Ceritasilat Novel Online

Raja Silat 11

Eps 11 Raja Silat - Chin Hung

Baca online Raja Silat - Chin Hung

Cersil Raja Silat - Chin Hung.

Liem Tou hanya merasakan bayangan gunung lewat dengan cepatnya, pandangan mata serasa jadi kabur dibuatnya.

Sesudah mengitari sebuah gunung kembali sebuah bukit dilewati, hanya di dalam waktu yang singkat itu saja ia sudah berada seratus li di luar daerah gunung Cing Shia.

Di tempat manakah ia berada saat itu, sang pemuda sendiri tidak tahu.

Liem Tou sendiri tak suka menggubris akan persoalan tersebut, dan hanya dengan melakukan perjalanan cepat dia menerjang terus ke arah depan.

Tidak lama kemudian di hadapannya muncul kembali sebuah bukit yang amat tinggi.

Di balik bukit itu secara samar-samar berkumandang keluar suara kentungan yang berat tetapi rendah ..."

"Tung, tung, tung ...!"

Suara tersebut berbunyi tiada hentinya seperti di atas bukit ada orang menebang kayu.

Liem Tou buru-buru menarik tali les kerbaunya lalu memutar haluan masuk ke dalam bukit itu.

Mendadak di hadapannya muncullah sebuah lembah yang tertutup kabut yang amat tebal, kiranya suara kentungan yang berat dan rendah itu justru berasal dari balik lembah tersebut.

Ketajaman mata dari Liem Tou pada saat ini benar-benar luar biasa sekali, tapi kini tak sanggup untuk menembusi kabut yang sangat tebal di sekeliling lembah tersebut, hal ini benar-benar membuat pemuda itu tak dapat pula melihat dengan jelas bagaimanakah keadaan dari lembah tersebut...

Buru-buru ia menahan larinya sang kerbau dan dalam hati berpikir keras.

"Suara apakah itu? Bilamana didengar dari terpautnya suara satu kentungan dengan kentungan yang kedua tidak mirip dengan suara dari binatang buas ...!"

Setelah termenung berpikir beberapa saat akhirnya ia meloncat turun dari punggung kerbau; dan kemudian sambil menuntun sang kerbau ia melanjutkan perjalanannya masuk ke balik kabut.

Pemandangan pada jarak dua kaki masih tak berhasil ditembusi dengan ketajaman matanya, dan bilamana di tempat yang seperti ini dibokong oleh musuh secara mendadak; mungkin sukar baginya untuk menghindari.

Setelah melakukan perjalanan beberapa saat lamanya, akhirnya ia bisa mendengar juga suara aliran air yang amat nyaring sedangkan suara kentongan itu pun kedengaran semakin nyaring.

Pada saat itulah tiba-tiba ...

"Liem Tou! Liem Tou! Kau sudah datang! Kau sudah datang!"

Kiranya suara seseorang yang sedang memanggil namanya berkumandang keluar dari balik kabut.

Suara tersebut tinggi melengking, hampir-hampir boleh dikata tidak mirip lagi dengan suara manusia.

Liem Tou yang mendengar suara panggilan tersebut dalam hati menjadi bergidik sehingga membuat bulu romanya pada berdiri semua.

"Siapa kau?"

Tanyanya sambil menghentikan langkahnya.

"Siapa yang sedang memanggil namaku?"

Berturut-turut pemuda itu mengulangi beberapa kali pertanyaan itu.

"Jangan takut! Jangan takut! Cepat masuk! Cepat masuk!"

Kembali suara tadi berkumandang keluar. Peristiwa ini sungguh aneh sekali; apakah aku telah bertemu dengan setan?"

Pikir Liem Tou diam-diam.

Tak kuasa lagi ia dongakkan kepalanya ke atas, maksudnya hendak melihat di atas kepalanya apakah ada sinar sang surya.

Tetapi apa yang dilihatnya pada saat ini hanyalah kabut yang amat tebal, empat penjuru keadaannya sama dan sama sekali tidak tampak sinar sang surya yang menembus ke dalam.

Hatinya mulai ragu-ragu, tetapi akhirnya ia melanjutkan juga langkahnya ke depan.

Cuma saja langkahnya pada saat ini sangat berhati-hati sekali sembari bergerak maju sinar matanya tidak meninggalkan keadaan di kanan kiri.

Kembali ia berjalan beberapa saat lamanya, di tengah perjalanan kembali suara aneh itu sekali lagi berkumandang keluar dan keadaannya seperti juga pada semula tidak kekurangan sepatah kata pun.

Sejak semula Liem Tou sudah merasa kalau perkataan itu tidak mungkin berasal dari suara manusia, ada juga kemungkinan bahwa suara tersebut adalah suara dari semacam burung, sehingga nyalinya semakin besar langkahnya pun semakin dipercepat.

Hanya di dalam beberapa kali lompatan saja ia sudah jauh di dalam lembah tersebut.

Saat ini dihadapannya secara samar-samar terasa ada cahaya keperak-perakan yang berkelebat keluar bersamaan itu pula di samping cahaya keperak perakan itu secara tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan hitam yang hanya di dalam sekejap saja telah lenyap pula dari pandangan.

Tetapi dengan ketajaman dari pandangan mata Liem Tou ia bisa membedakan kalau bayangan tersebut bukan lain adalah bayangan manusia.

"Siapa?"

Bentaknya secara mendadak.

Tangan kanannya yang sedang mencekal tali kerbau segera dilepaskan dan tubuhnya laksana anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur ke arah depan.

Kiranya ia bisa melihat cahaya keperak-perakan serta bayangan hitam tadi dikarenakan lingkungan kabut tebal telah tiba pada ujungnya.

Dengan luncurannya ini maka tubuhnyapun segera lolos keluar dari pengaruh kabut dan munculnya di dasar lembah.

Sebuah air terjun setinggi ratusan kaki sedang memuntahkan airnya dengan amat dahsyat pada dinding gunung di kedua sisinya merupakan sepasang dinding tebing yang amat tinggi.

Tempat itu amat sunyi dan sama sekali tak terlihat sesosok bayangan manusia pun.

Dan tampaklah dua ekor burung beo berterbangan di atas air terjun tersebut karena suara bentakan Liem Tou tadi.

"Liem Tou! kau pergi! kau pergi!"

Teriak salah seekor burung tersebut.

"Jangan takut! jangan takut! cepat masuk! cepat masuk!"

Sambung yang lain.

Melihat kecerdikan dari burung burung beo itu, Liem Tou segera merasa kalau burung-burung itu tentu sudah memperoleh didikan yang amat keras dari seseorang, karena itu ia sama sekali tidak menggubrisnya.

Sembari matanya menyapu ke sekeliling lembah tersebut, hatinya berpikir keras.

"Ooo, suatu tempat persembunyian yang sangat bagus sekali."

Ketika teringat akan suara kentungan yang didengarnya tadi, matanya segera dengan amat teliti memeriksa keadaan di sana.

Tampaklah di tengah muntahan air terjun tersebut tertancaplah sebuah tabung bambu, salah satu ujungnya tersayat jadi selembar bambu yang tipis kini telah melengkung kena terjangan air atas itu Tetapi kekuatan air sama sekali tidak dapat membuat lembaran bambu itu melengkuug terus, begitu melengkung bambu itu memental kembali dan menghantam dinding bukit, sehingga suara tung...

tung...

tung...

tadi itu segera bermunculan karena benturan bambu yang memantul menghantam dinding tersebut.

Melihat akan hal itu, Liem Tou jadi paham sehingga tak terasa sudah tertawa.

Walaupun begitu terhadap suara jeritan dan teriakan dari burung burung beo itu hatinya masih ragu-ragu; pikirnya.

"Apa mungkin ada orang yang telah menduga kedatanganku di sini?"

Kecuali suhuku Thiat Sie Sianseng, ada siapa lagi yang memiliki kepandaian ini? Dan apakah maksudnya berbuat demikian? Sungguh aneh sekali perbuatan ini!"

Hatinya benar-benar kebingungan dibuatnya, pada saat itulah kembali sinar matanya terbentur dengan beberapa kata yang terukir di atas dinding batu.

"Tempat dikuburnya Liem Tou."

Beberapa huruf amat besar sekali dan memantulkan cahaya terang dan ketika melihat tulisan tersebut, Liem Tou jadi amat terperanjat, keringat dingin pun mulai mengucur keluar dengan derasnya.

Matanya terbelalak lebar-lebar sedang mulutnya melongo-longo, lama sekali pemuda itu tak dapat mengucapkan sepatah katapun.

"Bagaimana mungkin aku Liem Tou bisa dikuburkan disini?"

Hatinya diam-diam menggerutu.

Mendadak ia teringat kembali dengan bayangan hitam yang ditemui tadi, hatinya mulai merasa ragu-ragu dan curiga karena dahulusi rajawali dari gunung Ay Lauw san, Sun Ci Si pun sering menggunakan pakaian yang serba hitam.

Dengan sinar mata yang amat tajam Liem Tou mulai menyapu sekeliling tempat itu untuk mencari bayangan hitam tersebut.

Pada saat itulah di sisi dinding tebing pemuda itu menemukan sebuah rumah terbuat dari rumput kering, dan pintunya terbuat dari bambu tapi tertutup rapat-rapat.

Buru-buru ia menggape ke arah kerbaunya, menanti sang kerbau sudah berada di sisinya ia baru berseru memberi perintah.

"Gouw ko, hajar pintu tersebut."

Sang kerbau mendengus perlahan, kepalanya ditundukkan kemudian dengan dahsyatnya menerjang pintu bambu tersebut.

Karena terjangan tersebut, kedua belah pintu itu segera terhajar hancur berantakan.

Kini Liem Tou merasa amat terkejut ketika sinar matanya dialihkan ke arah balik pintu.

Kiranya di dalam ruangan tersebut kecuali sebuah peti mati hitam, sama sekali tidaklah nampak benda lainnya.

Liem Tou segera menggeserkan badannya ke depan dan berhenti pada jarak lima kaki dan peti mati tersebut, kemudian dengan sangat telitinya memperhatikan peti mati yang terbuka separuh itu.

Hal ini membuktikan kalau peti mati itu musih kosong, hanya saja di atas peti mati itu terukirlah beberapa kata yang sama.

"Jenazah dari Liem Tou". Pada saat ini Liem Tou benar-benar amat gusar, bilamana mengikuti sifatnya pada setahun yang lalu, mungkin sekali ia pasti akan menghajar hancur peti mati itu. Tetapi setelah pikirannya berputar beberapa saat, ia tersenyum pahit. Lama sekali Liem Tou berdiri di hadapan peti mati itu untuk menanti; tetapi gerakan apa pun tidak kedengaran sehingga hatinya pun mulai merasa tawar. Tiba-tiba tubuhnya segera berputar dan bermaksud untuk meninggalkan tempat tersebut, tetapi pada saat itulah mendadak terdengar suara seorang perempuan berkumandang keluar;

"Liem Tou, ingat! Semuanya ini adalah suhumu yang mengaturkan buat dirimu!"

Liem Tou yang mendengar suara itu berasal dari balik tumbuhan rotan di atas dinding tebing dengan cepat putar badannya menghadap ke sana.

Saat ini hatinya benar-benar merasa panas karena merasa dirinya dipermainkan.

Sebenarnya mengikuti nafsu di dalam hati kepingin sekali menerjang ke arah sana tetapi terakhir ia masih bisa menahan diri juga.

"Siapa yang sedang berbicara dengan cayhe, harap sebutkan nama besarmu!"

Serunya sambil menjura ke arah dinding tersebut.

"Soal ini kau tidak perlu tahu!"

Jawab perempuan itu dengan amat tawar.

"Setahun kemudian kau bakal mengetahui sendiri asalkan saja kau jangan lupa tempat ini benar-benar tempat kuburmu. Terhadap orang lain mungkin kau tidak percaya tapi kesemuanya ini adalah jerih payah suhumu Thiat Sie cianpwee selama tiga hari tiga malam. Kau harus mempercayai perhitungan ini."

Liem Tou yang secara mendadak mendengar perkataan tersebutsegera merasakan tubuhnya tergetar amat keras, setelah menjerit tertahan ia lantas berseru.

"Apakah sungguh-sungguh ada kejadian ini? Kapan suhuku tiba di tempat ini? Kalau memangnya kau tahu kalau Thiat Sie Sianseng adalah suhu dari aku Liem Tou, maka pada tahun yang lalu sewaktu aku angkat guru di gunung Cing shia ini, tentunya kau pun hadir di sana bukan? Kenapa sekarang kau tidak suka menemui diriku?"

"Soal ini adalah urusanku, yang jelas ini hari aku tidak ingin menemui dirimu."

Liem Tou tak dapat berbuat apa-apa lagi terhadap perkataan perempuan itu, ia setengah percaya setengah tidak.

Setelah termenung sebentar akhirnya ia berpikir.

Bilamana suhu benar-benar mengetahui saat kematianku, kenapa tidak sejak semula memberitahukan kepadaku?

Sebaliknya mempersiapkan sebuah peti mati dan diletakkan di dalam lembah yang berkabut tebal ini?

Bukankah kejadian ini sukar untuk mempercayai???"

Berpikir akan hal ini Liem Tou segera gelengkan kepalanya.

"Urusan ini benar-benar membuat orang sukar untuk percaya. Lalu tahukah kau orang saat ini suhuku ada dimana?"

Katanya.

"Aku mau pergi mencari dirinya dan menanyakan apakah urusan ini sungguh sungguh atau tidak. Bilamana sungguh-sungguh, aku segera akan berbaring di dalam peti mati itu untuk menuggu saat kematian. Bolehkah kau orang memberitahukan hal ini kepadaku?"

Mendadak perempuan iiu tertawa merdu.

"Liem Tou, kau jangan bersikap ketolol-tololan, ayo cepat letakkan pedangmu itu ke dalam peti mati dan segera meninggalkan tempat ini."

"Kenapa aku harus meninggalkan pedang ini? tanya sang pemuda melengak.

"Di kolong langit mana ada bakal temanten yang menggendong pedang? Cepat pergi! Sejak semula kedua orang calon isterimu sudah menanti kedatanganmu dengan tidak sabar."

Liem Tou yang mendengar perempuan itu mengetahui seluruh urusannya bagaikan melihat jarinya sendiri, dalam hati mulaimenaruh rasa curiga, dia mengerti kalau perempuan ini tentu sangat mengenali dirinya.

Cuma saja saat itu tak terpikirkan olehnya siapakah sebenarnya perempuan itu.

Liem Tou yang mengetahui perempuan itu sama sekali tidak bermaksud jahat terhadap dirnya terpaksa meloloskan pedangnya dan balik ke sisi peti untuk meletakkan pedang itu ke dalamnya?

Sekeluarnya dari ruangan itu ia lantas meloncat naik ke atas punggung kerbau dan merangkap tangannya mejura ke arah dinding tersebut.

"Cayhe akan melakukan petunjukmu, kalau memangnya kau tidak suka menyebutkan namamu, tentunya suka memberitahukan bukan nama tempat ini serta letaknya?"

"Tempat ini bernama Uh Kok atau lembah maut,"

Jawab perempuan tersebut.

"Setahun empat musim selalu tertutup oleh kabut yang sangat tebal, letaknya seratus lie di Timur laut gunung Cing shia, asalkan kau dapat melihat sebuah puncak bukit yang sangat runcing, itulah tempatnya. Liem Tou mengingat ingat terus perkataan tersebut, setelah mengucapkan terima kasih kepada perempuan tersebut dengan melarikan kerbaunya ia meninggalsan lembah kabut itu. Senja kembali menjelang, ia sama sekali tidak beristirahat terus menjalankan kerbaunya perlahan-lahan, hatinya sedang berpikir bilamana dirinya pasti mati, lalu apa gunanya kali ini harus kembali ke gunung Cing Shia? kenapa harus mendatangkan kerepotan bagi Enci Ie serta adik Wan? Ketika gunung Cing Shia sudah muncul di hadapannya, pemuda itu mencari sebuah batu gunung untuk beristirahat, tak terasa lagi ia sudah bersemedi dengan mengikuti ajaran ilmu menenangkan hati "Ting Sim Lok", pikirannya segera dikosongkan selang aliran hawa murni disalurkan dari pusar ke seluruh tubuh; akhirnya semakin lama pikirannya semakin bersih dan berada di dalam keadaan lupa diri. Keesokan harinya dengan badan yang segar dan tenaga baru, Liem Tou berjalan ke tepi sungai untuk membenahi rambutnya yang kusut, ketika melihat pakaian yang dikenakannya telah robek-robek semua; tak kuasa lagi ia sudah bergumam;

"Bilamana enci Ie serta adik Wan melihat rupaku yang demikian dekil; entah bagaimana perasaannya?"

Tak terasa lagi ia sudah tertawa. Tiba-tiba ia teringat kembali atas diri Boe Beng Tok su serta Pouw Siauw Ling berdua, gumamnya kembali.

"Aku sudah menutup tangan di hadapan para jago Bu lim, bilamana mereka datang mencari balas, biarlah aku tidak menggubris mereka. Asalkan tindakan mereka keterlaluan, aku rasa orang-orang di kolong langit pasti akan mewakili aku untuk menyelesaikan urusan ini."

Berpikir akan hal ini, iapun lantas menuntun kerbaunya ke dalam air untuk disikat punggungnya, setelah itu dengan menunggang di atas punggung kerbau, pemuda itu baru melanjutkan perjalanannya kembali untuk melewati tiga buah rintangan bahaya menuju ke gunung Ha Mo san.

Dari tempat kejauhan dia sudah dapat melihat di tengah seberang sungai kemarin telah berdiri berpuluh orang yang menyambut kedatangannya.

Orang yang berdiri paling depan bukan lain adalah si telapak naga Lie Kian Poo vang telah menjabat sebagai Cung cu Ie Hee Cung pada saat ini.

Di sisinya berdirilah si cangkul pualam Lie Sang sedang di belakang orang itu bukan lain adalah jago-jago Bu lim kenamaan.

Pada saat ini Liem Tou mulai mencari suhunya Si Thiat Sie poa di antara orang-orang itu tetapi kecuali si pengemis pemabok serta si siucay buntung sama sekali tak nampak bayangan tubuhnya itu.

Hatinya jadi semakin tergetar keras, ia sama sekali tak mengerti apa sebabnya Thiat Sie Sianseng tidak kelihatan.

Pada waktu itulah di antara orang-orang itu terdengarlah salah seorang sudah berteriak keras.

"Liem Tou telah balik kembali ke perkampungan Ie Hee Cung untuk menyelesaikan perkawinannya ini hari, setelah melewati sungai kematian sebelum naik ke tebing maut harus memperlihatkan jurus lihai agar kami bisa membuka mata kami semua."

Liem Tou segera alihkan pandangan matanya ke arah suara tadi dan tampaklah orang yang baru saja berteriak itu bukan lain adalah seorang hweesio muda.

Liem Tou sama sekali tidak kenal dengan orang itu, tetapi dikarenakan ia berdiri di slsi Ciat Siauw Thaysu itu ciangbunjien dari Siauw lim Pay maka hatinya lantas menduga kalau hweesio itu tentunya anak murid Siauw lim Pay yang mengikuti ciangbunjiennya.

Liem Tou sama sekali tidak memberikan jawaban atas perkataan hweesio cilik itu, buru-buru ia meloncat turun dari punggung kerbaunya, dan jatuhkan diri berlutut.

"Liem Tou menghunjuk hormat buat supek!"

Serunya lantang. Dia berhenti sebentar untuk kemudian sambungrya lagi.

"Dengan mengikuti peraturan, setelah tiga tahun kini Liem Tou minta ijin untuk kembali ke gunung, harap Cung cu suka memberi ijin."

"Kembalinya Liem Tou ke gunung setelah tiga tahun mengembara di dalam Bu lim memang sesuai dengan peraturan perkampungan,"sahut Lie Kian Poo si telapak naga itu dengan suara lantang.

"Cayhe pun tidak bisa menolak tetapi di dalam tiga tahun ini kau secara diam-diam sudah beberapa kali mencuri naik ke gunung, hal ini melanggar peraturan dan harus dihukum."

Mendengar perkataan tersebut, Liem Tou merasa hatinya bergidik dan pikirnya diam-diam.

"Apakah ia masih tetap tidak memperkenankan aku kembali ke gunung? Kini aku adalah seorang manusia yang telah mengunci tangan dan bila mana suruh aku melewati tiga rintangan kembali, hal ini sungguh menyusahkan sekali."

Berpikir sampai di situ iapun lantas menjura ke arah Lie Cungcu.

"Liem Tou tahu kesalahan dan kini siap menerima hukuman dari Cung cu."

"Ha... ha... ha... Liem Tou, kau tidak usah gupup setengah mati,"

Goda si telapak naga Lie Kian Poo sambil tertawa terbahak-bahak.

"Mengingat engkau masih ada memiliki dendam sakit hati sehingga kau ingin mencuri kembali ke perkampungan adalah suatu peristiwa yang terjadi karena terpaksa, kau kini dengarlah baik baik?"

"Terima perintah!"

"Liem Tou!"

Seru Lie Kian poo melanjutkan kata-katanya.

"Asalkan kau bisa melewati ketiga buah rintangan ini maka kau akan kami terima sebagai anggota perkampungan, kedudukan cung cu akan aku serahkan padamu."

Buru-buru Liem Tou menjatuhkan diri berlutut di atas tanah.

"Perintah Cung cu aku tidak membantah tetapi kedudukan Cung cu aku tidak berani untuk menerimanya."

"Liem Tou, ini pun termasuk peraturan dari perkampungan, apakah kau berani melanggar?"

Bentak Lie Kian Poo dengan gusar.

"Tidak berani, tidak berani."

Waktu itulah si telapak naga Lie Kian Poo baru tertawa terbahak-bahak; tangannya diulapkan, mendadak berpuluh-puluh orang bersama-sama mengundurkan diri ke atas jembatan pencabut nyawa.

Liem Tou tahu semua orang itu lagi menanti dirinya mengeluarkan ilmu meringankan tubuh yang paling lihay untuk menyeberangi sungai tersebut, tak terasa lagi ia sudah dongakkan kepalanya lalu tertawa.

Tetapi pada saat kepalanya didongakkan ke atas itulah tiba-tiba matanya dapat menangkap sesosok bayangan hitam berkelebat lenyap di atas purcak Ha Mo san, bersamaan itu pula secara samar-samar tampak seekor burung rajawali munculkan dirinya di tengah udara kemudian lenyap pula di balik awan.

Air muka Liem Tou segera berubah hebat, sepintas napsu membunuhnya berkelebat di dalam benaknya.

Kini kecuali teringat akan perkataan dari si perempuan tunggal kemarin malam, pemuda itu teringat pula akan seseorang.

Kedua orang itu ada perjanjian tiga tahun dengan dirinya, dan peristiwa itupun terjadi sebelum dirinya mengunci tangan, kini mereka berdua kembali munculkan dirinya untuk melanggar janji, hal ini bagaimana mungkin tidak membuat hatinya merasa sangat terperanjat?

Tetapi setelah pikirannya berputar kembali, hati pun jadi lebih tenang.

"Sungguh memalukan!"

Gumamnya diam-diam.

"Kini mereka berdua pun sudah menunjukkan dirinya tapi kenapa aku tidak boleh turun tangan?"

Tak terasa lagi ia menarik napas dingin, sambil menghela napas panjang, gumamnya lagi.

"Urusan sudah jadi begini, masih ada cara apa lagi?"

Dengan termangu-mangu ia memandang ke tepian seberang, tampaklah berpuluh-puluh orang itu lagi menantikan ia untuk menyeberangi ketiga rintangan tersebut.

Dia pun tahu setelah ketiga rintangan tersebut dilewati maka semua orang tentu akan mengarak dirinya ke dalam ruangan besar.

Sekonyong konyong ...

di samping telinganya berkumandanglah suara seorang perempuan.

"Liem Tou, kau jangan pergi, dengarkanlah perkataanku, kau jangan pergi, aku adalah Siauw Giok Cing!"

Setelah membedakan arahnya, Liem Tou lantas tahu kalau suara tersebut berasal dari atas gunung Ha Mo san, kemarin malam pemuda ini telah melihat dirinya sedang bertempur dengan Boen Ing di tepian sungai karenanya setelah mendengar perkataan tersebut ia sama sekali tidak jadi heran.

Setelah termenung beberapa saat lamanya, terakhir dia pun menjawab dengan ilmu menyampaikan suara.

"Nona Cing, apa maksudmu datang ke gunung Cing Shia ini? Dan kenapa aku tidak boleh pergi kesana?"

"Kau tidak usah kemari, disini banyak sekali orang yang membawa maksud tidak baik khusus hendak mencari balas terhadap dirimu. Terus terang aku beritahukan kepadamu, Boen Ing serta Oei Pok pun sudah berdatangan semua. Kelihatannya mereka berdua bukan lah musuh besarmu! Agaknya Oei Poh sudah menaruh rasa menyesal sedang Boen Ing pun tidak bakal mencelakai dirimu, karena dia menginginkan yang hidup, tetapi... masih banyak sekali musuh musuhmu yang aku tidak kenal, jika ditinjau dari wajahnya, rata-rata mereka sangat buas dan kejam."

"Mereka kini bersembunyi dimana? Bagaimana mungkin kau bisa mengetahuinya dengan begitu jelas?"

Tanya Liem Tou.

"Mereka bersembunyi di ruangan tengah, ada pula yang telah menyamar dan bercampur baur dengan rakyat kampung. Aku lihat lebih baik janganlah kau pergi!"

Bagaimanakah lihaynya Cing jie, Liem Tou sudah mengetahuinya dengan amat jelas.

Di dalam dunia kangouw pada saat ini, orang yang bisa melawan dirinya boleh dikata amat sedikit sekali.

Kini, kalau ditinjau dari perkataan yang diperingatkan olehnya, Liem Tou merasa keadaan memang sangat berbahaya sekali, maka tak terasa lagi hatinya mulai goyah kacau tak karuan.

Ketika ia mendongakkan kembali kepalanya tampaklah orang-orang yang berada di seberang sana telah lama menanti, bahkan ada pula yang sudah menggape-gape ke arahnya.

Liem Tou yang melihat supeknya, si cangkul pualam Lie Sang pun sedang menggape-gape ke arahnya, tak terasa lagi ia menghela napas panjang.

"Supek ..supek!"

Batinnya.

"Kau suruh aku berbuat bagaimana baiknya?? Keadaan yang demikian bahaya dan penuh diliputi nafsu membunuh, apakah masih belum kau rasakan?"

Pada saat Liem Tou sedang berpikir untuk mengambil keputusan,kembali terdengar Cing jie mengirim suara.

"Jangan kau pergi! Lebih baik kau kembali ke lembah mati hidup sana!"

Mendengar perkataan tersebut air mukanya segera berubah, karena secara tiba-tiba ia merasa peringatan dari Cingjie ini ternyata terkandung maksud-maksud tertentu.

Ia merasa bilamana dia menerima ajakan tersebut, hal ini benar-benar sangat memalukan sekali, bagaimana nanti dirinya bisa bertanggung jawab di hadapan enci Ie serta adik Wan-nya?

Teringat akan hal tersebut, rasa murungnya kontan tersapu lenyap dari benaknya, di tengah suara tertawa tergelaknya yang amat nyaring ia meloncat naik ke atas punggung kerbau kemudian teriaknya keras;

"Sungai kematian, tebing maut, jembatan pencabut nyawa... haa... haa..."

Bersamaan ini pula ia menggerakkan tenaga murninya ke seluruh tubuh kemudian menembusi tubuh sang kerbau.

Agaknya kerbau itu pun mengerti maksud hati dari majikannya karena di tengah suara dengusan yang rendah, empat kakinya menyepak ke belakang lalu menyusup ke tengah sungai.

Orang-orang yang ada di seberang sana melihat Liem Tou hendak menyeberang tiga buah rintangan tersebut dengan menunggang kerbau, seketika itu juga suasana jadi gempar.

Mereka sama sekali tak percaya kalau kerbau tersebut bisa memiliki kepandaian yang demikian dahsyatnya sehingga dapat melewati ketiga rintangan tersebut tanpa menempel pada permukaan tanah.

Tetapi peristiwa itupun terjadi di luar dugaan mereka, karena di dalam anggapan mereka kerbau itu sewaktu tiba di air sungai tentu akan menggunakan ilmu di air untuk berenang ke seberang dan hal ini tentu tidak mengherankan.

Siapa sangka, begitu kerbau tersebut terjun ke permukaan sungai keempat kakinya laksana terbang telah melayang di atas permukaan air dengan begitu tenang dan gesitnya di atas sungai sama sekali tak tampak percikan air barang sedikit pun.

Peristiwa yang berbeda dari keadaan pada umumnya ini kontan membuat para jago dibuat berdiri termangu-mangu dengan mata terbelalak dan mulut melongo, beberapa saat kemudian suara teriakan serta pujian baru meledak membelah bumi.

Di tengah suara tepukan tangan serta pujian yang amat gemuruh itulah Liem Tou dengan menunggang kerbaunya telah berhasil melewati sungai kematian diikuti kemudian dengan meloncat naik ke atas tebing maut.

Gerakannya amat gesit laksana burung walet, begitu melayang ke tanah pun tanpa mengeluarkan sedikit suarapun sehingga hal Ini benar-benar luar biasa sekali.

Kini tinggal jambatan Pencabut nyawa saja yang belum dilewati.

Liem Tou yang kena disoraki dengan begitu meriah, rasa ingin pamer lantas saja meliputi hatinya.

"Heee... heee... biarlah aku perlihatkan sedikit kelihayanku di hadapan kalian,"

Pikirnya di hati.

Mendadak sepasang tangannya ditekan ke atas punggung kerbaunya, kemudian secara diam-diam mengalirkan hawa murninya sesuai dengan cara pengerahan tenaga menurut kitab pusaka "To Kong Pit Liok."

"Bangun!"

Bentaknya keras.

Semua orang seketika itu sedang memikirkan hendak menggunakan cara apa Liem Tou menyeberangi jembatan pencabut nyawa itu, pada waktu itulah sekonyong-konyong sang kerbau menyodorkan badannya ke tengah udara dan melayang sejauh dua puluh kaki.

