Ceritasilat Novel Online

Mestika Golok Naga 4

Eps 4 Mestika Golok Naga - Kho Ping Hoo

Baca online Mestika Golok Naga - Kho Ping Hoo

Cersil Mestika Golok Naga - Kho Ping Hoo.

"Ha-ha-ha, ini menunjukkan ketelitian kami, Taihiap. Semenjak Taihiap memasuki wilayah kami, kami telah menerima kabar bahwa Taihiap berdua mungkin masuk daerah kami dan kami telah menyebar mata-mata untuk menyelidiki. Dan ketika Taihiap berdua berada di rumah penginapan, di rumah makan, peristiwa dengan para perwira yang kurang ajar, semua peristiwa itu telah kami ketahui belaka."

"Ahhhh!"

Tiong Li terbelalak.

"Mengerti aku sekarang! Kakek yang bercaping itu.!"

"Ha-ha-ha, dia hanya seorang di antara mata-mata kami, Taihiap. Nah, ketahuilah bahwa kami semua telah siap siaga dengan baik sekali. Kalau semua kekuatan kami ini ditambah lagi dengan kekuaTan-Taihiap yang lihai, pasti Panglima Besar Wu Chu akan menjadi girang sekali dan dengan bantuan Taihiap, semua perusuh di perbatasan itu akan dapat dibasmi habis."

"Tidak, aku terpaksa tidak dapat menerima penawaran kedudukan oleh panglima kalian. Selain aku sendiri masih mempunyai banyak urusan pribadi, juga aku tidak ingin terikat oleh kedudukan di manapun. Sampaikan maafku kepada panglimamu."

"Taihiap, apa lagi yang menjadi penghalang bagi Taihiap untuk membantu Kerajaan Kin? Banyak pendekar yang membantunya, bahkan tokoh-tokoh kang-ouw juga membantu. Kalau ada urusan pribadi, Taihiap dapat mengandalkan kami untuk membereskannya."

"Ciu-Ciangkun, Li-Koko sudah jelas menyatakan tidak setuju, apakah masih belum jelas bagimu? Ketahuilah, sekali Li-Koko mengeluarkan pernyataan tidak akan ditarik kembali dan kami berdua tidak akan menuruti permintaanmu!"

Kata Siang Hwi yang agaknya gembira dengan penolakan Tiong L i itu.

"Bagus! Kalau begitu jangan harap dapat keluar dari tempat ini dengan selamat! Hanya ada dua pilihan, menjadi kawan atau menjadi lawan!"

Kata Ci Bhok Hi sambil melompat keluar.

"Bagaimana, Koko?"

"Kita lawan mereka dan melarikan diri!"

Kata Tiong Li dengan tenang "Siapkan pedangmu, karena mungkin pasukan Golok Naga ini berbahaya."

Siang Hwi mencabut pedangnya dan mereka berdua keluar pula dari pondoik itu.

Dan mereka melihat bahwa mereka telah terkepung oleh delapanbelas orang yang semua memegang golok, dipimpin oleh Ciu Bhok Hi.

Melihat sikap dan kedudukan mereka, barisan golok itu nampaknya memang teratur rapi sekali.

"Ciu-Ciangkun, kami tidak menghendaki permusuhan. Maka, biarkan kami pergi!"

Tiong Li masih membujuk.

"Menyerah atau mati!"

Bentak Ciu Bhok Hi dan diapun sudah memerintahkan anak buahnya untuk menyerang.

Tiga orang menerjang maju dan menyerang dengan golok mereka terhadap diri Tiong Li sedangkan tiga orang lagi menyerang Siang Hwi.

Gadis itu memutar pedangnya dan menangkis tiga batang golok itu lalu balas menyerang, akan tetapi pedangnya bertemu dengan golok-golok lain yang menangkis.

Tiong Li menggunakan gerakan Jauw sang-hui, dengan cepat tubuhnya berkelebat di antara gulungan sinar golok dan semua bacokan golok.

Akan tetapi tiga batang golok lain sudah menyusui!

dan segera kedua orang itu dikepung dan dikeroyok dengan hebatnya.

Memang hebat sekali barisan golok itu.

Akan tetapi tidak terilalu hebat bagi Tiong Li, bahkan Siang Hwi juga dapat membela diri dengan pedangnya.

Memang rapi sekali susunan penyerangan golok itu, Akan tetapi karena kepandaian pribadi masing-masing tidaklah terlalu tinggi, tenaga sinkang mereka tidak terlalu kuat, maka mudah bagi Tiong Li untuk mulai membalas beberapa orang sudah bergelimpangan jatuh bangun.

Setelah merobohkan delapan orang dengan tendangan dan tamparan tangannya, Tiong Li mengajak Siang Hwi untuk melarikan diri, Dia bahkan menyambar tangan gadis itu dan diajaknya berlari cepat menggunakan ilmu Jouw-sang-hui.

Biarpun para anggauta barisan golok itu melakukan pengejaran, namun sebentar saja kedua orang itu lenyap di balik pohon-pohon.

Selagi Tiong Li dan Siang Hwi berlari cepat tiba-tiba muncul seorang hweshio tua di depan mereka yang mengangkat tangan ke atas menahan mereka.

Tiong Li dan Siang Hwi berhenti akan tetapi mereka curiga.

Jangan-jangan hwe-shio inipun kaki tangan Panglima Besar Wu Chu, seorang mata-mata!

"Siapakah Lo-Suhu dan ada keperluan apakah menghadang perjalanan kami?"

Tanya Tiong Li dengan suara tegas.

"Omitohud, pinceng melihat kailan dikejar-kejar pasukan Golok Naga, sebaiknya kalau pinceng membantu kalian bersembunyi, Bukankah kalian ini warga Sung yang setia?"

"Dan lo-cianpwe, bukankah seorang mata-mata dari Panglima Wu Chu?"

Tanya Siang Hwi yang juga curiga, dan pedangnya sudah siap-untuk menyerangnya.

"Omitohud, kalau benar pinceng mata-mata, engkau lalu mau apa nona?"

"Engkau layak mampus!"

Bentak Siang Hwi yang segera membacokkan pedangnya.

Akan tetapi dengan lincah sekali hwe-shio tua gemuk itu mengelak.

Siang Hwi menyerang terus sampai tujuh kali beruntun, akan tetapi semua serangannya mengenai tempat kosong dan hwe-shio itu kini meloncat ke atas sebuah dahan pohon yang tinggi.

Tiong Li melihat gerakan ginkang yang hebat itu dan mencegah Siang Hwi mengejar terus.

"Lo-Suhu, benarkah Lo-Suhu mata-mata dari Wu Chu yang ditugaskan menangkap kami?"

Tanyanya karena kalau benar demikian, dia sendiri hendak melawannya. Hwe-shio itu melayang turun.

"Omitohud, ilmu pedang yang hebat sekali. Nona, harap jangan terburu nafsu. Aku juga seorang yang setia kepada Kerajaan Sung. Bagaimana engkau tega menyangka pin-ceng itu pengkhianat yang mengabdi kepada Kin? Percayalah, pinceng bermaksud untuk menyembunyikan kalian dan kalau keadaan sudah mereda, baru kalian boleh melanjutkan perjalanan. Sekarang ini setelah kalian dikejar Barisan Golok Naga, keadaan kalian berbahaya dan kemanapun kalian pergi ke wilayah ini, tentu akan menjadi orang buruan. Pinceng Ceng Ho Hwe-shio, seorang murid Siauw-lim-pai, apakah kalian masih juga tidak percaya?"

Tiong Li cepat memberi hormat.

"Kalau begitu, kami percaya dan sebelumnya kami menghaturkan terima kasih atas kebaikan Lo-Suhu."

"Marilah, jangan bicara saja, ikuti pin-ceng,"

Kata hweshio Itu yang lalu mendaki sebuah lereng menuju ke kuil yang berada di puncak bukit.

Tiong Li dan Siang Hwi mengikutinya dan ternyata hweshio itu dapat berlari cepat sekali sehingga Siang Hwi terpaksa harus mengerahkan tenaga agar jangan sampai tertinggal.

Tentu saja tidak demikian dengan Tiong Li yang dapat mengikuti hwe-shio itu tanpa, banyak mengerahkan tenaga.

Kuil itu cukup besar dan dihuni oleh duapuluh orang hwe-shio.

Dan ternyata mereka ini, walaupun tidak menentang pemerintah Kin secara terang-terangan, semua adalah orang-orang yang masih setia kepada Kerajaan Sung.

Tiong Li dan Siang Hwi mendapatkan dua buah kamar di sebelah dalam, dan mereka mendengar pula ketika diluar banyak orang berdatangan.

Rombongan itu adalah Barisan Golok Naga yang mengejar sampai ke kuil, akan tetapi ketika Ceng Ho Hwe-shio mengatakan bahwa dua orang yang dicari tidak kelihatan datang ke kuil, rombongan itu tanpa memeriksa percaya saja lalu pergi.

Hal ini menunjukkan bahwa para hwe-shio itu dipercaya oleh pemerintah Kin.

Dan memang hal ini adalah karena Siauw-lim pai tidak pernah memberontak atau memperlihatkan sikap melawan.

Dan di antara para pejabat Bangsa Kin yang menganut agama Buddha, maka mereka itu menghormati para hwe-shio dari kuil itu.

Setelah percaya benar kepada Ceng Ho Hwe-shio, Tiong Li dan Siang Hwi dengan terus terang menceritakan pengalaman mereka dan maksud mereka memasuki wilayah Kin.

"Lo-Suhu, saya adalah orang yang difitnah oleh Perdana Menteri Jin Kui, di tuduh menculik puteri Sung Hiang Bwee sehingga di Kerajaan Sung saya menjadi buruan pemerintah yang hendak menangkap saya sebagai seorang pemberontak. Kemudian saya mendengar bahwa sebetulnya yang menculik sang puteri adalah kaki tangan Perdana Menteri Jin Kui sendiri, dan sang puteri diserahkan kepada Panglima Wu Chu sebagai hadiah. Oleh karena itulah maka kami datang ke sini untuk membuktikan apakah benar sang puteri berada di sini dan kalau mungkin saya akan menolongnya untuk dikembalikan ke Kota Raja sehingga nama saya dapat menjadi bersih, dan ke kejaman dan pengkhianatan Perdana Menteri Jin Kui dapat terbongkar."

"Omitohud! Perdana Menteri Jin Kuj adalah seorang yang amat jahat dan licik. Jenderal Gak Hui yang gagah perkasa dan setia itu sampai tewas secara sia-sia hanya karena kelicikan Perdana Menteri Jin Kui itu. Andai kata engkau dapat menolong sang puteri keluar dari sini dan kembali ke Kota Raja Hang-couw, bagaimana engkau dapat menuduhnya? Tidak ada bukti bahwa yang menculik adalah orangnya. Engkau harus berhati-hati sekali berhadapan dengan orang macam Jin Kui itu, orang muda."

"Biarpun begitu, saya harus menolong sang puteri. dengan kesaksian sang puteri bahwa saya bukan penculiknya, nama saya akan dapat dibikin bersih, tidak lagi dicap sebagai pemberontak. Akan tetapi saya tidak tahu dengan pasti, apakah berita yang saya terima itu benar bahwa sang puteri berada di tempat tinggal Panglima Wu Chu?"

"Pin-ceng juga mendengar bahwa Panglima Besar Wu Chu menerima hadiah seorang puteri kaisar. Dan dari keluarga wanita panglima itu yang bersembahyang di sini, pinceng mendengar bahwa sang puteri menolak dijadikan selir panglima itu, dan karenanya sekarang masih menjadi orang tahanan."

"Di rumah panglima itu?"

"Tentu saja, karena tahanan itu merupakan tahanan istimewa, agaknya untuk membujuk agar sang puteri mau menjadi selirnya."

Tiong Li mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga, dia harus menyelidiki sendiri ke tempat tinggal panglima itu.

"Lo-Suhu, saya melihat Barisan Golok Naga itu amat tangguh. Dan senjata golok mereka hebat sekali. Apakah Lo-Suhu mengetahui asal usul barisan golok itu?"

"Barisan Golok Naga itu merupakan pasukan khusus yang dibentuk oleh Panglima Besar Wu Chu, dan memang terdiri dari orang-orang yang lihai. Dibentuknya juga belum begitu lama, mungkin mendapat latihan khusus di benteng panglima itu. Engkau harus berhati-hati menghadapi mereka, orang-muda. Mereka itu selain lihai, juga kabarnya kejam dan dengan mudah membunuh orang yang dimusuhi."

Kini Tiong Li merasa yakin.

Agaknya Mestika Golok Naga ada pula pada panglima besar Bangsa Kin itu.Ini berarti bahwa pencuri Mestika Golok Naga, yaitu Hak Bu Cu yang tewas ditangan Ban-Tok Sian-Li telah menyerahkan pusaka itu kepada panglima besar itu.

Dia percaya bahwa Hak Bu Chu, seperti juga Tang Boa Lu, adalah kaki tangan Kin yang sengaja dikirim untuk membantu usaha Perdana Menteri Jin Kui untuk menghadapi golongan yang membenci pemerintah Kin.

Orang-orang seperti Hak Bu Cu dan Tang Boa Lu itu cukup lihai untuk melakukan penculikan itu, di samping beberapa orang jagoan yang menjadi kaki tangan Perdana Menteri itu.

Menurut dugaannya, baik Mestika Golok Naga maupun puteri Sung Hiang Bwee berada di rumah Panglima Besar Wu Chu!

Sehari itu Tiong Li memeras otaknya untuk mencari jalan bagaimana dia akan dapat merampas kembali Mestika Golok Naga dan sekaligus membebaskan sang puteri.

Dia harus menggunakan akal.

Kalau hanya mempergunakan kepandaian silatnya saja, mungkin dia akan dapat keluar masuk dari tempat itu mengandalkan kepandaian, akan tetapi untuk membawa keluar sang puteri?

Sungguh merupakan pekerjaan yang amat sukar, bahkan tidak mungkin dilaksanakan.!

"Lo-Suhu,"

Dia minta keterangan kepada Ceng Ho Hweshio.

"Apakah Lo-Suhu mengetahui, siapa yang menjadi orang kesayangan Panglima Besar Wu Chu? Barangkali seorang di antara puteranya, atau selirnya?"

"Dia hanya mempunyai seorang putera biarpun ada beberapa orang puterinya, karena itu dia amat menyayang puteranya itu lebih dari segalanya."

"Berapa usia puteranya itu?"

"Masih kecil, paling banyak lima tahun usianya. Kenapa engkau menanyakan hal itu?"

"Tidak apa-apa, Lo-Suhu. Saya hanya sedang berpikir dan mencari akal bagaimana saya dapat membebaskan sang puteri dan sekaligus mencari kembali pusaka Kerajaan Sung yang dicuri orang."

Tiong Li kini mendapat akal. Dia harus menggunakan akal itu, kalau dia ingin berhasil. Malam itu dia menemui Siang Hwi di kuil itu, dan mengajaknya bercakap-cakap.

"Hwi-moi, aku Sudah mendapatkan, akal. Kuharap saja akal ini berhasil baik, karena kalau tidak, akan sia-sia perjalanan kita, bahkan mungkin berbalik akan membahayakan kita."

"Bagaimana akalmu itu, Koko?"

Dengan berbisik-bisik Tiong LI berkata kepadanya.

"Kita sekarang, malam ini juga, pergi ke gedung Panglima Besar Wu Chu. Engkau tidak perlu ikut masuk, melainkan menanti di luar sambil bersembunyi. Aku akan memaksa panglima itu untuk menyerahkan pusaka itu dan membebaskan sang puteri. Setelah berhasil, engkau membawa sang puteri ke sini dan menyembunyikan di sini."

"Bagaimana engkau akan dapat memaksanya, Koko?"

Tanya Siang Hwi khawatir.

"Jangan khawatir, aku telah mengetahui kelemahannya. Aku tentu akan dapat memaksanya melakukan itu. Tugasmu hanya mengantar sang puteri ketempat ini dan bersembunyi di sini menanti sampai aku datang."

"Baik, Koko. Akan tetapi berhati hatilah. Ciu Bhok Hi itu dengan Pasukan Golok Naganya amat berbahaya."

"Aku tahu dan aku akan selalu berhati-hati. Kita harus mengenakan pakaian serba hitam, Hwi-moi dan setelah berganti pakaian, kita berangkat."

Demikianlah, diantar oleh Ceng Ho Hwe-shio sampai keluar dari kuil, dua orang muda itu meninggalkan kuil melalui tembok belakang kuil agar tidak kelihatan oleh orang lain.

Kemudian, keduanya mempergunakan ilmu lari cepat menuruni lereng bukit itu dan menuju ke Lokyang.

Dengan mudah mereka melompati pagar tembok tinggi yang mengelilingi kota Lok-yang, kemudian memasuki kota itu, menyelinap di antara rumah-rumah penduduk.

Karena gerakan mereka memang ringan dan cepat, maka mereka hanya nampak seperti dua bayangan hitam saja.

Akhirnya mereka dapat mendekati rumah gedung Panglima Besar Wu Chu.

