Eps 8 Raja Silat - Chin Hung
Baca online Raja Silat - Chin Hung
Cersil Raja Silat - Chin Hung.
Pouw Siauw Ling mana mau memperdengar suara bentakan dari Liem Tou itu, dengan tanpa peduli nyawanya sendiri kembali dia menubruk mendatang.
Liem Tou segera menggigit kencang bibirnya, mendadak dia mengerahkan tenaga dalamnya menghantam punggungnya dihadapannya, membuat Ang In Sin Pian saking sakitnya lantas menjerit ngeri, isi perutnya terpukul luka sedang darah segar memancur keluar dari mulutnya.
"Pouw Siauw Ling !"
Sekali lagi Liem Tou membentak keras.
"Bila kau maju lagi, ayahmu segera tidak ada nyawa lagi."
Pouw Siauw Ling tidak dapat berbuat apa-apa lagi, mendadak dia menjatuhkan diri di-hadapan ayahnya Ang In Sin Pian.
"Tia ! kau sungguh-sungguh tidak bermaksud untuk berbicara ?"
Serunya sambil menangis.
Saat ini air mata pun mulai bercucuran membasahi kelopak mata Ang In Sin Pian, dengan paksakan diri dia menarik hawa murninya untuk menahan rasa sakit dari luka dalam yaog dideritanya.
"Kau ... kau , , . dan adikmu ... tidak becus semua ... tenaga ... da... lam kalian terlalu cetek Heeeeeii !"
Dia menghela napas panjang, kemudian sekali lagi memuntahkan darah segar, mendadak sepasang matanya melotot lebar-lebar lalu bentaknya dengan keras.
"Leng-jie ! Kecuali kau bisa menemukan kitab pusaka "Cian Tok Toh", kalau tidak jangan harap bisa membalas dendam ini ! Cepat kau tinggalkan tempat ini unruk mencari adikmu "
Berbicara sampai disini dia gelengkan kepalanya dan pejamkan mata rapat-rapat, bibirnya tiada hentinya gemetar.
Liem Tou tahu pada saat ini dia merasakan penderitaan yang amat menyiksa dirinya, baru saja dia bermaksud untuk menambahi dengan dua bagian tenaga dalamnya mendadak ....
Segulung angin pukulan dengan amat santarnya membokong dirinya dari belakang, tidak sempat berpikir panjang lagi sepasang telapaknya bersama-sama mengerahkan tenaga, telapak kanannya mendadak ditekankan keatas pundak Ang In Sin Pian lebih keras sedangkan telapak kirinya dengan mengikuti gerakan tubuh menyambut datangnya serangan bokongan itu dengan keras lawan keras.
Dalam sekejap saja tiga buah jeritan keras memenuhi seluruh angkasa bersama pula meledaknya satu bentakan yaag memekikkan telinga.
Mendadak Liem Tou merasakan tenaga pukulan yang dilancarkan kearah belakang sudah tertahan oleh satu hawa pukulan yang amat aneh sekali, Pikirannya segera berkelebat tubuhnya bersamaan dengan ditariknya angin pukulan meloncat dua kaki jauhnya ke depan.
Ketika menoleh tanpaklah Ang In Sin Pian sudah menggeletak diatas tanah tanpa bernyawa lagi sedang Pouw Siauw Ling sedang menubruk diatas mayatnya dan menangis tersedu-sedu, Si"
Liong Ciang"
Lie Kian Po sambil menyilangkan telapak tangannya didepan dada duduk bersila tidak bergerak, wajahnya amat pucat sekali, sebaliknya Lie Loo jie tanpa mengucapkan sepatah katapun sudah berdiri disampingnya.
Saat inilah Liem Tou baru tahu kalau orang yang baru saja melancarkan serangan bokongan dari belakang bukan lain adalah ,,Si-Liong Ciang"
Lie Kian Poo bilamana bukannya Lie-Loo jie tepat pada waktunya turun tangan memberikan pertolongannya kemungkinan sekali diapun bakal menemui ajalnya pula didalam serangan dahsyat tersebut.
Setelah dia orang dapat melihat semua kejadian itu dengan jelas didalam hati dia mulailah rasa menyesalnya dengan sedihnya dia berjalan mendekati Lie Loo jie lalu ujarnya dengan suara yang perlahan .
"Berkat doa restu dari Supek ini hari Su-titmu berhasil memenuhi keinginan untuk membalas dendam sakit hati ini, tidak kusangka tanpa sengaja akupun sudah melukai diri paman Lie, harap Supek suka membantu dirinya untuk menyembuhkan luka yang diderita nya."
Dengan perlahan Lie Loo jie mengangguk, baru saja dia mau berjongkok untuk memeriksa luka dari Lie Kian Poo mendadak dia sudah meloncat menghindar.
"Liem Tou !"
Bentaknya dengan marah.
"Kau terlalu kejam ! siapa yang kesudian menerima bantuan ? Sekalipun harus mati aku-pun tidak sudi menerima bantuan dari kalian"
"Paman Kian Poo kau jangan marah"
Seru Liem Tou coba menghibur dirinya.
"Kesemuanya ini salah aku orang tidak terlalu hati-hati sehingga sudah melukai diri paman, Hei----sudahlah, paman Lie ! lukamu tidak ringan, biarlah Supekku tolong memeriksakan lukamu itu."
Si "Liong Ciang"
Lie Kian Poo segera melepaskan diri dari cekalan Liem Tou, mendadak telapak tangan kanannya melancarkan satu pukulan kearahnya, kemudian dengan rasa amat gusar bentaknya ;
"Liem Tou ! cepat kau menggelinding pergi dari sini. aku Lie Kian Poo sebagai seorang penjaga keamanan perkampungan tidak akan mengijinkan kau sebagai seorang pembunuh tinggal disini. Hmm ! Bocah cilik nyalimu sungguh besar, kau berani membinasakan Cung cu dihadapanku, terus terang saja aku beritahukan kepadamn. Aku yang tidak bisa membalaskan dendam baginya saja sudah merasa amat malu apalagi menerima bantuan kalian !"
"Paman Kian Poo !"
Seru Liem Tou coba menghibur dirinya lagi setelah dia berhasil menghindarkan diri dari datangnya pukulan tersebut.
"Cung-cu jadi orarg amat kejam dan berpikiran licik, terhadap paman Kian Poo pun menaruh maksud jahat, ditambah lagi dia mau membongkar kuburan ayahku. meracuni ayahku sampai mati kesemuanya ini paman Kian Poo dapat melihat dengan mata kepala sendiri. Cung-cu semacam ini sekalipun mati, ada apanya yang patut di-sayangkan ?"
"Sekalipun Cung-cu tidak berperi kemanusiaan apakah aku tidak boleh mengingat budinya ?"
Bentak si "
Liong Ciang"
Lie Kian Poo lagi dengan amat gusar.
"Tentang hal ini adalah urusanku sendiri kau tidak boleh ikut campur, lebih baik kau cepat cepat menggelinding pergi dari sini, walaupun aku tidak dapat membalaskan deadam ini tetapi aku bisa melaporkan hal ini kepada suhu serta susiok-couw nya, bilamana kau tidak mau pergi juga dari sini, sampai waktunya aku mau lihat kau bisa berbuat apa terhadap dirinya!"
Liem Tou mendengar dia berkata demikian mendadak dari nada ucapannya itu sudah menemui sesuatu, bukankah terang-terangan dia sedang memberikan peringatan kepada dirinya untuk berjaga-jaga atas serangan dari si-penjahat naga merah serta Thiat Bok Thaysu, Tidak kuasa lagi dia tertawa terbahak-bahak.
"Baiklah"
Gumam Kian Poo "haa . haa kau tidak malu disebut sebagai seorang lelaki sejati"
Serunya.
"Aku Liem Tou dengan melihat diatas wajahmu ini hari ampuni jiwa Pouw Siauw Ling, Paman Kian Poo selamat tinggal.""
Selesai berkata dia segera menjura dengan sangat hormatnya.
Mendadak ujung matanya dapat melihat Pouw Siauw Ling sambil menggendong jenasah dari ayahnya Ang In Sin Pian hendak meninggalkan tempat itu.
Pada saat itulah Liem Tou teringat kembali akan hutangnya kepada Oei Poh itu anak murid dari si golok naga hijau sewaktu ada dikota Hong Kiat, cepat-cepat bentaknya dengan keras.
"Pouw Siauw Ling, tunggu sebentar !"
Tanpa disadari lagi Pouw Siauw Ling segera menghentikan langkahnya, Liem Tou cepat cepat maju kedepan mendadak tangannya mencengkeram leher dari mayat Ang In Sin Pian dan dengan sekuat tenaga diputarnya ke samping.
"Kraak ... !"
Dengan menimbulkan suara yang amat keras tulang lehernya sudah putus, sewaktu Liem Tou mengerahkan tenaganya untuk yang kedua kalinya batok kepala dari Ang In Sian Pian dengan disertai kulitnya pula terlepas dari tempatnya semula.
Liem Tou menyambar pula kejubah yang dipakainya untuk menyobek sekerat kain lalu membungkuk memungut batok kepala itu, setelah itu dia baru-mengulapkan tangannya sambil berseru .
"Pouw Siauw Ling, sekarang kau boleh pergi"
Pouw Siauw Ling yang melihat batok kepala ayahnya ditarik oleh Liem Tou hingga putus seketika itu juga merasakan kepalanya pening matanya berkunang-kunang,...
hawa amarah berkobar dihatinya.
Ditengah suara teriakannya yang amat keras mendadak dia melemparkan mayat ayahnya yang tak berkepala kearah Liem Tou bersamaan pula sepasang tangannya dipentangkannya lebar-lebar bagaikan se-orang gila dengan dahsyatnya menubruk ke-arah Liem Tou.
Dengan gesitnya Liem Tou bergeser ke samping menghindarkan diri dari tubrukan tersebut.
"Hey Pouw Siauw Ling!!"
Teriaknya.
"Harus kau ketahui ayahmu sadah menggunakan akal membunuh mati sigolok naga hijau Sie Piauw-tauw sekarang muridnya yang keempat Oei Poh lagi bermaksud untuk membalaskan dendam suhunya ini maka terpaksa aku harus mennbawa batok kepalanya ini untuk disumbangkan kepadanya buat apa kau sekarang menubruk-nubruk aku seperti orang gila? Bilamana bukannya karena perkataan dari adikmu, hmmm hm ... kemungkinan saat inipun kau sudah jadi setan gentayangan"
Saat ini Pouw Siauw Ling sudah kehilangan kesadarannya, mana dia orang mau mendengarkan perkataan ini?
Sambil mementangkan jari-jari tangannya dengan serabutan dia mencakar, mencengkeram dan menghantam tubuh Liem Tou.
Berturut-turnt Liem Ton berkelebat kesana kemari hampir-hampir membuat dia orang tak bisa berbuat apa-apa, sebentar kemudian satu ingatan sudah berkelebat didalam benaknya sehingga tidak kuasa lagi dia tertawa geli.
"Lie Supek ! Dia sudah jadi gila ... haaa-haaa ... haaa . , . hal ini sangat bagus sekali !"
Teriaknya sembari menoleh kearah Lie Loo jie.
"Supek ! Mari kita pergi saja dari sini. tak ada gunanya mengurus orang gila semacam dia "
Lie Loo jie mengangguk, ujung kakinya sedikit menutul tanah dengan beberapa kali-kelebatan dia sudah menerjang masuk kedalam hutan disusul Liem Tou dari belakang.
Pouw Siauw Ling pun sambil berteriak-teriak dan berkaok-kaok kalap ikut menerjang kedalam hutan, tetapi sewaktu tiba di tepi hutan tersebut bayangan Liem Tou sudah tidak terlihat sama sekali olehnya.
Keadaan seperti itu membuat dia tidak bisa banyak berbuat, mendadak teriaknya .
"Liem Tou ! Kau kira bisa lolos dari sini dengan selamat ?Hmm bisa menghindari Hwee sio, jangan haiap bisa lolos dari tangan Ni-kouw kecuali kau tidak pergi kerumah Lie Siauw Ie lagi."
Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut dalam hati sedikit tergerak.
"Supek !"
Serunya kepada Lie Loo jie dengan gugup.
"Apakah kau orang tua bisa menangkap maksud dari perkataannya ini ?"
"Apa mungkin Thiat Bok thaysu serta si penjahat naga merah dua orang setan tua itu sudah berbuat sesuatu yang tidak menguntungkan diri Ie jie serta Wan jie dua orang ?"
Tanya Lie Loo jie setelah berpikir sejenak. Liem Tou pun segera merasakan perkataannya ini ada kemungkinan; hatinya jadi merasa sangat cemas.
"Kalau begitu mari kita cepat-cepat pergi kesana; mereka berdua bukanlah tandingan dari kedua orang setan tua itu !"
Katanya.
Sehabis berkata dia putar badannya berlari menuju kedalam perkampungan.
Tetapi baru saja hendak menerjang masuk kedalam perkampungan mendadak tampaklah olehnya dua sosok bayangan hitam dengan kecepatan yang luar biasa meluncur keluar.
Liem Tou serta Lie Loo jie dengan ter-buru-buru berkelebat kesamping untuk bersembunyi ditempat kegelapan, tampaklah seorang yang berbadan kuat serta seorang berperawakan kurus bersama-sama melayang datang.
Orang itu bukan lain adalah si penjahat naga merah serta Thiat Bok Thaysu adanya, melihat munculnya kedua orang itu disini Liem Tou serta Lie Loo jie segera merasa hatinya rada lega.
Menanti kedua orang itu sudah pergi jauh Liem Tou berdua baru meloncat ke atas atap rumah dan kemudian dengan beberapa kali loncatan melayang turun didepan pintu rumah Lie Siauw Ie.
Terlihatlah jendela rumah itu terpentang lebar-lebar tetapi tidak kedengaran sedikit suarapun, melihat kejadian ini tidak terasa mereka jadi merasa curiga.
Liem Tou dengan cepatnya segera menerjang masuk kedalam rumah melalui jendela yang terbentang lebar, tetapi di kedua bilik rumah itu dia sama sekali tidak menemukan bayangan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie!
"Kemana mereka berdua pergi.
Jilid 29 Saat ini Lie Loo jie pun sudah muncul di samping badan Liem Tou, sewaktu dilihatnya wajah yang cemas dari keponakannya ini tidak kuasa diapun jadi melengak.
"Mereka berdua sudah pergi kemana ?"
Dengan perlahan Liem Tou gelengkan ke palanya, mendadak dia menyerahkan batok kepala dari si Ang In Sin Pian itu ke tangan Lie Loo-jie lalu ujarnya dengan tergesa-gesa.
"Supek, kau tunggulah sebentar disini, aku akan pergi dulu untuk mengadakan suatu penyelidikan, di dalam urusan ini tentu ada hal hal yang tidak beres. Selesai berkata tanpa menunggu jawaban dari Lie Loo jie lagi dia segera meloncat ke luar melalui jendela, dengan beberapa kali salto tubuhnya sudah berada di atas atap kembali lalu dengan gesitnya melayang kebangunan baru dari si Ang In Sin Pian. Ketika tiba dibagian luar dari bangunan Ang In Sin Pian itu, tiba tiba melihat si "Liong Ciang"
Lie Kian Poo menggeletak di atas tanah dalam keadaan terluka parah, saat ini dia sama sekali tidak ada niat untuk memeriksa keadaan lukanya, dari dalam sakunya diambil keluar tali obat yang didapatkan dari Hek-loo-toa lalu diputuskan sekerat dan dijejalkan kemulutnya Lie Kian Poo.
Setelah itu tanpa banyak cakap lagi tubuhnya melayang dengan cepatnya menuju ke ruang dalam dari bangunan Ang In Sin Pian.
Kecepatan geraknya luar biasa, hanya di dalam sekejap saja dia sudah mengelilingi satu kali seluruh bangunan tersebut.
Tetapi kecuali gundik gundik serta pelayan-pelayan dari Ang In Sin Pian baik bayangan dari si gadis cantik pengangon kambing maupun bayangan dari Lie Siauw Ie.
sama sekali tidak kelihatan.
Liem Tou beiar-benar sangat cemas, dengan cepat dia berlari keluar dari bangunan itu menuju kegunuug Ha Mo San.
Sinar matanya yang amat tajam mendadak secara samar-samar dapat menangkap bayangan seorarng yang lagi menangis di tempat dimana Ang In Sin Pian menemui ajalnya.
"Siapa dia orang?"
Pikirnya di hati. Jikalau dikatakan Pouw Siauw Ling agaknya tidak mirip."
Hawa murninya segera ditarik panjang-panjang kakinya mempercepat gerakannya menerjang ke arah depan.
Agaknya pendengaran dari orang itupun amat tajam.
begitu mendengar di belakang tubuhnnya berkumandang datang suara sampokan baju yang terkena angin.
Mendadak dia meloncat bangun dan berkelebat menuju ke sisi hutan tersebut.
Pada saat orang itu meloncat pergi itulah, jarak antara dirinya dengan Liem Tou cuma tinggal sepuluh kaki saja, sekali pandang saja dia bisa melihat kalau orang itu memiliki rambut yang panjang terurai dibelakang pundaknya, jelas dia adalah seorang perempuan.
"Jien Coei-clci, kau jangan pergi!"
Teriak nya kemudian tanpa terasa lagi.
Tubuhnya dengan cepat ikut menerjang masuk ke dalam hutan, tetapi agaknya gadis itu tidak ingin bertemu dengan dirinya, begitu tubuhnya berkelebat masuk ke dalam hutan dengan cepatnya lantas lenyap tak berbekas Liem Tou yang lehilangan jejak dari Pouw Jien Coei dalam hati merasa rada cemas, bertarut-turut dia ber teriak beberapa kali lagi, sewaktu di dengar tiada jawaban, dia jadi bergumam seorang diri.
"Jien-Coei cici! aku tidak punya akal lagi, aku harus membunuh ayahmu. Pokoknya aku akan melaksanakan seluruh perkataanmu itu, aku tidak akan membunuh Siauw Ling-heng bahkan selamanya aku tidak akan membunuh dirinya. Demikianlah sembari bergumam reorang diri dia berjalan kembali menuju ke rumah Lie Siauw-Ie. Belum jauh dia berjalan meninggalkan hutan tersebut, mendadak serentetan suara tertawa dingin yang amat menyeramkan berkumandang datang dari arah sebelah kiri, dengan terburu-buru Liem Tou menoleh kearah sana. Terlihatlah dari balik sebuah pohon itu yang amat besar sekali muncullah sipenjahat naga merah serta Thiat Bok Thaysu dua orang. Si penjahat naga merah sama sekali belum pernah bertemu muka dengan Liem Tou sedangkan Thian Bok Thaysu pun cuma melihat dia berada di atas punggung kerbau sewaktu ada di kuil Siang Lian si , karena itu sampai saat ini mereka sama sekali tidak mengetahui akan kelihayannya. Si penjahat naga merah yang melihat Liem Tou sama sekali tidak pandang sebelah matapun terhadap mereka bahkan menggubrispun tidak. dalam hati jadi teramat gusarnya, mendadak tubuhnya menerjang ke depan menghalangi perjalanannya. Apakah kau sudah membunuh mati muridku!"' bentaknya dengan suara seperti geledek. Kaukah yang bernama Liem Tou ? Kemapa sesudah bertemu muka dengan kami berdua masih tidak berlutut menyerahkan jiwamu ?"
Malam ini aku tidak ingin terlalu bannyak melukai orang"
Ujar Liem Tou dengan pelahan sambil gelengkan kepalanya berulang kali.
"Kalian janganlah mengganggu aku lagi. Ang In Sin Pian adalah pembunuh ayahku. Sebeaarnya menurut keharusan kalian berduapun merupakan musuh-musuh besar ayahku dan aku boleh bunuh kalian pula, tetapi kini aku tidak ingin membunuh orang lain, lebih baik kalian menyingkirlah jauh-jauh dari hadapanku. Bilamana kalian sungguh-sungguh mau berkelahi tunggu saja sembilan hari kemadian kita bertemu muka di puncak pertama gunung Cing Shia. Sehabis berkata sembari gelengkan kepalanya, dengan perlahan dia berjalan keluar dari hutan tersebat. Si penjahat naga merah yang merupakan seorang manusia ganas yang berhati kejam. Sewaktu dilihatnya gerak gerik Liem Tou Sama sekali tidak mirip dengan seorang jagoan Bu Lim yang sering melakukan perjalan-an, dia sama sekali tidak pandang sebelah matapun terhadap dirinya. Saat ini sehabis mendengar perkataannya itu bukannya jadi marah sebaliknya malah tertawa terbahak-bahak.
"Susiok!"
Ujarnya sembari menoleh ke arah Thiat Bok Taysu.
"Coba kau libatlah bocah cilik yang baru terjunkan dirinya ke dalam dunia kangouw ini. ha .. ha . sungguh lucu sekali! sungguh merupakan anak kerbau tidak takut pada macan haa ..haa ..haa . , bilamana berganti dengan orang lain mungkin sejak tadi sudah berlutut minta ampun"
Mendengar perkataan dari keponakan muridnya ini, dengan pandangan yang tajam Thiat Bok Thaysu memperhatikan beberapa kejab ke arah Liem Tou, beberapa saat ke-mudian dia gelengkan kepalanya.
"Bocah cilik ini ke1ihnannya rada mencurigakan, Cie Liong sutit. janganlah berlaku terlalu gegabah, aku lihat lebih baik kau tanyai dulu asal perguruannya". Pada saat ini agaknya Liem Tou sudah tidak sabaran lagi. mendadak dia membentak keras "Hey! sebetulnya kalian mau menyingkir atau tidak?? aku lihat lebih baik kalian jangan paksa aku turun tangan, hmm! nanti Kalian akan menyesal sendiri". ,' Haa...haa Liem Tou! kau sudah bunuh muridku sekarang kau ingin pergi dari sini? haaa ... haaa ...ini hari jangan harap kau bisa lolos lagi dari tanganku"
Teriak si penjahat naga merah sembari tertawa ter bahak-bahak.
.'.'He !
aku mau tanya padamu siapakah suhumu?
sungguh goblok suhumu itu.
Hm ternyata dia tak becus memberi pelajaran sehingga mendapatkan seorang murid yang begitu sombong dan jumawa!"
Agaknya pada jaat ini Liem Tou benar-benar tidak ingin turun tangan melukai orang lagi, mendengar perkataan tersebut dia tertawa.
"Bilamana aku ingin pergi setiap saat aku bisa pergi, kalian jangan harap bisa menahan diriku."
Sahutnya sambil tersenyum.
'Kalian mau tahu siapakah suhuku?
aku sama sekali tidak ada suhu, si cangkul sakti Lie Seng tidak lebih cuma supekku saja.
Mendengar jawaban itu si penjahat naga meran jadi melengak lalu disambung dengan tertawa terbahak-bahak yang amat keras.
Aku si hweesio naga merah sudah hidup seusia ini tetapi belum pernah mendengar ada orang punya supek tapi tak punya suhu, Liem Tou aku lihat lebih baik kau bicara terus terang saja, ada kemungkinan kau masih bisa hidup lebih lama"
Katanya Liem Tou tetap gelengkan kepalanya, dia melirik ke arah si penjahat naga merah.
"Hey bajingan tua naga merah, kau kira aku benar benar tidak kenal dengan dirimu? Mendadak ia berteriak dengan khe-kinya "Jikalau kau bermaksud menghalangi perjalananku lagi segera aku akan memberi tahu hajaran yang akan menyiksa dirimu. Si penjahat naga merah yang mendengar secara tiba-tiba Liem Tou menyebut akan gelarnya, dia menjadi terperanjat sekali saat inilah dia baru merasa kalau dugaannya sama sekali meleset, tidak terasa lagi hawa murninya segera disalurkan ke seluruh tubuh siap-siap menghadapi sesuatu sedang badannya secara mendadak mundur satu langkah ke belakang. ? "Hey bajingan tua naga merah"
Terdengar Liem Tou melanjutkan kembali kata-kata nya"
Kau janganlah mengira orang-orang Bu-lim masih merasa jeri dengan gelarmu yang pernah menggetarkan dunia kangouw pada dua puluh tahun yang lalu, di mata aku Lien Tau Hmm!
hmmm kau tidak lebih cuma manusia yang tidak becus.
Heee ...he...
coba tanyakan pada susioknu, aku pernah sambil menunggang kerbau turun tangan menghajarnya dan si Thiat Bok setan tua jtu tidak bisa menahan seranganku apalagi kau..he hee...
kau belum becus aku lihat lebih baik janganlah kau cari gara-gara minta digebuk.
Terhadap peristiwa si kerbau sawah yang mengacau Bu-Lim bahkan memperlihatkan kegagahannya di kuil Slang Lian Si, si penjahat naga merah pernah mendengarnya bahkan diam-diam menaruh rasa jeri terhadap dirinya, kini mendengar Liem Tou adalah penuggang kerbau itu dalam hati merasa semakin terperanjat lagi, Tetapi bagaimanapan dia merupakan seorang jago kawakan, sekalipun dalam hati diam-diam merasa terkejut tetapi dia tidak mempercayainya seratus persen.
Diam-diam hawa murninya segera disalurkan ke seluruh tubuh siap-siap melancarkan serangan yang bisa membinasakan Liem Tou.
Seluruh gerak geriknya yang dilakukan secara diam-diam ini tidak dapat lolos dari ketajaman mata Liem Tou, terdengar dia tertawa ringan.
"Hey bajingan tua naga merah, apa kau sungguh-sungguh ingin berkelahi??"
Bentaknya.
"Apa kau sudah tidak sabar menunggu sampai pertemuan di puncak pertama digunung Cing Shia ?"' Saat ini si penjahat naga merah sudah salurkan sepuluh bagian tenaga murninya ke seluruh tubuh dan siap-siap melancarkan serangan.
"Ci Liong sutit, lebih baik untuk sementara kita ampuni dulu jiwanya. Cegah Thiat Bok Taysu tiba tiba. ,.Setelah kita mengetahui dia adalah keponakan murid dari Lie Sang apakah kau takut dia orang bisa melarikan diri lagi ?"
Dengan perlahan dia segera menoleh ke arah Liem Tou, lalu sambungnya lagi .
"Hey bangsat cilik, pertemuan di puncak Cing Shia sebetulnya adalah Lie Sang yang bertindak sebagai penyelenggara. Hm ! sekarang kau berjanji pula dengan kami baik-lah, sampai waktunya tentu akan aku kasih satu hajaran yang setimpal buat dirimu, sekarang kau boleh berlalu dulu". Sebenarnya dalam hati Thiat Bok Thaysu sudah menaruh rasa yang was was terhadap diri Liem Toa, sejak kesepuluh hawa pukulan beracunnya dipecahkan oleh sang kerbau sewaktu masih ada di kuil Siang Lian Si dalam batinnya dia sudah menaruh curiga kalau peristiwa ini tentu perbuatan dari Liem Tou sehingga sekarang diam diam terhadap Liem Tou sudah merasa rada gentar. Kini melihat dia sama sekali tidak tergeak oleh nama besar dari si penjahat naga merah, sudah tentu dalam hati mereka merasa kalau dia orang tentu memiliki suatu kepandanian yang hebat! Karena belum tahu betul betul akan asal usul dari Liem Ton, maka sewaktu melihat keponakan muridnya hendak turun tangan terburu buru dia segera turun tangan mencegah. Mendengar perkataan dari Thiat Bok Thay ini. Liem Tou segera tertawa.
"Haa...haa ... bagus sekali, hey coba kau lihat susiokmu jauh lebih tahu aturan dari kau ,"
Serunya sambil menoleh ke arah si penjahat naga merah.
"Sekarang aku mau tanya padamu, dimanakah suhumu Suo Kuk Mo Pian berada ? Kenapa dia orang tidak sekalian datang ke gunung Cing Shia? aku masih ada utang lama yang harus diselesaikan dengan dirinya. ,,Susiokku sudah suruh kau pergi. kenapa kau tidak cepat cepat pergi dari sini ? apakah kau baru man pergi sesudah lidahmu aku potong ?"' bentak si penjahat naga merah dengan gusarnya. Sepasang matanya melotot keluar bulat bulat. Kau tidak suka memteri tahu kepadaku, yaah sudahlah, sahut Liem Tou kemudian sambil angkat bahu. Pokoknya asal dia tidak mati ada satu hari aku bisa menyuruh kalian berdua Susiok-tit serta suhumu itu menemui ajalnya di tengah pegunungan yang sunyi. Mendadak air mukanya berubah hebat, lalu bentaknya lagi. Thiat Bok Thaysu, penjahat naga merah kalian dua orang bajingan tua dengarlah pertanyaanku baik-baik, setiap perkataan yang aku ucapkan benar benar akan aku laksanakan, lebih baik mulai sekarang kalian berdua mengadakan persiapan terlebih dahulu. Selesai berkata tubuhnya segera berkelebat pergi dari sana. Thiat Bok serta si penjahat naga merah cuma merasakan di hadapannya melayang pergi segulung asap hijau, tahu-tahu bayangan dari Liem Tou sudah lenyap tak berbekas. Melihat kejadian itu tidak kuasa lagi dalam hati mereka berdua merasa bergidik ! Sewaktu mereka sedang merasa terkejut daa saling herpandangan itulah mendadak dari dalam perkampungan berkelebat datang lagi seorang yang berlari ke hadapan Thiat Bok Taysu serta si penjahat naga merah lalu jatuhkan dirinya berlutut ! Leng jie mengunjuk hormat buat susiok couw. Harap susiok couw suka membantu Leng jie untuk membalaskan dendam berdarah ini, mohonnya sambil menangis tersedu-sedu. Sehabis bsrkata dia mengangguk-anggukkan kepalanya sehingga batok kepalamya membentur tanah dengan amat keras. Melihat akan hal itu sipenjahat naga merah rada mengerutkan alisnya, mendadak dia maju satu langkah membangunkan diri Poaw-Siauw Ling lalu ujarnya. Leng jie kau tidak boleh berbuat demikiau. ,aku serta susiok couwmu tentu akan berusaha untuk membalaskan dendam ayahmu cuma saja ---cuma saja ---Berbicara sampai di sini mendadak dia menutup mulutnya dan menoleh ke arah Thiat Bok Thaysu. i Thiat Bok Thaysu yang melihat perubahan wajah dari sutitnya itu segera bisa menduga apa yang dipikirkan dihatinya pada saat ini dengan cepat dia menyambung dengan wajah serius . Cie Liong sutit apakah bermaksud hendak menemui suhumu untuk mengepalai urusan ini ? Dengan perlahan si penjahat naga merah mengangguk. 'Sutit yang baru saja melihat gerakan badan Liem Tou si bangsat cilik itu sewaktu meninggalkan tempat ini dalam hatiku segera merasa kalau gerakannya amat cepat dan aneh sekali, bilamana tenaga dalamnya belum berhasil dicapai sampai pada taraf kesempurnaan tidak mungkin dia berhasil memiliki ilmu meringankan tubuh yang demikian luar biasanya, karena itu aku rasa pertemuan di gunung Cing Shia yang akan datang, aku mau mengundang suhu untuk dapat memimpin urusan ini, sutit mcrasa cuma dengan kekuatan kita bertiga baru sanggup untuk melawannya. Mendengar perkataan tersebut Thiat Bok Thaysu segera mengangguk, pada wajahnya yang kurus dan hitam pekat bagaikan arang itu terlintaslah perasaan keberatannya, setelah termenung sebentar akhirnya dia ber kata . Menurut penglihatanku, tenaga dalam dari Liem Tou si bangsat cilik itu sudah berhasil mencapai seperti apa yang dimiliki Hoa siong salah seorang anggota dari Auh Hay Siong-Hiap tempo hari. Sewaktu Hoa siong naik ke gunung Ai Lau san masa lampau, sekalipun aku serta suhumu dan si hweesio tujuh jari harus bekerja sama pun meraja rada berat apa lagi sekarang harus menghadapi bangsat cilik ini aku rasa lebih baik kita sedikit berhati-hati. Dia berhenti sebentar untuk mendehem beberapa kali setelah itu tambahnya lagi . Walaupun mengundang suhumu adalah sangat penting sekali, tetapi dia masih belum memenuhi tujuh tahun latihannya apakah ilmu yang termuat didalam kitab pusaka Kioe Im Cang Ci Loo Han Cin Keng sudah selesai dipahami atau belum kita masih belum tahu, ditambah lagi bagaimana perubahan sifatnya selama tujuh tahun ini juga tidak ada orang yang tahu, aku rasa maukah dia turun gunung masih merupakan satu persoalan yang berat. Perkataan dari susiok sedikitpun tidak salah. Sahut si penjahat naga merah membenarkan. Tetapi menurut pendapat dari sutitmu, orang kali ini harus naik kegunung Soat san untuk mengundang suhu turun gunung bukanlah sulit, melainkan meminta Leng jie untuk melakukannya disamping hendak menggembleng hatinya kitapun mengadu keuntungan. ada kemungkinan suhu yang melihat dia ber bakat baik suka menerimanya sebagai murid. Baiklah, jawab Thiat Bok Thaysu kemudian sanbil menyipitkan sepasang matanya. biarlah dia yang melakukan tugas ini, tetapi di dalam prrjalanan ini boleh dikata menempuh bahaya, kau harus menjelaskan terlebih dulu kepadanya, Si penjahat naga merah segera mengangguk, lalu dengan perlahan dia menoleh ke arah Pouw Siauw Ling. Leng jie kau dengarkanlah baik baik perkataanku, ujarnya. Aku tahu didalam hati kamu ingin sekali membalas dendam ini tetapi terus terang sucouw beritahu padamu tenaga dalam yang dimiliki Liem Tou benar benar luar biasa sekali, sampai aku serta Suthay siok yang bekerja sama pun belum pasti dapat memenangkan dirinya. Masih untung pertemuan di puncak gunung Cing Shia masih ada sembilan hari lamanya dan dari sini me nuju ke gunung Soat san pun tidak begitu jauh. Aku lihat lebih baik kau berangkat saja, ke gua Im Han Hong Tong digmung Soat san untuk mengundang Suthay couwmnu turun gunung dan ikut serta dalam pertempuran digunung Cing Shia kali ini, apakah kau punya keberanian untuk melaksanakan tugas ini? Mendengar perkataan tersebut tanpa berpikir panjang lagi Pouw Siauw Ling segera menyanggupi.
"Leng jie"
Ujar si penjahat naga merah lagi dengan wajab yang tiba-tiba serius.
Kau jangan terlalu pandang kekuatanmu sendiri, aku beritahu padamu gunung Soat san sepanjang tahun ditutupi salju walaupun saat ini musim panas tetapi salju yang ada di sana masih tebal dan dinginnya menusuk tulang, apalagi gua Han Hong Tong tersebut sepanjang tahun tidak pernah menemui sinar matahari, tempat itu semakin sukar untuk didaki, walaupun kamu sudah menggunskan ilmu meringankan tubuh, sedikit kau salah perhitungan ada kemungkinan bahaya longsornya gunung salju bisa mengubur mati kau.
Maka itu sebelum berangkat lebih baik kau berpikir terlebih mantap lagi.
Pouw Siauw Ling yang mendengar begitu bahayanya perjalan yang hendak ditempuh dalam hati merasa bergidik juga.
Tbiat Bok Thaysu yang selama ini terus menerus memperhatikan diri Pouw Siaw Ling, dari begitu melihat perubahan wajahnya dalam hati segera mengerti apa yang sedang dia pikirkan.
tak terasa lagi suara dengusan yang amat dingin keluar dari hidung nya.
Pouw Siauw Ling yang sudah lama mengikuti ayahnya Ang In Sin Pian berkelana di dalam Bu-lim pikirannya pun semakin bertambah tajam, mendengar suara dengusan itu hatinya segera tergetar keras, mendadak teriaknya keras.
Leng lie sekalian harus terkubur dalam runtuhan tumpukan salju dan menderita dinginnya salju yang menusuk tulang juga akan pergi unmk menemui Suthay couw.
Leng jie sudah bulatkan tekad, harap Su couw suka menyerahkan tanda kenal kepada Leng jie pada kentongan kelima nanti Leng jie segera akan berangkat.
Waktu itulah si penjahat naga merah serta Thiat Bok thaysu baru tertawa terbahak-bahak, dari dalam sakunya si penjahat naga merah lantas mengeluarkan tanda kepercayaan-nya berupa ulai merah yang terbuat dari tembaga merah dan diserahkan kepada Pouw Siauw Ling, Sedangkan Thiat Bok thaysu pun menghadiahkan dua butir pil kepadanya.
Untuk sementara kita tinggalkan dulu Pouw Siauw Ling yang serang menuju ke gunung Soat san untuk mengundang suthay couwnya Si Suo Kuk Mo Pian atau suhunya si penjahat naga merah.
kita balik pada Liem Tou setelah meninggalkan Thiat Bok thaysu serta si penjahat naga merah.
Dengan gerakan yang cepat dia berlari menuju kerumahnya Lie Siauw Ie, waktu itu Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kam bing sudah kembali kerumah.
Ie cici Wan moay moay kalian tadi pergi kemana ?
Tanya Liem Tou begitu bertemu muka dengan mereka.
Mendadak dia menemukan wajah Lie Siauw Ie penuh diliputi dengan kesedihan yang mencekam hatinya dan duduk disamping tanpa mengucapkan sepatah katapun, hatinya jadi rada melengak.
Apakah dia lagi merasa sedih karena kehilangan ibunya??
pikirnya.
Ie cici ujarnya kemudian sambil bertindak maju ke depan.
Adik Tou tahu perbuatanku yang menyembunyikan dar cici atas berita dari kematian Pek bo adalah salah, tetapi urusan sudah lewat apakah Ie cici tidak mau memaafkan kesalaban dari adikmu itu ?
Dengan perlahan Lie Siauw Ie melirik sekejap kearah Liem Tou, dia bisa melihat dari sinar mata Liem Tou benar-benar memancar keluar rasa sayang dan cintanya yang amat sangat bahkan menaruh pula rasa menyesal yang mendalam membuat hatinya tergetar.
Adik Tou, sejak tadi aku sudah beritahu padamu aku sama sekali tidak menyalahkan dirimu sahutnya dengan sedih.
Urusan yang sudah lewat tidak usah kita ungkap lagi mulai saat ini keadaanku sama dengan keadaan kau.
Kita tidak dapar berdiam lagi di dalam perkampungan Ie Hee san Cung.
"Ie cici bagaimana kau bisa berbicara demikian ?"
Tanya Liem Tou keheranan.
"Sekalipun Pek bo sudah meninggal tetapi paman-paman serta kawan kawan masih banyak sekali. bagaimana Ie cici bisa punya pikiran demikian ?' "Adik Tou kau tidak tahu, sampai Jien Coe cicipun tidak mau gubris aku lagi, apakah aku bisa tetap tinggal di perkampungan Ie Hee san Cung lebih lama lagi ?"
Ujar Lie Siauw Ie sambil menghela napas panjang.
"Tadi aku bersama-sama Wan moay-moay pergi mengejar dirinya, siapa tahu dia tidak mau menemui aku lagi, akhirnya setelah aku kembali disini dan melihat suhu masih memegang batok kepalanya dari Cung Cu aku baru tahu tentunya dia masih merasa benci kepada kita karena kau telah membunuh mati ayahnya ! Di dalam perkampungan Ie Hee san Cung kecuali ibuku dialah satu-satunya kawan karibku, sekarang dia sudah merasa benci terhadap diriku aku.,."
Belum habis berbicara tidak tertahan lagi air mata mulai bercucuran membasahi seluruh wajah Lie Siauw Ie.
Saat inilah Liem Tou baru tahu kejadian apa yang sudah terjadi, diam-diam mulai termenung dan memikirkan jejak dari Jien Coei dari permulaan sampai akhir, sewaktu teringat akan ketiga buah permintaannya itu mendadak hatinya menjadi sadar kembali.."Aaah ...ternyata pikirannya amat tajam sekali, agaknya dia sudah memikirkan peristiwa ini jauh hari sebelumnya"
Gunamnya seorang diri.
"Cuma sayang ayah dan kakak-nya tidak suka mengubah cara hidupnya ... Heey justeru mereka mengambil jalan yang bertentangan dengan sifatnya."
Lie Siauw Ie yang melihat Liem Tou bergumam seorang diri, dia jadi bingurg. lalu dengan pandangan keheranan memandang dirinya tak berkedip. Mendadak terdengar Liem Tou menghela napas panjang lapi.
"Ie cici, Jien Coei cici tidak akan membenci dirimu bahkan bilamana dugaanku tidak salah, kematian ayahnya ini hari sudah ada pada dugaannya jauh sebelumnya !"
Ujarnya dengan perlahan "Tetapi dia adalah seorang gadis yang paling kasihan dan paling menyedihkan."
Liem Tou segera menceritakan kisahnya sewaktu ada diselat Wu san dimana dia berhasil menawan Pouw Siuw Ling untuk paksa Ang In Sin Pian mengambilkan lima laksa tahil perak yang dirampok dari tangan si golok naga hijau lalu memaksa pula Pouw Siauw Ling untuk mengakui kematian ayahnya dan akhirnya disusul oleh Pouw Jin Coei meminta agar Pouw Siauw Ling dilepaskan ditambah pula ketiga permintaan.
Permintaannya yang terakhir ialah mengharapkan Lie Siarw Ie suka melupakan dirinya dan untuk selamanya jangan mencari dia lagi.
Sehabis bercerita Liem Tou menghela napas lagi.
"Aku tahu Jien Coei cici secara diam-diam terus menerus membuntuti diriku"
Katanya.
'Tetapi aku rasa sejak ini hari dia akan terbang jauh keujung langit, bilamana Ie cici mau mencari jejaknya maka hal ini sama saja dengan mencari jarum di tengah samudra maksud hatimu ini tidak bakal bisa dipenuhi."
Selama ini Lie Siauw Ie terus menerus berdiam diri tetapi air mata mengucur terus semakin deras.
lewat kurang lebih seperminum teh kemudian dia baru menghela napas panjang.
' Ah".
Jin Coei cici sungguh kasiban sekali !"
Serunya .
Saat itu si gadis cantik pengangon kambing yang melihat Lie Siauw Ie merasa kesedihan, segera menghibur dirinya dengan kata kata yang halus.
Liem Tou sendiripuu sengaja memperlihatkan senyuman yaag menghiasi dirinya.
"Ie cici kau jangan bersedih hati lagi hi burnya "Aku rasa Jien Coei cici mungkin cuma tidak ingin menemui kita di dalam waktu yang singkat saja, asalkan dia masih hidup d1 dunia maka ada satu hari tentu bisa kita jumpai kembali. Lie Loo jie yang paling tidak terbiasa dengan cara-cara pemuda pemudi yang banyak sedih dan cucuran air mata, selama ini terus menerus berada disamping tanpa mengucapkan sepatah kata. Lewat beberapa saat kemudian setelah melalui berbagai macam kata-kata hiburan dari si gadis cantik pengangon kambing akhirnya Lie Siauw Ie berhenti menangis. Waktu ini kentongan keempat sudah berlalu mendadak dari sebelah Barat dari perkampungan Ie Hee san Cung berkumandang datang suara tangisan yang gegap gempita memecahkan kesunyian yang mencekam di malam hari yang sunyi itu. Lie Siauw Ie segera meloncat bangun.
"Suara teriakan serta tangisan ini berasal dari bangunan keluarga Pouw, apakah sudah terjadi lagi peristiwa di luar dugaan ?"
Tanyanya. Lie Loo jie yang paling tidak suka mendengarkan suara jeritan serta tangisan itu segera mengerutkan alisnya rapat rapat.
"le-jie, Wan jie coba kalian pergi lihat di sana sudah terjadi peristiwa apa, biarlah aku serta sutit beristirahat sebentar disini"
Perintahnya kepada dua orang nona itu.
Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing segera menyahut, baru saja mereka hendak keluar dari pintu mendadak dari luar rumah itu menyorot sinar api yang sangat terang benderang diikuti segerombolan api obor bergerak mendatang.
Beberapa orang yang berada diluar rumah itu jadi dibuat melongo longo, baru saja mereka merasa keheranan mendadak sinar obor itu sudah berhenti diluar rumah disusul suara teriakan gembira yang gegap gempita memecahkan kesunyian.
Diantara suara teriakan-teriaka itu terde-ngar ada beberapa orang yang lagi berteriak.
"Hooooreeee ... Pouw Sak San sudah dibu nuh, bagus, bagus sekali ! Dia tidak sesuai menjabat sebagai Cung cu kami. Liem Tou ! Lie Siauw le ! Kalian ada di rumah atau tidak? Ayoh cepat keluar ... Hey Liem Tou ! Kita sudah lama tidak bertemu muka '."
Ada pula yang berteriat dengan suara keras .
"Besok pagi di dalam lapangan silat di dalam perkampungan Ie Hee san Cung akan di buka pertandingan pie-bu untuk memilih Cung cu yang baru. Liem Tou ! Lie Siauw Ie ! Kalian berdua haras mengalahkan seorang she Pouw itu !"
Baik Liem Tou maupun Lie Siauw Ie yang mendengar teriakan itu dalam hati merasa terkejut.
Dalam pikiran Liem Tou.
dia sudah diusir keluar dari perkampungan bagaimana mungkin boleh ikut didalam pie bu untuk mencari Cung cu yang baru ini ?
Keluarga Lie serta keluarga Pouw menetap di gunung Ha Mo San ini belum pernah ada seorang Cung cu perempuan, dirinya apa mungkin boleh ikut ?
"Ie cici !"
Terdengar Liem Tou berkata terhadap diri Lie Siauw Ie.
"Tempat ini seharusnya kaulah yang berhak untuk memangku jabatan sebagai Cung cu. apa lagi ini hari kaulah yang memimpm mereka untuk mencari diri Pouw Sak San seharusnya kau keluar sebentar menyambut kedatangan mereka"
Lie Siauw Ie segera mengangguk, pada pagi hari dikarenakan dia lagi merasa sedih maka keadaannya lain dengan keadaan saat ini yang lagi tenang. tidak terasa hatinya merasa rada gugup juga.
"Adik Tou, mari kita keluar bersama-sa-ma !', ajaknya. Liem Tou lantas mengangguk dan bersama sama berjalan keluar dari rumah. Setibanya diluar pintu itu terlihat dihadapan mereka sudah berdiri berpuluh puluh orang penduduk perkampungan Ie Hee san Cung baik lelaki, perempuan tua maupun muda dan kebanyakan merupakan angkatan yang lebih tua dari mereka berdua. Sewaktu para penduduK kampung melihat munculnya kedua orang itu dihadapan mereka suara pekikan memuji segera bergema memenuhi angkasa, ada yang menanyakan bagaimana caranya Liem Tou membunuh Pouw-Sak San bahkan ada pula menyanjung-nyanjung kepandaian mereka berdua. Liem Tou yang mendengar perkataan mereka sama sekaii tidak karuan. dengan cepat merangkap tangannya menjura.
"Paman-paman dan saudara-saudara sekali-an !"
Teriaknya dengan keras "Pouw Sak San baru saja boanpwee bunuh, dan hal ini moerupakan suatu peristiwa yang menyedihkan buat kita penduduk perkampungan Ie Hee san Cung.
tetapi kalian harus tahu, bilamana dia tidak meracuni ayahku sampai mati maka aku tidak akan membunuh dirinya.
Walaupun tinda kan Pouw Sak San selama ini adalah salah tetapi dia tetap merupakan Cung cu kalian.
maka dari itu boanpwee harap paman-paman serta saudara-saudara sekalian suka menganggapnya sebagai seorang Cung cu sekalipum hayatnya sudah binasa."
Sewaktu Liem Tou mengumumkan bagaimana ayahnya mati keracunan suasana menjadi amat gempar, suara jeritan kaget bergenma.
Pada saat itulah dari perkampungan Ie Hee San Cung sebelah lain muncul kembali sinar obor yang amat terang disusul suara makian yang kotor semakin lama semakian mendekat.
Liem Tou serta Lie Siauw Ie yang melihat kejadian itu mereka segera mengetahui kalau dari keluarga Pouw sudah mengirim datang orang-orangnya untuk menuntut balas.
Pada saat itulah mendadak dari penduduk golongan Lie ada orang yang berteriak keras.
"Hey Cung cu yang sebegitu jeleknya buat apa kalian tuntut untuk membalaskan dendam? sungguh memalukan sekali!"
Seketika itu juga suasana jadi panas, untuk membela Lie Siauw Ie serta Liem Tou tanpa ragu-ragunya keluarga Lie sudah bertekad bulat untuk bermusuhan dengan keluarga Pouw yang selama ini hidup bersama.
"Selama ini keluarga Lie serta keluarga Pouw hidup berdampingan secara damai, aku tidak boleh hanya kareua persoalan pribadiku serta Ie cici membuat kedua orang kelompok keluarga ini jadi bertempur satu sama lainnya bilamana kejadian sampai berlangsung bagaimana aku serta le cici harus bertanggung jawab terhadap para paman serta saudara saudara seperti yang lalu ? Saat ini orang-orang dari keluarga Pouw sudah semakin mendekat lagi, Mendadak satu akal yang bagus berkelebat di dalam pikirannya. Liem Tou segera menoleh ke arah para penduduk dari keluarga Lie ini dan katanya . Si Liong Ciang. Lie Kian Poo jadi orang jujur dan patut dijadikan sebagai Cung cu dari perkampungan ini, walaupun dalam hal ini dia lagi terluka tetapi tidak ada halangannya, sekarang dia dimana? Para penduduk mulai berhisik bisik membicarakan perkataan Liem Touw ini, mendadak tampaklah seorang perempuan sambil menggandeng tangan seorang bocah cilik berjalan ke hadapan Liem Tou. Liem Tou, katanya. Kau bilang lukanya tidk mengapa tetapi sekarang dia berbaring di atas tempat pembaringan tidak bisa bangun, baru saja Pouw Siauw Ling datang kepadanya mengatakan hendak pergi ke suatu tempat hampir hampir dia mau ikut pergi ke sana bersama samanya. Dia bersama sama dengan Pouw Siauw Ling hendak pergi kemana? Bagaimana akhir nya? Tanya Liem Tou keheranan.
"Akhirnya Pouw Siauw Ling bilang mau pergi kesuatu tempat yang cuma dia seorang saja yang boleh tahu, karenanya dia baru ber diam diri"
Jawab perempuan itu.
Pada saat itulah para penduduk dari keluar ga Pouw sudah berdatangan, tampak seorang lelaki berusia pertengahaa dari keluarga Pouw dengan mata melotot lebar lebar dan wajah penuh kegusaran menerjang kehadapan Liem Tou lalu memaki sambil menuding dirinya .
"Liem Tou kau bangsat cilik, kau berani tidak menurut peraturan perkampungan, kau sudah diusir turun gunung dan sekarang tidak ada hak untuk disini lebih lama lagi. Hm ! Bilamana kau ternnata masih maumenaiki gunung ini dengan mengikuti peraturan kami masih bisa terima tetapi sekarang kau melanggar peraturan bahkan membunuh Cung cu . , .kau ... kau bangsat cilik ! Kau sudah menjadi musuh kami penduduk dari perkampungan Ie Hee San Cung. disini kami se-mua menuntut dirimu untuk bertanggung jawab di dalam peristiwa ini."
Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut sedikitpun tidak salah, dalam hati mera sedikit sedih.
Baru saja dia hendak menjelaskan bagaimana Ang In Sin Pian meracuni ayahnya sampai mati mendadak dari gerombolan keluarga Lie sudah meloncat keluar seorang lelaki yang sambil melintangkan tangannya didepan dada menerjang kehadapan lelaki berusia pertengahan dari keluarga Pouw itu.
"Hey Cia-heng ! dalam urusan ini aku me ngetahui jauh lebih jelas darimu,"
Bentak-nya dengan keras.
"Sekalipun perbuatan Liem Tou naik ke gunung sebelum waktunya adalah melanggar peraturan tetapi Pouw Cung cu yang berhati binatang memang ada seharusnya dibunuh mati !"
Liem Tou bisa tahu kalau orang itu bukan Iain si Liong Ciang.
Lie Kian Poo adanya.
Lelaki berusia pertengahan itu bernama Pouw Ci Cia dan merupakan orang yang paling menonjol diantara penduduk keluarga Pouw lainnya, sewaktu mendengar perkataan tersebut dia jadi tertegun.
tapi sebentar kemudian hawa amarahnya sudah menerjang naik ke otaknya.
"Kian Poo heng, tidak kusangka sampai kau pun ikut membantu diri Liem Tou, apa maksudmu yang sebenarnya?"
Bentaknya dengan gusar.
"Cia-heng, jangan salah paham dulu."
Bila tidak terluka mungkin pada saat ini aku sudah ikut Siauw Ling pergi kegunung Soat san, tetapi terhadap kejahatan serta kelicikan dari Cung cu Siauw te mengetahuinya jauh lebih jelas dari siapa pun juga.
Waktu itu para penduduk dari keluarga Pouw sudah berkumpul semuanya, semangat dari Pouw Ci Cian pun semakin berkobar, tiba tiba dengan wajah beringis merah bentaknya kembali .
Lie Kian Poo, terang terangan kau sendirl benci kepadanya sekarang sengaja membusuk busukkan dirinya setelah dia mati, Hmm, kenapa kau bantu Liem Tou berbicara?
Apakah Cung cu pernah me]akukan kesalahan terhadap kalian?
Kau manusia yang tak tahu budi..,"
Mendengar perkataan tersebut agaknya Lie Kian Poo pun dibuat gusar juga, saking kerasnya golakan hati dan luka didadanya terasa menjadi sakit kembali.
Ci Cia heng, ujarnya sesudah mendehem, beberapa kali .
, .
Bilamana dikatakan Cung Cu tidak pernah melakukan kesalahan terhadapku sekalipun aku terangkan kaupun tidak percaya.
bilamana bukannya nasib siauw-te lagi mujur mungkin sejak semula aku sudah mati ditangannya, tetapi hal ini tidak perlu kita ingat lagi terus terang aku jelaskan kepadamu, Liem Tou bisa bunuh mati karena dikarenakan ayahnya Han San Koan cu mati karena diracuni oleh Cung-cu.
Jelas Pouw Ci Cia jadi tertegun setelah, ia mendengar perkataan itu, dia sama sekali tidak menyangka kalau Liem Tou membunuh Cungcu mereka dikarenakan peristiwa ini mendadak dia maju kedepan dan memegang erat-erat tangan dari Lie Kian Poo.
Kian Poo heng, kau jangan berbohong di depanku.
Serunya dengan setengah percaya setengah tidak.
Bukankah Han San Koan cu mati karena sakit keras??
mana mungkin kematiannya disebabkan oleh racun dari Cung cu?
apakah kau punya bukti?
Saat ini penduduk keluarga Pouw serta keluarga Lie yang berkumpul ditengah lapangan sudah meijadi tenang kembali.
Dengan perhatian penuh mereka memperhati tan diri Lie Kian Poo.
Terdengar Lie Kian Poo mendehem beberapa kali terlebih dulu, setelah itu baru merangkap tangannya menjura kepada semua orang.
Cayhe bukannya sengaja berbicara omong kosong belaka.
Ujarnya dengan perlahan.
Biasanya setelah orang mati maka tulang be-lilangnya akan berubah jadi putih, tetapi tulang dari Han Koan cu berubah jadi hitam, apakah itu bukan terbukti karena keracunan?
Sedangkan sewaktu meracuni Han San Koan cu inipun telah diakui oleh Cungcu sesaat menjelang kematiannya.
apakah hal ini bisa salah lagi?"
Setelah mendengar perkataan itu Pouw Cin-Cia tidak bisa berkata lagi, semua orangpun menjadi bungkam diri sehingga suasana jadi amat sunyi senyap.
Mendadak terengar suara tangisan yang amat keras memecahkan kesunyian.
Peristiwa itu tidak mungkin terjadi Teriaknya."
Semasa hidupnya Han San Koan cu, Cung cu sangat baik sekali menghadapi diri nya, dia tidak mungkin meracuni Han Soan Koan-cu sampai mati.
Cung-cu dengan dia sama sekali tidak ada ikatan dendam apapun buat apa dia mencelakai dirinya?
Lie Kian Poo segera bisa melihat kalau orang itu bukan lam adalan isteri dari Cung cu dan merupakan adik keponakannya sendiri, dengan cepat dia maju mendekat dan menghibur dengan kata-kata yang halus.
Tong-moay!
perkataan yang aku katakaa-sedikitpun tidak salah urusan ini memang tenar sudah terjadi, buat apa aku harus membantu Liem Tou berbicara?
didalam urusan ini keadaan benar-benar sangat ruwet dan bukanlah bisa dijelaskan dengan dua tiga patah kata saja.
Tong moay percayalah terhadap perkataanku ini, aku sama sekali tidak akan menipu dirimu maka dari itu lain kali aku bisa menjelaskan persoalan ini lebih jelas lagi.
"Sekarang Cungcu sudah mati aku rasa lebih baik kita urus jenazahnya untuk dikuburkan, walaupun perbuatannya kurang cemerlang semasa hidupnya tetapi kitapuu harus meagadakan suatu upacara penguburan buat dirinya"
Dengan perlahan dia segera menoleh ke arah Liem Tou dan tambahnya lagi.
"Liem Tou, ada suatu urusan aku minta bantuanmu, apakah suka mengabulkan permintaanku ini ? Lie Kian Poo walaupun tidak becus tetapi rasa hormat kepada Cungcu tak akan hilang dari hatiku,dapatkah kau mengembalikan batok kepala dari Cung cu yang sudah kau ambil ?"
Liem Tou sama secali tidak menyangka dia bisa meagajukan permintaan seperti ini.
tidak terasa dalam hati dia merasa amat sedih, setelah termenung berpikir sebentar akhirnya dia gelengkan kepalanya.
Paman Kian Poo, keadaanmu pada saat ini.aku benar benar menaruh rasa simpatik.
tetapi pembunuhanaya terhadap si golok naga hijau tentunya paman Kian Poo melihat nya dengan mata kepala sendiri bukan ?
Kalau batok kepala dari Cungcu itu aku serahkan kepadamu, tetapi bagaimana aku harus bertanggung jawab dihadapan Oei Poh muridnya si golok naga hijau ?"
Mendengar perkataan dari Liem Tou ini, Lie Kian Poo jadi teramat gusar. ,,Liem Touw!"
Bentaknya.
Kau gunakan cara bagaimana untuk bertanggung jawab di hadapan Oei Poh hal itu bukanlah urusan aku orang, apakah sekiranya kau bersedia mengembalikan batok kepala dari Cung cu hal ini terserah padamu sendiri, tetapi bagaimanapun juga kau tetap merupakan salah seorang dari penduduk perkampungan Ie Hee San Cung ini, kau boleh pikirkan hal ini uengan baik-baik.
Perkataan ini seketika itu juga mendesak Liem Tou kepojokan yang benar benar kepepet.
Lie Siauw Ie yang melihat keadaan adik nya yang kebingungan pun tidak bisa berbuat apa apa.
Akhirnya Liem Ton yang mempunyai hati jujur dan polos segera mengambil keputusan dihatinya, mendadak dia putar tubuhnya masuk kedalam rumah untuk memungut kembali batok kepala dari Ang In Sin Pian kemudian diserahkan ketangan Lie Kian Poo dengan wajah serius.
Perkataan dari paman Kian Poo sedikit-pun tidak salah, aku lebih baik menerima makian dari Oei Poh dari pada membawa batok kepala ini buatnya, nah paman Kian Poo silahkan menerima kembali batok kepala dari Cung-cu ini.
Siapa tahu karena kejalahan ini dia harus mengalami kesulitan di kemudian hari.
Setelah itu dia segera menoleh kearah para penduduk keluarga Lie serta keluarga Pouw dan berseru.
"Paman Kian Poo jadi orang jujur dan berlapang dada, dia pantas sekali untuk menjabat sebagai Cung-cu di perkampungan Ie Hee san Cung ini, buat apa saudara saudara sekalian melakukan pertandingan lagi untuk memperebutkan kedudukan Cung cu ini"
Begitu mendengar perkataan tesebut diucapkan, maka seluruh penduduk keluarga Lie menyambut dengan sorak sorak sebaliknya dari pihak keluarga Pouw kelihatan rada ragu ragu.
Liem Tou tahu urusan ini harus minta persetujuan dulu dari pentolan keliarga Pouw tersebut, karenanya dia lantas menoleh kearah Pouw Ci Cia.
,.Paman Ci Cia, kau bilang benar tidak ?,, tanyanya.
Terpaksa Pouw Ci Cia mengangguk.
Seketika itu juga Liem Tou tertawa terba bahak ujarnya lagi dengan nyaring.
"Paman Ci Cia sudah setuju paman Kian Poolah yang men jabat sebagai Cung-cu. ada siapa lagi yang tidak setuju "
Penduduk keluarga Pouw yang melihat Pouw Ci Cia sudah setuju merekapun tidak ada yang membangkang lagi, seluruh penduduk segera menyambut keputusan itu dengan sorak-sorai yang keras.
Tidak terasa lagi hari sudah menjelang kembali, Liem Tou segera memberi hormat kepada semua orang dan bersama sama dengan Lie Siauw Ie mengundurkan diri.
Sebaliknya para penduduk dari keluarga Lie serta keluarga Pouw pun mulai bubar pula.
Sejak Lie Kian Poo menjabat sebagai Cung cu inilah maka penghidupan di dalam perkampungan Ie Hee san Cung semakin makmur lagi melebihi sedia kala.
Setelah masuk rumah Lien Tou kelihatan wajahnya amat murung rekali.
Lie Loo jie, si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang melihat keadaannya ini dalam hatipun merasa agak cemas.
..Sutit!"
Terdengar Lie Loo jie coba meng hibur dengan kata kata yang halus.
"Urusan sudah lewat, apalagi pertemuan di puncak pertama pun sudah hampir tiba, kenapa kau tidak beristirahat terlebih dahulu ? Ada urusan kita pikirkan lain kali saja "
"Setelah batok kepala dari Ang In Sin Pi an aku kembalikan kepada paman Kian Poo maka terhadap perjanjian dengan Oei Poh muridnya sigolok naga hijau jadi meleset, dalam hati sutit merasa sangat tidak tenang. kerbauku sekarang ada dibelakang perkampungan disamping tebing, tolong supek jagakan, sutit bermaksud hendak pergi ke kota Hong Kiat terlebih dulu, beberapa hari kemudian baru kembali"
Kata Liem Tou kemudian.
Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing yang sudah ada delapan, sembilan hari tidak bertemu muka dengan Liem Tou kini bisa bertemu kembali dalam hati merasa girang, tetapi sewaktu mendengar dia mau pergi lagi tak terasa wajahpun ikut jadi murung.
"Adik Tou ada urusan apa yang begitu terburu-burunya ?"
Tanya Lie Siauw Ie sambil melirik sekejap kearahnya.
"Apakah urusanmu itu tidak bisa diselesaikan setelah peristiwa diatas gunung Cing Shia ini diselesaikan ?"
"Karena urusan ini dalam hatiku merasa tidak tenang, lebih baik aku bereskan dulu pekerjaan ini pokoknya tidak sampai melewati janji di gunung Cing Shia aku sudah tiba disini kembali ujar Liem Tou sambil geleugkan kepalauya. Didalam beberapa hari ini di atas gunung Cing Shia ada kemungkinan bakal kedatanga banyak jago, mulai sekaranh harap Ie cici serta Wan moay-moay suka berlaku sedikit berhati-hati sehingga tidak sampai mendatangkan banyak kerepotan, Lie-Siauw Ie yang mendengar perkataan itu dalam hati jadi merasa kesal. Uuu ---Adik Tou kau jangan terlalu menghina kami teriaknya. Kami pun bukan bocah yang baru berumur tiga tahun yang masih minta diteteki oleh ibunya, apa kau kira kami tidak bisa berjaga diri ? Liem Tou yang kebentur batu dalam hati. merasa tidak sabar, tanpa banyak cakap lagi dia segera berjalan keluar dari ruangan itu. Supek, Ie cici, Wan moay-moay aku pergi dulu serunya keras.
"Sebentar kemudian dia sudah meninggalkan perkampungan Ie He san Cung dan kembali ke atas perahunya dibawah gunung Cing Shia. Kali ini karena melakukan perjalanan dengan mengikuti aliran air sungai maka hanya di dalam sehari semalam dia sudah tiba kembali dikota Hong Kiat. Siang itu dia melompat ke tepian dan kem bali lagi kerumah penginapan semula tetapi Oei Poh tidak kelihatan ditempat itu. Berturut-turut Liem .Tou segera menanyakan beberapa rumah penginapan dan akhir-nya sampailah di sebuah rumah penginapan yang rada besar. Setelah bertemu dengan pemilik rumah penginapan itu lantas tanyanya . Apakah disini ada orang Piauw su she Oei? Pemilik rumah penginapan itu memandang sekejap kearah Liem Tou lalu dengan gusar-nya mendengus. Orang she Oei ada satu tetapi bukan Piauw su, ada keperluan apa kau mencari dirinya? Heey, aku baik-baik tanya padamu kenapa kau marah marah ? tanya Liem Tou keheranan. Siapa saja yang menyebut orang she Oei hatiku tentu akan marah, jawab pemilik rumah penginapan itu dengan gusar. Coba kau bayangkan kami orang yang berdagang bukannya menerima uang biaya penginapan serta makanannya bahkan harus menerima pukulan dari bangsat cilik itu apakah itu pantas? Haa, bilamana dia bukannya mempunyai sedikit pegangan tentu aku akan suruh orang hajar habis-habisan. , hmm ... sekarang dia .berada dimana tanya Liem Tou sambil mengangguk.
"Siapa yang tahu dia ada dimana ?"
Teriak pemilik rumah penginapan itu dengan mendongkol.
"Sejak pagi dia sudah keluar bermabok-mabokan, ada kalanya baru pulang ditengah malam buta. Aaah ... sungguh menjengkelka hati sekali !"
Liem Tou segera merasa ada kemungkian orang itu adalah Oei Poh, dari dalam saku nya dia segera mengambil keluar sekeping perak dan diserahken kepada pemilik rumah penginapan itu.
"Sekeping perak ini harap kau suka menerimanya, coba. kau suruh orang melihat dia ada di rumah atau tidak, bilamana bertemu dengan dirinya katakan saja ada seorang she Liem yang sedang mencari dirinya."
Si pemilik rumah penginapan yang melihat ada uang bisa diterima sudah tentu dalam hatinya merasa girang.
"Dia tidak ada dikamar, harap Khek koan tunggu sebentar biarlah aku kirim orang untuk mencarinya kembali !"
Katanya.
Liem Tou tertawa dan duduk menanti.
Beberapa saat kemudian orang yang dikirim sudah kembali dan melaporkan tidak bertemu dengan Oei Poh.
Terpaksa Liem Tou kembali ke dalam perahunya untuk kemudian pada malamnya dia kembali kerumah penginapan tersebut.
Sewaktu dia bertemu muka dengan pemi Ilk rumah penginapan itu mendadak terasa olehnya orang itu memandang dirinya dengan pandangan yang aneh sekali membuat hatinya jadi rada heran.
"Dia sudah pulang sebentar tapi pergi lagi"
Jawab pemilik ,rumah penginapan itu sambil gelengkan kepalanya.
"Katanya dia tak mau bertemu lagi dengan dirimu, bahkan surah kau cepat cepat pergi dari sini I"
Liem Tou jadi melengak.
"Dia menunggu disini justeru sedang me-nanti kedatanganku, kenapa dia tidak suka menemui diriku?"
Pikirnya.
"Lalu apa yang dikatakan olehnya?"
Tanyanya kemudian.
"Dia tanya kau datang cuma seorang atau dua orang, lalu tanya pula apakah ditanganmu membawa bungkusan kecil, aku jawab tidak ada, mendengar jawaban itu bagaikan orang gila dia lantas berjalan keluar dari pintu dan berteriak teriak tidak ingin bertemu muka dengan dirimu lagi, bahkan dia bilang,."
Berbicara sampai disitu mendadak, pemilik rumah penginapan itu menghentikan. kata katanya. Liem Tou segera mengetahui apa yang hendak dibicarakan olehnya.
"Dia bilang mau bunuh aku, bukan begitu?"
Sambungnya.
Sepasang mata dari pemilik rumah penginapan itu segera terbelalak lebar lebar, lama sekali baru kemudian jawabnya.
Bagaimana kau bisa tahu ??
dia memang benar benar mau bunuh kau, aku lihat lebih baik orang itu jangan kau temui lagi, saat ini ada kemungkinan dia sudah pergi keluar kota lagi untuk bermabok mabokan.
Kau bilang dia keluar kota, arah mana yang dituju olehnya tadi???
Aku mengetahui tak begitu jelas, cuma dengar orang bilang dia menuju ke arah pintu barat dan seharian penuh ada disitu apa yang diperbuat siapapun tidak tahu.
Aaah ..khek koan, aku beritahu padatnu, ada kalanya ditengah, malam buta dia tentu ada suatu peristiwa yang menyedihkan hatinya.
Liem Tou segera mersgangguk, dalam hati dia pun merasa sedih.
Kau terima uang emas ini sebagai biaya menginap dari Oei Poh dan janganlah kau berbuat kurang hormat lagi dengan dirinya.
Ujar Liem Tou kemudian sembari mengeluarkan sekeping uang emas dan diletakkan di atas meja.
Setelah itu Liem Tou baru keluar dari rumah penginapan itu untuk memasuki setiap rumah makan guna mencari jejak dari Oei Poh, tetapi pekerjaan ini pun sia-sia belaka..
Akhirnya dia berangkat menuju ke pintu sebelah barat, terlihatlah di sebelah selatan dari tempat itu merupakan sungai, sedang di sebelah utara sebuah bukit kecil.
Liem Tou mulai melakukan pencarian dari samping sungai, sewaktu sudah berjalan duapuluh lie masih tidak msnemukan juga bayangan dari Oei Poh, dan dia berjalan kembali ke samping gunung dan mencarinya pada bukit yang berada disebelah utara.
Walaupun gunung itu tidak berapa tinggi tetapi duri serta semak memenuhi seluruh tempat.
Tidak jauh Liem Toa menaiki bukit itu mendadak terdengarlah suara tangisan yang amat sedih berkumandang datang dari sisinya.
Liem Tou jadi merasa keheranan, sambil menyingkirkan duri serta semak belukar yang menghalangi perjalanannya dia mulai meacari berasalnya suara tangisan itu.
Akhirnya dia menemukan Oei Poh lagi menangis didepan gundukan tanan.
yang kelihatannya masih baru.
Melihat pemandangan seperti itu dalam hati Liem Tou pun ikut merasa sedih, sambil meeringankan gerakan kakinya dia berjalan mendekati diri Oei Poh.
Tampaklah olehnya seluruh wajahnyn kotor, bajunya butut dan penuh dengan bau arak yang menusuk hidung.
Untuk beberapa saat lamanya Liem Toa berdiri disamping badannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Agaknya Oei Poh sama sekali tidak merasa kalau disamping badannya sudah kedatangan seseorang, dia masih menangis dengan sedihnya.
"Oei-heng !"
Akhirnya dengan memberanikan diri Liem Tou menegur.
Suara panggilannya ini seketika itu, juga terasa oleh Oei Poh bagaikan geledek yang menyambar disiang hari bolong, dengan cepat dia menarik kembali suara tangisannya dan berlutut tidak bergerak..Agaknya dia merasa tegang atas kehadiran diri Liem Tou yang tanpa terasa olehnya, itu.
Liem Tou yang takut diserang olehnya punt segera mengundurkan diri dua langkah ke belakang .
"'Oei-heng aku sengaja datang untuk menepati janji"
Katanya lagi. Lama sekali Oei Poh berdiam diri tanpa menoleh, mendadak dengan suara yang sedih ujarnya.
"Liem Tou! Apakah kau membawa serta bajingan tua Ang In Sin Pian ?"
"Dia sudah mati!"
Sahut Liem Tou sambil menggigit kencang bibirnya.
Kelihatan pundak Oei Poh sedikit tergetar oleh berita ini diikuti badannya gemetar dengan kerasnya, tetapi hnnya didalam sekejap saja sudah menjadi tenang kembali.
"Lalu apakah batok kepalanya sudah kau bawa serta?"
Tanyanya. 'Tidak'."
Jawab Liem Tou setelah termenung sebentar.
"Dia sudah dikubur diatas per kampungan Ie Hee san Cung !"
Sekali lagi selurun tubuh Oei Poh gemetar dengan amat kerasnya, diikuti bergetarnya seluruh rambut dan badannya.
Liem Tou yang melihat kejadian itu dari samping segera mengerti kalau dia lagi merasa gusar.
"Oei Poh !"
Hiburnya dengan cepat.
"Kau jangan marah dulu dan dengarkanlah perkata anku, dia benar-benar sudah mati dan aku yang berhasil membunuhnya dengan tanganku sendiri, sebenarnya aku sudah potong batok kepalanya tetapi barang itu sudah diminta kembali oleh Lie Kian poo "
Oei Poh segera merasakan hatinya terpukul sangat hebat, mana dia mau memper cayai perkataannya, sambil meraung keras dia meloncat bangun.
' "Lim Tou kau tidak usah berbohong dihadapanku lagi"' Teriaknya dengan keras.
"Kau manusia yang tidak pegang jajji, aku mau bunuh kau, Liem Tou kau dengar baik-baik aku mau bunuh kau!"
Sembari berteriak keras bagaikan orang gila dia menubruk kearah Liem Tou.
Dengan gesitnya Liem Tou segera me nyingkir ke samping.
Oei heng, coba kau deigarlah dulu perkatataan dari Siauw~te.
orang she Pouw benar sudah mati ditanganku, bilamana kau tidak percaya marilah akan aku temani kau pergi ke perkampungan Ie Hee-san Cung untuk melihatnya sendiri.
Aku tidak percaya...
aku tidak percaya ..* , bilamana tidak melihat sendiri batok kepalanya aku tidak akan berdiam, diri perkataan yang kau ucapkan semuanya adalah kata bohong bilamana ada kuburan maka kuburan itu adalah kuburan palsu, bila ada mayat maka mayat itu adalah mayat palsu Liem Tou, kau sungguh-sungguh sudah mencelakai diriku, aku mau bunuh dirimu ...
aku mau bunuh dirimu.
Diikuti pekikan yang amat mengerikan dengan dahsyatnya dia menubruk ke tubuh Liem Tou.
Liem Tou yang melihat kesadarannya sama sekali sudah pudar dalam hati lantas tahu sekalipun dia beri keterangan juga tak berguna, terpaksa tubuhnya miring dua langkah ke samping untuk menghindarkan diri dari tubrukannya itu.
Oei Poh.
ujarnya deigan serius.
Kali ini aku benar terpaksa harus mengembalikan batok kepala dari Pouw Sak San kepada Lie Kian Poo tetapi kau jangan kuatir, Pouw,Sak San benar-benar sudah mati, kau mau percaya atau tidak aku tidak akan memaksamu lagi.
Sekarang aku masih ada urusan perjanjian dengan orang lain, selamat tinggal.
bilamana kau merasa dendam dengan aku orang, lain kali datang saja mencari diriku, Selesai berkata dia segera putar badannya siap-siap meninggalkaii tempat itu.
Mendadak Oei Poh berkelebat ke depan menghalangi perjalanannya.
Liem Tou, kau pergilah., Bentaknya dengan keras Kau pergilah ...
aku bisa cari dirimu pada suatu hari aku akan bunuh kau.
kau tidak akan lolos dari tanganku.
Sembari berkata dia meremas-remas tanngannya, wajahnya kelihatan berubah sangat menyeramkan.
Baiklah, sahut Liem Tou tidak sabaran lai gi.
Kalau kau ingin mencari aku carilah setiap saat aku bisa menunggu kedatanganmu, dan setiap saat aku bisa mengalah tiga jurus kepadamu, tetapi sekarang kau menyingkirlah dulu, Liem Tou tidak akan banyak ngomong dengan orang gila seperti kau.
Oei Poh segera melototkan sepasang mata nya.
dengan gusar dan bencinya dia memandang diri Liem Tou tak berkedip setelah itu barulah menyingkir kesamping.
"Kau pergilah Liem Tou !"
Teriaknya ke mudian.
"Sekarang walaupun kau sudah hancur jadi abu aku masih bisa mengganti dirimu kembali !"
Tetapi mendadak seperti baru saja teringat akan sesuatu hai. tiba tiba membentak lapi .
"Tunggu dulu Liem Tou kau bilang apa ??? Kau ingin mengalah tiga jurus kepadaku ???? Aku tidak mau mengalah terhadap dirimu, kau masih hutang tiga laksa tahil perak dari Cing Liong Piauw-kiok ... kau pernah dua kali merolong aku maka akupun akan melepas dirimu dua kali, setelah hutang di antara kita lunas aku baru akan turun tangan membinasakan dirimu."
Liem Tou yang mendengar perkataan yang sama sekali tidik waras itu dalam hiti merasa tidak tega untuk mendengar, Baru saja dia siap-siap meninggalkan tempat itu mendadak dari samping pepohonan dia mendengar suara yang mencurigakan.
terdengar olehnya ada orang yang sedang berjalan di antara rerumpuian.
Dengan cepat Liem Tiu mengheitikan langkahnya dan manoleh kearah semak belukar itu.
"Siapa yang sedang mencuri dengar pembicaraan kami?"
Bentaknya.
Jilid 30 BARU saja dia selesai membentak dari balik pepohonan terdengarlah berkumandang datang suara tertawa yang amat keras disusul munculnya seorang kakek tua yang rambut serta jenggotnya sudah putih semuanya, sambil tertawa dia berjalan mendekat.
"Kalian dua orang engkoh cilik bunuh ini bunuh itu, sebetulnya siapa yang mau membunuh siapa ?"
Tanyanya.
Saat ini hati Liem Tou sudah dibuat kebingungan dan kacau oleh perkataan yang diucapkan oleh Oei Poh itu, mendengar perkataan tersebut dia segera mengerutkan alisnya rapat-rapat kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun segera putar badannya siap siap meninggalkan tempat itu.
Siapa tahu pada saat itulah terasa ada segulung angin pukulan yang menyambar datang dari belakang badannya.
Liem Tou yang sama sekali tidak menduga datangnya serangan tersebut dalam hati merasa sangat terperanjat, baru saja dia mau melihat lebih jelas lagi tahu tahu angin pukulan itu sudah berubah arah putar menyerang dari depan badannya.
Kali ini Liem Tou benar benar dibuat gelagapan, seketika juga tubuhnya terdesak oleh datangnya angin serangan tersebut sehingga mundur tiga langkah kebelakang.
Baru saja Liem Tou berhasil berdiri tegak terdengarlah kakek tua yang rambutnya sudah memutih semua itu telah tertawa terbahak bahak dengan amat kerasnya.
"Hey erngkoh cilik, jika dilihat dari sinar matamu kelihatannya kau mempunyai asal asul yang besar, haa ..baa ..siapa sangka ternyata ssma sekali tidak becus."
Sejak berhasil melatih ilmu silat dari kitab pusaka To Kong Pit Liem Tou belum pernah menderita kekalahan seperti kejadian ini hari sudah tentu rasa terperanjatnya kali ini sukar untuk dilukiskan, bersarnaan pula dia merasa amat gussr sekali.
"Aku sama sekali tidak kenal dengan dirinva. Kenapa dia melancarkan serangan membokong diriku?"
Pikirnya di dalam hati.
Berpikir sampai disini mendadak ia memutar badannya.
tampaklah si kakek tua berambut putih itu masih tertawa dengan senang-nya.
Mendadak ujung bajunya kembali dikebut kedepan, terasalah segulung angin pukulan yans amat keras menyerang kearah Oei Poh dengan gaya yang sama seperti tadi.
Oei Poh yang tak mengetahui akan kelihayan dari datangnya angin pukulan si kakek tua itu segera menperkuat kuda-kudanya lalu dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam yang di milikinya menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Siapa tahu baru ssja pukulannya didororong kedepan bayangan musuh sudah lenyap tak berbekas membuat dia jadi sempoyongan ke depan.
Dengan rasa yang amat terperanjat dia segera menarik kembali angin serangannya, pada saat itulah terasa ada segulung angin pukulan yang amat keras sudah menghantam punggungnya membuat dia tak kuasa lagi segera jatuh tersungkur keatas tanah.
Sewaktu merangkak bangun kembali matanya sudah terbelalak besar sedang mulutnya melongo.
Liem Tou yang dikalahkan oleh kakek tua itu dalam hati merasa rada tidak terima, dengan wajah yang amat marah dia membentak.
"Kiranya sudah kedatangan seorang jagoan berkepandaian tinggi, kita saling tidak kenal satu sama lainnya, kenapa dengan meminjam kesempatan orang lagi tidak siap kau melancarkan serangan bokongan?"
Kakek tua itu cuna tertawa keras saja.
"Engkoh cilik ! bilamana aku sungguh sungguh hendak berkelahi dengan kalian apa kalian kira bisa menangkan aku ?"
Katanya sambil tertawa tergelak.
"Tetapi ..haruslah kalian ketahui aku terpaksa turun tangan memberi hajaran kepada kalian hal ini dikarenakan telinga aku si orang tua tidak terbiasa mendengarkan kata kata saling bunuh membunuh yang kalian ucapkan tadi."
"Tidak kusangka sama sekali kau orang tua yang usianya sudah lanjut masih suka saja mengurusi pekerjaan orang lain ..!"
Teriak Liem Tou pula dengan gusar.
"Jika didengar dari pada suaramu agaknya kau memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, Hm. mari, mari, aku minta beberapa jurus petunjuk darimu, aku mau lihat apakah kau berar benar sangat luar biasa !"
"Apa? kau berani menantang bertempur dengan aku .. ?"
Gertak si orang tua berambut putih itu sambil melototkan matanya.
"Apakah badanmu sudah benar benar gatal sehingga minta digebuk ? Aku orang paling tidak suka bermain geguyon dengan bccah cilik seperti kalian-kalian ini!"
Mendadak suatu pikiran sudah berkelebai dihati Liem Tou tangannya segera direntangkan kedepan siap siap menghadapi serangan.
Dugaannya sedikitpun tak salah, begitu selesai berbicara, kakek tua itu sudah mengebutkan ujung bajunya kembali kedepan.
Kali ini Liem Tou tidak mau tertipu lagi dia tahu walaupun serangannya dilancarkan dari depan, tetapi angin pukulan yang sebetulnya adalah menyerang dari belakang.
Terdengar si orang tua berambut putih itu tertawa terbahak bahak, ujung baju sebelah kirinya dengan cepat kirim satu pukulan lagi kedepan, kali ini serangannya adalah angin pukulan yang lurus kedepan.
Liem Tou Tou yang sedang membelakangi musuh segera merasakan punggungnya tertekan hebat.
tubuhnya jadi terhuyung huyung dan terdesak maju tujuh delapan langkah jauh-nya.
Seketika itu juga, air muka Liem Tou berubah sangat hebat, dan baru saja dia mau mengumbar hawa ararahnya tiba tiba teringat kembali olehnya akan semacam ilmu pukulan dari Heng San pay yang pernah dilihatnya dikitab pusaka Toa Loo Cin Keng, cuma sayang ilmu pukulan itu sukar dilatih dan sudah lama lenyap dari Bu lim sehingga dengan demikian tiada orang yang berhasil mempelajarinya.
"Hey orang tua tunggu dulu!"
Teriak Liem Tou setelah berpikir sampai disitu.
"'Apakah kau adalah cianpwee dari partai Heng san Pay ?"
Mendengar pertanyaan itu si orang tua jadi tertegun, tetapi sebentar kemudian air mukanya sudah berubah sangat hebat.
"Kau tidak usah banyak berbicara lagi bukankah kau minta pelajaran tiga jurus dari diriku ? sekarang baru satu jurus !"
Tidak menanti jawaban dari Liem Tou lagi ujung jubahnya lantas dikebutkan kedepan segulung angin pukulan yang amat dahsyat segera menggulung kedepan.
Kali ini Liem Tou jadi lebih berpengalaman, dia sama sekali tidak mau menerima datangnya angin pukulan tersebut sebaliknya menyingkir kesamping untuk menghindarkan diri.
Siapa tahu angin pukulan dari si kakek tua itu seperti mempunyai serasang mata saja, baru saja tubuhnya menyingkir kesamping angin pukulan tersebut dengan mengikuti gerakan tubuhnya sudah berkelebat datang lagi.
Liem Tou segera merasakan tangan kirinya jadi amat sakit, dengan amat tepatnya angin pukulan itu menghajar badannya.
Hawa amarah mulai muncul dari dasar hati Liem Tou.
"Jurus kedua sudah lewat, cepat lancarkanlah jurus ketigamu !"
Bentaknya. Pada saat ini didalam hatinya dia sudah mengambil keputusan hawa murninya secara diam diam disalurkan mengelilingi seluruh tubuh.
"Haa . .haa . .engkoh cilik nyalimu sungguh tidak kecil"
Teriak si kakek tua rambut putih itu dergan keras.
"Sudah ada puluhan tabun lamanya tiada orang lain lagi yang berani menantang aku untuk berkelahi. Kalau begitu rasakanlah kelihayan dari aku si orang tua !"
Liem Tou tidak menjawab lagi, kuda kudanya lantas diperkuat siap siap menghadapi musuh.
Si kakek tua berambut putih itu kembali tertawa terhahak bahak, pukulan yang ketiga secara mendadak menerjang keluar dengan dahsyatnya.
Liem Tou segera mantapkan hatinya, kali ini tidak mau menghindar sebaliknya diam-diam mengerahkan tenaga murninya sampai delapan bagian lalu dibabat kedepan dengan amat gencar.
Segulung angin pukulan yang amat tajam dengan cepat menyambut datangnya tubuh si kakek tua itu.
Air muka siorang tua jadi berubah hebat, wajah yang semula merah padam kini sudah berubah jadi pucat pasi.
"Sungguh telengas seranganmu ..."
Bentaknya dengan keras. Baru saja perkataannya selesai diucapkan, tiba tiba ...
"Braaak ... ! "
Tubuhnya dengan kerasnya sudah kena dihantam satu kali oleh pukulan dari Liem Tou ini, dia segera terpukul mundur tiga langkah kebelakang dengan terhuyung-huyung, wajahnya yang pucat pasipun kini sudah berubah jadi menghijau sedang tubuhnya goncang dengun amat keras sekali.
Sebaliknya Lim Tou sendiripun terkena pukulan "Cian Hong Clang"
Dari kakek tua itu sehingga maju dua langkah kedepan, agaknya sikakek tua itu tidak bermaksud melukai dirinya sehingga walaupun badannya terpukul tapi sama sekali tidak terluka.
Akhirnya siorang tua berambut putih itu berhasil menenangkan badannya kembali "Kau ...
kau murid siapa?"
Tanyanya sambil menuding dengan tangannya yang gemetar keras. Melihat kejadian itu Lim Tou merasa rada menyesal.
"Orang tua apakah lukamu parah?"
Tanyanya.
"Bilamana bukannya kau memukul aku terlebih dulu, aku tidak akan . ."
"Siapa yang nyuruh kau mengucapkan kata-kata itu?"
Potong siorang tua berambut putih itu dengan keras. 'Cepat sebutkan siapakah gurumu dan berasal dari perguruan mana?"
"Boanpwee bernama Liem Tou, tidak mempunyai suhu maupun perguruan"
Jawabnya terpaksa "Bilamana harus berbicara sesungguhnya maka Thio Too Leng Sucouw adalah suhu boanpwee yang sebenarnya". Mendengar jawaban itu siorang tua berambut putih jadi melengak.
"Kalau hegitu urusan ini sungguh aneh sekali.. Sungguh aneh sekali ... haaayaa apakah aku sudah terluka dibawah serangan yang termuat didalam kitab pusaka To Tong Pit Liok?"
Teriaknya berulang kali. Berbicara sampai disitu ia termenung sebentar, lalu secara mendadak angkat kepalanya dan membentak terhadap diri Oei Poh.
"Lalu siapakah kau? Apa sangkut pautnya dengan dia?"
Oei Poh sejak semula sudah melihat akan asal usul yang tidak kecil dari dia orang tua; mendengar pertanyaan itu dia lantas bungkukkan badannya memberi hormat.
"Boanpwee Oei Poh, dengan Liem Tou bukan sanak bukan keluarga, suhuku sigolok naga hijiu Sie Ie menemui aialnya karena siasat yang sudah dia lancarkan, aku mau bunuh dia ..aku bunuh dia untuk balas dendam suhuku "
Selesai mendengar jawaban dan Oei Poh ini sambil menahan rasa sakit di dadanya tiba-tiba si orang tua berambut putih itu mencengkeram pergelangan tangan dari 0ei Poh, wajahnya dari pucat pasi kini berubah menjadi biru kehijau hijauan sehingga seram dipandang.
Sewaktu siorang tua berambut putih itu rrendengar Oei Poh dengan Liem Tou ada dendam dia segera membentak dengan suara yang sangat keras sekali .
"Bangsat cilik, kau tidak bersemangat bilamana kau benar benar punya nyali ikutilah aku kegunung Heng San !"
Inilah merupakan suatu kesempatan yang selalu diidam idamkan oleh Oei Poh, mendengar perkataan itu dengan paksa dia melepaskan diri dari cengkeramannya lalu jatuhkan diri berlutut dan menjalankan penghormatan empat kali.
"Suhu !"
Panggilnya dengan keras.
"Kau orang tua suka menerima aku sebagai muridmu, teecu Oei Poh tidak akan melupakan budi ini untuk selamanya."
Siapa tahu tiba tiba sikakek tua itu menjadi gusar sehingga rambutnya pada berdiri se muanya.
"Cuh ..!"
Segumpal darah segar sudah disemburkan keatas wajahnya disusul sepasang tangannya melayang merseni beberapa kali gapelokan keatas wajah Oei Poh.
Seketika itu juga Oei Poh jadi sembab dan bengkak sangat besar, saking tidak tertahan menahan rasa sakit yang menyerang pipinya dia jatuh terduduk keatas tanah.
Sebaliknya siorang tua yang karena mengumbar hawa amarah luka yang dideritanya didada mulai kambuh lagi; untuk kedua kalinya dia muntahkan darah segar.
Melihat kesemuanya ini dalam hati Liem-Tou merasa menyesal akan tindakannya tadi yang terlalu kasar, tidak terasa dia sudah berjalan mendekati si orang tua itu bermaksud untuk membimbingnya bantun.
Baru saja dia berjalan dua langkah kedepan tiba tiba siorang tua berambut puiih itu sudah meronta bangun lalu bentaknya terhadap diri Liem Tou.
"Kau cepat nenyingkir dari sini ! Aku masih belum mati, aku masih bisa bergerak sendiri ! Sekalipun misalnya aku mati kau juga tidak boleh memegang badanku"
Terpaksa Liem Tou menyingkir kesamping dan dengan termangu mangu memandang dirinya.
Dengan perlahan siorang tua itu bangkit berdiri, setelah menenangkan hatinya dia segera menuding Oei Poh sambil memaki dengan mendongkolnya "Kau manusia yang tidak kenal budi, manusia yang melupakan gurunya sendiri.
Bukankah kau sudah angkat sigolok naga hijau sebagai gurumu kenapa didalam sekejap saja sudah bermaksud untuk mengangkat aku orang tua sebagai guru ??
aku beritahu padamu.
aku tak akan mirip It Tiap yang sembarangan menerima murid sehingga mendatangkan nama yang jelek di Bu-lim membuat nama Heng san Pay jadi tak cemerling, tak bercahaya, aku tak akan menerima murid baru apa kau masih berlutut ditanah ?".
Walaupun Oei Poh mendengar siorang tua itu suruh dia bangkit berdiri tetapi mana dia mau melaksanakan perintahnya itu, cuma saja didalam hati diam diam lagi bsrpikir .
"Kalau memangnya kau tak suka terima aku sebagai murid, kenapa tadi menyuruh aku ikut kegunung Heng san ?".
"Suruh bangun ya bangun, kenapa kau tak berdiri juga ?"
Sekali lagi si orang tua itu membentak keras.
"Kau harus mengetahui aku orang tua suruh kau pergi ke gunung Heng san sebetulnya hendak meaggembleng keteguhan hatimu saja, bersamaan pula paling banter aku cama turunkan satu dua macam ilmu saja kepadamu untuk mengalahkan sibocah cilik terseout, sudah . , sudanlah, ayo cepat berangkat"
Sehabis berkata tanpa menggubris diri Oei Poh lagi dia putar badannya menerobosi hutan.
"Heeey . .. tak kusangka kalau 'To Kong Pit Liok"
Dari Shio Too Leng ini sangat dahsyat, tidak aneh kalau buku itu sudah lama sekali dicari orang tak ketemu juga.
Hmm, soal ini tentu sudah diduga sebelumnya oleh Thio Too Leng.
Kini kitab pusaka itu sudah miunculkan dirinya kembali, ada kemungkinan pembunuhan secara besar-besaran pun bakal terjadi."
Mendengar perkataan itu dalam hati Liem Tou merasa sedikit tergetar, teringat kembali olehnya sejak dia munculkan dirinya untuk pertama kali dari gunung Wu San maka selama beberapa bulan ini dia benar-benar sudah membunuh banyak orang, terutama sekali sewaktu ada dikuil Siang Lian Si, waktu itu dia benar-benar sudah mengumbar napsu membunuhnya.
Berpikir akan hal ini Liem Tou jadi merasa menyesal, mendadak teriaknya dengan keras .
"Cianpwee tunggu dulu, kalau Liem Tou ada sepatab kata yang hendak aku sampaikan"
Tetapi siorang tua itu tidak menoleh lagi dia cuma gelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang.
"Sudah terlambat ... tidak usah bicara lagi, tidak usah bicara lagi ! Tidak usah ..."
"Kata kata tidak usah" 'yang ketiga kalinya keluar dari mulut dia sudah lenyap dibalik pepohonan. Liem Tou yang hendak menyampaikan rasa menyesalnya segera meloncat kedepan dengan cepatnva didalam anggapannya si kakek tua yang lagi menderita luka pasti tidak akan pergi terlalu jauh, siapa sangka baru saja tiba dibalik pepohonan itu bayangan dari siorang tua itu sudah lenyap tak berbekas. Liem Tou segera mengetabui kalau diri nya telah mengikat suatu bencana buat dirinya sendiri, dengan sedih dan lemasnya dia berjalan lagi ketempat semula. Di tempat itu bayangan dari Oei Poh pun sudah lenyap tak berbekas, cuma diatas tanah tertuliskan beberapa huruf yang besar 'Asalkan aku sehari bernapas, dendam ini tak kan terlupakan."
Sewaktu menoleh lagi keatas kuburan dari si golok naga hijau, dia nenemukan potongan duri sudah tersebar memenuhi pusara, melihat akan hal ini Liem Tou segera mengetahui kalau rasa benci Oei Poh terhadap dirinya sudah sangat mendalam, dia tentu sudah berangkat kegunung Heng san untuk belajar ilmu.
Dengan rasa hati yang sedih Liem Tou berdiri termenung beberapa saat lamanya di depan kuburan sigolok naga hijau ketika dilihatnya sang surya sudah lenyap dibalik gunung diapun mulai turun dari bukit itu menuju kesamping sungai dengan langkah perlahan.
Dengan pandangan yang sayu dia memandang air sungai yang gulung-menggulung saling menyusul, hatinya terasa semakin sedih lagi.
Ketika teringat pula akan diri Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing tidak kuasa gumamnya seorang diri .
"Ie cici ! Wsn moay moay ! Aku tentu akan menarik diri dari dalam golakan dunia kang ouw, aku tidak akan menbunuh orang lagi ! Setelah pertemuan digunung Cing Shia untuk menyelesaikan dendam ayahku, aku akan . , . ."
Tiba tiba daritengah sungai berkumandang darang suara perahu yang menerjang ombak bergerak mendatang disusul suara tertawa terbahak-bahak yang amat keras sekali.
"Hey Liem Tou ! Aduh ... kau bocah cilik ! Kiranya kau ada disini ..."
Teriak seseorang dengan keras.
Liem Tou dengan perlahan angkat kepalanya.
tampaklah dari ruangan perahu tersebut muncul seorang manusia yang kate dengan badan yang sangat gemuk.
Lien Tou segera kenali orang itu bukan lain adalah si Thiat Sie sianseng, hatinya jadi merasa amat girang.
"Ah ... Thiat Sie cianpwee kau hendak kemana ?"
Teriaknya pula dengan keras.
Perahu itu segera berputar dan melaju mendekati diri Liem Tou.
Setibanya di tepian Thiat Sie sian seng segera meloncat naik kedaratan dan dengan hangatnya menepuk nepuk pundak Liem Tou.
"Aaah --Liem Tou ! kiranya kau benar-benar masih hidup haa--haa"
Serunya sambil tertawa keras.
"Mereka semua bilang kau sudah mati, terapi aku percaya kalau perhitungan sie poa bututku tidak bakal salah, ha---ha --ha tctapi pada waktu itu aku merasa ragu ragu juga karena menurut perhitungan siepoaku kau berada di suatu tempat yang sama sekali tiada sinar matahari. tetapi aku tidak percaya tempat itu bukanlab satu kuburan sebenarnya kau telah pergi kemana ?"
Liem Tou yang melihat Thiat Sie sianseng amat lincah dan gembira, rasa murung yang semula mencekam hatinya pun ikut tersapu bersih.
"Terima kasih atas perhatian yang cian-pwee curahkan kepadaku, padahal beberapa tahun ini aku selalu lari saja kesana kemari dengan menunggang kerbauku"
Jawab Liem Tou. Sambil berkata mendadak dia memperlihatkan pula ilmu langkah Sah Cap Lak Thian Kang Pohnya, lalu sambungnya.
"Tiat Sie cianpwee, akupun sudah mengajarkan permainanmu ini kepada kerbauku"
Thiat Sie Sianceng segera tertawa terbahak-bahak, pada saat itulah sisiucay buntung pun sudah meloncat kedaratan.
Melihat munculnya dua orang cianpwee yang dikagumi.
Liem Tou segera menjura memberi hormat.
"Aaaah ...!"
Tiba tiba Thiat Sie Siameng menjerit kaget disusul targannya mencekai kencang tangan Liem Tou dan memperhati-kan wajahnya dengan teliti, air mukanyapun sudah berubah menjadi sangat serius sekali.
"Liem Tou, kenapa diatas wajahmu terdapat begitu banyak hawa kesialan ? aah ! disini terdapat garis pembunuhan yang membahayakan !"
Sembari berkata Thiat Sie Sianseng memegang tangan Liem Tou kencang-kencang, sepasang matanya melotot bulat bulat dan memandang Liem Tou tak berkedip, sepasang matanya yang tajam hampir hampir bcleh di kata hendak menembusi panca indera dari Liem Tou.
Liem Tou yang secara tiba tiba dikatai demikian dalam hati merasa sangat terkejut sekali, dia segera teringat kembali akan kata yang diucapkan oleh orang tua berambut putih tadi hatinya jadi bergidik bercampur sedih.
tidak kuasa lagi dia sudah dijatuhkan diri berlutut dan berkata sambil tundukkan kepalanya rendah-rendah .
"Thiat Sie Sianceng, aku Liem Tou sudah terlalu banyak melakukan pekerjaan dosa, kali ini ada kemungkinan benar benar bisa mati. Loo cianpwee kau ada cara tidak untuk menolongku ? aku ingin "
Berbicara sampai disitu mendadak dia menutup mulutnya kembali.
"Kau ingin berbuat apa ?"
Tanya Thiat Sie Sianseng sambil melepaskan batok kepalanya.
"Sebenarnya kau sudah melakukan pekerjaan dosa apa ? coba ceritakanlah."
Liem Tou sama sekali tidak mengatakan kesalahamya, dia hanya menghela napas.
"Thiat Sie cianpwee ! Cianpwee siucay buntung ! kalian naik perahu lewat disini apakah hendak menuju ke gunung Cing Shia untuk manonton keramaian ??". Thiat Sie sianseng tidak menjawab sebaliknya menarik Liem Tou untuk bangun.
"Liem Tou, kau dengan aku tidak sangkut paut maupun hubungan apapun. kau jangan berlutut terus, ayo cepat beritahu bagaimana kaupun mengetahui tentang urusan ini ? ?"
Serunya keheranan.
"Kami memang betul betul hendak berangkat kegunung Cing Shia untuk menonton pertempuran antara si cangkul pualam Lie Sang melawan si penjahat naga merah serta seorang hweesio yang hitam kurus dan kering itu". Dia berpikir sebentar, lalu sambungnya lagi.
"Ahhh ... ! masih ada dua orang manusia lihay lagi ! Heeeeei aku sendiri juga sampai dibuat keheranan bagaimana dua orang manusia lihay itupun bisa mengadakan perjanjian ditempat dan waktu yang sama pula? mereka berdua adalah si perempuan tunggal Touw Hong serta seorang pemuda yang kedengarannya memiliki kepandaian sangat tinggi. bagaimana ? apa kau pun mendengar tentang hal ini ?". Liem Tou mengerti apa yang dimaksud sebagai psmuda lihay itu bukan lain adalah dirinya sendiri yang sudah mengakibatkan terjadinya suatu peristiwa disebuah hutan siong diluar kota Tang Yang tempo hari dia lantas tertawa pahit.
"Thiat Sie cianpwee, tahukah kau masih ada lagi Thian Pian Siauw-cu serta toosu-tooosu dari Bu tong pay ! bukankah cianpwee yang memberi tahukan kepada mereka ? mereka pun mau mencari sipenjahat naga merah untuk menuntut balas !"
"Liem Tou, kau bocah cilik semakin ku koay! bagaimana sampai urusan ini pun kau mengetahui dengan begitu jelas ?". Teriak Thiat Sie sianseng dengan suara yang keras. 'Apa kaupun bisa seperti aku si Thiat Sie menghitung kejadian yang akan dataag?"
"Soal ini sih bukan begitu ! Thian Pian Siauw cu adalah boanpwee yang undang dia pergi !"
Ujar Lism Tou tersenyum lalu gelengkan kepalanya dengan perlahan "Bu saal boanpweee bisa mendengarnya dengan mata kepala sendiri". Tidak kerasa lagi Thiat sie sianseng mau-pun sisiucay buntung jadi dibuat terbelalak dengan mulut melongo, lama sekali baru terdengar Thiat Sie Sianseng menghembuskan napas lega. "Bagaimana hal ini bisa terjadi? kau orang bukanlah si dewa mendengar jauh atau si dewa melihat jauh ." Urusan ini sungguh aneh sekali." Si siucay buntung yang sifatnya berangasan Waktu ini tidak dapat menahan sabar lagi.. mendadak dia membentak keras. "Hey Liem Tou! Bilamana kau tidak suka menerangkan urusan ini dengan sejelas-jelasnva. Hee ... hee ... hidungmu yang kecil itu akan aku gencet sampai keluar kecapnya. '... kau tahu sendiri bukan aku si siucay buntung paling tidak suka main-mam !". Sembari berkata dia pentangkan lengannya yang tinggal sebelah untuk perlihatkan satu gaya yang amat aneh. Liem Tou memandang sekejap kearahnya, setelah itu tertawa. "Cianpwee kau jangan begitu terburu-buru ingin tahu ! soal ini tentu boanpwee akan ceritakan. Sesungguhnya sewaktu ada dikota Tang Yang tempo hari boanpwee sudah ada tiga kali bertemu dengan cianpwee sekalian cuma saja waktu itu cianpwee sekalian tidak melihat diriku. Pertama kali, sewaktu aku dengan menunggang kerbau melepaskan cianpwee sekalian dari kurungan para toosu dari Bu tong pay !" Mendengar sampai disini baik Thiat Sie-sianseng maupun Sisiucay buntung sama-sama dibuat melotot, meieka memandang Liem Tou tanpa berkedip apalagi Sisiucay buntung itu saking terpesonanya air liurnya mengalir keluar membasahi bibirnya. "Kedua kalinya sewaktu ada d kuil Siang Lian Si"" Terdengar Liem Tou meneruskan kata katanya. "Secara diam diam aku menahan datangnya angin pukulan jari beracun "Hek Khie Tok Ci" Dari Thiat Bok Thaysu setelah itu dengan menunggang kerbau melakukan pembunuhan secara besar besaran terhadap para hweesio laknat" Berbicara sampai disanaa Si siucay buntung maupun Thiat Sie sianseng sudah mengeluarkan suara aah --hii --iih tiada hentinya mulut mereka terpentang lebar dan berdiri seperti patung. jelas hati mereka berdua di buat benar benar merasa kaget. "Ketiga kalinya adalah waktu ada didalam kuil ditengah hutan Siong luar kota Tang Yang" Ujar Liem Tou kembali. "Waktu itu aku menirggalkan gambar untuk permainan Touw Hong dan waktu itu pula mendengar cianpwee lagi memberi keterangan kepada Heng San Jie Yu kalau si penjahat naga merah yang sudah membinasakan diri Leng Cing Cian cien dari Bu tong pay " Si siucay buntung serta Thiat Sie Sianseng yang mendengar penjelasan dari Liem Tou ini seperti baru saja bangun dari impian mereka merasa urusan terjadi diluar dugaan. Pada saat itulah tiba tiba dari dalam perahu nelayan itu berkumandang datang suara bentakan serta makian yang teramat gusar; "Bajingan cilik, bagus sekali kiranya kaulah yang sudah mencuri ayam panggangku lalu menyambit aku orang tua sehingga gigiku hampir rontok semua . , ! kau sudah berbuat salah kini masih menceritakan pekerjaanmu itu dengan bangga , , , kurang ajar ! kurang ajar ! kau bangsat cilik harus dihajar, aku mau libat ini hari kau bisa melarikan diri ke mana ?" Ditengah suara bentakan yang amat keras itu dari dalam perahu nelayan ini berkelebat keluar sesosok bayangan manusia. Begitu tiba dihadapan Liem Tou lantas melancarkan satu cengkeraman dahsyat menghajar dadanya. Sekali pandang saja Liem Tou sudah tahu orang itu bukan lain adalah si pengemis pemabok, dengan terburu buru dia lantas berkelit kesamping dan bungkukkan badannya menjura. "Coei Kay cianpwee kau jangan salah paham dulu, boanpwee sama sekali tidak bermaksud mencuri ayam panggang cianpwee, waktu itu terpaksa boanpwee berbuat demikian karena takut sie poa dari Thiat Sie Sianseng berhasil mengetahui jejak dari diri ku, karenanya terpaksa boanpwee harus berusaha untuk memecahkan perhatian dari cian-pwee sekalian." Dia berhenti lalu lanjutnya. "Cianpwee pengemis pemabok, kau jangan marah marah biarkan boanpwee minta maaf kepadamu !" Si pengemis pemabok mana mau mempercayai atas perkataannya, tongkat penggebuk anjing yang ada ditangannya mendadak dengan disertai angin pukulan yang amat dahsyat menghajar kepalanya. "Bocah cilik, kau masih mau mungkir?" Teriaknya dengan suara yang keras. "Terang-terangan kau sudah mengincar ayam panggangku terus merebutnya pergi sekarang kau mau mungkir lagi ? Hnm ! sesudah kejadian itu kau pun melukis sebuah lukisan kepala ayam ekor burung hong untuk mencelakai orang lain, kau bocah cilik sungguh kurang ajar sekali ! Ini hari jika kau tidak suka berlutut untuk minta ampun, nyawa kecilmu tidak akan lolos dari tongkatku ! terimalah seranganku!" Jurusnya diubah mendadak dengan menggunakan jurus "Heng Siauw Ciang Cin" Atau menyapu hancur selaksa tentara dia membabat pinggang sang pemuda. "Hmmm ! Jurus serangan yang begitu jeleknya hendak digunakan untuk menghadapi aku, bukankah hal ini sama saja dengan orang buta main petak, membuang tenaga dengan sia-sia ?? " Pikir Liem Tou dihati. Berpikir akan hal itu Liem Tou tidak menghindar 1agi, hanya ditempat seluas tiga depa dia menghindar dan menyingkir kesana kemari untuk berkelit dari seluruh serangan sang pengemis. Si penoemis pemabok yang melihat serangannya tidak mencapai hasil bahkan sampai menjawil ujung bajunya pun tidak berhasil, diam diam dalam hati lantas berpikir. "Bocah cilik ini ternyata sungguh sungguh luar biasa, bilamana dia balas melancarkan serangan bukankah sejak tadi aku sudah berhasil dikalahkan olehnya ?" Permainan tongkat segera diubah, dengan menggunakan jurus jurus serangan dari ilmu tongkat 'Kioe Kioe Lian Huan Pang Hoat yang paling diandalkan dia mulai meneter musuhnya. Jurus serangan ini amat dahsyat sekali setiap serangan pasti mengandung gerakan yang ganas dan membahayakan, seketika itu juga seluruh angkasa dipenuhi dengan suara menderunya angin pukulan. bayangan tongkat berkelebat menyilaukan mata ...sepuluh kaki disekeliling tempat itu seketika itu juga terkurung didalam bayangan tongkatnya. Haruslah diketahui dari antara Tionggoan Ngo Koay, si pengemis pemabok adalah orang yang pertama tama mempunyai nama besar didalam Bu lim, jejaknva yang tidak menentu dan sering suka menangkapi ular ular serta binatang binatang beracun untuk dimakan membuat sifatnya serta penghidupannya amat aneh, dengan demikian namanyapun jauh terkenal dari pada si siucay buntung, Thiat Sie sianseng, sihweesio mayat hidup serta si pembesar buta. Sedangkan mengenai tongkat pemukul anjingnya itu hamrir hampir sudah berhasil dilatihnya hingga mencapai kesempurnaan. jago jago yang sudah menemui kekalahannya di bawah serangan Tah Kau Pang ini boleh dikata tiada sedikit jumlahnya. Waktu ini benar benar bermaksud untuk menjajal kepandaian silat dari Liem Tou dia merasa sama sekali tidak percaya kalau kepandaian silat dari Liem Tou amat tinpgi sekali sehingga sewaktu mencuri ayam panggangnya diluar kota Tang Yang dia tidak berhasil melihat bayangan tubuhnyapun. Serangan yang dilancarkan keluar semakin lama semakin gencar dan semakin dahsyat lagi, dia menyerang bagaikan menghadapi musuh tangguh sedikitpun tidak mau kendor maupun mengalah. Liem Tou sedikitpun merasakan kepandaian silat dari sipengemis pemabok ini sudah berhasil dilatih sehingga mencapai pada kesempurnaan, dia mulai menghadapinya dengan sikap yang jauh berbeda, seluruh perhatian-nya dipusatkan untuk menghadapi sipengemis dengan jauh lebih berhati hati lagi. Tiat Sie sianseng serta sisiucay buntung yang ada disamping kalangan sewaktu melihat sipengemis pemabok sudah mengeluarkam ilmu simpanannya yang jarang bisa dilihat segera mengetahui juga maksud hatinya, si Siucay buntung tetap bungkam diri sambil memperhatikan gerakan tubuh dari Liem Tou sebaliknya si Thiat Si Sianseng tidak bisa menahan rasa gelinya, dia tertawa terbahak bahak. "Hey pengemis busuk, Liem Tou bisa mencuri ayam panggangmu tanpa bisa kau lihat bayangan tubuhnya, apa kau kira ilmu Tah Kau Pang mu ini bisa dipandang sebelah mata oleh dia orang?" Liem Tou pun pada saat itu bisa melihat maksud si pergemis pemabok yang ingin mengalahkan dirinya, dalam hati dia lantas mengambil keputusan untuk sedikit mengalah terhadap diri si pengemis pemabok itu. "Hey cianpwee pengemis pemabok, cepat tarik kembali tongkatmu ... aduh .. ampun, boanpwee tidak kuat untuk bertahan lagi !" Teriaknya berulang kali. Tetapi dia masih belum juga meninggalkan kalangan seluas tiga depa itu, bahkan membalas pun tidak. Selama ini dia selalu saja menghindarkan diri dengan menggunakan gerakan tubuh yang amat aneh sekali, hanya dengan beberapa gerakan yang sederhana saja dengan mudahnya dia telah dapat memunahkan datangnya serangan tongkat tersebut Ada beberapa kali kelihatannya dia tidak bakal berhasil lolos dari serangan tongkat yang dahsyat dari sipengemis pemabok itu tapi hanya sedikit dia goyangkan dan dengan sangat mudahnya Liem Tou kembali berhasil lolos dari kurungan. Si siucay buntung yang melihat gerakannya itu diam diam merasa keheranan, pikirnya. "Sebenarnya bocah cilik ini menggunakan cara apa sih ?" "Cui Kay cianpwee .., kau ampunilah diriku untuk kali ini," Terdengar si Liem Tou sudah merengek rengek kembali. "Aku benar benar tidak kuat menahan dirimu lagi. aduh ... ! Celaka jurus pukulan "Coen Kauw Lah Liauw" Atau anjing terjongkok terkencing kencing ini harus aku hindari dengan cara apa ?" Dia bungkukkan badannya, sedang sepasang kaki berkelebat menghindarkan diri dari serangan itu, setelah itu teriaknya kembali . "Hwaduuuh ... celaka !" "Aku Kauw Yauw Jien" Atau sianjing busuk menggigit orang. "Sam Kiauw Kauw Sa Liauw" Atau si anjing kaki tiga ngompol. "lie Ci Kauw Tauw Wie Pah" Atau dua ekor anjing menggigit ekor Coei Kay cianpwee, apa kau sungguh sungguh mau mencabut nyawaku ?" Mendadak bagaikan putaran roda kereta dengan cepatnya dia meloncat ketengah udara lalu jatuh bergelinding keatas tanah dengan mudahnya dia berhasil menghindarkan diri dari ketiga buah serangan dahsyat tersebut. Kali ini sisiucay buntung bisa melihat semua kejadian dengan amat jelas melihat sang pemuda berhasil menghindarkan diri dari ketiga jurus tersebut dengan manis tidak kuasa lagi dia lantas berteriak memuji . "Ilmu bagus . .ilmu sakti cuma ssyang gerakannya terlalu kasar !" "Haa ..haa..haa . .hey pengemis busuk, aku lihat lebih baik kau tahu diri dan cepat cepat menarik kembali seranganmu" Seru Thiat Sie Sianseng pula tertawa terbahak-bahak. "Sejak semula Liem Tou cuma menggunkan ilmu langkah Sah Cap Lak Kang Poh Hoatnya saja kau sudah tidak bisa mengapa apakan dirinya, buat apa kau bertempur lebih lanjut ? apalagi tempat yang dipijakpun tidak lebih daii tiga depa saja apa kau masih merasa tidak puas ?" Si siucay buntung yang tidak secermat Thiat Siesianceng setelah mendengar perkataan ini dia lalu memperhatikan dengan teliti sekali, sedikitpun tidak salah ! apa vang diucapkan oleh si tukang ramal ini ternyata cocok semua, seketika itu juga didalam hati dia merasa benar benar kagum terhadap Liem Tou. Dengan menggunakan kesempatan inilah Liem Tou pun lalu berteriak dengan keras . "Coei Kay Cianpwee ...sudah ... sudah-lah. jangan berkelahi lagi, nanti boanpwee ganti seekor ayam panggang .. bahkan mengundang juga Cianpwee sekalian untuk minum arak sepuas puasnya dirumah makan .. bukankah dengan begitu boleh juga" Setelah mendengar perkataan itu si pengengemis pemabok baru menarik kembali tongkat Tah Kau Pang-nya, dengan wajah merah dan napas sedikit ngos ngosan diapun tersenyum. "Haaaa... haaaa... nah begitu" Katanya. Padahal hal yang sebenarnya waktu ini dia pun sudah merasa kalau dirinya bukanlah tandingan dari Liem Tou. diam diam dia pun merasa amat kagum atas kemajuan pesat yang diterima Liem Tou. Sehabis tertawa terbahak bahak mendadak dia menarik tubuh Liem Tou dan membentak lagi. "Hey, bukankah kau hendak menjamu kami ? ayoh cepat jalan, liur arak yang ada di tenggorokan aku si pengemis tua sudah mulai merambat keatas . , ayoh cepat ..ayoh cepat .. aku sudah kepingin cepat cepat minum arak!" Tidak peduli segalanya lagi, tanpa memanggil si siucay buntung serta Si Thiat Sie sianseng dia lari kedepan sambil menarik tangan Liem Tou. Ditengah malam buta yang gelap, mereka berdua dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat tinggi, bagaikan kilat cepatnya berlari menuju ke kota Hong Kiat. Sejak semula Thiat sie sianseng sudah dapat melihat kalau Liem Tou cuma menghindar dengan menggunakan ilmu langkah Sah Cap Lak Thian Kang Poh Hoat saja. tetapi setelah ditelitinya lebih cermat dia segera merasakan kalau didalam ilmu langkah itu secara diam diam sudah terselip suatu perubahan yang sangat mendalam hal ini membuktikan kalau kepandaian dari pemuda itu sudah memperoleh kemajuan beberapa kali lipat. Semakin nelihat Thiat Sie sianseng merasa semakin girang, kini nampak sipengemis pemabok sudah pergi sambil menarik tangan Liem Tou, dia pun dengan cepatnya menyambar tangan si siucay buntung. "Loo jan , . , ayo kita pun harus pergi." Dengan mengerahkan seluruh tenaganya dia melakuksn pengejaran kearah depan. Jarak sejauh sepuluh lie hanya dilalui didalam beberapa saat saja, hanya didalam waktu yang sangat singkat mereka sudah saling susul menyusul masuk kedalam kota. Waktu itu lampu sudah mulai dipasang, mtreka berempat yang mempunyai dandanan aneh segera menarik perhatian orang banyak, masing masing lantas mulai membicarakan keadaan dari mereka itu. Mereka berempat tidak banyak mengurusi hal tersebut, dengan langkah yang lebar segera berjalan masuk kedalam sebuah rumah makan yang terbesar dikota Hong Kiat itu, Si pengemis pemabok sedikitpun tak sungkan sungkan begitu duduk dia lantas berteriak . "Heeei pelayan." Pelayan vang mendengar seorang pengemis busuk seperti dia ternyata sudah memanggil sayur demikian mahal serta banyaknya, saking terkejutnya mata pada meiotot mulut melongo-longo ., . untuk beberapa saat lamanya dia berdiri termangu-mngu disana. Sipengemis pemabok yang melihat dia di-buat tertegun, hatinya jadi kurang senang. "Hei bukannya cepat cepat ambil sayur yang aku pesan buat apa kau berdiri melongo-longo disini ayoh cepat pergi, bawa kemari dulu seguci arak." Liem Tou yang melihat sikap dari pelayan itu dalam hati lantas mengerti apa yang sedang dipikirkan olehnya, diapun lantas membentak. "Hei Coei Kay loocianpwee suruh kau ambil arak kenapa tidak ambil ?" Liem Tou yang memakai kain jubah hijau kelihatan seperti kongcu kaya, sang pelayan yang mendengar perkataan itu dengan terburu-buru lantas berlalu. Tak lama kemudian sang pelayan sudah datang dengan membawa seguci arak Pek Lian Hoa yang amat harum baunya. Sipenpemis pemabok yang dapat mencium bau harum itu. air liur mulai menetes keluar membasahi mulutnya. "Akhh ... akhh , .. arak wangi ... arak wangi," Pujinya dengan keras. Tidak nanti lagi guci arak itu lantas dipeluk dan diteguknya hingga habis separuh, setelah itu dia baru menghembuskan napas panjang. "Liem Tou." Teriaknya. "Malam ini kau ada perintah apa silahkan dibicarakan, aku sipengemis tua asalkan ada arak yang bisa diminum sekalipan harus korbankan nyawa juga akan aku kerjakan menurut kemauanmu itu" Liem Tou yang mendengar perkataan itu tidak kuasa lagi lalu menghela napas panjang. Sisiucay buntung sipengemis pemabok serta Thiat Sie Sianseng yang tidak mengerti mengapa secara tiba tiba Liem Tou menghela napas panjang dalam hati merasa keheranan. Sipengemis pemabok tidak dapat menahan sabar lagi. mendadak dia melancarkan cengkeramannya mengancam pergelangan tangan dari Liem Tou. "Hey pengemis busuk, kenapa kau orang tidak pakai aturan, sedikit turun tangan lantas main cengkeram ?" Seru Sisiucay buntung sambil melancarkan serangan pula menahan pergelangan tangan dari sipengemis pemabok itu. sipengemis pemabok yang pergelangan tangannya kena ditangkap dalam hati jadi jengkel. "Hey buat apa kau main main dengan aku?" Makinya. "Aku sipengemis tua paling suka terus terang, aku mau tanyai dia kenapa menghela napas panjang." Sambil berkata dia meronta berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman sisiucay buntung. seketika itu juga diantara mereka berdua jadi saling berebut. Thiat Sie siangseng yang melihat sisiucay buntung sedang ribut dengan pengemis pemabok dia tak ambil perduli, dengan perlahan menoleh kearah Liem Tou. "Liem Tou, kelihatannya kau ada suatu keluhan. coba kau ceritakan," Katanya. "Thiat Sie cianpwee, haruslah kau ketahui kepandaian silat yang aku miliki saat ini adalah berasal dari kitab pusaka To Kong Pit-Liok" Ujarnya sedih. "Tetapi karena kitab pusaka To Kong Pit Liok itulah sudah membawa napsu membunuh buat diriku sehingga banyak melakukan kejahatan. Setelah pertempuran di gunung Cing Shia kali ini aku bermaksud untuk mengunci kembali tanganku dan tidak bertempur dengan orang lain." "Oo,. kiranya begitu" Seru Thiat Sie sianseng paham kembali. "Tak aneh kalau kepandaian yang kau miliki sangat tinggi sekali, tetapi kau yang baru saja munculkan dirinva satu tahun bagaimana boleh msngunci tanganmu ? hal ini benar benar membuat aku tidak paham." Si pengemis pemabok serta sisiucay buntung yang mendengar Liem Tou berhasil melatih ilmunya menurut kitab pusaka To kong Pit-Liok segera pada berhenti beribut. dengan tenangnya mereka mendengarkan apa yang diucapkan oleh sang pemuda. Demikianlah maka Liem Tou segera menceritakan bagaimana dia terjatuh dari atas jembatan pencabut nyawa serta seluruh kejadian yang pernah dialami dengan jelas. Ketiga orang yang mendengar kisahnya itu lantas melongo-longo, bernapas lebih keras pun tidak berani. Thiat Sie Sianseng yang mendengar kemunculannya seorang kakek tua berambut putih dalam hatinya merasa keheranan, dia berpikir sebentar kemudian menoleh kearah si pengemis pemabok. "Hey pengemis busuk, tahukah kau siapakah orang itu ?" Saat ini sipengemis pemabok sudah ads tiga bagian terpengaruh oleh air kata kata, matanya lantas mendelik. "Perduli siapakah dia siorang tua yang tidak tahu urusan lantas turun tangan memang seharusnya terima ganjaran yang setimpal, sekali pun mati juga tidak perlu disayangkan" Teriaknya. "Ilmu pukulan Sian Hong Ciang adalah ilmu sakti dari Heng San pay yang sudah lenyap beberapa tahun yang lalu" Ujar Thian Sie sianseng dengan wajah serius. "Tetapi menurut apa yang aku dengar dari suhuku pada tiga puluh tahun yang lalu dari pihak Heng San pay masih ada seorang bisa menggunakan ilmu pukulan semacam itu, cuma saja orang ini sifatnya tidak suka berkelahi sehingga jarang sekali munculkan dirinya didalam Bu lim, bagaimana asal usulnya serta bagaimana kedudukannya siapa pun tiada yang tahu, tetapi dia paling suka ber-pesiar kesemua tempat kenamaan sekali pun misalnya turun tangan dia pun tidak suka melukai orang, paling-paling cuma menggoda orang saja ...tapi siapakah dia aku pun tidak tahu." Si pengemis pemabok yang mendengar perkataan itu lantas mengerutkan alisnya rapat-rapat. "Kalau demikian adanya maka Liem Tou memang sudah turun tangan terlalu berat" Katanya. "Ah ..aku teringat sekarang, cianpwee apakah pernah mendengar di Heng san pay ada seorang bernama It Tiap Ceng jien?" "Siapapun tahu" Jawab si pengemis pemabok sehabis meneguk araknya "Toosu ini sudah terima murid sebanyak tiga puluh enam orang dan bermaksud hendak membangun kecemerlangan dari Heng San pay, tetapi karena muridnya yang terlalu banyak inilah didalam tubuh Heng San pay sendiri sudah terjadi pergolakan diantara orang orang sendiri yang mengakibatkan saling bunuh membunuh, hanya di dalam sekejap saja bakat bakat baik pada musnah..... .kecemerlangan dari Heng San pay pun hancur berantakan. It Tiap Ceng jien yang mendengar berita ini dalam hati bisa jengkel dan akhirnya mati, tetapi urusan ini sudah terjadi pada seratus tahun yang lalu, buat apa kau menanyakan soal ini?" Setelah mendengar perkataan tersebut air muka Liem Tou berubah semakin pucat, lama sekali dia dibuat tertegun. "Aku lihat agaknya siorang tua berambut putih itu saudara seperguruan dari It Tiap Ceng Jien" Serunya. Mendengar perkataan tersebut, Sisiucay buntung, sipengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng jadi merasa sangat terkejut. "Liem Tou, tidak aneh kalau gara garamu kali ini mengakibatkan wajahmu dipenuhi dengan hawa yang membahayakan." Ssru Thiat Sie sianseng dengan hati kuaiir. "Tetapi jikalau dilihat cahaya terang yang ada di keningmu aku rasa walaupun ada bahaya tetapi tidak pada sekarang baiklah biar aku hitungkan lagi buat dirimu." Liem Tou yang mendengar dia orang suka menghitungkan kembali buat dirinya dalam hati juga merasa amat girang, dengan cepat dia bangun untuk memberi hormat. "Cianpwee suka memberi petunjuk kepadaku, boanpwee benar2 mengucapkan banyak terima kasih" Katanya. Thiat Sie Sianseng tidak banyak bicara lagi, dia lantas duduk kembali kstempatnya semula dan mulai memukul biji sie poanya pulang pergi sedang mulutnya tiada hentinya bergumam. "Angin hitam bertiup dari enpat penjuru sinar lampu lilin penuh berasap menggelapkan suasana, angin taufan meneteskan air mata." Lama sekali Thiat Sie Siangseng pandangi sie poanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun agaknya dia lagi memikirkan maksudnya. Liem Tou yang mendengar dari suara gumamnya mengandung kata kata Pergi, Air mata. Sepi dan Sedih dalam hati merasa rada kurang tenang. "Thiat Sie cianpwis, apa kau tahu maksudnya?" Tanya sang psmuda dengan cemas. Thiat Sie Sianseng yang dibuat sadar dari lelamunannya oleh teriakan Liem Tou segera menghela napas panjang. Liem Tou yang mendengar dia orang menghela napas panjang, hatinya mulai merasa berdebar dengan amat kerasnya. "Liem Tou" Terdengar Thiat Sie Sianseng berkata kembali "Jika dilihat dari musuhmu yang begitu banyak dikemudian hari kau bakal menemui satu bencana, cuma saja bencana ini walaupun ada bahaya tapi tidak sampai membahayakan jiwamu bahkan ada suatu ketika bisa menjadi tenang kembali, tapi kau harus diam! ingat perubahan dikemudian hari masih bisa berganti lagi sesuai dengan keadaan, pokoknya kau ingat saja perkataanku, asal hati lurus, kejadian yang tidak diinginkan bakal musnah sendiri, kau tidak perlu sedih lagi memikirkan hal ini." Liem Tou bungkam tidak menjawab. "Liem Tou" Ujar Thiat Sie sianseng lagi dengan suara yang lirih. "Urusan ini tergantung kelakuan orangnya musuh tangguh yang paling kesalkan hatimu saat ini ada kemungkinan orang tua bsrambut putih dari Heng san Pay, menunggu setelah urusan digunung Cing Shia selesai coba kau pergilah ditempat kediamannya untuk minta ampun, ada kemungkinan bencana ini pun bakal sedikit mendapat keringanan." Liem Tou segera mengangguk, setelah menghabiskan isi cawannya dia lantas berkata . "Cianpwee bisa menaruh perhatian yang begitu serius terhadap boanpwee dalam hati aku merasa sangat berterima kasih sekali! Pertemuan dipuncak pertama gunung Cing-Shia kali ini ada kemungkinan sudah tersiar luas didalam Bu lim, jago-jago yang ada berkumpulpun ada kemungkinan amat banyak sekali, boanpwee hanya berharap agar cianpwee sekali suka menonton saja jalannya pertempuran tanpa ikut campur sedang boanpwee pun tak ingin turun tangan membunuh! maaf boanpwee harus berangkat terlebih dulu, kita berjumpa kembali diatas gunung Cing Shia!" Sehabis berkata dia menjura dengan amat hormatnya. bersamaan pula dari dalam tubuhnya mengambil segenggam mutiara lalu dengan menggunakan gerakan gerakan yang amat cepat memasukkan mutiara itu kedalam keranjang butut dari sipengemis pemabok. "Cianpwee, harap baik baik jaga diri!" Seru Liem Tou kemudian. Sisiucay buntung, sipengemis pemabok serta Thiat Sie siangseng cuma merasakan ada-nya segulung angin yang keras menyambar keluar, bayangan Liem Tou sudah lenyap tak berbekas. Mandadak sipengemis pemabok teringat akan sesuatu teriaknya keras . "Heei bangsat cilik kau ingin moior ? perjamuan ini adalah kau yang menjamu sebelum membayar rekening kau pingin lari ?" Sehabis berkata scpasang kakinya menutul permukaan tanah dan msloncat keluar siap-siap mengejar sang pemuda. Si siucay buntung yang melihat diatas keranjang ada mutiara dengan cepat pentangkan tangannya mencegah. "Hey cuma setengah guci arak saja sudah membuat matamu jadi kebingungan coba kau lihat bukankah didalam keranjang butut-mu sudah ditinggali uang arak yang besarnya sepuluh kali lipat ?" Teriaknya sambil tertawa. Sipengemis pemabok segera menoleh. air mukanya terasa jadi panas. sambil duduk kembali ketempatnya semula tak terasa lagi dia sudah bergumam . "Dia memiliki tenaga dalam serta kepandaian silat yang demikian tingginya, aku tidak percaya dia akan menemui suatu bencana." Thiat Sie sianseng pun waktu itu lagi tertawa, mendengar perkataan tersebut air mukanya segera berubah jadi sangat serius. "Perkataan tidak bisa dimaksudkan begitu, sekalipun seseorang memiliki kepandaian silat yang amat tinggi ada satu kali tentu akan terjatuh juga; walaupun Liem Tou berhasil melatih kepandaian silatnya hingga mencapai pada kesempurnaan tetapi siapa yang bisa menduga akan nasibnya sendiri ? manusia ada kemauan tetapi Thian punya kuasa bilamana nasib lagi sial sekalipun memiliki kepandaian silat yang amat tinggi pun tidak bakal ada kekuatan untuk menghindarinya..." Mendengar perkataan itu si pengemis pemabok lantas tertawa terbahak bahak. "Walaupun perhitungan siepoa mu amat lihay dan bisa menghitung gunung tembaga mana yang bisa tumbuh rumput, ayam besi yang mana bisa tumbuh bulu tapi aku tak akan percaya penuh akan omonganmu ! aku sipengemis tua selamanya melakukan pekerjaan dengan teliti, waspada hati hati dan pakai pikiran, aku rasa urusan ini bisa dilalui dengan selamat." Beberapa perkataan yang sangat pakai aturan ini segera membuat semua tamu yang ada diloteng itu pada mengangguk memuji. Terdengar si Thiat Sie sianseng tertawa terbabak bahak. "Haaa ... haaa ... haaa ., . percaya atau tidak terserab padamu, mari kita pun harus berangkat." Ujarnya kemudian sambil meneguk habis isi cawannya. Dengan lahapnya si pengemis pemabok segera menghabiskan sisa arak yang ada setelah itu dia baru menyambar rekening. ooovv(X)vvooo ANGIN BERTIUP sepoi sepoi, cuaca terang benderang ini hari adalah bulan lima tanggal lima . Tampaklah diatas puncak pertama gunung Cing Shia berdirilah seorang siucay berbaju biru yang berusia pertengahan, kurang lebih tiga kaki diatas kepalanya melayang tiada hentinya tiga ekor burung rajawali yang sangat besar. Dengan hati tidak sabaran dia menoleb kekiri memandang kekanan memperhatikan keadaan disekelihng tempat itu. Suasana disekeliling puncak pertama gunung Cing Shia tampak tenang tak nampak sedikit gerakan pun, dengan perlahan dia menggape keatas, mendadak tampaklah seekor burung elang melayang turun dan berdiri dengan tenangnya diatas tangannya. Wajah burung ini amat seram, dengan sepasang mata yang bulat dan memancarkan sinar tajam, paruhnya dengan bulu yang berwarna hitam. walaupun tubuhnya tidak begitu besar. tetapi jelas kelihatan amat angker. Kiranya sisiucay berbaju biru itu bukan lain adalah Thian Pian siauwcu Ke Hong adanya. dia sedang menantikan kedatangan Lie Loo jie serta orang yang sembunyi digunung Go-bie tempo hari. Tampak Thian Pian Siauw cu berdiri beberapa saat lamanya tiba tiba bergumam seorang diri. "Kenapa mereka tidak datang datang juga? bukankah terang terangan mereka sudah tahu kalau aku ada digunung Cing Sbia ? apakah mereka hendak menanti sampai tengah malam baru datang ? Hmmm ! tentunya mereka sengaja berbuat demikian untuk menghindarkan diri dari serangan burung burung ku . .hee ..hee ..sekalipun ada sepuluh orang Lie Loo jie pun jangan harap bisa menghindar diri dari serangan bokongan burung tersebut." Sewaktu dia bergumam seorang diri itulah mendadak dari tempat kejauhan berjalan mendatangi dua orang hweesio yang satu kekar yang lain kurus. Gaya dari kedua orang hwesio itu amat congkak dan jumawa sekali walaupun terang terangan mereka melihat Thian Pian Siauw cu ada disana tetapi tak melirik sekejappun mereka bercakap-cakap sendiri dengan tenangnya. Thian Pian Siauw cu yang selamanya menyendiri dipegunugan dan jarang berkelana didalam Bu lim selamanya tak pernah mengurusi soal dendam yang sering terjadi di-Bu lim, setiap kali dia turun gunung maka yang dicari tentu adalah orang-orang kenamaan yang sudah punya nama untuk diajak bertanding, terhadap orang yang pekerjaannya merampok sudah tentu tak suka berkenalan. Karena itulah walaupun dia pernah mendengar nama dari sipenjahat naga merah tapi belum pernah menemui orangnya apalagi terhadap diri Thiat Bok Thaysu. Ketika dilihatnya ada dua orang hweesio berjalan naik keatas puncak pertama ujung jubah birunya segera dikebut kedepan dengan beberapa kali loncatan saja dia sudah menerjang kehadapannya. "Hmm ! dari mana datangnya dua orang hweesio liar?" Bentaknya dengan keras. "Cepat berhenti ! Aku ini hari diatas puncak Cing Shia ada urusan. lebih baik kalian melakukan perjalanan dengan jalan berputar saja!" Begitu Tnian Pian Siauw cu meloncat kedepan ketiga ekor burung elang yang ada di aias kepalanya pun ikut terbang kedepan. Walaupun suara bentakan dari Thian Pian Siauw cu ini amat keras tetapi Thiat Bok-Thaysu sama sekali tidak gerakkan kelopak matanya. Si penjahat naga merahpun dengan dingin-nya mendengus lalu melirik sekejap kearahnya. "Hmm ! apa kau kira puncak pertama gunung Cing Shia ini adalah milikmu ?" Serunya tawar Sembari bertanya dia melanjutkan kembali langkahnya kedepan. Thian Pian Siauw-cu yang merdengar perkataannya sama sekali tak digubris hatinya jadi panas sekali lagi bentaknya. "Kau hweesio liar berani mencari gara-gara dengan aku orang ? Ini hari puncak pertama gunung Cing Shia adalah miiikku. justeru aku sengaja tak memperkenankan kalian hweesio liar melewati tempat ini lalu kau mau apa ?" Baru saja Thian Pian Siauwcu berbicara sampai disitu mendadak hatinya sedikit tergerak pikirnya. "Apa mungkin kedua orang hweesio ini adalah pembantu yang diundang Lie Loo jie untuk membantu dirinya ? Walaupun aku Thian Pian siauw cu jarang sekali berkelana didalam dunia kangouw tetapi bukanlah seorang manusia yang belum pernah muncul di Bu lim, seharusnya aku menanyakan dulu siapakah nama mereka apalagi ketiga ekor burungku ini adalah tanda yang bisa aku gunakan untuk merebut kemenangan. kenapa terhadap tandaku ini si hwecsio sama sekali tidak takut ? Jikalau dikatakan mereka berdua tidak mengerti ilmu silat tapi jika dilihat dari langkahnya jelas, memiliki kepandaian silat yang tinggi" Berpikir sampai disini mendadak dia berganti dengan nada suara yang jauh lebih lunak lagi. "Sebetulnya siapakah kalian berdua ? cepat sebutkan namamu ! apakah kalian adalah pembantu yang diundang si cangkul pualam Lie-Siang! aku Thian Pian siauw-cu tidak akan menyerang manusia kerdil yang tak bernama." Mendengar perkataan tersebut si penjahat naga merah baru menghentikan langkahnya lantas tertawa terbahak bahak dengan seram-nya. "Ke Hong kau tidak laporkan namamu apa kau kira kami tidak tahu kalau kau adalah Thian Pian siauw cu ? justeru aku mau tanya padamu apakah kau adalah pembantu yang diundang oleh Lie Siang ?" Thian Pian Siauw cu yang mendergar si hweesio itu memanggil langsung dengan namanya semula agak mengelak tapi setelah teringat kalau mereka stma sekali tidak menjadi takut setelah mendengar namanya dalam hati lantas nenganggap kedua orang itu tentu memiliki asal usul yang penting pikirnya diam diam. "Untuk sementara lebih baik tanyai asal usulnya lebih dulu, biarlah aku mencoba dulu tenaga dalam yang dimilikinya." Dia terus mengerahkan tenaga dalamnya, biarpun pada wajahnya masih tersenyum tapi di hati dia sudah mengambil persiapan. "Kalau kau orang sudah tahu namaku, kenapa tidak cepat cepat berhenti ? Buat apa kalian menerjang naik keatas puncak ini, kalian mengandalkan apa berani sombong dihadapan aku orang ?" Begitu perkataan terakhir selesai diucapkan mendadak telapak tangannya diayun kedepan, segulung angin pukulan yang amat keras dengan cepatnya mengurung kedepan. "Kau manusia macam apa ? berani betul memanggil namaku !" Bentaknya dengan sangat keras. Selamanya Thian Pian siauw cu angkat nama dengan mengandalkan kehebatan dari ilmu pukulannya, sekalipun Lie Loojie sendiri setiap kali harus berusaha keras baru berhasil lolos dari perubahan pukulan yang di-lancarkan olehnya. Sipenjahat naga merah sama sekali tidak pernah menyangka kalau Thian Pian siauw cu bisa turun tangan dengan begitu mendadaknya, hatinva menjadi gugup dengan tanpa berpikir lebih panjang lagi dengan terburu buru melancarkan pula satu pukulan menerima datangnya serangan itu dengan keras lawan keras. "Brak ... !" Dua belah telapak tangan segera terbentur satu sama lainnya, sipenjahat naga merah yang tenaga dalamnya kalah satu tingkat dari Thian Pian siauweu harus menerima datangnya serangan itu dalam keadaan tergesa gesa tubuhnya tak kuasa untuk berdiri tegak, dan dengan sempoyongan terus mundur tiga langkah kebelakang. Thian Pian siauw-cu yang melihat serangannya mendapatkan hasil semakin tidak memandang mata lagi terhadap kedua orang hweesio tersebut, tidak kuasa lagi dia sudah angkat kepalanya tertawa terbahak bahak. "Haaa . , . haaa ,..haaa . , dengan mengandalkan kepandaian seperti itu kalian ingin mengikuti pertempuran puncak digunung Cing Shia ini ... aku lihat kalian lebih baik cepat-cepat lari dari sini !" Jilid. 31 Pertempuran di gunung Cing Shia ini hari adalah suatu pertempuran puncak para jago yang memiliki kepandaian nomor wahid kalian dua orang hwesio lebih baik tidak perlu menjual malu disini! Ayo cepat menggelindlng pergi dari sini !" Dari mulutnya dia segera bersuit aneh lalu tangannya diulapkan, ketiga ekor burung yang terbang di atas kepalanya dengan diiringi suara pekikan rendah dengan cepatnya menerjang dari atas menghajar musuh musuhnya. Pada saat yang bersamaan pula dari puncak kedua yang ada dihadapannya berkumandang datang suara suitan yang amat keras sehingga menembus awan, sekali dergar saja sudah dapat diketabui kalau tenaga dalam Orang itu sudah berhasil dilatihnya hingga mencapai pada taraf kesempurnaannya. Thian Pian siauw cu, si penjahat naga merab serta Thiat Bok Thaysu yang mendengar suara suitan tersebut segera tertegun dibuatnya dan tidak terasa lagi pada menoleh ke arah mana berasalnya suara tersebut. Tampaklah Lie Loo jie bersama sama dengan Liem Tou dengan amat ringannya sedang melayang datang hanya di dalam sekejap saja mereka telab menuruni puncak dan menaiki puncak pertama. Begitu tiba di hadapan ketiga orang itu Lie Loo Jie lalu menuding Thian Pian siauw-cu, si penjahat naga merah serta Thiat Bok Thay Su sambil tertawa. Aku rasa diantara kalian tentu tidak saling mengenal bukan ? He he..He sebelum aku Lie Sang datang bagaimana di antara kalian sudah hendak bergebrak sendiri? Bukankah urusaa ini sungguh sangat menggelikan sekali ?" Waktu itu tiga ekor burung elang yang ada di atas kepala Thian Pian Siauw cu berpekik tiada bentinya, jelas mereka sedang menunggu perintah penyerangan dari majikannya. Ke Heng aku lihat lebih baik kau tarik kernbali saja binatang berbulu itu" Uiar Lie Loo jie sambil tertawa. "Apa kau kira hanya dengan sedikit permainan ini bisa menjatuhkan nama dari Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah yang sudah angkat nama sejak puluhan tahun yang lalu Kau terlalu pandang rendah musuh musuhmu ! Mendengar perkataan itu Thian Pian siauw cu jadi melengak terhadap Thiat Bok Thay su. Dia tidak kenal akan asal usulnya tetapi terhadap si penjahat naga merah dia pernah mendengar kalau dia adalah seorang jagoan dari kalangan Hek to yang bersifat kejam, telengas dan banyak melakukan kejahatan. Tak terasa dia sudah melirik beberapa kejap ke arahnya. "Heee ... heee Lie Sang ! lebih baik kau jangan coba coba mengejutkan aku dengan kata katamu ini, kita sudah saling coba coba adu tenaga dalam. aku rasa diapun tidak lebih cuma begitu saja" Ujarnya sambil tertawa dingin. Sehabis berkata dia menuding pula beberapa kali ke arah si penjahat naga merah. Mendadak Lie Loo jie tertawa terbahak bahak. "Haaa. haaa . .. Ke Hong ! ini hari si penjahat tidak lebih sedang mengantarkan susioknya Thiat Bok Thaysu untuk mam main" Ujarnya keras. Thiat Bok Thaysu jauh lebih lihay beberara kali lipat dari dia, apa kau berani coba coba mencari gara gara dengan dia? Selama ini Liem Tou berdiri di samping tidak .mengucapkan sepatah satupun. Sedang Thiat Bok Taysupun dengan mata yang setengah melek dan setengah merem melirik sskejap ke arah Thian Pian Siauw cu setelah itu dengan tajamnya dia memperhatikan diri Liem Tou tanpa berkedip. si penjahat naga merah yang disindir oleh Lie Loo jie saking khekinya seluruh wajahnya sudah berubah memerah dengan cara yang sama pula dia lantas membentak. "Lie Sang kau jangan sombong dulu, aku lihat ini hari pun kau hanya menghantarkan Liem Tou si bangsat cilik itu, lebih baik kita jangan menyombongkan diri dulu mari..! mari ... lebih baik aku minta beberapa petuniuk dari dirimu !" Mendengar tantangan itu Lie Loo jie Ialu melengos dan memandang ke tempat jauh. "Bajingan tua penjahat naga merah aku lihat lebih baik kau jangan minta petunjuk dulu dari diriku !" Ujarnya. "Itu ... coba kau lihat orang yang menagih hutang sudah pada datang! Kini kau sudah berada di dalam keadaan bahaya apa kau orang masih tidak tahu ..buat apa kau ikut terjun ke dalam Bu lim ?" Si penjahat naga merah segera merasakan hatinya jadi tergetar amat keras. di dalam keadaan cemas dia lalu menoleh ke samping. Terlibat di sisinya sudah berkerumun beberapa puluh orang toosu yang memakai baju hitam maupun kuning. Mereka bukan lain adalah anak murid Bu long pay angkatan kedua yang lagi menuntut balas buat ciang bun jiennya. Orang yang ada di paling depan sebagai pemimpinnya adalah Ciat Siauw Thaysu dari Siaiw Lim ray serta Heng San Jie Yu. Setelah munculkan dirinya, para toosu dari Bu tong pay itu segera terpencar mengurung puncak pertama gunung Cang Shia ini rapat rapat, masing masing menjagai di satu posisi kedudukan sehngga merupakan satu barisan pedang yang amat kuat. Sekali pandaag saja Liem Tou segera me ngetahui kalau barisan itu adalah barisan Ngo Heng Pek So Kiam Tin dari Bu tong pay yang amat lihay, masing masing orang dengan mengambil posisi Kiem, Bok, Swie, Hwee, Tob lima posisi sebagai patokan berjaga jaga dengan amat ketatnya, jelas untuk memecahkan barisan bukanlah suatu pekerjaan yang gampang. Walaupun barisan itu kelihatannya cuma mengandung posisi Ngo Heng tapi jikalau di pandang lehih teliti lagi maka diantara Ngo Heng itu mengandung pula perubahan yang tiada hingganya. walaupun pada saat ini masih tidak kelihatan tetapi bilamana barisan itu mulai bergerak maka walaupun ada binatang macam apapun tidak bakal bisa lolos dari barisan tersebut. Dari dalam kitab pusaka Toa Loo Cin Keng Liem Tou pernah melihat barisan semacam ini sehingga tidak kuasa lagi dia sudah melirik sekejap ke arah Lie Loo jie. Lie Loo jie lantas mengangguk dan tertawa. Pada mulanya si penjahat naga merah yang melihat muncuhya para toosu dari Bu tong pay di sana mereka berada diluar dugaan, tetapi setelah berpikir sebentar mendadak dengan amat gusarnya, sudah membentak amat keras. "Lie Sang, kau manusia yang tidak tahu malu !" Dia lantas menoleh kearah Thian Pian Siauw cu dan merangkap tangannya menjura. Ke Hong ! pada masa yang lalu kau dan aku tidak dendam apapun sakit hati dan selamanya air sumur tidak pernah melanggar air sungai, untuk sementara harap kau suka bersabar sebentar biarlah aku berkelahi dulu dengan siorang tua itu! katanya. Sepasang mata Thian Pian siauw cu lantas berputar, pikirnya di hati. "Begitupun baik juga, biarlah dia pergi menghancurkan sedikit tenaga dari Lie loo-jie dengan begitu sewaktu bertempur melawanku nanti tenaganya sudah tak penuh lagi. Dia lantas mendengus dan melengos ke samping. Si penjahat naga merah tahu dia orang tidak akan turut campur lagi. Badannya segera maju dua langkah ke depan, kuda-kudanya di perkuat lalu bentaknya keras . "Lie Sang kau mmusia yang tidak tahu malu, ayo cepat turun tangan mari kita bergebrak dulu seratus jurus." "Lie Loo jie tersenyum, baru dia hendak memberi jawaban Si penjahat naga merah yang sudah tidak menanti lagi lalu melancarkan satu pukulan kepala dengan dahsyatnya. "Bagus sekali seranganmu ini !!" Teriak Lie Loo-jie dengan keras. "Bajingan tua naga merah kau orang sungguh-sungeuh tak tahu kekuatan sendiri. Bilamana kau kuat menahan sepuluh seranganku maka anggap saja aku Lie Sang yang kalah, sejak ini hari aku tidak akan murculkan diriku kembali di dalam dunia kangouw". Selesai berkata tubuhnya mundur dua langkah ke belakang, hawa murninya disalurkan tangan kirinya menangkis datangnya serangan itu. "Braak ... !" Dengan tepatnya dia berhasil memukul mental serangan dari si penjahat naga merah itu diikuti tangan kanannya menyambar ke depan melancarkan pukulan dengan ilmu "Pit Hong Ciang" Mendesak ke depan. Lie Loo jie yang punya maksud untuk memaksa si penjahat naga merah mengundurkan dirinya sesudah lewat tiga jurus, sama sekali tidak mau kasih waktu buat ganti napas lagi tubuhnya mendesak ke depan dua langkah sedang serangan yang dilancarkan keluar pun semakin mengganas lagi. Waktu itu si penjahat naga merah sedang menerima serangan yang kedua dari Lie Loo jie, mendadak si orang tua itu menarik kembali serangannya di tengah jalan. si penjahat naga merah yang menghantam tempat kosong tubuhnya lantas tersentak maju kedepan, Lie Loo jie tak mau membuang kesempatan ini. Sekali lagi telapak tangannya dengan disertai angin pukulan yang amat dahsyat bagaikan menggulungnya ombak di tengah samudra dan ambruknya gunung Thaysan dengan hebatnya menggulung kedepan. si penjahat naga merah yang tubuhnya keburu maju kedepan, dengan terpaksa dia mundur ke belakang dengan cepatnya. Untung sekali gerakannya amat gesit sehingga tak sampai tersapu oleh datangnya angin pukulan dari Lio Loo-jie itu. Pada saat itulah mendadak terdengar Liem Tou membentak keras. "Thiat Bok hweesio, kau jangan ikut ! Si penjahat naga merah yang terpaksa mundur ke belakang baru saja berhasil berdiri tegak, angin pukulan dari Lie Loo jie sudah kembali melanda datang, dia jadi cemas telapaknya membalik dengan paksa melancarkan satu pukulan ke depan. Kakinya jadi sempoyongan dan kuda kudanya terdorong, tubuhnya seketika itu juga terpukul oleh angin pukulan Lie Lo jie sehingga terdorong sejauh tiga kaki lebih. Untung saja si penjahat naga merah adalah jago kawakan ynng sudah punya banyak pengalaman, di tengah udara dia lantas mengerahkan ilnm bobot seribunya. Walaupun begitu sewaktu badannya tiba di atas permukaan tanah dengan sempoyongan tubuhnya kembali mundur tiga langkah ke belakang. Lie Loo jie segera tertawa terbahak bahak. Haa . .haa . .baru lewat tiga jurus kau sudah dibuat seperti cacing kepanasan, tadi masih bilang mau bertempur seratus jurus haa---haa --lucu sungguh lucu sekaii !" Saking khekinya muka si penjahat naga merah segera berubah seperti babi sembelih. Thiat Bok Thaysu yang ada di samping sebetulnya hendak membantu si penjahat naga merah untuk menerima datangnya satu pukulan dari Lie Loo jie itu, tetapi setelah maksud hatinya dipecabkan oleh Liem Tou terpaksa dengan mata melotot dia melihat keponakan muridnya menerima penghinaan. Ketika dilihatnya Lie Loo jie tertawa de ngan begitu girangnya dia lantas maju ke depan memberi hormat. "Keponakan muridku ini memang benar benar bukan tandingan dari Lie sicu, biarlah pinceng yang minta beberapa petunjuk darimu." Lie Loo jie yang melihat secara tiba tiba Thiat Bok Thaysu bersikap begitu sungkan terbadap dirinya tidak kuasa lagi lantas tertawa. "Aku Lie Sang tidak sampai kau musnahkan di dalam kuil Siang Lian si-mu dalam hati sudah merasa amat beruntung. Ini hari bisa bergebrak secara terang terangan melawan dirirnn sudah tentu hatiku amat girang sekaii." Selesai berkata dia lantas mengadakan persiapan untuk menanti kedatangan angin pukulan dari Thiat Bok Thaysu. Dia tahu angin pukulan dari Thiat Bok Thaysu jauh lebih dahsyat daripada si penjahat naga merah, sedikit dirinya birtindak salah maka ada kenungkinan nama besar yang sudah dipupuk selama beberapa tahun bakal musnah di tangan hweesio itu. Air mukanya lalu berubah amat keren. dengan memusatkan seluruh perhatiannya dia menanti datangnya serangan dari pihak musuh. Thian Pian Siauwcu yang belum pernah merasakan kelihayan dari Thiat Bok Thaysu sewaktu dilihatnya sikap yang amat tegang da ri Lie Loo jie dalam hati merasa rada heran juga. Pikirnya, Terhadap diriku Lie Seng tidaklah terlalu tegang, jelas si hwewesio kurus hitam ini merupakan satu lawan tangguh yang memilili kepandaian yang amat lihay, kalau tidak dengan kelihayan dari Lie Sang bagaimana mungkin dia bisa begitu tegang ? bukarkah hal ini sama saja dengan pcrsoalan kecil yang di besar besarkan" Si penjahat naga merah yang tiga kali mendapat malu dalam hati benar benar merasa amat marah bercampur jengkel, kini melihat susioknya hendak turun tangan sendiri dia lantas mengundurkan diri ke samping sedang dalam bati sangat mengharapkan Thiat Bok Thaysu dapat menyelesaikan Lie Loo jie de ngan cepat. Sewaktu kedua belab pihak sudah saling berbadap badapan itulah tiba tiba terdengar Liem Tou yang ada di samping membentak keras. "Tunggu sebentar ! "Dia maju satu langkah ke depan dan menjura kepada Thiat Bok Thaysu. "Thiat Bok Thaysu!" Serunya dengan keren. "Pertemuan diatas gunung Cing Shia ini hari adalah ide dari cayhe. hal ini tiada sangkut pautnya dengan si cangkil pualam Lie Sang, harap Thaysu suka meredakan hawa amarah sebentar. biarlah aku selesaikan dulu perjanjian tiga pukulan dengan supekku baru kita berbicara lagi ! Dengan perlahan dia lantas menoleh kearah Thian Pian Siauw cu. "Ke Siauw cu!' ujarnya lagi "Masih ingat dengan si pengangon sapi Liem Tou bukan ?" "Sudah ..sudahlah ! ' Teriak Thian Pian Siauw cu secara tiba tiba "Lie Sang ! sebenarnya ini hari kau sedang main setan apa? bukankah ini hari adalah waktu bagi kita untuk berebut kemenangaa ? kenapa bocab cilik ini kau bawa juga ? apa dia pun ingin merebut gelar sebagai jago nomor wahid di dalam seluruh kolong langit ?" Mendengar perkaiaan itu air muka Liem Tou berubah sangat bebat. "Ke siauw cu kau jangan sembarangan omong ! apa kau sudah lupa dengan perjanjian kita sewaktu ada di gunung Go bie" Teriaknya. "Kau tidak melihat muka orang lain masih ingin merebut gelar jagoan segala . .. Hmm ! sunggu tidak tahu malu!" Air muka Thian Pian Siauwcu segera berubah hebat, tidak kuasa lagi dia sudah mengundurkan diri dua langkah kebelakang matanya memandang Liem Tou dengan melotot. Apa? orang yang menantang bertempur sewraktu ada digunung Go bie adalah kau? kau andalkan apa untuk berbuat begitu?" Tanyanya setengah mengejek. Mendadak dia angkat kepalanya dan tertawa kembali. Lie Sang!" Serunya. "Kau lagi pikirkan yang bukan bukan, terang terangan dia panggil kau supek ... kau ..kau suruh seorang boanpwee untuk tantang aku bertempur kau tidak pandang sebelah mata kepadaku yaa?" . Batu saja dia selesai berkata mendadak bagaikan kilat cepatnya dia sudah berkelebat tiba di hadapan Lie Loo jie, sepasang telapak tangannya didorong ke depan menghajar dadanya. "Ini hari aku mau adu jiwa dengan kau orang!' Bentaknya dengan benci. Thian Pian siauw cu benar benar merasa amat kheki, karena itu dia lantas melancarkan serangan dahsyat kearah Lie Loo jie. Lie Loo jie yang melihat datangnya serangan yang amat ganas buru buru hendak menghindarkan diri. Liem Tou yang berdiri disisinya pada saat itu segera mendengus dingin telapak tangannya diayun ke depan melancarkan satu pukulan tak berwujud yang amat dahsyat sekali. Diwajahnya Liem Tou kelihatan tak bertenaga padahal Thian Pian siauw cu yang kena diserang segera merasakan adanya satu tekanan yang amat keras menekan badannya dalam hati dia merasa amat heran sekali. Tubuhnya dengan cepat berputar lalu me nyingkir kesamping, setelah bersusah payah akhirnya dia baru barhasil menghindarkan diri dari serangan itu, walaupun begitu tidak urung dia dibuat melougo juga sambil memandang Liem Tou dengan mata terbelalak. Mimpipun dia tak pernah menduga kalau Liem Tou bisa memiliki kepandaian silat yang begitu lihaynya. "Ke Siauw cu !" Seru Liem Tou sambil tertawa dingin. "Beberapa tahun yang lalu ayahku si pancingan emas sakti pernah dikalahkan dibawah seranganmu, ini hari akupun akan mengalahkan dirimu seperti apa yang dialami ayahku tempo hari." Sehabis berkata dia segera menoleh kearah Lie Loo jie. "Supek ! Perjanjian tiga nukulan sudah tiba, tenmalah seranganku !' Lie Loo jie yang tiba tiba mendengar Liem Tou mengungkat persoalan janji tiga pukulan itu didalam hati lantas mengerti dia sudah tidak sabar lagi untuk cepat cepat membalaskan dendam ayahnya, tak kuasa lagi dia lalu tertawa terbahak bahak. "Liem Tou ! Sekarang aku sudah bukan supekmu, kan turun tanganlah! Sewaktu ada di tebing Leng Ay digunung Go bie kau sudah curi lempengan besiku, ini hari aku mau balas sakit hati ini !" "Hui Tui Ji ! kau pun sudah tipu kitab pusaka Toa Loo Cin Keng serta membawa pergi kerbauku, kenapa kau tidak katakan sekalian ?" Teriak Liem Tou lagi dengan keias "Nih terima seranganku ." Kakinya dengan menggunakan ilmu langkah San Cap Lak Thian Poh Hoat dengan meng-unakan jurus "Tui Cuan Pit Gwaat" Atau mendorong jendela menutup rembulan dia menghajar tangannya ke depan. Saat ini Liem Tou hanya menggunakan tenaga tiga bagian saja, walaupun diluarnya kelihatan amat dahsyat padahal didalamnya adalah kosong. Tetapi menurut pemikiran Lie Loo jie dia tak ingin berbuat demikian, kalau mau bertempur ya sungguh sungguh bertempur. Kuda kudanya diperkuat, dengan menggunakan jurus "Hong Hok KieThian" Atau banyak rejeki mengalir ke langit dia menerima datangnya serangan dari Liem Tou dengan delapan bagian tenaga dalamnya. Seketika itu juga Liem Tou tidak kuat menahan diri, tubuhuya sempoyongan dan mundur kebelakarg, sebaliknya Lie Loo jie sendiri masih tetap berdiri tetap tidak bergerak. "Hey Liem Tou kau lagi berbuat apa ??? Siapa yang suruh kau mengalah buatku ?" Teriaknya keras. Janji tiga jurus, tidak ada jurus yang tidak bisa terpakai." Liem Tou menjadi melengak dibuatnya, dia sama sekali tidak menyangka kalau Lie Loo jie bersungguh sungguh terhadap urusan ini. terpaksa dia lantas menyahut . "Siapa yang bilang jurus ini tidak bisa terpakai, di dalam tiga jurus ini mau ringan mau berat adalah hakku, kau apakah tahu apa maksudku berbuat demikian ? ' Tidak menanti Lie Loo jie naemberi jawabannya. dia kembali melancarkan sutu pakulaan ke depan. "Hei Tui Jie, terimalah kembali serarganku ini !" Lie Loo jie mengira pukulan dari Liem Tou kali ini teniu akan menggunakan tenaga penuh karenanya dia sedikitpun tidak berani berlaku gegabah. dengan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya dia menyambut datangnya serangan tersebut. Siapa tahu apa yang dilancarkan oleh Liem Tou sedikit pun tidak bertenaga, hal ini benar benar membuat hatinya seperti dibakar, wajabnya terasa amat panas karena sikap dari Liem Tou ini jauh terasa lebih menyakiti hatinya daripada dipukul luka. Bagaimana dia orang suka menerima penghinaan ini dihadapan Thian Pian Siauw cu , si penjahat naga merah serta Thiat Bok Thaysu tiga orang jagoan kelas wahid ? Saking gusarnya dia lantas melancarkan serangannya semakin gencar lagi mendesak diri Liem Tou. ' Hey Hui Tui Ji hati hatilah !" Tiba tiba Liem Tou membentak keras. Lie Loo jie jadi amat terkejut, belum sempat dia berpikir lebih panjang mendadak terasa adanya segulung angin pukulan yang sangat keras menekan kepalanya. Hal seperti ini beaar benar diluar dugaan nya. dengan gugup dia lalu balas melancarkan satu pukulan. Tetapi keadaan sudah terlambat, tubuhnya sudah terkena pukulan dari Liem Tou hingga mundur ke belakang tujuh, delapan langkah dengan terhuyng huyung, akhirnya dia tidak kuat menahan diri lagi tak kuasa lagi tubuhnya jatuh terduduk di atas tanah. Bersamaan pula wajahnya dari pucat pasi berubah menjadi kebijau hijauan seluruh badan amat sakit sehingga gemetar keras. Kiranya Liem Toi yang pada jurus pertama mendapat makian dari Lie Loo jie, pikirannya segera berubah. pada jurus kedua dia kembali melancarkan serangan kosong dan menanti Lie Loo ji dibuat tertegun itulah mendadak bagaikan kilat cepatnya dia melancarkan satu pukulan dengan meaggunakan tenaga dalam sebesar lima bagian. Lie Loo jie yang hatinya lagi jengkel sedikit tidak berhati hati dirinya sudah terkena putulan Liem Tou hingga rubuh keatas tanah. Lien Tou mana mungkin ada maksud untu melukai Lie Lo jie, apalagi pada pertemuan di puncak pertama digunung Cing Shia ini musuh tangguh pada berkumpul dan Lie Loo jie sendiri merupakan satu satunya Jagoan yang memimpin pertempuran ini. Liem Tou jadi teramat kaget, tubuhnya dengan cepat menerjang kedepan. "Supek !" Teriaknya dengan keras. "Sutit sudah ketelanjur turun tangan sehingga membuat supek jadi terluka sekarang apakah lukanya berbahaya?" Walaupun Lie Loo jie menderita luka sehingga wajahnya kehijau hijauan menahan sakit tapi dia membuka matanya juga lalu tersenyum ramah. "Sutit kau berbuat sangat benar. perbuatanmu amat baik!" Ujarnya perlahan. "Kau pergilah menghadapi Ke Hong serta Thiat-Bok, aku tidak ada urusan lagi. kau pergilah! mereka tak akan berhasil mengalahkan diri mu tetapi Ke Hong jadi orang tidak terlalu jahat kau jangan melukai nyawanya, Thiat Bok jadi orang amat kejam kau boleh hadapi dirinya sesuka hatimu!" Dengan terburu buru Liem Tou mengangguk. Supek kau tenanglah! sutit bisa pergi hadapi mereki" Hiburnya dengan suara yang lembut." Mereka berdua aku tidak akan membunuhnya, supek kau tahu bukan kalau aku tidak ingin membunuh orang ? Mendadak Lie Loo jie pentangkan matanya lebar lebar dia memandang sekejap ke arah Liem Tou. Sewaktu dilihatnya dari sinar mata Liem Tou mengandung rasa yang iba hati dia lantas menghela napas panjang. ' Liem Tou tadi aku sudah bilang terserah kau hendak menghadapi mereka secara bagai mana" Katanya perlahan. Tetapi Thiat Bok Hweesio barus dijaga baik baik sehingga jangan sampai mendatangkan bencana dikemudian hari, apalagi sucouwmu adalah mati di tangan mereka !" Mendengar perkataan tersebut Liem Tou segera merasakan hatinya tergetar amat keras, dengan taapa terasa dia sudah melirik sekejap ke arah Thiat Bok Thaysu. Saat itupun Thiai Bok Thaysu sambil tertawa dingin sedang memandang ke arah Liem Touu dengan sepasang matanya yang hijau memancarkan sinar tajam. Liem Tou yang melihat sikapnya itu dalam hati merasa amat benci sekali, tetapi bayangan dari si kakek berambut putih dari Heng San Pay kembali terbayang dihadapan matanya. Dengan perlahan dia menoleh kembali ke arah Lie Loo-jie dan memandangnya dengan termangu-mangu. belum sempat dia mengucapkan sesuatu kata mendadak terhadap Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kam-bing sudah berlari mendatang dengan kecepatan yang luar biasa. Orang belum sampai terdengar dari tempat kejauhan si gadis cantik pengangon kambing sudah beteriak dengan cemas . "Engkoh Liem kau sudah gila ?? kenapa kau lukai ayahku ? ?" "Adik Tou!" Terdengar Lie Siauw Ie pun ikut berteriak. "Dari jauh aku bisa melihat kau pukul suhu sampai terluka, apa maksudmu berbuat demikian ? ?". Mereka cepat cepat lan kedepan dan memandang Liem Tou dengan pandangan tercengang, kemudian dengan terburu-buru memeriksa luka dari Lie Loo-jie. Liem Tou sendiri merasa bingung bagaimana seharusnya memberi penjelasan kepada meieka, walaupun bibirnya sudah bergerak tapi sepatah katapun bisa diucapkan keluar, akhirnya Lie Loo jie sendiri yang membuka mata dan memaki Lie Siauw Ie serta si gadis pengangon kambing dengan suara yang rendah. "Ie jie! Wan jie ! Suruh kalian nonton dari samping saja kenapa tidak mau menurut? Liem Tou tidak salah dia seharusnya berbuat demikian, ayoh cepat pulang. Disini tidak ada urusan kalian". Dengan perlalan Liem Tou bangkit berdiri. "Ie cici ! Wan Moay moay ! Saat ini bukanlah tempat untuk bercakap cakap" Ujarnya mendadak. 'Cepat kalian menyingkir ke samping supek, urusan selanjutnya biar aku terangkan di kemudian hari saja". Dengan pandangan bingung dan tercengang Lie Siauw Ie maupun si gadis cantik pengangon kambing memandang sekejap ke arah Liem Tou lalu tidak bertanya lebih lama lagi, dengan terburu buru mereka membimbing Lie Loo jie ke samping. "Ke Siauw cu !" Ujarnya sambil menuding wajahnya. "Setahun yang lalu sewaktu ada dilembah cupu-cupu kau menggunakan sepasang burung elangmu paksa aku Liem Tou sehingga lari terbirit-birit dan nyawaku terancam bahaya, soal ini aku tidak akan tanya kau lagi, aku cuma mau tanya kau tempo hari dengan cara apa ayahku menderita kekalahan di tanganmu?" Thian Pian siauw cu yang melihat Liem Tou berhasil melukai Lie Loo jie dalam hati merasa amat terkejut, dia merasa rada bergidik. Tetapi demi menjaga sikapnya yang sombong dan jumawa dia lantas berkata dengan suara yang amat dingin. Hoo han tak akan meugungkat kejadian di masa yang lalu, Liem Tou kau ingin berbuat bagaimana lakukan saja, aku akan terima seluruh permainanmu itu Lieji Tou tidak langsung menjawab, dia termenung untuk berpikir beberapa saat lamanya. Ke Siauw cu, ujarnya kemudian. Ini hari bilamana kau terkalahkan ditanganku, apakah kau berani melakukan tindakan seperti ayahku tempo hari mengundurkan diri dari Bu lim ? aku tidak ingin melukai dirimu bilamana kau setuju marilah kita mulai her gebrak. THIAN Pian Siauw cu pun lantas termenung berpikir sebentar tadi dia sudah merasakan kelihayan dari ilmu pukulan Liem Tou dan melihat pula Lie Loo jie terluka dibawah serangannya, dalam hati lantas berpikir . "Liem Tou bocah cilik ini ada kemungkinan cuma lihay di dalam ilmu telapaknya saja! Tiba tiba dia teringat kermbali akan kelihayan dari barisan burung elanguya. cuma pertempuran ini ada sangkut paut yang besar dengan nama Ke Hong di dalam Bu-lim, dia tidak ingin mati diatas pegunungan yang sunyi dan tidak ingin menggantungkan kejayaannya ini diatas kelihayan burung elangnya. Tidak terasa dia sudah terjerumus kedalam lamunan. Liem Tou yang melihat Thian Pian siauw cu lama sekaii tidak menjawab lantas mengejek 'Heeep , , .heeee , , , Thian Pian siauw-cu ! kelihatannya kau adalah seorang yang bernyali , , .haa , . .haa , , .tidak disangka nyalimupun amat kecil ! tentunya kau takut bukan ? kalau begitu kita tidak usah bertanding lagi. kau boleh cepat cepat me nggelinding pergi dari gunung Cing Shia ini ! bilamana kau berani naik gunung Cing Shia ini maka janganlah bersikap begitu jeri !" Thiau Pian Siauw cu yang dipanasi oleh Liem Toa dalam hati segera merasa kheki! Seluruh tulangnya berbunyi nyaring, jubahnya berwarna biru bergoyang tiada hentinya, mendadak saja tubuhnya sudah membengkak beberapa kali lipat. Sewaktu ada di lembah Cupu cupu Liem Tou pernah melihat keadaan semacan ini karenanya diapun tahu kalau orang itu lagi menyalurkan tenaga murninya. Diam diam Liem Tou pun lantas bersiap sedia karena dia tahu walaupun Thian Pian Siaw Cu adalah seorang yang sombong tapi pikirannya cerdik, kadang kadang dia bisa melancarkan serangan bokongan dengan menggunakan kesempatan selagi orang tidak bersiap sedia. "Liem Tou" Terdengar Thian Pian Siauw Cu membentak secara tiba tiba. Ayahmu si pancingan emas Liem Cong terkalahkan di dalam tiga kali pertandingan tempo hari. Apakah kau berani menerima tiga pertandingan pula dengan aku orang? Bilamana aku kalah maka sejak ini hari tidak akan ada nama Thian Pian Siaw Cu lagi di dalam Bu Lim, tetapi bagaimana kalau kau yang kalah? Liem Tou yang mendengar Thian Pian Siau Cu sudah menyetujui mendadak dia tertawa tergelak dengan amat kerasnya sehingga menggetarkan seluruh angkasa dan suara tertawa ini bukan lain persis seperti tertawa tergelak yang di dengar Thian Pian Siaw Cu sewaktu ada di gunung Go Bie. "Ke Siauw Cu jangan dikata tiga pertandingan sekalipun sepuluh pertandingan Liem Tou akan mengirinya dengan tangan terbuka" Ujar Liem Tou dengan nyaring. Bilamana aku Liem Tou menemui kekalahan di tanganmu maka dihadapanmu juga akan bunuh diri. Thian Pian Siaw Cu yang mendengar Liem Tou mengambil keputusan dengan begitu tegasnya tidak kuasa hatinya merasa rada berdesir. Liem Tou, kenapa kau ingin mati? Serunya tak terasa. Liem Tou sendiripun sama sekali tidak menyangka Thian Pian Siaw Cu bisa mengucapkan kata kata seperti ini, tidak terasa lagi hati rasa sedikit tergerak. Thian Phian siauwcu. Pikirnya dihati. Lain kali aku akan membiarkan kau lolos satu kali dari tanganku. Dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebutir mutiara lalu dipatahkan jadi dua bagian dan yang separuh diserahkan buat Thiat Pian siauwcu. Ke Siauwci. mutiara yang separoh ini terimalah. ujarnya dengan keras. Mengingat budi kebaikanmu ini hari, lain waktu jikalau kau menemui kesulitan aku Liem Tou tentu akan lepaskan kau satu kali. Thian Piauw siauwcu yang mendengar perkataan ini jadi rada tertegun, terima menerima tidak baik untuk menerimanya juga tidak tenteram ...membuat hatinya rada kebingungan. Liem Tou yang melihat dia orang tidak suka menerima mutiaranya dengan cepat lantas melemparkan barang itu kebadapannya memaksa Thian Pian siauwcu terpaksa harus menerima juga. Baiklah, marl kita mulai bertanding ujarnya Liem Tou kemudian. "Pertandingan pertama bagaimana kalau kita tentukan kelihaian kita masing masing dengun mengadu ilmu?" Ujar Thian Pian Siauwcu kemudian. Pertandingan kedua kita adu kecepatan. coba lihat siapa yang lebih cepat sampai dip uncak Tiang Jie Hong beberapa puncak dari tempat ini. Ketiga ada sedikit barisan kecil dapatkah kau memecahkannya?" Bukankah barisan burung burung yang ber satu padu ?"seru Liem Tou sambil tersenyum. Thian Pian Siauwcu yang mendengarkan perkataan tersebut ssma sekaii tidak menjawab, dengan perlahan dia berjalan mendekati Liem Tou. Pertandingan ilmu telapak ini hendak dipertandingkan secara bagaimana?" "Sudah tentu harus telapak beradu dengan telapak !" Jawab Thian Pian Siauwcu sambil terta wa dingin. "Kalau regitu tidak bisa jadi, poiong Liem Tou sambil goyangkan kepalanya berulang ka li. Bilamana kau ingin adu telapak lawan tehpak bukankah pertandingan yang kedua serta yang ketiga tidak berlangsung lagi coba kau bayangkan tenaga dalamku tidak bisa menandiugi tenaga dalam supekku, bagai mana kau boleh adu tenaga dengan aku orang. Lebih baik kita mencari jalan yang lain saja. Perkataan yang diucapkan oleh Liem Tou ini adalah kata kata yang benar, walaurun Thian Pian siauwcu belum pernsh sungguh snngguh adu tenaga dengan Liem Tou teiapi dengan satu pukulannya yang berhasil menghalangi angin pukulan yang lagi dihantamkan ke arah Lie Loo Jie itu Thian Pian Siauw cu sudah mengetahui kelihayan dari lawan-nya. Tetapi Thian Pian siauw cu walaupun sudah berpikir setengah harian tidak mendapat kan juga cara yang lain untuk memecahkan persoalan ini, sedang Liem Tou sendiripun tidak mendapatkan cara yang lain. Lama sekali mereka berdua termenung, tiba tiba terdengar Thian Pian Siau Cu membuka mulut. "Kalau begitu demikian saja", ujarnya; "Pertandingan pertama ini kita singkirkan dulu. Kita lakukan pertandingan kedua terlebih dulu, bagaimana ?" "Pertandingan yang kedua adalah mengadu ilmu meringarkan tubuh. Ke Siauw cu ! Walaupun ilmu meringankan tububmu sangat tinggi tetapi sewaktu ada digunung Go bie sampai bayangan tubuhku saja kau tidak bisa melihat coba bayangkan, apakah kau bisa menangkan diriku ?" "Tentang hal itu adalah urusanku sendiri. kata Thian Pian siauw cu sambil tertawa. Kau tidak usah kuatir lagi bagaimana kalau kita adu cepat siapa yang tiba di puncak Tian Jie Hong terlebih dulu dialah yang menang. Bagus. Baru saja dia menyahut tampaklah tubuh Thian Pian Siauw cu bagaikan kilat cepatnya sudah menuruni puncak pertama dari gunung Cing Shia ini. Liem Tou segera bersuit nyaring, si penjahat naga merah, Thiat Bok Thaysu, Ciat Siauw Thaysu itu ciangbunjin dari Siaw lim pay, Heng San Jie Yu, para Toosu Bu tong pay berserta Lie Sieuw Ie dan sigadis cantik penangon kambing belum sempat melihat bagimanakah gerakan tubub dari sang pemuda, tahu tahu jejakrya sudah lenyap tak berbekas. Liem Tou yang sudah ada di bawah puncak segera kehilangan jejak dari Thian Pian siauw cu. tidak terasa dalam hati merasa rada kehe-ranan. Apa dia benar benar jauh lebih cepat dari diriku ? Pikirnya. Hatinya juga rada sedikit bergerak saja tanpa memikirkan terlalu mendalam soal ini dengan seluruh tenaga dia berlari melewati dua buah puncak. Puncak Tiang Jie Hong sudah ada di hadapan mata. "dalam hati Liem Tou merasa amat girang, dengan cepat dia bersuit nyaring lalu dengan seluruh tenaga meluncur ke atas dinding puncak tersebut dengan kecepatan yang luar biasa. Pada seat dia tiba pada punggung puncak itulah mendadak terasa olehnya sesosok bayangan manusia berkelebat lalu lenyap tak berbekas, dalam hati merasa rada heran tapi dia tidak menggubrisnya. Hanya dalam sekejap saja dia sudah tiba di atas puncak Thian Jie Hong itu, tiba tiba terdengar suara tertawa dari Thian Pian si uw cu bergema menggetarkan seluruh angkasa 'Liem Tou ! aku orang sudah lama sekaii menanti kedatanganmu disini, apa kau sudah tertidur di tengah jalan ejeknya. Mendengar suara tersebut Liem Tou jadi amat terkejut. ketika dia dongakkan kepalanya keatas . .sedikitpun tidak salah. Thian Pian siauw cu sudah ada diatas pincak, wajahnya tidak merah napasnya tidak ngos-ngosan kelihatannya sama sekaii tidak menghamburkan sedikit tenagapun. Lien Tou yang melihat dirinya menemmukan kekalahan di tangan Thian Pian siauw cu dalam hati merasa amat kuatir, baru saja tubuhnya tiba di atas puncak dia pun sudah melancarkan satu serargan yang mencengkeram pergelangan tangan Thian Pian Siaw Cu. dia kepingin menanyai urusan ini sampai jelas. Terburu buru Tbian Pian Siauw cu mundur satu langkah ke belakang. "Liem Tou ! Perkataan baru saja bergema di telinga, apa kau sudah merasa meyesal ?" Bentaknya dengan keras. Liem Tou tahu dirinya terlalu terburu nafsu, tetapi ketika teringat kalau Thian Pian siauw cu jauh lebih cepat dari dirinya dia jadi merasa heran, mana mungkin hal ini bisa terjadi ? "Ke Siauw cu !" Tak tertahan lagi dia lantas bertanya. "Ilmu meringankan cububmu cayhe merasa amat kagum, tetapi dapatkah kau beritahu kepadaku kau lewat dari jalan yang mana?" Dengan liciknya Thian Pian siauw cu lantas tertawa. "Di atas langit masih ada langit, apa kau kira ilmu silat yang paling lihay di kolong langit pada saat ini cuma kau Liem Tou seorang saja ? Liem Tou! Aku beritahu padamu aku orang bisa terbang di langit dan bisa nenyebrangi sungai tanpa menginjak tanah, percaya tidak ? Dengan termangu mangu Liem Tou memperhatikan diri Thian Pian Siauw cu. Mendadak dia teringat kembali akan bayangan hitam yang dengan cepatnya berkelebat di atas puncak hatinya jadi rada tergerak. Dia jadi sadar kembali apa yang sudah terjadi, tidak kuasa lagi lantas tertawa terbahak bahak. Ke Siauw cu. perbuatanmu yang menipu orang sungguh hebat sekali, apa kau tidak takut ditertawai orang orang Bu-lim ?' Thian Pian Siauw cu segera mengetahui kalau Liem Tou telah mengetahui Kalau tadi dia menunggang elangnya, tapi sikapnya masih tetap sombong sekali. "Liem Tou, kau bilang apa ? kenapa kau tidak memaki kepandaianmu sendiri yang cetek. kini malah menyalahkan orang lain? Coba kau pikir bukankah tadi aku cuma bilang adu kecepatan sampai di atas puucak Tiang Jien Hong ? Sedang soal menggunakan cara apa kan tidak dibicarakan ? bagaimana sekarang kau orang malah menyalahkan diriku ?" Liem Tou yang mendengar perkataannya sedikitpun tidak salah terpaksa harus menahan sabar.dia cuma menyalahkan dirinya kurang teliti sehingga kena dikibuli orang lain dan menderita kekalahan dalam pertandingan ini. Semakin berbicara Thian Pian Siauw cu merasa semakin bangga sehingga tidak tertahan tertawa lagi dengan kerasnya. "Ke Siauw cu kau jangan senang tenang dulu. masih ada dua pertandingan yang harus diselesaikan !" Seru Liem Tou sambil kebutkan ujung bajunya. Sehabis berkata dengan menggunakan jalan yang sama dia berkelebat kernbali ke puncak pertama sedang Thian Pian Siauw cu mengikuti dari belakang. Baru saja mreka berdua melewati puncak mendadak dari kejauhan berkumandang datang suara teriakan yang keras sekaii seperti ada orang yang sedang bertempur. Dalam hati Liem Tou merasa sangat terkejut sekaii, dia merasa kuatir Lie Loo jie yang lagi menderita luka sudah kena diserang oleh Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga meiah. Apalagi Liem Tou tahu kalau ilmu jari Hek Khie Tok Cie dari Thiat Bok Thaysu ini amat lihay sekaii dan merupakan satu pukulan berhawa khie kang yang lihay dan sukar untuk dipunahkan. Walaupun tenaga murni dari Lie Loo jie amat tinggi tetapi dengan keadaan luka apakah dia bisa bertahan terhadap serangan serangan dari musuhnya itu ? Berpikir sampai disini tidak kuasa lagi dia mempercepat gerakannya, dia merasa kenapa dirinya tidak bersayap. Thian Pian siauw cu yang ada dibelakang nya sewaktu melihat dia mempercepat gerakannya diapun lantas ikut menambahi beberapa bagian tenaga, tetapi mana dia orang bisa menangkan pemuda itu ? hanya di daiam sekejap saja Ke Hong sudah ke hilangan ba yangan dari Liem Tou. Melihat kejadian itu Thian Pian siauwcu lantes lertawa geli. "Pokoknya di dalam ilmu meringankan tubuh aku sudah memperoleh kemenangan, sekalipun sewaktu kembalinya kau lebih cepatpun tiada gunanya " Demikian pikirnya di hati. Bukannya mempercepat langkahnya dia sengaja malah memperlambat gerakannya bahkan terakhir selangkah demi selangkah berjalan, jelas dia ingin menunjukkan sifatnya yang amat keren Bagaikan berkelebatnya segulung angin dengan cepatnya Liem Tou sudah berada kembali di puncak pertama, dia bisa melihat di atas puncak sudah diperuhi dengan sinar golok dan bayangan pedang yang menyilaukan mata ternyata para Toosu dari Bu tong pay dengan meminjam kesempatan sewaktu Thian Pian Siauw cu lagi mengadu kecepatsn dengan Liem Tou mereka mengerahkan ilmu barisan Ngo Heng Pek So Tinnya untuk mengurung si penjahat naga merah serta Thiat Bok Thaysu untuk membalaskan dendam bagi Ciangbunjien Leng Cing Ci. Tetapi pada saar ini di atas puncak sudah menggeletak berpuluh puluh sosok tosu Bu-tong-pay. toya yang ada ditangan Ciat Siauw Thaysu dari Siauw lim pay diputar sedemikian rupa sehingga beruhah menjadi segulung sinar keputih-putihan sedang sepatang pedang dari Heng San Jie Yu dimaainkan dengan kencang membuat angin serangan menderu-deru. Walaupun begtu mereka tidak berani terlalu dekat dengan badan si penjahat naga merah serta Thiat Bok Thaysu, agaknya mereka merasa tidak terlalu mantap untuk melancarkan serangannya. Sebaiknya si penjahat nata merah serta Thiat Bok Thaysu sendiri dengan tenangnya berdiri di atas puncak, mereka sama sekali tidak tertarik oleh keributan dari para toosu-toosu itu bahkan serangannyapun dilancarkan kadang kadang saja. Pada saat ini para toosu dari Bu tong pay lagi membentuk barisan Hauw Heng Tin dan berputar tiada henti hentinya bagaikan roda mendadak terdengar Ciat Siauw Thaysu dari Siauw lim pay itu membentak keras, toyanya dengan menggunakan jurus "HengSauw Cian Cin" Melancarkan serangan ke depan. Toyanya dengan membentuk satu rentetan sinar yang menyilaukan mata dengan amat dahsyat menghajar kepala si penjahat naga me rah serta Thiat Bok Taysu. Bersamaan waktunya pula Heng San Jie-Yu mengetarkan pergelangan tangannya dan memainkan dua gunung bunga bunga pedang bagaikan kilat cepatnya nenyambar tubuh ke dua orang tersebut. si penjahat naga merah segera meraung keras. Bajingan tua kau sudah tidak ingini nyawamu lagi ???"' Bentaknya dengan keras. Terhadap datang serangan toya serta sepasang pedang itu dia sama sekaii tidak ambil gubris hanta dengan Sepasang tangannya disambuntnya serangan tersebut disertai segulung angin sambaran yang amat keras sekali. Agaknya Ciat Siauw Thaysu sudah mengadakan persiapan terlebih dulu, mereka bertiga segera memencarkan ke samping menghindarkan diri dari sambaran angin pukulan dari si penjahat naga merah itu. setelah itu dengrn mengikuti gerakan tersebut tubuhnya berputar. Mereka bertiga dengan menggunakan jurus Im Sauw Cing Thian" Atau menyapu mega membersihkan langit dan Cing Im Jut Siauw atau mega bersih muncul digunung serta "Ingg Lok Peng Sah" Atau burung bangau terbang di pasir bersama sama melancarkan serangan ke arah Thiat Bok Tnaysu dengan kecepatan yang luar biasa. Walaupun Thiat Bok Thaysu selama ini selalu waspada tetapi tak sempat pula untuk raengeluarkan ilmu jari Hek Khie Cie Toknya. Terpaksa ujung jubahnya dikebut ke depan diikuti tubuhnya meloncat ke samping untuk menghindar. Tetapi waktu sudah agak terlambat •"Sreeet ... Dengan disertai suara yang nyaring jubahnya sudah berhasil dibabat robek oleh sambaran pedang Loo jie dari Heng san Jie Yu. Thiat Bok Thaysu jadi teramat gusar, dia menjerit keras laksana pekikan serta jeritan setan. Sesosok bayangan hitam dan kurus bagaikan kilat cepatnya meloncat ketengah udara lalu melancarkan serantan dahsyat dari atas. Ciat Siauw Thaysu maupun Heng San Jie Yu merupakan seorang ciangbunjin dari satu partai besar dan merupakan jago jago berkepandaian tinggi pula, sudah tentu mereka mengerti akan kelihayan dari serangan tersebut. Dengan serentak ujung kakinya menutul permukaan tanah lalu meloncat mundur sejauh tiga depa ke belakang. Thiat Bok Thaysu mana mau menyudahi sampai disitu saja, sekali lagi dia membentak keras, tubuhnya bersalto di tengah udara sedang kesepuluh jarinya dipentangkan lebar lebar lalu menerjang ke arah Lie Loo jie dari Heng san Jie Yu. Loo-toa dari Heng san Jie Yu serta Ciat Siauw Thaysu terburu buru menyingkir kesamping lalu bersama sama menggerakkan toya serta pedangnya menerjang punggung Thiat Bok Thaysu. Loo jie cepat menyingkir, hawa beracun dari setan tua ini sangat lihay dan jangan sampai terkena badanmu" Teriak mereka berbareng. Loo jie dari Heng san Jie Yu ini sudah tentu mengetahui keadaan yang berbahaya, bewa murninya segera disalurkan keseluruh tubuh kemudian meloncat mundur dua kaki jauhnya dan dengan tepat berhasil menghindarkan diri dari serangan hawa beracun itu. "Serbu !" Teriaknya kemudian sambil mengulapkan tangannya. Para toosu dari Bu tong pay bersama sama lantas membentak keras, barisan pun segera berubah menjadi gaya burung bangau dengan membagi menjadi tiga jurusan menyerbu ke depan sehingga mirip sekali dengan cakaran burung bangau dengan paruhnya. Hanya di dalam sekejap saja si penjahat naga merah serta Thiat Bok Thaysu sudah terkuruug di tengah tengah kalangan, serangan pedang bagaikan titiran air hujan dengan gencarnya menghajar tubuh kedua orang itu. Kiranya ilmu jari beracun "Khie Tok Cio" Dari Tiat Bok Thaysu ini masih belum berhasil dilatih hingga mencapai pada puncak kesempurnaannya, setiap kali setelah melancarkan pukulan dengan hawa beracui, maka dia harus tarik kembali terlebih dahulu hawa itu kemudian baru bisa digunakan lagi. Pada mulanya semua orang masih tidak mengerti akan hal ini sehinggi ada bsberapa orang Toosu terkena pukulan beracunnya tetapi setelah titik kelemahannya ini ditemukan cara bertempurpun lantas berubah. Dengan Ciat Siauw Thaysu serta Heng san Jie Yu yang memancing pukulan hawa beracun dari Thiat Bok Thay&u kemudian para Toosu toosu dari Bu tong pay ini menggerakkan barisannya maju bersama sama. Dengin gerakan dari mereka ini hawa tersebut segera memperoleh hasil yang lumayan seketika itu juga si penjahat naga merah serta Thiat Bok Thaysu dibuat kalang kabut tidak ada ujung pangkalnya. Mereka berdua segera membentak gusar tubuhnya dengan gaya burung bangau menerjang ke langit meloncat setinggi tiga kaki, baru saja mereka bermaksud untuk melayang ke luar dari kepungan para toosu toosu itu mendadak terdengar suara bentakan yang amat nyaring dari salah seorang toosu toosu But tong pay itu. "Tiang Hong Cian Jien atau pelangi merah menutupi sang surya! . Mendengar suara bentakan itu para toosu toosu dati Bu tong pay segera berteriak kerras, berpuluh puluh bilah pedang bersama sama disambitkan ke arah si penjahat naga merah serta Thiat Bok Taysu. Untuk beberapa saat lamanya seluruh angkasa sudah dipenuhi dengan sinar pedang yang berkilauan meausuk mata, dan bagaikan air bah menerjang kearah kedua orang itu. Liem Tou yang melihat kejadian yang luar biasa ini diam diam merasa tercengang juga pikirnya. "Para toosu toosu dari Bu tong pay sudah menggunakan jurus menyambit pedang. agak nya mereka benar benar hendak mengadu jiwa dengan si penjahat naga merah serta Thiat Bok Taysu". Thiat Bok Taysu tidak malu disebut sebagai susiok dari si penjahat naga mereh walaupun berada di dalam keadaan yang benar benar kepepet dan didesak oleh curahan peiang laksana titiran air hujan hatinya tidak menjadi kacau. "Sutit hati hati menghadapi musuh, jangan gugup atau bimbang !" Teriaknya dengan keras. Tubuhnya sendiri lantas menekuk bagaikan busur, tanpa sedikitpun gugup tangannya melancarkan cengkeraman sedang kakinya menendang ke depan, seketiki itu juga pedang pedang yang menghajar badannya berhasil dipatahkan tiada bekasnya. Sebaliknya si penjahat naga merah tidak sempat untuk menghindarkan dan kaki lenngannya sudah tertancap dua bilah pedang untung saja hanya luka di kulit saja sehingga tidak membahayakan. Dengan terburu buru mereka berdua sama sama menggerakkan badannya ke samping, dan akhtrnya berhasil juga meloncat sejauh lima kaki dari tengah kalangan pertempuran. Kini para toosu toosu dari Bu-tong Pay sudah pada kehilangan pedangnya, untuk memungut kembali pun tidak sempat lagi. Thiat-Bok Thaysu serta si penjahat naga merah melancarkan serangan secara mendadak hatinya terasa berdebar amat keras untuk selamatnya mereka lantas mengundurkan diri ke belakang. Kesempatan yang amat bagus ini oleh Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah mana suka dilepaskan dengan begitu saja, terdengar si penjahat naga merah membentak keras dan mencabut keluar cambuk naga merah yang paling diandalkan olehnya. Sebaliknya Thiat Bok Thaysu membentak keras, sepasang telapak tangannya segera berubah jadi menghitam. sambil memutar tubuhnya dia melancarkan serangan menghajar toosu toosu Bu long pay yang ada di paling depan Liem Tou yang melihat mereka berdua hendak mulai melakukan pembunuhan secara besar besaran sudab tentu tidak mau berpeluk tangan terus, terdengar dia tertawa ringan ujung kakinya segera menutul permukaan tanah dan meloncat ke depan Thiat-Bok Thaysu maupun si penjahat naga merah, telapak tangannya disilangkan di depan dada siap siap menghadapi sesuatu. Hey penjahat naga merah. Thiat Bok -Hweesio untuk semantara kalian jangan keburu menurunkan tangan jahat dulu," Teriaknya. "Tunggu saja setelah aku berhasil pukul mun dur Ke Siauw cu di dalam tiga kali pertandingan kita baru melanjutkan kemtali pertempuran ini. Ciat Siauw Thaysu yang melihat Liem Tou menghadang didepan mereka berdua dalam hati segera mengatahui kalau dia khusus datang menolong dirinya, karena itu dia lantas ulapkan tangannya mengundurkan para toosu yang mulai jadi kocar kacir itu. Si penjahat naga merah yang melihat Liem Tou menghalangi gerakan mereka dalam hati jadi merasa amat gusar. "Liem Tou !" Makinya dengan jengkel. ' Terang terangan kematian dari para toosu-toosu bau sudah ada didepan mata kau sengaja menghalanginya, kenapa tidak berdiri jauh jauh saja menonton pertempuran ini dan justeru pada saat ini munculkan diri ? Kau bangsat cilik, anak anjing cucu kura kura... anak jadah ..." Haa ...haa ..haa ..bajingan tua penjahat naga merah kau pun kenapa tidak berpikir ? Kenapa seorang ciangbunjien yang tidak ada salahnya dengan dirimu sudah kau bunuh mati ? Bilamana kesalahan ini ada ditangan mereka sudah tentu aku tidak akan menolong, tetapi sekarang ..apa kau suruh aku menolong dirimu untuk menghajar para toosu dar Bu tong pay ?" Seru Liem Tou sambil tertawa terbahak bahak. Pada saat itulah Thian Pian siauw cu sudah tiba, Liem Tou yang melihat munculnya orang itu dan teringat pula akan kemenangannya yang diperoleh dengan menggunakan akal licik. air mukanya segera berubah amat keren, terhadap si penjahat naga merah serta Thiat Bok Taysu, lantas bentaknya dengan keras. "Kalian berdua tak usah banyak bicara lagi, kaiau ada hutang, mau ditagih ayoh cepat dikumpulkan, menanti setelah aku menyelesaikan pertandingan ini dengan Ke Siauw cu kita berbicara kembali". Sehabis berkata telapak tangannya segera didorong kedepan, segulung hawa pukulan yang amat keras dengan cepatnya mendesak ke arah kedua orang itu membuat si penjahat naga merah serta Thiat Bok Thaysu jadi kelabakan dan mundur ke samping, dengan gemasnya mereka melototi diri Liem Tou serta Thian Pian Siauw cu yang sudah berhedapan. Saat ini orang orang yang ada di atas puncak pada kepingin mengetahui bagaimanakah kesudanan dari pertandingan tadi, tetapi mereka pun cuma bisa melihat dari perubahan air mukanya saja. Sewaktu melihat air muka Thian Pian si-uw cu tenang-tenang saja bahkan tersungging satu senyuman sebaliknya wajah Liem Tou' berengut membuat orang itu jadi merasa keheranan. Dengan demikian merekapun segera mengetahui ada sepuluh bagian Thian Pian Siauw cu sudah memperoleh kemenangan akhirnya merekapun pada berpikir dengan cara pemikiran yang lain. Yang paling murung adalah Lie Siaw Ie serta gadis cantik pengangon kambing sedang yang paling giraag sudah tentu si penjahat naga merah serta Thiat Bok Thaysu jelas sekali mereka merasa amat girang karena Liem Tou yang memiliki kepandaian ilmu silai tinggi tetapi di dalam ilmu meringan tubuh sudah jatuh kecundang di tangan Thian Pian Sauw cu Lie Loo jie yang masih duduk bersila di atas tanah walaupun ukanya belum sembuh tetapi hatinya merasa amat kuatir terhadap menang kalahnya Liem Tou Dengan perlahan dia membuka matanya lalu tanyanya kepada si gadis cantik pengangon kambing dengan suara yang perlahan. "Pertandingan pertama siapa yang sudah memperoleh kcmenangan ?" 'Jika dilihat air muka engkoh Liem agaknya pertandingan kali ini dia sudah menemui kekalahan di tangan Thian Pian Siauwcu ! jawab si gadis cantik pengangon kambing seperti apa yang telah terjadi Mendengar perkataan tersebut Lie Loo-jie jadi melengak. "Bagaimana mungkin bisa begini ? gumamnya seorang diri. "Tentang diri Ke Hong aku sudah mengeta huinya dengan amat jelas, ilmu meringankan tubuhnya tidak bisa melebihi diriku bagaimana dia bisa mempeioleh kemenangan dari Liem Tou ?" Dia lantas memejamkan matanya untuk berpikir keras, walaupun begitu tetapi tidak terpikirkan juga olehnya apa sebabnya ha1 ini bisa terjadi. Saat itulah Liem Tou sudah menjerit keras ; "Pertandingan babak pertama aku sudah menemui kekalaban karena terkena siasatmu yang licik, pertandingan babak kedua ini adalah mengadu Ilmu pukulan, dapatkah kau mencarikan satu cara yang paling sempurna?" 'Pertandingan babak pertama aku sudah berbasil kalahkan dia, bilamana babak kedua ini pun aku bisa menang maka babak ke tiga tidak usah dipertandingkan lagi," Pikir Thian Pian Siauw cu di daiam hati. "Tetapi ilnu pukulannya lihay dan bisa menjagoi seluruh kolong langit, bila tidak menangkan dirinya dengan menggunakan akal babak ini tidak mungkin bisa." Dia berdiam diri termenung beberapa saat lamanya, mendadak pikirannya jadi terang dia sudah memperoleh satu cara yang amat bagus sehingga membuat hatinya iadi amat girang. "Haaa ...haa.. .Liem Tou!" Teriaknya sambil tersenyum." Aku sudah memperoleh satu cara untuk menjajal ilmu pukulan, cuma saja entah kau berani menerimanya atau tidak." Ke Siauwcu. asalkan kau sudah memperoleh satu cara sudah tentu Cayhe akan melayaninya " Seru Liem Tou tidak berpikir panjang lagi. "Heee ... heee ... apa sungguh sungguh perkataanmu itu? kalau sudah kau Lcapkan jangan menyesal lagi lho? ejek Tnian Pian siauw cu sambil tertawa licik. ? "Ke Siauw cu, aku Liem Tou adalah seorang lelakt sejati perkataan yang sudan diucapkan berat bagaikan gunung, kapan aku pernah menyesal ?" Merdengar perkataan itu Thian Pian Siauw cu segera tertawa terbahak bahak dengan nyaringnya dengan perlahan dia bungkukkan badannya memungut sebuah batu cadas yang besarnya ada satu kepal kemudian diayun-ayun kan diatas. "Liem Tou, mari kita bertandingan untuk melemparkan batu cadas ini ke depan, siapa yang leoih Jauh siapa yang menang sudah tenaga pukulan yang terjauhlah yang paling kuat, bagaimana kalau kita gunakan cara ini saja? adil dan tak sampai melukai orang..., heee ... heee . .. bukankah sangat bagus?" Katanya sambil tertawa. Mendengar caranya itu Liem Tou jadi melengak dibuatnya, untuk beberapa saat lama-nya ia tak dapat mengucapkan sepatah katapun, keningpun sudah dipenuhi dengan keringat dingin. "Hmmm ! bajingan tua ini sungguh licik se kali." Pikirnya di hati dengan perasaan gemas. "Terang terangan dia mengetahui dirinya tidak akan menangkan tenaga pukulan diriku sekarang sudah pikirkan satu cara yang begitu liciknya ... diluarnya menang kelihatannya siapa yang jauh melemparkan batu itu dialah yang memiliki tenaga dalam paling sempurna, padahal yang sebetulnya mana lagi bertanding ilmu pukulan? terang-terangan dia mengajak aku mengadu seluruh tenaga sendiri ditambahi keahlian untuk menyambit. bilamana keadaannya tidak tepat dan tak bertenaga besar untuk melemparkan batu itu ke tempat yang lebih jauh bukankah babak inipun aku bakal memperoleh kekalaban?' Berpikir sarr pai disini Liem Tou benar benar merasakan hatinya seperti dibakar. tak kuasa lagi dia lantas bertertak . "Ke Siauw cu kau binatang licik ! itukah caranya pertandingan tenaga pukulan? Hmm terang terancan permainan kanak kanak kau anggap sebagai permainan orang dewasa !" Tbian Pian siauw cu mengerti krlau Lien Ton tidak punya pegangan untuk rebut kemenangan, dia semakin bangga lagi. "Hara ... H aaa ... Liem Tou, melempa batu memang benar permainan dari bocah cilik, tetapi bisa juga digunakan sebagai cara untuk bertanding ilmu pukulan, bagaimana kau merasa manyesal dengan cara ini? ejeknya sambil tertawa. Liem Tou segera merasakan seluruh tubuhnya gemetar amat keias. "Aduh celaka pikirnya. Bilamana babak ini aku menemui kekalahan lagi, maka aku harus pegang janji. sekali pun tidak mati aku pun tidak punya muka untuk bertemu muka dengan orang lagi" Tidak terasa lagi hatinya jadi merasa se makin tegang, tapi dia sudah menyanggupi orang lain dan kini tidak mungkin disesali kembali, terpaksa sambil keraskan kepala teriaknya dengan keras. "Ke Hong, aku sama sekali tidak menduga kalau kau adalah seorang manusia licik yang tidak tahu malu. Aku Liem Tou kalau memangnya sudah menyanggupi dirimu sudah tentu tidak bakal merasa menyesal. ayoh sekarang kau boleh turun tangan terlebih dulu!" "Sekali lagi Thian Pian siauw cu tertawa terbahak bahak. "Haa . .baa , , Liem,,Tou! kalau begitu kau pun boleh memungut batu yang sama besarnya aku takut setelah aku menggunakan batu sebesar kepalan ini untuk menyambit ke tempat jauh sekalinyt nanti kau menggunakan batu yang kecil untuk main curang itu kan jadinya tidak bagus bersamaan pula kita harus mencari seorang sebagai saksi untuk melihat seberapa jauh batu kita masing masing pihak terakhir jatuh." Liem Tou tidak bisa berkata apa apa lagi terpaksa dia memungut pula sebuah batu sebesar apa yang diambil oleh Thian Pian-siauw cu setelah itu baru menggape ke arah Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing. Jilid. 32 Kedua orang dara itu lantas menyahut dan maju kedepan. Liem Tou lantas memberi pesan beberapa patah kata kepadanya akhirnya si gadis cantik pengangon kambing mengundurkan diri ke samping ayahnya untuk melindungi keselamatan dari Lie Loo jie sedangkan Lie Siauw Ie bertindak sebagat saksi. Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing yang mendengar Tbian Pian siauw cu hendak menggunakan cara ini untuk bertanding dalam hati merasa amat kuatir sekali buat diri Liem Tou, air muka mereka berubah semakin tegang. pertandingan yang berada diluar ilmnu silat ini siapa pun tiada yang merasa punya pegangan untuk memenangkannya. Padahal Thian Pian Siauw cu sendiripun tidak punya pegangan yang kuat untuk menangkan pertandingan ini, cuma saja dia yang mengerti babak kedua pasti akan menemui kekalahan lantas memikirkan sstu cara, yang unik bersamaan pula diapun sudah menang satu kali sekalipun babak ini menemui kekalahan di tangan Liem Tou dia masih punya satu kesempatan terakhir untuk menangkan Liem Tou, karenanya dia tidak merasa begitu tegang seperti diri Liem Tou. Tangannya segera digape, mendadak dari sisi puncak meloncat keluar seorang bocab cilik berbaju putih yang meloncat ke samping Liem Tou dan Siauw Ie. Bocah cilik ini juga bertindak pula sebagai saksi. Lie Loo jie sendiripun merasa keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya. Walaupun dia terluka tetapi dengan paksakan diri berdiri juga untuk menonton pertandingan itu. Pertandingan dimulai dengan Thian Pian siauw cu yang menyambit semua orang melihat dia mencocokkan tempat serta tenaganya dahulu kemudian dengan menimbulkan desiran yang amat keras batunya dengan sangat tepat sekali melayang sejauh dua ratus tindak. Dia merasa amat puas sekali dengan hasil yang didapatkan ini, dengan pandangan mengejek dia memperhatikan diri Liem Tou lalu tertawa dengan kerasnya. Haaa ... haaa ... sekarang giliranmu serunya Dengan termangu mangu Liem Tou memandang batu sebesar kepalan yang ada ditangannya dia merasa tidak punya pegangan untuk menangkan diri Thian Pian siauw cu, tetapi lemparan ini akan menentukan nasib selanjutnya. Liem Tou benar benar merasa amat tegang keningnya sudah penuh dibasahi oleh peluh yang menetes keluar dengan amat derasnya, sewaktu dia hendak melemparkan batunya itulah tiba tiba ....' Tahan!" Terdengar Lie Loo jie membentak keras. Setelah itu dengan langkah yang sempoyongan dia berjalan mendekati diri Lem Tou. "Sutit, hatimu merasa tegang pikiran tidak tenang. bagaimana bisa lemrar jauh batu ini ?" Tegurnya. "Ingat ! menyambit batu adalah menggantungkan tenaga dari jari, pergelangan tangan, pinggang serta kaki lalu bersama sama mendorong ke depan, kalau tidak begitu kau bakal kalah, oleh karena itu pikiran barus tenang hati harus mantap sehingga dengan demikian baru bisa menangkan pertandingan babak ini." Karena lukanya belum sembuh dan sekarang dia harus banyak berbicara napas dari Lie Loo jie jadi tersengal sengal, dengan perlaban dia mengundurkan diri dua langkah ke belakang. "Ingat! Pantangan yang penting hati tak boleh tegang !" Peringatnya. Agaknya Thian Pian siauw cu sudah merasa tidak sabaran lagi, dia segera lertawa dingin tiada hentinya. "Lie Sang, kedahsyatan tenaga dalam Liem Tou apa perlu kau ajari lagi ?" Ejeknya. "Ke Hong, kau bangsat berhati licik apa ini yang disebut pertandingan tenaga pukulan?" Balas ejek Lie Loo jie sambil tertawa dingin. "Bilamana sungguh sungguh mengadu tenaga pukulan, cukup satu setengah jurus saja sudah lebih dari cukup untuk mencabut nyawamu" Thian Pian Siauw cu tidak suka beribut lagi dengan Lie Loo jie. dia segera menoleh dan memandang ke arah Liem Tou yang siap siap hendak menyambitkan batunya. Liem Tou ternyata menurut saja apa yang sudah dinasehatkan oleh Lie Loo jie pikiran nya segera dipusatkan hawa murninya disalurkan ke seluruh badan lalu dikerahkan ke arah jari tangan kanannya serta pergelangan tangannya. Seluruh jalan darah maupun urat urat nadi penghalang tubuhnya sudah berhasil ditembusi, sudah tentu hawa murninya dengan amat lancar sakali berhasil disalurkan ke arah pinggang serta kakinya. Setelah pikirannya berhasil ditenangkan, hawa murninya disalurkan keseluruh tubuh kemantapan hatinya semakin bertambah, rasa tegang yang semula meliputi hatinyapun jadi lenyap tak berbekas Mendadak "... "Enci Ie, lihat baik baik 1" Teriaknya keras. Tubuhnya maju dua langkah ke depan pinggangnya sedikit ditekuk tangannya diayunkan ke depan. Sreeet ... dengan disertai suara desiran yang amat tajam batu itu bagaikan berkelebatnya sinar kilat dengan cepatnya meluncur ke depan. Hanya dalam sekejap saja batu itu sudah melampaui batas dari Thian Pian siauw cu dan jatuh beberapa puluh kali di depannya. Lie Siauw Ie yang melihat kejadian ini saking girangnya lalu berteriak teriak. Akh ... adik Tou kau menang . " ..kau menang teriaknya keras. Semangat Lie Loo jien pun berkobar kemboali, karena hatinya lega badanpun tak kuasa lagi jatuh terduduk kembali ke atas tanah Liem Tou sendirpun segera menghembuskan napas panjang, keringat yang membasahi keningnya setetes demi setetes meluncur keluar hagaikan curahan hujan. membuat seluruh pakaiannya jadi basah kuyup. Dengan kemenangan ini ketegangan yang mencekam seluruh hati Liem Tou pun jadi buyar dia lalu menoleh memandang kearah Thian Pian siauw cu yang lagi berdiri termangu manggu. Wajahnya kelihatan amat kesal, kini tinggal satu babak saja. bila dia menang masih tidak mengapa, bila kalah ... Untuk pertama kalinya pada ujung bibir Liem Tou tersungging satu senyuman. Ke siauw cu sekarang menang kalah sudah seimbang, dan kini aku ingin menjajal barisan burung terkutukmu itu ujarnya sambil tertawa. Heee .... heee baik kau jangan memandang rendah burung burung eangku. me reka bisa menghancurkao selurub tubuhmu hingga koyak koyak Teriak Thian Pian siauw cu sambil tertawa dingin. Saat ini semangat dari Liem Ton sudah berkobar kobar mendengar perkataan itu dia lantas tertawa terbahak bahak dengan amat nyaringnya. Haaa ... haaa ... Ke siauw cu. aku lihat binatang binatang berbulu itu semuanya panya sifat ganas dan buas, aku mau tinggali seekor saja untuk kau bawa pulang. Mendadak pikiran licik kembali berkelebat di dalam benak Thian Pian Siauw cu denggan meminjam kesempatan inilah dia kepingin mencari kemenangan di dalam babak yang terakhir ini. Bagus sekali, kita putuskan demikian saja, bentaknya dengan suara yang keras. Bilamana kawanan burung elang itu kau basmi sehingga ketinggalan seekor saja maka angaap saja aku yang kalah sejak ini hari Thian Piaa siauw cu tidak bakal muncul kembali di dalam Bu lim, bilamaaa masih ada seekor saja yang berhasil terbang di angkasa maka kaulah yang bakal kalah. Begitu perkataan tersebut diucapkan keluar. Lie Loo jie. Lie Siauw Ie maupun si gadis cantik pengangon kambing jadi merasa terkejut. Burung elang adalah jago dari ratusan burung, merekapun bisa terbang bagaikan kilat cepatnya di angkasa, sekalipun kepandaian silat dari Liem Tou sangat tinggi jangan harap bisa basmi kawanan burung itu hingga musnah, kecuali dia bisa terbang pula. Lie Loo jie tahu bilamana Liem Tou dengan tanpa berpikir menerima juga tantangan ini, maka hal ini sama saja dengan bunuh diri. Tanpa banyak pikir lagi dia lalu meloncat kedepan, bentaknya. "Ke Hong ! Kau manusia tidak tahu main, hmmm ! Mukamu suegguh tebal sekali sehingga perkataan seperti inipun bisa kau ucapkan keluar, bilamana Liem Tou adalab seorang malaikat yang bisa terbang di atas la-git dia pun tak akan bertanding kepandaiaa dengan kau keledai tua yang bermuka tebal" Thian Pian siauw cu yang melihat Lie Loo jie kembali mau ikut-ikutan, dalam hati merasa amat gusar. "Lie Sang, aku bukannya lagi bertanding dengan dirimu buat apa kau banyak bicara" Bentaknya dengan keras. "Janji diantara kita belum diselesaikan apakah kau ingin diselesaikan sekarang juga? bilamana kau memang punya nyali ayoh sekarang juga kita mulai". Perkataan dari Thian Pian siauw cu ini sungguh licik sekali. terang terangan dia tahu luka Lie Loe jie masih belum sembuh dan tak dapat bertanding tapi dia sengaja memanasi hatinya. Lie Loo jie mana bisa kuat menahan bakaran hatinya. dia lantas kebutkan ujung jubahnya ke depan dan membentak keras. "Baik, K.e Hong! terimalah seransanku ini Sepasang tangannya di pentangkan lebar lebar dengan menggunakan jurus "Shia Yang Lok Ing.' atau jalan bengkok menjatuhkan elang menubruk kearah Thian Pian siauw cu. Tbian Pian Siauwcu yang melihat datang nya serangan itu segera tenawa dingin, tubuhnya merendah ke bawah sepasang telapaknya diangkat siap siap melancarkan satu pukulan mematikan. Liem Tou yarg melihat Lie Loojie tanpa memikirkan nyawanya sendiri sudah menubruk ke depan hatinya jadi anat terkejut. 'Supek! jangan . .. bentaknya keras. Tubuhnya dengan menubruk ke depan, tangannya den«gn amat tepat sekali merangkul pinggang Lie Loojie lalu bersalto di tengah udara dan kembali ke tempat semula. Supek luka dalammu belum sembuh saat ini tak leluasa untuk oergerak dengan orang ujarnya kepada Lie Loojie. Walaupun Thian Pian Siauwcu berhati kejam tetapi sutit percaya masih bisa menangkap dirinya, harap supek sudah menonton saja di samping. Lie Loojie masih tak mau tahu, air muka nya sudah berobah jadi hijau membesi. Aku benar benar merasa tak tahan melihat kelicikan dari Ke Hong bangsat tua itu bagaimana mangkin kau bisa membasmi burungnya yang begitu banyak apalagi ada di tengah udara ?. Supek soal ini sutitmu sudah punya perhitungan sendiri aku pasti tidak akan meninggalkan barang seekor burungpun yang bisa dibawa pulang, aku percaya bila menghadapi mereka, mungkin sekarang supek masih tidak percaya coba nanti lihatlah sendiri. Walaupun dalam hati Lie Lo jie masih me rasa ragu ragu tetapi mau tidak mau terpaksa dia harus mengangguk juga dan duduk kem bali ke atas tanah. si gadis cantik pengangon kambing dengan cepat bantu dia kembali untuk melancarkan jalan darahnya. Setelah itu Liem Tou baru putar badannya dan berkata kepaia Thian Pian Siauwcu dengan suara nyaring. "Ke Siauwcu, menang kalah harus ditentukan oleh babak ketiga ini sekarang kau boleh kerahkan seluruh tenagamu!". Dalam hati diam diam Thian Pian siauw cu merasa amat girang sekali melihat siasatnya termakan oleh pemuda itu. Mendadak dia angkat tangan kanannya ke atas kemudian disusul suara pekikan burung rajawali yang amat keras. Tampak dua orang bocah cilik satu putih satu merah dengan masing masing membawa sebuah panji kecil berlari mendatang. Yang lelaki membawa panji hitam sedang yang perempuan membawa panji kuning masing masing berdiri disebelah Timur serta sebelah Barat dari puncak pertama itu. Liem Tou yang takut kawanan burung elang itu melukai orang orang yang menonton di samping apalagi terhadap diri Lie Loo jie, dia lantas berseru memberi peringatan. "Saudara saudara Too yu dari Bu tong pay sekarang harap berhati hati! binatang buas dari Ke siauw cu sudah mendapatkan latihan yang keras dan memilliki kecepatan yang luar biasa, sedikit salah epasang mata dapat terhajar buta. badan terkoyak koyak. barang siapa yang membawa ssnjata rahasia lebih baik siap siap di tangan saja untuk menghadapi suatu menungkinan". Setelah itu kepada Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pangangon kambig ujarnya. Enci Ie, Wan moay baiklah lindungi supek jangan sampai ditunggangi kesempatan itu oleh kawanan burung elang, senjata rahasia Kioe Cu Gin Ciam dari enci Ie pun boleh digenggam di tangan untuk siap siap menghadapi musuh. Thian Pian siauw cu yang melihat sikap tegang dari Liem Tou tidak kuasa sudah tertawa ringan. Liem Tou lebih baik tidak usah merasa kuatir buat orang lain, aku tidak akan menggunakan kesempatan ini menyerang mereka ejeknya dengan suara keras. Sekarang kau bersiap siaplah. kedatangan dari burung burung elangku amat cepat jangan dikata dibasmi hingga habis cukup untuk menghadapipun belum tentu kau bisa. Terimakasih atas peringatanmu sahut Lirm Tou dengan jengkel Terhadap barisan burungmu ini aku Liem Tou sudah pernah menemuinya. Thian Pian siauw cu tidak menjawab lagi dia cuma tertawa ringan kemudian mengulapkan tangannya. Kiem jie serta Giok jie keduanya orang bocah cilik itu segera mengangkat tinggi tinggi panji kuning serta panji hitam tersebut. Setelah ditringi suara pekikan burung rajawali yang amat besar, dari empat penjuru sisi puncak pertama gunung Cing Shia ini segera terdengar suara dengungan yang amat keras menubruk mendatang. Melihat hal itu Liem Tou segera bersuit nyaring sehingga suaranya terpantul keseluruh penjuru, tetapi dengan suara suitannya yang amat nyaring ini pula semua orang diam diam memuji atas kesempurnaan dari tenaga dalam Liem Tou. Sehabis bersuit nyaring Liem Tou segera gerakan badannya berlari menubruk kearah kawanan burung elang yang ada disisi puncak itu. Kawanan burung elang itu sama sekali tidak menggubris bahkan sebaliknya terbang kembali ke angkasa. Beribu ribu burung elang seketika itu juga memenuhi seluruh angkasa sehingga suasana dengan sendirinya ikut jadi gelap pula. Para jago yang hadir di atas puncak pertama gunurg Cing Shia sewaktu melibat kejadian ini semuanya dibua tercengang. sebaliknya saking bangganya Thian Pian siauw cu tertawa tergelak tiada hentinya. Di dalam pandangan semua orang Liem Tou lagi menubruk kearah kawanan burung elang, padahal yang sebetulnya dia sedang berlari menuruni puncak pertama untuk menuju ke puncak kedua dimana tumbuh pohon siong yang amat besar itu. Dia tahu kawanan burung elang yang amat banyak itu bilamana hendak dibasmi dengan menggunakan tenaga pukulan serta ilmu me ringunkan tubuh tidak mungkin bisa berhasil, karenanya dia lari menuju ke pohon siong yang amat besar itu untuk memungut jarun jarum pohon siong. Tidak lama kemudian dia sudah tiba d bawah pohon siong itu dan naik keatas pohon untuk kemudian dengan menggunakan jubahnya membungkus satu buntalan besar jarum jarum pohon siong, bilamana menurut jumlahnya dia ada persediaan satu kali lipat lebih banyak dari burung elangnya. Setelah itu Liem Tou baru berlari kembali ke atas puncak pertama. Thian Pian siauw cu yang melihat Liem Tou memungut sebegitu banyak jarum pobon siong air mukanya segera berubah sangat hebat, beberapa bulan yang lalu kawanan burung elangpun kebanyakan musnah dibawah serangan jarum itu. kini melihat Liem Tou hendak menggunakan cara yang sama untuk musnahkan kawanan burung elangnya hal ini membuat dia jadi terperanjat. "Liem Tou, kau hendak menggunakan cara yang paling kejam dan tak berbudi ini untuk menghadapi kawanan burung elangku ?" Tanya dengan suara gemetar mendengar perkataan itu Liem Tou jadi melengak. "Bukankah dia lagi bertanding dengan aku ? Kenapa dia mengucapkan kata kata ini ?" Pikirnya. Dia lantas menduga kalau kawanan burung elang ini ada kemungkinan setiap hari bergaul dengan Thian Pian Siauw cu sehingga hatinya tidak tega melihat kawan kawannya itu dibasmi. Berpikir sampai disini tidak kuasa lagi dia lantas tertawa terbahak bahak. "Haa --haa --Ke siauw cu. kau merasa tidak tega dengan nyawa nurung burung elangmu ini bukan ?" Thian Pian siauw cu tahu dia sudah salah bicara, karenanya sekalipun mendengar perkataan itu mulutnya tetap membungkam. Saat ini kawanan burung elang sudah mengitari tiga kali ke puncak gunung Cing Shia ini, kelihatannya sebentar lagi mereka akan melancarkan serangannya. Pada saat itulah tiba tiba Liem Ton tei ingat kembali dengan kata kata dari si orang tua berambut putih dari Heng san pay, tanpa terasa hatinya jadi tergetar amat keras. "Thian Pian Siauw cu Bentaknya secara tiba tiba. "Kalau memanguya kau mmpunyai ikatan persahabatan dengan kawanan burung elangmu itu akupun tidak akan memaksa. Aku Liem Tou tidak akan banyak membunuh, aku cuma melukai kawanan burung burung elangmu saja tanpa sekalian mencabut nyawanya, bagaimana ?" Thian Pian siauw cu segera merasakan hatinya tergetar, dengan cepat .dia anggukkan kepalanya berulang kali Liem Tou selama hidupnya aku belum pernah menaruh rasa kasihan kepada siapa. Tidak disangka ini hari menaruh rasa tidak tega terhadap kawanan burungku, ada kemungkinan ini disebabkan karena mereka adalah aku sendiri yang piara..... baiklab sikapmu yang begitu baik hati ini hatiku jadi rasa dikalahkan, kalau begitu kau harus barhati-hati. Selesai berkata dia lantas bersiul kembali, seketika itu juga muncullah tiga ekor burung elang yang amat besar dari ujung langit yang kemudian mengitari di atas kepala Thian Pian siauw cu dan masing masing dengan memencar di Timur, Barat dan Selatan berputar putar di sekeliling tempat itu. Semakin lema kepungan dari kawanan burung elang itupun semakin menyempit sepasang cakar yang runcing dari kawanan burung elang itupun dengan tiada hentinya mengancam tubuh Liem Tou yang berada di tengah kalangan. Dengan cepat Liem Tou meraup dua genggam jarum pohon siong untuk siap siap menghadapi musubnya..terdengarlah burunp elang yang ada disebelah Timur berpekik nyaring disusul panji hitam dari bocah le aki itu dikibarkan dengan dipimpin oleh burung elang raksasa yang ada di Timur kawanan bnrung itu mulai menerjang datang ke atas kepala Liem Tou kurang lebih lima kaki tinginya. Walaupun kawanan burung itu berada kurang lebih lima kaki tingginya dari atas permukaan tanah tetapi rumput pada bergoyang tersambar sayap yang kuat dari burung burung tersebut. Menanti setelah kawanan elang dari seluruh penjuru mulai bergerak, udara jadi gelap, angin menyambar dengan kencangnya membuat hati setiap orang tergetar seperti hendak copot, sungguh lidak disangka barisan burung elang yang disusun oleh Thian Pian siauw cu bisa demikian ganas dan dahsyatnya. Setelab ketiga ekor rajawali besar itu lewat mendadak si bocah lelaki itu mengerakkan kembali panji kuningnya dan menunjuk ke arah utara. , Tiga ekor burung elang yang rada kecil dengan kecepatan yang luar biasa menerjang ke atas kepala Liem Tou Lalu mencar menjadi dua arah dari kiri dan kanan mulai menunjukkan gaya yang menakjupkan. Liem Tou yang melihat kejadian itu lantas tersenyum. "Ke siauw cu !" Ujarnya sambil tertawa. "Tidak aneh kalau kau orang merasa begitu sayang terhadap kawanan burung itu, kiranya merekapun sangat menyenangkan sekali." Kedua ekor burung elang itu semakin lama terbang semakin rendah, saat ini jaraknya tinggal beberapa kaki saja. Barn Saja Liem Tou hendak memuji kembali mendadak kedua ekor burung elang itu menutup kembali sepasang sayapnya lalu bagaikan kilat cepatnya meluncur ke arah Liem Tou. Liem Tou jadi amat terperanjat, untuk malancarkan serangan dengan menggunakan jarum pobon siong sudah tak sempat lagi dengan terburu buru sepasang matanya dipejamkan rapat rapat. 'Binatang kau sungguh licik sekali . .makinya. , Tetapi belum habis dia berkata mendadak kepalanya terasa amat sakit sepeiti dipukul martil besar dan sakitnya luar biasa. '"Aduh !' teriaknya tak tertahan lagi, jarum jarum ditangan kirinya dengan serabutan segera disambitkan kedepan. Entah serangan itu mencapai hasilnya atau tidak tetapi dia dapat mendengar pada waktu itu Thian Pian siauw cu lagi tertawa tergelak-gelak dengan amat kerasnya. Liem Tou merasa kebanyakan sarangannya tadi tidak mencapai pada hasilnya sewaktu matanya dipentangkan kembali tampaklah sepasang burung elang tersebut sudah kembali lagi ke tempatnya semula. Dalam hati Liem Tou benar benar merasa amat gusar, dia lantas menoleh ke arah Thian Pian Siauwcu. ' Ke Siauwcu bentaknya dengan keras Kau jangan tertawa dulu, ketiga ekor burung elang itu aku mau nyawanya !". Sekali lagi Thian Pian Siauwcu tertawa tcrbabak bahak. "Asalkan kau punya kepandaian. butung burung elang yang ada di angkasa boleh kau tangkap semua". Di tengah suara tertawa panjangnya yang amat keras itulah sepasang tangannya kembali diangkat ke atas. Panji hitam yang ada di tangan bocah putih itupun segera dikebutkan berulang kali.. Dari sebelah timur, barat serta selatan segera terdengar suara pekikan burung elang yang amat keras sekali berkumandang datang disusul berkelebatnya berpuluh-pulub bayangan hitam di atas kepala Liem Tou. Kawanan burung elang itu dengan memecah jadi empat kelompok dan masing masing kelompok memecah jadi tiga tingkat bersama sama terbang mendatangi dan semakin terbang semakin rendah. Dengan mencekil kencang-kencang dua genggaman jarum pohon siong Liem Tou dengan tenangnya menanti serangan musuh dia tak berani berlaku gegabah lagi. Seluruh perhatian dari para jago yang hadir di atas puncak pertama gunung Cing Shia pun mulai tersedot keatas kawanan burung itu, suasana menjadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun. Diam diam dalam hati Liem Tou mulai berpikir. "Aku tadi sudah menyanggupi untuk tidak menyambut nyawa kawanan burung itu melainkan cuma melukai saja, tapi jarum jarum ku disambitkan kebagian mananya sehingga tidak sampai membuat kawanan burung itu jadi pada mati? Setelah berpikir pulang balik akhirnya dia merasa bahwa melukai sayap adalah jauh lebih baik lagi. apalagi asalkan setiap sayap terhajar sebatang jarum maka burung burung elang itu tidak bakal terbang. Baru saja dia berpikir sampai disitu, tingkat yang paling bawah dari kawanan burung burung elang itu sudah berada kurang lebih sepuluh kaki di atas kepala Liem Tou. Asal saja sedikit menerjang ke bawah maka hanya di dalam sekejap saja mereka akan mencapai pada sasarannya. Liem Tou yang melihat kejadian itu jadi tidak sabaran lagi, mendadak dia dongakkan kepalanya membentak . Hey burung elang mulai serang, Liem Too sudah menanti tidak sabar lagi. Baru saja dia selesai berteriak dari antara kawanan burung elang itu ada salah seekor burung yang berkaok kaok beberapa kali dan dikepalai oleh burung itu bersama sama dengan kawanan burung lainnya segera menyeraug ke bawah, bahkan keempat rombongan itu bersama sama menerjang k ebawah. "Bagus sekali kedatanganmu !" Bentak Liem Tou dengan keras Menanti burung elang itu sudah ada pada dua kaki tingginya mendadak sepasang telapak tangannya bersama sama menyambar ke depan dua genggaman jarum pohon siong dengan disertai suara desiran yang amat keras segera menyambar ke arah atas. Kawanan burung elang yang lagi terbang di atas kepala Liena Tou pun bersama sama berpekik keras lalu berjatuhan ke atas tanah. Ketepatan dari serangan Lien Tou ini sungguh luar biasa sekali. bagian yang kena hajar bukan lain adalah kedua belah sayapnya sehingga sebagian besar kawanan burung elang itu pada rontok. Pentolan burung elang yang mengeluarkan suara pekikan tadipun terkena hajar sayap-nya, dia berusaha untuk terbang kembali ke angkasa tetapi walaupun sudah berusaha beberapa waktu tidak berhasil juga, akhirnya sang tubuh tidak kuat lagi dan jatuh ke dalam semak belukar. Lapisan pertama gagal kembali lapisan ke dua menerjang ke bawah bahkan jumlahnya kali ini jauh lebih banyak dari lapisan pertama. Beribu ribu ekor burung elang bersama sama menerjang kebawah. terpaksa Liem Tou meraup jarum jarum itu tiada hentinya sambil menghajar burung burung elang itu. Bagaikan curahan hujan kawanan burung elang itu pada rontok jatuh ke tanah dan ke dalam semak belukar. Sisanya dua lapis sewaktu melihat kawan kawannya tidak berhasil juga melukai Liem Tou mereka tidak terbang jauh sebaliknya beterbangan disekeliling tempat itu. Dengan demikian Liem Tou jadi terkurung dari empat penjuru, di atas kepalanyapun masih ada tiga lapis kawanan elang yang berjumlah ribuan mendesak terus kebawah. Di dalam sekejap saja, sambaran angin berkelebat memenuhi angkasa, udara jadi gelap sehingga membuat hati setiap orang jadi berdebar debar. Wektu itu ketiga ekor burung elang dan rajawali yang ada di Utara, Selatan, Timur Barat pun ikut memperkuat barisan, panji hitam yang ada di tangan anak lelaki itupun di goyangkan semakin keras lagi membuat suasa hati jadi sedemikian tegang dan jadi semakin gaduh. Liem Tou berdiri ditengah kalangan tak bergerak, seluruh perhatiannya dipusatkan ke arah burung itu, tangannya erat erat mencekal jarum pobon siong dan matanya mendelong tak berkedip. Kembali terdengar suara pekikan nyaring dari burung rajawali, kawanan burung elang yang ada di lapisan kedua bagaikan menerima perintah bersama sama menubruk ke bawah dengan dahsyatnya. Hanya didalam sekejap saja beribu ribu ekor burung bersama sama menyerbu kebawah sehingga suasana menjadi amat ramai Liem Tou yang melihat serangan dari kawanan burung itu makin lama semakin gencar dia takut tidak dapat menguasai waktu lagi maka dengan terburu buru dia menyambitkan segenggam jarum menghajar jatuh puluhan burung elang yang ada di paling depan. Bersamaan itu pula tangan kirinya meraup buntalan itu dan mengundurkan diri dari situ. Dengan berturut turut dia menyambitkan kembali senjata jarumnya ke atas sehingga menghajar pecah satu lapisan. dengan mengambil kesempatan itulah dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk berkelebat keluar dari kepungan. Melihat Liem Tou meninggalkan kalangan di dalam anggapan Thian Pian Siauw cu dia sudah ketakutan. "Haaa ... haaa Liem Tou." Ejeknya. "Kawanan bururgku belum mati separuh, bagaimana kau sudah melarikan diri ? Kalaa begitu omongan besarmu tadi tidak lebih hanya seperti kentut belaka !" "Hmnjm ! Kau tidak usah banyak omong, nanti lihat saja hasilnya," Seru Liem Tou sambil mengnndurkan diri dari situ. Kiranya walau Liem Tou sudah meninggalkan kalangan tapi dia tidak pergi jauh sebaliknya cuma berputar disekeliling tempat itu. Sudah tenlu kawanan burung elang tidak mau melepaskan mangsanya dengan begitu saja, dengan tiada hentinya mereka mengejar dan mengurung diri Liem Tou. Dengan mergambil kesemratan itulah sembari lari Liem Tou melancarkan serangan mautnya, hanya didalam sekejap saja kembali beratus ratus burung elang rontok ke bawah. Dengan adanya kejadian itu kawanan burung elang lainnya tidak berani terbang terlalu mendekat, setiap ada kesempatan mereka baru menerjang ke bawah dan bilamana tidak hanya terbang saja di angkasa menunggu saatnya. Tidak Lama kemudian Liem Tou bisa juga melihat sikapnya itu, kepercayaan pada dirinya sendiripun semakin bertambah, mendadak sambil putar tubuh bentaknya keras . "Kau binatang berbulu, ayoh pada turun semua !". Di antara suara bentakan yang keras bukannya dia mengundurkan diri sebaliknya malah semakin mendesak ke depan, jarum jarum ditangannya dengan tiada hentinya menghajar kedepan sehingga hanya dalam sekejap saja kembali beratus ratus ekor burung rontok ke atas tanah. Dengan kejadian ini semangat bertempur dari kawanan elang lainnyapun jadi rontok, dengan disertai suara pekikan yang amat keras mereka pada putar badan dan mengundurkan diri dari sana. Melihat akan kejadian ini Thian Pian siauw cu jadi jengkel, dia membentak keras lalu bersuit panjang, bocah cilik yang membawa panji hitam itu pun lantas meloncat ke tengah udara lantas menggoyang goyangkan panji tersebut dengan keras sebanyak tiga kali. Ketiga ekor burung rajawali serta ketiga elang besar itupun lalu berpekik nyaring parub dan cakarnya yang tajam dipentangkan, sayapnya dikibas kibaskan dengan keras kemudian dengan ganasnya melukai kawanan elang yang mundur itu hingga koyak koyak. Kawanan elang lainnya yang melihat kejadian ini jadi serabutan terpaksa mereka balik kembali untuk menyerang Liem Tou. Melihat ptristiwa ini Liem Tou jadi gusar, dengan kerahkan tenaga murninya dia melancarkan seranean menghajar ketiga ekor rajawali serta ketiga ekor burung elang yang ada dibelakang kawanan burung rajawali itu. Tetapi elang elang itu ada puluhan kali tingginya, sekallpun sudah kerahkrn tenaga sepenuhnya jarum jarum itu tak berhasil juga mengenainya. melihat hal itu hatinya jadi sedikit bergerak. Dengan tanpa banyak pikir lagi dia memungut beberapa pecahan batu lalu sambil bersuit panjang dia meloncat ke atas dan melancarkan serangan ke depan . "Binatang. kau masih tidak suka menyerah!" Bentaknya. Dengan memisah jadi tiga jurusan pecahan batu itu meluncur ke depan bagaikan kilat menyambar. Siapa tahu ketiga ekor burung rajawali itupun amat cerdik, sambil kerah paruh, atau cakar atau pukulan sayapnya burung burung itu memukul jatuh datangnya serangan batu itu. Liem Tou sama sekali tidak menyangka kalau rajawali itu demikian pandaiannya, serangan yang dilancarkan dengan begitu dahsyatnya bagaimana mungkin bisa mereka pukui jatuh dengan begitu mudahnya ? sekalipun jagoan berkepandaian tinggi dari Bu lim belum tentu bisa melakukannya. Lism Tou yang melihat serangannya tidak mencapai hasil, tnbuhnyapun dengan kecepatan meluncur ke bawah, tetapi sewaktu dia menundukkan kepala ---permukaan tanah sudah tak kelihatan karena tertutup oleh kawanan burung elang yang amat rapat dan berjajar menutupi pandangan tersebut. Kini tubuh Liem Tou ada di tengah udara dan mendapatkan gencetan serangan dari enam penjuru, apalagi ketiga ekor burung rajawali serta ketiga ekor burung elang raksasa itu. Sewaktu dilihatnya tubuh Liem Tou masih mengambang di tengah udara, dengan bangganya mereka lantas berpekik nyaring lalu menubruk ke depan dengan amat dahsyatnya. Di tengah kebutan sayap yang amat keras, tiupan angin kencang melanda datang, dengan hebatnya. Liem Tou tahu keadaannya pada saat ini sangat berbahaya sekali. Tangannya segera diayunkan ke bawah menyambitkan segenggam jarum ke arah bawah sehingga terbuka satu lubang kecil. Dengan meminjam kesempatan itulah tubub nya lantas berjungkir balik dan meluncur ke arah bawah dengan mengambil jalan lubang yang baru saja dibuka dengan paksa itu. Walaupun dia cepat gerakan burung burung elang itu jauh lebih cepat lagi, lubang kosong yang baru saja berhasil dia tembusi kini sudah tertutup rapat kembali, Liem Tou jadi amat terperanjat, telapak tangannya dengan cepat dihancamkan ke bawah. Ksemudian tubuhnya pun mendesak turun. Tetapi pada saat itulah bayangan hitam berkelebat dengan terburu buru Liem-Tou miringkan kepalanya ke samping, sebuah cakar besi dengan cepat menyambar datang lewat di samping badannya. Liem Tou benar benar dibuat terperanjat. "Untung !" Teriak diam diam. 'bilamana aku kurang waspada sepasang mataku sudah kena dihajar." Ketika dia menoleh kearah mana datangnya serangan, tampaklah olehnya kembali salah seekor burung elang di antara ketiga elang yang tadi mematuk kepalanya. hatinya benar benar jadi gusar bercampur mendongkol. Bersamaan waktunya elang raksasa yang kedua kembali menyerang datang. melihat kedatangannya yang amat ganas dan kuat Liem Tou merasa hatinya bergerak. Dilihatnya burung itu berada di atas kepalanya kurang lebih satu kaki sedang kini tubuhnya sendiripun sudah mulai meluncur kebawah Diam diam dia tarik napas panjang kemudian dengan ujung kaki kiri menutul kaki kanan tubuhnya dengan amat cepat nya dia meluncur naik setinggi dua kaki ke atas. Dengan demikian burung burung elang raksasa yang semula terbtmg di atas kepalanya kini malab terbang di bawah kakinya. Tepat sewaktu burung elang itu terbang lewat di kakinya dengan megambil kesempatan ini Liem Tou lantas kerahkan ilmu bobot seribu katinya sehingga tuhubnya dengan amat tepat terjatuh di atas punggung elang itu, tangan kirinya mencekal bungkusan jarum tangan kanannya mencekal kencang-kencang leher elsng tersebut. Elang itu sama sekali tidak menyangka Liem Tou bisa menggunakan cara tersebut di dalam keadaan terkejut. Sayapnya dihantam hantamkan dengan serabutan, pekikan nyaring bergema tiada henttnya dan barusaha melemparkan tubuh Liem Tou dari atas punggungnya. Tetapi Liem Tou kini sudah mantapkan hatinya, sekalipun meronta-ronta Liam Tou temp memegang leher elang itu tak lepasnya. 'Haaa ... haaa ayoh sekarang keluarkan pula keganasanmu aku mau lihat kau bisa ganas seperti apa !" Seru Liem Tou dengan amat bangga. Elang raksasa yang tak berhasil melepaskan diri dari cekalan Liem Tou jadi kelabakan dibuatnya, dengan diiringi suara pekikan yang amat nyaring dia segera mementangkan sayapnya lebar lebar dan menerjang ke tengah udara. Liem Tou yang baru untuk pertama kali-nya menungang burung elang raksasa segera merasakcan kesenangan yang luar biasa hatinya amat kegirangan. Tetapi sewaktu melihat burung elang itu semakin terbang menjauh hatinya jadi berdesir juga, pikirnya . "Kalau aku dibawa pergi maka kawanan burung elang lainnya tak dapat aku hancurkan semua" Bukankah dengan demikian aku sudah menemui kekalahan di tangan Thian Pian Siauw cu ?? ?". Teringat akan hal ini hatinya jadi amat cemas, teriaknya dengan amat gugup "Hey binatang, ayoh cepat kembali, ayoh cepat kembali!'. Tetapi burung elang itu sama sekali tidak menggubris, dengan cepatnya dia menerjang terus ke tengab awan. Saat inilah Liem Tou baru merasakan badannya amat dingin sehingga terasa menusuk tulang. Keadaan di sekelilingnya cuma kelihat awan yang menebal setinggi langit yang tak ada ujung pangkalnya, sedikit bayangan daratanpun tak kelibatan. Dalam hati Liem Tou merasa amat cemas sepasang kakinya mendadak menjepit perut elang itu lalu membentak keras . "Cepat kembali, kalau tidak aku segera bereskan nyawamu". Si elang raksasa yang merasa kesakitan bukannya melayang ke bawah sebaliknya malah menerjang semakin ke atas, kecepatannyapun semakin bertambah. Sedangkan Liem Tou sendiri waktu itu hatinya benar benar merasa amat kacau, bilamana dirinya sungguh menggencet mati burung elang raksasa ini bukankah dengan begitu tubuhnyapun akan ikut jatuh dari tengah udara??? waktu itu apakah nyawanya masih ada.?? Mendadak teringat kembali sepasang mata dari elang itu, satu ingatan berkelebat di hati nya, dengan cepat dia tekan leher burung elang raksasa itu ke bawah sehingga memaksa penglihatan burung itupun jadi ke bawah. Burung elang raksasa itu segera meronta tetapi tak ada hasilnya, untuk berhenti bergerakpun tidak mungkin karenanya dengan cepat dia merubah arah jadi menerjang ke arah bawah. Liem Tou yang melihat percobaannya berhasil hatinya menjadi girang sekali. Dengan cepat dia paksa elang itu menoleb ke kiri dengan sendirinya burung itupun belok ke kiri. Dengan adanya penemuan ini dalam hati Liem Tou merasa semakin mantap lagi, dia tahu bagaimanapun juga elang itu sudah menuruti perintahaya. Daya meluncur dari elang raksasa itu pun semakin cepat berpuluh puluh kali lipat. hanya di dalam sekejap saja dia sudah menembus keluar dari lapisan awan sehingga terlihatlah kembali bayangan puncak puncak gunung yang berjajar bahkan kelihatan pula beribu ribu ekor burung elang beterbangan di antara puncak. Dengan terburu buru Liem Tou segera mengalihkan buntalan jarum itu ke antara lutut nya setelah itu dengan menggunakan tangan kirinya memegang leher elang untuk memberi petunjuk arah, tangan kanannya mulai meraup segenggam jarum pohon siong. Pikirnya diam diam dihati. "Kali ini walaupun kawanan barung elang itu jauh lebth banyakpun jangan harap bisa lolos dari jarunku." Baca Juga: Bayangan Bidadari Kho Ping Hoo Baca Juga: Pendekar Baju Putih Kho Ping Hoo