Ceritasilat Novel Online

Sakit Hati Seorang Wanita 5

Eps 5 Sakit Hati Seorang Wanita - Kho Ping Hoo

Baca online Sakit Hati Seorang Wanita - Kho Ping Hoo

Cersil Sakit Hati Seorang Wanita - Kho Ping Hoo.

Para bijaksana selalu menasihati keturunan dan muridnya begini.

"Aku tidak ingin melihat kamu menjadi orang kaya raya, atau menjadi orang pintar, atau menjadi orang berkuasa! Aku hanya ingin kamu menjadi orang yang baik dan benar! Hanya orang yang baik dan benarlah menjadi kekasih Thian (Tuhan) dan menerima kasih karunia dan kebahagiaan dunia dan akhirat!"

Baik dan benar merupakan dasar bagi ketenteraman dan kebahagiaan.

Orang kaya belum tentu benar, orang pintar belum tentu benar, orang berkuasa belum tentu benar.

Orang yang baik dan benar tentu merupakan penyalur berkat Tuhan bagi manusia lain, bagi dunia.

Akan tetapi sesungguhnya, orang kaya, orang pintar, orang berkuasa tanpa didasari sifat baik dan benar, sering malah mendatangkan malapetaka bagi manusia dan dunia karena keadaannya itu terkadang membuat dia sewenang-wenang, memikirkan kesenangan diri pribadi saja, bahkan menggunakan kekayaan, kepintaran atau kekuasaannya untuk menindas orang lain yang dianggap menjadi penghalang kesenangannya.

Demikianlah keadaan para Thaikam di dalam istana Kaisar Cung Ceng, pada masa terakhir pemerintah Kerajaan atau Dinasti Beng.

Mereka berdiri dari orang-orang pintar, kaya raya, dan berkuasa, namun tidak memiliki watak dasar baik dan benar tadi.

Maka sepak terjang dewikz mereka hanya menimbulkan kesengsaraan bagi negara dan bangsa.

Pemerintahan Kaisar Ceng Cung menjadi lemah, banyak peraturan yang sewenang-wenang menindas rakyat.

Para pejabat pemerintah yang baik, yang setia, yang ingin membawa roda pemer intahan melalui jalan yang benar dan yang menyejahterakan rakyat, menjadi penghalang bagi para Thaikam dan mereka itu, satu demi satu, disingkirkan dari jabatannya.

Bahkan, yang dianggap berbahaya karena sikapnya menentang para Thaikam, banyak di antara mereka bukan hanya dipecat oleh Kaisar atas bujukan para Thaikam, melainkan dihukum berat dengan tuduhan fitnah memberontak.

Kalau pemerintah gagal menyejahterakan rakyat, bahkan menyengsarakan rakyat, maka akibatnya mudah diduga.

Di mana-mana terjadilah pemberontakan.

Muncul orang-orang gagah yang t idak suka dengan keadaan itu dan mereka ini memiliki banyak pengikut, membentuk laskar-laskar rakyat dan mulai mengadakan aksi menentang kerajaan!

Di antara para pemberontak itu, yang paling kuat memiliki banyak sekali pengikut sehingga namanya terkenal dan menjadi bagian sejarah, adalah Li Cu Seng.

Sebetulnya, Li Cu Seng tadinya adalah seorang pendekar ahli silat dari dusun, bukan orang penting dan bukan orang ternama.

Namun, sikapnya yang gagah dan wibawanya yang kuat menggerakkan ratusan ribu orang yang dengan suka rela menjadi pengikutnya.

Terbentuklah barisan yang kokoh kuat dan mulailah pasukan Li Cu Seng bergerak.

Pendekar yang berasal dari Propinsi Shensi ini, memimpin laskarnya dan mulai penyerangannya dari utara dan barat.

Pada waktu itu orang-orang Mancu sudah mengembangkan kekuasaannya ke selatan, namun gerakan mereka itu terbentur dan terhenti oleh pertahanan pasukan pemer intah Kerajaan Beng yang berjaga di Tembok Besar yang kokoh itu.

Dalam tahun 1640 Honan terjatuh ke tangan Li Cu Seng, dan dengan cepat pasukannya bergerak dan menduduki Propinsi Shensi dan Shansi.

Di beberapa daerah ini, jumlah pengikutnya bertambah dan dia berhasil menghimpun pasukan yang besar dan kuat.

Pemerintahan Kaisar Cung Ceng yang dipenuhi para Thai-kam dan pejabat tinggi yang korup, tidak mendapat dukungan rakyat.

Bahkan banyak pula panglima perang yang besar kekuasaannya seolah kurang mengacuhkan adanya pemberontakan Li Cu Seng yang semakin mendekati kota raja Peking.

Banyak panglima perang juga sudah muak dengan pemerintahan Kaisar Cung Ceng yang korup dan dikuasai Thaikam itu.

Diam-diam mereka mengharapkan pergantian pimpinan pada pemerintah Dinasti Beng.

Di antara para panglima besar ini, yang terkenal adalah Panglima Bu Sam Kwi.

Panglima Bu Sam Kwi memiliki pasukan yang besar dan kuat dan berkat pertahanannya di Tembok Besar Sa-hai-koan di mana Tembok Besar sampai di tepi lautan, maka pasukan Mancu tidak mampu menembus ke selatan.

Panglima Bu Sam Kwi terkenal sebagai seorang panglima yang pandai memimpin pasukan, dan diam-diam dia menaruh simpati kepada gerakan Li Cu Seng yang merupakan seorang Beng-cu (Pemimpin Rakyat) yang berjuang membebaskan pemer intah dari cengkeraman para pejabat korup.

Maka, Panglima Bu Sam dewi Kzwi seolah-olah menutup sebelah mata dan pura-pura t idak tahu bahwa gerakan pemberontakan Li Cu Seng sudah menguasai beberapa propinsi, bahkan mulai mendekati kota raja Peking!

Pada suatu pagi bulan kedua tahun 1644, tiga orang penunggang kuda menjalankan kudanya dengan santai di jalan umum di luar kota raja Peking sebelah barat.

Yang berada di tengah adalah seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun, bertubuh sedang namun tegap dan gagah, duduk di atas punggung kuda dengan tegak lurus menunjukkan seorang ahli, wajahnya membayangkan kegagahan dan kekerasan, sepasang matanya tajam bagaikan mata burung rajawali, pakaiannya seperti seorang petani sederhana dan di punggungnya tergantung sebatang pedang.

Dua orang yang menunggang kuda di kanan kirinya adalah pria-pria berusia sekitar lima puluh tahun, yang seorang bertubuh tinggi kurus wajahnya seperti tengkorak dan yang ke dua bertubuh tinggi besar seperti raksasa, wajahnya penuh brewok menyeramkan.

Juga dua orang ini mempunyai senjata golok yang terselip di punggung mereka.

Pria yang berada di tengah dan dari sikap kedua orang pendampingnya mudah diduga bahwa dialah yang menjadi pemimpin, bukanlah orang biasa.

Dialah pende kar Li Cu Seng yang amat terkenal dan dipuja ratusan ribu orang sebagai pejuang yang hendak menumbangkan kekuasaan yang dianggap lalim di Kerajaan Beng.

Adapun dua orang pendampingnya itu adalah dua orang pembantunya yang setia.

Yang seperti raksasa brewok bernama Gu Kam, sedangkan yang bertubuh tinggi kurus bermuka tengkorak adalah Giam Tit, sute (adik seperguruan) dari Gu Kam.

Kedua orang ini adalah tokoh-tokoh Bu-tong-pai yang terkenal lihai ilmu goloknya.

Li Cu Seng adalah seorang pemimpin rakyat yang amat terkenal dan dia mempunyai pasukan yang amat besar jumlahnya.

Sebagai seorang panglima besar, mengapa dia sekarang berkeliaran di luar kota raja, ditemani dua orang pembantunya, berpakaian seperti tiga orang desa biasa?

Li Cu Seng, selain lihai ilmu silatnya, juga merupakan seorang pemimpin barisan yang pandai.

Setelah menguasai beberapa propinsi di barat dan daerah utara, dia memimpin barisannya menuju kota raja Peking.

Dan sebagai seorang ahli perang vang ulung, kini dia turun tangan sendiri melakukan penyelidikan di luar benteng kota raja sebelah barat, ditemani dua orang pembantunya.

Dia memang sudah menyebar para mata-mata dan penyelidik untuk mempelajari kekuatan musuh di kota raja, akan tetapi dia tidak merasa puas kalau tidak terjun sendiri melakukan penyelidikan.

Di sinilah letak kekuatan dari Li Cu Seng.

Dia teliti dan penuh perhitungan, melengkapi kekuatan pasukannya dengan kecerdikannya.

Dua kelebihan ini digabung dan mendatangkan keberhasilan kepadanya.

Karena kini pasukannya sudah siap untuk melakukan penyerbuan ke kota raja Peking, maka Li Cu Seng, ditemani dua orang pembantunya yang setia, melakukan pengamatan sendiri untuk melihat bagaimana kekuatan pasukan kerajaan yang melakukan penjagaan di kota raja.

Sementara itu, di kota raja sendiri, para panglima yang masih setia kepada Kaisar Cung Ceng, sibuk melakukan persiapan untuk mempertahankan kota raja dari ancaman laskar rakyat pimpinan Li Cu Seng yang sudah menguasai sebagian besar daerah barat dan utara.

Akan tetapi mereka ini sebagian besar adalah para panglima yang berpihak pada para Thaikam, para panglima yang memperoleh kedudukan tinggi karena jasa para Thaikam dan yang mendapatkan pembagian harta benda yang mereka korup.

Karena mereka hanya setia kepada harta, kedudukan, dan kesenangan, maka tentu saja mereka juga tidak sepenuh hati membela Kerajaan Beng, walaupun jumlah pasukan mereka masih cukup banyak dan kuat.

Kaisar Cung Ceng sendiri tidak menyadari bahwa kota raja sudah terancam oleh laskar rakyat pimpinan Li Cu Seng.

Para Thaikam sengaja menimbuni Kaisar dengan segala macam pesta dan kesenangan.

Akan tetapi mereka juga berusaha untuk menyelamatkan diri.

Mereka menghubungi dan mengirim sogokan kepada para panglima besar yang bertugas di perbatasan.

Juga Panglima Bu Sam Kwi menerima sogokan dan hadiah dengan permintaan agar Panglima Bu Sam Kwi mengirim bala-tentaranya untuk melindungi kota raja dari ancaman musuh.

Akan tetapi, Panglima Bu Sam Kwi yang memang sudah t idak suka kepada Cung Ceng, tidak mengacuhkan permintaan itu.

Bahkan diam-diam Panglima Bu Sam Kwi condong mendukung gerakan Li Cu Seng untuk menumbangkan Kaisar Cung Ceng yang menjadi kaisar boneka di bawah pengaruh para Thaikam.

Li Cu Seng dan dua orang pembantunya, Cu Kam dan Giam Tit, terlalu memandang rendah kepada para pimpinan pasukan pertahanan kota raja.

Karena memandang rendah, mereka menjadi lengah, tidak tahu bahwa rahasia kedatangan mereka mendekati kota raja telah diketahui mata-mata pasukan kerajaan!

Bagaimanapun juga, di kota raja masih terdapat panglima tua yang amat setia kepada Kerajaan Beng.

Biarpun mereka juga t idak suka melihat Kaisar dikuasai para Thaikam, namun mereka tetap setia kepada Dinasti Beng dan siap untuk membela kerajaan itu mati-matian dengan taruhan nyawa.

Dalam keadaan kota raja terancam bahaya, maka para panglima yang setia inilah yang mengundang para pendekar untuk membantu pasukan kerajaan mempertahankan Peking dari serangan musuh.

Di antara panglima ini terdapat seorang panglima tua, yaitu Panglima Ciok Kak yang biasa disebut Ciong-goanswe (Jenderal Ciong).

Usianya sudah enam puluh lima tahun, namun dia masih gagah perkasa, terkenal sebagai seorang ahli silat dan ahli perang yang berpengalaman.

Bahkan dia mengenal baik para pendekar di dunia kang-ouw karena dia sendiri adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang pandai.

Dialah yang mengepalai bagian para penyelidik yang merupakan bagian penting dari pasukan pertahanan kota raja.

Dia mengundang para pendekar gagah untuk menjadi penyelidik.

Ciong Goanswe ini yang mengutus tujuh orang pendekar, dijadikan mata-mata yang melakukan penyelidikan dan pengawasan di luar kota raja, bersama belasan orang pendekar lain.

Tujuh orang ini melakukan pengamatan di sebelah barat, luar benteng kota raja.

Mereka adalah Su Lok Bu, seorang murid Siauw-lim-pai yang pandai, juga seorang pen-siunan perwira kerajaan.

Orangnya berusia sekitar lima puluh dua tahun, bertubuh tinggi besar berkulit hitam, mukanya penuh brewok dan matanya lebar seperti Panglima Thio Hwi dalam cerita Sam Kok, dan dia seorang ahli bermain siang-kiam (sepasang pedang) yang kosen.

Orang ke dua adalah seorang pensiunan perwira pula, sahabat dari Su Lok Bu sejak muda, bernama Cia Kok Han, berusia sekitar lima puluh dua tahun pula.

Cia Kok Han ini seorang murid Bu-tong-pai yang terkenal dengan senjata twato (golok besar).

Tubuhnya pendek dengan perut gendut, kulitnya putih, matanya sipit sekali dan seluruh rambut dan jenggotnya sudah putih semua.

Kita mengenal Su Lok Bu dan Cia Kok Han ini karena mereka ini, kurang lebih dua tahun yang lalu, bekerja sebagai pengawal pribadi Pui Ki Cong atau yang dikenal sebagai Pui Kongcu (Tuan Muda Pui), yaitu orang pertama yang menjadi musuh besar Kim Cui Hong dan yang kemudian disiksa sampai menjadi seorang tapadaksa berat oleh gadis itu yang membalas dendamnya.

Setelah terjadi peristiwa pembalasan dendam dari Kim Cui Hong terhadap empat orang yang pernah memperkosa dan menghinanya, yang telah disiksa tiga orang dan yang seorang membunuh diri, dua orang jagoan ini segera mengundurkan diri.

Mereka berdua adalah pendekar, tokoh Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai.

Setelah mereka mengetahui duduknya perkara, mereka segera meninggalkan keluarga bangsawan Pui.

Keduanya menyadari bahwa mereka telah bekerja sebagai pengawal seorang pemuda bangsawan yang pernah melakukan perbuatan keji terhadap Kim Cui Hong.

Mereka merasa malu dan pergi tanpa pamit.

Kemudian, dua orang sahabat ini mememenuhi panggilan Jenderal Ciong Kok yang mereka kenal baik, dan mendapat tugas mengamati keadaan di luar benteng kota raja bagian barat.

Dua orang jagoan ini ditemani oleh lima orang jagoan lain yang terkenal dengan sebutan Liong-san Ngo-eng (Lima Pendekar Bukit Naga).

Mereka adalah kakak beradik seperguruan, tokoh-tokoh perguruan silat Liong-san-pai yang merupakan ahli-ahli silat pedang yang cukup tangguh.

Tujuh orang mata-mata pemerintah ini telah mendapat berita dari para penyelidik yang membuat pengamatan lebih jauh dari benteng kota raja bahwa ada tiga orang penunggang kuda yang pakaiannya seperti penduduk dusun, akan tetapi cara mereka menunggang kuda dan di punggung mereka terdapat senjata, menimbulkan dugaan bahwa mereka itu bukanlah penduduk dusun biasa dan patut dicurigai dan diselidiki lebih lanjut karena tiga orang penunggang kuda itu menuju ke arah kota raja.

Demikianlah, karena memandang rendah pertahanan kota raja Peking, maka pemimpin las kar rakyat Li Cu Seng menjadi lengah.

Ketia dia dan dua orang pembantunya tiba di luar tembok benteng, di tepi sebuah hutan, mereka menghentikan kuda mereka.

Li Cu Seng memberi isyarat dan dua orang pembantunya, Cu Kam dan Giam Tit, ikut pula turun dari atas punggung kuda mereka.

Mereka menambatkan kuda di pohon tepi hutan itu.

"Dari sini kita harus berjalan kaki. Bersikaplah biasa dan kalau ada pertanyaan, kita mengaku akan mengunjungi keluarga yang tinggal di kota raja."

Kata Li Cu Seng dengan sikap tenang. Dua orang pembantunya mengerutkan ali dan tampak ragu dan khawatir.

"Memasuki kota raja?"

Tanya Gu Kam.

"Akan tetapi itu berbahaya sekali, Li-bengcu (Pemimpin Li)!"

"Hemm, Gu-twako, apakah engkau takut?"

Li Cu Seng bertanya sambil menatap wajah raksasa brewok itu dengan sinar mata tajam.

"Li-bengcu, engkau tahu bahwa aku tidak pernah takut!"

Kata Gu Kam.

"Suheng (Kakak Seperguruan) Gu Kam tentu saja tidak takut, Li-bengcu. Akan tetapi yang kami khawatirkan adalah bengcu sendiri. Kalau sampai ketahuan musuh bahwa bengcu sendiri yang memasuki kota raja, bagaimana mungkin kami berdua dapat melindungi bengcu dari ser-gapan balatentara kerajaan yang berkumpul di kota raja?"

Kata Giam Tit. Li Cu Seng tersenyum, mengangguk-angguk. Tentu saja dia tidak pernah meragukan kesetiaan dan kegagahan dua orang pembantunya ini.

"Gu-twako dan Giam-twako, aku tahu benar bahwa kalian berdua tidak takut menghadapi apapun juga. Sejak semula kita semua sudah menyadari bahwa perjuangan ini berarti mempertaruhkan nyawa kita. Hanya ada dua pilihan, berhasil atau mati! Karena itu, mengapa kita ragu kalau ada bahaya menanti dalam kota raja? Kiranya tidak ada yang tahu akan penyamaran kita bertiga. Kalau ada yang bertanya, jangan lupa mengatakan bahwa kita datang dari dusun dan hendak mengunjungi keluarga Panglima Bu Sam Kwi yang tinggal di kota raja."

"Akan tetapi, apakah bengcu benar-benar mengenal Jenderal Bu Sam Kwi?"

Tanya Giam Tit. Li Cu Seng tersenyum.

"Tentu saja aku mengenalnya, bahkan kami dulu menjadi sahabat baik. Aku akan memakai nama marga Cu, dan kalian berdua adalah kakak beradik she (bermarga) Kam. Nah, mari kita memasuki kota raja. Kita tinggalkan kuda di sini."

Mereka bertiga menambatkan kuda pada batang pohon, akan tetapi melepaskan kendali dari hidung dan mulut kuda-kuda itu sehingga tiga ekor binatang itu dapat makan rumput yang tumbuh subur di bawah pohon-pohon itu.

Su Lok Bu dan Cia Kok Han memberi isarat kepada lima orang Liong-san Ngo-heng untuk mendekat.

Mereka bertujuh lalu berunding.

"Kita belum yakin siapa mereka dan apa niat mereka. Belum tahu benar apakah mereka itu lawan atau kawan. Maka kita bayangi saja ke mana mereka pergi. Lihat, mereka bertiga meninggalkan kuda dan kini berjalan menuju ke pintu gerbang kota raja. Kita bayangi dari jauh!"

Bisik Cia Kok Han.

Tujuh orang itu membayangi tiga orang yang berjalan dengan santai menuju ke pintu gerbang.

Setelah tiba di pintu gerbang, para penjaga pintu gerbang menghadang dan menghentikan t iga orang itu.

"Berhenti! Kami mendapat tugas untuk memer iksa semua pendatang yang tidak kami kenal. Hayo katakan, siapa kalian, datang dari mana dan hendak kemana?"

Tanya komandan jaga dengan sikap tegas. Li Cu Seng melangkah maju dan memberi hormat.

"Sobat, dalam keadaan seperti sekarang ini, memang kalian sebagai penjaga-penjaga harus teliti dan tegas. Sikapmu ini mengagumkan dan pasti akan mendapat pujian dari Panglima Besar Bu Sam Kwi. Kami akan melaporkan ketegasanmu ini kepada beliau!"

"Panglima Besar Bu Sam Kwi?"

Komandan jaga bertanya, matanya terbelalak.

Tentu saja dia tahu siapa Panglima Besar Bu Sam Kwi.

Semua orang mengenal panglima besar yang amat terkenal itu, apalagi perajurlt seperti dia dan kawankawannya.

"Engkau menyebut nama Panglima Besar Bu Sam Kwi? Apakah kalian bertiga ini perajurit-perajurit anak buah Bu Thai-ciangkun (Panglima Besar Bu)?"

Li Cu Seng tersenyum, sengaja mengambil sikap angkuh dan dua orang pembantunya juga mengimbangi sikap ini, mereka membusungkan dada.

"Perajurlt? Kami adalah perwira-perwira pembantu beliau yang amat dipercaya sehingga beliau kini mengutus kami untuk mengunjungi keluarga beliau di kota raja."

Sikap komandan jaga dan anak buahnya yang berjumlah selosin orang itu berubah. Komandan jaga memandang hormat.

"Ah, maafkan karena kami tidak mengenal sam-wi (tuan bertiga). Akan tetapi, kalau sam-wi para pembantu Panglima Besar Bu Sam Kwi, mengapa sam-wi tidak mengenakan pakaian dinas?"

"IH, kawan. Di luar sana terdapat tt banyak pasukan pemberontak. Kalau kami memakai pakaian perwira, tentu kami tidak akan dapat sampai di sini! Kami sengaja menyamar sebagai petani agar dapat mudah masuk ke kota raja dan menyampaikan pesan Panglima Besar Bu kepada keluarganya di kota raja."

"Baiklah, kami percaya. Akan tetapi demi ketertiban, harap sam-wi memperkenalkan nama sam-wi agar kami catat."

"Aku bermarga Cu, dan dua orang temanku ini adalah kakak beradik bermarga Kam. Sekarang maafkan kami karena kami harus segera menghadap keluarga Panglima Besar Bu Sam Kwi."

Kata Li Cu Seng.

Para penjaga itu tidak berani lagi menghalangi dan mereka mempersilakan tiga orang yang mengaku sebagai perwira-perwira utusan Jenderal Bu memasuki pintu gerbang kota raja.

Akan tetapi pada saat itu, tujuh orang penunggang kuda yang berpakaian sebagai perwira datang dari luar.

Su Lok Bu dan Cia Kok Han berlompatan turun dari atas punggung kuda mereka, diikuti o leh lima orang Liong-san Ngo-eng.

Su Lok Bu dan Cia Kok Han sudah menghadang tiga orang yang baru hendak memasuki pintu gerbang dan Su Lok Bu, murid Siau-wlim-pai yang bertubuh tinggi besar hitam brewokan itu berkata dengan suara yang nyaring.

"Harap kalian bertiga berhenti dulu!"

Seru Su Lok Bu sambil berdiri tegak di depan tiga orang itu dan mengamati wajah mereka dengan tajam menyelidik.

"Siapakah kalian, datang dari mana dan hendak ke mana?"

Dengan penuh kewaspadaan namun dengan sikap yang tenang, Li Cu Seng tersenyum lalu menjawab.

"Baru saja para penjaga pintu gerbang sudah menanyakan hal yang sama kepada kami sudah kami jawab dengan sejelasnya. Akan tetapi kalau cu-wi (kalian semua). ingin tahu, boleh kami ulang jawaban kami. Aku she (bermarga) Cu dan dua orang temanku ini kakak beradik bermarga Kam. Kami bertiga datang dari barisan penjaga garis depan di San hai-koan, kami tiga orang perwira kepercayaan Panglima Besar Bu Sairi Kwi dan kami diutus oleh Bu Thai-ciangkun untuk mengunjungi keluarganya di kota raja."

Cia Kok Han yang bertubuh pendek gendut bertanya.

"Maafkan kami, sobat-sobat, kalau kami bersikap teliti. Kalau kalian bertiga benar perwira pembantu Panglima Besar Bu Sam Kwi, tolong perlihatkan surat kuasa untuk tanda kalian agar kami merasa yakin. Juga agar kalian memberi keterangan mengapa kalian berpakaian seperti petani dusun dan mengapa pula kalian meninggalkan tiga ekor kuda tunggangan kalian di hutan itu."

Diam-diam tiga orang pimpinan laskar pemberontak itu terkejut.

Kiranya tujuh orang itu telah mengetahui bahwa mereka datang berkuda!

Ini berarti bahwa sudah sejak jauh dari situ mereka telah diawasi!

Akan tetapi Li Cu Seng yang cerdik tetap tenang ketika dia menjawab sambil tersenyum.

"Kami kira sebagai perwira-perwira yang berpengalaman, tentu cu-wi mengerti keadaan kami. Di luar sana terdapat banyak sekali pasukan pemberontak. Kalau kami mengenakan pakaian perwira, sudah pasti kami tidak mungkin dapat sampai di sini dan sudah terbunuh di tengah perjalanan. Kami sengaja meninggalkan kuda kami di hutan karena kami ingin agar tidak menarik perhatian karena kami menyamar sebagai orang desa. Dan tentang surat-surat yang menunjukkan bahwa kami utusan Panglima Besar Bu Sam Kwi, ah, tentu cuwi sudah mengetahui. Kami adalah perajurit-perajurit yang setia sampai mati. Andaikata kami yang melaksanakan tugas ini harus mati dalam perjalanan, jangan sampai ada yang mengetahui siapa kami untuk menjaga rahasia pimpinan kami."

Jawaban yang lancar ini membuat hati Su Lok Bu, Cia Kok Han dan kelima Liong-san Ngo-heng merasa puas.

"Maafkan kalau kami memer iksa dengan teliti karena kami tidak ingin kecolongan. Nah, kalau begitu silakan sam-wi (kalian bertiga) melanjutkan perjalanan ke rumah keluarga Panglima Besar Bu. Perkenalkan, kami bertujuh adalah para pembantu Ciong Goan-swe yang juga merupakan rekan dan sahabat Panglima Besar Bu Sam Kwi. Kami akan melaporkan kedatangan kalian di kota raja kepada beliau."

Kata Su Lok Bu.

Diam-diam hati Li Cu Seng terkejut juga.

Kalau Jenderal Cong sendiri yang bertemu dengannya, tentu jenderal itu akan mengenalnya.

Maka dia cepat mengucapkan terima kasih dan melanjutkan perjalanannya ke dalam kota raja, diikuti oleh dua orang pembantunya.

Karena Li Cu Seng menduga bahwa para perwira tadi cerdik dan tentu tidak akan melepaskannya dari pengawasan begitu saja, maka dia terpaksa mengajak dua orang temannya menuju ke rumah keluarga Panglima Besar Bu Sam Kwi, tidak jadi langsung menyelidiki keadaan dan kekuatan benteng pasukan kerajaan.

Dua orang temannya berbisik, menyatakan kekhawatirannya kalau mereka mengunjungi keluarga Bu Sam Kwi.

Bagaimana kalau keluarga itu mengenal Li Cu Seng?

Pasti akan gempar dan pasukan datang menangkap mereka.

Di dalam kota raja, mereka bagaikan tiga ekor harimau yang sudah terjebak dalam ruangan tertutup dan tidak mungkin dapat lolos!

"Jangan khawatir, tidak ada seorang pun anggauta keluarga Bu Sam Kwi yang pernah mengena!

aku.

Bahkan Bu Sam Kwi sendiri kalau bertemu dengan aku belum tentu dapat mengenalku.

Kami bersahabat ketika kami masih muda, belasan tahun yang lalu.

Jangan khawatir, kita ke sana dan biarkan aku yang bicara dengan mereka.

Setelah ada kesempatan, baru kita akan berkeliling dalam kota untuk melakukan penyelidikan."

Tiga orang itu lalu menuju ke rumah besar yang menjadi tempat tinggal keluarga Panglima Besar Bu Sam Kwi.

Tentu saja mereka sudah tahu di mana rumah itu karena sebelumnya mereka telah mempelajari keadaan kota raja dari para penyelidik yang lebih dulu sudah disebar dalam kota raja Peking.

Ketika mere ka sedang berjalan dan tiba di depan sebuah pasar, seorang pengemis berusia sekitar lima puluh tahun, berpakaian compang-camping penuh tambalan, terbungkuk-bungkuk menghampiri mereka dan menyodorkan sebuah mangkok retak dengan tangan kanannya minta sedekah (sumbangan).

Tangan kirinya memegang sebatang tongkat hitam.

"Kasihanilah, Tuan, berilah sedikit sumbangan!"

Kata pengemis itu dengan suara cukup lantang sehingga terdengar orang-orang di sekitar tempat itu.

Li Cu Seng dan dua orang pembantunya segera mengenal pengemis ini.

Ada belasan orang anggauta Hek-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam), sebuah perkumpulan pengemis yang mendukung gerakan Li Cu Seng, memang telah menyusup ke dalam kota raja dan menjadi mata-mata yang melaporkan keadaan kota raja kepada para pimpinan pemberontak.

Maka Li Cu Seng dan dua orang temannya segera mengeluarkan uang receh dan memasukkannya ke dalam mangkok retak itu.

Ketika tidak ada orang lain memperhatikan peristiwa biasa dan wajar ini, si Pengemis berbisik.

"Beng-cu (Pemimpin Rakyat), hati-hati, ada beberapa ekor serigala membayangi."

Setelah berbisik demikian, pengemis itu pergi.

Tiba-tiba Li Cu Seng menjatuhkan dua buah uang receh dan segera membungkuk untuk memungutnya.

Kesempatan ini dia pergunakan untuk melihat ke arah belakangnya dan dia dapat melihat lima orang menyelinap di antara para pengunjung pasar dan tahulah dia bahwa mereka itu yang disebut srigala oleh anggauta Hek-tung Kai-pang itu.

Sebutan srigala berarti mata-mata musuh, atau kaki tangan pasukan kerajaan.

Li Cu Seng memberi isarat kepada dua orang temannya untuk berjalan tenang seperti biasa dan dia lalu mengajak mereka pergi ke gedung keluarga Panglima Bu.

Gedung itu besar dan halaman depannya amat luas.

Akan tetapi anehnya, mereka tidak melihat ada perajurit yang berjaga di gardu dekat pintu gerbang.

Padahal Panglima Bu Sam Kwi adalah seorang pembesar militer yang memiliki kedudukan tinggi, bahkan kini pertahanan seluruh balatentara kerajaan untuk menghadang gerakan orang-orang Mancu berada di tangan Panglima Bu.

Akan tetapi mengapa rumah keluarga panglima yang berkuasa itu tidak dijaga perajurit?

Karena tidak ada yang menjaga, tiga orang itu langsung saja memasuki halaman yang luas menuju ke pendapa gedung besar itu.

Ketika mereka tiba di pendapa, dua orang laki-laki setengah tua yang berpakaian sebagai pelayan keluar menyambut.

Melihat bahwa yang datang hanya tiga orang laki-laki berpakaian seperti orang-orang desa, dua orang pelayan itu mengerutkan alis mereka dan tampak tidak senang.

"Heh, siapa kalian dan mau apa datang ke sini!"

Seorang di antara mereka membentak, tampaknya marah.

"Kalau mau minta pekerjaan atau minta sumbangan, kami tidak dapat membantu dan hayo pergi dari sini!"

Kata orang kedua, cak kalah galaknya.

Li Cu Seng dan dua orang pembantunya segera dapat mengenal dua orang pelayan ini.

Dari sikap mereka, tahulah Li Cu Seng bahwa mereka berdua adalah orang-orang yang suka menjilat ke atas dan meludah ke bawah, mencari muka kepada atasan dan menekan kepada bawahan.

Dan dia tahu bahwa Kerajaan Beng kini penuh dengan orang-orang macam ini.

Sebagian besar para pejabatnya adalah penjilat-penjilat kaisar dan memeras rakyat, merendahkan rakyat, dan menumpuk harta kekayaan dari hasil memeras rakyat.

Karena para pembesar sebagian besai merupakan penjilat dan koruptor, maka dia tergerak dan mengerahkan laskar rakyat untuk memberontak, untuk meruntuhkan kekuasaan para koruptor itu.

Baru dua orang pelayan saja sudah begini sikapnya.

Dia yakin bahwa mereka ini merupakan sebagian dari anak buah atau pendukung dari para thai-kam yang kini berkuasa di istana.

Gu Kam dan Giam Tit sudah tidak sabar melihat sikap dua orang pelayan itu.

Gu Kam yang tinggi besar dan brewok itu melangkah ke depan menghadapi mereka dan berkata dengan suara keren.

"Kami adalah perwira-perwira utusan Panglima Besar Bu Sam Kwi! Cepat laporkan kepada keluarga Panglima Bu bahwa kami diutus untuk bicara dengan keluarga beliau!"

Dua orang pelayan itu saling pandang dan cengar-cengir. Jelas bahwa mereka tidak percaya dan menghina.

"Huh, siapa percaya?"

Kata yang seorang.

"Kalian bohong! Hayo pergil Masa ada perwira-perwira seperti kalian tiga orang desa kotor?"

Gu Kam dan Giam Tit tidak dapat menahan kemarahan mereka. Sekali bergerak, mereka sudah memegang lengan kanan dua orang pelayan itu dan begitu mereka mengerahkan tenaga, terdengar suara "krekk!"

Dan tulang lengan kanan dua orang pelayan itu patah!

Tentu saja mereka menjerit dan menyeringai kesakitan.

Tiba-tiba seorang laki-laki yang juga berpakaian sebagai pelayan muncul dari pintu.

Usianya lebih tua dari yang dua orang itu.

"Eh, ada apakah ini? Siapa kalian bertiga dan mengapa ada ribut-ribut di sini?"

Karena pelayan satu ini sikapnya sopan dan kata-katanya juga halus, Li Cu Seng berkata kepada dua orang pembantunya.

"Lepaskan mereka!"

Kemudian setelah dua orang pelayan itu dilepaskan dan mereka memegangi lengan yang patah tulangnya sambil mengaduh-aduh, dia berkata kepada pelayan ke tiga.

"Kami bertiga adalah perwira-perwira pembantu Panglima Besar Bu Sam Kwi yang diutus datang menemui keluarga beliau. Kami sengaja menyamar dan dua orang pelayan ini tidak percaya dan bersikap kurang ajar kepada kami."

Pelayan tua itu segera membungkuk dengan hormat.

"Ah, kiranya sam-wi adalah perwira-perwira utusan Panglima Besar Bu! Heh, kalian berdua sungguh tidak tahu aturan. Hayo pergi ke belakang!"

Setelah dua orang pelayan yang patah tulang lengan kanannya itu sambil merintih pergi, pelayan tua itu lalu berkata kepada Li Cu Seng.

"Harap Sam-wi Ciangkun (Perwira Bertiga) ketahui bahwa pada saat ini, anggauta Panglima Besar Bu yang berada di rumah hanya tinggal Kim Hujin (Nyonya Kim) seorang saja. Sam-wi Ciangkun tentu mengetahui bahwa semua keluarga yang lain telah dijemput oleh pasukan utusan Panglima Besar Bu Sam Kwi beberapa minggu yang lalu dan yang tinggal di sini sekarang hanya Kim Hujin."

Tentu saja Li Cu Seng tidak mengetahui akan ha l ini, akan tetapi setelah mengaku sebagai perwira utusan Panglima Bu, tidak mungkin kalau dia tidak mengetahui!

"Tentu saja kami tahu akan hal itu.

Kami memang diutus untuk menemui Kim Hujin untuk menyampaikan pesan Panglima Bu."

"Kalau begitu silakan duduk menanti sebentar, saya akan melaporkan kepada Kim Hujin!"

Kata pelayan itu, lalu dia masuk ke dalam gedung. Li Cu Seng dan dua orang temannya duduk menunggu di atas bangku yang terdapat di pendapa atau ruangan depan itu.

"Beng-cu, apa yang akan kita katakan kalau berhadapan dengan Kim Hujin itu?"

Ciam Tit berbisik, bingung.

Li Cu Seng memberi isarat dengan pandang matanya agar dua orang temannya itu memandang ke luar.

Ketika keduanya memandang ke luar, mereka melihat berkelebatnya bayangan beberapa orang di luar pintu gerbang.

Tahulah mereka bahwa sampai sekarang ada orang-orang yang membayangi mereka seperti dilaporkan anggauta Hek-tung Kai-pang tadi.

"Jangan khawatir, serahkan saja kepadaku."

Kata Li Cu Seng dengan sikap tenang sehingga dua orang pembantunya merasa agak lega. Mereka percaya sepenuhnya akan kecerdikan pemimpin mereka ini. Pelayan tua tadi muncul kembali.

"Silakan sam-wi masuk dan menunggu di ruangan tamu. Kim Hujin akan segera menemui sam-wi."

Dia mengantar tiga orang tamu itu memasuki ruangan tamu yang luas, bersih dan tertutup.

Agaknya ruangan ini selain menjadi ruangan tamu, juga dapat dipergunakan untuk ruangan tempat pertemuan penting yang tak dapat dilihat atau didengar orang luar.

Setelah mengajak tiga orang itu masuk ke dalam ruangan tamu, pelayan itu keluar lagi dan menutupkan pintu depan dari luar.

Li Cu Seng memberi isarat kepada dua orang pembantunya untuk mengambil tempat duduk di atas kursi-kursi yang menghadap kepada sebuah meja di mana terdapat pula beberapa buah kursi, agaknya biasa menjadi tempat duduk mereka yang memimpin pertemuan.

Terdengar langkah kaki lembut dari dalam.

Mereka bertiga cepat menengok dan ketika yang memiliki langkah kaki muncul dari pintu dalam, berdiri di ambang pintu dan menahan langkahnya lalu memandang kepada mereka bertiga dengan sinar mata tajam menyelidik, tiga orang itu cepat bangkit berdiri dan mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan.

Mata tiga orang itu terbelalak heran dan juga kagum.

Sama sekali Li Cu Seng tidak mengira bahwa yang disebut Nyonya Kim itu adalah seorang wanita yang demikian muda, dengan kecantikan seorang dewi!

Sang Dewi Kecantikan sendiri yang agaknya berdiri di situ!

Usianya paling banyak dua puluh lima tahun, masih tampak seperti gadis belasan tahun, namun sinar mata, senyumnya, dan sikapnya menunjukkan bahwa wanita ini sudah matang dan selain pandai membawa diri, juga anggun dan bahkan bersikap agung seperti seorang puteri istana saja!

Rambutnya hitam subur dan agaknya panjang sekali karena dilipat menjadi sanggul yang besar ke atas, dihiasi tusuk sanggul emas permata berbentuk burung Hong (sejenis Cenderawasih), indah dan tentu mahal sekali.

Anak rambut hitam halus melingkar-lingkar manja di atas dahi dan kedua pelipisnya, membuat wajah berbentuk bulat telur itu tampak semakin putih mulus.

Sepasang alis hitam melengkung tanpa dibuat melindungi sepasang mata bintang yang bersinar tajam namun lembut dan jernih, dengan bulu mata panjang lentik.

Hidungnya kecil mancung dengan ujung agak menjungat sehingga mendatangkan kesan lucu.

Mulutnya menggairahkan dengan sepasang bibir yang lunak, tipis namun penuh, kemerahan kalau bicara bergerak-gerak hidup.

Senyumnya menawan dan kilatan gigi putih rapi berderet teramat manis.

Selain wajah yang amat cantik jelita ini, tubuh wanita itu pun ramping padat dengan lekuk lengkung sempurna, terbungkus pakaian dari sutera yang indah.

Kakinya memakai sandal bulu putih yang bersih, terhias sulaman benang sutera keemasan.

Benar-benar penampilan seorang wanita yang sepantasnya tinggal di antara awan-awan bersama Kwan Im Pouwsat (Dewi Maha Kasih)!

Li Cu Seng adalah seorang pendekar yang tidak termasuk seorang terpelajar tinggi, lebih tepat disebut seorang ahli silat.

Selama ini dia sibuk dengan perjuangan, hidup di dunia kangouw (sungai-telaga, dunia persilatan), bahkan tidak menghiraukan keluarganya, tidak mudah tertarik oleh wanita cantik.

Akan tetapi sekali ini dia merasa seperti mimpi bertemu seorang dewikz!

Inikah yang oleh pe layan disebut Kim Hujin?

Seorang Nyonya?

Apakah ia isteri dari Panglima Besar Bu Sam Kwi?

"Maaf, Nona, kalau kunjungan kami ini mengganggu."

Kata Li Cu Seng sambil menatap wajah wanita itu dengan kekaguman terbuka.

Wanita cantikitu tersenyum, bukan oleh ucapan yang keluar dari mulut laki-laki gagah itu, melainkan karena ia melihat pandang mata kagum itu.

Ah, betapa setiap orang pria memandangnya seperti itu kalau bertemu dengannya!

Ia sudah terbiasa, akan tetapi biasanya laki-laki yang memandang kagum mencoba untuk menyembunyikan kekaguman mereka, tidak seperti laki-laki ini yang memperlihatkan kekagumannya secara terbuka.

Juga ia geli mendengar sebutan nona itu.

"Aku bukan nona, melainkan seorang diantara selir-selir Panglima Besar Bu Sam Kwi."

Kata wanita itu sambil tersenyum sehingga wajahnya menjadi semakin menarik.

"Sam-wi (kalian bertiga) siapakah dan benarkah kalian diutus Panglima Bu untuk berkunjung ke sini?"

"Maafkan kami, Nyonya, kami adalah utusan Panglima Bu. Saya she Cu dan mereka ini kakak beradik she Kam. Kami adalah perwira-perwira pembantu Panglima Bu. Kami diutus mengabarkan bahwa keadaan Panglima Bu di sana baik-baik saja dan kami disuruh menanyakan keadaan keluarga beliau di sini."

"Hemm, keluarga Panglima Bu yang tinggal di sini hanya aku seorang, dan para pelayan. Semua anggauta keluarga telah diboyong ke San-hai-koan!"

Wanita itu memandang tajam penuh selidik.

"Kami mengerti, Toanio (Nyonya Besar)...."

"Hemm, jangan menyebut aku Nyonya besar! Namaku Kim Lan Hwa dan aku lebih suka disebut Nyonya Kim begitu saja!"

"Baiklah, Nyonya Kim. Kami sudah tahu bahwa sebagian besar anggauta keluarga Panglima Bu sudah diboyong ke sana, justeru Panglima Bu menyuruh kami datang mengunjungimu, Nyonya. Beliau mengkhawatirkan keadaanmu di sini."

Wajah yang cantik itu berseri, matanya bersina-sinar.

"Aih, Panglima Bu demikian sayang padaku, sungguh membuat aku merasa bahagia sekali! Memang keadaan di sini.... ah, bagaimana kalau dua orang temanmu ini disuruh menjaga di luar kedua pintu depan dan belakang agar jangan ada yang ikut mendengarkan percakapan kita? Aku mempunyai banyak hal yang akan kusampaikan kepada Panglima Bu lewat engkau, Cu sicu (orang gagah Cu)."

Li Cu Seng berkata kepada dua orang pembantunya.

"Kalian berjagalah, seorang di luar pintu depan dan seorang lagi di luar pintu sebelah dalam itu."

Gu Kam lalu keluar dan berjaga di pintu luar dari mana tadi mereka masuk, sedangkan Giam Tit berjaga di luar pintu dalam dari mana tadi Kim Lan Hwa memasuki ruangan tamu.

Setelah kini berada berdua saja dengan Li Cu Seng, Kim Lan Hwa berkata dengan suara lirih.

"Cu-sicu, laporkan kepada Panglima Bu bahwa keadaan kota raja kini terasa tegang. Menurut kabar pasukan pemberontak telah mulai menuju ke kota raja. Sribaginda Kaisar telah memer intahkan semua pasukan pemerintah ditarik ke kota raja untuk melindungi kota raja. Bahkan telah dikirim utusan kepada suamiku, Panglima Bu, agar membawa pasukannya kembali ke sini. Akan tetapi aku mendengar bahwa Panglima Bu tidak menghiraukan perintah itu. Hal ini tentu saja menimbulkan kecurigaan dan amarah para Thaikam yang menuduh Panglima Bu sengaja membiarkan kota raja terancam oleh pasukan pemberontak. Karena anggauta keluarga Bu hanya tinggal aku seorang di sini, maka mereka mulai melontarkan kata-kata tidak enak terhadap aku. Aku takut sekali, Sicu! Apalagi aku mendengar bahwa pemberontak Li Cu Seng dan anak buahnya yang amat banyak itu benci sekali kepada para pejabat pemerintah Kerajaan Beng. Kalau sampai kota raja mereka serbu dan mereka duduki, tentu bahaya besar mengancam diriku sebagai seorang selir Panglima Besar Bu Sam Kwi!"

Wanita yang cantik itu mulai gemetar dan tampak sekali ia memang ketakutan.

"Akan tetapi, Nona Kim...."

"Nyonya, bukan Nona..."

Kim Lan Hwa memotong.

"Ketika Panglima Bu memboyong semua anggauta keluarga dari sini ke San-hai-koan, mengapa Nona tidak ikut pergi?"

Mendengar Li Cu Seng kembali menyebut Nona Kim Hwa tidak perduli lagi. Ia menghela napas panjang.

"Biarlah aku berterus terang agar engkau mengerti duduknya perkara, Cu-sicu. Sebetulnya tidak semestinya hal ini kuceritakan kepada orang lain. Akan tetapi entah mengapa, aku percaya padamu. Ketahuilah bahwa dahulu aku adalah seorang penyanyi yang terkenal di empat propinsi utara. Panglima Bu Sam Kwi mengambil aku sebagai seorang selir dan semenjak itu, isteri dan para selir lain dar i Panglima Bu amat membenciku... mungkin karena.... Panglima Bu amat sayang kepadaku.... mereka menjadi iri hati dan cemburu. Maka ketika Panglima Bu menyuruh pasukan menjemput keluarganya dari sini dan diboyong ke San-haikoan, Nyonya Bu mempergunakan kekuasaannya sebagai isteri pertama, memaksa aku agar tidak ikut dan tinggal di sini untuk menjaga rumah. Tentu saja mereka berharap agar kalau pemberontak menyerbu kota raja, aku akan disiksa dan dibunuh pemberontak yang membenci para bangsawan dan keluarga mereka.

"Aih, aku khawatir sekali, Sicu... aku takut sekali..."

Wanita itu mulai menangis.

Rasa takutnya selama ini, semenjak ditinggalkan seorang diri di gedung itu bersama sisa para pembantu yang tidak diikutsertakan boyongan ke San-hai-koan, ia tahan-tahan dan sekarang rasa takut yang ditahan itu jebol sehingga ia menangis tersedu-sedu, menutupi mukanya dengan saputangan yang dipegang kedua tangan.

Li Cu Seng merasa kasihan.

Seorang wanita cantik jelita itu kalau tersenyum, membuat orang lain merasa gembira, akan tetapi kalau menangis, membuat hati yang keras seperti hati Li Cu Seng menjadi lunak dan penuh iba!

Dia membiarkan saja wanita itu menangis mengeluarkan segala rasa takut dan kesedihan bersama air mata.

Setelah tangisnya mereda, dia berkata.

"Nona Kim, hentikan tangismu. Jangan takut dan jangan bersedih. Saya akan melindungimu dari marabahaya!"

Kim Lan Hwa menghapus air matanya dengan sepasang mata kemerahan dan membengkak ia memandang wajah Li Cu Seng.

"Ah, terima kasih, Cu-sicu, Aku mohon padamu, sicu.... kalau sicu kembali ke San-hai-koan, bawalah aku serta, Sicu"

Mendengar permintaan ini, bingung juga hati Li Cu Seng.

Tentu saja dia tidak dapat membawa wanita ini, karena dia sama sekali tidak akan pergi ke San-hai-koan, melainkan memimpin pasukannya menyerbu ke kota raja!

Melihat keraguan wajah pria itu, Kim Lan Hwa menjulurkan kedua tangannya dan menyeberangi meja, memegangi lengan kiri Li Cu Seng.

"Bawalah aku, Sicu, dan jangan takut. Akulah yang akan bertanggung jawab kalau Panglima Bu marah. Dia tidak mungkin marah padaku, dan dia bahkan akan merasa senang sekali kalau aku menyusul ke sana. Aku jamin engkau tidak akan disalahkan, Cu-sicu!"

Li Cu Seng merasa betapa lunak dan hangat jari-jari tangan yang memegang lengannya itu dan hatinya tergetar.

Belum pernah dia begini terpesona terhadap seorang wanita!

Tanpa disadarinya, tangan kanannya juga ditumpangkan ke atas tangan wanita itu dan ditekannya dengan penuh perasaan.

"Kalau begitu, baiklah, Nona..."

Pada saat itu, pintu depan terbuka dan Cu Kam menyelinap masuk bersama seorang laki-laki setengah tua berpakaian pengemis dan memegang sebatang tongkat hitam.

Seorang anggauta Hek-tung Kai-pang!

Wajah pengemis itu tampak tegang.

"Gu-twako, ada apakah?"

Li Cu Seng lupa bahwa tadi dia memperkenalkan Cu Kam dan Giam Tit sebagai kakak-beradik she Kam karena dia terkejut dan maklum bahwa anggauta Hek-tung Kai-pang itu tentu membawa berita yang buruk maka wajahnya tegang seperti itu.

"Cepat lapor kepada Beng-cu!"

Kata Cu Kam. Pengemis itu menghampiri Li Cu Seng dan berbisik.

"Bengcu, tujuh orang perwira tadi menuju ke sini. Agaknya mereka mencurigai Beng-cu bertiga!"

Li Cu Seng mengerutkan alisnya.

"Hmm, kalau begitu cepat hubungi kawan-kawan dan siap untuk melindungi kami keluar dari kota raja. Jangan turun tangan dulu sebelum terjadi perkelahian."

"Baik, Beng-cu."

Setelah berkata demikian, dengan gerakan gesit pengemis itu menyelinap keluar.

Gu Kam menutupkan daun pintu luar itu dari dalam.

Kim Lan Hwa kini bangkit dari kursinya dan menatap tajam wajah Li Cu Seng, kemudian ia menudingkan telunjuknya ke arah muka pemimpin pemberontak itu dan berkata gagap.

"Engkau Beng-cu...? Engkau Pemimpin Pemberontak Li I Cu Seng sendiri...?"

Mata wanita itu terbelalak dan wajahnya berubah pucat.

Gu Kam menuju pintu dalam dan memanggil Giam Tit sehingga kini mereka bertiga berada di ruangan tamu.

Li Cu Seng mengangguk kepada Kim Lan Hwa.

Dalam keadaan seperti itu dia harus tenang namun dapat mengambil keputusan tepat dan cepat.

"Nona Kim, melihat kenyataan bahwa Panglima Besar Bu Sam Kwi tidak mau membawa pasukannya ke kota raja untuk melindungi Kaisar, membuktikan bahwa di antara kami terdapat persamaan, yaitu kami sama-sama menentang pemerintah Kerajaan Beng yang brengsek karena Kaisar telah dikuasai oleh para Thaikam dan pembesar yang korup dan lalim. Karena itu, keadaan Nona dan kami sama-sama berada dalam bahaya. Tidak ada pilihan lain bagi Nona kecuali bekerja sama dengan kami!"

"Bekerja sama bagaimana maksudmu?"

"Begini, Nona. Nona harus melindungi kami agar kami tidak diganggu dan tidak dikenal para pengawal, kemudian setelah kita dapat keluar dari kota raja, kami akan melindungi Nona dari semua bahaya yang mengancam diri Nona."

Kim Lan Hwa mengangguk-angguk.

"Baik... baik aku akan berusaha sedapatku!"

Pada saat itu, terdengar pintu diketuk dari luar dan ketika pintu dibuka, seorang pelayan tua masuk dan berkata kepada Kim Lan Hwa.

"Kim Hujin, di luar terdapat tujuh orang perwira yang mohon bicara dengan Hujin."

"Baik, katakan kepada mereka bahwa aku akan segera keluar menemui mere ka."

Kata Kim Lan Hwa dengan suara tegas. Wanita ini sudah dapat menenangkan hatinya dan tidak tampak ketakutan lagi. Pelayan itu keluar dan Kim Lan Hwa berkata kepada Li Cu Seng bertiga.

"Sam-wi tunggu saja di sini, aku akan menemui mere ka dan percayalah, sebagai selir tersayang Panglima Bu Sam Kwi, aku masih disegani para perwira."

Setelah berkata demikian, wanita cantik jelita ini lalu membereskan wajahnya yang tadi menangis, membedakinya kembali sehingga wajahnya kembali tampak berseri.

Setelah itu ia keluar dengan langkah gontai dan sikap anggun dan agung.

Tujuh orang perwira yang duduk menunggu di pendapa itu adalah Su Lok Bu, Cia Kok Han, dan lima Liong-san Ngo-heng.

Mereka segera bangkit berdiri memberi hormat ketika Kim Lan Hwa muncul dari pintu dalam dengan sikapnya yang anggun dan agung.

Mereka bertujuh sudah tahu betul siapa wanita cantik jelita ini.

Wanita ini selir tersayang Panglima Besar Bu Sam Kwi yang tidak ikut diboyong ke San-hai-koan karena ia menjaga rumah gedung panglima besar itu.

"Maafkan kami, Toa-nio (Nyonya Besar) kalau kami menganggu. Akan tetapi terpaksa kami datang berkunjung bertalian dengan tiga orang yang datang ke gedung ini. Mereka itu amat mencurigakan dan atas perintah Jenderal Ciong Kak kami diharuskan menahan mereka untuk diperiksa lebih lanjut. Kalau kemudian ternyata bahwa mereka memang benar tiga orang perwira pembantu Panglima Besar Bu seperti yang mereka katakan, tentu kami akan membebaskan mereka kembali. Kami mohon perkenan Toa-nio untuk menangkap mereka bertiga."

Kim Lan Hwa mengerutkan alisnya, mukanya berubah kemerahan, sepasang matanya yang indah itu menyinarkan kemarahan dan kedua tangannya bertolak pinggang, memandangi mereka satu demi satu.

"Berani sekali kalian menuduh yang bukan-bukan terhadap para utusan suamiku, Panglima Besar Bu Sam Kwi? Kalau kalian tidak percaya kepada mereka bertiga, berarti kalian tidak percaya kepadaku dan kalau tidak percaya kepadaku, berarti tidak percaya kepada Panglima Bu! Begitukah? Mereka bertiga, Perwira Cu dan dua orang Perwira Kam adalah orang-orang kepercayaan suamiku, utusan pribadi Panglima Besar Bu Sam Kwi yang diutus untuk bicara dengan aku mengenai urusan keluarga kami. Juga mereka menceritakan bahwa saat ini, Panglima Besar Bu sedang menyiapkan balatentara untuk ditarik kembali ke kota raja, melindungi kota raja dari ancaman serbuan pasukan pemberontak! Dan sekarang kalian hendak menangkap mereka, seolah-olah para utusan suamiku itu penjahat-penjahat? Kalau begitu, sebelum kalian menangkap mereka, tangkaplah aku lebih dulu, biar nanti Panglima Besar Bu Sam Kwi yang akan memutuskan apa yang akan dia lakukan sebagai hukuman kepada kalian bertujuh!"

Tujuh orang itu tentu saja terkejut sekali mendengar ucapan yang bernada marah ini.

Melihat betapa selir tersayang Panglima Bu itu menjamin bahwa tiga orang itu benar-benar utusan pribadi Panglima Bu, tentu saja mereka bertujuh percaya.

"Maaf, Toanio. Kami hanya melaksanakan perintah Jenderal Ciong!"

Kata Cia Kok Han membela diri. (Lanjut ke

Jilid 12) Sakit Hati Seorang Wanita (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12

"Bagus! Kalau begitu, Jenderal Ciong yang akan menangkap tiga orang utusan pribadi Panglima Besar Bu Sam Kwi? Berarti Jenderal Ciong sudah berani memberontak terhadap atasannya? Kalau perlu, suruh Jenderal Ciong bicara sendiri dengan aku"

Tujuh orang itu kehilangan nyali.

Mereka tadinya menaruh kecurigaan besar terhadap tiga orang itu.

Akan tetapi setelah Kim Lah Hwa bersikap seperti itu, kecurigaan mereka hampir hilang sama sekali.

Kiranya mustahil kalau selir tersayang Panglima Besar Bu Sam Kwi melindungi mata-mata pemberontak!

"Baiklah, Toa-nio.

Kami tarik kembali keinginan kami menangkap tiga orang itu.

Harap maafkan kesalah-pahaman kami ini."

Kata Su Lok Bu dan mereka bertujuh lalu memberi hormat dan meninggalkan gedung itu.

Ketika wanita cantikitu bicara dengan tujuh orang perwira, Li Cu Seng bertiga mengintai dari dalam dan mereka sudah siap siaga kalau-kalau wanita itu melaporkan keadaan mereka yang sesungguhnya, atau kalau terjadi bahaya mengancam.

Tentu saja mereka akan melawan mati-matian karena kalau Li Cu Seng sampai tertawan hidup-hidup, berarti dia menyerah dan ini akan melemahkan semangat laskar rakyat yang dipimpinnya.

Sebaliknya kalau dia melawan sampai mati, hal ini malah menambah kemarahan para pemberontak terhadap pemerintah Kerajaan Beng.

Akan tetapi, betapa lega dan girang rasa hati mereka melihat sikap Kim Lan Hwa dan mendengar ucapannya yang tegas dan berwibawa sehingga tujuh orang perwira itu menjadi jerih dan meninggalkan gedung itu.

Untuk sementara mereka aman, akan tetapi rianya sementara saja.

Hal ini mereka ketahui benar.

Ketika Kim Lan Hwa memasuki ruangan tamu kembali, tiga orang itu bangkit menyambutnya.

"Ah, Nona Kim hebat sekali! Kami sungguh merasa kagum dan berterima kasih!"

Kata Li Cu Seng dan kembali dia memandang dengan kekaguman yang tulus. Akan tetapi Kim Lan Hwa mengerutkan alisnya.

"Li Beng-cu, sementara ini memang kita aman. Akan tetapi bagaimana selanjutnya? Apa yang akan kita lakukan sekarang?"

"Tenanglah, Nona Kim. Mari kita bicarakan dan kita cari jalan terbaik untuk dapat meloloskan diri dari kota raja. Yang terpenting, kami bertiga harus dapat keluar tanpa gangguan, dan juga Nona sendiri agar dapat keluar dari sini kemudian menyusul keluarga Nona di San-hai-koan. Hal itu merupakan langkah ke dua. Langkah pertama sekarang bagaimana kita berempat, yaitu kami dan Nona, dapat meninggalkan kota raja tanpa halangan."

Mereka berempat bersiam diri, berpikir-pikir.

Tiga orang pria itu t idak bisa mendapatkan ja lan terbaik, maka perhatian mereka tertuju kepada Kim Lan Hwa.

Wanita ini mengerutkan alisnya dan jalan hilir mudik dalam ruangan yang luas itu.

Tiba-tiba pintu diketuk dari dalam.

"Siapa?"

Tanya Kim Lan Hwa.

"Hamba mengantarkan minuman, Hu-jin."

Terdengar suara pelayan wanita.

"Baik, bawa masuk."

Kata Kim Lan Hwa.

Pintu terbuka dan seorang pelayan wanita setengah tua masuk membawa baki terisi seguci arak, empat buah cawan perak dan beberapa piring makanan kecil.

Dengan sikap hormat pelayan itu meletakkan piring makanan dan guci serta cawan di atas meja, kemudian ia membungkuk memberi hormat lalu meninggalkan ruangan tamu itu.

"Mari, silakan makan dan minum arak untuk mengendurkan ketegangan, perlahan-lahan aku akan mencari akal."

Kata Kim Lan Hwa. Tanpa sungkan lagi tiga orang itu lalu minum arak dan makan hidangan kecil itu bersama nyonya rumah.

"Ah, aku tahu caranya!"

Tiba-tiba Kim Lan Hwa berseru dan Li Cu Seng memandang dengan wajah berseri.

"Apa yang harus kami lakukan, Nona?"

"Begini, Li Beng-cu, kalian bertiga akan kucarikan pakaian perwira. Hal ini akan menguatkan kepercayaan mereka bahwa kalian memang perwira pembantu Panglima Besar Bu Sam Kwi. Dan sebagai tiga orang perwira, kalian mengawal aku keluar pintu gerbang kota raja."

"Hemm, gagasan yang baik sekali."

Kata Li Cu Seng, diam-diam semakin kagum karena selain cantik jelita, wanita ini pun cerdik sekali.

Tidak mengherankan kalau ia menjadi selir tersayang dari Bu Sam Kwi.

Tiba-tiba timbul rasa iri dalam hatinya terhadap Bu Sam Kwi!

"Akan tetapi, maafkan pertanyaanku, Nona.

Bagaimana kalau mereka bertanya ke mana kita hendak pergi?"

Tanya Cu Kam.

"Tidak akan ada yang berani bertanya kepadaku. Aku naik kereta, Li Bengcu yang menjadi kusir dan kalian berdua mengawal kereta. Kalau ada yang berani bertanya, aku dapat menjawab sesuka hatiku, mungkin pergi berjalan-jalan, atau pergi berburu, atau bahkan aku dapat mengatakan bahwa aku akan menyusul suamiku di San-hai-koan. Siapa yang berani melarangku?"

"Kalau mereka tetap menghalangi?"

Tanya Li Cu Seng. Kim Lan Hwa mengangkat kedua pundaknya dan menghela napas panjang.

"Kalau sampai terjadi demikian, aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tinggal terserah kalian bertiga."

"Kalau begitu, kita lawan mati-matian!"

Kata Giam Tit dan Gu Kam menyetujui pendapat ini.

"Nona Kim, apakah engkau tidak dapat minta bantuan pasukan yang setia kepada Panglima Besar Bu Sam Kwi agar mereka memperkuat pengawalan ketika Nona meninggalkan kota raja?"

Kim Lan Hwa menggeleng kepala.

"Tidak bisa... kalau hal itu kulakukan, memang ada perwira yang setia akan tetapi kalau pengawalan pasukan terjadi, hal itu tentu akan menimbulkan kecurigaan dan akan terjadi pertempuran besar yang akibatnya bahkan buruk bagi suamiku. Tidak, kurasa jalan tadi yang terbaik. Mudah-mudahan saja akal kita akan berhasil baik."

Kim Lan Hwa bekerja cepat.

Ia menyuruh orang-orangnya untuk menyediakan pakaian perwira bagi Li Cu Seng, Gu Kam, dan Giam Tit.

Tiga orang itu lalu mengenakan pakaian perwira di luar pakaian penyamaran mereka, sedangkan Kim Lan Hwa memer intahkan pelayan pria untuk mempersiapkan kereta yang ditarik dua ekor kuda, juga hendak menyediakan dua ekor kuda untuk Gu Kam dan Giam Tit.

Akan tetapi Li Cu Seng berkata.

"Tidak perlu disediakan kuda bagi mereka. Kami telah meninggalkan tiga ekor kuda kami di dalam hutan di luar pintu gerbang barat."

Kim Lan Hwa mengumpulkan perhiasan dan beberapa potong pakaian untuk dibawa pergi.

Setelah semua persiapan selesai, ia memesan kepada para pelayan untuk menjaga rumah baik-baik karena ia akan pergi menyusul keluarganya ke San-hai-koan, dikawal tiga orang perwira pembantu Panglima Besar Bu Sam Kwi itu.

"Mari kita berangkat."

Katanya kepada tiga orang yang sudah berubah menjadi perwira-perwira berpakaian indah membuat mereka tampak gagah.

"Hari telah siang jangan sampai kita kemalaman sebelum jauh dari kota raja."

Wanita itu memasuki kereta dan sengaja tidak menutup tirainya agar semua orang dapat melihat bahwa yang berada di dalam kereta adalah ia.

Li Cu Seng yang berpakaian perwira gagah itu duduk di tempat kusir, memegang kendali kuda, dan Gu Kam bersama Giam Tit berjalan di belakang kereta sebagai pengawal.

Maka berangkatlah kereta itu keluar dari halaman gedung tempat tinggal keluarga Panglima Besar Bu, diantarkan para pelayan sampai di depan pintu gerbang gedung itu.

Gadis itu sudah dewasa dan matang, usianya sekitar dua puluh lima tahun.

Wajahnya cantik dan lembut, namun sinar matanya terkadang sayu seperti orang yang menderita luka dan terkadang tajam lerkilat.

Tubuhnya ramping padat, kulitnya putih mulus kekuningan.

Rambut hitam panjang lebat, dikuncir dua sehingga tampak lucu.

Hidungnya kecil mancung, dagunya runcing dan sebuah tahi lalat kecil di dagu membuat ia tampak manis sekali.

Bibirnya merah basah namun sayang mulut yang manis itu jarang sekali tersenyum.

Ia berjalan seorang diri di luar kota raja bagian barat.

Karena ia tidak membawa senjata apa pun, maka tentu orang akan menyangka bahwa ia seorang gadis lemah, walaupun keadaannya berjalan seorang diri di tempat sepi itu mengherankan bagi seorang gadis lemah.

Padahal, sesungguhnya gadis ini sama sekali bukan seorang wanita lemah.

Bahkan ia seorang gadis yang amat lihai, dan pernah menggemparkan kota raja dengan perbuatannya yang mendirikan bulu roma.

Dan tahun yang lalu, gadis ini telah mengamuk dan membuat putera seorang kepala jaksa di kota Thian-cin menjadi seorang yang cacat dan mengerikan karena wajahnya dirusak dan kaki tangannya menjadi buntung dan lumpuh.

Putera jaksa itu bernama Pui Ki Cong dan bersama dia, dua orang ahli silat yang tangguh juga dibuat serupa dengan majikan mereka, menjadi cacat dan gila, tidak seperti manusia lumrah lagi.

Yang seorang lagi malah tewas membunuh diri.

Gadis ini adalah Kim Cui Hong, puteri mendiang guru silat Kim Siok di dusun Ang-ke-bun.

Seperti telah diceritakan di bagian depan kisah ini, ketika ia berusia enam belas tahun, seorang gadis remaja yang cantik, Kim Cui Hong diculik dan diperkosa bergantian oleh Pui Ki Cong bersama tiga orang tukang pukulnya, yaitu Gan Tek Un, Koo Cai Sun, dan Louw Ti.

Bukan hanya perkosaan berulang oleh empat orang dan penghinaan yang diderita Cui Hong, melainkan lebih dari itu karena ayahnya, Kim Siok dan suhengnya, Can Lu San, tewas pula ketika hendak menolongnya.

Mereka berdua tewas di tangan tiga orang jagoan anak buah Pui Ki Cong itu, tiga orang yang terkenal dengan julukan Bu-tek Sam-eng (Tiga Pendekar Tanpa Tanding).

Setelah menderita malapetaka hebat itu, Cui Hong menjadi murid Toat-beng Hek-mo (Iblis Hitam Pencabut Nyawa), seorang datuk kang-ouw yang sakit dan ia digembleng selama tujuh tahun oleh gurunya itu, sehingga Cui Hong, yang tadinya memang sudah pandai bersilat belajar dari ayahnya, kini menjadi seorang gadis yang luar biasa lihainya.

Akan tetapi oleh gurunya itu yang setahun lalu telah meninggal dunia karena usianya yang sudah tua, Cui Hong disuruh berjanji bahwa ilmunya tidak boleh dipergunakan untuk membunuh.

Akan tetapi, saking demikian mendalam perasaan dendam dan bencinya kepada musuh-musuh itu, walaupun ia tidak membunuh mereka, namun ia menyiksa mereka dan membuat mereka dalam keadaan hidup tidak mati pun tidak, lebih berat daripada kalau mereka mati.

Bahkan seorang di antara Bu-tek Sam-eng, yang sudah bertaubat dan hidup sebagai seorang tosu pertapa, membunuh diri karena tidak ingin melihat Cui Hong bermusuhan dengan keponakannya sendiri yang hendak melindunginya.

Keponakannya itu bernama Tan Siong, murid Kun-lun-pai yang hidup sebagai seorang pendekar.

Sebetulnya Tan Siong jatuh cinta kepada Cui Hong, akan tetapi ketika Cui Hong karena hendak membalas dendam kepada Gan Tek Un yang sudah menjadi pertapa, yang dulu juga ikut memperkosa dan menghinanya, Tan Siong membela pamannya dan menghalangi Cui Hong.

Melihat ini, dan merasa menyesal akan dosanya, akan perbuatannya yang teramat keji terhadap Cui Hong tujuh tahun yang lalu, Gan Tek Un lalu membunuh diri sehingga tidak terjadi perkelahian antara Cui Hong dan Tan Siong.

Cui Hong melangkah santai sambil termenung.

Ia teringat akan Tan Siong.

Setelah ia berhasil melaksanakan balas dendam sakit hatinya, Tan Siong menyatakan cintanya kepadanya.

Ia menolak karena merasa dirinya sudah ternoda, diperkosa empat orang secara keji.

Akhirnya ia meninggalkan Tan Siong walaupun pemuda itu mengaku tetap mencintanya walaupun ia sudah ternoda.

Cui Hong menghela napas panjang.

Selama dua tahun ini ia merantau di dunia kang-ouw (persilatan), bertindak sebagai seorang pendekar wanita yang membela kebenaran dan keadilan, menentang yang jahat seperti pesan ayahnya dahulu ketika ayahnya mengajarkan silat kepadanya.

Dan selama dua tahun itu, banyak sudah laki-laki yang tertarik dan menyatakan cinta kepadanya, namun semua itu dito laknya dengan halus maupun dengan kasar sesuai dengan sikap laki-laki itu sendiri ketika menyatakan cintanya.

Harus diakuinya bahwa ia tidak dapat melupakan Tan Siong yang amat baik kepadanya, la tahu bahwa Tan Siong amat mencintanya, cinta yang tulus.

Namun ia sendiri ragu.

Ia sendiri tidak tahu apakah ia juga mencinta Tan Siong.

Ia tidak tahu apakah ia masih dapat mencinta seorang laki-laki setelah hidup dan kebahagiannya dihancurkan empat orang laki-laki itu.

Ketika pergolakan terjadi, yaitu adanya pemberontakan-pemberontakan terhadap Kerajaan Beng, terutama sekali yang digerakkan oleh pemimpin pemberontakan Li Cu Seng, Cui Hong tidak tahu harus berpihak mana.

Ia sendiri sudah mengalami hal pahit oleh ulah seorang kepala jaksa, yaitu Pembesar Jaksa Pui dan ia pun dalam perantauannya selama dua tahun serlngkall bertemu pembesar-pembesar lalim yang menekan rakyat, yang sewenang-wenang mengandalkan kekuasaannya, maka ada perasaan tidak suka kepada para pejabat pemerintah Kerajaan Beng yang pada umumnya tukang korup dan sewenang-wenang itu.

Maka, ketika mendengar ada pemberontakan terhadap pemerintah Kerajaan Beng, ia pun tidak begitu mengacuhkan.

Akan tetapi, ia pun melihat betapa banyak pendekar berdatangan ke kota raja memenuhi undangan Jenderal Ciong Kak untuk membantu pemerintah memperkuat kota raja menghadapi ancaman pemberontak.

Ia menjadi bimbang dan teringatlah Cui Hong kepada seorang saudara sepupunya.

Ayahnya, mendiang Kim Siok mempunyai seorang kakak bernama Kim Tek dan uwanya itu mempunyai seorang anak perempuan yang sebaya dengannya.

Nama saudara sepupunya itu adalah Kim Lian Hwa.

Ia mendengar bahwa enam tahun yang lalu Kim Lian Hwa diambil sebagai selir oleh seorang panglima besar Kerajaan Beng yang bernama Panglima Bu Sam Kwi dan yang kini terkenal sebagai panglima yang berkuasa memimpin balatentara menjaga di San-haikoan.

la mendengar dari para pendekar bahwa Panglima Bu Sam Kwi adalah seorang Panglima baik dan setia, dan dikagumi oleh semua tokoh dan para datuk dunia kang-ouw.

Maka timbul keinginan hatinya untuk mengunjungi saudara sepupunya itu, dan ia tentu akan mendapat keterangan dan penggambaran jelas tentang pemberontakan yang dipimpin Li Cu Seng, nama yang juga dikagumi para pendekar dan kabarnya bahkan partai-partai persilatan besar mendukung gerakan Li Cu Seng ini.

Maka pada siang hari itu, Kim Cui Hong berjalan santai seorang diri di luar kota raja sebelah barat.

Pada saat itu juga, kereta yang ditumpangi Kim Lan Hwa dikusiri Li Cu Seng dan dikawal Gu Kam dan Giam Tit.

Ketika kereta melalui pintu gerbang, para perajurit penjaga tidak berani menghalangi melihat kereta dikusiri dan dikawal tiga orang perwira.

Apalagi ketika melihat kereta yang terbuka tirainya itu ditumpangi Kim Hujin yang dikenal semua perajurit, mereka malah segera bersikap tegak dan memberi hormat.

Kereta keluar dari pintu gerbang, mula-mula dijalankan perlahan karena dua orang itu mengawal dengan jalan kaki, akan tetapi setelah agak jauh dari pintu gerbang, Li Cu Seng menjalankan keretanya lebih cepat.

Gu Kam dan Giam Tit mengikut inya sambil berlari.

Ketika mereka tiba di dekat hutan di mana mereka meninggalkan kuda mereka, tiba-tiba muncul delapan orang menghadang di tengah jalan.

Terpaksa Li Cu Seng menahan kuda penarik kereta, dan Kim Lian Hwa menjenguk dari kereta.

Melihat delapan orang perwira berdiri menghadang dan ternyata mereka adalah tujuh orang yang tadi datang ke gedungnya ditambah seorang perwira tua lagi, Kim Lan Hwa berkata dengan suara tegas dan alis berkerut.

"Hei! Kalian ini perwira-perwira yang tidak tahu aturan! Berani sekali kalian menahan keretaku? Apakah kalian tidak mengenal aku, isteri Panglima Besar Bu Sam Kwi? Hayo minggir dan biarkan kami lewat, atau aku akan melaporkan kekurang-ajaran kalian kepada Panglima Besar Bu!"

"Maafkan kami, Toanio."

Kata Su Lok Bu yang memimpin rombongan itu.

"Tindakan kami ini justru untuk melindungi Toanio, karena yang menyamar sebagai perwira pembantu Panglima Besar Bu Sam Kwi ini adalah pemimpin pemberontak Li Cu Seng dan dua orang anak buahnya!"

Mendengar ini, wajah Kim Lan Hwa menjadi pucat dan ia jatuh terhenyak di atas kursi kereta, tidak mampu bicara lagi.

Akan tetapi Li Cu Seng tetap tenang dan dari tempat duduknya di depan kereta dia berkata dengan lantang.

"Sobat, engkau sungguh lancang sekali menuduh orang. Kami bertiga adalah perwira-perwira pembantu Panglima Besar Bu Sam Kwi, bagaimana kalian dapat menuduh kami pimpinan pemberontak?"

Tiba-tiba perwira tua yang muncul bersama Su Lok Bu, Cia Kok Han, dan lima Liong-san Ngo-heng berkata sambil menudingkan telunjuknya ke arah Li Cu Seng.

"Engkau adalah pemimpin pemberontak Li Cu Seng! Aku pernah melihatmu ketika aku ikut mempertahankan Shen-si dari serbuanmu. Setelah Shen-si jatuh ke tangan pemberontak, aku bertugas di sini. Aku tidak lupa, engkaulah Li Cu Seng!"

"Bohong!"

Kim Lan Hwa membentak.

"Dia adalah Perwira Cu, pembantu suamiku Panglima Besar Bu Sam Kwi!"

"Maaf, Toanio. Terpaksa kami akan menangkap tiga orang ini dan kami bawa kepada Ciong Goan-swe (Jenderal Ciong) untuk diteliti lebih dulu!"

Kata Su Lok Bu.

Perwira yang bertubuh tinggi besar berkulit hitam, bermata lebar dan mukanya penuh brewokitu telah mencabut siang-kiam (sepasang pedang) dari pinggangnya.

Cia Kok Han, perwira sebaya Su Lok Bu, berusia lima puluh dua tahun, bertubuh pendek gendut, berkulit putih dan matanya sipit, rambut dan jenggotnya sudah putih semua, juga sudah mencabut sebatang golok besar yang berat.

Su Lok Bu adalah seorang jagoan murid Siauw-lim-pai, sedangkan Cia Kok Han adalah seorang tokoh Bu tong pai tentu saja mereka berdua ini memiliki kepandaian tinggi.

Lima orang Liong-san Ngo-heng juga mencabut pedang mereka.

Tidak ketinggalan perwira tua yang mengenal Li Cu Seng itu pun mencabut pedangnya.

Delapan orang itu siap untuk menyerang.

"Li Cu. Seng!"

Bentak Su Lok Bu sambil menudingkan pedang kanannya.

"Menyerahlah kalian bertiga agar kami tidak perlu menggunakan kekerasan!"

Karena merasa percuma menyangkal karena perwira tua itu telah mengenalnya, Li Cu Seng melompat turun dari atas kereta sambil memberi isarat kepada dua orang pembantunya, mereka bertiga lalu merenggut lepas pakaian perwira yang mereka pakai menutupi pakaian mereka yang biasa, dan mencabut senjata masing-masing.

"Aku adalah Li Cu Seng! Kami bertiga pimpinan laskar rakyat dan tidak mudah untuk menangkap kami!"

Kata Li Cu Seng. Sementara itu, Gu Kam dan Ciam Tit sudah memasang kuda-kuda dengan golok di tangan kanan. Melihat sepasang kuda-kuda itu, Cia Kok Han berseru heran dan marah.

"Kalian adalah murid-murid Bu-tong-pail Sungguh memalukan murid Bu-tong-pai menjadi pemberontak!"

"Hemm, kuda-kudamu adalah pembukaan ilmu golok Butong-pai pula! Kami membantu para pejuang untuk merobohkan kekuasaan kaisar lalim yang menjadi boneka para Thaikam. Engkau lebih memalukan merendahkan diri menjadi anjing para Thaikam yang korup dan jahat!"

Bentak Gu Kam. Mendengar ini, Cia Kok Han menjadi marah sekali dan dia sudah menggerakkan golok besarnya menyerang Gu Kam. Pembantu Li Cu Seng ini pun menyambut dengan goloknya.

"Tranggg!"

Bunga api berpijar ketika dua batang golok beradu dan mereka merasa betapa tangan mereka tergetar, tanda bahwa tenaga mereka seimbang.

Mereka lalu saling serang dengan seru dan mati-matian.

Su Lok Bu juga sudah menggerakkan sepasang pedangnya menyerang Giam Tit yang cepat memutar goloknya untuk menangkis dan balas menyerang.

Kedua orang ini pun segera terlibat dalam per kelahian yang seru.

Liong-san Ngo-eng ketika mendengar bahwa laki-laki tinggi tegap yang tampan gagah itu adalah pimpinan pemberontak Li Cu Seng, segera bergerak maju dan mengeroyok.

Mereka mencabut pedang dan segera mengatur gerakan, lambat-lambat mereka melangkah mengitari Li Cu Seng dengan berbagai kuda-kuda.

Melihat gerakan mereka ini, Li Cu Seng waspada.

Dia tahu bahwa lima orang itu membentuk sebuah kiam-tin (barisan pedang) yang berbahaya sekali.

Cepat dia pun memutar pedangnya dan berusaha membobol kepungan itu dengan menyerang orang yang berada di depannya, menusukkan pedangnya dengan pengerahan tenaga sakti.

"Tranggg...!"

Bukan hanya pedang lawan yang dia serang itu yang menangkis, melainkan juga orang di sebelah kirinya sehingga ada dua pedang yang menangkis, lalu pada saat yang bersamaan, orang di sebelah kanannya menyerang dengan bacokan pedang sehingga Li Cu Seng harus cepat mengelak.

Benarlah dugaannya.

Lima orang itu membentuk barisan pedang yang luar biasa tangguhnya.

Setelah saling serang beberapa lamanya, tahulah Li Cu Seng bahwa lima orang itu membentuk Ngo-heng Kiam-tin (Barisan Pedang Lima Unsur) yang amat berbahaya dan amat tangguh.

Seperti juga unsur Ngo-heng, yaitu Air-Kayu-Api-Tanah-Logam, lima orang itu saling mengisi dan saling menghidupkan atau menunjang.

Air menghidupkan Kayu, Kayu menghidupkan Api, Api menghidupkan Tanah, Tanah menghidupkan Logam dan Logam menghidupkan Air.

Maka, setiap kali Li Cu Seng menyerang seorang lawan, ada orang lain yang bantu menangkis atau melindunginya dan orang lain pula menyerangnya.

Semua ini dilakukan secara tertatur sekali sehingga pertahanan mereka amat kuat, juga mereka dapat menyerang secara bertubi-tubi.

Tak lama kemudian Li Cu Seng menjadi kewalahan juga.

Dia memang seorang pemimpin perjuangan yang gigih dan pandai, pandai mengatur pasukan, membentuk barisan-barisan yang kuat, namun ilmu silatnya tidaklah terlalu tinggi sehingga kini menghadapi Ngo-heng Kiam-tin dari Liong-san Ngo-eng, Li Cu Seng terdesak hebat.

Melihat betapa usaha mereka melarikan diri ketahuan dan kini tiga orang pimpinan pemberontakitu dikeroyok, Kim Lan Hwa menjadi bingung.

Ia hendak turun dari kereta dan melarikan diri, kembali ke kota raja.

Akan tetapi tiba-tiba perwira tua itu sudah menghadang di luar kereta sambil menodongkan pedangnya.

"Toanio terlibat dengan para pemberontak, harap tidak meninggalkan kereta."

Katanya.

Kim Lan Hwa terpaksa duduk kembali.

Kini, wanita bangsawan ini tidak dapat lagi menggunakan gertakan karena keadaan Li Cu Seng sudah ketahuan dan ini berarti bahwa ia mempunyai hubungan dengan pimpinan pemberontakan itu!

Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang gadis cantik sudah berdiri dekat kereta.

"Enci Kim Lan Hwa, jangan khawatir, aku datang melindungimu!"

Kim Lan Hwa terbelalak memandang gadis itu dan ia berseru girang.

"Cui Hong!"

Perwira tua yang tadi menodongkan pedangnya, kini membalik dan menyerang Cui Hong dengan pedangnya.

Akan tetapi Cui Hong yang hanya memegang sebatang ranting, dengan mudah mengelak dan sekali ranting itu berkelebat, jalan darah di pundak perwira itu telah tertotok, sehingga lengan kanannya lumpuh dan pedangnya terlepas dari pegangan.

Kaki kiri Cui Hong menendang.

"Bukk...!"

Perut perwira itu tertendang sehingga tubuhnya terpental dan dia roboh pingsan! "Adik Cui Hong, cepat engkau bantu mereka!"

Kini Kim Lan Hwa menunjuk ke arah Li Cu Seng yang masih kerepotan dikeroyok lima orang itu.

Sedangkan dua orang pembantunya, Gu Kam dan Giam Tit, juga masih bertanding seru dengan lawan masing-masing.

Kim Lan Hwa tadi segera mengenal Kim Cui Hong, puteri pamannya.

Ia sudah mendengar tentang nasib Cui Hong yang malang dan sudah mendengar pula betapa kini Cui Hong menjadi seorang wanita yang tinggi sekali ilmu silatnya sehingga mereka yang menjadi musuh-musuhnya, yang membunuh ayah dan suhengnya, yang memperkosa dan menghinanya, semua telah dihukumnya secara mengerikan.

Karena yang disiksanya itu putera jaksa tinggi dan orang-orangnya, maka tentu saja Kim Cui Hong menjadi orang buruan pemerintah.

Tentu saja yang memburunya adalah para penjahat yang menjadi kawan-kawan pembesar itu.

Maka, kemunculan Cui Hong yang lihai itu menggirangkan hati Kim Lan Hwa.

Seperti kita ketahui, secara kebetulan pada siang hari itu Cui Hong sedang berjalan menuju kota raja untuk mengunjungi saudara sepupunya, yaitu Kim Lan Hwa.

Sama sekali tidak disangkanya ia akan bertemu dengan wanita itu di dekat hutan.

Melihat perkelahian itu, tadinya ia ragu karena ia tidak tahu akan urusannya.

Akan tetapi ketika mengenali Su Lok Bu dan Cia Kok Han yang dulu pemah menjadi jagoan Tuan Muda Pui Ki Cong, ia t idak ragu lagi harus membantu pihak mana.

Sudah pasti pihak dua orang bekas kaki tangan Pui Ki Cong itu yang tidak benar.

Juga melihat Kim Lan Hwa yang duduk di kereta ditodong seorang perwira, ia cepat turun tangan membereskan perwira itu.

Setelah Kim Lan Hwa minta kepadanya untuk membantu, Cui Hong kembali meragu.

Siapa yang harus dibantunya?

Jangan-jangan dua orang bekas anak buah Pui Kongcu itu berada di pihak Kim Lan Hwa.

Saudara sepupunya ini adalah isteri seorang panglima, maka tidak aneh kalau dua orang itu kini menjadi pengawalnya.

"Enci Lan Hwa, siapa yang harus kubantu? Perwira itukah?"

Tanyanya ragu.

"Bukan! Merekalah yang hendak menangkap a ku. Bantulah tiga orang pendekar itu!"

Pada saat itu, Su Lok Bu mengeluarkan bunyi siulian nyaring dan bermuncul-lanlah dua losin perajurit!

Tadinya, dia memandar rendah tiga orang itu dan merasa yakin akan dapat mengalahkan mere ka.

Akan tetapi setelah mendapat kenyataan betapa lihainya mereka, dan melihat pula munculnya seorang gadis cantik memegang ranting yang membuat wajahnya pucat dan jantungnya berdebar, dia cepat memberi isarat memanggil pasukannya yang tadi sudah siap menanti perintah ini.

Su Lok Bu mengenal Kim Cui Hong!

Juga Cia Kok Han mengenalnya sehingga dua orang ini menjadi jerih sekali karena mereka maklum betapa lihainya gadis itu.

Cui Hong sudah menerjang dengan rantingnya.

Ia melihat betapa seorang di antara tiga pendekar yang dikeroyokitu kewalahan menghadapi barisan pedang lima orang yang lihai.

Ia menyerang dan karena ia menyerang dari luar kepungan, tentu saja yang diserangnya membalik untuk membela diri dan kepungan itu menjadi kacau.

Melihat kehebatan gerakan ranting di tangan Cui Hong, dua orang dari lima anggauta kiam-tin itu terpaksa menghadapinya sehingga Li Cu Seng hanya dikeroyok oleh tiga orang.

Tentu saja hal ini membuat dia tidak terdesak lagi.

Barisan pedang itu berusaha untuk memancing Cui Hong ke dalam kepungan.

Biarpun ada dua orang, kalau keduanya dapat mereka kepung dalam barisan pedang mereka, tentu mereka berlima dapat mendesak dan mengalahkannya.

Akan tetapi Cui Hong tidak dapat dipancing.

Ia tetap saja bergerak di luar kepungan dan Li Seng bergerak di dalam kepungan.

Akan tetapi, tidak terlalu lama Li Cu Seng dan Kim Cui Hong membuat lima orang Liong-san Ngo-eng terdesak karena Su Lok Bu telah meniup peluitnya dan dua losin perajurit itu datang menyerbu.

Segera empat orang itu, Li Cu Seng, Kim Cui Hong, Cu Kam, dan Ciam Tit menghadapi pengeroyokan banyak orang.

Tujuh jagoan ditambah dua puluh empat orang perajurit.

Orang yang tadi dirobohkan Cui Hong masih belum dapat ikut mengeroyok.

Melihat empat orang itu dikeroyok demikian banyak perajurit, Kim Lan Hwa menjadi khawatir sekali.

Kalau mereka itu roboh, ia sendiri tentu akan ditangkap dan dituduh bersekutu dengan para pimpinan pemberontak!

Sementara itu, Su Lok Bu dan Cia Kok Han, dibantu belasan orang perajurit, sudah mengepung Cui Hong.

"Kim Cui Hong iblis betina! Sekarang engkau akan menebus semua dosa kekejamanmu dulu!"

Bentak Su Lok Bu.

"Engkau ikut menjadi seorang pemberontak!"

Cui Hong mengelebatkan rantingnya.

"Huh, kiranya engkau anjing-anjing penjilat pembesar korup dan laknat, sampai sekarang tetap saja menjadi anjing penjilat!"

Empat orang itu tentu saja terdesak hebat karena dikeroyok terlalu banyak orang.

Memang mereka masing-masing sudah merobohkan dua orang pengeroyok, namun pihak musuh terlalu banyak sehingga keselamatan mereka terancam dan gawat sekali.

Selain untuk melarikan diri tidak mungkin karena mereka dikepung banyak orang, juga bukan watak Li Cu Seng untuk lari meninggalkan kawan-kawannya.

Dia pun bertanggung jawab atas keselamatan Kini Lan Hwa karena bagaimanapun juga, wanita selir Panglima Bu Sam Kwi itu sudah berjasa menolong dia bertiga keluar dari kota raja.

Kalau kini dia dan dua orang anak buahnya melarikan diri meninggalkan Kim Lan Hwa dan gadis perkasa yang kini membantu mere ka, dunia akan mencemoohkan nama mereka sebagai pengecut-pengecut yang tidak mengenal budi!

Lebih baik mati daripada dianggap pengecut.

Pada saat yang amat gawat itu, tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan muncullah puluhan orang berpakaian pengemis yang membawa tongkat hitam menyerbu ke tempat pertempuran.

Mereka itu adalah para anggauta Hek-tung Kai-pang dan mereka segera menyerang para peraju-rit kerajaan dengan permainan tongkat mereka yang lihai!

Jumlah para anggauta Hek-tung Kai-pang itu tidak kurang dari empat puluh orang dan mereka itu rata-rata memiliki ilmu tongkat yang lihai, yang merupakan ilmu istimewa dari Hek-tung Kai-pang.

Kini keadaannya menjadi terbalik.

Para perajurit terdesak hebat, banyak di antara mereka yang sudah roboh.

Cui Hong mengamuk.

Dengan bantuan banyak anggauta Hek-tung Kai-pang, ia mendesak Su Lok Bu dan Cia Kok Han dengan ranting di tangannya.

Pada saat yang tepat ia berhasil menendang roboh Su Lok Bu dan tangan kirinya menampar dan mengenai pundak Cia Kok Han sehingga dua orang ini terpelanting.

Akan tetapi mereka dapat melompat bangkit dan bersama Liong-san Ngo-eng, mereka tanpa malu-malu lagi melarikan diri karena makium bahwa kalau mereka nekat melawan, akhirnya mereka tentu akan tewas.

Sisa para perajurit yang belum roboh juga melarikan diri.

Li Cu Seng lalu meneriaki para anggauta Hek-tung Kai-pang untuk membubarkan diri.

"Tidak perlu lagi kalian semua kembali ke kotaraja, cukup beberapa orang saja dengan menyamar sebaiknya dan kalian bersiaplah karena penyerbuan akan segera dilakukan. Nona Kim, terpaksa engkau harus ikut dulu dengan kami karena kami tidak mempunyai waktu mengantar Nona ke San-hai-koan."

"Hong-moi (Adik Hong), naiklah dan temani aku!"

Kata Kim Lan Hwa kepada Cui Hong.

Gadis itu pun tidak menolak dan tanpa banyak cakap ia memasuki kereta dan duduk di samping selir panglima besar itu.

Karena keadaan mendesak, yaitu para perwira kerajaan tadi tentu akan cepat datang lagi membawa pasukan besar, maka Cui Hong juga tidak ada waktu lagi untuk bercakap-cakap.

Kereta segera dilarikan oleh Li Cu Seng.

Gu Kam dan Giam Tit menunggangi kuda mereka dan mereka membalap menuju daerah barat yang sudah dikuasai pasukan rakyat pimpinan Li Cu Seng.

Setelah kereta berjaian dan mereka duduk bersanding di dalam kereta, barulah Kim Cui Hong yang tangannya dipegang oleh Kim Lan Hwa yang gemetaran itu berkata.

"Enci Lan, apakah artinya semua ini? Engkau adalah isteri seorang panglima besar, mengapa engkau malah bersama tiga orang yang dikeroyok para perajurit itu? Mengapa pasukan kerajaan malah mengganggumu? Dan siapakah tiga orang itu?"

"Panjang ceritanya, Hong-moi. Ketahuilah bahwa suamiku, Panglima Bu, kini berada di San-hai-koan memimpin pasukan menjaga tapal batas di timur-laut itu. Semua anggauta keluarganya telah diboyong pula ke sana. Hanya aku seorang diri yang tinggal di gedungnya di kota raja."

"Akan tetapi mengapa, Lan-ci (Kakak Lan)? Mengapa engkau tidak ikut puia di boyong ke sana?"

Kim Lan mengheia napas panjang.

"Ahh, semenjak aku diambil menjadi selir Panglima Besar Bu Sam Kwi, hidupku amat pahit, Hong-moi."

Katanya dengan nada sedih.

Cui Hong mengerutkan aiisnya dan memandang wajah yang cantikitu dengan heran.

Seingatnya, ketika terjadi malapetaka menimpa dirinya, yaitu ketika ia berusia sekitar enam belas tahun, kurang lebih sembilan tahun yang laiu, saudara sepupunya ini menjadi seorang penyanyi yang amat terkenal.

Hidupnya serba kecukupan, mewah, dan dikagumi banyak orang.

Ketika itu, ia tidak mendengar berita apa pun tentang Kim Lan Hwa, apalagi setalah peristiwa menyedihkan menimpa dirinya, ia lalu menghilang dari dunia ramai, menjadi murid Toat-beng Hek-mo selama tujuh tahun.

Setelah tamat belajar dan terjun ke dunia ramai lagi, ia pernah mendengar bahwa Kim Lan Hwa telah menjadi selir Panglima Besar Bu Sam Kwi dan tentu saja ia menganggap saudara misannya itu hidup daiam kemuliaan.

Tentu saja ia merasa heran mendengar ucapan wanita itu bahwa setelah menjadi panglima besar, hidupnya amat pahit!

"Tapi, aku mendengar bahwa engkau menjadi selir yang paling disayang oleh Panglima Besar Bu Sam Kwi!

Bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa engkau hidup pahit, berarti tidak berbahagia?"

"Justru kenyataan itulah yang menyebabkan hidupku terasa sakit, Hong-moi. Memang, Panglima Bu amat sayang kepadaku, akan tetapi hal itu justru membuat seluruh keluarga Pangiima Bu, terutama isteri dan para selirnya, merasa iri dan tidak suka kepadaku, bahkan mereka diam-diam amat membenciku! Aku hidup seperti dikelilingi musuh-musuh, Hong-moi. Bagaimana aku dapat hidup senang? Padahal, sebelum aku menjadi selir Panglima Bu, dan hidup sebagai seorang penyanyi, semua orang sayang dan memujiku. Ah, ketika itu aku hidup berbahagia, akan tetapi setelah menjadi selir Panglima Bu, aku hidup sengsara walaupun berada dalam gedung besar dan serba mewah dan kecukupan."

Wanita itu lalu menangis perlahan.

"Akan tetapi, Lan-ci, mengapa engkau perdulikan mereka semua itu? Yang terpenting suamimu. Kalau engkau mencintanya dan dicinta olehnya, hal-hal lain dan sikap orang-orang lain tidak perlu diperdulikan."

Kim Lan Hwa menyusut air matanya dan menghentikan tangisnya.

"Engkau tidak tahu, Hong-moi. Justru itu yang pertama-tama membuat aku tidak berbahagia. Aku sama sekali tidak mencinta laki-laki yang menjadi suamiku. Ketika Panglima Besar Bu mengambil aku sebagai selir, siapa yang berani menghalanginya? Aku pun tentu saja tidak berani menolak. Aku hanya mengharapkan agar dapat hidup berbahagia di sampingnya karena aku mendengar bahwa Panglima Bu adalah seorang yang baik dan adil. Akan tetapi kenyataannya, aku tidak dapat mencintanya. Hal itu mestinya masih dapat kupertahankan karena dia memang amat baik dan sayang kepadaku, akan tetapi setelah semua anggauta keluarga membenciku, aku merasa seolah hidup dalam neraka. Bahkan, ketika Panglima Bu mengirim pasukan menjemput keluarganya, isteri dan para selirnya meninggalkan aku dengan alasan agar aku menjaga gedung keluarga kami."

Kim Cui Hong mengangguk-angguk.

Kini ia baru mengerti an dapat membayangkan betapa tidak enaknya hidup seperti saudara sepupunya itu.

Menjadi isteri seorang laki-laki yang tidak dicintainya, malah dibenci oleh semua keluarga yang merasa iri.

Tentu setiap saat bertemu dengan pandang mata membenci dan muiut cemberut, suara-suara yang mencemoohkan dan memanaskan hati!

"Kemudian apa yang terjadi maka engkau dapat berada di tempat pertempuran tadi, Enci Lan?"

"Pagi tadi datang tiga orang berpakaian petani yang mengaku perwira-perwira utusan Panglima Bu yang menyamar untuk mengunjungi aku. Akan tetapi kemudian ternyata mereka itu adalah para pemimpin laskar rakyat yang memberontak."

"Ah...l"

Kim Cui Hong terkejut.

"Laskar rakyat yang dipimpin Li Cu Seng yang terkenal itu?"

Kim Lan Hwa mengangguk dan menunjuk ke arah punggung kusir kereta.

"Dialah Li Cu Seng sendiri! Dan dua orang pengawal itu para pembantunya!"

"Ahh...!"

Cui flong terkejut dan tubuhnya menegang, siap menghadapi musuh. Tanpa menoleh, Li Cu Seng yang sejak tadi mendengarkan, berkata.

"Nona, jangan kaget dan khawatir. Kami adalah sahabat dan pelindung rakyat. Musuh kami hanyalah pemerintah Kerajaan Beng yang dipimpin pembesar-pembesar korup dan lalim. Kami berjuang demi kepentingan rakyat!"

"Dia benar, Hong-moi. Engkau sendiri tentu sudah mendengar betapa laskar rakyat yang membebaskan banyak propinsi di daerah barat dan utara itu selalu disambut dengan gembira oleh rakyat yang mendukung mere ka. Bahkan aku mendengar bahwa ketika Kaisar minta bantuan kepada Panglima Bu untuk mengirim pasukan mempertahankan kota raja, Panglima Bu menolak. Agaknya Panglima Bu sendiri melihat kelaliman Kaisar yang dipengaruhi dan dikuasai para Thaikam. Karena itulah, maka kami saling berjanji. Aku membantu Li Bengcu (Pemimpin Rakyat Lu) dan dua orang pembantunya keluar dari kota raja, dan dia akan membantu aku, mengantarkan aku pergi ke San-hai-koan menyusul Panglima Bu. Kami berhasil keluar dari pintu gerbang, akan tetapi setelah tiba di sini mereka tadi menghadang dan hendak menangkap kami. Lalu engkau muncul dan juga para pengemis tadi datang membantu sehingga musuh dapat diusir pergi."

"Mereka bukan pengemis-pengemis biasa, Nona Kim. Mereka adalah anggauta-anggauta Hek-tung Kai-pang yang gagah perkasa dan membantu perjuangan kami."

Kata Li Cu Seng.

"Hong-moi, engkau sudah mendengar semua riwayat dan pengalamanku. Sekarang ceritakanlah padaku, kemana saja selama ini engkau menghilang? Aku mendengar akan semua sepak terjangmu, ketika engkau menghukum Pui Kongcu (Tuan Muda Pui) putera Jaksa Pui yang korup dan sewenang-wenang itu, juga para jagoannya. Mereka memang manusiamanusia iblis yang jahat dan pantas menerima hukuman yang berat. Aku kagum sekali kepadamu yang telah membalas kematian ayahmu. Akan tetapi lalu ke mana engkau pergi? Dan bagaimana engkau bisa menjadi demikian lihai?"

Kim Cui Hong menghela napas panjang. Sungguh pahit mengenang semua pengalamannya itu.

"Enci Kim Lan Hwa, banyak hal kualami dan agaknya hidupku yang lalu juga tidak lebih daripada keadaanmu. Setelah ayah dan suheng terbunuh orang-orang jahat, aku hampir putus asa. Akan tetapi aku lalu ditolong dan diambil murid suhu Toat-beng Hek-mo dan digembleng selama tujuh tahun."

"Hebat! Kiranya Nona murid Lo-cian-pwe (Orang Tua Gagah) Toat-beng Hek-mo (Iblis Hitam Pencabut Nyawa) yang amat sakti?"

Tiba-tiba Li Cu Eng bertanya.

"Nona, di mana suhumu itu sekarang dan bagaimana keadaan beliau?"

"Suhu telah meninggal dunia, tahun yang lalu karena sakit tua."

"Adik Cui Hong, lalu bagaimana engkau tadi tiba-tiba dapat muncul dan membantu kami?"

"Enci Lan Hwa, selelah aku berhasil membalas rendam atas kematian Ayahku dan Suhengku, aku lalu merantau."

Cui Hong sengaja tidak menceritakan tentang malapetaka yang menimpa dirinya, diperkosa dan diperhina Pui Ki Cong dan tiga orang jagoannya.

"Dalam perantauan itu aku mendengar tentang keadaan pemerintahan Kerajaan Beng yang mulai kacau, tentang para pejabat yang korup dan lalim, tentang penderitaan rakyat jelata, dan tentang pemberontakan yang dilakukan rakyat yang dipimpin orang-orang gagah. Juga aku mendengar tentang laskar rakyat yang dipimpin oleh.... Li Bengcu ini. Aku masih bingung mendengar semua itu. Lalu aku teringat kepadamu, Lan-ci. Aku ingin mengunjungimu karena engkau adalah selir Panglima Besar Bu Sam Kwi yang tentu mengetahui benar keadaan negara yang kacau itu. Dan setibanya di sana tadi aku melihat engkau berada di dalam kereta ditodong seorang perwira, maka aku segera turun tangan."

Li Cu Seng berkata.

"Kedatangan Nona tepat sekali dan kami berterima kasih atas bantuanmu. Sekarang engkau sudah mendengar sendiri, Nona. Pemerintah Kerajaan Beng telah menjadi rusak dan busuk karena Kaisar telah berada dalam cengkeraman para Thaikam. Para pejabat tinggi sebagian besar korup dan lalim sehingga rakyat merasa tidak puas dan terjadi pemberontakan di mana-mana. Nona sendiri, menurut apa yang kudengar tadi, menjadi korban kejahatan putera seorang jaksa tinggi yang sewenang-wenang. Sekarang terdapat lebih banyak lagi pembesar yang bahkan lebih jahat daripada mereka yang dulu Nona musuhi. Maka, sekarang terserah kepadamu, Nona Kim Cui Hong, kalau engkau mau membantu perjuangan kami, kami akan menerima dengan senang hati."

"Hal itu akan kupikirkan dulu, Beng-cu. Akan tetapi sekarang, ke mana engkau hendak membawa Enci Kim Lan Hwa?"

Tanya Cui Hong.

"Tentu saja ke Shensi di mana markas besar kami berada. Sekarang tidak ada waktu lagi untuk mengantarnya ke Sanhai-koan karena kami harus mempersiapkan penyerbuan ke kota raja. Setelah kami menyelidiki dan mendapat kenyataan bahwa Panglima Besar Bu Sam Kwi tidak mengirim pasukan untuk melindungi kota raja, maka kami harus cepat menyerbu dan menguasainya."

"Akan tetapi, bukankah engkau berjanji kepada Enci Lan untuk mengantarnya ke San-hai-koan?"

Tanya Cui Hong.

"Benar, akan tetapi maaf, hal itu tidak dapat kami lakukan sekarang. Sebaiknya, demi keselamatannya sendiri, Nona Kim ikut bersamaku dan untuk sementara tinggal di sana."

Cui Hong menoleh kepada saudara sepupunya.

"Bagaimana, Enci Lan. Apakah engkau mau tinggal bersama Li Bengcu untuk sementara, ataukah engkau ingin menyusul keluarga suamimu ke San-hai-koan sekarang? Kalau engkau ingin kesana sekarang, aku dapat mengantar dan mengawalmu!"

"Terima kasih, Hong-moi. Engkau memang baik sekali. Akan tetapi kupikir aku tidak akan menyusul ke San-hai-koan sekarang. Pertan, perjalanan itu amat jauh, dan kedua, amat berbahaya kalau hanya engkau seorang diri yang mengawalku, dan pula... aku akan merasa aman kalau berada dalam perlindungan Li Bengcu. Biarlah untuk sementara aku ikut ke Shen-si."

Kim Lan mengerling ke arah pendekar itu. Ia memang sejak bertemu merasa kagum kepada Li Cu Seng. Laki-laki itu demikian gagah, tegas, dan tenang penuh wibawa.

"Baiklah, kalau begitu, selamat jalan, Enci Lan. Aku ingin melanjutkan perjalananku merantau."

"Akan tetapi.... Hong-moi, apakah engkau tidak ikut bersamaku? Aku masih kangen dan ingin banyak bercakap-cakap denganmu."

"Maaf, Enci Lan. Engkau sudah aman terlindung, aku t idak mengkhawatirkan keadaan dirimu lagi. Aku akan melihat-lihat keadaan kota raja."

"Li-hiap (Pendekar Wanita), berbahaya sekali kalau engkau memasuki kota raja. Tentu para perajurit tadi akan mengenalmu dan engkau akan ditangkap dan dianggap pemberontak karena engkau tadi membantu kami."

Kata Li Cu Seng, dan dia menghentikan dua ekor kuda yang menarik kereta.

"Karena itu, marilah engkau ikut dengan kami dan kita bersama menghadapi pasukan Kerajaan Beng yang sudah mulai runtuh itu."

Cui Hong tersenyum dan menggeleng kepalanya.

"Terima kasih, Bengcu. Terus terang saja, aku masih bingung memikirkan tentang permusuhan antara Kerajaan Beng dan para pemberontak yang menamakan dirinya pejuang. Memang, aku merasakan adanya pembesar-pembesar yang menyeleweng dari kebenaran, mengandalkan kekuasaan bertindak sewenang-wenang dan jahat, akan tetapi permusuhanku dengan mereka hanya merupakan urusan pribadi, bukan urusan negara. Ketika aku melakukan perjalanan, aku bertemu dengan para pendekar yang bertekad membela Kerajaan Beng sebagai warga negara yang setia. Akan tetapi aku bertemu pula dengan para pendekar yang mendukung laskar rakyat yang Bengcu pimpin dan mengatakan bahwa laskar rakyat itu pejuang-pejuang pembela rakyat, sebaliknya yang membela kerajaan mengatakan bahwa laskar rakyat itu pemberontak-pemberontak dan pengacau keamanan. Aku sendiri menilai bahwa kedua golongan itu ada benarnya dan ada pula kelirunya. Karena itu, tadinya aku ingin bertemu Enci Kim Lan Hwa dan bertanya kepada suaminya karena aku mendengar bahwa Panglima Besar Bu Sam Kwi seorang yang adil dan bijaksana. Akan tetapi sayang, aku tidak dapat bertemu dengannya. Sampai sekarang pun aku belum dapat mengambil keputusan harus berada di pihak yang mana, Beng cu."

"Akan tetapi, Kim-lihiap. Tadi engkau sudah membantu kami melawan para perajurit kerajaan, itu berarti bahwa engkau sudah berpihak kepada kami para pejuang dan memusuhi pemerintah Kerajaan Beng!"

"Tidak, Bengcu. Kalau tadi aku turun tangan, aku hanya ingin membela Enci Kim Lan Hwa dan aku membantu Bengcu bertiga atas permintaan Enci Lan. Kuanggap mereka itu hanya segerombolan orang yang hendak mengganggu Enci Kim Lan Hwa, maka aku menentang mereka. Bukan berarti aku menentang Kerajaan Beng. Seperti dulu, kalau aku menentang pembesar pemerintah yang jahat, bukan berarti aku menentang pemerintah, melainkan menentang orangnya yang kebetulan menjadi pejabat. Aku menentang kejahatannya, Bengcu, bukan kedudukannya."

Li Cu Seng menghela napas panjang dan berkata.

"Kim Lihiap, aku tidak dapat menyalahkanmu. Aku menghargai pendirianmu karena aku pun dapat merasakan apa yang menjadi gejolak hatimu. Banyak pendekar yang juga bimbang seperti perasaanmu. Aku dulu juga seorang pendekar yang hanya menjunjung tinggi dan mempertahankan kebenaran dan keadilan perorangan. Akan tetapi sekali ini menyangkut nasib jutaan orang rakyat kecil, Lihiap. Maka aku memilih berjuang menumbangkan kekuasaan lama yang sudah busuk dan korup ini dan menggantikan dengan kekuasaan baru yang adil bersih."

"Terima kasin atas pengertianmu, Bengcu. Nah, selamat tinggal. Enci Lan, selamat jalan, semoga engkau menemukan kebahagiaan."

Setelah berkata demikian, Kim Cui Hiong melompat dan berlar i cepat meninggalkan tempat itu.

Apa yang dikatakan pemimpin pemberontak Li Cu Seng tentang akibat pemunculan Kim Cui Hong membantunya ternyata benar.

Su Lok Bu dan Cia Kok Han, dua orang jagoan murid Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai yahg menjadi perwira dalam pasukan Jendeial Ciong Kak, terkejut mengenali Kim Cui Hong.

Mereka berdua bersama Liong-san Ngo-eng terpaksa melarikan diri dan meninggalkan banyak perajurit yang tewas atau terluka parah, cepat kembali ke kota raja dan segera melaporkan kepada Jenderal Ciong.

Mendengar bahwa Pimpinan Pemberontak Li Cu Seng sendiri berani memasuki kota raja dan Mini melarikan diri bersama Kim Lan Hwa, selir Panglima Besar Bu Sam Kwi yang terkenal, jenderal itu lalu menyuruh dua ratus orang perajurit melakukan pengejaran dengan tujuh orang perwira itu menjadi penunjuk jalan.

Akan tetapi, pengejaran ini gagal karena Li Cu Seng sudah menghilang ke daerah yang sudah dikuasai pemberontak dan pasukan itu terpaksa kembali karena di sana terdapat puluhan, bahkan ratusan ribu perajurit dan Laskar Rakyat yang siap menghadapi mereka.

Jenderal Ciong tentu saja merasa penasaran sekali.

Kehormatannya sebagai panglima yang mengatur pertahanan kota raja terpukul.

Li Cu Seng, pemimpin pemberontak itu sendiri sampai dapat memasuki kota raja dan dia tidak dapat menangkapnya!

Lebih dari itu, malah pemimpin pemberontak itu melarikan diri bersama selir Panglima Besar Bu Sam Kwi!

Ini saja membuktikan bahwa Panglima Bu Sam Kwi tidak mempunyai iktikad baik terhadap Kerajaan Beng.

Agaknya panglima penjaga pertahanan di garis depan mencegah mlrnknya tentara Mancu itu tidak perduli bahwa kota raja terancam para pemberontak!

Jenderal Ciong lalu menghadap Kaisar dan seperti biasa, para pimpinan Thaikam menyertai Kaisar dalam pertemuan itu.

Mereka ini jelas mengambil alih kekuasaan Kaisar dan segala keputusan seolah keluar dari mereka.

Kaisar sendiri seolah tidak tahu.

bahwa dia berada dalam cengkeraman kekuasaan para Thaikim, bahkan Kaisar menganggap bahwa para Thaikam itu merupakan pembantu-pembantunya yang paling setia dan paling dapat dipercaya!

Setelah Jenderal Ciong melaporkan akan ancaman bahaya dani pasukan besar pemberontak, Kepala Thaikam Sue yang dimintai pendapat Kaisar, berkata dengan sikap congkak.

"Ciong Goan-swe mengapa melaporkan hal sekecil itu seolah-olah perkara besar sehingga mendatangkan kegelisahan dalam hati Sri baginda Kaisar? Apa sih artinya pemberontakan semacam itu? Semua pemberontakan dapat dihancurkan selama ini!"

"Akan tetapi, Sri baginda Yang Mulia, sekali ini ancaman datang dari Laskar Rakyat yang dipimpin Pemberontak Li Cu Seng. Anak buah mereka itu ratusan ribu orang banyaknya!"

Bantah Jenderal Ciong.

"Maksud Ciong Goan-swe, ratusan ribu orang petani dan jembel-jembel yang kurang makan sehingga bertubuh kurus dan lemah! Mengapa harus khawatir? Bukankah kita mempunyai balatentara yang cukup banyak dan kuat, juga kami mendengar banyak pendekar yang siap mempertahankan kerajaan dan kota raja?"

Bantah Thaikam Sue.

"Ciong Goan-swe."

Kini Kaisar berkata.

"Kami percaya akan kemampuan Goan-swe memimpin pasukan. Kami memer intahkan Goan-swe untuk menghancurkan para pemberontakitu!"

Kaisar lalu memberi tanda bahwa persidangan ditutup.

Jenderal Ciong terpaksa kembali ke benteng dengan wajah muram.

Celaka, pikirnya.

Air bah sudah merendam tubuh sampai mendekati leher, masih saja Kaisar tidak menyadari bahaya mengancam.

Semua ini gara-gara para Thaikam tolol yang berlagak pintar itu!

Tidak ada lain ja lan bagi Jenderal Ciong sebagai seorang panglima yang gagah kecuali akan mempertahankan kota raja mati-matian dan sampai tit ik darah terakhir!

Su Lok Bu dan Cia Kok Han, pendekar Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai yang kini menjadi perwira pembantu Jenderal Ciong untuk membela Kerajaan Beng dari ancaman pemberontak, juga merasa kecewa sekali.

Akan tetapi kekecewaan mereka terutama sekali disebabkan mereka tidak berhasil menangkap atau membunuh Kim Cui Hong.

Dua orang ini menganggap Kim Cui Hong sebagai seorang wanita iblis yang teramat kejam dan jahat.

Memang mereka telah mengetahui bahwa Pui Ki Cong, kepada siapa mereka tadinya menghambakan diri, telah melakukan kejahatan terhadap Kim Cui Hong, telah memperkosa-nya.

Juga jagoan-jagoan pembesar Pui, termasuk Koo Cai Sun dan Lauw Ti.

Akan tetapi, pembalasan Kim Cui Hong terhadap mereka bertiga melampaui batas perikemanusiaan, maka, setelah Kim Cui Hong dapat terbebas dari tangkapan mereka, bahkan mereka terpaksa melarikan diri karena munculnya banyak pengemis bertongkat hitam yang lihai, dua orang perwira itu lalu mengunjungi sebuah rumah besar yang terpencil di sudut kota.

Rumah itu besar dan kuno, tampak seram dan sunyi.

Akan tetapi begitu Su Lok Bu dan Cia Kok Han memasuki halaman gedung, dari tempat persembunyian muncul empat orang berpakaian seperti biasa dipakai para penjaga atau tukang pukul jagoan.

Akan tetapi sikap garang mereka menghilang ketika dalam keremangan senja itu mereka mengenal dua orang perwira yang datang.

"Laporkan kepada Tuan Muda Pui Ki Cong bahwa kami berdua hendak Bertemu dan menyampaikan berita penting sekali."

Kata Su Lok Bu.

Kepala jaga mengangguk dan dua orang perwira itu menunggu di pendapa ketika kepala jaga melapor ke dalam.

Sebetulnya, Su Lok Bu dan Cia Kok Han sudah tidak membantu Pui Kongcu (Tuan Muda Pui) lagi, aKan tetapi melihat keadaan bangsawan itu yang amat menderita, terkadang mereka datang menjenguk, bahkan mereka mencarikan tabib yang terkenal pandai untuk merawat dan mengobati tubuh Pui Kongcu yang cacat.

Mungkin karena merasa senasib, atau mengingat bahwa nasib dua orang-anak buahnya yang juga dibuat cacat oleh Cui Hong itu setia kepadanya, Pui Kongcu bahkan menyuruh orang membawa Koo Cai Sun dan Lauw Ti ke gedung itu dan tinggal bersamanya.

Mereka mendapat perawatan tabib yang pandai.

Biarpun menjadi manusia caca, namun karena Pui Kongcu kaya raya, maka mere ka dapat terawat baik.

Tak lama kemudian kepala jaga keluar dan mempersilakan Su Lok Bu dan Can Kok Han masuk ruangan dalam.

Cuaca sudah mulai gelaf dan lampu-lampu penerangan mulai dinyalakan sehingga ruangan dalam itu pun terang sekali karena ada lima buah lampu besar meneranginya.

Kalau saja dua orang perwira ini belum pernah melihat tiga orang yang berada di ruangan icu, tentu mereka akan bergidik dan merasa ngeri.

Memang keadaan ruangan itu dan keadaan mereka menyeramkan sekali.

Ruangan yang luas itu sudah menyeramkan.

Penerangan lima buah lampu besar itu membuat semua yang berada di situ tampak jelas.

Dinding-dindingnya terhias lukisan dan tulisan indah.

Pot-pot bunga setiap sudut menyegarkan, akan tetapi sutera-sutera putih yang bergantungan sebagai tirai jendela dan pintu, mendatangkan kesan menyeramkan, seperti ruangan berkabung karena ada kematian.

Dan di tengah ruangan itu terdapat sebuah meja yang bundar dan lebar.

Di belakang meja tampak tiga orang yang keadaannya amat mengerikan.

Mereka semua duduk di atas kursi roda.

Mereka adalah Tuan Muda Pui Ki Cong, putera Kepala Jaksa Pui yang telah pensiun setelah dipenjara selama satu tahun, dan sekarang bekas jaksa itu yang masih kaya raya menjadi tuan tanah yang memiliki banyak rumah yang dia sewakan.

Orang ke dua adalah Koo Cai Sun, dan yang ke tiga Lauw Ti.

Dua orang ini dahulu merupakan dua orang di antara Thian-cin Bu-tek Sam-eng (Tiga Orang Pendekar Tanpa Tanding dari Thian-cin), bertiga dengan mendiang Gan Tek Un yang membunuh diri.

Pui Ki Cong sekarang berusia tiga puluh sembilan tahun, akan tetapi karena mukanya rusak, sukar ditaksir berapa usianya.

Muka pemuda bangsawan yang dulunya tampan berkulit putih itu kini menyeramkan, seperti muka setan menakutkan.

Seluruh tubuhnya ada bilur-bilur menghitam, bekas luka-luka sayatan yang diakibatkan cambukan ranting oleh Cui Hong.

Kulit mukanya juga penuh luka-luka sayatan yang sudah sembuh tapi meninggalkan garis-garis menghitam.

Sepasang matanya buta dan kosong karena kedua biji matanya sudah copot, bukit hidungnya hilang sehingga tampak berlubang, bibirnya juga hilang sehingga tampak deretan gigi saja, bahkan kedua daun telinganya juga hilang.

Sungguh tidak mirip manusia lagi dan kalau orang bertemu dengannya di jalan, orang itu tentu akan lari ketakutan!

Semua ini masih ditambah lagi dengan kelumpuhan kedua kakinya karena tulang-tulang kakinya hancur.

Tadinya, tulang lengan dari siku ke bawah juga remuk, akan tetapi berkat kepandaian tabib, kini dia sudah dapat menggerakkan lagi kedua lengan dan tangannya, walaupun gerakannya kaku.

Keadaannya sedemikian menakutkan dan menjijikkan sehingga isteri-isterinya sendiri dan anak-anaknya pun merasa takut dan jijik mendekatinya.

Maka dia hidup terasing di dalam gedung pemberian orang tuanya itu, hanya dikelilingi pelayan pelayan karena kegiatan apa pun yang dia lakukan, harus dibantu pelayan.

Koo Cai Sun berusia empat puluh empat tahun, akan tetapi juga tak seorang pun yang mengenalnya sembilan tahun yang lalu akan dapat mengetahui bahwa si muka setan ini adalah Koo Cai Sun!

Keadaannya hampir sama dengan keadaan Pui Ki Cong.

Kedua telinganya hilang, bukit hidungnya remuk dan kini hidungnya berlubang melompong, mulutnya juga tanpa bibir sehingga tampak giginya yang besar-besar dan ompong sebagian.

Kedua lengan tangannya juga bentuknya bengkok-bengkok akan tetapi sudah dapat digerakkan dan biarpun kedua kakinya tidak lumpuh, namun kedua ujung kaki, jari-jari kakinya habis terbakar sehingga terpaksa dia pun memakai bantuan kursi roda!

Orang ke tiga, Louw Ti berusia sebaya dengan Koo Cai Sun, sekitar empat puluh empat tahun.

Juga mukanya cacat, mata kirinya buta karena biji mata itu pecah, dan matanya yang tinggal sebelah kanan Itu mempunyai sinar, yang aneh, sinar mata seorang yang miring otaknya!

Dia menyeringai dan terkadang dia terkekeh, aneh dan mengerikan.

Kedua tangannya juga cacat dan bahkan tangan kirinya buntung sebatas pergelangan.

Kedua kakinya juga dahulu mengalami patah-patah tulang akan tetapi kini telah dapat disembuhkan tabib walaupun yang kanan setengah lumpuh sehingga kalau berjalan dia harus beiipncat-loncatan dengan kaki kiri.

Maka dia menggunakan kursi roda untuk dapat berjalan.

Biarpun penderitaan jasmani Louw Ti tidak sehebat Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun, namun penderitaan batinnya lebih hebat sehingga pikirannya terganggu dan menjadi setengah gila.

Demikianlah, ketika Su Lok Bu dan Cia Kok Han duduk berhadapan dengan tiga orang itu, diam-diam mereka bergidik ngeri.

Sungguh terlalu kejam pembalasan dendam yang dilakukan Kim Cui Hong kepada tiga orang ini.

Orang ke empat, Gan Tek Un, telah bertaubat dan menjadi pendeta, akan tetapi dia pun kini membunuh diri sebagal penebusan dosanya terhadap gadis itu!

Biasanya, dua orang itu kalau datang, ke gedung ini, hanya untuk bertemu dengan Pui Ki Cong, bekas majikan mereka.

Baru sekarang mere ka datang dan melihat tiga orang Itu bersama, dan mereka yang (Lanjut ke

Jilid 13) Sakit Hati Seorang Wanita (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13 dulunya pendekar kang-ouw dan sekarang menjadi perwira, yang sudah banyak menyaksikan kekerasan dan akibat kekerasan, mereka ngeri melihat tiga orang bekas amukan Kim Cui Hong itu!

"Su-ciangkun (perwira Su) dan Cla-ciangkun (Perwira Cia), kalian berdua sudah menjadi perwira dan masih suka mengunjungi aku.

Terima kasih atas kebaikan kalian.

Sekarang kalian hendak bertemu denganku, membawa berita penting apakah?"

Tanya Pui Ki Cong dengan suara yang pelo sekali karena dia bicara tanpa menggunakan bibir!

Ngeri melihat orang ini bicara, seperti melihat setan tengkorak bicara.

Apalagi wajah tidak berbiji lagi, ditambah amat kurus.

Persis tengkorak hidup.

"Pui Kongcu, kami hanya akan memberitahukan bahwa kami melihat Nona Kim Cui Hong!"

Mendengar ini, tiga orang yang seperti mayat hidup itu seolah tersentak kaget.

Wajah Pui Ki Cong berubah merah sekali, mata Koo Cai Sun yang mencorong, liar dan menyorotkan kebencian jtu seolah bersinar mengeluarkan api.

Louw Ti tiba-tiba tertawa ha-ha-he-heh dan dia mengacungkan tangan kanan yang terkepal seperti hentak memukul dan lengan kirinya yang buntung sebatas pergelangan itu pun diacung-acungkan.

"Kubunuh dia! Mana dia Si Kim Cui Hong laknat, kubunuh dia....!"

Katanya.

"Louw Ti, diamlah!"

Kata Pui Ki Cong, lalu dia bertanya kepada Su Lok Bu.

"Su-ciangkun, di mana perempuan iblis itu sekarang?"

"Ia membantu pemimpin pemberontak Li Cu Seng ketika kami hendak menangkap pemberontakitu di luar kota raja. Sayang kami tidak dapat menangkapnya karena gerombolan pengemis tongkat hitam yang amat banyak jumlahnya membantunya."

"Ahh! Iblis betina itu ternyata membantu pemberontak? Dasar perempuan jahat! Su-ciangkun dan Cia-ciangkun, tolong kumpulkan dan Siapkan para pendekar yang tangguh untuk menangkapnya. Kalau kalian dapat menangkapnya, aku akan memberi hadiah yang amat banyak, yang akan dapat membuat kalian kaya raya! Biar separuh kekayaanku akan kuhadiahkan asalkan kalian dapat menangkap iblis betina itu dan menyeretnya ke sini!"

"Pui Kongcu, kami berdua tidak begitu memikirkan tentang hadiah. Kami akan mengumpulkan orang-orang sakti yang berada di kota raja untuk membantu kami menyelidiki dan menangkap kalau Kim Cui Hong muncul, bukan karena hadiah itu, melainkan karena kami menganggap ia seorang wanita yang amat kejam, jahat, dan berbahaya."

Kata Cia Kok Han.

Dua orang perwira itu lalu berpamit dan keluar dari gedung yang menyeramkan itu.

Su Lok Bu dan Cia Kokz Han lalu cepat menghubungi para pendekar yang berdatangan ke kota raja memenuhi undangan Jenderal Ciong untuk membela pertahanan kota raja dari serbuan pemberontak.

Pada waktu itu, memang terjadi perpecahan di dunia persilatan.

Ada yang merasa bahwa mereka harus membela Kerajaan Beng sebagai patriot, seperti Su Lok Bu, Cia Kok Han, Liong-san Ngo-heng, dan lain-lain.

Ada pula sebagian tokoh kang-ouw yang berpihak kepada Li Cu Seng, dan ada pula, terutama para pendekar di utara, yang mendukung Panglima Besar Bu Sam Kwi.

Di antara pendekar yang membela Kerajaan Beng terdapat seorang datuk dunia persilatan dari timur.

Dia adalah seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar, rambut, kumis dan jenggotnya sudah putih semua.

Namanya tidak begitu di kenal di kota raja, akan tetapi di sepanjang pantai Laut Timur, dia terkenal dengan julukan Tung Ok (Racun Timur).

Ilmu silatnya tinggi dan dia pun pandai ilmu sihir sehingga ditakuti banyak orang.

Ketika Jenderal Ciong mengundang para orang gagah untuk membantu pertahanan kota raja, Tung Ok yang kebetulan berkunjung ke kota raja tertarik.

Diam-diam dia tertarik menyaksikan kemewahan di kota raja dan dia Ingin mendapatkan kedudukan sehingga dapat menjadi seorang pembesar tinggi dan hidup dalam gedung seperti istana mewan.

mendapat kehormatan dan kemuliaan yang tidak pernah dia rasakan!

Ketika ia mendaftarkan dirinya dan dicoba kepandaiannya, segera dia dihadapkan Jenderal Ciong karena memang ilmu silatnya luar biasa.

Su Lok Bu dan Cia Kok Han menghubungi Tung Ok yang tinggal dalam sebuah gedung besar yang diperuntukkan tempat tinggal para pendekar.

Sebagai seorang datuk, Tung Ok mendapatkan sebuah kamar terbesar dan pelayanan istimewa.

Su Lok Bu dan Cia Kok Han sudah tahu akan kelihaian datuk ini, maka mereka menghubunginya, bukan hanya untuk menghadapi Kim Cui Hong apabila gadis itu muncul, melainkan terutama menghadapi para mata-mata Li Cu Seng yang berkeliaran di kota raja.

Setelah menceritakan tentang Li Cu Seng yang menyelundup ke kota raja dan berhasil membawa lari Kim Lan Hwa, selir Panglima Besar Bu Sam Kwi, dan tentang Kim Cui hong yang diceritakan sebagai iblis betina yang jahat dan kejam, Tung Ok tertawa.

"Ha-ha-ha, mengapa baru sekarang kalian datang kepadaku? Kalau ketika itu aku berada dengan kalian, sudah pasti pemberontak Li Cu Seng dan kaki tangannya, juga iblis betina Kim Cui Hong Itu, dapat kutangkap hidup atau mati."

"Maafkan kalau kami pada waktu itu tidak sempat menghubungi Lo-cian-pwe (Orang Tua Gagah), akan tetapi mulai sekarang, kami mengharapkan bantuan Lo-cian-pwe. Kalau kami dan para pembantu kami melihat ada mata-mata pemberontak ber keliaran di kota raja, terutama sekali mereka yang melindungi Li Cu Seng ketika hendak kami tangkap, dan lebih lagi iblis betina Kim Cui Hong itu, tentu kami akan minta bantuan Lo-cian-pwe. Mereka itu rata-rata memiliki ilmu silat yang tangguh sekali. Kalau Lo-cian-pwe dapat menangkap mereka, hidup atau mati, tentu jasa Lo-cian-pwe amat besar dan selain akan dilaporkan kepada Jenderal Ciong dan dicatat, juga Pui Kongcu telah menjanjikan hadiah yang amat besar dan membuat Lo-clan-pwe kaya raya."

"Ha-ha-ha, beres, beres! Kalau mereka muncul, serahkan saja kepadaku, beres!"

Kata Racun Timur sambil tertawa senang membayangkan hadiah-hadiah yang akan diterimanya.

Demikianlah, mulai hari itu, atas perintah Jenderal Ciong, para perwira termasuk Sn Lok Bu dan Cia Kok Han menyebar banyak perajurit penyelidik agar tidak lagi merela kecolongan seperti yang sudah-sudah, ketika banyak anggota perkumpulan pengemis Tongkat Hitam berkeliaran di kota raja sebagai mata-mata Pemberontak Li Cu Seng tanpa mereka ketahui.

Seorang pemuda tampan memasuki pintu gerbang kota raja Peking pada pagi hari Itu, berbaur dengan mereka yang keluar masuk pintu gerbang.

Para petugas penjaga pintu mengamati setiap orang yang lewat dengan penuh perhatian.

Akan tetapi tidak ada di antara mereka yang mencurigai pemuda tampan berpakaian seperti seorang satrawan itu.

Dengan langkah santai pemuda itu berjalan-jalan di sepanjang jalan besar dalam kota saja seolah hanya melihat-lihat dengan sikap acuh tak acuh.

Akan tetapi sesungguhnya dia memperhatikan segala yang dilihatnya, terutama ketika dia berjalan di luar benteng dan melihat banyaknya perajurit dalam pasukan-pasukan kecil berkeliaran di kota dalam keadaan siap.

Setelah berjalan-jalan berputar-putar kota raja sejak pagi memasuki kota sampai siang hari, agaknya dia merasa lelah dan lapar.

Dia lalu memasuki sebuah rumah makan besar "Lok Thian"

Yang letaknya di sudut kota.

Biarpun tidak berapa ramai dikunjungi orang, namun rumah makan ini cukup besar dan seperti kebiasaan pada waktu itu, rumah makan Lok Thian ini juga merupakan bagian dari rumah penginapan yang berada di belakang rumah makan itu.

Seorang pelayan tua segera menyambut ketika pemula itu memasuki rumah makan.

"Selamat siang, Kongcu (Tuan Muda)."

Dia lalu Mempersilakan pemuda itu duduk di meja kosong yang berada di sudut.

Dengan sikapnya yang tenang pemuda tampan itu memesan makanan dengan minuman air teh.

Tak lama kemudian dia sudah makan.

Buntalan pakaian yang tadi dibawanya dia letakkan di atas meja.

Setelah selesai makan dia menggapai pelayan dan bertanya.

"Paman, apakah di rumah penginapannya masih ada kamar kosong?"

"Ah, Kongcu hendak bermalam? Masih ada, Kongcu, dan kamar rumah penginapan kami terkenal bersih. Mari saya antar."

Setelah membayar harga makanan, pemuda itu lalu diantar ke rumah penginapan di belakang rumah makan itu.

Seorang pelayan bagian rumah penginapan menyambut dan menerima tamu itu dari tangan pelayan rumah makan.

Pemuda itu diantar pelayan mendapatkan sebuah kamar yang bersih di bagian depan rumah penginapan, di atas loteng.

Dari kamar tidurnya yang berada di depan tamu itu dapat melihat orang-orang yang berlalu lalang di atas jalan raya depan rumah makan.

Memang dia sengaja memilih kamar di bagian depan.

Setelah ditinggalkan pelayan, dia memasuki kamar, menutup daun pintu, lalu duduk di dekat jendela luar dan memandang ke arah orang-orang yang berlalu lalang di jalan depan rumah makan itu.

Pemuda tampan itu melamun.

Pemuda itu adalah Kim Cui Hong.

Ketika memperkenalkan namanya kepada pelayan rumah penginapan untuk dicatat dalam daftar tamu, dia memberi nama Ok Cin.

Dulu ketika ia menuntut balas kepada musuh-musuh besarnya, ia pernah menggunakan nama samaran Ok Cin Hwa.

Sekarang, menyamar sebagai seorang pemuda, ia memakai nama itu, hanya dikurangi huruf Hwa sehingga pantas untuk nama pria.

Ok Cin, Tuan Muda Ok Cin!

Kim Cui Hong termenung.

Hatinya merasa bingung juga menghadapi keadaan negara pada saat itu.

Dahulu, ayahnya, yaitu mendiang Kim Siok, guru silat di dusun Ang-ke-bun, seorang yang berjiwa pendekar, selalu memberi nasihat kepadanya agar dia memiliki tiga kebaktian.

Berbakti kepada Thian (Tuhan) yang Maha Kuasa dengan cara hidup bersih, baik dan benar.

Berbakti kepada orang tua dengan cara menghormat i dan mencinta serta merawat mereka, dan berbakti kepada negara, yaitu Kerajaan Beng!

Kebaktian pertama sudah ia laksanakan, yaitu ia selalu berusaha agar perbuatannya selalu berada di pihak yang benar dan baik, tidak pernah melakukan kejahatan menuruti nafsu sendiri.

Kemudian kebaktian kepada orang tua, tidak dapat ia laksanakan sepenuhnya karena ibunya telah meninggal dunia sejakia berusia lima tahun dan ayahnya tewas di tangan para penjahat yang telah ia balas semua.

Kini tinggal kebaktian terakhir yaitu kepada Kerajaan Beng!

Hal inilah yang membingungkannya.

Ketika dulu ayahnya mengajak ia dan mendiang suhengnya yang menjadi tunangannya melarikan diri meninggalkan Ang-ke-bun, sebelum disusul para jagoan yang dikirim Pui Kongcu, ayahnya pernah menyatakan ketidak-senangan hatinya terhadap Kerajaan Beng karena kelemahan Kaisar yang menjadi boneka di tangan para pembesar lalim.

Bahkan ayahnya berkata bahwa kalau mereka terus dikejar-kejar, lebih baik mereka bergabung dengan rakyat yang memberontak terhadap kelaliman Kaisar.

Inilah yang membingungkan hatinya.

Ia melihat ada tiga kekuasaan besar kini sedang bersaing dan siap untuk berperang memperebutkan kekuasaan.

Pertama, kekuasaan pemerintahan Kerajaan Beng di mana kaisarnya dikuasai oleh para Thaikam sehingga para pejabat sebagian besar melakukan penyelewengan, tersesat dan korup.

Kekuasaan kedua adalah Laskar Rakyat yang dipimpin Li Cu Seng, yang merupakan golongan pemberontak yang paling besar dan terkuat.

Adapun kekuasaan ke tiga dipegang oleh Panglima Besar Bu Sam Kwi yang mengepalai bala tentara yang besar jumlahnya dan kini berada di San-hai-koan.

Ia harus berpihak mana kalau terjadi perang?

Cui Hong termangu-mangu.

Ia tahu bahwa tiga kekuasaan itu terdiri dari bangsa sendiri!

Masing-masing tentu mempunyai alasan sendiri dan mereka diri sendiri atau pihak sendiri benar.

Kaisar merasa benar karena dia adalah kaisar, keturunan dari pendiri Dinasti Beng dan menganggap mereka yang menentangnya sebagai pemberontak.

Pihak Li Cu Seng menganggap dirinya benar karena merasa sebagai pembela rakyat yang tertindas dan menganggap kaisar dan para pejabat lalim dan tidak bijaksana.

Adapun balatentara yang dipimpin Bu Sam Kwi merupakan pihak ke tiga dan ia tidak tahu pasti panglima besar itu akan berpihak siapa, setia kepada Kaisar atau membantu para pemberontak yang merasa berjuang demi rakyat.

Cui Hong merasa bingung.

Andaikata yang bertikai hanya dua pihak, yang pihak Kerajaan Beng menghadapi orang asing, Mongol atau Mancu, ia tidak akan ragu lagi.

Pasti ia akan membela Kerajaan Beng melawan musuh.

Akan tetapi sekarang, tiga kekuasaan itu adalah bangsa sendiri yang terpecah-pecah!

Kalau terjadi perang antara kerajaan melawan pejuang rakyat, akibatnya sama saja.

Rakyat yang menderita.

Kalau kota raja dihancurkan pihak pejuang yang memberontak, penduduk kota raja tentu mengalami kehancuran dan penderitaan.

Sebaliknya kalau pihak pejuang pemberontak kalah, tentu laskar yang terdiri dari rakyat itu banyak yang tewas!

Ia lalu membayangkan kakak sepupunya, Kim Lan Hwa.

Ia merasa kasihan kepada saudara sepupunya itu.

Lan Hwa sebetulnya dapat hidup berbahagia sebagai selir Panglima Besar Bu Sam Kwi yang amat mengasihinya.

Hal ini d iakuinya sendiri oleh Lan Hwa, biarpun Lan Hwa pada dasarnya tidak mempunyai perasaan cinta kepada Panglima Besar Bu.

Bagaimanapun juga, ia dapat hidup mulia dan terhormat sebagai selir terkasih panglima itu.

Akan tetapi sungguh sayang, kasih sayang panglima itu menimbulkan rasa iri dan cemburu da lam hati para isteri Panglima Bu sehingga akhirnya Lan Hwa dibenci oleh mereka semua.

Kini Kim Lan Hwa bersama Li Cu Seng, pemimpin pemberontak!

Apa yang akan terjadi dengan diri kakak sepupunya itu?

Ia tentu sudah dianggap sebagai pemberontak karena melarikan diri bersama Li Cu Seng.

Dan bagaimana tanggapan Panglima Besar Bu Sam Kwi kalau dia mengetahui bahwa selir terkasihnya itu kini pergi bersama Li Cu Seng?

Akhirnya Cui Hong mengambil keputusan untuk tidak melibatkan diri da lam permusuhan dan perang saudara.

Lebih bebas hidup sebagai pendekar yang tidak memihak karena ketiga kekuasaan itu masih sebangsa sesaudara.

Ia hanya akan melanjutkan pendiriannya sejak dulu, yaitu memihak orang-orang yang tertindas, menegakkan kebenaran dan keadilan, dan menentang orang-orang yang bertindak sewenang-wenang dan jahat, tidak perduli dari golongan mana orang itu!

Setelah mengambil keputusan ini, Cui Hong lalu mandi, bertukar pakaian, makan malam, dan tidur.

Ia akan pergi meninggalkan kota raja pada besok pagi, sebelum terlambat, karena kalau sudah terjadi perang tentu akan sulit baginya untuk keluar dari kota raja.

Apalagi kalau ada orang yang mengenalnya sebagai wanita yang kemarin membantu pemimpin pemberontak Li Cu Seng, tentu ia akan dikejarkejar.

Menjelang tengah malam Cui Hong tersentak bangun dari tidurnya.

Ia mendengar suara ribut-ribut di luar kamarnya.

Cepat ia meniup padam lampu kecil di atas mejanya dan membuka jendela, melihat keluar, ke arah jalan raya.

Akan tetapi sudah sunyi di jalan itu, tidak tampak orang berlalu lalang.

Akan tetapi suara itu terdengar di dalam rumah makan yang berada di depan rumah penginapan dan yang membuat ia terkejut dan heran adalah ketika mendengar suara senjata tajam beradu dan bentakan-bentakan marah diseling teriakan-teriakan kesakitan.

Ada orang-orang berkelahi, pikirnya.

Maklum bahwa ada peristiwa penting mungkin keadaannya gawat, dia cepat membereskan pakaian penyamarannya sebagai seorang laki-laki, menggendong buntalan pakaiannya, lalu keluar dari kamarnya, terus menuju ke pintu besar bagian luar rumah penginapan setelah menuruni loteng.

Pintu besar itu tertutup dan anehnya, ia tidak melihat seorang pun di rumah penginapan itu, tidak ada tamu, tidak tampak pula pelayan.

Ia membuka daun pintu yang menembus ke ruangan rumah makan dan di bawah penerangan yang cukup ia melihat perkelahian hebat.

Ia melihat lima orang berpakaian pelayan dan lima orang lain berpakaian pedagang sedang mati-matian melawan pengeroyokan puluhan orang perajurit!

Ia merasa heran sekali.

Lima orang pelayan itu, termasuk pelayan rumah makan dan pelayan rumah penginapan yang melayaninya tadi, ternyata kini melawan dengan menggunakan pedang dan gerakan mereka cukup lihai!

Ia berdiri bingung karena tidak tahu mengapa rumah makan itu diserbu perajurit.

Ia tidak tahu urusannya dan tidak tahu pula siapa yang bersalah sehingga ia tidak ingin mencampuri.

Akan tetapi belum lama ia berdiri di luar pintu belakang rumah makan itu, di bawah penerangan sebuah lampu gantung, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Nah, itu dia Si Iblis Betina!"

Lima orang berloncatan mengepung Cui Hong dan dua orang di antaranya adalah Perwira Su Lok Bu dan Cia Kok Han!

Cui Hong terkejut mengetahui bahwa rahasianya telah diketahui musuh dan keadaannya berbahaya sekali.

Namun sedikit pun la tidak merasa gentar.

Ketika Su Lok Bu yang berada paling dekat dengannya sudah menyerang dengan sepasang pedangnya, Cui Hong melompat ke kiri di mana terdapat ruangan yang lebih luas.

Lima orang itu mengejar dan mengepungnya.

Akan tetapi Cui Hong sudah cepat menyambar sebuah sapu bergagang panjang, mematahkan sapunya tinggal gagangnya saja yang terbuat dari kayu dan menggunakan gagang sapu sebagai senjata.

Su Lok Bu menyerang dengan sepasang pedangnya, disusul Cia Kok Han yang menggerakkan golok besarnya menyerang pula, dibantu tiga orang perajurit yang masing-masing bersenjatakan golok.

Namun Cui Hong tidak menjadi gentar.

Ia mainkan senjata gagang sapu itu, diputar cepat dengan pengerahan tenaga sakti, tubuhnya berkelebatan cepat sekali.

Terdengar suara berdentangan dan lima orang pengeroyokitu begitu tertangkis senjata mereka, merasa terkejut karena tangan mereka tergetar hebat.

Lebih lagi tiga orang perajurit itu.

Begitu terkena tangkisan, mereka terhuyung ke belakang.

Akan tetapi ketika para pelayan rumah penginapan Lok Thian bersama tamunya sudah roboh semua, terluka dan tertawan, kini para perajurit ikut mengeroyok sehingga Cui Hong dikeroyok lebih dari dua puluh orang!

Namun, sungguh hebat sepak terjang Cui Hong.

Senjatanya yang amat sederhana itu menyambar-nyambar dahsyat, berubah menjadi gulungan sinar yang amat dahsyat sehingga sebentar saja, gulungan sinar tongkatnya itu telah berhasil merobohkan enam orang pengeroyok!

Hal ini tidak mengherankan karena ia bersilat dengan ilmu silat aneh Toat-beng Koai-tung (Tongkat Aneh Pencabut Nyawa), yaitu ilmu andalan yang diwarisinya dari mendiang Toat-beng Hek-mo (Iblis Hitam Pencabut Nyawa).

Kebetulan Cui Hong membuat para pengeroyok menjadi jerih dan kepungan, menjadi agak longgar.

Hanya Su Lok Bu dan Cia Kok Han yang masih mengeroyoknya dari jarak dekat, namun hujan serangan dua orang itu selalu terpental kembali ketika bertemu dengan gulungan sinar tongkat gagang sapu!

Tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak dan muncullah seorang kakek tinggi beijar yang memegang sebatang cambuk hitum, diikuti oleh delapan orang perajurit.

Dia adalah Tung Kok yang telah dimintai bantuan.

Tung Kok cepat datang ke rumah makan Lok Thian, diikuti delapan orang perajurit yang telah dia didik untuk menjadi pengawal dan pembantunya.

Mendengar suara tawa ini, Su Lok Bu dan Cia Kok Han cepat mundur dan memberi isarat kepada para perajurit untuk mundur membuat kepungan luas agar kakek andalan mereka itu dengan leluasa dapat menangkap Kim Cui Hong.

Gadis itu kini berdiri berhadapan dengan Tung Ok, menatap tajam wajah kakek yang rambut dan jenggot kumisnya sudah putih semua itu.

"He-he-he, Su-ciangkun, mana iblis betina cantik yang kau maksudkan itu? Di sini hanya ada seorang pemuda tampan!"

Kata Tung Ok.

"Lo-cian-pwe, pemuda itulah penyamaran Si Iblis Betina Kim Cui Hong yang kejam dan jahat, dan kini menjadi mata-mata pemberontak!"

Kata Su Lok Bu.

"Hati-hati, Lo-cian-pwe, ia lihai bukan main. Jangan sampai ia lolos!"

Kata pula Cia Kok Han.

"Heh-heh-heh, lolos dari tanganku? Tidak mungkin! Nona, engkau tentu, cantik sekali. Dalam pakaian pria pun engkau tampak tampan luar biasa. Namamu Kim Cui Hong? Nama yang indah, sesuai orangnya. Nah, Kim Cui Hong, aku adalah Tung Ok Si Racun Timur dan semua orang di dunia kang-ouw tunduk kepadaku. Maka, dengarlah, Kim Cui Hong, engkau harus tunduk pula padaku! Menyerah dan berlututlah!"

Cui Hong merasa betapa ada kekuatan aneh seolah memakfcanya agar ia menjatuhkan diri berlutut kepada kakek yang bernama Racun Timur itu.

la sudah merasa betapa kedua kakinya gemetar.

Tiba-tiba ia teringat akan nasehat gurunya, mendiang Toat-beng Hek-mo yang mengajarkan kepadanya bagaimana untuk menolak pengaruh sihir.

Ia teringat bahwa ini tentulah kekuatan sihir yang dipergunakan kakek rambut putih itu kepadanya.

Cepat ia lalu mengerahkan tenaga batinnya ia membiarkan tenaga sakti dari tan-tiat dibawah pusar bergulung ke atas dan memperkuat perasaan hati dan pikirannya.

"Kakek siluman! Siapa mau menyerah kepadamu!"

Bentaknya.

Tung Ok menjadi marah sekali karena merasa malu.

Di depan dua orang perwira dan puluhan perajurit itu dia dibuat malu karena sihirnya tidak dapat mempengaruhi gadis yang menyamar sebagai pria itu.

"Tidak bisa menangkap hidup-hidup, aku akan menangkapmu dalam keadaan mati!"

Bentaknya dan cepat kakek itu bergerak ke depan dan tongkat hitamnya menyambar dahsyat sekali.

Cui Hong mengenal serangan yang sangat bahaya itu, maka ia cepat nenggunakan kecepatan gerakan dan keringanan tubuhnya untuk mengelak ke kiri.

"Tar-tar-tarrr...!"

Cambuk itu meledak-ledak dan menyambar-nyambar ke arah kepala, disusul serangan ke arah pinggang, lalu ke arah kaki secara bertubi.

Hebat sekali serangan cambuk itu.

Akan tetapi Cui Hong memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi sehingga tubuhnya berkelebatan sedikit, terhindar dari sambaran cambuk.

Ketika cambuk menyambar lagi ke arah lehernya, ia melompat ke kanan, membalik dan menghantam cambuk itu dengan tongkat gagang sapu.

"Wuuuttt... takkk!"

Tung Ok berseru kaget dan melangkah mundur.

Dia terkejut sekali karena tangkisan gagang sapu itu mampu menggetarkan tangannya yang memegang gagang cambuk!

Sulit dipercaya seorang wanita muda memiliki tenaga sin-kang yang nmampu mengimbangi tenaganya!

Dia menyerang semakin hebat, memainkan ilmu cambuknya yang ia sendiri menganggap tidak ada lawan yang mampu menandinginya.

Akan tetapi Cui Hong tidak mau kalah.

Ia memainkan ilmu tongkat warisan gurunya, yaitu Toat-beng Koai-tung dan terjadilah perkelahian yang amat seru.

Gulungan sinar cambuk dan tongkat menyambar-nyambar dan terkadang tampak cambuk dan tongkat seolah berubah menjadi banyak.

Mereka yang menonton perkelahian itu menjadi kagum dan juga gentar untuk maju membantu.

Tung Ok sendiri harus mengakui bahwa baru sekali ini dia bertemu seorang wanita muda yang sanggup melawannya tanpa terdesak walaupun dia sudah mengerahkan tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus simpanannya.

Bahkan tadi ilmu sihirnya juga tidak mampu mempengaruhi Cui Hong.

Baru sekarang dia tahu mengapa dua orang tangguh seperti Su Lok Bu murid Siauw-Iim-pai dan Cia Kok Han murid Bu-tong-pai memuji-muji gadis ini dan merasa jer ih kepadanya.

Sebutan Iblis Betina bukan sebutan kosong.

Setelah perkelahian satu lawan satu itu berlangsung cukup lama, sekitar lima-puluh jurus dan dia belum juga mampu menangkap wanita itu, hidup atau mati seperti yang dikatakannya, Tung Ok menjadi penasaran.

Dari perkelahian itu dia tahu bahwa dia pun tidak akan kalah oleh Kim Cui Hong, akan tetapi untuk dapat merobohkan wanita itu pun bukan hal mudah baginya.

Kalau dibiarkan terlalu lama, pandangan orang terhadapnya akan menurun.

Maka dia memberi isarat kepada delapan orang perajurit yang menjadi pembantu dan pengawalnya.

Delapan orang yang sejak tadi sudah siap siaga mengepung dalam lingkaran para perajurit itu, tiba-tiba bergerak mengelilingi Cui Hong dan Tung Ok yang masih bertanding seru.

Mereka melolos benda lunak hitam dari ikat pinggang mereka.

Benda itu ternyata adalah semacam jala ikan yang terbuat dari tali hitam yang halus.

Tiba-tiba mereka menggerakkan tangan secara bergantian dan jala berkembang menyambar ke arah Cui Hong.

Wanita ini menangkis dengan tongkatnya sambil mengerahkan tenaga, namun ternyata tongkat yang mampu merusak senjata tajam lawan itu, tidak mampu membikin putus tali-tali jala yang terbuat dari bahan yang khas dan aneh, yang tidak akan putus walaupun dibacok senjata tajam sekalipun!

Cui Hong terkejut dan mengelak.

Ia berhasil mengelak dari sambaran jala-jala itu sampai lima".

----------------------------------------------------------------------------------Ada halaman hilang ----------------------------------------------------------------------------------mereka pun tidak ingin mengetahui dan ia merasa yakin bahwa wanita itu tentu dibunuh oleh Perwira Su dan Perwira Cia.

Ruangan tertutup yang luas itu tidak terang ketika Su Lok Bu dan Cia Kok an masuk pada hari kemar in dulu.

Kalau pada waktu pertama kali mereka berdua datang menemui tiga orang tengkorak hidup, yaitu Pui Ki Cong, Koo Cai Sun, dan Louw Ti, dalam ruangan itu dipasang lima buah lampu besar sehingga keadaan dalam ruangan itu terang benderang seperti siang, kini yang dipasang hanya dua buah lampu sehingga remang-remang menyeramkan!

Agaknya tiga orang itu memang tidak ingin pekerjaan mere ka tampak jelas oleh orang yang selalu mereka tunggu-tunggu untuk dihadapkan mereka, maka mereka, atau lebih tepat Pui Ki Cong sebagai tuan rumah, menyuruh para pelayan menyalakan dua buah lampu saja.

Baru saja Pui Ki Cong menerima kabar dari Su Lok Bu bahwa musuh besarnya, Kim Cui Hong, telah dapat ditangkap hidup-hidup dan hendak diserahkan kepadanya!

Dengan girang sekali dia lalu mengajak Koo Cai Sun dan Lauw Ti untuk menanti di dalam ruangan itu, sengaja membuat cuaca di situ tidak terang sekali agar keburukan rupa mereka tidak tampak nyata.

Kemulian dengan perasaan hati berdebar-debar penuh ketegangan, penuh dendam kebencian, mereka duduk di atas kursi roda masing-masing dan menunggu.

Akhirnya seorang pelayan membuka pintu ruangan itu dari depan dan Su Lok Bu masuk mendorong Kim Cui Hong yang kaki tangannya terbelenggu kuat.

Gadis itu masih mengenakan pakaian pria, wajahnya agak pucat akan tetapi sepasang matanya mencorong dalam keremangan cuaca dalam ruangan itu.

Setelah tidak berdaya dalam libatan dan bungkusan delapan helai jaring yang kokoh kuat, Cui Hong sama sekali tidak berdaya ketika ia ditotok oleh Su Lok Bu, tidak mampu mengelak atau menangkis.

Dalam keadaan tak mampu bergerak karena tertotok dengan mudah Su Lok Bu dan Cia Kok San melepaskannya dari dalam libatan jaa-jala dan membelenggu kedua pasang kaki tangannya.

"Hemm, beginikah sikap dua orang laki-laki yang mengaku gagah perkasa ini? katanya dahulu adalah pende kar Sauw-lim dan Bu-tong? Curang, main keroyokan dan tidak adil! "

Cui Hong mengejek, sama sekali tidak memperliatkan rasa takut.

WAJAH kedua orang perwira itu terasa panas dan kalau bukan di waktu malam ketika mereka menangkap gadis itu, tentu akan tampak muka mereka berubah kemerahan.

"Hemm, terhadap seorang wanita yang jahat dan kejam melebihi iblis betina, tidak perlu memakai peraturan orang gagah! Yang jahat harus dibasmi, dengan cara apapun juga."

Kata Su Lok Bu untuk menyembunyikan rasa tidak enak mendengar teguran yang mengandung ejekan itu.

Memang, sebagai seorang pendekar murid Siauw-lim-pai, amat memalukan kalau mengalahkan musuh dengan cara keroyokan.

Akan tetapi musuhnya ini bukan sekedar pi-bu (mengadu kepandaian silat) atau sekadar menguji, akan tetapi sebagai usaha untuk menyingkirkan seorang yang jahat dan amat kejam sekali.

"Huh, kalian ini dulu menjadi anjing-anjing penjilat pembesar Pui dan putera-nya yang jahat, masih dapat mengatakan orang jahat seperti iblis! Tak tahu malu!"

Kata pula Cui Hong marah.

"Tidak perlu banyak cerewet! Rasakan pembalasan orangorang yang engkau siksa dengan kejam. Engkau memang bukan manusia lagi! Hayo!"

Su Lok Bu dan Cia Kok Han lalu membawa gadis itu dan setengah menyeretnya menuju ke gedung tempat tinggal Pui Ki Cong.

Kini mereka telah menyeret Cui Hong memasuki ruangan remang-remang di mana t iga orang tengkorak hidup itu sudah menanti di atas kursi roda masing-masing, seperti setan-setan yang keluar dari neraka untuk membalas dendam kepada Kim Cui Hong.

Cui Hong didorong masuk dan karena kedua kakinya terbelenggu, ia pun terpelanting roboh dalam keadaan terlentang, akan tetapi dengan kedua kakinya yang telah terbebas dari totokan ia dapat mengangkat rubuhnya dan duduk menghadapi t iga orang di atas kursi roda itu.

Matanya mencorong dan terbayang kengerian melihat tiga orang yang wajahnya seperti setan itu memandang kepadanya.

Ia merasa ngeri melihat yang duduk di tengah kedua matanya telah berlubang dan tidak ada biji matanya lagi.

Ia teringat bahwa orang itu adalah Pui Ki Cong.

Yang duduk di sebelah kiri Ki Cong, mata kirinya juga buta dan itu tentulah Lauw Ti yang memandang kepadanya dengan mata kanannya yang berputar-putar aneh, bukan mata orang yang waras otaknya.

Yang duduk di sebelah kanan itu tentu Koo Cai Sun yang biarpun kedua matanya tidak buta, namun mukanya juga hancur dan kehilangan hidung, bibir dan telinga, seperti tengkorak hidup!

melihat tiga orang itu, diam-diam Cui Hong bergidik dan baru ia melihat sendiri dan merasa betapa pembalasan sakit hatinya dulu itu memang teramat kejam.

Dalam keadaan dendam sakit hati, ia seolah bukan manusia lagi, menyiksa tiga orang sampai sedemikian rupa sehingga kalau ia membunuh mere ka bertiga, kiranya tidak sekejam penyiksaan yang dilakukannya itu.

Mulailah timbul perasaan penyesalan dalam hatinya yang sekarang dua orang perwira itu menyerahkannya kepada tiga orang manusia yang sudah berubah mukanya seperti iblis Itu.

Tahulah ia bahwa nyawanya tidak mungkin tertolong lagi.

Mereka mungkin akan membalas dan menyiksaku seperti aku menyiksa mereka, pikir Cui Hong.

Biarlah kalau demikian, memang sudah sepantasnya dan ia akan membunuh diri begitu mendapat kesempatan!

Ia merasa heran mengapa tiga orang itu masih mau hidup dalam keadaan seperti itu!

Di antara tiga orang itu, hanya Koo Cai Sun yang kedua matanya masih utuh dan masih awas.

Dia mengamati pemuda tampan yang terbelenggu kaki tangannya itu dan menegur.

"Su-ciangkun dan Cia-ciangkun, mana Kim Cui Hong yang engkau janjikan akan dibawa ke sini itu? Ini seorang pemuda, bukan Nona Kim Cui Hong!"

"Ya, ini seorang pemuda, bukan iblis betina!"

Kata Lauw Ti yang memandang dengan sebelah matanya yang berputarputar.

"Hemm, benarkah itu, Ji-wi Ciangkun (Kedua Perwira)?"

Tanya Pui Ki Cong yang telah buta kedua matanya.

"Harap kalian pandang baik-baik! Ia adalah Kim Cui Hong yang menyamar sebagai seorang pemuda!"

Kata Su Lok Bu.

"Mana kami bisa keliru?"

Kata Cia Kok Han.

"Penyamarannya memang bagus, akan tetapi ia betul seorang gadis, yaitu Kim Cui Hong!"

Cui Hong yang sudah bangkit duduk itu tiba-tiba menggunakan lututnya untuk meloncat sehingga ia dapat bangkit berdiri. Dengan sikap angkuh dan suara tegas ia berkata.

"Pui Ki Cong, Lauw Ti, dan Koo Cai Sun, aku benar Kim Cui Hong. Aku telah ditangkap secara curang dan sudah berada dalam kekuasaan kalian bertiga. Mau bunuh, lakukanlah! Aku t idak takut mati!"

Mendengar suara ini, Pui Ki Cong berkata.

"Benar, ia adalah Kim Cui Hong. Su-ciangkun dan Cia-ciangkun, tinggalkan ia di sini dan ji-wi (kalian berdua) datang lagi besok untuk menerima apa yang aku janjikan."

Su Lok Bu dan Cia Kok Han mengangguk dan mereka lalu pergi.

Mereka merasa yakin bahwa gadis itu sudah tidak berdaya.

Tak mungkin dapat melepaskan diri dari belenggu kaki tangannya.

Biarpun tiga orang itu sudah tidak memiliki tenaga, namun mereka mempunyai belasan orang pelayan yang juga menjadi pengawal dengan kepandaian yang cukup.

Agaknya Pui Ki Cong menyadari akan kelemahan dia dan dua orang bekas pembantunya yang kini senasib dengannya, menjadi manusia yang jasmaninya seperti setan.

Maka setelah dua perwira itu keluar, dia berseru memanggil dua orang kepala pelayan yang juga kepala pengawalnya.

"Bong Can dan Bong Lim, ke sinilah kalian!"

Pintu sebelah dalam ruangan itu terbuka cepat, menunjukkan bahwa dua orang itu sejak tadi memang siap menanti panggilan di belakang pintu.

Mereka adalah dua orang kakak beradik, Bong Can berusia tiga puluh lima tahun dan Bong Lim berusia tiga puluh tahun.

Kakak beradikini keduanya bertubuh tinggi besar dan sikap mereka gagah, wajah mereka juga cukup menarik.

Hanya bedanya kalau Bong Can berkulit hitam, Bong Kun berkulit agak putih.

Mereka adalah murid-murid Kun-lun-pai dan termasuk orang-orang gagah berjiwa pendekar.

Tadinya mereka datang ke kota raja dari daerah selatan untuk membantu Kerajaan Beng dari ancaman orang Man-cu yang semakin berkembang.

Ketika mendengar akan adanya pemberontakan rakyat dipimpin oleh Li Cu Seng karena Kaisar dikuasai para Thaikam sehingga pemerintah tidak bijaksana dan para pembesar sebagian besar lalim dan korupsi, kedua orang murid Kun-lun-pai ini merasa ragu untuk membantu pemerintah.

Maka ketika Pui Ki Cong mengundang mereka untuk menjadi pengawal pribadi dewi-kz, mereka menerima pekerjaan ini.

Pertama, karena menjadi pengawal pribadi merupakan pekerjaan wajar dan baik asalkan tidak menghambakan diri kepada pembesar atau hartawan yang menyuruh mereka melakukan kejahatan.

Ke dua, mereka merasa iba sekali melihat keadaan Pui Ki Cong dan dua orang temannya yang harus mereka jaga.

Tentu saja mereka ingin mengetahui mengapa tiga orang itu menjadi seperti itu dan Pui Ki Cong menceritakan bahwa mereka bertiga dianiaya oleh seorang iblis betina bernama Kim Cui Hong.

Dan dengan alasan takut kepada iblis betina itu kalau-kalau datang mengganggu lagi, maka dia minta kepada dua orang bersaudara itu menjadi pengawal pribadi yang melindungi keselamatan mereka bertiga.

Pui Ki Cong tentu saja merasa malu menceritakan sebab dari kemarahan Si Iblis Betina itu.

Demikianlah, kedua saudara Bong ini menjadi pengawal pribadi Pui Ki Cong dan sudah berada hampir satu setengah tahun di gedung itu.

Mereka merasa iba karena Pui Ki Cong berada di gedung hanya bertiga dengan dua orang senasib itu, tidak didekati keluarga karena keluarga tiga orang itu agaknya tidak ada yang mau mendekati mereka.

Kedua orang bersaudara Bong menjadi kepala pengawal atau boleh juga disebut kepala pelayan di gedung itu, mengepalai delapan orang pelayan lain yang juga menjadi pengawal.

Ketika dua orang perwira, Su Lok Bu dan Cia Kok Han menghadap tiga orang majikan mereka membawa seorang teman, Bong Can dan Bong Lim sudah siap s iaga kalau-kalau tenaga mereka diperlukan, maka mereka sudah bersiap di belakang pintu.

Begitu dipanggil, keduanya lalu memasuki ruangan itu.

Melihat keadaan ruangan agak gelap, tanpa diperintah Bong Can dan Bong Lim, segera menghampiri lampu-lampu lain dan akan menyalakannya.

"Bong Lim, jangan nyalakan lampu itu, biar begini saja!"

Seru Pui Ki Cong karena biarpun dia tidak dapat melihat, pendengarannya menjadi tajam dan dia dapat mendengar ketika Bong Lim menghampiri meja lampu.

Bahkan langkah kaki Bong Lim juga dia dapat membedakan dari langkah kaki Bong Can atau orang lain.

"Mengapa, Pui Kong-cu?"

Koo Cai Sun berkata.

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 9

Baca Juga: Pusaka Pulau Es 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert