Eps 6 Raja Silat - Chin Hung
Baca online Raja Silat - Chin Hung
Cersil Raja Silat - Chin Hung.
Sembari berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar dua butir mutiara yang memancarkan sinar berkilauan lantas diangsurkan ke depan.
Sedikit hadiah harap Loo pak mau menerimanya ujarnya lagi, tentu hal ini bisa membuyarkan rasa curiga di hati Loo pek karena dengan kedua mutiara ini barganya ratusan kali lipat lebih mahal dari kerbau ini, ini hari cayhe mau memberikan barang ini kepada diri Loo pek tentunya kau orang bisa tahu bukan kalau cayhe bukanlah orang jahat.
Si petani yang melihat di tangan Liem Tou ada dua butir mutiara yang amat berharga sekali bahkan memancarkan sinar yang berkilauan dia segera tahu kalau perkataannya sedikiipun tidak bohong, pikirnya.
Di tangannya ada mutiara yang begitu berharga buat apa dia pergi mencuri seekor kerbau?
kelihatannya apa yang diucapkannya sedikit pun tidak salah, hanya salah aku terlalu banyak curiga saja.
Berpikir sampai disini dia segera mengangguk dan minta maaf kepada diri Liem Tou, tetapi bagaimanapun juga dia tidak mau menerima pemberian dari Liem Tou sebaliknya Liem Tou pun tetap ngotot mau petani itu menerima kedua butir mutiara tersebut, akhirnya petani tua itu terdesak dan menerimanya.
Saking girangnya tidak kuasa lagi titik titik air mata menetes keluar, karena selama dia bekerja bertani sampai saat ini belum pernah mendapatkan hasil seharga dua butir mutiara tersebut.
Liem Tou melihat urusan sudah selesai dia baru menjura kembali kepada petani itu untuk memberi hormat.
Setelah urusan cayhe selesai dikerjakan aku orang baru kemari lagi, semua urusan harap Look pek suka menguruskannya.
Kepada kerbau itu diapun menepuk nepuk pundaknya.
Engkoh kerbau ujarnya.
Kau berdiamlah secara tenang tenang beberapa hari di sini kau jangan melukai orang, beberapa hari kemudian aku akan kembali lagi kesini.
Selesai berkata dia sengaja memperlihatkan kepandaiannya di hadapan petani itu agar dia baik baik merawat kerbaunya, tangannya segera digapaikan sambil berseru.
"Loo pek. ..". Belum selesai berkata tubuhnya dengan cepat berkelebat dan meloncat setinggi satu dua puluh kaki tingginya dan melanjutkan kembali kata katanya dari udara.
"Cayhe pergi dulu". Sekali lagi tubuhnya berjumpalitan di tengah udara lalu berkelebat ke depan lenyap di tengah kegelapan. Dengan kejadian itu si petani tua yang jujur itu segera menganggapnya sebagai dewa yang sudah turun dari kahyangan, saking terkejut dan girangnya dia cepat cepat memanggil bangun seluruh keluarganya dan berlutut didepan pintu untuk bersembahyang ke atas langit, bersamaan pula mereka menganggap kerbau itu sebagai malaikat yang sakti. Kita balik pada Liem Tou setelah meninggalkan rumah petani itu, saat ini pikirannya benar benar butek dan kuatir sekali atas keselamatan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, dengan cepat dia mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya dan dengan cepatnya berkelebat di tengah malam buta. Hanya di dalam sekejap saja puluhan li sudah dilewati dengan amat cepatnya, sebentar kemudian dia sudah berada di depan sebuah dusun yang amat besar. Melihat hal itu diam diam dalam hati berpikir. Perkataan dari lelaki itu apa mungkin mengartikan tempat ini??"
Berpikir akan hal ini tubuhnya dengan cepat meloncat naik ke atas atap rumah dan memeriksa di seluruh keadaan desa itu tampaklah tubuhnya dengan amat cepatnya melayang dan meloncat di atas ratusan rumah itu.
Kurang lebih seperminuman teh kemudian dia sudah memeriksa hampir sebanyak tiga kali di seluruh perkampungan tersebut tapi tidak kelihatan juga tanda tanda yang mencurigakan.
Apa mungkin tidak berada disini ?
apa di sebelah depan masih ada rumah ?
pikirnya.
Dia segera meloncat turun kembali ke atas tanah dan melanjutkan larinya menuju ke arah depan.
Mendadak dari arah selatan ditempat kejauhan terlihatlah berkelebatnya sinar lampu yang amat terang sekali, Liem Tou tidak berpikir panjang lagi dengan cepat dia berlari menuju dimana berasalnya sinar terang itu.
Tidak lama kemudian dia sudah sampai disana, kiranya tempat itu bukan lain adalah sebuah halaman bangunan yang amat besar, dikarenakan pada mulanya dia tidak melihat adanya sinar lampu karenanya tidak sampai menemukan tempat tersebut Dengan penemuannya ini dalam hati segera timbul berbagai pikiran.
Kalau cuma tempat ini saja kiranva tidak perlu membuang tenaga terlalu banyak untuk memasukinya.
demikian pikirnya didalam hati.
Dengan cepat meloncat masuk melewati tembok halaman, tembok di balik halaman tersebut adalah sebuah halaman seluas sepuluh kaki persegi dengan di atasnya masih ditumbuhi rumput yang amat lebat amat.
agaknya sudah lama sekali tidak pernah dilewati.
Liem Tou dengan cepat melewati kamar tersebut dan berhenti di depan sebuah pintu bangunan yang amat besar dan tertutup rapat, di atas pintu tampaklah dua buah kayu yang memantek pintu tersebut dengan bentuk silang dan pada waktu itulah Liem Tou baru tahu kalau tempat itu adalah sebuah bangunan rumah yang telah tak berpenghuni lagi dan membuat hatinya rada kecewa.
Tubuhnya dengan cepat meloncat naik ke atas dan memeriksa sekejap di sekeliling tempat itu melihat.
Di dalam rumah sama sekali tak ada gerak gerik yang mencurigakan dengan hati yang kecewa dia meloncat turun kembali ke atas tanah.
Dia lantas meloncat keluar dari rumah itu dan melanjutkan perjalanannya menuju kearah depan, selama perjalanan ini keadaan disekelilinguya cuma ada pegunungan belaka dan akhirnya tibalah dia di di ujung dan tidak bisa dilalui lagi.
Liem Tou jadi merasa heran, pikirnya.
Apa mungkin orang orang Kiem Tnien Pay berdiam juga di dalam gua gua gunung seperti halnya diatas puncak Ngo Lian Hong?
jika didengar dari pembicaraan Thaysu dari Siauw lim pay itu agaknya berkembangnya pengaruh Kiem Tnien pay didaerah Tionggoan masih baru bisa saja terjadi tidak lama bagaimana mungkin dengan begitu cepatnya mereka sudah berhasil menggali gua?
sebagai tempat tinggai?"
Walaupun Liem Tou tidak mau percaya terhadap apa yang dipikir di dalam hatinya itu tetapi dia mau tidak mau harus melakukan pemeriksaan juga di sekeliling pegunungan tersebutt.
dia orang sudah mengambil keputusan bagaimanapun juga keadaannya dia harus mencari si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sampai dapat.
Dengan cepat dia tarik napas panjang panjang dan salurkan hawa murninya mengelilingi tubuh, dengan amat cepatnya bagaikan berkelebatnya sinar kilat dia berlari naik ke atas gunung hingga mencapai pada puncaknya, dari sana dia memandang keempat penjuru tetapi tidak menemukan sesuatu apapun.
Saking gusarnya dia segera berlari seenak nya saja mengelilingi tempat itu, tetapi telah lama tidak menemukan sesuatu juga.
Saat ini waktu sudah menunjukkan kentongan keempat, terpaksa Liem Tou balik kembali ke perkampungan tadi untuk siap siap pada keesokan harinya bertanya kembali dengan penduduk disana apakah ada oraag asing yang mendatangi tempat tersebut.
"Kalau memangnya di tempat ini tidak ditinggali oleh orang orang asing maka sudah pasti perkataan dari lelaki itu adalah bohong, terpaksa dia orang harus pergi mencari ke tempat yang lain"
Kini tinggal satu kentongan lagi sebelon hari akan terang tanah, Liem Tou yang sudah berlari semalaman sekarang merasakan badannya amat lemah sekali, dia segera mencari pintu rumah yang rada bersih untuk beristirahat.
Jilid 21.
Tempat Persembunyian Penculik Lim Siauw Ie Karena lenyapnya si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie ditawan orang, dalam hati Liem Tou benar benar merasakan hatinya amat bingung sekali, sekalipun dia sudah bolak balik tapi tetap tidak bisa tidur juga.
Beberapa saat kemudian dia mulai merasakan matanya memberat, baru saja dia mau tertidur pulas tiba tiba ..
...
Suara Khiem yang amat merdu dengan halusnya mengalun memecahkan kesunyian, walaupun Liem Tou sama sekali tidak mengerti akan ilmu bunyi bunyian tetapi ditengah malam yang begitu sunyi mendadak berkumandang alunan Khiem, tak terasa lagi membuat hatinya merasa amat curiga sekali.
Aaah suara itu berasal dari mana?
pikirnya.
Terang terangan aku sudah memeriksa setiap rumah jangan dikata orang bermain Khiem sekalipun lampu jaga tidak kelihatan disulut, hal ini sungguh aneh sekali.
Berpikir sampai disitu dia segera menghubungkan peristiwa itu dengan orang orang dari Kiem Thien Pay, tidak terasa lagi semangatnya berkobar kembali dan meloncat dari atas tanah.
Tubuhnya dengan amat cepatnya lantas berlari menuju ke arah dimana berasalnya suara Khiem tersebut.
Tidak jauh dia meninggalkan perkampungan dia sudah bisa membedakan kalau suara Khiem itu mengalun keluar dari ruanah bangunan besar yang tak berpenghum itu Liem Toa semakin dibuat keheranan.
Dia teringat kalau bangunan besar itu sama sekali tidak berpenghuni, rumput tumbuh setinggi lutut pintu serta jendela terpantek kuat bahkan secara samar samar membawa keseraman yang mendirikan bulu roma.
Bagaimana suara khiem tersebut bisa mengalun keluar dari tempat itu?
Walaupun dia orang tidak percaya terhadap setan tak urung bulu romanya pada saat itu pada berdiri juga.
Tetapi dikarenakan urusan ini penting sekali dan mempunyai hubungan yang erat dengan lenyapnya si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dengan cepat tubuhnya melanjutkan perjalanannya kembali menuju ke dalam rumah bangunan itu.
Sesampai di depan tembok halaman dia berhenti sebentar untuk mendengarkan dari mana berasalnya suara khiem tersebut, setelah benar yakin kalau suara tersebut berasal dari dalam bangunan tubuhnya baru melayang dengan cepatnya menuju ke arah dalam.
Siapa tahu baru saja dia tiba di depan halaman suara mengalunnya khiem mendadak berhenti sama sekali.
Liem Tou jadi tertegun.
Tetapi dengan cepatnya pula dia sudah berkelebat naik ke atas atap rumah lalu meluncur ke bangunan sebelah belakang.
Dengan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun dia sudah ada di bangunan yang paling belakang di sana dia sudah menemukan sebuah kebun bunga yang amat besar sekali, ada gunungan, gardu, jembatan kolam teratai cuma saja keadaannya seperti juga di halaman depan sama sekali tidak terawat bahkan tidak tampak sesosok bayangan manusiapun.
Liem Tou segara meloncat naik ke atas gunungan dan berpikir bebarapa saat lamanya terhadap munculnya suara khiem yang secara mendadak itu dia merasa sangat tidak paham, sehingga hatinyapun terasa amat murung sekali.
Mendadak...dia menemukan di sebelah kiri dari kebun bunga itu terdapat serentetan tembok berwarna putih, di tengah tembok muncullah sebuah pintu berbentuk bulat, pikirannya segera menjadi tenang kembali.
Tubuhnya dengan cepat berkelebat menuju ke sana dia bisa melihat sebuah bangunan loteng yang amat indah sekali dengan ukiran yang menawan muncul dihadapannva, bangunan itu sangat megah dan di ke dua sampingnya tumbuh dengan sebuah pohon siong yang amat besar sekali, maka diam diam Liem Tou berpikir.
Tidak disangka ditempat yang demikian tidak terurusnya bisa muncul sebuah bangunan yang demikian indahnya, hal ini sungguh berada di luar dugaan.
Dia lantas meloncat naik keatas loteng dan memeriksa keadaan di sekitar tempat itu, tampak pintu serta jendela tertutup rapat, sama sekali tidak menemukan sesuatu apapun, dia meloncat pula ke atas pohon siong yang lebat itu dan memeriksa kembali dengan telitinya, tetapi tetap saja tidak tampak adanya tanda-tanda yang mencurigakan.
Jikalau ditinjau dari keadaan ini jelas sekali tempat ini suduh tak berpenghuni lagi, tidak di sangka dalam setengah malaman dia harus menubruk angin saja, sungguh menggelikan sekali.
Berpikir akan hal ini semangat Liem Tou pun mengendor kembali, dengan lemasnya dia meloncat turun kepermukaan tanah lalu kembali ke desa dengan langkah perlahan.
Sesampainya didusun sinar surya sudah muncul di ufuk sebelah barat, orang dusun pun sudah mulai bangun dan pada berangkat bekerja.
Liem Tou yang masih tetap menaruh curiga terhadap perkampungan tersebut kepada seorang petani yang hendak ke sawah dia menanyakan bangunan rumah itu.
Orang itu ketika mendengar Liem Tou menanyakan bangunan itu dia melirik sekejap ke arahnya lantas dengan tidak semangat sahutnya.
"Rumah setan."
Sewaktu Liem Tou hendak bertanya kembali orang itu tanpa menoleh lagi sudah melanjut kembali perjalanannya menuju ke depan.
Liem Tou tidak bisa berbuat apa apa lagi sesampainya di dalam dusun itu dia berjalan masuk ke sebuah rumah makan yang baru saja buka pintu.
Ketika pelayan rumah makan itu melibat Liem Tou berjalan masuk ke kedainye dengan agak tertegun dia segera bertanya.
"Khek koan kau datang sebegitu paginya kami tak ada barang yang bisa dijual."
"Tidak mengapa"
Sahut Liem Tou sambil tertawa. Aku mau menunggu sampai kalian ada makanan yang dijual. Dia berhenti sebentar untuk tukar napas lalu tanyanya lagi.
"Dagangan dari kalian dalam waktu dekat ini tentunya ramai bukan ?"
Maksud Liem Tou dia ingin memancing jawaban dari pelayan itu apakah di tempat ini telah kedatangan orang asing.
Pelayan itu agak melengak.
Perkataan dari Khek koan terlalu berlebihan dagangan kedai kami sepi sekali bahkan boleh dikata pada waktu waktu dekat ini sama sekali tidak ada dagangan..Heeei ..tahun ini dagangan sungguh amat sepi sekali.
Berbicara sampai disini dia menghela napas lagi dengan perlahan.
Eeei ..aku dengar pada beberapa hari ini ada banyak orang asing yang datang kemari dan menginap di bangunan rumah besar itu, apa kau tidak pernah mendengar?
tiba tiba kata Liem Tou dengan wajah serius.
Mendengar perkataan tersebut, dengan sepasang mata melotot lebar lebar pelayan itu lama sekali memperhatikan diri Liem Tou.
"Siapa yang bilang?"
Tanyanya.
Sejak tiga tahun yang lalu Cing Hoa Cung sudah tak ada yang berani tinggali lagi, katanya ada siluman rase yang main gila di sana, pada hari yang lalu bahkan ada yang melihat siluman rase itu main Khiem di bawah sorotan sinar bulan purnama katanya siluman rase itu adalah seorang gadis yang amat cantik sekali.
Mendengar omongan itu diam diam dalam hati Liem Tou berpikir.
Apa sungguh sungguh terjadi urusan ini???
Hmm, aku Liem Tou tidak akan mau percaya omongan tersebut, malam ini aku harus pergi ke sana untuK mengadakan penyelidikan, sekali pun dia adalah siluman rase, setan atau iblis aku juga harus melihatnya sampai jelas.
Satelah mengambil keputusan didalam hati dia pun tidak bertanya lebih lanjut, denpan tenangnya dia menanti adanya makanan yang dihidangkan kepadanya.
Selesai itu dia baru melanjutkan perjalanannya menuju ke arah timur dan duduk beristirahat di bawah sebuah pohon besar di bawah kaki gunung.
Malamnya dia kembali lagi ke perkampungan tersebut, kurang lebih setelah kentongan kedua suara khiem yang muncul dari dalam perkampungan Cing Hoa Cung tersebut mulailah mengalun kembali dengan tenangnya, walaupun suara khiem itu amat halus merdu dan enak didengar tetapi membawakan nada yang amat sedih sekali, saking sedihnya sampai Liem Tou pun bisa merasakan.
Dia sudah hafal dengan jalan di sana, hanya di dalam sekejap saja sudah tiba di depan perkampungan tersebut dan meloncat melewati tembok pekarangan langsung menuju ke kebun belakang, setelah itu dengan langkah yang amat perlahan baru berjalan melewati pintu bundar tersebut.
Tubuhnya bersembunyi di tempat kegelapan, dengan meminjam sinar rembulan yang samar dia memandang keatas.
Seketika itu juga tampaklah seorang gadis dengan rambut yang terurai panjang sedang duduk di atas loteng tersebut bermain khiem, jari jari tangannya yang putih dan halus seperti salju dengan tak henti hentinya bergerak diantara tali khiem, kepalanya di dongakkan ke atas memandang rembulan sehingga keadaannya amat mempesonakan.
Tidak lama kemudian sembari bermain khiem dia mulai menyanyi dengan suaranya yang amat merdu.
Angin malam bertiup menyapu bintang.
Duduk termenung di atas loteng menanti kekasih.
Sepasang burung hong terbang berpasangan.
Membuat hati terasa amat sedih...
Liem Tou dapat melihat seluruh keadaan itu dengan amat jelas sekali, dia tidak ragu ragu lagi kalau orang itu adalah seorang gadis benar, dia tahu cepat atau lambat tentu dirinya akan menganggu dia orang juga kerena itu jauh iebih baik munculkan dirinya pada saat ini juga.
berpikir sampai disitu dia orang lantas munculkan dirinya ke tempat yang lebih terang, lalu dengan hormatnya dia menjura kearah sang gadis yang ada diatas loteng itu Siauwseng Liem Tou tidak sengaja datang kemari sehingga bisa melihat kecantikan wajah nona, sungguh merupakan satu keberuntungan selama hidupku, ujarnya dengan perlahan.
Liem Tou sebetulnya adalah seorang lelaki sejati yang berhati polos suka berterus tersng, saat ini dia harus memperlihatkan sikap yang ramah taman dan menarik perhatian perempuan tidak urung kelihatan kaku juga, sekali pun wajahnya amat tampan tetapi senyuman yang menghias bibirnya pada saat ini jauh lebih mirip dengan keadaan seorang desa yang merasa malu.
Begitu suara dan Liem Tou berkumandang ke luar agaknya perempuan yaag ada di atas loteng merasa sangat terkejut sekali, suara khiemnya mendadak bernenii lalu dia tunjukkan kepalanya memandang ke arah Liem Tou dengan menggunakan sepasang matanya yang amat jeli itu.
Dengan gugup sekali Liem Tou menjura.
"Malam ini Siauw seng bisa menemui wajah nona. dalam hati aku merasa kagum sekali entah siapakah nama nona itu ? Dapatkah di beri tahukan ? Semula gadis itu memang rada terkejut tetapi saat ini sewaktu melihat keadaan Liem Tou yang sangat lucu sekali tidak tertahan lagi dia tertawa geli sehingga kelihatan sebaris gigi yang putih bersih, dengan perlahan dia putar badannya dan lenyap di balik loteng.
"Asal aku tahu kau berada dimana apa kau kira kau bisa meloloskan diri ?"
Pikir Liem Tou di dalam hatinya.
Kau orang adalah siluman rase atau setan aku pasti akan menyelidikinya sampai jelas.
Berpikir sampai di sini dengan menyalurkan hawa murninya melindungi seluruh tubuh dan menyilangkan telapak tangannya di depan dada tubuhnya deagan gaya bangau sakti menembus awan dengan cepat meluncur naik ke atas loteng itu.
Siapa tahu baru saja tubuhnya hampir mencapai permukaan loteng terdengarlah perempuan itu sudah memaki sambil tertawa.
"Dari mana datang seorang lelaki bau, ayob cepat menggelinding dari kamar nonamu"
Bersamaan dengan kata katanya itu Liem Tou segera merasakan adanya segulung angin pukulan yang amat keras sekali menghajar badannya.
Walaupun di dalam hati diam diam dia merasa amat terperanjat tetapi pikirannya juga di dalam hati.
Dengan mengandalkan kau seorang perempuan apa bisa menahan serangan dari diriku?"
Ternyata dia orang sama sekali tidak menghindarkan diri dari datangnya serangan yang menghajar dadanya itu, telapak tangan yang di pentangkan di depan dada dengan keras lawan keras menerima datangnya serangan tersebut.
Dua gulung angin pukulan yang amat dahsyat segera bertemu di tengah angkasa, akhirnya Liem Tou yang sepasang kakinya belum menempel tanah terkena getaran dari pihak lawan sehingga berjumpalitan melayang turun kembali, keatas tanah..
Diikuti belum sampai badannya mencapai tanah sekali lagi dia bersalto di tengah udara kemudian baru melayang dengan tenangnya ke atas tanah.
Sungguh berbahaya, seru Liem Toa diam diam.
Dengan termangu mangu dia berdiri tertegun di sana beberapa saat lamanya, dia cuma merasakan perbagai macam persoalan bersama sama memenuhi benaknya, pikirnya kembali.
Sungguh lihay orang itu, aku dengar siluman rase cuma bisa melatih ilmu ilmu yang tidak bisa mati tetapi apakah merekapun bisa berhasil melatih ilmu Iweekang untuk melindungi badan dan menyerang orang.
Liem Tou yang menerima serangan tadi dengan keras lawan keras segera merasakan kalau pihak lawan sama sekali tidak menggunakan ilmu hitam lainnya tetapi tertahan oleh ilmu pukulan dengan tenaga khiekang yang amat dahsyat, karenanya dia merasa kebingungan.
Lama sekali dia berdiri termangu di atas tanah keadaannya seperti juga seseorang yang dimasuki oleh setan.
Pada saat Liem Tou berdiri tertegun dai tidak paham atas beberapa persoalan yang membingungkan hatinya itulah mendadak pandangannya menjadi terang benderang, diatas loteng itu mendadak tampak lampu yang menerangi seluruh ruangan.
Liem Tou segera mendongakkan kepalannyi memandang tampaklah sekalipun pintu serta jendela dari loteng itu masih tertutup tetap dsri celah celah yang agak besar serta dari bilik korden dia melihat munculnya bcberaps dosok bayangan perempuan dengan rambutnys yang terurai panjang.
Dalam hati Liem Tou jadi terperanjat, pikirnya.
Bagaimana hanya di dalam sekejap saja sudah muncul empat orang perempuan??
tempat ini sungguh berbau hawa setan.
Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak terdengarlah suara kbiem itu berkumandang kembali disusul dengan suara alunan seruling yang amat merdu mengiringinya.
Liem Ton yang mendengar suara seruling itu segera merasa kalau seruling itu bukan lain berasal dari seruling pualam milik si gadis cantik pengangon kambing, tidak terasa lagi semangatnya berkobar kembali, gumamnya seorang diri.
Liem Tou ..Liem Tou..malam ini untuk pertama kalinya kau bertemu dengan musuh tangguh, tidak perduli dia orang siluman rase atau malaikat iblis yang bigaimana lihaynya pun malam ini kau harus pergi mencoba ilmunya.
Setelah mengambil keputusan ini dia segera bersiap untuk meloncat kembali ke atas loteng.
Pada saat itulah pintu serta jendela dari loteng itu mendadak terpentang lebar.
Lism Tou merasa matanya agak silau kemudian jelaslah si gadis cantik pengangon kambing serta Li -Siauw Ie berada di antara keempat orang perempuan itu.
Pada tangan dari gadis cantik pengangon kambing mencekal seruling pualamnya, tatapi dia tidak meniupnya melainkan cuma dipegang ditangannya saja.
Urusan ini benar benar berada diluar dugaan Liem Tou semula membuat dia menjadi sangat terperanjat sekali dengan cepat dia mengirimkan ilmu untuk menyampaikan suaranya bertanya depada si gadis cantik pengangon kan bing serta Lie Siauw Ie.
Ie cici, Wan moay moay bagaimana kau bisa ada disini?
siapakah kedua orang perempuan itu.
Sembari berkata sepasang matanya dengan amat tajam sekali memperhatikan diri si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie melihat mereka berdua itu sama sekali tidak memberikan jawabannya bahkan si gadis cantik pengangon kambing yang memegang seruling itu duduk seperti patung, dalam hati dia jadi amat kaget.
Liem Tou yang melihat kejadian itu semakin lama merasa keadaan semakin tidak beres, dengan cepat dia membentak keras.
Ie cici, Wan moay moay.
Bagaikan bertiupnya angin taufan yang berlalu dengan amat cepat tubuhnya meloncat naik ke atas loteng kemudian menubruk Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing.
Gadis berambut panjang yang ada di sebelah kanan mendadak bangun bsrdiri.
Mereka berdua cuma tertotok tidur pulas saja, bust apa kau orang begitu cemasnya ?
Ujarnya sambil mengibaskan kedua tangannya.
Liem Tou segera merasakan tekanan sagulung angin yang amat dahsyat seperti semula menahan gerakannya untuk mendekati diri Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing itu.
Dia yang mendengarkan kedua orang itu cuma tertotok tidur, di dalam hati segera rada lega juga.
Terhadap datangnya serangan dari si gadis yang amat dahsyat itu dia tak berpikir panjang lagi, mendadak telapak tangannya di dorong ke depan sehingga terasalah segulung angin pukulan laksana menggulungnya ombak di tengah samudra dengan dahsyatnya menekan gadis itu.
Kau manusia atau setan??"
Bentaknya keras Agaknya gadis itu tahu kalau serangan dari Liem Tou itu amat dahsyat sekali sehingga tidak berani menyambut dengan keras lawan keras, tubuhnya segera menyingkir ke samping menghindarkan diri dari serangan tersebut bersamaan pula dia menarik seorang perempuan berbaju hijau yang lantas berdiri di samping.
Piaak.
, ."pukulan dari Liem Tou seketika itu juga menghajar di atas jendela berukir diatas loteng itu sehingga hancur berantakan.
Melihat hal itu si gadis segera tertawa dingin.
Kalau mau berkelahi benar benar siapa yang takut dengan dirimu??
buat apa kau orang memperlihatkan kelihayan dihadapanku??"
Liem Tou segera putar badannya siap melancarkan serangannya kembali, tetapi secara tiba tiba dia menyadari kalau perempuan berbaju hijau itu bukan lain adalah Toa Kong cu dari Kiem Ihien pay, Ciang Beng Hu yang tempo hari sudah terluka di bawah serangannya.
Sewaktu dia memandang pula ke arah gadis yang rambutnya terurai ke bawah itu mendadak dia merasa kalau dia orang pernah bertemu dengan dirinya di suatu tempat.
Saat ini perempuan dengan rambut terurai ke bawah itu sudah membereskan rambutnya ke belakang dan melepaskan pakaian luarnya sehingga tampaklah pakaian singsat berwarna hitamnya dengan sebuah medali tergantung didepan dadanya.
Seketika Itu juga Liem Tou menjadi sadar kembali, mendadak dia tertawa terbahak bahak.
Sungguh tajam sekali perasaanmu .
.haa..haa haa, kiranya adalah kau seorang.
Perempuan itu memangnya si perempnsn tunggal Touw Hong adanya, mendengar perkataan itu tak terasa lagi wajahnya berubah memerah tetapi di dalam sekejap saja sudah lenyap kembali seperti biasa.
Kalau memang aku adanya kau orang mau berbuat apa?
tanyanya dingin.
Aku kira dengan menyaru sebagai siluman rase bisa menakuti diriku??
tanya Liem Tou sambil tertawa dingin.
Tetapi sebentar kemudian di dalam benaknya, sudah berkelebat kembali satu ingatan.
Aku orung kenapa tidak menggunakan medali yang sama untuk membuat dia orang menjadi gusar ?
Segera ujarnya lagi.
Kau kira setelah menggantungkan medali perak itu lantas boleh unjuk gigi di depan orang lain ?
Heee .
heee .
sungguh menggelikan sekali, kau kira barang itu menarik hati?"
Sembari berkata dari dalam sakunya ia mengambil medali perak yang ditemunya didaiam rumah yang besar di atas gunung Wu san itu lantas digantungkan di depan dadanya.
Di atas medali perak itu terukir juga sebuah gambar burung houg berkaki tunggal persis dengan yang digantungkan di depan dada perempuan tunggal Touw Hong itu, cuma yang tidak sama yang satu pincang kaki kanannya sedang yang lain pincang kaki kirinya.
Si perempuan tunggal Touw Hong sewaktu melihat medali perak yang tergantung di depan dada Liem Tou itu mukanya segera berubah sangat hebat, diikuti air mata mengucur keluar dengan derasnya.
Mendadak dari empat penjuru loteng tersebut terdengar suitan yang saling sahut menyahut memenuhi angkasa, belum sempat Liem Tou berpikir lebih panjang lagi.
Sret ..Sreet, .
di dalam sekejap saja terlibatlah berpuluh puluh sosok bayangan manusia dengan cepatnya melayang ke atas loteng dan mengepung tempat itu rapat rapat.
Setelah orang itu berdiri tegak, Liem Tou segera dapat mengenali kalau orang orang itu bukan lain adalah Auw Hay Ong Bo si jari beracun jarum emas, si rase salju, si pembesar buta, si hweesio mayat hidup, si pengemis liar serta seorang manusia tinggi besar yang berjubah lebar bersulamkan naga emas di bawah lindungan empat orang lelaki berbaju hitam yang menyoren pedang pada pinggangnya.
Si orang tua berjubah sulaman naga emas itu berumur kurang lebih lima puluh tahunan dengan alis yang tebal, mata bulat besar, cambang memenuhi seluruh wajah, keningnya menonjol ke depan jelas dia memilik tenaga dalam yang amat lihat sekali, sepasang matanya amat tajam dan memancarkan sinar yang berkilauan sehingga membuat orang yang melihat merasa bergidik.
Pada ujung bibirnya tersungginglah satu senyuman dingin dan memandang ke arah Liem Tou dengan gusar.
Keempat orang lelaki berjubah hitam yang ada dibelakangnya mempunyai wajah yang tampan, yang usianya belum sampai dua puluh tahun.
Tetapi keempat orang itupun memandang ke arah Liem Tou dengan pandangan yang amat gusar, nafsu membunuh menyelimuti wajahnya empat pasang mata dengan mengandung ras benci yang meluap luap memandang ke arahnya tanpa berkedip.
Liem Tou yang melihat situasi dihadapannya pada saat ini segera mengetahui kalau mereka sengaja datang mencari gara gara dengan dirinya di dalam hati diam dia dia merasa sedikit tergetar juga, dia tahu dirinya sudah masuk ke dalam jebakan musuh karenanya seluruh perhatiannya segera dipusatkan untuk menghadapi musuh.
"Saudara sekalian harap tahan dulu, aku ada perkataan yang mau ditanyakan kepada dia orang"
Seru si perempuan tunggal Touw Hong secara tiba tiba sambil melelehkan air mata.
Sehabis berkata dia melirik sekejap kearah si kakek berjubah sulam naga emas serta Auw Hay Ong Bo dua orang, sekalipun mereka nerdia agak ragu ragu dan keberatan tetapi bersama sama mengangguk juga.
Setelah melihat mereka setuju perempuan tunggal Touw Hong dengan cepat segera menuding ke atas medali perak yang tergantung di dada Liem Tou dan tanyanya.
Liem Tou, kau dapatkan benda itu dari mana?
Liem Tou tahu kalau medali perak itu ada sangkut paut dan hubungan yang sangat erat dengan sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap ke arahnya lantas balik tanya dengai suara yang amat dingin.
Lalu kau sendiri dapatkan barang itu dari mana?"
Si perempuan tunggal Touw Hong sama sekali tidak menyangka kalau Liem Toa bisa balik bertanya kepadanya dia agak melengak.
Kau tanya aku, sudah tentu barang ini adalah milikku.
Medali perak ini ada di badanku, sudah tentu milikku juga.
Sembari berkata dengan cepatnya dia bergeser ke samping badan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.
Segera terdengarlah dari antara orang yang mengepung dirinya ada yang berkata dengan suara yang perlahan.
He ..he ..lihatlah si malaikat tanah mau menyebrang sungai, untuk melindungi dirinya saja tidak sanggup dia masih mau menolong orang lain.
Liem Tou tidak ambil gubris dia melirik sekejap ke arah si perempuan tunggal Touw Hong dia menduga dia orang tentu marah.
Siapa tahu si perempuan tunggal Touw Hong cuma tertawa saja kepada dirinya sehingga kelihatan sangat menggiurkan sekali.
Liem Tou baru untuk pertama kalinya melihat si perempuan tunggal Touw Hong ini memperlihatkann seanyumnya dengan memakai pakaian singsat berwarna hitam, dia merasa mungkin sekali di balik senyumannya ini tersembunyi suatu siasat licik, karenanya dia orang segera mengerahkan tenaga dalamnya siap siap menghadapi segala kemungkinan Kalau begitu kau adalah putra dari enciku ujar si perempuan tunggal Touw Hong sambil tartawa manis Kalau bsgitu aku adalah bibimu lalu kenapa kau orang she Lie bukannya she Sun??
Begitu perkataan dari si perempuan tunggal itu diucapkan keluar, Auw Hay Ong sekalian yang mengerubuti tempat itu dengan mata yang terbelalak lebar segera memandang diri si perempuan tunggal itu dengan rasa amat terperanjat, tetapi di antara mereka siapapun tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun, pandangannya dengan perlahan dia memperhatikan wajah Liem Tou menantikan jawabannya.
Si perempuan tunggal pun bisa melihat bagaimana rasa takut orang orang itu atas jawaban yang diberikan oleh Liem Tou, wajahnya dengan perlahan dialihkan ke arah si kakek berjubah sulaman naga emas itu.
Bilamana Liem Tou benar benar adalah saudaraku maka dendam atas terbunuhnya putrimu terpaksa kau orang harus membalasnya sendiri, ujarnya sambil tertawa.
Dengan perlahan si kakek tua berjubah sulaman naga emas itu menyapu sekeliling tempat itu mendadak dia tertawa serak.
Dendam ada penyebabnya, hutang ada pemilik nya.
Hu ji kami bukannya teriuka ditanganmu bagaimana dendam ini bisa ditempuh pada diri nona Hong?
apalagi kami orang orang dari Kiem Thien pay pun berani datang dengan terus terang tentunya berani menghadapinya sendiri, lebih baik nona Hong jangan omong geguyon.
Sembari berkata dia memperlihatkan satu senyuman yang amat seram sekali.
Liem Tou yang mendengar dia berbicara begitu, saat itulah baru tahu kalau si kakek tua berjubah sulaman naga emas itu bukan lain adalah ciangbunjeu dari Kicm Thien pay.
Auw Hay Ong Ciang Cau adanya, dia sama sekali tidak menyangka kalau orang yang mempunyai wajah alim itu ternyata mempunyai hati yang licik sukar untuk diduga, cukup dari senyuman serta pembicaraannya saja Liem Tou bisa menduga delapan sembilan bagian.
Si perempuan tunggal Touw Hong sewaktu mendengar perkataan dari Auw Hay Ong itu Air mukanya segera berubah jadi adem.
Ciss..,perkataanku sama sekali bukan omongan guyon belaka, ujarnya dengan serius.
Terus terang saja aku beritahukan kepadamu.aku bisa turun gunung semuanya dikarenakan atas undanganmu untuk datang ke daerah Tionggoan dengan menggantungkan medali perak ini.
Tetapi yang didapatkan bukannya mencari ciciku melainkan cari gara gara terus sekarang medali perak dari ciciku sudah muncul sudah tentu berarti juga aku telah menemukan separuh dari ciciku sejak kini aku pun tidak usah menemui banyak urusan lagi.
Liem Tou sama sekeli tidak menyangka kalau medali perak itu bisa menghapuskan ikatan musuh dengan perempuan tunggal ini, tetapi dia mana mungkin adalah putra dari cicinya?
yang dimaksudkan sebagai cicinya itu kemungkinan sekali adalah perempuan berbaju putih yang ditemuinya di dalam rumah besar diatas gunung wusan itu, dia orang sudah menyanggupi untuk menceritakan satu satunya putra kesayangannya Sun Ci Sie bahkan mendapat beban juga untuk memberitahu kepadanya kalau musuh besarnya adalah Kioe Lang Wau Kauw sungguh tidak disangka sama sekali ternyata ini hari dia orang sudah dianggap sebagai Sun Ci Sie bukankah satu kesusahan dditambahi dengan satu kesalahan lagi?"
Sebetulnya dia orang mau memberitahu keadaan yang sesungguhnya kepada perempuan itu tetapi di dalam sekejap saja dia melihat air muka Auw Hay Ong serta Auw Hay Ong Bo berubah amat hebat.
"Sekarang perkataanku sudah aku ucapkan dengan jelas terdengar si perempuan tunggal Touw Hong melanjutkan kembali kata katanya dengan amat dingin. Siapa saja diantara kalian kalau ada yang berani mengganggu seujung rambutnya aku segera turun tangan membinasakan dirinya. Liem Tou yang mendengar perkataan itu diam diam merasa geli, dengan mengambil kesempatan ini dia bergeser kembali dua langkah ke belakang. Waktu itulah dia bisa melihat keadaan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, wajah mereka tenang tenang saja dan berwarna merah padam, sedikitpun tidak kelihatan luka. Tujuan kedatangannya kali ini sebetulnya memang ingin menolong kedua orang itu tetapi jikalau mereka tertidur terus dengan nyenyaknya dia harus menolong mereka dengan apa?? baru saja dia orang hendak menyadarkan kedua orang itu mendadak terdengar si peremnuan tunggal Touw Hong sudah berkata kembali. Liem Tou. dimanakah ibumu? ? Aku tidak punya ibu, sahut Liem Tou sembari menoleh ke arahnya. Tangan kanannya dengan cepat ditepukkan ke atas punggung diri si gadis cantik pengangon kambing. Mendadak dari samping badannya bergulung mendatang serentetan hawa pukulan yang amat dahsyat sekali menghajar badannya, dengan tergesa gesa Liem Tou kirim satu pukulan menangkisnya. Tahan, terdengar si Auw Hay Ong berteriak keras. Kemudian kepada si perempuan tunggul ujarnya. Perkataan dari nona Hong sedikitpun tidak salah, tetapi jikalau dia orang adalah putra dari encimu kenapa sama sekali tidak kelihatan terharu? apa mungkin ini hanya siasatnya saja? nona Hoag kau orang jangan sampai termakan siasatnya. Mendengar perkataan tersebut si perempuan tunggal Touw Hong sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun dengan perlahan dia berjalan kurang lebih beberapa depa di depan Liem Tou. Liem Tou, ujarnya kembali. Sebetulnya apa betul medali perak itu kau dapatkan dari ibumu? Dalam hati Liem Tou tahu kalau malam ini urusan tidak bisa diselesaikan dengan mudah, jikalau tebalkan muka dia mengaku sebagai anak oraag lain bukankah urusan ini sangat memalukan sekali? tetapi diapun tabu jikalau dia orang berbicara terus terang kemungkinan sekali si perempuan tunggal itu segera akan mmenganggap musuh dengan dirinya. Kepandaian silat dari parenpum ini sangat tinggi sekali, Walaupun dia orang sama sekali tidak takut dengan dirinya tetapi untuk turun tangan menolong si gadis cantik pengangon kambing dan Lie Siauw Ie tentu bakal menemui kesukaran. Tidak terasa lagi Liem Toa termenung dan berpikir keras.
"Kau orang minta aku beritahu soal apa??"
Akhirnya dia berkata juga sambil angkat kepalanya.
Sepasang mata dari Si perempuan tunggal itu dengan tajamnya memperhatikan dirinya terus, sedang semua jago yang ada disekeliling tempat itupun pada melototi dirinya dengan tajam, hai ini membuat Liem Tou agak bergidik juga.
"Aku mau kau orang ngonaong terus terang"
Sahut si perempuan tunggal Touw Hong dengan cepat.
"Baiklah"
Sahut Liem Tou kemudian tidak ragu ragu lagi.
Aku memperoleh medali perak ini dari dada sebuah kerangka manusia.
Mendengar perkataan tersebut si perempuan tunggal Touw Hong merasakan kepalanya seperti dipukul dengan martil besar, seperti juga disambar petir di siang hari bolong, segera dia berteriak kalap.
"Liem Tou, kau ulangi sekali lagi"
Medali perak itu aku dapatk in di atas dada sebuah kerangka manusia di atas pegunungan yang amat sunyi.
Seketika itu juga si perempuan tunggal Touw Hong menangis tersedu sedu air matanya mengucur keluar dengan derasnya sehingga laksana air sungai Tiang Kang yang meluap.
"Ah .. dialah ciciku ..dialah ciciku ooh ..cici, kiranya kau orang sudah meninggal, aku sampai sekarang masih mencari dirimu"
Teriaknya dengan sedih.
Sembari menangis dia berteriak teriak dengan amat kerasnya, seketika itu juga membuat semua orang dari Kiem Tian Pay yang berada disekeliling tempat itu menjadi tertegun.
Dengan mengambil kesempatan itu Liem Tou segera maju lagi satu langkah menepuk sadar diri si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.
Baru saja kedua orang itu menjerit kaget dan sadar kembali dari pulasnya pada saat yang bersamaan pula terdengar si perempuan tunggal Touw Hong sudah berteriak gusar.
"Liem Tou kau sudah mencelakai ciciku!"
Baru saja Liem Tou mau membantah mendadak dia merasakan adanya segulung angin pukulan yang amat dahsyat sekali menggulimg datang.
Liem Tou sama sekah tidak menduga kalau si perempuan tunggal Touw Hong bsa melancarka serangan dengan begitu cepatnya.
Jikalau dia menghindarkan diri tentu si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang berada di belakangnya akan terkena serangan tersebut, terpaksa dia kirim satu pukulan juga menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Dua gulung angin pukulan segera bertemu di tengah udara.
Braaak seketika itu juga angin topan melanda seluruh loteng membuat atap serta jendela pada beterbangan.
Para jago yang hadir di sanapun tidak terasa pada berubah air mukanya.
Walaupun Liem Tou tahu kedudukan dari pihak musuh amat tangguh sekali, teapi melihat keberangasan dari si perempuan tunggal Touw Hong tidak terasa menjadi gusar juga, sepasang matanya melotot lebar lebar memancarkan sinar yang amat tajam, diapun membentak dengan keras.
Nona Touw Hong sungguh ganas dan berangasannya, mungkin orang orang Kiem Thien Pay takut akan dirimu, tetapi aku Liem Tou sama sekali tidak akan takut kepadamu.
Sambil berkata dia menyapu sekejap ke arah sekeliling tempat itu, ketika dilihatnya sepasang mata dari Auw Hay Ong serta Auw Hay Ong Bo sedang memandangi dirinya dengan amat gusar dia segera tertawa dingin.
"Hmmm... He...he..."
Liem Tou, tiba tiba terdengar seseorang berseru sambil tertawa serem.
Kau orang tidakusah memperlihatkan sifatmu yang begitu keren, jangan dikata kau adalah panglima yang pernah dikalahkan ditangan kamu sekalipun bukan, dihadapan kami orang kau janganlah harap bisa bermain gila.
Sambil berkata dia berjalan keluar dari barisan dan sambungnya lagi.
Biarlah aku menjajal kepadaian silat dari kawan yang sudah setahun tidak bertemu muka, apakah ketajaman lidahnya sesuai dengan kepandaian yang dimilikinya.
Liem Tou dengan cepat putar kepalanya memandang ke arah senjata orang itu, ternyata bukan lain adalah si jari beracun jarum Song Ceng lam, melihat wajah yang menyengir kejam serta senyuman dingin yang menghiasi bibirnya diam diam di dalam hatinya merasa terperanjat.
Bajingan cilik, makinya di dalam bati.
Malam ini jikalau kau orang kembali lolos dari tanganku makan orang tidak akan she Liem lagi.
Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat wajah orang itu amat seram, karena takut Liem Tou kena kecundang di tangannya dia orang segera memberi peringatan.
Liem koko, serunya dengan keras.
Biarlah Siauw moay yang menyambut orang itu, aku mau lihat dia orang mempunya kepadaian berapa tingginya.
Musuh tangguh ada di depan mata, nanti kaupun akan mendapat bagian, ujar Liem Tou segera dengan wajah serius.
Lebih baik kau berjaga jaga terhadap dirimu, janganlah sampai dipecundangi orang lain dengan pinjam kesempatan ini, urusan yang ada disini lebih baik kau jangan ikut campur.
Tou titi, kau lebih baik jangan menempuh bahaya, terdengar Lie Siauw Ie memberi peringatan pula.
Ie cici, Wan moay moay terima kasih atas rasa kuatir kalian, teriak Liem Tou dengan keras.
Aku seorang lelaki sejati kenapa harus takut menempuh bahaya??
Hey orang She Song kalu kau benar benar punya kepadaian ayohh keluarkan, aku Liem Tou akan mengalah tiga jurus kepadamu.
Si jari beracun jarum emas, Song Beng lan segera mendengus dengan amat dinginnya, mendadak tubuhnya maju dua langkah ke depan, telapak kiri serta kepalan tangan kanannya dengan amat dahsyat dipentangkan melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar dada dari Liem Tou, sedang yang lain mengancam jalan darah diatas keningnya.
Liem Tou dengan cepat menggeserkan badannya ke samping tanpa mengubah kedudukan kakinya yang semula, dengan amat mudahnya dia berhasil menghindarkan diri dari serangan tersebut.
Si jari beracun jarum emas dengan cepatnya mengubah serangannya, telapak tangan kanannya mendadak berubah jadi totokan bagaikan kilat cepatnya menghajar pusar dari Liem Tou sedangkan tangannya yang sebelah lagi mengambil kesempatan itu meraup segenggam senjata rahasia.
Liem Tou yang melihat hal itu cuma mendengus dingin saja, dengan cepat dia menarik dadanya kebelakang menghindarkan diri dari serangan tersebut.
Si jari beracun emas yang melihat jari tangannya yang hampir mengenai dada Liem Tou mendadak hanya mencapai sasaran yang kosong, dia menjadi amat gusar sekali.
Liem Tou, teriaknya dengan gusar, saat kematianmu sudah tiba, hari ini pada setahun kemudian adalah ulang tahunmu yang pertama dari kematianmu.
Sewaktu dia orang melancarkan jurus yang kedua itu, Liem Tou sudah mengadakan persiapan.
Diapun segera tertawa dingin.
Aku k'ra belum tentu"
Sahutnya.
Tenaga sakti yang ada di badannya segera disalurkan mengelilingi seluruh tubuh lantas teriaknya dengan keras.
Ie cici, Wan Moay Moay.
baik baiklah kalian berjaga diri.
Tidak berpikir panjang lagi, bukannya tidak menghindar bahkan dia memapaki datangnya serangan dahsyat yang dilancarkan oleh Song Beng Lan itu.
Tubuhnya segera melayang ke atas udara ternyata jarum jarum racun yang dilancarkan oleh Song Beng Lan sama sekali tidak berguna terhadap dirinya membuat Auw Hay Ong Bo yang melihat jelas keadaan itu segera berteriak kaget.
Belum sempat dia memberikan pertolongannya, Liem Tou yang ada diatas udara sudah berhasil mencengkram belakang leher dari Song Beng Lan lantas putar setengah lingkaran di tengah udara dan melayang turun kembali ke atas permukaan tanah.
Dia orang lantas kirim satu senyuman mengejek ke arash si perempuan tunggal Touw Hong, Auw Hay Ong serta Auw Hay Ong Bo.
Beberapa orang itu ketika melihat Liem Tou hanya di dalam sekali gebrak saja sudah berhasil menguasai diri Song Beng Lan, dalam hati merasa terperanjat sekali mereka sama sekali bukannya kaget karena keselamatan dari Song Beng Lan terancam melainkan karena melihat ilmu sakti dari Liem Tou yang sama sekali tidak takut terhadap serangan jarum emas itu.
Liem Tou yang melihat orang orang itu memandang kearahnya dengan termangu mangu segera mengetahui kalau ada orang turun tangan membinasakan Song Beng Lan maka para jago lainnya segera akan turun tangan mengerubuti dirinya, tetapi sejak tadi dia orang sudah mengambil keputusan untuk membinasan si jari beracun emas ini.
Sudah tentu dia tidak mau melepaskan dirinya dengan begitu saja.
Berpikir akan hal itu napsu untuk membunuh segera menyelimuti wajahnya, pikirnya kembali.
Jikalau ini hari aku tidak mengobrak abrik mereka sehingga kacau balau, tentu mereka masih mengira aku Liem Tou adalah seorang manusia yang mudah dipermainkan.
Dia segera menggigit kencang bibirnya lantas berteriak dengan amat keras.
"Hey orang orang Kiem Thien Pay kalian dengarlah semua, sakit hati ada panyebabnya hutang ada pemiliknya, kalian lebih baik turun tangan bersama sama saja."
Dsngaa cepat dia mencekal ujung kaki dari Song Beng Lan dan digunakan sebagai senjata yang secara tiba tiba dibabat dari arah Auw Hay Ong dari Kiem Thien Pay itu.
Dengan perbuatannya Ini seketika itu juga memancing rasa gusar dari seluruh oraag Khiem Thien pay terdengarlah suara bentakan gusar dari seluruh orang Khiem Thien Pay terdengarlah suara bentakan gusar memenuhi seluruh angkasa disusul berkelebatnya sinar tajam yang menyilaukan mata.
Berbagai senjata tajam segera pada menyerang dari empat penjuru.
Dengan amat lincahnya Liem Tou mengobat ngabitkan tubuh si jari beracun jarum emas untuk menerjang ke kanan menghajar ke kiri, lagaknya mirip sekali dengan singa ganas yang terlepas dari kandangnya.
Siapa saja yang berani mendekati badannya seketika itu juga akan terhajar oleh serangannya membuat orang orang dari Kiem Thien pay menjadi kebingungan dan pada mundur berantaran.
Melibat kejadian itu Liem Tou segera tertawa, terbahak bahak.
Haa.
.haa.
haa Hay orang Kiem Thien Pay kaiian semua adalah gentong gentong nasi yang sama sekali tidak berguna, kau goblok, dungu has.
buat apa kalian datang ke daerah Tionggoan??
kalian jangan sampai membuat orang kang ouw kegelisahan sehingga tertawa kelepasan gigi depannya.
Baru saja dia berbicara sampai disitu mendadak terdengarlah suara bentakan yang amat keras sehingga menggetarkan seluruh ruangan dari loteng lersebut.
Liem Tou jadi terperanjat, dengan cepat dia melirik sekejap ke arah orang itu yang ternyata bukan lain adalah Auw Hay Ong, diam diam pikirnya.
Nama besar dari Auw Hay Ong ternyata bukanlah berita kosong belaka, cuma sayang kehebatannya masih tidak seberapa, tenaga dalam yang kau miliki saat ini masih tetap kalah satu tingkat dengan tenaga dalamnya Thian pian Siauw cu, kenapa aku harus takuti dirimu?"
Baru saja Liem Tou berpikir akan hal itu, terlihatlah berkelebatnya sinar emas yang menyilaukan mata tubuh Auw Hay Ong bagaikan bertiupnya angin berlalu dengan amat cepatnya sudah menerjang ke depan.
Para jago dari Kiem Thien Pay lainnya sewaktu melibat pimpinannya sudah turun tangan tentu cepat cepat pada mengundurkan dirinya ke belakang dan menonton di samping kalangan Terhadap para jago yang ada disana Liem Tou sama sekali tidak mengambil perhatian di dalam hatinya diam diam cuma memperhitungkan serangan bokongan dari si perempuan tunggal Touw Hong itu.
Pada saat dilihatnya si perempuan tunggal Touw Hong cuma berpeluk tangan saja berdiri di samping tanpa bermaksud turun tangan hatinya baru merasa rada lega.
Dengan perlahan kepalanya ditoleh kembali ke arah Auw Hay Ong yang saat ini saking khekhienya sudah berkaok kaok seperti halnya tiga ekor babi yang disembelih.
Oooh ..kau orang ternyata Ciang Tiau itu manusia yaug sudah dikalahkan oleh Thian Piu Siauw cu, haa ..ha .
, bagus bagus sekali.
Seru Liem Tou dengan nada tenang ejek.
Coba kau beritahu kepadaku dengan cara bagaimana kau orang bisa terluka?
ini hari aku juga mau melukai dirimu seperti apa yang dilakukan oleh dia kemarin hari.
Kekalahan yang diterimanya sewaktu bertempur dengan Thian Pian Siauw cu merupakan suatu peristiwa yang paling memalukan buat dirinya.
Kini lukanya dikorak korek kembali oleh Liem Tou bagaimana tidak membuat orang merasa kegusaran?
Jambangnya yang memenuhi wajahnya pada berdiri seperti kawat, sepasang matanya dipentangkan lebar lebar seperti dua buah bola dengam diiringi suara teriakannya yang amat keras sepasang telapak tangannya bersama didorong ke depan menghajar badan musuhnya.
Segera terasalah segulung angin pukulan laksana melandanya angin taufan dibarengi dengan deburan ombak yang dahsyat menggulung mendatang, Liem Tou segera tertawa geli.
Hawa murninya dikerahkan melalui sepasang kaki dari Song Beng lan dan menyambut datangnya serangan tersebut.
Sebetulnya Auw Hay Ong tidak bermaksud untuk melukai diri dari si jari beracun jarum emas melainkan cuman mau bertempur dengan dirinya, kini melihat Liem You sengaja menggunakan tubuh Song Beng lan untuk menyambut datangnya serangan itu dia menjadi amat terperanjat.
Tetapi dengan cepat dia menambahi lagi tenaganya dengan dua bagian.
Pikirnya.
Tenaga dalamku yang sudah berhasil dilatih sehingga bisa melukai orang dengan melewati halangan, pukulan ini sekalipun menghajar tubuh Song Beng lan tetapi yang luka adalah Liem Tou.
Di dala sekejap mata itulah pukulan dari Auw Hay ong ini dengan cepatnya sudah berhasil menghajar ubun dari Song Beng lan, tetapi sebejar saja dia sudah merasakan adanya segulung angin pukulan yang jauh lebih dahsyat mengalir dari ubun Song Beng lan itu memukul balik serangannya itu, dia menjadi amat terkejut sekali.
Di tengah suara teriakan yang memekikkan telinga, tenaga dalamnya dikerahkan sampai sepuluh bagian dan disalurkan keluar melalu pukulannya tersebut.
"Rraaak ... !"
Ditambah suara benturan yang amat nyaring terasalah suara ledakan yang keras disusul dengan melandanya hawa murni yang menyesakkan dada memenuhi seluruh ruangan dan tiba tiba terlihatlah diantara desiran angin pukulan itu bercampur dengan muncratnya darah mengotori seluruh loteng bahkan setiap orang yang hadir di sana tidak ada yang bisa terhindar dari cipratan darah tersebut.
Bau amis darah bercampur aduk dengan darah membuat membuat orang merasa semakin mual.
Kiranya bentrokan yang terjadi antara Auw Hay Ong dengan Liem Tou tadi terhalang dengan tubuh Song Beng Lan yang ada di tengah.
Karena dahsyatnya bentrokan hawa murni itu, seketika itu juga membuat tubuh Song Beng lan tidak kuat menahan tekanan yang demikian dahsyatnya dan meledak sehingga darah segar beserti isi perutnya pada melayang memenuhi angkasa.
Liem Tou yang melihat Song Beng Lan sudah menemui ajalnya dalam keadaan yang begitu mengerikan sekali, dalam hati tahu mayat tersebut sudah tidak berguna lagi, karenanya dia segera berteriak keras.
"Hey orang she Ciang, sambutlah barangmu ini!"/ Begitu dia selesai berbicara mayat dari Song Beng lan dengan membawa serti isi perutnya yang pada meledak keluar melayang ke arah diri Auw Hay Ong. Belum sampai mayat itu tiba potongan daging serta isi perut sudah pada meluncur ke depan. Auw Hay Ong sama sekali tidak menyangka Liem Tou bisa melakukan serangan dengan menggunakan cara seperti ini, tubuhnya dengan cepat menyingkirkan ke samping dibarengi dengan satu pukulan menghajar mayat keluar dari ruangan loteng. Sekalipun tidak sampai terkena, tidak urung saking gusarnya dia berkaok kaok juga sambil mencak mencak menahan hawa amarahnya. Sebaliknya Liem Tou malah tertawa terbahak bahak. Sampai saat ini Auw Hay Ong baru tahu kalau Liem Tou adalah satu satunya musuh yang paling sukar untuk dihadapi, air mukanya segera berubah asem kemudian dengan pandangan yang amat gusar bercampur benci dia orang melototi diri Liem Tou. Dengan Kejadian ini Auw Hay Ong Bo pun tidak berani berlaku gegabah lagi, dia tahu suaminya Auw Hay ong kembali sudah menemui musuh yang amat tangguh, dia tahu kebiasaan dari Auw Hay Ong jikalau tidak berada dlam keadaan yang kepepet sehingga sama sekali tidak punya pegangan untuk memenangkan pihak lawannya dia orang tidak akan memperlihatkan sikapnya secara begini. Dengan kejadian ini bersama sama dengan para jago lainnya dia segera berdiri disamping Auw Hay Ong, tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka bersiap sedia menghadapi serangan selanjutnya dari Liem Tou. Mendadak si perempuan tunggal Touw Hong yang berdiri disamping tertawa ringan ujarnya. Kalian berdua apakah hendak mempergunakan cara lama seperti sedang menghadapi diriku dulu untuk menghadapi dia orang?* Auw Hay Ong melirik sekejap ke arah si perempuan tunggal Touw Hong, air mukanya segera berubah memerah. Kepandaian orang ini amat tinggi tenaga dalamnyapun amat dahsyat, agaknya tidak berada dibawah kepandaian dari nona Hong ujarnya rikuh. Kalau memangnya begitu sekalipun kalian berdua turun tangan juga tak ada gunnya, ujar si perempuan tunggal Touw Hong dengan dinginnya. Beberapa perkataannya ini seketika itu juga membuat air muka Auw Hay Ong serta Auw-Hay Ong Bo berubah jadi pucat pasi. untuk beberapa saat lamanya mereka tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Dengan menggendong Khiemnya dengan perlahan si perempuan tunggal Touw Hong berjalan meadekati Liem Tou, lantas tanyanya dengan nada serius.
"Liem Tou, apakah ciciku sudah kau binasakan?? Walaupun wajahnya amat tenang tetapi nada suaranya jelas amat mendesak dirinya, Liem Tou mana mau tunduk terhadap dirinya dia malah tertawa dingia.
"Terserah kau orang mau bicara secara bagaimana"
Sahutnya seenaknya.
"Liem Tou, aku bertanya sungguh sungguh"
Ujarnya si perempuan tunggal lagi.
"Lalu siapa yang mengajak guyon dengan dirimu?"
Sehabis berkata dia melirik sekejap kearahnya lantas menoleh ke arah si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.
Orang ini berhawa setan, lebih baik kita cepat cepat pergi dari sini ujarnya dengn cepat.
"Ooooh mau pergi ?"
Tidak begitu mudah, tiba tiba si perempuan tunggal Touw Hong nyeletuk Mendengar perkataann itu seketika itu juga Liem Tou tertawa terbahak bahak.
Aku Liem Tou, bila ada yang bisa menghalangi diriku?
Bentaknya dengan keras.
Saat ini ia benar benar sudah teramat gusar kepada si gadis cantik pengangon kambing serti Lie Siauw Ie ujarnya lagi.
"Ie cici. Wan moay moay kau berangkatlah terlebih dulu"
Biar aku yang barjaga jaga dari belakang, aku mau lihat dia orang bisa berbuat apa terhadap diriku ?
"Liem Koko, terdengar si gadis cantik pengangon kambing itu tiba menyela, Ciang cici serta Hong cici sangat baik sekali menghadapi diriku, kau janganlah membuat dia terlalu sedih."
"Tidak usah banyak urusan lagi"
Ayoh jalan seru Liem Tou sambil kirim satu kerlingan mata kepadanya.
Liem Koko, kau kenapa begitu galak ?
teriak si gadis cantik pengangon kambing tiba tiba.
Walaupun dia berkata begitu tetapi kakinya bersama sama Lie Siauw Ie bergeser meninggalkan loteng tersebut.
Jangan pergi, mendadak terdengar suara bentakan dari si perempuan tunggal Touw Hong serta Toa kongcu dari Kiem Thien Pay, Ciang Beng Hu secara berbareng.
Baik si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie jadi amat terperanjat sekali, saat itulah mereka baru tahu kalau masing masing orang sudah diliputi hawa amarah yang berkobar kobar.
Lie Siauw Ie yang lebih tua bagaimanapunn juga lebih cermat daripada diri si gadis cantik pengangon kambing melihat kejadian itu, dia segera tahu suatu bentrokan sudah hampir meledak, dirinya yang berjumlah kecil memang lebih baik berlalu saja dari sini.
Nona Ciang, Nona Hong kenapa kalian maah marah??
tanyanya sambil tertawa.
Bilamana bukannya atas bantuan dari kedua orang cici, kemungkinan sekali Ie moay moay sudah menemui bencana.
Jikalau nona berdua ada perintah silakan berbicara buat apa berteriak teriak begitu ??
Dengan menggandeng tangan si gadis cantik pengangon kambing, dia berjalan ke tempat semula, si perempuan tunggal Touw Hong yang melihat mereka sudah ke tempat asalnya segera dia tertawa dingin.
Bagaimana ??
Kenapa tidak pergi ??
ujarnya kepada diri Liem Tou.
Tindakan yang dilakukan oleh Lie Siaw Ie ini seketika itu juga membuat Liem You menjadi termangu mangu dia memandang ke arash si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siaw Ie yang berdiri di sana sambil tersenyum senyum.
Terlihatlah Lie Siaw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing itu mendadak bungkukkan badannya menjura.
Budi kebaikan yang begitu besarnya, kami berdua untuk sementara tidak bisa ...
belum habis dia berkata mendadak teriaknya dengan keras.
"Ayoh lari!"
Bagaikan dua gulung sinar kilat yang berkelebat di tengah udara mereka berdua dengan cepatnya melayang keluar dari tempat itu.
Menanti si perempuan tunggal serta Kiem Thien Pay sadar, mereka berdua sudah meloncar turun dari loteng tersebut.
Si perempuan tunggal menjadi amat gusar sekali, dia mencak mencak menahan hawa amarahnya yang bergolak semakin membara di dalam dadanya.
Kalian mau lari kemana??
bentaknya dengan keras.
Tubuhnay dengan cepat bergerak siap untuk mengejari.
Saat itulah Liem Tou sudah sadar kembali dari lamunannya mendadak dia melancarkan satu pukulan menghalangi perjalannnya, bentaknya dengan keras.
Mari sini, aku mau bertempur tiga ratus jirus dengan dirimu.
Segulung angin pukulan yang amat kencang segera berkelebat menghalangi perjalanan dari si perempuan tunggal Touw Hong membuat dia orang jadi benar benar mendongkol.
Liem Tou, bentaknya sembari putar tubuh, malam ini ada aku tidak akan ada kau.
Sepasang telapak tangannya segera di dorong ke depan, seketika itu juga bagaikan titikan air hujan yang diselingi angin topan berturut turut dia melancarkan dua belas pukulan dahsyat.
Serangannya ganas tenaga dahsyat seketika itu juga membuat seluruh ruangan loteng itu dipenuhi dengan suara angin pukulan yang menderu deru bercampur deagan suara ambruknya jendela dan pintu, membuat suasana menjadi amat kacau sekali.
Liem Tou pun agaknya dibuat terperanjat pula oleh serangan yang amat gencar dari si perempuan tunggal Touw Hong ini, dia tidak berani berlaku gegabah tubuhnya dengan cepat menyingkir ke kiri dan ke kanan menghindar diri dari serangan serangan tersebut.
Tetapi serangan yang dilancarkan perempuan tunggal Touw Hong ini tak ada hentinya, semakin bertempur dia melancarkan serangan semakin gencar membuat Liem Tou lama kelama menjadi gusar juga.
Sepasang alisnya dikerutkan rapat rapat lalu bentaknya dengan keras.
Dimana bisa mengampuni orang laim ampunilah dia orang, kau kira aku betul betul takut kepadamu.
Dengan cepat dia salurkan hawa murninya ke sepasang telapak tangannya tanpa menyingkir dan menghidar lagi dengan mengerahkan tujuh bagian tenaga dalamnya dia menangkis datangnya serangan musuh.
Ternyata sedikit pun tidak salah dengan gerakannya ini angin serangan dari si perempuan tunggal Touw Hong itu semakin lama semakin perlahan.
Liem lou yang melihat dia orang berhasil merebut posisi baik mana mau dia membuang waktu dengan begitu saja, dari kedudukan bertahanu dengan cepat dia merubah jadi kedudukan menyerang, tenaga dalamnya ditambahi dengan dua bagian berturut turut melancarkan delapan buah serangan gencar.
Setiap serangannya pastilah diikuti dengan suara menderunya angin yang amat rapat, jurus yang digunakan semakin aneh dan sakti sekali.
Hanya di dalam sekejap saja si perempuan tunggal Touw Hong itu benar benar sudah terdesak, keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi selurun tubuhnya, saat ini dia cuma mempunyai tenaga untuk menangkis saja tanpa ada kesempatan untuk balas menyerang.
Pada wakiu itulah tiba tiba Liem Tou menyapu sekejap ke arah sekeliling tempat itu, dia menemukan semua jagoan dari Kiem-Thien pay sudah lenyap tak berbekas batinnya jadi sedikit berdesir.
Celaka, pikirnya di dalam hati.
Mereka tentu pergi mengejar Ie cici serta Wan moay moay.
Berpikir akan hal ini mana dis orang mempunyai niat untuk bertempur lebih lanjut dengan si perempuan tunggal Touw Hong itu?"
Dia menarik napas panjang panjang bagaikan menyambarnya geledek dan berkelabatnya sinar kilat, dengan dahsyatnya Liem Tou melancarkan tiga buah serangan sekaligus.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang harus menahan serangan dahsyat itu baru saja berhasil menangkis serangan kedua air mukanya berubah jadi pucat pasi, Liem Tou yang melihat kejadian itu dalam hati segera paham, asalkan dia melanjutkan serangannya yang ketiga maka si nerempuan tunggal Touw Hong ini tentu akan terluka kena serangannya.
Perempuan ini tidak ada dendam sakit hati apapun dengan dirinya, kepada dia orang harus turun tangan jahat terhadap dirinya?
berpikir akan hal ini serangan yang ketiga cuma dilancarkan sampai separuh jalan saja lalu ditarik kembali.
Kehebatan dari nona aku Liem Tou sudah menjajalnya, teriaknya keras.
Jikalau kau orang masih tidak puas pada bulan lima tanggal lima kita bertemu kembali diatas puncak pertama Cing Jan.
Selesai berkata tampak berkelebatnya bayangan hijau, hanya dalam sekejap saja dia sudah lenyap tak berbekas.
Jilid 22.
Siapa yang menyamar jadi Penjahat naga Merah Kini tinggal si perempuan tunggal Touw Hong seorang saja yang berdiri mematung di atas loteng, lama sekali baru kelihatan air mata mengucur keluar dengan amat derasnya, mendadak dia jatuhkan diri berlutut dan bergumam seorang diri.
Suhu...aku ternyata sudah sia siakan harapan kau orang tua selama sepuluh tahun ini, ini hari ternyata aku orang sudah dikalahkan oleh bocah cilik itu.
Dia berhenti sebentar lantas tambahnya lagi.
Sukma Cici apa tahu, aku akan membinsakan bangsat cilik itu untuk membalaskan dendam sakit hati cici.
Tetapi sebentar kemudian dia sudah bergumam kembali dengan suara yang amat lirih.
Tetapi semoga saja cici bukan dibunuh oleh orang ini, panca indranya bagus wajahnya tidak membawa sedikit hawa jahat kemungkinan sekali bukan dia orang yang sudah membunuh clciku, mungkin kesemuanya ini cuma kesala pahamanku.
Di atas loteng yang indah itu kini cuma tinggal suara gumaman, yang tak ada henti hentinya diselingi suara tangisan.
Sewaktu dia tundukkan kepalanya menangis dengan amat sedihnya itulah mendadak dia merasakan dari punggungnya menyambar datang suara desiran senjata tajam yang amat santar sekali, si perempuan tunggal Touw Hong jadi terperanjat ujung jubahnya dengan cepat dikebutkan ke belakang menangkis dalangnya serangan tersebut.
Sreeet ..dengan disertai suara yang amat nyaring ujung jubahnya itu sudah kena babat sehingga putus jadi dua bagian, sedangkan si perempuan tunggal Touw Hong pun bisa melihat orang yang baru saja melancarkan serangan bokongan itu bukan lain adalah seorang manusia berbaju hitam dengan wajah berkerudung yang membawa sebilah pedang pusaka memancarkan sinar yang berkilauan.
"Siapa kau!"
Bentak si perempuan tunggal Touw Hong dengan amat kerasnya.
Tetapi orang itu tidak memberikan jawabannya, pedang Hitamnya kembali berkelebet menusuk ke tubuh si perempuan tunggal Touw Hong.
Si perempuan tunggal Touw Hong tahu kalau pedaag pusaka yang ada ditangannya adalah sebilah pedang wasiat yang amat tajam sekali.
dia tidak berani menangkis datangnya serangan tersebut dengan menggunakan telapak tangannya, tubuhnya dengan cepat berkelebat menghindarkan diri dari tempat tersebut.
Tetapi ilmu meringankan tubuh dari orang itu juga amat sempurna sekali.
dia orang tetap tidak mau melepaskan si perempuan tunggal itu dengan begitu saja membuat Touw Hong benar benar terdesak dan berada di dalam keadaan yang sangat berbahaya sekali.
Untung saja tenaga dalam dari si perempuan tunggal Touw Hong sudah berhasil dilatih hingga mencapai pada taraf yang sempurna sekali, karenanya dengan bersusah payah dia akhirnya barhasil juga meloloskan diri dari bahaya yang mendesak dirinya terus menerus itu.
Siapa tahu orang itu tidak mau lepas tangan dengan begitu saja, pedang pusakanya dengan melancarkan serangan gencar mengancam terus jalan darah penting serta pada tempat berbahaya di tubuh si perempuan tunggal itu, sewaktu turun tangan ternyata sama sekali tidak ragu ragu.
Waktu ini sebetulnya si perempuan tunggal Touw Hong sudah kelelahan karena pertempurannya tadi melawan Liem Tou apalagi kini didesak terus oleh serangan serangan ganas dan dahsyat yang dilancarkan oleh lelaki berkerudung hitam itu, semakin lama si perempuan tunggal merasa hatinya semakin terperanjat.
Mendadak terdengar manusia berkerudung hitam itu mendengus dingin, ilmu pedangnya tiba tiba berubah.
Si perempuan tunggal seketika itu juga merasakan empat penjuru di sekelilingnya sudah di kelilingi bayangan pedang yang amat rapat sekali bahkan dari ujung pedangnya secara samar samar terasa ada segulung angin pukulan yang makin lama semakin mendesak dirinya.
Si perempuan tunggal tahu keadaannya benar benar kepepet, jikalau dia tidak berusaha untuk mendesak keluar dari kurungan tersebut dia orang tentu akan menemui bencana.
Siapa tahu justru pada saat itu hasrat ada tetapi tenaga berkurang, dia orang cuma bisi menyingkir ke kanan menghindar ke kiri saja ditengah kurungan bayangan pedang laksana sebuah gunung Thay san itu, untuk beberapa saat lamanya dia tidak berhasil meloloskan diri dari dalam kurungan.
Si manusia aneh berkerudung bitam itu ketika melibat semangatnya lama sekali tidak berhasil mengalahkan diri perempuan tunggal itu daiam hati agaknya merasa cemas juga, mendadak jurus pedangnya sekali lagi diubah...
Sreeet .
, sreeet., sreeet ..
berturut turut dia melancarkan tiga serangan gencar ke depan, si perempuan tunggal Touw Hong segera meloncat ke atas udara dan berputar putar lasana seekor burung walet yang terbang ke langit, dengan bersusab payah dia berhasil juga menghindarkan diri dari dua serangan yang pertama.
Ketika mencapai pada jurus ketiga terlihatlah manusia aneh berkerudung hitam itu menggetarkan pergelangan tangannya lalu deagan mendadak ditusukkan ke depan.
Setelah melalui getarannya tadi mendadak ujung pedangnya terpecah menjadi tiga dan menyerang tiga tempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan.
Perrubahan hawa khie khang yang amat lihay ini sudah tentu si perempuan tunggal tahu jelas bagaimana lihaynya.
Dengan cepat tubuhnya meloncat mundur ke belakang untuk menghindar, siapa tahu ujung pedang itu bagaikan bayangan saja terus menerus mengejar ke depan, belum sempat si perempuan tunggal itu berdiri tegak ujung dari pedang itu sudah mengancam kembali ke tubuhnya.
Si perempuan tunggal Touw Hong menjadi sangat terperanjat sekali sehingga wajahnya berubah jadi pucat pasi.
Hatinya menjadi kacau sekali.
Dia semakin tidak sanggup untuk menahan serangan serangan dari musuh lagi, dengan paksakan diri tubuhnya menggelincir ke kiri, dengan menggunakan gaya kedelai malas menggelinding di tanah yang merupakan jurus yang paliug memalukan di dalam dunia kangouw dia orang cepat menjatuhkan diri bergelinding di atas tanah .
Siupa tahu mendadak dia merasakan pandangannya menjadi gelap, pedang hitam yang amat tajam itu sudah muncul kembali beberapa depa di depan dadanya seadiri, kelihatannya dia segera akan bermandikan darah segar dan menemui ajalnya.
Pada saat yang paling kritis itulah mendadak terasa adanya segulung angin pukulan yang sangat dahsyat sekali menghajar ke arah manusia berkerudung hitam itu disusul melayang datang sesosok bayangan manusia.
Di dalam keadaan terpaksa lelaki berkerudung itu menarik kembali serangannya dan mundur ke belakang.
Orang itu mana mau memberi kesempatan buat dia untuk berganti napas.
Sreeet ...
sreeet ...
berturut turut dia melancarkan beberapa serangan kencang ke depan membuat sebuah loteng kecil itu jadi bergoyang tak henti hentinya terkena sambaran angin pukulan yang menderu deru itu.
Kepandaian silat dari manusia aneh berkerudung hitam itu ternyata libay juga di tengah kurungan angin pukulan yang begitu gencar dan dahsyatnya ternyata dia berhasil juga mundur beberapa langkah ke belakang , pedangnya sekali berkelebat dengan memancarkan sinar yang amat tajam sekali dia menubruk kembali ke.
depan berusaha merebut posisi yang lebih baik.
Saat ini dengan perasaan terkejut dan bati berdebar debar keras si perempuan tunggal sudah bangkit berdiri, dia menghembuskan napas panjang dan memandang ke tengah kalangan.
Waktu itulah dia bisa melihat orang yaag baru saja menolong dirinya itu adalah seorang kakek tua berpakaian abu abu dengan kaki telanjang.
Tidak terasa lagi pikirannya jadi sedikit bergerak.
Jika dilihat dari potongannya apa mungkin dialah si cangkul pualam Lie Sang yang merupakan nomor wahid di dalam Bu lim pada saat ini?
pikirnya di dalam hati.
Jika orang itu benar Lie Sang, lalu siapakah manusia aneh yang berkerudung hitam bertempur dengan dirinya itu?
Sewaktu pikirannya berputar dengan amat cepatnya itulah Lie Loo jie serta manusia aneh berkerudung hitam itu sudah saliog bergebrak sebanyak dua puluh jurus lebih, yang aneh dari kedua orang itu tak ada yang mengucapkan sepatah katapun, tetapi semakin bertempur suasana semakin ramai dan semakin seru ....
Semula agaknya Lie Loo jie menemui kerugian karena harus memberikan perlawanan dengan menggunankan tangan kosong tetapi setelah dia mencabut keluar golok tipisnya keadaan jadi seimbang.
Dalam sekali pandang saja si perempuan tunggal Touw Hong bisa melihat kalau golok yang ada di tangan Lie Loo jie itu tidak kalah tajam nya dengan pedang hitam yang ada di tangan manusia aneh berkerudung hitam itu, kelihatan sekali bahwa orang itu sudah mendapat tandingannya.
Terlihatlah dua bayangan, yang satu hitam sedang yang lain putih semakin bertempur semakin seru untuk beberapa saat lamanya tidak bisa diketahui siapa yang kalah dan siapa yang menang.
Walaupun mereka berdua semakin bertempur makin seru dan kelihatan semakin menghebat tetapi di antara mereka berdua siapspun tidak ada yang mengeluarkan sedikit suarapun, Si perempuan tunggal Touw Hong yang menoton disamping di dalam bati diam diam segera berpikir.
Lie Loji dia orang mempunyai kepandaian silat yang demikian tingginya, tidak aneh kalau di dalam dunia kangouw tidak mendapatkan tandingan.
Perkataan dari suhu ternyata sedikitpun tidak salah ilmu silat yang termuat didalam kitab pusaka Toa Loo jin Keng memang benar benar amat dahsyat sekali, sekalipun bukan termaksuk ilmu silat yang paling sakti tetapi hebat juga.
Kiranya si perempuan tunggal Touw Hong itu sebenarnya adalah putri seorang pembesar pada beberapa puluh tahun yang lalu dengan mengikuti orang tuanya dari daerah Kang Lam dia kembali ke desa dan memasuki sebuah pegunungan yang sunyi, saat itu usianya baru tujuh delapan tahun tanpa ada saudara seorangpun.
Dia cuma tahu dari ayahnya lain ibu bahwa dia masih mempunyai seorang kakak perempuan yang sudah kawin dengan Siang Auw Khiam Khek atau si jagoan pedang dari telaga Siang-Aow, Su Boen Liang dan memperoleh seorang, putra, sedangkan kakak perempuannya ini dia sama sekali bcium pernah bertemu.
Siapa tahu begitu memasuki daerah Tbian-Kang orang tuanya saling susul menyusul pulang ke alam baka, sesaat mendekati ajalnya kecuali memesan kepadanya untuk memakai medali perak itu di depan dada dan mencari kakaknya, mereka sama sekali tidak memesan kata kata lainnya lagi.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang didalam usia yang begitu mudanya sudah kehilangan orang tuanya kini hidup seorang diri saja, terpaksa setiap hari dia kerjanya cuma menangis saja sehingga pada suatu hari jatuh sakit dengan amat payah sekali.
"Untung saja waktu ayahnya menjabat sebagai Pembesar sifat nya amat jujur dan adil sekali sehingga mendapatkan rasa simpatik dari penduduk di sekitar tempat itu, mereka pada turun tangan memberi pertolongan kepada gadis ini bahkan sewaktu sakitnya semakin parah berita ini dengan amat cepatnya sudah tersebar ke seluruh penjuru desa. Pada saat si perempuan tunggal Touw Hong ini berada di dalam keadaan yang amat kritis itu lah mendadak ditengah malam di samping pembaringannya kedatangan seorang nikouw tua. Ketika nikow tua itu melihat keadaan si perempuin tunggal Touw Hong yang begitu parahnya tidak kuasa lagi sudah menyebut keagunangan Budha. Omintohud.... Bagaikan seekor burung elang yang mencengkeram anak ayam Nikouw tua itu segera membawa tubuh perempuan tunggal ini meninggalkan rumah, sejak itulah si perempuan cilik yang amat kasihan itu lenyap tak berbekas meninggalkan satu teka teki yang membingungkan penduduk disekeliling tempat itu. Nikouw tua itu adalah suhu dari s1 perempuan tunggal ini, empat puluh tahun yang lalu dia merupakan salah satu anggota dari How Hay Siang Pian yang bernama Lok Yong dan bersama sama dengan suhunya si cangkul pualam Lie Sang seperti pula suhunya dari Liem Cong si pancingan emas sakti mereka bersama sama mengangkat namanya didalam Bu lim. Pada tempo hari dikarenakan si hweesio tujuh jari dari gunung Ai Lau San menimbulkan gelombang didalam Bu lim dengan mengadakan pembunuhan secara masal, mereka bersepakat untuk bersama sama bersatu padu membasmi dirinya, siapa tahu saat itu si hwcesio tujuh jari sudah mengandalkan jumlah yang banyak apa lagi mendapat bantuan dari Siauw kok Mo Pian atau si cambuk iblis merengut tulang serta Thiat Bok Tbaysu di dalam keadaan yang kurang waspada Hoa Siong itu suhunya si pancing emas sakti Liem Cong sudah terkena luka dibawah serangan pedang hitam dari si hweesio tujuh jari dan binasa, sedangkan Siauw Kok Thaysu serta Thiat Bok Thaysu diam diam mempunyai rencana sendiri, akhirnya di dalin hari satu pertempuran yang amat sengit si hweesio tujuh jari berhasil dipukul jatuh ke dalam jurang oleh cambuk iblis dari Siauw Kok Tnaysu. Sejak kejadian itu di antara Auw Hay Siang Hiat sudah kehilangan satu orang, di dalam keadaan yaug amat sedih Lok Yong sudah kembali ke Tionggoan lagi tetapi di sebelah barat dari gunung Ai Lan san yaitu Boe Liang san dia cukur rambut sebagai Nikouw dengan gelar Gong Gong Ni kouw. Boleh dikata rejeki dari si perempuan tunggal memang bagus, pada saat dia sedang sakit keras itulah Gong Gong Ni kouw sedang melakukan perjalanan melewati tempat tersebut, ketika mendengar suara tangisan yang memedihkan hati dari si perempuan tunggal ini dia orang segera turun tangan menyembuhkan sakitnya bahkan ketika dilihatnya bakat yang dimilikinya amat bagus lantas dibawanya kembali ke atas gunung. Akhirnya setelah sepuluh tahun ada di atas gunung belajar ilmu silat, ia turun gunung untuk mencari kakak perempuanya. Ia bertemu Auy Hay Ong dan di dalarn tiga jurus dia sudah mengalahka Auw Hay Ong suami istri dan mengangkat namanya didalam Bu lim. Siapa sangka malam ini berturut turut di harus menderita kekalahan di tangan dua orang, jika membicarakan dari nama besarnya boleh dikata seperti diguyur dengan sebaskom air dingin. Saat ini pertempuran antara Lie Loo jie dengan manusia aneh berkerudung hitam itu sudah mencapai ratusan jurus banyaknya tanpa terasa pertempuran di antara merekapun makin lama semakin perlahan, tampaklah Lie Loo jie mendadak melancarkan serangan dengan menggunakan jurus pek Im Siauw atau awan putih muncul di puncak dari aliran Kun lun pay. Dengan cepat manusia aneh berkerudung hitam itu menggerakkan pedangnya dengan menggunakan jurus Cho Ih Teng Ie atau sungai gunung berdiri megah yang dengsn amat tepat sekali menghalau datangnya serangan tersebut. Bangsat cilik sungguh ganas dan buas tindakanmu, terdengar Lie Loo ji membentak dengan amat gusar. Kau jangan kira orang lain belum tahu tindak tandukmu, sudah ada dua hari dua malam aku membuntuti dirimu terus. Hsy bangsat, aku mau tanya, orang orang kangouw ada dendam sakit hati apa dengan dirimu kenapa kau orang membasmi diri mereka sampai keakar akarnya ? Dengan cepat dia melancarkan serangannya kembali dengan menggunakan jurus Tong Im Jan Gwat, atau awan buyar bulan musnah serta Tiauw Im pat Hong, atau mega tebal delapan penjuru yang merupakan jurus jurus serangan dari ilmu pedang Kun Lun Pay cuma saja serangannya ini bukannya dilancarkan dengan menggunakan pedang melainkan dengan menggunakan golok. Si manusia aneh berkerudung hitam itu segera putar pedang hitamnya setengah lingkaran lantas ditarik kembali dan berdiri sama sekali tidak bergerak, kelihatannya dia ingin menggunakan ketenangan untuk menggagalkan serangan pihak lawan. Lie Loo jie segera tertawa dingin lagi Aku mau tanya padamu, ujarnya lagi. Kau orang mempunyai hubungan apa dengan si penjahat naga merah itu? kenapa kau menyaru nam jahatnya yang pernah digunakan pada dua puluh tahun yang lalu? kenapa kau meninggalkan tanda tanda pembunuhan dimana mana?"
Sembari berkata dia melintangkan goloknya di depan dada dan berhenti menyerang.
Hmm, urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kau.
mendadak terdengar manusia aneh berkerudung hitam itu menyahut sambil memperdengarkan suara dengusannya yang amat dingin.
Pedang hitamnva bagaikan kilat cepatnya mendadak melancarkan serangan kembali menghajar tubuh Lie Loo jie.
Dengan cepat Lie Loo jie menyingkir ke samping goloknya dengan menggunakan ilmu pedang "Hwee Ting Kiam Hoat"
Dari aliran Thian San Pay.
Dia menutup serangan pedang tersebut lantas membabat dengan dahsyatnya ke arah pundak lawan.
Jika harus menghadapi orang lain dengan menggunakan ilmu golok yang begitu dahsyatnya orang tersebut tentu sudah terluka di bawah serangannya.
Tetapi ilmu pedang dari manusia aneh berkerudung hitam itu tidak ada di bawah kepandaian Lie Loo jie.
Di dalam keadaan yang amat kepepet pedangnya di sapu kedepan kembali mencukil pergi golok dari Lie Loo jie.
Dsngan cepat Lie Loo jie menyingkirkan goloknya ke samping lantas meloncat dua laugkah ke belakang.
Dia melirik sekejap kearah si perempuan tunggal Touw Hong kemudian memandang lagi ke arah manusia aneh berkerudung hitam itu.
Setelah itu matanya dengan amat tajamnya memperhatikan pedang hitam di tangan orang tersebut, agaknya dia sedang berpikir akan sesuatu sedang bibirnya sedikit bergerak mau mengucapkan kata kata, air mukanya berubah jadi amat susah sekali untuk dilihat, agaknya di dalam hati dia hendak megutarakan sesuatu.
"Kaok ..kaok ..keok"
Tiba tiba terdengar suara teriakan yang sangat aneh bergema datang dengan amat kerasnya.
Selama hidupnya si perempuan tunggal mi) belum pernah mendengar jeritan yang demiki anehnya, saking bergidik seluruh bulu kuduknya pada berdiri, dengan cepat dia putar kepalanya memandang ke arah dimana berasalnya suara tadi.
Tampaklah di depan loteng sudah bertambah lagi dengan dua orang hweesio, yang satu tinggi yang lain kurus kering.
Melihat kedatangan kedua orang itu, Lie Loo jie agak melengak, tetapi sebentar kemudian sudah berteriak keras.
"Hey Thiat Bok Loo ji, si penjahat naga merah, kedatanganmu sangat bagus sekali' Terhadap diri si penjahat naga merah, perempuan tunggal pernah mendengar dari orang lain setelah dia turun dari gunung tetapi terhadap Thiat Bok Thaysu ini sejak dahulu dia sudah mengetahui dari mulut suhunya yang merupakan salah satu pembantu dari si hweesio tujuh jari yang kemudian mencelakai diri Auw Hay Siang Hiap. Si perempuan tunggal ini memangnya punya maksud untuk mencari orang ini. Kini setelah mendengar perkataan tersebut dia orang sama sekali tidak mempsrlihatkan perubahan apapun. Dengan amat tenangnya dia memandang diri mereka. Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga mrrah sewaktu mendengar perkataan dari Lie Loo jie ini mereka cuma memperdengarkan suara dengusannya yang amat dingin, empat buah mata dengan amat tajamnya memperhatikan dirinya lantas dengan perlahan mulai berjalan mendesak kearahnya. Hmm..Hmm dendam satu kali pukulan tentunya kau masih ingat bukan ? Sekarang aku mau libat ini hari kau orang mau lari kemana lagi?? Dalam hati Lie Loo jie merasakan hatinya bergetar dengan amat kerasnya, dia tahu keadaan sama sekali tidak menguntungkan dirinya. Aaah mereka sengaja datang untuk mencari gara gara dengan diriku, pikirnya di dalam hati.. Ternyata dia orang bukan bertujuan untuk mencari orang yang sudah menyaru sebagai si penjahat naga merah itu., jikalau malam ini mereka turun tangan dengan bekerja sama, he . urusan ini tentu sangat merepotkan sekali, Berpikir sampai disitu tidak terasa lagi hawa murninya segera disalurkan keluar dari pusat ke seluruh badan, dengan pusatkan seluruh perhatiannya dia mencekal kencang kencang golok tipisnya, sepasang matanya dengan tajam tak berkedip memperhatikan seluruh gerak gerik pihak musuh. Hmm.Hmmm... akhirnya kalian datang juga, heee ..heee .... dengan begitu akupun tidak usah pergi mencari kalian lagi, mendadak terdengar suara seseorang berbicara dengaa sangat dinginnya. Orang yang baru saja berbicara itu bukan lain adalah si lelaki berkerudung hitam itu, Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah segera bersama sama melirik sekejap kearahnya dengan pandangan menghina. Tetapi sewaktu Thiat Bok Thaysu dapat melihat pedang hitam yang ada di tangannya tampak tubuhnya gemetar dengan amat kerasnya, dari sepasang matanya secara tiba tiba memancar keluar serentetan sinar yang berwarna hijau yang dengan amat tajamnya memperhatikan pedang tersebut. Ketika si penjabat naga merah melihat wajah susioknya agak aneh diapun segera memandang ke arahnya dengan tajam.
"Hey Thiat Bok Hweesio"
Terdengar manusia aneh berkerudung hitam itu berkata lagi dengan suara yang amat dingin sekali, kiranya kalian sehat sehat saja sudah tentu pedang Uh Kien Kiam ini kalian kenal bukan?"
Pada air muka Thiat Bok Thaysu tampak terlintas satu perubahan yang amat aneh, dia termenung berpikir sebentar lantas baru ujarnya.
"Apa mungkin si hweesio tujuh jari masih bidup di dunia ini?"
Ketika Lie Leo jie serta si penjahat naga merah mendengar perkataan yang diajukan tersebut, bagaikan terkena aliran listrik bersama sama berteriak kaget dalam hati mereka lantas timbul kembali rasa benci yang sudah terkubur lama sekali di dalam hati mereka.
Cuma saja apa yang dipikirkan oleh Kedua orang itu sama sekali berbeda, Lie Loo jie adalah ahli waris dari Hoa Siong salah satu dari Auw Hay Siang Hiap, pada tempo han si hweesio tujuh jari sudah membinasakan diri Hoa Siong berarti pula si hweesio tujuh jari ini adalah musuh besar dari Lie Loo jie.
Selama ini Lie Loo jie sama sekali tidak pernah membalas dendam karena menurut apa yang ia ketahui musuh besarnya sudah binasa, kini mendengar perkataan tersebut sudah tentu dia orang merasa terperanjat sekali.
Sebaliknya di jalan pikiran si penjahat naga merah malah sebaliknya si hweesio tujuh jari terjatuh ke dalam jurang karena terpukul oleh cambuk iblis dari Suo Kok Thaysu, sedangkan si penjahat naga merah adalah anak murid dari Suo Kok Thaysu itu berarti juga si penjahat naga merah ini adalah anak murid dari musuh besar pembunuh si hweesio tujuh jari.
Sebaliknya si perempuan tunggal Touw Hong pun sudah berpikir dengan amat kerasnya, karena si hweesio tujuh jari ini adalah satu satunya musuh bebuyutan dari suhunya Lok-Yong.
Mereka bertiga tanpa terasa lagi sudah merasa tegang, dan kini pada menanti jawaban dari manusia aneh berkerudung hitam itu.
Terdengar manusia aneh berkerudung hitam itu sekali lagi tertawa dingin, dengan perlahan lahan dia melepas kerudung yang menutupi wajahnya sehingga seketika itu jaga tampaklah sebuah wajah yang putih bersih dengan mulut yang kecil hidungnya mancung dan merupakan seorang pemuda yang sangat tampan sekali.
Cuma sayang di atas wajahnya yang putih bersih iru secara samar samar tampak warna kehijau bijauan yang menghiasi pipinya, walaupun senyuman menghiasi bibirnya tetapi tampaklah senyuman itu amat dingin dan kaku sekali.
Si hweesio tujuh jari ada atau tidak, di dalam dunia ini adalah sama suja.
Dendam berdarah tersebut dapat dihituug oleh aku orang, ujarnya dengan perlahan.
Selesai berbicara dia melirik sekejap ke arah Lie Loo jis, lantas sambungnya lagi.
Si hweesio tujuh jari mempunyai dendam dengan dirimu, kau orang boleh cari aku orang saja .
aku tidak menolak, tetapi kau harus tunggu dulu, biar aku bereskan hutang piutang dengan orang itu terlebih dahulu kemudian baru pergi mencari kau.
Lie Loo jie sama sekali tidak menyangka kalau dia orang akan mengatakan hal itu seperti sudah merencanakan hal ini masak masak tak terasa lagi dia mengerutkan alisnya rapat rapat.
Lalu kau adalah apanya si hweesio tujuh jari itu?
tanyanya.
Soal ini kau orang tidak usah ikut campur sambut pemuda itu sambil memperlihatkan satu senyuman yang amat tawar dan dingin sekali.
Aku orang berani memikul bebannya sudah tentu tidak akan ada sebabnya mencari gara gara buat diriku sendiri.
Baiklah ujar Lie Loo jie kemudian dengan ketus Aku tentu akan khusus mencari dirimu untuk membalas dendam ini.
Selesai berkata dia kebutkan ujung bajunya lantas hendak berlalu dari loteng tersebut.
Tahan tiba tiba terdengar Thiat Bok Thaysu membentak dengan suara yang amat keras.
Sambil membentak tangannya dia diayunkan ke depan sehingga terasalah segulung angin pukulan yang amat dahsyatnya menghalangi Lie Lo jie..Lie Loo jie segera menghentikan lanngkahnya dengan gusar.
Hae .
hee .
.Thiat Bok Hweesio kau orang tidak usah jual lagak dihadapanku, mendadak terdengar pemuda berbaju hitam itu membentak dengan suara yang amat keras.
Pedang hitam dengan cepat berputar hingga membentak hawa pedang yang amat rapat sekali mendesak kearah depan tetapi baru saja sampai di tengah jalan mendadak dia sudah menarik kembali serangannya dan maju satu langkah ke depan.
Tubuhnya berputar dengan amat cepatnya ke samping sedangkan tangannya dengan mengikuti gerakan tersebut kirim satu tamparan yang amat nyaring ke atas pipi dari si penjahat naga merah yang berdiri disampingnya itu.
Tiga hari kensudian diatas puncak gunurg Hauw Ya san aku orang akan khusus menantikan datangan kalian berdua, ujarnya kemudian.
Jika kalian tidak berani datang .
.H m m, aku rasa kalian tidak akan mudah lolos dari bawah serangan pedangku.
Si penjabat naga merah yang kena ditampar sehingga pipinya terasa amat sakit dalam hatinya menjadi amat gusar, dia meraung keras.
Cambuk naga merah ditangannya dengan cepa dibabat ke depan menerjang tubuh pemuda berbajuhitam itu.
Tubuh pemuda berbaju hitam itu sama sekali tidak bergerak, dia cuma memandang dirinya sambil tertawa dingin.
Kelihatannya serangan dari si penjahat naga merah sudah hampir mengenai sasarannya, mendadak Thiat Rok Thaysu yang ada disampingnya bergeser satu langkah ke depan dan menyambar cambuk naga merah tersebut.
"Ayoh pergi !"
Bentaknya dengan keras.
Selesai berkata dengan cepat tubuhnya meloncat ke atas lalu melayang pergi dari loteng tersebut dan lenyap ditengah kegelapan.
Di kala petnuda berbaju hitam itu melihat kedua orang itu sudah pergi dia segera mendengus dengan amat dinginnya lalu putar badannya dan melirik sekejap ke arah Lie Loo jie serta si perempuan tunggal Touw Hong, mulutnya sedikit bergerak agaknya mau membicarakan sesuatu tetapi kemudian ditutup kembali dan putar kepalanya berjalan pergi dari sana.
Kini tinggal Lie Loo jie serta si perampuan tunggal Touw Hong yang saling pandang memandang tanpa ada yang mengucapkan sepatah katapun.
Akhirnya si perempuan tunggallah yang menjatuhkan diri ke depan memberi hormat kepada diri Lie Loo jie.
"Terima kasih atas budi pertolongan dari suheng"
Ujarnya dengan sangat hormat.
Lie Loo jie yang mendengar perkataan dari gadis yang ada dihadapannya ini memanggil dirinya dengan sebutan suheng dia orang menjadi melengak dan berdiri melongo, lama sekali dia tidak mengucapkan sepatah katapun tetapi matanya dengan terpesona memperhatikan diri si perempuan tunggal Touw Hong itu.
Akhirnya sinar matanya berhenti diatas medali perak yang tergantung dibagian dada perempuan tunggal tersebut, mendadak dia menjadi sadar kembali.
Nona apakah bukan si perempuan tunggal Touw Hong yang baru saja mengalahkan lociang suami istri dari Kiem Thien Pay di daerah Selatan?
tanyanya kemudian.
Kepadaku kau orang memanggil si orang tua dengan sebutan suheng?
Dengan sedihnya si perempuan tunggal menundukkan kepalanya.
Pada empat puluh tahun yang lalu suhu sudah menyepi di atas gunung Boe Liang san tidak mau mencampuri urusan dunia kangouw lagi sudah tentu suheng sudah tidak mengenalnya lagi, sedangkan tindakan dari sumoay untuk mengalahkan si Auw Hay Ong suani istri di dalam tiga jurus kemudian menuju kearah Selatan tidak bukan karena sumoay ingin mencari jejak dari ciciku, aku tidak bisa berbuat apa lagi dan terpaksa harus melakukan tindakan ini Mendengar perkataan itu tampak sepasang mata dari Lie Loo jie sedikit bsrkedip kedip mendadak dia menjerit kaget Ahhh...apakah Lok susiok masih ada di dalam dunia?
tanyanya dengan cepat.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang teringat kembali dengan jerih payah suhunya Gong Gong Ni Kouw selama sepuluh tahun mendidik dirinya tidak disangka belum lama turun gunung berturut turut di dalam satu malaman sudah menderita kekalahan di tangan Liem Tou serta pemuda berbaju hitam itu.
Mendengar perkataan tersebut dia jadi amat sedih sehingga tidak tertahan lagi air matanya mengucur dengan amat derasnya.
Dia orang tua masih berada dalam keadaan sehat walafiat.
sahutnya sambil mengangguk.
Lie Loe jie sama sekali tidak menyangka kalau angkatan tua yang sudah lenyap empat puluh tahun lamanya, secara tidak disengaja sudah diperoleh beritanya.
Saat ini di dalam hatinya tidak terkira girangnya dia segera tertawa terbahak bahak dengan amat kerasnya, lantas mencekal sepasang tangan dari si perempuan tunggal kencang kencang.
Sungguh tidak disangka dia orang tua masih hidup di dalam dunia, serunya sambil melelehkan air matanya Pada puluhan tabun yang lalu I heng beserta Cong te pernah menjelajahi seluruh tempat untuk mencari berita dari kedua orang loocianpwee kurang lebih kami berkelana selama tiga tahun lamanya tetapi tidak memperoleh hasil juga.
Akhirnya kami menganggap mereka berdua orang tua sudah menemui ajalnya, karena itu aku lantas berdiam di atas gunung Wo bie heeei ..siapa sangka Lok Susiok masih dalam keadaan sehat sehat saja sungguh hal ini sangat di luar dugaan.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang mendengar perkataan ini hatinya merasa amat terharu, dengan cepat dia berusaha menahan rasa sedih yang mencekam di dalam hatinya lantas bertanya.
' Sumoay pernah mendengar perkataan dari suhu, kecuali suheng seorang masih ada jie suheng dia orang sekarang berada dimana?
Lie Loo jie yang ditanyai dengan pertanyaan tersebut akhirnya tidak kuasa lagi menahan menetesnya titik titik air mata dari kelopak matanya.
Jie suhengmu aku rasa sudah lama meninggal, sejak Jie suso meninggal dia orang sudah uring uringan terus akhirnya di atas pertemuan puncak para jago diatas gunung Hoa san dia menemui kekalahan di tangan Thian pian Siauw cu membuat hatinya semakin tidak keruan, sejak kepergiannya sampai saat ini tidak kembali juga, aku rasa suhengmu itu tentu sudah menemui ajalnya.
Tetapi...sambungnya kemudian setelah menghembuskan napas panjang.
Sekalipun Cong te sudah pergi tetapi pada waktu waktu dekat ini dia mempunyai seorang keturunan yang bisa mengangkat tinggi nama keluarganya, hal ini boleh dikata merupakan satu peristiwa yang patut digembirakan.
Mendengar perkataan tersebut si perempuan tunggal segera merasakan hatinya tergetar amat keras, tidak kuasa lagi dia nyaletuk.
Keturunan yang Lie Loo jie suheng maksud, apakah dia bernama Liem Tou?"
Mendengar disebutnya nama Liem Tou dengan pandangan yang amat tajam Lie Loo jie memperhatikan diri si perempuan tunggal membuat dia orang saketika itu juga menjadi malu sehingga air mukanya berubah memerah.
Bagaimana kau orang bisa tahu?
apa kau sudah bertemu dengan dia orang?
tanya Lie Loo-jie kemudian.
Si perempuan tunggal yang teringat kembali sifat dari Liem Tou yang amat jumawa itu dalam hati segera merasa mendongkol lagi.
"Bagus sekali"
Serunya keras.
Ternyata Jie-suheng mempunyai seorang putra yang begitu baiknya, aku hampir hampir saja terluka ditangannya.
Hmm, kepandaian silat yang dia orang miliki sungguh amat lihay sekali.
Aaaa...tentu kau orang sudah salah melihat bantah Lie Loo jie dengan cepat dia gelengkan kepalanya berulang kali.
Mana mungkin kepandaian silat yang dimilikinya pada saat ini sangat lihay??
tetapi bakatnya memang sangat bagus.
Si perempuan tunggal yang mendengar Lie-Loo jie berkata kalau kepandaian silat dari Liem Tou tidak tinggi dia orang segera membantah dengan ngotot.
Subeng terlalu memandang rendah dirinya, bila dia orang disuruh bertempur melawan pemuda berbaju hitam itu mungkin dia masih dapat merebut kemenangan.
Lie Loo jie memang tidak mengetahui kalau Liem Tou sebetulnya memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, ketika teringat kalau kepandaian silat pemuda berbaju hitam itu seimbang dengan dirinya tidak terasa lagi dia tertawa terbahak bahak.
Aku bilang, sekalipun Cong te mempunyai seorang keturunan yang bagus tetapi kepandaian silatnya belum jadi, bagaimana sumoay memandang begitu tinggi terhadap dirinya.
Si perempuan tunggal yang mendengar Lie-Loo jie terus menerus tidak mau percaya, dia lantas mengganti dengan bahan pembicaraan yang lain.
"Suheng, kau mau pergi ke mana?"
Tanyanya.
Dengan perlahan Lie Loo jie menghembuskan napas panjang.
Aku telah menguntit si penjahat naga merah palsu selama sebulan dan boleh dikata ini hari baru dianggap selesai.
Setelah ini aku mau pergi memenuhi janji dengan si pemuda berbaju hitam keturunan dari hweesio tujuh jari itu lantas pergi juga ke Cing Jan untuk memenuhi janji seorang jagoan berkepandian tinggi.
Sumoay maukah kau orang berjalan bernama sama dengan I-heng?
Si perempuan tunggal segera mengangguk dan tersenyum, dengan bergandengan tangan mereka berdua segera meninggalkan loteng setan tersebut Malam semakin kelam .
, , angin musim semi sepoi sepoi ...
bintang yang kecil memancarkan sinar yang terang dari tengah udara menyinari permukaan tanah secara samar samar.
Suara gonggongan anjing dengan ramainya bergema memecahkan kesunyian dan menambah keseraman pada malam hari itu.
Diatas jalan raya yang amat sunyi itu mendadak tampaklah dua sosok bayangan hitam yang lerkelebat dengan amat cepatnya, kedua sosok bayangan itu walaupun kelihatan sangat enteng tetapi gerakannya sangat cepat sekali laksana berkelebataya sinar kilat, mereka berdua adalah Lie Loo jie serta si perempuan tunggal Touw Hong.
Si perampuan tunggal tersebut sejak kecil yang sudah kehilangan orang tua sejak turun gunung belum pernah merasa gembira seperti hari ini.
dia telah menganggap Lie Loo jie sebagai orang tuanya sendiri, sambil tersenyum dia mencekal erat erat lengan dari Lie Loo jie sedang mulutnya tiada hentinya berbicara.
Suheng, bukankaa kau orang mau pergi ke Cing Jan untuk menemui jagoan berkepandaian tinggi itu, sabetulnya kepandaian dia orang telah mencapai seberapa tingginya ?
Lie Loo jie yang melihat perempuan tunggal itu memandang dirinya dengan begitu mesra diapun sudah menganggap dirinya sebaga putrinya sendiri, mendengar pertanyaan tersebut dia segera tertawa.
Heeeiii ...
jika dibicarakan sungguh hatiku merasa kecewa sekali, bukan saja I heng tidak mengetahui bagaimana macamnya orang itu bahkan sampai seberapa tinggi kepandaian silat yang dimiliki olehnya aku sendiripun tidak tahu, cukup kita bicarakan tentang aku yang cuma mendengar suaranya saja hal ini sudah jelas memperlihatkan kalau ilmu meringankan tubuhnya sudah dilatih hingga mencapai pada taraf kesempurnaan, ternyata I heng telah kehilangan sebuah tameng baja tanpa aku rasa, coba kau pikir seberapa tingginya kepandaian orang ini.
Sampai waktunya aku pun ingin menemu orang ini, ujar perempuan tunggal setelah mendengar perkataan tersebut.
Aku tidak percaya dengan ketajaman mataku dia orang masih bisa lolos juga.
Lie Loo jie cuma tersenyum tidak mengucapkan kata kata lagi.
"Suheng, seru si perempuan tunggal Touw-Hong medadak, agaknya dia sudah teringat akan sesuatu Pertemuan di atas puncak pertama Cing Jan bukankah pada tanggal lima bulan lima?"
Mendengar perkataan ini Lie Loo jie jadi terperanjat.
Aku tidak memberi tahu waktunya kepadanya bagaimana dia bisa tabu?
pikirnya.
Tetapi dia mengangguk juga.
Sumoay mengetahui dari mana?
tanyanya.
Bukankah taggal itu adalah janji Liem Tou kepadaku, aku melihat dengan mata kepala sendiri dia orang mengerahkan tenaga saktinya mengukir di atas batu sedalam beberapa coen, jelas kepandaian silatnya amat tinggi sekali, bagaimana kau orang bisa berkata demikian kalau ilmu silat yang dimilikinya biasa saja.
Lie Loo jie yang mendengar dua tiga kali si perempuan tunggal Touw Hong mengatakan kalau kepandaian yang dimiliki Liem Tou sangat tinggi, pula keanehan dari sang kerbau waktu ada di kuil Siang Lian si kemarin malam, pikiran di dalam hatinya jadi goyang juga.
Bangsat cilik, kau berani juga mempermainkan diriku?"
Dia segera mendengus dingin dan tidak mengucapkan sepatah katapun Si perempuan tunggal yang melihat air muka Lie Loo jie memperlihatkan sikapnya yang kurang sanang dia segera menyingkirkan urusan itu jauh dari pembicaraan, sejak waktu itu dia cuma menceritakan bagaimana sewaktu dia belajar ilmu silat dari suhunya di atas gunung Bo Liang san.
Kedua orang itu kembali berlari lagi beberapa saat lamanya.
Mendadak di hadapan mereka sudah terhalang kembali dengan sebuah gunung yang amat besar sekali.
Mendadak Lie Loo jie seperti sudah teringat akan sesuatu hal, dia segera menghentikan langkahnya lalu berkata kepada si perempuan tunggal.
Sumoy, tiga hari kemudian aku mau pergi kegunung Hauw Ya san untuk melihat pertempuran antara utusan dari hweesio berjari tujub serta Thiat Bok Thaysu dan si panjahat naga merah, di sana aku mau melihat dulu kepandaian dari pemuda itu, kau rasa bagaimana?"
Jikalau suheng mau pergi sudah tentu sumoay akan mengiringinya, sahut si perempuan tunggal sambil tertawa.
Tetapi aku harus pergi meninggalkan pesan dulu dsngau Ciang Cau suami istri kalau sejak hari ini aku tidak kembali lagi ke sana.
Kau orang memang seharusnya berbuat demikian sahutnya membenarkan.
Siapa tahu baru saja dia selesai berkata mendadak dari belakang gunung terdengar suara bentrokan senjata tajam amat ramai sekali, tidak terasa lagi dia jadi merasa sangat heran sekali.
Di tengah malam buta seperti ini siapa yang sedaag bertempur di tempat itu??"
Pada saat itulah dari puncak gunung tampaklah sesosok manusia meloncat turun dengan amat cepatnya, walaupun berada i kegelapan malam yang amat buta tetapi mereka bisa melihat jelas sewaktu orang itu memainkan ujung jubahnya tampaklah jubahnya berwarna merah yang dipakainya berkibar tertiup angin, diikuti dari belakang badannya kembali ada orang yang menguntit.
Orang itu mempunyai perawakan yang kurus tinggi dan amat kaku, sekali pandang saja Lie Loo jie sudah tahu siapakah orang itu sehingga tanpa terasa lagi sudah menjadi kaget.
Aaaah..
si pembesar buta serta si hweesio mayat hidup, bagaimana mereka bisa berada disini?
pikirnya keheranan.
Si perempuan tunggal yang tiba tiba melihat orang yaug sedang dikejar oleh si pembesar buta serta si hweesio mayat hidup itu tak terasa serunya dengan keras.
Suheng cepat pergi, malam ini aku orang mau suruh kau melihat sendiri bagaimana lihaynya kepandaian silat dari Liem Tou.
Di tempat kejauhan terlihatlah si pembesar buta serta si hweesio mayat hidup itu berkumpul jadi satu.
Tunggu dulu, ujar Lie Loo jie dengan cepat.
Kita coba dengarkan dulu apa yang sedang mereka katakan.
Sambil berkata dengan cepat dia membawa si perempuan tunggal untuk bersembunyi di balk sebuah batu gunung yang besar di bawah kaki gunung itu.
Tidak lama kemudian tubuh si pembesar buta serta si hweesio mayat hidup sudah semakin mendekat.
Terdengar sihweesio mayat hidup dengan amat gusar memaki.
Kurang gajar, malam ini aku sudah bertemu dengan setan.
Si pembesar butapun menghembuskan napas panjsng.
Heeei ombak belakang dari sungai Tiang-Kiang mendorong ombak didepan orang.
orang lama sudah diganti dengan orang orang baru.
Tidak kusangka cuma beberapa saat saja Liem Toa si bocah pengangon kerbau itu sudah memiliki kepandaian silat yang demikian lihaynya Hemm, jikalau orang ini tidak dibasmi secepatnya, aku lihat sekalipun Ong ya sendiri juga tidak akan sanggup menandingi dirinya seru si hweesio mayat hidup dengan gusarnya.
Jikalau dibiarkan terus, maksud kita untuk menjagoi seluruh Bu lim tentu merupakan satu urusan yang sukar untuk dilaksanakan.
Perkataanmu sedikitpun tidak salah sahut si pembesar buta sambil menghela napas panjang.
Jika dlihat dari situasi ini hari, kita orang bisa loloskan diri saja sudah boleh dikata sangat untung.
Saat itulah si perempuan tunggal yang bersembunyi di baiik batu besar sudah menyenggol diri Lie Loo jie Suheng sudah dengar sendiri bukan.?
ujarnya sambil tertawa.
Aku bilang tenaga dalam dari Lim Tou sudah mencapai pada taraf kesempurnaan dan bukanlah omongan kosong bukan.?
Lie Loo jie cuma merasa amat mengkel sekali terhadap diri Liem Tou tidak seharusnya dia orang menyelimuti dirinya tetapi saat ini dia cuma mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Jarak dari si pembesar buta serta hweesio mayat hidup saat ini tinggal dua kaki saja dari tempat persembunyian mereka sehingga tasbeh serta tongkat besi yang mereka bawa bisa kelihatan dengan amat jelasnya.
Mendadak terlihatlah si pembesar buta menghajarkan tongkat besinya ke atas tanah.
"Saudara mayat hidup"
Ujarnya dengan amat gusar.
Jikalau mataku tidak buta, sekalipun Lien Tou si bangsat cilik itu mempunyai tiga kepala enam tanganpun aku pasti akan menantang dia untuk bertempur satu lawan satu.
Siapa tahu baru saja dia selesai berbicara mendadak tongkat besinya dihajarkan keatas batu besar yang ada disampingnya bersamaan pula bentaknya gusar.
"Bajingan kau jangan mengira aku orang buta bisa dipermainkan sesukanya. Si pembesar buta ini memang benar benar sangat lihay sekali, sekalipun sepasang matanya sudah buta tetapi ketajaman telinganya jauh lebih tajam beberapa kali lipat dari orang biasa, karena itu begitu si perempuan tunggal memperdengarkan suaranya dari tempat kejauhan dia sudah mendengarnya. Cuma saja karena sifatnya yang amat licik dan tidak pernah memperlihatkan perubahan pada wajahnya sehingga sekalipun mau turun tangan dia berbicara dulu soal urusan lain untuk menutupi maksud tersebut kemudian dengan mengambil kesempatan sewaktu orang tidak bersiap siap dia melancarkan serangan bokongannya. Jikalau caranya ini ditujukan pada orang lain mungkin bisa berhasil tetapi sayangnya kedua orang itu bukanlah manusia sembarangan. Dengan cepat Lie Loo jie menarik tangan perempuan tunggal untuk diajak muncul, siapa sangka tarikannya ini ternyata sudah mencapai sasaran yang kosong. Lie Loo jie tidak berani berdiam terlalu lama lagi, tubuhnya dengan cepat meloncat mudur ke belakang menghindarkan diri jauh jauh dari batu besar tersebut. Belum sampai dia berhasil berdiri tegak terdengar suara ledakan yang amat keras, batu yang amat besar itu segera hancur berantakan jadi empat lima bagian oleh gebukan tongkat besi dari pembesar buta ini. Lie Loo jie yang merasa khawatir terhadap keselamatan dari si perempuan tunggal Touw Hong itu, dengan cepat dia menoleh ke arah sana untuk mencari dirinya dan siapa tahu jejaknya sudah tidak tampak lagi, ketika dia angkat kepalanya ke atas, saat itulah dia baru bisa melihat sesosok bayangan hitam yang berkelebat dengan amat cepatnya menuju puncak gunung itu. Saatt itulah dia baru sadar kembali, pikirnya. Sungguh menyesal sekali, tidak kusangka ilmu silat dari sumoay bisa begitu dahsyatnya. Dia tidak mau berdiam lebih lama lagi ditempat itu, hawa murninya dengan cepat ditarik lalu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang paling lihay dia mengejar dirinya ke atas. Sebaliknya si pembesar buta serta si hweesio mayat bidup hampir hampir boleh dikata tidak dapat melihat jelas keadaan dari bayangan manusia itu mereka menganggap tongkat besinya itu sudah menghajar batu sehingga mengejutkan dua ekor burung yang lantas terbang keangkasa karena kaget. Sewaktu Lie Loo jie tiba di atas puncak, Touw Hongitu sudah menantinya di atas, begitu dia sampai tiba di sana sambil menuding ke arah sebuah bukit kecil. ujar si perempuan tunggal dengan cepat. Suheng, kita tidak boleh membuang waktu lebih lama, tidak perduli bagaimana pun sebelum meninggalkan Kiem Thien Pay, Ciang Cau suami istri tidak dapat menderita luka di tangan Liem Tou. Lie Loo jie mengangguk. Memang seharusnya begitu, ayoh cepat pergi ke sana. Mereka berdua tidak berani membuang waktu, dengan cepat tubuhnya meloncat setinggi satu dua puluh kaki lantas berjumpalitan di tengah udara amat lincahnya, bagaikan dua ekor burung malam dengan cepatnya mereka menuju ke arah lembah gunung tersebut. Ketika hampir tiba di tempat itu mendadak Lie Loo jie bisa melihat si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sedang duduk di atas sebuah batu besar dengan tenangnya, mereka pada saat itu sedang ngobrol dengan gembira, sedikitpun tidak kelihatan rasa kaget atau jeri. Tetapi pada jarak beberapa kaki dari kedua orang itu tampaklah delapan, sembilan puluh orang sedang berputar putar saling desak mendesak dengan amat kacaunya, senjata tajam yang ada di tangan setiap orang tampak berkelebat saling tusuk dengan ramainya, keadaan mirip sekali dengan pertempuran yang amat sengit, tapi sama juga seperti dengan satu permainan belaka. Lie Loo jie dengan perempuan tunggal dengan cepat melayang turun di samping badan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie. Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang melihat dari tengah udara mendadak melayang turun dua orang dalam hati mereka merasa terperanjat sekali, tetapi setelah mengetahui siapa yang baru datang itu mereka jadi amat terperanjat bercampur girang. Belum sempat mereka mengucapkan sesuatu Lie Loo jie sudah keburu berkata. Wan jie, Ie jie nyali kalian berdua sungguh besar sekali, kenapa kalian duduk tenang tenang di sini?? Tia, bagus sekali kedatanganmu, coba kau lihat Liem koko sedang bermain dengan kera, serunya sambil menunjuk ke tengah kalangan. Wan jie, kau jangan sembarangan ngomong, seru Lie Loo jie kebingungan. Siapa yang sedang main dengan kera? Coba kau lihat disana! Sahut si gadis cantik pengangon kambing sambil menunjuk kembali ke tengah kalangan itu. Orang itu dibikin kocar kacir oleh Liem koko, mereka tidak sanggup mengalahkan Liem koko tetapi untuk melarikan diripun tidak sanggup Aaaah-Kepandaian silat dari Liem koko sungguh lihay sekali. Lie Loo jie yang mendengar perkataan tersebut segera mendengus, ketika memandang ke tengah kalangan dia bisa melihat Auw Hay Ong suami istri, si gadie berbaju hijau Ciang Beng Hu, Hweesio, pengemis serta empat orang pemuda berbaju hitam cuma bisa berputar putar seluas beberapa kaki saja, bahkan pada kening setiap orang sudah dibasahi oleh keringat yang mengucur keluar dengan derasnya. Dibawah sinar rembulan yang samar samar dia orang hanya dapat melihat jago jago yang terkurung itu sedangkan bayangan dari Liem Tou sama sekali tidak kelihatan. Saat itu terdengar si Auw Hay Ong Ciang Cau dengan amat gusarnya berkoak koak keras.
"Liem Tou"
Teriaknya keras.
"Kau bangsat cilik liar, kalau mau bunuh cepatlah bunuh diri kami, aku orang sekalipun sudah tua tapi tidak takut mati.. Hum, jikalau pada suato hari aku tidak hancurkan badanmu sampai berkeping keping aku orang tidak akan puas dengan dendam ini. Hmra, cuma gemas aku Loo nio tidak berhasil melatih ilmuku sehingga mencapai kesempurnaan terdengar Auw Hay Bong pun sedang berteriak. Jikalau kau orang mempunyai nyali lepaskanlah kami saat ini, tiga tabun kemudian jikalau aku tidak berhasil mengorek keluar jantungmu aku sumpah tidak akan jadi manusia. Jika di dengar dari suara makian Auw Hay Ong suami istri, sekalipun ditengah kalangan tidak kelihatan bayangan dari Liem Tou tetapi si perempuan tunggal serta Lie Loo jie percaya kalau orang yang sedang bertempur ditengah kalangan itu bukan lain adalah diri Liem Tou tidak terasa lagi beratus ratus macam pikiran bersama sama kerkumpul di dalam benaknya, diam diam dia menduga tentunya Liem Tou si bocah cilik ini sudah mempelajari kitab pusaka To Kong Pit Liok. Baru saja dia berpikir sampai di sini mendadak dari tengah kalangan pertempuran terdengar suara tangisan yang amat keras si hweesio itu, sembari menangis keras dia menggerak gerakkan keki tangannya yang tidak leluasa itu dan memohon tak henti hentinya. Kongcu ya, kau lepaskan diriku, coba bayangkan aku masih punya sakit hati yang belum terbalas jikalau ini hari aku menemui ajalku karena kecapaian bukankah aku mati dengan hati tidak tenteram. Dari tengah kalangan pertempuran segera terdengarlah suara tertawa yang amat ringan sekali. Plaaak...Di atas pipi si rase salju secara tiba tiba sudah kena tamparan yang amat keras sekali sehingga membuat wajahnya ketika itu juga membekas lima jari dengan amat jelasnya. Para pembaca sekalian tentu menganggap Liem Tou sudah memiliki ilmu melenyapkan diri bukan? padahal pikiran saudara saudara sekalian salah besar, gerakan tubuhnya tidak sampai kelihatan hal ini disebabkan saking cepatnya gerakan tubuh dari dia orang sehingga pandangan mata orang yang menonton serasa kabur dibuatnya. Saat ini Lie Loo jie benar benar sudah merasa tidak tega, dia melirik sekejap ke arah si perempuan tunggal. Suheng, terdengar si perempuan tunggal memohon dengan perlahan, cepatlah suruh dia orang berhenti. Liem Tou. Teriak Lie Loo jie dengan cepat Memandang di atas wajah ayahmu si pancingan emas sakti Liem Cong yang mempunyai persahabatan sama seorang musuh besar kau lepaskanlah dirinya satu kali. Selesai berkata Lie Loo jie menganggap tentunya Liem Tou akan memberi jawaban, siapa tahu sekalipun sudah ditunggu beberapa saat lamanya tetap tidak mendengar jawabannya, pikirannya segera berputar, teriaknya kembali dengan lantang. Liem Tou aku tahu tentu dalam hatimu masih ragu ragu, jikalau kau tidak per caya cobalah pikirkan kata kata ini. Hutan Belantara (Liem) lebat bagaikan sutera gunung bersalju (Han San) dan daerah sekitarnya membawa ke pedihan hati ..bukankah syair itu ayahmu Liem Ham San paling suka membacanya? syair itu ayahmu si pancingan emas sakti setelah istrinya meninggal dia sering baca dan akhirnya dengan membawa putranya dia orang meninggalkan gunung Go bie aku pikir dia orang mengubah dirinya dengan Liem Han San dan sudah tentu hasil gubahan dari kedua patah syair tersebut coba kau pikir ... betul tidak perkataanku itu? Selesai berkata Lie Loo jie memandang kembali ke tengah kalangan untuk menantikan jawaban dari Liem Tou. Mendadak dari tengah kalangan berkumandang suara suitan panjang yang menggetarkan seluruh lembah tersebut membuat setiap orang telinganya terasa sakit sekali, seluruh dedaunan serta ranting pada berguguran sedang pepohonan pada bergetar dengan amat keras sekali. Sebentar kemudian segera terlihatlah sesosok bayangan hijau yang datang bagaikan kilat cepatnya meluncur ke tengah udara, hanya di dalam sekejap saja dia sudah melewati punca gunung dan berlalu dari sana diiringi suitan panjangnya yang amat mengerikan itu. Si perempuan tunggal yang melihat Liem Tou tidak mau bertemu babkan berlalu dari sana dengan diiringi suara suitan panjang yang secara samar samar membawa kepedihan hatinya dia segera tahu kalau dia orang sudah teringat akan ayahnya setelah mendengar penjelasan tersebut, dia merasa bahwa orang ini rada aneh sekali . Ketika teringat pula kalau dia orangpun mempunyai medali perak, hatinya semakin dibuat bingung lagi, hanya di dalam sekejap saja berpuluh puluh pikiran bersama sama saling desak mendesak dalam benaknya. Mendadak dia sadar kembali dan serunya pada Lie Loo jie yang ada disampingnya. Suheng sumoay mau pergi mengejar dirinya. Kemudian serunya kepada Auw Hay ong yang berdiri termangu mangu di tengah kalangan, ujarnya dengan keras. Budi kebaikan dari kalian suami istri berdua aku orang merasa sedih tidak bisa membalasnya, keagungan serta perkembangan dari Kiem Thien Pay selanjutnya aku serahkan pada kalian, kalian berusahalah untuk tancapkan kaki kalian di dalam Bu lim dengan mengandalkan kepandaian sendiri. Aku orang disini minta diri dulu, nanti lain waktu jika ada jodoh kita bertemu bembali. Selesai berkata tanpa menanti jawaban dari orang Kiem Thien Pay lagi dia segera tersenyum kepada Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing lantas bagaikan sambaran kilat cepatnya dia berkelebat menuju dimana Liem Tou tadi pergi. Kita balik kepada diri Liem Tou setelah berhasil mengalahkan si perempuan tunggal di atas loteng. lar>ias melihat orang orang dari Kiem Thian Pay pada lenyap, dia tahu mereka tentulah sedang pergi mengejar si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dua orang. Karena takut mereka berdua menemui bencana, dia melepaskan diri dari si perempuan tunggal untuk mengejar keluar. Tsrayata dugaannya sedikitpnn tidak salah, orang orang dari Kiem Thien Pay dengan mengandalkan jumlah banyak telah mengerubuti si gidis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie didalam sebuah lembah gunung. Dikarenakan Auw Hay Ong mengingat hubungannya dengan Lie Loo jie. maka dia orang tidak sampai turun tangan jahat terhadap mereka. Dia cuma memerintankan anak buahnya untuk menawan mereka hidup hidup, waktu itulah keadaan dari si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie jadi amat bahaya. Pada saat yang amat kritis itulah Liem Tou tiba di tempat tersebut, untung saja dikarenakan pikiran yang baik dari Auw Hay Oog ini, Liem Tou pun tidak ingin turun tangan jahat terhadap diri mereka, sebaliknya dengan menggunakan ilmu sakti meringankan tubuh yang amat libay yang berhasil dipelajari dari kitab pusaka To Kong Pit Liok dia mengurung dan mempermainkan mereka. Sat itulah setelah Liem Tou mendengar suara dari Lie Loo jie yang meminta dia orang melepaskan diri Auw Hay Ong, dalam hati dia merasa amat keheranan. Setelah mendapat penjelasan dari Lie Loo jie yang menerangkan asal usul dari ayahnya dan dia pikir perkataan tersebut sedikitpun tidak salah, waktu itulah dia merasakan kepalanya seperti dipukul dengan martil dan terasa di dalam hatinya amat sedih sekali. Dia teringat kembali pesan ayahnya yang melarang dia orang belajar silat tetapi menjelang kematiannya dia sudah menyerahkan kitab pusaka Toa Loo Cin Keng dan dia disuruh mempelajari dengan teliti, bukankah semua urusan itu ada sebab sebabnya? Kiranya sejak kekalahan di tangan Thian Pian Siauw cu mulai saat itu dia tidak pernah mempelajari lagi ilmu silat malah sebaliknya dia terus menerus mempelajari ilmu surat ..Liem Tou dengaa amat cepatnya berlari terus, entah sudah seberapa jauh dia berlari tetapi dia orang tidak tahu juga ... Saat iti cuaca sudah terang ... pandangan di depannya cuma tampak sinar keemas emasan yang mulai menyinari empat penjuru disertai suara deburan ombak yang amat perlahan. Kiranya dia sudah tiba ditepi sungai, taapa banyak berpikir panjang lagi dia segera jatuhkan diri ditepi sungai itu dan tidur dengan nyenyaknya.
Jilid 23 Satu jam kemudian burung burung pada berkicauan memecahkan kesunyian di pagi hari.
Bayangan layar dari perahu yang berlalu lalang di atas sungai pun mulai berlalu dengan tidak henti hentinya, dengan perlahan Liem Tou sadar kembali dari pulasnya dan menghembuskan napas panjang, dengan pandangan terpesona dia memandang ke arah burung yang beterbangan di atas langit dengan perahu layar yang laju bergerak diatas sungai.
Tiba tiba dia melihat beberapa kaki dari tepi sungai tampaklah seorang pemuda tampan berbaju hitam dengan seorang diri berdiri di atas sebuah sampan yang sedang laju bergerak dengan lincahnya.
Yang mengherankan di atas perahu itu ternyata tidak berlayar tidak ada pula yang mendayung sebaliknya pemuda yang berdiri di ujung perahu itu tidak memperlihatkan gerakan apapun, jelas tenaga dalam yang dimilikinya amat tinggi sekali sehingga cukup menggerakkan tenaga dalamnya perahu tersebut sudah dapat bergerak sendiri.
Sudah tentu dengan kepandaiannya seketika itu juga mendapat tepukan serta pujian dari para nelayan lainnya.
Tetapi hanya dalam sekejap saja suara pujian itu sudah berubah menjadi suara teriakan kaget dan kagum, karena para tetamu yang semula ada didalam perahu kini pada keluar semua dan menonton kejadian yang amat aneh itu dengan mata terbelalak lebar lebar.
Liem Tou yang berdiri di tepi sungai dapat melihat setiap kali pemuda berbaju hitam itu mengayunkan tangannya kebelakang sehingga sampan itupun bergerak ke depan dengan amat lajunya, tidak bisa diragukan lagi gerakan perahu tersebut tentunya disebabkan oleh tekanan angin pukulan itu diam diam pikirnya.
Orang ini sungguh keterlaluan sekali, di hadapan orang banyak ternyata dia sudah pamerkan ilmu silatnya.
Saat itu tetapi si lelaki berbaju hitam itupun sedang menoleh ke arah tepi sungai, ketika dilihatnya seorang berbaju hijau berdiri disana dia agak tertegun sebentar.
Liem Tou segera tersenyum dan anggukkan kepalanya, siapa tahu orang itu bukannya membalas anggukan kepala, sebaliknya malah melengos keluar bahkan secara samar samar Liem Tou bisa mendengar orang itu sudah memperdengarkan suara dengusannya yang amat dingin sekali.
Liem Tou yang ketanggor batu dalam hati merasa sangat mendongkol sekali, pikirnya lagi.
Jikalau orang ini berasal dari aliran lurus dia orang tentulah tidak akan memperlihatkan sikapnya yang demikian jumawa, apalagi sikapnya yang amat sombong itu bukanlah sifat dari orang orang dunia kangouw sejati dia bangga atas kepandaian silat yang dimilikinya dan tidak memandang sebelah matapun kepada orang lain, Hmmm..
.hmm..
.ini hari aku mau lihat kau orang sebenarnya seberapa lihaynya?
aku harus ngasih sedikit hajaran kepadanya.
Berpikir akan hal ini dia orang cepat cepat menyelinap masuk ke dalam semak dan melepas jubah panjangnya, ketika dilihatnya orang itu suaah berada pada ratusan kaki jauhnya dalam hati dia segera mengambil satu keputusan.
Aku harus dapat mengejar dirinya, demikian pikirnya dalam hati.
Tubuhnya dengan cepat terjun ke dalam sungai dan meyelam ke dalam dasar sungai untuk melakukan pengejaran dengan amat cepatnya.
Sejak Liem Tou berhasil mempelajari kitab pusaka To Kong Pit Liok.
ilmu menyelamnya sudah tentu memperoleh kemajuan yang amat pesat sekali, tidak sampai seperminum teh kemudian dia sudah berhasil menyandak beberapa kaki di belakang sampan tersebut.
Saat itulah dia bisa melihat ombak yang dihasilkan oleh tenaga pukulan orang itu terasa amat hebat sekali, melihat hal tersebut di dalam hati dia merasa terperanjat sekali, pikirnya.
Ombak yang dihasilkan oleh tenaga pukulan orang ini di atas permukaan sungai kelihatan kecil sekali, siapa tahu ombak yang terjadi di dalam air sungguh begitu dahsyat, jelas sekali tenaga dalamnya benar benar amat sempurna.
Tetapi diapun merasa kalau orang itu sedikit keterlaluan.
"Biar aku coba coba tenaga pukulannya secara diam diam"
Pikirnya lagi.
Berpikir sampai disini badannya dengan Cepat berenang mencapai di belakang perahunya, melihat dari atas permukaan air menggulung datang angin pukulan yang amat keras mendadak dia mengangkat telapak tangannya menyambut -..
"Byuuurrr ... seketika itu juga dari permukaan air muncul semburan tiang air setinggi dua kaki lebih ke atas udara. Pemuda berbaju hitam yang ada di ujung perahu agaknya sama sekali tidak siap, mendapat serangan tersebut badannya segera terhuyung huyung dan mundur tiga langkah ke belakang dan hampir hampir jatuh terduduk di atas perahu teesebut. Tidak terasa lagi di dalam bati dia merasa sangat terperanjat dan memandang ke atas permukaan air secara terpesona, perlahan lahan pada wajahnya yang pucat pasi secara lambat laun timbul warna kehijau hijauan yang samar samar, dari sinar matanya muncullah nafsu untuk membunuh. Siapa yang berani membokong Kongcuyamu dari dalam air? bentaknya dengan amat gusar. Jikalau betul betul bernyali ayoh keluar., .-dan naik ke sini untuk bergebrak seribu jurus dengan aku orang. Tetapi walaupun dia sudah memperhatikan permukaan air itu beberapa saat lamanya tetapi keadaan disekeliling tempat itu masih tenang tenang saja sampai gelembung udarapun tidak tampak. Sekali lagi dia menanti beberapa saat lamanya, sewaktu melihat tidak ada gerakan yang mencurigakan dan melihat pula sampannya sudah terkena cipratan air sehingga basah kuyup terpaksa dengan melancarkan pukulan melanjutkan kembali perjalanannya ke depan. Siapa tahu begitu perahunya mulai bergerak mendadak dari ujung perahu serta buritan terjadi getaran yang amat keras lagi. Dia orang yang sama sekali tidak mengerti ilmu di dalam air saking khekinya seluruh tubuhnya jadi gemetar amat keras, diiringi suara bentakan yang amat keras, dari pingangnya dia mencabut keluar sebilah pedang hitam yang amat tajam sekali dan ditebaskan sekeliling perahu. Jikalau dia tidak melancarkan serangan masih baikan. Begitu dia bergerak tubuh perahu itu goncang semakin keras lagi. Pemuda berbaju hitam itu tidak bisa berbuat apa apa lagi, terpaksa dia meloncat ke bagian tengah dari perahu itu dan mengerahkan ilmu bobot seribu kati untuk menenangkan goncangan tersebut. Pada saat itulah tiba tiba tubuh perahu miring ke samping dan mendadak terbalik ke dalam air. Untung saja pemuda berbaju hitam itu bisa melakukan tindakan dengan cepat. Sambil ber teriak keras dia menutul ujung perahu lantas melayang setinggi tiga kaki ke atas kemudian bersalto ke atas beberapa kali. Dengan berjalan di atas permukaan air dia melirik sekejap kearah perahu tersebut kemudian tertawa tawar, hanya di dalam beberapa kali lompatan saja dia sudah melayang ke tepi sungai tanpa badannya terkena cipratan sedikit air pun. Dengan gerakannya ini secara tidak disengaja sudah mendemonstrasikan semacam ilmu kepandaian,seketika itu juga membuat orang yang ada di atas perahu disekeliling tempat itu pada sorak memuji. Tetapi air mukanya sama sekali tidak memperlihatkan perubahan apapun dengan termangu mangu dia memperhatikan perahu kecil yang tenggelam separoh itu, dia orang benar benar dibuat keheranan daa jengkel oleh kejadian ini. Sudah tentu kesemuanya itu hasil perbuatan dari Liem Tou yang ada didalam air sungai, akhirnya sewaktu dilihatnya pemuda berbaju hitam itu sudah mendemontrasikan ilmu men agankan tubuh berjalan diatas permukaan air di dalam hati diam diam merasa sangat kagum se kali, pikirnya. Tida kusangka perbuatanku ini sama sekali tidak bisa memberi kelihayan kepadanya, aku harus mencari cara yang lain untuk mempermainkan dirinya, pokoknya mulai hari ini aku mau paksa dia uatuk mengetahui kalau orang sakti yang ada di dalam dunia kangouw sangat banyak jumlahnya sehingga dia orang sampai begitu sombong dan tidak memandang sebelah matapun kepada orang lain. Berpikir sampai disitu, dengan cepat telapak tangannya ditempelkan ke dasar perahu tersebut kemudian dengan mengerahkan tenaga saktinya perahu di dorong ke atas. Dorongannya kali ini sama dengan kekuatan seribu kati, seketika itu juga perahu tersebut didorong dari permukaan sungai dan melayang setinggi satu kaki lebih di tengah udara, tubuhnya membalik lagi menumpahkan air sungai yang memenuhi ruangan perahu tersebut kemudian kembali ke atas permukaan sungai di dalam keadaan semula. Dengan kejadian ini walaupun sudah membuat pemuda berbaju hitam itu menjadi amat gusar tetapi dia orang yang mengetahui telah bertemu dengan lawan tangguh tidak berani banyak bertingkah, dengan diam diam dia mempersiapkan diri untuk menghadapi sesuatu. Lama sekali pemuda berbaju hitam itu berdiri di tepi sungai menantikan kedatangan musuhnya tetapi dari dasar sungai dia orang tidak melihat adanya orang yang keluar dan juga tak terasa lagi sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah makinya dengan amat gusar. Kongcu ya mu selamanya tidak berganti nama, aku adalah Ai Lau Tiauw atau si elang sakti dari gunung Ai Lau, Sun Ci Sie adanya, jikalau kau benar benar berilmu nanti malam pada kentongan ketiga aku menanti kau orang di tepi sungai di luar kota disebelah barat dari kota Ciat Ciang. Selesai berkata tanpa menoleh lagi dengan langkah yang lebar dia barjalan meninggalkan tempat tersebut. Ltem Tou yang mendengar pemuda berbaju hitam itu ternyata sudah menyebutkan namanya sebagai Sun Ci Sie dalam hati dia segera berpikir. Aaaaa, kiranya kau orang kalau begitu aku tidak usah susah payah mencari dirimu lagi. Kiranya Sun Ci Sie nama ini adalah nama orang yang harus dicari oleh Liem Tou sesuai dengan pesan orang yang ditemuinya, kalau musuh besar mereka adalah Kioe Lang Wan Kauw, atau dengan perkataan lain dialah satu satunya sanak saudara dari si perempuan tunggal Touw Hong itu. Tetapi si pemuda berbaju hitam yang sejak kecil sudah menemui bencana membuat dia itu sama sekali tidak mengetahui asal usul dia sendiri, sudah tentu di dalam persoalan tersebut iapun tidak mengerti. Liem Tou yang tahu dia adalah orang yang sedang dicari sudah tentu tidak mau melepaskan dengan begitu saja, dengan cepat dia berenang ke tepi untuk berganti pakaian kemudian dengan langkah lebar dan tergesa gesa dia berjalan menuju ke depan. Kurang lebih sejam kemudian ternyata di hadapannya kelihatan ramai juga. Tempat itu ternyata adalah suatu bandar yang cukup besar. Liem Tou dengan cepat masuk kota. Pada saat itu pagi hari baru saja menjelang sehingga terlihatlah jalan raya penuh sesak dengan manusia yang lalu lalang, suasana terasa amat ramai sekali. Walaupun Liem Tou selama satu malampun tidak tidur tetapi menjelang pagi hari dia sudah tertidur sebentar sehingga semangatnya pada saat inipun sudah segar kembali. Dengan wajah yang tampan serta memancarkan sinar berkilauan dengan seenaknya dia berjalan ditengah jalan sehingga menimbulkan perhatian khusus dari orang orang yang berada disana, terutama sekali gadis gadis dusun yang melihat wajahnya tak terasa lagi hatinya pada berdebar debar dengan sangat kerasnya. Dengan langkah yang perlahan lahan Liem-Tou berjalan melalui dua buah jalan kemudian tibalah dia orang di depan sebuah loteng yang amat besar, di atas loteng itu tergantunglah sebuah papan nama yang bertuliskan "Kie Sian-Tong"
Tiga kata. Disamping papan nama itu tergantunglah dua papan nama yang bertuliskan kata kata.
"Tempat berkumpul para eaghioog. Mabok empat lautan"
Liem Tou segera tahu kalau tempat itu adaIah sebuah loteng penjual arak, dengan langkah yang perlahan dia berjalan naik ke tingkat ketiga lantas minta beberapa macam sayur dan arak dan mulai bersantap dengan tenangnya.
Sembari bersantap pikirannya terus menerus sedang berpikir akan kata kata dari Lie Loo jie kemarin malam, semakin lama hatinya terasa semakin panas sehingga akhirnya dia orang benar benar terasa amat gusar.
Arak yang dihabiskannya semakin lama semakin banyak, akhirnya dia orang benar benar dibuat mabuk oleh air kata kata.
Mendadak dia menghajar meja di hadapannya, sambil makinya gusar.
Kiranya kau adalah anaknya iblis, jikalau aku sejak dulu tahu begini tentu saja aku orang akan suruh kau binasa pada saat itu juga atau sedikit dikitnya kau menjadi cacad, kau anaknya iblis ternyata kau sudah mencelakai ayahku, mengurung ayahku dan menyiksa dirinya.
Setelah memaki maki sampai kenyang, dia berganti tertawa keras.
Haaa haaa, pokoknya kau orang tidak bakal lolos dari tanganku biarlah kau orang hidup sebentar lagi tidak mengapa.
Hmm saat kematianmu sehari demi sehari akan semakin mendekat.
Air mukanya mendadak berubah membesi, lalu gumamnya seorang diri.
Hutan belantara lebat bagaikan sutera, gunung bersalju membawa kepedihan hati, malam hari memandang rembulan, termenung di atas loteng.
Aaah ayah, kenapa kau orang tak mau memberi tahukan kepadaku kalau kau orang mempunyai kisah hidup yang demikian mengenaskan kalau tidak sejak semula anak iblis she Ko itu sudah aku pukul hancur sebagai pembalasan atas kematian kau orang tua.
Berbicara sampai disini tidak kuasa lagi dia meneteskan air matanya kemudian menangis tersedu sedu...
Beberapa tamu di atas loteng itu ketika melihat Liem Tou menangis dengan begitu sedihnya, dengan pandangan keheranan pada mengalihkan matanya memandang ke arahnya, ada di antara yang menduga tentu dia orang sedang memikirkan pengalaman pahitnya, adapula yang merasa tidak senang karena sudah diganggu ketenangannya.
Dengan tangisannya ini Liem Ton malah jadi sadar kembali dari pengaruh air kata kata (mabok) itu baru saja dia menghapus kering air matanya mendadak terdengarlah suara seseorang yang sedang berkata dengan suara yang amat dingin sekali.
Seorang lelaki sejati tidak akan menangis sedih karena memikirkan pengalaman yang menyedihkan hatinya, apa kau berbuat seperti seorang bocah cilik?
Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut barnadakan mengomeli dirinya dalam hati merasa sangat tidak senang, dengan cepat diaangkat kepalanya melotot ke arah orang tersebut.
Aku mau menangid atau tidak apa sangkut pautnya dengan kau orang?
serunya dengan gusar.
Kau orang tidak usah banyak bacot dihadapanku.
Baru saja dia selesai berkata mendadak dia merasakan ada serentetan sinar mata yang amat tajam sedang menyapu ke arah dirinya Liem Tou menjadi amat terkejut, pikirnya di dalam bati.
Dengan ketajaman matanya itu yang mengejutkan, jelas kepandaian silat yang dimilikinya sudah mencapai pada taraf kesempurnaan.
Bahkan diantara ketajaman matanya itu secara samar samar membawa nafsu membunuh yang amat tebal srkali.
dan sungguh dahsyat sekali.
Hatinya segera bersiap sedia dan secara diam diam menyalurkan hawa murni untuk mengelilingi seluruh tubuhnya.
Saat itulah dia baru bisa melihat kalau orang tersebut bukan lain adalah si pemuda berbaju hitam yang ditemuinya sewaktu di sungai tadi, pada waktu ini dengan pandangan yang amat dingin sedang memperhatikan dirinya.
Empat buah sinar mata berbentur menjadi satu, pemuka berbaju hitam itu agak tertegun dibuatnya.
Mendadak dia bangkit berdiri dan ujarnya dengan suara yang amat dingin.
Terang terangan Loo heng memiliki kepandaian silat yang amat tinggi sekali kenapa ksu orang menangis sedih di tempat ini?
bahkan aku rasa di suatu tempat aku pernah bertemu dengan Loo heng, cuma saja untuk beberapa saat lamanya aku sudah tidak teringat kembali.
Liem Tou selesai mendengar perkataannya dia segera mengangguk dengan perlahan, lantas jawabnya.
Cayhe cuma seorang terpelajar saja yang baru gagal menempuh ujian mana bisa memiliki kepandaian silat?
jikalau aku betul betul mempunyai ilmu aku orang tidak akan sampai bernasib begini, heeei...bukankah Heng Thay adalah orang yang tadi pagi mendemontrasikan perahu terbang?"
Ketika pemuda berbaju hitam itu mendengar dia orang tidak lebih cuma seorang siucay saja di dalam hati dia agak kecewa tetapi kemudian setelah mendengar Liem Tou mengungkap kembali peristiwa tadi pagi sewaktu ada di sungai dengan cepat diapun sudah teringat kembali kalau orang yang ada dihadapannya ini bukan lain adalah si pamuda berbaju hijau yang ditemuinya di tepi sungai tadi pagi, dia segera mengangguk.
Aaaah .
.kiranya kau orang, Loo heng tidak usah berputus asa berjuanglah terus akhirnya tentu kau orang akan mencapai sukses juga.
Sebenarnya si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san, Sun Ci Sie ini adalah orang amat congkak dan dingin sekali sikapnya tetapi dikarenakan perbuatannya yang secara tidak sengaja dengan Liem Tou membuat dia orang mau tak mau harus berbicara juga beberapa patah kata.
Liem Tou sendiripun sama sekali tidak menyangka kalau pihak lawan bisa mengucapkan kata kata memuji dirinya, dia segera memperlihatkan senyuman yang amat girang sekali.
Terima kasih...terima kasih...serunya berulang kali.
Dengan mengambil kesempatan ini dia pindah tempat dan duduk semeja dengan dirinya lalu menanyakan nama dari si rajawali sakti Sun Ci Sie ini, mengaku terus terang namanya, sebaliknya Liem Tou sudah karangkan satu cerita palsu kepadanya.
Sun heng mendengar secara tiba tiba Liem Tou memuji dirinya.
Menurut pandangan Siauw te, Sun heng manusia yang paling aneh dan paling sakti pada saat ini, ini hari aku bisa bersahabat dengan Sun heng hatiku merasa sangat bangga sekali, tetapi sampai saat ini Siauw te masih ada satu hal yang masih belum paham benar, entah maukah Sun heng memberikan penjelasannya??"
Si rajawali sakti dari gunung Ai San Sun Ci Sie sewaktu mendengar dia orang dipuji puji dan disanjung hatinya semakin gembira lagi.
Aaaih, cuma sedikit kepandaian tak berarti mana bisa dianggap sebegitu lihaynya?
sahutnya sambil tertawa.
Entah Liem heng ada urusan apa yang kurang paham?
bilamana Siauw te tahu tentu akan aku jawab.
Mendengar jawaban tersebut diam diam didalam hati Liem Tou merasa geli.
Hee...hee kau jangan keburu bangga, aku mau suruh kau merasakan bagaimana rasanya keguyur air dingin.
Sewaktu Sun heng bermain perahu di atas sungai tadi, ujar Liem Tou menyambung.
Bukankah perahu bergerak dengan amat lajunya?
dengan kepadaian silat yang dimiliki Sun heng sekarsng ini bagaimana secara tiba tiba perahu tersebut bisa terbalik?
peristiwa ini sangguh membuat Siauwt.
kurang paham.
Mendengar perkataan dari Liem Tou ini air muka si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san ini seketika itu juga berubah jadi merah padam, senyuman yang menghiasi bibirnyapun segera lenyap berganti dengan satu lembar wajah yang sangat adem, di antara perubahan yang secara mendadak itulah pada alisnya jelas muncul nafsu membunuhnya yang amat tebal.
Liem Tou yang melihat kejadian itu dalam hati segera berpikir.
Jika ditinjau dari keadaan serta tindak tunduknya jelas Sun Ci Sie ini bukan nerasal dari kalangan lurus, jika dilihat dari antara alisnya jelas sekali memperlihatkan akan kekejaman hatinya yang melebihi binatang.
Hmm ..aku harus baik baik mengadakan penyelidikan.
Hmmm, ,aku sama sekali tidak menyangka kalau di dalam sungai tersebut bisa terdapat sebegitu banyak ikan besar.
Teriak Sun Ci Sie tiba tiba sambil menghantam meja.
Ikan ikan terkutuk itu ternyata sudah membalikkan sampan kecilku kedalama air, aku cuma gemas karena sama sekali tidak dapat menggunakan ilmuku didalam air, kalau bisa hmm, hmm, aku tentu akan seret dia ketepi pantai dan kuhancurkan badannya hingga bisa menghilangkan rasa mengkel yang mengganjal di dalam dadaku.
Liem Tou segera tertawa tergelak dengan sangat kerasnya.
Aduuuhh, kiranya ada seekor ikan yang begitu besarnya?
Teriaknya dengan kaget.
Jikalau Sun heng benar benar menarik dia ke tepi sungai aku rasa ikan tersebut tentunya ikan yang paling besar didalam sungai itu dan paling mengejutkan semua orang, tetapi ada sesuatu hal lagi yang aku tidak paham, kenapa perahu tersebut mendadak bisa terbang kelangit?
Apakah ikan tersebut bisa menyembur sebegitu hebatnya?.
Untuk sesaat lamanya Sun Ci Sie tidak bisa mengucapkan sepatah katapun sepasang matanya dengan melotot lebar lebar memperhatikan diri Liem Tou, lama sekali dia baru mengangguk.
Ehmm, boleh dikata perkataan dari Liem-heng itu memang benar, mungkin perkataan dari Liem heng benar.
Terpaksa Liem Tou pun harus menutup mulutnya kembali, padahal saat ini dia sudah bisa tahu bagaimana macamnya manusia yang bernama Sun Ci Sie ini, dia semakin memandang rendah dirinya lagi.
"Sun-heng,"
Lama sekali Liem Tou baru bertanya lagi, kau orang datang ke kota Ciat Ciang ini ada keparluan apa????
Tiga hari kemudian aku mempunyai satu urusan kecil di tempat sebelah sana sahut si rajawali sakti dari gunung Ai Lau San itu perlahan.
Selesai berkata dia menuding keluar jendela.
Liem Tou dengan mengikuti arah yang dituding segera menoleh keluar, terlihatlah sebuah gunung berdiri dengan megah dihadapan-nya, dengan puncak yang sangat tinggi sehingga menembus awan.
itulah yang disebut sebagai gunung Hauw Ya San.
Gunung Hauw Ya San ini terletak di sebelah Barat dari keresidenan Auw Kiang dan bersebelahan dengan kota Ciat Ciang ini, sehingga Sun Ci Sie sekali menuding ke arah luar jendela sudah bisa menunjukkan gunung Hauw Ya San tersebut .
Buat apa dia orang pergi ke gunung Hauw-Ya San??
pikir Liem Tou di dalam hati.
Aaaa...Sun heng sungguh bersemangat sekali, di bawah sorotan sinar matahari yang demikian lembutnya memang waktu yang paling tepat untuk berpesiar ke atas gunung, Siauwte pun kini sedang menganggur, bagaimana kalau aku temani Sun heng pergi berpesiar kesana??"
Dengan cepat Sun Ci Sie gelengkan kepalanya.
Liem heng adalah seorang terpelajar tidak seharusnya naik ke gunung yang begitu tingginya, apalagi kepergianku ini diliputi oleh mara bahaya., .aku orang sama sakali bukan sedang berpesiar.
Kalau begitu San heng naik ke gunung mau membinasakan ular besar?
teriak Liem Tou sengaja memperlihatkan rasa kagetnya yang tak terhingga.
Ataukah mungkin Sun heng naik ke atas gunung mau membasmi binatang binatang berbahaya lainnya??"
Bukan, .bukan begitu, sekali lagi Sun Ci Sie gelengkan kepalanya.
Hari itu aku sudah janji dengan dua orang manusia yang amat lihay sekali untuk pergi ke atas puncak gunung Hay Ya pan untuk bertanding silat.
Wach, Aku semakin ingin ikut pergi lagi, teriak Liem Tou dengan cepat.
Kesempatan yang baik sukar untuk ditemui selama hidupku tentuaya Sun henh mengizinkan aku untuk pergi menotou peristiwa yang sangat besar bukan??
Sembari berkata Liem Tou di dalam hatiny berpikir terus.
Siapakah orang yang sudah mengadakan perjanjian dengan dirinya??
Aku harus mengadakan penyelidikan dengan seksama.
Wajahnya segera memperlihatkan keragu raguannya, dengan rasa terkejut bercampur heran tanyanya.
Sun-hang bisa berjalan di atas permukaan air dengan tenangnya bahkan bisa lari bagaikan kilat, boleh dikata itulah pekerjaan seorang dews atau malaikat.
Di dalam kolong langit pada saat ini ada siapa lagi yang berani mencari gara gara dengan diri Sun heng???
Kalau memangnya orang itu berani menantang Sun heng untuk bertempur sudah tentu kepandaian mereka tidak sembarangan ..• Sun Ci Si segera menganggukkan kepalanya.
Pada masa yang lalu kedua orang ini juga termasuk manusia yang amat lihay sekali, kali ini jikalau mereka bekerja sama.
Dapatkah aku orang memperoleh kemenangan, hal ini masih sukar untuk di duga sebelumnya.
Lalu siapakah kedua orang itu?
apa sangat fihay sekali ilmu silatnya?.
Sskalipun aku bsritahu kepadamu kau orang tentu tidak tahu, baiklah biar aku beritahukan kepadamu.
Yang satu adalah Thiat Bok Thaysu yang sudah angkat nama bersama sama dengan si cambuk iblis Suo Kok Thaysu tempo hari, sedang yang lain adalah si penahat naga merah anak murid dari Suo Kok Mo Pian.
ke dua orang ini semuanya merupakan penjahat-penjahat berhati kejam yang sudah melakukan banyak kejahatan baik merampok, membunuh maupun memperkosa, tetapi kali ini aku sengaja pergi mencari mereka bukanlah dikarenakan kejahatan kejahatan yang dilakukan oleh mereka melainkan hendak membereskan sedikit sakit hati yang sudah terjadi empai puluh tahun yang lalu.
Mendengar jawaban tersebut diam diam Liem Tou merasa sangat terperanjat, pikirnya.
Oooh kiranya dia mau pergi menemui kedua orang itu, kalau begitu aku harus menyelidiki urusan yang sudah terjadi.
Mendadak dia bangkit berdiri, air mukanya jadi membesi lalu serunya dengan keras.
"Sun heng jangan sekali kali melepaskan ke dua orang itu lagi, tentang Thiat Bok Thaysu siauw te tidak tahu siapakah dia orang, tetapi si penjahat naga merah itu bukan saja siauw te pernah mendengar sekalipun kaum perempuan serta bocah cilik dari penduduk di sekitar tempat itupun tahu kalau dia adalah penjahat kejam, diapun merupakan seorang bajingan pembasmi keluarga, pada dua puluh tahun yang lalu menurut perkataan dari orang orang tua, dia pernah mengumbar nafsunya itu tetapi sebentar kemudian sudah lenyap dari muka bumi, tidak kusangka sama sekali pada akhir-akhir ini dia sudah munculkan dirinya kembali bahkan aku dengar tindakannya semakin ganas lagi Hei ..jikalau orang ini tidak dibasmi secepatnya, maka kita sebagai rakyat biasa tentu ada sehari tidak tidur tenang, entah Sun heng punya ganjalan sakit hati apa dengannya?"
Dengan perlahan Sun Ci Sie angkat cawannya dan diteguk isinya hingga habis.
Dari sepasang matanya tampak memancar keluar sinar yang amat tajam sekali berkelebat tak henti henti nya.
Baru saja dia gerakkan mulutnya mau berbicara mendadak dia menarik kembali kata katanya itu dan meloncat bangun.
Peristiwa ini panjang sekali bila mana d ceritakan, ujarnya kemudian.
Lebih baik kita bicarakan dikemudian hari saja, bila mana Liem heng benar benar ingin ikut pergi dengan aku.
maka di dalam tiga hari ini kau harus baik baik beristirahat sampai waktunya kamu boleh ber&embunyi disamping untuk menonton aku pergi membasmi kedua orang siluman aneh tersebut.
Liem Tou segera mengangguk.
Setelah membayar rekening arak Sun Ci Sie lalu turun dari loteng dan Liem Toupun mengikuti dari belakang.
"Sun heng, kau menginap dimana?"
Tanyanya.
"Ikuti saja diriku"
Sahur Sun Ci Sie sambil melanjutkan terus perjalanannva ke depan.
Terpaksa Liem Tou mengikuti dirinya dari belakang, setelah berjalan melalui jalan besar dia itu keluar melalui pintu kota sebelah barat.
Tidak terasa di dalam hati Liem Tou merasa ragu ragu juga, pikirnya.
"Aaaaahh ... dia mau pergi kemana?"
Tetapi sekalipun dia berpikir demikian, mulutnya tetap membungkam, dia ikuti terus dirinya dari belakang menuju ke tepi sungai.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian mereka berdua sudah lama berjalan mengikuti aliran sungai tersebut, ketika dilihatnya mereka sudah cukup jauh mnninggalkan kota tersebut mendadak terdengar Sun Ci Sie bergumam seorang diri.
Malam ini aku mau menemui dirinya di tempat ini.
Liem Tou tahu yang dimaksudkan olehnya adalah dia orang sendiri, tetapi pada mulutnya sengaja dia bertanya.
Sun heng kau sedang membicarakan apa???
dan malam hari ini kau mau bertemu dengan siapa?"
Agaknya Sun Ci Sie sangat gusar sekali dibuatnya, setelah mendengar perkatan tersebut dia segera tertawa dingin.
Lebih baik Liem heng jangan terlalu banyak bertanya, ujarnya dengan amat dingin sekali.
Harusnya kau orang ketahui sejak aku si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san terjunkan diri ke dalam dunia kangouw, kecuali kau seorang belum pernah aku bersikap demikian sungkannya kepada siapapun, kau orang harus sedikit berhati hati jangan sampai membuat diriku marah.
Liem Tou yang disemprot dengan kata kata tersebut dia sama sekali tidak menjadi marah, dia tersenyum, tetapi dalam hati tidak urung memaki juga.
Kau manusia goblok, jikalau bukannya ibumu mempunyai budi yang amat besar kepadaku sehingga aku orang bisa mendapatkan kitab pusaka To Kong Pit Liok, aku segera kasi lihat pertunjukan yang amat bagus padamu.
Tetapi perkataan tersebut tidak sampai dia ucapkan keluar, dengan berdiam diri dia mengikuti dirinya dari belakang.
Semakin lama suara deburan ombak dari sungai itu terdengar jauh lebih kencang beberapa kali lipat, dari pada deburan ombak yang ada di sekitar kota Ciat Ciang tadi.
Liem Tou yang sudah sangat hafal sekali terhadap aliran sungai tersebut sudah tentu jauh lebih tahu dari dirinya, dia tahu dirinya sudah memasaki selat Sie Leng Shia.
Tetapi Sun Ci Sie masih terus melanjutkan perjalanannya menuju ke depan, semakin lama dia berjalan, jalan yang tadinya lebar itu berubah menjadi sempit dan akhirnya jadi jalan seusus kambing yang amat kecil sekali.
Sebenarnya Liem Tou mau bertanya kembali kepadaaya tetapi dia takut Sun Ci Sie jadi gusar oleh tindakannya itu, terpaksa dia bungkam diri.
sedang di dalam hatinya diam diam pikirnya, Perduli amat dia orang mau pergi ke mana.
Aku ikuti saja terus bukankah beres???
Supaya dia orang tidak banyak berpikir lagi dengan berdiam diri dia terus menerus mengikuti di belakangnya.
Tidak lama kemudian mereka sudah menaiki sebuah bukit kecil, Liem Tou segera melayangkan pandangannya melihat sungai yang berombak sangat besar itu ....
Saat itulah terdengar Sun Ci Sie sudah berbicara sambil menuding kearah sungai.
Selama tiga hari ini Liem-heng boloh tinggal ditempat ini saja.
Liem Tou yang melihat dia menuding ke tengah sungai dalam hati merasa amat tidak paham.
Sun-heng kau orang jangan berguyon, seru nya.
Aku orang bukanlah sebangsa makhluk yang hidup didalam air, bagaimana mungkin bisa tinggal di dalam sungai itu??
Haaaa ...
haaaaa ...
aku orang sama sekali bukan menyuruh Liem heng tinggal di dalam air, sahut Sun Ci Sie sambil tertawa.
Coba kau lihat, bukankah di tikungan sebelah sana ada sebuah perahu yang masih baru?
Dengan terburu buru Liem Tou mengalihkan pandangannya ke tengah sungai dan mulai mencarinya, akhirnya dia menemukan juga di tengah sungai tersebut memang terdapat sebuah perahu yang berhenti tak bergerak, di dalam perahu tersebut nampaknya tidak ada orangnya, tampak dua buah tiang layar berdiri dengan tegaknya di tengah tiupan angin.
Sewaktu Sun Ci Sie melihat Liem Tou sudah dapst mengetahui perahu tersebnt mendadak dengan beberapa kali loncatan dia menubruk ke arah perahu tersebut.
Saat itu walaupun Liem Tou memiliki ilmu silat yang sangat tinggi tetapi dia tidak dapat menggunakannya.
Tampaklah jarak antara bukit kecil dan tengah sungai masih ada satu atau dua puluh kaki tingginya, bahkan kelihatan tak ada jalan lainnya lagi.
Terpaksa dia orang berdiri tidak bergerak di atas bukit tersebut dan berteriak teriak dengan sangat keras.
Sun heng.
bagaimana Siauw te harus turun ke sana?
Dia berteriak dua kali tetapi tidak tampak juga orang naik, ketika dia berteriak untuk ke tiga kalinya saat itulah baru tampak Sun Ci Sie meloncat naik kembali ke atas bukit.
Liem heng tidak usah cemas, serunya sambil tertawa, Sudah tentu aku takkan membiarkan diri mu tinggal seorang diri di atas bukit itu.
Selesai berkata dia memeluk pinggang Liem Tou dan kembali dengan beberapa kali loncatan naik ke dalam perahunya.
Liem Tou dapat melihat perahu tersebut masih sangat baru sekali, ruangan perahu di atur dengan rapi dan mewahnya, pada samping kiri dari ruangan tersebut terdapatlah dua buah jendela yang masih tertutup rapat.
Dengan perlahan Sun Ci Sie membuka pin tu ruangan tersebut sehingga tampaklah tirai yang terurai menghalangi pandangan, di balik tirai tersebut terbentuklah sebuah ruangan yang disusun amat mewah dan megah sakali, keadaan ini mirip dengan sebuah ruangan istana.
Didepan ruangan perahu Sun Ci Sie melepaskan sepatunya lalu baru masuk ke dalam ruangan, Liem Tou pun segera melepaskan juga sepatunya.
Tak kusangka ternyata Sun heng begitu gemar akan berpesiar, ujarnya sambil tertawa.
Tidak kusangka pula ternyata engkau mempunya sebuah perahu besar yang benar benar sangat menarik dan megahnya, siancay .
siancay bila mana mana siauw te bisa tinggal selama tiga hari di tempat ini boleh dikata rejekiku sungguh amat mujur sekali, Sun Ci Sie segera tertawa.
Liem heng jangan begitu sungkan sungkan jikalau kau akan ikut menonton pertempuran di atas gunung Hauw Ya san terpaksa cuma ada tiga hari saja kau bisa menginap disini.
Sembari bercakap cakap sepasang mata dari Liem Tou dengan amat tajamnya memperhatikan terus keadaan di sekeliling ruangan tersebut.
Terlihatlah bantal seprei disulam dengan amat indah sekali.
dan diatur dengan begitu rapi dan menarik, di sebelah kiri dari ruangan tersebut bertumpuklah beberapa buah peti besar yang berwarna hitam, kecuali peti yang terbawah di kunci yang lainnya sama sekali tidak digembok.
Entah dimanakah rumah dari Sun heng?
aku rasa kau orang tentu sangat kaya sekali dan merupakan putra seorang hartawan.
Si rajawali sakti dari gunung Ai Lau San ini cuma tersenyum ringan saja dia tidak menjawab.
Segera dia orang menunjukkan dimana terletak bahan makanan dimana terletak bahan minuman dan beritahu juga kepadanya kalau mau tidur suruh lantas tidur saja akhirnya dia menambahi.
Untuk sementara Liem heng tinggallah ditempat ini.
aku orang masih ada urusan yang harus diurus di tepi sungau sana.
Sun heng silahkan berlalu jawab Liem Tou dengan cepat.
Aku orang sudah terialu mengganggu diri Sun heng, dalam hati aku merasa tidak enak.
Sun Ci Sie tidak memberikan jawabannya, dia segera memakai sepatunya lalu meloncat naik ke tepi hanya dalam sekejap saja sudah lenyap tak kelihatan.
Menanti setelah Sun Ci Sie pergi jauh Liem Tou baru diam diam berpikir .
Orang ini sungguh amat aneh sekali, jika dilihat dari gerak geriknya yang sangat terburu buru dan sama sekali tidak mau berhenti agaknya dia orang mempunyai satu kesedihan yang benar benar menggoncangkan hatinya sehingga dia berbuat demikian.
Berpikir sampai disini dia tidak ragu ragu lagi, dangan cepat dia berjalan mendekati beberapa buah peti hitam itu dan membuka peti yang pertama.
Pandangannya menjadi terang, tampaklah di dalam peti tersebut dipenuhi dengan uang perak yang menyilaukan mata.
Sewaktu membuka peti yarg kedua dia menemukan peti tersebut juga penuh berisikan uang perak putih yang menyilaukan mata.
Berturut turut sampai pada peti yang keempat dia baru menemukan kalau peti tersebut penuh berisikan uang emas yang bertumpuk tumpuk memenuhi seluruh tempat.
Pada peti yang kelima berisikan satu peti mutiara dan intan permata yang mahal harganya Tidak kuasa lagi Liem Tou dibuat berdiri tertegun di tanah, lama sekali dia baru berpikir.
Sungguh hebat, darimana dia orang mendapatkan uang emas perak dan intan permata yang demikian banyaknya?
cukup dengan beberapa peti ini saja sudah bernilaikan satu kota bagaimana mungkin harta ysng sebegitu banyaknya ini bisa muncul ditangan seorang jagoan tukang pukul Bu lim yang asal usulnya tidak diketahu jelas.
Berpikir sampai disini otaknya diperas lebih keras lagi, mendadak di dalam benaknya terbayang satu ingatan hingga tidak terasa lagi seluruh tubuhnya bergidik dengan amat kerasnya Apa mungkin dia orang, .apa mungkin di orang, .gumamnya seorang diri.
Saat ini tinggal peti hitam yang paling bawah belum dibuka, pikir Liem Tou lagi.
Turggu dulu.
Aku sama sekali tidak memiliki kepandaian untuk membuka kunci itu, jikalau harus dirusak sudah tentu setelah Sun Ci Sie kembali dia akan mengetahuinya, aku tidak boleh mencari gara gara dikarenakan urusan yang kecil ini saja, bagaimanapun juga waktu yang akan datang masih panjang sekalipun dibuka lain kali juga belum terlambat.
Setelah dia mengambil keputusan di dalam hatinya deagan cepat peti peti yang sudah terbuka ditutupnya kembali seperti sedia kala lantas ditumpuk seperti semula.
Setelah semuanya selesai untuk membuang waktu yang amat senggang ini dia duduk bersila dan mulai memusatkan perhatiannya untuk bersemedi.
Sebentar kemudian hawa murninya sudah mengalir mengelilingi seluruh tubuhnya badan terasa menjadi segar sedang pendengarannya semakin tajam.
Saat ini kecuali suara deburan ombak yang menggulung tak henti hentinya terdengar sedikit suara ---tidak lama kemudian Liem Tou sudah berada dalam keadaan lupa segalanya.
Semakin dia bersemedi hatinya semakin tenang, pendengarannya pun semakin tajam, setiap suara yang di dengar di tepi sungai sampai rontoknya dedaunan pun dia bisa mendengar dengan amat jelasnya.
Dari siang hari sampai malam Liem Tou terus menerus duduk sama sekali tidak bergerak, waktu itu sudah menjelang magrib tidak hentinya angin sungai bertiup berlalu membawa rasa dingin yang menggigilkan.
Tidak lama kemudian secara samar samar Liem Tou bisa mendengar suara tersampoknya ujung baju terkena angin, dia taha si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san, Sun Ci Sie sudah kembali ke perahu.
Dengan cepat Liem Tou jatuhkan diri berguling dan menutupi tubuhnya dengan selimut pura pura tidur.
Sebentar kemudian segera terasalah tubuh perahu tersebut sedikit bergoyang, Sun Ci Sie dengan berpakaian hitam sudah muncul dihadapanuya air mukanya yang pucat pasi secara samar samar membawa warna kehijau hijauan, dengan air muka yang amat tawar dia berjalan masuk ke dalam ruangan perahu lalu mendorong jendeia dan dengan termangu mangu memperhatikan ke tengah sungai.
Sedikit jejakpun tidak kelihatan, gumamnya seorang diri.
Sungguh suatu urusan yang amat aneh sekali, di dalam Bu Lim pada saat seperti ini orang yang bisa memiliki tenaga dalam yang sebegitu tingginya aku rasa tidak begitu banyak, apa mungkin si tua bangka itu yang mencari gara gara di belakang diriku?
Liem Tou yang berbaring di dalam selimut segera bisa meraba dari pembicaraannya itu siapa orang yang dimaksud, cuma sayang tidak tahu siapakah tua bangka yang dimaksudkan itu.
Lewat beberapa saat kemudian Sun Ci Sie bergumam kembali.
Perduli siapakah dia orang, setelah malam ini bertemu dengan dirinya aku mau mengambil keputusan lagi, jikalau dia orang yang mempunyai kepala dan muka tentu akan menunjukkan dirinya dengan terang terangan.
Saat itulah Liem Tou merasa yakin kalo apa yang dibicarakan selama ini adalah bukan lain hanya orang yang berada didalam air itu, diam diam Liem Tou tertawa geli.
Orang itu tidak akan munculkan dirinya, saya rasa kau orang takkan bertemu dengannya pikirnya di dalam hati Berpikir sampai disitu dia segera mengulet dan berseru dengan keras.
"Aaaah sungguh nyaman sungguh nyaman sekali, eeh kapan Sun heng puiang? selama beberapa tahun ini aku belum pernah merasakan tidur yang demikian nyamannya ternyata aku sudah tidur dengan begitu pulas sungguh tidak genah .... sungguh tidak genah. Sembari berkata Liem Ten segera merangkak bangun Liem heng tentu sudah lapar bukan ? ujar Sun Ci Sie sambil menoleh. Bagaimana kalau kita mengambil keluar makanan serta arak kita nikmati dengan perlahan lahan? setelah kentongan kedua kita bisa berlayar mengikuti aliran sungai lalu kau tinggal di dalam perahu dan aku akan pergi menepati janji untuk menemui orang tersebut. Liem Tou tertawa, tetapi di dalam benaknya sedang memikirkan cara cara untuk memecahkan siasat ini, pikirnya. Dia minta, supaya aku menjalankan perahu untuk mengikuti dirinya lalu bagaimana aku bisa naik ke tepian masuk kota dan berganti pakaian?? Tetapi dengan terpaksa dia berjalan menuju ke gudang dan membuka pintunya nampaklah arak, daging, ayam dan banyak bahan makanan yang sudah tersedia di dalam gudang tersebut, bahkan bergentong gentong arak tersedia pula disana. Dengan cepat dia mengambil barang barang tersebut dan mereka berdua mulai minum arak sambil memandang ke tengah sungai. Cuma saja arak ini diminum terlalu sepi karena di antara mereka berdua tidak ada yang mau berbicara, masing masing sedang memikirkan urusannya sendiri sendiri. Kurang lebih satu jam kemudian malam semakin kelam, tampaklah sinar rembulan berbentuk sabit muncul dengan perlahan lahan dari balik awan, dengan meminjam kesempatan ini Liem Tou segera bertanya. Sun heng, walaupun kau dan aku telah berkenalan belum lama tetapi aku rasa kita memangnya berjodoh, apalagi kepandaian silat dari Sun heng yang begitu tingginya membuat aku benar benar merasa sangat beruntung sekali. Tetapi entah Sun heng berasal dari aliran perguruan mana? siapakah suhumu?. Sun Ci Sie yang selama setengah harian penuh pergi mencari orang yang sudah mengganggu dirinya di dalam air tanpa berhasil di dalam hati sebetulnya dia sudah merasa mendongkol, saat ini dengan meneguk beberapa cawan arak dia orang sudah dibuat setengah mabok, mendengar perkataan tersebut dia segera menjawab Jikalau orang lain yang bertanya kepadaku mungkin aku akan marah, kalau memangnya Liem heng yang mengajukan pertanyaan ini aku akan memberitahukan juga kepadamu tetapi kau harus jaga rahasia aku sudah belajar ilmu silat selama dua belas tahun lamanya dit ebing Tak berbudi di atas gunung Ai Lau san, guruku bukan lain adalah si bweesio tujuh jari yang pada empat puluh tahun yang lalu pernah menggetarkan seluruh dunia kangouw dengan mengandalkan sebilah pedang hitam yang kemudian membinasakan salah satu dari Auw Hay Siang-Hiap. Liem Tou yang pengalamannya cetek mana tahu siapakah si hweesio berjari tujuh itu? jikalau dia orang tahu kalau si hweesio berjari tujuh bukan laia adalah pembunuh dari suhu ayahnya Hoa Siong Hiap pada saat ini kemungkinan sekali dia sudah menyerang diri Sun Ci Sie dengan amat gencarnya. Lalu di manakah suhumu sekarang berada? terdengar Liem Tou bertanya lagi sambil tertawa. Jika ditinjau dari kepandaian silat dari suhumu amat dahsyat sekali. Haaai, terdengar Sun Ci Sie meghela napas panjang, sekalipun suhu masih sehat waalfiat tetapi dikarenakan pada tempo hari sudah terhajar jatuh ke dalam jurang, sepasang kakinya sudah cacat walaupun kepandaian silatnya masih ada tetapi sudah tidak dapat bergerak lagi, tujuanku kali ini turun gunung bukan lain adalah hendak menuntut balas dendam tersebut, musuh besarku bukan lain adalah Si Suo Kuk Mo Pian serta Thiat Bok Thaysu dua orang, karena si penjahat naga merah adalah anak murid dari Suo Kuk Mo Pian itu maka aku sudah menghitungnya sekalian. Liem Tou cuma berdiam diri tidak menjawab tetapi dalam hati mengingat seluruh perkataannya. Ketika dia menoleh memandang keluar jendela mendadak....tampak sesosok bayangan hitam dengan amat cepatnya berkelebat di tepi sungai, walaupun Liem Tou melihat akan hal tersebut tetapi dia sama sekait tidak memperlihatkan sedikit perubahan apapun, dia pura pura tidak melihatnya sama sekali dan berjalan mendekati kearah jendela. Tampaklah bayangan hitam itu mendadak ber henti di atas tepian tersebut. Karena jaraknya amat jauh apalagi berada di dalam malam yang gelap sekalipun Liem Tou bisa melihat bayangan tersebut tetapi tidak mengetahui siapakah orang itu. Dia cuma melihat perawakan orang itu tidak begitu besar, tubuhnya kecil langsing dan berdiri tidak bergerak di atas bukit kecil itu' Dalam hati Liem Tou segera berpikir. Biarlah aku beritahukan adanya orang berjalan malam ini kepada diri Sun Ci Sie agar dia menganggap dia orang adalah orang yang sudah mengganggu dirinya di dalam air sungai tadi sehingga dengan demikian dia akan pergi melakukan pengejaran. Berpikir akan hal ini dia segera buka mulutnya siap berbicara...mendadak...Bluuk..sebuah batu sudah disambit kearah air sungai sehingga menimbulkan suara yang agak nyaring. Sun Ci Sie memiliki kepandaian silat yang amat tinggi segera merasakan akan hal itu, tubuhnya dengan cepat melayang keluar dari ruangan perahu dun menyapu sekejap sekeliling tempat itu. Tampaklah di atas bukit diseberang tepian sungai berdirilah seseorang dengan amat tegak nya. dia orang tidak malu disebut si rajawali sakti tubuhnya deagan kecepatan bagaikan kilat sudah melayang dan menubruk ke atas bukit. Liem Tou dapat melihat seluruh kejadiaa itu dengan amat jelasnya Dia melihat orang yang ada diatas bukit itu agaknva sudah mengadakan persiapan, baru saja tubuh dari si rajawali sakti meloncat kedepan orang itu sudah putar tubuh dan melarikan dirinya. Menanti sewaktu Sun Ci Sie tiba di atas bukit itu orang tersebut sudah berada ditempat yang amat jauh sekali. ZTerdengar si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san mendengus dengan dinginnya, ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah lantas melakukan pengejaran ke depan. Dalam hati Liem Tou jadi keheranan, tanpa memakai sepatu lagi tubuhnya dengan cepat melayang melalui jendela, kemudian dengan menutul ujung perahu bagaikan kilat cepatnya dia melayang sejauh dua puluh kaki lebih menuju ke arah bukit tersebut, kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat lihay tubuhnya berkelebat kembali menuju kearah di mana bayangan dari Sun Ci Sie tadi lenyapkan dirinya. Beberapa saat kemudian dari tempat kejauhan dia bisa melihat adanya dua bayangan yang sedang berkelebat saling susul menyusul dengan jarak lima puluh kaki lebih. Dengan cepat Liem Tou meloncat ketempat kegelapan dan mengejarnya dari belakang, tidak sampai seperminum teh kemudian dia orang sudah berhasil menyusul mereka berdua tetapi diapun tidak bisa melampaui diri Sun Ci Sie, terpaksa dari belakang dia membuntuti dirinya terus menerus. Lewat beberapa saat lagi tampaklah di depan mereka terbentanglah sebuah hutan yang amat lebat sekali, tampak bayangan yang ada di paling depan dengan amat cepatnya secara tiba tiba berkelebat menuju ke sana. Sun Ci Sie yang berhasil mencapai di depan hutan itu agak ragu ragu sebentar, akhirnya dia pun menubruk masuk ke dalam. Heey..manusia itu sungguh besar nyalinya, pikir Liem Tou yang ada di belakangnya. Terpaksa Liem Tou berhenti di samping hutan tersebut dan bersembunyi dibalik pepohonan, apabila dia tidak berbuat demikian pasti Sun Ci Sie menoleh ke belakang dan jejaknya akan diketahui Saat itulah terdengar Sun Ci Sie membentak dengan amat kerasnya. Kau manusia tanpa kepala, jika berani ayoh keluar dan bertempur dengan diriku, buat apa bersembunyi seperti cucu kura kura? Lihat serangan ! Baru saja dia selesai berbicara terdengarlah suara searang perempuan sudah membentak keras. Rasakan kelihayan senjata rahasia dari nonamu. Selesai berkata segera terasalah suara desiran dari senjata rahasia yang memecahkan kesunyian menyambar datang. Sun Ci Sie jadi amat gusar sekali. Kau perempuan rendah, ayoh cepat mengge inding keluar. Diikuti suara meayambarnya angin pukulan yang amat keras sekali menghajar pepohonan sehingga dahan serta ranting pada rontok ke atas tanah. Lonte busuk perempuan maki Sun Ci Sie lagi dengan amat gusarnya.. Siapa kau orang? berani benar kau mencari gara gara dengan Kong cu yamu, aku mau tanya orang yang sudah mengganggu aku di dalam sangai pagi tadi apakah perbuatanmu. Siapa aku orang kau tidak perlu ikut campur, jawab perempuan itu dengan dingin. Jikalau kau betul betul mempunyai kepandaian ayoh cepat keluarkan semua. Eeei kenapa kau tidak mengeluarkan sekalian pedang hitam milik suhumu yang gundul itu? terus terang saja aku beritahukan kepadamu suhumu si hweesio berjari tujuh masih mempunyai hutang dengan diriku. Mendengar perkataan tersebut Sun Ci Sie jadi bertambah gusar, dia meloncat loncat saking gemasnya. Siapakah kau? jikalau kau tidak berterus terang lagi jangan salahkan aku tidak akan berlaku sungkan lagi terhadap dirimu. Perempuan itu segera tertawa cekikikan dengan amat gelinya. Akupun tidak ingin banyak bercakap dengan dirimu, serunya sambil tertawa. Di dalam hutan ini aku rasa kau tidak akan bisa mengapa apakan diriku. Pada saat itulah secara tiba tiba Liem Tou dapat melihat seseorang menerjang keluar dari dalam hutan, gerakannya amat cepat sekali bagaikan kilat berkelebat menuju ke jalan yang semula. Liem Tou yang melihat kejadian itu segera mengetahui kalau dia orang sedang menggunakan siasat untuk meloloskan dirinya dan menipu Sun Ci Sie untuk tetap tinggal di hutan tersebut, sebaliknya dirinya sudah menubruk ke arah perahunya. Liem Tou pun tidak pergi memberi peringatan kepada diri Sun CL Sie. tnbuhnya dengan cepat mengikuti dari belakang. Dengan kecepatan gerakan tubuhnya hanya di dalam sekejap saja dia sudah berhasil menyusul diri perempuan tersebut yang berada dua tiga puluh kaki di belakang tubuhnya. Dia mengikuti terus sampai tiba di perahu tersebut, ternyata tidak salah terlihatlah orang itu dengan cepatnya sudah meloncat naik ke atas perahu. Liem Tou tidak ingin jejak dari dirinya diketahui pihak sana karena itu. Dengan diam diam diapun mengikuti dirinya dengan menyeberangi sungai ini secara perlahan lahan kemu dia bersembunyi di balik ruangan. Saat itulah dia bisa melihat orang tersebut bukan lain adalah si perempuan tunggal Touw Hong yang sudah dua kali bergebrak dengan di rinya. Pada saat ini si perempuan tunggal itu dengsn pandangan sangat terperanjat sedang berdiri di ruangan perahu yang sangat megah,dan mewah itu, matanya dengan terbelalak lebar lebar memandaag ke kanan dan ke kiri memperhatikan seluruh isi ruangan itu dengan amat telitinya. Mendadak sinar matanya berhenti di atas brberapa buah peti hitam yang bertumpuk tumpuk di pojok ruangan tersebut, tanpa berpikir panjang lagi sebuah demi sebuah prti hitam itu dibukanya semua. Liem Tou yang melihat kejadian itu di dalam hati menduga orang itu tentu akan dibuat terbelalak matanya ketika melihat uang perak yang begitu banyaknya itu. siapa tahu dia cuma memandang sejenak dengan sinar mata yang amat tawar kamudian menutup kembali peti tersebut dan memperdengarkan suara tertawa dingin nya yang tiada hentinya. Setelah menutup kembali peti peti besi itu dia memandang pula peti terakhir yang terkun ci tetapi tidak sampai dibukanya, dia berdiri berpikir sejenak mendadak tubuhnya meloncat keluar dari ruangan perahu dan melepaskan tali perahu itu. Liem Tou yang melihat kejadian itu di dalam hati diam diam merasa terperanjat sekali, pikirnya. Sungguh pintar si perempuan tunggal Touw-Hong ini, suatu ide yang bagus sekali. Menanti setelah dilihatnya perempuan tunggal itu selesai melepaskan talinya dia baru tertawa ringan. Aduuuhh ... tidak kusangka diatas perahu ini bisa kedatangan seorang tetamu terhormat, hey nona, angin apa yang sudah bisa meniup kau sampai ditempat itii? Ujarnya perlahan. Si perempuan tunggal Touw Hong yang secara tiba tiba mendengar dari belakang badannya muncul suara seseorang dengan amat cepatnya dia meloncar sejauh tiga depa ke depan kemudian baru putar kepalanya. Telapak tangannya disilangkan di depan dada lantas mengambil ancang ancang siap melancarkan serangan. Tetapi sewaktu dilihatnya orang itu bukan lain adalah Liem Tou adanya, wajahnya segera dihiasi suatu senyuman yang sangar manis Ditengah malam buta yang demikian sunyinya buat apa kau orang mengejutkan hati orang iain? serunya mengomel. Sikapnya yang tidak memperlihatkan permusuhan ini seketika itu juga membuat Liem Tou merasa melengak, hal ini benar benar di luar dugaannya. Selama ini dia selalu menganggap si perempuan tunnggal Touw Hong yang sebanyak dua kali dikalahkan olehnya, kali ini tentu akan mengumbar hawa amarahnya, siapa tahu sikap dari perempuan tunggal ini ternyata sama sekali sudah berubah bahkan tidak tampak rasa permusuhan sedikitpun juga. Liem Tou masih tidak percaya atas sikap dari perempuan tunggal ini, dia mengira dia orang yang suka sambil tersenyum akan melancarkan serangan dan tidak bisa dipercaya seratus persen, karenanya dengan amat waspada sekali dia memperhatikan dirinya. Apakah nona masih ada maksud untuk berkelelahi dengan diriku? serunya sambil tertawa. Bilamana kau memangnya bermaksud demikian, siauw seng tentu akan mengiringinya. Si perempuan tunggal Touw Hong segera ter tawa geli. Liem Tou, serunya. Kau orang tidak boleh bersikap begitu kurang ajar terhadap diriku, sekalipun kepandaian silatmu tidak kau peroleh dari Auw Hay Bun kita tetapi kau masih diharuskan memanggil diriku dengan sebutan susiok. Nona Hong, seru Liem Tou sambil tertawa setelah mendengar perkataan tersebut. Bagaimana kau bisa berbicara demikian coba kau pikir aku Liem Tou sama sekali tidak punya suhu bagaimana bisa kedatangan seorang susiok? bukankah omongan itu merupakan suatu guyonan saja? Kau orang cuma tahu satu tidak tahu dua, ujar si perempuan tunggal tertawa. Sekalipun kau orang tidak punya guru, tetapi apakah ayahmu tidak punya guru? aku dengan ayahmu adalah satu perguruan dan sama sama merupakan anak murid dari Auw Hay Siang Hiap, coba kau bilang patut tidak kau memanggil diriku dengan sebutan susiok? Sepasang mata dari Liem Tou segera berubah memerah, dengan termangu mangu dia memperhatikan diri si perempuan tunggal itu sedangkan bibirnya tertutup rapat tidak mengucapkan sepatah katapun. Hatinya pada saat ini benar benar bergolak dengan amat kerasnya, di dalam hati diam diam dia sedang memikirkan, benarkah kata kata yang diucapkan si perempuan tunggal ini? dia cuma tahu sewaktu dirinya mengurung orang orang dari Kiem Thien Pay dia sudah datang mengejar bersama Lie Loo jie.
Jilid 24 Menurut apa yang didengarnya dari Lie Loo jie itu apakah benar ayahnya bernama si pancingan emas sakti Liem Ciong?
Tetapi Liem Tou mau tidak mau harus mempercayai juga apa yang diucapkan oleh Lie Loo jie itu karena Toa Loo Cin Keng serta kedua baris syair itu memang sama sekali tidak salah, kalau tidak bagaimana Liem Tou bisa merasa begitu sedihnya setelah mendengar perkataan tersebut.
Saat ini muncul kembali seorang perempuan tunggal yang mengaku sebagai susioknya, bagaimana Liem Tou mau percaya dengan demikian saja??
Setelah termenung berpikir beberapa saat lamanya mendadak dia bertanya.
Kau menyebut dirimu sebagai susiok, lalu si cangkul pualam Lie Sang itu apamu?
Sudah tentu dia adalah Suhengku, sahut si perempuan tunggal dengan cepat.
Tetapi dia adalah anak murid dari Hoa supek sedangkan aku adalah ahli waris dari Lok Yong.
Hoa supek dengan suhuku orang orang dunia kangouw menyebutkan sebagai Auw Hay Siang Hiap, akhir nya Hoa supek menemui ajalnya di tangan si hweesio tujuh jari sedangkan suhuku mengasingkan diri di atas gunung Boe Liang san, tiga puluh tahun kemudian baru menerima aku sebagai murid maka itu aku orang sama sekali tidak mengenal diri Lie Suheng, sampai kali ini dia menolong nyawaku waktu itulah aku baru tahu, dan aku tahu pula kalau jie Suheng sudah menemui kekalahan di tangan Tbian Pian-Siauw sehingga dia mengasingkan dirinya, aku benar benar ikut bersedih hati atas kejadian yang dialaminya itu.
Lien Tou yang mendengar dia sedang membicarakan tentang perguruan dari ayahnya dan mendengar pula kalau perkataan Lie Loo jie yang mengatakan sudah tentu dia mau percaya atas perkataan tersebut, mendadak dia merasakan keringat yang mengucur keluar semakin deras air mukanya berubah jadi pucat pasi keadaannya seperti baru saja menderita satu penyakit yang smat berat.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang melihat wajahnya ada sedikit tidak beres dia menjadi sangat terperanjat sekali.
Sute kau kenapa??
tanyanya.
Liem Tou tidak menjawab, lama sekali dia memperhatikan diri si perempuan tunggal itu kemudian bagaikan kilat cepatnya dia jatuhkan diri berlutut di hadapannya.
Susiok harap suka memaafkan segala pcrbuatan dari Liem Tou yang telah menyakiti hati susiok, ujarnya dengan tersengguk sengguk menahan isak tangisnya.
Bilamana dilain waktu aku berbuat salah kembali kepada susiok harap susiok suka memaafkan.
Selamanya si perempuan tunggal ini belum pernah mendapatkan penghormatan sedemikian rupa, apalagi Liem Tou pun merupakan orang yang dirindukan siang malam tidak terasa lagi wajahnya berubah jadi merah padam.
Cepat bangun, Cepat bangun, serunya dengan gugup.
Tidak usah Banyak adat, tidak usah banyak adat.
Dengan cepat dia mengulur tangannya untuk membimbing Liem Tou bangun tetapi tak jauh dari badan Liem Tou mendadak dia menarik kembali tangannya ke belakang sedang air mukanya berubah semakin merah lagi.
Kalau, .kalau, .kalau sutit sudah tahu kedudukanku, lain kali kenapa harus terbuat salah lagi kepadaku?
apa maksud dari perkataanmu itu?
ujarnya terputus putus.
Liem Tou segera bangun berdiri, ujarnya dengan nada gemetar.
Kiranya orang yang baru saja mengejar dirimu itu adalah anak murid dari si hweesio tujuh jari yang sudah mencelakai Sucouwku, sekarang aku sudah tahu dia adalah musuh besarku, aku punya alasan untuk membalas dendam ini.
Sekalipun sute tidak membunub dirinya, aku beserta suhengpun akan membinasakan dirinya.
Ujar si perempuan tunggal sambil tertawa.
Apa lagi pembunuhan serta perampokan yang terjadi baru baru ini dunia kangouw di mana setiap kejadian itu meninggalkan tanda ular merah adalah perbuatan dari dirinya, orang yang sudah menemui ajalnya di bawah serangan dari pedang hitamnya itu sudah amat banyak sekali, bilamana orang ini tidak dibunuh buat apa meninggalkan bencana di kemudian hari.
Oooh ..kiranya begitu, ujar Lem Tou jadi paham kembali duduknya perkara.
Tidak aneh kalau di dalam petinya berisikan penuh dengan emas serta uang perak, kiranya harta tersebut dia dapatkan dengan jalan merampok.
berbicara sampai disini mendadak dengan pandangan mata yang amat tajam, Liem Tou memperhatikan diri si perempuan tunggal itu, lama sekali baru terdengar dia menghela napas panjang.
"Susiok, apa kau benar benar mau membunuh dia orang?"
Tanyanya ragu.
Mandengar perkataan tersebut si perempuan tunggal jadi merasa keheranan.
Sute, jika didengar dari ucapanmu agaknya kau tidak punya maksud untuk membinasakan dirinya?
tanyanya.
Aku bukannya bermaksud demikian, bahkanm aku sudah bisa melihat kalau dia bukanlah manusia dari kalangan lurus.
Sahut Liem Tou gelengkan kepalanya lantas menhela napas panjang.
"Sudahlah .. biar aku lepaskan dia orang supaya dia orang bisa membalas dendamnya tarlebih dahulu, sambungnya kemudian. Susiok. sampai waktu itu kau janganlah menyalahkan aku sudah turun tangan kejam tarhadap dirinya. Saat ini si perempuan tunggal Touw Hong, sudah menangkap kalau di dalam perkataan dari Liem Tou ini mengandung maksud maksud tertentu, sepasang matanya dipentangkan lebar lebar dan memandang dirinya dengan sangat tajam sekali. Sute, serunya keras. Inilah kesalahanmu bila mana ada urusan cepatlah beritahu dengan berterus terang, buat apa kau ragu ragu. Jikalau susiok memerintahkan aku berkata, aku terpaksa akan mengatakannya keluar, ujar Liem Tou kemudian dengan wajah yang serius sekali. Tahukah susiok siapakah nama dan orang ini. Mendengar perkataan itu si perempuan tunggal segera merasakan hatinya tergerak seluruh tubuhnya gsmetar dengan amat kerasnya sedang air mukanya berubah sangat hebat, agaknya dia sudah merasa amat tegang sekali. Aaa ..apa? tanyanya sepatah demi sepatah. Apa dia orang She Sun? apa namanya Sun Ci Sie? Sehabis berkata deagan pandangan matanya yang amat tajam sekali dia memperhatikan diri Liem Tou dan menantikan jawabannya, tetapi diapun takut kalau perkataan dari Liem Tou ini akan menusuk hatinya. Pada saat ini Liem Tou pun dengan sepasang matanya yang amat tajam sedang memperhatikan diri si perempuan tunggal, empat buah mata bertemu jadi satu masing masing merasakan hatinya tergetar dengan amat kerasnya, tetapi sebentar kemudian sudah diliputi oleh rasa yang amat tegang dan berat sekali. Pada waktu itulah dari atas puncak bukit tampaklah berkelebatnya sesosok bayangan hitam yang berkelebat datang dengan sangat cepatnya. Liem Tou segera menemuinya, teriaknya dengan keras. Susiok, kau tanya dirinya saja. Di dalam sekejap saja bayangan hitam itu sudah melayang ke arah perahu tersebut sudah tentu yang datang bukan lain adalah si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san Sun Ci Sie adanya. Dengan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun begitu tubuhnya mencapai tepian perahu, pedang hitam yang ada di tangan kanannya dengan dahsyat melancarkan serangan menusuk tubuh si perempuan tunggal itu. Gerakannya amat ganas dan buas sekali sehingga sukar di duga sebelumnya. Melihat hal itu dengan cepat Liem Tou melancarkan satu pukulan menangkis datangnya serangan tersebut. Sun heng tahan dulu, teriaknya keras. Sudah tentu si rajawali sakti dari gunung Ai Lau San ini tahu akan lihaynya serangan, tubuhnya dengan cepat melayang turun dari ruangan perahu, dia benar banar merasa terkejut bercampur gusar. Dia sama sekali tidak menyangka kalau orang yang menyebut dirinya sebagai saudara ini di dalam sekejap saja sudah menjadi bisul di atas ketiak, perubahan yang terjadi secara mendadak ini benar benar membuat hatinya merasa sangat gusar sekali, seluruh tubuhnya gemetar dengan amat kerasnya. Liem Tou tidak mau ambil perduli atas kemarahannya itu. ajarnya lagi dengan keras. Harap Sun heng mau mendengarkan dulu perkataan cayhe, yang benar cayhe bukan seorang pelajar yang gagal ujian, pada kentongan ketiga nantipun kau tidak perlu menemui orang yang sudah membalikkan perahumu itu, karena orang tersebut adalah cayhe sendiri. Sun Ci Sie mendengar perkataan tersebut untuk sesaat lamanya tidak mengucapkan sepatah katapun cuma saja kelihatannya air mukanya yang pucat pasi kini sudah berubah menjadi hijau ke biru biruan. Sebenarnya persahabatan kita sesaat sebelum bertemu susiokku ini adalah persahabatan yang betul betul, tetapi setelah mendapatkan penjelasan dari susiokmu saat ini aku sudah menganggap dirimu sebagai penjahat penyebab bencana yang harus dibasmi dari muka bumi. Ingat nyawa kau si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san tinggal satu tahun saja, sampai saat itu kau harus menggunakan pedang hitammu untuk berusaha mempertahankan nyawamu. Mendengar perkataan dari Liem Tou ini Sun Ci Sie semakin gusar, bentaknya. Aku Sun Ci Sie sanggup menerima kematian pada saat ini juga, ayoh mulai turun tangan. Sambil berkata pedangnya di lintangkan ke depan, dari sepasang matanya memancar keluar sinar yang amat tajam memperhatikan diri Liem Tou. Kau jangan keburu jual lagak disini, bentak Liem Tou pula. Perkataanku belum aku ucapkan selesai jikalau bukannya aku sudab mendapatkan pesan dari ibumu mungkin pada saat ini kau sudah mati tenggelam di dasar sungai. Sun Ci Sie yang mendengar Liem Tou mengungkap kembali soal ibunya tidak terasa lagi ia di buat tertegun juga, sehingga pedang hitam yang ada ditangannya pun sudah diturunkan lagi ke bawah. Liem Tou menghembuskan napas panjang, ujarnya lagi. Di dalam sebuah lembah batu di atas gunung wu san aku sudab menemukan seorang perempuan yang sudah hampir menemui ajalnya karena terkena siksaan dari si penjahat naga merah, saat sebelum meninggal dia meminta pertolonganku untuk mencari kau seorang yang bernama Sun Ci Sie yang merupakan putranya, diapun minta aku menyampaikaa kepadanya kalau musuh besar yang sebenarnya adalah Kioe Ling Wa Kauw dari gunung Im san dan bagaimana persoalan dendam yang sudah terjadi di antara kalian aku sendiri juga tidak tahu. Sekarang aku sudah menjelaskan seluruh persoalannya, dan beri waktu satu tahun kepadamu untuk membalas dendam ini, setelah genap satu tahun aku bisa datang kembali untuk mencari balas dendamku terhadap dirimu. Saat ini si perempuan tunggal yang ada di samping tidak berbicara, dia cuma menangis tersedu dengan amat sedihnya, karena dia tahu pemuda berbaju hitam yang ada dihadapannya sekarang ini adalah Sun Ci Sie keponakannya yang sudah amat lama di cari cari. Setelah mendengar perkataan dari Liem Tou itu Sun Ci Sie termenung berpikir seebentar, mendadak dia tertawa dengan amat seramnya agaknya dia orang sama sekali tidak percaya kalau ibunya sudah menemui bencana seperti apa yang telah diceritakan itu. Kau berdasarkan apa mau membalas dendam terhadap diriku? tanyanya dengan suara yang amat dingin. Aku sudah berbuat kesalahan apa terhadap dirimu? Liem Tou yang melihat psrempuan tunggal dibuat menangis oleh sikapp keponakannya yang sangat dingin itu di dalam hati dia sudah merasa kurang senang, dia merasa si penjahat yang gemar membunuh dan berbuat jahat ini sudah seharusnya menemui kematiannya. Kini mendengar perkataannya yang amat dingin itu seketika itu juga membuat dia benar benar jadi marah. Kau tidak usah banyak bacot. Bentaknya dengan amat marah. Apa kau kira terbunuhnya Sucouwku Hoa Siong dari Auw Hay Siang Hiap oleh suhumu si hweesio tujuh jari aku orang dilarang membalasnya??"
Jikalau kau adalah seorang manusia yang mengetahui situasi cepatlah lipat kuping menyembunyikan ekor berlalu dari sini.
Setahun kemudian aku bisa pergi mencari dirimu.
Sun Ci Sie segera menggetarkan pedang hitamnya sehingga memperdengarkan suara dengungan yang amat nyaring sekali laksana suara pekikan harimau dan naga yang membubung ke angkasa diiringi suara tertawa seramnya yang amat mengerikan.
Haaa.
haaa..Kiranya kau adalah anak murid dari Lie Sang si tua bangka itu, ejeknya dengan suara keras.
Omongan besarmu itu sungguh menarik sekali didengar.
Sebetulnya untuk sementara waktu aku masih menaruh rasa tidak tega terhadap Lie Sang si tua bangka itu siapa tahu ini hari terayata sudah bertemu dengan manusia penghianat semacam kau.
Kau cuma mendatangkan bencara buat perguruanmu sendiri, aku harus turun tangan menyingkirkan dirimu dari muka bumi ini.
Berkata sampai di sini warna kehijau hijauhan yang menghias wajahnya dengan perlahan lain mulai membesar, pedangnya digetarkan siap melancarkan serangan dahsyat menubruk ke atas jubah Liem Tou.
Saat itulah terdengar si perempuan tunggal Touw Hong sudah membentak keras.
Ci Sie jangan.
Dia bukan anak murid dari Lie Sang Lie suheng, apa yang dikatakan oleh nya adalah suatu urusan yang benar benar sudah terjadi, kau cepatlah pergi, kau tidak mungkin bisa menangkan dirinya.
Berbicara sampai disitu tidak tertahan lagi dia menangis tersedu sedu.
Keadaan yaug amat menyedihkan ini tidak urung membuat Liem Tou yang menonton di samping merasakan hatinya perih juga, akhirnya hatinyapun jadi lembek.
Susiok, kau jangan begitu terharu, hiburnya dengan halus aku tahu orang yang berada dihadapun kita sekarang ini adalah satu satunya saudara dari susiok yang masih hidup, bagaimana aku tega untuk turun tangan membinasakan dirinya?
cuma saja dosa yang dia perbuat sudah bertumpuk tumpuk, aku tidak bisa melepaskan dia dengan begitu saja.
Tetapi jikalau di dalam satu tahun ini dia bisa berubah sifat dan jadi orang baik sehingga mendatangkan keberuntungan buat umat manusia sudah tentu sekalipun hatiku keras seperti baja juga akan lumer tak berbekas.
Si perempuan tunggal yang mendengar perkataan dari Liem Tou ini dalam hatinya segera tahu kalau Liem Tou sudah memberikan satu kesempatan hidup buat diri Sun Cie Sie, di dalam hatinya jadi amat girang.
Tanpa memperdulikan bagaimana kaadannya sekarang mendadak diangkat kepalanya berteriak.
Ci Sie, kenapa kau masih tidak cepat cepat mengucapkan terima kasih atas kebaikan budinya ini?
Sun Ci Sie yang melihat si perempuan tunggal menangis dengan amat sedihnya dalam hati dia merasa kalau dalam hal ini pasti ada sebab sebabnya kalau tidak, tak mungkin ada orang menangis dengan begitu sedihnya.
Tetapi ketika dia mendengar setiap kali si perempuan tunggal memanggil dirinya dengan kata Ci-Sie ...
Ci Sie terus, tidak urung alisnya dikerutkan rapat rapat juga.
Kau adalah setan yang baru saja lolos dari serangan pedangku Bentaknya dengan suara berat.
Jikalau bukannya Lie Loo jie si tua bangka itu datang pada waktunya pada saat ini nyawa mu sudah berada di tanah akhirat, kau orang itu manusia macam apa?
Ayoh pergi, mengaca dulu, kau kira wajahmu cantik dan tidak ada tandingannya ?
Ci Sie ...
Ci Sie, kau kira Toaya-mu adalah kekasihmu?
Sungguh tidak tahu malu, muka tebal, perempuan tunggal, hati bati kau, jika berani panggil aku dengan sebutan Ci Sie, jangan salahkan aku akan turun tangan kejam terhadap dirimu.
Mendengar suara makian yang benar benar kurang ajar dan kasar ini si perempuan tunggal jadi amat malu dan gemas sekali.
Ci Sie, teriaknya hampir hampir kalap.
Aku adalah bibimu kenapa kau begitu kurang ujar.
Sun Ci Sie, kau jangan coba coba memaki dengan menggunakan kata kata yang kotor lagi, teriak Liem Tou yang ada disampingnya memberi peringatan keras.
Dia adalah susiok juga merupakan bibimu, dia orang sudah memintakan belas kasihan untuk tidak membunuhmu, kenapa kau sekarang memaki bibimu dengan kata kata yang demikian kotornya dan kasar sekali?
Kau sudah tidak mau hubungan antara bibi dengan keponakan di antara kalian berdua?
Mendengar perkataan ini Sun Ci Sie dengan perlahan mengalihkan sinar matanya ke atas wajah si perempuan tunggal, pada waktu yang lalu dia belum pernah memperhatikan dirinya dengan csrmat, kini setelah memperhatikannya dengan teliti secara samar samar di dalam benaknya terbayang kembali wajah dari ibunya yang berkelebat dengan cepatnya, bahkan dia merasa bahwa wajah dari perempuan tunggal ini mirip dengan wajah ibu kandungnya.
Goncangan hati yang amat keras dan mengharukan ini seketika itu juga membuat hatinya tergetar keras sekali, sepasang matanya dengan perlahan menjadi basah ...
dua titik air mata mulai membasahi kelopak matanya dan menetes keluar membasahi pipinya.
Si perempuan luaggal yang melihat kejadian ini dalam hatinya betul betul merasa terharu, air mata sejak semula sudah mengucur dengan deras.
Tetapi agaknya Sun Ci Sie dapat mengendalikan dirinya kembali saking girangnya pada ujung bibirnya tersungging suatu senyuman.
Menndadak Sun Ci Sie angkat kepalanya dan berteriak keras dengan amat sedih dan seramnya serunya.
"Aku Sun Ci Sie tidak berayah dan tidak beribu, tidak ada sanak dan tidak ada keluarga dan tidak ada bibi segala, aku Sun Ci Sie kecuali suhu seorang siapapun tidak dikenal. Pedang hitam yang ada ditangannya mendadak digetarkan, di dalam sekejap saja sinar gemerlap yang menyilaukan mata berkelebat memenuhi seluruh ruangaa dan menekan kedua orang itu dengan dahsyatnya. Liem Tou serta si perempaan tunggal sama sekali tidak menyangka dia bisa berbuat demikian, mereka bersama sama menjadi amat terkejut sekali. Si perempuan tunggal yang pernah merasakan kelihayan dari ilmu pedang hitam ini, melihat datangnya seraagan dari pedang pusaka tersebut ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan perahu dan meloncat keluar dari ruangan tersebut. Sebaliknya Liem Tou yang diserang secara tiba tiba dalam hati merasa sangat terkejut sekali. Sun Ci Sie kau mencari mati?? bentaknya dengan gusar. Dia tidak menyingkir maupun menghindar, menanti sinar ke hitam-2an itu mengurung badannya, dengan cepat tenaga murni yang ada di dalam tubuhnya disalurkan keluar, dengan menggunakan tenaga tujuh bagian sepasang telapak-nya mendadak dibalik, kemudian dengan diikuti satu hawa pukulan yang tak terhingga dahsyatnya menyambut datangnya serangan tersebut. Si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san ini sewaktu melihat Liem Tou ternyata hendak menggunakan sepasang kepalannya menerima datangnya serangan pedang hitamnya itu, di dalam hati dia segera mengira pastilah akan terbinasa di bawah serangannya, sehingga darah bereceran diatas tanah, tenaga dalamnya segera ditambahi dengan dua bagian bersamaan pula bentaknya keras. Aku mau lihat siapa yang cari mati ?? Mendadak dia merasakan angin pukulan yang dilancarkan oleh Liem Tou ini merupakan angin pukulan tenaga Im tetapi juga tenaga Yang. di dalam kelunakan ada kekerasan membuat seluruh serangan yang dilancarkan olehnya terasa kena terhalang. Baru saja dia merasakan keadaan sedikit tidak beres mendadak angin pukulan dari Liem Tou sudeh dilipat gandakan sepuluh bagian, pedang hitam di tangannya tidak sempat ditarik kembali ujung pedangnya segera terkena bentrok dengan hawa angin pukulan yang melanda datang. Segera terasalah seluruh tubuhnya tergetar amat keras sehingga sukar ditahan, apalagi yang lebih celaka lagi ternyata angin pukulan itu melampaui ujung pedang lantas menekan ke atas dadanya. Rasa terkejutnya kali ini bukan alang kepa ang, dia tahu untuk menyingkir tidak sempat untuk menghindar ke belakang juga tidak berguna, di dalam hati dia segera mengambil keputusan uatuk beradu jiwa. Tekanan hawa pukulan ini semakin lama semakin memberat sehingga hampir hampir membuat dia sukar untuk bernapas. Tetapi dia yang sudah kebiasaan menirukan sifat dari si hweesio tujuh jari yang amat dingin dan sombong membuat keadaannya pada saat ini dari dingin kaku jadi ganas dan amat buas, tidak takut mati. Terang terangan dia tahu dirinya bakal tidak sanggup uatuk menangkis datangnya serangan tersebut dia malah paksakan diri untuk berbuat demikian. Didalam sekejap saja dadanya terasa amat mual dan kepalanya amat pening, tetapi dengan menggigit kencang bibirnya sehingga keluar darahnya dia angkat telapak kirinya dengan menyalurkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya untuk menangkis serangan tersebut. Sun Ci Sie sebetulnya sudah memperoleh didikan dan perawatan langsung dari si hwoesio tujuh jari di karenakann si hweesio tujuh jari sudah menaruh seluruh harapannya yang terakhir di tangan Sun Ci Sie ini, karena tenaga pukulan yang dilancarkan oleh Sun Ci Sie dengan seluruh tenaga ini seperti juga sedang mengadu jiwa, keadaannya tidak dapat dipandang remeh. Jikalau digantikan dengan orang lain, di dalam keadaan seperti ini walaupun dia berhasil menerima datangnya serangan tersebut tetapi tidak urung tergetar mundur juga beberapa langkah ke belakang. Tetapi Liem Tau bukanlah manusia sembarangan, melihat Sun Ci Sie berbuat demikian dia segera tertawa dingin. Haee. .beee. .kau masih ketinggalan jauh. serunya. Baru saja dia kerahkan hawa murninya untuk menekan lebih dahsyat lagi mendadak terdengar si perempuan tunggal sudah menjerit keras. Liem Tou jangan... Liem Tau secara tiba tiba menjadi sadar kembali dengan tergesa gesa dia pentangkan telapak tangannya ke samping kemudian dengan meminjam kesempatan ini tubuhnya meloncat keluar. Tetapi sebelum hawa pukulannya ditarik semua, tiba tiba..
"Plaask.."dua gulung angin pukulannya sudah menghajar kedua samping tubuh perahu tersebut diikuti suara ledakan keras yang menggetarkan seluruh ruangan. Sun Ci Sie yang tidak berhasil menarik kembali serangannya seketika itu juga membuat hawa pukulannya dengan dahsyat menghajar diatas ujung perahu sehingga terhajar hancur berantakan. Sun Cie Sie mengira Liem Tou takut menerima serangannya sehingga tidak terasa lagi dia tertawa panjang. Liem heng kenapa tidak menerima serangan ku itu ejeknya bangga. Siapa tahu baru saja dia selesai berkata dari kedua sisi perahunya mendadak terdengar suara ledakan laksana ambruknya gunung dan jebolnya bendungan membuat seketika itu juga menggetarkan seluruh ruangan. Dari dalam sungai mendadak bergolak dan nenyemprot ke atas pancuran air setinggi dua puluh kaki yang disertai ombak yang menggulung dengan dahsyatnya, keadaan pada waatu itu benar benar amat menyeramkan sekali. Sun Ci Sie yang melihat kejadian itu saking kagetnya seluruh air mukanya sudah berubah pucat pasi bagaikan mayat, dia tahu tenaga dalam yang dimiliki Liem Tou sekarang ternyata benar benar dahsyat sekali sehingga sukar diukur. Dia tidak berani memikirkan bagaimana akibat yang bakal diterima apabila tenaga yang sangat dahsyat itu bersarang di badannya. Sewaktu dilihatnya pula air sungai bergolak dengan amat dahsyat sehingga membuat sang perahunya montang manting dengan hebatnya, dia jadi kaget, bukankah dengan demikian perahunya telah menemui bahaya.
"Aduh,, perahuku!"
Teriaknya keras.
Sun Ci Sie kau masih tidak msaggelinding dari tempat ini?
terdengar suara Liem Ton memberi peringatan.
Aku mamberi waktu satu tahun buatmu untuk mengubah sifat sifatmu yaug jahat itu, perahu ini sejak ini hari adalah milikku.
Sun Ci Sie mana mau mengalah dengan begitu saja, dia jadi amat gusar sekali.
Tetapi hanya di dalam waktu sekejap saja kembali ada dua gulung ombak yaug amat dahsyat menerjang badannya, dia orang yaug tidak mengerti ilmu didalam air dengan cepat tubuhnya meloncat naik ke atas lantas berkelebat menuju ke tengah sungai sejauh tiga kaki setelah itu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang paling lihay dia berjalan mengelilingi perahu tersebut, dia tidak berani mendekati tetapi tidak tega pula untuk ditinggal pergi terpaksa dengan mendongkol berputar terus disekeliling tempat tersebut.
si perempuan tunggal yang melihat sikap serta tindak tanduk dari keponakannya itu dalam hati merasa amat cemas dan sedih sekali, baru saja di dalam pikirannya memikirkan akan sesuatu itu mendadak terdengar Liem Tou sudah tertawa kembali.
Sun Ci Sie.
kau masih tidak mau menggelinding pergi dari sini?
bentaknya.
Sepasang telapak tangannya bersama sama melancarkan serangan kembali ke arah depan terasalah serentetan desiran angin yang amat tajam menghajar keatas permukaan air membuat sekeling tempat tersebut segera timbul gelombang yang amat besar menggulung keras ke atas tubuh Sun Ci Sie.
Sun Ci Sie sudah tentu tidak berani menerima datangnya gulungan ombak itu dia tidak bisa berbuat apa apa lagi terpaksa tubuhnya sekali Lagi meloncat menuju ke arah tepi sungai.
Di tengah suara tertawa terbahak babak dari Liem Tou itulah tampak dua gulung ombak yang keras menggulung kembali di tengah sungai membuat perahu tersebut jadi tenang kembali.
Heyy.
Sun Ci Sie terdengar Liem Tou berteriak lagi sambil tertawa terbahak bahak.
Lebih baik kau cepatlah pergi dari sini, tetapi kau harus ingat apa yang sudah aku ucapkan pasti akan kulaksanakan benar benar setahun kemudian aku pasti akan pergi mencari dirimu .
Jikalau mulai saat ini kau sudah tidak berbuat jahat lagi maka sampai maka sampai waktunya aku akan melenyapkan permusuhan dan bersahabat dengan dirimu, tetapi bilamana kau masih terus berbuat kejahatan ..
Hemm, hemm kau boleh merasakan pukulan dahsyatku yang akan menghancurkan badanmu.
unn Ci Sie mana pernah menerima hinaan seperti ini?
Cuma saja dia tahu dirinya tidak bakal bisa menangkan lari Liem Tou karenanya dia cuman berdiri termangu mangu ditepi sungai tanpa bergerak sedikitpun juga.
Lama sekali barulah dia secara tiba tiba jatuhkan diri berlutut menghadap ke arah barat daya kemudian lantas sambil mengangguk anggukan kepalanya dia berkata.
Ooooh .
., Suhu, tecu tidak bisa memenuhi harapac kau orang tua lagi, lebih baik kau orang tua menghilangkan maksud hatimu untuk menyingkirkan diri Thiat Bok Tbaysu serta Su Kok Mo Piau.
Semua urusan kita bicarakan di kemudian hari saja.
Selesai berkata dia bangkit berdiri dan mengangkat pedangnya dengan menggunakan tangan kanan lalu perlahan lahan dia ulurkan tangan kirinya kedepan.
Ci Sie, kau mau berbuat apa?
terdengar si perempuan tunggal segera berteriak keras Sun Ci Sie cuma tertawa dingin dengan amat seram nya dan suara tertawanya itu tajam sehingga mendirikan bulu roma.
Tampaklah diantara barkelebatnya sinar pedang yang berwarna hitam, jari kelingking dari tangan kirinya sudah tertabas putus.
Kau mau berbuat apa?
sahutnya dengan ketus Heee ...
heee , ..Hitung hitung saja aku sudah kecudang di tangan bangsat cilik she Liem itu tetapi mulai sekarang juga aku mau berganti nama dan berlatih giat, tiga tahun kemudian jika aku tidak berhasil membinasakan kau Liem Tou bangsat cilik, aku segera akan bunuh diri seperti keadaan jariku ini.
Sahabis berkata dia memperdengarkan kembali suara tertawa dinginnya yang amat menyeramkan kemudian baru putar tubuh dan berlalu dari sana dengan diringi suara suitan panjang yang menyayatkan hati.
Untuk beberapa saat lamanya Liem Tou cuma bisa saling berpandangan dengan si perempuan tunggal tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun, mereka sama sekali tak menyangka Sun Ci Sie sebetulnya seorang manusia yang begitu dingin, kaku dan amat jumawa sekali.
Lama sekali baru terdengarlah si perempuan tunggal menghela napas panjang.
Sutit, ujarnya.
Kau sudah mendatangkan bencana yang tidak terkira buat hari mendatang.
Haaa ...
dia bilang tiga tahun sebaliknya aku sudah pergi mencari dia setahun kemudian sahut Liem Tou sambil tertawa ringan.
Aku rasa dia yang sudah mengangkat sumpah sebelum ilmu silatnya berhasil menyamai dirimu dia orang tak mungkin akan memperlihatkan dirinya sehingga berhasil kau temui.
Liem Tou mengangguk, dia tertawa lagi.
Dia tidak ingin membicarakan persoalan ini kembali, sinar matanya dengan perlahan beralih ke dalam ruangan perahu itu dan ujarnya dengan perlahan.
Susiok, perahu ini aku serahkan kepadamu untuk mengurusnya, dia adalah keponakan dari susiok sudah seharusnya perahu ini aku serahkan kepadamu.
si perempuan tunggal mana mau menerima barang barang tersebut?
kini tujuannya yang di cita citakan sejak turun gunung sudah terlaksana tetapi hal itu pun cukup mendukakan hatinya, mulai hari ini dia cuma ingin mengembara saja karenanya dengan perlahan dia gelengkan kepalanya.
Aku tidak mau barang barang ini, biarlah kau saja yang mengambil keputusan.
Sekali lagi Liem Tou paksa si perempuan tunggal itu untuk menerimanya kembali dia menggelengkan kepalanya.
Liem Tou melihat di dalam hatinya sudah mengambil ketetapan diapun tidak dapat memaksa lebih lanjut lagi segera pikirnya.
Baiknya aku pergi kegunung Wu san saja, untuk sementara waktu aku titipkan harta kekayaan tersebut jadi satu dengan harta kekayaan miliknya Hek Loo toa, di kemudian hari jika aku rasa berguna saat itulah baru mengambil keluar kembali.
Berpikir sampai disitu dia tidak menolak kembali.
Mendadak dalam benaknya teringat akan sebuah peti besi yang dipasang kunci, sehingga ujarnya kemudian.
Di dalam ruangan perahu ini semuanya ada enam buah peti hitam yang di antaranya sebuah peti terkunci, bagaimana kalau kita menggunakan waktu yang luang ini untuk membukanya dan lihat lihat apakah sebenarnya isi peti itu?
Ehmn.
.sahut si perempuam tunggal.
Mereka berdua segera berjalan memasuki ke dalam ruangan.
Liem Tou lalu mengaagkati peti peti yang tak terkunci itu ke samping dan akhirnya mengangkat peti yang terakhir ke tengah ruangan kemudian dengan menggunakan kekuatan jarinya merusak gembok tersebut.
Liem Tou dengan perlahan membuka tutup peti itu, terasalah serentetan sinar yang menyilaukan mata memancar keluar dan dalam peti tersebut, terlihatlah satu peti penuh dengan intan permata yang sangat berharga sudah terbentang dihadapan mereka.
Pada saat ini Liem Tou sama sekali tidak tertarik dengan intan intan permata itu sedang si perempuan tunggal pun tidak menyukai barang barang barharga tersebut, melihat benda itu tak terasa lagi didalam hatinya merasa kecewa sekali.
Dalam anggapan mereka berdua, peti peti lain yang berisikan intan permata sama sekali tidak dikunci sudah tentu peti terakhir yang terkunci sudah disimpan suatu barang pusaka yang sangat berharga sekali, siapa sangka isinya pun melulu benda benda berharga itu saja.
Pada waktu ini Liem Tou hendak menutup penutup peti itu.
tiba tiba terdengar si perempuan tunggal berseru.
Sute tunggu dula, coba diantara intan intan itu kita mencari beberapa butir mutiara yang dapat menerangi di tempat kegelapan aku rasa barang itu ada kegunaannya dikemudian hari.
Liem Tou yang dapat melihat di tempat kegelapan seperti siang hari saja sudah tentu tidak membutuhkan barang tersebut dia segera menyingkir kesamping.
Susiok kau carilah sendiri, ujarnya sambil tertawa.
Kau suka apa ambillah sesuka hatimu.
Aku cuma menginginkan sebutir mutiara saja, yang lain aku tidak mau.
Sahut perempuan tunggal tertawa juga.
Selesai berkata dia segera berjongkok dan mulai mencari di antara tumpukan intan permata itu tak lama kemudian mendadak tangannya sudah terbentur dengan sebuah benda kerss, dengan cepat serunya kepada Liem Tou.
Sutit, kemungkinan sekali diantara tumpukan intan permata ini masih terdapat sebuah peti kecil lagi?
Coba kau ambillah keluar, teriak Liem Too dengan cepat.
Si perempuan tunggal segera merogoh tangannya ke dalam peti dan mengambil keluar sebuah peti besi berwarna hitam yang kecil dan piph, di dalam sekali pandang saja Liem Tou bisa melibat beberapa tulisan yang terukir di atas peti tersebut.
Hati manusia amat kejam itulah yang dicari manusia.
Pada ujung kiri dari peti hitam itu kembali terukir beberapa hurf dari emas.
"Cian Tok Cin Keng"
Liem Tou sarta si perempuan tunggal yang melihat adanya kitab pusaka seribu racun pada melengak semua dibuatnya, mereka sama sekali tidak mengerti apa yang tertulis di dalam kitab tersebut juga tidak mengetahui dari mana sumber ilmu tersebut, cuma saja di dalam hati mereka berdua merasa sedikit berdesir, mereka tahu jika ditinjau dari tulisan yang terukir di atas kitab tersebut tentulah kitab itu merupa kan satu kitab yang sangat beracun sekali.
Baru ssja mereka dibuat termangu mangu oleh kejadian itu mendadak pada ujung perahu tersebut terdengarlah suara bentrokan yang amat keras sekali membuat seluruh tubuh perahu itu tergetar dengan amat kerasnya, bersamaan pula terdengar suara dari sirajawali dari gunung Ai Lau San, Sun Ci Sie sudah balik kembali.
Liem Tou teriaknya dengan suara yang amat keras.
Ayoh cepat menggelinding keluar, kita bertanding siapa yang lebih lihay diantara kita.
Liem Tou sama sekali tidak mengira kalau dia bisa kembali lagi, tanpa ragu ragu lagi tubuhnya segera meloncat keluar dari ruangan perahu tersebut.
Tampaklah suasana disekeliling tempat itu amat sunyi sekali, sinar rembulan memancarkan sinar dan kerlipan bintang bintang yang tersebar memenuhi angkasa di tempat itu sama sekali tidak tampak sesosok bayangan manusiapun.
Mendadak satu bayangan berkelebat di dalam benaknya, hatinya terasa berdebar amat keras sekali, belum sempat dia mengambil satu tindakan mendadak terdengarlah suara mengaduh dari si perempuan tunggal yang ada di dalam ruangan perahu dengan amat kerasnya.
Liem Tou cuma merasakan hatinya seperti ditusuk tusuk dengan beribu ribu batang anak panah, dia segera berteriak keras.
Sun Ci Sie, kau sungguh kejam sekali.
Ternyata sedikitpun tidak salah, dia melihat tubuh si perempuan tunggal sudah roboh di atas ruangan perahu dengan amat kerasnya disusul dengan berkelebatnya sesosok bayangan manusia yang menerjang keluar dari jendela dengan amat cepatnya.
Liem Tou menggigit kencang bibirnya, tenaga saktinya disalurkan keluar kemudiaa dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dia melakukan peagejaran dengan amat cepatnya dari belakang.
Sun Ci Sie tinggalkan nyawamu, teriaknya dengan keras.
Dari tempat jauh dia segere melancarkan satu pukulan dahsyat kearahnya, siapa tahu justru.
karena pukulannya inilah membuat Sun Ci Si mendapatkan kesempatan yang baik untuk meloloskan dirinya pada saat angin pukulannya mendekati tubuhnya itulah Sun Ci Sie dengan meminjam tenaga pukulan tersebut melayang lebih cepat lagi ke atas tepian kemudian dengan sedikit terhuyung huyung dia melarikan diri masuk ke dalam hutan.
Dalam hati Liem Tou benar benar merasa sangat gusar sekali, mana dia orang mau melepas kan dirinya dengan begitu saja, langkah kakinya semakin dipercepat.
Sreeet Sreeet berturut turut dia menutul beberapa kali di atas permukaan air kemudian mengejar dengan cepatnya dari belakang tubuh Sun Ci Sie.
Hey Liem Tou bangsat cilik, tiba tiba bentak Sun Ci Sie sambil menoleh kebelakang dan mengayunkan tangannya.
Kau cepatlah pergi menolong susiokmu.
Liem Tou dengan cepat mangebutkan ujung jubahnya menjatuhkan senjata rahasia yang mengancam tubuhnya, sebetulnya dia masih ingin pergi mengejar lebib lanjut tetapi setelah mendapatkan peringatan dari Sun Ci Sie ini, dia baru teringat kembali kalau si perempuan tunggal tadi memang menjerit kesakitan dan rubuh ke atas permukaan ruangan perahu, dia tidak tahu si perempuan tunggal sudah kena dibokong sebagaimana yang dikatakan oleh Sun Ci Sie.
Sedikit dia berpikir itulah kakinya menjadi tambah perlahan.
Sun Ci Sie bukanlah manusia bodoh, dengan mengambil kesempatan itulah dia lebih mempercepat larinya sehingga hanya di dalam sekejap saja dia sudah meninggalkan diri Liem Tou lebih jauh lagi.
Liem Tou yang dikarenakan perhatiannya sedikit bercabang sudah ketinggalan jauh oleh diri Sun Ci Sie dengan cepat dia meloncat maju lebih cepat lagi, tetapi pada saat itu bayangan dari Sun Ci Sie sudah lenyap dibalik kegelapan, terpaksa dia putar badaauya kembali ke perahu.
Begitu masuk ke dalam ruangan perahu, dia dapat melihat air muka perempuan tunggal itu pucat pasi bagaikan mayat, agaknya dia sedang merasakan suatu penderitaan yang amat berat sehingga giginya saling beradu dengan amat kerasnya.
Liem Tou jadi amat cemas sakali, dengan cepat dia membungkukkan badannya dan bertanya.
Susiok, susiok bagaimana deagaa lukamu?
kau sudah terbokong oleh siapa?
Lama sekali si perempuan tunggal tidak bisa berbicara, akhirnya dengan paksakan diri dia menjawab juga.
"Senjata rahasia"
Dengan cepat Liem Tou membantu dirinya memeriksa seluruh tubuhnya yang berbahaya, akhirnya dia bisa melihat pada kaki kiri serta lengan kirinya masing masing terhajar dua batang jarum kecil, jarum itu menancap dalam dalam di dalam dagingnya sehingga cuma ketinggalan sedikit ujungnya yang kelihatan di luar.
Dengan sangat berhati hati sekali dan amat telitinya Liem Tou membantu dirinya untuk mencabut keluar senjata rahasia itu, setelah dilihatnya di atas ujung jarum itu sama sekali tidak beracun dia baru bisa menghembuskan napas lega.
Untung tidak beracun, sehingga tidak begitu merepotkan, ujarnya perlahan.
Tetapi sebentar saja dia melihat di atas kelopak mata dari si perempuan tunggal itu tampak tergenang oleh air mata yang dengan sekuatnya sedang ditahan sehingga jangan sampai mengalir keluar dia menjadi bingung.
Susiok untuk sementara kau berlega hati.
hiburnya dengan halus.
Asalkan jarum ini tidak beracun aku rasa sebentar saja sudah akan sembuh kembali.
Keponakanmu itu benar benar sudah sangat keterlaluan, sepantasnya dia orang mau tak mau harus dibasmi juga dari muka bumi.
Beberapa psrkataan dari Liem Tou ini jika tidak dibicarakan masih tidak mengapa, begitu dia berkata demikian si perempuan tunggal itu semikia merasa sedih lagi air mata yang samula cuma menggenang di kelopak matanya kini sudah mulai bercucuran, dia segera gelengkan kepalanya dengan perlahan.
"Aaa ..aaaku ..di badanku ..masih . ."
Mendengar perkataan tersebut Liem Tou jadi sadar kembali dari lamunannya, mendadak dia mengerutkan alisnya rapat rapat dan bertanya "Dimana lagi senjata rahasia itu menghajar tubuhmu?"
Waktu itulah dia baru merasakan urusan agak sedikit memberatkan jikalau dia harus menghadapi sesama laki laki hal ini bukanlah suatu urusan yang besar, justru si perempuan tunggal adalah seorang gadis yang masih suci..
, hal ini benar benar membuat dia orang agak kebingungan.
Aku sendiri juga tidak tahu dimana senjata rahasia tersebut berada.
Terdengar si perempuan tunggal itu menyahut sambil gelengkan kepalanya berulang kali.
Aku cuma merasa di seluruh tubuhku sudah terkena hajar oleh senjata rahasia tersebut.
Sekali lagi Liem Tou merasa terkejut, diam diam pikirnya.
Kini cuma ada satu cara saja yaitu suruh ia cabut sendiri jarum jarum itu tapi ...
kalau tidak dapat bergerak, lalu bagaimana baiknya.
Berpikir akan bal ini dia lantas bertanya.
Susiok, kau bisa mencabut sendiri jarum jarum emas itu aku ..aku ..Lama sekali dia mengucapkan kata kata 'aku"
Tanpa dapat melanjutkan kembali kata kata sambungannya sedangkan wajahnyapun sudah berubah menjadi merah padam bagaikan kepiting direbus.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang melihat Liem Tou pun dibuat kikuk sekali dia lalu berpikir sebentar.
Begini saja, ujarnya kemudian.
Kau keluarlah dulu.
biar aku coba coba sendiri.
Bagaikan baru saja bebas dari tugas yang berat, Liem Tou segera berjalan keluar dari ruangan dan berdiri di ujuug perahu tidak bergerak, kepalanya didongakkan ke atas memandang bintang bintang yang tersebar memenuhi angkasa, teringat akan asal usul si perempuan tunggal Touw Hong tak terasa lagi di dalam hati dia menaruh rasa simpatiknya, ketika teringat pula keadaan sendiri pun persis, tetapi apa yang dialami oleh perempuan tersebut mendadak dia menghela napas panjang.
Dia teringat juga diri Lie Siauw Ie sejak dia mengetahui ibu dari gadis itu sudah meninggal hatinya sedikit tidak tenang setiap kali mereka bergaul bersama sama beberapa kali dia hendak memberitahukan berita ini dia agak ragu ragu dia takut Lie Siauw Ie jadi amat sedih sekali.
setelah dia melanjutkan lamunannya memikirkan diri Thian Pian Siauw cu, si hweesio tujuh jari, Sun Ci Sie dan lain latanya pada saat teringat kalau perjanjian pada bulan lima tanggai lima sudah tidak jauh di dalam hati dia segera mengambil keputusan untuk segera berangkat menuju ke Cin Jan.
Dia berpikir berpikir terus mendadak teringat kembali akan kerbaunya yang sudah lama sekali dititipkan kepada orang lain, kenapa se karang juga dia tidak mau pergi ke sana membawanya kembali?
walaupun tempat itu amat jauh tetapi, dengan kecepatan dari gerakan tubuhnya sekarang tidak lebih dari dua jam kemudian subah bisa kembali ke sini.
Setelah mengambil keputusan itu dia lanjut berteriak.
.Susiok, kau menemui kesukaran?.
Dari dalam ruangan sunyi senyap tak terdengar suara sahutan, sekali lagi Liem Tou mengulangi pertanyaannya akhirnya terdengar juga suara jawaban dari si perempuan tunggal Touw Hong yang lemah dan halus itu.
Sudah kucabut keluar tiga batang, maa.
masih .
masih ada masih ada lagi.
Liem Tou yang mendengar sudah dicabut keluar tiga batang diam diam dia merasa sedih juga buat diri perempuan tunggal ini, kini mendengar pula kalau masih ada lagi yang belum tercabut saking kagetnya keringat dingin sudah mengucur keluar membasahi keningnya.
Susiok kau bersabarlah sedikit serunya dengan gugup.
Cabutlah dengan perlahan aku rasa sesudah jarum emas itu dicabut keluar, luka itu dengan cepatnya akan sembuh dengan sendirinya.
Sambil berkata dia melepaskan tali obat pemberian dari Hek Loo toa itu dan berjalan masuk ke dalam ruangan perahu.
Susiok terimalah ini, serunya dengan membelakangi dirinya.
Tali ini adalah suatu obat yang mujarab sekali, bilamana susiok merasa pertahanan badannya semakin berkurang cepatlah makan satu utas, bilamana daya obatnya sudah berjalan maka semangat dan tenaga yang di dalam badan segera akan pulih kembali seperti sedia kala.
Sutit ada urusan yang bakal di bereskan dulu di tepian sana, tetapi sebentar kemudian akan kembali lagi ..selamat tinggal, harap susiok jaga diri baik baik.
Baru saja dia siap siap hendak meloncat ke tepian mendadak dia teringat kembali akan sesuatu.
Kalau aku pergi dan Sun Ci Sie tiba tiba balik ke sini bukankah susiok bakal celaka?
Dia segera gelengkan kepalanya berulang kali dan menghentikan gerakan badannya.
Aku tidak boleh pergi, aku tidak boleh pergi, pikirnya lagi.
Tidak perduli bagaimanapun aku harus menunggu setelah dia selesai mencabut keluar seluruh jarum yang menghajar badannya.
Berpikir sampai disini dia segera memaki ketololannya sendiri, untuk membetulkan kesalahan tadi dia lalu berteriak kembali.
Susiok, aku tidak jadi pergi..kau berlegalah bati untuk mencabut keluar jarum jarum tersebut dengan perlahan lahan.
Terpaksa dia balik lagi di ujung perahu dan duduk disana menanti.
Kentongan keempat dengan cepatnya berlalu tetapi dari dalam ruangan perahu sama sekali tidak terdengar sedikit suarapun, akhirnya Liem Tou tidak bisa menahan sabar lagi dengan cepat dia meloncat bangun.
Susiok.
kau kenapa?
tanyanya dengan suara yang keras.
Dia menanti lagi beberapa saat lamanya tetapi tidak mendapatkan jawaban juga, terpaksa untuk ketiga kalinya dia berteriak kembali tetapi suasana tetap sunyi senyap.
Liem Tou merasakan hatinya berdebar dengan amat keras , satu ingatan tidak beres berkelebat dalam benaknya.
Susiok, kau sedang apa??
kau kenapa??
teriaknya dengan keras.
Dari dalam ruangan perahu itu keadaan tetap tenang tenang saja tidak terdengar suara sahutan.
Liem Tou jadi semakin cemas lagi tubuhnya dengan cepat berkelebat menuju kedepan pintu ruangan perahu tersebut.
Baru saja hendak menerjang masuk untuk melihat apa yang sudah terjadi kembali satu ingatan berkelabat di dalam benaknya, bagaikan kepalanya digodam martil berat dia merasakan hatinya tergetar amat keras, akhirnya dia mem batalkan juga maksudnya itu.
Tetapi urusan sudah terjadi di hadapan matanya, untuk tidak masuk melihat keadaan yang sesungguhnya tak mungkin bisa terjadi, di dalam keadaan yang mendesak mendadak dia mendapat satu akal.
Anaaa .
, .
sudah ada, teriaknya.
Saat itu dia sudah meedapatkan satu cara yang amat tolol sekali, dia dengan cepat pejamkan matanya lalu dengan jalan meraba raba dia berjalan masuk ke dalam ruangan perahu itu.
Terhadap keadaan di dalam ruangan perahu itu sudah tentu dia sangat hafal sekali, tanpa membuang banyak waktu dia sudah berhasil mendapatkan tubuh si perempuan tunggal Touw Hong itu.
Tetapi sewaktu tangannya terbentur dengan sebuah kulit badan yang sangat halus dan hangat ditambah pula tersiar bau harum yang sangat aneh sekali menusuk hidungnya membuat dia jadi sangat terperanjat.
Susiok, suuok ..-teriaknya keras.
Suasana tetap tenang tak terdengar sahutan apapun, walaupun sepasang matanya dipejamkan letapi dia bisa tahu tentunya saat ini perempuan tunggal sudah jatuh tidak sadarkan diri di karenakan tidak dapat menahan rasa sakit yang kelewat batas itu.
Di dalam keadaan yang seperti ini menolong orang adalah lebih penting dari segala galanya, dia tidak memikirkan batas susila antara lelaki dau perempuan lagi, dengan cepat dia duduk di atas tanah dan dengan perlahan dan sangat hati hati sekali dia ulurkan tangannya ke depan, karena takut sudah meraba anggota badannya yang terlarang beberapa kali sudah hampir menempel di badan perempuan itu dia menarik tangannya kembali.
Diam diam di dalam hatinya merasa tersiksa.
Susiok, dimanakah kepalamu??
ujarnya kemudian.
Bagaimana aku bisa menemukan kepalamu dengan cara meraba begini?
jika yang saya raba bukan kepalamu urasan bukankah jadi berabe?
Mendadak dia mendapatkan satu akal dia tahu saat ini si perempuan tunggal Touw Hong berada dalam keadaan telanjang bulat berbaring di dalana ruangan perahu itu, maka dengan sendirinya pakaian yang dilepas tentu targeletak disisinya, asalkan dia berbasil menutupi badannya dengan pakaian tersebut bukankah sesudah itu dia bisa membantu dirinya untuk mengerabkan tenaga dalam dengan mata terbuka.
Berpikir sampai disini dia tidak ragu ragu lagi, dengan cepat dia maraba di atas tanah.
Akhirnya didapatkan juga pakaian itu disamping badannya kemudian dengan cepat ditutupkan ke atas badannya.
Tetapi pada saat ini dia tetap tak berani membuka kedua matanya secara berbareng, dengan perlahan lahan dia membuka dulu sebelah matanya, karena dia takut setelah matanya terbuka akan menemukan pandangan yang menggairahkan dan mendebarkan hatinya, keadaan seperti itu bukankah luar biasa bekali ...
Untung saja tempat yang ditutupi tadi tepat dari lutut sampai dilehernya saat itu Liem Tou baru bisa menghembuskan napas lega.
Baca Juga: Si Tangan Halilintar 7
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah Kho Ping Hoo