Hwi. Kami berdua adalah perantau yang datang dari Lembah Maut di tepi sungai Yang-ce."
"Aih, sudah kami duga bahwa ji-wi tentulah tokoh-tokoh kangouw yang perkasa dan budiman. Puteri kami yang sulung telah berusia lima belas tahun dan ia selalu ingin sekali belajar iImu silat, akan tetapi tidak pernah mendapatkan guru yang pandai. la selalu tertarik kepada mendiang pek-hua-nya (uwa-nya) yaitu Panglima Gak Hui, maka ingin sekali mempelajari ilmu silat tinggi. Kalau saja Toanio sudi memberi petunjuk kepadanya, alangkah akan bahagianya hati kami."
Diam-diam Ban-Tok Sian-Li Souw Hian Li terkejut.
"Ah, kiranya An-Wan-gwe masih terhitung keluarga mendiang Panglima Gak Hui? Sungguh mengherankan, mengapa engkau masih enak-enak tinggal di Kota Raja?"
An Wan-gwe tersenyum.
"Ah, kami hanya keluarga jauh. Isteri mendiang Panglima Gak adalah kakak misanku, maka kami terhitung keluarga jauh. Pula, kami tidak pernah ikut urusan perjuangan, mengapa takut tinggal di Kota Raja? Kamipun tidak pernah melakukan kejahatan dalam bentuk apapun..."
Tiba-tiba terdengar ribut-ribut di luar.
Serentak mereka keluar.
Ternyata yang ribut-rlbut itu adalah selosin orang pasukan yang menyuruh para pembantu dan petugas yang membagi beras tadi menghentikan pekerjaannya dan mereka menyuruh semua orang pergi.
Itulah selosin pasukan yang dipimpin oleh Jin Kiat dan Hak Bu Cu.
Ketika Jin Kiat melihat An-Wan-gwe muncul, dia lalu menudingkan telunjuknya dan berteriak lantang...
"An Kiong engkau mengumpulkan orang apakah hendak memberontak?"
AnWan-gwe mengenai pemuda itu dan diapun cepat memberi hormat.
"Jin-kongcu, mengapa berkata demikian? Mereka ini adalah fakir miskin yang mengambil bagian beras yang kubagi-bagikan untuk mereka kongcu."
"Ahhh, jangan membantah. Lihat aku membawa surat perintah Yang Mulia Kaisar untuk menangkapi sejuruh keluarga pemberontak Gak Menyerahlah engkau sekeluargamu untuk kutangkap, An Kiong!"
Seketika wajah An Kiong berubah pucat mendengar ini.
"Akan tetapi, kongcu... kami... kami bukan keluarga Gak! Kami keluarga An..."
"Cukup Siapa tidak tahu bahwa engkau masih saudara misan ibu pemberontak Gak Liu?"
"Ampun, kongcu. Kongcu sendiri cukup lama mengenal keluarga kami yang tidak pernah berbuat salah apapun..."
"Jangan banyak cakap! Perajurit, tangkap mereka semua!"
Perintah Jin Kiat.
"Kami tidak bersalah! Kami tidak mau ditangkap!"
Terdengar bentakan dan An Siu Hwa, puteri sulung hartawan An itu. sudah mencabut pedangnya.
"Ha-ha-ha, puterimu ini gagah juga, An Kiong! Biar yang ini bagianku!"
Kata Jin Kiat dan diapun menubruk kearah gadis itu.
Siu Hwa menyambutnya dengan tusukan pedang, akan tetapi ilmu silatnya masih terlampau rendah kalau dibandingkan Jin Kiat yang menjadi murid para jagoan istana.
Jin Kiat mengelak dan dari samping dia sudah menotok tubuh gadis itu sehingga Siu Hwa merasa tubuhnya lemas, pedangnya terlepas dan ia jatuh ke dalam rangkulan Jin Kiat yang tertawa-tawa.
Para perajurit lalu menangkapi An Kiong, isterinya dan tiga orang anaknya yang lain, yang masih kecil-kecil.
Melihat ini Ban-Tok Sian-Li menjadi marah sekali.
"Jahanam busuk, lepaskan mereka!"
La menampar dua kali dan dua orang perajurit terjungkal dan tewas seketika.
melihat ini, Hak Bu Cu terkejut dan maklum bahwa wanita cantik itu lihai sekali dan memiliki pukulan beracun.
Maka diapun segera menerjang maju dan segera terjadi pertandingan yang seru antara Hak Bu Cu melawan Ban-Tok Sian-Li yang juga terkejut karena di situ muncul raksasa hitam yang demikian dahsyat tenaga dan tinggi llmu silatnya.
Sementara itu, melihat betapa Siu Hwa telah dirangkul secara kurang ajar sekali oleh Jin Kiat, The Siang Hwi mengeluarkan suara melengking nyaring dan ia sudah menyerang pemuda itu dari samping.
"lepaskan gadis itu!"
Jin Kiat yang masih merangkul dan tadi menciumi Siu Hwa, menggunakan tangan kiri menangkis ukulan Siang Hwi.
Dia terlalu memandang rendah, maka ketika Tangan mereka beradu, hampir saja Jin Kiat terpelanting.
Dia melepaskan Siu Hwa dan terkejut bukan main karena ternyata gadis cantik manis itu memiliki tenaga sinkang yang membuat dia hampir roboh!
Dia lalu mencabut pedangnya dan menyerang Siang Hwi.
Akan tetapi gadis inipun mencabut sebatang pedang tipis dari punggungnya dan mereka sudah saling serang dengan hebatnya.
Para perajurit juga membantu Jin Kiat sehingga Siang Hwi dikeroyok banyak "rang.
Para perajurit itu tidak berani membantu Hak Bu Cu karena pertandingan antara Hak Bu Cu dengan wanita cantik itu hebat bukan main, Angin yang dahsyat menyambar-nyambar dari kaki tangan mereka sehingga tidak ada perajurit berani mendekat.
Seorang perajurit lari mencari bala bantuan dan tak lama kemudian berdatangan berpuluh-puluh perajurit kerajaan.
Melihat ini, mau tidak mau Bantok Sianli lalu melompat jauh dan bersama muridnya ia terpaksa melarikan diri.
Tidak mungkin menghadapi pengeroyokan puluhanorang perajurit, apalagi,mereka berada di Kota Raja yang dapat mengerahkan ratusan bahkan ribuan orang perajurit yang tentu akan membahayakan sekali kepada mereka.
Terpaksa walaupun dengan hati mendongkol sekali, Ban-Tok Sian-Li dan The Siang Hwi membiarkan An Kiong sekeluarga ditangkap dan dibawa ke penjara.
Mereka berdua juga tidak lepas dari pengejaran para perajurit.
Ke manapun mereka pergi, tentu bertemu dengan seregu perajurit dan beberapa kali mereka harus melakukan perlawanan merobohkan beberapa orang perajurit dan lari lagi.
Akhirnya mereka terjebak ke dalam sebuah lorong, pada hal kedua ujung lorong itu telah terjaga oleh ratusan orang perajurit.
Pada saat mereka kebingungan itu, muncullah seorang pemuda berpakaian pengemis, pakaiannya tambal tambalan namun bersih.
"Toanio, sio-cia, mari ke sini. Tidak ada jalan keluar lain. Mari cepat!"
Katanya kepada dua orang wanita itu.
Karena memang sudah tersudut, Ban-Tok Sian-Li memberi isyarat kepada muridnya untuk mengikuti pemuda itu.
Mereka memasuki sebuah rumah kecil dan dari rumah ini mereka dapat menyusup melalui lorong-lorongkecil, keluar dari lorong yang terkepung itu.
Mereka lalu memasuki sebuah kuil.
Kuil itu adalah sebuah kuil para pendeta wanita.
Seorang Nikouw tua menyambut kedatangan pemuda pengemis itu.
"Ceng-nikouw, tolonglah kedua orang sahabat ini. Mereka adalah buruan tentara. Cepat!"
"Baik, masuklah ke sini, ji-wi sio-cia!"
Kata Nikouw tua itu kepada Ban-Tok Sian-Li dan Siang Hwi. Pengemis itu lalu memberi hormat dan berkata kepada mereka.
"Untuk sementara ji-wi di sini aman. Aku akan mencari jalan untuk ji-wi dapat keluar dari Kota Raja. Sampai jumpa!"
Pengemis itu laiu menyelinap pergi dari situ dengan cepat.
Ban-Tok Sian-Li dan Siang Hwi segera dibawa masuk ke dalam kamar dan mereka diberi pakaian nikouw untuk menyamar, dengan memakai penutup kepala berwarna kuning seperti kebiasaan calon-calon Nikouw yang belum menggunduli rambutnya.
Benar saja.
Tempat itu aman.
Biar pun ada rombongan perajurit yang mengadakan pemeriksaan di situ, akan tetapi para perajurit ini tidak berani berbuat sesukanya.
Kuil ini biasa dikunjungi oleh permaisuri dan keluarga kaisar, maka perajurit pun menghormatinya.
Setelah keadaan agak aman, barulah mereka.
Berdua berkenalan dengan Ceng Nikouw, kepala Nikouw di situ dan baru mereka tahu bahwa Ceng Nikouw adalah simpatisan para pejuang yang berusaha mengusir para pasukan Kin yang merajalela di perbatasan.
Juga, nikouw ini adalah pengagum mendiang Panglima Gak Hui.
Ketika mendengar dari The Siang Hwi mengapa mereka.
menjadi buronan, karena membela An Kiong yang ditangkap sebagai anggauta keluarga mendiang Pang lima Gak Hui, Nikouw itu merasa senang telah dapat menolong mereka.
"Omitohud..., memang keadaan sekarang amatlah menyedihkan. Sebetulnya, semua ini gara-gara keluarga Jin itulah!"
"Apakah yang dimaksudkan adalah Perdana Menteri Jin Kui?"
Tanya Ban-Tok Sian-Li yang merasa tertarik juga.
"Siapa lagi? Sebetulnya kaisar tidaklah jahat, akan tetapi kaisar amat lemahnya dan terlalu percaya kepada Perdana Menteri itu. Dahulu, Panglima Gak Hui tewas juga karena Perdana Menteri itu. Hal ini siapakah yang tidak tahu? Seluruh rakyat juga mengetahui belaka akan tetapi kekuasaan Jin Kui amat besar, siapa berani menentang dia? Dan puteranya itu tidak kalah jahatnya dengan ayahnya. Merampas anak gadis orang, bahkan isteri orang, apa saja yang tidak dilakukan pemuda jahat itu. Dan semua orang juga tahu bahwa Perdana Menteri Jin Kui itu diam-diam menjadi antek Kin. Hanya kaisar seorang yang tidak mau tahu dan tidak percaya. Aihh, entah apa yang akan terjadi dengan Kerajaan Sung"
"Akan tetapi kematian Gak Hui sudah lama terjadi. Sekarang mengapa tahu-tahu hartawan An Kiong ditangkap? Apakah bibi mengetahui sebabnya?"
Tanya Ban-Tok Sian-Li Nikouw Itu menghela napas panjang.
"Omitohud... sebetulnya, kalau memang hendak ditangkap sudah dari dahulu. An Kiong itu masih saudara misan mendiang nyonya Gak Hui, maka dapat di kata masih sanak keluarga. Akan tetapi kalau sampai sekarang baru ditangkap hal ini tentu sudah lain jadinya. Mungkin Jin Kiat itu tergita-gila kepada puteri Sulungnya atau mungkin juga merupakan usaha untuk merampas kekayaannya. Pin-ni (aku) sendiri tidak tahu jelas mengapa dia sekeluarga ditangkap. Pada hal semua orang di Kota Raja tahu belaka bahwa hartawan An itu adalah seorang yang dermawan dan bijaksana, tidak pernah melakukan kejahatan sama sekali."
"Kalau begitu, pasti ada sebab tertentu dan mengapa Perdana Menteri Jin Kui sampai mengutus puteranya sendiri bahkan ditemani raksasa hitam yang lihai itu "
"Pin-ni juga tidak tahu. Lalu ji-wi ini siapakah dan bagaimana sampai terlibat dalam penangkapan An Kiong itu?"
"Nama saya Souw Hian Li dan ini murid saya bernama The Siang Hwi, bibi. Kami berdua kebetulan tertarik melihat AnWan-gwe membagi-bagikan beras kepada fakir miskin. Kemudian ketika terjadi penangkapan, kami berdua menjadi tamunya. Sayang sekali kami tidak dapat melindunginya dari tangkapan karena datangnya banyak pasukan kerajaan dan si raksasa hitam itu lihai bukan main. Terpaksa kami melarikan diri, kalau tidak kami tentu tertangkap oleh pasukan yang demikian banyaknya."
"Jangan ji-wi khawatir. di sini ji-wi pasti aman. Tidak ada yang akan berani menggeledah sampai ke dalam karena kuil ini biasa dikunjungl permaisuri dan keluarga kaisar."
"Kami tidak mengkhawatirkan diri kami, bibi, yang kami khawatirkan adalah keadaan keluarga An yang ditangkap."
"Omitohud, apa yang dapat kita lakukan, Toanio? Kekuasaan Perdana Menteri Jin Kui amat besar, hanya di bawah kekuasaan kaisar sendiri. Hanya kaisarlah yang dapat menghentikan semua perbuatannya. Apa daya kita?"
"Hemm, kalau perlu kami akan mempergunakan kekerasan untuk membebaskan hartawan An, atau dapat juga kami memaksa Perdana Menteri Jin Kui!"
Kata Ban-Tok Sian-Li sambil mengepal tinju.
la sungguh merasaya tidak rela melihat An Kiong, hartawan yang demikian bijaksana dan dermawan, diperlakukan sewenanq-wenang oleh siapapun juga.
Memang demikianlah watak Ban-Tok Sian-Li.
Kalau ia sudah tidak perduli, maka iapun tidak akan memperhatikan apapun yang terjadi kepada seseorang, ia akan acuh saja.
Akan tetapi sekali ia membela orang, akan dibelanya sampai semampunya.!
"Harap Toanio bersabar.
Jin Kui itu besar sekali kekuasaannya dan dia dijaga oleh sepasukan pengawal yang berilmu tinggi.
Berbahaya sekalilah kalau memasuki ruangan gedungnya.
Sebaik nya kita menanti sampai Gan-Enghiong datang."
"Gan-Enghiong?"
"Oh ya, ji-wi belum mengetahui namanya. Pemuda yang membawa ji-wi ke sini, dia adalah putera ketua Hek-Tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam). Biarpun golongan pengemis, namun mereka adalah para pengemis kang ouw yang gagah dan tidak pernah berbuat jahat, bahkan selalu siap menolong orang yang tertindas. Bahkan ketuanya bersimpati kepada para pejuang, akan tetapi di Kota Raja tentu saja mereka tidak berani terang-terangan."
"Bukankah para pejuang itu berarti membela pula kedaulatan Kerajaan Sung?"
"Sebenarnya demikian. Para pejuang itu setia kepada kerajaan dan mereka memusuhi Kerajaan Kin, Akan tetapi, karena pengaruh Perdana Menteri Jin Kui, Kaisar menyalahkan para pejuang yang dianggap membikin kacau saja memancing permusuhan dengan Kin."
"Sungguh aku tidak mengerti. Kaisar dibela para pejuang malah memusuhi mereka. Pasti ada hal-hal kotor dan busuk tersembunyi dibalik semua, ini"
Kata Ban-Tok Sian-Li penasaran.
"Telah menjadi rahasia umum bahwa Perdana Menteri Jin Kui memang bersikap baik dan bersahabat terhadap Kerajaan Kin. Dia yang membujuk. Kaisar untuk berdamai dengan Kerajaan Kin. Contohnya Pang lima Gak Hui. Kurang bagaimana panglima besar Itu? Dia setia kepada Kaisar, akan tetapi kenyataannya dia dihukum mati hanya karena dia bersikap terus menentang Kerajaan Kin dan melancarkan serangan yang sama sekali tidak disetujui oleh Perdana Menteri Jin Kui."
"Sungguh celaka! "pa yang akan terjadi dengan Kerajaan Sung sikapnya demikian lemah terhadap musuh yang selalu mengancam keamanan negara dan bangsa? Sungguh mengherankan sekali. Semestinya kaisar merasa bangga dan senang melihat rakyatnya setia dan membela kerajaannya. Pada hal, sudah amat luas tanah air yang dijajah bangsa Yu cen. Sepatutnya kaisar menghimpun kekuatan rakyat untuk merampas kembali daerah yang direbut oleh penjajah Itu."
"Pikiran seperti Toanio itulah yang membuat para pendekar patriot membentuk laskar-laskar rakyat dan menyerang pasukan Kin. Akan tetapi sayangnya di rumah sendiri mereka dimusuhi oleh pasukan Sung yang semestlnya malah mendukung dan membela mereka. Yah, beginilah keadaannya, Toanio. Kita mampu berbuat apakah?"
Sampai jauh malam mereka bercakap-cakap Ban-Tok Sian-Li dan muridnya mendapat banyak keterangan dari Nikouw itu sehingga hati datuk wanita itu menjadi semakin tertarik.
Tadinya ia sama sekali tidak perduli tentang perjuangan akan tetapi kini ia mulai bersimpati kepada para pejuang.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Gan Kok Bu, yaitu pemuda yang menolong guru dan murid semalam dan menyembunyikan mereka ke dalam kuil Nikouw, muncut di kuil itu.
Kedatangannya secara rahasia dan Ceng Nikouw lalu membawanya ke ruangan belakang dl mana dia bertemu dengan Ban-tok Si anli dan The Slang Hwi.
Begitu bertemu, Ban-Tok Sian-Li segera bertanya.
"Saudara Gan, bagaimana kabarnya dengan An-Wan-gwe dan keluarganya?"
Yang ditanya menggeleng kepalanya dan menghela napas panjang lalu berkata pendek.
"Celaka mereka itu..."
Siang Hwi menjadi terkejut dan khawatir.
"Apa yang terjadi dengan mereka?"
"Benar-benar keparat ayah dan anak she Jin itu!"
Kok Bu berkata sambil mengepel tinju.
"Orang-orang yang tidak bersalah apapun, bahkan yang berjasa bagi rakyat jelata, dibunuhi secara kejam!"
"Dibunuh? Maksudmu, mereka semua dibunuh?"
Tanya Ban-Tok Sian-Li membelalakkan matanya yang indah.
"Tidak cuma dibunuh, mereka disiksa sampai mati."
"Akan tetapi, mengapa? Apa kesalahan mereka?"
Ban-Tok Sian-Li kini bertanya dengan setengah berteriak.
Sukar ia membayangkan orang tua yang berbudi itu dibunuh s"k"luarganya begitu saja, bahkan disiksa sampai mati.!
"Menurut hasil penyelidikan kami melalui para perajurit pengawal, mereka itu disiksa untuk mengaku di mana adanya pemberontak Gak Liu.
Karena tidak ada yang dapat mengatakan di mana adanya Gak Liu, mereka disiksa sampai mati dan dicap sebagai pemberontak.
Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, puteri sulung An Wan-gwe oleh Jin Kiat telah diperkosa kemudian diserahkan kepada pengawal sampai gadis itupun menemui ajalnya.
Dan harta benda hartawan itu disita untuk negara yang tentu saja telah disaring dulu melalui tangan Perdana Menteri."
"Terkutuk! Kami tidak dapat mendiamkannya saja, Subo!"
Tiba-tiba Siang Hwi berseru nyaring, mukanya berubah merah sekali saking marahnya.
"Benar! Kita harus bertindak. Malam ini juga kita berdua akan menyusup ke dalam gedung Perdana Menteri Jin dan kita bunuhi mereka semua sekeluarga!"
Kata Ban-Tok Sian-Li.
"Omitohud..., Toanio dan nona pin-ni harap ji-wi tidak melakukan pekerjaan yang amat berbahaya itu. Salah salah ji-wi sendiri yang akan menderita celaka di tangan para pasukan pengawal."
"Kami tidak takut, bibi. Sudah menjadi resiko dunia persilatan, kalau tidak berhasil tentu gagal kalau tidak menang tentu kalah dan kekalahan ada kalanya membawa nyawa. Kami tidak takut!"
Kata Ban-Tok Sian-Li dengan ucapan yang keren dan tegas.
"Maaf, Toanio dan Siocia (nona) bukannya saya ingin mencampuri urusan ji-wi, akan tetapi benar seperti yang dikatakan Ceng Nikouw, menyerbu ke dalam gedung istana Perdana Menteri amat lah berbahaya. Perdana Menteri Jin Kui telah mengundang beberapa orang jagoan istana untuk mengawalnya, dan kedudukannya kuat sekali."
"Kami tidak takut!"
Kata pula Ban-Tok Sian-Li.
"Pendeknya malam ini kami harus dapat membunuh Perdana Menteri keparat Itu!"
Karena merasa tidak mampu untuk mencegah guru dan murid itu, Kok Bu hanya menghela napas panjang dan dia berpamit.
Akan tetapi diam-diam dia ngumpulkan beberapa putuh anak buahnya yang paling lihai dan bersiap-siap untuk melindungi guru dan murid itu.
Entah mengapa, hatinya merasa tidak rela melihat The Siang Hwi terancam bahaya kalau ikut gurunya menyerbu rumah ge dung Perdana Menteri Jin.
Malam itu amatlah sunyi dan dingin.
Malam terang bulan yang sejuk.
Akan tetapi seperti biasa, setelah agak malam semua penduduk memasuki rumahnya.
Apa lagi tersiar berita bahwa pasukan mencari-cari buronan dan ini berarti setiap saat dapat saja rumah penduduk diserbu pasukan, digeledah dan hal ini membuat setiap penduduk merasa ketakutan.
Kalau kebetulan pasukan yang menggeledah itu dipimpin seorang perwira yang baik, maka penggeledahan berjalan wajar dan tidak terjadi gangguan kalau mereka tidak menemukan orang yang dicari di rumah itu.
Akah tetapi kalau ternyata sebaliknya, pasukan itu dipimpin oleh seorang perwira yang jahat, maka pasukan itu menggunakan kesempatan untuk menggerayangi harta milik penduduk, dan tidak segan-segan mengganggu wanita yang muda dan cantik.
Di antara bayang bayang pohon berkelebatan dua sosok bayangan yang gerakannya gesit bukan main.
Mereka itu adalah Ban-Tok Sian-Li dan muridnya, The Siang Hwi.
Dengan menyelinap diantara pohon-pohon mereka menghamplri gedung besar tempat tinggal Perdana Menteri Jin Kui dan tak lama kemudian mereka telah tiba di luar pagar tembok yang tinggi.
Di pintu gerbang pagar tembok itu terdapat gardu penjagaan dan di situ berkumpul belasan orang penjaga.
Mereka secara bergilir meronda, mengeliIingi gedung Itu.
Dengan gerakan ringan dan mudah saja, guru dan murid ini lalu melom-pati pagar tembok dan turun di sebelah dalam.
Mereka telah berada di datam taman dan agaknya tidak ada penjaga yangmengetahui gerakan mereka.
Dengan girang guru dan murid ini lalu melayang naik ke atas genteng dan dari sana mereka mencari-cari, mengintai ke bawah.
Tiba tiba mereka berhenti bergerak dan mendekam di atas wuwungan.
Mereka melihat pemuda yang bukan lain adalah Jin Kiat bersama seorang laki-laki setengah tua duduk di sebuah ruangan yang lampunya terang, sedang makan minum.
Dari sikap Jin Kiat yang menghormat laki-laki setengah tua itu, mudah diduga bahwa orang itu tentulah Perdana Menteri Jin Kui, ayah pemuda itu.
Mereka berdua makan minum dilayani beberapa orang dayang dan di sekitar ruangan itu nampak lima orang perajurit pengawal menjaga.
"Kesempatan baik,"
Bisik Ban-Tok Sian-Li kepada muridnya.
"Mari serbu!"
Dua orang wanita perkasa itu lalu melayang turun, dan mendadak saja semua penerangan di ruangan itu menjadi padam sehingga keadaannya menjadi gelap.
Mereka terkejut dan maklum bahwa mereka terjebak.
Dan tiba-tiba ruangan menjadi terang benderang kembali akan tetapi Perdana Menteri Jin Kui dan para dayang telah menghilang.
Yang ada hanyalah Jin Kiat yang kini memimpin belasan orang pengawal, di antaranya terdapat raksasa hitam yang lihai!
Mereka itu telah mengepung guru dan murid itu.
Melihat guru dan murid ini, Jin Kiat segera mengenai mereka sebagai orang-orang yang pernah membela An Kiong sekeluarga ketika keluarga ttu hendak ditangkap, maka dia tertawa mengejek.
"Ha-ha-ha, kiranya kalian dua orang wanita pemberontak! Tangkap mereka! Terutama yang muda itu, tangkap hidup-hidup dan jangan lukai!"
Para pengawal itu sudah mencabut senjata masing-masing, dan Ban-Tok Sian-Li yang maklum bahwa si tinggi besar muka hitam itu amat lihai, sudah menerjang kepada raksasa hitam ini dengan pedangnya.
Pedang di tangan datuk wanita ini bersinar hitam dan pedang itu amatlah berbahaya karena telah direndam racun yang amat berbahaya.
Sekali terkena goresan pedang ini musuh akan tewas dan tidak mungkin dapat disembuhkan lagi.
Melihat wanita itu menghunus pedang yang bersinar hitam.
Hak Bu Cu juga menghunus goloknya yang tersembunyi di balik jubahnya.
Melihat golok ini, Ban-Tok Sian-Li berseru kaget.
"Mestika Golok Naga...!"
"Engkau sudah mengenal. golokku! Bagus, hayo cepat menyerah sebelum golokku membuat engkau menjadi setan tanpa kepala!"
Akan tetapi Ban-Tok Sian-Li sudah menggerakkan pedangnya, menyerang dengan dahsyatnya menusukkan pedang ke arah dada lawan.
Hak Bu Cu tidak berani memandang rendah.
Dia sudah merasakan kelihaian wanita ini dan harus mengakui bahwa tanpa bantuan pengawal, kemarin dia tidak akan mampu menandingi wanita ini.
Maka diapun cepat menggerakkan golok yang besar itu menangkis sambl1 mengerahkan tenaga.
"Cringggg... trangg...!!"
Dua kali pedang bertemu golok dan bunga api berpijar menyilaukan mata.
Beberapa orang pengawal sudah menyerbu dan Ban-tok Sian-Li lalu dikeroyok.
Sementara itu, Siang Hwi juga sudah mengamuk, dikeroyok Jin Kiat dan orang-orangnya sehingga gadis ini, seperti juga gurunya, sudah dikepung ketat.
Guru dan murid itu mengamuk dan mereka sudah berhasil membunuh beberapa orang pengawal, akan tetapi datang pula regu pengawal yang lain sehingga mereka semakin terdesak.
Ketika mengelak dari sambaran banyak senjata; tiba tiba Ban-Tok Sian-Li terkena tendangan yang dilontarkan oleh Hak Bu Cu.
Keras sekali tendangan itu dan Ban-Tok Sian-Li tidak sempat mengelak lagi, karena ia sedang mengelak dan menangkis sambaran banyak senjata para pengeroyok.
Tendangan itu mengenai paha kirinya.
Biarpun paha itu tidak menderita luka, akan tetapi saking kerasnya tendangan itu, kakinya menjadi memar dan rasanya nyeri bukan main.
Tubuh Ban-Tok Sian-Li terpelanting dan dengan cepat iapun bergulingan.
Ketika, dua orang pengawal mengejarnya dengan bacokan golok, ia menggerakkan pedangnya dan dua orang pengawal itupun roboh mandi darah dan tewas seketika.
la melompat berdiri lagi dan mengamuk.
Sudah lebih dari sepuluh orang pengawal roboh oleh pedangnya, demikian pula muridnya telah merobohkan banyak pengawal.
Akan tetapi Jin Kiat masih terus mengepungnya dengan pengawal pengawal baru yang datang membantu.
Keadaan guru dan murid itu kini terdesak dan mereka dalam bahaya.
Apa lagi kini Ban-Tok Sian-Li sudah terkena tendangan yang membuat gerakannya kurang lincah, sedangkan Hak Bu Cu terus mendesak dengan hebatnya.
Selagi mereka berdua terdesak, mendadak nampak banyak bayangan berkelebat dan muncullah belasan orang membantu guru dan murid itu.
Mereka berpakaian seperti orang-orang kang-ouw, dan senjata mereka juga bermacam-macam.
Akan tetapi melihat bahwa yang muncul itu adalah Gan Kok Bu, Maklumlah Ban-Tok Sian-Li dan Siang Hwi bahwa orang-orang itu tentu para anggauta Hek-Tung Kai-pang yang sengaja menyamar agar jangan ketahuan bahwa mereka anggauta perkumpulan pengemis itu.
Maka mereka tidak mengenakan pakaian pengemis dan tidak pula menggunakan senjata tongkat hitam.
Bagaimanapun juga, setelah rombongan ini datang membantu, Ban-Tok Sian-Li dan Siang Hwi lolos dari kepungan.
Kok Bu segera menghampirl mereka dan berseru.
"Mari kita pergi!"
Karena maklum bahwa kalau dilanjutkan perkelahian itu, pihaknya tentu akan menderita kekalahan dan akan celaka di tangan para pengawal, Ban-Tok Sian-Li yang sudah terluka pahanya lalu melompat pergi dan mengajak muridnya.
"Siang Hwi, kita pergi!"
Siang Hwi juga meloncat pergi.
Bantuan para anggauta Hek-Tung Kai-pang memungkinkan mereka meninggalkan para pengeroyok itu.
Pada saat itu, bagian krii gedung itu terbakar, dibakar oleh anggauta Kai-pang yang bertugas untuk itu.
Melihat ini, tentu saja para pengawal menjadi panik dan kesempatan ini memungkinkan mereka semua untuk melarikan diri, walaupun ada tiga orang anggauta Kaipang terpaksa ditinggal karena mereka sudah roboh dan tewas.
Kok Bu mengajak guru dan murid itu pergi bersembunyi di tempat rahasia ayahnya, yaitu ketua Hektung Kai-pang, Tempat ini adalah sebuah rumah seorang pejabat tinggi bagian kebudayaan.
Pejabat tinggi ini juga seorang yang bersimpati kepada para pejuang, maka memberikan rumahnya yang kosong untuk tempat bersembunyi ketua Hek-tung Kai-pang; Dan tidak akan ada orang yang mencurigai tempat itu karena tempat itu kadang-kadang dijadikan tempat peristirahatan sang pembesar tinggi.
Selain itu, masih ada hubungan keluarga antara pejabat tinggi itu dengan ketua Hek-Tung Kai-pang yang bernama Gan Liang.
Adapun pusat Hek-Tung Kai-pang sendiri berada di luar Kota Raja.
Para anggauta Hek-Tung Kai-pang dengan bebas berkeliaran di Kota Raja karena mereka tidak pernah membikin ribut dan mereka membantu para pejuang secara rahasia, tidak terang-terangan.
Ban-Tok Sian-Li dan The Siang Hwi disambut oleh Hektung Kai-pang-cu Gan Liang sendiri, seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang nampaknya masih gagah.
Ayah Gan Kok Bu ini sudah mendengar dari, puteranya tentang sepak terjang wanita bernama Souw Hian Li dan muridnya yang bernama The Siang Hwi itu.
Ketika menyambut dua orang wanita itu, Gan Liang yang memberi hormat kepada Ban-Tok Sian-Li tertegun.
Dia memandang wanita itu penuh perhatian, lalu berseru heran.
"Bukankah Toanio ini Ban-Tok Sian-Li"
Yang di tanya balas memandang.
"Bagaimana engkau dapat mengenaIku?"
"Siapa yang tidak mengenai Ban-Tok Sian-Li dari Lembah Maut yang ter sohor itu?"
Melihat sikap ayahnya yang nampak kaget dan juga tidak senang itu, Gan Kok Bu lalu mempersilakan mereka, duduk.
Suasana menjadi agak kaku karena Gan Liang lebih banyak diam dari pada bicara.
Tentu saja hal ini dirasakan oleh Ban-Tok Sian-Li dan dengan terus terang datuk ini berkata.
"Agaknya Hek-Tung Kai-Pangcu tidak menyukai kehadiran kami di sini!"
"Ah, tidak! Sama sekal! tidak! Aku hanya terkejut dan terheran bahwa Ban-Tok Sian-Li tiba-tiba menjadi seorang pejuang yang membela An-Wan-gwe, Pada hal dahulu engkau tidak pernah pemperdulikan perjuangan, Sian-Li."
"Pang-cu, tidak ada orang yang boleh memaksaku untuk berjuang dan tidak ada orang pula yang boleh melarangku untuk berjuang. Karena itu, engkau tidak perlu heran,"
Jawab Ban-tok Sian-li dengan ketus. Wanita itu memang aneh wataknya. Kalau ia ditentang, ia akan bangkit melawan dengan keras. Dan kiranya ini sudah menjadi watak para datuk persilatan pada umumnya.
"Tidak, Sian-Li, siapa berani melarangmu? Silakan tinggal di sini, dan selama di sini, engkau akan aman dari pengejaran pasukan. Maaf, saya ada keperluan lain, terpaksa harus meninggal kan ji-wi."
Dia lalu keluar dari ruangan itu dan tinggal Kok Bu yang sikapnya jauh berbeda dengan ayahnya.
Dia melayani dua orang tamunya dengan baik dan penuh penghormatan, lalu menunjukkan sebuah kamar untuk mereka.
Juga dia menyediakan makanan untuk kedua orang tamunya itu.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Siang Hwi sudah mandi dan keluar dari kamarnya.
Gurunya masih beristirahat karena semalam gurunya itu hampir tidak tidur melainkan menghimpun tenaga murni untuk mengobati luka di pahanya yang memar.
Rumah pejabat itu cukup besar dengan pekarangan yang luas, dan di bela kang terdapat sebuah taman bunga yang cukup indah dan luas pula.
Siang Hwi memasuki taman itu.
Udara pagi itu amat marah, burung-burung masih banyak yang berkicau di taman itu, belum berangkat pergi mencari makan, Sinar matahari pagi mulai menghangatkan taman.
Siang Hwi menghampiri serumpun kembang merah dan dipetiknya setangkai lalu di pasangnya di rambutnya.
"Nona...!"
La terkejut dan memutar tubuhnya. Ternyata Kok Bu yang memanggilnya tadi dan pemuda itu berdiri di depannya"
Terbelalak dan memandangnya dengan mata terpesona.
Bagi Kok Bu, gadis itu nampak cantik jelita pagi itu, apa lagi dengan bunga merah di rambutnya, nampak seperti seorang bidadari dari kahyangan yang turun ke taman Itu bersama cahaya matahari pagi.
"Eh, Bu Toako kiranya. Selamat pagi. Eh, Toako engkau kenapakah?"
"Kenapa...?"
"Engkau memandangku seperti belum pernah melihat aku saja!"
Kok Bu tersenyum salah tingkah dan menjawab gugup.
"Aku... ah, kembang di rambutmu itu membuatmu nampak cantik jelita seperti bidadari saja, nona..."
"Hemm, engkau terlalu memujiku, Toako.!"
"Sungguh mati, aku bukan merayu atau memuji kosong, nona Siang Hwi. Engkau adalah gadis yang paling cantik yang pernah kutemui selama hidupku."
"Omong kosong! Engkau tinggal di Kota Raja, bahkan engkau banyak mengenal para bangsawan. Banyak putri bangsawan cantik jelita di Kota Raja, apa lagi puteri istana."
"Sudah banyak aku bertemu puteri bangsawan, akan tetapi tidak ada yang dapat menandingi engkau dalam hal kecantikan dan kegagahan, nona. Aku sungguh terpesona dan begitu bertemu denganmu, seketika aku jatuh hati. Maafkan keIancanganku..."
Wajah Siang Hwi menjadi kemerahan akan tetapi ia tidak marah.
Sikap pemuda ini terlalu jujur dan ucapannya itu bukan rayuan, hal ini ia dapat merasakan benar.
Akan tetapi, sedikitpun ia tidak mempunyai perasaan cinta kepada pemuda yang baru dikenalnya itu, walau pun ia merasa berterima kasih dan juga kagum atas pertolongan pemuda ini kepadanya dan kepada gurunya.
"Sudahlah, Toako, jangan bicara soal itu. Aku tidak senang mendengarnya. Sama sekali belum ada dalam pikiranku persoalan yang kau kemukakan itu. Maafkan aku."
Dan iapun pergi meninggalkan pemuda itu menuju ke rumah untuk masuk ke kamarnya di mana gurunya masih tidur.
Akan tetapi ia melihat sesosok bayangan berkelebat dan tahulah ia bahwa bayangan itu adalah Gan-Pangcu, ayah dari Kok Bu.
Karena ingin tahu apa yang akan terjadi, ia menyelinap ke balik sebatang pohon dan mengintai.
Gan Liang kini bicarara keras kepada anaknya sehingga Siang Hwi tidak perlu mengerahkan pendengarannya untuk dapat mendengar apa yang dikatakan ketua Hek-Tung Kai-pang itu.
"Apa? Engkau mencinta gadis itu? Tidak tahukah engkau murid siapa ia? Gurunya adalah Ban-Tok Sian-Li, datuk sesat yang tinggal di Lembah Iblis! Tidak, aku tidak suka kalau engkau mencinta gadis itu. Apa lagi menikah dengannya! Aku tidak suka berbesan dengan datuk sesat!"
Mendengar ini, Siang Hwi mengerutkan alisnya dan diam-diam ia pergi meninggalkan tempat itu, kembali ke dalam gedung. la mendapatkan gurunya sudah bangun dan sudah mandi.
"Subo, sebaiknya kita cepat pergi dari tempat ini dan keluar Kota Raja,"
Kata Siang Hwi. Melihat wajah muridnya seperti orang yang marah, Ban-Tok Sian-Li memandang penuh selidik.
"Ada apakah, Siang Hwi?"
"Su-bo, aku mendengar Gan-Pangcu berkata kepada puteranya bahwa dia merasa khawatir dan tidak senang kalau kita tinggal di sini lebih lama lagi karena dapat membahayakan dirinya dan perkumpulannya. Karena itu, sebaiknya kita pergi sekarang juga, Subo. Mereka sudah menolong kita, tidak enak kalau harus menyusahkan mereka lebih lanjut."
Gurunya mengangguk.
"Engkau benar, Siang Hwi. Kalau begitu mari kita berkemas dan pergi dari sini sekarang juga."
Siang Hwi menjadi girang dan cepat ia berkemas bersama gurunya.
Selagi keduanya berkemas, muncul Kok Bu di depan kamar mereka.
Melihat kesibukan guru dan murid yang berkemas dan menggendong buntalan pakaian di punggung, dia terkejut sekali.
"Eh, Toanio, dan nona jiwi hendak pergi ke manakah?"
Ban-Tok Sian-Li yang menjawab tegas.
"Kami akan berpamit dan pergi dari sini sekarang juga."
"Akan tetapi, itu berbahaya sekali Ji-wi akan diketahui oleh para pengawal dan perajurit dan tentu akan di tangkap! Pula, di Kota Raja ini, ji-wi hendak bersembunyi di mana? Di sini merupakan tempat terbaik bagi ji-wi untuk bersembunyi."
"Kami hendak keluar dari Kota Raja!"
Kata Siang Hwi yang bicara dan suaranya terdengar dingin.
"Tapi... tapi itu lebih berbahya!"
Kata Kok Bu.
"Semua pintu gerbang dijaga ketat oleh pasukan dan tidak mungkin Ji-wi dapat melewati pintu gerbang dengan selamat."
"Kami tidak takut! Akan kami lawan mati-matian!"
Kata pula Ban-Tok Sian-Li.
"Aihh, kenapa ji-wi memaksakan diri? Kalau ji-wi memaksa, baiklah, akan kami atur agar ji-wi dapat melewati pintu gerbang dengan aman. Jalan satu-satunya hanyalah menyamar sebagai anggauta Hek-Tung Kai-pang."
"Menyamar?"
Tanya Ban-Tok Sian-Li.
"Jangan ji-wi khawatir. Di antar anak buah kami terdapat seorang yang ahli dalam hal mendandani orang dalam penyamaran. Dalam waktu singkat saja ji-wi sudah akan menjadi orang lain yang tidak akan dikenal bahkan oleh orang-orang terdekat. Bagaimana pendapat ji-wi? Kiranya itulah jalan satu-satunya untuk dapat menyusup keluar dari pintu gerbang dengan selamat."
Tentu saja guru dan murid itu tidak dapat menolak tawaran yang menarik dan juga menguntungkan itu.
Anggauta Hek-Tung Kai-pang yang ahli merias itu dipanggil dan segera dia mendandani Ban-Tok Sian-Li dan The Siang Hwi.
Dalam waktu kurang dari satu jam, kedua guru dan murid ini benar-benar telah berubah, menjadi dua orang anggauta pengemis yang berjalan terbongkok-bongkok membawa tongkat.
Tak lama kemudian, di pintu gerbang utara, ada serombongan pengemis terdiri tujuh orang melewati pintu gerbang itu, para petugas jaga tentu saja tidak mau didekati para pengemis yang berpakaian kotor dan berbau.
Maka merekapun membiarkan para pengemis itu lewat.
Setelah melewati pintu gerbang, para pengemis itu segera pergi berpencar.
Dua di antara mereka yang berjalan terbongkok-bongkok melanjutkan perjalanan dengan cepat menuju ke barat.
Akan tetapi belum lama para pengemis itu melewati pintu gerbang, tampak belasan orang penunggang kuda tiba di tempat itu, yaitu rombongan pengawal rumah gedung Perdana Menteri, dipimpin oleh seorang raksasa hitam yang bukan lain adalah Hak Bu Cu.
"Apakah ada serombongan pengemis lewat di sini?"
Tanya Hak Bu Cu yang berpakaian perwira.
Para petugas jaga di pintu gerbang itu tidak mengenal Hak Bu Cu, akan tetapi melihat pakaiannya, mereka memberi hormat dan seorang di antara mereka menjawab bahwa baru saja ada serombongan tujuh orang pengemis lewat di situ dan keluar kota.
"Hayo cepat kejar!"
Bentak Hak Bu Cu dan anak buahnya lalu membedal kuda melakukan pengejaran keluar kota melalui pintu gerbang utara.
Bagaimana sampai para pengawal mencurigai serombongan pengemis itu?
Semua ini adalah ulah ketua Hek-Tung Kai-pang sendiri.
Setelah dia membiarkan puteranya menolong dua orang wanita itu melarikan diri dengan mendandani mereka seperti dua orang pengemis, Gan Liang lalu mengutus seorang anak buahnya untuk memberitahu kepada Perdana Menteri Jin Kui bahwa ada serombongan penjahat yang menyamar pengemis melarikan diri keluar Kota Raja melalui pintu gerbang utara!
Tentu saja Perdana Menteri Jin lalu mengutus Hak Bu Cu untuk melakukan pengejaran.
Sementara itu, mendengar akan perbuatan ayahnya ini, Gan Kok Bu marah sekali kepada ayahnya.
"Ayah, apa yang telah ayah takukan ini? Kenapa ayah mengkhianati mereka yang jelas membantu para pejuang?"
"Tadinya aku memang setuju engkau membantu mereka karena mereka membantu para pejuang. Akan tetapi setelah aku tahu siapa wanita yang kau bantu, aku lebih senang melihat mereka tertangkap. dan terhukum! Engkau tidak tahu siapa itu Ban-Tok Sian-Li! Ketika ia masih gadis dahulu, telah banyak orang menjadi korban karena kecantikannya! Banyak pemuda tergila-gila kepadanya dan mengajukan pinangan. Akan. tetapi apa yang dilakukan? la menghina semua yang meminangnya dan menghajar setiap orang pria yang berani meminangnya, bahkan ada yang terbunuh olehnya! Wanita macam apa itu? Biarlah ia ditangkap dan menerima hukuman mati, baru puas hatiku..."
Melihat betapa ayahnya nampak mendendam sekali kepada Ban-Tok Sian-Li, Kok Bu bertanya dengan alis berkerut.
"Hemm, agaknya ayah termasuk seorang yang telah ditolak pinangannya?"
Wajah ayahnya berubah kemerahan.
"Benar, dan ia telah merobohkanku, hampir saja membunuhku. Tak pernah aku dapat melupakan penghinaan itu!"
"Ayah, peristiwa itu telah terjadi bertahun-tahun yang lalu, kenapa ayah masih mendendam? Dan pula, sudah wajar kalau cinta seseorang ditolak, kenapa harus merasa sakit hati? Tentang penyerangan itu, mudah diketahui. sebagai seorang ahli silat, agaknya ia hendak menguji setiap orang pemuda yang meminangnya, ia tidak ingin memperoleh suami yang kalah olehnya. Itu wajar saja, ayah!"
"Sudahlah, engkau tahu apa? Wanita itu memiliki pukulan beracun segalanya yang ada padanya beracun, kukunya, rambutnya, dan juga hatinya beracun.!"
Kata ayahnya dan meninggalkan puteranya yang merasa penasaran sekali.
Yang tidak diceritakan oleh Gan Liang adalah bahwa ketika hal itu terjadi dia sudah mempunyai isteri dan anak.
Karena kecantikan Souw Hian memang luar biasa sekali dan mendenger bahwa gadis itu mau diperisteri pria yang dapat mengalahkannya, Maka diapun yang tergila-gila melihat kecantikannya, ikut masuk sayembara itu, dengan maksud kalau sampai dia berhasil wanita itu akan dijadikan isteri kedua...
Akan tetapi bukan saja dia tidak berhasil bahkan dia hampir tewas oleh "ukulan beracun Souw Hian Li yang kemudian berjuluk Ban-Tok Sian-Li.
Kok Bu merasa marah sekali kepada ayahnya.
Dia anggap ayahnya tidak adil dan tidak benar tindakannya.
Maka, dia lalu berkemas dan meninggalkan rumah itu tanpa pamit lagi kepada ayahnya Dia hendak menyusul Siang Hwi dan kalau tidak bertemu, dia akan membantu pergerakan para pejuang di luar Kota Raja.
Tadi dia memang tidak mengantarkan Siang Hwi dan gurunya karena kalau dia yang mengantar dan terjadi sesuatu amat berbahaya bagi Hek-Tung Kai-pang karena para penjaga banyak yang sudah mengenalnya sebagai pimpinan Hek-Tung Kai-pang.
"Tiong Li, sudah lima tahun engkau mempelajari ilmu dari, kami berdua. Semua iImu yang kami kuasai telah kami berikan kepadamu, dan karena engkau sebelumnya telah digembleng oleh Pek Hong San-jin, maka kini tingkat kepandaianmu sudah lebih tinggi dari pada tingkat kami berdua. Nah, sekarang setelah tiba saatnya untuk kita saling berpisah, apa yang hendak kaulakukan?"
Tanya Thian Kui Lo-jin yang tinggi kurus kepada muridnya.
"Usiamu sudah dua puluh satu tahun, sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan hidupmu sendiri. Kami hanya ingin mengetahui, jalan mana sekarang yang hendak kau tempuh? Apa yang akan kau lakukan?"
Tanya pula Tee Kui Lo-jin yang bertubuh gendut pendek. Ditanya demikian oleh kedua, orang gurunya, Tiong Li menjatuhkan dirinya berlutut menghadap kedua orang gurunya Itu.
"Suhu walaupun teecu sudah dewasa dan telah menerima gemblengan dari mendiang suhu Pek Hong San-jin kemudian dari suhu berdua, akan tetapi teecu sama sekali tidak mempunyai pengalaman. Teecu masih hijau dan kalau ji-wi suhu bertanya apa yang hendak teecu lakukan, teecu menjadi bingung. Teecu sendiri tidak tahu apa yang hendak teecu lakukan setelah teecu terpaksa berpisah dari ji-wi suhu. Teecu mohon pe tunjuk!"
"Ha-ha-ha, bagus engkau masuh berrendah hati untuk bertanya. Pakailah sikap rendah hati ini untuk selamahya, Tiong Li. Hanya orang yang rendah hati sajalah yang akan dapat memperoleh tambahan pengetahuan,"
Kata Tee Kui Lok jin.
"Tiong ki, manusia diberi kehidupan dan dilahirkan di dalam dunia ini tentu bukan percuma saja, bukan seperti binatang saja asal makan tidur lalu mati. Tuhan tentu mempunyai maksud tertentu terhadap manusia yang dibekali hati akal pikiran, diberi akal budi sehingga manusia dapat menentukan sendiri, memilih apa yang baik untuk dirinya. Manusia bukanlah benda mati, bukan pula binatang atau tumbuh-tumbuhan. Manusia berakal budi, karena itu hidup di dunia ini haruslah bertanya kepada diri sendiri, apa yang dapat dilakukan demi diri sendiri,demi orang Iain, demi kemanusiaan dan demi dunia pada umumnya. Jadikanlah dirimu seorang manusia yang berguna dan bermanfaat bagi kemanusiaan dengan perbuatan-perbuatan yang bijaksana,benar dan adil. Sia-sia sajalah manusia hidup didunia kalau hanya untuk menanti datangnya kematian tanpa melakukan sesuatu yang berguna bagi kemanusiaan."
"Akan tetapi; suhu. Apa yang harus dapat teecu lakukan?"
"Siancai, banyak sekali yang dapat kauIakukan, muridku,"
Kata Thian Lo-jin.
"Kalau engkau tidak tahu apa yang kauIakukan, lalu untuk apa Engkau mempelajari semua iImu itu? Kau tahu, di dunia ini terdapat banyak sekali kejahatan diIakukan manusia yang batinnya dikuasai Iblis. Engkau sudah memiliki iImu kepandaian untuk menghadapi mereka yang suka meIakukan perbuatan sewenang-wenang, menggunakan kekerasan mengandalkan tenaga dan kepandaian. Engkau dapat mencegah perbuatan jahat itu dan menolong mereka yang tertindas. Engkau dapat berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan demi perikemanusiaan. Dan engkau dapat juga membaktikan dirimu demi nusa dan bangsa, dapat membantu gerakan para pejuang yang membendung kekuas"an Bangsa Yucen yang semakin sewenang-wenang melebarkan kekuasaannya. Engkau dapat mengingatkan dan memberi hajaran kepada para pembesar yang menyalah-gunakan kekuasaan dan wewenangnya, yang suka memeras dan menindas rakyat jelata. Wah banyak sekali yang dapat kau lakukan Tiong Li!"
"Teecu mengerti dan akan teecu laksanakan petunjuk suhu,"
Kata Tiong Li.
"Akan tetapi berhati-hatilah, Tiong Li. Kekuatanmu itu dapat mendatangkan kekuasaan, dan kekuasaan yang bagaimanapun juga bentuknya dapat membuat orang menjadi lupa diri dan menyalahgunakan kekuasaannya. Oleh karena itu, engkau harus lebih waspada terhadap musuhmu itu, musuh tunggal yang tidak kelihatan akan tetapi yang kelihaiannya sukar dilawan,"
Kata Tee Kui Jin.
"Siapakah musuh itu, suhu?"
"Musuh itu adalah dirimu sendiri hati akal pikiranmu sendiri. Kalau engkau sudah memiliki kekuatan dan kepandaian, lalu merasa diri memiliki kekuasaan, berhati-hatilah karena hati akal pikiranmu dapat dipergunakan oleh iblis untuk berbuat sewenang-wepang karena mengejar kesenangan bagi dirimu sendiri."
"Teecu mengerti, suhu. Teecu masih mengingat akan semua nasehat suhu Pek Hong San-jin bahwa teecu harus melakukan tiga macam kesetiaan, yaitu setia dan berbakti kepada Tuhan, berbakti kepada negara dan berbakti kepada orang tua atau guru. Dan teecu harus menjadi alat yang baik; untuk Tuhan Yang Maha Kuasa."
"Bagus! Kalau engkau masih ingat akan hal itu dan memegang semua keyakinan itu, maka kami pun akan merasa lega melepasmu, Tiong Li,"
Kata pula Tee Kui Lojin.
"Hanya yang harus kau selalu Ingat, jangan terlampau mudah membunuh orang kalau tidak amat terpaksa dan perlu sekali. Jangan membunuh orang yang sudah tidak mampu melawan, jangan menyombongkan kepandaian dan ingat selalu, setiap orang lawan haruslah dihadapi dengan sikap hati-hati dan waspada, tidak boleh meremehkan orang lain. Dan lagi, betapapun tingginya puncak gunung dan awan, masih ada langit yang lebih tinggi lagi, karena itu jangan menganggap diri paling pandai."
Setelah menerima banyak nasihat dari kedua orang gurunya, Tiong Li lalu turun gunung membawa buntalan pakaian yang sederhana dan membawa sebatang ranting kayu yang dijadikan pikulan buntalan pakaiannya.
Dia kini telah berusia duapuluh satu tahun, seorang pemuda yang bertubuh tegap, langkahnya seperti seekor Harrmau, dadanya bidang pinggangnya ramping.
Wajah pemuda ini sederhana namun tampan dengan tatapan mata yang kadang mencorong kadang lembut sepertimata seekor rajawali.
Rambutnya hitam tebal digelung keatas dan diikat dengan pita kuning.
Dahinya lebar dan alis matanya berbentuk golok, hitam dan tebal, melindungi matanya yang tajam.
Hidungnya mancung dan bibirnya selalu tersenyum seperti bayangan dari keadaan hati yang lapang.
Dagunya agak berlekuk menunjukkan bahwa di balik keramahan senyumnya tersembunyi hati yang dapat mengeras, dan dagu itu menimbulkan kesan jantan kepadanya.
Setelah jauh meninggalkan puncak Ki-lin-san, dan tiba di lereng pegunungan Kui-san, Tiong Li berhenti Dia menoleh memandang ke atas, ke puncak Ki-lin-san.
Nampak awan menyelimuti puncak itu dan dia teringat akan kedua orang gurunya, penghela napas lalu memandang jauh ke bawah.
Nampak Sungai Wu-kiang berkelak-kelok dan berlenggak-lenggok seperti seekor ular besar melalui tebing-tebing gunung.
Dan jauh di kaki pegunungan itu nampak pedusunan dalam kelompok-kelompok kecil.
Dia lalu menggunakan waktu selama lima belas tahun untuk mempelajari ilmu silat dan ilmu sastera.
Dia bukan ahli sastera; sekedar dapat membaca dan menulis, dan sudah banyak kitab agama di bacanya.
Mengenai ilmu silat, dia sudah mempelajari banyak macam iImu, dan di antaranya adalah ilmu-ilmu simpanan ke tiga orang gurunya.
Dari Pek Hong San-jin dia mempelajari Hui-eng Kiamsut (ilmu Pedang Elang Terbang) dan Tai-lek Kim-kongjiu (Tenaga Besar Sinar Emas) yang mengandalkan sinkang yang kuat.?
Kepandaian ilmu tangan kosong mengandalkan sinkang ini ditambah lagi oleh ilmu Jian-kin-lat (Tenaga Seribu Kati) yang dipelajarinya dari Tee Kui Lo-jin, bersama ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan-kun, merupakan ilmu silat berantai Lima Anasir yang lihai.
Dari Thian Kui Lo-jin dia mempelajari ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang disebut Jiauw-sang-hui (Terbang Atas Rumput) dan I-kiong-hoan-hi-at (Ilmu Memindahkan Jalan Darah).
Dengan ilmu-ilmu itu maka kini Tiong Li, menjadi seorang pemuda yang sukar menemukan tandingan.!
Ketika melihat ke bawah ini, Tiong Li melamun, teringat akan hal-hal yang telah lalu dan tak terasa lagi hatinya menjadi kosong dan trenyuh, merasa hidup seorang diri dan hampa.
Cepat-Cepat tangan kirinya mengusap ke arah kedua matanya yang tiba-tiba menjadi basah air mata!
Untung tidak ada Tee Kui Lo-jin di situ.
Kalau gurunya yang gendut pendek itu melihatnya menangis, tentu guru itu akan tertawa terpingkal pingkal kemudian marah kepadanya.
Bagi gurunya itu, pantang untuk menangis selama hidupnya.
Tertawalah dan jangan sekali sekali menangis, begitu pesannya berulang kali.
Duka timbul dari iba diri.
Dan iba diri timbul kalau pikiran ini mengenang hal-haI yang lalu, mengenangkan segala kehilangan yang direnggut dari dirinya, atau kalau pikiran mengenangkan masa depan akan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi dirinya.
Begitu mengenangkan masa lalu, Tiong Li teringat akan ayahnya yang terbunuh mati, akan Pek Hong Sanjin yang juga terbunuh mati, kemudian dia membayangkan masa depannya yang dianggapnya kosong dan suram, tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini, tidak mempunyai tempat tinggal, tidak memiliki apa-apa kecuali sebuntal pakaian sederhana!
Masa lalunya muram, masa depannya suram!
Lalu semua kenangan dan bayangan itu mendatang kan ibadiri, merasa diri paling sengsara di dunia ini dan setelah timbul iba diri, lalu muncullah duka.
Berbahagialah orang karena lepas dari duka kalau dia tidak mengenangkan masa lalu dan tidak membayangkan masa depan.
Kalau orang hanya menghadapi masa kini, saat ini, saat demi saat, apa adanya, wajar, maka kedukaanpun tidak akan pernah menyerang dirinya, Tentu saja waktu lalu boleh diingat, akan tetapi yang ada hubungannya dengan pekerjaan, demikian pula waktu yang akan datang boleh diperhitungkan untuk pekerjaan, akan tetapi kalau waktu lalu dan waktu mendatang itu dihubungkan dengan keadaan diri, maka hasilnya hanya akan mendatangkan rasa takut, dan rasa duka belaka.
Tidak ada gunanya sama sekali.
Tiong Li yang sedang termenung teringat akan pelajaran ini, maka wajahnya menjadi merah kembali.
Lenyaplah segala kenangan masa lalu, hilanglah segala bayangan masa depan.
Dan pemandangan di bawah lereng gunung nampak indah bukan main.
Indah dan luas, terbentang luas di depan kakinya.!
Dan semua kekhawatiran dan keresahan tadi yang mengganggu batinnya lenyaplah seketika dan dia bangkit, mengayun langkah dengan tegapnya seperti seekor harimau melangkah menuruni lereng itu.
Yang dinamakan hidup ini adalah sekarang ini, saat demi saat, inilah hidup, sambung menyambung dari saat ke saat.
Yang lalu itu sudah mati, tak perlu diingat kembali.
Yang akan datang itu hanya lamunan, hanya khayal, tidak perlu dibayangkan.
Saat ini, sekarang ini, harus bersih dan benar dan segalanya akan berjalan dengan baik.
Saat demi saat waspada dan benar, waktu yang lain tidak perlu dipikir.
Masa lalu hanya menimbulkan kesedihan belaka, dan dendam kebencian.
Masa depan hanya mendatangkan rasa takut dan khawatir belaka.
Akan tetapi kalau saat ini, yang kita hadapi saat demi saat, tidak ada rasa takut, tidak ada rasa sedih, yang ada hanyalah apa adanya.
Kini dia sudah berada di kaki pegunungan Kui-san.
Sudah mulai ada pedusunan.
Ketika dia sudah melewati beberapa buah dusun dan tiba di tepi sebuah hutan, tiba-tiba dari balik pohon-pohon besar itu berloncatan Iimabelas orang yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan Kokoh kuat.
Wajah mereka bengis dan mereka adalah orang-orang yang, biasa memaksakan kehendaknya sendiri, gerombolan perampok yang tidak segan melakukan bentuk kekerasan apapun untuk memaksakan kehendak.
Di antara lima belas orang itu terdapat kepalanya, seorang berusia empatpuluhan tahun yang bertubuh tinggi besar dan mukanya penuh brewok, matanya besar dan tangannya memegang sebatang golok besar yang mengkilap saking tajamnya.
(Lanjut ke
Jilid 04) Mestika Golok Naga (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo
Jilid 04
"Heii, berhenti!"
Bentak kepala perampok ini sambil memandang dengan matanya yang besar menakutkan.
"Siapa engkau, dari mana hendak ke mana?"
Tiong Li bersikap tenang walaupun dia sudah pernah mendengar dari para gurunya bahwa sekarang banyak gerombolan perampok dan gerombolan yang menamakan dirinya pejuang akan tetapi tidak segan melakukan segala bentuk kekerasan untuk merampok.
Sebutan pejuang hanya untuk kedok saja.
"Namaku Tan Tiong Li, datang dari puncak gunung dan hendak turun gunung,"
Jawabnya terus terang.
"Bagus, tinggalkan buntalan dalam pikulanmu itu atau tinggalkan kepalamu. Pilih!"
"Sobat, buntalan ini hanya terisi pakaian yang sederhana dan tidak ada harganya. Kutinggalkan tidak ada gunanya untuk kalian, maka tidak akan kutinggalkan,"
Jawab Tiong Li tetap tenang, akan tetapi dia waspada karena orang-orang seperti ini tidak segan melakukan segala kecurangan pula.
"Kalau begitu, tinggalkan kepalamu. Aku ingin meIihat engkau tidak berkepala lagi!"
Kata kepala perampok itu dan empat belas orang anak buahnya menyeringai kejam. Agaknya mempermainkan nyawa orang bagi mereka merupakan hiburan dan kesenangan tersendiri.
"Twako, biarkan aku memuntir putus leher orang ini!"
Kata seorang anak buahnya yang bertubuh gendut sekali dan mukanya hitam seperti pantat ke wali. Setelah berkata demikian, dia sudah melangkah maju menghadapi Tiong Li.
"Orang muda, serahkan kepalamu untuk kupuntir sampai putus!"
Setelah berkata demikian, raksasa gendut itu lalu menerjang maju dengan kedua tangan dipentang seperti seekor biruang hendak menerjang, lalu tangan itu menangkap hendak mencengkeram kepala Tiong Li.
Akan tetapi dengan tenang pemuda itu melangkah dua kali ke belakang, lalu kakinya mencuat dengan sebuah tendangan yang tepat mengenai perut yang gendut itu.
"Bukk!"
Raksasa itu terjengkang keras dan dia akan bangkit berdiri, namun jatuh terduduk kembali sambil mengelus dan menekan perutnya yang terasa nyeri bukan main, mulas melilit-lilit.
Melihat si gendut ini roboh dengan sekali tendang saja, kawan-kawan nya menjadi marah dan mereka rnencabut golok, lalu menyerang Tiong Li kalang kabut.
Juga kepala perampok tidak ketinggalan.
Dia yang paling tangkas di antara teman-temannya sudah pula maju membacokkan goloknya kepada Tiong Li.
Tiong Li menggunakan ilmu meringankan tubuh Jiauwsang-hui mengelak ke sana kemari dengan kecepatan yang luar biasa sehingga gerombolan perampok itu merasa seolah mereka menyerang sebuah bayangan saja yang berkelebaian ke sana sini.
Setelah menurunkan buntalannya dan memegang tongkatnya, Tiong Li lalu menggerakkan tongkatnya, menyerang dengan totokan totokan dan seorang demi demi seorang kawanan perampok itu roboh bergulingan.
Kepala perampok menyerang dengan pengerahan sepenuh tenaganya, akan terapi goloknva terlepas ketika Tiong Li menotok pergelangan tangannya, Kemudian, sebuah tendangan merobohkannya.
Lima belas orang perampok itu roboh semua mengaduh-aduh dan tidak mampu bangkit kembali.
Tiong Li melompat ke dekat kepala perampok dan menodongkan ranting kayu itu kearah lehernya.
"Bagaimana, sobat? Apakah engkau masih ingin melanjutkan perkelahian ini?"
Kepala perampok itu mengerti betul bahwa dia berhadapan dengan seorang pendekar yang lihai sekali, maka tanpa malu-malu dia lalu berlutut.
"Ampunkan kami, Taihiap. Kami seperti buta, tidak melihat bukit Thai-san menjulang tinggi di depan mata dan berani mengganggu Taihap (pendekar besar)"
"Kalian memang buta. Bukan karena menyerang aku, melainkan karena mengganggu rakyat jelata yang tidak berdosa. Kalian buta tidak melihat bahwa kalian merampoki sesama manusia yang sama sekali tidak bersalah. Apakah kalian begitu buta sehingga tidak melihat betapa rakyat jelata sudah amat menderita hidupnya? Sepatutnya orang gagah-gagah dan kuat-kuat seperti kalian ini membantu manusia lain yang sengsara, bukan malah mengganggu rakyat ang sudah cukup menderita. Dari pada menggunakan tenaga dan kekuatan kalian mengganggu rakyat tanpa mengenal prikemanusiaan, lebih baik kalau kalian membantu perjuangan para pendekar patriot yang hendak membela negara mengusir penjajah Bangsa Yu-cen."
"Kami juga seringkali memasuki daerah Kerajaan Kin dan mengacau daerah musuh itu. Taihiap. Kami membunuhi banyak orang dan merampas harta milik mereka...!"
Kepala perampok itu hendak memamerkan jasanya.
"Itu bukan perjuangan namanya! Perjuangan tidak sama dengan merampok. Perjuangan berarti menentang pasukan musuh yang mengacau di daerah Kerajaan Sung, atau maju perang bertempur melawan pasukan musuh. Akan tetapi kalian hanya memasuki daerah kekuasaan lawan untuk merampoki rakyat pula. Apabedanya rakyat di sana dan rakyat di sini! Sama saja. Sebangsa dan mereka adalah orang-orang yang tidak berdosa. Orang-orang macam kalian ini sepantasnya dibasmi habis!"
Tiong Li menggertak.
"Ampun, Taihiap."
"Berjanjilah bahwa kalian akan bergabung dengan para pejuang dan tidak melakukan perampokan lagi, dan aku akan memaafkan kalian. Ketahuilah, kalau kalian berjuang dengan sungguh-sungguh membela rakyat, maka rakyat tentu akan dengan rela hati memberikan apa yang mereka miliki untuk kalian makan."
"Saya berjanji, Taihiap."
"Aku ingin kalian semua yang berjanji, tidak hanya engkau!"
"Kami berjanji, Taihiap...!"
Semua orang berseru.
"Aku tidak memaksa kalian. Kalau kalian sudah berjanji, lakukanlah dengan sungguh-sungguh, penuhi janji itu. Akan tetapi kalau kalian tidak suka, boleh bangkit dan melawan aku sampai mati!"
"Kami tidak berani Taihiap. Kami berjanji..."
"Nah, baiklah, aku melepaskan kalian. Akan tetapi ingat, aku akan selalu mengamati dan kalau sekali saja aku melihat kalian masih melakukan perampokan, aku pasti akan membasmi kalian."
"Terima kasih, Taihiap!"
Lima belas orang itu memberi hormat sambil berlutut, akan tetapi ketika mereka mengangkat muka, ternyata pemuda itu telah lenyap dari situ seperti menghilang saja.
Pengalaman itu membuat mereka jera dan ketakutan dan mereka benar benar mencari kelompok pejuang untuk menggabungkan diri.!
Setelah pengalaman itu, Tiong Li merasa bergembira.
Kini dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh gurugurunya.
Memang dia dapat mempergunakan kepandaiannya untuk kebaikan dan dia akan terus melakukannya.
Di sepanjang perjalanannya, setiap kali bertemu gerombolan perampok, tentu dia menundukkan mereka dan membujuk mereka untuk bertaubat.
Dan kalau ada hartawan atau bangsawan bertindak sewenang-wenang, diapun lalu turun tangan menghajar mereka dan membujuk mereka untuk mengubah sikap dan watak mereka yang tidak benar.
Tiong Li menuju ke Kota Raja.
Di sepanjang perjalanan dia tidak kekurangan bekal karena orang-orang yang ditolongnya tidak segan memberinya bekal dan pakaian, melihat betapa pendekar ini tidak memiliki apa-apa.
Dan pemberian yang dilakukan dengan rela itupun tidak ditolak oleh Tiong Li kal rena dia memang membutuhkan bekal untuk biaya perjalanannya.
Dia pantang untuk melakukan pencurian apa lagi perampasan barang milik orang lain, juga dia tidak sampai hati untuk mengemis.
Pada suatu pagi, ketika tiba di sebelah utara Kota Raja, di dekat sebuah hutan, dia melihat dua orang wanita sedang dikeroyok oleh sepasukan orang yang dipimpin oleh seorang raksasa hitam yang membuat jantungnya berdebar tegang karena dia mengenal raksasa hitam itu sebagai Si Golok Naga, orang yang telah membunuh ayahnya dan membunuh pula gurunya yang pertama, Pek Hong San-jin!
Orang yang telah membunuh empat prang tokoh partai besar, pencuri Mestika Golok Naga dari istana.
Siapakah dua orang wanita itu?
Bukan lain adalah Ban-Tok Sian-Li dan The Siang Hwi!
Seperti diceritakan di bagian depan, kedua orang guru dan murid ini telah menyusup keluar dari pintu gerbang Kota Raja dengan menyamar sebagai pengemis.
Setelah berhasil lolos dari pintu gerbang, sampai di tempat sunyi mereka menanggalkan penyamaran mereka dan berpisah dari para pengemis lain, melanjutkan perjalanan mereka.
Akan tetapi, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh derap kaki kuda dari belakang.
Karena mereka telah tiba jauh dari pintu gerbang Kota Raja, kedua wanita itu tidak merasa gentar lagi.
Kalau mereka harus melawan musuh di Kota Raja, sungguh berbahaya karena selain mereka terkurung tidak mampu keluar, juga di Kota Raja banyak terdapat pasukan keamanan.
Berbeda kalau berada di luar Kota Raja, tentu saja mereka tidak takut kalau hanya menghadapi belasan orang pengawal.
Mereka berhenti di tepi jalan dan ternyata yang mengejar mereka adalab pasukan pengawal pilihan yang dipimpil sendiri oleh Hak Bu Cu!
"Itu mereka!
Kepung!"
"Bunuh!"
"Tangkap!"
Belasan orang pengawal itu berloncatan turun dari kuda mereka dan dengan senjata di tangan mereka mengepung.
Diam-diam Ban-Tok Sian-Li merasa kaget juga.
Lagi-lagi si raksasa hitam yang muncul di situ, dan raksasa hitam itu telah menghunus goloknya yang hebat, yaitu Mestika Golok Naga.
Ban-Tok Sian-Li merasa heran bukan main.
Mestika Golok Naga adalah pusaka yang dicuri orang dari gudang pusaka kerajaan,kenapa sekarang berada di tangan seorang perwira pengawal?
Akan tetapi ia tidak sempat berpikir terlampau jauh karena raksasa hitam itu sudah menerjangnya sambil membentak marah.
"Pemberontak, engkau hendak lari kemana?"
Golok itu menyambar dahsyat dan Ban-Tok Sian-Li cepat mengelak lalu membalas dengan pedangnya, dari bawah menusuk ke arah perut raksasa itu.
Namun, Hak Bu Cu biarpun tinggi besar ternyata memiliki gerakan yang gesit juga karena begitu perutnya ditusuk, dia sudah dapat menghindar sambil mengelebatkan goloknya menangkis.
"Trangggg!"
Bunga api berpijar ketika pedang bertemu golok dan ke dua orang ini sudah saling serang dengan sengitnya.
Dan sebentar saja lima orang pengawal sudah membantu si raksasa hitam mengeroyok Ban-Tok Sian-Li.
Wanita ini baru saja sembuh dari luka di pahanya.
Memang sudah tidak nyeri, akan tetapi kini dipakai bertanding, mengerahkan tenaga maka pahanya terasa pula agak nyeri karena memang belum pulih benar.
Namun dengan gigih wanita itu membela diri dan dengan cepat balas menyerang para pengeroyoknya, seperti seekor harimau yang dikeroyok segerombolan srigala.
Sementara itu, Siang Hwi juga dikeroyok sepuluh orang pengawal yang rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tinggi karena mereka yang diajak melakukan pengejaran oleh Hak Bu Cu memang merupakan pengawal-pengawal pilihan.
Siang Hwi juga mengamuk seperti gurunya namun betapapun lihai gadis ini, para pengeroyoknya berjumlah banyak dan juga tangguh, maka tak lama kemudian iapun terdesak hebat.
Untung bagi Siang Hwi bahwa para pengawal itu sudah mendapat perintah Jin Kiat agar menangkap hidup-hidup gadis itu, maka penyerangan mereka hanya untuk mendesak dan mencari kesempatan untuk merobohkannya tanpa melukai berat.
Dengah demikian, Sian Hwi masih dapat melawan dengan gigihnya.
Biarpun demikian, guru dan murid ini sudah terdesak dan agaknya tak lama lagi mereka tentu akan kalah.
Dalam keadaan yang terancam bahaya itulah muncul Tiong Li.
Pemuda ini mengenal si raksasa hitam, dan setelah dia mengamati penuh perhatian, dia mengenal pula Ban-Tok Sian-Li, Apa lagi Siang Hwi, gadis yang pernah menyelamatkannya dari ancaman tangan Ban-Tok Sian-Li yang hendak membunuhnya.
Tidak sukar bagi Tiong Li untuk mengambil keputusan pihak mana yang harus dibantunya.
Dan melihat betapa yang paling lihai di antara lawan kedua orang wanita itu adalah si raksasa hitam, dia melepaskan buntalan pakaiannya di atas tanah dan sambil memegang ranting di tangannya, dia meloncat dan berjungkir balik, tahu-tahu telah berhadapan dengan Hak Bu Cu sambil menotok dengan rantingnya ke arah siku kanan raksasa itu.
Biarpun yang dipergunakan hanya ranting, akan tetapi mengeluarkan suara bersiutan dan mendatangkan angin pukulan yang amat kuat dan cepat sehingga amat mengejutkan Hak Bu Cu yang segera melempar tubuh ke belakang untuk menghindarkan lengannya dari totokan.
"Bibi, harap membantu adik Siang Hwi dan serahkan raksasa hitam ini kepadaku,"
Kata Tiong Li yang lalu mengerahkan rantingnya menyerang lagi.
Serangannya amat cepat sehingga tidak memberi kesempatan bagi Hak Bu Cu untuk lebih dulu menyerang.
Dia berusaha membacok dengan goloknya untuk menangkis dan sekaligus mematahkan ranting itu, akan tetapi ranting itu terlalu cepat gerakannya sehingga tidak pernah tersentuh golok.
Sementara itu, melihat munculnya seorang pemuda yang lihai menghadapi si raksasa hitam, dan melihat betapa muridnya memang terdesak, Ban-Tok Sian-Li lalu meloncat dan membantu muridnya.
Lima orang pengawal yang tadi membantu Hak Bu Cu mengeroyok wanita itu, kinipun mengejar dan dua orang guru dan murid itu kini dikeroyok lima belas orang pengawal.
Hak Bu Cu melintangkan pedangnya dan membentak.
"Tahan!"
Mendengar ini, Tiong Li menghentikan gerakannya dan berdiri menghadapi musuh besar itu sam bil memandang tajam.
"Orang muda, siapakah engkau? Tidak tahukah engkau bahwa dua orang wanita ini adalah pemberontak? Kami menerima tugas dari Perdana Menteri Jin Kun untuk menangkap pemberontak, dan engkau berani membantu pemberontak? minggirlah dan jangan mencampuri kalau engkau tidak ingin dianggap pemberontak pula!"
"Aku bernama Tan Tiong Li dan aku bukan pemberontak, juga dua orang wanita ini bukan pemberontak. Akan tetapi engkaulah yang pemberontak dan pengacau. Engkau mencuri Mestika Golok Naga dan engkau membunuhi empat orang tokoh partai besar, membunuh pula ayahku, dan membunuh Pek Hong Sanjin!"
Hak Bu Cu terbelalak dan memandang penuh perhatian.
"Ahh... kiranya engkau bocah keparat itu...!"
Dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang dengan goloknya.
Melihat golok ini, Tiong Li menjadi girang.
Inilah golok pusaka yang dicuri itu.
Dia harus mendapatkannya dan mengembalikan nya kepada Kaisar.
Hak Bu Cu merasa penasaran sekali.
Jarang ada orang mampu menandinginya.
Akan tetapi pemuda ini, walaupun hanya bersenjatakan ranting, akan tetapi memiliki gerakan yang demikian cepat dan ilmu silat yang aneh.
Tubuhnya berkelebatan seperti bayangan saja sehingga matanya menjadi berkunang dibuatnya.
Juga ranting itu demikian berbahaya, mengancam jalan darahnya dengan totokan bahkan beberapa kali mengancam matanya.
Biarpun di dalam hatlnya Tiong Li mendendam kepada si raksasa ini kalau teringat akan kematian ayah kandungnya dan guru pertamanya, akan tetapi kesadarannya selalu membuatnya ingat bahwa dia tidak boleh sembarangan membunuh orang.
Maka, diapun hanya mengirirn serangan untuk menundukkannya saja, mero bohkan tanpa niat membunuhnya.!
Sementara itu, guru dan murid itu mengamuk dan setelah Siang Hwi dibantu gurunya, dalam waktu sabentar saja ia dan gurunya sudah merobohkan dan membunuh lima orang pengawal!
Yang sepuluh orang menjadi jerih, apalagi setelah mereka melihat betapa pemimpin mereka juga kewalahan menghadapl pemuda yang memainkan ranting demikian hebatnya!
Maka mereka hanya mengepung sambil menjaga jarak, tidak berani mendesak seperti tadi dan kini kedua orang wanita itulah yang menghujankan serangan.
Kembali tiga orang pengawal terjungkal dan yang lain berlompatan mundur.
Suatu ketika, Tiong Li menyerang dengan kecepatan kilat dan rantingnya kini dengan tepat mengenai pergelangan tangan kanan Hak Bu Cu, membuat raksasa itu berteriak kaget karena seketika tangan kanannya menjadi lumpuh dan dengan sendirinya golok itupun terlepas dari pegangannya.
Sebelum golok itu jatuh ke atas tanah, Tiong Li sudah menyambar dengan tangan kirinya dan golok itu berada di tangannya.
Ketika melihat ini, Hak Bu Cu menubruk kedepan untuk merampas kembali goloknya menggunakan tangan kirinya, akan tetapi dia disambut sebuah tendangan berputar yang amat keras, membuat tubuhnya terlempar.
Malang baginya, tubuhnya yang tertendang itu terjatuh ke dekat Ban-Tok Sian-Li.
Melihat si raksasa hitam itu jatuh ke dekat kakinya, secepat kilat pedang Ban-Tok Sian-Li bergerak menyambar dan...
terpenggallah kepala raksasa hitam itu.
Darah menyembur keluar dan kepala itu terpisah jauh dari badannya.
Melihat ini, tujuh orang pengawal menjadi terkejut dan mereka segera melarikan diri, meloncat ke punggung kuda dan kabur dengan ketakutan.!
"Mereka akan datang membawa bala bantuan, kita harus cepat pergi dari slnil"
Kata The Siang Hwi sambil melompat dan lari, diikuti gurunya dan juga Tiong Li. Setelah berlari jauh, barulah mereka berbenti dan Siang Hwi memandang kepada pemuda itu, lalu tersenyum.
"Tiong Li...!"
Katanya lirih.
"Siang Hwi, akhirnya kita dapat saling berjumpa juga,"
Kata pula Tiong Li sambil tersenyum dan memberi hormat kepada Ban-Tok Sian-Li.
"Sian-Li, saya harap Sian-Li baik baik saja,"
Katanya. Ban-Tok Sian-Li mengerutkan alisnya. la sudah lupa kepada Tiong Li dan bertanya.
"Hemm, siapakah engkau?"
"Su-bo, apakah Subo sudah lupa? Dia Tan Tiong Li, murid dari Pek Hon San-jin yang meninggal dunia ketika kita berkunjung ke Pek-hong-san dahulu itu."
"Ahhhh... engkau kah anak muda itu? Akan tetapi..."
La tidak melanjutkan kata-katanya karena merasa terheran-heran.
Kepandaian pemuda itu dulu tidaktah terlalu hebat, akan tetapi sekarang, ia menyaksikan sendiri betapa pemuda itu mengalahkan si raksasa hitam hanya dengan menggunakan sebatang ranting!
Dan ia melihat betapa golok milik raksasa hitam itu kini berada di tangan kiri pemuda itu.
"Engkau merampas golok raksasa itu?"
Tanyanya sambil memandang golok itu penuh perhatian.
"Ini adalah Mestika Golok Naga yang dicurinya dari gudang perpustakaan istana."
"Kenapa engkau merampasnya?"
"Untuk saya kembalikan kepada Kaisar tentu.saja,"
Kata Tiong Li. Ban-Tok Sian-Li tersenyum mengejek.
"Dan menerima hukuman berat dari Kaisar? Golok itu palsu!"
"Ehh...?"
Tiong Li terkejut mendengar ucapan Ban-Tok Sian-Li itu.
"Kalau Mestika Golok Naga yang aseli, engkau tidak akan mampu mematahkannya. Akan tetapi coba kaupatahkan golok itu!"
Kata pula wanita yang berpengalaman itu. Tiong Li tidak percaya, lalu menggunakan kedua tangan untuk mematahkan golok itu.
"Krekkk!"
Golok itu patah menjadi dua potong dengan mudahnya. Tiong Li terbelalak, dan memandang kepada Ban-Tok Sian-Li.
"Sian-Li, bagaimana Sian-Li dapat mengetahui bahwa golok itu palsu?"
"Mudah saja. Kalau Mestika Golok Naga yang aseli, tentu tadi pedangku sudah patah-patah kalau bertemu dengan pusaka itu. Akan tetapi, pedangku sama sekali tidak patah, gempilpun tidak. Itu berarti bahwa golok itu palsu adanya."
Tiong Li membuang gagang golok itu.
"Sungguh aneh. Dia sendiri mengaku mencuri golok pusaka dan bahkan membunuh empat orang tokoh partai besar, kemudian membunuh ayahku dan membunuh pula suhu Pek Hong San-jin untuk menyembunyikan rahasianya. Dan sekarang golok yang dipegangnya itu palsu! Aneh!"
"Kenapa aneh, Tiong Li? Kurasa dia ada yang mengutus, dan kalau benar dugaanku dia ada yang mengutus, maka golok aselinya tentu berada di tangan yang mengutusnya itu,"
Kata Siang Hwi sambil memandang kepada pemuda itu penuh kagum.
Sejak pertama kali bertemu dulu, Siang Hwi memang sudah suka sekali kepada Tiong Li sehingga dibujuknya gurunya agar tidak membunuh pemuda itu.
Kini ia melihat Tiong Li sudah menjadi seorang pemuda dewasa yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka Siang Hwi menjadi kagum bukan main.
Tiong Li juga memandang gadis itu dengan kagum.
Kini Siang Hwi telah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik jelita, dan sinar matanya masih seperti dulu, lembut akan tetapi tajam sekali.
Dan melihat ketika gadis itu tadi menghadapi para pengeroyoknya, dia maklum bahwa Siang Hwi memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup tangguh.
"Aku akan mencari pengutusnya sampai kudapatkan golok pusaka itu!"
Kata Ban-Tok Sian-Li.
"Aih, Subo. Golok itu menjadi milik negara, kalau kita dapat menemukannya harus dikembalikan kepada kaisar."
"Ah, engkau tahu apa! Kaisar amat lemah, lebih baik golok itu dipergunakai untuk membantu perjuangan! Mari kita pergi!"
Wanita itu yang bagaimanapun merasa tidak enak dan tidak suka karena ia merasa kalah lihai oleh pemuda itu, sudah berkelebat pergi.
"Tiong Li, aku harus pergi mengikuti Subo,"
Kata Siang Hwi sambil memandang kepada pemuda itu dengan menyesal "Siang Hwi, pertemuan kita singkat sekali.
Sebetulnya aku ingin banyak bercakap-cakap denganmu.
Kapan kita dapat bertemu kembali?
Aku tidak pernah melupakan engkau yang telah menyelamatkan nyawaku."
Siang Hwi tersenyum manis.
"Kenapa engkau masih bicara begitu? Soal menyelamatkan nyawa, kalau tadi engkau tidak muncul, kukira aku dan Subo akan tewas di tangan mereka. Karena itu, tidak ada hutang budi lagi di antara kita. Kalau memang berjodoh, tentu kelak kita akan dapat bertemu kembali."
Tiba tiba wajah gadis itu berubah merah sekali karena ia sudah terlanjur bicara tentang berjodoh, pada hal tentu saja yang ia maksudkan berjodoh untuk bertemu kembali, akan tetapi dapat disalah artikan.
"Sudahlah, Tiong Li. Aku khawatir Subo nanti marah. Selamat tinggal, Tiong Li. Aku kagum kepadamu yang kini telah menjadi seorang pendekar yang amat lihai."
"Selamat jalan, Siang Hwi, dan ingat, kita pasti akan dapat saling ber jumpa kembali dan dapat bercakap-cakap lebih lama lagi."
Gadis itu melambaikan tangan lalu berkelebat pergi.
Sampai lama Tiong Li berdiri termenung.
Dia harus mengakui dalam hatinya bahwa dia amat tertarik kepada Siang Hwi dan merasa amat suka kepada gadis murid datuk wanita itu.
Entah mengapa, begitu bertemu kembali dengan gadis itu, dia merasa ada kebahagiaan yang aneh menyelinap di dalam hatinya dan kini setelah berpisah, dia merasa kehilangan dan kesepian.
Cinta asmara memang ajaib.
Merasa bahagia kalau bersanding, merasa tersiksa kalau berpisah.
Ingin memiliki dan dimiliki, ingin menyenangkan dan di senangkan, ingin memanjakan dan dimanjakan.
Ada rasa belas kasihan, ada rasa sayang yang mendalam dan kalau semua keinginan itu terpenuhi, hati penuh dengan kebahagiaan yang mendalam.
Namun, cinta itu pula yang dapat mendatangkan derita dan siksa.
Kalau cinta tidak terbalas, kalau cinta dikhianati, kalau cinta berubah menjadi bosan.
Maka cinta dapat berubah menjadi benci!
Dan semua ini adalah ulah nafsu.
Nafsu bertujuan satu, yakni ingin senang sendiri.
Cinta nafsu selalu menghendaki dirinya senang, maka cinta seperti ini membutuhkan balasan cinta, kalau tidak, cintanya akan berubah menjadi kebencian.
Dapatkah seseorang mencinta, kalau yang dicinta itu tidak membalas cintanya dan malah mencinta orang lain?
Dapatkah seseorang mencinta kalau yang dicinta itu tidak menghiraukannya, bahkan mencibir dan menghinanya?
Cinta yang bergelimang nafsu selalu menghendaki imbalan, jadi cintanya hanya merupakan cara untuk mendapatkan sesuatu.
Jelas, bahwa cinta seperti ini adalah cinta nafsu.
Akan tetapi kita manusia tidak dapat melepaskan diri dari nafsu yang memang diikut sertakan dalam diri setiap orang manusia.
Kalau kita mencinta seseorang, maka nafsu mendorong kita menuntut sesuatu yang menyenangkan dari orang yang kita cinta itu, baik yang kita cinta itu kekasih, isteri, anak, sahabat atau siapapun juga.
Kemanakah, larinya cinta kita kalau isteri kita menyeleweng dengan orang lain?
Ke manakah perginya cinta kita kalau anak kita durhaka dan tidak berbakti kepada kita.
Atau kalau seorang sahabat mengkhianati dan merugikan kita?
Tidak, kita tidak dapat mencinta tanpa pamrih, tidak dapat mencinta demi cinta itu sendiri.
Bahkan bagi kebanyakan dari kita, cinta kita terhadap Tuhan sekalipun mengandung harapan-harapan dan imbalan.
Lemas rasanya kedua kaki Tiong Li ketika akhirnya dia meninggalkan tempat itu dan entah bagaimana, kakinya membawanya kembali ke Kota Raja!
Dia ingin melihat Kota Raja, sebuah kota yang kabarnya indah dan ramai.
Tewasnya Hak Bu Cu tentu saja amat mengejutkan hati Perdana Menteri Jin Kui.
Dia segera mengadakan perundingan dengan para pembantunya, dan juga puteranya.
Di dalam ruangan rahasia di bagian belakang gedung Perdana Menteri itu, berkumpullah mereka.
Yang pertama adalah Perdana Menteri Jin Kui, berusia lima puluh tahun lebih, sorang pembesar dengan pakaian mewah tubuhnya sedang saja, akan tetapi matanya yang sipit itu melirak-lirik dengan cara yang menunjukkan bahwa di memiliki watak yang cerdik dan licik sekali.
Mulutnya juga selalu tersenyum mengejek dan angkuh.
Orang seperti ini pandai sekali menjilat-jilat atasan dan menghina dan menghimpit bawahan, dan kalau menjadi musuh amatlah berbahaya karena hatinya kejam dan banyak tipu muslihatnya.
Dia duduk di kepala meja, dihadap oleh empat orang.
Yang pertama, duduk di sebelah kanannya adalah puteranya yang bernama Jin Kiat.
Wajah pemuda berusia duapuluh lima tahun ini cukup tampan, akan tetapi juga bentuk wajahnya membayangkan kelicikan dan kecurangan.
Terutama sekali pada matanya yang bergerak-gerak lincah itu.
Hidungnya juga melengkung seperti hidung kakaktua dan suaranya meninggi seperti suara wanita.
Dia terkenal sebagai seorang pemuda mata keranjang, akan tetapi juga cerdik sekali dan selain ahli sastera juga ahli dalam hal ilmu silat, menjadi kebanggaan ayahnya.
Orang ke dua adalah seorang berpakaian pendeta.
Dia seorang Tosu bernama Kui To Cin-jin, masih guru dari Jin Kiat karena Tosu ini lah yang mengajarkan ilmu silat tinggi kepada Jin Kiat.
Selain sebagai guru pemuda itu, juga Kui To Cin-jin bertugas sebagai penasihat Perdana Menteri karena Tosu yang berusia lima puluh lima tahun ini memiliki pandangan yang luas.
Kui To Cin-jin bertubuh kurus, tinggi dan wajahnya yang seperti wajah tikus itu memiliki jenggot yang panjang sampai ke dada, namun jarang dan tipis.
Orang ke tiga berpakaian seperti ahli silat dan dia bernama Ciang Sun Hok, menjadi jagoan dan tugasnya sebagai pengawal pribadi Perdana Menteri.
Karena dia mengawal secara rahasia maka dia mengenakan pakaian biasa, tidak berpakaian sebagai perwira atau perajurit.
Tubuhnya tinggi tegap dan dari pembawaannya jelas menunjukkan bahwa dia seorang yang kuat dan bertenaga besar di samping ilmu silatnya yang tinggi.
Ciang Sun Hok yang berusia empatpuluh lima tahun ini adalah seorang peranakan Khitan yang sejak muda sudah menghambakan diri kepada Perdana Menteri Jin Kui maka dipercaya penuh oleh pajabat tinggi itu.
Adapun orang ke empat adalah seorang panglima berpakaian mewah, bernama Ma Kiu It, berusia empatpuluh tahun dan juga dia bertubuh tinggi tegap sehingga nampak gagah dalam pakaian panglima.
Dialah panglima pasukan pengawal Perdana Menteri Jin Kui.
Tiga orang pembantu dan puteranya inilah merupakan orang-orang yang dipercaya oleh Perdana Menteri Jin Kui di samping Hak Bu Cu, pembantu yang datang dari utara itu.
Atas bujukan Perdana Menteri Jin Kui inilah maka Kaisar bersikap lunak dan suka mengadakan perdamaian dan mengalah terhadap Bangsa Yu-cen atau Kerajaan Cin (Kin).
Hal ini sebetulnya tidak aneh kalau orang mengetahui asal usul Jin Kui yang penuh rahasia.
Ketika ibu kandung Jin Kui masih seorang gadis, diam-diam ia mempunyai hubungan gelap dengan seorang pelayan keluarganya.
Pelayan ini adalah Bangsa Yu-cen.
Dari Hubungan ini gadis itu mengandung dan melihat ini, orang tuanya marah kepada pelayan itu dan diam-diam si pelayan dibunuh dan gadis itu dinikahkan dengan seorang Bangsa Han yang bermarga Jin.
Setelah Jin Kui agak besar, Ibu kandungnya yang memberitahu kepadanya akan rahasia itu, bahwa ayah kandungnya sesungguhnya seorang berbangsa Yu-cen yang sudah meninggal dunia.
Demikianlah rahasia itu.
Jin Kui menyadari sepenuhnya bahwa dia keturunan Yu cen dan biarpun dia sendiri merahasiakan hal ini, ketika dia menduduki jabatan sampai menjadi Perdana Menteri, melihat gerakan Bangsa Yu-cen tentu saja diam-diam diapun bersimpati.
Inilah yang menyebabkan dia mati-matian berusaha agar kaisar berdamai dengan bangsa Yu-cen, apa lagi karena Kerajaan Kin banyak mengirim hadiah kepadanya dan sudah lama mengadakan persekongkolan dengannya.
Ketika mendengar berita bahwa Hak Bu Cu tewas di tangan dua orang wanita pemberontak itu, tentu saja Jin Kuil menjadi terkejut sekali dan segera dia mengadakan perundingan dengan empat orang itu.
"Celaka sekali!"
Jin Kui menggebrak meja.
"Hak Bu Cu tewas. Kalau Panglima Wu Chu mendengar akan hal ini, tentu dia merasa menyesal dan marah sekali. Jian Kiat, bagaimana engkau sekali ini tidak menyertai dia pergi sehingga dapat membantunya?"
"Ketika ayah menerima berita rahasia itu bahwa dua orang pemberontak wanita menyamar sebagai pengemis lolos dari pintu gerbang utara, ayah mengutus Hak Bu Cu membawa pasukan istimewa melakukan pengejaran dan ketika itu saya tidak tahu,"
Bantah Jin Kiat yang tidak mau dipersalahkan.
"Ma-Ciangkun, panggil seorang di antara tujuh pengawai yang selamat itu ke sini. Aku ingin mendengar sendikit keterangan darinya."
"Baik, Taijin."
Ma Kiu It segera keluar dan tak lama kemudian dia datang lagi bersama seorang perajurit pe ngawal yang kelihatan ketakutan.
Setelah perajurit pengawai itu berlutut di depan Jin Kui, Perdana Menteri Jin Kui berkata dengan ketus.
"Ceritakan bagaimana matinya Hak Bu Cu.dengan jelas!"
"Begini, Taijin. Kami llmabelas orang pengawai bersama Hak-slcu telah berhasil mengejar dua orang wanita pemberontak itu. Hak-Sicu dibantu lima orang pengawal lalu menyerang yang tua sedangkan sepuluh orang pengawal menyerang yang muda dan sesuai dengan kinginan Yin-kongcu kami berusaha untuk menangkapnya hidup-hidup."
Jin Kui mengerling dengan matanya yang sipit kepada puteranya.
"Hem, yang kau pikirkan hanya wanita saja!"
"Ayah, saya memang menyuruh menangkapnya hidup-hidup agar ia dapat menceritakan di mana adanya kawan-kawannya!"
Bantah Jin Kiat dengan cerdik.
"Lanjutkan!"
Perintah Jin Kui kepada pengawal itu.
"Sebetulnya kami sudah mulai mendesak dua orang wanita itu dan hanya tinggal menanti saatnya saja kami dapat menangkap dan merobohkan mereka. Akan tetapi muncul seorang pemuda yang membantu mereka. Pemuda itu yang menghadapi Hak-Sicu sedangkan dua orang wanita itu mengamuk dan melawan kami lima belas orang pengawal. Tanpa bantuan Hak-Sicu, kami kewalahan dan delapan orang dari kami tewas oleh dua orang wanita itu. Kemudian kami melihat Hak Bu Cu terlempar dan jatuh dekat wanita yang lebih tua itu dan wanita itu lalu membunuhnya. Kami tujuh orang lalu melarikan diri."
"Hemm, siapa pemuda itu?"
"Kami semua tidak mengenalnya, Taijin. Dia melawan Hak-Sicu menggunakan sebatang ranting."
"Sebatang ranting? Melawan Hak Bu Cu yang bersenjata golok?"
Seru Kui To Cin-jin sambil mengelus jenggotnya.
"Benar, Totiang. Pemuda itu lihai sekali dan gerakannya begitu cepat hingga nampak bayangannya saja."
"Seperti apa macamnya pemuda itu? Apa engkau akan dapat mengenalnya kalau bertemu dengan dia?"
Tanya Jin Kui.
"Kami bertujuh tidak dapat melihatnya dengan jelas, Taijin. Selain sibuk diamuk oleh dua orang wanita itu, juga gerakan pemuda itu begitu cepat sehingga yang nampak hanya bayangannya saja."
"Bodoh! Sialan. Sudah, engkau boleh pergi!"
Bentak Jin Kui Sambil menggebrak meja.
Pengawal itu dengan lega hati cepat-cepat meninggalkan tempat itu setelah memberi hormat.
Dia merasa beruntung sekali hanya dibentak, tidak dihukum.
Setelah pengawal itu pergi lima orang itu melanjutkan perundingan mereka.
"Sekarang, bagaimana baiknya? Yang terutama sekali dihadapi adalah Panglima Wu Chu dari Kerajaan Kin. Bagaimana untuk menerangkan kepadanya bahwa pembantunya itu tewas di sini?"
Semua orang berdiam, memikir dan mencari jalan keluarnya.
"Tidak ada jalan lain,"
Akhirnya Kui To Cin-jin mengemukakan pendapatnya.
"Kecuali menerangkan duduknya perkara yang sebenarnya, yaitu bahwa Hak-Sicu tewas oleh pemberontak yang lihai. Tinggal mencari jalan untuk menghibur hatinya dan membuatnya berkurang kemarahannya."
"Bagaimana kalau mengirim barang berharga untuk mendinginkan hatinya?"
Usul Panglima Ma Kiu It.
"Hmmm, kurasa itu tidak akan cukup. Selain Panglima Wu Chu sendiri kaya raya, juga Hak Bu Cu adalah pembantu utamanya yang amat disayang. Harus ada cara lain untuk menyenangkan hatinya,"
Kata Perdana Menteri itu.
"Ahh, aku tahu caranya!"
Tiba-tiba Jin Kiat berseru dengan girang.
"Ayah ingat ketika dia pernah berkunjung ke sini sebagai utusan Raja Kin? Ayah mewakili kaisar menjamunya di Istana dan aku yang duduk di sebelahnya melihat bahwa dia terpesona sekali ketika melihat tarian puteri Sung Hiang Bwee. Matanya melotot sampai akan keluar dari rongganya dan berulang kali dia menelan ludah dan bertanya kepadaku tentang puteri itu. Ketika aku memberitahu bahwa Sung Hiang Bwee itu puteri kaisar dari seorang selir, dia nampak kecewa dan menyesal sekali, berulang kali mengatakan sayang. Aku tahu benar bahwa dia tergila-gila kepada puteri itu!"
"Kalau sudah begitu, mengapa?"
Ayahnya mendesak.
"Kalau kita dapat menyerahkan Hiang Bwee kepada Panglima Wu Chu tentu kemarahannya akan hilang. Baginya tentu Hiang Bwee cukup berharga untuk menggantikan nyawa Hak Bu Cu,"
Kata Jin Kiat dengan cerdik.
"Hemm, apa engkau sudah gila? la puteri kaisar! Bagaimana mungkin menyerahkannya kepada Panglima Wu Chu?"
"Hanya puteri selir, ayah. Kalau kita dapat menculiknya tanpa ada yang tahu dan mengirimnya ke utara, tentu tidak akan ada yang mengetahui dan kaisar sama sekali tidak akan menyangka kita yang melakukan hal itu."
Jin Kui mengelus jenggotnya, matanya yang sipit nampak seperti terpejam dan dia mulai menganggukangguk, senyum di bibirnya semakin mengejek.
"Hemm, benar juga, akal itu boleh dikerjakan. Akan tetapi yang mengerjakan haruslah seorang ahli, tidak boleh sama Sekali sampai ketahuan orang,"
Dia mengelus jenggotnya dan memandang kepada empat orang itu dengan matanya yang sipit.
"Lalu siapa kira-kira yang dapat melakukan penculikan itu tanpa diketahui orang?"
"Ayah, siapa lagi yang lebih tepat untuk melakukannya kecuali Panglima Ciang Sun Hok? Dia adalah bekas jagoan istana yang sudah hafal benar akan keadaan di istana. Kalau dia yang melakukannya, aku tanggung akan berhasil dengan baik."
Ciang Sun Hok nampak agak gelisah ketika mendengar ucapan pemuda itu, akan tetapi tentu saja dia tidak berani membantah karena memang ia dahulunya merupakan jagoan istana dan dimasukkan ke sana juga atas bantuan Perdana Menteri yang kemudian menariknya menjadi pengawal pribadinya sendiri.
"Bagus, apakah engkau sanggup melakukannya, Ciang Sun Hok?"
Tanya Jin Kui kepada pengawal pribadinya itu.
"Semua perintah Taijin akan saya taati. Akan tetapi yang menjadi persoalan bukanlah menculik puteri itu. Hal itu memang mudah saja dilakukan. Akan tetapi persoalannya adalah, bagaimana membawanya keluar dari Kota Raja tanpa diketahui orang?"
"Itu mudah diatur,"
Kata Perdana Menteri Jin Kui.
"Setelah berhasil menculiknya keluar istana, sembunyikan dalam rumah penginapan An-Iok. Kemudian, pada keesokan paginya aku akan mengirim para selir pergi keluar kota mengunjungi kuiI itu dan kesempatan itu kau pergunakan untuk menyelundupkan puteri itu ke dalam kereta sehingga ia dapat dibawa keluar Kota Raja tanpa banyak kesulitan."
"Bagus, itu bagus sekali, ayah! Setelah tiba di luar kota, biar aku sendiri yang memimpin pasukan untuk mengantarnya dengan kereta ke utara."
"Jangan engkau, Jin Kiat. Kalau sampai ketahuan bahwa kita yang mengatur penculikan, kaisar tentu tidak akan mengampuni kita. Biar Ciang Sun Hok saja yang melakukan tugas Itu."
"Baik, Taijin. Akan saya laksanakan semua perintah Taijin."
Perundingan untuk mengatur siasat dilanjutkan sampai jauh malam dan akhirnya mereka bubaran, masing-masing mempersiapkan diri untuk rencana itu.
Sung Hiang Bwee adalah puteri kaisar dari selir yang ke empat.
Seorang gadis berusia delapanbelas tahun yang cantik jelita seperti bidadari dan sejak kecil puteri ini telah mempelajari segala macam kesenian, terutama sekali seni tari.
Demikian indah dan pandainya ia menari sehingga setiap kali kaisar menyambut datangnya tamu agung sang puteri menerima perintah Ayahnya untuk memperlihatkan kemahirannya menari.
Karena ia seorang puteri, tentu saja martabatnya tidak dapat disamakan dengan para penari biasa, dan kalau ia menari, karena semua orang tahu bahwa ia puteri kaisar, tidak ada yang berani mengeluarkan kata-kata yang menyinggung, kecuali tepuk tangan memuji keidahannya menari.
Banyak sudah para putera bangsawan dan hartawan yang tergila-gila kepada puteri ini, akan tetapi sang puteri belum senang bergaul dengan pria.
Juga kaisar belum melihat adanya seorang pemuda yang pantas menjadi suami puterinya yang cantik itu, maka sampai berusia delapanbelas tahun Sung Hiang Bwee masih belum bertunangan.
la tinggal di istana bagian puteri dan mengajarkan seni tari kepada para puteri istana lain yang masih kecil, yaitu adik adik dan keponakan-keponakannya, puteri dari para pangeran tua dan muda.
Pada malam itu, setelah puteri mengajarkan tari kepada para muridnya, la beristirahat di bangunan tengah taman yang indah.
Di bangunan terbuka ini ia merasa sejuk setelah tadi berkeringat mengajarkan tari.
Angin malam yang sejuk seperti mengipasi dirinya sehingga ia yang duduk di atas bangku menjadi mengantuk.
Dua orang dayang yang melayaninya, duduk di atas lantai, menunggu sang puteri yang duduk melenggut.
Tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan dua orang dayahg itu tiba-tiba merasa tubuh mereka kejang, lalu lemas dan tahu-tahu mereka telah jatuh pingsan tertotok.
Mendengar suara kedua orang dayang pelayannya roboh, Sung Hiang Bwee terkejut dan menengok.
la melihat seorang laki-laki berpakaian dan berkedok hitam sudah berdiri di depannya.
Sebelum ia sempat berteriak, laki-laki itu sudah menotoknya dan iapun roboh dengan lemas tak ingat apa-apa lagi.
Orang behpakaian dan berkedok hitam itu mengeluarkan sebuah kantung hitam besar, memasukkan tubuh sang puteri ke dalam karung sutera itu, lalu memanggulnya dan sekali berkelebat dia sudah melayang pergi dengan cepat sekali dari tempat itu.
Tidak ada orang lain melihat apa yang dia lakukan ini.
Ternyata orang itu adalah Ciang Sun Hok, pengawal pribadi Perdana Menteri Jin Kui.
Dia sudah melakukan persiapan dengan baiknya, mengenakan pakaian dan kedok hitam sehingga andaikata ada juga yang melihatnya, tentu tidak akan mengenalnya.
Dia sudah membuat perhitungan, tahu akan kebiasaan sang puteri yang setelah melatih tari biasanya memang mencari angin sejuk di taman itu.
Dengan mudah saja dia menculik.puteri itu, dan sekarang setelah menangkap sang puteri, dia juga mengambil jalan rahasia yang hanya diketahui oleh para pengawai istana.
Sebentar saja dia sudah keluar dari daerah istana, menyelinap di antara rumah-rumah orang dan tanpa ada yang mengetahuinya, dia sudah melompat naik ke atas atap rumah penginapan An-lok.
Dia memang sudah memesan kepada pemilik rumah penginapan untuk mendapatkan sebuah kamar paling belakang dan tidak boleh siapapun juga mendekati kamar itu.
Dengan jalan melalui jendela, dia memasuki kamar itu, mengeluarkan sang puteri dari karung sutera dan merebahkan sang puteri yang masih dalam keadaan lemas tertotok itu ke atas pembaringan.
Sung Hiang Bwee yang sudah sadar hanya dapat memandang dengan wajah ketakutan, akan tetapi ia tidak mampu bergerak atau bersuara.
la hanya melihat betapa orang itu tidak mengganggunya, setelah merebahkan ia di atas pembaringan, orang berkedok hitam itu lalu meninggalkan kamar dan menutupkan daun pintunya dari luar.
Ciang Sun Hok memang keluar untuk mendengarkan berita.
Ternyata sunyi saja, tanda bahwa hilangnya sang puteri belum diketahui orang dan hatinya merasa lega.
Sekarang tinggal melanjutkan sesuai rencana, Yaitu pada besok pagi-pagi menunggu Menteri Jin Kui yang akan mengirim para selirnya berpesiar keluar Kota Raja dan menyelundupkan sang puteri dalam kereta para selir itu.
Akan tetapi perhitungan rencana siasat yang sudah diatur sebaiknya itu ternyata tidak memperhitungkan hal-hal yang terjadi secara kebetulan.
Tanpa mereka duga, kebetulan sekali Tiong Li yang berada di Kota Raja malam itu juga bermalam di hotel An-lok!
Kamarnya agak di belakang dan karena malam itu dia belum tidur, masih duduk melamun, dia mendengar jejak kaki di atas genteng itu, betapapun hati-hati Ciang Sun Hok berlompatan.
Andaikata penculik itu tidak membawa beban, belum tentu Tiong Li dapat mendengarkan jejak kakinya, akan tetapi beban itu cukup berat dan membuat kakinya agak berat menginjak atap sehingga terdengar oleh telinga Tiong Li yang terlatih baik.
Tentu saja Tiong Li menjadi curiga mendengar jejak kaki di atas genteng itu.
Cepat dia lalu berpakaian, mengenakan sepatu dan tak lama kemudian dia sudah melompat naik ke atas atap rumah.
Sunyi saja di atas rumah itu dan mulailah Tiong Li mengintai ke kamar-kamar belakang.
Dan di kamar paling belakang itulah dia melihat seorang gadis sedang rebah telentang, tidak bergerak sama sekali, hanya matanya saja yang memandang ke sana sini dengan ketakutan.
Sekali pandang saja dia sudah dapat menduga bahwa gadis itu rebah secara tidak wajar dan mungkin sekali dalam keadaan tertotok.
Maka, setelah membongkar jendela dengan mudahnya, dia melompat ke dalam kamar.
Sung Hiang Bwee terkejut, sekali melihat seorang pemuda berpakaian putih tiba-tiba meloncat masuk dari jendela.
la terbelalak akan tetapi pemuda itu menaruh telunjuk di depan, mulut dan berbisik.
"Jangan takut, nona. Aku datang untuk menolongmu!"
Setelah berkata demikian, dia menotok jalan darah di tubuh gadis itu.
sehingga Hiang Bwee dapat bergerak lagi.
Akan tetapi karena sudah mendapat isyarat, ia tidak berteriak.
Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan masuklah Ciang Sun Hok yang masih berkedok.
Dia terkejut dan heran melihat seorang pemuda berpakaian putih sudah berada di kamar dan sang puteri sudah dapat duduk di pembaringan.
Tahu lah dia bahwa pemuda itu yang menolongnya, maka tanpa banyak cakap lagi dia menyerang Tiong Li dengan pukulan dahsyat.
Ciang Sun Hok adalah seorang jagoan yang lihai sekali, memiliki tenaga yang amat kuat.
Pukulan yang ditujukan ke arah Tiong Li mendatangkan angin berdesir keras.
Akan tetapi dengan tenang sekaii Tiong Li menangkis pukulan itu dengan lengannya.
"Dukk..."
Dua lengan bertemu dan Ciang Sun Hok terkejut sekali, merasa seperti bertemu dengan lengan yang amat lunak sehingga tenaganya lenyap begitu bertemu dengan lengan itu.!
Dia melompat ke samping lalu menyerang lagi dengan pukulan yang lebih hebat, sekali ini dia memukul dengan jari tangan terbuka, seperti orang mendorong.
Inilah jurus "Mendorong Kereta Emas"
Sebuah pukulan yang disertai tenaga sin-kang yang kuat sekali. Melihat ini, Tiong Li juga mendorongkan tangan kanannya sehingga kedua telapak tangan bertemu di udara.
"Desss..."
Sekali ini Ciang Sun Hok merasa betapa telapak tangannya bertemu dengan dinding baja yang amat keras dan akibatnya, dia terdorong ke belakang sampai menabrak dinding.
Pengawal Itu terkejut sekali dan maklumlah dia bahwa lawannya amat tangguh.
Dia khawatir bahwa suara gaduh perkelahian itu akan terdengar orang dan rahasianya akan terbuka, maka tanpa bicara apa-apa lagi tubuhnya menyelinap keluar dari pintu kamar itu, pergi melarikan diri.
Lebih baik pergi sekarang sebelum terbuka kedoknya!
Tiong Li tidak mengejar, melainkan menoleh kepada gadis yang duduk ke takutan di atas pembaringan itu.
"Nona siapakah dan apa yang telah terjadi? Siapa pula si kedok hitam itu?"
"Terima kasih atas pertolonganmu, Taihiap. Aku bernama Sung Hiang Bwee, seorang puteri istana. Tadi ketika berada di taman istana, muncul si kedok hitam itu membuatku pingsan dan membawaku ke tempat ini. Aku tidak tahu siapa dia dan mengapa dia menculikku."
Tiong Li terkejut sekali dan sejenak dia hanya dapat menatap wajah yang cantik jelita itu.
Pantas demikian cantik dan pakaiannya demikian indah, pikirnya.
Kiranya seorang puteri Kaisar "Maafkan saya, nona.
Saya tidak tahu bahwa nona seorang puteri istana!"
Katanya sambil memberi hormat.
"Sudahlah, dalam keadaan begini tidak perlu bersikap sungkan,"
Kata Hiang Bwee.
"Engkau telah menyelamatkan aku dari penculikan, tolonglah antar aku pulang ke istana!"
"Baik, tuan puteri,"
Kata Tiong Li dengan sikap hormat.
Sementara itu, Ciang Sun Hok melarikan diri dari hotel, langsung menghadap Perdana Menteri Jin Kui untuk melaporkan kegagalannya karena munculnya seorang pemuda baju putih di dalam kamar hotel di mana dia menyekap puteri Sung Hiang Bwee.
Mendengar ini, Jin Kui menjadi marah.
"Apakah mungkin pemuda itu yang telah menyebabkan tewasnya Hak Bu Cu?"
"Mungkin sekali, Taijin. Ilmu silatnya sungguh hebat sekali dan karena saya khawatir kalau keributan itu menarik perhatian banyak orang, terpaksa saya menlnggalkan pergi sebelum ada orang datang."
"Tentu puteri itu akan diantar pulang ke istana. Biar aku sendiri membawa pasukan menghadangnya"
Kata Jin Kui yang merasa penasaran sekali karena rencananya gagal.
Dia lalu membawa dua losin pengawal, diikuti pula oleh jagoan Ciang Sun Hok untuk menghadang perjalanan pulang puteri Sung Hiang Bwee.
Demikianlah, ketika Tiong Li mengantar sang puteri kembalI ke istana dengan berjalan kaki, mereka berdua bertemu dengan pasukan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Jin Kui.
"Tangkap penculik!"
Teriak sang Perdana Menteri. Ciang Sun Hok dan para pengawal sudah mengepung Tiong LI dengan sikap mengancam.
"Tahan...!"
Seru puteri Sung Hiang Bwee sambil mengangkat tangan ke atas.
"Jin-Taijin harap jangan salah sangka. Pemuda ini sama sekali tidak menculikku, bahkan dia yang membebaskan aku dari tangan penculik! Kalau kalian mengeroyok dan mencelakai dia, aku akan melapor kepada ayahanda Kaisar!"
Gertakan ini mengena. Jin Kui segera memberi aba-aba agar pasukannya mundur.
"Ah, begitukah? Kalau begitu kami salah sangka. Siapakah namamu, orang muda?"
"Nana saya Tan Tiong Li, Taijin,!"
Jawab Tiong Li dengan hormat.
"Kebetulan saja saya membebaskan sang puteri dari tangan penculik dan saya memenuhi perintah sang puteri untuk mengantarkannya pulang ke istana."
"Bagus, jasamu akan dicatat, Tiong Li. Sekarang pergilah dan serahkan sang puteri kepada kami. Kami yang akan mengantarkannya pulang ke istana."
"Baik, Taijin."
"Tidak, Jin-Taijin. Saya ingin mengajak penolong saya ini ke istana dan melaporkan tentang jasanya kepada ayahanda kaisar!"
Kata puteri itu dan terpaksa Jin Kui tidak dapat membantah.
Maka, bersama pasukannya dia lalu mengawal kedua orang itu memasuki istana.
Malam itu juga kaisar menerima puterinya yang dikawal Tiong Li.
Kaisar marah sekali ketika mendengar bahwa puterinya diculik orang.
Jin Kui yang ikut menghadap segera mendahului.
"Tidak salah lagi, Yang Mulia. Ini pasti perbuatan kau m pemberontak laknat itu!"
"Benar, kita harus hancurkan pemberontak-pemberontak itu. Kalau tidak, tindakan mereka akan menjadi semakin-kurang ajar!"
Kaisar lalu memandang kepada Tiong Li.
"Siapakah namamu, orang muda?"
"Nama hamba Tan Tiong Li, Yang Mulia."
"Tiong Li, jasamu besar sekali telah menyelamatkan puteri kami. Karena itu, kami hendak menghadiahkan pangkat perwira pengawal kepadamu."
"Ampun beribu ampun,Yang Mulia. Banyak terima kasih atas anugerah yang Paduka berikan kepada hamba. Akan tetapi hamba minta waktu, Yang Mulia pada saat ini hamba masih mempunyai banyak urusan pribadi yang harus diselesaikan, maka perkenankan hamba menyelesaikan urusan pribadi lebih dahulu, barulah kelak hamba akan menaati perintah Paduka."
"Hemm, baiklah. Kalau engkau sudah selesai dengan urusanmu, datanglah menghadap kepada kami dan kami akan memberi anugerah pangkat kepadamu."
Setelah mendapat perkenan dari Kaisar, Tiong Li lalu meninggalkan istana Akan tetapi ketika dia sudah tiba di ruangan paling depan, tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Tan-Taihiap...!"
Tiong Li menengok dan alangkah herannya melihat bahwa yang memanggiInya itu adalah sang puteri, Sung Hiang Bwee.
Tentu puteri itu telah mengambil jalan pintas maka dapat mendahuluinya tiba di ruangan luar itu.
"Tuan Puteri..."
Dia memberi hormat.
"Ah, Taihiap, jangan menyebutku tuan Puteri. Namaku Sung Hiang-Bwee,"
Kata puteri itu dengan ramah dan manis.
"Eh, nona Sung Hiang Bwee..."
"Hah, begitu lebih akrab, bukan Taihiap, kenapa engkau menolak pemberian pangkat oleh ayahanda kaisar? Akti ingin sekali engkau menerimanya sehingga engkau dapat tinggal di istana, menjadi pengawal dan kita dapat setiap saat saling berjumpa..."
"Saya belum siap untuk menjadi pengawal, nona. Saya masih mempunyai banyak urusan pribadi dan masih ingin bebas dari ikatan pekerjaan."
"Akan tetapi, Taihiap, kalau engkau pergi, sampai kapan kita akan dapat saling bertemu kembali?"
Gadis itu bertanya, suaranya terdengar penuh kecewa dan penyesalan.
"Sekali waktu kita tentu akan dapat bertemu kembali, nona. Setelah saya merasa bahwa saatnya tiba, saya tentu akan menghadap SriBaginda Kaisar kembali untuk membantu beliau."
"Benarkah, Taihiap? Saya akan selalu menanti kedatanganmu. Saya akan merasa kehilangan sekali kalau Taihiap tidak segera datang kembali. Selamat Jalan, Taihiap."
"Selamat tinggal, nona."
Mereka berpisah karena sudah nampak beberapa orang dayang dan pengawal memandang mereka dari kejauhan dengan sinar mata heran.
Dan diam-diam Tiong Li merasa heran akan sikap gadis puteri kaisar itu.
Kenapa sikapnya demikian ramah dan akrab?
Apakah karena merasa telah ditolongnya?
Dia merasa tidak enak sendiri.
Hiang Bwee adalah puteri kaisar, dan dia hanya seorang pemuda miskin putera petani dan pemburu sederhana.
Agaknya tidak pantas kalau mereka bersahabat.
Tiong Li sama sekali tidak tahu bahwa ketika dia bercakap-cakap dengan Hiang Bwee tadi, terdapat sepasang mata yang mengintai dengan sinar mata mencorong penuh iri hati dan kemarahan.
Mata itu adalah mata Jin Kiat.!
Sebetuliya, sudah lama Jin Kiat tergila-gila kepada Hiang Bwee dan beberapa kali dia dengan jelas menyatakan perasaan hatinya kepada gadis itu.
Akan tetapi Hiang Bwee tidak menanggapinya, bahkan membelakanginya, tidak perduli bahkan kelihatan tidak suka kepadanya.
Karena itu, untuk membalas sakit hatinya, dia mengusulkan kepada ayahnya agar menculik dan menyerahkan gadis itu kepada Wu Chu, panglima Kin itu.
Akan tetapi, penculikan itu digagalkan seorang pemuda dan kini dia melihat dengan mata kepala sendiri betapa Hiang Bwee bercakap-cakap dengan pemuda itu, dengan sikap demikian mesra.
Hati siapa takkan menjadi panas dan cemburu?
Jin Kiat mengerahkan pasukan untuk melakukan pengejaran terhadap Tiong Li.
Akan tetapi dia tidak berani turun tangan di Kota Raja.
Tiong Li baru saja akan dihadiahi pangkat oleh kaisar.
Kalau dia menyerangnya, maka tentu kaisar yang berterima kasih kepada pemuda itu menjadi tidak senang kepadanya.
Dia hanya membayangi dengan dua losin pasukan dan ditemani pula oleh seorang ,yang berusia enampuluh tahun, tinggi kurus dengan muka seperti tengkorak.
Itulah Tang Boa Lu, Manusia Tengkorak, guru dari mendiang Hak Bu Cu.
Manusia Tengkorak ini yang dahulu bersama Hak Bu Cu telah menyerang Pek Hong San jin sehingga mengakibatkan tewasnya hwe-shin pertapa di Liong San itu.
Tang Boa Lu ini memang diperbantukan kepada Perdana Menteri Jin Kui (Lanjut ke
Jilid 05) Mestika Golok Naga (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo
Jilid 05 oleh pang lima Bangsa Kin yaitu Wu Chu.
Melihat sepak terjang Tiong Li, Jin Kiat menduga bahwa agaknya pemuda yang lihai inilah yang telah menyelamatkan Hiang Bwee dari penculikan, yang dulu pernah mengalahkan dan mengakibatkan kematian Hak Bu Cu.
Menurut para pengawal, pemuda yang mengalahkan Hak Bu Cu dan menyebabkan Hak Bu Cu tewas di tangan Ban-Tok Sian-Li, adalah seorang pemuda yang terlalu cepat gerakannya sehingga tidak dapat dikenali wajahnya, akan tetapi para pengawal itu mengetahui bahwa pemuda itu lihai bukan main.
Dan pemuda yang menolong Hiang Bwee inipun amat lihai sehingga jagoan istana Ciang Sun Hok tidak mampu menandinginya.
Inilah sebabnya ketika melakukan pengejaran, dia mengajak Tang Boa Lu.
Dan Manusia Tengkorak ini pun ikut dengan penuh semangat ketika diberitahu bahwa mungkin pemuda yang dikejarnya itu yang telah menewaskan Hak Bu Cu, muridnya.
Betapa senang rasa hati Jin Kiat, ketika dia melihat Tiong Li pergi ke rumah penginapan An-lok untuk mengambil pakaiannya dan membayar sewa kamar, kemudian pemuda itu langsung saja pergi keluar dari Kota Raja.
melalui pintu selatan.
Terbukalah kesempatannya untuk menyerang dan membunuh pemuda itu!
Mereka segera melakukan pengejaran dan setelah tiba di tempat yang sunyi, cukup jauh dari pintu gerbang selatan, Jin Kiat dan Tang Boa Lu membawa dua losin pasukan itu menyusul dan mengepung Tiong Li.
"Berhenti!"
Bentak Jin Kiat sambil mencabut pedangnya.
Dihadang dan dikepung duapuluh enam orang itu, Tiong Li bersikap tenang saja, apa lagi ketika melihat pakaian para anak buah pasukan itu adalah pakaian perajurit; Kerajaan Sung.
Baru saja dia hendak diangkat perwira oleh kaisar, maka tentu saja kini dia tidak berprasangka buruk terhadap pasukan Sung.
"Ciang-kun,"
Katanya kepada Jin Kiat yang berpakaian panglima.
"Ada keperluan apakah ciang kun menyusul saya? Apakah ada perintah dari SriBaginda Kaisar.?"
"Benar, SriBaginda Kaisar mengutus kami untuk menangkapmu!"
Bentak Jin Kiat. Tentu saja Tiong Li merasa terkejut sekali mendengar ucapan yang ketus ini. Dia mengerutkan alisnya dan bertanya.
"Apa kesalahanku?"
"Kesalahanmu sudah jelas! Engkau seorang pemberontak! Engkau membantu dua orang wanita pemberontak melawan pasukan pemerintah. Engkau harus ditangkap!"
Tiong Li teringat akan pertempurannya ketika dia membantu Ban-Tok Sian-Li dari The Siang Hwi, dan tentang pertandinqannya melawan Si Golok Naga.
"Hemm, kalau benar SriBaginda Kaisar memerintahkan untuk menangkap aku, Coba perlihatkan surat perintahnya"
Dia merasa curiga.
"Tidak perlu surat perintah! Engkau menyerah atau kami akan menggunakan kekerasan membunuhmu!"
Bentak Jin Kiat.
"Kukira tidak akan semudah itu, sobat! Tanpa surat perintah Kaisar, aku tidak akan menyerah!"
Mendengar ini, Jin Kiat lalu berseru keras.
"Serang! Bunuh!!"
Jin Kiat sendiri sudah menggerakkan pedangnya menyerang Tiong Li sedangkan Si Muka Tengkorak juga sudah menggerakkan kedua tangannya memukul dari jarak jauh.
Melihat Si Muka Tengkorak, walaupun kini mengenakan pakaian panglima, Tiong Li tiba-tiba teringat.
Orang inilah yang dulu bersama Si Golok Naga mengeroyok suhunya, Pek Hong San-jin!
Kini mengertilah dia mengapa kelompok pasukan ini, yang dipimpin oleh pemuda tampan dan Si Muka Tengkorak, menghadangnya dan hendak menangkapnya.
Tentu Si Muka Tengkorak itu akan membalaskan kematian Si Golok Naga!
Dengan mudah dia mengelak dari sambaran pedang Jin Kiat, akan tetapi ketika pukulan jarak jauh dari Muka Tengkorak itu melandanya, dia terkejut.
Kiranya tenaga Si Muka Tengkorak ini luar biasa kuatnya, maka tidak heran ketika dahulu dia terkena pukulan jarak jauh itu, dia sampai pingsan dan Pek Hong San-jin sampai terluka parah yang menyebabkan kematiannya.
Cepat dia mengerahkan tenaga Jian-kin-lat (Tenaga Seribu Kati) untuk melawan hantaman itu dan ketika kedua tangan bertemu, keduanya terdorong mundur, tanda bahwa tenaga yang terkandung dalam dorongan dan tangkisan itu seimbang kekuatannya.
Si Muka Tengkorak yang menjadi heran dan terkejut bukan main.
Kini diapun teringat setelah memandang wajah Tiong Li.
Tidak salah lagi, pemuda ini adalah pemuda remaja belasan tahun yang dulu pernah dilihatnya di Pek-hong-san, murid dari Pek Hong San-jin.
Dahulu, ketika baru berusia lima belas tahun saja sudah mampu menandingi Hak Bu Cu, dan sekarang ternyata telah memiliki tenaga sinkang yang mampu menandingi pukulan Angin Badai yang tadi dia lontarkan!
"Kau...?"
Bentaknya.
"Kau murid Pek Hong San-jin? Engkau yang telah membunuh muridku?"
"Hemm, kiranya engkau Si Muka Tengkorak yang dahulu datang bersama Si Golok Naga! Benar aku yang merobohkan muridmu, dia jahat sekali. Habis engkau mau apa!? Bagaimana engkau dapat bergabung dengan pasukan kerajaan?"
Mendengar percakapan itu, Jin Kiat sudah membentak dan memerintahkan anak buahnya.
"Cepat, serang dan bunuh pemuda pemberontak ini "
Dan Tiong Li sudah diserang dari semua jurusan.
Karena lawannya yang mengeroyok amatlah banyaknya, Tiong Li lalu mengerahkan ilmu meringankan tubuh Jouw-sang-hui dan tubuhnya berkelebatan seperti berubah menjadi bayang-bayang menghindarkan semua senjata yang menyambar ke arahnya.
Pada saat itu terdengar sorak sorai dan muncullah duapuluh orang yang berpakaian seperti petani, dipimpin seorang pemuda tinggi besar yang gagah perkasa.
Pemuda ini bersenjatakan sepasang kapak dan begitu terjun ke pertempuran, pemuda itu sudah merobohkan dua orang yang mengeroyok Tiong Li.
Melihat ini, Jin Kiat dan para perajurit menyambut dan terjadilah pertempuran sengit, sedangkan Si Muka Tengkorak bertanding melawan Tiong Li.
"Bunuh para pemberontak!"
Jin Kiat berseru nyaring, akan tetapi hatinya gentar sekali ketika dia mengenal pemuda tinggi besar bersenjatakan sepasang kapak itu.
Pemuda itu bukan lain adalah Gak Liu, putera mendiang Jenderal Gak Hui yang semenjak kematian ayahnya, tetap melanjutkan perjuangan menghimpun tenaga rakyat dan kadang juga menentang pasukan Sung sendiri kalau melihat pasukan itu melakukan penindasan terhadap rakyat jelata.!
Ketika tadi Gak Liu melihat Jin Kiat dan Orang-orangnya mengeroyok serang pemuda, tidak sukar baginya untuk membantu pemuda itu karena dia tahu siapa Jin Kiat.
Putera Perdana Menteri ini sudah berbuat dosa yang tak terhitung banyaknya.
Terutama sekali merampas dan menodai wanita-wanita, baik yang sudah bersuami maupun gadis-gadis yang dipaksanya, mengandalkan kedudukan, harta benda dan kekuatan.
Gak Liu memang membenci sekali putera Perdana Menteri ini, sebagai putera musuh besarnya dan dia segera mengamuk dengan kapaknya, mendekati Jin Kiat.
Jin Kiat mengamuk dengan pedangnya dan dia mencari jalan untuk meloloskan diri.
Setelah merobohkan dua orang pengikut Gak Liu, dia melompat ke luar dari pertempuran dan hendak melarikan diri.
Memang Jin Kiat ini mempunya i watak pengecut.
Melihat Si Muka Tengkorak belum juga dapat menang melawan pemuda itu, dan kemudian melihat Gak Liu, dia menjadi ketakutan dan ber usaha meloloskan diri.
Akan tetapi dengan tiga kali lompatan jauh, Gak Liu sudah dapat menghadangnya.
Kedua tangannya memegang kapaknya yang berlumuran darah dan wajahnya yang gagah itu nampak bengis sekali sehingga Jin Kiat menjadi semakin jerih.
"Gak Liu, minggir kaul Apakah engkau ingin dlhukum mati pula seperti ayahmu!"
Bentakan ini sungguh salah alamat. Gak Liu tidak menjadi takut atau mundur mendengar bentakan ini, bahkan amarahnya ma"in berkobar.
"Jahanam busuk, engkaulah yang akan menerima hukuman mati dari ku!"
Dia menyerang dengan sepasang kapaknya dan Jin Kiat terpaksa melayaninya bertanding.
Pertandingan mati-matian karena keduanya mengerti bahwa siapa yang kalah tidak akan lolos dari maut.
Jin Kiat mengerahkan seluruh tenganya dan mengeluarkan semua iImu pedangnya untuk memenangkan pertandingan itu.
Sementara itu, rombongan perajurit itu mendapat serangan hebat dari para pejuang sehingga mereka terdesak.
Juga pertandingan antara Tang Boa Lu dengan Tiong Li berlangsung tidak seim bang lagi.
Betapapun lihainya Si Muka Tengkorak, namun menghadapi Tiong Li akhirnya dia kewalahan juga.
Apa lagi ketika Tiong Li memainkan ilmu silat Ngo-heng-lianhoan-kun, dia menjadi repot sekali.
Dalam hal tenaga sinkang, dia juga tidak mampu menandingi pemuda itu.
Setelah bertanding lewat lima puluh jurus, Si Muka Tengkorak mulai terengah-engah dan mandi keringat.
Terlalu banyak tenaga yang dia kerahkan.
Padahal, lawannya masih nampak segar dan bahkan makin lama tenaganya menjadi semakin kuat.
Tahulah Tang Boa Lu bahwa kalau dia nekat melanjutkan pertandingan itu, dia akan menderita kekalahan.
Dia tidak mau nekat mengadu nyawa karena dia hanya menjadi orang yang diperbantukan kepada Perdana Menteri Jin Kui.
Untuk apa dia membela Jin Kiat sampai mati?
Melihat pemuda itu terus mendesaknya, dia mengerahkan tenaga terakhir dan mengirim pukulan jarak jauh sambil mengeluarkan bentakan dahsyat.
Kembali dia telah mengirim dengan pukulan jarak jauh yang bernama ilmu pukulan Angin Badai.!
Akan tetapi sekali ini Tiong Li tidak mau memberi hati kepadanya.
Dia sudah menyambut pukulan itu dengan Tal lek-kim-kong-jiu!
Dua tenaga sakti bertemu di udara menggetarkan bumi di sekitarnya dan akibatnya tubuh Si Muka Tengkorak terpental dan jatuh bergulingan, dari mulutnya keluar darah segar tanda bahwa dia telah terluka dalam!
Dia tahu akan bahaya, maka tubuhnya bergulingan terus, lalu dia melompat Jauh dan melarikan diri.
Tiong Li tidak mengejarnya.
Biarpun Si Muka Tengkorak itu yang menyebabkan kematian suhunya, namun dia tidak mendendam, sesuai dengan ajaran mendiang Pek Hong San-jin.
Dia hanya membantu para pejuang yang menghadapi para perajurit.
Tinggal enam orang perajurit yang masih melawan dan melihat keadaan mereka demikian terdesak, enam orang ini lalu melarikan diri cerai berai tanpa pimpinan lagi.
Cuma tinggal Jin Kiat kini yang masih melawan Gak Liu mati-matian.
Dia tidak mempunyai kesempatan untuk melarikan diri lagi karena sepasang kapak di tangan Gak Liu mendesaknya dengan hebat.
Wajah Jin Kiat sudah menjadi pucat hatinya diliputi ketakutan yang amat sangat.
Si Muka Tengkorak sudah melarikan diri, semua anak buahnya juga sudah tewas atau lari, tinggal dia sendiri.
Akan tetapi Gak Liu juga tidak mengandalkan kawan-kawannya.
Dia melarang anak buahnya yang hendak mengeroyok.
"Biarkan aku menghadapinya sendiri!"
Teriaknya ketika ada yang hendak membantunya.
Para anak buahnya tidak berani maju dan hanya menjadi penonton sambiI mengepung tempat itu.
Tentu saja Jin Kiat makin tak dapat lolos karena pengepungan itu, maka diapun melawan dengan nekat dan matimatian.
Dia mengeluarkan seluruh ilmu pedangnya untuk melawan, akan tetapi sepasang kapak di tangan Gak Liu itu hebat bukan main, seperti sepasang naga berebut mestika, menyambar-nyambar dari segala jurusan.
"Singggg... tranggg...!!"
Pedang yang menyambar itu ditangkis oleh sepasang kapak yang menjepitnya dan pedang itu patah menjadi dua!
Baca Juga: Jaka Lola 4
Baca Juga: Pedang Sinar Emas 9