Eps 5 Raja Silat - Chin Hung
Baca online Raja Silat - Chin Hung
Cersil Raja Silat - Chin Hung.
"Didalam kuil ini tantu ada barang barang yang mencurigakan sekali, awas jangan sampai kena terjebak."
Baru saja dia merasa amat curiga mendadak dari belakang badannya terdengar suara benturan yang amat karas sekali dua buah pintu ruangan itu mendadak sudah tertutup dengan sangat rapatnya diikuti suara tertawa yang sangat menusuk telinga bergema melalui seluruh ruangan tersebut.
Lie Loo jie segera bisa menangkap kalau suara itu berasal dari Thiat bok Thaysu, air mukanya berubah sangat hebat sambil menyambar tangannya si gadis cantik pengangon kambing dia meloncat ke kanan.
"Lie sicu kau orang tidak usah gugup, terdengar suara dari Thiat Bok Thaysu beigema datang.
"Kau telah memasuki kuil Siang Lian si-ku. Kau orang sudah tidak pandang sebelah mata-pun terhadap kuil Siang Lian si kami ini, kenapa sekarang menjadi gugup ?"
Tetapi . .Hee hee, urusnj yang terjadi didalam dunia memang sukar untuk diduga semula."
Selesai berkata dia kembali tertawa serak, diikuti suara keagungan Budha yang membetot-kan nyawa.
"Omintohud ..Omintohud."
Suaranya itu kedengarannya amat mengerikan sekali sehingga membuat bulu kuduk mereka berdua pada berdiri ditambah pula suasana didalam kuil itu amat menyeramkan seperti berada diakherat saja wembuat hati mereka berdua semakin bergidik.
Saat ini gadis cantik pengangon kambinglah yang merasa paling kaget bercampur ketakutan sambil menarik narik tangan Hek Loo jie tanya nya dengan suara yang amat lirih.
"Tia, kau dengar hweesio kurus kering itu ber bicara dari mana? kenapa kita tidak bisa melihat dirinya?"
Dalam hati Lie Leo jie tahu dirinya sudah terjerumus kedalam situasi yang sungguh sungguh membahayakan keselamatan jiwanya, oleh sebab itu seluruh perhatiannya sudah dipusatkan pada gerak gerik yang terjadi diruangan itu, terhadap perkataan itu dari gadis cantik pengangon kambing itu dia orang sama sekali tidak memberikan jawabannya.
"Sreet"
Tiba tiba dia orang mencabut keluar goloknya yang amat tipis dan dicekal kencang kencang ditangannya, sedangkan sepasang matanya dengan amat tajam sekali menyapu beberapa kali keseluruh ruangan.
Sikapnya yang amat tegang dari Lie Loo jie baru dilihat gadis cantik pengangon kambing untuk pertama kalinya, tak terasa diapun merasa hatinya berdebar dengan amat kerasnya, dalam hati dia berpikir.
"Apakah hweesio kurus dan hitam pekat itu benar benar lihay sekali?'' Ketika pikiran ini berkelebat didalam benak nya, mendadak dia teringat kembali terhadap keselamatan dari Lie Siauw Ie serta Liem Tou yang tersangkut diatas tanduk kerbau.
"sebenar nya mereka telah pergi ke mana ? apakah merekapun juga terjebak oleh alat rahasia yang ada didalam kuil ini?"
Teringat akan hal ini seperti juga baru saja disiram dengan sebaskom air dingin hatinya merasa berdesir, bisiknya kembali kepada Lie Loo jie.
"Tia, apakah didalam kuil ini benar benar ada alat rahasianya"
"Wan jie, kau jangan bertanya terus terusan"
"seru Lie Loo jie sewaktu mendengar gadis cantik pengangon kambing bertanya untuk kedua kalinya.
"Kita harus memperhatikan sekitar tempat ini apakah ada suatu perubahan yang mencurigakan"
Karya . Khu Lung aka. Lahirnya Dedengkot Silat diterjemahkan oleh Tjan Ing Djoe tahun 1969 Upload by Masrizki di Indozone Ebook by Dewi Kangzusi
http.//kangzusi.com/
Jilid 17. Terperangkap Di Dalam Kuil Siang Lian Si "Tia, Lalu Ie Cici apa mungkin sudah.."
"Tidak usah banyak tanya lagi, aku sudah tahu!' Potong Lie Loo jie dangan cepat. Berbicara sampai disitu dia segera menarik tangan si gadis cantik pengangon kambing untuk menyusup dengan cepatnya kedepan, dia bisa melihat pada dinding pintu itu ternyata telah terbuka sebuah pintu yang menghubungkan tempat itu dengan sebuah lorong yang sangat panjang sekali. Si gadis cantik pengangon kambing menjadi amat girang, dengan gerakan badan yang Cepat dia siap siap hendak menerjang masuk terlebih dulu ke dalam lorong.
"Jangan terburu buru, jangan sampai terkena bokongannya"
Mendadak teriak Lie Loo jle sambil menarik tangannya kebelakang.
Tubuh gadis cantik pengangon kambing itu segera mundur baberaba laagkah kebelakang, dan pada saat itu pula terdengar Thiat Bok Thaysu tertawa kembali dengan amat seramnya.
"Hee .. hee ..heee .. sungguh hebat sekali kau orang, tidak kuduga si cangkul pualam Lie Sang jadi orang amat teliti sekali, tapi sekalipun begitu apa gunanya?? saat ini walaupun kau punya sayappun jangan harap bisa terbang lolos dari tempat ini."
Dengan perlahan pintu tadi ditutup kembali dengan rapatnya disusul dengan bergemanya suara lonceng yang berbunyi tak henti hentinya didalam ruangan tersebut.
Kiranya genta yang semula digantung pada ujung tembok sebelah kiri saat ini secara otomatis sudah bergoyang dengan amat kerasnya sehingga suaranya memekikkan telinga.
Didalam ruangan kuil yang demikian besar dan ditutup dengan begitu rapatnya suara pantulan dari gema tersebut benar benar dahsyat sekali, membuat Lie Loo jie serta gadis cantik pengangon kambing benar benar kewalahan, untuk berbicarapun terpaksa harus berteriak teriak keras Ditengah bergemanya suara genta yang mengacaukan pikiran terdengar suara tertawa yang mengerikan dari Thiat Bok Thaysu berkumandang kembali, makinya.
"Hey orang she Lie, tidak kusangka sama sekali kamu orang ternyata begitu kejamnya, seluruh hweesio dari Siang Lian Si ku hampir-hampir sudah terbinasa ditanganmu semua, jika tidak berhasil membalas dendam ini hari aku bersumpah tidak akan jadi manusia."
Saat ini Lie Loo jie benar benar memperhatikan berasalnya suara dari Thiat Bok Thaysu, akan tetapi walaupun dia sudah memperhatikan dengan amat teliti jsngan dikata bayangan manusia sekalipun letak berasalnya suaranya pun dia tidak bisa mengetahui.
"Mendadak ..."
"Kraaak...kraaak."
Suara yang amat berisik sekali bergema memenuhi seluruh ruangan tersebut.
"Tia, coba kau lihat"
Terdengar si gadis cantik pengangon kambing itu berbisik kepada diri Lie Loo jie.
Dengan mengikuti tudingannya Lie Loo jie segera memandang kesana.
tampaklah ketiga buah patung Budha yang ada dibelakang meja sembahyang itu meloncat turun dari tempatnya.
Ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan lalu dengan gerakan yang amat cepat sekali ketiga buah patuug itu menyerang ke arah si gadis cantik pengangon kambing serta diri Lie Loo jie.
Bersamaan waktunya pula ketiga buah patung Budha itu mementangkan mulutnya secara tiba tiba bagaikan kilat cepatnya tiga rentetan sinar yang berbeda memancar keluar.
Dan mulut patung Budha yang ada ditengah ternyata sudah memancar keluar sinar yang amat dingin, dari patung Budha yang ada disebelah kanan memancar keluar sinar api yang sangat panas sedangkan dari patung sebelah kiri memancar keluar sebuah sumber air berwarna hijau tua, sekali pandang saja sudah tahu bila air itu sangat beracun sekali.
Mendadak Lie Loo jie membentak keras telapak kirinya dengan keras melancarkan Suatu pukulan dahsyat ke depan menghantam ke atas patung Budha itu, serunya dengan cepat.
"Wan-jie, cepat menyingkir !"
Tubuhnya sendiri dengan cepat meloncat sejauh tiga kaki menghindarkan diri dari serangan gabungan dari ketiga buah patung Budha itu, si gadis cantik pengangon kambing yang mendengar suara suara seruan dari ayahnya dia segera tahu bahaya, tanpa berpikir panjang lagi ujung kakinya segera menutul ke permukaan tanah tubuhnya dengan cepat sudah menghindarkan diri dari ketiga buah serangan tersebut, sehingga dengan demikian serangan dari patung patung Budha itu mencapai pada sasaran yang kosong.
Siapa tahu patung patung Budha itupun sangat gesit sekali pada saat mereka berdua meloncat menyingkir itulah patung patung Budha yang semula berdiri sejajar saat ini mendadak memencar ke samping kiri, sedangkan patung yang berada di depan tetap meluncur dengan cepatnya ke arah depan.
Dengan demikian si gadis cantik pengangon kambing benar benar sudah berhasil menghindarkan diri dari serangan patung Budha itu tetapi Lie Loo jie kini sudah terdesak oleh serangan patung Budha yang berada disebelah kiri.
Dia menjadi sangat terperanjat, sama sekali tak terduga kalau di dalam ruangan itu bisa dipasangi suatu alat alat rahasia ysng demikian lihaynya, tetapi kenapa tak ada orang tahu??
Aiii kuil Siang Lian Si ini memang merupakan salah satu kuil yang masih angker dan tidak boleh dengan secara gegabah masuk kedalam kuil tersebut.
Tetapi ketika teringat kembali kalau dirinyapun merupakan seorang jagoan yang terkenal di dalam Bu lim kini ternyata sudah terkurung didalam kuil tak terasa hatinya merasa gusar juga, melihat patung Budha menerjang ke arahnya itu dia segera menyalurkan hawa murninya ke seluruh tubuhnya, setelah patung Budha tersebut menerjang sampai satu depa dari dirinya tangan kirinya yang mencekal golok membabat ke depan sadangkan tangan kanannya dengan mengerahkan tenaga penuh mengejar ke depan.
Pukulan Lie Loo jie kali ini sudah menggunakan tenaga sebesar delapan bagian, kalau dihitung kekuatannya diatas ribuan kati.
Walaupun patung Budha tersebut amat lihay sekali tetapi bagaimana pun juga dia hanyalah barang mati yang tidak tahu menghindar pukulan pukulan tersebut dengan amat dahsyatnya menghantam dada patung itu membuatnya seketika itu juga berhenti tak bergerak kembali.
Lie Loo jie yang melihat patung itu menghentikan gerakannya dia tidak berani berlaku gegabah, sepasang matanya dengan amat tajam sskali memperhatikan terus patung yang berdiri kurang lebih satu depa di depan tubuhnya itu.
Suasana menjadi amat sunyi sekali...mendadak dari dada patung itu mengeluarkan suara hiruk pikuk yang amat ramai sekali.
Lie Loo jie yang tahu tentu ada permainan lagi dia semakin tidak berani berlaku gegabah.
Tampak tangan dari patung itu dengan perlahan direntangkan ke samping lalu dengan perlahan diangkat naik keatas, walaupun suasana didalam ruangan itu amat gelap tetapi Lie Loo jie masih bisa melihat dengan amat jelas seluruh gerak geriknya.
Tiba tiba sepasang tangan dari patung Buddha yang diangkat ini ditetapkan di depan dada, Lie Loo jie segera tahu dia akan berbuat sesuatu di ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah dengan menggunakan jurus"
Pek Hok Cong Thian"
Atau bangau putih menerjang langit meloncat ke atas setinggi dua kaki lebib.
Pada saat yang bersamaan dari sepasang tangan patung Buddha itu menyambar keluar senjata senjata rahasia yang amat halus sekali dengan memencar dari kiri kanan menghajar kearah depan.
Melihat kejadian itu Lie Loo jie segera merasakan hatinya bergidik, pikirnya, Sungguh amat bahaya, asalkan aku sedikit berayal menghindar kesamping kiri atau kanan bukankah aku akan segara terkena permainan busuknya ini??"
Tubuhnya yang masih ada di tengah udara segera berjumpalitan, dengan gerakan "Ku Ing Leng Gong"
Atau burung elang menembus awan golok tipis ditangan kirinya digetarkan sehingga menimbulkan berbagai bunga golok yang amat menyilaukan mata, dengan dahsyatnya dia membacok kearah patung tersebut.
Di mana sinar golok itu berkelebat patung Buddha tersebut tetap berdiri tidak bergerak.
"Trang...!"
Dengan menimbulkan suara yarg amat nyaring bagian kepala dari patung Budha itu sudah terkena tusukan dari Lie Loo jie.
Tiba tiba patung itu merendahkan badannya dari punggungnya kembali berhamburan jarum jarum kecil yang menyambar dengan kecepatan luar biasa ke arah atas.
Bokongan senjata rahasia yang meluncur secara tiba tiba ini benar benar luar biasa.
hebatnya, jikalau bukannnya Lie Loo jie dapat mengikuti perubahan selekas mungkin dia pun akan terkena serangan tersebut.
Kiranya pada saat Lie Loo jie berhasil menghantam bagian kepala dari patung Budna it dari jurus "Ku Ing Ban Gong"
Cepat ceoat dia mengubah menjadi "Sian Niauw Hua Sih"
Burung cerdik mengorek pasir melayang ke arah samping, dengan demikian diapun telah behasil menghindarkan diri dari serangan jarum rahasia itu.
Dia menjadi termangu mangu berdiam disamping, dia orang sama sekali tidak menduga patung Budha itu dipasangi alat rahasia sehingga demikian lihaynya.
Beberapa saat kemudian dari arah patung itu tetap tidak memperlihatkan gerak gerik lainnya, bagian pinggangnya mendadak patah rata jadi dua bagian berbungkuk tidak bangkit berdiri, saat itulah Lie Loo jie baru teringat serangan berturut turut sebanyak tiga kali dari alat alat rahasia yang dipasang di dalam patung tersebut semuanya disebabkan oleh usikannya sendiri, kemungkinan sekali bila dirinya tidak mengganggu, alat itupun tidak akan mencelakai dirinya kembali.
Saat ini dia baru menghembuskan napas lega, dengan perlahan kepalanya menoleh memandang ke arah patung Budha lainnya yang berdiri pada dinding sebelah kanan.
Waktu itu si gadis cantik pengangon kambing bagaikan sebuah pa tung saja berdiri termangu mangu ditengah ruangan, agaknya dia dibuat kebingungan oleh gerak gerik yang amat aneh dari ketiga buah patung Budha tersebut.
Baru saja Lie Loo jie mau bergerak maju menuju kearahnya mendadak dia menemukan genta yang besar sejak kapan ternyata sudah bergeser ke atas kepala si gadis cantik pengangon kambing tak terasa lagi dia menjadi amat terperanjat.
"Wan jie cepat mundur."
Bentak Lie Loo jie dengan suara keras.
Baru saja dia selesai berbicara genta besar yang mengarah tepat di atas kepala si gadis cantik pengangon kambing itu sudah mulai bergerak turun kebawah, tetapi si gadis cantik pengangon kambing masin tetap berdiri tertegun tak bergerak.
Lie Loo jie tidak berani berlaku ayal lagi, tubuhnya dengan cepat meloncat kedepan untuk menyelamatkan kembali putrinya.
Ketika genta tersebut dengan perlahan mulai turun ke bawah, hanya didalem sekejap sudah berada kurang lebih beberapa depa diatas kepala gadis cantik pengangon kambing itu.
Lie Loo jie yang melihat keselamatan putrinya terancam, tubuhnya belum mencapai tempat itu sepasang telapak tangannya sudah didorong ke depan sehingga terasalah segulung angin pukulan yang sangat dahsyat menggulung kedepan.
Agaknya saat itulah si gadis cantik pengangon kambing baru merasakan keadaan yang amat berbahaya bagi dirinya.
"Addduh.
"saking kagetnya dia berdiri melongo longo disana. Untung saja angin pukulan yang dahsyat dari Lie Loo jie tepat pada saatnya berhasil memukul miring kesamping dan berdiri kesamping tubuh Lie Loo jie. Bersamaan dengan melayangnya gadis cantik pengangon kambing kesamping genta itupun ikut melayang kembali keatas. Melihat hal itu Lie Loo jie menjadi sangat gusar sekali tubuhnya melayang ke depan, golok tipis di tangannya mendadak membabat ke arah rantai baja yang mengikat genta tersebut sehingga menjadi putus, dengan disertai suara yang amat keras genta itu jatuh ke atas tanah dan hancur berantakan. Setelah genta itu berhenti berbunyi suasana seketika itu juga berubah menjadi sunyi senyap saking sunyinya sehingga terasa amat menakutkan sekali. Lie Loo jie dengan tenangnya melayang kembali ke samping tubuh si gadis cantik pengangon kambing, baru ssja tangannya memeriksa pergelangan tangan putrinya mendadak dia merasakan permukaan tanah yang diinjaknya agak kendor batinya menjadi bergerak.
"Celaka...pikirnya. Dengan menarik tangan putrinya dan melayang ke tengah udara. Saat itulah permukaan tanah yang semula amat kuat mendadak dengan menimbulkan suara gemuruh yang amat keras sudah muncul sebuah liang seluas tubuh, delapan kaki diikuti mengalirnya air yang amat deras menerjang masuk dari empat penjuru, Hanya di dalam sekejap saja seluruh ruangan kuil yang amat megah itu sudah berubah menjadi kolam yang amat dalam sekali, berapa dalam yang sesungguhnya tidak ada orang yang tabu. Satu satunya tempat yang tidak tenggelam dalam air cuma ketiga tempat patung Budha tadi. Saat ini Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing masih ada di tengah udara, melihat keadaan yang begitu mengerikan dari ruangan tersebut serta melihat pula kalau disekeliling tempat sana sama sekali tidak menemui tempat untuk berpijak kaki, hatinya diam diam berseru kaget.
"Aduh celaka, kali ini aku akan terjerumus ke dalam perangkap yang amat lihay dari semua orang orang kuil Siang Lian Si"
Pada saat hatinya terasa amat kacau itulah mendadak matanya dapat menangkap rantai potongan baja yang semula digunakan untuk menggantung genta tadi, pikirannya dengan cepat berputar.
Mendadak dia melancarkan pukulan ke depan, dengan meminjam tenaga pantulan tersebut tubuhnya dengan menembus ketengah udara meluncur kearah sana dan menyambar rantai baja itu.
Si gadis cantik pengangon kambing yang mencekal erat erat tangan ayahnya Lie Loo jie dengan cepat ikut meluncur kesana, sehingga dengan demikian mereka berdua jadi bergantungan dengan hanya mengandalkan rantai baja itu saja.
Keadaan benar benar sangat berbahaya sekali sedikit saja tidak waspada nyawa segera akan melayang, karenanya mereka berdua sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun mereka hanya melihat air bah yang semakin lama semakin memenuhi seluruh ruangan dan berpikir keras untuk mendapatkan suatu cara untuk meloloskan diri dari sana.
Pada saat itu si gadis cantik pengangon kam bing teringat kembali keselamatan dari Lie Siauw Ie, teringat dia sudah masuk kedalam kuil ini hatinya terasa sangat berduka sekali, tak terasa lagi dua titik air mata menetes membasahi wajahnya.
Titik titik air itu menetes jatuh membasahi tangan Lie Loo jie membuat dia agak mendongkol, ujarnya sambil memandang dirinya.
"Wan jie, kenapa kau menangis? pada saat dan tempat seperti ini mana kau orang boleh menangis?"
"Tia, aku teringat kembali kepada Ie cici, maka..." .aku menangis"
Kata kata terakhir ini belum sempat diucapkan Lie Loo jie sudah memotong.
"Suruh kau jangan menangis ya jangan menangis, hati hati jangan sampai tercebur kedalam air"
Terpaksa si gadis cantik pengangon kambing berhenti menangis dan mencekal tangan Lie Loo jie semakin kencang lagi.
Sebenarnya saat ini Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing itu sudah memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna sehingha bisa melayang di atas permukaan air, tetapi mereka ragu ragu untuk meloncat turun dikarenakan dalam hati mereka takut kalau diantara air masih ada jebakan jebakan yang lain, karenanya mereka tidak berlaku gegabah, dengan pusatkan perhatian mereka berpegangan pada rantai baja menunggu kesempatan yang baik.
Kita sekarang kembali pada Lie Siauw Ie yang melihat tubuh Liem Tou tersangkut pada tanduk kerbau kemudian dia dibawa lari dengan cepatnya ke dalam ruangan kuil, dengan cepatnya dia mengikuti terus dari belakangnya.
Tampak kerbau itu bagaikan sudah hafal dengan keadaan di tempat itu, dengan cepatnya sudah menerjang kearah kanan lal lenyap tak berbekas.
Lie Siauw Ie yang ada setahun lamanya mengangkat Lie Loo jie dari Toen Si Pay sebagai gurunya sudah tentu kepandaian silatnya memperoleh kemajuan yang sangat pesat, tenaga dalamnya walaupun tidak bisa menandingi si gadis cantik pengangon kambing yang berlatih sejak kecil tetapi dasarnya sangat bagus sekali sehingga ilmu meringankan tubuhpun sudah amat lihay.
Saat ini melihat kerbau itu lenyap dibilik sebelah kanan, karena takut sampai ketinggalan dengan cepat menggunakan ilmu "Liuw Im Hwee Si"
Dari Toen Si Pay mengejar terus ke depan.
Tampak di balik sebuah pintu tersebut terdapat sebuah lorong kecil yang berbelok belok ke arah kiri tanpa berpikir panjang lagi dia mengerahkan seluruh tenaga dalamuya mengejar terus kedalam.
Kurang lebih tiga depa dia berlari segera terlihat kembali bintang bintang yang penuh menghiasi langit, kiranya tempat itu merupakan sebuah halaman kecil yang amat tenang dan dikelilingi tumbuhan bambu yang amat rapat,dari tumbuhan bambu itu dapat dilihat sebuah bangunan besar dibaliknya, ruangan disana persis seperti ruangan yang dilihatnya didepan tadi.
Cuma saja ruangan itu jauh lebih mewah dan megah sekali, lampu menerangi seluruh ruangan sehingga seperti di siang hari saja, kedua belah pintu terbuka lebar iebar dan tampak banyak perempuan yang berdandan amat menyolok berjalan mondar mandir disana.
Lie Siauw le yang sedang memandang keadaan itu dalam keadaan kebingungan mandadak mendengar suara ringkikan kerbau yang panjang tampak seekor kerbau dengan amat cepatnya menyusup keluar dan menerjang kedalam ruangan yang rerang benderang itu.
Melihat munculnya seekor binatang yang sangat besar ke arah mereka para perempuan itu menjadi amat panik, diiringi suara teriakan teriakan kaget yang amat keras mereka pada lari terbirit birit meninggalkan tempat tersebut.
Lie Siauw Ie yang melibat munculnya kerbau itu segera membentak keras dan ikut munculkan dirinya disana, segera terlihatlah sesosok bayangan putih berkelebat menuju ke tengah ruangan menyusul kerbau tersebut yang pada saat ini sudah menerjang ke tengah kamar.
Ternyata kerbau itu tidak melukai seorangpun, dia hanya berlari kesana kemari menakut nakuti perempuan perempuan dengan dandanan menyolok itu sehingga membuat mereka itu pada jatuh bangun dan melarikan diri terbirit-birit dari sana.
Hanya didalam beberapa saat saja sebuah ruangan yang amat besar sudah ditinggal pergi oleh penghuninya sehingga kosong melompong.
Kerbau itupun sudah berhenti tidak bergerak ditengah ruangan, Lie Siauw Ie cepat cepat berlari mendekat untuk menolong diri Liem Tou.
Tetapi walaupun dia sudah menggunakan ilmu apapun dan menggerakkan badannya sebagai mana cepatnya dia tidak bisa juga mendekati kerbau itu, membuat Lie Siauw Ie saking gemasnya terus menerus mendepakan kakinya berulang kali dan memanggil adik Tou tak henti hentinya.
Liem Tou yang berada di tanduk kerbau itu sama sekali tidak bergerak agaknya dia sudah jatuh tidak sadarkan diri.
Sebaliknya kerbau itu kadang kala sengaja menghadapkan pantatnya ke depan tubuh Lie Siauw Ie sekalipun begitu sepertinya dibelakang punggungnya ada mata asalkan Lie Siauw Ie coba merebut maju ia pasti bergerak untuk menhindar.
Lie Siauw Ie tidak berbuat apa apa lagi, mendadak tangannya meraup senjata rahasia Kioe Cu Gien Ciamnya siap disambitkan ke arah kerbau tersebut tapi dia takut sampai terkena badan Liem Tou yang ada di tanduk terpaksa dia pun membatalkan niatnya ini, sambil berteriak gemas dia cuma melototi kerbau itu saja, pikirannya benar benar dibuat bingung oleh kelakuannya itu.
Sekonyong konyong kerbau itu mendengus panjang sepasang matanya yang bulat benar melotot keluar lalu memandang tajam kearah Lie Siaw Ie yang sedang kebingungan.
Lie Siauw Ie yang melihat sifat ganas dari kerbau itu secara mendadak kambuh kembali tanpa terasa lagi dia sudah pusatkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi segala kemungkinan.
Pada saat itulah kerbau itu menyepakkan kakinya ke belakang lalu dengan amat cepatnya menerjang ke depan.
Lie Siauw Ie segera membentak keras, pedang panjang di tangan kanannya diangkat dengan menggunakan jurus"
Tok Coa Cut Tong"
Atau ular berbisa keluar goa dia meayambut datangnya kerbau tersebut dengan satu tusukan kilat.
Siapa tahu kerbau itu ternyata sama sekali tidak menhindarkan diri dari serangan tersebut dengan ganasnya ia melanjutkan terjangannya kedepan memaksa Lie Siauw Ie harus menarik kembaii serangannya dan menghindar kesamping.
Pada saat itulah sang kerbau dengan amat cepatnya lewat disamping badannya membuat Lie Siauw Ie bsnar benar dibuat mendongkol.
Tanpa banyak berpikir lagi tangan kirinya diangkat meraup senjata rahasia Kioe Cu Gien Ciam lalu disambitkan menghajar tubuh kerbau tersebut.
Waktu ini jaraknya dengan sang kerbau cuma ada beberapa depa saja, untuk menjawil dengan tanganpun masih sampai apa lagi melancarkan serangan dengan menggunakan jarum rahasia begitu banyaknya, didalam sepuluh bagian ada sembilan pasti mengenai sasarannya.
Tetapi dia cepat, gerakan dari kerbau itu jauh lebih cepat lagi, baru saja pikirannya sedang berputar dan jarum rahasia di tangan kirinya baru akan disambitkan ke depan mendadak ekor dari kerbau itu sudah menyapu ke tangannya dengan amat dahsyat.
Lie Siauw Ie tidak sempat untuk menghindar lagi.
Jarum yang ada di tangan kirinya sudah tersampok jatuh keatas tanah tidak ketinggalan barang sebatang pun.
Setelah berhasil menyampok Jatuh senjata r hasia kerbau itu cepat cepat menerjang kembali kedepan dengan amat cepatnya.
Lie Siauw Ie benar benar sangat mendongkol matanya dengan cepat melotot kearah kerbau itu, tiba tiba..."
Matanya dapat melihat si hweesio kurus dan berbadan hitam atau Thiat Bok Thaysu dengan membawa beberapa orang hweesio sudah munculkan dirinya di depan pintu ruangan kuil itu, saat itulah sang kerbau sedang berdiri menerjang ke arah mereka dengan amat ganasnya.
Kiranya Thiat Bok Thaysu dapat muncul disini kerena mendapatkan laporan penting dari anak buahnya dan bertepatan pula sewaktu Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing sedang menemui bahaya, jika kalau bukannya Thiat Bok Thaysu berhasil dipancing kemari maka bencana yang akan ditemui Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing itu akan jatuh lebih hebat lagi bahkan keselamatannya pun semakin berbahaya, Saat ini kerbau itu dengan tidak mengenal lihay sudah menerjang dengan dahsyatnya ke arah Thiat Bok Thaysu.
Thiat Bok Thaysu yang sudah mendapatkan laporan dari para hweesio atas kelihayan dari sang kerbau dan tahu pula kaiau banyak anak buahnya sudah mati di atas ujung tanduk kerbau itu dia sudah mengambil keputusan untuk membinasakannya, segera dia tertawa dingin menanti setelah kerbau itu menerjang hingga dekat sekali dengan tubuhnya mendadak dengan kecepatnya bagaikan kilat dia melancarkan suatu pukulan dahsyat menghajar batok kepala kerbau tersebut.
Tidak terduga kerbau itu jauh berbeda dengan kerbau biasa, baru saja pundak dari Thiat Bok Tnaysu bergerak dia agaknya sudah tahu apa yang hendak dilakukan olehnya, tiba tiba tubuhnya yang semula menerjang ke depan kini malah mundur terus ke belakang tanpa putar badan lagi.
Thiat Bok Tiiaysu sama sekali tidak menyangka sang kerbau bisa mundur kebelakag sehingga pukulannya mencapai pada sasaran yang kosong, saking keheranannya dia menjadi berdiri tertegun, sinar matanya dengan amat dinginnya memperhatikan kerbau tersebut.
Yang paling membuat dia heran adalah seorang pemuda gembala berbaju compang camping yang tergantung di antara tanduknya, agak nya saat ini pemuda itu sedang tertidur lelap, tetapi gerakan yang bagaimana cepatnyapun dari sang kerbau sama sekali tidak membuat dia jatuh terguling diatas tanah.
Melihat keanehan dari hal ini tak terasa hatinya menjadi bergerak, dia segera maju lagi beberapa langkah kedalam ruangan Tampaklah Lie Siauw Ie dengan melintangkan pedangnya berdiri tegak di tengah ruangan.
dia segera mendengus dingin tangannya diulapkan segera terlibatlah dua orang bweesio dengan perlahan mendekati diri Lie Siauw Ie.
Lie Siauw Ie yang melihat gerak gerik mereka di dalam sekali pandang saja dia sudah tahu kalau mereka mengandung maksud yang tidak baik, pedangnya segera dicekal kencang kencang lalu bentaknya dengan nyaring "Berhenti, jika kalian maju setindak lagi nonamu segera akan bunuh kalian!"
Suara Bentakan dari Lie Siauw Ie ini amat keras dan keren sekali padahal di dalam hatinya berdebar debar amat keras.
Dia yang melihat munculnya Thiat Bok Thaysu disana segera merasakan keadaannya sangat berbahaya sekali, untuk menghindarkan diri tiada jalan lagi terpaksa dengan paksakan diri menantikan kesempatan yang baik buat meloloskan diri.
Kedua orang hweesio yang baru saja diperintahkan untuk maju ini bukanlah termasuk hweesio yang dibuat kalang kabut oleh terjangan sang kerbau tadi, mereka berdua dengan langkah yaeg mantap terus maju mendekati tubuh Li Siauw Ie.
Melihat hal tersebut Lie Siauw Ie segera tahu kalau keadaannya sangat berbahaya sekali.
Diam diam tangannya dimasukkan ke dalam saku meraih kembali segenggam senjata rahasia Kioe Cu Gian Ciem siap menghadapi segala kemungkinan.
Kembali terdengar teriakan dari Thiatt Bok Thaysu.
"hati bocah perempuan itu sangat licik sukar diduga, lebih baik biar aku sendiri yaag menawan dirinya."
Lie Siaw Ie yaag melihat Thiat Bok Thaysu mau turun tangan sendiri saking kagetnya air mukanya sudah berubah pucat pasi, pikirnya didalam hati.
"Suhu yang merupakan jago nomor wahid dari Bu lim pun masih bukan tandingannya apa lagi aku ? Untuk melukai diriku bukankah dia orang seperti membalikkan tangan gampangnya ? ? Aku orang mana mungkin berhasil untuk bertahan diri ?"
Baru saja dia berpikir sampai disana kedua orang hweesio yang semula perintahkan untuk maju itu kini sudah mengundurkan dirinya kembali, sedangkan Thiat Bok Thaysu dengan panduangan yang amat tajam menyapu ke arah kerbau tetsebut lalu memandang seluruh badannya membuat Lie siauw Ie bergidik beberapa kali, pedang serta senjata raflasia Kioe Cu Gien Ciam yang dicekalpun semakin mengencang dengan mata yang melotot dia memperhatikan terus seluruh gerak gerik dari Thiat Bok Thaysu.
Mereka saling pandang memandang saling melotot beberapa waktu lamanya tiba tiba tampak Thiat Bok Thaysu berkata kembali sambil tertawa seram.
"Hee... hee... kau bocah perempuan sebetulnya ada hubungan apa dengan tua bangka she Lie itu? sekarang sudah ada di dalam kendiku He . .. hee siapapun jangan harap bisa menolong mereka lolos dari kurungannya. Sehabis berkata dengan pandangan yang amat aneh dia memandang tajam seluruh lekukan tubuh Lie Siauw Ie. Bagaimanapun juga Lie Siauw Ie bukanlah seorang yang tolol, dari pandangan mata serta perubahan wajahnya yang amat aneh itu ditambah pula dengan banyaknya perempuan didalam kuil dia segera tahu dinawahnya tentu ada maksud yang tersembunyi, saking malu dan gusarnya dia segera membentak keras, pedangnya dengan melancarkan serangan dahsyat menubruk kearah dirinya. Thiat Bok Thaysu yang melihat dia orang menjadi malu bercampur gusar segera tertawa terbahak bahak dengan seramnya.
"Hay bocih perempuan,"
Serunya sambil menyengir cabul.
"Sebelum aku jelaskan omonganku kau sudah mengerti dengan sendirinya hal ini membuktikan kalau memang pikiranmu cerdik sekali, haaa ... haaa ... bagus, bagus sekali, baiknya kau menuruti kemauanku saja, dengan begitu nyawa dari tua bangka she Lie itu pun bisa tertolong. Lie Siauw Ie yang dibuat amat gusar serangannya menjadi semakin gencar menghajar sang hweesio cabul. Thiat Bok Thaysa segera tertawa dingin tubuhnya miring ke samping menghindarkan diri dari tusukan tersebut. sedang cengkeramannya yang seperti kuku garuda dengan dahsyatnya mengancam jalan darah pada pergelangan tangan nya. Pada saat yang bersamaan pula mendadak terdengar suara dengusan dari kerbau itu lalu dengan cepatnya menerjang kearah orang hwee sio yang berada disacapingnya. Melihat hil tersebut Lie Siauw Ie menjadi sangat girang, bentaknya.
"Bagus ... bagus...sekarang sambutlah barang ini!"
Senjata rahasia Kioe Cu Gien Ciam yang ada ditangannya mendadak disambitkan keluar mengincar seluruh tubuh dari Thiat Bok Thaysu, Senjata rahasia Kioe Cu Gien Ciam ini halus sekali seperti bulu kerbau saja, senjata semacam ini paling sukar untuk dihindari tetapi manusia semacam Thiat Bok Thaysu sudah tentu tidak akan memandang dengan sebelah mata, ujung jubah nya dikebut ke depan sehingga menimbulkan segulung angin pukulan yang dahsyat menghajar jatuh puluhan senjata rahasia Kioe Cu Gien-Ciam yang mengancam tubuhnya itu.
Pada saat dia melancarkan serangan pukulan untuk memukul jatuh senjata rahasia itulah mendadak terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati sehingga menggetarkan seluruh ruangan, seorang hweesio anak buahnya kembali kena sambar tanduk kerbau itu sahingga punggungnya berlubang dan binasa seketika itu juga.
Atas kejadian ini dia tidak mau bergebrak lebih lama lagi melawan Lie Siauw Ie, sepasang lengannya dipentangkan disertai dengan suara bentakan yang amat nyaring ilmu beracun "Hek Khie Cie Kang"
Yang dilatih selama puluhan tahun untuk kedua kalinya digunakan.
Tampak pada ujung ke sepuluh jarinya secara samar samar muncul bawa hitam yang makin lama semakin menebal meluncur ke atas tubuh kerbau.
Lie Siauw Ie yang melihat hal itu walaupun tidak tahu Thiat Bok Thaysu sedang menggunakan ilmu macam apa tetapi melihat kedahsyatan dari serangan tersebut segera mengetahui kalau serangannya itu tentu sedang menggunakan semacam ilmu yang amat beracun.
Dia orang karena takut kalau serangan tersebut sampai melukai Liem Tou, dengan cemas teriaknya dengan suara keras.
"Ciag Gouw ko, cepat mundur ..cepat mundur."
Bagaimanapun juga binatang tetap binatang, kerbau yah tetap kerbau mana mungkin bisa mengerti perkataan dari manusia?
Bukannya mengundurkan diri dari belakang sebaliknya dengan disertai dengusannya yang amat panjang dia malah menyambut datangnya serangan kabut hitam yang mengancam tubuhnya itu.
"Binatang saat kematianmu telah tiba, buat apa kau begitu bangga? "
Pikir Thiat Bok Thaysu sewaktu melihat hal itu.
Baru saja dia orang merasa gembira karena kerbau tersebut bakal terbunuh di bawah serangan beracunnya siapa tahu tiba tiba dia merasakan serangannya seperti terhalang oleh sesuatu, tenaga dalamnya sukar untuk disalurkan lancar, dalam hati dia benar benar merasa keheranan.
Tenaga dalamnya segera dilipat gandakan kelihatan seluruh jalur hitam seketika itu juga mengumpul menjadi segulung awan yang sangat hitam yang amat tebal dengan memecahkan udara menerjang kedepan.
Kerbau itu tetap tidak dibuat jeri, ekornya yang panjang dengan sekonyong konyong dikebaskan sehingga menjadi mengencang bagaikan pit, secara aneh sekali dari ujung kedua belab tanduk kerbau itu mendadak menerjang keluar segulung angin pukulan yang menyambut datangnya serangan dari Thiat Bok Thaysu sehingga punah menjadi angin yang berlalu.
Thiat Bok Thaysu segera merasakan situasi yang tidak mengutungkan bagi dirinya air mukanya segera berubah meringis kejam tububnya mundur tujuh delapan tindak dan dengan cepat menarik kembali hawa pukulan beracunnya.
Sekalipun gerakannya cepat tetapi baru saja berhasil menarik separuh dari tenaga pukulan hawa beracun yang separuhnya lagi sudah berhasil dipunahkan sehingga buyar tak berbekas di dalam seluruh ruangan.
Kali ini Thiat Bok Thaysu benar benar dibuat amat gusar sekali, dia orang sama sekali tidak menyangka ilmunya yang didapatkan dengan susah payah selama puluhan tahun dengan mencari benda benda beracun yang sudah berusia ratusan tahun dan ulat, ulat yang banyak ada di dasar kuburan ternyata sudah punah separuh bagian hanya di dalam sekejap saja Sepasang matanya dengan amat tajam sekali memperhatikan diri Liem Tou yang tergantucg di atas tanduk kerbau itu, mendadak bentanknya dengan suara yang amat keras.
Bangsat cilik, siapa kau orang??"
Dengan pengetahuan serta pengalaman yang luas dari Thiat Bok Thaysu mana mungkin dia orang tidak mengenal para jago jago yang ada didalam Bu lim??
kini melihat sang kerbau ternyata bisa memunahkan ilmu pukulan beracunnya sudah tentu dia orang tidak mau percaya karena itu didalam anggapannya sudah tentu Liem Tou yang tergantung di atas tanduk kerbau itulah yang sudah bermain main dengan dirinya.
Tetapi sekalipun Thiat Bok Thaysu sudah berteriak teriak beberapa kali Liem Tou tetap tertidur dengan amat nyenyaknya sama sekali tidak bergerak.
Pada saat itulah mendadak terdengar kerbau itu mendengus panjang sambil mendepakkan kakinya kebelakang, kepalanya ditundukkan dengan dahsyatnya ia menerjang ke arah tubuh Thiat Bok Thaysu.
Thiat Bok Thaysu menjadi teramat gusar, ujung jubahnya dikebutkan ke depan melancarkan satu pukulan dahsyat menghantam tubuh kerbau itu.
pada saat dia sedang augkat tangan nya itulah mendadak terasa segulung angin pukulan yang jauh lebih kuat dengan dahsyatnya sudah menggulung menghantam tubuhnya, dia menjadi terperanjat dengan cepat serangannya ditarik dengan tergesa gesa lalu meloncat kesamping untuk menghindarkan diri.
Tibt tiba kerbau itu miringkan badannya ekornya yang panjang dengan dahsyatnya menghajar scoraug hweesio yang berdiri disampingnya.
"Aduh. .."
Disertai dengan suara teriakan kesakitan yang amat mengerikan hweesio tersebut terjatuh ke atas tanah tidak dapat bangun kembali.
Gerakan kerbau itu tidak berhenti sampai di situ saja, tubuhnya dengan amat cepatnya menerjang kambali kearah Thiat Bok Thaysu.
Thiat Bok Thaysu yang melihat berturut turut kerbau tersebut berhasil membinasakan dua orang anak buahnya dengan sangat mudah hatinya dibuat benar benar ketakutan, kini melihat datangnya terjangan yang sangat dahsyat dia tidak berani menyambut keras lawan keras.
Tubuhnya meloncat ke samping lalu melirik sekejap ke arah Lie Siauw Ie yang berdiri di depannya, hatinya menjadi bergerak pikirnya.
"Terjangan yang secara mendadak dari kerbau ini sangat aneh sekali, tentunya dia ada sangkut pautnya dengan Lie Loo jie itu, sedangkan perempuan inipun anak murid Lie Loo jie lebih baik aku tawan dia terlebih dulu lalu dengan cara yang lain berusaha untuk menangkan pertempuran kali ini."
Berpikir akan hal ini tubuhnya yang berkelebat ke samping memdekati tubuh Lie Siauw Ie.
Sebaliknya Lie Siauw Ie yang melihat sang kerbau itu terus menerus mendesak, Thiat Bok-Thaysu geser kesamping perhatiannya segera dipusatkan seluruhnya ke sana, terhadap mara bahaya yang bakal mengancam dia orang sama sekali tidak merasakan.
Thiat Bok Thaysu yang mempunyai perawakan kurus kering sewaktu melihat Lie Siauw Ie sama sekali tidak mengadakan persiapan dalam hati diam diam merasa amat girang sekali, dia tahu asalkan kali ini berhasil mencapai hasil maka pertempuran malam ini seluruh kemenangan akan diperoleh dirinya.
Dengan perlahan tenaga dalamnya disalurkan dengan penuh ke atas dua belah telapak tangannya, sewaktu dia melihat kerbau itu menerjang kembali kearahnya dan melihat jaraknya dengan Lie Siauw Ie cuma tinggal beberapa kaki saja tanpa berpikir panjang lagi tubuhnya segera meloncat keatas lalu berjumpalitan ditengah udara mendesak ke arabnya.
"Hey bocah perempuan, terimalah seranganku ini"
Bentaknya dengan amat keras.
Kedua belah telapak tangannya yang sudah dipersiapkan sejak tadi pada saat inilah bagaikan menggulungnya ombak di tengah samudra menggencet dari kedua belah samping Lie Siauw Ie sedang tuhuhnyapun mendesak lebih mendekat berusaha mencengkram mangsanya.
Menanti Lie Siauw Ie sadar kembali apa yang telah terjadi kedua belah samping badannya sudah terhalang oleh angin pukulan dari Thiat Bok Thaysu itu, untuk menghindarkan kesamping tidak dapat lagi terpaksa dia mundur ke belakang.
Tetapi pada saat dia agak ragu ragu itulah cengkeraman dari Thiat Bok Thaysu sudah tiba dihadapannya membuat dia menjadi amat terperanjat, dengan air muka ketakutan teriaknya keras.
"Aouw adik Tou tolong.. .!"
Melihat untuk menghindarkan diri tiada jalan lain lagi, Lie Siauw Ie segera pejamkan matanya pasrah terhadap semua perbuatan dari Thiat Bok Thaysu.
Pada saat yang amat kritis itulah mendadak terdengar suara dengusan kerbau yang amat berat lalu disusul dengan suara jeritan Liem Tou.
"Toloag .. tolong ..!"
Baru saja suara itu lenyap dari pendengaran mendadak terdengar Thiat Bok Thaysu menjerit ngeri lalu terhuyung huyung mengundurkan diri kebelakang sambil muntahkan darah segar.
Kerbau itu terayata sudah berdiri dengen tenangnya disamping badannya sedangkan Liem Tou berbaring diatas tanduk kerbau sambil tangannya diobat abitkan tidak keruan.
'Aduh tolong ..tolong .
Gerak geriknya amat lucu sekali seperti sedang menghadapi bahaya.
Lie Siauw Ie yang melihat hal itu tanpa men perdulik«n keselamatan jiwanya sendiri pedang yang ada ditangannya segera melancarkan tusukan mengancam tubuh kerbau itu sedang tangannya yang lain dengan amat cepatnya menyambar tubuh Liem Tou yang tersangkut diatas tanduk kerbau iiu.
Belum sempat pedangnya melancarkan serangan mendadak dia merasakan pinggangnya seperti dililit dengan sesuatu tahu tahu tubuhnya sudah terangkat oleh lilitan ekor kerbau dan dijatuhkan keatas punggungnya.
"Aaaiih Ie cici, akhirnya kau datang juga"
Terdengar Liem Tou sambil tertawa girang memeluk pinggangnya kencang kencang.
"Kau sudah kemana selama ini??? eeeh sekarang kita berada dimana?"
Lie Siauw le yang melihat Liem Tou sudah sadar kembali dari pulasnya seketika itu juga sudah melupakan kalau baru saja dia lolos dari bahaya dan lupa juga kalau pada saat ini dia sudah berada diatas punggung kerbau, sahutnya dengan amat girang.
"Oooh adik Tou kau sungguh mengagetkan diriku, bagaimana kau orang bisa tergantung diatas tanduk kerbau?"
"Aku sendiripun tidak tahu"
Jawab Liem Tou sambil gelengkan kepalanya.
"Sewaktu aku melibat hweesio hweesio itu amat lihay sekali, maka cepat cepat aku melarikan diri keluar kuil, siapa sangka aku sudah kena pukul rubuh oleh dua orang hweesio jahanam. Setelah itu semuanya aku tidak tahu, sampai baru saja aku sadar kembali dan melihat cici baru meloncat kemari."
Mendengar perkataan itu Lie Siauw Ie segera tertawa cekikikan.
"Mana mungkin aku bisa meloncat kemari. Kan terang terangan aku dililit oleh ekor kerbau ini ?., Pada mukanya Liem Tou sengaja berpura pura bingung padahal dalam hati diam diam merasa geli, pikirnya. Jikalau bukannya aku sudah menolong dirimu kemungkinan sekali kau kini sudah berada di dalam cengkeraman Thiat Bok Thaysu ini, tetapi kini aku harus mengelabui dirimu untuk sementara waktu karena musuhku terlalu banyak, jikalau berita ini sampai tersiar diluaran sekalipun pun aku memiliki kepandaian yang lebih tinggi pun belum tentu berhasil menahan kerubutan dari orang orang kalangan Hek to yang begitu banyak."
Setelah tertawa cekikikan Lie Siauw Ie berkata kembali.
"Tidak kusangka kerbau itu yang sudah menolong dirimu, tetapi kerbaumu itu terlalu ganas sekali, seluruh hweesio penghuni kuil Siang Lian Si ini hampir sebagian besar terbunuh oleh serudukan tanduknya."
"Haaa sungguh ?? Dia benar benar mempunyai kepandaian seperti itu ?"
Tanya Liem Tou keheranan. Padahal dalam hati dia sedang berpikir.
"Ie cici kau sama sekali tak tahu kejahatan serta kecabulan dari hweesio hweesio penghuni kuil ini, bila sejak tadi kau sudah tiba di dalam ruangan ini dan melihat perempuan perempuan itu maka akan segera tahu kalau mereka it anak gadis orang orang dusun yang ditawan mereka untuk kesenangan, coba kau bayangkan kerbauku atau dia yang lebih jahat dan ganas ?"
Pada waktu itulah kerbau tersebut mendadak meloncat turun dari tempat ketinggian mereka berdua yang sedang berbicara sama sekali tidak memperhatikan akan hal ini hingga hampir hampir saja terlempar jatuh dari atas punggung kerbau, sedangkan Liem Tou pun tahu bila kerbau itu kehilangan tenaga bantuannya mana mungkin bisa memenangkan Thiat Bok-Thuysu yang amat libay?"
Thiat Bok Thaysu yang telah terluka mana berani bertempur dengan kerbau itu, dengan cepat dia ngeloyor pergi dari sana melalui pintu pintu sebelah kanan Ketika kerbau itu melihat dia lari pergi dengan cepat menyerbu kembali kedepan mengejar dari arah belakang, sedikitpun ia tak mau mengendorkan kejarannya.
Sewaktu tadi Lie Loo jie sedang bertempur dengan amat serunya melawan si penjahat naga merah, Liem Tou melakukan pemeriksaan yang amat teliti sekali terhadap keadaan diseluruh ruangan kuil itu sehingga diapun mengetahui bagaimana sifat yang sebenarnya dari hweesio tersebut.
Kini melihat dia telah melarikan diri melalui pintu sebelah kanan dia orang segera mengetahui kalau tempat itu merupakan sebuah jalan rahasia, karenanya dengan amat kencang dia membuntuti terus dari belakangnya.
Ternyata dugaannya sedikipun tidak salah, tempat tersebut memangnya merupakan sebuah jalan rahasia yang amat panjang sekali dan saat itu Thiat Bok Thaysu sedang melarikan dirinya kedalam.
Pikirnya Liem Tou kemudian.
Orang ini jika kalau dibiarkan tinggal didalam Bu lim terus tentu akan menimbulkan bencana saja, lebih baik aku basmi saja dia orang selekas mungkin."
Berpikir sampai disitu tangannya diam diam segera meraba ke samping telinga dari kerbau itu, sang kerbau segera mengerti dan mendengus panjang.
Dengan meminjam kesempatan itulah diam-diam Liem Tou membalikkan pergelangan tangannya lalu melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar belakang punggung Thiat Bok Thaysu.
Seluruh gerakkannya ini dilakukan sangat hati hati sekali sehingga Lie Siauw Ie yang ada dibelaksngnya sama sekali tidak menyangka kalau dia orang sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghajar tubuh Thiat Bok Thay su.
Tampak sambil menoleh dia tertawa ringan.
"Adik Tou, ujarnya perlahan. Kiranya didalam kuil inipun ada jalan rahasianya. kerbau ini sangat lihay sekali jangan sampai terkena bokongan dari hweesio keparat itu."
Thiat Bok Thaysu yang benar benar sudah terdesak melihat datangnya serangan tersebut dia orang tidak berani menyambut, dengan menahan getaran yang amat hebat dari luka dalamnya tanpa palingkan kepalanya lagi dengan sekuat tenaga dia meloncat kearah jalan rahasia itu dan di dalam beberapa kali kelebatan saja sudah lenyap dari padangan.
Liem Tou yang takut dia orang lolos dari pengawasannya, segera mengempit kencang kencang perut kerbaunya dengan amat cepatnya kerbau tersebut segera menerjang pula kearah dalam jalan rahasia.
Setelah berbelok belok beberapa kali akhirnya Lie Siauw Ie hanya merasakan pandangannya menjadi terang pemandangan yang dilihatnya sama sekali berubah.
Tampak ruangan tersebut amat mewah dan megah sekali laksana sebuah istana kaisar seluruh dinding serta tiang pilarnya tersebuat dari batu pualam yang amat menyilaukan mata, tempat itu mana mirip dengan sebuah bangunan kuil dari kaum beribadat?
tak tertahan lagi dia berseru keras.
"Aaaah, adik Tou tempat ini mirip sekali dengan sebuah istana kaisar "
Liem Tou yang sedang pusatkan seluruh perhatiannya untuk menangkap Thiat Bok Thaysu mendengar perkataan itu dia cuma mengangguk saja, sahutnya.
"Ehmm . ."tempat itu tidak mirip dengan sebuah kuil, tentunya mereka adalah kaum perampok yang sengaja menyamar sebagai hweesio. kiranya kerbauku sudah tidak salah membinasakan orang orang. Matanya yang jeli dengan amat tajamnya menyapa keseluruh ruangan itu tetapi ditengah bangunan megah laksana istana tersebut sama sekali tidak tampak adanya sesosok bayangan manusia pun membuat Liem Tou diam diam merasa keheranan pikirnya. Perempuan yang dikumpulkan Thiat Bok Thaysu tadi pada berkumpul disini mencari kesenangan dan melakukan permainan kotornya kenapa sekarang pada lenyap tak tampak seorangpun, mereka sudah pergi ke mana ? Apa mungkin masih ada tempat lainnya ? Berpikir sampai disitu segera ujarnya kepada diri Lie Siauw Ie. Tadi kerbau ini membawa kita kemari sudah tentu ia bermaksud untuk menangkap Thiat Bok Thaysu itu, cuma saja tidak tahu dia sudah pergi kemana, Ie cici, coba kau lihat adakah tempat yang patut kita curigai ?"
Tiba tiba tiba Lie Siauw Ie teringat atas perkataan dari Thiat Bok Thaysu yang mengatakan Lie Loo jie sekarang sedang terkurung, ujarnya kepada Liem Tou kemudian.
' "Adik Tou, kelihatan dia sudah pergi dari sini, bagaimana kalau kita lihat lihat di tempat luaran ??" 'Baik,"
Sahut Liem Tou menyetujui.
"Tetapi kuil Siang Lian Si ini benar benar sangat kotor dan merupakan tempat mesum yang sangat cabul, nanti setelah aku bertemu dengan itu Si "Hui Tui Jie"
Aku mau usulkan agar kuil ini dihancurkan dari pada meninggalkan bencana di kemudian hari."
Selesai berkata dia kirim satu ciuman mesra ke atas pipinya Lie Siauw Ie.
"E-eehmmram kau jangan nakal, seru Lie Siauw le sambil mencubit pahanya. Siapa yang beritahukan kepadamu kalau suhuku mempunyai julukan sebagai Hui Tui Jie ? ? Kau harus ingat ingat terus si cangkul pualam Lie Sang adalah jagoan berkepandaian tinggi nomor wahid pada saat ini, karena dia orang paling suka mengasingkan diri dan tak gemar meucampari persoalan dunia kangouw maka orang orang Bu lim memberikan julukan sebagai partai Toen Si Pay. Mendengar perkataan teraebut Liem Tou segera berpura pura bertanya.
"Jika didengar dari pembicaraan Ie cici dia orang paling tidak suka mencampuri urusan dunia kangouw kenapa kali ini bisa munculkan diri untuk mencari gara gara dengan si penjahat naga marah ?"
Perkataan ini memang kalau dibicarakan sangat aneh sekali, jawab Lie Siauw Ie kemudian sambil menghembuskan napas panjang.
Di dalam Bu lim saat ini muncul seorang jagoan tanpa bernama yang amat misterius sekali, orang itu sudah membuat Thian Pian Siauw cu menjadi mendongkol dan berlalu dari atas gunung bahkan mengolok olok suhu tidak berani turun gunung, oooh, dia masih tinggalkan sepucuk surat"
Berbicara sampai disini mendadak Lie Siauw Ie dengan sinar mata yang aneh mempehatikaa Liem Tou dengan pandangan yang amat tajam.
Dalam hati Lie Toum segera tahu kalau dia orang telah mengingat ingat kembali bal hal yang mencurigakan hatinya, cepat cepat dengan nada kebingungan tanyanya lagi.
"Di mana pisau belati pemberian Wan moay kepadamu itu?"
Tiba tiba tanya Lie Siauw Ie sambil memperhatikan wajahnya tajam tajam.
"Aaah ..pisau belati itu sudah hilang sewak tu tempo hari aku terjatuh dari Jembatan pencabut nyawa, waah ..waah pisau belati itu benar benar amat tajam sekali, sungguh amat sayang barang tersebut sudah hilang"
Lie Siauw Ie yang mendengar perkataan itu sama sekali tidak menaruh curiga sedikitpun dan tidak mendesak lebih banyak lagi, sekali lagi dia memperingatkan Liem Tou untuk melarikan kerbaunya kembali ke dalam ruangan kuil yang megah itu, Liem Tou segera mengangguk dan menepuk-nepuk kepala kerbaunya.
Hey Gouw koko ayoh kembali"
Serunya keras.
Kerbau itu dengan mengikuti jalan keluar dari jalan rahasia itu berlari ke depan tetapi ketika sampai didepan tampaklah pintu jalan rahasia itu sudah tertutup dengan sebuah pintu besi yang amat kuat Liem Toa dengan terburu buru meloncat turun dan menariknya, tetapi sedikitpun tidak bergeming, sekalipun sudah kerahkan seluruh tenaga dalamnya pintu itu tetap tidak dapat terbuka.
Terpaksa sambil mengangkat bahu ujarnya.
"Waduh. ..pintunya sudah terhalang, terpaksa kita hsrus mencari jalan keluar yang lain".
"Lalu bagaimana baiknya?"
Seru Lie Siauw Ie dengan amat cemasnya.
Jika kita tidak bisa mencari jalan keluar maka hweesio itupun tidak mungkin sudah lolos dari tempat ini.
Jelas sekali daiam hati Lie Siauw Ie pun merasa gugup sekali, cepat cepat dia meloncat turun dari punggung kerbau untuk mendekati pintu tersebut dan mendorongnya kebelakang, tetapi pintu tersebut tetap tak ber gerak sedikitpun juga.
"Sudah, sudahlah seru Liem Tou kemudian. Sekalipun kau menariknya sekuat tenaga juga tidak berguna, lebih baik kita mencari cara yang lain saja"
Selesai berkata matanya dengan oerJahan menyapu keadaan disekeliling tempat itu mendadak matanya tertumbuk dengan empat buah pilar besar vaug ada di tengah ruangan, hatinya menjadi bergerak.
Pikirnya didalam hati.
Ruangan didalam kuil Siang Lian Si ini dibuat sedemikian bagus dan sempurnanya sudah tentu didalamnya dipasangi alat alat rahasia, asalkan aku orang memeriksanya lebih teliti bukankah segera akan memperoleh jalan keluar?
Berpikir sampai disini dia segera berjalan mendekati pilar pertama yang berukiran naga dari emas, dengan pandangan yang teliti dia memeriksa seluruh bagian dari pilar tersebut.
Pada saat itulah ruangan istana yang semula terang benderang bagaikan disiang hari mendadak menjadi padam sehingga suasana menjadi amat gelap tidak dapat untuk melihat kelima jarinya sendiri.
Liem Tou menjadi sangat terperanjat dia takut Thiat Bok Thaysu sudah menggukan siasatlicik untuk melukai mereka dengan menggunakan alat alat rahasia dengan cepat tubuhnya meloncat mendekati samping tubuh Lie Siauw Ie.
"Ie cici, kita benar benar terkurung ditempat ini"
Serunya perlahan Siapa tahu baru saja dia selesai berbicara mendadak terdengar suara mendeburnya air yang amat keras berkumandang memenuhi seluruh ruangan.
Sepasang mata diri Liem Tou tersebut bisa melihat di tempat kegelapan seperti disiang hari saja, sekali sapu saja dia sudah bisa melibat pada dinding sebelah kiri serta sebelah kanan dari ruangan istana itu mendadak sudah terbuka sebuah lubang yang amat besar sekali seluas dua kaki persegi, dua gulung air yang menderu dengan dahsyatnya mengalir keluar dengan amat derasnya memenuhi seluruh ruangan, kederasan disana jika dibandingkan dengan aliran air disungai Sam Sia diatas gunung Wu San boleh dikata dua kali lipatnya.
Didalam sekejap saja air yang menggenangi ruangan istana itu sudah meninggi selutut, melihat keadaan yang amat berbahaya Liem Tou tegera berteriak.
"Ie cici, hweesio jahanam itu sudah mulai melancarkan serangannya, kau tidak mengerti ilmu di dalam air lebih baik cepat cepat naik keatss punggung kerbau saja.
"Adik lalu bagaimana dengan kau? "
Balas tanya Lie Siauw Ie dengan amat cemas.
"Kau jangan mengurusi diriku, apakah kau sudah lupa kalau aku pandai didalam ilmu menyelam ? Air tidak berhasil mengurung diriku"
Sewaktu mereka berbicara itulah air sudah mulai meninggi sepinggang, mendadak ditengah kegelapan memancar sinar yang amat terang sekali berkelebat datang.
Lie Siauw Ie dengan memegang sebuah mutiara sedang berteriak dengan suara keras.
"Adik Tou kau tidak akan kegelapan lagi, ini aku kasih buat dirimu"
"Tidak usah, kau pakailah sendiri"
Sahut Liem Tou sewaktu dilihatnya dia orang mau menghadiahkan barang pusaka dari suhunya itu kepadanya.
"Pagi hari maupun malam buat aku orang adalah sama saja, hmm, harus dipukul ..harus dipukul... kau ini bagaimana toh? apa kau sudah lupa sewaktu masih ada dipuncak Ngo Lian Hong aku sudah berhasil melatih mataku untuk melihat di tengah kegelapan?"
"Aaah, betul... betul . , . aku memang harus dipukul, lalu kita mau keluar dari mana?"
"Kau jangan cemas dulu, kita pasti akan memperoleh cara untuk keluar dari sini"
Dengan mengikuti aliran air yang amat deras dia memperhatikan sejenak keadaan disekelilingnya lalu sambungnya.
"Ie cici, untuk sementara kau tunggulah aku ditempat ini, aku akan pergi sebentar dan segera akan kembali lagi"
Sejak semula Lie Siauw Ie sudah dibuat gugup hatinya oleh keganasan air yang mengalir dengan amat derasnya, segera serunya dengan gugup.
"Aaaah kau jangan pergi, kamu mau kemana ? ? Jika air ini menggenangi sampai keatap lalu bagi mana ?"
"Mana mungkin"
Ujar Liem Tou tertawa.
"Kau tidak mengerti ilmu berenang sebaliknya kerbau itu merupakan jagoan di dalam ilmu berenang"
Selesai berkata dia memperendah tubuhnya dan menyelam ke dalam air, sebenarnya dia orang bisa berjalan diatas permukaan air dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya tetapi dia tidak mau berbuat demikian disebabkan dia tidak ingin Lie Siauw Ie tahu akan kepandaian silat yang dimikinya sehingga berita ini tersiar luas dikalangan Bu lim dan mempersulit pekerjaannya dikemudian hari.
Saat ini air sudah meninggi sampai diatas kepalanya!
Lie Siauw Ie dengan menunggang kerbaunya mengambang mengikuti aliran air.
Liem Tou sekali lagi mendongakkan kepala nya ke atas permukaan air, ketika dilihatnya Lie Siauw Ie sudah lolos dari mara bahaya segera dia berseru.
"Ie Cici, aku pergi dulu"
Sekali lagi badannya menyusup ke dalam air dan menyelam mengikuti arus air.
Beberapa saat kemudian dikarenakan tekanan air semakin lama semakin deras dia tidak dapat maju kembali barang selangkah langkah pun, pikirannya segera berputar ...
mandadak dia menemukan suatu cara.
Telapak tangannya dengan mengerahkan tenaga dalam melancarkan suatu pukulan dahsyat kedepan sehirgga terbukalah sebuah lorong di tengah air, cepat cepat tubuhnya maju beberapa langkah kedepan menanti air tersebut menutup kembali pukulan yang kedua menyusul kembali ....
akhirnya perlahan demi perlahan dia berhasil mendekati gua air tersebut.
Tetapi dia semakin mendekati gua itu kelihatan aliran dari air yang mengalir keluar semakin deras sehingga sukar untuk ditahan bahkan sampai pukulan saktinyapun tidak bisa terhindar sudah tentu tubuhnya tidak dapat ma ju lebih dekat lagi.
Pada sampai saat sekarang ini dia tidak dapat maju kedepan, tidak punya tempat untuk digunakan sebagai tempat mempertahankan diri sehingga tak kuasa lagi tubuhnya terpental mundur kembali beberapa kaki jauhnya.
Bersamaan pula dia mendadak dia merasakan pinggangnya terbentur dengan suatu barang dengan cepat dia menoleh kebelakang terlihatlah barang yang baru saja ditumbuk olehnya adalah badan dari kerbau itu terpaksa sekali lagi dia memukul keatas permukaan.
Terlihatlah saat ini air semakin lama semakin memenuhi seluruh ruangan, Lie Siauw Ie dengan tangan memegang mutiara dan duduk di atas punggung kerbau, sikapnya amat gugup dan ketakutan sikali, sewaktu melihat Liem Tou munculkan dirinya diatas permukaan air segera teriaknya dengan suara yang amat keras.
Adik Tou sebentar lagi air akan meninggi hingga sampai diatas ruangan ini, kita harus berbuat bagaimana??.
Dalam hati Liem Tou pun merasa amat cemas sekali, sembari menjejak air serunya kembali terhadap Lie Siauw Ie.
Ie cici kau jangan cemas, air ini tidak akan menenggelamkan kita.
Selesai berkata sekali lagi tubuhnya menyusup kedalam air dan berenang menuju kearah dimana berasalnya aliran air itu, setelah berenang sampai tidak bisa maju kembali sekali lagi dengan menggunakan angin pukulannya paksakan diri maju lebih dekat lagi.
Tidak lama kemudian dia sudah hampir sampai didepan pintu gua itu, tanpa berpikir panjang lagi tubuhnya dengan cepat miring kesamping mendadak bergeser beberapa langkah kedepan menghindarkan diri dari pintu gua tersebut, ternyata gulungan air disana jauh lebih kecil bahkan tidak terasa adanya tekanan yang amat kuat, diam diam mengerahkan hawa murninya lalu berturut turut melancarkan air pukulan berantai, tubuhnya dengan amit cepat menyusup maju kembali beberapa kaki kedepan dan tepat tiba disamping gua dimana air tersebut mengalir keluar.
Dia tidak berani berlaku ayal lagi, tangannya dengan cepat memegang dinding batu disamping gua tersebut dan memegangnya erat erat lalu dengan cepatnya muncul kembali ke atas permukaan air.
Tampaklah air tersebut saat ini sudah hampir mencapai keatap.
Lie Siauw Ie yang ada diatas punggung kerbau sedang bungkukkan badannya menghindarkan diri dari benturan dengan atap ruangan.
Jilid 18.
Penjahat Naga Merah Mengganas kembali Dengan cepat Liem Tou menggapai ke arahnya dan menunjukkan jalan keluar buat dirinya, Lie Siauw Ie menyahut dan memerintahkan kerbaunya untuk berjalan maju.
Beberapa saat kemudian sesudah membuang tenaga yang amat besar akhirnya dia berhasil bersatu kembali dengan Liem Tou untuk siap melewati gua itu mencari jalan keluar.
Kita balik pada Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing yang tergantung di dalam ruangan kuil tersebut, keadaannya pada saat ini benar benar sangat mencemaskan sekali, sepasang mata mereka dengan terbelalak memandang kearah telaga air yang amat tenang sama sekali tidak tampak gerakan yang mencurigakan.
Karena mereka takut didalam air sudah dipasang alat alat rahasia karenanya sampai saat ini mereka masih tidak berani menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk berjalan di atas permukaan air, mereka takut pula jikalau Thiat Bok Thaysu dengan mengambil kesempatan ini melancarkan serangan yang akan mengancam jiwa mereka.
Lewat beberapa saat kemudian si gadis cantik pengangon kambing sudah merasa tidak sabaran lagi, bisiknya kepada Lie Loo jie.
"Tia, ayolah kita turun ke bawah saja, kita harus bergantungan sampai kapan disini?? apa lagi bergantung seperti begini harus membuang tenaga amat banyak, lebih baik kita meloncat turun saja."
"Wan jie kau bisa bartahan sabar sahut Lie-Loo jie dengan suara yang amat halus, jika lihat dari barang barang yang diatur di dalam kuil Siang Lian si ini kemungkinan sekali di bawah telaga ini sudah dipasang sesuatu alat rahasia yang amat berbahaya, apalagi kita tidak tahu berapa dalamnya air kolam ini jika didalamnya dia sudah pasangi sesuatu benda sedikit kita salah menginjak tentu akan terkena jebakannya, lebih baik kita menunggu sebentar lagi. Dengan amat tenangnya mereka berdua menunggu kembali entah seberapa lamanya sedangkan sampai saat itu dari pihak Thiat Bok Thay su pun sama sekali tidak memperlihatkan gerak gerik yang mencurigakan. Keadaan semakin tenang Lie Loo jie semakin dibuat tegang lagi, sedetikpun dia orang tidak pernah memecahkan perhatian untuk mengawasi air kolam serta keadaan di sekeliling ruangan kuil itu. Beberapa saat kembali berlalu dengan tenangnya, mendadak..."
Permukaan air yang semula tenang mendadak beriak dan bergelombang dengan amat kerasnya diikuti gelembung gelembung air yang memenuhi permukaan kolam.
Segera terdengar suara dari Thiat Bok Thaysu yang berteriak dengan amat gusarnya.
"Hey orang she Lie, ini hari anggap saja aku kurang waspada sehingga terjatuh ketanganmu asalkan nyawaku masih ada pada bulan lima tanggal lima yang akan datang aku pasti akan mencari dirimu diatas puncak pertama diatas Cing Jan, saat ini aku bisa melepaskan kamu orang satu kali tetapi lain kali. .. Hmmam. kau pasti akan binasa ditanganku". Selesai berkata suasana kembali menjadi hening sekali, saat ini Lie Loo jie benar benar di buat kebingungan, dia orang mana mau mempercayai perkataannya?? cepat cepat ujarnya kepada putrinya si gadis cantik pengangon kambing.
"Entah si hweesio sedang memainkan permainan setan apa lagi? kita jangan cepat mempercayai perkataannya, lebih baik kita sedikit berjaga jaga. Saat ini keadaan di dalam ruangan kuil itu sangat gelap sekali sehingga sukar untuk melihat lima jarinya sendiri, baik Lie Loo jie maupun si gadis cantik pengangon kambing dengan perhatian penuh terus menerus memperhatikan gelembung gelembung air yang semakin banyak di atas permukaan air tersebut. Tiba tiba terdengar si gadis cantik pengangon kambing berseru dengan amat kaget "Tia coba kau lihat, kenapa di tengah air itu amat terang sekali?"
Padahal sejak tadi Lie Loo jie sudah dapat melihatnya, cuma saja tidak sampai diutarakan keluar.
Kini ketika dilihatnya sinar terang itu semakin lama semakin membesar semakin lama semakin jelas hatinyapun terasa semakin menegang di dalam anggapannya Thiat Bok Thaysu sudah mengeluarkan permainan kotornya lagi.
"Wan-jie berhati hati"
Serunya kepada si gadis cantik pengangon kambing memberi peringatan, kemungkinan sekali hweesio terkutuk itu mengeluarkan permainan terkutuknya."
Siapa tahu baru saja dia selesai berkata mendadak dari permukaan tanah memancar keluer tiang tiang setinggi dua, tiga kaki keatas disusul munculnya seekor binatang besar dari dasar air tersebut.
Melihat binatang itu kembali si gadis cantik pengangon kambing itu berteriak kaget.
"Aduh.. .seekor kerbau, lalu Ie cici serta Liem Tou bocah cilik tukang mencelakai orang sudah pergi kemana??"
Lie Loo jie yang melihat munculnya kerbau itu didalam benaknya segera teringat kembali pemandangan sewaktu ia membinasakan para hweesio di luar kuil, hawa amarahnya sekali lagi berkobar di dalam hatinya.
"Kurang ajar, kembali kerbau terkutuk ini."
Lalu ujarnya kapada si gadis cantik pengangonn kambing.
"Binatang ini jika dibiarkan hidup terus cuma akan mendatangkan bahaya saja buat manusia, kau tunggulah sebentar disini aku mau turun kesana membinasakan dirinya"
Gadis cantik pengangon kambing yang pernah tinggal bersama sama kerbau itu diatas gunung Go bie dalam hatinya tahu benar kerbau ini penurut sekali, terhadap pembunuhan secara besar besaran terhadap para hweesio hweesio di kuil itu sekalipun dia melihat dengan mata kepala sendiri tapi dia masih tidak man percaya kalau sang kerbau telah berubah sifat.
"Tia, kau jangan binasakan kerbau itu, ujarnya dengan gugup. Aku lihat kerbau ini beebuat demikian tentu ada sebab sebabnya, lebih baik kau orang tua ampuni nyawanya sekali ini. Lie Loo jie tidak mau menggubris, tangannya mengendor melepaskan pegangannya pada rantai baja itu lalu berjumpalitan di tengah udara dan menubruk ke bawah, sahutnya. Jika dibiarkan hidup lama lagi, kemungkinan tidak ada oraag yang bisa meaguasai dirinya kembali. Bersamaan dengan gerakannya itu tubuhnya meluncur kebawah sedang tangannya dengan dahsyat melancarkan pukulan gencar menghantam ke bawah membuat permukaan air pada muncrat muncrat ke empat penjuru. Agaknya kerbau itupun merasakan adanya bahaya yang mengancam, kepalanya segera diangkat mendengus panjang. Saat itu angin pukulan telah menghantam ke bawah, kelihatannya kerbau itu dengan cepat akan terbinasa di tangan Lie Loo jie. Tiba tiba dari samping tubuhnya muncrat keluar butiran air yang amat besar, diikuti munculnya Liem Tou sambil meaggendong erat erat tubuh Lie Siauw Ie.
"Hey, Hui Tui Jie, jangan melukai kerbauku"
Teriak Liem Tou dengan suaranya yang amat keras.
Lie Loo jie menjadi tertegun, dengan cepat dia menarik lagi angin pukulannya, saat itu Liem Tou sudah melempar tubuh Lie Siauw Ie yang kecil ramping itu kearah Lie Loo jie.
Lie Loo jie tidak bisa berbuat apa apa lagi terpaksa dia menyambut datangnya tubuh Lie Siauw Ie sedangkan tubuhnya yang hampir mencapai permukaan air dengan cepat mengerahkan tenaga dalamnya kembali sedikit menutul ujung tanduk sang kerbau itu dengan menggunakan jurus Pek Hok Cong Thian atau bangau putih menerjang ke langit, tubuhnya dengan lurus meloncat keatas dan menyambar kembali rantai baja itu untuk bergantungan.
Dan pada saat bersamaan pula Liem Tou dengan cepat berenang kemudian menaiki pungguug kerbaunya, teriaknya dengan keras kepada Lie Loo jie.
"Hey Hui Tui Jie sudah lama kita tidak bertemu, walaupun larimu sangat cepat sekali tetapi kali ini tidak bisa menandingi kecepatan dari larinya kerbauku, tadi kenapa kau orang mau membinasakan dirinya ?"
Lie Loo jie yang melihat munculnya Liem Tou secara tiba tiba di dalam ruangan itu diam diam hatinya merasa ragu ragu bercampur curiga pikirnya.
Selama setahun ini entah bocah gendeng ini pergi kemana saja?
Terang terangan tadi aku melihat dia orang tergantung di atas tanduk kerbaunya dalam keadaan terluka bagaimana sekarang bisa jadi sehat waalfiat kembali ?
Tak terasa lagi dengan mengggunaksn sepasang biji matanya yang jeli dan tajam dia orang memperhatikan diri Liem Tou dengan sanngat telitinya, tampak sinar matanya amat halus sekali, kedua belah keningnya terlihat biasa agaknya sama sekali tidak mengerti akan ilmu silat, Tetapi sewaktu teringat kembali akan keganasan dari kerbaunya dia menjadi khekie juga.
Aku lihat kerbaumu, itu memang cepat sekali, tetapi aku rasa semakin lama kerbaumu itu akan jadi seekor kerbau liar yang ganas.
Hui Tui Jie kau jangan omong guyon.
Seru Liem Tou membantah.
Kerbauku bukan saja larinya cepat bahkan bisa membedakan mana yang jahat mana yang baik, asalkan orang jahat pasti dia akan bertemu dengan tandingannya.
Mendengar perkataan itu Lie Loo jie menjadi semakin gusar, pikirnya.
Terang terangan bocah cilik ini sedang mencari bahan guyon buat diriku, di badan orang jahat tidak ada tanda tanda yang lain juga tidak ada bau yang istimewa, cuma binatang saja bagaimana bisa membedakan hal itu?"
Baru saja dia mau berbicara untuk memberi sedikit nasehat pada diri Liem Tou mendadak terdengar Lie Siauw Ie sudah menimbrung.
Suhu perkataan dari adik Tou sama sekali tidak palsu, hal ini memang benar benar nyata.
Siapa yang suruh kau banyak omong?"
Maki Lie Loo jie dengan wajah keren, sekalipun kau berbicara lebih banyak akupun tidak akan percaya, manusia saja kadang kala tidak bisa membedakan baik buruknya manusia apalagi seekor kerbau."
Lie Siuuw Ie tidak mau ambil perduli makian dari Lie Loo jie ini timbrungnya kembali.
"Tapi sedikitnya para hweesio dari kuil Siang Lian si tidak ada seorangpun yang baik"
"Sudah... sudahlah, si gadis cantik pengangon kambing dengan cepat. Ie cici kau jangan berbicara lagi. Lagi ujarnya pula kepada Lie Loo jie. Tia, tidak usah banyak omong lagi, coba kau lihat kita bergantungan di atas rantai baja seperti macam apa?"
Cepat kita cari akal untuk keluar dari sini "
Lie Loo jie segera merasa bahwa perkataannya sedikitpun tidak salah, ujarnya kemudian kepada Liem Tou.
Liem Tou aku dua kali menolong kau orang lolos dari kematian.
Kenapa kau selalu mencari ribut dengan aku si orang tua?"
Sekarang kau bilang punya kerbau yang berkepandaian lihay coba aku lihat kau bisa keluar kuil ini tidak? Apa yang sukar?"
Sahut Liem Tou tertawa. Jika kerbauku ini tidak bisa keluar dari ruangan kuil seperti ini mana mungkin bisa disebut kerbau ajaib?"
"Hee . .. sejak kapan kerbaumu ini mendapat julukan sebagai kerbau ajaib?"
Kerbau yang tidak seperti kerbau biasa sudah tentu disebut sebagai kerbau ajaib.
Sembari memberikan jawabannya ia memperhatikan dengan amat teliti di sekeliling tempat itu, terlihatlah dinding empat penjuru dari ruangan itu terbuat dari baja yang amat kuat dan tidak ada jalan yang bisa ditembus.
Jalan semula yang dilaluinya tadi beserta kerbaunyapun kini sudah tertutup oleh pintu baja yang amat kuat, jika ditinjau dari keadaan sekarang ini agaknya satu satunya jalan untuk menerjang keluar hanyalah melalui jalan pintu depan saja.
Liem Tou yang melihat tempat itu dapat di coba coba dengan diam diam dia kerahkan tenaga dalamnya yang disalurkan kearah lengannya, bersamaan pula dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara perintahnya kepada sang kerbau.
"Su ". Seperti baru saja mendapat firman kaisar, kerbau itu dengaa cepat dongakkan kepalanya mendengus panjang, dengan berenang dia menerjang terus ke arah pintu depan. Walaupun gerakannya amat perlahan tetapi jauh berbeda dari binatang biasa, hanya di dalam sekejap saja sang kerbau sudah tiba disamping pintu depan. Diam diam Liem Tou menjepit perutnya sehingga kerbau itu kesakitan dan menundukkan kepalanya menerjang pintu depan dengan mengambil kesempatan inilah Liem Tou melancarkan satu pukulan dahsyat ke depan. Braak ... dengan disertai suara bentrokan yang amat keras pintu besar itu berhasil dipukul hancur sehingga terpental lebar lebar. Lie Loo jie, Lie Siauw Ie serta gadis Cantik pengangon kambing yang melibat kehebatan tersebut sudah menganggap hal itu hasil dari terjangan sang kerbau tak terasa lagi sudah pada merasa bergidik dan menjulurkan lidahnya kekaguman. Lie Loo jie yang melihat pintu ruangan kuil itu terbuka dengan amat girangnya cepat-cepat berseru. Ie jie Wan jie, cepat lari keluar. Perkataannya baru saja salesai diucapkan dengan menggunakan gerakkan tubuh Hwee Yan Cuan Lian atau burung walet melewati pagar dia sudah berkelebat keluar diikuti oleh si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dari belakangnya. Siapa tahu baru saja Lie Loo jie mencapai pinggiran pintu mendadak dari bawah permukaan tanah terdengar suara desiran yang keras di dalam sekejap saja seluruh air yang menggenangi ruangan itu lenyap tak berbekas sebaliknya permukaan tanah dari ruangan kuil yang sebenarnya secara tiba tiba menaik lebih tinggi sedang pada saat yang bersamaan pula Lie Loo jie sedang melewati pintu, kurang sedikit saja dia akan terbentur dengan pintu itu. Melibat hal itu gadis cantik pengangon kambing menjadi sangat kaget sekali.
"Tia hati hati teriaknya dengan keras."
Dia menjadi agak tertegun, tampaklah bayangan hitam berkelebat di depannya, patung Buddha yang semula berada di depan pintu kini sudah mumbul kembali ke atas dan menghalangi di depan tubuhnya.
Saat ini sepasang lengannya yang terbuat dari besi sedang dipentangkan siap merangkul pinggang dari Lie Loo jie.
Lie Loo jie benar benar amat terperanjat sekali.
"Celaka ..."
Teriaknya keras.
Di dalam keadaan yang amat kritis tubuhnya dengan cepat melayang beberapa kali menjauh tempat tersebut sedangkan hatinya merasa berdebar debar amat kerasnya.
Pikiran kagetnya belum lenyap dari benaknya tiba tiba ....
"Braak "
Terdengar suara bentrokan yang amat keras patung Buddha itu sudah kena tubruk kerbau yang sedang menerjang dari belakangnya sehingga seketika itu juga hancur berantakan menjadi lima bagian kecil kecil.
Bersamaan dengan itu pula terdengar suara tertawa terbahak bahak yang amat keras dari Liem Tou.
"Huui Tui Jie jangan takut, asalkan ada kerbau ajaibku disini tanggung kau tidak akan menemui kerugian". Lie Loo jie yang dikatai begitu mau tertawa tidak dapat mau marahpun sungkan dengan wajah yang adem dia berjalan keluar dari pintu ruangan lalu memandang kearah Liem Tou tanpa mengucapkan sepatah katapun. Saat ini si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie pun mengikuti dari belakangnya berjalan keluar, setelah memandang cuaca yang mendekati fajar pandangannya segera beralih ke arah Liem Tou yang sedang duduk diatas punggung kerbaunya. Selama setahun ini kelihatannya dia bertambah tampan dan gagah, sepasang matanya walaupun tidak memancarkan sinar aneh tetapi bening bagaikan kaca jeli laksana mutiara cuma saja pakaian yang dipakai terlalu kotor dan sudah koyak koyak sehingga tidak sedap dipandang. Melihat potongannya si gadis cantik pengangon kambing segera tertawa cekikikan, ujarnya.
"Koko muka hijau selama setahun ini Ie cici setiap hari merindukan dirimu kau sudah pergi ke mana saja??"
Begitu perkataan tersebut diucapkan keluar baik Lie Siauw Ie maupun Liem Tou menjadi amat malu, air mukanya seketika itu juga berubah memerah, mereka merasa amat malu bercampur gembira sedangkan Liem Tou juga tidak banyak membantah cuma dengan tertawa malu malu dia bungkam dalam seribu bahasa.
Lie Siauw Ie segera memberitahukan apa yang diketahuinya kemarin malam dari Liem Tou.
Seiama setahun ini adik Tou berlontang lantung di dalam dunia kangouw dan berkelana ke seluruh daerah Tionggoan ini.
"Hmmm, Liem Tou"
Tiba tiba Lie Loo jie mendengus dengan amat dinginnya, orang budiman tidak akan main umpet umpetan, sejak kapan kitab pusaka To Kong Pit Liok kau dapatkan ? ? Ayoh cepat bilang !"
Mendengar perkataan tersebut Liem Tou jadi sangat terperanjat, diam diam pikirnya.
"Aku masih mengira dia tidak dapat melihat keadaanku yang sebenarnya, kiranya dia tidak ingin membuka kartu di tengah orang banyak. Baru saja dia mau menceritakan kisah yang sebenarnya terdengar Lie Loo jie sudah melanjutkan kata katanya.
"Jikalau kitab pusaka To Kong Pit Liok itu tidak kamu ambil ambil kemungkinan sekali barang itu akan diambil oleh orang lain."
Dengan perkataannya ini jelas membuktikan kalau perkataannya tadi cuma merupakan dugaannya saja dan bukan karena dia sudah bisa melihat kalau dirinya telah memiliki kepandaian silat yang amat tinggi sekali.
Tetapi kini Lie Loo jie sudah berbicara kalau tidak diberitahu tidak enak tetapi kalau di beri tahu juga tidak baik sekalipun dia adalah seorang yang cerdik tetapi di dalam keadaan yang kepepet dia tidak dapat mengucapkan sepatah katapun juga, dengan wajah yang berubah merah seperti kepiting rebus duduk dengan malunya di atas punggung kerbau.
Lie Loo jie sekalian yang melihat lama sekali dia tidak mengucapkan sepatah katapun tak terasa pada menengok ke arahnya dengan disertai penuh harapan, mereka sangat mengharapkan Liem Tou sudah berhasil memperoleh kitab pusaka To Kong Pit Liok itu.
Mendadak Lie Loo jie mendepakkan kakinya ke atas tanah lalu makinya terhadap si gadis cantik psngangon kambing serta Lie Siauw Ie.
"Kalian berdua bisa mengambil keputusan sendiri untuk turun gunung, sudah tentu kalian tidak membutuhkan aku orang lagi yang ikut mengurus bukan?"
Sambil berkata mendadak sepasang telapak tangannya melancarkan serangan ke depan sehingga terasalah segulung angin pukulan laksana bertiupnya topan melanda permukaan tanah di samping badannya sehingga membuat pasir dan batu krikil pada berterbangan memenuhi angkasa.
Tubuhnya pada saat itu pula dengan kecepatan bagaikan kilat meloncat ke atas lantas berlalu dari tempat itu.
Ketika si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sadar kembali Lie Loo jie sudah ada puluhan kaki jauhnya dari sana.
Didalam keadaan lemas, tak terasa lagi si gadis cantik pengangon kambing melelehkan air matanya, panggilnya dengan keras.
"Tia ...!"
Belum selesai dia mengucapkan kata kata selanjutnya Lie Loo jie sudah berjumpalitan kembali di tengah udara lalu lenyap dibalik tembok pekarangan kuil Siang Lian Si.
Kini tinggal gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie saling berpandangan, tertawa si gadis cantik pengangon kambing itu dengan setengah berbisik ujarnya.
"Ie Cici selamanya ia belum pernah marah seperti bal ini, aku ingin pulang ke gunung."
Wan moay semuanva ini aku yang salah ujar Lie Siauw Ie dengan nada menyesal.
Lain kali jika bertemu kembali dengan suhu aku tentu akan memberitahukan kepada suhu dia orang tua untuk tidak menyalahkan dirimu lagi, semua ini hanyalah kesalahanku seorang.
Sambil berkata tak terasa lagi dari ujung matanya yang jeli menetes keluar titik air mata yang membasahi pipinya.
Liem Tou yang melibat mereka berdua pada menangis, dengan bingung hiburnya.
"Wan moay, Ie cici kalian jangan menangis lagi, lain kali jika bertemu kembali dengan Lie Loo cianpwee biarlah aku membantu kalian berbicara, aku tentu akan menyuruh dia orang jangan menyalahkan diri kalian kembali, tetapi kalianpun salah kenapa tidak mau mendengar nasehat dia orang tua. Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dapat turun gunung tanpa pamit sebetulnya dikarenakan hendak mencari diri Liem Tou, kini mendengar dari nada ucapannya dia malah sebaliknya menyalahkan tindakan mereka berdua tak terasa lagi si gadis cantik pengangon kambing melototi dirinya sekejap sebaliknya Lie Siauw Ie semakin merasakan hatinya tidak enak sekali.
"Adik Tou bentaknya dengan nyaring.
"Kau sedang bilang apa? kita turun gunung tanpa pamit semuanya dikarenakan kau, tidak kusangka sama sekali kau bisa mengucapkan kata kata seperti ini"
Liem Tou sebenarnyapun sudah tahu dia cuma sengaja berbicara untuk menggoda mereka saja apalagi diapun tahu Lie Loo jie bukan bersungguh sungguh sedang memarahi mereka sebaliknya dikarenakan berturut turut dikalahkan olah kelihayan kerbau ajaibnya ini sehingga untuk melindungi kewibawaan serta mukanya sengaja dia berpura pura marah dan mengambil kesempatan itu untuk berlalu dari sana.
Kini mendengar bentakan dari Lie Siauw Ie, ia segera tertawa kecil, mohonnya dengan suara setengah merengek.
"Oooh Ie cici aku cuma berguyon saja. bagaimana kalian sudah menganggapnya bersungguh sungguh? urusan ini bukanlah dikarenakan kesalahan dari kalian berdua, lain kali jika bertemu kembali dengan Lie Loo cianpwee biarlah aku suruh dia orang pukul diriku satu kali untuk merendahkan hawa amarahnya. 'Hmm, siapa yang mau berguyon dengan dirimu?"
Bentak Lie Siauw Ie sambil melotot. Jikalau kau orang sampai kena pukul suhu, mungkin tulangpun akan remuk.
"Remuk ya biar remuk toh, siapa suruh kau berdua turun gunung tanpa pamit."
Sekalipun tulangku dipukul remuk aku juga tidak bisa berkata apa apa lagi.
Perkataannya ini diucapkan sangat lucu sekali membuat si gadis cantik pengangon kambing menjadi tertawa cekikikan.
Hujan segera reda dan awan tersapu bersih kelihatan sekali wajahnya semakin cantik.
"Wan Moay moay kau mentertawakan apa?"
Seru Liem Tou dengan suara yang keras. Apakah kau kira omonganku sudah salah?"
Sepasang mata yang amat jeli dari si gadis cantik pengangon kambing segera melirik sekejap ke arah Liem Tou lalu melirik pula ke arah Lie Siauw Ie, ujarnya sambil tertawa.
Jika kalau ayahku sampai memukul remuk tulangmu kemungkinan sekali hati Ie cici pun akan ikut hancur lebur.
Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut benar benar merasa sangat kegirangan.
Eeeeeh..
omongan kok lucu sekali serunya sambil tertawa geli.
Lie locianpwee pukul badanku bagaimana sakit di badannya Ie cici??' Lie Siauw Ie yang mendengar tanya jawab dari si gadis cantik pengangon kambing serta Liem Tou sejak tadi tadi sudah dibuat kemalu maluan, wajahnya memerah hingga sampai dilehernya.
"Sudah...sudahlah."
Serunya dengan manja, Wan moay kau jangan cari gara gara terus, coba kau lihat cuaca sudah mulai terang tanah, orang yang melakukan perjalananpun sudah tidak sedikit ayo kita kembali ke rumah penginapan.
"Ehmmm tetapi kuil Siang Lian si ini merupakan tempat mesum yang amat kotor jika tidak dibakar bukankah hanya meninggalkan bencana buat orang lain??"
Lie Siauw Ie lantas mengangguk tanda menyetujui, baru saja dia mau menjawab Liem Tou sudah keburu berkata.
Menurut penglihatanku para hweesio dari kuil ini kebanyakan sudah mati atau terluka aku kira tidak ada kekuatan lagi buat mereka untuk berbuat jahat aku kira sekalipun kuil Siang Lian si ini tidak kita hancurkan orang lain sama saja akan menghancurkannya, buat apa kita repot-repot membuang tenaga??"
"Betul, perkataannya sedikitnun tidak salah"
Sela si gadis cantik pengangon kambing menyetujui. Kalau begitu cepat kita berangkat kembali ke rumah penginapan."
Mereka bertiga setelah mengambil Keputusan ini, si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie segera meloncat keluar melewati tembok pekarangan sedangkan Liem Tou dengan menunggang kerbau berjalan keluar melalui pintu depan.
Sesampainya di jalan raya mereka segera mempercepat langkahnya kembali ke kota.
Tidak selang lama kemudian sampailah mereka di depan rumah penginapan di luar kota di mana mereka menitipkan kambing kambingnya itu.
Dari tempat kejauhan tampaklah orang yang sedang berkerumun di depun rumah penginapan itu agaknya kurang lebih berada di atas ratusan orang banyaknya.
Melihat hal ini si gadis cantik pengangon kambing menjadi keheranan dibuatnya.
"Eeeeh sudah terjadi urusan apa?"
Tubuhnya dengan cepat menerobos terlebih dahulu ke depan seorang kakek yang berada di sana cepat katanya.
"Aeey orang tua. sebenarnya didalam penginapan ini terjadi urusan apa"
Sewaktu si kakek tua itu melihat si gadis cantik pengangon kambing adalah seorang perempuan yang sangat cantik sekali, semula dibuat tertegun tetapi sebentar kemudian sambil menghela napas panjang sahutnya.
"Aaaaiii .., tahun ini semakin lama semakin berbahaya, nona, pernahkah kamu orang mendengar nama penjahat naga merah ? Jika kau kepingin mengetahui urusan ini, cuma tahu namanya saja tentu mengetahui sendiri apa yang telah terjadi di tempat ini."
Mendengar disebutnya nama si penjahat naga merah, si gadis cantik pengangon kambing menjadi amat terperanjat sekali.
"Apakah kemarin malam si penjahat naga merah sudah menggerayangi rumah penginapan ini ? tanyanya dengan cemas. Memang aneh sekali, lalu besarkah kerugian yang di derita di dalam rumah penginapan ini ?"
"Kerugian . ? Seru kakek tua itu sambil memandang sekejap ke arah gadis cantik pengangon kambing itu. Kalau tempat yang sudah digerayangi oleh si penjahat naga merah sudah tentu barangnya akan ludas semuanya. Si gadis cantik pengangon kambing yang secara tiba tiba mendengar kemarin malam si penjahat naga merah sudah melakukan pencuriannya kembali sudah tentu tidak mau percaya, bukankah kemarin malam jelas sekali si penjahat naga merah sedang melakukan pertempuran sengit melawan ayahnya, bagaimana dia melakukan pencuriannya ditempat ini? Tak tertahan lagi saking herannya pergelangan tangan kakek tua itu dicekal semakin kencang teriaknya. Didalam dunia ini mana mungkin bisa terjadi urusan ini, coba kau orang tua jelaskan lebih terang lagi. Kakek tua yang pergelangan tangannya di cekal erat erat oleh gadis cantik pengangon kambing itu segera merasakan kesakitan sehingga menyusup ke dalam tulang sumsumnya, teriaknya dengan keras.
"Aduh tolong ... ! "
Saking sakitnya dia jatuh tak sadarkan diri ke arah belakang, waktu itulah si gadis cantik pengangon kambing menjadi gugup apalagi kakek itu pada saat ini pucat pasi bagaikan mayat.
Saat itulah orang orang yang sedang menonton keramaian dengan suara yang ramai pada berpindah mengerubungi diri gadis cantik pengangon kambing.
Untung saja Lie Siauw Ie serta Liem Tou cepat datang, Lie Siauw Ie yang sejak kecil sudah terbiasa menghadapi segala perubahan yang terjadi secara mendadak dengan cepat maju ke depan menepuk punggung kakek itu.
Sebentar kemudian kakek tua itu baru sadar kembali dari pingsannya, si gadis cantik pengangon kambing segera minta maaf berulang kali mengiringi kakek tua itu berlalu dari sana sambil mengelus elus pergelangan tangannya si gadis cantik pengangon kambing yang kepingin cepat cepat mengetahui keadaan yang sesungguhnya segera ujarnya kepada Liem-Tou.
"Hay Koko muka hijau kau tunggu sebentar di sini biarlah aku serta Ie cici pergi kesana memeriksa sebentar ."
Liem Tou mengangguk tanda menyetujui, dengan demikian si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie segera mendesak orang orang lainnya untuk maju kedepan.
Sesampainya di depan pintu rumah penginapan baik Lie Siauw Ie maupun si gadis cantik pengangon kambing segera bau amis darah yang sangat menusuk hidung, tak terasa lagi hati mereka berdua pada berdebar debar amat kerasnya.
Tiba tiba.
, .mereka menjerit keras saking kagetnya dan berdiri tertegun didalam ruangan itu.
Kiranya didalam rumah penginapan tersebut penuh berceceran darah segar dengan mayat mayat yang bergelimpangan dengan amat ngerinya, suasana sungguh menyeramkan sekali.
Melihat keadaan yang demikian mengerikan ini si gadis cantik pengangon kambing segera memejamkan matanya rapat, serunya dengan terharu.
"Ie cici, sungguh kejam si penjahat naga merah itu."
Bagaimanapun juga Lie Siauw Ie yang usianya jauh lebih tua jadi orang pun semakin tenang, setelah bertanya dengan seorang dia baru mengetahui kalau penghuni penginapan kecil ini hanya didalam satu malaman saja sudah dibinasakan semuanya, bahkan sampai para tamu yang sedang menginap di rumah penginapan itu pun tidak luput dari penjagalan secara besar besaran ini.
Karenanya setelah mengetahui jelas akan hal itu dia tak perlu memeriksa kembali keadaan rumah penginapan tersebut, teringat akan kawanan kambing yang dititipkan di rumah penginapan itu segera dia menarik tangan si gadis cantik pengangon kambing untuk diajak ke kandang, Si gadis cantik pengangon kambing segera menyambut dan mengikuti dari belakangnya.
Sesampainya di depan pintu rumah penginapan itu mereka berbelok ke sebelah kanan yang merupakan kandang kuda.
Lie Siuw Ie masih ingat kalau kawanan kambing mereka ditempatkan di dalam kandang kuda itu.
Hubungan antara si gadis cantik pengangon kambing dengan kawanan kambingnya benar benar sangat erat sekali, tempo hari masih berada diatas puncak Ay Leng diatas gunung Go bie, kecuali ayahnya Lie Loo jie dia cuma berkawan dengan kawanan kambingnya itu.
Saat ini hatinya benar benar merasa sangat ketakutan sekali, dia takut kambing kambingnya itu sudah terbunuh semuanya, diam diam doanya did alam hati.
"Semoga saja kawanan kambingku berada di dalam keadaan sehat sehat saja"
Si Gadis dengan cepat mencabut seruling pualamnya lalu ditiup dengan amat nyaringnya.
Siapa tahu kawanan kambing yang biasanya pasti akan mengembek setelah mendengar tanda itu sekarang sama sekali tak memberikan reaksinya.
si gadis cantik pengangon kambing menjadi amat terperanjat, tanpa perduli disekitarnya banyak orang yang menonton mendadak tubuhnya meloncat ke tengah udara setinggi beberapa kaki lalu melewati atas kepala semua orang dan berkelebat menuju ke kandang kuda itu.
Dengan kejadian ini seketika itu juga memancing kegaduhan di antara para penonton, mereka beribut ribut untuk menuju ke kandang kuda semuanya.
Si gadis cantik pengangon kambing sesampainya di depan pintu kandang kuda itu seketika itu juga merasakan hawa dingin berdesir dari dasar lubuk hatinya, seluruh tubuhnya gemetar dengan amat keras tampaklah kawanan kambingnya sudah pada menggeletak dan ceceran darah membanjiri seluruh permukaan tanah.
Tidak ada seekorpun yang berhasil meloloskan diri dari bencana ini.
Dengan termangu mangu si gadis cantik pengangon kambing itu berdiri di sana, semakin dipikir dia merasa semakin sedih tak kuasa lagi titik air mata menetes keluar membasahi pipinya.
Waktu itupun Lie Siauw Ie sudah menyusul di sana, sewaktu melihat keadaan yang sangat mengerikan itu hatinya merasa terjeblos ke dalam jurang yang sangat dalam, apalagi semuanya ini dikarenakan dirinya yang ngotot mau turun gunung mencari Liem Tou sehingga dirinya menemui kerugian yang demikian besarnya, tak terasa lagi hatinya benar benar terasa amat berduka.
Lama sekali mereka berdua berdiam diri tak berbicara, dan pada saat itu orang orang yang menonton keramaian sudah pada mengumpul datang untuk melihat gadis cantik yang baru saja lewat di atas kepala mereka, melihat hal itu Lie Siauw Ie segera menepuk pundaknya dengan perlahan.
"Wan-moay kau jangan bersedih hati, hiburnya. Kesemuanya ini adalah kesalahanku sendiri, sekarang orang orang itu sudah pada ngumpul kemari, lebih baik kita pargi saja."
"Tidak, bal ini tidak ada sangkut pautnya dengan Ie cici!"
Bentak gadis cantik pengangon kambing itu dengan suara tegas.
"Kesemua ya ini disebabkan kekejaman dan keganasan diri si penjahat naga merah itu, aku sangat benci kepadanya, tadi ayah marah marah sebetulnya aku kepingin puiang ke gunung saja tapi sekarang tidak akan puiang lagi, ayahku sudah mengadakan perjanjian dengan si hweesio kurus hitam untuk bertemu di puncak pertama Cing Jan. Waktu itu si penjahat naga merah pasti ikut datang, saat itulah aku akan menyu ruh dia menggantikan kambing kambingku itu"
"Benar, urusan lain kali bisa kita bicarakan di kemudian hari saja, sekarang kita harus berangkat meninggalkan tempat ini terlebih dahulu. Si gadis cantik pengangon kambing itu lama sekali tidak menjawab, sedangkan waktu itu sudah ada banyak orang yang mengerubungi tempat itu sambil mengutarakan pendapatnya masing masing.
"Aaa...sungguh cantik kedua orang gadis muda ini.
"Hmmmn . .cantiknya seperti bidadari yang turun dari kahyangan."
Perempuan itu mempunyai kepandaian yang begitu tinggi sudah tentu perempuan yang lainnya mempunyai kepandaian silat yang tidak jelek"
"Kedua orang perempuan ini sangat aneh sekali, apa mungkin mempunyai hubungan dengan si penjahat naga merah itu??"
Semakin mendengar Lie Siauw Ie semakin tidak puas.
terpaksa dia mendesak si gadis cantik pengangon kambing itu untuk cepat cepat meninggalkan tempat itu, si gadis cantik pengangon kambing tetap tidak menjawab, tiba tiba sambil menunding ke arah mayat kambingnya dia berseru keras.
"Ie cici, coba kau lihat."
"Lihat apanya??"
Tanya Lie Siauw Ie keheranan.
Coba kau lihat pada leher setiap kambing itu pasti ada satu bekas darah yang memancang, tetapi kambing itu bukan binasa dikarenakan hal itu mereka pasti binasa tertusuk pedang.
"Apa mungkin itulah yang disebut tanda pengenal ular merah?"
Tanya Lie Siauw Ie setelah termenung sebentar.
"Aku kira mungkin benar"
Jawab si gadis cantik pengangon kambing sambil mengangguk tetapi ada satu urusan yaug aku merasa kebingungan, kemarin malam si penjahat naga merah yang kita temui menggunakan cambuk Ci Liong pian ssdangkan kawanan kambing ini binasa tertusuk padang, bukankah hal ini sangat aneh sekali ???
Lie Siauw Ie sebera merasakan perkataannya sedikitpun tidak salah, dia mengangguk.
"Kelihatannya ada orang yang memalsukan namanya."
Mungkin, tetapi aku rasa kita harus menginap beberapa hari di dalam kota kemungkinan sekali dengan demikian kita bisa memperoleh sedikit tanda tanda yang jelas.
Demikianpun baik juga, sekarang lebih baik kita cepat cepat meninggalkan tempat ini.
Si gadis cantik pengangon kambing itu segera mengangguk, setelah memandang beberapa kejap lagi ke atas mayat kambing kambing kesayangannya dia baru putar badan berlalu dari sana.
"Tiba-tiba". Suara menyambarnya senjata rahasia memecahkan udara mengancam tubuh mereka, si gadis cantik pengangon kambing menjadi sangat terperanjat bentaknya.
"Ie cici, hati hati senjata rahasia."
Tubuhnya dengan cepat menyingkir kesamping sedangkan Lie Siauw Ie yang agak terlambat untuk menyingkir segera merasakan adanya sambaran senjata rahasia itu terpaksa cepat cepat menjatuhkan diri ke depan.
"Sreet. sreeet, . dua batang paku pencabut nyawa dengan amat cepatnya menancap pada tiang kandang kuda itu untung saja mereka cepat cepat menyingkir kalau tidak, mungkin, tubuh mereka berdua sudah kena dihajar. Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie segera menoleh kebelakang mereka berdua bersama sama mencabut keluar pedang serta seruling pualamnya. Para penonton yang melihat kedua orang gadis itu secera tiba tiba mencabut keluar senjata tajamnya bahkan dari wajahnya kelihatan sangat mencurigakan sekali segera pada ketakutan dan saling dorong mendorong untuk cepat cepat mengundurkan diri dari tempat itu. Di dalam keadaan yang sangat kacau itu bila si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ia mau mencari orang yang menyambitkan senjata rahasia itu menjadi sukar sekali. Mereka berdua berdiri saling berpandangan lama sekali, kelihatannya kita tidak bakal bisa mencarinya Lie Siauw Ie berseru dengan gemas. Wan Moay bajingan ini sangat licik sekal1 tampaknya kita tak perlu nguber dia lagi, baiklah kita mengikuti perkataanmu tadi untuk sementara tinggal di kota Tang Yang dulu jika dia orang mau mencelakai kita berdua lagi bukankah kita tidak usah pergi mencari dirinya dengan susah ?? "Betul, mari kita berangkat,"
Seru gadis cantik pengangon kambing itu kemudian sambil mengangguk.
Mereka berdua segera menyimpan kembali senjatanya masing masing dan berjalan keluar dari tempat itu.
Saat itulah terdengar Liem Tou sedang tertawa terbahak bahak diikuti dengan suara teriakan "Jan, Seng, Cu, Beng, Tong, Piah Hoan"
Serta Jan Seng, Seng Beng, Cu Piah, Cu Beng serta Tong Su delapan buah kata secara bergantian, sedangkan orang yang semula menonton keramaian itu pun kedengaran sedang tertawa terbahak bahak dan bersiul dihadapan mereka.
Mendengar suara tersebut Lie Siauw Ie menjadi sangat cemas, ujarnya.
"Wan Moay cepat sedikit, entah adik Tou sudah memancing kegaduhan apa lagi?"
Si gadis cantik pengangon kambing itu segera menarik ujung bajunya.
Ie cici sahutnya.
Kita lewat samping sini saja biar sampai lebih cepat.
Lie Siauw Ie, tidak menjawab lagi mereka berdua dengan cepat memutar ke samping jalan lalu berlari dengan cepatnya kedepan.
Beberapa puluh kaki jauhnya kemudian mendadak tampaklah oleh mereka sinar golok yang menyilaukan mata berkelebat dengan tak henti hentinya di bawah sinar matahari.
Sedangkan Liem Tou dengan menggunakan kerbaunya sedang menerjang ke kanan menerjang ke kiri di antara bayangan golok tersebut, tetapi sungguh aneh sekali ternyata tak ada sebilah golokpun yang berhasil mengenai ujung bajunya.
Liem Tou kelihatan sangat bangga sekali, wajahnya riang sedang mulutnya tak hentinya memperdengarkan suara tertawa terbahak bahaknya yang amat keras.
Sewaktu Lie Siauw Ie sera si gadis cantik pengangon kambing itu dapat melihat siapa-siapa yang sudah mengayunkan golok goloknya itu tak terasa lagi pada berseru keheranan.
Kiranya orang orang itu berjumlah delapan orang yang bukan lain adalah Toosu toosu dari Bu tong pay.
"Wan moay, ujar Lie Siauw Ie keheranan Hidung hidung kerbau dari Bu tong pay itu tidak ada ganjalan sakit hati apa apa dengan adik Tou kenapa ini hari sengaja mencari gara gara dengan dirinya ?"
"Mari kita maju bertanya sendiri saja"
Sahut si gadis cantik pengangon kambing itu "Jikalau mereka tidak tahu aturan dan mau teruskan untuk bergebrak biarlah cukup aku seorang diri pergi mengejar mereka itu biar aku hajar sampai babak belur"
Selesai berkata tanpa ragu ragu lagi dengan menarik tangan Lie Siauw Ie berjalan maju ke tengah lapangan.
"Berhenti"
Bentak si gadis cantik pengangon kambing keras sambil bertolak pinggang.
Para toosu2 itu sewaktu mendengar ada orang yaag membentak segera pada tertegun dibuatnya, dengan sendirinya gerakannya pun menjadi berhenti.
Bersamaan pula Liem Tou pun membentak keras.
"Su"
Kerbau itu segera berhenti bergerak.
"Hey toosu toosu dari Bu tong pay teriak si gadis cantik pengangon kambing itu kemudian setelah kedua belah pihak pada berhenti "
Kalian meiakukan perjalanan di tengah jalan raya, sedang Liem Koko dia melewati jambatan kayu (diantara kalian air sumur tidak melanggar air kali, kenapa ini hari tanpa angin tanpa hujan sudah pada mencari Liem Koko untuk diajak berkelahi?"
Beberapa perkataan dari si gadis cantik pengangon kambing itu ada sepuluh bagian merupakan ceng li di dalam Bu lim, tetapi para toosu dari Bu tong pay ini mana tahu macam apakah gadis cantik pengangon kambing ini?
segera ada seorang tootiang berbaju kuning yang usianya paling muda merangkap tangannya memberi hormat lalu.
Bu liong so hud Bu liang so hud siapa yang cari Liem Kokomu untuk diajak berkelahi?
yang kami inginkan adalah kerbau tersebut.
Apakah Kerbau tersebut adalah Liem Kokomu?.
Pertanyaannya ini boleh dikata merupakan kata kata makian yang amat pedas dan sama sskali tidak pandang sebelah matapun terhadap si gadis cantik pengangon kambing.
Lie Siauw Ie yang mendengar suara toosu muda itu dalam hatinya merasa mendongkol, Orang yang ada di punggung kerbau itu adalah Liem koko.
Wan moay, apakah kalian toosu toosu sudah picak semua matanya?"
Perkataannya semakin tajam lagi membuat air muka kedelapan toosu tersebut berubah dengan amat hebatnya.
Kalianlah dua orang budak liar sungguh kurang ajar sekali teriak salah seorang toosu dengan amat gusarnya.
Kalian harus tahu kelihayan dari Bu tong pay kami, ayo cepat menggelinding pergi dari sini, jangan coba coba banyak cerewat lagi dengan kami.
si gadis cantik pengangon kambing segera tertawa tergelak dengan amat kerasnya, Oooow sungguh lihay sekali kalian toosu bau dari Bu tong pay sehingga dengan ciangbunjin sendiri dibinasakan oleh siapapun tidak tahu, sungguh hebat, memang benar omonganmu toosu toosu dari Bu tong-pay memang semuanya libay.
Kedelapan toosu itu setelah mendengar perkataan dari si gadis cantik pengangon kambing ini pada berteriak dengan amat gusarnya, teriaknya dengan keras.
"Kau budak jelek siapa yang memberitahukan kepada kalian soal terbunuhuhnya ciangbunjin kami? Terang terangan Leng Cen Tojin terbinasa di tangan Tionggoan Sam Koay bagaimana kalian berani bilang kami tidak becus."
"Hiii ... hiii ... siapa yang sudah memberitahukan kepada kalian kalau ciangbunjien kalian dibinasakan oleh Tionggoan Sam Koay?"
"Kalian melihat dengan mata kepala sendiri ataukah cuma dengar orang bilang saja ?"
Seketika itu juga kedelapan orang toosu itu dibuat tertegun oleh perkataan si gadis cantik pengangon kambing ini, tetapi urusan ini menyangkitt nama baik mereka di dalam Bu lim.
Bagaimana mereka berani percaya atas omongan dari si gadis cantik pengangon kambing itu?"
Terus terang saja aku beritahukan kepada kalian, sambung si gadis cantik pengangon kambing lagi.
Tionggoan Sam Koay sama sekali tidak pernah membinasakan ciangbunjien kalian, ciangbunjien kalian itu dibinasakan oleh si penjahat naga merah yang sengaja mau mencelakai diri Tionggoan Sam Koay, kini Tionggoan Sam Koay sedang pergi mencari si penjahat naga merah untuk membuat perhitungan.
Lama sekali mereka kedelapan orang toosu dibuat tertegun dan berdiri termangu mangu beberapa saat kemudian baru terdengar seorang toosu bertanya.
Perkataanmu ini apakah sungguh sungguh?"
Kita tidak punya dendam tidak punya sakit bati buat apa kami sengaja menipu kalian??"
Sehabis berkata dia berdiam diri memikirkan sesuatu persoalan kembali, lalu sambungnya.
"Oooh . , ..aku telah melupakan sesuatu, baiklah aku berikan kepada kalian juga, bila kalian mau mencari si penjahat naga merah tidak ada halangannya pada bulan lima tangga lima pergilah ke puncak Cing Jan untuk mencari dirinya."
Lalu tangannya menggape kearah Lie Siauw Ie dan serunya.
"Ie cici, ayoh kita pergi saja dari sini "
"Tahan !"
Tiba tiba bentak seorang toosu di antara kedelapan orang toosu toosu Bu tong pay itu.
"Penjahat naga merah adalah penjahat besar masa kini, jejaknya sangat rahasia dan misterius sekali muncul dan lenyapnya tak seorang pun yang mengetahuinya bagaimana kalian dua orang budak bisa mengetahui jejaknya? kami takkan bisa kau tipu mentah mentah."
"Betul perkataan ini sangat beralasan"
Sambung toosu yang lainnya.
"Terang terangan orang ini sengaja mencari satu akal untuk menolong kerbau yang terkurung sekarang ini"
"He ..he . , jika kalian tidak percaya akupun tidak ada cara lain untuk memaksa kalian harus percaya!"
Seru si gadis cantik pengangon kambing sambil tersenyum apa boleh buat.
"Bagaimanapun juga dengan kekuatan kerbaunya Liem koko itu kalian tidak akan berhasil menandinginya, jika kalian mau menguasainya . .he ..hey toosu kau jangan mimpi disiang hari bolong"
Sejak tadi kedelapan orang toosu ini sudah merasakan kelihayan dari kerbau itu cuma saja sang kerbau tidak melakukan pembunuhan besar terhadap mereka seperti halnya sewaktu ada di dalam kuil Siang Lian Si karenanya walaupun dalam hati mereka agak merasa jeri tetapi tidaklah terlalu takut.
Saat ini si toosu yang usianya jauh lebih lanjut dengan sinar mata yang amat tajam sedang memperhatikan diri gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.
si gadis cantik pengangon kambing yang melihat mimik wajahnya tak tertahan lagi segera tertawa manis.
"Bagaima ? Ujarnya. Lebih baik kalian percayai omonganku saja dari pada menyesal dikemudian hari"
Toosu itu tetap memperhatikan mereka berdua tanpa berkedip barang sedikitpun juga, saat itulah seorang toosu mendekati dirinya dan membisikan sesuatu kepadanya, toosu itu segera mengangguk bersamaan pula memberi kedipan mata kepada toosu lainnya.
Kiranya para penduduk yang semula mengerubungi rumah penginapan kecil itu saat ini sudah mulai mengerubungi tempat ini untuk menonton keramaian.
Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat gerak gerik mereka sangat mencurigakan dengan berbisik ujarnya kepada Lie Siauw Ie.
"Coba kau lihat gerak gerik mereka sangat mencurigakan sekali, apakah mungkin mau me lancarkan serangan bokongan terhadap kerbau itu?"
Lie Siauw Ie gelengkan kepalanya tanda tidak tahu.
"Hey, kalian toosu toosu bau sebetulnya mau berbuat apa ?"
Teriak si gadis cantik pengangon kambing kemudian dengan suara yang sangat nyaring.
Toosu berusia lanjut itu segera menjura memberi hormat kepada mereka berdua.
Perkataan dari nona, kami tidak benar benar, sahutnya dengan perlahan.
Sekalipun perkataan dari nona tadi betul Tionggoan Sam Koay memang bukan pembunuh Ciangbunjien Bu tong pay kami tetapi mereka bertiga sudah melukai banyak anak buah kami, sekalipun tidak ada sakit hati kini pun sudah terikat, kerbau ini punya kesalahan sudah meloloskan itu ketiga orang dari kurungan kami, ini hari kami harus membinasakan dirinya juga."
Selesai berkata tangannya diulapkan memberi tanda, segera terlihatlah kedelapan toosu itu dengan mencekal sebilah pedang mulai memencar diri mengurung tempat tersebut dengan rapat rapat.
"Hey bangsat cilik"
Bentak toosu toosu itu lagi dengan suara yang amat keras. Cepat kau orang mengelinding turun dari punggung kerbau tersebut, yang kami mau adalah nyawa kerbau itu bukan nyawamu?"
Liem Tou segera tertawa.
"Nyawa kerbau adalah nyawa juga, jika kalau kalian memang menginginkan nyawa kerbau ini kenapa tidak sekalian menginginkan nyawaku?"
Mendengar perkataan itu para toosu dari Bu tong pay pada melengak dibuatnya, tampak toosu yang berusia agak lanjut itu bergumam seorang diri.
"Eei . .sungguh aneh...sungguh aneh sekali, ternyata di dalam dunia ini ada juga orang yang tidak takut mati??"
Tetapi dengan cepat dia bisa mengambil keputusan di dalam hati. Serunya kemudian.
"Baiklah, kalau memangnya demikian, itulah yang dinamakan mencari gebukan buat dirinya sendiri". Selesai berkata pedang yang semula sudah dicabut keluar kini dimasukan kembali kedalam sarungnya diikuti ketujuh orang toosu lainnya pun pada menyimpan kembali senjata tajamnya. Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang melihat hal ini dibuat jadi keheranan ujar si gadis cantik pengangon kambing itu.
"Eeei kenapa mereka ini?? katanya mau membinasakan kerbau itu kenapa kini malah menyimpan kembali senjata tajamnya masing masing??"
Lie Siauw Ie pun tidak tahu mereka sedang memainkan permainan setan macam apa lagi, dia cuma melirik sekejap ke arah si gadis cantik pengangon kambing tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Pada saat itulah para toosu bersama sama menyingkap jubah luarnya sehingga terlihatlah kantongan senjata rahasia yang tergantung pa da pinggangnya masing masing.
Saat itulah Lie Siauw Ie baru paham kembali.
"Aduh kiranya mereka mau menggunakan senjata rahasia untuk melukai kerbau tersebut waah...waah . .tindakan mereka ini sungguh kejam sekali. Wan moay kau lihat bagaimana baiknya??"
Ternyata dugaan mereka sedikitpun tidak salah para toosu itu pada merogoh ke dalam kantong senjata rahasianya mengambil keluar senjata rahasia yang bentuknya masing masing tidak sama, ada piauw mata uang ada jarum Bwee Hoa Tsu, ada lempengan besi tipis ada pula piaaw piauw dalam bentuk yang biasa...walau pun senjata senjata rahasia itupun merupakan senjata yang sering ditemui di dalam Bu lim tetapi jika dilancarkan dari arah yang berlawanan secara serentak ada siapa yang sanggup untuk melawannya7?
apa lagi cuma seekor kerbau bodoh.
Si gadis cantik pengangon kambing itu segera berseru memberi peringatan kepada Liem Tou.
"Liem koko mereka mau menggunakan senjata rahasia untuk melukai kerbaumu kau cepatlah pergi. Mau pergi? kau kira begitu mudah? Seru kedelapan toosu itu sambil tertawa dingin. Mendadak toosu berusia agak lanjut itu membentak kembali.
"Hey bangsat cilik, sebetulnya kau orang mau pergi tidak?"
Liem Tou tetap bungkamkan diri, cuma saja senyuman manis penuh menghiasi bibirnya.
Wajah toosu itu segera berubah menjadi adem napsu membunuh melintasi wajahnya sepasang matanya melotot lebar lebar tiba tiba dia mem bentak keras.
"Serbu"
Tangannya melayang menyambitkan senjata rahasia yang penuh tergenggam ditangannya, ketujuh orang toosu lainnyapua tidak berani barlaku ayal lagi masing masing segera menyambitkan senjata rahasianya ke depan.
Di dalam sekejap mata saja suara berdesirnya senjata rahasia memenuhi seluruh angkasa, tetapi kerbau itu tetap berdiri tidak bergerak bahkan Liem Tou yang ada dipunggungnyapun tetap tidak ambil gubris, dia tetap tersenyum senyum manis.
Sebaliknya hal ini segera membuat si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie jadi kaget bercampur cemas, mereka berdua segera melancarkan satu pukulan dahsyat meng antam ke arah senjata rahasia yang memenuhi angkasa itu.
Pada saat itulah mendadak terdengar kerbau itu mendengus perlahan disusul suara teriakan kesakitan dari empat orang Toosu yang masing masing sepasang matanya sudah terhajar oleh senjata rahasia sehingga menguncurkan darah segar, sakiag sakitnya mereka pada berguling gulingan di atas tanah sambil mengerang ngerang kesakitan, keadaannya sungguh mengerikan sekali.
Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang melibat perubahan yang terjadi secara mendadak ini segera tahu tentu ada sesuatu yang telah terjadi, diam diam mereka gemas atas keganasan dari kerbau itu.
Siapa tahu baru saja pikiran ini berkelebat di dalam benaknya terdengar kerbau itu sekali lagi mendengus hebat disusul kepalanya ditundukkan menerjang ke arah orang orang yang menonton di samping kalangan gerakaannya amat cepat sekali bagaikan berkelebatnya kilat ditengah udara.
Seketika itu juga suasana menjadi amat kacau sekali, orang orang yang semula menonton di samping kalangan menjadi ketakutan dan pada lari serabutan.
"Aduh, mak tolong ..tolong!"
Bagaikan air bah mereka pada lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu, mereka gemas kenapa orang tua mereka tidak melahirkan mereka dengan kelebihan dua buah kaki, bahkan ada diantaranya yang kurang berhati hati pada berjatuhan di atas tanah dan kena injak orang orang lainnya.
Tetapi dimana kerbau itu menerjang datang semua orang pada menyingkir ke samping memberi jalan kepadanya, sehingga dengan sendirinya kerbau tersebut dapat lari dengan kencangnya ke arah depan.
Kerbau itu berlari dengan amat cepatnya di antara orang orang tersebut tanpa melukai mereka barang seorangpun, dan lama kelamaan orang orang tersebut baru bisa berasa lega hati, cuma saja mereka tidak tahu kerbau itu sedang berbuat apa disana?"
Tampaklah kerbau itu dengan amat cepatnya ia berlari ke depan mengejar seorang pengemis yang sedang melarikan diri terbirit birit.
Pengemis itu dengan amat gesitnya menerobos di sisi antara orang banyak membuat sang kerbau untuk sementara waktu tidak berhasil menyandak dirinya tetapi kelihatan sekali mimik pengemis itu pun sangat tegang sekali dibuatnya.
Pada saat itu para toosu lainnya sudah memeriksa luka dari kawan kawan mereka, kiranya ada jarum pencabut nyawa di luka matanya.
Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang melihat senjata rahasia yang melukai mata para toosu itu merupakan jarum pencabut nyawa yang ditemuinya sewaktu masih ada dikandang kuda dan kini melihat pula Liem Tou menunggang kerbaunya sedang mengejar seorang pengemis segera paham kembali, pikirnya.
"Sungguh kejam tindakannya ternyata dia ingin memancing dendam sakit bati antara kita dengan pihak Batong pay, untung saja kerbau itu sangat pintar sehingga cepat cepat menemui bajingan tersebut, kalau tidak tentu kita sudah terkena siasat beracunnya. Berpikir sampai disini si gadis cantik pengangon kambing segera memberikan kedipan mata kepada Lie Siauw Ie dan teriaknya dengan keras. Hey hidung kerbau dari Bu tong pay cepat kejar si pengemis busuk itu, merekalah yang menyambitkan senjata rahasia melukai keempat orang saudara saudara kalian, ayoh cepat kejar jangan sampai membiarkan dia berhasil meloloskan diri."
Sambil berkata begitu bersama sama dengan Lie-Siauw Ie berdua segera mengerahkan ilmu meringankan badannya bagaikan dua ekor kupu kupu putih dengan amat cepatnya berkelebat melalui atas kepala orang yang menonton jalannya partempuran tadi mengejar kedepan.
Hey hidung kerbau dari Bu tong pay ayoh cepat kejar, teriak si gadis cantik pengangon kambing kembali di tengah udara.
Para toosu dari Bu tong pay agak tertegun sebentar, akhirnya sambil mencabut keluar senjata tajamnya pada berebut menyerbu ke arah orang yang berkumpul di sana itu.
Baru saja gadis cantik pengangon kambing, Liem Tou serta para toosu dari Bu tong pay itu mendekati orang tersebut mendadak terdengar berkumandangnya suara terbahak bahak dari antara orang orang yang badir disana diikuti melayangnya sesosok bayangan manusianya yang dengan amat cepatnya menerjang ke atas atap rumah penginapan itu sambil serunya dengan nyaring.
"Ha a ha a . selamat tinggal"
Ujung kakinya sekali lagi menutul dengan cepat, tubuhnya meluncur ke belakang rumah penginapan itu.
"Ayoh cepat kejar jangan sampai bajingan itu berhasil meloloskan diri seru si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, berbareng. Ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah dengan cepat tubuhnya meloncat ke tengah udara dan mengejar keatas atap rumah terseout. Tetapi walaupun gerakan tubuh dari si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie amat cepat, gerakan dari kerbau itu lebih cepat lagi. Terdengar kerbau tersebut mendengus rendah lagi disusul dengan bentakan Lirm Tou yang sangat keras.
"Bangun !"
Dengan disertai sambaran angin yang amat keras kerbau itu dengan amat cepatnya melewati rumah penginapan itu.
menanti setelah si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siaw Ie tiba di atas atap, kerbau yang ditunggangi Liem Tou itu sudah lenyap tak berbekas lagi, Tak terasa lagi baik si gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw Ie dibuat melengak di atas genting, lama sekali baru terdengar si gadis cantik pengangon kambing itu berkata.
"Ie cici, sama sekali tidak kusangka kerbau itu bisa demikian libaynya jikalau tubuhnya berhasil dilatih sampai tak mempan senjata tajam di dalam Bu lim pada saat ini ada siapa lagi yang bisa menangkan dirinya?"
Jilid 19.
Kerbau Ajaib Terluka Lie Siauw Ie dengan pelan menganguk agaknya di dalam hatinya ada sesuatu urusan sehingga lama sekali dia tidak memberikan jawabannya.
Sepasang matanya dengan termangu mangu memandang kearah tembok kota Tang Yang yang ada di tempat kejauhan, terlihatlah sesosok bayangan manusia melewati tembok itu disusul dengan kerbau tersebut mengikuti dari belakangnya, tak terasa lagi dia menghela napas panjang "Heey ...
tidak kecandak, tidak kecandak.
setelah masuk ke dalam kota jangan barap bisa kecandak"
Serunya perlahan. Ternyata dugaannya sedikitpun tidak salah, sebentar kemudian kerbau itu tampak sudan berlari kembali dan tak lama berselang sudah tiba di belakang rumah penginapan itu.
"Ie cici, Wan Moay"
Terdengar Liem Tou berseru dengan amat kerasnya.
"Tempat ini tidak bisa ditinggalkan lebih lama lagi, mari kita cepat pergi dari sini"
Si gadis cantik pengangon kambing itu segera menoleh ke belakang, sewatktu dilihatnya ada beberapa orang tosu yang meloncat naik ke atas atap rumah lalu ujarnya "Pengemis busuk itu sudah melarikan diri ke dalam kota Tang Yang, kita pun harus pergi, lebih baik kalian menolong kawan kawan yang terluka untuk dibawa pulang, sedangkan orang yang membinasakan ciangbunjin kalian benar benar adalah si penjahat naga merah itu, mau percaya atau tidak terserah dirimu"
"Sedangkan mengenai pengemis yang melukai kalian kami akan melakukan pemeriksaan setelah setelah tiba dikota Tang Yang"
Sambung Lie Siauw Ie lagi.
"Jika kami berhasil mengetahuinya tentu kami akan memberi kabar kepada kalian, oh yaah, kalian tinggal dimana?"
Toosu itu tidak langsung menjawab termenung berpikir sebentar lalu baru sahutnya.
'Untuk mencari orang yang sudah membinasakan ciangbunjien kami di seluruh daerah serta keresidenan di seluruh daerah Tionggoan tentu ada anak murid Bu tong pay kami, tiga hari kemudian tentu ada orang yang muncul menemui kalian berdua, selamat tinggal.
Selesai berkata dia segera menjura memberi hormat lalu bersama sama meloncat turun ke bawah dan mengikuti kawan kawannya yang masih mengerang nerang kesakitan berlalu dari sana.
Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sehabis mengatur urusan ini sehingga jelas, barulah ujarnya kepada Liem Tou.
"Ayoh perg"
Dari sini, untuk sementara waktu lebih baik kita menginap beberapa hari dulu di dalam kota Tang Yang untuk menyelidiki asal usul dari pengemis tersebut, apalagi baju yang compang camping dari adik Tou inipun harus diganti.
Liem Tou tertawa, sepasang kakinya menjepit kencang perut kerbaunya dengan memimpin dimuka dia berlari terlebih dahulu sedang si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie pun pada meloncat turun dari atap dan berkelebat mangikuti dari belakangnya.
Sesampainya di dalam kota Tang Yang, Liem Tou tidak bisa terus menerus menunggang di atas kerbaunya sehingga bisa menimbulkan kecurigaan orang lain, terpaksa dia meloncat turun dari kerbaunya bersama sama dengan Lie Siauw Ie serta gadis cantik pengangon kambing berjalan masuk ke dalam kota.
Saat ini hari sudah siang, beberapa orang yang sudah ada satu hari satu malam tidak makan maupun minum segera berjalan memasuki sebuah rumah makan.
Liem Tou mengikat kerbaunya di depan kedai itu lalu bersama sama dengan kedua orang gadis itu berjalan masuk ke dalam rumah makan dan mencari tempat dekat dengan ujung jalan.
Terlihatlah sambil berdahar ujar Lie Siauw Ie dengan suara perlahan.
"Eei jangan makan terlalu banyak, untung sekali kemarin malam bisa bertemu dengan adik Tou, apalagi adik Tou pun sudah pernah pergi ke perkampungan Ie Hee Cung, waktu seperti ini paling bagus kita membicarakan soal soal tersebut, apalagi kitapun harus menentukan langkah langkah selanjutnya bagaimana kalau kita minum arak?"
Si gadis cantik pengangon kambing yang tinggal di atas gunung Go Bie selain tiap hari minum sari buah atau madu belum pernah dia orang merasakan arak yang sesungguhnya, dialah yang pertama berteriak setuju.
Sebaliknya Liem Tou yang mendengar Lie Siauw Ie menyuruh dia menceritakan apa yang dilihatnya di perkampungan Ie Hee Cung hatinya menjadi sangat terperanjat, pikirnya.
Suruh aku bicara?
Lie Pek bo sudah meninggal dunia apakah aku harus memberitahukan kepada Ie cici pada waktu ini??"
Berpikir sampai disitu dia segera berseru menolak. Tidak, lebih baik kita jangan minum arak, Ie cici serta Wan Moay selamanya belum pernah minum arak, kalau sampai mabok lalu bagaimana??"
"Kita minum sedikit saja bukankah tidak mengapa?"
Ujar Lie Siauw Ie sambil tertawa.
"Betul.. .betul"
Sahut si gadis cantik pengangon kambing dengan cepat.
"Hey pelayan, cepat kemari?"
Segera tampaklah seorang pelayan berlari mendatang, dengan sangat hormat sekali tanyanya. Khek koan membutuhkan apa?"
Ambilkan arak yang paling bagus"
Seru si gadis cantik pengangon kambing dengan gagahnya.
Pelayan itu segera menyahut dan dengan cepat berlalu dari sana.
Pada saat itulah terdengar suara derapan kaki yang amat ramai tampak dua orang muncul di balik tangga loteng, sekail pandang saja Liem Tou segera mengenali kembali kalau kedua orang itu adalah si hweesio serta si toosu yang pada setahun yang lalu diperintahkan oleh Auw Hay Ong Bo untuk menawan dirinya.
Liem Tou tidak ingin dirinya sampai dikenali, cepat cepat dia melengos keiuar jendela menghindarkan diri dari bentrokan pandangan dengan mereka berdua.
Kedua orang itu segera memilih tempat sewaktu melihat Lie Siauw Ie serta Si gadis cantik pengangon kambing ada disana mereka dibuat tertegun, agaknya merekapun mengenali kembali kalau kedua orang gadis ini adalah orang orang dari perkampungan Ie Hee Cung.
Walaupun Liem Tou tidak melibat ke arah mereka tetapi ketajaman pendengarannya saat ini jauh melebihi orang lain, segera terdengar olehnya si hweesio itu sedang berbisik kepada sang Toosu.
Tidak kusangka mereka bisa demikian cepatnya tiba di dalam kota, bangsat cilik yang melengos itu pastilah Liem Tou.
Betul, sahut Toosu itu dengan suara yang amat lirih.
Setahun yang lalu kita tidak berhasil menawan dirinya, kali ini dia sendiri cari jalan mati kita tidak boieh melepaskan dirinya kembali.
Eih..
.bangsat cilik itu sudah melihat kita, cepat kita pergi dari sini kau awasi mereka dari depan pintu biar aku pergi memanggil Kuncu datang.
Selesai berkata dengan tergesa gesa kedua orang bangkit berdiri dan berlalu dari tempat itu.
Saat itulah Liem Tou baru menoleh ke arah si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, ujarnya.
Ie cici.
Wan moay moay kalian kenal dengan mereka berdua??' "Tidak kenal, jawab Lie Siauw Ie sambil gelengkan kepalanya.
Tetapi akupun rasanya pernah bertemu tetapi untuk sesaat sudah lupa entah ketemu dimana.
Pada setahun yang lalu mereka berdua mengikuti Auw Hay Oag Bo mendatangi perkampungan Ie Hee Cung dan memaksa aku lari kalang kabut ini hari Ie cici serta Wan moay harus membalaskan sakit hatiku ini.
Liem koko kenapa tidak kau katakan sejak tadi?
Tiba tiba Si Gadis cantik pengangon kambing itu sambil meloncat bangun dari tempat duduknya.
Saat ini mereka berdua sudah mengeloyor pergi bagaimana kita bisa membalaskan sakit hatimu tempo hari??
Liem Tou segera bersenyum.
Jangan cemas jangan keburu buru sahutnya.
Sebentar lagi mereka bakal kembali lagi, kata mereka mau segera pergi untuk memanggil kuncunya kalu tidak percaya coba kalian lihatlah di depan rumah makan ini kan masih tertinggal seseorang yang sedang mengawasi diri kita.
Si gadis cantik pengangon kambing itu segera menengok keluar jendela ternyata sedikitpnn tidak salah tampaklah sitoosu itu sedang berdiri bolak balik disamping rumah makan mengawasi mereka.
Melihat hal itu Si Gadis cantik pengangon kambing menjadi agak mendongkol, ujarnya kepada Liem Tou serta Lie Siauw Ie sambil lari menuruni tangga loteng.
"Kalian lihat saja, aku segera tawan dirinya"
"Eei .. Wan moay jangan pargi!"
Cegah Liem Tou dengan cepat. Bukankah lebih baik kita menanggu kuncirnya terlebih dahulu"
Tetapi si gadis cantik pengangon kambing itu tetap tidak mau tahu dia ngotot mau turun kebawah memberi hajaran kepada orang tersebut. Melihat hal itu terpaksa ujar Liem Tou kembali.
"Jikalau Wan moay benar benar ingin memberi hajaran kepadanya lebih baik jangan turun tangan sendiri, begini saja kau lepaskan tali pengikat kerbau itu biar dia mencari gara gara dengan dirinya, sedangkan kita menonton permainan bagus dari atas loteng bagaimana?"
Si gadis cantik pengangon kambing itu berpikir pikir sebentar akhirnya dia tertawa.
Baiklah, sahutnya dengan gembira.
Selama setahun ini bukannya kau berhasil melatih ilmu silatmu sebaliknya melatih seekor kerbau ajaib sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat mengherankan sekali.
Selesai berkata dia segera turun dari loteng untuk melepaskan tali pengikat kerbau tersebut lalu kembnli lagi ke atas loteng, mereka bertiga dengan serta merta melongokkan kepalanya ke bawah untuk menonton tontonan tersebut.
Padahal seluruh perbuatan kerbau itu turus mengikuti perintah dari Liem Tou yang kirim dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara, sudah tentu sebelum diperintah Liem Tou kerbau itu tidak akan menunjukkan gerakan apapun.
Saat ini Liem Tou sama sekali tidak bermaksud untuk melukai toosu tersebut, dia cuma gemas sehingga punya niat untuk mempermainkan dirinya.
Setelah tali yang mengikat kerbau itu dilepaskan oleb si gadis cantik pengangon kambing, Liem Tou secara diam diam lantas mengerahkan ilmu menyampaikan suaranya mnmberi pe rintah.
Tampak kerbau tersebut tenang di tengah jalan lalu pandang keki kekanan, tiba tiba sambil menyentakkan kakinya di atas tanah sehingga membuat debu pada beterbangan memenuhi angkasa dengan amat ganasnya lari menerjang ke arah sang toosu.
Melihat kejadian itu si gadis cantik pengangon kambing menjadi amat girang sekali.
"Ha haa .... haa .... sudah hampir teriaknya keras, kali ini sang toosu bau pasti akan kehilangan nyawanya.
"Aku kira belum tentu, sabut Liem Tou dengan perlahan. Kelihatannya kerbau itu tak suka melukai dirinya."
"Aku tidak percaya, bantah gadis cantik pengangon kambing itu dengan ngotot.
"Bagaimana kalau kita bertaruh siapakah yang kalah harus didenda dengan tiga cawan arak."
Diam diam di dalam hati Liem Tou merasa sangat geli sebab jika betul betul mau bertaruh si gadis pengangon kambing pasti akan menderita kekalahan.
Sebentar saja kerbau itu sudah hampir mendekati tubuh sang toosu tapi dia orang masih iidak merasakan adanya bahaya yang mengancam.
Saat itulah mendadak tampak si hweesio sudah berlari mendatangi sambil berteriak keras.
"Mao heng awas bahaya, cepat nyingkir ..!"
Padahal sejak kerbau itu berhasil membubarkan kepungan toosu toosu Bu tong pay terhadap Tionggoan Sam Koay serta kehebatannya pada waktu berada di rumah penginapan, diluar kota Tang Yang sudah membuat namanya tersebar iuas diseluruh dunia kangouw, orang orang Bu lim yang berada di sekitar tempat itu siapa saja sudah tahu kalau di tempat tersebut sudah kedatangan seekor kerbau yang sangat ajaib dan lihay sekali.
Sang toosu yang diperingatkan oleh sang bweesio atau si rase terbang Jien Hwee tidak terasa lagi menjadi terperanjat, telapak tangannya segera dilintangkan kedepan dada lalu kirim pukulan dahsyat menghajar kerbau tersebut.
Liem Tou yang ada didekat jeadela dapat melibat seluruu kejadian itu dengan jelas, pikirnya.
"Manusia tidak tahu diri ... aku punya maksud melepaskan dirimu sebaliknya kau malah melancarkan serangan hendak menghajar kerbauku .."
Melihat itu dia mengeluarkan suaranya dengan nyaring.
"Jadi kau Coe"
"Kerbau itu segera berputar kekiri lalu berbalik kesebelah kanan dengan amat cepat sekali berhasil menghindarkan diri dari serangan pukulan toosu tersehat, disusul berkumandangnya suara jeritan aneh lalu menerjang kembali ke depan. Sang toosu yang melancarkan pukulannya untuk menghantam kerbau itu dalam bati mengira pukulannya pasti akan mencapai pada sasarannya, dia sama sekali tidak menyangka kalau gerakan dari kerbau itu bisa begitu cepatnya, di dalam keadaan yang amat terperanjat ujung kakinya segera menutul permukaan tanah lalu meloncat naik ke tengah udara. Agaknya dia kermaksud untuk meloncat naik ke atas punggung kerbau tersebut lalu turun tangan dari atas. Waktu itu sekalipun sang kerbau memiliki kepandaian yang lebih tingipun tidak akan bisa mengapa apakan dirinya. Sejak semula Liem Tou sudah menduga dia orang bisa berbuat demikian, baru saja sepasang pundak dari toosu itu sedikit bergerak, Liem-Tou sudah kirim perintah lagi. Tong ... Kerbau itu tiba tiba angkat kepalanya sepasang tanduknya diterjangkan kedepan tepat menghajar pada diri toosu itu membuat sang toosu menjerit kesakitan.
"Aduuuh .. disertai suara jeritan yane amat keras, hawa murni yang semula dikumpulkan dibagian kaki seketika itu juga terbuyar lagi. Braak .. tiada kuasa lagi tubuhnya terjengkang ke atas tanah lalu berguling guling seperti halnya seekor anjing yang kena gebuk, seluruh tubuhnya kotor kena debu. Seketika itu juga memancing tertawa Si Gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang amat keras, secara diam diam Liem Tou pun merasa hatinya sangat puas sekali. Mendadak ..segulung angin pukulan yang amat tajam sekali menerjang dari belakang tubuhnya disusul berkelebatnya sesosok bayangan hijau dengan amat cepatnya. Liem Tou menjadi sangat terkejut sekali, pada saat pikirannya berputar hawa murninya dengan cepat disalurkan keselurub tubuhnya untuk menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras. Dia cuma merasakan hatinya sedikit tergetar hebat, diam diam pikirnya.
"Sungguh lihay ilmu jarinya."
Dengan cepat dia menoleh kebelakang, entah sejak kapan di tempat itu sudah bertambah seorang gadis berbaju hijau, sepasang alisnya dikerutkan rapat rapat dan berdiri termangu mangu disana.
Lama sekali baru terdengar dia membentak keras.
"Bangsat cilik, dendam sakit hati atas kematian adikku belum terbalas, hari ini engkau hendak menggunakan kerbaumu untuk melukai orang. Hmm jika punya kepandaian ayoh keluar kita bertempur sebanyak tiga ratus jurus."
Liem Tou yang melihat gadis berbaju hijau yang ada dihadapannya sekarang ini semakin dilihat semakia mirip dengan Ciang Beng Hu itu pengemis cilik yang ditemuinya sewaktu ada di dalam penjara lalu kena hajar mati di tangannya, dalam hati segera menduga tentunya dia orang adalah Toa Kuncu dari Kiem Thia Pay.
"Siapa toh musuh besar pembunuh adikmu?"
Tanyanya mengejek. Dengan tidak tanya tanya dulu kamu sembarangan melancarkan serangan menotok orang, macam manusia apa itu?"
Saat itu si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie pun sudah menoleh sewaktu mereka berdua melihat wajah gadis berbaju hijau itu amat cantik dengan alis yang hitam lengkat dengan bibir yang kecil muncul diam diam memuji tak hentinya.
Gadis cantik pengangon kambing yang sekali pandang saja sudah menaruh simpatik kepadanya segera berseru.
"Cici ini kenapa harus marah marah?"
Ada perkataan kita bicarakan dengan perlahan mari..mari silahkan duduk, jarang sekali aku bisa bertemu dengan manusia seperti cici didalam Bu lim saat ini bagaimana kalau kita saling meneguk satu cawan arak?"
Sehabis berkata dia bangkit berdiri dan mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Sebelumnya gadis berbaju hijau itu datang dalam keadaan gusar, setelah melihat sikap gadis cantik pengangon kambing yang amat menarik dan ramah sekali walaupun dia orang dibuat serba susah tapi hawa amarah bisa dipadamkan separuh bagaian.
Dengan paksakan diri dia melemparkan sebuah senyuman pada gadis cantik pengangon kambing itu.
Moay moay ini tentunya adalah Si Gadis cantik pengangon kambing bukan,"
Ujarnya dengan perlahan, aku dengar dari ibu katanya kepandaian silatmu amat tinggi wajahnyapun amat cantik sekali.
Ini hari bisa bertemu sendiri dengan kau sudah tak terkira ternyata berita itu tidak bohong.
Ahhh mana mana...
cici mu mana bersni menerima penghargaan itu.
Seru gadis cantik pengangon kambing berulang kali.
Siauw moay Lie Wan Giok tidak lebih cuma seorang gadia dusun yang kasar, soal kepandaian silat aku orang tidak lebih cuma memahami sebagian bulu luarnya saja.
Lalu dia memperkenalkan diri Lie Siauw Ie kepadanya.
Ini adalah Siauw Ie cici, diapun she Lie yang merupakan suci moay dengan diriku.
Gadis berbaju hijau itupun segera tertawa dengan menganggukkan kepalanya kepada Lie Siauw Ie tetapi dia tahu Lie Siauw Ie inilah yang dahulu menerjunkan dirinya ke dalam jurang untuk munyusul kekasihnya.
Tidak terasa lagi dia memperhatikan Siaw Ie dengan pandangan aneh membuat Lie Siauw Ie merasa malu dan melengos ke arah lain.
Saat inilah dengan perlahan gadis berbaju hijau tersebut menoleh ke arah gadis cantik pengangon kambing lagi dan bertanya "Menurut pandanganku, moay moay dengan usia yang masih amat muda ternyata sudah berhasil mencapai taraf kesempurnaan di dalam hal ilmu silat tentunya kaupun berasal dari perguruan yang sangat terkenal sekali, entah maukah moay moay menyebutkan asal perguruanmu?
Mendengar perkataan itu diam gadis cantik pengaugon kambing berpikir keras.
Walaupun dari pihak Kiem Tian pay tidak ada ganjalan sakit hati apa apa dengan Tia tetapi mereka selamanya tidak akur, jika kalau aku terus terang memberi tahu kepadanya tentu dia tidak mau besikap halus lagi terhadap kita, tetapi akupun tidak bisa menipu dirinya.
Berpikir akan hal ini tidak terasa lagi dia berpikir keras beberapa saat lamanya tanpa bisa menjawab.
Si gadis berbaju hijau yang melihat pihak lawan sama sekali tidak memberikan jawaban, sekali pandang saja dia sudah bisa mengetahui tentunya sigadis cantik pengangon kambing itu mempunyai sesuatu kesukaran karenanya dengan cepat ujarnya.
"Jikalau moay moay merasa ada kesukaran untuk dibicarakan lebih baik jangan dikatakan lagi."
"Tentang hal ini bukannya ada perkataan yang sukar untuk diucapkan sahut si gadis cantik pengangon kambing itu dengan cepat. Cuma saja sesudah Siauw moay katakan kemungkinan sekali cici akan menganggap diri kami sebagai musuh besar, begini saja setelah aku katakan kau jangan menganggap kita sebagai musuhmu. Biarlah urusan mereka diselesaikan oleh mereka urusan kita, kita yang menyelesaikannya sendiri??"
Mendengar perkataan ini mendadak si gadis cantik berbaju hijau itu meloncat bangun, air mukanya berubah amat hebat.
Apa maksud perkataanmu itu?
teriaknya keras, jikalau moay moay adalah musuh besar dari kami keluarga Ciang maka maafkan aku orang tidak bisa mengikuti petunjukmu itu .
Gadis cantik pengangon kambing yang melihat gadis berbaju hijau itu begitu bernafsunya dia segera tersenyum.
Soalnya ini sebenarnya tidak begitu memberatkan, ujarnya perlahan, ayahku adalah si cangkul pualam Lie Sang, tentunya cici mengetahuinya bukan??"
Si gadis berbaju hijau yang mendengar disebutnya nama Lie Loo jie seketika itu juga dia buat berdiri melongo dengan mata terbelalak lebar lama sekali baru ujarnya.
Oooo kiranya kau adalah putrinya tidak aneh kalau harus berbicara demikian.
Tetapi secara tiba tiba gadis cantik pengangon kambing itu menuding ke arah Liem Tou.
Lalu tahukah kau siapakah dia orang?
tanyanya kepada gadis berbaju hijau.
Liem Tou yang ada disampingnya tak terasa lagi dibuat kebingungan, pikirnya.
Aku bukankah apa apanya ayahmu, buar apa dia bertanya tanya?"
Buat apa kau mengurusi, siapakah dia orang??
terdengar Si Gadis berbaju hijau itu berteriak dengan amat gusarnya.
Aku cuma kenal dia adalah musuh besar pembunuh adikku, sekalipun ini hari aku tidak turun tangan membinasakan dirinya tiga hari kemudian dia orang tidak akan berhasil lolos dari tangan kami orang pihak Kiem Thian Bun.
Semakin berbicara Si Gadis berbaju hijau itu semakin marah membuat Lie Siauw Ie yang ikut mendengarkan disamping merasa tidak sabaran lagi sepasang alisnya dikerutkan rapat rapat sedang wajahnya berubah menjadi merah padam.
"Aku kira belum tentu berhasil, serunya dingin.
"Cis, bukankah dia adalah kekasihmu? Seru gadis berbaju hijau itu mendadak sambil meloncat bangun. Di dalam urusan ini maaf tidak bisa dihapuskan lagi, waktu itu harap kau orang bisa menahan sakit batimu. Air muka Lie Siauw Ie berubah memerah, mendadak dia bangkit berdiri wajahnya yang merah padam kini sudah berubah menjadi kehijau hijauan. Dia betul kekasihku atau bukan kenapa kau orang ikut campar? bentaknya keras. Kau tidak usah banyak berbicara disini jikalau ada kapandaian cepat kerahkan keluar, aku mau coba lihat seberapa kelihayan dirimu"
"Oooh ..oooh ..baru saja belajar ilmu silat beberapa hari dari Lie Loo jie cianpwee sekarang sudah mau menantang orang untuk berkelahi Ejek gadis berbaju hijau itu. Kau orang iihat dulu kekuatanmu sendiri apakah bisa menangkan diriku"
"Tutup mulutmu, bentak Lie Siauw Ie tak dapat menahan sabar lagi"
Tangannya dengan cepat disilangkan ke depan dada lalu kirim satu pukulan menghajar kearah dada lawan.
Gadis berbaju hijau itu tertawa dingin, dia tetap berdiri ditempatnya semula sama sekal tak bergerak menanti serangan dari Lie Siauw Ie mendekati badannya mendadak telapak kirinya menyilang ke depan dada sedangkan tangannya dengan cepat bagaikan kilat menerobos menotok ke depan.
Liem Tou tahu ilmu jari si gadis berbaju hijau itu sangat lihay sekali, tidak terasa dia menjadi amat terperanjat, di dalam keadaan yang amat terdesak untuk menolong jiwa dari Lie Siauw Ie ini tanpa berpikir panjang lagi dia segera membentak keras.
"Jangan melukai Ie ciciku !"
Sreett dengan dahsyatnya dia orang kirim satu pukulan menghantam tubuh gadis berbaju hijau itu' Gerakan masing masing pihak dilancarkan amat cepat sekali bagaikan menyambarnya kilat di tengah angkasa, baik Si Gadis berbaju hijiau serta Lie Siauw Ie tidak bisa menghindarkan diri dari serangan tersebut, segera terdengarlah dua kali jeritan kaget tubuh gadis berbaju hijau maupun Lie Siauw Ie pada waktu yang bersamaan pada rubuh ke atas tanah.
Si Gadis cantik pengangon kambing serta Liem Tou cepat cepat meloncat bangun dari tempat duduknya dan lari menghampiri Si Gadis berbaju hijau serta Lie Siauw Ie untuk memeriksa keadaan lukanya.
Tampaklah gadis berbaju hijau itn terkena pukulan Liem Tou sehingga lengan kirinya patah sebaliknya Lie Siauw Ie berhasil ditotok ja lan darah "Ci Bun Hiat"
Pada tetek sebelah kanannya oleh serangan gadis berbaju hijau itu. Jalan darah "Ci Bun Hiat"
Ini merupakan salab satu jalan darah penting, di dalam keadaan tergesa gesa si gadis berbaju hijau itu melancarkan serangannya bahkan harus melewati hembusan angin pukulan dari Lie Siauw Ie pula membuat serangannya tidak begitu keras lagi, dengan demikian Lie Siauw Ie pun berbasil meloloskan diri dari bahaya maut.
Ilmu silat partai Kiem Thian Pay mengutamakan ilmu jari Yen Wis Tui Hun Ci dapat mengangkat namanya di dalam Bu lim, sekalipun serangan tadi enteng saja tetapi membuat Lie Siauw Ie cukup terpukul pingsan.
Liem Tou tidak menggubris lagi pantangan lelaki dan perempuan lagi, dengan cepat dia salurkan hawa murninya menguruti dada Lie Siauw Ie untuk membebaskan dirinya dari totokan jalan darah tersebut.
Gadis cantik pengangon kambing yang sedang memeriksa keadaan luka dari Si Gadis berbaju hijau itu dapat melihat tangan kirinya sudah patah oleh serangan tadi.
Sekalipun demikian sambil menggigit bibir menahan rasa sakjt dia meronta ronta bangun dengan pandangan rasa mendendam teriaknya pada diri Liem Tou "Kau ...
kau ...
jika aku tidak bunuh diri mu, aku sumpah tidak mau jadi manusia.
"Ciang cici, cepat hibur gadis cantik pengangon kambing dengan halus. Lebih baik kau mengurusi keadaan lukamu sendiri, buat apa kau mengumbar nafsu pada saat ini? Sembari berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah botol batu giok dan mengeluarkan dua butir pil berwarna putih dan didekatkan dengan mulut gadis berbaju hijau itu.
"Cici, ujarnya kembali. Telanlah kedua butir ini, setelah tulangnya disambung segera akan sembuh seperti biasa. Saat ini si gadis berbaju hijau itu sudah benar benar amat benci terhadap mereka, dia segera gelengkan kepalanya menolak. Siapa yang mau memakan barangmu itu? Bentaknya kasar. Cepat bawa pergi sekalipun aku Ciaug Beng Hu mati jupa tidak akan mau makan barangmu itu, kalian kucing sedang menangisi tikus ... Hma? buat apa berbuat susah susah begitu? Selesai berkata dengan jalan terbuyung huyung dia menuruni anak tangga loteng itu tapi baru saja berjalan dua langkah lengannya terasa amat sakit sekali sehingga sekali lagi berjongkok ke bawah. Si gadis cantik pengangon kambing dengan cepat bantu membimbing dirinya. Cici lukamu penting, lebih baik makan dulu pil ini, ujarnya dengan perlahan. Sekali lagi Si Gadis berbaju hijau itu gelengkan kepalanya, air mata menetes keluar membasahi pipinya. Cici cepatlah kau makan pil ini, ujar gadis cantik pengangon kambing itu sekali lagi. Sekalipun di antara kita satu sama lain tidak saling mengenal tetapi boleh dikata punya jodoh untuk bertemu. Si gadis berbaju hijau itu gelengkan kepalanya kembali, dengan tangan kanannya menggendong tangan kiri dia berdiam diri tak menjawab. Si Gadis cantik pengangon kambing yang melihat dia orang tidak mau menelan pilnya diam diam segera berpikir. Jika aku membiarkan dia pergi seorang diri maka dendam di antara Liem Tou dengan pihak Kiem Thien Pay akan semakin mendalam lagi apalagi kekuatan serta pengaruh dari pihak Kiem Thien Pay sudah semakin meluas dari daerah Can Tian ke seluruh daerah Tionggoan serta Kanglam, jikalau dendam ini makin mendalam bukankah urusan semakin merepotkan? Dia yang berpikir sampai disini tak banyak bicara lagi mendadak dia menotok jalan darah pulas dari gadis berbaju hijau itu, sewaktu menoleh ke belakang terlihat Liem Tou sedang mengobati dada Lie Siauw Ie sedangkan Lie Siauw Ie sendiri setelah jalan darahnya terbebas ktni sudah sadar kembali. Gadis cantik pengangon kambing itu segera memberikan kedua butir pil itu pada Liem Tou. Kedua butir pil ini berikanlah kepsda cici untuk dimakan, nanti kita bicarakan lagi sesudah kembali ke rumah penginapan. Selesai berkata dia segera mengambil keluar sebutir mutiara dan diletakkan di atas meja, hal ini membuat para tetamu lainnya menjadi terbelalak dibuatnya. Gadis cantik pengangon kambing tidak mau membuang waktu lebih banyak lagi, dia segera menggendong tubuh Si Gadis berbaju hijau itu dan lari turus ke bawah loteng, Liem Tou pun dengan cepat memberikan pil itu kepada Lie Siauw Ie lalu menggendong tubuhnya meninggalkan loteng tersebut. Sesampainya di bawah loteng terlihatlah Toosu itu sudah diinjak oleh sang kerbau sehingga hancur lebur sukar untuk dikenal kembali, sebaliknya di atas punggung dari kerbau itupun jelas sekali tertera dua buah bekas telapak Thay Su Ing yang amat jelas sekali kaki depan nya berlutut di atas tanah sedang mulutnya tak hentinya mendengarkan suara rintihan yang berat. Sedangkan itu hweesio si rase terbang entah sudah lari kemana?"
Liem Tou yang melihat dikarenakan dirinya harus pecah perhatian atas kedatangan gadis barbaju hijau itu, kerbaunya sudah menerima pukulan Thay Su Ing hatinya merasa gemas juga.
Ilmu pukulan Thay Su Ing ini merupakan ilmu telapak tunggal dari aliran Thian San Pay, jika seseorang kena pukulan ini walaupun diluarnya cuma kelihatan bekas telapak tangan saja padahal di dalam isi perutnya sudah tergoncang hebat, bilamana tidak diobati dengan cepat tentu akan menemui ajalnya.
Liem Tou tahu kerbaunya sudah menderita luka yang tidak ringan, diam diam dia merasa benci terhadap sang hweesio, tetapi saat ini dia sudah meninggalkan tempat itu terpaksa dengan tergesa gesa dia mengambil keluar tali peninggalan Hek Loo toa dan dimasukkan kedalam mulutnya.
Setelah kerbau itu menghabiskan satu ikatan Liem Tou baru menepuk nepuk punggungnya.
Gouw ko, ujarnya.
Kau dapat melanjutkan perjalanan dengan menahan sakit bukan?.
Agaknya kerbau itu mengerti apa yang diucapkan olehnya, kaki depan yang semula berlutut di atas tanah kini bangkit berdiri, tetapi baru saja berdiri tidak lama sekali lagi ia jatuh berlutut kembali sedangkan dari mulutnya memperdengarkan suara dengusan yang amat rendah, diantara dengusan itu membawa beberapa bagian rasa sedihnya Liem Tou yang melihat kerbau itu tidak bisa bangkit berdiri dia menjadi teramat cemas.
Gouw ko, ujarnya kembali.
Tidak perduli bagaimanapun kau harus paksakan diri untuk berjalan beberapa langkah, tidak jauh .
.rumah penginapan disebelah depan sana, nanti aku akan segera menyembuhkan lukamu, coba kau lihat sekarang berlutut di tengah jalan memancing banyak orang yang menonton, bukankah hal itu amat jelek sekali??""
Saking cemasnya sehingga pikirannya buntu memaksa Liem Tou harus berbicara sedemikian rupa terhadap kerbaunya, sang kerbaunya dengan membelalakkan matanya lebar lebar memandang ke arah Liem Ton, setelah mendengus pedih mendadak ia tundukkan kepalanya Melihat hal itu diam diam pikir Liem Tou didalam bati.
Obat dari Hek Loo toa itu amat sakti dan mujarab sekali, beberapa kali dicoba pasti membawa hasil, kenapa kali ini gagal.?
Dia merasa tentunya daya obat itu belum berjalan karenanya kepada si gadis cantik pengangon kambing, kembali dia minta kembali dua butir pil mujarapnya lalu dimakankan kepada kerbaunya kemudian secara diam diam kerahkan tenaga dalamnya melalui bekas telapak tangan tertera diatas perutnya.
Si gadis cantik pengangon kambing tidak mengetahui kalau Liem Tou sudah memiliki kepandaian silat yang sakti, dia kira kepandaiannya tidak lebih juga seperti setahun yang lalu, saat ini terdengar dia berteriak keras, Liem Koko, biarlah aku menolong kau, dia tentu terluka karena darahnya menggumpal, aku harus menghancurkan gumpalan darah itu.
terlebih dahulu sehingga dengan demikian lukanyapun tidak akan terluka bahaya".
Walaupun di dalam hati Liem Tou merasa geli tetapi dia mengalah juga, gadis cantik pengangon kambing itu segera menempelkan telapak tangannya keatas perut kerbau itu.
Beberapa saat kemudian si Gadis cantik pengangon kambing itu baru berhenti, Liem Tou cepat cepat angkat tangannya ke depan perut kerbau itu sambil membentak keras.
"Ayoh bangun". Kerbau itu cepat bangkit berdiri cuma saja kedua kakinya masih tetap gemetar dengan amat kerasnya, saat itulah Liem Tou baru tahu kalau kerbau tersebut sudah menderita luka yang amat berat sekali, terpaksa dia tempelkan kembali telapak tangannya ke atas perut kerbaunya lalu secara diam diam mengerahkan tenaganya menahan jangan sampai dia roboh ke atas tanah.
"Wan moay ayoh jalan"
Serunya kemudian.
Demikianlah masing masing dengan menggendong Si Gadis berbaju hijau serta Lie Siauw Ie dan Liem Tou menyeret juga kerbaunya melanjutkan perjalanannya.
Waktu itu banyak orang orang pendaduk di sekitar tempat ini mengikuti dari belakangnya, bahkan berita ini dengan cepatnya mengalir ke seluruh penjuru kota.
Hanya di dalam sekejap saja berita tentang munculnya seekor kerbau ajaib ini sudah tersebar keseluruh kota Tang Yang bahkan rumah penginapan dimana Liem Tou serta si gadis cantik pengangon kambing berdiam telah di datangi banyak orang yang ingin melihat keanehan kerbau itu.
Melihat hal itu Liem Tou jadi kuatir atas keselamatan dari kerbaunya yang ditaruh di kandang kuda, dia takut kerbaunya yang sedang terluka mendapatkan serangan lagi dari orang lain sehingga menemui ajalnya.
Setelak dia orang mengurusi Lie Siauw Ie dan mengetahui kalau lukanya tidak terlalu bahaya, kepada Si Gadis cantik pengangon kambing lalu ujaraya.
"Wan moay. aku merasa tidak lega hati bila kerbau itu disimpan di dalam kandang kuda, kau pikir baiknya kita taruh di mana ?? "Apa kau punya maksud untuk memasukkan kerbau itu ke dalam kamar tinggal bersama kita ? "
Goda gadis cantik pengangon kambing sambil tertawa.
"Benar"
Sahut Liem Tou mengangguk aku punya, maksudnya demikian, cuma saja aku takut Wan moay menggoda diriku.
"Buat apa aku menggoda dirimu?"
Ujar si gadis cantik pengangon itu sambil tertawa.
Sekarang kerbau itu sudah jadi barang wasiatmu, diapun merupakan pengawalmu, memang seharusnya kau bersikap hormat seperti murid bersikap hormat terhadap suhunya.
Dengan pandangan tajam Liem Tou memperhatikan diri gadis cantik pengangon kambing itu, dia takut di dalam perkataannya ini mengandung maksud mengejek, tetapi sewaktu melihat wajah si gadis cantik pengangon kambing itu dihiasi dengan senyuman yang menyenangkan dia baru tidak menaruh curiga lagi, diapun jadi turut tertawa.
"Kalau begitu bagus sekali"
Biar aku suruh dia kemari. Baru saja Liem Tou mau keluar pintu mendadak terdengar si gadis cantik pengangon kambing sudah berteriak.
"Kau harus mandikan dia bersih-bersih baru bawa masuk kemari, kalau masih bau aku akan mengusir dia keluar."
"Baik ... baik"
Sahut Liem Tou sambil tertawa, aku pasti akan mandikan dirinya terlebih dulu, moay moayku yang tercinta."
Seaera dia berjalan keluar dari kamar itu.
Si gadis cantik pengangon kambing yang mendengar dia orang memanggil dirinya dengan kata kata moay moay yaug tercinta dari dalam segera makinya "Kau orang semakin lama semakin jahat, jika menimbulkan hawa amarahku jangan salahkan aku segera potong lehermu."
Kepada Lie Siauw Ie yang sedang berbaring diatas pembaringan sambil tersenyum memandang dirinya dia berkata lagi.
"Ie cici, inilah hasil dari dirimu yang terlalu memanjakan dirinya, kau harus baik baik mengurusi dirinya. Lie Siauw Ie yang baru sembuh dari lukanya tidak leluasa untuk menjawab dia hanya kirim satu senyuman kepadanya. Kamar itu sebenarnya adalah dua ruangan yang disambung menjadi satu. Si Gadis cantik pengangon kambing segera berkata kepada Lie Siauw Ie.
"Ie cici, kau berbaringlah disini. Aku akan melihat keadaan dari Ciang cici"
Lie Siauw Ie mengangguk.
Dengan langkah yang perlahan Si Gadis cantik pengangon kambing berjalan masuk ke dalam kamar dan membuka kordin yang menutupi tempat tersebut, terlihatlah Ciang Beng Hu masih tidur dengan amat nyenyaknya dia tidak mau mengganggu setelah melihat sejenak cepat cepat dia undurkan diri kembali kesamping pembaringan Lie Siauw Ie dan men bicarakan soal soal di dalam dunia kangouw dan jejak selanjutnya dari mereka bertiga.
Tidak lama kemudian Liem Tou balik lagi ke dalam kamar dengan menuntun kerbaunya itu, begitu sang kerbau masuk kedalam kamar seketika itu juga memancing tertawaannya dari pemilik rumah penginapan itu serta para tamu lainnya, Liem Tou sama sekali tidak menggubris bahkan kirim satu senyuman ketolol tololan kepada mereka.
Seseorang diantara mereka yang melihat Liem Tou tidak dibuat marah oleh ejekan mereka segera mengggoda.
"Hey engkoh cilik, kau membawa kerbau itu ke dalam kamar apakah mau mengajaknya tidur bersama sama satu ranjang kau berhati hatilah jangan sampai dikencingi kerbau tersebut. Haaa ..haaa ..Liem Tou pun tartawa terbahak bahak dengan kerasnya. Kalian apa tidak tahu kalau kerbau ini kerhau ajaib? kerbau ajaib selamanya tidak pernah kencing dipembaringan, tetapi aaah ..nanti malam sewaktu tidur aku harap kalian mau berhati ha-ti "
Liem Tou sengaja memperhatikan sikap serta gerak geriknya yang amat misterius lalu memperhatikan para tetamu sambil kerutkan alisnya rapat rapat.
Orang itu sewaktu melihat sikap dari Liem Tou amat serius tidak terasa menjadi amat tegas.
"Ada apa?"
Tanyanya.
Liem Tou berpikir sebentar, akhirnya dia gelengkan kepalanya.
Lebih baik aku tidak berbicara saja nanti jika aku bilang tentu kalian akan ketakutan sehingga satu malaman tidak bisa tidur kalau sampai terjadi urusan itu bukankah kalian semua akan menyalahkan aku?"
Orang orang itu setelah mendengar perkataan ini hatinya semakin tidak lega lagi, mereka pada mendesak Liem Tou untuk mengatakan urusan apa yang akan terjadi.
Melihat suasana yang semakin ribut, Liem Tou baru menjawab dengan suara perlahan.
Jikalau kalian benar mau mengetahui urusan ini akupun tidak bisa bardiam diri terus, tetapi asalkan ada aku disini kalian tidak usah takut.
Kerbauku ini tidak ada jeleknya cuma saja ada kalanya sewaktu menjadi marah dan nafsu binatangnya berkorbar dia sering tidak mengenal orang lain sehingga berlarian melukai orang lain secara sembarangan, makanya sebelum urusan terjadi aku beri peringatan dulu kepada kalian, jikalau dia betul betul marah dan menubruk nubruk kalian tak usah menjadi gugup sehingga mengakibatkan bencana besar.
waktu itu urusan bisa berabe."
Para pedagang itu sewaktu mendengar perkataan ini ditambah pula berita terinjak matinya seorang toosu serta melayangnya sang kerbau melewati atap rumah membuat mereka menjadi percaya seratus persen, tidak terasa lagi air muka mereka pada berubah menjadi amat hebat, setelah tertegun beberapa saat lamanya mendadak pada berteriak keras.
Haaaduuuh ..payah ..payah ..jikalau di dalam rumah penginapan ada penyebab bencana ini bagaimana suruh kita berdiam disini dengau tenang?
hey engkob cilik cepat bawa dia keluar, jikalau kerbau itu sampai melukai orang buat dirimu juga tidak ada gunanya.
Hey pelayan ..
pelayan .
Teriaknya salah seorang di antara mereka.
Aku mau batalkan rencanaku tinggal disiai, aku tidak mau tinggal bersama binatang penyebab bencana ini.
Seketika itu juga suasana di dalam ruangan penginapan itu menjadi kacau balau.
Liem Tou yang melihat hal ini diam diam merasa amat geli sekali, setelah masuk ke dalam dan bertemu dengan gadis cantik pengangon kambing tidak kuasa lagi dia tertawa terbahak bahak.
Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat sikapnya yang amat aneh itu tidak urung dibuat curiga dan ragu ragu.
Hey ada urusan apa yang membuat kau tertawa terbahak bahak?
tanyanya keheranan.
Mereka menggoda aku lalu aku balik menggoda mereka dengan menipu yang bukan bukan siapa tahu mereka sudah menganggapnya sungguh sungguh dan pada membatalkan niatnya untuk berdiam ditempat ini, aku rasa rumah penginapan ini bakal sepi.
Baru saja berbicara sampai disini mendadak terdengar suara orang yang sedang mengetuk pintu.
Liem Tou segera membukanya terlihat pemilik rumah penginapan itu sedang berdiri dimuka pintu dengan wajah yang serba susah, bibirnya sedikit bergerak mau mengucapkan sesuatu pada Liem Tou, tapi sewaktu dilihat kerbau itu berdiri di samping pinta dia menelan kembali kata katanya.
Liem Tou segera menduga apa yang sudah terjadi, kepada Si Gadis cantik pengangon kambing ujarnya sambil tertawa.
Wan moay mutiaramu apa masih ada??
para tamu sudah dibuat ketakutan oleh kerbau sehingga pada melarikan diri terbirit birit kini si pemilik rumah penginapan mencari aku seharusnya kau orang bantu aku usir dia pergi.
Hmm, aku tidak mau ikut campur urusanmu yang merepotkan ini, seru Si Gadis cantik pengangon kambing sambil mencibirkan bibirnya.
Seorang lelaki sejati berani berbuat tentu berani menanggung jawab.
Buat apa kau mencari aku??"
Ooooh.. .adikku yang baik, mohon Liem Tou cepat. Kenapa kau begitu teganya melihat aku kesusahan? cukup kau mengambil keluar sebutir mutiara bukankah urusan akan segera menjadi beres?"
Si gadis cantik pengangon kambing segera termenung berpikir sebentar.
Demikian saja, ujarnya kemudian.
Asalkan kau menyanggupi diriku untuk melakukan tiga macam urusan maka aku beri kau orang sebutir mutiara, bagaimana?
Diam diam di dalam hati Liem Tou berpikir.
Sungguh lucu sekali, mutiara yang kau miliki sekarang ini bukankah aku yang memberikan kepadamu?
padahal saat ini aku masih mempunyainya sangat banyak sekali hanya saja tidak leluasa untuk mengambilnya, entah apakah ketiga syaratnya itu?"
Tapi aku kira tentunya tidak sukar lebih baik aku menyanggupinya.
Berpikir sampai disitu segera menyanggupinya.
Kalau memangnya Wan moay yang menghendakinya, jangan dikata cuma tiga macam urusan saja sekalipun tigapuluh atau tigaratus pun aku akan melakukan dengan sepenuh tenaga."
Baiklah, ujar si gadis cantik pengangan kambing itu kemudian sambil tertawa dan mengambil keluar sebutir mutiara.
Tapi kau harus ingat urusan ini kau tak mungkir lagi Ie cici kau harus jadi saksi.
L iem Tou segera mengangguk Melihat dia orang sudah menyanggupinya si gadis cantik pengangon kambing beru bicara.
Pertama, untuk selanjutnya kau tidak diperkenankan untuk berbuat kurang ajar terhadap cici, kau bisa melakukannya, bukan?"
Soal itu tak perlu dikuatirkan.
Kedua segera pergi mencari satu stel pakaian yang bersih dan bagus kalau tidak jangan kembali lagi.
Liem Tou segera tertawa terbahak bahak.
Aku kira urusan berat macam apa, soal inipun tidak sukar diselesaikan.
Kau orang jangan gembira dulu, sambung si gadis cantik pengangon kambing dengan perlahan.
Urusan yang sulit ada di belakang, ketika di dalam tiga hari ini kau harus mencari berita siapa yang sudah membinasakan kawanan kambingku.
Ini bawa pergi.
Sembari berkata dia melemparkan mutiara itu ke tangan Liem Tou, lalu sambungnya lagi.
Sekarang mutiara itu sudah kau dapatkan urusankupun harus kau selesaikan cepat cepat jikalau diantara ketiga urusan ini tidak bisa melaksanakannya jangan harap aku berlaku sungkan lagi terhadap dirimu.
Liem Tou yang mendengar permintaannya yang ketiga itu tidak terasa lagi diam diam merasa kepayahan, pikirnya Sungguh licik pengangon kambing ini, ternyata aku sudah kena pancingannya, tapi kau tunggu saja nanti ada permainan bagus bakal menyusul di belakang.
Berpikir sampai disitu dia segera tertawa, sahutnya.
"Apa susahnya urusan ini? kau legakanlah hatimu, kalau aku sudah menyanggupi untuk melaksanakan pekerjaan itu orang pasti akan melakukannyanya sampai beres."
Liem Tou segera putar badannya untuk menyerabkan mutiara itu kepada si pemilik rumah penginapan sebagai ganti batalnya para tamu untuk menginap disana. Saat itulah mendadak.. ."Plaaak"
Ada sebuah benda berat yang memecahkan jendela melayang masuk ke dalam dan tepat jatuh di tengahi kamar.
Sepasang mata dari Liem Tou yang amat tsjam hanya di dalam sekali pandang saja sudah mengetahui macam benda tersebut, dengan cepat dia menoleh keluar jendela, tampaklah sesosok bayangan hijau dengan amat cepatnya berkelebat lenyap dibalik tembok.
Aaaah emas..
.terdengar si gadis cantik pengangon kambing menjerit keras.
Bagaimana bisa ada emas yang melayang masuk ke dalam kamar kita??"
Liem Tou sebenarnya adalah seorang yang cetdik, setelah berpikir sebentar mendadak dia gelengkan kepalanya.
Heee.
.Ciang cici sudah pergi serunya sambil menghela napas panjang, ternyata dia orang tidak mau menerima budi kebaikan kita.
Perkataannya ini mana si gadis cantik pengangon kambing mau mempercayainya??
Bukankah tadi dia orang tertidur dengan amat pulasnya bagaimana sekarang bisa pergi?
dengan cepat dia berlari masuk ke kamar dalam, tapi sebentar saja dia sudah menjadi tertegun.
Kiranya jendela sudah terbentang lebar sedangkan orangnya telah lenyap tidak berbekas.
Orang itu sungguh aneh sekali., tulangnya yang patah masih belum sembuh jikalau terkena angin lagi bukankah sukar diobati dan semakin mendatangkan kerepotan buat dirinya sendiri?"
Seru Si Gadis cantik pengangon kambing dengan perlahan.
Liem Tou tidak menjawab, dia putar badan memungut emas itu dan ditimang timangnya di atas tangan, segera dia merasa emas itu ada lima, enam kati beratnya, dengan cepat disusupkan ke dalam sakunya.
Waktu itulah Si Gadis cantik pengangon kam-sedang berjalan masuk kedalam kamar, melihat Liem Tou memasukkan emas itu ke dalam sakunya segera berseru.
Eei Liem Tou koko bagaimana kau boleh memasukkan emas itu ke dalam sakumu?"
Liem Tou meagerutkan alisnya rapat rapat.
Perempuan semacam ini tidak ada harganya untuk Wan moay menaruh rasa kuatir kepada nya ..aku mau pergi cari dirinya lalu menggunakan emas ini menimpuk wajahnya.
Mendengar perkataan itu Si Gadis cantik pengangon kambing menjadi amat gusar makinya.
Aku masih mengira kau adalah seorang lelaki sejati, pintu kamar saja belum dilewati sudah mengingkari janji , Hmm, bukankah baru saja kau orang menyanggupi tiga buah permintaanku Saat ini mutiara tersebut masih ada ditangan Liem Tou, mendengar perkataan tersebut dia segera mengangsurkannya kembali.
Kau ambillah kembali barang ini, ujarnya.
Jikalau kau orang suruh aku menganggap tapak seorang perempuan yang begitu tidak tahu diri, aku tidak akan menyanggupinya.
Si gadis cantik pengangon kambing menjadi teramat gusar, dengan cepat dia rebut kembali mutiara yang ada di tangan Liem Tou lalu putar badannya "Baiklah, ujarnya.
Kau mau berbuat apapun terhadap dirinya aku tidak akan ikut mencampurinya kembali, soal siapa yang membinasakan kambing kambingku tidak perlu kau orang bersusah payah menyelidikinya sendiri.
Ie cici aku serahkan kepadamu kembali, aku mau pergi dulu.
Selesai berkata dia segera menjejak kakinya dan melayang keluar dari jendela Liem Tou sama sekali tidak menyangka kalau dia bisa begitu marah, padahal dia orang cuma merasa kheki saja melihat kekasaran dan ketidak tahu aturan dari Ciang Beng Hu itu karena itu berbicarapun agak kasar, kini melihat Si Gadis cantik pengangon kambing mau pergi dia menjadi cemas, tangannya dengan cepat menyambar tangannya sambil berseru.
"Wan-moay kau jangan,pergi, semuanya adalah kesalahanku buat apa kau pergi? "
Apalagi jika harus pergi.
yang pergi seharusnya aku, Ie cici scrta kerbau itu masih ada disini biarlah Wan moay tolong menjaganya, aku pergi dulu.
Kata kata terakhir baru saja diucapkan ke luar dia sudah menarik tandan si gadis Cantik pengangon kambing itu ke belakang menbuat dia orang tidak terasa lagi mundur beberapa langkah kebelakang.
Liem Tou segera maju ke depan lalu menutulkan ujung kakinya diatas permukaan tanah lalu berkelebat keluar dari jendela, ujarnya sambil merangkap tangannya menjura.
"Selamat tinggal."
Dengan cepatnya dia orang sudah melayang pergi tak berbekas. Si gadis cantik pengangon kambing menjadi cemas, teriaknya.
"Liem koko ..-kau tunggu dulu, aku ada perkataan yang hendak disampaikan kepadamu' Heeey kenapa kau marah terhadap diriku ... Liem koko "
Sekalian Liem Tou mendengar suara panggilan tersebut tapi dia orang tidak mau memberikan jawabannya dalam hati dia kepingin memecahkan rahasia pencurian yang dilakukan oleh si penjahat naga merah itu.
Adanya tanda ular di kota yang menemui bencana memang jelas menunjukkan si naga merah lah yang melakukan perampokan tersebut, tapi terang terangan si penjahat naga merah pada malam itu ada di kuil Siang Lian si, bagaimana mungkin dia orang bisa pergi ke kota Tang Yang untuk melakukan perampokan.
Karena itu dengan mengambil kesempatan ini dia meninggalkan rumah penginapan untuk mencari seperangkat pakaian yang berwarna hijau untuk berganti pakaian lalu membeli pula sebuah topi terbuat dari rumput.
Sebentar saja seorang gembala kerbau yang kotor dan dekil kini sudah berubah meujadi seorang kongcu yang amat perlente dan tampan sekali, sedikitpun tidak mirip dengan Liem Tou yang dahulu.
Hari ini Liem Tou berjalan masuk keluar di setiap rumah makan dan mencari berita di dalam kota Tiang Yang tetapi tidak ada sebuah beritapun yang didapatkan, tiba tiba di dalam pikirannya teringat akan sesuatu, pikirnya.
"Orang yang melukai empat orang toosu Bu tong pay sekaligus dengan menggunakan senjata rahasia pada waktu itn adalah pengemis, bila orang itu pula yang melakukan pem bunuhan terhadap kawanan kambing dari si gadis cantik pengangon kambing seharusnya aku pergi ketempat yang banyak pengemisnya, buat apa pergi kerumah makan ?"
Berpikir sampai disini tidak tertahan lagi dia merasa geli sendiri, siasatnya segera dirubah, dia khusus pergi ke dalam kuil yang bobrokan atau tempat tempat yang banyak ditemui pengemis.
Tetapi walaupun sudah dicari setengah harian dan sang suryapun sudah berada di ufuk barat dia orang sama sekali tidak memperoleh sedikit beritapun.
Akhirnya sampailah dia orang di sebuah pohon siong yang amat lebat dan tinggi sekali membuat setiap orang yang melalui tempat itu merasa hatinya bergidik.
Diam diam dalam hati Liem Tou berpikir.
Tidak urung ini hari aku orang tidak berhasil mendapatkan jejak dari pengemis itu, kemungkinan juga sejak semula dia sudah meninggalkan kota Tang Yang ini, jikalau memang begitu adanya sekalipun aku harus mencari sepuluh, dua haripun tidak berguna.
Dengan bergendong tangan dia segera berjalan memasuki pohon siong itu kurang lebih setengah jam kemudian mendadak dihadapanaya muncul dinding tembok yang amat nyata, agaknya ditempat tersebut merupakan aebuah kuil kaum toosu yang kecil.
Liem Tou segera mempercepat langkahnya menuju kesana, tampaklah olehnya pintu kuil itu setengah terbuka di atas pilar tergantunglah sebuah papan yang bertuliskan Ceng Coen Koan tiga huruf dari emas.
Cepat tubuhnya masuk kedalam ruangan itu, mendadak dia merasakan bau wanginya panggangan ayam berhembus keluar dari dalam kuil tersebut bahkan di dalam kuil tidak nampak adanya dupa maupun lilin yang dipasang, diatas dan di sekitar patung arca tampak debu yang amat tebal menutupi semua tempat, bahkan tidak kelihatan adanya sesosok manusiapun.
Liem Tou memerikasa sejenak keadaan disekeliling tempat itu, baru saja dia mau masuk kedalam kuil mendadak terdengarlah suara seseorang sedang bicara.
Jika demikian adanya kematian dari Leng-Ceng Too heng bukanlah kalian bertiga yang melakukannya, soal ini mungkin aku masih bisa percaya, tetapi kalau memang begitu apakah kitab pusaka To Kong Pit Liok itu juga sudah didapatkan oleh si penjahat naga merah?"
"Semula kamipun punya pikiran begitu sahut seseorang lagi. Tetapi sewaktu kemarin malam kita bertempur sendiri dengan penjahat tua itu kami rasa tenaga dalamnya tidak memperoleh kemajuan seberapa jika dibandingkan dengan setahun yang lalu. Kitab pusaka To Kong Pit Liok merupakan sebuah kitab yang berisikan ilmu silat yang amat dahsyat sekali, jikalau dia orang betul betul sudah mendapatkan nya jangai dikata kami sekalipun Lie Loo-jie juga belum tentu merupakan tandingannya. Liem Tou yang mendengar perkataan itu segera bisa membedakan kalau suara itu berasal dari si Thiat Sie Sianseng, dengan demikian si siucay buntung serta si pengemis pemabokpun seharusnya ada disana. Terdengar orang yang pertama membuka mulut dan berbicara lagi. Jikalau begitu si penjahat naga merah tentu nya belum memperoleh kitab pusaka To Kong Pit Liok itu. lalu kitab pusaka tersebut sudah di dapatkan oleh siapa??"
"Aku tahu akan seseorang"
Tiba tiba sipengemis pemabok menyambung, sewaktu aku terluka, waktu itu aku sedang mengerahkan tenaga dalamku untuk menyembuhkan luka dari si penjahat naga yang telah pergi mengejar si Thiat Sie Sianseng, aku melihat ada orang berjalan masuk kedalam lembah.
Berbicara sampai disini mendadak si pengemis pemabok meghela napas panjang.
"Jikalau memang benar sudah dia peroleh hey.. rejeki bocah cilik itu sungguh bagus"
Ujarnya. Hey Heng San Jie Yu, aku dengar kalian berdua pandai berpikir coba kalian terka siapakah orang itu??"
Suasana seketika itu juga dicekam kesunyian yang amat sangat tidak terdengar sedikit suarapun.
Liem Tou yang mendengar perkataan dari si pengemis pemabok itu tidak urung di dalam hati diam diam memaki.
"Kau setan arak, ternyata mau membocorkan rahasiaku."
Pada saat itulah mendadak terdengar seseorang berbicara kembali.
"Soal ini tidak sukar untuk diduga, apakah bukan itu si perempuan tunggal atau Ku Li Touw Hong? menurut berita yang tersiar didalam Bulim katanya si perempuan tunggal Touw Hong ini pernah mengalahkan Auh Hay Ong suami isteri dari Kiam Thien Pay hanya di dalam tiga jurus saja, dan kini perempuan tersebut sudah diterima Auh Hay Ong sebagai jagoannya. Karena itulah pengaruh dari Kiam Thien pay di dalam beberapa hari ini amat dahsyat sekali sehingga sebagian daerah Kang lam sudah dikuasai oleh mereka, aku dengar pula katanya si perempuan tunggal Touw Hong tidak lama kemudian akan membuka cabang cabang diseluruh daerah, jika berita ini benar maka Loolap kira kitab pusaka To Kong Pit Liok itu tentunya sudah didapatkan olehnya. Mendengar perkataan itu diam diam Liem Tou merasa hatinya amat murung, pikirnya. Aku belum pernah dengar dari daerah Si Lam sudah muncul seorang perempuan yang demikian jumawanya, jikalau urusan ini benar benar terjadi aku kepingin sekali menemui dirinya, aku benar benar mau lihat dia orang mempunyai kelebihan apa yang patut dibanggakan Saat ini si pengemis pemabok sudah tertawa lagi, ujarnya. Perkataan yang Chiet Siauw Thaysu ucapkan sudah terpaut amat jauh sekali, sekalipun si perempuan tunggal, Touw Hong itu aku pernah mendengarnya tetapi belum percaya benar benar, siapa tahu kabar itu juga kabar kosong dari Loociang saja ?? Sebetulnya orang yang sudah memasuki lembah itu memang membuat hatiku sedikit ragu ragu. tetapi setelah kejadian itu kemarin malam dikuil Siang Lian Si ....
Jilid 20. Lie Siauw Ie dan Si Gadis Cantik Pengangon Kambing Diculik Berbicara sampai disini agaknya si siucay buntung sudah tidak sabaran lagi. Hey sebetulnya siapa?"
Tanyanya keras. Cepat kau katakan, buat apa putar putar kalangan dulu? Heeii Loojiau, kenapa kau terburu nafsu?"
Ujar si pengemis pemabok sambil menghela napas panjang, bukanlah aku orang sengaja memutar kalangan, aku cuma takut kalian tidak mau percaya,"
Tentu kalian ingat dengan Liem Tou si bocah cilik itu bukan?
Mendengar disebutnya nama Liem Tou oleh si pengemis pemabok itu, si siucay buntung segera tertawa terbahak bahak.
Liem Tou sudah lama meninggal terjatuh ke dalam jurang bagaimana dia bisa muncul kembali di gunung Wu san?"
Serunya keras, bukankah omonganmu terang terangan bohong?
Tetapi terang terangan kemarin malam sewaktu ada didalam kuil Siang Lian si kita mendengar sendiri kalau murid dari Lie Loo jie itu sudah mengatakan baru saja bertemu dengan Liem Tou apa kau tidak mendengar, apalagi kerbau itu milik dari Liem Tou tentang ini tentunya kau tahu bukan,"
Ujar si pengemis pemabok.
Sepasang biji mata dari si siucay buntung berputar berulangkali lalu teriaknya keras.
Kalian tak usah berkata lagi, aku tidak percaya ...
tidak percaya..
Kau tidak percaya yaah sudah, aku kan tidak suruh kau untuk mempercayainya, teriak si pengemis pemabok dengan kerasnya pula, agaknya dia sudah dibuat gusar.
Kalian bedua tidak usah beribut lagi seru Ciat Siauw Taysu dari Siauw lim pay melerai.
Percayi tidak, tak ada keharusan jikalau kau orang percaya yaaah percaya kalau tidak percaya yaah tidak percaya buat apa diributkan?
kini ada si jago main sie poa disini kenapa tidak menyuruh dia orang menghitungkannya untuk mengetahui keadaan yang sesungguhnya?
Betul ...betul ...sokong Heng san Jie Yu dengan gembira sekali.
Memang pikiran dari Loo tayhiap jauh lebih cepat.
Ternyata tidak susah, setelah itu terdengarlah suara dipukulnya biji biji sie poa pulang pergi.
Liem Tou yang mendengar suara tersebut jadi terperanjat, diam diam pikiriya.
Sie poa dari Thiat Sie sianseng ini selamanya amat tepat jikalau hal ini sampai terhitung olebnya dan tersiar di tempat luaran, perjanjian di atas puncak pertama Ciang Jan bulan lima tanggal lima yang akan datang bakal berabe juga.
Pikirannya segera berputar untuk memikirkan satu siasat, dengan cepat dia meloncat ke atas atap kuil dan memperhatikan keadaan di dalam ruangan, terlihatlah beberapa orang itu sedang duduk bersila dialas tanah dengan ditengahnya duduk seorang hweesio.
Sudah tentu hweesio itu adalah Chiet Siauw-Thaysu.
Dia itu ciangbunjin dari Siauw Lim Pay.
Di samping kanan dan kirinya duduklah dua orang toosu berupa pertengahan yang bukan lain adalah Heng san Jie Yu, sedangkan Tionggoan Sam Koay duduk di paling bawah.
Mereka semua duduk mengerubungi sebuah api unggun yang sedang memanggang seekor ayam yang amat gemuk, dan tempat kejauhan saja sudah terciumlah bau harum yang semerbak membuat orang mengiler.
Waktu ini si Thiat Sie sianseng sedang tundukkan kepalanya menghitung pulang pergi biji sie poanya, sisanya lima orang melotot memandangi dirinya, agaknya mereka merasa amat tegang sekali, Liem Too tidak berpikir panjang lagi dengan cepat dia meioncat turun ke belakang meja sembahyang yang terbuat dari batu dan mengerahkan ilmu jarinya yang lihay, membuat batu tersebut seketika itu juga membekas satu gambaran sedalam beberapa coen, jelas memperlihatkan kalau Tenaga dalamnya sudah mencapai taraf yang sangat dahsyat sekali.
Setelah menggambar diam diam Liem Tou tidak tarasa merasa geli juga.
mendadak disamping gambaran ini dia menulis.
Burung Hong tidak meninggalkan ayam, ayam tidak meninggalkan burung Hong.
Harap pada bulan lima tanggal lima pada berkumpul dipuncak pertama Cing Jan untuk menentukan menang kalah.
Setelah semuanya selesai dia mengerahkan iimu meringankan tubuhnya kembali berkelebat melalui hadapan ke enam orang itu.
Mereka berenam seketika itu juga merasakan aedikit tidak beres saat itulah Liem Tou sudah menyambar ayam yang sudah dipanggang itu dan melarikan diri keluar dari kuil tersebut lalu meloncat naik keatas pohon siong untuk menonton permainan yang lucu.
Ternyata sedikitpun tidak salah, sewaktu Liem Tou menikmati panggangan ayam itu dengan nikmatnya, suasana di dalam kuil menjadi kacau balau, mereka berenam dengan berpisah pada meloncat naik ke atas dari enam penjuru yang berlainan, enam pasang mata dengan amat tajamnya memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu untuk memeriksa setiap pohon siong yang berada disana.
Pakaian yang dipakai Liem Tou berwarna hijau, apalagi suasana diluar sangat gelap sekali sudah tentu mereka tidak bisa menemukan dirinya.
Si pengemis pemabok adalah seorang yang paling doyan makan, kini melihat seekor ayam yang gemuk dan berbau wangi telah dicuri orang bahkan tak tampak jejaknya segera memaki kalang kabut, dari anaknya, bapaknya sampai neneknya dimaki semua.
Tongkat pemukul anjing yang ada ditangannya diketukkan ke atas atap rumah membuat suasana amat ramai, air liur muncrat muncrat ke tengah udara sedang giginya gemeretuk menahan kegemasan hatinya.
Liem Tou yang bersembunyi di atas pohon siong sewaktu melihat si pengemis pemabok memai tidak hentinya walaupun didalam hati merasa geli sekali tetapi terhadap makian dan omongannya yang amat kotor semakin lama merasa tidak tahan juga.
Tulang ayam yang ada ditangannya segera disambit kearahnya dengan disertai desiran angin yang sangat keras, bersamaan waktunya pula tubuhnya meloncat ke arah pohon siong yang lain.
Si pengemis pemabok yang mendengar adanya suara sambaran benda yang mememecahkan kesunyian mengancam tubuhnya dengan cepat dia miringkan kepalanya ke samping untuk menghindarkan diri, dengan santarnya tulang ayam itu lewat di samping telinganya.
Tidak terasa lagi dia menjadi amat gusar sekali, ujung kakinya segera menutul permukaan tanah laksana seekor elang raksasa dengan dahsyataya menubruk ke arah pohon tersebut.
Melihat kehebatan dari ilmu meringankan tubuhnya tidak terasa Liem Tou mengangguk memuji kehebatannya.
si siucay buntung, Thiat Sie sianseng, Heng-san Jie Yu serta Thiat Siauw Thaysu yang takut sipengemis pemabok mendapatkan bokongan bersama sama berteriak.
"Hey pengemis busuk hati hati jangan sampai kena dibokong orang"
Diikuti mereka berlima bersama sama berkelebat menuju kearah yang sama, tetapi di tempat itu sama sekali tidak terlihat sesosok manusia pun.
Orang itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat tinggi, ujar Thiat Siauw Thaysu kemudian sambil menghela napas panjang.
Bahkan boleh dikata sudah mencapai pada taraf kesempurnaan, ayam panggang yang ada dihadapan kita saja sudah berhasil dicuri oleh orang tanpa kita rasakan apalagi untuk mengejar dirinya??
aku lihat sia sia saja pekerjaan kita ini"
Perkataan dari Thaysu sedikitpun tidak salah Sambung Loo toa dari Heng san Jie Yu.
Lebih baik untuk sementara waktu kita kembali ke kuil dulu untuk memeriksa apakah ada tanda tanda yang ditinggalkan olehnya, setelah itu kita baru menyelidiki siapakah sebenarnya orang tersebut.
Tionggoan Sam Koay pun mengetahui kalau perkataan ini sedikitpun tidak salah, terpaksa mereka balik ke dalam kuil lagi.
Di antara mereka cuma si pengemis pemabok saja yang masih tidak puas, dia tidak mau ikut turun sebaliknya memaki maki dulu di atas atap dengan kalang kabut lalu baru melayang turun ke dalam kuil.
Mendadak dia menemukan mereka berlima sedang berdiri termangu mangu di depan meja batu tempat sembahyangan, tak kuasa lagi dia berteriak.
Hey ..
ayamnya sudah dicuri orang lain apa kalian sedang bersembahyang kepada malaikat malaikat agar bisa membantu kalian merebut kembali ayam itu?
kenapa kalian pada termangu mangu disana?"
Sembari berkata diapun berjalan mendekati meja batu tersebut, tetapi sebentar kemudian air mukanya sudah berubah sangat hebat.Matanya terbelalak lebar mulutnya melongo, 'Sungguh dahsyat tenaga jarinya 'lama sekali dia baru berseru.
Agaknya di dalam kolong langit saat ini sukar untuk dicarikan keduanya.
Sewaktu melihat pula gambar binatang yang mirip dengan burung hong juga mirip ayam itu dia segera menjulurkan lidahnya ketakutan.
Apa munjkin si perempuan tunggal Touw Hong sudah datang kemari?"
Tanyanya.
Jika dilihat dari ilmu jarinya saja sudah cukup buat dirinya untuk mengangkat nama di dalam Bulim.
Siapa tahu baru saja dia selesai berkata mendadak dari belakang tubuh mereka berkumandang suara tertawa yang amat ringan sekali, ke enam orang itu menjadi sangat terperanjat dan terburu buru putar kepalanya.
Terlihatlah kurang lebih beberapa depa di belakangnya berdirilah seorang gadis berbaju hitam yang amat cantik sekali.
Gadis itu memakai baju maupun celana yang berwarna hitam, alisnya panjang lentik, bibinya kecil mungil matanya bulat sehingga kelihatan amat cantik sekait.
Walaupun pada wajahnya tidak dihiasi dengan senyuman bahkan kelihatan sedikit agak murung tetapi bila ditinjau dari sikapnya bukanlah menyerupai seorang jahat, sebaliknya membuat orang merasa kagum dan menghormat.
Mendadak sinar mata mereka berenam berhenti di atas dadanya dimana tergantung sebuah medali yang bergambarkan burung Hong hitam berkaki tunggal, tak kuasa lagi saking terperanjatnya pada mundur dua langkah kebelakang.
Lama sekali baru terdengar si pengemis pemabok membentak keras.
"Kau, kau adalah perempuan yang bernama Touw Hong? kau ..kau berani mencuri ayam panggang kami? ayoh cepat kembalikan ayam panggangku, kalau tidak kita orang akan menuntut kerugian. Sembari berkata dia menggebukkan tongkat pemukul anjingnya ke atas tanah sehingga terdengar suara benturan yang amat nyaring sekali. Si gadis berbaju hitam mendengar suara bentakan dari pengemis pemabok itu diam diam alisnya dikerutkan rapat rapat, dari sepasang matanya yang amat jeli itu memancar keluar sinar yang amat tajam sekali memaksa mereka berenam tidak tahan untuk bergidik, bulu roma pada berdiri semua. Dengan cepat mereka berenam pada mengerahkan tenaga dalamnya siap siap menghadapi sesuatu, apalagi si pengemis itu. Walaupun dia orang sedang merasa mendongkol tetapi bagaimanapun juga dis orang adalah seorang jago kawakan yang sudah nempunyai pengalaman yang amat luas sekali ketika melihat kekuatan jari di atas meja batu itu ditambah pula dengan kerlipan sinar mata sang gadis yang amat tajam segera mengetahui kalau tenaga dalam gadis itu sudah mencapai pada tingkat yang paling atas karenanya dia tidak berani banyak bercakap lagi, diam diam tenaga dalam sudah disalurkan keseluruh tubuh siap menghadapi sesuatu. Lama sekali gadis berbaju hitam itu memperhatikan diri keenam orang itu, mendadak sinar matanya diarahkan ke atas meja batu. Lama sekali baru terlihatlah gadis berbaju hitam itu menoleh kearah keenam orang itu. Kecuali kalian berenam ada siapa lagi yang pernah datang kemari?, tanyanya. Suaranya tidak begitu keras tetapi setiap patah kata bisa didengar dengan amat jelasnya, jelas tenaga dalamnya sudah berhasil dilatih mencapai pada taraf yang amat tinggi sekali. Mendengar perkataan ini keenam Orang itu pada melengak semua, pikirnya.
"Kecuali kau ada siapa lagi yang pernah datang kesini". Si Thiat Sie sianseng jadi orang yang paling tenang dan pikirannya pun paling tajam, karena takut si pengemis pemabok berbicara tidak karuan lagi cepat cepat sahutnya. Entah apa maksud perkataan nona ini, apakah gambar yang terukir di atas meja sembahyangan ini bukan digambar oleh nona sendiri ? Jika dilihat dari sie poa besi yang ada ditanganmu tentunya kau orang adalah Thiat Sie sianseng salah satu anggota dari Tionggoan Ngo Koay bukan? ujar gadis berbaju hitam itu sambil melirik sekejap ke arah Thiat Sie sianseng. Kau berdasarkaa hal apa mengatakan kalau gambar itu aku yang bikin ? Nona bukankah si perempuan tunggal Touw Hong yang muncul dari daerah Si Lam dan didalam tiga jurus mengalahkan suami istri she Ciang dari Kiem Thian Pay? tiba tiba si siucay buntung menimbrung. Si gadis berbaju hitam yang mendengar si siucay buntung itu meyiggung pekerjaannya yaag paling membanggakan hatinya pada wajahnya segera terlintas senyuman kegembiraan, dia segera mengangguk cuma tetap tak mengucapkan sepatah katapun. si siucay buntung segera menunjuk ke arah gambar ayam bukan ayam burung hong bukan burung hong yang terukir di atas meja sembahyangan itu, lantas ujarnya.
"Pada saat ini orang yang menggunakan burung hong sebagai tanda cuma ada nona seorang saja, jika burung hong yang terukir di atas meja ini bukan nona yang tinggalkan ada siapa lagi yang mengukirnya ?"
Si gadis berbaju hitam itu segera putar kepalanya, memandang ke arah gambar itu lagi, semakin dilihat dia semakin mendongkol, gambar burung hong itu jelas sekali sengaja dibuat seperti ayam membuat air mukanya berubah merah padam kembali.
Mendadak telapak tangannya menyambar ke depan lalu menghapus gambar serta tulisan yang ada di atas meja tersebut.
Seketika itu juga abu pada beterbangan sewaktu telapak tangannya diangkat kembali permukaan batu yang semula ada lima coen tebalnya didalam sekejap sudah tinggal beberapa coen saja, hal ini membuat Tionggoan Sam-Koay, Heng san Jie Yu serta Ciangbunjin dari Siauw Lim Pay pada merasa terperanjat.
"Tenaga dalam yang amat sempurna"
Tiba tiba teedengar suara pujian yang berkumandang datang dari luar kuil.
Mendengar suara pujian ini si gadis berbaju hitam itu dengan cepat berkelebat keluar dari dalam ruangan, Tionggoan Sam Koay sekalian merasakan matanya menjadi kabur si gadis berbaju hitam yang semula ada di hadapan mereka kini sudah lenyap tak berbekas lagi, dengan gerakan apa dia berkelebat meninggalkan tempat itu siapapun tidak bisa mengetahuinya.
Mereka berenam menjadi tertegun, lama sekali tidak dapat mengucapkan sepatah katapun "Siapakah kau?"
Terdengar suara bentakan dari gadis berbaju hitam berkumandang datang dari tempat kejauhan.
"Di luar langit masih ada langit, di atas manusia masih ada manusia, kau orang tidak perlu mengurusi diriku"
Segera terdengar suara sahutan seseorang yang amat berat sekali. Gambar yang ditinggalkan di dalam kuil itu apakah hasil perbuatanmu?"
Bentak gadis berbaju hitam itu lagi. Orang itu segera tertawa terbahak bahak dengan amat kerasnya.
"Aku yang lakukan juga boleh, bukan aku juga sama saja, selama berada di dalam dunia kangouw aku orang belum pernah bertemu dengan seseorang yang suka mencampuri urusan orang lain semacam kau"
Beberapa perkataannya ini agaknya sudah membuat kegusaran di dalam hati gadis berbaju hitam itu semakin memuncak, segera terdengar suara bentakan yang amat nyaring.
Aku Touw Hong sejak terjunkan kedalam dunia kangouw belum pernah bertemu dengan manusia semacam kau, terimalah seranganku ini.
Setelah itu terdengarlah suara menderunya angin pukulan disusul dengan suara patahan ranting ranting pohon siong yang amat ramai sekali.
Mendengar suara tersebut si siucay buntung tidak bisa menahan sabar lagi, segera teriaknya.
Ayoh jalan, kita pergi melihat.
Keenam orang itu dengan saling susul menyusul pada meninggalkan kuil untuk berkelebat menuju dimana berasalnya suara pertempuran tadi.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba disebuah tempat yang penuh berserakan patahan ranting ranting pohon siong yang amat banyak tetapi bayangan mereka berdua sama sekali tidak kelihatan, membuat keenam orang itu jadi berdiri termangu mangu.
Kurang lebih seperminuman teh kemudian mendadak terdengar Si Thiat sie sianseng berseru.
Aaaah ..jika ditinjau dari keadaan ini jelas sekali gambar yang terukir di atas meja batu tadi bukan nerbuatan dari Touw Hong, si gadis berbaju hitam tadi, sedang surat tantangan agar kita menghadiri pertemuan di atas puncak pertama Cing Jan pada bulan lima tanggal lima menunjukkan waktu yang sama dengan perjanjian yang diadakan Lie Loo jie, lalu apa mungkin Lie Loo jie yang sudah datang kemari??
tetapi apa maksudnya??
apa dia orang juga mau bertempur dengan kita?"
"Kemungkinan sekali Lie Loo jie sudah tahu kalau Touw Hong ada disini sehingga sengaja berbuat demikian"
Sahut Loo jie dari Hengsan Jie Yu.
"Tidak benar, .. .tidak benar"
Seru Loo toa dari Heng san Jie Yu sambil gelengkan kepalanya, jikalau Lie Loo jie mau pergi mencari Touw Hong dia bisa langsung mencari dirinya, kenapa harus berputar putar seperti ini??
apalagi Lie Loo jie jadi orang bersifat pendekar, dia tidak akan mau berbuat demikian.
Sewaktu mereka berbicara dan saling bantah membantah dengan amat ramainya itulah mendadak tampak bayangan hitam berkelebat turun dari sebuah pohon siong, tampaklah si gadis berbaju hitam yang semula pergi kini balik kembali.
Apa Lie Loo jie .
.Lie Loo jie"
Serunya dengan sinis, orang itu tidak lebih seorang bocah cilik yang usianya amat muda sekali, tetapi tenaga dalamnya amat dahsyat.
Kalian cianpwee berenam mempunyai pengalaman yang amat luas, apakah kalian tahu dari aliran mana yang akhir ini muncul seorang jago muda yang amat lihay sekali??"
Walaupun wajahnya masih amat murung tetapi nada ucapannya jauh lebih ramah. Si pengemis pemabok yang selalu menaruh curiga terhadap diri Liem Tou mendadak bertanya.
"Bagaimana dandanan orang ini, dan bagaimana wajahnya?"
Entah mengapa setelah mendengar perkataan dari si pengemis pemabok ini mendadak air muka gadis berbaju hitam itu berubah menjadi merah lalu dengan cepat cepat meloncat keatas pohon dan berlalu deraan tergesa gesa.
Tidak terasa lagi keenam orang itu dibuat kebingungan dan saling pandang memandang tak mengucapkan sepatah katapun.
Waktu itu cuaca sudah hampir mendekati terang tanah, Thiat Sie sianseng segera menjura ke arah Ciat Siauw Thaysu serta Heng san jie Yu, ujarnya.
"Kalian bertiga harus cepat cepat datang ke Bu tong pay untuk menyelesaikan urusan ini, atas hal ini kami tidak akan melupakan budi tersebut. Ini hari kami bertiga sudah menjelaskan semua kejadian, maaf kami masih ada urusan yang harus diselesaikan dan harus berpisah, selamat tinggal.
"Untuk mencari si penjahat naga merah pada bulan lima tinggal lima di atas puncak pertama Ciang Jan kalian pasti bisa bertemu sambung si siucay buntung dengan cepat"
Selesai berkata bersama sama dengan Thiat Sie sianseng serta si pengemis pemabok dengan cepatnya berkelebat melewati hutan.
Kita balik kembali pada diri Liem Tou kiranya yang berteriak memuji kebebatan dari tenaga dalam Touw Hong itu perempuan tunggal.
Sejak semula dia orang sudah melihat munculnya seorang perempuan tunggal Touw Hong disana dikarenakan dirinya besembunyi di antara pepohonan yang amat lebat karenanya dia tidak sampai diketahui oleh Touw Hong, tetapi ilmu meringankan tubuh yang di perlihatkan olehnya cukup membuat Liem Tou merasa terperanjat.
Akhirnya ketika enam orang itu kembali ke dalam kuil dan berdiri termangu mangu didepan meja batu, Touw Hoog pun turut masuk ke dalam.
Liem Tou segera membuntuti dari belakang, dia mengambil keputusan untuk menemui orang ini.
Tetapi ketika matanya tertumbuk dengan medali yang tergantung di depan dada gadis itu hatinya menjadi bergerak kembali pikirnya.
"Medali perak yang tergantung di depan dadanya mirip sekali dengan medali yang tergantung didepan perempuan di mana tersembunyinya kitab pusaka To Kong Pit Liok apa di antara mereka ada hubungan antara satu dengan lainnya?"
Berpikir akan hal itu dia segera memancing keluar untuk membuktikan pikirannya ini, siapa tahu sifat dari Touw Hong agak congkak sedang Liem Tou pun ingin menjajal kepandaiannya sehingga begitu bertemu dengan mereka sudah saling bertempur dengan amat serunya.
Sejak berhasil mempelajari kitab pusaka To Kong Pit Liok boleh dikata untuk pertama kali Liem Tou bertemu dengan musuh tangguh.
Sebaliknya Touw Hong merasa keheranan, semakin bertempur hatinya semakin terperanjat, akhirnya Liem Tou yang mendengar Tiong goan Sam Koay sudah pada berdatangan dia cepat cepat berkelebat pergi dari sana, sembari berlari dia berseru dangan perlahan "Ini hari bisa bertemu dengan nona, cayhe betul betul merasa bangga sekali"
Mendadak Liem Tou meloncat ke samping menuding ke arah medali perak yang ada di dadanya, baru saja mau bertanya tiba tiba suatu pikiran berkelebat lagi di dalam benaknya pikirnya.
Saat ini aku masih ada urusan yang harus diselesaikan, jikalau aku menceritakan kepadanya kalau akupun mempunyai medali seperti itu, hal ini tentu akan mendatangkan kerepotan saja, lebih baik untuk sementara waktu jangan membicarakannya dulu.
Sebetulnya si gadis berbaju hitam itu melihat ketampanan wajah Liem Tou dari dalam hatinya sudah muncul suatu perasaan yang sangat aneh sekali, kini melibat dia orang menuding kearah medali perak yang tergantung didepan dadanya senyuman segera menyusuri bibirnya sambil menunggu ucapan selanjutnya dari dia orang siapa tahu Liem Tou bukannya membicarakan hal ini sebaliknya berkata.
Kepandaian dari nona, cauhe sudah menjajalnya, jika ada kesenangan jangan sampai lupa pada bulan lima tanggal lima di atas puncak pertama gunung Cing Jan.
Selesai berkata dia segera putar badannya meninggalkan hutan tersebut.
Si gadis berbaju hitam yang melihat Liem Tou lari pergi bahkan sampai namanya pun dia tidak tahu, pikirannya dengan cepat berputar, tubuhnya pun ikut berkelebat ke depan Liem Tou menghalangi perjalanannya.
"Hey siapa namamu?"
Tanyanya.
Mendadak air mukanya berubah merah sambil tundukkan kepalanya dia berganti bahan pembicaraan, tanyanya lagi.
'Kepandaian silat dari Kongcu amat dahsyat sekali, dapatkah aku orang mengetahui asal usul perguruanmu?"
Melihat sikapnya itu diam diam Liem Tou berpikir didalam hatinya.
Hmmm ...
sombong ...
aku mau lihat kau bisa sombong seperti apa, ini hari aku akan membuat kau orang tidak dapat sombong lagi sehingga tidak lagi terlalu memandang rendah orang lain.
Berpikir sampai disini dia segera melirik sekejap kearah Touw Hong dengan pandangan dingin, tiba tiba dengan menggunakan gerakan sah cap lak Thian Kang Poh Hoat dia berkelebat melewati diri Touw Hong lalu dengan lang kah lebar berjalan keluar dari hutan tersebut.
Tindakannya ini benar benar diluar dugaan Touw Hong, dia berdiri termangu mangu di sana lama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun juga.
Tidak lama kemudian Tionggoan Sam Koay pun pada berdatangan kemudian dia munculkan dirinya seperti apa yang terjadi diatas.
Kini kita berbalik kembali pada Liem Tou yang berjalan keluar dari hutan lalu berangkat menuju ke kota Tang Yang.
Sewaktu tiba di kota tersebut hari sudah menunjukkan tengah malam, suasana di dalam kota amat sunyi sekali bahkan kelihatan sangat mencurigakan sekali, hatinya menjadi keheranan, dengan tergesa gesa dia berlari menuji ke rumah penginapannya.
Saat ini ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai pada taraf kesempurnaan, hanya di dalam sekejap saja dia sudah tiba di depan pintu rumah penginapan tersebut, saat ini pintu rumah sudah tertutup tetapi dari balik kamar terdengar suara dengus kerbaunya yang amat keras.
Kau binatang aku mau melibat bisa berbuat ganas lagi tidak?
keganasanmu yang terdahulu kini berada dimana semua?"
Disusul suara cambuknya yang amat keras sekali berkumandang tak henti hentinya dari dalam kamar.
Liem Tou segera mengetahui tentu urusan sudah terjadi perubahan telapak tangannya dengan cepat kirim satu pukulaa menghajar ke atas pintu membuat papan itu terpukul hancur berantakan, terlihatlah olehnya dua orang lelaki berbaju singsat sedang mencambuki kerbaunya yang rubuh di atas tanah di balik pintu itu.
Melihat kejadian itu Liem Tou menjadi amat gusar sekali, dengan cepat dia membentak keras, tangannya segera bergerak dan segera terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati,tubuh orang itu sudah kena hajar sehingga darah segar muncrat keluar dari mulutnya.
Dia orang tidak mau berdiam sampai di situ saja tangan kirinya berbareng mengirim lagi satu pukulan gencar menghajar lelaki yang satunya lagi.
Mendadak pikirannya bergerak, serangan telapaknya dengan cepat diubah menjadi serangan totokan menotok jalan darah Sian Khiei di atas tubuh lelaki itu, seketika itu juga lelaki itu rubuh jatuh ke atas tanah dan lemes, tetapi tidak sampai membahayakan jiwanya.
Liem Tou mau memeriksa kerbaunya lebih dulu, tampak bayangan hijau berkelebat dia melayang masuk ke dalam kamar, karena di dalam hati dia merasa amat kuatir terhadap keselamatan dari gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.
Ie cici.
..Wan moay moay...teriak berulang kali.
Tetapi tidak terdengar suara jawaban suasana amat sunyi sekali.
Hal ini semakin membuat hatinya cemas dengan cepat dia mendorong pintu kamarnya dan melongok masuk, di dalam kamar tidak tampak adanya sesosok bayangan manusiapun dia menjadi tertegun, tetapi sebentar kemudian dia sadar kembali dan meloncat naik ke atas atap.
Suasana disekeliling tempat itu sunyi senyap tidak terdengar sedikit suarapun mana tampak adanya bayangan manusia?"
Dari cemas hatinya semakin lama berubah semakin gusar, diam diam pikirnya lagi Aku Liem Tou sungguh merasa malu sudah memiliki ilmu silat yang tinggi, ternyata Ie cici serta Wan moay moay pun tidak bisa dijaga keselamatannya, jika dilihat dari kerbauku yang dicambuki orang lain jelas Ie cici serta Wan moay moay sudah menemui bencana.
Berpikir sampai disini hatinya merasa semakin gemas lagi.
dia orang tidak seharusnya meninggalkan rumah penginapan itu sewaktu Ie cicinya sedang terluka sehingga kesempatan ini digunakan oiang lain untuk melancarkan serangannya.
Di dalam sekejap saja hatinya terasa amat bingung sekali, mendadak dia teringat kembali lelaki yang tertotok olehnya tadi dengan cepat tubuhnya melayang turun kembali ke dalam ruangan dan mengurut punggungnya untuk menyadarkan kembali dirinya.
Dengan perlahan lelaki itu pentangkan mata nya kembali, Liem Tou tidak dapat menahan sabar lagi dia segera membentak.
"Ayoh cepat bilang ..ayoh cepat bilang, aku segera berikan jalan hidup buat dirimu."
Di dalam keadaan bingung dia sudah berbicara tanpa ujung pangkalnya membuat lelaki itu merasa kebingungan, apa lagi lelaki itupun baru saja sadar dari pingsannya, kepalanya masih terasa pening sehingga apa yang dibicarakan oleh Liem Tou pun tidak begitu jelas didengarnya.
Mendadak dia jatuhkan diri berlutut dan mengangguk anggukkan kepalanya tak henti hentinya.
Liem Tou semakin marah, dengan cepat dia cengkeram ujung bajunya.
Siapa yang suruh kau berlutut?
bentaknya dengan gusar.
Aku suruh kau cepat beritahu padaku Ie cici serta Wan moay moayku sudah kalian bawa kemana?
kalian bajingan bajingan berasal dari mana?
ayoh cepat jawab.
"Baik.. baik aku jawab, aku jawab, harap Siau Hiap ampuni jiwaku"
Seru lelaki tersebut dengan gemetar.
Liem Tou segera melepaskan cengkeramannya.
Asalkan kau mau berbicara aku sudah tentu akan beri satu jalan hidup buat dirimu ujarnya cepat.
Tetapi bilamana omonganmu bohong, kawanmu itulah suatu contoh yang paling bagus buatmu.
Mendengar perkataan tersebut lelaki berbaju singsat itu baru sedikit lega bati.
Untuk membalas dendam terbunuhnya putri tercintanya Ong Bo sudah menawan kedua orang pendekar perempuan itu sahutnya.
Mendengar perkataan itu Liem Tou menjadi benar benar terperanjat sehingga kepalanya terasa pening sekali teriaknya.
"Si pengemis busuk itu sudah seharusnya mati, jika mau membalas dendam balaslah dengan aku Liem Tou apa hubungannya urusan ini dengan Ie cici serta Wan moay moay ?"
Ie cici serta Wan moay moay merupakan murid yang paling lihay dari si cangkul pualam Lie Sang, bagaimana mungkin Oog Bo serta perempuan berbaju hijau itu berhasil menawannya apalagi Wan moay moay sudah memperoleh seluruh Kepandaian silat dari ayahnya, sekalipun terjadi pertempuran sengit tidak seharusnya Auw Hay Ong Bo bisa begitu mudahnya berhasil menawan mereka.
Berpikir akan hal ini dia segera membentak lagi.
"Siapa yang sudah datang ke mari ??"
Ayoh cepat jawab.
Si jari beracun jarum emas Song Beng Lan si hweesio rase salju, pengemis liar, hweesio mayat hidup dan pembesar buta.
Mendengar disebutnya si hweesio mayat hidup serta pembesar buta tidak terasa lagi Liem Tou menjadi kaget.
Apa si hweesio mayat hidup serta pembesar buta juga ikut datang?
teriaknya.
Lelaki berbaju singsat itu mengangguk.
Pikiran Liem Tou dengan cepat berputar, sekalipun ada hweesio mayat hidup serta pembesar buta belum tentu si gadis cantik pengangon kambing bisa tertawan dengan begitu mudahnya, dia teringat kembali akan si perempuan tunggal Touw Hong kembali.
Dari perkataan Ciat Siauw thaysu tadi dia tahu perempuan itu sudah punya hubungan dengan pihak Kiem Thien pay, jika perempuan ini pun ikut datang maka ada kemungkinan si gadis cantik pengangon kambing berhasil mereka tawan.
Karenanya dia bertanya kembali.
Aku dengar dari pihak Kiem Thian pay ada seseorang yang bernama perempuan tunggal Touw Hong, apa diapun ikut datang kemari?
Agaknya lelaki berbaju singsat itu amat takut sekali mendengar disebutnya nama itu, seketika itu juga dia orang memandang diri Liem Tou dengan melongo, lama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
Liem Tou yang melihat perubahan wajahnya ini didalam hati segera sudah menduga beberapa bagian, karenanya dia mendesak lebih lanjut.
Akhirnya lelaki tersebut mengangguk, dalam hati Liem Tou semakin menyesal lagi, dia tidak seharusnya menghabiskan waktu setengah harian di tengah jalan, kalau tidak mungkin dia masih bisa memberi pertolongan kepada mereka.
Sekarang dia terpaksa menanyakan tempat tinggal dari si perempuan tunggal Touw Hong serta Au Hay Ong sekalian dan berusaha untuk menolong kedua orang itu lolos dari cengkeraman musuh.
"Hey sekarang mereka berada di mana? cepat beritahu kepadaku dan pimpin aku kesana"
Perintahnya kemudian setelah berpikir sebentar.
Sekalipun pada mulutnya lelaki itu terus menerus memberi jawaban terhadap pertanyaan pertanyaan yang diajukan oleh Liem Tou tapi di dalam hatinya dia sedang berpikir bagaimana caranya untuk meloloskan diri dari sana.
Kini sewaktu didengar Liem Tou sedang menanyakan tempat tinggal dari si perempuan tunggal Touw Hong sedang Auw Yang Ong sekalian menyuruh dia orang pimpin jalan, dalam hati merasa amat girang sekali.
Hmm, cuma mengandalkan kau seorang saja mau pergi ke sana?
pikirnya didalam hati.
Bukankah sama saja pergi menghantarkan kematiam buat dirimu sediri?
aku beritahu kepadamu juga tidak ada halangannya apalagi aku yang menunjukkan tempat itu, setelah sampai di sana tentu aku bisa meloloskan diri.
Tanpa berpikir panjang lelaki itu segera menjawab.
Mereka berdiam tidak jauh dari sini, kurang lebih sepuluh li dari pintu sebelah timur tempat itu bernama .
Belum habis dia berbicara mendadak Liem Tou dapat mendengar desiran senjata yang berkelebat menyampok angin mengancam tubuh mereka berdua, dengan cepat tubuhnya berputar ke belakang.
Tampaklah segerombolan sinar yang sangat menyilaukan mata dengan amat cepatnya melanda datang, dia segera membentak keras.
"Kawanan tikus sungguh berani perbuatan kalian."
Telapak tangannya segera didorong ke depan melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar ke atas senjata rahasia yang menghantam tubuh mereka.
Sekalipun begitu dikarenakan halusnya jarum jarum emas itu ditambah lagi disebar dalam jumlah yang amat banyak sekali dengan menggunakan cara Man Thian Hoa Yu atau seluruh angkasa penuh dengan bunga hujan, dimana angin pukulan Liem Tou berkelebat walaupun berhasil membebaskan dirinya dari bahaya tetapi si lelaki itu tak dapat terhindar lagi dari serangan tersebut.
"Aaaaaaadddduuuh "
Disertai dengan suara teriakan yang amat keras tubuhnya roboh terjengkang ke belakang.
Dalam hati Liem Tou sedang merasa cemas untuk mengetahui tempat si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie ditawan, terhadap orang yang melancarkan serangan bokongan itu dia orang tidak mengambil perduli lagi, dengan terburu buru dia menarik tubuh lelaki itu sambil tanyanya dengan suara yang keras.
"Mereka berada di tempat mana, cepat katakan."
Lelaki yang bersandar di tangan Liem Tou itu memejamkan sepasang matanya erat erat untuk sesaat lamanya dia tak sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun.
Liem Tou lantas tundukkan kepalanya memeriksa, tampaklah di atas badannya sudah terkena delapan, sembilan jarum emas yang menancap pada jalan jalan darah terpenting, tidak terasa lagi dia menghela napas.
Sewaktu diperiksa ternyata orang itu belum menemui ajalnya, tetapi kenapa dia tidak mau bicara.
Liem Tou memeriksa keadaannya lebih teliti lagi, akhirnya dia menemukan juga sebabnya.
Kiranya pada jalan darah bisu di atas tenggorokannyapun sudah tertancap sebatang jarum emas sehingga membuat dia orang tidak dapat berbicara.
Dengan cepat Liem Tou mencabut jarum tersebut, waktu itulah di dalam benaknya mendadak berkelebat satu ingatan, dia merasa orang yang baru saja melancarkan serangan bokongan dengan menggunakan senjata jarum emas ini adalah perbuatan dari si jari beracun jarum emas Song Beng Lan dari Kiem Thien Pay, tak terasa lagi hatinya jadi merasa amat gemas sekali.
Orang ini sungguh amat kejam dan ganas sekali pikirnya apalagi merupakan seorang penja hat pemetik bunga yang sudah terkenal, nanti jikalau aku bertemu kembali dengan dirinya tentu dirinya tidak aku lepaskan kembali.
Kepada si lelaki yang terluka itu dia berkata.
"Orang yang melukai kau orang adalah si jari beracun jarum emas Song Beng Lam, kau tahu tidak ?"
Air muka lelaki itu sudah berubah menjadi pucat kehijau hijauan agaknya dia sedang menahan rasa sakit yang amat sangat di dalam tubuhnya, mendengar perkataan tersebut dia mengangguk.
Kalau begitu beritahukanlah kepadaku tempat mereka untuk membalas dendam, sera Liem Tou dengan cepat.
Dari tenggorokan orang itu segera terdengarlah suara yang amat serak sekali disusul matanya dipentangkaa lebar lebar.
Liem Tou yang melihat wajahnya sudah mulai berkerut dia tahu orang tersebut sudah dekat masa ajalnya hal ini membuat batinya semakin cemas lagi.
Cepat katakanlah, cepat katakan!
Aku akan pergi cari mereka untuk membalaskan dendanmu.
Akhirnya lelaki itu memejamkan matanya kembali.
Sebelum dia orang mengucapkan sepatah katapun dari tenggorokannya kembali terdengar suara yang serak dan keras, sebentar kemudian orang itu sudah menemui ajalnya.
Liem Tou merasa sangat kecewa sekali, mendadak dia mengangkat mayat dan lelaki itu lantas dilemparkan ke atas.
Seketika itu juga mayat tersebut melayang sejauh dua kaki lebih lantas jatuh ke atas tanah dengan amat kerasnya, kepalanya hancur berantakan darah bercampur otak berceceran diatas tanah.
Liem Tou yang usianya masih amat muda apa lagi pengalamannya di dunia kangouwpun masih amat cetek, karena terjadinya perubahan ini segera membuat hatinya amat sedih sekali sehingga dia dibuat termangu mangu beberapa saat lama nya.
Saking terpesonanya sampai kerbaunya yang merintih teruspun tidak digubris.
Mendadak dari sepasang matanya memancarkan sinar yang amat aneh sekali ujung kakinya segera menutul permukaan tanah dan meloncat ke atas wuwungan rumah.
Kiranya di atas tembok sebelah atas dia sudah menemukan satu tanda gambar ular merah dengan amat jelasnya, Liem Tou yang melihat munculnya tanda ular merah di sana segera merasakan hatinya amat kaget gumamnya seorang diri.
Apa mungkin si penjahat naga merah sudah datang kemari??
atau mungkin pihak Kiem Thien Pay yang sudah memalsukan tanda dari si penjahat naga merah ini??
perbuatannya ini sungguh membuat orang merasa agak bingung.
Hampir selama setengah harian lamanya dia berpikir keras keras tetapi tidak mendapatkan jawabannya juga, akhirnya dia melepaskan pemikirannya itu untuk memeriksa keadaan luka dari kerbaunya.
Tampaklah seluruh kerbau itu sudah tersayat sayat sehingga hancur dan mengalirkan darah amat banyak sekali, tetapi lukanya tidak lebih cuma luka luar yang tidak membahayakan jiwanya hanya saja luka dalamnya yang terdahulu kini kambuh lagi membuat ia agak sedikit tidak tahan.
Terpaksa Liem Tou mengeluarkan kembali tali obat peninggalan dari Hek Loo toa itu untuk diberikan seutas kepada kerbaunya lantas merawatnya dengan teliti Saat ini pemilik rumah penginapan pelayan maupun para tetamu yang menginap disana pada tidak kelihatan semua, hatinya agak ragu ragu, pikirnya.
Menurut keadaan biasanya dimana tanda ular merah itu muncul manusia maupun binatang tidak ada yang tertinggal, kerbauku ini bisa tetap hidup boleh dikata amat untung sekali.
Tetapi si pelayan serta pemilik rumah penginapan ini sudah pergi kemana?
apa mereka sudah menemui bencana??
kenapa tak seorangpun yang kelihatan.
Berpikir sampai disitu dia segera mengadakan pemeriksaan di sekeliling rumah penginapan itu, ternyata dugaannya sedikitpun tidak salah.
Di dalam sebuah kamar dia menemukan pemilik rumah penginapan dan pelayan pelayannya sudah menggeletak diatas tanah dan darahnya berceceran di seluruh lantai, keadaannya amat mengerikan sekali.
Melihat keadaan ini Liem Tou benar benar merasa amat gusar, dengan cepat dia angkat sumpah dengan menghadap dinding.
"Aku Liem Tou jika tidak berbasil menyelidiki pembunuhan malam ini dan menghancurkannya aku sumpah tidak akan jadi manusia"
Saat itupun dia teringat kembali atas keselamatan atas gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dengan tergesa gesa dia berjalan keluar dari ruman peaginapan itu tanpa memperdulikan lagi kerbau itu yang masih terluka dia segera mengangkat sang kerbau di pundak dan berjalan keluar dari tempat itu.
Untung saja keadaan di seluruh kota Tang Yang amat sepi sekali, agaknya mereka takut dimasuki pencuri sehingga rumah rumah tertutup dengan amat rapatnya.
Suasana di tengah jalan amat sunyi sekali tak terlihat seorang manusiapun yang berjalan di tengah jalan kalau tidak dengan perbuatan dari Liem Tou yang menggendong seekor kerbau seberat tiga ratus kati tentu akan menggemparkan seluruh kota.
Ditengah perjalanan tiba tiba Liem Tou teringat kembali dengan kata kata dari lelaki itu dia segera mengambil jalan keluar menuju ke kota sebelah timur.
Tidak lama kemudian pintu kota sudah tampak di depan mata, pintu masih tertutup rapat cuma saja tak kelihatan ada penjaganya.
Liem Tou tidak ambil perduli lagi dengan menggendong kerbaunya dia melewati tembok kota dan melanjutkan perjalanannya ke arah depan.
Sesampainya ditepi sebuah sungai yang tidak dikenal dia segera meletakkan kerbaunya ke atas tanah dan dengan telitinya membersihkan tubuhnya dari bekas darah, lalu gumamnya lagi.
"Aku mau menyembuhkan dulu luka dalam dari Gouw koko lantas baru pergi menyelidiki keadaan dari Ie cici serta Wan moay moay"
Ditengah malam yang buta kelihatan sekali keadaan dari Liem Tou amat menyedihkan sekali, kerbaunya yang ada di samping dengan mata penuh terharu melirik sekejap ke arahnya, agaknya sang kerbau tahu kalau majikannya sedang murung.
Setelah semuanya selesai dengan perlahan Liem Tou duduk bersila dan mulai mengatur pernapasan hawa murninya dengan perlahan di salurkan dari pusar menuju ke sepasang telapak tangannya lantas disalurkan ke perut kerbau itu dengan mengikuti jalan darahnya.
Haruslah diketahui urat urat dan jalan darah yang ada di badan binatang sekalipun berbeda dengan manusia tetapi yang dimaksud delapan nadi denggan dua belas kunci kehidupan tak ada bedanya dengan manusia, sehingga dengan demikian Liem Tou pun dengan lancar dapat menyembuhkan kerbaunya.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian kerbau itu mulai mengangkat kepalanya dan mendengus rendah, saat itulah Liem Tou baru bisa menghembuskan napas lega dan menyeka keringat yang membasahi jidatnya.
Sekali dia pejamkan matanya untuk pulihkan kembali tenaganya lantas baru bangkit berdiri.
Saat itu sang kerbau yang sudah bangkit berdiri dan dengan tenangya sedang makan rumput.
Liem Tou segera menepuk nepuk pundaknya dan tertawa pahit.
Engko kerbau, ujarnya perlahan.
Kali ini kau tentunya merasa sedikit menderita bukan ayoh pergilah ke sana dan makanlah rumput sampai kenyang.
Agaknya kerbau itu mengerti perkataan manusia, dia segera mengangguk angguk kepada Liem Tou dan dengan tenangnya pergi makan rumput disamping sungai.
Liem Tou vang melihat kerbaunya begitu penurut tanpa terasa dia semakin menaruh rasa sayang lagi kepadanya, diapun duduk di tepi sungai melihat dia makan rumput.
Terhadap keselamatan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie di dalam hatinya Liem Ton merasa amat kuatir sekali, lewat beberapa saat kemudian dia benar benar tidak bisa bersabar lagi, kepada kerbaunya dia segera berseru.
Engko kerbau ayoh jalan, orang itu bilang Ie cici serta Wan moay moay ada di suatu tempat sepuluh li dari kota Tang Yang, mari kita ke sana dengan menyeberangi sungai ini.
Walaupun kepandaian silat dari Liem Tou pada saat ini amat tinggi sekali tetapi karena adanya perubahan yang memukul hatinya membuat keadaannya pada saat ini sudah berubah kembali seperti setahun yang lalu, dia orang yang mengajak kerbaunya berbicara sebetulnya adalah suatu pekerjaan yang amat bodoh sekali tetapi dikarenakan sifatnya yang amat peramah apalagi dengan pembicaraan ini dia ingin mencari satu semangat baru di dalam hatinya, maka dia tidak mau perduli atas kesalahannya ini.
Dengan menuntun kerbaunya Liem Tou menyeberangi sungai tersebut, setelah sampai di tepi seberang dia melihat badan sang kerbau amat besar segera di dalam pikirannya segera berkelebat kembali akan satu ingatan.
Gumamnya lagi seorang diri.
Jika dilihat dari keadaannya dia harus dicarikan satu tempat persembunyian yang aman agar bisa istirahat untuk beberapa saat lamanya.
Berpikir akan hal ini Liem Ton segera memandang ke sekeliling tempat itu, dia mencoba memeriksa apakah disekeliling tempat ini ada rumah petani atau tidak.
Dengan mengikuti aliran sungai itu akhirnya dia bisa melihat banyaknya sawah yang tersebar di sana, dengan melalui antara sawah sawah itu terlihatlah satu jalan kecil yang menghubungkan tempat itu dengan dua tiga rumah para kaum petani.
Liem Tou segera menuntun kerbaunya mengikuti jalan tersebut menuju kerumah itu.
Sesampainya di depan pintu rumah, dia orang melihat baik jendela maupun pintunya masih tertutup rapat rapat, dia tahu tenntunya pemilik rumah itu masih tidur deagan nyenyak untuk mengganggu dia merasa tidak eaak, untuk pergi dari sana diapun tidak ingin, hatinya benar benar merasa bingung.
Pada saat dia merasa serba susah itulah mendadak seorang petani muncul keluar dan dua ekor anjing dari dalam rumah itu yang menggonggong tiada hentinya, apalagi setelah dilihatnya ada kerbau disana suara gonggongannya semakin mengeras bahkan tubuhnya siap siap untuk menubruk ke arah sang kerbau.
Kerbau itu agaknya juga dibuat marah oleh keganasan sang anjing, diapun mendengus tak ada hentinya.
Liem Tou takut kerbaunya menjadi marah dengan adanya kejadian itu sehingga menunjukkan kembali sifat binatangnya dia segera menepuk nepuk pundaknya.
"Bersabarlah sebentar, mereka takkan dapat mengganggu dirimu"
Serunya perlahan. Kedua ekor anjing itu melibat sang kerbau tak menunjukkan perlawanan suara menggonggongnya semakin keras lagi membuat Liem Tou yaag ada disampingnyapun menjadi rada jengkel.
"Kalian dua ekor binatang yang tidak ber biji mata, cepat megggelinding dari sini"
Bentaknya dengan gusar.
Sambil berkata dia angkat telapaknya siap melancarkan satu pukulan.
Pada saat itulah dari dalam rumah petani itu tampak berkelebatnya sinar terang disusul suara seseorang sedang bertanya.
"Siapa yang ada di luar rumah di tengah malam buta ini ?"
Liem Tou yang mendengar ada orang yang sudah bangun hatinya merasa girang sekali, tubuhnya dengan cepat melayang mendekati pintu tersebut.
Tanpa terasa pintu itu dengan perlahan-lahan dibuka dan muncullah seorang petani tua yang berdandanan sangat sederhana sekali dengan membawa sebuah lampu minyak, dengan me-ngedipngedipkan matanya yang baru saja bangun dari tidur dia memandang ke arah diri Liem Tou, jelas dari air mukanya memperliihatkan rasa keheranan.
Kerena temanku sakit sacara tiba tiba entah bolehkah paman memberi satu tempat buat dia buat menginap selama beberapa hari.
Si petani yang melihat dandanan Liem Tou sangat polos dan tidak mirip dengan penjahat ia segera mengangguk.
Orang melakukan perjalanan ditempat luaran tidak akan terhindar dari kemalangan, cuma saja tempatku amat kotor dan kalau hujan bocor entah kau orang bisa menempati tidak, jawabnya dengan halus.
Liem Tou yang mendengar petani itu sudah menyanggupi dalam hati merasa sangat berterima kasih sekali, sekali lagi dia menjura memberi hormat.
"Kau orang tidak usah banyak berlaku adat, seru petani itu mencegah. Silahkan kawanmu itu masuk untuk beristirahat."
Liem Tou segera menggape ke arah kerbaunya itu. dan kerbau dengan langkah yang amat perlahan lantas berjalan mendekat. Melihat kejadian itu si petani tersebut menjadi kaget, dia menjerit tertahan.
"Aaah ... apakah dia kawan karib yang kongcu katakan tadi?"
Tanyanya keheranan.
"Benar"
Sahut Liem Tou mengangguk.
Tidak terasa lagi petani tua itu memperhatikan diri Liem Tou beberapa saat lamanya, melihat dia orang memakai jubah panjang yang terbuat dari sutera dengan sebuah kain pengikat kepala yang terbuat dari sutera pula jelas merupakan seorang si siucay dari kalangan kaya, bagaimana dia bisa bergaul dengan seekor kerbau??
tidak terasa lagi perasaan curiga mulai menyelimuti dirinya.
Mendadak matanya melotot lebar lantas bentaknya keras.
"Silahkan kau orang pergi mencari tempat lain saja, aku disini tidak mau menerima kau orang yang sudah banyak melakukan kejahatan"
Selesai berkata dia putar badan dan menutup pintu rumahnya kembali.
Liem Tou yang melihat petani itu berubah sikap, dia segera tahu kalau dia orang sudah salah paham.
Loo pek tunggu dulu.
Serunya dengan cepat.
Biarlah cayhe jelaskan terlebih dulu nanti Loo pek baru tutup pintu kembali.
cayhe tahu Loo pek tentu sudah salah paham dan menganggap kerbau ini datangnya tidak jujur.
Terus terang saja ini kerbau sudah mengikuti diriku selama satu tahun lamanya dan merupakan kawan karib dari cayhe.
Harap Loo pek jangan salah paham karena cayhe ada urusan penting yang harus dikerjakan sedang kerbau inipun sedang sakit maka terpaksa aku datang kemari harap Loo pek mau menerimanya.
Baca Juga: Pendekar Budiman 7
Baca Juga: Pedang Sinar Emas 3