Ceritasilat Novel Online

Mestika Golok Naga 3

Eps 3 Mestika Golok Naga - Kho Ping Hoo

Baca online Mestika Golok Naga - Kho Ping Hoo

Cersil Mestika Golok Naga - Kho Ping Hoo.

Sebuah tendangan kaki Gak Liu membuat Jin Kiat jatuh tersungkur.

Kini Jin Kiat tidak dapat lagi menahan rasa takutnya.

Dia merangkak dan berlutut mengangkat kedua tangannya ke atas dan minta-minta ampun.

"Hemm, ingat engkau ketika para gadis dan wanita itu minta-minta ampun kepadamu? Apakah engkau mengampuni dan melepaskan mereka! Engkau malah menertawakan mereka. Rasakan ini!"

Kapak itu menyambar dan mengenai kepala Jin Kiat yang seketika roboh terpelanting dengan kepala pecah.

"Ini untuk hukumanmu. Terimalah ini, dan ini, dan ini...!"

Kedua kapak itu bertubi-tubi menghantami tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi Itu.

Di antara anak buah Gak Liu yang memaling kan muka karena tidak tahan melihat peristiwa yang mengerikan itu.

Agaknya Gak Liu melampiaskan semua dendam atas kematian ayah dan saudara-saudaranya dan melampiaskan amarahnya kepada putera Perdana Menteri Jin Kui yang dibencinya itu.

Tiba-tiba kapaknya tertahan di udara.

Ada orang yang memegangi kedua lengannya dan dia tidak mampu menggerakkan tangan lagi walaupun dia sudah mengerahkan tenaga!

Gak Liu terkejut dan menoleh.

Ternyata yang menahan kedua tangannya adalah pemuda yang tadi bertanding dengan Si Muka Tengkorak.

"Sudah cukup, Twako. Menyiksa tubuh yang sudah menjadi mayat dan yang tak dapat melawan lagi bukanlah perbuatan seorang gagah, melainkan perbuatan seorang yang gila karena dendam."

Mendengar perkataan itu, Gak Liu menurunkan kedua kapaknya dan memandang kepada Tiong Li penuh perhatian, lalu dia memandang kepada mayat Jin Ki at yang hancur, kemudian menghela na-pas panjang.

"Engkau benar, sobat,"

Lalu dia memerintahkan semua anak buahnya untuk mengubur semua jenazah, bukan hanya jenazah teman-teman, akan tetapi juga jenazah semua perajurit termasuk jenazah Jin Kiat.

Kemudian dia mengajak Ti ong Li duduk di bawah pohon untuk bercakap-cakap dan berkenalan.

"llmu silatmu hebat sekali, sobat muda. Siapakah namamu dan bagaimana engkau tahu-tahu dapat dikeroyok oleh Jin Kiat dan anak buahnya?"

"Nama saya Tan Tiong Li, dan sebelum saya menceritakan mengapa saya diserang mereka, lebih dulu saya ingin tahu siapakah Twako yang gagah perkasa ini?"

"Hemm, namaku Gak Liu."

"She Gak? Mengingatkan aku akan Jenderal Gak Hui,"

Kata Tiong Li lebih ramah karena melihat Gak Liu juga ramah kepadanya.

"Mendiang Jenderal Gak Hui adalah ayahku."

Tiong Li terkejut dan cepat bangkit lalu memberi hormat.

"Ah, kiranya putera mendiang Jenderal Gak Hui yang amat terkenal gagah perkasa dan budiman itu!? Maafkan kalau saya bersikap kurang hormat!"

Gak Liu menghela napas panjang.

"Aihhh, mendiang ayahku memang seorang gagah perkasa dan budiman. Akan tetapi aku... aku hanya seorang pejuang biasa yang kadang naik darah, sama sekali tidak budiman. Aku tidak mau membonceng ketenaran nama ayahku. Saudara Tiong Li, aku melihat IImu silatmu tinggi sekali. Bagaimana sampai engkau tadi dikeroyok oleh iblis kecil putera Perdana Menteri Jin Kui itu?"

Kembali Tiong Li terkejut, Dia sudah lama mendengar nama Perdana Menteri Jin Kui yang dibenci, banyak orang dan dimaki sebagai seorang menteri durna yang menghasut dan membujuk Kaisar sehingga mau mengalah terhadap Bangsa Kin, Jadi pemuda yang dibantai tadi adalah putera Menteri Jin Kui itu?

Kini mengertilah dia.

Dia sudah mendengar bahwa kematian Jenderal Gak Hui adalah gara-gara Perdana Menteri Jin Kui.

Jadi sekarang putera Jenderal Gak Hui membuat pembalasan terhadap putera Perdana Menteri Jin Kui!

"Hemm, kiranya dia itu putera Perdana Menteri Jin Kui?

Pantas engkau begitu membencinya, Gak-Twako, tentu karena dendam."

"Bukan hanya dendam, Tan-te (adik Tan), akan tetapi pemuda itu memang seorang yang tidak kalah jahat dari ayahnya. Dia suka mempermainkan wanita dan diapun menindas rakyat yang tidak mau menjilat-jilat kepadanya. Dia sudah pantas mati seperti itu. Lalu bagaimana engkau sampai dimusuhi olehn dia?"

"Aku sendiri tidak tahu dengan jelas, Twako. Aku pernah menolong seorang puteri kaisar yang diculik penjahat. Aku mengantarnya pulang ke istana. Kaisar hendak memberi anugerah pangkat, akan tetapi aku tidak mau dan aku pergi meninggalkan istana. Eh, tahu-tahu di sini dikejar oleh rombongan itu dan pemuda tadi mengatakan bahwa dia diperintah oleh kaisar untuk membunuhku dengap alasan bahwa aku seorang pemberontak. Aku minta tanda perintah kaisar, akan tetapi dia tidak dapat membuktikannya maka aku melawan."

"Hemm, bedebah itu! Sama dengan ayahnya. Menggunakan nama Kaisar yang lemah untuk menuduh semua orang pemberontak. Tan-te, engkau seorang yang berilmu tinggi, marilah engkau bergabung dengan kami!"

"Maaf, Gak-Twako. Aku setuju sekali dengan perjuangan rakyat menentang Kerajaan Kin dari utara dan usaha untuk mengusir mereka dari tanah air. Akan tetapi akupun setia kepada Kerajaan Sung dan karenanya aku tidak suka memusuhi Kaisar yang harus kubela. Aku amat setuju dengan sikap dan tindakan mendiang Jenderal Gak, ayahmu sendiri."

"Aaahh, itu merupakan suatu titik kelemahan! Karena kekerasan hatinya mempertahankan kelemahan itulah ayah sampat diracuni dan menemukan kematiannya secara menyedihkan sekali. Tidak, Tan-te, sikap itu keliru. Musuh besar kita memang Bangsa Kin yang harus kita usir dari tanah air, akan tetapi banyak sekali pejabat korup dan penindas rakyat, pejabat yang pada lahirnya saja setia kepada kaisar akan tetapi pada dasarnya hanya mencari keuntungan sendiri, pejabat demikian itu malah melemahkan kerajaan dan perlu dibasmi. Kerajaan perlu dibersihkan dari para pejabat semacam itu!"

"Akan tetapi itupun merupakan pemberontakan karena mereka adalah pejabat pemerintah. Kecuali urusan pribadi, maka tidak akan melibatkan pemerintah. Kalau sudah merupakan permusuhan terbuka dengan pasukan mereka itu merupakan pemberontakan. Pantas saja kalian dianggap pemberontak."

Gak Liu tertawa.

"Ha-ha-ha, engkau masih hijau dalam hal perjuangan, Tan-te. Nanti kalau engkau sudah mengalami sendiri, apa lagi kalau sudah bentrok dengan Perdana Menteri Jin Kui, baru engkau mengerti apa yang kumaksudkan dengan membasmi para pejabat korup dan jahat,"

"Maaf, Gak-Twako. Aku sendiri biarpun bersimpati kepada para pejuang, belum ingin melibatkan diri. Aku hanya ingin melangkah sebagai seorang pendekar yang membela kebenaran dan keadilan, melindungi mereka yang tertindas dan menentang mereka yang melakukan ke kerasan untuk memaksakan kehendaknya."

"Baiklah, Tan-te. Aku yakin akhirnya engkau akan bergabung juga dengan para pejuang."

Mereka lalu berpisah dan Tiong Li memandang kepergian orang gagah itu bersama anak buahnya dengan termenung.

Dia sudah banyak mendengar dari para gurunya tentang Jenderal Gak Hui, dan dia melihat betapa Gak Liu itupun memiliki kegagahan yang mengagumkan.

Kalau para pejuang seperti Gak Liu itu pendiriannya, agaknya Bangsa Kin akan dapat diusir keluar dari tanah air.

Sayang, Kaisar memang lemah dengan adanya banyak pejabat macam Jin Kui yang mempengaruhinya.

Si Muka Tengkorak melarikan diri kembali ke gedung Perdana Menteri Jin Kui membawa luka dalam dan membawa berita buruk.

Dia masih sempat mengintai ketika Jin Kiat terbunuh oleh Gak Liu dan dia bergegas kembali ke rumah Perdana Menteri Jin Kui untuk melapor.

Sepasang mata sipit yang biasanya bergerak cepat dengan cerdiknya Itu kini terbelalak, mukanya sebentar pucat Sebentar merah ketika dia mendengar laporan tentang kematian puteranya.

"Apa...? Gak Liu membunuh Jin Kiat puteraku? Celaka...! Jahanam betul! Ahhhhh..."

Hampir gila Jin Kui dibuatnya karena marah dan sedih hatinya.

Dia berjalan hilir mudik di ruangan itu, sebentar mengepal tinju, sebentar menangis seperti orang gila.Dia segera mengumpulkan semua orang kepercayaannya untuk diajak berunding.

Ciang Sun Hok, jagoan yang dipercaya itu, lalu Kui To Cin-jin yang menjadi guru Jin Kiat, Ma Kiu It panglima pengawal Jin Kui, dan Tang Boa Lu Si Muka Tengkorak hadir sambil menundukkan muka karena maklum bahwa majikan mereka sedang marah dan berduka.

"Celaka...! Mereka membunuh anak ku! Apa yang kita perbuat sekarang?"

Berulang kali Jin Kui berteriak dan akhirnya Kui To Cin-jin memberanikan dirinya untuk bicara.

"Taijin, karena jelas bahwa pembunuhnya adalah Gak Liu, maka kita kerahkan pasukan untuk mencari dan menangkap pemberontak itu."

"Akan tetapi semua ini gara-gara puteri selir itu!, Kalau Jin Kiat tidak mengejar pemuda bernama Tan Tiong Li itu tentu dia tidak akan tewas di tangan Gak Liu. Puteri selir itu harus tetap ditangkap dan terutama Tiong Li itu harus dapat dibunuh!"

Kui To Cin-jin berkata.

"Maaf,Taijin. Untuk menghadapi Tan Tiong Li tidaklah mudah. Saya sendiri sudah merasakan? kehebatan ilmu kepandaiannya.seorang pemuda sakti. Karena itu, kalau Taijin setuju, saya akan memanggil beberapa orang kawan yang berilmu tinggi dari utara untuk bersama-sama menghadapinya."

"Baik, engkau boleh berangkat sekarang juga untuk memanggil mereka!"

Kata Jin Kui yang sudah marah dan bernafsu sekali untuk membalas penyebab kematian puteranya.

Setelah berunding, dia lalu menetapkan keputusannya.

Pertama, puteri Sung Hiang Bwee harus tetap ditangkap dan diserahkan kepada Panglima.

Wu Chen dari Kerajaan Kin.

Kedua, sebarkan fitnah bahwa yang menculik sang puteri adalah; para pemberontak yang dipimpin oleh Gak Liu.

Ke tiga mengerahkan pasukan untuk melakukan pembersihan terhadap para pemberontak.

Ke empat, mencari.Tan Tiong Li dan Gak Liu sampai dapat dan membunuh mereka.

Dan kelima dari para penyidik kini telah diketahui bahwa dua orang wanita yang membantu para pemberontak adalah Ban-Tok Sian-Li dan muridnya dari Lembah Maut dan harus diserbu.

Dan untuk pelaksanaan semua ini, Kui To Cin-jin akan memanggil dua orang sutenya dari utara.

Dua orang sutenya itu adalah pertapa-pertapa dari Kui-san dan memiki ilmu kepandaian yang tidak dibawah tingkat ilmu kepandaian Kui To Cin-jin sendiri.

Mereka adalah kakak beradik, yang tua berusia lima puluh tujuh tahun dan bernama Ouw Yang Gian berjuluk Toat Beng Jiauw (Cakar Pencabut Nyawa) dan adiknya Ouw Yang Sian berusia lima puluh tahun berjuluk Hek-bin-kwi (Setan Muka Hitam).

Sebagai para sute dari Kui To Cin-jin memang kepandaian masing-masing tidak setinggi kepandaian Kui To Cin-jin, akan tetapi kalau mereka maju bersama, Kui To Cin-jin itupun tidak akan mampu menandingi mereka.

Malam yang sunyi.

Kembali di Istana ada bayangan hitam berkelebat cepat sekali dan tahu-tahu dia sudah berada di atas genteng kamar Sung Hiang Bwee.

Semenjak terjadi penculikan atas diri puteri selir ini, Kaisar memerintahkan kepada para pengawal agar setiap malam diadakan penjagaan secara bergantian di depan kamar sang puteri.

Pada pada saat itupun nampak empat orang pengawal berdiri di depan kamar sang puteri, Akan tetapi bayangan hitam yang memakai kedok ini tidak merasa gentar, bahkan dia lalu melayang turun di depan empat orang itu.

Sebelum empat orang itu sempat berteriak, baru menggerakkan senjata mereka, tahu-tahu mereka telah roboh semua, tertotok dengan kecepatan luar biasa.

Kemudian si kedok hitam mendobrak daun pintu.

Dua orang dayang yang menemani Hiang Bwee terkejut dan berteriak, akan tetapi sebelum suara mereka sempat keluar dengan nyaring, tubuh mereka juga sudah roboh pingsan.

Tinggal sang puteri yang terbelalak memandang, lupa untuk menjerit saking kaget dan takutnya.

Orang berkedok yang amat lihai itu cepat menyambarnya, menotoknya dan memanggulnya setelah memasukannya kedalam karung sutera.

Seperti yang dilakukan oleh Ciang Sun Hok dahulu, sekarang ini diapun melarikan diri melalui jalan rahasia sehingga dia tiba di luar istana tanpa diketahui orang lain.

Kini, berbeda dengan penculikan terdahulu, di luar istana sudah menanti sebuah kereta yang ditumpangi oleh Perdana Menteri Jin Kui sendiri!

Si kedok hitam lalu membawa masuk puteri dalam karung sutera hitam itu.

Kemudian setelah memberi Isyarat dia lalu berkelebat lenyap.

Pelaku penculikan yang amat lihai ini bukan lain adalah Si Muka Tengkorak sendiri.

Kereta lalu dijalankan oleh kusir kereta menuju ke rumah gedung Perdana Menteri Jin Kui.

Andaikata ada orang melihat kereta itu, tentu takkan ada yang berani mencoba untuk menegur atau menyelidiki karena siapa orangnya berani menegur Perdana Menteri Jin Kui?

Kereta itu masuk halaman gedung terus ke belakang, ke arah istana dan di sini, tanpa terlihat orang lain, sang puteri diturunkan dan dimasukkan ke dalam sebuah kamar.

Hiang bwee dikeluarkan dari karung sutera dan direbahkan di pembaringan dalam keadaan tertotok, kemudian kaki tangannya diikat dengan kain sehingga seandainya totokannya sudah punah, iapun tidak akan mampu bergerak.

Hiang Bwee hanya melihat dua orang berkedok hitam yang mengeluarkannya dari dalam karung hitam dan yang mengikat kaki tangannya.

Ketika ia sudah terbebas dari totokan, ia meronta-ronta namun usahanya sia-sia karena ka ki tangannya terikat kuat oleh kain sehingga ia tidak merasa nyeri, hanya tidak mampu bergerak.

Ia membuka mulut hendak mengeluarkan teriakan minta tolong, akan tetapi seorang berkedok masuk kamarnya dan berkata.

"Nona, sebaiknya nona tidak mengeluarkan suara kalau tidak ingin kutotok lagi sehingga tidak mampu bergerak."

Hiang Bwee tentu saja merasa tidak enak kalau ditotok, maka ia lalu mengangguk.

"Kalau nona berjanji akan diam saja dan menurut, kami tidak akan mengganggu nona dan tidak akan membelenggumu lagi."

"Aku akan menurut. Lepaskan ikatan kaki tanganku,"

Kata puteri itu.

Si kedok hitam itu bukan lain adalah Tang Boa Lu Si Muka Tengkorak.

Dia merasa yakin bahwa gadis ini tidak akan mampu berbuat sesuatu.

Andaikata berteriak sekalipun, tidak akan terdengar oleh orang di luar gedung.

Maka, sesuai dengan pesan Perdana Menteri Jin Kui bahwa nona yang akan dipersembahkan kepada Panglima Besar Wu Chu itu jangan sampai menderita, dia lalu melepaskan ikatan kaki tangannya.

Hiang Bwee lalu bangkit duduk, menggosok gosok kaki tangan bekas ikatan.

la memandang ke kanan kiri.

Kamar itu indah dan besar, bukan kamar orang biasa.

Tentu kamar seorang yang kaya raya, pikirnya.

la bangkit dan hendak menghampiri pintu.

Akan tetapi Si Muka Tengkorak berkata.

"Sebaiknya nona tidak beranjak dari kamar ini. Kamar ini terjaga ketat dan nona tidak akan bisa melarikan diri."

Setelah berkata demikian, Si Mijka Tengkorak yang berkedok itupun keluar dari kamar itu dan menjaga di luar kamar bersama para pengawal.

Hiang Bwee membuka daun pintu yang segera ditutupnya kembali ketika la menghadapi todongan tombak empat orang pengawal.

Ketika ia membuka daun jendela, iapun melihat ujung tombak dan dua orang penjaga di luar jendela.

Ditutupkannya kembali daun jendela itu dan iapun duduk di atas kursi.

Mengapa ia diculik?

Siapa penculiknya?

Tidak, bukan orang berkedok itu.

Tentu orang berkedok itu hanya seorang utusan, dan ada orang di balik semua ini yang mendalanginya.

Akan tetapi apa maunya orang itu menyuruh menculiknya?

Hatinya mulai merasa takut dan teringatlah ia kepada Tan Tiong Li!

Ah, kalau saja Tiong Li menjadi pengawalnya dan berada di Istana, belum tentu ia akan dapat diculik orang.

Akan tetapi, siapa tahu pendekar itu akan muncul lagi menolongnya.

la ingin berteriak, ingin menjerit minta tolong.

Akan tetapi ia teringat dan menahan keinginannya.

Menjerit belum tentu terdengar orang dan akibatnya ia akan ditotok kembali.

Ah, tidak enak.

Lebih baik begini.

Setidaknya ia masih dapat bebas bergerak dan bicara.

Akhirnya sang puteri melupakan segalanya dan merebahkan dirinya di tempat tidur yang indah itu dan dapat tidur pulas.

Pada keesokan harinya, pagi pagi sudah muncul dua orang dayang yang membawa air untuk mencuci badan, bahkan melayaninya.

Akan tetapi ketika ia mencoba untuk menanyai mereka, keduanya hanya menggeleng kepala dan tidak mengeluarkan suara, tidak berani bicara sepatah katapun!

Hiang Bwee tidak perduli, setelah membersihkan badan ia lalu makan sarapan yang dibawa oleh dua orang wanita pembantu itu.

Setelah selesai, dua orang wanita itu keluar lagi.

Tak lama kemudian, si kedok hitam masuk lagi.

Hiang Bwee segera meregurnya.

"Siapakah engkau? Mengapa engkau menculikku dan membawaku ke sini? Apakah engkau tidak takut akan hukuman berat kalau sampai tertangkap?"

"Nona, harap jangan banyak bertanya dan menurutlah saja,"

Kata si kedok hitam dan tiba-tiba saja tangannya menyambar.

Hiang Bwee terkulai dalam keadaan pingsan.

la lalu dipondong dan diangkat keluar dari dalam kamar dan tak lama kemudian la sudah berada di dalam sebuah kereta, di tengah-tengah antara empat orang selir Perdana Menteri Jin Kui!

Karena dijepit di tengahtengah, puteri itu nampaknya seperti seorang di antara selir-selir itu.

Pada hal puteri itu berada dalam keadaan pingsan.

Kereta itu dijalankan menuju ke pintu gerbang utara, dikawal oleh seorang perwira pengawal yang menunggang kuda.

Ketika melewati penjagaan pintu gerbang, Semua perwira memberltahukan kepada para penjaga bahwa para selir Perdana Menteri pagi Itu hendak pergi mengunjungi kuiI yang berada di luar kota.

Para penjaga tidak berani banyak rewel, hanya menjenguk sebentar ketika tirai kereta disingkap oleh seorang selir dan melihat bahwa yang berada di dalam kereta adalah selir-selir yang muda dan cantik.

Kereta lalu malewati pintu gerbang dan menuju ke utara.

Setelah agak jauh dari pintu gerbang, telah menanti sebuah kereta lain yang lebih kecil.

Kereta ini dikusiri oleh Ciang Sun Hok sendiri dan bahkan dikawal oleh Si Muka Tengkorak.

Sang puteri lalu dipindahkan ke dalam kereta dan kemudian kereta para selir melanjutkan perjalanan ke kuil.

Setelah sang puteri dipindahkan ke dalam kereta kecil, ditemani Si Muka Tengkorak, dengan cepat tangan Tang Boa Lu membebaskan totokannya.

Hiang Bwee sadar kembali, membuka matanya dan ia menahan jeritnya ketika melihat seorang yang mukanya seperti tengkorak duduk dl depannya.

"Sssst, tidak perlu menjerit nona. Tidak akan ada yang mendengar dan kalau engkau menjerit, terpaksa aku akan menotokmu pingsan lagi. Aku tidak akan mengganggumu!"

Hiang Bwee memandang muka itu dengan jijik dan ngeri.

"Siapakah engkau? Dan aku... akan dibawa ke manakah?"

"Aku adalah seorang panglima Kerajaan Kin..."

"Ohhh...!"

Hiang Bwee terkejut sekali mendengar bahwa ia telah terjatuh ke tangan musuh!

"Jangan takut, nona kami tidak akan mengganggumu engkau hanya dijadikan tawanan dan akan kuserahkan kepada panglima kami.

Kalau nona diam saja dan menurut, kami akan memperlakukanmu dengan baik."

Hiang Bwee hanya mengangguk-angguk,matanya masih terbelalak, mukanya masih pucat.

la maklum bahwa untuk sementara ini ia tidak dapat berbuat sesuatu dan memang lebih baik menurut saja dari pada dibuat pingsan seperti tadi.

Kereta lalu dibalapkan menuju ke utara, memasuki daerah antara Kin dan Sung yang merupakan daerah tak bertuan.

Kereta itu berjalan dengan cepat karena ditarik oleh empat ekor kuda.

Akan tetapi ketika kereta sudah mendekati daerah Kin, tiba-tiba saja dari balik rumpun alang-alang dan batang-batang pohon berlompatan belasan orang, Kereta terpaksa berhenti karena dihadang orang-orang yang memegang pedang dan golok, Jumlah mereka ada lima belas orang, dipimpin seorang pemuda yang tampan dan gagah memegang pedang.

"Berhenti! Siapa di kereta dan hendak pergi kemana?"

Bentak pemuda itu. Mendengar ini, dan melihat ada belasan orang menghadang kereta Hiang Bwee berteriak.

"Aku puteri Kaisar diculik..."

Suaranya terhenti karena Si Muka Tengkorak sudah menotoknyal Tafig Boa Lu segera meloncat keluar dari dalam kereta dan bersama Ciang Sun ""k menghadapi belasan orang itu.

"Kalian Jangan mencampuri urusan kami...!!"

Bentak Ciang Sun Hok.

"Aku adalah Seorang panglima pengawal dari Perdana Menteri Jin Kui, dan harus mengantarkan gadis ini ke suatu tempat."

"Bebaskan sang puteri!"

Terdengar teriakan.

"Bunuh antek Menteri Jin Kui yang jahat!"

Terdengar teriakan lain. Akan tetapi pemuda yang memimpin gerombolan itu mengangkat tangan kiri ke atas menyuruh anak buahnya berhenti berteriak, kemudian dia berkata kepada Ciang Sun Hok.

"Benarkah gadis itu puteri kaisar yang diculik? Tidak mungkin engkau panglima Perdana Menteri kalau engkau menculik seorang puteri istana!"

Karena didesak demlklan itu, Ciang Sun Hok menjadi marah dan dia membentak.

"Kalian memang harus dibasmi!"

Dan dia sudah menubruk kedepan dengan cengkeramannya.

Pemuda Itu terkejut melihat serangan yang amat dahsyat Itu.

Dia melompat ke belakang dan menggerakkan pedangnya menyerang dan begitu dia mainkan pedangnya, tahulah Ciang Sun Hok bahwa dia berhadapan dengan seorang murid Kun-lun-pai yang hebat sekali llmu pedangnya.

Maka diapun mencabut pedang dari punggungnya dan mereka sudah terlibat dalam perkelahian yang seru.

Sementara itu, belasan orang sudah mengepung dan hendak membantu pimpinan mereka, akan tetapi Si Muka Tengkorak mengamuk.

Amukannya demikian hebatnya sehingga dalam beberapa detik saja empat orang sudah roboh oleh hantaman tangannya.

Apa lagi ketika dia melolos sehelai sabuk rantai baja yang ujungnya runcing tajam lebih banyak lagi anak buah para pejuang itu yang roboh bermandikan darah.

Melihat ini, pemuda Kun-lun-pai terkejut bukan main dan sebelum dia dapat berbuat sesuatu, Si Muka Tengkorak sudah melompat dekat membantu Ciang Sun Hok.

Rantainya yang panjang sudah melibat pedang pemuda itu dan sekali renggut pedang itupun terampas dan di lain saat Ciang Sun Hok sudah mengirim sebuah tendangan yang membuat pemuda itu terjungkal dan pingsan!

Para anak buah pejuang yang tinggal lima orang itu lalu melarikan diri, tak sanggup melawan dua orang yang ilmunya tinggi itu.

"Kita tangkap pemuda Kun-lun-pai ini, bawa menghadap sebagai hadiah kepada panglima!"

Kata Si Muka Tengkorak dan Ciang Sun Hok setuju saja.

Pemuda itu lalu dibelenggu dan dilemparkan ke dalam kereta, sedangkan Si Muka Tengkorak duduk di depan bersama Ciang Sun Hok.

Kereta lalu dibalapkan lagi menuju ke utara, memasuki perbatasan daerah Kin.

Hiang Bwee terkejut dan juga khawatir sekali melihat pemuda yang dilempar masuk.

Tadinya ia mengira bahwa pemuda itu Tan Tiong Li, akan tetapi ternyata bukan dan hatinya menjadi agak lega.

Kini ia memperhatikan pemuda itu.

Seorang pemuda yang tampan dan dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya.

Ketika pemuda itu merintih, Hiang Bwee membantunya untuk bangkit dan duduk di atas bangku kereta di depannya.

Pemuda itu membuka matanya dan menjadi bengong ketika memandang wajah seorang gadis cantik jelita yang duduk didalam kereta.

Kemudian dia teringat dan berusaha untuk meronta dan melepeskan diri dari ikatan, namun sia-sia, ikatan itu terlampau kuat, Dia lalu menyadari keadaannya.

Kedua orang itu terlalu kuat buat dia dan mereka duduk didepan.

Andaikata dia mampu melepaskan ikatannyapun akan percuma saja.

Dia tidak dapat melepaskan diri dari mereka berdua.

Dia teringat akan teriakan tadi lalu mengangkat muka, memandang lagi kepada gadis itu.

Hiang Bwee juga sedang memandang kepadanya.

Dua sorot mata bertemu dan Hiang Bwee menunduk.

"Nona, benarkah engkau puteri Sri Baginda Kaisar?"

"Benar., aku diculik dari Istana,"

Kata Hiang Bwee lirih.

Akan tetapi betapapun lirihnya mereka bicara, tetap saja dapat terdengar oleh dua orang yang duduk dl depan.

Dan agaknya kedua orang itu tidak perduli karena yakin bahwa dua orang tawanan mereka itu tidak akan dapat berbuat sesuatu untuk membebaskan diri.

"Mau dibawa ke mana, nona?"

"Aku tidak tahu. Siapakah namamu?"

"Saya bernama Souw Cun Ki, murid Kun-lun-pai yang bergabung dengan para pejuang."

"Souw-Enghiong (pendekar Souw), engkau harus berusaha untuk membebaskan aku namaku Sung Hiang Bwee, puteri kaisar..."

"Ha-ha-ha, jangan bermimpi!"

Tiba tiba terdengar Ciang Sun Hok tertawa.

"Kalian tidak akan dapat bebas dan kalau banyak membuat ulah, kami akan memukul pingsan kalian!"

Mendengar ini, Cun Ki memberi isyarat dengan matanya kepada puteri itu agar berdiam diri.

Dia maklum bahwa ucapan itu bukan bualan kosong belaka.

Kedua orang itu memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi, dan andaikata dia dapat membebaskan kedua kaki tangannya sekalipun, dia tidak akan mampu menandingi mereka.

Apa lagi dia telah kehilangan pedangnya.

Akhirnya kereta dapat mencapai perbentengan di mana Panglima Besar Wu Chu berada.

Panglima ini seorang laki-laki yang gagah, berusia empatpuluh tahun lebih, tubuhnya tinggi besar dan wajahnya gagah perkasa dengan jenggot lebat, matanya lebar dan dia memang sejak mudanya menjadi perwira.

Ketika dia mendengar laporan pembantunya, Si Muka Tengkorak bahwa Hak Bu Cu tewas di tangan seorang pemberontak, dia marah sekali.

"Kenapa Perdana Menteri Jin tidak suruh tangkap pembunuh itu dan menghadapkannya kepadaku?"

Bentaknya marah. Ciang Sun Hok yang menjadi utusan Perdana Menteri Jin Kui segera memberi hormat.

"Harap thai-Ciangkun tidak berkecil hati. Kami akan mencari sampai dapat pembunuh itu dan sekarangpun sudah menjadi buruan kami. Sementara itu, Jin-Taijin mohon maaf dan untuk menghibur hati thai-Ciangkun, JinTaijin mengirimkan seorang siuli (wanita cantik) untuk menghibur hati Ciang-kun."

"Hemm, terima kasih atas perhatian Jin-Taijin. Akan tetapi aku sudah mempunyai cukup banyak selir dan tidak membutuhkan wanita cantik,"

Kata panglima besar itu dengan suara masih mengandung kemarahan.

"Akan tetapi thai Ciangkun belum tahu siapa yang dikirimkan kepada thai Ciangkun. ia adalah puteri Kaisar Sung!"

"Aha! Puteri Kaisar Sung?"

"Ya, dan puteri yang pernah membuat thai-Ciangkun terkagum-kagum ketika Ciangkun berkunjung ke istana,"

Tambah pula Ciang Sun Hok.

"Cepat bawa ia masuk ke sini!"

Perintah panglima besar itu dengan hati tertarik sekali.

Mendengar bahwa wanita itu adalah puteri Kaisar Sung, tentu saja persoalannya menjadi lain lagi.

Ketika puteri itu sudah dibawa masuk dan berdiri dengan kepala tunduk di hadapannya, ia tersenyum lebar dan wajahnya yang gagah itu menjadi berseri-seri.

Dia teringat akan puteri yang pandai menari dan ketika dia berkunjung ke Istana Kaisar Sung dan disuguhi tarian puteri ini, dia memang sudah tergila-gila, akan tetapi tidak berdaya karena penari itu adalah puteri Kaisar!

Dan sekarang, ternyata Perdana Menteri Jin dapat mengirim puteri yang pernah membuatnya tergila-gila itu kepadanya, bahkah mempersembahkan kepadanya.!

"Ah, puteri yang pandai menari itu!"

Katanya sambil memandang dengan penuh kagum. Sung Hiang Bwee mengangkat muka dan memandang kepada panglima utu dengan alis berkerut.

"Kalau engkau sudah tahu bahwa aku puteri Kaisar, cepat kirim aku kembali kalau engkau tidak menghendaki ayahanda Kaisar marah kepadamu!"

Panglima besar itu hanya tertawa dan memerintahkan beberapa orang dayang untuk membawa sang puteri ke dalam gedungnya.

Hiang Bwee lalu di iringkan beberapa orang dayang ke dalam, dengan memegang!

Kedua lengannya dari kanan kiri.

Kini wajah panglima itu.

menjadi cerah dan agaknya dia sudah melupakan lagi tentang kematlan pembantu yang di sayangnya, yaitu Hak Bu Cu.

Kini Si Muka Tengkorak yang ingin mendapat pujian melaporkan bahwa dia juga menangkap seorang pemimpin pemberontak yang penting karena pemuda itu lihai sekali dan masih tokoh Kun-lun-pai.

"Hemm, Kun-lun-pai berani terang-terangan memusuhi kita? Bawa dia masuk!"

Souw Cun Ki diseret masuk dalam keadaan terbelenggu. Dia berdiri tegak di depan Panglima Wu Chu dan baru berlutut setelah dari belakang lututnya ditendang oleh Si Muka Tengkorak.

"Benarkah engkau seorang tokoh Kun-lun-pai?"

Tanya Panglima Wu Chu sambil memandang wajah yang tampan itu.

"Siapa namamu dan siapa menyuruh engkau melakukan perlawanan terhadap Kerajaan Kin?"

"Aku memang murid Kun-lun-pai bernama Souw Cun Ki, akan tetapi aku melawan penjajah Kin tidak atas suruhan siapa-siapa, melainkan kehendakku sendiri! Kalau mau hukum, laksanakanlah, aku tidak takut mati!"

"Hemm, kamipun tidak percaya bahwa Kun-lun-pai terang-terangan memusuhi kami! Kalau demikian halnya, kami akan mengutus pasukan untuk membasmi Kun-lunpai! Pengawal, masukkan dia dipenjara sambil menanti penyelidikan apakah benar Kun-lun-pai memusuhi kita!"

Empat orang pengawal lalu maju dan menyeret Cun Ki untuk dibawa dan dimasukkan ke dalam penjara...

Setelah itu, Panglima Wu Chu menjamu Ciang Sun Hok sebagai utusan Perdana Menteri Jin Kui sambil bercakap-cakap membicarakan keadaan di Kerajaan Sung.

"Harap thai-Ciangkun jangan khawatir. Jin-Taijin sedang berusaha sekuatnya untuk menghancurkan para pemberontak itu dan kami yakin akan dapat menangkap pembunuh Hak Bu Chu,"

Kata Ciang Sun Hok ketika mereka menghadapi perjamuan.

"Aku percaya akan hal itu dan sampaikan terima kasihku kepada Jin-tai jin atas pengiriman puteri itu."

Kata Wu Chu dengan gembira membayangkan betapa dia akan dilayani oleh seorang puteri tulen, bahkan puteri dari Kaisar Sung.

Sebuah penghormatan yang teramat besar!

Bahkan rajanya sendiri tidak memperoleh kehormatan seperti itu!

Akan tetapi, betapa kecewa hati Pangiima besar Wu Chu.

Ketika malam itu dia memasuki kamar Sung Wang Bwee, puteri itu sama sekali tidak mau menerimanya dengan baik, apa lagi melayaninya.

Puteri itu bahkan memaki-maki ia sebagai orang tidak tahu malu.

"Engkau dulu menjadi tamu ayahanda Kaisar dan diterima dengan penuh penghormatan. Siapa tahu engkau hanya seorang manusia rendah budi, seorang pengecut besar yang menyuruh orang menculik aku. Jangan dekati aku. Kalau sampai meraba tubuhku, aku akan membunuh diri!"

Panglima Besar Wu Chu adalah seorang jantan.

Selama ini, hampir setiap wanita mengharapkan untuk menjadi selirnya.

Dia adalah orang mempunyai kekuasaan besar di Kerajaan Kin, menjadi orang kedua setelah raja.

Dia gagah perkasa dan royal, maka mana ada wanita menolaknya.

Kini, berhadapan dengan puteri Sung Hiang Bwee, dia malah dimaki-maki!

Dia bukan seorang laki-laki yang suka memaksa atau memperkosa wanita.

Maka tentu saja dia menjadi marah bukan main karena merasa terhina.

"Bawa ia ke penjara! Jebloskan ke dalam kurungan sampai ia bersedia melayani aku!"

Bentaknya dengan marah setelah dia membujuk-bujuk dengan halus sampai kasar tidak dapat menundukkan hati puteri itu.

Para pengawal lalu menggiring Hiang Bwee masuk ke dalam penjara.

Agaknya panglima itu hendak memancing agar sang puteri dan orang Kun-lun-pai itu bercakap-cakap mengenai rahasia pemberontakan, maka dia menyuruh kurung puteri itu berdekatan dengan kamar tahanan Souw Cun Ki hingga mereka dapat saling bicara melalui celah-celah jeruji baja yang memisahkan mereka.

Ketika melihat penolongnya berada di kamar sebelah, hati Hiang Bwee agak terhibur dan segera ia mendekati dan memegang jeruji baja itu sambil memandang ke kamar sebelah.

Souw Cun Ki terkejut dan heran melihat sang puteri dimasukkan dalam kamar penjara sebelahnya.

"Eh, kenapa engkau Juga dipenjara, nona?"

Katanya dan dalam keadaan seperti itu, dia lupa akan peradatan bersikap dan berbicara kepada sang puteri kaisar!

Hiang Bwee juga tidak memperdulikan pemuda itu menyebutnya nona dan berengkau ke padanya.

"Aku menolak kehendaknya yang terkutuk dan dia marah lalu aku dipenjarakan!"

Jawabnya.

"Biar aku dibunuh mati sekalipun, aku tidak akan sudi menyerah kepadanya!"

Cun Ki memandang kagum. Heran dia melihat seorang puteri kaisar demikian tabahnya menghadapi segala kesulitan yang demikian menyudutkannya.

"Ah, engkau seorang pemberani, nona. Sungguh aku kagum dan hormat kepadamu."

"Akan tetapi engkau, Souw-Enghiong. Demi menolong aku, engkau sendiri sampai tertangkap dan nyawamu terancam."

"Aku tidak takut mati, nona. Mati dalam perjuangan merupakan suatu kehormatan bagiku. Mati bukan apa-apa bagiku, akan tetapi aku amat memprihatinkan dirimu, nona... Engkau terancam bahaya yang hebat, bahkan mungkin bahaya maut."

Gadis itu tersenyum! Hampir Cun Ki tidak percaya kepada matanya sendiri. Dalam keadaan seperti itu, gadis itu masih dapat tersenyum demikian manisnya.

"Dalam hal keberanian menghadapi kematian, engkau bukan seorang diri, Enghiong. Aku sendiripun tidak takut mati kalau kehormatanku terancam. Aku lebih menghargai kehormatan dari pada kematian."

"Nona... engkau... engkau Seorang Wanita yang mulia dan bijaksana, aku kagum sekali!"

Kata Cun Ki dengan suara terharu.

Panglima Wu Chu marah sekali mendengar laporan penjaga akan isi percakapan mereka itu dan dia memerintahkan menahan terus kedua orang itu.

Istana gempar lagi pada keesokan harinya ketika kaisar mendengar laporan para pengawal dan dayang.

Puteri Sung Hiang Bwee kembali diculik orang berkedok hitam!

Kaisar lalu memanggil semua menteri dan panglima dan memerintahkan mereka semua untuk berusaha menemukan puteri dan menghukum penculiknya dengan hukuman yang paling berat.

"Ampun, Yang Mulia. Menurut pendapat hamba, penculiknya pastilah pemuda yang bernama Tan Tiong Li itu."

Kaisar mengerutkan alisnya.

"Ah, tidak masuk diakal! Pemuda itu bahkan yang menolongnya dari penculiknya yang pertama kali. Bagaimana kini engkau menuduh dia menjadi penculiknya?"

"Dengan perhitungan yang tepat, Yang Mulia. Menurut basil laporan para penyelidik, terjalin hubungan antara pemuda itu dengan tuan puteri sejak ia ditolong. Dan mengingat bahwa pemuda itu belum lama ini bergabung dengan pemberontak Gak Liu, bahkan mengakibatkan kematian anak laki-laki hamba, maka hamba yakin bahwa penculiknya tentulah dia! Bukan menculik, melainkan sudah bersekutu dengan sang puteri yang ingin melarikan diri dari istana untuk dapat berkumpul dengan pemuda itu!"

"Jin Kui, kalau engkau ternyata tidak mengucapkan tuduhan yang benar, kami dapat marah sekali kepadamu!"

Bentak kaisar.

"Akan tetapi kalau hamba berkata benar bagaimana, Yang Mulia? Kalau pemuda itu dapat tertangkap, tentu akan dapat ditemukah di mana adanya puteri Paduka."

"Kalau begitu tangkap dia!"

"Akan tetapi, dahulu Paduka pernah menjanjikan kedudukan kepadanya, kalau sekarang tanpa perintah penangkapan Paduka, bagaimana hamba dapat melaksanakannya?"

"Baik, kubuat perintah penangkapan Tan Tiong Li!"

Kata Kaisar yang sedang sedih dan khawatir karena terculiknya Sung Hiang Bwee.

Perdana Menteri Jin Kui memang cerdik sekali.

Tentu saja dia tahu bahwa yang menculik Hiang Bwee bukan Tiong Li melainkan Si Muka Tengkorak, bahkan dia yang mengatur semua itu.

Dan untuk memperkuat pengejaran terhadap Tiong Li pertu sekali ada surat perintah Kaisarsehingga dia dapat mengerahkan seluruh tenaga pasukan.

Bagaimana kalau nanti Tiong Li tertangkap dan Hiang Bwee tidak dapat diajak pulang?

Mudah saja.

Bunuh pemuda itu, habis perkara dan katakan kepada Kaisar bahwa Hiang Bwee telah terbunuh oleh pemuda itu.

Mulailah Perdana Menteri Jin Kui melaksanakan semua rencananya untuk membalas kematian puteranya.

Hiang Bwee yang menjadi gara-gara kematian puteranya sudah terbalas, dan sekarang tentu telah menjadi selir Panglima Besar Wu Chu, dan Tiong Li sudah dijadikan buronan pemerintah.

Kemudian dia mengerahkan pasukan yang dipimpin oleh Kui To Cin-jin dan dua orang sutenya yang sudah datang dari utara, yaitu kakak beradik Ouw Yang, menyerbu ke Lembah Maut untuk membasmi Ban-Tok Sian-Li dan anak buahnya yang dianggap telah membantu pemberontak!

Juga pasukan ini ditugaskan untuk mencari para gerombolan pemberontak dan membasminya, terutama sekali yang dipimpin oleh Gak Liu.

Dengan surat perintah penangkapan atas diri Tan Tiong Li dari Kaisar, maka kini di mana-mana terpasang pengumuman tentang pelarian Tan Tiong Li sebagai orang buruan.

Pada saat itu Tiong Li sedang berkunjung ke dusun lereng Liong-san untuk bersembahyang didepan makam ayahnya dan juga untuk bersembahyang di bekas pondok gurunya, Pek Hong San-jin yang dulu dibakarnya bersama jenazah kakek itu.

Setelah selesai bersembahyang dia meninggalkan pegunungan Liong-san dan beberapa hari kemudian tibalah dia di kota Cun-keng.

Begitu memasuki kola itu, dia melihat banyak orang berkerumun membaca sehelai pengumuman yang di tempel di dinding.

Dia ikut berdesakan untuk membacanya dan betapa terkejutnya melihat wajahnya terpampang di pengumuman itu dan di situ disebutkan bahwa siapa yang dapat menangkap Tiong Li, pemberontak dan penculik puteri akan diberi hadiah oleh Kaisar.!

Tiong Li terkejut bukan main dan pada saat itu dia mendengar orang berteriak di sebelahnya.

"Wah, ini dia orangnya, pemberontak dan penculik puteri itu!"

"Bukan! Aku bukan pemberontak apalagi penculik puteri!"

Bantah Tiong Li.

Akan tetapi orang-orang itu sudah mengenalnya dari gambar yang terlukis di pengumuman dan banyak orang segera mengulur tangan untuk menangkaprnya.

Tiong Li tidak mau melawan mereka yang hanya bertindak karena pengumuman itu dia mengelak lalu melarikan diri dengan cepat keluar kota Cun-keng, Dikejar orang banyak dan tak lama kemudian ada pasukan penjaga kota yang ikut mengejar.

Akan tetapi dia telah lari jauh meninggalkan kota dan tiba dalam hutan di luar kota.

Dia berhenti berlari dan duduk di atas batu, termenung.

Dia menjadi orang buruan.

Dan kaisar sendiri yang mengumumkan bahwa siapa dapat menangkapnya akan diberi hadiah.

Puteri telah diculik orang.

Siapakah puteri itu?

Apakah Hiang Bwee kembali dicilik orang dan kaisar menyangka dia yang melakukannya?

Fitnah keji.!

Kata fitnah ini mengingatkan dia kepada Jin Kui.

Orang itu penuh dengari siasat licik dan fitnah keji.

Dahulupun ketika dia menolong Hiang Bwee malah akan di fitnah sebagai penculiknya, dan ketika dia keluar kota, dia malah diserang puteranya dengan fitnah memberontak.

Perdana Menteri Jin Kui patut dicurigai sebagai pelempar fitnah dan kalau dia yang melempar fitnah, tentu dia tahu pula siapa yang menculik sang puteri.

Tidak ada lain jalan, dia harus ke Kota Raja untuk melakukan penyelidikan.

Akan tetapi karena gambarnya terpampang di mana-mana, tidak mungkin dia memasuki Kota Raja begitu saja.

Dia akan ditangkap sebelum dapat melakukan apa-apa, baru memasuki pintu gerbang saja dia akan dikepung pasukan dan ditangkap.

Setelah mencari akal, Tiong Li melanjutkan perjalanannya dengan menyamar sebagai pengemis.

Dia mengotori muka dan tangannya, memakai sepatu butut, pakaiannya juga butut dan penuh tambalan, memakai sebuah caping butut yang lebar menutupi mukanya.

Dengan pakaian seperti itu, benar saja dia tidak diperhatikan orang dan dapat melakukan perjalanan dengan leluasa.

Siapa orangnya yang akan mencurigai seorang pengemis berpakaian butut, bersepatu butut, memakai caping rusak pula dan kaki tangan dan mukanya kotor seperti orang yang sudah berhari-hari tidak pernah mandi.?

Demikian pula ketika Tiong Li memasuki pintu gerbang Kota Raja Hang-couw, para penjaga keamanan di pintu gerbang itu tidak memperdulikan, bahkan memandang jijik dan menghardiknya agar cepat pergi jangan terlalu lama berada di pintu gerbang.!

Akan tetapi tanpa setahu Tiong Li, ada seorang yang memperhatikannya sejak dia memasuki pintu gerbang, bahkan ketika dia berjalan memasuki kota, orang itu membayanginya dari jauh, tanpa sadar bahwa dia dibayangi orang karena yang berjalan di belakang nya, agak jauh itu adalah seorang pengemis yang memegang tongkat hitam.

Orang itu masih muda dan wajahnya tampan gagah biarpun bajunya baju pengemis.

Memang, pengemis muda itu bukan lain adalah Gan Kok Bu, putera ketua Hek-Tung Kai-pang yang pernah menolong Ban-Tok Sian-Li dan yang jatuh cinta kepada The Siang Hwi.

Ketika Kok Bu melihat seorang pengemis baju butut masuk ke pintu gerbang, orangnya tidak dikenalnya, dan juga tidak ada tanda-tanda dari sebuah perkumpulan pengemis, dia menjadi curiga dan membayangi.

Dia menduga bahwa pengemis bercaping butut itu adalah seorang yang menyamar, dan dia tidak tahu orang itu berdiri di pihak mana.

Seorang pejuang ataukah seorang mata-mata Kerajaan Kin yang menyelundup masuk, Karena curiga, dia lalu membayangi.

Kecurigaannya semakin bertambah ketika dia tidak melihat pengemis itu pergi ke pasar atau tempat-tempat ramai melainkan berjalan keliling kota dan beberapa kali melewati rumah gedung Perdana Menteri Jin Kui.

Kalau sedang lewat di depan gedung ini, pengemis muda itu memandang penuh perhatian.

Juga ketika melewati papan pengumuman tentang pemberontak yang akan ditangkap, pengemis muda itu memandang dengan penuh perhatian.

Gan Kok Bu semakin curiga dan dia kini mendekati, memandang penuh perhatian dan akhirnya matanya yang tajam mengenal pengemis muda itu seperti lukisan orang yang diburu pemerintah, yang bernama Tan Tiong Li.

Mengertilah dia.

Orang ini adalah buruan itu, seorang pemberontak, berarti seorang pejuang!

Dia harus memperingatkannya karena dalam Kota Raja disebar banyak mata-mata Oleh Perdana Menteri Jin Kui.

Tiong Li menjadi terkejut sekali ketika melihat seorang pengemis muda mendekatinya dan berbisik.

"Saudara Tan Tiong Li, mari kau ikuti aku dan kita bicara..."

Karena orang itu jelas sudah mengenalnya, Tiong Li terpaksa mengikuti ke mana orang itu pergi.

Dia tidak menyangka buruk, akan tetapi tetap bersikap waspada sehingga kalau orang itu berniat buruk, dia sudah dapat menjaga diri.

Orang itu mengajaknya keluar masuk lorong-lorong sempit yang sunyi kemudian mengajaknya memasuki sebuah bangunan lama yang kosong.

Di situ berkumpul banyak pengemis dari bermacam usia dan keadaan.

Ada yang timpang, ada yang buta, dan ada yang membawa anak, ada laki-laki dan perempuan.

Ketika orang itu lewat, para pengemis itu kelihatan tunduk kepadanya dan mereka memberi jalan dengan sangat hormat, bahkan di sebuah ruangan sebelah dalam ketika orang itu masuk dan memberi isyarat, para pengemis yang tadinya berada di situ lalu menyingkir tanpa berkata apapun.

Dalam rumah gedung tua kosong itu terdapat sedikitnya duapuluh orang pengemis dan agaknya menjadi Semacam tempat berteduh atau bermalam mereka.

Setelah ruangan itu kosong, orang itu mempersilakan Tiong Li duduk di lantai, berhadapan dengan dia.

Sejenak mereka saling pandang dan Tiong Li berkata dengan suara berbisik.

"Saudara siapakah dan bagaimana bisa mengenalku?"

"Namaku Gan Kok Bu, putera dari ketua Hek-Tung Kaipang. Aku dapat mengenalmu karena betapa baikpun penyamaranmu, kalau orang sudah menaruh curiga dan mengamati penuh perhatian, tentu akan dapat melihat persamaan antara saudara dengan gambar di papan pengumuman itu."

"Dan dengan maksud apa engkau mengundangku ke sini?"

Tanya Tiong Li, memandang tajam. Kok Bu tersenyum.

"Tidak dengan maksud buruk, sobat. Ketahuilah bahwa kami semua bersimpati dan membantu perjuangan para pejuang."

"Akan tetapi aku bukan seorang pejuang "

Kata Tiong Li. Gan Kok Bu tersenyum.

"Orang yang disebut pemberontak oleh Perdana Menteri Jin Kui, adalah seorang pejuang."

"Perdana Menteri Jin Kui?" (Lanjut ke

Jilid 06) Mestika Golok Naga (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo

Jilid 06

"Ya, tentu dia yang berdiri di belakang pengumuman itu. Entah kesalahan apa yang kau lakukan terhadap dirinya maka dia memasang pengumuman itu atas nama kaisar. Engkau berhati-hatilah sobat, karena Perdana Menteri itu licik sekali dan dia telah menyebar banyak mata-mata di Kota Raja."

Maklumlah Tiong Li bahwa orang ini tentu sudah lama tadi membayanginya dan melihat dua kali dia lewat di depan rumah Perdana Menteri. maka dia tidak perlu tagi pura-pura.

"Begini, saudara Gan Kok Bu. Memang benar bahwa aku hendak melakukan penyelidikan karena sesungguhnya aku, sama sekali tidak bersalah. Aku tidak menculik puteri istara. Nah, dapatkah engkau memberi keterangan kepadaku mengenai hal itu? Pertama, puteri siapakah yang diculik orang? Siapa namanya nya?"

"Puteri yang paling terkenal di Kota Raja, namanya Sung Hiang Bwee. la diculik orang beberapa hari yang lalu, diculik di waktu malam oleh orang berkedok yang melumpuhkan para pengawal dan dayang."

Diam-diam Tiong Li merasa khawatir sekali.

Kembali Sung Hiang Bwee di culik orang!

Mungkin penculiknya yang dulu bergerak lagi.

Memang orang itu lihai sekali, dan agaknya tidak sukar bagi orang itu untuk merobohkan para pengawal dan menculik sang puteri.

Akan tetapi siapa berdiri di balik Ini semua?

Melihat betapa Perdana Menter Jin Kui yang berdiri di belakang fitnah yang dilemparkan kepadanya, mungkin juga pembesar itu yang mengetahui perihal penculikan puteri itu.

"Agaknya kalau Perdana Menteri Jin Kui melakukan fitnah terhadap diri ku bahwa aku yang menculik sang puteri, dia tahu siapa pelakunya."

Gan Kok Bu mengangguk-angguk.

"Sangat boleh jadi walaupun aku masih sangsi apakah dia yang mendalangi penculikan, Kalau benar demikian, untuk apa? Kalau yang mendalangi itu puteranya, Jin Kiat, memang sangat boleh jadi karena puteranya itu mata keranjang. Akan tetapi Jin Kiat telah tewas oleh Pendekar Gak Liu, maka sulit lah menduga siapa dalangnya."

"Akan tetapi setidaknya Perdana Menteri itu tentu mengetahuinya ,"

Kata Tiong Li.

"Akupun menduga demikian. Lalu, apa yang hendak kaulakukan, Tan tai-hiap? Aku sudah mendengar pula bahwa engkau bentrok dengan Jin Kiat dan justeru ketika engkau dikeroyok itu muncul Gak Liu yang kemudian berhasil membunuh Jin Kiat. Mungkin juga karena itulah maka engkau difitnah karena sekarang Perdana Menteri Jin Kui juga berusaha keras untuk menangkap Gak Liu."

"Aku harus menyelidiki ke rumah Jin Kui!"

Kok Bu nampak terkejut sekali.

"Akan tetapi itu amat berbahaya! Rumah itu dikepung dan dijaga ketat sekali!"

"Aku tidak takut dan dapat mengatasi bahaya itu."

"Akan tetapi, kalau engkau masuk ke sana lalu diketahui dan dikejar-kejar, bagaimana mungkin engkau akan dapat melakukan penyelidikan? Ah, aku mempunyai akal dan aku akan membantumu, Tiong Taihiap! Aku akan membawa beberapa orang kawan untuk mengacau dipintu gerbang, untuk menarik para penjaga agar berdatangan ke pintu gerbang. Nah, dalam keadaan panik itu tentu engkau dapat menyusup melalui tembok yang ditinggalkan para penjaganya. Bagaimana pendapatmu, Taihiap?"

Wajah Tiong Li berseri.

"Akal yang bagus sekali! Terima kasih banyak atas bantuanmu, saudara Gan. Akan tetapi hal ini akan merepotkan engkau saja."

"Aih, tidak ada kata repot! Bukankah kita sama-sama pejuang yang membela kepentingan rakyat jelata? Malam ini kita bergerak, Tan-Taihiap."

Demikianlah, pada malam hari itu,Tiong Li sengaja mengenakan pakaian serba hitam dan Kok Bu membawa belasan orang rekan dari Hek-Tung Kai-pang tanpa setahu ayahnya karena sejak ayahnya mencela Siang Hwi sebagai murid Ban-Tok Sian-Li dan melarang dia bergaul dengan gadis itu, Kok Bu masih marah kepada ayahnya.

Dia mencari jejak Siang Hwi namun tidak berhasil sehingga kembalilah dia ke Kota Raja.

Dengan belasan orang rekan itu, Kok Bu menyamar dan berpakaian biasa, tidak seperti pakaian anggauta Hek-Tung Kai-pang.

Pada saat yang ditentukan, Kok Bu dan kawan-kawannya membakar api besar di dekat pintu gerbang rumah kediaman Jin Kui.

Ketika melihat api berkobar dan melihat belasan orang menyerang para penjaga di pintu gerbang, para penjaga lain datang berlarian ke tempat itu untuk menghadapi para perusuh.

Akan tetapi setelah para penjaga semua berkumpul dan tidak kurang dari tigapuluh orang pasukan jaga melakukan perlawanan, Kok Bu memberi isyarat kepada kawan-kawannya dan segera melarikan diri.

Tak seorangpun di antara mereka terluka karena merekapun tidak menyerang dengan sungguh-sungguh, hanya memancing saja agar semua penjaga berdatangan ke pintu gerbang.

Sementara itu, dengan gerakannya yang ringan dan gesit seperti seekor burung walet, Tiong Li menggunakan ilmu Jouw-sang-hui, melompat ke atas tembok yang sudah ditinggalkan penjaganya dan melompat masuk ke sebelah dalam tembok pagar.

Dia menyusup ke dalam taman sehingga tidak nampak, bersembunyi dan menyelinap di balik rumpun bunga, atau batang pohon yang tumbuh di dalam taman itu.

Akhirnya, tak lama kemudian dia sudah berada di atas atap gedung tempat tinggal Perdana Menteri Jin Kui.

Di atas sebuah ruangan di mana duduk Perdana Menteri Jin Kui, dia mendekam dan mengintai ke bawah.

Dilihatnya Perdana Menteri Jin Kui duduk dijaga oleh lima orang pengawal dan tak lama kemudian muncullah seorang yang amat dikenalnya, yaitu Si Muka Tengkorak yang lihai.!

"Bagaimana Apa yang terjadi di luar?"

Tanya Perdana Menteri Jin Kui kepada Si Muka Tengkorak. Tang Boa Lu melapor.

"Hanya ada belasan orang pengacau yang membikin ribut di pintu gerbang. Akan tetapi setelah para penjaga datang menyerang, mereka kabur dan menghilang di kegelapan malam. Mereka itu hanya beberapa orang pemberontak pengecut yang agaknya hendak mencoba untuk menyerang para penjaga akan tetapi setelah mendapat perlawanan lalu melarikan diri."

"Ah, para pemberontak itu memperhebat pengacauannya. Jangan-jangan mereka tahu tentang puteri..."

"Aih, apa yang mereka ketahui, Taijin? Puteri Sung Hiang Bwee kini telah berada di tangan Panglima Besar Wu Chu di Kerajaan Kin, tidak ada seorangpun yang mengetahui, harap Taijin jangan khawatir."

Kemudian bermunculan Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, dan juga Kui To Cin-jin.

"Sungguh celaka. Di Kota Raja terdapat belasan orang pemberontak dan kalian tidak mengetahuinya. Ini sungguh berbahaya sekali."

"Hemm, bagaimana dengan tugas kalian? Apakah dapat menangkap para pengacau itu?"

"Kami telah melakukan pengejaran akan tetapi mereka itu lenyap dalam kegelapan malam, Taijin,"

Ciang Sun Hok melapor. Ma Kiu It, panglima pengawal Jin Kui, segera berkata.

"Jangan khawatir, Taijin. Besok pagi saya akan mengerahkan pasukan untuk melakukan pembersihan di dalam kota. Saya juga mencurigai para pengemis Hektung Kai-pang."

"Ada apa dengan mereka? Bukankah selama ini para pengemis Hek-Tung Kai-pang tidak pernah melakukan pelanggaran?"

Tanya Jin Kui.

"Memang benar, mereka tidak melakukan kejahatan atau pelanggaran apapun. Akan tetapi saya mendengar bahwa mereka semua mempelajari iImu silat dan kabarnya malah mereka memiliki banyak jagoan. Hal ini amat berbahaya karena siapa tahu diam-diam mereka itu membantu para pemberontak!"

"Kalau begitu lakukan penggeledahan dalam sarang mereka Kalau mendapatkan senjata tajam, sita dan kalau sikap mereka mencurigakan, lakukan penangkapan!"

"Baik, Taijin."

Tiong Li sudah mendengar cukup.

Pertama, dia sudah tahu bahwa yang diculik adalah Sung Hiang Bwee dan kiranya puteri itu diserahkan kepada Panglima Besar Wu Chu dari kerajaan Kin.

Siapa lagi yang punya ulah seperti itu kalau bukan Perdana Menteri Jin Kui?

Tiong Li mengepal tinjunya kalau ingat betapa puteri yang cantik jelita itu telah diserahkan kepada panglima Bangsa Kin!

Dan berita kedua juga amat penting.

Besok pagi akan diadakan penggeledahan di Hek-Tung Kai-pang yang mulau dicurigai!

Dia harus memberitahu kepada Kok Bu secepatnya.

Karena itu, dengan hati-hati dia meninggalkan gedung itu dan memasuki taman.

Akan tetapi sekarang, jalan keluarnya sudah tertutup.

Semua tembok terdapat penjaganya, di sebelah dalam dan luar tembok sehingga tidak mungkin dia keluar tanpa diketahui orang.

Akan tetapi dia tidak perduli.

Dengan menggunakan iImu Jouw-sang-hui, dia melompat ke atas tembok.

Para penjaga melihat dan mengejarnya, akan tetapi dua orang penjaga yang terdekat segera roboh begitu Tiong Li menggerakkan kakinya.

Dan sebelum para penjaga lain dapat menyerangnya, dia sudah berkelebat dan lenyap ditelan kegelapan malam.

Tentu saja para penjaga menjadi gempar dan segera melaporkan kepada Perdana Menteri Jin Kui.

Perdana Menteri Jin Kui menjadi pucat wajahnya mendengar laporan bahwa baru saja ada orang keluar dari dalam tembok pagar rumahnya.

Berarti tadi ada orang yang berkeliaran di rumahnya!

Pada hal di situ terdapat Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, Kui To Cin-jin dan bahkan Tang Boa Lu.

Dan mereka semua tidak mengetahuinya.

Ini hanya membuktikan betapa lihainya orang yang menyusup masuk tadi.

Dan mungkin orang itu sudah mendengarkan percakapan antara dia dan para pembantunya.

"Celaka! Kejar, cari dan tangkap orangnya!"

Teriaknya kepada para pembantunya.

Empat orang itu segera berlompatan mengejar, akan tetapi tentu saja mereka hanya berputar-putar dalam kegelepan malam tanpa menemukan siapa-siapa.!

Tiong Li yang mengenakan pakaian hitam itu kembali ke rumah gedung kosong di mana Gan Kok Bu sudah menantinya.

"Bagaimana hasilnya, Taihiap?"

"Ada berita amat penting dapat kudengar,"

Kata Tiong Li.

"Puteri Sung Hiang Bwee itu ternyata diculik untuk diserahkan kepada Panglima Besar Wu Chu dari Kerajaan Kin dan sekarang sudah berada di sana!"

"Jahanam busuk! Puteri kaisar diserahkan kepada Panglima Kin? Jin Kui memang seorang pengkhianat busuk!"

"Ada berita yang lebih penting sekali untuk kalian,"

Kata Tiong LI.

"Besok pagi-pagi panglima pengawal dari Jin Kui akan mengadakan pembersihan terhadap Hek-Tung Kai-pang."

"Ah, apa alasannya?"

Seru Kok Bu terkejut sekali.

"Agaknya Hek-Tung Kai-pang mulai dicurigai karena anggautanya banyak yang mempelajari silat. Besok akan dilakukan penggeledahan di sarang Hek-tung Kai-pang. Kalau bertemu senjata tajam akan disita dan kalau sikap kalian mencurigakan akan dilakukan penangkapan!"

"Terima kasih, Tan-Taihiap. Berita ini memang penting sekali untuk kami. Nah, selamat tinggal. Sekarang juga aku harus memberitahu ayah dan kawan-kawan agar mereka bersiap-siap menghadapi pemeriksaan besok pagi."

Kok Bu meninggalkan Tiong Li yang kembali menyamar sebagai seorang pengemis dan malam itu juga meninggalkan k"ta raja.

Untung baginya bahwa kecurigaan terhadap para pengemis belum sampai kepada para petugas jaga di pintu gerbang sehingga dengan mudah dia menyelinap keluar dari pintu gerbang tanpa banyak halangan.

Perkumpulan Ceng-Liong-Pang yang berpusat di pegunungan Ceng-liong-san adalah sekelompok pejuang yang gigih.

Ketuanya, Gui Kong Sek adalah seorang patriot sejati.

Biarpun usianya sudah lima puluh tahun lebih, akan tetapi dia masih menjadi pejuang yang gigih, memimpin anak buahnya yang sebanyak dua ratus orang itu untuk melawan dan menentang penjajah Bangsa Kin.

Karena letaknya berada di perbatasan antara Kerajaan Sung dan Kerajaan Kin, terletak di daerah tak bertuan yang amat luas, maka mudah bagi para pejuang Cengliong-pang untuk mengganggu pasukan Kin.

Baik pasukan Kerajaan Kin maupun pasukan Sung yang menganggap mereka itu pemberontak, mengalami kesulitan untuk membasmi kelompok ini, Setiap kali diserbu, ketompok ini cerai berai bersembunyi di pegunungan Ceng-liong-san, dan mengadakan perlawanan gerilya yang merugikan pasukan yang hendak membasmi mereka.

Gui Kong Sek adalah seorang ahli silat Bu-tong-pai yang berkepandalan tinggi, juga berwatak gagah.

Dalam waktu luang, kalau tidak ada pertempuran, dia bisa mengasingkan diri dalam sebuah gua untuk bersamadhi.

Kalau sudah berada di dalam gua itu tak seorangpun anak buah boleh mengganggunya, kecuali terjadi hal yang penting sekali dan dia dapat bertahan sampai beberapa hari bersamadhi di dalam gua itu.

Pada suatu hari Gui Kong Seng menyudahi samadhinya setelah lima hari berada di dalam gua, dan semua anggauta Ceng-Liong-Pang merasa heran melihat sikap ketua mereka begitu pendiam, tidak seperti biasanya.

Bahkan berhari hari ketua itu tidak pernah lagi mengadakan pertemuan dengan para murid dan pembantunya untuk membicarakan terjangan.

Pada suatu hari sang ketua memanggil para murid dan pembantunya, dan dengan suara tenang dan berwibawa dia berkata kepada mereka.

"Selama ini kita telah salah jalan. Dalam samadhiku aku merenungkan semua yang telah kita lakukan selama ini dan aku merasakan suatu kesalahan yang besar, Kita harus mencontoh mendiang Jenderal Gak Hui yang setia kepada kaisar sampai mati. Kita juga harus setia kepada pemerintah Sung dan kaisar, maka kita harus mencegah adanya pemberontakan terhadap Kerajaan Sung! Kita harus membantu kerajaan untuk membasmi para pemberontak!"

Tentu saja semua murid, dan sute dan pembantu menjadi heran sekali melihat perubahan ini. Sang Ketua yang hidup sebatang kara dan tidak berkeluarga itu kelihatan amat berubah! "Akan tetapi, Pangcu,"

Kata seorang sutenya.

"Apakah itu berarti bahwa kita tidak lagi memusuhi Bangsa Kin?"

"Semua tergantung keputusan pemerintah. Kalau Kerajaan Sung memusuhi Kin, kita juga harus memusuhinya. Akan tetapi kalau Kerajaan Sung berdamai dengan Kin, kita tentu saja tidak boieh menentangnya. Pendeknya, kita harus bekerja untuk Kerajaan Sung dan tidak menentang politik dan pendiriannya!"

Dia lalu membubarkan pertemuan itu dan tentu saja keputusan ini amat menghebohkan para angguta Cengliong-pang.

Selama ini perkumpulan itu disegani kawan dan lawan sebagai pejuang yang amat gigih, dan kini tahu-tahu ke tuanya membanting haluan ke arah yang ber lawanan.!

Dan keheranan itu bertambah menjadi penasaran ketika dua pekan kemudian, perkumpulan itu menerima kunjungan tamu, yaitu para jagoan dari Kota Raja para pembantu Perdana Menteri Jin Kui yang membicarakan tentang pembasmian para pemberontak.!

Hal ini tentu saja membuat para anggauta Ceng-liongpang menjadi penasaran sekali, terutama dua orang sute dari Hui Kong Sek.

Mereka merasa curiga dan hendak melakukan penyelidikan.

Akan tetapi, pada malam hari itu, kedua orang sute ini kedapatan tewas di kamar sang ketua yang segera memanggil semua anggauta dan menunjuk mayat kedua orang sutenya sambil berkata.

"Lihat, mereka ini hendak berkhianat dan bermaksud membunuhku! Akan tetapi mereka tidak berhasil dan berbalik terbunuh olehku. Hendaknya mereka ini menjadi contoh kepada kalian. Siapa yang hendak berkhianat akan mengalami nasib yang sama! Nah, siapa lagi yang hendak membantah keputusanku bahwa mulai sekarang kita harus setia kepada Kerajaan Sung dan membasmi para pemberontak?"

Semua anggauta menjadi ketakutan dan tidak ada yang berani membantah, Bukan itu saja.

Setelah Gui Kong Sek bersekutu dengan orang orang kepercayaan Menteri Jin Kui, mulai berdatangan utusan dari Kerajaan Kin.!

Dan berkat bantuan Gui Kong Sek, banyak kelompok pejuang yang dapat dibasmi.

Sarang mereka diserbu atas petunjuk ketua Ceng-liong-pang itu, bahkan para anggauta Ceng-Liong-Pang dipaksa untuk ikut menyerbu.

Pada suatu hari, Tiong Li yang melakukan perjalanan untuk mencari puteri Sung Hiang Bwee, tibalah di daerah kekuasaan Ceng-Liong-Pang.

Selagi dia berjalan seorang diri, kini dia tidak lagi menyamar sebagai pengemis sejak keluar dari Kota Raja, mendadak bermunculan duapuluh orang lebih yang menghadangnya.

Tadinya dia mengira bahwa mereka adalah perampok-perampok, akan tetapi melihat pakaian mereka yang pantas, dia mengira mereka itu kelompok pejuang.

Dengan tenang Tiong Li menghadapi seorang tinggi kurus yang agaknya menjadi pemimpin dari kelompok orang itu.

"Sobat-sobat sekalian,ada keperluan apakah anda sekalian menghadang perjalananku?"

Mendadak seorang di antara mereka berseru.

"Aku mengenal orang ini. Gambarnya terpampang di mana-mana. Dia adalah Tan Tiong Li, pemberontak yang melarikan puteri istana itu!"

"Tangkap dia!"

"Jangan sampai lolos pemberontak ini!"

Orang-orang itu berteriak-teriak dan menghunus senjata, mengepung Tiong Li. Tiong Li berusaha menyabarkan mereka.

"Kawan-kawan, harap jangan terburu nafsu. Memang benar aku bernama Tan Tiong Li dan memang benar gambarku terpampang di papan pengumuman di mana-mana, akan tetapi semua itu hanyalah fitnah belaka. Aku bukan seorang pemberontak dan aku sama sekali tidak menculik puteri Istana."

"Bohong...!"

"Mana ada maling mengaku pencuri?"

"Serang dia! Bunuh!"

Orang-orang itu sudah tidak terkendalikan lagi, beramai-ramai mereka menyerang Tiong Li.

Pemuda itu mengelak dari semua serangan itu, tubuhnya berkelebatan dan begitu dia menggerakkan tangan kaki, para pengeroyok itu berpelantingan seperti daun-daun kering di terbangkan angin!

Si Tinggi kurus sendiri menggunakan pedangnya menusuk dada Tiong Li, akan tetapi dengan mudah Tiong Li meloncat ke samping dan sebelum si kurus sempat menyerang lagi, sebuah totokan membuatnya roboh dengan lemas dan tidak dapat bangkit kembali.

Tiong Li terus mengamuk dan dalam waktu singkat semua orang yang berjumlah duapuluh tiga orang itu telah roboh semua!

Dia memang tidak bermaksud membunuh, maka mereka itu hanya mengalami salah urat atau tertotok saja, tidak ada yang terluka berat ataupun tewas.

Tiong Li mendekati si tinggi kurus dan sekali tepuk dengan tangannya, dia membebaskan totokannya, lalu bertanya.

"Sebetulnya kalian siapakah dan mengapa memusuhiku? Kulihat kalian bukan perampok."

Si tinggi kurus maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki kesaktian.

"Kami adalah anggauta Ceng-Liong-Pang."

"Hemmm...!"

Tiong Li mengerutkan alisnya dengan heran.

"Bukankah menurut pendengaranku Ceng-Iiongpang adalah sebuah perkumpulan para pejuang patriot yang menentang penjajah Kin? Kenapa menyerang aku yang difitnah oleh Perdana Menjeri Jin Kui?"

Si tinggi kurus itu menghela napas panjang.

"Ini semua atas perintah pang-cu. Entah apa yang terjadi, Pangcu kami telah berubah sama sekali. Bukan saja berhubungan dengan para utusan Perdana Menteri Jin Kui, akan tetapi juga dengan utusan dari Kerajaan Kin!"

"Ah...!"

Tiong Li terkejut sekali.

"Apa yang telah terjadi?"

Si tinggi kurus ini adalah seorang murid tertua dan dia sendiri sebenarnya tidak setuju dengan tindakan gurunya, apa lagi setelah kedua orang paman gurunya tewas oleh gurunya sendiri.

Kini, bertemu dengan seorang pemuda sakti yang dimusuhi Perdana Menteri Jin Kui, timbul harapannya kalau-kalau pemuda ini dapat membongkar rahasia apa yang terkandung di balik perubahan sikap ketua mereka itu.

"Terjadinya beberapa bulan yang lalu, Setelah keluar dari tempat samadhinya, Pangcu menjadi berubah sama sekali. Dia melarang kami melakukan gerakan menyerang pasukan Kin, bahkan tak lama kemudian dia menerima utusan dari Menteri Jin Kui, dan utusan dari pasukan Kin. Dan kemudian dia bahkan memaksa kami untuk memusuhi para pejuang yang disebutnya sebagai pemberontak-pemberontak yang patut dibasmi."

"Apa alasannya?"

"Katanya kita harus mengikuti jejak mendiang Jenderal Gak Hui yang setia kepada kaisar sampai mati. Kita tidak boleh menentang kebijaksanaan Kaisar dan kalau Kaisar berbalik dengan penjajah Kin, kitapun harus mengikuti jejak Kaisar. Dengan sikapnya itu, dia membantu pasukan Sung untuk membasmi kau m pejuang. Hal ini amat mendukakan kami semua akan tetapi kami tidak berdaya, Taihiap."

"Ah, sungguh mencurigakan!"

Kata Tiong Li.

"Mungkin ketua kalian itu di ancam dan dipaksa. Aku harus menyelidiki persoalan ini!"

Si tinggi kurus itu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Tiong Li dan perbuatan ini diturut oleh semua anak buahnya.

"Kami akan merasa berterima kasih sekali kalau Taihiap suka menyelidiki. Dua orang paman guru kami yang hendak menyelidiki masalah itu bahkan dibunuh sendiri oleh ketua kami."

"Jangan khawatir, aku akan menyelidikinya. Pasti ada sebabnya yang membuat ketua kalian berubah pendirian secara mendadak seperti itu. Nah, mari bawa aku menghadap dia!"

Duapuluh tiga orang itu lalu berramai-ramai mengantar Tiong Li ke sarang mereka.

Kedatangan mereka disambut oleh para anggauta lainnya yang berjumlah kurang lebih dua ratus orang itu, dan ketika mereka mendengar bahwa pemuda itu adalah Tan Tiong Li yang di cari-cari oleh pemerintah, dan mendengar bahwa pemuda itu hendak menyelidiki sang ketua yang berubah pendirian, sebagian besar dari mereka merasa senang sekali.

Ada memang beberapa orang di antara mereka yang berpihak ke pada sang ketua, Akan tetapi jumlah mereka tidak banyak dan mereka disuruh diam oleh para anggauta yang menghendaki agar Tiong Li menyelidiki perubahan sikap ketua mereka.

Berbondong-bondong mereka lalu mengantar Tiong Li menghadap Gui Kong Sek, ketua mereka.

Gui Kong Sek sedang berbincang-bincang dengan seorang tamunya, yaitu utusan dari pasukan Kin yang datang ke marin.

Tamu ini adalah seorang utusan panglima Besar Wu Chu yang bernama Un Ci Siang, seorang bertubuh tinggi besar seperti raksasa dan nampaknya kuat sekal.!

Begitu mendengar suara ribut-ribut di luar, ketua Ceng-Liong-Pang bersama tamunya lalu berlari keluar.

Mereka melihat para angguta berbondong datang mengiringkan seorang pemuda tampan.

Melihat pemuda ini, Gui Kong Sek terbelalak dan berteriak sambil menudingkan telunjuknya kepada Tiong Li.

"Dia pemberontak itu, penculik puteri kaisar! Tangkap dia!"

Akan tetapi anak buahnya tidak ada yang bergerak, dan Tiong Li sambil tersenyum melangkah maju menghampiri Gui Kong Sek.

"Anak buahmu tidak akan menangkap aku, Pangcu. Bahkan mereka mempercayaiku untuk bicara denganmu. Harap Pangcu menjawab terus terang saja semua pertanyaanku."

Gui Kong Sek mengerutkan alisnya.

"Bicara denganmu? Bicara apa lagi!? Engkau seorang pemberontak laknat!"

"Aku bukan pemberontak dan bukan pula penculik puteri. Hal ini tentu engkau tahu benar kalau memang engkau telah bersekutu dengan Perdana Menteri Jin Kui. Pangcu, aku mewakli para anggauta Ceng-Liong-Pang untuk bertanya kepadamu. Kenapa engkau mengubah sikap mu sebagal seorang pejuang? Engkau bersekutu dengan Perdana Menteri Jin Kui dan engkau berbaik dengan orang-orang Kin yang seharusnya kau musuhi. Apa artinya ini semua?"

"Aku taat kepada Perdana Menteri berarti taat kepada pemerlntah. Kami bukan pemberontak melainkan pejuang yang membela kepentingan. Kerajaan Sung."

"Akan tetapi mengapa bersekutu dengan orang Kin?"

"Kerajaan Sung tidak memusuhi kerajaan Kin, melainkan ingin bersahabat, kita hanya mendukung politik yang digariskan oleh Kaisar! Tan Tiong Li, engkau lancang mencampuri urusan dalam perkumpulan kami!"

"Urusan dalam perkumpulan Ceng-Liong-Pang adalah urusan kita semua yang merasa sebagai pejuang yang hendak mengusir bangsa Kin dari tanah air Engkau telah berbalik haluan, mengubah pendirian tentu ada sebab tertentu. Apakah engkau dipaksa oleh Perdana Menteri Jin Kui, atau engkau telah makan suapan Bangsa Kin? Kenapa pula engkau membunuh dua orang sutemu yang hendak menyelidiki masalah perubahan sikapmu itu?"

Mendengar ini, Un Ci Siang yang tinggi besar itu telah menjadi marah dan tidak sabar lagi.

"Pang-cu, kalau bocah ini mengganggumu, biarkan aku yang mengusirnya untukmu!"

"Jangan usir, melainkan tangkap hidup atau mati karena dia seorang buronan pemerintah Sung!"

Kata Gui Kong Sek. Tiong Li sudah mendengar dari orang-orang Cengliong-pang tadi bahwa tamu inipun utusan panglima Kin, maka dia memandang dengan mata bersinar.

"Engkau seorang perwira Kin, musuh besar kami! Engkaulah yang harus menyerah kepada kami!"

Si tinggi besar itu sudah mencabut sebatang golok yang besar dan mengkilap tajam, membentak.

"Pemberontak laknat, kematian sudah di depan mata, jangan banyak mulut tagi!"

Dan diapun sudah menyerang dengan goloknya.

Serangannya dahsyat sekali karena memang raksasa ini memiliki tenaga yang besar.

Tiong Li mengelak dan membalas dengan tendangan yang juga dapat dielakkan lawan.Ternyata raksasa itu adalah seorang jagoan dari Kin, memiliki ilmu siat yang cukup tangguh.

Akan tetapi lawannya adalah Tiong Li, seorang pemuda yang telah memiliki kesaktian, maka biarpun hanya bertangan kosong, Tiong Li sama sekali tidak terdesak, bahkan ketika dia memainkan ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan-kun, si raksasa menjadi repot sekali harus mengelak ke sana sini.

Pertandingan seru itu menjadi perhatian semua anggauta Ceng-Liong-Pang dan melihat betapa tamunya belum juga berhasil merobohkan Tiong Li, mendadak Gui Kong Seng mengeluarkan teriakan nyaring dan dia sudah melompat ke depan menggunakan pedangnya untuk mengeroyok!

Pada saat itulah para murid dan anggauta Ceng-Liong-Pang memandang heran.

Mereka sama sekali tidak mengenal ilmu pedang yang dimainkan ketua mereka!

Bukan ilmu pedang dari Ceng-Iiong-pang yang dimainkan ketua itu, melainkan ilmu pedang yang asing sama sekali bagi para murid Ceng-Iiong-pang, namun harus diakui bahwa ilmu pedang itupun dahsyat sekali.!

Biarpun dikeroyok dua oleh orang yang bergolok dan berpedang sedangkan dia sendiri bertangan kosong, namun sama sekali Tiong Li tidak pernah terdesak.

Memang kedua orang lawannya memainkan pedang dan golok dengan dahsyat dan cepat, membentuk dua gulungan sinar yang melingkar-iingkar, namun tubuh Tiong Li seperti berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara dua gulungan sinar itu.

Tak pernah golok dan pedang itu dapat mengenai tubuhnya dan ketika dia menggunakan ilmu pukulan Thai-lek Kim-kong-jiu, golok yang berada di tangan Un Ci Siang terlepas karena lengannya kena dihantam tenaga sakti itu sehingga tergetar hebat.

Di lain saat, ketika Tiong Li membalik untuk menghantam Gui Kong Sek, orang ini sudah meloncat ke belakang dan bersama tamunya dia melarikan diri!

Agaknya baik Un CI Siang maupun Gui Kong Sek maklum bahwa mereka berdua tidak akan mampu menandingi Tiong LI, maka keduanya segera kabur cerai berai.!

"Jangan biarkan orang Kin itu lolos!"

Teriak Tiong Li kepada anak buah Ceng-Liong-Pang dan dia sendiri segera mengejar Gui Kong Seng.

Orang-orang Cengliong-pang bagalkan baru sadar dari mimpi, Tadi mereka bengong dan terkagum-kagum melihat betapa Tiong Li mampu menandingi pengeroyokan dua orang itu dan kini, melihat Un Ci Siang melarikan diri, mereka segera beramai-ramai mengejar dan mengepung sambil mengacung acungkan senjata untuk mengeroyok.

Un Ci Siang terkepung dan mengamuk dengan tangan kosong.

Amukannya merobohkan sedikitnya lima orang anggauta Ceng-Liong-Pang, akan tetapi karena jumlah mereka amat banyak, akhirnya jagoan dari Kerajaan Kin itu jatuh juga menjadi korban puluhan senjata yang membuat tubuhnya hancur dan tewas.

Setelah menewaskan Un Ci Siang, para anggauta Ceng-Liong-Pang itu lalu ikut mengejar ketua mereka sendiri yang dikejar oleh Tiong Li.

Dengan panik Gui Kong Sek lari ke gua di mana dia biasa bertapa.

Akan tetapi Tiong Li tetap mengejarnya dan melihat bahwa dia tidak dapat melepaskan diri dari pengejarnya, ketua Ceng-Liong-Pang ini lalu masuk ke dalam gua tempat dia biasa bertapa itu.

Gua itu besar dan gelap dan ketika tubuh ketua Cengliong-pang itu masuk ke dalamnya dia segera ditelan kegelapan gua itu.

Dengan berani Tiong Li mengejar masuk dengan sikap hati-hati dan waspada sekali.

Tiba-tiba dia mendengar desir angin dari depan dan sangat cepat tubuh nya mengelak ke samping.

Tiga batang piauw (pisau terbang) meluncur lewat tubuhnya dan dia terus mengejar ke dalam.

Kiranya gua itu bukan hanya lebar, akan tetapi juga dalam dan merupakan semacam terowongan yang berlika-liku.

Di sebelah dalam keadaannya tidak segelap di bagian luar karena mendapat sorotan sinar dari atas, mungkin dari celah-celah di mana sinar matahari dapat masuk.

Ketika dia masuk terus akhirnya dia tiba di sebuah ruangan dan Tiong Li berhenti melangkah dan memandang dengan mata terbelalak.

Dia melihat ketua Ceng-Liong-Pang yang tadi sudah berdiri didekat seorang laki-laki yang terbelenggu kaki tangannya sambil menodongkan pedangnya ke dada laki-lakl itu.

Dan laki-laki itu memiliki bentuk wajah yang serupa benar dengan ketua Ceng-Liong-Pang itu!

Sekarang mengertilah Tiong Li.

Ketua Ceng-Liong-Pang yang dikejarnya tadi adalah ketua yang palsu, sedangkan ketua aselinya menjadi menjadi orang tahanan di dalam gua ini, dibelenggu kaki tangannya.!

Pantas saja ketua Ceng-Liong-Pang membawa anak buahnya menyeleweng dan bersengkongkol dengan Perdana Menteri Jin Kui dan orang Kin, kiranya dia adalah ketua palsu.!

"Jangan mendekat, atau orang ini akan kubunuh lebih dulu!"

Bentak ketua palsu itu.

"Hemm, biar engkau membunuhnya juga bagaimana engkau akan dapat lolos dari sini?"

Tiong Li balas menggertak. Diam-diam mendengar lapat-lapat suara para anggauta Ceng-Liong-Pang yang mengejar menuju tempat itu.

"Aku punya usul. Bagaimana kalau engkau membebaskan dia sedangkan aku membebaskanmu, membiarkan engkau keluar dari sini dan melarikan diri?"

Ketua palsu itu memang menghendaki demikian.

"Bagaimana aku dapat percaya kepadamu?"

Bentaknya.

"Aku Tan Tiong Li bukan orang yang suka melanggar janji. Aku bersumpah tidak akan mengganggumu dan membiarkan engkau keluar dari sini kalau engkau membebaskan tawanan itu! Kalau engkau tidak percaya dan tidak mau, silakan lakukan apa saja akan tetapi jangan harap dapat lolos dari tanganku!"

Gertakan ini mengenal sasaran.

"Baik, aku akan membebaskan dia dan minggirlah!"

Tiong Li minggir memberi Jalan kepada orang itu yang segera meloncat melewati Tiong Li dan berlari keluar terowongan gua.

Tiong Li tidak memperdulikannya lagi karena dia percaya bahwa ketua palsu itu tentu akan bertemu dengan para anggauta Ceng-Liong-Pang yang melakukan pengejaran dan sudah tiba di depan gua!

Dia lalu meloncat ke dekat orang yang terbelenggu itu.

"Apakah engkau ini Pangcu Gui Kong Sek yang aseli?"

Orang itu mengangguk lemah.

"Benar, dan orang tadi adalah seorang kaki tangan Bangsa Kin yang menyamar sebagai diriku, ketika aku bersamadhi disini, tiba-tiba aku diserang dan ditotok sehingga tidak berdaya."

Tiong Li lalu membebaskan kaki tangan orang itu dan mengajaknya keluar. Mereka mendengarkan suara ributribut di luar gua.

"Aku adalah ketua kalian! Kalian mau apa? Apakah hendak berkhianat kepadaku? Apakah kalian semua minta mati?"

Tiba-tiba Gui Kong Sek yang aseli meloncat ke depan.

"Jangan percaya, dia pembohong dan dia menyamar sebagai aku. Akulah Gui Kong Sek yang aseli, yang selama ini dia tahan, di dalam gua!"

Semua orang terkejut melihat ada dua Gui Kong Sek, akan tetapi mereka semua percaya kepada Gui Kong Sek yang pakaiannya kumal dan kurus ini, maka segera mereka mengepung Gui Kong Sek yang palsu.

Orang itu menggunakan pedangnya mengamuk, akan tetapi dia di keroyok dan kini Gui Kong Sek yang aseli juga sudah menerima sebatang pedang dari anak buahnya dan dengan sengit ikut menyerang.

Tiong Li hanya menonton saja.

Dia sudah bersumpah tidak akan mengganggu Gui Kong Sek palsu itu, dan dia sudah memperhitungkan bahwa ketua palsu Itu tidak akan dapat meloloskan diri karena para anggauta Cengliong-pang sudah tiba di depan gua.

Perhitungannya tepat sekali dan kini ketua palsu itu di keroyok oleh banyak sekali anggauta Ceng-Liong-Pang yang membantu ketuanya yang aseli.

Biarpun ketua palsu itu cukup lihai, akan tetapi kini dia menghadapi ketua aseli yang juga hebat Ilmu pedangnya, ditambah lagi pengeroyokan puluhan orang anggauta Ceng-Iiong-pang.

Akhirnya diapun roboh dan menjadi sasaran puluhan batang senjata tajam sehingga tubuhnya hancur lebur.

Tiong Li hendak mencegah akan tetapi sudah terlambat.

Dia hanya menyatakan penyesalannya kepada Gui Kong Sek ketua Ceng-Liong-Pang.

"Sayang sekali, kalau dia ditangkap hidup-hidup tentu kita dapat bertanya siapa dalang semua ini?"

"Maafkan kami, Taihiap. Kami tidak lagi dapat menahan kemarahan."

"Sudahlah, sekarang Pangcu mempunyai tugas baru yang amat berat dan penting, yaitu membersihkan nama Ceng-Liong-Pang yang sudah terlanjur buruk di mata para pejuang."

Setelah itu Tiong Li berpamit dan diantar sampai keluar dari daerah Ceng Iiong-pang oleh ketuanya dan para anggautanya yang berterima kasih sekali.

Kalau tidak ada pertolongan pemuda perkasa itu tentu Cengliong-pang terlanjur menjadi sebuah perkumpulan yang menyimpang dan menyeleweng.!

Tiong Li melanjutkan perjalanannya, hatinya diliputi kekhawatiran melihat betapa pihak Bangsa Kin agaknya berusaha benar-benar untuk bersama Perdana Menteri Jin Kui menumpas para patriot pejuang.

Ban-Tok Sian-Li Souw Hian Li tinggal di Lembah Maut, sebuah lembah yang curam dan berbahaya di tepi Sungai Yang-ce, Karena tempat itu memang merupakan perbukitan dengan lembahnya yang curam dan banyak terdapat jurang, berbahaya sekali, maka disebut Lembah Maut.

Di tempat berbahaya ini Ban-Tok Sian-Li mempunyai sebuah rumah gedung yang megah, tinggal di situ bersama muridnya, The Siang Hwi dan beberapa orang pembantu wanita.

Di sekeliling rumahnya terdapat pondok-pondok mungil dan ini merupakan tempat tinggal anak buahnya yang berjumlah sekitar tigapuluh orang.

Para anggauta itu, yang juga merupakan murid-murid yang dilatih oleh The Siang Hwi yang mewakili gurunya, adalah wanita yang berusia dari duapuluh sampai tigapuluh tahun.

Biarpun namanya Lembah Maut, akan tetapi tempat ini mempunyai bagian yang subur sekali sehingga mereka dapat bercocok tanam di tanah subur itu.

Ada pula yang setiap hari mencari ikan di Sungai Yang-ce.

Pada suatu hari, setelah mandi Siang Hwi bertemu dengan gurunya di beranda depan, Ban-Tok Sian-Li Souw Hian Li sepagi itu juga sudah mandi dan nampak segar sehingga Siang Hwi menjadi kagum.

Gurunya itu nampak selalu tetap muda, pantas menjadi kakaknya yang hanya berbeda satu dua tahun.

Pada hal, gurunya itu sepuluh atau sebelas tahun lebih tua darinya.

"Selamat pagi, Subo."

"Selamat pagi, Siang Hwi. Kenapa engkau kelihatan wajahnya agak pucat dan muram?"

"Semalam aku kurang tidur, Subo Aku mendapatkan mimpi buruk sekali membuat aku sukar tidur."

Gurunya tersenyum.

"Ihh, seperti anak kecil saja engkau, Siang Hwi. Ke"apa mimpi saja dipikirkan sampai tidak dapat tidur?"

"Entahlah,"

Subo. Akan tetapi sungguh mimpi itu membuat teecu tidak dapat tidur dan hati merasa gelisah. Sungai Yang-ce meluap dan airnya sampa menghanyutkan semua yang berada di sini!"

Senyum Ban-Tok Sian-Li semakin melebar.

"Anak bodoh! Mana mungkin air Sungai Yang-ce dapat naik ke lembah ini? Andaikata benar terjadi banjir, tidak mungkin air sungai dapat naik ke tempat yang tinggi ini!"

Baru saja percakapan mereka sampai ke situ, tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk dan sorak sorai.

Seluruh anak buah Lembah Maut menjadi gempar karena tiba-tiba sekali tempat itu sudah diserbu oleh pasukan yang besar jumlahnya!

Tidak kurang dari seratus orang perajurit Kerajaan Sung menyerbu tempat itu, dan tanpa banyak cakap ,lagi telah menyerang.

Siang Hwi dan Ban-Tok Sian-Li cepat berlari keluar sambil membawa pedang dan mereka segera disambut oleh Kui To Cin-jin dan Tang Boa Lu Si Muka Tengkorak.!

Segera terjadi pertempuran hebat antara Ban-tok Sfan-li dan Tang Boa Lu, sedangkan The Siang Hwi sudah bertanding melawan Kui To Cin-jin yang bersenjatakan rantai baja.

"Tangkap pemberontak!"

"Hancurkan mereka!"

Teriakan-teriakan itu terdengar dan Ban-Tok Sian-Li tidak merasa perlu untuk bertanya lagi.

Memang ia kini bersimpati kepada para pejuang dan semenjak peristiwa di Kota Raja, yaitu tewasnya An Kiong hartawan di Kota Raja yang dibelanya itu, la sudah dianggap sebagai pemberontak pula.

Maka, iapun mengamuk dan mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk merobohkan lawan, Akan tetapi lawannya, Si Muka Tengkorak, merupakan lawan yang setingkat dengannya sehingga pertandingan itu menjadi amat seru.

Sementara itu, para anggauta pasukan Kerajaan Sung ketika mendapat kenyataan bahwa lawan mereka semua adalah wanita yang rata-rata masih muda dan cantik, Mereka merasa gembira sekali dan berusaha keras untuk menangkap mereka hidup-hidup.

Karena jumlah mereka seratus orang lebih sehingga jauh lebih besar dari pada jumlah anak buah Lembah Maut yang hanya tigapuluh orang, maka dengan cepat mereka dapat mendesak lawan.

The Siang Hwi yang mendapatkan lawan Kui To Cinjin, merasa kewalahan.

Orang yang berjubah seperti pendeta dan bersenjata rantai baja ini memang lihai bukan main.

Mukanya yang seperti tikus, kini tersenyum dan Jenggotnya yang panjang bergoyang-goyang.

Biarpun tubuhnya tinggi kurus, namun rantai yang menyambar-nyambar dengan amat kuat dan setiap kali bertemu dengan pedangnya, Siang Hwi merasa betapa tela"ak tangannya panas dan tergetar hebat.

Setelah lewat lima puluh jurus, Siang Hwi sudah tidak kuat bertahan lagi.

"Trangggg...!"

Dengan keras sekali pedangnya bertemu rantai baja dan pedang itu terlepas dari pegangannya dan sebelum sempat menghindar, sebuah tendangan membuat ia terpelanting dan sebuah totokan menyusul, membuat ia tidak mampu bergerak lagi.

Pada saat itu, sebagian besar anak buah Lembah Maut juga sudah tertawan dan ada pula beberapa orang yang terluka parah dan tewas.

Akan tetapi lebih banyak yang tertawan hidup-hidup.

Melihat keadaan yang tidak menguntungkan ini, Ban-Tok Sian-Li memutar pedangnya dengan kecepatan hebat dan ia dapat membuat lawannya terpaksa mundur.

Kesempatan ini ia pergunakan untuk meloncat jauh ke belakang dan Ban-tok Sian-Li melarikan diri.

la tidak ingin tertangkap atau terbunuh pula karena maklum bahwa pihaknya sudah menderita kekalahan.

Akhirnya semua anggauta Lembah Maut telah kalah.

Duapuluh orang tertawan hidup-hidup dan mereka itu berada dalam rangkulan para perajurit yang tertawa-tawa penuh kemenangan.

Kui To Cin-jin menawan Siang Hwi karena dia tahu bahwa muridnya, mendiang Jin Kiat pernah tergila-gila kepada gadis ini dan seolah gadis ini yang patut dimintai pertanggungan jawab.

Maka dia bermaksud membawanya kepada Perdana Menteri Jin Kui untuk diadili karena gurunya dapat melarikan diri.

Sarang itu lalu dirampok habis-habisan, kemudian rumah gedung dan semua pondok yang mengelilinginya dibakar oleh pasukan itu.

Kui To Cin-jin tidak memperdulikan nasib para anggauta Lembah Maut.

Dia menyerahkan mereka kepada anak buahnya yang bagaikan segerombolan serigala yang haus darah lalu mempermainkan dan memperkosa mereka sampai puas dan merekapun di tinggalkan mati di tempat itu.

Melihat ini, Tang Boa Lu Si Muka Tengkorak juga tidak perduli sama sekali.

The Siang Hwi yang melihat ini merasa sakit sekali hatinya dan diam-diam ia bersumpah bahwa kelak ia akan berusaha untuk membalas sakit hati ini kepada dalangnya yang ia duga bukan lain adalah Perdana Menteri Jin Kui, Akan tetapi pada saat itu ia tidak berdaya sama sekali, menjadi tawanan Kui To Cin-jin.

la memang tidak diganggu dan Kui To Cin-jin melarang para perajurit mengganggunya karena ia hendak diserahkan kepada Perdana Menteri Jin Kui untuk diadili, akan tetapi ia di ikat kedua tangannya dan dinaikkan kuda di depan Kui To Cin-jin, ditelungkupkan melintang di atas punggung kuda.

Kui To Cin-jin dan Tang Boa Lu menunggang kuda di depan pasukan itu.

Mereka berdua merasa gembira karena telah berhasil membasmi para pemberontak di Lembah Maut.

Perdana Menteri Jin Kui memerintahkan jagoannya yang diandalkan, yaitu Kui To Cin-jin untuk memimpin penyerangan itu, dan mengingat bahwa Ban-Tok Sian-Li amat lihai, maka dia minta agar Tang Boa Lu Si Muka Tengkorak membantunya.

Dan ternyata mereka berhasil.

Biarpun Ban-Tok Sian-Li dapat melarikan diri, akan tetapi muridnya dapat ditangkap dan semua anak buahnya dibasmi habis.!

Dua orang jagoan ini sama sekali tidak tahu bahwa ketika mereka tiba di sebuah jalan sunyi dan berpapasan dengan seorang pria muda yang memakai caping dan menutupi mukanya dengan caping, pria muda itu lalu membayangi mereka dari belakang.

Tidak menyangka sama sekali bahwa pria muda itu adalah orang yang selama ini mereka cari-cari, yaitu Tan Tiong Li.

Tan Tiong Li sedang dalam perjalanan mencari puteri Sung Hiang Bwee yang terculik orang dan dibawa ke daerah Kin, dan baru saja dia meninggalkan Ceng-liongpang ketika dia dari jauh melihat rombongan pasukan itu.

Dia menutupi mukanya dengan caping dan betapa kagetnya ketika ia melihat The Siang Hwi rebah melintang di atas kuda yang ditunggangi oleh Kui To Cinjin.!

Tahulah dia bahwa gadis itu ditawan, maka dia lalu membayangi dengan cepat.

Bahkan tanpa mereka ketahui, dengan mengambil jalan pintas dia mendahului mereka dan naik ke atas pohon tepi jalan.

Dia sudah memperhitungkan dengan cermat sekali, maka ketika rombongan itu lewat, dan tepat ketika kuda yang ditunggangi Kui To Cin-jin berada di bawah pohon, pemuda itu lalu melayang turun.

Bagaikan seekor burung garuda yang besar dia menyambar tubuh Siang Hwi dari atas kuda Kui To Cin-jin, tanpa pendeta itu dapat menghalangi karena gerakan dengan ilmu Jouw-sang-hui itu cepat bukan main dan tahu-tahu Siang Hwi telah berada dalam pondongannya.!

Ketika melihat siapa orangnya yang merampas gadis tawanannya itu,Kui To Cin-jin terkejut sekali dan cepat dia berteriak.

"Tangkap orang itu...!!"

Tang Boa Lu yang lebih dulu dapat mengejar dengan loncatannya, akan tetapi Tiong Li yang sudah membebaskan ikatan tangan gadis itu, membalik dan melontarkan pukulan Thai-lek Kim-kong-jiu kepada Si Muka Tengkorak.

Tang Boa Lu terkejut dan menangkis dengan pengerahan tenaga.

"Desssss...!"

Dua tenaga sinkang yang kuat itu bertemu di udara dan akibatnya Si Muka Tengkorak hampir terpelanting.! "Mari kita pergi!"

Kata Tiong Li sambil menggandeng tangan Siang Hwi dan membawanya loncat jauh.

Melihat ke tangguhan pemuda itu, Si Muka Tengkorak menjadi jerih kalau harus melawan sendiri, sedangkan yang lain-lain masih belum cukup kepandaian mereka untuk dapat melakukan pengejaran.

Terpaksa Kui To Cin-jin hanya dapat menyumpah-nyumpah dan mengajak mereka melakukan pengejaran.

Akan tetapi semua usaha itu sia-sia belaka.

Yang dikejar sudah lenyap entah ke mana.

Dengan uring-uringan Kui To Cin-jin terpaksa mengajak mereka kembali ke Kota Raja, melapor kepada Perdana Menteri Jin Kui bahwa usaha pembasmian ke Lembah Maut sudah berhasil baik akan tetapi Ban-Tok Sian-Li dan muridnya telah berhasil melarikan diri.

Tiong Li berhenti berlari dan memandang kepada Siang Hwi yang terengah-engah kelelahan karena dipaksa melarikan diri dengan cepat sekali itu.

Dia melihat wajah gadis itu pucat dan wajahnya yang cantik jelita itu diliputi kedukaan besar.

"Hwi-moi..."

Tegurnya sambil memandang kepada gadis itu dengan penuh iba.

"Li-Koko...!"

Dan tiba-tiba saja gadis itu menangis. Tiong Li terkejut dan merangkulnya.

"Hwi-moi, ada apakah...?"

Siang Hwi menangis di dada pemuda itu, lupa bahwa ia telah berada dalam pelukan orang.

la hanya ingin menumpahkan semua kedukaan pada saat itu dan baginya dada pemuda itu merupakan tempat bersandar yang sentausa dan aman.

Karena maklum bahwa gadis itu baru saja mengalami hal yang hebat dan mungkin mendukakan, Tiong Li mendiamkan saja menangis, bahkan menahan dirinya untuk tidak bertanya tentang gurunya yang tidak nampak.

Setelah tangis itu mereda, barulah Siang Hwi sadar bahwa ia berada dalam pelukan Tiong Li.

la menjauhkan diri, melihat betapa baju bagian dada Tiong Li sudah basah air matanya.

"Ah, maaf, Koko, bajumu menjadi basah..."

Katanya tersipu.

"Tidak mengapa, Hwimoi. Sekarang ceritakan, apa yang telah terjadi denganmu dan bagaimana engkau sampai tertawan oleh orang-orangnya Perdana Menteri Jin Kui itu?"

"Tempat kami telah dlserang pasukan tadi, Koko. Semua anak buah telah... dibunuh..."

La tidak sampai hati menceritakan betapa semua anak buah itu dihina dan diperkosa sebelum di bunuh.

"Ah, dan di mana Subomu?"

"Subo dapat melarikan diri akan tetapi aku tertawan. Tempat kami dirampok dan dibakar habis. Aku... ah, entah apa yang akan terjadi dengan diriku kalau saja tidak ada engkau yang menolongku, Koko. Aku berterima kasih kepadamu..."

"Hussh, tidak perlu bicara tentang terima kasih. Sudah selayaknya kita saling bantu. Dahulupun kalau bukan engkau yang menolong, aku sudah lama mati dl tangan Subomu. Sekarang, bagai mana, Hwi-moi? Apa yang akan kaulakukan?"

Siang Hwi menghela napas panjang dan memandang pemuda itu dengan memelas.

"Aku tidak tahu, Koko. Aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Tempat sudah dibakar, Subo juga entah pergi ke mana. Aku tidak tahu ke mana harus pergi dan apa yang harus kulakukan,"

Katanya bingung.

"Kalau engkau hendak mencari Subomu, mari kutemani dan kubantu mencarinya."

"Ke mana kita harus mencarinya? la melarikan diri dan kami berdua tentu kini menjadi buruan pemerintah. Ke manapun kita pergi tentu akan diburu dan kalau ketahuan akan ditangkap. Aih Koko, aku tidak mengira sekali...nasibku akan menjadi begini."

"Sudahlah, moi-moi. Bagaimana kalau engkau kembali kepada keluargamu? Aku akan mengantarmu ke sana."

Gadis itu memejamkan matanya dan kembali beberapa butir air mata mengalir keluar dan cepat dihapusnya.

"Li Koko, aku sudah tidak mempunyai keluarga, sudah tidak mempunyai orang tua. Aku hidup sebatang kara di dunia ini, tadinya aku hanya mempunyai Subo, akan tetapi sekarang..."

Gadis Itu memandang sedih sekali. Tiong Li memegang kedua lengan gadis itu.

"Besarkan hatimu, Hwi-moi, Ketahuilah bahwa aku sendiri juga seorang yatim piatu yang tidak mempunyai siapa-siapa lagi, kita sama-sama sebatang kara akan tetapi... bukankah kita ini sekarang saling... memiliki? Aku akan membantumu dalam segala hal, dan akan melindungimu, kalau perlu dengan taruhan nyawaku, Hwi-moi..."

"Li-Koko... engkau begini baik. Sejak dahulu engkau amat baik kepadaku. Kenapa engkau begini baik kepadaku, Koko? Bahkan Subo yang biasanya baik kepadaku meninggalkan aku ketika aku tertawan. Akan tetapi engkau... ah, mengapa engkau begini baik kepadaku?"

"Mengapa? Aku sejak pertama kali bertemu sudah amat tertarik kepadamu, Hwi-moi, tertarik karena kebaikan hatimu ketika engkau mencegah Subomu untuk membunuhku. Aku sudah suka sekali kepadamu dan aku... ah, aku cinta padamu, Hwi-moi. Tidak terasakah olehmu?"

Tlba-tiba Siang Hwi menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.

"Aku... aku merasakan itu Koko."

"Dan bagaimana dengan perasaan hatimu, Hwi moi? Bagaimana perasaan hati mu terhadap aku?"

Sampai lama Siang Hwi tidak mampu menjawab. Bagaimana seorang gadis dapat membuka rahasia hatinya begitu saja? la merasa tersipu dan malu sekali.

"Koko, aku... aku hanya pasrah kepadamu. Aku... kalau engkau tidak berkeberatan, aku akan ikut denganmu ke manapun engkau pergi. Aku akan membantumu sekuat kemampuanku dan aku... aku akan setia kepadamu."

Tiong LI merasa gembira sekali dan berbesar hati.

"Akan tetapi bagaimana kalau kita bertemu lagi dengan Subomu? Engkau akan meninggalkan aku dan ikut lagi kepada Subomu?"

"Tidak! Subo telah meninggalkan aku ketika aku tertawan. Aku tidak lagi mau ikut Subo. Aku ingin Ikut engkau, Koko!"

"Hanya ikut saja? Sebagai apa?"

"Terserah kepadamu, aku hanya menurut. Sebagai muridmu, atau sebagai pelayanmu, aku tidak akan menolak."

Tiong Li merasa terharu sekali dan tlba-tlba dia merangkul lagi gadis Itu, Dikecupnya kening yang halus itu dan dia berbisik.

"Bagaimana kalau engkau Ikut denganku sebagai... tunangan ku, sebagai kekasihku, sebagai calon isterlku? Aku cinta padamu, Hwi-moi."

Dengan tersipu Siang Hwi menyembunyikan mukanya di dada pemuda itu.

"Sudah kukatakan aku pasrah dan menurut saja semua keinginanmu, Koko."

"Akan tetapi, cintakah engkau kepadaku?"

Tiong Li mencium rambut kepala yang bersandar di dadanya itu.

Siang Hwi tidak menjawab, akan tetapi Tiong Li merasa dengan dadanya betapa kepala itu menganggukangguk!

Dan itu sudah cukup baginya.

Hatinya merasa demikian besar dan gembira.

Dia menangkap tubuh itu, lalu dilemparkannya ke atas, ditangkap dan dilemparkan lagi.

Siang Hwi terkekeh dan menjerit-jerit kecil,akan tetapi Tiong Li tetap melambungkannya ke atas dan menangkapnya lagi seperti sebuah bola.

Siang Hwi lalu mengerahkan tubuhnya sehingga berat.

Akan tetapi Tiong Li dapat menangkapnya dan ketika melambungkannya lagi gadis itu menggunakan ginkangnya untuk meloncat dan berjungkir balik sehingga ketika ia turun kepalanya terlebih dulu.

Ia menjulurkan kedua tangannya untuk menangkis tangkapan kekasihnya sambil terkekeh.

Tiong Li menerimanya dan merangkul, memondongnya seperti anak kecil dan mengecup kedua pipinya.

"Aih, engkau nakal, Li-ko!"

Siang Hwi berkata, akan tetapi ia merangkulkan lengannya ke leher pemuda itu.

Demikianlah, kedua orang muda itu bermain-main dan bermesraan dengan hati penuh kasih sayang.

Setelah semua gejolak cinta itu mereda.

Siang Hwi bertanya.

"Sekarang kita hendak pergi ke mana, Koko?"

Tiong Li lalu menceritakan tentang lenyapnya puteri Sung Hiang Bwee.

"Puteri itu menurut keterangan yang kudapatkan dari percakapan Perdana Menteri Jin Kui, telah dibawa, ke utara dan diserahkan kepada Panglima Wu Chu, panglima besar Bangsa Kin. Akan tetapi Perdana Menteri melakukan fitnah sehingga Kaisar mengumumkan penangkapan atas diriku dengan tuduhan menculik puteri itu."

"Ihh, betapa jahatnya Perdana Menteri itu!"

Kata Siang Hwi.

"Jahat dan licik sekali, Hwi-moi Karena itu, aku harus menyusul ke utara untuk menemukan kembali sang puteri dan mengembalikan kepada Kaisar. Barulah dengan demikian namaku akan bersih dan kedok Perdana Menteri Jin Kui akan terbuka. Dan engkau ikut menemaniku mencari sang puteri."

"Ke daerah kekuasaan Kin?"

"Ya benar, ke utara."

"Baiklah, Koko, ke manapun engkau pergi, aku ikut."

Demikianlah, sepasang kekasih ini lalu melanjutkan perjalanan menuju ke utara, melewati perbatasan atau daerah tak bertuan dan memasuki wilayah Kerajaan Kin.

Pada suatu pagi Tiong Li dan Siang Hwi memasuki kota Lok-yang.

Kota ini menjadi ibu kota ke dua sesudah Kai Feng yang tetap dijadikan Kota Raja oleh Bangsa Kin.

Bangsa Kin memerintah dengan tangan besi sehingga rakyat Bangsa Han merasa tertindas akan tetapi mereka tidak berani berbuat sesuatu.

Pasukan Bangsa Kin adalah pasukan yang kuat dan kejam, terutama sekali terhadap rakyat jelata Bangsa Han.

Betapapun juga, Kerajaan Kin membiarkan rakyat berdagang seperti biasa sehingga keadaan kota-kota cukup ramai dengan perdagangan.

Yang memberatkan rakyat adalah pajak yang dipungut secara liar dan sembarangan.

Para pejabatnya mempunyai wewenang sehingga siapa yang dapat memberi suapan besar, merekalah yang lolos dari himpitan pajak.

Di antara para orang Han yang pandai banyak pula yang mengabdi kepada Kerajaan Kin dan mereka yang benar-benar setia mendapat penghargaan dan menduduki pangkat tinggi.

Akan tetapi banyak pula orang pandai yang bahkan menyembunyikan diri.

tidak mau membantu pemerintah Kin walaupun mereka juga tidak melakukan pemberontakan biarpun diam-diam mereka masih mengharapkan kembalinya pemerintah Kerajaan Sung.

Tiong Li dan Siang Hwi memasuki kota Lok-yang karena mereka mendengar bahwa PangIima Besar Wu Chu berkedudukan di Lok-yang walaupun perbentengan besarnya berada di luar kota Lok-yang.

Di sini mereka tidak dikenal maka merka merasa aman untuk melakukan penyelidikan.

Di Kerajaan Sung, Tiong Li sudah merupakan buronan pemerintah yang gambarnya terpampang di mana-mana sehingga tentu saja dia tidak dapat melakukan perjalanan dengan aman.

Setelah mendapatkan dua kamar di Sebuah (Lanjut ke

Jilid 07) Mestika Golok Naga (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo

Jilid 07 rumah penginapan, Tiong Li mengajak kekasihnya untuk keluar dan mereka memasuki sebuah rumah makan yang tidak jauh letaknya dari gedung tempat tinggal Panglima Wu Chu.

Mereka tadi sudah berjalan-jalan di sekitar gedung itu dan melihat betapa gedung itu terjaga ketat oleh para perajurit.

Sambil memesan makan, mereka menanti datangnya masakan sambil bicara berbisik-bisik.

"Mungkinkah sang puteri berada di gedung tadi?"

Tanya Siang Hwi berbisik.

"Dan apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Koko?"

"Kita harus menyelidiki hal itu. Hwi-moi. Penjagaan amat ketat, maka biarlah aku sendiri yang malam nanti me-akukan penyelidikan ke dalam gedung tu untuk melihat apakah sang puteri berada di dalam ataukah tidak. Engkau menanti saja di rumah penginapan, Hwimoi."

Siang Hwi mengangguk, maklum bahwa ilmu kepandaiannya masih jauh untuk dapat menyelinap masuk kedalam gedung itu tanpa diketahui penjaga dan kalau ia ikut, ia hanya akan mengganggu dan merepotkan saja.

Mungkin ia masih dapat menggunakan ginkangnya untuk menyelinap masuk, akan tetapi andaikata ketahuan, maka sukarlah baginya untuk meloloskan diri tanpa ketahuan mengingat bahwa di gedung panglima besar itu tentu terdapat banyak jagoan yang lihai.

Hidangan datang dan keduanya makan minum tanpa bercakap-cakap.

Pada saat itu masuk tiga orang berpakaian perwira Kin dan dengan lagak sombong dan suara keras mereka minta disediakan arak baik dan bebek panggang.

"Cepat sediakan dan araknya yang terbaik! Panggang bebeknya yang kering sehingga kulitnya renyah dan sedap!"

Teriak mereka.

Mereka berusia antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun.

Tiong Li melirik ke arah kiri.

Di sana duduk seorang kakek berusia enam puluhan tahun dan kakek ini duduk seorang diri, capingnya yang lebar diletakkan di atas meja dan rambutnya panjang digelung ke atas.

Dia melihat betapa kakek itu memandang kepada tiga orang perwira dengan alis berkerut tanda tidak senang hatinya.

Seorang perwira yang termuda kebetulan melihat Siang Hwi dan dia menyeringai.

"Wah, ada bidadari di sini!"

Katanya kepada dua orang kawannya. Mereka semua menengok dan memandang kepada Siang Hwi.

"Hebat! Kalau engkau berhasil mengajak ia minum bersama kita, barulah engkau patut disebut jagoan jantan!"

Kata seorang di antara mereka kepada perwira termuda.

"Hem, mengapa tidak? Kalian lihat saja!"

Kata perwira itu sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dengan langkah agak terhuyung karena dia sudah minum setengah mabok sebelum masuk rumah makan itu, dia menghampiri meja Siang Hwi dan Tiong Li.

"Nona yang jelita, kami mengundang nona untuk minum-minum bersama kami sambil menikmati bebek panggang. Harap nona tidak menolak, dan kami akan memberi hadiah yang besar."

Siang Hwi mengerutkan alisnya dan menurutkan hatinya, ingin ia menghajar perwira itu. Akan tetapi pandang mata Tiong Li melarangnya dan iapun menjawab ketus.

"Aku sudah makan dan minum,"

Katanya sambil menunjuk ke atas meja.

"Aih, makan sayur begini mana enaknya? Kami mengundangmu dengan hormat, nona kami perwira-perwira dari panglima besar. Marilah!"

Perwira itu memegang lengan kiri Siang Hwi.

dan berusaha menariknya.

Dengan gemas sekali Siang Hwi lalu menggunakan telunjuk tangan kanannya, menggunakan kuku telunjuk itu menggurat lengan yang memeganginya sambil berkata.

"Aku tidak mau. Lepaskan tanganku!"

Tiong Li bangkit berdiri dan memberi hormat kepada perwira itu.

"Ciangkun, isteriku sudah makan minum bersama aku suaminya, dan tidak menghendaki makan minum bersama Ciangkun, harap tidak memaksa."

Perwira itu melepaskan tangan Siang Hwi dan memandang kepada Tiong Li dengan mata melotot.

"Isterimu? Apa salahnya kalau hanya menemani kami makan minum?"

Pada saat itu, tiba-tiba kakek di meja sebelah kiri itu berkata.

"Hemmm, agaknya Panglima Besar Wu Chu tidak dapat mendidik para perwira pembantunya. Hendak kulihat apa yang akan dilakukan kalau aku melaporkan Hal ini kepadanya!"

Perwira itu terkejut dan memandang kepada kakek itu.

Dia tidak mengenal kakek itu, akan tetapi kata-kata kakek itu agaknya membuatnya jerih.

Dia menghampiri meja kawan-kawannya, berbisik-bisik kemudian mereka bertiga meninggalkan rumah makan tanpa menanti pesanan mereka.

Tiong Li dan Siang Hwi mengerling ke arah kakek itu, akan tetapi kakek itu minum arak dari cawannya dantidak memperdulikan mereka.

Karena peristiwa itu keduanya merasa tidak enak, takut menjadi perhatian orang maka keduanya segera menghabiskan makanan dan membayar lalu meninggalkan rumah makan itu.

Mereka berdua lalu mengunjungi taman rakyat yang terkenal indah di Lok yang, akan tetapi baru saja mereka memasuki taman itu, mereka melihat kakek yang tadi sudah berada di depan, duduk di atas sebuah bangku!

Melihat mereka kakek itu mengangkat capingnya sambil tersenyum.

Diam-diam Tiong Li terkejut.

Begitu cepatnya kakek itu mendahului mereka ke tempat ini, sungguh mengejutkan dan betapa cepatnya.

Dia lalu mengambil Keputusan untuk berkenalan karena dia merasa dibayangi oleh kakek itu.

Di ajaknya Siang Hwi menghampiri kakek yang duduk di atas bangku itu.

Untung di tempat itu tidak ada orang lain sehingga dia dapat bicara dengan leluasa.

"Maafkan kami, paman. Kami ingin menghaturkan terima kasih atas pertolongan paman di rumah makan tadi, mengusir tiga orang perwira yang hendak kurang ajar,"

Kata Tiong Li sambil mengangkat tangan memberi hormat, di turut oleh Siang Hwi.

"Hemm, kalian bukan suami isteri, mengapa mengaku suami isteri?"

Tanya kakek itu dengan suara mengejek. Kedua orang muda itu terkejut.

"Bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa..."

Kata Siang Hwi.

"Sikap kalian menunjukkan bahwa kalian bukan atau belum menjadi suami isteri!"

Kata kakek itu.

"Alasan itu hanya untuk menolak ajakan perwira tadi, paman,"

Kata Tiong Li cepat.

"Kalian tidak perlu berterima kasih kepadaku. Kalian dapat menjaga diri dengan baik, tanpa bantuanku mereka bertiga tidak akan dapat berbuat sesuatu terhadap kailan. Akan tetapi kenapa nona begitu kejam? Perwira itu memang kurang ajar, akan tetapi perlukah membuat dia terluka beracun yang amat berbahaya?"

Tiong Li terkejut.

Dia sendiri tidak melihat kekasihnya menyerang orang tadi, bagaimana dapat dikatakan melukai beracun yang berbahaya?

Dia menoleh kepada Siang Hwi dan melihat kekasihnya merasa terkejut dan heran pula.

"Engkau melihat apakah, paman.?"

"Hemm, engkau menggurat lengannya dengan kuku jarimu dan aku melihat guratan itu sudah menimbulkan warna merah kebiruan yang membengkak!"

"Hwi-moi...!!"

Tiong Li kini memandang kekasihnya dengan mata terbelalak. Siang Hwi tersenyum.

"Hebat sekali ketajaman pandanganmu, paman. Akan tetapi engkau jangan khawatir, Koko. Aku hanya menggurat kulit lengannya dan dia hanya akan menderita sakit bengkak pada lengannya itu tanpa membahayakan nyawanya. Apa kau kira aku begitu mudah membunuh orang? Biarlah sekedar memberi hajaran agar lain kali dia tidak akan memandang rendah kau m wanita, dan diapun tidak akan tahu bahwa aku yang membuat lengannya membengkak."

Tiong Li kini menghadapi kakek itu.dan memberi hormat pula.

"Kiranya paman seorang yang amat lihai, harap maafkan kami yang tidak mengenal paman."

"Sudahlah, akan tetapi pesanku agar kalian berhati-hati di sini. Banyak terdapat jagoan yang amat lihai dan tinggi ilmu kepandaiannya. Kalau perbuatan nona tadi diketahui oleh seorang di antara para jagoan, tentu kalian dicurigai sebagai mata-mata Kerajaan Sung dan keadaan bisa berbahaya. Selamat tinggal!"

Setelah berkata demikian, kakek bercaping itu lalu bangkit dan berjalan pergi dengan cepat.

Karena di taman itu terdapat banyak orang yang mulai berdatangan, Tiong Li dan Siang Hwi tidak berani melakukan pengejaran.

"Wah, belum apa-apa sudah bertemu dengan perwira kurang ajar dan seorang kakek yang lihai ,"

Kata Tiong Li.

"Mulai sekarang kita harus berhati-hati dan waspada, jangan mencari keributan."

"Akan tetapi bagaimana kalau ada orang berbuat atau berkata kurang ajar terhadap diriku, Koko? Apakah harus di diamkan saja?"

"Tentu saja tidak,.akan tetapi dari pada menanggapi mereka, lebih baik kita tinggal pergi."

"Kalau mereka mengejar dan memaksa?"

"Wah, kalau begitu, aku sendiri akan turun tangan menghajar mereka. Aku tidak ingin siapa saja mengganggumu, Hwi-moi!"

Mendengar jawaban ini barulah puas hati Siang Hwi.

"Aku menaati semua pesanmu, Koko."

"Nah, malam ini aku jadi melakukan penyelidikan ke rumah Panglima Besar Wu Chu dan engkau menanti aku di kamar penginapan."

"Baik, Koko."

Bayangan Tiong Li berkelebat seperti burung malam ketika dia berlompatan di luar tembok pagar rumah gedung Panglima Besar Wu Chu.

Dengan mudah dia dapat melompati pagar tembok yang tidak ada penjaganya dan melompat masuk ke bagian dalam pagar tembok itu.

Setelah mendekam agak lama di taman dan melihat keadaan sudah aman, para petugas jaga sudah meronda lewat, dia lalu menyelinap di antara pohon-pohon dan rumpun bunga, menuju ke bagian belakang gedung itu.

Dia pikir kalau benar sang puteri berada disitu, tentu berada di bagian belakang gedung, di bagian puteri.

Setelah melihat sekeliling tidak nampak penjaga, dia lalu melompat ke atas genteng.

Akan tetapi baru saja dia berjalan beberapa meter, kakinya menyangkut tali yang agaknya banyak di pasang di situ.

Segera terdengar suara hiruk pikuk disusul suara kentungan dan terompet dibunyikan orang"

Celaka kiranya kakinya tadi menyangkut alat yang sengaja dipasang orang sehingga menimbulkan suara hiruk pikuk.

Kedatangannya telah ketahuan!

Tentu saja dia tidak berani mengambil resiko.

Dilihatnya dari atas genteng betapa para penjaga sudah banyak berlarian, Bahkan ada yang dengan gesitnya melompat Keatas genteng.

Di antara para penjaga itu terdapat banyak orang lihai...

pikirnya dan diapun cepat melompat turun dan lari ke dalam taman.

Ada penjaga yang melihat bayangannya lalu berteriak mengejar.

Banyak penjaga melakukan pengejaran.

Akan tetapi dengan cepat sekail tubuh Tiong Li sudah melayang naik ke pagar tembok, lalu melompat keluar dan menghilang dalam kegelapan malam.

Dia berhasil lolos, akan tetapi nyaris saja dia terkepung!

Karena tidak mungkin malam itu mengadakan, penyelidikan, dia lalu berlari cepat menuju ke rumah penginapan.

Akan tetapi ternyata dua kamar mereka telah kosong.

Tidak nampak Siang Hwi di dalamnya dan sebagai gantinya dia melihat sebatang pisau belati tertancap di atas meja menusuk sehelai surat.

Dengan jantung berdebar tegang dia membaca surat itu.

"Kalau hendak bertemu dengan gadis itu, pergilah kelereng bukit Fu-niu-san di selatan."

Tiong Li membuang pisau itu dan mengantungi suratnya, lalu tubuhnya melesat lagi keluar dari jendela.

Jantungnya berdebar penuh kegelisahan.

Mencari puteri Sung Hiang Bwee yang di culik orang belum berhasil, kini Siang Hwi telah diculik orang pula!

Atau demikian mudahkah Siang Hwi diculik orang?

Dia tidak percaya.

Gadis itu memiliki kepandaian tinggi dan cukup lihai untuk membela diri, bahkan memiliki banyak macam pukulan beracun yang ampuh.

Hanya orang yang amat tinggi ke pandaiannya saja yang akan mampu menundukkan dan menculik Siang Hwi.

Akan tetapi mengapa penculik meninggalkan surat?

Jelas, penculik itu sengaja memancingnya untuk datang ke Fu-niu-san.

Dia tidak takut.

Biar harus ke neraka sekalipun, untuk menolong Siang Hwi, akan didatanginya juga.!

Fu-niu-san terletak di sebelah selatan kota Lok-yang, maka dia lalu keluar dari kota itu melalui pintu gerbang selatan, dan terus berlari cepat menuju ke bukit itu.

Akan tetapi malam terlalu gelap baginya.

Terpaksa dia berjalan perlahan melanjutkan tujuannya ke bukit itu.

Baru pada keesokan harinya, ketika matahari, mulai bersinar, dia tiba di kaki bukit Fu-niu-san.

Ke mana dia harus pergi?

Perbukitan itu terlalu luas dan tentu saja mempunyai lereng yang tak terhitung banyaknya!

Akan tetapi tiba-tiba, dalam keremangan fajar itu; dia melihat api berkelap-kelip di atas sebuah lereng di depannya.

Di seluruh tempat itu hanya ada api itu yang nampak, tidak ada di tempat lain lagi dan ini tentu bukan hal yang kebetulan saja.

Agaknya orang telah memberi tanda kepadanya!

Diapun tanpa ragu lagi terus mendaki lereng di depan itu.

Api itu ternyata sebuah api unggun yang sengaja dibuat orang di depan sebuah pondok besar yang terpencil!

Dan di sekitar pondok itu berdiri belasan orang yang semua memegang sebatang golok.

Dari sinar api unggun itu Tiong Li melihat bahwa golok yang mereka pegang itu merupakan sebatang golok besar yang berukir naga.

Mestika Goloki Naga!

Kenapa begitu banyak?

Tiong Li teringat akan golok yang dahulu dirampasnya dari Si Golok Naga.

Mestika Golok Naga yang dipegang oleh Hak Bu Cu itu ternyata palsu, dan kini begitu banyak orang memegang golok yang persis seperti Mestika Golok Naga.

Tentu saja semuanya palsu.!

Dia menjadi khawatir sekali akan nasib Siang Hwi.

Maka, diapun dengan berani meloncat ke depan belasan orang itu yang segera mengepungnya.

Pintu pondok itu terbuka dan dengan heran sekali Tiong Li melihat seorang laki-laki tinggi besar yang berusia kurang lebih empatpuluh tahun berdiri tegak dengan golok semacam pula di tangan.

Dan di sebelahnya berdiri Siang Hwi!

Akan tetapi gadis ini bebas, dan bahkan tersenyum kepadanya!

"Hwi-moi...!"

"Koko, akhirnya engkau datang juga."

Siang Hwi lari menghampiri Tiong Li dan pemuda itu memegang kedua tangannya.

"Hwi-moi, apa yang terjadi? Kenapa engkau berada di sini?"

"Perkenalkan, Koko. ini adalah Ciu-Ciangkun. Dialah yang mengajak aku ke sini karena katanya kalau aku berada di rumah penginapan, akan berbahaya sekali. Katanya engkau belum tentu berhasil dan diketahui rumah penginapan di mana kita bermalam, kita tentu akan dikejar dan ditangkap. Maka dia mengajakku ke sini dan sengaja mengundangmu datang ke sini. Mereka memperlakukan aku dengan hormat dan baik, Koko. Dan Ciu-Ciangkun ini telah mengenal Subo."

Ciu Bhok Hi, perwira itu memberi hormat kepada Tiong Li.

"Kami telah mendengar tentang.namamu, saudara Tiong Li. Bukankah engkau yang menjadi orang buronan Kerajaan Sung? Dan nona ini adalah murid Ban-Tok Sian-Li yang kebetulan telah kukenal. Namaku. Ciu Bhok Hi dan aku menjadi komandan dari pasukan Golok Naga yang membantu Panglima Besar Wu Chu. Kami semua sudah mengetahui bahwa engkau hendak mendatangi gedung panglima besar..."

"Akan tetapi kalau sudah mengetahui, mengapa memancing aku ke sini, dan tidak mengepung dan menyerangku di sana saja? Apa artinya semua ini?"

"Ha-ha-ha engkau begitu tidak sabar. Marilah masuk kedalam pondok, saudara Tan Tiong Li. Kita bicara di dalam!"

Dengan berani Tiong Li menghampiri dan mereka bertiga, Tiong Li Siang Hwi dan komandan itu memasuki pondok.

Sementara itu, cuaca sudah mulai terang, akan tetapi api lampu penerangan dalam pondok masih dinyalakan.

Tiong Li dan Siang Hwi duduk di atas kursi menghadapi meja bundar yang besar, berhadapan dengan Ciu Bhok Hi.

Setelah memandang tamunya dengan penuh perhatian, Ciu Bhok Hi menghela napas panjang.

"Tidak kusangka bahwa orang yang menggegerkan Kerajaan Sung masih begini muda. Bahkan engkau telah dapat menandingi jagoan-jagoan seperti mendiang Hak Bu Cu dan juga Tang Boa Lu, sungguh mengagumkan sekali!"

"Ciangkun terlalu memuji. Sebaiknya Ciangkun cepat menceritakan apa maksud Ciangkun memancing kami berdua datang ke tempat ini."

"Semua ini menunjukkan bahwa Panglima Besar Wu Chu adalah seorang yang dapat menghargai dan menghormati orang orang pandai seperti Taihiap. Panglima kami tidak menghendaki menyambut Taihiap sebagai musuh, melainkan ingin sekali jika Taihiap sudi membantu pemerintah Kin. Di Kerajaan Sung Taihiap sudah dimusuhi, dijadikan orang buronan, karena itu alangkah baiknya kalau Taihiap mulai sekarang hidup di sini. Panglima Besar Wu Chu sudah menyediakan pangkat yang tinggi untuk Taihiap dan Siocia."

Tiong Li mengerutkan alisnya. Agaknya kedatangan di Kerajaan Kin disalah tafsirkan oleh mereka, disangka dia melarikan diri karena menjadi orang buruan pemerintah Sung.

"Hemm, aku menjadi orang buruan karena di fitnah, disangka menculik seorang puteri Istana. Karena itu, aku harus membuktikan bahwa bukan aku penculiknya, dan aku mendengar bahwa sang puteri itu telah berada di rumah gedung Panglima Wu Chu."

"Memang benar, akan tetapi Panglima Wu Chu bukan seorang yang suka menculik wanita. Beliau menerima puteri itu sebagai hadiah dari seseorang..."

"Aku tahu! Tentu dari Perdana Menteri Jin Kui, bukan? Sungguh laknat Perdana Menteri itu!"

"Sudahlah, Taihiap. Tugasku hanya untuk membujukmu agar suka bekerja dengan panglima besar kami. Bagaimana jawabanmu?"

"Kalau aku menolak?"

"Taihiap, kepandaianmu boleh jadi tinggi, akan tetapi ketahuilah bahwa pasukan golok naga kami adalah pasukan yang amat tangguh dan kami kira Taihiap berdua tidak akan dapat lolos dari sini dengan selamat. Akan tetapi kami. tidak menghendaki hal ini terjadi, maka harap Taihiap suka mempertimbangkan dengan baik."

"Hemm, kalau aku menerima, apa tugasku?"

"Kerajaan Kin dan Kerajaan Sung telah bersahabat baik. Antara raja dan Kaisar Sung telah ada kesepakatan untuk tidak saling menyerang. Akan tetapi, masih banyak bekas pengikut Panglima Gak Hui yang tidak mau menerima perdamaian itu dan mereka masih suka membuat kacau dan menyerang pasukan kami. Tugas Taihiap adalah membasmi pengacau itu yang berada di perbatasan, demi berlangsungnya hubungan baik antara ke dua negara."

"Hemm, bagaimana, Hwi-moi, pendapatmu?"

"Aku hanya menyerah kepadamu, Koko,"

Kata gadis itu sejujurnya karena memang ia bingung memikirkan hal itu.

"Yang aku sama sekali tidak mengerti, bagaimana engkau dapat mengetahu gerak-gerik kami, Ciangkun?"

Tanya Tiong Li kepada Ciu Bhok Hi. Orang yang ditanya tertawa.

Baca Juga: Pendekar Kelana 2

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert