Eps 12 Raja Silat - Chin Hung
Baca online Raja Silat - Chin Hung
Cersil Raja Silat - Chin Hung.
Dengan adanya peristiwa ini, sang pelayan itu tidak berani memasuki kandang untuk mencegah.
Ia hanya berdiri di pinggir istal sambil menonton kemarahan dari sang kuda.
Lama kelamaan kerbau tersebut tidak dapat menahan rasa gusarnya lagi, ia tundukkan kepala sambil mendengus panjang.
Agaknya kedua ekor kuda itu tidak mengerti lihaynya musuh, binatang itu masih melanjutkan serangannya semakin ganas.
Mendadak sang kerbau berpekik nyaring, tubuhnya menerjang ke depan dengan ekornya menyapu dahsyat ke arah lambung kuda tersebut.
Seorang jagoan lihay dari kalangan Bulim pun belum tentu bisa menerima datangnya sapuan ekornya itu, apalagi cuma seekor kuda.
Suara ringkikan yang mengerikan segera berkumandang memenuhi angkasa, kuda tersebut rubuh binasa di atas tanah, dari mulutnya mengucurkan darah segar dengan derasnya.
Kiranya sejak kerbau itu menerima bantuan dari Liem Tou guna belajar tenaga Iweekang.
sapuan ekornya ini boleh dikata mempunyai kekuatan ribuan kati, sudah tentu kuda itu tak bakal bisa menahan datangnya hajaran tersebut.
Seluruh isi perutnya hancur remuk, dan seketika itu juga menemui ajalnya.
Liem Tou yaug ada di dalam kamar ketika mendengar kerbaunya mendengus panjang hatinya menjadi heran, belum sempat ia mengambil sesuatu tindakan mendadak tampaklah pelayan rumah penginapan itu berlari mendatangi dengan tergesa gesa.
"Khek koan!"
Teriaknya keras.
"Kerbaumu sudah membinasakan seekor Kuda. Kuda itu pun merupakan kuda milik tamu yang dititipkan di sana, sekarang sudah mati oleh terjangan kerbaumu, apa yang harus diperbuat?"
Mendengar perkataan tersebut Liem Tou jadi melengak.
"Tadi aku pernah berkata, bilamana kuda itu tidak menyerang dirinya terlebih dulu, maka dia pun tidak akan mencelakai kuda tersebut..."
Serunya setelah termenung sebentar.
"Siapakah pemilik kuda itu ? Coba kau bawalah aku pergi menemui dirinya."
Baru saja ia selesai berbicara, mendadak di luar kamar terdengar suara bentakan dari seseorang yang sangat kasar.
"Kau orang kalau ada maksud membuka rumah penginapan kenapa tidak baik-baik mengurusi kuda daripada tetamunya? Aku mau lihat apakah kau bisa mengganti kuda jempolan itu !' "Kbek koan kau jangan marah dulu,"
Terdengar suara dari sang Ciang kwee berusaha meredakan hawa amarah orang itu.
"Rumah penginapan kami kalau cuma mengganti seeekor kuda biasa sih masih mampu tetapi aku tidak percaya kalau kuda tersebut adalah seekor kuda jempolan. Walaupun pengetahuan dari aku si Ciang kwee sangat rendah tetapi terhadap sifat serta kemampuan seekor kuda jempolan masih mengetahui walaupun sedikit. Jangan dikata cuma seekor kerbau, sekalipun seekor macan pun belum tentu bisa membinasakan dirinya, mana mungkin kudamu itu sampai mati oleh terjangan kerbau? Aku benar-benar tidak mengerti dan tidak mau percaya."
Si orang yang bersuara amat kasar itu agaknya kena terdesak bungkam oleh omongan si pemilik rumah penginapan yang amat tajam dan pintar itu. Tetapi sebentar kemudian ia sudah membentak keras .
"Kurang ajar! Kau orang sungguh kurang ajar sekali. Kudaku sudah mati, masih untung aku si orang tua cuma minta ganti harganya saja! Apa kau tidak mau membayar? Terus terang aku kasih tahu padamu, di daerah Can Tian ini siapa yang tidak kenal dengan nama "Say Sian Hong"
Atau si angin puyuh Toan Bok Si dari Auw Hay?"
"Plaak ! plaak !"
Disusul suara gaplokan yang sangat keras.
"Khek koan, kau cepat unjukkan diri untuk membereskan persoalan ini, kalau tidak maka Ciang kwee kita bakal dihajar terus oleh orang itu,"
Teriak si pelayan dengan amat cemas.
Liem Tou cuma tersenyum saja kepadanya seperti tidak terjadi sesuatu urusan, ia tetap duduk tenang di tempat semula.
Pada waktu itulah terdengar si pemilik rumah penginapan itu kembali tertawa dingin tiada hentinya.
"Bagus bagus ! Kau berani memukuli orang si Angin puyuh Toan Bok Si dari Auw Hay memang sudah lama aku dengar, tetapi apakah kau pernah dengan Liong Chuan ?"
Belum habis ia berkata mendadak ucapannya diputus. Hal ini menambah kegusaran dari si angin puyuh Toan Bok Si.
"Hm!"
Dengusnya dingin.
"di daerah Liong Chuan tidak lebih cuma ada seorang Kiem Sah Ong yang menjagoi tempat tersebut, tapi kau cuma seorang pemilik rumah penginapan yang sangat kecil, apakah kau mirip sebagai dirinya? Manusia yang tidak tahu malu! Kuda ini harganya tiga ratus tahil perak, kau harus mengganti harga tersebut kepadaku, kurang sedikit saja aku mau lihat kau suka melanjutkan hidup atau tidak ?"
Si angin puyuh Toan Bok Si dari Auw Hay itu mempunyai perawakan tubuh yang kekar seperti kerbau, kepalanya mirip kepala macin dengan sepasang mata yang besar.
Ia memakai seperangkat pakaian singsat warna ungu menambah kegagahan serta keangkerannya.
Di sisi tubuhnya berdirilah seorang yang berperawakan pendek dengan sepasang mata tajam seperti tikus.
Ia pun memakai pakaian ringkas cuma saja selama ini tak sepatah kata pun yang diucapkan.
Jelas mereka berdua merupakan kawan sejalan.
Mendengar perkataan tersebut agaknya si pemilik rumah penginapan itu merasa amat tidak terima, tetapi dia orang sama sekali tidak menjadi terkejut maupun gugup, sekali pandang sudah cukup diketahui bila ia adalah seorang yang sangat berpengalaman.
Terdengar orang itu mendengus dingin.
"Hmm! Harga tersebut rupanya merupakan harga kuaa yang termahal di kolong langit dewasa ini,"
Serunya dingin.
"Baiklah ! Kalau kau orang tidak pakai aturan akupun tak ingin banyak bicara dengan dirimu pada saat ini. Dua jam kemudian aku akan menunggu kedatanganmu untuk menerima uang tersebut di bangunan bssar dekat lapangan kuda dari Kiem Sah Ong, kau berani datang tidak? Heee... heee... aku mau lihat manusia yang disebut sebagai si angin puyuh Toan Bok Si yang tak takut langit tidak takut bumi apa benar-benar punya nyali?"
"Baik! pergi ya pergi"
Siapa yang bisa menahan diriku orang she Toan Bok???"
Mendadak si pemilik penginapan itu bangun berdiri dan melangkah keluar dari pintu rumah penginapan tersebut.
"Tunggu sebentar!"
Mendadak terdengar Toan Bok Si membentak keras.
Si pemilik rumah penginapan itu tidak tahu apa yang telah terjadi.
Dia menghentikan langkahnya dan melototi orang tersebut.
Toan Bok Si segera mengerling memberi tanda kepada si lelaki pendek yang ada di sisinya.
Orang itu setelah mendapatkan tanda dengan acuh tak acuh melangkah maju ke depan, tanpa banyak bicara lagi mendadak tangannya diayunkan ke depan dengan kecepatan yang luar biasa mengirim beberapa kali tamparan yang keras ke arah pipi si pemilik rumah penginapan tersebut.
"Plaaak! Ploook!"
Karena gaplokannya ini dilakukan sangat keras, maka pipi si pemilik rumah penginapan tersebut kontan saja berubah jadi bengkak, dan mulutnya mengucurkan darah segar, sedangkan dua buah gigi depannya kena terpukul lepas !
Tetapi ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, dengan gemas dan bencinya Sang Ciang kwee melirik sekejap ke arah kedua orang itu kemudian tanpa menoleh lagi ia melangkah pergi dari situ.
Tetapi baru saja ia melangkah beberapa tindak, kembali dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara teriakan dari seseorang ;
"Tahan ! Ayo kembali!!!"
Walaupun sang pemilik rumah penginapan itu adalah seorang yang mempunyai pengalaman sangat luas tetapi ia tidak mempunyai sedikit kepandaian silat pun, mendengar suara panggilan tersebut tidak urung tubuhnya gemetar juga sangat keras.
Tak terduga olehnya setelah ia putar badan kali ini, kejadian apa yang bakal menimpa dirinya.
Tetapi iapun mengerti jelas bilamana dirinya tidak ambil gubris dan dengan keraskan kepala melarikan diri dari sana maka ia bakal menderita suatu akibat yang jauh lebih hebat lagi.
Karena itu setelah mendengar teriakan tadi terpaksa sang Ciang Kwee tersebut menghentikan langkahnya dan perlahan-lahan putar badan.
Tampaklah Liem Tou sedang berdiri di ruangan rumah penginapan tersebut, agaknya teriakan terakhir tadi muncul dari mulut sang pemuda itu.
Menanti sang pemilik rumah penginapan itu sudah putar tubuh sehingga kelihatan pipinya yang membengkak bekas gablokan, Liem Tou baru mendengus dingin.
"Hey pengemis busuk, ada soal apa yang patut kau dengusi?"
Tiba-tiba si angin puyuh Toan Bok Si membentak dengan sangat gusar dan sombongnya.
Liem Tou sama sekali tidak menggubris maupun melirik ke arahnya, sebaliknya pemuda itu malah menoleh ke arah Ciang kwee yang lagi berdiri tertegun.
"Aku dengar kerbauku sudah membinasakan seekor kuda orang lain, apakah sungguh-sungguh telah terjadi peristiwa semacam ini?"
Tanyanya.
"Entah mengapa yang jelas si pemilik rumah penginapan tersebut menaruh rasa yang amat jeri terhadap Liem Tou, mendengar pertanyaan tadi sikapnya sama sekali berubah. Di atas pipinya yang bengkak mendadak terlintaslah satu senyuman yang sangat jelek dipandang.
"Memang benar-benar telah terjadi peristiwa ini memang benar-benar telah terjadi peristiwa ini,"
Sahutnya berulang kali;
"Tetapi urusan ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Khek koan. Hal tersebut terjadi karena kelalaian dari pelayan kami."
Wajah Liem Tou kembali berubah jadi keren. Ia menganggukkan kepalanya lalu bertanya lagi.
"Apakah pemilik kuda itu benar-benar minta ganti rugi tiga ratus tahil perak kepadamu?"
Si pemilik rumah penginapan melirik sekejap ke arah Toan Bok Si berdua, akhirnya ia pun manggut-manggut.
"Benar!"
"Eehmm ! Tidak mahal?"
Seru Liem Tou perlahan. Dari dalam sakunya ia lantas mengambil keluar tiga buah kepingan uang emas dan diserahkan kepada sang Ciang kwee.
"Di sini ada tiga puluh tahil uang emas, tolong Ciang kwee suka berikan kepada pemilik kuda itu sebagai ongkos ganti rugi,"
Katanya. Melihat perbuatan dari Liem Tou ini baik Si pemilik rumah penginapan maupun Toan Bok Si berdua jadi tertegun untuk beberapa waktu lamanya.
"Setelah membinasakan kud'a milik orang lain sudah seharusnya diganti, cepat berikan kepadanya,"
Bentak Liem Tou mendadak. Sejak semula si pemilik rumah penginapan itu sudah tak ada cara yang lain terpaksa ia menyambut uang tersebut dan diserahkan ke hadapan Toan Bok Si.
"Tiga puluh tahil emas nilainya sama dengan harga yang kau minta sebanyak tiga ratus tahil perak, kalian berdua tidak akan merasa rugi bukan?"
Serunya kembali. Toan Bok Si tertawa dingin tiada hentinya dengan cepat ia merebut uang tersebut dan diselipkan ke dalam sakunya sendiri.
"Koei heng, ayoh pergi!"
Serunya mendadak terhadap lelaki kate itu. Sambil berkata mereka berdua bersiap-siap hendak meninggalkan rumah penginapan itu.
"Saudara berdua harap tunggu sebentar,"
Seru Liem Tou sambil tersenyum.
"Bukankah masih ada sedikit hutang yang belum kalian lunasi?"
Toan Bok Si adalah salah seorang murid kesayangan Auw Hay Ong dari antara ke empat orang murid kesayangan lainnya dan boleh dikata dialah merupakan anggota partai Kiem Tien Pay yang memiliki kedudukan paling tinggi pada saat ini.
Mendengar teriakan tersebut, Toan Bok Si jadi rada kheki.
"Hey pengemis busuk, apakah kau ingin cari mati?"
Bentaknya dengan amat keras. Liem Tou hanya tertawa tawar.
"Tadi disebabkan cayhe merasa kerbauku sudah membinasakan kuda dari Loo heng maka hatiku merasa kurang enak sehingga mengganti kerugian harga kuda itu tetapi perbuatan dari Loo heng berdua yang sudah turun tangan menampar orang lain, apakah tidak seharusnya diperhitungkan sekalian??"
Si angin puyuh Toan Bok Si jadi sangat murka.
"Aku lihat kau si pengemis busuk bisa berbuat apa ?"
Bentaknya. Kembali Liem Tou tersenyum, ia tak menjawab sebaliknya malah menoleh ke arah si pemilik rumah penginapan itu.
"Ciang kwee! apakah kau ada petunjuk ??"
Tanyanya. Si pemilik rumah penginapan itu tidak menjawab sebaliknya dengan mata terbelalak dan mulut melongo memandang ke arah Liem Tou dengan kesima.
"Jika dipandang dari pipimu yang bengkak merah karena digaplok apakah kau merasa rela dirimu dihajar sanpai jadi begitu rupa?"
Tanya pemuda itu kembali.
"Hmmm ! Siapa yang suka dihajar orang sampai sedemikian rupa?"
Teriak si pemilik rumah penginapan itu dengan gemas.
"Kalau mengikuti pikiran di dalam hatiku, kepingin sekali akupun balas menghajar pipinya sehingga jadi membengkak dan giginya pada rontok semua !"
Si angin puyuh Toan Bok Si yang mendengar nada ucapannya mengandung rasa mendongkol dan apa boleh buat, tak terasa lagi sudah tertawa terbahak-bahak.
"Haaa ... haaa ... soal ini karena kau jadi orang suka terlalu sungkan !!"
Teriaknya.
Siapa tahu suara perkataannya baru saja meluncur keluar dari ujung bibir dan suara tertawanya belum sirap kedua belah pipinya terasa amat sakit disusul suara gaplokan yang amat nyaring bergema memenuhi angkasa.
"Plaaaaaaakkk ! Ploooookk !"
Saking kerasnya gaplokan tersebut membuat giginya ada tiga biji terhajar rontok, pipinya sembab amat besar sekali.
"Akh .. sudah... sudahlah!"
Teriaknya tanpa terasa.
Tubuhnya dengan cepat merendah ke bawah tanpa melihat jelas lagi siapa yang sudah menghajar dirinya sang telapak dengan amat dahsyat sudah mengirim satu pukulan dahsyat membabat badan sang Ciang Kwee tersebut.
Melihat munculnya serangan itu, dengan sebat Liem Tou menyambar tangan si pemilik rumah penginapan dan melemparkannya ke arah luar pintu.
Kemudian tubuhnya kembali berputar cepat, di antara berkelebatnya sang tangan tahu-tahu pipi si lelaki kate itu pun mendapat giliran untuk dihadiahi dengan beberapa buah gaplokan keras.
Kecepatan geraknya benar-benar luar biasa sekali, di tengah berkelebatnya bayangan manusia suara nyaring bergema memenuhi angkasa, wajah dari si angin puyuh Toan Bok Si kembali berhasil kena ditampar beberapa kali.
Tamparan keras kali ini kontan saja membuat Toan Bok Si memegangi pipinya rapat-rapat dan gembar-gembor seperti orang kalap.
Liem Tou sebaliknya malah tertawa terbahak-bahak dengan sangat kerasnya.
"Haaaa ... haa ... sebutan dua kali pengemis busukmu mendapat ganti dengan dua kali tempelengan. Aku rasa hal ini tidak akan terasa rugi lagi!"
Teriaknya. Pada saat itulah si lelaki kate telah mencabut keluar goloknya dan meloncat keluar dari rumah penginapan tersebut.
"Toan Bok heng! Cepat lari keluar !"
Teriaknya.
Toan Bok Si yang disadarkan oleh perkataan tersebut dengan cepat meloncat ke tengah udara dan melayang keluar.
Sewaktu tubuhnya terputar dan mencelat ke tengah udara itulah pedang jarinya dengan sebat dan lihaynya melancarkan totokan ke arah Liem Tou.
Ilmu jari pengejar sukma Yen Wie Tui Hun Tjie dari partai Kiem Tien Pay sudah terkenal sebagai ilmu tunggal yang disegani banyak para jagoan Bu lim.
Sewaktu Liem Tou terjunkan dirinya ke dalam Bu lim untuk pertama kalinya, ia sudah pernah merasakan kelihaiyan diri ilmu jari si nona dari kedua keluarga Tjiang.
karena itu terhadap bagaimanakah perubahan gerak dari ilmu tersebut ia sudah rada memahami.
"Haaa ... haa ..."
Terdengar dia orang tertawa terbahak bahak.
"Kendati ilmu jari Yen Wie Tui Hun Tjie dari partai Kiem Tien Pay sangat lihay, apakah kau kira bisa mengapa-apakan diriku??"
Sembari berkata tanpa menghindari lagi dari datangnya serangan tersebut, ia melanjutkan langkahnya keluar dari rumah penginapan itu.
Toan Bok Si yang melihat serangan jarinya berhasil mengenai tubuh Liem Tou dan ternyata tidak mendatangkan hasil apa pun, dalam hari tak terasa lagi mulai menggerung.
"Ini hari aku betul-betul sudah ketemu dengan setan, kenapa sampai ilmu silatku pun sampai tidak manjur lagi?"
Pikirnya dalam hati.
Buru-buru ia menyalurkan hawa murninya ke arah seluruh badan, serangan jarinya berubah menjadi serangan telapak, dengan menimbulkan deruan angin pukulan yang kencang ia menghajar tubuh Liem Tou yang sudah ada di luar rumah penginapan itu.
Melihat kejadian tersebut, Liem Tou hanya tersenyun, ia tidak berkelit, tidak menghindar maupun menangkis, langkah kakinya masih tetap seperti sediakala.
Dimana angin pukulan si angin puyuh berkelebat terasalah suara hawa yang hampa menyambar lewat dan terasa tak terhalang oleh sesuatu benda apapun.
Rasa terkejutnya kali ini benar-benar luar biasa sekali, tubuhnya segera mencelat ke tengah udara lalu mundur beberapa kaki ke belakang.
Sepasang matanya melototi Liem Tou tajam-tajam, selama beberapa waktu lamanya tak sepatah kata pun yang bisa diucapkan keluar.
Di dalam benaknya pada waktu itu mulai terbayang macam-macam ingatan, apa mungkin Liem Tou bukan manusia tetapi setan atau roh halus??
Tetapi pipinya yang pedas sakit dan bengkak membuktikan kalau dia adalah manusia!
Pada jarak dua kaki dari kedua orang itu Liem Tou menghentikan langkahnya, sambil tertawa tanyanya.
"Aku terka kalian berdua tentunya jago lihav yang dibanggakan oleh partai Kiem Tien Pay sehingga memperoleh pelajaran ilmu jari Yen Wie Tui Hun Tjeng dari Loo Tjiang. Tolong tanya apakah Loo Tjiang pada saat ini ada di tepi pantai pasir emas??"
Pada waktu itu si angin puyuh Toan Bok Si baru mengetahui bila si pengemis busuk tersebut memiliki kepandaian silat yang luar biasa lihaynya, karena itu sikapnya tak berani gegabah lagi, sinar matanya perlahan-lahan melirik sekejap mata ke arah kawannya si lelaki kate itu.
Dengan rasa yang gemas dan penuh rasa mendongkol si lelaki kate itu segera alihkan sinar matanya ke arah Liem Tou, bentaknya ketus .
"Buat apa kau tanyakan persoalan itu ? siapakah kau ?"
Liem Tou hanya tersenyum tak menjawab. Tetapi sebentar kemudian air mukanya sudah berubah hebat tanyanya tiba tiba.
"Siapakah Kiem Sah Ong dari Liong Chuan itu? Apa sangkut pautnya dengan perkumpulan Sin Beng Kauw?"
Mendengar perkataan itu, baik si lelaki maupun si Angin Puyuh Toan Bok Si merasa sangat terperanjat.
"Soal ini aku sendiripun tidak tahu,"
Sahutnya cepat.
"Hanya saja Kiem Sah Ong adalah jagoan dari daerah dan merupakan tukang pemeras rakyat sekitarnya, boesu-boesu yang dipeliharanya sangat banyak bahkan merupakan kaki tangan yang setia di dalam menjalankan prakteknya. Mendengar perkataan tersebut Liem Tou segera mendengus dingin, mendadak terlihatlah bibirnya bergerak-gerak tapi tidak kedengaran suaranya, jelas pemuda itu sedang menggunakan ilmu untuk menyampaikan suaranya memanggil Giok-jie. Bibirnya sudah bergerak beberapa saat lamanya, pemuda tersebut baru berkata kembali.
"Kalian pulanglah dan beritahu kepada Loo Ciang ketua partai Kiem Tien Pay kalian asalkan dia orang tidak sampai mencelakai nona Lie yang dia tawan dari gunung Cing Shia, perkataan apa pun bisa kita rundingkan, kalau tidak ... Hmm! Hmm! Bilamana cuma mengandalkan beberapa macam kepandaian silatnya itu aku rasa masih belum cukup untuk menahan terjangan dariku, aku akan paksa melihat bagaimanakah ngerinya bila mana pantai emasnya dinodai dengan banjir darah. Hee. sampai waktu itu janganlah menyalahkan kalau aku bersikap terlalu telengas."
"Kurang ajar ... kurang ajar !"
Teriak si Angin Puyuh Toan Bok Si dengan keras.
"Kau si pengemis busuk manusia macam apa? Hmm. ! Sungguh tak tahu diri. Di dalam dunia persilatan sama sekali tidak kedengaran nama besarmu tetapi berani juga kau bicara besar? Jangan dikata membuat pantai emas banjir darah. sekalipun sebutir pasir dari pantai emas pun jangan harap kau orang bisa menginjaknya. Siapa kau sebetulnya?"
Liem Tou sama sekali tidak menyalahkan dirinya sebaliknya malah tertawa geli.
"Haaa .... haaa kau orang masih belum kehilangan jiwa gagah dari seorang manusia berangasan, setelah menderita kerugian besar masih berani juga bicara banyak! Sekarang aku tanya padamn, siapakah yang paljng dibenci oleh Loo Tjiang kalian? dan siapa pula yang paling dia takuti??"
"Hmm! yang paling dibenci adalah Liem Tou si bangsat cilik itu, sedang yang paling ditakuti pun Liem Tou si bangsat cilik itu,"
Sahut Toan Bok Si lagi tanpa terasa dengan sepasang mata melotot lebar-lebar.
"Cuma saja Liem Tou si bangsat cilik itu kemungkinan sekali pada saat ini sudah tinggal kerangkanya saja. Hee ... hee orang kedua yang paling ditakuti adalah "
Belum habis ia berkata, Liem Tou sudah menyambung dengan cepat .
"Si perempuan tunggal Touw Hong bukan?"
Toan Bok Si jadi sangat terperanjat, ia memandang Liem Tou tajam-tajam tanpa berkedip.
"Urusan dari pantai emas kami ternyata banyak sekali yang kau ketahui !"
Teriaknya kheki.
"Hmm! Hmm! Si perempuan tunggal Touw Hong yang sudah melupakan budi selama setahun ini selalu saja muncul dan lenyap di daerah sekitar pantai emas sehingga membuat suhu membencinya setengah mati. Kalau tidak nona Lie kemuugkinan sekali sudah menjadi Auw Hay Ong Ho yang kedua !"
Mendengar perkataan tersebut, Liem Tou segera merasakan jantungnya tergetar keras, saat ini ia baru tahu kalau Auw Hay Ong Ciang Cau sebetulnya menaruh maksud tidak baik terhadap diri Siauw Ie.
Tetapi sewaktu didengarnya si perempuan tunggal Touw Hong sering kali munculkan dirinya di sekitar pantai emas, hatinya semakin terkejut bercampur keheranan.
"Kalau memang ia munculkan diri dan lenyap sukar untuk diraba, bagaimana kalian bisa tahu kalau ia adalah si perempuan tunggal Touw Hong ?"
Tanyanya kemudian.
"Dia adalah seorang perempuan berpakaian serba hitam dan cuma kelihatan sepasang matanya yang jeli, kecuali si perempuan tunggal Touw Hong masih ada siapa lagi ?"
Seru Toan Bok Si dengan keras.
Pikiran Liem Tou jadi tenang kembali, teringat bayangan hitam yang pernah ditemuinya sewaktu di Lembah Kabut, dalam hati lantas punya dugaan kalau perempuan tersebut tentu adalah dia.
Perempuan yang ada di lembah Kabutpun pernah berkata kalau ia hendak pergi menolong Lie Siauw Ie lolos dari mara bahaya, tidak terasa lagi pikirannya jadi tersadar kembali.
"Ciangkwee sudah datang membawa orang untuk mencari balas, kalian berdua cepat-cepatlah pergi !"
Katanya segera.
"Beritahu kepada Loo Ciang, tiga hari kemudian aku pasti akan datang mencari dirinya !"
Sembari berkata pemuda itu melemparkan satu kerlingan ke arah samping; si Angin puyuh Toan Bok Si serta si lelaki kate itu deugan cepat mengikuti kerlingan tadi menoleh ke arah samping jalanan itu menuju ke arah kota itu.
Tampaklah dari hadapan mereka muncul berpuluh-puluh orang Boesu yang kelihatan kekar sekali.
Ketika itu para rakyat yang sedang berjalan hilir mudik di sekitar tempat tersebut ketika melihat situasi yang sangat tidak menguntungkan, cepat-cepat pada membubarkan diri dan jauh-jauh menghindarkan diri dari tempat itu.
"Jumlah sedikit sulit untuk memenangkan jumlah banyak, lebih baik kalian berdua cepat-cepat pergi saja ! Kalian mau tunggu sampai kapan lagi?"
Tegur Liem Tou kembali. Si Angin puyuh Toan Bok Si pun agaknya dapat melihat situasi rada tidak menguntungkan dirinya, tetapi bukannya dia tinggal pergi sebaliknya ia jadi marah.
"Kau anggap aku manusia macam apa ?"
Teriaknya dengan amat keras. '"Aku Toan Bok Si disuruh berangkat ke air ataupun ke api, selamanya tidak menolak. Kenapa saat ini harus merasa jeri?"
Diam-diam Liem Tou manggut-manggut. Dia tahu benar orang ini seorang lelaki sejati yang keras kepala. Kendati begitu, ujarnya juga.
"Terhadap Kiem Sah Ong memang kalian tidak perlu merasa jeri, tetapi apakah kalian tidak melihat bila di antara mereka terdapat juga orang-orang dari perkumpulan Sin Beng Kauw? Kiem Sah Ong sudah bersekongkol dengan persekutuan Sin Beng Kauw. Dia memang tidak mirip dengan pentolan daerah yang biasa."
"Haa ... haa ... perguruan Kiem Tien Pay kami di sekitar daerah Cian Tien sudah ada dasar puluhan tahun lamanya sebuah perkumpulan Sin Berg Kauw yang hanya mengandalkan nama busuk dari si iblis Chiet Cioe Loo Mo dan baru didirikan dua tahun yang lalu berani juga hendak menyebarkan pengaruh di sekitar daerah sini ... Hmm! Mereka belum punya kekuatan untuk tancapkan kaki!"
Siapa sangka baru saja perkataan itu selesai diucapkan mendadak dari dalam rumah penginapan itu berkumandang datang suara tertawa keras yang amat menyeramkan.
Haaa ...
haaa ...
besar benar omonganmu itu!
Di daerah Ciang Tien bukan saja di segala tempat terdapat cabang-cabang dari perkumpulan Sin Beng Kauw, bahkan daerah pantai emas pun kemungkinan sekali sudah ada di bawah genggaman kami orang perkumpulan Sin Beng Kauw !"
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu mendadak dari dalam rumah penginapan itu muncul dua orang kakek tua yang sudah lanjut usia dan dari sepasang matanya memancarkan cahaya tajam.
Pada waktu yang hampir berbareng orang orang dari kedua belah sisi jalan raya pun mulai mendesak semakin mendekat, dengan begitu posisi mereka jadi terjepit dari tiga jurus an yang berlainan.
Sebetulnya kedua orang kakek tua itu munculkan dirinya secara bersama-sama dari balik rumah penginapan itu, sedang Liem Tou waktu itupun berdiri di luar pintu, tetapi bukannya mereka berdua langsung mendekati sang pemuda sebaliknya malah berjalan langsung mendekati si angin Puyuh Toan Bok Si.
Walaupun begitu perjalanan mereka kena terhadang juga oleh Liem Tou !
Toan Bok Si serta si lelaki kate itu sewaktu melihat dari tiga jurusan yang berlainan muncul serombongan musuh dalam jumlah banyak, air mukanya berubah jadi amat serius.
Dengan memusatkan seluruh perhatiannya, mereka siap-siap menghadapi serangan total dari pihak musuh terutama sekali serangan dari kedua orang kakek tua itu.
Sewaktu Toan Bok Si berdua dapat melihat si pemilik rumah penginapan itu pun terdapat di antara mereka, rasa gusar di hati semakin memuncak lagi hingga memenuhi seluruh benaknya.
Ketika itulah Sang Ciangkwee dengan marah menuding ke arah mereka berdua .
"Mereka berdua itulah orangnya! Dia tidak memandang sebelah mata pun terhadap Kiem Sah Ong serta perkumpulan Sin Beng Kauw !"
"Bangsat yang sangat licik sekali !'"
Diam-diam pikir Liem Tou di dalam hati.
"Agaknya mereka sengaja datang kemari untuk mengantar kematiannya sendiri."
Si Ciang kwee itupun membisikkan sesuatu ke samping telinga si orang lelaki berusia pertengahan yang memakai tanda tanda sebagai anggota perkumpulan Sin Beng Kauw, hal ini terlihat jelas dari sinar matanya yang semula menyapu tubuh si Angin Puyuh Toan Bok Si pada saat ini sudah beralih ke atas tubuhnya.
Liem Tou adalah seorang manusia yang luar biasa lihaynya, di dalam hal tenaga lweekang boleh dikata sudah dapat melebihi siapa pun juga.
Walaupun mereka sedang berbisik-bisik dengan sangat lirih tetapi dengan ketajaman telinga pemuda tersebut ia dapat menangkap semua pembicaraan tersebut dengan amat jelas.
Terdengar orang berkata.
"Si pengemis itu adalah hasil penyaruan dari Liem Tou, kerbaunya pada saat ini ada di dalam istal. Selama beberapa hari ini Kau cu selalu mencari jejak beritanya tidak disangka ia sudah munculkan dirinya di tempat ini."
Anggota dari perkumpulan Sin Beng Kauw itupun dengan suara rendah menjawab.
"Coba kau racuni dulu makanan dari sang kerbau tersebut, kerbau itu sangat kuat sekali bahkan bisa menahan terjangan dari jago-jago lihay; Auw Hay Ong Bo justeru terluka di bawah injakan binatang tersebut."
"Hal ini sudah tentu, hal ini sudah tentu,"
Sahut si pemilik rumah penginapan itu.
"Mereka tidak bakal berhasil meloloskan diri dari cengkeramanku."
Liem Tou yang mendengar beberapa perkataan itu hawa amarahnya segera meluap, ia mendengus dingin tetapi tak nenunjukkan gerakan apa pun.
Dengan pandangan yang sangat dingin ia menyapu sekejap ke seluruh orang-orang yang ada di sana, dalam hati ia ada maksud hendak melihat orang-orang itu hendak menggunakan cara apa untuk menghadapi dirinya.
Kedua orang kakek tua yang pada waktu itu sudah berjalan keluar dari rumah penginapannya mendadak berpencar menjadi dua bagian, satu dari sebelah kanan, dan yang lain dari arah sebelah kiri, kemudi'n dengan melalui kedua belah sisi Liem Tou lalu memutar, mereka berjalan mendekati Toan Bok Si serta si lelaki kate itu.
Dengan amat tenang Liem Tou berdiri tak bergerak, lagaknya mirip dengan orang yang tidak menemui suatu persoalan.
Ketika dilihatnya kedua orang kakek tua itu sudah bergerak dari sisi tubuhnya mendadak...
Kedua orang itu secara tiba-tiba saja berteriak dan meloncat-loncat saking kagetnya.
Selagi Liem Tou menoleh dengan terperanjat pada waktu itulah kedua orang kakek tua itu sudah putar badan sambil membentak keras.
"Liem Tou, kau hendak lari kemana?"
Liem Tou segera merasakan dua gulung hawa pukulan yang maha dahsyat dengan cepat menekan seluruh tubuhnya.
Di mana pikirannya berkelebat tubuhnya segera menyingkir ke samping dengan gerakan sebat, bahkan menggunakan gerakan yang paling cepat laksana kilat.
"Braak ...!"
Kedua orang kakek itu tak bisa menghindarkan diri lagi, mereka masing-ma sing saling mengadu pukulan dengan amat kerasnya.
Kontan saja tubuh mereka berdua tergetar keras hingga mundur dua langkah ke belakang tetapi pada saat yang bersamaan pula dari beberapa orang anak murid perkumpulan Sin Beng Kauw yang bagian dadanya bersulam lukisan arca sudah menjerit ngeri, dari tujuh lubangnya mengucurkan darah segar dan kontan seketika itu juga ada tiga orang yag menemui ajalnya.
Menanti kedua orang itu berhasil menenangkan pikirannya dan menoleh ke arah peristiwa itu, tampaklah Liem Tou masih berdiri di tempat semula dengan sangat tenangnya, lagaknya seperti tidak pernah terjadi suatu peristiwa apa pun.
Tetapi di pihak orang orang Sin Beng Kauw serta busu-busu Kiem Sah Ong yang datang bersama-sama si pemihk rumah penginapan itu keadaannya sudah kacau balau, bahkan ada di antara mereka yang mulai berteriak-teriak dengan gaduh dan ramainya.
"Aaakh! Ada orang yang terbunuh, ada orang yang terbunuh cepat tangkap pembunuhnya."
Ada pula beberapa orang yang berdiri mematung di tempatnya masing-masing saling bertukar pandangan tanpa mengucapka sepatah kata, mereka tidak mengerti dan merasa bingung, siapa yang sudah turun tangan membinasakan ketiga orang anggota perkumpulan Sin Beng Kauw itu.
Si lelaki berusia pertengahan yang berbisik bisik dengan sang pemilik rumah penginapan tadi merupakan salah satu korban yang menemui ajalnya.
Terlihatlah kematiannya sangat mengerikan sekali, dengan mata melotot lebar-lebar ia sedang memperhatikan si pemi lik rumah penginapan itu.
Hal ini sudah tentu membuat sang Ciang kwee jadi terperanjat saking takutnya, tak kuasa lagi ia jadi terkencing-kencing.
Perlahan-lahan Liem Tou berjalan mendekati ke arahnya kemudian menepuk-nepuk pundak dari pemilik rumah penginapan yang masih belum merasa akan kedatangan pemuda itu.
"Eeei Ciang kwee !"
Tegurnya.
"beberapa waktu ini kau telah pergi kemana? kau membuat aku harus tersiksa menantikan kembali dirimu ...!"
Ciang kwee itu segera menoleh ke belakang tetapi sewaktu dilihatnya orang itu ada lah Liem Tou, air mukanya segera berubah pucat pasi bagaikan mayat.
"Aakh...!"
Dia berteriak keras, sepasang lututnva terasa jadi sangat lemas sehingga tak terasa ia sudah nenjatuhkan diri berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya... ya... ampun! Ya... ya... ampun!"
Teriaknya berulang kali.
Keadaan pada saat ini jika dibandingkan dengan sikapnya semula sewaktu menghadapi si Angin puyuh Toan Bok Si boleh dikata mirip dengan dua orang yang berlainan.
Melihat sikapnya itu Liem Tou tersenyum, dengan cerat dia membimbing orang itu untuk bangun.
"Kenapa kau harus menjalankan penghormatan yang begitu besarnya ?"
Tanya sang pemuda sambil tertawa. Siapakah orang orang yang datang mengikuti dirimu itu?"
Berbicara sampai disitu mendadak ia mempertinggi suaranya. Dengan nada yang keras gembornya .
"Hanya sedikit urusan yang kecil buat apa harus mengerahkan Boesu-Boesu yang begitu banyaknya! Suruh mereka pulang saja!"
Ia lepas tangan dan sambil tertawa bisiknya pula .
"Kau pun ikut pulang saja "
Di tengah berputarnya sang tubuh kembali ia mengundurkan diri ke hadapan si kakek tua itu.
Pada waktu tubuhnya hampir mendekati di tubuh si orang tua itulah mendadak si pemilik rumah penginapan tersebut dengan tidak mergeluarkan sedikit suara pun rubuh ke atas tanah dalam keadaan lemas.
Dari ke tujuh buah lubang inderanya nengucur darah segar, kembali selembar nyawa lenyap menuju ke dunia Baka.
Sampai waktu itulah semua orang yang hadir di tempat itu baru merasa amat terperanjat sehingga air mukanya pada berubah amat hebat, terutama sekali kedua orang kakek tua itu, mereka benar-benar kagetnya luar biasa.
Perlahan-lahan Liem menoleh ke arah ke dua orang kakek itu lalu tertawa, mendadak dengan wajah berubah amat keren bisiknya lirih .
"Jauh sebelum kejadian peristiwa ini, aku sudah memberi kabar kepada kauwcu kalian bila setelah urusanku selesai maka aku orang akan segera pergi mencari dirinya. Kenapa dia harus secara diam-diam main kuntit dan pula selalu main bokong ? Beberapa orang yang sudah mati itu anggap saja merupakan suatu peringatan bagi kalian semua dan cepat kamu orang kembali ke markas untuk beritahu kepada sang kauwcu, si perempuan cantik pengangon kambing yang berada di tempatnya bilamana memperoleh perlakuan yang sangat baik maka aku masih suka mengajak dia berunding secara baik-baik, kalau tidak ... Hmm! Bilamana seorangpun dari anggota Sin Beng Kauw berhasil meloloskan diri dari cengkeramanku, aku orang she Liem merasa malu jadi manusia."
Selesai berkata dengan wajah serius pemuda itu menggigit lidahnya sendiri sehingga mengucurkan darah segar kemudian disemburkan ke atas wajah salah seorang kakek tua itu.
"Beritahu kepadanya inilah sumpah darah dari Liem Tou,"
Kembali bentaknya keras.
Sepasang tangannya segera direntangkan dan perlahan-lahan mengebut ke arah depan.
Kedua orang kakek tua itu segera merasa badannya tak dapat berdiri tegak lagi, tubuhnya kena tergulung oleh selapis tenaga lweekang yang amat dahsyat sehingga terpental sejauh tiga kaki ke arah depan.
Walaupun begitu mereka sama sekali tidak menderita luka, hanya saja pada tubuh mereka berdua kena terbanting dengan sangat keras di atas tanah.
"Pergilah!"
Pada waktu itulah terdengar sua ra dari Liem Tou berkumandang masuk ke dalam telinga mereka.
Ketika kedua orang kakek tua itu menoleh kembali ke tempat semula, jejak dari Liem Tou sudah lenyap tak berbekas.
Melihat kejadian itu kedua orang kakek tua tersebut hanya bisa saling berpandangan dengan hati terkesima.
"Aaakh... kiranya dia orang adalah Liem Tou si bangsat ci..."
Kata si Angin puyuh Toan Bok Si kepada kawannya si lelaki kate.
Kata-kata 'Cilik' belum selesai diucapkan mendadak hatinya sudah merasakan sesuatu, akhirnya dia orang tidak berani melanjutkan kata-kata itu lagi.
Menggunakan kesempatan sewaktu semua orang tidak bersiap sedia, tubuhnya segera menggenjot meloloskan diri dari kepungan para boesu-boesu Kiem Sah Ong kemudian dengan langkah lebar berlalu dari sana tanpa menoleh lagi.
Kedua orang kakek tua itupun tersadar kembali dari rasa kejutnya, buru-buru mereka ulapkan tangan untuk memimpin orang-orang meninggalkan tempat tersebut.
Liem Tou dengan mengandalkan kecepatan serta kegesitannya, setelah berhasil meninggalkan pintu depan rumah penginapan dengan cepat bergerak mencari diri Giok jie.
Di dalam hati ia merasa heran mengapa suara panggilannya dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara sama sekali tidak digubris oleh gadis tersebut ?
peristiwa apa yang sudah terjadi ?
Tubuhnya dengan cepat menerjang masuk ke dalam kamarnya.
ketika pintu terbuka keadaan dalam kosong tak nampak sesosok bayangan manusia pun.
Hatinya jadi tergerak, dengan perasaan cepat dan buru-buru dia mengundurkan diri dari sana.
Ketika itulah kebetulan sekali ia sudah bertemu dengan seorang pelayan yang di atas tangannya membawa sebuah buntalan besar dan berlalu dengan sangat tergesa-gesa.
Tetapi sewaktu melihat Liem Tou ada di sana seluruh tubuhnya gemetar amat keras, hampir-hampir sepatah katapun tak sanggup untuk diucapkan keluar.
Dalam hati Liem Tou tahu, tentunya pelayan ini telah melihat keadaan di luar rumah penginapan sehingga orang itu merasa amat takut terhadap dirinya.
"Eeee ... kau jangan takut!"
Buru-buru katanya dengan wajah ramah.
"Aku tidak akan melukai kamu, cepat beritahu kepadaku dimana nona cilik itu pergi ? "Dia... dia... dia ada di... di istal ... sedang memberi... maa ... makan kerbau buas tersebut."
Liem Tou segera enjotkan kepalanya melayang sejauh beberapa kaki kemudian menerjang keluar dan langsung menuju istal.
Sedikitpun tidak salah, waktu itu Giok jie sedang memberi makan pada sang kerbaunya sedang kerbau itu sambil tundukkan kepala dengan amat tenangnya mengunyah rumput itu.
Liem Tou tidak tahu dari manakah Giok jie memperoleh rumput rumput tersebut dan tidak tahu pula apakah pelayan pelayan di sana merupakan sekomplotan dengan orang itu atau tidak, hatinya jadi amat cemas sekali.
Tubuhnya belum tiba, sebuah pukulan yang amat dahsyat sudah dibabat ke depan dimana angin pukulan menyambar lewat, rumput di tangan Giok jie sudah tergulung jatuh berantakan.
"Giok jie !"
Teriak Liem Tou dengan cepat.
"Darimana kau dapatkan rumput itu untuk makanan sang kerbau ? Apakah kau tidak pernah berpikir kalau rumput itu sudah diracuni ?"
Pada waktu itu hubungan Giok jie dengan Liem Tou sudah agak lama sehingga sikapnya pun jauh lebih baikan.
"Kau boleh berlega hati,"
Sahutnya sambil tertawa.
"Tentang soal itu Giok jie masih punya sedikit pengalaman."
Mendengar perkataan tersebut Liem Tou baru bisa melegakan hatinya.
"Orang-orang perkumpulan sin Beng Kauw sudah melakukan penguntitan terus sehingga jejak kita dapat diketahui, sekarang waktu sdah senja, mari segera kita melakukan perjalanan malam sehingga bisa terhindar dari berbagai kesulitan !"
Giok jie mengangguk, kerbau tersebut dengan cepat dibawa keluar dari istal Ialu menuju keluar dari rumah penginapan tersebut.
Tetapi baru saja ia melangkah keluar dari pintu, nendadak dari tengah udara tercium suatu bau yang amat aneh sekali.
"Giok jie, cepat mundur,"
Teriaknya dengan keras. Dua orang manusia dan seekor kerbau dalam waktu yang bersamaan pada meloncat mundur ke belakang dan masuk lagi ke dalam rumah penginapan tersebut.
"Sejak Sun Ci Si berhasil mempelajari ilmu Pek Tok Toh, ia sudah amat pandai di dalam menggunakan beratus-ratus macam racun, sehingga mendapatkan julukan sebagai Boe Beng Tok su,"
Kata Liem Tou.
"Bau aneh yang baru saja kita tercium ada kemungkinan sekali sengaja dilepaskan oleh orang yang dikirim kemari, lain kali kita harus jauh lebih berhati-hati lagi!"
Baru ia menyelesaikan kata-katanya; mendadak terasa segulung hawa dingin yang sangat menggidikkan menerjang masuk ke dalam hatinya.
Ia jadi amat terperanjat, buru-buru hawa murninya disalurkan ke seluruh tubuh untuk paksa racun tersebut keluar dari dalam badan.
Sedikitpun tidak salah, sebentar saja peluh berwarna kuning sudah mulai mengucur ke luar membasahi seluruh tubuhnya.
Sejurus kemudian ia sudah tertawa dingin tiada hentinya.
"Hee... heee... Liem Tou tidak bakal teracuni oleh keganasan bisa yang bagaimana pun, lebih baik kalian tidak usah buang-buang tenaga lagi. Giok jie, untuk sementara kau tunggulah di sini, aku akan pergi sebentar,"
Serunya.
Baru saja perkataannya selesai diucapkan tampak bayangan manusia berkelebat lewat dan hanya di dalam sekejap saja terdengar suara benturan keras berkumandang datang.
Dan dalam rumah penginapan itu melayang datang sesosok bayangan manusia yang langsung dibanting ke atas tanah tanpa mengeluarkan sedikit pun suara.
Baru saja Giok jie merasa kaget, kembali terdengar suara bantingan yang amat keras bergema datang.
Setelah itu baru muncullah bayangan dari Lien Tou.
"Permainan semacam ini pun hendak dipamerkan di hadapanku,"
Omelnya dengan nada keras.
"Sungguh memalukan sekali Perkumpulan Sin Beng Kauw mana bisa berbuat suatu pekerjaan yang besar jika selalu saja bertindak semacam ini?"
Selesai berkata ia memerintahkan Giok jie untuk melakukan perjalanan kembali keluar dari rumah penginapan itu.
Bukannya masuk ke dalam kota Tiam Tzuan sebaliknya langsung melanjutkan perjalanan malam.
Menanti siang hari telah menjelang kembali pada keesokan harinya, kedua orang itu telah tiba di kota Ping Tzuan.
Setelah lewat beberapa puluh li lagi maka mereka akan tiba di kota Hong Ih di tepi lautan Auw Hay.
"Membawa Giok jie di samping tubuhnya bagaimanapun merepotkan sekali,"
Diam-diam pikir Liem Tou pada waktu itu.
"Lebih baik di sekitar kota Ping Tzuan ini aku mencari tempat persembunyian saja lalu suruh dia serta sang kerbau menanti. Sedang aku pergi menyelidiki seorang diri ke pantai emas!"
Demikianlah mereka berdua lalu berjalan masuk ke dalam kota Ping Tzuan.
Liem Tou yang merasa jejaknya telah diketahui sekalipun menyamar percuma saja maka dia orang lantas memulihkan kembali wajahnya yang asli.
Kemudian mengadakan kunjungan ke pantai emas itu.
Bagaimanapun situasi dan peristiwa yang bakal terjadi ia harus menerjang ke sana, kendati pun pantai emas tersebut merupakan gunung pedang serta lautan golok.
Setelah mengambil keputusan maka pertama-tama ia pergi ke toko pakaian untuk membeli seperangkat baju berwarna hijau kemudian sesudah bertanya jelas letak dari rumah penginapan yang terbesar lalu mereka beristirahat di sana.
Kali ini untuk menghindari jangan sampai terulang kembali suatu peristiwa yang tidak diinginkan, Liem Tou membawa kerbaunya ke dalam kamar; untuk beristirahat satu kamar dengan dirinya.
"Giok jie,"
Ujar Liem Tou kemudian sewaktu senja telah menjelang datang.
"Kau serta kerbau ini untuk sementara waktu berdiamlah beberapa hari di sini, pada kentongan pertama nanti malam aku hendak berangkat ke pantai emas untuk menolong enci Ie. Sebelum aku kembali bermainlah dengan sang kerbau serta ketiga ekor burung elang itu!"
Semula Giok jie merasa sangat terperanjat, lama sekali ia memandang ke arah muka Liem Tou.
"Bila aku berangkat bersama-sama denganmu, apakah bakal merepotkan saja?"
Tanyanya kemudian.
"Aku meninggalkan dirimu di sini bukannya bermaksud begitu. Walaupun pusat kekuatan dari partai Kiem Tien Pay kemungkinan sekali sangat berbahaya terhadap banyak jagoan lihay tetapi Liem Tou tidak akan jeri terhadap mereka, apalagi kepergianku kali ini adalah terang-terangan ingin bertemu, jika aku bawa serta dirimu kemungkinan sekali banyak pekerjaan yang malah tak bisa aku kerjakan."
Perkataan dari Liem Tou ini walaupun kedengarannya enak didengar, tetapi jelas mengartikan bila membawa Giok jie turut serta kemungkinan sekali malah mengakibatkan terjadinya banyak persoalan.
Terpaksa Giok jie si gadis cilik itu menganggukkan kepalanya.
"Baik kau pergilah,"
Sahutnya kemudian.
"Tetapi, kau harus kembali dengan membawa enci Ie. Kalau tidak, aku tidak akan menggubris dirimu lagi."
"Hal itu sudah tentu,"
Sahut sang pemuda sambil tertawa; Asalkan enci Ie masih hidup aku pasti akan berhasil mencari dirinya kembali !"
Selesai berkata Liem Tou lantas berteriak minta disediakan santapan, kemudian mereka berdua lantas bersantap di dalam kamar. Ketika kentongan pertama tiba, Liem Tou bersiap hendak berangkat.
"Giok-jie, aku berangkat,"
Serunya kemudian kepada gadis cilik itu.
Setelah meninggalkan rumah penginapan tersebut terlebih dulu Liem Tou berputar-putar di dalam kota, sesudah dirasanya tak ada orang yang bakal menguntit dirinya pemuda tersebut baru meninggalkan kota berangkat menuju ke arah barat dengau menggunakan ginkangnya yang luar biasa lihaynya itu.
Dengan kekuatan gerak dari Liem Tou pada saat ini, jarak puluhan lie telah berhasil dilalui tak sampai satu jam lamauya.
Sebentar kemudian dia orang sudah sampai di tepi lautan Auw Hay.
Ketika sinar matanya menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu maka terlihatlah yang tampak hanyalah air melulu, sebuah perahupun tak nampak bahkan rumah pendudukpun tiada jejaknya.
"Walaupun lautan Auw Hay kecil tetapi tidak dapat dipandang dengan kekuatan mata,"
Pikirnya. Pantai emas itu terletak di sebelah tenggara dari lautan Auw Hay tetapi dimanakah letaknya yang persis ? Aku harus meuanyakan dulu, tentang soal ini."
"Di sebelah utara kota Lam Hong Ih adalah Tiam Tzuan, bilamana aku menyeberangi lautan Auw Hay ini langsung ke depan mungkin bisa sampai di Tayli,"
Pikirnya kembali.
"Asalkan aku tidak meninggalkan perbatasan dari Auw Hay perduli ke Barat atau ke Timur paling cuma meliputi duapuluh lie saja."
Sesudah mengambil keputusan di hati, Liem Tou segera mengerahkan ilmu ginkangnya untuk melakukan perjalanan di atas permukaan air.
Diri pantai Timur Lautan Auw Hay menuju ke pantai Barat jaraknya tidak lebih hanya sepuluh lie, hanya di dalam sekejap saja pemuda itu sudah tiba di tengah perjalanan.
Mendadak sinar matanya yang tajam telah bertemu dengan sebuah perahu yang sedang bergerak di permukaan air, di atas perahu itu lampu lentera memancarkan cahaya dengan terang benderang.
Suatu pikiran dengan cepat melintas di dalam benak Liem Tou, ia segera menyambut kedatangan perahu tersebut dengan gerakan yang cepat.
Siapa tahu sewaktu Liem Tou tiba kurang lebih sepuluh kaki dari perahu tersebut mendadak sinar lampu di atas perahu itu dipadamkan.
Dalam hati pemuda itu merasa terperanjat, dengan cepat ia kerahkan ilmu Hwee Yeu im Hong-nya laksana kilat meloncat naik ke atas geladak perahu.
Pada waktu itulah dari dalam ruangan perahu terdengar suara seseorang yang sedang berbisik.
"Apakah kau benar-benar melibat di atas permukaan air ada orang sedang lewat?"
"Sedikitpun tidak salah, terang-terangan aku melihat ada seorang yang memakai jubah berwarna hijau dan merupakan seorang pemuda yang gagah sedang berjalan mendekat, bagaimana aku bisa salah lihat??"
"Lalu pada saat ini ia sudah pergi kemana?"
Lama sekali suasana jadi hening sejurus kemudian, terdengar orang itu berbicara lagi.
"Menurut perhitungan, ini hari ulang tahun yang keenam puluh dari Loo Ciang. Orang-orang yang dikirim partai Kiem Tien Pay ke tempat luaran pun kebanyakan sudah pulang kembali untuk ikut merayakan hari ulang tahun tersebut. Siapa sangka secara mendadak perayaan itu dibatalkan dan katanya ada seseorang yang pada waktu dekat ini bakal mendatangi pantai emas untuk menyatroni, coba kau lihat siapakah yang bisa membuat partai Kiem Tien Pay jadi begitu tegangnya?"
"Kauwcu mengirim kita lima orang Siang-cu untuk menyelidiki pantai emas menurut Hong sian-cu katanya Loo Ciang sudah ada maksud untuk masuk menjadi anggota Sin Beng Kauw kita, cuma saja katanya pada saat ini ia sedang berpikir masak-masak. Kali ini perduli siapa orang yang hendak menyatroni dirinya asalkan Loo Ciang kena terpukul maka ada harapan dia orang suka menggabungkan diri dengan kita. Dengan begitu pengaruh kita di daerah Cian Tien pun jadi semakin kuat. Kenapa kita tidak menggunakan kesempatan gelapnya suasana pada saat ini untuk melakukan suatu tindakan sehingga siasat ini bisa berhasil ?"
"Bagus!"
Mendadak dari dalam ruangan berkumandang keluar suara seseorang.
"Cara ini sangat bagus sekali. Tidak kusangka kau bsa mendapatkan cara semacam ini."
Agaknya orang-orang di dalam ruangan perahu itu sudah melupakan diri Liem Tou, mendadak tampaklah dua orang berjalan keluar dau mulai menggerakkan sang dayung uutuk memperkencang lajunya sang perahu menuju Utara.
Buru-buru Liem Tou menyusupkan badannya bersembunyi di tempat kegelapan, pada saat ini ia sudah tahu bila orang-orang yang ada di dalam ruangan perahu pada saat ini adalah beberapa orang Siangcu dari perkumpulan Sin Beng Kauw yang sedang melakukan perjalanan menuju pantai emas.
Diam-diam dalam hati Liem Tou mulai berpikir .
"Aku akan ikut mendarat bersama sama mereka dan ingin aku lihat dengan menggunakan cara apa mereka hendak menghantam Auw Hay Ong. Bilamana terpaksa akupun bisa turun tangan menawan mereka sehingga dengan begitu aku malah berjasa terhadap Auw Hay Ong sekalian."
Perahu tersebut bergerak dengan amat cepatnya, tidak sampai seperminuman teh lamanya mereka sudah mulai melihat pepohonan di tempat kejauhan yang secara samar samar memancarkan cahaya lampu!
Pada waktu itulah dari dalam ruangan perahu terdengar suara seorang berbicara lagi.
"Para Siangcu sekalian, lebih baik pada saat ini juga kita mengenakan kerudung kita sehingga tidak sampai membuat kalian merasa gugup pada saatnya."
Baru saja perkataannya selesai diucapkan mendadak ratusan kaki dari perahu mereka berkumandang datang suara terpukulnya ombak yang sangat ramai disusul munculnya sebuah perahu menyongsong kedatangan perahu itu.
"Siangcu sekalian berhati-hatilah, kita segera akan hancurkan mereka,"
Terdengar orang yang ada di dalam ruangan itu memberi tanda lagi. Tidak lama kemudian perahu peronda itu sudah tiba kurang lebih tiga kaki dari mereka.
"Siapakah orang yang ada di dalam perahu?"
Bentaknya keras.
"Toaya kami sengaja datang hendak memberi selamat buat Ong ya!"
Sahut Siang cu yang pegang kemudi itu.
Di atas perahu peronda itu semuanya berjumlah tiga orang yang memakai pakaian ringkas dengan senjata tercekal di tangan.
Mendengar perkataan tersebut mendadak salah seorang yang berdiri di ujung perahu peronda itu berteriak keras.
"Loo Thia, hati-hati! Aku dengar orang-orang yang sengaja datang untuk memberi selamat kepada Ong ya kita sudah tiba di sana. Bagaimana mungkin di tengah malam buta kembali muncul orang yang datang memberi selamat? Hati-hati, jangan sampai kena siasat liciknya."
Jilid 45 .
Berkunjung ke Kiem Tien Pay KEDUA BUAH perahu itu dengan cepat berdempetan menjadi satu.
Baru saja orang-orang yang berada di atas perahu ronda tersebut hendak meloncat naik ke atas perahu itu guna mengadakan pemeriksaan, mendadak dari dalam ruangan terdengar suara tertawa dingin yang amat menyeramkan berkumandang keluar memecahkan keheningan.
Dua sosok bayangan hitam dengan kecepatan laksana kilat meluncur ke arah perahu peronda itu, dimana angin pukulannya menyambar lewat dua orang peronda kena dihantam sehingga rubuh binasa di atas geladak.
Salah seorang di antara mereka sewaktu melihat keadaan tidak menguntungkan, dengan cepat berteriak keras lalu terjunkan dirinya ke dalam air.
Kedua orang siang-cu dari Sin Beng Kauw yang tidak mengerti akan ilmu di dalam air dengan gemasnya lantas berteriak.
"Waaah... kena lolos satu orang!"
"Justeru kita harus berbuat demikian. Kalau tidak; bagaimana rencana semula bisa terlaksana ?"
Sambung salah seorang siang-cu sambil tertawa. Melihat semua peristiwa itu, diam-diam Liem Tou tertawa dingin tiada hentinya.
"Hmm! Mereka bersenang-senang mengira rencananya pasti akan berhasil. Siapa sangka di belakang mereka sudah ada orang yang mengintai, aku ingin melihat bagaimanakah caranya mereka di dalam melaksanakan siasat jahatnya itu,"
Pikirnya dalam hati.
Sembari berpikir, diam-diam Liem Tou menerjunkan pula dirinya ke dalam air.
Kepandaiannya di dalam air boleh dikata sangat sempurna sekali, hanya di dalam sekejap saja tubuhnya sudah meluncur sejauh beberapa kaki dan telah berhasil menangkap bayangan dari orang yang sedang berenang di hadapannya.
Untuk sementara waktu Liem Tou sama sekali tidak mengambil sesuatu tindakan apa pun terhadap orang tersebut, ia membuntuti terus orang itu menuju ke pantai emas.
Sebenarnya sepasang mata dari Liem Tou sudah dilatih hingga bisa melihat di tempat kegelapan seperti di siang hari saja, walaupun di dalam air sangat gelap suasananya dia tetap bisa memandang seluruh keadaan di situ.
Saat ini dia tak ada maksud untuk menangkap orang itu sebaliknya dengan kencang membuntuti dirinya terus sehingga tak sampai lolos dari pengawasan, di samping itu setiap saatpun dia harus mengawasi perahu-perahu yang hilir mudik dengan ramainya di atas permukaan air.
Kepandaian menyelam dari orang itu sangat jelek sekali, bukan saja berkali-kali harus munculkan dirinya untuk berganti napas gerakan pun sangat lambat sehingga perahu cepat yang ditumpangi beberapa orang Siang cu dari perkumpulan Sin Beng Kauw berhasil jauh melampaui di depannya.
Melihat kejadian itu, Liem Tou merasa sangat cemas, mendadak ia meluncur ke depan dan mencengkeram tangan orang itu untuk kemudian ditarik ke depan.
Peristiwa yang terjadi di luar dugaan ini segera membuat orang itu merasa sangat terperanjat, sedikit kurang hati-hati, air sungai mengalir masuk ke dalam mulutnya.
Liem Tou sama sekali tidak menggubris akan hal-hal yang tiada berarti itu, tubuhnya dengan cepat menyusup keluar dari permukaan air kemudian mendekati tubuh orang itu.
Agaknya manusia tersebut hatinya benar-benar merasa sangat terperanjat, saking takutnya sehingga tenaga untuk meronta pun sama sekali tak ada.
Begitu munculkan diri di permukaan air, Liem Tou menemukan bila orang-orang yang berada di atas perahu sudah tidak kelihatan jelas lagi.
Dengan cepat ia membentak keras.
"Aku beritahukan kepadamu, kawan-kawanmu itu terluka oleh orang-orang yang dikirim oleh perkumpulan Sin Beng Kauw. Mereka hendak melakukan suatu tindakan dengan wajah berkerudung. Cepat kembali ke markas dan beritahu kepada Loo Ciang. Janganlah dia orang sampai terkena siasat yang sengaja diatur oleh orang-orang Sin Beng Kauw."
Orang itu rada tertegun, sesaat kemudian baru kedengaran ia berseru dengan nada terputus-putus.
"Kau ..kau ..."
"Sudah tentu aku bukan anak buah perkumpulan Sin Beng Kauw,"
Jawab Liem Tou serius.
"Bahkan beberapa orang anak buah perkumpulan Sin Beng Kauw itu akan kutangkap semua kenudian membawanya menghadap Loo Ciang. Cuma saja sampai waktunya kau harus mengajukan dirimu untuk bertindak sebagai saksi."
Sewaktu melihat tangannya dicengkeram oleh Liem Tou dan melihat pula ilmu dalam air dari pemuda tersebut sangat lihay sehingga walaupun harus membawa seorang tanpa membuang banyak tenaga gerakannya masih cepat, dalam hati orang itu benar-benar sangat kagum.
Dengan termangu-mangu ia memandangi.
Ia memandangi wajah Liem Tou, walaupun dalam hati mengerti jika Liem Tou tiada maksud jahat terhadap dirinya, tak urung tanyanya juga.
"Lalu siapakah kau?"
"Kau tidak usah bertanya terlalu banyak lagi sampai waktunya kau akan tahu sendiri. Ilmu berenangmu pun sebetulnya tidak jelek. Cepat pulang untuk beri laporan."
Sambil berkata ia lepaskan cengkeramannya.
"Terima kasih atas pemberitahuanmu. Aku pasti akan melaporkan hal ini kepada Ongya!"
Sahut orang itu terharu.
Liem Tou tersenyum, sedikit pundaknya bergerak tahu-tahu tubuhnya sudah lenyap di balik permukaan air.
Dengan gerakan yang cepat ia lantas menyusul perahu yang ditumpangi beberapa orang siangcu dari Sin Beng Kauw itu kemudian menangkap ujung perahu tersebut dan ikut mendarat ke tepi pantai.
Siangcu-siangcu dari Sin Beng Kauw tersebut tidak berani membuang banyak waktu lagi, dengan tergopoh-gopoh mereka berlari naik ke darat dan menuju ke arah depan.
Mendadak, tampaklah dua sosok bayangan manusia berkelebat datang dengan amat gesit.
"Siapa?"
Bentaknya keras.
"Peronda dari tengah samudera ada urusan penting hendak melapor pada Ongya !"
Sahut salah seorang anggota Sin Beng Kauw yang ada di dalam perahu.
Sreeet!
Sreeet !
Dengan diiringi cahaya gemerlapan dua titik senjata rahasia segera menyambar ke arah depan dengan gencarnya.
Orang yang berada di tepi pantai itu agaknya merupakan anak murid Kiem Tien Pay yang belum lama diterima sebagai anggota, kepandaian silatnya tidak tinggi, pengalaman di dalam dunia kangouw pun sangat cetek.
Sudah tentu menghadapi serangan bokongan yang datangnya secara mendadak itu merasa sulit untuk menghindarkan diri.
Di tengah suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati, mereka rubuh di atas tanah tak berkutik lagi.
Dari atas perahu segera bermunculan tiga sosok bayangan manusia meloncat ke tepi pantai, terdengar orang yang masih berada di dalam perahu itu berseru setengah berbisik ;
"Cepat pergi, cepat kembali, jangan serakah terhadap pahala."
Ketiga orang yang berada di tepi pantai itu tidak menyahut, setelah berunding sejenak masing masing dengan memencar ke arah tiga penjuru berangkat jauh memasuki pantai Sah Kiem Than.
Liem Tou karena takut orang-orang itu telah pergi jauh, tubuhnya segera meloncat naik ke atas perahu.
Melihat orang itu masih berdiri di atas geladak tanpa mengeluarkan sedikit suarapun ia lantas melancarkan serangan menotok jalan darahnya sehingga rubuh tak berkutik lagi di atas perahu.
Melihat orang itu sudah rubuh, Liem Tou pun buru-buru melayang kembali ke tepi pantai.
Ketika itu ketiga orang anggota perkumpulan Sin Beng Kauw sudah berlari masuk ke dalam sebuah hutan yang amat lebat di sisi pantai.
Liem Tou pun tidak berpikir panjang lagi, tubuhnya langsung menubruk masuk ke dalam hutan tersebut.
Beberapa saat kemudian ia mulai merasa hutan itu semakin dilalui semakin lebat, hatinya jadi ragu-ragu mungkinkah dirinya telah salah jalan ?
Selagi hatinya merasa ragu-ragu itulah mendadak dari tempat di hadapannya berkumandang datang suara bentrokan senjata tajam yang sangat ramai sekali.
Liem Tou segera meloncat naik ke atas pohon dan bergerak maju lebih ke depan, mendadak dari atas dahan pohon terlihat olehnya empat orang sedang bertempur dengan serunya, sedang seorang Sin Beng Kauw siangcu berdiri di sisi menonton jalannya pertempuran tersebut.
Kedua orang anak murid dari partai Kiem Tien Pay itu jelas bukanlah tandingan dari kedua orang anggota perkumpulan Sio Beng Kauw, melihat semakin diserang dirinya semakin terdesak di bawah angin mereka jadi kheki dan akhirnya menyerang dengan kalap dan mengadu jiwa.
Mendadak salah satu diantara mereka meloncat keluar dari kalangan pertempuran sambil berteriak keras .
"Kalian berdua bukanlah tandinganku, lebih baik suruh Loo Ciang keluar saja untuk membereskan hutang-hutang lama kita!"
Sembari berkata sepasang kakinya melancarkan tendangan berantai membuat tubuh anak murid partai Kiem Tien Pay itu mencelat sangat jauh dan jatuh tertelungkup ke atas tanah.
"Aku dengar Loo Ciang ada maksud untuk menggabungkan diri dengan perkumpulan Sin Beng Kauw, apa benar berita ini?"
Sambungnya kembali.
"Hmm! kalau benar begitu aku semakin tidak boleh melepaskan dirinya lagi."
Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut dalam hati merasa gusar, pikirnya.
"Hmm! Suatu siasat mengadu domba yang sangat bagus sekali, bilamana bukannya secara tidak sengaja aku mendengar siasat jahat ini, dengan sifat Loo Ciang yang barangasan ia pasti akan terjebak oleh siasat mereka."
Tak terasa lagi pemuda itu tertawa dingin tiada hentinya, selagi tubuhnya siap-siap hendak turun dari atas pohon guna menguasai ketiga orang-orang perkumpulan Sin Beng Kauw itu, mendadak telinga Liem Tou yang tajam dapat menangkap suara langkah manusia yang sangat ramai bergerak mendatang.
Agaknya siang-cu yang berdiri di samping kalangan pun berhasil menangkap suara tersebut, mendadak terdengar ia berseru keras.
"Angin kencang. Lepaskan saja mereka untuk berlalu!"
Kedua orang anggota Sin Beng Kauw itu segera menarik kembali serangan senjatanya sambil mengirim sebuah totokan meughajar jalan darah kedua orang dari anak murid partai Kiem Tien pay sehingga rubuh ke atas tanah.
Belum sempat ketiga orang Siangcu itu meninggalkan tempat tersebut, mendadak terdengarlah suara bentakan yang amat keras bergema datang.
"Berhenti !"
Dari sebelah kanan hutan dengan cepatnya berkelebat datang tiga orang lelaki berusia pertengahan yang salah satu di antara mereka berdandan sebagai seorang Toosu.
Liem Tou yang melihat munculnya Toosu tersebut segera merasakan wajah orang itu sangat dikenal olehnya, cuma saja entah dimanakah ia pernah berjumpa dengan orang itu, pikirnya .
"Siapakah toosu itu? Agaknya aku pernah mengenal mereka. Heeei! dengan munculnya ketiga orang ini, semisalnya terjadi pertempuran kembali maka keadaannya tidak akan mengenaskan seperti tadi lagi."
Agaknya ketiga orang Siangcu dari perkumpulan Sin Beng Kauw itupun akan dapat melihat kepandaian silat mereka tidak lemah dari gerakan tubuhnya barusan.
Sebenarnya mereka bertiga ada maksud meninggalkan tempat itu, siapa sangka urusan sudah berubah sangat cepat ditambah pula gerakan dari ketiga orang itu jauh berada di luar dugaan mereka.
Bilamana saat ini harus membubarkan diri malah kemungkinan mendatangkan ketidakberuntungan baginya.
Oleh karena itu, ketiga orang siang-cu itupun berdiri tak berkutik lagi.
Dengan cepatnya ketiga orang partai Kiem Tien Pay itu sudah tiba di hadapan mereka, tetapi sewaktu melihat wajah ketiga orang itu berkerudung mereka rada tertegun dibuatnya.
Mendadak terdengarlah salah satu diantara mereka menegur dengar suara yang keras .
"Lelaki sejati tidak takut muncul dengan wajah yang sebenarnya, siapakah diantara kalian bertiga yang bernama Liem Tou ?"
Liem Tou yang saat ini sedang bersembunyi di atas dahan pohon, ketika mendadak mendengar orang itu menyebutkan namanya, dalam hati lantas berpikir.
"Namaku Liem Tou sudah diketahui oleh semua orang yang ada di dalam dunia Kang-ouw. Ia bisa menyebut namaku pun bukan suatu peristiwa yang aneh. Hmm ! Kemungkinan sekali kali ini orang-orang dari perkumpulan Sin Beng Kauw sudah ketemu batunya."
Siapa sangka ketiga orang siangcu dari perkumpulan Sin Beng Kouw itu cukup licik Mendengar pertanyaan ini mereka cuma tertawa tiada hentinya.
Mendadak di tengab suara bentakan yang amat keras, mereka bertiga bersamasama melancarkan satu pukulan ke arah depan.
Tiga gulung hawa pukulan yang sangat dahsyat dengan cepatnya menerjang ke arah dada pihak lawan.
Perubahan yang terjadi secara mendadak ini kontan saja membuat ketiga orang dari partai Kiem Tien Pay itu kalang kabut dan gelagapan setengah mati.
Buru-buru mereka balas mengirim satu pukulan untuk menerima datangnya serangan tersebut.
Siapa sangka baru saja angin pukulan dari ketiga orang siangcu itu menyambar keluar mendadak disusul pula melayangnya senjata rahasia bagaikan curahan hujan menyambar ke depan dengan sangat gencar.
Seketika itu juga ada dua orang di antara mereka yang menjerit kesakitan karena terhajar oleh senjata rahasia itu sehingga mundur dua kaki jauhnya ke belakang dengan sempoyongan.
Melihat musuhnya berhasil dilukai oleh serangan bokongannya ketiga orang siangcu dari perkumpulan Sin Beng K.auw tersebut segera tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.
Belum habis mereka tertawa, Liem Tou sudah melayang turun dari atas pohon dan di dalam sekejap mata ia sudah memerseni satu tamparan keras di wajah ketiga orang siangcu dari perkumpulan Sin Beng Kauw itu disusul satu totokan membuat mereka tak berkutik.
"Hmm ! Liem Tou adalah seorang lelaki sejati yang gagah perkasa, dia orang mana mau berkawan dengan kalian pencoleng-pencoleng tikus ?"
Bentaknya nyaring. Sambil berkata ia menyambar lepas kain penutup di atas wajah ketiga orang siangcu perkumpulan Sin Beng Kauw itu, kemudian tambahnya .
"Kenalkah kau orang dengan ketiga orang ini ?"
"Bukankah mereka adalah kawan-kawan lama dari ongya? "
Teriak salah seorang anggota Kiem Tien Pay yang tidak terluka itu dengan perasaan terperanjat. Terdengarlah Liem Tou tertawa dingin tiada hentinya.
"Apa? kawan lama ongyamu? terang-terangan kalau mereka bertiga adalah siangcu dari perkumpulan Sin Beng Kauw, bagaimana mungkin kau bisa katakan mereka adalah kawan? senjata rahasia yang dilepaskan mereka adalah mengandung racun yang sangat ganas, maka cepatlah kalian geledah saku mereka mencari obat pemunah guna menolong kedua orang kawanmu itu."
Selesai berkata tanpa menggubris lagi orang itu Liem Tou lantas berkelebat menembusi hutan.
Dan selama dalam perjalanan selanjutnya beberapa kali ia selalu bertemu dengan gerombolan orang-orang partai Kiem Tien Pay tetapi berhubung larinya yang sangat cepat sekali maka tak seorang pun d antara mereka yang menemukan jejak pemuda ini.
Maka sejurus kemudian dengan sangat mudahnya ia berhasil tiba di pusat jantung pantai emas tanpa cepat diketahui oleh orang.
Kurang lebih seperminuman teh kemudian kembali ia sudah melewati dua buah hutan yang lebat.
Ketika kepalanya didongakkan ke atas maka tampaklah di hadapannya saat ini sudah muncul sebuah bangunan besar yang mentereng megah dan mewah bermandikan cahaya lampu yang terang benderang, bentuk bangunan ini benar-benar luar biasa indahnya sehingga mirip sekali dengan istana kaisar.
Liem Tou yang melihat akan keindahan banguuan tersebut, tak terasa lagi dalam hati telah memuji tiada hentinya.
"Woooow suatu bangunan istana yang benar-benar mentereng dan megah,"
Gumamnya.
"Bilamana Loo Ciang masih belum puas dengan apa yang dipunyai saat ini. Waah, napsu serakahnya benar-benar patut dikutuk dan dimaki."
Maka dengan semangat berkobar-kobar dan dada dibusungkan ke depan pemuda itu kembali melanjutkan perjalanannya dengan langkah lebar menuju ke depan.
Pintu istana yang berwarna keemas-emasan itu kiranya pada saat ini terbuka lebar-lebar sehingga dari pintu depan saja sudah dapat melihat pintu-pintu istana di dalamnya yang tersusun-susun dan rangkap merangkap entah berapa banyaknya.
Dan di samping setiap pintu di dalam istana tersebut tampaklah beberapa orang lelaki kasar dengan senjata tersoren di pinggang berdiri dengan sikap yang gagah penuh berwibawa.
Di pintu yang paling depan tampaklah delapan orang lelaki kasar dengan berdiri tegak melakukan sikap penjagaan, dan sikap mereka rada tegang penuh kewaspadaan.
Di dalam sekali pandangan saja Liem Tou sudah menduga bila orang-orang itu hanya memiliki ilmu silat pasaran saja, sehingga boleh dikata merupakan jagoan pasaran yang biasa-biasa saja.
Sudah tentu di dalam pandangan Liem Tou mereka ini tak ada harga sama sekali.
Lama sekali Liem Tou berdiri tegak termenung di depan istana itu, akhirnya dengan mengerahkan tenaga saktinya mendadak dia memperdengarkan suara tertawanya yang sangat nyaring.
"Liem Tou datang mengunjungi pantai emas ini, untuk menyambangi si tua bangka she Ciang. Harap kalian cepat-cepat memberi laporan."
Suara tertawa dari Liem Tou amat nyaring sehingga mengetarkan seluruh isi ruangan itu Ketika ditunggunya brberapa saat dari dalam ruangan istana itu masih belum juga kelihatan sedikit gerakanpun, dalam hati Liem Tou mulai merasa kheki, sehingga sekali lagi teriaknya;
"Hey tua bangka she Ciang. Aku Liem Tou sudah melaporkan diri hendak bertemu muka dengan dirimu, tapi kau tidak juga mau keluar untuk menyambut kedatanganku. Jangan salahkan aku segera akan masuk sendiri."
Sembari berkata dengan langkah lebar, ia segera berjalan masuk ke dalam ruangan.
Begitu melihat munculnya seorang pemuda yang hendak menerobos ke dalam istana, para pengawal yang ada di sekeliling tempat itu pada mencabut keluar pedangnya menghadang di depan pintu.
Terlihatlah Liem Tou hanya tersenyum, tanpa banyak bicara lagi telapak tangannya segera disodorkan ke depan.
Keempat orang pengawal itu tak mungkin bertahan diri lagi.
Mereka telah terdorong oleh angin pukulan tersebut sehingga pada mundur ke belakang dengan sempoyongan Liem Tou melanjutkan kembali langkahnya menuju ke arah ruangan istana tersebut.
Siapa sangka baru saja Liem Tou berjalan sepuluh tindak, suara genta di dalam ruangan itu sudah berbunyi bertalu-talu dan semakin lama semakin samar sehingga sehingga seketika itu juga seluruh pandai pasir emas sudah digemparkan oleh bunyi genta.
Begitu suara genta dibunyikan; seluruh ruangan istana jadi terang benderang disusul dengan munculnya bayangan manusia dari empat arah delapan penjuru bersama-sama meluruk ke tempat itu.
Liem Tou adalah seorang pemuda yang berkepandaian dan bernyali besar, maka ia sama sekali tidak dibuat jeri oleh kejadian tersebut sebaliknya dengan langkah lebar kembali melanjutkan perjalanannya ke arah dalam.
Cuma saja pada saat ini hawa murninya sudah disalurkan mengelilingi seluruh tubuh.
Dan setiap langkah ia maju ke depan, di atas lantai pun tertera pula sebuah bekas telapak kaki yang sangat nyata.
"Hey si tua bangka she Ciang !"
Teriaknya keras.
"Aku hendak memberi tahu dulu kepadamu, jikalau dalam seratus langkah kau masih belum juga mau munculkan diri, maka jangan salahkan aku Liem Tou akan bertindak kurang ajar terhadap kalian."
Kembali selangkah demi selangkah ia melanjutkan perjalanannya ke depan, tetapi walaupun sudah mencapai delapan puluh langkah tidak nampak juga munculnya sesosok bayangan manusiapun yang menghalangi perjalanannya, dalam hati ia mulai merasa gugup, pikirnya ;
"Jikalau aku tidak kasih melihat sedikit ke lihayan buat mereka lihat, tentu mereka akan anggap aku Liem Tou tidak berani bertindak."
Berpikir akan hal itu, diam-diam hawa murninya segera disalurkan mencapai tarap tujuh bagian sehingga setiap langkahnya walaupun semakin lambat tetapi tentu akan meninggalkan sebuah retakan yang amat dalam sekali sepanjang satu depa.
Kepandaian silat yang demikian saktinya ini benar-benar membuat setiap orang yang melihat merasakan hatinya sangat terperanjat, dan boleh dikata pada saat itu sukar untuk mencari orang yang kedua.
Kini langkahnya sudah mencapai hitungan yang kesembilan puluh delapan, tinggal dua langkah lagi akan mencapai seratus langkah, mendadak dari sisi ruangan berkelebat datang empat orang pemuda berbaju hitam dengan mencekal pedang.
"Liem Tou berhenti!"
Bentak mereka dengan suara yang amat gusar.
Sekali pandang Liem Tou sudah mengenal kembali bila mereka adalab panglima yang pernah dikalahkan olehnya sewaktu berada di rumah setan di daerah Aih Cing, tak terasa lagi ia tertawa tiada hentinya.
"Heee... heee... Kalian masih belum berhak untuk bergebrak melawan diriku, kenapa si tua bangka she Ciang tidak munculkan dirinya sendiri?"
Ejeknya. Kembali kakinya maju ke depan sehingga langkahnya mencapai hitungan yang kesembilan puluh sembilan. Dan sekali lagi bentaknya .
"Hey, tua bangka she Ciang, di dalam seratus langkah kini sudah berlalu sembilan puluh sembilan langkah, bilamana kau tidak berani munculkan dirinya, maka hal ini berarti pula kau mencari penyakit buat diri sendiri."
Sembari berkata kakinya diangkat siap-siap untuk melangkah ke depan.
"Liem Tou !"
Mendadak terdengar suara sangat keras.
"Apakah kau sudah tidak maui nyawa isterimu?"
Mendengar ancaman tersebut kontan saja Liem Tou menghentikan langkahnya dengan hati bergetar amat keras.
"Hmm! Kau berani? Kau berani menganiaya dirinya?"
Teriaknya setengah kalap.
"Bilamana dia ada sedikit cederapun, Hmm! Hey tua bangka she Ciang, terus terang aku beri tahu kepadamu, pantai emasmu ini akan kubasmi sampai habis, bilamana ada rumput atau akar yang ketinggalan pun jangan sebut nama Liem| Tou lagi."
Perkataannya ini diucapkan dengan sangat tegas dan keras bagaikan baja.
Tapi langkah yang keseratus lama juga tidak dilangkahkan.
Kiranya ia takut juga bilamana dia berbuat demikian maka si "Auw Hay Ong"
Ciang Cau akan bulatkan tekad membinasakan Lie Siauw le terlebih dulu.
Sekalipun akhirnya ia berhasil meratakan pantai emasnya ini, tapi kematian dari Lie Siauw Ie bukanlah suatu perasaan yang enak untuk dirasakan.
Selagi ia merasa ragu-ragu itulah dari tengah ruangan istana kembali berkumandang datang suara ketawa yang amat keras.
"Haaa, haaa. Liem Tou, mengapa kau tidak penuhi langkahmu yang ke seratus? Kiranya kau pun btsa merasa jeri terhadap diriku."
Liem Tou yang diejek dengan kata-kata tersebut darah panas dalam dadanya bergolak amat keras tapi badannya masih tetap berdiri tegak di tempat semula.
Ketika itulah suara langkah manusia yang amat gaduh berkumandang datang dengan sangat ramainya Ketika pemuda itu menoleh kebelakang maka tampaklah jalan mundur baginya sudah tertutup oleh kepungan dari jago-jago partai Kiem Tien Pay, sedang dari sisi ruangan pun mulai bermunculan berpuluh jago yang sedang mengurung diri Liem Tou rapat-rapat.
Dari hadapannya si Auw Hay Ong dengan membawa keempat orang anak muridnya serta seorang tosu, seorang pengemis dan seorang siucay berwajah putih munculkan dirinya, Keempat orang pemuda berbaju hitam yang semula menghadanh di hadapan Liem Tou pun pada saat ini bersama-sama mengundurkan dirinya ke sisi Auw Hay Ong.
Diam-diam Liem Tou mulai menghitung situasi yang dihadapinya saat ini, para jago yang mengurung dirinya pada saat ini boleh dikata sudah mencapai dua ratus orang banyaknya, hal ini membuat dia mau tak mau harus berpikir .
"Walaupun mereka berjumlah sangat banyak, kenapa aku harus menaruh rasa jeri ?"
Ketika itu si raja dari daerah Auw Hay, Ciang Cau pun berdiam diri tidak berbicara, hanya sepasang matanya dengan sangat tajam memperhatikan diri si pemuda tak berkedip "Haaa, haaa, si tua bangka she Ciang.
selama berpisaban apakah kau baik-baik saja?"
Tegur Liem Tou sambil tersenyum dan dengan menggunakan kesempatan orang tak menduga ia telah maju sepuluh langkah ke depan.
"Kenapa tokh kau orang memandang diriku dengan begitu serius? Apakah kau tidak percaya kalau aku masih bisa hidup terus?"
"Hmm! Liem Tou perkataanmu sedikitpun tidak salah,"
Dengus si Auw Hay Ong Ciang Cau dengan sinis.
"Kau tidak mati, loohu memang selalu tidak puas dan tidak terima kau sudah membinasakan puteriku, sehingga mengakibatkan isteriku mati pula. Dendam yang sedalam lautan ini bilamana tidak dituntut balas terhadap dirimu, kau suruh aku pergi mencari siapa ?"
Bilamana Liem Tou tidak mendengar perkataan ini masih tidak mengapa, tapi kini sesudah mendengar omongan dari si orang tua itu, hatinya jadi teramat gusar.
"Eeei tua bangka she Ciang! aku dengar kau adalah seorang manusia yang gagah serta jujur dan selama ini berkedudukan sebagai seorang ketua partai, walaupun di dalam dunia kangouw kau orang tidak punya nama baik tetapi nama jelekpun tak ada sehingga pada dua tahun yang lalu, sewaktu kau berhasil jatuh ketanganku aku sudah melepaskan dirimu untuk melanjutkan hidup, tetapi jika kita bicarakan tentang soal ini, dikarenakan gara-gara kedua orang puterimu hampir-hampir saja aku tersiksa mati, walaupun akhirnya ia mati di tanganku, tetapi hal ini pun disebabkan karena ia terlalu memandang enteng musuh, ketika itu di dalam hatiku sama sekali tiada maksud untuk membinasakan dirinya. Karena ia sendiri yang memaksa maka terpaksa aku harus membela diri, sedangkan mengenai isterimu itu, dia mati di bawah injakan kerbauku karena dia hendak mencelakai aku orang, ketika itu aku sudah mengunci tanganku, bagaimana hal ini bisa disalahkan pula ke atas badanku ?"
"Tetapi bagaimanapun juga urusan ini terjadi dikarenakan kau orang!"
Potong Auw Hay Ong dengan gusar.
"Hei tua bangka she Ciang,"
Teriak Liem Tou yang benar-benar jadi sangat marah.
"Sewaktu aku mengunci tangan dan mengundurkan diri dari dunia kang ouw, seingatku kau pun hadir di dalam kalangan, kau sendiri yang melanggar peraturan Bu lim dengan menggunakan kesempatan orang lain sedang susah kau berbuat keonaran, ini hari aku minta keadilan dari dirimu."
Ciang Cau pun agaknya dibuat gusar juga oleh sikap dari pemuda ini.
"Itulah salahmu sendiri yang mencari gebuk, lalu soal ini hendak kau salahkan kepada siapa?"
Bentaknya pula. Mendadak Liem Tou tertawa terbahak-bahak, air mukanya berubah jadi sangat keren.
"Tua bangka she Ciang! Tidak kusangka kau pun bisa mengucapkan kata-kata seperti ini,"
Bentaknya keras.
"Baik ! Kembalikan dulu enci Ieku kemudian aku hendak menantang dirimu untuk menentukan kepandaian siapa yang lebih jagoan di antara kita."
"Kembalikan nyawa isteriku dan puteriku dulu kemudian loohu baru akan kembalikan enci Ie mu,"
Teriak Ciang Cau pula dengan gusar.
"Kalau tidak, hmm, Lebib baik kau hanyutkan saja keinginanmu itu, enci Ie-mu akan aku orang she Cian anggap sebagai ganti dari puteri serta isteriku."
Mendengar perkataan itu saking gusarnya seluruh tubuh Liem Tou menjadi gemetar keras, wajahnya berubah jadi merah padam, saking gemasnya kepingin sekali ia membinasakan orang itu.
Tetapi kini wajah Lie Siauw Ie masih berada dalam cengkeramannya, sehingga terpaksa ia harus menahan sabar.
"Ciang Cau!"
Serunya sinis.
"Kedatanganku kemari kali ini sudah sejak semula melihat keadaan kalian partai Kiem Tien yang sangat berbahaya karena kepungan musuh, mengingat kau tidak pernah jahat sebenarnya aku ada maksud hendak menolong kau, tidak disangka pikiranmu ternyata begini picik."
Berbicara sampai disini ia rada merandek sejenak, setelah menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, sambungnya kembali dengan suara berat ;
"Ciang Cau. Coba kau pikirlah dengan hati tenang. Bilamana tiga hari kemudian kau tidak mau menyerahkan enci Ie kepadaku, Hmm! Seorang Liem Tou berarti seratus anggota Sin Beng Kauw. Wajahnya saat ini sudah berubah sangat dingin bagaikan es, setelah berhenti lagi beberapa saat, tiba-tiba bentaknya keras .
"Ciang Cau, kau dengarlah baik-baik, di dalam tiga hari kemudian aku akan datang lagi dengan membawa kawan..."
Selesai berkata telapak tangannya segera dihantamkan ke atas, di tengah suara gemuruh yang amat keras genting ruangan tersebut sudah kena dihantam bobol dan rontok ke atas tanah dengan menimbulkan suara yang keras.
Sebentar kemudian tampaklah bayangan manusia berkelebat lewat, di dalam sekejap mata itulah bayangan dari Liem Tou sudah lenyap tak berbekas.
Orang orang partai Kiem Tien Pay yang melihat kejadian itu saking terperanjatnya air muka merekapun berubah jadi pucat pasi, matanya terbelalak dengan melongo, untuk beberapa saat lamanya suasana terasa amat hening dan sunyi.
Walaupun Ciang Cau sadar bila Liem Tou adalah seorang jagoan nomor wahid di kolong langit pada saat ini, tenaga dalamnya pun tiada yang dapat melawan, tetapi selamanya belum pernah melihat ilmu tenaga sakti yang demikian dahsyatnya.
Sebuah dinding batu setebal beberapa depa ternyata berhasil dibabat hancur hanya di dalau sekali kebasan saja, hal ini benar-benar mengerikan sekali.
Akhirnya suasana yang hening itu dipecahkan oleh suara ucapan dari si siucay berwajah putih yang membuka mulut dengan alis dikerutkan rapat-rapat.
"Ong-ya! Tentunya kau sudah dibuat jeri oleh kedahsyatan dari Liem Tou si bangsat cilik itu, tetapi kau jangan kuatir terhadap dirinya, cuma sedikit kepandaian keledai malas seperti itu buat apa ditakuti ?"
Perlahan-lahan Ciang Cau mengangguk, tetapi ia tidak mengambil komentar apa-apa.
Kembali suasana dilewatkan dengan keadaan yang amat sunyi, hening dan tenang.
Sejurus kemudian si orang tua itu berseru memberi pengumuman.
"Di atas pantai Sah Kiem Than kini sudah tak ada urusan lagi, kalian boleh kembali ke posnya masing-masiag untuk melakukan penjagaan."
Selesai berkata ia pun lantas mengundurkan diri dari tempat itu. Tetapi baru saja berjalan beberapa langkah ia sudah berhenti kembali dan menoleh.
"Murid-muridku, kalian ikutilah diriku !"
Serunya.
Para jago yang berkumpul di dalam ruangan itu pun sudah mulai bubaran.
Auw Hay Ong dengan membawa keempat murid kesayangannya kenbali ke dalam istana.
Kita balik pada Liem Tou setelah menjebol dinding tembok meninggalkan istana Kiem Tien Pay, sewaktu dilihatnya kentongan keempat sudah tiba ia lantas melakukan perjalanan lebih cepat ke arah Barat, hatinya saat ini masih belum reda dari marahnya.
"Jarak dengan terang tanah masih ada satu kentongan,"
Pikirnya diam-diam.
"Kenapa aku tidak menggunakan kesempatan ini untuk melakukan penyelidikan di sekeliling pantai Sah Kiem Than ini untuk melihat hal-hal yang kemungkinan sekali berada di luar dugaan ?"
Berpikir akan hal itu, pemuda itu segera mengerahkan ginkanguya berkelebat berputar di sekitar pantai Sah Kiem Than.
Dengan kecepatan gerakannya laksana sambaran kilat itu tidak sampai sepertanak nasi kemudian ia sudah hampir mengelilingi seluruh pulau tersebut dengan tanpa menemukan suatu apa pun.
Teringat tempat di sana tidak leluasa untuk digurakan sebagai tempat persembunyian, maka dalam hati lantas ada maksud hendak kembali ke kota Ping Cuan.
Demikianlah dengan mengerahkan ilmu ginkangnya yang sempurna ia berjalan di atas kayu yang dilayangkan di atas permukaan air.
Tidak sampai beberapa waktu ia sudah tiba di rumah penginapan kota Ping Cuan.
Pemuda tersebut langsung kembali ke kamarnya dan mengetuk pintu perlahan-lahan.
"Siapa?"
Tanya Giok jie dari balik kamar.
"Aku sudah kembali!"
Seru Liem Tou kalem, Pintu kamar dengan perlahan dibukanya, kecuali Giok jie yang berdiri di tepi pintu di belakang sebuah meja secara tiba tiba Liem Tou menemukan pula seorang dara berbaju hitam yang duduk membelakangi pintu.
Tak terasa lagi pemuda ini jadi melengak dengan perasaan kebingungan ia memandang ke arah Giok djie.
Agaknja Giok jie pun mengerti apa yang sedang diragukan olehnya, tampaklah gadis cilik itu tersenyum.
"Coba kau terka siapakah orang itu ?"
Serunya. Kiranya Liem Tou agak merasa tidak percaya terhadap apa yang dilihat dihadapannya sehingga lama sekali ia berpikir .
"Apakah Hong susiok sudah datang ?"
Jawabnya kemudian.
Giok Djie menggeleng.
Liem Tou merasa, semakin tidak paham lagi, akhirnya saking tidak sabaran lagi tubuhnya segera maju dua langkah dan hendak mencekal pundak dara berbaju hitam itu.
Pada saat yang bersamaan dara berbaju hitam itu pun secara mendadak menoleh sambil berseru ;
"Adik Liem!"
Liem Tou yang melihat jelas gadis tersebut ternyata Pouw Djien Coei lah adanya semula rada tertegun akhirnya ia berteriak-teriak kegirangan.
"Enci Jien Coei!"
Sapanya pula. Seketika itu juga ia sudah melupakan segalanya, tubuhnya menubruk maju ke depan memeluk pinggangnya kencang-kencang kemudian sambil tertawa teriaknya ;
"Ooouw enci Jien Coei ! sejak kapan kau datang kemari? Kau betul-betul membuat adik Liemmu merasa rindu setengah mati !"
Tetapi sebentar kemudian ia sudah mengucurkan air mata dengan amat deras.
"Enci Jien Coei!"
Teriaknya kembali.
"Selama ini kau sudah pergi kemana saja? Beritahulah padaku, cepat beritahu kepadaku."
Pouw Jien Ciei sembari meronta dari rangkulan Liem Tou, air matanya mengucur keluar semakin deras, sehingga tak sepatah katapun yang dapat diucapkan keluar.
Liem Tou yang melihat sikapnya tersebut, secara mendadak sudah teringat akan sesuatu.
"Enci Djien Coei!"
Ujarnya dengan sedih.
"Tahukah kau Tia-mu ?"
Belum habis perkataan itu diucapkan, air muka Pouw Djien Coei secara mendadak telah berubah menjadi pucat bagaikan mayat.
"Liem Tou ! Peristiwa yang sudah lalu tidak usah kita ungkap kembali,"
Bentaknya sambil mengusap kering air matanya "Tahukah kau apa maksudku malam ini datang ke mari ?"
Tiba-tiba ia teringat kembali akan perkataan dari Toan Bok Si tempo hari.
sekarang ia baru paham si perempuan tunggal Touw Hong yang dimaksudkan olehnya itu sebenarnya bukan lain adalah enci Djien Coeinya, maka bersamaan itu pula ia teringat kembali dengan dara berbaju hitam yang dijumpainya di dalam lembah berkabut, tak terasa lagi hatinya rada terperanjat.
"Enci Djien Coei! Lalu kaukah yang menolong nyawaku sewaktu berada di lembah berkabut?"
Perlahan Pouw Djien Coei mengangguk, tetapi sebentar kemudian ia sudah menggeleng kembali.
"Orang itu memang aku! tetapi orang yang menolong nyawamu bukan aku melainkan suhumu,"
"Kalau begitu akupun tahu bila kedatangan enci Jien Coei saat ini tentunya hendak memberitahukan soal yang menyangkut enci Ie, sekarang dia ada dimana?"
Seru Liem Tou dengan perasaan yang sangat cemas.
"Cepatlah bawa aku ke sana. Aku mau menolong dirinya lolos dari ancaman bahaya."
Lama sekali Pouw Jien Coei termenung, akhirnya ia berkata dengan suara yang lirih.
"Si Auw Hay Ong, Ciang Cau mengurungnya di dalam sebuah ruangan rahasia di bawah tanah, setiap hari ia mengirim Toa Kuncunya Ciang Beng Hu untuk menghibur dan menasehati dirinya kalau dia tidak bermaksud jahat terhadap adik Ie..."
"Ououw... enci Jien Coei! jadi kau tahu bila dia dikurung dalam kamar rahasia yang mana?"
Seru Liem Tou kembali sehabis mendengar perkataan tersebut.
Bagaimana kalau besok malam kita pergi menolong dirinya?
Oouw ya.
Sudah setahun lamanya, enci Ie tentu telah menderita siksaan yang amat besar.
Heei, kesemuanya ini akulah yang berdosa, akulah yang bikin gara gara !"
"Adik Liem, apa yang kau lakukan selama berada di pantai Sah Kiem Than dapat aku lihat dengan sangat nyata."
Lama sekali Pouw Jien Cui baru berkata kembali sambil mengangguk.
"Dengan adanya kejadian itu kemungkinan sekali urusan akan memperoleh perubahan yang amat besar. Kau sudah melihat bukan si siucay berwajah putih yang berada di sisi Ciang Cau itu?"
"Benar. Aku sudah melihat dirinya. Wajah Orang itu amat sadis dan penuh mengandung hawa iblis. Aku rasa dia bukan seorang manusia baik baik. Bukankah begitu ?"
Ketika itu cuaca sudah mulai terang tanah, mendadak Pouw Djien Coei bangun berdiri.
"Hari sudah mulai terang tanah, aku harus cepat-cepat pergi dari sini,"
Katanya.
"Aku takut ini hari ada kemungkinan enci Iemu bakal memperoleh suatu perubahan, aku harus melindungi dirinya, malam ini aku menunggu kau di depan pantai Sah Kiem Than!"
Selesai berkata ia lantas berjalan menuju ke pintu keluar.
"Enci Jien Coei, sebetulnya kau bersembunyi di mana?"
Mendadak Liem Tou mengajukan pertanyaannya. Pouw Jien Coei tersenyum.
"Malam nanti kau akan tahu sendiri, sekarang aku harus buru-buru melakukan perjalanan,"
Serunya.
Kakinya tanpa berhenti lagi segera melesat ke atas wuwungan rumah kemudian lenyap di balik remang-remangnya cuaca di pagi hari buta itu.
Liem Tou pun ikut meloncat naik ke atas atap, siapa sangka bayangan dari dara berbaju hitam itu sudah lenyap tak berbekas, hal ini membuat hatinya keheranan.
Ilmu meringankan tubuh dari enci Jien Coei bagaimana mungkin bisa demikian sempurnanya?
Apakah mungkin sejak perpisahan ia sudah memperoleh pelajaran tambahan dari seorang jagoan yang berkepandaian tinggi?"
Gumamnya seorang diri.
Ketika ia menoleh, maka tampaklah tiga ekor burung elangnya sedang berdiri berjajar di atas atap rumah, ketika itu ia sudah mendapatkan berita tentang Lie Siauw Ie dengan begitu semangatnyapun tambah berkobar-kobar.
Tangannya lantas digapai memanggil ke tiga ekor burung elang itu untuk hinggap di atas pundaknya.
Sambil mengelus dan membelai bulu burung tersebut tampaklah Liem Tou tersenyum.
"Beberapa saat ini kalian tiga ekor burung harus berjaga terus di sisi Giok-djie sehingga tak dapat terbang jauh. Malam ini aku akan membawa kalian untuk pergi berjalan-jalan,"
Serunya perlahan.
Setelah itu pemuda tersebut baru kembali ke dalam kamarnya untuk bersemedi hingga satu jam lamanya, ketika dilihatnya Giok Djie berdiam seorang diri di dalam kamar dengan wajah begitu murung, hatinya jadi tidak tega.
Setelah berpikir sebentar, ujarnya.
"Giok-djie, ayoh jalan. Selama beberapa hari ini kita selalu murung hati terus, bagaimana kaJaa kita berjalan jalan ke dalam kota?"
"Bagus sekali!"
Teriak Giok-djie kegirangan, tubuhnya segera meloncat bangun dari tempat duduknya.
"Kita mau bermain ke mana ?"
"Sesukamu; kau ingin pergi kemana kita pergi bermain kesana."
Demikianlah akhirnya kedua orang itu sambil bergandengan tangan penuh mesra bagaikan saudara sendiri berpesiar ke seluruh pelosok kota Peng Tzuan.
Giok djie yang selama ini murung terus saat ini sudah pulih kembali kelincahannya, selama berpesiar ia banyak bicara dan banyak ketawa.
Ketika di tengah perjalanan, untuk pertama kalinya mendadak Giok djie berseru ;
"Paman Liem! Setelah enci Ie tertolong dari tangan musuh, kau punya rencana hendak mengaturnya kemana ? Apakah kau hendak mengajak dirinya untuk melakukan perjalanan bersama-sama ?"
Liem Tou yang mendengar dirinya disebut paman, saking girangnya ia tak dapat membendung suara ketawanya, ia sudah tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.
"Haha... haaa... hal ini sudah tentu!"
Sahutnya.
"Cuma saja ia adalah isteriku, bagaimana mungkin kau memanggil dirinya dengan sebutan enci sedang memanggil aku dengan sebutan paman?"
Air muka Giok djie kontan dibuat menjadi merah padam saking jengahnya.
"Lalu aku harus memanggil dirimu dengan sebutan apa? Apakah harus memanggil dirimu dengan sebutan Cie hu?"
"Soal itu sih tidak perlu, lebih baik kau panggil aku dengan sebutan Toako saja."
Kata Liem Tou sambil membelai rambutnya dengan penuh rasa kasih sayang. Giok djie rada merandek sejenak, akhirnya ia menyapa dengan suara yang syahdu.
"Toako!"
Liem Tou segera tertawa terbahak-bahak. Saat itulah mendadak si "Say Sian Hong"
Toan Bok Si salah seorang dari keempat orang murid kesayangan Auw Hay Ong dengan wajah penuh senyuman berjalan menghampiri mereka berdua.
Melihat kejadian itu Liem Tou segera mengerutkan alis, ia menarik tangan Giok djie kemudian tanpa menoleh lagi berlalu dari sana.
Agaknya dia tidak ingin berjumpa dengan orang itu.
Siapa tahu sewaktu Say Sian Hong berjalan lewat dari sisi pemuda itu mendadak ia berbisik dengan suara amat lirih ;
"Harap tayhiap suka berjalan ke arah selatan beberapa li, di tempat itu ada orang yang sedang menantikan kedatangan tayhiap untuk merundingkan suatu urusan yang serius. Liem Tou dapat mendengar perkataan tersebut dengan amat jelas sekali tetapi sewaktu kepalanya menoleh ke arah mana sana tampaklah Toan Bok Si sudah berjalan lewat dari sisi tubuhnya, jika ditinjau dari sikap serta lagaknya mirip sekali dengan seseorang yang tak pernah terjadi sesuatu apa pun. Dalam hati Liem Tou mengerti, tentunya ada sesuatu peristiwa yang sudah terjadi, melihat pula sewaktu ia mengucapkan kata-kata tersebut sama sekali tidak mengandung maksud jahat, tubuhnya pun lantas berjalan menuju ke depan. Belum beberapa langkah ia berlalu, dari hadapannya kembali muncul dua orang lelaki kasar yang berjalan mendekat. sikap kedua orang itu sangar mencurigakan, sambil berbisik-bisik seperti sedang merundingkan sesuatu matanya tiada henti berputar-putar ke empat penjuru. Saat ini Liem Tou sudah bukan seorang jagoan yang baru saja terjun ke dalam dunia kangouw, bertemu dengan orang-orang pantai pun sudah tidak sedikit jumlahnya, sekali pandang ia merasa bila kedua orang itu, tentu bukannya manusia baik-baik. Menanti kedua orang itu sudah lewat dari samping Liem Tou. Si Say Sian Hong yang berada dibelakangnya segera berbelok ke sebuah jalan di samping tempat itu.
"Giok jie! kita menuju ke selatan,"
Seru Liem Tou cepat.
"coba kita lihat siapakah orang yang sedang menunggu kedatangan kita itu, sungguh misterius sekali."
Merekapun lantas berbelok ke sebelah selatan dan tak lama kemudian sudah berjalan ke luar dari daerah ramai di dalam kota Peng Cuan tersebut.
"Giok jie! coba kau pergilah ke sana sebentar untuk periksa siapakah orang yang sedang menantikan kedatanganku itu?"
Perintah sang pemuda tersebut kepada gadis ciliknya itu.
Giok-djle mengiakan lalu dengan cepat sudah berkelebat ke depan.
Tidak lama kemudian ia telah berlari kembali, sambil tersenyum, serunya kepada Liem Tou.
"Toako! Coba kau terka itu siapakah orang itu?"
Perlahan lahan Liem Tou menggeleng dan tidak mengerti.
"Seorang nona yang amat cantik sekali!"
"Aaahh!"
Seru Liem Tou agak tertahan, dalam hati ia merasa semakin curiga lagi.
Giok-djie, apakah kau sudah bercakap-cakap dengan dirinya ?
Bagaimanakah bentuk wajahnya ?
"Ia duduk di bawah sebuah pohon di pinggiran hutan, bajunya berwarna merah manyolok tapi aku cuma melihat dari tempat kejauhan saja kemudian balik kemari untuk memberi laporan kepadamu."
Diam-diam Liem Tou mulai berpikir.
"Selama ini aku cuma bertemu dengan dua orang dara berbaju merah, yang seorang adalah Siauw Giok Cing puteri kesayangan dari It Tiap Cinjin dari Heng san pay yang berdiam di lembah mati hidup dan yang lain adalah Ciang Beng Ing, Toa Kuncu dari si Auw Hay Ong. Kecuali mereka berdua, tak ada orang yang dikenal; terang orang itu adalah Ciang Beng Ing adanya!"
Beberapa Li dengan cepatnya sudah dilalui, di hadapan mereka ternyata benar-benar terbentang sebuah hutan.
"Itu di sana!"
Seru Giok djie sambil menuding ke arah depan. Liem Tou lantas mengalihkan pandangannya ke depan, tetapi dimanakah bayangan manusia yang dimaksudkan? "Akh, sungguh aneh sekali,"
Teriak Giok djie keheranan.
"Terang terangan aku tadi melihat dia orang duduk di bawah pohon; kenapa hanya di dalam sekejap saja sudah pergi?"
Liem Tou tersenyum dan sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa apa.
"Dia sendiri yang mengajak kita untuk bertemu, sudah tentu dirinya ada di sekitar tempat ini pula,"
Katanya. Kembali mereka berdua melanjutkan perjalanannya ke tepi hutan itu, tetapi bayangan manusia masih tetap tak nampak.
"Wah, sungguh aneh sekali, sungguh aneh sekali!"
Seru Giok djie berulang kali.
"Bagaimana kalau kita melakukan pemeriksaan di dalam hutan ?"
"Pertemuan ini adalah mereka yang undang, buat apa kita balik pergi mencari dirinya ?"
Seru Liem Tou dengan suara yang amat tawar.
"Lebih baik kita duduk di sini menanti saja, bilamana ia sungguh-sungguh ada maksud hendak bertemu sudah tentu tiada alasan baginya untuk main sembunyi."
Baru saja perkataan dari Liem Tou selesai diucapkan, mendadak terdengar suara yang merdu syahdu dari seorang gadis yang sedang bersenandung.
"Hujan malam melanda deras menutupi bintang di langit... Loteng empang sunyi senyap kosong melompong Sepasang burung hong terbang kesana kemari tiada tujuan ... Hati risau selalu tak pernah paham.... Mendadak Liem Tou teringat kembali sewaktu beberapa tahun yang lalu ketika si perempuan tunggal Touw Hong menyamar sebagai siluman di rumah setan daerah Auw Cing ia pun pernah bersenandungkan syair ini. Ketika itu Lie Siauw Ie, si gadis cantik pengangon kambing serta Ciang Beng Ing, si toa kuncu dari Auw Hay Ong pun hadir disana semua. Kini ia bersenandung syair tersebut, hal ini sudah tentu hendak menunjukkan bila dia Ciang Beng Ing adanya. Berpikir akan hal ini tak terasa lagi Liem Tou sudah tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.
"Toa Kuncu sudah datang menanti, aku Liem Tou merasa sangat kagum sekali. Bila mana ada urusan kau orang silahkan untuk bicara secara langsung, aku orang she Liem tentu akan pentang telinga lebar-lebar untuk mendengarkannya."
Baru saja perkataan dari Liem Tou selesai diucapkan, dari atas sebuah dahan tahu-tahu melayang turun seorang dara berbaju merah yang bukan lain Ciang Beng Ing adanya.
"Liem Tou, kau jangan merasa bangga dulu. Ayo ikut aku!"
Bentaknya. Liem Tou yang dibentak jadi melengak.
"Kuncu hendak membawa aku pergi kemana ? Tolong dijelaskan sejenak!"
Serunya.
"Suruh kau ikut aku pergi, ikuti saja terus, buat apa banyak bicara?"
Bentak Ciang Beng Ing kembali sambil melirik sekejap ke arah pemuda itu. Liem Tou segera menjulurkan lidahnya sambil melirik sekejap ke arah Giok-jie.
"Toa Kuncu sudah marah, mari kita ikuti saja!"
Serunya setengah berbisik.
Demikianlah mereka berdua lantas mengikuti diri Ciang Beng Ing berjalan melintasi hutan melalui jalan gunung yang amat sunyi Diam-diam Liem Tou mulai mengawasi keadaan di sekelilingnya sewaktu dilihatnya tempat itu semakin lama semakin curam dan semakin berbahaya dalam hatinya lantas berpikir .
"Apakah mereka sudah mempersiapkan jebakan untuk memancing kedatanganku?"
Berpikir akan hal ini, dalam hati ia malah merasa kegelian, karena bila benar-benar demikian adanya maka ia merasa kasihan pada mereka mereka itu yang terlalu tolol.
Tidak lama kemudian sampailah mereka di sebuah lembah gunung yang cukup luas di kaki gunung sebelah kiri munculah tembok-tembok berwarna merah yang amat luas, kelihatannya bangunan tersebut merupakan sebuah kuil.
Melihat Ciang Beng Ing hendak membawa dirinya ke dalam kuil tersebut, Liem Tou baru mulai merasa ragu-ragu.
"Eeei, sebenarnya kau memancing cayhe mendatangi kuil itu ada urusan apa?"
Tanyanya cepat. Air muka Ciang Beng Ing berubah sangat tawar sekali, ia melirik sekejap ke arah Liem Tou.
"Orang lain berkata bila kepandaian silatmu tiada tandingannya di kolonp langit pada saat ini, manusianya pun merupakan seorang enghiong yang bernyali, apakah ini hari kau mulai merasa jeri?"
Liem Tou mengerti bila gadis tersebut ada maksud hendak memanasi hatinya, karenanya ia malah tertawa tawar.
"Kuncu terlalu memuji, gelar jagoan nomor wahid di kolong langit, cayhe tidak berani menerimanya."
Sembari memberikan jawabannya Liem Tou sama sekali tidak menghentikan gerakan kakinya, ia mengikuti terus dari belakang Ciang Beng Ing berjalan menuju ke dalam kuil itu.
Tidak lama kemudian sampailah mereka di depan kuil yang tidak begitu besar, tetapi masih utuh dan mentereng.
Pintu besar dari kuil tersebut setengah tertutup, Ciang Beng Ing lantas mendorong pintu dan berjalan masuk.
Liem Tou tidak ingin memperlihatkan kelemahannya, sambil menggandeng Giok jie ia pun segera mengikuti terus dari belakangnya.
"Giok jie?"
Bisik Liem Tou dengan suara perlahan.
"bilamana sebentar lagi akan terjadi suatu perubahan, maka kau ikuti saja diriku terus, jangan sekali kali kau meninggalkan tempat ini sesuka hatimu, mengerti?"
Giok jie mengangguk, tetapi mulutnya tetap membungkam.
Setelah melewati ruangan tengah, Ciang Beng Ing langsung menuju ke ruangan belakang.
Ketika inilah Liem Tou baru merasa hatinya sangat heran, tetapi ia berusaha keras untuk bersabar dan mengikuti dirinya dengan jarak beberapa kaki di belakang tubuhnya.
Sesudah melewati ruangan tengah, mendadak Ciang Beng Ing berkelebat ke depan sambil berseru ;
"Lapor, ayah, siauw li sudah membawa Liem Tou datang kemari!"
Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut diam-diam merasa amat terkejut, pikirnya ;
"Apakah mungkin Auw Hay Ong pun berada di sini? sebenarnya sudah terjadi peristiwa apa ?"
Ketika ia mendongakkan kepalanya kembali, maka tampaklah di tengah-tengah ruangan belakang duduklah Auw Hay Ong, Ciang Cau dengan sikap yang amat keren.
Saat ini ia sudah melepaskan jubahnya yang bersulaman naga berwarna emas dan cuma memakai jubah hijau biasa, di kedua belah sisinya berdirilah ketiga orang anak murid kesayangannya.
Di antara mereka cuma si "Say Siang Hong"
Toan Bok Si seorang yang tidak nampak, di samping itu tidak terdapat pula orang luar lainnya.
Melihat munculnya Liem Tou mendadak Auw Hay Ong bangun berdiri dan melangkah maju sambil mencekal tangan pemuda itu erat-erat, sikapnya ternyata sangat berbeda dengan keadaan pada hari hari biasanya.
"Perkataan dari tayhiap kemarin malam benar-benar telah menyadarkan lolap dari impian,"
Katanya.
"Oleh karena itu, sengaja ini hari aku mengundang kedatangan dari tayhiap!"
Selama ini si Auw Hay Ong Ciang Cai selalu bersikap sombong dan tinggi hati, belum pernah dia orang memperlihatkan sikapnya yang begitu menghormat terhadap orang lain, sudah tentu hal ini merupakan suatu peristiwa yang sangat luar biasa sekali.
Dengan pandangan yang tajam dari Liem Tou sekali pun ia berhasil melihatnya bila sikapnya ini kurang leluasa, tapi sangat jujur dan bersungguh-sungguh.
Karenanya ia pun membalas dengan beberapa kata yang merendah.
Beberapa saat kemudian pemuda itu baru berkata lagi.
"Kalau begitu kau sudah tidak ingin mencari urusan lagi soal puterimu serta isterimu bukan? Tapi kenapa enci Ie ku tidak kelihatan bersama-sama kalian?"
Bagaimana pun Liem Tou adalah seorang cerdik, walaupun ia melihat Si Auw Hay Ong agaknya mempunyai maksud untuk berkawan tetapi sebelum melihat munculnya Lie Siauw Ie di tempat itu pula hatinya masih menaruh curiga.
Oleh karena itu ia lantas mengajukan pertanyaan tersebut.
Mendengar pertanyaan itu, Auw Hay Ong segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Perkataan ini tak dapat kita bicarakan secara demkian. Jangan kata terhadap kematian dari isteri dan puteriku, Loolap tidak menaruh rasa dendam, sekalipun aku mengakui perkataan tersebut tidak lebih perkataan itu pun merupakan perkataan yang bohong, selama ini isterimu mendapatkan perjalanan yang baik dari Loolap dan tidak pernah menerima hinaan maupun aniaya macam apa pun, harap Tayhiap suka berlega hati."
Belum habis Auw Hay Ong menyelesaikan kata-katanya, mendadak Liem Tou kembali menyela;
"Kalau memangnya kau tidak bisa menyelesaikannya begitu saja atas sakit hati kematian isteri dan puterimu, lalu tidak ingin melepaskan enci Ie-ku pula, apa maksudmu memanggil aku datang kemari ?"
Si Auw Hay Ong Ciang Cau tersenyum.
"Seperti apa yang pernah Tayhiap katakan, Partai Kiem Tien Pay kami sedang menemui bencana karena serangan dari luar. Selama ini perkumpulan Sin Beng Kauw selalu mengincar daerah sekitar tempat ini tiada mau lepasnya. Bahkan kemarin malam ada empat orang siangcu yang datang ke pantai Sah Kiem Than kami untuk membokong sehingga orang-orang itu berhasil kami bekuk. Tetapi saat ini pengaruh dari perkumpulan Sin Beng Kauw sudah tersebar hampir meliputi seluruh daerah Tionggoan. Baik cabang di daerah Utara maupun cabang di daerah Selatan sudah pada menggemparkan setiap orang. Loolap rasa daerah ini pun cepat atau lambat akan mereka kuasai juga. Karena itu lolap ada maksud hendak mengajak tayhiap untuk bekerja sama dan saling bertukar syarat."
Baru saja Auw Hay Ong berbicara sampai disitu. Liem Tou sudah mengerti apakah maksud hatinya sehingga tak terasa lagi ia tertawa terbahak-bahak.
"Haaaa, haaaa, hey kakek tua she Ciang, di antara kita boleh dikata bukan hanya pernah berjumpa sekali saja, ataupun baru kenal tetapi tidak kusangka kau mempunyai tindakan yang begini cerdiknya. Baiklah, apa syaratmu ?"
Auw Hay Ong yang mendengar Liem Tou suka mengabulkan permintaannya dengan cepat, wajahnyapun segera terlintas suatu perasaan yang amat girang.
"Lindungi daerah kami dari gangguan perkumpulan Sin Beng Kauw, kami segera mengembalikan isterimu bersamaan itu pula hutang-hutang lama kita anggap saja selesai."
"Baik! Kita tentukan begitu saja!"
Ketika itulah dari luar kuil mendadak berkelebat datang sesosok bayangan manusia yang berdandan seorang dayang.
"Coen Siang, ada urusan apa kau datang kemari ?"
Bentak Auw Hay Ong dengan cepat sewaktu melihat munculnya dayang itu. Sebaliknya Liem Tou yang melihat orang itu dalam hatinya merasa kaget sekali sehingga tak terasa lagi sudah berseru;
"Enci Djien Coei!"
Kiranya orang ini adalah Pouw Djin Coei.
Selama ini ia menyaru sebagai dayang untuk melindungi Lie Liauw Ie secara diam-diam, maka selama setahun ini Lie Sianw Ie tidak memperoleh gangguan apapun.
Agaknya saat ini gadis tersebut tak mau rahasianya bocor, buru-buru teriaknya keras ;
"Orang-orang dari perkumpulan Sin Beng Kauw sudah berkumpul di tepi pantai "Sah Kiem Than"
Dan mempunyai rencana hendak menculik enci Ie. Liem Tou, kau tidak cepat-cepat pergi ke sana ?"
Jilid 46 Mendengar berita tersebut Liem Tou segera merasakan hatinya tergetar sangat keras, maka dengan cepat ia mendorong Giok jie ke sisi tubuh Pouw Djien Coei.
"Lindungi orang ini,"
Serunya keras.
Sedikit ujung kakinya menutul pada permukaan tanah, tampaklah bayangan hijau berkelebat keluar laksana sambaran kilat cepatnya a berlari menuju ke pantai Sah Kiem Than.
Si Auw Hay Ong, Ciang Cau yang mendengar berita itu pun dalam hati merasa sangat terperanjat, buru-buru merekapun pada berlari keluar dari kuil dan berangkat kembali ke sarangnya.
Pouw Jien Coei yang melihat Liem Tou ternyata memberikan suatu beban kepadanya, dalam hati ia merasa sangat cemas, sambil menarik tangan Giok jie ia pun berlari ke depan dengan sepenuh tenaga.
Mendadak Giok jie meronta dan berusaha melepaskan diri dari cekalannya.
"Enci Jien Coei. kau pergilah seorang diri dan jangan mengurusi diriku lagi,"
Serunya.
"Bagaimana hai ini boleh jadi? Bilamana sampai terjatuh ke tangan musuh bagaimana jadinya?"
Mengambil kesempatan sewaktu dara berbaju hitam itu tidak waspada, Giok jie mendadak meloncat ke depan sejauh beberapa kaki.
"Kau pergilah seorang diri!"
Teriaknya keras,"
Giok jie bisa menjaga keselamatan sendiri."
Tubuhnya berputar lantas berlari menuju ke kota Peng Tzuan.
Pouw Djien Coei yang melihat kepandaian silat yang dimiliki gadis tersebut tidak jelek, hatinya merasa rada lega.
buru-buru ia melanjutkan perjalanannya kembali balik ke pantai Sah Kiem Than.
Permukaan air dari laut Auw Hay tersebut boleh dikata setiap harinya banyak perahu berlalu lalang.
Tetapi ini hari di tempat tersebut sudah bertambah berpuluh-puluh buah perahu aneh yang tidak diketahui asal-usulnya, suara bentrokan senjata serta bentakan nyaring bergema memekikkan telinga di atas pantai Sah Kiem Than.
Tampaklah berpuluh orang anggota Sin Beng Kauw yang memakai jubah hitam sedang mengurung istana emas tersebut rapat-rapat.
Anak murid partai Kiem Tien pay yang secara mendadak diserbu oleh pihak musuh jadi amat kacau dan kelabakan setengah mati.
Walaupun dengan sekuat tenaga mereka melakukan perlawanan tetapi yang mati serta yang luka sudah bertumpuk-tumpuk.
Di antara mereka cuma keempat orang pemuda berbaju hitam saja yang dapat bertempur dengan garang dan hebat, sehingga anggota perkumpulan Sin Beng Kauw yang terluka di bawah serangan merekapun tidak sedikit jumlahnya.
Keempat orang pemuda itu dengan mati-matian mempertahankan diri di depan pintu istana, hal ini membuat anggota perkumpulan Sin Beng Kauw untuk sementara waktu tak berhasil menyerbu ke dalam.
Sedangkan kepandaian silat yang dimiliki si toosu serta si pengsmis itu pun jauh lebih hebat dari anggota partai Kiem Tien pay lainnya.
Mereka berdua dengan tiada hentinya berkelebat kesana kemari di antara kepungan anggota Sin Beng Kauw.
Barang siapa yang menghalangi perjalanan mereka tentu rubuh menemui ajalnya.
Dengan demikian, keadaan situasi untuk sementara waktu rada seimbang.
Tetapi perahu-perahu dari perkumpulan Sin Beng Kauw yang mendarat di pantai Sah Kiem Than semakin lama semakin banyak, dengan demikian jumlah anggota Sin Beng Kauw yang tiba di sana pun semakin banyak bahkan di atas perahu yang terakhir sudah kedatangan seorang makhluk yang amat besar di bawah kawalan empat orang kakek tua yang sudah berusia lima puluh tahunan.
Walaupun kelima orang itu bukan berdandan sebagai anggota Sin Beng Kauw, tetapi jelas mereka adalah bala bantuan yang sengaja dikirim kesana untuk membantu orang-orang perkumpulan Sin Beng Kauw.
Kiranya makhluk raksasa tersebut bukan lain adalah Kiem Sah Ong dari daerah Liong Tzuan sedang keempat orang kakek tua itu adalah Congkoan-Congkoan andalannya.
Orang orang pada menyebut mereka sebagai Kiem Jah Su Liong yang jadi orang amat ganas dan telengas sekali.
Begitu kelima orang itu tiba di depan pintu istana maka situasi di sekitar sana pun segera berubah, ketika si toosu serta si pengemis itu melihat munculnya Kiem Sah Ong di sana mereka berdua segera saling memberi tanda dan bersama-sama menyerang ke arah Kiem Sah Ong dengan sepenuh tenaga.
Tetapi ilmu kepandaian yang dipelajari oleh Kiem Sah Ong adalah tenaga Gwa kang, kekuatannya besar luar biasa, badannya atos seperti baja.
Boleh dikata jarang sekali ada orang yang bisa melukai dirinya.
Melihat anggota Sin Beng Kauw yang menyerbu ke pintu istana itu tidak berhasil juga membobolkan pertahanan tersebut, dengan gusarnya Kiem Sah Ong meraung keras.
"Congkoan berempat, cepat terjang pintu istana itu!"
Teriaknya.
Ketika itulah serangan dari sang toosu serta si pengemis itu sudah melanda mendatangi, tubuhnya segera melangkah ke depan sambil kepalannya menyambar ke samping.
Dimana kepalan tersebut lewat, angin pukulan menderu-deru tiada hentinya memaksa sang toosu itu harus meloncat ke belakang dengan tergopoh-gopoh.
Baru saja toosu tersebut berhasil menghindarkan diri dari serangan itu, kepalan tangan kiri dari Kiem Sah Ong kembali menyambar lewat dengan kedahsyatan yang tidak berkurang.
Sang Toosu serta sang pengemis tidak berani menerima datangnya serangan dengan saling berhadapan, maka terpaksa tubuhnya sekali lagi menyingkir ke samping.
Kiem Sah Ong yang melihat kedua orang itu ternyata tidak berani menerima datangnya serangan yang dilancarkan olehnya, segera mengeluarkan ilmu pukulan Kiem Kong Ciangnya yang amat lihay itu.
Angin pukulan segera mendera-deru laksana tiupan angin topan, sejurus demi sejurus dilancarkan ke depan tiada hentinya yang memaksa si Toosu serta pengemis tersebut terdesak di bawah angin.
Dengan kejadian ini maka dari pihak partai Kiem Tien Pay sudah kelihatan pasti kalah, permainan pedang dari ke empat orang pemuda berbaju hitam yang semula gencarpun setelah bertemu dengan Kiem Sah Su Liong kena terkurung tanpa bisa banyak berkutik, dengan mati-matian terpaksa mereka mempertahankan terus di depan pintu istana.
Ketika itulah dari dalam istana secara tiba-tiba berkumandang keluar suara tertawa terbahak-bahak yang sangat keras disusul dergan munculnya seorang siucay berwajah putih, sambil mencengkeram Lie Siauw Ie kencang-kencang.
"Hati manusia sukar diduga, ajaran agama paling murni, perkumpulan Sin Beng Kauw bertujuan mendirikan keadilan di dalam se luruh kolong langit sedang partai Kiem Tien pay sudah saatnya untuk musnah, buat apa kalian harus menjual nyawa untuk Ciang Cau si keledai tua yang tidak becus itu?"
Bentaknya keras.
Sang toosu serta sang pengemis yang sedang bergebrak melawan Kiem Sah Ong sewaktu melihat munculnya si siucay berwajah putih itu dalam hati merasa kegirangan, siapa sangka ternyata ia mengucapkan kata kata tersebut, hal ini kontan saja membuat mereka berdua jadi tertegun.
Siapa pun tidak menyangka kalau si siucay berwajah putih ini sebetulnya adalah mata-mata yang sengaja dikirim oleh perkumpulan Sin Beng Kauw untuk menyelidiki keadaan mereka, saking gusarnya tak terasa lagi mereka mulai memaki kalang kabut.
Siapa sangka, justeru karena meraka pecah perhatian itulah tubuh Kiem Sah Org tahu-tahu telah mendesak maju ke depan.
Telapak kirinya dengan menggunakan jurus "Sin Yen Ti Kok"
Atau monyet sakti memetik buah dengan cepatnya berhasil menghajar di atas pundak sang tosu tersebut.
Walaupun tempat tersebut bukan merupakan tempat berbahaya, tetapi cukup membuat tubuh pihak lawannya mundur ke belakang dengan sempoyongan dan akhirnya jatuh terlentang di atas tanah.
Kaki raksasa dari Kiem Sah Ong dengan cepat berkelebat maju untuk mengirim kembali sebuah injakan keras ke atas perut tosu tersebut.
Suara jeritan ngeri yang manyayatkan hati segera bergema memenuhi angkasa, kontan saja perut toosu itu pecah sehingga usus serta isi perutnya mengalir keluar mengotori lantai, nyawanya sudah tentu lenyap saat itu juga.
Sang Pengemis yang melihat kawannya kena dibunuh, pikirannya jadi semakin kacau, permainan telapaknya mendadak berubah tanpa memperdulikan nyawanya lagi, ia menyerang Kiem Sah Ong dengan sangat gencar.
Dua buah pukulannya berhasil menghajar tepat di atas badan Kiem Sah Ong tetapi sama sekali tidak menimbulkan reaksi apa pun.
Hal ini sebaliknya malah membuat pengemis itu kecapaian sehingga keringatnya mengucur membasahi seluruh tubuhnya sehingga permainan telapak tangannya pun jauh semakin lambat.
Dengan demikian keadaan dari si pengemis tersebut sangat berbahaya sekali setiap saat keselamatannya terancam bahaya.
Pada saat itu pertahanan dari keempat, orang pemuda berbaju hitam itu pun kena kebobolan anggota Sin Beng Kauw laksana aliran air bah segera menerjang masuk ke dalam pintu istana.
Dimana tangan si siucay berwajah putih itu diulapkan, dari dalam ruangan mendadak berkelebat keluar empat orang siangcu yang bukan lain adalah merupakan empat orang anggota Sin Beng Kauw yang kena tertawan kemarin malam.
Kini mereka menggantikan kedudukan dari keempat orang pemuda berbaju hitam itu untuk mempertahankan pintu istana dari serbuan anggota Kiem Tien pay.
Apakah tujuan dari anggota perkumpulan Sin Beng Kauw untuk merebut istana tersebut???
Tiada lain mereka hendak merampok seluruh harta kekayaan yang terdapat di dalam istana Kiem Cien Pay itu sehingga ludas, kemudian membakar dan memusnahkan istana tersebut.
Setelah partai Kiem Tien pay kehilangan markas besarnya bahkan harta kekayaannya pun ludas sudah tentu tiada tenaga lagi untuk membangun suatu kekuatan baru.
Dengan demikian sejak saat itu partai Kiem Tien Pay akan segera lenyap dari permukaan bumi, dengan sendirinya daerah Cian Tian ini akan terjatuh ke tangan perkumpulan Sin Beng Kauw tanpa susah-susah.
Siapa sangka walaupun perhitungan dari perkumpulan Sin Beng Kauw sangat bagus, tetapi Thian masih tidak mengijinkan mereka untuk berbuat demikian.
Sewaktu anggota Sin Beng Kauw sedang bertempur mati-matian melawan partai Kiem Tien Pay itulah, Pouw Jien Coei sudah munculkan dirinya di hadapan Auw Hay Ong untuk menyampaikan berita tersebut.
Keadaan dari si siucay berwajah putih pada waktu itu benar-benar sangat bangga sehingga lupa daratan, ia tertawa terbahak-bahak tiada hentinya.
Kini ia sudah menguasahi Lie Siauw Ie sehingga walaupun Liem Tou munculkankan dirinya di sana pemuda itu pun tak akan dapat berbuat apa-apa terhadap dirinya.
Siapa sangka Liem Tou setelah mendapat kabar dari Pouw Jien Coei, hatinya benar-benar merasa amat gusar sehingga ia merasa gemas dan cepat bisa tiba di pantai Sah Kiem Than.
Dengan sekuat tenaga serta mengerahkan seluruh kepandaian yang ada ia berkelebat di atas permukaan air menuju ke tempat tersebut.
Ketika tubuhnya berhasil tiba di pantai Sah Kiem Than, pintu istana tersebut bertepatan sudah terjatuh ke tangan anggota perkumpulan Sin Beng Kauw.
Darah panas terasa bergolak dengan kerasnya di dalam dada, baru saja ia bersiap-siap hendak membentak keras dan menyerbu ke dalam kalangan untuk membasmi habis orang-orang itu, mendadak matanya dapat menangkap Lie Siauw Ie yang sudah terjatuh ke tangan siucay berwajah putih itu.
Keadaan dari gadis tersebut pada saat ini amat lemas dan tak bertenaga, kepandaian silatnya seperti sudah punah sama sekali, tubuhnya terkulai kesana kemari mengikuti gerakan dari sang siucay yang sedang memberi perintah kepada anggota Sin Beng Kauw untuk membasmi anak murid partai Kiem Tien pay.
Tetapi Liem Tou adalah seorang yang cerdik, begitu melihat kejadian tersebut ia segera mengerem suara bentakan yang hampir saja meluncur keluar dari bibirnya itu.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang paling sempurna, badannya segera berkelebat ke arah depan.
Si siucay berwajah putih itu adalah salah seorang pemimpin yang berkepandaian sangat tinggi di dalam perkumpulan Sin Beng Kauw walaupun ia tidak berhasil melihat seluruh tubuh dari Liem Tou tetapi matanya yang tajam dapat menangkap bayangan hijau yang menyambar ke arahnya itu.
Sehingga buru-buru cekalannya pada pergelangan tangan Lie Siauw Ie dipererat, telapak kirinya secara mendadak ditempelkan ke atas punggung gadis tersebut sambil bentaknya dengan wajah keren.
"Liem Tou! aku menginginkan jiwanya, ti ..."
Sayang tindakannya ini terlambat satu tindak, belum habis perkataannya diucapkan keluar, mendadak dadanya terasa menjadi kaku sehingga perkataan selanjutnya tidak sanggup untuk meluncur keluar dan mulutnya.
"Pergilah!"
Terdengar Liem Tou membentak dengan keras.
Di tengah suara bentakan yang sangat keras, si siucay berwajah putih menjerit keras, darah segar memancur setinggi beberapa kaki kemudian menyembur ke empat penjuru.
Tubuhnya kontan terpental sejauh tiga kaki dari tempat semula menumbuk dinding ruang tengah, kepalanya seketika itu juga remuk rendam, otak berceceran di atas tanah dan kematiannya benar-benar sangat mengerikan.
Dalam satu jurus Liem Tou berhasil membinasakan pentolan dari perkumpulan Sin Beng Kauw, hal ini membuat para jago lainnya diam-diam merasa berdesir juga.
"Enci Ie,"
Tak tahan lagi pemuda tersebut berteriak.
Lie Siauw Ie tetap berdiri termangu-mangu di tempat semula, agaknya ia tidak mengenali kembali diri Liem Tou.
Diam-diam pemuda tersebut merasakan hatinya berdebar keras, sambil menggertak gigi kencang-kencang tangan kirinya segera menyambar pinggang gadis itu kemudian putar badan menerjang ke arah pintu ruang Kiem Tien Pay yang dijaga oleh keempat orang Siangcu yang ditemuinya kemarin.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun ia langsung berjalan mendekati keempat orang itu.
Tetapi munculnya Liem Tou yang berhasil membinasakan si siucay berwajah putih dalam sekali hantaman sudah cukup menggetarkan semangat setiap anggota perkumpulan Sin Beng Kauw yang ada di sana.
Hanya Kiem Sah Ong seorang bukannya jeri sebaliknya malah merasa amat gusar dengan tindakan pemuda tersebut.
Ia yang sudah berhasil melatih ilmu kekal, tidak takut terhadap tusukan maupun bacokan golok ternyata dengan menempuh bahaya sudah menerjang sendiri ke hadapan Liem Tou.
Melihat pemimpinnya bergerak maju, para jago-jago perkumpulan Sin Beng Kauw lainnya pun segera ikut membentak keras kemudian mengurung pemuda tersebut rapat-rapat.
Liem Tou yang sedang berjalan ke arah keempat orang Siangcu tersebut mendadak dari belakang punggungnya terasa ada satu pukulan yang maha dahsyat menyambar datang, diam-diam ia merasa kaget juga dengan kejadian tersebut.
Tubuhnya dengan gerakan cepat laksana sambaran kilat segera berkelit ke samping kemudian menoleh ke arah belakang.
Tampaklah seorang manusia berperawakan raksasa sudah berdiri di belakangnya dengan sikap yang amat menyeramkan, angin pukulan barusan ini boleh dihitung tidak lemah.
"Jika aku lihat dandananmu, agaknya kau bukan anggota perkumpulan Sin Beng Kauw. Siapa kau??? ayoh cepat sebutkan!"
Seru Liem Touw rada melengak.
"Kurang ajar!"
Teriak Kiem Sah Ong gusar.
"Siapa yang tidak kenal dengan aku Kiem Sah Ong dari daerah Liong Cuan? Bangsat cilik, terimalah seranganku ini..."
Selesai berkata kembali dia orang mengirim satu pukulan dahsyat ke arah depan.
"Ooouw. kiranya kaulah yang bernama Kiem Sah Ong..."
Ejek Liem Touw sembari menghindar.
"Hmm! membiarkan kau tetap hidup di kolong langit pun hanya mendatangkan bencana saja, terima nih serangan balasanku."
Selesai berkata ia pun mengirim satu pukulan tajam ke arah tubuhnya.
Kiem Sah Ong tidak mengerti lihaynya pihak lawan.
Melihat datangnya serangan tersebut sepasang kepalannya segera didorong ke depan untuk menyambut datangnya serangan dengan gerakan keras lawan keras.
Liem Tou tertawa dingin tiada hentinya; tenaga saktinya diam-diam disalurkan ke seluruh badan.
menanti masing-masing telapak saling terbentur satu sama lainnya kembali ia mengirim satu pukulan tajam ke arah tubuh pihak musuhnya.
Air muka Kiem Sah Ong seketika itu juga berubah jadi merah padam, tubuhnya yang tinggi besar bagaikan pagoda besi tergetar dan bergoyang tiada hentinya.
"Aaakh... antara diriku dengan dia orang sama sekali tidak terikat dendam sakit hati apa pun, kenapa aku harus turun tangan jahat terhadap dirinya???"
Suatu ingatan dengan cepat berkelebat di dalam benak pemuda itu.
Teringat akan hal tersebut, dengan sendirinya tenaga pukulan yang semula amat dahsyat kini berkurang kedahsyatannya.
Siapa sangka ternyata Kiem Sah Ong tidak tahu diri, setelah dikalahi Liem Tou bukannya mengundurkan diri mendadak kepalan kanannya langsung dihantamkan kepada pemuda tersebut sedang kepalan kirinya dengan menggunakan jurus "Kiem Kong Hu Ti"
Atau badan kuat emas baja laksana sambaran petir dihantamkan ke atas tubuh Lie Siauw Ie yang berada di dalam gendongan Liem Tou.
"Bagus sekali Kiem Sah Ong, saat kematianmu sudah tiba!"
Liem Tou tak dapat membendung hawa amarahnya lagi, ia berteriak gusar.
Hawa napsu membunuh mulai meliputi seluruh wajah, tubuhnya dengan lincah berkelebat dan berputar ke belakang punggung Kiem Sah Ong sepasang jari tangannya langsung ditotokkan ke arah jalan darah "Giok Cu Hiat"
Pada pinggang lelaki raksasa tersebut. Jalan darah "Giok Cu Hiat"
Merupakan salah satu jalan penting di dalam tubuh manusia.
Asalkan siapa saja yang terkena tentu akan rubuh menemui ajalnya.
Dalam anggapan Liem Tou, totokkannya ini asalkan terkena pada sasarannya Kiem Sah Ong tentu akan rubuh.
Siapa sangka si manusia raksasa itu dasarnya memiliki ilmu kebal yang tak mempan terhadap tusukan senjata tajam, menghadapi serangan totokan yang biasa sudah tentu tak bakal mendatangkan luka bagi dirinya.
Hal ini membuat Liem Tou jadi melengak tetapi sebentar kemudian hawa murninya sudah disalurkan ke seluruh badan, setelah menarik napas panjang panjang serangan jarinya segera dirubah menjadi serangan telapak langsung didorong ke depan.
Perawakan Kiem Sah Ong tinggi besar, hal ini mempengaruhi perputaran badannya pun kurang lincah, mendadak ia merasakan punggungnya jadi kaku seperti dihantam dengan martil besar, isi perutnya serasa hancur berantakan saja.
"Bangsat! Kau sangat kejam!"
Teriaknya ngeri. Sepasang matanya melolot bulat-bulat, darah segar muncrat dari mulutnya dengan amat deras sehingga memancar sejauh satu kaki lebih diikuti tubuhnya gemetar dan berkerut.
"Bangsat, kau amat kejam,"
Teriaknya kembali, tetapi suaranya semakin kecil.
Tubuhnya tak kuasa menahan diri lagi, diiringi suara benturan yang amat keras badannya segera rubuh ke atas tanah dari ujung bibirnya darah segar masih mengucur keluar tiada hentinya.
Liem Tou tertawa dingin, mendadak ia membentak dengan suara lantang.
"Bajingan kawanan perkumpulan Sin Beng Kauw. Ayo cepat sipat kuping menggelinding pergi dari sini, kalau tidak jangan salahkan aku Liem Tou akan turun tangan telengas terhadap siapa pun yang masih tertinggal di sini?"
Baru saja perkataannya diutarakan keluar, mendadak terdengarlah suara seseorang yang amat kasar bertenaga menyambung kata-katanya.
"Dengan begitu bernyali mereka dari pihak perkumpulan Sin Beng Kauw berani mencari keonaran dan gara-gara di pantai pasir emas kami, ini hari kita pun tak boleh melepaskan mereka hidup-hidup, kita harus hancurkan mereka sehingga tak tersisa seorangpan. Liem Tou! Kenapa kau malah suruh mereka secara gegabah pergi dari sini?"
Perlahan Liem Tou menoleh ke belakang terlihatlah Auw Hay Ong dengan membawa serta ketiga orang anak muridnya sudah munculkan dirinya di tempat tersebut.
Liem Tou segera menggerakkan badannya berkelebat ke hadapan keempat orang siang cu yang menghadang di depan pintu.
"Hmmm... Baiklah!"
Serunya kemudian setelah mendengus dingin.
"Kini Enci Ie sudah terjatuh kembali ke tanganku, akan kupenuhi seluruh permintaanmu itu!"
Selesai berkata dengan tangan kiri masih mengempit tubuh Lie Siauw Ie, tampak sepasang pundaknya sedikit bergerak, tahu tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas dari pandangan mata.
Tetapi di dalam waktu yang amat singkat itu juga anggota anggota perkumpulan Sin Beng Kauw yang ada di luar istana Hay Kiem Tien maupun yang masih berada di dalam ruangan sudah kena tertotok jalan darahnya sehingga mereka berdiri mematung di tempat semula tak berkutik.
Kembali terlihat bayangan hijau berkelebat lewat, dengan gerakan yang amat ringan Liem Tou sudah muncul kembali di tempat semula, sinar matanya perlahan-lahan menyapu sekejap ke arah orang-orang itu.
Suatu bayangan kembali berkelebat di dalam benak pemuda tersebut, ia ber maksud segera berlalu dari sana Siapa tahu belum sempat dia orang menggerakkan kakinya, mendadak dari tengah udara berkumandang datang suara pekikan nyaring dari tiga ekor burung elang raksasa.
"Aduuuh celaka!"
Teriak Liem Tou agak tertahan.
Belum sempat ia mengambil suatu tindakan, ketiga ekor titik hitam yang ada di tengah udara laksana sambaran kilat cepatnya sudah menyambar ke arah bawah.
Kembali suara pekikan nyaring bergema memenuhi angkasa, kini ketiga titik hitam tersebut sudah menyambar lewat di luar pintu ruangan Auw Hay Kiem Tien tersebut.
Liem Tou yang memiliki ketajaman mata melebihi pandangan mata siapa pun, di dalam sekali pandang saja ia dapat melihat.
sewaktu ketiga ekor burung elang raksasa itu menyambar lewat secara ganas dan kejam sudah mematuk sekalian sepasang mata dari anggota-anggota perkumpulan Sin Beng Kauw yang tertotok sebagai santapan yang lezat.
Melihat kejadian ini diam-diam pemuda tersebut merasa agak berdesir juga hatinya, perasaan iba muncul dari dasar lubuk hatinya.
"Jikalau sampai terjadi perisiiwa semacam ini bukankah sama halnya aku Liem Tou sudah menerjunkan diri kembali ke dalam kancah pembunuhan yang keji??"
Diam-diam pikirnya. Perasaan iba begitu muncul dari dasar lubuk hatinya, pikiranpun ikut berubah, dengan cepat ia memungut tiga buah remukan batu kemudian disambitkan ke tengah udara.
"Binatang! Kau berani unjuk gigi di hadapanku??"
Bentaknya gusar.
Di dalam bangga burung terutama burung elang, sepasang matanya merupakan bagian badan yang paling tajam, apalagi ketiga ekor burung elang itu pun merupakan bekas binatang kesayangan Thian Pian Siauwcu, sudah tentu kedahsyatannya luar biasa.
Ketika Liem Tou mengayunkan ketiga butir kerikil tersebut ke arah tengah udara agaknya mereka sudah merasakan keadaan sangat berbahaya sambil berpekik nyaring sepasang sayapnya segera dikebaskan semakin kencang lagi untuk buru-buru melarikan diri ke tengah udara.
Ketika itulah diiringi suara gerakan kaki yang sangat keras Giok jie dengan menunggang di atas punggung sang kerbau dengan cepat sudah berlari mendekat.
"Giok djie!"
Bentak Liem Tou dengan cepat.
"Mengapa kau perintahkan binatang berbulu itu untuk melakukan pekerjaan yang demikian kejinya???"
Giok jie yang datang rada terlambat tidak mengetahui kejadian apa yang baru saja berlangsung, mendengar teguran tersebut ia jadi melengak dibuatnya.
"Ada urusan apa yang membuat kau bersikap begitu cemas?"
Tanyanya keheran-heranan.
"Apakah tak bisa kau jelaskan perlahan-lahan??"
"Coba kau lihat sendiri!"
Teriak Liem Tou sambil menuding ke arah anggota-anggota perkumpulan Sin Beng Kauw yang telah kehilangan sepasang matanya.
"Ke tiga ekor binatang berbulumu itu sudah memakan habis sepasang mata mereka!"
Giok jie memandang sekejap ke arah orang-orang itu, akhirnya ia tak dapat menahan rasa gelinya lagi sehingga tertawa cekikikan.
"Ketiga ekor burung elang itu sudah datang membantu kau bertempur, bukankah hal ini malah sangat kebetulan sekali??"
"Siapa yang ingin dibantu oleh mereka?"
Teriak pemuda tersebut sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah.
"Mereka sudah melakukan suatu pekerjaan yang sangat bagus buat diriku!"
"Tapi orang orang perkumpulan Sin Beng Kauw sudah sering melakukan kejahatan di manapun juga, sekalipun mati juga tidak perlu kita sayangkan!"
Teriak Giok jie pula dengan mendongkol.
"Giok jie ! Kaupun dapat mengucapkan kata kata semacam ini??"
Teriak Liem Tou semakin keras.
"Walaupun orang orang perkumpulan Sin Beng Kauw sudah sering melakukan kejahatan sehingga nama jeleknya terkenal di seluruh kolong langit, tetapi apakah kau kira di antara mereka tak ada seorang pun merupakan orang baik-baik?? Apalagi Wan moay masih berada di tangan mereka jikalau sampai pihak mereka mengetahui kejadian ini hari sehingga menggandeng erat diri Wan moay, bukankah hal ini sama halnya aku sudah turun tangan membinasakan diri Wan moay ...?"
Sebenarnya perkataan tersebut diutarakan keluar tanpa ia sadari sendiri, dan selama ini tak berpikir olehnya sampai persoalan tersebut, tetapi setelah diucapkan keluar mendadak ia merasakan hatinya seperti digodam dengan martil besar, kepalanya terasa pening matanya berkunang-kunang, hampir hampir ia jadi semaput saking cemasnya.
"Aduuuuh celaka, aduuuuh celaka ..."
Teriaknya kalang kabut.
"Adik Tou! Kau sudah mendatangkan bencana buat si gadis cantik pengangon kambing,"
Ketika itulah Pouw Jien Coei yang baru saja tiba di pantai pasir emas sudah berteriak kaget setelah melihat kejadian tersebut.
"Lalu sekarang bagaimana seharusnya aku berbuat??"
Keringat dingin mulai mengucur membasahi seluruh tubuh pemuda tersebut, nada ucapannya pun kedengaran nada gemetar."
Mendadak suatu pikiran bagus berkelebat di dalam benaknya, tak tertahan lagi ia berteriak keras.
"Bajingan-bajingan perkumpulan Sin Beng Kauw sudah terlalu banyak melakukan kejahatan, jangan sekali kali melepaskan seorangpun di antara mereka sehingga berhasil meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup-hidup, seluruhnya tangkap hidup mereka!"
Selesai berkata ia lantas serahkan badan Lie Siauw Ie yang berada di kempitan tangan kirinya ke tangan Pouw Jien Coei sang gadis berbaju hitam ini.
"Enci Jien Coei!"
Katanya halus.
"Cepat ajak Giok jie dan bawa enci Ie menuju ke kota Peng Tzuan, tetapi jangan berdiam lagi di rumah penginapan semula. Aku akan pergi membersihkan dulu perahu-perahu orang perkumpulan Sin Beng Kauw yang masih bergerak di tengah telaga Auw Hay!"
Selesai berkata laksana terbang saja ia melayang menuju telaga Auw Hay, kemudian dengan ilmu meringankan tubuhnya yang amat sempurna melayang di atas permukaan air untuk melakukan pemeriksaan.
Setiap bertemu dengan perahu ia tanyai jelas dulu asal-usulnya, bilamana mereka berasal dari perkumpulan Sin Beng Kauw maka sekali hantam perahu tersebut ditenggelamkan ke dasar telaga dan sedikit pun tidak meninggalkan jejak yang mencurigakan.
Auw Hay walaupun mengunakan nama Samudra tetapi luasnya tidak lebih hanya mirip dengan sebuah telaga.
Kurang lebih dua jam kemudian Liem Tou sudah mengitari seluruh telaga Auw Hay untuk melakukan pembersihan, boleh dikata pada saat ini sudah tak terdapat sebuah perahu milik perkumpulan Sin Beng Kauw pun yang lolos dari pemeriksaannya.
Sewaktu ia kembali lagi ke pantai pasir emas, seluruh anggota dari perkumpulan Sin beng Kauw telah diikat kencang-kencang, tak seorang pun yang terkecuali.
Auw Hay Ong yang melihat munculnya Liem Tou di tempat itu segera pentang mulut lebar-lebar tertawa terbahak-bahak.
"Haaa..haaa..haa..pada mulanya aku anggap pihak perkumpulan Sin Beng Kauw benar-benar memiliki kekuatan untuk mendobrak sungai menumpahkan air samudra, tidak disangka mereka semua tidak lebih hanya manusia gentong nasi belaka, di tanganmu boleh dikata mereka mirip rumput-rumput liar yang tumbuh di atas permukaan tanah."
Dalam hati Liem Tou pada saat ini hanya terus menerus menguatirkan bila perkumpulan Sin Beng Kauw menerima kabar bahwa pecundangnya orang-orang mereka di pantai pasir emas kali ini adalah tercipta karena tangannya, mendengar perkataan tersebut ia tertawa dingin tiada hentinya.
"Heee.. heee ..si tua she Ciang, untuk sementara waktu lebih baik kau orang jangan bicara besar dulu,"
Tegurnya dengan nada yang amat dingin.
"Perkumpulan Sin Beng Kauw bisa merajai seluruh dunia Kang ouw bahkan menguasai pula hampir seluruh daerah yang ada di daratan Tionggoan, sudah tentu dari pihak mereka memiliki suatu senjata yarg sangat lihay, cukup dengan peristiwa yang baru saja terjadi, sudah cukup dianggap suatu kejadian besar, anak buah dari partai Kiem Tien paymu pun sudah banyak yang menemui ajalnya maupun terluka, jika lain kali mereka melancarkan serangan kembali, aku takut kau si tua she Ciang tak bakal sanggup menahan datangnya serangan mereka itu!"
Pada hari biasa Auw Hay Ong memang terlalu mementingkan mencari kesenangan diri sendiri daripada memperhatikan mutu serta kelihayan dari ilmu silat para anak buahnya.
Mendengar perkataan tersebut, air mukanya kontan saja berubah jadi merah padam kemudian perlahan-lahan berubah jadi pucat pasi.
Untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
"Hey orang tua she Ciang, aku ingin bertanya kepadamu,"
Sambung Liem Tou lebih lanjut.
"Pernahkah kau orang merasakan kelihayan dari ilmu pedang hitam yang berada di tangan Boe Beng Tok-su itu Kauwcu dari perkumpulan Sin Beng Kauw?? Bukannya aku Liem Tou terlalu meniup/besarkan urusan orang lain, terus terang saja aku beritahu kepadamu, dari pihak Partai pasir Emas kecuali kau seorang yang mungkin berhasil menahan serangannya selama beberapa waktu, aku rasa tak seorang pun di antara anak buahmu yang bisa menandingi dirinya."
Padahal apa yang dikatakan Liem Tou barusan bahwa Auw Hay Ong bisa bertahan beberapa waktu pun tidak lain dikarenakan ia ingin meninggalkan sedikit muka buat si orang tua tersebut, sehingga sengaja ia mengucapkan kata-kata begitu.
Perkataan tersebut dasarnya memang bukan omong kosong belaka, dalam hati Auw Hay Ong sendiri pun sudah paham.
Perlahan-lahan paras muka Auw Hay Ong yang sudah berubah jadi pucat kini berubah jadi hijau membesi.
"Liem Tou!"
Teriaknya gusar.
"Apa kau kira pihak Sah Kiem Than kami tak sanggup untuk menahan suatu penyerbuan mereka??"
Tetapi, walaupun wajahnya menunjukkan dalam hati lagi gusar dan wajah dikerutkan kencang-kencang, tetapi dari keningnya keringat mengucur terus dengan amat derasnya.
Sekali pandang saja Liem Tou lantas tahu bila orang tua itu sengaja hendak memperlihatkan kekerasan hatinya, karena itu sambil tertawa tawar ia melirik sekejap ke arahnya.
Mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
"Apa kau sungguh-sungguh mengira dari pihak pantai Sah Kiem Than kami benar-benar tak ada manusia yang becus??"
Kembali Auw Hay Ong berseru ketika dilihatnya Liem Tou sama sekali tidak menjawab.
Melihat sikap si orang tua yang tak mau tahu kekuatan sendiri akhirnya Liem Tou sendiri pun tak dapat menahan sabar lagi.
"Jikalau di dalam pantai Sah Kiem Than kalian benar-benar bersembunyi macan dan memelihara naga, kenapa kalian bisa membiarkan orang-orang dari perkumpulan Sin Beng Kauw menyerbu masuk hingga ke dalam istana Kiem Tien kalian??"
Ejeknya dingin.
Beberapa patah perkataan dari Liem Tou barusan ini benar-benar mirip sebilah pedang tajam yang langsung menusuk ke ulu hati Auw Hay Ong, seluruh badannya kelihatan gemetar sangat keras.
"Liem Tou!"
Mendadak bentaknya marah.
"Tidak malu kau disebut seorang lelaki sejati, perkataanmu benar-benar sangat tajam !"
Sambil putar badan telapak tangannya laksana sambaran kilat mengirim satu pukulan dahsyat menghajar tubuh seorang anggota perkumpulan Sin Beng Kauw yang berdiri di dekatnya sehingga terpental sejauh tiga kaki lebih dan menemui ajalnya seketika itu juga.
Diikuti telapak kirinya segera diputar lalu diayunkan ke depan siap membabat mati lagi orang kedua.
Mendadak Liem Tou menerjang maju satu langkah ke depan, kelima jarinya dengan kencang mencengkeram pergelangan tangan Kirinya.
"Hey si tua she Ciang, melakukan pembunuhan terhadap seorang manusia yang sama sekali tak bertenaga untuk melawan apakah merupakan suatu tindakan dari seorang lelaki sejati??"
Tegurnya ketus. Sembari berkata tangannya diayun ke belakang sehingga membuat tubuh Auw Hay Ong tak kuasa bardiri tegak lagi dan mundur beberapa langkah ke belakang dengan sempoyongan.
"Liem Tou! kau ingin berbuat apa??"
Teriaknya gusar.
"Melarang kau berbuat tindakan pengecut yang sangat memalukan ini, kalau tidak..."
Teriak pemuda itu pula dengan nada marah.
"Kalau tidak, kau ingin berbuat apa???"
Potong Auw Hay Ong tidak menanti perkataannya selesai. Dari sepasang mata Liem Tou memancar cahaya berkilat, ia menyapu sekejap ke arahnya.
"Kalau tidak..Hmm!l Enci Ie sudah lolos dari cengkeramanmu, aku pun tidak perlu ikut serta mencampuri urusanmu. Kematian orang-orang perkumpulan Sin Beng Kauw di atas pantai Sah Kiem Than kalian. Apakah itu merupakan dendam maupun sakit hati aku rasa Boe Beng Tok Su bisa datang sendiri kemari untuk membikin perhitungan dengan kau Ouw Hay Ong Ciang Cau yang namanya sudah terkenal di seluruh kolong langit!"
Mendengar ejekan tersebut saking khekinya sepasang mata Auw Hay Ong membalik ia jadi mendongkol dan tak dapat mengucapkau sepatah kat apun, tetapi salah satu dari keempat orang anak muridnya yang berdiri di samping sudah menyambung.
"Kematian serta terlukanya orang-orang perkumpulan Sin Beng Kauw di atas Pantai Sah Kiem Than semuanya tidak lain adalah hasil ciptaan kau orang, bagaimana mungkin sekarang kau ingin melepaskan diri dari tanggung jawab ini? Jangan dikata kami semua melihat kejadian ini dengan mata kepala sendiri sekalipun anggota perkumpulan Sin Beng Kauw yang belum menemui ajalnyapun bisa mendengar bahwa perbuatan ini tidak lain dilakukan oleh kau Liem Tou sebagai seorang jagoan Bu lim yang paling terkenal di kolong langit pada saat ini. Apalagi dari pihak kami partai Kiem Tien Pay pun tidak memiliki bukti-bukti yang tak bisa dipungkiri ?"
Perkataan ini terang-terangan sedang menjatuhkan seluruh tanggung jawab dari pihak partai Kiem Tien Pay ke atas tubuh Liem Tou, tindakan ini benar-benar sangat telengas.
Liem Tou rada melengak juga dibuatnya, setelah termenung beberapa saat lamanya akhirnya ia tertawa dingin, tetapi paras muka pun perlahan-lahan berubah rada halus dan ramah.
"Ehmmm . tidak malu kau disebut anak murid kesayangan dari partai Kiem Tien Pay,"
Katanya perlahan.
"Maaf ... maaf ... ! Tetapi aku ingin menanyakan satu hal kepadamu. coba kau nilai kepandaian silat siapa yang jauh lebih tinggi antara Boe Beng Tok su dengan cayhe...??"
Begitu ucapan tersebut selesai diucapkan air mukanya mendadak berubah jadi dingin kaku membuat setiap orang merasa rada jeri.
Seluruh anggota Kiem Tien Pay dari Auw Hay Ong sampai tingkat yang tertawa setelah mendengar perkataan itu pada merasakan hatinya tergetar keras, air muka mereka pun pada saat yang bersamaan berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat.
Liem Tou mendengus dingin, kembali ujarnya dengan nada yang sangat dingin.
"Kau berani!?"
"Heee ... heee ... heee ... di dalam pandangan kalian mungkin akan menganggap partai Sah Kiem Than sebagai sarang naga gua harimau tetapi di mataku sama sekali tidak berharga. Terus terang aku beritahu kepada kalian kecuali aku Liem Tou seorang tak akan ada orang yang bisa menguasahi diri Boe Beng Tok su lagi. Jika demikian kalian tidak ingin orang-orang perkumpulan Sin Beng Kauw menguasai daerah sekitar tempat kekuasaan kalian, maka kamu semua harus mendengarkan syaratku."
"Pertama seluruh anggota perkumpulan Sin Beng Kauw yang tertawan ini hari dilarang dilepaskan barang seorang pun, tetapi dilarang pula melukai mereka. Kedua, cepat-cepatlah menutup seluruh hubungan antara daerah ini dengan daerah-daerah lain di seluruh daratan Tionggoan sehingga berita ini tidak sampai bocor. Ketiga, seluruh anggota Partai Kiem Tien Pay harus dikerahkan untuk menggeledah dan menangkapi seluruh anggota perkumpulan Sin Beng Kauw yang masih tersisa di sekitar daerah Cian Tian ini. Keempat, seluruh perbuatan dari aku Liem Tou pada ini hari di pantai Sah Kiem Than bilamana sampai terbocor di tempat luaran maka aku akan mencari kalian orang-orang dari partai Kiem Tien Pay untuk ambil alih tanggung jawab ini."
Selesai berkata ia lantas enjotkan badannya mencelat setinggi sepuluh kaki tengah udara, sembari bersalto pemuda itu menjura dari tengah udara.
"Ciang Loo Tauw Ci, lakukanlah seluruh perintahku! Kalau tidak maka kalian tak tertolong lagi,"
Teriaknya.
Ketika kakinya menginjak permukaan tanah kembali ia lantas berkelebat ke depan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sempurna.
Tampaklah bayangan hijau berkelebat, tahu-tahu Liem Tou sudah berada sepuluh kaki jauhnya dari tempat semula kemudian lenyap tak berbekas di balik pepohonan yang lebat.
Lama sekali Auw Hay Ong berdiri termangu-mangu, akhirnya ia menghela napas panjang dan melakukan seluruh pekerjaan sesuai dengan apa yang diperintahkan Liem Tou.
Sepeninggalnya Liem Tou dari pantai Sah Kiem Than, karena selalu teringat akan keselamatan Lie Siauw Ie buru-buru ia berkelebat menuju ke kota Peng Cho.
Ia tahu Pouw Jien Coei adalah seorang yang cermat dan sangat hati-hati di dalam setiap tindakannya, ia pasti mendengarkan seluruh nasehatnya untuk berpindah ke rumah penginapan yang lain.
Ia mengambil keputusan ini pada mulanya tidak lain ingin menghindarkan diri dari pengamatan orang orang perkumpulan Sin Beng Kauw, tetapi ketika teringat bahwa Giok jie membawa serta kerbaunya hal ini bagaimanapun masih sangat menyolok, maka dalam hati ia mulai merasa bila tindakannya ini hanya membuang waktu dan tenaga saja.
Teringat akan persoalan tersebut, hatinya terasa semakin cemas, tidak perduli lagi pada waktu itu masih siang hari dengan cepat pemuda tersebut berkelebat dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya menuju ke kota Peng cho.
Setiapkali ia bertemu dengan orang tentu tanyanya.
"Apakah kau sudah melihat seorang gadis penunggang kerbau besar lewati tempat ini?"
Akhirnya ada seseorang yang memberi petunjuk kepadanya bahwa gadis semacam itu sudah berdiam di sebuah rumah penginapan yang terbesar di kota Peng Cho.
Tanpa buang waktu lagi pemuda tersebut segera berkelebat menuju ke rumah penginapan yang ditunjuk, tetapi belum sempat ia tiba di tempat tujuan mendadak tampaklah tiga orang pengemis tua sudah menghadang di depan pintu masuk.
Di atas tanah menggeletaknya dua orang pelayan rumah penginapan yang sedang menjerit seperti babi hendak disembelih.
Sedang di samping kalangan berdiri pula tujuh, delapan orang pelayan yang sedang berteriak-teriak sambil menggosok-gosok kepalannya, di samping itu sang Ciangkwee dengan tiada hentinya menjura dan membongkok memberi hormat kepada ketiga orang pengemis tua itu.
Suasana di sekitar sana amat ramai, banyak orang jalan yang sudah berhenti untuk melihat keramaian.
Diam-diam Liem Tou berjalan mendekati tempat tersebut kemudian menyelinap ke belakang tubuh ketiga orang pengemis tua itu, selama ini ia tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Terdengarlah pada waktu itu sang Ciangkwee sambil membungkuk menjura ujarnya dengan wajah penuh senyuman paksa.
"Di rumah menggantungkan diri dengan orang tua, di luar bergantung kawan, siapa yang ingin selalu miskin? Jikalau kalian bertiga menginginkan uang, rumah penginapan kami akan memberikan ala kadarnya jika ingin makan toko kami pun akan mengundang kalian bertiga untuk bersantap dengan segala hormat, tetapi kalian tidak suka uang tidak mau bersantap, lalu apa yang kalian inginkan?? Hal ini benar-benar membuat orang jadi kebingungan setengah mati. Ya.. ya... sekalian sebenarnya ingin apa?? Asalkan toko kami sanggup untuk melaksanakan tentu akan kami kerjakan secepatnya". Ketiga orang pengemis tua itu mendengus dingin, sepatah kata pun tidak menjawab.
"Hajar...ayo kita hajar saja mereka?"
Para pelayan rumah penginapan yang berjumlah tujuh, delapan orang itu kembali berteriak dan gembar-gembor keras.
"Pengemis pengemis yang tidak tahu malu bangsat busuk berani benar kalian bertindak kasar, ayoh kita hajar mereka, kita gebah mereka pergi. Kita hajar anjing-anjing terkutuk ini..."
Tujuh, delapan orang pelayan rumah penginapan itu mendadak bersama-sama merubung ke depan lalu menghantam secara serabutan ke atas tubuh ketiga orang pengemis tua tersebut.
Liem Tou yang melihat kejadian ini dalam sekali pandangan saja sudah mengerti bila ketiga orang pengemis tua itu memiliki kepandaian silat yang sangat lihay, ketujuh, delapan orang pelayan tersebut tentu akan menderita rugi yang amat besar.
Ternyata dugaannya sedikitpun tidak salah, sewaktu gerombolan pelayan tersebut hampir mendekati tubuh ketiga orang pengemis tua itu, entah mereka telah menggunakan cara bagaimana, tahu-tahu dua orang pelayan di antara rombongan tersebut sudah menjerit keras lalu jatuh terjengkang ke atas tanah.
Agaknya sang Ciangkwee sudah merasa bila kedatangan ketiga orang pengemis tua itu mengandung maksud tidak baik, buru-buru ia membentak keras.
"Hey... kalian cepat mundur, jangan berlaku kurang ajar!"
Sisanya lima, enam orang pelayan yang melihat kelihayan dari ketiga orang pengemis tersebut, saat ini nyalinya boleh dikata sudah pecah.
Buru-buru mereka mereka mengundurkan diri ke dalam rumah.
Pada saat itulah dari dalam rumah penginapan berkumandang keluar suara dengusan kerbau yang sangat berat.
Mendengar suara itu mendadak ketiga orang pengemis tua itu memisahkan diri ke samping, badan yang semula berdiri berbareng mendadak sudah berpencar dengan mengambil posisi segi tiga, masing-masing terjarak lima langkah dari kawannya.
Dua orang berkelebat ke samping pintu rumah penginapan sedang yang satu tetap berdiri di tempat semula, air muka mereka mendadak berubah jadi sangat tegang, sepasang mata molotot lebar-lebar diarahkan ke dalam rumah dengan terbelalak dan tanpa berkedip sedikit pun.
Melihat sikap serta perubahan sikap dari ketiga orang pengemis tua itu.
Liem Tou lantas mengerti bila kedatangan mereka justeru hendak mencari dirinya.
Hal ini membuktikan pila jika mereka bertiga bukan lain adalah""5 anggota per kumpulan Sin Beng Kauw "
I Selama ini Liem Tou beradaa diantara orang orang lain yang sedang menonton keramaian, oleh karena itu ketiga, orang p"e ngemis tua tersebut sama sekali tidak nam pak dirinya ada disana.
Mendadak suatu ingatan berkelebat didalam benak pemuda tersebut ia merasa ke tiga orang pengemis tua ini rasariya sangat dikenal olehnya hanya saja un/tuk "beberapa saat tak teringat dimanakah iai pernah ber temu ..Tetapi seperminum teh kemudian ia sudah tersadar kembali.
Aaakh .
kiranya lagi lagi ketiga manusia busuk itu"
Pikirnya dalam hati.
Tem po dulu aku sudah memberikan, satu jalan hidup buat mereka dan melepaskan mereka pergi, siapa sangka ini hari mereka bertiga tidak tahu baik buruk dan datang lagi cari satroni de gan aku orang , Hmmm !
Ka li ini aku tak akan bersikap sungkan sung kau lagi teihadap dirinya"
Baru saja ia berpikir sampai disitu men dadak tambaklah kerbaunya perlahan lahan sedang berjalan keluar dari dalam rumah peng napajj tersebut Kembali Liem Tou berpikir dalam hatinya.
"Kalau memang mereka ada maksud jahat terhadap kerbauku, biarlah aku suruh mereka merasakan bagaimanakah kelihayan dari kerbauku ini!"
Tetapi baru saja pikiran ini berkelebat mendadak terdengarlah si pengemis tua yang ada di tengah pintu sudah menggapai memberi tanda.
"Kalau memang ia ada disini, mari kita cepat pergi dari sini,"
Buru-buru serunya keras. Mendengar perkataan itu, Liem Tou tak bisa menahan sabar lagi, ia lantas meloncat menampakkan diri.
"Tamu-tamu terhormat sudah pada berkunjung datang kenapa sebelum masuk pintu sudah ingin pergi??"
Sapanya sambil tertawa.
Sewaktu melihat munculnya Liem Tou di sana, ketiga orang pengemis tua itu tak bisa membendung rasa kaget di hatinya lagi, mereka menjerit tertahan.
Si pengemis tua yang berdiri di depan pintu tanpa banyak cakap lagi, tergesa-gesa segera putar badan lalu melarikan diri terbirit-birit dari sana.
Melihat kejadian itu Liem Tou tertawa terbahak-bahak.
"Haaa haaa..haaa..kalau sudah datang kenapa tidak masuk sebaliknya malah ingin pergi??"
Jengeknya keras.
Air mukanya mendadak berubah jadi sangat dingin, jari tangannya laksana sambaran kilat menotok ke arah sang pengemis yang ada di tengah pintu rumah penginapan itu kemudian tubuhnya berkelebat cepat ke arah depan mengejar sang pengemis yang ada di sebelah kanan, setelah itu bergantian ia mengejar pengemis yang ada di sebelah kiri.
Tiga orang pengemis tua tersebut tak seorangpun yang berhasil meloloskan diri dari cengkeramannya.
Setelah menotok tubuh mereka bertiga bagaikan burung elang yang mengangkat anak ayam saja dengan sangat ringan ia membawa mereka ke depan rumah penginapan kemudian membantingnya ke atas tanah.
"Tempo dulu aku sudah ampuni satu kali diri kalian, tetapi kamu semua masih juga tidak tahu malu. Ini hari untuk kedua kalinya terjatuh kembali ke tanganku. Kali ini aku tidak akan mengijinkan kalian berlalu lagi dari sini!"
Sembari berkata masing-masing ia menginjak-injak dua kali di atas tubuh ketiga orang itu, terdengar suara gemeretak yang nyaring bergema memenuhi angkasa, suara tersekat mirip tulang-tulang yang retak.
Seketika itu juga membuat ketiga orang itu harus meringis-ringis menahan rasa sakit di dalam badannya.
Kembali Liem Tou tertawa dingin tiada hentinya kali ini ia menginjak ketiga orang itu semakin keras lagi.
Ketiga orang pengemis tua itu tak terasa berteriak walaupun rasa sakit di badan tak tertahan, akhirnya hanya tubuh mereka gemetar sangat keras dan tak berkutik lagi di atas tanah.
Liem Tou selama ini tidak memandang sebelah mata pun terhadap mereka, kepada sang kerbau yang baru saja berjalan ke luar bentaknya keras.
"Kenapa kau ikut keluar?? Ayo-cepat kembali!"
Tidak banyak membuang waktu lagi, tubuhnya segera berkelebat masuk ke dalam ruangan rumah penginapan tersebut.
"Enci Jien Coei, kau dimana??"
Teriaknya lirih.
"Adik Tou, kau sudah kembali?? Cepat ke mari aku berada di sini!"
Teriak Pouw Jien Coei dari dalam sebuah kamar.
"Adik Ie entah sudah ditotok orang dengan cara menotok jalan darah macam apa, seluruh jalan darah pentingnya dikuasahi, kesadaran pun belum juga pulih, adik Tou, kedatanganmu sangat kebetulan sekali, ayoh cepat masuk!"
Mendengar perkataan itu Liem Tou segera merasakan hatinya jadi tegang, dengan langkah yang cepat ia langsung menerobos masak ke dalam kamar berasalnya suara tersebut.
Di dalam sebuah kamar yang tenang di atas sebuah pembaringan kayu yang besar berbaringlah Lie Siauw Ie.
Pouw Jien Coei serta Giok jie duduk termenung di samping pembaringan.
Setelah masuk ke dalam kamar terburu-buru Liem Tou menerjang ke sisi tubuh Lie Siauw Ie untuk mengadakan pemeriksaan.
Tampaklah napasnya teratur, tetapi kesadaran belum juga mau pulih seperti sedia kala.
"Enci Jien Coei!"
Seru Liem Tou kemudian setelah termenung beberapa saat lamanya.
"Menurut pendapatmu apa yang telah menyebabkan enci Ie jadi begini?"
"Ada orang berkata orang orang perkumpulan Sin Beng Kauw paling pandai menggunakan obat beracun, mungkinkah enci Ie sudah keracunan??..."
Kata Pouw Jien Coei setelah melirik sekejap ke arah pemuda tersebut.
"Aku rasa hal ini tak mungkin terjadi!"
Perlahan-lahan Liem Tou menggeleng.
"Jikalau perkumpulan Sin Beng Kauw ada maksud membinasakan enci Ie rasanya mereka tak akan membiarkan dirinya hidup sampai ini hari. Menurut pendapatku mereka hanya ingin melarikan enci Ie saja."
Berbicara sampai disini, mendadak ia teringat akan sesuatu, buru-buru tolehnya ke arah Giok jie.
"Kau pergilah mengambil sebaskom air dingin!"
Giok jie mengiakan, dengan cepat ia berlalu. Liem Tou lantas menghisap semulut air kemudian disemprotkan ke atas wajah Lie Siauw Ie sebanyak tiga kali.
"Adik Tou!"
Pouw Jien Coei yang ada di sisinya segera menegur dengan alis yang dikerutkan rapat-rapat.
"Kau kira Ie moay-moay sudah terbius oleh obat pemabuk yang disebabkan orang-orang perkumpulan Sin Beng Kauw??..."
Liem Tou mengangguk perlahan sepasang matanya memandang wajah Lie Siauw Ie tajam-tajam sedang mulutnya tetap membungkam.
Pouw Jien Coei mengerti pemuda ini lagi cemas menantikan kesadaran dari Lie Siauw Ie, oleh sebab itu iapun tidak bertanya kembali.
Beberapa saat kemudian ternyata Lie Siauw Ie benar-benar sudah membuka matanya kembali.
Melihat kejadian itu Liem Tou jadi kegirangan setengah mati, dengan cepat ia memeluk tubuhnya kencang-kencang.
"Enci Ie! Enci Ie!"
Teriaknya berulang kali. Sepasang biji mata Lie Siauw Ie tampak bergerak-gerak, mendadak dengan perasaan tak percaya ia memejamkan kembali matanya.
"Aku sudah mati... atau mungkin sedang bermimpi??? aku benar-benar sudah mati??"
Gumamnya seorang diri.
"Enci Ie, kau tidak mati, kau masih hidup,"
Teriak Liem Tou dengan suara yang keras.
"Adik Ie ! Kau sungguh-sungguh belum mati?"
Sela Pouw Jien Coei pula dari samping.
"Kau tidak lebih hanya dibuat mabok oleh obat bius kaum bajingan! Sekarang adik Tou sudah menolong kau lolos dari cengkeraman musuh, orang yang memeluk dirimu itu bukankah adik Tou??"
Mendengar perkataan tersebut Lie Siauw Ie belum juga mau membuka sepasang matanya tetapi sepasang tangannya yang ramping putih serta halus itu perlahan-lahan meraba ke atas wajah pemuda tangannya rada gemetar.
"Kau adalah adik Tou??"
Tanyanya perlahan.
"Ooouw ... adik Tou."
Perkataan selanjutnya belum sempat diutarakan, Liem Tou sudah menyambung dengan cepat.
"Benar Enci Ie. Aku adalah Liem Tou! Aaakh ...! Aku sudah mencelakai dirimu sehingga harus dipenjara selama satu tahun lamanya, semua ini akulah yang salah, harap enci Ie suka memaafkan kesalahanku ini."
Perlahan-lahan dari kelopak mata Lie Siauw Ie mengucur keluar titik-titik air mata, tetapi sepasang matanya belum juga dibuka.
"Kau tidak usah mengungkap kembali persoalan ini, demi kau aku rela mati cuma harus menderita sedikit siksaan karena terkurung, apa yang perlu dikasihani??? Hanya saja suhu dia orang tua..."
Sampai kata-kata yang terakhir ia tak sanggup untuk melanjutkan kembali, air mata mengucur semakin deras.
Liem Tou yang mendengar kekasihnya mengungkap kembali tentang Sie Loojie.
hatipun ikut terasa kecut, air mata mengucur keluar membasahi pipinya.
"Enci Ie! Kau jangan bersedih hati lagi,"
Serunya tersengguk-sengguk."Asalkan aku Liem Tou masih bernyawa tentu akan kubalaskan dendam sakit hati dari dia orang tua sehingga arwahnya bisa beristirahat dengan tenang di alam baka.
Kau cepatlah membuka matamu, coba kau lihat Enci Coei serta Giok jie pun ada di sini semua!"
Setelah mendengar perkataan tersebut perlahan-lahan Lie Siauw Ie baru membuka sepasang nyatanya dan memandang ke arah Pouw Jin Cui serta Giok jie sambil tertawa.
Bekas air mata masih belum mengering di atas pipinya, senyumannya masih disertai dengan air mata ini membuat setiap orang yang melihatnya merasa tertarik.
"Ih Moay-mopy, aku tidak bohongi dirimu bukan?"
Kata Pouw Jien Coei sambil tertawa.
"Bukankah aku bilang adik Tou pasti datang dan kini ia benar benar sudah datang ?"
Kembali Lie Siauw Ie tertawa, tetapi mendadak air mukanya berubah memberat.
"Walaupun adik Tou sudah kembali tetapi ia sudah bersumpah tidak akan turun tangan melukai orang lagi,"
Katanya sedih.
"Bagaimana kita bisa menuntut balas buat sakit hati suhu yang sedalam lautan itu ?"
Buru-buru Liem Tou menceritakan kisahnya dan memberi penjelasan sekitar pengalamannya selama ini, sehabis mendengar psnjelasan tersebut dari rasa murung dan sedih kini Lie Siauw Ie jadi girang.
"Ih Moay moay!"
Mengambil kesempatan yang sangat baik inilah Pouw Jien Coei ia menggoda sambil tertawa.
"kenapa kau orang terus menerus bersandar di dalam pe1ukan adik Tou dan tidak juga mau turun? Apakah merasa terlalu enak dan nyaman???"
Mendengar godaan tersebut kontan saja paras muka Lie Siauw Ie berubah jadi merah padam,dengan cepat ia meloncat bangun.
"Enci Coei, kau sungguh pandai menggoda,"
Teriaknya manja.
Dengan cepat badannya menerobos masuk dan bersembunyi di balik selimut di atas pembaringannya.
Dengan geli, Pouw Jien Coei serta Giok jie tertawa cekikikan tiada hentinya.
Sedang Liem Tou mau tertawa sungkan tidak tertawa pun merasa tidak enak.
Mendadak satu akal cerdik berkelebat di dalam benaknya.
"Eeei..kalian jangan bergurau terus menerus,"
Tegurnya dengan suara yang keras, saat ini urusan besar sudah berada di ambang pintu, Wan moay serta Hong Susiok pun belum tertolong semua, bagaimana kalian bisa begitu girang untuk bergurau dan tertawa cekikikan dengan demikian gembiranya???"
Perkataannya ini ternyata benar-benar merupakan sebuah obat yang sangat manjur.
Begitu ia ucapkan perkataan tersebut mereka bertiga segera menarik kembali senyuman di ujung bibirnya dan mendengarkan seluruh perkataan Liem Tou dengan serius.
"Perkampungan Ie Hee San Cung di atas gunung Ha Mo San sudah dibakar orang sehingga tinggal puing-puing belaka. Kini kita tak punya rumah lagi untuk didiami,"
Sambung Liem Tou lebih lanjut.
Sebenarnya kita bisa berangkat bersama-sama untuk pergi menolong adik Wan serta Hong Susiok tetapi aku pikir, jika jumlah kita terlalu banyak malah akan mendatangkan kerepotan saja karena itu aku pikir jauh lebih baik jika diriku berangkat seorang diri..."
Mendengar perkataan dari pemuda ini air muka mereka bertiga segera berubah hebat, tetapi belum sempat mereka mengucapkan sesuatu Liem Tou sudah menyambung kembali kata-katanya.
"Kalian jangan keburu murung untuk kalian semua pun selama ini bukannya harus menganggur, banyak urusan penting masih kalian harus laksanakan. Perkampungan Ie Hee San Cung pasti akan aku bangkitkan kembali sepuluh kali lipat lebih megah dari keadaannya tempo dulu, bagaimana kalau menurut pendapat kalian bertiga ??"
Pouw Jien Coei serta Lie Siauw Ie tetap bungkam tidak memberi konentar sebaliknya Giok jie sudah mencibirnya sambil menyindir tajam.
"Kau ingin mengandalkan kita orang tiga kepala enam lengan untuk membangun sebuah perkampungan Ie Hee San Cung yang jauh lebih megah sepuluh kali lipat dari keadaan tempo dulu ??"
"Sudah tentu tidak, jika hanya mengandalkan tenaga kalian bertiga saja tak bakal berhasil membangun suatu perkampungan yang begitu megah, jangan dikata cuma kalian bertiga, sekalipun tiga puluh orangpun jangan harap bisa jadi. Tetapi aku pikir kalian kan bisa mencari seratus atau seribu orang untuk bantu membangun perkampungan tersebut, bukan begitu??"
"Ehmmm ..hal ini sudah tentu,"
Kata Giok jie mengangguk.
"Tetapi dari mana kah kita bisa mempersiapkan seratus sampai seribu orang membantu?"
"Ada uang untuk berbuat apa saja bisa, apalagi hanya mencari manusia untuk bekerja, apa kau takut tak berhasil memperoleh orang?"
Liem Tou tertawa.
"Di dalam sebuah sumur kuno di belakang rumah raksasa yang tak berpenghuni dilembah sempit gunung Wu san, aku mempunyai sejumlah harta yang tak bernilai banyaknya, kalian bertiga boleh pergi kesana untuk mengambilnya sebagai biaya pembangunan perkampungan Ie Hee San Cung. Tetapi kalian harus bersiap-siap dan waspada terhadap gangguan-gangguan anggota perkumpulan Sin Beng Kauw."
Berbicara sampai disitu mendadak Lim-Tou bangun berdiri, kemudian dengan nada serius tambahnya .
"Anggota perkumpulan Sin Beng Kauw yang berada di pantai Sah Kiem Than boleh sudah hancur seluruhnya, pukulan yang sangat berat ini, mungkin akan mendatangkan bencana bagi adik Wan, keadaan pada saat ini sangat mendesak, aku harus buru-buru berangkat!"
Lim Siauw Ie yang baru saja berkumpul dengan Liem Tou, kini secara mendadak dia orang pergi kembali tak terasa lagi ditundukkan kepalanya rendah-rendah, jelas hatinya merasa amat sedih sekali.
Sudah tentu Pouw Jien Coei yang ada di samping mereka bisa melihat jelas seluruh kejadian ini, mendadak kepada Liem Tou serunya.
Jilid 47
"SETAHUN SUDAH LEWAT, apakah tak bisa berdiam sehari saja di sini??? Apalagi kau dengan Ie moay pun sudah merupakan sepasang suami istri!"
Maksud dari perkataan ini sangat mendalam, Liem Tou serta Lie Siauw Ie yang merupakan manusia manusia cerdik sudah tentu mengerti juga akan maksud dari perkataan itu, saking malunya paras muka mereka berdua berubah jadi merah padam, kepalanya ditundukkan rendah-rendah sedang Lie Siauw Ie lebih malu lagi, boleh dikata untuk beberapa waktu ia tak berani mendongakkan kepalanya.
Bagaimanapun juga Liem Ton adalah seorang lelaki, dengan cepat ia berhasil mengatasi perasaan malu tersebut.
"Menolong orang bagaikan menolong api,"
Serunya kemudian dengan suara yang rendah.
"Dalam keadaan seperti ini kita tak boleh membuang banyak waktu lagi. Aku pergi dulu! Enci Ie, aku pergi dulu!"
Setelah mengambil keputusan dalam hatinya, tanpa ragu-ragu lagi tubuhnya segera berkelebat keluar.
Memang sejak tadi sang kerbau sudah ada di pintu luar, hal ini membuat gerakan pemuda tersebut jadi jauh lebih cepat lagi, dengan sebat ia meloncat naik ke atas punggungnya lalu berseru.
"Gouw koko, ayoh cepat lari!"
Sang kerbau menggoyangkan ekornya, di tengah suara dengusan berat dengan cepat ia berlari ke depan menerjang keluar dari dalam rumah penginapan tersebut.
Sepeninggalannya dari rumah penginapan, pemuda tersebut langsung menuju ke pantai Sah Kiem Than.
Orang orang Kiem Tien pay yang melihat Liem Tou muncul kembali di sana rata-rata pada memandang kearahnya dengan perasaan terperanjat sedang dalam hati mulai menduga peristiwa apa gerangan yang telah terjadi.
Sesampainya di pantai Sah Kiem Than, Liem Toa sama sekali tidak turun dari atas punggung kerbaunya, ia langsung menerjang masuk ke dalam ruangan besar.
Auw Hay Ong yang menerima laporan buru-buru mengejar datang, tetapi sewaktu melihat Liem Tou masih juga duduk di atas punggung kerbaunya walaupun dalam hati merasa agak tidak puas atas sikapnya yang begitu sombong dan tidak memandang sebelah mata pun terhadap dirinya, tetapi ia tak berani berbuat apa-apa.
"Tayhiap kembali lagi kemari, entah ada urusan penting apa yang hendak disampaikan??"
Buru-buru tanyanya.
"Ehmmm ...! Keempat orang siangcu dari perkumpulan Sin Beng Kauw sudah berhasil kita tawan. Entah dapatkah kau siorang tua she Ciang mengeluarkan orang itu untuk aku periksa sebentar??"
"Sudah tentu ... sudah tentu . keempat orang Siangcu itu adalah Tayhiap yang tangkap tentu saja kau berhak untuk periksa diri mereka. Tayhiap, harap kau tunggu sebentar, biarlah aku perintahkan orang untuk seret mereka datang berempat. Cuma. selama ini Tayhiap terus menerus memanggil aku dengan sebutan si orang tua she Ciang, bukankah hal ini terlalu memandang asing diriku? Bila Loohu memanggil Tayhiap dengan sebutan Loote rasanya tidak mengapa bukan?"
"Haaa... haaa haaa usia Ciang-heng jauh lebih besar puluhan tahun dari diriku, kini kau ingin menyamakan tingkatan di antara kita ..bilamana aku ngotot menolak permintaan dari Ciang heng ini, rasanya diriku akan dicap tidak pandang sebelah mata kepada orang lain. Baiklah! Dari pada menolak lebih baik aku menurut saja."
Mendengar perkataan dari pemuda tersebut Auw Hay Ong jadi kegirangan setengah mati, buru-buru ia memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan meja perjamuan.
Tetapi dengan cepat Liem Tou sudah menampik maksud baiknya ini.
"Ciang heng! Buat apa kau repot repot?"
Katanya sambil tersenyum ramah.
"Setelah siauwte berhasil mengetahui alamat dari markas besar perkumpulan Sin Beng Kauw segera akan berangkat mencari Kauwcu mereka Boe Beng Tok su untuk bikin perhitungan. Oleh karena itu, aku harap kau suka cepat-cepat seret keluar keempat orang siangcu tersebut."
"Aaakh ..."
Aku mengira Loote ada keperluan penting yang hendak ditanyai kepada keempat orang siangcu tersebut, tidak nyana cuma suatu persoalan yang demikian kecil."
Setelah mendengar perkataan dari pemuda tersebut, Ciang Cau lantas tersenyum.
"Buat apa kau harus repot-repot menanyakan persoalan itu kepada keempat orang Siangcu tersebut?? Markas besar dari perkumpulan Sin Beng Kauw terletak di dalam lembah Boe Beng Kok gunung Ciong Lay San. Menurut berita yang aku dengar pada setahun yang lalu sewaktu perkumpulan Sin Beng Kauw didirikan untuk pertama kalinya, kekuatan mereka masih belum apa apa, tetapi kini setelah mereka mendapatkan bantuan dari bekas-bekas komplotan hweesio tujuh jari Chiet Cie Tauw Tou", pengaruhnya semakin luas lagi. Menurut apa yang aku dengar, penjagaan di sekitar markas besar mereka sangat ketat, alat-alat rahasia pun tersebar di mana-mana, di antara kesemuanya itu.
"Liong Leng Hok Lie"
Atau Naga berpekik Bangau Berteriak serta "Hauw Siauw Yen Tie"
Atau Harimau mengaum Monyet menjerit merupakan alat rahasia yang terlihay. Loote, kau harus berhati-hati ter hadap perangkap mereka."
"Apa itu Naga Berpekik Bangau berteriak, serta Harimau Mengaum Monyet Menjerit?"
Diam-diam pikir Liem Tou dalam hatinya. Sekalipun sarang naga gua macan pun kenapa harus aku takuti???"
"Terima kasih atas petunjuk Ciang heng,"
Di luaran dengan hormat ia menjura memberi hormat.
"Jikalau Ciang heng tidak pikirkan lagi dendam tempo dulu, ada suatu hari tentu akan siauwte balas budi ini".
"Bagus sekali perkataan Loote!"
Auw Hay Ong tertawa sedih.
"Dendam sakit hati siauw li sudah berlalu lama. Sewaktu loote sedang mengunci tangan tempo dulu aku sudah menggunakan kesempatan tersebut untuk mencari balas ke gunung Ching Shia, hal ini sudah aku rasa merupakan suatu kesalahan yang besar, tentang peristiwa ini aku tak berani banyak bicara lagi. Tetapi kerbaumu yang sudah menginjak mati istriku, peristiwa ini masih belum juga aku lupakan walau sampai saat ini pun. Jikalau Loote suka memberi kebijaksanaan kepada ku dengan membiarkan Kerbau tersebut menerima satu pukulanku, sekali pun mati aku pun puas!"
Liem Tou yang mendengar Auw Hay Ong masih juga mengingat dendam sakit hati tersebut, tak terasa ia sudah tertawa sedih.
"Hal ini tak bisa salahkan kau masih teringat terus. Silahkan Ciang heng segera turun tangan,"
Katanya kemudian. Selesai berkata ia masih tetap duduk di atas punggung kerbaunya.
"Kalau begitu silahkan Loote menyingkir dulu,"
Katanya sambil melirik sekejap ke arah pemuda tersebut.
"Semisalnya kau tidak suka menyingkir dan pukulanku sampai melukai dirimu, bukankah aku yang jadi tidak enak??"
"Terima kasih atas peringatan dari Loo heng, tetapi aku rasa soal ini tidak perlu. Ciang heng boleh mulai turun tangan!"
Auw Hay Ong mengerutkan alisnya rapat-rapat, tetapi ia tidak banyak berbicara lagi.
Tubuhnya segera maju dua langkah ke depan, kuda kudanya diperkuat, hawa murni disalurkan ke sepasang telapak, perlahan-lahan ia menekan perut kerbau tersebut keras-keras.
Di dalam anggapannya, pukulan yang telah menggunakan tenaga dalam hampir mendekati tujuh, delapan bagian ini pasti akan melukai atau membinasakan sang kerbau itu kendati binatang tersebut memiliki kepandaian yang amat tinggi.
Siapa sangka kerbau tersebut masih tetap berdiri tenang ditempat semula, agaknya ia sama sekali tidak merasa dengan datangnya pukulan itu.
Didalam keadaan gusar, seluruh rambutnya pada berdiri, telapak kirinya laksana sambaran kilat segera dibabat kembali ke arah depan, Liem Tou dengan cepat mengempit sepasang kakinya, kerbau tersebut dengan sebatnya meloncat dua langkah ke depan menghindarkan diri dari datangnya serangan tersebut.
"Ciang heng! Sebelum mengirim pukulan tadi kau sudah berjanji akan memukul satu kali saja,"
Seru pemuda tersebut sambil tertawa.
"Sekarang pukulanmu sudah lewat, mana boleh kau orang mengirim pukulan yang kedua ?"
Mendengar teguran tersebut wajah Auw Hay Ong kontan saja berubah memerah saking jengahnya ia bungkam tak dapat mengucapkan sepatah kata pun.
"Ciang heng kau baik-baiklah berjaga diri, siauwte hendak berangkat dulu,"
Sambung Liem Tou lebih lanjut. Siapa sangka baru saja perkataan tersebut selesai diucapkan, dari dalam istana meloncat keluar Toa Kongcu dari Auw Hay Ong, Ciang Beng Ing adanya.
"Liem Tou! Kau jangan pergi dulu,"
Teriaknya nyaring.
"Ibuku menemui ajalnya di bawah injakan kaki kerbaumu, aku pun ingin mengirim satu pukulan ke atas tubuhnya, kau rela bukan!?"
"Haha ... haaa... baik... baiklah... kalau memang itulah keinginanmu, pukullah kerbauku satu kali,"
Liem Tou tertawa terbahak-bahak.
"Kini kerbauku sudah aku kuasai, bagaimanapun kau bertindak ia tak bakal memberikan perlawanan terhadap dirimu!"
Sembari berkata ia melirik sekejap ke arah Auw Hay Ong. Auw Hay Ong yang diliriki pemuda tersebut dalam hati sedikit banyak rada tidak enak juga.
"Ing jie, kau jangan bertindak gegabah,"
Tegurnya. Sebetulnya Ciang Beng Ing jauh lebih penurut dari pada adiknya Ciang Beng Hu. Tidak nyana kali ini ia sudah membantah perkataan ayahnya.
"Tia! Kau jangan mencegah kemauan putrimu, apakah hanya Tia saja yang boleh membalaskan dendam istrimu dan aku sebagai seorang putrinya tak boleh membalaskan dendam ibuku?? Apa yang bakal terjadi ini hari aku harus membalas dendam ini."
Mendadak Liem Tou tertawa terbahak-bahak.
"Haaa.. haaa...tidak kusangka dari pihak partai Kiem Tien Pay masih ada juga seorang gadis yang demikian berbaktinya terhadap orang tua mereka. Toa Kongcu! Si lahkan kau orang turun tangan!"
Katanya.
"Beng jie!"
Air muka Auw Hay Ong membesi kemudian berubah jadi kehijau-hijauan."Jika kau tidak suka mendengarkan perkataan Tia, maka kau jangan salahkan lagi ka!au Tia tak akan sayang legi terhadap dirimu, cepat kembali ke ruang belakang!"
Ketika itu Ciang Beng Ing tak dapat membendung rasa sedih dalam hatinya lagi, ia menangis tersedu-sedu lalu meloncat ke pintu luar dan lari dari tempat itu.
Walaupun dalam hati Auw Hay Ong merasa jadi cemas juga melihat sikap putrinya tetapi di hadapan Liem Tou ia tidak ingin menunjukkan perasaan tersebut.
Kepada diri pemuda itu lantas ujarnya.
"Ikatan dendam antara pihak partai Kiem Tien Pay dengan Loote sudah hapus sejak ini hari, semoga saja Loote bisa mendapatkan kemenangan di dalam usahamu kali ini!"
Setelah mendengar perkataan itu Liem Tou baru meloncat turun dari atas punggung kerbaunya kemudian menjura dengan sangat hormat.
"Keadaan di daerah sekitar pantai Sah Kiem Than amat berbahaya, apalagi setelah kepergian Siauw te kali ini rasanya sedikit kurang leluasa untuk mengadakan hubungan lagi dengan dirimu. Baiknya siauwte tinggalkan saja kerbauku ini di sini. Walau pun ia cuma seekor binatang tetapi di dalam keadaan kepepet dan bahaya kemungkinan sekali ia bisa membantu diri Ciang heng. Harap Ciang heng suka menerimanya dan jangan menampik lagi!"
Dalam hati Auw Hay Ong pun mengerti bagaimana lihaynya kerbau tersebut, dimana hanya dalam satu jurus saja telah menginjak mati Auw Hay Ong Bo yang namanya telah terkenal di seluruh dunia kang ouw.
Thian Pian Siauwcu yang namanya telah terkenal di empat penjuru sebagai pentolan iblis pun tak bisa mengapa-apakan dirinya, jika ditinggal di pantai Sah Kiem Than dan bisa membantu dirinya hal ini memang merupakan suatu kejadian yang amat menguntungkan.
Karena ia merasa dengan kekuatan seekor kerbau itu berarti bisa melebihi kekuatan sepuluh orang murid kebanggaannya.
Oleh sebab itu sesudah mendengar perkataan tersebut dengan cepat ia mengucapkan terima kasihnya berulang kali.
"Kecintaan dari Loote tak akan Ih heng lupakan untuk selamanya, terimalah hormatku ini!"
Liem Tou yang mendengar ia sudah setuju, dengan cepat lantas berjalan ke sisi tubuh kerbaunya.
"Gouw koko,"
Ujarnya halus.
"Untuk sementara waktu aku akan tinggalkan dirimu di sini, harap kau suka memandang diri Ciang heng seperti memandang diriku sendiri bantulah Ciang heng menjaga pantai Sah Kiem Thannya ini dari gangguan gangguan kaum penjahat yang bermaksud tidak baik, kau sudah dengar bukan?"
Kerbau tersebut mendengus berat kemudian mengangguk-angguk, tetapi sikapnya memperlihatkan rada berduka.
"Eeei... kenapa kau harus merasa sedih?"
Hibur pemuda itu buru-buru sambil menepuk-nepuk punggung kerbaunya.
"Bagaimanapun akhirnya aku akan kembali lagi ke sini!"
Kerbau itu mendadak berpekik panjang, suaranya mirip dengan jeritan naga.
Setelah itu ia berjalan mendekati tubuh Auw Hay Ong dan menundukkan kepalanya dengan wajah sedih.
Liem Tou kembali memandang sekejap kearahnya, setelah itu baru menoleh ke arah Auw Hay Ong.
"Siauwte akan pergi dulu, paling lambat tiga bulan kemudian tentu akan balik lagi ke mari,"
Katanya.
Selesai berkata ia lantas enjotkan badannya.
Di tengah berkelebatnya bayangan hijau ia sudah berada di depan pintu ruangan, kemudian di dalam sekejap mata telah lenyap dari pandangan.
Gerakan tubuhnya pada saat ini sudah mencapai kecepatan yang tiada taranya, hanya di dalam waktu yang amat singkat ia sudah melawati beberapa buah hutan lebat dan tiba di pantai telaga Auw Hay.
Mendadak sepasang matanya dapat menangkap seorang dara berbaju hijau sedang berdiri termangu-mangu di pinggir telaga.
Sekali pandang saja Liem Toa lantas tahu kalau gadis tersebut bukan lain adalah Toa Kuncu dari partai Kiem Tien Pay, Ciang Beng Ing adanya.
"Eeei . .. kenapa ia berdiri di sana?"
Tak terasa lagi pikirnya di dalam hati. Tetapi setelah dipikirnya sebentar mendadak dalam hati merasa rada terperanjat.
"Apakah karena mendapat teguran dari Auw Hay Ong, dia lantas punya niat untuk bunuh diri ke dalam telaga ?"
Pikirnya.
Teringat akan persoalan itu tak terasa lagi gerakan badanpun jadi berhenti, ia bersembunyi di balik sebuah pohon yang pendek untuk melihat jelas peristiwa apa yang bakal terjadi.
Beberapa saat kemudian mendadak Ciang Beng Ing putar badannya dan berlutut di atas tanah kemudian mulai menjalankan penghormatan sebanyak empat kali, setelah itu ia bangun membereskan ranbut dan melayang satu kaki lebih ke tengah daratan.
"Jika ingin mati seharusnya terjun ke dalam telaga kenapa ia malah meloncat ke daratan ?"
Diam-diam pikir Liem Tou lagi dalam hatinya ia merasa sangat keheranan.
Selagi ia berpikir demikian, Ciang Beng Ing sudah bungkukkan badannya memungut sebuah batu besar yang beratnya kurang lebih ada sepuluh kati lebih.
Ketika itulah Liem Tou baru merasakan hatinya sangat terperanjat, kiranya gadis tersebut hendak menenggelamkan dirinya, dengan membebankan baru tersebut di atas badannya jika ia benar benar melakukan tindakan ini maka boleh dikata mayatnya tak bakal ditemukan kembali.
"Aaah ..aku rasa perempuan ini rada sedikit goblok!"
Diam-diam Liem Tou tertawa geli.
"Lebih baik aku melakukan suatu permainan dengan dirinya sehingga ia merasa ketakutan!"
Perlahan-lahan Ciang Beng Ing dengan membopong batu besar tersebut tanpa menoleh lagi berjalan menuju ke tengah telaga yang sangat dalam, ketika air sudah berada setinggi pinggang kembali ia berhenti untuk menengok sekejap ke arah belakang, agaknya ia masih rada gegetun.
Tetapi setelah lewat beberapa saat dengan bulatkan tekad ia melanjutkan kembali langkahnya menuju ke arah bagian telaga yang jauh lebih dalam.
Liem Tou merasa sangat terkejut, tubuhnya laksana sambaran kilat cepatnya segera menghajar dari belakang.
Kelihatannya air telaga mulai menggelamkan bagian leher dari Toa Kongcu tersebut, saat itulah ia membongkokan badannya sehingga seluruh tubuhnya lenyap dari permukaan air.
Liem Tou tidak memperdulikan badannnya basah lagi dengan menggunakan gerakan "Mei Yen Liang Poo"
Atau burung walet menyambar ombak langsung menyelam ke dalam permukaan air telaga.
Bagaikan seekor ikan saja dengan sebat dan gesit pemuda tersebut telah tiba di sisi tubuh Toa KunCu, tampaklah ketika itu Toa KunCu tersebut kembali menongolkan kepalanya ke atas permukaan air untuk beristirahat, hal ini membuat Liem Tou semakin geli lagi.
"Eeei..apa-apaan gadis ini? Kalau memang betul-betul berniat bunuh diri, kenapa harus nongol kembali ke atas permukaan air untuk ganti napas?"
Pikir pemuda itu diam-diam. Satu ingatan bagus mendadak berkelebat di dalam benaknya, sambil menyalurkan hawa lweekangnya mendadak ia berseru dengan ilmu menyampaikan suara.
"Kuncu, kau jangan takut, cepatlah ke mari! Aku adalah putra ketiga dari Hay Liong Ong atau si raja naga laut, aku memang punya jodoh dengan dirimu untuk kawin dan mengikat diri sebagai suami istri, aku sudah lama sekali menanti kedatanganmu..."
Ciang Beng Ing yang mendengar perkataan tersebut kontan saja paras mukanya berubah jadi pucat pasi saking terkejutnya.
"Aku tidak mau...! Aku tidak mau! Naga terkutuk, kau jargan bersikap kurangajar,"
Teriaknya ketakutan.
Sambil putar badan ia terburu-buru lari ke arah pantai.
Dasarnya Liem Tou memang punya maksud hendak menakut-nakuti dirinya, melihat gadis tersebut melarikan diri sudah tentu ia tak mau melepaskan dirinya begitu saja.
Kakinya yang masih berada di dasar telaga denran cepat ditarik ke belakang, hal ini membuat badan Ciang Beng Ing seketika itu juga tenggelam seluruhnya ke dalam air.
Tetapi sebentar kemudian kembali Liem Tou mendorong badannya ke tengah permukaan sehingga kepala Ciang Beng Ing sama sekali menongol dari dalam air.
"Aku tidak mau! Aku tidak mau!"
Teriaknya sekeras-kerasnya.
"Aku ingin mengawini dirimu... aku ingin mengawinimu."
Kembali Liem Tou mengirim suaranya.
"Istana Swie Cing Tien jauh lebih besar dan jauh lebih megah sepuluh kali lipat daripada istana ayahmu, kenapa kau tidak mau??"
Sembari menjerit-jerit, Ciang Beng Ing meronta sekuat tenaga.
Tetapi Liem Tou menyeret badannya semakin lama semakin ke tengah dan membawa dirinya ke bagian telaga yang paling dalam.
Ciang Beng Ing benar-benar ketakutan setengah mati, air mukanya sudah berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat Pada saat itulah dari tempat kejauhan muncul sebuah perahu yang bergerak mendekat.
Dengan menggunakan seluruh tenaga yang dimiliki sekali lagi Ciang Beng Ing menjerit-jerit minta tolong.
Agaknya orang-orang yang berada di dalam perahu tersebut telah mendengar suara jeritan gadis itu, layar segera dikembangkan dan putar kemudi mendekati berasalnya suara tersebut.
"Setelah mengalami kejadian kali ini, aku rasa lain kali dia orang tak bakal punya pikiran untuk mengambil keputusan pendek lagi,"
Diam-diam pikir Liem Tou di dalam hati.
"Bahkan kemungkinan sekali setiap kali teringat peristiwa bunuh diri ia pasti akan teringat kembali dengan peristiwa yang sangat menakutkan ini!"
Liem Tou yang berada di bawah permukaan air sewaktu melihat perahu tersebut sudah bergerak semakin dekat, sekali lagi sengaja ia menarik gadis itu sehingga tenggelam Kembali ke bawah permukaan air.
Walaupun Ciang Beng Hu dilahirkan di tengah sebuah pulau di tengah telaga, teta pi ia tidak mengerti akan ilmu berenang di dalam air, kembali perutnya terisi dengan air telaga sebanyak dua tiga tegukan, menanti gadis tersebut sudah jatuh pingsan, Liem Tou baru lepas tangan dan membiarkan orang-orang di atas kapal turun tangan menolong gadis tersebut.
Sebelum meninggalkan tempat itu, sekali lagi Liem Tou menunjukkan kelihaiannya.
Ia melancarkan satu pukulan dahsyat dari dalam permukaan air dengan mengerahkan hawa murninya yang dahsyat dan sudah mencapai pada puncak yang paling tinggi.
Tampaklah segulung semprotan air yang maha dahsyat memancur ke tengah udara di ikuti gulungan ombak yang sangat besar setinggi gunung, kejadian ini sudah tentu membuat orang orang yang ada di dalam kapal saking kagetnya pada berdiri melongo-longo, mereka tidak mengerti binatang aneh apakah yang berada di dalam air.
Kebetulan sekali terjangan air yang sangat dahsyat itu tepat menghajar di atas tubuh perahu itu sehingga membuat tubuh perahu jadi oleng.
Suara jeritan kaget bergema memenuhi angkasa orang orang yang ada di atas perahu pada berlutut dan menyembah-nyembah minta perlindungan dari Thian agar nyawa mereka diselamatkan.
Liem Tou yang melihat tindak-tanduk orang-orang itu dari bawah air diam-diam merasa kegelian, setelah puas mempermainkan orang-orang itu, ia berenang menjauhi tempat tersebut.
Permukaan air kembali jadi tenang, sinar sang surya memancarkan cahaya menyoroti permukaan air telaga sehingga memantulkan beribu-ribu buah sinar keemas-emasan, suasana yang begitu tenang membuat setiap orang mulai melupakan kejadian aneh yang baru saja mereka alami.
Bagi Ciang Beng Ing.
sejak mengalami kejadian itu ia sudah kapok untuk mendekati air telaga lagi bahkan untuk naik perahu pun tak berani.
Liem Tou yang berada di dalam air, setelah dirasakan jauh berada dari perahu tersebut segera munculkan dirinya ke permukaan dan melanjutkan kembali perjalanannya.
Tidak lama kemudian hari sudah mulai gelap, ia melakukan perjalanan pada malam itu juga menuju ke kota Liong Chuan dan langsung berangkat ke daerah Tzuan ching.
Kendati malam itu ia melewati Kota Peng Cho, tetapi ia tidak kembali lagi ke rumah penginapan tersebut.
Karena ia tak ingin bertemu lagi dengan gadis-gadis pujaannya, sehingga nantinya untuk berpisah akan dirasakan berat.
Walaupun perjalanan yang dilewati selama ini merupakan jalan-jalan gunung yang berbahaya, tetapi bagi Liem Tou jalan datar atau jalan gunung yang berliku-liku itu adalah sama saja.
Selama satu malaman melakukan perjalanan entah sudah berapa ratus lie telah dilalui.
Keesokan, harinya sewaktu sang surya memancarkan kembali cahaya ia sudah berada di sebuah kota kecil dekat perbatasan dengan daerah Tzuan Ching.
Kota tersebut tidak begitu besar tetapi juga tidak begitu kecil, pemuda itu lantas menarik kembali ilmu meringankan tubuhnya untuk berjalan masuk ke dalam kota tersebut dengan langkah lambat.
Mendadak dari hadapannya muncul kakek tua yang rambutnya pada memutih semua, di tangannya mencekal sebuah tongkat kayu sebesar lengan bayi.
Selangkah demi selangkah kakek tua itu berjalan mendekat, langkahnya kelihatan begitu berat sehingga meninggalkan suara yang amat keras.
Sewaktu ia tiba kurang lebih satu kaki dari diri Liem Tou, mendadak kakek itu menoleh dan memandangi pemuda tersebut dengan sinar mata tajam.
Liem Tou yang kebetulan sedang menengok pula ke arahnya diam diam dalam hatinya merasa sangat terperanjat.
"Wooouw..tenaga dalam si orang tua ini benar-benar amat sempurna, entah berasal dari perguruan manakah diri orang ini??"
Diam-diam pikirnya dalam hati.
Tampaklah si orang tua itu sewaktu melihat Liem Tou sedang memandang kearahnya dengan alis yang dikerutkan, mendadak menundukkan kepalanya rendah-rendah dan melanjutkan kembali perjalanan dengan langkah cepat dan langsung menumbuk diri Liem Tou.
Suatu ingatan dengan cepat berkelebat di dalam benak pemuda tersebut, ia mengerti kalau siorang tua itu tentu sedang mencari gara-gara dengan dirinya.
Diam-diam ia tertawa dingin tiada hentinya.
Hawa sakti kontan disalurkan melindungi seluruh badan kemudian tanpa menghindar lagi ia langsung menyambut datangnya tubrukan tersebut.
Sedikitpun tidak salah, ketika si orang tua itu tiba di depan pemuda kita mendadak si orang tua itu menjerit tertahan, agaknya ia bermaksud hendak mengerem badannya yang hampir saja menumbuk di atas tubuh Liem Tou, sedang tangannya mengambil kesempatan sewaktu badannya jntuh sempoyongan itu lah menyambar jalan darah "Cian Cing Hiat"
Pada pundak sang pemuda.
Belum, sampai jari tangannya menempel badan, Liem Tou telah merasakan segulung tenaga lunak yang tiada berwujud menerjang lewat Dengan cepat hawa murninya disalurkan semakin tebal sehingga seluruh jalan darah nya tertutp, bersamaan itu pula lengan kanannya diangkat sedang kelima jarinya menyambar urat nadi dari si orang tua itu.
"Eeei ... matamu sudah buta? bentaknya keras. Gerakan mereka berdua sama-sama dilakukan cepat bagaikan sambaran kilat, sewaktu si orang tua itu melihat Liem Tou telah berhasil mengetahui rahasianya ia segera bertindak lebih waspada. Kakinya kembali bergerak sempoyongan, tangannya miring ke samping menyingkir dari badan Liem Tou.
"Aaakh ... semakin tua aku semakin tidak becus."
Gumamnya seorang diri.
Tanpa menoleh lagi buru buru ia melan jutkan kembali perjalanannya ke arah depan.
Liem Tou menoleh dan memandang tajam bayangan punggung si orang tua itu.
Walau pun terhadap datangnya serangan borongan yang ia lancarkan merasa keheranan tetapi setelah melakukan perjalanan semalaman dan setetes airpun belum masuk ke dalam perut ia tidak ingin mencari gara-gara dengan orang lain.
Pertama-tama yang akan dilakukan olehnya pada saat ini adalah bersantap kemudian beristirahat.
Oleh sebab itu terhadap kejadian tersebut ia sama sekali tidak memikirkannya di dalam hati.
Ketika ia memasuki sebuah rumah makan sang pelayan mengabarkan bahwa waktu masih terlalu pagi, makanan belum dipersiapkan.
"Kalau begitu biar aku tunggu disini saja !"
Jawab Liem Tou perlahan.
Ia memilih suatu tempat dekat pojokan ruangan sambil menghadap dinding perlahan-lahan ia mulai pejamkan matanya mengatur pernapasan.
Hawa murninya perlahan-lahan berputar mengitari seluruh badan sebanyak tiga kali, rasa lelah karena melakukan perjalanan selama satu malaman hanya di dalam waktu yang amat singkat inilah telah pulih kembali seperti sedia kala, tetapi ia masih tetap duduk tak bergerak di tempat semula.
Pada saat itulah telinganya yang tajam mendadak mendengar suara derapan kuda yang amat ramai berkumandang datang rumah makan tersebut, menurut perhitungan Liem Tou ia menduga bila jumlah kuda tersebut ada delapan ekor banyaknya.
Tetapi bersamaan waktu ia mendengar datangnya suara derapan kaki kuda itulah dari arah yang berlawanan berkumandang datang pula suara langkah kaki yang luar biasa beratnya Diam diam Liem Tou merasakan hatinya keheranan, belum sempat pikirannya berputar mendadak terdengarlah suara bentakan seorang berkumandang masuk ke dalam telinga nya.
"Anjing tua itulah yang turun tangan, Ngo Lian It Kwan serta dua belas orang saudara dari Kiem Tien sudah menemui ajalnya di tangan dia orang."
"Siapa yang sudah melukai kedua belas orang bersaudara dari Kiem Tien Pay???"
Mendengar kata kata tersebut Liem Tou merasa sangat terperanjat.
Jika orang itu bisa melukai orang-orang tersebut hal ini berarti pula bila kepandaian ilmu silatnya sangat luar biasa, jika ditinjau dari lawannya yaitu partai Kiem Tien Pay, maka orang yang sudah turun tangan membinasakan orang orang tersebut tentu merupakan anggota dari perkumpulan Sin Beng Kauw atau sedikit-dikitnya ada hubungannya dengan perkumpulan tersebut!"
Berpikir akan hal itu.
Liem Tou lantas bangun berdiri dan berjalan ke samping jendela untuk melongok keluar.
Sedikitpun tidak salah tampaklah delapan orang lelaki kasar dengan menunggang delapan ekor kuda jempolan sedang melakukan perjalanan cepat dari arah Utara menuju ke arah Selatan, sedang dari sebelah Selatan muncullah siorang tua yang ditemui Liem Tou barusan.
"Apakah orang yang sudah membinasakan kedua belas orang bersaudara dari partai Kiem Tien Pay adalah orang tua ini?"
Melihat kejadian tersebut dalam hati Liem Tou merasa semakin keheranan.
Hanya di dalam sekejap mata ke delapan orang lelaki kasar itu sudah pada mencabut keluar senjata tajamnya, kemudian hampir secara serentak menerjang ke arah siorang tua itu.
Agaknya siorang tua itupun mengerti keadaan sangat tidak menguntungkan bagi dirinya.
Tidak jelas ia sudah menggunakan gerakan apa tahu-tahu di dalam sekali kelebatan saja ia sudah berada di depan pintu rumah makan tersebut kemudian berbelok dan langsung masuk ke dalam ruangan rumah makan.
Liem Tou yang melihat si orang tua tersebut naik ke atas loteng, buru buru balik ke tempat duduknya semula dan tak bergerak lagi.
Walaupun begitu sepasang telinganya dipentangkan lebar-lebar memperhatikan setiap gerak gerik dari si orang tua itu.
Orang ketika itu naik ke atas loteng.
mulutnya kembali bergumam tiada hentinya.
"Anak kura kura, jikalau bukannya Loohu ada urusan penting yang harus buru-buru diselesaikan, sewaktu ada di mulut gunung Ngo Lian san, kalian tak bakal lolos seorang pun!"
Mendadak...
Agaknya ia menemukan Liem Tou pun duduk di pojokan ruangan tersebut, ia ber seru tertahan kemudian langsung berjalan menuju, kearah pemuda tersebut.
Walaupun selama ini Liem Tou duduk membelakangi si orang tua itu tetapi ia tidak mengendorkan kewaspadaannya, selama ini telinganya terus menerus mengawasi gerak gerik orang tua itu dengan ketat.
Si orang rua itu setelah berjalan beberapa langkah ke depan, mendadak menghentikan kembali langkahnya kemudian berbelok mencari sebiah tempat dekat jendela "Eeei kau orang tua sudah lama benar tidak pernah datang kemari !"
Tegur seorang pelayan sambil menghampiri si orang tua tersebut.
"Heei... tidak disangka aku siorang tua setelah hidup setua ini selalu saja dirundung kesialan,"
Mendadak Siorang itu melototkan sepasang matanya.
"Kemarin bertemu dengan Setan ini haripun harus ribut kembali dengan setan setan kurcaci, sudah. sudah jangan..cerewet lagi cepat hidangkan arak!"
Dengan gugup si pelayan itu menyahut kemudian berlalu dari sana dengan langkah tergesa-gesa.
Pada waktu itu kedelapan orang lelaki kasar dari partai Kiem Tien Pay pun sudah ikut mengejar ke atas loteng.
"Anak anak-kura yang buta matanya. Hmm! aku akan membuat kalian tak akan bisa menuruni tempat ini lagi!"
Gumam si orang tua itu kembali.
Sebelum kedelapan orang lelaki kasar dari partai Kiem Tien Pay itu mengambil suatu tindakan, si orang tua itulah pertama tama yang telah berseru terlebih dulu dengan nada dingin.
"Eeei kedatangan kalian semua apakah bertujuan hendak mencari gara-gara dengan aku siorang tua??? kenapa kalian tidak pergi mencari berita dulu kalau aku Tong Koay Shu atau sikakek tongkat tembaga yang pernah menggetarkan seluruh dunia kangouw karena pernah membantu si Chiet Ci Tauw Toa tempo dulu adalah seorang manusia yang tak bisa diganggu oleh siapapun???". Kedelapan orang lelaki kasar dari partai Kiem Tien Pay itu rata-rata merupakan orang yang baru berusia pertengahan, sudah tentu mereka tak bakal mengetahui kejadian mengenai si hweesio tujuh jari atau Chiet Ci Tauw Toa pada empat puluh tahun yang silam. Sedang Liem Tou sendiri yang mendengar disebutkannya nama "Tong Koay hu"
Pun dibuat kebingungan juga. Ia tidak mengerti siapakah jagoan tersebut.
"Di dalam kota ini suasana sangat ramai, bila sampai terjadi pertempuran rasanya kurang sedap dipandang,"
Sambung siorang tua itu lebih lanjut.
"Pokoknya bagaimana pun bila hanya ingin mengandalkan kekuatan kalian., kura-kura kecil saja tak akan bakal bisa menghalangi perjalananku meninggalkan daerah Tien Cien.. Bukannya aku si orang tua berbicara besar, sekalipun Loo Ciang datang sendiripun tak bakal bisa mengapa apakan diriku. Kalian mau percaya atau tidak itu terserah pada pendapat kalian sendiri!"
Selesai berkata tongkat bajanya lantas dicukil kemudian didorong ke arah depan, dengan kecepatan laksana sambaran petir tongkat tembaga tersebut kontan saja menancap di atas tembok tangga loteng sehingga membentuk sebuah tiang besi yang menghalangi jalan pergi ke delapan orang itu.
Apalagi tongkat tersebut menembusi tembok sedalam beberapa depa hal ini menunjukkan bagaimana dahsyatnya tenaga dalam yang ia miliki.
Tidak heran kedelapan orang itu kontan dibuat tertegun dan berdiri melongo-longo di sana tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun selama setengah harian.
Liem Tou yang melihat sikap orang-orang partai Kiem Tien Pay mulai memperlihatkan rasa jeri, buru-buru meloncat bangun.
"Eeeei toako sekalian kenapa baru tiba pada saat ini ?"
Tegurnya sambil ter tawa.
""Siauw te sudah lama sekali menantikan kedatangan toako sekalian."
Sembari berkata ia lantas berjalan mendekati kedelapan orang lelaki itu.
"Toako sekalian mari silahkan duduk di sini !"
Sambungnya lebih lanjut sambil men jura.
"Pada beberapa hari yang lalu siauwte berhasil mendapat sedikit rejeki. Sengaja ini hari aku akan mengundang Toako sekalian untuk minum arak sampai puas!"
Kedelapan orang lelaki kasar tersebut tidak lain adalah saudara-saudara yang dikirim Partai Kiem Tien pay untuk melaksanakan tugas rahasia yang telah disampaikan mereka dari pantai Sah Kiem Than.
Terhadap lalu lintas serta pintu masuk keluar disekitar daerah Tian Cuan boleh dikata sudah dijaganya sangat rapat, barang siapapun yang lewat disana tentu ditanyai hingga terang.
Siapa sangka sewaktu kemarin hari berada di gunung Ngo Lian san mereka telah bertemu dengan siorang tua ini.
Beberapa patah kata-kata pembicaraan tidak terasa cocok lantas terjadilah pertempuran yang sengit.
Kepandaian silat yang dimiliki si orang tua itu ternyata sangat luar biasa lihaynya, di dalam sekejap mata ia sudah berhasil membinasakan dua belas orang anggota Kiem Tian pay, kemudian ditinggal pergi.
Saudara-saudara dari partay Kiem Tien-pay yang melihat kejadian ini sambil buru-buru mengirim berita ke pantai Sah Kiem Than, mereka lantas mengirim kembali delapan orang untuk melakukan pengejaran.
Akhirnya setelah melakukan perjalanan siang malam, pada pagi hari itu mereka berhasil menjumpai kembali si orang tua itu di kota Swie Kiang Tien.
Tetapi mereka kena dibikin pecah nyalinya oleh kelihayan tenaga dalam dari si orang tua itu.
Selagi mereka berada dalam keadaan serba salah itulah secara tidak disangka telah muncui Liem Tou yang mengucapkan beberapa patah kata yang tidak dimengerti oleh mereka.
Sudah tentu saja kedelapan orang ltu dibuat semakin kebingungan dan gelagapan.
Liem Tou yang melihat sikap kedelapan orang itu menunjukkan keragu-raguan kembali dia orang tertawa .
"Apakah Toako sekalian merasa tidak leluasa karena di sini masih ada orang lain?? Ooouw. .! Soal ini sih sangat gampang!"
Katanya lantang.
Ia lantas putar badan, dengan menggunakan kedua buah jarinya di dalam sekali kebutan yang ringan tahu-tahu tongkat tembaga tersebut sudah tercabut dari tempat semula kemudian dengan cepat diserahkan kembali kepada si orang tua itu.
"Rumah makan ini sudah Cayhe borong semua, jikalau kau orang tua ingin minum arak, silahkan pergilah ke rumah makan yang lain saja!"
Tong Koay Shu, atau sikakek tongkat tembaga merupakan anak buah kesayangan dari si hweesio tujuh jari Chiet Ci Tauw Tou"
Tempo dulu, entah sudah ada seberapa banyak jago jago lihay Bu lim yang menemui ajalnya di tangan orang tua ini.
Karena kepandaian ilmu silatnya yang tinggi ditambah lagi otaknya cerdik dan banyak akal ia merupakan seorang pembantu yang paling diandalkan di dalam perkumpulan Sin Beng Kauw.
Ide di dalam penyerangan ke pantai Sah Kiem Tan barusan ini pun dialah duduk sebagai otak pimpinan, siapa sangka disebabkan urusan ternyata gagal total, tergesa-gesa ia akan kembali ke markas besar perkumpulan Sin Beng Kauw untuk melaporkan urusan ini.
Tidak disangka di tempat ini ia sudah bertemu dengan Liem Tou, si dedengkot silat.
Karena belum pernah bertemu dengan pemuda ini ia pun tidak kenal siapakah dia orang.
Tetapi dari tumbukannya tadi pagi di tengah jalanan, ia mengerti bila Liem Tou bukanlah seorang jagoan biasa.
Apalagi setelah dilihatnya pemuda tersebut berhasil mencabut keluar tongkat tembaganya hanya dengan menggunakan dua jari, hatinya merasa semakin terperanjat lagi.
Untuk beberapa saat lamanya, sepasang matanya yang kecil dan memancarkan cahaya itu memperhatikan seluruh tubuh Liem Tou tajam tajam, tak sepatah katapun diucapkan keluar.
Liem Tou yang mengangsurkan tongkat tembaga tersebut ke arahnya, ternyata lama sekali orang tua itu tak mau juga menerimanya.
Hal ini sudah tentu membuat pemuda tersebut jadi tidak sabaran legi.
"Kalau memang kau orang tua tidak suka menerima tongkatmu kembali, cayhepun tak bisa berbuat apa apa kecuali mengembalikan benda ini ke tempat semula,"
Katanya sambil tertawa. Selesai berkata tangannya lantas diayunkan ke samping.
"Braaak!"
Dengan menimbulkan suara bentrokan tajam, tongkat tersebut segera menerjang ke arah dinding tembok dengan kecepatan penuh.
Tetapi...sewaktu semua orang mengamati lebih teliti lagi mereka bersama-sama menjerit tertahan.
Kiranya tongkat tembaga tersebut pada saat ini sudah menembusi tembok dan entah jatuh ke tempat mana, kecuali sebuah lubang sebesar mangkuk tak kelihatan apa-apa lagi.
Melihat kejadian itu Tong Koay Shu benar-benar merasa terkejut bercampur gusar, dengan cepat ia meloncat ke depan.
"Cucu kura-kura, siapa kau?"
Teriaknya keras. Pundak Liem Tou sedikit bergerak, tahu-tahu ia sudah berkelebat ke depan memerseni beberapa tabokan ke atas pipi si orang tua tersebut.
"Eeei... bajingan tua, kalau bicara harap sedikit tahu kesopanan,"
Tegurnya dingin.
Dengan amat gusar si kakek longkat tembaga melototkan matanya bulat-bulat, telapak kanannya dengan disertai tenaga dalam penuh segera membabat ke atas tubuh Liem Tou.
Liem Tou mengerti tenaga dalam yang ia miliki amat sempurna, iapun tidak berani berlaku gegabah.
Tidak malu si kakek tongkat tembaga disebut orang sebagai manusia simpanan hwesio tujuh jari "Chiet Ci Tauw Tuo"
Tempo dulu, otaknya benar-benar sangat cerdik.
Sewaktu telapak kanannya melancarkan serangan tadi, telagak kirinya pada saat yang bersamaan mengirim pula sebuah pukulan yang maha dahsyat bagaikan mengamuknya ombak besar di tengah samudra menghajar kedelapan orang lelaki kasar tersebut.
Melihat datangnya angin pukulan yang demikian dahsyatnya, kedelapan orang itu jadi kelabakan setengah mati.
Tak terhindar lagi mereka berdelapan sama-sama kena disapu oleh datangnya angin pukulan itu sehingga pada berjatuhan ke lantai.
Tetapi si kakek tongkat tembaga sendiri pun kena dipukul sempoyongan oleh datangnya angin pukulan dari Liem Ton yang menyambar lewat dari samping.
Kendati tidak sampai jatuh terjengkang di atas tanah, tetapi pada saat ini sepasang matanya melotot semakin bulat.
"Anak kura kura, siapakah sebetulnya kau orang??"
Teriaknya gusar.
Perlahan-lahan Liem Tou menyapu sekejap ke arah kedelapan orang lelaki kasar dari partai Kiem Tien Pay, sewaktu dilihat nya walaupun mereka pada jatuh terjengkang di atas lantai tetapi tidak sampai menderita luka parah, hati pun jadi lega.
"Ooouw ...jika aku sebutkan namaku, mungkin saking takutnya kau bakal terkencing-kencing !"
Serunya sambil tertawa.
"Siapa kau ???"
Teriak si kakek tongkat tembaga lagi semakin gusar.
"Coba kau sebutkan siapakah yang paling dibenci oleh Sin Beng Kauwcu kalian???"
Bukannya menjawab, pemuda itu sebaliknya malah bertanya.
"Liem Tou!"
"Dan siapa pula yang paling ia takuti?"
"Liem Tou! ... Eeeei ... tidak tidak ! Sin Beng Kauwcu kami tidak akan takut terhadap siapa pun."
Kembali Liem Tou tertawa, sinar matanya perlahan-lahan dialihkan ke atas wajah si orang tua itu.
"Apakah saat ini kau masih belum tahu siapakah aku?"
"Aaach. ! Liem Tou!"
Mendadak sikakek tongkat tembaga berteriak keras, sepasang matanya terbelalak lebar-lebar.
Begitu seruan tersebut meluncur keluar dari ujung bibir, tubuhnya sudah berkelebat keluar dari ujung bibir, tubuhnya sudah berkelebat keluar dengan menerobosi jendela.
Sudah tentu Liem Tou tidak akan membiarkan dia orang melarikan diri dari tempat tersebut, karena jika ia berbuat demikian bukan saja usahanya akan gagal bahkan keselamatan dari si gadis cantik pengangon kambing pun akan menemui bahaya.
"Kau hendak pergi kemana?"
Bentaknya nyaring.
Bayangan hijau berkelebat, pemuda tersebut segera meloncat keluar dari ruangan mengadakan pengejaran ke arah luar.
Ketika itu si kakek tongkat tembaga sudah melayang turun ke atas jalan raya dan siap-siap melarikan diri dari sana.
Di tengah udara Liem Tou segera salurkan hawa murninya ke seluruh badan, sepasang telapak tangannya bersama-sama didorong ke depan, segulung hawa pukulan yang amat dahsyat dengan cepat menghantam kepala orang tua itu bahkan tanah seluas tiga kaki hampir boleh dikata sudah terkurung di bawah tekanan hawa pukulannya.
Orang-orang yang berlalu-lalang di tengah jalanan, ketika secara mendadak melihat dari tengah langit melayang turun dua sosok bayangan manusia, saking kagetnya mereka jadi menjerit-jerit dan lari serabutan sehingga hanya didalam sekejap mata suasana di tengah jalanan jadi sunyi senyap.
Si kakek tongkat tembaga yang melihat Liem Tou mengikuti dirinya menubruk datang, melihat pula situasi di sekeliling tempat ini, ia lantas tahu sekalipun menghindar ke samping pun tak akan berhasil meloloskan diri dari sambaran angin pukulan itu.
Akal cerdik kembali berkelebat di dalam benaknya, sambil menggertak gigi mendadak ia meloncat naik ke atas atap rumah di hadapannya.
Didalam anggapannya jikalau Liem Tou ingin mengejar dirinya ia pun harus melayang dulu ke atas jalanan untuk tukar napas kemudian baru mengejar naik ke atas atap, menanti saat itu ia sudah berada d tempat yang sangat jauh.
Melihat kejadian itu Liem Tou segera tertawa dingin tiada hentinya, walaupun si kakek tongkat tembaga sudah meninggalkan permukaan tanah tetapi angin pukulannya belum buyar bahkan sudah ditambah lagi dengan dua bagian tenaga lweekangnya.
Suara bentrokan keras bergema memenuh angkasa, meminjam tenaga pantulan itulah Liem Tou kembali enjotkan badannya mencelat ke tengah udara dan berhasil berada di atas atap rumah seberang selangkah sebelum Siorang tua itu sampai.
Sekali lagi Liem Tou mendorong telapak tangannya ke depan, suara jeritan kesakitan segera berkumandang memecahkan kesunyian, tubuh orang tua itu kontan jatuh rubuh ke atas tanah Suatu ingatan berkelebat di dalam benak pemuda tersebut, ia tahu orang ini bersifat licik dan banyak akal karena takut ia pura pura terluka, tubuhuya segera bersalto di tengah udara dengan kepala di depan kaki di belakang kembali ia menubruk ke bawah.
Dugaannya sedikit pun tidak salah, sewaktu Liem Tou menubruk ke bawah dengan membawa angin pukulan yang sangat keras itulah mendadak si kakek tongkat tembaga meloncat bangun, kuda-kudanya diperkuat sambil menggertak gigi ia kumpulkan seluruh tenaga Iweekang yang dimiliki agaknya ia ada maksud hendak menerima datangnya pukulan dari pemuda itu dengan keras lawan keras.
Walaupun Liem Tau tidak berani bertindak gegabah, tetapi dia orang mana jeri terhadap dirinya, tenaga saktinya segera disalurkan keluar kemudian dihantamkan ke arah bawah.
Pada saat yang bersamaan pula si kakek tongkat tembaga itu pun mendorong sepasang telapak tangannya ke atas mengirim segulung hawa pukulan yang dingin lunak dan maha dahsyat menyambut datangnya serangan musuh.
Melihat kejadian itu, diam-diam Liem Tou merasa agak terperanjat.
Tetapi saat ini hawa napsu membunuh sudah meliputi seluruh tubuhnva, sudah tentu pemuda ini tidak suka melepaskan musuhnya dengan begitu saja.
Hanya di dalam sekejap mata dua gulung angin pukulan sudah saling terbentur satu sama lainnya.
Liem Tou rugi karena badannya masih berada di tengah udara dan sepasang kaki nya tidak menempel tanah, tetapi pikiran cerdik dengan cepat berkelebat dalam be naknya.
Menggunakan kesempatan sewaktu terjadi bertrokan itulah angin pukulannya mendadak meluncur ke samping sedang badanpun ikut melayang turun ke bawah.
Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang benar benar terlalu tinggi, badannya sedikit berputar saja tahu-tahu ia sudah berada kurang lebih tiga depa di depan tubuh si kakek tongkat tembaga tersebut.
Sekali lagi ia mengirim satu pukulan gencar ke depan ...
"Braaak ..."
Di tengah suara getaran yang amat keras, untuk mendengus berat pun tidak sempat, tubuh si kakek tongkat tembaga itu sudah mencelat tiga kaki ke belakang dan rubuh di tengah jalanan dengan kepala hancur berantakan selembar nyawa pun ikut melayang menuju keakherat.
Liem Tou melirik sekejap ke arah mayatnya, setelah menghembuskan napas berat kembali ia melayang naik ke atas rumah makan tersebut.
Kepada kedelapan orang lelaki dari partai Kiem Tien Pay segera bentaknya keras.
"Ayoh kalian cepat kembali ke posnya masing masing untuk bertugas, jikalau sam pai ada seorang anggota perkumpulan Sin Beng Kauw saja yang lolos... Hmmm ! Aku mau lihat kalian masih bisa hidup atau tidak!"
Setelah itu ia lantas menoleh dan berteriak keras.
"Eeeei pelayan, kenapa sayur tidak kau hidangkan ?"
Setelah bersantap kenyang kau membawa pula rangsum kering, ia lantas membereskan rekeningnya, meninggalkan kota Swie Kiang cian melanjutkan perjalanan menuju ke daerah Tzuan Ciat dengan mengambil jalan kecil.
Dengan melakukan perjalanan siang malam, akhirnya setelah lewat tiga hari tiga malam lamanya sampailah pemuda ini di daerah pegunungan Ciong Lay san, tetapi dimanakah letak lembah Boe Beng Kok itu??
Walaupun ia sudah mencari berita dimana mana tetapi tak berhasil juga memperoleh sedikit kabar beritapun.
"Jika ingin menemukan lembah Boe Beng Kok, aku harus mencari seseorang sebagai penunjuk jalan,"
Pikirnya dalam hati.
"Kalau tidak, sekalipun aku mencari selama setahunan tak bakal bisa ketemu."
Akhirnya Liem Tou mulai mencari cabang-cabang perkumpulan Sin Beng Kauw yang ada di sekitar daerah pegunungan Ciong Lay San.
Tetapi sungguh ajaib sekali, di sekitar daerah pegunungan tersebut ternyata sama sekali tak dijumpai sebuah kantor cabang pun.
Hal ini tak bisa salahkan mereka.
Buat apa perkumpulan Sin Beng Kauw mendirikan sebuah kantor cabangnya daerah yang sunyi dan sama sekali tak didiami manusia ini ?
Siang itu setelah ia berlari kesana berlari ke sini di sekitar pegunungan Ciong Lay san untuk mencari Lembah Boe Beng Kok, badannya terasa agak capai, ia lantas beristirahat di bawah sebuah pohon di punggung gunung, sinar matanya memandang ke tempat kejauhan di antara rentetan pegunungan yang jauh menjulang ke tengah angkasa.
Tak terasa lagi pemuda itu menghela napas panjang, gumamnya.
"Heeei ... kelihatannya aku harus kembali dulu ke semua kota besar untuk menangkap seorang anggota Sin Beng Kauw sebagai pentunjuk jalan !"
Setelah beristirahat selama sepertanak nasi lamanya, ia baru bangun berdiri siap-siap meninggalkan tempat itu.
Mendadak sinar matanya dapat menangkap seekor burung merpati sedang terbang mendekat dari tempat kejauhan, agaknya burung merpati tersebut sudah lelah dan tak bisa terbang lagi, terbukti mendadak ia menutup kembali sayapnya dan hinggap di atas sebuah pohon, kurang lebih seratus kaki dari dirinya berada.
Diam diam Liem Tou merasakan hatinya rada bergerak pikirnya "Perkumpulan Sin Beng Kauw sudah merupakan sebuah perkumpulan yang sangat besar didalam dunia Kang Ouw, kantor kantor cabangnya tersebar di mana-mana sedang markas besarnya justru terletak di tengah sebuah pegunungan yang demikian sunyi, jika dari masing masing cabang hendak memberikan laporannya kemarkas besar apakah mereka harus mengandalkan tenaga manusia belaka??
Bukankah jika mereka melakukan tindakan semacam ini hanya buang waktu dan tenaga saja?
Bila aku adalah seorang Kauw cu maka cara yang baik ada lah menggunakan burung merpati untuk kirim berita, bukankah hal sangat bagus sekali?"
Berpikir sampai di situ, dengan cepat tubuhnya melayang turun dari tebing dan mendekati pohon tersebut dengan langkah yang sangat berhati-hati.
Tanpa menimbulkan sedikit suara ia segera menyelinap ke bawah pohon, sewaktu ia mendongakkan kepalanya maka terlihatlah di atas kaki burung merpati tersebut terikat secarik kertas surat.
Hatinya jadi amat girang, tubuhnya laksana sambaran petir dengan cepat meloncat naik ke atas diiringi tangannya menyambar menangkap burung tersebut.
"Lembah Boe Beng Kok..! Lembah Boe Beng Kok! Sekalipun lebih rahasiapun pasti berhasil aku temukan!"
Gumamnya girang.
Ia lantas meloncat turun dari atas pohon dan lepaskan kertas surat tersebut untuk diperiksa isinya.
Tetapi sebentar kemudian ia sudah dibuat berdiri melengak.
Kiranya surat tersebut dikirim dari negri Tayli yang isinya antara lain melaporkan kekalahan anggota perkumpulan Sin Beng Kauw di pantai Sah Kiem Than serta munculnya Liem Tou di dalam dunia kangouw.
Selesai membaca surat tersebut Liem Tou lantas tertawa sendiri.
"Sudah terlambat ! terlambat"
Sekalipun Sun Cie Sie mengetahui urusan ini pun sudah terlambat!"
Gumamnya. Surat ini kontan dirobek-robek hingga hancur lalu dicarinya empat lembar daun pohon yang kemudian diukir dengan kata-kata "Liem Tou berkunjung datang"
Empat kata, setelah itu diikatkan kembali ke atas kaki burung merpati itu.
Bobot dari keempat lembar daun tersebut jauh melebihi berat dari kertas surat semula sudah tentu dengan kejadian ini maka kecepatan terbang dari burung merpati itu pun menjadi akan jauh berkurang dengan demikian dari atas daratan ia dapat mengintil kencang.
Baca Juga: Sepasang Rajah Naga 2
Baca Juga: Sakit Hati Seorang Wanita 5