"Engkau menanti di sini. Baru keluar dari sini kalau engkau melihat aku keluar dari pintu gerbang itu membawa sang puteri. Sebelum aku muncul, jangan sekali-kali memperlihatkan diri, Hwi-moi."

"Baik, Koko."

"Nah, aku pergi, Hwi-moi!"

"Nanti dulu, Koko."

Tiong Li menahan langkahnya dan membalik.

"Ada apa lagi, Hwi-moi?"

Gadis itu menghampiri dan merangkul leher Tiong Li.

"Engkau... yang hati-hati menjaga dirimu, Koko."

Tiong Li menunduk dan mencium dahi gadis itu.

"Aku tahu, aku masih belum ingin berpisah darimu, Hwi-moi. Rngkau juga berhati-hatilah. Menyingkirlah kalau ada orang mendekat tempat ini."

Kemudian Tiong Li berkelebat dan lenyap ditelan kegelapan malam.

Untung bagi mereka.

Malam itu gelap sekali karena udara mendung dan angin bertiup mendatangkan hawa dingin.

Karena udara buruk, maka jarang ada orang keluar dari rumahnya dan suasana di sekeliling tempat itu sunyi sekali.

Akan tetapi penjagaan di rumah gedung Panglima Besar Wu Chu tetap ketat.

Di depan pintu gerbang berkumpul belasan orang perajurit yang berjaga.

Dan Tiong Li sudah tahu bahwa di atas genteng terdapat alat-alat rahasia yang dapat memberi tahu kalau ada orang datang melalui atap.

Dia sudah melompati pagar tembok dan tiba di taman.

Agaknya taman ini yang paling aman karena banyak pohon-pohon.

Dia mengintai dari balik rumpun bunga yang tebal dan melihat dua orang peronda membawa lampu teng berjalan datang sambil bercakap-cakap.

Tiong Li berpikir sejenak dan mengambil keputusan yang amat berani.

Dia menanti sampai dua orang itu datang dekat.

lalu tiba-tiba dia meloncat dan sekali kedua tangannya bergerak, dua orang itu sudah menjadi lumpuh tertotok dan lampu teng sudah berpindah ke tangannya.!

Dia memandangi kedua orang itu dengan lampu teng menyinari wajah mereka.

Orang yang tinggi besar Itu memandang dengan wajah ketakutan sedangkan yang kurus bahkan mendelik dengan marah.

Dia lalu menotok lagi yang kurus sehingga roboh pingsan, mengikat kaki tangannya dengan sabuk orang itu sendiri, juga mulutnya ditutup kain, lalu menyeretnya ke balik semak belukar.

Sedangkan yang tinggi besar itu dia totok urat gagunya sehingga tidak dapat bicara.

dan dalam keadaan masih tertotok lemas itu, diancamnya orang itu sambil menodongkan golok di batang lehernya.

"Engkau ingin hidup?"

Gertaknya. Orang tinggi besar itu mengangguk-angguk lemah. Hanya kaki tangannya saja yang tidak mampu digerakkan.

"Engkau tidak ingin mampus?"

Kembali dia bertanya. Orang itu menggeleng-gelengkan kepala dengan mata terbelalak penuh ketakutan.

"Baik, kalau begitu, aku minta engkau mengantarkan aku ketempat di mana Panglima Wu Chu berada. Sanggup?"

Orang itu memandang liar ke kanan kiri, nampak ketakutan dan agaknya sulit untuk mengambil keputusan.

"Hayo jawab, atau engkau ingin aku menyembelihmu sekarang juga!"

Goloknya ditempelkan ke kulit leher.

Orang itu cepat mengangguk-angguk, menyatakan sanggup.

Tiong Li lalu melucuti pakaian si kurus dan dipakainya pakaian itu.

Dia menyamar sebagai seorang petugas ronda.

Kemudian, dengan golok telanjang di tangan, dia membebaskan si tinggi besar yang ketakutan, akan tetapi orang tinggi besar itu biarpun sudah dapat menggerakkan kaki tangan, tetap saja dia tidak dapat mengeluarkan suara.

"Nah, sekarang bawa aku ke sana. Awas, sekali saja engkau melakukan gerakan yang tidak kukehendaki, golok ini akan memenggal lehermu!"

Kembali dia menempelkan golok di leher orang itu yang nampak menggigil saking takutnya.

Tiong Li merasa senang.

Pilihannya tepat.

Orang tinggi besar ini berhati kecil dan penakut sehingga dapat diharapkan akan menaati semua perintahnya.

"Bawa lampu teng ini dan berjalanlah di depan,"

Bisiknya.

"Bersikap biasa saja kalau bertemu penjaga lain se olah tidak terjadi sesuatu. Dan cepat bawa aku ke tempat di mana Wu Chu berada!"

Dari belakang dia menodongkan goloknya ke punggung orang itu dan bergeraklah mereka meninggalkan taman.

Orang itu benar-benar ketakutan, mereka memasuki gedung itu dari pintu belakang dan empat orang penjaga yang melihat dua orang peronda ini tidak menaruh perhatian.

Apa lagi wajah Tiong Li terhalang bayangan si tinggi besar yang membawa lampu di depannya, sehingga wajah Tiong Li terliputi kegelapan.

Setelah melalui jalan berlika liku, dari jauh orang itu menunjuk ke sebuah ruangan.

Tiong Li melihat seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun, tinggi besar dan mukanya brewok, sedang bermain-main dengan seorang anak laki-laki.

"Itukah Wu Chu?"

Bisik Tiong Li dan "tawanannya mengangguk.

"Antarkan aku ke kamar puteranya!"

Kata pula Tiong Li. Orang Itu menunjuk ke depan, ke arah-anak yang sedang bermain-main dengan orang tinggi besar itu.

"Kau maksudkan anak itu puteranya?"

Orang itu mengangguk.

"Engkau tindak berbohong?"

Tanya Tiong Li yang merasa gembira bukan main.

Sungguh baik sekali peruntungannya, sekaligus dapat menemukan Panglima Besar Wu Chu dan puteranya.

Sebetulnya dia ingin menculik putera itu yang masih kecil dan yang di sayang untuk ditukar dengan sang puteri dan Mestika Golok Naga.

Akan tetapi sekarang keduanya berada di situ.

Sungguh kebetulan yang menguntungkan sekali.

Orang itu menggeleng kepalanya.

"Awas. Engkau kutinggal dulu di sini dalam keadaan tertotok, kalau engkau berbohong, aku akan kembali di sini untuk memenggal lehermu. Benar engkau tidak membohong?"

Orang itu kembali menggeleng kepala keras-keras dan Tiong Li segera merampas lampu teng sambil menotok orang itu sehingga roboh pingsan tanpa mengeluarkan suara karena dia sudah menahan tubuhnya.

Kemudian, sambil membawa lampu teng dia menghampiri ruangan yang terbuka itu.

Orang tinggi besar yang sedang main-main dengan anak itu.

Ketika melihat seorang peronda menghampiri, segera memondong anak itu dan menghardik.

"Mau apa engkau ke sini!"

"Maafkan saja, Ciangkun. Ada seorang yang menanyakan di mana adanya Panglima Besar Wu Chu."

"Siapa orang yang bertanya tentang aku itu?"

Bentak sang panglima marah karena dia merasa terganggu dengan kemunculan peronda itu.

"Aku yang menanyakannya!"

Kata Tiong Li dan tiba-tiba dia meloncat ke depan, tangan kirinya menyambar tahu-tahu anak itu telah berada dalam cengkeraman tangan kirinya.

"Keparat! Kembalikan anakku!"

Teriak Wu Chu sambil menubruk untuk merampas anaknya.

Akan tetapi, biarpun dia seorang panglima besar dan ahli dalam urusan peperangan, namun dalam hal ilmu silat, dia masih jauh kalau dibandingkan Tiong Li.

Sambarannya luput dan sebaliknya, tiba-tiba golok di tangan Tiong Li sudah menodong dadanya.

"Sedikit saja bergerak, golok ini akan menembus jantungmu, Ciangkun!"

Bentak Tiong Li sementara itu anak kecil yang berada dalam pondongan tangan kirinya sudah menjerit-jerit menangis.

Panglima Besar Wu Chu tidak berani bergerak lagi akan tetapi dia sempat berteriak memanggil pengawal.

Tak lama kemudian sedikitnya tigapuluh orang pengawal memenuhi tempat itu, akan tetapi mereka tidak berani bergerak ketika melihat panglima mereka di todong dan putera panglima mereka dipondong seorang pemuda yang berpakaian peronda.

Di antara para pengawal itu terdapat lima orang anggauta Golok Naga, dan mereka segera mengenal pemuda itu yang mereka sudah rasakan kelihaiannya ketika mengepung dan mengeroyoknya.

"Semua mundur! Siapa berani bergerak berarti matinya panglima dan puteranya!"

Bentak Tiong Li dan para pengepung itu dengan sendirinya melangkah mundur. Ada pula yang berlari keluar memanggil bala bantuan sehingga sebentar saja tempat itu penuh dengan pasukan.

"Orang muda, apa sebenaknya yang kau kehendaki?"

Panglima Wu Chu yang masih tenang itu bertanya... Dia adalah seorang panglima besar, tidak mudah panik walaupun ditawannya puteranya membuat dia khawatir sekali.

"Tidak banyak,"

Kata Tiong Li.

"Nyawamu dan nyawa anakmu ini hendak kutukar dengan kebebasan puteri Sung Hiang Bwee dan Mestika Golok Naga!"

"Akan tetapi..."

"Jangan banyak cakap lagi. Kalau tidak setuju, aku akan membunuh puteramu dulu baru engkau!"

Para pasukan itu hendak menerjang maju, akan tetapi Panglima Wu Chu membentak mereka agar tidak bergerak.

"Kalian jangan bergerak! Perwira Tong, cepat ambilkan sebuah golok naga!"

Yang disebut perwira Tong itu seorang yang pendek gendut segera maju dan menyerahkan sebatang golok yang berukir naga kepada Tiong Li.

"Apakah ini Mestika Golok Naga?"

Tanyanya kepada Wu Chu.

"Benar!"

Tiong Li mengambil golok itu, menekuk dengan kedua tangan sambil memodong anak itu dan golok itu patah menjadi dua potong! "Kau bohong!"

Dia menghardik dan menodongkan senjatanya sehingga sedikit melukai kulit dada panglima itu.

"Serahkan yang aselinya atau anakmu akan kusembelih!"

Kini dia menempelkan goloknya ke leher anak itu yang menjerit-jerit ketakutan. Panglima Wu Chu memandang dengan khawatir sekali.

"Cepat ambilkan Mestika Golok Naga di kamarku, tergantung di dinding!"

Perintahnya dan perwira Tong itu segera berlari pergi. Tak lama kemudian dia telah kembali membawa sebatang golok dalam sarung.

"Cabut golok itu dan serahkan kepadaku!"

Bentak Tiong Li.

Perwira itu memandang atasannya dan Panglima Wu Chu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Tiong Li menerima golok itu dan baru memegangnya saja dia sudah yakin bahwa inilah golok aselinya.

Dia mengadukan golok yang dipegangnya dengan golok itu dan goloknya patah menjadi dua dengan mudah!

Kini dia memegang Mestika Golok Naga itu dan mengikatkan sarungnya di pinggang.

Karena anak itu masih dipondongnya, Panglima Wu Chu tidak berani bergerak.

"Sekarang bawa keluar sang puteri. Cepat!"

"Bawa ia keluar!"

Kata Panglima Wu Chu.

Kembali perwira Tong yang berlari lari dan tidak terlalu lama kemudian dia sudah datang lagi mengikuti seorang wanita yang bukan lain adalah Sung Hiang Bwee.

Puteri itu masih menjadi orang tahanan karena ia selalu menolak keinginan Wu Chu dan begitu melihat Tiong Li, sang puteri menangis menghampiri.

"Akhirnya engkau datang juga menolongku...!"

Sang puteri saking girangnya hendak merangkul Tiong Li akan tetap! pemuda itu berkata.

"Nona, bersiaplah untuk keluar dari tempat ini. Harap engkau berjalan di belakangku,"

Kata Tiong Li dengan singkat. Melihat kesungguhan sikap pemuda ini yang menodong Panglima Wu Chu dengan goloknya, puteri itupun maklum akan gawatnya keadaan.

"Baik, Taihiap. Sungguh aku girang sekali melihat engkau,"

Katanya lalu iapun berdiri di belakang pemuda itu.

Tiba-tiba dua orang pengawal dengan nekat menubruk dan menyerang Tiong Li.

Tiong Li menggerakkan goloknya dan nampak sinar terang berkelebat di susul robohnya kedua orang itu, mandi darah.

"Sekali lagi ada yang bergerak, yang akan kubunuh adalah panglima dan puteranya!"

Bentak Tiong Li dengan hati khawatir juga karena kalau sekian banyaknya pasukan mengeroyoknya, biarpun dia akan dapat membunuh panglima itu, dia tentu tidak tega membunuh puteranya dan dia tidak akan mampu melindungi sang puteri!

"Tolol!

Jangan ada yang menyerang!"

Teriak sang panglima yang tentu saja mengkhawatirkan dirinya sendiri dan puteranya.

"Ciangkun, sekarang engkau berjalan di depanku dan mengantarku keluar dari rumah ini. Hayo cepat dan jangan ada yang mendekat!"

Panglima itu terpaksa menurut dan semua pengawal hanya dapat mengikuti saja tidak berani terlalu mendekat.

Tiong Li sambil memondong anak yang kini sudah agak mereda tangisnya, menodongkan goloknya ke punggung sang panglima dan Sung Hiang Bwee melangkah di belakangnya.

Setelah tiba.

di luar pintu gerbang Sehingga tentu akan kelihatan oleh Siang Hwi, Tiong Li berteriak.

"Hwimoi, cepat kau ke sini!"

Gadis itu meloncat dekat dan semua pasukan tidak sempat menghadangnya.

"Bawa sang puteri pergi dari sini. Awas, kalau ada yang menghalangi atau mengejar, aku akan membunuh panglima dan puteranya!"

Tiong Li berseru dengan suara berwibawa.

"Mari, sang puteri!"

Kata Siang Hwi sambil menggandeng tangan Sung Hiang Bwee, diajak pergi dari situ dengan cepat.

Tidak ada seorangpun berani menghalangi dan tidak ada pula yang berani melakukan pengejaran.

Sebentar saja bayangan kedua orang gadis itu lenyap ditelan kegelapan malam.

Siang Hwi membawa puteri itu keluar dari kota melalui pagar tembok yang dilompatinya sambil menggendong puteri itu.

dani ia segera mengajak puteri itu berlari menuju ke perbukitan Fu-niu-san.

Sementara itu, Tiong Li yang masih memondong anak itu, minta diantar keluar dari pintu gerbang timur untuk mengalihkan perhatian.

Sedikitnya seratus orang perajurit tetap saja mengikutinya dari jarak yang tidak terlaui dekat dan panglima itu masih terus di todong di depannya.

Setelah agak jauh dari pintu gerbang, barulah Tiong Li menurunkan anak itu dari pondongannya dan anak itu segera dipondong ayahnya.!

"Ciangkun, maafkan aku.

Terpaksa aku mengambil cara ini untuk membebaskan sang puteri dan untuk mengambil kembali Mestika Golok Naga.

Engkau tidak berhak atas keduanya.

Kalau aku menjadi engkau, aku tidak akan mengerahkan orang mencariku.

Selain percuma, juga kalau aku menjadi marah mungkin peristiwa seperti ini akan terulang lagi.

Akan tetapi belum tentu aku akan membebaskanmu!

Nah, selamat tinggal!"

Tiba-tiba Tiong Li meloncat dan berkelebat menghilang di dalam kegelap an malam.

"Kejar dan Tangkap dia!"

Kini panglima itu berteriak-teriak dan dia sendiri mendekap dan menciumi puteranya dengan hati lega karena putera yang disayangnya itu selamat.

Saking marahnya hati Panglima Wu Chu, dia memerintahkan pada malam hari itu juga untuk membunuh Souw Cun Ki, pemuda Kun-lun-pai yang dulu pernah hendak menolong sang puteri.

Tanpa banyak alasan lagi malam hari itu juga Souw Cun Ki dibunuh oleh para pengawal di dalam kamar tahanannya!

Siang Hwi mengajak Hiang Bwee ke puncak bukit di mana kuil Siauw-lim-si itu berada dan cepat mereka diterima oleh Ceng Ho Hwe-shio dan diajak ke sebelah dalam.

"Enci, siapakah engkau?"

Tanya puteri itu kepada Siang Hwi.

"Saya bernama The Siang Hwi, nona,"

Jawab Siang Hwi dengan hormat.

"Dan ini adalah Ceng Ho Hwe-shio, ketua kuil ini yang melindungi dan menyembunyikan kita. Di sini, engkau tidak usah khawatir karena tidak ada yang akan berani mencari ke dalam."

"Aku tidak khawatir selama Tan-Taihiap berada bersamaku,"

Jawab puteri Itu.

"Bukan main gagah dan lihainya Tan-Taihiap. Berani menawan Panglima, Wu Chu dan memaksanya membebaskan aku Akan tetapi, bagaimana dia akan dapat membebaskan diri dari kepungan pasukan sebanyak itu?"

"Harap jangan khawatir, aku yakin, bahwa Li-Koko akan mampu membebaskan diri."

"Hemm, apa hubunganmu dengan Tan-Taihiap, enci?"

Wajah Siang Hwi berubah kemerahan ditanya seperti itu.

"Kami... kami adalah sahabat baik yang bekerja sama untuk membebaskanmu dari tempat tinggal Panglima Wu Chu. Sudahlah, nona. Engkau telah melakukan perjalanan melelahkan dan mengalami banyak hal yang menggelisahkan, harap beristirahat dan tidur."

"Bagaimana aku dapat tidur sebelum Tan-Taihiap datang? Aku harus melihat dia selamat dulu dan tiba di sini,"

Kata puteri itu dan Siang Hwi merasa hatinya tidak enak sekali.

Dari sikapnya, jelas baginya bahwa sang puteri ini rupanya amat tertarik dan memperhatikan Tiong Li.

Dan ia sudah mendengar dari Tiong Li betapa pemuda itu pernah membebaskan puteri ini dari tangan seorang penculik dahulu.

Mereka sudah saling mengenal.

Baru menjelang pagi Tiong Li yang melarikan diri dari pintu gerbang timur itu tiba di situ.

Bayangannya berkelebat dan tahu-tahu dia sudah berada di depan dua orang gadis itu.

"Tan-Taihiap...!"

Sang puteri berseru gembira, bangkit berdiri dan menyongsong pemuda itu, lalu tanpa ragu dan sungkan lagi ia memegang kedua tangan Tiong Li.

"Engkau membuatku tidak dapat tidur, khawatir kalau engkau tidak dapat lolos dari kepungan mereka! Bagaimana, Taihiap? Apakah engkau sudah membunuh jahanam Wu Chu itu?"

"Tidak, nona. Aku sudah berjanji menukarkan nyawanya dan nyawa puteranya dengan dirimu dan Mestika Golok Naga!"

"Ah, sayang. Orang macam itu sebaiknya dibunuh saja!"

Kata sang puteri dengan kecewa.

"Dan kapan engkau akan mengantar aku pulang ke istana? Sekali ini ayah tentu akan girang sekali dan engkau tidak boleh lagi menolak anugerah pemberian ayahanda Kaisar"

"Kita tidak boleh tergesa meninggalkan tempat ini, nona. Panglima Wu Chu tentu sedang mengerahkan pasukannya untuk melakukan pengejaran sampai di perbatasan. Bahkan mungkin dia sudah menghubungi Perdana Menteri Jin Kui untuk membantunya melakukan penangkapan terhadap diriku kalau aku berhasil melewati perbatasan. Sebaiknya untuk selama beberapa hari ini kita tinggal dulu di sini."

"Omitohud! Selamat, selamat, Tan-Sicu. Engkau telah berhasil! Benar sekali, tuan puteri. Sebaiknya cu-wi tinggal di sini dulu sampai pengejaran itu mereda. Pinceng akan menyuruh para murid menyelidiki. Kalau sudah mereda, barulah kalian pergi meninggalkan kuil dan kembali ke selatan,"

Kata Ceng Ho Hweshio yang muncul dan tersenyum lebar kepada Tiong Li. Tiong Li memberi hormat kepada hwe-shio tua Itu.

"Kalau tidak ada pertolongan dari Lo-Suhu, semua usaha kami akan sia-sia belaka. Juga jasa Hwi-moi tidak boleh dilupakan, ia yang telah mengawal sang puteri sampai kesini tanpa diketahui orang. Engkau memang hebat, Hwi-moi!"

Siang Hwi tersenyum dengan hati senang, la tahu bahwa kekasihnya itu sengaja memujinya untuk menyenangkan hatinya.

"Ahh, aku hanya membantumu, Koko. Tidak usah terlalu memujiku! Engkaulah yang hebat. Tak kusangka engkau akan dapat menawan mereka semudah itu. Dan engkau telah berganti pakaian seorang di antara penjaga. Lucu sekali. Ceritakan, Koko, bagaimana engkau melakukannya?"

Sang puteri mengerutkan alisnya.

Dilihatnya betapa akrab kedua orang muda itu dan dari pandang mata mereka saja ia sudah dapat tahu bahwa ada apa-apa di antara mereka!

"Ya, ceritakanlah, Tan-Taihiap.

Akupun ingin mendengarnya,"

Akhirnya ia berkata agar jangan merasa terlalu tersisih. Tiong Li lalu menceritakan pengalamannya ketika menyandera Wu Chu dan puteranya (Lanjut ke

Jilid 08) Mestika Golok Naga (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo

Jilid 08 sambil menyamar sebagai seorang peronda. Semua yang mendengarnya memuji, bahkan Ceng Ho Hwe-shio menarik napas panjang sambil berkata.

"Omitohud, engkau memang luar biasa sekali, TanTaihiap! Biarpun aku belum melihatnya sendiri, aku yakin bahwa engkau memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Kalau boleh pin-ceng mengetahui, siapakah gurumu, Sicu?"

Terhadap hwe-shio yang sudah menolongnya itu, Tiong Li tidak ingin menyembunyikan keadaan dirinya.

"Saya mempunyai tiga orang guru, Lo-Suhu. Guru saya yang pertama adalah mendiang Pek Hong San-jin, yang kedua adalah suhu Thian Kui Lo-jin dan ke tiga Tee Kui Lo-jin."

Ceng Ho Hwe-shio terbelalak.

"Omitohud...! Pin-ceng mengenal siapa mereka! Kiranya Sicu murid orang-orang sakti itu. Pantas saja kalau begitu dan pinceng merasa girang sekali dapat membantu murid mereka."

Demikianlah, setelah tinggal disitu selama sepekan dan dari para hwe-shio yang melakukan penyelidikan di peroleh keterangan bahwa kini tidak ada lagi pasukan yang mencari-cari mereka, Tiong Li lalu mengajak Siang Hwi dan puteri itu untuk meninggalkan kuil.

Mereka membeli tiga ekor kuda atas bantuan para hwe-shio dan mereka meninggalkan kuil itu dengan menunggang kuda.

Untung bahwa puteri Hiang Bwee biarpun tidak pandai silat akan tetapi mempunyai kegemaran ikut ayahanda kaisar pergi berburu binatang buas sehingga ia pandai menunggang kuda.

Puteri dan Siang Hwi tidur sekamar ketika berada di kuil dan dalam kesempatan ini, sang puteri yang tadinya merasa cemburu kepada Siang Hwi, mendengar pengakuan Siang Hwi bahwa gadis itu saling mencinta dengan Tiong Li.Setelah mendengarkan pengakuan ini, Hiang Bwee dapat menerima kenyataan, ia adalah seorang puteri, tidak mungkin begitu saja menjatuhkan cintanya kepada setiap orang pria.

Baginya, perjodohannya berada di tangan Kaisar dan ia tidak mungkin dapat memilih jodohnya sendiri.

Perjalanan itu melalui padang luas dan pada suatu hari mereka sudah tiba di daerah Kerajaan Sung.

Ketika mereka menjalankan kudanya perlahan-lahan karena sudah lelah dan mencari tempat yang baik untuk mengaso, tiba-tiba muncul seorang wanita di tempat sunyi itu yang menghadang perjalanan mereka.

"Subo...!!"

Siang Hwi berseru dan cepat ia melompat turun dari kudanya untuk menghampiri Ban-Tok Sian-Li yang berdiri tegak memandang mereka dengan sinar mata tajam, terutama pandang matanya kepada Tiong Li ia bahkan acuh saja terhadap muridnya yang menghampirinya.

"Subo, kami telah berhasil membebaskan tuan puteri Sung Hiang Bwee dan merampas kembali Mestika Golok Naga!"

Kata Siang Hwi yang hendak mengabarkan berita menggembirakan itu kepada Subonya, juga hendak memamerkan jasa besar yang telah dibuat oleh Tiong Li.

Akan tetapi gurunya tidak menjawab, melainkan maju menghampiri Tiong Li dan juga sang puteri yang sudah melompat turun dari atas kuda mereka Tiong Li memberi hormat.

"Sian-Li, apakah selama ini engkau baik-baik saja?"

Tegurnya ramah.

Bagaimanapun juga, wanita ini adalah guru dari kekasihnya yang selayaknya dihormatinya.

Akan tetapi Ban-Tok Sian-Li memandang ke arah pinggangnya di mana tergantung Mestika Golok Naga dalam sarungnya.

"Tan Tiong Li, engkau sudah berhsil merampas kembali Mestika Golok Naga?"

"Benar, Sian-Li. Inilah dia!"

Kata Tiong Li.

"Kami akan mengembalikan kepada Sri Baginda Kaisar, bersama sang puteri."

"Berikan kepadaku! Golok Pusaka itu tidak sepatutnya berada di tangan Kaisar yang lemah. Berikan kepadaku untuk kupakai membasmi Bangsa Kin dan mengusirnya dari tanah air."

"Subo...!"

Seru Siang Hwi.

"Maafkan, Sian-Li. Akan tetapi golok pusaka ini memang milik istana, maka harus kembali ke istana juga."

Tiba-tiba Ban-Tok Sian-Li melompat kedekat puteri Hiang Bwee dan sekali mencengkeram pundak puteri itu, ia membuat puteri itu terkulai roboh.

Sambil tersenyum mengejek Ban-Tok Sian-Li melompat ke belakang.

"Subo, apa yang kau lakukan ini?"

Teriak Siang Hwi terkejut.

"Nona Hiang Bwe...!"

Tiong Li juga berseru, sama sekali tidak mengira bahwa Ban-Tok Sian-Li akan melakukan hal itu sehingga dia tidak keburu mencegahnya.

Wajah puteri itu menyeringai kesakitan dan pucat sekali.

Baju di pundaknya robek dan nampak pundaknya merah menghitam!

Melihat ini, terkejutlah Tiong Li karena dia maklum bahwa pundak itu telah terluka beracun yang amat hebat.

"Subo, kenapa engkau melakukan ini?"

Tanya Siang Hwi dengan bingung, dan kepada Tiong Li ia berkata.

"Koko, inilah luka Ban-tok-ciam (Jarum Selaksa Racun), tidak ada obatnya, Kecuali Subo, tidak ada seorangpun yang akan mampu menyembuhkannya dan dalam waktu sehari semalam, yang terluka akan tewas!"

Tiong Li marah sekali. Kiranya ketika mencengkeram tadi, tangan Ban-Tok Sian-Li menggunakan jarum beracun yang dimasukkan ke dalam pundak puteri itu.

"Ban-Tok Sian-Li, apa maksudmu dengan perbuatan ini? Engkau telah meracuni puteri Kaisar? Kenapa engkau hendak membunuhnya?"

Tiong Li sudah siap untuk menyerang wanita itu. Akan tetapi Ban-Tok Sian-Li bertolak pinggang dan tersenyum.

"Siapa mau membunuhnya? Ingat, aku mempunyai obat pemunahnya seperti yang dikatakan Siang Hwi. Biar Siang Hwi sendiri tidak kuberi obat pemunahnya maka kalau engkau menghendaki puteri itu sembuh, serahkan Mestika Golok Naga kepadaku!"

"Subo...!"

Siang Hwi kembali berseru penasaran.

"Diam! Engkau tidak boleh mencampuri urusan ini!"

Bentak gurunya.

"Bagaimana. Tiong Li? Maukah engkau menukar nyawa puteri itu dengan Mestika Golok Naga?"

Tiong Li berdiri dengan kedua tangan terkepal dan dia ragu ragu.

Dia dapat mengalahkan wanita itu.

akan tetapi dia meragu apakah dia dapat memaksanya menyerahkan obat pemunah.

Wanita seperti itu memiliki kekerasan hati yang aneh, mungkin sampai mati dia tidak akan dapat memaksanya.

"Tiong Li, jangan mencoba-coba untuk menyerangku. Selain belum tentu engkau akan dapat mengalahkan aku dengan mudah, juga andaikata engkau menang dan aku mati, apa gunanya? Puteri itu akan mati pula bersamaku Nah, serahkan Mestika Golok Naga kepadaku!"

"Sian-Li, jangan menggertak aku. Aku masih mempunyai sinkang cukup kuat untuk mengusir hawa beracun dari tubuh sang puteri!"

Tiong Li balas menggertak.

"Hi-hik, boleh kau coba kalau engkau ingin melihat puteri itu cepat mati. Bukan hawa beracun yang mematikannya, melainkan darahnya sudah keracunan. Betapapun kuatnya sinkangmu, tidak akan dapat membersihkan darahnya."

Tiong Li memandang kepada Siang Hwi untuk bertanya pendapat gadis itu yang tentu saja lebih mengerti dan gadis itu mengangguk dengan muka sedih.

"la tidak berbohong, Koko. Racun Ban-tok ciam langsung membuat darah keracunan dan tidak dapat diusir dengan sin-kang, hanya dapat disembuhkan dengan racun pemunah lain yang hanya dimiliki Subo."

Tiong Li menghela napas panjang.

Tidak percuma kiranya wanita itu berjuluk Ban-Tok Sian-Li!

Ternyata penggunaan racunnya amat jahat.

Hanya lawan, yang amat tangguh saja.

yang akan mampu mengalahkan seorang wanita berbahaya seperti ini.

Entah bagaimana nanti kalau ia sudah memiliki Mestika Golok Naga!

Akan tetapi, bagaimanapun juga ia tidak mungkin mengorbankan nyawa sang puteri.

"Tan-Taihiap, bawalah pulang pusaka itu dan serahkan kepada ayah. Katakan bahwa aku tewas di tangan wanita ini. Ayah tentu akan mengerahkan seluruh pasukan untuk menangkapnya dan biarpun ia akan terbang ke langit, tentu akhirnya ayahanda kaisar akan dapat menangkapnya!"

Kata Hiang Bwee dan mendengar ucapan puteri ini, diam-diam Ban-Tok Sian-Li menjadi ketakutan sekali.

Kalau ucapan gadis itu dituruti Tiong Li, ia tidak akan mendapatkan Mestika Golok Naga malah, akan menjadi buronan pemerintah.

Ucapan gadis bangsawan itu bukan gertak kosong belaka.

Kalau Kaisar marah dan mengerahkan pasukan mencarinya, ke mana ia akan dapat melarikan diri?

Akan tetapi Tiong Li berpendapat lain.

Dia tidak mau mengorbankan nyawa puteri itu.

Dia akan menyerahkan golok dan setelah puteri terbebas dari ancaman maut dan kembali ke istana, dia akan mulai lagi dan berusaha merampasnya dari tangan Ban-Tok Sian-Li kelak.

Dia melepaskan ikatan sarung golok dari pinggangnya.

"Baik, aku akan menyerahkan golok pusaka, akan tetapi bagaimana aku dapat yakin bahwa engkau akan memberikan obat pemunahnya yang benar?"

"Hemm, ada Siang Hwi di sampingmu, ia tentu akan dapat mengetahui mana obat pemunah aseli mana yang palsu,"

Kata Ban-Tok Sian-Li.

"Akan tetapi siapa berani tanggung bahwa setelah menerima obat pemunah, engkau tidak akan menyerangku dan tidak memberikan golok itu?"

"Aku adalah seorang laki-laki sejati. Aku berjanji bahwa setelah menukar golok dengan obat pemunah di sini, aku tidak akan menyerangmu. Akan tetapi kalau lain kali kita bertemu jangan salahkan aku kalau aku memberi hajaran kepadamu dan merampas kembali golok pusaka!"

"Baik, berikan golok itu dan akan kuberikan obat pemunah,"

Katanya.

"Perlahan dulu!"

Kata Tiong Li.

"Berikan dulu obat pemunah dan. setelah dipastikan tidak palsu, baru akan kuserahkan golok ini kepadamu. Nama dan kehormatanku menjadi jaminan janjiku!"

Ban-Tok Sian-Li lalu melemparkan sebungkus obat bubuk kepada Tiong Li dan pemuda Itu lalu menyerahkan kepada Siang Hwi.

Gadis ini membuka buntalan, mencium obat bubuk itu dan ia lalu menghampiri sang puteri yang masih menyeringai kesakitan.

"Tuan puteri, minumlah semua obat bubuk ini."

Dikeluarkannya sebotol arak ringan dan obat itu lalu diminumkan dengan arak ringan.

Setelah minum obat itu, perlahan-lahan rasa nyeri itu menghilang dan warna biru kehitaman pada pundak juga mulai berkurang.

Siang Hwi lalu menyedot keluar jarum itu dengan isapan mulutnya dan menggigit jarum itu lalu membuangnya.

Kemudian ia minum sisa obat yang memang disediakan untuk dirinya agar ia tidak terpengaruh sisa racun yang berada di jarum.

Setelah itu ia memandang kepada Tiong Li dan mengangguk.

"Sekarang tuan puteri sudah aman,"

Katanya lirih.

Tiong Li menyerahkan Mestika Golok Naga kepada Ban-Tok Sian-Li yang menerimanya sambil tersenyum dan wajahnya cerah gembira sekali.

Dicabutnya golok itu untuk memeriksanya.Nampak sinar berkilat ketika golok dicabut dan wanita itu mengangguk senang, lalu disimpannya kembali golok ke dalam sarungnya, di ikatkan sarung itu di punggungnya dan iapun melompat pergi tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

"Subo, tunggu dulu...!"

Teriak Siang Hwi dan gurunya berhenti berlari, lalu membalikkan tubuh memandang kepada muridnya.

"Mau bicara apa lagi?"

Bentaknya.

"Bukan aku yang bicara, akan tetapi Koko Tiong Li mempunyai sesuatu yang ingin ia sampaikan kepadamu!"

Kata Siang Hwi sambil memandang kepada kekasihnya. Pemuda ini maklum apa yang berada dalam pikiran gadis itu, maka diapun melangkah maju dan memberi hormat kepada Dewi Selaksa Racun itu.

"Sian-Li, aku dan Hwi-moi sudah saling mencinta dan saling berjanji untuk menjadi suami isteri. Mengingat bahwa Hwi-moi sudah tidak mempunyai keluarga lagi, maka aku mengajukan pinangan kepadamu sebagai gurunya untuk meminang Hwi-moi menjadi jodohku!"

Puteri Sung Hiang Bwee memandang semua ini dengan mata terbelalak penuh keheranan dan kengerian.

Bagaimana orang-orang kang-ouw itu bersikap ketika mengajukan pinangan.

Pinangan diajukan di antaramereka, secara terus terang tanpa perantara lagi.

Seolah bukan gadis yang diminta untuk diperisteri, seperti minta, sebuah benda saja.!

Ban-Tok Sian-Li memandang kepada muridnya.

"Siang Hwi sudah dewasa, ia boleh memutuskannya sendiri. Andaikata aku ikut campur sekalipun ia tidak akan taatkepadaku. Terserah kepada kalian!"

Setelah berkata demikian wanita itu berkelebat dan lenyap dari situ.

Siang Hwi saling pandang dengan Tiong Li dan tiba-tiba terdengar orang bertepuk tangan.

Mereka berpaling dan ternyata yang bertepuk tangan itu adalah puteri Sung Hiang Bwee.

ini berarti bahwa sang puteri telah Sembuh, atau setidaknya pundaknya sudah tidak terasa nyeri lagi dipakai bertepuk tangan.

"Kiong-hi, Kiong-hi (selamat)! Wah, aku harus mengucapkan selamat atas pertunangan kalian,"

Katanya sambil menghampiri Siang Hwi. Di lolosnya sehelai kalung emas permata hiasan batu kemala, dan dikalungkan kalung itu ke leher Siang Hwi.

"Ini hadiah dariku untukmu, enci Siang Hwi."

"Terima kasih, tuan puteri. Paduka baik sekali."

"Ih, apanya yang baik. Kalau tidak ada kalian berdua, entah sudah menjadi apa aku ini? Menjadi makanan burung gagak berangkali,"

Kata puteri itu tertawa.

Di dalam waktu yang amat singkat ternyata puteri itu telah telah bebas dari ancaman racun Ban-tok-ciam.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan setelah mengumpulkan kuda mereka.

Di tengah perjalanan Tiong Li bertanya.

"Hwi-moi, apakah engkau juga pandai mempergunakan Ban-tok-ciam?"

"Subo pernah mengajarkan kepadaku. Jarum halus itu dapat disembunyikan dalam kepalan tangan dan sambil memukul jarum itu dapat dilepaskan. Akan tetapi Subo tidak pernah memberikan obat pemunahnya atau cara membuatnya sehingga aku tidak pernah mau menggunakan jarum selaksa racun itu. Terlalu keji kalau aku tidak mengetahui pemunahnya."

"Kau benar, Hwi-moi. Kalau engkau tidak dapat memunahkan racunnya, memang tidak perlu menggunakan senjata rahasia macam itu. Kurasa kalau yang diserang itu memiliki sin-kang yang kuat, dia akan mampu mencegah menjalarnya racun ke dalam darah dan hanya meracuni setempat saja yang mudah disembuhkan dengan pembedahan di tempat dan mengeluarkan racunnya."

"Engkau benar, Koko"

Karena kini mereka sudah tiba di daerah Sung, maka perjalanan dapat mereka lakukan dengan lancar tanpa halangan.

Tidak lama kemudian mereka bertemu dengan sepasukan Sung yang dipimpin oleh seorang perwira kerajaan.

Melihat Tiong Li yang dianggap buronan dan penculik sang puteri, perwira Itu tentu saja terkejut bukan main.

Apa lagi melihat sang puteri menunggang kuda bersama orang buruan itu.

"Kepung! Tangkap pemberontak!"

"Tangkap penculik!"

"Selamatkan sang puteri!"

Mereka itu berteriak teriak sambil mengepung dan mengacung-acungkan senjata. Melihat ancaman kepungan ini, Sung Hiang Bwee mengajukan kudanya dan membentak.

"Apa yang hendak kalian lakukan ini? Tan-Taihiap dan nona The ini adalah penolong penolongku dari tangan penculik. Jangan menuduh sembarangan! Hayo sediakan sebuah kereta untukku, agar dapat kupakai pulang ke istana!"

Perwira itu terkejut dan heran, lalu memerintahkan pasukannya untuk mundur dan menyediakan sebuah kereta itu mengawal sang puteri yang duduk di dalam kereta bersama Siang Hwi, dan Tiong Li juga mengawal naik kuda di dekat kereta.

Ketika mereka dihadapkan Kaisar, Kaisar girang bukan main melihat puterinya pulang dalam keadaan sehat dan dia mendengarkan laporan puterinya, betapa ia diculik oleh penjahat dan diberikan kepada Panglima Bangsa Kin, kemudian diselamatkan oleh Tiong Li dan Siang Hwi.

Mendengar ini, Kaisar merasa girang dan berterima kasih kepada, Tiong Li.

Biarpun Tiong Li menduga keras bahwa penculikan sang puteri itu adalah perbuatan yang didalangi oleh Perdana Menteri Jin Kui, akan tetapi karena tidak ada bukti, diapun tidak berani sembarangan menuduh.

"Tiong Li, engkau sudah berjasa besar sebanyak dua kali. Sekarang kami hendak menganugerahkan pangkat pengawal istana untuk menjaga keselamatan keluarga kerajaan."

"Ampun beribu ampun. Yang Mulia. Bukan sekali-kali hamba menolak anugerah Paduka yang berlimpah, melainkan hamba masih memiliki tugas yang penting, yaitu merampas kembali Mestika Golok Naga yang lenyap diambil pencuri dari gedung pusaka."

"Ah, pusaka itu sudah lama dicuri orang dan sampai sekarang para pengawal belum juga mampu menemukannya."

"Hamba sudah tahu siapa yang mengambilnya, Yang Mulia. Dan hamba berjanji untuk mendapatkannya kembali untuk Paduka."

"Ayahanda, sebetulnya Mestika Golok Naga itupun diambil oleh Panglima! Wu Chu dan sudah berhasil dirampas kembali oleh Tan-Taihiap. Akan tetapi di tengah perjalanan, saya dilukai orang dan orang itu memaksa Tan-Taihiap menyerahkan golok pusaka itu untuk ditukar dengan obat yang akan menyelamatkan nyawa saya. Tan-Taihiap terpaksa menukarkan golok itu dengan obat pemunah racun yang melukai saya."

"Jahanam betul! Siapa orang itu?"

"Seorang wanita kang-ouw, Yang Mulia,"

Kata Tiong Li tanpa menyebutkan nama karena merasa tidak enak kepada Siang Hwi sebagai murid perampas golok pusaka itu.

"Baiklah, kalau begitu engkau pergilah untuk merampas kembali golok itu. Tiong Li,"

Katanya kemudian.

"Akan tetapi Yang Mulia, gambar hamba terpampang di mana-mana sebagai pemberontak dan penculik sang puteri. Hal ini akan menghambat perjalanan hamba dan bahkan menghalangi hamba. Hamba mohon Paduka memberi perintah penghapusan dakwaan terhadap hamba itu. Dengan surat perintah Paduka, hamba tentu akan dapat membersihkan nama hamba dari noda dan dapat bergerak dengan leluasa."

Kaisar menghela napas panjang.

"Kami menyesal telah memerintahkan pengumuman yang agak tergesa-gesa itu, Tiong Li, sehingga engkau menjadi orang buronan. Siapa tahu engkau justru malah dua kali menyelamatkan puteri kami dari tangan penculik. Baik, akan kami buatkan surat perintah dan pengumuman itu untuk membersihkan namamu."

Kaisar lalu memerintahkan pembantunya untuk menuliskan surat perintah itu, kemudian menandatanganinya dan membubuhi cap kerajaan. Tiong Li menerima dengan hati lega.

"Ada sebuah lagi permohonan hamba, Yang Mulia. Sepanjang yang hamba ketahui, para pemberontak itu sebenarnya bukanlah pemberontak. Mereka itu pejuang-pejuang, para patriot yang hendak memperjuangkan kebebasan tanah air dari penjajah Bangsa Kin. Mereka bahkan setia kepada Kerajaan Sung dan hendak mengembalikan kejayaan Kerajaan Sung untuk menguasai kembali daerah utara. Maka, tidak semestinya mereka itu dikejar-kejar seperti pemberontak, Yang Mulia."

Kaisar mengerutkan alisnya.

"Kami mengadakan persahabatan dengan Bangsa Kin agar mencegah mereka menyerang keselatan dan menimbulkan korban di antara rakyat. Kami mencegah perang demi rakyat. Kalau mereka itu menyerang Kerajaan Kin, dan kalau kami mendiamkannya saja, tentu Kerajaan Kin akan memusuhi Kerajaan Sung. Akan tetapi, baiklah kami melihat perkembangannya dulu Kalau mereka itu tidak mengganggu pemerintah Kerajaan Sung, mereka tidak akan dianggap pemberontak."

"Tan-Taihiap, engkau sudah berulang kali berjasa dan ayahanda Kaisar hendak menganugerahkan pangkat kepadamu, kenapa engkau menolaknya? Sudah sepatutnya kalau engkau menerima imbalan jasajasamu,"

Kata sang puteri kepada Tiong Li.

"Terima kasih, tuan puteri. Akan tetapi apa yang hamba lakukan Ini adalah merupakan kewajiban hamba yang selalu hendak menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan dan menentang yang jahat. Kalau hamba mengharapkan Imbalan jasa, maka perbuatan itu sama sekali bukan perbuatan gagah. Pula, hamba masih mempunyai kewajiban untuk merampas kembali Mestika Golok Naga, harap tuan puteri dapat memakluminya."

Bagi kebanyakan orang, tentu alasan yang dikemukakan Tiong Li itu tidak dapat diterima.

Orang yang berjasa mendapat imbalan, hal itu sudah semestinya dan sepatutnya, demikian anggapan kita pada umumnya.

Justeru karena pendapat inilah, maka kita semua terjerumus ke dalam perbuatan yang selalu berpamrih untuk mendapatkan imbalan.

Semua perbuatan kita itu kita perhitungkan untung ruginya seperti berdagang.

Apa artinya sebuah pertolongan kalau, pertolongan itu dilakukan dengan harapan memperoleh imbalan?

Apakah artinya sebuah kebaikan kalau dibaliknya terkandung harapan memperoleh balasan?!

Perbuatan itu bukan lagi baik, bukan lagi pertolongan, melainkan suatu alasan untuk mendapatkan sesuatu.

Kalau tidak akan ada imbalan, mungkin pelakunya akan mundur.

Perbuatan yang seutuhnya adalah perbuatan yang dilakukan tanpa pamrih bagi dirinya sendiri, tanpa pamrih memperoleh sesuatu sebagai buah dari perbuatannya itulah.

Bahkan mengharapkan imbalan dari Tuhan atas perbuatannya yang "Baik"

Pun merupakan pamrih dan karenanya menodai perbuatan itu sendiri.

Perbuatan baik muncul dari hati sanubari, digerakkan oleh perasaan iba melihat orang lain sengsara, merasa penasaran melihat perlakuan yang tidak adil dan sebagainya lagi.

Bukan oleh pamrih untuk kesenangan diri sendiri yang akan memperoleh buah dari hasil perbuatannya.

Imbalan ini justeru melahirkan munafik-munafik dipermukaan bumi.

Orang-orang "Baik"

Yang sesungguhnya hanyalah pengejar-pengejar keuntungan bagi dirinya sendiri.

Tiong Li dan Siang Hwi meninggalkan istana dengan diberi bekal sekantung emas oleh Kaisar.

Hiang Bwee mengantarkan mereka sampai ke pintu depan di mana Hiang Bwee merangkul Siang Hwi sambil berbisik.

"Enci Hwi, jagalah Tan-Taihiap baik-baik!"

Siang Hwi terharu sekali, la merasa betapa puteri itu sesungguhnya mencinta Tiong Li!

Akan tetapi ia hanya mengangguk sambil tersenyum.

Tentu saja Tiong Li yang berpendengaran tajam itu dapat mendengar bisikan ini namun dia pura-pura tidak mendengar dan memberi hormat kepada gadis yang ketika berada di depan Kaisar disebutnya tuan puteri itu.

"Sung-Siocia (Nona Sung), selamat tinggal."

Katanya hormat.

"Tan-Taihiap, selamat jalan dan selamat berpisah. Mudah-mudahan kita akan dapat saling bertemu kembali dan Enci Siang Hwi, selamat jalan dan jagalah diri kalianbaik-baik."

Kata puteri itu yang merasa sedih juga ditinggalkan dua orang yang begitu baik kepadanya.

Rasanya ingin ia meninggalkan!

keputriannya untuk ikut mereka berpetualang di dunia bebas.!

Nasihat Tiong Li kepada Kaisar agar tidak memusuhi para pejuang membuat Kaisar berpikir-pikir dan dia segera memanggil seorang puteranya.

Putera ini adalah Pangeran Kian Cu, seorang yang merasa kagum kepada kesetiaan Gak Hui.

"Pergilah menghubungi para pejuang dan selidiki apakah benar para pejuang itu sama sekali tidak mempunya keinginan untuk memberontak, melainkan hanya membenci bangsa Kin."

Demikian perintah kaisar.

Pangeran Kian Cu, seorang Pangeran berusia duapuluh lima tahun adalah putera dari selir dan dia seorang pangeran yang sejak lama mengagumi sepak terjang para pejuang yang menjadi pengikut Gak Hui.

Mendengar perintah ayahnya itu, Pangeran Kian Cu merasa gembira dan dia segera berangkat meninggalkan istana dan menghubungi para pejuang.

Dengan mudah saja dia dapat mengadakan hubungan dengan pimpinan pejuang, bahkan para pejuang dapat membawanya menemui Gak Liu.

yaitu pejuang putera mendiang Panglima Gak Hui yang terkenal.

Gak Liu menerima pangeran itu dengan baik dan mengadakan pertemuan dengan para pimpinan pejuang lainnya.

"Sebetulnya aku datang mengadakan hubungan dengan kalian ini atas perintah ayahanda Kaisar,"

Kata sang pangeran.

"Selama ini beliau berpendapat bahwa kalian adalah pemberontak pemberontak yang ingin merebut kedudukan Ayahanda Kaisar. Akan tetapi menurut laporan dari seorang pendekar muda bernama Tan Tiong Li, kalian adalah patriot-patriot, pejuang yang hanya memusuhi penjajah Kin dan sama sekali tidak memusuhi pemerintah Sung. Benarkah keterangan itu?"

Gak Liu memberi hormat kepada sang pangeran dan berkata dengan suaranya yang lantang.

"Sebetulnya hal ini seharusnya sudah diketahui oleh SriBaginda sejak dahulu. Mendiang ayah saya, seorang patriot sejati yang setia kepada Sri Baginda, bahkan dituduh pemberontak dan dihukum mati! Sebetulnya kami sama sekali tidak berniat memberontak, bahkan ingin mengembalikan kejayaan kerajaan Sung dan merebut kembali wilayah utara yang dikuasai bangsa Kin. Akan tetapi kalau kami dianggap pemberontak dan diserang, tentu saja kami membalas."

"Kalau begitu, selama ini hanya terdapat kesalah pahaman belaka dan aku akan melaporkan kepada Ayahanda Kaisar."

Kata Pangeran Kian Cu dan setelah selesai pertemuan itu, dia menyumbangkan sejumlah besar uang untuk keperluan perjuangan, dan mengharapkan agar seluruh kekuatan pejuang digalang persatuannya.

Usaha Pangeran Kian Cu menghubungi para pejuang atas perintah Kaisar ini telah diketahui oleh Jin Kui melalui mata-mata yang disebarnya diantara para thaikam di istana.

Dia merasa khawatir sekali.

Kalau Kaisar sudah menaruh kepercayaan kepada para pejuang, ini berbahaya sekali.

Berarti hubungan antara Sung dan Kindapat menjadi renggang, dan dia sendiri tentu akan mendapat kemarahan dari Raja Kin.

Juga mungkin Kaisar lambat laun akan terpengaruh dan bahkan memusuhinya, yang sejak semula memang memusuhi para pejuang.

Cepat dia memanggil Si Muka Tengkorak Tang Boa Lu, Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, Kui To Cinjin dan kedua orang sutenya yang baru saja dipanggil membantu mereka, yaitu Ouw Yang Kian dan Ouw Yang Sian.

Mereka lalu mengadakan perundingan dan akhirnya Perdana Menteri Jin Kui berkata dengan marah.

"Hal ini tidak dapat didiamkannya saja! Kaisar melalui Pangeran Kian Cu mengadakan pertemuan dengan para pemberontak! Ini berbahaya sekali dan aku tahu jalan apa yang harus ditempuh untuk menggagalkan itu!"

"Jalan apakah yang Taijin maksudkan? Harap memberi tahu kami agar dapat segera kami laksanakan."

Kata Kui To Cinjin sambil mengelus jenggotnya yang tipis panjang.

"Pangeran itu harus dibunuh dan kita fitnah para pemberontak itu sebagai pembunuhnya. Dengan begini selain pertemuan itu akan gagal, juga Kaisar akan marah dan sakit hati kepada para pemberontak!"

Para kaki tangan Perdana Menteri Jin Kui mengangguk-angguk setuju dan menganggap akal itubaik sekali.

"Akan tetapi bagaimana pembunuhan itu dapat dilaksanakan tanpa menimbulkan kecurigaan?"

Tanya pula Kui To Cin jin.

"Sekarang juga harus dilaksanakan. Kalau pangeran kembali dari tempat para pemberontak, itulah kesempatan yang baik sekali. Karena itu aku perintahkan Ouw Yang Kian dan Ouw Yang Sian dibantu oleh Tang Boa Lu untuk melaksanakan pembunuhan itu."

Tiga orang itu menyatakan kesanggupan mereka dan segera mereka berangkat setelah mengetahui jalan mana yang ditempuh pangeran untuk menemui para pemberontak.

Bagi orang yang lemah dan menjadi budak nafsunya seperti Jin Kui.

memang selalu berlaku pegangan bahwa yang terpenting adalah tujuan, dan tujuan menghalalkan segala cara.

Kita sendiri memang seringkali lupa akan hal ini.

Kita mengagungkan tujuan dengan sebutan cita-cita yang muluk-muluk, yang kita kejar-kejar.

Padahal, dalam pengejaran tujuan inilah letak bahayanya, yaitu dalam caranya.

Cara atau jalan untuk mengejar cita-cita ini kadang berbahaya sekali.

Kita terbius oleh gemerlapnya tujuan sehingga untuk mendapatkannya, kita lupa bahwa cara yang kita pergunakan tidak benar.

Padahal, bukan tujuannya yang menjadi ciri baik buruknya perbuatan, melainkan cara itu sendiri.

Kalau cara yang dipergunakan itu buruk, bagaimana mungkin dapat mencapai tujuan yang baik?

Gemerlapnya tujuan memang condong untuk membuat kita lupa akan cara kita yang kita pergunakan.

Misalnya, demi untuk tujuan memberi kehidupan mewah kepada anak isteri, kita melakukan korupsi atau mencuri.

Demi untuk tercapainya tujuan menjadi, sarjana kita melakukan sogokan dan suapan atau membeli ijazah.

Tujuan itu tentu sifatnya menyenangkan dan menyenangkan itu mendorong nafsu untuk mendapatkannya.

Segala nafsu itu wajar saja, akan tetapi kalau kita sudah diperbudaknya, celakalah kita, Nafsu mencari keuntungan itu wajar saja, Akan tetapi kalau kita diperbudak, kita bisa saja menipu atau mencuri.

Nafsu sex itu wajar saja, akan tetapi kalau kita diperbudak, kita bisa saja melacur memperkosa dan sebagainya lagi.

Demikian dengan mengejar kedudukan, harta benda, nama dan pengejaran apa saja yang menjadi cita-cita dapat menyelewengkan kita.

Betapa baik dan muliapun tujuan yang hendak kita capai, bisa saja melahirkan cara pengejaran yang menyeleweng.

Demikian pula dengan Jin Kui.

Demi tercapainya segala cita-citanya, demi terlaksananya tujuannya, maka dia pun menghalalkan segala cara.

Cara yang curang dianggapnya cerdik dan benar.

Cara yang kejam dianggapnya gagah.!

Setelah selesai mengadakan pertemuan dan perundingan dengan Gak Liu dan para pejuang lainnya, sang pangeran lalu berangkat pulang naik kuda di antar oleh lima orang anggauta pejuang.

Enam orang penunggang kuda itu melarikan kuda mereka menuju ke Hang-couw.

Akan tetapi ketika mereka menuruni sebuah lereng bukit dan tiba di daerah yang sunyi, nampak tiga orang menghadang perjalanan mereka.

Sang pangeran menahan kudanya, demikian pula lima orang pengawalnya.

Dan pada saat mereka menahan kuda mereka itulah Tang Boa Lu Si Muka Tengkorak, Toat-Beng-jiauw (Cakar Pencabut Nyawa) Ouw Yang Kian dan Hek-Bin-Kui (Setan Muka Hitam) Ouw Yang Sian bergerak menyerang!!

Si Muka Tengkorak sendiri yang menyerang Pangeran Kian Cu tanpa peringatan lagi.

Pangeran itu meloncat turun dari kudanya, akan tetapi bagaimana mungkin dia dapat menghindarkan serangan Si Muka Tengkorak yang amat lihai itu?

Hanya dua kali dia dapat mengelak, akan tetapi pukulan yang ke tiga kalinya mengenai kepalanya.

Pangeran Kian Cu tidak sempat mengaduh lagi, langsung terpelanting dengan kepala retak dan tewas seketika.

Lima orang pengawalnya tidak mampu melindunginya karena mereka berlima juga sudah diserang kalang kabut oleh dua orang kakak beradik yang amat lihai itu.

Para pejuang yang mengawal itu hanya memiliki Ilmu silat biasa saja, mana mungkin mereka mampu menandingi kedua saudara Ouw Yang Ini.

Dalam belasan jurus saja mereka berlima juga sudah roboh semua dan tewas!

Pada hari itu juga Kaisar menerima laporan bahwa Pangeran Kian Cu telah tewas terbunuh lima orang pemberontak yang sebaliknya terbunuh pula oleh kedua adik seperguruan Kui To Cin-jin.

Kaisar terkejut dan sedih Sekail mendengar ini dan dia segera memanggil kedua orang saudara Ouw Yang untuk menceritakan apa yang telah terjadi.

"Hamba berdua sedang melakukan perjalanan ke luar kota ketika dari jauh hamba melihat kuda sang pangeran di kepung lima orang dan mereka itu mengeroyok Pangeran Kian Cu. Hamba berdua segera lari menghampiri akan tetapi hamba terlambat dan melihat sang pangeran sudah terguling dan roboh, terkena hantaman ruyung. Melihat Ini, hamba berdua lalu mengamuk, menyerang lima orang itu dan akhirnya hamba berdua dapat membunuh mereka. Hanya itulah yang hamba ketahui, Yang Mulia,"

Kata Ouw Yang Kian.

"Mereka itu adalah pimpinan para pemberontak, Yang Mulia!"

Sambung Ouw Yang Sian yang bermuka hitam.

"Keparat jahanam!"

Kaisar memaki, sambil mengepal tinju.

"Dibaiki bahkan membunuh. Ciang Sun Hok, kerahkan pasukan dan basmi para pemberontak yang berada di daerah itu!"

Perintahnya ke pada Ciang Sun Hok.

Panglima jagoan ini menyatakan kesanggupannya dan pertemuan itu dibubarkan karena kaisar sedang berduka atas kematian puteranya.

Perdana Menteri Jin Kui di rumahnya mengadakan pesta menjamu para pembantunya.

Mereka berpesta karena kegirangan.

Mereka telah menang.

Kaisar kembali membenci dan tidak percaya kepada kau m pejuang!

Inilah tujuan mereka dan berhasil.

"Kui To Cin Jin, sekarang kita tinggal menghadapi Tan Tiong Li, Pemuda itu berbahaya sekali. Kita harus dapat segera membunuhnya karena dia dapat menjadi bahaya besar bagi kita. Akan tetapi ilmu kepandaiannya tinggi sekali. Siapa yang akan dapat melawan dan membunuhnya?"

"Harap Taijin jangan khawatir, Pinto mempunyai tiga orang kenalan diutara. Mereka itu pertapa-pertapa di Luliang-san, Thai-hang-san, dan di lembah Sungai Fenho. Mereka adalah datuk datuk dunia kang-ouw yang berilmu tinggi. Dan Pinto mengetahui benar bahwa biarpun mereka tidak berbuat sesuatu di daerah Kerajaan Kin itu, akan tetapi mereka itu adalah orang-orang yang setia kepada Kerajaan Sung. Kalau Pinto minta bantuan mereka untuk menghadapi orang yang memberontak terhadap Kerajaan Sung, kiranya mereka akan sanggup membantu."

"Bagus sekali! Undang mereka ke sini, Kui To Gin-jin. Sukur kalau mereka suka menjadi pembantu tetap kita, kalau tidak, cukup baik kalau mereka mau menghadapi dan mengalahkan Tan Tiong Li!"

"Baik, Taijin. Akan Pinto usahakan agar mereka mau membantu kita."

Pesta dilanjutkan sampai jauh malam dan sampai mereka Semua menjadi mabok, mabok arak dan mabok kemenangan Pikiran yang sudah bergelimang nafsu selalu menjadi pembela dari semua perbuatan yang dilakukan manusia.

Biarpun hati akal pikiran mengerti dan tahu bahwa perbuatan itu tidak benar, akan tetapi nafsu dalam pikiran membuat pikiran menjadi pembela dan berusaha membenarkan perbuatan itu, melawan hati nuraninya sendiri.

Setiap orang manusia tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar.

Adakah di dunia ini pencuri yang tidak tahu bahwa perbuatan mencuri adalah tidak benar?

Semua pencuri tentu telah mengetahuinya.

Akan tetapi tetap saja dia mencuri dan pikirannya yang sudah bergelimang nafsu membenarkan perbuatannya mencuri Itu dengan segala macam dalih.

Pengertian dan pengetahuan tidak dapat melawan nafsu, kalau nafsu sudah mencengkeram hati akal pikiran.

Nafsu merupakan hamba yang amat penting dan amat baik, akan tetapi menjadi majikan yang amat jahat.

Akan tetapi siapa yang dapat menjadikan nafsu sebagai hamba yang baik dan mengekangnya agar tidak menjadi majikan?

Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang akan mampu.

Kita dengan hati akal pikiran kita tidak akan mampu menguasai nafsu.

Jalan satu-satunya hanya menyerah dan pasrah kepada Tuhan dengan segenap ketawakalan dan kepercayaan.

Hanya itu yang dapat kita lakukan dan jika Tuhan menghendaki, maka kitalah yang akan menjadi majikan atas nafsu kita sendiri, menjadikannya hamba yang baik.

pembantu datam kehidupan yang amat berguna.

Bukan menjadi majikan yang merajalela dan yang mendorong kita melakukan segala macam perbuatan yang tersesat.

Dengan susah payah Tiong Li bersama Siang Hwi mencoba untuk mencari jejak Ban-Tok Sian-Li.

Akan tetapi kemana mereka harus mencarinya.

Sudah pasti wanita Itu tidak lagi berada di Lembah Maut Sungai Yang-ce yang sudah diobrak-abrik dan dibakar oleh pasukan pemerintah.

Dan wanita itu pandai menghilangkan jejak, gerakannya bagaikan!

tidak meninggalkan jejak.

Maka Tiong Li dan Siang Hwi hanya berkeliaran saja sampai ke daerah perbatasan utara.

Akhirnya Siang Hwi berkata kepada kekasihnya.

"Koko, kurasa percuma saja mencari jejak Subo. Agaknya ia tidak pergi jauh. Subo tentu merasa sakit hati sekali kepada pemerintah karena dibasminya Lembah Maut. Dan watak Subo tidak akan mendiamkan saja hal itu terjadi tanpa dibalas. Kalau menurut dugaanku, Subo tidak akan pergi jauh dari Kota Raja, mencari kesempatanuntuk membalas dendam."

"Kepada siapa ia hendak membalas dendam?"

"Mungkin Subo sedang menyelidi siapa biangkeladi penyerangan ke Lembah Maut itu."

"Jelas biangkeladinya adalah Perdana Menteri Jin Kui."

"Kalau begitu, Subo tentu akan mengetahui dan akan membalas kepada Perdana Menteri Itu. Maka sebaiknya kita kembali saja ke Kota Raja. Siapa tahu kita dapat menemukan ia di sana."

Demikianlah, keduanya lalu melakukan perjalanan kembali ke Hang-couw.

Begitu mendekati Hang-couw, segera mereka ketahuan oleh para penyelidik anak buah Perdana Menteri Jin Kui, dan mereka cepat melaporkan kepada Perdana Menteri itu.

Pada waktu itu, di kediaman Perdana Menteri Jin Kui, baru dua hari kedatangan tiga orang tamu.

Mereka adalah tiga orang pertapa yang baru saja didatangkan oleh sahabat mereka, Kui To Cin-jin yang berhasil membujuk mereka untuk menghadapi Tan Tiong Li yang dikatakannya sebagai seorang pimpinan pemberontak di samping Gak Liu.

Tiga orang itu adalah Im Seng Cu, Tosu pertapa di Luliang-san, Ban Hok Seng-jin, pertapa di Lembah Sungai Fen ho, dan Sin Gi Tosu, pertapa dari Thaihang-san.

Tiga orang pertapa ini memang merupakan sahabat-sahabat dari Kui To Cin-jin, ketika Kui To Cin-jin belum menjadi jagoan yang menghambakan diri kepada Jin Kui.

Bagi tiga orang tokoh itu, Kui To Cin-jin menghambakan diri kepada Kerajaan Sung dan hal ini mereka setujui sekali.

Memang mereka bertiga adalah tokoh-tokoh yang sangat mengagumi mendiang Panglima Gak Hui yang dianggapnya amat setia kepada Kerajaan Sung sampai akhir hayatnya.

Biarpun di sepanjang Sungai Huang-ho sampai ke utara sudah diduduki oleh Bangsa Kin, mereka bertiga dalam hati tetap setia kepada Kerajaan Sung.

Kalau saja Kerajaan Sung menyerang ke utara, mereka biarpun merupakan pertapa-pertapa tentu akan membantunya.

Maka, ketika Kui To Cin-jin yang mereka anggap seorang hamba yang setia dari Kerajaan Sung itu berkunjung kepada mereka dan minta bantuan mereka agar menghadapi dan menangkap seorang pemberontak yang lihai, mereka tidak merasa keberatan dan berangkatlah mereka ke selatan untuk menunjukkan baktinya kepada Kerajaan Sung Selatan.

Maka, ketika para penyelidik melaporkan tentang munculnya Tiong Li, dan Siang Hwi lalu Perdana Menteri itu minta kepada mereka bertiga untuk menghadapi "Pemberontak", tiga orang datuk itu segera berangkat.

Mereka juga merasa penasaran sekali mendengar bahwa Pangeran Kian Cu telah dibunuh oleh para pemberontak.

Tiong Li dan Siang Hwi yang melakukan perjalanan ke Kota Raja, bertemu dengan para pejuang dan merekapun mendengar tentang terbunuhnya Pangeran Kian Cu, dan bahwa Jin Kui menuduh para pejuang yang membunuhnya.

Mendengar ini, mereka merasa terkejut sekali.

Para pejuang mengatakan bahwa pahlawan Gak Liu yakin bahwa anak buahnya yang lima orang dan yang mengawal sang pangeran itu tidak mungkin membunuhnya.

Mereka sendiri juga terbunuh dan walau pun para pejuang menduga bahwa ada pihak ke tiga yang membunuh pangeran dan melakukan fitnah kepada para pejuang, akan tetapi mereka tidak mempunyai bukti dan saksi.

"Ini tentu perbuatan si laknat Jin Kui!"

Kata Tan Tiong Li, akan tetapi tanpa saksi dan bukti, bagaimana dia akan dapat melapor kepada Kaisar?

Dia merasa sedih sekali mendengar bahwa kaisar marah sekali dan semakin memusuhi para pejuang yang dianggap pemberontak.

Dia melakukan perjalanan cepat menuju ke Kota Raja untuk dapat mendengar sendiri apa yang telah terjadi.

Tiba-tiba, perjalanan mereka dihadang oleh tiga orang yang berjubah seperti pertapa.

Seorang di antara mereka memegang sebatang tongkat hitam dan ke tiganya memandang kepadanya seperti orang yang tidak senang, dengan alis berkerut.

Melihat tiga orang menghadang di depannya, Tiong Li segera memberi hormat kepada tiga orang Tosu itu dan berkata dengan hormat dan ramah.

"Selamat siang, Sam-wi Totiang (tiga orang pendeta To)."

"Orang muda,"

Kata Im Seng Cu yang memegang tongkat.

"Engkau kah yang bernama Tan Tiong Li?"

Tiong L i memandang heran.

"Benar sekali, Totiang. Saya bernama Tan Tiong Li dan samwi Totiang ini siapa kah? Dan ada keperluan apakah dengan saya?"

"Tiong Li, engkau pemberontak! Menyerahlah untuk kami tangkap!"

"Aih, Totiang! Kenapa Totiang berkata demikian? Saya sama sekali bukan pemberontak, bahkan saya melaksanakan perintah Yang Mulia Kaisar untuk menemukan kembali Mestika Golok Naga!"

Bantah Tiong Li.

"Siapakah Sam-wi?"

"Pinto adalah Im Seng Cu dari Lu-liang-san,"

Kata yang memegang tongkat, dan bertubuh kurus tinggi.

"Pinto Ban Hok Seng jin pertapa Lembah Fen-ho!"

Kata Tosu pendek gendut yang membawa sebatang pedang di punggungnya.

"Dan Pinto Sin Gi Tosu, pertapa dari Thai-hang-san!"

Kata yang tinggi besar dan memegang sebuah kebutan berbulu putih. Kembali Tiong Li memberi hormat.

"Seperti saya katakan tadi, nama saya Tan Tiong Li dan ini adalah sahabat saya bernama The Siang Hwi. Kami berdua tidak pernah memberontak dan...

"Tidak perlu mengganjal lagi! Pinto bertiga sudah mendengar bahwa engkau bergabung dengan para pemberontak, yang dipimpin oleh pemberontak Gak Liu!"

"Memang benar saya bersahabat dengan pendekar Gak Liu dan saudara-saudaranya. Akan tetapi Gak Liu adalah putera mendiang Panglima Gak Hui dan sama sekali bukan pemberontak, melainkan pejuang!"

"Hemm, kami mengenal Gak Hui sebagai seorang pahlawan yang setia sampai mati kepada Kaisar. Kami semua menghormatinya. Akan tetapi Gak Liu puteranya itu sama sekali tidak mengikuti jejak ayahnya. Dia menggerakkan orang-orang untuk menjadi pemberontak!"

Kata Sin Gi Tosu yang tinggi besar sambil menggerak-gerakkan kebutannya.

"Sam-wi Totiang salah sangka Gak Liu sama sekali bukan pemberontak! Dia berjuang mati-matian untuk menentang pemerintah Kin, berusaha keras untuk mengusir penjajah Kin dari tanah air."

"Akan tetapi dia menentang dan seringkali bentrok dengan pasukan Sung, bahkan sudah banyak membunuh anggauta pasukan Sung. Apakah itu tidak memberontak namanya?"

Kata Im Seng Cu.

"Totiang salah sangka. Perdana Menteri Jin Kui amat membenci para pejuang yang gagah perkasa. Perdana Menteri Jin Kui seringkali mengirim pasukan untuk membasmi para pejuang, maka tentu saja para pejuang membela diri. Perdana Menteri Jin Kui itulah yang menghasut Yang Mulia Kaisar dan menyebut para pejuang itu pemberontak. Kalau para pejuang yang bersatu padu berniat untuk memusuhi Kerajaan Sung yang lemah, tentu sudah lama berhasil. Tidak Totiang. Para pejuang bukan, pemberontak, melainkan patriot sejati yang hendak mengusir penjajah dari tanah air! Sayang sekali Yang Mulia Kaisar tidak mendengarkan pendapat mendiang Panglima Gak Hui untuk menyerang Bangsa Kin. Dia bahkan mendengarkan Perdana Menteri Jin Kui yang menghendaki perdamaian dan persekutuan dengan penjajah."

"Siancai, engkau pandai bicara orang muda!"

Kata Ban Hok Seng-jin yang pendek gemuk.

"Lalu apa katamu tentang Mestika Golok Naga yang dicuri dari gudang pusaka istana? bukankah itu perbuatan para pejuang pula? Bukankah itu berarti memberontak?"

"Berita bohong itupun di tiup-tiupkan oleh Perdana Menteri Jin Kui sebagai fitnah. Sesungguhnya yang mencuri golok pusaka, itu adalah kaki tangani Panglima Kin yang bernama Wu Chu. Saya sendiri yang merampas kembali golok pusaka itu dari tangan Panglima Wu Chu, akan tetapi sayang golok itu terampas oleh seorang tokoh kang-ouw yang hendak mempergunakannya untuk menentang pasukan Kin. Dan sekarang saya sedang berusaha untuk merampasnya kembali,"

Jawab Tiong Li dengan suara tegas.

"Ho-ho, engkau sudah siap untuk menjawab semua, pertanyaan. Bagus sekali! Dan bagaimana engkau akan menjawab kalau Pinto bertanya tentang kematian Pangeran Kian Cu yang terbunuh oleh lima orang pemberontak itu, orang muda?"

"Sam-wi Totiang, ketahuilah bahwa Pangeran Kian Cu pergi berunding dengan para pejuang atas perintah Yang Mulia Kaisar, bahkan pangeran itu telah memberi sumbangan yang cukup banyak kepada para pejuang. Kemudian ketika pangeran meninggalkan para pejuang, pendekar Gak Liu sendiri yang menyuruh lima orang rekannya untuk mengawal pangeran itu. Kemudian diketahui bahwa mereka berlima itu tewas, demikian pula sang pangeran. Bagaimana mungkin mereka berlima itu membunuh sang pangeran yang telah menjadi sahabat baik? Ini sungguh tidak masuk akal. Tentu ada pihak lain yang membunuh pangeran, kemudian membunuh pula lima orang pengawal itu, kemudian melemparkan fitnah bahwa lima orang pejuang itu yang membunuh sang pangeran. Harap Sam-wi Totiang dapat mempertimbangkannya dengan adil dan tidak hanya mendengarkan keterangan satu pihak sana."

Tiga orang Tosu itu menjadi bingung dan saling pandang penuh kebimbangan dan keraguan.

Semua keterangan yang diucapkan pemuda itu dengan lancar dan tegas membuat mereka merasa bimbang.

Semua jawaban itu mengandung kemungkinan besar akan kebenarannya!

Tiga orang ini adalah para datuk yang terbujuk oleh Kui To Cin-jin dan mereka hendak berjuang tanpa pamrih membela Kerajaan Sung.

Mereka tidak mengharapkan imbalan jasa.

juga tidak mengingat akan kepentingan diri pribadi.

Semua hanya dilakukan dengan tujuan satu, yalah membela Kerajaan Sung dan membersihkan pemberontak yang mengacau Kerajaan Sung...Akan tetapi kini mereka mendapat jawaban yang berlainan sama sekali dengan yang didengarnya dari Kui To Cin-jin dan Perdana Menteri Jin Kui.

"Bagaimana pendapatmu, Im Seng Cu?"

Tanya Ban Hok Seng-jln kepada rekannya.

"Siancai...! Keterangan pemuda ini memang masuk diakal. Pinto menjadi bingung memikirkan persoalan ini,"

Jawab.yang ditanya. Sin Gi Tosu juga berkata sambil menghela napas panjang.

"Pinto juga menjadi ragu karena Pinto sudah mendengar bahwa Perdana Menteri Jin Kui amat licik dan tidak disuka oleh para menteri lain yang setia. Akan tetapi kekuasaannya besar sehingga para menteri tidak ada yang berani berkutik."

"Siancai, apakah benar kita yang dibohongi?"

Tanya Ban Hok Seng-jin.

"Kui To Cin-jin ternyata juga tidak menghambakan diri kepada Kaisar, melainkan kepada Perdana Menteri Jin Kui, Hal itu saja tadinya sudah menimbulkan kekecewaanku. Pinto kira dia menghambakan diri kepada Kaisar."

"Sam-wi Totiang yang bijaksana,"

Kata Tiong Li.

"Harap Sam-wi berpikir dengan pertimbangan seadilnya. Jin Kui itu adalah seorang penjilat yang telah mampu menguasai Yang Mulia Kaisar, akan tetapi dia bukanlah seorang pejabat yang baik. Dialah yang bersekutu dengan orang-orang Kin. Bahkan saya merasa yakin dia yang menyuruh orang menculik sang puteri Sung Hiang Bwee untuk dihadiahkan kepada Panglima Kin yang bernama Wu Chu itu. Masih untung saya dapat membebaskan sang puteri yang telah dua kali diculik orang. Dan mengapa Perdana Menteri Jin Kui membenci para pejuang? Pertama karena para pejuang itu menentang Bangsa Kin yang menjadi sekutunya, dan kedua kalinya belum lama ini puteranya yang bernama Jin Kiat, yang terkenal mata keranjang dan amat jahat, terbunuh oleh pendekar Gak Liu. Itulah yang membuat Jin Kui selalu mengejar-ngejar para pejuang dan mengatakannya bahwa mereka pemberontak yang harus dibasmi."

Tiga orang Tosu itu mengangguk-angguk.

Mereka adalah orang-orang bijaksana yang mudah disadarkan dan begitu menyadari kekeliruan mereka, seketika dapat mengubah sikap.

Tidak seperti kebanyakan dari kita yang kalau menyadari kekeliruan diri sendiri, pikiran lalu mencari akal untuk membela kekeliruan itu, untuk mencari alasan dan menyalahkan orang lain untuk menutupi ke salahan sendiri.

"Siancai...! Ban Hok Seng-jin dan Sin Gi Tosu, kita bertiga ini orang-orang tua yang berpikiran seperti anak kecil, mudah dibujuk dan mudah di kelabuhi. Kita telah tertipu oleh Kui To Cin-jin yang agaknya telah ketularan penyakit Jin Kui dan menjadi seorang penjilat. Tan Tiong Li, terima kasih. Kami menyadari kekeliruan kami. Akan tetapi dari tempat jauh sekali kami datang dan kami telah mendengar tentang kelihaianmu. Rasanya akan sia-sia perjalanan kami kalau kami belum mencoba kelihaianmu. Nah, mari kita main main sebentar, hendak kubuktikan apa yang telah kudengar tentang dirimu!"

Tiong Li mengerutkan alisnya.

"Totiang, perlukah itu? Kita bukan musuh dan tidak ada urusan apapun di antara kita. Kita belajar ilmu untuk dipergunakan membela kebenaran dan keadilan, bukan untuk saling serang di antara orang-orang sehaluan. Bukankah Totiang juga membela kebenaran dan keadilan?"

"Ha-ha-ha, lupakah engkau akan kebiasaan orang kang-ouw, belum berarti berkenalan dengan baik kalau belum mengenal kepandaian masing-masing? Ini bukan perkelahian, hanya saling menguji kepandaian saja."

Tiong Li menghela napas panjang dia mengerti akan kebiasaan orang-orang kang-ouw yang sangat suka untuk mengenal orang lain melalui ilmu silatnya.

"Baiklah, Totiang. Kalau Totiang menghendaki demikian."

Tosu yang tinggi kurus itu menggerakkan tongkatnya.

Im Seng Cu memang seorang ahli dengan senjata tongkatnya yang telah mengangkat namanya sebagai seorang datuk persilatan yang lihai "Orang muda, pergunakanlah senjatamu untuk menandingi tongkatku Ini!"

"Maaf, Totiang. Saya tidak memiliki senjata apapun selain kaki dan tangan ini. Biarlah saya menghadapi tongkat Totiang dengan kaki dan tanganku. Nah, saya sudah bersiap, Totiang!"

Kata Tiong Li sambil memasang kuda-kuda di depan Tosu itu.

Im Seng Cu mengerutkan alisnya.

Bagaimana mungkin dia melawan seorang pemuda yang bertangan kosong dengan tongkatnya?

Akan tetapi karena dia sudah mendengar akan kelihaian Tiong Li, diapun ingin sekali mengujinya.

"Baik, engkau yang menghendaki demikian, bukan Pinto. Nah, sambutlah seranganku ini!"

Tongkatnya menyambar dengan dahsyat dan cepat sekali, mengirim totokan bertubi-tubi ke arah tiga jalan darah di pundak dan dada Tiong Li.

Pemuda ini tidak memandang rendah dan sudah menduga bahwa Tosu itu tentu lihai sekali, maka sejak tadi dia sudah bersikap waspada dan begitu lawan menyerang, dia mengerahkan Ilmu meringankan tubuh Jauw-sang-hui dan memainkan ilmu silat Ngo-heng-lian-hoan-kun yang amat lihai.

Tubuhnya berkelebatan dan tidak dapat tersentuh ujung tongkat.

Im Seng Cu terkejut sekait melihat tubuh pemuda itu berubah seperti bayangan yang berkelebatan dan tahu-tahu tangan pemuda itu menampar ke arah pergelangan tangannya sedangkan kakinya menyusul dengan sapuan yang cepat, dan kuat sekali!

Cepat sekali dia menarik lengannya dan meloncat tinggi ke atas, lalu memutar tongkatnya dan menyerang lebih hebat lagi karena dia maklum bahwa pemuda itu benar-benar amat tangguh.Tiong Li sendiri juga terkejut.

Tongkat itu memang hebat.

Ujungnya seolah berubah menjadi puluhan batang dan semua ujung itu mengancam jalan darahnya.

Totokan yang bertubi-tubi membuat dia terpaksa harus menggunakan kecepatan gerakannya, mengelak dan kadang menangkis tongkat itu dengan lengannya.

"Dukkk...!"

Ketika tingkat bertemu dengan lengan kiri Tiong Li yang menangkisnya, kembali Tosu itu terkejut karena dia merasa betapa kedua lengannya yang memegang tongkat tergetar hebat.

Hal ini tidaklah mengherankan karena ketika menangkis Tiong Li telah mengerahkan tenaga Jian-kin-lat.

Akan tetapi kakek Itu menggerakkan tongkatnya secara istimewa sekali dan tahu-tahu sudah menotok pundaknya!

Tidak ada kesempatan lagi bagi Tiong Li untuk mengelak atau menangkis, maka cepat dia mengerahkan ilmu I-kiong-hoan-hiat.

"Tukkk!"

Jalan darah di pundak itu tertotok dengan cepat sekali oleh ujung tongkat.

Im Seng Cu memang seorang ahli totok yang hebat, akan tetapi sekali ini dia terkejut, setengah mati melihat totokannya itu tidak merobohkan si pemuda, sebaliknya dengan Tai-lek-kim-kong-jiu Tiong Li menyerangnya dan menangkap tongkatnya.

Demikian hebatnya pukulan kilat itu sehingga Im Seng Cu terpaksa melompat ke belakang dan melepaskan tongkatnya yang terampas oleh Tiong Li.!

Kiranya ilmu I-kiong-hoan-hiat yang dapat memindahkan jalan darah dan menahan aliran darah itu membuat dia kebal terhadap totokan yang tepat mengenai jalan darah di pundaknya itu tidak mengenai jalan darah yang sudah dipindahkan, maka dia pun tidak terpengaruh.

"Siancai...! Engkau memang hebat sekali, orang muda!"

Kata Im Seng Cu memuji dan dia menyambut ketika Tiong Li mengembalikan tongkatnya, lalu melangkah kebelakang dengan wajah agak basah oleh keringat.

Melihat ini, dua orang Tosu yang lain menjadi gembira bukan main.

Pemuda itu dapat menandingi bahkan mengugguli Im Seng Cu, ini hebat!

Ban Hok Seng-jin lalu maju dan mencabut pedangnya.

"Tan-Sicu, Pinto juga ingin sekali merasakan kelihaianmu. Akan tetapi karena Pinto biasa menggunakan pedang, maka sekarangpun terpaksa Pinto mempergunakan pedang. Harap kau orang muda suka menggunakan senjata pula, karena kalau bertangan kosong sungguh membuat Pinto merasa tidak enak."

"Koko, kau pergunakanlah pedangku ini!"

Tiba-tiba Siang Hwi berkata sambil memberikan pedangnya kepada Tiong Li.

Pemuda itu meragu.

Kekasihnya adalah murid Ban-Tok Sian-Li maka pedangnya tentu pedang beracun dan dia tidak mau mempergunakan pedang beracun, akan tetapi untuk menolaknyapun dia merasa tidak enak terhadap kekasih nya.

Agaknya Siang Hwi memaklumi keraguan kekasihnya, maka ia tersenyum manis dan berkata .

"Koko, jangan khawatir. Pedangku ini bersih!"

Tiong Li menjadi girang sekali dan tanpa ragu lagi dia menerima pedang itu, sebatang pedang yang terbuat dari baja yang baik sehingga mengkilat bersih.

Tidak ada tanda-tanda bahwa pedang itu mengandung racun.

Dia memegang pedang menghadapi Ban Hok Seng-jin.

"Kalau Totiang memaksa hendak menguji ilmu pedang, silakan, Totiang. Saya sudah bersiap!"

Katanya sambil melintangkan pedangnya di depan dada.

Biarpun kelihatannya dia hanya melintang kan pedangnya depan dada bertemu dengan ujung jari tangan kirinya yang juga berada di depan dada dengan lengan terlipat, namun sesungguhnya itu adalah sebuah pasangan dari ilmu pedang Hui-eng-kiam-hoat (ilmu Pedang Garuda Terbang), yaitu pasangan Garuda Melipat sayapnya.

"Bagus, kalau begitu sambutlah seranganku ini, orang muda!"

Bentak Ban Hok Seng-jin yang sudah menyerang dengan sabetan pedangnya dari kiri ke kanan.

Sepasang lengan yang membentuk sayap dilipat itu terbuka dan pedang di tangan Tiong Li menangkis.

Pedang beradu beruntun sampai tiga kali dan mereka masing-masing menarik pedangnya untuk diperiksa.

Ternyata pedang tidak menjadi rusak hanya Ban Hok Sen-jin merasa betapa tangannya tergetar keras.

Maka dia lalu menyerang lebih hebat lagi.

Pedangnya lenyap, bentuknya berubah menjadi sinar bergulung-gulung menyilaukan mata.

Tosu ini memang seorang ahli pedang yang pandai sekali, Akan tetapi Tiong Li mengimbanginya dengan ilmu meringankan tubuh Jauwsang-hui.

Tubuh pemuda yang memainkan ilmu pedang Hui-eng-kiam-hoat ini seperti berubah menjadi seekor burung walet yang amat lincah.

Beterbangan ke sana sini di antara sambaran pedang lawan dan pedangnya sendiri pun digerakkan membalas dengan serangan yang tidak kalah hebatnya.

Terjadi saling serang dengan hebatnya, ditonton dua orang Tosu dan juga Siang Hwi yang merasa semakin kagum kepada kekasihnya, ia melihat tubuh kekasihnya itu seperti berubah.

menjadi bayangan yang berkelebatan di antara dua gulungan sinar pedang.

Tentu saja Tiong Li tidak ingin merobohkan atau melukai lawan maka dia mencari akal bagaimana untuk mencapai kemenangan tanpa harus melukai lawan.

(Lanjut ke

Jilid 09) Mestika Golok Naga (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo

Jilid 09 Akhirnya dia mendapatkan akal.

Pada saat pedang lawan menusuk ke arah lehernya, dia memapak!

Dengan pedangnya dan mengerahkan sin-kang menyedot pedang itu sehingga pedang Tosu itu melekat pada pedangnya.

Diputarnya pedang itu dengan pengerahan sin-kang sehingga mau tidak mau pedang Tosu itu ikut berputar.

Pada saat kedua pedang berputar itulah, Tiong Li menyerongku pedangnya dan menusuk ke depan, mengancam pergelangan tangan lawan!

Ban Hok Seng-jin terkejut bukan main ketika tahu-tahu pergelangan tangannya sudah terancam ujung pedang lawan.

Untuk melindungi pergelangan tangannya.

Terpaksa dia melepaskan pedang yang menempel pada pedang lawan itu dan melompat ke belakang.!

Pedangnya masih menempel pada pedang Tiong Li yang kemudian mengambilnya dan menyodorkan kepada pemiliknya, mengembalikannya sambil berkata.

"Terima kasih bahwa Totiang telah mengalah kepada saya."

"Siancai...!"

Ban Hok Seng-jin menerima kembali pedangnya dan memandang penuh kagum.

"Belum pernah Pinto bertemu tanding seperti engkau, orang muda. Kalau boleh Pinto bertanya, ilmu pedang apakah yang kau mainkan itu?"

"Itu adalah Hui-eng-kiam-hwat, Totiang."

"Hui-eng-kiam-hwat? Bukankah ilmu pedang itu menjadi ilmu Pek Hong Sa-jin, pertapa di Pek-hong-san?"

"Beliau adalah seorang di anta guru-guru saya, Totiang."

"Siancai...! Pantas engkau begitu lihai!"

Kata Ban Hok Seng-jin kagum.

"Dan siapakah guru-gurumu yang lain, orang muda?"

Kini Sin Gi Tosu yang bertubuh tinggi besar.

"Saya masih mempunyai dua orang guru lagi, Totiang, yaitu Thian Kui Lo-jin dan Tee Kui Lo-jin."

"Wah, sepasang pendekar sakti dari puncak Ki-Lin-San? Bukan main!"

Seru Sin Gi Tosu sambil menyelipkan kebutannya di pinggangnya.

"Kalau begitu Pinto tidak ingin mencoba ilmu silatmu, orang muda, karena Ilmu silatmu yang diajarkan oleh tiga orang sakti itu pasti hebat. Pinto ingin menguji ketangguhan tenagamu."

"Silakan, Totiang,"

Kata Tiong Li sambil mengembalikan pedang kepada Siang Hwi.

"Nah, sambutlah ini, orang muda!"

Kata Sin Gi Tosu sambil mendorong dengan kedua tangan terbuka ke depan, kearah dada Tiong Li.

Pemuda itu melihat dorongan itu mengandung kekuatan yang hebat dan angin dahsyat menyambar, segera memasang kuda-kuda dan diapun menggerak kan kedua tangan terbuka ke depan dengan ilmu Thai-lek-kim-kong-jiu.

Dua tenaga sin-kang amat kuat bertemu di udara dan keduanya seolah bertemu dengan dinding baja yang kuat.

Keduanya saling dorong dan mengerahkan tenaga.

Tiong Li maklum bahwa biarpun adu kepandaian seperti ini nampaknya tidak apa-apa karena tangan merekapun tidak saling menyentuh, akan tetapi sesungguhnya amatlah berbahaya.

Kalau seorang di antara mereka sampai tidak kuat menahan dan tenaga yang lain terlanjur mendesak, maka yang tidak kuat itu dapat menderita luka parah!

Karena itu, diapun hanya bertahan saja dan tidak mau mendesak maju.

Karena itu, Sin Gi Tosu merasa seolah-olah kedua telapak tangannya menolak sebuah bukit karang yang amat Kokoh kuat.

Betapapun dia mengerahkan tenaga, dia tidak mampu mendorong mundur kedua tangan pemuda itu.

Sampai beberapa lamanya keduanya hanya saling bertahan dan perlahan-lahan muka Sin Gi Tosu menjadi kemerahan dan berkeringat.

Dia merasa penasaran sekali.

Dia yang sudah berlatih selama puluhan tahun, harus mengaku kalah terhadap seorang pemuda yang pantas menjadi cucunya?

Dia lalu mengeluarkan suara bentakan panjang dan kedua tangannya mendorong sepenuh tenaga.

Tiong Li yang hanya bertahan, terdorong ke belakang, akan tetapi kedudukan kuda-kuda kakinya masih tetap tidak bergeming.

Sebaliknya, Sin Gi Toso kehabisan tenaga dan dia terhuyung kedepan, terengah-engah.

Dia tidak sampai terluka karena Tiong Li tidak mendorongkan tenaganya, hanya terguncang karena tenaganya yang bertemu tenaga yang lebih kuat itu membalik.

Cepat Sin Gi Tosu duduk bersila dan mengatur pernapasan untuk menjaga agar di dalam tubuhnya tidak sampai terluka.

Kemudiian dia bangkit berdiri danwajahnya penuh kagum.

"Siancai...! Dalam hal tenaga sin-kang, engkaupun telah mewarisi tenaga yang luar biasa sekali, Tan-Sicu Pinto mengaku kalah."

Tiba-tiba Im Seng Cu tertawa.

"Ha ha, engkau yang begini muda sudah berhasil menundukkan kami tiga orang tua, Tan-Sicu. Akan tetapi andaikata kami belum menyadari kekeliruan kami dan kami bertiga maju bersama, engkau tentu akan kalah dan mungkin engkau dapat tewas di tangan kami. Kami bersalah, dan kami mengaku kalah, selamat tinggal, Sicu. Teruskanlah perjuanganmu demi membebaskan tanah air dan bangsa dari penjajah,"

Setelah berkata demikian, tiga orang Tosu itu lalu melompat pergi tanpa menengok lagi dan mereka langsung saja pulang ke utara, dan tidak singgah lagi di ruman kediaman Perdana Menteri Jin Kui.

Peristiwa itu diintai oleh mata-mata Jin Kui yang segera melapor kepada Perdana Menteri itu sehingga dia menjadi semakin marah dan mendendam kepada Tiong Li.

Sementara itu, Tiong Li dan Siang Hwi juga meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan usaha mereka mencari Ban-Tok Sian-Li.

Di lereng bukit Thai-mu-san terdapat sebuah perkampungan yang merupakan pusat dari perkumpulan Pek-Eng-Pang (Perkumpulan Garuda Putih).

Perkumpulan ini merupakan perkumpulan yang cukup besar, dengan anggauta lebih dari dua ratus orang.

Mereka itu selain merupakan perguruan silat, juga membuka perusahaan piau-kiok (pengawalan kiriman barang) yang terkenal ditakuti para penjahat sehingga banyak langganan mereka yang mengirim barang melalui piauw-kiok ini.

Hanya dengan bendera yang bergambar garuda putih di atas gerobak barang, para perampok tidak berani mengganggu.

Perusahaan piau-kiok mereka berada di kota Nan-king, tak jauh dari bukit itu, juga di Nan-king ini mereka membuka perguruan silat yang memungut bayaran.

Dari hasil perguruan dan piauwkiok, keadaan perkumpulan ini cukup makmur.

Pek-Eng-Pang dipimpin oleh ketuanya yang bernama Thio Cin Kang, seorang pendekar yang gagah perkasa.

Ketua ini berusia kurang lebih empatpuluh tahun, bertubuh tinggi tegap dan wajahnya gagah sekali.

Wajah yang jantan dan sikapnya berwibawa namun lembut.

Selain itu, ilmu kepandaian Thio Cin Kang ini juga tinggi.

Dia pernah menjadi murid Kun-lun-pai, akan tetapi juga pernah mempelajari ilmu silat berbagai aliran sehingga dia mahir banyak macam ilmu silat sehingga menjadi seorang ahli silat yang tangguh.

Akan tetapi biarpun dia lihai dan tubuhnya tinggi besar wajahnya jantan gagah, Thio Cin Kang ini memiliki perangai yang lembut dan bijaksana.

Tidak mengherankan kalau semua anak buahnya tunduk kepadanya dan amat taat.

Akan tetapi, biarpun hidupnya serba kecukupan dengan hasil usahanya, namun kehidupan rumah tangga ketua ini sungguh menyedihkan.

Setelah menikah selama belasan tahun, isterinya tidak mempunyai keturunan dan baru beberapa bulan yang lalu, isterinya yang akhirnya mengandung itu keguguran yang berakibat matinya isteri itu!

Dia kehilangan isterinya dan masih juga belum mempunyai keturunan.

Peristiwa ini memukul hebat batin Thio Cin Kang sehingga dia menjadi kurus dan muram.

Setelah lewat setengah tahun kematian isterinya, para pembantunya dengan halus mencoba membujuknya agar dia menikah lagi untuk menyambung keturunan, akan tetapi dia selalu menolak dan mengatakan tidak mungkin dia dapat hidup berbahagia dengan seorang wanita lain karena tentu tidak akan cocok wataknya.

Dan semenjak itu dia menaruh dendam kepada para perampok.

Kematian isterinya itu dianggapnya akibat dari ulah para perampok.

Sebetulnya, ketika sedang mengandung, isterinya mengadakan perjalanan pulang ke dusun untuk menengok orang tuanya.

Karena perjalanan itu tidak terlalu jauh, dan dia mempunyai banyak kesibukan, Thio Cin Kang tidak mengantarkan, hanya menyuruh pembantu-pembantunya mengawal kepergian isterinya.

Dan ditengah perjalanan, rombongan itu dihadang perampok!

Agaknya gerombolan perampok yang baru datang dari lain daerah sehingga belum mengenal Pek-eng-piauwkiok.

Para perampok itu menyerang dan sempat membakar kereta sehingga isteri Thio Cin kang buru-buru turun dari kereta dan berlindung.

Akhirnya gerombolan perampok dapat dipukul dan melarikan diri.

Akan tetapi isteri Thio Cin Kang mengalami kekagetan dan inilah yang dianggap oleh Thio Cin Kang menjadi penyebab keguguran Isterinya.

Dan sejak itu, serlngkali dia pergi seorang diri untuk menghajar gerombolan perampok!

Thio Cin Kang Juga simpati kepada perjuangan.

Dia menganjurkan agar anak buahnya membantu kalau melihat para pejuang bertempur melawan pasukan Kin yang melanggar perbatasan.

Walaupun tidak langsung aktip dalam perjuangan, akan tetapi Thio Cin Kang mendukung perjuangan itu dan siap membantu sewaktu-waktu.

Oleh karena itu namanya juga dihormati di kalangan para pejuang dan karena dia tidak aktip, pemerintah tidak memusuhinya sebagal pemberontak.

Pada suatu pagi.

seperti biasa Thio Cin Kang yang belum pulih dari kesedihannya ditinggal mati isterinya dengan pedang di punggung, berkeliaran menuruni bukit Thian-mu-san.

Tiba-tiba dia mendengar suara ribut dan melihat bahwa terjadi pertempuran di sebuah hutan.

Ketika dia lari mendekati, dia melihat seorang wanita cantik sedang dikeroyok oleh dua puluh lebih orang yang tinggi besar dan nampak garang.

Melihat sikap mereka, piauw-su (pengawal barang) yang sudah berpengalaman itu maklum bahwa dia berhadapan dengan gerombolan perampok yang sedang mengganggu seorang wanita.

Wanita itu cantik bukan main, jelita dan juga lihai ilmu silatnya.

Dengan sebatang golok di tangan, wanita Itu mengamuk dan sudah merobohkan beberapa orang.

Akan tetapi pengeroyoknya yang banyak itu mengepungnya dengan ketat.

Melihat ini, tanpa banyak cakap lagi Thio Cin Kang membentak, nyaring.

"Perampok-perampok laknat!"

Seolah olah dia melihat isterinya sendiri dikeroyok dan terancam oleh para perampok maka setelah mencabut pedangnya dia lalu mengamuk!

Dia tidak memperkenalkan diri karena dia memang ingin membasmi para perampok itu.

Wanita itu bukan lain adalah Ban-Tok Sian-Li Souw Hian Li.

Sebagai wanita sakti yang angkuh, ia merasa tidak senang melihat ada orang membantunya, apa lagi yang mengamuk demikian hebatnya sehingga sebentar saja telah merobohkan lima orang.

Iapun tidak mau kalah dan menggerakkan Mestika Golok Naga dengan hebat sehingga kedua orang itu seperti berlumba saja merobohkan kawanan perampok yang mengeroyok mereka.

Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, semua perampok yang berjumlah tigapuluh orang itu telah roboh semua, malang melintang dan mandi darah.!

Ban-Tok Sian-Li telah menyimpan kembali goloknya, demikian pula Thio Cin Kang telah menyimpan pedangnya.

Mereka berdiri saling pandang Thio Cin Kang tidak menyembunyikan kekagumannya, bukan hanya kagum akan kecantlk jelitaan wanita itu, melainkan lebih-lebih lagi akan kegagahannya.

Juga Ban-Tok Sian-Li melihat seorang pria yang jantan dan gagah, namun sinar matanya lembut.

Biarpun demikian, ia mengerutkan alisnya dan merasa tidak senang.

"Kenapa engkau membantuku?"

Tanyanya tidak ramah. Thio Cin Kang cepat menghampiri dan mengangkat kedua tangan depan dada.

"Harap suka memaafkan aku, nona. Melihat seorang wanita di kepung dan di keroyok penjahat-penjahat laknat ini, terpaksa aku turun tangan membantu, sungguhpun sekarang aku menyadari bahwa tanpa dibantu sekalipun engkau akan dapat membasmi mereka."

Ucapan ketua itu lembut dan ramah.

"Aku tidak membutuhkan bantuanmu!"

"Aku tahu, nona. Akan tetapi baru sekarang aku tahu. Tadi aku khawatir kalau-kalau nona terancam bahaya maka aku membantu. Harap sekali lagi suka memaafkan aku."

Sikap orang itu sungguh menyenangkan hati dan karena hatinya merasa senang itulah Ban-Tok Sian-Li menjadi semakin marah ia marah kepada diri sendiri yang merasa tertarik dan suka disertai kegum kepada pria asing Itu!

"Enak saja engkau minta maaf.

Engkau sengaja memamerkan kepandaianmu kepadaku!

Engkau memandang rendah kepadaku.

Nah aku ingin tahu sampai di mana tingginya kepandaianmu!"

Setelah berkata demikian, wanita itu tanpa banyak cakap lagi lalu menyerang dengan tamparan tangan kanannya.

Thio Cin Kang terkejut dan cepat mengelak.

Akan tetapi luputnya tamparan itu membuat Ban-Tok Sian-Li Semakin penasaran dan menganggap orang itu menantangnya, maka ia terus bergerak menyerang secara bertubi-tubi!

Terpaksa Thio Cin Kang tidak hanya mengelak, melainkan harus menangkis karena Serangan-serangan itu semakin lama semakin dahsyat.!

Mulai timbul kegembiraan di hati Thio Cin Kang.

Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, diapun memiliki penyakit yang sama, yaitu suka bertanding silat, apa lagi dia tertarik sekali kepada wanita ini dan ingin menguji sampai di mana kelihaiannya.

Dia menganggap wanita ini seperti orang-orang kang-ouw lainnya, hendak mengujinya.

Maka, mulailah dia balas menyerang dengan tidak kalah dahsyatnya!

Akan tetapi tentu saja hanya untuk menguji, bukan untuk mencelakai wanita yang begitu bertemu telah membuat dia tertarik!

Sekali itu.

Belum pernah selama hidupnya dia bertemu dengan wanita yang demikian cantik jelita dan sekaligus demikian tinggi ilmu silatnya.

Kalau Thio Cin Kang hanya hendak mengaji kepandaian wanita itu, sebaliknya Ban-Tok Sian-Li yang merasa ditantang, menyerang dengan sungguh-sungguh dan ia mulai jengkel setelah lewat lima puluh jurus ia belum juga mampu mengalahkannya dengan Ilmu silat, Akan tetapi setelah ternyata pria itu cukup tangguh sehingga agaknya kalau hanya mengandalkan ilmu silat ia tidak akan mampu mengalahkannya, mulailah ia mengerahkan tenaganya sehingga kedua tangannya mengandung hawa beracun yang amat jahat.!

Thio Cin Kang terkejut bukan main ketika menangkis tangan wanita itu, merasa kulit lengannya panas dan perih, kemudian ketika tangan wanita itu berhasil menggores kulit lengannya, terasa gatal dan panas seperti dibakar.!

Dia terkejut dan gerakan refleksnya membuat dia mengeluarkan ilmu tendangannya yang amat hebat, yaitu iImu tendangan Thai-lek-tui (Tendangan Kilat) sehingga Ban-Tok Sian-Li tidak dapat mengelak dan pahanya tertendang.

Untung baginya Thio Cin Kang membatasi tenaganya sehingga ia hanya terhuyung saja.

"Ah, maafkan aku, nona...!"

Kata-nya.

"Aku belum kalah!"

Bentak Ban-Tok Sian-Li dengan marah sekail dan ia sudah mendesak maju lagi dan tangan kirinya menghantam ke dada.

Thio Cin Kang mengelak, akan tetapi tiba-tiba ia merasa dadanya nyeri sekali dan dia terpelanting jatuh, dadanya telah terluka ketika bajunya ditembusi jarum Ban-Tok Sian-Li!

Sambil mendekap dadanya dia mencoba bangkit dan memandang kepada Ban-Tok Sian-Li.

"Engkau...engkau hebat sekali, nona. Aku mengaku kalah!"

Katanya dengan kagum, sedikitpun tidak merasa menyesal telah dilukai sedemikian rupa oleh wanita itu.

"Hemm, engkau telah terluka oleh Ban-tok-ciam dan dalam waktu duapuluh empat jam engkau akan mati. Tidak ada obat di dunia ini dapat menyelamatkan mu"

Akan tetapi gertakan ini tidak membuat pria itu ketakutan, bahkan dia tersenyum sambil menyeringai menahan sakit.

"Kalau begitu, selamat tinggal dunia yang penuh kesedihan dan kepalsuan ini. Selamat tinggal duka dan sengsara!"

Ban-Tok Sian-Li terbelalak heran Belum pernah ia melihat orang bersikap seperti ini menghadapi siksaan dan kematian yang mengerikan.

"Engkau tidak takut dan tidak sedih menghadapi kematian?"

"Kenapa mesti takut dan sedih? Kematian merupakan kebebasan dari alam kesengsaraan bagiku. Aku bahkan berterima kasih kepadamu, nona. Engkau membebaskan aku dari duka. Mati di tanganmu tidak mendatangkan penasaran, bagiku. Engkau begini cantik, engkau begini lihai."

"Engkau akan mati dan anak isterimu akan menangisimu. Mereka akan berkabung dan bersedih. Apa engkau tidak kasihan kepada anak isterimu?"

Thio Cin Kang kembali tersenyum dan Ban-Tok Sian-Li merasa aneh.

Orang ini mengobral senyum dalam menghadapi maut!

"Tidak ada seorangpun yang akan menangisi kematianku, nona.

Aku tidak mempunyai anak dan isteriku telah meninggal dunia setengah tahun yang lalu.

Aku hanya mohon kepadamu, kalau nona sudi memenuhi permohonan terakhir dariku..."

Ban-Tok Sian-Li mengerutkan alisnya, ia merasa heran kepada diri sendiri kenapa tidak ditinggalkan saja sejak tadi orang itu, seperti biasa kalau ia membunuh orang, melainkan dilayaninya bicara panjang lebar, bahkan kini orang itu mengajukan permohonan dan ia masih melayaninya!

"Permohonan apakah itu?"

"Di lereng bukit ini terdapat sebuah perkumpulan Pek-Eng-Pang. Akulah ketua perkumpulan itu dan tolonglah...beri tahu kepada mereka bahwa aku mati di sini agar mereka dapat mengetahui dan menguburkan. Sudikah engkau., nona yang baik?"

Ban-Tok Sian-Li makin kaget.

la sudah mendengar akan nama besar Pek-Eng-Pang sebagai perkumpulan gagah perkasa yang suka membantu para pejuang, la makin gemas karena pria itu tidak memakinya, tidak mencacinya, bahkan menyebutnya nona yang baik.!

"Aku bukan nona yang baik!

Aku kejam, aku telah meracunimu, aku telah membunuhmu.

Lupakah engkau akan kenyataan ini?"

"Sudah kukatakan, aku tidak mendendam. Aku bahkan berterima kasih kepadamu, nona. Maukah... maukah engkau memenuhi permohonanku tadi?"

Orang aneh!

Orang gagah!

Orang jantan yang berani mati.

Orang sengsara yang hidup sebatang kara tanpa isteri tanpa anak, tidak ada yang menyedihi kematiannya.

Tiba-tiba Ban-Tok Sian-Li berlutut di dekat orang itu dan mendorongnya.

"Rebahlah telentang!"

Perintahnya.

"Eh, ada apa...? Engkau... engkau mau apa?"

"Cerewet! Diamlah dan telentanglah!"

Kembali ia memerintah.

Thio Cin Kang menjatuhkan diri telentang.

Jari-jari yang mungil itu dengan cekatan lalu membuka kancing baju itu sehingga nampak dada yang bidang dan tegap itu telanjang.

Ban-Tok Sian-Li lalu menotok dengan telunjuknya ke arah sekeliling luka di dada untuk menghentikan jalan darahnya, kemudian tanpa ragu lagi ia lalu menempelkan bibirnya pada dada yang terluka, menghisap keluar Jarum yang mengeram ke dalam daging.

Thio Cin Kang memejamkan matanya.

Bukan karena nyerinya.

Nyerinya dapat dia pertahankan, bahkan lebih dari itupun dia dapat menahannya.

Akan tetapi, muka yang halus itu, rambut yang harum itu, dan terutama bibir hangat yang menempel dan menghisap di dadanya itu.

Tidak kuat dia membuka matanya karena itu semua.

Dia merasa seperti dalam mimpi indah.

Wanita itu menghisap luka nya!

Luka beracun di dadanya yang telanjang.

Benar-benarkah hal seperti ini dapat terjadi?

Hisapan itu berhenti dan bau harum itu menjauh.

Dia membuka matanya.

Wanita itu memandang kepadanya.

"Jarum itu sudah keluar, akan tetapi tanpa obat pemunah dariku, engkau tetap saja akan mati."

"Kuserahkan nyawaku di tanganmu, nona... eh, nyonya... maafkan aku..."

Wanita yang usianya tentu sudah lebih, dari pada tampaknya itu tentu saja sudah bersuami. Betapa bodohnya membayangkan yang bukan-bukan. Tidak tahu malu! "Plaakkk!"

Tiba-tiba pipinya ditampar! Dia terkejut dan terbelalak! Baru saja menyedot racun dari luka dil dadanya dan kini sudah menghadiahi sebuah tamparan keras! Betapa anehnya wanita ini.

"Ehh, kenapa...?"

Tanyanya gagap.

"Aku belum pernah menikah dan engkau berani menyebutku nyonya?"

"Aih, maafkan aku, nona. Eh, aku... aku sungguh tidak tahu, dan agak nya sekarang aku dapat menduga siapa adanya nona. Bukankah nona yang berjuluk Ban-Tok Sian-Li?"

"Hemm, engkau sudah mengenal namaku. Baik sekali, engkau akan mati dengan mengenal siapa pembunuhmu. Aku memang Ban-Tok Sian-Li Souw Hian Li, majikan dari Lembah Maut..."

Tiba-tiba suaranya melemah karena ketika menyebutkan tempat itu, ia teringat betap tempat itu telah terbasmi habis.

"Aku akan mati dengan mata terpejam, nona."

"Tidak, engkau tidak akan mati Kau kira percuma saja aku menyedot keluar jarum tadi?"

La mengeluarkan bubuk obat penawar racun itu dan membubuhkan obat itu kepada luka di dada, menekan-nekannya, kemudian ia mengeluarkan sebotol kecil arak dan menyuruh minum arak bercampur obat.

Setelah diobati dan minum arak obat, Thio Cin Kang tidak merasa sakit lagi pada dadanya.

Dia mengancingkan lagi bajunya, kemudian ikut pula berdiri seperti Ban-Tok Sian-Li.

"Nona Souw, aku Thio Cin Kang menghaturkan banyak terima kasih kepadamu yang sudah mengampuni aku dan menyelamatkan aku dari maut. Telah lama aku mendengar nama besar nona sebagai seorang yang membantu perjuangan dan aku kagum sekali kepadamu, nona."

"Hemm, tadi engkau berterima kasih karena aku hendak membunuhmu, sekarang berterima kasih karena aku menyelamatkanmu. Sebenarnya, apa yang kau kehendaki? Engkau tadi ingin mati, sekarang ingin hidup!"

Thio Cin Kang menarik napas panjang.

"Nona Souw, setengah tahun yang lalu, isteriku keguguran dan meninggal dunia. Aku sudah menjadi putus asa, tidak mempunyai isteri tidak mempunyai anak, dan biarpun semua orang membujukku untuk menikah lagi, aku tidak menemukan orang yang cocok. Aku bosan hidup dan ingin mati saja. Akan tetapi setelah bertemu denganmu, nona. Aku kagum bukan main! Aku rela mati di tanganmu, dan sungguh amat berbahagia bahwa nona tidak membunuhku bahkan menyelamatkan aku. Nona memberi harapan baru bagiku. Kalau saja nona sudi memberi kesempatan kepadaku untuk membantumu, membantu apa saja, aku rela mengorbankan nyawaku untuk membantu dan membelamu, nona Souw."

Souw Hian Li menjadi merah sekali wajahnya, la bukan anak kecil, ia tahu apa yang tersembunyi di balik dada yang bidang itu, yang terkandung di dalam hati pria ini.

Akan tetapi ia pura-pura tidak mengerti dan bertanya.

"Thio-Pangcu, mengapa engkau begitu mati-matian percaya kepadaku dan menyerahkan nyawamu kepadaku? Mengapa pula engkau rela berkorban untuk membantuku, rela berkorban nyawa sekalipun untuk membelaku? Mengapa? Aku suka akan sikap yang terus terang, tidak bersembunyi-sembunyi dan bertele-tele!"

Thio Cin Kang menelan ludahnya untuk memberanikan dirinya.

"Mungkin mendengar ucapanku, nona akan menjadi begitu marah dan turun tangan membunuhku. Kalau begitu halnya, aku siap menerima kematian di tanganmu. Terus terang saja, nona. Begitu bertemu denganmu, melihatmu dan melihat sikapmu; mendengar suaramu, aku langsung jatuh cinta kepadamu, nona Souw. Kalau ada wanita di dunia ini yang kuingin mengambil sebagai isteriku, engkaulah wanita itu dan tidak ada lain wanita lagi!"

Mendengar pengakuan yang demikian jujur dan gagahnya, Souw Hian Li tercengang dan tertegun, walaupun ia sudah menduganya bahwa pria itu jatuh cinta kepadanya, la menanyai hatinya sendiri dan harus diakuinya bahwa pria ini lain dari pada pria lain.

Begitu jantan, begitu gagah, begitu jujur.

Kelembutan hatinya sebagai wanita tersentuh sebagaimana yang belum pernah dirasakan sebelumnya dan ia menundukkan mukanya yang kemerahan dengan sikap tersipu malu, seperti seorang gadis belasan tahun menerima pernyataan cinta seorang perjaka.!

Thio Cin Kang juga bukan seorang pria muda.

Usianya sudah empat puluh tahun dan sungguhpun dia bukan tergolong pria yang mata keranjang, namun dia sudah dapat membaca isi hati wanita yang berdiri di depannya dengan muka ditundukkan dan tersipu itu.

"Li-moi...!"

Dia berbisik.

Souw Hian Li terkejut.

Panggilan itu begitu terasa asing baginya, asing akan tetapi begitu merdu dan manis, la mengangkat muka memandang.

Dua pasang mata bertemu, bertaut sampai lama, kemudian Hian Li menunduk lagi.

"Pang-cu, jangan begitu tergesa..."

"Kenapa, Li-moi? Bukankah engkau menghendaki keterus-terangan? Dan aku Sudah membukakan pintu hatiku, mengeluarkan semua rahasia hatiku kepadamu. Aku jatuh cinta kepadamu, Li-moi, dan kalau engkau sudi, aku ingin sekali hidup bersamamu, sebagai suami isteri, membentuk kehidupan baru yang penuh damai dan ketenteraman. Sudikah engkau, Ll-moi?"

"Nanti dulu, Thio-Pangcu..."

"Mohon jangan sebut aku pang-cu Li-moi. Terdengarnya begitu asing. Mau kah engkau menyebut Toako kepadaku?"

"Baiklah, Thio-Twako. Akan tetapi kukatakan bahwa engkau tidak perlu tergesa-gesa... Kalau memang kita berjodoh, tidak akan ada yang menghalanginya. Aku hidup seorang diri dan engkau juga seorang diri, jadi apa halangannya? Engkau cinta padaku dan aku... aku kagum dan suka kepadamu. Akan tetapi kita baru saja bertemu dan aku masih mempunyai tugas yang harus kuselesaikan."

"Tugas apakah itu, Li moi? Aku akan membantumu!"

"Tugas membunuh Perdana Menteri Jin Kui!"

Thio Cin Kang terkejut dan terbelalak memandang kepada wanita itu.

"Engkau bersungguh-sungguhkah, Limoi? Membunuh Perdana Menteri Jin Kui?"

"Ya! Mengapa.? Engkau takut?"

"Tidak seujung rambutpun aku takut dalam membantu dan membelamu, Li moi. Aku hanya terkejut karena tugas itu sungguh sama sekali tidak ringan dan amat sukar. Perdana Menteri Jin Kui yang jahat dan licik itu terlindung oleh jagoan-jagoan yang tinggi ilmunya. Akan tetapi lebih dulu aku ingin tahu, mengapa engkau hendak membunuhnya?"

"Mengapa? Dia menyuruh pasukan dan para jagoannya untuk membasmi tempat tinggal kami. Lembah Maut di Sungai Yang-ce. Karena dia anak buahku banyak yang tewas dan tempat tinggalku dirampok dan dibakar. Aku harus membunuh anjing penjilat dan pengkhianat itu!"

"Hampir semua pejuang mempunyai keinginan yang sama. Akan tetapi betapa sukarnya. Biarpun demikian, aku akan membantumu, Li-moi. Biar untuk itu kukorbankan nyawaku, aku siap membantumu. Akan tetapi agar usaha kita tidak mengalami kegagalan seperti yang pernah dilakukan para pejuang, kita harus mempergunakan siasat dan mengatur yang matang. Marilah, Li-moi. Marilah engkau singgah di tempat kami agar kita dapat membicarakan rencana siasat itu lebih matang lagi."

"Baik, Twako. Dengan bantuanmu, kuharap akan dapat membalas dendamku kepada pengkhianat itu!"

"Ada Satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepadamu, Li-moi. Aku akan selalu merasa penasaran sebelum mendapat keteranganmu."

"Hal apakah itu? Tanyakanlah, akan kujawab."

"Tentang senjatamu itu. Kalau aku tidak salah sangka, bukankah itu yang disebut Mestika Golok Naga, golok milik istana yang telah dicuri orang? Bagaimana dapat berada padamu? Aku tidak percaya bahwa engkau..."

"Kenapa berhenti bicara? Katakan saja bahwa engkau menduga aku pencuri golok pusaka itu, bukan? Engkau keliru, Bukan aku pencuri golok pusaka itu. Pencurinya adalah seorang kaki tangan Panglima Wu Chu dari Kerajaan Kin bernama Hak Bu Cu dan aku telah menewaskannya Golok ini telah diserahkan kepada Panglima Wu Chu dan... dan akhirnya Jatuh ke tanganku."

Tentu saja Ban-Tok Sian-Li Souw Hian Li tidak mau menceritakan cara ia merampas golok itu dari tangan Tan Tiong LI, dengan cara licik, yaitu melukai puteri Sung Hiang Bwee kemudian menukar keselamatan gadis itu dengan golok pusaka.

"Golok pusaka itu harus dikembalikan kepada Kaisar, Li-moi."

"Kelak kalau sudah tercapai maksudku membunuh Perdana Menteri Jin Kui "

Baca Juga: Dewi Maut 9

Baca Juga: Kisah Si Pedang Kilat 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert