Eps 9 Raja Silat - Chin Hung
Baca online Raja Silat - Chin Hung
Cersil Raja Silat - Chin Hung.
Hatinya jadi teramat girang, dengan nyaringnya dia bersuit nyaring dan menerjang masuk ke dalam ronbongan kawanan elang itu dan menerjang sana menghantam ke sini, jarum jarum di sebelah tangan kanannyapun dengan cepat di sambit ke depan dan berulang kali sehingga kawanan burung itu seketika itu juga jadi kacau balau.
si gadis cantik pengangon serta Lie Siauw Ie yang semula melihat Liem Tou melancarkan serangannya dengan menggunakan batu candas di dalam anggapan mereka serangannya ini pasti mencapai hasil.
Siapa sangka bukannya burung elang itu terluka sebaliknya kawanan burung elang itu segera bergerombol menutupi pandangan sehingga bayangan dari Liem Tou jadi lenyap.
Mereka cuma mendengar suara pekikan nyaring serta bentakan Liem Tou yang amat keras membuat keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi tububnya.
Dan terakhir setelah kawanan burung elang itu memisah bayangan tubuh dari Liem Tou lenyap tak berbekas, di dalam ingatan mereka segera menganggap Liem Tou sudah dikoyak koyak oleh kawanan burung elang itu kemudian didaharnya sampai habis.
Saking kaget dan takutnya mereka pada melongo, air mukanya berubah pucat pasi bagaikan mayat dengan nada yang amat sedih teriaknya kepada Lie Loo jie.
Tia --suhu -!"
Dimana engkoh Liem? adik Tou ? dia sudah pergi kemana ?"
Lie Loo jie sendiripun tidak mengetahui apa yang terjadi.
Di dalam hati diapun merasa terkejut bercampur gusar.
mendadak mata nya bisa menangkap seekor burung elang dengan cepatnya meluncur ke tengah angkasa ke mudian menembus awan dan lenyap dari pandangan.
Lie Loo jie bisa melihat di atas panggung burung elang itu terdapat setitik bayangan hijau, kemungkinan itu adalah buntalan jarum pohon siong yang dibawa Liem Tou.
"Ie jie Wann jie kalian jangan cemas "Teriak nya dengan keras sambil menuding keatas.
"Coba kau lihat bukankah Liem Tou dengan menunggang burung elang itu sedang meluncur ke tengah angkasa ? Tunggu sebentar, dia segera akan kembali lagi."
Wal&upun Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangoan kambing tidak melihat elang itu meluncur ke angkasa tetapi mereka pun mau setengah percaya setengah tidak dan memandang ke angkasa dengan melongo.
Ssbaliknya Thian Pian siauw cu yang melihat bayangan tubuh Liem Tou sudah lenyap tak berbekas dia tidak memeriksa lebih teliti lagi, di dalam anggapannya Liem Tou sudah terkubur di dalam perut kawanan burung elangnya sehingga hatinya merasa amat bangga.
"Haa --haa -Liem Tou. Liem Tou"
Ejeknya sambil tertawa terbahak bahak "Walau pun kepandaianmu sangat tinggi tetapi jangan harap bisa menangkan kawanan burung elangku, tidak disangka kau sudah menemui ajal sehingga tulangpun ikut lenyap -sungguh sayang !
sungguh sayang !
sungguh patut dikasihani !"
Mendengar ejekan itu Lie Siauw Ie segera merasakan hatinya seperti digodam dengan martil besar.
"Hey orarg she-Ke, kau bilang apa ?"
Bentaknya dengan gusar.
"Haaa . , . haaa ..tentunya kau adalah kekasih dari Liem Tou bukan"
Seru Thian Pian siaw cu sambil tertawa keras.
"Terus terarg aku beritahu padamu, dia sudah habis disikat oleh kawanan burung elangku, dan selamanya tak akan kembali lagi, lebih baik kau mencari kekasih yang lain saja !"
Lie Siauw Iem ana bisa kuat mendengar ejekan yang menusuk telinga ini, saking jengkelnya seluruh tubuh sudah gemetar, air mukanya berubah pucat pasi bagaikan mayat untuk beberapa saat lamtnya tak sepatah katapun bisa diucapkan keluar.
Dengan cepat si gadis cantik pengangon kambing membimbing dirinya lalu memberi nasehat dengan suara perlaban.
Lie Loo-jie yang mendengar perkataan menghina dari Thian Plan siauw cu ini hatinya merasa amat gusar.
"Ke Hong!"
Bentaknya dengan keras.
'Kau sebagti seorang yang mempunyai nama bear di dalam Bulim juga bisa bisanya berbicara begitu kotor dengan seorang dari angkatan muda".
Haaa ....
haaa ...
Lie Sang aku bilang Liem Tou sudah terkubur di dalam perut kawanan elang itu dan selamanya tidak akan kembali lagi.
apakah perkataanku ini adalah salah ?
Teriak Thian Pian siauw cu sambil tertawa terbahak bahak.
Lalu apa itu maksudnya mencari kekasih ??"
Ayo cepat jawab maki Lie Loo jie lagi.
Baru saja Thian Pian siauw cu hendak menjawab, mendadak terdengar si gadis cantik pengangon kambing sudah menjerit jerit lagi.
' Coba lihat engkoh Liem sudah kembali."
Saking girangnya tidak tertahan lagi dia lantas berteriak memanggil. Enkoh Liem engkoh Liem ! Engkoh Liem !"
Thian Pian siauw cu, Lie Loo jie serta Lie Siauw Ie segera menoleh kearah dan sedikit pun tidak salah terlihatlah Liem Tou dengan memegang elang raksasa itu bagaikan kilat cepatnya sudah meluncur ke bawah kemudian menerjang ke arah kawanan burung elang.
Bersama itu pula beratus ratus ekor burung elang pada rontok ke atas tanah tak bergerak lagi.
Tidak sampai seperminum teh lamanya kawanan burung elang itu sudah ada separob bagian yang musnah, Thian Pian Siauwcu jadi amat terperanjat, dia tahu sebentar kemudian kawanan elangnya pasti akan terbasmi habis oleh Liem Tou.
Sepasang tangannya dengan cepat diulapkan berulang kali panji panji kuning serta hitam ditangan kedua oiang bocah cilik itupun dikibarkan berulang kali.
Ketika kawanan burung elang itu melihat dikibarnya bendera kuning, bagaikan mendapat karunia dengan disertai suara pekikan yang amat nyaring pada bubaran ke angkasa Kiranya panji hitam yang ada d tangan bocah lelaki itu digunakan sebagai tanda menyerang sedangkan panji kuning digunakan untuk nengundurkan burung-burung tersebut.
Kawanan burung elang yang lagi dibantai kocar kacir oleh Liem Tou begitu melihat dikibarnya panji kuning segera pada terbang menyingkir.
Liem Tou yang ada di atas burung elang sewaktu melihat kawanan burung elang lainnya pada bubaran hatinya jadi kaget teringat akan janjnya dengan Thian Pian siauwcu tadi asalkan ada seekor saja yang lolos maka, dia terhitung kalah dalam hati semakin cemas lagi.
Didalam keadaan seperti ini Liem Tou segera membentak keras dengan cepat dia putar leher elang tunggangnya secara serabutan sedang jarum ditangannya pun disambitkan secara telengas.
Hanya didalam sekejap saja kawanan burung elang yang ada disekeliling tempat itu sudah tersapu habis, kini tinggal beberapa puluh ekor elang saja yang sudah keburu bubaran.
Pada saat itulah Thian Pian siauwcu tanpa pakai aturan lagi segera memerintahkan bocah perempuan itu untuk mengebutkan panji kuning itu tiga kali.
Melihat tanda tersebut kawanan elang lainnya lantas pada meluncur kebawah dan bersembunyi ditempat tempat yang terlindung.
"Liem Tou jadi amat gusar, makinya dari atas punggung elang itu. '"Ke Siauw cu kau orang sungguh licik sekali, bilamana kau tidak melepaskan kawanan burungmu jargan dikata aku Liem Tou sekalipun dewa malaikat pun jangan harap bisa mengapa ngapakan kawanan burung tersebut! 'Haaa . .. haaa . .. Liem Tou ! itukan salahmu sendiri. apa sangkut pautnya dengan aku? ' teriaknya Thian Pian Siauw cu sambil tertawa. Liem Tou sekalipun tahu dirinya kena ditipu tapi dia tak bisa berbuat apa apa. 'Baru saja dia bermaksud untuk meloncat turun dari punggung burung elang itu dan ribut dengan Thian Pian siauw cu, mendadak tampaklah olehnya kedua orang bocah cilik berbaju putih dan merah yang ada dipuncak gunung. Satu ingatan segera berkelebat dihatinya. dengan cepat dia tepuk elangnya untuk menyambat ke depan. Si bocah lelaki yang diserang secara mendadak hatinya jadi amat gusar.
"Buat apa kau jual lagak? Coba lihat aku tahan dirimu"
Makinya dengan keras.
Tangannya dengan cepat digape mengundang bocah perempuan itu.
'Giok moay !
teriaknya.
'Mari kita bersama sama turun tangan menawan dirinya, coba lihat dia bisa jual lagak tidak".
Sewaktu bocah perempuan itu melihat kawanan burung burung mereka sudah hampir sebagian besar terluka di tangan Liem Tou sehingga kini cuma tingpal beberapa ekor saja dalam hati sudah merasa jengkel.
"Kiem koko... betul sekali perkataanmu' Teriaknya setuju.
"Bocah cilik ini sangat kurang ajar sekali, kau didepanlah biar aku yang ada dibelakang. Bilamana dia berani datang lagi jangan kasih dia meloloskan diri. Waktu itu Liem Tou dengan menunggang elang itu sudah menyambar datang lagi. Kiem jie serta Giok jie dua orang hersama sama segera membentak keras, tubuhnya berkelebat menghalangi datangnya sambaran dari Liem Tou itu. Thian Piauw siauw cu yang ada ditempat kejauhan sawaktu melihat kejadian ini dalam hati merasa amat terkejut, teriaknya dengan keras. Kiem jie Giok jie, jangan. Liem Tou sangat lihay. Tetapi keadaan sudah terlambat. Kiem jie serta Giok jie sudah meloncat ke atas Haaa ? ..haaa ...Ke Siauw cu, sudah terlambat, lebih baik kau cepat cepat lepaskan kawanan burungmu itu seru Liem Tou sambil tertawa keras Sehabis berkata dia meloncat turun dari punpgung elang tersebut dan menyambar tubuh Giok jie, setelah itu baru meloncat kembali ke atas punggung elang itu dan melayang kembali ke tengah angkasa. Tiba tiba . .. Akh, celika ...teriaknya tertahan. Dengan cepat dia memutar burung elangnya menuju ke arah Lie Loo jie. Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing. kemudian mengitari di atas kerala mereka tiada hentinya, telapak tangannya sudah disilangkan di depan dada siap melancarkan serangan. Thian Pian Siauw cu yang melihat Liem Tou menawan Giok jienya dalam hati jadi tercenpang, tapi sebentar kemudian hawa marah sudah berkobar di hatinya. Dengan cepat diapun bsrmaksud untuk menerjang ke arah Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing untuk menawan salah satu di antara mereka untuk paksa Liem Tou melepaskan diri Giok jie. Siapa tahu sejak semula Liem Tou sudah memikirkan sampai disitu sehingga dia lalu memutar tubuh elangnya dan terbang keliling diatas kepalanya untuk melindugi mereka bertiga. Thian Pian siauw cu merasa kecundang di dalam hatinya jadi amat gusar sekali, bentaknya. Liem Tou. iiu terhitung kepandaian macam apa? ayoh cepat lepaskan Giok jie" 'Ha ... ha ... Ke siauw cu, kau sendiri yang mulai main akal-akalan, bilamana ini bari kau tidak melepaskan kawanan burung elang itu akupun tidak bakal melepaskan Giok jie, kalau tidak ..."
Sekali lagi dia tertawa terbahak bahak.
sebaliknya Giok jie yang kena ditawan menangis semakin keras, ditengah suara tangisan itu secara samar samar membawa rasa sakit yang luar biasa.
Thian Pian siauw cu segera merasakan hatinya seperti diiris iris, dengan gusar nya dia meraung, kemudian tanpa memperdulikan semuanya lagi segera menerjang ke arah Lie Loo jie.
Liem Tou yang menunggang burung elang di angkasa selama ini terus menerus memperhatikan keadaan dari Lie Lo jie, kini melihat Thian Pian siauw cu dengan mengandung rasa gusar menerjang ke depan dengan gesitnya dia lantas kirim satu pukulan ke bawah Thian Pian Siaiw cu segera merasakan segulung angin pukulan yang amat dahsyat menghajar badannya, dia mendengus berat, telapak tangannya dengan cepat diangkat menangkis datangnya serangan tersebut.
Siapa tshu baru saja dia kirim satu pukulan mendadak angin pukulan yang amat lunak tadi kini sudah berubah jadi keras, dia jadi sangat rerperanjat.
ULtuk menarik kembali serangannya tak sempat, terpaksa dengan keras lawan keras dia menerima serangan tersebut.
"brak. ,..!."
Dengan menimbulkan suara bentrokan yang sangat keras, tubuhnya mundur tiga langkah ke belakang. Sekali lagi Liem Tou tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ... Ke Siauw cu ! kau masih jauh ketinggalan lebih baik kau pulang gunung dulu untuk berlatih kembali tiga tahun, ada kemungkinan waktu itu kau baru punya harapan". Pikiran Thian Pian Siauw cu yang tajam dengan cepat berputar , mendengar perkataan dari Liem Tou itu dia jadi amat girang.
"Liem To, apakah pekataanmu itu sungguh sungguh ?"
Teriaknya. Liem Ton sama sekali tidak menyangka kalau Thian Pian Siauw cu kembali meng-atur jebakan, dia lantas tertawa terbahak bahak.
"Siapa yang berkata lagi main main dengan kau orang."
Dengan Cepat Thian Pian siauw cu loncat mundur sejauh tiga kaki lalu menjura kepada diri Liem Tou.
"Terima kasih atas kesudianmu untuk menarik kembali pertandingan ini dan mengijinkan aku Ke Hong untuk bertanding kembali tiga tahun kemudian, anggap saja dalam babak ketiga ini kembali aku orang menemui kekalahan."
Burung burung elang sisanya tidak usah kau hancurkan lagi dan sekarang harap kau suka melepaskan Giok jie, aku Ke Hong bersumpah selama tiga tahun tidak akan keluar gunung.
Mendengar perkataan itu kembali Liem Tou merasa dirmya tertipu, tetapi perkataan sudah diucapkan untuk menarik kembalipun tidak leluasa karenanya dia cuma bisa memaki atas kejujuran dirinya sendiri sehingga setiap kali harus menemui kerugian.
Dergan gemasnya dia menghela napas panjang dan lepaskan Giok jie ke atas tanah, mendadak teringat olehnya akan satu hal sehingga tak terasa teriaknya keras.
"Kalau memangnya Ke Siauwcu bermaksud begitu. perkataan yang sudah kukatakan selamnya tidak akan ditarik kembali, tetapi ketiga ekor burung elang itu harus kau tinggalkan disini. apa yang aku Liem Tou katakan selamanya tidak bisa berubah kembali."
Walaupun Thian Pian siauw cu menyayangkan ketiga ekor burung elang itu tapi untuk kcelamatannya sendiri dia tidak bisa untuk tidak serahkan keluar.
Setelah termenung sebentar mendadak dia bersuit sedih, mendengar suara suitan itu ke tiga ekor burung elang itu dengan gagahnya segera terbang mendatang dan berdiri di atas telapak tangan Thian Pian siauw cu.
Dengan suara yang halus Thian Pian siuw cu mengucapkan beberapa patah kata kepada burung burung elang itu.
Liem Tou yang mengetahui atas kelihyan burung burung elang itu segera berseru dengan keras.
"Ke siauw cu, cepat kau ikat burung elang itu erat erat !"
Terpaksa Thian Pian siauw cu melakukan seperti apa yang diminta.
Setiap bangsa burung bilamana sepasang kakinya sudah diikat maka sekalipun ada sayap tak akan bisa terbang.
Liem Tou lantas suruh si gadis cantik pengangon kambing menerimanya dan melepaskan Giok jie ke atas tanah.
Thian Pian siauw cu yang melihat G;ok jie sudah dilepaskan dia lattas menggape ke arahnya .
"Giok jie, kau kemarilah !"
Giok jie yang melihat air muka Thian Pian siauw cu sudah berubah jadi hijau membesi sehingga jelek dilihat, dalam hati merasa agak gemetar, selamanya tidak pernah dia melihat perubahan air muka dari Thian Pian siauw cu sehingga sedemikian rupa.
Walaupun di dalam hati Giok jie merasa hatinya bergidik dia pun tidak berani untuk tidak maju kedepan, selangkah demi selangksh dia berjalan ke hadapan Thian Pian siauw cu lalu tekuk lutut dan jatuhkrn diri berlutut dihadapannya dan menangis tersedu sedu.
Dengan sepasang mata yang sudah berubah memerah lama sekali Thian Pian siauw cu melototi diri Giok jie, mendadak teriaknya dengan keras.
"Giok jie, meninggalkan tempat tugas tak mendengarkan perintah guru tahukah apa dosanya ?"
Dengan jatuhkan diri mendekam di atas tanah, Giok jie menangis tiada hentinya membuat Kiem ji yang ada ditempat kejauhan pun tidak terasa lagi ikut melelehkan air mata.
si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang melihat bocah itu amat bagus dan memiliki dasar belajar silat yang kuat pula membuat hati rada menaruh kasihan, Thian Pian siauw cu yang tidak mendengar jawaban dari Giok jie, hatinya semakin gusar lagi.
"Giok jie ayoh kau bilang ! tahukah dosa mu ?"
Terpaksa Giok jie menganggukkan kepalanya. Kalau sudah tahu berdosa ayoh angkat kepalamu !"
Bentak Thian Pian Siauw cu lagi .
Giok jie menurut dan angkat kepalanya tampaklab diatas pipinya yang putih dan halus sudah penuh dibasahi air mata.
Dengan dinginnya Thian Pian siauw cu memandang sekejap kearahnya.
alisnya dikerutkan rapat rapat lalu melengos kesamping.
Beberapa saat kemudian dia baru menoleh kembali dengan wajah yang buas.
"Giok jie!' Teriaknya dengan ketus.
"Tahukah kau orang hampir hampir suhumu tidak punya muka untuk bertemu di depan orang ?"
Giok jie menangis semakin menjadi.
Tak sepatah katapun yang dijawab olehnya.
Mendadak Thian Pian siauw cu maju dua langkah ke denan, sepasang matanya melotot lehar lebar sedaag telapak tangan kananpun dengan perlahan lahan diangkat ke atas.
Lie Siauw Ie maupun si gadis cantik pengangon kambing yaag melihat kejadian ini diam diam merasa amat terkejut.
"Ke Siauw cu, kau mau berbuat apa ?"
Tiba tiba terdngar Liem Tou membentak.
Sehabis membentak tubuhnya dengan kecepatan bagaikan kilat berkelebat menerjang ke arah depan.
Tetapi pada saat itulah bagiikan meng-gulung ombak ditengah samudra dengan dahsyatnya Thian Pian siauw cu melancarkan satu pukulan ke arah depan.
Liem Tou yang dalam hati ingin menolong orang melihat datangnya pukulan itu dia lantas kiiim pula satu pukulan ke arah depan.
Brack * -dengan disertai suara bentrokan yang amat keras tubuh Thian Pian-siauw cu tergetar mundur sejauh tujuh, delapan langkah jauhnya sehingga jatuh terduduk.
Tetapi angin pukulan yang dilancarkan olehnya kedepanpun segera mendatangkan satu angin taufan yang menghajar atas permukaan tanah, pasir serta batu pada beterbangan membuat Giok jie yang masih ada disitu terkena hajaran sebuah batu cadar dan jatuh tidak sadarkan diri.
Lie Siauw Ie maupun si gadis cantik pengangon kambing tidak terasa lagi sudah pada berebut maju ke depan untuk menolong Giok jie.
Keadaan jadi amat kacau masing masing pada turun tangan menolong diri Giok jie yang jatuh pingsan.
Di sebelah sana Liem Toa yang berhasil memukul mundur Thian Pian siauw cu ke arah belakang segera membentak dengan amat gusar.
"Ke siauw cu aku sama sekali tidak menyangka kalau hatimu sebenarnya amat kejam apa salahnya dia orang dengan dirimu? Kenapa kau turus tangan kejam terhadap dirinya ?"
Thian Pian siauw cu yang tergetar mundur ke belakang, setelah berhasil menenangkan pikirannya dia lantas salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh tubuhnya satu kali, setelah ditemui kalau dirinya tidak terluka sambil mengerutkan alisnya rapat rapat dia baru berteriak gusar .
"Liem Tou ! Soal itu kan urusan pribadiku, apa sangkut pautnya dengm dirimu? Kau orang sungguh keterlaluan sekali. Ini hari sekalipun harus bermandikan darah diatas pun cak gunung Cing Shia ini aku Ke Hong juga akan adu jiwa dengan dirimu !"
Sehabis berkata dia kerahkan hawa murninya sehingga membuat tulang tulang di seluruh badannya bergerutuk amat nyarng, telapak tangannya mendadak membesar beberapa kali lipat kemudian dengan menggunakan sepuluh bagian tenaga murni bagaikan tiupan angin taufan dia menghajar ke arah depan.
Melihat datangnya serangan tersebut Liem Tou segera tertawa dmgin.
"Ke siauw cu !"
Bentaknya dengan keras "Aku Liem Tou sudah buka satu jalan kehidupan buat dirimu. bilamana kau tidak suka menurut janganlah salahkan aku Liem Tou akan turun tangan telengas."
Sehabis berkata dia menyingkir beberapa kaki ke samping, angin pukulan dari Thian Pian siauw cu pun segera menghajar ke atas tanah sehingga kembali menimbulkan sambaran angin tajam yang membuat pasir dan tanah pada beterbangan.
Jilid 33 .
Mengunci tangan menebus dosa KECUALI sipenjahat raga merah serta Thiat Bok Thaysu semua orang yang hadir di atas gunung Cing Shia ini terutama para Toosu Bu tong pay tiada seorangpun yang tak menjulurkan lidahnya melihat kedahsyatan tersebut.
Thian Pian siauw cu yang melihat serangannya tak mencapai pada hasil hatinya merasa tak puas.
sainbil bersuit panjang sekali lagi dia menubruk kearah Liem Tou.
"Ke Siauw cu, tahan!"
Sekali lagi bentak Liem Tou dengan amat gusar.
Tetapi waktu ini pikiran Thian Pian siauw cu lagi kacau, mana dia orang suka mendengar perkataannya.
Tubuhnya merendah kuda kudanya diperkuat mendadak sepasang telapak tangannya di-dorong kedepan melancarkan satu pukulan yang maha dabsyat.
Sampai pada detik itu Liem Tou tak bisa menahan sabar lagi, ilmu saktinya lalu dipentangkan dengan tanpa menghindar lagi dia menyambut datangnya angin pukulan itu.
Pada saat itulah mendadak terdengar Lie-Loojie membentak keras .
"Sutit! jangan turun tangan jahat."
Liem Tou jadi terperanjat dengan terburu-buru hawa pukulannya yang delapan bagian dikurangi dengan dua bagian, tetapi pada saat yang bersamaan pula dua gulung angin pukulan bertemu menjadi satu ...
"Bluumm ...,"
Disertai suara getaran yang amat keras Liem Tou yang harus menarik kembali dua bagian tenaganya kontan tergetar mundur tiga langkah kebelakang Tetapi Tbian Pian siauw cu yang melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga segera menjerit ngeri tubuhnya tergetar mundur tujuh delapan langkah kebelakang lalu disertai suara jeritan yang keras tubuhnya tak kuasa untuk berdiri lebih lama dan jatuh keatas tanah.
Air mukanya pada sat ini sudah berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, dadanya berombak sedang sepasang matanya terbelalak lebar-lebar, lama sekali dia mempertahankan dirinya dan terakhir tak kuasa dari mulutnya muntahkan darah segar.
Pada saat itulah Kiem jie sudah berlari mendatang dia yang melihat luka Thian Pian siauw cu amat berat segera menangis tersedu-sedu.
"Suhu! suhu . ."
Giok jie yang ada dipelukan sigadis cantik pengangon kambingpun segera meroata coba berlari kesamping Thian Pian siauw cu, tetapi keburu dicegah oleh sigadis cantik pengangon kambing.
"Giok jie kau jangan pergi."
Ujarnya dengan suara yang amat halus.
"luka suhumu tak terlalu berat, cuma hawa murninya saja yang tsrbuyar karena hatinya lagi jengkel, asalkan mau beristirahat dulu untuk beberapa hari dia pasti akan sembuh dengan sendirinya. Kau jangan kesana walaupun saat ini dia terluka tetapi untuk memukul kau sampai mati bukanlah satu pekerjaan yang sukar baginya"
Akhirnya Giok jie berhasil dicegah kepergiannya oleh si gadis cantik pengangon kambing tetapi sudah menangis tersedu-sedu dengan amat sedihnya.
Saat itu Thian Pian siauw cu pun berusaha meronta untuk bangun tetapi berhasil dicegah oleh Kiem jie .
"Suhu kau orang tua terluka lebih baik jangan sembarangan bergerak"
Teriaknya.
"Untuk sementara baik baiklah kau beristirahat sehingga hawa murni bisa berkumpul kembali."
Akhirnya Thian Pian siauw cu gelengkan kepala kemudian dengan paksakan diri bangkit berdiri lalu menghembuskan napas panjang panjang.
Tangannya diangkat dengan perlahan keatas dan digoyang goyangkan dua kali.
Kiem jie yang melihat sikap suhunya amat aneh dia jadi tercengang .
"Suhu kau sudah terluka apa maumu ?"
Air muka Thian Pian siauw cu yang sudah berubah pucat pasi kini jadi kehijau hijauan, mendengar perkataan itu matanya lantas melotot lebar-lebar.
"Kiem jie apa kaupun tidak suka mendengarkan perkataan suhumu? kau juga sudah tidak mau nyawamu lagi?"
Kiem jie tidak dapat berbuat apa apa terpaksa dia goyangkan dua kali panji hitam itu.
Terdengarlah suara pekikan burung rajawali, kawanan burung elang yang tidak sampai terluka dan pada tersebar kini mulai mengumpul kembali.
Bukan begitu saja bahkan kawanan elang yang terluka dan tersembunyi diantara rerumput atau liangpun pada berjalan keluar dan berlari mendekati diri Thian Pian siauw cu.
Ketiga ekor burung elang yang terikat dan ada di tangan Lie Siauw Ie pun meronta sekencang-kencangnya.
Thian Pian siauw cu sungguh tidak malu disebut sebagai seorang ahli didalam binatang, ternyata burung burung itu berhasil dia latin sehingga begitu terlukapun asalkan melihat tandanya lantas pada berkumpul mendatangi.
Kepandaian dan mujijat dari Thian Pian siauw cu ini seketika itu juga membuat suasana di puncak pertama gunung Cing Shia jadi sunyi senyap, sampai Liem Tou sendiripun, dengan termangu mangu memandang dirinya, dia ingin melihat apa yang hendak dikerjakan olehnya terhadap kawanan burung elang tersebut.
Jelas pada saat ini Thian Pian siauw cu dibuat terharu oleh kesetiaan burung burung elangnya.
lama sekali dia berdiri termangu-mangu ditempat sedang dari kelopak matanya tiada hentinya menetes keluar titik titik air mata.
Menangisnya Thian Pian siauw cu boleh dikata merupakan satu peristiwa yang amat besar didalam dunia persilatan.
Tiba tiba, dengan sedihnya Thian Pian siauw-cu membentak.
"Laaaa Kaaa Caaa... , Cau CiO Koook Cii Soou , , , Hu Loo Heei haaa hiii ..."
Semua orang yang mendengar suara itu pada melengak dan dibuat tercengang semuanya tetapi kawanan burung elang yang ada disana sesudah mendengar suara tersebut mulai jadi gaduh.
Si gadis cantik pengangon Kambing yang mendengar suara itupun dibuat melongo-longo, buru buru dia bertanya kepada Giok-jie.
"Giok jie, apa yang dikatakan oleh suhumu?"
Giok jie yang semula memang lagi menangis kini telah mendengar suara aneh dari Thian Pian siauwcu itu menangis semakin keras lagi.
Dengan gugup si gadis cantik pengangon kambing segera menasehati dan menghibur dirinya.
setelab lewat beberapa saat lamanya baru dia berhenti menangis, Suhu bilang "Kalian sudah ikut aku Ke-Hong selama beberapa puluh tahun lamanya, kini aku ke Hong menemui kekalahan ditangan orang lain apalagi melukai diri kalian aku benar benar merasa amat berdosa.
sekarang aku mau pulang dan tak dapat mengobati dirimu lagi, kalian boleh pergi bebas !
menanti setelah luka kalian bisa disembuhkan terbanglah kembali ke gunung asalmu !"
Thian Pian Siauwcu, yang melihat kawanan burung itu berpekik dan hiruk pikuk tiada hentinya air mukunya segera berubah membesi.
"Kooook Laaa hiii , . ! Huuu Haaaa Suuu Hii !!"
Bentaknya. Dia bilang .
"Bosan, kalian cepat pergi !' ujar Giok jie menjelaskan. Kawaran burung elang yang kena dimaki terpaksa pada bubaran dan mencari keselamatannya sendiri-sendiri. Setelah dilihatnya kawanan burung elang itu sudah pada bubaran Thian Phian siauw-cu baru menggapai kearah ketiga ekor burung elang raksasanya. Setelah burung itu mendekat Thian Piaa siauw cu serta Kiem jie masing masing menungcang seekor burung dan menoleh sekejap kearsh Giok-jie.
"Suuhuu . !"
Teriak Giok-jie dengan sedihnya.
"Hmm! Aku sudah tidak maui murid seperti kau, kapan saja bilamana aku bertemu kembali dengan dirimu saat itulah waktu kematian bagimu !"
Ancam Thian Pian siauw-cu sambil mendengus dingin. Setelah itu kepada Liem Tou dengan bencinya dia menambahkan.
"Liem Tou! Dengan sakit hati ini lain kali pasti akan aku balas!"
"Ke Siauw cu! Tiga tahun kemudian aku bisa datang mencari dirimu tetapi bilamana didalam tiga tahun ini aku mendengar kau melakukan perjalanan di Bu-lim.,, heee heee,,. jangan dikata diujung langit sekalipun diluar angkasa aku Liem Tou bisa pergi mencari dirimu untuk bikin perhitungan !"
Thian Pian siauw cu tertawa serak dengan sedikit goyangkan tangan ketiga ekor burung burung elang itupun lantas terbang keangkasa diikuti oleh kawanan burung elang yang tidak terluka dari belakangnya.
Setelah Thian Pian Siauw cu pergi dari sana, dengan sedihnya Liem Tou segera menghela napas panjang.
Tetapi sebentar kemudian dia teringat kembali akan diri Thiat Bok Thaysu serta sipenjahat naga merah.
"Hmm ! Kedua orang bajingan tua ini jauh lebih buas sepuluh kali lipat jika dibandingkan dengan Thian Pian Siauw cu, aku harus basmi dirinya sehingga di Bu lim pun kekurangan dua orang pentolan penjahat lagi."
Karenanya tanpa banyak berbicara lagi dia lantas menggapai kearah Tniat Bok Thay su serta sipenjahat naga merah.
"Mari ---mari --mari --! Bukankah kalian lagi mencari aku Liem Tou untuk bikin perbitungan ? Aku tidak mau banyak cakap lagi, kalian mau berkelahi satu demi satu ataukah dua orang maju berbareng ?"
Si penjahat naga merah maupun Thiat Bok Thaysu yang mendengar perkataan tersebut pada merasa jeri.
Liem Tou pukul rubuh Thian Pian siauw-cu dengan mengandalkan tenaga Iweekangnya yang amat linay apalagi dengan menggunakan jarum pohon siong menghancurkan kawanan burung elang hal ini membuktikan bagaimana kedahsyatan ilmu silat yang dimiliki olehnya karenanya sudah tentu baik si penjahat naga merah maupun Thiat Bok Thaysu merasa nyalinya dibuat pecah oleh kejadian itu.
Seballknya Liem Tou yang didalam hati sudah punya maksud untuk melenyapkan kedua orang pengacau dunia kangouw itu melihat mereka berdua rada ketakuran tanpa banyak cakap lagi segera maju kedepan dengan langkah lebar, sembari berjalan gumamnya .
"Aku tak dapat meninggalkan kedua orang ini disini. mereka bardua adalah pengacau Bu~lim yang harus dibasmi !"
"Liem Tou tunggu dulu !"
Tiba tiba terdengar si penjahat naga merah membentak keras.
"Coba kau dengarkaa dulu ! Baru saja kau bergebrak dengan Thian Phian siauw cu. walaupua behasil menangkan pertempuran ini tetapi tenagamu sudah berkurang, kami tidak ingin menggunakan cara roda berputar untuk gencet dirimu, aku lihat lebih baik lain kali saja kita baru bertempur !"
Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut segera mengetahui kalau mereka berdua sudah merasa jeri tapi malu untuk mengutarakannya keluar, tak kuasa lagi dia sudah tertawa terbahak bahak dengan kerasnya.
"Haaa ... haaa ... Hey penjahat naga merah, bajingan tua Thiat bok lebih baik jangan gunakan cara seperti ini"
Serunya dengan wajab berubah adem. 'Perduli kalian mau bergebrak atau bakal melepaskan ilmu silat kalian yang kejam itu, terutama bajingan tua Thiat Bok !"
Sembari berkata tubuhnya sudah menerjang kehadapan sipenjahat naga merah serta Thiat Bok Thaysu.
Thiat Bok Thaysu dengan sepasang mata yang sudah berubah menghijau dengan tajamnya memperhatikan terus diri Liem Tou, mendadak bentaknya keras .
"Cie Liong sutit, cepat lari !"
Bersamaan waktunya sepasang cengkeramannya dilancarkan kedepan, tampaklah sepuluh gulung hawa hitam dengan cepatnya meluncur kedepan.
Liem Tcu dengan tergesa gesa kebutkan tangannya kedepan, segulung angin pukulan yang dahsyat segera menyambar kedepan memunahkan datangnya angin serangan berwarna hitam ini.
Si penjahat naga merah yang secara tiba-tiba mendengar Thiat Bok Thaysu suruh dia pergi semula rada tertegun dibuatnya, dan didalam sekejap mata itu pula Thiat Bok Thaysu sudah turun tangan.
Dia tahu Thiat Bok Thaysu yang memiliki kepandaian silat amat tinggipun masih merasa rada takut terhadap Liem Tou, dia tahu sekalipun dirinya ada disana juga sama sekali tak berguna.
"Susiok, sutit turut perintah !"
Teriaknya kemudian.
Dia lantas putar tubuh dan meloncat sejauh dua kaki.
Empat orang Tocsu dari Bu tong sewaktu melihat sipenjahat naga merah itu hendak melarikan diri segera berteriak keras dan pada mengurung kedepan menghalangi jalan perginya.
"Siapa yang berani menghalangi aku, mati, yang tahu diri cepat singkirkan diri kesamping"
Bentaknya keras. Tangannya dengan cepat berputar mencabut keluar cambuk naga merahnya lalu dengan menggunakan jurus 'Tok Coa Jui Tong"
Atau ular berbisa keluar dari gua serta jurus "Ban Liong Yu Sin' atau naga perkasa berputar badan.
Satu menyerang yang satu berjaga sehingga kelihatan sangat dahsyat sekali.
Waktu itu ada seorang Toosu yang sama sekali tidak menduga datangnya sambaran cambuk yang amat dahsyat dari sipenjahat naga merah berkumandang keluar, terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang keluar sepasang matanya sudah kena ditembusi sehingga darah segar memancar keluar dengan amat derasnya.
Para Toosu Bu tong pay yang melihat serangan mereka tidak mempunyai hasil malah sebaliknya terluka, dengan gusarnya segera membentak keras kemudian bersama-sama menerjang kedepan.
Pedang panjang mereka dengan menggunakan gerak menusuk, membabat, membacok, menorok menerjarg kedepan, hawa pedang memeruhi angkasa diselingi suara teriakan serta bentakan yang memekikkan telinga.
suasana benar benar sangat ramai.
Tetapi si penjahat naga merah yang sudah mempunyai psngalaman didalam menghadapi musuh musuhnya yang sama sekali tak terpengaruh oleh teriakan teriakan tersebut.
Saat ini dia tak ingin bergebrak lebib lanjut, sambil mendengus dingin tubuhnya yang besar dan gemuk itu segera berkelebat ketengah udara dan melayang pergi melalui atas kepala para Toosu Bu tong pay.
"Kau mau lari kemana !"
Bentak Ciat Siauw Thaysu itu ciangbunjien dari Bu tong pay dengan cepat.
Ujung jubahnya segera dikebutkan kedepan melancarkan satu pukulan yang amat dahsyat sekali.
Siapa tahu justru dengan meminjam tenaga pukulan itulah tubuh si penjahat naga merah berkelebat semakin menjauh hal ini membuat Ciat Siauw thaysu jadi berieriak-teriak gusar.
"Heng dan jie Yu cepat halangi dirinya, jangan beri kesempatan buat dia orang untuk melarikan diri. nyawa dari Leng Cu Ci dari Bu tong pay tidak dapat lenyap dangan sia sia ditangannya !"
Heng san Jie Yu yang ada disudut Timur tanpa banyak cakap lagi segera meloncat keluar dari sisi sebelah kanan lalu bersama-sama mendorongkan telapak tangannya melancarkan satu pukulan dahsyat yang mematikan.
Si penjahat naga merah sudah tentu tak merasa takut terhadap mereka berdua.
melihat datangnya pukulan dari mereka berdua dia lantas salurkan tenaga murninya siap-siap menghajar kedua orang itu.
Mendadak , ..
Suara teriakan ngeri yang meyayatkan hati bergema datang dari diri Thiat Bok Thaysu dia jadi sangat terperanjat dan cepat cepat menoleh kebelakang.
Tampaklah bayangan tubuh yang kurus dan hitam dari Thiat Bok Thaysu dengan cepatnya berlari mendatang kearahnya, kesepuluh jarinya masih meneteskan darah segar.
"Susiok !"
Teriak sipenjahat naga merah dengan keras.
Pada saat itulah angin pukulan yang keras dan Heng san Jie Yu sudah menyambar datang dan menusuk wajahnya dengan terburu buru sipenjahat naga merah balas melancarkan satu pukulan kedepan.
Pukulan yang dilancarkan tanpa pemusatan mana mungkin mendatangkan tenaga yang penuh?
Tubuhnya seketika itu juga terpukul mundur sejauh empat langkah dengan sempoyongan.
Pada waktu itulah si Thiat Bok Thaysu sudah menubruk datang, wajahnya yang berwarna hitam pekat sudah berubah jadi keabu-abuan.
"Aaa --aaku --aku sudah cscad"
Serunya dengan suara gemetar.
Si penjahat naga merah segera memperhatikan dirinya lebih teliti lagi terlihatlah kesepuluh jari Thiat Bok Thaysu sudah pada putus semua.
Tidak ragu-ragu lagi ilmu jari Hek Khie Ci Kang yang paling diandalkan olehnya sudah dipunahkan oleh Liem Tou.
Melihat hal itu sudah tentu sipenjahat naga merah tak berani bertempur lebih lanjut dengan gemasnya dia melototi sekejap diri Heng San Jie Yu lalu sambil menarik ujung baju Thiat Bok Thaysu bagaikan tiupan angin berlalu cepat-cepat lari turun dari puncak.
Pada saat itulah terdengar suara bunyian Sie poa yang dipukul pulang pergi disusul munculnya tiga orang diatas puncak bukit tersebut sembari bernyanyi nyanyi.
"Membaca buku selaksa jilid, melakukan perjalanan selaksa li. Sebuah sie poa menghitung selaksa peristiwa."
Tampaklah munculnya sisiucay buntung, si pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng disana.
Si penjahat naga merah yang melihat ditempat itu sudah kcdatangan lagi tiga orang musuh lamannya bagaikan seekor kerbau giia dengan gusarnya segera berteriak keras.
"Bagus sekali kedatanganmu !"
Cambuknya bagaikan kalap menubruk kedepan, melihat kehebatan tersebut didalam hati sisiucay buntung, sipengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng tahu bilamana mereka harus satu melawan satu pasti bukanlah tandingan dari sipenjahat naga meiah, karena mereka bertiga lantas bersama-sama tertawa terbahak bahak, kipas, sie poa serta tongkat Tah Kauw Pang bersama-sama menyambar ke depan menghalangi perjalanannya.
Ssketika itu juga cambuk naga merah kipas, sie poa serta tongkat Tah Kauw Pang bertemu menjadi satu.
Si siucay buntung, si pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng hanya merasakan telapak tangannya menjadi sakit dan amat linu sebaliknya si penjahat naga merah sendiri terpukul mundur satu langkah kebelakang sepasang matanya melotot lebar lebar.
Pada saat itulah Heng san Jie Yu mendadak muncul dibelakang tubuhnya.
"Hantam !"
Teriak mereka dengan keras.
Walaupun kesepuluh jari tangan Thiat Bok thaysu sudah dipunahkan oleh Liem Tou tetapi kepandaian silat maupun lweekangnya tidak sampai ikut punah, dan bagaimana pun kepandaiannya jauh lebih tinggi dari pada si penjahat naga merah, mendengar suara bentakan tersebut bagaikan kilat cepatnya dia sudah meloncat kesamping.
Tetapi si penjahat naga merah rada terlambat satu tindak ...
"Braak . , ,!"
Dengan amat dahsyatnya dia sudah kena dihantam hawa pukulan yang amat dahsyat dari Heng san Jie Yu kemudian diiringi suara teriakan kesakitan yang amat keras tubuhnya rubuh keatas tanah.
Si pengemis pemabok yang berada paling dekat dengan dia orang dengan cepat hantamkan toya Tah Kaw Pang keatas tubuhnya.
"Anjing tua. kembalikan dendam satu pukulan semasih ada digunung Wu san !"
Bentaknya keras, Dengan menggunakan jurus 'Thay san Ya Ting' atau gunung thay san menekan bumi dia hantam tubuhnya Si penjahat naga merah segera mendengus berat, tubuhnya kelejetan sebentar kemudian menghembuskan napas panjang-panjang "Ouww , , mati aku !"
Serunya tersengkal sengkal.
Pinggangnya menarik kebelakang kakinya lurus kedepan napasnya seketika berhenti !
Pada waktu itulah dari atas gunung ditempat kejauhan secara samar samar terdengar suara teriakan yang amat menyeramkan.
'Cie Liong sutit .
, Cie Liong sutit.
Tetapi si penjahat naga merah sudah mati, siapa yang mau menyahut ?
siapa yang bisa menyahut ?
suasana yang amat sunyi disekeliling puncak itu seketika itu juga diramaikan oleh suara teriakan serta suara pantulan tersebut membuat separuh puncak gunung Cing Shia seketika itu juga dipenuhi suara panggilan Cie Liong sutit.
Lewat beberapa saat kemudian suara teriakan tersebut baru berhenti, tampaklah sesosok bayangan hitam dengan amat cepatnya meluncur kebawah puncak.
Semua orang dapat melihat kalau bayangan tersebut bukan lain adalah Thiat Bok Tbaysu yang sudah pergi kini balik kembali.
Sewaktu dilihatnya si penjahat naga merah sudah msnemui ajalnya dia lantas memperdengarkan suara jeritan setan yang amat mengerikan sekali.
Sebentar kemudian tubuhnya sudah meloncat bangun lagi lalu menubruk kearah Liem Tou yang berdiri termangu mangu diatas Puncak gunung.
"Kembalikan nyawa keponakan muridku, kembalikan nyawa keponakan muridku!"
Jeritnya dengan suara yang keras.
Kini kesepuluh jari tangannya sudah putus bilamana dia ngotot melancarkan serangan juga maka darah yang mengalir didalam tubuhnya akan ikut mancur kedepan dengan demikian bukan saja pukulan itu sia-sia belaka ada kemungkinan darahnya akan memancur deras dan akhirnya mengancam keselamatannya.
"Bajingan tua Thiat Bok! aku sudah membuka satu jalan kehidupan untukmu apa kau merasa tidak cukup ? bilamana aku harus menghitung pula dengan kematian dari sucouwku "Auw Hay Siang hiap"
Hay Cong maka kau tidak ada hak untuk hidup ayoh cepat pergi !"
Thiat Bok Thaysu saat ini sudah hilang kesadarannya gerak geriknya lebih mirip dengan seorang gila, dia orang mana mau mendengarkan nasehat dari Liem Tou tunuhnya dengan cepat berputar dengan menggunakan gerakan 'Oei Li Kuk' menubruk kearah Liem Tou.
Dengan gesitnya Liem Tou segera menyingkir beberapa depa kesamping untuk menghindarkan diri dari serangannya itu.
"Bajingan tua Thiat Bok!"
Bentaknya keras.
"Aku lihat lebih baik kau orang suka mendengarkan nasehatku saja!"
Dengan seramnya Thiat Bok Thaysu bersuit panjang serangannya semakin gencar lagi meneter diri sang pemuda. Lama kelamaan Liem Tou jadi gusar juga melihat sikapnya yang tidak mau tahu itu, pikirnya.
"Aku tidak mau bunuh dirinya hal ini dikarenakan aku tidak ingin terlibat didalam soal pembunuhan maksudku Cuma memunahkan ilmu jari beracunnya lalu lepaskan jalan kehidupan buat dirinya adalah satu maksud yang baik kenapa dia orang begitu tidak tahu diri dan sengaja mau mencari mati? Baiklah, biarlah aku kabulkan permintaannya, bagaimanapun manusia semacam ini tiada berguna untuk tetap tinggal di dunia lebih lama."
Setelah mengambil keputusan, napsu untuk membunuh semakin meliputi wajah sang pemuda.
"Bajingan tua Thiat Bok!"
Serunya kemudian dengan dingin.
"Sebenarnya aku Liem Tou punya maksud untuk melepaskan satu jalan kehidupan buat dirimu tetapi bilamana kau tidak mau juga jangan salahkan aku turun tangan kejam kepadamu!"
Thiat Bok Thaysu yang dikarenakan ilmu jari Hek Khie Ci Kang yang dilatihnya selama tiga puluh tahun berhasil dipunahkan oleh Liem Tou ditambah pula melihat si penjahat naga merah menemui ajal dibawah kerubutan Tionggoan Sam Koay serta Heng San Jie Yu hatinya benar-benar tertusuk dan kena rangsangan sehingga kepingin sekali dia menubruk diri Liem Tou.
Kini mendengar perkataan tersebut bukannya menjadi takut sebaliknya malah menubruk semakin ganas lagi memaksa Liem Tou kembali harus berteriak keras.
"Baiklah, aku akan kabulkan permintaanmu itu."
Sehabis berkata mendadak tubuhnya maju satu langkah kedepan, telapak tangannya dengan perlahan didorong kesamping siap-siap melancarkan satu pukulan yang mematikan.
Tetapi bersamaan waktunya pula terdengar suara pekikan burung rajawali berkumandang.
"Hey Liem Tou! terdengar Thiat sie sian seng berteriak secara mendadak. 'Waktu ajalnya masih belum tiba, Ke siauw cu datang kembali !"
Angin pukulan ypng hendak dihantamkan ketubuhnya dengan cepat ditarik kembali, ketika dia dongakkan kepalanya keatas tampaklah Thian Pian siauw cu dengan menunggang seekor burung rajawali dan melayang pula rajawali lain tak berpenumpang.
Dia meiayang berputar satu kali diatas puncak itu kemudian ayunkan sebuah benda kearah Liem Tou.
Dengan terburu buru Liem Tou mundur satu langkah kebelakang, tangannya dengan cepat menyambar menerima benda itu yang bukan lain adalah separuh bagian mutiara yang diberikan Liem Tcu kepadanya.
Liem Tou yang menerima sambitan mutiara tersebut rada tertegun dibuatnya.
"Liem Tou !"
Terdengar Thian Pian siauw cu sudah membuka mulut berkata.
"Sudah tentu kau tahu bukan apa maksudku? Thiat Bok hweeio aku bawa pergi!"
Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut semakin tertegun lagi dibuatnya, mendadak dia melemparkan kembali separuh bagian mutiara itu keatas.
"Sebenarnya aku tidck ingin mencabut nyawa bajingan tua Thiat Bok itu, kau bawalah dia pergi. Ssedang barang ini aku kembalikan kepadamu ada kenungkinan bisa menolong satu kali nyawamu, Dikemudian hari bilamana kau buang dengan demikian saja bukankah terlalu sayang?"
Thian Pian siauw cu menerimanya dltaangan tapi sebentar kemudian dia sudah tertawa seram.
"Siapa yang mau barangmu yang jelek ini"
Teriaknya.
Dengan cepat tangannya diayunkan kedepan separuh bagian mutiara tersebut dengan menimbulkan suara dssiran yang amat keras segera menyambar kearah Giok-jie yang ada disamping tubuh si gadis cantik pengangon kembing itu.
"Wan moay, hati-hati!"
Teriak Liem Tou dengan sangat terperanjat.
Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat munculnya kembali Thian Pian siauw cu disana sejak semula sudah berjaga jaga akan hal tersebut.
Sejak kecil dia sudah berlatih tenaga dalam, walaupun psda saat ini tidak bisa menandingi diri Thian Pian siauw cu tetapi senjata rahasia yang disambitkan oleh Thian Pian siauw cu itu bertenaga dalam yang cukup dahsyat.
Dengan gesitnya si gadis cantik pengangon kambing menyambut sambitan tersebut, hatinya benar benar merasa teramat gemas.
'Enoi Ie !"
Terisknva mendadak.
"Cepat kau kasih beberapa batang Kioe Cu Gien Ciam kepadaku sebagai hadiah !"
"Wan moay. sudahlah tidak usah ! biarkanlah dia orang untuk kali ini"
Cegah Liem Tou dengan cepat Pada saat itulah burung elang yang ada di samping Thian Pian siauw cu sudah menyambar kebawah dan cengkeraman bajanya itu dengan amat cepat mencengkeram tubuh Thiat Bok thaysu lalu dibawa terbang ke angkasa.
Kedua ekor burung rajawali itu dengan cepat melayang jauh meninggalkan permukaan dan semakin lama semakin menjauh hingga akhirnya lenyap dibalik awan.
Peristiwa yang terjadi digunung Cing shia kini sudah selesai, Liem Tou pun bisa menghembuskan napas panjang.
Tionggoan sam Koay, Heng san Jie Yu serta Ciat siauw thaysu sekalian segera pada berdatangan memberi selamat kepada Liem Tou.
teiapi Liem Tou yang ada dipuncak gunung dengan termangu-mangu memandang keangkasa.
wajahnya sama sekali tak berperasaan.
Semua orang jadi merasa keheranan, Cuma Thiat si sianseng seorang saja yang dengan diam diam menganggukkan kepalanya, tetapi ada kalanya pula gelengkan kepalanya berulang kali.
Lewat seperminum teh kemudian mendadak Liem Tou putar badannya dan berjalan menuju kesisi Lie Loojie yang masih duduk diatas tanah itu dia tetap tak mengucapkan sepatah katapun.
Pertama pertama pemuda itu kerahkan dulu tenaga dalamnya untuk melancarkan jalan darah didalam dadanya setelah dirasanya luka tersebut tak terganggu dengan seriusnya dia mundur tiga langkah kebelakang lalu jatuhkan diri berlutut diatas tanah.
"Supek!"
Ujarnya dengan nada kesedihan.
"Sutit sudah berbuat banyak kesalahan banyak melakukan pembunuban yang sangat berdosa. Supek! harap kau orang tua suka mengijinkan keponakanmu untuk mengunci telapak tanganku dan bersumpah selamanya tidak bakal melukai siapapun kemudian aku mau berangkat menuju kegunung Heng san guna minta maaf kepada siorang tua berambut putih itu."
Sejak semula Liem Tou sudah merundingkan urusan ini dengan Lie Loojie, tetapi Lie Siauw Ie beserta sigadis cantik pengangon kambing sama sekali tidak tahu kini mendengar perkataan tersebut dalam hati merasa rada diluar dugaan.
"Engkoh Liem, apa kau sudah gila ?"
Teriak sigadis cantik pengangon kambing tidak bertahan lagi. Liem Tou cuma berlutut saja didepan Lie Loojie tanpa mengucapkan sepatah katapun. dia sama sekali tidak menggubris perkataan dari dara itu.
"Tia ! jangan sekali lagi kau orang tua gubris dirinya."
Teriak si gadis cantik pengangon kambing lagi kepada diri Lie Loojie.
"Seorang lelaki sejati buat apa belajar ilmu silat kalau tidak digunakan untuk berkelahi? apalagi menolong orang yang lemah dan menindas yang kuat adalah satu pekerjaan mulia dan tugas kita sebagai kaum pendekar, dia masih berusia begitu muda bagaimana dapat mengunci telapak tangannya untuk mengundurkan diri dari dunia Kang ouw ? bukankah hal itu sama sekali tidak pantas ?"
Beberapa perkataan ini seketika itu juga membuat Liem Tou jadi merasa semakin menyesal lagi, alisnya dikerutken rapat rapat, tetapi tak sepatah katapun yang diucapkannya keluar.
"Wan jie tutup mulut, kau mengerti soal apa ?"
Bentak Lie Loojie kepada puterinya. Si gadis cantik pengangon kambing segera mencibirkan bibirnya.
"Aku tidak mengerti ya, tidak mengerti, sejak jaman dahulu ada siapa yang pernah mengunci tangannya sendiri dengan usia sebesar engkoh Liem? apalagi musuh besarnya sangat banyak. Tidak mengunci tangan saja keadaannya sudah amat berbahaya apalagi setelah dia mengunci tangannya bagaimana kalau musuh musuh tangguhnya pada berdatangan mencari balas?"
Beberapa perkataan yang dikatakan sigadis cantik pengangon kambing ini pun diucapkan keluar karena merasa kuatir terhadap keselamatan dari Liem Tou hal ini membuat Lie Lo jie yang mendengarpun merasa hatinya ikut berdebar debar.
"Sibocah perempuan ini kiranya benar sudah jatuh cinta kepada Liem Tou. ternyata dia pikirkan terus buat keselamatannya"
Demikian plkirnya dihati.
"Suhu !"
Terdengar Lie Siauw Ie yang selama ini bungkam pun kini angkat bicara.
"aku lihat hati adik Tou pun rada ragu-ragu harap suhu suka pikirkan tiga kali sebelum bertindak."
Lie Loo-jie segera mengangguk, dia termenung berpikir sebentar sedang wajahnya memperlibatkan rasa ragu ragu yang tidak menentu, Waktu itu Tionggoan Sam Koay.
Heng san Jie Yu, Thiat siauw thaysu serta para toosu dari Bu tong pay sudah pada mengerubung datang suasana jadi sunyi senyap mereka semua lagi mendengarkan perkataan dari Lie-Loo jie.
Lama tekali Lie loo jie termenung berpikir keras, mendadak bertanya .
"Liem Tou, apakah kau benar benar sudah mengambil keputusan untuk berbuat begini? perkataan dari Wan-jie tadi sangat beralasan sekali. kau harus pikir masak masak !"
Sejak memukul rubuh siorang tua berambut putih dari gunung Heng san, selama ini Liem Tou merasakan dalam hatinya tidak tenang, kini setelah mendengar perkataan tersebut dia lantas anggukkan kepalanya berulang kali, air mata mulai mengucur keluar dengan amat derssnya.
"Keponakanmu Liem Tou mengerti kaiau aku sudah berbuat salah dan selama beberapa hari ini aku selalu merasakan hatiku tidak tenang. Sejak semula supek sudah mengetahui akan urusan ini dan sekarang peristiwa di-atas gunung Cing sia sudah selesai harap supek suka mengabulkan permintaanku ini"
Dengan perlahan dia lantas menoleh ke-arah Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing.
"Enci Ie, adik Wan ! Bilamana aku tidak berbuat demikian, tidur maupun makan tak akan tenang !"
Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing yang melihat biji mata Liem Tou memperlihatkan rasa cinta dan harapannya yang besar tidak kuasa lagi sudah dibuat tergerak hatinya, mereka berduapun lantas turut meneteskan air mata.
Lie Loo jie yang melihat keadaan dari mereka berdua hatinya rada tergerak mendadak dia menarik bangun diri Liem Tou.
"Sutit ! Urusan ini lebih baik kita undur-kan beberapa saat kemudian, aku masih ada beberapa perkataan yang diucapkan dulu kepadamu,"
Katanya.
Liem Tou jadi melengak dibuatnya.
mendadak terasalah Lie Loo jie yang lukanya sudah sembuh teiah menarik badannya menjauhi tempat itu lalu membisikkan sesuatu ke telinga sang pemuda.
Orang orang yang berada disebelah sisi cuma bisa melihat air muka Liem Tou sebentar berubah memerah sebentar lagi berubah menjadi pucat, sebentar murung, ada kalanya dia sedikit mengangguk ada kalanya dia gelengkan kepalanya, hanya didalam sekejapan saja dia telah berubah berpuluh puluh kali, akhirnya dia mengangguk dan tundukkan kepalanya.
Semua orang tidak mengerti sebenarnya telah terjadi urusan apa dengan kedua orang itu, dengan mata melotot mereka pada memandang kearah pemuda tersebut.
Cuma Thiat sie sianseng seorang saja yang wajahnya diliputi senyuman, dia memandang diri Lie loo-jie lalu memandang pula Liem Tou.
Setelah itu sepasang matanya dialihkan keatas wajah Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing dan mulutnya memuji tiada hentinya.
Si gadis cantik pengangon kambing yang hatinya masih polos sama sekali tak pikirkan urusan ini, dia cuma memandang kearah Lie loo-jie serta Liem Tou tanpa menunjukkan reaksi.
Sebaliknya Lie Siauw Ie yang lebih waspada tak terasa sudah melirik sekejap ke arah Thiat Sie sianseng.
Thiat Sie sianseng yang melihat Lie Siauw Ie lagi memandang kearahnya dia lantas menunjukkan muka setan kepadanya.
Lie Siauw Ie segera merasakan hatinya rada jengkel, dengan gemasnya dia melototi dirinya lalu melengos ke samping.
Thiat Sie sianseng sama sekali tidak jadi tersinggung, matanya kembali dialihkan keatas wajah sang pemuda.
Mendadak, senyuman yang menghiasi wajahnya lenyap dengan perlahan lahan, diganti dengan wajah yang serius dan tegang, gumamnya.
'Terang terangan wajahnya bercahaya dan merupakan waktu yang amat baik buat dirinya disegala bidang, kenapa mendadak hawa hitam kembali msnyelimuti wajahnya?' Waktu itu Lie Loo jie sambil tertawa gembira menggandeng tangan Liem Tou untuk berjalan mendekat, semua orang dengan ributnya lantas menanyakan sudah terjadi urusan apa ..kenapa mereka harus berbisik bisik?
"Saudara saudara kalian tidak usah bertanya lagi, sampai waktunya kalian bakal tahu dengan sendirinya"
Seru Lie Loo-jie sambil tertawa. Sehabis berkata mendadak dia menuding kearah utara dan sambungnya lagi.
"Tetapi aku boleh beritahu kepada saudara-saudara sekalian asal-usul dari Liem Tou ada kemungkinan kalian belum mengetahui jelas, dia adalah putra dari sute-ku si pancingan sakti, tempo hari karena sute menemui kekalahan di tangan Ke Hong sejak itu dia berdiam di perkampungan Ie Hee Cung di gunung Ha Mo san dan jadi guru ilmu sastera disana. karenanya sejak itu dia sudah menjadi pendaduk diperkampungan Ie Hee Cung, tidak disangka tahun yang lalu dia sudah meninggal, sedang Liem Tou pun diusir turun gunung oleh cungcu tiga tahun kemudian pada bulan Tiong Ciu adalah waktu baginya untuk kembali ke perkampungan, sampai waktunya bagaimana kalau kita memberi selamat kepadanya dengan secawan arak ?*. Semua orang pada berteriak setuju dan berdatangan untuk memberi selamat kepada Liem Tou. Diantara mereka cuma Thiat sie sianseng seorang saja yang tertawa terbahak bahak.
"Haaa haaa hey si cangkul pualam Lie Sang, kau tak usah banyak jual mshal, sie poa rongsokan ini sudah bisa tahu apa yang sedang kau pikirkan pada saat ini, tetapi aku rasa urusan ini tidak bakal dapat selancar yang kau duga, sampai waktunya pasti akan terjadi sesuatu . ."
"Thiat Sie, aku selamanya paling percaya kepadamu, sebenarnya akan terjadi urusan apa ?"
Tanyanya dengnn keras.
Thiat sie sianseng cuma menjulurkan lidahnya dan gelengkan kepalanya berulang kali.
'Nasib .
nasib !
Rahasia langit tak boleh dibocorkan, tetapi aku setuju bila Liem Tou mengunci tangannya pada saat ini untuk menebus dosanya, walaupun didepan mata akan terjadi satu peristiwa seru tetapi cuma agak terkejut tanpa gangguan sedikit apapun.' Selesai berkata mendadak dia menoleh kearah Liem Tou dan teriaknya kembali dengan suara yang keras .
"Liem Tou, kau jangan takut ! Orang budiman tentu akan dilindungi oleh Thian, asal hati lurus segalanya pasti akan berhasil. Baiklah ! Biar besok saja ikut minum arak kegiranganmu. Sekarang kita mohon diri lebih dahulu !"
Selama ini Liem Tou selalu memandang Thiat sie sianseng seperti dewa dan selama ini pula Thiat sie siangseng sebagai seorang cianpwee yang benar benar membekas dihatinya.
Setelah mendengar perkataannya tadi dia mengangguk berulang kali.
Kini mendengar dia orang hendak pergi dia segera merasakan hatinya rada menyesal tidak kuasa lagi dua titik air mata segera mengucur keluar dengan amat derasnya.
"Tunggu dulu!"
Teriaknya mendadak. Dengan cepat dia maju beberapa langkah kaki ke depan dan berlutut di hadapan Thiat Sie sianseng.
"Budi yang cianpwee berikan kepada Liem Tou benar-benar membuat aku merasa berterima kasih sekali, kini boanpwee belum punya suhu, mohon kau orang tua suka menerima diriku sebagai muridmu!"
Tidak kuasa lagi air mata bercucuran dengan derasnya, tetapi dengan kejadian inilah seketika itu juga dapat membuat semua orang yang ada di kalangan jadi melengak dibuatnya.
Lie loojie serta Thiat Sie sianseng sendiripun sama sekali tidak menyangka kalau pemuda tersebut telah bertindak demikian.
Seketika itu juga suasana didalam kalangan jadi sunyi tak kedengaran sedikit suara pun, berpuluh puluh pasang mata dengan tajamnya mempersilahkan diri Liem Tou.
Sedang Liem Tou sendiri dengan tiada hentinya menjalankan penghormatan besar.
Setelah termenung beberapa saat lamanya Lie Loojie-lah yang pertama-tama terbahak-bahak.
"Liem Tou kalau memangnya betul betul berhasrat untuk angkat kau sebagi gurunya, Thiat Sie! kau terimalah sudah ! bukankah dengan demikian kita bakal jadi satu keluarga!"
Selama ini sie-phoa dari Thiat Sie sianseng amatlah cocok dan liehay, tetapi walaupun sudah dipukul pulang pergi amat lama tidak berhasil juga untuk memperoleh jawaban.
Setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya mendadak diapun tertawa terbahak-bahak.
"Haaaa . , . haaaa ... muridku kau bangunlah !"
Liem Tou yang mendengar dia orang sudah menyetujui hatinya jadi amat girang sekali, dengan cepat diapun memberi hormat kepada siucay buntung serta sipengemis pemabok setelah itu baru berjalan dengan perlahan menuju ke puncak, berlutut dan memberi hormat ke atas langit.
"Liem Tou sejak ini mengunci tanganku. kalau tidak mati tidak akan aku gunakan !"
Ujarnya kepada semua orang dengan suara yang amat nyaring. Begitu perkataan tersebut diucapkan keluar mendadak Thiat Sie sianseng berteriak keras.
"Muridku sumpahmu ini terlalu berat !"
Sembari berkata air matanya mulai mengucur keluar dengan amat derasnya.
Melihat kejadian tersebut, semua orarg jadi keheranan dibuatnya, pada saat itulah dengan secara mendadak dari sisi puncak berkelebat datang berpuluh-puluh sosok manusia.
"Liem Tou aku mau lihat kau orang hendak lari kemana lagi"
Bentaknya dengan keras.
Diikuti munculnya berpuiuh puluh orang dari golongan Kiem Tien Pay yang pada mengerumun datang.
Dengan dipimpin oleh "Auw-Hay Ong".
Ciang Cau serta Auw Hay Ong Bo mereka bersama sama mengerubut datang.
Dua orang empat bilah telapak tangan bersama-sama melancarkan serangan dahsyat menghajar Liem Tou yang ada diatas puncak.
Dengan cepat Liem Tou meloncat menyingkir dari tekanan hawa pukulan tersebut, teriaknya .
"Ciang loocianpwee dan Auw Hay Tie Ong, kedatanganmu sudah terlambat, maaf aku Liem Tou tak dapat melayani dirimu lagi karena aku sudah mengunci tanganku dihadapan umum !"
"Liem Tou aku tidak akan perduli kau sudah mengunci tangan atau tidak, ini hari aku harus lenyapkan kemangkelan hatiku"
Seru Ciang Cau sambil membentak dengan suara yang keras.
Sembari berkata telapak tangannya membalik melancarkan satu pukulan dahsyat yang memekikkan telinga sedang Auw Hay Ong Bo melancarkan satu pukulan menghantam dari sisi Liem Tou.
Sekali lagi Liem Tou meloncat mundur sejauh dua kaki lebih.
Saat itulah mendadak terdengar si pengemis pemabok sudah memhentak keras.
"Loo ciang, kenapa kau begitu tidak tahu diri ? Liem Tou sudah mengunci tangannya di hadapan umum seharusnya boleh dikata dia sudah mengundurkan diri dari dunia Kang ouw tetapi kenapa kau masih juga mau pukul dirinya? sekalipun kau Loo ciang berhasil memukul mati Liem Tou apa kau kira wajahmu masih bersinar ?"
Sembari berkata bersama-sama dengan si-pengemis pemabok si siucay buntung serta Thiat sie sianseng bergerak maju kedepan.
"Liem Tou sudah mengunci tangannya dihadapan umum dan kita semua adalah saksinya"
Sahut si pengemis pemabok.
"Siapa saja yang berani melancarkan serangan dengan menggunakan kesempatan sewaktu dia lagi mengunci tangannya kami akan turun tangan membantu dirinya."
Kiem Thien Ong, Ciang Cau yang melihat secara mendadak Tionggoan Sam Koay munculkan dirinya walaupun mengetahui kalau kepandaian silat mereka sangat tinggi dan tidak dapat diganggu geraknya tapi bagaimana mungkin mereka merasa takut kepadanya?
Mendengar perkataan tersebut dia lalu mendengus berat, baru saja hendak menjawab tampaklah Ciat Siauw thaysu telah munculkan dirinya.
"Walaupun pinceng tolol. tapi selamanya tak pernah bicara bohong,"
Ujarnya sambil merangkap tangannya memberi hormat.
"Liem-Tou kini sudah benar benar tutup tangannya, bilamana Ciang sicu punya ganjalan sakit hati apa apa janganlah turun tangan pada saat ini, harap kau orang suka memegang peraturan Bu lim dan bersabar untuk sementara !"
"Ciang sicu kalau bisa berbuat demikian maka rejeki bakal banyak diterima olehmu"
Siauw lim pay merupakan suatu partai dari golongan lurus yang angkat nama bersama-sama dengan Bu-tong-pay, walau pun pada saat ini namanya tidak begitu cemerlang tetapi sebagai ciangbunjien dari Siauw Lim pay dengan kedudukannya yang amat tinggi tidak bisa dipandang begitu saja.
Ditambah lagi hubungan persahabatan antara Siauw Lim pay, Bu tong pay serta Heng san pay sangat erat sekali, bilamana mengharuskan satu memusuhi tiga partai peristiwa ini bukanlah satu persoalan yang mudah untuk diselesaikan.
Auw Hay Ong Bo yang melihat Ciat Siauw Thaysu pun mengajukan diri untuk membela Liem Tou segera merasakan urusan tidaklah semudah apa yang dipikirkan, tidak terasa dia mulai termenung berpikir keras sepasang matanya dibentangkan lebar memperhatikan diri Tionggoan Sam-koay serta Ciat Siauw thaysu empat orang, dalam hati mulai mengambil suatu keputusan.
Kebanyakan urusan akan hancur di tangan perempuan, Auw Hay Ong Bo yang melihat suaminya tidak mengambil tindakan apa apa bahkan hatirya mulai merasa ragu ragu mendadak menghantam toyanya kearah depan dengan sekuat tenaga, teriaknya.
"Eeeeei, dimanakah kegagahanmu tempo hari?"
Tidak perduli segala-galanya lagi, toyanya segera dihantamkan kedepan mengancam Tionggoan Sam Koay serta Ciat siauw thaysu empat orang.
"Yang kami cari adalah Liem Tou. Siapa yang suruh kalian banyak ikut campur dalam urusan ini?"
Makinya dengan gusar.
"Cepat mundurkan diri kebelakang, kalau tidak Loo-nio akan segera hancurkan kalian semua."
Tionggoan Sam Koay, serta Ciat siauw thaysu yang berada dalam keadaan tidak siap sedia mendadak diserang secara serabutan dalam hati jadi terperanjat dengan cepat mereka mengundurkan diri tiga langkah ke belakang dan berdiri tertegun.
"Haa, siapa yang suka menghalangi perbuatanmu ?"
Seru Thiat sie sianseng secara tiba tiba.
'Terus terang saja aku memberitahukan kepada kalian; Liem Tou adalah anak muridku, siapa saja yang berani mengganggu barang seujung rambutnya pun, aku lihat kalian dari pihak Kiem Tien Pay apakah masih bisa banyak bacot lagi !' Auw Hay Ong Bo sudah angkat toyanya keatas, baru saja perkataan Thiat Sie sianseng selesai diucapkan toyanya segera dihantamkan kedepan, bersamaan pula tangan kirinya tanpa membuang waktu sudah melancarkan ilmu jari "Yen Yie Toan Hun Ci' untuk menghajar tubuh Thiat Sie sian seng.
Thiat Sie sianseng sudah lama berkelana didalam dunia kang ouw.
pengetahuannyapun amat luas, bagaimana mungkin tidak mengetahui kelihayan dari ilmu tunggal Kiem Tien Pay ini, tubuhnya segera miring kesamping untuk menghindar.
Tetapi baru saja dia berhasil meloloskan diri dari sambaran toya tersebut totokan jari mendadak datang.
Sie poa ditangannya bagaikan kilat cepatnya disilangkannya didepan dada 'Tak"
Dengan menimbulkan suara yang amat nyaring totckan jari tangan itu sudah terhajar diatas sie poa tersebut sehingga terasalah segulung tenaga tekanan mendorong tubuhnya kebelakang.
Tubuhnya segera tergetar amat keras, dengan cepat dia meloncat kesemping untuk menghindarkan diri.
sedang dalam hati diam diam pikirnya.
"Nenek gila ini sungguh lihay sekali !"
Auw Hay Ong Bo sama sekali tidak mau menggubris keadaan dihadapan matanya dia tetap mengejar kearah Thiat Sie sianseng.
Siucay buntung serta sipengemis pemabok yang ada disamping mana suka melepaskan dia dengan begitu saja, kipas serta toya Tah Kauw Pangnya dengan cepat dihadangkan ke depan.
'Ong Bo kau jangan marah dulu; apakah urusan ini tak dapat dirundingkan kembali?' 'Siapa yang suka berunding dengan kalian?' teriak Auw Hay Ong Bo sambil melototkan matanya lebar lebar.
"Puteriku menemui ajalnya ditangan Liem Tou, apa kalian kira setelah dia mengunci tangannya lalu urusan bisa dibereskan dengan begitu saja ? Hmm! Urusan didalam dunia ini tiada yang bisa diselesaikan dengan begitu mudahnya !"
Toya berkepala naganya ssgera diangkat siap siap dihantamkan kembali kedepan.
Loojie dari Heng San Jie Yu yang sifatnya paling berangasan, sejak semula sudah merasa tidak puas atas tindakan Auw Hay Ong Bo yang sama sekali tidak pakai aturan itu, tidak kuasa lagi mendadak teriaknya keras.
"Saudara saudara dari Bu tong pay, ayoh serbu ! ini hari kita harus membasmi habis para bajingan dari partai Kiem Tien pay yang tidak pakai aturan dan merupakan manusia-manusia kasar ini mari kita hancurkan mereka dan lihat apakah mereka bisa melakukan perbuatan jahat lagi."
Setelah mendengar suara teriakan tersebut, maka seluruh kalangan jadi gempar, para toosu dari Bu tong pay benar-benar mendengar perkataan dan mulai menyebar membentuk barisan Ngo heng Pek Lo tin dan mengurung rapat-rapat kesepuluh orang dari partai Kiem Tien Pay.
Orang dari pihak Kiem Ten Pay sendiri pun sama sekali tidak menyangka kalau orang yang ditemuinya di puncak pertama gunung Cing shia semuanya pada membela Liem Tou bahkan situasi berubah dengan demikian cepatnya ditambah pula beberapa orang pentolannya bukan lain adalah jago-jago berkepandaian tinggi yang sudah terkenal didalam dunia kangouw, bilamana sungguh-sungguh bertempur ada kemungkinan mereka bakal mendapat kerugian yang amat besar.
Orang-orang dari golongan Kiem Tien Pay dengan rasa amat terperanjat dan rasa tegang pada memandang kearah tengah kalangan, sedang Auw Hay Ong Bo sendiri pun mengetahui keadaan yang dihadapinya saat ini sangat tidak menguntungkan dirinya.
Demi keselamatan dari orang-orangnya bagai ayam jago yang kalah bertanding dengan lemasnya dia turunkan kembali tongkatnya kebawah, sepasang matanya dengan tidak hentinya memperlihatkan keadaan disekeliling tempat itu.
Kiem Tien Auw Hay Ong, itu Ciang Cau pun jadi rada kebingungan menghadapi situasi seperti ini, saat inilah terlihat olehnya Lie-Loo jie dengan diapit oleh Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing sudah maju kedepan sambil tertawa gembira.
"Loo Ciang, aku lihat didalam urusan ini lebih baik sudahlah"
Katanya.
"Bilamana pada mulanya puteri kesayanganmu itu tidak terlalu memaksa Liem Tou dia pun tidak sampai membinasakan puterimu, apalagi Liem Tou pun tidak terlalu jelek hubungannya dengan kau orang serta partay Kiem Tien Pay, coba kau pikirlah. sewaktu pertempuran si luar kota Tang Yang tempo hari apakah Liem Tou melukai orang orangmu ? waktu itu aku bisa melihat seluruh kejadian itu dengan amat jelas sekali.' Berbicara sampai disini mendadak dia berhenti dan tidak dilanjutkan kembali. Auw Hay Ong Ciang Cau, merasa pikirannya menjadi sedikit terang, dia tahu kepandaian silat yang dimilikinya amat jauh berbeda dengan kepandaian silat yang dimiliki Liem Tou. wajahnya tidak terasa menjadi panas, lama sekali dia tidak mengucapkan sepatah katapun.
"Tia, dimana engkoh Liem ?"
Tiba tiba terdengar si gadis cantik pengangon kambing menyela.
Beberapa perkataan itu segera dapat didengar oleh Auw Hay Ong suami isteri serta Tionggoan Sam Koay.
mereka bersama sama menoleh kebelakang.
Tetapi bayangan tubuh dari Liem Tou sudah lenyap tak berbekas.
entah sejak kapan dia telah meninggalksn tempat itu.
Semua orang tanpa terasa lagi pada saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun, diam diam mereka merasa amat menyesal.
Tetapi pada saat itu pula terdengarlah dari kejauhan berkumandang datang suara dengusan kerbau.
'Aaah, kerbau dari engkoh Liem !"
Teriak sigadis cantik pengangon kambing lagi tak terasa, Hanya didalaam sekejap saja Liem Tou dengan menunggang diatas kerbaunya sudah munculkan dirinya diatas puncak kedua gunung Cing Shia.
dari tempat kejauhan dia menggoyang goyangkan tangannya.
Kepada Thiat Sie sianseng Lie Loo jie, Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing.
"Harap kalian suka jaga diri baik-baik, aku pergi dulu."
Terdengar suara dari Liem Tou berkumandang datang, Diikuti suara dengusan kerbaunya yang amat keras.
hanya didalam sekejap saja dia sudah lenyap tak berbekas, Gunung Heng-san bernama Lam Gak letaknya disebelah barat Siang Kang yang berhubungan dengan bagian tengah dari Auw Lam-Ketujuh puluh dua puncaknya berdiri dengan gagahnya memanjang dari kota Tiang Sah hingga ke kota Heng Yang.
Pemandangan diatas gunung Heng san amat terkenal dan sebagai tempat pemandangan ketiga ysng paling indah diatasnya ada air terjun Pek Liong Than yang memancarkan airnya dengan amat deras, disamping itu terdapat pula tempat terkenal seperti Hok Yen Si, Hauw Pauw Sian, perpustakaan Jip Hauw Su Yuan.
Mo Cing Thay, Pan San Ting, kuil Sian Tok Koan, tebing Si Ci Yen, pintu Lam Thian Boen dan tempat tempat lain yang indah.
Kesemuanya ini hanya pancak Coe Yong-Hong yang paling curam dan berbahaya, bilamana berdiri diatas puncak tersebut maka seluruh pemandangan disekeliling tempat itu bisa kelihatan dengan amat jelas.
Gunung Heng san penuh diliputi oleh hutan belantara yang amat lebat disamping tebing-tebing yang curam dengan batu-batu cadas yang tajam, diatas puncak yang penuh di liputi dengan rumput putih dengan batu cadas yang tajam tampaklah sesosok bayangan manusia berjalan kedepan dengan langkah perlahan disusul dengan seekor kerbau yang amat kuat, orang itu sudah tentu Liem Tou adanya.
Sejak Liem Tou meninggalkan gunung Cing shia dan keluar dari daerah Chuan Tiong masuk Siang Hoay, selama didalam perjalanan tidak pernah membuang waktu lagi, dia terus melanjutkan perjalanannya ke gunung Heng san.
Dia sudah ada sstu bulan lamanva berada diaras gunung Heng san dan mrnjajaki kurang lebih dua ratus lie jauhnya di sekeliling gunung tersebut tetapi bayangan dari orang tua berambut putih itu msih tidak ketemu.
Selama sebulan ini dia merasa badannya sudah amat lelah, untung saja diatas gunung Heng san itu banyak terdapat kuil kuil apalagi ada pula kerbaunya yang bisa ditunggangi, kalau tidak ada kemungkinan walaupun dia memiliki kepandaian silat yang amat tinggi juga tidak bakal kuat untuk menahannya.
Saat ini dibawah sorotan sinar rembulan yang remang dia berjalan mengikuti tebing tebing yang curam.
setapak demi setapak dia maju terus kedepan sedang dalam hati tiada hentinya menghibur dirinya.
"Luas gunung Heng-sa tidak lebih Cuma dua ratus lie saja kecuali dia tidak punya maksud untuk bertemu muka dengan diriku, kalau tidak aku pasti bisa menemukan dirinya."
Sembari berpikir dia maju terus kearah depan.
Tetapi dia sama sekali tidak tahu kalau di belakang tubuhnya pada sat ini sudah mengikuti terus dua ekor gorilla yang amat besar sekali seperti manusia.
Kelihatannnya kedua ekor gorilla itu sangat cantik sekali, gerak-geriknya amat lincah dan membuntuti sang pemuda itu dengan amat berhati-hati.
Karena itulah selama ini Liem Tou sama sekali tidak merasakan akan bahaya tersebut, dia melanjutkan perjalanannya kedepan.
Sedangkan kedua ekor gorilla itupun agaknya tidak bermaksud untuk mencelakai diri Liem Tou tetapi mereka mengikuti terus tiada hentinya.
Liem Tou yang pikirannya cuma mengetahui untuk mendapatkan kakek berambut putih diatas gunung Heng san sama sekali tidak pernah memikirkan akan hal ini, walaupun kini Liem Tou sudah mengunci tangannya tetapi terhadap binatang yang biasa dia masih bisa menghadapinya.
Setelah berjalan kembali beberapa saat lamanya mendadak dihadapannya muncul sebuah lembah yang tidak begitu dalam, didalam lembah itu tumbuhlah berbigai bunga serta dedaunan yang segar dan indah.
Walaupun saat ini Liem Tou masih agak jauh dari lembah tersebut tetapi bau harum bunga sudah terasa amat menusuk hidung membuat semangatnya jadi berkobar kembali, sambil memandang kelembah itu dengan terpesona dalam hati dia menghela napas tiada hentinya "Aaah.
lembah ini sungguh indah sekali laksana di sorga, aku Liem Tou bilamana bisa berada disini sekalipun mati juga tak akan menyesal."
Tidak terasa lagi dia sudah berdiri termangu-mangu memandang lembah tersebut dengan terpesona, sedang sang kerbau sewaktu dilihatnya didalam lembah itu tersebar rerumputan demikian segarnya tak terasa mulai mendegus perlahan.
Sewaktu Liem Tou lagi memandaag ke arah lembah dengan terpesona itulah mendadak tampak serentetan sinar keperak perakan ber kelebat keluar dari dalam lembah disusul sebuah benda yang amat panjang menerjang datang.
Liem Tou jadi sangat terperanjat, dia tahu benda itu pastilah seekor ular yang berwarna keperak perakan dan sangat berbisa tidak terasa lagi seluruh perhatiannya ssgera di pusatkan menjaga terjadinya sesuatu.
'Gien jie, jangan pergi!"
Secara samar samar terdengar suara yang amat merdu berkumandang datang.
Ular itu baru saja meluncur separuh jalan mendadak putar kepala dan laksana kilat yang menyambar berkelebat kembali ketempat semula, Saat itulah Liem Tou baru tahu kalau didalam lembah tersebut bukan saja ada penghuninya bahkan memelihara juga seekor ular besar yang berwarna keperak perakan.
Tidak terasa Liem Ton semakin dibuat tertegun lagi oleh kejadian tersebut.
Pada saat Liem Tou lagi berdiri termangu mangu itulah mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara seorang perempuan yang lagi membentak nyaring.
"Lelaki liar dari mana yang sudah datang kemari ? berani mencari gara gara kedalam lembah mati hidup ini?"
Sewaktu Liem Tou dapat mendengar didalam lembah gunung laksana sorga ini ternyata ada seorang gadis bahkan nama lembah itupun belum pernah terdengar dia jadi termangu-mangu.
Dengan cepat dia menoleh kebelakang dan disekelilingnya tetapi tak tampak sesosok bayangan manusiapun tidak kuasa lagi dia sudah bergumam seorang diri.
"Apanah aku benar benar sudah menemui setan?"
"Siapa yang setan? kau baru benar-benar setan!"
Teriak orang itu lagi dari belakang tubuhnya Dari nada suaranya yang polos dan lucu jelas menunjukkan kalau orang itu adalah seorang bocah perempuan yang masih muda.
Liem Tou merasa semakin terperanjat lagi, pikirnya.
"Jika didengar dari nada suaranya sudah jelas dia seorang bocah perempuan yang masih kekanak kanakan, tetapi bagaimana bisa memperoleh kepandaian silat yang begitu lihai? kenapa sampai bayangan tubuhnya pun sama sekali tidak kelihatan?"
Pikirannya dengan cepat berputar, dengan cepat dia menoleh kebelakang.
Tetapi kembali terdengar suara cekikikan sedang bayangannya lenyap kembali tak berbekas.
Tidak terasa hatinya merasa rada kheki juga, bentaknya.
"Kalau memangnya kau bukan orang setan kenapa tidak suka unjukkan diri untuk bertemu?"
"Hii-.. hii.. hii. .. kau sendiri yang tak dapat melihat diriku, sekarang harus mau salahkan siapa lagi ?"
Sahut orang itu sambil tertawa cekikikan.
Mendadak terasa bayangan hijau berkelebat mendatangi dihadapannya sudah berdiri seorang gadis berbaju hijau yang baru berusia enam tujuh belas tahunan.
wajah gadis itu amat cantik dan menawan hati.
dengan sikap setengah tertawa setengah tidak terutama sepasang matanya yang bulat besar memandang kearah Liem Tou tak berkedip, Tidak terasa lagi Liem Tou merasa hatinya rada tergetar, pikirnya .
Jilid 34 . Di dalam lembah Nona ini sangat menawan hati tetapi bagaimana mungkin bisa berdiam seorang diri di tengah lembah yang amat sunyi ini??"
Berpikir akan hal itu dia lantas tersenyum.
"Cayhe Liem Tou sedang lewat di gunung ini harap nona suka memberi petunjuk yang berguna"
Katanya. Gadis yang ada dihadapannya segera tertawa cekikikan sambungnya dengan cepat.
"Lembah mati hidupku ini selamanya belum pernah kedatangan orang asing, kau mau pergi kemana? ada urusan apa datang kemna? bilamana bukannya aku mencegah dengan cepat ada kemungkinan kau sudah ditelan oleh Gien jie!' Mendengar perkataan tersebut Liem Tou segera menjulurkan lidahnya memperlihatkan rasa ketakutan. Yang nona maksudkan apakah ular yang memancarkan sinur keperak perakan tersebut?"
Tanyanya.
Dengan perlahan gadis itu mengangguk, Pikiran Liem Tou dengan cepat berputar, mendadak dia mundur satu langkah kebelakang dan sengaja memperlihatkan rasa ketakutan, 'Nona memelihara seekor ular yang demikian besar dan tinggal dil embah mati hidup ini.
apakah kau ingin menghadang diriku untuk merampok harta kekayaanku ?
cayhe adalah seorang sastrawan yang miskin, harap nona suka melepaskan satu jalan hidup buat diriku."
Sehabis berkata kembali dia menjura memberi hormat. Sewaktu nona itu mendengar Liem Tou minta ampun kepadanya dia lantas tertawa cekikikan, jawabnya.
"Tidak mungkin walaupun gien jie itu kelihatannya amat galak tetapi selamanya belum pernah makan orang dia sudahh berjaga selama ratusan tahun lamanya dikelilingi rumput mati bidup itu selamanya belum pernah meninggalkan lembah ini"
Liem Tou cuma memandangi dirinya tanpa menjawab, mendadak gadis itu menghentikan perkataannya sedang sang mata dengan liar nya menyapu dirinya sekejap.
"Baiklah !' ujarnya kemudian.
"Kau adalah orang asing pertama yang mendatangi lembah ini maka aku akan anggap kau sebagai tetamu dan memberi keistimewaan kepadamu untuk beristirahat di daiam lembah, tetapi besok pagi kau harus berangkat, mau tidak? Liem Tou berpikir sebentar, dia merasa tidak urung hari ini tidak berhasil menemukan si kakek tna berambut putih itu, dia lantas mengangguk dan mengikuti gadis itu masuk kedalam lembah, Sttelah berjalan beberapa saat lamanya, mendadak Liem Tou teringat kembali kalau kerbaunya masih ada didepan, diapun merasa tidak erak untuk membawanya serta tanpa seijin gadis tersebut, teriaknya kemudian. 'Nona mengijinkan aku untuk beristirahat disini cayhe merasa sangat berterima kasih sekali, tetapi bolehkah kerbauku ini dibawa serta masuk ke dalam ?"
"Binatang tak berpikir. tidak boleh ! bilamana kau berani membawanya masuk aku akan segera perintahkan Gien jie untuk menggigitnya"
Liem Tou tidak dapat berbuat apa apa, terpaksa dia meninggakan kerbaunya di luar lembah dan memesannya beberapa kata.
Setelah itu dia baru meloncat turun ke bawah lembah, setelab melewati suatu tanah rerumput yang tebal sampailah dia orang di sebuah kebun bunga yang lebat.
dengan langkah yang perlahan dia melanjutkan perja anannya ke depan.
Sang gadis dengan memimpin Liem Tou berjalan masuk ke dalam kebun bunga itu dan berjalan putar balik tidak menentu.
Lama kelamaan Liem Tou merasa juga kalau keadaan agak aneh, dia tahu bunga banga itu pisti bukanlah tumbuh dengan sendirinya tetapi diatur sesuai dengan barisan Kioe Koa Pat Kwa yang amat aneh sakali.
Gadis itu tidaK mengucap sepatah katapun.
dia membawa dia orang jalan berputar putar sebentar mundur atau ke kiri atau kekanan, sedang Liem Tou sambil mengingat ingat barisan tersebut mengikuti terus dari belakangnya.
Liem Tou pernah mempelajari barisan Kioe Kong Pat Kwa dari kitab pusaka Toa Loo Cin Keng.
tetapi saat ini semakin berjalan dia merasa hatinya semakin terperanjat karena barisan tersebut dia sama sckali tidak mengerti, dia cuma bisa mengingat, ingatannya dengan paksa tetapi dengan demikian pula rasa terkejutnya terhadap gadis itu semakin terjadi.
Pikirnya;
"Sewaktu bertemu muka tadi jelas ilmu me ringankan tubuhnya jauh lebih tinggi satu tingkat dari diriku ditambah lagi barisan yang aneh dan sukar untuk dipecahkan ini bilamana dia sengaja mengaturnya buat diriku maka aku tak akan berkutik lagi."
Berpikir sampai disini diam diam Liem Tou menghela napas panjang dan sambungnya lagi.
"Heai'.,. perduli bagaimanapun akn sudah mencuci tangan dan bukan manusia dunia kang ouw lagi. walaupun kepandaian silat dari gadis ini amat tinggi asalkan aku tidak bergerak melawan dirinya bukankah urusan sudah jadi beres??' Bilamana dia tidak berpikir masih tidak mengapa, setelah berpikir akan hal itu hatinya jadi semakin bingung jalan yang diingatnya tadipun kini sudah terlupakan sama sekali. Tetapi dia masih bisa tersabar diri.
"Nona!' tanyanya "Kenapa kita harus berputar putar terus di dalam kebun ini apakah rumahmu masih jauh ?"
Mendengar perkataan tersebut gadis itu segera tersenyum.
Baru berjalan beberapa langkah apakah kau sudah merasa lelah maka tetus terang saja aku beri tahu kepadamu, perjalanan masih belum ditempub separuhnya kebetulan sekali ini hari kau bisa nenerjang kemari, bilamana di dalam waktu biasanya pemandangan di daiam lembah ini tidak bakal bisa terlihat jelas."
Bunga rumput pohon dan kayu bisa dipan ang dan diraba kenapa bisa tidak kelihatan apakah kau benar adalah setan dan tempat ini adalah dunia halus?"
Gadis itu segera menghentikan langkahnya dan putar hadan 'Kau jangan bicara sembarangan lagi". bentaknya keras. Bilamana aku adalah setan maka kau tidak bakal bisa hidup sampai sekarang ."
Liem Tou cuma bisa menjulurkan lidahnya dan menjadi tenang kambali.
dia kembali ikut berputar dan berjalan beberapa lama.
Mendadak dihadapannya muncullah seekor ular raksasa yang berwarna merah dengan tubuh sebesar gentong air elihatannya sangat menyeramkan sekali.
Tidak terasa Liem Tou merasa rada cemas dia pura pura memperlibatkan rasa terperanjatnya yang bukan alang kepalang.
Gadis itu ketika melihat Liem Tou tidak berani ikut maju ke depan lantas menggoda.
"Kau takut yaaa ? tadi aku sudah bilangkan kalau gien jie tidak bakai melukai orang sebelum dapat perintahku."
Liem Tou yang didalam hati bermaksud untuk memancing lebih jelas lagi akan persoalan tersebut segera ujarnya.
'Keadaan amat menyeramkan dan membuat orang jadi merasa takut.
sebenarnya daun merah yang dijaga olehnya itu barang pusaka apa?"
Bilamana membicarakan soal dedaun merah itu kau janganlah lerlalu pandang remeh barang itu, dedaun itu bernama rumput mati dan hidup, dan nama dari lembah mati hidup inipun timbul karena daun tersebut.
Walaupun daunnya kecil tetapi bilamana dimakan oleh orang yang berlatih ilmu silat maka sama saja dengan mendapat tambahan sepuluh tahun latihan, setiap orang yang makan dedaunan ini pasti akan mati satu kali bilamana orang yang bisa makan maka dia akan mati selama satu tahun lamanya; sebaliknya bilamana yang makan daun itu adalah seorang yang memiliki tenaga dalam maka selama tiga lima hari atau satu bulan dia akan mati hal ini tergantung bagaimana dahsyatnya tenaga dalam yang dimiliki.
Mendengar sampai disitu tidak tertahan lagi Liem Tou segera menjerit kaget tetapi dalim hati dia merasa setengah percaya setengah tidak dia tidak percaya kalau didalam kolong langit benar benar ada semacam rumput mati hidup yang bisa mematikan manusia untuk sementara waktu.
'Perkataan dari nona ini cayhe merasa rada tidak percaya"
Seruaya keheranan.
"Bilamana seorang manusia makan ratusan lembar daun utu bukankah dia akan sadar kembali setelah ratusan tahun kemudian? "
Betul perkataanmu benar sekali! teriak gadis itu dan sangat kegirangan.
"Memang begitu adanya bahkan akupun pernab makan seratus."
Tetapi baru saja berbicara sampai kata kata seratus mendadak dia menutup mulutnya tak berbicara. Dengan rasa tertegun Liem Tou memandang dirinya lalu gumamnya seorang diri .
"Kalau bagitu apakah nona sudah berusia di atas seratus tahun ?"
Mendengar perkataan itu air muka gadis tersebut segera berubah jadi merah padam. 'Sesukamu mau bicara bagaimana poyoknya aku belum sampai berubah jadi seorang nenek tua yang sudah reyot"
Bentaknya.
Sambil berkata dia lantas memetik beberapa lembar daun mati hidup dan diserahkan kepada Liem Tou Aku seoraru diri hidup di lembah ini.
setiap hari kecuali bermain denga gien jie paling banter duduk bersemedi, sedang supek sendiripun setiap tahun cuma datang satu kali aku benar benar merasa rada kesepian.
ini hari kau suka datang hatiku merasa amat girang, beberapa lembar daun ini aku hadiahkan kepadamu".
Liem Tou segera menerima daun itu dan langsung dimasukkan Ke dalam mulutnya.
"Eei --eei tak bisa jadi, tak bisa jadi"
Teriak gadis itu dengan terperanjat.
"Kalau mati yaa mati, tapi jangan mati disini, bila mana kau ada disini bagaimana dengan mayatmu ?' 'Nona harap berlega hati' ujar Liem Tou sambil tertawa.
""Bilamana aku sungguh sungguh mau mati juga tak akan mati ditengah gunung yang begitu sunyi sehingga jadi setan gentayangan, kau tak usah berteriak aku sendiri juga tak akan melakukannya,"
"Aku masih mengira kau adalah seorang yang jujur"ujar gadis itu lagi sambil tertawa.
"Tak disangka kau pun sama sekali tak jujur."
Liem Tou lantas menyimpan beberapa lembar daun itu ke dalam sakunya lalu mengikuti gadis itu masuk kedalam lembah tersebut.
Terlihatlah di tiga bagian tempat itu ditutupi dengan dinding batu yang tigginya ada beberapa kaki, sedang dinding sebelah kiri terukir empat kata .
"Daripada hidup lehih baik mati."
Di atas kata kata "Mati"
Tertancaplah sebilab pedang kuno yang menembus ke dalam batu itu sehingga tinggal gagangnya saja yang tertinggal di luar.
Liem Tou merasa keberanan.
barusaja dia bermaksud untuk menanyakannya gadis tersebut sudah meloncat ke tengah batu itu dan mengangkat sebuah batu yang amat besar "Tamu terbormat, silahkan masuk !"
Teriaknya sambil menggape.
Belum sempat Liem Ton memberi jawaban dia sudah masuk terlebih dulu ke dalam.
terpaksa Liem Tou pun ikut masuk ke dalam.
Tampak ruangsn dinding di dalam gua tersebut amat besar.
kursi maupun meja terbuat dari batu tersebar di tempat itu.
Gadis itu lantas menuding kes ebuah kursi batu dan persilahkan Liem Tou untuk duduk disana.
sedang dia sendiri dengan gesitnya menekan sebuah tombol membuka sebuah pinty dan berjalan masuk ke dalam.
Tidak sedang lama kemudian dia sudah keluar dengan membawa buah buahan segar.
Melihat akan hal itu Liem Tou jadi keheranan, dalam hati pikirnya diam diam .
"Aku disebabkan hendak mencari si kakek berambut putih itu sudah memasuki tempat tinggalny. gadis ini aku tidak tahu siapakah namanya dan bagaimana dahsyat kepandaian silatnya, aku hsrus baik baik menyelidiki dia orang dan mencari tahu bagaimana keadaannya."
Baru saja dia berpikir sampai disitu dan hendak mengucapkan sesuatu mendadak gadis tersebut sudah mengerutkan wajahnya, dengan pandangsn yang amat tajam dan dingin dia pandang wajah Liem Tou tak berkedip.
"Siapakah namamu aku sudah tabu bahkan akupun mengetahui kalau kau memiliki kepandiaian silat yang amat tinggi. Sekarang aku mau tanya padamu, sebetulnya karena urusn apa, kau telah berani mendatangi gunung Hong san ini ? Bilamana kau berani berbohong, hmmm hmm! Jangan harap kau orang bisa lolos dari lembah ini."
Liem Tou yang melihat dia orang berubah seratus delapan puluh derajat hatinya merasa rada berdesir. Diam diam lantas pikirnya di hati .
"Ini hari aku benar benar sudah bertemu dengan setan."
Tetapi dia bernyali besar dan berkepandaian tinggi, Walaupun menhadapi peristiwa itu, hatinya masih tetap tenang tenang saja "Nona harap kau jangan menaruh banyak curiga"
Ujarnya sambil tertawa.
Aku Liem Tou benar benar lewat di tempat ini dan bertemu secara kebetulan saja, sedang mengenai ilmu silat cayhe cuma pernah berlatih beberapa hari saja, tetapi sekarang aku sudah mengunci tanganku keadaanku mirip seperti orang biasa."
Sepasang mata gadis itu dengan amat dunginuya memandang tajam wajahnya lalu mendengus dengan amat dinginnya.
"Kau sungguh sungpuh tidak suka berbicara baikla. aku mau memperlihatkan semacam barang keppdamu."
Sembari berkata dengan perlahan dia menekan sebuah botol di dinding sebelah kanan dengan perlahan dinding tersebut membuka sebingga terlihatlah pemandangan didalamnya, Pemuda itu hanya merasakan hatinya berdesir bulu kuduk pada berdiri mendadak dia bangkit berdiri sedang tenaga dalamnya disalurkan ke seluruh tubuh siap siap meng-hadapi segala kemungkinan.
Kiranya dibalik pintu itu adalah sebuah ruagan batu yang tidak begitu luas tetapi saat ini sudab dipenuhi dengan kerangka manusia bahkan kerangka itu ada suatu keistimewaannya yaitu disetiap batok kepalanya terteralah lima buah lubang.
Sekali pandang saja Liem Tou sudah dapat melihat kalau orang orang itu mati karena terkena cengkeraman yang mematikan.
Gadis itu sewaktu melihat sikpp Liem Tou.
yang merasa tegang pada wajahnya segera terlihat satu senyuman yang sangat dingin.
"Kau sudah melihat jelas barang barang itu, lebih baik mengaku terus terang"
"Kalau begitu aku beritahukan kepadanya saja urussn ini tak ada hubungannya maupun sangkut paut dengan dirinya,"
Demikian pikir Liem Tou dihati. Karenanya dia lantas menjawab .
"Aku mendatangi gunung Hing san adalah hendak mencari seseorang ... Siapa tahu sewaktu dia hendak mengatakan tentang si kakek berambut putih itu mendadadak terdengarlah suara dengusan kerbaunya berkumandang datang disusul dua suara aneh yang menusuk telinga mengiringinya . Air muka cadis itu rada jadi melengak teriaknya.
"Kau jangan bergerak dari sini, kerbaumu ada urusan biarlah aku pergi melihatnya sebentar"
Sehabis berkata tampak bayangan hijau berkelebat keluar dari dalam ruangan batu itu.
Siat itu suara mendengus kerbaunya semakin lama semakin keras sampai akhirnya hanya terdengar suara pekikan yang mengerikan.
Dengan adanya suara itu Liem Tou tidak dapat menahan sabar lagi, ujung kakinya segera menutul permukaan tanah lalu meluncur keluar dari ruangan dan menerjang ke antara pepohonan .
Tetapi pada saat yang bersamaan pula tampak sinar keperak perakan berkelebat ular bear berwarna keperak perakan itu sudah menghalangi perjalanannya.
Dalam hati Liem Tou tahu kalau ular ini sangat pandai sekali, dengan cepat dia menjura ke arahnya.
'Gien jie .
silahkan mundur kerbauku mendapatkan susah, aku mau pergi menolong dirinya.
Ular berwarna keperak perakan itu masih tetap melingkar dihadapannya tanpa bergerak, cuma sepasang matanya yang besar berwarna kehijauan dengan tajamnya memperhatikan diri Liem Tou, Saat ini kerbaunya berteriak semakin keras lagi babkan kedengarannya berada dalnm keadaan ysng amat berbahaya, Liem Tou merasakan batinya berdebar amat keras, dengan cepat serunya kembali .
Gien jie cepat Kau menyiagkirlah kerbauku sudah terjadi peristiwa, teus terang aku beritahukan kepadamu aku tak dapat menahan sabar lagi."
Ular yang berwarna keperak perakan itu masih teiap bergoyang kekanan dan kekiri tiada hentinya. Liem Tou merasa hatinya semakin khe ki bentaknya kemudian.
"Gien jie cepat memberi jalan, kalau tidak aku tidak akan membuat sungkan sungkan lagi terhadap dirimu. Walaupun aku sudah mengunci tangapku, tetapi di daiam ilmu meringankan tubuh masih bisa digunakan. aku tidak akan takut kepadamu."
Selesai berkata Liem Ton segera meloncat ke atas setinggi lima enam kaki ingin melompati ular tersebut, tetapi gerakan dari ular itu amat cepat laksana kilat, mendadak dia meluruskan tubuhnya ke atas schingga tergantung ditengah jalan dan tepat menghalaagi perjalanan dari Liem Tou, Liem Tou ingin sekali menghajar ular itu dengan menggunakan ilmu telapaknya tetapi dia sudah mengunci tangannya bila berbuat demikian bukankah sama saja melanggar perkataan sendiri ?
Didaiam keadaan yang kepepet terpaksa dia meloncat turun kembali ke tempat semula sedang ular itupun lantas melingkat kembali seperti keadaan semula.
Semakin dipikir Liem Tou merasakan hatinya semangkin panas, batinnya.
'Ini hari tidak nyana aku bisa dihalangioleh seekor ular dan sama sekali tidak punya cara untuk menghindarinya.
bilamana bukannya aku mengunci tangan terlebih dahulu sejak tadi sudah kuhancurkan ular terkutuk ini."
Pada saat itulah dalam hati Liem Ton rada sedikit bergerak, meadadak dia teringat kembali akan pedang yang tertancap di atas dinding sebelah kiri itu, kenapa tidak segera mengambil pedang itu dan digunakan untuk menakut nakuti dirinya lalu dengan mengambil kesempatan itu keluar dari lembah ?
Berpikir sampai disitu dia tiba tiba meloncat ke depan siap-siap mencabut ke luar pedang itu waktu itulah mendadak tampak bayangan hijau berkelebat, gadis itu sudah balik kembali ketempat tersebut.
"Gien jie cepat menyingir ?"
Bentaknya keras "Liem Tou? kiranya kau hendak mencari supekku. kini dia sudah datang dan kau boleh bertemu muka dengan dirinya".
"Siapakah supekmu ?* tanya Liem Tou kebingugan setelab lama dia berdiri tertegun Sudah tentu Oei Tiap supek, kecuali dia ada siapa lagi ? jawab sang gadis dengan lincahnya. Baru saja dia selesai berkata dari antara pepobonan munculnya seorang kakek tua berambut putih, begitu bertemu dengan Liem Lou dia lastas tertawa terbabak bajak. 'Haa ---Ha ahli -waris dari Thio Too Long apa kabar selama perpisahan ini? Liem Tou sewaktu melihat orang itu bukan lain adalah si orang tua berambut putih yang dicarinya kesana kemari tak menentu hatinya merasa sangat girang, mendadak dia jatuhkan diri berlutut di atas tanah dan menjalankan pengormatan besar. 'Heng san cianpwee !' ujarnya. 'Berkat perkataan dari cianpwee aku Liem Tou jadi sadar kembali dan mengetahui kalau dosaku amat berat. pada sebulan yang aiu di atas gunung Cing Shia di depan umum sudah mengunci tanganku dan angkat sumpah berat untuk melakukan perjalanan jauh datang ke gunung Heng san mencari cianpwee dan minta maaf atas segala perbuatan yang telah aku lakukan. Masih mendingan kalau siorang tua beram but putih itu tidak mendengar perkataan itu, setelah mendengar perkataan itu dia jadi amat gusar, ujung jubahnya dikebutkan kedepan Segulung angin pukulan yang amat dahsyat dengan cepatnya menyembur dari samping tubuh sang pemuda. Lien. Ton yang sudah punya maksud untuk tidak melawan begitu angin pukulan tersebuf melanda datang, tubuhnya segera terhantam jatuh dan berjumpalitan diatas tanah.
"Liem Tou cepat kau menggelinding pergi dari sini, kau jangan bertemn muka lagi di sini, aku tidak akan menerima caramu yang sangat luar biasa itu. bentak si orang tua berambut putih dengin kasarnya.
"Tahukah kau Oey Poh si bocah cilik itu dikarenakan hendak mencari si orang tua telah berlari ke seluruh gunurg Heng san dan kini terjatuh ke dalam jurang sebuah tulang kakinya telah patah? L'em Tou yang mendengar perkataan ini segera merasakan telinganya jadi mendengung dan hatinyapun ikut merasa kuatir atas keselamatsn dari Oey Poh, tetapi dia masih tetap memohon .
"Cianpwee, kedatangan boanpwee kali ini benar benar timbul dari dasar lubuk batiku, cianpwee suka memaafkan dosa dosaku "
Si orane tua berambut putih itu tetap marah marah tetapi tak sepatah katapun yang dicapkan keluar, mendadak tangannya diulapkan ke depan dari gerombolan perpohonan segera bergema datang suara yang amat menyeramkan dan mendirikan bulu kuduk.
Dari antara gerombolan pepohonan muncullah dua ekor gorilla berwarna kuning yang amat besar, sambil pentangkan mulutnya lebar lebar kedua ekor binatang itu lantas berjalan mendekati diri Liem Tou.
Melihat hal tersebut Liem Tou jadi amat terperanjat dengan pandangan yang amat tajam diapun lantas memperhatikan kedua ekor binatang buas tersebut.
Kedua ekor gorilla itu sambil menggerak gerakkan tangannya mendesak semakin mendekat sedang Liem Tou selangkah demi selangkah mundur ke belakang.
Mendadak kera raksasa yang ada disebelah kiri menjerit lalu bagaikan sambaran angin saja menyambar dada Liem Tou.
Dengan cepat Liem Tou tundukkan badannya untuk menghindar, siapa tahu kera raksasa itu amat cerdik dadanya ditekuk kedepan kakinya menyapu membuat sang pemuda jatuh terpukul rubuh ke atas tanah.
Begitu tubuh Liem Tou jatuh ke atas tanah si kera raksasa itu pun lantas berhenti menyerang dan berdiri disamping sambil bertepuk tangan kegirangan.
Liem Tou dengan rasa amat malu merangkak bangun dia tahu kedua ekor kera raksasa ini sengaja mendapat perintah untuk mengganggu dirinya.
karena itu dengan cepat dia maju ke depan menjura kepada si orang tua berambut putih itu.
"Kedatangan dari boanpwee kali ini adalah benar benar timbul dari dasar hatiku, harap cianpwee suka memaafkan perbuatanku dan mengampuni dosa dosa diri Liem Tou!"
Si orang tua berambut patih itu tetap tak memandang sekejap pun terhadap diri sang pemuda.
Pada saat itu mendadak kaki kanannya mengencang dengan tanpa mengeluarkan sedikit suara pun dia sudah kena diangkat oleh kera raksasa itu dan dibanting ke atas tanah.
Liem Tou tak kuat menahan bantingan tersebut seketika itu juga tubuhnya terlempar sejaub dua kaki dan mendekam di atas tanah dengan kepala pening dan dada turun naik tak menentu.
Tetapi Liem Tou tetap bersabar, dia kembali merangkak bangun dan ujarnya kepada si orang tua berambut putih itu.
"Kalau memangnya cianpwee tidak bermaksud untuk memaafkan dosaku, kenapa sudah menyuruh binatang binatang berbulu itu untuk mempermainkan diriku?"
Si orang tua berambut putih itu masib tetap tidak menggubris.
"Hii ..,hii Liem Tou"
Seru gadis itu tiba tiba sambil tertawa cekikikan. 'Tadi kau bi-lang kau sudah mengunci tanganmu sekarang tentunya kau tahu bukan kalau mengunci tangan adalah suatu perbuatan yang amat sulit sekali?"
Setelah mendengar perkataan dari gadis itu Liem Tou segera merasa hatinya rada tergerak, agaknya dia sudah memahami akan sesuatu tetapi tidak mengerti apa maksudnya.
Waktu itulah kedua ekor kera raksasa itu kembali sudah mendadak maju dari belah kiri dan sebelah kanan.
Kini Liem Tou sudah bersiap sedia, menanti kedua ekor kera raksasa itu hampir mendekati tubuhnya meadadak dia berkelebat menghindar.
Kali ini kera raksasa itu menubruk tempat yang kosong, dengan cepat mereka berdua saling menempelkan tangannya lalu putar tubuh satu lingkaran, dengan gesitnya kembali mereka menghalangi di depan tubuh Liem Tou.
Sejak semula Liem Tou sudah memperhatikan akan hal ini.
dia orang mana suka membiarkan dirinya tercengkeram, tubuhnya dengan cepat berputar dan muudur dua langkah ke belakang.
Siapa tahu kera raksasa itu amat gesit tanpa diduga sama sekali oleh Liem Tou, mendadak dia putar tubuh meloncat ke depan sedang yang lain sejak tadi sudah berjongkok di atas tanah menanti.
Separuh kaki Liem Tou belum sempat mencapai permukaan tanah tubuhnya sudah keburu kena dicengkeram dan dilempar ke depan segulung tenaga dorongan yang amat keras segera membuat tubuhnya terlempar sejauh tiga empat kaki.
Tetapi kali ini Liem Tou berhasil berjumpalitan di tengah udara dan dengan entengnya melayang turun ke atas tanah, tetapi air mukanya sudah berubah sangat hebat sepasang alis nya dikerutkan Rapat rapat sedang matanya dengan melotot lebar lebar memperhatikan kedua ekor kera raksasa itu tanpa bergerak.
Kedua ekor kera raksasa itu sewaktu melihat mereka gagal merubuhkan Liem Toa kembali menerjang dari kedua belah sisi.
Sampai saat ini Liem Tou tak dapat menahan sabar lagi, dia segera menoleh ke arah si orang tua berambut putih dan teriaknya "Heng san cianpwee, walaupun aku Liem Tou sudah banyak melakukan perbuatan dosa tetapi orang yang aku bunuh kebanyakan adalah manusia manusia laknat yang berhati kejam bilamana kau terus menerus menghina dan mempermainkan diriku aka merasa sangat tidak terima."
Kedua ekor kera itu tanpa mengucapkan kata kata lagi segera berebut maju ke depan untuk mencecar kembali serangan serangannya. Liem Tou tidak dapat menahan diri lagi"
Sepasang matanya segera melancarkan sinar yang amat tajam.
Kalian binatang terkutuk.
cepat tahan.
bentaknya keras.
Tetapi Iwekangnya dengan tanpa tersaa sudah disalurkan kedalam tangannya siap siap melancarkan serangan mematikan.
Tetapi sewaktu dia menoleh ke arah si orang tua berambut putih itu tampaklah wajahnya pada saat ini sudah berubah sangat hebat sepasang biji matanya yang jeli dan tajam dengan seramnya lagi memperhatikan diri Liem Tou.
Sedang gadis itupun entah sejak kapan air mukanya berubah hebat dan penuh diliputi oleh napsu membunuh.
Liem Tou segera merasakan hatinya bergidik.
teringat akan tindakannya mengunci tangan, hatinya merasa semakin berdebar.
Dengan perlahaa lahan dia menarik kembali tenaga iweekangnya saat itulah kedua ekor kera raksasa itu sudah menyerang datang.
Liem Tou tepaksa mundur untuk menghindarkan diri.
"Bilamana demikian terus menerus harus sampai kapan urusan baru selesai? pikir pemuda itu di hati. Lim Tou segera mengerutkan alisnya rapat rapat, mendadak teringat olebnya pedang yang tertancap di atas dinding tersebut, Kenapa tidak menggunakan pedang tersebut untuk menakut nakuti kera tersebut?'' pikirnya. Tanpa ragu ragu lagi dia lantas meloncat ke depan dan mencabut keluar pedang itu, diantara berkelebatnya sinar kebiru biruan yang menyilaukan mata diselingi suara dengungan yang memekikkan telinga. Liem Tou jadi merasa amat terkejut dan dia tahu pedang itu bukanlah barang biasa melainkan sebilah pedang pusaka yang sangat berbarga sakali. Sewakiu dia merasa keheranan mengapa sebilah pedang pusaka yang demikian bagusnya ditancapksn di atas tebing batu itu oleb sang gadis serta si orang tua berambut putih mendadak terdengarlah suara kedua orang itu sudah membentak keras . Jangan ! Cepat tancapkan kembali ke tempat semula"
Dengan rasa amat tegang mereka berdua menerjang ke depan dengan gerakan yang sangat cepat lalu bersaha merebut kembali pedang ke biru biruan yang ada di tangan Liem Tou itu.
Liem Tou yang lagi menyekal pedang mana sukaa direbut begitu saja, dengan gesitnya dia pun miring ke samping satu langkah untuk menghindar 'Kalian sudah memaksa kera kera itu untuk mangganggu aku, apakah aku tidak boleh menggunakan pedang untuk berjaga diri?'"
Bentaknya.
"Heeeeeeiiii Liem Tou !"
Ujarnya si orang tua berambut putih itu sambil menghela napas panjang "Aku si orang tua selamanya berhati welas kasih, sebenarnya kali ini aku hendak gunakan sepasang kera itu untuk mencoba keteguhan hatimu yang lagi mengunci tangan, tidak disangka kau sudah mendatangkan bencana, mulai saat ini mungkin bakal memaksa kau terjerumus kembali ke dalam kancah pemburuhan yang lebih mendalam, heeii !
Sudah terlambat' !
Sudah terlambat !"
Sehabis berkata dia lantas duduk bersila menghadap ke arah dinding tebing itu. Gadis itupun dengan cepat menggape diri Liem Tou sambil ujarnya.
"Heeei kau cepat kemari dan duduklah dibelakang supekku."
Liem Tou yang melihat mereka tak bermaksud lagi untuk merebut pedang tersebut bahkan menanggapi urusan itu dengan begitu tegang terpaksa dia mengundurkan diri di belakang si orang iua berambut puth itu.
Pada saat itulah dari balik dinding batu terdengar suara tertawa yang amat menyeramkan berkumandang keluar.
suara tersebut kedengarannya sangat menusuk telinga.
Air muka gadis itu segera memperlibatkan rasa ketakutan, gumamnya seorang diri.
"Bilamana dia berar benar keluar maka di kolong langit pada saat ini tidak bakal ada orang yang dapat menguasainya."
Mendengar perkataan itu Liem Tou jadi melengak.
"Siapakah dia orang? kenapa kalian begitu takut terhadap dirinya ?"
Tanyanya keheranan.
"Bilamana dikatakan maka dia adalah suciku"
Jawab gadis itu sambil memandang sekejap ke arah Liem Tou.
"Tetapi dia sudah memperoleb seluruh kepandaian silat dari ayabku. mundurnya partai Heng san pay justru karena dia, wajahnya amat cantik sekali laksana bidadari tetapi hatinya kejam bagaikan kalajengking, apalagi kini dia sudah makan ratusan lembar daun mati hidup dan dikurung dalam ratusan tahun oleh ayahku. bilamana dia berhasil keluar dari kurungan itu maka tenaga dalamnya tidak bakal ada yang bisa menandingi. sekalipun supekku memiliki ilmu lweekang Thay Ih sin Kang yang amat lihay dapatkah dia menguasai dirinya masih merupakan satu persoalan yang sulit."
Berbicara sampai disitu dia berhenti sebentar untuk kemudian balik tanyanya.
'Bagaimana dengan ilmu pedangmu?
sampai waktunya kau boleh pergi menghadapinya.
Dia paling takut dengan pedang Lan Berg Kiam yang ada ditanganmu itu'.
Mendengar perkataan tersebut Liem Tou segera merasakan hatinya tergetar amat keras Tidak.,.
tidak bisa' teriaknya.
"Aku sudah mengunci tanganku. aku cuma menakut ingin nakuti diri kera kera tersebut dengan pedang ini saja padahal aku tidak bakal melukal siapapun."
Gadis itu rada melengak tangannya dengan cepat menyambar merampas kembali pedang Lan Beng Kiam itu kemudian serunya dengan amat gusar.
'Kalau memang kau orang tidak suka turun tangan lebih baik jangan berdiri saja disana, terus terang aku katakan kepadamu, bilamana sampai suciku berhasil meloloskan diri dari kurungan tersebut maka suatu bencana akan menimpa seluruh dunia kangouw, Tumpukan tulang yang baru saja kau lihat adalah tulang tulang dari anak murid Heng san Pay yang terbinasa ditangan suciku.
kau kira di daiam urusan ini kau orang dapat loloskan diri ?"
Liem Tou yang mendengar dia berkata demikian keras, merasakan adanya suaiu keseriusan dalam urusan ini, hatinya pun ikut merasa cemas jaga akhirnya.
'Apa benar perkataanmu itu ?' tanyanya.
'Aku sudah bersumpah tidak bargebrak lagi dengan orang lain, apakah karena urusan ini aku harus melanggar sumpahku sendiri ?
Gadis, itu cemberut makinya.
"Suciku bisa lolos dari kurungannya semua ini disebabkan karena kau oranp terlalu usil tangan dan mencabut keluar pedang yang ada di atas tebing itu, dia orang bakalan dapat mendatangkan bencana yang amat besar bagi dunia persrilatan. Coba aku mau tanya , dalam persoalan ini apa kau masih mau berpeluk tangan saja? Biarpun kau sudah pernah bersumpah atau belum lebih balk kau sedikit tahu situasi dan keadaan!' Keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi keningnya, hal ini benar benat membingungkan jalan pikiran Liem Tou Pada saat itulah dinding yang semuia tertututp rapat dengan perlahan lahan mulai bergeser ke samping disusul dengan suara tertawa yang amat seram bergema datang. Gadis itu kelihatan mulai merasa tegang tangannya mulai menepuk pundak si orang tua berambut putih itu.
"Oei Tiap supek titli dengan membawa pedang ada disini.!"
Orang tua berambut putih itu mengangguk perlahan, sepasang telapak tangannya dengan perlahan lahan diangkat ke depan dada siap siap menghadapi sesuatu.
Liem Tou yang melihat kejadian itu segera mengerti kalau dia orang tua hendak melancarkan satu pukulan yang mematikan atau sedikit dikitnya melukai orang saar suci dari gadis itu keluar atau pada saat pintu dinding terbuka lebar.
Setelah melihat jelas kejadian itu mendadak dalam hati Liem Tou bergerak suatu ingatan teringat gerakan gadis itu yang menepuk nepuk pundak Oei Tiap loojien suatu akal berkelabat datang.
Mendadak dia menjatubkan diri duduk bersila di belakang tubuh si orang tua berambut putih itu.
"Asalkan aku tidak turun tangan sendiri untuk melukai orang hal ini tak bisa diartikan melanggar sumpahku sendiri, tetapi dengan begitu akupun bisa membantu menyalurkan tenaga dalam padanya"
Demikian pikirnya di hati.
Berpikir sampai disitu tenaga dalamnya segera disalurkan ke depan, sepasasg telapak tangannya ditempelkan pada punggung orang tua berambut putih itu, Selurub tubuh orang tua berambut putih itu segera bergetar dengan keras air mukanya yang semula amat tegang kinipun sudah tersenyum, diikuti tertawa yang amat membisingkan telinga.
"Haa . ,haaa , ."
Boen Ing Aku Oei Tiap supek sudah lama menantikan kemunculanmu kembali dari dinding kurungan tersebut.
Dari balik dinding segera berkumandang datang suara tertawa aneh yang amat menyeramkan, disusul dengan suara yang amat nyaring dan merdu berkumandang keluar, Terima kasih supek yang sudah lama menantikan kedatanganku, tetapi kau orang tua belum juga mati bukan ?
selama stratus tahun ini aku merasa seperti di dalam impian saja kau tidak merasa kelamaan bukan?"
Sekali lagi Oei Tiap Loojien tertawa terbahak bahak.
Boen Ing !
di atas ada langit di bawah ada tanah gunung dan air tetap berdiri dan me ngalir sepanjang jaman, selama seratus tahun ini pibak Heng san Pay benar benar sudah kau hancurkan, tetapi keadaannya malah semakin menjadi tenang, siancay.!
siancay!" 'Ehmm --tidak kusangka si tulang tua masih juga ada disini.
Boen Ing hampir keluar lagi dan kali ini akan membuat para ornng Bu Lim pada melongo semua."
Jawab suara dari balik dinding itu.
Mendadak Oei Tiap Loo jien dengan amat gusar berteriak keras, bentaknya .
'Boen Ing, apa kau selama seratus tabun ini belum merasa menyesal juga dan tetap ingin mercelakai orang ?
sekalipun kini kau sudab menjadi seorang jagoan tanpa tandingan di kolong langit, tetapi tahukah kau bahws manusia punya tenaga Thian yang punya kuasa ?"
"Heee --heee ---siapa yang mambasmi diriku ? Boen Ing sudab dibinasakan Thian pada seratus tahun yang lalu."
Suaranya mendadak berubah jadi amat kasar dan keras, bentaknya ; 'Oei Tiap supek kau jangan terlalu banyak bicara lagi, beritahu segera padaku apa kah It Tiap suhu masih hidup di dunia?
aku harus mengucapkan terima kasih atas budi dicabutnya pedang Lan Beng Kiam tersebut, siapa orangnya yang baru saja melakukannya?
Heee...
heee..
orang itu sudah membantu aku sehingga dapat melihat sang surya kembali.
orang itu punya jodoh dengan aku maka dialah yang akan kukerjakan seielah seratus tahun diam terus"
Liem Tou yang mendengar perkataan itu segera mengerutkan alisnya rapat rapat, dia belum pernah bertemu dengan orang yang ada di balik dinding tetapi jika didengar dari suara tertawanya yang amat memuakkan itu hatinya terasa amat mangkel.
'Siapa yang maui kau nenek tua gila aku Liem Tou mencabut pedang Lan Beng Kiam dikarenakan tidak tahu kau ada disana ...
Hmm !
jikalau aku tahu kau berada disana tidak bakal aku mau melakukannya."
Liem Tou jangan bicara lagi !"
Cegah gadis ada di sampingnya dengan gugup. 'Dia bilang sudah maui dirimu, tidak menginginkan nyawamu."
Mendengar perkataan itu Liem Tou agak melengak, tetapi dia adalah seorang yang cerdik. bukan saja menjadi gugup atau terkejut malahan air mukanya memperlihatkan rasa yang bergirang hati.
"Hey orang yang aaa di balik dinding kau dengarlah ! pedang Lan Beng Kiam akulah orangnya yang mencabut keluar, aku bernama Liem Tou, kau bilang orang yang pertama kau maui adalah diriku jikalau aku tidak suka padamu bagaimana? Dinding batu itu perlahan demi perlahan mulai nembuka lebar hanya di dalam sekejap saja sudah terbuka suatu celah yang hanya cukup untuk dilewati seorang saja. Dari balik celah yang kecil itulah mendadak berkelebat keluar dua titik cahaya yang berkilauan. 'Heee -? heee --Liem Tou ! Liem Tou! bagus. bagus sekali heee --heee kau tidak suka padaku tapi aku suka padamu kecuali bila kau bukan lelaki ! biarmana lelaki jangan harap kau bisa lolos dari tanganku."
"Aku tak mau, kau hendak berbuat apa ? tantang pemuda itu sambil terrawa.
"Liem Tou kau tak maui aku, aku tetap menginginkan dirimu sebelum orang pertama aku dapatkan tak akan aku mencari yang ke dua"' teriak Boen Ing tiba tiba dengan suara yang amat keras. Justru Liem Tou menginginkan dia bicara begitu, tak terasa lagi hatinya merasa amat girang.
"Bagus sekali, aku mau libat apa kau suka bohong atau tidak,"
Tetapi dia mendadak teringat kembali akan sesuatu, kini dia sudah mengunci tangannya bagaimana mungkin bisa melawan dirinya ?
batinyapun jadi amat murung.
Dinding batu kembali bergeser beberapa coen ke samping sinar matanya yang amat tajam dari Liem Tou segera dapat melihat di dalam dinding tersebut dimana duduk bersila seorang gadis berusia dua puluh tahun dengan rambut yang amat panjang terurai sepanjang pundak, wajahnya amat pucat dan menyeramkan walaupun panca inderanya normal tetapi dari sepasang matanya memancar keluar cahaya yang amat tajam sekali.
Liem Tou yang melihat cahaya tajam yang memancar keluar dari sepasang matanya itu dalam hatinya merasa tergetar keras pikirnya.
'Jika ditinjau dari tajamnya cahaya mata jelas bahwa tenaga dalam yang berhasil dia latih sudah mencapai pada taraf kesempurnaan, kemungkinan di kolong langit pada saat ini tak ada seorangpun yang dapat menandingi dirinya, bilamana dia sampai berhasil meloloskan diri dari tempat itu maka keadaan akan semakin runyam".
Sewaktu dia lagi berdiri terpesona itulah terdengar gadis yang berada disisinya sedang tersenyum padanya.
"Liem Tou caramu ini memang amat bagus sekali ' ujarnya. 'Tetapi bilamana dia sungguh-sungguh keluar dari kurangannya mana kau dapat lolos dari ceagkeramaannya, apalagi pada saat ini kau sudah mengunci tangan". Beberapa parkataan ini sudah jelas menunjukkan rasa kekuatiran terbadap keselamatan dari diri Liem Tou tetapi karena perkataan itu pula pemuda ini merasa hatinya tertusuk dan tak bisa mengucapkan sepatah katapun.
"Akhirnya dia menggelengkan kepalanya dengan perlahan.
"Mati atau hidup ditentukan oleh Thia. Aku Liem Tou cuma bisa menghadapi dirinya dengan seluruh tenaga,"
Gadis itu pun bisa melihat kemurungan dalam hati Liem Tou.
"Eei kau jangan takut,'* hiburnya.
"Walau pun supekku pernah kau pukul tetapi dia sama sekali tidak marah. sampai tiba waktnnya aku serta supek akan bantu dirimu dengan sekuat tenaga, sekalipun misalnya kau berhasil ditawan diapun akan mencabut nyawamu setelah kau kawin dengan dirinya, kau harus ingat baik baik jangan sekali kali kawin dengan dirinya,"
Berbicara sampai disini air mata gadis itupun berubah menjadi meran padam agaknya dia merasa malu juga.
Diam diam Liem Tou pun lantas mengingat baik baik perkataan itu dalam hati dia pun merasa sangat berterinaa kasih kepada dara itu.
Pada saat itu pula celah dinding kembali membuka beberapa depa lebarnya.
"Hey Boen Ing keluarlahl"
Teriak Oei Tiap Loojien dengan keras, Bukannya keluar sebaliknya Boen Ing tetap duduk bersila dengan amat tenangnya.
Kali ini Liem Tou tidak berani berlaku gegabah lagi, diam diam tenaga dalamnya dihimpun dan disalurkan masuk melalui punggung Oei Tiap Loojien, bersamaan itu pula bisiknya kepada orang tua itu.
"Oei Tiap Loojien, hajar dulu ketempat kosong untuk mencoba kekuatan kita.'"
Dengan perlahan Oei Tiap Loojien meng-angguk "Boen Ing !"
Bentaknya kembali.
"Sejak semalam. It Tiap suhu sudah beritahu padaku kau lebih baik mati dari pada hidup aku lihat lihat baik kau matikan saja maksud hatimu itu. Sembari bicara tangan kanannya menuding ke arah depan menghajar dinding batu itu. Segulung angin pukulan yang amat santar menggulung ke depan dengan dahsyatnya, dengan disertai suara desiran yang amat memekikkan telinga, pukulan itu masuk ke dalam celah dinding, Liem Tou hanya melihai Boen Ing sedikit menggerakkan tubuhnya angin pakulan yang amat santar lewat dari bawah kakinya menghajar dinding sebeiah dalam Kecepatan dan kegesitan Boen Ing sewaktu menghindari dilakukan dengan amat cepat bagaikan kilat , jelaslah bahwa tenaga dalam nya tidak rendah. Pikiran Liem Tou segera berputar. mendadak kepada Oei Tiap Loojien bisiknya.
"Dia sudah menphindar. kelihatanrya di dalam ruangan itu masih ada tempat kosong coba kau seranglah dia sekali lagi dengan menggunakan ilmu pukulan Siang Heng Ciang Hoat. kita lihat dia akan menghindar lagi ke arah mena!"
Ternyata Oei Tiap Loojien benar benar mendengarkan perkataannya, telapak kirinya berputar melancarkan satu pukulan dahsyat ke dalam celah.
Keistimewaan dari pukulan Sian Hong Ciang Hoat ini justru karena bisa membelok maka akan membuat orang sulit untuk menghindar.
Tetapi Boen Ing yang lulus dari perguruan Heng San Pay sudab tentu memahami akan ilmu pukulan 'Sian Hong Ciang Hoat' tersebut.
maka terdengarlab dia bersuit aneh ujarnya.
'Oei Tiap Supek kau masih ketinggalan jauh !"
Bersama itu sepasang telapak tangannya bersama sama didorongkan ke depan, tanpa memperdulikan lagi datangnya angin pukulan berputar dari Oei Tiap Loojien dan melancarkan serangan balasan ke depan.
Segulung angin pukulan laksana menggulungnya ombak di tengah samudra dengan sangat cepatnya menggulung keluar.
Gadis yang berada di sisi Oei Tiap Loojien begitu dia melihat orang tua dalam keadaan bahaya segera dengan pedang Lan Beng Kiamnya membentuk serentetan cahaya kebiru biruan menutup ke depan, bersamaan itu ia melancarkan satu pukulan dengan menggunakan ilmu "Thay Ih Sin Kang"
Menyambut datangnya serangan musuh.
"Bangsat kau berani melawan !"
Bentak Oei Tiao Loojien pada saat yang amat kritis itu.
Terburu dia menarik kembali angin pukulan berputar di tangan kirinya bersamaan itu pula telapak kanannya dengan disertai teraga dalam yang amat dahsyat mendesak ke depan.
Kini tenaga pukulan Oei Tiap Loojien adalah merupakan tenaga gabungan, walaupun dia hanya menangkis dengan telapak tangan sebelah tetapi kedahsyatannya melebihi satu pukulan.
Seketika itu juga tiga gulungan angin pukulan yang amat dahsyat bertemu menjadi satu disertai suara ledakan yang menggetarkan bumi, tanah terasa bergeser, pepohonan dan dedaunan pada roboh sedang batu dan pasir beterbangan memenuhi angkasa, Oei Tiap Loojie ?
serta gadis itu segera merasakan selutuh tubuhnya tergetar keras, tangannya jadi kaku dan linu.
Boen Ing pun untuk sementara tertahan oleh pukulan itu, tangannya pun terasa kaku dan linu membuat air mukanya yang sejak semuia sudah pucat pasi kini semakin menghijau.
cuma saja di daiam sekejap sudah pulih kembali seperti sedia kala.
Kini celah di hidung sudah terpentang lebar lebar dan dia pun sudah bangun berdiri sehingga saling berhadap hadapan dengan Oei Tiap Loojien.
Saat saat inilah merupakan detik detik yang menentukan apakah Boen Ing berhasil meloloskan diri atau tidak, karena itu air mukanya berubah menjadi tegang.
Keadaan dari Oei Tiap Loojien pun sama saja.
dia yang semula duduk bersila kini sudah bangun berdiri dan memperkuat kuda kudanya seluruh perhatian dipusatkan ke depan dan sedikitpun tidak berani berayal.
Gadis berbaju hijau itupun dengan mencekal kencang kencang pedang Lan Beng Kiam berdiri di samping orang itu.
sepasang matanya memandang tajam ke pihak musuh diapun sudah bersiap siap menghadapi serangan.
Kurang lebih seperminuman teh mendadak Liem Tou nerasakan di belakang tubuhnya berdesir datang suara yang amat perlahaa, hatinya rada bergidik kiranya ular raksasa yang berwarna keperak perakan itu entah sejak kapan sudah melata ke samping tubuhnya.
Walaupun saat ini Liem Tou merasakan hatinya terkejut bercampur nceri dia tidak berani juga meninggalkan tempat ini.
cuma saja alisnya dikerutkan rapat rapat.
tiada hentinya sang mata melirik ke arah ular tersebut Waktu itu pula gadis berbaju hijau itu pun melihat munculnya ular raksasa berwarna keperak perakan itu wajahnya segera memperlihatkan rasa kegirangan Mendadak terasa angin serangan berkelebat dari atas kepalanya diiringi suera pekikan nyaring yang menyayatkan hati.
bayangan kuning berkelebat kiranya kedua ekor gorella milik Oei Tiap Loojien sudah menerjang ke arah celah dinding tersebut bersamaan itu pula dengan diiringi suara desiran ular berwarna keperak perakan itu sudah meluncur ke dalam celah.
Ketiga ekor binatang itu bagaikan kilat cepatnya sudah meryerang ke arah Boen Ing agaknya perempuan itu sendiripuu sama sekali tidak menyangka akan hal ini.
Diiringi suara teriakan ngeri yang menyayatkan hati sinar merah memancar ke empat penjuru, kedua ekor gorela itu sudah mencelat ke tengah udara dan menggeletak tak bergerak lagi di atas tanah.
Gadis berbaju hijau yang melihat kedua ekor gorila tersebut sudah mati di tangan Boen Ing lantas tarik hawa murninya diam diam.
"Supek, kapan kita mau turun tangan ? teriaknya. Pedang Lan Beng Kiamnya menuding ke depan, tanpa memperdulikan keselamatan dirinya sendiri dia sudah menubruk ke arah dalam celah batu dinding tersebut. Oei Tiap Loojien yang selama ini tidak bergerak bukannya tidak mengerti akan waktu. Justru sebaliknya sedang menunggu kesempatan seperti ini.
"Boen Ing, ini hari adalah hari kematianmu,! bentaknya keras Sepasang telapak tangannya didorong kedepan dengan sejajar dada, angin pukulan dari Oei Tiap Loojien serta Liem Tou yang meru pakan dua orang jagoan aneh Bu lim sudah tentu amat dahsyat sekali. Boen Ing yang melihat datangnya serangan tersebut dia lantas bersuit nyaring mendadak tubuhnya menyusut ke belakang sehingga lebih rendah beberapa kali lipat dan berbasil menghindarkan diri dari angin pukulan yang amat dahsyat itu dan tubuhnyapun dengan cepat menyusup keluar. Di dalam seejap mata itulah... Braaak. Dengan diiringi suara bentrokan yang amat keras angin pukular dari Oei Tiap Loojin dan Liem Tcu tergetar miring ke samping dengan diikuti tubuh Boen Ing yang menyusup ke samping. Si gadis berbaju hijau yang melihat akan hal itu segera bentaknya keras.
"Perempuan siluman! Boen Ing kau ingin melarikan diri kemana"
Dan pedangnya dengan cerat dibabat ke arah pinggang Boen Ing dengan kecepatan luar biasa, maka terdengarlah suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati dari perempuan itu.
Dan tubuhnya perempuan itupur meluncur ke tengah lembah sehingga di tengah tumpukan bunga kini hanyalah tinggal lima buah jari kaki yang masih berceceran darah segar.
Kiranya babatan pedang Lan Beng Kiam dari gadis herbaju hijau itu tidak berhasil mengenai sasarannya dengan tepat tetapi berhasil membaabat putus kelima buah jari kaki perempuan itu sehingga ia berhasil melarikan diri ke dalam barisan bunga, Gadis berbaju hijau itu tidak berdiam diri sampai di situ saja.
sambil mencekal pedangnya erat erat iapun mengejar ke barisan bunga itu.
'Supek cepat kemari'Teriaknya keras.
'Been Ing tiak pahamakan barisan bunga tersebut.
jangan sampai lepaskau dia pcrgi.
ayoh, cepat kita binasakan dirinya"
Oei Tiap Loojien yang melihat gadis berbaju hijau itu bukanlah tandingan dari Boen Ing.
"Cing jie kembali"
Cegahnya dengan suara yang amat keras.
"Boen Ing sudah melarikan diri ke dalam barisan bunga"
Sam Nie Kioe Kong Khie Ban Toa Tin. sekalipun saat ini ada sepuluh orang Boen Ing juga tidak bakal berhasil meloloskan diri, lebih baik kau cepat cepat menolong Gien jie lebih dulu"
Si gadis berbaju hijau yang tahu kalau pedang Lan Beng Kiam yang berada ditangannya pada saat ini adalah merupakan sebuah senjata tajam yang paling ditakuti oleh Boen Ing dalam hati bukannya merasa jeri terbadap dirinya tetapi karena Gien jienya terluka maka dia putar badan berjalan kembali.
Tampaklah babwa ular peraknya melingkar menjadi satu agaknya sedang merasakan suatu penderitaan yang amat hebat.
Dengan perlahan Oei Tiap Loojien pun berjalan ke samping kedua ekor kera raksasa peliharaannya itu hatinyapun merasa bergidik juga karena kera raksasa yang sudah berhasil dilatih kebal terhadap segala macam senjata tajam kini ternyata sudah binsa di bawah cengkeraman maut dari Boen Ing sehingga batok kepalanya meninggalkan bekas lima buab lubang berdarah yang mengerikan.
Teringat kelincahan serta kecerdikan dari kedua ekor kera raksasa peliharaannya ini Oei Tiap Loojien merasakan hatinya jadi kecut, sambil membelai bulu halus berwarna kuning dari keranya itu air matanyapun bercucuran dengan amat derasnya, Cing jie !
kedua ekor kera raksasa ini sudah mati, gien jie mu baik baik saja bukan?"
Gadis berbaju hijau yang sedang melihat ularnya melingkar menjadi satu itupun dalam hatinya lantas tahu kalau binatang kesayangannya itupun tentu sedang terluka parah.
Dengan sangat telitinya dia memeriksa seluruh tubuh ular tersebut hatinya merasa bertambab pedib seperti ditusuk tusuk, kiranya bagian tujuh coen dari ular raksasa tersebut sudah terbakar hangus dan sekalipun dewa juga tak mungkin dapat menolongnya lagi,"
Kini metdengar pertanyaan dsri Oei Tiap Loojien dengan amat sedihnya lalu dia menjawab * "Gien jie sudah kena dihajar dan hangus tujul coenrya, setentar lagi diapun pasti akan mati ."
Karena sedihnya Oei Tiap loojien menundukkan kepalanya, sepatah katapun tak dapat diucapkan keluar.
Liem Tou yang melihat kedua orang itu sedang meneteskan air mata buat sepasang kera raksasa serta ular raksasanya diapun tak terasa sudah teringat kembali akan kerbau nya kenapa dia mendengus terus ?
apakah kerbaunyapun ikut terancam bencana ?
Lama selali Oei Tiap loojien termenung mendadak dia meloncat bangun dan teriaknya dengau keras.
"Apakah Gin jie benar benar hendak mati? kaiau bagitu cepatlan babat putus ekornya dan hisaplah darah pusakanya. barang yang amat berharga ini tak boleh dibuang dengan begitu saja."
Tidak , , , tidak , , ."
Teriak gadis berbaju hijau itu dengan suara yang amat keras ' Bagaimana aku tega untuk menghisap darah gien jie?
sekalipun darah Gien jie lebih berharga dari apapun aku tak akan mau menghisapnya hal ini benar benar adalah suatu perbuatan yang amat menyeramkan".
Mendengar akan perkataan itu Oei Tiap Loojien segera mengerutkan alisnya rapat rapat ujarnya.
"Cing jie kau jangan terlalu bodoh, ini adalah suatu kesempatan yang tidak bakal terjadi lagi selama ribuan tahbun. kau ingin men-cari ke mana kesempatan yang baik ini?"
Ujarnya denpan kesal.
'Apalagi sewaktu ayahmu menangkap Gien jie kemari karena tujuannya juga karena ingin menghisap darah pusakanya !
kini dia sudah hampir mati, hawa mujijatnyapun semakin hari akan semakin buyar, bilamana kau tidak cepat cepat menghisapnya menanti dia sampai putus napas, walaupun darab bisa kau hisap tetapi kegunaannya tidak bakal ada"
Gadis berbaju hijau itu tetap berdiri tegak.
tiba tiba dia lempar pedang Lan Beng Kiamnya ke atas tanah dan meloncat ke depan.
'Aku tidak bisa berbuat demikian' teriaknya keras.
Bilamana kau hendak menghisap darahnya turun tanganlah sendiri'.
Hanya dalam Beberapa kali loacatan saja dia sudah menerjang masuk ke dalam barisan bunga.
'Eeeei Cing jie !
kau hendak pergi ke-mana 1"
Teriak Oei Tiap Loo jien dengan amat cemas' Berhati hatilah jangan kau sampai bertemu dengan Boen Ing, kau bukanlah tandingannya."
Aku memang sedang mencari dirinya, dia sudah terluka --aku tidak takut pada dirinya lagi"
Teriak Cing jie dari tempat kejauhan. Oei Tiap Loo jien yang mendengar Cing jie hendak pergi mancari si perempuan iblis itu hatinya semakin kecut.
"Cing jie kembali --Cing jie kembali --kau tidak boleh manempuhh bahaya ! ' Kali ini ia tidak mendengar lagi suara jawaban dari Cing jie, tidak memungut pedang Lan Beng Kiam dengan cepat Oei Tiap Loo jien enjotkan tubuhnya mengejar masuk ke dalam barisan bunga itu. Kini tinggal Liem Tou seorang diri berdiri di antara mayat ke dua ekor kera raksasa itu. sambil termangu mangu dia memandang ke arah ular raksasa yang lagi menggeliat diantara batu batuan dengan amat kerasnya, jelas sekali dia lagi menderita suatu kesakitan luar biasa. Kini waktu sudah menunjukkan kentongan kelima. sinar sang surya pun secara samar samar sudah muncul di ufuk timur; Pedang Lan Beng Kiam yang menggeletak diatas tanah memancarkan keluar cahaya biru yang berkilauan. baru saja Liem Tou mendengar dengan jelas selurub perkataan diucapkan oleh Oei Tiap Loojien maupun gadis berbaju hijau itu. Kini melihat penderitaan dari ular raksasa yang mendekati sekarat itu lantas merasa kan sayang buat darah mujijatnya itu, walau pun begitu hatinya masih tetap ragu ragu untuk bertindak selanjutnya. Waktu dengan perlahan berganti Liem Tou yang melihat Oei Tiap Loojien serta ga dis berbaju hijau yang masuk ke dalam barisan bunga sama sekali tidak menunjukkan gerak gerik apapun dan telah melihat ular raksasa itu semakin mendekati ajalnya tak terasa lagi gumamnya.
"*Apakah ini yang dinamakan nasib? apa mungkin darab mujijat dari ular raksasa iru milikku? buat apa aki merasa ragu ragu lagi? Berpikir sampai disitu. hatinyaoun menjadl rada lega. tanpa membuang wakiu lagi dia memungut pedang Lan Berg Kiam tersebut dan berjalan menndekati sisi tubuh ular rakstsa yang hampir mendekati ajalnya itu. Tangannya dengan kecepatan bagaikan kilat menyambar ke depan menyenkram ekornya lalu dengan sekuat tenaga dipencet sehingga tulang ekornya jadi patah. Dengan menimbulkan suara yang amat aneh ular itu seketika itu jatub tak sadarkan diri. Tidak membuang waktu lama lagi, pedang ditangan kanannya menyambar memutuskan ekor ular itu lalu dihisapnya darah segar itu kuat kuat. Suatu cairan yang dingin serta manis dengan lancarnya mengalir masuk ke dalam perut melalui tenggorokannya disusul suatu hawa panas mengalir keluar dari pusarnya. Diapun tidak merasakan bal hal yang diluar dugaan dengan lahapnya darah tersebut dihisapnya sampai kering, setelah itu baru menghembuskan napas panjang panjang. Setelah melepaskan mayat sang ular dengan perlahan dia baru menggerak gerakkan badannya. Siapa tahu pada Saat itulah tububnya sempoyongan hampir hampir tidak kuat untuk berdiri tegak sedangkan perutnyapun amat panas dan sakit seperti diiris iris! "Apakah yang sudah terjadi ?"
Pikirnya di hati 'Apa mungkin Oei Tiap Loo Jien sengaja mengatur jebakan ini untuk pancing aku masuk kedalam perangkap ?
kalau memanng demikian habis sudah diriku ?' Sejak menerjunkan dirinya ke dunia kang ouw Liem Tou selalu saja menemui musuh musuh yang hendak mencabut nyawanya.
oleh karena itu setiap kali bertemu dengan manusia manusia yang berhati licik itu setiap kali dia lantas terpikir ada kemungkinan sudah kena dibokong oleh musuh.
Pada saat itulah merdadak dari tempat kejauhan berkumandang datang suara suitan yang amat nyaitng jelas itulah suara suitan dari Boei Ing diikuti bergemanya suara bentakan yang berulang kali dari Oei Tiap Loo jien.
Waktu itu sang surya memancarkan sinarnya ke selaruh jagat raya-membuat pandangan di dalam lembah tersebut terutama pepohonan diatur menuiut barisan 'Sam Nie Kioe Kong Khei Boen Toa Tin,' itu kelihatan begitu indah dan menawan.
Jilid 35 DALAM hati Liem Tou paham bahwa pada saat ini Oei Tiap Loojien pasti lagi bergebrak dengan amat seriusnya melawan Boen Ing siperempuan iblis itu, tetapi justru pada waktu perutnya amat sakit sekali, untuk membantunya jelas tak mungkin sekali sehingga membuat hatinya amat cemas.
"Akh, lebih baik aku mencari suatu tempat untuk istirahat dan salurkan hawa murni ada kemungkinan sebentar lagi akan sembuh."
Dia berpikir kembali.
"Jika tadi aku tahu kalau darah ular raksasa itu membuat orang merasa tersiksa bagaimana pun juga aku tidak akan meng hisapnya,"
Sembari berpikir, jalan sempoyongan dia-pun masuk kedalam ruangan batu dimana gadis berbaju bijau mengajaknya masuk tadi, perutnya benar benar terasa separti dibasar keringat mengucur keluar bagaikan curahan bujan, bahkan batok kepalanyapun seperti mau meledak dibuatnya Dengan tubuh terhuyung huyung akhirnya dia tiba juga disebuah pojokan ruangan untuk duduk bersila, dengan perlahan hawa -murninya disalurkan kedalam perut untuk menekan hawa panas itu kembali kepusat se telah itu dengan mengikuti pelaj.ran yang termuat didalam kitab To Kong Pit Liok dia mulai berlatih dan memimpin hawa panas teisebut mengaliri seluruh tubuh, dan seluruh urat nadi dan akhirnya masuk kejalaa darah yang terpenting, sebentar saja dia sudah ber ada didalam keadaan lupa akan segala gala nya Waktu itu dia sama sekali tidak ingat kalau 0ei Tiap Loojien serta gadis berbaju hijau itu lagi terjadi suatu pertempuran yang amat seru dan mendebarkan hati didalam barisan bunga itu.
Kiranya setelah gadis berhaji hijau itu membuang pedang dan menerjang masuk ke-dalam barisan bunga, dengan kehafalan terhadap tempat itu dan dengan amat cepatnya dia sudah menemukan tempat dimana Boen Ing terjerbak, Beberapa saat kemudian terdengarlah Oei Tiap Loojien mengejar dari arah belakang sambil berteriak keras.
"Cing jie, .! kau jangan membuat aku orang tua jadi jengkel untuk mencari Boen Ing di dalam barisan bunga ini bukanlah pekerjaan yang harus dilakukau dengan tergesa gesa,"
"Supek."
Teriak gadis berbaju hijau itu dengan amat gusarnya yang menanti Qei Tiap Loo jien mendekati dirinya.
"Bukankah kau orang tua ingin mengisap darah dari Gien -jie? buat apa kau ikut datang kemari?"
Dengan perlahan Osi Tiap Loo jien meng hela napas panjang sambil membelai rambut gadis berbaju hijau yang amat panjang itu -ujarnya dengan suara yang amat halus 'Cing jie.
Selama hidup ayahmu selalu ber bakti demi Heng san Pay dan kini cuma tinggal kau serta Boen Ing dua orang saja yang mana memperoleh pendidikan langsung dari beliau.
Dan Ciangbunjien Heng San Pay saat ini Heng San Jie Yu pun tidak lebih merupakan murid angkatan yang amat muda, terhadap ilmu silat Heng San Pay paling paling cuma memperoleh sedikit kulitnya saja!
Dan akupun sudah bersumpah tidak akan menerima murid sudah tentu lain kali kesemuanya ini harus tergantung pada dirimu seorang, aku inginkan kau sukses karena itu akusuruh kau menghisap aarah mujijat dari Gien jie itu, siapa tahu ..."
"Supek kau tidak usah melanjutkan kembali kata katamu itu"
Potong gadis berbaju hijau itu cepat.
"Bagaimanapun juga aku tidak akan menghisap darah dari Gien jie !"
"Ehmm ... aku tahu kalau kau tak tega untuk menghisap darah Gien jie dan sekarang bukankah aku sudah menurut ?? "
Ujar Oei-Tiap Loojien lagi sambil mengangguk.
.'Baik lah !
Sekarang kita tidak usah lagi mengungkap kembali persoalan ini, kini aku ingin tanya padamu, tahukah kau kemana perginya Boen Ing siperempuan iblis itu ?"
Dengan perlahan Cing jie gelengkan kepalanya. Oei Tiap Loojien lantas tertawa.
"Sekarang kita harus mengambil keputusan untuk menyusun suatu rencana, kita hendak kurung dia didalam barisan bunga ini sampai mati ataukah mencari dirinya dan basmi dirinya dari muka bumi ini, Ceng jie kau merasa cara yang mana lebih bagus?' 'Kurung mati dia didalam barisan bunga bukanlah suatu persoalan yang mudah lebih baik kita basmi saja!"
Sahut Cing jie dengan kukuh dan gagah.
"Baiklah, mari ikut aku pergi?"
Berbicara sampai disini Oei Tiap Loojien lantas putar badan dan berlalu dari sana.
Walaupun didalam hati gadis berbaju hijau itu rada ragu ragu tetapi terpaKsa dia ikuti juga dari belakang tubuhnya, berjalan mendekati seratus tindak mendadak Oei Tiap Loo jien menuding kearah jejak darah yang ada diatas tanah.
"Cing jie coba kau lihat, jari kaki Boe lag sudah terpapas sampai putus, kita cukup mencari jejaknya dengan mengikuti jejak darah itu sudah tentu akhirnya bakal ketemu". Demikian mereka berdua dengan mengikuti jejak darah yang berceceran diatas tanah berjalan maju kedepan. Tidak lama kemudian mereka pun sudah -menemukan boen Ing yang lagi duduk dibawah tumbuhan bunga yang rimbun tetapi saat ini dia berada didalam keadaan telanjang bulat tanpa selembar kainpun yang menutupi tubuhnya. Melihat akan hal itu Oei Tiap Loojien jadi melengak tetapi sebentar kemudian sudah jadi gusar.
"Boen Ing!"
Bentaknya dengan keras "Kau perempuan cabul kau membuat partai Heng San pay merasa malu, kau perempuan sundal tidak tahu malu!"
Boen Ing tetap tidak ambil perduli dengari pandangan melongo perempuan itu memandang mereka berdua yang berjalan semakin mendekat itu.
Pada waktu itulah Oei Tiap Loojien mendadak menemukan beberapa lembar cabikan kain yang sudah kumal dan hancur segera dia jadi sadar kembali apa yang sudah terjadi Kiranya Boen Ing bukannya sengaja bermaksud untuk melepaskan pakaiannya hingga berada didaiam keadaan telanjang bulat tetapi karena pakaian itu yang sudah berusia ratusan tahun lebih itu kini sudah tentu hancur karena lapuk sehingga sewaktu tadi dia melarikan diri saking tergoncangnya membuat kain itu semakin koyak dan terlepas semua.
Walaupun pada saat ini Oei Tiap Loo jien bermaksud hendak melenyapkan dirinya tetapi dia pun merasa dirirnya tidak tega demi melihat dia dalam keadaan telanjang bulat.
Setelah memandang sekejap kearah Cing -jie akhirnya dia melepaskan jubahnya sendiri dan dengan mengerahkan tenaga dalamnya-yang kuat dia melemparkan kearahnya .
"Boen Ing cepat terima pakaian itu dan pakailah untuk kemudian terimalah kematianmu"
Boen Ing lantas menerima pakaian tersebut, dan air mukanya menampilkan suatu senyuman tawar serta dingin.
Setelah selesai berpakaian dia bargun ber diri dengan perlahan dan berjilan dua lang kah kedepan Oei Tiap Loojien.
"Supek !""
Ujarnya sambil menjatuhkan diri berlutut.
"Boen Ing sudah dikurung selama seratus tahun oleh suhu walaupun hanya makan dedaunan mati hidup bagaikan berada dalam impian dan berasa apapun, tetapi pada sepuluh hari yang lalu aku sudah sadar kembali dan didalam tempo yang singkat itu lah aku mulai merasa menyesal terhadap kekejaman serta perbuatan jahat yang pernah ku lakukan tempo hati. asalkan kini supek suka mengampuni dosa Boen Ing maka sutit li mu lai saat ini juga akan menyesali dosaku dan berganti berbuat baik."
Memang Oei Tiap Loojien adalah benar benar seorang tua yang amat ramah, begitu mendengar perkataan itu dia sama sekali tak merasa ragu.
Wajahnya berubah kegilangan dan teitawa tergelek dengan kerasnya.
Sekalipun demikian didalam pandangan gadis berbaju hijau itu sama sekali berbeda, peristiwa yang telah silam kini kembali ber kelebat memenuhi benaknya.
Boen Ing sebenarnya adalah murid keempat dari It Tiap Loo jien, pada mulanya dia sangat pendiam halus dan berbudi, wajahnya pun sangat cantik bahkan memiliki kecerdasan yang luar biasa didalam ilmu silat karena itu dia memperoleh kasih sayang yang luar biasa dari It Tiap Lao jien yang menurun kan seluruh kepandaian silat kepadanya.
Siapa tahu setelah tenaga dalam Boen Ing memperoleh kemajuan yang amat pesat itu lah sikapnya mendadak berubah.
Secara diam diam diapun mengadakan hubungan gelap dengan Toa suheng serta Jie suheng, setelah mengadakan hubungan lantas membinasakarnya Demikianlah sejak itu mu rid murid It Tiap Loo jien yang paling di andalkan pun mulai lenyap tak berbekas.
Semula It Tiap Loo j'en memiliki dua puluh orang anak murid, hanya didalam jangka waktu tiga bulan saja sudah ada separuh bagian yang lenyap tak berbekas, tetapi waktu itu It Tiap Loojien sama sekali tidak mencurigai diri Boen Ing.
Lewat beberapa bari kemudian kembali dua orang muridnya lenyap, walaupun hati It Tjap Loojien merasa cemas tetapi tak bisa berdaya apa apa Akhirnya ia mengumpulkan seluruh anak mu ridnya yang ada disana untuk merundingkan persoalan itu Siapa tahu pada saat perienuan itulah secara terbuka Boen Ing sudah menceritakan hal yang sebenarnya, walaupun It Tiap Loo jien pun berada disana dia berhasil juga membinasakan saudara saudara seperguruan lainnya bahkan Boen Ing berhasil juga melolos-kan diri.
Karena persoalan itu It Tiap Loojien jadi terpukul hatinya, didalam keadaan sedih itulah dia lantas mengundang suhengnya Oei-Tiap Loojien untuk mencari mengelilingi seluruh gunung Heng san tapi hasil yang diperoleh hanya nihil.
Pada suatu hari It Tiap Loojien teringat kembali dengai diri Cing jie yang berada di dalam lembah mati hidup, mereka lantas putar haluan untuk berangkat kesana.
Pada saat itulah mereka menemukan Boen Ing lagi mengejar Cing jiu untuk dibunuh.di dalam keadaan gusar It Tiap Cinjien segera turun tangan menolong Cing jie dan menangkap diri Boen Ing dengan menggunakan barisan bunga "Sam Nie Kioe Kong Khei Bun-Toa Tin"
Yang memaka n waktu cukup lama dalam mengatur barisan itu.
Menurut maksud It Tiap Cinjien waktu itu dia hendak turun tangan membinasakan perempuan tersebut tetapi hal ini berhasil dicegah oleh Oei Tiap Loojien.
Berkat ketekunan dia kesabaran dari Oei Tiap Loojien ini akhirnya dia berhasil mengetahui juga mengapa silcap serta sifat Boen Ing bisa berubah menjadi begitu buas.
Kiranya pada suatu hari disebuah guha di atas gunung dia Boen Ing sudah bertemu tiga orang toosu, dan saat itulah Boen Ing diperkosa bergantian bahkan setiaphari yang membuat dia menjadi hampir mati lemas.
Karena peristiwa itulah dia jadi membenci setiap orang lelaki, dan tak terhindar lagi Heng San pay mengalami hari naasnya.
Oei Tiap Loojin yang mendengarkan kisah dari Boen Ing ini hatinya merasa amat kasian dan memberi kemurahan hati buat dirinya Dia menyerahkan seratus lembar daun mati hidup dan mengurung dirinya selama seratus tahun lamanya.
It Tiap Cingjien pun kkusus membuatkan sebush ruangan batu yang didepannya ditancapkan pedang Lan Beng Kiam sebagai pencegahnya.
Dia tahu dalam seratus tahun kemudian bilamana Boen Ing muncul kembali karena sudah memakan dedaun mati hidup maka tenaga dalamnya akan memperoleh kemajuan yang amat pesat, dan waktu itulah cuma pedang Lan Beng Kism saja yang paling ditakutinya.
Bersamaan itu pula dengan tidak sayang nya It Tiap Cing jien mengurung diri Cing Jie pula diruangan lain agar setelah sembilan puluh delapan tahun kemudian sewaktu dia sadar dari tidurnya ia memiliki tenaga daiam yang tidak berada dibawah Boen Ing.
Walaupun cara ini amat bagus sekali tetapi Ie Tiap Cinjien sudah salah memperhitungkan sesuatu, dia tidak sampai berpikir bahwa tenaga dalam Cing jie yang semula memang sudah kalah satu tingkat dari Boen Ing walaupun sudah lewat seritus tahun kemudian juga akan tetap kalah satu tingkat' Dengan pandangan yang amat tajam Cing jie sigadis berbaju hijau itu memperhatikan diri Boen Ing tajam tajam.
Mendadak dia menemukan kesepuluh jari kakinya yang terpapas waktu itu mengalirkan darah yang amat deras, hatinya jadi melengak.
"Kenapa jari kaki yang terpapas itu mengeluarkan darah dengan begitu derasnya."
Pikirnya dengan cepat terputar mendadak teringat olehnya kalau pada waktu itu pasti lah dia lagi menyalurkan hawa murninya. 'Supek, berhati hatilah"
Bentaknya.
Dengan terburu buru diapun melancarkan satu kali pikulan dahsyat kearah depan.
Terdengar Boen Ing tertawa seram, tubuh nya berkelebat menghindarkan diri dari serangan tersebut.
Pada saat itulah Oei Tiap Loojen sudah merasa akan sesuatu hal yang tak beres, 'Celaka !' teriaknya.
Tubuhnya segera bergerak mcloreat sejauh satu kaki bersamaan itu pula sambil putar badan sepasang telapaknyapun didorong kedepan.
Siapa tahu Boen Ing sudah menggunakan ilmu pukulan berputar yang amat lihay dari Heng San Pay untuk menghindar kebelakang tubuh Oei Tiap Loojien, cengkeramannya dengan disertai desiran tajam menyengkeram batok kepala orang tua itu.
Walaupun Oei Tiap Loojien jadi orang amat sabar dan ramah tetapi menghadapi peiempuan cabul yang memiliki kepandaian silat yidq amat dahsyat ini tidak berani berlaku ayal, dengan sekuat tenaga dia meloncat kedepan.
Boen Ing yang melihat cengkeramannya mencapai pada sasaran yang kosong dia kembali tertawa seram, dengan gerakan tubuh berputar dia melayang kembali satu kaki ke samping , setelah mengibaskan pukulan Oei Tiap Loo jien mendadak telapak kirinya dengan menggunakan jurus "Shia Kwa Kiem -Tha' atau menggantung miring pagoda emas, menghajar kedepan.
Melihat datangnya serangan tersebut Oei Tiap Loo jien segera mendengus dingin.
"Dengan menggunakan ilmu pukulan Sian-Hong Ciang'Hoat untuk menghadapi aku orang tua, bukankah hal ini saja mencari ---' Belum habis dia berkata telapak kanan Boen Ing dengan menggunakan jarus poo –Hong Can Gwat atau angin taupan membabat rembulan kembali melancarkan serangannya kedepan. Kali ini serangan yang digunakan adalah jurus serangan dari ilmu telapak Thay lh Ciang Hoat. Dua gulung angin pukulan yang-satu jurus yang lain berputar dengan amal cepatnya -menggencet seluruh tubuh Oei Tiap Loejien. Dalam hati Oei Tiap Lojien marasa amat terperanjat pikirnya , 'Ilmu telapak angin berputar serta ilmu telapak Thay Ih.Ciang adalah ilmu dahsyat dari Heng Sin Pay kami kini dia bisa melancarkannya dengan cara berpisah dari kiri maupun kanan sungguh merupakan suatu gabungan yang luar biasa"
Untuk beberapa saat lamanya dia jadi kebingungan sendiri sehingga berdiri termangu mangu , 'Boen Ingg kau jangan berbuat terlalu kejam 'Bentak Cing jie pada waktu itu dengan suara yang merdu.
Diapun melancarkan satu pukulan yang tepat dan memusnahkan datangnya serangan dahsyat Thay Ih Ciang Hoat sebaliknya Oei-Tiap Loo jien sendiri sambil putar badan menghadang datangnya pukulan Sian Hong-Ciang dari Boen Ing itu' Kini Boen Ing bisa menghadapi dua orang musuh sekaligus bahkan bisa memisahkan tenaga dalamnya menjadi dua bagian tanpa menunjukkan kalau tenaga dalamnya lebih tinggi dari tenaga dalam kedua orang itu.
Boen Ing yang melihat kedua orang itu berhasil memunahkan serangannya dengan suatu kerja sama yang erat.
sifat buasnya muncul kembali dihatinya rambutnya yang panjang dengan cepat dilingkarkan pada lehernya, 'Supek l' bentaknya dengan suara yang amat mengerikan.
'Hari ini aku Boen Ing akan bertanding dengan dirimu."
Sehabis berkata kesepuluh jari tangannya dipentangkan lebar lebar; bagaikan jepitan besi segera menubruk kearah Oei Tiap Loo-jien.
Sambil putar badan melancarkan serangan semuanya dilakukan dengan gerakan yang amat mengejutkan.
Oei Tiap Loo jien hanya merasakan segulung angin berdesir lewat.
Boen Ing dengan menggunakan jurus "Tong Im Mie Puhi atau awan gelap menutupi jagat mencengkeram batok kepala Oei Tiap Loo jien, serangannya amat ganas dan kejam.
Oei Tiap Loojien yang diserang kepalanya kontan jadi marah ?, bentaknya "Cing jie.
Kau jangan turun tangan dulu!' Ilmu telapak Thay It Ciang Hiat dengan cepat dikerahkan keluar, dengan mengguna kan jurus jurus ’Coan Yen Leng Siauw' atau burung walet menembus awan serta 'Kiem -Hong Yau Wei' atau tawon emas goyang ekor menyambut datangnya dua cengkeracran Boen Ing si perempuan berambut panjang itu, membentangkan cengkeramannya kesamping dan meloncat kekiri.
Sepasang telapak tangan Oei Tiap Loojien dengan menimbulkan angin pukulan amat santar berturut turat melancarkah tiga pukulan mengancam bagian bagian tubuh yang berbahaya dari perempuan tersebut Boen Ing tertawa ringan tubuhnya melayang ketengah udara kemudian dengan beberapa kali kelebatnya saja sudah dapat menghirdarkan diri dari serangan itu.
Oei Tiap Loojien yang kini sudah berusia melewati seratus tahun dan selamanya belum pernah bertempur dengan demikian seru nya terhadap orang lain, kini hawa amarah mya sudah berkobar membuat dia orang dengan tiada hentinya rrelancarkan serangan-serangan berantai.
Agaknya memang Boen Ing punya maksud untuk pancing dia melancarkan serangan dengan sekuat tenaga dia sama sekali tidak menghindar maupun membalas sebaliknya berusaha untuk mempertahankan diri saja .
Cing jie sigadis berbaju hijau yang menonton jalannya pertempuran dari samping lantas bisa melihat dengan jelas walaupun serangan serangan daii Oei Tiap Loojien amat dahsyat dan kuat bahkan setiap serangan mengancam bagian tubuh yang berbahaya tapi cukup perempuan itu meloncat atau menghindar berhasil juga menghindarkan diri dari serangan itu tanpa membuang tenaga, hal ini berarti pula kalau kepandaian perempuan itu jauh lebih tinggi setingkat dari si arang tua Hatinya mulai merasa kuatir rnengenai ke selamatan Oei Tiap Loojien, dengan pandangan tak berkedip ia memperhatikan terus gerakan tubuh Boen Ing yang lagi berputar dan meloncat.
Hanya didalam sekejap saja Oei Tiap Loojien sudah habis melancarkan serangkaian ilmu pukulan Thay Ih Ciang tetapi menjawil ujung baju Boen Ing pun tak berhasil, hatinya pun menjadi semakin gusar.
Untung dia adalah seorang kakek tua yang sudah berusia lanjat dan berpengalaman walau pun berada dalam keadaan amat gusar tetapi dia masih dapat berjaga diri.
dia tidak ingin memaksa orang muda dan punya maksud untuk mengadu jiwa dengan dirinya.
Boen Ing pun lama kelamaan mengetahui juga bilamana dia bertempur secara begitu terus terusan maka hasil yang diperoleh adalah nihil.
maka segera dia tertawa dengan seramnya.
"Heee .hieee " ..Oei Tiap Supet"
Serunya dengan dingin.
"Kiranya kau pun tidak lebih cuma begini saja, dimanakah letak kegagahanmu tempo hari sewaktu menangkap aku Boen Ing? apakah dikarenakan kekurangan sebilah pedang Lam Beng Kiam milik suhu kau sudah luntur semangat ?"
Baru berbicara sampai disitulah mendad&k gadis berbaju hijau itu dapat melihat kalau darah yang mengalir keluar melalui jari jari kakinya yang terpapas itu semakin deras, tidak kuasa lagi teriaknya .
"Supek, bersiap siaplah menghadapi serangannya "
Gerakan tubuh Boen Ing pun telah jauh berubah, dari kedudukan bertahan kini berubah jadi,kedudukan menyerang, dengan tangan kirinya dia melancarkan ilmu telapak Sian Hong Ciang sedang tangan kanannya melanjutkan serangan dengsn menggunakan ilmu Thay Ih Ciang, dua gulung angin pukulan laksana menggulungnya ombak ditengah samudra satu lurus satu berputar menekan tubuh Oei Tiap Loojien.
Seketika itu juga daerah seluas sepulun kaki dari sana sudah terkurung rapat oleh angin pukulannya.
Maka dengan paksakan diri Oei Tiap Loo jien rrenerima juga dua serangannya itu, tetapi tak terasa olehnya tubuhnya sendiri sudah meloncat sejauh dua kaki lebih.
"Boen Ing ' bentaknya dengan keras.
"Darimana kau dapatkan ilmu gabungan dari ke dua buah kepandaian telapak tangan ini?"
Dari air muka yang pucat itu Boen Ing terlintaslah satu senyuman tawar, mendadak jeritnya dengan seram.
'Oei Tiap kau si orang tua yang tidak mati mati, sepatutnya kalau kau belajar ilmu silat lima puluh tahun lagi."
Sembari berbicara sepasang telapak tangan nya sudah dihantamkan kedepan pula, tetapi kali ini dia bermaksud untuk merusak dan menghancurkan diri Oei Tiap Loojien maka itu serangannya baru sampai ditengah jalan dari gerakan telapak sudah berubah jadi gerakan mencengkeram dan berebut maju ke depan, Didalam keadaan yang amat terburu buru Boen Ing melancarkan dua buah pukulan yang berbeda kearah kiri Oei Tiap Loojien lantas merasa amnt payah sekali.
Pada saat ini dia cuma bisa menghindar kesamping meloncat kepinggir saja untuk, meloloskan diri dari kejarau angin pukulan dari perempuan tersebut.
Belum habis suatu ingatan didalam benak nya mendadak sepasang cengkeraman dari Boen Ing sudah mengancam pula didepan dadanya.
"Aaaa ... !"
Teriaknya kaget air mukanya seketika itu juga terubah jadi pucat pasi, di dalam keadaan yang amat gugup itulah sepasang telapaknya dipentangkan lebar lebar.
"Boen Ing, kau berani!"
Bentaknya keras.
Baru saja perkataan itu selesai diucapkan lengan kirinya telah terasa amat sakit, lima jari tangan kanan Boen Ing yang laksana jepitan besi sudah mencengkeram kedalam daging lengannya dalam dalam, saking sakit nya air muka Oei Tiap Loojien yang sudah purat pasi itu kini berubah menjadi kehijau hijauan Melihat keadaan yang amat kritis yang mengancam jiwanya dia cepat cepat ambil satu keputusan Hawa murninya dengan cepat disalurkan!
memenuhi seluruh tubuh, lengan kanannya mendadak membalik dan mengirim satu pukulan yang amat dahsyat kedepan.
Saat ini adalah saat kritis yang mengancam jiwanya tanpa memperduli kesopanan lagi telapak tangan tepat menyapu kearah kedua bukit teteknya.
Cing jie si perempuan berbaju hijau yang ada disamping kalangan sewaktu melihat supeknya Oei Tiap Loojien berada didalam keadaan yang sangat bahaya segera membentak keras, sepasang tangannya dengan menggunakan jurus Tay Lang Tui Tan, atau memisahkan ombak mendorong perahu menghantam kedepan.
Segulung angin pukulan laksana dingin baja dengan cepatnya menggulung kedepan menekan purggung Boen Ing.
Boen Ing yang tangannya sebelah masih menancap didalam daging lengan Oei Tiap Loo-jien maka kini cuma tersisa tangan kirinya saja untuk melawan musuh, tak perduli bagaimana juga sukar buatnya untuk menerima datang nya dua gulung angin pukulan itu.
Didalam keadaan amat terperanjat itulah telapak kirinya menangkis datangnya pukulan Oei Tiap Loojien, tetapi sebentar kemudian dia merasakan pukulsn tersebut berat bagaikan gunung Thay san yang membuat telapak kirirya tergetar keras dan menjadi linu.
Sedang waktu itu angin pukulan dari Cing jiepun sudah tiba, maka sambil mengigit kencang bibirnya dia berkelit kesamping.
Oei Tiap Loojien sama sekali tak menduga kalau dia bisa berbuat demikian, maka kuda kudanyapun tergempur sehingga tubuhnyapun ikut berputar Dengan demikian keadaannya pada saat ini tepat berhadap hadapan dengan datangnya angin pukulan dari Cing jie itu Untuk menarik kembali serangannya tidak sempat...
Braaaak, .!"
Dengan amat tepatnya pukulan tersebut bersarang pada punggung Oei Tiap Loojien.
Dengan kedahsyatan dari tenaga dalam Cing jie hasil latihan selama seratus tahun lebih walaupun menggunakan kasiat dari dedaun tetapi Oei Tiap Loojien tidak bakal sangguo menerima datangnya pukulan itu Kepalanya terasa pening dan dadanya jadi mual tidak tertahan lagi dia muntahkan darah segar.
Boen Ing yang lagi mencengkeram lengan Oei Tiap Loojien hingga tembus kedalam dagingnya begitu melihat adanya cahaya merah menyambar datang hatinya jadi kaget, dia tahu bilamana dirinya tidak menghindar maka darah segar tersebut pasti akan mengotori wajahnya Didalam keadaan cemas tangannya sedikit tergetar segumpil lengan Oei Tiap Loojien kotan tersayat lepas dari tempatnya semula sedang dia sendiri meloncat mundur sejauh dua kaki.
Keadaan dari Oei Tiap Loojien pada saat ini benar benar amat mengerikan sekali, dia tak kuat untuk berdiri lebih lanjut tak kuasa lagi lantas rubuh keatas tanah, air mukanya berubah jadi pucat bagaikan mayat.
Melihat kejadian itu Cing jie sigadis berbaju hijau itu jadi amat terperanjat.
"Supek! supek "
Teriaknya kaget. Dengan cepatnya dia lantas menubruk kedepan "Ce .., cepat ... cepat ... bimbing aku , , kedalam , , kedalam barisan , , bunga "
Didalam hati Cing jie mengerti bilamana saat ini dia tak menolong Oei Tiap Loojien lolos dari sana maka keadaan dari orang tua sangat berbahaya sekali.
Dengan cepat dia dongakkan kepalanya ke atas terlihatlah Boen Ing yang merupakan gadis amat cantik saat ini didalam pandangannya kelihatan amat mengerikan dan menyeramkan sekali !
Dengan gupup Cing jie menyambar tubuh Oei Tiap Loojien sambil enjotkan tubuhnya lari kedalam barisan bunga "Hee .."
"Hee ... Cing moay l kau Hendak melarikan diri kemana ?' Tanya Boen Ing sambil tertawa dingin.
"Cepat bawa aku mencari Liem Tou, aku mau pakai dan kerjain dirinya terlebih dulu"
Sepasang pundaknya sedikit bergerak bagai kan bayang bayang setan saja dengan kencangnya membuntuti terus dari belakang tubuh gadis berbaju hijau itu dia tidak melancarkan serangan tetapi juga tidak meninggalkan diri Cing jie pada jarak lebih dari satu kakipun.
Kiranya semula Boen Ing pun pernah tertawan didalam barisan bunga itu sehingga diapun tahu bagaimana dahsyatnya barisan bunga tersebut, bilamana tak ada orang memimpin jangan harap bisa lolos dari barisan bunga itu, karenanya dia berusaha untuk membututi terus dirinya.
Cing jie yang melihat Boen Ing membuntuti terus tiada hentinya dalam hati benar benar merasa amat cemas Kini mendengar perkataan tersebut dia lantas mencibirkan bibirnya.
"Siapa yang menjadi adik Cing mu? Hmm! jangan mimpi aku suka membawa kau lolos dari barisan bunga ini."
"Heee,"
Heee Cing moay kau jangan marah"
Seru Boen Ing lagi sambil tersenyum' "Aku tetap akan mengikuti dirimu terus bilamana kau berhasil lolos dari barisan bunga ini maka akupun bisa pula untuk lolos dari sini kecuali bila kau serta Oei Tiap Loojien rela untuk mengawani aku bersama sama mati terkurung disini,"
Sehabis berkata kembali dia tertawa seram Cing jie yang mendengar perkataannya sedikitpun tidak salah dalam hati mulai mengambil keputusan pikirnya.
"Perempuan cabul Boan Ing aku akan ada jiwa dengan dirimu walaupun tenaga dalamku kalah satu tingkat dari dirirmu tapi belum tentu bisa menderita kekalahan". Mendadak teringat kembali olehnya pedang pusaka Lan Beng Kiam tersebut, dia merasa bilamana ada pedang itu maka dirinya tidak usah takut terhadap dia lagi. Sewaktu dia lagi melamun seorang diri itu lah mendadak terdengar Oei Tiap Loojien yang ada didalam rangkulan merintih.
"Cing jie kau jangan cemas, bawalah terus dirinya kedalam pusat barisan Sam Nie Kioe Kong Khie Bun Toa Tin ini bilamana ada kesempatan cepat cepat meloloskan diri '. Cing jie segera menurut perkataannya dan berlari menuju kepusat barisan itu. Kedahsyatan dari barisan bunga "Sam Nie Kioe Kong Khei Bun Toa Tm' ini benar benar luar biasa sekali, semakin lama Boen Ing dibuat semakin kebingungan dan dia merasa keadaan semakin tak beres. Terlihatlah Cing jie sebertar miring ke samping mendadak mundur kekiri tiga langkah kekanan empat langkah kadang kadang pula maju berputar mundur melingkar. Hanya didalam sekejap saja Boen Ing sudah tidak mengerti manakah utara manakah selatan tetapi dia cuma tahunya mengikuti gerakan dari Cing jie terus menerus gadis itu bertindak bagaimana diapun mengikuti dengan cara yang sama. Seluruh perhatianrya pada saat ini benar benar terpusatkan pada langkah langkah Cing jie matanya melorot lebar lebar tak ber-kedip sedikitpun. Tidak lama kemudian mereka sudah tiba pada pusat barisan tersebut, sewaktu Cing-jie hendak minta petunjuk dari Oei Tiap -Loo jien itulah mendadak hatinya jadi terperanjat sekali' Kira nya entah sejak kapan, Oei Tiap Loo jien sudah jatuh tidak sadarkan diri tetapi bibirnya masih sedikit bergerak gerak. Dalam hati gadis itu jadi amat cemas sekali.
"Supek ! supek ! kau jangpn mati, cepat bangun. , , bangun , , bangunlah"
Teriaknya. Lama sekali baru kelihatan Oei Tiap Loo jien sedikit bergerak kemudian dengan perlahan menjadi sadar kembali.
"Cing jie !"
Ujarnya tanpa tenaga. 'Aku , , aku , . aku tidak akan mati dengan demikian saja tetapi aku tidak . , tidak dapat ber tahan lebih lama lagi, tetapi , , ."
Cing jie yaa» mendengar dari nada suara nya rada tidak panya harapan dengan gugup lantas teriaknya.
"Supek cepat kau bilang tapi kenapa ?' Lama sekali Oei Tiap Loo jien memejam kan matanya, akhirnya dia membuka matanya kembali. 'Cuma darah pusaka dari Gien jie atau tiga lembar dedaun mati hidup yang bisa melindungi sisa hidupku ini, tetapi Gien jie ada kemungkinan sudah binasa.' Waktu itu Cing jie cuma kepingin melindungi nyawa dari Oei Tiap Loo jien, maka tidak 'berpikir panjang lagi sehabis mendengar perkataan itu dia meloncat kesamping kiri memetik tiga lembar dedaun mati hidup lalu dimasukkan kedalam sakunya. Ketika dilihatnya Boen Ing masih membuntuti terus dari jarak satu kaki dibelakangnya dalam hati benar benar merasa amat gusar -maka sembari melancarkan satu pukulan dahsyat tubuhnyapun meloncat kedepan sejauh tiga kaki lebih . Dia tidak berani berdiam lebih lama lagi sambil menarik hawa murninya panjang panjang tanpa menoleh lagi dia segera mengerahkan ilmu meringankan badan berlari ke depan. Baru saja tubuhnya hampir keluar daii barisan bunga ini mendadak berdesirnya angin menyampok ujung pakaiannya Boen Ing kira nya sambil mengebut ngebutkan ujung baju nya membuntuti terus dibelakang tubuhnya Cing jie amat gemas sambil balik badan dan dia kirim satu pukulan lagi kedepan. 'Boen Ing aku akan hajar kau sipereripuan cabul!"
Bentaknya. Boen Ing hanya berdiam diri saja tubuhnya mendadak berkelebat menghindar kesamping.
"Siauw Giok Cing ! ujarnya dengan dingin.
"Kau sudah papas putus jari kakiku soal ini aku masih, belum menagih rekening dengan dirimu, kini bilamana kau sudah membawa aku keluar dari barisan ini maka hutang itu akan aku anggap lunas, aku tak akan merca ri dirimu lagi dan hanya mencari Liem Tou seorang."
Si gadis berbaju putih itu segera melotot kan matanya lebar-lebar, dia pada saat ini benar-benar kepingin mengadu jiwa dengan dianya tetapi berhubung ada Oei Tiap Loojien didalam rangkulannya membuat hatinya jadi bingung.
Pada saat itu dia merasa serba susah mendadak Oei Tiap Loojien merintih perlahan ujarnya .
'Cing jie, aku rasa diriku tidak kuat bertahan lebih lama lagi, cepatlah kau serahkan dedaun mati hidup kepadaku, tiga tahun kemudian kita akan bertemu kembali!' Beberapa perkataan dari Oei Tiap Loojien inilah 'segera membuat Cing jie jadi sadar, pikirnya .
"'Kenapa aku harus membuang waktu di-sini? Cepat entah Gien jie sekarang sudah mati atau belum ?"
"Tidak supek !"
Sahutnya kepada si orang tua itu.
"Bagaimanapun juga kita harus pergi melihat dulu apakah ular raksasa itu masih hidup atau sudah mati."
Tanpa memikirkan apakah Boen Ing nanti ikut keluar dari barisan bunga itu atau tidak dia lantas putar badan, dengan beberapa kali loncatan saja dia sudah keluar dari barisan bunga tersebut, Boen Ing pun dengan cepat ikut meloncat keluar dari barisan itu.
kemudian mendongakkan kepalanya dan tenawa terbahak bahak.
"Mulai saat inilah aku Boen Ing baru benar benar bisa melihat matahari lagi."
Mendadak wajahnya berubah jadi amat serius, lalu menoleh sekejap memandang ke arah Cing jie.
Waktu itu Cing jie sudah tiba disamping celah celah batu, melihat ekor ular tersebut sudah putus sedangkan Lam Beng Kiam telah lenyap tidak berbekas dalam hatinya lantas tahu kalau pedang tersebut tentulah sudah diambil oleh Liem Tou dan sekalian menghisap darah pusaka itu.
Saking sedihnya tidak kuasa lagi dia meneteskan air mata, kepada Oei Tiap Loojien ujarnya dengan sedih .
"Soepek ' Kita sudah ditakdirkan untuk berpisah kembali selama tiga tahun, Itu namanya nasib. Akh Liem Ton kau sungguh menggemaskan."
Pada saat itulah mendadak Boen Ing memutar mutarkan biji matanya tiba tiba t Bangan nama Heng San Pay.
Tetapi dia bafts saJa «linm n darah ular raksasa itu eda ke snungkinaa tiga hari kemudian baru sadar » baiklah kau melindungi dirinya.' bicar© sampai disitu keadaan Oei Tiap -iLoojien sudah semakin parah lagi napasnya ^fj,to« n"tmV hpr Sersengkai eengkaJ tidak karuan jelas sebera '^n p ' ...
" ,fm nnms,-va tar lagi dia tidak kuat mempertahankan diri dgl •astb "
Akn ..Melihat kejadian tersebut Cing jie Jadi -amat terperanjat dengan terburu buru dia -ke|uaf ketiga lembar dedaun ma • d dlkuHyah dula dimulutoyti setelah itu baru dimasukkan kedalam mulut padfl radis tersebut.
"Cing mcsy! Dimana Liem Tou? Baru saja Cirg jie hendak menjawab men dadak tcdengar Oei Tiap Loojien sudah men^ gerakkan bibirnya berbicara < Oei Tiap Loojien untuk ditelan. Sampai waktu itu Cing jie benar benar ti dak dapat menahan tetesan air matanya yang "Cing jie l' pesannya.
"Ba»k baiklah kau menga'ir keluar semakin deras, lindungi Liem Tou. dia e emiliki ilmu silat "Ooow, supek! salamat tinggal** serunya se yang amat lihay apalagi pernah minum darah dih A&fa .,.! tiga tahun bukanlah suatu jang pusaka dari ular raksasa tersebut lain kali bo waktu yang pendek,. leh digunakan sebagai seorang pembantumu un Ah muka Oei Loojien lantas melintas satu tuk menangkap Boen Ing kembali kedalansenyuman yang amat sedih dengan perlahan lembah serta mesieghkkau kembali kecernei'dia mengangguk. ® "Hey CitJg moay kau masin tak suka b\c® n e y uiug uiuc*.» •-— — -i ra"
Tercengar Boen Ing membentak lagi de mg, menutup matanya dan menutup pern.
i,gan suaranya yang amat keras.
Sebetulnya pasannya.
Sehabis berbicara dia mengbela napas r&n m Liem Ton sudah pergi kemana -perkataaJ yang sudah aku ucapkan tak baiat kupungkiri dah menutup pernapasannya kali ini tak se ,.
hnfir «i r mntnnvn kembali.
Cmg jie yang melihat Oei Tiap Loojien su butir air matanya keluar, air mukanya ber-CinJ jie mana suka menggubris dirinya ubah jadi dingin bagaikan es, sambil membo n--.
T;#n f DOtiE tubuh Oei TiaD Loniien dia b ,tariU Cmg jie sigadis berbaju hijau itu sama anga kali tidak mengambil gubris, dia tetap menu .
se Cing jie mana suka inengguDris ainnya «ja.n u...e.u uuBa?
ivQiJ oautu,i saat ini dari tenggorokan Oei Tiap Loojien pong tubuh Oei Tiap Loojien dia berjalan mengeluarkan suara yang perlahan kembali i masuk kedalam ruangan batu tersebut, dia membuka matanya dan b-rkata deogai *Hey c,ng m£)ay , kau dengar tjdak pef_ amat halus seperti suara nyamuk.
kattanku ??
terdengar Boen Ing siperempuan "Masih ada lagi Cing jie!
alat rahasia da-cabul itu membentak kembali, ri ruangan batu tentu kau sudah meigetahu' dengan amat jelas bukan ?
didalam rtangai tersebut sudah disembunyikan suatu rangkai ,up mulutnya rapa(.
rapati an ilmu silat yang amat dahsyat dari suhu di hulu.
semasa hidupnya dia tak pernah berkati Melihat s.kap tersebut dalam hati Boen sebaliknya menjelang kematiannya dia b J ^ ™la, memecahkan sendiri persoalan ter berkata tetapi aku serta ayahmu sudah per™!
^nt-akhirnya terdengar dia bergumam se memeriksa sekeliling tempat ini dan hasilnjj ng ln » nihil, cobalah kau periksalah sekali lagi dt "Ooouw , ..kiranya Liem Tou ada didalam ngan teliti, bila mana kau berhasil mempel sana, tempe hari suhu pernah membawa ain jarinya ada kemungkinan masih bisa meng» masuk kesana.
katanya tempat itu ruangan sai diri Boen Ing.
bersemedi dari sucow ya tempo hari bahkan RS .
Selama setatus tahun ini Boen Ing di-sudbh dipasangi dengan alat rahasia yang -(kurung didalam ruangan batu disisi kiri dari ruangan sekarang, hatinya sudah benar berat de.
merasa jeri terhadap tempat itu.
kini dibc-baI kar hatinya oleh perkataan Cing jie dalam I hati diam diam mulai berpikir.
"Cuma mengandaikan kau Giok Cing se-percaya bisa mengurung amat bahaya Sembari bergumam sendiri mendadak ngan beberapa kali lonc. tan dia sudah ada diluar ruangan batu itu. Dikarenakan Liem Tou duduk dipojokan maka dipandang sepintas lalu dari tempat lu orar'S aku tidak aran sudah tentu tak akan aapat ditemukan. Qir'ku. Baru saja Bon Ing melangkahkan kakinyal Pikirannya dengan cepat berputar tanpa kedalam ruangan batu iiu mendadak seperti Pikir la8J diapun ikut membuntuti dari arah relah teringat akan sesuatu mata dengan terjtelakang. buru buru dia kebelakang. mengundurkan diri kembali Mendadak sepasang matanya dapat melihat iLiem Tou yang lagi duduk bersila menyandar "Kenap?, tidak masuk ?""
Ejek Cing jie de|psda f'indin£» agaknya dia sudah berada di n;gan nada yang amat dingin.
• 'Kau Boen Ing sudah mempunyai tenaga dalam hasil latihan seratus tahun, apakah, cuma sebuah ruangan batu yang demikian kfj cilnya bisa mengurung dirimu?"
Dalam keadaan lupa segala segalanya.
Melihat wajahnya yang amat serius, keren dan berwibawa itu tidak kuasa lagi dalam hatinya timbullah suatu perasaan menghormat.
Saat itu Cing-jie pun lagi berdiri disain-Ujung kakinya sedikit menutul tanah dengan Ping memandang kearah Liem Tou dengan amat cepatnya dia sudah berkelebat dari samping tubuhnya, lewau bandingan melongo.
Boen Ing yang jaraknya masih rada jaul tidak bisa melihat keadaan yang sebeiiarnyi dari Liem Tou sebaliknya Cing jie sejak se mula sudah dapat melihat kalau diantara per napasan pemuda itu secara samar samaa mengalir keluar dua gulung asap yang amal tipis, hal ini menunjukkan kalau tenaga da lam sang pemuda sudah berhasil di latih hingga mencapai pada tarif kesempurnaan bej simaan itu pula wajah yang tampan dari Liem Tou sudah menarik perhatian Cing jieJ Hatinya waktu itu lagi bergolak hebat, dil merasa cemas dan benci atas kekurangan rjaran Liem Tou yang sudah menghisap hatisj darah Gien-jie tetapi diapun merasa senangi dengan wajah yang ganteng dari pemuda ter-J sebut sehingga tak terasa dia lupa meletakkan tu.buh Oei Tiap Loojien keatas tanah.
Matanya dengan terpesona memandang ke-arah pemuda itu tak berkedip sedang mu-lutnyapun tak mengucapkan sepatah kata pun.
!PaJa saat itulah teTfiengat Boen Ing ter tawa ringan menyadarkan lamunan dari gadis ters-ebut.
"Licin To^' teriaknya dengan keras. 'Aku datang hendak mengerjakan dirimu buat apa kau buang waktu untuk bersemedi disini ?"
Sambil berkata dia mengebutkan ujung ju bahnya daa berjalan mendekati diri Liem ™ Tou-Cing jie yang berdiri riisisinya menjadi fea^et, teringar kembali kata kata terakhir Oa Tiap Loo jien yang minta "agar dia me lindungi baik baik pemuda it» membuat hati nya jadi tergetar, tubuhnya dengan cepat ma ju dua langkah kedepan meighalangt didepan ?tubuh pemuda itu.
'Boen Ing !' Bentaknya dengan keras .Bila tmana kau berani mengganggu seujung rambutnya aku tidak akan berlaku sungkan sung kan lagi terhadap dirimu/ Sehabis membentak keras dia lantas mele takkan tubuh Oei Tiap Loo jien keatas tanah dan berjalan kesamping tuouh Liem Tou.
i Tiba tiba sinar msfanya terbentur de"
Ngan pedang Lan Beng Kiam yang terletak dilisi pemuda tersebut, hatinya jadi amatgi rang tandannya dengan kecepatan yang luar biasa menyambar kedepan memungut pedang itu lalu putar badannya.
Waktu itulah Boen Ing sudah berada kujang lebih lima depa dari tempatnya saat ini..
Pedangnya dengan cepat digetarkan kede pan yang memancarkan cahaya biru menyi laukan mata dengan menggunakan jurus Sun Yen To Liem"
Atsu tiga walet menembus hu tar. berturut turut ? dia melancarkan tiga kali tusukan memaksa Boen Ing berturut -turut mundur sejauh tujuh delapan tindak.
"G.ok Cing V Bentak Boen Ing dengan gu sar. Oei Tiap Loo supek terh.ka ditanganmu. tentang hal ini aku sama tekali tidak mencari urusan dengan .dirimu, hanya saja ter hadap Liem Tou aku tidak bisa lepas tangan, aku sudah berkata kepadanya dan perkataan ini tidak bakal bisa dilanggar Liem Tou pasti aku dapatkan, bilamana kau meniesak aku leb li lanjut jaragan salahkan aku berlaku tidak sungkan legi terhadai diTimu."
Cing jie yang ada pedarg hiv Beng Kipm ditanp^nnyadslEni fcaii merasa arrat rrartap» "Boen Ing !
Ksu suka pergi attu tidak itu brusanrru.
terus terang saja aku Siauw Giok-Cing katakan, aku sama sekali tidak takuti dirimu,"
Sahutnya dingin.
Boen Ing yang melihat Liem Tou kini ada dihadapannya justru Cing jie berdiri dihadap annya dengan menegang pedang Lan Beng Kiam membuat sifat buasnya timbul kembali.
'Cing moay !
Jangan ksu salahkan enci log mu tidak berbudi"
Bentaknya keras.
3ubahnya yang lebar digetarkan kedepan melancarkan satu angin pukulan kedepan.
ber samaan itu pula tanpa mbmikirkan urusan yang lain dia menubruk kearah depan Cing jie tertawa ditgin, pedaag Lan Beng Kiamnya digetarkan ke depan menutup da.
tangnya serangan tersebut, dengan disertai desiran angin dinrin serta c; baya biru yang menyilaukan mata dia mengancam seluruh-bagian bagian bahaya dari tubuh Boen Ing yaig memaksa dia terdesak dan bertut turut mundur beberapa tindak keberakang.
Cing jie yang melibat serangannya berbasil memaksa musuhnya mundur dari tempat semula berturut turut dia lalu melancarkan kembali serangan berantai.
JDari jurus "Yen Tiap Leng Po"
Atau kupu indah terbang melaypng mendadak berubah ja di jurus 'Shia Yang Lok Jiet' atau sang raja lenyapkan jagat serta 'Mong Ay Hwee Hong5' at8u senja merendah pelangi beterbangan me rraksa Boen Ing jadi kalang kabut dan kelabak an dengan sendirinya Diam diam perempuan itu jadi terperanjat, terburu buru dia mengundurkan diri ke-belakang dengan cepat.
Walaupun kedua ujung bajunya yang lebar kena dibabat pula oleh Cmg jie sehingga putus, tubuhnya cepat ce pat malayang jatuh ketana'i.
Setelah rasa terkejutnya bisa ditenangkan sinar mata yang taji m dengan amat gusarnya lantas melosoti diri Siauw Giok Cing tak ber kedip.
'Hmm!
h mm !
Boen Ing.
kau masih mempunyai kepandaian apa lagi ?
...
ayoh keluarkan*"
Ejek Cing jie dengan suara yang sa ngat dingin.
Yang paling ditakuti kini oleh Boen Ing adalah periang pusaka Lan Beng Kiam tersebut ia tahu bilamana dirinya harus bergebrak melawan Cing jie dengan menggunakan tangan kosong maka didalam sepuluh bagian pasti sembilan bagian akan menemui kerugian Sinar mata berputar tiada hentinya, me sda dak pandangannya berhenti pada kedua belah ujung bajunya terpapas diatas tanah itu.
Cing jie diam diam merasa terkejut pula.
pikirnya .
"Kedua potongan baju itu tak boleh dida patkan kembali olehnya, kalau tidak pedang Lan Beng Kiamku ini berhasil dia kuasai!"
RS e pati dia lantas rrerasa kaget bukan main.
Celaka...' ' Pedangnya dengan cepat digerakkan me-Berpikir sampai disitu dia lantas maju b berapa langkah kedepan.
Siapa tahu baru saja dia menggerakkan bs dannya gerakan Boen Ing jauh lebih cepat kncarkan seluruh jurus kepandaian yang per lagi, sembari bergerak maju perempuan itu n?h dipelajarinya selama ini, cahaya ke b'm pun melancarkan satu pukulan dahsyat kede • biruan yang amat menyilaukan mata dengan pan.
membentuk setengah lingkaran busur me -Cing jie terpaksa menyabetkan pedangnya ngnrung seluruh tubuh gadis itu terutama di kedepan untuk menangkis ;angannya terasa -ri Liem Tou serta Oei Tiap Loojie.
tergetar keras tub^hnyapun mundur satu langkah.
Baru saja tubuhnya hendak maju kembali waktu itulah Boen Ing sudah berhasil mere but sobekan ujung jubah itu dan menggera kan tangannya menyambar kearah depan de ngan amat samar.
Kain adalah semacam benda lunak yang bi| Sa bergerak dan berputar dengan luwes dan lemas senjata ini justeru merupakan Rawan dari senjata senjata keras seperti toya golok pedang dan lain lainnya.
Cing jie melihat Boen Ing berhasil mere j but sobekan ujung baju tersebut bahsan kini menyerang dengan amat gencarnya di dalam Untuk beberapa saat lamanya walaupun Brei Ing mempunyai sobekan ditangan masih tak berbasil juga mengadakan penyerang ari.
Akhirnva dia meloncat kesamping meng -hentikan serangannya, sambil memandang ke arah Cing jie ujarnya dengan dingin.
'Cing moay!
aku lihat Liem Tou itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan di ri*nu, buat apa kau orang mati matian me -lindungi dirinya?' Melibat pihak mnsuh menarik kembali se tangannya, Cing jie pun lantas menarik pula pedang Lan Beng Kiamnya dan berdiri tak tergerak disana.
"Boen Ing!"
Sahutnya.
"Orang lela'ci amar1 banyak sekali dikolong langit, kenapa jus-teru kau meaginginkan dirinya?' "Aku sudah bilang dia adalah orang yand melepaskan diriku dari dinding ba'u itu .na!.a, aku Boen Ing akan memerahkan badanku !• e padanya, hal ini adalah suatu hal yang luar biasa baginya"
Seru Bcea log dengan gusar.
Cing j e yang mendengar perkataannya -itu suatu akal muncul didalam benaknya.
?'Liem Tou adalah tamu pertama yang mej masuki lembah mati bicup ini, lebih baik kuu lenyapkan ingatan ini saja !
jawabnya.
"Boen Ing . , , aku mau memperlihatkan se! macam barang kepadamu, sukakah kau orang untuk nelihatrya?"
"Kau menginginkan aku melihat ap^?'' 'Sealah melihat tentunya kau bakal tahu dengan sendirinya, buat apa kau banyak ber tanya?'' Sembari berkata dia maju dua langkah ke depan sambil menenteng pedangaya. Boen Ing tetap berdiri tak bergerak, sepasang matanya dengan amat lajam memper hatikan stl ruh tubuh Ciag jie agaknya dia 1 gi memeriksa apakah perbuatan ini merupakan satu akal atau bukan.
"Heeee... hecee .. kalau kau tidak suka me l-.hat juga tak mengapa' ejek Cing jie samb l tertawa dingin.
"Pokoknya semuapun pp-rnan meneiina perbuatan yang baik." 'Kau bilang apa?' teriak Boen Ing dengan kebtnguiigaa set-lah mendengar perkataan ter sebut Ayo'n cepat bawa aku pergi kesana, aku akan mengubah maksudku terlebih dulu. Lie n Tou, akan aku tinggalkan dulu,., tetapi bilamana kau men pu ainku heeee... heeee.., jangan harap kau bisa lolo* dari kematihnmu.""
Dengan dinginnya Cing jie mendengus, dia tidak menjawab. Pedang Lan Beng Klam nya segera dituding kan kearuh dinding batu tersebut sambil ka u nya.
"Disebelah sana aku beritahu padamu cara nrfuk menggerakkan alat rafasia tersebar, sudah tentu kau bakal melibat dengan sendirinya."
Boen Ing ternyata sungguh sungguh melakukan apa yang ditunjuk olsh Cing jie itu, dia berjalan mendekati dindrng itu dan mulai meraba permukaannya ytng halus dan -amat dingin.
'Setengah depa disebelah kiri tempat itu dua kaki diatas rabalah kebawah, kau akan bisa melihat barang tersebut."
Boen Ing yang mendengar perkataan tersebut jadi ragu ragu dengan cepat ia menoleh "Kau tidak lagi menggunakan siasat bukan?"
Tanyanya ragu ragu! Dalam hati Cing jie sudah mempunyai satu kemantapan, mendadak dia putar badan ber diri menghadap keluar pintu sedang tangan kirinya ditempelkan pada pintu batu itu.
"Kau pergi lihatlah sendiri, aku tidak ingin memberitahukan kepadamu, tetapi bilamara kau tidak tega akupun tidak ingin memaksa.** i Boen Ing berdiam diri beterapa saat lama aya setelah dirasakan tiada yeng aneh dia baru mengikuti perunjuk itu Tangannya dengan perlahan mulai meraba dinding itu tentu dengan hati amat tegang, dia tak mengetahui apakah yang hendak ditun jukkan Cmg jie kepadanya. Tetapi walaupun dia sudah meraba beber» pa saat lamanya dinding bata itu tetap dinding batu tak ada sebuah bendapm yang due muinya Dalam hati ia merasa ditipu, dongan amat gusarnya dia lantas menoleh kearah belakang. Mendadak • -"Kliik , , ,!' dinding batu itu membuka kesamping sehingga terlibatlah sua tu pemandangan yang lain daripada yang lain di balik tempat tersebut. Boen Ing jadi terperanjat, dengan tergesa gesa dia mengundurkan diri dua langkah kebe lakang sedang telapak tangannya disilangkan didepan dada siap siap menghadapi sesuatu. Tampaklah berpuluh pu'uh sosok kerangka manusia bertumpukan dibalik dinding itu. di aus batok kepala setiap kerangka manusia itu tertertlab I.die Hiab bekas cer Terdengar suara tertawa dari Cmg jie berkumandang datang. "Lebih baik kau beristirahat lagi selama seiatus talam ditempai tarsebut '< Kegusaran Boen Ing benar benar memun Semula dia agak tertefun. tetapi bWtvj, cak denoan mengerahkan seluruh tenaga da tidak ko8sa lagi, dia donpakksn kepalanya tertiwa tergalak dengan amat seramnya. Tetapi psda saat itu'th mendadak rusnpats jadi re'ap gulita terburu buru dia n emutar badannya kebeh kang. Cirg j'e, Liem Tou serta Tiap Loo jien yang serrula ada d'sana saat ini telah lenyap tak herbek8S sedang dindirg ruangan tertutup de ngan amat rapatnya Boen Ing lantas merasakan hatinya teigi tar keras, dengan amat gmprnya dia m e m bentak keias. "Giok Cing, kau gunaVan akal uutuk m< jebak akr, aku tictk nian rrei yt Cifciurusa ini ! Tubuhnya dengan cepat menubruk maj kedepan irertiekati dirding semula , , , lam yang dimilikinya dia menghajar kearah dinding tersebut. "Brakk . ..!'dengan disertai suara bentrok anyarg amat keras sehingga memekikkan te linga dinding batu yang amat tebal itu gum pai sebagian kecil karena terhajar pukulan ter sebut, tetapi dinding itu tetap rapat tidak bergeming sedikitpun juga. Bilamana Boen Ing tak melancarkan serang an ini ada kemungkinan dia masih bisa lolos dari sana, tetapi dengan tergetarnya seluruh dinding maka ?emua alat rahasia yang ada disana mulai berjalan, dia benar kini terkurung diruangau batu itu. Seketika itu juga dia merasa hatinya mence los, dia merasa benci dan mendongkol terha dap Cing jie , . , . kepingin sekali dia meng hajar sampai mati gadis itu .saat ini juga te tapi jusferu sayang dia kini fak dapat kelu.m c ... , , , , lama fremudipn dis mulai merasakan lengan-Seluruh tulangnya pada berkeruruk sakmg.'nya ,,"" TenRga dalqTflT,y, hfiW8. gusarnya deagan kalapnya dia menerjang kj Sambi! met1sne(a PFpsg sedih ,err)aksB Boen arah pintu batu yang belum merapat seluruiL mP1iarJk Vembq1i tanp9rnyq d"n amannya yang kini cujaa tinggal sebuah celah" Yang kecil saja. Dengan sekuat tenaga Ungmnya meacekl ram pintu itu dan dengan sekuat tenaga aiti riknya kearah saujptng. W-iKtu ini kekuatan lengan Boja Iag adi beribu ribu kati beratnya seharusnya dengiif kekuatan yang amat oesar itu tariannya in akan berhasil membuka pintu Datu itu teuf pi keadaan sama setali diluar dugaannya dia gagal didalam pekerjaannya mi. dane Tce rah pintu h a Mi vatjg Itu dengan mata mendelong. mulai merapat ( X ) ooo ( X ) KITA tinggelkan Bo*n Ing terisbih dft-tnn'u yung lerkuiung dalam ruangan batu ter-lebnr. Marilah kita kemb&H pada Cing jie yans dapat membuka mangan batu lainnya setelah berbasil "lemanaii h«ti Boen Ing dengan meng Justru karena dia mengerahkan tenaga mur gmskan kedua puluh sc sok tulang belulang ninya sekuat tenaga membuat darah yang m» ^ Cenat cepat dia mengikuti tubuh Liem n^alir keluar melalui bekas jari kakinya yanj Tou S£rt8 Oei Tiap Looj.en masuk kedalam terpapas semakin deras seluruh permukaan ruangan tersebut lalu menutup kembali ruang tanah telah dibasahi dengan ceceran darah se gar yang kotoi, Perbuatan yang sia sia dari Boen Ing ini mana kuat bertahan lebih lama lagi?? tidak an itu sehingga terhindar dari ancaman Boen jlcg Setelah berada didalam ruangan itu baru dia dapat menghela naprs panjang dan me mandang kearab dia orang itu dengan ter mangu mangu kemudian ia bangun berdiri dan mengetuk tiga kali pada ujung sebuai dinding 'Kraaaak , . -!" Dengan menimbulkan suara yang nyaring mendadak ditempai itu tej buka kembali sebuah lorong rahasia yang amat panjang. Keadaan didalam itu amat gelap sehingga tak dapat melihat lima jarinya sendiri, dengan hapalnya Cing jie menggendong tubaa Oei Tiap Loojien lalu berjalan menuju ke-] ujung lorong yang merupakan sebuah dinding batu kembali. Entah dengan cara yang bagaimana kembali dia menendang dinding itu beberapa kali sehingga terbukalah sebuah pintu rahasia. Dibalik piniu itu merupakan sebuah ruang ah Datu yang terdapat empat buah peti mati berjejer jejer, tanpa pikir panjang lagi Cing jie lantas membuka sebuah peti mati yang pai ling kiri dan memasukkan tubuh Oei Tiap-, Loojien kedalamnya yang kemudian ditutupi kembali batu penutupnya, Setelah semuanya selesai diatur ia baru bes. lutut memberi hormat. "Supek kau baik baiklah beristirahat sela aia tiga tahun. D.dalam liga tahun ini Cing-jie tak akan meninggalkan lembah sarang se tapakpun " Sehabis berkatadia 'alu bangun berdiri dan keluar dari ruangan tersebut menuju kesisi Liem Tou. Terlihat olehnya napas pemuda itu sangat lemah dan keadaannya mirip sekali dengan pernapasan orang yang sedang bersemedi saja tak terasa lagi dalam hati dia m diam pikirnya. "Apakah setelah minum darah pusaka dari ular perak itu dia lantas berhasil melupakan segala-galanya? biarlah aku coba dirinya apa kah dia memberikan reaksi atau tidak !" Cing jie adalah putri kesayangan dari It Tiap Cmjien Ciang bun jien angkatan kesebe las hari Heng san Pay pada seratus tahun yang lelu bilamana dihitung usianya pada saat ini sudah hampir mencapai seratus tahun. Kesembilan puluh d-lapan lembar dedautJ mati b;dup membuat dia tetap berada dalam ke"dP8n mrda dan kelihatannya baru berusia " Tujib ee'.ar&n belas tahunan. Sejfk memasuki lembah samnai wskm itu tak nernah dia meninggalkan tempat tersehu'» sudah temu terhadap urusan dunia kanrouw dia sama sekaii rok berpenga'sman, spa lagi dia masih memiliki sifat kekanak kanakan*. Setelah berpikir akar. hal itu dia Innus uluTkan tangannya untuk mengelut wajah Liem Tou, terasa olehrya wajah pemuda tersebut amat paras seperti dibakar sedang hawa udara yang dihembuskan keluar dari lubang hidung terasa amat dingin menggigilkan. Semakin dipegang Cng jie merasa semakin tertarik, akhirnya dia tidak ingin melepaskan wajah pemuda itu lagi. Tetapi lama kelamaan tiba tiba dalam hati Cing-jie terjadi suatu penbthan, dan perasaan ini adalah perasaan yang muncul untuk pertama kalinya selama seratus tahun ini, dia merasa hatinya berdebar debar 'dengan kerasnya. Kiranya setiap gali s ya n? telah msag;..-jakdiWaja tentu akan timbul suatu perasaan yang istimewa terfajdap setiap lelaki. Cmg jie yang merana dan me nbelai tubuh Liem Tou s semula hanya bermaksud untuk menggoda dan ingm tahu saja tanpa m&'csud yang lain, tetapi lama kelamaan dtrengah ke unyiau itu dia me npunyat suatu perasaan aneh. Hawa lelaki yang sangat aneh dan sukar di lukiskan yang tersiar dalam tuouh Liem Tou membuat hatinya tergetar, dia merasa raaa taicut dan bercampur dengan rasa sangat ter jarik karena bau yang diciumnya iai suatu bau yang amat merangsang dan me nisat ha tinya. betelah berpikir termangu mangu beberapa saat lamanya tak kuasa lagi sspasan™ pipinja Ciaag jie berubah Jadi merah padan, sepa sang matanya dengan melotot lebar lebar memperhatikan diri LiemToi lak berkidip. Urusan anehpun lantas terjadi dideoan m a ta Liem Tou yang ada dibadapannya pada su at ini ternyata sudah berubah menjadi seorang pemuda yang begitu tampan dan begitu me -nariV. Dengan amat tajam Cing jie memperhatikan terus diri pemuda tersebut, mendadak di dalam beraknya muncul suatu cara untuk raen coba diri Liem Tou. Dia merendahkan badannya dan berjongkok diatas tanah lalu meniupkan hawa kedalam hidung pemuda tersebut, Jilid 36 . Kitab bersemadi yang baik BAGI CING JIE perbuatan ini sangat menarik sekali tetapi dengan kejadian ini Liem Tou merasa amat menderita sekali bahkan hampir hampir memancing dia kedalam jalan api neraka sehingga badannya cacad. Kiranya Liem Tou sehabis mengisap darah ular raksasa itu dia merasa hawa panas yang menyerang hatinya membuat seluruh tubuh menjadi terbakar, dia tahu kejadian ini tentulah dikarenakan darah ular raksasa tersebut. Karena itu dia lantas duduk bersila menuruti ajaran Sim hoat dari kitab pusaka To-Kong Pit Liok dan menyalurkan hawa panas tersebut mengelilingi seluruh urat nadi serta jalan darah yang ada didalam tubuh, waktu itulah dia merasa badannya mulai nyaman dengan segera oleh sebab itulah dia melanjutkan semadinya diujung ruangan batu itu. Siapa tahu sewaktu ia sedang berlatih hingga mencapai pada puncak sesuatu latihan mendadak dari hadapannya muncul sesuatu yang tidak beres, bukan saja didalam tubuhnya mulai bergolak dengan amat kerasnya bahkan hawa murni didalam dada serta lambungnya menerjang keatas dengan dahsyatnya sehingga sukar untuk ditahan. Didalam keadaan amat terperanjat dia lantas kerahkan lweekang menurut ajaran kitab pusaka To Kong Pit Liok untuk menguasai seluruh keadaan. hanya didalam sekejap saja ia sudab berada didalam keadaan lupa segala-galanya. Pada saat itulah mendadak hidungnya mencium bau harum yang sangat aneh menjalar masuk kedalam tubuhnya melalui hidung masuk kedalam pusar lalu melanjutkan alirannya berputar ke 'Jien Tok' dua urat nadi akhirnya kedalam 'Nie Tan' serta "Sin Teng" 'Nie Tan' serta "Sin Teng" Merupakan dua buah pusat urat syaraf yang penting didalam tubuh, sekalipun tenaga dalam Liem Tou amat dahsyatpun waktu itu tidak bakal bisa menahan golakan yang timbul disebabkan oleh bau harum yang semerbak dari tubuh seorang gadis. Napsu birahi muncul dari hatinya membuat pikiran cabul pun terbayang didalam ingatannya bagaikan didalam impian saja segala pemandangan yang indah serta sorga dunia muncul saling susul menyusul didalam benaknya. Aliran darah yang sedang berputar dengan teraturnya didalam tubuh pun mulai buyar dan mengalir simpang siur amat kacau. Cing jie yang meniupkan udara kedalam hidung Liem Tou sewaktu dilihatnya pemuda tersebut sama sekali tidak menimbulkan reaksi apa apa lantas bersiap siap untuk meniup kembali beberapa kali. Mendadak dia melibat tubuh Liem Tou tergetar amat keras diikuti wajahnya berubah jadi merah padam bagaikan kepiting rebus; semakin lama semakin memerah sehingga akhirnya mirip dengan sekuntum bunga yang sedang mekar, sangat menarik sekali. Cing jie yang melihat ketampanan wajah sang pemuda semakin lama semakin menyenangkan, hatinya jadi bergirang hati kepada pemuda itu lalu serunya. "Liem Tou" Kau sedang malu? aku tidak percaya kalau kau berhasil duduk bersemedi sehingga berada didalam keadaan lupa akan segala-galanya. Hey Liem Tou, Boen Ing itu sangat galak kenapa kau terus menerus berpura-pura? bilamana kau tidak suka buka mata aku akan hajar badanmu !" Sehabis berkara dia lalu mengayunkan tangannya siap menggaplok pipi Liem Tou. Siapa tahu sewaktu tangannya sedang di ayunkan inilah mendadak terdengar pemuda itu buka mulut, 'Aakh ! enciku yang baik kau sunggub cantik bagaikan bidadati yang turun dari kahyangan ! Aku mohon kepadamu biarlah aku cium wajahmu ." Cing jie yang mendengar Liem Tou angkat bicara dia lantas menarik kembali tangannya, tetapi setelah mendengar perkataan itu dia jadi jengah. "Liem Tou ! Kau sungguh tak tahu malu, apa kau kata ?'bentaknya nyaring. Setelah suara bentakan tersebut. dalam perkiraannya, Liem Tou sudah tentu akan membuka matanya setelah mendengar suara bentakan itu lalu minta maaf kepadanya. Siapa tahu pemuda itu masib tetap duduk tak bergerak; seluruh tubuhnya gemetar keras sedang wajahnya semakin lama berubah semakin merah. "Enci yang baik kita dibesarkan bersama-sama, aku cinta padamu benar benar. kenapa kau tidak memperkenankan aku mencium dirimu ? Mari cici biar aku cium dirimu perlahan-lahan. Aaaakh enci yang baik aku mohon " Cing jie yang mendengar perkataannya semakin iama semakin tidak karuan mendadak putar badannya. 'Liem Tou. kau jangan terlalu menggoda orang !" Bentaknya dengan nyaring 'Siapa yang menjadi encimu ? Siapa yang dibesarkan bersama sama dirimu ?' Tubuh Liem Tou yang lagi bersemedi di atas tanah gemetar amat keras sekali. wajahnya yang merah padampun sudah lenyap bergpanti dengan air muka yang pucat pias bagaikan mayat; suaranya berubah semakin kecil sehingga sukar untuk didengar. 'Enci Ie !" Ujarnya lagi. 'Kau tidak meng gubris aku, tapi jangan marah . ? aahh ..aku merasa rada dingin .., Aduuh ... !" Hanya didalam sekejap mata saja wajah Liem Tou dari pucat pasi semakin lama berubah menjadi semakin hijau menyeramkan seluruh tubuhnya gemetar semakin keras. Cing jie yang mendengar Liem Tou berteriak keras dengan kagetnya lalu menoleh. Waktu dilihatnya keadaan wajahnya tidak beres dengan gugup tanyanya . 'Liem Tou kau kenapa ?' Seluruh tubuh Liem Tou masih gemetar tidak hentinya air mukanya berubah semakin menghijau membuat Cing jie jadi amat gugup. Mendadak teringat olehnya akan kata dari Oei Tiap Loojien yang pernah memberitahu bagaimana bahayanya orang berkepandaian yang terpancing kedalam jalan api menuju neraka, kini dicocokkan dengan kata kata ingatan yang diucapxan oleh Liem Tou sudah jelas merupakan tanda yang nyata. Didalam keadaan gugup pedang Lan Beng Kiamnya bagaikan kilat menyambar kedepan wajah Liem Tou membikin hawa pedang yang amat dingin menyeramkan menusuk wajahnya. Liem Tou yang berada didalam keadaan amat kritis dan bahaya mendadak dikejutkan oleh sambaran hawa pedang yang sangat dingin menyeramkan segera membentak keras, kesadarannya pun pulih kembali seperti sedia kala. Bagaikan baru saja terbangun dari suatu impian buruk aliran darah didalam badannya menjadi lancar kembali semangatnya pun pulih kembali seperti sedia kala; dengan sendirinya dari mulutpun memperdengarkan suara rintihan yang perlahan. Melihat akan hal itu Cing jie jadi amat girang sekali. "Liem Tou ! Liem Tou ! lekas bangun ." Serunya berulang kali. Walaupun telinganya Liem Tou bisa mendengar suara teriakan dari Cing jie itu tapi berhubung waktu itu dia harus membalik dulu hawa murninya seperti sedia kala sehingga tidak sampai merugikan badan maka dia tetap pejamkan matanya tidak bercakap-cakap . Cing jie yang melihat suara panggilannya sama sekali tidak digubris oleh Liem Tou dia pun lalu menghela napas panjang . Liem Tou merasa tubuhnya tiba tiba digendong oleh Cing jie dan entah dibawa kearah mana. Dia merasa hawa murni dibadannya menjadi lancar kembali. setelah mengelilingi seluruh tubuh satu kali diapun lantas membuka matanya. Tampaklah waktu itu dia duduk bersila di sebuah ruangan batu yang rada mewah dengan alat alat meja kursi yang lengkap, di tengah ruangan diatas dinding tergantunglah sebuah lukisan orang tua yang amat ramah sekali sedang dirinya berada diatas pembaringan batu dengan Cing jie berada disisinya. "Iiih.. tempat manakah ini?" Teriak Liem Tou kaget. Dengan perlahan Cing jie bungkukkan badannya dan ujarnya dengan halus. 'Liem Tou; ini adalah kamarku, kau rada baikan bukan?' Liem Tou yang baru saja lolos dari bahaya maut seluruh tubuhnya telah dibasahi oleh ke ringat, dari dalam sakunya Cing jie lantas mengambil keluar sebuah sapu tangan dan mengusap kering keringat dibadan pemuda itu. Liem Tou yang tiba tiba mencium bau harum dari sapu tangan itu hatinya jadi paham beberapa bagian, dengan perlahan dia mengangguk. 'Untung sekali ada sebuah benda yang dingin menyeramkan sehingga dapat membuka aku sadar kembali sakinq terkejutnya; kalau tidak selama hidupku kali ini akan tersiksa!' Dia berhenti sebentar untuk kemudian tanyanya lagi; "Bagaimana aku bisa sampai ditempat ini? Ah ! nona, bukankah kalian sudah memasuki barisan bunga itu ? Dmanakah Oei Tiap loo-ciunpwee dan Boen Ing si perempuan silmuan itu 7" 'Heei --perkataan itu amat panjang sekali kalau dibicarakan" Ujar Cing jie dengan sedih bercampur gembira. "Boen Ing sudah terkurung didalam ruangan batu ditempat luaran, untuk beberapa saat lamanya dia tidak bakal bisa lolos dari sana sedang supek, dia -dia sudah mati !' Liem Tou yang mendengar Oei Tiap Loo jien sudah mati mendadak melomupat bangun dari atas pembaringan batu itu. "Kau bilang apa ?" Teriaknya dengan keras. 'Oei Tiap loocianpwee sudah mati, bagaimana dia bisa mati ? Setelah dia mati lalu siapa yang bakal memberi pelajaran ilmu silat buat Oei Poh ?" Cing jie yang meiihat sikap terharu yang terpancar dart wajah Liem Tou dengan sedihnya lalu menghela napas panjang-"Liem Tou kau jangan terburu napsu" Hiburnya. "Oei Tiap supek memang benar benar sudah mati tapi tiga tahun kemudian dia akan hidup kembali hal ini tak usah terlalu diisedihkan saat ini kita masih menghadapi satu kesukaran yang harus cepat cepat diselesaikan." "Kita berdua bukankah amat baik sekali ? kesukaran apa lagi yang sekarang kita hadapi?" Tanya penuda itu dengan keheranan. Cing jie pun lantas menceritakan kisahnya dimana dia bertempur melawan Boen Ing didalam barissn bunga lalu bagaimana memancing dia masuk kedalam ruangan batu dan terjebak, dan terakhir tambahnya lagi 'Liem Tou!! ruangan batu ini adalah ruangan yang digunakan sucouku tempo hari untuk bersemedi sehingga pintu masuk cuma ada satu saja kini Boen Ing ada didalam ruangan yang menutupi pintu keluar, walau pun dia tak mengetahui akan alat alat rahasia dari ruangan tersebut sehingga tak bisa lolos tetapi kitapun tidak bakal bisa keluar! bilamana kini tidak mencari akal untuk keluar, maka kita bakal menemui kesulitan! ' . Liem Tou yang mendengar perkataan itu segera tertawa dirgin. "Soal itu tidak sulit! ! " Serunya dengan cepat. "Mari kita terjang keluar dan tempuri dirinya, apa dikira kita menaruh rasa jeri terhadap dirinya? ? " . Sembari berkata dia mulai menggosok-gosok kepalanya. Dengan dinginnya Cing-jie mengerling ke-arab pemuda tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun, cuma dari hidungnya dia mendengus dingin. Waktu itulah Liem Tou baru ingat kembali kalau dirinya sudab mengunci tangan setelah mengetahui dirinya sudah salah berbicara wajahnya berubah merah karena jengah, terburu-buru dia mengubah bahan pembicaraan. "Nona, dimanakah jenasab Oei Tiap Loojien diletakkan? dapatkah kau orang membawa diriku untuk pergi manyambanginya? Oie-Tiap Loojien jadi orang ramah dan agung; aku Liem Tou benar-benar menaruh rasa kagum terhadap dirinya. Dengan perlahan Cing jie mengangguk dan membawa dia masuk kedalam ruangan yang terdapat empat buah peti mati itu. 'Liem Tou. kau mendatangi gunung Heng san ini apakah khusus hendak mencari supekku?" Tanya Cing jie dengan perlahan. "Atau mungkin karena kau tahu tidak bakal menangkan dirinya lantas menutup tangan sendiri?" Kenapa tadi kau bilang hendak menghajar diri Boen Ing; hanya didalam sekejap saja sudah berubah pendapat ?" Pikir Liem Tou waktu ini sedang diperuhi dengan berbagai persoalan. Dia sama sekali tidak menjawab sebaliknya berjalan kedepan peti peti mati tersebut. Ketika dilibatnya ditempat itu ada empat peti mati tidak terasa ia jadi melengak dan kebingungan. Cing jie tertawa tawar; dia menuding dari peti mati yang ada disebelah paling kiri lalu ujarnya ; "Kau jangan keheranan, mari aku beritahu kepadamu; ini adalah ibuku Su Sim Koan Im, sedang yang ini adaiab ayahku Ie Tiap Cing jie Sedang yang ketiga adalab milik supekku Oei Tiap loojien ' Sembari berkata air mata mengucur keluar dengan derasnya; dengan terburu-buru Liem Tou berlutut memberi hormat kepada jenazah jenazah tersebut. Mendadfik terdengar Cing jie berkata kembali dengan sedihnya. "Cuma sayang masih kurang dua peti mati 1agi " 'Buat apa kedua buah peti mati itu? apakah ada jenazah yang belum dimasukkan ke dalam peti mati?" "Kau sebuah dan aku sebuah bukankah semuanya kekurangan dua buah peti mati lagi?' ujar Cing jie dengan dingin. Da berkata begitu walaupun nada suaranya rada tidak sesuai tapi dari sepasang matanya memancarkan cahaya yang sangat aneh memandang kearah Liem Tou. Hatinya yang semula suci bersih dan tenang laksana permukaan air telaga kini sudah berubah kacau dan bergolak laksana menggulungnya ombak ditengah samudera. Liem Tou pernah bercintaan dengan Lie Siauw Ie, dan terhadap sikap serta tindak tanduk pemuda pemudi pun dia sudah paham, kini melihat sinar mata Cing jie rada aneh hatinya jadi tergetar keras; pikirnya didalam hati . "Nona, kau sudah salah melihat orang. bilamana aku tidak bersikap tawar terhadap dirimu mana aku punya muka untuk bertemu kembali dengan Ie cici? apalagi sesaat meninggalkan gunung Cing-Shia perkataan yang diucapkan oleh supek masih berkumandang didalam telinga ..." Berpikir sampai disitu hatinya berdebar amat keras, sikapnya pun rada tidak biasa. "Liem Tou! " Cing jie sudah berkata lagi sambil tertawa. "Saat ini di dalam ruangan batu yang amat besar ini, tinggal kau serta aku dua orang walaupun aku cuma mengijinkan kau berada disini hanya semalam saja tapi kini Boen Ing ada diluar, sekalipun aku ingin mengantar kau pergipun tak bisa" Liem Tou yang mendengar perkataan dari Cing jie semakin lama semakin mendekat, jelas sudan memberi pertanda kepadanya maka dengan gugup lantas menjawab. "Walaupun perkataan dari nona sedikitpun tidak salah, tapi aku rasa seharusnyalah kita mencari suatu cara untuk keluar dari sini apalagi aku masih ada urusan penting yang harus diselesaikan dengan segera tempat ini tak bisa aku diami lebih lama lagi." "Liem Tou apakah tempat ini tak ada barang yang bisa dikerjakan?" Seru Cing-jie sambil memutar-mutar biji matanya. "Kau begitu terburu buru hendak pergi kemana? apa lagi kini Boen Ing ada diluar apakah kau bisa keuar dari sini dengan lancar?' Liem Tou tertawa pahit, ia pun lalu menceritakan tujuannya datang kemari, akhirnya dia menambahi. "Kini Oei Tiap cianpwee sudah mati, sudah tentu Oei Poh pun tak ada yang menuruni pelajaran silat kepadanya, walau pun hal ini bukanlah harapan dari aku Liem Tou tapi karena urusan itu kini akupun semakin jelas." "Lalu setelah keluar dari sini kau hendak melanjutkan membuka pantangan membunuh?" Seru Cing jie dengan air muka berubah sangat hebat. "Soal itu sih tidak murgkin" Ujar Liem Tou sambil menggelengkan kepala. "Aku mau sembunyi dan tidak lagi terjunkan diri kedalam dunia kang ouw." Sinar mata Cing jie jadi bersinar, lama sekali dia memperhatikan diri Liem Tou lalu bisiknya dengan suara yang amat lirih. 'Kalau begitu, kau berdiamlah disini saja aku .., aku bisa bersikap baik terhadap dirimu.' Berbicara sampai disini air mukanya sudah berubah merah jengah, kepalanya ditundukkan rendah-rendah dan tak berami lagi memandang kearah pemuda itu. Liem Tou yang mendengar perkataannya itu segera merasakan hatinya berdesir, 'Nona Cing," Ujarnya dengan serius. "Aku tahu sikapmu terhadapku Liem Tou adalah baik tapi dalam hati aku hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih, tetapi uku Liem Tou ada kesusahan yang tak bisa diucapkan karena ini harap nona suka memasfkan aku yang tak bisa menerima permintaanmu itu." Perkataan yang diucapkan Liem Tou itu benar benar berada diluar dugaan Cing jie seluruh tubuhnya bergidik sedang air mata bercucuran dengan derasnya. "Liem Tou . , , aku memang patut dipukul," Teriaknya dengan keras. "Aku tidak menyangka diriku bisa berkata begitu kepadamu !' Terhadap diri Cing jie waktu ini benar benar menaruh rasa simpatik, kini gadis itu sudah tak berayah dan tak beribu, seorang diri tinggal didalam gunung yang sunyi memang sangat tidak menyenangkan. Bilamana seorang gadis meminang dia seorang lelaki sudah tentu merupakan perbuatan yang melanggar kebiasaan apalagi kini di tolak oleh Liem Tou. perasaannya sudah tentu kena terpukul. Tetapi Liem Tou tahu kalau gadis itu masih bersifat kekanak-kanakan bila ada perkataan, langsung diucapkan karena itu terburu buru dia menangkap tangannya dan menghibur dengan suara perlahan . 'Nona Cing; kau jangan begitu; aku tahu kau yang tinggal seorang diri ditempat yang sunyi ini sangat membutuhkan seorang kawan, akupun menaruh rasa simpatik terhadap dirimu, mari, jangan menangis lagi ! Bagaimana kalau aku ajak kau keluar dari gunung untuk berjalan-jalan oidalam dunia kang ouw?" 'Aku tidak bisa berbuat demikian " Ujar Cing jie sambil goyangkan kepala. "Aku harus menjaga jenazah dari supek." Sembari berkata air mukanyapun sudah berubah sangat kecewa. Liem Tou segera merasakan hatinya menjadi lemas. "Nona Cing, sudahlah jangan sedih," Serunya sambil menghela napas panjang. "Biarlah aku temani kau untuk beberapa saat lamanya disini; apakah kau punya makanan untuk menangsal perut ?" Cing jie yang mendengar Liem Tou suka tinggal disana mendadak dari murung dia jadi bergirang hati, dengan cepat tubuhnya loncat kedalam lorong rahasia itu. Liem Tou yang bisa nemandang ditempat kegelapan seperti ditempat terang saja dengan cepat mengejar kedepan. 'Nona Cing kau hendak pergi kemana?" Teriaknya dengan keras. Bagaikan melayangnya segumpal asap dengan cepatnya Cing jie meluncur kedalam ruangan batu itu sewaktu Liem Tou menyandak kesana dia sudah mencekal sebuah bola batu yang ada pada ujung dinding tersebut. Semula dia memutar kekiri terlebih dulu kemudian baru memutar kekanan dua kali pintu batu yang amat besar dengan cepat lantas bergeser kesamping. Dibaiik pintu batu itu terdapatlah baban makanan yang cukup digunakan selama tiga sampai lima hari lamanya, Setelah melihat sebentar kearah dalam ruangan itu Cing jie mulai memaki maki diri Boen Ing semula dia mendengar Liem Tou suka tinggal disana mengawasi dirinya dalam hati merasa amat girang tetapi setelah dilibatnya bahan makanan hanya cukup buat tiga sampai lima hari saja dia jadi merasa kecewa. Liem Tou yang melihat kecintaannya dalam hati merasa terharu. "Nona Cing " Ujarnya sambil tertawa. "Kita cuma ada bahan makanan yang cuknp buat tiga sampai lima hari saja. lebih baik kita lewati dulu hari ini mari sekarang kita makan dulu kemudian mengajak aku dolan kedalam ruangan batu ini. aku mau meninjau tempat tempat yang menarik." Cing jie lalu mengaagguk lalu berlalu untuk mempersiapkan santapan buat pemuda tersebut. Sewaktu bersantap itulah sepasang mata Cing jie dengan tiada hentinya memperhatikan terus diri Liem Tou membuat pemuds itu jadi rada tak leluasa. "Nona Cing kau terus menerus memperhatikan diriku apakah tak takut sampai aku merasa malu ?" Tanyanya sambil tersenyum. Cing jie tak menjawab sebaliknya malah bertanya . "Liem Tou kau sungguh sungguh mau tinggal disini ? kau jangan menipu aku lho !" Dalam hati Liem Tou merasa amat sedih 'Nona Cing; aku tidak akan mengapusi dirimu, aku sudah bilang untuk sementara waktu aku akan mengawssi dirimu, tapi.." Liem Tou melihat sepasang mata Cing jie tajam bsgaikan dua bilah pisau tajam yang mendesak terus kearahnya dia berhenti sebentar; akhirnya dengan tegas sambungnya lagi-"Tetapi ditempat ini paling banter aku hanya bisa tinggel selama satu bulan saja sebab sebelum bulan Tiong Chiu aku sudah harus kembali digunung Cing Shia" Air muka Cing jie segera jadi pucat pasi lama sekali dia baru bisa berkata kembali "Sejak itu kau tidak akan datang lagi ?" Liem Tou segera memejamkan matanya rapat rapat dia berusaha untuk menahan golakan didalam hatinya. "Untuk sementara lebih baik tidak usah membicarakan soal ini lagi setelah kenyang bersantap baik baiklah beristirahat biar aku pergi untuk memeriksa keadaan di sekeliling tempat ini. aku mau lihat sendiri ruangan batu yang sangat hebat bangunan serta arsitekturnya ini." Dengan perlahan Cing jie mengangguk tidak terasa dia sudah mengucurkan air matanya Lama sekali mereka berdua berdiam diri; waktu itu mendadak terdengar suara bentrokan yang amat keras berkumandang datang. "Aaaaakh ... suara apa itu ?" Terdengat Liem Tou berteriak dengan amat kaget. 'Aku sendiri juga tidak tahu ! Apa mungkin Boen Ing sedang main setan ? Mari kita pergi melihat!" Sehabis berkata dia lalu meluncur dengan cepatnya kearah lorong rahasia itu. Liem Tou yang sedang ikut lari ke depan mendadak teringat akan sesuatu; setelah minum darah ular raksasa dia tidak mengetahui bagaimanakah dengan tenaga dalam yang di-milikinya kini; walaupun dirinya telah menutup tangan tapi bilamana perlu dia masih bisa menempelkan telapak tangan keatas punggung gadis itu untuk membantu tenaga pukulannya. Berpikir sampai disitu dia lalu kerahkan tenaga dalamnya menghsjar ke arah dinding batu, didalam angpapannya pululannya itu paling sedikit akan menghajar gumpil dinding tersebut, Siapa tahu pada saat itulah mendadak terasa olehnya ada segulung angin pukulan yang maha dahsyat tanpa mengeluarkan sedikit suaarapun sudah membokong dari arah belakang bersamaan itu pula tangannya yang digunakan untuk melancarkan serangan tadi dengan amat tepat sudah menggerakkan alat rahasia membuat sang pintu dengan perlahan menutup kembali seperti sedia kala. Didalam keadaan terperanjat dia mengira ada orang yang lagi membokong dirinya. tubuhnya yang atas dengan cepat miring kesamping untuk menhindar sedangkan tubuhnya berputar kebelakang bersama-sama melancarkan satu pukulan 'Siapa yang membokong diriku !" Bentaknya keras Menanti dia sudah menoleh kembali hatinya menjadi keheranan, disana sama sekali tak tampak sesosok bayangan manusiapun. Pada saat dia lagi keheranan itulah kemball segulung angin pukulan menggulung dan mengancam dadanya. Dalam hati pemuda itu mulai terperanjat pikirnya. "Ilmu meringankan tubuh dari orang ini sangat dahsyat sekali, ternyata sampai bayangan tububpun aku tak dapat menemuinya . .!" Pada saat pikirannya sedang berputar itulah tubuhnya sudah berkelebat kesamping, punggungnya menempel pada dinding ruangan dan sepasang talapak tangannya disilangkan didepan pada siap siap menghadapi sesuatu. Walaupun begitu dia tidak melihat adanya bayangan seorang manusiapun sedang serangan kembali melanda datang dari arah samping. Liem Tou yang melihat dalam ruangan itu sama sekali tidak tampak adanya orang ke dua, hatinya jadi paham kembali, kiranya angin serangan itu berasal dari angin pentalan serangannya yang menghajar dinding, tak terasa lagi dia lalu tertawa, sedang tangannya dikebut kebutkan kedepan memunahkan kembali serangan tersebut. Tetapi pintu dinding kini sudah tertutup, bagamana dia bisa keluar untuk bertemu dengan Cing jie ? hatinya jadi sangat cemas sekali. "Nona Cing, lekas buka pintu !" Ruangan batu itu dibuat dengan amat cermat dan rapi sekalipun dia sudah berteriak sehingga tenggorokannya kering ditempat luaran tak dapat mendengarkan suaranya, apalagi tempat itu masih terbatas oleh lorong yang amat panjang, walaupun Liem Tou sudah berteriak amat keras tak kedengaran suara jawaban juga. Liem Tou semakin cemas lagi seperti semut kepanasan mendadak hatinya tergetar sangat keras karena secara samar samar berkumandang datang suara yang keras memekikkkan telinga. Liem Tou yang tidak mengetahui sudah terjadi urusan apa hatinya semakin ingin bertemu dengan Cing jie. Tiba-tiba pintu batu itu tergetar keras agaknya hendak terbuka kesamping, Liem Tou yang melihat hal itu segera mengadakan persiapan. Tetapi walaupun sudah lewat lama keadaan masih tetap tenang saja. Liem Tou jadi semakin cemas lagi. Makin lama pemuda ini semakin tidak bisa menahan sabar lagi, telapak tangannya dengan perlahan diangkat sejajar dada siap siap dihantamkan kearah depan, Mendadak , , pintu batu itu terbuka. Cing jie sambil menenteng pedang Lan Beng Kiam dengan wajah pucat pasi berkelebat masuk kedalam ruangan. 'Boen Ing ayoh masuk," Teriaknya dengan napas tersengkal sengkal. Belum habis dia berkata mendadak terdengar suara tertawa yang amat menveramkan berkumandang datang disusul Boen Ing dengan rambut awut awutan hendak masuk ke dalam. "Cing moay ..haa , , haa , , , kau sudah menipu aku, kini aku tidak akan mengampuni dirimu lagi !" Sepuluh jarinya dipentangkan lebar lebar siap menubruk kearah Cing jie. Cing jie dengan cepat lintangkan pedangnya kedepan lalu dengan disertai rentetan sinar biru yang menyilaukan membabat kearah jari tangan Boen Ing. Terburu-buru Boen Ing manarik kembali tangannya kebelakang tubuhnya melayang maju dua langkah kesamping dan menubruk kembali kearah gadis itu. "Ini hari bukannya kau yang mati akulah yang hidup!" Bentak Cing jie gusar. Pedang Lan Beng Kiamnya pun segera membentuk bayangan cahaya biru yang rapat sekali melindungi seluruh tubuhnya disamping sekalian melindungi diri Liem Tou. Liem Tou sejak menghisap darah ular raksasa walaupun kurang sedikit telah menginjak api neraka sehingga melenyapkan sebagian dari darah pusaka itu tetapi manfaat yang didapatnya tidak sedikit pula, saat inilah merupakan suatu kesempatan yang baik untuk mencoba coba kekuatan sendiri. Berpikir sampai disitu dia pun lantas menempelkan telapak tangannya pada punggung Cing jie. 'Nona Cing, hantam dia!" Bentaknya keras. Cing jie yang mendadak mendapat bantuan tenaga yang amat panas dari Liem Tou merasakan badannya sangat tidak enak untuk beberapa saat lamanya bukannya dia bisa menggunakan kekuatan itu untuk menghajar musuh sebaliknya malah menjadi lemas sehingga serangannya pun jadi rada kendor. Boen Ing adalah seorang marusia yang sangat lihay, dengan mengambil kesempatan itu dia menerjang kedepan, kesepuluh jarinya bagaikan kilat cspatnya sudah mencengkeram ke luar. Liem Tou yang melihat keadaan itu dalam hati merasa terperanjat, 'Nona Cing, hati-hati ! Hantam dia !" Bentaknya keras. Ditengah suara bentakan yang amat keras itu kaki kirinya mundur ke belakang sedang tangan kanannya menarik pundak Cing jie kearah belakang pula, karena teriakan itu tubuh Cing jie pun lantas ikut mundur satu langkah kebelakang sehingga dia berhasil mengundurkan diri dari cengkeraman Boen Ing itu. 'Nona Cing, musuh tangguh ada didepan mata; cepat lawan dia dengan sekuat tenaga !" Kembali Liem Tou membentak keras. Cing jie yang ditegur oleh perkataan itu hatinya jadi tergetar sedang pikirannyapun jadi sadar kembali, dalam hati dia merasa rada kecewa. Gerakan pedangnya diperkencang memaksa Boen Ing kembali mundur dua langkah ke belakang. Dia yang merasa telapak tangan Liem Tou menempel pada punggungnya dalam hati segera mengetahui kalau dia lagi membantu dirinya, karena itu dia lantas menarik napas panjang panjang dan menggabungkan tenaga bantuan tersehut menjadi satu. Air mukanya jadi semakin mantap lagi mendadak pedang Lan Beng Kiamnya sengaja membuka satu lubang kelemahan, Boen Ing yang tidak tahu siasat sambil menjerit seram teriaknya . 'Cing moay jangan salahkan encimu akan turun tangan kejam terhadapmu.' Tidak jelas dia menggunakan cara apa tahu tahu kesepuluh jari tangan Boen Ing bagaikan sepuluh bilah pisau tajam mengancam kedepan. Cing jie yang sejak semula sudah mengadakan persiapan sama sekali tidak menjadi gugup melihat datangnya serangan itu. Air muka gadis tersebut sudah berubah jadi dingin menyeramkan, matanya berubah merah berapi-api. 'Boen Ing saat kematianmu sudah tiba !" Bentaknya keras. Pedangnya digetarkan kedepan sehingga memancarkan sinar biru yang menyilaukan mata sedang telapak kirinya dengan menimbulkan hawa pukalan yang dahsyat bagaikan menggulungnya ombak ditengah samudera menghajar kearah depan. Baca Juga: Kisah Si Pedang Kilat Kho Ping Hoo Baca Juga: Asmara Dibalik Dendam Membara Kho Ping