Eps 10 Raja Silat - Chin Hung
Baca online Raja Silat - Chin Hung
Cersil Raja Silat - Chin Hung.
Keadaan didalam ruangan batu itu amat sempit apalagi tubuh Boen Ing lagi menubruk kedepan sudah tentu dia orang tak kuasa untuk menahan datangnya serangan tersebut.
Hanya didalam sekejap saja seluruh tubuh Boen Ing sudah tergulung didalam angin pukulan yang dahsyat itu.
Tampak tubuhnya berputar keras dan dengan diiringi suara suitan yang nyaring tubuhnya mundur kearah pintu dengan tubuh sempoyongan.
Liem Tou mengetahui dia orang tentu sudah luka parah capat cepat bentaknya keras.
'Nona Cing ayo kejar.!"
Telapak tangannya dengan perlahan didorong kedepan Cing jie pun dengan mengikuti tenaga dorongan tersebut mengejar kearah depan sedang Liem Tou membuntuti dari belakang.
Hanya didalam sekejap saja mereka sudah melewati lorong rahasia itu dan tiba didalam ruangan batu yang kecil.
Siuar mata Liem Tou dengan cepat berputar tampaklah pada dinding tersebut muncul sebuah gua kecil yang cukup diterobosi oleh seorang manusia saja jelas dinding itu tergetar hancur oleh tenaga pukulan dari Boen Ing tadi.
Walaupun Boen Ing menderita luka parah tetapi begitu tiba didalam ruangan batu tersebut dia lantas berkelebat laksana seekor burung walet dengan cepatnya lenyap dibalik dinding.
Cing jie yang melihat Boen Ing menerobos masuk kedalam ruangan tersebut ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah dan mengejar kearah depan.
Bagaimacapun juga Liem Tou adalah seorang kang-ouw kawakan jika dibandingkan dengan diri Cing jie jauh lebih mengerti banyak melihat gadis itu bendak mengdakan pengejaran dengan capat tangannya menyambar menyekal pundaknya.
'Nona Cing musuh digelap kita di terang !"
Teriaknya. Telapak tangannya sedikit mengerahkan tenaga dalam dia berhasil menahan gerakan tubuh dari gadis itu.
"Liem Tou!"
Seru Cmg jie sambil mengirim satu kerlingan mata kearah pemuda itu.
"Terang-terangan Boen Ing sudah terluka parah bilamana saat ini tidak dibasmi mau tunggu sampai kapan lagi ?' "Bukannya begitu ' ujar Liem Tou sambil gelengkan kepalanya 'Sekalipun Boen Ing kini sudah terluka parah tapi saat ini dia tak berada didalam kalangan yang luar jikalau misalnya dia melarikan diri kedalam sebuah ruangan yang lebar dan besar pastilah dia orang bukan tandingan nona Cing tapi saat ini keadaan berbeda ! Bilamana nona hendak menerjang kedalam juga maka hal ini sama saja dengan masuk kedalam perangkapaya dia bisa melancarkan serangan bokongan yang akan membinasakan dirimu !"
Setelah mendengar penjelasan tersebut Cing jie baru jadi sadar kembali.
"Lalu sekarang kita harus barbuat bagaimana?"
Tanyanya. 'Apakah kita akan tetap menunggu disini terus? bilamana dia terus menerus berjaga disana kita akan berbuat bagaimana? siapa yang punya kesabaran untuk menunggu?"
"Urusan sudah jadi begini kita punya cara apa lagi?"
Kata Liem Tou sambil tertawa.
"Untung saja dia cuma seorang diri sedang kita berdua sejak kini kita bisa berjaga saling bergilir bilamana dia berani meninggalkan gua ini maka kita harus cepat cepat basmi dirinya."
Dengan perlahan Cing jie mengangguk mendadak seperti teringat akan sesuatu ujarnya.
"Liem Tou kita harus berjaga terus disini sekalipun kita harus lapar juga harus berjaga sampai dia mati dulu karena kelaparan" 'Soal ini kau tak usah katakan lagi sejak semula aku sudah pikirkan hal ini"
"Tetapi!"
Ujar Cing jie lagi;
"Bilamana dia punya maksud untuk meninggalkan ruangan tersebit bukankah satu pekerjaan yang sukar baginya."
Liem Tou yang mendengar gadis tersebut berkata demikian terburu buru mencegah dia berkata lebih lanjut.
"Liem Tou; apakah kau benar benar tidak lama diam disini?' tanya Cing jie kemudian berganti bahan pembicaraan.
"Secara perlahan-lahan aku sudah mulai merasakan kalau kau adalah seorang yang baik bilamana kau suka berkawan dengan diriku disini hal itu sungguh merupakan suatu kejadian yang amat bagus."
Berbicara sampai disini tak kuasa lagi matanya berubah merah, titik titik air mata menetes keluar dengan derasnya.
"Nona Cing kau jangan sedih!' hibur Liem Tou sambil mencekal tangannya.
"Aku benar benar ada urusan dan harus tiba digunung Cing Shia sebelum malam Tiong Chiu, bilamana dikemudian hari ada waktu tentu akan sering sering datang kemari, bukankah hal tersebut amat bagus sekali ?' Mengambil kesempatan itu Cing jie lalu jatuhkan diri kedalam pelukan Liem Tou. Liem Tou yang mencium bau gadis perawan yang merangsang dalam hati terasa bergerak amat keras makinya diam diam. 'Liem Tou . .Liem Tou.. kenapa kau begitu tolol ? kau menyanggupi perkataan dari supek pada sebulan yang lalu apa kau sudah lupa ? rasa cinta dari enci Ie serta adik Wan adalah cinta murni bagaimana aku boleh jatuh hati lagi kepada nona Cing ?"
Berpikir sampai disini dia lalu kebutkan ujung bajunya dan bangun berdiri tapi pikirannya kembali berputar.
"Nona Cing kini sebatang kara dan sangat kasihan ! dia minta aku jangan tinggalkan dirinya, hal ini tak sampai melanggar kesopanan apalagi waktu masih lama biarlah aku bersikap rada mesra terhadap dirinya."
Teringat akan hal itu diapun lalu membiarkan Cing jie rebahkan diri didalam pelukannya.
"Liem Tou kau jangan pergi !"
Terdengar dia bergumam seorang diri.
'Kau tak boleh pergi !
Lembah mati hidup sangat indah dengan bunga gunung selokan serta bangunan ruangan batu yang indah kau ingin pergi ke mana untuk mencari kebahagiaan lagi ?
asalkan kau sudah mengucapkan sepatah kata maka tempat ini segera akan berubah menjadi suatu sorga buat kita berdua."
Liem Touyang sudah mengambil ketetapan dihati kalau didalam hatinya cuma bisa terisi oleh Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing sudah tentu tidak terpancing oleh rayuan dari Cing jie ini, 'Nona Cing harap kau suka sedikit sadar"
Sahutnya dengan tegas sekali "Soal ini tak mungkin bisa terjadi. perkataan dari nona Cing ini cuma bisa kirim dihati saja ..selamanya aku tidak akan melupakan kebaikan dari nona ini ."
Air mata yang mengucur keluar dari kelopak mata nona Cing jie mengalir semakin deras.
"Kau ingin pergi juga dari sini? bukankah perkataanmu tadi hanya sia sia belaka? heeei .., selama jni kenapa aku Cing jie harus berdiam sebatang kara disini? "
Setelah menangis dengan sedihnya mendadak dia meloncat bangun.
'Liem Tou kalau begitu aku ikut kau pergi!
asalkan kau pergi kemana akupun ikuti dirimu bukankah kau mengijinkan?
Walaupun aku Giok Cing cuma seorang gadis liar aku tidak akan mengganggu maupun menghalangi dirimu, kau mengabulkan bukan?"
Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut cuma bisa melongo saja, untuk beberapa saat lamanya tak dapat mengucapkan sepatah katapun.
"Soal ini mana boleh jadi? "
Pikirnya di-hati, 'Kali ini aku kembali kegunung Cing Shia justeru Supek hendak kawinkan aku dengan enci Ie serta adik Wan bilamana aku kembali dengan membawa nona Cing ini maka apa yang akan dikatakan oleh Supek dan bagaimana pula aku menjelaskan urusan ini kepada kedua orang gadis itu hati merekai pasti akan semakin tertusuk, aku tidak berbuit demikian !"
Berpikir sampai disini diam-diam dia menggelengkan kepalanya, dalam hati dia berpikir keras bagaimana baiknya menberi jawaban kepada Cing jie sang gadis itu.
Cing jie yang melihat Liem Tou hanya menggelengkan kepalanya saja segera bertanya dengan suara yang amat keras.
'Kenapa tidak boleh ?
aku sudah bilang tidak akan mengganggu dirimu!"
Liem Tou kembali berpikir keras.
dia merasa tidak leluasa untuk menceritakan soal Lie Siauw Ie?
dan si gadis cantik pengangon kambing kepada gadis ini.
Cing jie yang melihat pemuda ini sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun di dalam benaknva segera teringat akan enci Ie yang digumam pemuda tersebut sewaktu berada didalam keadaan lupa daratan dia lalu merasa kalau perkataan dari Liem Tou ini sama sekali bukanlah perkataan yang kosong.
Perasaan kecewa kontan meliputi seluruh tubuhnya; bayangan indah yang semula memenuhi benaknya kini tersapu bersih.
Walaupun dia baru satu harian berkumpul dengan diri Liem Tou tapi rasanya yang membutuhkan cinta kasih sudah tsk bisa dikuasai lagi, bukan saja rasa cinta itu tidak bisa di tarik kembaii mengakibatkan kini hatinya terasa semakin pedih.
Air mata kembali mengucur keluar semakin deras; mohonnya .
'Liem Tou, kenapa tidak kau katakan sejak dahulu?
bilamana sejak tadi kau memberitahu hal ini kepadaku.
aku.
, .
aku.."
Perkataan selanjutnya tak sanggup diteruskan kembali.
Liem Tou yang melihat keadaan semakin runyam dia pun cuma bisa menghibur saja dengan kata-kata yang halus, akhirnya setelah bersusah payah Cing jie baru bisa berhenti menangis.
Pada saat itulah mendadak pandangan Liem Tou jadi terang benderang; serentetan sinar yang amat kuat dan tajam menusuk matanya hampir hampir membuat dia orang tak dapat melihat barang apapun, setelah itu disusul suara tertawa yang amat menyeramkan berkumandang keluar.
'Aaah...
pintu batu bsrhasil dia buka!
dia mau pergi !"
Teriak Cing jie dengan keras.
Liem Tou segera pusatkan tenaga pikiran-nya, perlahan lahan dia baru bisa melihat kembali keadaan disekeliling tempat itu, sedikitpun tidak salah pintu batu itu sudah terbuka sedang ujung baju Boen Ing berkelebat lewat dari pintu tersebut.
Bilamana Boen Ing sampai lolos dari kurungannya maka sama saja dengan melepaskan harimau pulang ke gunung keadaannya sangat berbahaya sekali.
Liem Tou tidak bisa berpeluk tangan lagi terburu-buru bentaknya keras.
"Nona Cing ayoh lekas kita kejar"
Selesai berkata tubuhnya bagaikan burung walet dengan cepat menerobos keluar dari tempat itu diikuti oleh Cing jie dari belakang.
Liem Tou tidak berani berlaku ayal lagi setelah tiba ditepi pintu batu dia menengok kearah luar.
Tampaklah Boen Ing sedang menghindari barisan bunga Sam Nie Kioe Kong Khei Bun-Toa Tin tersebut dengan mengambil jalan melalui tebing curam yang tegak lurus bagaikan pit itu, dia yang lagi menderita luka dalam gerakannya tidak dapat gesit, dengan lambatnya dia orang melayang dan merangkak naik.
Liem Tou yang merasa ada kekuatan untuk menyusul dirinya dengan cepat menoleh keluar dari pintu batu.
'Nona Cing, ayoh cepat kita kejar dari belakang, jangan sampai dia berhasil melarikan diri dari lembah ini "
Sehabis berkata tubuhnya meloncat sejauh beberapa kaki dan menyusul kearah perempuan cabul itu.
Didalam ilmu meringankan tubuh Cing-jie ada diatas diri Liem Tou.
tetapi saat ini pemuda tersebut sudah menghisap darah ular raksasa yang membuat kepandaiannya kini jadi seimbang.
Boen Ing yang melihat kedua orang itu mengadakan pengejaran kearahnya dengan menahan rasa sakit dia menambah tenaga melarikan diri semakin cepat lagi.
Hanya didalam sekejap saja mereka bertiga bagaikan sambaran kilat cepatnya berkelebat kearah depan.
Semakin lama semakin cepat dan tempat yang ditempuh pun semakin meninggi.
jarak antara pemuda tersebut dengan Boen Ing pun dari tujuh delapan kaki kini jadi lima kaki jauhnya.
Waktu ini asalkan dia melancarkan satu serangan pukulan saja kearah depan maka Boen Ing pasti akan berhenti dan putar tubuh untuk menyambut datangnya serangan itu.
Cuma sayang kini dia sudah mengunci tangannya dan tidak ingin melanggar sumpahnya lagi, karena itu terpaksa dia cuma berteriak keras saja .
"Boen Ing, kau cepat hentikan larimu; kau kira masih bisa melarikan diri dari sini?"
"Liem Tou"
Balas Boen Ing sambil menjerit keras. 'Aku tahu kau hendak pergi ke gunung Cing Shia, aku bisa pergi kesana untuk mencari dirimu,"
Mendengar perkataan itu Liem Tou jadi merasa amat terperanjat, dia tak mengerti bagaimena Boen Ing bisa mengetahui keadaan dirinya dengan begitu jelas ?
tapi pikirannya segera menjadi jelas kembali, dia tahu tentunya Boen Ing sudah mendengar seluruh pembicaraannya dengan Cing jie dari balik tembok.
Hatinya mulai merasa cemas dia takut Boen Ing benar benar mendatangi gunung Cing Shia sehingga keadaan diatas gunung Ha Mo San jadi berbahaya.
Sewaktu pikiran Liem Tou sedikit bercabang itulah Boen Ing sudah berkelebat beberapa kali lebih cepat lagi.
Liem Tou yang teringat akan keseraman dari Boen Ing yang amat nenakntkan itu dalam hati segera mengambil suatu keputusan untuk tidak lepaskan perempuan itu dari cengkeramannya, gerakan tubuhnya pun dengan sendirinya semakin cepat sekali .
Beberapa saat kemudian Liem Tou sudah hampir mendekati puncak gunung dalam hati dia sadar bilamana sampai membiarkan perempuan cabul itu mencapai puncak itu maka dia dengan mudahnya akan berhasil meloloskan diri dari sana.
Maka hawa murninya dikerahkan semakin dahsyat membuat tubuhnya dengan cepat meluncur semakin dekat dengan diri Boen Ing, Dia kepingin sekali waktu itu meluncurkan satu serangan dahsyat menghajar jatuh perempunn itu kedalam jurang tapi teringat akan sumpahnya yane tak akan menggunakan sepasang telapak tangannva kembali tak terasa dalam hati sudah berpikir .
"Aku tak bisa turun tangan melukai orang tetapi sedikitnya boleh juga mendorong tubuhnya jatuh kedalam jurang dorongan itu sama sekali tak menggunakan jurus serangan dari aliran manapun sudah tentu tak bisa dikatakan pula sudah melanggar sumpah sendiri."
Berpikir sampai disini hawa murninya disalurkan semakin menghebat membuat gerakannya lebih cepat.
Didalam sekejap saja dia sudah berada hanya beberapa depa dibelakang tubuh Boen Ing kiranya dua langkah lagi dia sudah berhasil menubruk tubuh Boen Ing dan mendorong dia jatuh kedalam jurang.
Liem Tou menarik napas panjang.
didalam benakrya teringat kembali akan jurus anah yang dipelajaiinya untuk pertama kali dari kitab pusaka Toa Loo Cin Keng itu, saat ini justru merupakan satu kesempatan yang amat baik menggunakan ilmu pukulan perut tersebut untuk melukai Boen Ing, hatinya jadi amat girang, hawa murni yang sudah dipusatkan di perut lalu dikerahkan siap siap menghajar tubuh perempuan itu.
Mendadak terdengar suara senjata rahasia yang menyambar datang menyampok udara, didalam keadaan terperanjat Liem Tou lalu menyingkirkan diri dari titik titik hitam yang menghajar tubuhnya dengan gerakan cepat.
Bersamaan itu pula dari atas puncak terdengar suara bentakan yang keras dari seorang.
"Liem Tou, kemanapun kau pergi aku tak perduli, kenapa justru baru mendatangi gunung Heng san ini? kurang ajar ! rasakan seranganku."
Dengan cepatnya Liem Tou menyingkir ke samping menghindarkan diri dari sambitan sebuah batu cadas disusul dua buah cadas yang lain menyambar datang pula.
Pemuda itu cepat cepat gerakkan tangannya menyampok jatuh batu itu; terlihatlah Oei Poh yang sedang berdiri diatas puncak dengan menyekal sebuah tongkat penahan badannya, waktu itu dia sedang memandang ke arahnya dengan pandangan amat gusar.
Sewakiu Liem Tou lagi menyingkir ke samping untuk menghirdarkan diri dari sambitan senjata rahasia dari Oei Poh itulah Boen Ing dengan cepatnya sudah tiba di atas puncak gunung itu.
Dia melirik sekejap kearah Oei Poh lalu tertawa panjang ujung bajunya yang kena ditebas putus itu dilemparkan keatas kemudian setelah bersalto beberapa kali tubuhnya sudah meluncur dengan amat cepatnya kebawah puncak, Menanti Liem Tou berhasil tiba diatas puncak dia orang itu sudab lenyap tak berbeks.
Dengan perlahan pemuda itu melirik sekejap kearah Oei Poh lalu menghela napas panjang.
"Oei Poh, kau sudah melepaskan dirinya, sejak ini hari dunia kang ouw tidak bakal aman lagi."
Baru saja Liem Tou habis berkata mendadak tampaklah bayangan hijau berkelebat di susul suara gaplokan yang amat nyaring sekali berkumandang datang.
Kiranya pipi Oei Poh sudah kena digaplok dengan kerasnya oleh Cing jie si gadis berbaju hijau itu.
'Kau lelaki bau darimana berani mencari gara gara didalam lembah mati hidup ini ?"
Bentak Cing jie dengan gusarnya.
"Kau telah berani melancarkan serangan dengan menggunakan senjata rahasia, hati-hati nyawamu bilamana Boen Ing si perempuan siluman itu berhasil melarikan diri dari sini."
Pedang Lan Beng Kiam ditangannya dengan cepat diangkat lalu melancarkan satu serangan menusuk ke tubuh Oei Poh. Mslihat akan hal itu Liem Tou jadi kaget.
"Nona Cing tahan, orang ini jangan kau bunuh!"
Cegahnya dengan suara amat keras.
Pedang Cing jie yang sudah dilancarkan sampai setengah jalan dengan cepat ditarik kembali lalu memandang kearah Liem Tou dengan mata meltot lebar lebar.
Liem Tou lalu melirik sekejap kearah diri Oei Poh yang waktu ini saking terkejutnya air mukauya sudah berubah pucat pasi.
"Nona Cing, tahukah kau siapakah orang ini ?"
Tanya Liem Tou pada diri Cing jie.
"Liem Tou kau bilang apa ? mana mungkin aku bisa kenal dengan dirinya?' Dalam hati Lem Tou rada bergerak, setelah termenung berpikir beberapa saat lamanya mendadak dia memandang kearah Cing jie dan berkata. 'Nona Cing,"
Bisiknya dengan perlahan.
"Jika dikatakan sungguh kebetulan sekali; kedatangannya keatas gunung Heng san ini justru ingin belajar ilmu silat dari Oei Tiap Loo jien !"
Sepasang mata Cing jie segera melotot semakin besar, sambil maju dua langkah ke depan tudingnya kearah Oei Poh sambil memaki.
"Kau orang apanya supekku? kau manusia macam apa ?"
Oe Poh tetap tak bergerak barang sedikit pun dia cuma berdiri disana ssmbil memperhatikan seluruh tubuh Cing jie dengan amat teliiti.
'Siapakah namamu?
kalau memangnya kau ingin belajar ilmu silat dari supekku lalu kenapa harus mendatangi lembah mati hidupku ini?"
Tanya Cing jie lagi. Oei Poh yang tanpa sebab sudah kena gaplokan dua kaii daiam hati masih merasa tidak puas.
"Kedatanganku kemari adalah ingin mencari Oei Tiap cianwee"
Sahutnya dengan ketus .
"Usianya pada saat ini sudah seratus tahun lebih mana mungkin dia bisa mempurysi seorang keponakan murid yang masih begitu muda?"
Liem Tou takut Cing jie dibuat gusar oleh perkataan Oei Poh ini terburu buru lantas ujarnya.
"Oei Poh kau jangan berlaku begitu kurang ajar walaupun usia nona ini masih amat muda tetapi kepandaian silatnya jauh diatas kita berdua sekarang kau tidak akan menemui Oei Tiap cianpwee lagi; tiga tahun kemudian kau bisa bertemu muka dangan dirinya. tetapi yang jelas diapun berada didalam lembah mati hidup ini. aku lihat lebih baik kau minta ijin kepada nona Cing ini agar kau diperekenankan menghunjuk hormat dan menyambangi dirinya."
"Lem Tou kau jangan mendorong urusan yang bisa merepotkan ini kepadaku,"
Teriak Cing jie sambil membentak keras.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk ikut mengurusi urusan tersebut. Agaknya Liem Tou merasa amat tidak puas dengan perkataan dari Cing jie ini dengan hormatnya dia lalu menjura.
"Nona Cing aku Liem Tou mengucapkan banyak terima kasih kepada nona yang suka mendengar peraturan yang berlaku dengan meuerima aku menginap satu malam didalam lembah Mati Hidup, sejak kini Liem Tou akan mengingat dirimu terus menerus.."
Belum habis dia berkata Cing jie sudah merasa didalam nada suaranya ini agak mencurigakan, mendadak dia menjerit kaget. 'Liem Tou, kenapa secara tiba-tiba kau mengucapkan kata kata itu ?"
Tanyanya. Dari sepasang matanya yang hitam dan lebar itu dengan tajamnya memancar keluar sinar aneh yang memaksa diri Liem Tou. Liem Tou termenung sebentar, akhirnya dia menghela napas panjang.
"Nona Cing, dikolong langit tak ada perjamuan yang tidak bubaran, aku mau pergi!"
Selesai berkata dia lantas putar badan dan memperdengarkan suara suitan yang amat nyaring.
'Liem Tou, bukankah kau sudah bilang baru akan meninggalkan tempat ini satu bulan kemudian?
Kenapa kau sekarang mau pergi?' bentak Cing jie dengan cepat, 'Dengan perbuatan ini apakah kau orang bisa disebut lelaki sejati yang bisa pegang janji ?' "Nona Cing, kapan aku pernah mengatakan perkataan begitu?' bantah Liem Tou dengan murung.
"Aku cuma bilang satu bulan kemudian masih ada kerjaan yang barus aku selesaikan, maka Cayhe tidak pernah menyanggupi dirimu untuk tinggal selama sebulan disini ! Kini aku benar benar mau pergi nona Cing, ada kemungkinan besok aku bisa datang kembali untuk menengok dirimu"
Untuk setengah harian lamanya Cing jie tak dapat mengucapkan sepatah kata pun.
"Oh ... Thian !"
Akhirnya dia bergumam.
Hanya didalam sekejap mata itulah air mukanya sudah berubah jadi dingin kaku, saking dinginnya sampai membuat pemuda itu merasa hatinya bergidik.
Baru saja dia bermaksud untuk menghibur dirinva dengan baberapa patah kata mendadak terdengarlah suara dengusan yang ramai dari kerbaunya.
Liem Tou jadi amat girang, diapun lalu bersuit panjang beberapa kali.
Tidak lama kemudian tampaklah seekor kerbau dengan cepatnya berlari mendatang menghampiri pemuda itu.
Liem Tou benar benar kegirangan tubuhnya bergerak siap menyambut kedatangannya sang kerbau.
Pada saat itulah terdengarlah Cing jie sudah membentak dengan suara yang amat keras.
"Liem Tou kau pergilah! cepat tinggaikan gunung Heng san ini aku tak ingin menemui dirimu lagi !"
Liem Tou benar benar merasa terperanjat oleh sikap yang kasar dari gadis itu. tetapi setelah mengetahui apa sebabnya dia berbuat begini diapun tidak ambil gubris.
"Kalau begitu nona Cing silahkan kembali kedalam lembah. Aku Liem Tou permisi duiu"
Serunya kemudian sambil merangkap tangannya memberi hormat. Sehabis berkata tubuhnya bergerak lari menyambut datangnya sang kerbau itu . Waktu itulah terdengar Oei Poh kembali membentaK keras .
"Liem Ton jaugan lupa dengan hutang kita, aku bisa pergi mencari dirimu aku akan mencari dirimu walaupun kau ada di ujung langit sekali pun"
Tubuh Liem Tou yang ada di tengah udara menekuk bagaikan busur lalu melirik sekejap kearah Oei Poh dan ujung kakinya menjejak permukaan tanah bagaikan kilat cepatnya lantas meluncur puluhan kaji jauhnva kedepan kemudian dengan beberapa kali loncatan dia sudah ada diatas punggung kerbaunya.
Seka1i sentak tadi kerbau, di bawah sorotan sinar sang surya dengan cepatnya dia berlalu dari sana.
Padahal Liem Tau setelah meninggalkan gunung Heng san sama sekali tidak langsung kembali ke gunung Cing Shia; perkataannya yang diucapkan kepada Cing jie tentang perkawinannya dengan Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing bukanlah kata kata yang bohong cuma bukan malam Tiong Chiu tahun ini tetapi tahun depan.
Sebenarnya Liem Tou tidak ingin membohongi Cing jie; cuma saja dikarenakan keadaan yang memaksa membuat dia mau tak mau terpaksa harus barbuat begitu.
Niiknya Liem Tou kegunung Heng san untuk minta ampun dari Oei Tiap Loojien sebenarnya bukan karena dia takut kepada orang tua itu sebaliknya muncul dari dasar hatinya selama serahun ini dia merasa napsu membunuh yang berkobar didalam hatinya sudah keterlaluan karena dia ingin minta nasehat dari Oei Tiap Loojien.
Tetapi kini orang tua itu sudah mati dan tiga tahun kemudian baru muncul kemoali di tambah munculnya Oei Poh disana membuat pemuda ini jadi tak kerasan dia ingin cepat cepat meninggalkan tempat tersebut.
Berbagai ingatan kembali berkelebat didalam benak pemuda ini sembari menunggang kerbau gumamnya seorang diri .
"Liem Tou. Liem Tou ! kiranya kaupun merupakan seorang manusia yang bisanya menganiaya orang-orang lemah !"
Selama perjalanan ini dalam hati dia merasa tak tenang perjalanan dilakukan dengan seenaknya masuk satu kota lewat kota yang lain dan selama ini tak pernah tanya jalan.
Setelah meninggalkan gunung Heng san selama setengah bulan akhirnya dia tiba kembali disebuah tanah pegunungan yang amat sunyi, curam dan tinpgi sekali.
Kembali beberapa hari sudah lewat dengan amat cepatnya pada suatu hari dari tempat kejauhan Liem Tou dapat melihat sebuah kuil bobrok ditengah tanah pegunungan yang sunyi.
Didalam keadaan girang dia lantas menjalankan kerbaunya kesana, turun dari tunggangannya mendorong pintu dan berjalan masuk.
Suasana didalam kuil itu amat kotor dengan, sarang laba-laba serta debu menghiasi seluruh tempat walaupan begitu keadaan masih tetap rapi sekali.
"Akh . tentunya tempo hari ada orang yang mendiami tempat ini., ."
Ikirnya, Waktu itulah mendadak terasa bau mayat yang menusuk tersiar mendatang, ia mengerutkan alisnya rapat-rapat dan berjalan masuk kedalam.
Tetapi sebentar kemudian dia sudah mengundurkan diri dari tempat itu kiranya didekay tembok tampaklah sesosok mayat hweeshio yang sudah mati lama mengeletak di sana, hawa bau itu justru tersiar keluar dari badannya.
Liem Tou berpikir sebentar diluar ruangan tersebut, akhirnya dia mendorong pintu dan berjalan masuk kembali untuk memerisa keadaan disekeliling ruangan tersebut.
Tampaklah diatas mayat hweeshio itu tertancap sebilah pedang pusaka yang menembus batok kepalanya, dari tubuh pedang tersebut masih memancarkan sinar yang menyilaukan mata.
Liem Tou soma sekali tidak mengutik utik pedang tersebut, Cuma di dalam hati diam-diam pikirnya.
"Mungkin hweeshio ini tidak bermurid sehingga walaupun sudah mati disini tidak ada yang menguburkan mayatnya."
Berpikir sampai disini diapun lantas keluar dari kuil itu untuk membuatkan sebuah liang besar, setelah itu kembali lagi kedalam ruangan untuk mengangkut mayat hweeshio itu keluar.
Mendadak diatas tempat duduknya semula muncul sebuah kitab berwarna kuning yang bertuliskan "Ting Sim Liok"
Tiga kata.
Liem Tou sama sekali tak ambil gubris, dia melanjutkan pekerjaannya mengubur mayat itu ke tempat liang itu.
Menanti setelah dia selesai mengubur mayat itu, barulah ia membuka buku kitab itu yang isinya merupakan kunci rahasia bagaimana duduk bersemedi yang baik.
Pikirannya mulai berputar, batinnya .
"Bagaimanapun juga jarak antara pertemuan di gunung Cing Shia masih amat lama lebih baik aku bersihkan tempat ini dan berdiam selama setahun disini bilamana aku berbuat demikian maka hal ini sangat menguntungkan juga bagi diriku sendiri". Tanpa banyak membuang waktu lagi diapun mulai bekerja membersihkan seluruh tempat itu. Akhirnya setelah bersusah payah selama setengah harian penuh semuanya baru bisa dibikin beres dan muiai saat itulah Liem Tou lantas berdiam didalam kuil bobrok tersebut, Bilamana lapar dia menangsal perutnya dengan daun-daunan serta buah-buahan sedang setiap hari pekerjaannya hanyalah bersemedi dan latihan belaka. Hanya didalam sekejap saja setahun sudah lewat dengan cepatnya, didalam setahun ini tenaga dalam Liem Tou sudah mendapat kemajuan yang amat pesat sekali sedang kerbau itu pun dibawah rawatan yang teliti dari pemuda itu badan serta tenaganyapun jauh lebih besar beberapa kali. Cuma yang aneh adalah sepasang mata Liem Tou yang semula amat tajam kini sudah berubah jadi suram sehingga dia mirip sekali dengan seorang pemuda lemah yang berpenyakitan.
Jilid 37 .
Pouw Siauw Ling bertambah lihay DENGAN adanya perubahan ini maka bilamana ada orang yang memandang ke arahnya maka tak seorang pun yang tahu bila mana pemuda ini berkepandaian tinggi, mereka tentu menganggap dia orang sebagai seorang siucay yang lemah dan berpenyakit.
Setelah dihitung waktunya dengan pertemuan malam Tiong Chiu tinggal beberapa hari lagi dia baru mulai meninggalkan kuil itu untuk berangkat menuju ke gunung Cing Shia.
Sesaat meninggalkan tempat itu dia pun memungut pedang milik hweeshio itu walaupun pedang tersebut tak bisa dikatakan pusaka tetapi merupakan pedang yang baik juga.
Kita tinggalkan dulu Liem Tou yang berangkat menuju ke gunung Cing Shia untuk mengawani Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing.
Marilah kita melihat di atas salju yang tebal di gunung Tou Soat san dimana tak terlihat sesosok bayangan manusia maupun binatang.
Di tengah kesunyian yang mencekam serta tiupan angin yang dingin menusuk tulang itu lah mendadak tampak sesosok bayangan putih berkelebat mendatangi dengan cepatnya, orang itu bukan lain adalah seorang hweeshio cilik berkepala gundul yang kelihatannya baru berusia tujuh; delapan tahun.
Keadaan dari hweeshio gundul berbaju putih ini amat aneh sekali, matanya besar bulat dengan alis yang tebal hidung dan mulutnya amat kecil sekali dengan wajah yang pucat pasi bagaikan mayat.
Keadaannya mirip sekali dengan sesosok mayat yang baru bangun dari kuburan.
Hanya saja sepasang matanya memancarkan sinar yang amat tajam sekali.
Dengan tidak mengucapkan sepatah kata pun dia berdiri di atas puncak dengan memandang sebuah gulungan bola salju yang lagi menggelinding mendatangi, mulutnya yang kecil rada bergerak tapi sebentar kemudian sudah mendengus.
Pundaknya sedikit bergerak tahu-tahu di tangannya sudah bertambah sebuah cambuk lemas berwarna putih kelihatannya cambuk itu bukan terbuat dan kulit maupun rotan, akhirnya setelah dilihat dengan jelas, tahulah sudah kalau cambuk itu terbuat dari tulang-tulang putih yang saling sambung menyambung.
"Leng-jie terimalah tiga jurus serangan dari suthay!"
Terdengar dia berseru dengan suara seperti bayi.
Cambuk Pek Kut Piannya dengan cepat laksana putaran roda kereta sepera menyambar ke depan, sedang bola salju itupun mendadak membesar satu kali lipat.
Hanya di dalam sekejap saja bola salju itu sudah memisah dan muncullah tubuh Pouw-Siauw Ling serta hweesio gundul berbaju putih itu.
Tampak Pouw Siauw Ling secara tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di hadapan bocah tersebut.
"Bakat Leng-jie kasar, sulit bagiku untuk menerima tiga serangan dari suthay!"
Serunya.
Air mukanya berubah sangat kecewa tapi tidak berani memandang ke arah bocah tersebut.
Tampaklah sinar mata dari hweesio gundul itu berputar sejenak lalu mendengus dengan dinginnya, mendadak dia tertawa cekikikan dengan amat kerasnya persis seperti seorang bocah cilik saja membuat setiap orang yang mendengarnya merasakan badannya bergidik, bulu roma pada berdiri.
"Haa .... hii.... hiii. Leng jie! Walaupun kau masih tidak sanggup untuk menerima tiga jurus serangan dari suthaymu ini tetapi jikalau dibandingkan dengan Hoa Siong itu Auh Hay Hiap adalah jauh lebih dahsyat lagi, aku rasa Liem Tou si manusia itu pun bukanlah tandingan dari Leng-jie yang sekarang!"
Dengan cepat Pouw Siauw Ling menganggukkan kepalanya melapor.
"Terus terang suthay; tenaga dalam Liem Tou benar-benar tinggi dan dahsyat sukar diukur, entah Leng jie "
Belum habis Pouw Siauw Ling berkata mendadak air muka si bocah berbaju putih itu sudah berubah hebat, hawa dingin menyelimuti seluruh wajahnya.
"Leng-jie, kau jangan terlalu memandang tinggi kepandaian musuh. Liem Tou bukanlah malaikat sakti, dengan kepandaian silatmu saat ini mana mungkin bisa kalah di tangannya? Ayoh sekarang juga kau menggelinding turun dari gunung. Ayoh cepat pergi...!"
Kiranya orang itu bukan lain adalah suhu si penjahat naga merah yaitu si hweeshio gundul sembilan jari yang pernah membinasakan Hoa Siong si Auh Hay Hiap di bawah serangan cambuk Su Kuk Mo Pian-nya.
Sejak dia mengundurkan diri ke atas gunung Soat san dan mempelajari kitab pusaka "Kioe Im Tong Ci Lo Han Cin Keng"
Tubuhnya semakin lama berubah semakin kecil sehingga mirip dengan seorang bocah berumur tujuh, delapan tahun, cuma dia sudah bersusah payah tak berhasil juga mengubah kedua belah alisnya yang tebal itu.
Pouw Siauw Ling setelah tiba di gunung Soat san dan menempuh perjalanan yang susah payah akhirnya diapun berhasil juga menemukan dirinya.
Selama setahun ini Pouw Siauw Ling mengikuti dirinya belajar ilmu cambuk Suo Kuk Pian, sedang di dalam tenaga dalam dengan tak sayangnya si hweesio gundul sembilan jari ini menurunkan cara cara belajar ilmu "Kioe Im Tong Ci Kang"
Kepadanya.
Karena itu tenaga dalamnya pun memperoleh kemajuan yang amat pesat ditambah lagi makanan yang dihasilkan di atas gunung Soat San itu amat baik sekali bagi orang orang yang berlatih ilmu silat; oleh sebab itu walaupun Pouw Siauw Ling hanya berlatih selama satu tahun lamanya tetapi hasil yang diperolehnya seperti hasil latihan selama sepuluh tahun lamanya.
Kini Pouw Siauw Ling melihat Suo Kuk Mo Pian jadi marah, buru-buru dia mengangguk anggukkan kepalanya minta ampun.
Tangan yang kecil dari hweesio itu dengan cepatnya lantas kirim dua kali tamparan menggaplok pipi Pouw Siauw Ling sehingga jadi merah membengkak, disusul tendangan kilat membuat tubuh Pouw Siauw Ling jadi terpelanting jatuh.
"Pergi... pergi...! Kalau tidak mau pergi lagi jangan salahkan aku hajar kau sampai setengah mati,"
Teriaknya sambil memutar biji matanya yang kecil itu.
"Setelah bertemu dengan Thiat Bok serta si naga merah, katakan suruh mereka tidak usah mencari aku lagi, aku tidak akan turun gunung! Sekalipun kalian datang lebih banyak orang pun percuma saja, bilamana aku ingin turun gunung aku bisa pergi mencari kalian sendiri sendiri."
Selama setahun ini Pouw Siauw Ling sudah banyak mengetahui sifat dari Suthay si bocah cilik ini, saat ini dia tak berani banyak cakap lagi, menanti dia selesai berkata dia pun baru angkat kepalanya.
Tetapi waktu itu bayangan tubuhnya sudah lenyap dari hadapan matanya walaupun begitu dalam hati dia tahu kalau si suthay bocah itu pastilah lagi bersembunyi di sekelilingnya untuk mengawasi seluruh gerak-geriknya karena itu setelah merangkak bangun tanpa banyak melirik lagi tubuhnya bagaikan kilat cepatnya sudah lari turun gunung.
Sesudah dirasanya dia telah jauh meninggalkan gunung Soat san lembah Han Hong Kok itu langkahnya baru diperlambat.
Siapa tahu dari samping telinganya berkumandang datang suara dari Sao Kuk Mo Pian yang lagi berseru .
"Bangsat Cilik, kenapa kau berhenti? Ayoh cepat lari sebelum malam hari ini bilamana kau tak turun dari gunung ini aku siorang tua akan hajar kau manusia yang tak punya semangat ini."
Di dalam keadaan terperanjat Pouw Siauw Ling mana berani berlaku ayal lagi, sekali lagi tubuhnya berkelebat lari ke arah depan dengan kalapnya.
Kemajuan yang dicapai oleh Pouw Siauw Ling selama setahun ini sungguh sungguh luar biasa sekali, telapak kaki yang terasa di atas permukaan salju jelas kelihatan setiap langkah lima enam kaki jauhnya; dari hal ini saja jelas sudah menunjukkan kalau dia termasuk seorang jagoan kelas wahid di dalam Bu lim.
Dalam hati pemuda ini tahu apa yang diucapkan oleh Suo Kuk Mo Pian pasti akan dikerjakan bahkan ada kemungkinan saat ini masih mengikuti terus di samping tubuhnya, karenanya tanpa berani banyak menoleh lagi tubuhnya bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya berkelebat dengan amat cepatnya ke arah sebelah depan.
Menanti sang surya sudah condong ke arah barat, seluruh tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat yang mengucur keluar dengan amat derasnya, napasnya memburu tetapi apa yang dihadapinya di depan mata masih merupakan permukaan salju yang amat luas.
Hatinya semakin lama semakin cemas sehingga akhirnya dengan sekuat tenaga dia berusaha cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
Cara berlari dengan jalan ini walaupun Pouw Siauw Ling memiliki kepandaian silat yang lebih dahsyatpun belum tentu bisa kuat menahan rasa lelah yang amat mencekam hatinya, menanti cuaca mulai menggelap pemuda itu sudah benar-benar kehabisan napas dengan badan yang lemas tak bertenaga.
Tetapi apa yang dihadapinya masih merupakan permukaan salju yang saling sambung menyambung dengan ujung langit membuat hatinya semakin cemas lagi.
Pada saat itulah terdengar suara dari Suo Kuk Mo Pian kembali berkumandang keluar.
"Hey bangsat cilik, ayoh percepat larimu, seperempat jam lagi sudah mendekati malam hari, bilamana kau tidak berhasil keluar dari gunung ini maka nyawamu sukar untuk dipertahankan lagi!"
Mendengar perkataan itu Pouw Siauw Ling jadi terperanjat, walaupun saat ini dia amat lelah dan kehabisan napas, terpaksa sambil menggigit kencang bibirnya dia terus berlari.
Seperempat jam kemudian cuaca pun mulai menggelap mendadak di hadapannya muncul sebuah bukit kecil yang amat curam.
Dengan cepatnya Pouw Siauw Ling berlari menaiki bukit tersebut dan memandang ke arah bawah puncak; yang amat dalam itu.
Cepat-cepat dia menoleh ke belakang, di bawah sorotan sinar yang samar-samar tampaklah sesosok bayangan putih berkelebat dengan cepatnya menuju ke arahnya.
Dalam hati dia tahu bayangan tersebit tentu bayangan dari Suo Kuk Mo Pian yang lagi mengejar dirinya.
Dalam keadaan terpaksa menggigit kencang bibirnya dan teriaknya sambil menoleh ke belakang.
"Suthay, kau silahkan kembali, Leng jie pergi dulu!"
Sehabis berkata tanpa perduli keselamatannya sendiri lantas lari menuruni bukit tersebut.
Saat ini walaupun kesadarannya masih penuh tapi tenaganya sudah habis, kakinya jadi lemas tubuhnya pun ikut tergelincir dan menggelinding jauh ke bawah bukit.
Untung sekali di atas permukaan tanah sudah dilapisi oleh salju yang amat tebal sehingga tidak sampai terluka.
Dengan membiarkan dirinya menggelinding Pouw Siauw Ling berusaha untuk mengumpulkan sisa tenaganya.
Tidak lama kemudian diapun mulai merasa badannya jadi segar kembali sedang hawa pun terasa jauh lebih hangat, tangan dan kakinya segera digerakkan untuk mengerem daya luncurnya ke bawah.
Setelah bersusah payah akhirnya Pouw Siauw Ling berhasil juga menghentikan daya menggelindingnya ke arah bawah.
Waktu itu dia sudah hampir berada di bawah kaki gunung, setelah beristirahat sebentar dia pun mulai pasang mata memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu.
Jauh di depan terlihatlah kumpulan sinar lampu memancarkan sinarnya secara samar-samar dalam hati Pouw Siauw Ling tahu itulah pasti sebuah kota kecil.
Semangatnya berkobar kembali dia lantas meloncat bangun dan melanjutkan perjalanannya menuruni gunung itu.
Tidak lama kemudian Pouw Siauw Lingpun sudah tiba di sebuah kota yang tak diketahui namanya.
Di dalam keadaan terburu-buru dia lantas mencari sebuah rumah makan.
Begitu kakinya menginjak pintu rumah makan itu mulutnya sudah mulai berteriak keras.
"Hey pelayan, ayam bebek semuanya keluar kan."
Tetapi suasana tetap tenang-tenang saja tak kedengaran suara sahutan, pemuda ini jadi amat gusar sekali.
"Hey, apakah orang-orang sini sudah pada mati semua?"
Bentaknya dengan keras. Mendengar suara bentakannya yang amat keras itu dari dalam ruangan segera muncul seorang pelayan berusia pertengahan yang dengan tak sungkan-sungkan sudah menegur .
"Khek koan mau makan apa silahkan bicara dengan baik-baik; kenapa kau harus berteriak-teriak tidak karuan? Bilamana sampai didengar oleh Toaya sekalian yang ada di da lam ruangan ini, kau tidak akan mendapat kebaikan. ooo )( O )( ooo SEBELUM menaiki gunung Soat san, Pouw Siauw Ling memangnya sudah mempunyai sifat manja, walaupun kini kepandaian silatnya sudah memperoleh kemajuan yang pesat tetapi sifatnya sama sekali tidak berubah. Kini begitu mendengar perkataan yang amat kasar apalagi diucapkan oleh seorang pelayan, sudah tentu hatinya jadi amat marah. Mendadak dia meloncat bangun dan memerseni dua kali gaplokan ke atas pipi pelayan tersebut membuat wajahnya kontan jadi bengap dan bengkak.
"Kau sudah pasang mereka disini apakah tidak boleh aku orang bersantap...? Kenapa kalian membeda-bedakan diriku dengan Toaya yang ada di dalam?"
Bentaknya dengan gusar.
"Ayoh cepat sediakan ayam panggang serta bebek panggang, kalau tidak ... Hm! hati-hati saja dengan rumah makanmu ini, aku akan hancurkan sampai berantakan sama sekali."
Sehabis berkata dia lantas kirim satu tendangan membuat pelayan tersebut jatuh menggelinding dan berkaok-kaok kesakitan.
Pada saat itulah dari balik gorden muncul suara seorang yang lagi membentak keras.
"Dari mana datangnya kelinci liar yang berani mencari gara-gara di hadapan Toayamu sekalian. Bilamana tahu keadaan ayoh cepat sipat kuping menggelinding dari sini, jangan sampai membuat aku si orang tua jadi gusar... Hm! Kecuali kalau sudah bosan hidup lebih lama lagi..."
Walaupun Pouw Siauw Ling yang ada di luar diam-diam lagi berpikir siapakah orang itu, tetapi dia orang yang selama hidupnya kecuali jatuh kecundang di tangan Liem Tou, siapa pun tak ada yang berani mengutik-utik dirinya, mana bisa menahan sabar lagi?
Air mukanya lantas berubah menjadi merah padam, dengan gusarnya dia membentak keras .
"Siapa yang bicara di dalam, ayoh lekas menggelinding keluar!"
Keadaan di balik gorden seketika itu juga jadi gempar, terdengarlah suara langkah kaki yang amat ramai hanya sebentar saja sudah muncul tujuh delapan orang lelaki berbaju hitam yang semua berusia pertengahan.
Walaupun perawakan tubuh lelaki berbaju hitam itu tidak semua sama tapi di bagian dada setiap orang tentu terukir sebuah malaikat yang berdasar putih dengan pinggiran emas.
Ketujuh, delapan orang itu dengan sinar mata yang gusar pada melototi diri Pouw Siauw Ling tak berkedip.
Baru saja Pouw Siauw Ling hendak buka mulut untuk menanyai siapakah mereka mendadak terdengarlah dari balik hordeng kembali berkumandang suara yang amat dingin sekali.
"Untuk membereskan seekor anjing kecil yang buta, apa membutuhkan begitu banyak orang? Ayoh lekas dibereskan."
Dari antara tujuh delapan orang itu mendadak terdengar lima orang tertawa ringan dan mengundurkan diri kembali dari sana dan kini tinggal tiga orang saja.
Dua orang pendek dan seorang lelaki berbaju hitam yang kurus.
Dengan pandangan yang sangat dingin Pouw Siauw Ling menyapu sekejap ke arah mereka bertiga, lalu sambil melototkan mata bulat-bulat, bentaknya .
"Kalian beberapa orang, kenapa buka mulut lantas memaki orang?"
Lelaki kurus itu tidak menjawab, sebaliknya menoleh ke arah kedua orang pendek dan tertawa.
Tanpa banyak cakap lagi mendadak tubuhnya mendesak ke samping tubuh Pouw Siauw Ling dan melancarkan satu serangan mengancam leher pemuda tersebut.
Kedua orang itu pun bersamaan waktunya berpisah ke kiri dan ke kanan lalu melancarkan serangan dari kedua belah sisi Pouw Siauw Ling.
Orang yang satu menotok jalan darah Siauw Tauw Hiat, pada iga bawah pemuda itu sedang yang lain menotok jalan darah "Thian Yong Hiat"
Pada belakang telinganya, gerakan dilakukan amat cepat bagaikan sambaran kilat.
Pouw Siauw Ling waktu ini kepandaiannya telah mengalami kemajuan yang amat pesat, tampak sepasang pundaknya sedikit bergerak tubuhnya sudah melompat menyingkir.
"Rupanya kalian sudah tidak menghargai nyawamu lagi!"
Bentaknya keras.
Tubuhnya bersalto di tengah udara, sepasang tangannya dipentang lalu melancarkan segulung angin pukulan yang menekan ke bawah secara tiba-tiba.
Setelah meninggalkan gunung Soat San, Pouw Siauw Ling belum pernah menjajal ilmunya, apalagi untuk mengumbar hawa mangkel yang ditahannya selama setahun lebih ini membuat dia turun tangan dengan sepenuh hati.
Seketika itu juga terdengar suara dengusan berat dari kedua orang lelaki pendek dan seorang lelaki kurus itu, tanpa mengeluarkan suara jeritan batok kepalanya sudah kena digempur sehingga jatuh terkulai ke atas tanah.
Pouw Siauw Ling yang melihat mereka bertiga rubuh ke atas tanpa berkutik, buru-buru dia berjongkok untuk memeriksa.
Sebentar kemudian dia sudah menarik napas dingin, dia tidak menyangka kalau pukulan yang kelihatan ringan itu sudah lebih dari cukup untuk mencabut nyawa mereka bertiga.
Sebetulnya dalam hati Pouw Siauw Ling tisak bermaksud untuk mencelakai nyawa ketiga orang itu, tidak disangka pukulan yang rasanya ringan itu terasa amat berat bagi mereka sehingga tak dapat dihindarkan lagi mereka sudah kena dibunuh.
Dengan termangu-mangu pemuda itu memandang sekejap kearah tiga orang tersebut.
Dalam hati ia merasa amat bingung sekali.
"Aku harus berbuat bagaimana ? "
Pikirnya. Dengan cepat otaknya diputar keras beberapa saat kemudian.
"Aakh bagaimana pun aku sudah menimbulkan urusan, lebih baik aku bersikap tenang saja dan menghadapi segala peristiwa dengarn hati mantap,"
Pikirnya lagi. Setelah mengambil keputusan hatipun menjadi semakin mantap.
"Hey pelayan!"
Teriaknya kemudian dengan suara keras.
"Mana panggang ayam dan panggang bebeknya? kenapa tidak dikeluarkan juga buat Siauwyamu? Apa kalian benar-benar tidak kepingin berdagang lagi di sini?"
Sembari berteriak telapak tangannya melancarkan satu pukulan ke arah hordeng yang menghalangi di hadapannya.
"Braak !"
Dimana angin pukulannya menyambar, kayu hordeng itupun patah menjadi dua lalu rubuh ke samping sehingga terlihatlah sebuah meja perjamuan muncul di balik hordeng dengan tujuh orang duduk mengelilingi meja tersebut.
Sekilas pandang Pouw Siauw Ling dapat menangkap pada tengah meja perjamuan itu duduklah dua orang yang sudah berusia lima puluh tahunan, walau pun mereka memakai jubah warna hitam tapi lukisan obor pada dadanya berwarna dasar kuning dengan pinggiran merah, kelihatannya kedudukan mereka amat tinggi.
"Hey, cepat seret kawan-kawanmu pergi!"
Teriak Pouw Siauw Ling kembali sambil menuding ke arah tiga mayat yang menggeletak di atas tanah itu.
Sewaktu hordeng tadi rubuh ke atas tanah, mereka bertujuh sudah pada melompat bangun, hanya dikarenakan perisriwa terjadi sangat mendadak mereka pada melengak semua dibuatnya.
Kini setelah mendengar suara bentakan dari Pouw Siauw Ling ini, semua orang menjadi terperanjat.
"Anjing cilik! Bagus sekali perbuatanmu. Ayoh serbu?"
Bentak mereka berbareng dengan amat gusarnya.
Tujuh orang bersama-sama meninggalkan tempat duduknya, di antara mereka ada lima orang yang sudah turun tangan mengerubuti diri pemuda Itu.
Pouw Siauw Ling segera tertawa dingin, kedua tangannya segera dibabatkan ke depan melancarkan satu pukulan dahsyat ke depan.
Kelima orang penyerang itu segera merasakan segulung angin pukulan yang amat kuat menekan mereka sehingga tak terasa mereka pada mundur menghindar.
Melihat kejadian itu Pouw Siauw Ling kembali tertawa dingin.
"Hee ... heeee ... kalian gentong-gentong nasi lebih baik menyingkir saja dari sini9 kalian masih bukan tandinganku!"
Kepalanya menoleh ke arah dua orang berusia lanjut itu lalu tegurnya .
"Aku Pouw Siauw Ling tak pernah mengikat permusuhan apa-apa dengan kalian, air sungai tidak melanggar air sumur, kenapa kalian berani bersikap sangat begitu kurang ajar terhadap diriku? Siapakah sebetulnya kalian? Ayoh lekas sebutkan nama dan asal usulmu!"
"Bangsat cilik, kau tidak usah galak-galak dulu! Aku mau melihat bagaimanakah kau hendak meninggalkan daerah ini dengan selamat!"
Seru orang yang ada di sebelah kiri sambil melototkan matanya bulat-bulat.
"Kau mau tanya asal usul dari aku orang tua? Perkumpulan Sin Beng Kauw sudah lama terkenal di seluruh kolong langit, apakah kau tidak punya mata?"
Sembari berkata dia mengirim kerdipan mata pada kawan yang berada di sisinya, segera tampaklah dua orang maju ke samping ketika sosok itu untuk mengadakan pemeriksaan sedang dua orang lainnya dengan cepat berjalan keluar dari rumah makan tersebut.
Tidak malu Pouw Siauw Ling pernah ikut Ang In Sin Pian melakukan perjalanan di dalam dunia kang-ouw.
Melihat kedua orang itu hendak meninggalkan rumah makan tersebut, dalam hati dia pun lantas tahu apa yang hendak mereka kerjakan.
Air mukanya sama sekali tidak berubah, dia tetap berdiri dengan tenangnya di tempat itu.
Heee...
heee...
bagus...
bagus sekali nama perkumpulan Sin Beng Kauw ini, cuma sayang...
apakah di dalam dunia kangouw benar-benar ada perkumpulan yang menggunakan nama Sin Beng Kauw?
Siapakah nama kauwcu kalian?"
Bentaknya keras.
Baru saja selesai berbicara tubuhnya mendadak melompat ke depan.
Bagaikan kilat cepatnya dia sudah menghalangi perjalanan dari orang berbaju hitam yang sudah berada di pintu rumah makan itu.
Haa...
haa...
lebih baik kalian berdua tidak usah bermain curang dengan diriku,"
Ejeknya sambil tertawa.
Sembari berkata sepasang telapak tangannya dipentangkan sejajar dada sedang matanya melorot lebar-lebar memandang ke arah dua orang itu.
Kedua orang lelaki berbaju hitam itu menjadi terperanjat; dengan ketakutan mereka mundur tujuh, delapan langkah ke belakang dan balik ke tempatnya semula.
Dengan perlahan Pouw Siauw Ling pun berjalan kembali ke tempatnya semula.
"Hey siapakah kauwcu kalian? Ayoh cepat jawab sejujurnya!"
Bentaknya kembali sambil menuding ke arah si orang tua yang berada di di tengah perjamuan, orang tua yang sama sekali tidak berbicara, sepasang matanya melototi diri Pouw Siauw Ling dengan tak berkedip.
Kini; setelah mendengar suara bentakan dari Pouw Siauw Ling yang amat kasar itu dengan perlahan dia baru maju dua langkah ke depan.
"Cayhe adalah satu pelindung lukisan dari Sin Beng Kauw di bawah pemimpin Boe Beng Tok Su, Be Ci Hoa Be su ya adanya. Kau berani melukai anak murid perkumpulan Sin Beng kauw kami, tentunya kau pun mempunyai nama besar bukan?"
Pada setahun yang lalu Pouw Siauw Ling sama sekali tidak pernah mendengar nama dari Boe Beng Tok Su ini tetapi jika didengar dari nada suara orang ini agaknya nama orang itu serta nama dari Sin Beng kauw sudah amat terkenal sekali di dunia persilatan, hal ini membuat dia menjadi termenung.
Mendadak tanyanya dengan suara yang jauh lebih halus .
"Nama besar dari Boe Beng Tok Su aku belum pernah mendengar, apalagi namamu Be Ci hoa, tetapi kau bilang di dalam Sin Beng Kauw ada delapan orang pelindung hukum, sebetulnya kalian lagi melindungi lukisan apa?"
Be Ci Hoa segera tertawa dingin.
"Apakah soal ini kau pun tidak tahu? Sin Beng Kauw didirikan di gunung Jong Lay San pada setengah tahun yang laiu, kepandaian kauwcu kami yang yang mengandalkan dari kitab pusaka 'Cian Tok Kian To' sudah menggetarkan seluruh dunia kang-ouw; kalau hanya persoalan ini saja kau tidak tahu buat apa berkelana di dalam dunia kang-ouw ?"
Pouw Siauw Ling yang mendengar disebutnya kitab pusaka "Cian Tok Kian Toh"
Hatinya terasa amat berdebar, teringat kembali akan kata-kata terakhir dari mendiang ayahnya Ang In Sin Pian yang memerintahkan dia untuk mencari kitab pusaka Cian Tok Kian Toh guna dipelajari membalas dendam pada diri Liem Tou, sepasang matanya segera memancarkan sinar yang amat aneh sekali.
"Cian Tok Toh, sekarang berada dimana?"
Desaknya lebih lanjut.
Be Ci Hoa yang melihat sikap Pouw Siauw Ling sangat aneh sekali, dalam hati merasa rada tidak paham, mendadak tangannya diulapkan ke depan lima orang lelaki berbaju hitam yang berada di sampingnya kini pada bergeser dan berdiri di belakang tubuhnya.
"Siapakah sebetulnya kau orang?"
Tanyanya dengan dingin.
"Bilamana dugaanku tak salah, kau orang tentunya Liem Tou bukan?"
Berbicara sampai disini dia berhenti sejenak, tujuh orang empat belas mata dengan tajamnya memperhatikan ke arahnya.
Pouw Siauw Ling yang secara tiba-tiba mendengar disebutnya nama Liem Tou, air mukanya segera berubah hebat.
"Liem Tou. Liem Tou..."
Gumamnya seorang diri.
Mendadak, di dalam keadaan tak tersangka bagaikan kilat cepatnya dia maju dua langkah ke depan dengan dahsyatnya menyambar dan menyengkeram pergelangan tangan dari Be Ci Hoa.
Be Ci Hoa yang secara tiba-tiba diserang dengan terburu-buru mundur satu langkah ke belakang, tubuhnya berputar sedang telapak kirinya didorong ke depan menghajar dada Pouw Siauw Ling.
"Liem Tou, kau berani?"
Bentak enam orang yang ada di belakang Be Ci Hoa berbareng.
Jari tangan saling menyambar dan menyerang, keenam orang itu segera melancarkan serangan bersama-sama ke arahnya.
Pouw Siauw Ling segera mengetahui kalau mereka bertujuh sudah salah paham terhadap dirinya, mendadak dia melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Be Ci Hoa itu dan mundur beberapa langkah ke belakang, tangannya dengan gesitnya menangkis datangnya pukulan dari orang itu.
"Tahan!"
Bentaknya keras.
"Aku bukan Liem Tou! Sejak kapan kalian berkenalan dengan Liem Tou? Hmm! Liem Tou ... aku memang lagi mencari dia untuk menuntut balas. Sekarang dia berada dimana? Cepat katakan, aku mau pergi membunuh bangsat cilik itu."
Mendengar suara teriakan itu, Be Ci Hoa terburu-buru menarik kembali serangannya dan menghembuskan napas panjang.
Lama sekali dia memperhatikan pemuda tersebut, agaknya dalam hati ia belum mau percaya.
"Kau bukan Liem Tou?"
Tanyanya ragu-ragu.
Tetapi dengan usiamu yang demikian muda telah memiliki kepandaian silat yang begitu lihai, kecuali Liem Tou masih ada siapa lagi?
Lelaki sejati tak akan berbohong.
Siapakah sebetulnya kau ini ?"
Pouw Siauw Ling yang dalam hati kepingin cepat-cepat mengetahui jejak dari Liem Tou segera menjawab .
"Cayhe adalah Pouw Siauw Ling bukan Liem Tou, kalian jangan salah melihat orang..."
"Be su ya, jangan dengarkan omongan seruatunya,"
Tiba-tiba terdengar suara si orang lainnya sudah berteriak dulu sebelum Be Ci Hoa memberi jawaban.
"Orang ini berhati licik, kau jangan sampat kena ditipu oleh dirinya."
Sembari membentak tangannya diayunkan ke depan, beberapa rentetan sinar senjata rahasia segera menyambar ke depan.
"Tangkap dirinya!"
Lima orang lelaki yang berada di belakang Be Ci Hoa dengan cepat sadar kembali, masing-masing merogoh sakunya mengambil ke luar senjata rahasia.
Pouw Siauw Ling yang melihat pundak orang itu bergerak, dia lalu mengerti apa yang hendak diperbuat olehnya.
Dengan cekatan tubuhnya meluncur ke samping lalu dengan menggunakan gerakannya yang aneh tapi gesit dia sudah mencengkeram kembali pergelangan tangan dari Be Ci Hoa.
"Hey orang she Be!"
Bentaknya dengan gusar.
"Cepat perintahkan orang-orangmu untuk menarik kembali serangan tersebut, kalau tidak menyalahkan aku akan bersikap tidak sopan pada dirimu."
Be Ci Hoa yang kena dicengkeram pergelangan tangannya sehingga terasa sakit dalam hati mengerti walaupun dia mempunyai maksud untuk menyerang, hal inipun tidak mungkin terjadi, pikirannya segera mulai berputar pikirnya;
"Jika didengar dan dilihat sikapnya yang amat tegang setelah mendengar disebutnya kitab pusaka Cian Tok Toh serta nama dari Liem Tou agaknya dia tidak bermaksud untuk melukai kami, kalau tidak dia telah turun tangan dua kali tak akan mengampuni orang dia berbuat demikian. Tentunya karena di balik ini semua ada sangkut paut dan hubungan dengan Cian Tok Toh serta Liem Tou, kemungkinan juga dia mempunyai ikatan-ikatan pemusuhan."
Berpikir sampai di sini diapun lalu mengulapkan tangan kirinya.
"Saudara-saudara, sementara jangan keburu napsu dulu. Tenanglah! Kita bicarakan persoalan ini perlahan-lahan!"
Bentaknya. Diikuti lengan kanannya segera tergetar meronta dari cengkeraman pemuda itu.
"Kepandaian silat dari Pouw Siauw Ling amat aneh dan dahsyat sekali aku Be Ci Hoa benar-benar merasa kagum, bilamana Siauwhiap mempunyai perintah atau pesan, silakan berbicara!"
"Ehmmmm ... aku mau tanya, kenapa Sin Beng kauw kalian begitu membenci Liem Tou? Ada ikatan permusuhan apakah antara Liem Tou dengan Sin Beng kauw kalian? Be Ci Hoa termenung berpikir sebentar.
"Perintah ini dikeluarkan oleh Kauwcu sendiri,"
Sahutnya kemudian.
"Dia berpesan, setiap kali bertemu dengan Liem Tou haruslah melaporkan peristiwa ini ke markas pusat, bahkan harus mengawasi jangan sampai dia berhasil meloloskan diri, sedang mengenai Liem Tounya sendiri kami cuma tahu dia adalah seorang pemuda tampan dengan memiliki kepandaian silat yang amat tinggi dan aneh, dari manakah asal-usul perguruannya tidak seorangpun yang mengetahui soal ini. Lebih baik kau tanyakan kepada Kauwcu kami Boe Beng Tok su sendiri saja."
"Kalau begitu kitab pusaka Cian Tok Kian Toh yang kau sebut tadi adalah milik kaucu kalian? Kini barang tersebut disimpan dimana?"
Air muka Be Ci Hoa berubah hebat dengan tajamnya dia memperhatikan sekejap ke arah Pouw Siauw Ling, dia kepingin mengumbar hawa amarah tetapi takut pula dengan kepandaian silatnya yang amat lihay.
Akhirnya setelah ragu-ragu sejenak katanya .
"Soal ini menyangkut rahasia dari kauwcu kami, maaf cayhe tidak bisa mengutarakan keluar."
Dengan perlahan Pouw Siauw Ling mengangguk, sikapnya berubah kembali jadi amat sombong.
"Kalau begitu aku merepotkan sebentar dirimu untuk menyampaikan pesan kepadanya, katakan aku hendak menemui kauwcu kalian itu sendiri."
Be Ci Hoa yang mendengar dia berkata demikian dalam hati menjadi amat girang, pikirnya .
"Di atas langit ada jalan kau tidak mau menempuh neraka tak berpintu kau terjang. Kau ingin menemui kauwcu sama saja dengan mencari jalan kematian buat dirinya sendiri."
Tetapi dia sama sekali tidak memperlihatkan perasaan tersebut pada wajahnya, mendadak dia merangkap tangannya menjura .
"Kauw cu kami bisa mendapat kunjungan dari Pouw Siauw hiap, hal ini benar-benar merupakan satu penghormatan buat kami. Entah Pouw Siauw hiap bermaksud hendak berangkat hari apa?"
Pouw Siauw Ling termenung berpikir sebentar; baru saja dia bermaksud menjawab mendadak terdengar suara keleningan bergema dari jauh semakin lama semakin mendekat dan tidak lama kemudian muncullah seekor kuda jempolan berwarna hitam.
Di atas kuda terteout duduklah seorang gadis berbaju hitam dengan ikat kepala ber warna hijau, wajahnya amat cantik sekali.
Dengan termangu-mangu pemuda tersebut memperhatikan beberapa kejap wajah yang cantik dari gadis tersebut, beberapa saat kemudian dia baru berkata kembali .
"Perkumpulan kalian mengijinkan aku untuk berkunjung, cayhe benar-benar merasa berterima kasih. Be heng, silahkan berangkat setindak terlebih dulu dan beritahukan kepada Kauw cu kalian bahwa Pouw Siauw Ling yang baru turun dari gunung Soat san ada urusan ingin berjumpa dengan Kauw cu. Di samping itu harap Be heng suka meninggalkan satu orang penunjuk jalan buat cayhe, sebentar lagi akupun akan melakuan perjalanan kembali."
Sewaktu gadis berbaju hitam itu mendengar perkataan Pouw Siauw Ling agaknya dia menaruh perhatian penuh dan melirik sekejap ke arah pemuda tersebut.
Sebaliknya Pouw Siauw Ling pun sudah mengawasi terus gadis tersebut sejak dia masuk ke dalam rumah makan.
Empat mata segera bertemu menjadi satu, walaupun hanya di dalam sekejap saja tetapi dalam hati setiap orang sudah mempunyai perhitungan sendiri.
Diam-diam pemuda itu merasa terperanjat sekali, pikirnya.
"Kelihatannya gadis ini bukan sembarangan orang, kepandaiannya sungguh dahsyat sekali!"
Be Ci Hoa yang merupakan jago kawakan Kangouw sudah tentu diapun mengetahui kalau gadis tersebut mempunyai asal-usul yang besar, tak terasa dia pun memperhatikan lebih teliti lagi terhadap dirinya, setelah itu baru kepada Pouw Siauw Ling ujarnya sambil menjura.
"Kalau begitu aku berangkat terlebih dulu, menanti kedatangan Siauw hiap di lembah tanpa nama di gunung Jong Lay san."
Sehabis berkata, dengan memimpin lima orang yang lain serta mendorong ketiga sosok mayat itu mereka meninggalkan rumah makan tersebut dengan hanya meninggalkan seorang lelaki berbaju hitam yang usianya rada muda, hendak bertindak sebagai penunjuk jalan.
Siapa tahu, baru saja Be Ci Hoa bertindak keluar dari rumah rumah makan terebut mendadak terasa iganya menjadi kaku.
Belum sempat dia berteriak, segulung angin pukulan yang sangat keras sudah mendorong ke arahnya.
Tak kuasa lagi tubuhnya segera terpukul maju tiga langkah ke depan dengan sempoyongan dan jatuh tertelungkup di tanah.
"Eeeei Be heng, kau kenapa? Kenapa tiba-tiba kau jatuh?"
Seru Pouw Siauw Ling terburu-buru sambil membimbing Be Ci Hoa bangun.
Air muka Be Ci Hoa berubah memerah, dalam hati dia pun tahu kalau dirinya sudah kena dibokong oleh orang lain, tetapi dia tidak mengetahui siapakah orangnya yang sudah turun tangan itu.
Ujung matanya segere menyapu sekejap ke arah gadis berbaju hitam yang baru masuk ke dalam pintu itu, melihat dia membelakangi dirinya tanpa bergerak kecurigaan ini pun lantas beralih ke tubuh Pouw Siauw Ling.
"Akh ..tidak ada urusan, tidak ada urusan?"
Sahutnya sambil tertawa paksa.
"Kakiku tersangkut tangan, terima kasih atas perhatian Siauw hiap!"
Sehabis berkata kakinya segera menginjak ke atas batu sebesar telur bebek sehingga hancur lebur setelah itu dengan membawa kelima orang lainnya dia meninggalkan tempat itu tergesa gesa.
Setelah melihat orang orang itu pergi jauh, Pouw Siauw Ling baru tertawa tiada hentinya.
Kiranya orang yang melancarkan pukulan tadi bukan lain adalah Pouw Siauw Ling tetapi pemuda ini pun tidak mengetahui kalau sebelum dia turun tangan terlebih dulu sudah ada orang yang melancarkan totokan untuk menotok jalan darah di bawah iga Be Ci Hoa, kalau tidak manusia yang sudah lama berkecimpung di dalam dunia kangouw mana mungkin bisa jatuh terjungkal dengan begitu mudahnya.
Tetapi pada saat ini, air muka gadis berbaju hitam itu memperlihatkan keragu-raguan pikirannya ;
"Totokanku tadi kenapa tak mengenai tempat berbahaya? Apalagi pukulan dari orang itu sungguh aneh sekali, seharusnya setelah terkena pukulan orang itu akan rubuh, kenapa dia maju dulu beberapa langkah kemudian rubuh ke atas tanah? Kepandaian dari pemuda itu sungguh aneh sekali."
Tak terasa lagi dia sudah menaruh perhatian yang lebih mendalam lagi terhadap diri Pouw Siauw Ling.
Tidak lama kemudian pelayan Sudah menghidangkan sayuran yang lezat di atas meja, Pouw Siauw Ling yang selama setahun tak pernah mendahar masakan yang matang maka dengan rakus dan lahapnya menghabiskan seluruh hidangan itu, setelah itu baru memerintahkan anak murid Sin Beng Kauw untuk melakukan perjalanan ke lembah Boe Beng di gunung Jong lay san.
Selama ini dia terus menerus menaruh curiga terhadap gadis berbaju hitam itu, sesaat meninggalkan tempat itu matanya kembali melirik beberapa kejap ke arahnya.
Siapa tahu semakin dilihat dia merasa gadis itu semakin cantik sehingga hatinya benar-benar terpikat sambil berjalan sambil menoleh akhirnya dengan paksakan diri dia berlalu juga dari sana.
Setelah dia pergi jauh, gadis berbaju hitam itu pun terburu buru membayar rekening dan berlalu menuju ke Timur.
Kita balik kepada Pouw Siauw Ling yang melakukan perjalanan bersama-sama dengan anak murid Sin Beng Kauw itu, tidak lama kemudian dia sudah melakukan perjalanan sejauh dua puluh lie.
Pouw Siauw Ling yang masih belum mengetahui seluk beluk tentang perkumpulan Sin Beng Kauw dalam hati merasa ragu-ragu juga akhirnya dia tak kuat menahan sabar lagi, tanyanya ;
"Kita sudah melakukan perjalanan sejauh dua puluh lie dan mulai memasuki pegunungan Jong Lay san; sebetulnya dimanakah letak lembah Boe Beng Ku itu?"
Dari sini menuju ke arah Timur kurang lebih kentongan kelima nanti. Sudah tiba nanti kan Pouw Siauw hiap tahu sendiri,"
Jawab orang berbaju hitam itu.
Sehabis berkata dia bungkam kembali dalam seribu bahasa.
Diam-diam dalam hati Pouw Siauw Ling mulai berpikir .
Saat ini baru kentongan pertama, bilamana harus melakukan perjalanan sampai kentongan kelima paling sedikit harus menempuh jarak ratusan lie lagi!
Dia termenung lalu pikirnya kembali.
"Dengan kekuatan larinya dua ratus lie memang harus ditempuh sampai kentongan ke lima, tapi dengan kecepatanku paling banter cuma satu kentongan saja sudah tiba. Setelah di dalam hati mengambil keputusan dia pun lantas bertanya.
"Boe Beng Tok Su sebenarnya manusia macam apa? dapatkah kau memberi penjelasan?"
Agaknya orang itu sudah diberi pesan untuk jangan berbicara, mendengar pertanyaan itu dia lalu menggeleng.
"Setelah bertemu muka dengan kauwcu, siauw hiap tentu akan tahu sendiri,"
Sahutnya singkat. Diam-diam pemuda itu merasa gemas juga melihat sikapnya itu, makinya di hati .
"Hmm! Maknya, kau tidak suka berbicara juga tidak meagapa, apa kau kira aku merasa takut dengan kauwcu kalian?"
Tetapi yang penting dia ketahui bukanlah soal ini, karena itu tanyanya kembali.
"Lembah Boe Beng Ku merupakan markas besar dari perkumpulanmu, di sepanjang jalan tentu tersebar penjagaan yang ketat, kini kita melakukan perjalanan siang malam, bilamana secara mendadak mereka melancarkan serangan dengan panah gelap, kita harus menghadapi dengan menggunakan cara apa?"
"Haa... haa... soal ini aku bisa menghadapinya, harap siauw hiap jangan kuatir,"
Sahut orang berbaju hitam itu sambil tertawa.
"Kau bisa memberi tanggapan tapi aku tidak bisa!"
Kata Pouw Siauw Ling.
"Cukup dengan baju putihku ini saja sekali pandang mereka sudah mengetahui kalau aku bukan anggota perkumpulan kalian, bilamana sampai mereka mempunyai maksud dan mengarah aku semua bukankah diriku konyol? Sekalipun kepandaian silatku jauh lebih tinggi pun pasti akan menemui kerugian."
"Hmm! heee... hee... Be Su ya sejak semula sudah kembali ke dalam lembah, urusan di sana ada dia yang turun tangan, harap Siauw hiap jangan kuatir. Kalau memangnya Siauw hiap bersungguh-sungguh hendak menemui kauw cu, siapa lagi yang berani turun tangan menhhadang?"
Pouw Siauw Ling yang mendengar perkataannya cengli, dia jadi bungkam seribu bahasa, tetapi berhubung urusan ini menyangkut keselamatan bahkan dalam hati dia sudah punya rencana sendiri, alisnya segera dikerutkan rapat-rapat.
"Dia tidak suka berterus terang, aku harus tiba sebelum waktunya untuk selidiki adakah rencana busuk yang sedang mereka susun,"
Pikirnya di hati.
"Bilamana hanya karena perkumpulan Sin Beng kauw yang tak bernama aku sudah dibuat ketakutan, akan kemanakah wajahku ditaruh? Apakah aku masih bisa menancapkan kaki lagi di dalam Bu lim?"
Sebetulnya di dalam hati mengambil keputusan, ujarnya mendadak.
"Aku akan berangkat satu tindak lebih dulu, kau susullah dengan perlahan dari belakang."
Mendengar perkataan tersebut orang berbaju hitam itu kontan menghentikan langkahnya.
"Bagaimana soal ini boleh jadi? Siauw hiap tidak kenal jalan, apalagi."
Baru saja berbicara sampai di sini mendadak dia teringat kembali akan sesuatu dari Be Ci Hoa, mulutnya lalu bungkam kembali.
Pouw Siauw Ling yang mempunyai pengalaman luas; cukup melihat sikapnya itu dalam hati lantas mengerti kalau dugaannya tidak meleset.
Tak kuasa lagi dia segera tertawa terbahak bahak.
"Haaa... haaa... tidak mengapa, tidak mengapa, aku bisa menemukan sendiri,"
Sahutnya. Sehabis berkata ujung kakinya menutul permukaan tanah; tubuhnya dengan cepat meluncur sejauh tiga kaki ke depan. Orang berbaju hitam itu menjadi cemas; teriaknya dengan keras.
"Siauw hiap, jangan, kalau kau berangkat sendiri bagaimana aku harus bertanggung jawab?"
Sudah tentu Pouw Siauw Ling tidak akan menggubris dirinya lagi; hanya di dalam beberapa kali loncatan saja tubuhnya sudah ada dua; tiga puluh lie jauhnya.
Di antara suitannya yang amat keras dia segera mengeluarkan ilmu meringankan tubuh yang berhasil dipelajari di atas gunung Soat-san.
Laksana seekor burung rajawali dengan amat cepatnya dia berkelebat di tengah pegunungan Jong Lay san yang tak rata itu.
Hanya di dalam beberapa saat kemudian dia sudah berada amat jauh sekali dari tempat semula mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara tiupan seruling yang amat panjang.
Dalam hati pemuda itu menjadi keheranan, hawa murninya dikerahkan semakin dahsyat sehingga laksana sepasang anak panah yang terlepas dari busurnya dia meluncur ke depan.
Tak lama kemudian suara tiupan seruling di belakang tubuhnya berkumandang semakin keras bahkan semakin lama semakin mendekat.
Waktu itu Pouw Siauw Ling sudah tiba di antara batu batu cadas yang berbentuk aneh, di atas sebuah gundukan tanah tumbuhlah tujuh delapan batang pohon.
Mendadak suara seruling itu berkumandang datang dari tiga kaki di hadapaa tubuhnya dengan cepat meluncur ke depan laksana seekor elang menubruk ke atas.
Dengan matanya yang tajam, sekali pandang dia dapat melihat kalau di atas pohon itu sudah bersembunyi seseorang.
Tanpa pikir panjang dia melancarkan satu pukulan dahsyat ke depan menghajar tubuh orang itu.
Suara dengusan bergema datang; orang yang berada di atas pohon itupun rubuh ke atas tanah tak berkutik lagi, sedang suara seruling berhenti berbunyi.
Pouw Siauw Ling mengetahui keadaan pada saat ini amat genting, tanpa perduli orang itu lagi, tubuhnya berkelebat semakin cepat ke arah depan, suara tiupan seruling dari dua suara memanjang kini menjadi satu memanjang.
Diam-diam Pouw Siauw Ling merasa geli, pikirnya.
"Kiranya dua suara memanjang kini menjadi satu suara memanjang, bilamana perkumpulan Sin Beng kauw menggunakan suara seruling untuk mengirim berita maka suara seruling itu jauh lebih kendor dari keadaan semula, akupun bisa memasuki lembah lebih mudah lagi."
Dia melanjutkan kembali perjalanannya selama setengah jam lamanya, akhirnya di depan mata sudah muncul sebuah gunung berbatu yang aneh sekali.
Puncaknya tak begitu tinggi, cuma saja keadaannya amat curam dan berbahaya sekali.
Pouw Siauw Ling yang melihat jalan itu adalah sebuah jalan buntu pikirannya kembali bergetar.
"Apa mungkin untuk menuju ke lembah tak bernama itu harus melewati dulu gunung berbatu yang amat curam dan berbahaya ini? Aku harus berjaga-jaga terhadap serangan yang dilancarkan oleh mereda, apalagi gunung berbatu itu merupakan tempat bersembunyi yang amat baik sekali."
Tetapi sebentar kemudian dia sudah berpikir kembali.
"Be Ci Hoa sudah pulang memberi laporan. Bilamana kauwcu tersebut mempunyai minat untuk bertemu dengan diriku, ada kemungkinan dia bisa membubarkan jebakan-jebakan yang dipasang tetapi bilamana tidak suka bertemu, pastilah dia orang akan mengatur siasat untuk membinasakan diriku... Hmm! Aku Pouw Siauw Ling tidak akan membiarkan diriku terkurung di dalam gunung berbatu ini!"
Berpikir sampai di sini dia lantas tertawa dingin, dari pinggangnya dia mengambil ke luar sebuah cambuk berwarna putih, kemudian meluncur ke atas gunung.
Kurang lebih tiga kaki di atas gunung berbatu itu akhirnya pemuda tersebut menemukan juga sebuah jalanan seperti usus kambing yang amat kecil sekali memanjang ke atas.
Dengan mengikuti jalan kecil itu, Pouw Siauw Ling melanjutkan perjalanannya.
Nampaklah jalan kecil itu membelok dan menurun ke bawah, sewaktu hatinya merasa ragu-ragu itulah tiba-tiba dari belakang tubuhnya terdengar suara desiran yang amat tajam.
Dengan gesitnya Pouw Siauw Ling memutar badannya, terlihatlah dua titik cahaya keemas-emasan dengan cepat meluncur ke arahnya.
Terburu-buru dia miringkan kepalanya ke samping, titik cahaya enas itu dengan disertai desiran tajam berkelebat dari samping telinganya.
Pouw Siauw Ling segera tertawa dingin.
"Kawan, apakah kau orang anggota perkumpulan dari Sin Beng Kauw? Hmm!"
Serunya.
"Cayhe adalah Pouw Siauw Ling yang sengaja datang untuk menyambangi kauw cu kalian. Bahkan, Be Su ya Be Ci Hoa salah satu pelindung lukisan kalian sudah melaporkan urusan ini kepada kauw cu. Harap kawan suka memberi jalan!"
Sembari berkata Pouw Siauw Ling mernperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu.
Melihat senjata rahasia tersebut meluncur keluar dari arah di balik batu, dia pun lantas mengawasi tempat tersebut dengan tajam.
Sedikit pun tidak salah, di balik batu itu memang ada orang yang lagi bersembunyi terdergar suara yang berat berkumandang keluar.
"Be Su ya sudah mengirim perintah dan kami telah mengetahui urusan ini, tetapi kenapa kau datang seorang diri? Dimanakah saudara kami yang bertindak sebagai penunjuk jalanmu itu?"
"Sebentar lagi dia bakal tiba,"
Sahut Pouw Siauw Ling dengan cepat.
"Kawan; kau tidak usah menaruh curiga, aku Pouw Siauw Ling bukanlah manusia semacam itu."
"Heee... heee... kawan, kalau memangnya kau bermaksud untuk menyambangi kauw cu kami, kenapa saudara tersebut kau tinggalkan di tengah jalan dan berangkat kemari lebih dulu? Lebih baik untuk sementara waktu saudara menunggu dulu disini, menanti setelah saudara kami tiba di sini, kalian baru masuk ke dalam lembah bersama-sama."
Sehabis berkata mendadak dia mengambil keluar serulingnya dan mulai meniup kencang-kencang. Melihat kejadian itu, Pouw Siauw Ling menjadi amat terperanjat, bentaknya.
"Kawan, aku masuk ke dalam lembah Boe Beng Ku ini untuk mengunjungi Sin Beng Kauw cu, sama sekali tidak bermaksud jahat. Harap kau jangan memandang diriku sepertf memandang musuh!"
Dengan cepat cambuknya menutul tanah dan tubuhnya dengan cepat meluncur ke balik batu besar, gerakannya amat gesit dan cepat, sedikitpun tidak menimbulkan suara apa pun.
Siapa tahu sewaktu tubuhnya tiba di balik batu, di tempat itu sama sekali tidak tampak adanya bayangan manusia.
Hatinya benar-benar merasa amat terperanjat, pikirnya .
"Seorang penjaga gunung dari Sin Beng-Kauw saja memiliki ilmu yang demikian dahsyatnya, aku tidak boleh memandang terlalu rendah kekuatan mereka!"
Tetapi dia tidak berhenti sampai di situ, cambuk panjangnya dibabat ke depan, tubuhnya pun dengan mengikuti gerakan tersebut meloncat ke depan dengan mengambil jalan usus kambing itu, dia lanjutkan perjalanan ke atas gunung.
Belum sempat dia meloncat untuk ketiga kalinya, suara seruling di belakang tubuhnya bergema kembali diikuti suara bentakan keras dari seseorang.
"Hey orang she Pouw! Kau orang janganlah nekad begitu rupa dengan melanjutkan terjanganmu ke dalam lembah. Kami orang-orang Sin Beng kauw tak akan membiarkan orang asing keluar masuk seenaknya di tempat kami. Hmm! Kalau tak cepat-cepat menghentikan gerakanmu, nanti kau orang akan menyesal."
Siapa tahu baru saja suara bentakan tersebut selesai diucapkannya, mendadak suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang keluar.....
Dengan terperanjat Pouw Siauw Ling menoleh, tampaklah di tengah kegelapan berkelebat lewat sesosok bayangan hitam yang hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan.
Dalam hati pemuda itu tahu bahwa suatu peristiwa telah terjadi, tanpa pikir panjang lagi dia pun meluncur ke tengah gunung dengan cepatnya.
Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya saat ini, bilamana tak ada rintangan hanya di dalam sekejap saja dia sudah tiba di dalam puncak gunung tersebut.
Dengan meminjam cahaya rembulan yang samar-samar, matanya mulai menyapu keadaan tempat itu, secara samar-samar tampak olehnya di bawah puncak tersebut merupakan sebuah lembah buntu.
Di tengah lembah tampak sebuah selokan kecil memanjang ke depan.
Di samping sungai tersebut, tumbuhlah pepohonan dengan amat lebatnya dengan sebuah kuil kecil muncul di antara tumbuhan tersebut.
Diam-diam di dalam hati Pouw Siauw Ling mulai mengadakan perhitungan, dia tahu kauw cu dari Sin Beng Kauw yang disebut Boe Beng Tok Su itu pastilah berdiam di ruangan belakang, tetapi dia orang yang bermaksud untuk menyambangi orang itu dengan terang-terangan, dalam hati dia mulai mengambil keputusan untuk muncul dari ruangan depan.
Sewaktu dalam hati sedang berpikir itulah mendadak di sekelilingnya muncul empat orang berbaju hitam yang mencekal pedang panjang dan berdiri kurang lebih tiga kaki dari dirinya.
Saat itu mereka sedang mengawasi pemuda tersebut dengan amat tajamnya.
Melihat kejadian itu, Pouw Siauw Ling jadi melengak, serunya dengan rasa keheranan.
"Apakah Be Su ya Be Ci Hoa dari perkumpulan Sin Beng Kauw tak memberitahu kepada kalian kalau malam ini ada orang yang hendak masuk ke dalam lembah untuk menyambangi kauw cu?"
"Sudah tentu Be Su ya sudah memberitahukan hal ini kepada kami,"
Sahut si orang berbaju hitam yang ada di sebelah selatan dengan suara dingin.
"Tetapi sebelum menemui kauw cu, kau harus memecahkan dulu tiga rintangan dari lembah ini."
Mendengar perkataan itu, Pouw Siauw Ling segera mengerti kalau Be Ci Hoa sudah menaruh rasa gemas dan mendongkol terhadap dirinya terasa lagi dia tertawa terbahak-bahak.
"Haa ... ha... haa ... Baiklah mulai!! Jago-jago lihay Sin Beng kauw silakan mulai melancarkan serangan tetapi harus kita jelaskan dulu, mulai sekarang bilamana kalian sampai terbinasa di tanganku maka kalian tidak boleh mencari gara-gara lagi dengan diriku. Bagaimana?"
"Soal ini sudah tentu,"
Seru orang berbaju hitam yang ada di sebelah utara sambil tertawa dingin.
"Asalkaa kau bisa melewati ke tiga rintangan ini maka Sin Beng kauw akan menganggap kau sebagai tetamu terhormat."
Pada saat itulah lelaki berbaju hitam yang ada di sebelah timur mendadak melompat dua kaki ke depan kemudian melancarkan satu tusukan mengancam ulu hati pemuda tersebut.
"Tidak usah banyak cakap lagi, terima seranganku ini!"
Bentaknya keras.
Dengan tenangnya Pouw Siauw Ling mundur setengah langkah untuk menghindarkan diri dari serangan tersebut.
Pada saat itulah kembali dari samping tubuhnya terasa sambaran angin serangan yang amat tajam, pundaknya dengan cepat dikebaskan lalu berputar satu lingkaran ke depan.
Serangan pedang dari belakang yang dilancarkan lelaki berbaju hitam di sebelah Barat itu pun mengenai sasaran kosong.
"Hmm! gerakan bagus!"
Dengus lelaki yang ada di sebelah Timur dengan dinginnya.
Pedangnya menekan ke bawah dan dilanjutkan dengan mencukil ke atas, ujung pedang dengan cepat mengancam iga dari Pouw Siauw Ling.
Dengan cepat pemuda itu menggeserkan kaki kirinya ke samping menanti.
Serangan pedang dari lelaki yang ada di sebelah Timur kembali mencapai pada sasaran yang kosong, baru dia tertawa.
"Aku Pouw Siauw Ling yang baru saja menginjak wilayah kekuasaan kalian sebagai penghormatan aku sudah mengalah tiga jurus kepada kalian, mulai saat ini harap kalian sedikit waspada karena cayhe mau turun tangan!"
Selesai berkata cambuk putihnya segera digetarkan; mendadak senjatanya tegak bagaikan pit dilintangkan di depan dada.
Lelaki yang ada di sebelah Timur melihat serangannya mengalami kegagalan, hawa amarahnya malai memuncak kembali.
Dia menyerbu ke depan sambil melancarkan beberapa kali sambaran.
Diikuti ketiga orang lainnya, dari arah Selatan, Barat serta Utara mereka maju mengerubut ke depan.
Di antara berkelebatnya sinar pedang mereka pada menyerang jalan darah kematian dari pemuda tersebut.
Dengan cepat Pouw Siauw Ling memutar cambuknya untuk melindungi seluruh tubuh, seketika itu juga angin serangan menderu-deru laksana tiupan angin topan.
Sampai waktu itu Pouw Siauw Ling sama sekali tidak menyerang dengan sepenuh tenaga, dia bermaksud untuk mempermainkan terlebih dahulu musuh-musuhnya itu.
Tetapi waktu semakin lama, mendadak dia memaki dirinya sendiri.
"Kenapa aku harus membuang waktu disini dengan percuma?"
Berpikir akan hal itu tenaga murninya pun segera disalurkan keluar.
Sambaran angin serangan semakin menghebat sedang bayangan cambukpun berputar menyilaukan mata dan seketika itu juga mengurung keempat orang itu di dalam angin serangannya.
"Saudara berempat, kalian jangan salahkan aku lagi. Aku pergi terlebih dulu!"
Serunya kemudian sambil tertawa. Mendadak pergelangan tangannya digetarkan, cambuknya segera melingkar ke atas dan menyabet ke samping.
"Lepas tangan!"
Bentaknya.
Keempat orang lelaki berbaju hitam itu hanya merasakan pedangnya tergetar amat keras, pergelangannya jadi kaku sedang pedang mereka telah mencelat ke tengah udara, diikuti berkelebatnya sesosok bayangan manusia.
Pouw Siauw Ling sudah meloncat sejauh satu kaki lebih.
"Haaa ... haaa... kalian berempat masih kurang lihay, maaf aku tak punya waktu lagi untuk melayani lebih lanjut,"
Ejeknya.
Ujung kakinya segera menutul tanah, tubuhnya dengan amat cepat meluncur masuk ke dalam lembah tak bernama itu.
Sewaktu mereka berempat lagi berdiri termangu-mangu disana, saat itulah kembali terasa bayangan hitam berkelebat ....
"Plak... Plok... Plok... setiap orang sudah kena digaplok sekali di atas mulutnya membuat mereka berempat jadi sadar kembali. Walaupun begitu mereka tak berhasil melihat jelas siapakah gerangan tangan jahil tersebut, terasa bayangan hitam berkelebat tahu-tahu mereka sudah kehilangan jejak musuhnya. Akhirnya mereka cuma berdiri melongo-longo sambil saling tukar pandangan dengan benak penuh tanda tanya. Kita balik pada Pouw Siauw Ling. Setelah meninggalkan empat orang itu; hanya di dalam sekejap saja dia sudah menuruni bukit tersebut dan kini perjalanannya terhalang oleh sungai dengan airnya yang amat jernih. Semangat pemuda itu berkobar kembali, tiba-tiba teriaknya.
"Hey Sin Beng Kauw cu Boe Beng Tok Su Cianpwee, harap kau orang suka unjukkan diri, cayhe Pouw Siauw Ling sengaja datang menyambangi dirimu!"
Lututnya segera ditekuk lalu menjejak permukaan tanah dan meluncur ke depan dengan gerakan "Lok Yen Huan Cau"
Atau burung walet kembali ke saraug dengan cepatnya menyeberangi sungai tersebut.
Sungai itu luasnya tidak sampai tiga kaki, buat Pouw Siauw Ling sebenarnya tidak sulit untuk melewatinya.
Siapa tahu sewaktu tubuhnya lagi meloncati sungai itulah, mendadak dari tepi seberang berkelebat pula beberapa sosok bayangan manusia.
Hanya sekejap saja di tepi pantai seberang sudah berdiri delapan orang tua berbaju hitam dengan wajah meringis kejam.
Melihat perubahan yang terjadi secara mendadak, Pouw Siauw Ling segera mengerti kalau suatu pertempuran yang amat sengit tidak akan terhindarkan lagi.
Dia tidak berani menempuh bahaya dengan gegabah, lengannya segera menekan ke bawah dan dengan menggunakan kekuatan tersebut dia bersalto beberapa kali di tengah udara.
Di antara sambaran cambuk panjang, tubuhnya melayang kembali ke tempat semula.
Semua gerakan tersebut dilakukan hanya di dalam sekejap saja, tapi hasil yang diperoleh pun luar biasa.
Jilid . 38 Begitu tubuhnya mencapai permukaan tanah mendadak terdengar suara seseorang dari antara delapan orang itu membentak keras .
"Setan cilik nyalimu sungguh tidak kecil, malam ini kau bisa datang jangan harap bisa pergi dalam Keadaan selamat."
Diikuti suara bentakan tersebut cahaya emas berkelebat menyilaukan mata, senjata rahasia yang menyilaukan mata dengan disertai suara sambaran angin yang tajam menghajar tubuh Pouw Siauw Ling.
Untung saja Pouw Siauw Ling memiliki kepandaian silat yang amat lihai dan nyali yang besar pula, dengan sedikitpun tidak gugup cambuk panjangnya digetarkan ke depan membentuk bunga-bunga cambuk yang amat banyak melindungi seluruh jalan darah di tubuhnya; diikuti suitan nyaring dan berseru dengan lantangnya.
"Tindakan dari Sin Beng Kauw sungguh kejam sekali, aku Pouw Siauw Ling hendak meminta beberapa petunjuk dari kalian."
Siapa tahu baru saja dia selesai berkata mendadak ...
"Aduuh ...!"
Teriaknya keras, di atas kakinya tanpa terasa sudah kena dihajar sebatang senjata rahasia; seketika itu juga dia merasa kakinya jadi kaku.
Dalam hatipun dia lantas tahu kalau senjata rahasia tersebut mengandung racun jahat, tubuhnya sedikit menggetar, tak kuasa lagi dia jatuhkan diri ke dalam sungai.
Dia orang mimpipun tidak pernah menduga kalau sebelum rintangan kedua ini berhasil ditembusi, kakinya sudah terhajar senjata rahasia berbisa, teringat akan jerih payahnya selama setahun ini di atas gunung Soat san ditambah pala dendam ayahnya belum terbalas membuat Hatinya merasa amat kecewa.
Matanya mulai berkunang-kunang, kepala terasa amat pusing sukar ditahan sedang badan pun jadi amat lemas, mendadak dia jadi sadar kembali; sambil menggigit kencang bibirnya ia berseru.
"Siauw Ling! Siauw Ling! Apa kau rela menemui ajalmu dengan demikian saja? Apakah kau tidak mencari kesempatan untuk mempertahankan hidupmu?"
Setelah pikiran tersebut dengan cepat berkelebat di dalam benaknya, semangat pun berkobar kembali, mendadak dia membentak keras.
"Baik! hari ini biar aku Pouw Siauw Ling sebelum harus menemui ajalnya di dalam lembah tak bernama ini, harus kubasmi kalian bajingan-bajingan terkutuk!"
Sehabis membentak tubuhnya yang hampir terjatuh ke dalam sungai itu kembali mencelat ke atas, cambuk Pek Kuk Mo Piannya dengan membawa angin serangan yang menderu segera menubruk ke arah delapan orang lelaki berbaju hitam itu.
Hanya di dalam sekejap saja dia sudah berhasil memukul mundur mereka berdelapan diikuti cambuknya digetarkan membentuk tombak panjang bagaikan kilat cepatnya meluncur ke arah Be Ci Hoa.
Melihat datangnya serangan itu, Be Ci Hoa jadi amat terperanjat; kaki kirinya bergeser ke samping mundur setengah langkah untuk menyingkir.
Siapa tahu gerakan cambuk dari Pouw Siauw Ling ini amat aneh dan dahsyat sekali, di tengah getaran pergelangan tangannya, cambuk itu mendadak memutar dan tepat melingkar bagian leher Be Ci Hoa.
Terburu-buru dia lantas mencengkeram cambuknya siap untuk melepaskan diri dari libatan tersebut.
"Be Ci Hoa!"
Terdengar Pouw Siauw Ling membentak keras.
"Tahun besok adalah ulang tahun yang pertama dari kematianmu!"
Dia menarik napas panjang panjang; cambuk itu digetarkan lalu ditarik ke belakang.
Seketika itu juga telapak tangan dari Be Ci Hoa yang sedang mencekal tubuh cambuk itu tergetar pecah diikuti cambuk tersebut bagaikan seekor ular melibat ke lehernya semakin kencang.
"Akh ...!"
Di tengah suara teriakan yang amat mengerikan tubuhnya rubuh ke atas tanah dengan lidah terjulur keluar, dari mata hidung serta mulutnya mengucur keluar darah segar dengan banyaknya.
Waktu itu wajah Pouw Siauw Ling sudah berubah menghijau, dia tahu racun yang bersarang di dalam tubuhnya sudah mulai bekerja.
Hatinya jadi semakin gusar setelah cambuknya berhasil membinasakan diri Be Ci Hoa kembali menyerang ke depan.
Waktu itulah mendadak segulung angin pukulan menerjang dari belakang tubuhnya, di dalam keadaan terkejut buru-buru ia putar cambuknya ke belakang lalu menyapu ke arah bawah.
Dengan mengambil kesempatan itulah tubuhnya meluncur ke depan, bagaikan kilat cepatnya dia menggerakkan tangannya menyambar ke kiri kanan dengan dahsyatnya seketika itu juga cambuknya sudah memecah jadi tiga bagian menyerbu ke empat penjuru.
Kedelapan orang berbaju hitam itu bukan lain adalah kedelapan pelindung lukisan perkumpulan Sin Beng Kauw yang semula adalah manusia-manusia yang tak bernama sudah tentu mereka tak akan bisa menahan serangan cambuk dari Pouw Siauw Ling yang menggunakan ilmu cambuk Suo Kuk Mo Pian ini.
Waktu itu juga terdengar dua orang menjerit ngeri, dada dan pundaknya sudah kena ditembusi oleh serangan dari Pouw Siauw Ling sehingga satu mati satu terluka.
Tidak sampai disitu saja, Pouw Siauw Ling kembali memutar cambuknya ke depan dan melancarkan jurus-jurus serangan yang mematikan sedang diam-diam dia mulai mengerahkan tenaga dalam Kioe Im Tong Ci Lo Han Kangnya yang amat lihai.
Hanya di dalam sekejap mata saja sisanya lima orang kena dikurung di dalam serangan cambuk yang dahsyat itu.
Waktu ini bilamana dia bermaksud untuk membereskan nyawa mereka berlima sangat gampang sekali bagaikan membalik telapak tangan saja.
Tetapi pikirannya waktu itu sudah berubah mendadak, permainan cambuknva diubah tampaklah bayangan putih berkelebat menyilukan mata di antara orang-orang itu.
Belum sempat kelima orang itu mengerti apa yang sudah terjadi tahutahu tubuhnya terasa jadi lemas, mereka sudah kena ditotok jalan darah lemasnya.
Dengan membawa serta cambuknya Pouw Siauw Ling melanjutkan kembali gerakannya meloncat sejauh beberapa depa dan meluncur ke arah pintu kuil itu.
Baru saja dia bermaksud untuk melewati tembok, mendadak kepalanya terasa semakin pening.
Dia tahu daya racun tersebut sudah mulai bekerja di dalam tubuhnya!
Terburu-buru tenaga murninya disalurkan untuk mendesak racun itu ke sudut sedang tubuhnya melanjutkan gerakannya melompat ke depan pintu kuil.
Waktu itu pintu kuil terpentang lebar lebar, dua orang penjaga yang ada di sana sudah tertidur dengan pulasnya di samping.
Walaupun Pouw Siauw Ling merasa keheranan dengan kejadian itu tapi tidak ada waktu baginya untuk berpikir lebih lanjut, tubuhnya dengan cepat menerjang masuk ke dalam kuil.
Setelah melalui sebuah halaman yang luas sampailah dia orang di dalam sebuah ruangan yang besar.
Waktu itulah mendadak telinganya dapat menangkap suara bentrokan senjata yang amat ramai diselingi suara bentrokan keras berkumandang keluar dari belakang kuil.
Pouw Siauw Ling jadi melengak dibuatnya, dengan cepat tubuhnya melayang ke depan dan lari ke ruangan belakang.
Tampaklah olehnya seorang perempuan dengan ikat kepala hijau sedang dikurung oleh dua orang lelaki berbaju hitam dengan lukisan obor berwarna biru, kedua orang lelaki itu berjenggot panjang, sedang usianya ada lima, enam puluh tahunan sedangkan perempuan tersebut bukan lain adalah perempuan yang ditemuinya sewaktu ada di rumah makan tadi.
Selagi Pouw Siauw Ling berdiri murung itulah mendadak terdengar gedis berbaju hitam itu membentak keras.
"Eeeei... buat apa berdiri termenung di sini? cepat masuk ke dalam ruangan paling belakang untuk menemui kauwcu. Untuk sementara biarlah aku orang ikut dulu kedua orang jagoan dari tingkatan warna biru ini."
Setelah diperingatkan oieh gadis tersebut, Pouw Siauw Ling jadi sadar kembali dengan cepat dia putar tubuh dan menyingkir ke samping untuk lari ke belakang ruangan. Mendadak.
"Liem Tou, kau tidak akan berhasil melarikan diri dari sini,"
Teriak seorang lelaki tua berbaju hitam dengan kerasnya.
Sebatang senjata rahasia dengan disertai suara desiran yang amat tajam dengan dahsyatnya menyambar datang.
Pouw Siauw Ling yang kena dihajar oleh senjata rahasia dalam hati sudah menaruh dendam terhadap pelepas senjata rahasia itu, dia sebenarnya sudah melangkah keluar dari tempat itu mendadak berhenti dan putar badannya kembali, lalu dengan pandangan dingin dia melototi orang tua tersebut.
"Kalian berdua sungguh goblok dan buta matamu, aku beritahu kepadamu dia bukanlah Liem Tou,"
Terdengar gadis berbaju hitam itu menegur. Kembali dia melancarkan pukulan dahsyat mendesak kedua orang itu mundur tiga langkah ke belakang; setelah itu kepada Pouw Siauw Ling ujarnya.
"Cepat pergi cepat pergi! Buat apa kau balik kembali kemari? Walaupun mereka berdua sangat lihay tetapi belum tentu bisa melukai diriku."
Kembali Pouw Siauw Ling tertawa dingin.
"Terima kasih atas perhatian yang nona berikan kepaaaku; aku Pouw Siauw Ling merasa sangat berterima kasih sekali tetapi kedua orang bajingan tua ini harus aku hajar dulu, harap nona suka menyingkir untuk sementara waktu."
Gadis berbaju hitam itu memangnya tidak tahu kalau Pouw Siauw Ling sudah kena racun; melihat dia orang tidak suka pergi bahkan hendak menempuri mereka berdua diapun lantas mengundurkan dirinya ke samping kalangan.
Pouw Siauw Ling mendengus dingin mendadak kakinya menginjak kedudukan Tiong-Koan lalu bergeser ke kedudukan Hong Bun, lalu dengan hebatnya menyerang ke arah si orang tua yang ada di samping kanan.
Tetapi waktu itulah pukulan si orang tua yang ada di sebelah kiri sudah meluncur datang.
Melihat serangan tersebut diam-diam Pouw Siauw Ling lantas berpikir .
"Biarlah aku menerima datargcya pukulan tersebut dengan keras lawan keras."
Telapak kirinya dengan cepat dibabat ke depan menangkis datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
"Brak ... !"
Dengan cepstnya dua gulung angin pukulan menjadi satu.
Si orang tua yang baru saja melancarkan serangan itu kontan kena digetar mundur sejauh dua langkah ke belakang sebaliknya Pouw Siauw Ling merasa tubuhnya tergetar amat keras, matanya berkunang-kunang sedang kepalanya terasa amat pening.
Kakinya jadi lemas sehingga tak kuasa lagi tubuhnya mulai gontai, dia tahu racun yang bersarang di dalam tubuhnya sudah mulai bekerja.
Teringat akan dirinya yang berada dalam keadaan bahaya pemuda itu dengan paksakan diri menggigit kencang bibirnya lalu dengan sempoyongan menyingkir ke pintu.
"Aku sudah kena racun, harap nona suka mencegat mereka berdua aku pergi dulu,"
Teriaknya.
"Baik! kau pergilah dulu, mereka tak akan lolos dari tanganku,"
Sahut gadis berbaju hitam itu.
Sepasang telapak tangannya dengan cepat dibabat ke depan melancarkan serangan berantai menutup jalan pergi dari kedua orang itu, setelah itu memberi kesempatan kepada Pouw Siauw Ling untuk meloncat keluar dari kalangan.
Mereka berdua yang tadi sudah merasakan pahit getirnya di bawah serangan pukulan gadis itu, saat ini melihat dia orang menghalangi perjalanannya terpaksa pada menarik kembali serangannya dan mundur kebelakang» Dengan cepatnya Pouw Siauw Ling lari keluar dari ruangan tersebut, dia mengerti tiga rintangan sudah berhasil dilalui olehnya tetapi luka yang dideritapun terasa semakin parah.
Dengan menahan rasa sakit yang amat luar biasa dia masuk ke ruangan belakang dengan langkah sempoyongan.
Sembari berjalan teriaknya dengan keras.
Hey Boe Beng Tok Su!
Kau sungguh kejam, ayoh cepat keluar, aku mau bertanding dengan dirimu."
Dia berhenti sebentar untuk mengatur napas. Setelah itu sambungnya lagi;
"Sebetulnya aku mau bertemn dengan dirimu dengan menggunakan peraturan, tak disangka tindakanmu amat kejam sekaii. Walaupun mati, akupun tak rela. Ayoh cepat keluar, aku mau lihat seberapa ilhai kepandaian silatmu!"
Sesampainya di ruangan belakang, tampakllah sebuah pintu kecil muncul di hadapannya.
Pemuda itu tak pedulikan apakah disana ada penjaganya atau tidak dengan cepat tubuhnya menerjang ke depan.
Di balik pintu adalah sebuah halaman, walaupun tidak luas tapi diatur dengan amat rapi dan bersihnya.
Kurang lebih tiga puluh kaki di depan halaman itu kembali muncul suatu ruangan yang amat megah dengan di atasnya terpancang sebuah papan nama dengan ukiran kata-kata "Boe Beng Tong."
Dalam hati pemuda itu lalu mengerti ruang an inilah tempat peristirahatan dari Boe Beng Tak Su itu. Samhil menarik napas panjang-panjang tubuhnya dengan cepat meluncur ke depan ruangan itu, bentaknya.
"Hey Boe Beng Tok Su. Ayoh lekas menggelinding keluar. Seorang kauwcu dari suatu perkumpulan apakah penakut seperti cucu kura-kura semacam kau? Kalau kau tidak suka keluar juga jangan salahkan aku bakar habis sarang kura-kuramu ini..>"
Walaupun Pouw Siauw Ling sudah berteriak beberapa kali tetap tak terdengar juga suara sahutan, hawa amarah yang bergolak di dalam tubuhnyapun tak bisa dikuasai lagi.
Tubuhnya dengan cepat menerjang ke depan dengan kalapnya.
Baru saja beberapa tindak dia berjalan, tubuhnya kembali sempoyongan sukar untuk berdiri.
Hatinya jadi amat cemas sekali pikirnya .
Bilamana aku Pouw Siauw Ling harus mati didalam lembah tak bernama ini tanpa bisa menemui wajah Boe Beng Tok Su itu bukankah diriku sangat tak berharga ?
Berpikir sampai disini tak kuasa lagi dia menghela napas panjang, kakinya semakin lemas ...
Waktu itulah mendadak dari dalam ruangan Boe Beng tong berkumandang keluar suara tertawa terbahak-bahak yang amat keras membuat pemuda itu merasakan telinganya tergetar dengan amat keras sekali.
Dengan paksakan diri dia menggigit bibirnya kencang-kencang, matanya melotot lebar-lebar sedang tubuhnya dengan paksakan diri berdiri tegak.
"Haa ... haa ... Thian sungguh punya mata!"
Terdengar orang yang ada di dalam ruangan itu berseru dengan suaranya yang amat berat.
"Liem Tou! Aku dengar kau hendak membuka suatu perjamuan di atas gunung Cing Shia untuk mengawini putri dan murid dari Lie Seng si capgkul sakti. Aku memangnya lagi mencari dirimu kini kau mendatangi tempat ini sendiri heee... hee... hee ..., kau tak bakal lolos dari tanganku."
Walaupun pada saat ini Pouw Siauw Ling masih berdiri tegak tapi kesadarannya sudah mulai punah, kini setelah mendengar nama Liem Tou, rasa dendam yang tersimpan di dalam dadanya kembali tergolak keras.
"Liem Tou! Kau ada dimana? Aku bunuh dirimu!"
Bentaknya tak terasa lagi.
Tubuhnya tidak kuasa untuk mempertahankan diri lebih lama lagi, begitu kata-kata terakhir diucapkan keluar, tubuhnyapun ikut rubuh ke atas tanah.
Pouw Siauw Ling sama sekali tidak menyangka kalau perkataan terakhir yang diucapkan dalam keadaan tidak sadar itu sudah menolong nyawanya dari kematian.
Sewaktu tubuhnya belum rubuh ke atas tanah itulah tampak sesosok bayangan manusia dengan amat cepatnya meluncur datang melancarkan serangan menotok ke tujuh buah jalan darah penting di tubuh Pouw Siauw Ling diikuti tangannya menyambar membawa dirinya masuk ke dalam ruangan Bie Beng Tong.
"Keponakan Ci Sie!"
Tiba-tiba terdengar suara yang amat nyaring dari seorang perempuan bergema dari balik pohon.
"Jangan kau kira setelah bersembunyi di dalam lembah ini maka tak akan ada orang yang bisa menemukan dirimu, aku sekarang mau bertanya padamu, apakah tujuan dari perkumpulan Sin Beng Kauwmu ini? Orang yang ada di tanganmu ini kau orang siap hendak apakan dirinya?"
Kiranya Kauw cu dari perkumpulan Sin Beng Kauw ini bukan lain adalah Sun Ci Sie, anak murid dari si hweeshio gundul tujuh jari itu.
Setelah dia terluka dan melarikan diri ke gunung dengan membawa kitab pusaka 'Cian Tok Kian Toh' setengah tahun lamanya dia mendalami ilmunya dengan mempelajari kitab itu, walaupun kepandaiannya belum mencapai kesempurnaan tapi separuh bagian boleh dikata sudah berhasil dia kuasai terutama sekali ilmu menyambit senjata rahasia beracun, boleh dikata sangat mahir sekali.
Setelah lewat setengah tahun dia mulai membentuk perkumpulan Sin Beng Kauw dengan siang cu.
Ciang koan dan Ketua cabang yang terdiri dari para anak buah si Hweeshio tujuh jari tempo hari.
Demikianlah sejak itu dia bertindak sebagai Kauw cunya dan malang melintang di dunia kangouw.
Berkat kepandaian yang lihai maka hanya di dalam setengah tahun saja pengaruhnya sudah amat luas sekali di dalam dunia kangouw.
Boe Beng Tok Su yang mendengar perkataan tersebut dia pun lantas mengerti kalau suara itu berasal dari nada suara bibinya si perempuan tunggal yang berkawan dengan Liem Tou karenanya tempo hari sudah perseni jarum emas kepadanya.
Sama sekali tak disangkanya ini hari mendadak bisa muncul kembali di sini untuk mencari dirinya.
Boe Beng Tok Su sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa-apa; dengan perlahan dia angkat kepalanya dan melirik sekejap ke arah gerombolan pepohonan, pikirnya.
"Kini dia orang sudah menunjukkan dirinya di dalam lembah tanpa nama ini, sudah tentu Liem Tou si bangsat cilik itu pun sudah tiba pula!"
Dengan perlahan kepalanya menoleh dan memandang sekejap ke arah Pouw Siauw Ling, pikirannya kembali berputar.
"Tadi dia orang berteriak hendak membinasakan Liem Tou, jelas bukanlah satu komplotan dengan bangsat tersebut. Lalu siapakah dirinya? Be Ci Hoa bilang dia adalah Liem Tou padahal dia bukanlah bangsat cilik itu, aku sama sekali tak kenal dengan dirinya. Ada urusan apakah dengan menempuh bahaya dia orang masuk ke dalam lembah tanpa nama untuk menemui diriku?"
Walaupun pikirannya sudah diperas beberapa waktu lamanya tak didapatkan juga jawabnya. Waktu itulah terdengar si perempuan tunggal Touw Hong sudah berseru.
"Ci sie! Aku mau bertanya padamu, apakah tujuan dari perkumpulan Sin Beng Kauw? Kau hendak mencelakai dunia kangouw?"
Boe Beng Tok Su yang mendengar berulang kali dia meneriakkan sebutan Ci Sie, hatinya sudah amat gusar sekali.
Justru dia menggunakan nama Boe Beng Tok Su adalah bermaksud hendak melupakan namanya yang semula Sun Cie Sie, kini mendengar si perempuan tunggal Touw Hong berulang kali sebut dia begitu, air mukanya berubah hebat.
Beberapa saat kemudian tampak ranting bergoyang, sesosok bayangan hitam dengan cepatnya meloncat keluar lalu melayang turun ke atas tanah.
"Siapa yang bernama Ci Sie?"
Terdengar Boe Beng Tok Su membentak gusar.
"Apa sangkut pautnya tujuan Sin Beng Kauw dengan dirimu?"
Sepasang telapak tangannya bersama-sama diayunkan ke depan.
Sepuluh batang jarum beracun bagaikan kilat meluncur keluar dari antara kesepuluh jarinya dan mengancam seluruh jalan darah kematian dari si perempuan tunggal.
Si perempuan tunggal yang mengetahu Sun Ci Sie telah memperoleh kitab pusaka 'Cian Tok Kian Toh"
Dalam hati pun mengerti kalau dia pasti memiliki serangan yang mematikan, sejak semula dia sudah mengadakan persiapan.
Begitu melihat Boe Beng Tok Su menggerakkan pundaknya; dengan cepat tangan kirinya menyambar sebatang ranting kayu dan meminjam kesempatan itu meloncat kembali ke dalam gerombolan pepohonan.
"Ci Sie! Tak kusangka kau orang sudah berubah begitu tak berbudi bagaikan seekor binatang,"
Serunya dengan serius.
"Aku sudah pergi kemana-mana pun untuk mencari jejakmu bahkan menggunakan waktu setahun untuk mencari dirimu ke dalam lembah ini; siapa sangka kau bersikap begitu kurang ajar dan kejam terhadap diriku. Ci Sie! Kau tidak suka mengenal diriku, aku tak mengapa, tapi terhadap ibumu kau tak mau mengenalinya kembali? dimanakah liangsimmu itu?"
Boe Beng Tok Su yang melihat serangan jarum beracunnya tidak berhasil mengena sasaran dalam hati meraba amat gemas, tetapi dia pun tidak berani melanjutkan serangannva karena dia tahu si perempuan tunggal bukanlah manusia yang mudah diganggu.
"Heee ... heee ... kau tidak bermaksud jahat? Lalu apakah kau bersikap baik terhadap diriku?"
Serunya sambil tertawa dingin tiada hentinya.
"Dimanakah Liem Tou? Ayoh suruh dia keluar! Kau kira aku tidak tahu akan urusan ini?"
Mendengar perkataan tersebut si perempuan tunggal jadi ragu-ragu, pikirnya.
"Selama di dalam perjalanan aku belum pernah menemui LiemTou, tetapi jika didengar dari pekataaanya itu apakah Liem Tou sudah datang kemari?"
Tetapi pikirannya kembali berputar.
"Aakh, tidak benar! Tadi aku masih dengar Sun Cie Sia bilang Liem Tou mengadakan perjamuan di gunung Cing Shia untuk memperingati hari pernikahannya dengan Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing, bagaimana mungkin bisa tiba di sini? terang-terangan dia berkata demikian untuk mempertahankan kedukaannya."
Setelah mengetahui jelas akan urusan ini si perempuan tunggal semakin kecewa lagi. Mendadak bentaknya keras.
"Sun Ci Sie. kau binatang ... kau manusia tak berbudi. Baiklah, aku tidak akan mencampuri urusanmu lagi; tetapi kau harus ingat bila mana perbuatanmu tidak kau rubah maka sewaktu-waktu terjadi gerakan di dalam dunia kangouw untuk menumpas kejahatan, waktu itu sekalipun kau merasa menyesal juga tak ada gunanya..."
Selesai berkata dia enjotkan tubuhnya, dengan amat cepat si perempuan tunggal itu sudah berlalu dan lenyap di tengah kegelapan.
Boe Beng Tok Su hanya tertawa dingin saja melihat kepergian dari si perempuan tunggal itu.
Setelah itu sambil memandang kearah wu wungan dihadapannya dia tertawa dingin.
"Hmm! aku berani membentuk perkumpulan sudah tentu berani pula menghadapi segala macam rintangan,"
Gumamnya seorang diri.
"Baiklah kali ini aku lepaskan dirimu pergi tapi lain kali jangan coba-coba kembali lagi. Hmm! Hmm! Kalau tidak, akan kubunuh dirimu! Lembah tanpa nama bukannya tempat yang bisa dilalui dengan begitu mudah."
Sebentar kemudian air mukanya sudah berubah hebat, mendadak bentaknya keras.
"Coe siang cu, Liuw siang cu kalian ada dimana?"
Dari samping rerumputan segera muncullah dua orang tua yang kena dicegat oleh si perempuan tunggal itu.
Dengan amat hormatnya mereka berdua mendekati Boe Beng Tok Su dan menjura dengan sangat hormatnya.
"Siauw cu ada perintah apa?"
Serunya berbareng.
Walaupun sikap mereka sangat menghormat tetapi tubuhnya gemetar amat keras, agaknya dalam hati mereka merasa amat ketakutan.
Boe Beng Tok Su mendengus dingin, sewaktu dilihatnya sikap mereka berdua amat mengenaskan sekali, diapun lantas mengulapkan tangannya.
"Sana mundur!"
Bentaknya keras.
"Kalau bukannya memandang di atas wajah suhumu tempo hari ini, hari ini aku orang tak akan meng ampuni diri kalian."
Diam-diam kedua orang itu menghembuskan napas lega, tanpa mengucapkan kata-kata lagi mereka mengundurkan diri dari ruangan.
Setelah kedua orang itu berlalu, Boe Beng-Tok Su baru menggendong tubuh Pouw Siauw Ling masuk ke dalam ruangan dan memberi obat penawar kepadanya.
Menanti Pouw Siauw Ling mulai membuka matanya itulah mendadak Boe Beng Tok Su kembali menggerakkan tangannya menekan ke atas dada pemuda tersebut.
"Kau punya sangkut paut apa dengan diri Liem Tou? Ayoh cepat bicara! Kalau tidak jangan salahkan aku hajar badanmu,"
Bentaknya dengan keras.
Dengan perlahan Pouw Siauw Ling menghembuskan napas panjang dan kesadarannya pun pulih kembali.
Mendengar suara bentakan dari Boe Beng Tok Su ini, tak terasa lagi dia sudah berseru keras.
"Aku mau bunuh dirinya! Dia sudah membinasakan ayahku."
Boe Beng Tok Su jadi amat girang. Dia mengerti, inilah salah seorang pembantunya yang amat kuat."
Tetapi sewaktu melihat cambuk bertulang putih yang digunakan oleh Pouw Siauw Ling itu, dalam hati kembali terasa tergetar pikirnya .
"Bagaimana mungkin orang ini bisa menggunakan senjata ini? Apakah dia adalah anak muridnya?"
Sinar matanya secara tiba-tiba memancarkan cahaya yang amat tajam dan serasa menusuk tulang; dengan tanpa berkedip melototkan matanya ke arah Pouw Siauw Ling.
Pouw Siauw Ling yang waktu itu kesadarannya sudah pulih kembali; melihat pihak lawan melototi dirinya, dia pun balas melototi orang itu.
Empat mata bertemu, diam-diam masing-masing pihak merasa terkejut.
Dan pada saat itulah mendadak Pouw Siauw Ling meloncat bangun lalu mundur tiga langkah ke belakang; cambuk Suo Kuk-Piannya dilintangkan di depan dada, siap-siap menghadapi serangan.
Melihat kejadian itu, Boe Beng Tok Su segera mendengus dingin, ujarnya dengan ketus.
"Kau orang tidak usah bersikap begitu tegang; bilamana aku bermaksud membinasakan dirimu, apakah kau bisa hidup sampai waktu ini?"
"Siapakah kau? Kenapa kau menolong diriku?"
Teriak Pouw Siauw Ling dengan penuh rasa curiga.
Mendadak sinar matanya terbentur dengan sesuatu; Dia melihat orang ini pun memakai baju hitam dengan sebuah obor berwarna merah darah menghiasi dadanya, tidak terasa lagi dia lantas berpikir.
"Apakah orang ini adalah kauw cu dari Sin Beng Kauw; Boe Beng Tok Su?"
Tapi sewaktu melihat usianya yang masih muda, dalam hati merasa rada ragu-ragu, dia menganggap tidak mungkin seorang muda bisa menjabat sebagai kauw cu atau ketua perkumpulan.
Tampaklah Boe Beng Tok Su tertawa tawar.
"Kau tidak usah tanya dulu siapakah diriku. Jawab dulu pertanyaanku, apakah maksud tujuanmu datang ke lembah tak bernama ini untuk menemui Sin Beng kauw cu?"
Pouw Siauw Ling kembali memperhatikan sekejap ke arah Boe Beng Tok Su, setelah itu menarik kembali senjata cambuk Suo Kuk Piannya.
"Jika didengar dari nada suaramu, tentu kau orang adalah Sin Beng kauw cu Boe Beng Tok Su sendiri bukan? Ataukah kau adalah orang kepercayaan?"
"Boleh dibilang begitulah!"
Sahut Boe Beng Tok Su sambil mengangguk.
"Jika ada perkataan silahkan bicara dengan aku saja. Terus terang saja aku jelaskan, untuk menemui kauw cu pribadi bukanlah suatu perbuatan yang mudah dilakukan. Untung sekali nasibmu ini hari lagi mujur. Kauw cu sudah buka satu jalan untuk mengampuni nyawamu."
Pouw Siauw Ling termenung sejenak, mendadak ujarnya.
"Baiklah, kalau memangnya kau hendak menyampaikan kepada kauw cu, sebetulnya aku pun tidak usah tahu apakah kau adalah kauw cu atau bukan. Yang jelas, aku sama sekali tak ada urusan yang penting; cuma saja sewaktu mendengar perkataan dari Be Ci-hoa, salah seorang dari delapan pelindung lukisan itu, agaknya kauw cu kalian ada ikatan permusuhan yang sedalam lautan dengan Liem Tou, sedang aku pun sama seperti dirimu, benci pada Liem Tou.Karena itu aku sengaja datang untuk menyambanginya; aku bermaksud bilamana kauw cu kalian benar benar ada permusuhan dengan Liem Tou, kita bisa bekerja sama untuk mencari balas."
Berbicara sampai di sini, pemuda itu berhenti sebentar untuk kemudian sambungnya lagi.
"Ditambah pula sewaktu ayahku mendekati ajalnya, dia pernah meninggalkan pesan;
"Bilamana hendak membalas dendam kecuali mendapatkan kitab Cian Tok Toh,"
Kini kitab tersebut sudah terjatuh di tangan kauwcu kalian, aku sendiripun tidak mau merebutnya kembali.
Karena itu bilamana kauwcu kalian mengijinkan aku untuk belajar isi kitab tersebut sehingga bisa membalaskan dendam ayahku, maka selama hidupku, aku Pouw Siauw Ling akan berbakti buat perkumpulan Sin Beng kauw."
Setelah mendengar perkataannya sampai di situ, Boe Beng Tok Su lantas tersenyum tapi sebentar kemudian wajahnya sudah jadi dingin kembali.
Dengan perlahan dia menoleh keluar jendela dan termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru memandang ke arah pemuda itu lagi.
"Apakah perkataan dari Pouw heng ini sungguh-sungguh?"
Tanyanya.
"Selamanya cayhe belum pernah berbohong!"
Sahut Pouw Siauw Ling dengan kukuh.
Boe Beng Tok Su segera mendengus dingin, dia kembali bungkam dalam seribu bahasa.
Kali ini dia termenung lebih lama lagi.
Walau pun Pouw Siauw Ling tidak tahu apa yang sedang dipikirkan olehnya tetapi melihat sikapnya yang serba susah dia tahu urusan yang sedang dipikirkan di dalam hatinya tentu merupakan suatu urusan yang sangat besar, karenanya dia pun termenung tak bercakap sedang matanya memandang ke arah Boe Beng Tok Su tak berkedip.
Kurang lebih seperminuman teh kemudian baru terdengar Boe Beng Tok Su bertanya kembali.
"Pouw heng! senjata yang kau gunakan adalah cambuk Suo Kuk Pian, tentunya kau pun tahu akan diri Suo Kuk Mo Pian dan Thiat Bok Thaysu dua orang bukan?"
Mendengar perkataan itu, Pouw Siauw Ling segera merasakan hatinya tergetar amat keras, baru saja dia hendak memberitahukan hubungan antara dirinya dengan kedua orang itu, mendadak dia menemukan sinar mata Boe Beng Tok Su amat aneh.
Tak terasa lagi perkataan yang hendak diucapkan ketelan kembali, pikirnya;
"Jika dilihat dari sinar matanya, jelas dia tak bermaksad baik, lebih baik untuk sementara waktu jangan aku jelaskan dulu."
Setelah berpikir demikian, diapun lantas menjawab.
"Walaupun nama besar dari Suo Kuk Mo Pian serta Thiat Bok Thaysu pernah aku dengar tetapi belum pernah menemui orangnya. Bila mana di kemudian hari ada kesempatan aku tentu akan menemui kedua orang itu."
Dengan dinginnya Boe Bsng Tok Su mendengus dingin, mendadak jari tangannya bagaikan kilat cepatnya melancarkan serangan menotok jalan darah Sin Kau Hiat pada tubuh Pouw Siauw Ling.
Pouw Siauw Ling yang berada dalam keadaan tidak bersiap sedia melihat datangnya serangan itu jadi amat terperanjat untuk menghindar tak sempat lagi, terpaksa dia membentak keras;
"Bangsat cilik, kau sungguh tak punya malu!"
Telapak kirinya dibabat ke depen menghajar urat nadi dari Boe Beng Tok Su bersamaan pula telapak kanannya dengan menggunakan jurus "Tui San Tiam Hay"
Mendorong gunung menggolak samudra menyambar ke depan.
Boe Beng Tok Su melancarkan totokan bagaikan angin, sedang telapak tangannya membabat bagaikan kilat, serangan orang berkepandaian tinggi justru terletak peda kecepatan gerak, hanya di dalam sekejap saja mereka berdua sudah bergebrak dengan amat serunya.
Boe Beng Tok Su adalah anak murid dari si hweeshio tujuh jari.Setahun yang lalu kepandaian silatnya pun seimbang dengan kepandaian dari si cargkul pualam Lie Siang, walaupun saat ini dia melancarkan serangan dengan menggunakan kesempatan sewaktu Pouw Siauw Ling tidak bersiap sedia tetapi dia pun tahu kalau orang ini memiliki kepandaian silat yang lumayan.
Jari tangannya yang menyerang ke depan mendadak di balik ke bawah berubah jadi telapak tangan kembali, dengan keras lawan keras dia menangkis datangnya serangan angin pukulan dari perlawanan Pouw Siauw Ling itu.
Kali ini dia melancarkan serangan dengan sepasang telapak sedang Pouw Siauw Ling menerima dengan tangan tunggal, bilamana sampai terbentur maka Pouw Siauw Linglah yang bakal menderita kerugian.
Perubahan jurus yang dilakukan oleh Boe Beng Tok Su ini benar-benar amat cepat sehingga membuat Pouw Siauw Ling tak sempat untuk menarik kembali telapak tangannya.
Terpaksa dia menarik napas panjang panjang telapak kirinya berputar lalu meluncur ke depan mengiringi telapak tangan yang lainnya.
"Braak. !"
Di tengah suara ledakan yang amat keras terasalah gulungan angin bagaikan ambruknya gunung Thay san serta bergolak nya ombak di tengah samudera memenuhi seluruh angkasa.
Baik tubuh Boe Beng Tok Su maupun Pouw Siauw Ling segera tergetar, lantas mundur tiga tingkah ke belakang karena bentrokan ini, masing-masing dengan mata melotot pada memperhatikan pihak lawannya sedangkan dalam hari merasa terkejut akan kedahsyatan dari tenaga dalam yang dimiliki lawannya itu.
Sewaktu mereka berdua lagi berdiri tertegun itulah mendadak Boe Beng Tok Su tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya membuat Pouw Siauw Ling jadi kebingungan sekali dibuatnya.
"Haa... haa... haa ... sudah, sudah jangan bergebrak lagi! Kau sanggup, kau benar benar sanggup! Asalkan ada kita berdua bekerjasama maka Liem Tou tidak bakal bisa berkutik lagi; Terus terang ssja aku beri tahu padamu, akulah Kauwcu dari Sin Beng kauw ini. Baiklah! Aku mengijinkan Pouw heng masuk jadi anggota perkumpulan dan menduduki jabatan sebagai pimpinan dari seluruh siang cu, bagaimana? Apakah Pouw heng suka menerima jawaban ini?"
Pouw Siauw Ling yang mendengar perkataan ini benar-benar merasa di luar dugaan, untuk sesaat lamanya dia berdiri termangu mangu tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Boe Beng Tok Su pua tahu kalau Pouw Siauw Ling sudah dibuat kebingungan oleh sikapnva yang aneh itu, dengan cepat ia maju ke depan mencekal tangannya.
"Maaf, tadi Cayhe sudah berbuat kurang ajar terhadap dirimu,"
Ujarnya sambil tertawa.
"Tempat ini bukanlah tempat yang baik untuk bercakap-cakap. Mari masuk ke dalam ruangan untuk berunding. Kali ini aku tidak bakal melepaskan Liem Tou lagi! Haa... haa... Pouw heng, dendam kita pasti akan terbalas!"
Sehabis berkata sambil menarik tangan Pouw Siauw Ling untuk diajak masuk ke dalam ruangan, bersamaan itu pula dia perlihatkan jari tangan sebelah kiri yang tinggal empat.
"Pouw heng coba kau lihat jari tanganku tinggal empat buah. Hmm! Inilah perbuatan dari Liem Tou bangsat tersebut,"
Teriaknya dengan gusar.
"Walaupun dendam antara diriku dengan Liem Tou tidak sedalam Pouw heng, tetapi aku bersumpah harus membalas sakit hati ini."
Pouw Siauw Ling yang mendengar perkataan tersebut hanya mengangguk dan tertawa pahit.
oo) dw (oo Tiga bulan kemudian ...
Angin musim Chiu bertiup sepoi-sepoi, di tengah jalan raya Gong Si tampaklah dua belas ekor kuda berwarna putih dengan dua belas orang lelaki berbaju hitam sebagai penunggangnya melakukan perjalanan cepat.
Orang yang paling depan adalah Sin Beng Kauw cu Boe Beng Tok Su yang pada punggungnya menyoren sebilah pedang hitam dengansimbol obor berwarna merah darah pada dadanya.
Di sampingnya tampak seorang pemuda yang bukan lain adalah Pouw Siauw Ling, saat ini dia pun memakai baju hitam dengan simbol obor berwarna biru di dadanya, cambuk Pek Kuk Piannya dilingkarkan pada pinggangnya sehingga kelihatan sikapnya yang amat gagah.
Saat itu mereka lagi melakukan perjalanan menuju ke gunung Cing Shia.
Mendadak Boe Beng Tok Su yang berjalan paling depan menghentikan kudanya lalu kepada Pouw Siauw Ling ujarnya.
"Hari Tiong Chiu masih ada tiga hari lamanya, kita harus mengadakan suatu persiapan yang cermat agar nantinya berhasil menjebak mereka masuk ke dalam perangkap kita. Menurut perhitunganku, malam ini jaraknya tak jauh lagi dari gunung Cing Shia. Malam harinya kita menginap dulu di kota Boen Chuan untuk kemudian kita mengadakan penyelidikan terlebih dahulu dan baru kita berangkat besok pagi ke atas gunung tersebut."
Setelah memberikan wanti-wanti, Boe Beng Tok su lantas menyentak tali les kudanya melanjutkan perjalanan ke depan disusul kesebelas orang anak buahnya.
Mereka sama sekali tidak menduga kalau pada jarak satu li di belakang mereka terdapat seekor kuda berwarna abu-abu yang sedang menguntit dan selalu mengawasi gerak-gerik mereka.
Orang itu bukan lain adalah si Perempuan tunggal Touw Hong.
Sejak meninggalkan lembah Boe Beng Kok ia tidak pergi menjauh sebaliknya malam bersembunyi di sekitar lembah tersebut untuk me ngawasi gerak-gerik dari Sin Beng Kauw, ini hari sewaktu didengarnya Boe Beng Tok su hendak turun gunung dengan membawa kedua belas orang pengiringnya, secara diam-diam ia lantas menguntit dari belakang.
Hanya sayang, perempuan ini cuma mengetahui kalau kepergian Boe Beng Tok su meninggalkan gunung Ciong Lam sekali ini hendak membereskan satu persoalan besar.
Dia tak mengetahui kalau kepergiannya ini hendak mencari Liem Tou untuk menuntut balas.
Bilamana ia sampai tahu akan hal ini, apakah perempuan itu berani menguntit dengan seenaknya tanpa memberikan kabar terlebih dulu sehingga Liem Tou dapat mengadakan persiapan?
Untuk sementara waktu kita tinggalkan mereka, kita balik pada lembah mati hidup di gunung Heng San.
Pagi hari itu dari tengah lembah berkumandang datang suara suitan yang amat keras disusul berkelebatnya sesosok bayangan manusia dengan cepatnya.
Dengan pandangan yang amat tajam orang itu berhenti di atas puncak tebing yang curam sambil memperhatikan ketujuh puluh lima puncak yang terdapat di atas gunung Heng San itu.
Lama sekali dia termenung dalam lamunan akhirnya tak kuasa lagi ia menghela napas panjang, kakinya yang tinggal sebelah dengan cepat menutul permukaan tanah lalu meloncat setinggi lima kaki.
Kiranya orang itu hanya mempunyai kaki sebelah saja yang bukan lain adalah murid ke empat dari Si Golok Naga Hijau Sie Piauw tauw, Oei Poh adanya.
Tubuhnya yang di tengah udara dengan cepat berjumpalitan beberapa kali, sewaktu tubuhnya hendak melayang ke atas tanah itulah mendadak tubuhnya meletik sedang sepasang telapaknya dengan ringan diayunkan ke belakang.
Sekali lagi tubuhnya meluncur sejauh tiga kaki; diikuti sang badan memutar dengan menggunakan gaya "In Yen Cuan Liang"
Atau burung walet menembusi pagar, dengan amat ringannya bagaikan daun kering melayang ke atas permukaan tanah.
Kembali sewaktu kakinya hendak menempel di tanah, sepasang telapak tangannya dipentangkan lebar-lebar lalu dengan menggunakan jurus 'Ku Lang Hun Poo' atau ombak besar pecah bergelombang membabat ke depan.
Segulung angin pukulan yang amat keras laksana tindihan gunung Thay san meluncur keluar dari telapaknya.
Tubuhnya kembali meloncat setinggi lima kaki; tubuhnya memutar punggung melengkung dengan tangan dipentangkan ke depan menggunakan kesepuluh jarinya yang kuat melancarkan serangan yang ketiga.
Hanya di dalam sekejap saja dia orang telah melancarkan tiga buah serangan berturut-turut, dan setiap jurus memiliki perubahan yang sukar diduga, hal ini benar-benar menunjukkan bagaimana dahsyatnya gempurannya itu.
Sewaktu Oei Poh selesai melancarkan serangannya yang ketiga itulah, dari dalam lem bah mati hidup mendadak berkelebat datang sesosok bayangan hijau yang amat cepat bagaikan sambaran kilat.
Melihat munculnya orang itu, buru-buru pemuda itu merangkap tangannya menjura.
*Aaakh, kedatangan dari enci Cing sungguh tepat sekali, baru saja aku merasa ketiga jurus serangan maut tersebut sudah memperoleh kemajuan yang pesat, siauw to memang lagi membutuhkan petunjuk-petunjuk yang berharga dari dirimu."
Sehabis berkata tubuhnya kembali bergerak siap-siap berlatih kembali.
Orang yang baru saja datang itu bukan lain adalah putri kesayangan dari It Tiap Cin jien dari gunung Heng san, Siauw Giok Cing adanya, begitu ia mendengarkan perkataan tersebut, diatampak mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Tidak usah berlatih lagi,"
Cegahnya.
"Asalkan kau berlatih dengan giat dan tekun, sudah tentu bakal memperoleh kemajuan yang pesat! Heei ..beberapa hari ini hatiku merasa sangat tidak tenang, entah apa sebabnya?"
"Sejak kepergian Liem Tou itu si bangsat cilik, setiap hari enciCing selalu merasa murung dan tidak merasa senang,"
Sahut Oei Poh setelah berpikir sebentar.
"Selama setahun ini enci Cing pun sudah ada dua kali menaiki gunung Cing Shia secara diam-diam tan pa menemui Liem Tou ada disana, dari hal ini saja sudah cukup menunjukkan kalau Liem Tou sama sekali tidak bakal kembali ke gunung tersebut sejak meninggalkan tempat ini. Enci Cing! Buat apa kau pikirkan terus seorang bocah yang perkataannya tidak bisa dipercaya??"
Dengan dinginnya Giok Cing mengirim satu kerlingan mata ke arah pemuda tersebut.
Wajahnya kelihatan senaakin murung dan tidak senang hati.
Dia selama setahun ini ia hampir-hampir boleh dikata sudah berubah menjadi seorang yang lain.
Sifat polos serta kekanak-kanakannya sudah lenyap berganti dengan wajah yang selalu murung.
Kini setelah mendengar perkataan dari Oei Poh itu, wajah yang semula diliputi kesedihan segera berubah hebat.
Dengan gusar, makinya.
"Oei Poh! Berapa kali aku sudah peringatkan kepadamu untuk jangan sebut lagi soal Liem Tou si bangsat cilik itu. Kenapa kau lupakan hal ini terus menerus? Bilamana sampai kau bicarakan lagi soal ini, jangan salahkan kalau aku tidak sudi gubris dirimu lagi!"
"Enci Cing!"
Seru Oei Poh dengan penuh dihiasi senyuman pahit.
"Janganlah dikarenakan urusan ini kita beribut kembali, anggap saja ini kesalahanku, sudah! Tetapi enci harus ingat bahwa dia adalah musuh besarku, bagaimana juga aku harus membereskan hutang sakit hati itu."
Air muka Giok Clng kontan berubah amat hebat; hatinya benar-benar terpukul keras sehingpa tampaklah air mukanya berubah pucat pasi.
"Oei Poh!"
Teriaknya gusar.
"Aku sudah bilang; mau balas dendam atau tidak, aku tidak akan ikut campur, tapi aku larang kau menjelek-jelekkan atau menghina dirinya di hadapanku "
Belum habis Giok Cing bicara, agaknya Oei Poh sudah tahu apakah kata-kata selanjutnya yang hendak dikatakan olehnya, karena iiu buru-buru sambungnya.
"Cing jie, jangan sebutkan lagi kata-katamu itu, bukankah kau hendak berkata bahwa Liem Tou sama sekali tidak bersalah? Aku tidak bakal sudi mendengarkan perkataan itu, sekalipun siapa saja yang coba memberi penjelasan kepadaku; aku tetap tidak sudi mendengarkan, karena bilamana bukannya gara-gara Liem Tou ikut campur maka suhuku tidak bakai mati; aku anggap kematian suhuku adalah di tangan Liem Tou. Bila aku tak mencari dia untuk menuntut balas, harus pergi mencari siapa lagi?"
Saking terharu oleh bakaran hatinya tanpa terasa semakin berkata suaranya semakin keras, sebentar kemudian dia merasa sikapnya rada keterlaluan, buru-buru ia tutup mulut dan termenung beberapa saat lamanya.
"Enci Cing! Maafkan perbuatan dari aku si orang cacad, ada kalanya memang hatiku sangat jahat; tidak seharusnya aku membuat kesalahan di hadapan enci Cing!"
Katanya lagi dengan perlahan. Cing jie yang mendengar beberapa patah perkataannya ini di dalam hati jadi amat sedih sekali, dengan gemas serunya.
"Hmmm! Gara-gara Oei Tiap supek membawa kau datang ke gunung Heng san ini benar benar membuat aku jadi kesusahan dan payah, bilamana kakimu tidak putus karena soal ini, Hnmm ... ! tidak bakal aku orang jadi bersikap begitu baik terhadap dirimu."
Selesai berkata dengan perlahan dia menundukkan kepalanya dan menghela napas panjang.
Kembali mereka berdua berdiam diri beberapa saat lamanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, akhirnya Cing jie tidak kuasa untuk bersabar lebih lama lagi, pundaknya sedikit bergerak, tahu-tahu sudah melayang sejauh tiga kaki.
"Persediaan daging kita sudah hampir habis, aku hendak pergi menangkap beberapa ekor kijang!"
Serunya sambil menoleh.
"Enci Cing tunggu dulu, ada perkataan hendak aku sampaikan kepadamu!!"
Tiba-tiba seru Oei Poh mencegah kepergian dari gadis tersebut. Dengan rasa keheranan Cing jie segera menghentikan gerakannya dan balik ke tempat semula.
"Ada urusan apa?"
Tanyanya.
"Kalau ditinjau dari perubahan air mukamu, agaknya urusan ini sangat penting sekali, ayoh cepat katakan!"
Oei Poh termenung berpikir sejenak, setelah mengetuk-ngetuk kaki kayunya ke atas batu gunung, ujarnya serius.
"Enci Cing. Kini aku ingin segera berangkat ke gunung Cing Shia."
"Apa kau bermaksud hendak mencari Liem Tou? Apakah kau tahu kalau dia kini sudah kembali ke gunung Cing Shia? Kalau memangnya sudah tahu, kenapa kau tidak suka memberitahukan kepadaku?"
"Heei ... Aku tidak tahu apakah dia sudah kembali ke gunung Cing Shia atau belum,"
Sahut Oei Poh sambil gelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku cuma merasa tempo hari Liem Tou sudah menipu enci Cing? Kalau katanya pada malam Tiong Chiu yang lalu ada urusan tapi ternyata tak tampak orangnya maka malam Tiong Chiu tahun ini aku kepingin pergi ke sana untuk melihat-lihat, bilamana dia memang ada di sana aku pun harus menyelesaikan dulu persoalan kita."
Cing jie segera melototkan sepasang matanya lebar-lebar dan memandang tajam pemuda tersebut, mendadak tanyanya dengan nada mendesak.
"Apakah kau merasa sudah yakin bisa menangkan dirinya? Apakah kau merasa begitu tega untuk menghantam seorang yang tidak memiliki kekuatan untuk mengadakan perlawanan?"
Oei Poh yang mendengar teguran tersebut pada wajahnya terlintaslah rasa jengah, tapi hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap kembali dari mukanya.
"EnCi Cing; aku tidak akan memperdulikan hal ini,"
Teriaknya keras.
Tiba-tiba tubuhnya meloncat ke tengah udara, di antara berkelebatnya bayangan tajam, tahu-tahu dia sudah berada di tempat yang amat jauh sekali.
Melihat kejadian itu, Cing Jie jadi amat terkejut, bentaknya keras.
"Oei Poh! Kau tidak bakal berhasil!"
Dan terlihatlah bayangan hijau berkelebat, kiranya dia pun ikut melayang keluar dari lembah mati hidup tersebut dan menuruni gunung Heng san.
Kita balik kembali pada Sin Beng kauw cu, Boe Beng Tok su serta Pouw Siauw Ling sekalian berdelapan.
Setibanya di sebuah rumah penginapan untuk beristirahat dan karena jarak dengan malam Tiong Chiu itu masih ada tiga hari lamanya maka untuk manghindarkan diri dari terbongkarnya jejak mereka terdengarlah Boe Beng Tok su memberi wanti-wanti kepada tujuh orang Toa Siang cu nya.
"Pada kentongan ketiga malam ini, aku serta Pouw Siang cu akan berangkat dulu untuk meninjau keadaan daerah serta gerak-gerik di perkampungan Ie He San Cung sedang kalian semua boleh berangkat besok malam saja langsung menuju puncak kedua gunung Cing Shia. Setibanya malam Tiong Chiu, kami bisa bergabung kembali dengan kalian untuk membagi tugas lebih lanjut."
Para siang cu pun segera mengiakan.
Di tengah malam yang amat sunyi, angin bertiup sepoi-sepoi menyejukkan badan.
Sengan rembulan jauh berada di tengah angkasa; tampaklah dua sosok bayangan hitam berkelebat dari atas atap rumah penginapan menuju ke arah sebelah Utara.
Mereka bukan lain adalah Boe Beng Tok su serta Pouw Siauw Ling yang sedang berangkat menuju ke gunung Cing Shia.
Baru saja kedua sosok bayangan hitam itu berangkat, belum lenyap dari pandangan mata muncullah di tengah kegelapan malam di atas atap rumah penginapan itu sesosok bayangan hitam yang lagi menjerit tertahan kemudian memperhatikan tajam-tajam bayangan punggung dari Boe Beng Tok su serta Pouw Siauw Ling yang hampir lenyap dari pandangannya itu.
"Ehm ... kemana mereka hendak pergi?"
Gumamnya seorang diri.
"Kenapa sisanya tak dibawa sekalian untuk melakukan perjalanan bersama-sama?"
Bayangan hitam ini bukan lain adalah si perempuan tunggal Touw Hong yang selama ini selalu membuntuti terus diri Boe Beng Tok su, setelah ragu-ragu sejenak dia lantas berpikir;
"Perduli mereka berdua hendak pergi ke mana saja baiknya aku buntuti terus diri mereka."
Berpikir sampai di sini ia pun segera enjotkan badannya dengan beberapa kali loncatan mengejar ke sebelah Utara.
Tidak lama kemudian tampaklah olehnya di tempat kejauhan Boe Beng Tok Su dan Pouw Siauw Ling sedang melakukan perjalanan berdampingan dengan gerakan yang amat aneh dan cepat laksana mengalirnya air di sungai.
Si perempuan tunggal Touw Hong pun dengan cepat mengerahkan ilmu meringankan tubuh Liuw Im Hwee Sin untuk membuntuti terus diri mereka.
Kurang lebih satu kentongan lamanya sampailah mereka di suatu tempat yang terhalang oleh sebuah sungai dengan ombak yang amat besar.
Dengan mengikuti aliran sungai itu kembali Boe Beng Tok Su serta Pouw Siauw Ling melanjutkan perjalanannya sejauh tujuh, delapan lie, si perempuan tunggal Touw Hong yang melihat mereka berdua tidak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti walaupun dalam hati mereka keheranan bercampur curiga atas kemisteriusan gerak-gerik mereka berdua tetapi ia pun tak bisa berbuat apa-apa kecuali menguntit terus dengan kencangnya.
Kembali mereka melanjutkan perjalanannya beberapa saat, mendadak kedua orang itu menghentikan larinya dan memperhatikan ke tengah sungai.
Si perempuan tunggal Touw Hong tidak berani berlaku gegabah, maka buru-buru dia bersembunyi di balik sebuah gundukan tanah di samping sungai untuk mengawasi mereka dengan tajam.
Di tengah sorotan sinar rembulan yang sangat terang, tampaklah dari atas sungai berlayar datang sebuah perahu kecil yang tidak berpenghuni, perahu itu tidak besar sedangkan ruangan perahu pun terbuat dari bambu dengan cepatnya meluncur datang.
Lama sekali Boe Beng Tok Su dan Pouw Siauw Ling memperhatikan ke tengah sungai, mendadak Pouw Siauw Ling enjotkan badannya meluncur ke arah perahu itu dengan gerakan cepat; setibanya di atas perahu gerakannya tidak berhenti sebaliknya dengan cepat dia menerjang masuk ke dalam ruangan perahu yang lalu menyeret keluar sebuah benda berwarna putih.
Sehabis meletakkan benda putih itu kembali dia meloncat ke buritan dan kirim satu pukulan ke permukaan air untuk menjalankan perahu tersebut menuju ke tepian.
Setibanya di tepi pantai Pouw Siauw Ling segera meloncat ke daratan dan membisikkan sesuatu di samping telinga Boe Beng Tok su yang kemudian mereka berdua lantas meloncat ke dalam perahu.
sejenak kurang lebih seperminum teh kemudian tampak kedua orang itu sudah meloncat lagi ke atas daratan dan melanjutkan perjalanannya kedepan dengan mengikuti terus aliran sungai itu.
Menanti kedua orang itu sudah pergi jauh si perempuan tunggal Touw Hong baru munculkan dirinya dari balik gundukan tanah dan mencoba mendekati perahu tersebut, saking tertariknya dia kepingin juga melihat apakah gerangan yang ada di sana.
Tetapi sebentar kemudian dia sudah buang muka dengan wajah jengkel, kiranya di atas geladak perahu itu berbaringlah sesosok mayat lelaki yang kurus kering dalam keadaan telanjang bulat.
Adakah keanehan pada mayat itu, si perempuan tunggal Touw Hong tidak berani memperhatikan lebih lama, buru-buru dia mengerahkan ilmu meringankan tubuh melanjutkan pengejarannya ke depan.
Akhirnya di atas deretan bambu yang ada di tengah sungai gadis itu menemukan kembali Boe Beng Tok su lagi bercakap-cakap dengan Pouw Siauw Ling.
Dengan besarkan nyali, si perempuan tunggal Touw Hong segera menerobos melalui tumbuhan alang-alang mendekati mereka.
Terdengar waktu itu Pouw Siauw Ling lagi berkata dengan nada suara yang amat kaget.
"Sungguh aneh sekali, yang satu adalah Hek Loo jie yang merupakan salah satu anggota dari Siok to Siang Mo sedang yang lain adalah Loo toa dari Heng san Jie Yu. Mereka berdua pada memiliki kepandaian silat yaug amat lihay, bagaimana mungkin bisa mati bersama-sama? Bahkan jika ditinjau dari kematian mereka jelas tak tampak tanda-tanda terluka. Hal ini benar-benar merupakan satu peristiwa yang sangat mengherankan sekali."
Si Boe Beng Tok su segera mendengus dingin sehabis mendengar perkataan dari Pouw Siauw Ling ini.
"Ada kemungkinan peristiwa ini hanya terjadi secara kebetulan saja. Mungkin mereka berdua menderita sakit lalu mati di tengah jalan, bahkan menurut pemikiranku ada kemungkinan mereka sedang melakukan perjalanan untuk menghadiri hari pernikahan dari Liem Tou si bangsat itu!"
Pendapat dari kauw cu cayhe rasa kurang sesuai,"
Seru Pouw Siauw Ling kemudian setelah termenung sebentar.
"Bilamana mati dikarenakan sakit kenapa setelah menemui ajalnya mereka berdua dapat berada di dalam keadaan telanjang bulat tanpa memakai selembar benang pun? Bahkan mereka berdua dalam keadaan yang sama. Hal ini sedikit pun tidak masuk di akal!"
Si perempuan tunggal Touw Hong yang secara diam-diam bersembunyi di tepi sungai sehabis mendengar perkataan tersebut diam-diam amat terkejut, terhadap Hek Loo jie dari Siok To Siang Mo dia orang tidak pernah menemui maupun mengerti asal-usulnya tetapi terhadap Loo toa dari Heng San Jie Yu, dia pernah menemuinya dengan kepala mata sendiri bahkan boleh dikata dia pun merupakan ciang bunjien dari partai Heng san pay, bagaimana mungkin kini bisa menemui ajalnya dalam keadaan tidak jelas?
Setelah mendengar kalau Liem Tou hendak merayakan hari perkawinannya, di hatinya pun dan dia baru tahu kalau kedua orang itu pasti lagi akan menuju ke gunung Cing Shia.
"Pouw siang cu, lebih baik tidak usah pikirkan urusan orang lain! Mari kita lanjutkan perjalanan kita!"
Sambung Boe Beng Tok su dengan cepat.
"Sebelum kentongan keempat atau kelima kita harus sudah tiba di gunung Cing Shia."
Selesai mendengar perkataan itu, si perempuan tunggal Touw Hong pun mengerti kalau dugaannya sama sekali tidak meleset dan sewaktu teringat dendam serta sumpah yang pernah diucapkan oleh Sun Ci Sie sambil menebas jari tangannya sendiri pada setahun yang lalu, hatinya jadi berdebar, pikirnya.
"Liem Tou hendak kawin? Apakah hendak kawin dengan Lie Siauw Ie ...? Berpikir sampai di sini wajahnya segera terasa jadi panas, hatinya rada berdebar-debar ... Sewaktu hatinya berhasil ditenangkan kembali dan dongakkan kepalanya waktu itulah jejak dari Boe Beng Tok-su serta Pouw Siauw Ling sudah tidak kelihatan lagi. Saking cemasnya dengan cepat dia enjotkan badannya melakukan pengejaran kembali. Kurang lebih mendekati kentongan ketiga dia berhasil menyandak diri Boe Beng Tok Su serta Pouw Siauw Ling, terlihatlah di hadapannya pada saat ini terdapat sebuah kuil sedangkan Boe Beng Tok Su berdua sudah berada tidak jauh dari pintu kuil tersebut. Pada saat itulah mendadak dari atas tembok kuil itu berkelebat sesosok bayangan dan munculnya seorang berbaju putih-putih.
"Siapa?"
Bentak Pouw Siauw Ling dengan cepat.
Bayangan putih yang berdiri di atas tembok itu bergoyang dengan lemasnya laksana pohon Liuw yang tertiup angin.
Baru saja suara tersebut bergema keluar terdengarlah suara tertawa yang amat merdu menindas suara bentakan tersebut disusul dengan suara seorang perempuan lagi berseru.
*Eeeei ...
orang yang melakukan perjalanan, kenapa kau begitu kasar dan begitu berangasan?
Apakab kalian tidak takut ditertawakan orang?"
Dengan gesit dan ringannya bayangan putih itu segera melayang turun ke atas permukaan tanah di hadapan Boe Beng Tok Su serta Pouw Siauw Ling, pinggangnya yang halus dan lemas bergoyang laksana pohon Liuw yang tertiup angin.
Hal ini benar-benar amat menggiurkan sekali.
Boe Beng Tok Su dan Pouw Siauw Ling yang melihat perempuan berbaju putih itu dapat melayang turun ke atas tanah tanpa mengeluarkan sedikit suara pun dalam hati jadi amat terkejut, mereka mengerti kalau perempuan ini pasti memiliki ilmu silat yang amat tinggi sekali bahkan tidak diketahui asal-usulnya.
Tak tahan lagi mereka berdua pada mundur dua tiga langkah ke belakang.
Si Boe Beng Tok su yang sejak kecil dididik oleh si Hwesio tujuh jari pada saat ini dibuat melengak juga.
Dia merasa bahwa gadis berbaju putih yang ada di hadapannya ini adalah seorang perempuan tercantik yang pernah dijumpai selama ini, kecuali itu tidak ada perasaan lain yang berkecamuk di hatinya.
Perasaan ini lain lagi di hati Pouw Siauw Ling.
Sebelum naik ke gunung Soat san dia merupakan seorang pemuda yang gemar akan pipi licin; tempo hari sewaktu bertemu muka dengan si gadis cantik pengangon kambing, dia pernah merasakan kalau itu adalah yang paling cantik.
Tetapi kini setelah berjumpa dengan gadis berbaju putih ini dia merasa perempuan ini lebih cantik lagi dan lebih genit beberapa kali lipat jika dibandingkan dengan gadis cantik pengangon kambing sehingga tanpa terasa dia sudah melototi dirinya dengan pandangan terpesona.
Apalagi si gadis berbaju putih itu sedang kirim satu senyuman yang amat manis ke arahnya membuat Pouw Siauw Ling merasa seluruh tubuhnya jadi lemas dibuatnya, sukmanya boleh dikata kini sudah terhisap oleh kecantikan gadis berbaju putih tersebut.
"Saudara berdua kenapa tidak beristirahat sebentar di dalam rumahku ini?"
Ujarnya halus, lalu dengan langkah yang lenggak-lenggok menggiurkan dia berjalan mendekat.
-oo0dw0oo-Jilid.
39 Wajah yang penuh dihiasi senyuman itu semakin kelihatan bertambah cantik.
Belum sampai di hadapan Boe Beng Tok-su serta Pouw Siauw Ling mereka berdua sudah merasakan segulung bau yang amat harum menusuk hidungnya.
Pouw Siauw Ling begitu mencium bau harum itu seperti orang mabok saja, dengan hati kacau mulai menggerakkan kakinya menyambut datangnya perempuan tersebut.
Mendadak terdengarlah Boe Beng Tok-su mendengus dingin; dengan nada yang amat dingin bagaikan es bentaknya;
"Dengan malam yang sunyi ini apalagi kita tidak pernah saling berkenalan buat apa nona mengganggu kami? Lebih baik kau pulang saja ke rumah, kami masih ada urusan penting yang harus diselesaikan; terima kasih atas kebaikanmu itu."
Sehabis berkata dia lantas menarik tangan Pouw Siauw Ling dan mengundurkan diri sejauh beberapa kaki, di dalam hatinya kembali berkelebat berpuluh-puluh pikiran membingungkan, pikirnya.
"Sungguh aneh sekali, di tengah malam buta seperti ini apalagi di tempat yang begini sunyi, bagaimana mungkiu bisa muncul seorang gadis cantik yang usianya delapan, sembilan belas tahunan. Hal ini benar-benar merupakan satu peristiwa yang belum pernah aku alami."
Mendadak ia teringat kembali akan mayat dari Hek Loo jie dari Siok to Siang Mo serta Loo toa dari Heng San Jie Yu yang berada di sungai dalam keadaan telanjang bulat, walaupun dia sendiri adalah seorang iblis pembunuh manusia tanpa berkedip tidak urung hatinya rada bergidik juga.
Rasa curiganya terhadap gadis berbaju putih yang ada di hadapannya ini semakin tebal.
Sewaktu dia menoleh dan melihat sikap dari Pouw Siauw Ling yang kesemsem sehingga tak sadarkan diri bahkan sampai saat ini masih melototi gadis berbaju putih itu terus dengan pandangan terpesona, dengan cepat dia berjalan mendekat dan menepuk pundaknya dengan keras.
"Pouw Siang cu, ayo cepat lanjutkan perjalanan; waktu tak panjang lagi,"
Serunya keras. Pouw Siauw Ling yang kena ditabok oleh Boe Beng Tok su ini segera jadi sadar kembali, hatinya pun merasa amat malu.
"Baik, kita pergi saja!"
Serunya kemudian dengan rasa penuh penyesalan.
Selesai berkata dengan langkah lebar mereka berdua segera menerjang ke depan.
Siapa tahu mendadak gadis berbaju putih itu mementangkan sepasang tangannya merintangi jalan pergi dari mereka berdua.
"Heee... heee... kalian berdua sudah lewat pintu rumahku tanpa mampir, bukankah sama saja dengan tidak memandang sebelah mata pun kepadaku!?"
Teriaknya sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Lebih baik kalian berdua jangan pergi dulu, tapi minumlah secawan air teh !"
Sewaktu berbicara seluruh tubuhnya ikut bergoyang terutama anggauta terlarangnya itu turut menggetar amat keras, membuat setiap orang yang melihat pasti merasa napsu birahinya terangsang.
Pouw Siauw Ling yang dasarnya memang seorang yang gemar akan pipi licin mana kuat menahan godaan tersebut?
Napsu birahi mulai berkobar di hatinya.
"Kauw cu!"
Ujarnya kemudian kepada Boe Beng Tok su. 'Mari kita ikuti saja permintaannya untuk minum air tehnya dulu. Hanya duduk-duduk sebentar, bukannya tak mengapa?"
Terhadap diri Pouw Siauw Ling agaknya Boe Beng Tok su memang sudah rada murka, kini melihat dia orang tidak suka mendengarkan perintahnya dia jadi semakin gusar.
"Pouw sian cu! Apa maksud perkataanmu itu?"
Bentaknya keras"Di tengah malam buta, bagaimana mungkin bisa muncul seorang gadis cantik di tengah kuil yang sunyi? Bukankah kau sudah melihat mayat..."
Sebetulnya dia ingin mengungkap soal ditemuinya mayat di tepi sungai untuk, menyadarkan Pouw Siauw Ling, tetapi kembali satu ingatan berkelebat di hatinya, perkataan yang hendak diucapkan pun dibatalkan kembali.
Pouw Siauw Ling yang mendengar perkataan terakhir dari Boe Beng Tok su ini pikirannya jernih kembali, saking terperanjatnya keringat dingin mulai mengucur deras keluar membasahi wajahnya.
Lama sekali dia termenung kemudian dengan hormatnya menjura ke arah perempuan berbaju putih itu.
"Cayhe hanya sedang lewat saja di tenpat ini, dengan nona pun sama sekali tidak kenal, apakah kiranya nona sudi memberitahukan namamu agar di kemudian hari kalau ada waktu cayhe akan datang menyambangi?"
Tanyanya. Gadis berbaju putih itu rada tertegun setelah mendengar perkataan tersebut, tetapi sebentar kemudian sudah tertawa kembali.
"Kau si manusia goblok! Aku adalah seorang gadis yang tinggal di dalam kuil seorang diri, buat apa kau tanya nama segala?"
Sehabis berkata dengan menggunakan sepasang biji matanya yang jeli dia mengerling sekejap ke arah Boe Beng Tok su lalu tertawa.
Tetapi sebentar kemudian senyuman yang semula menghiasi bibirnya kembali lenyap tidak berbekas berganti dengan wajah yang sangat serius, ujarnya;
"Terus terang saja aku beritahukan kepada saudara berdua; siauwli sendiri tahu perbuatanku menghalangi perjalanan orang di tengah malam buta adalah suatu perbuatan yang memalukan sekali, tetapi hal ini terpaksa harus aku lakukan. Dan sebetulnya siauw li adalah penduduk daerah Sam Siang yang hidupku bergantung dari menjual silat dengan ayah, tak disangka sewaktu melakukan perjalanan melewati tempat ini, ayahku menderita sakit dan tidak bisa bangun lagi, terpaksa kami meminjam pondokan kuil ini untuk merawat sakit. Untuk makan sehari tiga kali serta membeli obat buat ayah, uang kami akhirnya habis juga. Bilamana kalian suka membantu ..."
Bicara sampai di sini tidak tertahan lagi dia melelehkan air mata dan menangis dengan amat sedihnya, hanya di dalam sekejap saja seorang gadis genit dan merangsang sudah berubah menjadi manusia penuh air mata, keadaannya pada saat ini benar-benar menyedihkan.
Boe Beng Tok su yang mendengar kisahnya itu walaupun di luarnya masih mendengus dingin tapi rasa gusar yang berkecamuk di hatinya pun sudah rada tenang beberapa bagian.
Sebaliknya Pouw Siang Ling yang mendengar perkataan ini jadi amat girang, dengan nada penuh kegembiraan ujarnya kepada Boe Beng Tok su.
"Kauwcu! Coba kau dengar, kiranya dia adalah seorang perempuan miskin yang patut dikasihani. Marilah kita masuk ke dalam untuk melihat-lihat sebentar. Ada kemungkinan dia memang sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan kita."
"Pouw siangcu! kalau kau hendak pergi, pergilah sendiri. Aku tidak punya banyak waktu lagi untuk ikut mengurusi urusan tetek bengek!"
Ujar Boe Beng Tok su kheki. Dia berhenti sebentar untuk kemudian sambil mendengus dingin sambungnya.
"Kalau kau orang memang bermaksud untuk menolong dirinya, kenapa tidak lemparkan saja sekeping uang perak? Kita masih ada urusan penting yang harus diselesaikan secepat mungkin. Jangan dikarenakan dirinya kau sudah menyia-nyiakan waktu yang berharga."
Pouw Siauw Ling yang melihat Boe Beng Tok su benar-benar dibuat gusar oleh perbuatannya sendiri tidak berani banyak tingkah lagi maka dari dalam sakunya segera mengambil keluar sekeping uang perak dan dilemparkan kepada gadis berbaju putih itu.
Dengan sebatnya gadis berbaju putih itu menerima uang perak tersebut, dan mendadak dia tertawa keras dengan suara seramnya.
Suara tertawanya kali ini mirip dengan jeritan setan yang memekikkan telinga!
Baik Pouw Siauw Ling maupun Boe Beng Tok su yang mendengar suara tertawa ini segera menjerit kaget.
Kiranya bukan saja suara tertawa tersebut tidak enak didengar bahkan membuat telinga terasa amat sakit sekali.
Begitn merasa keadaan tidak beres, buru-buru mereka pada mengerahkan tenaga dalamnya untuk menindas suara tertawa tersebut.
Pada saat itulah tangan gadis berbaju putih yang mencekal uang perak itu dirapatkan sehingga membuat uang tersebut kontan jadi hancur lebur bagaikan kapur disusul tangannya diayunkan ke depan.
Dengan menimbulkan suara desiran angin yang amat tajam sekali, hancuran perak itu meluncur ke depan mengancam seluruh tubuh kedua orang itu.
Bersamaan itu pula tubuh gadis berbaju putih itu bagaikan kilat cepatnya menerjang ke hadapan mereka berdua; di antara ayunan sepasang telapak tangannya tahu-tahu dia sudah mengancam jalan darah "Sian Khie"
Di depan dada mereka berdua.
Boe Beng Tok su segera membentak keras, tubuhnya memutar dan meluncur ke samping sedang tangan kirinya dengan cepat balik mencengkeram urat nadi dari gadis berbaju putih itu.
Agaknya si gadis berbaju putih itu sama sekali tidak menyangka kalau Boe Beng Tok su memiliki kepandaian silat yang demikian dahsyatnya bahkan kecepatan geraknya tidak ada taranya.
Setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya dia baru alihkan pandangannya ke arah orang itu.
Dengan mengambil kesempatan itulah Pouw Siauw Ling sudah mengundurkan diri lima langkah ke belakang.
Di antara berkelebatnya bayangan tangan tahu-tahu dia kini sudah mencabut keluar cambuk Pek Kut Mo-Piannya kemudian dengan mengerahkan tenaga murni yang dahsyat dia menusuk dada gadis berbaju putih itu.
Dengan lincahnya gadis berbaju putih itu menyingkir ke samping kemudian tertawa keras lagi dengan seramnya.
Kepada Boe Beng Tok su lantas ejeknya.
"Hee ... heee ... lebih baik kau pun cabut keluar senjata tajammu."
Walau dalam hati Boe Beng Tok su merasa terperanjat akan kecepatan gerak dari gadis berbaju putih itu dan kesempurnaan dari tenaga dalamnya, tetapi pandangannya masih dingin, dengan perlahan dia baru mencabut keluar pedangnya dan bertanya.
"Hmm, lebih baik sebutkan dulu asal-usulmu sebelum bergebrak!'' "Aee.....hee ... Lo nio adalah Boen Ing; apakah kau belum kenal? Bilamana kini sudah tahu diriku, lebih baik dengan baik-baik menurut saja perintahku untuk masuk ke dalam kuil, aku tanggung pasti kau bakal merasakan nikmatnya sorga dunia sehingga hati jadi terasa mau copot. Boe Beng Tok su sama sekali belum pernah mendengar nama dari Boen Ing ini, apalagi sebagai seorang kauw cu suatu perkumpulan besar, sudah tentu dia orang tidak suka menunjukkan kelemahannya. Di tengah suara tertawanya yang amat keras tampak sinar gelap berkelebat, pedang hitamnya sudah dicabut keluar dari sarungnya sehingga memancarkan hawa yang dingin menyeramkan. Sekali pandang saja, perempuan berbaju putih itu lantas tahu kalau pedang itu pasti adalah sebilah pedang pusaka yang sangat berharga. Sejak Boen Ing kena dikurung selama seratus tahun lamanya di dalam gua kemudian untuk pertama kalinya keluar dari gua kelima jarinya sudah kena ditabas oleh pedang pusaka Lan Beng Kiam, hal ini boleh dikata membuat hatinya merasa mendendam terhadap setiap pedang pusaka. Kini begitu melihat Boe Beng Tok su mencabut keluar pedang meh Kiamnya, bukan saja membuat hatinya jadi terperanjat bahkan amat gusar sekali. Ujung bajunya yang berwarna putih itu dengan cepat diayunkan ke depan melancarkan tiga serangan sekaligus, Boe Beng Tok su segera merasakan kalau setiap serangan yang menyambar datang ke arahnya itu dahsyatnya bagaikan ambruknya gunung dan longsornya tanah. Dia tidak berani bertindak gegabah, maka pedangnya dengan cepat diputar sedemikian rupa sehingga membentuk kabut hitam yang melindungi seluruh tubuhnya. Boen Ing yang melihat tiga buah serangan dahsyatnya itu tidak berhasil menguasai diri Boe Beng Tok su maka kini hatinya semakin gusar, dengan diselingi suara jeritan yang sangat mengerikan, gerakannya telah berubah. Tubuhnya dengan cepat berkelebat dan berputar tiada hentinya disekeliling tubuhnya, dan dengan aneh, ujung bajunya melancarkan serangan-serangan tiada hentinya. Di dalam keadaan seperti ini terpaksa Boe Beng Tok su hanya bisa memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga angin dan hujan tak mungkin bisa tembus, tubuhnya dengan terpaksa harus mengikuti gerakan Boen Ing untuk berputar. Ini lama kelamaan membuat hatinya jadi cemas, diam-diam pikirnya.
"Ilmu silatnya ini bagaimana mungkin bisa begitu aneh? Suhuku pun tempo hari belum pernah membicarakan kalau ada ilmu silat yang demikian anehnya!"
Sembari memainkan pedang hitamnya, pikirannya terus berputar, dia merasa gemas juga terhadap Pouw Siauw Ling yang tidak turun tangan memberi bantuan kepadanya.
Matanya dengan cepat melirik keluar kalangan.
Tampaklah pada waktu itu Pouw Siauw Ling sedang mementangkan matanya lebar-lebar berdiri melongo-longo di samping kalangan.
Jika ditinjau dari sikapnya jelas kalau ia tidak bermaksud untuk turut tangan memberi bantuan.
Semakin lama Boe Beng Tok-su semakin gusar, akhirnya tak kuasa lagi ia membentak keras.
"Pouw Siauw Ling, kau lagi berbuat apa?"
Mendengar suara bentakan tersebut Pouw Siauw Ling jadi amat kaget dan tersadar kembali dari lamunannya.
"Aneh! sungguh aneh sekali !"
Teriaknya berulang kali.
"Di kolong langit, mana mungkin ada cara bergebrak semacam ini? Aku tidak tahu seharusnya ikut melancarkan serangan dari arah sebelah mana?"
Walaupun pada mulutnya berbicara begitu tetapi cambuk panjangnya tetap digetarkan membentuk tiga kuntum bunga-bunga cambuk yang dengan cepat menghajar tubuh Boen Ing.
Siapa sangka kalau gerakan dari Boen Ing jauh lebih cepat dari dirinya.
Belum sampai ujung cambuk tersebut mengenai tubuhnya, segulung angin pukulan yang amat dahsyat sudah menyambar keluar dari ujung bajunya yang memaksa Pouw Siauw Ling untuk meloncat mundur sejauh tujuh, delapan depa untuk menghindarkan diri.
Waktu itulah Boen Ing kembali sudah berputar satu lingkaran, menanti Pouw Siauw Ling hendak menubruk ke depan untuk kedua kalinya, mendadak Boen Ing tertawa keras.
"Haaa ... haa ... haaa ... kalau kau berani maju lagi, aku tidak akan berlaku sungkan-sungkan lagi terhadap dirimu,"
Bentaknya keras. Di antara kebutan kebutan ujung bajunya tahu-tahu dia sudah berada di sudut lain dan melihat akan hal itu Pouw Siauw Ling mulai berpikir;
"Biarlah aku coba-coba menerima datangnya pukulan tersebut dengan keras lawan keras, sekalipun kepandaian silatnya amat lihay rasanya tidak akan bisa mengapa-apakan diriku!"
Berpikir sampai di sini diam-diam dia pun mulai mengerahkan tenaga sakti 'Kioe Im Tong Ci Lo Han Kang'nya ke arah telapak tangan, menanti Boen Ing memutar badannya kembali mendadak dia membentak keras.
"Cambuk di tangannya dibabatkan ke depan laksana sambaran ular keperak-perakan, sesaat ujung cambuknya itu mendekati tubuh lawan, telapak kirinya bagaikan kilat cepatnya sudah melancarkan satu pukulan dahsyat menyambut datangnya tubuh musuh. Dengan kepandaian silat yang dimiliki Pouw Siauw Ling pada saat ini walaupun belum bisa dikatakan telah mencapai pada taraf kesempurnaan tetapi orang kangouw biasa saja bila mana terkena pukulannya ini tentu tidak bakal tahan. Cuma sayang, Boen Ing bukanlah manusia yang mudab dapat dirubuhkan, kembali terdengar dia tertawa seram lalu meloncat ke samping laksana meletiknya ikan lele saja, dan bukannya sedang melancarkan serangan sebaliknya meloncat ke arah lain, hal ini tanpa terasa sudah memancing pukulan dari Pouw Siauw Ling ini mengancam tubuh Boe Beng Tok su. Melihat kejadian tersebut dengan perasaan kaget dan terperanjat buru-buru ia menarik kembali serangannya itu dan mundur ke belakang. Waktu itulah Boen Ing tanpa mengeluarkan sedikit suara pun sudah putar badan dan mendorong telapak tangannya ke depan. Pouw Siauw Ling sama sekali tidak mengetahui kalau kini Boen Ing sedang melancarkan serangan dahsyat. Menanti dia orang siap-siap melancarkan serangan untuk ketiga kalinya, mendadak segulung angin pukulan yang amat dahsyat sudah menerjang dari belakang punggung, dengan hati yang amat terperanjat tubuhnya segera memutar ke belakang. Apa yang dia lihat? Sesosok bayangan manusia pun tak kelihatan di belakang tubuhnya. Kiranya dia sama sekali tidak mengetahui kalau dirinya sudah kena ditipu oleh pukulan Hwee Sian Ciang yang amat lihay dari aliran Heng san. Dan karena dia putar tubuhnya inilah sudah membuang suatu kesempatan yang bagus untuk menghindarkan diri. Walaupun serangannya itu amat dahsyat dan kelihatannya sudah hampir mencapai pada tubuhnya, Pouw Siauw Ling yang sebagai anak murid dari seorang jagoan, sudah pasti tidak sampai jadi bingung; dengan cepat tubuhnya miring ke samping, bersama itu pula telapak diayunkan ke samping memunahkan datangnya terjangan angin pukulan "Hwee Sian Ciang"
Dari Boen Ing ini.
Sekali pun begitu, tubuhnya tak kuasa lagi untuk berdiri tegak maka kakinya bergeser mundur setengah langkah ke belakang sedang darah di dalam dadanya bergolak amat keras.
Buru-buru dia atur pernapasannya untuk meredakan hawa murninya yang bergejolak itu.
Semula Boe Beng Tok su bukannya menemui kekalahan di tangan Boen Ing hanya selama bertempur dia terus bertahan karena belum mengetahui jalannya ilmu silat dari Boen Ing.
Kini melihat Pouw Siauw Ling dapat dikalahkan hanya dalam tiga jurus saja, hawa amarahnya lantas memuncak, teriaknya.
"Pouw siaag cu! Malam ini sekalipun harus rugi, aku tetap akan batalkan rencana semula. Dan sebelum berhasil mengalahkan dia orang, aku tidak akan berhenti. Aku mau adu jiwa dengan dirinya."
Pouw Siauw Ling yang melihat kawannya Boe Beng Tok su sudah nekat, buru-buru memberi peringatan.
"Kauw cu! Lebih baik sedikit berhati-hati, serangannya amat kukoay dan ganas."
"Hmm!! Bagaimana kalau dibandingkan dengan Liem Tou?"
Dengus Boe Beng Tok-su dingin.
"Sama sekali beda!! Sama sekali beda! sahut Pouw Siauw Ling sesudah berpikir sejenak.
"Jika dibandingkan dengan Liem Tou sama sekali berbeda walaupun kepandaian silat Liem Tou amat tinggi tapi jalannya jurusnya masih bisa diraba; sebaliknya serangan yang dilancarkan oleh perempuan ini sungguh-sungguh sukar diraba. Terang-terangan dia melancarkan serangan ke depan, bagaimana mungkin angin pukulannya bisa memutar ke belakang punggung? Sungguh telah ketemu setan!"
Boe Beng Tok-su yang mendengar perkataan itu seperti teringat akan sesuatu urusan, mendadak wajahnya berubah hebat, pedang hitam di tangannya kembali berputar semakin santar lagi laksana amukan angin taufan serta hujan badai.
Boen Ing pun dengan cepat membentak keras, ujung bajunya berturut-turut melancarkan kebutan-kebutan berantai yang membuat angin pukulan menderu-deru dan menggulung seluruh ruangan seluas tiga kaki dari dirinya.
Melihat datangnya angin pukulan yang amat dahsyat itu, Boe Beng Tok-su jadi nekad, tanpa menghindarkan diri lagi, pedang di tangannya digetarkan sehingga beribu-ribu rentetan cahaya tajam menembusi ujung baju Boen Ing menusuk ke depan.
Dengan amat cepatnya pedang hitam itu sudah berada di dada dada perempuan tersebut, tiba-tiba ujung pedangnya berubah jadi berpuluh-puluh bunga pedang bersama-sama mengurung seluruh tubuh bagian tengah dan atas dari perempuan tersebut.
Boen Ing sama sekali tidak menyangka kalau Boe Beng Tok-su berani melakukan tindakan nekad, saking terdesaknya terpaksa dia menarik kembali ujung bajunya ke belakang.
Mengambil kesempatan itulah Boe Beng Tok su segera meloneat keluar dari kalangan dan membentak keras.
"Tahan! Apakah nona adalah anak murid dari Heng san Pay?"
"Perduli aku adalah murid dari siapa? Buat apa kau ikut campur?"
Sahut Boen Ing dengan wajah dingin seram.
"Aku lihat ilmu pedangmu lumayan juga. Mari... mari... mari kita bergebrak kembali!"
Selesai berkata kembali dia merentangkan tangannya siap-siap melancarkan serangan kembali.
Boe Beng Tok-su mana suka dikurung kembali olehnya?
Maka dengan cepat dia melompat mundur ke belakang dan berdiri sejajar dengan Pouw Siuw Ling.
"Ilmu pukulan Hwee Sian Ciang dari Heng San pay sudah lama lenyap hampir mendekati seratus tahun lamanya. Terang-terangan malam ini nona menggunakan ilmu telapak tersebut; apakah kau kira masih bisa mengelabuhi juga diri kami?"
Bentaknya gusar.
Mendadak Boen Ing tertawa terbahak-bahak dengan amat kerasnya.
Haa...
haa...
kalau sudah tahu ilmu yang baru saja nona besarmu gunakan adalah Hwee Sian Ciang dari Heng San Pay seharusnya kalian pun tahu bilamana nonamu tidak menaruh belas kasihan terhadap kalian, sejak tadi kamu berdua sudah tak bernyawa lagi!"
Dengan cepat Boe Beng Tok-su mendengus dingin, bahan pembicaraan pun segera berganti.
"Nona! sebetulnya apa maksudmu? Di antara kita tidak saling mengikat dendam atau pun permusuhan, kenapa sikapmu begitu ketus dan bersikeras untuk menahan kami di sini? Hmm! Kau harus tahu, aku Sin Beng Kauw cu bukanlah manusia yang takut mati, apalagi menghadapi kau seorang perempuan yang berada sendirian."
"Sin Beng Kauw? Haaa... haa... selama ini aku Boen Ing baru mendengarnya. Kau punya berapa orang sih? Ayoh, suruh mereka keluar semuanya "
Berbicara sampai di sini mendadak dari tempat kejauhan terdengar suara derapan yang semakin lama semakin mendekat; tak terasa lagi ia mengirim satu kerlingan mata ke arah Boe Beng Tok su kemudian sambungnya lagi.
"Tetapi aku tadi dengar kau menyebutkan nama Liem Tou, apakah kau kenal dengan dirinya? Dan sekarang dia ada di mana? Aku pun memang sedang mencari dirinya."
Suara derapan itu pun semakin mendekat lagi bahkan suaranya semakin jelas... Bagi Boen Ing yang memiliki tenaga dalam hasil latihan seratus tahun sudah tentu dapat mendengarnya dengan amat jelasnya.
"Oouw ... ada orang datang lagi, apakah orang orang dari Sin Beng kauw kalian?? Haa ... haa... Kalau begitu sangat kebetulan sekali!!"
Ujarnya lagi.
Waktu itu kentongan ketiga sudah berlalu, bilamana ingin mempercepat larinya masih ada waktu untuk tiba di atas gunung Cing Shia, maka dengan cepat Boe Beng Tok-su memutar pikirannya lalu katanya.
"Kalau nona memang bermaksud akan mencari Liem Tou, marilah kita berangkat bersama-sama. Dia kini berada di perkampungan Ie Hee San Cung di bukit Ha Mo San di gunung Cing Shia, dan nanti pada malam Tiong Chiu ini dia akan menikah dengan si gadis cantik pengangon kambing, puteri kesayangan si cangkul pualam serta Lie Siauw Ie, muridnya. Kau suka pergi atau tidak, itu urusanmu. Sekarang aku tidak punya waktu lagi untuk menemani dirimu lebih lama lagi."
Sambil berkata sambil menarik tangan Pouw Siauw Ling, mereka lantas berlalu dengan langkah lebar.
Sungguh aneh sekali, kali ini Boen Ing sama sekali tidak menghalangi mereka berdua bahkan menyingkir dua langkah ke samping serta memberi jalan.
"Apakah perkataanmu itu sungguh-sungguh?"
Tanyanya kemudian.
"Buat apa kauw cu menipu dirimu?"
Seru Pouw Siauw Ling dengan cepat. Setelah berhasil melewati diri Boen Ing, mereka pun lantas dengan cepat mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya meloncat sejauh dua puluh kaki lebih.
"E e e i tunggu aku sebentar, aku hendak berangkat bersama-sama kalian,"
Tiba-tiba Boen Ing si perempuan berbaju putih itu berteriak. Baru saja perkataannya selesai diucapkan tubuhnya sudah meloncat ke samping tubuh mereka berdua.
"Ayo jalan!"
Ajaknya sambil tertawa.
Boe Beng Tok-su serta Pouw Siauw Ling lantas miringkan badannya menyingkir ke samping sejauh tiga depa lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke depan.
Jika ditinjau dari gerak-geriknya, Boen Ing sama sekali tidak membuang banyak waktu tetapi selama ini belum pernah ia ketinggalan dari kedua orang itu bahkan sering kali menoleh dan mengirim senyuman manis ke arah mereka.
Kurang lebih satu li kemudian jalan yang mengikuti tepi sungai itu pun sudah berubah jadi tebing gunung dan akhirnya merupakan sebuah gunung yang tinggi, keadaannya amat curam dan bahaya sekali.
Mendadak Boe Beng Tok-su menghentikan langkahnya.
"Nona, silahkan kau berlalu dulu,"
Serunya.
"Ouuw. kalian masih takut padaku?"
Goda Boen Ing sambil tertawa manis dan menggoyang-goyangkan badannya.
"Terus terang saja aku katakan, setelah mengetahui jejak dari Liem Tou aku sama sekali tidak tertarik dengan kalian. Ayoh jalan!"
Ternyata gadis itu tak suka banyak omong lagi.
Dia pun berjalan terlebih dulu, tetapi baru saja berjalan beberapa langkah, mendadak dia membentak keras, ujung bajunya diayunkan ke atas melancarkan dua pukulan dahsyat sedang tubuhnya pun dengan cepat melayang mundur sejauh tiga, empat langkah melalui atas kepala Boe Beng Tok-su serta Pouw Siauw Ling.
Perubahan yang terjadi secara mendadak ini seketika itu juga membuat Boe Beng Tok-BU maupun Pouw Siauw Ling jadi melengak karena mereka sama sekali tidak menyangka kalau ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Boen Ing ternyata sudah mencapai pada taraf yang demikian sempurnanya.
Pada saat itulah terdengar suara tindakan kaki yang keras disusul munculnya sesosok bayangan manusia di sana.
Pouw Siauw Ling yang melihat munculnya orang itu seperti menjerit kaget;
"Oei Poh!!"
Orang yang baru saja datang memang Oei Poh adanya.
Setelah ia meninggalkan lembah mati hidup di atas gunung Heng san, dengan cepat menuju ke gunung Cing Shia.
Tetapi waktu itu Liem Tou belum pulang ke gunung sehingga walaupun sudah mencuri masuk sebanyak dua kali tidak ditemui juga pemuda musuh besarnya itu.
Kalau begitu di atas perkampungan sudah ada si cangkul pualam Lie siang serta Cung cu dari perkampungan Ie Hee Cung si "Hauw Jiauw"
Lie Kiam Poo yang sedang repot-repotnya mendirikan rumah baru dan menghiasi perkampungan serta mengatur ruangan Cie Ing Tong.
Bukan begitu saja, bahkan seluruh anak murid perkampungan yang mengerti kepandaian silat sudah dikirim turun gunung untuk mengirim surat undangan kepada para ciangbunjien partai-partai besar serta jago-jago kenamaan untuk ikut menghadiri perkawinan dari Liem Tou ini.
Sebetulnya Oei Poh menaruh rasa dendam yang amat mendalam dengan diri Liem Tou, tetapi penyelidikannya selama dua kali naik ke gunung dan baru berhasil membuktikan kalau Ang In Sin Pian benar-benar sudah dibunuh mati oleh Liem Tou bahkan saat saat kematiannya persis seperti yang dikatakan Liem Tou.
Tanpa terasa lagi, dendam di hatinya ikut musnah juga separuh bagian.
Dengan demikian terhadap maksudnya untuk membalas dendam pun jadi goncang, dia tidak mengerti kini harus berbuat bagaimana baiknya, sehingga hatinya benar-benar jadi amat sedih.
Karena jaraknya dengan malam Tiong Cbiu masih ada beberapa hari lagi maka dia pun lantas jalan-jalan menyusuri tepi sungai, dia tidak ingin menyudahi dengan begitu saja sakit dirinya, karena dia merasa kakinya yang terputus ini pun adalah gara-gara Liem Tou.
Tidak disangka, malam ini di tepi surgai dia bertemu kembali dengan Pouw Siauw Ling serta Boen Ing dan terhadap kedua orang ini dia memang pernah bertemu tapi terhadap Boe Beng Tok su sama sekali tidak pernah kenal.
Oei Poh yang begitu melihat Pouw Siauw Ling jadi amat terkejut, karena teringat dia adalah putra dari pembunuh ayahnya.
Dendam lama pun mulai berkobar di dalam hatinya, matanya memerah lalu tertawa keras dengan seramnya.
"Pouw Siauw Ling! Kau masih ingat bukan dengan aku Oei Poh? di manakah kini yayamu?"
Oei Poh adalah orang yang berhasil lolos dari cambuk Pouw Siauw Ling, apalagi dia tidak tahu kalau pemuda itu kini sudah belajar ilmu silat di gunung Heng san, sudah tentu terhadap dirinya dia tidak memandang sebelah mata pun.
"Haaaa ... haaa ... Oei Poh! Kalau sudah tahu buat apa tanya lagi?"
Serunya sambil tertawa sombong.
"Apa maksudmu menghalangi perjalanan dari kauw cu serta diriku?"
"Heee ... heee ... Kauw cu! Siang cu siapa yang jadi kauw cu? Siapa yang jadi Siang cu?"
Teriak Oei Poh sambil tertawa seram.
"Yang aku maui cuma Pouw Siauw Ling kau bangsat terkutuk! Aku tidak perduli kauw cu maupun siang cu!"
Mendadak ujung kakinya yang merupakan kayu itu menutul permukaan tanah, telapak tangannya dengan menimbulkan segulung angin pukulan yang dahsyat menghajar tubuh Pouw Siauw Ling.
Melihat datangnya serangan tersebut Pouw Siauw Ling tertawa dingin.
"Oei Poh! Kau adalah manusia yang tidak tahu kekuatan sendiri, kau sendiri sekarang yang cari mati,"
Bentaknya. Menanti angin pukulan Oei Poh hampir mendekati tubuhnya, tanpa menghindar lagi dia memperkuat kuda kuda kemudian dengan u pukulan gencar ke depan.
"Brakk ... !"
Dengan amat dahsyatnya kedua gulung angin pukulan itu terbentur satu sama lainnya membuat tubub Oei Poh tidak kuasa untuk bertahan diri dan kena terdesak mundur satu langkah ke belakang.
Kembali Pouw Siauw Ling tertawa terbahak-bahak dengan amat kerasnya.
"Oei Poh? Haa ... haa ... tidak kusangka perpisahan kita selama setahun ini kau masih tetap goblok seperti gentong nasi haa ... haa ... agaknya walaupun sepuluh tahun lagi tidak bakal kau bisa mengapa-apakan diriku! Sana pergi! Pergi! Jangan menjual malu di hadapan orang lain!"
Saking gusarnya seluruh tubuh Oei Poh gemetar amat keras; dia tidak menyangka kalau selama setahun ini Pouw Siauw Ling pun mendapat kemajuan yang amat pesat sehingga dia teta p jauh lebih kuat dari dirinya.
Pikirannya dengan cepat berputar mendadak angin pukulan berubah dengan menggunakan ilmu pukulan "Hwee Sian Ciang-hoat"
Dari Heng san pay yang berhasil dipelajari dari Cing jie.
Pouw Siauw Ling yang berlaku gegabah kembali kena dihantam punggungnya.
Walau pukulan ini tidak sampai menimbulkan luka dalam tetapi cukup membuat pemuda itu jadi gembar-gembor dan mencak-mencak saking gusarnya.
"Wuah ... waah ... ketemu setan! Ketemu setan! Cucu kura-kura, anak sundal! Kentut!"
Makinya.
"Oei Poh! Apakah ilmu pukulan ini pun berhasil mempelajarinya dari suhumu yang sudah mati?"
Oei Poh tahu kalau Pouw Siauw Ling tidak bakal bisa menahan pukulan 'Hwee Sian Ciang' yang amat aneh ini tanpa mengucap kata-kata lagi sepasang telapak tangannya kembali melancarkan tiga pukulan dahsyat dengan mengambil arah dari samping badan pemuda tersebut menggencet ke depan.
Agaknya dia punya maksud untuk menghabiskan nyawa Pouw Siauw Ling, maka serangannya yang ke depan kembali menjadi jurus; sepasang telapak tangannya merangkap dengan tubuhnya menekan ke bawah, suatu pukulan yang menghasilkan tenaga pukulan yang amat dahsyat menekan ke depan.
Sewaktu Oei Poh melancarkan pukulan Hwec Sian Ciang ini untuk ke tiga kalinya Pouw Siauw Ling, sudah merasa keadaan tidak beres bahkan gerak-geriknya mulai kacau dan kalang kabut; sewaktu pukulan yang keempat menerjang datang itulah dirinya baru merasa kena digencet sehingga tak ada cara lagi untuk menangkis.
Di dalam keadaan yang amat kritis itulah mendadak tampak bayangan putih berkelebat, mendadak Oei Poh berteriak keras dan mundur sejauh tujuh, delapan langkah ke belakang dengan sempoyongan.
Dengan rasa terperanjat dan mangkel Boen Ing munculkan dirinya di sana, lalu sambil menuding ke arah Oei Poh makinya.
"Kau! Cing moay sudah mengajarkan berapa banyak kepadamu? Sehingga kau berani mencari gara gara?"
Terhadap Boen Ing si perempuan berbaju putih itu, Oei Poh memang rada jeri.
Begitu mendengar perkataan tersebut bukannya menjawab sebaliknya malah putar badan dan pergi.
Terdengarlah dia bergumam seorang diri.
"Aku tidak akan bergebrak dengan dirimu! Aku tidak akan bergebrak dengan dirimu !"
Baru saja berjalan dua langkah ke depan, mendadak dia putar badan dan membentak lagi.
"Pouw Siauw Ling! Malam ini aku ampuni dulu nyawamu."
Sehabis berkata dia lantas enjotkan badannya dan melayang setinggi lima kaki.
Tubuhnya yang ada di tengah udara segera berjumpa'itan beberapa kali dan meluncur ke arah depan.
Melihat kejadian itu, Boen Ing segera enjotkan badannya pula ke atas sedang ujung bajunya dengan menimbulkan satu pukulan yang dahsyat menghantam Oei Poh yang masih berada di tengah udara itu.
Di dalam anpgapannya, Oei Poh tak bakal berhasil meloloskan diri dari kebutannya itu, siapa tahu tiba-tiba Oei Poh tekuk badannya sedangkan sepasang telapak tangannya mengebut pula ke bawah dan meluncur kembali setinggi tiga kaki dengan amat manisnya dia berhasil menghindarkan diri dari serangan kebutan tersebut.
"Bangsat cilik, ternyata kau punya simpanan juga!"
Bentak Boen Ing sambil tertawa dingin.
Kakinya kembali menjejak tanah membuat tubuhnya meluncur setinggi dua kaki dari sana dia kembali melancarkan serangan dengan menggunakan ujung bajunya.
Dengan perbuatan dari Boen Ing ini, pemuda tersebut jadi kegirangan.
Dia memangnya mengharapkan perempuan itu agar berbuat demikian.
Tiga jurus mematikan dari Heng san pay selama ini belum pernah dipelajari oleh Boeu Ing hingga sekalipun ilmu meringankan tubuh darinya amat lihai pun tidak lebih cuma bisa mencelat dua kali saja di tengah udara.
Oei Poh melihat Boen Ing mengejar dirinya diam-diam lantas tertawa dingin, terlibatlah tubuhnya sedikit menggetar dengan amat lincahnya sudah memutar ke belakang punggung Boen Ing lalu bagaikan kilat cepatnya melancarkan satu serangan menghajar jalan darah Giok Coe Hiat pada punggung perempuan itu.
Boen Ing pun bukan manusia sembarangan, begitu merasa adanya angin pukulan yang menyambar punggungnya, dengan cepat dia mengerahkan ilmu bobot seribu kati meluncur ke bawah.
lnilah suatu kesempatan yang tidak mudah didapati selama ribuan tahun, sudah tentu Oei Poh tidak akan melepaskannya dengan begitu saja, tubuhnya ikut meluncur ke bawah, sedang sepasang telapak tangannya melancarkan babatan berantai.
Hanya di dalam sekejap saja Boen Ing segera merasakan adanya angin pukulan bagaikan air bah hebatnya mengurung seluruh tubuhnya yang membuat dia tak sempat untuk menghindar lagi.
Dalam hati dia lantas tahu kalau keadaan tak beres maka itu tubuhnya buru-buru diluncurkan ke bawah, dia bermaksud menggunakan tenaga jatuhan itu untuk melancarkan satu serangan balasan ke arah dirinya Oei Poh.
Sekalipun dalam hati tahu kalau tenaga dalamnya tak bisa menangi perempuan itu tapi Oei Poh mana suka melepaskan begitu saja?
Telapak tangannya dengan amat dahsyat mengirim satu pukulan menghajar punggung Boen Ing sedang tangan kanannya menghantam pundaknya.
Boen Ing yang kena dua buah pukulan dahsyat itu mana kuat bertahan diri?
Terdengar dia menjerit ngeri, tubuhnya sudah terlempar sejauh tiga kaki oleh tenaga pukulan Oei Poh itu dan jatuh ke atas tanah sehingga untuk beberapa saat lamanya tak bisa bangun.
Dengan meminjam tenaga pantulan dari pukulannya tadi Oei Poh melayang turun ke atas sebuah batu cadas di samping kirinya.
Begitu mencapai tanah buru-buru dia tarik napas panjang-panjang lalu enjotkan badannya kembali meluncur ke bawah gunung dan lenyap di tengah kegelapan.
Penderitaan yang diterima oleh Boen Ing kali ini benar-benar amat besar sekali, ketiga pukulan tadi membuat darah di dadanya bergolak keras sedang matanya berkunang-kunang dan kepalanya jadi pening, cuma untung sekali tenaga dalam yang dimiliki Oei Poh tak begitu tinggi sehingga tak sampai membuat dia terluka parah.
Bilamana harus berganti dengan Cing jie mungkin dia bakal mati atau sedikitnya terluka parah.
Lama sekali dia duduk di atas tanah sambil mengatur pernapasannya, sedang dalam hati merasa gemas karena ini hari harus jatuh kecundang di tangan seorang pemuda yang tidak bernama.
Boe Beng Tok su serta Pouw Siauw Ling yang melihat dia berada dalam keadaan bahaya untuk menolong tadi tidak sempat maka kini buru-buru mereka mendekat dan bertanya.
"Nona bagaimana dengan lukamu? Tak mengapa bukan?"
Boen Ing sama sekali tidak menggubris terhadap omongan mereka itu, sebaliknya hanya bergumam sendiri.
"Apakah suhu masih ada simpanan yang tidak diturunkan kepadaku? Tentu dia orang tua sudah tinggalkan sedikit sekali."
Tetapi sebentar kemudian dia sudah gelengkan kepalanya berulang kali dan berkata kembali;
"Tidak mungkin! Jurus serangan yang demikian sempurnanya itu belum pernah suhu menggunakannya, kalau begitu pastilah Liem Tou yang turunkan kepadanya, tetapi dia tidak akur dengan Liem Tou, bagaimana mungkin Liem Tou suka memberi pelajaran ilmu silat kepadanya?"
Sewaktu dulu Boen Ing berhasil melarikan diri.
dari lembah mati hidup, dia masih menganggap Liem Tou masih ada di dalam lembah itu.
Oleh karena itu, dia jadi punya pikiran demikian.
Boe Beng Tok su serta Pouw Siauw Ling yang melihat pertanyaan mereka sama sekali tidak digubris oleh Boen Ing si perempuan berbaju putih itu jadi melongo lalu saling bertukar pandangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Nona, sebetulnya bagaimanakah lukamu?"
Tanya Boe Beng Tok su kemudian dengan sinis.
"Bilamana lukamu tidak berat, baiklah melanjutkan kembali perjalanan, kalau tidak kami akan berangkat lebih dulu."
Setelah termenung beberapa saat lamanya, dengan perlahan Boen Ing baru dongakkan kepalanya; tetapi sewaktu dilihatnya Oei Poh sudah pergi dari situ dengan gemasnya lalu berseru;
"Lain kali bilamana berjumpa kembali dengan diriku, tidak bakal semudah ini kau orang bisa meloloskan diri."
Sehabis berkata dan melirik sekejap ke arah Boe Beng Tok su kemudian dengan perlahan baru merangkak bangun.
Waktu itulah dia mulai merasakan seluruh badannya sakit, sehingga tak terasa lagi sudah kerutkan alisnya rapat-rapat.
Mendadak sinar matanya dialihkan ke atas wajah Boe Beng Tok-su.
Boe Beng Tok su yang melihat sikapnya yang sangat aneh itu hatinya jadi rada tidak sabaran, bentaknya dengan suara rendah.
"Nona Boen, sebetulnya kau mau pergi tidak? Terus terang saja aku beritahu kepadamu, aku tidak butuh dengan segala macam pelukan mesra dari dirimu. Bila kau tidak suka pergi, biarlah kami segera akan berangkat lebih dulu."
"Kauw cu! Apakah kau adalah seorang lelaki yang masih jejaka?"
Tanya Boen Ing secara tiba-tiba dengan nada yang amat aneh sekali. Begitu mendengar perkataan tersebut, saking khekinya Boe Beng Tok su segera melototkan matanya lebar-lebar.
"Kau bilang apa?"
Bentaknya. Air mukanya kontan jadi pucat kehijau-hijauan, dengan cepat dia menarik tangan Pouw Siauw Ling untuk diajak pergi.
"Pouw siang cu, ayoh jalan!"
Sehabis berkata dia lantas berlalu dengan langkah lebar dan tidak menoleh lagi.
Boen Ing masih tetap duduk di atas tanah sambil memandang bayangan punggung mereka berdua lenyap ditelan kegelapan, sinar mata yang sangat aneh itu masih berkelebat pada sepasang matanya, kemudian terdengar tertawa dingin tiada hentinya.
"Heee.... heee. kau tidak bakal dapat pergi jauh,"
Gumamnya seorang diri.
"Kauw cu! Kau harus kumiliki, siang cu itu sudah bobrok dan badannya habis sedang kau masih padat dan jejaka. Liem Tou adalah nomor satu, sedang kau nomor dua". Sembari berkata dia menggosok-gosok kakinya lalu tertawa cekikikan seorang diri. Si perempuan tunggal Touw Hong yang selama ini menguntit terus dari belakang Boe Beng Tok su serta Pouw Siauw Ling dapat melihat semua kejadian dengan jelas. Kini melihat Pouw Siauw Ling berdua sudah pergi, sebaliknya Boen Ing masih tetap duduk di sana seorang diri sambil tertawa ce kikikan, batinya jadi jengkel bercampur cemas karena untuk menaiki gunung itu dia melalui tempat itu. Lama sekali Boen Ing menggosok-gosok kakinya, setelah rada baikan dia baru bangun dengan perlahan dan berjalan menuju ke kuil bobrok yang sunyi itu. Si perempuan tunggal Touw Hong yang bersembunyi di pinggir jalan tidak berniat mengganggu dirinya. Menanti setelah ia pergi jauh, dengan perlahan baru munculkan dirinya dan melanjutkan perjalanan menyusuri sungai tersebut. Pada kentongan keempat dia pun baru berhasil tiba di kaki gunung Cing Shia cuma waktu itu sudah kehilangan jejak dari Boe Beng Tok su maupun Pouw Slauw Ling. Beberapa saat kemudian kentongan kelima sudah menjelang datang sedang hari pun mulai terang, dalam hati diam-diam pikirnya.
"Bagaimana juga jarak dengan malam Tiong Chiu masih ada dua hari lamanya sedang perkumpulan Sin Beng Kauw pun sudah siap mencari gara-gara pada malam Tiong Chiu, asalkan aku tiba lebih cepat dan beritahukan urusan ini kepada suheng agar dia mengadakan persiapan, bukankah urusan akan jadi beres ?"
Berpikir sampai di situ dia pun lantas mencari tempat yang sunyi untuk menyembunyikan dirinya dan duduk mengatur pernapasan.
Teringat akan puteri satu-satunya dari encinya yaitu Sun Ci Si kini sudah berubah sifatnya bahkan berbuat begitu jahat, hatinya jadi amat sedih sekali.
Sewaktu pikirannya lagi melayang tiada ujung pangkalnya itulah mendadak terdengar langkah manusia berjalau mendekati.
Si perempuan tunggal yang takut kalau Boe Beng Tok su serta Pouw Siauw Ling berjalan kembali lagi, buru-buru alihkan pandangan ke depan.
Tampaklah kurang lebih puluhan tindak dari tempat persembunyiannya berdirilah se orang perempuan berbaju singsat dengan sebilah pedang panjang menghiasi punggungnya.
"E e e e... dia lagi berbuat apa berdiri di sana? Siapakah dia orangnya?"
Pikir si perempuan tunggal keheranan.
Si perempuan tunggal Touw Hong bukanlah seorang manusia yang suka ikut campur di dalam urusan orang lain apalagi melihat pada punggungnya tersoren sebilah pedang maka ia lantas tahu kalau orang itupun merupakan jagoan dunia persilatan, karena itu dia lantas pejamkan matanya tidak mengambil gubris lagi.
Tidak lama kemudian tiba-tiba si perempuan tunggal mendengar lagi suara orang itu yang bergema datang tertiup angin.
"Sungguh aneh sekali, jika dilihat dari hiasan yang diatur di atas gunung, jelas lagi mempersiapkan satu pesta perkawinan, tapi kenapa tidak melihat adanya Liem Tou ?"
Dari arah berasalnya suara itu, si perempuan tunggal Touw Hong lantas bisa tahu kalau suara itu berasal dari perempuan tadi, maka terdengar dia menghela napas panjang dan berkata.
"Tidak, lebih baik aku Siauw Giok Cing menghilangkan niatku ini saja! Orang lain sama sekali tidak memandang sebelah mata pun kepadaku, bagaimana mungkin aku bisa begitu tidak tahu malu dengan mati-matian memikirkan orang lain? Aku harus pulang ke gunung dan berdiam di dalam gua batu yang sunyi itu saja. Heei ... tidak seharusnya aku keluar dari gunung, memang nasibku harus hidup dengan keadaan tetap perawan."
Si perempuan tunggal yang mendengar suara gumaman tersebut hatinya rada keheranan, pikirnya di hati.
"Kembaii seorang perempuan mencari Liem Tou. Eeeei ... sungguh lucu sekali, bagaimana mungkin Liem Tou bisa berkenalan dengan perempuan yang demikian banyaknya ? Karena dilihat sikapnya tidak mirip dengan seorang yang cabul dan suka main perempuan, apakah mungkin secara diam-diam dia mencari kesenangan dengan bunga-bunga di tempat luaran ? Kalau memang benar-benar begitu macam apakah dia orang? Urusan ini sungguh membingungkan sekali !"
Semakin berpikir si perempuan tunggal Touw Hong jadi semakin terharu, mendadak dia bangun berdiri dan berjalan menuju ke arah perempuan itu hingga beberapa langkah di belakangnya tanpa diketahui oleh perempuan itu, dan pada saat itu terdengar dia bergumam.
"Tidak; aku tidak boleh pulang, aku harus melihat Liem Tou menjalankan upacara perkawinannya. Si perempuan tunggal Touw Hong hanya merasakan kalau kewaspadaan dari perempuan itu terlalu kurang, tapi waktu teringat ada kemungkinan dia cuma seorang jagoan Bu-lim biasa tanpa mempunyai kepandaian yang berarti maka dalam hatinya pun menaruh beberapa bagian tidak pandang mata. Waktu itulah dia baru dapat melihat kalau gadis itu bukan lain adalah seorang nona yang cantik dengan wajah yang putih bersih dan berusia kurang lebih delapan belas tahunan. Waktu itu gadis itupun jadi kaget dengan munculnya si perempuan tunggal Touw Hong, tampaklah dia memandang ke arahnya dengan pandangan melongo.
"Nona, ada urusan apa di tengah malam buta begini berdiri seorang diri di sini?"
Tanya si perempuan tunggal dengan suara perlahan.
Cing jie tidak menjawab sebaliknya matanya memperhatikan perempuan di hadapannya itu dengan sangat tajam.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang melihat dari sepasang matanya memancarkan cahaya yang amat tajam laksana bintang di malam hari, hatinya jadi keheranan, pikirnya.
"Jika dipandang dari sinar matanya, jelas kalau kepandaian silat yang dimilikinya sudah berhasil mencapai pada taraf kesempurnaan, tapi kenapa reaksinya begitu lambat waktu aku mendekati dirinya?"
Pada waktu itulah terdengar Cing jie sudah membuka mulutnya bertanya .
"Siapa kau ? Buat apa kau ikut campur urusanku ?"
Suaranya amat lembut dan lemah sekali sedang sinar matanyapun melengos ke arah lain.
"Aku bertanya kepada nona karena mendengar nona terus menerus menyebutkan nama Liem Tou. Entah secara bagaimana nona bisa berkenalan dengan diri Liem Tou?"
Ujar si perempuan tunggal Touw Hong sambil tertawa. Mendengar disebutnya nama pemuda itu, bagai kena disetrom Cing jie menoleh ke belakang.
"Jadi kaupun kenal dengan Liem Tou ? Lalu bagaimana kau sendiri bisa berkenalan dengan dirinya?"
Saat ini si perempuan tunggal Touw Hong sudah bisa melihat seluruh wajah dari gadis tersebut, setelah dirasakan orang itu tidak mirip dengan seorang perempuan jahat, ia baru tertawa.
"Kau ingin tahu ? Baiklah! Aku akan beri tahukan secara terus terang saja. Liem Tou memanggil aku dengan sebutan Susiok !"
Mendengar perkataan tersebut Cing jie jadi amat terperanjat; sepasang biji matanya yang jeli dipentangkan lebar-lebar itu memperhatikan perempuan itu tajam-tajam, akhirnya dia gelengkan kepalanya.
"Tidak mirip, tidak mirip, aku tidak percaya terhadap omonganmu itu. Liem Tou dengan dirimu hampir sama besar usianya, bagaimana mungkin kau adalah susioknya ?"
"Suka percaya atau tidak, itu urusanmu sendiri. Kini aku sudah memberitahukan kedudukanku, seharusnya kau pun memberitahukan kepadaku siapakah kau orang ?"
Dengan perlahan Cing jie mengangguk.
"Aku datang dari lembah mati hidup di gunung Heng san, tahun ini berusia seratus lima belas tahun. Dan Liem Tou pernah jadi tetamu di dalam lembahku maka itu aku kenal dengan dirinya."
"Aaakh ! Nona jangan bergurau,"
Ujar si perempuan tunggal Touw Hong sambil tertawa geli.
Aku tidak usah mempercayai kalau kau sudah berusia seratus lima belas tahun dan kaupun tidak usah percaya kalau aku adalah susiok dari Liem Tou, tetapi yang jelas baik kau maupun aku sama-sama kenal dengan Liem Tou "
Baru saja berbicara sampai di situ, mendadak satu ingatan berkelebat di dalam benaknya, diam-diam lantas pikirnya .
"Walaupun dari nada ucapannya tidak bermaksud jahat terhadap Liem Tou, tetapi apakah kawan atau lawan aku belum bisa menentukan, lebih baik aku pancing supaya dia suka berbicara sendiri."
Karenanya sambil tertawa lantas ujarnya lagi.
"Sekarang aku mau tanya padamu, bilamana Liem Tou lagi menemui kesusahan, apakah nona suka turun tangan membantu?"
Cing jie yang mendengar perkataan tersebut kembali merasa terperanjat; dia mengira yang dimaksudkan oleh si perempuan tunggal adalah Oei Poh, di dalam urusan ini dia memang lagi kebingungan dan tidak mengerti apa yang harus dilakukan terpaksa kepalanya digelengkan berulang kali.
"Aku tidak tahu, aku tilak tahu,"
Katanya.
"Kalau begitu, nona adalah musuh dari Liem Tou?"
"Apa maksud perkataanmu itu?"
Teriak Cing jie dengan nada keras matanya melotot lebar-lebar.
"Aku tidak pernah bercerita kalau dia adalah musuhku."
Si perempuan tunggal Touw Hong dibuat semakin keheranan lagi.
"Nona bukan kawan dari Liem Tou lalu mengapa kau tidak suka turun tangan membantu dirinya??"
Seketika itu juga Cing jie dibuat bungkam seribu bahasa oleh perkataan tersebut.
Pada saat dia lagi serba salah itulah mendadak mendengar perempuan tunggal Touw Hong menjerit kaget.
Buru-buru Cing jie pun menengok ke arah samping terlihatlah di atas permukaan sungai berkelebat datang sesosok bayangan putih.
"Oouw sesosok bayangan manusia,"
Serunya cepat.
"Eeem dia adalah seorang perempuan,"
Sahut si perempuan tunggal sambil kerutkan alisnya rapat-rapat.
"Aku kenal dirinya bahkan kepandaian silat yang dimilikinya sangat tinggi sehingga sukar diukur, pada saat kentongau ketiga tadi dia sudah pukul rubuh Sin Beng Kauw cu serta Pouw Siauw Ling, dan dia pun merupakan salah seorang yang lagi mencari Liem Tou."
Bayangan putih itu sudah tentu adalah Boen Ing, saat ini dia telah berada di tengah sungai untuk menyeberang kemari.
Dengan ketajaman mata dari Cing jie sudah tentu dia pun bisa mengenal kembali bayangan putih tersebut.
"Akh Boen Ing si perempuan cabul itu,"
Serunya tak terasa.
"Bagaimana? Kau pun kenal?"
Dengan perlahan Cing jie mengangguk, mendadak dia bersuit nyaring dan mencabut keluar pedang Lan Beng Kiam yang tersoren pada punggungnya itu dan ujung kaki sedikit menutul di permukaan tanah tubuhnya laksana seekor burung walet meluncur sejauh tujuh, delapan kaki dengan tersalto di tengah udara dan meluncur ke tengah sungai.
Gerakan yang dilakukan secara tiba-tiba ini seketika itu juga membuat si perenpuan tunggal jadi melongo-longo; pikirnya .
"Orang yang aku temui malam ini sebagian besar adalah jago-jago yang memiliki kepandaian silat amar tinggi sedang di dalam Bu-lim sama sekali tidak pernah mendengar nama mereka, sungguh aneh sekali."
Tubuh Cing jie yang meluncur ke tengah sungai hanya di dalam sekejap saja sudah berada beberapa puluh kaki jauhnya tanpa melayang turun ke atas tanah, menanti jaraknya tinggal duapuluh kaki dari Boen Ing dia baru melayang turun ke atas permukaan air sungai.
Si perempuan tunggal yang melihat begitu sempurna dan dahsyatnya tenaga dalam yang dimiliki gadis itu dalam hati benar-benar amat terperanjat.
Dia tidak menyangka kalau gadis yang usianya kelihatan masih muda itu sudah demikian lihaynya.
Selagi dia orang berpikir keras itulah dari tengah sungai berkumandang datang suara bentakan yang amat keras disusul dengan suara suitan yang memekikkan telinga, sekali dengar perempuan itu lantas tahu kalau suara bentakan itu pasti berasal dari Cing jie.
Hatinya mulai kebingungan sedang otak berputar tiada hentinya.
"Haruskah aku orang ikut turun tangan membantu gadis berbaju hijau itu?"
Tetapi sewaktu teringat kalau ilmu meringankan tubuhnya belum berhasil mencapai taraf dapat bergerak di atas permukaan air dengan perlahan dia pun membatalkan kembali niatnya tersebut.
Suara tertawa seram dari perempuan berbaju putih itu semakin menyeramkan sedang Cing Jie pun waktu itu sudah berada beberapa kaki di hadapannya, jelas kalau suatu pertempuran yang amat sengit segera akan berlangsung.
"Susiok! Liem Tou datang menghunjuk hormat !"
Tiba-tiba terdengar suara seseorang berkumandang keluar dari belakang tubuhnya.
Si perempuan tunggal jadi amat terperanjat, dengan cepat dia putar badan sambil melintangkan telapak tangannya di depan dada siap menanti serangan.
Kiranya orang yang ada di belakangnya pada saat ini bukan lain adalah Liem Tou yang sudah ada setahun lamanya tidak bertemu, dia tidak menyangka bila tenaga dalam dari pemuda itu sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat sekali.
Saking terkejut dan bercampur girangnya untuk beberapa saat lamanya tidak sepatah kata pun bisa diucapkan keluar.
Waktu itu Liem Tou memakai jubah berwarna hijau dengan wajah penuh dihiasi senyuman; apalagi dengan wajahnya yang tampan itu sehingga membuat pemuda itu kelihatan semakin menarik.
"Susiok selama setahun ini apakah baik-baik saja ??"
Tanyanya lagi sambil memandang tajam wajah gadis itu. Terhadap kejadian yang berlangsung di tengah sungai antara Cing jie serta Boen Ing, dia orang sama sekali tidak memandang sekejap pun.
"Sutit! Kau datang dari mana? kedua orang yang ada di atas permukaan sungai itu."
Belum habis si perempuan tunggal melanjutkan kata-katanya, Liem Tou sudah memotong dengan cepat.
"Selama setahun ini sutit mengasingkan diri di tengah pegunungan yang sunyi sehingga memperoleh kemajuan yang pesat, dan malam ini aku bermaksud kembali ke gunung Cing shia. Susiok, apakah kau sudah memasuki perkampungan ??? bagaimana keadaannya supek serta enci Ie dan adik Wan sekalian??"
Si perempuan tunggal cuma tersenyum saja sedang matanya dengan amat tajam memperhatikan diri pemuda tersebut, dia merasa Liem Tou yang ada di depannya pada saat ini jauh berbeda dengan Liem Tou setahun yang lalu.
Liem Tou yang melihat perempuan itu tidak menjawab bahkan memandang dirinya dengan tajam lantas kirim satu senyum manis.
Beberapa saat kemudian si perempuan tunggal baru menghela napas panjang.
"Sutit! Aku lihat agaknya kau banyak berubah!"
Ujarnya dengan perlahan.
"Bilamana dugaanku tidak salah maka setahun ini banyak kejadian yang tidak tersangka sudah menimpa dirimu."
"Susiok bagaimana kau boleh bicara begitu??"
Seru Liem Tou sambil gelengkan kepalanya.
"Sutit tetap sutit, apanya yang sudah berubah ?? Cuma saja penghidupan selama setahun ini membuat hatiku rada tenang."
Si perempuan tunggal tidak mendesak lebih lanjut lagi, dia pun lantas mengganti bahau pembicaraan, ujarnya tiba-tiba.
"Ini hari susiok kembali ke gunung Cing Shia untuk turut merayakan perkawinanmu. Di sini susiokmu memberi selamat dahulu!"
Bicara sampai di sini tak terasa lagi dia merasa hatinya berdebar-debar sedang wajahnya terasa rada panas mendadak dalam benaknya dia teringat kembali akan maksud Boe Beng Tok su, Pouw Siauw Ling serta Boen Ing yang lagi mencari balas terhadap dirinya, hanya di dalam sekejap saja membuat pikirannya segera berubah.
"Tetapi... aku rasa banyak urusan yang tak terduga bakal terjadi perkawinan dari sutit rasanya tak bisa berlangsung dengan lancar,"
Serunya sambil menghela napas panjang. Mendengar perkataan tersebut Liem Tou rada melengak tetapi sebentar kemudian sudah tertawa.
"Susiok agaknya di dalam hatimu ada sesuatu rahasia bolehkah kau katakan kepada sutitmu?"
Bicara sampai di situ dia dongakkan kepala nya memperhatikan sejenak keadaan cuaca lalu sambungnya lagi.
"Susiok, coba kau lihat hari sudah terang tanah, bagaimanapun sebelum tanggal lima belas bulan delapan sutitmu tak bisa kembali ke gunung Cing Shia, bagaimana kalau kita mencari suatu tempat sunyi untuk bercakap-cakap ?"
Selama ini Liem Tou tidak pernah melirik atau memandang sekejap pun ke tengah permukaan sungai di mana sedang berlangsung suatu pertempuran yang amat sengit antara Cing Jie dan Boen Ing, hal ini membuat si perempuan tunggal menjadi curiga, pikirnya.
"Bilamana membicarakan soal kepandaian yang dimiliki sutit pada saat ini, jangankan dikata di permukaan sungai yang hanya berjarak seratus kaki itu, seharusnya ia dapat melihat, sekalipun jaraknya lebih jauh beberapa kali lipatpun pasti dapat melihatnya. Apakah mungkin saat ini ia pura-pura tak melihat ?? Tetapi tentunya dalam hati ia tidak bermaksud menemui kedua orang itu."
Sehabis berpikir secara demikian si perempuan tunggal Touw Hong pun tidak angkat bicara lagi dan mengikuti diri Liem Tou ini mengitari jalan pegunungan menuju ke atas gunung dengan mengambil sebuah jalan kecil.
Sembari berjalan tanpa terasa kepalanya menoleh ke arab permukaan sungai, tampaklah bayangan hijau serta putih saling terjang menerjang dengan samarnya bahkan jikalau ditinjau dari kecepatan putaran tubuh mereka berdua agaknya suatu pertempuran yang amat sengit sedang berlangsung.
Jilid 40 HATlNYA jadi menaruh rasa kuatir terhadap keselamatan dari si perempuan berbaju hijau itu.
"Sutit!"
Tak terasa lagi ia berhenti dan menegur.
Sambil tersenyum Liem Tou putar badannya, si perempuan tunggal Touw Hong yang melihat sikapnya amat tenang dan mantap sedikitpun tidak menunjukkan perasaan gugup di dalam hati jadi malu sendiri.
Maksud semula untuk memberitahukan peristiwa bertempurnya Cing jie dengan Boen Ing pun dengan sendirinya dibatalkan.
"Susiok; ada urusan apa?"
Tanya Liem Tou perlahan.
"Aaakh... tidak ada apa-apa"
Jawab si perempuan tunggal sehabis termenung sebentar.
"Aku hanya merasa kini kau benar-benar sudah berubah."
Terlihatlah Liem Tou angkat bahu lalu menghela napas panjang.
"Heeeii... sebetulnya aku tidak berubah; aku cuma merasa tindakanku tempo hari terlalu gegabah dan menggelikan, rasa ingin menang dan menonjol terlalu berlebihan,"
Katanya tertawa.
"Dan selama setahun ini walaupun sutit hidup di tengah kesunyian serta tak berkawan tetapi rasanya hatiku jadi semakin tenang dan semakin tawar, kegembiraan terasa jauh lebih melekat di hati.
"Jika pedang semakin diasah jadi semakin tajam. Kalau begitu di dalam ilmu silat, Sutit pun telah memperoleh kemajuan yang sangat pesat sekali ... bukan begitu?"
Sambung perempuan itu mengambil kesempatan tersebut.
"Cukup ditinjau dari ketiga langkahmu tadi aku sudah merasa bilamana dugaanku sedikit pun tidak meleset."
Sekali lagi Liem Tou tersenyum.
Di dalam soal ilmu silat, sutit merasa sudah salah belajar!
Sejak tahun yang lalu sutit menguji tangan di hadapan para jago-jago di gunung Cing Shia dan selama ini tidak pernah membicarakan soal ilmu silat lagi.
Susiok!
Apakah soal ini kau tidak tahu?"
"Sungguh?"
Teriak si perempuan tunggal Touw Hong sangat terperanjat sehabis mendengar perkataan itu.
"Kenapa kau harus berbuat demikian? Tahukah kau bahwa jago-jago Bu lim yang bermunculan pada saat ini kebanyakan bersifat kejam dan keji. Bilamana kau berbuat begitu, bukankah memberi peluang yang sangat bagus buat mereka?"
"Heei ... perhitungan manusia selamanya tidak akan menangkan perhitungan Thian, bila mana Thian menyuruh aku orang mendapat kesusahan sekalipun terbang ke langit pun tiada gunanya...!"
Kata pemuda itu sambil menggeleng.
Perkataan dari Liem Tou ini begitu diucapkan keluar, hati si perempuan tunggal Touw Hong jadi semakin terperanjat lagi; Ia sama sekali tidak menyangka kalau Liem Tou bisa berubah jadi begini, yang terlalu pasrah pada nasib.
Terang-terangan ia sudah tahu keadaannya sangat berbahaya dan setiap saat nyawanya terancam, sebaliknya dia malah sengaja berbuat begini, bilamana sampai waktunya ia benar-benar tak turun tangan, bagaimanakah keadaannya pada saat itu?"
Waktu itu mereka berdua semakin berjalan semakin jauh; mendadak setelah mengitari sebuah lekukan gunung di hadapannya terbentanglah sebuah sungai dengan aliran air yang amat deras sekali.
Di hadapan sungai itu tampaklah puncak gunung yang terbentang menembus awan.
"Susiok!"
Ujar Liem Tou sambil menuding di hadapannya.
"Tahukah kau tempat apakah itu?"
Saat ini si perempan tunggal Touw Hong mana punya hati untuk menjawab pertanyaan tersebut, makanya ia hanya menggeleng saja "Tempat itulah gunung Ha Mo san, di mana sejak kecil aku hidup di sana sampai menjadi dewasa,"
Kata pemuda itu sambil tanpa sebab menghentikan langkahnya. Sehabis berkata ia lantas duduk di atas rumput dekat sungai, matanya memandang ke tepi seberang dengan termangu-mangu.
"Cantik atau tidak disanalah desaku, kasih atau tidak mereka adalah tetanggaku ..... heee ! Sudah setahun lamanya aku tidak mengunjungi kuburan ayahku,"
Gumamnya sendiri.
Melihat pemuda itu duduk, si perempuan tunggal Touw Hong pun mau tak mau terpaksa turut duduk pula, apalagi setelah mendengar gumamannya ini, tak terasa hatinya pun ikut murung.
Tak kuasa lagi akhirnya perempuan itu menghela napas panjang, sinar matanya dengan termangu-mangu memandang ke aliran air sungai yang tiada putusnya ...
Waktu ini keadaan mereka berdua mirip sekali dengan sepasang kekasih yang sedang memadu cinta, masing masing terjerumus kedalam kesunyian yang mencekam, sehingga membuat siapa yang melihat pun tak menyangka kalau mereka berdua sebenarnya adalah Susiok sutit!
MENDADAK suara pekikan burung yang amat memekikkan telinga menyadarkan kembali si perempuan tunggal dari lamunannya, dia teringat pula akan Boe Beng Tok su serta Pouw Siauw Ling yang telah berangkat kemari untuk menuntut balas.
Dalam hati ia merasa peristiwa ini harus dikhabarkan kepada pemuda tersebut karena itu tiba-tiba saja ia menoleh dan katanya;
"Sutit! Aku ingin menanyakan satu persoalan kepadamu. Pernahkah kau mendengar kalau di dalam Bu lim telah didirikan sebuah partai baru yang bernama 'Sin Beng Kauw'?"
"Apa itu Sin Beng Kauw?"
Tanya pemuda tersebut melengak.
"Nama ini sungguh kukoay sekali, aku belum pernah mendengarnya."
"Kalau begitu terhadap 'Ay Lauw It Tiauw, Sun Ci Si sekalian tentunya kau masih ingat bukan? Masih ada lagi seorang yang she Pouw bernama Pouw Siauw Ling, dan orang ini tentunya kau masih ingat bukan? Masih ada lagi Boen Ing dan Giok Cing dua orang gadis cantik, siapakah mereka?"
Mendengar nama-nama yang disebutnya itu, Liem Tou hanya mengangguk-angguk, lama sekali baru ujarnya.
"Apakah beberapa orang ini ada hubungannya dengan Sin Beng Kauw tersebut?"
"Sun Ci Si telah menjabat sebagai Sin Beng Kauw cu dengan julukan Boe Beng Tok su. Hal ini tentunya disebabkan karena ia berhasil mempelajari ilmu dari 'Pek Lok Toh itu! dan Pouw Siauw Ling adalah salah satu dari Cong Tan Siancu mereka. Sebaliknya kedua orang gadis cantik itu aku hanya menjumpainya secara tidak sengaja di tengah jalan, siapakah mereka, aku sendiri juga tidak tahu. Aku hanya dengar kalau mereka berempat datang kemari khusus untuk mengikuti perayaan perkawinanmu, tetapi di antara mereka, ada tiga orang yang membawa maksud tidak baik!"
Selama ini Liem Tou masih membungkam terus, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sehingga kembali terdengar si perempuan tunggal Touw Hong melanjutkan kata-katanya.
"Kepandaian silat dari keempat orang itu bilamana dibicarakan dalam Bu lim boleh dikata merupakan jago-jago nomor wahid dan yang paling nenakutkan di antaranya adalah tindakan mereka yang kejam dan telengas karena perbuatan apa pun bisa mereka lakukan. Sutit, aku rasa lebih baik kau orang mengadakan sedikit persiapan."
"Ouuw, sungguh-sungguh ada urusan begitu?"
Seru Liem Tou tertahan. Dia berpikir sebentar kemudian katanya lagi.
"Sutit adalah seorang manusia yang telah mengunci tangan, aku harus berbuat apa untuk mengadakan persiapan? Apakah hanya dikarenakan mereka sedang mencari balas maka aku terpaksa melanggar sumpah untuk menghadapi mereka? Hal ini tak bisa sutit lakukan."
"Kalau begitu apakah Sutit hendak pasrah saja untuk mereka bunuh..."
Berbicara sampai di sini mendadak dari arah belakang mereka terdengar suara gerakan yang amat perlahan.
Si perempuan tunggal Touw Hong jadi sangat terkejut, tak terasa lagi ia segera melejit ke tengah udara.
"Sutit, hati-hatilah! Ada orang!"
Bentaknya keras.
Tetapi sewaktu ia menoleh kebelakang; tak tertahan lagi perempuan itu sudah jadi tertawa cekikikan sendiri, kiranya beberapa kaki dari mereka berdirilah dengan tenang sang kerbau tunggangan Liem Tou.
"Hii... hii... hii... tidak kusangka binatang ini pun pintar mengejutkan orang!"
Dan ia bertindak maju dengan perlahan untuk mengelus tubuh kerbau tersebut.
"Sutit! Apakah selama ini kerbau ini pun mengikuti terus dirimu?"
Tanya gadis tersebut sembari mengelus tubuh kerbau itu.
"Ehmmmm ...!"
Si perempuan tunggal segera menoleh; tampaklah saat ini Liem Tou masih tetap duduk di pinggir sungai, hanya saja tubuhnya sama sekali tidak bergerak, kepalanya pun tidak menoleh.
Si perempuan tunggal jadi melengak dibuatnya; ia merasa semakin terperanjat lagi dengan perubahan sifat dari pemuda tersebut.
Perlahan-lahan ia kembali ke tempat semula dan duduk di sisi Liem Tou yang saat ini wajah pemuda itu amat tenang tetapi murung, agaknya dalam hatinya sedang memikirkan suatu urusan.
Pantulan cahaya sang surya di pagi hari memantulkan sinar keperak-perakan di atas gulungan riak sungai yang mengalir tiada putusnya ...
"Sutit! Kau lag1 memikirkan apa? Apakah kau sedang memikirkan cara cara untuk menghadapi Boe Beng Tok su serta Pouw Siauw Ling?"
Tanya gadis tersebut perlahan.
"Aku tidak berpikir untuk menghadapi siapa pun."
Hampir-hampir membuat si perempuan tunggal Touw Hong merasa tak percaya pada pendengarannya sendiri; bagaimana mungkin perkataan tersebut bisa diucapkan oleh seorang pemuda seperti Liem Tou??
Selagi hatinya dibuat kebingungan itulah, Liem Tou melanjutkan kembali kata-katanya.
"Susiok! Kau merasa urusan ini apakah merasa sangat penting sekali?"
Semangat si perempuan tunggal Touw Hong kontan berkobar kembali.
"Hal ini belum tentu!"
Sahutnya segera.
"Dengan kepandaian silat yang dimiliki sutit saat ini aku rasa Boe Beng Tok su serta Pouw Siauw Ling masih belum kuat untuk menerima satu pukulanmu, sedangkan Sin Beng Kauw adalah satu perkumpulan yang baru saja muncul, pengaruhnya pun belum luas. Sekalipun anggota mereka sebagian besar merupakan bekas anak buah dari 'Chiet Ci Jouw Tou' atau Si hweesio gundul tujuh jari, tetapi kepandaian silat mereka biasa saja; sama sekali bukan orang yang menonjol, mereka tidak bakal kuat untuk melawan sutit!"
Liem Tou berpikir sebentar kemudian baru ujarnya.
"Kalau begitu cukup hanya dengan kekuatan supek serta susioksaja tentu sudah lebih dari cukup untuk membasmi mereka bukan?"
Si perempuan tunggal Touw Hong sama sekali tidak menyangka kalau Liem Tou bisa berkata demikian.
Dia percaya dengan kekuatannya sendiri masih bisa menahan serangan dari Pouw Siauw Ling serta Boe Beng Tok su, demikian pula dengan suhengnya.
Tetapi siapa yang hendak menahan serangan dari si perempuan berbaju putih serta keenam orang siangcu dari Sin Beng Kauw?
Setelah berpikir bolak-balik, akhirnya tak terpikir juga satu keputusan, sehingga ia menggeleng.
"Urusan ini tak bisa diduga sebelumnya, tetapi kalau memangnya mereka berani datang menyerang, kita pun harus melawan."
Liem Tou segera mengangguk, mendadak ia meloncat ke tengah udara dan lempar satu senyuman kepada Si perempuan tunggal.
"Kalau begitu, harap susiok cepat-cepat datang ke perkampungan Ie Hee Cung! Urusan ini ada kemungkinan sudah berada di dalam hitungan siepoa dari suhuku, mungkin juga kini dia lagi mengadakan persiapan-persiapan."
"Kini Susiok telah memberi peringatan kepadaku. Sutit merasa sangat berterima kasih sekali, nanti bila sampai waktunya, aku bisa muncul sendiri di atas gunung."
Selesai berkata, ia menjura kemudian meloncat ke atas punggung kerbaunya dan berlalu dari sana.
Si perempuan tunggal Touw Hong sama sekeli tidak mengetahui peristiwa Liem Tou yang angkat Thiat Sie poa sebagai suhunya; karena itu lama sekali ia berdiri di sana dengan termangu-mangu dan kebingungan karena belum sempat dia bertanya lebih jelas lagi, Liem Tou telah pergi jauh.
Kembali si perempuan tunggal berdiri beberapa saat lamanya di pinggir sungai.
Ketika melihat cuaca semakin terang lagi, ia pun lantas kerahkan tenaga dalamnya untuk menyeberangi sungai tersebut.
Siapa tahu saat itulah tiba-tiba punggungnya terasa dibokong orang, si perempuan tunggal yang sama sekali tidak mengadakan persiapan, hatinya jadi terperanjat, tubuhnya buru-buru menyingkir ke samping.
Siapa sangka kembali tampak bayangan biru berkelebat datang, tidak menanti pikiran kedua berkelebat di dalam benaknya tahu-tahu ia sudah tertotok jalan darahnya.
Hawa murni tersumbat membuat kekuatan tubuhnya buyar, tak kuasa lagi tubuhnya rubuh ke belakang.
Tetapi orang yang berada di belakangnya itu dengan cepat menyambar dan merangkul pinggangnya erat-erat.
Melihat dirinya tertotok, gadis itu cuma bisa menghela napas, dan matanya dengan segera melirik sekejap ke arah orang itu.
Tampaklah dia bukan lain adalah seorang sastrawan berusia pertengahan, mempunyai wajah yang keren!
Hanya ia tidak tahu siapakah orang itu.
Dan orang itu sambil membopong tubuh gadis tersebut lantas berseru ke arah belakang."Tiat Bok leng, coba kemarilah!
Kenalkah kau dengan perempuan ini?
Siapa dia?"
Dari belakang muncullah seorang ke seluruh jarinya telah putus. Dia bukan lain adalah Thiat Bok Taysu yang ditolong oleh Thian Pian siauw cu.
"Eehmm ... agaknya perempuan ini sangat kukenal dan pernah bertemu di suatu tempat,"
Sahutnya setelah memandang sekejap ke arah si perempuan tunggal.
"Hanya saja saat ini aku sudah lupa. Maksud siauwcu hendak kau apakan dia?"
Dengan telitinya Thian Pian Siauw cu memandang ke arah perempuan tersebut lalu berpikir.
"Kirim dia pulang saja!"
Sahutnya kemudian.
Dan tangan digape, seokor burung rajawali dengan cepat melayang turun ke bawah.
Kali ini burung itu tidak memperdengarkan suara pekikan yang nyaring, sebaliknya dengan amat tenangnya ia berdiri di sisi tubuh Thian Pian Siauw cu.
Lalu dengan perlahan Thian Pian Siauwcu meletakkan tubuh si perempuan tunggal ke atas punggung burung rajawalinya.
Setelah itu tangannya diulapkan.
"Antar dia pulang ke rumab, kemudian cepat-cepatlah datang kemari,"
Perintahnya.
Burung rajawali itupun berkaok-kaok kemudian pentangkan sayap lalu terbang meninggalkan tempat tersebut.
Menanti sang burung rajawali telah lenyap dari pandangan, Thian Pian Siauwcu baru menoleh ke arah Thiat Bok Taysu.
"Thiat Bok heng!"
Tegurnya.
"Aku dengan Liem Tou si bangsat cilik itu masih ada perjanjian tiga tahun; kini baru lewat setahun dan bilamana aku melanggar janji dan kini datang menuntut balas kepadanya maka tindakanku ini bukankah merupakan suatu tindakan yang melanggar peraturan Bu lim? Maka bila sampai waktunya Thiat Bok heng harus turun tangan sendiri, sehingga paling-paling aku cuma bisa memberi bantuan secara diam-diam saja.
"Soal ini sudah tentu!"
Sahut Thiat Bok Tay su mengangguk.
"Saat ini juga kita segera berangkat ke atas gunung Cing Shia dan mengambil kesempatan yang sangat baik untuk membasmi beberapa orang pembantu mereka, masih untung saja tindakan kita kali ini dilakukan sangat rahasia sekali; sehingga mereka sama sekali tidak mengadakan persiapan, dan kesempatan yang lebih baik lagi tidak bakal muncul."
Thian Pian Siauwcu termenung berpikir sebentar kemudian dia baru menjawab.
"Bilamana kita berbuat demikian rasanya tindakan kita kurang cemerlang, tetapi urusan sudah jadi begini, aku rasa baiklah kita bertindak sesuai dengan perkataan dari Thiat Bok heng! Ayoh jalan."
Selesai berkata, pertama-tama ia yang berlalu untuk melewati sungai kematian, menaiki tebing maut dan terakhir menyeberangi jembatan Pencabut nyawa dari gunung Ha Mo san.
Mereka berbelok dulu ke sebuah puncak di dekat Cing Shia dan bila mana pagi hari mereka bersembunyi, sedang malam hari bekerja.
Thiat Bok Thaysu yang melihat Thian Pian Siauwcu telah berangkat dia pun segera mengikuti dari belakangnya.
Terlihatlah dua sosok bayangan manusia dengan kecepatan laksana sambaran kilat berkelebat ke depan, hanya di dalam sekejap saja telah lenyap dari pandangan.
Kita baiik pada Liem Tou yang melanjutkan perjalanannya dengan menunggang kerbau dan menggembol pedang, tidak lama kemudian haripun sudah terang tanah.
Saat ini pikiran dari pemuda iru lagi kosong melompong sehingga pertemuannya kemarin malam dengan si perempuan tunggal telah membuat pemuda ini mengerti tentang keadaan Bu lim pada saat ini.
Hatinya yang semula tenang bagaikan permukaan air telaga ilu.
kini kelihatan mulai berombak, apalagi setelah mengetahui kalau ada orang yang hendak mencari balas dengan dirinya maka kini ia mulai merasa tidak tenang.
Sejak dirinya mempelajari ilmu semedi "Ting Sim Lok", baru untuk pertama kalinya ini hatinya terasa kacau.
Dengan mengikuti aliran air sungai ia semakin berjalan semakin jauh dan tidak lama kemudian sampailah dia di sebelah gunung yang amat sunyi.
Permukaan sungai pun semakin lama semakin kecil dan ia tahu sebentar lagi dirinya bakal tiba pada sumbernya, karena itu dalam hati ia mulai berpikir.
"Bagaimanapun besok pagi baru tanggal lima belas bulan delapan, biarlah ini hari aku mengikuti aliran sungai untuk mengetahui sumbernya. Aku ingin tahu air tersebut berasal dari mana...!?"
Berpikir akan hal itu, pikirannyapun kembali lebih tenang lagi karena dia tidak lagi memikirkan persoalan dunia kangouw yang dapat mengkalutkan pikirannya itu.
Akhirnya setelah lewat beberapa saat lagi hatinya pun mulai jadi tenang kembali ...!
Dan dengan mengikuti aliran sungai ini pemuda tersebut sudah menghabiskan waktu setengah harian lamanya tetapi sumber air itu pun belum juga ditemukan sehingga pikirannya kembali berputar.
"Sudah lama aku tidak merasakan larinya sang kerbau, biarlah ini hari, aku mencoba bagaimanakah kecepatan dari larinya kerbau ku ini."
Berpikir sampai di situ mendadak ia membentak keras.
"Engkoh kerbau, mari kita lari cepat!"
Pada saat ini kerbau tersebut tidak perlu lagi diperintah dengan kode kode mulut seperti 'Jan Heng Cor, Beng, Tong, Pian, Hua, Si'.
Karena pergaulannya yang sangat lama dengan Liem Tou sehingga membuat sang kerbau telah mengerti maksud dari perkataannya apalagi di bawah bimbingan Liem Tou, kerbau itupun telah memperoleh dasar ilmu Iwekang yang amat kuat.
Ketika mendengar majikannya memerintah untuk berlari cepat, maka dengan girangnja lantas dongakkan kepala dan mendengus panjang, suaranya nyaring laksana pekikan naga sehingga menggetarkan seluruh tubuh.
Di antara sepakan kaki yang menimbulkan suara nyaring bagaikan sambaran kilat kerbau itu berlari keras ke arah depan.
Pada mulanya sawaktu berlari keempat buah kakinya yang menginjak batu batu gunung masih meninggalkan suara yang nyaring, tetapi akhirnya semakin berlari semakin cepat dan suara yang nyaring pun semakin lama semakin lenyap, saat ini keadaannya mirip dengan jagoan yang sedang berlari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Baca Juga: Kemelut Kerajaan Mancu Kho Ping Hoo
Baca Juga: Si Walet Hitam Ouw Yan Cu 1