Bilamana dibicarakan memang sungguh sukar dipercaya, ketika di tengah udara keempat kaki kerbau itu pun mendayung keras sehingga sang kerbau kembali berkelebat sejauh dua kaki lagi.

Para jago hampir-hampir tidak mau mempercayai pada mata mereka sendiri, karena ada yang mulai mengucak-ucak matanya, ada pula yang mengira pandangannya jadi kabur.

Karena memang Liem Tou ada maksud hendak memperlihatkan kelihaiannya, maka di tengah perjalanan mendadak sepasang tangan nya direntangkan untuk memunahkan tenaga pada tubuh sang kerbau sehingga tak kuasa lagi tubuh mereka berdua bersama-sama meluncur turun ke bawah jembatan pencabut nyawa.

Daya luncur amat cepat sekali, hanya dalam sekejap saja mereka telah jatuh sedalam puluhan kaki ke bawah.

Semua orang yang melihat perubahan terjadi begitu cepat jadi pada menjerit kaget, ada pula yang siap-siap turun tangan memberi pertolongan, siapa sangka justeru Liem Tou sengaja untuk berdemonstrasi.

Tubuhnya mencelat turun dari punggung sang kerbau dan bersembunyi di bawah lambung kerbaunya, sepasang tangannya menekan ke perut kerbau itu lalu mengangkatnya ke atas.

Bersamaan itu pula telapak kirinya sedikit menyapu kaki belakang kerbau itu lalu didorongkan keluar.

Di tengah suara dengusan suara yang sangat berat kerbau itu laksana seekor macan yang baru saja turun dari gunung menubruk ke tepian seberang.

Saat inilah hati semua orang baru merasa lega dan pada menghembuskan napas lega.

Di Waktu itulah Liem Tou sambil menuntun kerbaunya bersama-sama jatuh ke tepiau diiringi suara pujian yang riuh rendah.

Si telapak naga Lie Kian Poo dengan langkah yang tegak, buru-buru menyambut kedatangannya.

"Akhirnya kau kembali juga ke gunung, aku atas nama rakyat perkampungan Ie Hee san Cung menyambut kadatangaamu."

Lie Loo jie pun maju selangkan ke depan dan memeluk sepasang pundak si pemuda dengan penuh mesra. Tiba tiba Liem Tou mengundurkan dirinya satu langkah ke belakang kemudian bertanya;

"Supek. kenapa susiok tidak kelihatan?"

"Susiok yang mana?"

Tanya Lie Loo jie melengak.

"Bukankah Sisiucay buntung serta pengemis pemabok ada di sini?"

Liem Tou segera menggeleng.

"Yang aku maksudkan adalah Hong susiok; kemarin malam aku masih bertemu muka dengan dirinya, dia bilang malam itu juga hendak berangkat kemari untuk bertemu dengan supek; bagaimana mungkin dia orang belum tiba di sini?"

"Dia sama sekali tidak datang,"

Sahut Lie Loo jie keheran-heranan.

"Akupun sedang memikirkan jejaknya! Bilamana dia memang sudah tiba di gunung Cing Shia, hal ini jauh lebih baik lagi."

Liem Tou yang mendengar si perempuan tunggal Touw Hong belum juga tiba di sana, wajahnya yang semula tenang dengan secara tiba-tiba diliputi kemurungan.

Lie Loo jie yang melihat kejadian ini segera bertanya.

"Sutit!! Jika ditinjau dari wajahmu, agaknya kau ada pikiran di hati; ini hari adalah hari baik bagimu, Ie jie serta Wan jie pun sedang menanti kedatanganmu; sebetulnya kau ada urusan apa.. ?"

Liem Tou kembali menggeleng.

"Supek! Kenapa suhuku juga tidak kelihatan muncul di sini ... ?"

Balik tanyanya. Tampak Lie Leo jie termenung sebentar, akhirnya ia menyahut dengan suara rendah.

"Jika dibicarakan sungguh aneh sekali; selama beberapa hari ini wajah suhumu selalu murung dan bersedih hati. Dan sejak kemarin malam ia duduk bersila di depan ruangan Chie Ing Tong dan memukul pulang pergi biji-biji caturnya tanpa berhenti, jikalau ditanyai maka ia hanya menggeleng saja tanpa menjawab!!"

"Aaaakh ... !"

Seru Liem Tou tertahan, paras mukanya seketika itu juga berubah jadi pucat pasi.

"Apakah selama ini tak sepatah kata pun yang diucapkan?"

Mendadak sepasang mata Lie Loo jie berkilat, lalu mengangguk.

"Ada kalanya ia membuka suara, hanya saja yang diucapkan terbatas pada tata kata "Nasib! Nasib! Nasib!"

Siapa pun juga tidak tahu apa artinya."

"Nasib! nasib!"

Gumam pemuda itu beberapa saat lamanya. Mendadak dengan suara keras teriaknya.

"Supek, Liem Tou hanya membawa bencana saja, aku tidak ingin kawin!"

Teriakan dari Liem Tou yang secara tiba-tiba ini seketika itu juga membuat Lie Loo-jie jadi sangat terkejut, ia tidak menanyai terlebih dulu, sebab dari perkataan sang pemuda sebaliknya malah menoleh ke arah puluhan orang jago kang ouw yang menyambut kedatangan Liem Tou itu.

Dan ketiga itu mereka dengan pandangan terperanjat lagi memandangi pemuda tersebut.

Si telapak naga Lie Kian Poo yang melihat sikap Lie Loo jie amat kikuk mendadak maju dua langkah ke depan dan mencekal pergelangan tangan Liem Tou erat-erat, kemudian menariknya ke samping.

"Loo jie, bagaimanapun juga kau masih muda, bagaimana mungkin di hadapan orang banyak bicara begitu?"

Tegurnya dengan suara rendah.

"Bilamana kau bersikap demikian, bukankah memaksa supekmu tidak sanggup untuk turun dari punggung kerbau? Yang kau maksudkan sebagai bencana itu apa?"

Liem Tou yang melihat beberapa perkataannya tadi segera menimbulkan kegemparan bagi semua jago, hatinya menyesal.Sebetulnya orang-orang itu tidak mengetahui bagaimanakah tegangnya suasana pada saat ini, karenanya sikap mereka jadi kaget.

Sebaliknya Liem Tou sudah mengetahui hal tersebut dengan jelas sekali, sudah tahu bakal celaka bilamana diteruskan dan sama sekali tidak mendatangkan kebaikan buat dirinya, apalagi terhadap Lie Loo jie, Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing dan juga para jago-jago yang menghadiri perkawinan itu pun tidak ada kebaikannya!

Sehingga karena satu persoalan yang kecil dapat berubah jadi peristiwa yang nengerikan, bukankah dengan demikian Liem Tou akan menjadi seorang manusia yang sangat berdosa??

Dengan termangu-mangu ia memandang ke arah si telapak naga Lie Kian Poo, sedang di dalam hati ia berpikir.

"Bagaimana aku orang bisa memberitahukan keadaan yang sesungguhnya dari perkampungan Ie Hee San Cung ini? Bilamana aku beritahu pada saat ini merekapun belum tentu suka mempercayai!"

Mendadak di dalam benaknya berkelebat kembali pemandangan yang dilihatnya kemarin malam sewaktu ada di dalam lembah kabut, tak kuasa lagi pemuda itu jadi menghela napas panjang.

"Peristiwa ini sudah ditentukan oleh Thian, dan tidak mungkin bisa ditentang dengan tenaga manusia. Karena itulah yang dinamakan Nasib! ..."

Pikirnya di hati.

"Urusan ini pun sudah berada di dalam perhitungan suhu, kalau memangnya demikian kenapa aku Liem Tou harus menentang nasib??"

Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya ia menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya. Mendadak ia jatuhkan diri berlutut di hadapan si telapak naga Lie Kian poo, ujarnya.

"Karena salah berbicara, Boanpwee telah membuat dosa, harap Lie cung cu suka mengampuni dosa-dosa tersebut!"

Setelah menjura ia bungkam diri dan menyingkir ke samping.

Tetapi saat itulah rasa berdesir mulai berkecamuk di hatinya, seluruh tubuhnya gemetar amat keras, masih untung saja tenaga dalamnya amat lihai sehingga sekali tekan hatinya sudah dapat tenang kembali.

Ketika itulah sekonyong-konyong dari dalam perkampungan berkumandang datang suara suitan yang amat keras sekali.

Semua orang yang mendengar suara itu pada saling bertukar pandangan dengan kebingungan, karena mereka pun tidak mengetahui siapakah yang telah bersuit panjang itu.

Tetapi Lie Loo jie yang mendengar suara tersebut lantas menoleh ke arah Liem Tou dan tertawa.

"Suhumu sedang memanggil kedua orang susiokmu!"

Katanya. Perkataan itu sedikitpun tidak salah, sebentar kemudian terdengarlah si siucay buntung serta si pengemis pemabuk membentak berbareng.

"Liem Tou! Sebentar kemudian kau bakal jadi pengantin, maka itu jalanlah perlahan-lahan, kami dua orang susiokmu yang jelek ini biar berangkat dulu; sampai waktunya kau jangan lupa untuk hormati kami berdua dengan beberapa cawan arak!"

Tidak menanti jawaban dari Liem Tou lagi, tubuhnya sedikit merendah lalu menggenjotkan tubuhnya ke tengah udara dan tampaklah dua gulung asap berkelebat ke depan hanya sebentar kemudian mereka telah berlari menuju ke dalam perkampungan.

Di dalam benak Liem Tou segera terlintas satu ingatan.

"Susiok, tunggu sebentar!"

Tiba-tiba teriaknya.

Sesosok bayangan hijau dengan cepatnya berkelebat ke depan, sebelum para jago mengetahui dengan cara apa ia bergerak, tubuhnya tahu-tahu sudah ada pada beberapa kaki jauhnya untuk kemudian bersama-sama dengan Si siucay buntung serta si pengemis pemabok menuju ke dalam perkampungan.

Menanti hampir tiba di kampung tersebut maka dari kejauhan terlihatlah ruangan Ci-Ing Tong sudah dihiasi dengan lampu dan kertas warna-warni yang sangat indah.

Pintu ruangan Ci Ing Tong terpentang lebar-lebar di atas liutai terteralah beratus-ratus kaki permadani merah, hal ini menambah keindahan serta kesemerbakan tempat tersebut.

Di kedua belah sisi ruangan itu berkerumun beribu-ribu orang rakyat kampung yang sedang menantikan berlangsungnya perkawinan yang paling meriah tersebut.

Tetapi yang paling aneh adalah lima langkah di balik pintu ruangan Ci Ing Tong, duduk lah Thiat Sie Sianseng dalam keadaan bersedakep, sepasang matanya terpejam rapat-rapat.

Sebaliknya sie poa itu, terletak di pangkuannya.

Kiranya saat ini ia telah berhenti menghitung.

Ketika Liem Tou bersama-sama dengan si siucay buntung serta si pengemis pemabok tiba di hadapan ruangan Ci Ing Tong itu, mendadak rakyat kampung yang ada di kedua belah samping berseru dengan gegap gempita untuk menyampaikan selamat.

Sambil tersenyum pemuda itu buru-buru membalas hormat kemudian tubuhnya herkelebat dan jatuhkan dirinya berlutut di hadapan suhunya Thiat Sie Sianseng.

"Tecu Liem Tou menghunjuk hormat buat suhu Orang tua!"

Serunya. Siucay buntung serta pengemis pemabok yang tiba di sisi Thiat Sie sianseng pun bersama-sama bertanya dengan suara yang amat keras.

"Hey sie poa rongsokan! Ada urusan apa sehingga kau orang memanggil dengan nada begitu cemas? Apakah sie poa rongsokanmu itu kembali menemukan berita yang mengejutkan manusia dan mengerikan setan-setan?"

Dengan perlahan Thiat Sie sianseng membuka matanya, saat itu sepasang matanya sudah berubah jadi merah padam bahkan memandang ke arah Liem Tou dengan penuh cucuran air mata.

Melihat kejadian itu Liem Tou semakin terkejut lagi.

"Suhu, kau kenapa?"

Tanyanya dengan penuh kesedihan. Terlihatlah Thiat Sie sianseng hanya menggeleng, kemudian menghela napas panjang.

"Angin gelap bertiup dari empat penjuru dan sinar lilin berubah jadi asap yang padam! Potongan pedang adalah sisa magrib, kesedihan membuat air mata serta darah bercucuran. Siapa yang bisa membebaskan diri dari kesusahan ini?"

Gumamnya seorang diri.

Gunung lembah laksana bayangan, pepohonan lebat bagaikan mega, mereka saling bertumpuk bagaikan kalap, menghadap ke langit menangis tersedu-sedu ...

dua satu turun lima, bertemu dua masuk satu.

Cahaya terang Tionggoan diliputi dengan hawa pedang, yang tertinggal hanyalah jejak sang kerbau."

Liem Tou yang mendengar itu pada saat ini ia bergumam membaca syair sehingga teringat pula perkataan dari Thiat Si sianseng tempo hari yang mengatakan dirinya bakal menemui kesusahan, tak terasa lagi hatinya semakin bergidik.

"Suhu, suhu ... ! Bilamana demikian adanya apakah kesusahan tecu telah hampir tiba?"

Tanyanya berulang kali.

Jilid 41 .

Serbuan musuh di hari perkawinan THIAT SIE sianseng sama sekali tidak menjawab sebaliknya dengan perlahan ia bangun berdiri.

Sedang biji matanya berputar dan melirik sekejap kearah Liem Tou kemudian kembali menghela napas.

Si pengemis pemabok yang berada disampingnya saat ini tak tahan lagi untuk bersabar.

Tiba-tiba bentakrya keras ;

"Hey sie poa rongsokanmu sebetulnya telah mendapatkan kesimpulan apa ? cepat katakanlah pada muridmu ! Bilamana aku yang mempunyai murid seperti dia sekalipun minta nyawaku juga saya berikan kepadanya."

Thiat Sie sianseng tidak jadi tergerak hatinya, tapi dengan serius.

dia maju dua langkah kedepan lalu menoleh dan memandang kembali diri Liem Tou, agaknya dalam hati ia merasa amat sedih sakali.

Sekonyong-konyong Liem Tou teringat kembali akan kejadian yang dialaminya sewaktu berada dilembah kabut dimana ia melihat tulisan yang terukir diatas dinding tebing serta tutup peti mati, tanpa berpikir panjang lagi segera katanya .

"Suhu... suhu !"

Apakah tecu benar-benar hendak mati?".

Mendengar perkataan itu, Thiat Sie sianseng jadi amat terperanjat sekali; sepasang matanya terbelalak lebar-lebar dan memandang.kearah pemuda tersebut dengan pandangan tajam.

"Kau sudah pergi kelembah kabut ?"

Tanyanya.

Liem Tou pun mengangguk, sedang ia bermaksud untuk menceritakan kisahnya dimana tanpa sengaja dirinya sudah memasuki lembah kabut dan menemui apa yang dilihatnya didalam lembah tersebut, entah karena apa tidak terlihatlah satu senyuman terlintas menghiasi bibir seorang tua itu.

"Muridku tidak usah berkata lagi aku sudah tahu,"

Ujarnya. Sebentar kemudian senyuman itupun telah lenyap kembali, tanyanya lagi .

"Muridku, aku menghitung diriku sewaktu tiba di gunung Heng san telah memperoleh pengalanan yang aneh, apakah urusan ini sungguh-sungguh akan terjadi ?"

Liem Tou yang mendengar Thiat Sie sianseng mengungkat peristiwa yang terjadi di gunung Heng san dimana ia sudah bertemu dengan Cing jie yang berhati polos lincah dan sangat romantis itu tak kuasa lagi wajahnya berubah memerah.

Tetapi ketika dipikirkan yang dimaksudkan sebagai pertemuan aneh oleh Thiat Sie sianseng ia jadi bingung hampir hampir saja nyawanya akan lenyap bagaimana mungkin hal ini dikatakan sebagai pertemuan apa yang kau maksudkan ?

karena teecu benar-benar tidak mengerti,"

Ujarnya kemudian.

Selesai berkata dengan mata terbelalak lebar-lebar ia memandang kearah Tiat Sie sianseng dan menanti jawabannya.

Tiat Sie sianseng yang melihat Liem Tou tak dapat menjawab pertanyaannya, selintas rasa cemas serta kuatir berkelebat diatas wajahnya.

"Muridku, urusan ini sangat penting kau tidak boleh lupa !"

Serunya kembali.

"Urusan ini pun aku tidak bisa membicarakan kepadamu rahasia langit tak boleh bocor karena dirimu sama sekali tak ada gunanya; ingat ! ingat ! semua peristiwa yang dialami oleh manusia telah ditetapkan oleh Thian. bilamana kau tak berangkat ke gunung Heng-san, maka ini hari sukar bagimu untuk meloloskan diri…."

Perkataan selanjutnya tidak sampai dibicarakan tetapi dengan kecerdikan Liem Tou ia sudah mengetahui kalau perkataan tersebut sama sekali tak ada keuntungannya bagi dirinya karena itu buru-buru sambungnya .

"Petuah serta peringatan dari suhu, LiemTou tidak akan melupakannya, dikemudian hari mungkin bisa mengingatnya kembali."

Dengan perlahan Thiat Sie sianseng mengangguk lalu termenung berpikir sebentar; mendadak wajahnya jadi sedih, air matanya kembali bercucuran membasahi kelopak matanya.

Liem Tou jadi terperanjat dibuatnya, baru saja ia bermaksud untuk menanyakan sebab-sebabnya terlihatlah Thiat Sie sianseng dengan wajah keren dan serius telah bertanya kembali.

"Muridku, tentunya kau masih ingat dengan kitab pusaka yang paling aneh dikolong langit pada saat ini, Toa Loo Cin Keng bukan ???"

Mimpipun Liem ,Tou tidak pernah menyangka kalau Thiat Sie sianseng tanpa sebab bisa menanyakan persoalan ini. Kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng"

Adalah kitab pusaka milik supeknya Lie Loo jie, buat apa dia menanyakan persoalan ini? Setelah berpikir sebentar, ia baru menjawab.

"Toa Loo Cin Keng merupakan benda pusaka aliran Toen Si pay dan menjadi milik supek. Bagaimana mungkin tecu bisa melupakannya?."

"Bagus sekali! Kalau kau memang masih ingat itulah amat bagus"

Kata Thiat sie sianseng selanjutnya.

Ingat ilmu silat aliran ini sekalipun tidak bisa dibandingkan dengan kitab pusaka To Kong Pit Liok", tetapi cara berlatih tenaga.

dalam melebihi cara berlatih tenaga dalam menurut kitab pusaka "To Kong Pit Liok"

Ditambah lagi dengan perubahan jurusnya jauh lebih hebat kitab pusaka Toa Loo Cin Keng ini."

Liem Tou tidak mengetahui apakah maksud dari perkataan suhunya ini terpaksa rnengiyakan saja.

"Baiklah aku dengan kedua orang susiokmu akan berangkat terlebih dulu"

Ujar Thiat sie Sianseng lagi.

"lngat kau sewaktu menemui Iagi kitab pusaka "Toa Loa Cin Keng"

Saat itu pula kau bertemu muka kembali dengan diriku. Ingat! Ingat !"

Liem Tou yang mendengar Thiat Sie sianseng beserta susiok-susioknya sisiucay buntung serta sipengemis pemabok hendak meninggalkan tempat itu, hatinya segera tergetar amat keras.

"Suhu !"

Serunya dengan sedih.

"Kenapa pada saat ini kau hendak pergi meninggalkan kami ?"

Apakah suhu tidak tahu kalau tecu pada ini hari ….."

Berbicara sampai disitu Liem Tou tak kuasa melanjutkan kembali, buru-buru Thiat Sie sianseng menghibur.

"Muridku, kau tidak usah bersedih hati ! Suhumu bukannya tidak ingin mengikuti perayaan perkawinanmu ini, hanya saja urusan terlalu mendesak, salah jalan setindak saja, pasti bakal mendapatkan penyesalan dikemudian hari; apalagi aku tinggal disini pun tiada gunanya, Muridku ! Tentunya kau mengerti maksud dari perkataan suhunmu ini bukan ?"

"Liem Tou hanya setengah mengerti dan setengah tidak, pikirannya teringat kembali sebentar lagi bakal menemui musuh tangguh, bukankah lebih banyak orang, kekuatannya semakin besar ? Kenapa tidak ada gunanya ?"

Berpikir akan hal ini biji rnatanya lantas berputar baru saja ia bermaksud untuk berbicara siapa tahu Thiat Sie Sianseng jauh lebih cepat dari padanya. Buru-buru ia goyangkan tangannya.

"Muridku kau tak usah berbicara lagi,"

Katanya.

"Maksud hatimu aku sudah memahaminya…."

Mandadak ia ganti bahan pembicaraan, ujarnya mendadak .

"Ooow yaaa , Hampir-hampir saja aku melupakan satu urusan. Apakah kau masih mempunyai seorang susiok ?"

Liem Tou yang mendengar pertanyaan itu kontan saja teringat olehnya akan si perempuan tunggal Touw Hong buru-buru sahutnya dengan camas.

"Benar ! Dia bukan lain adalah si perempuan tunggal Touw Hong yang pernah suhu temui tempo hari. Dan baru saja kemarin malam kami bertemu muka !"

"Ada kemungkinan pada saat ini dia sudah berada diujung langit karena aku hanya bisa rnenghitung dia berada diujung langit tempat mana yang sebenarnya aku sendiri juga tidak tahu."

Hati kecil Liem Tou segera terasa seperti dipukul dengan martil besar, lama sekali ia berdiam termangu-mangu tak sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun.

Dan dengan kesempatan itulah Thiat Sie sianseng sisiucay buntung serta sipengemis pemabok telah pergi tujuh delapan langkah dari dirinya.

Liem Tou yang berdiri termangu mangu di sana seketika itu juga merasakan darah panas bergolak didalam dadanya, ia tidak mengerti bagaimanakah rasanya pada saat itu.

Mendadak selintas napsu mernbunuh berkelebat diatas wajahnya, hal ini membuat seluruh tubuhnya gemetar dengan amat keras sekali .

"Suhu !"

Teriaknya tiba-tiba.

Suara tertahan ini terasa bernadakan sedih yang membawa kekerasan tanpa ia sadari napsu membunuh yang terlintas dihatinyapun sudah disalurkan keluar.

Sisiucay buntung serta si pengemis pemabok yang merasa wajah Liem Tou sangat aneh tak kuasa lagi pada menjerit kaget dan menoleh kearahnya.

Sebaliknya Thiat Sie sianseng tetap meIanjutkan Iangkahnya kedepan tanpa menoleh barang sedikitpun, baru saja suara jeritan kaget dari sisiucay buntung serta pengemis pemabok sirap dari udara mendadak tubuhnya yang gemuk pendek berputar ditengah udara laksana putaran angin taupan, ujung kakinya memutar permukaan tanah lalu melayang ke hadapan Liem Tou.

Tanpa membedakan hijau atau merah lagi tangannya melayang memerseni beberapa tamparan diatas pipi sang pemuda.

"Plaak ploook ..plook !"

Suara nyaring segera bergema memenuhi angkasa. Seketika itu juga pipi Liem Tou jadi merah membengkak oleh tamparan yang amat keras.

"Liem Tou !"

Bentaknya dengan suara yang amat keras.

"Masih ingatkah kau dengan kata-kata sumpah yang kau ucapkan sewaktu mengunci telapak tanganmu? bilamana ini hari mengumbar napsumu untuk membunuh maka seluruhnya akan habis sudah, Liem Tou, ingat bagaimanapun juga ini hari kau harus bersabar."

Berbicara sampai disini, pada akhirnya Thiat Sie sianseng merasa tenggorokannya seperti tersumbat, tak tertahan lagi isak tangis terdengar keluar dari mulutnya.

Dengan sabar dan penuh kasih la mambelai pipi pemuda yang masih membengkak itu.

Terhadap Thiat Sie sianseng suhunya ini Liem Tou menaruh rasa hormat bagaikan dewa, maka buru-buru ia menundukkan kepalanya dan mohon ampun.

"Tecu tidak patut berkata demikian sehingga hampir-hampir melanggar kata-kata sumpah, tecu mengucapkan terima kasih atas budi kebaikan suhu,"

Serunya.

Waktu bicara sampai disitu tiba-tiba dari sisi tubuhnya terasa sambaran angin berlalu buru-buru ia mendongakkan kepalanya, Tampaklah saat itu Thiat Sie sianseng si-siucay serta sipengernis pemabok telah pergi jauh dan kebetulan bertemu muka dengan para jago yang sedang menuju kedalam perkampungan.

Lie Loo jie yang melihat mereka bertiga buru-buru hendak meninggalkan tempat itu, agaknya di dalam hati merasa amat, terkejut bercampur keheranan, maka ia buru-buru menahan mereka untuk tetap tinggal disana.

Bagi sisiucay buntung serta si pengemis pemabok masih tidak mengapa, tetapi Thiat Sie sianseng sebaliknya kukuh hendak berlalu dari sana.

Lie Loo jie yang melihat sikapnya yang kukuh itu hatinya jadi tidak senang, tetapi ia, pun tidak berhasil menahan mereka, karena terpaksa si orang tua itu melepaskan mereka bertiga untuk berlalu dari sana.

Diatas mulut sisiucay buntung serta si pengemis pemabok sama sekali tidak menaruh hormat terhadap Thiat Sie siangseng, padahal sebetulnya dalam hati mereka sangat menghormati dirinya mereka yang mengetahui kalau urusan ini tentu penting sekali sehingga membuat Thiat Sie siarseng begitu tenang oleh karena itu dengan hati yang sabar diikutinya saja kernana sigemuk pendek itu bendak pergi.

Lie Loo-jie pun tidak mengetahui diantara Liem Tou, serta Thiat Sie sianseng bertiga sudah terjadi apa dengan disertai Liong ciang Lie Kilan Poo buru-buru mereka berjalan menuju kehadapan Liem Tou.

Terlihat oleh mereka pada saat itu Liem Tou sedang berdiri termangu-mangu tanpa bergerak sedikitpun.

Suasana diluar ruangan Ci Ing Tong itu pun seketika itu juga jadi sunyi senyap mereka pada mengalihkan pandangannya kearah pemuda tersebut.

Lie Loo jie yang melihat sikap Liem Tou sedikit agak aneh dengan menekan rasa ketidak senangan dihatinya ia bertanya dengan suara yang sangat halus.

"Sutit kenapa suhu serta susiokmu pergi semua ? Apakah kau menaruh rasa tidak hormat terhadap mereka ?"

Bagaikan baru saja terbangun dari impian, buru-buru pemuda itu menggeleng.

"Sutit sama sekali tidak menaruh rasa tidak hormat terhadap suhu serta susiok sekalian, hanya saja mereka ada urusan penting yang harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini."

Si telapak naga Lie Kian Poo yang melihat disana tak ada urusan lagi, sedang kepergian dari Thiat Sie sianseng sekalipun tidak mungkin bisa dikecam kembali, segera menoleh kearah Lie Loo jie dan katanya.

"Ini hari adalah hari bagus, cianpwee lebih baik mengundang para tetamu untuk memasuki meja perjamuan. Biarlah aku menemani Liem Tou untuk masuk kedalam perkampungan berganti pakaian."

Lie Loo jie segera mengangguk kepada Liam Tou ujarnya.

"Enci le serta adik Wan mu sudah ada setahun lamanya menantikan ketanganmu cepatlah kau mengikuti Lie Kian Poo untuk berdandan dan segera melangsungkan perkawinan !"

Selesai berkata ia lantas puter badan dan menuju kearah para tamu.

"Supek !"

Tiba-tiba Liem Tou berseru sewaktu dilihatnya orang tua itu hendak berjalan pergi.

Saar ini hatinya benar-benar merasa amat tegang dan dia tahu dengan kepergiannya ini maka kesempatan baginya untuk, bercakap-cakap pun harus menanti upacara perkawinan selesai.

Lie Loo jie dengan perlahan putar badannya, tetapi sewaktu dilihatnya wajah pemuda itu berubah pucat-pasi dan sikapnya sangat aneh alisnya segera dikerutkan rapat-rapat.

"Sutit ! Kau masih ada urusan apalagi?"

Tanyanya. Liem Tou ragu-ragu sebentar, akhirnya ia menjawab .

"Supek !, Sewaktu diadakannya upacara perkawinan nanti janganlah lupa untuk menggembol senjata dibadan. Bahkan suruh juga enci Ie serta adik Wan pada menggemtol senjata tajam."

Lie Loo jie yang mendengar perkataan tersebut jadi keberanan dibuatnya.

"Sutit ! Apakah maksud dari perkataanmu itu?"

Tanyanya.

"Dikolong langit mana ada temanten yang membawa senjata tajam untuk mengadakan upacara perkawinan? Hal ini akan dijadikan bahan geguyon bagi orang-orang dikolong langit nanti."

"Supek, kau tidak tahu…"

Seru sang pemuda sambil menggeleng dengan sedihnya.

Baru saja ia hendak menceritakan kisah munculnya dan tersebarnya musuh-musuh tangguh disekeliling gunung Ha Mo san ini, mendadak terdengar para rakyat kampung Ie Hee San cung yang telah berdiri disebelah sisi ruangan Cie lng Tong sudah pada berteriak keras.

"Liem Tou! Liem Tou ! Saat hari bagus hampir tiba, cepatlah berganti pakaian dan siap-siap untuk menjalankan upacara perkawinan diruang tengah". Si ‘Liong clang’ Lie Kian Poo pun merasa hatinya rada cemas, buru-buru la menarik tangan sang pemuda untuk diajak berlalu dari situ. Liem Tou yang melihat akan hal tersebut baru tahu bahwa nasib tidak bakal dirintangi dengan kekuatan manusia, ia menghela napas panjang dan tidak terbicara lagi. Dengan mengikuti Lie Kian Poo pemuda itu berjalan masuk kedalam sebuah ruangan untuk ganti dengan pakaian yang sudah dipersiapkan itu. Tidak lama kemudian dari tengah ruangan Ce Ing Tong mulai bergema suara tambur serta terompet yang dibunyikan ramai untuk mengiringi masuknya sang pengantin kedalam ruangan untuk menjalankan upacara. Buru-buru Lie Kian Poo menyampaikan beberapa patah kata ,tentang tata cara diruangan tengah nanti, kemudian baru menarik tangan Liem Tou untuk diajak jalan keluar. Didalam hati sang pemuda pada saat itu benar-benar amat kacau dan kebingungan, wajah gembira yang seharusnya diperlihatkan, saat ini telah tersapu lenyap dan berganti dengan wajah yang amat kucal dan murung. Dengan mengikuti dibelakang tubuh Lie Cung cu selangkah demi selangkah sang pemuda berjalan memasuki ruang upacara. Dia orang sama sekali tidak takut terhadap bencana yang bakal menimpa dirinya, tetapi sebaliknya karena merasa takut kalau dia telah mengundang bencana yang mangerikan bagi seluruh rakyat Ie Hee san cung karena bilamana hal ini benar-benar terjadi, sampai mati pun ia pasti akan menyesal. Ketika Liem Tou berjalan sampai ditengah perjalanan; dari dalam ruangan Cie, lng Tong mulai meledak suara selamat yang gegap gempita. Kebanyakan suara tersebut berasal dari rakyat perkampungan Ie Hee San cung yang sedang menyambut kedatangan Liem Tou. Tetapi suara tertawa yang ramai dan ucapan selamat itu bagi Liem Tou sendiri terasa hatinya bagaikan tertusuk dengan beribu-ribu batang golok. Hatinya sangat tidak tenang. Pada saat itulah mendadak dari samping, telinga sang pemuda kembali berkumandang suara helaan napas yang amat sedih disusul dari Cing jie yang perlahan dan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara berkumandang masuk.

"Liem Tou. aku sama sekali tidak menaruh maksud jahat terhadap dirimu. Tadi aku sudah nasehati dirimu janganlah kesana kenapa kau tetap kukuh? baiklah aku tunjukkan sesuatu kepadamu coba kau tolehkan kearab sebelah Timur. Mendengar perkataan Liem Tou berhenti dan rnenoleh kearah timur tampaklah diatas puncak pada waktu itu sudah berdiri sejajar empat orang berbaju hitam dengan angkernya mereka ternyata begitu bernyali dan tanpa mengandung rasa jeri sedikitpun juga telah memperlihatkan diri .

"Sekarang kau tolehkan kearah hutan dibelakang perkampungan. Dan tengok pula ketengah udara,"

Seru Cing jie kembali.

Jarak antara hutan dengan perkampungan itu amat dekat sekali pandang saja Liem Tou dapat menangkap dari antara ceIah pepohonan telah muncul kurang lebih dua puluhan orang jagoan.

Hatinya jadi berdesir, karena saat ini ia mulai kalau orang itu adalah jagoan dari partai Kiem Tian Pay.

"Baiklah !"

Pikirnya kemudiian.

"Aku sudah dua kali mengampuni mereka, mereka masih juga tidak tahu malu dan terus menerus mencari gara-gara dengan diriku. Kali ini aku harus hajar mereka sampai hancur lebur!"

Kepalanya dengan perlahan menengadah keatas, tampaklah dua ekor burung rajawali raksasa dengan gagahnya terbang kian kemari.

lapun sadar bila burung-burung itu adalah burung piaraan dari Thian Pian siauw cu.

Kini ia mulai merasa bila bencana bagi dirinya tak bakal terhindar lagi menimpa diri enci Ie, adik Wan serta seluruh rakyat perkampungan Ie Hee San Cung.

Si telapak naga Lie Klan Poo yang melihat Liem Tou ragu-ragu untuk melangkah maju kernbali menariknya supaya berjalan lebih cepat Iagi.

Liem Tou terdesak akhirnya sambil menggigit bibir dengan langkah yang cepat ia berjalan masuk kedalam ruangan Cie Ing Tong dibawah sorakan rakyat perkampungan le Hee Son Cung serta tambur dan terompet yang gegap-gempita.

Acara perkawinan segera akan dimulai di dalam ruangan.

Liem Tou langsung berjalan menuju ketengah-tengah ruangan dimana kedua orang pengantin perempuan telah rnenanti disisi meja upacara.

Setelah pertemuan sebentar mereka bertiga bersama-sama menuju kedepan meja sembahyang untuk mulai menjalankan upacara.

Pada waktu itu mendadak sitelapak naga Lie Kian Po dengan wajah penuh senyuman berteriak keras .

"Tunggu sebentar ! Cayhe ada sepatah dua patah kata yang hendak diutarakan terlebih dahulu. Atas kecintaan dan penghargaan dari para cianpwee dua golongan Pouw dan Lie, aku Lie Kian Po telah meneruskan jabatan sebagai Cung cu dari tangan Ang In Sin Pian selama setahun tiga bulan lamanya. Cay he merasa bahwa hal ini merupakan suatu tugas yang maha berat dan tak mungkin bisa dilaksanakan dengan baik oleh aku orang she Lie."

"Kini Liem Tou sudah kembali kedalam perkampungan, bahkan ia berhasil pula melewati ketiga buah rintangan alam itu dengan sempurna. Lagipula bukan begitu saja ia pun memiliki kepandaian silat yang maha dahsyat karena itu menurut peraturan perkampurgan, jabatan Cung cu harus dibebankan pada dirinya. Baiklah ! Mulai saat ini juga jabatan Cung-cu dari perkampungan le Hee san cung aku serahkan pada diri Liem Tou untuk menjabatnya !"

Parkataan dari si telapak naga Lie Kian-Poo diucapkan dengan amat nyaring dan ceng li, hal ini membuat Liem Tou sulit untuk menampik.

Suara tepukan tangan serta sorak sorai dari seluruh rakyat perkampungan dengan cepatnya meledak dan menggetarkan seluruh angkasa.

Ditengah tiupan terompet serta pukulan genderang yang amat ramai, berpuluh-puluh orang jagoan kangouw yang datang mangikuti upacara perkawinan mulai maju kedepan memberi selamat kepada Liem Tou.

Suasana.

didalam ruangan Cie lng Tong telah dipenuhi dengan suasana kegembiraan, mereka sama sekali tak ada yang merasa bila jantung sang pamuda pada waktu itu berdebar amat keras, ia hanya berharap bencana tersebut jangan cepat-cepat berlangsung dan upacara inipun cepat-cepat selesai.

Matanya melirlk sekejap kearah Lie Siauw le serta sigadis cantik pengangon kambing yang berdiri dikanan kirinya sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah mereka tak berbicara dan tidak bergerak.

Bilamana mengikuti nafsunya yang sudah tak sabaran lagi, kepingin sekali dia menyambar kedua orang ini untuk dibawa lari kedalam gunung dan bercakap-cakap sepuasnya.

Tetapi hal ini tak mungkin bisa dilakukan, perkawinan ini adalah ia sendiri yang menyanggupi bahkan ada pula suhunya Thiat Sie poa sebagai saksi sekalipun ini baru terjadi bencana yang lebih besar pun ia harus menerimanya dengan hati terbuka karena suhunya pernah berkata kalau itu adalah ,NASIB!"

Sewaktu suasana sedang ramai-ramainya itulah mendadak suara tertawa seram yang sangat mengerikan berkumandang datang memenuhi ruangan.

Munculnya suara tertawa yang mendadak itu kontan saja membuat semua orang jadi tertegun dan memandang kearah orang itu dengan termangu-mangu.

Tak seorang pun diantara mereka yang mengenal siapakah orang itu !

Tampak orang itu perlahan-lahan melepaskan topeng yang dikenakan kemudian sambil menyapa keseluruh ruangan kembali dia memperdengarkan suara tertawa yang amat menyeramkan.

"Aaakh! Pouw Siauw Ling!"

Suara teriakan kaget segera bermunculan dari empat penjuru., Liem Tou yang mendengar disebutnya kata-kata Pouw Siauw Ling hatinya merasa tergetar amat keras.

Bukannya dia menaruh rasa jeri terhadap dirinya tetapi justru dengan munculnya orang itu berarti pula bencana sudah tiba didepan mata.

Hatinya benar-benar kuatir atas keselamatan dari Lie Siauw le serta sigadis cantik pengangon kambing serta seluruh rakyat perkampungan le Hee San Cung tetapi pada waktu ini adalah seorang pengantin bagaimana pun juga tak leluasa baginya untuk melakukan sesuatu tindakan.

Suara tertawa dari Pouw Siam Ling yang amat seram itu semakin lama semakin meninggi mendadak tertawa dengan wajah yang berubah menghijau bentaknya keras.

"Liem Tou! kembalikan batok kepala ayahku!"

Lem Tou sama sekali tidak menggubris atas bentakan dari Pouw Siauw Ling itu dalam hati ia cuma mengingat-ingat terus perkataan terakhir dari suhunya sesaat meninggalkan dirinya.

"Liem Tou, masih ingatkah dirimu akan sumpah yang pernah kau ucapkan menjelang mengunci tangan ? bilamana ini hari kau mulai dengan suatu pembunuhan maka kau bakal habis. Ingat Liem Tou ? bagaimanapun juga kau harus lewatkan hari ini"..Teringat akan perkataan itu perlahan-lahan ia menoleh kearah Lie Siauw serta si gadis cantik pengangon kambing.

"Enci Ie, adik Wan waspada ! peringatan ini hari diempat penjuru ruangan ini sudah bermunculan musuh-musuh tangguh, nanti kalian harus baik-baik melindungi diri kalian sandiri dan jangan sekali-kali menggubris diriku. Begitu perkataan dari pemuda itu diucapkan keluar, serentak Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing menjerit kaget, tubuhrya gemetar amat keras. Dengan cepat mereka berdua pada melirik sekejap kearah sang pemuda, saat ini Liem Tou telah berubah jadi tenarg kembali wajahnya yang tampan memancarkan cahaya berkilat bibirnya tersungging satu senyuman manis agaknya ia sama-sekali tidak gubris terhadap muncuInya musuh tangguh dihadapan mata. Si gadis cantik pengangon kambing yang usianya rada lebih muda dan kini sedang menjadi pengantin malu untuk berkata sebaliknya Lie Siauw le yang lebih tua buru-buru berseru.

"Adik Tou legakanlah hatimu. Kami sudah tahu. Tetapi kau telah mengunci tangan. Engkoh tahu kau harus baik-baik berjaga diri."

Liem Tou hanya tersenyum saja mulutnya tetap membungkam.

Pow Siauw Ling yang melihat perkataannya sama sekali tidak digubris oleh Liem Tou hatinya benar-benar dibuat amat gusar.

Selangkah demi selangkah ia berjalan rnerdekati sang pemuda itu.

Sitelapak naga Lie Kan Poo yang berdiri disamping walaupun merasa amat terperanjat mellhat munculnya Pouw Siauw Ling secara mandadak itu tetapi bagaimanapun juga ia adalah seorang jagoan yang memiliki pengalaman luas, hatinya sama sekali tidak jadi gugup.

Dengan kecepatan bagaikan kilat ia meloncat kedepan Pouw Siauw Ling dan menghadang jalan perginya.

"Pouw Siauw Ling setahun tak bertemu, apakah kau masih kenal dengan aku sitelapak naga Lie Kian Foo?"

Tegurnya. Pouw Siauw Ling yang dihalangi jalan perginya segera merandek.

"Hee .. hee ..Lie Kian Poo ! Kau masih punya muka untuk menemui diriku?"

Balas sindirnya. Bagaimanapun juga "Si Liong Ciang"

LieKian Poo adalah seorang lelaki sejati yang berhati halus.

Mendengar perkataan yang sama sekali tak kenal sopan itu, wajahnya kontan berubah jadi merah padam dan akhirnya berubah jadi pucat pasi.

Ia benar-benar terkesima buatnya.

"Pouw Siauw Ling !"

Bentaknya kemudian dengan suara yang keras laksana sambaran geledek.

"Kedatanganmu kesini untuk mencari balas terhadap diri Liem Tou dan aku tidak ikut campur, tetapi kau jangan lupa dengan kadudukanmu. Aku pernah berbuat salah apa terhadap dirimu sehingga kau menaruh rasa gusar terhadap aku orang she Lie ?"

Rakyat perkampungan Ie Hee San Cung yang berdiri dikedua belah sisi ruangan Cie Ing Tong, sejak tadi sudah merasa tidak senang melihat munculnya Pouw Siauw Ling yang mengganggu jalannya upacara, kini mendengar ia bertindak tidak sopan pula terhadap cung-cu mereka.

Tak kuasa lagi dalam hati merasa semakin gusar.

"Usir dia turun dari gunung. Binatang itu kurang ajar sekali, lemparkan dia kedalam jurang !"

"Betul ! usir dari perkampungan !"

"Usir dia dari gunung dan pecat dari keanggotaan kampung !"

Suara teriakan teriakan marah dari rakyat yang ada disana tak tertahan lagi segera meledak suara bentakan gusar yang gegap gempita memecahkan kesunyian dan memekik laksana membelah bumi.

Pouw Siauw Ling segera dongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.

Mendadak ia merobek hancur pakaian luar yang dikenakannya itu sehingga muncullah jubah hitam yang didepan dadarya terukir sebuah patung arca yang berwarna kuning emas.

Dengan sombong putra Ang In Sin Pian ini menyapu sekejap keseluruh ruangan, lagaknya seperti disana tak ada orang manusiapun.

Hong tiang (ketua ) dari partai Siauw lim pay Ciat Siuw Siansu yang melihat lagaknya itu tidak bisa menahan sabar lagi; perlahan-lahan ia meninggalkan tempat duduknya dan melangkah kedepan.

Belum sempat hweesio itu mengucapkan kata-katanya, mendadak terdengar Pouw Siauw Ling kembali memekik keras.

"Lie Kian Poo!"

Teriaknya setengah menjerit.

"Kau"bajingan durhaka, penghianat terkutuk; Aku tak akan membiarkan kau hidup lebih lama lagi!". Begitu perkataannya selesai diucapkan, tubuhnya menubruk kedepan, sedang telapak tangannya dengan mengeluarkan ilmu "Kioe lm Tong Ci Loe Han Kang"

Nya yang lihay rnenghajar kedepan. Segulung angin pukuIan berhawa dingin"

Dengan cepatnya menyambar dada Lie Kian Poo.

Lie Kian Poo yang mempunyai julukan sebagai si telapak naga, sudah tentu ilmunya yang paling diandalkan adalah pukulan telapaknya.

Melihat serangan Pouw Siauw Ling yang datangnya secara mendadak ini, seketika itu juga membuat dia jadi gusar.

Tubuhnya maju selangkah kedepan; tangannya bersama-sama didorong kedepan rnenyambut datangnya serangan tersebut.

Tenaga dalam yang dimiliki Pouw Siauw Ling pada saat ini sudah memperoleh kemajuan yang pesat, mendadak tampak dia orang membuyarkan serangan yang didepan; tubuhnya Iaksana sambaran kilat tahu-tahu sudah berputar kebelakang punggung Lie Kian Poo.

Sitelapak naga Lie Kian Poo yang melihat serangannya mencapai sasaran yang kosong dalam hati sudah mengerti kedaan sangat berbahaya.

"Tahan"

Terdengar suara bentakan keras dari Ciat Stauw Siansu itu Hong tiang dari partai Stauw lim-pay tubuhnya dengan cepat meloncat maju kedepan.

Pouw Siauw Ling mendengus dingin.

Laksana kilat cepatnya ia mengirim satu pukulan dahsyat keatas punggung sitelapak naga.

"Suara jeritan ngeri, dari sitelapak naga Lie Kian Poo berkumandang memenuhi seluruh ruangan, tubuhnya dengan sempoyongan maju tiga langkah kedepan lalu rubuh keatas tanah. Ia muntahkan darah segar dengan derasnya. Bagaimapun Ciat Siauw siansu yang berusaha turun tangan menolong terlambat setindak kini jaraknya tinggal beberapa kaki saja dari Pouw Siauw Ling. Ditengah suara bentakan yang keras laksana sambaran geledek disiang hari bolong telapaknya dengan dahsyat berkelebat membabat keatas batok kepala Pow Siauw Ling. Pouw Siauw Ling yang merasa adanya sambaran angin dibelakang tubuhnya, buru-buru tutulkan ujung kakinya keatas permukaan tanah lalu meloncat ketengah udara. Dengan gesitnya ia berhasil menyingkir dari datangnya angin pukulan dahsyat si Ciat Siauw Siansu itu. Ciat Siauw Siansu bukanlah manusia lemah, ia bisa menjabat sebagai Hong tiang dari partai Siauw lim-pay tentu telah mendapatkan seluruh ilmu silat aliran Siauw-lim pay. Dengan gusarnya mendengus, telapak tangannya berturut-turut melancarkan tujuh, delapan buah serangan dengan menggunakan ilmu telapak "Siauw Lim Sah Cap Lok Hu Mo Ciang Hoat"

Atau tigapuluh enam jalan penduduk Iblis.

Angin pukulan menderu-deru, setiap serangannnya mengancam jalan darah berbahaya di tubuh Pouw Siauw Ling.

Tetapi putera Ang In Sin Pian ini dengan gerakan yang lincah berhasil meloloskan diri dari setiap ancaman bahaya.

Hanya didalam sekejap, mata dua puluh jurus telah bertalu dengan cepatnya.

Ciat Siauw Siansu yang melihat serangan gencarnya sama sekali tidak mendatangkan hasil, hatinya jadi cemas bercampur murung; tidak terasa pula serangannya jadi rada kendor.

"Hey hweesio tua. kau cari mati !"

Mendadak Pouw Siauw Ling membentak keras.

Gerakan tubuhnya tiba-tiba berubah, sepasang telapak tangannya laksana titiran air hujan dengan serangan yang paling keji dan buas balas menggencet Ciat Siaw Siansu.

Hweesio itu jadi terkesirna, ia sudah merasa dirinya tidak bakal menangkan orang itu apalagi setelah melihat serangan dari Pouw Siauw Ling yang laksana sambaran kupu-kupu sebentar kesana sebentar kemari menghajar jalan-jalan pentingnya, ini membuat dia jadi semakin gelagapan.

Hanya didalam sekejap mata Ciat Siauw Siansu sudah terdesak hebat wajahnya yang samula berwarna merah padam kini telah berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat.

Pada saat yang amat kritis itulah mendadak ...

"Siansu jangan gugup pertahankan sekuat tenaga biarlah aku bereskan bangsat ini!"

Suara bentakan dari Lie Loo jie berkumandang keluar.

Baru saja suara bentakan dari Lie Lao jie keluar dari balik bibir diantara tetamu undangan mendadak tampak dua sosok bayangan manusia berbuat maju terlebih dulu menubruk kearah Pouw Siauw Ling.

Mereka adalah Lam Yang Jie Kongcu putra dari Lam Yang it Kiam sahabat karib Lie Loo jie.

"Supek jangan cemas biarlah siauw tit sekalian mewakili dirimu untuk bereskan mereka,"

Teriak Toa Kongcu dengan suara keras.

Di tengah teriakan yang amat keras mereka berdua segera melayang turun kehadapan Ciat Siauw siansu dan pada waktu yang sama pula pedangnya sudah dicabut keluar, kemudian bersama-sama melancarkan serangan dahsyat kearah depan.

Lie Loo jie yang melihat munculnya Lam Yang Jie Kongcu untuk menyambut datangnya serangan musuh walaupun dalam hati mengerti kalau mereka berdua bukan tandingan dari Pouw Siauw Ling, tetapi iapun masih tidak ingin turun tangan sendiri.

Maka itu dengan pandangan gusar ia melototi diri Pouw Siauw Ling.

Waktu ttu keadaan Ciat Siauw siansu benar-benar amat berbahaya bilamana tidak ditolong lagi nyawanya tentunya bakal habIs diatas telapak putera dart Ang In Sin Pian itu.

Lam Yang Jie Kongcu yang bersama-sama mencabut keluar pedangnya untuk melancarkan serangan kearah Pouw Siauw Ling, belum berhasil menolong hweeshio dari Siauw lim pay itu lolos dari bahaya, mendadak dari sisi tubuhnya berkumandang datang suara tertawa dingin yang amat menyeramkan.

"Heeee . heee . , . cari mati !"

Suara tersebut yang amat dingin dan seram membuat setiap orang yang mendengar merasa hatinya bergidik.

Lie Loo jie jadi amat terperanjat, belum lagi tubuhnya bergerak maju kedepan mendadak dihadapannya berkelebat cahaya hitam yang menyilaukan mata disusul suara jeritan kaget dari Lam Yang Jie Kongcu.

Dengan cepat ia alihkan pandangannya ke depan.

tampaklah seorang yang berbadan sebagai rakyat kampung dengan menyekal sebilah pedang hitam yang menyilaukan mata telah berhasil membabat putus pedang panjang dari Lam Yang Jie Kongcu.

Lie Loo jie segera mengetahui asal usul darl pedang itu, hatinya jadi amat terperanjat, kakinya sedikit menutul permukaan tanah lalu laksana tiupan angin berlalu dia menggulung kearah depan.

Tetapi gerakannya kembali terlambat ..,.suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema memenuhi angkasa, tubuh Lam Yang Jie Kongcu sudah rubuh keatas tanah dengan bermandikan darah.

Kedua jeritan ngeri tadi hampir-hampir saja meledakkan hati Lie Loo jie seketika itu juga ruangan upacara perkawinan berubah jadi medan pejagalan yang yang mengerikan.

Suasana dalam ruangan Cie Ing Tong kacau-balau, rakyat kampung Ie Han San Cung pada melarikan diri terbirit-birit.

Waktu ini Lie Loo jie tak ada perhatian lagi untuk mengurus rakyat kampung le He, San Cung yang kacau balau.

kini dia hanya memperhatikan pedang hitam yang bagaikan samberan ular beracun serta angin pukulan Pouw Siauw Ling yang menderu-deru mendesak Ciat Siauw sianseng kepojokan tembok sehingga keadaannya sangat berbahaya sekali.

Lie Loo jie tak bisa berdiam diri lagi ia salurkan hawa murninya keseluruh tubuh kemudian meloncat maju kedepan.

"Pouw Siauw Ling kau berani!"

Suara bentakannya ini keras sekali bagaikan sambaran geledek disiang hari bolong membuat Pouw Siauw Ling jadi sangat terperanjat.

Pada saat itulah Lie Loo jie sudah menubruk datang, sepasang telapak tangannya dengam menggunakan jurus.

"Jie Lang Tan San"

Atau Jie-lang memikul gunung yang kiri menangkis serangan pedang hitam sedangkan tangan yang kanannya membabat tubuh Pouw Siauw Ling.

Pouw Siauw Ling yang merasa dari belakang tubuhnya menyambar datang segulung angin pukulan dahsyat.

Buru-buru meloncat ke samping untuk menghindar.

Mengambil kesempatan itu Ciat Siauw siansu menarik napas panjang-panjang, tubuhnya melayang mundur sejauh lima langkah kebelakang.

Walaupun begitu napasnya sudah ngos-ngosan sedangkan matanya melotot bulat-bulat.

Pouw Siauw Ling yang melihat Lie Loojle berhasil menolong Ciat Siauw siansu lolos dari bahaya, ia segera tertawa tiada hentinya.

"Kauw-cu !"

Serunya. Lebih baik kita bereskan dulu anjing tua ini !"

Tangannya dibalikkan mencabut keluar cambuk Pek Kut piannya kemudian dengan disertai sambaran angin tajam menyapu kedepan.

Kiranya orang yang mencekal pedang hitam itu bukan lain adalah Sin Beng Kauw cu Boe Beng Tok Su adanya.

Tampak dengan perlahan ia melepaskan topengnya yang berwajah seram dan melepaskan pula pakaian rakyat kampung yang dikenakan sehingga muncullah sebuah jubah hitam yang berukiran patung arca berwarna merah darah.

Ia sama sekali tidak menggubris terhadap kata-kata dari Pouw Siauw Ling, mendadak Boe Bang Tok su, kauw cu, dan Sin Beng Kauwcu ini bersuit nyaring sehingga menggetarkan seluruh ruangan Cie Ing Tong.

Begitu suara suitan berkumandang keluar, didalam sekejap mata saja dari luar ruangan Cie Ing Tong bermunculan empat orang tua berbaju hitam yang mencekal senjata tajam dan pada jalan darah "Thay Yang Hiat"

Di keningnya pada menonjol keluar, jelas mereka telah berhasil meyakinkan tenaga dalamnya paling sedikit puluhan tahun latihan Kiranya Boe Beng Tok su telah membawa keenam orang Siangcunya kini empat orang sudah masuk kedalam ruangan dan dua orang sisanya tertinggal didepan pintu.

Belum saja mereka berempat tegak Boe Beng Tok su sudah kebatkan pedangnya menuding Lie Loo jie.

"Tangkap dia,"

Perintahnya.

Sejak munculnya Pouw Siauw Ling dan terjadinya perubahan-perubahan yang diluar dugaan ini Liem Tou sama sekali tak ambil gubris dengan tenangnya ia berdiri ditengah ruangan diantara apitan sigadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw agaknya merasa urusan tersebut bukanlah suatu urusan yang berat.

Keempat orang siangcu berbaju hitam itu bagaikan menerima perintah dari kaisar dengan cepat menggerakkan senjata tajamnya mengurung Lie Loo jie rapat-rapat.

Mereka adalah anak buah Chiet Cie Tauw Thouw tempo dulu setiap orang bukan saja memiliki pengalaman bertempur yang luarbiasa bahkan bersikap dingin dan tidak gugup.

Sekalipun Lie Loo jie mempunyai kepandaian silat yang lebih tinggi, bilamana terkurung oleh beberapa orang itu untuk sesaatpun tak bisa berbuat apa-apa.

Dengan cepatnya suatu pertempuran sedarah yang amat seru berlangsung dalam ruangan Cie Ing Tong tersebut.

Ditambah pula mereka berempat sama sekali tidak mencari-cari jasa, dengan sabarnya keempat orang itu bertempur secara bergilir sehingga memaksa Lie Loo jie menjadi camas dan sulit untuk meloloskan diri.

Boe Beng Tok su yang rnelihat Lie Loo jie sudah terkurung dengan perlahan baru menoleh kearah Liem Tou, tetapi dengan cepatnya ia sudah dibuat tertegun oleh sikap sang pemuda yang begitu tenang dan angkernya.

Hatinya jadi ragu-ragu untuk bertindak maju, bisiknya kemudian kepada Pouw Siauw Ling.

"Pouw siangcu, coba kau lihat sikap dari Liem Tou si bangsat cilik itu, tentu dibalik kesemuanya ini ada hal-hal yang tidak beres?"

Pouw Siauw Line pun waktu itu mengerti maksud hati dari Boe Beng Tok su; dia tahu dia sengaja melepaskan diri Lie Loo Jie justru dikarenakan hendak mencari balas dengan tujuan mereka yang utama, Liem Tou.

"Menurut penglihatanku agaknya tidak ada siasat apa-apa dibalik itu, tetapi biarlah aku mencobanya terlebih dulu, kemudian kauwcu baru turun tangan,"

Sahut Pouw Siauw Ling. Boe Beng Tok su segera mengangguk.

"Liem Tou ! Kembalikan kepala ayahku,"

Bentak Pouw Siauw Ling kemudian dengan suaranya yang keras.

Tubuhnya dengan cepat menubruk kedepan sedangkan cambuknya dengan menimbulkan suara desiran yang tajam menyapu tubuh Liem Tou.

Seluruh cambuk itu dipenuhi dengan duri yang tajam ditambah pula permainan cambuk yang lihay dari Pouw Siauw Ling, membuat cambuk Pak Kut Pian itu dengan membawa suara desiran yang tajam menghajar kedepan.

Tubuh Liem Tou kelihatan gemetar keras, selintas hawa amarah berkelebat pada wajahnya; tetapi hanya sebentar saja telah lenyap tak berbekas, paras mukanya kembali tenang.

Sinar matanya yang tajam dan memancarkan cahaya berkilat perlahan-lahan menyapu sekejap kearah musuhnya.

Pouw Siauw Ling yang sinar matanya terbentur dengan sinar mata pemuda itu dengan cepat merasakan suatu daya pengaruh yang mendebarkan hati mendesak dirinya hingga menusuk kedalarn tulang sumsum, hal ini memaksa ia tak kuasa lagi dan menarik kembali serangan cambuk Pak Kut Piannya dan mundur dua langkah kebelakang.

Tubuh Liem Tou tetap tenang dan tak bergerak dari tempat semula.

Liem Tou bisa bersabar sebaliknya kedua orang pengantin perempuan tak bisa menahan kegusaran dihatinya mereka bersama-sama melepaskan pakaian pengantin sehingga munculnya seperangkat pakaian singsat yang menutupi tubuhnya Pouw Siauw Ling terdengar Lie Siauw Ie membentak dengan nada gusar.

"Liem Tou sudah lama mengunci tangan dengan perbuatanmu ini hari apakah masih bisa disebut perbuatan seorang jagoan Bu lim.?"

Sebaliknya sigadis cantik pengangon kambing yang melihat ayahnya terkurung dengan cepat enjotkan badan hendak menubruk kedepan membantu ayahnya tetapi keburu dicegah oleh Liem Tou.

"Wan moay jangan pergi !"

Katanya halus.

"Tetapi engkoh Liem ayahku terkurung,"

Teriak si gadis cantik pengangon kambing dengan hati cemas.

Baru saja perkataan itu di ucapkan Pouw Siauw Ling yang melihat Liem Tou sama sekali tidak memperlihatkan gerakan apa-apa, rasa jerinya telah lenyap.

Cambuk Pek Kut Pian-nya dengan dahsyat kembali melancarkan serangan menusuk kedada sang pemuda.

Melihat datangnya serangan itu Liem Tou hanya melirik sekejap dia sama sekali tidak menghindar, didalam hati ia sudah mengambil keputusan tidak perduli siapa pun yang melancarkan serangan kearahnya dia tak akan menyingkir.

Lie Siauw Ie yang melihat kejadian itu jadi terkejut.

"Adik Tou cepat menyingkir"

Teriaknya cemas Sambil berkata ia rnenyambar tangan Liem Tou untuk ditarik kesamping siapa sangka mendadak Liem Ton angkat tangannya keatas dan tersenyum mesra kearahnya sehingga hal ini membuat sambaran dari Lie Siauw Ie mencapai pada sasaran yang kosong.

Kini cambuk Pek Kut pian dari Pouw Siau Ling telah mencapai beberapa cun diatas dada sang pemuda.

Lie Siauw Ie yang melihat Liem Tou tak ada maksud untuk menghindar bahkan melepaskan diri dari pertolongannya, saking cemas wajahnya berubah jadi menghijau dan melototkan matanya lebar-lebar.

Akhirnya ia menjerit keras tubuhnya nubruk kehadapan Liem Tou dan bermaksud hendak menerima datangnya serangan Pouw Siauw Ling itu.

Dengan badannya sigadis cantik pengangon kambing yang melihat Lie Siauw Ie telah turun tangan pada mulanya ia sendiri tak melakukan gerakan apapun, kini setelah dilihatnya Liem Tou tidak ingin di tarik oleh Lie Siauw Ie bahkan dengan rela menerima datangnya serangan cambuk lawan dengan cepat kebaskan tangannya melepaskan diri dari cekalan sang pemuda.

Tangannya yang lain dengan kecepatan bagaikan kilat menjepit datangnya serangan cambuk dari Pouw Siauw Ling.

Didalam pandangannya Pouw Siauw Ling adalah pengalaman yang pernah menderita kekalahan ditangannya karena itu ia bermaksud hendak menjepit cambuk tersebut dan merebutnya.

Barpikir akan hal itu mendadak telapak kirinya menghantam kedepan; bersamaan itu pula tangan kanannya mengerahkan tenaga dalam bermaksud hendak pukul lepas cambuk Pek Kut Pian ditangan Pouw Siauw Ling.

Dimana angin pukulan menyambar datang Pouw Siauw Ling tertawa dingin, separuh badannya berputar setengah lingkaran untuk menghindarkan dari angin serangan setelah itu diam-diam ia mengerahkan ilmu ‘Kioe-Im Tong Ci Loo Han Cin Kang’ nya.

Kontan saja sigadis cantik pengangon kambing merasakan segulung hawa pukulan yang sangat dingin dengan cepat menghajar tangannya bagaikan kena stroom lengannya jadi kaku dan buru-buru lepas tangan untuk mundur.

Melthat tindakan dari gadis itu, Pouw Siauw Ling membentak keras.

Cambuk Pek Kut Plannya didorong kedepan laksana seekor ular putih langsung menghantam tubuh si gadis cantik pengangon kambing.

Lie Wan Giok sama sekali tidak menduga hanya didalam setahun saja perpisahannya dengan itu kini Pouw Sauw Ling sudah jadi sedemikian lihay, saking terkejutnya ia menjerit keras.

"Hiaaa …!"

Belum habis ia menjerit ujung cambuk dari Pouw Siauw Ling sudah menyambar datang. Pada saat-saat yang sangat kritis itulah mendadak mendengar Lie Siauw Ie membentak keras.

"Pouw Siauw Ling, kau berani..!"

Bersama waktunya pula, tubuh sigadis cantik pengangon kambing telah didorong seseorang sehingga mundur satu langkah kebelakang sebuah pundak yang lebar tahu-tahu telah menghalang di hadapannya.

Sedangkan Pouw Siauw Ling pun buru-buru mengundurkan dirinya beberapa kaki kebelakang.

"Bluuum…. !"

Dengan menimbulkan suara yang amat keras, kedua gulung angin pukulan itu dengan tepat berhasil menghajar permukaan tanah tidak jauh dari tempat itu.

Ketika sigadis cantik pengangon kambing menoleh dan memperhatikan lebih teliti maka terlihatlah angin pukulan itu adalah hasil dari pukulan Lie Siauw Ie yang membokong diri Pouw Siauw Ling, sedang Liem Tou entah sejak kapan tahu-tahu sudah menghadang dihadapannya darah segar tiada henti menetes keluar dari pundaknya yang lebar tentunya pundak tersebut berhasil dilukai oleh Pouw Siauw Ling.

Waktu itulah sigadis cantik pengangon kambing baru sadar bilamana dirinya sama sekali tidak terluka justru dikarenakan Liem Tou tanpa memperdulikan keselamatannya sudah unjukkan diri untuk menolong.

"Engkoh Liem kau tak usah mengurusiku lagi,"

Teriaknya kemudian dengan alis dikerutkan rapat-rapat. Mereka sama sekali tidak mengikuti peraturan Bulim kaupun boleh melanggar sumpah untuk turun tangan untuk balas melancarkan serangan !"

Agaknya dalam hati ia merasa amat terharu sehingga titik-titik air mata mengucur ke luar dengan derasnya.

"Wan moay kau tak usah bersedih hati,"

Hibur Liem Tou sambil menoleh dan tertawa pahit.

"Kau serta enci le baik baiklah berjaga diri kalian tak usah mengurusi diriku lagi. Sekalipun bencana yang akan kualami pada hari ini akan berubah, jadi bagaimanapun aku tidak akan melanggar sumpah."

"Adik Tou, perkataan dari Wan moay memang benar,"

Timbrung Lie Siauw Le dari samping dengan suara yang keras.

"Musuh yang munculkan diri pada saat ini luar biasa kosennya, bilamana kau tidak juga turun tangan mungkin….."

Perkataan selanjutnya ia telah kembali karena tenggorokannya terasa seperti tersumbat.

Tetapi Liem Tou hanya tundukkan kepalanya saja tanpa mengucapkan sepatah kata.

Mendadak sigadis cantik pengangon kambing mengangkat kepalanya dan memandang kearah depan, waktu itu Lie Loo lie dengan sekuat tenaga lagi melancarkan serangannya melawan serangan-serangan gencar dari ke empat orang berbaju hitam itu, walaupun tidak sampai terkalahkan tetapi dari keningnya sudah mengucurkan keringat sebesar kacang kedelai.

Ketika memandang pula kearah keempat orang berbaju hitam itu, mendekati senjata tajam mereka tak berhasil mendekati Li Loo jie tetapi kerja samanya sangat erat.

Suatu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya.

"Bilamana ia harus bergebrak terus seperti ini, lama ketamaan bukankah tenaga murninya akan menemui kerugian dan akhirnya kalah?"

Pikirnya dihati. Tanpa terasa lagi hatinya sudah berdebar keras.

"Engkoh Liem !"

Teriaknya kemudian dengan cemas.

"Apakah kau tidak mau turun tangan juga sehingga mengharuskan ayahku mati ditangan orang lain ? Sekalipun Liem Tou mempunyai ketenangan yang tinggipun setelah mendengar perkataan itu hatinya terasa seperti digodam dengan martil besar, hawa murninya dengan cepat mengalir dari pusar membuat darah lega mengucur keluar dengan derasnya dari mulut luka dipundaknya. Wajahnya mendadak berubah menghijau ia berdiri terkesima dan untuk beberapa saat lamanya tak mengerti apa yang harus dilakukan. Karena hatinya kacau, maka ketetapan hatinya pun ikut goyang, nafsu membunuh mulai berkelebat memenuhi wajahnya. bilamana ada orang yang membakar hatinya sekali lagi mungkin ia segera akan turun tangan! Ketika itulah mendadak terdengar suara bentakan yang amat keras dari Ciat Siauw siansu itu Hong tiang dari partai Siauw lim pay ;

"Lie Siang ! aku datang membantu."

Bersamaan waktunya pula tampak seorang hweesio muda memutarkan tubuhnya ditengah udara kemudian bagaikan sebatang anak panah yang terlepas dari busur menubruk kesisi tubuh Lie Loo jie yang terkurung didalam kepungan keempat orang siancu dari perkumpulan Sin Beng Kauw itu.

Dengan demikian situasi pertempuran pun segera berubah sekalipun sukar untuk menentukan siapa yang menang siapa yang kalah tetapi kedua belah pihak sama-sama ngotot itu untuk bertahan pada posisinya masing-masing.

Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat situasi pertempuran sudah berubah dalam hati baru bisa menghembuskan napas lega, sedang Liem Tou pun kembali jadi tenang.

"Suhu aku akan mendengarkan perkataanmu !"

Dalam batinnya.

Baru saja ia selesai berpikir, mendadak suara tertawa keras yang amat menyeramkan kembali berkumandang masuk kesamping telinganya diikuti Boe Beng Tok su mengayunkan tangan kirinya sambil membentak nyaring .

"Liam Tou! apakah selama ini kau baik-baik saja? tentunya kau orang masih ingat dengan aku Ay Lauw…"

Liem Tou sudah tentu tak akan melupakan diri Ay Lauw Hek Tiauw atau sirajawali hitam dari gunung Ay Lauw Hek san, Sun Ci Si, ketika melihat jari tangan kirinya yang tinggal empat buah itu ia tertawa sedih.

"Sun Ci Si ! sebenarnya aku ada janji satu tahun dengan dirimu, untuk melakukan pembalasan dendam, tetapi aku sendiripun sama sekali tidak menduga kalau pada setahun yang lalu diatas puncak pertama gunung Cing Shia dihadapan jago-jago Bulim aku orang sudah mengunci tangan. Yaaa …. sekarang akupun tidak ingin banyak bicara lagi, kau ingin potong kepala atau turun tangan kecil cepatlah turun tangan aku tidak akan balas menyerang."

Walaupun Sun Ci Si sendiri pernah juga mendengar bilamana Liem Tou telah mengunci tangan, tetapi selama ini ia tidak percaya, didalam anggapannya berita itu tentunya berita bohong atau siasat dari Liem Tou guna menghindarkan diri dari kepungan-kepungan musuh tangguhnya.

Tetapi kini, sesudah mendengar pengakuan dari pemuda itu sendiri, ia baru terkesima; untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun, bisa diucapkan keluar.

Liem Tou yang melihat wajah Boe Beng Tok-su memperlihatkan sikap yang serba saIah segera tertawa terbahak-babak, sambungnya kembali.

"Sun Ci Si, bilamana aku melihat dandananmu serta tanda pada dadamu mungkin kaulah kauw-cu dari Sin Beng Kauw yang namanya mulai terdengar di dalam Bulim ? Aku dengar kau sudah mengangkat dirimu sebagai kauw cu dengan julukan Boe Beng Tok su. Jika ditinjau dari hal ini tentunya kau sudah ada persiapan untuk menjagoi seluruh kolong langit bukan?"

Boe Beng Tok su melirik sekejap ke arah Liem Tou, kemudian ia mendengus dengan beratnya.

Pouw Siauw Ling yang ada disisinya ketika mendengar perkataan dari Liem Tou.

mendadak sadar bilamana pemuda itu sudah mengandung suatu maksud tertentu, buru-buru selanya.

"Kauw cu, bilamana kau tidak cepat-cepat bereskan Liem Tou si bangsat cilik ini; bagaimana mungkin dirimu bisa tancapkan kaki didalam dunia persilatan ?"

"Pouw Siauw Ling !"

Maki Lie Siauw Ie dengan gusar.

"Kau tidak usah banyak bacot disini. Bilamana adik Tou sungguh-sungguh ada maksud untuk mencabut nyawamu, pada setahun yang lalu kau musnah dari bumi. Apakah kau tidak malu pada perbuatanmu pada saat ini?"

Pouw Siauw Ling jadi amat gusar.

"Liem Tou sudah membunuh ayahku bahkan memenggal batang lehernya, bilamana dendam ini tidak kubalas, bagaimana aku bisa bertanggung jawab terhadap arwah ayahku?"

Mendengar perkataan itu Liem Tou segera tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya, dia mencegah perdebatan sengit antara Lie Siauw le dengan Pouw Siauw Ling lalu terhadap Boe Beng Toksu ujarnya.

"Sun Ci Si aku orang she Liem sudah berkata kalau diriku pada saat ini telah mengunci tangan, sekalipun ada orang yang bermaksud untuk membunuh dirikupun, aku tidak akan membalas. Tetapi aku sebelumnya, aku ingin memperingatkan kepadamu. bilamana kau ingin tancapkan diri didalam Bu lim dalam kedudukan terhormat maka janganlah sekali-kali melanggar peraturan Bu lim; kalau tidak kendati aku Liem Tou mati ditanganmu pun kau tak bakal punya muka lagi untuk munculkan diri didalam Bu lim."

Pouw Siauw Ling yang mendengar perkataan itu sampai disitu wajahnya kontan berubah hebat.

dalam hari ia benar-benar terasa takut bilamana hati Boe Bang Tok-su benar-benar kena dibakar sehingga meninggalkan tempat itu.

Karena pergaulannya selama beberapa buIan ini sudah cukup baginya untuk bisa meraba sifat dingin dan sifat kesombongan darl Boe Beng Tok su, biarpun dalam saat gusar ia sangat berbahaya dan bisa bertindak keji, tetapi perubahan sikapnya luar biasa pula.

Bilamana dibiarkan terus dan digosok pula oleh Liem Tou, mungkin sekali ia bisa angkat kaki.

Pouw Siauw Ling yang takut kejadian itu sampai terjadi, segera angkat cambuknya menghantam kedepan.

"Liam Tou ! Kau berani memaki kauw-cu kami!"

Bentaknya.

Cambuknya dengan disertai sambaran angin yang tajam menyapu datang tetapi baru saja cambuknya meluncur sampai ditengah jalan mendadak batok kepalanya terasa seperti ditekan dengan segulung angin pukulan yang maha dahsyat hal ini membuat dia jadi menjerit kaget dan meloncat mundur kearah belakang.

Ditengah ruangan Cie Ing Tong mendadak melayang turun Oei Poh itu akan murid dari si Cing Liong To Si Piauw tauw wajahnya sukar untuk dilukIskan dan dengan tajam ia melototi Pouw Siauw Ling sambil bertertak.

"Kau tidak usah berlagak jago! Kau tidak usah berlagak jago !"

SambiI berkata mendadak dia putar badan dan mengirim satu pukulan kearah Liem Tou.

"Liem Tou !"

Bentaknya keras.

"Asalkan aku bisa melampiaskan kemangkelan hatiku maka urusan bakal beres sudah, kau terimalah pukulanku ini !"

Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing sama sekali tidak menduga dia bisa melancarkan serangan secara tiba-tiba, didalam keadaan terperanjat mereka berdua buru-buru mendorongkan sepasang telapaknya untuk memunahkan datangnya serangan tersebut.

Siapa sangka ilmu pukulan yang digunakan Oei Poh pada waktu itu adalah ilmu pukulan "Sian Hong Cian"

Dari Heng san pay.

Walaupun angin pukulannya menyambar dari depan tetapi kekuatan serangannya memutar dari belakang tubuh.

Baru saja sepasang telapak Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing dilancarkan kedepan, terdengarlah Liem Tou mendengus berat tubuhnya terjengkang maju satu langkah kedepan.

Walaupun begitu sang pemuda tidak sampai memuntahkan darah segar; jelas Oei Poh sudah turun tangan ringan terhadap dirinya.

Oei Poh yang melihat serangannya berhasil mencapai pada sasarannya dengan amat gembira ia tertawa tergelak, kemudian meloncat ketengah udara sambil serunya.

"Liam Tou; untuk ini hari urusan diantara kita aku permisi sampai disini dulu!"

Tubuhnya yang ada ditengah udara berjumpalitan beberapa kali kemudian laksana sambaran kilat meluncur kearah Pouw Siam Ling.

Pouw Siauw Ling ketika melihat Oei Poh memiliki gaya gerakan yang begitu indah buru-buru melintangkan cambuk Pek Kut Pian-nya keatas kepala untuk menantikan datangnya serangan dari pihak musuh.

Hanya didalam sekejap saja seluruh ruangan sudah dipenuhi dengan bayangan Oei Poh seorang diri yang menyambar kian kemari, sedang jagoan lainnya pada berdiri melongo-longo disisi kalangan.

Sebaliknya Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing dengan cemas membimbing bangun tubuh Liem Tou.

"Kau sudah terluka? Bagaimana dengan keadaan lukamu?"

Tanya kedua gadis itu dengan hampir berbareng.

Air muka Liem Tou pada saat itu amat pucat sedang keadaannya rada payah kepalanya terasa amat pening sedang dadanya mual, untung saja tenaga dalam yang dimilikinya sudah mencapai pada taraf kesernpurnaannya.

Setelah mengatur pernapasan beberapa saat lamanya perasaan itu berhasil ditekan keluar dari dalam tubuhnya.

"Aaakh …… tidak mengapa !"

Sahutnya kemudian sambil tertawa ketika mendengar pertanyaan dari dua orang gadis itu.

"Oei Poh tidak akan bertindak kejam. Kemungkinan pula ia bukan hanya sekali saja mendatangi perkampungan Ma Mo san cung kita ini !"

Jilid 42 . Isi peti mati "Jenazah dari Liem Tou"

SETELAH mendengar perkataan tersebut Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing baru merasa lega. Waktu itulah mendadak….

"Pergi bentak Lie Loo jie dengan suara amat keras.

"Braaak ..!"

Salah satu dari keempat orang berbaju hitam yang mengepung diri Lie Loo jie sejak tadi itu berhasil kena dihantam sehingga terpental keluar dari kalangan dan rubuh tidak bisa bangun lagi.

"Tia. jangan lepaskan mereka barang seorangpun."

Teriak si gadis cantik pengangon kambing, Mendengar teriakan itu Liem Tou jadi kaget, ia tahu urusan akan berubah semakin ruyam lagi.

Sedikit pun tidak salah, mendadak terdengar Boe Beng Tok su mendengus dingin kemudian mengangkat pedang hitamnya keatas dan melototi sekejap kearah si gadis cantik pangangon kambing.

"Liem Tou, siapakah orang itu,"

Tanyanya kepada sang pemuda dengan nada dingin.

Yang ditanya oleh Boe Bang Tok cu bukannya si gadis cantik pengangon kambing melainkan Oei Poh.

Kiranya Oei Poh dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sangat sempurna berhasil berkelebat kesana kemari dengan gesitnya hal ini membuat Pouw Siauw Ling jadi kelabakan dan untuk beberapa saat lamanya tak sanggup untuk melakukan tindakan sesuatu apapun.

Liem Tou yang dicintai lantas saja tahu bilamana Boe Beng Tok su ada maksud pinjam alasan tersabut untuk turun tangan, karenanya ia lantas tertawa.

"Sun Ci Si ! Jadi kau anggap dia adalah jagoan yang aku sewa untuk membantu diriku?"

Akhirnya ia tertawa.

Liem Tou tahu keadaannya pada saat ini amat berbahaya sekali, didalam pikirannya ia terus-menerus mencari jalan guna menjepit diri Boe Beng Tok su sehingga dia tak sanggup lagi untuk turun tangan, setelah usahanya ini berhasil maka baru berusaha untuk menolong Lie Loo jie meloloskan diri dari kurungan dan menghindar bencana ini.

Siapa sangka Boe Beng Tok su bukanlah seorang manusia bodoh, tampak dia orang sambil tertawa dingin dengan perlahan maju mendekati diri sang pemuda.

"Liem Tou teriaknya.

"Bagaimana juga aku tak akan melepaskan dirimu !"

Sembari berkata pedangnya dilintangkan di depan dada dan bertindak maju, walaupun begitu matanya sama sekali tidak memperhatikan sang pemuda, jelas dia orang tak memandang sebelah mata pun terhadap diri Liem Tou.

Waktu itu kembali Oei Poh melancarkan dua buah serangan gencar kearah Pouw Siauw Ling kemudian melayang kembali ketengah udara, Sekali loncatkan badan tubuhnya berhasil melayang sejauh dua kaki dari diri Siauw Ling.

Mendadak… cahaya hitam berkelebat memenuhi angkasa Boe Beng Toksu bersuit nyaring sehingga membuat suasana didalam ruargan Cie lng Tong diliputi oleh napsu membunuh yang semakin menebal.

"Sungguh keji siasat dari bangsat ini !". Batin Liem Tou yang berdiri disisi kalangan. Kiranya mengambil kesempatan sewaktu Oei Poh melayang mundur kebelakang, Boe Beng Toksu telah meloncat maju kedepan sambil memainkan pedang hitamnya sedemikian rupa beberapa kaki disekelilingnya dengan cepat kena terkurung dibawah sambaran hama pedang yang tajam. Kepandaian yang paling diandalkan oleh Oei Poh adalah meloncat dan menyambar di tengah udara kemudian mencari kesempatan yang bagus untuk melukai orang, kini Boe Beng Toksu telah mendahului dirinya dengan merebut posisi yang lebih menguntungkan kemudian melancarkan serangan pedang yang menimbulkan desiran tajam seketika itu juga membuat hatinya jadi amat terperanjat. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh, tenaga dalamnya segera disalurkan kesatu titik dan siap-siap dibabat kearah depan. Tiba tiba … Bayangan hijau berkelebat disusul segulung angin pukulan yang maha dahsyat menyambar kearah Boe Beng Tok su.

"Tahan !"

Boe Beng Toksu tak berani berlaku gegabah, buru-buru ia menarik kembali pedang hitamnya dan melayang beberapa depa ke belakang setelah itu ia baru pentangkan matanya lebar-lebar untuk memandang kearah orang yang baru datang itu.

Kiranya dia hanyalah seorang gadis berbaju hijau yang masih muda saat itu dengan hati yang amat cemas gadis itu lagi berteriak kearah Liem Tou.

"Cepat lari, Boen Ing telah datang !"

Sejak semula Liem Tou sudah mengetahui kalau orang itu adalah Cing jie ia kerutkan alisnya rapat-rapat tanpa bergerak dari tempatnya semula.

Boe Beng Tek su yang berhasil mengurung Oei Poh dibawah kurungan hawa pedangnya tetapi kini kena digagalkan oleh Ceng jie hatinya jadi amat gusar!

Pedang hitam dilintangkan kedepan dada, lalu bagaikan segulung angin taufan manggulung kearah Cing jie.

Cing jie yang mencekal pedang Lan Beng Kiam sudah tentu tidak akan takut terhadap ketajaman pedang musuhnya, melihat ujung pedang dari Boe Beng Tok su hampir mendekati tubuhnya dengan gesit ia menyentakkan pedangnya kedepan untuk merangkis.

"Traaaang ….!"

Dengan menimbulkan suara bentrokan laksana pekikan naga dan bunga-bunga api memecik keangkasa dan masing-masing pihak pada meloncat mundur kebelakang.

Baik Boe Beng Tok su maupun Cing jie dengan hati terparanjat buru-buru memeriksa pedangnya masing-masing ketika melihat pedangnya tak cedera kembali mereka bergerak jadi satu dengan serunya.

Hanya didalam sekejap mata seluruh angkasa telah dipenuhi dengan berkelebatnya cahaya hitam serta cahaya putih yang saling melibat, saling mengejar dengan ramainya.

Keadaan pada waktu itu benar-benar amat menegangkan.

Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing sama sekali tidak kenal dengan Cing jie tetapi melihat gadis tersebut kenal dengan Liem Tou, dengan hati penuh tanda tanya ia bertanya dengan suara yang lirih.

"Siapakah gadis berbaju hijau itu?"

"Puteri It Tiap Cing jie dari gunung Heng san yang telah memperoleh seluruh kepandaian silat aliran Heng san pay"

"Dan siapa pula Boen Ing yang dimaksudkan?"

Tanya Lie Siauw Ie sesudah termenung sebentar.

"Anak murid dari It Tiap Cing jie perempuan siluman itu amat keji buas dan cabul!"

Baru saja ia selesai berkata dari arah luar ruangan Cie Ing Tong tiba2 melayang datang sesosok bayangan tubuh yang bukan lain adalah Boen Ing siperempuan langsing dan menawan hati itu .

Melihat kejadian itu tak kuasa lagi Lie Si auw Ie berseru memuji .

"Oooo…, seorang gadis yang amat cantik sekali!"

Sebaliknya Liem Tou jadi amat kaget, mukanya berubah menegang dan kini kelihatan amat serius sekali.

Air muka Boen Ing diliputi oleh suatu sikap yang seperti tertawa tapi tidak mirip dengan tertawa dengan sepasang mata yang jeli dan mempesonakan ia memandang kearah Liem Tou.

Terhadap pertempuran yang sedang berlangsung ditengah kalangan dia orang sama sekali tidak mengambil perduli -selangkah demi selangkah perempuan itu semakin mendekat diri Liem Tou.

Ketika Boen Ing sudah berada sangat dekat sekali dengan pemuda itu, sigadis cantik pengangon kambing yang ada di sisinya tak bisa menahan sabar lagi.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

Bentaknya.

Sambil tersenyum Boen Ing melirik sekejap kearah sigadis cantik pengangon kambing, ia sama sekali tidak menjawab, bahkan melanjutkan kembali langkahnya kedepan.

Melihat kejadian tersebut Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing bersama-sama membentak keras lalu melayang ke hadapan Liem Tou.

Saat itulah Boen Ing baru menghentikan gerakannya.

"Aduuuh ..!"

Teriaknya kaget.

"apakah kalian berdua merasa ada tenaga untuk menghalangi diriku? Liem Tou, lebih baik kau ikuti saja diriku tanpa membangkang; Karena kau hingga kini aku sampai belum juga merasakan nikmatnya kawin!"

Liem Tou tahu bila Lie Siauw Ie serta gadis cantik pengangon kambing bukanlah tandingannya karena takut mereka berdua bakal mendapat cidera.

Buru-buru ia mendesak maju kehadapan kedua orang gadis itu.

Sambil memandang kearah Boen lng, lalu pikirannya dalam hati.

"Tidak aneh kalau anak murid dari partai Heng san pay pada terjebak kedalam perangkapnya. Tarnyata ia mempunyai wajah yang begitu menawan hati. Belum sempat ia memberikan jawaban mendadak dari sisi kiri kembali berkelebat datang sesosok bayangan abu-abu yang langsung menerjang kearah diri Boen lng. Dengan ketajaman mata Liem Tou sekilas pandang saja ia sudah bisa lihat kalau orang itu bukan lain adalah Lie Loo jie dari Hang san Jie Yu tampaklah dengan wajah yang diliputi oleh kegusaran dan dengan geram ia menerjang diri perempuan itu. Ketika tubuhnya tiba disamping perempuan itu, sepasang telapaknya bersama-sama didorong kedepan dan melancarkan satu pukulan yang maha dahsyat. Boen Ing hanya tersenyum terhadap datangnya serangan itu dan dia orang sama sekali tidak menggubrisnya.

"Nona Boen, kau hati-hati !"

Teriak Pouw Siauw Ling yang berada disamping dengan amat cemas.

Sejak munculnya Boen Ing tadi, Pouw -Siauw Ling sudah mengenalkan kembali dan diam-diam hatinya merasa amat girang.

Cuma saja disebabkan selama ini Boen -Ing hanya memperhatikan Liem Tou terus menerus maka untuk beberapa waktu dia orang sama sekali tidak menyapa dirinya.

Liem Tou yang melihat Heng san Loo jie secara mendadak melancarkan serangan bokongan dalam hati jadi amat kaget, tak kuasa lagi ia pun sudah berteriak keras.

"Boen jie jangan !"

Tetapi waktu sudah tidak mengijinkan lagi, baru saja angin pukulan dari Heng san Loo jie menyambar keluar mendadak Boen-ing tekuk pinggang lantas berputar.

Kecuali Liem Tou sendiri, orang-orang lain sama sekali tidak dapat melihat dengan menggunakan cara apakah perempuan itu turun tangan, tahu-tahu terdengar Heng san Too jie berteriak keras.

Dengan sifat yang berangasan dan ingin menang dari Heng san Too jie, dia orang mana mau mandah digebuk, sambil menggigit kencang, bibirnya mendadak tubuhnya meloncat kembati kedepan.

Kendati tubuhnya masa sempoyongan, matanya melotot lebar-lebar sedang mulutnya tiada bentinya memaki dengan kata-kata yang kotor.

"Anak jadah, sundal tengik ...! perempuan cabul, Loo toa ku sudah kau bawa kemana ? bilamana kau tidak suka bicara yang jelas ini hari juga aku Loo jie akan mengadu jiwa dengan dirimu !"

Sembari berkata tubuhnya kembali menerjang kearah tubuh Boen lng.

Perempuan itu hanya tersenyum saja tanpa memperlihatkan gerakan apapun juga menanti tubuh Heng san Loo jie hampir mendekati tubuhnya mendadak ia kebutkan ujung jubah kirinya kedepan.

Segulung angin sambaran yang amat keras kontan menggulung tubuh Loo jie dan melemparkannya kebelakang.

Heng San Loo jie yang sudah terluka parah kini tak sanggup lagi untuk menghindar.

Kelihatannya ia bakal mati dibawah serangan yang maha dahsyat itu.

Pada saat yang amat kritis itulah mendadak tampak bayangan hitam dan putih yang sedang bertempur sengit saling berpisah.

Cahaya putih laksana serentetan pelangi langsung meluncur kearah tubuh Boen Ing yang lagi melancarkan serangan.

Melihat datangnya serangan tersebut Boen Ing buru-buru menarik kembali serangannya dan menangkis cahaya putih itu, melihat munculnya Cing jie dengan gusar ia membentak.

"Bangsat kiranya kau kembali rasakanlah pukulanku."

Tubuhnya dengan gesit meloncat ke tengah udara kemudian memancarkan sebuah serangan gencar kedepan.

Cing jie tidak jadi gugup; pedang Lau Beng Kiam ditangannya dikebaskan membentuk bunga-bunga pedang yang dengan cepat mengguIung ketubuh Boen Ing.

Hanya didalam sekejap mata mereka berdua sudah saling bergebrak dengan sengitnya.

Ketika itulah Pouw Siauw Ling melihat suatu kesempatan yang amat bagus… "Kauwcu !"

Teriaknya dengan cepat.

"Bilamana kita tidak bergerak pada saat ini, kau man tunggu sampai kapan lagi?"

Sambil berkata cambuk Pek Kui Pian di tangannya dimainkan sehingga menimbulkan suara angin pukulan yang menderu-deru dan menggulung seluruh tubuh Oei Poh.

Boe Beng Tok su yang mendengar suara teriakan tersebut kontan menjadi tersadar kembali.

"Liem Tou, hutang kita pada setahun yang lalu kita bereskan sekarang juga !"

Bentaknya dingin.

Ditengah berkelebatnya cahaya hitam, tubuhnya dengan dahsyat menubruk kearah dirinya Liem Tou.

Melihat perubahan situasi itu sang pemuda baru merasa bilamana waktunya telah tiba; sambil menghela napas dia segera menutup matanya rapat rapat.

Suara bentakan gusar dari Lie Siauw le serta sigadis cantik pengangon kambing berkumandang saling susul-menyusul mengiringi suara tertawa dingin dari Boe Beng Tok-su.

"Breet.. !", Liem Tou hanya merasakan dadanya perih dan amat sakit sekali; pikiran pertama begitu berkelebat didalam benaknya buru-buru ia berteriak keras.

"Enci Ie ! Adik Wan cepat lari ! Jangan urusi diriku lagi !"

Ketika ia membuka matanya kembali tampaklah dadanya sudah tergores.

Sebuah luka sepanjang beberapa coen oleh babatan pedang hitam Boe Beng Tok su sehingga mengenai tulang dadanya, darah segar mengucur keluar dengan amat derasnya.

Pada saat yang bersamaan dari luar perkampungan berkumandang datang suara teriakan yang ramai disertai suara tangisan dari bocah serta kaum perempuan yang memilukan hati, dan dari jendela ruangan Cie Ing Tong dapat terlihat api berkobar dengan besarnya membakar seluruh perkampungan.

Hatinya semakin sedih seperti diiris-iris, lalu gumamnya seorang diri.

"Angin topan melanda dari empat penjuru, api lilin sirap dan ruangan hancur…, asap mengepul dan membuyar tertiup angin …"

Teringat akan hal itu tak kuasa lagi seluruh tubuhnya gemetar dengan amat keras, air mata mengucur keluar membasahi wajahnya.

Mendadak terdengar suara dengusan kerbau yang memanjang menyadarkan kembali pemuda itu dari lamunannya, ketika menoleh kekalangan pertempuran terlihatlah Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing dengan mengandalkan tangan kosong sedang bergebrak melawan Boe Beng Tok su.

Keadaannya amat kritis dan berbahaya sekali.

Walaupun kini ia sudah terluka parah tetapi pikirannya masih juga memikirkan keselamatan dari kedua orang gadis itu dengan paksakan diri ia menarik napas panjang dan serunya kepada kerbaunya yang ada diluar.

"Engkoh kerbau cepat kemari dan tolonglah enci Ie serta adik Wan keluar dari sini."

Tiba tiba bayangan hitam kembali berkelebat datang disusul segulung angin sambaran yang tajam menghajar lengannya tahu-tahu tangan kirinya sudah kena tersayat oleh pedang Boe Beng Toksu sehingga darah segar mengucur semakin deras.

"Liem Tou kenapa kau masih belum juga pergi !"

Teriak Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing berbareng ketika melihat keadaannya yang amat mengenaskan itu.

"Apakah kau rela mati dibunuh oleh mereka itu ?"

Walaupun dalam hati Liem Tou merasa sedih bagaikan ditembusi dengan beribu-ribu batang anak panah tetapi ia tetap menuruti atas perkataan suhunya.

Ia merasa bahwa kejadian ini adalah takdir yang tak mungkin dapat dihindarkan oleh tenaga manusia.

Karenanya ia cuma tundukkan kepalanya sambil menggeleng dan memandang kucuran darah segar yang mengalir keluar dari luka pada dada serta lengannya itu.

Pada saat saat yang amat kritis itulah mendadak ditengah ruangan kembali bertambah dengan dua orang yang bukan lain adalah Thian Pian Siauw cu serta Thiat Bok Taysu, mereka berbisik sebentar, kemudian secara mendadak bersama-sama menubruk ke arah Lie Loo jie.

"Haa…ha…haa.. Lie Loo jie,"

Teriak Thian Pian Siauw cu sambil tertawa seram.

"Baiknya ini hari kita saling adu kepandaian !"

Didalam sekejap mata angin pukulan menderu-deru diselingi suara suitan serta jeritan melengking yang menyeramkan dari Thiat-Bok Taysu membuat keadaan diri Lie Loo jie semakin berbahaya.

Sejak munculnya Thian Pian Siauw cu serta Thiat Bok Taysu di tengah kalangan perhatian dari sigadis cantik pengangon kambing sudah bercabang ia mulai menguatirkan keselamatan diri ayahnya Lie Lojie disamping itu harus pula menahan serangan-serangan gancar dari Boe Beng Toksu teriaknya tibatiba dengan suara keras;

"Tia ! Kau orang tua jangan bergebrak dengan mereka..!"

Lie Lojie yang mendengar suara teriakan dari sigadis cantik pangangon kambing dalam anggapannya gadis itu sudah terbunuh ditangan pihak musuh didalam keadaan amat terperanjat pikirannya jadi bercabang.

Mengambil kesempatan sangat baik itulah Thian Pian Siauwcu melancarkan satu pukulan yang amat dahsyat kedepan bersamaan waktunya pula ketiga orang berbaju Hitam lainnya bersama-sama menggerakkan senjatanya membacok kearah tubuh siorang tua itu.

Lie Loo jie jadi gelagapan dibuatnya..

"Braak !"

Tidak ampun lagi dadanya kena dihajar dengan keras oleh pukulan dari Thian Pian Siauwcu itu sehingga sang tubuh dari siorang tua tak kuasa untuk berdiri tegak lagi kepalanya terasa pening dadanya terasa mual, tubuh terpukul mundur selangkah kebelakang dengan sempoyongan.

Karena tubuhnya mundur kebelakang dengan tepat sudah menyongsong datangnya tusukan ketiga bilah golok dari ketiga orang si angcu dari perkumpulan Sin Beng Kauw.

Terdengar salah seorang siangcu membentak keras tangannya mendorong kedepan senjatanya dengan cepat menusuk punggung Lie Loo jie sehingga menembus kedadanya.

Lie Loo jie menjerit ngeri darah segar muncrat keluar dari mulutnya kemudian rubuh ke arah depan.

Siangcu yang baru saja berhasil menusuk Lie Loo lie ketika mendengar suara jeritannya itu saking kagetnya tanpa mencabut kembali pedangnya buruburu mundur kebelakang.

Sedang Thian Pian Siauw cu segera tertawa terbabak-bahak dengan kerasnya.

"Haa …… haa Lie Sang biarlah aku orang she Ke beri satu kematian yang wajar untuk dirimu !"

Teriaknya. Ketika tubuhnya maju kedepan hendak menambahi lagi satu pukulan, Thiat Bok Taysu yang ada disisinya tiba-tiba mencegah.

"Ke Siauw cu, buat apa kau orang harus turun tangan sendiri ?"

Sembari berkata tubuhnya maju selangkah kedepan, sepasang telapak tangannya yang sudah kehilangan kesepuluh jarinya dengan cepat diangkat dan siap siap dibabat kebawah.

Tetapi mimpipun ia tidak pernah menyangka secara tiba tiba Lie Loo jie meloncat bangun, ditengah menyemburnya darah segar sepasang telapaknya bersama sama didorong kedepan.

Thiat Bok Taysu jadi gugup setengah mati, belum sampai pikiran kedua melayang didalam benaknya Thiat Bok Taysu sudah menjerit ngeri, tubuhnya terlempar jauh beberapa kali ketengah udara, Kiranya hweesio itu sudah termakan oleh pukulan terakhir Lie Loo jie yang menggunakan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya sehingga isi perutnya hancur berantakan.

Sepasang matanya yang hijau melotot keluar sedang darah segar mengucur keluar terus dari panca inderanya.

Seketika itu juga Thian Bok thaysu menemui ajalnya.

Lie Loo jie pun sesudah melancarkan pukulannya yang terakhir ia menghembuskan napas panjang, tubuhnya dengan perlahan-Iahan melemas untuk berbaring kembali keatas tanah dan akhirnya jago tua menghembuskan napas yang penghabisan.

Demikian seorang jagoan yang dihormati olen seluruh orang-orang Bulim telah menemui ajalnya dibawah serangan gabungan dari Thiau Pian Siauw cu serta orang-orang dari perkumpulan Sin Bang Kauw, Lie Loo jie mati dalam keadaan mata melotot lebar-lebar agaknya ia merasa tidak rela dengan kematiannya itu.

Dengan kematiannya ini, Hong tiang dari Siauw lim pay, Ciat Siauw siansu yang selama ini bertempur mendampingi dirinya mendadak menggigit kencang bibirnya dan melancarkan tiga buah pukulan gencar kedepan, menanti musuhnya terdesak mundur tubuhnya buru-buru maju kedepan mendekati mayat dari Lie Loo jie.

Dengan hati terharu teriaknya keras.

"Lie Sang heng, kematianmu sungguh mengenaskan sekali ! Aku pasti akan membalaskan dendam bagimu !"

Selesai berkata ia enjotkan badannya malayang sejauh tiga kaki kemudian meluncur ke luar dari jendela dan lenyap tak berbekas.

Si hweesio cilik yang selama ini mengikuti jejak Hong tiangnya pun buru buru mengikuti jejaknya berlalu dari sana.

Sekali lagi Thian Phian Siauw cu tertawa panjang, setelah melihat Thiat Bok Thaysu tidak tertolong lagi ia putar badan menghadapi Liem Tou yang sudah bermandikan darah, sekali lagi ia tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.

Ketika itu didalam ruangan Cie Ing Tong kembali berdatangan segerombolan manusia.

Ketika Thian Pian siauwcu menoleh kearah gerombolan orang-orang itu mendadak ia tertawa keras kembali.

"Haaa ..haaa Loo Ciang kau sudah datang terlambat satu tindak; Le Sang sudah pergi !"

Teriaknya. Kiranya orang dua yang baru datang bukan lain dialah Auw Hay Ong, Ciang Cau suami istri bersama anak buahnya.

"He he hee he ! Ke hong. kau jangan keburu bangga disini masih ada Liem Tou,"

Teriak si Auw Hay Ong Ciang Cau sambil menyapu kearah pemuda tersebut.

Baru saja ia selesai berkata mendadak terdengar suara dengusan keras dari sang kerbau yang berada diluar ruangan.

Auw Hay Ong yang mengetahui betapa dahsyatnya kerbau tersebut dalam hati jadi amat cemas.

"Cepat bereskan Liem Tou !"

Teriaknya.

Ditengah suara bentakan yang amat ramai para jago dari Kiem Tien Pay pada bubarkan diri dan bersama-sama menerjang kedepan.

Liem Tou yang pada waktu itu sudah dipenuhi dengan luka, sekalipun tenaga dalamnya tinggi tetapi berhubung banyaknya darah yang mengalir keluar, tubuhnya sudah sempoyongan sedang pemandangannyapun mulai buram, apalagi sesudah Lie Loo jie menemui ajalnya, kejadian ini membuat hatinya terasa terjerumus kedalam gudang salju Tubuhnya gemetaran amat keras, wajahnya berubah pucat pasi bagaikan mayat sedang matanya mendelong memandang ketempat ke jauhan, dalam hati ia mulai merasa menyesal, menyesal karena ia harus mengunci tangan dan mengucapkan sumpah yang berat sehingga kini walaupun ada tenaga tak kuasa untuk memberikan perlawanan.

Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat ayahnya terbunuh tak bisa menahan goncangan dihatinya lagi, ia menjerit ngeri dan rubuh tak sadarkan diri diatas tanah.

Kini tingggal Lie Siauw Ie seorang saja sambil menahan kepedihan dihati tetap melanjutkan pertempurannya bergebrak mati-matian menahan seranganserangan dari Boe Beng Tok-su.

Tetapi sejak kemunculan orang-orang Kiem Tien Pay tiba-tiba saja Boe Beng Tok su mengundurkan dirinya kesamping.

"Liem Tou !"

Katanya dingin.

"Aku lihat Iukamu tidak ringan, untuk melarikan diri pun tak bakal sanggup biarlah orang-orang yang tertinggal disini untuk bereskan dirimu. Hutang piutang diantara kitapun sampai disini saja kita selesaikan."

"Baiklah, Sun Ci Si"

Sahut Liem Tou sambil tertawa sedih.

"Semoga, saja kau bisa membahagiakan dunia persilatan, hutang piutang diantara kitapun sudah sampai disini."

Baru berbicara sampai disitu mendadak kakinya jadi lemas sehingga tubuhnya rubuh setengah berlutut, tetapi dengan alis yang dikerutkan rapat-rapat ia berusaha bangun kembali lalu memandang kearah Boe Beng Tok su sambil tersenyum.

Boe Beng Tok su mengangguk, baru saja dia putar tubuh mendadak satu ingatan barkelebat didalam benaknya.

Matanya menyapu sekejap kearah si gadis cantik pengangon kambing yang menggeletak diatas tanah, tubuhnya mendadak maju kedepan dan membopong tubuh gadis tersebut.

"Sun Ci Si. kau ingin berbuat apa ?"

Bentak Liem Tou dengan gusar.

"Heee..heee … Liem Tou, kau boleh berlega hati ! ! Aku Boe Beng Tok su paling tidak suka bermain perempuan."

Selesai mengucapkan beberapa patah kata itu tanpa perduli diri Liem Tou lagi; ia putar badan dan bersuit dengan nyaring. Pouw Siauw Ling yang mendengar suara suitan tersebut hatinya jadi cemas.

"Kauw cu, apakah kau hendak melepaskan Liem Tou dengan begitu saja ?""

Teriaknya.

Tubuhnya dengan cepat menubruk kedepan; cambuk ditangannya laksana kilat menyambar keatas menghajar tulang punggung dari pemuda itu, disusul tangannya yang lain menarik kebawah, cambuk bertulang putih yang dipenuhi dengan duri itu kontan saja menggores pada punggung pemuda dengan beberapa liang Iuka yang dalam dan panjang.

Saking sakitnya kembali Liem Tou rubuh keatas tanah sambil menggigit kencang bibirnya.

Ia menahan suara rintihan yang rasanya hendak meloncat keluar dari ujung mulut.

Agaknya Pouw Siauw Ling tak rela melepaskan Liem Tou begitu saja cambuknya kembali diayunkan siap menghajar mati pemuda tersebut.

"Pouw Siancu !"

Bentak Boe Beng Toksu dengan gusar.

"Apakah kau orang hendak melanggar perintah dari kauwcu mu ?"

Mendengar suara bentakannya yang begitu dingin Pouw Siauw Ling merasa hatinya bergidik cambuk Pek kut Pian yang telah diayunkan ketengah udara diletakkan kembali akhirnya ia meludahi tubuh pemuda itu sembari teriaknya gemas.

"Bilamana aku tidak terhasil menghancurkan tubuhmu dendam hatiku tak bakal dapat lenyap !"

Dengan gemasnya ia jejakkan kakinya keatas tanah, bersama-sama dengan Boe BengTok su berlalu melalui jendela.

Dengan sekuat tenaga Liem Tou berusaha untuk bangun duduk, tetapi ia tak ada tenaga lagi untuk berdiri; melihat Lie Siauw Ie masih juga bertempur mati-matian melawan orang-orang dari partai Kiem Tien Pay, tak tertahan lagi pemuda jadi menghela napas panjang.

"Enci Ie!! cepatlah kau pergi dari sini!! Urusan sudah jadi begini ... !! "

Berbicara sampai disitu, titik-titik air mata mulai mengucur keluar membasahi wajahnya. Mendadak matanya melotot lebar-lebar; dengan geram dan wajah menyengir seram teriaknya dengan keras.

"Biarkan aku mati! Biarkan aku mati! kenapa kalian tidak biarkan aku mati saja?"

Setelah melihat peristiwa yang terjadi didepan mata, dalam hati dia semakin menyesali atas sumpah berat yang pernah diucapkan sewaktu mengunci tangannya, kalau semisalnya dulu ia tidak bersumpah berat maka kini hari tak bakal terjadi peristiwa yang menyedihkan ini.

Ketika kepalanya didongakkan tampaklah Thian Pian Siauwcu serta Auw Hay Ong suami isteri dengan tenangnva berdiri di tengah-tengah ruangan Cie lng Tong, mereka tidak turun tangan, juga tidak berlalu dari sana.

Cuma saja anak buah dari partai Kiem Tien Pay dengan gencarnya menyerang terus kearah Liem Tou membuat Lie Siauw Ie terpaksa harus memberikan perlawanan dengan sepenuh tenaga.

"Liem Tou !", terdengar Oei Poh berteriak secara tiba tiba "Dahulu kau pernah menolong nyawaku, aku tidak akan berhutang budi terhadap dirimu lagi". Sembari berkata tubuhnya menerjang ke depan sembari mengeluarkan ilmu simpanannya aliran "Heng San Pay"

Sepasang telapaknya dengan melancarkan pukulan berputar hanya didalam sekejap saja menghantam tubuh berpuluh-puluh orang jagoan dari partai Kiem Tien Pay sehingga kocar-kacir Iari tunggang-langgang.

tak seorang pun yang berhasil mendekati badannya.

Melihat kejadian itu, Auw Hay Ong Bo jadi teramat gusar sepasang matanya melotot bulat-bulat; sembari mengetrukkan tongkatnya keatas tanah ia berteriak kearah Thian Pin-Siauwcu.

"Hey Ke Hong kenalkah kau orang dengan bangsat cilik ini? Ilmu pukulannya sungguh kukoay!"

"Bagaimanapun pengetahuan Thian Pian -Siauwcu jauh lebih luas jika dibandingkan dengan Auw Hay Ong Bo,"

Terdengar dia menjawab dengan keras.

"Itulah ilmu pukulan Siang Hong Ciang Hoat dari partai Heng San Pay, lebih baik itu orang sedikit berhati hati."

Dengan hampir bersamaan waktunya Auw Hay Ong serta Auw Hay Ong Bo bersama-sama menjejakkan kakinya keatas tanah kemudian laksana sambaran kilat masing-masing melancarkan satu pukulan gencar memaksa Oei Poh terdesak dan mundur kebelakang.

Tenaga dalam yang dimiliki Oei Poh sebetulnya biasa-biasa saja dan hanya boleh dihitung sebagai jagoan kelas satu didalam dunia persilatan.

Selama ini ia bisa begitu dahsyat dan hebatrya kesemuanya ini tidak lain hanya mengandalkan keampuhan dari ilmu pukulan Sian Hong Ciang serta kedua buah jurus sakti yang terukir diatas batu didalam lembah mati-hidup.

Saat ini walau pun untuk menghadapi serangan musuh yang sangat gencar ini dia bisa mengeluarkan ketiga buah jurus sakti Lang -Gong Sam Cat nya, tetapi dengan perbuatannya itu sudah tentu Liew Tou pun akan ikut menemui ajalnya.

Menghadapi situasi yang amat mendesak dan kritis ini Oei Poh tak urung jadi kelabakan juga, untuk sesaat ia merasa kebingungan apa yang harus dilakukan untuk menghadapi hal tersebut.

Pada detik detik terakhir tiba-tiba terdengar suara dengusan dari sang kerbau disusul derapan kaki yang amat keras merasa menerjang masuk kedalam ruangan Cie Ing Tong.

Melihat munculnya kerbau tersebut Auw Hay Ong suami isteri tadi sangat terperanjat.

"Ke Hong, tahan binatang itu !"

Gembornya keras Thian Pian Siauw cu yang belum pernah merasakan bagaimana dahsyatnya kekuatan kerbau itu, mendengar peringatan itu ia lantas tertawa ringan.

"Loo ciang kau boleh legakan hati buat apa urusan yang sekecil itu kau ributkan?"

Sembari berkata ia putar badannya sambil mengirim satu pukulan kearah binatang itu.

Siapa cangka kerbau itu sangat cerdik sekali, bukan saja kulitaya keras laksana baja.

bahkan setelah memperoleh didikan selama satu tahun lamanya dalam hal tenaga dalam kini ia boleh dikata sudah merupakan seekor kerbau yang benar-benar Ajaib.

Dimana angin pukulan Thian Pilan Siauwcu mnenyamnbar lewat, kerbau itu dengan sebatnya menundukkan kepalanya menghindar, ditengah suara dengusan gusar yang amat keras tanpa perduli segala rintangan dengan cepatnya ia menubruk kearah depan .

Thian Pian Siauw cu sudah tentu tidak pernah menyangka bilamana kerbau itu bisa sedemikian lihaynya tubuhnya buru-buru manekuk kemudian manyingkir kesamping .

"Sreeet .!"

Dengan menimbulkan suara -desiran yang tajam tahu-tahu kerbau itu sudah lewat dari sisi rubuhnya kemudian langsung mempersiapkan tanduknya menerjang kearah Auw Hay Ong suami isteri.

"Binatang kau berani cari gara-gara dengan aku orang ?"

Teriak Auw Ong Bo dengan gusarnya."Sekarang juga aku kirim kau pulang keasalmu !"

Tongkat besi ditangannya dengan menggunakan jurus Lek Pit Hoat San"

Atau membabat hancur gunung Hoa san menghantam kearah bawah dengan kerasnya.

Dia cepat, kerbau itu jauh lebih cepat tahu-tahu binatang itu sudah memutar kesamping ekornya yang panjang laksana sebuah cambuk lemas dengan menimbulkan desiran angin serangan yang menajam menggulung -kearah besi di tangan Auw Hay Ong Bo.

Auw Hay Ong Bo yang mempunyai tenaga dalam hasil latihan selama sepuluh tahun lamanya ketika melihat perbuatan dari kerbau itu hatinya jadi teramat girang pikirnya.

"Hmm ! tongkat besi dari Loo nio sangat berat sekali, asalkan aku gunakan sedikit tenaga untuk menekan kebawah maka kau binatang celaka tak bakal bisa lobos dari kematian !"

Diam-diam hawa murninya disalurkan ke seluruh tangan, baru saja ia bermaksud untuk menekankan tongkat besinya kebawah, mendadak sang kerbau ini mendahului setindak dari dirinya.

Ditengah dengusan yang amat keras, ekornya yang panjang ditampar kesamping dengan kecepatan laksana kilat.

Auw Hay Ong Bo kontan merasakan telapak tangannya tergetar amat keras.

hampir hampir saja tongkat besi ditangannya tergetar lepas dari cekalannya.

Gerakan dari sang kerbau ini tidak berhenti sampai disitu saja; mengambil kesempatan yang sangat baik ini sepasang kaki belakangnya dengan kecepatan penuh menendang kearah lambung musuhnya.

Seluruh geraknya ini dilakukan dalam waktu sekejap mata, bagi Auw Hay Ong Bo sadar tentu tak ada waktu lagi untuk menghindar.

"Aduuh…!", ditengah suara jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma, lambungnya sudah kena tendangan sehingga tubuhnya rubuh keatas tanah dengan bermandikan darah segar. Agaknya kerbau itu masih menaruh rasa benci terhadap perempuan itu, tubuhnya itu kembali kebelakang dan menginjak injak beberapa kali keatas tubuh Auw Hay Ong Bo yang menggeletak diatas tanah. Kejadian ini kontan saja membuat para jagoan dari partai Kiem Tien Pay pada ketakutan dan mengundurkan diri beberapa, kaki jauhnya dengan wajah pucat pasi. Sehabis merubuhkan seorang musuh kerbau itu dengan gagah dan sepasang mata berwarna merah darah berdiri tegak di tengah kalangan kelihatannya ia siap siap hendak melancarkan serangannya kembali kearah musuh.

"Engkoh kerbau, cepat bawa adik Tou menyingkir dari sini,"

Teriak Siauw Ie dangan cepat.

Dengan terburu-buru gadis itu menarik lengan Liem Tou untuk menaikkan keatas punggung kerbaunya.

Kiranya Liem Tou sama sekali tidak jatuh pingsan cuma saja disebabkan lukanya terlalu parah, maka tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak lagi.

Waktu itu pemuda itu pun merasa bilamana dirinya diangkat oleh Lie Siauw le ke atas punggung kerbaunya, mendadak dengan mata membelalak lebarlebar teriaknya setengah mendesis.

"Enci le, kau pergilah ! Kau hendak menyingkir dengan cara apa ?"

"Sesudah kau pergi, aku bisa mencari akal sendiri, legakanla hatimu !"

"Tidak Enci le ! kau harus maningggalkan tempat ini bersama-sama diriku kita bersama saja naik kerbau ini !"

Bantah Liem Tou sambil goyangkan kepalanya berulang kali.

"Tidak bisa jadi. kerbaumu tak bakal sanggup untuk mengangkat kira berdua apa lagi musuh tangguh ada dibadapan mata. Kerbau itu sembari melarikan diri harus menahan pula serangan musuh !"

Air mata yang mengucur keluar dari kelopak mata Liem Tou kini telah berubah jadi cucuran darah segar, ketika melihat pertempuran sengit yang sedang berlangsung antara Cing jie dengan Boen lng dimana beberapa kali Boen Ing hendak mengejar kedepan untuk merebut dirinya tetapi setiap kali pula tertahan oleh serangan gadis itu, hatinya jadi tergerak.

Sambil menarik napas panjang tiba-tiba saja teriaknya keras.

"Oei Poh ! nona Cing ! aku Liem Tou merasa sangat berterima kasih sekali atas budi pertolongan kalian yang begitu besar. Kini aku sudah terlalu parah dan tidak bisa bergerak lagi, jika kalian berdua suka menolong aku tolonglah sampai selesai, sampai kalian suka menjagakan keselamatan dari Lie Siauw le anak murid diri Lie Sang serta gadis cantik pengangon kambing yang telah diculik oleh Sin Beng Kauw cu untuk itu asalkan aku Liem Tou tidak sampai mati dikemudian hari tentu akan kubalas budi kebaikan kalian ini."

Menanti nada ucapannya sudah lemah dan sama sakali tak bertenaga, dalam pikirannya mendadak teringat kembali akan nasib dari si perempuan tunggal Tauw Hong, cuma sayang akhirnya ia tak sempat untuk mengucapkan hal itu, karena darah yang mengucur ke luar terlalu banyak, akhirnya pemuda tersebut jatuh tak sadarkan diatas punggung kerbau.

Lie Siauw le yang melihat kejadian ini tak mau banyak berpikir panjang lagi.

"Engkoh kerbau, cepat pergi,"

Teriaknya keras.

Dengan keras ia tabok pantat dari sang kerbau tersebut, Diantara suara dengusan yang memberat, kerbau itu jejakan kakinya keatas tanah lalu dengan kecepatan bagaikan kilat menerjang keluar dari ruangan Cie Eng Tong.

Melihat Liem Tou yang tak sadarkan diri dengan menunggang kerbau Thian Pian siauw Cu segera tertawa dingin, tubuhnya dengan cepat meloncat kedepan menghadang didepan pintu.

Sang kerbau yang bertujuan menolong majikannya sama sekali tak menggubris keadaan disekelilingnya, dengan dahsyat ia tundukkan kepalanya dan menerjang kedepan.

Thian Pian Siauw -cu yang melihat gerak-gerik kerbau itu segera membentak keras, dengan amat dahsyat ia mengirim dua pukulan sekaligus menghantam keatas kepala binatang tersebut.

Agaknya kerbau itu mengerti bila kekuatan pukulan tersebut amat dahsyat.

ia meraung keras tubuhnya buru-buru mundur beberapa kaki kebelakang.

Tetapi kerbau tersebut tidak berhenti sampai disitu saja setelah mundur, dengan garangnya kembali menerjang kearah depan.

Thian Pian siauwcu bukanlah seorang manusia yang bodoh, serangan demi serangan dilancarkan tiada hentinya memaksa kerbau tersebut berulang kali harus mengundurkan dirinya kebelakang.

Lama kelamaan kerbau itu jadi gusar juga, sifat kebinatangannya mulai meliputi kembali.

Ia mendengus gusar dengan kerasnya sehingga membuat seluruh ruangan Cie Eng Tong tergetar hebat.

Pada saat itu "Ia"

Berdiri kurang lebih dua kaki didepan tubuh Thian Pian siauwcu matanya yang besar berwarna merah melotot kedepan tak berkedip.

Ekornya yang tegak lurus bagaikan pit menegak laksana tombak sedang dari ujung mulutnya menyiarkan hawa panas yang diiringi gerengan marah .

Disebelah belakang, sejak kematian Auw Hay Ong Bo terinjak injak oleh sang kerbau beberapa kali Auw Hay Ong, Ciang Cau bermaksud hendak menerjang kedepan tetapi setiap kali kena terhadang oleh serangan-serangan Oei Poh serta Lie Siauw le..Pedang Boen Ing pun kena terhadang oleh Cing Jie, hal ini membuat siapa pun sulit untuk memisahkan diri guna ikut campur didalam bentrokan antara sang kerbau dengan Thian Pian siauwcu.

Si Thian Pian siauwcu yang mengerti bagaimana lihaynya sang kerbau tersebut sedikit pun tidak berani berlaku gegabah, demikianlah akhirnya sang binatang serta sang manusia berdiri saling berhadapan tanpa ada pihak lain yang mulai bergerak.

Mendadak suatu ingatan terkelebat didalam benak Thian Pian siauwcu,, pikirnya dalam hati.

"Yang aku maui adalah nyawa dari Liem Tou si bangsat cilik itu, asalkan aku berhasil membinasakan dirinya sehingga membabat bibit bencana dikemudian hari, maka keadaan bereslah sudah, buat apa kau orang harus ngotot bergebrak terus dengan kerbau itu ?"

Berpikir akan hal itu, mendadak tubuhnya meloncat kesamping memberikan satu jalan bagi kerbau itu untuk melewati pintu tersebut.

Didalam hatinya ia bermaksud apabila kerbau itu menerjang keluar melalui sisi tubuhnya, mengambil kesempatan tersebut Thian Pian siauwcu hendak meloncat ketengah udara dan mencengkeram tubuh Liem Tou seperti gerakan diri burung elang menyambar anak ayam sewaktu gerakan itu berhasil bukankah persoalan mudah dibereskan.

Setelah mengambil keputusan didalam hatinya ia mulai tersenyum dan melirik kearah kerbau itu dengan maksud memancing.

Kembali sang kerbau mendengus berat kakinya yang didepan disepak sepak berulang kali tetapi tubuhnya sama sekali tidak menerjang kedepan, agaknya iapun sedang memikirkan sesuatu.

Thian Pian siauwcu yang melihat kerbau itu kendati sangat marah tubuhrya tidak juga suka bergerak, dalam hati merasa amat mendongkol.

Ia mulai ada maksud untuk mengusiknya mendadak telapak kirinya dibabat kedepan mengirim satu pukulan tajam menghajar tubuh sang kerbau tersebut.

Sedikitpun tidak salah agaknya kali ini sang kerbau itu tak bisa menahan sabar lagi.

Kepalanya ditundukkan rendah-rendah, dari mulutnya mengeluarkan busa putih.

Akhirnya dengan gerakan yang amat ganas ia menerjang maju kedepan.

Thian Pian siauwcu yang melihat kerbau tersebut kena terpancing oleh siasatnya dalam hati merasa sangat girang.

Tetapi sebentar kemudian ia sudah menjerit kaget, kiranya kerbau tersebut sama sekali tidak menerjang kearah pintu luar.

sebaliknya dengan ganas dan garangnya menerjang kearahnya.

Laksana sambaran kilat ia menjejakkan kakinya keatas permukaan tanah kemudian melayang keluar sejauh beberapa depa dari tempat semula.

Mengambil kesempatan itulah sang kerbau menggoyang-goyangkan ekornya yang panjang, tanpa menoleh lagi menerjang dari ruangan Cie Eng Tong tersebut.

Dengan kecepatan yang penuh, binatang itu lari menuruni gunung Ha Mo san dengan melalui tiga rintangan, Tanpa banyak membuang waktu lagi, setelah tiba dibawah gunung segera lari menjauh.

Hanya didalam sekejap saja bayangannya telah lenyap tak berbekas.

"Thian Pian siauwcu yang melihat gagal total dan sebaliknya malah memberikan kesempatan bagi kerbau itu untuk menerjang keluar dari dalam ruangan, hatinya merasa teramat gusar, ia bersuit keras memanggil burung elangnya kemudian tanpa banyak waktu lagi dengan menunggang diatas punggung burung peliharaannya ia melakukan pengejaran cepat terhadap kerbau itu. Sang kerbau kesayangan Liem Tou ini sambil membawa tubuh majikannya, menggerakkan keempat kakinya terus menerus jauh meninggalkan gunung Ha Mo san, terhadap kuntitan dari Thian Pian siauwcu ia sama sekali tidak mengambil gubris. Thian Pian siauwcu yang menunggang burung elangnya pun tidak suka melepaskan mangsanya dengan begitu saja, ia menguntit terus dari atas udara kemana kerbau itu pergi. Ditengah perjalanan Liem Tou pernah tersadar satu kali tetapi badannya pada saat terasa amat sakit. seperti hancur berantakan sedikitpun tak bisa berkutik. Apabila badannya bukan dilibat erat-erat oleh ekor sang kerbau tersebut mungkin sejak tadi ia sudah rubuh terjungkal keatas tanah. Akhirnya pemuda itu jatuh pingsan kembali … menanti ia tersadar untuk kedua kalinya pikirnya jadi terang kembali atau paling sedikit ia sudah merasa bila dirinya kena ditolong oleh kerbaunya dan kini sedang melarikan diri dari kejaran musuh. Tubuhnya yang mendeprok diatas punggung kerbau hanya bisa melihat permukaan tanah, yang berlalu dengan cepat bersamaan itu pula ia mulai merasakan luka didadanya yang terkena sabetan pedang Boe Beng Toksu terasa amat sakit seperti ditusuk-tusuk dengan beribu ribu bilah golok tajam sakitnya luar biasa. Akhirnya ia tak kuat menahan diri lagi dari mulutnya mulai memperdengarkan suara rintihan yang amat lirih. Sang kerbau seketika mendengar suara rintihan dari Liem Tou, larinya mulai perlahan, Tetapi berhubung Thian Pian siauwcu mengikutinya terus ia tak berani berhenti. Dengan kejadian itu maka rasa sakit didada pemuda itupun rada jauh berkurang, ia mulai teringat kembali dengan peristiwa yang baru saja terjadi diruangan Cie Eng Tong, bagaikan baru sadar dari impian buruk keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya Terakhir is cuma bisa bergumam perlahan "Oooo…. suhu ! akhirnya aku berbuat seperti apa yang kau pesan."

Baru saja ia selesai bergumam mendadak ekor kerbau itu menyambar badannya dan dengan gerakan yang manis melemparkan badannya ketengah udara.

"Aduh" !"

Teriak pemuda itu saking kaget nya.

Tubuhnya yang jauh terlempar setinggi dua depa dengan cepat berjumpalitan beberapa kali, dan akhirnya dengan empuk berhasil duduk tenang diatas pantat kerbau kembali.

Saat itulah sang pemuda baru mengerti maksud tujuan dari kesayangannya ini.

Liem Tou yang berhasil duduk enak; pikirannya mulai teringat kembali dengan obat yang ada didalam sakunya.

Dengan bersusah payah dan mengeluarkan banyak tenaga akhirnya Liem Tou berhasil juga mengeluarkan obat itu; tetapi pada saat itu juga tangannya yang merogoh kedalam saku telah terbentur dengan suatu benda.

Ia mulai teringat kembali semua pesan yang diberikan suhunya Thiat sie poa kepada dirinya, disamping itu iapun mulai memahami apa yang harus dikerjakan sesuai dengan pesan suhunya itu.

Kiranya sewaktu Thiat sie poa hendak berlalu pernah memberi pesan wanti wanti supaya pemuda itu dengan penemuan anehnya sewaktu ada dilembah mati hidup digunung Heng san, pada waktu itu tak terpikirkan olehnya penemuan aneh apa yang sedang di maksudkan suhunya.

Tetapi kini, ketika tangannya merogoh ke dalam saku, mendadak jari tanganrya sudah tersentuh dengan daun pohon.

ia mulai teringat kembali pengalamannya sewaktu Cing jie menghadiahkan daun tersebut kepadanva sewaktu untuk pertama kali ia mendatangi lembah mati hidup itu.

Waktu itu tak terpikirkan olehnya apa kegunaan daun tersebut, tetapi kini ia terasa daun itulah obat yang paling tepat untuk menyembuhkan seluruh lukanya.

Karena untuk menuntut balas atas dendam dari Lie Lo jie serta sitelapak naga Lie Kian Pao untuk mencari kembali sigadis cantik pengangon kambing; siperempuan tunggal Touw Hong serta Lie Siauw le sekalian ia harus memulihkan kembali seluruh kepandaian ilmu silatnya.

Tetapi kembali pemuda itu teringat dengan sumpahnya yang pernah diucapkan waktu mengunci tangan, sebelum dirinya mati walaupun memiliki kepandaian ilmu silat yang lihay pun tak mungkin bisa digunakan.

Karena itu ia harus menggunakan daun mati hidup itu untuk mati satu kali, setelah mati setahun lamanya ia bisa bangkit kembali untuk menuntut balas.

Dengan cepat kerbau itu melakukan perjalanan persis seperti apa yang dilalui kemarin, baru kurang lebih satu setengah jam kemudian sampailah mereka dimulut lembah berkabut tersebut .

"Engkoh kerbau cepat terjang masuk kedalam lembah kabut itu,"

Bisik Liem Tou dengan lirih.

Agaknya kerbau itu mengerti apa yang diucapkan oleh Liam Tou; ekor yang membelit diatas tubuh pemuda tersebut dilibatkan semakin kencang lagi, lalu membelok pada ujung tebing dihadapannya.

Seperti juga halnya kemarin hari kerbau itu langsung menerjang masuk kedalam lembah yang penuh diliputi oleh kabut tebal itu.

Pada waktu itulah tengah angkasa berkumandang datang suara pekikan keras dari burung elang diikuti suara teriakan tajam dari Thian Pian siauwcu.

"Liem Tou! Liem Tou ….."

Dari balik kabut yang tebal pada saat yang bersamaan berkumandang pula suara panggilan yang amat keras .

"Liem Tou! Liem Tou!..... Agakrya Thian Pian siauwcu pun mendengar pula yang muncul dari dalam lembah berkabut itu .

"Siapa kau?"

Tegurnya keras "Siapa kau ?"

Dari dalam lembah berkumandang pula suara seseorang yang menirukan ucapannya.

"Haaa… haaa… aku siorang tua adalah Thian Pian siauwcu"

Ke Hong adanya !"

"Hmmm! manusia yang tak tahu malu !"

Mendadak dari dalam lembah berkumandang keluar suara seorang perempuan diikuti menyambar datangnya tiga buah batu cadas yang laksana sambaran kilat menerjang keluar dari balik kabut.

Diantara suara desiran angin serangan yang amat tajam batu-batu cadas itu langsung meluncur ketengah udara menyerang kearah burung elang yang ditunggangi Thian Pian siauwcu itu.

Mendengar adanya desiran tajam menyampok udara Thian Pian Siauwcu segera sadar bila ada serangan senjata rahasia mengarah dirinya, kakinya buru-buru mengempit burung elangnya kencang-kencang lalu menyingkir kesamping.

Dua buah batu cadas berhasil menyambar lewat dengan tajamnya dari sisi tubuhnya tapi batu cadas yang ketiga bagaimanapun juga tak bisa dihindari lagi.

Tanpa ampun batu itu dengan amat keras menghajar lambung burung elang tersehut membuat burung peliharaan dari Thian Pian Siauwcu ini berpekik kesakitan dan kebaskan sayapnya semakin mengencang, hanya dalam sekejap saja mereka sudah menerjang masuk kebalik awan dan lenyap tak berbekas.

Thian Pian Siauwcu yang melihat kelihaian orang itu didalam hal manyambitkan senjata rahasia, dalam hati sadar bila dirinya sudah bertemu dengan musuh tangguh ia tak berani berlaku gegabah lagi, buru-buru burungnya diterbangkan kebalik awan dan tidak menerjang turun lagi.

Liem Tou yang menunggang diatas punggung kerbau menerjang masuk kedalam lembah berkabut walaupun matanya tidak dapat melihat tetapi telinganya masih bisa menangkap pembicaraan dari Thian Pian Siauwcu, lapun mendengar pula bila suara panggilan terhadap namanya itu berasal dari mulut sang burung beo.

Kerbaunya setelah menerjang hingga dasar lembah segera menghentikan gerakannya dan berdiri tenang ditempat itu.

"Liem Tou kau sudah datang! kau sudah datang!"

Terdengar kedua ekor burung beo itu berteriak tiada hentinya.

Kerbau itu setelah menghentikan gerakannya mulai berpekik dan jongkokkan sang badan untuk meletakkan tubuh Liem Tou keatas tanah.

Agaknya ia tahu bila didalam lembah berkabut ini pasti ada penghuninya dan orang itu menaruh maksud baik terhadap majikannya, karena itu ia berpekik dengan tiada hentinya minta bantuan.

"Liem Tou ! sekarang semuanya sudah berlalu,"

Terdengar perempuan itu berkata dengan tenangnya dari balik dinding yang berotan seperti juga keadaan kemarin.

"Bencana ini tidak ada seorang manusia pun yang bisa menolongimu, orang-orang yang tidak tersangkut didalam bencana ini kau boleh legakan hati; mereka telah berada didugaan suhumu sejak semula ….. kau mengerti bukan perkataanku ini ?"

Seluruh tubuh Liem Tou telah dipenuhi dengan luka bacokan pedang yang amat parah, saat ini badannya yang terbaring diatas tanah sama sekali tak dapat berkutik.

Ketika mendengar perkataan tersebut ia merasa bahwa saat untuk menelan daun mati-hidup telah sampai, tetapi didalam pikirannya mulai terbayang kembali dengan banyak persoalan.

Ia berpikir, jika ia menelan daun mati-hidup itu maka sewaktu tersadar kembali.

satu tahun telah berlalu, pada saat itu bagaimanakah keadaan dari si gadis cantik pengangon kambing yang ditawan oleh Boe Beng Tok su, bagaimana pula nasib dari Lie Siauw Ie serta siperempuan tunggal Touw Hong ?

hatinya mulai merasa amat khawatir sekali.

Teringat akan persoalan itu ia tak bisa menahan golakan dihatinya lagi; sambil mengerahkan hawa murninya ia berteriak keras .

"Nasib Nasib ... tolong tanya apakah enci Ie, adik Wan serta Hong Susiok itu juga termasuk orang-orang yang tersangkut didalam bencana ini ?"

Perempuan yang ada dibalik dinding berotan itu sewaktu mendengar pertanyaan sagera menghela napas panjang.

"Heeei..! sudah tentu."

Merekapun termasuk didalam orang-orang yang terkena bencana, cuma ..."

Liem Tou segera merasakan hatinya seperti mau meledak saking sedih dan tergoncangnya tanpa perduli badannya terluka parah ia mencak-mencak dengan keras.

"Apa ? cuma kenapa ?"

Teriaknya laksana gemuruh disiang hari bolong.

"Ouw…. Thian kenapa aku tidak termasuk diantara orang-orang yang mendapat bencana kematian ?"

Karena goncangan itu seluruh mulutnya juga jadi pecah dan sakitnya luar biasa tetapi tidak ambil perduli sambil menggigit kencang bibirnya ia bertahan terus.

"Kau tidak usah bersedih hati !"

Hibur perempuan itu dengan suara yang perlahan.

"Siapa yang bilang kau tidak termasuk orang yang harus menemui bencana kematian ? badanmu sudah terluka parah dan segera berbaring kedalam peti mati yang disediakan oleh suhumu itu. Apakah soal ini bukan termasuk bencana kematian ?"

Ia berhenti sebentar, kemudian dengan tenang dan kalem sambungnya kembali.

"Cuma walaupun enci le, adik Wan serta Hong susiok mu termasuk didalam orang-orang yang terkena bencana, tetapi mereka tidak termasuk didalam golongan orang orang yang terkena bencana kematian."

"Kalau mereka tidak termasuk didalam bencana kematian, lalu mereka seharusnya dikatakan terkena bencana apa? apakah ..?"

Seru Lien Tou dengan air mata bercucuran. Ketika teringat akan suatu akibat yang jauh lebih mengerikan ia jadi tertegun dan menghentikan pembicaraannya.

"Tidak! Tidak ! Liem Tou, kau jangan berpikir begitu banyak,"

Teriak perempuan secara mendadak.

"Aaakh.. suhumu masih berpesan agar sebelum kau mati makanlah dulu seutas tali obat, dengan berbuat begitu maka sewaktu kau bisa melihat matahari lagi keadaanmu akan pulih seperti sedia kala. Kalau tidak maka diatas badanmu akan meninggalkan banyak sekali bekas-bekas luka, hal itu akan menyeramkan sekali."

Sampai saat itu Liem Tou tidak bisa banyak berbicara lagi, dengan gerakan yang sangat payah ia menelan dulu seutas tali obat kemudian baru menelan daun mati-hidup tersebut.

Sebelum napasnya berhenti dan mati untuk setahun lamanya, ia masih sempat bergumam sendiri.

"Oooow….. selamat tinggal semuanya kita berjumpa lagi dikemudian hari."

Ia mulai merasakan matanya memberat dan merasa sangat lelah napasnya semakin lama semakin ringan akhirnya ia jatuh tidak sadarkan diri memejamkan mata dan mati.

Tidak selang lama setelah pemuda itu mati dari balik dinding, yang tertutup tumbuhan rotan muncullah seorang gadis berbaju hitam.

Tampak gadis tersebut dengan wajah penuh air mata menggendong mayat dari Liem Tou dan dengan perlahan berjalan masuk kerumah gubuk tersebut.

Ia membuka penutup peti berwarna hitam itu untuk meletakkan jenazah Liem Tou ke dalamnya setelah itu ia meletakkan pula pedangnya itu didasar punggungnya.

Setelah semua pekerjaannya selesai gadis itu baru mengangkat penutup peti mati tersebut untuk ditutupkan diatasnya.

"Adik Tou !"

Gumam gadis itu kemudian sambil meletakkan beberapa kuntum bunga diatas peti mati.

"Kau beristirahatlah dengan lega hati, kini adik Ie ada susah, aku tidak bisa tinggal disini untuk mengawasi terus jenazahmu, aku harus pergi membantu adik meloloskan diri dari bahaya, aku sangat berterimakasih sekali kepadamu, karena tempo dulu kau suka mendengarkan perkataanku dan tidak membunuh mati engkohku, setahun kemudian, aku masih menghadapkan kau suka melepaskan dirinya, waktu itu sekalipun harus mati akupun bisa mati dengan mata meram !"

Air mata bercucuran semakin deras sehingga mirip sekali dengan hujan deras yang sedang melanda.

Beberapa saat kemudian perlahan-lahan ia baru bangun berdiri untuk mengundurkan diri dari dalam gubuk tersebut.

Yang aneh, ternyata ia tidak menutup pintu itu sebaliknya membiarkannya terbuka lebar lebar.

Akhirnya gadis tersebut berjalan keluar dari lembah.

Setelah menggape kedua ekor burung beonya agar hinggap diatas pundaknya kepada sang kerbau yang berdiri tenang disana ujarnya.

"Kerbau yang baik ! baik-baiklah kau menjaga jenazah dari majikanmu, aku mau pergi !"

Selesai berkata tubuhnya dengan cepat berlalu dari tempat itu dengan membawa serta kedua ekor burung beonya.

Hanya dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap ditengah kabut yang tebal.

Tidak lama la meninggalkan tempat itu dari balik kabut tampak bayangan putih berkelebat dan muncullah seorang gadis yang amat cantik sekali.

Sewaktu melihat adanya kerbau itu disana bagaikan memperolen harta kekayaan yang berlimpah-limpah mendadak ia tertawa terkekeh-kekeh.

"Hiii hii . Liem Tou!"

Teriaknya.

"Ternyata kau bersembunyi di sini, jejak kaki kerbaumu adalah suatu petunjuk jalan yang paling baik buatku, aku tahu lukamu sangat parah tetapi tidak sampai membahayakan nyawamu aku bisa menunggu hingga lukamu menjadi sembuh kembali."

Sinar matanya perlahan-lahan menyapu ke arah peti mati berwarna hitam yang ada di dalam rumah gubuk itu, bahkan terhadap mengamuknya sang kerbau yang siap menerjang kearahnya itu Boen Ing sama sekali tidak ambil perduli.

Tubuhnya sedikit bergerak dan tahu-tahu sudah melayang turun didepan peti mati tersebut.

Tetapi sewaktu dapat mellhat kata-kata yang ada diatas tutup peti mati tersebut ia jadi menjerit keras.

"Hal ini tidak mungkin, hal ini tidak mungkin …"

Kiranya perempuan tersebut sudah manemukan kata-kata yang bertuliskan.

"Jenazah dari Liem Tou !"

Berbagai ingatan dengan cepat berkelebat didalam benaknya, mendadak ia mengangkat telapak tangannya siap-siap melancarkan serangan menghajar peti mati tersebut.

Tetapi sebentar kemudian ia sudah berpikir kembali .

"Hmm ! lebih baik aku periksa dulu sebenarnya apa yang ada didalam peti mati ini "

"Ia berjalan mendekati peti mati itu, ketika dilihatnya penutup peti mati tersebut tidak terpaku dengan cepat diangkat dan disingkirkan kesamping. Untuk menjaga segala kemungkinan, begitu kayu penutup peti mati itu terbuka dengan kecepatan yang paling tinggi, ia mengundurkan diri untuk manantikan kemungkinan yang bakal terjadi.

Jilid 43 .

Mati sekali barulah hidup setahun kemudian PADA SAAT itulah sang kerbau dengan gusarnya kembali melancarkan serudukan ke arahnya, hal ini membuat perempuan itu jadi rada marah, segera ujung jubahnya dikebutkan kedepan mengirim satu pukulan dahsyat.

Sang kerbau yang merasakan datangnya serangan dahsyat segera mendengus panjang; ia pernah merasakan bagaimana dahsyatnya pukulan Thian Pian siancu, buru-buru tubuhnya mengundurkan diri sejauh dua kaki lebih, Boen Ing yang melihat dari dalam peti mati itu sama sekali tidak menimbulkan suatu apa pun rasa curiga didalam hatinya mulai mereda.

Perlahan-lahan ia berjalan mendekat sebentar kemudian ia sudah menemukan tubuh Liem Tou yang putih keabu-abuan dan berbaring terlentang didalamnya.

Tangannya dengan cepat meraba kearah dada pemuda tersebut tetapi sebentar kemudian ia sudah menemukan kalau kematian Liem Tou adalah kematian yang benar-benar.

Hatinya mulai merasa kecewa.

Lama sekali perempuan itu dengan mata melo!ot memperhatikan tubuh sang pemuda yang berlepotan darah itu.

Mendadak sinar matanya membentur dengan serentetan cahaya hijau yang muncul dari atas wajahnya yang kuning pucat itu sinar tersebut amat tipis bila diperhatikan oleh kacamatanya yang benar-benar sempurna sukar untuk ditemukannya.

Dalam hati ia merasa rada bergerak dan menjadi sadar kembali apa yan g sudah terjadi.

"Haa…. Haa…. kiranya kau lagi berpura-pura mati,"

Teriaknya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Bilamana berganti sama orang lain. mungkin berhasil kau dikibuli, tetapi terhadap diriku apa kau anggap dengan mudah bisa kau bohongi?"

Selesai berkata kembali ia tertawa terkekeh kekeh, pikirannya mulai berputar;

"Akh, daun mati hidup itu memang tak ada cara yang bisa menolongnya, selembar berarti setahun, selamanya tak bakal lewat, tetapi dia sudah menelan berapa lembar daun tersebut?"

Hatinya mulai merasa kecewa kembali.

Pada waktu itulah sang kerbau yang ada dibelakarg tubuhnya mulai mendengus dan menerjang datang kembali tubuhnya dengan cepat berputar sambil mengirim satu pukulan kedepan, Kerbau itu dengan ketakutan cepat-cepat mengundurkan dirinya kembali kebelakang.

"Baiklah !"

Gumamnya kemudian setelah lama berdiri disana .

"Tahun depan aku akan datang menengok dirinya kembali."

Perlahan lahan ia menutup kembali kayu penutup peti mati ketempatnya semula kemudian berlalu dari gubuk kecil tersebut.

==mch== WAKTU berlalu bagaikan aliran air, hanya dalam sekejap mata setahun sudah berlalu .

Hari itu tepat pada waktunya Boen Ing sudah munculkan dirinya kembali didalam lembah berkabut.

Kerbau tersebut jauh lebih kurusan jika dibandingkan dengan setahun yang lalu, dengan amat tenangnya dia berbaring didepan pintu rumah gubuk itu.

Sewaktu meIihat munculnya Boen lng untuk kedua kalinya, seperti hatinya merasa terperanjat, mendadak ia mendengus panjang mengirin tanda bahaya sedang tubuhnya dengan sebatnya meloncat bangun dan melototi diri Boen Ing tajam-tajam.

Perempuan itu tetnyata sama sekali tidak berjalan menuju kesana, sambil berdiri tegak teriaknya.

"Liem Tou ! Liem Tou ! Kau bangunlah !"

Dari balik ruangan gubuk itu sama sekali tidak terdengar suara sahutan, perlahan-latan tubuhnya berjalan maju mendekat sambil memukul mundur kerbau itu.

Sewaktu tangannya hendak mengangkat kayu penurup peti mati itu, mendadak dari baIik peti mati berkelebat keluar cahaya tajam disusul munculnya tubuh Liem Tou mencelat keluar.

"Bunuh!"

Teriaknya keras.

Ditengah berkelebatnya cahaya tajam suara jeritan ngeri yang menyayat hati berkumandang memenuhi seluruh lembah tersebut.

Liem Tou sambil menenteng pedang sudah meloncat keluar dari dalam peti mati, pedangnya kini berhasil menembusi ulu hati Boen Ing; membuat darah segar berceceran memenuhi permukaan tanah.

Tubuh perempuan itu perlahan-lahan jadi lemas dan akhirrya rubuh keatas tanah dalam kedaan tak bernyawa lagi.

Sang kerbau itu sewaktu melihat majikannya hidup kembali, dengan penuh kegirangan, ia mendengus panjang dan menggoyang-goyangkan ekornya.

Dari kelompok matanya yang besar manetestah titik-titik airmata kegirangan.

Liem Tou yang hidup untuk kedua kalinya didalam kolong langit walaupun dalam hati merasa amat girang tetapi iapun rada termangu mangu, dengan dengan pikiran kosong ia menengadah keatas memandang awan yang berlalu dengan cepat hatinya merasa amat sedih.

Melihat bekas darah yang telah menghitam serta wajahnya yang kusut dengan rambut terurai tidak karuan, hatinya semakin sedih apa yang pernah terjadi pada waktu yang lalu kembali terbayang didalam benaknya.

Supeknya sicangkul sakti Lie Sang sudah terbunuh mati!

sitelapak naga Le Kian Poo juga mati sigadis cantik pengangon kambing di culik Boen Bong Tok Su jajak enci le nya tidak diketahui.........."

Masih ada lagi lanyapnya Hong Susiok …….

sewaktu teringat dengan beberapa orang itu hatinya semakin pedih rasanya, ia menyadari bahwa orang-orang itu menderita semuanya disebabkan dia sendiri.

Hatinya jadi kecut, sepasang matanya jadi semakin basah oleh air mata yang mengalir keluar dengan deras.

Kepingin sekali ia menangis sekeras kerasnya pada waktu itu, apalagi ketika dilihatnya sang kerbau itu sedang mengucurkan air mata.

Mendadak suatu perasaan yang maha aneh bergolak didalam hatinya, kontan saja air mukanya berubah hebat.

"Engkoh kerbau !"

Mendadak bentaknya dengan amat gusar.

"Apa yang sedang kau tangisi ?"

Tubuhnya mulai gemetar amat keras, air mata hampir-hampir saja manetes keluar, tetapi ia berusaba mempertahankan diri, tubuhnya gemetar semakin keras, akhirnya...

Sekonyong konyong Liem Tou memutar badan, pedang ditangan kirinya dengan cepat digerakkan membentuk bunga-bunga pedang yang; amat banyak sedang telapak kanannya dibalik mengirim satu pukulan kedepan.

"Aku akan membalas dendam "

Teriaknya murka.

"Aku mau membalas dendam "

Ketika suara teriakan yang ketiga baru saja meluncur keluar dari mulutnya mendadak terdengar suara gemuruh yang amat keras berkumandang memenuhi angkasa.

Gubuk kecil yang digunakan pemuda itu untuk beristirahat selama setahun pada saat ini sudah hancur berantakan terkena hajaran angin pukulannya itu.

Melihat kejadian itu pada mulanya pemuda tersebut rada melengak tetapi sebentar kemudian ia sudah tertawa terbahak-bahak.

"Haha, haaa dunia kangouw…. Haa… haaa.. suatu peraturan Bu lim yang tak patut dipercayai. Aku mati mengobrak-abrik seluruh dunia persilatan; teriaknya keras.

"Aku tidak malui lagi kepercayaan dunia kang-ouw. Haha… haa. aku mau bunuh habis mereka."

Selesai berkata kembali ia ayunkan telapak tangannya melancarkan satu pukulan ke depan.

Walaupun kelihatannya ia sama sekali tidak gunakan banyak tenaga serta desiran angin pukulannya tidak tajam tetapi laksana menggulungnya ombak dahsyat ditengah samudra sekali lagi ia menghajar gubuk serta peti mati itu membuat benda-benda tersebut semakin hancur berkeping-keping ..!

Pada waktu itu kerbaunya sudah menarik kembali rasa gembiranya, matanya terbelalak lebar-lebar memperhatikan diri Liem Tou tanpa berkedip .

Setelah melancarkan dua serangan Liem Toa baru berjalan menuju kedepan sebuah air terjun, ia mulai mencuci mukanya dan minum sepuas-puasnya.

Menanti kesadarannya mulai pulih kembali perlahan ia baru duduk diatas tanah dan memikirkan banyak urusan.

Satu jam…; dua jam ...

menanti sang surya sudah lenyap diufuk sebelah Barat dan magribpun telah tiba pemuda tersebut masih juga duduk terpekur disana.

Lama..

lama sekali menanti sang rembuIan sudah menyinari seluruh jagat Liem Tou baru bangun berdiri dan berjalan kesisi tubuh kerbaunya.

"Engkoh kerbau.

"mari kita pergi "

Serunya lembut.

Wajahnya pada waktu ini sudah kelihatan dingin kaku dan tawar, sambil menuntun sang kerbaunya perlahan-lahan ia berjalan keluar dari lembah tersebut.

Sejurus kemudian ia sudah keluar dari balik kabut yang tebal dan kini berdiri dibawah sorotan sinar rembulan yang cemerlang.

Dengan langkah yang sangat perlahan pemuda itu berjalan terus kedepan, menanti pagi hari hampir menyingsing dia baru tiba dibawah gunung Ha Mo san.

Dengan termangu-mangu dia memandang keatas gunung tersebut, mendadak tubuhnya meloncat naik keatas punggung kerbaunya dan membentak dengan suara rendah.

"Engkoh kerbau, mari kita naik dan menengok sejenak."

Selama satu tahun lamanya kerbau itu belum pernah melakukan perjalanan jauh, kini mendengar majikannya mengajak ia untuk berlari dengan girangnya la lantas mendengus ditengah suara derapan kakinya yang amat ramai dengan amat cepat mereka menerjang naik keatas gunung Ha Mo san.

Dengan tanpa membuang banyak tenaga Liem Tou berhasil metewati Sungai kematian, Tebing maut serta Jembatan pencabut nyawa tetapi sewaktu tiba diatas gunung hatinya jadi amat terperanjat sekali.

Lama sekali ia terdiri tertegun disana kiranya diatas gunung itu sams sekali sudah tak terlihat adanya dusun serta rumah tinggat penduduk lagi pada saat ini yang tersisa cuma bekas-bekas puing yang berserakan dimana-mana.

Liam Tou tak bisa menahan rasa kesedihan dihatinya lagi air mata bercucuran dengan amat derasnya.

"Karena aku rakyat perkampungan le Hee San Cung, jadi tersiksa dan menderita dengan adanya kejadian ini bagaimana aku masih punya muka untuk menemui rakyat kampung ? sekalipun badanku harus hancurpun tidak mungkin bisa manebus dosa yang demikian besarnya ini."

Mendadak hatinya rada bergerak, sewaktu kepalanya menoleh kebelakang maka tampaklah diatas jembatan percabut nyawa pada saat ini sudah terpancang sebuah jembatan kayu yang amat besar sedang diatas tebing maut itupun terdapat sebuah tali yang menggantung kebawah.

Dalam hati Liem Tou mulai sadar, para penduduk perkampungan tersebut tentu sudah pada turun gunung berhubung rumah mereka kena dimusnahkan.

Dengan hati sedih akhirnya ia putar mengelingi seluruh perkampungan dalam hati diam-diam pikirnya.

"Aku harus membangun kembali perkamnungan Ie Hee san cung, aku mau sambut lagi semua penduduk yang ada, aku akan membahagiakan mereka dan hidup dengan gembira."

Akhirnya sampailah pemuda itu didepan kuburan ayahnya si pancingan sakti Liem Cong, mendadak ia menemukan pula disisi kuburan ayahnya terdapat pula sebuah kuburan baru.

Dengan cepat ia bergerak mendekati kuburan itu, tetapi sebentar kemudian ia sudah menjerit dan berlutut diatas tanah.

Kiranya kuburan tersebut kuburan dari si cangkul pualam Lie Sang adanya.

"Sapek teriaknya keras Air mata bercucuran dengan amat derasnya, lama kelamaan yang mengucur keluar bukan air lagi melainkan darah ! Kesadarannya mulai punah. Tepat pada saat yang bersamaan terdengar kerbau itu mendengus panjang disusul suara pekikan nyaring dari dua ekor burung elang, Liem Tou jadi tersadar kembali, hawa murninya buru-buru disalurkan mengelilingi seluruh tubuh sedang semangatnyapun mulai berkobar kembali. Ketika kepalanya didongakkan maka tampaklah diatas kuburan Lie Sang berdiri tegak sekor burung elang raksasa yang sedang memandang kearah pemuda itu dengan penuh kegusaran. Liem Tou mengenali kembali kalau burung elang itu adalah burung yang berhasil ia menangkan sewaktu bertempur melawan Thian Pian siauwcu ia masih teringat pula bila ketiga ekor burung itu sudah dihadiahkan kepada Lie Siauw Ie. Semangatnya semakin berkobar mendadak sambil melompat bangun teriakrya keras.

"Enci le!"

Suara teriaknya kali ini disertai dengan hawa murni yang sempurna kedahsyatanrya benar-benar luar biasa sekali.

"Bukan saja suara itu menggetarkan seluruh angkasa disekeliling tempat itu bahkan dari ketiga puluh enam puncak gunung Cing Shia pun berkumandang suara pantulan. Kehebatan tenaga dalamnya yang mamperoleh kemajuan yang sangat pesat ini kontan saja membuat sang kerbau yang ada disisinya jadi terperarjat bahkan ia sendiripun merasa tidak percaya dengan hasil yang diperolehnya pada saat ini. Untuk beberapa saat lamanya ia jadi terkesima dan berdiri mematung. Tetapi bayangan dari Lie Siauw Ie sama sekali tidak kelihatan. Burung elang pun mendadak mengebaskan sayapnya, terbang ketengah angkasa, hanya di dalam sekejap mata telah lenyap tak berbekas.

"Apakah burung-burung itu sudah jadi binatang liar kembali?"

Gumam pemuda itu tak tertahan Liem Tou tak ada maksud untuk memikirkan burung itu kembali, ia mulai duduk disana dan membayangkan kembali kejadian tempo hari.

Ia teringat bila si gadis cantik pengangon kambing kena ditawan oleh Boe Bang Toksu, tetapi Lie Siauw Ie telah pergi kemana?

Sewaktu dirinya tertolong oleh kerbaunya di dalam ruangan Cie Eng Tong masih ada orang-orang dari Kiem Tien Pay serta Thian Pian Siauwcu.

Bilamana dikatakan ada orang yang menculiknya maka dia tentu bukan lain adalah orang partai Kiem Tien Pay, atau mungkin juga perbuatan dari Than Pian Siauwcu?

Berpikir akan hal itu hatinya berdebar-debar sangat keras, ia mulai teringat kembali dengan pesan yang diucapkan suhunya Thian Sie Poa sesaat meninggalkan dirinya.

"Liem Tou. sewaktu kau bertemu kembali dengan kitab Toa Loo Cin Keng, waktu itu pula untuk bertemu kembali dengan diriku". Yang jelas kitab pusaka Toa Loo Cin Keng itu hanya dimiliki oleh supeknya dari partai Toen Si Pay dan tak mungkin terjatuh ketangan orang lain. Bilamana kitab itu tidak dibawa oleh supek, maka benda tersebut tentu ditinggal di gunung Gobie-san, dengan demikian menunjukkan pula kalau suhunya tentu ada disana. Semakin berpikir ia semakin gembira. Liem Tou adalah seorang yang sangat cerdik. Mendadak ia jadi tersadar kembali dan berteriak keras.

"Aduuuh celaka….!"

Selagi ia ada maksud hendak meloncat bangun, mendadak dari balik hutan disisi tubuhnya berkumandang, datang suara dari seorang gadis yang menyambung perkataannya.

"Apanya yang celaka ?? Kau sudah membiarkan saudara sendiri dibunuh orang tanpa mencegah; apanya yang patut celaka lagi??"

Beberapa patah perkataan itu laksana sebilah pisau belati yang tajam menusuk kedalam hatinya membuat tubuh pemuda tersebut gemetar sangat keras.

Wajahnya yang putih bersih perlahan-lahan menunjukkan keadaan yang tersiksa dan terkesima.

Lama sekali ia memandang kearah hutan dengan termangu-mangu.

Sejenak kemudian ia baru menghela napas panjang, wajahnya putih kembali seperti sedia kala.

"Giok jie"

Tegurnya dengan suara halus.

"Perkataanmu sedikitpun tidak salah. Aku tidak manyalahkan dirimu, aku sudah menemukan dirimu, kau keluarlah !"

"Empek Le, enci Ie serta enci Wan sangat baik terhadap dirimu tetapi mereka sudah kau celakai semua, aku tidak ingin bertemu lagi dengan dirimu."

Untuk sesaat Liem Tou jadi kheki juga mendengar perkataan itu, mendadak bentaknya.

"Apa maksud dari perkataan itu? Peristiwa terbunuhnya supek memang kenyataan, tapi enci Ie serta adik Wan mana mungkin bisa ikut mati? Giok kau cepat keluar aku ada perkataan yang hendak ditanyakan kepadamu !"

"Hee ... hee ... walaupun enci le tidak mati diperkampungan Ie Hee sin Cung tetapi sudah ditawan orang !"

Seru Giok jie dengan ucapannya yang sangat dingin. Coba kau bayangkan bilamana dia sampai tersiksa apakah enci Ie serta enci Wan bisa tahan? apakah sampai ini hari masih bernyawa?"

Perkataan dari Giok jie ini benar-benar menusuk hati Liem Tou.

"Giok jie ! kau tidak usah bicara lagi"

Teriaknya gusar "Bilamana enci Ie serta adik Wan menemui cidera kau lihat saja, aku Liem Tou akan mengobrak abrik seluruh dunia persilatan!"

"Hee.. hee.. lebh baik kau jangan bicara besar, aku ingin menunggu kau disini dan melihat dengan cara apa kau hendak mengobrak abrik seluruh dunia persilatan". ejek Giok jie kembali sambil tertawa dingin. Mendadak sinar mata Liem Tou menajam.

"Giok jie jangan pergi dulu; eku ada perkataan yang hendak ditanyakan kepadamu"

Teriaknya keras.

Giok jie sama sekali tidak menyahut.

Liem Tou rada melengak; tetapi sebentar kemudian ia sudah merasa amat gusar, tubuhnya berkelebat laksana sambaran kilat menerobos masuk kedalam hutan.

Hanya didatam sekejap saja ia sudah menemukan bayangan tubuh Giok jie yang memakai baju merah itu sedang berlari kedepan dengan cepat dan gesit.

Tetapi bila ia hendak membandingkan ilmu meringankan tubuhnya dengan Liem Tou, masih terpaut sangat jauh.

Tanpa meninggalkan jejak hanya didalam sekejap saja pemuda itu sudah berhasil mengejar sampai dibelakang tubuhnya kemudian mencengkeram ujung baju sebelah belakangnya.

Sedikit menggunakan tenaga tubuh bocah perempuan itu sudah kena diangkat tangan kirinya dengan gerakan gesit segera mencengkeram pergelangan tangannya.

"Aaaah!"

Teriak Giok jie saking kagetnya mendadak ia menoleh kebelakang.

Liem Tou hanya merasa pandangannya jadi kabur, seorang gadis yang amat cantik sekali sudah muncul dihadapan matanya, Ternyata Giok jie yang waktu itu masih bocah kini sudah jadi seorang gadis yang sangat cantik sekali, pada saat ini ia sedang memanclang kearah Liem Tou dengan melongo-longo tak sepatah katapun yang bisa diucapkan keluar.

"Giok-jie aku ada perkataan yang hendak ditanyakan kepadamu"

Ujar Liem Tou sambil melepaskan cekalannya.

"Enci Ie, sudah kena tertawan oleh siapa?"

Gadis itu menggeleng tidak menjawab.

"Lalu sewaktu terjadinya peristiwa itu pada tahun yang lalu kau ada dimana ? apakah kau sudah bertemu dengan Thian Pian Siauw cu,"

Tanya pemuda itu lagi. Giok jie tetap menggeleng mendadak dengan nada yang amat dingin ujarnya.

"Aku melihat burung rajawalinya terbang kesana kemari waktu itu aku sedang menjaga ketiga ekor burung elang sehingga jangan sampai mengikuti mereka pergi sewaktu mereka membakar habis seluruh perkampungan Ie -Hee san Cung. aku bersembunyi didalam tebing batu dibelakang perkampungan. Liem Tou perlahan-lahan mengangguk "Giok jie mereka semua sudah pergi kenapa kau tidak ikut pergi ?"

Tanyanya lagi.

"Aku mau menjaga kuburan dari empek Lie disamping itu enci le ada kemungkiran juga bisa pulang aku mau menunggu mereka, kaulah yang sudah mencelakai mereka."

Perkataan dari Giok jie yang secara langsung dan terbuka ini membuat Liem Tou merasa semakin sedih sekalipun begitu dalam hati ia merasa rada kheki juga.

"Giok-jie ujarnya dengan nada berubah.

"Kau tidak boleh berkata demikian aku sama sekali tidak bermaksud hendak mencelakai mereka. Lain kali kau tidak boleh berbicara begitu lagi. Baiklah ! Demikian saja ini hari kau ikut diriku turun gunung untuk mencari jejak enci Ie. Bagaimana?"

Dengan pandangan yang sangat dingin Giok-jie memandang wajah Liem Tou tajam-tajam ia tetap membungkam. Melihat sikapnya tersebut pemuda itu keheranan.

"Kenapa kau tidak menjawab ? Kenapa kau menganggap aku sebagai musuh?"

Tanyanya cepat.

"Hmm! Kau ingin pergi kemana untuk mencari mereka,"

Tegur gadis itu dingin.

Liem Tou yang mendengar gadis itu sudah menyetujui untuk ikut turun gunung bersama-sama dirinya teringat pula saat kitab pusaka Toa Loa Cin Keng seperti yang diucapkan oleh suhunya, dalam hati terasa amat gelisah dan cemas.

Buru-buru ia meroleh memanggil kerbaunya ia Ialu berseru.

"Cepat panggil burung-burung elangmu. Kita melanjutkan perjalanan dengan menunggang kerbau."

Giok jie tetap tidak bergerak, dengan pandangan ragu-ragu ia melototi diri Liem Tou tajam-tajam.

"Giok jie kau jangan ragu ragu lagi, ayo-jalan !"

Teriak pemuda itu dengan cepat. Tidak menanti si gadis itu menunggu jawabannya lagi ia menarik tangan Giok jie untuk dinaikkan keatas punggung kerbaunya lalu teriaknya.

"Puncak Leng Ay puncaknya digunung Go bie, cepat berangkat."

Tangannya dengan cepat menghajar pantat kerbau itu.

Ditengah suara dengusan berat, kerbau tersebut menurut perintah dan laksana gulungan angin cepatnya ia berlalu dari sana.

Menanti kerbau itu sudah lenyap dari pandangan Liem Tou baru berkelebat kedepan kuburan ayahnya serta kuburan dari Lie Loojie sesudah bersembahyang mendadak ujarnya.

"Tia Supek! Kalian baik-baiklah beristirahat disini, putramu yang tak berbakti segera akan mencari enci le serta adik Wan, sebelum berhasil membasmi semua musuh-musuhku aku tak akan pulang ke perkampungan Ie Hee San Cung ini!"

Selesai berkata ia mendongakkan kepalanya bersuit nyaring kemudian ditengah gerakan tubuhnya yang gesit hanya didalam sekejap saja bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.

==mch== BULAN delapan tanggal enambelas, cuaca amat cerah diatas jalan raya yang menghubungkan gunung Cing Shia dengan gunung Go bie mendadak muncul tiga titik bayangan hitam yang terbang dengan sangat cepatnya di angkasa .

Diatas permukaan tanah muncul pula segulung debu kuning yang mengepul laksana tiupan angin taupan.

Siang itu, disebuah kota Pek Tiang Sian muncullah tiga orang pemuda berbaju Hitam yang baru saja keluar dari dalam rumah penginapan, mereka bertiga pada menunggang kuda yang dijalankan perlahan-lahan; ditinjau dari keadaannya jelas ketiga orang itu sedang dimabokkan oleh air kata-kata.

Mendadak dari belakang tubuh mereka berkumandang datang suara derapan kaki yang amat ramai sekali disusul mengepulnya debu warna kuning yang menggulung laksana air topan, hal ini membuat ketiga orang itu jadi sangat terperanjat.

"Aduh celaka ! cepat menyingkir kesamping !"

Pada saat ketiga orang itu baru saja menyingkir kesisi jalan, dari sini tubuhnya berkelebat segulung angin kencang yang disertai dengan debu mengepul memenuhi angkasa.

Hanya dalam waktu yang amat singkat bayangan debu itu sudah tidak kelihatan lagi, hanya terdengar suara derapan kaki yang sangat ramai dan memberisikkan telinga, semakin lama pun semakin menjauh.

Melihat kejadian itu ketiga orang berbaju hitam itu jadi terpesona, terdengar seorang lelaki berbaju Imam yang ada disebelah kiri menoleh kearah kawannya yang ada ditengah sambil bertanya .

"Than cu, apakah kau dapat melihat jelas binatang apakah itu ? mengapa larinya begitu cepat ?"

Orang berbaju hitam yang ada ditengah pada dadanya tersulam sebuah gambar arca yang berwarna biru.

Diatas dada kedua orang yang ada disisinya pun bersulamkan sebuah lukisan arca berwarna putih, jelas mereka adalah orang-orang dari perkumpulan Sin beng Kauw.

Tampak orang itu mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya.

"Jika ditinjau dari derapan kaki mirip sekali dengan derap kaki kuda, tetapi dikolong langit pada saat ini apa ada kuda yang bisa berlari sedemikian cepatnya ?"

Jawabnya perlahan.

"Sekalipun kuda jempolan yang dihasilkan dari gunung Thian san serta gurun pasir pun tidak mungkin bisa berlari cepat. Mungkin sekali bukan kuda tetapi semacam binatang aneh yang bisa berlari cepat ! "Thancu !"

Terdengar si orang berbaju hitam yang ada disebelah kanan mendongakkan kepalanya memandang kearah orang yang ada ditengah itu.

"Kau berkata kuda jempolan yang barnama Hiat Tui Im Kauw, sebenarnya macam apakah kuda tersebut ?"

"Akh Apakah kau tidak tahu tentang hal ini? kuda itu adalah semacam kuda yang bisa mengucurkan keringat merah seperti darag, sewaktu lari kecepatannya luar biasa sekali dan merupakan kuda yang sangat jempolan."

"Akh ! Kalau begitu kemungkinan sekali binatang yang baru saja lewat itu adalah binatang ini;"

Seru orang berbaju hitam yang ada disebelah kanan.

"Tadi agaknya aku melihat sesosok bayangan merah bergerak lewat bukankah apa yang aku lihat persis seperti apa yang diterangkan pada saat ini?"

Agaknya Than cu tersebut rada merasa tidak percaya tetapi iapun tidak tahu binatang apakah itu, akhirnya sambil kerutkan alisnya rapat-rapat, gumamnya seorang diri.

"Aneh! Sungguh aneh!"

Mendadak didalam benaknya terlintas suatu ingatan, sinar matanya jadi berkilat.

"Dikolong lagit pada saat ini,"

Katanya "ada semacam binatang yang amat buas dan garang, larinya sangat cepat.Hianti berdua apakah tahu binatang apakah itu?"

Katanya mendadak kepada kedua orang yang ada disisinya dengan nada serius.

Mendengar perkataan tersebut kedua orang itu rada tertegun setelah berpikir sejenak terdengar orang berbaju Imam yang ada disebelah kanan sambil menggeleng menyahut;

"Tidak mungkin Than-cu hal itu tidak mungkin terjadi aku dengar majikan dari binatang buas itu sudah terluka parah bahkan ada kemungkinan sudah mati atau cacad untuk selamanya? bagaimana mungkin binatang tersebut bisa muncul disana!"

"Yang kalian maksudkan apakah seekor kerbau!"

Terdengar orang berbaju hitam yang ada disebelah kiri menyambung "Aduuh mungkin benar-benar memang binatang tersebut kecuali dia dikolong langit pada saat ini ada binatang apa lagi yang bisa lari dengan begitu cepatnya?"

Berbicara sampai disitu mereka berdua bersama-sama bungkam, diri hati mereka mulai terasa berdebar-debar sangat keras.• Akhirnya terdengartah si Thian cu itu buka suara; tanyanya dengan suara rendah.

Menurut Hian ti berdua apakah mungkin munculnya kerbau ini ada hubungan yang sangat erat dengan kedudukan kauwcu kita perlukah kita melaporkan hal ini kemarkas besar,?"

Mendengar perkataan itu untuk beberapa saat lamanya kedua orang itu bungkam diri.

Lewat baberapa saat kemudian silelaki berbaju hitam disebeiah kanan yang agaknya pikirannya jauh lebih tajam menjawab .

"Didalam menghadapi urusan ini kita tidak boleh bertindak secara gegabah; kita tidak melihat jelas dan ada kemungkinan juga sudah salah melihat, bilamana semisalnya berita kita sama sekali tidak benar dan Cong Than cu menyalahkan kita bukankah kedudukan Than-cumu itu sukar untuk dipertahankan lebih lanjut?"

Agaknya sang Than-cu itu merasa perkataan tersebut sedikitpun tidak salah, ia mengangguk.

"Kalau begitu aku tidak usah menggubris lagi binatang apakah itu, ayoh lalan !"

Serunya kepada kedua orang kawannya itu sambil tertawa.

Tali les kudanya disentakkan keras untuk kemudian melanjutkan kembali perjalanannya Mendadak dari belakang tubuh mereka muncul seorang pengemis yang amat dekil dengan kaki telanjang, badan bungkuk serta membawa sebuah tongkat warna hijau.

selangkah demi selangkah pengemis itu berjalan mendekat.

Melihat munculnya orang itu sang Than-cu mendadak menahan larinya kuda dan putar badan menghadang didepan tubuh pengemis tersebut, cambuknya dengan dahsyat lantas dipecutkan keatas kepadanya.

Pengemis itu jadi sangat terperanjat tubuhnya buru-buru menjatuhkan diri ke belakang sedang mulutnya dengan gusar memaki.

"Anak kura-kura, cucu anjing!! Ditengah hari bolongpun kau ingin menganiaya aku si pengemis yang tak punya uang, matamu sudah buta apa ??"

Sebenarnya Than-cu tersebut hendak menanyakan sesuatu kepadanya, kini setelah mendengar suara makian tersebut hatinya jadi teramat gusar.

"Pengemis busuk, apa kau kata ??"

Bentaknya keras.

"Kau berani memaki diriku kurang ajar!! Agaknya kau mencari mati". Sembari berkata cambuknya diayunkan ke depan dan dihajarkan kembali kearah tubuh pengemis tersebut. Kelihatannya cambuk itu akan segera mengenai badannya yang dekil, mendadak ia menarik kembali serangannya dan memandang sekejap kearah pengemis tersebut.

"Hey pengemis buruk"

Tegurnya dingin.

"Untuk sementara aku ampuni dirimu sekarang aku mau bertanya; apakah barusan kau pun melihat lewatnya seekor keledai atau kuda ditempat ini?"

"Hmm! agaknya perkataanku, tadi yang memaki matamu sudah buta sedikitpun tidak salah,"

Maki pengemis itu sambil melototkan matanya.

"Terang terangan seekor kerbau bagaimana mungkin bisa kau katakan sebagai seekor keledai atau kuda?, diatas punggung kerbau itu duduk seorang gadis berbaju merah apakah kau tidak bisa melihat juga kerbau itu..?"

Mendengar perkataan itu air muka dari si Than-cu dengan cepat berobah hebat, mendadak tubuhnya meloncat turun dari atas kuda diikuti dua orang lainnya.

Melihat tindakan dari ketiga orang itu si pengemis tersebut jadi kebingungan dibuatnya.

"Hey Looheng, kau jangan bergurau"

Tegur sang Than cu sambil mendesak maju beberapa langkah kedepan.

"Apakah perkataanmu itu sungguh coba kerbau yang kau lihat itu bagaimanakah bentuknya?? "

"Sudah ada dua hari aku tidak makan nasi, siapa yang banyak waktu senggang untuk mengucapkan kata-kata bohong,"

Seru pengemis itu keras.

"Jikalau kalian sampai menanyakan begaimanakah bentuk dari seekor kerbau, pertanyaan ini semakin mengherankan lagi, apakah kau orang sejak lahir sampai saat ini belum pernah melihat kerbau?"

Than cu yang kena batu untuk kedua kalinya kontan saja membuat air mukanya berubah membesi. Lo heng,"

Serunya dengan serius.

Aku sedang bertanya kepadamu dengan sungguh-sungguh hati, harap kau jangan menyindir diriku lagi.

Kalau tidak….

heee aku takut mayatmu akan tertelentang ditengah jalan tanpa ada yang suka mengurusinya."

Pengemis itu memandang sekejap keatas wajah Than-cu tersebut, mendadak sambil tertawa dingin ia melengos dan melangkah pergi dari sana.

Melihat pengemis itu mau pergi.

Than cu tersebut dengan cepat menggerakkan badan menghadang dihadapannya.

"Loo heng, jangan pergi dulu,"

Teriaknya keras. Coba kau terangkan dulu bagaimana bentuk dari kertau tersebut ? warnanya hijau atau hitam ?"

Tongkat bambu yang ada ditangan pergemis itu sedikit menutul permukaan tanah entah dengan cara yang bagaimana tahu-tahu tubuhnya sudah lewat dari sisi tubuh Than cu tersebut tanpa menoleh lagi ia melanjutkan perjalanannya kedepan.

Kali ini Than cu dari ketua cabang perkumpulan Sin Beng Kauw ini benar-benar dibuat mendongkol sampai mencak-mencak dengan gusarnya, bentaknya keras .

"Pengemis busuk, aku akan bunuh kau dan suruh kau merasakan bagaimana kalau mayat-mayat menggeletak ditengah perjalanan tanpa ada yang mengurusinya "

Tubuhnya maju beberapa langkah kedepan telapak tangannya dengan cepat melancarkan satu pukutan dahsyat menghantam punggung dari pengemis tersebut.

Pengemis itu mendengus dingin, mendadak tubuhnya membalik, bambu ditangannya dicukil dan tepat menutul diatas urat nadinya.

Mendadak dari sepasang mata pengemis itu memancarkan cahaya tajam, dimana tangan-menyambarnya terdengar Than cu itu menjerit kesakitan.

Lengannya kontan kena dihantam sehingga hancur berantakan.

Biji mata pengemis itu berputar, sesosok tongkat bambu laksana sambaran naga sakti kembali berkelebat kearah depan.

Kedua orang anggota Sin Beng Kauw yang menjerit kesakitan, tau-tau telinganya sudah kena dibabat hingga putus.

Pada saat itulah pengemis itu baru membentak dengan wajah yang dingin.

"Hmm ! Kalian gentong-gentong nasi yang tak berguna belum becus kalau mau melawan diriku kalian jangan menganggap kalau aku tidak tahu bila kalian adalah murid murid murtad dari perkumpulan Sin Beng Kauw, laporkan kepada kauwcu kalian tidak lama kemudian aku bisa datang mencari balas terhadap dirinya."

Selesai berkata tongkat bambunya diayunkan ke belakang, tubuhnya laksana sambaran kilat hanya didalam sekejap saja sudah melesat jauh tiga puluh kaki kemudian diiringi dengan suara tertawa dinginnya yang sangat menyeramkan tubuhnya melayang jauh.

Kini tinggal tiga orang anggota Sin Bang Kauw yang berdiri termangu-mangu ditempat semula sambil memandang kearah dimana bayangan pengemis itu lenyapkan diri.

Ternyata pengemis tersebut adalah hasil penyamaran dari Liem Tou.

Setelah meninggalkan beberapa orang anak murid perkumpulan Sin Berg Kauw sepanjang jalan pemuda itu mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang paling sempurna untuk berangkat ke gunung Go bie.

Pikirnya setelah ada ditengah jalan.

"Dengan perbuatanku ini maka Sun Ci Si tentu akan tahu pekerjaan itu adalah hasil perbuatanku. sebelum aku murculkan diri hatinya pasti akan selalu tak tenteram. Diam-diam Liem Tou merasa amat bangga sekali dengan perbuatannya ini, dengan mengerahkan tenaga murninya ia semakin mempercepat gerakannya melesat kearah gunung Go bie . Satu jam kemudian rentetan pegunungan Go bie sudah terbentang didepan mata; sedang Giok jie yang menunggang kerbau itu pun mulai kelihatan didepannya. Pemuda itu semakin mempercepat gerakannya, hanya didalam sekejap saja ia sudah berlari sejajar dengan kerbau tersebut. Giok jie yang melibat Liem Tou berhasil mengejar datang dengan keras tanyanya.

"Gunung apakah ini? apakah enci Le ada.di sana?"

"Walaupun enci Ie tak ada digunung Go bie tetapi kemungkinan sekali kita bakal mengetahui jejaknya"

Sahut Liem Tou sambil tertawa.

Giok jie agak tidak percaya tetapi tidak mengulangi lagi pertanyaannya.

Liem Tou pun membungkam agaknya ia sendiri tidak ada maksud untuk memberi penjelasan atas perkataannya itu.

Dengan cepatrya kedua orang itu sudah memasuki daerah pegunungan yang curam, walaunun dataran disana tinggi rendah tidak menentu, ditambah pula tebing-tebing yang curam dan sukar tetapi bagi kerbau itu sama sekali tidak menemui kesukaran.

Bagaikan Iari ditanah dataran yang rata saja mereka melanjutkan perjalanannya.

Liem Tou yang melihat sikap Giok jie sewaktu menunggang kerbau tersebut, mendadak hatirya tergerak dan teringat kembali akan diri Thian Pian Siauw cu.

"Giok jie"

Tegurnya tiba tiba "Sudah ada berapa lama kali mengikuti diri Thian Pian Siauwcu."

"Aku sendiripun tidak tahu sudah ada berapa lama; yang pasti sejak aku mengerti urusan, diriku sudah berkumnul dengan dia,"

Sahut Giok jie dengan wajah murung.

"Kalau begitu sifat dari Ke Hong tentu kau sangat memahami bukan ? sebetulnya tinggal dimana? dan bagaimana sifatnya ?"

Giok-jie termenung berpikir sebentar akhirnya ia menjawab..

"Dia tinggal diatas sebuah pulau kecil pulau ini tak ada penduduk lainnya, ia menyebut pulaunya sebagai "Thian Pian Hu Ping"

Atau ombak diujung langit, menurut apa yang aku ketahui Siauw cu adalah seorang manusia yang suka menyediri, ia cuma suka bergaulan dengan burung-burung elangnya saja "

Mendengar perkataan itu agaknya Liem Tou merasa urusan rada ada diluar dugaan.

"Kalau begitu tentunya dia seorang yang amat kejam ?"

Tanyanya kembali.

"Aaakh tidak, aku belum pernah melihat dia orang melakukan pekerjaan yang kejam"

Bantah Giok jie sambil menggeleng.

"Yang benar, sewaktu burung elang sakit atau terluka, dengan sabar dan penuh kasih sayangnya ia mengobati dan merawat mereka, dikolong langit agaknya tak ada seorangpun yang bisa menandingi keramah-tamahannya ini."

Dengan rasa keheranan Liem Tou berdirl termangu-mangu ditempatnya, ia sama sekali tidak menyangka kalau Thian Piau siauw cu yang disebut sebagai iblis pembunuh manusia dan manusia berhati kejam sebenarnya adalah seorang yang sangat ramah terhadap seorang bocah.

Perlahan-lahan Liem Tou mengangguk lama sekali ia tidak belbicara.

Pada saat itu hanya terdengar suara derapan kaki kerbau yang memecahkan kesunyian siapapun diantara mereka berdua tak ada yang mengangkat bicara terlebih dulu.

Waktu dengan cepatnya berlalu mendadak terdengar Liem Tou bertanya kembali.

"Kalau begitu kau tentu mengetabui asal-usul dari Ke Hong bukan ? pernahkah kau menemui isterinya ?"

"Aku tidak tahu selamanya dia orang belum pernah mengungkap soal ini,"

Jawab Giok jie sambil menggeleng.

"Diatas pulau ada sebuah rumah bangunan kecuali dia dilarang untuk masuk kedalam. Katanya dtdalam rumah bangunan itulah tinggal istrinya yang tercinta"

Apa yang sebenarnya ada disana kami tidak ada yang tahu !

bahkan tempo dulu aku serta Kiem jie sering merasa curiga bila di dalam ruangan itulah tersimpan rahasia yang paling besar dari Thian Pian Siauwcu."

Liem Tou menganggukkan kepalanya berulang kali walaupun dia adalah seorang yang cerdik, tetapi pemuda inipun tak dapat menebak rahasia apa yang terkandung didalam rumah tersebut, walaupun begitu ia mengingat ingat perasaan itu didalam hatinya Tidak lama kemudian dihadapannya sudah terbentang sebuah puncak gunung yang sangat tinggi, puncak gunung itulah letaknya puncak Leng Ay.

"Giok jie puncak Leng Ay sudah ada didepan mata, tempat itulah dabulu empek Lie -berlatih diri."

Ujar Liem Tou sambil menuding kearah depan.

Selesai berkata mereka kembali melanjutkan perjalanannya kearah puncak tersebut.

Pada saat itulah diatas puncak mendadak berkumandang datang suara tertawa terbahak-bahak disusul suara teguran dari seseorang; Haaa…..

haa , haahaa .

Liem Tou kau bocah cilik ternyata sungguh-sungguh datang, permainan sepoa dari Thiat Sie heng benar-benar amat mengagumkan sekali, Hey sibuntung tua coba kau lihat Liem Tou pada saat ini sudah berubah jadi bagaimana ?

sinpoa rongsokan bilang bencana dunia kangouw dalam tubuhnya, apakah Liem Tou si bocah cilik ini benar-benar akan menjadi seorang pembunuh yang kejam ?"

Mendengar nada suara tersebut Liem Tou segera mengenal kembali kalau ucapan itu berasal dari sipengemis pemabok ketika kepalanya didongakkan maka nampaklah dua sosok bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa meluncur turun dari atas puncak.

Dengan ketajaman mata Len Tou sejak semula ia sudah dapat melihat jelas akan ke dua orang itu, tetapi sewaktu melihat gerakan mereka yang begitu cepat hatinya merasa rada tertegun juga dibuatnya.

Pikirnya dalam hati .

"Sejak kapan sisiucay buntung serta sipengemis pemabok berhasil memperlajari ilmu meringankan tubuh Hwee Si Liuw Im dari partai Toen Sin Pay. Ketika memperhatikan lagi gerakan dari kedua orang susioknya itu, iapun mulai merasakan bila tenaga dalam dari kedua orang itu sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat. Telapi sebentar kemudian ia sudah menjadi sadar kembali tentunya kedua orang telah mempelajari ilmu dari kitab pusaka Toe Loo Cin Keng sehingga kepandaian silatnya memperoleh kemajuan yang amat pesat. Pada saat itulah mendadak hatinya terasa rada bergetar buru-buru ia menoleh kearah Giok jie dan teriaknya ;

"Grok jie cepat, kau bawa kerbau itu untuk sementara menyingkir dulu aku ada urusan hendak berangkat selangkah lebih cepat setengah jam kemudian aku akan menanti kedatanganmu diatas puncak Leng Ay !"

Walaupun selama ini Giok jie merasa kurang senang tetapi ia sangat penurut mendengar perkataan tersebut tanpa membantah atau mengucapkan sesuatu sambil menuntun kerbaunya buru-buru ia menyingkir ke bawah gunung.

Menanti kerbau itu sudah pergi jauh Liem Tou secara mendadak meraup segenggam pasir lalu berkelebat menyongsong kedatangan dari sisiucay buntung serta si pengemis pemabok.

Kiranya sisiucay buntung serta sipengemis dari atas puncak telah melihat munculnya sang kerbau jauh dibawah puncak di dalam anggapan mereka tentu Liem Tou sudah datang, maka dengan kecepatan bagai kilat mereka berdua meluncur kebawah untuk menyambut kedatangannya.

Siapa sangka mereka sama sekali tak menduga bila Liem Tou sudah menyaru sebagai seorang pengemis.

Kini sewaktu dilihatnya dari bawah gunung meluncur datang seorang pengemis, hati mereka rada bingung juga dibuatnya.

Menanti mereka sadar kembali dari lamunan, jaraknya dengan pengemis itu tinggal dua kaki saja.

"Lihat senjata I' terdengar Liem Tou membentak keras. Pasir yang digenggam diatas tangan dengan cepat diayun kedepan menyebar seluas tujuh delapan kaki lebih, bahkan setiap batu kerikil itu menyambar dengan diiringi sambaran yang tajam. Sisiucay buntung serta sipergemis pemabok segera merasakan lihaynva serangan tersebut mereka bersama-sama pentangkan telapak tangannya. Dengan menggunakan jurus 'Kong Cio Kay Peng! dari kitab puaaka "Toa Loo Cin Keng.' kedua orang itu bersama-sama melancarkan satu pukulan dahsyat kedepan. Liem Tou segera mengetahui bila sisiucay buntung serta si gpengemis pemabok sudah mempelajari isi dari kepandaian silat Toa Loo Cin Keng dalam hati diam-diam merasa amat terperanjat pikirnya.

"Kecuali mereka berdua bersama sudah masuk kedalam perguruan Toen Sin Pay kalau tidak hasil ini tentu didapatkan dari cara mencuri dan peristiwa ini tak bisa dihindari lagi tentu ada hubungan dengan suhu Thiat Sie Sianseng tetapi mengapa ia berbuat demikian tololnya ?"

Pikiran dengan cepat berkelebat didalam benak ini ia tak menggubris lagi terhadap datangnya serangan dari kedua orang itu.

Mendadak tubuhnya mencelat setinggi beberapa kaki kemudian didalam beberapa kaki jumpalitan saja tubuhnya sudah berada jauh ratusan kaki dari kedua orang itu.

Menanti sisiucay bantung serta sipengemis pemabok merasa kehilangan jejak dari sipengemis tersebut, saking gusarnya mereka baru berkoak-koak kegusaran.

"Huh ! sungguh sialan, disiang hari bolong juga bertemu dengan setan"

Teriak sipengemis pemabok dengan marahnya.

"Binatang itu sungguh kurang ajar sekali …! Aaakh ! apakah kita lagi bermimpi ?"

Sisiucay buntung melengak dan berdiri melongo-longo, lama sekali ia saling bertukar pandangan dengan kawannya.

Pada saat kedua orang itu dibuat tertegun Liam Tou dengan gerakan yang amat cepat sudah berkelebat mencapai atas puncak gunung tersebut.

Sinar matanya yang tajam dengan cepat, menyapu sekejap sekeliling tempat itu, ketika dilihatnya ditempat itu tampak bayangan manusia lain, pemuda tersebut rada merandak.

Tetapi dengan cepatnya ia sudah menerjarg kembali masuk kedalam ruangan batu yang pada saat ini terpentang lebar-lebar.

==mch== DIDALAM ruangan batu itu sangat terang benderang; didepan meja duduklah seorang nikouw tua yang amat ramah dan lagi tersenyum kearah Liem Tou disamning nikouw tua itu duduklah suhunya Thiat Sie sianseng dengan wajah serius.

Liem Tou agak malengak hatinya terasa berdebar-debar amat keras.

Tetapi sebentar kemudian ia sudah berkelebat maju dan menjatuhkan diri berlutut dihadapan suhunya.

Belum sempat ia mengucapkan sesuatu, Thiat Sie sianseng sudah goyangkan tangannya berulang kali.

"Muridku, Cepat unjuk hormat buat sucouwmu,"

Tegurnya perlahan.

Mendengar perkataan ini Liem Tou jadi melengak, tetapi sewaktu pikirannya teringat kembali dengan suhunya siperempuan tunggal Touw Hong.

Salah satu dari Auw Hay Siang Hap yang pernah menggetarkan seluruh Bu-lim, hatinya jadi tergetar keras.

Tubuhnya baru-buru menjatuhkan diri berlutut dihadapan Nikouw tua tersebut.

Pada waktu itulah dari ruangan batu berkelabat datang bayangan manusia disusul suara bentakan gusar dari sisiucay buntung serta si pengemis pemabok.

"Pengemis liar, kiranya kau berani juga datang mencari gara-gara diatas puncak Leng Ay di gunung Go bie."

Tubuh mereka berdua berpisah, mendadak satu dari sebelah kiri yang lain dari sebelah kanan bersama-sama melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar tubuh Liem Tou.

Nikouw tua yang ada dihadapannya masih tetap tersenyum ramah, ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.

demikian pula.

halnya dengan Thiat Sie sianseng, ia tetap duduk ditempat semula sambil memandang tajam wajah Liem Tou dangan air muka serius.

Hanya didalam sekejap saja angin pukulan dari sisiucay buntung serta sipengemis pemabok sudah menyambar datang dengan kekuatan tenaga pukulan mereka yang telah menggunakan dalapan bagian hawa lweekangnya ini keadaan benar benar sangat dahsyat sekali.

Tetapi Liem Tou sama sekali tidak mengambil gubris akan datangnya hawa pukulan itu, setelah menggunakan "To Kong simhoat-nya, untuk melindungi seluruh tubuh ujarnya tenang.

"Susiok berdua kalian jangan marah dengarlah perkataan dari keponakanmu Liem Tou."

Ketika sisiucay buntung serta sipengemis pemabok mendengar pengemis yang ada di hadapan mereka bukan lain adalah Liem Tou, kelihatan rada tertegun pukulan yang dilancarkanpun buru-buru ditarik kembali.

Sekalipun begitu Liem Tou secara mendadak hanya merasakan segulung hawa tekanan yang maha dahsyat mengurung seluruh tubuhnya.

Pemuda itu jadi terperanjat, dengan cepat hawa murninya dikerahkan keluar mengelilingi seluruh tubuh.

Tenaga yang semula cuma tiga bagian kini sudah berubah menjadi delapan bagian; sudah tentu hasilnya lebih dahsyat lagi;

"Akh ...! sungguh tak kusangka tenaga dalam dari sisiucay buntung serta pengemis pemabok kedua orang susiok hanya didalam satu tahun saja sudah memperoleh kemajuan yang sangat pesat,"

Pikirnya dihati.

Tenaga murni yang dihasilkan oleh Too-Kong Sin Kang benar-benar luar biasa sekali, ketika kedua gulung angin pukulan itu bentrok menjadi satu mendadak terdengar Thiat Sie sianseng menjerit keras .

"Muridku, kau hendak berbuat apa ?"

Tubuhnya dengan cepat meloncat bangun, sepasang telapak tangannya bersarna sama melancarkan satu pukulan yang amat hebat menggulung tubuh pemuda tersebut.

Buru-buru Liem Tou menarik kembali serangannya dan meloncat mundur dua kaki ke belakang, sinar mata yang jeli dengan penuh kebingungan menyapu sekejap kearah beberapa orang itu.

"Muridku tidak tahu diri sehingga melukai kesehatan suhu, tecu rela menanggung dosa tersebut!"

Terdengar Thiat sie sianseng berkata dengan suara perlahan.

Hati Liem Tou jadi bergerak, dengan cepat ia mengalihkan pandangannya ketengah ruangan.

Tampaklah wajah Gong Gong sin nie pucat-pasi bagaikan mayat, ia segera menjadi sadar bila tekanan yang berat tadi ternyata berasal dari serangan sucouwnya; dalam hati mulai merasa bergidik.

Sepasang lututnya terasa lemas sehingga tidak kuasa lagi ia jatuhkan diri berlutut dihadapannya.

"Cucu murid Liem Tou merasa sangat berdosa dan patut mendapat hukuman, harap Sucouw suka mengambil tindakan,"

Teriaknya keras.

Si Nikouw tua Gong Gong Nie cuma memejamkan matarya rapat-rapat tidak berbicara maupun bergerak sehingga sisiucay buntung serta sipengemis pemabok yang melihat kejadian tanpa terasa pada ikut jatuhkan diri berlutut.

Sejenak kemudian Gong Gong Nie baru membuka matanya memandang sekejap kearah Thiat Sie sianseng, sisiucay bantung, si pengemis pemabok, serta Liem Tou yang sedang berlutut dihadapannya.

Selintas terlihatlah senyuman yang amat sedih berkelebat diatas wajahnya.

"Kalian bangunlah semua,"

Katanya dengan suara rendah.

"Soal ini tidak bisa menyalahkan Tou jie. Tenaga dalam yang ia miliki memang benar-benar luar biasa tingginya. Sebenarnya Loo nie tadi ada maksud untuk mencoba kekuatannya tidak disangka tenaga lweekang yang berhasil ia latihpun ternyata sangat tinggi dan jauh berada diluar dugaan Loo nie semula. Bahkan kelihatan ia belum mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, Partai kita beruntung sekali bisa memperoleh seorang akhli waris seperti dia. kenapa kita harus berbicara yang bukan-bukan?"

Selesai berkata dengan paksaan diri ia bangun berdiri dan membimbing Liem Tou.

"Liem Tou !"

Bentak Thiat Sie sianseng dengan keras "Ayoh cepat ucapkan terima kasih atas terpunahnya dosa yang menimpa dirimu, lain kali kalau berbuat sesuatu lebih baik jangan sembrono dan berangasan."

Liem Tou mengiyakan sambil manggut.

"Sudah sudahlah !"

Seru Gong Gong Nie kemudian.

"Aku tak menyalahkan dirimu ayoh cepat bangun!"

Empat orang sama-sama pada bangun berdiri Gong Gong Nie pun dengan memperhatikan diri Liem Tou dari ujung rambut sampai kebawah kaki kemudian dengan wajah serius ujarnya lagi;

"Liem Tou ! Setelah kau hidup dan terjunkan dirimu dalam kalangan persilatan, haruslah mulai berhati-hat atas segala tindakanmu sewaktu turun tangan, peristiwa tempo duru diatas gunung Cing Shia bilamana bukannya suhumu mempunyai kepandaian untuk melihat kejadian yang akan datang, hampir-hampir saja partai kita akan menemui bencana kemusnahan. Dan kini Thiat Sie Poa, sisiucay buntung serta si pengemis pemabok tiada masuk kedalam aliran kita, sudah seharusnya mereka merupakan susiok yang sesungguhnya, suhumu serta kedua orang susiokmu akan tetap tinggal disini untuk tutup diri selama tiga tahun lamanya guna memperdalam ilmu silat aliran kita, sedang kau sekarang boleh turun gunung untuk mencari suci, sumoay serta Hong susiok ,"

Berbicara sampai disini ia rada merandek sejenak, agaknya napasnya rada tersengal-sengal.

Jelas kalau luka dalamnya agak parah.

tetapi setelah mengatur pernapasannya sejenak, akhirnya ia menyambung kembali.

"Dendam sakit hati diantara orang orang kangouw denganmu boleh kau selesaikan dengan bijaksana. Tetapi kau harus ingat bila Thian mengutamakan kebajikan kau orang janganlah melakukan pembunuhan semuanya."

Selesai berkata ia menyapu sekejap keatas wajab Liem Tou kemudian perlahan-lahan memejamkan matanya. Dengan amat hormat Liem Tou menjatuhkan dirinya berlutut dan memberi hormat.

"Cucu murid tentu akan mendengarkan pesan dari sucouw, dan tidak sampai melanggar pesan perguruan."

Katanya perlahan. Pada waktu itulah dari bawah tebing Leng Ay secara samar samar terdengar dengusan kerbau yang memanjang.

"Muridku. ujar Thiat Sie sianseng tiba-tiba.

"tahun lalu sewaktu terjadi kekacauan di atas gunung Cing Shia tahukah kau orang mengapa kau kalian buru-buru meninggalkan tempat itu? Karena bilamana aku tidak berbuat demikian, maka kitab pusaka Toa Loo Cin Keng akan terjatuh ketangan Ke Hong. Untung saja tempo dulu aku serta kedua orang susiokmu tiba terlebih dulu di atas gunung Go bie dan bersama sama mencoba menahan serbuan Ke Hong yang ingin merebut kitab pusaka itu. Setelah bergerak satu hari satu malam lamanya untung sekali sucouwmu datang dan dapat dengan segera melenyapkan mara bahaya kalau tidak maka partai Toe Si pay bakal musnah orangnya mati semua. Coba bayangkan bagaimanakah bila sampai terjadi keadaan macam itu?"

"Suhu mengetahui keadaan bahaya dari partai kita terlebih dahulu. Tentu Lie supek yang ada diakhirat mengetahui akan hal ini dan membantu kita untuk menegakkan kecemerlangan partai kita,"

Kata Liem Tou dengan amat sedih.

Teringat akan sikap yang baik dari Lie Loo-jie terhadap dirinya bahkan menganggap ia sebagai putrarya sendiri.

tak kuasa lagi titik air mata mengucur keluar dengan amat deras.

"Suhu! tecu mau pergi "

Katanya kemudian sambil perlahan-lahan bangun berdiri.

"Sucauw, suhu serta susiok berdua apakah masih ada pesan-pesan lain lainnya?"

Gong Gong Nie yang selama ini pejamkan matanya rapat-rapat mendadak membuka matanya kembali.

"Setelah menolong kembali suci serta sumoaymu, mereka boleh beralih menjadi anak murid Hong susiokmu"

Katanya halus.

"Menurut perhitunganku,"

Ujar Thiat pie sianseng pula.

"Ada kemungkinan Lie Siauw-Ie terjatuh didaerah Tiem Lam ditangan partai Kiem Tien Pay, sedang Hong susiokmu kena terbokong oleh Ke Hong, sebaliknya Lie Wan Giok "

"Sewaktu Wan moay kena diculik oleh Sun Ci Si tecu melihatnya dengan sangat jelas sekali !"

Sela Liem Tou dengan cepat.

"Sun CI Si sebagai anak murid dari Chiet Ci Tauw Tou tempo dulu setelah berhasil mempelajari racun beribu macam dan mendirikan pula perkumpulan Sin Beng Kauw yang pengaruhnya semakin hari semakin meluas serta mencelakai orang-orang Bu lim semakin menghebat, satelah tecu turun gunung narti tecu pikir ingin sekali mencari Sun CI Si terlebih dulu untuk melenyapkan bencana dari Bu lim. Thiat sie sianseng termenung berpikir beberapa lamanya, akhirnya ia menggeleng.

"Bilamana Wan jie dilIndungi oleh Thian maka sekalipun keadaannya pada saat ini rada tersiksa tetapi tidak akan sampai membahayakan, aku rasa keadaan diri enci le serta Hong susiokmu yang lebih berbahaya, maka kau harus cepat cepat menolong mereka untuk keluar dari ancaman bahaya."

Pada waktu itu kerbaunya yang ada dibawah tebing kembali mendengus memandang. Mendengar suara tersebut Liem Tou segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Binatang kenapa kau terus mendengus terus ?"

Bentaktya "sebentar lagi aku pasti datang."

"Muridku kau pergilah !"

Kata Thiat Sie-sianseng.

Ingat-ingat saja perkataan dari sucouwmu, jangan sembarangan membunuh, tiga tahun kemudian setelah selesai berlatih ilmu silat aku serta kedua orang susiokmu mendatangi sendiri perkampungan Ie Hee San Cung untuk mencari dirimu.

Sekali lagi Liem Tou jatuhkan diri memberi hormat, sedang dalam hati diam-diam butatkan tekad untuk membangun kembali perkampungan Ie Hee San Cung didalam tiga tahun ini guna menyambut kedatangan suhu serta susioknya dikemudian hari.

Sisiucay buntung serta sipengemis pemabok pun pada bangun berdiri, tampaklah sipengemis pemabok sambil tertawa sehingga mulutnya terperanjat, terpentang lebar lebar katanya kepada pemuda tersebut.

"Hey Liem Tou, jika ditinjau dari potongan pakaianmu kau memang rada mirip seperti anak murridku ! heee ,........... heee …. Buntung tua, mari kita antar dia sampai ditengah jalanan."

Liem Tou yang melihat cakap dari sipengemis pemabok masih juga sekonyol dulu tak tahan lagi ia lantas tertawa, demikianlah mereka bertiga segera berjalan keluar.

Waktu itu kerbau tersebut telah menanti di lapangan batuan diatas puncak Leng Ay.

Giok jie pun sudah turun dari tunggangannya dan menanti disamping dengan tenang, sedangkan ketiga ekor burung elangnya berputar putar terus diangkasa.

"Liem Tou ! sekarang aku mau bertanya kepadamu,"

Tiba-tiba secepat sambaran kilat sipengemis pemabok melancarkan cengkraman mencekal urat-nadi dari pemuda tersebut.

"Kenapa sewaktu berjumpa dibawah puncak tadi secara mendadak kau turun tangan membokong kami? sekarang kau harus memberikan penjelasan yang memuaskan hati."

Semula Liem Tou rada terkejut tetapi setelah mendengar jelas apa yang sedang dibicarakan ia tertawa tawar.

"Susiok, kau jangan ribut dulu kaupun harus bertanya pada dirimu sendiri kitab pusaka Toa Loo Cin Keng merupakan kepandaian silat dari "Toen Si Pay"

Yang tidak pernah diturunkan kepada orang lain,"

Katanya perlahan.

"Dan kini susiok sudah berhasil mempelajari sebelum urusan ini terjadi. Akupun tidak tahu kalau susiok sudah mengangkat su-couw sebagai guru oleh karena itu hal ini mudah sekali menimbulkan kesalah-pahaman. Saat itu aku tidak lebih cuma, ingin membuktikan apakah susiok benar-benar berhasil mempelajari isi dari kitab pusaka Toa Loo Cin Keng atau tidak maka dari itu aku menggunakan batu serta pasir untuk mengadakan percobaan."

Sipengemis pemabok melototkan matanya bulat bulan ia mendengus dengan dingin.

"Kau anggap aku dan si buntung tua manusia macam apa? apakah kita kita berdua paling suka mencuri rahasia orang lain ?". Diam-diam Liem Tou menggerutu, ia tak menyangka kalau sipengemis pemabok bisa begitu gusarnya, terpaksa pemuda tersebut tertawa paksa.

"Susiok harap jangan marah-marah !"

Katanya. Bilamana susiok menegur tentang soal ini sutit sudah tentu tak ada perkataan lain lagi yang bisa diucapkan, kau hendak menjatuhkan hukuman macam apa kepadaku, silahkan diberitahukan saja !"

Jilid 44 . Bersama Giok-jie ke Liong Chuan Kembali si pengemis pemabok mendengus dingin, air mukanya berubah jadi amat kering.

"Yang lain tidak usah kita bicarakan lagi,"

Ujarnya.

"Selama hidup aku si pengemis tua kecuali menderita rugi di tangan si penjahat naga merah si bangsat tersebut, boleh dikata Ke Hong bangsat cilik itulah yang memaksa aku menderita kecundang untuk kedua kalinya. Pada saat ini aku memang mengakui tenaga dalam dari aku si pengemis tua tidak dapat menandingi dirinya, tetapi tiga tahun kemudian aku si pengemis tua pasti akan mencoba-coba kepandaiannya, kau tentu mengerti maksudku bukan?"

"Tidak paham !"

Si pengemis mabok kontan mendelikkan matanya bulat-bulat, teriaknya keras.

"Tinggalkan nyawa Ke Hong untuk diriku agar kemudian hari aku si pengemis tua berhasil melampiaskan rasa mangkelku, paham bukan . ..?"

Liem Tou segera mengangguk kendati dalam hati ia merasa rada keberatan karena dialah pembunuh supeknya Lie Sang.

Dengan kejadian ini maka ia jadi tak dapat membalas dendam dengan tangannya sendiri, karena itu tanpa terasa lagi matanya melirik sekejap ke arah si siucay buntung.

Waktu itu orang tua tersebut hanya tersenyum, melihat akan hal itu hatinya tiba-tiba saja jadi tergerak.

"Perkataan dari susiok tentu akan sutit ikuti,"

Jawabnya kemudian.

"tetapi... bila mana Ke Hong menderita luka dalam perlawanannya karena hendak sutit tangkap, waktu itu aku harus berbuat bagaimana?"

"Kalau sampai terjadi peristiwa itu maka aku akan mencari sutit untuk diminta pertanggungan jawab. Waktu itu ilmu kepandaian dari kitab pusaka Toa Loo Cin Keng serta ilmu kepandaian dari kitab pusaka Toa Kong Pit Liok akan memperlihatkan siapa yang lebih unggul,"

Teriak si pengemis pemabok dengan keras. Dalam hati Liem Tou menganggap dirinya sedang bergurau, maka itu ia tak sampai memikirkan hal tersebut, didalam hati ia tersenyum.

"Sutit tentu akan menurut perintah ! "

Sahutnya Kemudian dengan sangat hormat. Mendadak dengan wajah tidak senang Giok jie berjalan mendekat, teriaknya kepada pemuda itu.

"Eeei sebenarnya apa yang kau lakukan di gunung Go bie san? jejak Ie tak ada di sini !"

"Kalau tidak mendatangi gunung Go bie bagaimana bisa tahu kalau enci Ie ada di mana ?"

Sahut Liem Tou sambil melirik sekejap ke arahnya.

"Baiklah! kita segera meninggalkan tempat ini; tetapi di tengah perjalanan kita harus saling menyebut sebagai kakak beradik untuk menghindari percakapan yang bukan-bukan dari orang lain, dan lagi pada pakaianmu yang berwarna merah darah baiknya diganti saja."

Si siucay buntung serta si pengemis pemabok pernah menemui Giok jie sewaktu ada di gunung Cing Shia, sudah tentu mereka tahu pula kalau dia adalah anak murid dari Ke Hong tempo dulu.

Saat itu tak tertahan lagi teriak Si siucay buntung.

"Ada perempuan ini disini, untuk mencari tempat persembunyian dari Ke Hong rasanya tidak begitu sukar lagi bukan?"

"Sutit melakukan perjalanan bersama-sama dirinya justeru mempunyai maksud begini,"

Sahut Liem Tou mengangguk.

"Susiok berdua ada pesan apa lagi? kalau tak ada sutit segera akan berangkat ke pantai pasir emas di lautan Auw Hay guna mencari enci Ie, setelah itu mencari Ke Hong. Dengan begitu jejakku sejak kini pun tak menentu, harap susiok sekalian suka baik-baik saja berjaga diri."

Si siucay buntung serta si pengemis pemabok berdiam diri beberapa waktu lamanya, agaknya mereka sudah tak ada perkataan lain la gi untuk dibicarakan.

Liem Tou segera menyuruh Giok jie menunggang kerbau, setelah berpisah dengan si siucay buntung serta si pengemis pemabok dengan membawa gadis itu Liem Tou melakukan perjalanan turun gunung.

Kedua orang itu setelah menuruni puncak Leng Ay di gunung Go bie dengan menyusuri sungai melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke pantai laut Auw Hay.

Perjalanan kali ini lebih banyak melalui sungai-sungai dengan aliran yang deras.

Selama beberapa hari ini Liem Tou serta Giok-jie melakukan perjalanan ke arah barat keluar dari tanah pegunungan memasuki daerah Liong Chuan.

Walaupun hanya beberapa hari perjalanan saja tetapi baik bagi Liem Tou maupun Giok jie sudah memperlihatkan tanda tanda kepayahan.

"Giok jie !"

Ujar Liem Tou kemudian.

"Kita sudah ada beberapa hari memasuki daerah Liong Chuan yang berarti jarak dari Auw Hay tidak jauh lagi, untuk sementara kita beristirahat di kota kemudian baru melanjutkan perjalanan kembali."

Giok jie selama ini memang tidak banyak bicara, mendengar perkataan tersebut ia segera mengangguk, wajahnya amat kasihan sekali !

"Bilamana aku masuk ke dalam kota dengan membawa kerbau serta ketiga ekor burung elang itu maka para rakyat di sana tentu akan beranggapan kami adalah rombongan penjual silat,"

Pikir Liem Tou di dalam hatinya.

Bila sampai dikerumuni maka gerak-gerikku jadi kurang leluasa, lebih baik mencari sebuah rumah penginapan yang terasing dan jauh di luar kota saja, hal ini bisa menghindari semua kesulitan !"

Sesudah mengambil keputusan, ia tidak jadi masuk ke dalam kota sebaliknya mencari sebuah rumah penginapan di luar kota.

Baru saja ia melangkah masuk ke dalam pintu rumah penginapan itu, siapa sangka sang pelayan yang melihat bentuk Liem Tou seperti seorang pengemis ternyata sama sekali tidak ambil perduli.

Dalam hati pemuda tersebut merasa amat gusar, baru saja ia mau mengumbar hawa amarahnya mendadak si pelayan itu dapat melihat adanya seekor kerbau di belakang tubuh pemuda tersebut.

Air mukanya berubah hebat, sikapnya sangat mencurigakan sekali.

Tanpa banyak cakap ia putar tubuh dan buru-buru lari masuk ke dalam.

Sudah tentu Liem Toh merasa keheranan, ketika ditunggunya beberapa saat maka tampaklah dari dalam rumah penginapan itu berjalan keluar seorang laki-laki berusia pertengahan yang agaknya merupakan pemilik rumah penginapan itu.

Setelah memandang beberapa saat seluruh tubuh sang pemuda, tiba-tiba dengan wajah penuh senyuman, ujarnya.

"Khek koan! Kau hendak menginap disini? Rumah penginapan kami mempunyai kamar kamar bagus yang tenang dan bersih. Silahkan masuk!"

Sebetulnya Liem Tou lagi mendongkol, tetapi melihat sikapnya yang sangat hormat itu rasa gusarnya pun kontan hilang. Bersama-sama dengan Giok-jie ia lantas masuk ke dalam rumah penginapan tersebut.

"Eeei ... kerbau ini tolong dirawat baik-baik. Nanti sewaktu menagih rekening dihitung sekalian ongkos-ongkosnya,"

Ujarnya kepada Ciang Kwee.

"Sudah tentu ... sudah tentu !"

Tetapi mendadak ia seperti teringat akan sesuatu urusan, pada paras mukanya memperlihatkan perasaan serba salah dan memandang Liem Tou dengan termangu-mangu.

"Apakah kau tidak suka melakukannya?"

Tanya pemuda tersebut keheranan.

"Bukan begitu! Bukan begitu !"

Teriak Sang Ciang kwee dengan saugat terkejut.

"Hanya saja kerbau dari Khekkoan ini bisa melukai orang atau tidak ??"

"Akh ... soal itu sih tidak tentu, asalkan kau tidak mengusik dan mencari gara-gara dengan dirinya, sudah tentu ia tak ada alasan untuk melukai orang."

"Oooow..."

Si pemilik rumah penginapan itu dengan cepat memerintahkan sang pelayan untuk menuntun kerbau tersebut ke dalam istal.

Baru saja kerbau itu melangkah masuk ke kandangnya, dua ekor kuda yang semula ada di dalam istal itu tiba-tiba saja meringkik panjang dengan teramat gusar, bahkan menggunakan kaki belakangnya melancarkan serangan ke arah kerbau tersebut.

Agaknya kerbau serta kuda tak dapat menjadi satu.

Dengan sombong dan gagahnya kerbau milik Liem Tou ini berdiri dengan tegak, terhadap datangnya serangan dari sang kuda ia tidak ambil gubris.

Kedua ekor kuda itu semakin gusar lagi, binatang itu meringkik tiada hentinya.

Baca Juga: Si Tangan Halilintar 4

Baca Juga: Pendekar Baju Putih 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert