Ceritasilat Novel Online

Sakit Hati Seorang Wanita 4

Eps 4 Sakit Hati Seorang Wanita - Kho Ping Hoo

Baca online Sakit Hati Seorang Wanita - Kho Ping Hoo

Cersil Sakit Hati Seorang Wanita - Kho Ping Hoo.

Melihat keadaan gadis itu yang nampaknya berduka, Tan Siong berkata lagi.

"Maafkanlah aku, Hwa-moi, kalau aku menyinggung perasaanmu. Kita baru saja berkenalan dan dalam keadaan seperti ini aku berani berlancang mulut, akan tetapi aku ingin berterus terang, Hwa-moi, agar perasaan ini tidak menyiksaku. Padahal aku pun tahu bahwa sepatutnyalah kalau engkau menolak cintaku, karena aku hanya seorang pemuda yatim piatu yang miskin dan bodoh. Bisaku hanya bermain silat dan mencangkul menggarap sawah, tidak ada harapan hidup senang di samping seorang suami seperti aku, jadi.... maafkanlah aku."

"Tidak! Bukan begitu, toako, akan tetapi kalau engkau tahu.... ah, kalau engkau mengenal siapa aku...."

"Aku sudah mengenalmu. Engkau seorang gadis yang cantik manis, tenang dan tabah, menentang kejahatan dan mengenal budi...."

"Tidak, engkau tidak mengenal siapa aku sebenarnya!"

Tiba-tiba Cui Hong bangkit berdiri dan menyambar buntalan pakaiannya karena pada saat itu terdengar langkah kaki orang. Seorang jembel tua berdiri di ambang pintu dan berkata lirih.

"Ssttt, ada dua orang mencari-cari orang she Tan. Apakah engkau she Tan?"

Mendengar ini, Tan Siong cepat meniup lilin itu padam dan dia mendengar suara kaki Cui Hong lari ke belakang.

"Hwamoi, engkau bersembunyilah."

Kata nya dan dia sendiri pun lalu menyambar pedang yang tadi ditaruh di sudut, juga menyambar buntalan pakaiannya dan dia meloncat ke depan, melewati jembel tua yang menjadi bingung dan ketakutan.

Benar seperti yang dikhawatirkan Tan Siong, ketika dia tiba di depan kuil tua, di bawah penerangan lampu gantung tua yang dipasang oleh para jembel yang kini menyelinap pergi cerai-berai ketakutan, berdiri dua orang yang bukan lain adalah Cia Kok Han dan Su Lok Bu, dua orang jagoan dari Bu-tong-pai dan Siauw-lim pai itu!

Karena bahunya masih terluka dan karena maklum betapa lihainya dua orang ini, pula karena dia tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan mereka, ingin Tan Siong melarikan diri saja di dalam gelap.

Akan tetapi dia teringat akan gadis yang bersembunyi di belakang kuil.

Siapa akan melindunginya kalau ia melarikan diri.

Maka,dengan sikap hormat, sambil menalikan buntalan pakaian di punggungnya, dia bertanya.

"Kiranya Ji-wi Lo-enghiong (Dua Orang Tua Gagah) yang datang berkunjung ke tempat yang buruk ini. Apakah memang kini para murid perkumpulan-perkumpulan besar suka mendesak orang yang sudah terluka dan yang tidak mempunyai permusuhan pribadi sedikit pun dengan mereka?"

"Orang muda she Tan, hendaknya engkau tidak menduga buruk secara sembarangan saja. Engkau adalah murid Kun-lun-pai dan kami dua orang murid-murid Bu-tong-pai dan Siauw-lim-pai tidak mempunyai permusuhan apa-apa denganmu. Kalau siang tadi kita bertemu sebagai lawan hanyalah karena kedudukan dan keadaan kita yang memaksa. Akan tetapi kedatangan kami yang mencarimu ini adalah karena kami membawa tugas yang diberikan majikan kami, yaitu Pui-kong-cu. Dia mendengar tentang kegagahanmu, maka mengutus kami untuk mencarimu dan mengajakmu menghadap Pui-kongcu karena dia ingin sekali mempergunakan tenagamu untuk membantunya."

Kata Cia Kok Han yang pendek gendut, tokoh Bu-tong-pai itu. Tentu saja Tan Siong merasa heran karena sekali mendengar ucapan itu.

"Aku tidak mengenal siapa itu Pui-kongcu, dan aku pun tidak berniat bekerja sebagai tukang pukul orang kaya atau bangsawan."

Mendengar ucapan yang nadanya menyindir itu, Su Lok Bu berkata.

"Tan Siong, tidak perlu engkau menyindir dan mengejek kami! Kami adalah bekas perwira terhormat dan kini kami bekerja dengan halal, menjadi kepala pengawal, bukan tukang pukul! Pui-kongcu sedang terancam bahaya oleh musuhnya yang amat kejam dan lihai, maka ingin mengumpulkan orang-orang yang pandai untuk membantunya menghadapi musuh itu. Engkau akan diangkat menjadi rekan kami dan menerima imbalan upah yang besar."

Tan Siong mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala.

"Maaf, akan tetapi aku tidak berniat untuk bekerja pada waktu ini, karena aku mempunyai tugas sendiri yang penting. Harap ji-wi maafkan dan sampaikan kepada Pui-kongcu bahwa aku tidak dapat menerima penawarannya."

"Bocah she Tan!"

Tiba-tiba Cia Kok Han berseru marah.

"Engkau sungguh besar kepala dan sombong. Engkau bersikap seolah-olah tidak mempunyai kesalahan. Engkau telah melukai beberapa orang pengawal dan untuk itu saja engkau sudah sepatutnya ditangkap dan ditahan. Akan tetapi Pui-kongcu memaafkan kesalahanmu, bahkan menawarkan kedudukan baik dan ingin bersahabat denganmu. Namun, engkau menolaknya dengan angkuh. Kalau begitu, terpaksa kami harus menangkapmu dan menyeretmu ke depan Pui-kongcu, biar dia sendiri yang mengambil keputusan atas dirimu!"

"Lebih baik engkau dengan suka rela ikut bersama kami agar kami tidak perlu mempergunakan kekerasan."

Kata pula Su Lok Bu.

Dua orang jagoan itu sudah mengeluarkan senjata masing-masing.

Cia Kok Han mencabut golok besarnya, sedangkan Su Lok Bu mengeluarkan siang-kiamnya (sepasang pedang).

Tan Siong tersenyum mengejek.

"Hemm, bagaimanapun alasan ji-wi, tetap saja ji-wi adalah orang-orang yang suka memaksakan kehendak dan mengandalkan kekuatan dan kekerasan. Dan aku mempelajari ilmu justeru untuk menentang penindasan dan kelaliman. Aku tetap menolak!"

Berkata demikian, Tan Siong menggerakkan tangan kanannya dan sudah melolos pedang tipis yang dipergunakan sebagai sabuk dengan sarung kulit yang kuat.

"Bagus, engkau memang murid Kun-lun-pai yang besarkepala!"

Kata Cia Kok Han yang sudah menyerang dengan goloknya.

Su Lok Bu juga menggerakkan sepasang pedangnya dan dua orang itu sudah mengurung Tan Siong dengan serangan-serangan dahsyat.

Pemuda ini terpaksa memutar pedangnya dan mengerahkan seluruh tenaganya, walapun dia harus menahan rasa nyeri bahu kirinya ketika tubuhnya dipakai untuk bersilat Berkali-kali terdengar suara berdencing nyaring ketika pedangnya menangkisi tiga buah senjata lawan yang amat kuat itu, dan sebentar saja Tan Siong yang sudah terluka itu terdesak hebat.

Akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan begitu tiba di situ, bayangan hitam ini menggerakkan sebatang ranting di tangannya untuk terjun ke dalam perkelahian itu dan segera menyerang Su Lok Bu dengan gerakan-gerakan aneh.

Begitu ranting meluncur, senjata sederhana ini sudah menyelinap di antara dua gulungan sinar pedang Su Lok Bu dan meluncur, menotok ke arah jalan darah di pundak kanan.

"Eh....!,"

Su Lok Bu terkejut bukan main karena nyaris pundaknya tertotok kalau saja dia tidak meloncat jauh ke belakang.

Ketika dia dan Cia Kok Han memandang, ternyata yang menyerang itu adalah seorang yang berpakaian serba hitam, dan mukanya juga ditutup kedok hitam dengan dua buah lubang untuk sepasang mata yang jeli dan tajam sinarnya, dan nampak pula dagunya di mana terdapat sebuah bintik, yaitu sebuah tahi lalat hitam!

Melihat tahi lalat di dagu itu dan melihat bentuk tubuh yang mudah diduga dimiliki seorang wanita, Cia Kok Han dan Su Lok Bu terkejut bukan main.

Mereka belum pernah bertemu dengan musuh besar Pui-kongcu, wanita iblis yang kabarnya sedang berusaha untuk membunuh Pui-kongcu dan Koo Cai Sun, akan tetapi dari kedua orang itu yang mengingat-ingat wajah wanita yang menjadi musuh mereka, yang teringat oleh mereka hanyalah bahwa wanita itu memiliki tanda tahi lalat hitam di dagunya.

Dan wanita berkedok ini pun memiliki tahi lalat di dagunya.

Maka tanpa banyak cakap lagi Su Lok Bu dan Cia Kok Han menerjang wanita berkedok itu yang hanya memegang sebatang ranting kayu sederhana.

Melihat ini, tentu saja Tan Siong cepat menggerakkan pedangnya menyambut Cia Kok Han.

Dia pun merasa heran melihat munculnya wanita berkedok dan berpakaian hitam ini, akan tetapi yang jelas wanita ini tadi telah menolongnya, membantunya menghadapi dua orang pengeroyoknya yang lihai, maka kini melihat betapa dua orang pengeroyok itu berbalik menyerang si wanita berkedok, yang hanya bersenjata sebatang ranting, tentu saja dia pun cepat membantunya dan memutar pedangnya.

Kini perkelahian terjadi lebih ramai dan seru lagi, di bawah penerangan lampu gantung yang remang-remang, Tan Siong memutar pedangnya yang-tipis melawan Cia Kok Han yang memegang golok besar dan berat sedangkan wanita berkedok itu melawan Su Lok Bu yang memegang sepasang pedang dengan meng gunakan sebatang ranting kecil saja.

Dan setelah kini melawan Cia Kok Han seorang, biarpun pundak di sekitar pangkal lengan kiri masih terasa nyeri, Tan Siong dapat mengimbangi permainan lawan.

Untung bahwa senjatanya adalah sebatang pedang yang tipis dan ringan, maka dia dapat bergerak lebih cepat daripada lawannya.

Dia tidak pernah mau menangkis karena senjata lawan amat berat, namun dengan kecepatan gerak pedangnya, dia membuat Cia Kok Han menjadi repot juga.

Yang lebih hebat adalah wanita itu.

Biarpun senjatanya hanya sebatang ranting kecil, namun ternyata gerakan rantingnya itu mampu membuat Su Lok Bu menjadi mati langkah!

Sepasang pedangnya bahkan hanya sibuk menangkis saja karena ranting itu bergerak secara aneh dan cepat, juga berbahaya karena ujungnya selalu meluncur ke arah jalan darah yang berbahaya.

Lewat lima puluh jurus, Su Lok Bu mengeluarkan seruan kaget dan dia pun meloncat jauh ke belakang.

Bajunya robek dan hampir saja pedang kirinya terlepas dari genggaman karena tiba-tiba tangan kirinya menjadi setengah lumpuh terkena totokan pada pundak kirinya.

Mendengar temannya berseru mengeluh dan meloncat ke belakang, Cia Kok Han yang juga terdesak hebat itu melompat pula ke belakang.

Mereka maklum bahwa tanpa bantuan, mereka tidak akan mampu menang, maka tanpa dikomando lagi, keduanya lalu melarikan diri untuk mengambil balabantuan.

Akan tetapi ketika bala bantuan tiba dan mereka datang kembali bersama Koo Cai Sun dan dua puluh lebih pasukan pengawal, kuil tua itu telah kosong.

Tak seorang pun jembel yang biasanya memenuhi kuli itu mere ka temukan, apalagi dua orang bekas lawan tadi.

Koo Cai Sun dan Pui Ki Cong bergidik mendengar penuturan dua orang jagoan itu bahwa telah muncul seorang wanita berpakaian serba hitam, berkedok dan dagunya bertahi lalat yang lihai sekali.

Biarpun mulut mereka diam saja, namun di dalam hati, mereka menduga-duga bahwa besar sekali kemungkinan wanita berkedok itu adalah Kim Cui Hong yang mereka takuti!

Dugaan mereka memang tepat.

Wanita berkedok itu adalah Kim Cui Hong.

Ketika Cui Hong mendengar bahwa ada dua orang mencari Tan Siong, ia pun cepat pura-pura lari ke belakang kuil.

Di dalam gelap ia cepat mengenakan pakaian hitam dan kedoknya, lalu keluar lagi dan membantu Tan Siong yang sedang terdesak.

Dan setelah dua orang lawan itu melarikan diri, ia pun cepat meloncat ke dalam kegelapan malam dan menghilang.

Tan Siong yang berterima kasih itu berusaha mengejar, namun dia kehilangan jejak wanita berkedok itu yang telah lenyap dan terutama sekali pakaian hitamnya membuat ia sukar dicari atau dikejar.

Tan Siong masih merasa penasaran dan sampai pagi dia berkejaran di sekitar tempat itu, mencari wanita berkedok dan juga mencari Ok Cin Hwa yang melarikan diri tadi, Setelah matahari mengusir kegelapan malam, dia tiba di dekat tembok kota raja dan di tempat yang sunyi, di bawah sebatang pohon, dia melihat Cin Hwa berdiri sambil membawa buntalan pakaiannya.

"Hwa-moi....!"

Katanya girang dan cepat dia berlari menghampiri gadis Itu. Gadis itu memandangnya dan mengeluh.

"Ah, agaknya tidak ada tempat aman lagi di kota raja bagiku, Tan-toa-ko. Aku ingin pergi saja dari kota raja."

Sejenak Tan Siong mengamati gadis itu, dari kepala sampai ke kakinya, kemudian berkata.

"Pergi ke manakah, Hwa-moi? Kemana pun sama saja bagimu, di mana-mana tentu terdapat orang orang jahat, akan tetapi perlu apa engkau takut? Takkan ada yang dapat mengganggumu."

Cui Hong mengerutkan alisnya dan memandang tajam.

"Apa maksudmu....?"

"Tidak apa-apa.... eh, Hwa-moi, lehermu itu terkena apakah?"

Dan dia maju mendekat.

"Ada apa?"

Cui Hong meraba-raba lehernya dan tidak menemukan sesuatu.

"Lehermu seperti kena noda, maaf, biar kubersihkan!"

Dengan gerakan cepat sekali Tan Siong mengulur tangannya ke arah leher gadis itu.

Kalau saja Cui Hong tidak hendak menyembunyikan kepandaiannya, tentu dengan mudah ia mengelak atau menangkis.

Akan tetapi ia harus menyembunyikan rahasianya dan ia pun ingin sekali tahu di lehernya ada apa karena ia percaya bahwa pemuda itu bersungguh-sungguh.

Akan tetapi sebelum jari-jari tangan Tan Siong menyentuh lehernya, jari-jari itu membalik ke arah dagunya dan sekali menowel, lecet dan hapuslah bedak tebal yang menutupi dan menyembunyikan sebuah tahi lalat di dagu dan nampaklah kini tahi lalat itu!

"Nona, terima kasih atas bantuanmu semalam sehingga aku dapat melawan dua orang yang tangguh itu!"

Kata Tan Siong sambil menjura ke arah Cui Hong.

"Tan-toako, kenapa sikapmu seperti ini? Memanggil Nona padaku...."

Tan Siong menjura dan tersenyum.

"Tentu namamu bukan pula Ok Cin Hwa....."

Cui Hong meraba dagunya dan tahu bahwa tidak ada gunanya menyembunyikan rahasianya lagi.

Ia pun menarik napas panjang mengambil tempat bedak dari buntalan pakaiannya, juga sebuah cermin dan cepat ia menutupi lagi tahi lalat di dagunya.

"Aku harus menutupi lagi ciri yang membuat aku dikenal ini..."

"Akan tetapi, mengapa engkau bersikap begini? Apa artinya penyamaran ini, berpura-pura sebagai seorang gadis yang lemah?"

Tan Siong bertanya penasaran.

"Kau pun tadinya bersikap sebagai seorang pemuda petani yang lemah, Toako aku sengaja menyamar karena memang ada sebabnya yang teramat penting. Akan tetapi sekarang aku ingin tahu lebih dulu. Bagaimana engkau bisa menduga bahwa aku adalah wanita berkedok semalam?"

Tan Siong tersenyum, senyum pahit.

"Sudah terlanjur aku mengaku kepadamu, Nona. Aku tertarik dan.... cinta padamu, tentu saja segalanya yang ada padamu tidak akan pernah dapat kulupakan. Matamu di balik kedok itu, dan juga sepatumu yang agaknya tergesa-gesa belum sempat kau ganti pagi ini, menjelaskan segalanya. Karena masih ragu, aku sengaja menghapus penutup tahi lalat di dagumu itu."

"Dan dengan adanya kenyataan ini, apakah engkau masih tetap memiliki perasaan itu terhadap aku, Tan-toako?"

Cui Hong bertanya, memandang tajam penuh selidik. Yang dipandang balas memandang dengan tajam. Kemudian Tan Siong berkata,, suaranya tegas.

"Nona, apakah cinta harus berubah-ubah? Semenjak pertama kali, aku telah jatuh cinta kepadamu, dan bagiku, cinta takkan pernah berubah selama aku hidup."

Cui Hong menarik napas panjang.

"Hemm, aku sungguh sangsi apakah pendirianmu itu masih akan sama kalau engkau sudah mendengar riwayat dan keadaanku, Toako."

Ia merasa sedih membayangkan betapa pemuda yang dikaguminya ini akan memandang rendah kepadanya nanti kalau ia membuka rahasia dirinya.

"Ceritakanlah, nona. Aku pun ingin sekali tahu tentang dirimu yang diliputi penuh rahasia itu. Siapakah sebenarnya engkau dan mengapa engkau menyamar sebagai seorang gadis lain yang lemah? Apa artinya semua ini?"

Cui Hong lalu duduk di atas sebuah batu di tepi jalan, dan Tan Siong juga mengambil tempat duduk di atas akar pohon yang menonjol di atas tanah.

Mereka duduk berhadapan dan pemuda itu memandang wajah Cui Hong penuh perhatian, hatinya tertarik sekali karena dia dapat menduga bahwa tentu gadis ini mempunyai riwayat yang amat hebat sehingga selain memiliki ilmu silat yang tinggi, juga menyimpan rahasia dan menyamar sebagai gadis lain yang lemah.

Sebaliknya, Cui Hong tadinya ragu-ragu, akan tetapi karena Tan Siong adalah seorang pemuda yang selama ini selalu membelanya, dan karena Tan Siong telah dapat menyingkap rahasianya bahwa ia seorang gadis yang menyamar, tidak ada jalan lain baginya kecuali membuat pengakuan.

"Tan-toako, aku bukanlah seorang gadis seperti yang kausangka, bukan seorang Ok Cin Hwa yang terhormat dan bersih. Namaku yang sesungguhnya adalah Kim Cui Hong...."

"Hemm, nama yang indah dan gagah... ..."

Tan Siong memotong, bukan pujian yang kosong melainkan pujian yang memang sengaja dilakukan untuk mendorong gadis itu agar lebih lancar bercerita. Cui Hong tersenyum.

"Engkau selalu memujiku, Toako. Betapa pedih membayangkan bahwa pujianmu itu sebentar lagi akan menjadi celaan dan cacian."

"Teruskanlah, Nona Kim yang gagah perkasa, aku ingin sekali mendengar ceritamu."

"Tan-toako, aku hanyalah seorang wanita yang penuh dengan aib dan penghinaan, seorang sisa manusia yang hanya mempunyai satu tujuan hidup, yaitu membalas dendam kepada musuh-musuhku."

Tan Siong mengerutkan alisnya. Tak enak rasa hatinya mendengar bahwa gadis ini menyimpan dendam kebencian yang amat besar di dalam hatinya.

"Apakah yang terjadi dengan dirimu, Nona Kim?"

"Aku.... aku bukan seorang gadis suci lagi, bukan seorang perawan seperti yang kau sangka, Toako. Aku menjadi korban kekejian empat orang laki-laki yang telah menawanku, memperkosaku dan mempermainkan, secara biadab. Aku sudah hampir mati, namun agaknya Tuhan sengaja membiarkan aku hidup sehingga aku dapat mempelajari ilmu dan kini aku dapat melakukan balas dendam terhadap empat orang musuh besarku itu. Dan Tuhan akan memberkahi aku yang telah menerima aib yang amat hebat."

"Nona, dendam adalah racun yang hanya akan merusak batin sendiri...."

"Biarpun demikian, aku tetap akan membalas dendam!"

"Dendam kebencian merupakan suatu kejahatan, Nona, karena hal itu akan melahirkan perbuatan yang kejam dan jahat."

"Tak perduli, aku tetap akan membalas dendam!"

"Dendam kebencian adalah api yang akan membakar diri sendiri, karena itu, harap engkau dapat menyadarinya, Nona. Tuhan tidak akan memberkahi orang yang menaruh dendam."

Sekali lagi Tan Siong membujuk.

"Tidak! Tuhan pasti akan memberkahi ku dan membantuku untuk menghukum mereka yang lebih jahat daripada binatang yang paling buas itu. Mereka harus merasakan penghinaan seperti yang pernah kualami, merasakan kesakitan seperti yang pernah kuderita. Dan itulah satu-satunya tujuan hidupku. Dan untuk melaksanakan pembalasan dendamku itu, terpaksa aku menyamar sebagai Ok Cin Hwa yang lemah. Hanya kepadamu seoranglah aku membuka rahasiaku ini, toako dan aku percaya bahwa toako tentu akan menyimpan rahasia ini dari orang lain."

Tan Siong mengangguk.

"Aku tidak akan membuka rahasiamu kepada siapa pun juga, Nona Kim Cui Hong. Akan tetapi, sekali lagi aku memperingatkan, mengingat akan persahabatan antara kita, hendaknya engkau menyadari bahwa dendam kebencian amatlah tidak baik bagi dirimu sendiri. Karena itu, sebelum terlambat, hapuskan saja kebencian itu dari lubuk hatimu."

Cui Hong mengerutkan alisnya.

"Hem, enak saja engkau bicara demikian, Tan-toako, karena engkau tidak mengalami sendiri penderitaan lahir batin seperti yang kualami. Aku yang pada waktu itu seorang gadis yang lemah, hanya memiliki sedikit ilmu silat, telah ditawan orang orang jahat. Ayahku dan seorang suheng-ku yang hendak menolongku, mereka bunuh di depan mataku, kemudian aku mereka perkosa dan permainkan sampai nyaris tewas. Mereka membuang tubuhku begitu saja di dalam hutan. Akan tetapi. Tuhan agaknya memang sengaja membiarkan aku hidup untuk dapat menuntut balas dan sekarang engkau, yang kuanggap sebagai seorang sahabatku yang baik, memberi nasihat agar aku tidak membalas dendam dan membiarkan iblis-iblis berwajah manusia itu berkeliaran?"

"Nona, sudah menjadi tugas dan kewajiban kita yang sejak kecil mempelajari ilmu silat dengan susah payah, untuk kemudian mempergunakan ilmu itu dalam perjuangan melawan kejahatan dan membela orang-orang yang lemah tertindas. Akan tetapi, ada garis pemisah yang amat besar antara membela kebenaran dan keadilan, dan pembalasan dendam! Kalau engkau menentang perbuatan-perbuatan jahat dari empat orang itu, andaikan mereka sekarang masih melakukannya, tentu saja aku tidak akan menyalahkanmu. Akan tetapi kalau engkau mencari dan menentang mereka hanya karena dendam pribadi, sungguh hal itu amat tidak baik, Nona. Dendam menjadi satu ikatan yang akan menciptakan karma, dendam-mendendam dan balas-membalas. Memang, tak dapat disangkal bahwa perbuatan empat orang itu terhadap dirimu amatlah jahatnya, amatlah kejamnya. Akan tetapi, kalau engkau kini mencari dan membunuh mere ka, bukankah perbuatanmu itu sama kejam dan jahatnya? Lalu mana letak perbedaan antara yang benar dan yang tidak benar, yang baik dan yang jahat?"

Cui Hong tersenyum, akan tetapi senyumnya masam dan mengejek.

Kemarahan menyelinap di dalam hatinya karena ia merasa bahwa pemuda yang dikaguminya ini agaknya hendak menghalangi nya membalas dendam.

Padahal, pemuda ini mengaku cinta padanya.

"Sudahlah, toako. Agaknya dalam hal ini tidak ada kecocokan pikiran di antara kita. Engkau sendiri, apakah yang kaucari di sini?"

"Riwayatku tidak seburuk riwayatmu, Nona, walaupun tak dapat dibilang menyenangkan. Sejak berusia tiga belas tahun, aku dibawa oleh seorang tosu Kun-lun-pai ke Pegunungan Kun-lun-san untuk belajar ilmu silat. Setelah belajar belasan tahun lamanya dan tamat belajar, aku turun gunung dan pulang ke dusun tempat tinggal orang tuaku. Akan tetapi aku tidak melihat lagi ayah dan ibuku dan menurut penuturan penduduk yang menjadi tetangga kami, ayah dan ibuku sudah lama meninggalkan dusun itu. Seluruh harta kekayaan orang tuaku telah dikuasai oleh pamanku, adik ibuku, yang menipu mereka. Orang tuaku meninggalkan dusun sebagai orang miskin dan akhirnya meninggal dunia entah di mana. Karena itu, sekarang aku sedang berusaha mencari pamanku itu."

"Ah! Tentu untuk membalas dendam atas kematian orang tuamu kepada pamanmu!"

Seru Cui Hong penuh harap. Akan tetapi pemuda itu menggeleng kepala sebagai jawaban.

"Tidak, Nona. Aku sama sekali tidak ingin membalas dendam kepada pamanku."

"Aku mencarinya hanya untuk bertanya di mana kuburan ayah ibuku. Itu saja."

"Ahhh!"

Cui Hong merasa kecewa mendengar penjelasan ini. (Lanjut ke

Jilid 09) Sakit Hati Seorang Wanita (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09 Keduanya diam sejenak, tenggelam dalam lamunan masing-masing.

Cui Hong merasa bahwa setelah mendengar keadaan dirinya, tentu pemuda itu memandang kepadanya dengan hati meremehkan.

Ia hanya seorang gadis yang telah terhina!

Diam-diam ia merasa sedih, akan tetapi kesedihannya ditutupinya dengan sikap acuh.

Ia tidak perduli lagi.

Biarlah Tan Siong mencemoohkannya, biarlah membencinya.

Memang agaknya hidupnya hanya bergelimang dengan kebencian-kebencian, baik dibenci maupun membenci.

Semua ini bahkan menyuburkan dendamnya dan ia pasti berhasil!

Sementara itu, Tan Siong juga tenggelam dalam kesedihan.

Kiranya gadis itu bukanlah seorang wanita sembarangan, melainkan seorang gadis yang gagah perkasa dan berkepandaian tinggi.

Akan tetapi juga seorang gadis yang penuh dengan dendam kebencian.

Jelaslah bahwa dia sama sekali tidak pantas mengharapkan seorang gadis perkasa seperti itu, dan yang nampaknya juga kaya raya, dapat menerima uluran cinta kasihnya, cinta kasih seorang pemuda miskin yang selain tidak memiliki apa-apa, juga keturunan petani biasa saja.

Di samping itu, juga d ia berbeda paham dengan gadis itu.

Gadis yang batinnya penuh dengan racun dan api dendam kebencian!

Dia merasa bersedih mengingat akan hal itu.

Ingin dia mengingatkan gadis itu, mencegahnya melanjutkan dendam kebencian yang hanya akan meracuni hidupnya sendiri.

Akhirnya yang membuka percakapan dan memecahkan kesunyian itu adalah Cui Hong, karena gadis ini makin lama semakin merasa tidak enak saja.

"Tan-toako, setelah mendengar riwayatku, tentu engkau akan memandang rendah kepadaku..."

"Ah, mengapa begitu, Nona? Sama sekali tidak, hanya aku.... aku merasa bersedih kalau mengingat bahwa engkau sedang merusak kehidupanmu dengan dendam itu. Sekali lagi, aku minta dengan sangat, sukalah engkau menghapus saja dendam kebencian yang hanya akan meracuni batinmu sendiri itu."

Cui Hong mengerutkan alisnya.

"Tan-toako, engkau tidak berhak mencampuri urusan pribadiku!"

Pemuda itu menarik napas panjang.

"Maaf, aku bukan bermaksud mencampuri hanya aku merasa kasihan kepadamu, Nona."

"Kasihan....?"

"Ya, aku merasa kasihan karena racun dendam kebencian itu akan membuatmu menderita sendiri."

Makin tak senang rasa hati Cui Hong.

"Biarlah, aku yang menderita, bukan engkau, Toako. Nah, selamat tinggal dan terima kasih atas segala bantuanmu yang kau lakukan kepada Ok Cin Hwa."

Gadis itu membalikkan tubuh dan hendak pergi.

"Nona Kim...!"

Tan Siong berseru dan Cui Hong berhenti melangkah, membalik dan memandang dengan alis berkerut akan tetapi pandang mata penuh harapan.

Tak sedap rasa hatinya harus berpisah dari pemuda yang dikaguminya ini dalam keadaan berbeda paham.

"Sekali lagi kuminta kepadamu, Nona, hapuskanlah dendam itu...."

Hampir saja Cui Hong marah-marah dan memaki pemuda itu, kalau saja ia tidak ingat betapa beberapa kali pemuda itu telah membelanya mati-matian.

"Sudahlah, jangan mencampuri urusan pribadiku, selamat tinggal!"

Katanya dan ia meloncat jauh lalu lari secepatnya meninggalkan pemuda itu.

Tan Siong berdiri termangu-mangu, hatinya penuh penyesalan.

Dia tahu bahwa dia mencinta Cui Hong.

Cintanya tidak berubah walaupun dia mendengar bahwa gadis itu ternyata bukan seorang perawan lagi, melainkan seorang gadis yang pernah diperkosa oleh empat orang penjahat.

Bahkan dia merasa rendah diri kalau dia mengingat bahwaperempuan yang bernama Ok Cm Hwa itu, yang tadinya disangkanya seorang perempuan yang lemah tak berdaya dan membutuhkan perlindungan, ternyata adalah seorang wanita perkasa yang tingkat kepandaiannya mungkin tidak berada di sebelah bawah tingkatnya sendiri, seorang wanita lihai yang agaknya kaya-raya pula.

Dan dia merasa berduka melihat kenyataan pada diri wanita itu yang penuh dendam kebencian.

Orang yang diracuni dendam kebencian seperti itu, mana mungkin dapat mencinta?

Sementara itu, Cui Hong mempergunakan ilmunya berlari cepat, dengan tubuh ringan seperti seekor kijang ia berlompatan dan berlarian cepat sekali.

Sebentar saja ia sudah meninggalkan Tan Siong jauh sekali dan akhirnya ia berhenti di tepi sebuah anak sungai yang airnya mengalir dengan lembut di antara batu-batu yang membuat air itu menjadi jernih dan menimbulkan suara berteriak tiada hentinya.

Cui Hong duduk di tepi sungai itu, di atas rumput hijau yang tebal.

Ia tidak perduli pakaiannya menjadi agak basah karena rumput itu segar dan basah.

Hatinya terasa berat.

Kosong dan sepi.

Ia merasa seperti kehilangan seorang sahabat yang dikagumi dan amat disukainya.

Bahkan ia hampir merasa yakin bahwa ia telah jatuh cinta kepada Tan Siong.

Pria itu sama sekali berbeda dengan pria-pria la in yang pernah dijumpainya.

Di dalam pandang matanya, sama sekali tidak nampak bayangan tidak sopan atau kurang ajar, melainkan suatu kemesraan yang mendalam.

Juga sikapnya amat baik, lembut dan kuat.

Dan betapa gagahnya pria itu ketika membela dan melindunginya ketika ia masih menjadi seorang wanita lemah.

Pembelaan yang tanpa pamrih!

Tan Siong adalah seorang pendekar budiman yang mengagumkan hatinya dan betapa akan mudah baginya untuk jatuh cinta kepada seorang pria seperti itu.

Sebelum bertemu dengan Tan Siong, dibakar dendamnya, ia selalu memandang pria sebagai mahluk yang tidak sopan dan kurang ajar, yang menganggap wanita sebagai barang permainan belaka.

Akan tetapi, anggapan itu membuyar ketika ia bertemu dengan Tan Siong.

Ia jatuh cinta kepada pemuda murid Kun-lun-pai itu!

"Tidak!"

Tiba-tiba Cui Hong membantah suara hatinya sendiri, la tidak boleh jatuh cinta, sedikitnya untuk sementara ini ia tidak boleh mengikatkan diri dengan siapapun juga, apalagi dengan ikatan cinta.

Ia harus memusatkan perhatiannya kepada musuh-musuhnya.

Masih ada dua orang musuh yang belum dibalasnya.

Dan dia maklum bahwa kini tidak akan mudah lagi baginya untuk dapat berhadapan dengan Cai Sun dan Ki Cong.

Semenjak perkelahian itu, ketika ia muncul dengan berkedok tentu dua orang musuhnya itu akan menjadi semakin hati-hati dan tidak sembarangan keluar rumah tanpa pengawalan yang ketat.

Ia harus mencari akal.

Ia cukup bersabar untuk menyusun siasat.

Sudah bertahun-tahun ia menahan kesabarannya dalam dendam.

Kalau sekarang hanya menghadapi hambatan selama beberapa hari atau beberapa bulan saja, tidak ada artinya baginya.

Sekali waktu, pasti ia akan melihat lubang dan kesempatan untuk dapat berhadapan berdua saja dengan musuh-musuhnya dan membalas dendam sepuasnya, seperti yang telah dilakukan terhadap Louw Ti.

Ia cukup sabar.

Dugaan Cui Hong memang benar.

Bukan saja Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun menjadi terkejut dan ketakutan dengan kemunculan Cui Hong dengan kedoknya sehingga mereka selalu tinggal di dalam gedung keluarga Pui yang dijaga dengan lebih ketat lagi, akan tetapi juga Ki Cong mengerahkan orang-orangnya untuk mencari wanita yang mengancam keselamatannya itu.

Dia mendatangkan jagoan-jagoan dan menjanjikan hadiah besar bagi siapa saja yang mampu menangkap atau membunuh wanita bernama Kim Cui Hong yang mempunyai tanda tahi lalat di dagunya.

Hampir setiap hari dan malam kedua orang itu berbincang-bincang dan selalu yang menjadi bahan percakapan mereka adalah Kim Cui Hong.

"Hayaaa, sungguh celaka!"

Pada suatu malam Ki Cong mengeluh kepada Cai Sun yang duduk di depannya.

Mereka selalu hanya berdua saja kalau membicarakan Cui Hong karena bagaimanapun juga, apa yang pernah mereka lakukan terhadap gadis itu merupakan rahasia pribadi mereka.

"Menghadapi seorang perempuan saja, kita menjadi begini tak berdaya. Untuk keluar saja tidak berani. Koo-toako, apakah selamanya kita akan begini saja, bersembunyi di dalam rumah sendiri seperti tikus-tikus yang takut keluar karena ada kucing yang siap menerkam? Kalau perempuan iblis itu belum dapat kita bekuk, maka hidup akan menjadi penderitaan besar bagi kita!"

Bangsawan yang kaya-raya itu mengepal tinju dan mukanya menjadi merah padam karena menahan kemarahannya.

"Pui-kongcu, kami sudah berusaha sekuat tenaga, menyebar orang-orang untuk melakukan penyelidikan. Akan tetapi ibiis itu agaknya pandai menghiiang karena biarpun semua tempat telah diperiksa, tidak ada yang menemukan jejaknya."

Kata Cai Sun.

"Hemm, lalu, apakah kita harus tetap begini saja? Bagaimana kalau manusia-manusia tolol itu tidak mampu menemukan jejaknya untuk selamanya? Apakah selamanya kita lalu menjadi orang-orang hukuman di rumah sendiri?"

Tanya Pui Ki Cong dengan jengkel.

"Jangan khawatir, Kongcu. Saya mempunyai akal baik yang segera saya suruh mereka melaksanakan, tentu dalam waktu singkat iblis perempuan itu akan dapat kita ketahui tempat sembunyinya."

Wajah Pui Ki Cong yang tampan pesolek itu, yang selama beberapa pekan ini selalu muram, kini nampak agak berseri dan dia menatap wajah bulat tukang pukulnya itu dengan penuh harapan.

"Apakah akalmu itu, Koo-toako? Lekas beritahukan padaku."

"Begini, kongcu. Untuk mencari jeja k siluman itu, memang tidak mudah karena ia memiliki iimu kepandaian yang tinggi. Akan tetapi, saya kira tidak akan begitu sukar untuk mencari jejak perempuan yang bernama Ok Cin Hwa itu. Kita tangkap dulu wanita itu...."

"Huh, dasar engkau paling gila perempuan! Dalam keadaan begini engkau masih memikirkan wanita itu? Gila! Untuk apa menangkap perempuan itu, Toa-ko?"

"Kongcu, Ok Cin Hwa itu selalu dilindungi oleh pemuda yang bernama Tan Siong itu, maka besar sekali kemungkinannya ia mengetahui di mana Tan Siong bersembunyi. Dan mengingat bahwa ketika Tan Siong dikeroyok oleh Cia Kok Han dan Su Lok Bu, dia dibela oleh siluman itu, maka kalau kita sudah dapat menangkap Tan Siong, tentu dapat pula mengetahui di mana adanya Kim Cui Hong. Bahkan mungkin juga Ok Cin Hwa tahu dan mengenal siluman itu."

Pui Ki Cong mengangguk-angguk dan wajahnya berseri penuh kegirangan dan harapan.

"Bagus sekali kalau begitu! Cepat panggil Cia-enghiong dan Su-enghiong, kita atur dan rencanakan siasat itu. Ok Cin Hwa harus dapat ditemukan dan ditangkap!"

Tak lama kemudian, dua orang jagoan itu datang menghadap dan mereka berempat lalu mengatur siasat untuk menyebar orang-orang, sekali ini bukan mencari Kim Cui Hong melainkan mencari seorang wanita bernama Ok Cin Hwa.

Semua anak buah yang bertugas mencari wanita ini dibekali keterangan lengkap tentang ciri-ciri Ok Cin Hwa dan mulailah para penyelidik itu bertebaran di seluruh kota pada hari itu untuk mencari Ok Cin Hwa.

Tentu saja hal ini segera didengar oleh Cui Hong dan gadis perkasa ini melihat munculnya suatu kesempatan yang amat baik baginya.

Ia pun cepat menyamar sebagai Ok Cin Hwa dan sengaja memperlihatkan dirinya di pasar.

Selagi ia memilih buah-buahan di pasar, empat orang laki-laki menghampirinya dan mengurungnya.

"Nona Ok C in Hwa?"

Tanya seorang di antara mere ka yang tinggi kurus dan bermata juling.

"Ya."?"

Cui Hong berlagak kaget dan heran menghentikan kesibukannya memilih buah.

"Mari kau ikut dengan kami. Koo-toako ingin bertemu denganmu."

Kata pula si mata juling. Kembali Cui Hong berlagak. Sambil mengerutkan alisnya ia menjawab, suaranya tak senang.

"Harap kalian jangan bersikap tidak sopan. Aku tidak mengenal siapa itu Koo-toako. Pergilah dan jangan mengganggu."

Empat orang laki-laki itu saling pandang.

"Nona Ok, Koo-toako adalah kenalanmu yang baik, dia adalah penolongmu dan dia minta kepada kami untuk mencarimu. Dia adalah jagoan yang pernah menyelamatkanmu di rumah makan..."

Si mata juling meniru kata-kata Cai Sun yang sudah memesan kepada para anak buah itu kalau-kalau bertemu dengan Ok Cin Hwa dan wanita itu menanyakan dirinya.

"Ahhh....dia....?"

Cui Hong memperlihatkan sikap gembira.

"Tapi.... kenapa bukan dia sendiri yang datang mencariku?"

"Dia sedang sibuk sekali, dan kami disuruhnya menjemputmu, Nona. Kami sudah menyiapkan sebuah kereta di luar pasar. Marilah, Koo-toako ingin sekali membicarakan urusan yang amat penting denganmu."

"Akan tetapi...."

Cui Hong berlagak meragu seperti pantasnya seorang wanita baik-baik yang diundang mengunjungi seorang pria.

"....eh, baiklah kalau begitu."

Ia lalu membereskan pakaiannya yang cukup bersih dan indah, lalu tangannya meraba sanggul dan dengan diiringkan empat orang itu, ia pun keluar dari pasar.

Dengan sebuah kereta, ia lalu diajak pergi ke rumah gedung keluarga Pui.

Hati para anak buah itu merasa lega sekali karena ternyata mereka dapat membawa Nona Ok Cin Hwa sedemikian mudahnya.

Mereka sudah khawatir kalau-kalau muncul pria yang bernama Tan Siong, yang biasanya melindungi wanita ini dan kabarnya Tan Siong itu lihai se kali.

Ternyata mereka dapat menemukan dan mengajak Ok Cin Hwa ke gedung keluarga Pui tanpa halangan apa pun dan tidak ada orang muncul mengganggu kelancaran tugas mereka.

Dengan hati bangga karena tentu mereka akan menerima hadiah, empat orang itu mengawal Ok Cin Hwa memasuki gedung.

Tentu saja hati Cai Sun menjadi girang bukan main melihat Ok Cin Hwa dapat didatangkan ke dalam gedung itu.

Bukan hanya girang karena mengharapkan dapat menemukan tempat persembunyian musuh besarnya dari wanita ini, akan tetapi juga mengharapkan untuk dapat memiliki wanita yang telah membuatnya tergila-gila itu.

"Moi-moi.... Akhirnya engkau datang juga..!"

Serunya dengan gembira sekali sambil mengembangkan kedua lengannya, kemudian memegang lengan janda itu, tanpa memperdulikan sopan santun dan seperti lupa bahwa Pui Ki Cong juga berada di situ.

Cui Hong mengambil sikap malu-malu dan dengan halus ia melepaskan lengannya dari pegangan Cai Sun sambil melirik ke arah Pui Ki Cong, diam-diam menekan perasaannya yang terguncang penuh kebencian.

"Aih, ln-kong...! Saya dipanggil ke sini, ada keperluan apakah?"

"Ha-ha, engkau masih menyebutku ln-kong? Moi-moi, bukankah kita sudah berjanji bahwa engkau selanjutnya akan menyebut Koko (Kanda) kepadaku? Ha-ha-ha!"

Karena merasa di tempat aman, kumat kembali sifat Cai Sun yang mata keranjang dan perayu wanita.

"Koo-inkong, mana saya berani? Saya hanyalah seorang janda yang hidup sebatangkara...."

Cui Hong mempermainkan senyumnya dan mengerling tajam ke arah Pui Ki Cong yang sejak tadi menatap dengan tajam penuh perhatian.

Dalam hal kegemaran terhadap wanita, tingkat Pui Ki Cong tidak kalah oleh Koo Cai Sun.

Maka, melihat sikap Cui Hong yang beberapa kali tersenyum dan melirik ke arahnya, dia pun menduga bahwa tidak akan sukar baginya untuk mendekati wanita ini.

Sikap wanita ini menunjukkan bahwa ia "ada perhatian"

Terhadap dirinya.

Dan Ki Cong percaya bahwa dalam segala hal, kecuali ilmu silat, dia memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan pembantunya itu.

Dia lebih muda beberapa tahun, juga dia lebih kaya, dengan kedudukan yang membuatnya menjadi seorang bangsawan.

Dalam hal wajar, dia merasa yakin bahwa dia lebih tampan.

Cai Sun mempunyai muka yang bulat dan bersih, pandai merayu, suka bergurau dan banyak ketawa, akan tetapi tidak dapat dibilang tampan atau gagah.

Perutnya gendut dan tubuh yang kegemukan itu tentu tidak menarik hati wanita.

Sebaliknya, dia berwajah tampan,., jantan dan tubuhnya pun tidak gendut, bahkan agak tinggi.

Jantungnya berdebar juga melihat kecantikan wanita bernama Ok Cin Hwa yang janda muda ini.

Akan tetapi, melihat sikap yang akrab dari Cai Sun, dia mengerutkan alisnya dan ingin memperlihatkan kekuasaannya di atas pembantunya itu kepada Ok Cin Hwa.

"Koo-toako, bukan tempatnya kita bicara di luar. Mari, ajak Nona ini masuk ke dalam agar kita dapat bicara dengan tenang dan aman. Marilah, Nona Ok, silakan masuk ke dalam rumahku."

Cui Hong tersenyum mana, maklum bahwa Pui Ki Cong mulai memperlihatkan sikap bersaing dengan Cai Sun, dan hal ini menandakan bahwa pancingannya berhasil.

Ia telah berhasil menarik perhatian musuh utamanya itu!

Sambil tersenyum manis, ia lalu bangkit.

"Kiranya Kongcu yang menjadi tuan rumah? Koo-inkong, siapakah Kongcu ini dan mengapa saya diajak ke rumahnya ini?"

Diam-diam Cai Sun mendongkol juga. Percakapan antara Ok Cin Hwa dan Pui Ki Cong itu dirasakannya seperti menyeretnya turun harga! "Marilah kita masuk dan kita bicara di dalam!"

Katanya singkat dan mereka pun masuk ke dalam gedung besar itu.

Biarpun di dalam batinnya, Cui Hong sama sekali tidak tertarik akan kemewahan dan kekayaan berlimpah yang berada di dalam gedung, namun ia memaksa diri memperlihatkan kekaguman dan berkali-kali mengeluarkan seruan kagum sehingga Pui Ki Cong merasa girang dan bangga, sebaliknya Cai Sun semakin muram wajahnya.

Dia teringat betapa harta kekayaannya habis ketika tokonya dibakar orang, dan dia dapat menduga bahwa pembakarnya tentulah musuh besar yang kini sedang ditakutinya.

Cui Hong diajak masuk ke ruangan dalam dan Cai Sun segera disuruh memanggil dua orang jagoan yang mengepalai pasukan pengawal keluarga Pui, yaitu Cla Kok Han dan Su Lok Bu.

Melihat dua orang ini, diam-diam ada juga rasa khawatir di dalam hati Cui Hong.

Dua orang ini lihai, kalau sampai rahasianya ketahuan, ia tentu akan celaka.

Ia berada di dalam kepungan musuh-musuh yang lihai!

Akan tetapi sikapnya nampak tenang-tenang saja, agak malu-malu seperti sikap seorang wanita yang berada di antara beberapa orang laki-laki asing.

Empat orang laki-laki itu kini duduk berhadapan dengan Cui Hong dan dengan suara tetap halus, dengan pandang mata berseri dan senyum menyeringai seperti biasa lagak Cai Sun terhadap wanita, Cai Sun berkata.

"Adik Ok Cin Hwa, kami sengaja mengundangmu karena kami membutuhkan bantuanmu. Maukah engkau membantu kami?"

Cui Hong memandang dengan alis dikerutkan dan mulut tersenyum keheranan.

"Ah, harap jangan main-main, Koo-inkong. Seorang seperti aku ini, dapat membantu apakah kepada Cu-wi (Anda Sekalian)?"

"Nona, kami membutuhkan bantuanmu berupa keterangan yang sejujurnya dan sebenarnya."

Ki Cong berkata.

"Aih, kalau cuma keterangan yang sebenarnya, tentu saja saya mau melakukannya dengan segala senang hati, Kongcu."

Kata Cui Hong sambil mengarahkan pandang mata jeli dan mesra kepada Pui Ki Cong.

Melihat ini, Cai Sun kembali merasa tak senang karena cemburu.

Dia merasa mendapatkan saingan berat dalam diri Ki Cong terhadap wanita cantik ini.

"Adik Ok C in Hwa, beliau ini adalah seorang pejabat tinggi, maka sepatutnya engkau menyebut Tai-jin (Pembesar) dan bukan Kongcu (Tuan Muda)."

Kata-kata Cai Sun ini membuat alis Ki Cong berkerut.

Tadi ia sudah merasa girang karena sebutan kongcu itu berarti bahwa nona manis ini menganggapnya masih seorang muda!

Padahal usianya sudah tidak muda lagi, hampir empat puluh tahun.

Dan kini Cai Sun merusak "suasana"

Yang menyenangkan hatinya itu.

"Ah, maafkan saya, karena saya tidak tahu, Taijin!"

Kata Cui Hong sambil cepat menjura dengan hormat ke arah Ki Cong. Hal ini menghapus kekecewaan hati Ki Cong dan dengan sikap berwibawa dia menggerakkan tangan menyuruh wanita itu duduk kembali.

"Nona, kami sedang mencari dua orang dan kiranya hanya engkaulah yang dapat membantu kami dan menunjukkan di mana adanya dua orang itu."

Ki Cong melanjutkan katakatanya.

"Yang seorang adalah laki-laki bernama Tan Siong itu, yang sering membelamu. Sedangkan yang ke dua adalah seorang wanita yang muncul dengan muka berkedok dan mempunyai tahi lalat di dagunya. Nah, kami mengharapkan keterangan yang sejujurnya dan sebenarnya darimu. Di manakah kedua orang itu?"

Cui Hong mengangguk-angguk.

"Saya akan memberikan keterangan yang sejujurnya, Taijin. Laki-laki yang bernama Tan Siong itu baru saja kenal ketika dia muncul di rumah makan itu dan melindungi saya dari gangguan beberapa orang laki-laki kurang ajar, bahkan kemudian muncul Koo-inkong ini yang menolong saya. Ada pun wanita berkedokitu saya kenal ketika ia muncul di malam hari itu."

"Yang kami butuhkan adalah keterangan di mana adanya mereka?"

Desak pula Pui Ki Cong. Sejak tadi Cui Hong memutar otak mencari siasat terbaik demi keuntungannya.

"Sesungguhnya, saya tidak pernah mereka beri tahu di mana mere ka tinggal. Setahu saya, Tan Siong tadinya tinggal di dalam kuil tua itu, akan tetapi entah sekarang, saya sendiri tidak tahu, apalagi tempat tinggal wanita berkedokitu, saya tidak pernah diberi tahu."

Empat orang itu saling pandang.

"Mengakulah saja kalau engkau tidak ingin kami paksa!"

Tiba-tiba Su Lok Bu yang berkulit hitam dan bertubuh tinggi besar itu menggertak.

Cui Hong memperlihatkan wajah ketakutan dan melihat ini, Pui Ki Cong yang sudah mulai tertarik kepada wanita cantikini cepat berkata.

"Kita tidak perlu menggunakan kekerasan, Su-enghiong!"

Kemudian dia memandang wajah Cui Hong dan berkata ramah.

"Aku percaya, Nona ini pasti akan dapat memberi petunjuk bagaimana kita akan dapat bertemu dengan kedua orang itu. Benarkah begitu, Nona? Kuharap saja kepercayaanku kepadamu takkan sia-sia belaka."

Cui Hong menggeser duduknya mendekat ke arah Pui Ki Cong yang duduk di sebelah kanannya sambil melirik ketakutan kepada Su Lok Bu.

Kemudian, ia memandang Ki Cong dan berkata dengan merdu dan bernada sungguh-sungguh.

"Taijin, seorang perempuan seperti saya ini, mana berani berbohong kepada Taijin? Saya berkata dengan sesungguhnya ketika mengatakan bahwa saya tidak tahu di mana mereka tinggal. Akan tetapi, seperti yang Taijin katakan tadi, kalau memang Taijin ingin bertemu dengan mereka atau seorang di antara mereka, agaknya saya dapat memberi petunjuk..."

"Ah, Nona manis!"

Ki Cong berseru gembira sekali.

"Itulah yang kuharapkan! Dapatkah engkau memberi petunjuk agar kami dapat bertemu dengan wanita berkedokitu?"

"Dapat, Taijin.... karena memang ia telah.... ah, akan tetapi ini rahasia! Kenapa sih Taijin ingin bertemu dengan wanita aneh yang selalu berkedokitu? Saya sendiri ngeri dan takut terhadap dirinya yang penuh rahasia."

Su Lok Bu sudah hendak menghardik lagi untuk memaksa wanita itu cepat bercerita di mana tempat sembunyi wanita berkedok, akan tetapi Ki Cong memberi tanda dan berkedip kepadanya sehingga jagoan ini terdiam.

Kemudian Ki Cong berkata lagi kepada wanita itu, nada suaranya membujuk.

"Ketahuilah, Nona Ok. Wanita berkedokitu dan laki-laki yang bernama Tan Siong, mereka adalah penjahat-penjahat kejam, pembunuh-pembunuh keji. Mereka sedang kami cari-cari untuk ditangkap dan dihukum karena kalau mereka tidak ditangkap, tentu mereka akan melakukan lebih banyak pembunuhan lagi atas diri orang-orang yang tidak berdosa. Nah, sekarang katakan bagaimana agar kami dapat menangkap mereka?"

"Ihhh....! Mengerikan! Memang saya sudah merasa takut terhadap mereka. Akan tetapi kalau saya membuka rahasia ini, tentu mereka akan marah kepada saya dan bagaimana kalau saya dibunuh?"

La menggigil dan mukanya berubah pucat.

"Ha-ha, jangan takut, Adik manis. Di sini ada Kakanda Cai Sun yang akan melindungi!"

Kata Cai Sun, gembira bahwa ternyata dugaannya benar dan siasatnya berhasil baik karena wanita ini agaknya akan menjadi kunci pembuka tempat persembunyian dua orang musuh itu, terutama tempat persembunyian Kim Cui Hong yang mengancam nyawanya.

"Kami akan melindungimu!"

Kata Ki Cong tak mau kalah.

"Nah, bagaimana kami dapat menangkap mereka?"

"Dalam pertemuan terakhir antara kami, wanita berkedokitu membawa saya lari ke sebuah pondok kecil di tengah hutan. Kemudian wanita itu berpesan bahwa kalau saya memer lukan bantuannya, saya disuruh ke pondokitu dan menanti sampai la datang."

"Ah! Di mana pondokitu? Di hutan mana?"

"Tapi..... tapi saya takut..... Taijin."

"Jangan takut, kami akan melindungimu. Katakan saja di mana pondokitu?"

"Di sebelah timur pintu gerbang kota, ada sebuah bukit sunyi dan pondokitu berada di tengah hutan, di lereng bukit itu. Hutan yang amat sunyi, penuh pohon cemara."

"Ah, di hutan cemara bukit itu?"

Koo Cai Sun berseru, girang.

"Ya, sebuah pondok kosong di tengah hutan. Sunyi sekali. Saya..... saya takut untuk pergi ke sana, Taijin."

"Dan perempuan berkedokitu tinggal di sana?"

Kini Cia Kok Han yang bertanya. Cui Hong menoleh dan beradu pandang dengan sepasang mata yang sipit sekali namun yang sinar matanya mencorong menakutkan.

"Saya tidak tahu, ia hanya mengatakan bahwa saya disuruh datang ke sana dan menunggu kedatangannya."

"Apakah ia mengaku siapa namanya?"

Koo Cai Sun ingin kepastian. Cui Hong menggeleng kepala.

"la hanya mengaku bahwa ia she Kim."

Itu saja sudah cukup bagi Cai Sun dan Ki Cong.

Kim Cui Hong, musuh besar mereka!

Gadis puteri g uru s ilat Kim yang kini datang sebagai siluman yang hendak membalas dendam kepada mereka.

Harus didahului sebelum mereka celaka di tangan siluman itu.

Bergidik mereka mengingat akan nasib yang diderita Louw Ti.

"Biarkan Nona ini pergi ke sana malam ini. Kita mengepung tempat itu dan menyergapnya ketika ia memasuki pondok."

Kata Cia Kok Han dan rekannya, Su Lok Bu mengangguk menyetujui.

"Ah, ah..... saya tidak berani....."

Cui Hong berkata seperti mau menangis dan wajahnya menjadi pucat.

"Ia tentu akan membunuhku, setelah tahu aku mengkhianatinya tidak, saya tidak berani.!"

"Mau atau tidak, engkau harus membantu kami agar kami dapat menangkapnya!"

Kata pula Cia Kok Han tegas.

"Ahh..... tapi apakah tidak dapat diambil jalan lain yang lebih tepat? Ia bukan seorang bodoh, tentu ia akan menaruh curiga dan kalau sudah begitu, selain Cu-wi (Anda Sekalian) tak dapat menangkapnya karena ia tidak akan muncul, juga saya pasti akan dibunuhnya. Lalu apa artinya segala jerih payah ini?"

"Adik yang manis, apakah engkau mempunyai siasat lain yang lebih baik?"

Cai Sun bertanya karena kata-kata gadis itu memang masuk di akal. Kalau sampai gagal, dan wanita itu terbunuh secara sia-sia, sungguh sayang sekali.

"Ia harus dapat dipancing dengan umpan yang menarik tanpa menimbulkan kecurigaan padanya. Kalau saja Cu-wi mengetahui apa yang menjadi keinginan hatinya yang paling besar, yang akan memaksanya keluar dari tempat persembunyiannya dan datang ke pondokitu....."

"Hemm, keinginannya yang paling besar adalah membunuh kami....."

Cai Sun terlanjur bicara dan isarat dari Ki Cong sia-sia saja. Pui Ki Cong menarik napas panjang.

"Karena Koo-toako sudah terlanjur mengatakan kepadamu, Nona, biarlah kuceritakan saja dengan terus terang. Kami sudah percaya kepadamu dan kami mengharapkan bantuan untuk menangkap siluman betina yang amat jahat ini. la telah mengancam untuk membunuh aku dan Koo-toako ini....."

"Ihhh.....! Jahatnya....!"

Cui Hong berseru dengan wajahkaget dan ngeri, memandang bergantian kepada Ki Cong dan Cai Sun, seolah-olah t idak percaya bahwa dua orang yang demikian baiknya akan dibunuh orang.

"Memang siluman itu jahat sekali, karena itu kami akan menangkap atau membunuhnya,"

Kata pula Pui Ki Cong.

"Kalau begitu, Ji-wi saja yang datang ke pondokitu, tentu ia akan muncul! Sementara itu, dipersiapkan orang-orang untuk mengepung dan menangkapnya,"

Kata Cui Hong memberi saran.

"Ah, itu berbahaya sekali!"

Kata Cai Sun, bergidik membayangkan betapa dia dan Ki Cong berada di pondok sunyi dalam hutan kemudian muncul musuh besarnya itu.

"Heh, engkau takut? Bukankah ada kami dan pasukan yang telah mengepung pondokitu?"

Su Lok Bu mencela.

"Sejak kapan Koo Cai Sun yang terkenal itu menjadi seorang penakut?"

Cia Kok Han juga mengejek.

Koo Cai Sun merasa disudutkan.

Dia tidak mampu mengelak lagi, dan teringat bahwa yang diusulkan oleh Ok Cin Hwa adalah dia dan Ki Cong.

Kalau ada Ki Cong, tentu akan berkurang rasa takutnya.

"Aku tidak takut, hanya aku khawatir Pui-kongcu yang tidak berani bersama aku pergi ke Pondok itu."

Berkata demikian, Cai Sun memandang Ki Cong sambil menyeringai.

Pui Ki Cong mengerutkan alisnya.

Dia memang menghendaki dengan sangat agar musuh besar yang berbahaya itu secepat mungkin dapat terbunuh agar dia dapat tidur dengan nyenyak, akan tetapi kalau dia harus ke tempat berbahaya itu, sungguh membuat dia merasa ngeri.

"Hemm, perlukah aku ke sana sendiri? Tidak cukup engkau saja, Koo-toako? Dengan engkau menjadi umpan, sudah cukup untuk memancing ia datang, atau setidaknya laki-laki she Tan itu."

Katanya meragu.

"Aih, Kongcu. Kita takut apakah? Selain ada kita berdua, masih ada lagi Cia dan Su-enghiong, dan kalau kita siapkan seratus orang perajurit mengepung tempat itu, membuat barisan pendam, apa yang akan dapat dilakukan oleh siluman itu? Sebelum ia sempat menyerang kita berdua, tentu ia sudah lebih dulu disergap dan mampus! Selain itu perlu apa takut kalau di samping kita ada nona yang begini manis dan hangat?"

Berkata demikian, dengan ceriwis sekali tangan kiri Cai Sun mengelus pipi Cui Hong. Wanita ini pura-pura malu dan mengerling tajam ke arah Ki Cong, menepiskan tangan Cia Sun dengan berkata.

"lhhh.... Koo-inkong harap jangan nakal...!"

Dan ia tersenyum dan mengerling dengan daya tarik yang amat kuat ke arah Ki Cong, membuat orang mata keranjang ini menelan ludah.

Di dalam pondok bersama wanita cantik ini!

Menarik sekali, dan pula, kalau ada pasukan seratus orang yang dipimpin oleh dua orang pembantunya yang lihai, memang tidak ada yang perlu ditakuti.

Pula, Cai Sun di sampingnya juga merupakan seorang pengawal yang cukup tangguh.

"Baiklah, aku akan Ikut ke sana. Kita semua harus bekerja sama untuk dapat membekuk siluman itu secepatnya!"

Akhirnya dia mengambil keputusan setelah melihat betapa mata kiri Cui Hong berkedip lembut memberi isyarat kepadanya yang hanya dapat dilihatnya sendiri!

Kedipan mata yang merupakan janji yang Cai Sun dan suaranya terdengar gemetar.

Cai Sun mengangkat kedua pundaknya dan menoleh kepada Ok Cin Hwa.

"Bagaimana pendapatmu, Adik manis? Akan berhasilkah pancingan kita ini?"

Suaranya lirih sekali seolah-olah dia takut kalau-kalau suaranya akan terdengar musuh.

"Saya tidak tahu, akan tetapi mudah-mudahan berhasil, la hanya mengatakan bahwa kalau saya perlu sesuatu darinya, saya disuruh datang ke sini dan menanti, tentu ia akan datang."

"Bagaimana kalau ia tiba-tiba muncul di dalam pondokini, Toako?"

Ki Cong bertanya dan jelas nampak betapa dia menggigil ketakutan.

"Ha-ha-ha!"

Cai Sun tertawa, walaupun dia menahan suara ketawanya agar jangan terdengar terlalu keras.

"Bagaimana mungkin? Sebelum ia tiba di pintu, ia akan disergap seratus orangl Kita di sini aman seperti di rumah sendiri, Kong-cu, harap jangan khawatir."

"Saya pun tidak merasa takut, karena bukankah di luar sana ada seratus orang pasukan yang berjaga? Apalagi di sini ada dua orang gagah perkasa yang menemani saya. Koo-inkong dan Pui-taijin, saya mau beristirahat dulu di kamar yang kiri itu. Silakan Ji-wi beristirahat pula di kamar kanan kalau Ji-wi tidak sedang ketakutan."

Cui Hong tersenyum dan melempar kerling genit sekali dan ia pun bangkit berdiri, langkahnya dibuat semenarik mungkin ketika ia melenggang dan memasuki kamar yang sebelah kiri, tahu bahwa dua orang pria itu mengikuti nya dengan pandang mata kehausan.

Dua pasang bukit pinggulnya sengaja dibuat menari-nari ketika ia melenggang tadi.

Dan hasilnya memang baik sekali, dua orang pria itu memandang dengan mata melotot, bahkan Cai Sun tak dapat menahan dirinya untuk tidak menelan ludah.

"Kongcu, saya akan menemani nona itu, silakan kalau Kongcu mau beristirahat di kamar kanan. Selamat malam, Kongcu....!"

Dia pun bangkit dan hendak segera menyusul wanita itu, akan tetapi Pul Ki Cong cepat menegurnya.

"Koo-toako, engkau hendak memandang rendah kepadaku?"

"Ehh? Apa maksud Kongcu....?"

Cai Sun menahan langkah dan membalikkan tubuhnya. Pui Ki Cong sudah bangkit berdiri dan mukanya berubah merah.

"Sudah sejakia ditangkap, la memberi isyarat-isyarat kepadaku. Akulah yang akan menemaninya!"

"Tapi, saya yang telah mengenalnya lebih dulu, Kongcu!"

Cai Sun membantah dengan mata melotot dan merasa penasaran.

Tak disangkanya bahwa majikannya ini ternyata tertarik kepada Ok Cin Hwa dan hendak merampas daging gemukitu dari depan mulutnya.

Pui ki Cong mengerutkan alisnya dengan marah.

'"Koo Cai Sun!

Apakah engkau hendak menentang aku?"

Bentaknya.

Cai Sun terkejut dan sadar bahwa orang she Pui ini bukan hanya tertarik, melainkan sudah tergila-gila kepada Ok Cin Hwa sehingga bersikap demikian kasar keji, Tentu saja dia tidak berani menentang orang Itu.

Perpecahan akan amat merugikan dirinya, apalagi kalau hanya karena memperebutkan seorang wanita, seorang janda saja.

Kalau Pui Ki Cong mengusirnya, dia bisa mati konyol di dalam tangan iblis wanita itu.

Maka dia pun cepat menjura dan tertawa lebar.

"Aha, mengapa kita harus bertengkar karena seorang perempuan saja? Maaf, Pui-kongcu. Tidak kusangka bahwa Kongcu demikian bergairah terhadap dirinya. Kita tidak perlu berebut karena seorang janda muda seperti wanita itu tentu tidak akan kewalahan melayani dua orang seperti kita. Nah, silahkan Kongtu lebih dulu, baru nanti saya yang menggantikan Kongcu."

Pui Ki Cong juga teringat dan dia pun tersenyum.

Memang tidak semestinya dalam keadaan nyawanya terancam seperti itu memperebutkan seorang janda yang belum tentu akan memuaskan hatinya, walaupun wajahnya, bentuk badan dan sikap janda itu demikian menggairahkan.

Sudah banyak dia mengalami kekecewaan dari wanita-wanita yang tadinya nampak cantik dan menawan hati.

"Maaf, Toako, tadi aku telah lupa diri. Baiklah, aku akan main-main dengannya lebih dulu, dan biar nanti kusuruh ia keluar menemani dan melayanimu."

Dengan langkah lebar Pui Ki Cong menghampiri kamar yang sebelah kiri, membuka daun pintunya, masuk dan menutupkan lagi daun pintu kamar itu dari dalam.

Sambil menyeringai Cai Sun kembali duduk di atas kursi, matanya memandang ke arah kamar itu seolah-olah ingin menembus dinding untuk mengintai apa yang terjadi di dalamnya.

Dia mendengar suara Pul Ki Cong bicara, lalu disusul suara ketawanya lirih dan suara ketawa Ok Cin Hwa.

Bahkan terdengar suara wanita itu cukup je las.

"Aihhh.... Taijin, jangan begitu"

Cai Sun terkekeh, membayangkan permainan cinta mereka dan dia pun mendengar suara dipan berderit diduduki mereka.

Suasana lalu menjadi sepi di kamar itu dan Cai Sun memperlebar senyumnya.

Kalau wanita itu pandai, sebentar saja tentu Pui Ki Cong kalah dan dia memperoleh giliran!

Dia akan mengajak wanita itu ke kamar sebelah.

Agaknya tidak meleset dugaan dan harapan Cai Sun.

Tak lama kemudian, daun pintu kamar itu terbuka dan Ok Cin Hwa nampak keluar setelah menutupkan lagi daun pintu dari luar.

Pakaian dan rambutnya kusut, bahkan kancing-kancing bajunya hanya tertutup sebagian sehingga Cai Sun dapat melihat sebagian kulit dan dada yang kuning mulus.

Wanita itu menghampirinya sambil tersenyum manis sekali.

Cai Sun bangkit berdiri menyambut dengan pujian.

"Wah, engkau hebat sekali, Adik manis. Mana Pui-taijin?"

"Dia kelelahan dan tidur, harap jangan diganggu."

Bisik wanita itu dengan muka merah dan nampak tersipu.

"Ha-ha, engkau sungguh hebat, mengalahkannya dalam waktu singkat, tidak ada seperempat jam. Ha-ha, lawannya yang seimbang adalah aku, ha-ha!"

Cai Sun lalu maju merangkul wanita itu yang mandah saja ditarik sambil dirangkul, memasuki kamar yang di sebelah kanan.

Tadi ketika dia mendengarkan dari luar di antara kesunyian dalam kamar sebelah kiri, dia mendengar suara dipan berderit dan Pui-kongcu terengah-engah, maka sudah bangkitlah berahinya sampai ke ubun-ubun.

Maka, begitu dia memasuki kamar yang kosong itu, dia mempererat rangkulannya dan mendekatkan mukanya mencium mulut Ok Cin Hwa.

Yang dicium mandah saja sehingga Cai Sun mencium mulut itu penuh nafsu.

Akan tetapi pada saat dia mengecup bibir perempuan itu, tiba-tiba tengkuknya dihantam oleh tangan miring yang amat kuat.

"Kekkk....!"

Tubuh Cai Sun menjadi lemas dan dia pun pingsan seketika!

Untuk mencegah agar robohnya Cai Sun tidak menimbulkan suara, Cui Hong sudah menjambak rambutnya dan menyeretnya keluar kamar, merebahkannya di atas lantai.

Ia bekerja dengan cepat sekali.

Ia tadi tidak berani menotok Cai Sun untuk merobohkannya seperti yang dilakukannya pada Ki Cong karena ia tahu bahwa Cai Sun lihai.

Kalau sampai totokannya meleset tentu Cai Sun akan berteriak dan rencananya dapat menjadi gagal.

Maka, ia mempergunakan pukulan dengan tangan miring pada saat Cai Sun mencium tadi sehingga ia yakin takkan gagal.

Cui Hong meludah dan mengusap bibirnya dengan ujung lengan baju.

Muak rasanya teringat akan ciuman tadi.

Ia meludah ke arah muka Cai Sun, kemudian mengeluarkan borgol dari ramai besi yang sudah dipersiapkan untuk keperluan itu.

Diborgolnya kedua tangan Cai Sun itu ke belakang tubuhnya, kemudian ia menotok beberapa jalan darah untuk membuat orang itu t idak dapat bergerak atau mengeluarkan suara kalau siuman dari pingsan nanti.

Setelah itu, ia pun memasuki kamar sebelah kiri.

Ternyata Pui Ki Cong juga sudah menggeletak di atas lantai dalam keadaan tertotok, tak mampu bergerak atau bersuara, hanya matanya saja yang bergerak-gerak memandang kepada Cui Hong dengan ketakutan.

Kiranya ketika tadi Ki Cong masuk dan menghampirinya, ia melayani orang itu bercakap-cakap dan bergurau.

Akan tetapi ketika tangan Ki Cong mulai meraba-raba dan hendak menciumnya, secepat kilat tangan kiri Cui Hong menotok jalan darah dan Ki Cong roboh seketika tanpa mampu berteriak.

Cui Hong lalu membuat dipan bergerak-gerak, dan kakinya menginjak-injak perut Ki Cong sehingga orang itu mengeluarkan suara terengah-engah seperti yang didengarkan oleh Cai Sun tadi.

Kini Cui Hong juga memborgol kedua tangan Ki Cong, dan menyeret tubuhnya dengan cara menjambak dan menarik rambutnya.

Ki Cong hanya terbelalak ketakutan dan kedua matanya mengeluarkan air mata, bahkan kini celananya menjadi basah saking takutnya.

Cai Sun juga sudah siuman dan dia teringat akan segala yang dialaminya tadi.

Mula-mula dia terheran dan merasa seperti mimpi.

Kedua tangannya diborgol, bahkan dia tidak mampu menggerakkan kaki tangan, tidak mampu mengeluarkan suara.

Ketika pintu kamar kiri terbuka dan muncul Ok Cin Hwa yang menyeret tubuh Pui Ki Cong, barulah dia tahu bahwa semua itu bukanlah mimpi buruk, melainkan kenyataan!

Dan dia pun mengeluarkan keringat dingin dan matanya terbelalak ketakutan.

Akan tetapi, Cui Hong kini sudah menjambak rambut kepalanya dan menyeret dua tubuh itu menuju ke ruangan kecil di antara kedua kamar itu.

Dilepaskannya papan lantai dan ternyata di tempat itu terdapat lubang yang bergaris tengah satu meter, la menyeret tubuh dua orang musuhnya itu ke dalam lubang, lalu ditutupnya kembali papan lantai itu dengan rapi dari bawah.

Ternyata lubang itu merupakan sebuah terowongan yang menembus ke dasar jurang di belakang pondok!

Memang selama ini Cui Hong tidak tinggal diam menganggur.

Ia telah mempersiapkan segala-galanya sehingga ketika muncul kesempatan yang amat baikitu, yaitu ketika anak buah musuh-musuhnya mulai mencari wanita bernama Ok Cin Hwa, semua telah dipersiapkannya, dari tempat jebakan sampai terowongan untuk melarikan diri tanpa diketahui oleh seratus pasukan yang mengepung pondok itu!

Tak seorang pun akan menyangka bahwa ia dapat melarikan dua orang musuhnya itu dari dalam pondok tanpa diketahui orang!

Dan siapa pula yang menduga bahwa Ok Cin Hwa, perempuan yang dianggapnya membantu komplotan itu untuk menjebak Kim Cui Hong, ternyata adalah musuh itu sendiri!

Cia Kok Han dan Su Lok Bu bersama seratus orang anak buahnya berjaga di tempat masing-masing dengan hati diliputi ketegangan.

Mereka sudah mempersiapkan senjata untuk menyergap, begitu ada orang masuk ke hutan mendekati pondok.

Akan tetapi, sampai lewat tengah malam, tidak nampak ada orang datang.

Juga tidak ada gerakan sesuatu di dalam pondok.

"Hemm, sialan! Kita kedinginan dan dikeroyok nyamuk di sini, akan tetapi mereka berdua tentu kini sedang meniduri perempuan itu!"

Su Lok Bu mengomel, karena dia mengenal baik orang-orang macam apa adanya Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun.

Dua orang laki-laki mata keranjang, tukang main perempuan.

Kini semalam suntuk berada di sebuah pondok kosong, bersama seorang janda muda yang manis.

Mudah saja diduga apa yang akan mereka lakukan.

"Terkutuk memang iblis betina itu. Kenapa ia tidak juga muncul?"

Cia Kok Han juga mengomel.

Memang berat tugas mereka saat itu.

Malam begitu dingin dan di hutan itu terdapat banyak nyamuk yang mengeroyok mereka.

Akan tetapi mereka tidak berani membuat api unggun dan terpaksa harus menahan semua derita.

Untuk menghampiri pondok dan melihat ke dalam, mereka pun t idak berani.

Hal itu akan merugikan karena siapa tahu perempuan iblis itu kini sedang mengintai dan kalau melihat bahwa pondoknya dikepung banyak musuh, tentu perempuan itu tidak berani mendekat.

Dua orang jagoan itu bersama seratus orang anak buahnya, melewatkan malam yang menyiksa di hutan itu.

Mereka harus tetap dalam persembunyian mereka, tidak berani mengeluarkan suara, tidak berani keluar.

Mereka sudah menyumpah-nyumpah di dalam hati.

Baru setelah terdengar ayam berkokok dan burung-burung pagi berkicau tanda bahwa fajar mulai menyingsing, Cia Kok Han dan Su Lok Bu yang sudah tidak sabar lagi, meloncat ke luar dari tempat persembunyian mereka dan menghampiri pondok.

Siasat mere ka telah gagal!

Ikan yang dipancing tidak mau menyambar umpan!

Hasilnya hanya kulit muka mereka merah-merah dan gatal-gatal, juga seluruh sendi tulang linu dan pegal.

Keduanya mendorong pintu pondok terbuka dan mereka melongo.

Kosong pondokitu.

Keduanya meloncat ke arah dua buah kamar itu, mendorong daun pintu kamar terbuka.

Kosong pula!

"Heiii....!

Ke mana mereka?"

Cia Kok Han berseru heran.

"Tak mungkin mere ka bertiga menghilang begitu saja!"

Kata Su Lok Bu.

Tentu saja dua orang jagoan itu menjadi terkejut, terheran kemudian panik karena setelah mereka memer iksa seluruh pondok, jelaslah bahwa Pui Ki Cong, Koo Cai Sun dan Ok Cin Hwa memang benar telah lenyap tanpa meninggalkan jejak.

Wajah kedua orang jagoan ini menjadi pucat sekali.

"Tak masuk akal!"

Kata Cia Kok Han sambil membanting kakinya.

"Bagaimana mungkin mereka lenyap dari tempat yang terkepung ketat itu? Dan siapa pula yang dapat datang ke pondok ini tanpa kita ketahui? Sungguh aneh sekali!"

Su Lok Bu yang sejak tadi termenung, kini berkata.

"Datang secara berterang rasanya tidak mungkin. Akan tetapi bagaimana kalau datangnya itu secara rahasia?"

"Secara rahasia? Kalau begitu ada jalan rahasianya di sini."

Kata Cia Kok Han, terkejut.

"Hanya, itulah satu-satunya kemungkinan. Mari kita mencarinya."

Dua orang jagoan ini lalu memanggil anak buah mereka dan pondok itu pun penuh dengan perajurit yang sibuk mencari jalan rahasia.

Tidak sukar untuk ditemukan karena tempat itu tidak begitu luas.

Tak lama kemudian mereka pun sudah membongkar papan dan mereka menemukan terowongan bawah tanah itu.

"Celaka! Dari sinilah mereka keluar atau.... dilarikan orangl"

Teriak Cia Kok Han dan dengan hati-hati, bersama Su Lok Bu dan dengan senjata di tangan, mereka lalu memasuki terowongan itu, diikuti pula oleh anak buah mereka.

Akan tetapi pengejaran mereka itu sudah jauh terlambat karena baru pada keesokan harinya mereka mendapatkan rahasia terowongan itu, sedangkan Cui Hong telah melarikan dua orang musuhnya pada malam tadi.

Setelah menyeret dua orang musuh besarnya melalui terowongan, akhirnya Cui Hong membawa mereka ke luar di pintu tembusan yang berada di dasar jurang, dan ia terus menyeret mereka naik dan memasuki sebuah hutan lain yang lebat dan gelap, la memang sudah mempersiapkan tempat-tempat itu dan berhenti di sebuah lapangan rumput di tengah hutan, la lalu membuat dua api unggun yang cukup besar sehingga tempat itu menjadi terang, la tidak khawatir akan dilihat orang lain karena ia sudah selidiki bahwa tempat itu, terutama di waktu malam, sunyi bukan main dan tidak pernah didatangi manusia.

Juga ia tidak khawatir akan tersusul oleh pasukan yang dipimpin oleh Cia Kok Han dan Su Lok Bu karena sudah ia perhitungkan bahwa mereka tentu tidak akan mendekati pondok sampai keesokan harinya.

Malam ini ia bebas dari gangguan orang luar!

Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun masih rebah terlentang tak mampu bergerak ataupun bersuara, hanya mata mereka saja yang terbelalak ketakutan memandang kepada wanita itu.

Cui Hong kini menghampiri Cai Sun yang menjadi ketakutan dan sekali tepuk, Cai Sun mendapatkan kembali suaranya.

Dia tidak mengeluarkan teriakan karena maklum bahwa hal itu akan sia-sia belaka.

Teman-temannya berada di tempat yang jauh sekali dan di tempat seperti ini mana ada orang yang akan dapat mendengar teriakannya?

Kembali wanita itu menotoknya sehingga dia mampu bergerak, dan dia hanya dapat bangkit duduk karena kedua tangannya masih terbelenggu di belakang tubuhnya.

Dia terbelalak menatap wajah wanita itu yang memandang kepadanya dengan mata mencorong dan mulut tersenyum mengejek.

"Kenapa.... kenapa kau melakukan ini kepadaku.?"

Tanyanya, masih terlalu ngeri membayangkan apa yang ditakutinya ketika semacam dugaan menyelinap di dalam benaknya.

"Ok Cin Hwa, siapakah sebenarnya engkau?"

Cui Hong tidak menjawab, melainkan tersenyum dan kini ia mematahkan belenggu yang mengikat kedua tangan Cai Sun.

Laki-laki itu bebas dan ketika ia meraba senjatanya, yaitu sepasang tombak pendek, ternyata sepasang senjata itu masih terselip dengan aman di punggungnya.

Hatinya terasa agak aman, setidaknya dia dapat membela diri, pikirnya.

Dia bangkit berdiri, membiarkan darahnya yang tadi berhenti mengalir itu kini menjadi normal kembali.

Dia masih belum mengerti.

Memang ada dugaan menyelinap di dalam benaknya bahwa Ok Cin Hwa ini mungkin penyamaran Kim Cui Hong.

Akan tetapi tidak mungkin, bantahnya.

Musuhnya itu mempunyai tahi lalat di dagunya, dan selama ini sikap Ok Cin Hwa amat baik.

Akan tetapi yang jelas, Ok Cin Hwa ini pun mempunyai ilmu kepandaian t inggi sehingga dapat menyeret dia dan Ki Cong keluar dari pondok setelah merobohkan dia dengan tamparan pada tengkuknya.

Dan lebih jelas lagi, Ok Cin Hwa ini tidak mempunyai maksud baik terhadap dia dan Ki Cong.

Cui Hong meraba dagunya, menghapus bedak tebal yang menyembunyikan tahi lalat di dagunya, kemudian melangkah maju, membiarkan sinar api menerangi wajahnya, mulutnya tersenyum mengejek.

"Koo Cai Sun, jahanam besar. Buka matamu lebar-lebar dan lihat baik-baik, siapakah aku?"

Cai Sun terbelalak, mukanya menjadi semakin pucat dan napasnya terengah-engah. Dia menderita pukulan batin yang amat menggetarkan jantungnya. Dengan tangan gemetar dia menuding ke arah muka Cui Hong.

"Kau.... kau....?"

Akan tetapi dia tidak mampu melanjutkan karena rasa takut dan ngeri sudah mencekik lehernya.

"Ya, akulah Kim Cui Hong. Lupakah engkau kepada gadis puteri Kim-kauwsu yang telah kauhina dan perkosa, kemudian kau buang seperti seekor binatang yang sudah hampir menjadi bangkai?"

Saking takutnya, Cai Sun lalu membalikkan tubuhnya dan meloncat untuk melarikan diri.

"Brukkkk!!"

Tubuhnya terjengkang karena tahu-tahu gadis itu telah berada di depannya, mendahuluinya dan menghadangnya, lalu menendang perutnya yang gendut.

"Ah, tidak.... aku.... aku hanya ikut-ikutan.... yang bersalah adalah dia....!"

Cai Sun dengan tubuh menggigil dan telunjuk tangan gemetaran menuding ke arah tubuh Ki Cong yang masih menggeletak tak jauh dari situ dan yang sedang memandang dengan mata melotot ketakutan.

"Dia? Dia akan mendapatkan gilirannya. Sekarang aku akan membalas dendamku kepadamu, Koo Cai Sun!"

"Tidak.... tidak!"

Dan t iba-tiba Cai Sun menjatuhkan diri berlutut di depan Cui Hong.

"Nona... Lihiap.... ampunkan saya.... ampunkan saya...."

Ratapnya.

Ratap tangis ini terdengar merdu bagaikan nyanyian bagi Cui Hong.

la mendengarkan sambil tersenyum senang dan setelah Cai Sun berhenti memohon, menangis sambil berlutut, baru ia berkata dengan suara yang halus namun tajam menusuk.

"Jahanam busuk, keparat hina Koo Cai Sun, lupakah engkau betapa gadis Kim Ciu Hong itu pun meratap dan menangis, memohon ampun kepadamu dan tiga orang kawanmu yang memperkosa-nya? Akan tetapi kalian tertawa-tawa senang mendengar ia meratap, merintih dan menangis, melihat ia menggeliat-geliat kesakitan, terhina lahir batin, lupakah kamu?"

"Ampun..... Lihiap, ampunkan saya. Saya merasa menyesal sekali, saya bertobat, ah, ampunkan saya, kasihanilah keluarga saya, anak isteri saya...."

Kini Cai Sun tanpa malu-malu lagi menangis!

Lenyaplah semua kegarangan dan dia merasa menyesal sekali.

Mengapa dia begitu bodoh, tidak mengenal Ok Cin Hwa sebagai musuh besarnya?

Kini setelah tahi lalat itu terhapus, dia mengenal wajah itu, wajah yang tujuh tahun yang lalu pernah dikenalnya baik-baik sebagai wajah seorang gadis berusia Lima belas tahun, yang dipermainkannya sepuas hatinya, bersama Louw Ti, Gan Tek Un, dan didahului oleh Pui Ki Cong!

Akan tetapi, ratapan ini bahkan menambah rasa sakit di hati Cui Hong, menambah kemarahannya seperti minyak bakar disiramkan pada api yang sudah menyala.

"Bangsat rendah! Lupakah kalian yang telah membunuh ayahku dan suhengku? Dan sekarang engkau minta aku mengasihani anak isterimu? bangkitlah dan lawanlah aku seperti seorang laki-laki. Engkau pengecut hina, bukan saja berwatak kejam dan jahat, akan tetapi juga pengecut tak tahu malu. Bangkitlah dan lawan aku, atau.... aku akan menyiksamu sekarang juga!"

Cai Sun adalah seorang yang amat licik dan cerdik.

Dia pun maklum bahwa tidak ada gunanya segala macam ratap tangis itu, dan dia tadi melakukannya hanya terdorong oleh rasa takutnya, juga merupakan semacam siasat karena harus mencari jalan untuk dapat menyelamatkan dirinya.

Ketika Cui Hong bicara, diam-diam tangannya merayap ke arah gagang sepasang senjatanya dan begitu Cui Hong habis bicara, tiba-tiba saja, dari keadaan berlutut, dia sudah meloncat dan menerjang dari bawah, sepasang siang-kek (tombak pendek) bercabang itu sudah menyambar dengan kecepatan kilat, yang kiri menyerang ke arah kaki, yang kanan ke arah pusar lawan!

"Mampuslah.!"

Dia membentak nyaring untuk mengejutkan lawan.

"Heiiiittt....!"

Dengan gerakan amat ringan, tubuh Cui Hong melayang ke atas belakang, lalu berjungkir balik sampai tiga kali baru turun ke atas tanah.

Akan tetapi ternyata serangan Cai Sun yang hebat tadi hanya untuk mencari kesempatan saja, karena begitu lawan meloncat untuk mengelak, dia sudah membalikkan tubuhnya dan melarikan diri!

Sesosok bayangan berkelebat melewatinya dan tahu-tahu Cui Hong telah menghadang di depannya sambil bertolak pinggang.

"Koo Cai Sun, engkau bukan saja seorang jahanam yang kejam dan jahat, akan tetapi juga pengecut dan curang!"

Di tangan Cui Hong tergenggam sebatang kayu ranting pohon dan melihat Ini, Cai Sun menjadi nekat.

Dia tidak mempunyai jalan keluar lagi.

Bagaimanapun juga, sepasang senjatanya masih berada di tangannya, sedangkan lawan hanya memegang sebatang kayu ranting.

Mustahil kalau dia sampai kalah, pikirnya, maka tanpa banyak cakap lagi dia pun lalu menerjang maju sambil menggerakkan kedua tombak pendeknya yang mengeluarkan suara berdengung dibarengi angin pukulan yang keras dan sepasang tombak pendek itu pun lenyap berubah menjadi dua gulungan sinar.

Koo Cai Sun bukan seorang lemah.

Ilmu silatnya tinggi dan dia pun sudah memiliki banyak pengalaman dalam pertempuran.

Akan tetapi bagaimanapun juga, tingkat kepandaian Cui Hong kini sudah berada di atasnya.

Ilmu silat yang dimiliki Cui Hong adalah ilmu-ilmu yang lebih tinggi daripada ilmu silat Cai Sun.

Selain itu, kalau Cui Hong tekun berlatih dan memiliki tenaga dan ketahanan yang kuat, sebaliknya Cai Sun yang setiap hari hanya suka mengejar perempuan dan bermain cinta saja menurutkan nafsu berahinya, menjadi semakin lemah tanpa disadarinya.

Tenaganya banyak berkurang, napasnya pendek dan sebentar saja bersilat, dia telah menjadi lelah.

(Lanjut ke

Jilid 10) Sakit Hati Seorang Wanita (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 Akan tetapi, karena sekali ini dia harus melindungi nyawanya, dan dia maklum bahwa musuhnya takkan mau mengampuninya, dia menjadi nekat dan melawan mati-matian.

Segala macam ilmu yang ada padanya dikeluarkannya, dan dia pun mengerahkan seluruh tenaga yang ada.

Tiba-tiba dia mengeluarkan gerengan keras dan dari tangan kakinya menyambar benda hitam ke arah perut dan dada lawan.

Melihat senjata rahasia yang dilepas dari jarak dekat dan amat berbahaya ini, Cui Hong memutar rantingnya dan belasan batang paku hitam runtuh ke atas tanah.

Melihat senjata rahasianya gagal, Cai Sun menekan gagang tombak pendeknya yang kanan dan dari gagang senjata ini pun meluncur sebatang anak panah kecil yang cepat sekali ke arah leher lawan!

Cui Hong terkejut, tidak keburu menangkis maka ia mengelak dengan tubuh dimiringkan sambil mengerahkan sinkang melindungi tubuh atas.

"Takkk!"

Anak panah yang dielakkan itu luput dari leher akan tetapi mengenai pundak gadis itu dan meleset karena pundakitu telah dilindungi sinkang.

Anak panah itu tidak melukai kulit, meleset dan hanya merobek baju di pundak saja.

Cui Hong tertawa mengejek.

"Keluarkan semua kepandaianmu, Koo Cai Sun, karena saat ini merupakan saat terakhir bagimu untuk dapat memamerkan kepandaianmu!"

Gulungan sinar yang dibentuk dari gerakan ranting itu semakin ketat mengepung Cai Sun, membuat dia menjadi semakin repot.

Bukan hanya repot menghadapi ancaman ranting yang meno-tok-notok ke arah jalah darah di tubuhnya, akan tetapi juga repot mengatur pernapasannya yang hampir putus dan mempertahankan tubuhnya yang sudah hampir kehabisan napas.

"Pertahankan dirimu baik-baik, karena sebentar lagi aku akan membuat engkau kehilangan semua kepandaianmu, kehilangan semua tenaga dan daya tarikmu, dan kemudian sekali aku akan menyiksa dan membunuh anak-anak dan isterimu setelah aku membakar habis tokomu kemarin dulu. Puaslah hatiku sekarang, hik-hik!"

Cui Hong sengaja mengeluarkan kata-kata ini untuk menyiksa hati lawan.

Dan memang kata-kata itu mendatangkan rasa takut yang lebih berat bagi Cai Sun.

Dia tahu bahwa wanita ini tidak hanya menggertak saja.

Buktinya, tokonya sudah habis menjadi abu dan kini dia semakin terdesak dan dia tahu pula bahwa dia takkan dapat bertahan terlalu lama.

Napas dan tenaganya semakin berkurang sedangkan wanita itu kelihatan semakin kuat dan semakin cepat saja.

Dan siapa yang akan melindungi isterinya dan anak-anaknya kalau wanita ini mengganggu mereka?

Dia menjadi semakin nekat dan tanpa memperdulikan keselamatan diri sendiri dia menubruk maju untuk mengadu nyawa.

Sepasang siang-kek di tangannya menyambar dari kanan kiri, atas bawah.

Namun, dengan mudah Cui Hong mengelak dengan loncatan ke belakang dan begitu kedua senjata itu menyambar, ranting di tangannya menusuk dua kali dengan kecepatan kilat.

Cai Sun mengeluarkan teriakan kaget karena kedua pergelangan tangannya seperti disengat, seketika lumpuh dan kedua senjatanya telah terlepas dari pegangan kedua tangannya.

Sambil terkekeh Cui Hong menendang dua senjata itu sampai terlempar hilang ditelan kegelapan malam.

Ternyata kelumpuhan tangan akibat totokan itu hanya sebentar saja dan Cai Sun sudah memperoleh tenaganya kembali.

Kini dia menubruk dengan dua tangan kosong yang dibuka seperti cakar harimau, menubruk dan menerkam untuk mengadu nyawa.

"Dukkk....!"

Sebuah tendangan menghantam perutnya yang gendut dan dia pun terpelanting roboh, terbanting keras.

Cai Sun meringis karena perutnya terasa mendadak mulas, nyeri sekali.

Mungkin usus buntunya yang tercium ujung sepatu Cui Hong tadi.

"Bangunlah, anjing hina! Bangunlah!"

Cui Hong menantang, ingin menikmati perkelahian itu sepuasnya, la menendang-nendang perlahan untuk membangunkan Cai Sun.

Cai Sun mengerang sambil mendekam, akan tetapi ini pun hanya siasatnya, karena tiba-tiba ia menubruk dan menangkap kaki kiri Cui Hong!

Sekali tertangkap, dia menggunakan kedua lengannya untuk merangkul kaki itu dan menggunakan seluruh tenaganya untuk menyeret gadis itu.

Hal ini sama sekali tidak pernah di sangka oleh Cui Hong sehingga ketika kakinya tertangkap, sejenak ia terkejut dan tidak mampu berbuat sesuatu dan ia pun ikut roboh ketika lawan menggunakan tenaga terakhir untuk membetotnya ke bawah.

Cai Sun mengeluarkan suara ketawa aneh dan kedua tangannya lalu menerkam, maksudnya hendak mencekik leher wanita itu yang kini sudah digumulinya.

Akan tetapi, Cui Hong sudah dapat memulihkan lagi ketenangannya dan secepat kilat, jari tangan kanannya yang terbuka menusuk ke depan.

"Hekkk....!"

Seketika Cai Sun kehilangan tenaganya dan saat itu dipergunakan oleh Cui Hong untuk meloncat bangun. Ia merasa gemas sekali. Hampir saja ia celaka oleh kecurangan Cai Sun. Kini ia harus berhati-hati.

"Bangunlah, anjing busuk, bangun dan berkelahilah!"

Bentaknya.

Hanya sebentar saja tusukan jari ke arah ulu hatinya tadi membuat Cai Sun kehilangan tenaganya.

Dia maklum bahwa dia harus berkelahi sampai napas terakhir, maka dia pun meloncat bangun dan kembali menyerang.

ilmu silat tangan kosong Thian-te Sin-kun yang menjadi andalannya, dia mainkan dengan pengerahan tenaga terakhir.

Cui Hong menyelipkan ranting tadi di ikat pinggangnya dan ia pun menyambut serangan lawan itu dengan tangan kosong saja.

Akan tetapi, kini tenaga Cai Sun sudah hampir habis, dan bukan saja tenaganya habis, juga napasnya terengah-engah, membuat gerakannya lambat dan tak bertenaga.

Tentu saja dia merupakan lawan yang terlalu lemah kini bagi Cui Hong, menghilangkan kegembiraan Cui Hong untuk berkelahi terus.

Maka gadis itu kini mencabut rantingnya.

"Anjing keparat Koo Cai Sun, sekarang rasakanlah pembalasanku!"

Bentaknya dan ranting di tangannya berkelebat ke depan dengan cepat dan amat kuatnya.

Dua kali ranting itu menyambar ke arah kedua daun telinga Cai Sun.

Bagaikan sebatang pedang saja, ranting itu membabat dan dua kali Cai Sun berteriak ketika sepasang daun telinganya terbabat buntung dan darah pun muncrat keluar dari luka di telinganya.

Dapat dibayangkan betapa nyerinya ketika Cai Sun meraba telinga dengan kedua tangan dan melihat daun telinganya sudah lenyap dan telapak tangannya penuh darah.

Dia meraung seperti seekor binatang buas, dengan nekat menubruk ke depan, akan tetapi dengan gerak langkah yang aneh, dengan mudah saja Cui Hong mengelak dan kembali ranting di tangannya menyambar.

"Crottt....!"

Cai Sun terpelanting dan meraung kesakitan, mukanya penuh berlepotan darah karena bukit hidungnya remuk dan rata dengan pipi, juga kedua bibirnya hancur dan lenyap terbabat sehingga nampak giginya yang besar-besar!

Dia bangkit dan mengeluarkan suara tidak karuan karena setelah bibirnya hilang, sukar baginya untuk bicara, apalagi hidungnya juga buntung, yang keluar hanya suara "ngak-ngeng-ngang-ngeng"

Tidak karuan. Dia menerkam lagi akan tetapi Cui Hong menendang ke arah pergelangan tangan kanannva.

"Krekkk!"

Tulang pergelangan tangan kanan itu remuk dan tangan itu pun menjadi lumpuh.

Cui Hong melanjutkan dengan sabetan ranting ke arah pundak kiri.

Kembali terdengar tulang remuk ketika ranting itu menghancurkan tulang pundaknya.

Tulang itu sama sekali hancur sehingga tidak mungkin tersambung lagi, membuat lengan kirinya bengkok dan miring.

Cai Sun kembali meraung-raung, akan tetapi suara raungannya menjadi semakin lemah, juga tubuhnya yang ber-kelojotan menjadi melemah dan akhirnya dia tidak bergerak lagi karena sudah jatuh pingsan!

Dia tidak tahu betapa Cui Hong menaburkan obat pada luka di telinga, hidung dan mulutnya.

Ia tidak ingin membunuh musuhnya, dan kalau darah dibiarkan terlalu banyak keluar, mungkin saja Cai Sun tewas karena kehabisan darah.

Obat bubukitu seketika mengeringkan luka, membuat bekas luka menghitam dan seperti terbakar, akan tetapi darah tidak keluar lagi.

Sejak tadi, Pui Ki Cong menyaksikan semua itu dan melihat betapa Cai Sun disiksa, beberapa kali dia memejamkan mata dan hampir jatuh pingsan saking ngerinya.

Dia mulai merasa menyesal bukan main.

Terbayanglah di pelupuk matanya ketika dia mengeram Cui Hong selama tiga malam di kamarnya, mempermainkan gadis itu, memperkosanya sampai sepuas hatinya, sampai dia menjadi bosan!

Teringat akan itu, dan melihat betapa gadis itu kini menyiksa Cai Sun, teringat pula akan keadaan Louw Ti, Ki Cong menjadi ketakutan setengah mati dan tanpa disadarinya, dia telah terkencing-kencing dan terberak-berak di dalam celananya!

Tidak lama Cai Sun pingsan.

Dia siuman akan tetapi begitu sadar, dia menjerit-jerit dan meraung-raung kembali.

Mungkin rasa nyeri yang luar biasa itulah yang membuat dia siuman.

Ketika dia memandang dengan matanya yang sudah nanar karena kemasukan darahnya sendiri, dia melihat betapa kedua ujung kakinya terbakar!

Kiranya, Cui Hong telah menyiram kedua ujung kaki itu dengan minyak dan membakarnya!

Sia-sia saja Cai Sun menendang-nendangkan kedua kakinya untuk memadamkan api dan akhirnya, dengan teriakan yang menyayat perasaan dia jatuh pingsan lagi!

Api baru padam setelah minyak pada kakinya habis terbakar, membuat ujung kedua kaki itu melepuh, jari-jari kakinya hangus terbakar.

Kini Cui Hong merasa puas dan menghampiri Ki Cong, membebaskan totokannya dan melepaskan borgol kedua tangannya.

Begitu bebas, Pui Ki Cong lalu menjatuhkan diri berlutut sambil menangis.

"Nona, ampunkan saya.... ah, kau ambillah seluruh harta kekayaan saya.... akan tetapi ampunkan saya, Nona"

Ratapnya sambil menangis sesenggukan.

"Bangsat Pui Ki Cong yang biadab! Coba ingat kembali betapa engkau menyuruh bunuh Ayah dan Suhengku, dan lupakah engkau akan apa yang kaulakukan terhadap tubuhku ini selama tiga hari t iga malam?"

"Ampun.... saya mengaku salah, ampun...."

Ki Cong meratap.

Dia takut sekali, dan tidak seperti Cai Sun tadi, dia sama sekali tidak mempunyai niat untuk melawan, karena apakah yang akan dapat dia lakukan terhadap wanita yang amat lihai ini?

Cai Sun saja tidak mampu berbuat banyak, apalagi dia yang hampir tak pandai ilmu silat sama sekali!

"Engkau masih dapat minta ampun kepadaku?

Hemm, Pui Ki Cong, selama bertahun-tahun aku mendendam dan aku bersumpah bahwa aku akan membalas dendam semua perbuatanmu kepadaku tujuh tahun yang lalu!

Seluruh sisa hidupku kutujukan untuk pembalasan dendam ini dan engkau minta ampun?

Jangan harap!"

Kini Cui Hong mencabut ranting dari ikat pinggangnya.

"Aku akan menyiksamu sampai engkau menjadi manusia bukan setan pun bukan, aku akan menghabiskan seluruh hartamu dan membunuh seluruh keluargamu!"

Tentu saja ini hanya merupakan ancaman-ancaman untuk menyiksa batin Ki Cong.

"Lakukanlah semua itu, akan tetapi ampunkan saya, Nona."

"Apa? Engkau membiarkan aku menghabiskan hartamu dan membunuh seluruh keluargamu asal engkau diampuni?"

"Benar, Nona. Lakukanlah segalanya, akan tetapi ampunkan aku...."

"Jahanam! Benar-benar seorang pengecut dan iblis berhati kejam!"

Bentak Cui Hong yang tadinya merasa heran mendengar ada orang mau mengorbankan anakisteri dan hartanya asal dirinya se lamat!

Dari sikap ini saja dapat dilihat betapa rendahnya martabat manusia bernama Pui Ki Cong ini.

"Sikapmu ini mendorongku untuk segera turun tangan karena manusia macammu ini pantas sekali dihajar!"

Ranting di tangannya menyambar-nyambar, terdengar bunyi ranting itu bercuitan dan meledak-ledak di atas tubuh Ki Cong yang meraung-raung kesakitan.

Cui Hong menyalurkan seluruh dendamnya melalui cambukan-cambukan itu, akan tetapi ia masih ingat untuk menyimpan tenaganya agar tidak memukul terlalu keras dan membunuh orang itu.

Ia terus mencambuki seluruh tubuh Ki Cong sampai pakaiannya hancur semua, sampai kulit tubuhnya pecah-pecah dan penuh darah, la memukul terus sedangkan tubuh Ki Cong berkelojotan di atas tanah, dan ketika memukul kedua lengan dan kaki, Cui Hong menambah tenaganya sehingga tulang-tulang dari siku ke bawah dan dari lutut ke bawah remuk-remuk semua!

Ki Cong tidak mampu meraung lagi, hanya mer intih dan menggeliat, hampir tak mampu bergerak lagi.

Ketika ranting itu menghujani mukanya, muka itu menjadi hancur kulitnya, kedua biji matanya keluar, hidung dan bibirnya hancur, juga kedua daun telinganya putus.

Keadaannya lebih mengerikan daripada keadaan Cai Sun karena dia kehilangan kedua matanya!

Menjelang pagi, Cui Hong menyeret dua tubuh yang empas-empis itu, yang sudah tidak mengeluarkan darah lagi karena dibubuhi obat bubuk, dua tubuh yang pingsan, menuju ke kota raja.

Dengan kepandaiannya, ia dapat membawa mereka melompati pagar tembok dan menggantung kedua tubuh itu dengan kepala di bawah kaki di atas, tepat di depan pintu gerbang keluarga Pui!

Pagi hari itu, gegerlah kota raja.

Semakin banyak saja orang berlarian mendatangi rumah gedung keluarga Pui dan mereka berkumpul di depan pintu gerbang yang menjadi ramai seperti pasar.

Pemandangan di situ sungguh mengerikan semua orang.

Dua tubuh itu digantung terbalik, dalam keadaan pingsan dan kalau siuman hanya dapat mer intih lirih lalu pingsan lagi.

Karena tadinya orang sukar mengenali dua tubuh itu, maka para penjaga dan pelayan di gedung itu merasa ragu-ragu untuk menurunkan mereka.

Yang membuat orang merasa ngeri adalah melihat wajah dua orang itu.

Sudah hancur penuh darah dan sukar dikenali lagi.

Hidung, telinga dan bibir mereka hilang, nampak lubang hidung dan gigi mereka, apalagi yang seorang memiliki sepasang kaki yang hangus dan melepuh bekas terbakar.

Yang seorang lagi, tidak ada bagian tubuhnya yang tidak berdarah, seolah-olah dia telah dikuliti.

Kulit tubuhnya masih ada, akan tetapi sudah hancur dan penuh darah!

Baru setelah Cia Kok Han dan Su Lok Bu datang ber larian, semua orang tahu bahwa dua tubuh itu adalah tubuh Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun!

Tentu saja dua tubuh itu segera diturunkan dan dirawat.

Memang nyawa mereka tertolong, akan tetapi tubuh mereka tidak mungkin tertolong lagi.

Tubuh itu telah menjadi penuh cacat, menjadi tubuh yang menakutkan.

Tanpa hidung tanpa bibir tanpa daun telinga, dengan kaki dan tangan lumpuh bengkok-bengkok, bahkan Pui Ki Cong kini menjadi buta!

Sungguh, hukuman yang dijatuhkan Cui Hong kepada musuh-musuhnya terlalu kejam dan sadis, membuat mereka nampak seperti bukan manusia lagi, seperti gambaran iblis-iblis yang amat menakutkan dan menyeramkan.

Yang menggegerkan mereka yang menonton, kecuali keadaan dua orang yang amat mengerikan itu, juga sehelai kain putih yang ditulis dengan huruf-huruf besar, tintanya merah karena yang dipergunakan adalah darah korban-korban itu .

MEWAKILI PARA WANITA YANG MEREKA PERKOSA DAN ORANG-ORANG TAK BERDOSA YANG MEREKA BUNUH.

Gegerlah penduduk kota raja, akan tetapi banyak di antara mereka yang ikut merasa puas karena Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun sudah terkenal sebagai pengganggu para wanita cantik, baik wanita itu isteri orang lain, atau janda, ataukah masih perawan.

Dan banyak pula orang yang tewas di tangan mereka tanpa berani menuntut balas.

Akan tetapi banyak pula yang merasa penasaran karena kedua orang itu pandai menutupi kejahatan mereka dengan sikap dermawan, menggunakan uang mereka yang kelebihan.

Mereka yang pernah ditolong tentu saja merasa penasaran dan menyesal melihat betapa dermawan penolong mereka mengalami nasib yang demikian mengerikan.

Ketika banyak orang berkerumun dan tubuh manusia setengah mati yang tergantung terbalik itu, terdapat pula seorang tosu yang menonton sambil menangis!

Dia hendak menyembunyikan dan menahan tangisnya, tidak mengeluarkan bunyi, akan tetapi kedua matanya bercucuran air mata.

Ketika dua tubuh itu diturunkan oleh Cia Kok Han dan Su Lok Bu, ditangisi oleh keluarga Ki Cong dan Cai Sun, dibantu oleh anak buah pasukan pengawal tosu iu menyelinap pergi di antara para penonton yang berjubel di tempat itu.

Dia seorang tosu yang usianya belum begitu tua, di bawah lima puluh tahun akan tetapi wajahnya yang penuh kerut merut tanda penderitaan batin itu membuat wajahnya nampak lebih tua.

Pakaiannya sederhana sekali, berwarna kuning yang agak luntur dan kumal.

Tosu ini bermata tajam, akan tetapi matanya membayangkan kedukaan besar, apalagi setelah tadi dia melihat dua orang yang keadaannya amat mengerikan itu.

"Siancai....! Kekuasaan alam tak mungkin diingkari manusia. Tangan kanan menanam tangan kiri menuai, itu sudah adil namanya. Semoga aku t idak akan menyeleweng daripada Jalan Kebenaran, siancai, siancai!"

Berkali-kali tosu itu bicara kepada diri sendiri, menarik napas panjang dan berkali-kali menggeleng kepala seperti hendak mengusir penglihatan yang tidak menyedapkan hatinya.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa sejak di tempat keramaian tadi, ada seorang laki-laki muda yang memperhatikannya, bahkan ketika dia meninggalkan depan gedung keluarga Pui, laki-laki muda itu membayanginya dari jauh.

Tosu itu berjalan terus, seperti orang kehilangan semangatnya, seperti orang melamun, keluar dari pintu gerbang kota sebelah barat, dan terus berjalan dengan wajah penuh duka.

Laki-laki muda itu tetap membayanginya dari jauh.

Setelah meninggalkan kota sejauh kurang lebih lima belas Li, barulah tosu itu berhenti dan masuk ke dalam sebuah kuil yang tua dan sunyi menyendiri, di tepi jalan simpangan yang kecil, di luar sebuah dusun kecil tempat tinggal para petani.

Dan begitu dia memasuki kuil itu, sampai di ruangan dalam, tosu itu pun menjatuhkan diri berlutut dan menangis dengan suara terisak-isak seperti anak kecil!

Kemudian terdengar dia mengeluh dengan suara yang cukup keras, karena dia yakin bahwa di tempat itu tidak ada orang lain kecuali dia sendiri.

"Nah, menangislah, Gan Tek Un! Sesalilah semua perbuatanmu yang terkutuk dan bertaubatlah, camkanlah bahwa semua perbuatan jahat akhirnya akan mendatangkan malapetaka yang lebih hebat, yang akan menimpa diri sendiri. Buah dari pohon yang kautanam akan kaumakan sendiri...!"

Dan dia pun menangis sambil menutupi muka dengan kedua tangan, teisak-isak dan kedua pundaknya terguncang.

Tiba-tiba dia menghentikan tangisnya.

Ada suara kaki orang tertangkap oleh pendengarannya yang tajam.

Dia bangkit berdiri dan membalikkan tubuh setelah cepat-cepat menghapus air matanya dan dia berhadapan dengan seorang laki-laki muda yang tidak dikenalnya.

Tosu itu mengerutkan alisnya dan memandang penuh selidik.

Kemunculan laki-laki ini yang secara tiba-tiba mendatangkan kecurigaan.

Seorang laki-laki berusia t iga puluh tahun, pakaiannya seperti seorang petani, dari kain kuning yang kasar, rambutnya digelung ke atas dengan pita biru, tubuhnya sedang dengan dada yang bidang.

Dia tidak mengenal pemuda ini dan jelas dia bukan seorang pemuda dusun dekat kuil itu.

Akan tetapi, sudah menjadi kebiasaan tosu itu untuk menyambut siapa pun dengan ramah dan sopan, walaupun kedatangan pemuda ini kurang sopan, tahu-tahu langsung saja masuk ke ruangan dalam.

Tosu itu menjura dengan sikap hormat.

"Selamat datang di kuil pinto yang sederhana inij orang muda. Tidak tahu apakah yang dapat pinto lakukan untukmu? Mari, silakan duduk di ruangan depan, di mana ada bangku dan kita boleh bercakap-cakap dengan enak. Apakah ada yang sakit dan membutuhkan obat? Atau engkau datang untuk bersembahyang?"

Akan tetapi orang muda itu membalas penghormatan tosu itu, kemudian memandang tajam penuh selidik dan akhirnya dia berkata.

"Paman Gan Tek Un, apakah Paman tidak ingat lagi kepada saya?"

Tosu itu nampak kaget sekali mendengar ada orang memanggil namanya, nama yang selama beberapa tahun ini tidak pernah dipergunakannya.

Kini dia lebih dikenal dengan sebutan Gan Tosu.

Dia memandang dengan alis berkerut dan penuh perhatian, mengingat-ingat siapa gerangan orang muda ini, akan tetapi tetap saja dia tidak mampu mengenalnya.

"Orang muda, pinto adalah Gan Tosu, dan pinto merasa tidak pernah bertemu atau berkenalan denganmu. Siapakah engkau, datang dari mana dan ada keperluan apakah?"

Akhirnya dia berkata dengan heran. Pemuda itu tersenyum.

"Paman Gan Tek Un, saya adalah Tan Siong, keponakan Paman sendiri."

Tosu itu terbelalak, pandang matanya menatap wajah Tan Siong penuh selidik dan akhirnya dia teringat.

Kurang lebih dua puluh tahun, seorang anak laki-laki yang bernama Tan Siong, keponakannya, putera encinya yang pada waktu itu baru berusia sepuluh tahun, telah pergi dibawa oleh seorang tosu!

Dan teringatlah dia akan semua perbuatannya.

"Siancai.... siancai. siancai....!"

Dia menengadah dan mengangkat kedua tangan ke atas.

"Betapa cepatnya dan tidak terduganya datangnya hukuman bagi seseorang!"

Lalu dia memandang kepada Tan Siong.

"Tan Siong, sekarang pinto teringat, engkau memang keponakanku, putera dari mendiang Enciku. Ahh, engkau baru datang, Tan Siong? Nah, inilah pinto, orang yang penuh dosa. Kalau engkau datang untuk menghukumku, lakukanlah, pinto siap untuk menebus dosa-dosa pinto terhadap orang tuamu, Tan Siong!"

Dan tosu itu lalu menjatuhkan diri berlutut, kedua lengan bersilang di depan dada, kepalanya menunduk dengan sikap pasrah!

Sejak tadi Tan Siong sudah membayangi tosu ini.

Dia tadi ikut pula tertarik oleh keributan orang-orang yang mengabarkan bahwa di depan pintu gerbang keluarga Pui terdapat dua orang yang digantung dalam keadaan luka-luka parah.

Ketika dia berdesakan dengan banyak orang untuk menonton, dia segera mengenal Cai Sun, dan orang ke dua yang digantung itu walaupun tidak dikenalnya, akan tetapi di antara orang banyak ada yang mengatakan bahwa dia adalah Pui Ki Cong, majikan gedung besar itu.

Dan melihat tulisan di atas kain putih, tulisan dengan darah itu, jantung Tan Siong berdebar penuh ketegangan.

Kim Cui Hong!

Siapa lagi kalau bukan Kim Cui Hong yang dapat melakukan hal itu?

Ah, kini baru dia sadar.

Kiranya Cai Sun merupakan seorang di antara empat orang musuh besar Cui Hong, empat orang yang pernah merusak kehidupan Cui Hong dengan perbuatan mereka yang keji, yaitu memperkosa dan menghinanya.

Tahulah dia kini mengapa Cui Hong berada di kota raja dan menyamar sebagai Ok Cin Hwa.

Kiranya sedang melakukan penyelidikan dan.

sedang berusaha membalas dendam dan kini, melihat cara wanita itu membalas dendam, dia bergidik.

Keterlaluan!

Wanita itu harus dicegah melanjutkan usahanya yang kejam.

Tidak, dia tidak akan membiarkan wanita yang sampai kini masih dicintanya itu menjadi tersesat seperti itu.

Dalam dendamnya berubah menjadi iblis yang luar biasa kejamnya.

Bergidik dia melihat keadaan dua orang itu.

Dia tahu bahwa biarpun mereka berdua itu dapat tertolong nyawanya karena tidak menderita luka yang parah, hanya luka-luka di kulit saja, namun mereka akan menjadi seorang penderita cacat yang mengerikan keadaannya.

Dengan muka yang rusak dan menjadi buruk dan menakutkan sekali, tanpa telinga, tanpa hidung dan bibir, dan dengan kaki tangan tidak normal.

Betapa mengerikan!

Dan pada saat itu Tan Siong melihat sesuatu yang amat menarik hatinya.

Seorang tosu yang mengis melihat keadaan dua orang itu, walaupun tangisnya itu ditahan dan hendakdisembunyikan.

Dan selain keadaan yang aneh ini, juga diatertarik kepada tosu itu.

Ada sesuatu yang menarik hatinya.

Dia seperti sudah mengenal wajah itu.

Maka ketika tosu itu pergi, dari jauh Tan Siohg membayanginya dan setelah tosu itu keluar dari pintu gerbang kota, dia pun teringat.

Wajah itu seperti wajah ibunya!

Wajah itu adalah wajah pamannya yang sedang dicarinya selama ini!

Dan ternyata benar!

Ketika dia mengintai tosu yang sedang menangis di dalam kuil, dia mendengar keluhan tosu itu yang menyebutkan namanya sendiri, yaitu Gan Tek Un.

Maka dia pun lalu menjumpainya dan tak disangkanya bahwa pamannya yang kini telah menjadi tosu itu telah berubah pula.

Kini bukan seorang yang ganas, melainkan seorang tosu yang berbudi lembut, yang siap menerima hukuman dan mengakui dosanya terhadap ayah dan ibunya.

Akan tetapi dia tidak mendendam.

Dia sudah mendengar dan tahu semuanya.

Pamannya ini sejak dahulu memang seorang yang tergolong jahat, suka melakukan apa saja yang kurang patut dan mengandalkan kepandaiannya untuk melakukan kejahatan dan penindasan.

Dia tahu pula bahwa pamannya ini telah menipu kedua orang tuanya sehingga harta kekayaan orang tuanya yang tidak seberapa, termasuk rumahnya, terjatuh ke tangan Gan Tek Un dan setelah harta bendanya habis, kedua orang tuanya terlunta-lunta meninggalkan dusun dan kabarnya telah meninggal dunia, entah di mana.

Dia mencari pamannya bukan untuk membalas dendam, bukan menuntut kembalinya harta kekayaan orang tuanya, melainkan untuk bertanya di mana adanya orang tuanya, dan kalau mereka sudah meninggal, di mana kuburnya.

Sejenak Tan Siong menunduk, melihat kepala tosu itu yang berlutut didepannya.

Dia lalu ikut berlutut menghadapi tosu itu.

"Paman, jangan begitu. Aku datang mencari Paman, sama sekali bukan untuk membalas dendam karena tidak ada dendam di dalam hatiku...."

"Karena engkau belum tahu apa yang telah kulakukan terhadap Ayah Ibumu."

"Sudah, Paman. Aku mendengar bahwa Paman telah menipu mereka dan menguasai harta kekayaan mereka, membuat mereka menjadi orang miskin yang hidup terlunta-lunta dan terlantar, sehingga mereka akhirnya meninggal dunia dalam keadaan miskin."

"Benar sekali! Akulah yang membuat mereka menjadi miskin, menjadi sengsara sampai mereka meninggal dunia dalam keadaan orang terlantar. Dan engkau mau bilang bahwa engkau tidak mendendam kepada Pinto?"

"Tidak sama sekali, Paman."

"Kalau begitu engkau tentu pengecut, penakut sekali! Engkau mengerti bahwa pinto lihai maka engkau tidak berani mendendam! Jangan khawatir, kau pukulilah aku, kau bunuhlah aku, dan aku takkan melawan. Pinto siap menebus dosa, anakku!"

Kata pula tosu itu dengan suara sedih.

"Paman salah sangka. Biarpun belum tentu aku dapat mengalahkanmu, akan tetapi sedikitnya aku pernah mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi di Kun lun-san. Paman lihat, apakah dengan tangan sekuat ini aku harus takut menghadapi Paman? Aku sama sekali tidak takut."

Dan Tan Siong lalu menggunakan jari-jari tangannya menusuk lantai yang terbuat dari batu. Nampak jelas bekas jar i-jari tangannya menusuk lantai itu! Diam-diam tosu itu terkejut bukan main.

"Engkau telah menjadi seorang yang lihai! Akan tetapi kenapa... kenapa engkau tidak mendendam walaupun sudah tahu bahwa aku penyebab kesengsaraan, bahkan mungkin penyebab kematian orang tuamu?"

Tan Siong memegang kedua pundak orang tua itu.

"Marilah bangun dan mari kita duduk dan bercakap-cakap dengan baik, Paman."

"Siancai... siancai.... siancai....! Tak pinto sangka sama sekali bahwa sikapmu akan begini tehadap pinto. Aihhh.... keponakanku yang gagah dan bijaksana, tahukah engkau bahwa sikapmu ini bukan main menyiksa hatiku, lebih menyakit kan daripada kalau engkau menyerang dan memukuhku? Ah, penyesalan dalam hatiku semakin bertambah berat dengan sikapmu ini...."

Dan tosu itu menggunakan ujung lengan bajunya menghapus air matanya.

"Makin terasa kini oleh pinto betapa dahulu pinto menjadi seorang yang sejahat-jahatnya...., dan hati pinto takkan pernah tenteram sebelum datang hukuman bagi pinto."

"Mari kita duduk, Paman,"

Kata Tan Siong, membimbing tosu yang kelihatan lemas itu untuk sama-sama duduk berhadapan di atas bangku di dalam ruangan itu.

Setelah mereka duduk berhadapan dan saling berpandangan beberapa lamanya.

tosu itu kembali bertanya dengan suara heran dan penasaran.

"Tan Siong, pinto lihat bahwa engkau telah menjadi seorang laki-laki dewasa yang berilmu tinggi. Melihat caramu menusuk lantai dengan jari tangan itu, pinto dapat menduga bahwa engkau telah memiliki sin-kang yang amat kuat dan agaknya tingkat kepandaianmu sudah melampaui tingkat pinto. Mengapa engkau tidak turun tangan membalas kejahatan yang telah pinto lakukan terhadap orang tuamu?"

"Paman, segala peristiwa yang menimpa diri manusia, walaupun diakibatkan oleh ulah manusia sendiri, namun segalanya telah ditentukan oleh Thian. Kematian orang tuaku tentu sudah menjadi kehendak Thian pula, dan perbuatan Paman yang Paman lakukan dahulu itu hanya menjadi satu di antara sebab saja."

"Ya, Tuhan.... kenapa engkau yang masih begini muda dapat memiliki kebijaksanaan yang demikian tinggi, sedangkan pinto.... ah, pinto bergelimang dengan kejahatan."

Tosu itu nampak sedih sekali.

"Sudahlah, Paman. Betapapun juga, melihat betapa Paman kini telah menjadi seorang tosu yang penuh dengan penyesalan, melihat Paman telah bertobat, maka hal itu sudah merupakan satu kenyataan yang baik sekali. Lebih baik menjadi seorang yang sadar dan bertobat akan kejahatannya yang lalu, daripada seorang yang merasa dirinya paling bersih sehingga menjadi t inggi hati dan sombong. Yang pertama itu, bagaikan orang sakit telah sembuh dari sakitnya, sedangkan yang ke dua adalah orang yang jumawa dan sembrono sehingga mudah sekali dihinggapi penyakit. Aku mencari Paman bukan untuk menuntut sesuatu, hanya ingin mohonpertolongan Paman agar suka memberi tahu kepadaku, di mana adanya Ayah Ibuku, atau lebih tepat, di mana kuburan mereka karena aku ingin mengunjungi makam mereka."

Tosu itu bangkit dan merangkul keponakannya sambil menangis.

"Ah, agaknya bukan hanya ilmu silat tinggi yang pernah kau pelajari di Kun-lun-san, akan tetapi para tosu yang bijaksana dari Kun lun-pai telah mengisi batinmu dengan kebajikan-kebajikan yang tinggi pula. Ayah Ibumu meninggal secara wajar, yaitu karena penyakit dan karena berduka, dan mereka dimakamkan dengan sederhana oleh para penduduk dusun, di dusun Hek-kee-cun di sebelah selatan kota. Namun".."

Girang sekali rasa hati Tan Siong setelah dia mengetahui di mana adanya makam orang tuanya.

Dan dia pun merasa kasihan kepada pamannya.

Jelaslah bahwa pamannya ini sekarang telah terhukum di dalam hatinya, menyesali semua perbuatannya yang telah lalu.

Tidak ada hukuman yang lebih berat menjadi der ita batin daripada derita yang timbul karena penyesalan yang tak kunjung padam.

Dia dapat menduga bahwa tentu banyak kejahatan dilakukan pamannya ini di waktu muda, karena kalau hanya kejahatan menipu untuk menguasai harta benda ayah ibunya yang tidak berapa banyakitu saja, kiranya tidak seperti ini keadaannya.

Apalagi pamannya sampai menangis ketika melihat orang tersiksa di pintu gerbang rumah gedung keluarga Pui.

Tentu pamannya ini dahulunya menjadi seorang penjahat besar.

Akan tetapi, dia ikut merasa lega dan girang bahwa adik kandung ibunya ini sekarang telah sadar dan bertobat dan untuk menghibur hati orang tua, dia tidak tergesa-gesa me-ninggalkan pamannya dan tidak menolak ketika pamannya mengajaknya makan siang.

Bahkan pamannya minta kepadanya untuk tinggal di kuil itu menemaninya selama beberapa hari.

"Selama ini kau mengira bahwa aku hidup seorang diri saja tanpa sanak keluarga di dunia ini, dan tiba-tiba engkau, keponakanku satu-satunya muncul dalam keadaan yang begini mengagumkan. Temani lah pinto selama beberapa hari untuk melepas kerinduanku, Tan Siong."

"Maaf, Paman. Aku harus cepat pergi mencari makam orang tuaku, maka sore nanti, atau paling lambat besok pagi aku harus pergi meninggalkan Paman."

Paman dan keponakan itu lalu bercakap-cakap dan dengan penuh perhatian dan girang dan bangga, Gan Tosu mendengarkan cerita keponakannya tentang masa belajarnya di Kun-lun-san.

Bahkan untuk menyenangkan hati pamannya, ketika diminta, Tan Siong lalu mainkan beberapa jurus ilmu silat Kun-lun-pai, baik dengan tangan kosong maupun dengan pedang tipisnya.

Gan Tosu menonton demonstrasi itu dengan hati penuh kagum karena baru melihat keponakannya bersilat saja, dia pun tahu bahwa dia tidak akan mampu menandingi kehebatan keponakannya!

"Hebat, hebat...!"

Serunya dengan girang.

"Ilmu silatmu demikian indah dan mengandung kekuatan dahsyat."

"Ah, Paman terlalu memuji. Aku masih mengharapkan petunjuk dari Paman."

"Pinto tidak sekedar memuji, Tan Siong. Tingkat ilmu silatmu sudah jauh lebih tinggi daripada tingkat pinto. Akan tetapi, sebaiknya kalau ilmu sepasang pedang pinto, yaitu Siang-liong-kiam (Pedang Sepasang Naga) kau pelajari dan biarlah kuturunkan kepadamu. Nah, lihatlah pinto mainkan ilmu itu perhatikan baik-baik."

Tosu itu kini bergembira dan agaknya sudah mulai melupakan kesedihannya karena penyesalan itu.

Dia mengeluarkan sepasang pedang hitam putih dan bersilat pedang.

Memang inilah ilmu silat andalannya dan sepasang pedang itu membentuk dua gulungan sinar hitam putih yang saling bantu dan saling melindungi, merupakan ilmu pedang pasangan yang tangguh.

Girang sekali rasa hati Tan Siong dan setelah pamannya berhenti bersilat, pamannya lalu menyerahkan sebuah kitab.

"Ilmu pedang Siang-liong-kiam itu sudah pinto catat dalam kitab ini. Pelajarilah dan kau terimalah sepasang pedang ini, Tan Siong."

"Akan tetapi, Paman. Sepasang pedang ini adalah pedang pusaka milik Paman, masih Paman perlukan untuk pelindung diri."

Tosu itu menarik napas panjang.

"Terimalah, baru akan puas hati pinto kalau pedang-pedang ini berada di tangan seorang bijaksana dan gagah seperti engkau."

Dia memaksa dan akhirnya Tan Siong menerimanya.

"Di tangan pinto, sepasang pedang ini dahulu hanya membuat dosa. Biarlah mereka pun menebus dosa-dosa mereka dengan perbuatan baik, menentang kejahatan di tangan seorang pendekar seperti engkau. Pinto sekarang tidak membutuhkan perlindungan pedang, tidak membutuhkan kekerasan lagi. Ancaman kematian akan pinto hadapi dengan tenang dan ikhlas."

Pada saat itu terdengar suara orang dari luar kuil, suara yang halus, suara wanita.

"Gan Tek Un, keluarlah dari kuil, aku ingin bicara denganmu!"

Gan Tojin terkejut dan wajahnya berubah puoat ketika ia mendengar suara itu. Tan Siong mengerutkan alisnya dan bangkit berdiri. Akan tetapi pamannya sudah mendahuluinya.

"Tan Siong, kuminta dengan sangat kepadamu agar engkau berdiam saja di sini dan jangan mencampuri urusan di luar kuil. Ini adalah urusan pribadi pinto sendiri. Duduklah saja dan kau tunggu di sini."

Tan Siong mengangguk dan mengerutkan alisnya.

Hatinya merasa kecewa.

Tadi dia melihat pamannya sudah bertobat Ia dan bahkan sudah menjadi seorang tosu.

Akan tetapi bagaimana sekarang muncul seorang wanita dalam kehidupan pamannya sebagai tosu?

Apakah pamannya hanya pura-pura saja menjadi tosu untuk menutupi semua perbuatannya?

Dan pamannya jelas memesan agar dia tidak mencampuri karenaurusan dengan wanita itu adalah urusan pribadi!

Kekecewaanmembuat hatinya merasa penasaran dan marah.

Sebaiknya dia cepat meninggalkan pamannya ini, yang memiliki kepribadian yang tidak meyakinkah.

Dia lalu menyambar buntalan pakaiannya dan biarpun agak meragu, terpaksa dia menyimpan pula sepasang pedang dan kitab pemberian pamannya.

Keadaan pamannya membuat kegembiraan untuk mempelajari ilmu sepasang pedang itu menjadi kendur.

Akan tetapi, baru saja dia bangkit dan hendak pergi, tiba-tiba dia mendengar suara wanita yang tadi lantang memaki-maki!

Cepat dia berjalan berindap dan biarpun pamannya sudah memesan, dia kini menuju ke luar dan mengintai ke luar dari balik jendela depan.

Siapakah wanita yang memanggil Gan Tosu dengan nama aselinya itu?

Baru mendengar suaranya saja, Gan Tosu sudah dapat menduga siapa yang memanggil, dan dengan muka pucat dia pun keluar.

Di luar kuil, berdiri di pekarangan sambil bertolak pinggang, Cui Hong telah menantinya.

Ya, wanita itu adalah Kim Cui Hong!

Ketika ia menyeret tubuh Koo Cai Sun dan Pui Ki Cong keluar dari dalam pondok kecil dan memasuki hutan, ia telah berhasil memaksa kedua orang tua itu untuk mengaku di mana adanya musuhnya yang terakhir, yaitu Gan Tek Un.

Dari kedua orang tawanannya yang sudah ketakutan setengah mati itu, ia mendengar bahwa Gan Tek Un kini telah menjadi seorang tosu bernama Gan Tosu, tinggal di sebuah kuil tua di sebelah barat kota raja, kurang lebih belasan mil dari kota raja.

Maka, setelah ia menyiksa kedua orang musuhnya dan menggantung tubuh mereka di depan pintu gerbang rumah gedung keluarga Pui, Cui Hong lalu beristirahat di tempat persembunyiannya.

Hatinya terasa puas dan ia dapat tidur nyenyak setelah semalam suntuk tidak tidur dan tubuhnya letih sekali.

Setelah tidur sampai sore, barulah ia meninggalkan tempat persembunyiannya dan dengan pucat ia pergi mencari musuhnya yang terakhir, yaitu Gan Tek Un.

Sejak melihat tubuh Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun tergantung di depan gedung keluarga Pui, dan pernah pula dia bertemu dengan Louw Ti yang telah menjadi manusia cacat, tahulah Gan Tosu bahwa cepat atau lambat, gadis she Kim puteri guru silat Kim itu tentu akan menemukan dirinya.

Dia merasa menyesal sekali dan merasa bahwa dia telah melakukan perbuatan yang amat keji terhadap gadis itu.

Maka dia pun sudah siap untuk menerima hukuman untuk menebus dosanya.

Maka, begitu dia mendengar seruan wanita yang memanggilnya, dia pun dapat menduga bahwa tentu gadis itu pula yang kini datang mencarinya.

Dia lalu memesan kepada Tan Siong agar tidak mencampuri, kemudian dengan muka pucat dan hati tenang dia pun berlari keluar.

Melihat wanita cantik dan gagah yang kini berdiri bertolak pinggang di pekarangan kuil, Gan Tosu segera teringat akan gadis remaja yang pernah diperkosanya bersama Koo Cai Sun dan Louw Ti, setelah Pui Ki Cong yang mempermainkan gadis itu selama tiga hari merasa bosan dan menyerahkan gadis itu kepada mereka bertiga.

Teringat dia betapa dia pun ikut pula memperkosa dan menghina gadis itu.

Mukanya yang tadinya pucat, kini berubah menjadi merah sekali.

Dia merasa menyesal dan juga malu mengingat akan kejahatan itu.

Tergopoh dia menghampiri gadis itu dan menjura.

"Nona baru datang? Pinto memang sudah mengharapkan kedatanganmu,"

Katanya dengan sikap tenang.

Setelah kini berhadapan dengan orang yang hendak membalas dendam kepadanya, tosu ini bersikap tenang dan pasrah, bahkan dia membayangkan betapa sebentar lagi dia akan dapat menebus dosanya yang amat keji terhadap wanita ini, beberapa tahun yang lalu ketika wanita ini masih seorang gadis remaja.

Cui Hong memandang dengan sinar mata mencorong dan ia mengerutkan alisnya.

"Hemni, Gan Tek Un, engkau masih mengenalku? Bagus sekali kalau begitu! Biarpun berganti baju domba atau kelenci, seekor serigala tetap serigala. Biarpun engkau sudah berganti pakaian menjadi tosu, bagiku engkau tetap saja Gan Tek Un si jahanam keparat yang lebih jahat dari iblis sendiri. Gan Tek Un, apakah engkau masih ingat kepada semua perbuatan yang pernah kaulakukan terhadap diriku?"

"Tentu saja pinto ingat semuanya, Nona, dan karena itulah pinto menanti kedatanganmu agar pinto dapat membayar hutang dan melunasi dosa pinto yang amat besar itu dengan hukuman yang akan nona jatuhkan kepada pinto."

Melihat sikap yang pasrah ini, kata-kata yang lembut dan penuh penyesalan, hati Cui Hong agak kecewa, la ingin melihat lawan atau musuh terakhir ini juga masih dalam keadaan jahat dan pongah seperti tiga orang musuhnya yang telah dihukumnya, agar hatinya menjadi puas dalam pembalasan dendamnya, karena di samping membalas dendam pribadi, juga berarti ia telah menyingkirkan seorang manusia berwatakiblis dari dunia ramai, membuat si jahat itu tidak akan mampu berbuat jahat lagi.

"Gan Tek Un pendeta palsu banyak cakap, keluarkan sepasang pedangmu dan mari kita bertanding sampai seorang di antara kita menggeletak di sini!"

Tantangnya, tangannya hanya memegang sebatang kayu ranting pohon sebesar pergelangan tangannya.

"Nona Kim Cui Hong, sudah pinto katakan bahwa pinto memang menanti datangnya hukuman atas dosa pinto terhadap Nona. Pinto tidak akan melawan, juga tidak akan minta ampun. Nah, pinto sudah siap. Jatuhkanlah hukuman apa saja yang Nona kehendaki atas diri pinto. Pinto tidak akan melawan!"

Berkata demikian, tosu itu lalu menjatuhkan diri berlutut, bersedakap dan memejamkan mata, dengan tubuh dan kepala tegak, siap menanti siksaan yang bagaimanapun tanpa melawan atau mengeluh.

Dia memusatkan seluruh perhatian kepada keyakinan bahwa dia sedang menebus dosa dengan hati iklas.

Melihat sikap musuhnya itu, Cui Hong mengerutkan alisnya dan sejenakia termangu-mangu.

Bagaimana mungkin ia menyerang seorang yang sama sekali tidak melawan, bahkan kini duduk bersila dengan kedua mata dipejamkan?

Akan tetapi, bagaimana mungkin pula ia melepaskan musuh yang satu ini?

Bagaimanapun juga, Gan Tek Un ini tidak lebih baik daripada yang lain.

Seperti yang lain, dia dulu juga memperkosanya dan menghinanya dan hal itu sama sekali tak pernah dilupakan.

Selama tujuh tahun ini, bayangan mengerikan diperkosa secara bergantian oleh empat orang musuh besarnya itu selalu membayanginya, kalau malam menjadi mimpi buruk dan kalau siang membuat ia termenung seperti orang kehilangan semangat.

Dan hanya dendam dan pembalasan itu saja yang membuat ia dapat bertahan untuk hidup terus, bahkan memberi ia semangat untuk belajar silat dengan tekun.

Balas dendam!

Tak mungkin ia melepaskan orang ini.

"Gan Tek Un, jahanam busuk! Bangkitlah dan jangan menjadi pengecut. Bangkitlah dan kaulawan aku, keparat!"

Akan tetapi Gan Tek Un sudah siap untuk menerima siksaan yang betapa hebat pun, dan dia sudah pasrah, kini sama sekali tidak menjawab dan tidak pula membuka kedua matanya.

"Gan Tek Un, sekali lagi. Bangkitlah dan lawanlah aku, kalau tidak, aku terpaksa akan turun tangan membalas dendam padamu!"

Suara Cui Hong penuh dengan kemarahan dan rasa penasaran, dan ranting di tangannya sudah tergetar ujungnya. Kembali Gan Tek Un tidak menjawab dan duduknya tidak pernah bergoyang.

"Keparat! Jangan mencoba menggunakan kelembutan untuk menghapus dendamku! Sampai mati pun aku tidak akan dapat menghapus dendamku. Nah, terimalah pembalasanku!"

Berkata demikian, Cui Hong sudah mengangkat ranting itu ke atas kepalanya, siap untuk menghajar tubuh Gan Tek Un seperti ia pernah menghajar tubuh Pui Ki Cong sampai kulitnya pecah-pecah semua.

"Tahan dulu!"

Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan ranting di tangan Cui Hong itu tertahan oleh sebatang pedang tipis. Cui Hong melangkah ke belakang dan memandang dengan marah, kemudian matanya terbelalak.

"Engkau.....!?!?"

La memandang wajah Tan Siong dengan bingung, sama sekati tak pernah mengira bahwa pemuda ini akan muncul, bahkan menghalanginya untuk membalas dendam.

"Kau. mau apa kau.?"

Tanyanya, agak gagap, hatinya.

"Lihiap, aku harus mencegah engkau melakukan kekejaman, menyerang orang yang tidak berdosa dan tidak mau melawanmu."

Kata Tan Siong sambil menarik kembali pedang yang tadi dipakai menangkis ranting di tangan Cui Hong. Cui Hong tersenyum dingin.

"Tan-toa-ko, apakah engkau tahu siapa orang yang kau katakan tidak berdosa ini?"

"Tentu saja aku mengenalnya. Dia adalah Can Tosu yang dulu bernama Gan Tek Un, yaitu adik mendiang ibuku, Pamanku yang selama ini kucari."

Cui Hong terkejut dan kerut di alisnya makin mendalam.

"Ahhh! Kiranya dia inikah Pamanmu? Inikah orangnya yang dulu pernah menipu orang tuamu sehingga orang tuamu menjadi terlunta-lunta dan meninggal dunia?"

"Benar, lihiap."

"Dan engkau kini hendak membelanya? Betapa anehnya sikapmu! Toako, jangan mencampuri urusan kami. Mundurlah dan biarkan aku menyelesaikan urusan pribadiku dengan Gan Tek Un!"

"Tidak, Lihiap. Engkau tidak boleh bertindak kejam."

"Apa? Engkau benar-benar hendak melindungi Pamanmu yang jahat ini?"

"Biar dia Pamanku ataukah orang lain, aku tetap akan mencegah engkau bertindak kejam, Lihiap. Menyerang orang yang tidak bersalah, orang yang tidak melawan, sungguh merupakan perbuatan yang kejam dan tidak patut dilakukan seorang pendekar wanita seperti engkau ini."

"Hemm, Tan-toako, tahukah engkau mengapa aku hendak menyiksa orang ini?"

Tan Siong menggelengkan kepalanya.

"Apa pun kesalahannya, tidak sepatutnya kalau engkau kini hendak menyerangnya karena dia sudah t idak mau melawan sama sekali."

"Tan-toako, sudah kuceritakan kepadamu tentang empat orang manusia iblis yang telah menghinaku, memperkosaku sampai lewat batas perikemanusiaan, perbuatan mereka melebihi kekejaman iblis sendiri dan yang tiga orang sudah kubereskan. Hanya tinggal seorang lagi dan yang seorang itu adalah Gan Tek Un!"

Bukan main kagetnya hati Tan Siong mendengar ini.

Dia tahu bahwa pamannya memang pernah menjadi penjahat, akan tetapi tak pernah disangkanya bahwa pamannya pernah melakukan perbuatan sekeji itu, meniperkosa gadis yang tidak berdaya, beramai-ramai dengan tiga orang kawannya!

Dengan muka berubah pucat dia membalik dan memandang kepada tosu yang masih duduk bersila itu.

"Paman, benarkah Paman dulu melakukan perbuatan keji dan hina itu?"

Tanyanya dengan suara nyaring. Gan Tosu memang sejak tadi mendengarkan dan kini dia menarik napas panjang, tanpa membuka kedua matanya.

"Semua yang dikatakan Nona ini benar belaka. Tan Siong. Memang aku pernah melakukan perbuatan jahat itu dan perbuatanku terhadap Nona inilah yang merupakan satu di antara banyak perbuatanku yang membuat aku menyesal setengah mati. Biarkan dia menyiksa atau membunuhku untuk menebus dosaku, Tan Siong."

"Nah, engkau mendengar sendiri, Toa-ko. Apakah engkau kini masih hendak melindungi dia?"

Cui Hong menuntut.

"Kim-lihiap, pendirianku tidak berubah Aku tetap mencegah engkau melakukan perbuatan kejam itu. Aku membelanya bukan karena dia Pamanku, melainkan seorang yang tidak melawan terancam oleh kekerasan. Dan aku mencegah engkau melakukan kekejaman itu karena.... terus terang saja, Lihiap, cintaku kepadamu masih tetap. Aku mencegah engkau menjadi pembunuh kejam demi cintaku kepadamu!"

Kembali Cui Hong tersenyum, akan tetapi kini senyumnya mengejek dan sepasang matanya mencorong penuh kemarahan, la merasa dipermainkan.

"Tan Siong!"

Bentaknya dengan suara ketus.

"Engkau bilang bahwa engkau mencintaku, akan tetapi engkau menentang aku yang hendak membalas dendam kepada orang yang telah merusak kebahagiaanku, yang telah menghancurkan harapanku, yang telah menggelapkan sinar kehidupanku, yang telah membunuh ayahku dan suhengku! Cinta macam apakah itu? Tidak perlu engkau merayu, kalau engkau membela jahanam Gan Tek Un ini, berarti engkau adalah musuhkul Majulah!"

Cui Hong menodongkan rantingnya, siap untuk menyerang.

"Kim-lihiap, sungguh engkau membuat aku bersedih bukan main. Tentu saja aku tidak akan melayani tantanganmu, karena sampai mati pun aku tidak akan memusuhimu. Aku hanya melindungi orang yang terancam, bukan berarti memusuhimu. Engkau tidak dapat mengerti pendirianku. Sekali lagi, ingatlah dan hapuslah dendam dari dalam hatimu, karena itu merupakan racun yang hanya akan merusak lahir batinmu sendiri."

"Cerewet! Aku mau hajar dan siksa dia untuk membalas dendam, baik engkau suka maupun tidak!"

Dan Cui Hong kini dengan kemarahan meluap sudah mengayun rantingnya untuk memukul remuk tulang kaki Can Tosu yang duduk bersila itu.

"Singggg...... takkkk!"

Ranting itu tertangkis pedang di tangan Tan Siong. Pemuda ini sudah cepat menangkis dan kini dia berdiri menghalang di antara Cui Hong dan tosu itu dengan sikap melindungi.

"Tan Siong, terpaksa aku harus menyingkirkan segala penghalang untuk membalas dendamku, termasuk engkau!"

Teriak Cui Hong dan ia sudah menyerang dengan rantingnya, ujung rantingnya tergetar dan seolah-olah terpecah menjadi tujuh yang melakukan serangkaian totokan ke arah tujuh jalan darah di tubuh bagian depan dari lawan.

Tan Siong terkejut sekali.

Dia memang sudah tahu betapa lihainya wanita Ini ketika membantunya menghadapi jagoan-jagoan yang menjadi pelindung Pui Ki Cone, akan tetapi baru sekarang dia menghadapinya langsung sebagai lawan.

Dia pun cepat menggerakkan pedang tipisnya, diputarnya dengan cepat untuk melindungi tubuhnya.

Namun, pemutaran pedang saja tidak cukup dia harus berlompatan kesana-sini karena ujung ranting itu seolah-olah dapat menerobos di antara gulungan sinar pedangnya.

Cui Hong tidak bermaksud mencelakai pemuda itu, sama sekali tidak.

Dia masih merasa kagum dan suka kepada pemuda perkasa itu, apalagi mendengar betapa sampai kini pemuda itu masih tetap mencintanya, walaupun sudah mendengar riwayatnya, tahu bahwa ia bukanlah seorang perawan terhormat lagi, melainkan seorang wanita yang sudah ternoda dan terhina.

Ia hanya ingin merobohkan Tan Siong agar tidak dapat menghalangi pelaksanaan balas dendamnya terhadap Gan Tek Un, maka semua serangannya me rupakan totokan-totokan yang amat hebat.

Sebaliknya, Tan Siong juga hanya ingin melindungi pamannya, bukan berniat untuk melukai apalagi membunuh gadis yang dikagumi dan dicintanya itu, maka dia pun hanya menggerakkan pedangnya untuk melindungi tubuhnya, menangkis dan mengelak tanpa balas menyerang.

Akan tetapi, segera dia terdesak hebat.

Andaikata dia membalas semua serangan Cui Hong pun belum tentu dia akan mampu mengalahkan gadis perkasa itu, apalagi kini dia hanya menangkis tanpa bisa menyerang.

Gulungan sinar pedangnya semakin menyempit, terjepit dan tertekan oleh sinar hijau dari ranting di tangan Cui Hong.

"Tahan senjata kalian! Jangan berkelahi dan dengarkan pinto!"

Tiba-tiba terdengar teriakan Gan Tojin, tosu yang tadi duduk bersila.

Mendengar ini, Tan Siong melompat ke belakang dan Cui Hong juga menahan gerakan rantingnya, ingin tahu apa yang akan dikatakan musuh besarnya itu.

Siapa tahu musuh besarnya itu timbul keberanian untuk maju sendiri menghadapinya dan melarang Tan Siong mencampuri urusan pribadi mereka.

Tosu itu masih duduk bersila, mukanya pucat akan tetapi sinar mata mencorong penuh semangat.

Agaknya kesedihannya yang tadi sudah lenyap.

"Siancai...! Dengan sikap kalian, maka dosa pinto bertambah dalam dan besar saja. Setelah menjadi seorang pemeluk agama yang taat, pinto bahkan mengakibatkan perpecahan dan perkelahian antara dua orang muda yang saling mencinta. Nona Kim Cui Hong, engkau sudah sepatutnya membalas dendam kepada pinto karena perbuatan pinto terhadapmu dahulu itu memang tak dapat diampuni. Dan engkau pun benar, Tan Siong, karena engkau melindungi yang lemah, bukan karena pinto pamanmu, dan itu merupakan sikap seorang pendekar. Akan tetapi kalau pinto membiarkan kalian saling berkelahi sampai seorang di antara kalian roboh tewas atau terluka, pinto akan merasa berdosa lebih hebat lagi yang takkan dapat pinto lupakan selama hidup. Karena itu, biarlah pinto mengakhiri saja semua derita ini!"

Tiba-tiba nampak sinar berkelebat dan tahu-tahu tosu itu sudah menusukkan sebuah pisau ke dadanya.

"Creppp....!"

Pisau itu menembus dada sampai ujungnya nampak sedikit di punggung dan dia masih tetap duduk bersila! "Paman....!"

Tan Siong terkejut bukan main dan cepat berlutut di dekat tubuh pamannya.

Perbuatan tosu itu sama sekali tak pernah disangkanya, maka dia pun tidak sempat lagi mencegah bunuh diri itu.

Cui Hong memandang dengan mata terbelalak, mukanya sebentar pucat sebentar merah antara penasaran, marah dan kecewa, la pun sama sekali tidak pernah mengira bahwa tosu itu akan membunuh diri, maka seperti juga Tan Siong, ia tidak sempat mencegah dan kini hanya berdiri sambil memandang dengan mata terbelalak.

"Paman, mengapa Paman melakukan perbuatan yang bodoh ini?"

Tan Siong menegur pamannya, tanpa berani menyentuhnya karena dia melihat bahwa nyawa pamannya tak mungkin dapat di selamatkan lagi dengan ditembusnya dada itu dengan pisau.

"Tan Siong..... bunuh diri memang bodoh.... dan dosa. akan tetapi.... setidaknya pinto dapat menyelamatkan kalian.. kasihan ia..... bimbinglah ia.... dengan kasih sayang...."

Tosu itu tidak kuat lagi.

Jantungnya tertembus pisau dan dia pun menjadi lemas, terkulai dan roboh terjengkang.

Tan Siong cepat merangkulnya dan merebahkannya baik-baik.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa Cui Hong.

Tan Siong terkejut dan meloncat bangkit, memandang dengan mata terbelalak.

Gadis itu tertawa bebas lepas, sambil menengadah memandang langit.

"Ha-ha-ha-.... habislah sudah mereka! Ayah, Suheng.... aku telah berhasil membalas dendam, selesailah sudah tugas hidupku, lenyaplah sudah ganjalan hatiku, beban yang demikian berat menekan batinku, ha-ha-ha-hi-hi-hi....!"

Gadis Itu tertawa-tawa seperti orang kemasukan setan sehingga Tan Siong merasa ngeri.

Cui Hong seperti telah menjadi gila, tawanya bukan tawa seorang wanita normal lagi, tawa terkekeh-kekeh dan terbahak-bahak.

Tan Siong segera melompat dekat gadis itu dan memegang kedua pundaknya, diguncang-guncangnya tubuh gadis itu.

"Hong-moi (Adik Hong)! Sadarlah engkau! Sadarlah...!"

Dia membentak-bentak dan mengguncang-guncang, maklum bahwa gadis itu dikuasai perasaan yang mengguncang ingatannya.

Maka dia mengerahkan tangannya sehingga kedua tangannya seperti cengkeraman kuat pada pundak gadis itu, mengguncang-guncangnya sehingga tubuh Cui Hong terdorong dan tertarik ke depan belakang.

Tiba-tiba Cui Hong berhenti tertawa, memandang kepada orang yang memegang kedua pundaknya dengan mata nanar dan bingung.

Akhirnya, kedua matanya normal kembali, tidak liar seperti tadi.

"Toako..., engkau?"

Cui Hong mendadak menangis, menjatuhkan diri berlutut di atas tanah.

Tangisnya mengguguk, seperti anak kecil.

Kedua punggung tangannya mengusap air mata yang jatuh bercucuran, pundaknya terguncang dan suara tangisnya seperti Drang mer intih-rintih, terisak dan tersedu-sedu.

Air matanya bagaikan air bah menerobos bendungannya yang pecah.

Selama bertahun-tahun ini, ia menyimpan saja segala rasa dukanya, bahkan berusaha sekuat tenaga untuk melupakan malapetaka yang menimpa dirinya setiap kali ia teringat akan keadaan d irinya.

Hidupnya sebatang kara, tidak ada keluarga, tidak ada harapan sedikit pun akan dapat merasakan kebahagiaan hidup masa depan.

Namun, selama ini ia menyembunyikan semua kedukaan dan kecemasan akan keadaan dirinya di dasar kalbunya dengan cara mencurahkan seluruh perhatiannya kepada dendam sakit hatinya, kepada usahanya yang mati-matian untuk membalas dendamnya.

Kini setelah empat orang musuhnya menerima hukuman, menerima, pembalasan dendamnya dengan setimpal, seolah-olah dendam yang selama ini membendung air bah kedukaannya, menjadi bobol dan muncullah semua kedukaan dan kegelisahan yang selama bertahun-tahun mengendap di dasar batinnya.

Tan Siong tidak mengerti apa yang terjadi di dalam hati gadis itu.

Dia hanya berdiri bengong memandang gadis yang menangis tersedu-sedu.

Mengapa gadis itu menangis seperti ditinggal mat i orang yang amat dicintanya?

Bukankah sepatutnya ia bersuka cita karena dendamnya telah terbalas?

Akan tetapi Tan Siong tahu bahwa tangis merupakan saluran yang amat baik untuk melepaskan perasaan yang meluap-luap, maka dia pun mendiamkannya saja dan membiarkan gadis itu menangis sepuasnya.

Setelah isak tangis gadis itu agak mereda, barulah Tan Siong berlutut di depan Cui Hong dan dengan hati-hati dia berkata lembut.

"Hong-moi, mengapa engkau menangis demikian sedih?"

Tangannya menyentuh lengan Cui Hong, hatinya diliputi perasaan iba yang mendalam karena dari tangis tadi dia dapat merasakan bahwa sesungguhnya gadis itu tenggelam ke dalam kesengsaraan batin yang amat hebat dan mendalam.

(Lanjut ke

Jilid 11) Sakit Hati Seorang Wanita (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 Sepasang mata gadis itu merah membengkak, wajahnya pucat, rambutnya awut-awutan, mukanya masih basah air mata.

Perasaan iba menusuk hati Tan Siong sehingga kedua tangannya nenggigil ketika dia merangkul gadis itu.

"Hongmoi...., jangan bersedih...."

Bagaikan dipatuk ular, Cui Hdng menarik lengannya yang disentuh Tan Siong lan melompat bangkit berdiri menjauhi pemuda itu. Dengan mata merah rnembengkak ia memandang pumuda itu, terbelalak.

"Jangan! Jangan sentuh aku...! Aku .. aku sudah kotor, aku sudah ternoda aku bergelimang aib...!"

Serunya tergagap dan kembali ia tersedu dan air mata yang agaknya tidak akan pernah habis itu bercucuran lagi menetes-netes di kedua pipinya.

Kini baru Tan Siong mengerti mengapa gadis itu menangis sedih.

Dia merasa iba sekali, bangkit berdiri dan suaranya bergetar penuh keharuan.

"Hong-moi... aku cinta padamu... engkau tetap suci dan mulia bagiku... cinta ku tak berubah sejak pertama kita bertemu..."

Tan Siong melangkah maju menghampiri, hendak memegang kedua tangan Cui Hong. Gadis itu mengelak dan mundur menjauh.

"Tidak! Tidak...! Jangan bohong aku tidak percaya! Aku... aku bukan perawan lagi, aku.... telah ternoda.... kehormatanku diinjak-injak empat orang laki-laki iblis itu...! Seorang dari mereka adalah pamanmu sendiri! Aku tidak percaya!"

Cui Hong melompat jauh dan melarikan diri.

"Aku tidak percaya...!"

Suaranya masih terdengar dari jauh.

"Hong-moi...!"

Tan Siong mengejar, akan tetapi gadis itu sudah jauh dan terdengar suara bergema.

"Jangan kejar.....! Aku tidak sudi mendengar rayuanmu...!"

Tan Siong menahan kakinya.

Dia menghela napas panjang berulang kali, berdiri dengan muka pucat.

Hatinya terasa pedih dan kosong.

Dia harus mengaku dengan jujur kepada dirinya sendiri bahwa memang ada perasaan hampa dan kecewa kalau dia mengingat betapa gadis yang dicintanya itu telah dirusak kehormatannya oleh empat orang laki-laki jahat,termasuk pamannya sendiri.

Apalagi kalau diingat bahwa Cui Hong telah berubah menjadi seorang gadis kejam yang dihantui dendam, bertindak kejam kepada orang-orang yang dulu memperkosanya.

Memang gadis itu t idak membunuh mereka, akan tetapi penyiksaan yang ia lakukan bahkan lebih mengerikan daripada kalau ia membunuh mereka sebagai balas dendam.

Empat orang yang dulu memperkosanya itu dihukumnya dengan amat mengerikan.

Pui Ki Cong menjadi seorang laki-laki cacat dan buruk seperti setan, tidak akan berguna selama hidup-nya.

Demikian pula Koo Cai Sun, menjadi cacat, tapadaksa yang sudah bukan seperti manusia normal lagi.

Lauw Ti menjadi cacat dan gila.

Keadaan mereka bertiga lebih menyedihkan dan mengerikan daripada kalau mereka mati.

Dan pamannya sendiri, orang ke empat yang dulu memperkosa Cui Hong, terpaksa membunuh diri dengan perasaan penuh penyesalan.

Sungguh pembalasan dendam Cui Hong itu terlalu kejam.

Kembali Tan Siong menghela napas panjang ketika terbayang olehnya semua kekejaman yang dilakukan Cui Hong terhadap orang-orang yang dibencinya, termasuk pamannya.

Akibat kekejamannya itu, bukan hanya empat orang yang pernah memperkosanya itu yang menderita, terutama yang tiga orang kecuali pamannya yang sudah tewas.

Mereka itu mati tidak, hidup pun bukan.

Apa artinya hidup dalam keadaan tapadaksa separah itu?

Lengan dan kaki patah bahkan ada yang buntung sehingga tubuh amat sukar bergerak, muka cacat, ada yang matanya buta, ada yang hidungnya hancur, pendeknya badan lumpuh sukar bergerak, muka cacat menjijikkan, batin terguncang sehingga menjadi seperti gila!

Bukan mere ka saja yang menderita hebat bukan kepalang, melainkan juga keluarga mere ka, anakisteri mereka!

"Aahh, Hong-moi....

betapa kejamnya engkau...

dendam kebencian telah membuat engkau seperti iblis!

Akan tetapi, ya Tuhan, aku cinta padamu, Hong-moi, aku tetap cinta padamu!"

Tan Siong mengeluh lalu pergi dari situ dengan perasaan hampa.

Semangatnya seolah ikut terbang bersama Cui Hong.

Sudah banyak tercatat dalam sejarah betapa perkaraperkara besar yang menyangkut bangsa dan negara, dipengaruhi oleh ambisi pribadi para pemimpinya.

Perasaan dendam, iri, murka, dan keinginan pribadi untuk mereguk kesenangan melalui kekuasaan dari seorang pemimpin negara dan para pembantunya, terkadang menyeret bangsa ke dalam kehancuran.

Seperti tercatat dalam sejarah Negeri Cina, bangsa Cina tadinya hidup dalam keadaan yang lebih baik di bawah pemerintahan Kerajaan Beng (Terang) dibandingkan dengan keadaan rakyat di jaman penjajahan Mongol yang mendirikan Dinasti Goan yang bertahan selama hampir satu abad (1280-1368).

Setelah rakyat Han dapat menggulingkan penjajah Mongol dan yang berkuasa adalah bangsa sendiri dengan berdirinya Kerajaan Beng, kehidupan rakyat mulai menjadi makmur.

Akan tetapi, setelah berjaya selama hampir tiga abad (1368-1644), mulailah pemerintah Beng menjadi lemah sekali sehingga mengakibatkan rakyat kembali hidup menderita, bahkan keadaan kehidupan rakyat jelata lebih parah dibandingkan keadaan ketika dijajah orang Mongol!

Hal ini disebabkan karena Kaisar terakhir Kerajaan Beng yang bernama Kaisar Cung Ceng (1620-1644) merupakan seorang kaisar yang lemah dan yang hanya mengejar kesenangan diri sendiri.

Kelemahan ini tentu saja memunculkan banyak pejabat penjilat, terutama para Thai-kam (orang kebiri, sida-sida) yang berkuasa di dalam istana yang sedianya menjadi pelayan-pelayan kaisar dan keluarganya.

Pada mulanya, Kaisar mempergunakan tenaga para pria yang dikebiri ini sebagai pelayan-pelayan dalam istana untuk mencegah terjadinya perjinaan antara banyak selir dan gadis-gadis dayang istana dengan para pelayan pria.

Karena itu, semua pelayan pria dikebiri sehingga tidak memungkinkan terjadinya penyelewengan.

Karena para Thaikam ini tidak dapat lagi berhubungan dengan wanita, maka mereka melampiaskan semua nafsunya kepada kedudukan dan harta.

Mulailah mereka menggunakan segala daya upaya untuk memperoleh kekuasaan dan satu-satunya cara untuk mendapatkan kekuasaan itu adalah mendekati Kaisar dan mengambil hati Kaisar.

Mungkin karena merasa senasib sependeritaan, para Thaikam ini kompak sekali dan dapat bekerja sama dengan baik.

Juga mereka biasanya merupakan orang-orang pilihan.

Kaisar tentu saja ingin memiliki pelayan-pelayan dalam istana yangberwajah tampan, bersih, pandai membawa diri, cerdas dan cekatan.

Bahkan banyak di antara mereka yang pandai.

ilmu silat untuk dijadikan pengawal pribadi, menjaga keselamatan Kaisar sekeluarga.

Akan tetapi sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang terpelajar, ahli sastra.

Maka, tidak mengherankan kalau sekumpulan orang pandai ini mudah menggunakan kecerdikan mere ka, menguasai politik pemerintahan dan mempengaruhi Kaisar.

Kaisar Cung Ceng yang memang pada dasarnya lemah itu seolah menjadi boneka dan menurut saja kepada para Thaikam pimpinan yang dia anggap sebagai hamba-hamba yang baik dan setia!

Maka, biarpun kekuasaan masih berada di tangan Kaisar, namun sesungguhnya segala keputusan yang disahkan dan ditanda tangani Kaisar itu keluar dari pikiran para Thaikam.

Memang tepatlah pendapat dan ajaran para bijaksana jaman dahulu bahwa yang terpenting bagi manusia adalah hidup dalam kebenaran dan kebaikan.

Benar dan baik merupakan syarat bagi manusia untuk dapat hidup berbahagia.

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 10

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 17

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert