Ceritasilat Novel Online

Raja Silat 7

Eps 7 Raja Silat - Chin Hung

Baca online Raja Silat - Chin Hung

Cersil Raja Silat - Chin Hung.

Sungguh berbahaya, teriaknya di dalam hati.

Setelah itu dia baru duduk bersila disisinya dan menempelkan telapak tangannya di atas punggungnya, matanya dipejamkan dan mulai menyalurkan hawa murninya ke dalam badan Touw hong Terhadap susiok yang masih sangat muda ini dia menaruh rasa simpatik bercampur rasa hormatnya yang secara tidak sadar sudah timbul rasa ingin melindungi dirinya, dia gemas tidak bisa menyalurkan selurub tenaga murni yang ada pada dirinya untuk menolongnya supaya cepat cepat sadar kembali, tetapi pikiran ini tidak mungkin bisa terlaksana, sekalipun tenaga dalam yang dimilikinya sangat tinggi tetapi bilamana dia berbuat demikian hal ini cuuia mendatangkan bencana saja daripada kebaikan .

...

Seperti apa yang telah diduga olah Liem Tou semula, si perempuan tunggal Touw Hong yang berhasil mencabut keluar jarum yang terakir dikarenakan tenaganya sudah habis dan amat lelah sekali ditambah pula rasa sakit yang terasa menusuk tulang akhirnya dia tidak kuat menahan diri dan jatuh tidak sadarkan diri.

Saat ini setelah dibantu oleh tenaga yang disalurkan Liem Tou melalui jalan darah Giok Liang Hiat pada punggungnya menerjang ke atas urat nadi melalui jembatan pemisah, Keng Pek Hee terus naik ke atas ubun ubun menerjang jalan darah penting Nie Tan Coe di dalam sekejap saja hawa murni itu sudah mengelilingi seluruh badannya satu kali dan bergabung dengan bawa murni yang ada di badannya sendiri.

Dengan tanpa disadari pula seluruh rasa sakit yang ada di badannya sudah tersapu lenyap tak berbekas, badannya jadi terasa amat nyaman dan segar.

Dengan perlahan lahan dia membuka kembali sepasang matanya untuk sesaat lamanya dia sudah lupa kalau celana serta pakaiannya sudah dia lepas sehingga kini berada didalam keadaan telanjang, ketika dilihatnya Liem Toudu duduk bersila disamping dan membantu dia megerahkan tenaga dalamnya dengan cepat dia tersenyum manis.

Sutit, terima kasih, serunya dengan rasa amat terharu.

Waktu itu Liem Tou sedang menarik hawa murninya karena itu dia tidak dapat menjawab, setelah hawa murninya ditarik kembali dia ba ru bangkit berdiri kemudian tanpa menoleh lagi sudah berjalan keluar.

Sutit tidak dapat baik baik menjaga diri susiok harap susiok suka memaafkan, serunya setelah berada di depan pintu ruangan perahu tersebut.

Mendadak terdengar suara jeritan, kaget dari si perempuan tunggal Touw Hong yang berkumandang keluar dari dalam ruangan setelah itu suasana jadi sunyi senyap tak terdengar sedikit suarapun.

Liem Tou menduga tentu dia sedang msrasa terkejut karena menemukan dirinya di dalam keadaan telanjang bulat sehingga tanpa terasa sudah menjerit kaget.

Berpikir akan hal itu dari luar ruangan dia lantas berteriak kembali dengan suara yang sungguh sungguh.

Susiok.

kau merasa sutit adalah manusia macam apa??

Dari dalam ruangan perahu tidak terdengar suara jawaban.

Liem Tou segera menyambung kembali perkataannya.

Maksud dari sutit berkata demikian cuma mengharapkan susiok jangan mengira aku Liem Tou adalah seorang manusia yang tidak tahu diri.

Sehabis berkata dia angkat kepalanya memandang keadaan cuaca yang mulai menjadi terang tetapi pada saat yang bersamaan pula dari dalam ruangan perahu itu berkumandang keluar suatu isak tangis yang amat sedih dari si perempuan tunggal Touw Hong.

Liem Tou menduga saat itu si perempuan tunggal Touw Hong tentunya sudah berpakaian karenanya dengan perlahan dia menoleh memandang kearah dalam ruang&n, secara samar samar dia bisa melihat si perempuan tunggal Touw Hong duduk bersandar pada dinding perahu, sepasang tangannya menutupi wajahnya dan dia menangis dengan sedihnya.

Liem Tou segera berjalan masuk menghampiri dirinya.

Susiok kenapa kau menangis??

tanyanya dengan suara yang rendah.

Cepat keluar dari sini, tidak ada urusanmu ditempat ini tiba tiba si perempuan tunggal angkat kepalanya dan membentak dengan suara yang amat Keras.

Walaupun sejak kecil Lem Tou bergaul dengan Lie Siauw Ie terhadap hati seorang gadis yang sudah menanjak dewasa mana dia bisa mengetahuinya dia menganggap si perempuan sedang merasa marah terhadap dirinya, karena itu dengan amat rikuh dia mengundurkan diri dari sana.

Baru taja dia tiba di samping pintu ruangan mendadak terdengar suara dari si pererapuan tunggal berkumandang lagi.

Aku tidak sedang marah kepadamu, kau jangan merasa tersinggung.

Liem Tou segera menoloh ke arahnya, terlihatlah si perempuan tunggal dengan menggunakan sepasang biji matanya yang jeli dan menggiurkan sedang memandang dirinya dengan rasa penuh cinta dan mesranya, sikap ini jelas se kali memperlihatkan kalau dia sudah menaruh rasa cinta muda mudi terbadap dirinya, hal ini membuat Liem Tou jadi agak terperanjat.

Aduh.

.dosa, teriaknya di dalam hati.

Cepat cepat ujarnya sambil melengos.

Susiok, jarum yang menancap di badanmu sudah dicabut keluar semua, kenapa kau tidak keluar dari ruangan itu untuk melihat munculnya sang surya?

Aku pikir sesudah sang surya muncul segera akan melanjutkan perjalanan untuk menyimpan beberapa peti emas intan ini ke dalam gunung Wu san sehingga bisa digunakan di kemudian hari.

Dengan termenung si perempuan tunggal berpikir sebentar akhirnya dengan menundukkan kepalanya rendah dia berjalan keluar dan berdiri di sisi Liem Tou sampai waktu itu dia tidak berani mengangkat kepalanya barang sekejappun.

Liem Tou yang melihat cuaca sudah mulai terang tanah dia segera merasa sang kerbau harus cepat cepat diambil kembali, karenanya dia lantas berkata.

Susiok kau tunggulah sebentar disini aku pergi sebentar dan akan balik lagi kesini.

Waktu ini cuaca masih amat pagi sekali, Liem Tou tanpa menanti jawaban dari si perempuan tunggal lagi dengan cepat meloncat ke atas tepian sungai kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat lihay dia berkelebat menuju ke rumah petani dimana dia menitipkan kerbaunya itu.

Tepat sebelum fajar menyingsing Liem Tou sudah tiba di sana dan saat itu seluruh keluarga dari petani itu sudah pada bangun.

Sang petani tua itupun sedang memberi makan kerbau tersebut, Liem Tou dengan wajah tersenyum lalu berjalan mendekati dirinya.

"Loo pek, selamat pagi". Petani tua itu dengan cepat menoleh ke belakang, sewaktu dilihatnya Liem Tou sudah mendekatinya dia jadi amat girang Ooo ..yaya malaikat, kau sudah datang, ada orang bilang kau tidak bakal datang lagi kemari tetapi aku sama sekali tidak mau percaya coba kau Lihat yaya malaikat, kerbau itu memang lain dari pada yang lain, aku sudah mencoba dengan membawa kerbau yang lain datang kemari tetapi setiap kerbau yang sudah bertemu dengan dirinya lalu tanpa berani angkat kepalanya sudah pada lari terbirit birit. Mendengar dirinya disebut sebagai "yaya-malaikat"

Liem Tou lantas tertawa.

"Loo pek kau jangan memandang aku sebagai yaya malaikat"

Serunya.

Aku tidak lebih adalah seorang manusia biasa yang berlatih ilmu silat dan jika dibandingkan dengan orang lain badanku memang agak jauh lebih enteng saja, aku She Liem bernama Tou dan tinggal diatas gunung Ha Mo San di daerah Cing Jan, lain kali bila Loo pak membutuhkan bantuanku boleh saja berangkat kesana mencari aku karena ini hari aku masih ada urusan yang harus diselesaikan maka tidak bisa lama ada di sini, sekarang aku mau bawa kerbau ini meninggalkan tempat ini"

Sambil berkata dari dalam sakunya Liem Tou mengambil keluar dua butir mutiara yang kemudian diserahkan kepada petani tua itu, tapi sang petani tidak mau menerimanya.

Akhirnya setelah Liem Tou mendesak dia terus menerus dan mengatakan kalau benda tersebut sebagai hadiah yang diberikan kepadanya dengan tulus ikhlas akhirnya petani tua tersebut pun mau menerimanya juga.

Pada saat itulah mendadak terlihatlah seorang bocah cilik berusia enam, tujuh tahun berlari lari keluar dari dalam rumah, begitu keluar dari pintu dengan cepat dia berlari mendekati petani tua itu.

Sepasang matanya yang bulat dan berwarna hitam itu dengan jelinya memandang diri Liem Tou lalu kirim satu senyuman lucu kepadanya.

Liem Tou yang melihat tubuh bocah cilik itu diam diam didalam hatinya merasa sedikit berdebar.

Sungguh tidak kusangka di rumah seorang pe tani tua ini ternyata terdapat seorang bocah yang mempunyai tulang serta bakat alam yang demikian bagusnya, demikianlah pikirnya di dalam hati.

Jilid 25 Dengan cepat dari dalam sakunya dia mengambil keluar lagi sebuah intan berwarna merah darah dan diberikan kepada bocah cilik itu.

Mari kesini, serunya.

Ini aku kasih mainan buatmu, kau suka bukan?

Petani tua itu segera mewakili sang bocah itu untuk mengucapkan terima kasihnya, setelah itu Liem Tou baru menuntun kerbaunya meninggalkan rumah petani itu, tidak jauh dia berjalan ketika teringat akan diri perempuan tunggal yang ada di perahu seorang diri dengan cepat dia meloncat naik ke punggung kerbaunya.

Hoa, bentaknya dengan keras.

Sang kerbau segera menggerakkan kakinya mulai berlari ke depan, mungkin dikarenakan sudah ada berapa lama tidak bertemu dengan majikannya begitu melihat dia orang naik ke atas punggungnya dengan amat riangnya dia berlari dengan cepatnya ke depan membuat pasir serta debu pada beterbangan memenuhi angkasa.

Hanya di dalam sepertanak nasi kemudian Liem Tou serta kerbau itu sudah tiba di samping bukit di selat Sie Leng Shia tersebut.

Liem Tou segera meloncat turun dari atas tunggangannya dan menepuk nepuk leher sang kerbau.

Kau turunlah sendiri, serunya.

Tubuhnya dengan cepat meloncat naik ke atas perahu, teriaknya keras begitu kakinya mencapai permukaan perahu.

Susiok aku sudah kembali.

Tetapi tidak terdengar suara sahutan dari dalam perahu ini ruangan perahu kosong melo pong tidak tampak sesosok bayangan manusia-pun.

baru saja dia merasa keheranan mendadak terdengarlah suara dari si perempuan tunggal berkumandang datang.

"Sutit aku ada disini ... kau pergi ke mata?"

Kenapa begitu lama baru pulang??

Huuu seorang diri disini aku benar benar merasa kesepian.

Sambil berkata tubuhnya meloncat naik ke atas peruhu dan tampak pada tangannya membawa buah buahan yang amat banyak sekali.

Waktu itu sang kerbaupun dengan perlahan lahan berenang mendatangi, melihat hal itu si perempuan tunggal segera berkata kembali.

"Sutit, kerbau itu apa masih ada?"

Baru saja dia selesai berkata tampaklah kerbau itu sudah meloncat naik ke atas perahu membuat perahu itu segera bergetar sehingga miring ke arah samping.

Mendadak terdengarlah suara dengusan yang sangat rendah dan berat kerbau itu secara tiba tiba saja dengan ganasnya menerjang ke arah si perempuan tunggal.

"Hey kenapa?' si perempuan tunggal sambil menyingkir kesamping.

"Hey kau sudah gila?"

Bentak Liem Tou dengan gugup.

"Terhadap keluarga sendiri kenapa kau mengumbar nafsu binatangmu?"

Sang kerbau tidak berani bergerak lagi, cuma saja sepasang matanya dengan amat tajam sekali memperhatikan diri si perempuan tunggal Touw Hong.

Saat itulah secara mendadak Liem Tou teringat akan sesuatu, tentunya sewaktu berada di rumah penginapan di kota Tay Yang di mana si perempuan tunggal serta si gadis berbaju hijau Ciang Beng Hu mengeroyok diri si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dapat diketahui oleb sang kerbau, karena itu membuat dia sudah salah menganggap dirinya sebagai musuh, oleh sebab itulah begitu bertemu dengan dirinya dia lalu mengumbar nafsu binatangnya.

Berpikir sampai disitu dengan cepat Liem Tou segera memberi penjelasan kepada kerbaunya.

Dia bukan musuh kita, lain kali bilamana kau bertemu dengan dirinya kau harus bersikap hormat seperti sewaktu bertemu dengan aku, kau tidak diperkenankan bertindak begitu kurang ajar lagi.

Sang kerbau cuma mendengus rendah saja tanda dia sudah tahu.

Setelah itulah Liem Tou baru menoleh ke arah perempuan tunggal dan kirim satu senyuman manis kepadanya.

"Kerbau ini tentunya susiok pernah menemui bukan? Dia bukan saja merupakan kawan karib dari sutitmu bahkan ada kalanya menjadi pengganti dari sutitmu !"

Serunya. Si perempuan tugggal pun ikut tertawa.

"Ada majikan sudah tentu ada budaknya,"

Sahutnya.

"Pada beberapa bulan ini kerbaumu benar benar sudah terkenal sekali di dalam dunia kangouw "

"Untung saja tidak sampai dipukul mati oleh orang-orang dari Kiem Thien Pay. seru Liem Tou secara tiba tiba sambil kirim satu kerlingan mata ke arah susioknya. Waktu itu apabila bukannya aku cepat cepat kembali ke rumah penginapan bilamana ada sedikit tidak beres saja maka orang orang dari Kiem Thien Pay bakal menanggung akibatnya. Si perempuan tunggal tidak dapat mengucapkan apa apa dia cuma tertawa saja. Sutit mendadak tanyanya lagi, kerbaumu itu sudah terkenal akan keganasannya, dapatkah kau bentahukan kepadaku bagaimana caranya memberi pendidikan kepandanya? sekalipun harus bertempur dengan seorang jagoan kelas satu dari Bu lim pun dia sanggup, sebenarnya dikarenakan apa?? Liem Tou cuma tersenyum tidak menjawab, setelah lewat beberapa saat kemudian dia baru menjawab dengan perlahan. Liin kali sudah tentu susiok dapat melihatnya sendiri. Si perempuan tunggalpun tidak banyak berta nya lagi. Liem Tou segera berlari menuju ke ujung perahu, lantas teriaknya dengan keras Susiok, coba kau lepaskan tali itu dan angkatlah jangkarnya ke atas.aku mau menjalankan perahu ini. Si perempuan tunggal menurut dan mengerjakan perintahnya itu, Liem Tou lantas kirim satu pukulan ke arah tengah sungai, sesuai dengan cara dari si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san dia menggunakan tenaga pukulan tersebut sebagai pengganti dayung menjalankan perahunya ke arah depan. Besar ombak di selat Sam Shia dari sungai Yang Ci Kiang ini sudah amat terkenal sekali d iseluruh kolong langit, tetapi tenaga dalam yang dihasilkan oleh pukulan Liem Tou ini maha dahsyat sekali, sekalipun di atas permukaan air sama sekali tidak kelihatan beriak tetapi di dasar sungai itu sudah terjadi satu gelombang sangat dahsyat sekali. Saat ini perahu tersebut bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur kedepan dengan amat cepatnya, hanya di dalam sekejap saja dia sudah melampaui berpuluh puluh perahu yang sedang berlayar dengan bantuan tarikan di tepi selat. Orang orang dari perahu lainnya yang melihat perahu dari Lism Tou ini bisa bergenk dengan amat cepatnya segera merasa keheranan, karena keadaan seperti ini boleh dikata mereka belum pernah menemuinya. Liem Tou takut dengan adanya kejadian ini akan mmimbulkan rasa keheran heranan dari orang orang lain, terpaksa dia ssdikit memperlambat gerakan perahunya, bersamaan pula dia pun duduk di atas geladak, lagaknya separti orang yang sedang menikmati keindahan pemandangan, padahal sepasang tangannya dengan tidak ada hentinya diayunkan kebelakang. Tidak sampai seperminum teh kemudian dia telah melewati selat Sie Leng Shia dan memasuki selat Wu Shia.

"Sutit kau beristirahatlah sebentar, kali ini biarlah aku yang mencoba"

Ujar si perempuan tunggal sambil berjalan keluar dari dalam ruangan.

"Tidak perlu sudah hampir sampai!"

Sahut Liem Tou sambil tertawa.

"Oooh ..kiranya sutit mau pergi ke selat Wu Shia ini, hal ini ada sedikit yang membuat aku kebingungan"

Ujar si perempuan tunggal lagi dengan heran.

"Apanya yang tidak dapat kau pahami?? Cukup kita simpan beberapa peti emas itu ke sana lalu kita jalankan perahu lagi menuju ke atas Cing Jan untuk mengikuti perjanjian pada tanggal lima bulan lima, bukankah susiok juga melihat keramaian?"

"Bukankah sejak dulu sutit sudah mengada kan janji dengan aku? Sungguh cepat kau melupakan hal ini"

Liem Tou lalu tertawa.

Waktu itu dengan saat ini keadaannya sudah berbeda, apakah sesampainya di atas Cing Jan susiok juga mau bertanding dengan diriku lagi?

Aaah..

tidak, cuma saja bilamana sutit ada bahaya akupun bisa turun tangan memberi bantuan.

Di tengah percakapan itulah, mereka sudah tiba di tempat tujuan.

Liem Tou segera menepikan perahunya lalu kepada Si perempuan tunggal ujarnya.

Susiok apakah mau pergi dengan sutit??

Baiklah, sahut si perempuan tunggal mengangguk.

Cuma saja kau harus beritahukan kepadaku, kau hendak pergi kemana.??

Liem Tou tidak mau mengelabui siperempuan tunggal lagi dia lantas menceritakan bagaimana dia mempelajari kitab pusaka To Kong Pit Lok di dalam sumur kering tersebut.

Saat itulah si permpusn tunggal baru tahu kalau kepandaian silat dari Liem Tou ini diperoleh dari kitab puiaka To Kong Pit Liok.

di dalam hati diam diam dia merasa amat kagum sekal.

Dia segera putar badan berjalan masuk ke dalam ruangan perahu dan menggotong keluar sebuah peti hitam.

Peti yang penuh berisikan uang perak itu sudah tentu terasa amat berat sekali, di tambah si perempuan tunggal baru saja sembuh dari luka nya, baru saja berjalan beberapa langkah napas nya sudah ngos-ngosan.

Dengan gugup Liem Tou lalu menggantikan dirinya.

"Susiok lukamu belum sembuh, kau tidak usah banyak keluar tenaga! Biarlah sutit yang menggolong !"

Mendadak matanya terbentur dengan sang kerbau yang ada disisinya, satu pikiran segera berberkelebat di dalam benaknya.

"Begini saja !"

Ujarnya lagi.

"Kekuatan dari kerbau ini amat luar biasa sekali, kita biarkan dirinya membawa tiga buah peti cukup susiok menjaga dari sampingnya sehingga jangan sampai jatuh, bukankah sudah beres?? Sisanya aku bisa membawanya sendiri, dengan demikian bukankah hanya di dalam satu kali kerja saja sudah beres??"

Si perempuan tunggal tidak terlalu memaksa.

dia segera mengangguk.

Demikianlah mereka berdua dengan menggunakan cara tersebut segera menggotong keenam buah peti itu ke atas tepi itu kemudian dengan perlahan lahan naik ke punggung gunung.

Tiba tiba ....

Sreeet!

Sreet !

Sreet !

Tampak lima orang lelaki kasar dengan cepatnya berkelebat keluar dari tempat persembunyiannya dan berdiri di tengah jalan.

"Siapa yang sudah datang dari bawah, cepat sebutkan namamu"

Bentak mereka berbareng.

Liem Tou yang melihat oraug orang itu walaupun mempunyai perawakan kekar dan kuat tetapi agaknya tidak mempunyai kepaadaian yang tinggi, dalam hati Liem Tou merasa lega.

kepada si perempuan tunggal dia segera kirim satu senyuman.

"Aku lihat sebetulnya kalian semua manusia manusia tolol yang benar benar goblok"

Sahutnya kepada orang orang itu.

"Jika kalian kepingin mengahalangi perjalanan orang dan merampas barang bawaannya seharusnya pergi ke jalan raya saja, buat apa kalian pilih gunung Wu-san yang sama sekali sunyi tak kelihatan manusia ini untuk mencari mangsa?? Sungguh menggelikan sungguh menggelikan sekali kalian tidak mirip pembegal jalan."

Selesai berkata dia tertawa terbahak bahak.

Mendengar perkataan tersebut keenam orang lelaki kasar itu seketika itu juga jadi amat gusar sekali, mendadak mereka bersama sama mengerubut maju kedepan.

Liem Tou sekali lagi tertawa.

"Tunggu dulu !"

Bentaknya dengan keras.

Sungguh besar sekali nyali kalian pembegat-pembegal cilik, terus terang saja aku beri tahu pada kalian, isi dari keenam buah petiku ini adalah emas intan yang mempunyai nilai sangat berharga sekali, bila kalian bisa mengangkat sebuah peti diantara peti peti ini aku akan segera menghadiahkan benda tersebut kepada kalian.

Sambil berkata dia meletakan ketiga buah peti itu ke atas tanah, ujarnya lagi.

Bilamana tidak percaya kalian boleh coba-coba.

Diantara keenam lelaki kasar itu segera terlihatlah salah seorang meloncat keluar.

Kami cuma tanya namamu lalu kalian mengaggap kami sebagai pembegal jalan.

Hmm.

Hmm, kau bangsat cilik jangan memandang begitu rendah terhadap diri kami, bentaknya dengan gusar.

Kau bilang aku orang tua tidak bisa angkat salah satu dari peti ini..he..aku tidak percaya.

Aku mau lihat betul tidak omonganmu itu.

Sembari berkata dia berjalan mendekati peti itu kemudian tangannya mulai mencekal salah satu peti untuk diangkat.

Perkataan dari Liem Tou ini sedikitpun tidak sombong cukup sebuah peti saja sudah ratusan kati beratnya, walaupun kekuatan dari lelaku itu ada tua tiga ratus kati tetapi keadannya masih terpaut amat jauh, mana dia orang bisa berhasil mengangkatnya.

Walaupun dia sudah mengerah seluruh kekuatannya sehingga wajahnya berubah memerah, peti itu tetap tak terangkat juga.

Melihat kejadian itu Liem Tou segera tertawa ringan.

.heee.

.bukanlah aku sudah bilang, kalian tidak mungkin bisa.

Dengan demikian keenam orang lelaki itu segera dibuat melongo dan amat terbelalak lebar lebar.

Mereka saling berpandangan tanpa ada yang mengucapkan sepatah kata pun.

Beberapa saat kemudian baru terdengar salah satu diataranya berseru dengan keras.

epat pergi mengundang Piauw cu datang.

Orang itu segera menyahut dan lari meninggalkan tempat tersebut.

Liem Tou tidak mau ambil gubris lagi terhadap diri mereka, segera bentaknya keras.

"hayoh pada menyingkir"

Sekali lagi dia menggotong peti peti itu dan menoleh ke arah si perempuan tunggal untuk kirim satu senyuman.

"manusia manusia itu sungguh tidak tahu kekuatannya sendiri, mari kita pergi saja"

Ujarnya.

Dua orang manusia seeker kerbau kembali melanjutkan perjalanan mereka dengan perlahan lahan naik ke atas gunung, para lelaki kasar itu mana berani menghalangi perjalanan mereka lagi, dengan sepasang mata yang melotot lebar lebar setindak demi setindak mereka mengikuti terus naik ke atas gunung.

Pada saat itulah tampak dari atas gunung dengan tergesa gesa berlari turun dua orang, yang satu adalah lelaki yang pergi melapor tadi sedang yang seorang lagi adalah seorang kakek tua yang memelihara jenggot pada janggutnya.

Liem Tou yang melihat gerakan kaki dari kakek itu amat mantap dengan cepat dia memperhatikaw lebih teliti lagi, segera dia bisa kenal kalau orang iru bukan lain adalah Piauw cu dari Cing Ling Piauw kok Sie Ie adanya.

Liem Tou yang kenal dengan kakek tua itu dengan cepat meletakkan peti tersebut ke atas tanah lalu menoleh ke arah diri Si perempuan tunggal.

"Orang yang baru datang itu adalah Sie Piauw tauw dari Cing Liong Piauw kiok, aku dengan dirinya ada satu kali pernah bertemu dan sama sama berada di dalam keadaan bahaya, orang ini adalah seorang jujur yang patut dipuji, mari aku kenalkan kepada diri Susiok". Si perempuan tunggal yang melihat perubahan sikap dari Liem Tou tetapi secara diam diam sudah menduga kalau Liem Tou sangat menghormati orang ini, karenanya dengan ter gesa gesa dia meletakkan pula peti hitam itu. Pada saat itulah Liem Tou sudah maju ke depan menyambut kedatangan orang tua itu.

"Sie Loo Piauw tauw! bagaimana keadaanmu selama perpisahan ini"

Serunya sambil menjura memberi hormat.

"Boanpwee tidak tahu kalau enghiong enghong ini adalah anak buah dari Loo Piauw tauw, tadi sudah salah bertindak harap suka memaafkan!"

Sie Piauw tauw yang melihat munculnya diri Liem Tou yang secara tiba tiba itu semula agak melengak tapi kemudian dia tertawa terbabak bahak dengan amat kerasnya.

"Orang budiman tentu dilindungi Thian, ternyata Liem Loo te benar benar berhasil meloloskan diri dari bahaya, bagus ..bagus sekeli. Berbicara sampai di situ mendadak sinar matanya berkelebat dengan amat tajamnya memperhatikan diri Liem Tou dan selanjutnya dia tertawa terbahak babak. Haa , . haaa ..bilamana bukannya loohu sudah mslamur, selama setahun ini kepandaian silat dari Liem Loo te sudah memperoleh kemajuan yang sangat pesat sekali, jauh berbeda dengan keadaan sewaktu dahulu kita bertemu. Aaa ..Sie Loa Piauw tauw terlalu memuji, seru Liem Tou sambil tertawa. Walaupun selama satu tahun ini ada sedikit kemajuan tetapi belum mencapai seperti apa yang diucapkan oleh Loa piauw tauw, aku sebetulnya masih mengharapkan banyak petunjuk dari Piauw-tauw. Ketika berbicara sampai disitu Si perempuan tunggal pun sudah sampai di sana, Liem Tou segera memperkenalkan dirinya dengan Sie Piauw tauw. Sie Piauw tauw yang mendengar gadis berbaju hitam yang ada dihadapannya saat ini ternyata adalah susiok dari Liem Tou dia mana berani berlaku ayal, dengan cepat dia merangkap tangannya memberi hormat. Waktu itu berkat baniuia dari keponakan murid Li hiap, loohu berhasil meloloskan diri dari kekejaman An In Sin Pian kali ini sekali lagi Loohu ucapkan banyak terima kasih kepada kalian berdua. Sie Piau tauw kau jangan begitu terlaku sungkan, cegah Liem Tou dengan cepat. Waktu itu pun boanpwee sedang ada urusan yang kebetulan bersamaan kita berada di satu golongan, buat apa kau berlaku begitu hormatnya. Liem Tou yang kukuh tidak mau menerima hormatnya yang membuat Sie Piauw tauw tidak bisa berbuat apa apa lagi, terpaksa diapun membatalkan niatnya itu. Liem Tou segera berganti dengan bahan pembicaraan yang lain. Entah kali ini Sie Piauw tauw ada makdud apa ke gunung Wu san ini? kenapa tidak melihat murid kesayanganmu?. Sie Piauw tauw yang mendengar Liem Tou bertanya demikian dia segera menghela nafas panjang. Mendadak dia menuding ke arah sisinya, Liem Tou mengikuti apa yang ditunjuk segera menoleh kesana. Terlihatlah di tengah batu batuan cadas yang pada tersebar di seluruh permukaan tanah terdapatlah sebuah kayu yang tinggal separuh serta sebuah batu besar. Melihat barang tersebut Liem Tou jadi keheranan. Sie Piauw tauw apa maksudmu? tanyanya.

"Lenyapnya barang kawalan kita di sungai Yang Ci Kiang tentunya Liem Loo te mengetahui dengan jelas bukan? dikarenakan hilang nya barang kawalan itu maka untuk mengganti rugi seluruh harta kekayaanku jadi ludas sama sekali, perusahaan Cing Liong Piauw kiok pun terpaksa tutup pintu, sebaliknya Ang In Piauw kiok mulai meluaskan usahanya. Loohu semakin berpikir semakin kheki sehingga di dalam setahun ini antara pihak kami dengan pihak keledai tua itu sudah terjadi dua kali pertempuran yang makan banyak korban.

"Kemarin kami dapat mendengar kalau ini hari dari pibak Ang In Piauw kiok mendapatkan kawalan satu barang berharga yang di dalam beberapa hari ini akan lewat tempat ini menuju ke daerah Kang Lam, karenanya kami sengaja tunggu disini untuk membalas dendam yang sudah lalu "

Mendengar diucapkannya perkataan tersebut Liem Tou jadi terperanjat sekali.

"Apakah Sie Piauw tauw hendak menggunakan gelindingan batu serta kayu untuk menenggelamkan perahunya sewaktu melewati selat ini?"tanyanya lagi. Air muka Sie Piauw tauw segera berubah jadi memberat. Teringat peristiwa setahun yang lalu dimana dia merampok barang kawalan kami seharga tiga laksa tahil petak bahkan membunuh Hu Hiauw tauw serta anak muridku, apakah kami berbuat demikian dikatakan terlalu kejam??"

Ujarnya. Pikiran Liem Tou dengan cepat berkelebat memikirkan sesuatu, akhirnya ujarnya lagi.

"Dendam sakit bati tidak ada habis habisnya lebih baik Sie Piauw tauw berpikir tiga kali sebelum bekerja.

"Usaha yang sudah aku orang she Sie pupuk selama puluhan tahun lamanya kini sudah dihancurkan oleh bajingan she Pouw itu hanya di dalam sehari saja. kau suruh berbuat bagaimana sehingga bisa menghilangkan rasa mengkel di dalam hatiku?"

Seru Sie Piauw tauw dengan gemasnya.

Liem Tou segera termenung berpikir sebentar, pada saat ini bukaanya dia bermaksud untuk menolong si Ang In Sin Pian, Pouw Sak San untuk meloloskan diri dari bencana ini melainkan dia ingin melenyapkan dendam sakit hati yang saling ikat mengikat di dalam Bu lim ini, mendadak di dalam benaknya berkelebat satu ingatan.

Baru saja dia hendak mengutarakan sesatu tiba tiba tampaklah Sie Piau tauw sudah melanjutkan lagi kata katanya.

Muridku sudah balik kemari, kemungkinan sekali sebentar lagi mereka bakal melewati selat ini.

Sambil berkata dia menuding kearah sungai.

Dengan mengikuti arah yang ditunjuk Liem Tou segera melongok ke bawah,di bawah terlihatlah sebuah sampan dengan layar yang lebar dengan lajunya sedang bergerak mendatangi, sedang orang yang berdiri di belakang kemudi adalah seorang lelaki dengan dandanan nelayan.

Di tengah mengalirnya air Sungai yang amat deras sekali di selat Wu shia ini dengan menunggang sampan kecil dengan mengikuti arus sungai merupakan suatu pekerjaan yang sangat berhahaya sekali, Sie Piauw tauw dengan tergeda gesa segera memerintahkan beberapa lelaki kasar untuk turun kebawah menyambut kedatangannya.

Lelaki itu segera menyambut dan bersama sama turun ke bawah gunung.

Tidak lama kemudian sampan kecil sudah barada dekat dengan tempat itu, tiba tiba terlihatlah nelayan itu melemparkan seutas tali ke arah tepian.

dengan cepat lelaki kasar tersebut menarik perahu itu dan mendekati tepi sungai.

Nelayan itu meloncat turun dari perahunya dan berlari naik ke atas bukit, sekali pandang saja Liem Tou segera mengenal kembali kalau arang itu adalah Piauw su yang pernah ditolong pada waktu yang lalu.

Dengan tergesa gesa piauw su muda itu lari ke atas punggung bukit jatuhkan diri berlutut di depan Sie Piauw tauw.

Tecu Oei Poh sudah kembali, serunya Sudah sudahlah, urusan apakah sudah di bikin beres?

tanya Sie Piaw tauw sambil ulapkan tangannya.

Piauw su muda itu segera bangkit berdiri sinar matanya dengan cepat menyapu sekejap ke arah Liem Tou berdua, sewaktu dilihatnya dia orang ada disana dia segera mengangguk.

LlEM TOU pun lantai tersenyum tetapi Oei Poh yang tidak kenal dengan si perempuan tunggal tidak berani berlaku gegabah dengan melongo dia memandangi diri si perempuan tunggal tidak berani berbicara.

Agaknya Sie Piauw Tauw mengetahui maksud hatinya, dia segera tertawa.

'Oei Poh, kau katakan saja".

"Di dalam satu jam kemudian mereka bakal lewat di selat ini"

Ujar Oei poh kemudian."

Perahu yang memuat barang kawalan semuanya ada tiga buah, dua buah perahu yang memakai bendera Ang In Piauw kiok dan berjalan paling depan merupakan perahu perahu kosong belaka, sebaliknya sebuah perahu yang jauh membuntuti di belakang kedua perahu kosong itu barulah merupakan perahu yang betul betul ada barang kawalannya, kali ini Ang In Sin Pian sendiri yang turun tangan mengawal barang kawalan tersebut."

Mendengar perkataan itu Sie Piauw tauw mengerutkan alisnya.

"Sungguh licik sekali Si Pouw Sak San. Hmm, ini hari aku mau suruh kelicikannya itu hancur ditangan Loohu"

Serunya. Sehabis berkata dia segera menggape beberapa anak buahnya dan memberi pesannya.

"Kalian masing masing harus berada di tempatnya sendiri sendiri, siapkan batu dan kayu itu baik baik. bila mana melihat adanya dua buah perahu dengan tertancapnya bendera Ang In Piauw kiok lewat jangan sekali kali kalian ganggu, biarkan saja dia berlalu ! Tetapi perahu yang ada dibelakangnya dimana tidak tertancap bendera kalian harus berusaha menghancurkan sehingga tenggelam ke dalam sungai "

Begitu perintah tersebut diucapkan, para lelaki kasar itu segera pada menyebar dan menyembunyikan dirinya baik baik untuk bersiap sedia.

Liem Tou yang melihat suasana sudah benar benar tegang dia tidak berani berlaku ayal lagi.

dengan cepat tubuhnya maju ke depan Sie Piauw tauw dan memberi hormat "Sie Piauw tauw apa benar benar sudah mengambil keputusan untuk menenggelamkan perahu ini?"

Tanyanya. Jika kau berbuat begitu bukankah ikatan permusuhan di antara kalian malah semakin bertambah mendalam??? Si goiok naga hijau Sie Piauw tauw lantas memperlihatkan tertawa pahitnya.

"Hmmm, harta rumah musnah dulu manusia dan keluarga binasa terakhir, buat apa aku merasa sayang untuk berbuat nekad?? Liem Loote mempunyai cara berpikir apa lagi?"

"Perkataan dari Loo Piauw tauw sudah salah besar, seru Liem Tou setelah mendengar perkataan itu.

"Aku tidak percaya kalau di dalam kolong langit yang demikian luasnya tidak ditemui jalan keluar yang lain."

Si golok naga hijau yang mendengar nada suara dari Liem Tou mengandung maksud tidak setuju di dalam hati dia segera merasa kurang senang, air mukanya berubah sedikit keren lalu memperdengarkan suara dengusan yang amat dingin.

Liem Tou yang melihat dia merasa tidak senang di dalam hati dia segera memikirkan satu akal.

"Loo Piauw tauw jangan marah dulu, ujarnya sambil tertawa"

"Boanpwee cuma bermaksud baik saja."

Jika dari pihak Ang In Piauw kiok sanggup untuk mengembalikan ketiga laksa tahil perak itu Sie Piauw tauw bermaksud bagaimana?"

Mendengar ucapan tersebut si golok naga hijau Sie Piauw tauw segera tertawa terbahak bahak dia menepuk nepuk pundak Liem Tou.

"Liem loo te,"

Ujarnya.

"Pikiranmu sungguh lucu sekali,"

Aku yang sudah beberapa kali bentrok dengan si bajingan tua ini untuk minta kembali uang rampokannya tidak berhasil apalagi dirimu.

Sekalipun kepandaian silat dari Liem loo te betul ada kemajuan tetapi jikalau ingin memperoleh kembali uang rampokan itu aku rasa hal itu cuma satu impian belaka, tujuan haik dari Liem Loo te ini aku si golok naga hijau terima di dalam bati saja.

"Sie Piauw tauw, sambung Liem Tou lagi. Boanpwee hanya bertanya, bilamana aku yang membayar uang tersebut, Loo Piaaw tauw bermaksud bagaimana?"

"Baiklah demikian saja,"

Seru si golok naga hijau kemudian.

"Bilamana kau berhasil minta kembali uang perak itu maka sejak ini hari aku tidak akan mencari si bajingan tua itu lagi untuk membalas dendam, tetapi entah maukah dia orang membayar kembali uang tersebut?"

"Baiklah kita putuskan demikian saja,"

Seru Liem Tou kemudian dengan serius "Uang itu biar aku Liem Tou yang tanggung"

Sehabis berkata dia putar badannya menggotong kembali peti hitamnya lalu bersama sama dengan si perempuan tunggal serta sang kerbau yang menggotong tiga buah peti mereka melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke depan.

Tidak sampai beberapa kaki mereka berjalan mendadak Liem Tou berhenti kembali.

"Sie Piauw tauw,"

Serunya.

"Di daerah sekitar sini adakah kota yang agak besar?"

"Di atas ada Hong Kiat di bawah ada zie Cang"

Sahut Sie Piauw tauw dengan cepat.

"Baiklah, malam ini pada kentongan ketiga kau boleh menunggu aku dirumah penginapan di kota Hong Kiat untuk terima kembali uang tiga laksa perak itu, kalau tidak maka aku mau membawa batok kepalanya dari Pouw Sak San untuk diberikan pada kau orang."

Mendengar ucapan itu si golok naga hijau Sie Piauw tauw jadi agak ragu ragu, tetapi ketika teringat akan peraturan Bu lim yang mengatakan satu ya satu, dengan perasaan yang tidak enak untuk menarik kembali kata katanya itu, terpaksa dengan mata melongo dia memperhatikan Liem Tou serta si perempuan tunggal meninggalkan tempat tersebut.

Liem Tou tanpa menoleh lagi dengan mengajak si perempuan tunggal berjalan menuju ke rumah bangunan batu itu, mendadak di dalam benaknya dia teringat kembali kalau didalam rumah batu itu masih terdapat kerangka dari encinya si perempuan tunggal, tanpa terasa hatinya jadi sedikit bergerak, pikirnya.

Baiknya aku beri tahu tidak kepadanya akan hal ini??

jikalau sekarang aku tidak memberitahukan kepadanya, lain kali kalau dia tahu apa yang bakal dia pikir"?.

Susiok, ujarnya kemudian kepada diri si perempuan tunggal tersebut pernahkah kau berpikir tempat manakah ini??.

Buat apa aku terka lagi??

seru si perempuan tunggal sambil tertawa.

Bukankah tempat ini adalah tempat dimana kau berlatih ilmu silat yang tarmuat di dalam kitab pusaka To Kong Pit Liok??, Tetapi mendadak dia teringat sesuatu sepasang matanya terbelalak lebar lebar lantas tanpa terasa lagi sudah berteriak.

Liem Tou, ciciku ada dimana??

cepat kau bawa aku kesana.

Liem Tou sama sekali tidak menduga kalau sebelum dia memberi tahu dia sudah merasakan sendiri, tidak terasa hatinya jadi merasa sedikit bergidik.

Celaka urusan yang merepotkan sudah datang.

Dengan cepat air mukanya berubah jadi amat keras sekali.

Susiok, ujarnya dengan serius.

Aku tahu hatimu pada saat ini amat cemas sekali, tetapi manusia yang sudah mati tidak dapat hidup kembali aku berkata dulu sebelumnya, nanti susiok tidak boleh terlalu bersedih hati, susiok bisa menyanggupi tidak??

Air mata mulai bercucuran membasahi seluruh wajah dari si perempuan tunggal dengan kencang dia menggigit bibirnya sendiri, akhirnya setelah kirim satu kerlingan yang mengandung rasa cinta terhadap diri Liem Tou dia mengangguk.

Liem Tou yang melihat Si perempuan tunggal sudah menyetujui hatinya baru merasa sedikit lega.

Mari sekarang kita simpan dahulu uang perak ini, kemudian aku baru ajak Sasiok pergi ke sana.

Sehabis berkata dia melanjutkan perjalanan nya kembali menuju ke bagian belakang dari bangunan itu dan tiba disamping sumur kering tersebut.

Setelah peti peti hitam itu dimasukkan semua nya ke dalam ruangan rahasia di dasar sumur dia baru mengajak si perempuan tunggal menuju ke dalam bangunan rumah itu untuk melihat kerangka manusia tersebut.

Si perempuan tunggal yang kini bisa melihat kerangka dari cicinya malah setetes air matapun tidak kelihatan mengalir keluar, dengan pandangan termangu mangu dia menundukkan kepalanya memandangi kerangka tersebut tapi jelas air mukanya kelihatan sangat berduka.

Liem Tou tidak bisa berbuat apa apa, diapun berdiri disana tak bergerak .

Lama sekali baru terdengar dengan suara yang amat sedih ujar Si perempuan tunggal itu.

Liem Tou.

ciciku bilang siapakah musuh besarnya??.

Kioe Long Wan Kauw.

Si perempuan tunggal segera mengangguk.

Tahukah kau mereka tinggal dimana??

tanyanya lagi setelah berpikir sebentar.

Liem Tou mengerutkan alisnya rapat rapat dengan perlahan dia menoleh dan memandang sekejap kearabnya.

Aku dengar dia tinggal di atas gunung Im san, apakah Susiok bermaksud hendak pergi ke sana??.

Si perempuan tunggal tidak menjawab, mendadak sambil membopong kerangka dari encinya dia berjalan keluar dari ruangan tarsebut.

Liem Tou tanpa mengucapkan kata lagi mengikuti dari belakang, tidak lama kemudian si perempuan tunggal sudah berjalan ke samping sebuah pohon lantas menggali liang dan mengubur kerangka manusia tersebut.

Liem Tou pun menemaninya duduk disana tidak mengucapkan apa2 saat ini siang hari sudah tiba sedang sang suryapua dengan terang memancarkan sinarnya tepat di atas kepala mereka membuat suasana agak hangat.

Setelah semuanya sciesai dia baru duduk di samping kuburan tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Tiba2 dia teringat akan peristiwa dari si Ang In Sin Pian yang merampok uang kawalan itn, baru saja dia hendak mengucapkan suatu mendadak terdengarlah si perempuan tunggal sudah berkata.

Liem Tou kalau kau ada urusan pergilah dulu, dengan perlahan Liem Tou menengok ke arahnya, tampak Si perempuan tunggal sudah membenamkan wajahnya ke dalam telapak tangannya, dia segera tahu kalau hatinya sedang merasa sedih sekali, karenanya dia tidak mau mengganggu.

"Baiklah,"

Sahutnya kemudian.

"Susiok tunggulah di sini dulu, nanti kita pergi bersama-sama."

Selesai berkata dia bangkit berdiri ujung kakinya menutul permukaan tanah tubuhnya bagaikan kilat yang menyambar sudah berkelebat sejauh puluhan kaki jauhnya, hanya di dalam beberapa kali tutulan saja dia sudah keluar dari daerah tersebut.

Ketika angkat kepalanya memandang ke bawah, terlihatlah dua buah perahu yang terpancang dengan bendera Ang In Piauw kiok dengan tenangnya sedang bergerak maju ke depan, dia tahu kedua perahu itu adalah palsu maka sinar matanya segera dialihkan kebelakang.

Ternyata tedikitpun tidak salah, di belakang kedua perahu itu terlihat kembali sebuah perahu besar yang bergerak melaju dari kejauhan.

Bagaikan kilat cepatnya Lie m Tou segera menuruni bukit tersebut kemudiia dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh nya yang paling dahsyat bagaikan bertiupnya angin berlalu dia berkelebat ke arah perahu yang ada di depan untuk mencabut terlebih dulu ke dua buah bendera Piauw kiok itu, setelah melayang ke perahu yang ada dibelakang dan berdiri di atas tiang layar dengan gagahnya.

Saat itu tidak ada seorang pun yang mengetahui di atas tiang layar ada seseorang yang sedang berdiri di sana.

Untuk memancing orang orang tersebut Liem Tou lalu menyanyi dengan suara yang sangat nyaring.

Air sungai mengalir deras ke Timur ..Menempuh ribuan li dengan hati yang murung ..Berdiri seorang diri diatas tiang perahu.

Tak seorang manusia pun yang sadarkan diri .

Ooooh -.., mega, kapan kau berhenti berlalu .

,...

Setiap patah kata dari bait bait syair itu di ucapkan dengan amat jelasnya membuat orang orang yang ada di atas perahu itu bersama sama angkat kepalanya memandang ke atas.

Ketika dilahatnya di atas tiang layar berdiri dengan gagahnya seorang pemuda tampan mereka semua merasa amat terkejut sekali.

"Hey siapa yang berdiri di atas tiang perahu itu?"

Bentak salah seorang diantara mereka dengan keras. Liem Tou segera tersenyum ringan.

"Beritahu kepada Ang In Piauw-cu,"

Katakan Liem Tou mohon menghadap.

"Ada urusan apa kau mencari Piauw-cu?"

Bentak orang itu lagi dengan keras.

"Perahu dari Piauw-cu ada di depan, sekarang sudah melewati selat. Liem Tou segera mengibarkan bendera yang ada ditangannya.

"Kau orang berani bicara bohong dengan diriku, apa kau kepingin diberi dikit hajaran?"

Serunya keras.

Baru saja dia selesai berkata bendera yang ada di tangannya mendadak meluncur ke bawah dengan kerasnya, hanya di dalam sekejap saja sudah menancap pada pundak kiri orang itu se hingga saking kesakitan dia orang berkaok kaok keras.

Mendadak dari dalam ruangan perahu itu meloncat keluar seseorang.

"Siapa yang berkaok kaok tidak keruan disini,"

Bentaknya dengan keras.

"Sebentar lagi kita akan melewati selat tersebut, ayoh kita cepat pegang kemudi ! Kalau sampai terjadi hal hal yang tidak beres, hati hati saja kalian akan menerima satu hukuman yang berat."

Liem Tou yang melihat orang itu ternyata Pouw Siauw Ling adanya, dari atas tiang layar dia segera merangkap tanganaya memberi hormat.

Pouw Siauw Ling dengan cepat angkat kepalanya memandang ke atas, terlihatlah olehnya seorang kongcu tampan yang memakai baju barwarna hijau dengan gagahnya berdiri disana, di dalam hati dia merasa amat terkejut.

Mana dia orang mengenal kembali diri Liem Tou?

Di dalam anggapannya Liem Tou sudah menemui ajalnya terjatuh ke dalam jurang jembatan pencabut nyawa itu, setelah termangu mangu beberapa saat lamanya dia baru buka mulut bertanya.

"Entah siapakah nama besar dari saudara ini, ada arusan apa kau datang kemari? ? Bilamana tidak merasa perahu ini jelek silakan turun dan mampir sebentar."

Liem Tou segera menutupi ujung kayu dan melayang turun ke bawah, bersamaan pula bendera yang ada ditangannya dengan disertai desiran angin yang amat keras berkelebat menuju ke belakang.

Ternyata dengan amat tepat sekali bendera itu menancap di tiang layar yang sangat besar itu sehingga menembus pada baliknya.

Pouw Siauw Ling sama sekali tidak menyangka kalau bendera yang terbuat dari bambu itu cukup sedikit digerakkan oleh Liem Tou dengan begitu ringannya sudah menembusi tiang tersebut hal ini membuat hatinya benar benar merasa amat terkejut.

Sejak pertama kali Pouw Siauw Ling teruskan dirinya ke dalam Bu lim dia belum pernah menemui orang yang memiliki kepandaian yang demikian lihaynya, sekalipun di dalam hati dia merasa terperanjat tetapi pada wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan perubahan apapun.

Kepandaian dari Heng thay ini sungguh dahsyat sekali, pujinya dengan cepat.

Dengan perlahan Liem Tou menoleh dan tertawa keras.

"Haa ..ha .. apakah Siauw Ling heng betul, tidak kenal lagi dengan Siauw te?"

Tanyanya.

Sepasang mata Pouw Siauw Ling memandang wajah Liem Tou lebih tajam lagi, mendadak air mukanya berubah pucat pasi bagaikan mayat, bibirnya gemetar dengan amat kerasnya sedangkan kakinya perlahan lahan mulai bergeser masuk ke dalam ruangan perahu tersebut.

Liem Tou yang melihat perubahan wajahnya itu mana mau membiarkan dia mengundurkan diri ke dalam ruangan perahu, tangannya dengan cepat direntangkan menghalangi perjalanannya.

Siauw Ling heng jangan pergi, serunya sambil tertawa.

Kita sudah lama sekali tidak bertemu, ini hari bisa mendapatkan kesempatan untuk berkumpul seharusnya kita sedikit barmesra mesraan.

Pouw Siauw Ling yang jalan mundurnya terhalang oleh diri Liem Tou pikirannya merasa semakin gugup lagi, hatinya benar benar tergetar dengan amat kerasnya.

Air mukanya dari pucat kini berubah menjadi kehijau hijauan, dengan perasaan amat tegang bentaknya.

Kau .

kau .., kau ...

manusia aa ...

atau -..atau ..

setan?"

Liem Tou pada saat ini baru tahu kalau dia menganggap dirinya telah mati di dalam jurang Jembatan pencabut nyawa waktu itu dan kini menganggap dirinya sebagai setan, dia segera tertawa.

Siauw Ling heng kau jangan begitu merasa tegang ejeknya, di bawah sorotan sang surya mana mungkin ada setan?"

Mendadak dia teringat kembali terhadap siksaan dan penderitaan yang dirasakan olehnya dari Pouw Siauw Ling ini.

rasa dendam serta bencinya segera muncul dari lubuk hatinya.

Pouw Siauw Ling, serunya di dalam hati Ini hari aku mau suruh kau merasakan kepandaian dan kelihayan dari Liem Tou.

Mendadak tangannya diayunkan kedepan ...Plaaak ..piaaak.

disertai suara yang amat nyaring pipi dari Pouw Siauw Ling sudah kena digaplok oleh Liem Tou dengan amat kerasnya sehingga jadi memerah dan bengkak.

Saking sakitnya sehingga sukar ditahan tidak kuasa lagi dia menjerit jerit dan berkaok kaok seperti babi mau disembelih.

"Siauw Ling heng!"

Ujar Liem Tou lagi sambil tersenyum.

"Sekarang tentunya kau tahu bukan kalau aku adalah manusia bukan setan? kalau setan mana mungkin siang hari bolong bisa unjuk kelihayannya!"

Pouw Siauw Ling yang mengira kedatangan Liem Tou kali ini mau membalas dendam terhadap dirinya mana dia mau mengurusi hal itu lagi, cepat cepat dia berusaha untuk masuk ke dalam ruangan memberi laporan.

"Liem Tou kau berani pukul aku?"

Bentaknya dengan keras.

"Siauw Ling heng, Liem Tou sekarang bukanlah seperti Liem Tou yang dahulu, aku sudan pukul kau lalu kau orang mau apa?"

Seru Liem Tou sambil bergendong tangan.

Pouw Siauw Ling segera mendepakkan kakinya ke atas permukaan perahu, dengan menahan rasa sakit pada pipinya dia melepaskan cambuk baja yang ada dipinggangnya siap akan melancarkan serangan.

Pada saat yang bersamaan pula dari dalam raangan perahu tampak berkelebat keluar tiga orang yaitu Si Liong Ciang, Hauw jiauw serta Si Ang In Sin Pian.

Mereka yang melihat Liem Tou dengan wajah penuh senyuman berdiri segera mengetahui kalau kedatangannya tidak bermaksud baik.

Tanpa mengucapkan kata kata lagi mereka bertiga bersama sama mencabut keluar senjata tajamnya masing masing siap bertempur.

Melihat sikap mereka itu tidak terasa Liem Tou mengerutkan alisnya rapat rapat, dia segera tertawa dingin.

Buat apa kalian begitu galak?"

Serunya.

Tubuhnya mendadak berkelebat dengan amat cepatnya, hanya di dalam sekejap saja senjata tajam yang ada di tangan Liong Ciang, Hauw Jiauw.

Ang in Sim Pian serta Po Siauw Ling sudah berhasil direbut lepas, mereka berempat ternyata sama sekali tidak bisa melibat jelas gerakan apa yang sudah digunakan oleh Liem Tou itu.

Kali ini aku Liem Tou datang kemari bukannya sengaja mau mencari balas!

serunya.

"Juga tidak aku punya maksud untuk mencari kemenangan di bawah serangan senjata tajam cuma saja aku punya satu urusan yang minta Pouw Cungcu suka mengabulkan asalkan Cung cu mau mengabulkan maka aku Liem Tou segera akan berlalu dari sini. Ang In Sin Pian serta Pouw Sak san benar benar dibuat tergetar oleh kelihayan ilmu silat Liem Tou yang baru saja diperlihatkan ini, dia tahu kepandaian silat yang dimiliki Liem Tou pada saat ini tidak mungkin berhasil dilawan dengan mengandalkan kekuatan mereka berempat, berpikir keras akan hal ini air mukanya segera berubah jadi ramah. Tadi mendengar suara jeritan Leag jie aku masih kira siapakah, tidak tahunya adalah putra dari temanku Liem Hian tit serunya sambil tertawa. Kesalah pahaman itu harap kau orang suka memaafkan. Mendengar perkataan yang tengik itu air muka Liem Tou segera berubah jadi keren. Pouw Cungcu juga tidak usah begitu menghormati diriku sehingga membuat hatiku merasa mual, serunya dengan nada yang amat dingin. Malam ini sebelum kentongan ketiga harap Cungcu suka mengembalikan uang perak sebesar tiga laksa tahil perak yang Cungcu rampok setahun yang lalu dari tangan Cing Lioag Piauw kiok, dan kirim ke rumah psnginapan terbesar dalam kota Heng Kiat, disana tentu ada orang yang menerimanya, entah bagaimana pendapat dari Cungcu. Air muka si Ang In Sin Pian, Pouw Sak san seketika itu juga berubah sangat hebat mendadak tubuhnya mundur satu langkah kebelakang Liem Hian tit!! serunya cepat. Lenyapnya barang kawalan Cing Liong Piauw kok ada sangkut paut apa dengan diriku. Sepasang mata Liem Tou segera melotot keluar bulat bulat dua rentet sinar yang amat tajam sekali mendadak memperhatikan diri si Ang In Sin Pian Pouw Sak San tanpa berkedip membuat dia orang yang dipandang seperti itu merasakan hatinya bergidik. Lenyapnya barang kawalan dari Cing Liong Piauw kiok aku Liem Tou melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, seru Liem Tou dengan dingin.

"Anak murid dari si golok naga hijau Sie piauw tauw, Oei poh pun aku yang tolong, Pouw Cung cu sekali lagi aku mau tanya kepadamu, apakah lenyapnya barang kawalan Cing Liong Piauw kiok tidak ada hubungannya dengan dirimu?? Si Ang In Sin Pian yang mendengar rahasia nya dipecahkan olehnya, air mukanya seketika itu juga berubah menjadi merah padam dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Liem Tou, tiba tiba si Hauw Jiauw, Pouw Toa Tong menimbrung dari samping. Dendam satu pukulan darimu aku Pouw Toa Tong masih selalu ingat di dalam hati, kau bilang lenyapnya barang kawalan Cing Liong piauw kiok adalah hasil perbuatan dari Cung cu kami, apa kah Cung cu seorang diri bisa merampok dua buah perahu Cing Liong piauw kiok sekaligus? Liem Tou segera tertawa dingin tak henti-hentinya. Toa Tong siok, ujarnya kera». Kau jangan memaksa orang keterlaluan aku bisa pukul kau sampai terluka parah cuma didalam satu pukulan saja. Hmmm ... hmmm ... bukankah Toa Tong siok pun termasuk salah seorang perampok barang kawalan dari Cing Liong Piauw kiok itu?. Baru saja si Houw Jiauw, Pouw Toa Tong mau berbicara lagi mendadak Liem Tou sudah menoleh kearah si Ang In Sin pian. Pouw Cung cu, serunya, perkataan sudah saya ucapkan dengan sangat jelas, Tiga laksa tahil perak macam ini sebelum kentongan ketiga harus diserahkan. coba saja kalau kalian berani kurang satu tahil perak saja. Selesai berkata mendadak jari tangannya laksana angin yang menyambar menotok jalan darah Khie ay Hiat pada tubuh Pouw Siang Ling. Mendenguspun belam sempat tubuh Siauw Ling rubuh ke atas tanah dengan mata yang terpejam rapat rapat. Liem Tou yang sudah punya perhitungan di dalam hatinya mendadak maju ke depan dan menerima tubuh Pouw Siauw Ling itu kemudian dikempit di bawah ketiaknya. Kakinya sedikit mengerahkan tenaga tubuhnya secara tiba-tiba melayang ke tengah udara kemudian turun meluncur ke atas permukaan sungai dan melayang ke arah tepian dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Liong Ciang. Hauw Jiauw serta Ang In Sin pian segera bersama sama membentak keras, di dalam sekejap saja tiga gulung angin pukulan yang amat dahsyat bersama sama menggulung ke depsn laksana mengalirnya air sungai Tiang Kiang. Melihat datangnya serangan itu Liem Tou sama sekali tidak jadi gugup, empat buah senjata tajam yang ada di tangan kanannya mendadak di ayun ke belakang Seketika itu juga keempat senjata tajam itu berubah jadi empat macam senjata rahasia yang berbeda bagaikan kilat cepatnya menghajar tubuh Hauw Jiauw Liong Ciang serta Ang In Sim pian. Mereka berempat tidak berani langsung menangkap datangnya senjata rahasia tersebut, dengan tergesa gesa tubuhnya menyingkir ke samping serta kemudian baru menyambut datangnya serangan tersebut. Tetapi begitu senjata itu terbentur dengan tangannya mereka, segera merasakan satu tenaga yang amat dahsyat menghajar pecah telapak tangan mereka dengan perasaan terperanjat mereka terburu buru mundur ke belakang. Sewaktu menoleh lagi ke samping saat itu Liem Tou sudah jauh meninggalkan tempat itu. Ilmu meringankan tubuh mereka bertiga belum sampai mencapai pada taraf berjalan di atas permukaan air, karenanya saking khekinya mereka bisa memaki dengan gusarnya dari atas perahu. Tetapi walaupun begitu mereka tidak dapat berbuat apa, terpaksa dengan hati mendongkol mereka menyuruh orang segera mempersiapkan uang untuk menebus kembali diri Pouw Siauw Ling. Kita balik pada Liem Tou yang mengempit tubuh pouw Siauw Ling dan balik kembali ke perahu milik Sun Ci Sie itu, setelah meletakkan tubuh pouw Siauw Ling ke dalam perahu diam diam segera pikirnya. Lebih baik aku letakkan dirinya di sini saja dari pada harus dibawa kemana mana hingga tidak leluasa, sekalipun dia berhasil ditolong oleh Ang In Sin pian akupun tidak takut dia melarikan diri. berpikir sampai disini dia tidak mengurusi dirinya lagi, dengan cepat tubuhnya meloncat ke atas tepian untuk kembali ke bangunan besar itu dan mencari si perempuan tunggal. Terlihatlah ssng kerbau dengan tenangnya sedang makan rumput di sana tetapi jejak dari si perempuan tunggal tidak tampak. Dengan cepat Liem Tou menuju ke samping kuburan enciknya itu, terlihatlah disamping kuburan terukir beberapa patah tulisan "Susiok pergi dulu."

Tetapi dia tidak menulis entah sudah pergi ke mana, dengan termangu mangu lama sekali Liem Tou memperhatikan beberapa patah tulisan itu, dia tidak memahami mengapa secara mendadak si perempuan tunggal pergi dari tempat situ.

Mendadak di samping kuburan enciknya itu Liem Tou menemukan pula beberapa litik darah segar, batinya jadi tergetar amat keras, dengan tergesa gesa dia memeerikss darah yang sudah bercampur dengan tanah itu, dia melibat darah itu belum mengering jelas baru saja keluar dari badan.

Di dalam sekejap saja hatinya terbayang berbagai pikiran yang tidak keruan, tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas lalu berteriak dengan suara yang amat keras.

"Susiok, susiok !"

Suara teriakannya seketika itu juga berkumandang sampai berpuluh puluh lie jauhnya sehingga membuat seluruh pegunungan itu mendengung tak henti hentinya, tetapi suara sahutan dari si perampuan tunggal sama sekali tak kedengaran.

Di dalam keadaan yang amat cemas sekali Liem Tou segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya berkelebat di sekeliling tempat itu sembari tidak henti hentinya berteriak memanggil, namun jejak dari Si perempuan tunggal sama sekali tidak ditemui.

Dengan termagu mangu Liem Tou berdiri di atas puncak gunung, akhirnya gumamnya seorang diri.

Heei ..

.sudahlah, semoga saja susiok bisa berhasil mencapai apa yang diinginkan dengan sukses.

Dengan perlahan dia berjalan balik lagi ke lembah tersebut lalu dengan menuntun kerbau nya menuruni gunung Wu san itu dengan tergesa gesa.

Sesampainya di atas perahu dia melihat tubuh Pouw Siauw Ling dipojokan tak bergerak.

"Dia yang sudah tertotok jalan darah Khei Hay Hiatnya sekalipun hal ini membuat Pouw Siauw Ling tidak dapat bergerak maupun berbicara tetapi sepasang matanya bisa memandang keadaan disana, ketika dilihatnya Liem Tou kembali ke atas perahu tersebut dengan pandangan yang berapi api dia melototkan matanya. Liem Tou segera kirim senyuman kepadanya. Siauw Ling heng tentunya kau masih ingat sewaktu tempo hari aku Liem Tou kau hina dan siksa bukan? ujarnya dengan psrlahan. Asalkan kau masih ingat maka penderitaanmu ini hari harap kau orang suka jangan pikirkan di dalam hati. Selesai berkata dia memandang lagi ke arah diri Pouw Siauw Ling, tampaklah sepasang matanya melotot bulat bulat sedang dari ujung bibirnya menetes keluar bintik darah segar. Liem Tou tahu saking kheki dan mendongkolnya dia sudah menggigit lidahnya sendiri, sekali lagi dia tertawa mengejek. Siauw Ling heng, aku lihat lebih baik kau sedikit tenang, buat apa menyiksa diri sendiri ?? Dia segera bangkit berdiri dan mengambil keluar makanan dari gudang di bawah perahu lantas seorang diri dia melahap santapan itu sampai habis, selama ini melirik sekejap kearah Pouw Siauw Lingpun tidak. Selesai bersantap dia duduk bersemedhi sebentar untuk menanti magrib datang, setelah itu baru menjalankan perahunya menuju ke kota Hong Kiat. Saat itulah dia melihat air muka Pouw Siauw Ling sudah berubah pucat pasi bagaikan mayat, mulutnya penuh dengan darah segar. Dia orang yang memangnya sama sekali tak menaruh rasa kasihan terhadap dirinya segera mendengus dengan amat dinginnya. Tetapi mendadak pikiran berkelebat dalam benaknya.

"Mungkin dia mau mengucapkan sesuatu kata biarlah aku dengar apa yang hendak diucapkan olehnya, jikalau tidak enak didengar totok lagi bukankah beres"

Dengan perlahan dia bangkit berdiri dan berjalan ke samping badan Pouw Siauw Ling untuk kemudian dengan menggunakan kakinya membebaskan dirinya dari totokan.

"Siauw Ling heng!"

Ujarnya kemudian.

"Kau harus ingat kalau aku Liem Tou saat ini sudah tak ada yang dipikirkan maupun ditakuti, sekalipun kalian ayah beranak kau mencelakai aku dengan cara apapun tidak akan bakal merugikan diriku, tetapi hari ini kau sudah terjatuh ke tanganku, ada omongan cepat katakanlah, tetapi kau harus sedikit pintar, sedikit saja salah ngonaong. , . Hmm ...Hmm ..' Pouw Siauw Ling yang jalan darahnya sudah dibebaskan oleh Liem Tou diapun tahu kalau dirinya tidak mungkin bakal berhasil meloloskan diri dari sana, karena itu dengan perlahan dia bangkit berdiri untuk melancarkan jalan darahnya setelah itu dengan menggunakan ujung bajunya menyeka bekas darah yang mengotori ujung bibirnya. Saat itu Liem Tou sekali lagi duduk bersila untuk bersemedi, air mukanya kelihatan amat keren sekali. Pouw Siauw Ling yang sudah ada satu tahun lamanya berkelana di dalam dunia kangouw saat ini pengalamannya sudah amat luas sekali karena Itu hatinya tidak begitu bergolak seperti keadaan semula, setelah menghela napas panjang akhirnya dia duduk kembali ke atas permukaan perahu. Liem Tou, ujarnya dengan benci. Hitung hitung ini hari Pouw Siauw Ling jatuh kecundang ditanganmu, tetapi kau harus ingat sikap kami ayah beranak berdua sewaktu di perkampungan Ie Hee Cung tidaklah terlalu jelek. Didengar dari ucapannya jelas sekali dia sedang merengek minta diampuni. Saat ini Liem Tou biarpun sedang bersemedi, seluruh gerak gerik dari Pouw Siauw Ling itu dia bisa melihatnya dengan amat jelas, kini secara tiba tiba dia mendengar Pouw-Siauw Ling menyebut kembali ayahnya tidak terasa tubuhnya kelihatan sedikit tergetar, air mukanyapun sedikit berubah tetapi mulutnya tetap bungkam di dalam seribu bahasa. Pouw Siauw Ling yang selama satu tahun ini mengikuti diri Ang In Sim Pian berkelana di dalam Bu lim sudah memperoleh pelajaran yang amat banyak sekali dari pada ayahnya, kini melihat air muka dari Liem Tou sedikit berubah dengan cepat ujarnya lagi. Liem heng, bukankah kau masih ingat sebelum empek Liem meninggal, dia dengan ayah ku sangat baik sekali, coba kau bayangkan sewaktu ayahmu sakit keras, bukankah setiap kali ayahku yang pergi menjenguk dirinya? bahkan sewaktu mendapat perintah dari Lie Cung Cu pada waktu itu malam malam dia turun gunung Ha Mo Leng juga untuk mengundang tabib guna mengobati ayahmu? apakah kau masih ingat semua kejadian ini?"

Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut tidak dapat menahan sabar lagi, hatinya benar benar bergolak dengan amat kerasnya.

Pouw Siauw Ling kau jangan bicara lagi' bentaknya aecara tiba'.

Kenapa kau tidak katakan di tengah malam kau mengundang aku keluar dari kamar lantas pukuli aku dengan kejam?

kenapa kau tidak menceritakan pula di mana ayahmu, tanpa mengucapkan sepatab kata pun sudah mengusir aku turun gunung?

jika didengar dari omongan itu aku curiga tentang kematian ayahku tentu sedikit tidak beres"

Sebetulnya perkataan itu diucapkan keluar secara tidak sadar, tetapi setelah didengarnya sendiri mendadak badannya merasa sedikit bergidik.

Jilid 26 Sungguh !...sungguh....

-pikir Si Ang In Sim Pian anak murid dari si penjahat naga merah, apakah mereka mengetahui keadaan dari ayahku yang sebenarnya?

kalau tahu.

Hmm!

Si penjahat naga merah serta si hweesio tujuh jari bersama sama membinasakan Hoa Sucouw salah satu dari Auw Hay Siang Hiap, sedang ayahku adalah anak murid dari Hoa Sucouw, sudah tentu mereka punya alasan untuk membinasakannya.

Berpikir sampai di sini tidak terasa lagi seluruh keningnya sudah dibasahi oleh keringat yang mengucur keluar dengan amat derasnya, sepasang matanya dipentangkan lebar lebar.

Tiba tiba dia melihat dari sinar mata Pouw Siauw Ling kelihatannya sedikit mencurigakan ketika terbentur dengan matanya mendadak dia menundukkan kepalanya rendah rendah.

Liem Tou merasa hatinya semakin tegang, lagi, pikirnya kembali.

Jikalau benar benar demikian adanya ..

aaah Liem Tou!

kau harus membuka pantangan membunuh!

hmmm ..

diantara mereka tidak bakal ada seorangpun yang bisa lolos dari cengkeramanku.

Mendadak satu ingatan kembali berkelebat di dalam benaknya, dia gelengkan kepalanya kembali.

Tidak mungkin ..

tidak mungkin ,.

pikir nya "Bagaimana mereka bisa tahu akan nama serta julukan dari ayahku yang sebenarnya?"

Dengan cepat dia memandang kearah diri Pouw Siauw Ling lagi, mendadak satu ingatan berkelebat lagi di dalam benaknya.

Dia ingin menjajal Pouw Siauw Ling apakah dia tahu akan nama serta julukan dari ayahnya, jikalau dia tahu maka urusan ini segera akan tersingkap.

Mendadak Liem Tou tersenyum ramah.

"Perkataan dari Siauw Ling heng sedikit pun tidak salah"

Sahutnya kemudian dengan halus.

"Sewaktu ayahku masih hidup Pouw Cung cu memang benar merawat dirinya, di dalam hati aku merasa Liem Tou benar benar merasa sangat berterima kasih, cuma saja maksud dari aku Liem Tou kali ini sama sekali tidak bermaksud jahat, terus terang saja aku katakan, bilamana aku tidak berbuat demikian kemungkinan sekali Siauw Ling heng saat ini sudah terkubur di dasar sungai. Pouw Siauw Ling yang mendengar perkataan dari Liem Tou ini benar benar merasa kebingungan. Apa maksud dari perkataan Liem heng itu? tanyanya sambil angkat kepalanya. Liem Tou sama sekali tidak menipu dirinya, dengan terus terang dia segera menceritakan bagaimana si golok naga hijau Sie Piauw tauw bermaksud hendak menenggelamkan perahu mereka. Selesai mendengar kisah itu Pouw Siauw Ling baru menghembuskan napas panjang. Kalau demikian adanya boleh dikata Liem heng sudah turun tangan menolong kami, tetapi kenapa kau minta kami menyerahkan uang sebesar tiga laksa tahil perak ? Liem Tou segera gelengkan kepalanya. Siauw Ling heng, ujarnya. Perahu dari Cing Liong Piauw kiok adalah kalian yang rampok, bagaimana dia orang mau mendengarkan omonganku ?? Mendengar perkataan tersebut, Pouw Siauw Ling tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun juga. Liem Tou tertawa lantas ujarnya lagi. Aku rasa Siauw Ling heng tentunya sudah lapar bukan, untung saja di sini banyak makanan, silahkan kau bersantap dulu. Pouw Siauw Ling yang melihat sikap Liem Tou sudah berobah amat ramah di dalam anggapannya dia mengira orang sudah dibuat tergerak hatinya oleh perkataannya tadi, diam diam dia segera memikirkan satu cara untuk meloloskan diri. Setelah mendengar perkataan dari Liem Tou ini tanpa sungkan sungkan lagi dia segera bersantap dengan lahapnya. Sungguh tidak kusangka sama sekali kalau dalam setahun saja kepandaian silat Liem-heng sudah berhasil dilatih hingga mencapai pada taraf kesempurnaan ujarnya sambil makan, entah cianpwee dari mana yang sudah menerima Liem heng sebagai muridnya??? Mendengar perkataan tersebut di dalam hati Liem Tou segera mendapatkan satu akal. Aaah ... kau mau tanya siapakah suhuku?"

Serunya dengan wajah menampilkan rasa girang. Suhuku adalah seorang yang mempunyai nama yang sangat terkenal sekali bila aku katakan mungkin Siuaw Ling heng pun sudah lama mendengarnya."

Siapa??"

Tanya Pouw Siauw Ling dengan mata terbelalak lebar. Sengaja Liem Tou tertawa lagi. Pengetahuan Siauw Ling heng terhadap jago jago Bu lim jauh melebihi diriku coba kamu terka"

Ujarnya perlahan.

Lama sekali Pouw Siauw Ling termenung berpikir keras tetapi dia tidak bisa menebak juga siapakah suhu dari Liem Tou itu.

Dengan meminjam kesempatan sewaktu dia berpikir keras itulah mendadak ujarnya Liem Tou.

Si pancingan emas sakti !"

Aaaa ... si pancingan emas sakti????????'"

Seru Pouw Siauw Ling tanpa berpikir panjang lagi.

Mendengar jawaban tersebut seketika itu juga air muka Liem Tou berubah sangat hebat sekali.

Pouw Siauw Ling tahu dia sudah salah bicara, didalam keadaan gugup air mukanya pun berubah pucat pasi, cepat cepat ujarnya lagi dengan gugup.

Aaaa ....

siapa ...

siapa itu si Kim-Tiauw It Kiauw (pancingan emas sakti) ??

Liem Tou tidak banyak berbicara lagi.

tangan kanannya dengan cepat bagaikan kilat mencengkeram pergelangan tangan kiri dari Pouw Siauw Ling, saat ini seluruh badannya gemetar dengan amat keras sekali, wajahnya berobah putih kehijau hijauan, untuk beberapa saat lamanya dia tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.

Lewat beberapa lama kemudian dia baru bisa mengeluarkan beberapa patah kata.

"Pouw Siauw Ling! Urusan ini aku mau memegang kau untuk ditanyai sampai jelas."

Pouw Siauw Ling sengera merasakan lima jari dari Liem Tou yang mencengkeram pergelangan tangannya yang makin lama makin mengencang sshingga terasa amat sakit sekali, saking tak tertahannya akhirnya dia menjerit keras seperti babi yang mau dipotong.

Liem Tou!"

Ada perkataan kita ucapkan perlahan lahan"

Teriaknya dengan keras. ...Cepat kau lepaskan diriku !"

Liem Tou yang mendengar suara teriakannya itu segera menjadi sadar kembali dia segera merasa kalau tenaga yang dikerahkan ke luar terlalu dahsyat sehingga membuat pihak lawan tidak kuat untuk bertahan lebih lama, karenanya dia lalu mengendorkan sedikit cengkeraman tangannya.

Pouw Siauw Ling !"

Teriaknya kemudian dengan hati yang agak tenang. «Cepat kau katakan, ayahku meninggal dengan cara bagaimana?' asalkan kau berani berbicara bohong, hmm !! Kau lihat saja kelihayanku ini"

Pergelangan tangan kiri dari Pouw Siauw Ling yang dicengkeram Liem Tou walau saat ini agak kendor tetapi peristiwa tersebut bagaimana boleh diberitahukan kepadanya?

Bilamana perkataan ini diceritakan kepada Liem Tou maka dirinya beserta Ang Ie Cung cu segera akan menjadi musuh bebuyutan sedalam lautan.

Bukan saja dirinya seketika itu juga akan menemui ajalnya di dalam serangan yang dahsyat bahkan dengan kepandaian silat yang dimilikinya ini tidak lebih dari dua jam kemudian ayahnyapun bakal menemui ajal di bawah serangannya.

Berpikir akan hal ini saking sedih dan cemasnya, air matanya mulai mengucur keluar membasahi wajahnya.

"Aku tidak tahu ... ! aku tidak tahu... !"

Teriaknya dengan keras.

-Asalkan pada saat ini Pouw Siauw Liang agak tenang dan mengambil kesempatan ini untuk menipu diri Liem Tou dengan mengatakan Liem Han San mati karena sakit, urusan ini tentu agak tidak seberapa tegang, justru karena kebingungannya inilah membuat urusan semakin diperbesar lagi.

Karena sikap dari Pouw Siauw Ling yang cemas dan ketakutan inilah kini Liem Tou semakin merasa kalau ayahnya tentu binasa dianiaya oleh ayah beranak itu kelima jari yang mencengkeram pengelangan tangan Pouw Siauw Ling semakin mengencang lagi.

.Pouw Siauw Ling!"

Bentaknya dengan keras.

.Bilamana ini hari kau tidak suka berbicara terus terang aku segera akan menyuruh kau merasakan siksaan yang paling kejam dan yang paling ganas yang ada di dalam dunia ini, tetapi bilamana kau suka berterus terang Pouw Siauw Ling!

Kau dengar bai kbaik perkataanku, aku bilang satu ya...satu!

Aku e gera akan melepaskan satu jalan hidup buat dirimu!".

Pouw Siauw Ling yang merasakan cengkeraman dari Liem Tou itu semakin lama semakin kencang tidak kuasa lagi dia menjerit kesakitan, sembari menggigit bibir menahan rasa sakit yang menusuk tulang dia menjerit keras.

Aku tidak tahu..!Aku tidak tahu !"

Lima jari yang mencengkeram pergelangan Pouw Siauw Ling semakin diperkeras lagi beberapa kali lipat sehingga menembus ke dalam daging tangannya beberapa coen dalamnya sepasang alisnya dikerutkan rapat rapat sedang dari sepasang matanya secara samar samar memperlihatkan nafsu membunuh nya.

Pouw Siauw Ling, kau benar benar tidak tahu??

teriaknya dengan amat dingin.

"Hmm ...! Jangan menyesal di kemudian hari!". Saking sakitnya sepasang mata Pouw Siauw Ling melotot keluar lebar lebar giginya gemeretukan dengan keras, kesadarannyapun berangsur angsur berkurang. .Aku tidak tahu....aku tidak tahu. !"

Pouw Siauw Ling, bilamana kau tidak mau bicara lagi aku segera akan menggunakan ilmu pembetot urat untuk mencabuti otot ototmu, aku mau lihat kau masih keras kepala tidak!"

Ancam Liem Tou semakin gusar tangan kirinya dengan cepat membalik mencengkeram leher dari Pouw Siauw Ling. Fauw Siauw Ling yang mendengar perkataan "Ilmu pembetot urat"

Mendadak menjatuhkan diri berlutut.

"Urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan aku, aku tidak tahu.. Liem heng kau lepaskan diriku!"

Mohonnya setengah merengek.

Pada saat ini Liem Tou mana mau mendengar perkataannya, lima jari yang mencengkeram Pouw Siauw Ling pun semakin dipertajam sehingga membuat Pouw Siauw Ling merasa kesakitan dan menjerit jerit dengan suara yang menyayatkan hati.

"Ayoh cepat bilang. , ! ayoh cepat bilang ,.!"

Teriak Liem Toa lagi.

Pouw Siauw Ling yang merasa kesakitan wajahnya segera berkerut, sepasang matanya sebentar memejam sebentar lagi membuka, giginya yang saling berada mengucurkan darah yang amat banyak.

Akhirnya dia tidak kuat untuk menahan diri lagi, bibirnya mulai bergerak untuk mengaku.

Pada saat yang bersamaan pula mendadak terdengar suara senjata rahasia menyambar datang dengan suara yang amat tajam.

Liem Tou dengan cepat mencengkeram badan Pouw Siauw Ling yang berjongkok untuk menghindar.

"Sreet ..! sreet..! Sreet .. !"

Tiga batang jarum pencabut nyawa dengan melewati jendela perahu menyambar datang dan tepat menancap di dinding ruangan.

Pouw Siauw Ling bukanlah ovang bodoh, melihat datangnya serangan senjata rahasia itu dia segera mengetahui kalau bala bantuan telah tiba, perkataan yang hendak diucapkanpun dengan cepat ditelannya kembali.

Liem Tou yang melihat usahanya gagal total wajahnya segera berubah merah padam, mendadak dia membentak keras.

"Ayoh cepat bicara !"

Bibirnya digigit kencang, tenaga yang mencengkeram pergelangan tangan Pouw Siauw-Ling pun ditambahi dengan dua bagian.

Pouw Siauw Ling yang sejak kecil dimanja mana mungkin bisa menahan suatu siksaan yang demikian hebatnya, dia menjerit ngeri sepasang kakinya diluruskan dan menggelinding meronta ronta di atas tanah.

Waktu ini Liem Tou pun sudah menaruh rasa dendam yang amat sangat, dia tidak mengira kalau ayahnya menemui ajalnya ditangan manusia rendah ini, sudah tentu terhadap diri Pouw Siauw Ling pun dia tidak menaruh rasa kasihan lagi.

Sekalipun Pouw Siauw Ling menjerit dan meronta ronta dia tak mengambil gubris dia hanya mau agar ini orang suka ngomong terus terang.

Pada saat itulah tubuh perahu sedikit miring.

Liem Tou sudah tahu kalau di atas perahu sudah kedatangan seseorang tapi dia tak mau mengambil gubris, dia tetap menyiksa diri Pouw Siauw Ling.

Liem Tou sekonyong konyong mendengar suara seorang perempuan membentak dengari suara yang amat cemas.

Cepat kau lepaskan -engkohku.

Begitu mendengar suara tersebut Liem Tou segera merasa hatinya tergetar amat keras sepasang matanya perlahan lahan dipejamkan lalu diam diam pikirnya.

.Aaaah ...

habis sudah, kiranya dia yang sudah datang.

Teringat akan kematian ayahnya hatinya merasa amat sedih sekali, sewaktu matanya dipentangkan untuk kedua kalinya titik titik air mata mulai mengucur keluar dengan amat derasnya, cengkeramannya pun dengan perlahan dilepaskan.

Jien Coe cici.

apakah kau yang datang kesini?

tanyanya sambil menoleh.

Sedikitpun tidak salah, orang yang berdiri di depan ruangan perahu itu adalah Pouw Jien Coei, saat ini dia memakai baju singsat berwarna hitam, sebuah pedang panjang tersoren pada pinggang, sedang pada pinggang itu juga tergantung sebuah kantongan senjata rahasia.

Mendengar perkataan dari Liem Tou itu dia segera tertawa dingin.

"Hmm, jikalau aku tidak datang maka engkohku akan mati tersiksa ditanganmu,"

Serunya.

Jien Coei cici, tahukah kau kenapa aku harus menyiksa engkohmu ini?

tanya Liem Tou dengan hati yang sedih seperti di iris iris.

Tahukah engkau bagaimana ayahku menemui ajalnya ??

Jien Cie cici, tahukah kau akan kesemuannya ini ?

Mendengar perkataan dari Liem Tou ini Pouw Jien Coei segera dibuat tertegun, sepasang alisnya dikerutkan rapat rapat.

Soal ini aku tidak mau tahu aku hanya tidak mengijinkan turun tangan kejam terhadap engkohku, teriaknya dengan keras.

Walaupun pada mulutnya Pouw Jien Coei berbicara demikian, tetapi diapun diam diam merasa terkejut.

Liem Tou yang dikarenakan hubungan Lie Siauw le dengan Pouw Jien Coei.

terhadap dirinya dia menaruh rasa hormat yang amat sangat, perkataan yang diucapkan olehnya didalam pendengaran Liem Tou seperti juga perintah.

Dia lalu mengangguk berulang kali.

Jien Coei cici, perkataanmu sedikit pun tidak salah, aku tidak seharusnya berbuat begitu kurang ajar terhadap Siauw Ling heng aku tidak akan membunuh Siauw Ling heng di hadapannmu kau boleh legakan hati.

Sehabis berkata tangannya tak ada henti-hentinya menghapus kering titik titik air mata yang membasahi wajahnya.

Lewat beberapa saat kemudian dia kembali bergumam seorang diri.

"Apakah urusan yang menyangkut Tia aku habisi sampai disini saja ? Heei , ."

Berturut turut dia gelengkan kepalanya berulang kali kemudian teriaknya dengan suara yang amat keras.

"Liem Tou. Liem Tou, tidak perduli bagai manapun juga aku harus mengetahui jelas bagaimana ayahku menemui ajalnya kemudian baru membunuh kaum bajingan yang tidak berperi kemanusiaan itu."

Pouw Jien Coei yang mendengar perkataan itu dari ruangan perahu segera merasakan hatinya gemetar dengan amat kerasnya.

"Liem Tou, Liem Tou, kau sudah gila "

Teriaknya dengan suara keras.

Beritahukan padamu, Tia serta engkohku tidak mungkin berani mencelakai Liem pepek.

Empek Liem mati karena sakit apakah kau tidak tahu??

Aku tahu ..Aku tahu ..jawab Liem Tou dengan keras pula.

Tetapi tahukah kau siapakah nama dari ayahku ?

Pouw Siauw Ling tahu kau tahu tidak??

Jien Coei cici, kau pasti tidak akan tahu.

Siapa bilang aku tidak tahu, apa betul betul kau sudah gila ??

Mendengar perkataan itu Liem Tou segera berkelebat menubruk kehadapannya entah dengan menggunakan cara apa pada saat Pouw Jien Coei belum sadar pergelangan tangannya sudah kena dicengkeram oleh diri Liem Tou.

Kau tahu., kau tahu ayahku bernama siapa ?

tanyanya dengan suara keras serta mata melotot.

Pouw Jien Coei yang melihat rasa tenang dari Liem Tou yang secara tiba tiba ini, air mukanya berubah hebat juga.

Liem Han San.

sahutnya keras.

Dia adalah penduduk dari perkampungan Ie Hee Cung siapa yang tidak tahu nama ayahmu ?

Mendengar jawaban Liem Tor dengan perlahan lahan melepaskan tangannya dan menghembuskan napas panjang.

Paru saja dia mau berbicara mendadak.

Plaaak pipinya sudah kena digaplok keras oleh Jien Coei, saking kerasnya sehingga ter dengar suara yang keras sekali.

Liem Tou.

terdengar Puow Jien Coei membentak dengan suara yang sangat keras.

Bila mana kau berbuat tidak sopan lagi aku tidak akan berlaku sungkan sungkan terhadap dirimu."

Liem Tou tidak bisa berbuat apa apa lagi dengan lemasnya dia menundukkan kepalanya rendah kemudian sambil gelengkan kepalanya dia berkata dengan suara yang rendah Jien Coei cici, kau pukullah.

Tapi kau tak tahu nama dari ayah, itu sangat bagus sekali.

aku tidak akan mencari gara gara dengan dirimu, pada saat ini cuma kau serta Ie cici dua orang saja yang boleh memukul aku karena kalian adalah cici yang paling baik padaku sekalipun kalian pukul aku sampai mati aku juga tidak akan menyalahkan kalian.

Titik titik air mata mulai mengucur keluar dengan derasnya, mendadak tangannya diluruskan kebawah sambil melengos teriak nya lagi dengan keras.

Tetapi setelah aku berhasil mengetahui sebab sebab kematian ayahku dendam ini harus aku balas.

Jien Coei cici, maafkanlah aku, aku harus dapat mencari pembunuh ayahku untuk menuntut balas.

Lama sekali Pouw Jien Coei berdiri ter mangu mangu dan memandang Liem Tou dengan terpesona, akhirnya dia menghela napas panjang.

Baiklah Liem Tou kita jangan membicarakan persoalan ini lagi aku mau tanya kepadamu apakah Ie moay moay sudah ada kabar beritanya ?

ujarnya dengan suara perlahan.

Dengan cepat Liem Tou menekan rasa terharu dan goncangan di dalam hatinya setelah itu barulah jawabnya.

Dia sangat baik, dia bersama sama dengan "Wan moay moay.

Mendengar perkataan itu Pouw Jien Coei merasakan pandangannya menjadi terang, agaknya dia merasa sangat gembira, tetapi sebentar kemudian diapun merasa sedih kembali.

Tetapi ..tetapi sayang Lie Pek bo sudah meninggal ujarnya dengan suara yang rendah.

Bilamana dia tahu akan hal ini entah bagaimana rasa sedihnya itu ?

Aku tahu, tapi aku belum pernah memberitahukan hal ini kepadanya, jawab Liem Tou sambil mengangguk.

Bagaiman kau bisa tahu akan hal ini ?

tanya Pouw Jien Coei keheranan.

Siapa yang sudah beritahukan hal ini kepadamu ?

setelah kalian terjatuh ke dalam jurang dibawah jembatan pencabut nyawa itu berturut turut dia menangis selama lima hari lima malam, dan akhirnya meninggal karena tidak makan minum maupun tidur, bagaimana kau bisa tahu ???

Aku sudah pulang ke sana jawab Liem Tou dengan sedih.

Jien Coei cici, hatiku merasa sangat sedih sekali, bagaimana kalau kita tidak membicarakan urusan ini lagi.

Pouw Jien Coei mengangguk, setelah memperhatikan diri Liem Tou beberapa saat lamanya akhirnya dia bergumam seorang diri.

Oooo ...

kiranya kepandaian silatnya sudah berhasil dilatih, tidak aneh kalau dia orang bisa berbuat segalanya.

Tiba tiba dia angkat kepalanya dan berteriak keras.

Engkoh, kau jangan pergi.

Jien Coei cici jangan urus dia.

Biarkanlah dia pergi ujar Liem Tou sambil tertawa.

Pada saat ini Pouw Siauw Ling yang ada di ruangan perahu sudah meloncat keluar melalui jendela ruangan dan kini sudah mencapai tepian sungai untuk lari menjauhi.

Sebaliknya mulai wakta itu Liem Tou tidak pernah menoleh barang sekejappun.

Pouw Jien Coei yang melihat engkohnya sudah lari pergi, di dalam hati dia merasakan sangat tidak enak sekali, dengan sedihnya dia menundukkan kepalanya rendah rendah.

Jien Coei cici tidak usah urusi dia lagi ujar Liem Tou sambil tertawa pahit, sudah setahun lamanya kita tidak bertemu, selama ini.

Jien Coei cici bekerja apa?

mari kita masuk ke dalam untuk bercakap cakap.

Pouw Jien Coei menganguk.

tetapi sewaktu melihat bekas titik titik darah yang mengotori lantai dia menghentikan langkahnya kembali.

Kalau begitu kita duduk duduk saja di tepian sungai sebelah sana, ujar Liem Tou kemudian sambil tertawa.

Sehabis berkata dengan menggunakan gaya yang sangat indah sekali tubuhnya meloncat ke tengah udara untuk kemudian meloncat ke tepian sungai.

Pouw Jien Coei segera mengikuti dari arah belakang meloncat ketepian dan bersama sama dengan Liem Tou duduk di atas sebuah batu besar ditepi sungai.

.Jien Coei cici, bagaimana kau bisa sampai kemari?"

Tanya Liem Tou kemudian.

Pouw Jien Coei segera menghela napas panjang.

Sejak ayahku membuka perusahaan ekspedisi Ang Piauw kiok aku terus menerus berkelana di dalam Bu lim berlari ke sana kemari mencari pengalaman, disamping itu guna mencari jejakmu serta jejak dari Ie moay moay pula.

boleh dikata selama setahun ini aku tidak ada arah tujuannya, kebetulan ini hati aku lewat di kota Hong Kiat dan bertemu dengan Tia, setelah dia orang tua memberitahukan akan urusan ini aku lalu berangkat menuju kemari!"

Setelah itu dia lalu menanyakan juga kenapa dia meminta Ang In Sin Pian untuk menyerahkan uang sebesar tiga pulah laksa tahil perak?

dengan sejujurnya Liem Tou pun lalu menceritakan kepadanya.

Pouw Jien Coei mengangguk dengan per lahan, tidak terasa lagi mereka berdua pada bungkam diri.

Saat ini sang surya dengan perlahan mulai tenggelam ke arah sebelah Barat, dari tempat kejauhan kelihatan kawanan burung terbang kembali ke sarang, waktu dengan perlahan lewat tetapi mereka berdua masih tetap bungkam di dalam seribu bahasa.

Air muka Pouw Jien Coei perlahan lahan berubah jadi merah padam, sebentar lagi berupah putih pasi bibirnya rada sedikit gemetar kelihatan sekali hatinya sedang bergolak dengan amat keras.

Jien Coei cici, kau merasa kedingnan??

tanya Liem Tou dengan keberatan.

Pouw Jien Coei dengan perlahan menggelengkan kepalanya, air mukanya berubah semakin hebat, tetapi dia tetap bungkam diri.

Liem Tou lantas ulur tanganya memegang keningnya, Pouw Jien Coei tetap tidak bergerak barang sedikitpun juga.

Liem Tou merasakan pada keningnya terasa ada keringat yang membasahinya, dalam hati dia merasa semakin keheranan lagi.

Jien Coei cici tanyanya.

Sebetulnya kau.

kenapa??

apakah kau sakit??

Mendadak dia menutupi wajahnya dengan kedua belah tangan kemudian menangis tersedu sedu dengan amat sedihnya.

Liem Tou semakin dibuat kebingungan lagi tindakannya yang amat aneh ini terpaksa dia mendesak dirinya untuk berbicara.

Jien Coei cici, beritahukan kepadaku kau ada urusan apa?

kenapa kau tidak beritahukan kepadaku ?

Pouw Jien Coei menangis semakin sedih lagi, dia tidak mau menggubris perkataan dari Liem Tou tidak bisa beruiat apa apa terpaksa dia duduk termangu mangu sambil memandang terpesona ke arahnya, dia orang yang tidak mengetahui urusan apa yang sudah terjadi sudah tentu tidak tahu pula dia harus ber bicara dengan cara bagaimana.

Lewat beberapa saat kemudian sang surya sudah lenyap dari pandangan, cuaca makin lama makin menggelap.

Bersamaan dengan semakin menggelapnya cuaca suara tangisan dari Pouw Jien Coei pun semakin keras hal ini benar benar membuat Liem Tou jadi bingung.

Akhirnya saking tak tertahannya dia menjerit keras dengan hati agak jengkel.

Jien Coei cici ada urusan apa cepatlah kamu katakan sekalipun mengharuskan aku terjun ke dalam lautan api akupun akan melakukannya buat cici, di dalam kolong langit ini ada urusan apa yang sangat luar biasa??

Buat apa kau menangis terus ??

Teriakannya kali ini ternyata sangat manjur sekali, akhirnya Pouw Jien Coei menghentikan suara tangisannya dan angkat kepalanya.

Sembari membereskan rambutnya dia memandang terpesona ke arah permukaan sungai, sepatah katapun tak diucapkan.

Jien Coei cici!"

Ujar Lien Tou lagi dengan suara yang sangat halus. Ada urusan apa cepat katakan kepadaku ! Malam ini sebelum kentongan ketiga aku harus menjalankan perahu untuk menuju ke kota Hong Kiat."

Mendengar perkataan itu agaknya Pouw Jien Coei jadi terkejut, dengan perlahan lahan dia putar kepalanya. Sebelum kentongan ketiga kau hendak menuju ke kota Hong Kiat?? Aaaa'... tidak .."

Baru saja berbicara sampai disitu mendadak dia berhenti sebentar, agaknya di dalam hati dia sedang mengambil keputusan yang sangat berat, akhirnya dia tidak kuasa Lagi melanjutkan kembali kata katanya.

.Baiklah !!

Kau pergilah ...kau pergilah....

Tetapi ...

tetapi ...

Berbicara sampai disini dia tidak sanggup lagi untuk melanjutkan kembali kata katanya jelas dia kepingin menangis lagi, Jien Coei cici, tetapi kenapa????"

Desak Liem Tou dengan cepat. Liem titi, maukah kau orang mendengarkan perkataanku?"

Tanya Pouw Jien Coei kemudian dengan perlahan. Terus terang aku beritahukan kepadamu, ayahku telah melenyapkan harapanku , ..tetapi bagaimanapun dia tetap ayahku !"

Cici ada urusan apa. silahkan berkata aku tentu akan mendengarkan perkataan dari cici."

Mendadak Pouw Jien Coei bangkit berdiri dari tempat duduknya ujarnya dengan serius.

Kalau begitu kau harus menyanggupi tiga macam urusan bilamana kau mau mendengarkan perkataanku itu maka aku akan menaruh rasa terima kasih padamu."

Selesai berkata kembali dia menangis lagi.

Jien Coei cici.

kau jangan menangis lagi "ujar Liem Tou dengan cemas.

Kau cepatlah berbicara aku akan mendengarkan seluruh perkataanmu." ..Pertama, setelah tiba dikota Hong Kiat kau dilarang membunuh seorang manusia pun ujar Pouw Jien Coei kemudian sambil menahan tetesan air mata.

Mendengar perkataan tersebut Liem Tou jadi kebingungan, dalam hati dia merasa amat terperanjat tetapi akhirnya dia menyahut juga.

Aku pasti turut perintah, sesampainya di kota Hong Kiat aku tidak akan membunuh seorangpun.

Kedua, Selamanya aku larang kau membunuh engkohku.

Mendengar perkataan itu Liem Tou semakin terkejut lagi, sepasang matanya dipentangkan lebar lebar.

baiklah aku tidak akan membunuh engkohmu sahutnya kemudian sesudah ragu ragu sebentar.

saat itulah Pouw Jien Coei baru menundukkan kepalanya rendah rendah, beberapa saat kemudian dia baru angkat kepalanya keatas.

Ketiga Tubuhnya mendadak meloncat keatas, dengan beberapa kali tutulan dia sudah ada di pinggang gunung sehingga jaraknya kurang lebih dua, tiga puluh kaki dari diri Liem Tou, setelah itu baru sambungnya dengan suara yang amat keras.

Beritahu pada Ie moay moay, Pouw Jien Coei sudah mati, selamanya dia tidak usah mencari aku lagi.

Mendengar perkataan tersebut Liem Tou benar benar merasa sangat terperanjat sekali, dengan cepat dia membentak keras.

Jien Coei cici, kau jangan pergi.

Ujung kakinya segera menutul permukaan tanah dan mengejar ke arah depan.

Dengan kepandaian silat yang dimilikinya pada saat ini hanya didalam sekali loncatan s£ja dia sudah berada kurang lebih sepuluh kaki tingginya, jaraknya dengan Pouw Jien Coei pun cuma tinggal tiga kaki saja.

Sejak semula Pouw Jien Coei sudah mendengar sambaran angin di belakang badannya dia tahu Liem Tou tentu sedang mengejar diriiya, karena itu mendadak dia menghentikan langkahnya lalu putar badannya ke arah belakang.

Liem Tou berhenti !

bentaknya dengan keras.

Bilamana kau mengejar lebih lanjut aku segera akan meloncat kebawah untuk bunuh diri.

Mau tidak mau terpaksa Liem Tou haru menghentikan langkahnya.

Jien Coei cici, mohonnya dengan keras.

Kau tidak boleh berbuat demikian, kau mau pergi kemaaa ??

Soal ini kau tidak usah ikut campur!.

Bentak Pouw Jien Coei kembali dengan suara yang keras.

"Kau sudah menyanggupi urtuk mendengar perkataanku, ayoh cepat kau pergi dari sini !" . Dengan termangu mangu Liem Tou berdiri tertegun di sana, seperti baru saja terbangun dari suatu impian yang amat buruk dia memperhatikan diri Pouw Jien Coei meninggalkan tempat itu dan lenyap ditelan kegelapan. Kurang lebih selama satu kentongan lamanya dia berdiri di sana, tanpa bergerak sedikitpun dia baru sadar kembali dari lamunannya setelah dirasanya ada segulung angin malam berlalu dengan santarnya. Dia teringat kembali kalau pada kentongan ketiga malam ini masih ada urusan yang harus diselesaikan. Ketika teringat pula akan permintaan Pouw Jien Coei yang meminta dia. jangan membunuh seorangpun dikota Hong Kiat membuat dia jadi melongo longo, dia tidak tahu di kota Hong Kiat bakal terjadi urusan apa ?? Dengan cepatnya Liem Tou lari turun dari gunung itu dan meloncat naik ke atas perahu, melepaskan jangkar kemudian melancarkan pukulan menjalankan perahunya. Kurang lebih dua, tiga jam kemudian sampailah dikota Hong Kiat yang sudah tenggelam di tengah kesunyian, saat ini waktu menujakkan kentongan kedua dia lantas menjalankan perahunya dan berhenti di antara perahu perahu lainnya. Setelah menghentikan perahunya dia baru meloncat naik ke atas tepian dan meniggalkan kerbaunya tetap ada di atas perahu itu Dengan seorang diri dia berjalan di tengah jalan raya, setelah mengetahui letak rumah penginapan yang terbesar di seluruh kota Hong Kiat dia lantas berjalan kesana. Cuaca sudah menujukkan tengah malam, pintu rumah penginapan itu kelihatan setengah tertutup setengah terbuka suasana di tengah ruangan pun amat sunyi kecuali diterangi oleh sebuah lampu minyak yang amat samar. Dari celah celah pintu Liem Tou mengintip ke arah dalam tampaklah pemilik rumah penginapan itu sudah tertidur pulas, di sebuah kursi panjang di samping sebelah kanan ruangan duduklah dua orang lelaki kasar berbaju hitam. Sekali pandang saja Liem Tou segera bisa tahu kalau orang orang itu adalah anak buah dari si golok naga hijau Sie Hiauw tauw, dia tahu tentunya mereka sedang menanti kedatangan dari orang orang Ang In Piauw kiok yang hendak mengantarkan uang. Saking lamanya mereka harus menunggu tidak terasa lagi kedua orang lelaki tersebut jadi mengantuk juga. Mendadak Liem Tou berkelebat masuk ke dalam ruangan kemudian meloncat naik ke atas tiang yang ada dihadapannya. tetapi sewaktu melihat tempat itu kurang aman dia meloncat turun kembali dan meloncat ke samping pemilik rumah penginapan itu kemudian menotok jalan darah tidurnya. setelah itu dengan perlahan lahan dia mendekati badannya dan melepaskan pakaian serta topengnya untuk dipakai sendiri, sedang tubuh pemilik rumah penginapan yang sudah kena tertotok pulas itu diletakkan di bawah lemari. Diam diam pikirnya kemudian setelah dia berpura pura bertindak sebagai pemilik rumah penginapan itu. Jien Coei cici melarang aku membunuh orang! Baiklah, Aku tidak akan membunuh orang tetapi aku pasti akan melihat hal ini sejelas jelasnya malam ini pasti akan terjadi satu peristiwa tetapi peristiwa apakah itu?? Apa mungkin Ang In Cung cu tidak jadi kirim uang perak kemari?? Hmm! Kalau dia berani berbuat demikian hal ini sama saja dengan mencari penyakit sendiri!"

Waktu berlalu dengan cepatnya mendadak terlihatlah lelaki kasar yang ada dihadapan nya tersentak bangun dari pulasnya, sewaktu dia melihat kawan yang ada disampingnya tertidur pulas juga tidak terasa lagi dia sudah mendorong badannya.

Hey, bagaimana kau orang boleh tidur dengan begitu nyenyaknya?"

Serunya mengomel.

Waktu ini adalah saat yang penting dan berbahaya, kenapa kau berani tidur dengan begitu nyenyaknya?' Liem Tou mendengar perkataan itu diam diam tertawa geli makinya dalam hati.

..Gentong nasi ini sangat pandai mengomeli orang lain !

Hmnmm !

Itu si golok naga hijau bukannya mencari orang yang lebih bagus justru mencari dua orang gentong nasi yang gobloknya seperti mereka untuk melakukan tugas ini!"

Tampaklah orang yang dibangunkan dari pulasnya itu mengeliat sebentar lalu sahutnya dengan tidak bersemangat.

Aduh.

sekarang sudah kentonpan keberapa?

Haaaii mungkin mereka tidak akan da tang !

Aku tidak akan percaya kalau bangsat cilik itu akan dapat membereskan urusan ini.

Piauw tauw kita itu sungguh menaruh kepercayaan terhadap dirinya."

Benar!"

Sahut lelaki berbaju hitam itu sam bil mengangguk, Aku sendiripun tidak melihat adanya suatu keistimewaan dari bangsat cilik itu.

Heey Piauw tauw kita dengan membuang waktu satu tahun lamanya untuk menyusun rencana yang begitu bagus nya tidak disangka rencana itu sudah digagalkan olehnya hanya di dalam setengah hari saja, hal ini sungguh membuat orang merasa agak tidak percaya, cukup kita bicarakan tentang peti hitam itu dia orang kecuali mempunyai tenaga sebesar beratus ratus kati, aku melihat dia orang sama sekali tidak memiliki kepandaian yang lebih istimewa.

Haaa buat apa kita urusi persoalan itu lagi, seru lelaki berbaju hitam yang mulutnya penuh liur itu Lebih baik kita pergi tidur saja.

duduk terus disini rasanya sangat tidak enak.

Tetapi akhirnya lelaki berbaju hitam itu gelengkan kepalanya.

Bagaimanapun juga jaraknya dari sekarang sampai kentongan ketiga sudah sangat dekat apalagi sebentar lagi Piauw-tauw pun akan datang kemari juga ..bilamana sampai waktunya dia tidak m;nemukan kita ada disini waaah.

kalau dia marah marah kita bakal konyol.

Melihat kelakuan kedua orang itu diam diam Liem Tou menghela napas panjang, pikirnya.

Eeeei tidak disangka merekapun bisa me ngerti akan tugas dan takut dimarahi Sie Piauw tauw, kelihatannya lumayan juga.

Mendadak Liem Tou dapat mendengar diatas atap rumah berkumandang datang suara langkah manusia.

Hmmm, sudah datang, aku sudah mengetahui kalian pasti akan datang kemari, pikirnya dalam hati.

Dengan cepat dia mengintip dari antara celah celah sikutnya tampaklah sesosok ba yangan manusia berkelebat mendatang, dari pintu luar rumah penginapan itu melayang, datang seseorang yang dalam sekali pandang saja Liem Tou dapat mengenal kembali kalau dia orang bukan lain adalah si golok naga hijau Sie Loo Piauw tauw.

Kedua orang lelaki kasar yang melihat munculnya si golok naga hijau Sie Piauw tauw secara tiba tiba ditempat itu tidak terasa pada melengak semua dibuatnya.

Tampaklah Sie Piauw tauw begitu tiba di depan pintu dengan suara terburu buru segera memberikan perintahnya.

Ang In sudah tiba di bandar dan sebentar lagi akan tiba disini, cepat kalian bangunkan semua orang dan ingatkan kepada mereka jangan sampai lupa membawa serta senjata ta jam.

Kedua orang lelaki kasar itu segera me nyahut dan berlalu dari ruangan tersebut.

Sedang si golok naga hijau Sie Piauw tauw sambil berjalan mondar mandir di dalam ru-angar tiada hentinya dia bergumam seorang diri.

Kalau cuma berbuat demikian bukankah dendam sakit hatiku tidak bisa terbalas ??

Oooh Liem Tou, Liem Tou.

Kau orang kenapa begitu suka mencampuri urusan orang lain ?

kalau sudah ikut campur kenapa berlaku begitu tidak adil ?

Liem Tou yang mendengar suara gumamannya itu dalam hati diam diam merasa rada kheki jaga, dia lantas menghela napas panjang.

Waaah waaah kiranya jadi orang baik pun amat susah"

Pikirnya didalam hati."

Aku bantu dia untuk meminta kembali uang sebesar tiga laksa tahil perak yang dirampok bukannya berterimakasih kepadaku sebaliknya dia malah menyalahkan aku banyak ikut campur urusan orang lain sehingga dendamnya tidak bisa terbalas "

Mendadak Liem Tou dapat melihat Sie Piauw tauw mengerutkan alisnya rapat rapat, dari balik pundak dia mencabut keluar golok naga hijaunya kemudian disentilnya beberapa kali Oooh naga hijau, naga hijau!"

Serunya dengan suara yang amat pedih!

"Aku Sie Ie untuk terakhir kalinya minta bantuanmu untuk membalaskan dendam ini sekalipun dikemudian hari Liem Tou menyalahkan diriku tetapi harus juga membalas dendam ini.

,,"

Sembari berkata nafsu membunuh mulai melintasi wajahnya, disusul suara tertawa terbahak bahak yang amat seram memenuhi seluruh angkasa.

Dari pojokan tembok dia menggotong arak yang kemudian diletakkan diatas meja, lalu dari dalam kantongnya dia mengambil keluar sebungkus buntalan dan dituang ke dalam gentong arak itu masing masing separuh bagian.

Setelah semua pekerjaannya selesai dia baru menutup kembali gentong arak itu seperti sedia kala dan diletakkan kembali ke Pijakan tembok ruangan tersebut.

Liem Tou dapat melihat semua kejadian itu dengan amat jelasnya, tidak terasa lagi dalam hati dia merasa terkejut.

Hmmm Kiranya kau pun bajingan tua yang tidak tahu malu Makinya didalam hati.

Hatinya ternyata kejam juga seperti ular...-mataku sungguh sudah buta ternyata manusia kejam dan licik kau sudah aku anggap sebagai seorang manusia pendekar yang berhati lurus.

Heeeey ...

sudah, sudahlah!

Manusia berhati binatang seperti itu biarkanlah saling gebuk gebukan sendiri !!

Semakin dipikir Liem Liem Tou merasakan perbuatan orang orang kangouw ini tidak ada yang jujur, dia makin waspada lagi terhadap orang lain dan dia menganggap semua orang tidak ada yang bisa dipercaya.

Pada saat itulah anak murid Sie Piauw tauw Oei Poh beserta keenam lelaki berjubah hitam sudah bersiap sedia dan berkumpul disana, diantara mereka itu tampaklah seorang lelaki berbaju hitam mendekati diri Liem Tou yang pura pura sedang tidur dan menggoyangkan badannya beberapa kali.

Belum sempat Liem Tou melakukan suatu tindakan sudah terdengar si golok naga hijau membentak untuk mencegah perbuatan dari anak buahnya itu.

Jangan goyangkan dia.

biarkan dia tertidur pulas bilamana kita bangunkan dirinya nanti malah merepotkan pekerjaan kita saja.

Kalau begitu totok saja jalan darah tidurnya.

sambung Oei Poh dengan cepat.

Baru saja dia selesai bicara Liem Tou hanya merasakan sambaran angin serangan yang mengancam jalan darah tidur dibela kang lehernya dengan terburu buru Liem Tou tarik napas panjang pura pura sudah tertotok kemudian mendengus berat sehingga tindakannya itu tidak sampai ketahuan.

Hal ini membuat hati Liem Tou merasa se makin berat lagi, teringat akan kata kata dari Pouw Jien Coei yang melarang dia membunuh orang di kota Hong Kiat dia merasa perkataannya itu mempunyai arti yang sangat mendalam sekali bahkan dapat membuat hatinya berdebar debar keras, dia sendiri pun tidak mengetahui mengapa hatinya bisa begitu tegang bahkan terasa sangat tak enak.

Tidak lama kemudian dari arah jalan berkumandang datang suara langkah manusia yang sangat ramai sekali.

Dengan tergesa gesa Sie Pauw tauw memerintahkan anak buahnya untak menduduki tempatnya masing masing dan siap siap menghadapi sesuatu.

Pada saat anak buah Sie Piauw tauw selesai bersembunyi itulah terdengar dari luar pintu rumah penginapan itu berkumandang datang suara dari Si Ang In Sin Pian yang amat keras.

Eeeei didalam sana ada orang tidak.

Piauw cu dari Ang In Piauw kiok Pouw Sak San sudah tiba.

Haa ...haa ." .

orang she Pouw ternyata kau sungguh sungguh datang terdengar si golok naga hijau Sie Piauw tauw tertawa terbahak bahak.

Lohu sudah lama sekali menanti kedatanganmu disini.

Tangannya dengan cepat diulapkan memberi perintah, kedua orang lelaki berbaju hitam yang ada disamping pintu segera merentangkan pintu penginapan itu lebar lebar.

Secara diam diam Liem Tou melirik keluar, terlihatlah Si Ang In Sin Pian Pouw Sak can dengan memakai pakaian ringkas dengan sebuah cambuk Ang In Pian tersoren pada pinggangnya, sepasang matanya yang sangat tajam bagaikan mata elang itu dengan telitinya memperhatikan keadaan sekeliling tempat itu, ketika dilihatnya keenam tubuh orang yang berdiri pada posisi disekeliling ruangan tidak kuasa dia sudah mendengus dingin.

Terhadap Liem Tou yang sedang tertidur dimeja dia melirik beberapa kali ke arah nya kemudian dengan suara yang amat dingin jawabnya.

Hmmm !

Tidak berani ....

tidak berani...

Sie Piauw tauw sudah capai menanti kedatangan kami !' «Haa , ..haa ...

Pouw Cung cu suka datang sendiri kemari hal ini membuat loohu benar benar berdosa ...

mari ...

mari kita minum arak dulu dalam ruangan"

Seru sigolok naga hijau sambil tertawa terbahak bahak lagi.

Si Ang In Sin pian mengerutkan alisnya, kemudian sambil membusungkan dada dia berjalan masuk kedalam.

Liem Tou segera melihat orang yang ada di belakangnya adalah si Liong Ciang Lie Kian Poo diikuti enam orang pelayan yang menggotong tiga buah peti besar.

Liem Tou yang tidak melihat munculnya si Hauw Jiauw Pouw Toa Tong dalam hati diam diam merasa sedikit bergerak, tetapi sewaktu teringat kalau di atas perahupun membutuhkan penjagaan dia tidak menaruh perhatian lebih jauh.

Si Ang In Sin Plan setelah berdiri ditengah tengah ruangan kembali melirik sekejap kearah Liem Tou, agaknya dia merasa tak lega.

Mendadak tubuhnya bergeser dua langkah ke belakang kemudian mendorong pundak Liem Tou dengan keras.

Heey kau orang sungguh doyan tidur"

Teriaknya dengan keras. Bagaimana boleh jadi saat ini sudah tertidur begitu pulas?"

Diam diam dalam hati Liem Tou merasa se dikit terperanjat, baru saja pikirannya berpu tar untuk menghadapi sesuatu lebih lanjut, terdengar si golok naga hijau S1 Piauw tauw sudah mencegah diri Ang In sin Pian untuk mendorong dirinya untuk kedua kalinya.

Pemilik rumah penginapan itu sudah aku totok jalan darah tidurnya, hal itu tidak usah Pouw Cung cu kuatirkan lagi."

Terpaksa Ang In Sin Pian membatalkan maksud hatinya, sambil menoleh kearahnya dia berkata dengan suara yang amat nyaring.

Cayhe selamanya suka berbicara terus terang, ini hari sengaja cayhe datang kemari untuk mengantarkan uang.

Permusuhan di antara Ang In serta Ciong Liong Piauw kiok pun sejak ini hari kita hapuskan untuk selamanya."

Haaa haaa soal yang demikian kecilnya ini buat apa diributkan lebih panjang?"

Ujar sigolok naga hijau sambil tertawa terbahak bahak."

Sekalipun kedatangan Pouw Cung cu agak terlambat tetapi loohu harus menjamu juga. mari..mari... silahkan Pouw-cung cu teguk beberapa cawan arak terlebih dahulu baru kita bicarakan lagi."

Buat apa Sie Piauw tauw begitu sungkan-sungkan.

Si golok naga hijau segera memerintahkan muridnya Oei Poh untuk menyediakan arak.

setelah itu sambil tertawa nyaring ujarnya kembali.

Beberapa cawan arak ini anggap saja merupakan penghormatan loohu kepada Cung-cu, buat apa kau orang berlaku begitu rikuh??

Sembari berkata dari tangan Oei Poh dia menerima dua buah cawan arak dan yang secawan diangsurkan kepada si Ang In sin-Pian.

Ang In Sin Pian segera menerimanya dan memandang sebentar ke arah isi cawan tersebut, beberapa saat kemudian dia baru angkat cawannya siap hendak diteguk habis.

Liem Tou dapat melihat seluruh kejadian itu dengan amat jelas sekali diam diam pikirnya.

Pouw Sak San Pouw Sak San.

sekalipun kau orang adalah siluman rase tua yang bagaimana liciknya pun.

kali ini kau akan terkena tipuan dari sigolok naga hijau juga.

Siapa tahu baru saja dia berpikir sampai disitu, cawan arak yang sudah diangkat Ang in sin Pian dan mendekati bibirnya itu sudah ditarik kembali dan diletakkan ke atas meja.

Maksud baik dari Sie Loo Piauw tauw aku orang she Pouw terima di dalam hati saja, ujarnya sambil tertawa paksa.

Selesai berkata mendadak dia mengambil cawan arak itu kembali dan dituang keatas lantai hingga tumpah.

Si golok naga hijau yang melihat kelakuan dari Pouw Sak San ini air mukanya berubah sangat hebat.

Belum sempat dia mengumbar hawa amarahnya terdengar Si Ang in sin pian Pouw Sak San sudah menyambung kembali kata katanya.

Sekarang silahkan Sie Loo Piauw tauw menerima uang perak itu, aku orang she Pouw tidak akan lama lama tinggal disini lagi.

Sekali lagi Liem Tou secara diam diam memuji akan kewaspadaan dan kelicikan dari Pouw Sak San, ternyata kedahsyatan dan ketajaman pikirannya bukanlah nama kosong belaka Terlihatlah Pouw Sak San segera memerintahkan anak buahnya untuk menggotong peti besar yang pertama dan dibuka kuncinya, terlihatlah isi dari peti itu penuh dengan uang perak yang gemerlapan.

.Uang perak ini ada satu laksa tahil perak banyaknya, harap Sie Piauw tauw suka menerimanya terlebih dahulu,' ujar Ang In Sin Pian dengan sikap yang amat tenang sekali.

Diikuti peti yang kedua pun dibuka kuncinya, saat ini Liem Tou benar benar pusatkan seluruh perhatiannya ke arah seluruh ge rak geriknya.

dia takut, secara diam diam dia orang sudah main gila.

.Tetapi ketika peti yang kedua dibuka kem bali terlihatlah uang perak yang gemerlapan dan menyilaukan mata terbentang didepannya.

Pada saat peti yang kedua dibuka itulah diam diam Liem Tou melirik sekejap kearah si golok naga hijau, terlihatlah secara diam-diam dia orang menarik napas lega dan senyuman pertama menghiasi bibirnya.

Tangannya segera diulapkan memerintahkan keempat orang lelaki berbaju hitam untuk menggotong pergi kedua buah peti tersebut kemudian bersama sama dengan anak murid nya Oei Poh dia bertindak maju satu langkah kedepan.

..Pouw Cung cu kau orang boleh dipercaya"

Ujarnya sambil tertawa.

Ang In Sin Pian segera mendengus dingin, sambil putar badannya dia berseru dengan suara yang tak enak didengar.

.Sie Piauw tauw lebih baik kurangi bicara kosong, berpura pura didepan orang bukankah suatu tindakan yang terlalu cemerlang " .Selamanya Loohu memuji diri Cungcu, bagaimana Cung cu bisa berkata kalau aku sedang menyindir dirimu ?

Harap Pouw Cung cu jangan banyak menaruh hati."

Ujar si golok naga hijau sambil tertawa.

..Tanpa sebab aku orang She Pouw harus menyerahkan uang sebesar tiga laksa tahil perak kau kira aku orang rela????

Hmnm Bilamana aku tidak pergi mencari balas dengan kau orang She Sie sedikit dikitnya aku akan pergi mencari orang She Liem bangsat cilik itu untuk mencari balas."

Bentak Si Ang In Sin Pian Pouw Sak San secara men dadak.

Selesai berkata mundadak dia ayunkan tangannya untuk menyambitkan sebuah kunci ke arah si golok naga hijau.

Si golok naga hijau dengan cepat mengulurkan tangannya untuk menjepit datangnya sambaran kunci dengan menggunakan jari jari tangannya lalu tertawa terbahak bahak.

Heey orang she Sie "

Bentak Si Ang In Sin Pian lagi dengan keras.

Bilamana kau orang suruh aku orang She Pouw menyerahkan tiga laksa tahil perak dengan tangan terbuka hal ini tidak mungkin dapat aku laksanakan, peti yang ketiga ini lebih baik kau buka sendiri saja i"

Selesai berkata dia sengaja putar badan dan berjalan keluar dari rumah penginapan itu.

jelas sekali wajahnya memperlihatkan hawa kegusarannya yang memuncak.

Tindak tanduknya yang amat bersungguh sungguh ini ternyata berhasil juga memancing si golok naga hijau masuk kedalsm jebakannya, bahkan sampai Liem Tou sendiri pun kena tertipu, di dalam hati diam diam dia masih berpikir, Oooh cungcu., cungcu, ini hari rasakanlah pembalasan orang lain.

Si golok naga hijau sesudah menerima kun ci peti yang ketiga dengan bangganya kembali tertawa keras.

DELAPAN BELAS Cung Cu kenapa harus begitu marah-marah?

ejeknya dengan suara dingin.

Kau orang boleh bayangkan bagaimana perasaan hati loohu tempo hari sewaktu barang kawalanku kau rampok sedang anak murid loohu kau bunuh.

Sembari berkata dia maju dua langkah ke depan siap membuka gembokan dari peti yang ketiga itu.

Sesaat dia memasukkan kunci itu kedalam genbokan terdengar si Ang In Sin Pian yang ada dibelakangnya sudah berseru kembali.

Orang she Sie lain kali bilamana kau bertemu dengan Liem Tou bangsat cilik itu katakanlah kepadanya, pada waktu dia orang menyambangi gunung pada malam Tiong Chui yang akan datang aku si Ang In Sin Pian pasti akan membalas dendam akan perhitungan lama ini.

Selesai berkata dengan suara yang berbisik dia bergumam kembali.

.Seorang keledai tua ternyata mempunyai seorang bocah seperti binatang, bilamana sejak dahulu aku tahu bakal begini, seharusnya aku tidak boleh membiarkan dia orang turun gunung"

Beberapa patah perkataan ini seketika itu juga membuat Liem Tou teringat kembali akan dendam berdarah ayahnya, hatinya bergolak dengan amat kerasnya, bilamana bukannya teringat akan kata kata dari Pouw Jien Coei yang melarang dia orang membunuh di kota Hong Kiat.

mungkin sejak tadi dia sudah munculkan dirinya untuk paksa dia orang mengaku seluruh perbuatannya.

Pada saat itulah sigolok naga hijau sudah membuka kunci peti yang ketiga itu dan membuka penutupnya.

Mendadak Satu jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi angkasa, dari antara lambungnya memancur keluar darah segar dengan amat derasnya.

Dari dalam peti tampaklah Hauw Jiauw-Pouw Toa Tong dengan tangan kiri mencekal pedang yang masih berlumuran darah me loncat keluar.

Serahkan nyawamu, bentaknya dengan sua ra yang amat keras.

Diikuti tangan kanan diayun kedepan.

Sreeet...Sreeet...tiga batang senjata rahasia dengan gaya berantai menyambar kedepan seketika itu juga ada tiga orang lelaki berbaju hitam menjerit kesakitan dan rubuh binasa diatas tanah.

Perubahan yang terjadi barusan ini hanya berlangsung di dalam sekejap mata saja, menanti Liem Tou merasakan adanya ke jadian ini dan hendak turun tangan untuk memberi pertolongan waktu sudah tidak mengijinkan, empat orang sudah menemui ajalnya ditangan Pouw Toa Tong.

Pada saat ini Ang In Sin Pian pun sudah putar badannya, sembari tertawa terbahak bahak dia menggetarkan cambuk Ang In Sin Pian yang dililitkan pada pinggangnya kemudian ujung kakinya sedikit menutul permukaan tanah, dengan dahsyatnya dia menubruk diri Oei Poh.

Si Liong Ciang, Lie Kian Poo pun dengan cepat meloncat kedepan menyerang tiga orang lelaki berbaju hitam diantara berkelebatnya bayangan telapak kembali seorang lelaki kasar terkena hajarannya dan rubuh binasa diatas tanah.

Murid keempat dari sigolok naga hijau Oei Poh ini bagaimanapun juga usianya masih sangat muda sekali, apalagi pengalamannya di dalam Bu lim pun masih amat cetek se hingga dia orang masih tidak bisa menghadapi perubahan yang sudah terjadi ini.

Ditambah pula kejadian yang diluar dugaan ini berlangsung amat cepat sekali membuat dia orang seketika itu juga berdiri tertegun diatas tanah dan gugup tidak keruan.

Pada saat dia berdiri melongo longo itu lah cambuk dari Si Ang In Sin Pian bagaikan seekor ular beracun yang keluar dari sarangnya sudah menyambar ke arah lehernya.

Menanti Oei Poh sadar akan bahaya dari ujung cambuk itu sudah berada kurang lebih tiga coen dari jalan darah "Thian Tu Hiat"

Pada tenggorokannya.

Keadaan sudah kepepet dan tidak ada kesempatan untuk menghindar lagi, terpaksa dia menghela napas panjang dan menanti saat kematiannya.

Pada saat yang amat kritis dan berbahaya itulah, sewaktu Si Ang In Sin Pian hendak mengerahkan tenaganya untuk menusuk tembus tenggorokan dari Oei Poh, Pouw Sak San merasakan pergelangan tangannya menjadi kaku, cambuk Ang In Pian yang semula tegang dan keras .laksana baja kini melemas kembali diikuti rubuhnya si Liong Ciang Lie Kian Poo serta Hauw Jiauw, Pouw Toa Tong ke atas tanah .

Si Ang In Sin Pian tahu pasti ada orang yang bersembunyi disamping memperlihatkan permainan setan, cambuknya dengan cepat dipindahkan ke tangan kiri kemudian diputar dengan kencang memainkan bunga cambuk yang melindungi seluruh badannya.

Tetapi baru saja dia berputar beberapa kali terdengarlah satu suara yang amat dingin sekali berkumandang datang.

Cung cu!

Perbuatanmu yang begitu licik dan kejam dengan menggunakan akal membunuh orang apakah boleh dianggap sebagai suatu perbuatan dari enghiong hoohan dari kalangan persilatan.

Begitu mendengar perkataan tersebut Si Ang In Sin Pian segera mengetahui kalau suara itu adalah suara dari Liem Tou sekali pun begitu dia sudah memeriksa keadaan di sekeliling tempat itu dari antara celah celah bayangan cambuknya itu dia tidak dapat menemukan juga tempat persembunyian dari Liem Tou, sewaktu melihat tubuh Liong-Ciang"

Lie Kian Poo serta Hauw Jiauw Pouw Toa Tong dengan lemasnya tubuhnya roboh keatas tanah dengan cepat tubuhnya berkelebat menuju kearah sana."

Lebih baik kau cepat cepat tolong orang dan meninggalkan tempat ini'' pikirnya didalam hati.

Tubuhnya dengan cepat berjongkok untuk memeriksa jalan darah mereka yang tertotok, siapa tahu mendadak dari belakang lehernya berkelebat datang hawa yang dingin yang amat tajam sekali diatara pandangaunya yang kabur golok naga hijau milik Sie Loo Piauw tauw sudah dipalangkan dibelakang lehernya.

Ujung goloknya kelihatan dari antara pundaknya, dia dapat melihat seluruh kejadian itu dengan amat jelasnya hal ini membuat dia orang jadi sangat ketakutan sehingga air mukanya berobah pucat pasi untuk bergerak dia tidak berani waktu itu terpaksa sambil pejamkan matanya dia berjongkok tidak ber gerak, keringat dingin mulai bercucuran ke luar.

Cung-cu, terdengar suara yang amat dingin kembali berkumandang datang.

Golok naga hijau ini asalkan aku kirim sedikit lebih ke depan maka batok kepalamu segera akan pindah rumah, tahu tidak kau hee??

Terang terangan Ang In Sin Pian, Pouw-Sak San tahu kalau orang yang ada dibela kangnya adalah Liem Tou tetapi saat ini dia tetap berpura pura tidak tahu dan cepat jawabnya dengan suara yang gemetar.

Siauw Jien tahu...

Siauw Jien tahu harap Thay hiap suka mengampuni jiwaku.

Kalau begitu harap Cung cu suka berterus terang dihadapanku, beritahukan kepadaku kenapa kau orang bersifat begitu ganas, buas dan kejam?

Ujar orang itu lagi dengan suara yang amat dingin.

Bagaimana kau orang bisa memikirkan satu siasat yang demikian kejam nya untuk membunuh orang?

Kau pernah menggunakan cara apa lagi untuk membunuh orang?????

Ayoh jawab, asalkan ini hari kau suka berterus terang dan menjawab semua pertanyaanku maka aku pun tidak akan mengganggu barang seujung rambutmu aku akan melepaskan satu jalan hidup buatmu."

Si Ang In Sin Fian Pouw Sak San yang mendengarkan perkataan itu tidak kuasa lagi seluruh bulu romanya pada beidiri.

karena dia mendengar pembicaraan dari orang yang berada dibelakang badannya amat dingin, kaku dan ketus sekali semakin didengar suaranya semakin mengejutkan hati.

Jilid 27

"HARAP Thayhiap suka mengampuni Siauw Jien ...Siauw Jien memang patut untuk menemui kematian,"

Sahutnya terpaksa.

"Ayoh cepat bicara. siapa yang tidak tahu kalau kau memang patut dibunuh?"

Teriak orang itu dengan suara yang amat keras sekali.

"Tetapi asalkan kau orang suka berterus terang dan menceritakan semua cara-caramu untuk membunuh orang ini hari aku akan lepaskan satu jalan kehidupan buat dirimu bahkan aku jamin semua orang dan barang yang kau bawa malam ini tidak akan aku ganggu barang seujungpun."

Si Ang In Sin Pian Pouw Sak San benar-benar terdesak, mendadak dari kelopak matanya menetes keluar titik titik air mata dengan amat derasnya teriaknya.

"..Ooooh ... Thian !! Kausuruh aku berbicara secara bagaimana?"

Mendadak dia busungkan lehernya kedepan meyambut datangnya ujung golok, kemudian sambil menoleh kebelakang bentaknya dengan suara yang amat keras.

"Liem Tou. kau bangsat cilik, anak kura-kura kalau bunuh ya bunuh, buat apa kau banyak bicara?"

Begitu Si "Ang In Sin Pian"

Pouw Sak San mengerahkan tenaga murninya Liem Tou segera merasa, tangannya dengan cepat ditarik kebelakang membuat tubrukan Si Ang In Sin Pian jadi menemui sasaran yang kosong.

Sewaktu kepalanya bcrputar itulah mendadak golok naga hijau yang ada ditangan Liem Tou dengan amat cepatnya menekan diatas pundaknya.

sedikit dia menggunakan tenaga Si Ang In Sin Pian tidak kuat lagi bertahan diri dan jatuh terduduk kembali ke atas tanah.

"Cung cu ! lebih baik aku lihat kau sedikit menurut saja dari pada menjadi gebuk buat dirimu !"

Seru Liem Tou sambil tertawa dingin.

"Coba saja kau pikir. pada saat ini jangan dikata aku dapat membunuh dirimu sekalipun untuk memotong dagingmu segumpal demi segumpalpun bukanlah suatu urusan yang terlalu sukar untuk dilakukan."

Sudah tentu Si "Ang In Sin Pian"

Pouw Sak San tahu dengan jelas kalau perkataan Liem Tou ini sedikitpun tak salah.

tak terasa lagi semangat serta nafsu amarahnya yang terkandung didalam hatinya barusan ini telah lenyap tak berbekas dia tundukkan kepalanya rendah rendah untuk berpikir kemudian baru mengangguk.

"Liem Tou !"

Jawabnya kemudian.

"Tidak disangka ini hari aku sudah terjatuh ketanganmu. Baiklah !! Suruh aku bicara yaa bicara. tetapi apakah kata kata yang kau ucapkan tadi bersungguh sungguh??"

"Siapa yang mau membohongi dirimu?"

Sahut Liem Tou kurang senang. Pada ujung bibir Si"

Ang In Sin Pian"

Pouw Sak San segera tersungginglah satu senyuman pahit, tetapi baru saja diperlihatkan sampai ditengah jalan sudah ditarik kembali.

"Hmnim, aku tahu didalam keadaan seperti ini kau tentu akan melancarkan pertanyaan pertanyaanmu itu. Baiklah, aku terus terang beritahukan kepadamu aku pernah memfitnah orang sampai mati, mencongkel keluar sepasang biji mata orang lain, tetapi yang jelas orang yang mati dibawah serangan cambukku boleh dikata paling banyak. Dengan perlahan Liem Tou mengangguk.

"Yang lain?"

Tanyanya lebih lanjut.

"Aku pernah menggantung orang sampai mati pernah menotok orang sampai mati membunuh orang dengan sambitan senjata rahasia dan menghajar orang dengan telapak sampai modar,"

Sahut Si Ang In Sin Pian setelah berpikir sebentar, padahal didalam hati diam-diam dia merasa amat tegang sekali.

"Ehmm masih ada???"

Air muka si Ang In Sin Pian semakin berubah menghijau, bibirnyapun gemetar dengan amat keras sekali, lama sekali dia baru menjawab.

"Aku pernah menyembunyikan orang di dalam peti untuk menusuk mati pihak musuh, mengerudungi muka untuk merampok barang kawalan orang lain."

Berbicara sampai disini cepat cepat dia menutup mulutnya kembali.

"Masih ada yang lain?"

Tiba tiba Liem Tou berteriak dengan suara yang amat keras.

Air muka si Ang In Sin Pian dari warna kehijau hijauan kini sudah berubah jadi hitam gelap seluruh tubuhnya gemetar dengan amat kerasnya sedang giginya saling beradu sehingga mengeluarkan suara yang amat nyaring sekali.

"Ti .. tidak ..tidak ada lagi,"

Jawabnya terputus putus.

Liem Tou yang mslihat dia orang mau mengaku hawa amarahnya benar2 memuncak, Mendadak dia bersuit nyaring kemudian bentaknya dengan suara laksana geledek yang menyambar disiang hari bolong.

"Cepat bilang, masih ada !."

"Sungguh sungguh tidak ada lagi,"

Jawab Si Ang In Sin Pian dengan air muka yang amat sedih sekali.

Tangan Liem Tou mencengkeram semakin kencang.

golok naga hijau yang ada ditangannya laksana besi baja seberat ribuan kati bersama-sama menikam badannya, Dengan susahnya Si Ang In Sin Pian mendengus berat, napasnya jadi sesak sehingga sukar untuk berganti hawa.

"Liem ..Liem tou .. tu .. tunggu sebentar maa ..masih ..masih ada , .."

Air matanya mengucur keluar dengan sangat derasnya, didalam hati dia benar benar merasa bergidik.

"Liem Tou !"

Ujarnya kembali dengan terharu.

"Aku Pouw Sak San mempunyai putra dua anak gadis bahkan mereka semua adalah kawan kawan permainanmu sewaktu kecil ..ba ..baiklah ! aku beritahu saja padamu aku pernah meracuni orang sampai mati."

Baru saja Si Ang In Sin Pian Pouw Sak San selesai berbicara mendadak dia merasakan golok naga hijau yang disilangkan diatas lehernya tergetar dengan amat kerasnya kemudian terlihatlah Liem Tou membanting golok itu keatas tanah sehingga terputus menjadi dua bagian.

"Kau pergilah !"

Bentaknya kemudian sembari memungkiri dirinya.

Saat ini anak murid dari golok naga hijau Oei Poh yang berhasil ditolong Liem Tou dari kematian dibawah serangan cambuk Ang In dari Pouw Sak San sewaktu melihat Liem Tou memalangkan goloknya diatas leher si "Ang In Sin Pian"

Dalam anggapannya ia tentu akan membinasakan dirinya, maka dari itu selama ini dia cuma berdiri termangu mangu saja disamping.

Tidak disangka kini Liem Tou menyuruh dia orang pergi, darah panas segera bergolak dengan amat keras didalam dadanya mendadak dia membentak keras.

"Tahan dulu Liem Tou! bagaimana kau orang boleh lepaskan dia pergi ? Urusan ini disebabkan oleh dirimu, apa kau kira suhuku harus menemui ajalnya dengan sia sia belaka ?"

Semula Liem Tou tidak sampai disini kini setelah mendengar perkataan tsrsebut dalam hatinya dia merasa tergetar dengan amat kerasnya.

"Aaa.. Benar! urusan ini bagaimana aku harus bertanggung jawab ?"pikirnya didalam hati.

"Orang orang Bu lim mengutamakan kepercayaan, kalau aku sudah berbicara satu yaaa satu, tadi aku sudah berjanji akan melepaskan dia pergi, sekarang sekalipun menyesal juga tidak berguna."

Berpikir sampai disini dia dengan cepat menangkap tangannya menjura kearah diri Oei Poh, ujarnya.

"Oei heng harap mendengar perkataan dari cayhe, urusan ini semuanya dikarenakan oleh diri cayhe, dan cayhe tidak akan menampik tanggung jawab ini. Tiga laksa tahil perak, cayhe pasti akan menghantarkan sendiri ke-Oei heng, ini hari aku sudah berjanji untuk lepaskan dia pergi hal ini tidak bisa dimungkir lagi, untuk membalas dendam atas kematian dari suhumu kenapa Oei heng tidak pikirkan dikemudian hari saja ? apalagi Cayhe masih ada beberapa hari lagi harap Oei heng suka memaafkan didalam persoalan ini."

Sehabis berkata dengan amat hormatnya dia ialu menjura kearah diri Oei Poh.

Oei Poh yang mendengar perkataan daji Liem Tou ini didalam hati benar benar sangat mendongkol dan kheki sekali, dikarenakan tidak kuasa untuk menahan golakan didalam hatinya mendadak air matanya mulai bercucuran membasahi kelopak matanya.

"Aku tahu kepandaian silatku tidak memadai orang lain, didalam urusan inipun aku tidak dapat banyak bicara,"

Ujarnya dengan sangat sedih.

Tetapi, Liem Tou kau harus ingat, bilamana tadi kau tidak menolong aku sehingga aku lolos dari serangan cambuk Ang-in sin Pian hal ini tidak ada persoalan lagi justru aku berhasil kau tolong aku akan menunggu selama satu bulan.

bilamana didalam satu bulan ini kau tidak berhasil membawa si Ang In keledai tua itu ketempatku maka perhitungan kau orang harus menanggung separuh bagian, atau mungkin aku langsung mencari kau untuk menuntut balas."

Selesai berkata tanpa menanti jawaban dari Liem Tou lagi dia segera menggendong jenazah dari si golok naga hijau kemudian memberi tanda kepada kedua orang laki laki berbaju hitam lainnya untuk meninggalkan tempat tersebut.

Dengan pandangan melongo Liem Tou memandang bayangan punggung Oei Poh yang mulai lenyap dari pandangan.

hatinya benar benar merasa bergolak.

Ketika dia menoleh kebelakang lagi terlihatlah Si Ang In Sin Pian sudah bantu membebaskan jalan darah dari Liong Ciang Lie-Kian Poo serta Hauw Jiauw Pouw Toa Tong saat ini mereka berdiri sejajar.

enam pasang mata dengan amat tajamnya memperhatikan seluruh gerak gerik dari Liem Tou diantara mereka tak ada seorangpun yang mengucapkan kata kata.

Liem Tou yang baru saja kena semprot oleh kata kata Oei Poh dan maksud baiknya didalam sekejap sudah berubah jadi ikatan dendam didalam hati merasa amat sedih.

Didalam hal ini dia sendiripun ada hal hal yang menyulitkan dirinya.

bilamana bukannya dia sudah menerima permintaan dari Pouw Jien Coei tempo hari mungkin pada saat ini tubuh Si Ang in Sin Pian sudah hancur lumur terkena serangannya.

Liem Tou benar benar merasa kebingungan air mukanya berkali kali berubah sedang tubuhnya dengan tiada hentinya berjalan bolak balik, diantara mayat lelaki berbaju hitam yang menggeletak, diatas tanah itu.

terhadap diri si Ang In Sin Pian, Liong Ciang.

Hauw Jiauw serta keenam orang anak buah-nya dia orang sama sekali tidak ambil perduli.

Sebaliknya Si Ang In Sin Pian yang melihat sikap dari Liem Tou ini pun didalam hati merasa berdebar debar harapan untuk hidup yang semula terkandung dihatinyapun kini telah lenyap tak berbekas, Setiap kali Liem Tou melewati dihadapan mereka, tidak kuasa lagi dihati mereka merasa bergidik apalagi diri Ang In Sin Pian, dia semakin tidak berani berkutik, Suasana diseluruh ruangan rumah penginapan itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

bahkan secara samar samar membawa rasa tegang yang mencekam hati setiap orang.

Mendadak Si Ang In Sin Pian mendengar Liem Tou sambari berjalan bolak balik.

mulutnya tiada hentinya bergumam seorang diri.

"Hutan Belantara lebat bagaikan sutera. Gunung Bersalju membawa kepedihan di-hati "

Belum ssmpat dia memikirkan maksud dari dua patah syair yang dibaca olsh Liem Tou ini mendadak Liem. Tou sudah berhenti ber-gerak.

"Hey orang she Pouw kenapa kalian tidak cepat cepat menggelinding keluar dari sini ?"

Bentaknya sambil putar badannya.

"Ayoh cepat menggelinding pergi dari sini, semakin jauh semakin baik ..ayoh cepat menggelinding dari sini ..!"

Walaupun Si Ang In Sin Pian merasa terkejut atas kegusaran dari Liem Tou ini, tetapi terhadap kata kata menggelinding bagaikan mendapat karuniah dari kaisar dengan cepat dia maju kedepan mcnutup kembali peti petinya kemudian mengapai memberi tanda kepada anak buahnya yang sedang bersembunyi dipojokan tembok untuk menggotong pergi.

Pada saat ini Liong Ciang serta Hauw-Jiauw pun sudah pada berbuat meloncat keluar dari pintu penginapan itu, baru saja si Ang In Sin Pian hendak menyusul kawan kawannya mendadak terdengar Liem Tou kembali membentak dengan suara yang amat keras.

"Tunggu sebentar."

Dalam hati Si Ang In Sin Pian merasa nyalinya jadi pecah.

"Aduh celaka"

Teriaknya didalam hati.

"bagaimana juga kali ini aku tidak boleh berhenti."

Bukannya dia menghentikan gerakannya sebaliknya tenaga murni yang disalurkan ke arah kakinya diperlipat ganda kemudian dengan sekuat tenaga dia meloncat keluar dari pintu.

Siapa tahu baru saja badannya menerjang keluar pintu, belum sempat ujung kakinya menempel tanah Liem Tou yang ada dibelakang badannya sudah tertawa terbahak bahak, bersamaan pula dia merasakan lehernya amat sakit sekali.

Terlihatlah tubuh Ang In Sin Pian sudah kena dicengkeram kembali oleh Liem Tou dan dibanting keatas tanah.

"Hey orang She Pouw!"

Bentaknya dengan gusar "Hari ini aku masih menghormati kau sebagai seorang Cung cu!

Hmmm!

Terus terang saja aku beritahu padamu, bilamana bukannya ini hari Jien Coei cici memohon kepadaku sekalipun kau mempunyai sepuluh orang Ang In Sin Pian tidak bakal kau bisa meninggalkan tempat ini didalam keadaan hidup.

Heee....heee ...malam ini anggap saja kau merasakan keuntungan atas jasa putrimu!

Tetapi kau jangan keburu girang hati.

pada tanggal empat bulan duapuluh yang akan datang aku akan tangkap dirimu untuk diserahkan kepada diri Oei Poh.

kau sudah dengar jelas??

Nah sekarang cepat menggelinding pergi dari sini!"

Mendadak kakinya melancarkan satu tendangan kilat menghajar pantat Ang In Sin-Pian sehingga terguling guling diatas tanah.

Tanpa mengucapkan kata kata lagi dia segera menrangkak bangun kemudian dengan ketakutan cepat cepat melarikan diri terbirit birit dari sana.

Malam ini Liem Tou boleh dikata mendapatkan satu pengalaman yang lain dari pada yang lain terhadap kekejaman serta kelicikan yang ada didalam Bu lim pun dia semakin mengetahui lebih jelas lagi.

hal yang benar benar membuat dia berkesan adalah perbuatan dari si golok naga hijau yang memasukan racun kedalam arak itu hal ini membuat dia orang sejak dari itu menaruh rasa lebih waspada lagi baik terhadap kawan mau pun lawan.

Malam ini dengan membawa rasa mangkel, sedih dan murung Liem Tou berjalan kembali keatas perahunya, terhadap kerbaunya tidak kuasa lagi dia sudah bergumam seorang diri.

"Oooh kerbau koko! aku rasa kau jauh lebih setia dari manusia manusia kau lebih bisa dipercaya dari yang lain! kaulah kawan karibku yang paling menyenangkan!"

Dia orang sama sekali tidak tahu kalau sesaat dia meninggalkan rumah penginapah itu kembali tampak seorang jagoan berpakaian serba hitam yang dengan terburu buru memasuki rumah penginapan itu dan khusus memeriksa mayat mayat yang menggeletak diatas tanah itu setelah diperiksanya dengan teliti akhirnya dia menghela napas panjang dan bergumam.

"Oooh Liem Tou..adik Liem, ternyata kau sungguh sungguh mendengarkan perkataan dari cicimu, aku Pouw Jien Coei benar benar merasa berterima kasih sekali terhadap dirimu."

Selesai berkata dengan tergesa gesa dia meninggalkan rumah penginapan itu dan meloncat keatas atap untuk kemudian lenyap di tengah kegelapan.

Keesokan harinya Liem Tou yang dalam hati masih murung segera membatalkan niatnya untuk menjalankan sang perahu menuju kearah Cing Shia.

dia takut dimasa ini banyak jago yang pergi ke Cing Shia dan menemui dirinya karena itu selama seharian penuh dia terus menerus mengurung dirinya di dalam perahu.

Menanti malam hari sudah menjelang baru menghembuskan napas lega dengan perlahan mulai berjalan keatas geladak dan mandang kearah perahu yang sudah mulai membuang sauh, pikirnya dalam hati.

"Asalkan cuaca sudah menggelap aku segera akan menjalankan perahu melanjutkan perjalanan."

Pada saat itulah ditengah cuaca magrib yang mulai menggelap mendadak dari tengah udara berkumandang datang suara pekikan burung yang amat nyaring sekali.

"Aaaah bukankah itu suara pekikan burung rajawali?"

Pikirnya dengan terkejut.

Dengan cepat dia mendongakkan kepalanya keatas, terlihatlah diantara remang-remangnya cuaca tampaklah beribu ekor burung elang bersama sama terbang mendatang bahkan yang aneh burung burung elang itu ternyata-terbang dengan amat rapi dan teratur sekali seperti sengaja diatur demikian.

Liem Tou yang berdiri diujung perahu diam diam merasa kagum juga terhadap ke-rapian kawanan burung elang itu.

belum sempat pikiran yang kedua mendadak sepasang matanya yang amat tajam kembali dapat melihat dibelakang burung elang itu terbang mendatang tiga ekor burung rajawali yang amat besar sekali menembus awan dan berada di belakang barisan.

Diatas burung rajawali raksasa itu secara samar samar dapat dilihat duduk tiga orang, dua orang yang ada disamping memakai baju warna merah dan putih sedang yang ada di tengah memakai baju berwarna biru.

Melihat kejadian itu seketika itu juga Liem Tou jadi sadar kembali.

"Aaaah . .. kiranya dia orang!' pikirnya dihati. .Thian Pian Siauw cu ternyata benar amat gagah dan berwibawa sekaii, tetapi entah siapakah orang yang memakai baju warna merah serta putih itu??"". Didalam sekejap saja kawanan burung burung lang itu sudah lenyap dari pandangan, cuaca pun mulai menggelap. Lampu penerangan mulai bersinar dari antara perahu perahu yang membuang sauh, dengan seorang diri Liem Tou diam diam menjalankan perahunya ketengah sungai kemudian dengan mengerahkan tenaga dalam-nya dia mulai menjalankan perahunya, Dari daerah Chuan Tiong melalui kota Hong Kiat memasuki daerah Chuan Si dan tiba dibawah gunung Cing serta dengan melalui jalan air ada seribu lima ratus li jauhnya, walaupun kecepatan perahu Liem Tou bagaikan terbang tetapi bukannya bisa ditempuh hanya didalam sehari semalam saja, Keesokan harinya Liem Tou menghentikan perahunya ditengah sungai untuk istirahat, untuk kemudian pada malam harinya kembali menjalankan perahunya memasuki pegunungan Cing Shian.

"Aaaah..kentongan keempat baru saja berlalu. kentongan kelima belum tiba"

Pikir Liem Tou kemudian sembari memandang keadaan cuaca.

"Bagaimana aku melakukan perjalanan lebih cepat lagi mungkin masih bisa tiba digunung Ha Mo San, dibelakang gunung Ha Mo San terdapat banyak sekali tempat persembunyian. kenapa aku tidak pergi saja kesana??"

Ketika teringat akan kerbaunya yang sudah ada dua hari tidak makan dengan cepat dia masuk kedalam gudang perahu untuk mengambil rangsum kemudian sambil menuntun kerbaunya dia mendarat dan mulai naik keatas gunung.

Tidak lama kemudian sungai kematian di bawah gunung Ha Mo San sudah terbentang didepan mata, teringat dua tahun yang lalu bilamana dia hendak berhubungan dengan Lie Siauw Ie harus mengirim kode kode dari sini tidak terasa dengan sedihnya dia menghela napas panjang.

Semakin berpikir pikirannya semakin terjerumus kedalam lamunan.

lama kelamaan dia berdiri termangu-mangu disana tak bergerak..

Dengan cepatnya kentongan kelima berlalu, sinar sang surya mulai memancarkan sinarnya dari ufuk sebelah timur..."

Mendadak dari puncak gunung Cing Shia yang berkumandang datang suara pekikan burung elang yang amat tajam menembus awan, diikuti terbangnya burung elang mengelilingi seluruh kalangan.

"Eeei ada urusan apa?"

Pikir Liem Tou tersadar kembali dari lamunannya.

"Apakah Thian Pian Siauw-cu hendak menggunakan burung elangnya untuk menantang perang? bila mana dia orang hendak menggunakan binatang binatang itu untuk menghadapi orang-orang Bu lim yang lain mungkin masih bisa membawa hasil tapi untuk menghadapi diriku bukankah hanya akan mengorbankan beberapa burung elangnya saja?."

Ketika dilihatnya cuaca mulai terang dia jadi terkejut, dia tahu bilamana pada saat ini tidak cepat cepat naik gunung, maka menanti setelah terang tanah dia akan diketemukan oleh orang lain, karenanya tanpa berpikir panjang lagi dia segera memukul pantat kerbaunya.

"Ayoh cepat jalan, waktunya sudah tidak ada seberapa lagi."

Dengan cepat dia meloncat naik ke atas panggung kerbaunya, sepasang kakinya mengempit perutnya sedang sepasang tangan-nya memegang kencang tanduknya, sekali lagi bentaknya.

"Ayoh jalan."

Kerbau itu segera mendengus panjang, sepasang kakinya segera menjepak kebelakang deagan kecepatan yang luar biasa segera menerjang kearah sungai.

Kejadian aneh segera berlangsung dihadapan mata, ternyata kerbau itu dengan amat mudahnya berhasil menyeberangi sungai itu tanpa rintangan apapun bahkan kecepatannya tidak berkurang.

Hanya didalam sekejap saja Liem Tou sudah berhasil melewati sungai lalu disusul menerjang kearah tebing maut yang dilewati hanya didalam sekali loncatan saja dan ter-akhir jembatan Pencabut nyawa.

Setelah melewati Pencabut nyawa Liem Tou baru meloncat turun dari atas punggung kerbau dan menerobos masuk kebawah perutnya.

setelah itu dia menjalankan kembali kerbaunya masuk kedalam perkampungan.

Dari tempat kejauhan dia dapat melihat orang orang dari perkampungan Ie Hee Cung sudah pada bangun dan ada beberapa orang yang sedang membersihkan halaman.

Mendadak suatu ingatan berkelebat didalam benak Liem Tou, pikirnya.

"Aku harus menggunakan cara apa untuk melewati perkampungan ini untuk menuju perkampungan sebelah belakang ?"

Baru saja dia sedang ragu-ragu mendadak dari bawah tebing secara samar samar ber-kumandang datang suara dari Si Ang In Sin Pian Pouw Sak San.

"Kali ini kita kembali kedalam perkampungan, pertama tama melakukan pekerjaan itu dulu, nanti malam pada kentongan kedua semua orang harus sudah hadir didepan rumah keledai tua itu,"

Ujarnya.

Liem Tou yang mendengar perkataan itu cari Ang In sin Pian itu tidak lagi mengartikan kata katanya tersebut lebih mendalam, saat ini yang pcnting buatnya adalah menyembunyikan diri beserta kerbau yang besar itu.

Pada saat ini Liem Tou sedang merasa cemas uatuk mencari tempat persembunyian itulah mendadak tcrdengar suara dari Ang In Sin Pian"

Pouw Sak San berkumandang lagi.

"Didalam beberapa hari ini Liem Tou bangsat cilik ini pasti bisa kembali ke perkam pungan. sampai waktu itu apakah kita benar benar mau bersembunyi dan tidak menemui dirinya? Sekarang juga lebih baik kita merundingkan cara cara untuk menghadapi dirinya dikemudian hari."

Terhadap beberapa perkataan itu Liem Tou dapat mendengar dengan amat jelas sekali.

jika ditinjau dari kata-katanya yang terakhir itu jelas untuk sementara waktu mereka tak mau naik keatas tebing sedang dirinya masih ada kesempatan untuk melewati tebing itu.

Tetapi bukannya pergi dia malah ingin mendengarkan percakapan mereka lebih lanjut.

saat itu terdengar "Hauw Jiauw"

Pouw Toa long sudah berbicara.

"Bukankah Cung cu sudah mengirim Siauw Ling untuk mengundang suhu dari Cung cu??? Aku lihat lebih baik kita rundingkan soal ini setelah dia orang tua tiba saja, sekarang kita harus mengurusi pekerjaan itu terlebih dulu agar ..Liem Tou bisa dibikin setengah percaya setengah tidak dan kita pun untuk sementara dapat menghindar dari tangan jahat nya, setelah suhu dari Cung cu datang kita bersama sama membasmi dirinya."

"Perkataan dari Toa Tong Loo-te sedikit-pun tidak salah !"

Sahut Si Ang In Sin Pian mengangguk.

"Bagaimana dengan maksud Kian Poo heng??"

"Semuanya terserah pada maksud hati Cung cu, Kian Poo tidak mempunyai maksud yang lain, tetapi aku ada satu perkataan entah maukah Cung cu mendengarkannya??"

"Ada perkataan apa silahkan Kian Poc-heng berbicara."

Ujar Ang In Sin Pian dengan cepat.

"Kau dengan aku sudah menjadi satu badan, ada perkataan kenapa tidak langsung diucapkan saja?? Apa lagi perkembangan Ang In Piauw kiok selama satu tahun inipun semuanya berkat bantuan dari Toa Tong te sekalian. Siauw te sejak kapan tidak mau mendengar omongan kalian??"

"Perkataan dari Cung cu terlalu memberatkan Siauw te"

Sahut Lie Kian Poo merendah, ,.Ada budi apa yang aku Kian Poo berikan kepada Cung cu sehingga memperoleh pujian yang begitu tinggi??

perkataan yang hendak Siauw te ucapkan itu harap Cung cu suka jangan marah.

Aku ingin setelah urusan ini dibikin beres harap Cung cu suka mengijinkan aku Kian-Poo untuk tetap tinggal dirumah saja."

Liem Tou yang seeara diam diam mendengar perkataan dari Lie Kian Poo ini segera mengangguk, pikirnya.

"Diantara orang orang ini. Paman Kian Poo adalah orang yang paling jujur dan baik hati, dia berbicara demikian sudah tentu disebabkan melihat tindak tanduk yang tidak beres dari Cung cu, aku lihat orang ini patut dikasihi dan dihormati."

Lama sekali dia termenung berpikir keras, mendadak dengan perasaan yang amat terkejut Liem Tou memasang kuping lagi.

"Celaka,"

Pikirnya.

"Ang In Sin Pian adalah seorang manusia yang licik dan kejam"

Paman Kian Poo sudah ada beberapa tahun mengikuti dirinya sudah tentu terhadap segala tindak tanduk Cung cu dia tahu jelas, apa mungkin Ang In Sin Pian mau melepaskan orang yang ada kemungkinan mendatangkan bahaya buatnya??

perbuatan Paman Kian Poo ini bukankah sudah melanggar pantangannya yang terbesar?"

Baru saja dia berpikir sampai dlsitu terdengar Ang In Sin Pian sudah bertanya kembali.

"Apa maksud dari perkataan Kian Poo heng ini? apakah kau sungguh-sungguh sudah mengambil keputusan untuk berbuat demikian ?"

Liem Tou yang mendengar Ang In Sin Pian bertanya demikian dia segera tahu kalau dia orang tidak bermaksud baik.

tetapi walau pun sudah ditunggu agak lama tidak terdengar juga suara jawaban dari Lie Kian Poo.

"Lie Kian Poo."

Terdengar Ang In Sin Pian dengan gusarnya membentak.

"Aku tanya padamu selama ini aku Pouw Sak San apakah pernah melupakan dirimu kenapa tak ada angin tidak ada hujan kau punya maksud untuk berbuat begitu ? apa mungkin ..."

Belum habis dia berbicara terdengar si-Liong Ciang Lie Kian Poo sudah memotong dari tengah.

"Harap Cung cu jangan menaruh banyak rasa cuiiga terhadap siauw-te, aku Kian Poo sama sekali tidak mempunyai maksud yang lain. aku cuma merasa kepandaian silatku terlalu rendah ditambah lagi jago jago Bu-lim yang berkepandaian tinggi amat banyak sekali. sedikit tidak waspada akan mcndatangkan kematian buat diri sendiri, bilamana sampai aku mati siapa yang akan melindungi dan memelihara istri dan anak anakku?? Aku sudah mengambil keputusan setelah kembali kedalam perkampungan, aku tidak akan ikut turun gunung lagi."

"Haa .. haa kiranya kau takut mati ..haa.. kenapa tidak kau katakan sejak dahulu ??"

Seru Si Ang In Sin Pian sambil tertawa terbahak-bahak.

"Bilamana sejak dulu kau katakan mungkin aku tidak akan mengundang kau untuk turun gunung."

Perkataan dari Ang In Sin Pian ini bernadakan suatu penghinaan Si Liong Ciang"

Lie Kian Poo yang merupakan seorang berhati lurus mana bisa menahan penghinaan ini ??

Liem Tou tahu bagaimana mereka itu, sampai bergebrak maka jikalau dibicarakan dari soal ilmu silat Lie Kian Poo bukanlah tandingan dari cungcu, dia pasti akan menerima kerugian.

Baru saja Liem Tou merasa kuatir buat keselamatan Lie Kian Poo mendadak terdengar Ang In Sin Pian sudah mengubah nada suaranya.

"Bilamana Kian Poo heng memang sudah nengambil ketetapan untuk berbuat demikian akupun tidak akan terlalu memaksa dirimu"

Ujarnya dengan suara yang halus.

"Baiklah aku akan mengabulkan permintaanmu itu tetapi didalam urusan ini Kian Poo heng harus membantu aku terlebih dahulu."

"Hal ini sudah tentu"

Sahut Lie Kian Poo lengan hati girang.

"Baiklah didalam urusan ini kita tentukan demikian saja ..."

Liem Tou tidak menunggu mereka menyelesaikan pembicaraannya, dengan cepat dia nenerobos masuk kebawah perut kerbaunya dan melarikan sang kerbau kearah perkampungan.

Dia tahu sebentar lagi mereka tentu akan naik keatas tebing.

Hanya didalam sekejap saja Liem Tou sudah tiba didalam perkampungan, orang-orang kampong yang secara tiba-tiba melihat tempat itu nyelonong keluar seekor kerbau segera berteriak kaget dan pada bubar semua.

XXX "Aduh toiong !

tolong...

tolong, ada kerbau gila lagi ngamuk !"

Teriaknya dengan suara keras.

Suasana jadi amat kacau sekali, suara teriakan memenuhi angkasa sehingga mengejutkan penduduk yang lain.

Tetapi belum sempat mereka berbuat sesuatu kerbau itu sudah lari kebelakang perkampungan dan lenyap diantara batu batu yang tersebar ditempat itu.

Dengan cepatnya Liem Tou serta kerbau itu berlari kearah gunung sebelah belakang perkampungan, keadaan disana dia sudah hafal seperti melihat jari tangannya sendiri, dengan cepatnya dia berhasil memperoleh tempat persembunyian yang amat bagus.

Walaupun begitu hatinya terus menerus muram kuatir pula atas keselamatan dari Lie Kian Poo serta maksud Si Ang Sin Pian kemball kedalam perkampungan kali ini??

Pouw Siauw Ling pergi mengundang suhunya yang bukan lain adalah si penjahat naga merah.

kapan mereka sampai disitu???

Mendadak dia teringat kembali akan kata-kata dari Si Ang In Sin Pian yang mengatakan hendak berkumpul didepan kuburan keledai tua itu pada kentongan kedua.

"Siapakah yang ditunjuk Cung cu sebagai keledai tua itu?"

Pikirnya didalam hati. Mendadak bagaikan kena strom badannya menggigil dengap amat kerasnya, secara tiba-tba dia sadar kembali.

"Apakah mereka hendak pergi kedepan kuburan ayahku? Kali ini mereka kembali ke atas gunung apakah dikarenakan urusan ini? Pikirnya lagi dihati.

"Apakah maksud hatiku sudah diketahui pihaknya?"

Urusan dengan perlahan menjadi jelas lagi, Liem Tou merasakan hatinya seperti diiris-iris, dia merasa gemas dan benci sekali ...

dia ingin sekarang juga pergi mengorek keluar dari hati Si Ang In Sin Pian.

Pada saat itulah mendadak Liem Tou mendengar dari dalam perkampungan berkumandang suara tangisan yang sedih sekali suara tangisan itu serak dan membuat hati orang kacau, diikuti suara langkah orang yang amat banyak berjalan mendatang, agaknya penduduk perkampungan Ie Hee Cung pun ikut berkumpul menjadi satu bahkan kerbaunya pun ikut mendengus tiada hentinya.

Liem Tou jadi merasa terkejut bercampur heran, dia dapat mengetahui kalau suara tangisan itu berasal dari diri Lie Siauw Ie, dia mengerti Lie Siauw Ie tentunya sudah pulang ke perkampungan dan menemukan ibunya sudah meninggal sehingga tidak tertahan lagi dia menangis dengan amat sedihnya.

Liem Tou setelah mengetahui kedatangan dari Lie Siauw Ie hatinya merasa terharu bercampur sedih dia kepirgin sekali pergi untuk menghibur dirinya tetapi keadaan disekitar tempat itu tak mengizinkan saat ini dia hanya dapat mendongak keatas untuk berdoa bagi keselamatan dari Lie Siauw Ie.

Pada saat itulah suara hiruk pikuk dari orang orang kampung semakin santar lagi, bahkan secara samar samar terdengar pula ada orang yang mulai berteriak teriak.

"Ayoh pergi cari balas dengannya. kita tidak mau Cung cu seperti dia ! Nafsunya terlalu besar dia tak cocok untuk dijadikan sebagai Cung cu dari perkampungan Ie Hee Cung !"

"Betul kami ingin hidup aman dan tenteram"

Teriak yang lain pula, Kita tak mau mencampuri urusan kekerasan ..".

dia telah-membawa kaum perampok dan bajingan bajingan Bu-lim datang kedalam perkampungan menggunakan uang kita untuk mencari kesenangan buat dirinya sendiri.

, .

ayoh cepai kita usir dia pergi dari sini cepat kau usir dia dari dalam perkampungan, dia adalah bibit bencana dari perkampungan Ie Hee Cung kita,"

Liem Tou sama sekali tidak menduga bila peududuk dari perkampungan Ie Hee Cung sebetulnya menaruh rasa dendam terhadap diri Ang in Sin Pian, dia menduga kalau kemarahan dari penduduk ini tentunya dikarenakan rasa terharu mereka melihat keadaan diri Lie Siauw Ie dan membantu diri Lie Siauw Ie untuk menuntut balas terhadap diri si Ang In Sin Pian, Liem Tou tahu bilamana Lie Siauw Ie sudah melancarkan gerakan ini dia tidak dapat bersembunyi lebih lanjut dia harus pergi memeriksa lebih jelas lagi.

Baru saja pikiran ini berkelebat dari dalam benaknya mendadak dari arah depan berkumandang datang suara langkah mamisia yang amat ramai sekali.

untuk sementara ia mengesampingkan pikiran tersebut.

dia akan melihat siapakah yang begitu menganggur datang kearah batu batu yang tersebar ini.

Suara langkah kaki itu semakin lama semakin mendekat.

bahkan kedengaran tidak hanya seorang saja dan arah yang dituju bukan lain adalah tempat persembunyiannya.

Mendengar suara langkah manusia tersebut Liem Tou jadi benar benar kuatir, dia takut tempat persembunyiannya diketahui oleh pihak musuh.

Tapi sebentar saja rasa takut itu sudah lenyap dari dalam hatinya, orang itu menghentikan langkahnya.

"Wan jie"

Terdengar salah seorang diantaranya membuka bicara.

"Secara diam diam kau pergilah melindungi dirinya sehingga dia orang tidak sampai menemui bencaia. Kemarin malam Ke Hong sudah datang kemari dengan membawa binatang binatang berbulunya, sekarang juga aku mau pergi memeriksa dia orang sebetulnya sedang mempersiapkan permainan apa lagi? Masih ada lagi jagoan aneh itu selama ini aku tak pernah melupakan dirinya aku rasa saat ini dia pun tentunya sudah tiba ditempat ini,"

Liem Tou segera bisa membedakan kalau orang yang sedang berbicara ini bukan lain adalah si cangkul sakti Lie Sang beserta putrinya Wan Giok tentu mereka datang kemari bersama sama dengan Lie Siauw Ie.

"Tia silahkan kau pergi dari sini, tetapi harus lebih berhati hati lagi,"

Sahut si gadis cantik pengangon kambing cepat.

"Nanti malam aku menanti kedatangan Tia ditempat ini ! sekalian harap Tia suka memeriksa apakah Liem Tou koko sudah tiba disini ataukah.."

"Wan jie !"

Terdengar Lie Loo jie berbicara sambil tertawa.

"Beberapa hari ini kau tidak enak tidur, agaknya engkau merindukan diri Liem Tou ..apa mungkin kaupun sudah menaruh ..." ^ "Tia!"

Tidak menanti ayahnya selesai bicara si gadis cantik pengangon kambing sudah memotong.

"Kau jangan mengejek putrimu lagi, didalam hati engkoh Liem cuma ada enci Ie seorang saja, mana mungkin diapun menaruh hati kepadaku ?? Tia ! lebih baik engkau cepat pergi dari sini !"

"Haa ..Wan jie ! ada perkataan kenapa tidak kau katakan terus terang saja kepadaku?"

Ujar Lie Loo jie lagi sambil tertawa.

"Jika didengar dari perkataanmu tadi terang terangan kau menaruh hati kepadanya, bilamana kau sungguh sungguh ..."

"Tia! bilamana kau teruskan lagi kata katamu aku akan segera pukul kau orang tua, kau masih tidak pergi juga ?"

Potong si gadis cantik pengangon kambing kembali dengan manjanya.

"Sekalipun kau harus pukul aku dua kali, akupun akan menghabiskan dulu perkataan-ku."

"Tia! terima seranganku!"

Bentak si gadis cantik pengangon kambing dengan nyaring setelah mendengar perkataan tersebut.

Tidak lagi Liem Tou segera mendengar datangnya angin pukulan yang menyambar, agaknya si gadis cantik pengangon kambing benar benar sudah melancarkan serangannya mengancam badan Lie Loo jie.

Lie Loo jie segera tertawa terbahak bahak tiada hentinya.

"Haaa haaa,...Liem Tou adalah putra dari Liem Cong sute itu si pancingan emas sakti, sekarang dia tiada sanak tidak keluarga sudah tentu cuma aku sebagai supeknya saja yang bisa bertindak sebagai walinya, menanti setelah kita selesai menemui Ke Hong dipuncak pertama gunung Cing Shia dan melenyapkan rasa malu dari Tia, bilamana kau punya maksud. hee..Wan jie! terus terang saja aku katakan asalkan kau suka mohon kepadaku, aku tentu akan menjodohkan dirimu kepadanya bersama sama dengan Ie jie. Omong yang benar saja bocah itu memang tidak jelek "

Liem Tou yang mendengar perkataan yang setengah guyon setengah sungguhan dari Lie Loo jie serta sigadis cantik pengangon kambing itu didalam hati merasa berterima kasih bercampur geli, didalam kolong langit pada saat ini mana ada seorang ayah yang berguyon secara demikian dengan putrinya?

Dari hal ini saja sudah jelas memperlihatkan kalau hubungan antara Lie Loo jie dengan si gadis cantik pengangon kambing sekalipun adalah ayah beranak tetapi boleh dikata juga merupakan sahabat yang paling erat.

Mendadak Liem Tou teringat kembali akan pengalamannya semasa kecil yang penuh derita dan aniaya itu, saat ini melihat sikap yang begitu mesra antara Lie Loo jie dengan si gadis cantik pengangon kambing mengingatkan dia akan ayahnya yang sudah mcninggal.

hati jadi terasa terkejut titik titik air mata mulai mengucur keluar membasahi pipinya.

Tiba tiba dia menjejakkan kakinya sehingga badannya meloncat keatas setinggi tujuh delapan kaki kemudian setslah bersalto beberapa kali segera menubruk kearah sigadis cantik pengangon kambing serta Lie Loo-jie.

Lie Loo jie yang sekonyong konyong merasakan adanya angin sambaran yang menerjang kearahnya tanpa melihat lebih jelas lagi terburu-buru dia mundur dua langkah kebelakang, telapak tangannya disilangkan di depan dada siap siap menghadapi sesuatu.

"Siapa?"

Bentaknya dengan keras.

"Liem Tou menghunjuk hormat buat supek!"

Sahut Liem Tou sambil jatuhkan dirinya berlutut.

Lie Loo jie yang melihat munculnya Liem Tou secara tiba tiba ditempat itu didalam hati merasa amat girang sekali.

dengan cepat dia maju memegang pundak keponakan-nya lantas menariknya bangun.

"Aaah ..ha ..kiranya kau orang!"

Teriak nya sembari tertawa terbahak bahak.

"Kapan kau datang kemari?"

Wah ..Wah .. hampir hampir membuat aku mati saking terkejut!"

Mendadak dia melihat wajah Liem Tou di penuhi titik titik air mata yang membasahinya. dia jadi terkejut.

"Eeei . .! Hiantit! setelah bertemu dengan aku kenapa kau malah menangis ?"

Teriaknya tertahan.

"Apakah sudah terjadi suatu urusan yang berada diluar dugaan? cepat kau beritahukan kepada Supekmu!"

Si gadis cantik pengangon kambing yang masih polos dan berhati kekanak kanakan sewaktu melihat Liem Tou menangis dengan begitu sedihnya.

dari dalam saku dia lantas mengambil keluar secarik sapu tangan dan diangsurkan kepadanya.

"Engkoh Liem, baru untuk pertama kalinya aku melihat kau orang menangis!"

Ujarnya sambil tersenyum.

Mendengar perkataan tersebut Liem Tou segera teringat pula atas pembicaraan antara Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing baru baru ini, tidak terasa wajah-nya sudah berubah memerah dan lagaknya amat kikuk sekali.

Dengan cepat dia mengucapkan terima kasih dan menerima pemberian sapu tangan itu untuk menghapus kering air mata yang membasahi pipinya lalu dengan malunya dia kirim satu senyuman kepada Lie Loo jie serta putrinya.

"Supek!"

Tiba tiba wajahnya berubah jadi keren dan serius kembali.

"Kalau memangnya sejak dulu kau sudah tahu akan asal usul keponakanmu kenapa tidak kau katakan sejak semula ? dahulu keponakanmu pernah berbuat kurang ajar terhadap diri Supek, Supek, maaf kan atas dosa dosa keponakanmu itu ?"

"Haa .. ha .. buat apa aku cepat cepat beritahu padamu ?"

Tanya Lie Loo jie dengaa wajah penuh senyuman kegirangan.

"Sekalipun aku beritahu padamu sejak semula lalu apa kegunaannya? hee...hee 1 ..bukankah kau melihat sendiri sedikit terlambatnya pun tidak mengapa. bukan begitu? haaa .. ha .."

Air muka Liem Tou berubah jadi sangat sedih sekali, alisnya dikerutkan rapat rapat, sedang wajahnya murung, dengan sedih dia gelengkan kepalanya.

"Bukannya begitu Supek, tahukah kau orang tua bagaimana ayahku menemui ajalnya? aku rasa didalam hai ini … "

Serunya ragu ragu.

Belum habis berbicara dia sudah menarik kembali kata katanya.

Lie Loo jie yang mendengar dia memotong pembicaraan ditengah jalan, dengan sepasang mata yang terbelalak besar dan mengandung rasa terperanjat segera melototi dirinya tak berkedip.

Dengan perlahan lahan Liem Tou menghela napas panjang kembali, ujarnya lagi.

"Sekarang peristiwa ini belum sempat keponakanmu selidiki dengan jelas, harap Supek suka memaafkan akan perbuatan dari keponakanmu ini"

"Hian tit. bila kau ada perkataan ucapkanlah sampai habis sikapmu yang setengah dan sama sekali tidak bersemangat ini sungguh merabuat orang lain merasa tak ena& sekali"

Desak Lie Loo jie dengan hati yang kurang senang, Dengan pandangan sedih Liem Tou memandang beberapa saat lamanya kearah diri Lie Loo jie, tidak kuasa lagi titik titik air mata kembali keluar membasahi pipinya.

"Supek,"

Ujarnya dengan perlahan.

"Aku menaruh curiga kalau kematian dari ayahku tidak terlalu wajar, aku punya maksud sebelum kentongan pertama malam ini hendak membongkar kuburan Tia dan mengambil keluar kerangkanya untuk diperiksa"

"Perkataanmu ini apa betul ?"

Teriak Lie-Loo jie dengan suara keras "setelah mendengar perkataan tersebut, agaknya dia merasa agak kaget.

Liem Tou segera mengangguk.

Pada saat itulah suara hiruk pikuk serta teriak teriakan makian dari dalam perkampungan berkumandang semakin santar lagi bahkan secara samar samar terdengar suara makian dari Lie Siauw Ie yang keras, jelas ditempat itu sudah terjadi suatu demontrasi anti cungcu mereka ...

Didalam hati tiba tiba Liem Tou memikirkan akan sesuatu, cepat cepat ujarnya kepada Lie Loo jie.

"Sebab sebab kematian ayahku malam ini juga bisa diketahui jelas, bilamana dugaan dari keponakanmu tidak salah maka pembunuh yang sebetulnya adalah Pouw Sak San itu Cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung. Saat itu kau mau bunuh dia bahkan Thiat-Bok Thaysu serta si penjahat naga merah tidak bisa dikesampingkan keluar. Saat ini enci Ie sedang menemui kesulitan, bersama sama dengan Wan moay moay aku kesana untuk lihat lihat, Supek! lebih baik kaupun pergi memeriksa keadaan dari Thian Pian Siauw cu, sutitmu disini mohon diri dulu!"

Lie Loo jie yang secara tiba tiba disadarkan oleh perkataan dari Liem Tou ini seperti baru saja sadar dari impian dengan cepat dia menjerit tertahan.

"Aaaah. benar, benar!"

Serunya keras."

Bilamana bukannya Hian tit yang msmberi peringatan hampir hampir aku melupakan akan tugasku ini.

eeei ooooh yaah kalau begitu semua geguyonku dengan Wan jie tadi tentu dapat kau lihat dan dengar semua bukan?"

Sehabis berkata mendadak dia putar kepalanya kirim satu muka setan kepada diri Si gadis cantik pengangon kambing kemudian sambil tertawa terbahak bahak ujung kakinya menutul permukaan tanah dan meloncat ketengah udara.

diantara bergeraknya badan dia sudah mencapai sejauh puluhan kaki, kemudian disusul dengan beberapa kali tutulan tubuhnya lenyap dari pandangan.

Si gadis cantik pengangon kambing yang digoda oleh ayahnya pada saat ini dengan rasa kikuk menundukkan kepalanya tidak bergerak, wajahnya yang cantik halus dan menarik itu kini sudah berubah memerah seperti kepiting rebus, lama sekali dia tidak berani memandang diri Liem Tou.

"Wan moay mari kita pergi !"* Akhirnya Liem Tou yang mengajak dia berlalu. Tangan kirinya segera disambar kedepan menarik pergelangan tangannya kemudian berlari menuju kearah perkampungan Ie Hee Cung. Hanya didalam sekejap saja mereka sudah mendekati perkampungan itu sedang suara hiruk pikuk dari penduduk kampung serta suara makian dari Lie Siauw Ie pun semakin lama semakin jelas didengar. Terdengar Lie Siauv Ic dengan amat gusarnya sedang berteriak memaki.

"Pouw Sak San ! ayoh cepat menggelinding keluar dari tempat ini. kau tidak pantas untuk menjabat sebagai Cung cu dari perkampungan Ie Hee Cung ini, bila kau terus terusan begini tidak sampai dua tahun lagi kami penduduk perkampungan Ie Hee Cung dari ke luarga Lie dan keluarga Pouw bakal menjadi miskin karena pemerasanmu. Heey Pouw Sak San! buat apa kau mendirikan loteng pengintai dan tembok benteng ? kenapa kau gunakan uang rakyat untuk digunakan sendiri ? kau binatang tak berperi kemanusiaan kau sudah menyebabkan kematian ibuku. ini hari jikalau aku tidak bacok separoh otak dan separuh nyawamu rasa mangkel dihatiku tidak akan padam untuk selamanya."

Liem Tou yang melanjutkan perjalanannya sambil menarik tangan si gadis cantik pengangon kambing, sewaktu mendengar suara makian dari Lie Siauw Ie itu ujarnya.

"Wan moay moay coba kau dengar enci Ie sungguh galak sekali, coba kau pikirlah dia mau bacok separoh otak dan separoh dari nyawanya. Waah ..bagaimana caranya kalau dikerjakan ?"

Selama ini si gadis cantik pengangon kambing membiarkan Liem Tou menarik dirinya untuk melakukan perjalanan tak sepatah kata pun diucapkan, kini diapun tidak menjawab dia cuma mengirim satu senyuman mesra ke arahnya.

Tidak lama kemudian mereka berdua sudah tiba ditengah pepohonan dibelakang perkampungan itu Liem Tou segera melepaskan diri gadis cantik pengangon kambing dan meloncat naik keatas pohon.

Dengan melewati sederetan rumah tampak lah ditengah sebuah lapangan yang luas didepan perkampungan tersebut berkerumunlah seluruh penduduk perkampungan Ie Hee Cung sembari berteriak teriak, tepat berada didepan pintu sebuah bangunan megah dan jelas sekali tampak Lie Siauw Ie dengan memakai baju putih dan menyandang pedaug sedang memaki dan mengolok olok.

"Wan moay cepat kemari !"

Ujar Liem Tou cepat cepat sambil menggape diri si gadis cantik pengangon kambing.

"Kegagahan dari enci Ie sangguh mirip dengan seorang enghiong yang sudah banyak melakukan jasa terhadap negara"

Si gadis cantik pengangon kambing tersenyum, cuapun dengan cepat loncat naik keatas pohon. Sewaktu melihat sikap serta gaya dari Lie biauw Ie itu dia lalu tertawa.

"Oooow ... sungguh gagah sekali sikapnya !"

Serunya memuji.

"Engkoh Liem. kau rasa bilamana Cung cu itu berani keluar apa kah enci Ie berani menandingi dirinya ?"

"Dibawah pimpinan seorang Jenderal kuat. tiada serdadu lemah, enci Ie adalah anak murid dari supek sudah tentu kepandaian silatnya luar biasa"

Sahut Liem Tou sambil cari tempat yang enak untuk duduk.

.Tetapi di dalam soal tenaga dalam kemungkinan dia masih kalah satu tingkat dari tenaga dalam yang dimiliki Cung cu.

Bagaimanapun juga enci Te baru saja memasuki perguruan sedangkan Cung cu sudah ada sepuluh tahun latihan.

kita harus baik baik melindungi dirinya bilamana nanti dia terdesak !"

"Jikalau demikian adanya. bukankah tantangan bertempur yang dilakukan oleh enci Ie ini sama saja tidak mengetahui kekuatan sediri??"

Seru si gadis cantik pengangon kambing sambil mengerutkan alisnya rapat rapat. Didalam hati Liem Tou pun mempunyai perasaan demikian, dia termenung dan berpikir sebentar, akhirnya jawabnya pula.

"Perkataan dari Wan moay memang sedikit pun tidak salah jika ditinjau dari situasi yang ada dihapan kita sekarang ini jejas enci Ie sudah dibuat gusar oleh karena kematian ibunya, sehingga tanpa terasa lagi dendam dan benci yang selama ini terkandung dihatinya bersama sama ditumpukkan kebadan Cung cu. Menurut penglihatanku, walaupun didalam urusan ini Cung cu tidak bisa lolos dari tanggung jawab tetapi bilamana enci Ie hendak berbuat demikianpun tidak ada gunanya, lebih baik untuk sementara kita suruh dia bersadar sebentar."

Berbicara sampai disini dia menghela napas panjang, kemudian sambungnya lagi.

"Aku lihat demikian saja, lebih baik Wan moay pergi memberi nasehat kepadanya untuk sementara waktu enci Ie bisa menahan sabar. Dengan kemunculanmu ini aku rasa Ang In Cung cu tidak bakal berani keluar karena dia pernah merasakan kelihayanmu asalkan dia tidak berani keluar maka penduduk yang lainpun bisa bubaran dengan sendirinya saat itulah kau boleh pergi menemui enci Ie untuk beristirahat dirumahnya sampai waktunya aku dengan supek pasti akan datang kesana."

Si gadis cantik pengangon kambingpun merasa cara ini adalah cara yang paling bagus dengan cepat dia mengangguk dan meloncat lurun dari atas pohon.

Baru saja berjalan dua langkah mendadak dia berhenti dan menoleh kembali.

"Engkoh Liem,"

Serunya.

"Apakah kau hendak pergi kepuncak pertama gunung Cing Shia untuk mencari ayahku?"

Siapa tahu tempat itu sama sekali tidak terdengar jawaban, ketika dilihat lebih teliti lagi dia baru tahu kalau Liem Tou sejak semula sudah pergi dari sana.

Terpaksa dia cuma gelengkan kepalanya sambil gumamnya seorang diri.

"Sebetulnya engkoh Liem melatih ilmu silat apa toh? kelihatannya ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay sekali sehingga sukar untuk dicarikan tandingannya dikolong langit pada saat ini."

Sembari bergumam dia berjalan mendekati tengah lapangan dimana para penduduk kampung pada berkumpul dan langsung menuju kesamping badan Lie Siauw Ie.

Waktu itu Lie Siauw Ie masih tidak merasa kalau disamping badannya sudah kedatangan seseorang terpaksa si gadis cantik pengangon kambing menepuk nepuk pundaknya untuk menyadarkan dirinya"

"Enci Ie,"

Panggilnya perlahan.

Lie Siauw Ie segera menoleh kebelakang sewaktu melihatnya si gadis cantik pengangon kambing sudah ada disampingnya tampak matanya mulai memerah agaknya dia bermaksud untuk menangis lagi, akhirnya dengan paksakan diri tanyanya.

"Mau apa kau datang kemari?"

Si gadis cantik pengangon kambing segera tersenyum dengan cepat dia tempelkan bibirnya ketelinga Lie Siauw Ie dan membisik-kan sesuatu kepadanya.

Sungguh aneh sekali, mendadak Lie Siauw Ie menarik kembali hawa amarahnya dan mengangguk.

"Hey Pouw Sak San,"

Teriaknya kembali dengan suara yang lantang.

"Ini hari kau tidak berani keluar pintu untuk menemui aku. Hmm! Untuk sementara aku lepaskan satu kali, besok pagi aku akan datang lagi! Hmm!-Hey Pouw Sak San cucu kura kura kau dengar, semua penduduk perkampungan Ie Hee Cung cu sudah tidak menghendaki kau sebagai Cung cu kami lagi, lebih baik kau sedikit cerdik dan cepat cepat menggelinding dari sini!"

Selesai berkata dia segera mengulapkan tangannya membubarkan orang orang kampung lainnya yang pada berkumpul disitu setelah itu bersama sama dengan si gadis cantik pengangon kambing mereka berjalan kembali kerumah yang sudah tidak berpenghuni itu.

Kita balik pada Liem Tou sesudah meninggalkan diri si gadis cantik pengangon kambing.

Pikirnya dihati.

"Perduli bagaimanapun sekarang aku lagi tidak ada pekerjaan. Lebih baik pergi ke puncak pertama Cing Shia saja untuk melihat lihat. Thian Pian Siauw cu yang datang lebih pagi sepuluh hari dari tanggal perjanjian jelas mempunyai maksud maksud tertentu. Bilamana aku bisa mengetahui siasat yang sedang disusun sejak sekarang bukankah lain kali aku bisa melenyapkan pula beberapa kerepotan??". Teringat akan hal ini dengan cepat dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya berlari menuju keatas gunung melalui jalan kecil yang ada dibelakang perkampungan itu-Puncak pertama dari gunung Cing Shia ini terletak ditengah antara tiga puluh lima puncak lainnya disebelah kirinya ada Tiang Jien Hong disebelah kanannya ada Tian Can San. Bilamana kita memanjat sampai puncak teratas dari puncak pertama ini, dari sana bisa dilihat beratus ratus puncak dari gunung Ming pan yang saling sambung menyambung bagaikan ular. keindahan alam dari daerah Sie Chuan pun dapat dilihat bahkan sampai puncak-puncak yang bersalju daerah Si Ie pun secara samar samar dapat dilihat muncul diujung langit. Saat ini bagaikan kilat cepatnya Liem-Tou berkelebat dari gunung Ha Mo San menuju ke gunung Gang san. dihadapannya muncul lagi sebuah gunung yang amat tinggi sekali dan puncak itu adalah puncak pertama. diam diam Liem Tou berpikir.

"Ehmmm apa mungkin Thian Pian Siauw cu sudah pergi?"

Belum habis dia berpikir mendadak tampaklah sesosok bayangan merah dengan amat cepatnya berkelebat datang dan menerjang kearah puncak pertama itu.

Baru saja bayangan merah itu mencapai permukaan tanah mendadak disertai dengan suara pekikan nyaring yang memekikkan telinga, dari empat penjuru puncak berkerumun datanglah beribu ribu ribu ekor burung elang yang bersama sama menubruk bayangan merah itu, Terdengar bayangan merah itu membentak keras, tubuhnya meloncat kembali ketengah udara setinggi dua kaki, Saat ini walaupun Liem Tou berdiri pada puncak yang berlainan tetapi dia dapat melihat bayangan merah itu dengan jelas kiranya bayangan merah itu adalah bukan lain seorang gadis cilik dengan sepasang kuncirnya yang panjang dan hitam.

"Sungguh bagus gerakannya"

Diam-diam pujinya dihati. Tetapi kembali satu ingatan berkelebat dalam benaknya.

"Kawanan elang bersama sama menyerang dari atas dan bawah entah dia hendak menghindarkan dengan cara apa? Belum habis Liem Tou berpikir kawanan elang itu ternyata sudah menarik kembali serangannya, tak terasa lsgi dia tertawa geli pikirnya.

"Ke Siauw cu bisa melatih kawanan elangnya untuk menyerang musuh jelas kepandaiannya amat lihay tetapi untuk menyusun satu barisan elang yang kuat aku rasa dia masih kurang sempurna."

Terlihatlah bayangan merah itu hendak meloncat ketengah udara dan berjumpalitan beberapa kali, belum sempat kakinya mencapai permukaan tanah tiba tiba bembali kawanan elang itu melancarkan serangannya dengan menutup jalan turunnya dan tepat menutup jalan mundur dari bayangan merah itu.

Melihat keadaan itu Liem Tou jadi terkejut pikirnya lagi.

"Hmm. sungguh licik binatang berbulu itu .."

Bersamaan pula diam diam Liem Tou menaruh rasa kuatir pula atas keselamatan dari bayangan merah itu, mendadak bayangan itu menekuk pinggang dengan gaya yang amat luwes dan lincah dia sudah mencabut keluar pedang emasnya yang memancarkan sinar ke emas-emasan kemudian dengan dahysatnya dia melancarkan serangan membentuk dinding pedang yang kuat untuk menahan datangnya serangan kawan burung elang tersebut.

"Ehmmm."

Untung sekali dia mcmiliki pedang lemas"

Kalau tidak bagaimana mungkin dia bisa memberikan perlawanannya?"

Pikir Liem Tou sambil mengangguk. Tetapi dengan berbuat demikian dia cuma bisa melindungi dirinya sendiri tanpa dapat melukai kawanan burung elang."

Jilid 28 SAAT itulah dari tempat kejauhan tiba-tiba berkumandang datang suara teriakan dari seorang bocah ! ,,Suci, aku datang !"

Diantara berkelebatnya sinar keperak-perakan seorang bocah cilik berusia delapan, sembilan tahunan dengan mencekal sebilah pedang perak menubruk dating.

Dengan gerakannya ini maka serangan mereka berdua merupakan satu kerja sama yang baik, dengan cepatnya berpuluh-puluh ekor burung elang sudah berhasil mereka gencet dibawah serangan yang gencar sehingga puluhan elang tersebut terancam keselamatannya.

Pada saat yang amat kritis itulah tiba-tiba dari puncak gunung berkumandang datang suara tertawa panjang yang amat nyaring.

"Liem jie; Peng jie jangan membunuh terlalu banyak !"

Serunya.

Begitu mendenpar suara teriakan, Liem Tou sudah mengenal kalau teriakan itu berasal dari Thian Pian Siauwcu, Kie Hong tetapi dia keheranan jika ditinjau dari nada ucapannya jelas dia sedang memberi ijin kepada kedua orang itu untuk msmperoleh burung-burung elang peliharaannya.

Baru saja Liem Tou berpikir sampai disitu mendadak tampaklah bocah yang disebut sebagai Kiem jie serta Peng jie itu memperkecil kurungan pedangnya sehingga tinggal beberapa depa saja.

Diantara berkelebatnya sinar pedang, suara pekikan ngeri berkumandang memenuhi angkasa.

Berpuluh-puluh ekor burung elang sudah terbabat mati dibawah pedangnya, darah segar memancar keluar dan berceceran diatas tanah sedangkan kawanan elang yang memenuhi angkasa seluas puluhan kaki itu kini sudah kosong melompong.

Begitu mendapat hasil kedua orang bocah itu dengan cepat segera menerjang turun kebawah.

Liem Tou yang berdiri diatas puncak yang kedua tidak dapat melihat bagaimana kelanjutan dari kedua orang yang sudah melayang turun itu, tetapi dari beribu-ribu ekor burung elang yang ikut menerjang pula kebawah dia menduga kalau kawanan burung itu belum menariknya kembali serangannya.

Diam diam dia merasa amat terkejut sama sekali tak terduga olehnya kalau Thian Pian Siauwcu bisa berhasil melatih kawanan burung elang yang untuk menerjang musuh dengan demikian dahsyatnya ...

Pada saat suara burung rajawali berkaok untuk kedua kalinya, kawanan burung elang itu baru menghentikan serangannya dan melayang naik keangkasa.

Kawanan burung elang yang semula menutupi sang surya dengan cepat terbang pergi hingga bersih, suasana diatas puncak pertamapun dengan sendirinya menjadi terang kembali.

Pada saat ini Liem Tou tidak ingin bertemu dengan diri Thian Pian Siauw-cu, dengan cepat dia mengundurkan diri dari sana sambil memikirkan cara-cara untuk menghadapi kawanan burung elang itu.

Mendadak ...terdengar suara dari Lie-Loo jie berkumandang datang dari belakang badannya.

"Hian tit, kaupun sudah datang,"

Serunya perlahan.

"Kelihatannya kawanan burung burung itu sukar sekali untuk dihadapi."

Liem Tou segera menoleh waktu dilihatnya Lie Loo jie berada kurang lebih dua kaki dari arahnya dengan cepat dia melompat kehadapannya.

"Walaupun kawanan burung elang itu ganas tetapi buat supek dan aku rasanya masih belum seberapa msrepotkan"

Jawabnya tersenyum "tetapi bilamana enci Ie serta Wan moay yang diserang ada kemungkinan mereka jadi kalang kabut dibuatnya."

"Perkataan ini sedikitpun tidak salah"

Sahut Lie Loo jie mengangguk.

"Pengalaman Ie-jie serta Wan-jie didalam menghadapi musuh masih terlalu cetek sampai waktunya ada kemungkinan memang bisa menemui kerugian lebih baik mereka berdua disuruh menonton saja disuatu tempat yang aman saat itu bukan saja mereka bisa menonton jalannya pertempuran antara jago jago Bu-lim bahkan keselamatannyapun tidak terganggu, bukankah hal ini amat bagus sekali ?"

Saat ini terhadap Lie Loo jie Liem Tou berlaku sangat normal sekali, dia lantas menyahut tanpa membantah.

Lie Loo jie segera mengalihkan bahan pembicaraannya, menanyakan seluruh keadaannya.

Selesai mendengar penuturan dari Liem Tou ini Lie Loo jie mengangguk.

"Memang seharusnya demikian"

Sahutnya sambil tertawa.

"Selama satu tahun aku tidak bertemu dengan diri Hian tit bukan saja badanmu semakin menginjak dewasa bahkan kepandaian silat serta pengalamanmu pan sudah memperoleh kemajuan beratus ratus kali lipat hal ini patut diberi selamat, patut merasa girang, arwah Kongcu yang ada dialam bakapun tentu akan ikut gembira pula."

Mendengar perkataan itu dengan sedihnya Liem Tou menggelengkan kepalanya.

"Berkat kemujuran dari sutit secara tidak sengaja aku berhasil memperoleh kitab pusaka To Kong Pit Liok"

Ujarnya dengan sedih.

"Kemungkinan semuanya itu pun berkat perhatian dari supek, enci Ie serta Wan-moay pada masa yang lalu, eey ! seharusnya aku mengucapkan terima kasihku kepada kalian semua, tentang pengalaman didalam Bu-lim sutit rasa masih terlalu cetek, lain kali harap supek suka banyak memberi petunjuk"

"Ha ha Sutit, kau jangan terlalu memuji"

Seru Lie Loo jie tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan ini.

Sekonyong-konyong -------Dari puncak pertama gunung Cing Shia tiba-tiba berkumandang datang suara tertawa terbahak-bahak yang amat nyaring sekali sehingga menggetarkan seluruh lembah, diikuti suara pekikan burung rajawali yang amat keras memekikkan telinga !

Liem Tou segera mengartikan sesuatu, dia tahu suara pekikan itu bukan lain adalah tanda yang dikirim kepada kawanan burung elang untuk bersiap melancarkan serangannya.

Dengan gugup dia lantas berseru kepada Lie Loo djie .

"Supek, waktunya masih belum tiba, lebih baik kita menyingkir dulu untuk sementara waktu."

Selesai berbicara pertama-tama dialah yang meloncat terlebih dahulu untuk menuruni puncak kedua dan berlari menuju gunung Thian Cang San, kemudian kembali ke gunung Ha Mo San.

Tidak lama setelah Liem Tou serta Lie Loo jie angkat kaki kawanan elang sudah mulai memenuhi angkasa untuk mencari jejaknys musuh.

Beribu-ribu ekor burung bersama-sama menyebar menutupi seluruh angkasa dari ketigapuluh enam puncak gunung Cing Shia itu.

Melihat hal itu Liem Tou semakin mempercepat larinya.

"Sutit, hal ini tidak bisa jadi,"

Teriak Lie Loo-jie mendaiak.

"Lebih baik untuk sementara waktu kita mencari sebuah gua untuk menghindari dulu dari pengamatan kawanan elang itu."

Mendengar perkataan tersebut Liem Tou segera menarik kembali langkahnya, sewaktu menoleh ke belakang dan dia sudah tidak melihat bayangan dari Lie Loo djie, dia tahu dia orang pasti sudah bersembunyi, Tetapi pada saat dia sedikit berayal itulah kawanan burung2 elang yang ada diangkasa sudah menemukan jejaknya, disertai pekikan nyaring berpuluh puluh ekor burung elang bersama-sama menerjang kearahnya dengan dahsyat.

Sampai waktu ini Liem Tou tidak sempat menghindar lagi.

satu pikiran segera berkelebat dalam benaknya.

"Hmm, lebih baik aku kecepatan kaki saja dergan kawanan burung berbulu ini aku mau lihat siapa yang lebih cepat"

Pikirannya.

Berpikir sampai disitu tanpi ragu ragu lagi dia meloncat kesamping menghindar diri dari kawanan burung elang itu kemudian dengan mengerahkan tenaga murninya bagaikan segulung bayangan hijau dengan cepatnya berlari menuju ke arah gunung Thian Cang San.

Agaknya berpuluh puluh burung elang itu pun tidak mau melepas mangsanya dengan begitu saja, sambil berpekik nyaring memberi tanda kepada kawan kawannya dengan cepatnya mereka pun melakukan pengejaran dari belakang Liem Tou.

Setelah adanya pekikan peringatan itu, kawanan burung elang yang ada ditengah udara segera berkumpul menjadi satu untuk kemudian bersama-sama menubruk kearah Liem Tou.

Hanya dalam sekejap saja beribu-ribu ekor burung elang yang semula memencar di empat arah delapan penjuru; sudah berkumpul datang semuanya.

Sembari berlari Liem Tou tiada hentinya mendongak keatas didalam hati diam-diam dia tertawa dingin.

"Hmm ! kawanan burung burung jelek-jelek itu apa sengaja datang untuk mengantar kematiannya ?"

Pikirnya.

Saat itulah dihadapan mendadak muncul beberapa pohon siong yang amat lebat dan tumbuh dengan angkernya dipunggung gunung.

Satu ingatan segera berkelebat didalam ha linya, dengan cepat dia berkelebat ke samping pohon siong itu lalu menutulkan ujung kakinya untuk menerjang naik keatas pohon siong tersebut.

Sewaktu tubuhnya mencapai diatas permukaan tanah kembali, didalam sakunya dia sudah menggembol segenggaman besar jarum-jarum pohon siong yang tajam untuk kemudian melanjutkan kembali perjalanannya.

Saat ini dia yang harus melihat gunung Thian Cang San dengan jalan yang berbelok belok sudah tentu gerakannya sangat jauh lebih perlahan lagi dari kawanan burung yang terbang lurus diangkasa, tidak lama kemudian kawanan burung yang terbang lurus diangkasa, tidak lama kemudian kawanan burung itu sudah berhasil menyandak diatas kepala Liem Tou, kemudian dengan disertai sambaran angin tajam mereka mulai melancarkan serangannya kearah kebawah.

Liem Tou sedikitpun tidak kelihatan jeri, dengan cepat dia meraup segenggam jarum pohon siong, menanti datangnya serangan itu.

Begitu kawanan burung elang itu berada sangat dekat dengan dirinya, dengan menggunakan cara Hwee Hoa Tiap Yap tanpa mengeluarkan sedikit suarapun seraup jarum itu dengan disertai hawa murni yang amat dahsyat menyambar keatas menembus kedalam lambung burung burung itu.

Hanya didalam sekejap saja ada berpuluh puluh ekor burung elang sudah terkena bokongannya dan jatuh keatas tanah dalam keaadaan binasa.

Liem Tou yang secara tidak sengaja sudah nenemukan jarum pohon siong sebagai senjata rahasia didalam hati diam-diam merasa sangat girang, pikirnya.

"Mengapa aku tidak berputar-putar beberapa kali ditengah pegunungan yang sunyi ini untuk membasmi habis kawanan burung elang yang ganas itu ? bilamana aku berhasil berbuat demikian bukankah sama saja dengan sudah melenyapkan satu beneana ? atau sedikit dikitnya bilamana aku berhasil melenyapkan separuh saja diantara kawanan burung itu hal ini sudah merupakan satu pukulan yang berat bagi Thian Pian Siauw-cu"

Berpikir sampai disini dia segera mengubah arah tujuannja dan lari kembali kedepan.

Kawanan burung-burung elang yang semula ada ditengah udara kini mulai berkaok kaok lagi memberi kabar kepada kawan-kawan lainnya, hanya didalam sekejap saja kembali beribu-ribu ekor kawanan burung berkerumun datang sehingga seluruh angkasa tertutup rapat, keadaannya amat mengerikan sekali.

Mendadak dari atas puncak kedua gunung Cing Shia melayang turun tiga sosok bayangan biru, merah serta putih yang menerjang datang dengan keceoatan yang luar biasa sekali, dan sekali pandang saja Liem Tou segera tahu kalau mereka pastilah si-Thian Pian S-iauw-cu beserta Kiem Jie dan Peng jie.

Liem Tou yang tidak bisa ingin bertemu muka dengan mereka gerakannya pun semakin dipercepat, setelah mengitari satu lingkaran besar dia munculkan dirinya kembali diatas puncak kedua gunung Cing Shia tersebut.

Walaupun dia berhasil menghindarkan diri dari pengamatan Thian Pian Siauw-cu tetapi kawanan burung elang itu dengan amat kencangnya masih terus mengawas-awasi dirinya, dan kawanan burung elang yang tidak mati menerjang kebawah.

Terpaksa dengan menggunakan cara yang sama Liem Tou memberikan perlawanannya antara berkelebatnya daun-daun pohon siong kembali ada berpuluh-puluh ekor burung elang rontok ke atas tanah.

Semakin menerjang merasa makin bangga dan semakin senang, tidak kuasa lagi suara tertawa yang sangat nyaring meledak dari mulutnya, suara tertawa itu amat keras, kaku dan keras laksana pekikan naga yang ke luar dari gua membuat seluruh gunung tergetar tiada hentinya.

Terhadap suara tertawa nyaring yang memekikkan telinga itu baik Thian Pian Siauw-cu maupun Lie Loo jie selamanya mengingat terus didalam hatinya, mereka mengetahui orang yang tertawa seperti inilah yang sudah pernah mempermainkan mereka.

Liem Tou yang secara tidak sengaja sudah mengerahkan hawa murninya yang disalurkan kedalam suara tertawanya ketika itu juga membuat mereka jadi amat terkejut.

Thian Pian Siauw-cu yang dikarenakan berada ditempat kejauhan sama sekali tidak tahu kalau orang yang baru saja tertawa adalah Liem Tou, tetapi Lie Loo-jie yang tempat persembunyiannya hanya ada beberapa dari tempat Liem Tou berada sudah tentu bisa melihat seluruh kejadian itu dengan jelas.

Didalam hati diam-diam dia merasa terkejut bercampur girang.

dia merasa gembira musuh tangguh yang ditakutinya selama ini ternyata keponakannya sendiri bersama pula dia merasa kagum atas kesempurnaan ilmu silat yang dimiliki Liem Tou, Tetapi terhadap permainan yang dilakukan Liem Tou terhadapnya didalam hati Lie Loo jie merasa sangat tidak senang, tanpa perduli apakah saatnya sudah tiba atau belum dengan wajah gusar mendadak dia meloncat keluar dari tempat persembunyiannya.

"Bangsat cilik ! Kiranya kau orang yang sudah mempermainkan aku waktu ada ditebing Leng Ai diatas gunung Go-bie"

Bentak-nya dengan keras.

"Hmmm ! Aku mau lihat sebetulnya kau memiliki kepandaian yang seberapa tinggi sehingga berani mempermainkan aku, lihat serangan !"

Begitu kata-kata terakhir selesai diucapkan, bagaikan kilat cepatnya dengan menggunakan jurus "Pek Loh Heng Hwee"

Atau seruni putih terbang melintang melancarkan pukulan dahsyat menghajar dada Liem Tou.

Dengan cepat Liem Tou menggeserkan badannya dua langkah ke samping untuk menghindarkan diri dari serangan tersebut.

"Supek ! Kau jangan salah paham. Sutit sama sekali tidak bermaksud jahat !"

Teriaknya dengan suara gugup.

Sepasang mata Lie Loo-jie melotot lebar-lebar tubuhnya berputar setengah linpkaran belum sempat telapak kanannya ditarik kembali telapak kirinya dengan menggunakan jurus "Im Liong Siam Cu"

Atau naga marah mengunjukkan cakar menerobos kedepan mencengkeram dada Liem Tou.

"Liem Tou,"

Bentaknya dengan keras.

"Kau orang tidak usah banyak bicara lagi, cepat terimalah datahgnya serangan ini."

Kelihatan cengkeraman tangan kiri dari Lie Loo-jie hampir mencapai pada sasarannya, mendadak Liem Tou menarik dadanya ke belakang dan meloncat mundur lima langkah.

"Supek, kau jangan marah dulu, dengarkanlah perkataan dari sutitmu !"

Teriaknya dengan gugup. Tetapi Lie Loo-jie tidak mau tahu, dia tetap melancarkan serangannya dengan gencar.

"Bangsat cilik"

Bentaknya dengan suara yang keras sekali.

"Ternyata kau orang yang mempunyai simpanan. Hmm, Liem Tou, terima lagi seranganku ini."

Tubuhnya maju beberapa langkah kedepan sepasang telapak tangannya dengan bersama-sama melancarkan serangan kedepan.

Yang kiri dengan menggunakan ilmu serangan aliran Siauw lim pay sedang yang kanan menggunakan ilmu serangan dari aliran Thay Khek Pay bersama-sama menyerang ke-depan.

Melihat datangnya serangan tersebut tanpa terasa Liem Tou jadi tertegun.

"Ilmu pukulannya ini mana mirip dengan satu serangan yang dilancarkan oleh seorang jagoan terkenal?"

Pikirnya didalam hati.

Tidak lebih serangannya mirip dengan tukang jamu mencari uang.

Sewaktu melihat kearah kakinya Liem Tou lantas dapat melihat kalau gerakan dari Lie Loo-jie ini diantara sungguh-sungguh sebetulnya kcsong, tidak terasa lagi dia tertawa ringan, baru saja dia bermaksud untuk mundur kebelakang mendadak satu ingatan berkelebat didalam hatinya, tiba-tiba dia menjerit kaget.

"Supek, kau ingin menggunakan akal?"

Bukannya mundur dia malah maju kedepan sekali jejak, tubuhnya sudah melayang sejauh dua kaki lebih.

Begitu tubuhnya mencapai tanah angin serangan sudah menyambar lewat dibelakang badannya.

Dengancepat Liem Tou putar badannya dan tepat saling berhadap-hadapan dengan diri Lie Loo-jie.

Lie loo jie yang melihat gerakan dari Liem Tou ini seketika itu juga dibuat tertegun, lama sekali dia berdiri termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Liem Tou tidak mau membuang kesempatan ini lagi, dengan cepat dia membungkukkan badannya menjura.

"Supek"

Panggilnya dengan hormat.

"Haa... haa Liem Tou; kali ini supekmu baru benar-benar merasa takluk dengan dirimu !"

Seru Lie Loo jie sembari tertawa terbahak-bahak.

"Orang-orang Bu-lim paling mengutamakan perjanjian yang sudah diucapkan, kau sudah mengundang aku datang keatas gunung Cing Shia bilamana tidak bertempur bagaimana hal ini bisa jadi ? Baiklah ! Kali ini aku sudah menyerang tiga jurus terhadap dirimu tetapi berhasil kau hindari semua tanpa membalas. hal ini masih tidak temasuk bilangan, mari sekarang kita ulangi sekali lagi, aku mengalah tiga jurus buatmu,"

"Supek sudahlah buat apa kita berguyon semacam itu ? Hal itu mana mungkin boleh ?"

Teriak Liem Tou sambil goyangkan tangannya. Air muka Lie Loo jie segera berubah jadi amat keren, mendadak dengan gusarnya dia membentak keras.

"Liem Tou ! Siapa yang lagi berguyon dengan dirimu ? Apa kau ingin merusak nama baik yajg telah aku pupuk selama ini? Ayoh cepat mulai turun tangan !"

Sembari berkata dia lantas mempersiapkan kuda-kudanya untuk menyambut datangnya serangan.

Liem Tou yang melihat akan hal ini diam diam didalam hati merasa bergidik tidak menyerang tidak enak menyerangpun tidak mungkin bisa terjadi sewaktu dia sedang merasa serba susah itulah mendadak terdengar suara pekikan burung rajawali kembali berkumandang datang.

Liem Tou dengan cepat dongakkan kepalanya memandang, terlihatlah diatas gunung Thian Gang san yang berada paling berhadap-hadapan dengan dirinya berdua, berdiri-lah Thian Pian Siauw cu itu, Kiem jie serta Peng jie tiga orang.

Diatas udara berbarislah berderet-deret burung elang yang membentuk satu barisan di atas ditengah; dibawah masing-masing dibagi menjadi tiga lapis diantara masing-masing lapis jaraknya ada berpuluh kaki tingginya sehingga kelihatan amat menyeramkan sekali.

Diam-diam dalam hati Liem Tou merasa amat terkejut dia tahu bilamana kawanan burung elang ini mulai melancarkan serangannya mska keadaannya pasti sangat berbahaya sekali.

Dengan mengambil kesempatan ini Liem Tou lantas menoleh kearah Lie Loo jie dan ujarnya;

"Supek, keadaan pada waktu ini sangat berbahaya sekali apa lagi burung burung elang itu bersama-sama melancarkan serangan ke arah bawah, untung saja janji yang sudah Sutit ucapkan masih ada sembilan hari lamanya tiga jurus serangan itu bagaimana kalau kita undurkan dilain waktu saja ?"

Mendengar perkataan itu Lie Loo jie berpikir sebintar, akhirnya mengangguk.

"Itu baru bagus ! Tetapi perlu aku beritahu padamu, tidak perduli bagaimanapun juga ketiga buah jurus ini tidak bisa kau hindari lagi !"

Katanya.

"Hal ini sudah tentu !"

Jawab Liem Tou dengan cepat. Dia berhenti sebentar untuk kemudian berganti bahan pembicaraan, ujarnya lagi .

"Jika ditinjau dari keadaan saat ini agak-nya tidak terhindar lagi kita harus bertempur sengit dengan kawanan burung-burung elang itu; menurut pendapat Supek sekarang bagaimana enaknya ?"

Belum sempat Lie Loo jie memberikan jawabannya, Thian Pian Siauw-cu yang ada di gunung sebelah depan sudah berteriak .

"Loo Sang ! Kau yang disebut sebagai seorang jago kawakan yang sudah punya nama besar didalam Bu-lim, sungguh tidak tahu malu waktu perjanjian belum tiba kenapa kau sudah datang kemari melukai burung elangku ? Aku mau dengar apa alasanmu kau berbuat demikian !"

Sepasang mata dari Lie Loo jie segera dikerutkan rapat-rapat "Aaah.. sudah ada !"

Teriaknya dalam hati. Mendadak dia tertawa dingin.

"Ke Hong !"

Balas teriaknya.

,.Kau jangan menggunakan cara kuno ini; terang-terangan kau sudah perintahkan burung-burung jelekmu itu untuk menyerang aku; sekarang dengan tidak tahu malu ternyata kau sebaliknya malah menyalahkan orang lain ---hm!

mukamu ternyata makin tahun makin bertambah tebal."

"Haa ---haa"

Tidak kuasa lagi Thian Pian Siauw cu tertawa terbahak-bahak.

"Lie Sang! bilamana kau orang tidak mendatangi puncak pertama ini untuk mengganggu mereka, apa mereka dapat terbang ketebing Leng Ay di-atas gunung Go bie mu untuk mengganggu kau orang ?"

"Cuh ! Ke Hong, tidak kusangka kau orang masih bisa mengucapkan kata-kata seperti itu"

Maki Lie Loo jie dengan gusarnya "kalau aku tidak diperkenankan datang sebelum waktu perjanjian, apa lantas cuma kau saja yang boleh ?

aku lihat lebih baik kau tarik kembali terlebih dahulu kawanan burung-burung jelek kesayanganmu itu, buat apa kau mencari malu dihadapan kami dengan mempamerkan barang-barang sejelek itu."

Thian Pian Siauw cu sama sekali tidak menggubris akan kata-kata dari Lie Loo jie ini, mendadak tanyanya dengan suara keras .

"Hey Lie Sang, siapa yang di samping itu ?"

Dikarenakan jaraknya yang cukup jauh ditambah pula Liem Tou yang kini sudah menginjak dewasa sehingga dandanannya pun sudah berubah pula sudah tentu membuat dia sama sekali tidak kenal.

"Ke Hong, kau mau mengetahui siapakah orang ini ? Heee ... heee ... dia orang mempunyai sangkut paut yang amat besar sekali dengan dirimu masih ingatkah kau dengan sute-ku si pancingan emas sakti Liem Ceng ? dia adalah putranya; sudah tentu sutit-ku sampai waktunya kan boleh mencicipi bsgaimana rasa pedasnya jahe !"

"Ha ! Si pancingan emas adalah panglima yang pernah menderita kekalahan ditanganku buat apa aku gubris dia orang ?"

"He, kalau memangnya putranya mau mencari gara-gara janganlah kau salahkan aku Thian Pian Siauw cu terlalu menghina orang, selamat bertemu dikemudian hari,"

Teriak Thian Pian siauw-cu kemudian dengan suara yang mengandung nada penghinaan.

Selesai berkata tangan kirinya segera di-gape, segera terdengarlah suara pekikan nyaring dari burung rajawalinya disusul dua kali pekikan pendek burung elang yang ada diangkasa bagaikan tawon bersama-sama melayang menuju kepuncak pertama, Lie Loo jie yang melihat mereka berhasil meloloskan diri dari kurungan segera menoleh kearah Liem-Tou.

"Sutit, mari kitapun harus pergi."

Agaknya mendadak dia menemukan wajah Liem Tou sudah berubah merah padam, dengan termangu-mangu berdiri tak bergerak sepasang matanya melotot keluar saat ini dengan suaranya sedang memandang kearah gunung dihadapannya.

Melihat akan hal itu diam-diam Lie Loo jie merasa hatinya sedikit bergerak, dia tahu dia orang sudah terbakar hatinya oleh gosokan Thian Pian Siauw cu dengan terburu-buru hiburnya.

"Sutit mari kita pergi saat ini kita tidak perlu banyak beribut dengan dirinya."

Tidak menanti jawabannya dari Liem Tou lagi dia segera menepuk pundaknya kemudian dengan gerakan yang berkelebat menuju kebawah puncak kedua sebelum menemui puncak tersebut.

Dengan gemas bencinya Liem Tou kirim satu kerlingan kearah Thian Pian Siauw cu kemudian baru terburu buru menyusul Lie Loo jie.

Setelah mengitari sebuah bukit akhirnya sampailah mereka dibelakang gunung Ha Mo Leng dan tiba didepan rumah Lie Siauw Ie.

Lie Siauw Ie yang melihat munculnya Liem Tou disana, sepasang matanya segera berubah memerah kembali, kata-kata pertama yang diucapkan keluar adalah memaki diri Liem-Tou.

"Liem Tou !"

Teriaknya."

Sejak semula kau sudah tahu kalau ibuku meninggal kenapa tidak kau sampaikan kepadaku ?"

Kau terus-menerus mengelabui diriku, bukankah ..."

Berbicara sampai disini dia segera melengos kearah lain. Liem Tou yang semula memang sedang mangkel dan murung saat ini terpaksa dengan menahan sabar menjawab .

"Enci Ie kau jangan terlalu sedih, sebetulnya aku bermaksud baik terhadap dirimu."

Lie Siauw Ie segera mendengus dan tidak mengucapkan kata kata lagi. Dengan mengambil kesempatan itu Lie Loo jie segera menghibur dirinya .

"Ie jie, perkataan dari Liem Tou sedikit-pun tidak salah, dia bermaksud baik terhadap dirimu janganlah menyalahkan dirinya lagi."

"Tidak ! semuanya ini memang kesalahanku"

Tiba-tiba kata Liem Tou dengan gugup."

Semuanya ini akulah yang bersalah tidak seharusnya aku mengelabui enci Ie."

Saking terharunya air matanya segera berubah jadi memerah, tetapi dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk menahan golakan tersebut dan melengos memandang kedepan jendela ....

Lama sekali dia termenung, akhirnya dengan suara yang perlahan serunya .

"Aku pergi dulu !"

"Liem Tou, kau hendak kemana ?"

Teriak Lie Siauw Ie dengan terkejut setelah mendengar perkataan tersebut.

Terlihatlah sesosok bayangan hijau dengan amat cepatnya berkelebat keluar melalui pintu dan sebentar kemudian sudah lenyap tak berbekas.

"Adik Tou !"

Teriaknya kemudian sambil memburu keluar pintu.

"Kau jangan menaruh rasa marah terhadap cicimu. cicimu sama sekali tidak menyalahkan dirimu."

Tetapi bayangan tubuh dari Liem Tou sudah lenyap tak berbekas sekalipun dia sudah berteriak sampai pecah tenggorokannya pun tidak berguna.

Sekeluarnya dari rumah Lie Siauw Ie dengan beberapa kali loncatan Liem Tou sudab berada kembali dibelakang perkampungan, pada saat ini hatinya merasa amat sedih, kecut dan pedih.

Sesampainya ditempat persembunyian kerbaunya, sambil mendeprok keatas punggungnya dia berseru dengan sedihnya.

"Oooh, engkoh kerbau ? bilamana aku mati kau hendak membawa aku pergi kemana ?"

Semakin dipikirkan semakin sedih tidak kuasa lagi dia menangis tersedu-sedu.

Lama ...

lama sekali, cuaca mulai menggelap ...burung-burung pada terbang kembali kesarangnya suasana begitu sunyi cuma terdengar suara tiupan angin yang menderu-deru mengiringi suara ramainya jangkerik bernyanyi.

Akhirnya Liem Tou sadar kembali dari kesedihannya dengan cepat dia bangkit berdiri dan berlari menuju kehadapan kuburan ayahnya.

Dia melihat tumbuhan alang-alang tumbuh dengan tebalnya disekeliling kuburan tersebut hatinya merasa jadi kecut sehingga tidak kuasa lagi titik air mata menetes keluar.

"Tia."

Mohonnya dalam hati "Maafkanlah putramu sudah lama berkelana ditempat luaran sehingga tidak dapat menyambangi dirimu, kali ini putramu sengaja datang untuk mengunjuk hormat kepada dirimu."

Sehabis berkata dia jatuhkan diri berlutut dan menjalankan penghormatan didepan kuburan itu sebanyak delapan kali, setelah dari habis berdoa dengan perlahan dia baru bangkit berdiri dan memindahkan batu nisan tersebut kesamping.

Kini dihadapannya muncullah sebuah liang yang tertutup dengan batu bata, sebuah demi sebuah dia memindahkan pula batu-batu tersebut kesamping sebingga akhirnya muncullah sebuah peti mati yang hancur dan berantakan didalam liang itu.

Liem Tou segera membungkukkan badannya untuk membuka penutup peti mati itu.

Seketika itu juga tampaklah seperangkat kerangka manusia yang hitam mengkilap muncul dihadapannya begitu melihat kejadian tersebut Liem Tou segera merasa telinganya mendengung keras, kepalanya seperti dipukul, tidak kuasa lagi air mata bercucuran dengan derasnya .

"Binatang !"

Teriaknya dengan suara gusar sekali.

"Binatang itu ... binatang itu harus kubunuh , ... ! Bajingan tua anjing laki-laki ! Ternyata ayah benar-benar mati karena diracuni olehnya. bangsat anak sundal ' Aku tidak akan melepaskan dia sampai besok pagi, aku merasa bersalah terhadap Tia ...!" -o)(o-— SEMBILANBELAS LAMA kelamaan dari rasa sedih dan pedihnya kini berubah menjadi rasa gusat yang memuncak . ...Dia tidak berani menggunakan tangannya untuk mengambil tulang belulang yang sudah menghitam itu karena takut terkena racun, dengan menggunakan kayu-kayu lapuk yang semula menutupi kuburan itu kemudian memasang pula batu nisannya.

"Aku mau bunuh mati dirinya !"

Teriaknya didalam hati.

"Aku mau cukil keluar sepasang matanya, mengorek keluar jantungnya, aku buktikan didepan penduduk kampung kalau mereka mempunyai seorang Cung-cu yang berhati kejam."

Dia segera berjalan meninggalkan kuburan ayahnya menuju kedalam hutan, belum sampai berapa jauhnya dia berjalan mendadak dari dalam hutan muncul kembali seorang, sekali pandang saja Liem Tou sudah tahu kalau dia adalah Lie Loo jie tetapi dia sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata bahkan sama sekali tidak menggubris dirinya!

Lie Loo jie segera berjalan kehadapsn Liem Tou, sewaktu dilihat wajahnya sudah berubah jadi hijau membesi dan memperlihatkan rasa gusar yang menyala-nyala dalam hati segera menjadi paham.

"Liem Tou !'"

Ujarnya dengan perlahan.

"Biarkanlah Supekmu menjaga dirimu dari samping !"

Liem Tou dengan perlahan memandang Lie Loo jie kemudian mengangguk.

"Aku mau bunuh dia !"

Katanya.

Sesampainya ditengah hutan dia lantas meloncat naik keatas pohon untuk menantikan kedatangan dari 'Ang In Sin Pian' Pouw Sak San.

Kentungan pertama.

Kentongan kedua dengan cepatnya berlalu, malam semakin kelam bulan dan bintang bersemburyi dibalik awan.

Ditengah kesunyian yang mencekam seluruh perkampungan itu, mendadak, dari balik pepohonan muncul empat sosok bayangan manusia yang dengan cepatnya melayang kearah kuburan disamping hutan itu.

Begitu mereka berempat mencapai depan kuburan segera terdengarlah salah seorang di antara mereka tertawa dingin.

"Liem Cong !"

Serunya dingin.

"Payah-payah kau menyembunyikan nama dan kedudukanmu, mungkin orang lain dapat kau kelabui tetapi jangan harap bisa lolos dari penglihatan aku si Ang In Sin Pian ! Ini hari aku mau suruh kau pindah rumah, agar putramu yang ganas itu mendapatkan hasil yang sia-sia !"

Dengan perlahan dia menoleh kembali me mandang kearah kawan-kawannya kemudian sambungnya .

"Malam ini kita harus cepat-cepat turun tangan, Susiok couw dan Suhu sudah menunggu kita didalam perkampungan !"

"Ayo mulai !"

Batu nisan itu segera diangkat keatas sehingga muncullah liang kubur yang tertutup oleb batu bata itu, baru saja dia hendak memindahkan batu-batu itu mendadak dengm tergesa-gesa dia bangkit berdiri lagi menoleh kearah Si 'Liong Ciang' Lie Kian Poo.

"Kian Poo heng."

Serunya. ,,Coba kau kemari pindahkan batu-bata itu !"

Lie Kian Poo segera menyahut dan mewakili dirinya untuk bungkukkan badan memindahkan batu-bata tersebut.

Saat itulah si 'Ang In Sin Pian' Pouw Sak San yang dibelakang badannya dengan perlahan angkat telapak tangannya keatas untuk siap-siap digaplokkan keatas jalan darah Thian Seng diatas ubun-ubunnya.

"Hauw Jiaw."

Pouw Tong yang ada disampingnya sewaktu melihat perbuatan dari Cungcunya ini dalam hati merasa amat terperanjat sekali, mendadak ujarnya .

"Cungcu, kau bilang kepandaian silat yang dimiliki Susiok couw amat tinggi sehingga sukar untuk dicarikan tandingannya bila perkataan ini sungguh-sungguh bukankah Liem Tou bangsat cilik itu datang kemari cuma mengantarkan kematiannya dengan sia-sia belaka? Kita tak perlu takut kepada dirinya lagi !"

Si "

Aig In Sin Pian"

Pouw Sak San yang baru saja mau gaplokkan telapak tangannya kebawah mendadak diganggu oleh perkataan dari Hauw Jiauw ini dengan cepat dia menarik kembali tangannya kemudian dengan gemasnya melototi diri Pouw Toa Tong.

"Pouw Toa Tong !"

Sahutnya.

"Bila kau tidak percaya sampai waktunya kau bisa mengetahui sendiri."

Sembari putar badannya sekali dia angkat telapak tangannya siap-siap digaplokkan kembali keatas ubun-ubun dari Lie Kian Poo, siapa tahu baru saja tangannya diangkat mendadak tampaklah secarik dedaunan dengan sangat cepatnya terjatuh ketangannya membuat saking terkejutnya dengan gugup dia menarik kembali tangannya.

Ketika mendongakkan kepalanya keatas terlihat olehnya pepobonan yang tumbuh disekitar sana ada tiga kaki jauhnya dari kuburan tersebut, tetapi bagaimana daun tersebut bisa begitu tepat terjatuh keatas tangannya ?

bahkan pada saat ini adalah permulaan musim panas, mana mungkin ada daun hijau yang tanpa sebab rontok dari rantingnya ?

Tidak terasa lagi dalam hati dia mulai timbul rasa curiga.

Pada saat itulah mendadak Lie Kian Poo yang sedang berjongkok sudah meloncat ke samping; kemudian dengan pandangan ragu-ragu memandang terpesona diri Ang In Sin Pian, lama sekali barulah tanyanya .

"Cungcu, kenapa kau mau memukul aku orang Lie Kian Poo ?"

Mendengar perkataan tersebut air muka Ang In Sin Pian segera berubah sangat hebat sekali.

"Kian Poo heng !"

Ujarnya dengan dingin.

"Kenapa kau ngomong yang bukan-bukan ?"

Secara samar-samar pada ujung bibirnya tersungging suatu senyuman yang licik, sembari berjalan dia mendekati diri Lie Kian Poo.

"Kian Poo-heng !"

Ujarnya lagi.

"Kau merasa, apakah aku dapat melancarkan serangan untuk menghantam kau ? Kenapa aku harus turun tangan menghantam dirimu ?'* Dengan pandangan ragu-ragu Lie Kian Poo memperhatikan sekejap kearahnya kemudian baru jawabnya .

"Tadi sepertinya disamping telingaku ada orang yang lagi berbisik"

"Paman Kian Poo cepat menyingkir. Cung cu mau menghantam kau sampai mati, karenanya aku lantas meloncat kesamping"

Mendengar perkataan tersebut sepasang biji mata dari Ang In Sin Pian berputar-putar kemudian mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Apa sungguh ?"

Tanyanya. Tetapi didalam hatinya diam-diam dia tertawa geli, ujarnya lagi .

"Terang-terangan didalam hati kau sudah menaruh curiga kepada diriku sehingga didalam hati kau tidak berhasil menguasai pikiranmu sendiri, dengan sendirinya telingamu pun samar-samar seperti mendengar suara orang lagi berbicara ... Hmm ! kau orang tidak usah banyak pikir yang bukan-bukan lagi."

Dia berjalan maju dua langkah kedepan. Si "Liong Ciang"

Lie Kian Poo yang melihat dia mendesak maju lebih mendekat lagi, tak kuasa lagi dia mundur satu langkah kebelakang.

"Cung cu !"

Serunya dengan ccmas.

"Kenapa kau memandang aku seperti itu? Kenapa kau mendekati aku terus ? Wajahmu sungguh menyeramkan sekali!"

Ang In Sin Pian segera tertawa tergelak kepada Pouw Toa Tong tiba-tiba ujarnya ;

"Toa Tong-heng, ksu lanjutkan membongkar batu-batu yang menutupi itu !"

Waktu ini sekalipun pada wajahnya tidak memperlihatkan sedikit perubahan apapun padahal didalam hati dia merasa amat tegang sekali, diam diam dia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya keseluruh lengan untuk siap siap menghadapi segala kemungkinan.

Orang yang lain Pouw Siauw Ling pun bisa melihat maksnd hati dari ayahnya Si Ang In Sin Pian tersebut, saat ini walaupun dia kepingin melihat gerak-gerik dari ayahnya serta Lie Kian Poo, tetapi dia tidak berani melaksanakan niatnya itu, sepasang matanya terpaksa diarahkan kepada Pouw Toa Tong.

Karena itulah tanpa disadari lagi suasana diaatara keempat orang itu jadi berubah semakin tegang dan semakin sunyi tiga orang diantaranya dalam hati sudah mempunyai rencana maka wajahnya pada mantap sebaliknya Lie Kian Po yang tidak mcngetahui maksud hati dari Ang In Sin Pian diam-diam selalu waspada.

Pada saat itulah mendadak mereka ber-empat dapat mendengar suara langkah manusia yang semaiin lama semakin mendekat disusul suara seoeorang yang sedang bergumam dengan nada gemetar .

"Hutan belantara lebat bagaikan sutera-Gunung bersalju membawa kepexihan di-hati "

Mendengar suara tersebut seluruh tubuh Ang In Sin Pian jadi gemetar keras, sambil putar badan dan dia membentak keras .

"Siapa ? Siapa kau ?"

Dari tengah kegelapan yang mencekam sekeliling hutan itu dengan perlahan muncul seseorang.

"Cung cu ! jangan gugup, aku adalah Liem Tou"

Jawabnya dengan kalem.

Ang In Sin Pian jadi melengak, belum sempat dia memikirkan sesuatu tahu-tahu tanpa mengeluarkan sedikit suara maupun menimbulkan debu Liem Tou sudah melayang dan berdiri dihadapannya bahkan dengan sikap yang amat tenang dan penuh dihiasi senyuman dia berkata .

"Cung cu, tahukah kau ada urusan apa aku datang pada saat ini kemari ?"

Air muka Ang Ing Sin Pian sejak semula sudah berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, untuk sesaat lamanya dia orang tidak dapat mengucapkan sepatah katapun.

Mendadak Pcuvv Siauw Ling yang ada disampingnya sudah melayang kedepan menghalangi didepan tubuh ayahnya Ang Ing Sin Pian.

"Liem Tou kau jangan berlaku kurang ajar terhadap ayahku."

Bentaknya keras.

"Siauw Ling heng, bagaimana kau orang bisa tahu kalau aku hendak berbuat kurang ajar terhadap ayahmu ?"

Ujar Liem Tou sambil tertawa ringan.

"Tidak Siauw Ling heng saat aku masih tidak ingin berbuat kurang ajar terhadap ayannya, cuma saja ---"

Berbicara sampai disini dia sengaja menghentikan kata katanya.

"Cuma bagaimana ?"

Teriak Pouw Siauw Ling sambil membelalakkan matanya lebar-lebar.

Sekali lagi Liem Tou tertawa ringan dengan perlahan-lahan dia putar badannya sedang tepalak tangannya dengan amat ringannya diayun kedepan kemudian badannya berputar kembali dan kirim satu senyuman kearah Pouw Siauw Ling serta Ang In Sin Pian.

Mendadak ...Pouw Toa Tong yang selama ini berdiri tertegun didepannya liang kuburan itu meraung kesakitan kemudian dari mulutnya memuntahkan darah segar, seketika itu juga dia rubuh didepan kuburan dalam keadaan tak bernyawa.

Melihat kejadian yang mengerikan itu, Pouw Siauw Ling merasakan seluruh bulu romanya pada berdiri, mendadak teriaknya dengan kalap.

"Liem Tou kau sudah bunuh dia... kau sudah bunuh paman Toa Tong."

Sikap Liem Tou masih tetap tenang-tenang saja, pada wajahnya sedikitpun tidak mengalami perubahan.

"Benar, aku sudah bunuh mati Pouw Toa Tong"

Sahutnya dengan nada yang amat dingin.

"Sekarang kau tidak usah banyak ngomong lagi, aku mau tanya pada ayahmu, masih iagatkah dia akan perpisahan tiga puluh hari yang lalu di kota Hong Kiat?"

Mendengar perkataan tersebut Pouw Siauw Ling segera menyambar kearah pinggangny untuk mencabut keluar cambuk baja yang dililitkan disana.

"Air rauika Liem Tou segera berubah adem.

"Pouw Siauw Ling.

"apa kau orang benar ingin mencari mati?? Haa...?"

Bentaknya gusar.

"Coba kau lihat apa yang dipegang di tangannya Pouw Toa Tong itu?"

Dengan cepat Pouw Siauw Ling meloncat kedepan dan berjongkok disamping mayatnya Pouw Toa, terlihatlah olehnya ditangan kanannya dengan kencang masih mencekal beberapa batang paku pencabut nyawa.

"Sudah melihat dengan jelas belum ?"

Ujar Liem Tou lagi dengan dingin.

"Siapa yang berani menggerakkan senjata tajam. aku segera akan mencabut nyawamu!"

Selesai berkata dia menuding kearah Ang In Sin Pian ujarnya lagi.

"Cung-cu! aku mau tanya akan tiga hal padamu. baik-baiklah kau orang memberikan jawabannya. Pertama, kenapa kau hendak membinasakan paman Liong Ciang ?"

Selama ini Ang In Sin Pian terus-menerus berdiri disamping tanpa bergerak.

Saat ini dia tahu kemunculan Liem Tou banyak membawa bahaya daripada kemujuran sehingga dalam hati dia terus menerus memikirkan cara cara untuk melarikan diri.

Dia pun ingin sengaja mengulur waktu sehingga memancing rasa curiga dari Thiat Bok Thaysu serta penjahat naga merah yang ada didalam perkampungan sehingga mereka datang memberikan bantuannya.

Mendengar perkataan tersebut dia sengaja memperlihatkan rasa herannya jawabnya kemudian .

"Liem Tou! Apa maksud perkataanmu itu? Liong Ciang, Kian Poo-heng adalah salah satu jago berkepandaian tinggi pelindung perkampungan kami dan merupakan tenaga yang paling diandalkan oleh perusahaan ekspedisi Ang In Piauw kiok, ada urusan apa aku hendak membunuh dirinya ? Liem Tou ! Bukankah perkataanmu itu terlalu menggelikan?"

"Baiklah ! Anggap saja pertanyaanku yang pertama sudah kau jawab"

Ujar Liem Tou mengangguk.

"Sekarang yang kedua. Kenapa kau hendak membongkar kuburan ayahku?"

Ang In Sin Pian termenung berpikir sebentar, dia merasa bilamana jawaban yang diberikan tidak hati-hati maka ada kemungkinan segera akan terjadi bentrokan dengan dirinya, karena itu dia tidak berani berlaku gegabah !

"Jika membicarakan soal ini boleh dikata merupakan satu adat istiadat dari perkampungan kami."

Ujarnya dengan hati hati.

"Han San heng terhadap kita anggaota perkampungan boleh dikata mendatangkan banyak rejeki. Kematiannya yang mendadak itu sungguh merupakan satu kejadian yang diluar dugaan, karena menurut peraturan dari perkampungan kita, asalkan orang yang kita hormati setelah dikubur selama dua tahun tulangnya harus di ambil untuk dipindah kedalam kuil yang ada didalam perkampungan, sehingga penduduk lainnyapun bisa ikut menghormatinya !"

Perkataan yang diucapkan oleh Ang In Cung cu ini semuanya beralasan dan seperti sungguh-sungguh terjadi, bilamana bukannya Liem Tou sudah tentu tahu terlebih dahulu akan hal ini mungkin diapun bakal kena dikibuli.

Liem Tou segera tertawa dingin, gumamnya .

"Kalau memangnya bermaksud sebagai penghormatan, kenapa menggali kuburan harus dimalam hari ? apa mungkin didalam hal inipun tidak memperkenankan orang lain untuk ikut mengetahuinya ? baiklah anggap saja urusan ini sudah kau jawab dengan baik,"

Liem Tou termenung sebentar mendadak alisnya dikerutkan rapat-rapat, dari sepasang matanya secara samar samar memancar keluar nafsu untuk membunuh yang tebal.

"Sekarang yang ketiga"

Ujarnya dengan keras.

"Pouw Sak San sekarang aku minta kau beritahukan kepadaku, kenapa tulang ayahku bisa berubah jadi hitam ?"

Mendengar pertanyaan itu air muka Ang In Sin Pian segera berubah sangat hebat, mendadak dia mundur satu langkah kebelakang seluruh tubuhnyapun gemetar dengan amat keras, untuk beberapa saat lamanya dia tidak sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun.

Pada saat ini darah, panas yang ada didalam dadanya sudah bergolak amat dahsyat dia benar tidak kuat menahan rasa mangkel dan dendam yang selama ini dipendam dalam hatinya, tubuhnya mendadak bergeser dua langkah kedepan Ang In Sin Pian.

"Cung cu ?"

Ujarnya keras.

"Sekarang kau tentunya mengetahui, kenapa aku Liem Tou bisa sampai disini . Perjanjian kita pada sepuluh hari yang lalupun harus kita selesaikan pada saat ini juga, bilamana kau masih ada urusan lain cepatlah sampaikan kepada Siauw Ling-heng untuk mewakili kau menyelesaikannya."

Sehabis berkata mendadak tubuhnya ber-putar setengah lingkaran ditengah udara, belum sempat Ang In Sin Pian melihat jelas datangnya bayangan tahu-tahu Liem Tou sudah ada dibelakang tubuhnya dan telapak tangannya sudah menempel pada jalan darahnya Sin Ming Hiat pada punggungnya.

"Pouw Sak San,"

Bentaknya dengan keras "Aku ayah beranak dari keluarga Liem ada yang sakit hati dengan kalian ?

Kenapa kalian turun tangsn kejam terhadap kami ?

Ini hari kau sudah terjatuh ketanganku.

Hm, kau tidak boleh lolos dari kematian bilamana kau masih ada perkataan yang kira-kira hendak kau sampaikan buat putramu cepatlah katakan, bilamana aku sudah kerahkan tenaga dalam maka untuk berbicara tidak bakal kau lakukan lagi untuk selamanya."

Didalam keadaan seperti ini sekalipun Ang Ln Sin Pian mempunyai beribu ribu patah kata yang hendak disampaikan juga tidak dapat diucapkan keluar, tidak terasa lagi dari rasa terkejut dia jadi merasa putus asa dan menghela napas panjang, dua titik air mata tidak kuasa lagi menetes keluar membasahi pipinya.

"Liem Tou !"

Ujarnya dengan sedih.

"Aku membunuh si pancingan emas sakti Liem Cong adalah dikarenakan dendam perguruan, sekarang aku cuma merasa menyesal kenapa tempo hari tidak sekalian membereskan nyawamu sehingga meninggalkan bencana buat ini hari. Hey ! Kau turun tanganlah, aku tidak ada perkataan lagi yang bisa dikatakan !"

"Tahan!"

Tiba-tiba Pouw Siauw Ling yang ada dtsampingnya membentak dengan suara yang keras. Tanpa memperdulikan apa pun dia segera maju kedepan.

"Pouw Siauw Ling !"

Bentak Liem Tou, dengan gusar sewaktu melihat tindakannya itu! ,,Cepat kau menyingkir dari sini, kalau tidak aku segera akan turun tangan mencabut nyawa ayahmu."

Baca Juga: Pedang Penakluk Iblis 4

Baca Juga: Rajawali Emas Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert