Ceritasilat Novel Online

Kisah Si Pedang Kilat 4

Eps 4 Kisah Si Pedang Kilat - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Si Pedang Kilat - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Si Pedang Kilat - Kho Ping Hoo.

"Hemm. engkau terlalu mendesakku, Ouwyang Toan. Jangan salahkan aku kalau sampai engkau terluka."

Dia memperingatkan, merasa tidak enak sekali ketika dia melihat ke arah Hui Hong gadis itu tetap memandangnya dengan marah.

"Lihat pedang!"

Ouwyang Toan membentak, dan nampak sinar berkilat ketika pedangnya menyambar-nyambar.

Bun Houw seperti tidak melihat datangnya bahaya, bersikap acuh dan tetap memandang ke arah Hui Hong, akan tetapi begitu pedang lawan menyambar, dia sudah mengelak dengan ringan.

Memang bagi pemuda murid Tiauw Sun Ong ini, tidak perlu mempergunakan matanya ketika bertanding.

Dia biasa berlatih tanpa menggunakan penglihatan matanya, berlatih di dalam kegelapan yang pekat, bahkan berlatih dengan mata terpejam, seperti gurunya yang buta.

Karena latihan-latihan itu, seluruh bagian tubuhnya memiliki kepekaan seolah-olah di semua bagian tubuhnya terdapat mata.

Gerakannya demikian otomatis tanpa melihat lagi.

Setiap kali pedang di tangan Ouwyang Toan bertemu tongkat, terdengar suara nyaring seolah-olah tongkat butut itu merupakan sebuah benda logam yang amat kuat.

Mudah diduga bahwa tongkat butut itu menyembunyikan senjata yang terbuat dari pada baja.

Permainan tongkat Bun Houw demikian aneh, cepat dan kuat sehingga setelah lewat belasan jurus, gulungan sinar pedang Ouwyang Toan makin menyempit dan mengecil, tanda bahwa dia terdesak.

"Toan-ji, mundur, biar aku bermain-main sebentar dengan bocah ini!"

Terdengar suara yang dalam dan berwibawa.

Mendengar suara ayahnya, Ouwyang Toan terkejut dan heran, akan tetapi dia meloncat keluar dari perkelahian itu, ke dekat ayah dan adiknya.

Tentu saja dia merasa heran.

Ayahnya adalah seorang datuk besar yang tidak mau sembarangan melayani orang-orang yang rendah tingkatnya, Apalagi seorang pemuda!

Dan bagaimana mungkin pemuda ini akan mampu menandingi ayahnya?

Tingkat kepandaiannya hanya setinggi tingkatnya, tidak banyak selisihnya!"

Sementara itu, ketika kakek berusia lima-puluhan tahun yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam itu menghampirinya, Bun Houw merasa jantungnya berdebar tegang.

Dia tidak takut, akan tetapi merasa tidak enak sekali.

pria ini adalah Bu-eng-kiam Ouwyang Sek yang sudah banyak didengar namanya.

Gurunya sendiri pernah menceritakan kepadanya tentang Empat Datuk Besar.

Biarpun gurunya yang buta belum pernah melihat mereka, namun gurunya mendengar banyak tentang mereka.

Hal ini masih belum banyak artinya bagi Bun Houw.

Yang membuat dia tidak enak dan gelisah adalah karena Bu eng-kiam ini adalah ayah kandung Hui Hong!

Tadipun dia sudah merasa tidak enak harus berkelahi melawan kakak gadis itu, Apalagi sekarang dia berhadapan dengan ayahnya.

Maka, cepat dia mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat kepada orang tua itu.

"Lo-cian-pwe, harap maafkan saya. Sesungguhnya, saya tidak ingin bermusuhan atau berkelahi dengan siapapun apa lagi dengan lo-cian-pwe yang saya hormati. Tidak ada alasan bagi kita untuk bertanding dan saya tidak berani kurang ajar melawan lo-cian-pwe yang berkedudukan tinggi dalam dunia persilatan."

"Orang muda, siapa namamu?"

"Nama saya Kwa Bun Houw, locianpwee."

"Kwa Bun Houw, engkan sudah berani menentang kedua orang anakku, dan kulihat tadi ilmu pedangmu cukup baik sehingga Toan-ji tidak mampu mengalahkanmu. Sudah sepatutnya kalau aku mengukur sampai di mana kehebatan Ilmu pedangmu yang tersembunyi dalam tongkat. Biarlah aku melawan pedangmu itu dengan tangan kosong, agar jangan dikatakan aku yang tua menghina yang muda. Hayo maju dan seranglah aku."

"Saya tidak berani, lo-cian-pwe."

Alis yang tebal itu berkerut.

"Berani atau tidak, tidak perduli! Engkau harus menyerangku, atau aku akan tutun tangan membunuhmu. Aku membenci seorang penakut!"

"Kalan begitu, biar lo-cian-pwe yang menghajar dan membunuh saya, dan saya akan mencoba untuk membela diri,"

Kata Bun Houw yang tetap tidak mau mendahului menyerang. Ouwyang Sek mendengus.

"Huh, memang kau sudah bosan hidup. Kalau engkau menyerang dulu, paling banyak aku hanya akan menjatuhkanmu. Akan tetapi, kalau sekali aku menyerang, aku tidak akan berhenti sebelum orang yang kuserang mampus!"

"Terserah kepada lo-cian-pwe. Saya tidak akan berani menyerang lebih dulu."

Kata Bun Houw sambil memandang ke arah Hui Hong.

Dia melihat betapa Hui Hong berdiri dengan alis berkerut dan muka berubah agak pucat.

Jelas gadis itu nampak gelisah sekali dan diam-diam ada perasaan lega dan girang dalam hati Bun Houw.

Gadis itu mengkhawatirkan keselamatannya!

ini saja sudah cukup mengobati semua kegelisahannya!

Hui Hong mengkhawatirkan dirinya.

Hal ini hanya berarti bahwa gadis itu diam-diam suka kepadanya dan tidak membencinya seperti diperlihatkan dalam sikapnya tadi.

Sungguh membuat dia semakin bingung karena dia tidak dapat mengetahui bagaimana sebenarnya isi hati gadis itu.

Bu-eng-kiam Ouwyang Sek tentu tidak akan dikenal sebagai seorang di antara Empat Datuk besar kalau wataknya tidak aneh, di samping ilmu silat tinggi yang dimilikinya.

Dia aneh, wataknya keras dan kadang amat kejam, akan tetapi juga adil, bahkan kadang dapat lembut seperti seorang gagah atau seorang pendekar sejati.

Sikapnya selalu tengantung dari keadaan perasaannya pada saat itu yang berubah-ubah seperti pasang surutnya air laut.

Saat itu hatinya sedang kesal dan marah karena mustika Akar Bunga Gurun Pasir miliknya yang dicuri dan dilarikan Pek I Mo-ko belum dapat kembali kepadanya.

Dalam keadaan kecewa dan marah ini, dia bertemu Bun Houw yang dianggapnya berani memusuhi puterinya dan puteranya.

Tentu saja timbul perasaan benci terhadap pemuda itu.

"Engkau benar-benar sudah bosan hidup! Baik, akan kuantar engkau ke neraka!"

Bentak datuk itu dan begitu tubuhnya bergerak, tangan kirinya sudah menyambar ke arah pelipis kanan Bun Houw.

Gerakannya demikian cepat dan kuat sehingga sebelum pukulan tiba, angin pukulan dahsyat telah menyambar.

Bun Houw menjadi serba salah.

Dia mengenal serangan maut yang berbahaya, maka cepat dia mengelak dengan loncatan ke belakang.

Dia tidak berani menggunakan senjata, mengingat bahwa yang dihadapinya adalah ayah Hui Hong, gadis yang telah menarik hatinya itu.

Maka, mengandalkan kelincahan tabuhnya, dia mengelak.

Akan tetapi, begitu pukulannya luput, kaki datuk itu sudah menyusul dengan sambaran tendangan yang lebih berbahaya lagi.

Kembali Bun Houw berbasil menghindarkan diri dengan elakan.

Makin gagal, kakek itu menjadi semakin penasaran dan marah.

Serangan susulannya semakin ganas sehingga dalam waktu sepuluh jurus saja, Bun Houw sudah merasa kewalahan, terdesak dan terhimpit oleh serangkaian serangan yang kalau mengenal sasaran berarti maut!

Akan tetapi tetap saja dia tidak berani mempergunakan senjata untuk melindungi dirinya, karena mempergunakan senjata berarti balas menyerang.

Walaupun dia tahu bahwa dalam sebuah perkelahian, sikap menghindar tanpa membalas merupakan suatu kelemahan yang membahayakan diri sendiri, Apalagi menghadapi lawan yang jauh lebih kuat.

"Hyaanattt ...!"

Untuk kesekian kalinya Ouwyang Sek menyerang dan sekali ini, kedua tangannya itu bergerak secara beruntun, saling susul menyusul sehingga tidak sempat bagi Bun Houw untuk mengelak terus.

Terpaksa dia lalu mengerahkan tenaga pada telunjuknya dan menyambut serangan talapak tangan kiri lawan itu dengan totokan.

Hanya itu satu-satunya jalan untuk melindungi dirinya dari sambaran telapak tangan yang ampuh itu.

"Tukk ...!"

Ouwyang Sek mengeluarkan seruan tertahan dan melangkah mundur tiga tindak, sedangkan Bun Houw meloncat ke samping dan merasa betapa tangannya tergetar hebat saking kuatnya telapak tangan lawan yang ditotoknya tadi.

"It-sin-ci (Satu Jari Sakti) ...!"

Ouwyang Sek berseru dan pandang matanya menjadi semakin marah.

"Bagus, memang engkau layak mati di tanganku!"

Dan kini dia menyerang dengan semakin bebat, bagaikan gelombang dahsyat yang hendak menelan dirinya.

Biarpun Bun Houw sudah siap siaga dan menggunakan kedua tangannya ditambah kegesitan tubuhnya untuk menangkis dan mengelak, tetap saja dia tidak kuat menahan dan angin pukulan yang kuat sekali membuat dia terjengkang dan terguling-guling.

"Mampuslah!"

Ouwyang Sek membentak dan menyusulkan serangan maut.

Karena tubuh Bun Houw bengulingan, agaknya pukulan maut itu akan benar-benar mengantar nyawanya ke alam baka.

Pukulan datang menyambar ke arah dada pemuda yang sedang terguling-guling itu.

"Dukk ...!"

Ouwyang Sek berseru kaget dan terhuyung ke belakang.

Tak disangkanya sama sekali bahwa pada detik pukulannya mendekati dada lawan, sebatang tongkat telah menangkis sedemikian kuatnya sehingga dia merasa lengannya yang tertangkis nyeri dan tubuhnya terhuyung ke belakang karena tongkat itu menotok pula lutut kirinya!

Kini mereka berhadapan dan Bun Houw sudah berdiri dengan tongkat di tangan.

"Lo-cian-pwe, bagaimanapun juga, saya adalah seorang manusia yang berhak hidup dan mempertahankan hidupnya. Kalau lo-cian-pwe mendesak terpaksa saya bersikap tidak hormat dan menggunakan senjata saya."

Datuk besar itu memandang tajam penuh selidik, dan Bun Houw yang maklum bahwa dia berada di ambang maut karena lawan sungguh amat lihai, tidak mau bersikap sungkan lagi dan begitu tangan kanannya bergerak, nampak sinar berkilat menyilaukan mata dan Lui-kong-kiam (Pedang Kilat) telah terlolos dari sarungnya yang merupakan sebatang tongkat butut itu.

Kini tangan kanan memegang pedang dan tangan kirinya memegang tongkat.

Ouwyang Sek mengangguk-angguk ketika melihat pedang itu.

"Orang muda, apa hubunganmu dengan Tiauw Sun Ong? tiba-tiba dia bertanya. Bun Houw mengerutkan alisnya, dia sudah dipesan oleh gurunya agar tidak menyebut namanya karena tidak mau berurusan dengan dunia ramai.

"Lo-cian-pwe, urusan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan beliau, dan saya tidak mau menyebut-nyebut tentang beliau."

Tiba tiba datuk besar itu tertawa.

"Ha-ha-ha, Tiauw Sun Ong telah menjadi pengecut yang menyembunyikan diri dan nama. Kwa Bun Houw, sekarang tidak ada siapa-apalagi yang dapat menyelamatkan nyawamu! Hari ini engkau akan mati di tanganku dan nyawamu boleh memberitahu kepada Tiauw Sun Ong!"

Setelah berkata demikian, tiba tiba datuk itu menyerang dengan tubrukan seperti seekor beruang.

Bun Houw mengelebatkan pedang dan tongkatnya dan sekarang dia melawan mati-matian.

Untuk dapat terhindar dari malapetaka, satu-satunya jalan adalah balas menyerang.

Dia tidak ragu-ragu lagi sekarang karena bagaimanapun juga, dia tidak mau mati konyol di tangan datuk ini, walaupun mengingat Hui Hong, dia tidak senang harus bermusuhan dengan orang tua ini.

Akan tetapi, tingkat kepandaian datuk betar itu memang jauh lebih tinggi dari pada tingkat Bun Houw, maka biarpun pemuda itu menggunakan pedang dan tongkat, tetap saja dia terdesak hebat setelah lewat limabelas jurus.

Sebuah tendangan mengenai pahanya, membuat dia terhuyung dan sebelum dia dapat sempat mengatur keseimbangan dirinya, tiba-tiba pergelangan tangan kanannya terpukul.

Pedang itu terlepas dan pindah tangan, dan sebuah hantaman keras mengenai dadanya.

Tubuh Bun Houw terjengkang, tongkatnya terlepas dari tangan kiri dan diapun muntah darah.

Dadanya terasa sesak dan nyeri bukan main.

"Ha-ha-ha, bersiaplah engkau untuk mati melalui Pedang Kilat!"

Ouwyang Sek berseru sambil tertawa-tawa, lalu mengelebatkan pedang rampasan tadi untuk memenggal leher Bun Houw yang sudah tidak berdaya, Pemuda itu hanya dapat bangkit duduk dan dia memejamkan mata, maklum bahwa dia tidak akan mampu menghindarkan diri dari maut.

"Ayah, jangan bunuh dia!"

Tiba-tiba Hui Hong meloncat dan tahu-tahu tubuhnya sudah menghadang di depan Bun Houw, menghadapi ayahnya.

"Hong-moi, jangan lancang kau!"

Ouwyang Toan meloncat mendekati adiknya dan menyentuh pundaknya, hendak menarik adiknya itu agar jangan menghalangi ayah mereka membunuh Bun Houw.

Akan tetapi Hui Hong mengibaskan tangan kakaknya yang menyentuh pundak dan berkata ketus.

"Toan-koko, ini urusanku pribadi dengan ayah, jangan kau mencampuri!"

Kemudian dia menoleh kepada ayahnya dan suaranya terdengar tegas.

"Ayah, aku minta agar ayah jangan membunuh Kwa Bun Houw!"

"Hui Hong, apakah engkau sudah gila? Engkau berani menghalangi ayahmu dan membela anak setan ini?"

Ouwyang Sek mengerutkan alisnya, memandang kepada puterinya dengan bengis. Berjodoh dengan Ilmu Sakti Im Yang Butek Cin Keng "AYAH, maukah ayah menukar nyawa Kwa Bun Houw dengan nyawa puterimu?"

"Ehh? Apa maksudmu?"

"Ayah, tanpa adanya pertolongan pemuda ini, saat ini anakmu tentu telah mati. Ketika aku nyaris diperkosa Suma Hok dan pada saat akan membunuh diri dengan menggigit lidah sendiri, Kwa Bun Houw muncul dan menyelamatkan aku. Aku berhutang nyawa kepadanya, ayah. Oleh kerena itu, aku minta ayah jangan membunuhuya."

"Hemm, sekali aku mengambil keputusan, tidak dapat diubah lagi. Aku akan membunuh dia, apalagi dengan adanya pedang ini!"

"Ada apa dengan pedang itu, ayah '!"

"Kau tak perlu tahu!"

Tiba-tiba suara datuk besar itu terdengar kaku dan marah.

"Minggirlah dan aku akan membunuhnya!"

"Hong-moi. minngirlah dan jangan membikin ayah marah!"

Tegur Ouwyang Toan kepada, adiknya. Akan tetapi Hui Hong tetap berdiri tegak menghadang.

"Ayah, kalau ayah memaksa hendak membunuhnya, biarlah aku yang mati lebih dulu. Aku akan malu hidup kalau berhutang nyawa tanpa mampu membalas. Ayah bebaskanlah dia, berarti ayah telah membayar hutangku kepadanya!"

Ouwyang Sek mengerutkan alisnya, lalu mendengus dan memandang kepada Kwa Bun Houw.

Sekali pandang saja dia tahu bahwa pemuda itu telah menderita luka parah yang akhirnya akan membawanya ke lubang kubur juga.

Pukulannya tadi hebat sekali, kalau bukan pemuda yang memiliki kekuatan tubuh yang hebat, tentu sudah mati seketika.

"Baiklah, biar dia pergi!"

Akhirnya dia berkata.

"Biar pedang ini menjadi pengganti nyawanya, ha-ha-ha!"

"Terima kasih, ayah!"

Hui Hong berkata dengan girang, lalu membalik dan menghadapi Bun Houw ..."Nah, engkau telah bebas, Kwa Bun Houw, pergilah cepat selagi ada kesempatan."

Suara Hui Hong dingin, akan tetapi Bun Houw melihat betapa pandang mata gadis itu kepadanya membayangkan perasaan iba.

Biarpun dadanya terasa amat nyeri, akan tetapi sikap Hui Hong tadi sudah mendatangkan perasaan senang yang membuat dia lupa akan kenyeriannya.

Gadis itu membelanya!

Bahkan mempertaruhkan nyawanya!"

"Sampai ... jumpa ..."

Bun Houw berkata lirih, membalikkan tubuhnya dan terhuyung-huyung meninggalkan tempat itu, diikuti pandang mata Hui Hong.

"Ha ha ha-ha!"

Tiba-tiba Ouwyang Sek tertawa bergelak setelah bayangan Bun Houw lenyap ditelan pohon-pohon.

"Tiauw Sun Ong, bocah itu tentu ada hubungan dekat denganmu. Biar belum dapat menemukan dan membunuhmu, setidaknya aku telah dapat menghajar orang yang dekat denganmu. Hatiku puas, ha-ha ha!"

"Ayah, siapakah Tiauw Sun Ong?"

Hui Hong bertanya.

"Tak perlu kautahu!"

Ouwyang Sek membentak dengan suara ketus dan diapun melangkah pergi dari situ, diikuti Ouwyang Toan dan Ouwyang Hui Hong.

Bun Houw menahan rasa nyeri dan terhuyung huyung keluar dari dalam hutan.

Dadanya sesak dan ada rasa panas dan pedih menghentak-hentak.

Rasa hatinya bahkan lebih sakit dibanding tubuhnya.

Dia dihajar oleh ayah gadis yang dicintanya.

Bahkan pedang pemberian garunya juga disita.

Ayah Hui Hong membencinya.

Juga kakak Hui Hong.

Gadis itu sendiri?

Hanya mengenal budi.

Kalau gadis itu juga mencintanya, tentu takkan membiarkan dia dihajar seperti itu.

Cintanya bertepuk tangan sebelah!

Satu hal lagi yang membuat dia semakin sakit adalah kenyataan bahwa ayah Hui Hong telah mengenal gurunya dan agaknya amat membenci gurunya itu.

Suara orang dari belakang membuat Bun Houw cepat menyusup ke dalam semak-semak.

Dia tidak ingin bertemu dengan siapapun dalam keadaan seperti itu.

Begitu dia menyusup ke dalam semak-semak, Ouwyang Sek dan kedua orang anaknya lewat.

Dia merasa beruntung sudah bersembunyi.

Dia tidak sudi bertemu lagi dengan mereka, sekarang maupun kapan saja.

Keluarga Ouwyang itu bukan keluarga orang baik-baik.

"Ayah, yang mengambil mustika itu tentu seorang di antara tiga datuk lainnya."

Terdengar suara Ouwyang Hui Hong suara yang membuat jantungnya berdebar. Hemm, gadis itupun tentu sekejam ayahnya, bantah hatinya sendiri untuk meredakan rasa rindunya.

"Akan kucari mereka! Kalau seorang di antara mereka berani menguasai benda milikku itu, akan kurampas dengan kekerasan!"

Suara Ouwyang Sek masih terdengar olehnya sebelum mereka lenyap sama sekali.

Setelah mereka pergi jauh, barulah Bun Houw keluar dari semak belukar dan melanjutkan perjalanan menuruni lembah.

Dia harus mencari obat.

Setidaknya dia harus mencari tempat yang aman untuk melakukan siu-lian (samadhi), untuk mencoba menyembuhkan atau mengurangi lukanya.

Beberapa jam kemudian, setelah dengan susah payah menuruni lereng, dari tempat itu dia melihat genteng-genteng rumah sebuah dusun kecil.

Dia lalu mengerahkan sisa tenaganya menuju ke dusun itu karena matahari telah condong jauh ke barat.

Dia harus mendapatkan tempat berlindung melewati malam, karena dalam keadaan terluka dalam separah itu, amat berbahaya kalau dia melewatkan malam di tempat terbuka.

Apalagi kalau sampai diserang binatang buas atau orang jahat.

Dia takkan mampu membela diri sama sekali.

Sedikit saja dia mengerahkan tenaga, lukanya akan makin menghebat dan mungkin nyawanya akan melayang saat itu juga.

Tiba-tiba dia terkejut melihat dua sosok bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang pria berusia limapuluh lima tahun yang bertubuh kecil kurus dan seorang pemuda tampan.

Pemuda inilah yang mengejutkan hatinya karena dia mengenalnya sebagai pemuda yang lihai, yang nyaris memperkosa Hui Hong.

Suma Hok juga mengenal Bun Houw dan dengan muka merah dan mata melotot dia berkata kepada pria kecil kurus yang ternyata adalah ayahnya.

"Ayah, orang ini pasti tahu siapa yang mengambil mustika itu! Mungkin dia sendiri yang mengambilnya!"

Pria kurus itu memang Suma Koan yang berjuluk Kui-siauw Kiam-ong (Raja Maut Suling Iblis), seorang di antara Empat Datuk Besar yang ditakuti dunia kang-ouw.

Melihat orangnya, sungguh takkan ada yang mengira bahwa dia datuk besar yang ditakuti itu.

Namanya sejajar dengan Ouwyang Sek dan para datuk lainnya.

Akan tetapi tubuhnya yang kecil kurus, penampilannya yang tidak mengesankan, akan membuat siapapun memandang rendah kepadanya.

Entah berapa banyaknya orang yang mati konyol hanya karena memandang rendah datuk itu!"

Suma Koan menyeringai mendengar ucapan puteranya itu.

Sudah beberapa orang dibunuhnya tadi karena dia dan puteranya mengira orang itu yang mengambil Akar Bunga Gurun Pasir yang diperebutkan dan yang lenyap ketika diperebutkan.

"Begitukah? Kalau begitu, geledah seluruh badannya!"

Katanya.

Akan tetapi, Suma Hok kelihatan ragu-ragu.

Dia sudah merasakan kelihaian Kwa Bun Houw, maka menggeledah badan merupakan pekerjaan yang berbahaya.

Ayahnya melihat keraguan ini dan dia mengerutkan alisnya.

"Kenapa ragu-ragu?"

"Ayah, orang ini lihai sekali, sebelum kurobohkan bagaimana dapat menggeledahnya?"

"Hemm, ada aku di sini, takut apa?"

Bentak ayahnya marah karena sikap takut-takut dari puteranya itu merupakan tamparan bagi keangkuhannya.

Suma Hok menghampiri Bun Houw, tangannya mencengkeram ke arah baju, menduga bahwa Bun Houw tentu akan mengelak atau menangkis.

Akan tetapi, ternyata dia dapat mencengkeram baju itu dengan mudah dan sekali tarik, terdengar suara memberebet dan baju itupun koyak-koyak!

Nampaklah dada Bun Houw dan melihat kulit dada yang matang biru itu, Suma Hok tertawa.

"Ha-ha-ha, kiranya engkau telah terluka parah!"

Dan timbullah kesombongan Suma Hok.

Dengan sikap gagah dia lalu merobek-robek pakaian Bun Houw sehingga tinggal cawat saja yang menutupi tubuh pemuda itu.

Akan tetapi, Suma Hok tidak menemukan apa-apa kecuali sebuah kantung kecil berisi beberapa potong emas, yaitu emas pemberian gurunya yang masih bersisa.

Melihat isi kantung itu sambil menyeringai Suma Hok memasukkannya ke dalam saku bajunya sendiri.

"Dia tidak membawa akar itu, ayah. Tentu dia sembunyikan entah ke mana. Orang ini licik sekali, ayah."

"Hemm, terhadap aku dia tidak dapat licik!"

Kata Suma Koan sambil menghampiri Bun Houw. Sepasang matanya yang tajam dan mengandung kekejaman itu menyelidiki wajah Bun Houw.

"Hayo katakan, di mana engkau simpan akar itu!"

Dia bertanya, langsung saja menuduh seperti yang dilakukannya tadi terhadap banyak orang yang dibunuhnya satu demi satu karena mereka tidak mampu menunjukkan di mana adanya benda yang amat diinginkannya itu.

Bun Houw sudah menderita luka parah.

Dia tahu bahwa kalau tidak mendapatkan obat yang amat manjur, dia akan terancam maut.

Kini, dia ditelanjangi dan dihina tanpa mampu membalas karena begitu dia mengerahkan tenaga sin-kang, dia akan mati seketika.

Maka, tentu saja dia tidak mengenal lakut lagi.

Dia tahu dengan siapa dia berhadapan.

Sudah pernah didengarnya tentang Kui-siauw Giam-ong.

Karena tadi dia telah mendengar bahwa pemuda yang nyaris memperkosa Hui Hong adalah Suma Hok putera Kui-siauw Giam-ong, siapa lagi kakek kecil kurus ini kalau bukan si datuk sesat itu?

Dia merasa penasaran sekali dan biarpun terancam maut.

Sebelum mati dia harus memperlihatkan keberaniannya dan menyatakan perasaan hatinya.

Dengan pandang mata berani dia menatap wajah Kui-siauw Giam-ong Suma Koan, lalu tersenyum mengejek.

"Orang tua, apakah engkau tidak malu dengan sikapmu ini?"

Sepasang mata Suma Koan terbelalak dan mukanya berubah merah sekali. Beraninya anak ini! "Hei, setan. Apakah engkau tidak tahu dengan siapa engkau berhadapan?"

Bentaknya, sedangkan puteranya.

Suma Hok, juga marah sekali.

Akan tetapi melihat kemarahan ayahnya, dia tilak berani lancang turun tangan membunuh Bun Houw dan membiarkau ayahnya yang akan menangani sendiri pemuda itu.

Senyum di bibir Bun Houw melebar.

"Tentu saja aku tahu, paman. Namamu disohorkan orang sebagai Kui-siauw Giam-ong, seorang di antara datuk sesat yang besar dan berkepandaian tinggi, dihormati dan ditakuti orang. Siapa kira orangnya hanyalah pengecut besar!"

"Apa kaukata? Orang muda, engkau benar-benar sudah bosan hidup!"

Datuk besar itu membentak, kemarahannya sudah memenuhi kepala sampai ke ubun-ubun.

"Mati hidup di tangan Tuhan! Engkau dihormati sebagai seorang datuk besar, akan tetapi engkau hanya pandai memaksa dan menghina seorang muda yang sudah tertuka parah! Sudah kukatakan bahwa aku tidak tahu tentang akar itu, bahkan melihatpun belum. Kalau engkau tidak percaya, sudahlah mau bunuh tinggal bunuh. Lebih senang aku yang mati dari pada engkau yang hidup akan tetapi sebagai seorang pengecut besar yang namanya akan ditertawakan orang sampai tujuh turunan!"

"Jahanam busuk, tutup mulutmu! Ayah, biar kuhabiskan saja keparat ini!"

Suma Hok melangkah maju dan mengangkat tangannya, akan tetapi ayahnya mendelik kepadanya.

"Jangan bunuh! Kau ingin ucapannya yang menghina tadi terbukti? Aku tidak akan membunuhnya, aku akan membuat dia tetap hidup, menderita dan tersiksa, dan biar dia tahu betapa lihainya Kui-siauw Giam-ong yang dihinanya!"

Suma Koan mengerahkan tenaga dan sekati dia menepuk punggung Bun Houw, pemuda itu terpelanting dan roboh, tak mampu bangkit kembali, terengah-engah seperti ikan dilempar ke darat, seluruh tubuh terasa nyeri seperti ditusuki seribu batang jarum dan napasnya makin sukar seolah dadanya terhimpit kuat.

Kui-siauw Giam-ong Suma Koan tertawa, diikuti oleh puteranya dan Suma Hok berkata.

"Jahanam sombong, rasakan kau sekarang. Pukulan ayah itu akan membuat engkau mati perlahan-lahan. Tidak ada tabib di dunia ini mampu menyembuhkanmu dan dalam waktu tiga bulan atau paling lama seratus hari, engkau akan mampus dalam keadaan yang amat tersiksa!"

"Sudah, biarkan dia mengenang kelihaianku. Mari kita pergi!"

Kata datuk sesat itu dan mereka berdua berkelebat lenyap dari situ, meninggalkan Bun Houw yang masih terengah-engah di atas tanah.

Sementara itu, hari semakin gelap.

Bun Houw mencoba bangkit berdiri, akan tetapi terpelanting lagi.

Kepalanya pening, napasnya sesak dan kedua kakinya menggigil, tubuhnya sebentar panas sebentar dingin.

Dia berusaha untuk meninggalkan tempat itu.

Dia harus dapat mencapai dusun di depan.

Sambil merangkak-rangkak, kadang-kadang harus berhenti terengah-engah, Bun Houw menuju ke dusun.

Sudah nampak ada sinar lampu berkelap-kelip dan sinar itulah yang menjadi pedoman ke arah mana dia harus merangkak.

Malam tiba dengan cepatnya.

Dengan susah payah, dalam keadaan setengah mati, akhirnya Bun Houw dapat mencapai depan pintu sebuah rumah sederhana yang terpencil, merupakan rumah pertama dari dusun yang kecil itu.

Dia mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk mengetuk daun pintu.

Di dalam gubuk terdengar gerakan dan api penerangan yang tadi berkelap kelip ditiup padam.

Di sebelah dalam, di kamar rumah sederhana itu, So Kian, pemburu yang tadi mengintai orang-orang kang-ouw bertempur, berpelukan dengan isterinya.

Isterinya ketakutan setengah mati!

Sore tadi suaminya pulang dengan pakaian yang kotor penuh lumpur dan debu, dengan tubuh gemetar dan muka pucat.

Dengan ketakutan So Kian menceritakan kepada isterinya apa yang dilihatnya di dalam hutan dekat puncak Bukit Merpati Hitam itu.

Betapa banyak orang-orang kang-ouw yang menyeramkan dan berkepandaian tinggi sekali saling serang.

Betapa akhirnya setelah mereka saling serang, dia dapat pula melarikan diri dan terus pulang.

Dalam keadaan tegang dan ketakutan, kini setelah malam tiba mendengar daun pintu di luar diketuk orang, tentu saja So Kian dan isterinya menjadi semakin ketakutan.

So Kian adalah seorang pemburu yang biasa hidup di tengah hutan dan sering menghadapi bahaya dan kekerasan.

Dia seorang pemberani.

Akan tetapi sekali ini, setelah melihat banyak orang kang-ouw yang berilmu tinggi mengadu kepandaian, dia merasa dirinya kecil dan lemah, dan dia tahu bahwa kalau ada orang kang-ouw yang melihatnya dan menyerangnya, tentu dia akan tewas dan tidak berdaya melawannya.

Kini, dia dan isterinya saling peluk di atas pembaringan, dalam kamar mereka dan hanya berdoa agar orang di luar itu segera pergi.

Ketukan itu terdengar beberapa kali, makin lama semakin lemah dan akhirnya tidak terdengar lagi.

So Kian dan isterinya merasa lega.

akan tetapi semalam itu mereka gelisah dan tidak berani keluar dari dalam kamar.

Baru pada keesokau harinya, pagi-pagi sekali So Kian suruh isterinya berindap-indap menuju ke depan dan mengintai dari celah-celah di balik pintu depan.

Mereka berdua terkejut bukau main melihat seorang laki-laki muda, hanya bercawat, rebah terlentang di depan pintu.

Muka pemuda itu pucat agak kebiruan, seperti muka mayat.

"Celaka ...! Ada orang mati di sini ...!"

So Kian berbisik dengan suara gemetar.

"Kita harus cepat minggat dari sini. Jangan ada yang menyangka kami yang membunuhnya! "Celaka ... ah, sungguh celaka ...-!"

Katanya kebingungan dan hendak lari ke dalam. Akan tetapi, isterinya yang masih terus mengintai, memegang lenganuya.

"Ihh, kenapa engkau sekarang menjadi seperti anak kecil ketakutan?"

Isterinya mengomel.

"Lihat, orang itu belum mati. Dia kelihatan sakit keras dan membutuhkan pertolongan."

"Ah. aku tidak berani. Jangan-jangan iblis-iblis itu akan datang semua ke sini dan hancurlah kita ..." 'Tolol kau! Mana ada iblis jahat seperti orang itu? Dia masih muda dan sedang menderita. Mau kita tolong dia!"

Wanita itu karena merasa kasihan, timbul keberaniannya dan ia membuka daun pintu.

Terpaksa So Kian mengikuti isterinya dan mereka berlutut di dekat tubuh Bun Houw.

Setelah dekat, baru mereka tahu bahwa pemuda yang hampir telanjang itu memang belum mati Bun Houw roboh pingsan setelah ketukan pintu itu dibukai orang.

"Dia pingsan. Mari kita angkat ke dalam. Kasihan sekali, dia membutuhkan pertolongan."

Kata isteri So Kian.

Kini So Kiao tidak takut lagi dan pada dasarnya dia seorang yang baik budi.

Diangkatnya tubuh lunglai itu di kedua lengannya yang kuat dan dibawanya ke dalam kamar sebelah yang kosong.

Dia meletakkan lubuh yang pingsan itu ke atas sebuah pembaringan.

"Cepat ambilkan pakaianku. Dia harus diberi pakaian agar tidak kedinginan."

Kata So Kian kepada isterinya.

Tak lama kemudian, Bun Houw sudah berpakaian dan diselimuti.

Akan tetapi melihat wajah yang pucat kebiruan, dada dan punggung yang menghitam dan membengkak, napas terengah-engah, suami isteri itu menjadi bingung sekali.

"Cepat kau pergi mengundang tabib atau membeli obat. Aku akan menunggunya."

Kata isterinya dan So Kian mengangguk, kemudian diapun pergi karena dia tidak ingin orang itu mati di dalam rumahnya.

Belum lama So Kian pergi, Bun Houw merintih dan bergerak.

Isteri So Kian yang tadi duduk, kini bangkit berdiri menghampiri.

Bun Houw tidak membuka mata, akan tetapi bibirnya bergerak-gerak seperti orang mengigau.

"Akar ... Akar Bunga Gurun Pasir ... harus didapatkan mustika itu ..."

Isteri So Kian membungkuk.

"Akar Bunga Gurun Pasir apakah yang kau maksudkan, kong-cu (tuan muda)?"

Ia menyebut Bun Houw "kong-cu"

Karena ia mengira bahwa tentu pemuda itu seorang pemuda kota yang pantas disebut kongcu.

Akan tetapi Bun Houw tidak menjawab, bahkan tidak pula membuka matanya, seperti orang tertidur.

Isteri So Kian merasa lega melihat si sakit seperti tidur nyenyak, maka ia pun merasa tidak enak berdua saja dengan seorang pemuda.

Ditinggalkannya Bun Houw ke belakang dan iapun hendak mencuci pakaian suaminya yang kotor berlumpur, yang ditanggalkannya kemarin sore dan belum sempat dicuci karena mereka sudah ketakutan mendengar cerita suaminya tentang orang-orang kang-ouw yang saling serang.

Ketika ia mencuci baju suaminya yang kotor, tiba-tiba tangannya memegang benda keras di saku baju itu.

Diambilnya benda itu.

Ternyata sebuah kantung sutera kecil yang terisi benda keras sebesar tangan.

Diambilnya benda itu dan ia mengamatinya dengan heran.

Seperti kayu atau akar, bentuknya seperti tangan, ada jari-jarinya dan akar rambut bergantungan.

Nampaknya agak mengerikan seperti tangan manusia kering.

Dimasukkannya kembali benda itu ke dalam kantung dan disimpannya.

Setelah selesai mencuci pakaian dan dijemurnya, dibawanya kantung itu dan ia kembali ke kamar.

Bun Houw bergerak gelisah dalam tidurnya.

"Akar ... Akar Bunga Gurun Pasir ... ah, di mana mustika itu? Aku harus mendapatkannya ..."

Dia mengigau.

Mendengar ini, dan melihat betapa wajah pemuda itu menjadi kebiruan, napasnya terengah-engah, wanita itu mengambil benda dari dalam kantung dan mengamatinya.

Akar Bunga Gurun Pasir?

Inikah benda yang dicarinya Memang seperti akar, akar yang aneh.

Orang yang sakit parah itu selalu menanyakan Akar Bunga Gurun Pasir, kalau benar ini barang yang dicarinya, tentu akar inilah obatnya!

Karena melihat keadaan Bun Houw semakin parah, napasnya tinggal satu-satu dan mukanya biru kehitaman mengerikan, wanita itu takut kalau-kalau Bun Houw mati sebelum suaminya kembali.

Dalam bingungnya, ia lalu membawa akar itu ke dapur dan memasaknya dengan air.

Ketika api mulai panas, ia terkejut mendengar ledakan-ledakan kecil dan akar itu bergerak-gerak dalam air seperti hidup.

Dan lebih aneh lagi, air itu cepat sekali mendidih.

Ia tidak tahu bahwa akar itu memang Akar Bunga Gurun Pasir, benda mustika yang langka sekali.

Di dalam akar bunga yang dapat hidup di Gurun Pasir itu terdapat hawa dingin yang merupakan inti dingin sehingga dapat membuat tanaman itu bertahan di gurun yang panas.

Darah atau getah akar itu mengandung hawa dingin akan tetapi karena luarnya terselubung hawa panas, maka ketika ditemukan dengan air panas, hawa dingin di dalam itu melawan sehingga terjadi ledakan-ledakan kecil.

Setelah hawa dingin itu terserap oleh hawa panas dari api, maka air itu cepat sekali mendidih.

Seperti biasanya kalau ia menggodok obat, air itu dibiarkan sampai tinggal sepertiga bagian, baru ia tuangkan air yang kini menjadi kehijauan itu ke dalam mangkok dan terjadi keanehan lain.

Air yang tadinya mendidih itu setelah diangkat dari atas api, sebentar saja menjadi dingin kembali.

Isteri So Kian cepat membawa mangkok obat itu ke dalam kamar.

"Akar ... ah. akar ... Akar Bunga Gurun pasir ..."

Bun Houw masih mengerang dan mengeluh.

"Inilah obat akar itu. Minumlah."

Kata isteri So Kian sambil membantu Bu Houw bangkit duduk dan memberi minum obat dari dalam mangkok.

Dalam keadaan tidak sadar Bun Houw menelan air obat hijau itu sampai habis berteguk-teguk.

Wanita itu lalu merebahkannya kembali dan ia melangkah hendak keluar dari dalam kamar, untuk mempersiapkan masakan di dapur.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan keras mengejutkan di belakangnya.

Ketika ia membalik, ia terbelalak dan mangkok kosong itupun terlepas dari tangannya, terbanting pecah di atas lantai kamar.

Ia memandang dengan mata terbalalak dan muka pucat, takut dan bingung.

Memang hebat akibat dari obat yang diminum habis oleh Bun Houw itu.

Kini tubuhnya bergerak-gerak aneh, menegang, bergerak-gerak seperti sepotong benda aneh, tangan dan kakinya mencakar-cakar, memukul menendang dalam keadaan masih rebah, matanya terbelalak merah, mulutnya terbuka dan mengeluarkan suara yang aneh seperti seekor binatang disiksa, jari-jari tangannya terbuka, dan terdengar suara berkerotokan di tubuhnya, seolah-olah semua tulangnya hendak rontok, dan perlahan-lahan, tubuhnya menjadi kemerahan seperti kepiting direbus, dan mengeluarkan uap panas!"

Agaknya teriakan-teriakan yang keluar dari mulut Bun Houw terdengar pula oleh So Kian yang datang berlari-lari.

Dia mendengar suara aneh di dalam rumahnya, dan diapun lari memasuki rumah.

Dilihatnya isterinya berdiri dengan muka pucat dan mata terbelalak di luar pintu kamar di mana tamu yang sakit itu berada.

"Apa yang terjadi ...?"

Tanyanya sambil cepat menghampiri isterinya.

Wanita itu tadi tidak mampu bergerak saking kaget dan khawatir, juga takutnya.

Kini mendengar suara suaminya ia membalik dan hampir pingsan roboh dalam rangkulan suaminya.

Ia tidak mampu bicara, hanya menuding ke arah dipan dalam kamar.

So Kian cepat memandang dan diapun terbelalak.

Sambil merangkul Isterinya, dia melangkah masuk ke dalam kanar itu, hendak menghampiri tamu mereka yang kini berkelonjotan dan menggeliat-geliat aneh.

Akan tetapi, baru tiga langkah mereka mendekat, mereka terpaksa mundur lagi dengan cepat.

Hawa panas yang menyerang mereka, yang keluar dari tubuh di atas dipan itu.

sungguh tak tertahankan!

Tamu mereka itu seperti dalam keadaan terbakar tanpa nampak ada apinya!

Agaknya terbakar dari dalam oleh hawa panas yang melebihi api!

"Apa ...

apa yang lelah terjadi ..."

So Kian bertanya kepada isterinya, Isterinya menggigil dan memandang ke arah tubuh yang berkelonjotan itu dengan hati ngeri.

"Aku ... aku meminumkan obat ..."

"Obat? Obat apakah?"

Suaminya bertanya.

Kini mereka hanya berdiri di luar pintu kamar.

Di tempat itu pun masih terasa panas yang keluar dari dalam kamar, seolah kamar itu kebakaran.

Aku menggodok akar itu dan memberi minum.

Dia selalu mengigau menanyakan akar itu.

Maka, ketika aku menemukan akar dalam kantung itu di dalam saku bajumu, kukira itulah obat yang dicarinya, dan kugodok lalu kuminumkan.

"Akhh! Benda itukah?"

So Kian termenung.

Kemarin sore ketika dia bersembunyi menonton para tokoh kang-ouw bertempur hebat, ada benda yang jatuh menimpa pundaknya.

Dia terkejut dan mengambil benda itu yang ternyata sebuah kantung sutera.

Tanpa disadarinya, karena dalam keadaan tegang dan ngeri, dia mengantongi benda itu, tanpa mengetahui apakah benda itu dan kenapa pula dia mengantungnya.

Kalau dia tahu bahwa benda itu yang dijadikan perebutan antara para tokoh kangouw yang lihai itu, tentu menjamahpun dia tidak berani.

Kini baru dia teringat.

Mereka memperebutkan Akar Bunga Gurun Pasir!"

"Benda apakah itu?"

Tanya isterinya. Suaminya menggeleng kepala.

"Aku sendiri tidak tahu, akan tetapi agaknya benda itulah yang disebut Akar Bunga Gurun Pasir itu dan dijadikan rebutan. dan kenapa engkau menggodok dan meminumkannya? Lihat, dia sekarat mengerikan!"

Wanita itu menutupi mukanya dengan tangan.

"Ah, kukira ... dia mencari obat itu, dan aku ... aku tidak tega melihat dia tersiksa ... aku tidak tahu obat itu akan membunuhnya ..."

Dan wanita itu menangis. Suaminya merangkulnya.

"Sudahlah, bukan kau sengaja. Maksudmu baik. dan aku sendiri tidak tahu benda apa Akar Bunga Gurun Pasir itu. Kebetulan saja kudapatkan dan dia sudah meminumnya. Sudahlah, kita harus cepat pergi dari sini. Cepat kumpulkan semua pakaian dan barang berhanga yang dapat kita bawa."

"Eh? Ke mana kita akan pergi? Dan kenapa harus pergi!"

"Sudahlah, cepat lakukan apa yang kuminta, bahaya maut mengancam kita. Kita pergi mengungsi untuk sementara, kalau kelak sudah aman kita kembali lagi."

"Tapi ... tapi orang itu sakit ..."

Suaminya menghela napas panjang.

"Memang dia sakit, mungkin akan mati. Akan tetapi apa yang dapat kita lakukan? Akupun gagal mencari tabib, satu-satunya tabib sedang pergi untuk beberapa hari lamanya. Kita harus cepat mengungsi."

"Tapi ... bagaimana kita dapat meninggalkan dia dalam keadaan seperti itu? Dia akan mati ...!"

"Sudahlah! Kebaikan hatimu mungkin akan menyeret kita berdua ke dalam maut!"

Suaminya membentak dan wanita inipun tidak berani membantah lagi.

Tak lama kemudian, mereka pergi meninggalkan rumah itu sambil membawa buntalan pakaian.

Bun Houw dapat mendengar dan melihat semua itu!

Dia mengalami hal amat aneh.

Ketika dia ditemukan oleh So Kian dan Isterinya.

dia benar-benar dalam keadaan pingsan dan tidak ingat apa-apalagi, tidak merasakan apa-apalagi.

Akan tetapi, pagi tadi, dia siuman dan merasa betapa tubuhnya nyeri-nyeri, kemudian perasaan panas dingin menyerangnya silih benganti.

Ketika wanita itu datang membawa mangkok dan membantunya minum, dia masih sadar dan tahu bahwa wanita itu telah menolongnya dan kini berusaha mengobatinya.

Karena dia memang membutuhkan obat.

obat apa saja untuk mengusir rasa nyeri yang menusuk-nusuk, tanpa membantah diapun menelan cairan yang dituangkan ke dalam mulutnya, meneguk sampai habis isi mangkok itu.

Dan mulailah dia terbakar!

Terjadi kebakaran hebat di dalam tubuhnya.

Rasa panas menyerangnya sedemikian hebatnya sehingga dia tidak mampu menguasai tubuhnya lagi.

Tubuh itu meregang dan menggelepar, menggeliat dan berkelonjotan tanpa dapat dia kuasai lagi.

Bahkan kerongkongannya mengeluarkan suara di luar kehendaknya, lepas dari pengendaliannya.

Anehnya, matanya yang melotot itu dapat melihat segala dengan jelas, dan juga telinganya dapat menangkap semua suara sehingga dia dapat melihat dan mendengar ketika suami isteri penolongnya itu bercakap-cakap.

Akan tetapi dia tidak dapat bicara, tidak dapat membuat gerakan kecuali hanya menyerah saja dan membiarkan hawa panas yang teramat kuat di dalam tubuhnya itu menguasainya.

Tubuhnya kini menjadi seperti medan perang di mana terjadi pertempuran hebat antara dua kekuatan yang menguasai dirinya.

Kekuatan racun dan kekuatan obat.

Bun Houw tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya, tidak tahu obat apa yang telah diminumnya tadi.

Dia masih teringat bahwa dua kali dirinya telah menjadi bulan-bulan pukulan orang-orang sakti, yaitu datuk sesat Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, kemudian terjatuh ke tangan Kui-siauw Giam-ong Suma Koan dan menerima siksaan pula.

Nyawanya sudah bergantung kepada sehelai rambut.

Dan kini, setelah minum obat dari mangkok yang diberikan isteri orang yang menolongnya, tubuhnya kebakaran dari dalam!

Dan tadi dia masih mendengar percakapan mereka, akan tetapi dia masih belum mengerti benar.

Mereka bicara tentang Akar Bunga Gurun Pasir!

Benarkah dia telah diberi minum Akar bunga Gurun Pasir?

Benarkah mustika yang dijadikan perebutan semua orang kang-ouw itu kini telah masuk ke dalam perutnya dan mengakibatkan tubuhnya kebakaran seperti itu?

Dia tentu akan mati!

Belum pernah selama hidupnya dia merasakan siksaan yang sedemikian hebatnya.

Bahka siksaan dua orang datuk sesat itupun tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kebakaran yang terjadi dalam tubuhnya setelah dia minum obat itu.

Saking panasnya.

Bun Houw membuat gerakan untuk melepas bajunya.

Terdengar suara berebrebetan dan baju itu koyak-koyak.

Baru membuat sedikit gerakan saja, bajunya koyak-koyak.

Untung dia masih teringat untub tidak membuka celananya.

Biarpun sudah bertelanjang baju, masih saja dia merasa terbakar.

Dadanya seperti akan meledak rasanya dan ketika dia memandang ke arah dadanya, ternyata tanda menghitam bekas pukulan dua orang datuk itu telah lenyap!

Kulit dadanya halus dan bersih, akan tetapi kini seluruh tubuhnya berwarna kemerahan seperti kepiting direbus!

Setelah berkelojotan selama setengah jam, akhirnya Bun Houw dapat mengendalikan kekuatan hebat yang mencengkeram dirinya dari dalam itu.

Di dalam dirinya seperti ada gas yang hendak keluar, mencari jalan keluar dan bagaikan liar.

Akan tetapi, setelah rasa nyeri di tubuhnya perlahan-lahan lenyap, yang ada hanyalah perasaan panas, dia mulai dapat mengendalikan hawa yang amat kuat itu.

Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi yang pernah digembleng oleh orang sakti, diapun dapat merasakan betapa dirinya telah dikuasai oleh tenaga dalam yang amat dahsyat.

Diapun dapat bangkit duduk, lalu bersila.

Kini dia dapat merasakan benar hawa yang dahsyat itu berputar-putar di seluruh tubuh melalui jalau darahnya.

Mula-mula, memang kekuatan itu tak terkendalikan olehnya, berputar-putar liar dan tak menentu.

Akan tetapi, akhirnya, perlahan-lahan dia dapat mengendalikannya.

Ketika dia mengendalikan tenaga dahsyat itu dan membiarkan berputaran secara teratur, hampir saja dia pingsan.

Begitu cepatnya hawa itu berputar sehingga dia merasa seperti akan terapung ke atas.

Setelah dia dapat membiarkan diri dengan keliaran tenaga dalam tubuh itu, dapat juga dia menghentikannya ke dalam pusar di perut bawah dan di situ, tenaga dahsyat itu masih berputar-putar dan beberapa kali sukar dikuasai, akan tetapi akhirnya dapat bergabung dengan tenaga sin-kang yang selama ini terhimpun di situ dan dapat diam.

Setelah tenaga itu tidak liar lagi, dia mulai dapat mempengunakan ingatannya.

Mula-mula Hui Hong marah-marah dan cekcok dengan dia karena Hui Hong nampaknya cemburu kepada Ling Ay, menuduhnya masih mencinta bekas tunangannya itu yang telah menjadi isteri orang.

Kemudian muncul Ouwyang Toan yang memaksanya untuk berkelahi, dan sesudah itu, ayah Hui Hong, datuk sesat Ouwyang Sek memaksanya berkelahi.

Dan agaknya Ouwyang Sek telah mengenal gurunya, Tiauw Sun Oug, bahkan amat membenci gurunya itu.

Dalam perkelahian yang terpaksa dia layani itu, akhirnya dia terkena pukulan pada dadanya, pukulan keras mengandung racun yang amat hebat, dan Pedang Kilat, pedang pusaka bersarung tongkat yang dia peroleh dari gurunya itu, dirampas Ouwyang Sek.

Kemudian, Hui Hong yang menyelamatkannya, ketika Ouwyang Sek hendak membunuhnya.

'Heran, bagaimanapun juga, ada pula perasaan iba dan sayang dalam hati Hui Hong kepadaku,"

Keluh Bun Houw ketika mengenang, paristiwa itu.

Dia melanjutkan lamunannya, mengingat-ingat.

Dalam keadaan terluka oleh pukulan Ouwyang Sek, dia diperbolehkan pergi dan dalam perjalanan itu, dia bertemu dengan datuk sesat yang lain, yaitu Suma Koan bersama puteranya Suma Hok.

Dia pernah membebaskan Hui Hong dari cengkeraman Suma Hok yang nyaris memperkosanya.

Tentu saja Suma Hok mendendam kepadanya.

Ayah dan anak itu menuduh dia menyembunyikan Akar Bunga Gurun Pasir.

Mereka menghinanya, menelanjanginya, bahkan menyiksanya, kemudian datuk sesat yang kejam itu sengaja memukulnya sehingga dia keracunan dan akan mati perlahan-lahan.

Dalam keadaan tiga perempat mati itu dia merangkak-rangkak ke dusun dan akhirnya dia tiba di depan pintu sebuah pondok, lalu tidak ingat apa-apalagi.

Dia memejamkan mata, lalu mengingat-ingat lagi.

Dia kini tahu bahwa dia telah ditolong oleh wanita itu dan suaminya, dibawa masuk ke dalam rumah mereka.

Kemudian, entah bagaimana, dia merasa seperti dalam mimpi, dalam keadaan setengah sadar dia merasa dibantu wanita itu bangkit duduk dan diberi minum dari sebuah mangkok.

Minuman yang terasa amat dingin di mulut akan tetapi amat panas di perut.

Dan setelah obat itu diminumnya sampai habis, mulailah dia kebakaran!

Kemudian dia mendengar percakapan suami isteri itu, melihat pula mereka berdiri di ambang pintu.

Mendengar mereka menyebut tentang Akar Bunga Gurun Pasir.

"Ah, tidak salah lagi. Orang itu telah menemukan Akar Bunga Gurun Pasir secara kebetulan dan Isterinya menemukan mustika itu, lalu memasaknya dan memberikan kepadaku sebagai obat! Mustika yang diperebutkan orang seluruh dunia kang-ouw itu secara aneh dan kebetulan, tidak disangka-sangka dan tidak disengaja, telah masuk ke dalam perutku!"

Dan tiba-tiba, karena merasa geli, Bun Houw tertawa dan begitu tertawa, dia terkejut bukan main karena hawa dahsyat yang tadi sudah agak jinak berdiam di dalam dian-tin (pusat bawah perut), kini bangkit lagi dan meliar, dan suara ketawanya tak terkendalikan lagi, bergelak-gelak menggelegar dan didorong oleh tenaga sakti yang dahsyat itu.

Akhirnya, setelah dengan susah payah, Bun Houw berhasil meredakan tawanya, mengembalikan tenaga itu ke dalam pusar dan diapun mengatur pernapasannya.

Tenaga yang berdiam di dalam tubuhnya itu.

Sungguh dahsyat akan tetapi juga liar dan berbahaya.

Dia bisa bersikap seperti orang yang tidak waras pikirannya kalau tidak mampu mengendalikan hawa sakti itu.

Kini dia dapat menduga bahwa itulah hawa yang ditimbulkan oleh mustika Akar Bunga Gurun Pasir!

Dia tentu saja tidak tahu bahwa tenaga sekti itu menjadi liar setelah bengulat dan bercampur dengan hawa beracun di tubuhnya akibat pukulan dua orang datuk esat.

Tenaga bawa sakti itu menjadi semakin dahsyat, akan tetapi juga menjadi liar.

Kemudian dia teringat.

Suami Isteri pemilik pondok ini telah melarikan diri.

Dia tidak menyalahkan mereka.

Tentu saja mereka ketakutan, bukan saja melihat keadaan dirinya, akan tetapi juga takut, kepada orang-orang kang-ouw.

Dan ketakutan mereka itu beralasan.

Besar sekali kemungkinannya, dia yang akan menjadi perebutan oleh orang-orang kang-ouw, kalau mereka tahu bahwa dia telah minum habis sari Akar Bunga Gurun Pasir!

Dan suami isteri itu tentu saja takut kalau mereka menjadi korban kekejaman orang-orang kang-ouw.

"Aku tidak boleh berada di sini,"

Pikirnya.

"Jangan sampai para datuk menemukan aku di rumah ini. Suami isteri itu telah menanam budi kepadaku, bukan saja menolongku, memberi pakaian, bahkan juga wanita itu telah menyelamatkan nyawaku dengan memberi Akar Bunga Gurun Pasir, walaupun secara tidak disengaja. Aku harus pergi!"

Setelah berkata demikian kepada diri sendiri, Bun Houw lalu turun dari pembaringan.

Begitu dia turun, kembali dia terkejut.

Gerakannya demikian ringannya, seperti melayang-layang.

Dia merasakan dirinya seperti sehelai bulu, ringan dan seperti akan terapung!

Melihat betapa tubuh atasnya telanjang, dan di atas meja masih tersangkut sebuah baju milik tuan rumah yang agaknya tertinggal.

Dipakainya baju itu dan Bun Houw keluar dari dalam rumah.

Matahari telah naik cukup tinggi dan keadaan di luar rumah itu sunyi saja.

Agaknya dusun itu hanya kecil dan para penghuninya sudah pergi ke sawah ladang mereka.

Bun Houw merasa lega bahwa tidak ada orang lain melihat dia berada di rumah itu.

Dengan demikian, maka setelah dia meninggalkan rumah itu, pemiliknya akan terhindar dari bahaya tersangkut dalam urusan perebutan Akar Bunga Gurun Pasir.

Setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang melihatnya, Bun Houw lalu menyelinap keluar dari dusun itu dan pergi menuju ke sebuah bukit yang nampak tak jauh dari tempat itu.

Bun Houw memasuki hutan di lereng bukit itu.

Perutnya terasa lapar sekali setelah dia terbebas dari siksaan rasa nyeri.

Kini tubuhnya terasa enak, hangat dan nyaman.

Ternyata setelah dia berjalan kaki dan tubuhnya berkeringat, rasa panas yang amat hebat itu makin lama semakin mereda, berubah menjadi rasa hangat.

Dia merasa tubuhnya sehat sama sekali.

Tidak ada lagi sisa rasa nyeri akibat pukulan dan siksaan dua orang datuk sesat itu.

Dia telah sembuh sama sekali!

Hanya masih ada perasaan aneh karena tubuhnya kadang-kadang masih terasa ringan bukan main.

seolah-olah kalau ada angin besar bertiup, tubuhnya akan dibawa melayang ke angkasa.

Dan kini perutnya lapar bukan main.

Sanggup rasanya dia untuk menghabiskan daging seekor kijang gemuk!

Bun Houw mengharapkan untuk menemukan buah apa saja untuk mengisi perutnya yang amat lapar.

Akan tetapi, sampai jauh memasuki hutan, dia tidak melihat pohon buah, tidak pula bertemu dengan binatang buruan.

Tidak bertemu manusia yang dapat dimintai tolong memberi makanan.

Dan ketika dia menghentikan langkahnya dan menghapus keringat, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan lima orang muncul di depannya.

Lima orang laki-laki tinggi besar dan kokoh kuat, antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun usia mereka.

Setiap orang memegang sebatang golok yang besar dan sikap mereka bengis, wajah mereka membayangkan kekerasan dan kejahatan.

Sialan, pikir Bun Houw.

Dia mengharapkan bertemu makanan, malah bertamu lima orang penjahat!

Mereka ini jelas penjahat, pikirnya.

Dari sikap seseorang, kita dapat menduga wataknya.

Dan sinar mata lima orang ini amat kejam dan bengis.

Akan tatapi, dia pura-pura tidak perduli dan tidak melihat mereka lalu melanjutkan langkahnya ke kiri.

"Tunggu ...!"

Tiba-tiba terdengar bentakan dan lima orang itu, dengan gerakan cepat yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang pandai ilmu silat, lima orang itu telah mengepung Bun Houw dalam setengah lingkaran di depannya.

Bun Houw bersikap tenang.

Ketika hendak membuka mulut bicara, dia merasa lagi betapa hawa yang amat kuat bergerak dari pusarnya, mendorong ke atas dan hampir saja dia mengeluarkan teriakan atau pekikan nyaring.

Dia masih mampu menahan dirinya, menarik napas panjang untuk menenteramkan hawa liar yang masih mencengkeramnya dari dalam.

"Ngo wi (anda berlima) menahan parjalananku ada urusan apakah?"

"Tak perlu banyak tingkah. Engkau melanggar wilayah kekuasaan kami. Cepat serahkan segala yang kaumiliki sebagai pajak jalan kepada kami, baru kami perbolehkan engkau melanjutkan perjalanan."

Bentak seorang di antara mereka yang codet (berbekas luka) pipi kanannya.

Tak salah dugaannya.

Mereka ini penjahat, perampok!

"Maafkan aku, sobat.

Terus terang saja, aku orang miskin tidak mempunyai apa-apa, bahkan saat ini perutku lapar sekali karena sejak kemarin belum makan apa-apa."

Katanya tenang sambil mengerahkan kemauannya untuk mengendalikan hawa dahsyat dari pusarnya.

"Enak saja bicara!"

Bentak orang ke dua yang mukanya hitam.

"Engkau tahu dengan siapa berhadapan? Kami adalah Hek-san Ngo-houw (Lima Harimau Bukit Hitam) yang menguasai wilayah ini. Kalan engkau tidak punya apa-apa, hayo tinggalkan semua pakaianmu berikut sepatu itu!"

Bun Houw tersenyum.

Aneh mereka ini.

Mengaku sebagai Hek-san Ngo-houw dan bersikap garang.

Padahal, baru kemarin orang-orang kang-ouw, bahkan para datuk besar, muncul di Bukit Merpati Hitam.

Apakah lima orang ini demikian beraninya memperlihatkan kekuasaannya pada saat seperti itu?

"Sobat, apakah Bukit Merpati Hitam juga merupakan daerah kekuasaan kalian?"

Pancingnya.

Lima orang itu saling pandang, kemudian mereka mengamati Bun Houw dengan penuh perhatian, pandang mata mereka menyelidik.

Kemudian si codet melangkah maju, menatap wajah Bun Houw dan bertanya.

"Apa hubunganmu dengan Bukit Merpati Hitam?"

"Tidak ada hubungan apa-apa. Sobat, mari kita baik-baikan saja. Punyaku hanya pakaian yang menempel di tubuh ini, pakaian sederhana yang tidak ada harganya. Kalau kalian memintanya, apakah aku harus bertelanjang dan tidak bersepatu? Harap jangan keterlaluan."

Kata Bun Houw dengan alis berkerut karena dia menganggap sikap para perampok ini keterlaluan. Mana ada perampok tega merampok seorang miskin yang tidak punya apa-apa? "Cerewet amat sih engkau?"

Bentak orang ke tiga yang mukanya kekuningan.

"Cepat tanggalkan pakaian dan sepatumu, atau terpaksa kubikin engkau menanggalkan kepalamu dari tubuhmu!"

Orang itupun maju dan goloknya menempel di leher Bun Houw dengan sikap bengis mengancam.

Bun Houw menahan diri agar tidak sampai terbakar perasaan marah.

Dia tahu bahwa dia berhadapan dengan penjahat-penjahat kecil .yang biasanya hanya berani menindas yang lemah, menggunakan gertakan dan memaksakan kehendak dengan menggunakan kekerasan.

Tidak semestinya dia melayani orang-orang semacam ini.

"Sudahlah, aku tidak mempunyai banyak waktu untuk melayani orang-orang seperti kalian!"

Katanya sambil membalikkan tubuhnya, dan melanjutkan perjalanan dengan langkah lebar.

"Heh, kurang ajar! Engkau ingin mampus!"

Bentak mereka dan lima orang itu sudah menyerang sambil memaki-maki.

menggerakkan golok mereka seperti hendak berlumba membunuh pemuda yang berani memandang rendah mereka.

Mendengar gerakan kaki mereka dan sambaran golok.

Bun Houw membalikkan tubuh dan kedua tangannya bergerak seperti orang mengusir lalat.

Akan tetapi akibatnya hebat.

Dari kedua tangannya menyambar keluar hawa yang dahsyat dan panas dan lima orang itu seperti ditiup badai panas yang membuat mereka terjengkang dan terguling-guling dengan senjata mereka terlepas dari tangan.

Mereka terkejut bukan main dan begitu dapat bangkit mereka segera melarikan diri tanpa di komando lagi, lintang pukang dan jatuh bangun.

Akan tetapi Bun Houw ingin memberi pelajaran kepada mereka agar jangan mereka melanjutkan perbuatan jahat itu mengganggu orang-orang yang tidak bersalah.

Sekali lagi tangannya mendorong ke depan, ke arah orang yang terdekat dan orang itupun terpelanting roboh.

Dengan beberapa langkah saja Bun Houw sudah menghampirinya dan menginjakkan kaki pada dadanya.

Biarpun injakan itu tidak disertai pengerahan tenaga, namun orang itu merasa betapa dadanya tertindih benda yang amat berat.

"Am ... pun ... taihlap ..."

Dia mencoba untuk berseru dengan napas terengah-engah.

Melihat seorang kawannya roboh dan tertawan, empat orang perampok yang sudah lari itu menoleh dan mereka pun kembali, menghampiri Bun Houw yang siap menghadapi pengeroyokan mereka.

Akan tetapi setelah dekat, empat orang itu sama sekali tidak mengeroyok, melainkan menjatuhkan diri berlutut pula.

"Taihiap, ampunkan kawan kami."

Kata mereka berulang-ulang. Tergerak perasaan Bun Houw. Bagaimanapun Juga, orang-orang itu masih mempunyai perasaan setia kawan, pikirnya.

"Kalau kalian mengharapkan ampun, berjanjilah bahwa kalian tidak akan mengganggu orang tak berdosa, Apalagi kalan dia miskin."

"Kami berjanji ... kami berjanji ..."

Kata mereka berulang-ulang.

Bun Houw melepaskan injakannya dan ternyata yang ditangkapnya tadi adalah pimpinan gerombolan itu.

Mereka berlima menghaturkan terima kasih dan pimpinan perampok itu berkata dengan sungguh-sungguh.

"Percayalah, taihiap. Dahulu kami adalah pemburu-pemburu. Akan tetapi, setelah hasil baruan makin berkurang sehingga tidak cukup untuk makan kami sekeluarga, kami mulai minta sokongan kepada rombongan pedagang yang lewat. Akan tetapi, kemudian rombongan pedagang itu tidak lewat di sini lagi, semenjak banyak orang kang-ouw berkeliaran di sini dan mereka itu menjadi korban siluman Guha Setan."

Bun Houw mengerutkan alisnya.

"Siluman Guha Setan? Apa dan siapakah itu?"

Kepala perampok itu mengeluarkan makanan dari buntalan mereka.

"Marilah kita makan dulu, taihiap. Bukankah taihiap tadi mengatakan sejak kemarin belum makan? Kamipun lapar. Kita makan dan kami akan menceritakan tentang guha itu."

Melihat kesungguhan hari mereka, walaupun makanan dan minuman yang dikeluarkan hanya roti kering dan dendeng bersama seguci arak, Bun Houw tidak sungkan lagi.

Dia mengangguk dan merekapun duduk di atas tanah berumput, makan makanan sederhana namun terasa nikmat dan lezat bagi perut yang lapar.

Sambil makan, mereka bercerita dan Bun Houw mendengarkan dengan mata penuh keheranan.

Menurut cerita mereka, di puncak Bukit Hitam itu terdapat sebuah guha yang besar.

Tadinya tak pernah ada orang berani memasuki guha itu yang menurut kepercayaan penduduk dnsun di sekitar kaki bukit, guha itu dihuni setan, dan karenanya guha itu diberi nama Guha siluman.

Akan tetapi akhir-akhir ini, semenjak beberapa bulan yang lalu.

orang-orang kang-ouw berdatangan ke bukit itu, mendaki sampai ke guha di dekat puncak "Yang mengerikan, setiap orang kang-ouw.

betapapun tingginya ilmu kepandaiannya, setelah memasuki guha itu, tahu-tahu menjadi gila dan mati di depan guha.

Di depan guha itu kini berserakan rangka manusia.

Kami sendiri hanya berani nonton dari jauh, sama sekali tidak berani mendekat karena kami masih sayang nyawa,"

Si kepala perampok mengakhiri ceritanya.

Biarpun tertarik dan heran, namun Bun Houw tidak mau menelan mentah-mentah cerita itu.

Dianggapnya bahwa cerita itu hanya kepercayaan orang-orang tahynl belaka.

"Ketika kalian melakukan pengintaian itu. apa yang kalian lihat? Apakah orang-orang-kang-ouw itu dibunuh oleh setan atau siluman?"

"Kami pernah melihat dua orang kang-ouw yang gagah keluar dari dalam guna itu setelah mereka bertapa beberapa minggu lamanya. Begitu keluar, mereka saling serang dengan ilmu silat yang gerakannya aneh sekali, entah mereka itu berkelahi ataukah latihan karena pertandingan itu bagi kami amat seru. Akan tetapi, keduanya roboh dan tewas tanpa terluka!"

Bun Houw semakin tertarik.

"Dan kalian sudah melihat adanya siluman itu? Kalau tidak pernah melihatnya, bagaimana kalian dapat mengatakan bahwa orang-orang kang-ouw itu dibunuh siluman?"

"Memang tidak ada yang pernah melihatnya, taihiap. Akan tetapi kematian orang-orang itu aneh. Ada yang melihat seorang kang-ouw keluar dari guha, lalu bersilat seperti orang gila dan kemudian roboh sendiri dan mati. Siapalagi kalau bukan siluman yang membunuhnya? Guha itu memang dihuni siluman, siapa yang masuk ke sana tentu keluarnya akan menjadi gila dan mati konyol."

Bun Houw menjadi tertarik bukan main.

"Sungguh menarik. Aku akan ke sana sekarang juga."

Mendengar ini, lima orang perampok itu terbelalak dan saling pandang, kemudian pimpinan mereka berkata.

"Taihiap, jangan pergi ke sana! Biarpun ilmu kepandaian taihiap amat tinggi, akan tetapi bagaimana mungkin taihiap sunggup melawan siluman yang tidak kelihatan. Harap taihiap menjauhi tempat itu. Kami peringatkan karena kami berhutang nyawa kepada taihiap."

Juga yang lain membujuk, akan tetapi Bun Houw hanya tersenyum.

"Sudahlah, makin aneh kalian bercerita, semakin tertarik hatiku dan kalan kesempatan ini tidak kupergunakan untuk melihat tempat itu, aku akan selalu merasa menyesal dan kecewa. Nah, selamat tinggal, kawan-kawan, jangan melupakan janji kalian tadi."

Setelah berkata demikian, Bun Houw mempengunakan kepandaiannya.

Sekali berkelebat dia lenyap dari depan lima orang itu.

Setelah dia minum sari Akar Bunga Gurun Pasir, dia memiliki tenaga sin-kang yang demikian dahsyat dan kuatnya sehingga kadang-kadang dia belum mampu mengendalikannya.

Seperti ketika dia melompat dari depan lima orang itu, tubuhnya melayang seperti terbang saja, bahkan lebih cepat lagi seolah-olah dia pandai menghilang!

Lima orang perampok itu terbelalak dan seorang di antara mereka berbisik.

"Wah, dia pandai menghilang. Jangan-jangan ..."

Dan tidak berani melanjutkan.

"Jangan-jangan apa?"

Bentak kepala perampok dan mereka semua merasa betapa bulu tengkuk mereka meremang karena sebelum dijawab mereka sudah dapat menduga apa yang menjadi dugaan kawan mereka.

"Jangan-Jangan dia itu justeru penghuni guha siluman ..."

Lima orang itu saling pandang, bengidik dan tidak berani banyak cakap lagi, melainkan segera pergi menuruni lereng, menjauhi puncak di mana terdapat guha yang mereka yakini menjadi tempat tinggal Iblis-iblis dan siluman itu.

Sementara itu, dengan cepat sekali Bun Houw mendaki bukit dan tak lama kemudian tibalah dia di depan guha yang dimaksudkan.

Sebuah guha di puncak yang tandus itu, guha batu yang besar, mulut guha itu tidak kurang dari lima meter lebarnya dan tiga meter tingginya.

Akan tetapi bukan guha itu yang menarik perhatian Bun Houw, melainkan benda-benda yang berserakan di depan guha yang merupakan tanah datar yang kering kerontang.

Rangka-rangka manusia berserakan!

Bahkan ada mayat menghitam, sudah melewati masa membusuk akan tetapi kulitnya masih ada dan dagingnya belum habis semua.

Mengerikan rangka dan mayat itu masih berpakaian!

Dan senjata bermacam-macam berserakan pula di situ.

Ada pedang, golok, tombak, toya dan bayak macam lagi.

Suasana di situ sunyi senyap, hanya kadang diseling suara burung gagak yang menyeramkan.

Pantas menjadi tempat iblis dan setan.

Akan tetapi Bun Houw bukan seorang penakut.

Kalau orang-orang itu, dia dapat menduga tentu orang-orang yang pandai Ilmu silat melihat banyaknya senjata di situ, sampal tewas di tempat ini, tentu ada yang membunuh mereka.

Setidaknya, dia harus mencari tahu apa yang menyebabkan matinya orang-orang itu.

Dan agaknya rahasianya terletak di dalam guha besar itu.

Dia bersikap hati-hati sekali.

Untuk menyelidiki lebih dahulu kaadaan guha itu dari luar, Bun Houw memejamkan kedua matanya dan mengerahkan sin-kang kepada pendengarannya.

Dia pernah dilatih gurunya yang buta untuk mengandalkan telinga atau pendengarannya yang kadang lebih tajam, lebih waspada dan lebih dapat diandalkan dari pada penglihatan.

Kalau dia memejamkan kedua matanya, maka pendengarannya menjadi lebih tajam dan peka.

Dan ternyata apa yang tidak mampu ditangkap penglihatannya, kini dapat dia tangkap dengan pendengarannya.

Ada suara di dalam guha, suara orang bergerak!"

Bila memang tidak dapat memastikan siapakah orang yang membuat gerakan di dalam guha itu, atan bukan.

Yang jelas, ada sesuatu yang bergerak di sana.

Setankah?

Manusia?

Hewankah?

Dia tidak tahu dan diapun tidak berani lancang mematuki guha, Apalagi pendengarannya menangkap bahwa gerakan itu menuju ke mulut guha!

Bun Houw tetap mengintai dan akhirnya dia melihat apa yang tadi didengarnya lebih dahulu.

Seorang laki-laki keluar dari dalam guha itu.

Laki-laki ini berusia kurang lebih limapuluh tahun, bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah.

Pakaiannya kumal, agaknya sudah beberapa lamanya tidak pernah diganti, rambutnya kusut akan tetapi wajahnya nampak gembira bukan main.

Bahkan dia tersenyum lebar, lalu tertawa bergelak dan mencabut pedangnya, memandang kepada mayat dan rangka yang berserakan.

"Ha-ha-ha, akhirnya akulah yang menang. Aku yang menguasai Ilmu itu dan aku yang akan menjadi jago silat nomor satu di dunia ini, ha-ha-ha! Dengan Im-yang Bu-tek Cin-keng aku merajai dunia persilatan, semua datuk akan kutalukkan satu demi satu, ha-ha-ha!"

Dan orang itu lalu menggerakkan tubuh dan pedangnya, bersilat secara aneh sekali.

Akan tetapi, yang membuat Bun Houw terkejut, hawa pedang yang menyambar-nyambar itu terasa olehnya padahal dia bersembunyi di balik batu besar yang jaraknya ada limapuluh meter!

Sungguh hebat ilmu silat itu!

Akan tetapi, belum ada sepuluh jurus orang itu bersilat, tiba-tiba dia mengeluh, terhuyung, pedangnya terlepas dan dengan susah payah dia mempertahankan diri agar tidak jatuh, kedua tangan memegangi kepala dan napasnya terengah-engah!"

Bun Houw terkejut dan cepat dia meloncat keluar untuk menolong orang itu!

Akan tetapi, begitu mendengar ada gerakan orang menghampiri dari arah kiri, tiba-tiba orang yang terhuyung itu membalikkan tubuh dan kedua tangan yang tadi memegangi kepala kini menyambar dengan dorongan ke arah Bun Houw!

Bun Houw terkejut, mengenal pukulan ampuh ketika merasakan angin dahsyat menyambar.

Diapun cepat mengerahkan tenaga dan menggerakkan kedua tangan menyambut karena sudah tidak mungkin dapat mengelak lagi tanpa membahayakan dirinya.

"Desst ...!!"

Bun Houw merasa betapa tubuhnya tengetar, akan tetapi hawa dahsyat, timbul dari pusarnya menolak kekuatan aneh dari tangan lawan dan diapun dapat mempertahankan dirinya.

Dan orang itupun terjengkang dan ketika dia melihat, ternyata orang itu telah tewas!

Bun Houw tercengang.

Jelas, bahwa orang itu memiliki ilmu yang hebat bukan main.

Dan tangkisannya tadi sama sekali tidak mengandung daya serang.

Akan tetapi kenapa orang ini tewas, diapun teringat akan keadaan orang itu sejak tadi keluar dari dalam guha.

Ketika baru kaluar, jelas dia sehat dan ketika bermain silat, gerakan-gerakannya luar biasa, sedikitpun tidak menunjukkan kelemahan, bahkan hawa sambaran pedangnya dapat mencapai tempat dia bersembunyi.

Kemudian selagi bermain silat, orang itu terhuyung seperti terluka parah.

Namun masih mampu melancarkan serangan sedemikian dahsyatnya, dan ketika dia menangkisnya, orang itu tewas!

jelas bukan karena tangkisannya, melainkan karena orang itu sudah terluka lebih dahulu selagi berlatih silat.

Tentu saja dia merasa heran bukan main.

Tentu ada rahasia yang amat eneh di dalam, guha yang dikenal dengan sebutan Guha Siluman itu!

Benarkah orang itu tadi telah di lukai oleh setan penghuni guha?

Melihat banyaknya senjata berserakan di situ, Bun Houw memungut sebatang padang yang cukup baik dan dengan pedang di tangan, diapun memasuki guha itu dengan hati-hali sekali, penuh kewaspadaan.

Ternyata guha itu selain lebat dan tinggi juga dalam dan ada terowongan besar di sebelah kiri.

Dan di dinding guha itu segera nampak tulisan yang diukir pada batu, huruf-huruf besar yang indah bentuknya.

HANYA YANG BERJODOH DAN BERBAKAT SAJA MAMPU MEWARISI IM YANG BU TEK CIN KENG, YANG TIDAK AKAN MATI KONYOL.

Membaca tulisan itu, Bun Houw tertegun, teringat akan ucapan orang yang baru saja tewas di luar guha.

Orang itupun mengatakan bahwa dia telah menguasai Im-yang Bu-tek Cin-keng dan akan merajai dunia persilatan.

Akan tetapi tiba-tiba saja orang itu mati konyol.

Seperti mereka yang mayat dan rangkanya berserakan di luar guha itukah yang dinamakan "mereka yang tidak berjodoh"?

Ataukah ada rahasia lain di balik semua ini?

Karena merasa amat tertarik untuk memecahkan rahasia kematian begitu banyak orang gagah di depan guha, Bun Houw segera berindap memasuki lorong terowongan di sebelah kiri guha.

Bagaimanapun juga, tempat itu menyeramkan dan membuat dia berhati-hati, dengan pedang yang diambil di luar guha tadi, siap di tangan kanan, pendengarannya memperhatikan dengan tajam ke arah depan dan belakang.

Namun, terowongan itu sunyi saja tidak ada sesuatu yang mencurigakan.

Setelah melangkah sejauh kurang lebih seratus meter dalam kegelapan, akhirnya terowongan itu membawanya ke sebuah ruangan bawah tanah yang luas dan ada sinar masuk dari atas karena terdapat retakan-retakan yang lebar di atas.

Setelah merasa yakin bahwa di sana tidak ada orang, tidak ada mahluk bergerak, dia memperhatikan sekeliling.

Ruangan itu merupakan kamar bawah tanah yang berbentuk bulat dan pada dindingnya penuh dengan ukiran huruf-huruf dan gambar-gambar orang yang membuat bermacam gerakan silat.

Mengertilah Bun Houw bahwa rnangan itu menyembunyikan pelajaran silat rahasia, dengan tulisan dan gambar di dinding dan agaknya ilmu inilah yang disebut Im-yang Bu-tek-Cin-keng itu!

Sebagai seorang ahli silat yang pernah digembleng oleh orang sakti, tentu saja Bun Houw tertarik bukan main untuk mempelajari Ilmu di dinding itu.

Apalagi mengingat bahwa dibandingkan dengan para datuk, kepandaiannya masih jauh.

Melawan para datuk, kepandaiannya masih kalah jauh, Hampir saja dia tewas di tangan datuk Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, kemudian di tangan Kui-siauw Giam-ong Suma Koan diapun tidak berdaya, disiksa hampir mati, belum bertemu para datuk lain.

Kalau memang ilmu di dinding ini hebat, tentu dia akan dapat membela diri lebih baik kalau bertemu dengan orang-orang jahat seperti mereka itu.

Setelah memeriksa huruf-huruf dan gambar itu, dia tercengang.

Ilmu silat yang diajarkan di dinding itu sungguh merupakan ilmu yang amat aneh!

Nampaknya saling bertentangan, namun serasi!

Dia mendapatkan tulisan huruf-huruf kecil di sudut bawah yang mengatakan bahwa yang berjodoh dan berbakat, boleh mewarisi ilmu itu, akan tetapi tidak boleh setengah-setengah, harus dipelajari dengan sempurna dan hal ini akan makan waktu bertahun-tahun!

Tulisan itu memperingatkan bahwa kalau hal ini dilanggar, maka akan mendatangkan kegilaan atau kematian.

Hemm, kalau memang sudah ingin belajar kenapa harus setengah-setengah, pikir Bun Houw.

Dia hidup sebatang-kara, tidak mempunyai urusan apa-apalagi, tidak mempunyai tempat tinggal.

Mengapa dia tidak mempelajari ilmu di dinding ini sampai dapat menguasainya dan tinggal di guha ini?

Demikianlah, dengan hati yang tetap Bun Houw mulai hari itu tinggal di dalam guha yang dinamakan Guha Siluman itu.

Ketika dia mulai berlatih samadhi menurut petunjuk tulisan dinding, cara bersamadhi dan melatih pernapasan yang aneh dan berbeda dengan yang pernah dipelajarinya, tiba-tiba dia merasa ada bentrokan tenaga sin-kang di dadanya.

Akan tetapi, perasaan yang tidak enak itu akhirnya lenyap "ditelan"

Oleh hawa yang dahsyat, yang didapatnya dari minum sari Akar Bunga Gurun Pasir.

Dan diapun mulai menghafalkan ilmu Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Setelah berlatih selama beberapa bulan, baru dia tahu mengapa ada peringatan di bagian depan guha.

Kiranya pelajaran itu memang diperuntukkan mereka yang memiliki sin-kang yang amat kuat sehingga bagi orang yang sin-kangnya tidak kuat, melatih diri dengan ilmu ini bisa mencelakai dirinya sendiri.

Latihan itu menimbulkan hawa sin-kang yang aneh dan kuat, akan tetapi kalau tidak memiliki dasar yang kuat, bangkitnya sin-kang itu dapat membuat orang tidak kuat bertahan dan mengalami luka dalam yang hebat.

Tahulah dia mengapa orang-orang itu tewas di depan guha.

Mereka semua datang mempelajari ilmu, akan tetapi tidak memenuhi syarat.

Mungkin ada yang tidak kuat sin-kangnya sehingga luka dalam dan tewas, dan mungkin ada pula yang tidak sabar, tergesa-gesa sehingga menghentikan latihan sebelum sempurna benar, atau hanya mempelajari setengah-setengah sehingga menjadi korban ilmu aneh yang masih belum dikuasainya benar itu.

Beberapa bulan setelah dia berada di guha itu, pernah dia mendengar dari dalam guha betapa ada datang beberapa orang di luar guha.

Akan tetapi agaknya mereka itu mengenal korban terakhir, laki-laki tinggi besar itu.

Mereka berseru kaget.

"Ahh, bukankah ini Toat-beng Kiam-ong (Raja Pedang Pencabut Nyawa)? Lihat itu pedangnya!"

"Benar dia ini ikat pinggangnya dari baja yang dapat dipergunakan sebagai senjata pedang pula! Ahh, bagaimana seorang seperti dia menjadi korban pula di sini?"

"Kalau tokoh seperti dia saja tewas di sini, apalagi kita! Ikh, aku tidak mau berlama-lama disini. Aku mau pergi saja sebelum mati konyol di sini!"

"Aku juga mau pergi. Tingkat Ilmu kepandaian Toat-beng Kiam-ong lebih tinggi dari tingkat guruku, kalan dia saja gagal, apalagi aku!"

Merekapun pergi dan sejak itu, tidak pernah lagi Bun Houw mendengar ada orang datang ke guha itu.

Agaknya, matinya orang yang berjuluk Toat-beng Kiam-ong itu membuat orang-orang kang-ouw menjadi gentar dan tidak ada lagi yang berani mencoba-coba untuk mempelajari ilmu dari guha itu.

Makin mendalam dia mempelajari ilmu Im-yang Bu-tek Cin-keng, semakin tahulah dia bahwa para korban itu benar-benar menjadi korban kealaian mereka sendiri.

Ada yang memang tidak persiapan!

Dia sendiri, kalau saja tidak secara aneh dan kebetulan mendapatkan kekuatan dahsyat dari pertemuan antara racun-racun dalam tubuhnya akibat pukulan para datuk dengan khasiat obat Akar Bunga Gurun Pasir belum tentu akan sanggup bertahan mempelajari ilmu yang aneh ini.

Bukit itu memang pantas mendapat nama Hwa-san (Bukit Bunga).

Apalagi kalau tiba musim bunga, sungguh tidak ada tempat yang lebih indah dari pada Hwa-san.

Sebuah bukit penuh bunga!

Dari jauh nampak seperti segunduk kain berkembang beraneka warna.

Apalagi kalau orang berada di puncak bukit itu dan melihat ke bawah.

Hamparan penuh bunga yang menghamburkan semerbak harum, menarik datangnya lebah dan kupu-kupu.

Segala terdapat di sisi lain lereng bukit itu.

Kalau saja ada orang yang mampu mendaki bukit itu dan berada di puncaknya pada saat itu, ketika musim bunga sedang dalam puncak keindahannya, maka orang itu akan dapat menikmati segala keindahan melalui mata, telinga dan hidungnya.

Karena bukan saja pemandangan amat indah dan udara dipenuhi keharuman bunga.

Juga kicau burung-burung memenuhi tempat itu, berseling nada dan irama dengan gemercik air anak sungai yang mengalir turun dan menjadi air terjun kecil dengan dendang abadi.

Bahagialah orang yang dapat menikmati segala keindahan di dunia ini dengan batin yang bebas dari pengaruh nafsu.

Karena keindahan yang dinikmati dengan batin bengelimang nafsu, akan berubah menjadi kesenangan dan keindahan itu akhirnya menjadi kebosanan.

Dan kalau sudah bosan, maka keindahan itu tidak akan lagi karena nafsu selalu mengejar yang baru, yang tidak ada, yang belum dicapai atau dimilikinya.

Pria yang duduk diatas batu besar di puncak yang datar itu berusia enam puluh tahun.

Namun dia masih nampak muda seperti baru limapuluh tahun saja, wajahnya segar dan belum banyak keriput, duduknya masih tegak dan baru sedikit uban menghias rambutnya.

Wajah pria ini masih jelas meninggalkan sisa ketampanan di waktu muda.

Wajah yang nampak gembira bukan main sehingga jelas mudah diduga bahwa orang itu sedang menikmati keindahan di sekelilingnya, dan yang terhampar di sebelah bawah sana Namun, kalau kita mendekatinya, akan nampak bahwa pria ini adalah seorang yang tidak dapat melihat lagi.

Dia seorang buta!

Tentu dia menikmati keindahan itu melalui telinga dan hidungnya saja.

dan perasaannya yang menjadi amat peka karena kurangnya indra penglihatan yang paling penting bagi manusia itu.

Pria yang duduk bersila seperti patung dengan mulut tersenyum-senyum itu adalah Tiauw Sun Ong, bekas pangeran yang kini menjadi seorang yang sakti itu.

Dalam menikmati kesegaran di puncak Hwa-san, mencium keharuman selaksa bunga, mendengar kicau burung dan dendang air terjun, terbayang dalam benaknya kehidupan yang lalu ketika dia masih dapat melihat dan menjadi seorang pangeran di istana.

Setiap musim bunga, diapun selalu berada di taman bunga Istana yang luas dan indah, minum arak, bersajak, bermain musik dan dalam suasana yang romantis itu, selalu saja terjadi pertemuan antara dia dengan wanita cantik yang disusul dengan hubungan mesra.

Dia terkenal sebagai seorang pangeran yang tampan dan pandai, juga adik kaisar sehingga dia terpandang, dihormati dan dimuliakan, membuat banyak gadis bangsawan tergila-gila kepadanya.

Keharuman bunga itu membuat Tiauw Sun Ong teringat kembali betapa di waktu mudanya dia dihujani cinta kasih banyak wanita, walaupun di antara sekian banyaknya, yang masih teringat sampai sekarang, masih berkesan di hatinya hanya beberapa orang saja.

Dan yang terakhir sekali adalah wanita yang amat dicintanya dan hubungannya dengan wanita itu mengakibatkan dia menjadi buta dan terasing dari keluarga kaisar.

"Cu Lan ...!"

Bibirnya bergerak memanggil nama ini tanpa bersuara.

Wanita itu adalah selir kakaknya, selir kaisar yang paling disayang oleh kaisar.

Memang amat cantik jelita.

Kebetulan saja dia bertemu dengan selir itu pada musim bunga seperti ini, di taman bunga.

Dan peristiwa itu bukan hanya bertemunya dua pasang mata yang bertautan, melainkan juga dua buah hati.

Mereka lupa segala, menjalin hubungan cinta yang mesra.

Ketika itu, Pouw Cu Lan selir kaisar itu berusia duapuluh tahun, telah tiga tahun menjadi selir kaisar dan belum mempunyai anak.

Hubungan mesra mereka itu hanya berjalan kurang lebih tiga bulan.

Para selir lain yang iri hati terhadap Cu Lan, melaporkan kepada kaisar.

Mereka tertangkap basah di pondok taman dan dalam keadaan amat main.

dia lalu membikin buta kedua matanya sendiri, kemudian pergi meninggalkan istana.

Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan diri kekasihnya itu, setelah dia pergi.

Dia hidup terlunta-lunta sampai jauh ke utara.

Ketika itu, dia berusia tigapuluh satu tahun.

Hanya pertemuannya dengan seorang tosu yang sakti saja yang membuat dia bersemangat kembali untuk melanjutkan hidup.

Dia menjadi murid tosu itu, mempelajari ilmu-ilmu sehingga menjadi seorang yang sakti, walaupun buta.

Masih ada beberapa orang wanita yang tak pernah dapat dia lupakan, namun tidak seperti Pouw Cu Lan yang benar-benar telah dapat merebut cinta hatinya.

Namun, dia sungguh merasa bersalah kepada kakaknya, dan merasa malu sekali.

Maka, biarpun hatinya selalu tersiksa apabila dia teringat kepada kekasihnya itu, dia menahan diri dan tidak pernah dia mau mencari tahu lagi tentang diri kekasihnya.

Bahkan dia selalu menjauhkan diri dari kota raja, berkelana di gunung-gunung dan di tempat-tempat sunyi, seperti seorang terlantar, seperti pengemis walaupun dia tidak pernah minta-minta.

Diapun mendengar akan kehancuran kerajaan kakaknya.

Lima tahun yang lalu, Kerajaan Liu-sung yang dipimpin kakaknya, yaitu Kaisar Cang Bu telah jatuh ke tangan pemberontakan yang dipimpin oleh seorang pemberontak bernama Siauw Hui Kong bersama keluarga Siauw.

Para pemberontak itu dapat merebut tahta kerajaan.

Kaisar Cang Bu membunuh diri, dan para pemberontak yang berbaik dengan Kerajaan Wei di utara, mendirikan sebuah kerajaan baru yang dinamakan Kerajaan Chi.

Tiauw Sun Ong bersedih mendengar semua itu.

Akan tetapi apa yang dapat dia lakukan?

Dia tidak berdaya.

Walaupun dia memiliki ilmu kepandaian yang membuat dia sakti, namun dia hanya seorang buta.

Bagaimana dia akan mampu menyelamatkan kerajaan kakaknya!

Setelah kerajaan kakaknya jatuh, dia semakin acuh terhadap urusan dunia dan kini dia berada di Hwa-san, menemukan tempat yang amat menyenangkan, tenang dan tenteram.

Dia mengambil keputusan untuk tinggal di tempat indah itu sampai dia mati, tidak akan turun dari bukit itu.

Tiauw Sun Ong tidak tahu bahwa bagaimanapun besar keinginan manusia, kadang-kadang nasib menentukan lain.

Dia tidak tahu bahwa pada saat dia termenung itu, terjadi peristiwa di kaki bukit yang merupakan awal perubahan kehidupannya, yang akan mengguncang kedamaian yang dia rasakan di puncak bukit itu.

Jauh di kaki bukit Hwa-san, pagi hari itu seorang wanita memasuki sebuah dusun di kaki bukit.

Wanita itu hampir limapuluh tahun usianya, namun masih nampak cantik dan muda.

Orang akan mengira ia berusia tigapuluh tahun lebih.

Wajahnya yang manis itu berkulit putih kemerahan, hidungnya mancung dan mulutnya kecil penuh gairah.

Akan tetapi orang akan bersikap hati-hati dan bahkan mungkin jerih kalau melihat matanya.

Mata itu memang indah dan jeli, akan tetapi sinarnya kadang-kadang seperti mata harimau marah, menusuk dan berapi.

Pakaiannya sederhana seperti juga riasan wajahnya yang manis, akan tetapi cukup bersih dan karena potongannya ringkas dan ketat, maka bentuk tubuhnya yang ramping padat itu nampak nyata.

Pakaian seorang wanita yang sering melakukan perjalanan jauh, bukan pakaian seorang ibu rumah tangga yang selalu sibuk dengan anak-anaknya dan pekerjaan rumahnya.

Setelah memasuki dusun itu, wanita cantik ini mencari-cari dengan pandang-matanya.

Ia tidak perduli akan pandang mata orang-orang dusun, terutama prianya, yang memandang heran dan kagum kepadanya.

Ia mencari kedai nasi atau rumah makan karena perutnya terasa lapar dan ia ingin sarapan.

Ketika ia melihat dua orang pemuda berusia duapuluhan tahun berdiri di tepi jalan memandang kepadanya, ia lalu menghampiri mereka.

Seorang membawa sabit panjang dan seorang lagi memegang cangkul.

Agaknya dua orang pemuda petani yang hendak pergi ke ladang.

"Sobat, tolong tunjukkan di mana aku dapat membeli makanan di tempat ini! Aku merasa lapar dan ingin makan."

Kata wanita itu, suaranya lembut dan merdu.

Dua orang pemuda itu sudah menyeringai girang ketika wanita cantik itu mendekati mereka tadi.

Kini, mendengar ucapan itu, mereka saling pandang dan wajah mereka berseri, gembira dan bangga.

Siapa orangnya tidak akan bangga dilihat orang bahwa wanita kota yang cantik itu menghampiri mereka dan mengajak mereka bercakap-cakap?

Dan benas saja, para penduduk berhenti melangkah dan memandang ke arah mereka, dengan heran.

Dua orang pemuda yang merasa bangga itu setelah saling pandang, lalu dengan ramah seorang di antara mereka, yang hidungnya pesek, memperlihatkan senyumnya yang dianggsap paling manis.

"Aih, nona hendak mencari kedai makanan? Di dusun ini tidak ada yang menjualnya, nona."

Wanita itu tersenyum. Senyumnya mengandung sejuta madu dan dua orang pemuda itu semakin terpesona.

"Tidak perlu kedai penjual makanan. Kalau ada penduduk yang mau membagi sedikit makanan dan air teh kepadaku, akan kubayar mahal."

Pemuda ke dua yang mempunyai tahi lalat di dagu, segera berkata.

"Kalau begitu, marilah ikut dengan kami ke rumah kami, nona. Kami dapat menyuguhkan makanan dan minum sekadarnya untuk nona."

Wanita itu nampak girang bahwa dua orang pemuda itu menyebutnya "nona"

Dan iapun mengangguk.

Dapat dibayangkan betapa bangga dan girangnya hati dua orang pemuda itu.

Dengan dada membusung mereka berjalan mendampingi wanita itu di kanan kirinya dan membawanya pergi ke rumah mereka yang tak jauh dari situ.

Rumah mereka sederhana namun bersih dan dua orang pemuda kakak beradik itu segera memanggil Ibu mereka yang menjanda.

Ibu mereka sudah berusia limapuluh tahun, tampak tua sekali dan ia tergopoh memasuki rumah dari belakang ketika mendengar suara, anak-anaknya.

"Eh, kenapa kalian tidak ke ladang dan hei, siapakah ia?"

"Ibu, nona ini datang untuk minta sedikit makan dan minum, ia lapar dan ingin membeli makanan dan minuman, akan tetapi tidak ada."

Kata yang pesek.

"Ibu, keluarkan semua yang ada untuk nona ini."

Kata yang bertahi lalat.

"Maafkan kalau aku mengganggu,"

Kata wanita itu.

"aku hanya ingin sarapan karena lapar, dan nanti kubayar hanganya, berapapun kalian minta."

"Aih, tidak usah, nona ..."

Kata Ibu itu yang tentu saja bersikap hormat melihat seorang wanita kota.

Ia lalu sibuk di dapur dan tak lama kemudian ia sudah menghidangkan nasi putih dengan lauknya sayuran dan ikan asin.

Juga semangkok teh hangat.

Melihat hidangan yang sederhana itu, sang tamu nampak girang.

Perut yang lapar hanya menuntut makanan, tidak memilih lagi dan tanpa sungkan iapun segera makan dan minum sampai kenyang.

Ketika ibu itu menyingkirkan mangkok piring, wanita itu menghapus bibirnya dengan saputangan dan memandang kepada dua orang pemuda yang masih duduk menghadapinya dan tadi dengan ramahnya menemaninya makan.

Ia melihat betapa pandang-mata dua orang pemuda itu berbeda dari tadi.

Kalau tadi ketika bertemu di jalan dan mengnjaknya ke rumah mereka, dua orang pemuda itu ramah dan sopan, kini pandang mata mereka membuat alisnya berkerut.

Ia sudah hafal akan pandang mata pria seperti ini, pandang mata penuh gairah yang membuatnya marah dan tidak senang.

Akan tetapi mengingat bahwa baru saja ia terhindar dari rasa lapar karena keramahan dan suguhan mereka, ia menahan diri, hal yang jarang sekali ia lakukan, dan dengan acuh ia bertanya kepada mereka.

Sebuah Rahasia Terkuak "WAH, aku sudah makan dan minum cukup kenyang, sobat.

Sekarang katakan berapa yang harus kubayar kepada kalian untuk harga makanan dan minuman ini."

Doa orang pemuda itu saling lirik dan menyeringai, kemudian yang berhidung pesek mengangkat muka, memberanikan diri dan dengan cengar cengir dia menjawab.

"Aih, nona yang manis, makanan dan minuman itu tidak kami jual. Kami tidak minta uang, hanya minta ..."

Makin dalam kerut di antara alis mata yang hitam kecil dan panjang melengkung itu "Minta apa?"

Dua orang pemuda itu kembali saling pandang dan tertawa kecil, kemudian yang bertahi lalat melanjutkan ucapan saudaranya yang terputus tadi.

"kami hanya minta engkau bersikap manis kepada kami."

Dan seperti dikomando saja, dua orang pemuda itu bangkit berdiri dan menghampiri wanita itu dari kanan kiri, kemudian keduanya merangkul dan mendekatkan muka hendak menciuminya!

Wanita itu masih duduk dan melihat niat dua orang pemuda itu, tiba-tiba saja kedua tangannya bergerak menampar ke kanan kiri dengan punggung tangannya.

"Plak! Plakkl"

Kelihatan perlahan saja kedua tangan itu menampar, akan tetapi akibatnya sungguh hebat.

Dua orang pemuda itu terpelanting dan roboh pingsan dengan sebelah muka hancur seperti kena ditampar dengan senjata baja yang amat kuat.

Kulit sebelah muka mereka itu seperti terkupas, telinga remuk dan mata membengkak.

Mereka hanya sempat memekik pendek terus roboh pingsan.

Mendengar pekik ini, ibu kedua orang pemuda itu berlari masuk dari belakang dan ia menjerit-jerit ketika melihat kedua orang anaknya roboh dengan muka mandi darah.

Wanita cantik itu bangkit berdiri, memandang dengan senyum dingin dan berkata.

"Mengingat ibunya, aku mengampuni mereka dan tidak akan membunuh meraka."

Setelah berkata demikian, dengan langkah gontai ia keluar dari rumah itu. Ibu kedua orang anak itu mengejarnya kasar dan masih menjerit-jerit.

"Tolooonggg ... perempuan ini membunuh kedua orang anakku ...!"

Wanita cantik itu tidak berhenti atau menengok.

Ia tahu bahwa Ibu itu mengira kalau anaknya yang pingsan itu tewas.

Akan tetapi pada saat itu, teriakan si Ibu yang berulang-ulang membuat para tetangga berlarian ke tempat itu dan terpaksa si wanita cantik menghentikan langkahnya karena terhalang, bahkan terkepung.

Tangkap perempuan ini!

Ia membunuh dua orang anakku setelah kami menyuguhkan makan dan minum kepadanya.

Ia jahat, ia siluman betina!"

Ibu itu berteriak-teriak sambil menudingkan telunjuknya ke arah si perempuan cantik yang masih tersenyum-senyum saja.

Melihat belasan orang laki-laki maju dengan sikap marah, wanita itu menyapu mereka dengan pandang matanya yang jeli dan tajam.

"Aku menghajar mereka. Dan, kalian mau apa! Minta sekalian dihajar?"

Tentu saja ucapan ini membuat semua orang menjadi marah. Perempuan ini memang cantik, akan tetapi jahat bukan main.

"Tangkap perempuan ini!"

Teriak seorang laki-laki setengah tua.

"Seret ia dan hadapkan kepala dusun!"

"Pembunuh ini harus dihukum!"

Duabelas orang mengepung dan menggerakkan tangan hendak menangkap wanita itu. Ia tersenyum dan mendengus.

"Kalian memang menjemukan!"

Dan sebelum ada tangan yang dapat menyentuhnya, wanita itu bergerak, tubuhnya berkelebatan ke kanan kiri dan terdengarlah guara orang-orang itu mengaduh kesakitan dan duabelas orang itupun roboh satu demi satu.

Semua orang terbelalak melihat duabelas orang itu merintih-rintih dengan tulang patah atau muka matang biru.

Padahal, wanita itu hanya nampak berkelebatan dan menggerakkan kedua tangannya secara lembut saja.

Pada saat itu, terdengar bentakan nyaring dan muncul dua orang pria yang pakaiannya gagah seperti yang biasa dipakai oleh para pendekar.

Dengan pakaian ringkas, pedang tergantung di punggung, dua orang laki-laki yang usianya sekitar tigapuluh lima tahun ini sudah melompat ke depan wanita cantik itu.

"Dari mana datangnya perempuan jahat, iblis betina yang kejam?"

Bentak seorang di antara mereka yang rambutnya sudah banyak dihias uban.

Wanita itu mengangkat muka, memandang kepada dua orang itu dengan senyum dingin mengejek.

Sejenak ia mempelajari keadaan mereka.

Memang ada keanehan pada dua orang yang usianya antara tigapuluh lima sampai empat puluh tahun itu.

Keduanya membawa pedang di punggung, dan kalau yang seorang rambut kepalanya sudah banyak putihnya, yang ke dua biar rambutnya masih hitam, akan tetapi jenggot dan kumisnya semua sudah putih!

"Hemm, kiranya Pek-mau Siang-kaw (Sepasang Anjing Rambut Putih) yang muncul!

Kalian mau apa?"

Tanya wanita itu dengan suara lembut.

Dua orang gagah itu saling pandang, membelalakkan mata dan muka mereka berubah merah sekali.

Mereka adalah sepasang pendekar yang terkenal di wilayah Hwa-san, terkenal dengan julukan Pek-mau Siang-houw (Sepasang Harimau Rambut Putih) karena mereka memiliki kelainan pada rambut dan jenggot kumis mereka.

Akan tetapi wanita cantik ini sengaja mengubah julukan mereka Siang-houw (Sepasang Harimau) menjadi Siang-Kaw (Sepasang Anjing)!

Sungguh penghinaan yang berupa ejekan merendahkan.

"Siluman betina, siapakah engkau yang berani bermain gila dan bersikap kurang ajar terhadap Pek-mau Siang-houw?"

Bentak yang kumisnya putih. Kini sepasang mata itu mencorong marah dan senyumnya berubah menjadi dingin mengejek.

"Anjing-anjing seperti kalian tidak pantas mengenal namaku. Pergilah sebelum engkau tidak hanya menjadi sepasang anjing, melainkan menjadi sepasang bangkai anjing!"

Sungguh hebat penghinaan ini, amat memandang rendah dan makian itu dilakukan di depan banyak orang pula!

Pek-mau Siang Houw adalah dua orang bersaudara yang selalu menentang kejahatan sehingga mereka telah membuat nama besar.

Kebetulan sekali pada pagi hari itu mereka lewat di situ dan mendengar ribut-ribut.

Melihat bahwa yang mengacau di dusun itu hanya seorang wanita cantik setengah tua, mereka masih bersikap sabar dan lembut.

Siapa kira wanita itu malah menghinanya.

"Singgg ...!"

Keduanya mencabut pedang dari punggung dan nampak sinar berkilat saking tajamnya pedang mereka, berkilauan tertimpa sinar matahari pagi.

Wanita itu sama sekali tidak kelihatan gentar, bahkan mengeluarkan saputangan merahnya dan menghapus keringat dari leher dan mukanya, nampak kesal melihat lagak kedua orang pendekar itu.

"Siluman betina! Keluarkan senjatamu dan hadapi pedang kami!"

Bentak dua orang pendekar itu.

Mereka melihat betapa wanita itu telah merobohkan dua belas orang dengan mudah, maka merekapun dapat menduga bahwa tentu wanita ini lihai, maka mereka tidak ragu dan sungkan untuk maju bersama, akan tetapi tetap saja mereka tidak suka menyerang lawan seorang wanita yang bertangan kosong dengan pedang mereka.

"Huh, pedang mainan kanak-kanak itu kau pergunakan untuk menakut-nakuti aku? Majulah, agaknya kalian memang sudah bosan hidup!"

Bentak wanita itu, mengebut-ngebutkan saputangannya di depan leher untuk mengusir panasnya matahari pagi yang makin meninggi.

"Siluman, engkau patut dibasmi dari muka bumi!"

Bentak kedua orang pendekar itu dan merekapun menyerang dengan pedang mereka dari kanan kiri.

"Wuuuttt, sing-sing ... !"

Nampak sinar pedang bergulung-gulung ketika sepasang pedang itu menyambar.

Namun, yang diserangnya lenyap dan berkelebat di antara sambaran sinar pedang!

Dua orang pendekar itu membalik dan mereka menghujankan serangan kilat ke arah wanita itu.

Namun, sungguh hebat gerakan wanita itu.

Lembut seperti orang menari saja, namun langkahnya ringan dan seperi bayangan yang tak pernah dapat disentuh sinar pedang!

Sampai belasan jurus, dua orang pendekar itu menyerang dengan pengerahan seluruh tenaga mereka dan memainkan jurus-jurus pilihan yang paling ampuh, namun wanita itu tetap saja tidak dapat disentuh pedang mereka.

Kemudian, wanita itu menggerakkan saputangan suteranya yang panjangnya hanya tiga jengkal, saputangan sutera yang lembut dan ringan.

Akan tetapi, begitu sapu tangan itu menyambar sebatang pedang, ujungnya melibat dan sekali wanita itu menggerakkan tangannya, pedang yang di libat saputangan itu palah!

Melihat pedang saudaranya patah, si rambut putih menusukkan pedangnya ke arah lambung wanita itu dari arah kiri.

"Cappp ... !"

Pedang itu menancap sampai setengahnya dan semua orang ternganga, mengira bahwa wanita itu tentu akan tewas.

Akan tetapi, tiba-tiba si rambut putih memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat karena dia melihat bahwa pedang itu bukan menembus lambung melainkan dijepit di bawah ketiak wanita itu.

Sebelum dia mampu menghindarkan diri, kaki wanita itu menendang bawah pusarnya.

"Kekkk ...!"

Tubuh si rambut putih terjengkang, pedangnya terlepas dan diapun roboh terbanting dan tewas seketika karena tubuhnya di bawah pusar, bagian kelamin, telah hancur oleh ujung sepatu wanita itu.

Si kumis putih terkejut, akan tetapi pada saat itu, wanita tadi melemparkan pedang yang dijepit dengan lengannya ke arah si kumis putih.

Pedang itu meluncur seperti anak panah, tak dapat dielakkan atau ditangkis lagi oleh si kumis putih dan pedang itu memasuki dadanya sampai tembus ke punggung.

Si kumis putih roboh dan tewas di dekat mayat saudaranya..

Wanita itu tertawa, suara kerawa yang merdu dan halus, lalu ia pergi dari situ sambil mengebut-ngebutkan saputangan suteranya untuk mengusir keringat, dan tangan kirinya menyapu-nyapu baju yang terkena debu.

Semua penghuni dusun memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak.

Tak eorang pun berani menghalangi wanita itu atau mengejarnya.

Andaikata ada yang mengejar pun tidak akan berhasil menyusul wanita itu yang kini berkelebatan dengan ilmu lari cepat, mendaki bukit di depan dengan kecepatan seperti larinya seekor kijang.

Siapakah wanita yang demikian lihainya dan juga amat kejamnya itu.

Kalau saja dua orang pendekar itu, Pek-mau Siang-houw, mengetahui dengan siapa mereka berhadapan, belum tentu mereka berani bersikap seperti itu di depan wanita cantik itu.

Ia sungguh bukan wanita biasa, bahkan bukan wanita kang-ouw biasa.

Ia adalah seorang datuk besar yang namanya ditakuti semua orang, bahkan para pendekar juga harus berpikir masak-masak untuk menentang datuk yang luar biasa lihai dan kejamnya ini.

Kekejamannya itu hanya ditujukan kepada para pria!

Ia seorang pembenci laki-laki!

Tidak ada lagi orang yang mengenal nama aselinya, hanya mengenalnya dengan julukan Kwan Im Sian-li (Dewi Kwan Im).

Sungguh julukan yang sama sekali berlawanan dengan wataknya, karena julukan ini memang ia sendiri yang memilihnya.

Ia menyamakan dirinya dengan Kwan Im Pouw-sat.

Dewi Belas Kasih yang dipuja orang karena ia merasa bahwa selama ini belum pernah ia berhubungan dengan pria, ia masih perawan walau usianya sudah hampir limapuluh tahun.

Dan memang penampilannya seperti seorang dewi, cantik jelita, sederhana, lemah lembut dan sedikitpun tidak menunjukkan bahwa ia seorang ahli silat.

Apa lagi seorang yang dapat membunuh banyak orang tanpa berkedip.

Pagi hari itu saja, ia telah melukai parah dua orang pemuda yang memberinya hidangan, kemudian melukai duabelas orang dusun, bahkan membunuh dua orang pendekar yang menentangnya.

Tidak ada yang tahu bahwa watak kejamnya terhadap pria ini muncul ketika ia menderita patah hati karena cintanya gagal.

Pria yang dicintanya tidak membalas cintanya dan sejak itu ia membenci pria yang dianggapnya palsu dan hanya mendatangkan duka saja bagi wanita!

Cepat sekali wanita itu mendaki bukit Hwat-san, biarpun pendakian itu amat sukar, namun ternyata wanita cantik itu dapat mencapai puncak dalam waktu tingkat.

Tebing-tebing yang licin dan keras ia panjat dengan mudah, jurang yang amat curam dan lebar dapat ia lompati.

Ketika tiba di puncak yang landai dan penuh bunga, Kwan Im sianli tertegun dan sejenak ia berdiri terpesona, memandang ke sekeliling dan berputar pada ujung kakinya.

"Aihhhh, betapa indahnya ...!"

Ia menghirup napas panjang, memasukkan udara sejuk segar itu sebanyaknya ke dalam paru-parunya, ia merasa nyaman sekali.

Kalau orang melihatnya pada saat itu, tentu akan mengakui bahwa julukan wanita itu memang tepat.

Berdiri di puncak bukit, di antara bunga-bunga yang sedang mekar, pantaslah ia menjadi seorang dewi!

"Pantas kalau tempat seindah ini menjadi tempat tinggal Si Buta yang menjengkelkan hati itu.

..."

Katanya lirih dan di dalam suaranya terkandung penyesalan, kekecewaan dan penasaran.

"Bwe Si Ni ... engkaukah yang datang itu ...?"

Tiba-tiba terdengar suara lembut, dan Kwan Im Sianli cepat meloncat ke arah datangnya suara. Dan di sana, di atas batu datar yang lebar, duduklah pria itu! Pria yang dicari-carinya selama ini.

"Pangeran ...!"

Serunya sambil menghampiri dan sekali ini dalam suaranya terdengar kelembutan yang luar biasa, suara yang mengandung kasih sayang dan kerinduan.

Pancaran matanya juga lembut dan sayu, dan mulutnya tersenyum pahit, menggetar penuh harap.

Pria itu, Tiauw Sun Ong, tertawa dan ketika dia tertawa, wajahnya nampak lebih muda.

"Ha-ha-ha, Si Ni, apakah engkau tidak pernah tua? Engkau masih seperti dulu saja. Engkau tahu, aku bukan lagi seorang pangeran, melainkan seorang jembel. Bahkan sekarang Kerajaan Liu-sung juga sudah jatuh, keluargaku sudah terbasmi. Aku orang buangan, jangan sebut pangeran lagi."

Dia lalu menggerakkan tangan mempersilakan.

"Duduklah, Si Ni. Sudah bertahun-tahun kita tidak saling jumpa. Bagaimana kabarnya dengan dirimu?"

Kwan Im Sianli duduk pula di atas batu yang lebar itu, berhadapan dengan Tiauw Sun Ong.

Sejenak mereka berdiam diri dan wanita itu memandang dengan sinar mata penuh kasih dan keharuan.

Sementara itu, Tiauw Sun Ong hanya menunduk, diam-diam dia terkejut ketika tadi mengenal suara wanita ini, seorang di antara wanita yang tak pernah dapat dia lupakan.

Teringat olehnya betapa dahulu, ketika dia masih menjadi pangeran, di antara para gadis yang mengejar dan merindukannya terdapat seorang dayang istana yang cantik bernama Bwe Si Ni.

Tanpa main-main Bwe Si Ni menyatakan cintanya, rela mengorbankan nyawa sekalipun untuknya asal cintanya diterima.

Karena merasa kasihan kepada gadis cantik manja yang begitu pasrah, Tiauw Sun Ong merasa tidak tega untuk menolak begitu saja.

Dia bersikap ramah dan manja walaupun belum menyatakan bahwa dia membalas cinta kasih gadis dayang istana itu.

Apalagi ketika itu dia sudah mempunyai seorang pacar, yaitu seorang gadis bangsawan puteri keluarga Kwan.

Memang Tiauw Sun Ong mempunyai kelemahan terhadap wanita.

Dia tidak tega menolak untuk bersikap manis terhadap wanita yang jatuh cinta kepadanya!

Akan tetapi, dalam taman, dia bertemu selir kaisar, Pouw Cu Lan dan dia begitu tergila-gila sehingga terjadilah hubungan antara-mereka.

Melihat ini, Bwe Si Ni menjadi cemburu dan marah, bahkan sakit hati.

Ialah seorang di antara mereka yang melapor kepada kaisar sehingga hubungan antara selir dan adik kaisar itu tertangkap basah.

Ketika Tiauw Sun Ong membutakan matanya dan meninggalkan istana, Bwe Si Ni, gadis dayang itupun minggat dari Istana!"

Belasan tahun kemudian setelah Tiauw sun Ong menjadi perantau buta dan mendapatkan ilmu, manjadi orang sakti, pada suatu hari muncul Bwe Si Ni di depannya!

Akan tetapi bukan Bwe Si Ni gadis dayang yang dahulu, yang lemah lembut dan hangat, yang mati-matian mencintanya, melainkan Bwe Si Ni yang sudah berubah menjadi seorang iblis betina, seorang yang memiliki Ilmu kepandaian yang tinggi dan dahsyat.

Dan Bwe Si Ni yang ketika itu sudah berusia tigapuluh lima tahun.

menuntut agar dia suka hidup bersamanya menjadi suami isteri.

Biarpun dia telah menjadi seorang buta yang hidup terlunta-lunta ternyata cinta kasih Bwe Si Ni tidak pernah berkurang!

Namun, bekas pangeran itu menolak dan hal ini membuat Bwe Si Ni menjadi kecewa dan berduka sekali.

Ia menangis dan memohon, mengatakan bahwa ia tidak pernah mau berdekatan dengan pria lain karena ia sudah bersumpah untuk hidup menjadi isteri Tiauw Sun Ong.

Ketika bekas pangeran itu tetap menolak, ia menjadi penasaran dan marah.

Dengan tegas ia mengatakan, bahwa kalau Tiauw Sun Ong menolak, ia akan membunuhnya kemudian membunuh diri sendiri.

Ingin mati bersama!

Tiauw Sun Ong tetap menolak dan Bwe Si Ni menyerang.

Terjadi perkelahian yang hebat.

Akan tetapi, ternyata tingkat kepandaian Bwe Si Ni masih belum mampu menandingi Tiauw Sun Ong walaupun bekas pangeran yang buta ini mengalah dan selalu mengelak dan menangkis saja.

Akhirnya, dengan hati kecewa, duka, penasaran dan makin mendendam, Bwe Si Ni pergi dan ia memperdalam Ilmunya sehingga akhirnya ia terkenal sebagai seorang wanita sakti yang berjuluk Kwan Im Sianli.

Akan tetapi, kegagalan cintanya dengan bekas pacarnya itu membuat hatinya menjadi pahit getir dan pembenci pria.

Kalau ada pria bersalah sedikit saja kepadanya, apalagi bersikap kurang ajar.

ia dengan kejam akan membunuhnya atau setidaknya membikin cacat!"

Dan kini, dalam usia hampir limapaluh tahun, setelah bertahun-tahun mencari, akhirnya ia dapat berhadapan dengan Tiauw Sun Ong lagi!

Tentu saja ada ketegangan di hati Tiauw Sun Ong yang maklum akan isi hati bekas dayang ini, akan tetapi ia tetap tenang dan menahan diri sehingga suaranya tidak membayangkan perasaan hatinya.

Sementara itu, begitu berjumpa dengan bekas pangeran itu, hati bekas dayang itu seperti terbakar kembali api cintanya.

Biarpun pria yang menjadi idaman hatinya itu kini sudah hampir enampuluh tahun usianya, namun dalam pandangannya, tidak ada pria lain di dunia ini yang lebih disayangnya dari pada si buta ini.

Bagaikan awan disapu angin, dendamnya untuk membunuh pria yang dikasihinya itu lenyap, terganti perasaan rindu yang menyesakkan dadanya.

Selama ini ia membenci pria.

tidak sudi didekati pria manapun juga karena seluruh hatinya telah terisi oleh pangeran ini.

Selama belasan tahun ini, sejak kegagalannya membujuk kekasihnya untuk hidup bersama atau mati bersama, Bwe Si Ni telah memperdalam ilmu-ilmunya sehingga ia menjadi datuk besar dunia kang-ouw yang ditakuti orang.

Akan tatapi, begitu bertemu, semua dendamnya, mengabur dan kembali timbul kerinduannya kepada pria ini.

"Pangeran, aku datang untuk mengajakmu hidup bersama. Ketahuilah, pangeran, aku tetap setia kepadamu dan sampai kini aku tetap menjaga diriku sebagai calon milikmu, tidak membiarkan diriku disentuh pria manapun juga. Pangeran, aku tetap mengharapkan untuk menghabiskan sisa hidup kita yang tidak berapa lama lagi ini sebagai suami isteri ..."

"Si Ni ..."

"Pangeran, kasihanilah aku, bayangkan betapa selama puluhan tahun aku menunggu saat ini, penuh penderitaan, penuh harapan dan kerinduan. Tegakah engkau mengecewakan harapanku yang terakhir ini? Pangeran, aku rela meninggalkan segalanya, dan hidup di sini, di sisimu, sampai hayat meninggalkan badan ..."

Wanita itu meratap dengan suara yang bercampur tangis.

Sampai lama Tiauw Sun Ong tidak mampu menjawab.

Diam-diam dia mengeluh.

Tak disangkanya sama sekali bahwa kedamaian yang dinikmatinya itu kini dapat terganggu dan terguncang sedemikian hebatnya!

Kemudian, setelah menarik napas panjang beberapa kali, diapun berkata dengan suara yang tenang namun tegas.

"Bwe Si Ni, dengarlah baik-baik. Aku sekarang tidak mempunyai apa-apalagi, maka yang bersisa hanya tinggal kejujuran. Kalau aku tidak jujur, berarti aku kehilangan segala-galanya. Dan kejujuran kadang kala menyakitkan perasaan, Si Ni. Maka, dengarlah baik-baik, pertimbangkan baik-baik dan jangan terburu nafsu, karena aku akan membuat pengakuan secara sejujurnya."

Wanita itu menghapus sisa air matanya dan iapun duduk bersila dengan tegak di depan pria itu, di atas batu datar.

"Bicaralah, pangeran."

"Si Ni, menghadapi urusan kita ini, aku hanya mempunyai dua pilihan. Yaitu, menjadi seorang yang jujur akan tetapi dianggap kejam, atau menjadi seorang yang palsu akan tetapi dianggap baik. Dan setelah kupertimbangkan, aku memilih menjadi orang pertama. Yaitu jujur biarpun engkau akan menganggap aku kejam dan jahat. Kalau aku menuruti perasaan hatiku yang penuh iba kepadamu, tentu aku akan menerima permintaanmu, hidup sebagai suami isteri denganmu di sini sampai kita mati tua. Akan tetapi, itu berarti aku palsu biarpun kauanggap baik, karena terus-terang saja, Si Ni, sejak mataku buta, hatiku tidak buta lagi dan aku tidak mau mengikat diri dalam perjodohan dengan siapapun juga. Aku akan berterus terang bahwa tidak ada lagi cinta berahi di dalam hatiku terhadap seorang wanita. Kau tentu tidak ingin kubohongi, bukan! Nah, tinggalkan aku dalam damai. Si Ni, dan aku tahu bahwa kalau engkau mau, engkau akan dapat menemukan seorang suami yang jauh lebih baik dari pada aku yang tua dan buta ini."

"Pangeran Tiauw Sun Ong!"

Tiba-tiba wanita itu membentak marah.

"Sudah tigapuluh tahun aku menanti dangan sabar, dengan setia, dan engkau tetap menolakku? Aku bisa membikin orang yang paling kau cinta menderita, aku bahkan dapat membunuhnya!"

"Sudahlah, Si Ni, kita berpisah dengan baik-baik saja. Engkau tidak perlu membujuk dan mengancam, aku sudah bicara dan tidak akan mengubah sikapku."

"Keparat! Kalau aka tidak dapat hidup bersamamu, aku bersumpah untuk mati bersamamu!"

"Sin Ni ... !"

Akan tetapi teriakan Tiauw Sun Ong ini tidak ada gunanya karena wanita itu sudah meloncat sambil menghunus pedang yang tersembunyi dibalik jubahbya, ia sudah menyerang bagaikan kilat menyambar cepatnya!

Pedang itu menusuk Tiauw Sun Ong!

"Trranggg ...!"

Tongkat itu seperti otomatis bergerak dan berhasil menangkis pedang. Kwan Im Sianli Bwe Si Ni merasa betapa tangannya tergetar, maka iapun meloncat turun dari atas batu.

"Bagus! Engkau masih lihai, pangeran. Mari kita membuat perhitungan terakhir. Engkau dulu atau aku dulu yang mati!"

"Si Ni, janganlah ..."

Akan tetapi bujukan ini dijawab dengan serangan begitu Tiauw Sun Ong turun dari atas batu.

Si buta yang memiliki pendengaran amat tajam dan peka itu melompat dan menghindarkan diri dari serangan pedang.

Wanita itu mengejar dan menyerang terus, dan pangeran itu kagum.

Serangan-serangan Bwe Si Ni bukan main dahyatnya.

Sungguh sama sekali tidak boleh disamakan dengan lima belas tahun yang lalu!

Serangan itu didukung tenaga sin-kang yang kuat sekali, dan selain gerakannya kuat, juga cepat dan amat berbebaya.

Untuk melindungi dirinya, dari ancaman bahaya maut, bekas pangeran itu didukung tenaga sinkang yang kuat sekali dan selain gerakannya kuat, juga cepat dan amat berbahaya.

Untuk melindungi dirinya dari ancaman maut bekas pangeran itu sudah memutar tongkatnya dengan pengerahan sin-kang sehingga potongan kayu itu membentuk sebuah sinar bergulung-gulung seperti payung yang menjadi perisai dirinya.

Sebetulnya, Tiauw Sun Ong juga tidak takut mati atau begitu ingin untuk hidup terus dalam keadaan yang tak dapat dikata bahagia secara lahiriah.

Akan tetapi, dia tidak mau bunuh diri, juga dia tidak ingin kalau wanita itu sampai menjadi pembunuhnya hanya karena ingin hidup atau mati bersama!

Dia tidak ingin menjadi sebab kedosaan Bwe Si Ni setelah dia tidak mampu membahagiakan wanita itu.

Sementara itu.

Kwan Im Sianli juga terkejut bukan main di samping kekagumannya.

Ia telah maju pesat dalam ilmu silat, bahkan ditakuti dunia kang-ouw, dianggap sebagai seorang datuk persilatan yang sukar dicari tandingannya.

Akan tetapi, kini kembali ia tahu bahwa untuk membunuh pria yang dikasihinya ini jelas bukan perkara mudah.

Bahkan untuk mengalahkannya saja belum tentu ia mampu!

Ilmu tongkat yang dimainkan orang buta itu selain aneh, juga sukar ditembus pedangnya, bahkan setiap kali pedangnya bertemu tongkat, tangannya terasa panas dan nyeri!"

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara ketawa seorang wanita.

Suara tawa yang amat aneh, makin lama semakin nyaring dan amat mengejutkan hati Kwan Im Sianli dan juga Tiauw Sun Ong karena tanpa dapat mereka tahan lagi.

Kwan Im Sianli ikut pula tertawa bergelak dan biarpun dia sudah menahannya, tetap saja bekas pangeran itupun tertawa di luar kehendaknya.

Tentu saja keduanya terkejut dan otomatis meloncat ke belakang.

Kwan Im Sianli menoleh ke arah wanita yang tertawa itu, sedangkan bekas pangeran itu memperhatikan dengan pendengarannya yang tajam.

Setelah, kini tidak perlu lagi mengerahkan sin-kang untuk menandingi Tiauw Sun Ong, Kwan Im Sianli berhasil memusatkan sin-kangnya dan menghentikan tawanya yang tak dapat dikendalikannya tadi itu.

Dan ia melihat seorang wanita yang satu dua tahun lebih tua darinya, akan tetapi yang juga kelihatan masih muda sekali, bersama seorang wanita muda berusia, dnapuluh tahun lebih.

Dan iapun segera mengenal wanita itu dan mukanya berubah merah karena marah!"

"Setan perempuan, kiranya engkau yang menggangguku?"

Bentak Kwan Im Sianli dengan marah.

"Engkau tidak berhak mencampuri urusan pribadiku!"

Wanita yang baru datang itu tidak kalah cantiknya dibandingkan Bwe Si Ni dan ia tertawa lagi, lalu berkata kepada wanita muda yang ikut datang bersamanya.

"Hi-hi-hi hik ... Ling Ay, kaulihat baik-baik. Inilah wanita yang pernah kuceritakan kepadamu. Kwan Im Sianli Bwe Si Ni. Engkau berhati-hatilah kalau bertemu dengan orang ini!"

Wanita muda itu memang Ling Ay adanya, Cia Ling Ay, janda muda dari Nan-ping yang ditolong oleh Bi Moli Kwan Hwe Li dan kemudian menjadi murid wanita cantik yang menjadi datuk besar persilatan itu.

Sudah tiga tahun lamanya Cia Ling Ay ikut gurunya, setiap hari digembleng Ilmu silat dan sihir sehingga kini ia bukanlah Ling Ay tiga tahun yang lalu.

Dan selain gurunya memiliki cara mengajar yang istimewa, juga Ling Ay ternyata memiliki bakat terpendam yang besar sekali sehingga mudah baginya menguasai Ilmu-Ilmu yang aneh dan dahsyat.

Kini ia mengikuti gurunya mandaki puncak Hwa-san dan mereka melihat betapa Kwan Im Sianli bertanding atau lebih tepat lagi mendesak dan menyerang seorang laki-laki buta yang lihai sekali.

"Bi Moli, aku tidak ingin bermusuhan denganmu. Jangan angkau mencampuri urusan pribadi kami dan pergilah, biarkan aku menyelesaikan urusanku dengan Pangeran Tiauw Sun Ong!"

Kata pula Kwan Im Sianli yang maklum bahwa sebagai sama-sama datuk besar, tingkat kepandaian mereka berimbang dan kalau wanita itu membantu Tiauw Sun Ong, ia sungguh tidak berdaya.

Baru menghadapi Tiauw Son Ong seorang saja tadi ia sudah sukar untuk dapat mengalahkannya.

"Hemm!. Bwe Si Ni! Dahulu ketika kita masih muda, aku telah menjadi seorang puteri bangsawan dan engkau hanya seorang dayang. Engkau menyembah-nyembah kepadaku. Sekarang, setelah angkau memiliki sedikit kepandaian dan berjuluk Kwan Im Sianli, apa kau kira angkau ini benar-benar seorang dewi dan menganggap semua wanita lain sebagai setan perempuan? Engkaulah yang iblis betina, perempuan tak tahu malu! Engkau tentu masih ingat bahwa akulah dahulu pacar dan tunangan kakanda Tiauw San Ong! Kalau tidak terjadi peristiwa dengan selir kaisar itu, tentu aku yang menjadi isterinya! Engkau dayang tak tahu malu, mendesak-desaknya, bahkan sampai sekarang, setelah kanda Tiauw Sun Ong menjadi buta dan mengasingkan diri, engkau masih berani mengganggunya!"

Wajah Bwe Si Ni menjadi pucat, lalu merah kembali.

Biarpun ucapan itu dirasakan amat menghinanya, namun ia tidak mungkin dapat membantah.

Memang, puluhan tahun yang lalu ketika ia masih menjadi seorang dayang istana, Kwan Hwe Li adalah pacar dan tunangan Pangeran Tiauw Sun Ong.

Bahkan pangeran itu menolak cintanya karena telah mempunyai pacar wanita itu, puteri seorang bangsawan tinggi she Kwan.

Hubungan antara Kwan Hwe Li dan Tiauw Sun Ong juga putus setelah Tiauw Sun Ong membutakan matanya dan meninggalkan istana dan kota raja.

"Kwan Hwe Li, lidak perlu engkau menyombongkan diri. Mungkin saja dahulu engkau puteri bangsawan, akan tetapi sekarang tidak lagi! Bahkan Kerajaan Liu-sung telah hancur. Engkau hanya bekas puteri bangsawan. Dan tentang Pangeran Tiauw Sun Ong, biarpun engkau mengaku pacar dan tunangan, akan tetapi siapa tidak tahu bahwa engkaulah yang dahulu mencelakainya dan melaporkan hubungannya dengan selir Pouw Cu Lan kepada kaisar sehingga mereka tertangkap basah?"

"Bwe Si Ni, tak tahu malu engkau! Memang aku melaporkan karena hal itu kuanggap tidak benar. Dan aku berhak karena aku merasa cinta kami dilanggar. Akan tetapi engkau, hanya seorang dayang, engkaupun berani ikut pula melapor kepada kaisar!"

"Hemm, jadi kita ini sama, saja? Lalu mau apa engkau datang ke sini kalau tidak ingin merayu Pangeran Tiauw Sun Ong?"

Kwan Im Sianli mengejek.

"Aku bukan perempuan hina macam kamu! Aku sudah merasa sebagai seorang wanita tua yang tidak haus lagi akan kemesraan pria. Aku dalang karena mengingat akan persahabatan antara aku dan kanda Tiauw Sun Ong, dan hanya akan menjenguknya tanpa ingin mengganggunya. Akan tetapi aku melihat engkau mati-matian menyerangnya untuk membunuhnya. Kanda Tiauw Sun Ong bisa saja mengalah kepadamu, akan tetapi aku tidak! Kalau engkau melanjutkan niat busukmu, aku akan membantunya membunuhmu atau mengusirmu!"

Tiauw Sun Ong yang sejak tadi diam saja, menghela napas panjang dan berkata.

"Sudah, dinda Kwan Hwe Li. Bagaimanapun juga, Bwe Si Ni tidak berniat jahat, hanya menuruti gelora perasaannya. Ingin mengajak aku hidup bersama atau mati bersama."

Kwan Im Sianli mambanting kakinya dengan gemas, lalu menudingkan pedangnya ke arah muka Tiauw Sun Ong.

"Pangeran, ilmu kepandaianku masih terlampau rendah untuk dapat mengalahkanmu. Akan tetapi jangan mengira bahwa aku tidak akan mampu menyiksa batinmu tanpa menyentuh tubuhmu!"

Setelah berkata demikian, Kwan Im Sianli Bwe Si Ni melompat dan meninggalkan tempat itu dengan cepat sekali.

"Seorang wanita yang keras hati ..."

Kata Tiauw Sun Ong, nada suaranya menyesal karena kembali dia telah membikin hati seorang wanita menderita.

"Entah apa yang dimaksudkan dengan kalimatnya yang terakhir itu."

"Pangeran, ancamannya tadi bukan kosong belaka. Ia tidak dapat mengalahkanmu, akan tetapi ia dapat mengganggu atau bahkan membunuh Pouw Cu Lan dan anaknya ... anakmu, pangeran!"

Belum pernah bekas pangeran itu terkejut seperti ketika dia mendengar kata terakhir itu.

"Hwe Li! Apa maksudmu? Anakku ...??"

Pria buta itu sudah bangkit berdiri, mukanya menjadi agak pucat dan jelas bahwa dia nampak gelisah dan terkejut sekali.

"Kanda Tiauw Sun Ong, mari kita duduk, dan dengarkan keteranganku."

Kata Bi Moli Kwan Hwe Li.

Wanita ini masih cantik sekali, sehingga sesuai dengan julukannya, yaitu Bi Moli (Iblis Betina Cantik).

Setelah mereka duduk di atas batu dan Ling Ay juga duduk di belakang subonya (ibu gurunya).

Bi Moli!

melanjutkan.

"Sebetulnya, ketika mengetahui bahwa pangeran berada di sini, aku hanya datang menjenguk saja tanpa maksud lain. Akan tetapi, kiranya iblis betina berkedok dewi itu juga berada di sini bahkan sedang berusaha untuk membunuhmu ..."

"Sudahlah, Hwa Li. Katakan saja apa maksudmu dengan anakku tadi."

Pangeran itu memotong dengan tidak sabar. Dia tidak dapat terlalu menyalahkan sikap Bwe Si Ni, akan tetapi dia juga tidak mau berbantah dengan Hwe Li tentang wanita yang lain itu.

"Pangeran, ketika pangeran meninggalkan Istana. Pauw Cu Lan menerima hukuman berat dari Kaisar, Ia dihukum buang. Akan tetapi ketika hukuman dilaksanakan, di dalam perjalanan ia dirampas oleh Bu-eng-kiam Ouwyang Sek dan dipaksa menjadi isterinya. Akan tetapi, ketika itu ia sudah mengandung, pangeran, mengandung anakmu. Nah, sekarang agaknya Kwan Im sianli Bwe Si Ni hendak mencari ibu dan anak itu dan akan membunuh mereka."

Bi Moli Kwan Hwe Li memandang dengan sinar mata berkilat, lalu bangkit dan berkata kepada muridnya.

"Ling Ay mari kita pergi!"

Dan iapun tanpa banyak cakap lagi sudah meninggalkan tempat itu dengan cepat, diiringi muridnya.

Tiauw Sun Ong masih duduk bersila seperti arca, mukanya pucat sekali.

Dia tahu bahwa guru dan murid itu meninggalkannya, akan tetapi dia tidak berusaha mencegah mereka.

Keterangan Kwan Hwe Li tadi sudah cukup baginya.

Lebih dari pada cukup untuk menikam jantungnya.

Dia maklum bahwa tidak banyak bedanya antara Kwan Hwe Li dan Bwe Si Ni.

Kedua wanita mencintanya dan kecewa karena cinta mereka dia tolak.

Keduanya mendendam kepadanya karena patah hati dan cemburu.

Dan tidak ada musuh yang lebih berbahaya dari pada seorang wanita yang dilanda cemburu.

Wanita yang cemburu dapat melakukan kekejaman yang melebihi pembunuhan.

Akan tetapi, diapun tahu bahwa orang separti Kwan Hwe Li dan Bwe Si Ni tidak akan berbohong.

Mereka-berdua telah menjadi datuk besar dalam dunia persilatan.

Dia mempunyai seorang anak!

Dia tidak perlu tahu pria atau wanita anak itu.

Yang penting, dia mempunyai seorang keturunan dan sekarang anak itu terancam bahaya maut di tangan Bwe Si Ni!

"Tidak, anak itu tidak berdosa.

Anak itu tidak boleh dibunuh, aku akan melindunginya!"

Dengan tekad ini, Tiauw Sun Ong lalu bangkit berdiri dan mengambil bekal pakaian dari dalam gubuk tempat tinggalnya di puncak itu dan tak lama kemudian diapun turun gunung, suatu hal yang sama sekali tidak pernah disangkanya pagi itu.

Pagi tadi, menikmati keindahan musim bunga di puncak Hwa-san, dia mengambil kepulusan untuk tinggal di situ sampai mati, tidak akan turun gunung.

Siapa kira, baru beberapa jam saja kini dia sudah terpaksa turun gunung untuk melaksanakan tugas yang amat berat!

Bukan saja dia harus melindungi nyawa seorang anak dari ancaman maut di tangan Kwan Im Sianli Bwe Si Ni, akan tetapi dia juga akan mengalami kesulitan kalau berhadapan dengan suami Cu Lan yang agaknya menjadi ayah tiri anaknya, yaitu Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, seorang di antara para datuk berar.

Dan dia tahu ke mana harus mencari anak itu.

Tentu di tempat tinggal Ouwyang Sek, di Lembah Bukit Siluman!

Dengan sebuah tongkat, bekas pangeran yang buta itu menuruni bukit yang amat berbahaya itu dengan cepatnya, jauh lebih cepat dari pada seorang yang tidak buta!

Orang takkan percaya bahwa dia buta kalau melihat betapa dia menuruni bukit itu.

Ternyata kepekaan yang hebat pada dirinya dapat menggantikan tugas mata yang telah buta itu.

Kepekaan ini ditambah penguasaan ilmu yang tinggi.

Rumah yang berdiri megah di Lembah Bukit Siluman itu amat besar dan angker.

Gedung kuno itu mempunyai banyak arca dan ukir-ukiran, seperti istana raja saja di antara bangunan-bangunan lain yang nampak kecil sederhana yang terdapat di sekitar lembah itu.

Gadung itu milik Bu-eng.kiam Ouwyang Sek, majikan Lembah Bukit Siluman.

Seluruh sawah ladang yang berada di bukit itu adalah milik datuk ini, dan para petani yang tinggal di sekitar tempat itu merupakan buruh tani penggarap sawah ladangnya.

Bu-eng-kiam Ouwyang Sek terkenal sebagai daluk persilatan yang ditakuti, besar pengaruhnya, dan kaya raya.

Pada pagi hari itu, para pelayan laki-laki dan perempuan yang jumlahnya belasan orang di gedung itu nampak sibuk.

Pihak tuan rumah sekeluarga, yaitu Ouwyang Sek, isterinya, dan kedua anaknya, yaitu Ouwyang Toan pemuda berusia dua puluh delapan tahun, dan Ouwyang Hui Hong gadis berusia dua puluh satu tahun, sedang menerima kunjungan tamu-tamu yang agaknya dihormati oleh keluarga tuan rumah.

Memang jarang terjadi dan agak aneh kalau keluarga Ouwyang yang terkenal angkuh dan memandang rendah orang lain itu sekali ini menerima kunjungan tamu yang dihormati.

Akan tetapi, tidak akan mengherankan lagi kalau diketahui siapa yang datang berkunjung.

Tamu tamu kehormatan itu adalah datuk besar Kui-siauw-giam-ong Suma Koan, majikan Bukit Bayangan Setan bersama putera tunggalnya, Tok-siauw-kwi Suma Hok.

Datuk yang datang sebagai tamu ini mempunyai kedudukan dan tingkat yang sama dengan pihak tuan rumah, dan kunjungannya adalah kunjungan kehormatan, membawa segerobak barang-barang hadiah amat berharga.

Tentu saja Ouwyang Sek merasa terhormat dan girang sekali, dan disambutlah rekan setingkat itu dengan gembira dan penuh kehormatan pula.

Dia mengarahkan isteri dan dua orang anaknya untuk ikut menyambut!

Tentu saja hal ini menggirangkan pihak tamu, karena kedatangan mereka mempunyai maksud untuk mengajukan pinangan!"

Setelah para pengawal dan pengikutnya menghamparkan semua barang hadiah di atas meja besar di ruangan tamu yang luas itu, dipandang dengan kagum oleh Ouwyang Sek dan keluarganya, Suma Koan dengan wajah berseri bangga lalu mamberi hormat kepada tuan rumah.

"Sahabatku Ouwyang, sudah puluhan tahun antara kita terdapat ikatan yang akrab, bukan saja sebagai saingan dalam dunia persilatan, juga sebagai orang setingkat dan sederajat. Biarpun kadang-kadang keadaan membuat kita saling berhadapan sebagai saingan maupun lawan, namun di lubuk hatiku selalu ada perasaan kagum terhadapmu, sobat! Dan karena rasa kagum itulah, maka hari ini kami datang, bukan saja membawa sakedar oleh-oleh sebagai tanda persahabatan dan penghormatan. Juga membawa iktikad baik untuk lebih mempererat hubungan di antara keluarga kita."

Ouwyang Sek yang berusia limapuluh tiga tahun, bertubuh tinggi besar bermuka hitam dan gagah perkara itu, tertawa bergelak sambil memandang kepada tamunya yang usianya limapuluh delapan tahun, dan biarpun tubuh datuk itu kecil kurus, namun Ouwyang Sek tidak memandang rendah kepadanya karena dia tahu bahwa tubuh yang kecil itu memiliki kemampuan luar biasa dan dia sendiri tidak akan mampu mengalahkan Suma Koan dengan mudah.

"Ha-ha-ha-ha, engkau selalu merupakan orang yang kukagumi, sobat Suma! Baik sebagai saingan, lawan maupun kawan. Aku dan keluargaku menghargai kunjungan persahabatan ini, dan marilah engkau dan puteramu menerima hidangan kami seadanya!"

Langsung saja dua orang tamu itu dipersilakan memasuki ruangan dalam, di mana telah diatur meja yang penuh hidangan.

Tamu ayah dan anak itu bersama pihak tuan rumah yang terdiri dari ayah, ibu dan dua orang anak duduk mengelilingi meja hidangan.

Sejak tadi, setelah diberi kesempatan memberi hormat kepada pihak tuan rumah, Suma Hok yang tampan dan pesolek berulang kali melepas pandang mata yang penuh kagum dan sayang ke arah Ouwyang Hui Hong.

Namun gedis ini pura-pura tidak tahu saja walaupun ia bersikap ramah terhadap dua orang tamu itu demi ayahnya.

Dalam lubuk hatinya Hui Hong tak pernah dapat melupakan peristiwa tiga tahun yang lalu ketika ia nyaris diperkosa olah pemuda tampan pesolek itu.

Kedua pihak saling memberi hormat dan selamat melalui pengangkatan cawan arak dan mereka makan minum dengan gembira seperti layaknya tamu dan tuan rumah yang menjadi sahabat akrab dan saling menghormati.

Sungguh luar biasa sekali kalau diingat betapa dua orang datuk ini pernah beberapa kali berhadapan sebagai lawan dan saling serang mati-matian!"

Setelah mereka makan minum sampai kenyang.

pihak tuan rumah mempersilakan dua orang tamunya ke ruangan dalam yang lebih luas.

di mana mereka dapat bercakap-cakap dengan leluasa dan gembira.

Ouwyang Toan dan Ouwyang Hui Hong tetap disuruh menemani ayahnya menyambut tamu-tamu itu dan melayani mereka bercakap-cakap.

Melihat sikap yang ramah dan senang hati dari Ouwyang Sek, Suma Koan melihat kesempatan baik sekali untuk menyampaikan isi hatinya.

"Sahabat Ouwyang, sesungguhnya kedatangan kami ini mempanyai niat yang amat baik, yaitu kami ingin sekali agar keluarga antara kita terjalin hubungan yang lebih baik. bahkan dua keluarga dapat menjadi satu!"

Ouwyang Sek adalah seorang yang keras hati dan keras kepala, kasar dan terbuka, maka dia masih belum mengerti apa yang dimaksudkan tamunya.

"Ha-ha-ha, sahabat Suma kunjunganmu ini saja sudah mempererat hubungan antara kita. Niat baik apalagi yang kau miliki terhadap kami?"

"Sahabat Ouwyang, engkau tahu bahwa aku hanya mempunyai seorang anak, yaitu puteraku Suma Hok ini, biarpun dia bodoh akan tetapi namanya cukup dikenal di dunia kang-ouw dan aku sudah bersusah payah untuk mewariskan seluruh kepandaian dan milikku kepadanya. Tahun ini, usianya sudah duapuluh lima tahun dan setelah mencari-cari sampai beberapa lama, aku tidak melihat seorangpun gadis yang pantas menjadi jodohnya, kecuali puterimu yang cantik jelita dan pandai ini. Kami datang untuk meminang puterimu!"

Ouwyang Sek terbelalak mendengar ini, menoleh ke arah puterinya yang mengerutkan alis dan mukanya menjadi merah sekali, dan diapun tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, aku sampai lupa bahwa aku mempunyai seorang anak perempuan yang sudah dewasa!"

Dia tertawa-tawa lagi.

"Ayah, aku belum ingin menikah!"

Tiba-tiba Hui Hong berkata dengan suara tegas. Ouwyang Sek menghentikan tawanya.

"Ehhh!"

Dia menggerak-gerakkan alisnya yang tebal.

"Hui Hong, ingat, usiamu sekarang sudah dua puluh satu tahun, dan pelamarmu sekali ini adalah putera datuk besar Suma Koan, majikan Bukit Bayangan Setan!"

Suma Koan tertawa.

"Ha-ha, sahabat Ouwyang, harap jangan terlalu memuji. Keadaanku tidak lebih besar dari pada keadaanmu, akan tetapi kalau keluarga Ouwyang menjadi satu dengan keluarga Suma, bukankah kita berdua menjadi yang terbesar dan siapa yang akan berani menentang kita!"

"Benar ... benar ... ah, pinanganmu ini akan kami pertimbangkan baik-baik ...!"

Kata Ouwyang Sek sambil tertawa lagi.

"Ayah! Aku tidak sudi menjadi jodoh jahanam yang tiga tahun lalu nyaris memperkosaku ini!"

Kata Hui Hong dan iapun bangkit berdiri lalu lari meningalkan ruangan itu menuju ke kamarnya.

"Hui Hong ...!"

Ibunya berseru dan lari mengejar. Ouwyang Sek bersungut sungut, merasa tidak senang melihat sikap puterinya dan merasa tidak enak kepada tamunya.

"Sobat Suma Koan, engkau dan puteramu duduklah dulu, aku akan membujuk anak bandel itu. Percayalah, dia pasti akan taat kepada ayahnya,"

Katanya dan diapun lari mengejar anak dan isterinya.

Suma Koan tersenyum dan minum araknya, tidak memperdulikan putranya yang kelihatan kecewa.

Dia sudah merasa yakin bahwa tentu Ouwyang Sek akan menerima pinangannya.

Dia tahu betapa rekannya itu terlalu mementingkan diri sendirl dan akan menggunakan siapapun, termasuk anak sendiri, demi keuntungan diri pribadi.

Kalau keluarga Ouwyang menerima pinangannya, berarti dua keluarga datuk itu menjadi satu dan kedudukan masing-masing menjadi semakin kuat.

Mana mungkin penawaran yang demikian menguntungkan akan ditolak oleh Ouwyang Sek.

Ouwyang Toan yang kini duduk sendiri bersama dua orang temannya, sejak tadi memang sudah merasa canggung dan tidak suka.

Diapun ikut merasa tidak suka mendengar pinangan itu, mengingat bahwa adiknya pernah akan diperkosa Suma Hok yang menjadi saingannya sebagai putera datuk yang bersaingan.

Maka, melihat ayahnya lari mengejar, diapun baugkit dan mengaagguk kepada dua orang tamunya, dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu, juga menyusul adiknya.

Hui Hong duduk di tepi pembaringannya, alisnya berkerut, mukanya merah dan mulutnya cemberut.

Ibunya kini duduk di dekatnya sambil merangkul pundak puterinya.

"Hui Hong. kenapa engkau bersikap seperti itu? Usiamu sudah duopuluh satu tahun dan ayahmu benar, engkau sudah cukup dewasa untuk berumah tangga. Dan biarpun aku belum mengenal pemuda itu, akan tetapi aku tidak melihat keburukan pada dirinya, Dia tampan, halus dan sopan ..."

"Ibu! Ibu tahu apa? Jahanam itu pernah menawan aku dan nyaris memperkosaku, ibu! Kalau tidak ada Kwa Bun Houw yang menyelamatkan aku, tentu anakmu ini sekarang sudah mati membunuh diri karena dinodai jahanam busuk itu. Bagaimana mungkin aku dapat menjadi isterinya!"

"Omong kosong!"

Tiba-tiba ayahnya memasuki kamar dan membentak marah.

"Perbuatannya itu bukan berarti dia jahat dan busuk, melainkan karena dia cinta padamu, Hui Hong. Buktinya, sekarang dia datang bersama ayahnya dan mengajukan pinangan secara resmi. Dan kaulihat sendiri, hadiah yang dibawanya lebih besar dari pada kalau engkau dipinang putera seorang bangsawan tinggi. Ini berarti bahwa keluarga Suma menghargaimu, Hui Hong. Kalau engkau menjadi mantu Suma Koan, engkau akan menjadi seorang nyonya yang terhormat kaya raya, mulia dan terlindung."

"Tidak, aku tidak sudi, ayah!"

Hui Hong berseru, juga dengan suara keras penuh kemarahan.

"Engkau harus mau, ini perintahku!"

Ayahnya membentak pula. Pouw Cu Lan, ibu Hui Hong, segera menengahi.

"Aih, kalian ini ayah dan anak sama-sama keras kepala. Kenapa urusan ini tidak dibicarakan dengan tenang saja? Keduanya suka mengalah, serta mempertimbangkan pendapat masing-masing dan kita rundingkan, mana yang benar dan baik."

Hui Hong adalah seorang gadis yang cerdik walaupun ia keras hati.

Ia juga mengenal ayahnya sebagai seorang yang berhati baja dan sukar sekali untuk mengubah apa yang sudah diputuskan ayahnya.

Maka, tadi ia sudahi memutar otak dan kini ia turun dari pembaringan, berdiri tegak menghadapi ayahnya yang sudah mulai marah.

"Ayah, dongeng-dongeng jaman dahulu menyatakan bahwa setiap orang gadis yang terhormat harus dapat menjaga harga dirinya, dan setiap orang puteri kalau dipinang orang selalu mengajukan syarat. Aku pun ingin menjadl puteri terhormat dan siapapun yang meminangku, harus memenuhi syarat yang kuajukan!"

Mendengar ini, agak berkurang kemarahan Ouwyang Sek.

"Hemm, sekarang engkau bicara dengan sehat. Memang engkau berhak mengajukan syarat. Nah, syarat apa yang kauajukan itu, cepat katakan agar dapat kusampaikan kepada keluarga Suma."

"Aku mempunyai dua macam syarat yang harus dipenuhi."

Kata gadis itu dengan suara tegas.

"Pertama aku minta agar mustika Akar Bunga Gurun Pasir yang hilang dari tangan ayah itu dapat ditemukan kembali dan diserahkan kepadaku. Hal ini menyangkut kehormatan keluarga kami, ayah."

Ouwyang Sek memandang puterinya dengan wajah yang cerah dan dia menganggukkan kepala.

"Bagus! Syarat itu memang pantas dan aku sendiri memperkuat syarat itu. Keluarga Suma harus bisa mendapatkan kembali mustika itu dan menyerahkannya kepada kita!"

Katanya gembira.

"'Masih ada syarat ke dua dan ke tiga, ayah."

"Hemm, katakan dua yang lain!"

"Syarat ke dua, aku hanya mau menjadi isteri seorang yang dapat menandingi dan mengalahkan aku. Hal inipun kulakukan untuk mengangkat nama dan kehormatan ayah."

Pria tinggi besar itu kini tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Baik sekali. Memang putera Suma Koan itu harus belajar yang rajin dan harus dapat mengunggulimu dalam ilmu silat. Syarat ke dua itupun akan kusampaikan kepada mereka."

"Syarat yang ke tiga adalah untuk menebus penyesalanku, ayah. Syarat itu adalah bahwa sebelum aku menerima pinangan itu, harus diusahakan agar aku dapat bertemu dengan Kwa Bun Houw dalam keadaan sehat!"

Terbelalak sepasang mata itu dan kulit muka yang kehitaman itu menjadi semakin hitam. Datuk itu kembali marah.

"Hui Hong, apakah engkau gila? Syaratmu yang ke tiga itu tidak mungkin!"

"Kenapa tidak, ayah? Ketika aku nyaris diperkosa jahanam Suma Hok, aku diselamatkan oleh Kwa Bun Houw. Akan tetapi ayah tidak membalas budi itu. sebaliknya ayah bahkan memukulnya dan melukainya. Aku merasa menyesal sekali, maka aku ingin bertemu dengan dia dan minta maaf."

"Huh, mana bisa begitu? Kalau dia sudah mampus?"

"Kalau dia sudah mati, aku tidak mau menikah!"

"Heiii?"

Gilakah engkau? Celaka, anak ini jatuh cinta kepada setan itu!"

"Memang aku cinta kepada Houw-ko, ayah. Dia baik, berbudi, gagah perkasa dan aku berhutang nyawa dan kehormatan kepadanya. Aku, ..."

"Cukup! Syarat gila itu tidak dapat diterima."

"Kalan begitu, akupun tidak sudi menikah dengan siapapun!"

"Aku akan memaksamu!"

Sepasang mata gadis itu mencorong penuh kemarahan.

"Ayah keras hati dan hendak memaksaku? Apa ayah kira akupun tidak dapat berkeras hati? Dengan kekerasan ayah dapat memaksaku, akan tetapi, akupun dapat membalas. Aku akan membunuh diri ketika pernikahan dirayakan dan jahanam itu hanya akan mengawini mayatkn dan ayah akan mendapat malu besar di depan para tamu!"

"Anak setan! Kalau begitu lebih baik sekarang saja engkan mati!"

Datuk itu sudah mengangkat tangan dan hendak menyerang Hui Hong yang sama sekali tidak kelihatan takut. Melihat ini, Pouw Cu Lan menubruk suaminya.

"Jangan ...!"

Teriaknya.

Akan tetapi sekali dorong, tubuh wanita itu terlempar ke atas pembaringan.

Dorongan yang terarah ini menunjukkan betapa sayangnya Ouwyang Sek kepada isterinya, walau dalam keadaan marah sekalipnn.

Dia melangkah maju hendak melanjutkan serangannya membunuh Hui Hong.

"Ouwyang Sek, engkau tidak berhak membunuh anakku! Ia bukan anakmu, engkau tidak berhak membunuhnya!"

Wanita itu berteriak, nadanya lantang dan mendengar ini, Ouwyang Sek seperti tersentak, tangan yang sudah diangkat itu turun dan perlahan-lahan dia memutar tubuhnya, menghadapi isterinya yang masih terduduk di atas pembaringan.

"Cu Lan, ... kau ... kau membuka rahasia itu ...!"

Kata Ouwyang Sek, semua kekerasan lenyap dari suaranya.

"Tidak perduli! Engkau tidak berhak membunuh anakku. Bukankah selama duapuluh tahun ini aku memegang janji, menyerahkan segalanya kepadamu, bahkan mencoba untuk belajar mencintamu? Akan tetapi, hari ini engkau hendak memaksanya menikah dengan orang yang tidak disukainya, hendak membunuhnya. Ia bukan anakmu!"

Diserang dengan ucapan seperti itu oleh Isterinya, Ouwyang Sek tertegun, mukanya berkerut seperti menahan rasa nyeri di dalam dadanya, kemudian dia menarik napas panjang dan mengangguk-angguk.

"Baik ... baik, Cu Lan. aku tidak akan membunuhnya ..."

Dan dia menoleh ke arah Hui Hong.

"Aku akan minta mereka memenuhi syarat pertama dan ke dua, akan tetapi aku tidak perduli akan syaratmu yang ke tiga. Kalau dua syarat itu telah dipenuhi engkau harus menikah dengan Suma Hok, mau atau tidak mau! Kalau engkau akan membunuh diripun silakan, akan tetapi engkan harus menikah dengan putera Kui-siauw Giam-ong kalau dia dapat memenuhi dua syaratmu!"

Setelah berkata demikian, datuk besar ini keluar dari dalam kamar puterinya dan membanting daun pintu.

Ketika tiba di luar, dia melihat puteranya, Ouwyang Toan berada di situ dan tahulah dia bahwa puteranya tadi juga ikut mendengarkan semua percakapan dalam kamar.

"Mau apa kau di sini?"

Tegur Ouwyang Sek yang masih marah. Wajah pemuda tinggi besar dan gagah itu nampak tegang dan sinar matanya berseri.

"Ayah ... kalau begitu ... adik Hui Hong bukanlah adik tiriku, bukan anak kandung ayah? Kalau begitu ... antara ia dan aku tidak ada hubungan darah sama sekali ..."

"Hemm, kalau sudah begitu kenapa?"

Ayahnya membentak dengan suara lirih agar jangan terdengar isterinya yang berada di kamar puterinya, sambil terus melangkah meninggalkan tempat itu diikuti puteranya.

"Kalau begitu aku dapat mengawininya, ayah! Aku ... sejak dulu aku ... cinta kepada Hui Hong."

Kembali Ouwyang Sek tertegun, akan tetapi karena hatinya sedang risau dan mendongkol, dia cemberut."

Masa bodoh ia mau menikah dengan siapa, asal dapat mamenuhi syarat-syaratnya."

"Apakah syarat-syaratnya, ayah? Aku masih kurang begitu jelas. Ia menyebut-nyebut Kwa Bun Houw ..."

"Itu tidak masuk hitungan! Syaratnya hanya dua, pertama harus dapat menemukan kembali mustika Akar bunga Gurun Pasir, ke dua harus mampu mengalahkannya."

"Akan kucoba, ayah."

Ayahnya menoleh dan memandang kepadanya, lalu mendengus marah.

"Agaknya engkau pun sudah gila!"

Mereka memasuki ruangan tamu dan dua orang tamu mereka segera bangkit menyambut. Suma Koan tersenyum lebar.

"Aha, sobat Ouwyang Sek, aku percaya engkau tentu telah berhasil membujuk puterimu, dan menerima pinangan kami."

Ouwyang Sek duduk, juga Ouwyang Toan mengambil tempat duduk semula. Setelah memandang kepada kedua orang tamu itu, dia lalu berkata.

"Aih. puteriku memang manja sekali. Ia tidak lagi menolak, akan tetapi mengajukan syarat-syarat!"

"Aihh! Syarat-syarat apakah yang diajukan adinda Ouwyang Hui Hong itu, paman!"

Terdengar Suma Hok bertanya, suaranya penuh gairah karena dia merasa yakin akan mampu memenuhi syarat yang diajukan gadis yang membuatnya tak nyenyak tidur tak enak makan itu.

"Syarat ini bukan hanya untuk keluarga Suma, melainkan syarat umum terhadap siapa saja yang ingin memperisteri Hui Hong. Pertama, pemuda itu harua mampu mencari sampai dapat mustika Akar Bunga Gurun Pasir kami yang hilang dan menyerahkan kepada Hui Hong, dan ke dua, pemuda itu harus mampu menandingi dan mengalahkan Hui Hong?"

Suma Hok mengerutkan alisnya. Syarat syarat itu, terutama yang pertama, terasa berat olehnya dan dia memandang kepada ayahnya. Akan tetapi Suma Koan tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, syarat-syarat itu cukup sukar, akan tetapi untuk mendapatkan seorang gadis sehebat Ouwyang Hui Hong. syarat itu masih terlalu lunak. Sobat Ouwyang, kami menyanggupi syarat-syarat itu. Pertama akan kami coba penuhi syarat pertama menemukan kembali mustikamu itu, baru kemudian kami memenuhi syarat ke dua. Nah, kami minta diri, akan segera melaksanakan syarat pertama."

Ouwyang Sek bangkit dan mengantar kedua orang tamunya sampai ke pintu depan, ditemani oleh Ouwyang Toan.

Diam-diam Ouwyang Toan merasa lega dan girang.

Tadi ayahnya mengajukan di depan dua orang tamunya bahwa syarat-syarat itu ditujukan kepada siapa saja yang hendak memperisteri Hui Hong!

Berarti dia pula berhak mempertsteri gadis itu kalau dapat memenuhi dua syarat itu.

Dia harus lebih dulu mendapatkan kembali Akar Bunga Gurun Pasir, jangan sampai keduluan Suma Hok!

Akan tetapi Suma Hok merasa tidak puas sama sekali.

Biarpun ayahnya telah menyanggupi dan menerima dua syarat itu, akan tetapi dia merasa seperti dipersukar, apalagi dia tidak mendapat kesempatan untuk berpamit kepada Hui Hong sehingga dapat bertemu lagi dengan gadis itu.

Maka, sebelum ayahnya meninggalkan pintu gerbang keluarga Ouwyang, dia berhenti dan memberi hormat kepada Ouwyang Sek.

"Maafkan saya, paman Ouwyang, Karena syarat itu cukup berat dan entah sampai kapan saya akan dapat membawa ke sini mustika itu untuk dihaturkan kepada paman dan adinda Ouwyang Hui Hong, maka perkenankanlah saya untuk berpamit kepada puteri paman yang amat saya cinta itu."

Mendengar ini, Suma Koan cepat berkata untuk membela puteranya.

"Ha-ha-ha, dasar orang muda. Sobat Ouwyang, kurasa permintaan anakku itu pantas saja. Pula, sebagai tamu, aku sendiri merasa kurang enak kalau tidak pamit dari semua keluargamu yang tadi menyambut kami. Akupun ingin berpamit kepada isterimu dan puterimu."

Ouwyang Sek baru teringat akan sopan santun. Keluarganya telah menyambut tamu, bagaimana sekarang tidak muncul ketika tamu-tamunya pulang.

"Ha-ha-ha, memang sulit mengatur wanita. Toan-Ji (anak Toan), kau cepat minta ibumu dan adikmu keluar mengantar tamu!"

Biarpun hatinya merasa tidak senang, Ouwyang Toan pergi juga ke kamar adiknya.

Dia mengetuk pintu kamar dan yang keluar adalah ibu tirinya.

Akan tetapi dia dapat mendengar suara adiknya menangis!

Adiknya menangis!

Sungguh hal yang teramat aneh.

Gadis yang keras hati dan gagah berani itu menangis!

Dan dia teringat akan rahasia yang dibuka ayahnya tadi.

Agaknya itulah yang membuat Hui Hong menangis.

Ketika mendengar Ouwyang Toan menyampaikan permintaan suaminya, Pouw Cu Lan mengerutkan alisnya.

"Katakan pada ayahmu bahwa saat ini adikmu tidak mungkin dapat keluar mengantar tamu pulang,"

"Tapi ayah akan marah ..."

"Katakan saja kepada ayahmu bahwa kalau besok para tamu mendatang lagi, aku tentu sudah dapat membujuk Hui Hong untuk keluar dan mengantar mereka pulang."

Ia lalu masuk lagi dan menutupkan daun pintu kamar anaknya.

Terpaku Ouwyang Toan menyampaikan jawaban ibunya itu kepada ayahnya yang menjadi bingung, tak tahu bagaimana harus bersikap atau bicara kepada tamunya.

Akan tetapi mendengar laporan Ouwyang Toan itu.

Suma Hok yang cerdik segera berkata dengan gembira.

"Kalau begitu, biarlah kita menanti semalam di sini, ayah! Kesempatan ini dapat kupergunakan untuk melihat-lihat keindahan bukit ini."

"Ha-ha-ha, boleh saja kalau sobat Ouwyang Sek tidak berkeberatan menerima kita bermalam di sini semalam, agar besok aku dapat berpamit dari semua keluarganya."

Kata Suma Koan.

Tentu saja Ouwyang Sek tidak dapat berbuat lain kecuali menerima mereka, dan mereka semua masuk kembali.

Hanya Ouwyang Toan yang diam-diam mendongkol kepada Suma Hok yang mulai saat itu dianggap sebagai saingannya untuk memperisteri Hui Hong yang sudah disayangnya sejak kecil.

Rasa sayang sebagai kakak terhadap adik yang makin lama berkembang menjadi asmara, Apalagi setelah diketahui bahwa Hui Hong bukan adiknya, melainkan orang lain!"

Ouwyang Toan tidak salah dengar.

Ketika dia menyampaikan pesan ayahnya kepada ibu tirinya, dia memang mendengar adiknya sedang menangis.

Dan memang hal ini amat aneh.

Hui Hong sejak kecil hidup dalam keluarga Ouwyang Sek, digembleng sehingga menjadi seorang gadis yang berani, keras hati dan seolah-olah pantang menangis, seperti seorang laki-laki gagah perkasa saja.

Akan tetapi ketika itu, ia menangis terisak-isak, tak tertahankan sampai sesenggukan.

Kemarahan ayahnya yang hendak memaksanya menerima pinangan Suma Hok tidak membuat ia menangis walaupun ia marah, kecewa dan penasaran sekali.

Akan tetapi, ketika mendengar ucapan ayah dan ibunya, ketika ibunya mengatakan bahwa ia bukan anak kandung ayahnya, hal itulah yang menikam ulu hatinya.

Setelah ayahnya pergi, ia menubruk ibunya, bahkan mengguncang kedua pundak Ibunya.

"Ibu, apa artinya semua itu? Aku bukan-anak kandung ayah? Ibu, apa artinya ini? Ayah bilang ibu telah membuka rahasia. Ibu, rahasia apakah yang terkandung di balik kehidupan ibu dan ayah? Kalau aku bukan anak kandung ayah, lalu siapakah ayahku? Ibu, ceritakan semua kepadaku!"

Dan berceritalah Pouw Cu Lan. Wanita cantik berusia empatpuluh dua tahun kita berceritera dengan suara gemetar menahan perasaan yang menusuk-nusuk.

"Tahukah engksu siapa ibumu ini, anakku?"

"Bukankah ayah sering membanggakan bahwa ibu adalah bekas selir kaisar? Apakah kalau begitu ayahku adalah ... kaisar?"

Wanita itu menggeleng kepalanya. Sungguh berat rasanya membuka rahasianya, rahasia yang penuh keaiban terhadap anak kandungnya sendiri.

"Memang benar, aku adalah seorang yang pernah menjadi selir mendiang Kaisar Cang Bu di Nan-king. kaisar Kerajaan Liu-sung yang telah jatuh dan digantikan Kerajaan Chi yang sekarang ini, anakku. Dengan mendiang kaisar, aku tidak mempunyai anak. Akan tetapi, duapuluh dua tahun yang lalu, sebagai selir kaisar aku bertemu dengan seorang pangeran. Kami. ... saling jatuh hati, saling mencinta dan kami ... mengadakan hubungan gelap."

Hui Hong yang mendengar cerita itu mengerutkan alisnya, akan tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Ia hanya tahu bahwa ibunya terpaksa menjadi selir kaisar tidak mencinta kaisar dan bertemu dengan pangeran yang di cintanya.

"Akan tetapi, hubungan kami ketahuan kaisar. Pangeran itu merasa malu dan ... membutakan kedua matanya sendiri, lalu minggat dari Istana, dan aku ... aku menerima hukuman dari kaisar. Aku dihukum buang, ..."

Kini Pouw Cu Lin tidak dapat menahan tangisnya lagi karena ia teringat akan kekasihnya, pangeran itu.

"Lalu bagaimana, ibu?"

Karena penasaran dan ingin tahu, Hui Hong mendesak ibunya yang sedang menangis.

"Ketika aku sedang dikawal menuju ke tempat pembuangan, Ouwyang Sek menghadang, membunuh para pengawal dan membebaskan aku dari kerangkeng, lalu dia ... dia mengambil aku sebagai isterinya. Hui Hong mengerutkan alisnya. Cerita ibunya sungguh membuat ia tidak merasa senang. Ibunya seorang yang demikian cantik, dan pria yang selama ini dianggap sebagai ayahnya demikian buruk dan kasar.

"Dan ibu mau?"

Komentarnya yang mengandung teguran karena penasaran. Wanita itu terisak, kepalanya tunduk dan ia mengangguk.

"Aku ... aku terpaksa mau karena ... karena hendak menyelamatkan ... engkau, Hui Hong."

Sekali ini Hui Hong terlonjak kaget.

"Ibu, apa artinya ini! Apa maksud ibu?"

"Hui Hong, apakah engkau kira ibumu ini demikian rendah sehingga rela begitu saja dipisahkan dari pangeran itu, satu-satunya orang yang kukasihi dengan badan dan batinku. Demi engkaulah maka aku terpaksa menerima paksaan derita lahir batin. Kalau tidak ada engkau, tentu sebelum dihukum buang, aku sudah membunuh diri mencuci aib dan duka karena dipisahkan dari pangeranku."

"Demi aku, Ibu, jelaskanlah!"

Hui Hong semakin penasaran.

"Ketika aku dan pangeran itu dipisahkan dengan paksa. aku dalam keadaan mengandung, anakku. Mengandung ... engkau! Baru tiga bulan kandunganku itu. Aku tidak ingin kehilangan engkau, karena engkaulah satu-satunya peninggalan kekasihku itu kepadaku. Aku rela dihukum buang, bahkan ketika aku diselamatkan Ouwyang Sek, aku rela diperisteri dengan syarat bahwa aku baru mau menjadi isterinya setelah engkau terlahir dan setelah dia berjanji bahwa dia akan menganggapmu sebagai anak sendiri, akan memperlakukanmu dengan kasih sayang seperti anak sendiri."

"Aihhhh, ibu ... !"

Mulai saat itulah Hui Hong menangis, merangkul ibunya.

Ia dapat membayangkan betapa hebat penderitaan ibunya, derita lahir batin demi untuk menyelamatkan dirinya, puterinya!

Semua itu dilakukan ibunya karena amat besar cinta ibunya, terhadap ayah kandungnya, pangeran itu, sehingga rela berkorban perasaan, menderita lahir batin asal dapat menyelamatkan keturunan pangeran itu.

Sampai lama dua orang wanita itu saling rangkul dan bertangis-tangisan.

"Menangislah anakku ... menangislah karena engkau adalah manusia biasa, dari ayah yang luhur budi bukan anak seorang datuk sesat yang keras kepala dan keras hati ... menangislah, anakku sayang ..."

Belaian Ibunya itu membuat Hui Hong makin mengguguk dalam tangisnya.

Setelah tangis itu mereda, Hui Hong hanya terisak-isak, dan pada saat itu Ouwyang Toan muncul di pintu memanggil ibunya.

Ia mendengar percakapan mereka dan matanya terbelalak, kemudian dia tersenyum-senyum dan batinnya bersorak.

Hui Hong bukan adik kandungnya, bukan adik tirinya, bukan apa-apa, orang lain.

Ini berarti bahwa dia boleh mengawini gadis itu!"

Setelah pemuda itu pergi, Hui Hong telah dapat menguasai dirinya, tidak terisak lagi.

Ada perasaan aneh dalam hatinya.

Ia bukan putri Ouwyang Sek!

Sungguh aneh sekali perasaan ini membuat ia merasa lega dan bahkan bangga!

Seringkali diam-diam ia merasa tidak suka akan sifat dan watak ayahnya itu.

Terlalu keras, terlalu kejam, dan kadang terlalu licik.

Kini bahkan ia merasa lega bahwa yang berbuat jahat dan keji terhadap Kwa Bun Houw bukanlah ayah kandungnya, bukan pula sanak saudara, melainkan orang lain.

Tidak ada sedikitpun darah datuk itu mengalir di tubuhnya.

Ayah kandungnya seorang pangeran!

Perasaan bangga timbul dan ia merasa betapa harga dirinya melambung tinggi!

"Ibu, siapakah nama pangeran itu, ayah kandungku itu?"

Akhirnya ia bertanya. Tiba-tiba terdengar suara lembut menyelinap masuk kamar itu. Datang dari arah jendela kamar.

"Namanya Pangeran Tiauw Sun Ong!"

"Ehh? Siapa itu ...?"

Pouw Cu Lan terkejut dan terbelalak memandang ke arah jendela.

Akan tetapi, reaksi Hui Hong sudah lebih cepat lagi.

Sekali berkelebat, gadis itu telah meloncat keluar dari dalam kamar sambil mendorong daun jendela kamar terbuka.

Ia masih sempat melihat berkelebatnya bayangan seorang wanita berlari cepat sekali meninggalkan taman bunga di luar kamarnya.

Tanpa mengeluarkan suara, iapun mengerahkan ilmunya berlari cepat dan melakukan pengejaran.

Bayangan itu mampu bertari secepat terbang.

Hui Hong merasa penasaran sekali melihat bayangan itu melesat amat cepatnya menuruni bukit melalui bagian belakang yang sunyi dan juga amat sukar dilalui.

Ia tidak mau kalah, mengerahkan ilmunya berlari cepat, meloncat bagaikan seekor kijang melakukan pengejaran.

Namun, sampai tiba di kaki bukit yang sudah amat jauh dari rumah Ouwyang Sek, belum juga ia mampu menyusulnya.

Akan tetapi, setelah mereka tiba di tepi hutan yang amat sunyi, wanita itu berhenti dan membalikkan tubuhnya, menanti pengejarnya sambil tersenyum.

Dan begitu berhadapan, Hui Hong, tertegun.

Wanita itu cantik manis dengan kulit muka yang putih dan tubuh yang ramping, padat.

Nampaknya baru berusia tiga puluhan tahun, dan ia sama sekali tidak mengenalnya, bahkan belum pernah merasa berjumpa dengan wanita itu.

Suara wanita inikah yang tadi menjawab pertanyaannya tentang nama ayah kandungnya?

"Bibi, engkaulah yang tadi menjawab pertanyaanku dari luar kamar?"

Tanya Hui Hong, sambil memandang dengan penuh perhatian.

Wanita itu tersenyum dan nampak deretan giginya yang putih, Ia hanya mengangguk tanpa menjawab, akan tetapi pandang matanya juga mengamati wajah dan bentuk tubuh Hal Hnng yang merupakan seorang gadis yang cantik jelita, nampak gagah dan anggun, seorang gadis yang sudah matang, bagaikan setangkai bunga sedang mekarnya.

Melihat wajah yang cantik itu tersenyum ramah, Hui Hong merasa tidak enak kalau bersikap kasar, maka iapun merangkap kedua tangan di depan dada, lalu bertanya.

"Kalau boleh aku mengetahui, siapakah bibi dan mengapa pula bersikap seaneh ini?"

"Engkau tentu Tiauw Hui Hong, bukan?"

Wanita itu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan pula. Hui Hong mengerutkan alisnya.

"Tiauw ...?"

Ia menegaskan.

"Tentu saja,"

Wanita itu tersenyum.

"Ayah kandungmu adalah Pangeran Tiauw Sun Ong, engkau tentu she Tiauw, bukan she Ouwyang."

"Siapakah engkau, bibi? Kenapa engkau mengetahui tentang ayah kandungku?"

"Hemm, hanya akulah yang tahu di mana adanya ayah kandungmu sekarang. Ibumu sendiri mana tahu? Sejak pangeran meninggalkan istana, ibumu tak pernah bertemu lagi dengan ayahmu, apalagi ia lalu menjadi isteri datuk iblis itu."

"Bibi, siapa nama bibi?"

"Belum waktunya engkau mengenal namaku. Kalau sekarang engkau suka ikut dengan aku, tentu aku akan dapat mengusahakan pertemuan antara engkau dan ayahmu. Nah, marilah engkau ikut pergi denganku."

Hui Hong mengerutkan alisnya.

"Bibi, bagaimana mungkin aku pergi bagitu saja? Ibuku tentu tahu di mana adanya ayah kandungku dan aku dapat mencarinya sendiri."

Wanita itu memandang kepadanya dengan senyum mengejek.

"Hemm, keras hati dan sombong seperti ayahnya. Kalau tidak percaya kepadaku, boleh kau tanya sekarang juga kepada Ibumu. Akan tetapi ingat, tanpa aku engkau takkan dapat tahu di mana adanya ayahmu itu. Nah, aku tunggu di sini, akan tetapi tidak sampai malam. Tanyalah kepada ibumu."

Hui Hong mengangguk dan cepat ia mempergunakan Ilmu berlari cepat mendaki bukit, diikuti pandang mata wanita itu yang tersenyum-senyum.

"Pangeran, kalau aku menahan puterimu, engkau pasti akan datang kepadaku."

Kata wanita itu seorang diri.

Kwan Im Sianli Bwe Si Ni merasa senang karena ia memperoleh akal yang baik.

Tidak ada gunanya membunuh puteri kandung pangeran itu, karena hal itu tentu membuat pangeran itu makin benci kepadanya.

Padahal ia menghendaki pangeran yang dicintanya itu akan membalas cintanya dan menghabiskan sisa hidup di sampingnya.

Pouw Cu Lan masih berada di kamar puterinya dengan bingung, menduga-duga siapa suara wanita tadi yang mengenal nama Pangeran Tiauw Sun Ong!

Iapun merasa khawaitir karena sudah agak lama puterinya melakukan pengejaran belum juga kembali.

Namun, ia percaya akan kelihaian puterinya, dan menanti di situ sampai puterinya kembali.

Ketika Hui Hong meloncat masuk melalui jendela.

Pouw Cu Lau memandang dengan gembira.

"Bagaimana, Hui Hong. Siapakah orang yang bicara tadi?"

"Nanti dulu, ibu. Aku ingin kepastian, benarkah nama ayah kandungku Tiauw Sun Ong?"

"Benar, anakku. Akan tetapi siapakah ia tadi ... ?"

"Dan ibu tahu, di mana sekarang ayah kandungku itu? Di mana Pangeran Tiauw Sun Ong sekarang?"

Ibunya menggeleng kepala dengan sedih.

"Bagaimana aku tahu, anakku? Sejak peristiwa itu terjadi, aku ditangkap lalu dihukum buang, dan sejak itu aku tidak pernah lagi bertemu dangan dia, bahkan tidak pernah mendengar di mana ia berada. Aku yakin bahwa ayahmu ... ah maksudku, Ouwyang Sek, dia tentu tahu di mana adanya Pangeran Tiauw Sun Ong, akan tetapi dia tidak pernah mau bicara tentang pangeran itu."

"Benar juga ucapan perempuan cantik tadi."

Pikir Hui Hong.

"Ibunya sendiri tidak tahu di mana adanya ayah kandungnya!"

"Ibu, aku akan pergi mencari ayah kandungku."

"Tapi, di mana engkau akan mencarinya! Dan belum kauceritakan, siapa wanita yang tadi menyebut nama ayahmu?"

"Aku tidak mengenalnya, ibn. Ia seorang wanita cantik yang usianya sekitar tigapuluh tahun lebih. Ia tahu di mana ayahku berada dan aku akan diajaknya pergi mencari ayah."

"Tapi ... tapi, apakah ia? Aku khawatir sekali, anakku. Jangan engkau pergi kalau belum mengenal benar wanita itu."

Akan tetapi Hui Hong tidak perduli.

Cepat ia mengambil beberapa potong pakaian dan berkemas, dibuntalnya pakaian itu dan setelah membawa bekal, tidak lupa membawa siang-kiam (sepasang pedang) yang menjadi senjatanya, iapun pergi meninggalkan ibunya walaupun wanita itu menangis dan mencegahnya Di kaki bukit itu, ia melihat wanita cantik tadi masih menantinya dan tanpa banyak cakap lagi Hui Hong lalu pergi bersamanya, meninggalkan Bukit Siluman.

Pria itu usianya sudah kurang lebih enam puluh tahun, namun tubuhnya masih gagah dan ramping kokoh, tidak seperti orang seusia dia yang biasanya kalau tidak kurus kering, tentu gendut dan gembrot dengan kulit bergantungan penuh lemak, muka penuh keriput dan garis-garis ketuaan tanda derita hidup.

Wajahnya masih nampak tampan dan anggun walaupun kedua matanya buta, terpejam dan tidak berbiji lagi.

Dia melangkah perlahan dengan tongkat butut di tangan pada saat ada belasan orang berdatangan dari depan.

Pada hal tadi, ketika tidak ada orang lain, pria ini berjalan dengan cepat seperti orang berlari saja, akan tetapi begitu muncul rombongan terdiri dari belasan orang itu, tiba-tiba saja langkahnya menjadi perlahan dan biasa.

Hal ini saja membuktikan bahwa biarpun kedua matanya buta, orang ini dapat mengetahui akan munculnya belasan orang itu.

Di Jodohkan dengan Tiauw Hui Hong BELASAN orang itu rata-rata nampak gagah dan kuat.

berusia dari tigapuluh sampai limapuluh tahun, dipimpin seorang laki-laki tinggi besar berusia limapuluh tahun yang sikapnya gagah sekali.

Begitu melihat pria buta itu, belasan orang ini saling berbisik dan mereka sengaja lari menghadang pria itu.

Pria buta itu maklum bahwa belasan orang itu menghadang di depannya.

Dia menahan langkahnya, berdiri bersandar tongkat bututnya dan menundukkan muka.

Nampak acuh, namun sesungguhnya, sepasang telinganya menangkap semua gerakan belasan orang itu, sampai gerakan yang sekecil-kecilnya.

Setelah berhadapan.

pemimpin rombongan itu, yang tinggi besar dan gagah, segera maju dan berlutut dengan sebelah kakinya, memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada.

Empat belas orang pengikutnya.

Ikut pula berlutut ketika si tinggi besar berlutut dan semua orang memberi hormat.

Akan tetapi, pria buta itu bersikap seolah tidak tahu akan, apa yang terjadi di depannya.

"Pangeran, hamba bekas Jenderal Yap Lok, maafkan hamba dan empat belas orang pengikut hamba yang tardiri dari bekas para perwira menengah Kerajaan Liu-sung kalau hamba sekalian menghadang dan mengganggu ketenteraman paduka."

Pria buta itu memang bekas Pangeran Tiauw Sun Ong. Dia tersenyum, senyum lembut dan suaranya juga lembut ketika dia berkata.

"Seperti juga kalian ini bebas jenderal dan bekas perwira, akupun hanya bekas pangeran saja. Saudara Yap, kita sekarang menjadi orang-orang biasa, harap jangan memakai segala macam peradatan dan kesungkanan. Marilah kita bicara seperti kanalan dan sahabat saja. Bangkitlah kalian dan kalau aku boleh bertanya, kalian hendak ke mana?"

"Maaf, pangeran. Kami tidak dapat menghapus sebutan pangeran karena bagi kami, paduka satu-satunya pangeran yang masih ada, dan padukalah harapan kami satu-satunya. Kami sengaja mendaki Bukit Hwa-san untuk mencari dan menghadap paduka."

Pria buta itu mengerutkan alisnya.

Sudah puluhan tahun dia meninggalkan Kerajaan Liu-sung, sampai beberapa tahun yang lalu kerajaan itu hancur dan runtuh, kini digantikan oleh Kerajaan Chi.

Dia sudah tidak menganggap dirinya sebagai pangeran, Apalagi berhubungan dengan bekas pembesar militer kerajaan keluarganya yang sudah jatuh itu.

"Saudara Yap, ada urusan apakah engkau dan teman-temanmu mencari aku? Sudah puluhan tahun aku mengasingkan diri dan tidak ingin lagi berurusan dengan keributan dunia."

Biarpun mulutnya berkata demikian, namun diam-diam Tiauw Sun Ong merasa hatinya pedih.

Baru saja dia terpaksa meninggalkan puncak Hwa-san setelah mendengar bahwa dia mempunyai keturunan, mempunyai seorang anak kandung yang terlahir dari Pouw Cu Lan, hasil hubungan gelapnya dengan selir kaisar duapuluhan tahun yang lalu.

Dan kini, keselamatan Pouw Cu Lan dan puterinya itu diancam oleh Kwan Im Sianli Bwe Si Ni yang hendak membalas dendam kepadanya karena dia tidak mau diajak hidup bersama!

Dia terpaksa terjun ke dunia ramai untuk melindungi anak kandungnya, akan tetapi di depan bekas Jenderal Yap Lok, dia mengatakan bahwa dia tidak ingin lagi berurusan dengan keributan dunia!"

Baca Juga: Suling Naga 9

Baca Juga: Jodoh Rajawali 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert