Eps 3 Sakit Hati Seorang Wanita - Kho Ping Hoo
Baca online Sakit Hati Seorang Wanita - Kho Ping Hoo
Cersil Sakit Hati Seorang Wanita - Kho Ping Hoo.
Biarlah harta pusaka itu hilang dirampok orang.
Setidaknya dia akan dapat memperoleh kem-bali rumahnya dan isinya, bahkan menerima pula upah lima puluh tail emas!
Malapetaka yang menimpa dirinya akan berubah menjadi keuntungan!
Dan kini, melihat wajah itu, melihat lenggang itu, dia menambahkan "perkosaan"
Pada rencananya, akan memperkosa dulu nona bangsawan itu sepuasnya sebelum membunuhnya!
Nona itu muncul kembali dari dalam kamar, membawa dua buntalan.
Ia meletakkan dua buntalan di atas meja, lalu membuka dua buntalan itu.
Mata Louw Ti bercahaya ketika dia melihat uangnya, uang tanggungan hasil penggadaian rumah, berada di buntalan besar, sedangkan di buntalan ke dua nampak berkilauan emas batangan lima puluh tail!
"Nah, ini upah lima puluh tail emas, Louw-enghiong.
Dan ini uang tanggungan-mu kukembalikan, di dalamnya sudah kusisipkan uang bunganya.
Sekarang perlihatkan harta pusaka itu kepadaku, hendak kulihat apakah masih lengkap, sesuai dengan catatan ini."
Tanpa bicara, Louw Ti mendorong buntalannya, mendekatkannya kepada nona itu. Buntalan dibuka dan nona itu terbelalak, lalu menatap wajah Louw Ti.
"Louw enghiong, apa artinya ini?"
Ia menuding ke arah tumpukan batu koral yang berada di dalam buntalan.
Sepasang mata Louw Ti yang sejak tadi bersinar-sinar aneh itu kini mencorong dan wajahnya membayangkan kebengisan yang menyeramkan.
Dia mendekati nona bangsawan itu dan menyeringai bengis.
"Heh-heh, artinya bahwa engkau akan mati di tanganku dan tak seorang pun tahu apa yang telah terjadi di antara kita!"
Setelah berkata demikian, dia menerjang ke depan dengan kedua lengan dipentang lalu menyambar ke depan seperti dua kaki depan harimau menubruk kelenci.
Dia membayangkan bahwa sekali tubruk saja tentu dia akan dapat menangkap nona itu dan akan diperkosanya di situ juga sebelum dibunuhnya dan mayatnya akan dikubur di belakang rumah malam nanti setelah gelap.
Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia melihat nona itu berkelebat ke samping dan tubrukannya mengenai tempat kosong!
Nona ini telah mampu mengelak dari tubrukannya tadi dengan gerakan yang amat lincah!
Dengan penasaran, Louw Ti lalu membalikkan tubuhnya dan menyerang lagi, lebih cepat dan dengan loncatan, menerkam ke depan.
Dia sudah memperhitungkan bahwa nona itu tentu tidak akan mampu menghindarkan diri sekali ini, karena selain cepat, juga terkamannya itu kuat, dan kedua tangannya menyambar dari kanan kiri menutup jalan keluar bagi lawan.
Akan tetapi untuk kedua kalinya dia kecelik karena tiba-tiba saja tubuh nona bangsawan yang kelihatannya lemah-lembut itu sudah berkelebat ke belakang.
Tubrukannya luput dan nona itu sudah lenyap menghilang ke dalam sebuah kamar dan menutupkan daun pintunya dari dalam.
"Ha-ha-ha, hendak lari ke mana kau? Ke dalam kamar? Haha-ha, kebetulan sekali!"
Louw Ti tertawa, mengira bahwa calon korbannya itu melarikan diri ke tempat tidur.
Dengan beberapa kali loncatan saja, dia sudah berada di depan pintu yang tertutup.
Sekali menendang, daun pintu itu roboh dan dia pun meloncat ke dalam.
Sebuah kamar kosong dan ada sebuah pintu tembusan ke be lakangnya.
Dia menerjang pintu ini dan ternyata menembus ke sebuah lorong yang kosong pula.
Louw Ti merasa penasaran, mencari-cari.
Banyak kamar di kanan kiri lorong dan dia membuka daun pintu kamar-kamar itu satu demi satu, akan tetapi semua kamar itu ternyata kosong tidak ada isinya, belum ada perabot kamarnya dan nona bangsawan itu tidak nampak bayangannya.
Terpaksa dia kembali ke ruangan tadi melalui kamar yang daun pintunya diruntuhkannya tadi dan.....
di dekat meja di dalam ruangan itu kini telah berdiri seorang yang membuat jantungnya seperti berhenti berdenyut, seorang bertubuh semampai yang mengenakan pakaian serba hitam dan memakai topeng hitam pula, orang yang pernah merampas harta pusaka itu dan merobohkannya di kuil tua!
Wajah Louw Ti yang hitam menjadi agak pucat dan dia merasa gentar sekali.
Akan tetapi, orang itu berdiri di dekat meja dan dua bungkusan uang dan emas telah dikumpulkannya di atas meja di dekatnya.
Jelaslah bahwa orang berkedok itu akan merampas pula dua bungkusan berharga itu.
Dan habislah kesemuanya untuk dia!
Rumahnya habis, tidak ada sepeser pun di sakunya, dan dia masih akan dituntut pula oleh nona bangsawan yang kini telah menghilang entah ke mana!
Dan semua barang berharga itu telah dirampas deh orang berkedok yang berdiri di depannya ini.
Orang inilah biang keladi kejatuhannya, semenjak mengganggu rumah hartawan yang dilindunginya.
Orang inilah yang mencelakakannya!
Teringat akan itu semua, Louw Ti menjadi sedemikian sakit hati dan marahnya sehingga dia mengeluarkan suara teriakan yang terdengar seperti gerengan seekor binatang buas dan dia pun sudah menerjang ke depan sambil melolos dan menggerakkan senjata cambuknya.
Akan tetapi, Kim Cui Hong yang kini menjadi orang bertopeng hitam itu tidak mau membuang waktu seperti ketika ia melayani Louw Ti di kuil tua.
Dengan gerakan aneh, tubuhnya menyelinap di bawah sinar cambuk dan tahu-tahu tangan kirinya sudah menangkap ujung cambuk itu, tangan kanannya menotok ke depan disusul kaki kanan yang menendang ke arah lutut kiri lawan.
Serangan ini sangat cepat dan tak terduga-duga oleh Louw Ti.
Dia mencoba untuk menarik kembali senjatanya, namun cambuk itu tak dapat terlepas dari pegangan tangan lawan, sedangkan tangan kanan lawan sudah menyambar dengan totokan ganas ke arah pergelangan tangan kanannya.
Untuk menyelamatkan tangannya, terpaksa dia melepaskan cambuknya dan meloncat ke belakang menghindarkan tendangan lawan.
Dalam segebrakan saja kini cambuknya sudah berpindah tangan.
"Tar-tar-tar....!"
Kini cambuk itu meledak-ledak dan menyambar-nyambar, seperti ular-ular mematuk ujung cambuk itu menyambar ke arah berbagai jalan darah penting di tubuh Louw Ti!
Tentu saja orang ini terkejut dan sibuk sekali, berusaha mengelak, namun datangnya serangan cambuk yang bertubi-tubi itu terlampau cepat baginya sehingga akhirnya, dia pun terpelanting roboh dan tak mampu bergerak lagi karena jalan darahnya tertotok, seperti keadaannya malam tadi di kuil tua dalam hutan!
Ia hanya rebah miring dan memandang dengan mata melotot tanpa dapat menggerakkan kaki tangannya yang menjadi lumpuh.
Sinar matanya penuh kebencian kepada orang berkedok itu.
Cui Hong memandang kepada korbannya melalui lubang di topengnya, sepasang matanya berkilat-kilat penuh dendam.
Kemudian dia berkata.
"Louw Ti, engkau jahanam keparat yang paling busuk di dunia ini, karena itulah maka aku hendak menghukummu sesuai dengan kejahatanmu."
Karena sudah putus asa dan t idak berdaya, Louw Ti menjadi nekat.
"Iblis keji, siapakah engkau?"
Cui Hong mengeluarkan suara dengusan mengejek.
"Hemm, engkau ingin melihat isterimu diperkosa di depan matamu, seperti yang sering kali kau lakukan? Engkau ingin melihat anak-anakmu dibunuh di depan matamu, seperti engkau membunuh mereka? Tunggu sebentar?"
Dan Cui Hong lalu meninggalkan Louw Ti, memasuki sebuah kamar.
Louw Ti tertegun dan diam-diam merasa ngeri.
Orang berkedok itu kejam seperti binatang buas, jahat seperti iblis, dan dia tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh orang itu, ucapan yang membuat hatinya gelisah dan jantungnya berdebar penuh ketegangan.
Tak lama kemudian orang berkedok ini muncul lagi dari dalam kamar itu dan Louw Ti merasa jantungnya seperti akan copot karena berdebar keras sekali ketika dia melihat isterinya dan dua orang anaknya berjalan di samping si kedok hitam itu!
"Ayah.....!"
Dua orang anaknya itu, seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang usianya baru enam dan empat tahun, memanggilnya dan lari menghampirinya, lalu berlutut di dekat tubuhnya.
Akan tetapi isterinya hanya berdiri saja memandang, dengan kedua mata berlinang air mata.
"Louw Ti, inilah isteri dan anak-anakmu. Engkau tentu ingin melihat isterimu diperkosa orang, bukan oleh satu orang melainkan akan kudatangkan empat orang untuk memperkosanya, dan melihat anak-anakmu dibunuh di depan matamu, bukan?"
Wajah yang hitam itu menjadi pucat. Dia mencoba untuk menggerakkan kaki tangannya namun tak berhasil.
"Tidak...... tidak...., jangan ganggu mereka....."
Dia meratap.
"Hemm, di mana kekerasan hatimu? Di mana kekejamanmu? Engkau terlalu sering membunuh orang begitu saja, di depan mata orang-orang yang mencintanya, dan engkau selalu sering memper-kosa wanita, juga di depan orang-orang yang mencintanya. Kenapa sekarang engkau meratap agar isterimu jangan diperkosa di depan matamu dan anak-anakmu dibunuh di depan matamu?"
"TIDAK.... jangan..,, ah, ampunkan mereka.... bunuh aku tapi jangan ganggu mereka...."
"Hemm, enak saja bicara! Aku pun tidak sekejam engkau untuk melakukan semua itu di depan matamu, akan tetapi setidaknya engkau akan mendengarkan sendiri dengan kedua telingamu."
Cui Hong lalu memegang kedua orang anak kecil itu.
Dua orang anak itu meronta dan memanggil-manggil ayahnya, akan tetapi Cui Hong menarik tangan mereka, bahkan kini dibantu oleh isteri Louw Ti yang sejak tadi diam saja, hanya menitikkan air mata.
Dengan paksa kedua orang anak itu diseret masuk ke dalam kamar yang tidak jauh dari ruangan itu.
"Jangan....! Jangaaaannn....!"
Louw Ti meratap, merintih dan berteriak.
Akan tetapi semua Tatapannya tidak ada yang memperdulikannya.
Akhirnya dia diam dan dengan mata terbelalak memandang ke arah kamar itu yang pintunya ditutup dari dalam, lalu terdengar isterinya menangis dan terdengar pula anak-anaknya menjerit dan menangis ketakutan!
Dapat dibayangkan siksaan yang diderita batin Louw Ti di saat itu.
Dia membayangkan betapa isterinya diperkosa orang sampai merintih-ritih dan menangis, membayangkan kedua anaknya disiksa dan dibunuh sampai menjerit-jerit ketakutan.
"Jangan....! Ah, ampunkan mereka..... jangan....!"
Dia berteriak-teriak akan tetapi teriakannya semakin lemah karena dia mengalami guncangan batin yang amat hebat.
Membayangkan isterinya diperkosa orang dan anak-anaknya disiksa, tanpa mampu berbuat apa pun untuk menyelamatkan mereka, sungguh merupakan siksaan yang lebih hebat daripada siksaan badan.
Akhirnya dia menangis mengguguk seperti anak kecil.
Kini sunyi saja dari kamar itu.
Tangis isterinya dan jerit anak-anaknya sudah berhenti.
"Jangan-jangan mereka sudah mati...., pikir Louw Ti dan tangisnya makin mengguguk. Ketika daun pintu itu terbuka, Louw Ti menghentikan tangisnya, mengedip-ngedipkan matanya untuk mengusir air mata yang menghalangi pandang matanya, lalu memandang dengan melotot ke arah orang berkedok itu, yang keluar dari kamar dengan langkah seenaknya. Diakah yang memperkosa isteriku? Ataukah ada kawan-kawannya? Tentu dia yang telah membunuh anak-anakku. Sampai mati dia tidak akan melupakan ini. Dia harus mengenal orang ini agar kelak, kalau ada kesempatan, dia akan membalas dendam! "Binatang she Louw, sudah puaskah hatimu mendengar isterimu diperkosa orang dan anak-anakmu disiksa? Aku menyerahkan isterimu kepada orang-orang ku agar dipermainkan secara bergilir sampai mampus, dan juga membunuh anak-anakmu di luar dusun. Akan tetapi aku masih belum selesai dengan dirimu."
Louw Ti yang merasa berduka, marah dan penuh kebencian itu kini sudah nekat dan lupa akan rasa takut.
"Jahanam! Iblis keji! Siapakah engkau? Jangan menjadi pengecut dan perlihatkan mukamu kepada ku!"
Tiba-tiba dari balik kedok itu terdengar suara ketawa halus dan disusul suara merdu seorang wanita, berbeda dengan suara si kedok hitam tadi yang seperti suara pria.
"Tentu saja engkau akan mengenal aku."
Dan orang itu lalu membuka kedoknya dan sepasang mata Louw Ti terbelalak lebar dan penuh keheranan ketika dia melihat bahwa muka di balik kedok itu adalah wajah cantik dari nona bangsawan tadi!
Kini mengertilah dia.
Si kedok hitam itu bukan lain adalah nona bangsawan itu pula.
Seorang wanita!
Dan demikian lihainya, dan demikian penuh dendam kepadanya sehingga mengatur siasat yang sudah direncanakan dengan rapi untuk menghancurkannya!
"Kau....!!"
Dia berseru dan habislah harapannya.
Bagaimana wanita ini tidak akan berlaku kejam kepadanya?
Baru saja dia hendak membunuhnya, bahkan hendak memperkosanya!
"Ya, akulah si kedok hitam yang mengganggu para hartawan yang kaulindungi itu.
Aku pula yang merampas harta pusaka yang dititipkan oleh nona bangsawan yang juga aku sendiri orangnya.
Aku telah mengatur semua ini untuk menjatuhkanmu, untuk menghancurkanmu, Louw Ti!"
"Tapi.... tapi..... mengapa engkau lakukan semua ini kepadaku? Siapakah engkau? Siapa namamu?"
"Hemm, buka matamu lebar-lebar dan lihat siapakah diriku, Louw Ti."
Kim Cui Hong lalu menghapus bedak yang menutupi tahi lalat di dagunya.
Ia memang menyembunyikan tahi lalat itu, satu-satunya ciri pada mukanya, agar tidak dikenal oleh musuh-musuhnya sebelum saatnya tiba.
"Buka matamu dan lihatlah baik-baik siapa aku!"
Wanita itu mendekatkan mukanya dan sepasang matanya mencorong, penuh dengan api dendam.
"Aku.... aku tidak mengenalmu...."
Kata Louw Ti ragu-ragu. Memang kembali perasaan bahwa dia telah mengenal wanita ini timbul, akan tetapi dia tetap saja tidak dapat mengingatnya siapa wanita ini.
"Siapakah engkau....?"
Bibir yang merah basah dan indah bentuknya itu tersenyum.
"Agaknya terlalu banyak sudah engkau menyiksa orang sehingga tidak dapat kau ingat kembali satu-satu. Namaku adalah Kim Cui Hong. Ingatkah engkau akan nama itu?"
Louw Ti menggeleng kepalanya.
"Tidak, aku tidak kenal...."
Memang, waktu yang tujuh tahun lamanya itu telah terisi dengan pengalaman yang banyak sekali sehingga sukar baginya mengingat gadis ini yang sudah lama sekali dianggapnya mati dan tidak ada lagi di dunia ini, apa pula dengan kepandaian selihai itu!
"Jahanam keparat, kenal atau tidak, engkau akan menerima pembalasanku!"
Tiba-tiba dengan hati mendongkol sekali Cui Hong menggerakkan cambuk rampasannya tadi.
Terdengar bunyi meledak dua kali dan ujung cambuk sudah mematuk dan menotok, membebaskan Louw Ti.
Orang ini lalu menggerakkan kaki tangannya dan bangkit.
Cui Hong melemparkan cambuk itu kepada pemiliknya.
"Aku tidak mau menyerang orang yang tak berdaya. Nah, pergunakan senjatamu, dan pertahankan nyawamu!"
Hati Louw Ti merasa gentar sekali.
Baru se karang dia tahu apa artinya takut.
Akan tetapi, dia teringat akan isteri dan dua orang anaknya.
Mungkin dua orang anaknya telah tewas dan isterinya..
...
dia menelan ludah, isterinya telah diperkosa orang-orang secara bergantian, mungkin sudah mendekati maut lagi.
Perempuan ini membalas dendam?
Apakah dia pernah membunuh anak-anak perempuan ini?
Rasanya tak mungkin karena ia masih begitu muda.
Kalau begitu, memperkosanya?
Memperkosanya secara bergantian?
Banyak sudah perempuan yang pernah diperkosanya ketika dia masih menjadi jagoan dan tukang pukul, dan dia tidak ingat lagi pernah memperkosa gadis cantik ini.
Isteri dan anak-anaknya sudah tewas, dia sudah jatuh miskin.
Dia tidak memiliki apa-apa lagi.
Pikiran ini mengusir rasa takutnya, bahkan mendatangkan kemarahannya dan tekad untuk melawan mati-matian, untuk sedapat mungkin membunuh wanita yang telah membuatnya sengsara ini.
"Baik, kita mengadu nyawa!"
Bentaknya marah.
Dia menyambar cambuknya dan dengan gerengan seperti seekor singa terluka, dia pun menyerang Cui Hong dengan cambuknya.
Cambuk itu meledak-ledak di atas kepalanya ketika diputar cepat dan meluncurlah cambuk itu turun ke arah kepala Cui Hong.
Dalam keadaan nekad dan marah itu, Louw Ti yang memang lihai sekali menjadi semakin berbahaya.
Dia nekad dan bernapsu sekali untuk membunuh lawan tanpa memperdulikan keselamatan dirinya sendiri.
Dalam ilmu silat yang dipergunakan untuk berkelahi, seorang ahli silat hanya mengerahkan setengah bagian dari tenaga dan kepandaiannya untuk melakukan penyerangan, sedangkan setengahnya lagi untuk melindungi diri.
Akan tetapi dalam keadaan nekad, Louw Ti mengerahkan seluruh tenaga yang ada padanya untuk menyerang tanpa memperdulikan pertahanan atau perlindungan diri, oleh karena itu serangan-serangannya amatlah dahsyat.
Namun, pada waktu itu, tingkat Kepandaian Cui Hong sudah lebih tinggi dari tingkat kepandaian lawan.
Gadis ini menang dalam segalanya.
Menang tinggi ilmu silatnya, menang dalam hal gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan menang pula dalam kekuatan sinkang (tenaga sakti).
Maka, biarpun ia hanya bertangan kosong menghadapi cambuk yang diputar dengan cepat dan kuat itu, ia masih tenang saja dan mengandalkan ginkangnya untuk menyelinap di antara gulungan sinar cambuk yang tak pernah berhasil menyentuh tubuhnya.
Sebaliknya, di dalam hati Cui Hong juga terjadi kebakaran!
Api dendam dan kebencian menyala-nyala di dalam dadanya.
Sambil mengimbangi kecepatan gerakan cambuk yang meledak-ledak, Cui Hong membayangkan peristiwa yang terjadi tujuh tahun lebih yang lalu.
Masih nampak jelas di depan matanya ketika dia diperkosa oleh musuh-musuhnya, dan pada saat itu, selagi berhadapan dengan Louw Ti, yang terbayang adalah ketika Louw Ti memperkosanya dengan buas.
Laki-laki bertubuh pendek tegap yang bermuka hitam ini, dahulu ketika memperkosanya, kelihatan amat menakutkan.
Matanya yang lebar melotot merah dan Cui Hong yang ketika tiba giliran Louw Ti memperkosanya sudah lemah dan dalam keadaan setengah pingsan, merasa seolah-olah ia menjadi seekor domba yang dicabik-cabik dan di lahap seekor harimau buas.
Hatinya kini merasa sakit bukan main dan kalau saja ia tidak teringat akan sumpahnya kepada gurunya, tentu akan dibunuhnya orang ini.
"Tidak, aku tidak boleh membunuhnya ...."
Katanya kecewa di dalam hatinya dan ia pun menekan kemarahannya agar jangan sampai kelepasan tangan membunuh lawan ini, kalau ia mau tentu pada saat itu ia akan mampu membunuh Louw Ti.
Akan tetapi, kembali peristiwa yang lalu membayang di depan matanya, kini dilihatnya bayangan ayahnya dan suhengnya yang disiksa sampai mati oleh tiga orang jagoan itu, ialah Louw Ti, Koo Cai Sun, dan Gan Tek Un.
"Wuuuuttt....!"
Kaki kiri Cui Hong menyambar dahsyat, dengan kecepatan yang tak dapat diikuti oleh kecepatan gerakan Louw Ti.
"Krekk....!"
Louw Ti menjerit karena tendangan dahsyat yang dilepaskan Cui Hong dengan kemarahan meluap-luap ini tepat mengenai pergelangan tangan kanannya sehingga tulangnya patah dan kembali cambuknya sudah pindah ke tangan wanita cantik itu.
"Tar.... tar....!"
Cui Hong mengayun cambuk itu di atas kepala dengan sikap mengancam.
Louw Ti menahan rasa nyeri di lengan kanannya, lalu dengan nekad dia menubruk maju, menggunakan tangan kirinya yang membentuk cakar, mencengkeram ke arah dada Cui Hong.
Sebagai seorang jagoan berilmu t inggi, biar lengan kanannya sudah patah tulangnya dan tak dapat dipergunakan lagi, dia masih berbahaya.
"Wuuuuttt.... tarrr.... singgg....!"
Cambuk di tangan Cui Hong menyambar seperti kilat cepatnya, dengan amat kuat menyambut tangan kiri Louw Ti yang mencengkeram itu dan samping.
Nampak sinar berkilat saking cepatnya cambuk itu menyambar.
"Crokkk....!"
Untuk kedua kalinya Louw Ti menjerit dan dia memandang terbelalak kepada lengan kirinya yang kini buntung karena cambuk itu membabat lengannya seperti sebatang pedang saja.
Tangan kirinya putus sebatas pergelangan tangan dan terlempar jauh, dan dari lengan yang buntung itu bercucuran darah!
Kini kedua tangan Louw Ti tak dapat dipergunakan lagi, yang kanan telah patah tulang lengannya yang kiri buntung.
Hal ini membuat Louw Ti menjadi semakin nekad.
Dia maklum bahwa dia takkan mampu menandingi gadis itu, maka dia tak takut lagi menghadapi kematian, apalagi kalau dia teringat bahwa isteri dan dua orang anaknya tentu akhirnya akan mati pula.
Maka biarpun kedua tangannya sudah tak dapat dipergunakannya lagi, dia masih belum mau menyerah.
"Perempuan iblis kejam!"
Bentaknya sambil menyerang dengan tendangan bertubi-tubi, menggunakan kedua kakinya bergantian. Cui Hong mengelak ke sana-sini, mempermainkan.
"Louw Ti jahanam busuk, orang macam engkau masih dapat memaki orang lain kejam?"
Melihat kenekatan lawan, Cui Hong kembali mengayun cambuknya yang meluncur ke depan.
"Tarrr....!"
Louw Ti mengeluh dan menggerakkan kedua lengan yang sudah tak berdaya itu ke arah mukanya.
Mata kirinya pecah oleh ujung cambuk dan berdarah.
Ketika lengan kirinya yang buntung bercucuran darah itu digerakkan untuk menutup mukanya, muka itu pun berlumuran darah yang keluar dari mata kirinya dan dari lengan kiri yang buntung.
Mengerikan sekali keadaan Louw Ti di saat itu, namun dia memiliki tubuh yang kuat.
Biarpun kedua lengan sudah tak berdaya dan mata kirinya sudah menjadi buta, dia masih maju lagi dengan ganasnya, menyerang dengan tendangan-tendangan membabi buta.
Kembali cambuk itu meledak-ledak dan tubuh Louw Ti kini roboh terpelanting karena kedua kakinya tak dapat dipakai untuk berdiri lagi.
Tulang kering kaki kirinya patah-patah dan sambungan lutut kaki kanannya terlepas.
Dia tidak berdaya lagi, hanya rebah sambil memandang wanita itu dengan mata kanan yang melotot.
Mukanya penuh darah dan mulutnya mengeluarkan busa saking marahnya.
"Iblis betina, bunuhlah, aku tidak takut mati!"
Bentaknya penuh geram. Cui Hong sudah merasa puas dengan pembalasan dendamnya dan ia tersenyum sambil menggeleng kepala, memandang dengan sinar mata mengejek.
"Aku t idak akan membunuhmu, aku ingin melihat engkau menyesali hidup dan menyesali dosamu yang terkutuk!"
"Perempuan iblis! Dosa apakah yang telah kulakukan kepadamu maka engkau berlaku sekejam ini, bahkan telah menyiksa dan membunuh isteri dan anak-anakku yang sama sekali tidak berdosa? Katakanlah agar aku tidak mati penasaran!"
"Memang matamu buta sehingga engkau tidak mengenal aku, Louw Ti. Ingin aku membutakan kedua matamu, akan tetapi biarlah kutinggalkan sebuah agar engkau dapat melihat akibat dari perbuatanmu yang terkutuk. Namaku Kim Cui Hong tidak kauingat lagi, akan tetapi agaknya engkau tidak akan lupa kepada gadis puteri guru silat Kim di Dusun Ang-ke-bun itu, ketika si jahanam Pui Ki Cong dibantu oleh Thian-cin Butek Sam-eng membunuh guru silat Kim bersama seorang muridnya, kemudian mereka berempat itu secara biadab memperkosa dan menghina puteri guru silat Kim dan membuangnya di dalam hutan? Akulah puteri guru silat Kim itu!"
Mata tunggal itu terbelalak, muka yang sudah pucat itu menjadi semakin pucat. Kini teringatlah Louw Ti.
"Kau.... kau.... gadis itu.... benar.... tahi lalat di dagumu itu.... ahhhh....!"
Louw Ti memejamkan matanya yang tinggal sebuah seperti hendak mengusir peristiwa tujuh tahun yang lalu, yang kini kembali terbayang di dalam benaknya.
Tentu saja dia teringat karena dia pun ikut pula memperkosa gadis yang sudah hampir mati itu, memperkosanya setelah gadis itu oleh Pui Ki Cong dihadiahkan kepada mereka bertiga, dia sendiri, Koo Cai Sun, dan Gan Tek Un, dipelopori oleh Koo Cai Sun yang memang suka sekali mempermainkan wanita cantik.
Pantas saja gadis ini menyuruh orang-orang memperkosa isterinya sampai mati, kemudian menyuruh orang-orang menyiksa kedua anaknya sampai mati.
Kiranya gadis yang mereka lempar dan tinggalkan di dalam hutan itu masih belum mati dan kini telah menjadi seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi bukan main!
"Kau....
kau....
menjadi iblis betina yang kejam.
Aku hanya memusuhi engkau, akan tetapi kenapa engkau membalas kepada anak isteriku pula yang tidak tahu apa-apa?
Siksalah aku, bunuhlah aku, akan tetapi kenapa engkau menyiksa mereka?"
Cui Hong tersenyum mengejek.
"Manusia berhati binatang! Engkau lupa betapa kalian telah menyiksa dan membunuh ayahku dan suheng, juga tunanganku. Akan tetapi aku tidaklah serendah dan sekejam engkau."
Cui Hong lalu melompat ke pintu dan membuka daun pintu tembusan itu.
Keluarlah seorang wanita dan dua orang anak yang tadi dibawa ke dalam.
Isteri Louw Ti itu masih berpakaian biasa, dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia telah diperkosa orang!
Dan dua orang anak-anak itupun dalam keadaan sehat-sehat saja, sama sekali tidak menderita cidera.
Melihat Louw Ti rebah dengan berlumuran darah, isterinya dan kedua orang anaknya lalu lar i menghampiri dan menangisinya.
Melihat mereka, Cui Hong merasa kasihan pula dan ia pun berkata, suaranya tenang dan jelas terdengar oleh isteri Louw Ti.
"Seperti sudah kuceritakan kepadamu, Enci, suamimu ini telah melakukan dosa yang tak dapat diampuni terhadap diriku dan ayahku, juga tunanganku. Dia dan komplotannya tidak saja menyiksa dan membunuh ayah dan tunanganku yang sama sekali tidak berdosa, bahkan dia dan komplotannya itu memperkosa aku di depan mata ayah dan tunanganku sebelum membunuh mereka. Dia dan komplotannya telah memperkosa aku bergantian selama beberapa hari, kemudian karena mereka mengira aku mati mereka melempar aku ke dalam hutan dan meninggalkan aku. Aku sudah puas sekarang, membalas dendam kepadanya akan tetapi aku tidak membunuhnya."
Diingatkan akan perbuatan suaminya yang sudah didengarnya dari Cui Hong, isteri Louw Ti berhenti menangis dan kini ia memandang wajah suaminya yang berlumuran darah.
Di bawah ancaman Cui Hong, juga karena sudah mendengar penuturan gadis itu, ia tadi membantu Cui Hong dengan merintih dan menangis seperti orang diperkosa, dan anak-anaknya ditakut-takuti sehingga mereka pun menangis dan berteriak-teriak.
"Benarkah semua yang diceritakan itu? Benarkah engkau dahulu melakukan i semua perbuatan terkutuk itu?"
Tanyanya sambil bangkit berdiri.
Louw Ti tak dapat menyangkal lagi.
Tiada gunanya menyangkal.
Dengan mata tunggalnya yang berkedip-kedip dia memandang anak isterinya seorang demi seorang, lalu berkata dengan suara lirih dan parau.
"Benar.... semua benar...."
Jawaban ini seperti memukul isterinya.
Wanita itu cepat meraih dan memegang tangan kedua anaknya, ditariknya menjauh dari tubuh yang rusak itu seolah-olah takut kalau-kalau mereka akan ikut menjadi kotor.
"Engkau memang manusia biadab! Aku sendiri pun dulu kau paksa menjadi isterimu, dengan menggunakan pengaruh uangmu dan kepandaianmu. ayahku takut menolak dan aku terpaksa menjadi isterimu. Aku berusaha untuk menyesuaikan diri, belajar mencinta ayah dari anak-anakku, akan tetapi.... kiranya engkau pernah melakukan hai yang sedemikian kejinya. Terkutuk kau! Aku tidak sudi menjadi isterimu lagi, aku tidak sudi melihat mukamu lagi!"
Wanita itu menangis dan membalikkan diri, membelakangi suaminya. Cui Hong menyerahkan sebuah bungkusan kepada wanita itu.
"Enci, terimalah uang ini untuk bekal hidupmu bersama anak-anakmu."
Isteri Louw Ti menerima bungkusan itu yang berisi uang yang harganya seratus tail emas lebih, yaitu uang yang diterima Cui Hong dari Louw Ti sebagai uang tanggungan, hasil penggadaian rumah dan seisinya.
Isteri Louw Ti menerima uang itu lalu mengajak pergi kedua orang anaknya, untuk pulang ke rumah orang tuanya dan selamanya tidak akan mau lagi bertemu dengan bekas suaminya itu.
Melihat isteri dan anak-anaknya meninggalkannya, Louw Ti merasa gelisah bukan main.
Dia sudah kehilangan segala-galanya, rumahnya dan seisi rumah, juga tubuhnya sudah cacat.
Kalau sekarang isteri dan kedua orang anaknya meninggalkannya, bagaimana dia dapat hidup?
Dia memanggil-manggil, meratap dan menangis, akan tetapi isteri dan anak-anaknya tidak memperdulikannya lagi sampai lenyap ke luar rumah.
Cui Hong memandang dengan sinar mata penuh ejekan.
"Nah, baru sekarang engkau merasakan akibat dari perbuatanmu terhadap diriku tujuh tahun yang lalu. Rumah ini hanya kusewa dari orang. Selamat tinggal, Louw Til"
Cui Hong lalu meloncat keluar.
Louw Ti kini menjerit-jerit dan menangis, akan tetapi tak lama kemudian terdengar dia tertawa bergelak, lalu menangis lagi.
Kiranya pukulan batin lebih hebat daripada pukulan lahir baginya dan dia telah menjadi gila secara mendadak!
Sesal kemudian memang tiada gunanya sama sekali.
Penyesalan tidak akan mengubah seseorang dari wataknya yang sesat, karena penyesalan biasanya datang setelah akibat perbuatan itu menimbulkan kerugian bagi dirinya, kerugian lahir maupun batin.
Jadi yang disesalkan bukanlah perbuatan pesatnya, melainkan akibatnya yang merugikan.
Andaikata tidak ada akibat yang merugikan, penyesalan pun tidak akan ada, dan biasanya, kalau akibat yang merugikan itu sudah mereda dan t idak begitu terasa lagi, maka pengulangan perbuatan sesat itupun terjadilah!
Yang penting bukan penyesalan, melainkan pengamatan setiap detik terhadap diri sendiri, setiap detik pada pengamatan apa yang kita pikirkan, ucapkan, lakukan.
Pengamatan diri sendiri ini harus terjadi tanpa adanya "aku"
Yang mengamati, karena kalau terdapat sang aku, tentu pengamatan ini akan menilai dan pengamatan itu pun akan menjadi miring dengan adanya pendapat-pendapat baik dan buruk, benar dan salah.
Padahal, setiap penilaian adalah palsu karena si penilai tentu akan mendasari setiap penilaian dengan perhitungan untung rugi bagi diri sendiri.
Jadi, tidak ada "aku"
Yang mengamati, melainkan yang ada hanyalah pengamatan itu saja, perhatian sepenuhnya tanpa penilaian dari sang aku.
Pengamatan inilah yang akan mengubah!
Perubahan seketika pada saat itu juga, tanpa penyesalan, tanpa pamrih.
Laki-laki itu berusia empat puluh tahun lebih.
Mukanya yang bulat bersih tidak ada kumis atau jenggotnya selembar pun juga, agak putih dan mata itu bergerak-gerak lincah, mulutnya selalu tersenyum mengejek, akan tetapi seketika menjadi senyum ramah kalau ada wanita lewat berpapasan dengannya.
Perutnya gendut dan pakaiannya serba mewah dan dari sutera mahal.
Mukanya masih dibikin lebih putih dengan olesan bedak tipis, dan pakaiannya mengeluarkan bau wangi sekali, seolah-olah sebotol minyak wangi telah tumpah dan menyiram pakaiannya.
Biarpun dia kelihatan seperti seorang laki-laki hidung belang tukang pelesir, dengan sinar mata membayangkan kecabulan dan mata keranjang, namun pria ini bukan seorang biasa, bukan sembarang orang.
Dia adalah seorang jagoan yang memiliki ilmu silat tinggi!
Dialah Koo Cai Sun, dan.
seperti pembaca tentu masih ingat, Koo Cai Sun merupakan seorang di antara Thian-cin Bu-tek Sam-eng atau Tiga Jagoan Tanpa Tanding dari Thian-cin!
Dialah seorang di antara tiga jagoan yang pernah membantu Pui Ki Cong, membunuh Kim-kauwsu dan Can Lu San, muridnya, dan memerkosa Cui Hong.
Bahkan dalam perbuatan memperkosa Cui Hong, dialah yang menjadi pelopornya, karena di antara tiga orang jagoan itu, dialah yang berwatak paling mata keranjang dan suka sekali mempermainkan wanita cantik, baik secara halus mempergunakan pengaruh uang dan kepandaiannya, namun juga secara kasar dengan jalan mengancam dan memperkosa.
Dan selama ini tidak ada orang berani menentangnya, karena selain dia sendiri lihai, juga semua buaya darat dan kaum penjahat adalah sahabat baiknya!
Seperti juga Louw Ti, Koo Cai Sun tinggal di kota raja.
Akan tetapi di antara mereka berdua jarang mengadakan perhubungan karena pekerjaan mereka memang berbeda.
Louw Ti mempergunakan pengaruhnya untuk "melindungi"
Para hartawan dengan imbalan jasa, juga kadang-kadang melindungi pengiriman barang-barang berharga dengan upah tinggi.
Adapun Koo Cai Sun yang tinggal di tengah kota, membuka sebuah toko yang berdagang macam-macam senjata kuno yang dianggap sebagai pusaka-pusaka yang ampuh.
Tokonya terkenal sekali dan dia memperoleh banyak keuntungan, menjadi kaya raya.
Para pembesar di kota raja mengenalnya karena para pembesar itu suka membeli benda-benda kuno yang dianggap keramat dan bertuah, dan dalam hal mencarikan senjata-senjata kuno yang ampuh untuk para pembesar itu, Cai Sun amat pintar.
Sejak dulu Cai Sun berwatak mata keranjang, tak boleh melihat wanita cantik.
Mudah saja dia tergila-gila kalau melihat wanita cantik, dan celakanya, kalau dia sudah tertarik, tidak perduli wanita itu masih perawan, ataukah sudah janda, bahkan isteri orang, akan diusahakan agar jatuh ke dalam pelukannya.
Dan setelah kini menjadi kaya-raya, kegemarannya akan paras cantik ini makin menjadi, sehingga terkenallah nama Koo Cai Sun sebagai seorang hartawan yang mata keranjang.
Di dalam rumahnya, dia telah mempunyai seorang isteri dan tiga orang anak, dan di samping isterinya yang dianggapnya sudah tua, masih ada lagi empat orang isteri muda di dalam rumahnya.
Namun, lima orang isteri di rumah ini masih belum cukup bagi Cai Sun.
Dia masih berkeliaran ke luar rumah, mencari-cari mangsa baru dan setiap kali mendengar ada janda cantik tentu akan didatangi dan digodanya sampai dapat.
Di samping itu, dia pun menjadi langganan rumah-rumah pelacuran yang paling terkenal di kota raja.
Pada suatu hari, pagi-pagi pada saat matahari mulai naik, Koo Cai Sun meninggalkan sebuah rumah yang terletak di dekat sebuah jembatan.
Rumah itu tempat tinggal seorang janda yang terpikat pula oleh rayuan Koo Cai Sun, seorang janda yang tidak muda lagi sudah empat puluh tahun lebih usianya, akan tetapi masih sexy dan genit.
Cai Sun yang mata keranjang dan rakus akan wanita ini tidak melewatkan janda itu sehingga terjadilah hubungan di antara mereka, hubungan gelap tanpa menghiraukan kritik yang dilontarkan oleh anak-anak janda itu yang besar-besar, bahkan janda itu sudah mempunyai beberapa orang cucu!
Tanpa mengenal malu, Cai Sun keluar dari rumah itu dalam keadaan yang agak kusut dan lesu, tidak seperti biasa dia selalu necis dan pesolek.
Ketika dia tiba di jembatan itu, sesosok tubuh yang menggeletak di tepi jalan menarik perhatiannya.
Bagi orang lain yang lewat di situ, tubuh yang menggeletak itu tidak diperdulikan, bahkan dengan jijik mereka membuang muka agar jangan terlalu lama memandang keadaan orang yang mengerikan itu.
Keadaan laki-laki yang oleh umum dianggap sebagai seorang gelandangan yang terlantar ini memang mengerikan sekali.
Tangan kirinya buntung dan ujung lengan sebatas pergelangan itu dibalut kain yang mulai kotor.
Tercium bau yang busuk dan banyak lalat merubung balutan tangan buntung itu.
Agaknya kedua kaki orang itu pun cacat karena ia menggeletak setengah rebah di tepi jembatan.
Matanya yang kiri juga buta, biji matanya tidak ada dan pelupuknya masih memperlihatkan luka borok.
Rambutnya awut-awutan dan pakaiannya compang-camping lagi kotor.
Akan tetapi, Cai Sun terkejut dan menghampiri orang itu.
Biarpun keadaan orang itu seperti gelandangan terlantar, dia masih dapat mengenal orang pendek muka hitam itu.
"Louw Ti! Bukankah engkau Louw Ti....?"
Tanyanya sambil berjongkok dan memandang penuh rasa kaget dan heran.
Dia ingat bahwa sahabatnya ini telah menjadi seorang yang cukup kaya dan berhasil, tinggal di tepi kota raja.
Kenapa kini berada di sini seperti seorang gelandangan dalam keadaan cacat seperti itu?
Orang itu membuka mata tunggalnya memandang kepada Cai Sun, lalu tertawa ha-ha-he-he, kemudian menangis.
Tahulah Cai Sun bahwa orang ini telah menjadi gila!
Hai ini membuat dia menjadi semakin penasaran dan dipegangnya kedua pundak orang itu, diguncangnya agak keras.
"Louw t Ti! Sadarlah! Aku Koo Cai Sun, sahabat baikmu!"
Orang itu memang Louw Ti yang telah menjadi cacat dan gila setelah Cui Hong melampiaskan dendamnya kepada musuh besar ini.
Dia memandang Cai Sun dan alisnya berkerut.
Agaknya dia mulai ingat kepada wajah sahabatnya ini.
"Koo Cai Sun? Ahhh, Koo Cai Su.... hu-hu-huuu....!"
Dan dia pun menangis dan menjambak-jambak rambutnya.
"Louw Ti! Tenangkanlah dan ceritakan apa yang telah terjadi? Kenapa engkau menjadi begini?"
"Hu-hu-huuu.... Cai Sun.... hu-huuuuu, aku celaka.... habishabisan....."
"Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa kau tinggalkan rumahmu....?"
"Aku tidak punya rumah lagi, isteri dan anak-anakku pergi semua.... aku.... aku...."
"Kenapa? Dan engkau cacat seperti ini! Siapa yang melakukan hal ini terhadap dirimu, Louw Ti?"
"Cui Hong.... ia Kim Cui Hong, anak guru silat Kim dari Angke-bun itu.... ia gadis bertahi lalat di dagunya yang kita. perkosa dulu.... ha-ha-ha, ia hidup lagi, ia lihai dan aku disiksanya..... ha-ha-ha, engkau pun tentu dicarinya. Cai Sun.. .... ha-ha-ha...."
Setelah tertawa-tawa, Louw Ti menangis lagi.
Wajah Louw Ti menjadi pucat seketika Dan dia pun melompat berdiri memandang ke sekeliling, seolah-olah takut kalau-kalau gadis itu muncul di situ.
Tentu saja dia teringat.
Gadis manis itu!
Gadis yang dimusuhi oleh Pui-kongcu di Thian-cin, kemudian ayah dan tunangan gadis itu dibunuhnya bersama dua orang temannya, yaitu Louw Ti dan Gan Tek Un, dan gadis itu diperkosa habis-habisan sampai disangka mati.
Pertama oleh Pui-kongcu tentu saja, kemudian dioperkan kepada mereka bertiga, dan setelah memperkosanya sampai sepuasnya, mereka lalu melemparkan tubuh gadis itu di tengah hutan.
Gadis itu kini menjadi lihai sekali dan membalas dendam?
"Huh, takut apa menghadapi seorang gadis saja?"
Hatinya membantah dan mencela diri sendiri.
Akan tetapi dia memandang Louw Ti dan bergidik.
Dia tahu bahwa ilmu kepandaian Louw Ti cukup tinggi, tidak lebih rendah dari kepandaiannya sendiri, terutama ilmu cambuknya yang lihai.
Dan kini Louw Ti dibikin cacat seperti itu oleh gadis itu.
"Hemm, jelas bahwa gadis itu tentu merupakan lawan berbahaya,"
Pikirnya.
Dia harus cepat menemui Pui Ki Cong yang juga tinggal di kota raja, karena kalau gadis itu hidup lagi, menjadi lihai dan membalas dendam, tentu bukan hanya Louw Ti saja yang disiksa seperti itu, melainkan gadis itu tentu akan mencari dia pula, dan tentu saja Pui Ki Cong!
Gan Tek Un tidak tinggal di kota raja dan ada sesuatu yang membuat Cai Sun segan untuk menyampaikan berita mengejutkan tentang Louw Ti dan gadis bertahi lalat di dagunya itu kepada Tek Un.
Bekas sahabatnya itu kini telah menjadi seorang pendeta!
Dan telah condong bergaul dengan para pendekar, bahkan kabarnya Gan Tek Un yang telah menjadi pendeta itu kini berpihak kepada para pendekar, menentang golongan hitam!
Biar lah gadis itu mencari dan menemukan Tek Un dan menyiksanya, pikirnya.
Akan tetapi dia harus mencari Pui Ki Cong, berunding dan bersama-sama mencari daya upaya dan persiapan untuk menghadapi gadis itu kalau-kalau benar-benar gadis itu akan datang mencari mereka!
Cai Sun tidak jadi pulang melainkan langsung saja dia pergi mengunjungi gedung tempat tinggal Pui Ki Cong.
Seperti telah kita ketahui, Pui Ki Cong adalah putera kepala jaksa Thian-cin.
Kini usianya sudah tiga puluh tujuh tahun dan dia menikah dengan puteri seorang bangsawan di kota raja, masih kerabat keluarga kaisar.
Karena ayah mertuanya adalah seorang pejabat tinggi di istana, maka Pui Ki Cong dengan mudah memperoleh kedudukan pula sebagai seorang pejabat tinggi di bagian perpajakan.
Kedudukannya itu membuat dia mudah mencari uang haram dan membuat dia menjadi kaya raya dan terhormat.
Dia tinggal di sebuah gedung yang terjaga oleh pasukan pengawal, hidup bersama isterinya yang bangsawan dan telah mempunyai seorang putera yang berusia empat tahun.
Seperti juga Cai Sun yang mata keranjang, Pui Ki Cong setelah berkeluarga tidak pula meninggalkan kesenangannya itu, dan karena memiliki kesenangan yang sama, keduanya gemar mengejar paras cantik, maka selalu terjalin hubungan dekat antara Pui Ki Cong dan bekas pembantunya itu.
Akan tetapi, sudah sebulan lebih Cai Sun tidak pernah berjumpa dengan bekas majikannya yang kini tidak pernah nampak keluar ke tempat pelesir, dan tentu saja amat heranlah hati Cai Sun ketika berkunjung ke rumah Pui Ki Cong, dia ditahan oleh para penjaga.
Penjagaan di gedung itu amat ketat, nampak belasan orang pengawal berjaga dengan senjata tombak dan golok di tangan.
Para pengawal itu tentu saja mengenal Cai Sun yang sudah sering datang berkunjung, akan tetapi pada pagi hari itu, mereka menahan Cai Sun dan tidak diperbolehkan dia langsung masuk.
"Eh? Apakah kalian tidak mengenalku lagi? Aku adalah Koo Cai Sun, sahabat baik tuan muda Pui Ki Cong!"
"Maaf, kami harus melaporkan dulu setiap orang tamu yang hendak berkunjung kepada majikan kami,"
Kata kepala penjaga.
Terpaksa Cai Sun menunggu dengan hati yang tidak enak, dan kepala jaga lalu pergi melapor ke dalam.
Tidak lama kemudian, kepala jaga itu datang lagi dan Cai Sun dipersilakan masuk, akan tetapi diantar atau dikawal oleh dua orang pengawal!
Hal ini merupakan hal baru baginya, akan tetapi walaupun merasa penasaran, terpaksa dia pun diam saja dengan hati mendongkol karena dia hanya seorang tamu yang harus tunduk akan peraturan tuan rumah.
Cai Sun merasa lebih heran lagi melihat kenyataan betapa di gedung besar itu pun nampak penjagaan yang ketat.
Hampir di setiap sudut terdapat seorang pengawal berjaga.
Ketika akhirnya dia disambut oleh Pui Ki Cong, dia memandang dengan kaget.
Tidak berjumpa dengan bekas majikan itu sebulan saja, kini Pui Ki Cong nampak kurus dan pucat, pada matanya terbayang kegelisahan.
Cai Sun memandang penuh selidik.
Putera kepala jaksa di Thian-ciri itu memang masih nampak tampan dengan pakaian yang mewah, akan tetapi tubuhnya yang memang sudah tinggi kurus itu kini kelihatan semakin kurus dan mukanya yang tampan agak pucat seperti orang yang baru sembuh dari penyakit berat.
"Pui-kongcu, ada terjadi hal apakah?"
Cai Sun bertanya, hatinya merasa semakin tidak enak karena langsung saja dia menghubungkan keadaan sahabatnya itu dengan keadaan Louw Ti yang mengerikan.
"Rumahmu penuh dengan pengawal, dan engkau nampak begini kurus dan pucat."
Pui Ki Cong menarik napas panjang.
"Duduklah, Toako, kebetulan sekali kau datang karena memang aku sebetulnya ingin bertemu dan bicara denganmu."
Semakin tidak enak rasa hati Cai Sun ketika dia duduk berhadapan dengan bekas majikan itu.
"Pui-kongcu, katakanlah kepadaku, ada urusan apakah yang membuatmu nampak begini gelisah?"
"Urusan Ayahku...."
"Ayahmu? Ah, apa yang terjadi dengan Pui-taijin?"
Cai Sun masih pura-pura bertanya, padahal tentu saja dia sudah mendengar akan peristiwa yang menimpa diri Jaksa Pui di Thian-cin itu.
Dia sudah mendengar betapa Jaksa Pui itu kini masuk penjara karena dianggap memberontak dan kesalahan terhadap pembesar atasannya.
"Koo-toako, jangan kau pura-pura lagi. Semua orang sudah mendengar akan apa yang terjadi dengan Ayahku."
Kata Ki Cong sambil memandang tajam dengan alis berkerut. Wajah Cai Sun menjadi agak merah dan dia pun mengangguk.
"Memang sesungguhnya saya sudah mendengar berita angin bahwa Pui-taijin tertimpa musibah dan dihukum penjara oleh atasannya."
"Tahukah engkau apa yang telah terjadi sehingga Ayahku tertimpa musibah seperti itu?"
Cai Sun menggeleng kepalanya.
"Saya tidak tahu, Kongcu, dan saya tidak berani mencampuri....."
"Dengar baik-baik, Toako, karena dalam urusan ini, engkau pun terlibat. Baru beberapa hari kemudian setelah ayah dipenjara, aku sempat berkunjung dan bertemu dengan ayah di dalam penjara. Ayah menceritakan semua yang telah terjadi dan ternyata bahwa ayah masuk penjara karena fitnah. Ada orang menukar batu-batu permata yang oleh ayah diberikan kepada Kwa Taijin dengan batu-batu biasa. Batu-batu permata yang amat mahal harganya itu lenyap dicuri orang dan ditukar dengan batu-batu koral. Dan bukan itu saja, malam harinya ada orang mencuri cap kebesaran Kwa Taijin dan menyembunyikannya di dalam kamar ayah sehingga ketika diadakan penggeledahan, cap kebesaran yang hilang itu ditemukan di kamar ayah."
"Ahhh....! Aneh sekali!"
Kata Cai Sun.
"Siapakah yang melakukan fitnah keji itu, Kongcu?"
Pui Ki Cong menatap tajam wajah yang bulat itu.
"Kootoako, coba kau terka, siapa kiranya orang yang mencelakakan Ayah itu?"
Cai Sun merasa betapa jantungnya berdebar kencang, bulu tengkuknya meremang karena dia merasa ngeri sekali.
"Ia.... ia.... bukankah ia puteri Kim-kauwsu yang bernama Kim Cui Hong itu....?"
Kini Pui Ki Cong yang terkejut bukan main. Dipegangnya lengan Cai Sun dan dengan suara gemetar dia bertanya.
"Kootoako, bagaimana engkau dapat menduga begitu?"
Cai Sun menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya yang terlanda rasa takut.
"Ceritakanlah dulu apa dugaanku itu benar, Kongcu."
Ki Cong mengangguk.
"Ayah sendiri tadinya tidak tahu siapa yang telah melakukan fitnah keji terhadap dirinya, akan tetapi ketika dia berada di dalam kamar tahanan, surat ini melayang kepadanya. Kau baca sendiri!"
Ki Cong menyerahkan selembar surat kepada Cai Sun yang membacanya dengan muka pucat dan kedua tangan agak gemetar.
"Kepala Jaksa Pui, kami mengucapkan selamat kepadamu!"
"Mendiang guru silat Kim Siok sekeluarga."
Keringat dingin memenuhi muka dan leher Cai Sun yang gemuk itu ketika dia mengembalikan surat itu kepada Pui Ki Cong.
"Tak salah lagi, tentu ia yang menulisnya...."
"Koo-toako, ia siapakah? Bicaralah yang jelas!"
"Kongcu, lupakah engkau akan gadis remaja puteri guru silat Kim Siok dari dusun Ang-ke-bun itu? Gadis manis yang bertahi lalat di dagunya? Kita..., kita telah membunuh ayahnya dan tunangannya dan kita..... kita telah memperkosanya...."
Pui-kongcu mengangguk-angguk dan meraba-raba dagunya, mengenangkan peristiwa tujuh tahun yang lalu.
Tentu saja kini dia teringat akan semua itu.
Seorang gadis manis yang angkuh dan galak sehingga dia pernah menerima tamparan tangan gadis itu.
Akan tetapi dia telah membalas sakit hatinya sampai sepuasnya, bukan hanya membunuh ayah dan tunangan gadis itu, melainkan juga memiliki tubuh gadis itu sampai sepuasnya, selama tiga hari dia mempermainkan gadis itu sampai menjadi bosan.
Dia lalu memberikan gadis itu kepada Thian-cin Bu-tek Sam-eng.
"Tapi, bukankah ia telah kalian bawa pergi dan kalian bunuh....?"
"Itulah kecerobohan kami, Kongcu. Kami melemparkan ia di dalam sebuah hutan, dalam keadaan hampir mati dan kami yakin bahwa binatang buas tentu akan membunuhnya. Akan tetapi ternyata ..... ah, ia hidup kembali dan agaknya hendak membalas dendam kepada kita semua."
"Tidak perlu takut! Sebaiknya kita menghubungi saudara-saudara Gan Tek Un dan Louw Ti untuk bersama-sama menghadapi gadis itu. Masa kita harus takut menghadapi seorang anak perempuan seperti anak guru silat itu! Kalau ia terjatuh ke tanganku, sekali ini akan kupermainkan ia sampai mati di depan mataku sendiri!"
Ki Cong berkata dengan gemas.
"Kongcu, Louw Ti..... Louw Ti.... dia... dia...."
Melihat sikap Cai Sun seperti orang ketakutan, Ki Cong memandang dengan alis berkerut.
"Ada apa dengan Louw Ti?"
"Celaka, Kongcu, dia.... dia.... ah, gadis itu telah turun tangan terhadap Louw Ti. Karena itulah saya datang menemui Kongcu. Baru saja di jembatan sana, saya bertemu dengan seorang gelandangan gila yang tubuhnya penuh cacat, dan dia adalah Louw Ti! Dia kehilangan segala-galanya, hartanya, rumahnya, anak isterinya dan tubuhnya sendiri cacat, bahkan dia telah menjadi gila, semua itu adalah perbuatan Kim Cui Hong, gadis puteri guru silat Kim di Ang-ke-bun itu!"
"Ahhh....?"
Wajah Ki Cong menjadi semakin pucat.
"Tapi..... tapi..... bukankah Louw Ti memiliki ilmu kepandaian yang tinggi? Bagaimana mungkin gadis itu dapat membikin dia cacat?"
Cai Sun menggeleng-geleng kepala.
"Entahlah, Kongcu, ketika Louw Ti masih mampu bercerita, dia berkata bahwa gadis itu kini lihai bukan main."
"Mari kita temui dia, aku ingin mendengar sendiri ceritanya."
Kata Ki Cong, mengajak Cai Sun untuk keluar.
"Nanti dulu, Kongcu..."
Cai Sun berkata dan ternyata mukanya yang bulat itu selain pucat juga penuh keringat dingin.
Mendengar betapa gadis puteri guru s ilat Kim itu juga sudah menjatuhkan dendamnya terhadap Jaksa Pui, dia menjadi semakin gentar.
"Agaknya.... tidak amanlah kalau kita berdua pergi keluar.... bagaimana kalau ia muncul?"
Mendengar ucapan ini, Ki Cong terkejut.
Tak disangkanya Cai Sun demikian berubah.
Sikap jagoannya hilang dan kini dia menjadi seorang penakut.
Dia tidak tahu bahwa memang demikianlah watak orang yang suka bersikap kejam, seorang jagoan atau tukang pukul.
Seorang tukang pukul bersikap kejam dan pemberani kalau menghadapi lawan yang sekiranya dapat ditundukkan.
Akan tetapi begitu berhadapan dengan lawan yang lebih kuat, nampaklah wataknya yang sebetulnya.
Dia seorang pengecut, seorang penakut yang hendak menyembunyikan rasa takutnya di balik kekejaman terhadap pihak yang lebih lemah.
Karena Cai Sun, bekas jagoannya itu memperlihatkan sikap takut-takut, Ki Cong juga menjadi gentar dan dia lalu memer intahkan sepasukan pengawal yang terdiri dari be lasan orang untuk mengawalnya keluar rumah bersama Cai Sun.
Dengan adanya pasukan ini, besarlah hati Cai Sun dan dia pun melangkah dengan gayanya di samping Ki Cong, dengan sikap seolah-olah dia yang melindungi putera bekas jaksa Thian-cin itu!
Mereka menemukan Louw Ti yang kini sudah meninggalkan jembatan dan berusaha sedapatnya untuk pergi dari situ.
Ki Cong memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.
Dia pun mengenal Louw Ti, akan tetapi Louw Ti sekarang telah menjadi seorang yang cacat lahir batinnya.
Mata kiri orang itu buta, tangan kiri buntung, tangan kanan tergantung seperti lumpuh, jalannya pun terpincang-pincang, kaki kanan pincang, kaki kiri diseret.
Keadaan orang itu sungguh menyedihkan dan mengerikan.
Dia tertawa-tawa, lalu menangis dan ketika melihat rombongan Pui Ki Cong menghampirinya, tiba-tiba dia terbelalak dan berteriak.
"Jangan.... ah, jangan bunuh mereka..... ampunkan aku....!"
Dan dia pun melarikan diri sambil terpincang-pincang menyeret kakinya.
Wajah Ki Cong menjadi semakin pucat melihat keadaan Louw Ti.
Juga Cai Sun mengikut i lar inya bekas rekan itu dengan hati penuh kegelisahan dan kengerian membayangkan betapa nasib seperti itu mungkin akan menimpa dirinya.
"Tidak!"
Tiba-tiba dia membentak marah dan mengepal tinju tangan kanannya, mengacungkan ke atas.
"Aku akan melawannya, aku akan membunuh perempuan iblis itu!"
"Tenanglah, Koo-toako. Sungguh menyedihkan se kali nasib Louw-toako. Mari kita kembali, kita harus membicarakan urusan ini dan mengambil langkah-langkah demi keselamatan kita."
Cai Sun mengangguk dan mereka semua membalikkan tubuh dan berjalan kembali menuju ke gedung tempat tinggal Pui Ki Cong.
Akan tetapi pada saat itu mereka mendengar suara ketawa seorang wanita, disusul kata-kata yang halus merdu.
"Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun, giliran kalian akan tiba. Tunggu sajalah!"
"Setan!"
Koo Cai Sun sudah mencabut senjatanya, yaitu sepasang siang-kek, tombak pendek yang bercagak dan dia meloncat ke arah datangnya suara tadi, dari kiri di mana terdapat sebuah bangunan tembok.
Akan tetapi, dia hanya melihat bayangan yang bertubuh langsing berkelebat dan bayangan itu pun lenyap dari situ.
"Akan kuhajar perempuan iblis itu! Akan kuhancurkan kepalanya dengan kepalanku, akan kucabik-(Lanjut ke
Jilid 07) Sakit Hati Seorang Wanita (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 cabik dagingnya dengan siang-kek ini!"
Sumbarnya, namun diam-diam dia terkejut melihat betapa cepatnya bayangan tadi berkelebat dan bergerak.
Akan tetapi, Ki Cong sudah menjadi demikian takutnya sehingga dia cepat-cepat mengajak Cai Sun dan pasukan pengawalnya untuk kembali ke rumahnya.
Setelah memerintahkan para pengawalnya untuk melakukan penjagaan yang lebih ketat dan mendatangkan pasukan pengawal lain, Pui Ki Cong lalu mengajak Koo Cai Sun untuk berunding di dalam ruangan sebelah dalam.
"Bagaimana baiknya sekarang?"
Tanya Ki Cong dengan suara agak gemetar.
Melihat keadaan Louw Ti tadi, kemudian melihat berkelebatnya bayangan yang mengeluarkan suara ancaman, dia menjadi ketakutan.
Di lubuk hatinya, Cai Sun juga sudah takut setengah mati.
Dia bukan seorang bodoh, melainkan cerdik dan licik sekali.
Dia tahu bahwa wanita puteri g uru silat Kim itu muncul untuk membalas dendam dan bahwa wanita itu kini lihai bukan main.
Sudah terbukti ketika ia mencelakakan Pui-taijin kemudian menyiksa Louw Ti dan tadi pun kemunculannya membuktikan kelihaiannya.
Dia dan keluarganya terancam!
Dia harus dapat mempergunakan kecerdikannya untuk menyelamatkan keluarganya dan dirinya sendiri, di samping itu jangan sampai kelihatan sebagai seorang pengecut besar yang ketakutan.
Maka dia pun tersenyum.
Wajahnya yang bulat itu seperti terbelah menjadi dua ketika mulutnya terbuka lebar.
"He-he-he, Pui-kongcu. Menghadapi ancaman bocah setan itu, tidak perlu kita takut. Memang jelas bahwa ia tentu akan berusaha untuk mencelakai kita, terutama sekali engkau, Kongcu, mengingat bahwa engkaulah musuh utamanya, akan tetapi aku yakin akan dapat mengatasinya. Pui-kongcu, memang seba iknya kalau untuk sementara waktu ini, kita bergabung untuk menghadapinya, dan juga aku merasa berkewajiban untuk membantumu dalam menolak ancaman perempuan itu. Bagaimana kalau untuk sementara ini aku membawa keluargaku tinggal di sini agar dapat menjaga keselamatan Kongcu?"
Tentu saja Pui Ki Cong yang merasa gentar menghadapi ancaman gadis puteri Kim-kauwsu itu menjadi girang bukan main.
Dia tidak tahu bahwa sebetulnya bekas pembantunya itu pun ketakutan dan ingin berlindung di gedungnya yang banyak dijaga para pengawal!
"Baik sekali kalau begitu, Toako.
Dan akupun akan mencari jagoan-jagoan di kota raja ini untuk melindungiku.
Selain itu, juga aku akan mengerahkan orang pandai untuk mencari dan membekuk perempuan iblis itu."
Girang sekali rasa hati Cai Sun.
Memang itulah yang dikehendakinya.
Selain dapat berlindung di gedung Pui Ki Cong dan dalam menghadapi Kim Cui Hong dia memperoleh bantuan orang-orang pandai, juga dia dapat berjasa terhadap bekas majikan itu karena seolah-olah dia berada di situ untuk melindungi keselamatannya, bukan untuk mengungsikan keluarganya!
Cui Hong memasuki rumah makan yang tidak begitu ramai itu.
Rumah makan yang sederhana dan berada di ujung kota.
Seorang pelayan restoran yang selama beberapa hari ini melayaninya, segera menyambut dengan senyum ramah.
Nona cantik ini memang telah menjadi langganan restoran, setiap hari makan di situ.
"Selamat siang, nona. Selamat duduk, dan nona pilih saja meja mana yang nona kehendaki. Banyak yang masih kosong, nona."
Pelayan itu menegur.
Cui Hong mengangguk sedikit lalu matanya menyapu ruangan.
Memang tidak banyak tamu, hanya lima enam meja yang ada orangnya.
Mereka ini berkumpul di bagian depan, maka ia pun memilih meja di sudut agak belakang yang sepi.
Hanya ada seorang tamu lain duduk di meja belakang, hanya terpisah dua meja dari tempat yang dipilihnya.
"Sediakan makanan seperti kemarin,"
Kata Cui Hong singkat kepada pelayan itu yang mengangguk-angguk ramah.
Setelah pelayan itu mengundurkan diri untuk mempersiapkan pesanannya, Cui Hong mengambil tempat duduk dan tanpa disengaja ia memandang ke depan.
Kebetulan sekali pada saat itu, pemuda yang duduk di meja lain, yang juga duduk sendirian saja, sedang memandangnya.
Dua pasang mata bertemu dan Cui Hong segera membuang muka.
Wajah seorang pria yang sangat menarik, pikirnya.
Heran ia mengapa tiba-tiba saja ia tertarik kepada pria itu.
Padahal, pria itu memandangnya dengan sinar mata kagum yang demikian jujur, tidak mengandung sinar kurang ajar seperti yang seringkali ia lihat dalam pandang mata pria lain.
Biarpun ia tidak pernah memandang langsung, dari sudut kerling matanya ia beberapa kali mengamati keadaan pemuda berpakaian serba kuning itu.
Pemuda itu bukan remaja lagi, tentu sudah tiga puluh tahun usianya, atau kurang pun hanya sedikit.
Seorang pemuda yang berpakaian sederhana, dari kain kuning yang tidak mahal.
Rambutnya yang hitam dan tebal agak keriting itu digelung ke atas dan diikat dengan pita biru.
Wajahnya tidak terlalu tampan, namun ganteng dan penuh kejantanan, dengar, hidung mancung dan dagu meruncing membayangkan ketabahan dan kemauan besar.
Sinar matanya lembut namun tajam, terbayang kejujuran di dalam pandang matanya.
Bentuk tubuhnya sedang, dengan dada yang bidang dan leher yang nampak kuat.
Melihat bentuk pakaiannya, tentu dia seorang pemuda petani, pikir Cui Hong yang merasa semakin heran melihat diri sendiri yang begini menaruh perhatian terhadap seorang pria yang tidak pernah dikenalnya.
Padahal, biasanya ia belum pernah memperhatikan seorang pria.
Semenjak ia diperkosa dan dipermainkan empat orang laki-laki, kemudian ia ikut belajar ilmu silat dari gurunya, ia tidak pernah tertarik kepada pria.
Apalagi ketika ia mendapat kenyataan betapa pandang mata hampir semua orang pria yang ditujukan kepadanya selalu mengundang sifat kurang ajar, ingin menggoda, kekaguman yang mengandung nafsu, membuat ia teringat akan pandang mata empat orang pria musuh besarnya dan ia seperti tak pernah merasa tertarik atau suka kepada pria.
Bahkan ada sedikit perasaan benci, menganggap bahwa semua pria adalah makhluk yang kejam dan hanya mengejar kesenangan nafsu berahi belaka!
Inilah sebabnya mengapa ia merasa heran sendiri melihat ia merasa begitu tertarik kepada pria yang satu ini!
"Ah, dia hanya seorang laki-laki....."
Akhirnya Cui Hong mencela diri sendiri dan segera mengalihkan perhatiannya kepada hidangan yang baru saja dikeluarkan oleh pelayan.
Sambil makan ia memikirkan dan mencari siasat untuk menghadapi dua orang musuhnya.
Setelah berhasil membalas dendam terhadap Louw Ti, ia melakukan penyelidikan dan dengan mudah saja ia dapat menemukan di mana tinggalnya Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun.
Segera ia melakukan penyelidikan tentang keadaan hidup dua orang musuh besarnya itu.
Ia sempat melihat rombongan Ki Cong dan Cai Sun yang dikawal belasan orang perajurit menemui Louw Ti yang telah menjadi gila di jembatan itu, dan ia sempat pula mengejek dan mengancam dua orang musuh besarnya.
Kalau ia menghendaki, tentu pada waktu itu juga ia dapat menyerangnya dan melukai mere ka.
Akan tetapi tidak, ia tidak mau dan tidak mau menimbulkan keributan, apalagi harus mengamuk di antara pasukan pengawal.
Ia harus mencari siasat yang tepat dan baik.
Sakit hati yang diderita Cui Hong terlalu besar sehingga mempengaruhi seluruh hidupnya, membentuk suatu watak tersendiri terhadap musuh-musuh besarnya.
Ia ingin menikmati kemanisan pembalasan dendam sedikit demi sedikit!
Ia tidak tergesa-gesa.
Sudah hampir delapan tahun ia menahan sakit hati, sudah bertahun-tahun ia bersabar, maka sekarang pun ia tidak tergesa-gesa.
Bagaikan seekor kucing yang melihat dua ekor tikus yang akan dijadikan korban, ia tidak tergesa-gesa menerkam mere ka, melainkan hendak mempermainkan sepuasnya, seperti ketika ia dipermainkan oleh musuh-musuhnya dahulu!
la ingin melihat mereka menderita ketakutan, kengerian dan akhirnya barulah ia akan turun tangan membuat mereka menderita badan.
Ia ingin mereka menderita lahir batin secara hebat, seperti yang pernah dideritanya dahulu oleh perbuatan mereka.
Betapa nikmat dan manisnya melakukan pembalasan dendam seperti ini!
Seperti orang makan hidangan lezat, tidak segera ditelannya, melainkan dikunyahnya perlahan-lahan, demikian pikir Cui Hong sambil mengunyah makanannya.
Ia tidak tahu bahwa pria berpakaian kuning itu, yang tadi tidak mau memandang kepadanya secara langsung, kini menatapnya dengan penuh perhatian dan penuh kagum, selagi ia mencurahkan perhatiannya kepada makanannya.
Selama beberapa hari ini, Cui Hong diam-diam mengikuti semua gerak-gerik dua orang musuhnya.
Ia seringkali tersenyum mengejek melihat kesibukan mereka, melihat betapa Cai Sun membawa semua keluarganya, mengungsi ke rumah gedung Pui Ki Cong.
"". --------------------------------------------------------------------------------------Halaman gak ada --------------------------------------------------------------------------------------dan ia pun melihat yang ada hanyalah seorang pemuda yang telah melukai para perajurit pengawal dan aku sebagai seorang kepala pengawal.
"Menyerahlah untuk kutangkap dan aku pun tidak akan mempergunakan senjata terhadap dirimu."
Tan Siong mengangguk.
"Baiklah, ini urusan pribadi dan tidak ada sangkut-pautnya dengan Siauw-lim-pai maupun Kun-lun-pai. Akan tetapi aku tidak merasa bersalah, maka terpaksa aku menolak untuk menyerah dan ditangkap."
"Su-toako, pemuda ini sombong sekali. Kalau tidak diberi hajaran tentu akan memandang rendah kepada kita!"
Teriak Cai Sun marah karena dia merasa khawatir kalau-kalau rekannya itu akan berdamai dan tidak melanjutkan perkelahian melawan pemuda itu.
Dia sendiri sudah menggerakkan pedang di tangannya melakukan serangan dahsyat yang disambut oleh Tan Siong dengan tenang.
Melihat ini, terpaksa Su Lok Bu maju lagi melakukan serangan dengan sepasang pedangnya.
Juga dua orang pengawal membantu dengan pedang mereka.
Tiba-tiba muncul seorang laki-laki pendek berkulit putih dan berperut gendut, dengan rambut dan jenggot putih semua.
"Penjahat muda yang nekat, lihat golok besarku!"
Bentak orang itu dan begitu tiba di situ, dia membentak dan menggerakkan sebatang golok besar dan berat dengan gerakan yang amat dahsyat.
Suara golok itu semakin berdesing-desing dan menyambar-nyambar ganas menyerang Tan Siong.
Tentu saja Tan Siong terkejut bukan main karena golok itu tidak kalah bahayanya dengan sepasang pedang di tangan Su Lok Bu!
Orang yang baru datang ini adalah Cia Kok Han yang menyusul rekannya dan begitu melihat rekan-rekannya mengeroyok seorang pemuda yang amat lihai dan melihat ada empat orang pengawal yang terluka, dia pun segera maju mengeroyok.
Kini Tan Siong kewalahan sekali, apa lagi karena dia tahu bahwa yang baru datang ini tentulah seorang Bu-tong-pai hatinya merasa semakin ragu dan khawatir.
Karena itu, gerakan pedangnya agak".
--------------------------------------------------------------------------------------Halaman gak ada --------------------------------------------------------------------------------------""
Nanti kemanisan balas dendam sepenuhnya tanpa gangguan orang lain.
Napsu yang membakar hati Cui Hong mirip dengan napsu yang membakar d iri Kai Sun atau Ki Cong ketika memperkosa wanita itu tujuh tahun yang lalu.
Dan untuk menjatuhkan pembalasan dendamnya, Cui Hong seperti seekor kucing yang tekun dan sabar mengintai tikus-tikus calon korbannya, kini dengan amat sabarnya menanti saat baik dan mencari-cari siasat bagaimana agar ia dapat berhadapan dengan dua orang musuh besar itu tanpa adanya gangguan orang lain.
Tiba-tiba Cui Hong dikejutkan dari lamunannya oleh suara ketawa seorang laki-laki.
Ia mengangkat mukanya dan melihat seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun, bermuka penuh bopeng dan bertubuh tinggi besar, berdiri dekat mejanya dan sedang memandang kepadanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Masih ada lagi tiga orang laki-laki lain, teman-teman dari orang yang kini berada di dekat mejanya, berada di meja sebelah kirinya, dan mereka pun tertawa-tawa dan memberi semangat kepada si muka bopeng.
"Hayo, A-cauw, apakah engkau kehilangan nyalimu setelah berhadapan dengan wanita cantik?"
Demikian antara lain orang itu berkata. Agaknya laki-laki yang berada di dekat meja Cui Hong itubernama A-cauw dan kini dia membungkuk dengan sikap hormat dibuat-buat kepada Cui Hong.
"Nona, apakah Nona sendirian saja makan di sini?"
Cui Hong maklum bahwa laki-laki ini hendak kurang ajar, akan tetapi ia tidak mau mencari keributan. Dengan suara datar ia pun menjawab.
"Benar, aku duduk dan makan sendirian. Ada sangkutan apakah hal itu dengan dirimu?"
"Begini, Nona. Aku dan teman-temanku itu, kami berempat baru saja menang taruhan, dan kami mengadakan pesta di restoran ini. Melihat Nona seorang diri saja, kami berempat ingin sekali mengundang Nona untuk makan bersama kami, bersenang-senang dan ikut menghabiskan uang kemenangan kami."
Cui Hong mengerutkan alisnya dan ingin menampar muka yang bopeng itu.
Akan tetapi ia menahan diri.
Ia sedangberada di kota raja dan dengan tugas yang amat penting.
Kalau ia membuat ribut tentu akan menarik perhatian, apalagi kalau sampai ia memperlihatkan kepandaiannya, tentu akan menimbulkan kecurigaan.
Ia harus merahasiakan dirinya agar tidak ada yang tahu bahwa ia adalah Kim Cui Hong yang sedang berusaha membalas dendam terhadap musuhmusuhnya.
Untuk ini pula ia sudah bersusah payah menghias mukanya dengan penyamaran sehingga tahi lalat di dagunya juga tidak nampak.
Ia percaya bahwa seperti juga Louw Ti, musuh-musuhnya yang lain tidak akan dapat mengenalnya tanpa adanya tahi lalat di dagunya itu.
Kalau kini ia melayani segala urusan kecil seperti gangguan laki-laki kurang ajar ini, hai itu amat berbahaya karena dapat membocorkan rahasia tentang dirinya yang hendak dirahasiakan.
Pula, sejauh ini, laki-laki bermuka bopeng itu belum memperlihatkan sikap kurang ajar, bahkan mempersilakannya dengan sopan, walaupun kesopanan itu dibuat-buat.
"Terima kasih, Saudara. Akan tetapi aku sudah kenyang, maka terpaksa aku tidak dapat menerima undanganmu. Terima kasih, aku malah sudah selesai makan dan hendak pergi."
Berkata demikian, Cui Hong bangkit dan memberi isyarat kepada pelayan untuk datang agar ia dapat membayar harga makanan dan pergi secepatnya dari situ.
Akan tetapi, ketika pelayan itu datang dengan sikap takut-takut Si Muka Bopeng membentaknya.
"Mau apa kau? Pergi!"
Pelayan itu mundur lagi dengan muka membayangkan ketakutan. Hal ini menyadarkan Cui Hong bahwa empat orang itu memang sudah dikenal di situ dan agaknya sudah biasa ditakuti orang.
"Nona, seorang gadis secantik engkau tidak patut kalau makan sendirian, maka mar ilah ikut bersama kami, Nona. Nanti kami akan mengantar Nona pulang. Di manakah rumahmu dan siapa pula namamu, Nona?"
Si Muka Bopeng kini semakin berani dan pertanyaan-pertanyaannya itu mulai kurang ajar.
"Apakah sudah ada yang punya, Nona manis?"
Terdengar seorang temannya berteriak dari meja sebelah.
"Aihh, jangan jual mahal, Nona manis,"
Kata yang lain.
"Kami baru saja mendapat rejeki besar, jangan khawatir, kami mampu memberi hadiah besar kepadamu, Nona manis"
Sambung orang ke tiga.
Mendengar ucapan-ucapan itu dan melihat sikap mereka.
Cui Hong mulai naik darah.
Ia merasa serba salah, menghajar mereka berarti akan membuka rahasianya.
Mendiamkan saja, mereka tentu akan semakin kurang ajar dan ia tidak akan kuat menahan kesabarannya lagi.
Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara seorang laki-laki yang terdengar tegas dan halus, biarpun penuh dengan nada teguran.
"Saudara-saudara adalah laki-laki, maka tidak sepatutnya kalau mengganggu seorang wanita baik-baik di tempat umum. Nona ini sudah makan dan menolak undangan kalian, kenapa mengeluarkan ucapan yang tidak sopan?"
Cui Hong cepat memandang dan ternyata yang mengeluarkan kata-kata itu adalah pemuda yang berpakaian kuning yang tadi duduk seorang diri di sudut belakang.
Kini pemuda itu telah bangkit dari tempat duduknya dan memandang kepada Si Muka Bopeng dengan sinar mata penuh teguran.
Tentu saja Si Muka Bopeng menjadi marah.
Mukanya berubah merah sekali.
Dia dan kawan-kawannya terkenal sebagai jagoan-jagoan di lorong itu, dan kini seorang pemuda yang asing berani menegur mereka!
Si Muka Bopeng meninggalkan meja Cui Hong dan cepat melangkah menghampiri meja Si pemuda berpakaian kuning dengan mata melotot dan tangan terkepal.
Akan tetapi dia berhati-hati, ingin tahu dulu siapa adanya orang yang berani menegur dia dan teman-temannya.
Di kota raja banyak terdapat orang pandai dan golongan-golongan yang kuat, maka dia tidak boleh salah tangan menentang orang yang lebih tinggi kedudukannya atau lebih kuat.
Memang, di bagian mana pun di dunia ini, orang-orang yang suka bertindak sewenang-wenang, yang suka mempergunakan kekerasan untuk menekan orang lain, selalu memiliki watak pengecut dan beraninya hanyalah kepada orang-orang yang lebih lemah dari padanya.
Sekali bertemu yang lebih kuat atau lebih tinggi kedudukannya, maka akan nampaklah wataknya yang aseli dan dia akan berubah dari s inga buas menjadi seekor domba yang mengembik, menjadi seorang penjilat yang tidak mengenal malu.
"Siapakah engkau, berani mencampuri urusan kami?"
Bentak Si Muka Bopeng.
Juga tiga orang kawannya sudah bangkit berdiri dan memandang ke arah pemuda berpakaian kuning itu dengan mata melotot dan muka mengancam.
Dengan sikap masih tenang pemuda itu menjawab.
"Namaku Tan Siong dan aku tidak bermaksud mencampuri urusan kalian, melainkah hanya menasihatkan bahwa tidak sepatutnya laki-laki menggoda wanita di tempat umum."
"Perduli apa engkau? Apa sih kedudukan dan pekerjaanmu maka engkau berani menentang kami?"
Si Muka Bopeng kembali bertanya karena dia masih ragu-ragu untuk turun tangan terhadap pemuda yang belum dikenalnya ini.
Sementara itu, sambil melirik dan mengikuti peristiwa itu dengan sudut matanya, Cui Hong menghampiri pelayan dan menyerahkan pembayaran harga makanannya.
Akan tetapi ia masih berdiri di dekat pintu, memandang ke arah dua orang laki-laki yang sedang bertengkar itu.
Hatinya semakin tertarik karena pemuda berpakaian kuning itu bersikap demikian tegas, jujur dan penuh dengan keberanian.
juga hatinya senang sekali karena pemuda itu telah membelanya, walaupun ia yakin bahwa pemuda itu akan membela wanita mana pun yang diganggu orang.
Pemuda itu tidak membela pribadinya, melainkan membelanya karena ia wanita yang mengalami gangguan laki-laki kurang ajar.
"Aku tidak mempunyai kedudukan apa-apa, dan pekerjaanku adalah bertani Aku seorang perantau yang baru saja masuk ke kota raja dan kebetulan melihat apa yang kalian lakukan terhadap Nona itu. Aku hanya memberi nasihat kepada kalian, tidak bermaksud buruk. Mendengar bahwa pemuda itu hanya seorang petani dan perantau, Si Muka Bopeng menjadi marah sekali.
"Keparat! Kiranya hanya seorang petani dusun busuk! Berani engkau menegur aku? Tidak tahu engkau siapa aku? Aku adalah Si Harimau Sakti, jagoan di kota raja. Manusia usil macam engkau ini harus dihajar!"
Dan Si Muka Bopeng lalu menendang meja di depannya itu.
"Brakkk....!"
Meja itu terpelanting, berikut mangkok piring dan semua benda itu menabrak pemuda berpakaian kuning.
Ada kuah sayur memercik ke pakaian pemuda dusun itu yang terpaksa melangkah ke belakang dan agak terhuyung karena meja itu menimpa dadanya cukup keras.
Melihat ini, Cui Hong mengerutkan alisnya.
Pemuda itu adalah pemuda dusun yang sama sekali tidak pandai ilmu silat.
Kalau pemuda itu pandai ilmu silat, tentu akan dapat menghindarkan diri dengan mudah.
Akan tetapi, kenyataan ini membuatnya semakin kagum.
Kalau pemuda itu gagah perkasa, maka tidak aneh kalau dia berani menentang Si Muka Bopeng yang berjuluk Harimau Sakti itu bersama temantemannya.
Akan tetapi, pemuda tani ritu t idak pandai ilmu silat namun berani menentang.
Kegagahan ini amat mengagumkan hatinya dan ia pun siap untuk melindungi pemuda itu kalau sampai terjadi perkelahian karena ia dapat menduga bahwa tentu pemuda tani itu akan disiksa oleh Si Muka Bopeng dan kawan-kawannya yang kini sudah datang beramai-ramai dan mengepung pemuda itu.
"Toako, perlu apa banyak bicara dengan cacing tanah ini? Hajar saja dia agar dia tahu rasa dan tahu diri! "
Kata seorang teman Si Muka Bopeng yang hidungnya pesek.
"Ya, mar i kita pukul dia setengah mati!"
Teriak yang lain. Melihat sikap mereka, pemuda yang bernama Tan Siong itu kelihatan penasaran, akan tetapi sedikit pun tidak nampak rasa takut membayang di wajahnya.
"Kiranya kalian adalah orang-orang yang suka melakukan kejahatan. Aku tidak takut karena aku percaya bahwa di kota raja ini tentu berlaku hukum yang melindungi orang-orang yang tidak bersalah."
"Heh-heh-heh, siapa yang akan melindungimu? Aku akan menghajarmu, siapa yang akan melarang? Di sini tidak ada hukum, hukumnya berada di dalam genggaman tanganku."
"Hemm, siapa bilang di sini tidak ada hukum?"
Tiba-tiba terdengar suara keras dari ambang pintu muncullah tiga orang.
Orang-terdepan adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, berperut gendut, mukanya putih bersih berbentuk bulat, wajahnya nampak gembira dan ramah, pakaiannya indah-indah dan di pinggangnya tergantung sepasang tombak pendek bercagak.
Di belakangnya masuk dua orang laki-laki berusia lima puluhan tahun, yang seorang pendek putih gendut, yang ke dua tinggi besar hitam.
Hanya tiga orang ini saja yang memasuki restoran, masih ada dua belas orang perajurit yang menanti di luar rumah makan itu.
Cui Hong yang tadi lebih dulu melihat tiga orang ini.
Melihat orang pertama, diam-diam ia terkejut.
Orang itu bukan lain adalah Koo Cai Sun!
Dan dua orang kakek di belakangnya adalah Cia Kok Han dan Su Lok Bu, dua orang jagoan yang kini menjadi kepala pengawal di rumah gedung keluarga Pui Seperti biasa, setiap kali melihat wanita cantik, sepasang mata Cai Sun mulai main dengan lirikan genit dan senyum penuh gaya.
Dan dia pun langsung saja memperlihatkan kekuasaan dan pengaruhnya juga hendak memamerkan "kebaikannya"
Kepada wanita cantik yang begitu dilihatnya membuat hatinya terguncang keras karena kagum itu.
Sementara itu, empat orang jagoan yang ternyata hanyalah jagoan-jagoan kecil yang banyak berkeliaran di kota-kota besar begitu melihat masuknya Koo Cai Sun, menjadi terkejut dan seketika sikap mereka berubah.
Bagi mere ka Koo Cai Sun adalah seorang jagoan yang lebih besar, baik kedudukannya maupun kekuatannya.
"Aihh, kiranya Koo-enghiong yang datang!"
Kata Si Muka Bor-ng.
"Maafkan, kami sedang menegur seorang pemuda tani yang tidak tahu diri, berani hendak menentang kami berempat."
Koo Cai Sun melirik ke arah Cui Hong dan kemudian mengangkat muka memandang pemuda berpakaian kuning itu.
"Siapakah kamu dan apa yang telah terjadi di sini?"
Tanyanya, sikapnya demikian angkuh seolah-olah ia berpangkat hakim yang berwenang untuk memeriksa seseorang!
Pemuda itu menjura dengan sikap hormat, mengira bahwa penanya itu tentulah seorang pembesar.
"Saya bernama Tan Siong, ketika saya sedang makan di sini, saya melihat empat orang saudara ini mengganggu Nona di sana itu. Saya lalu menegur untuk menasehati mereka, akan tetapi mereka malah marah dan hendak memukul saya, bahkan membalikkan meja saya."
Koo Cai Sun kembali melirik ke arah Cui Hong dan dia lalu bertolak pinggang menghadapi Si Muka Bopeng.
"Hem, bagus sekali perbuatan kalian, ya? Berani mengganggu seorang gadis di tempat umum! Apa kalian kira di sini tidak ada hukum? Selama aku di sini, kalian tidak boleh berbuat sewenang-wenang. Hayo cepat kalian minta maaf kepada Nona itu!"
Si Muka Bopeng dan teman-temannya saling pandang dengan bingung.
Mereka cukup mengenai Cai Sun, seorang yang paling suka kepada perempuan cantik dan sering pula mempergunakan kepandaian dan uangnya untuk memaksa perempuan cantik yang dikehendakinya.
Akan tetapi kini bersikap sebagai seorang satria yang hendak melindungi seorang perempuan.
Akan tetapi Si Muka Bopeng itu agaknya mengerti.
Tentu Cai Sun hendak mencari muka kepada gadis cantik itu, pikirnya!
Dia dan kawan-kawannya tidak berani membantah.
Keempatnya lalu menghampiri Cui Hong, menjura dan Si Muka Bopeng berkata.
"Harap Nona suka memaafkan kelancangan kami tadi."
Akan tetapi Cui Hong hanya mengangguk dan ia pun sudah membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dari rumah makan itu.
Hati sendiri terlalu tegang berhadapan dengan Cai Sun, seorang di antara musuh-musuh besarnya, bahkan merupakan orang ke dua sesudah Pui Ki Cong, yang paling hebat menghinanya tujuh tahun yang lalu.
Maka, ia tidak mau mengeluarkan suara, takut kalau-kalau suaranya akan terdengar gemetar saking menahan kemarahan dan kebenciannya.
"Kalian harus mengganti semua kerusakan di sini."
Kata Cai Sun dengan suara keras, dengan maksud agar terdengar oleh Cui Hong yang meninggalkan tempat itu. Pemuda berpakaian kuning itu lalu menjura kepada Cai Sun dan berkata.
"Terima kasih atas kebijaksanaan Tuan."
Cai Sun hanya mengangguk.
Memang tidak ada sedikit pun juga maksudnya untuk menolong atau membela pemuda tani itu.
Andaikata di situ tadi tidak ada gadis cantik itu, agaknya ia pun tidak akan peduli apakah pemuda tani ini akan dihajar setengah mati ataukah dibunuh sekali pun!
Pemuda itu pun cepat meninggalkan rumah makan setelah membayar harga makanan.
Cai Sun memang datang ke rumah makan itu untuk menjamu Cia Kok Han dan Su Lok Bu, dua orang rekan barunya yang dianggap cukup kuat untuk membantunya menghadapi Kim Cui Hong.
Dia sudah membuktikan sendiri betapa hebatnya kepandaian dua orang ini, tingkat mereka bahkan lebih tinggi daripada tingkatnya.
Dengan adanya kedua jago ini, dia sama sekali tidak takut akan ancaman gadis puteri Kim-kauwsu itu.
Kalau saja di situ tidak ada dua orang kakek jagoan ini, tentu dia membayangi gadis cantik tadi untuk dirayunya karena dia sudah tergila-gila kepada gadis yang cantik manis tadi.
Akan tetapi setidaknya dia telah berdaya dan gadis itu tentu berterima kasih kepadanya, pikirnya.
Tentu sudah ada kesan baik dalam hati gadis itu mengenai dirinya, dan kalau lain kali dapat bertemu kembali, hemm, tidak akan sukar menundukkannya!
"Nona, mari ikut bersamaku, cepat!"
Cui Hong menoleh dan melihat bahwa pemuda berpakaian kuning tadi telah berjalan dengan cepat mengejarnya dan memberi isyarat kepadanya untuk mengikutinya.
Tentu saja ia merasa heran, bahkan ada perasaan kecewa menyelubungi hatinya.
Apakah pemuda ini, yang tadi sempat menarik perhatiannya dan membangkitkan rasa kagumnya, pada kenyataannya hanyalah seorang laki-laki biasa saja, seperti yang lain-lainnya dan yang selalu menyembunyikan pamrih di balik semua sikap dan perbuatannya terhadap seorang wanita?
Seorang pemuda yang mempergunakan kehalusan sikapnya untuk memikat seorang gadis, dan kini, setelah merasa bahwa dia tadi melindungi dan membelanya, pemuda itu lalu memperlihatkan watak yang sesungguhnya dan mengajaknya ikut ke rumahnya untuk minta imbalan jasa?
Akan tetapi, pandang mata pemuda itu demikian serius, sedikit pun tidak nampak maksud kurang ajar.
Dan karena memang ingin sekali tahu dan mengenal pemuda ini lebih mendalam untuk mengetahui apakah benar pemuda ini seorang laki-laki yang patut dikagumi.
'Cui Hong tidak banyak berpikir lagi dan segera mengangguk dan mengikuti pemuda itu.
"Cepat, ke sini....!"
Berkali-kali pemuda itu berseru dan nampak tergesa-gesa mengajak Cui Hong keluar masuk lorong sempit di antara rumah-rumah di dalam kota raja itu.
Akhirnya, dengan mengambil jalan melalui lorong-lorong sempit, mereka tiba di ujung selatan kota raja dan pemuda itu mengajaknya untuk memasuki sebuah kuil tua yang nampaknya sudah tidak terpakai lagi.
Di depan kuil itu nampak beberapa orang gelandangan berteduh.
Mereka adalah para tuna wisma yang mempergunakan kuil tua itu sebagai tempat berteduh mereka.
Agaknya pemuda itu sudah biasa memasuki kuil tua itu sehingga para pengemis itu tidak ada yang memperhatikannya, walaupun ada beberapa orang yang menoleh dan memandang heran melihat betapa pemuda itu datang bersama gadis demikian cantiknya.
Cui Hong merasa semakin heran dan hatinya tambah tertarik.
Dengan hati yang agak tenang dan menduga-duga, ia pun terus mengikuti pemuda itu masuk kuil rusak yang sudah tua itu dan akhirnya pemuda yang mengaku bernama Tan Siong itu berhenti di ruangan belakang yang biarpun sudah rusak dan tidak terawat, namun lantainya sudah dibersihkan.
Di situ tidak terdapat lain orang kecuali mereka berdua.
"Nah, di sini kita aman sudah."
Kata Tan Siong sambil menarik napas panjang, wajahnya yang tadi serius nampak lega.
Kembali timbul kecurigaan di dalam hati Cui Hong.
Benarkah kekhawatirannya tadi bahwa pemuda ini bermaksud kurang ajar terhadap dirinya?
"Apakah artinya semua ini?
Apa maksudmu mengajak aku pergi ke sini dengan tergesa-gesa seperti menyembunyikan diri?"
Cui Hong bertanya sambil menatap tajam.
Pemuda itu balas memandang dan kembali, seperti terjadi di dalam rumah makan tadi pada saat mereka bertemu pandang untuk pertama kali, dua pasang mata itu bertemu pandang, bertaut dan sampai lama mereka saling pandang, seolah-olah dua pasang mata itu saling menjajagi dan sinarnya saling melekat, sukar dipisahkan lagi.
Akhirnya pemuda itu yang menundukkan sinar matanya karena dia harus menjelaskan tindakannya yang agaknya menimbulkan keheranan dan kecurigaan wanita itu.
"Maafkan aku, Nona, tadinya aku tidak sempat menjelaskan, dan terima kasih bahwa engkau begitu percaya kepadaku dan memenuhi permintaanku tanpa ragu-ragu."
Lega rasa hati Cui Hong.
Bukan begini sikap seorang pria yang hendak berbuat kurang ajar, pikirnya, la tersenyum dan kembali pemuda itu terpesona.
Biarpun usianya sudah tiga puluh tahun, namun selama hidupnya, rasanya baru sekali ini dia melihat senyuman yang demikian manis, demikian menyentuh perasaannya.
"Tidak ada maaf dan tidak perlu berterima kasih. Yang penting jelaskan apa maksudnya engkau mengajak aku bersembunyi di sini."
"Nona, sungguh aku merasa kagum dan heran sekali melihat betapa dalam keadaan terancam bahaya tadi, Nona bersikap demikian tenangnya, bahkan sampai sekarang engkau seperti tidak merasa bahwa dirimu terancam bahaya. Empat orang tadi, apakah engkau kira akan mau sudah begitu saja, Nona? Mereka tentu akan mencari dan mengejarmu, dan karena itulah, sebelum mere ka keluar dari rumah makan, aku cepat mengejarmu dan mengajakmu pergi bersembunyi, dan di tempat ini mere ka tentu tidak akan menemukanmu."
Hampir Cui Hong tertawa geli.
Pemuda ini terlalu khawatir, padahal pemuda ini sendiri tadi demikian tabah menghadapi empat orang itu walaupun dia t idak pandai ilmu silat sedikit pun.
Kenapa pemuda ini tidak mengkhawatirkan diri sendiri, sebaliknya amat mengkhawatirkan dirinya?
"Tapi, bukankah tadi muncul orang yang mereka takuti?"
"Aih, Nona, apakah Nona tidak dapat menduga? Orang gendut tadi jelas memiliki kedudukan atau kekuasaan yang lebih t inggi daripada empat orang itu, dan dengan adanya orang tadi, Si Muka Bopeng tidak berani mengganggumu. Akan tetapi, jelas bahwa di antara mereka ada hubungan, buktinya Si Muka Bopeng demikian menghormat, dan aku melihat bahwa Si Gendut yang baru datang tadi lebih jahat"
Dan berbahaya lagi bagi dirimu."
"Ehhh...?"
Cui Hong benar terkejut. Pemuda ini memang dapat menduga dengan amat cepatnya! Tentu saja Koo Cai Sun jauh lebih berbahaya daripada empat orang bajingan kecil tadi.
"Bagaimana kau bisa tahu bahwa orang yang baru datang tadi lebih jahat dan berbahaya? Apakah engkau mengenalnya?"
Tan Siong menggeleng kepalanya.
"Aku tidak mengenalnya, Nona, akan tetapi siapapun dapat melihat bahwa dia mempunyai niat buruk di dalam benaknya tehadap dirimu, ketika dia melirik ke arahmu, Nona. Dan melihat senjata di pinggangnya itu.... hemm, aku sungguh khawatir terhadap keselamatanmu, maka aku segera menyusul dan mengajakmu dan lari bersembunyi ke sini."
Ketika menyadari bahwa sejak tadi mereka hanya bercakap-cakap sambil berdiri saja, Tan Siong lalu cepat mempersilakan Cui Hong duduk.
"Silakan duduk, Nona. Akan tetapi maaf, tidak ada tempat duduk yang layak di sini. Lantainya sudah kubersihkan dan kita hanya dapat duduk di atas lantai."
Cui Hong mengangguk dan melihat pemuda itu duduk, ia pun duduk bersimpuh di atas lantai dan memandang ke kanan kiri.
"Tempat ini adalah sebuah kuil tua yang tidak dipakai lagi. Mengapa engkau tinggal di tempat ini? Bukankah engkau tadi mengatakan bahwa engkau seorang petani dari luar kota?"
Tan Siong menarik napas panjang.
"Benar, Nona. Namaku Tan Siong dan pekerjaanku selama ini hanya bertani.... dan bertahun-tahun aku tinggal di pegunungan yang sunyi. Aku datang ke kota raja ini karena hendak mencari seorang Pamanku. Karena belum berhasil, untuk menghemat biaya karena bekalku tidak banyak, aku mengambil keputusan untuk melewatkan malam di tempat ini. Dan, kalau boleh aku mengetahui, siapakah namamu, Nona, dan di mana engkau tinggal?"
"Namaku..."
Cui Hong teringat bahwa ia harus menyembunyikan rahasia dirinya, maka disambungnya cepat, Cin Hwa, she Ok, dan aku.... aku pun sebatangkara di kota raja ini. Aku seorang yatim piatu..."
Tan Siong memandang dengan penuh selidik dan alis berkerut, agaknya dia merasa heran karena melihat betapa pakaian gadis itu cukup indah dan mahal, dan betapa seorang yang demikian cantik jelita hidup seorang diri saja di dunia ini!
"Tapi....
tapi kau....
benar-benar hidup sendirian saja, Nona?"
Tanyanya, seperti tidak percaya. Cui Hong maklum bahwa tentu pemuda itu heran melihat pakaiannya yang indah dan mahal.
"Aku memang hidup sendirian saja, akan tetapi aku menerima peninggalan warisan yang cukup banyak dari orang tuaku. Untuk kehidupanku, aku tidak khawatir, dan aku suka sekali pesiar."
Ia merasa bahwa ia telah bicara terlampau banyak, maka ia pun bangkit berdiri.
"Sudahlah, Saudara Tan Siong, aku harus pergi sekarang dan terima kasih atas semua kebaikanmu terhadap diriku "
Tan Siong juga ikut bangkit.
"Tapi, Nona Ok Cin Hwa... alangkah berbahayanya kalau engkau keluar dari sini. Bagaimana kalau sampai bertemu dengan mereka berempat yang tentu masih penasaran dan sedang mencari-carimu?"
Cui Hong tersenyum manis.
"Aku tidak takut. Bukankah selama ini aku pun merantau seorang diri dan selalu selamat? Aku tidak khawatir, karena bukankah seperti kaukatakan tadi, di kota raja ini terdapat hukum yang melindungi orang-orang yang tidak berdosa?"
"Benar, itu untuk diriku, Nona. Siapa yang akan mengganggu aku dan untuk apa mengganggu aku, seorang laki-laki yang tidak punya apa-apa. Akan tetapi engkau! Engkau begini. ah, keadaanmu...."
Cui Hong memandang tajam dan senyumnya masih menghias bibirnya yang merah membasah bukan karena gincu.
"Begini..... apa, Saudara Tan Siong?"
Tanyanya mendesak.
"Maaf engkau begini cantik jelita dan pakaianmu.... menunjukkan engkau memiliki uang. Keadaan dirimu dan pakaianmu itu saja sudah cukup untuk membangkitkan selera buruk dalam hati orang-orang jahat."
Untuk ke tiga kalinya Cui Hong merasa heran terhadap hatinya sendiri.
Kenapa hatinya begini girang, sampai berdebar mendengar pemuda tani ini mengatakan bahwa ia cantik jelita?
Padahal biasanya, kalau ada laki-laki yang berani memujinya, memuji kecantikannya di depannya, ia akan merasa sebal dan marah.
Mengapa demikian?
Apakah karena laki-laki lain memuji untuk merayu dan untuk berkurang ajar, sedangkan pemuda ini memuji dengan sinar mata jujur dan untuk memperingatkannya akan bahaya yang mengancamnya karena kecantikannya?
Entahlah, akan tetapi yang jelas, ia merasa senang sekali mendengar pemuda itu mengatakan ia cantik jelita!
"Jangan khawatir, Saudara Tan.
Aku melihat bahwa di kota raja ini pusat wanita-wanita cantik dengan pakaian-pakaian mereka yang serba indah.
Apakah mereka semua itu pun takut untuk keluar rumah?
Tak mungkin kiranya empat orang itu hanya mengejar-ngejar aku seorang saja.
Nah, selamat tinggal dan sampai berjumpa lagi!"
Berkata demikian, Cui Hong lalu meninggalkan ruangan belakang kuil itu.
"Nanti dulu, Nona Ok....!"
Tan Siong mengejar dan berjalan di samping Cui Hong.
"Biar aku mengantar Nona sampai ke tempat tinggalmu."
"Ah, tidak perlu, Saudara Tan, tidak perlu,"
Kata Cui Hong yang khawatir kalau orang ini mengetahui tempat ia bermalam.
Dengan uangnya ia telah menyewa sebuah rumah gedung kecil di pinggir kota, tempat yang dipergunakannya untuk beroperasi dan berusaha membalas dendam terhadap musuh-musuhnya, la akan merasa tidak enak kalau sampai ada orang yang mengetahui tempat tinggalnya.
"Baiklah, Nona Ok. Setidaknya aku akan merasa lega dan aman kalau engkau sudah tiba di tempat tinggalmu. Di manakah engkau tinggal?"
"Di.... di rumah penginapan."
Terpaksa Cui Hong berkata membohong dan ia pun mendapatkan akal.
Kalau ia menolak terus, tentu akan menimbulkan kecurigaan pemuda ini, dan pula rasanya ia pun segan untuk berpisah begitu saja.
Ingin ia berada lebih lama dekat dengan pemuda ini dan bercakap-cakap.
Mereka lalu berjalan ke luar dari kuil.
Matahari sudah condong ke barat dan sambil berjalan, mereka bercakap-cakap.
Percakapan kecil saja, hanya omong-omong dan ngobrol tentang hal-hal remeh untuk mengisi kesunyian, akan tetapi sungguh aneh, Cui Hong merasa gembira bukan main karena belum pernah ia mengalami keakraban seperti dengan pemuda yang baru saja dikenalnya ini.
Diam-diam, ketika bercakap-cakap, ia melirik dan mengamati wajah pemuda itu penuh perhatian.
Seorang pemuda yang ganteng, menarik, jujur, sopan dan memiliki keberanian yang mengagumkan.
Kesopanan dan keberanian itu wajar, sesuai dengan kejujurannya, tidak berpura-pura atau menyembunyikan pamrih apa pun.
Seorang pemuda yang belum tentu dapat ditemukan di antara seribu orang pemuda lain, pikirnya.
Setelah tiba di depan sebuah penginapan, Cui Hong berkata.
"Di sinilah untuk sementara aku menginap, Tan-toako (Kakak Tan). Terima kasih engkau telah mengantarku sampai di sini."
Wajah pemuda itu nampak berseri mendengar Cui Hong menyebutnya kakak, sebutan yang lebih akrab daripada sebutan saudara.
"Baiklah, aku pergi sekarang, Hwa-moi (Adik Hwa). Harap kau suka berhati-hati menjaga diri. Ingat, di kota raja ini banyak terdapat orang jahat."
"Terima kasih, Toako. Sampai berjumpa kembali."
"Tapi. tapi.... dapatkah kita berjumpa kembali?"
"Mengapa tidak? Kita sudah saling mengenal, bukan? Dan selama kita berada di kota raja, tentu saja besar kemungkinan kita akan saling jumpa."
"Mudah-mudahan begitu. Selamat tinggal, Hwa-moi."
Pemuda itu lalu membalikkan tubuhnya dan pergi dengan langkah cepat dari situ.
Cui Hong mengikutinya dengan pandang matanya.
Seorang pemuda yang amat baik, pikirnya, dan selalu menjaga kesopanan.
Kalau tidak demikian, tentu setelah tiba di depan rumah penginapan ini, Tan Siong akan berusaha mengikutinya sampai ke kamarnya.
Tentu saja ia tidak tinggal di rumah penginapan ini dan setelah bayangan Tan Siong tidak nampak, ia menyelinap ke samping rumah penginapan itu dan mengambil jalan lain untuk kembali ke rumah yang disewanya, yang berada di satu jalan dengan rumah penginapan itu.
Koo Cai Sun merasa tersiksa batinnya setelah dia tinggal di dalam gedung Pui Ki Cong bersama keluarganya.
Memang, gedung itu besar dan megah, jauh lebih mewah daripada rumahnya sendiri, dari di situ terjaga ketat oleh para pengawal, juga merasa aman karena adanya dua orang jagoan yang tangguh.
Akan tetapi perasaan aman dan tenteram ini hanya dinikmatinya di waktu malam.
Dia dapat tidur nyenyak, tidak khawatir lagi akan kedatangan musuh besar yang ditakutinya.
Cai Sun adalah orang yang suka keluyuran, suka mencari kesenangan di luar rumah.
Setelah beberapa belas hari lamanya dia tinggal terkurung saja di dalam rumah, akhirnya dia tidak kuat, merasa seperti di dalam rumah tahanan saja.
Dia rindu untuk mengunjungi rumah rumah pelesiran, rindu untuk mencari wanita-wanita baru yang akan dapat menghibur hatinya yang selalu haus akan kesenangan itu.
Dan ternyata bahwa bayangan musuh itu sama sekali t idak pernah muncul!
Juga setelah beberapa kali dia pada siang hari keluar rumah bersama Cia Kok Han dan Su Lok Bu.
Tak pernah dia mengalami gangguan dari Kim Cui Hong.
Hal ini membuatnya berbesar hati dan mulailah dia berani keluar dari rumah gedung itu di waktu siang.
Dia berpendapat bahwa Kim Cui Hong tentu hanya berani turun tangan di waktu malam saja, hanya berani bertindak secara sembunyi.
Kalau terang-terangan di waktu siang tentu wanita itu tidak berani karena pertama, dia sendiri memiliki kepandaian cukup untuk melawannya dan kedua, di waktu siang hari wanita itu tentu akan dikenal orang dan di kota raja terdapat banyak penjaga keamanan yang telah dikenalnya.
Kalau di waktu siang dia berkelahi dengan seorang wanita asing, tentu banyak orang akan membantunya.
Jelaslah bahwa Kim Cui Hong tidak akan berani menyerangnya di waktu siang di tempat umum yang ramai.
Dengan pikiran seperti itu, Cai Sun mulai berani keluar dari gedung untuk berjalan-jalan dan tak lama kemudian, dia pun mulai berani keluar mengunjungi rumah-rumah pelesiran untuk bersenang-senang dengan pelacur-pelacur baru.
Dan pada suatu hari, setelah matahari naik tinggi, pergilah Cai Sun keluar dari gedung seorang diri saja, tidak ditemani Cia Kok Han, Su Lok Bu atau seorang pun pengawal.
Dengan santai ia melangkah keluar dan berjalan-jalan menuju ke pasar.
Tiba-tiba matanya tertarik oleh seorang wanita muda yang memakai pakaian merah muda, pakaian yang cukup indah dan mewah berjalan seorang diri di depannya.
Melihat lenggang yang memikat dari belakang, pinggul yang seperti menari-nari di balik celana sutera tipis, tergeraklah hati Cai Sun yang mata keranjang.
Dia tidak ingat lagi dari mana wanita itu tadi muncul, karena tahu-tahu sudah berjalan di sebelah depan, dengan lenggang yang nampak dari celah-celah rambut yang hitam itu amat putih mulus dan timbul keinginan hati Cai Sun untuk melihat bagaimana wajah perempuan itu.
Dari belakang memang amat menggairahkan, dengan bentuk tubuh yang ramping dan padat, dengan lekuk lengkung tubuh yang matang, akan tetapi hatinya belum puas kalau belum melihat bagaimana wajahnya.
Betapa pun indah tubuh dan kulit seseorang, kalau tidak disertai wajah yang cantik, maka wanita itu tidak akan dapat menarik hati pria, terutama pria mata keranjang seperti Cai Sun.
Dia pun mempercepat langkahnya dengan hati berdebar penuh kegembiraan Sebentar saja Cai Sun dapat menyusul wanita itu dan dia lewat di sebelah kanannya, mendahului dan sengaja melepas batuk.
Wanita itu terkejut dan menoleh ke kanan.
Mereka saling bertemu pandang dan Cai Sun merasa jantungnya seperti akan copot.
Wanita itu cantik jelita dan manis sekali!
Dan yang lebih daripada itu, dia mengenal wanita itu sebagai gadis yang pernah menimbulkan keributan di dalam rumah makan beberapa hari yang lalu!
Selama itu, dia tidak pernah dapat melupakan gadis itu.
Sudah dicobanya untuk bertanya-tanya para pelayan rumah makan, sudah diusahakannya untuk mencari, namun dia tak pernah berhasil.
Dan sekarang, tanpa disangka-sangka, dia bertemu dengan gadis cantik menarik itu.
Juga wanita itu nampak kaget, lalu tersipu-sipu malu.
"Ah, kiranya engkau, Nona...l"
Kata Cai Sun dengan sikap ramah dan segera ia memasang aksinya, tersenyum-senyum dan mencoba untuk memperlebar matanya yang sipit dan kecil seperti mata babi itu.
Memang wajah Cai Sun yang bulat dan gemuk itu mirip wajah seekor babi.
"Ah, In-kong (Tuan Penolong)"
Wanita itu berseru dengan suara tertahan sehingga terdengar merdu sekali, lalu ia menundukkan mukanya yang berubah merah.
Bukan main besar dan girangnya rasa hati Cai Sun disebut in-kong oleh gadis itu.
Bagus, pikirnya, setelah gadis itu mengakuinya sebagai tuan penolong, tentu tidak akan sukar menariknya.
"Engkau masih ingat kepadaku, Nona?"
Pancingnya. Dengan sikap malu-malu karena ditegur seorang laki-laki di tempat umum, gadis itu menjawab lirih.
"Tentu saja, semenjak mendapat pertolongan darimu, aku tidak pernah dapat melupakan penolongku."
Hampir berjingkrak laki-laki itu saking girangnya.
"Benarkah itu? Kalau begitu, bolehkah aku berkenalan denganmu dan singgah ke rumahmu, Nona?"
Dengan sikap masih tersipu gadis itu pun menjawab.
"Tentu saja boleh, in-kong dan aku akan merasa terhormat sekali."
Cai Sun hampir bersorak penuh kemenangan.
Tak disangkanya akan begini mudahnya memperoleh seorang calon pacar baru.
Demikian muda, cantik jelita, dan agaknya semua ini berkat ketampanan dan kegagahannya, di samping kepandaiannya merayu dengan rayuan mautnya.
Bangga akan diri sendiri, lubang hidung Cai Sun mere kah dan kembang-kempis.
"Kalau beg itu, mari kuantar engkau pulang, Nona. Ataukah engkau masih ada keperluan lain?"
"Aku memang hendak pulang, In-kong. Sudah lelah berjalan-jalan sejak pagi pulang. Di manakah rumahmu?"
"Di ujung kota sebelah sana, In-kong."
Mereka berjalan bersama dan dengan hati girang bukan main berkali-kali Cai Sun melirik ke arah gadis itu yang berjalan sambil menundukkan mukanya dan tak pernah membuka mulut.
Seorang gadis yang luar biasa manisnya, pikir Cai Sun, dan tentu mudah didapatkannya karena gadis yang memakai bedak agak tebal "tu tentu bukan wanita yang suka jual mahal!
Akan tetapi dia teringat akan keluarga gadis itu, dan timbul kekhawatirannya bagaimana kalau keluarga gadis itu berkeberatan dia menggauli gadis ini?
"Nona, selain engkau, siapa lagi yang tinggal di rumahmu?"
Wanita itu menggeleng kepala.
"Tidak ada orang lain, hanya aku dan seorang pelayanku, In-kong."
"Orang tuamu....?"
"Mereka tinggal di dusun di luar kota raja..."
"Engkau seorang gadis t inggal seorang diri saja?"
"Suamiku sudah meninggal beberapa bulan yang lalu..."
Cai Sun hampir bersorak.
Seorang janda!
janda muda yang beberapa bulan menjanda.
Janda kembang!
Bukan main girang rasa hatinya.
Dia lebih senang seorang janda daripada seorang gadis.
Seorang janda mempunyai banyak pengalaman dan jauh lebih pandai menyenangkan hati pria daripada seorang gadis yang masih bodoh!
Tanpa disadarinya, Cai Sun mengikuti wanita itu sampai di ujung kota, bagian yang cukup sepi dan agak jauh dari tetangga, tidak seperti di tengah kota yang rumahnya berhimpitan Namun, Cai Sun yang sudah tergila-gila ini lupa akan keadaan dirinya, menjadi lengah dan lupa lagi akan ancaman terhadap dirinya selama ini.
Yang dibayangkannya hanyalah janda kembang yang cantik molek itu sebentar lagi tentu akan menjadi miliknya, memasrahkan diri dengan suka rela kepadanya yang menjadi tuan penolongnya!
"Di sana itulah rumahku, In-kong, yang bercat hijau.
Sebaiknya In-kong menunggu dulu.
Tidak baik kalau kita masuk bersama, aku....
aku merasa malu.
.....sebagai seorang janda....
ah, tentu In-kong mengerti.
Biar aku pulang dulu baru nanti In-kong datang bertamu.
Dengan demikian, kalau pun ada yang melihatnya, tentu disangka bahwa In-kong masih ada hubungan keluarga denganku.
Akan tetapi sebaiknya jangan sampai ada orang lain melihatnya, Inkong..."
Ucapan itu disertai senyum dikulum dan kerling tajam menyambar.
Kata-kata dan sikap itu saja sudah merupakan janji yang amat mesra bagi Cai Sun.
Kalau wanita ini hendak merahasiakan pertemuan mereka, berarti wanita itu memang "ada maksud"
Dan tentu saja dia mengangguk-angguk dengan muka merah dan berkali-kali menelan ludah.
Dipandangnya lenggang yang menggairahkan itu, dan nafsu-nya semakin memuncak.
Setelah wanita itu lenyap ke dalam rumah cat hijau, dengan tergesa-gesa Cai Sun setengah berlari menuju ke sana dan dengan girang dia melihat bahwa tempat itu sunyi dan tidak seorang pun melihatnya.
Dan pintu depan itu tidak terkunci karena ketika daunnya ditolakkan, segera terbuka.
Dia masuk dan menutupkan kembali daun pintu depan itu.
Ia melihat wanita tadi telah berdiri di ruangan tengah, memandang kepadanya dengan senyum simpul.
Cai Sun sengaja mengunci daun pintu itu, memasangkan palang pintunya dan ternyata janda muda itu hanya tersenyum saja.
Ingin Cai Sun lari dan menubruknya, karena semua sikap itu jelas menandakan bahwa dia telah memperoleh "lampu hijau".
Berbeda dengan dandanan wanita itu yang agak mewah, dengan pakaian yang indah dan mahal dan perhiasan di tubuhnya, keadaan di dalam rumah itu sendiri agak gundul.
Hanya nampak meja kursi di ruangan tengah.
"In-kong, silakan duduk. Kita dapat bercakap-cakap di sini. Pelayanku sedang keluar kusuruh membeli arak karena arakku telah habis."
"Ah, tidak perlu repot-repot. Oh ya, pintunya terlanjur kupalang, bagaimana nanti pelayanmu dapat masuk?"
Katanya setengah berkelakar.
"Ia mengambil jalan pintu belakang, In-kong."
Cai Sun lalu duduk, berhadapan dengan wanita itu, terhalang sebuah meja bundar yang kecil.
Ingin Cai Sun menendang pergi meja itu dan langsung memeluk janda kembang yang duduk dengan manisnya di depannya.
Bau semerbak harum telah tercium olehnya, bau harum yang sejak di jalan tadi sudah mengganggu hatinya.
Akan tetapi, dia belum mengenal siapa janda muda ini, maka dia menahan hatinya untuk bersabar.
Perlu apa tergesa-gesa kalau domba sudah tergiring masuk kandang?
"Nona, ataukah aku harus memanggil Nyonya?
Akan tetapi kurasa lebih baik kupanggil Adik saja, bagaimana?"
"Terserah kepadamu, In-kong."
"Aih, jangan menyebut In-kong, membikin hubungan kita menjadi kaku dan canggung saja. Moi-moi, aku bernama Koo Cai Sun, dan pekerjaanku adalah pedagang senjata-senjata pusaka yang mahal. Aku mempunyai sebuah to ko di pusat keramaian kota. Nah, kau sebut saja aku Koko (Kakanda). Siapakah namamu dan ceritakan keadaanmu agar perkenalan antara kita menjadi semakin.... akrab dan mesra."
Wanita itu menundukkan mukanya yang menjadi merah dan ia tersipu malu.
"Namaku Ok Cin Hwa dan seperti sudahkuceritakan tadi, orang tuaku tinggal di dusun dan suamiku telah meninggal dunia empat bulan yang lalu."
Tiba-tiba daun pintu depan digedor orang.
Cai Sun terkejut, juga wanita itu.
Seperti para pembaca tentu sudah dapat menduga, wanita itu yang mengaku bernama Ok Cin Hwa sesungguhnya adalah Kim Cui Hong yang menyamar!
Sudah berhari-hari ia membayangi Cai Sun yang suka berjalan-jalan seorang diri keluar dari gedung keluarga Pui dan kesempatan itu dipergunakannya untuk memancing musuh besar itu.
Tentu saja ia dapat menyerang roboh musuhnya di tengah jalan, akan tetapi hal ini ia tidak mau melakukannya.
Ia ingin membalas dendamnya sepuas hatinya, dan hal itu baru dapat tercapai kalau ia dapat berhadapan berdua saja dengan musuhnya.
Dengan kecantikannya, ia berhasil memikat hati Cai Sun yang mata keranjang dan kini sudah bersiap-siap untuk melakukan balas dendamnya.
Maka ketika daun pintu digedor orang dengan kerasnya, Cui Hong terkejut bukan main.
"Pelayanmukah itu?"
Tanya Cai Sun, mengerutkan alisnya. Cui Hong menggeleng kepalanya.
"la tidak berani menggedor seperti itu, akan tetapi masuk melalui pintu belakang."
Tiba-tiba wajah Cai Sun menjadi pucat.
Baru dia teringat akan ancaman musuh besarnya.
Jangan-jangan yang datang itu adalah musuhnya yang melihat dia berada di dalam rumah sunyi ini!
Dia meraba gagang sepasang tombak pendeknya dan berkata kepada Cui Hong.
"Hwa-moi, kau tanya dulu siapa yang menggedor pintu itu sebelum membukanya."
Katanya dan suaranya terdengar agak gemetar.
Baru sekarang dia sadar bahwa dia telah terlalu jauh meninggalkan gedung keluarga Pui, bahwa dia telah terlalu lengah.
Dengan sikap takut-takut Cui Hong menghampiri pintu, sementara itu Cai Sun sudah mencabut sepasang senjata tombak pendeknya.
Kembali terdengar pintu digedor dari luar.
"Siapa itu yang menggedor pintu?"
Teriak Cui Hong dengan nyaring.
Suasana hening dan menegangkan, terutama bagi Cai Sun yang menanti terdengarnya jawaban dari luar, siap dengan senjata di tangan.
Kemudian terdengarlah suara laki-laki menjawab dari luar.
"Buka pintu, kami datang mencari Saudara Koo Cai Sun Tadi dia masuk ke dalam rumah ini. Buka atau.... akan kami jebol pintu ini! "
Mendengar suara itu, Cai Sun tertawa. Legalah hatinya ketika mengenal suara Su Lok Bu, seorang di antara dua jagoan yang diangkat menjadi kepala pengawal oleh Pui Ki Cong. Lenyaplah rasa khawatirnya.
"Ha-ha-ha, kiranya engkau, Su-toako!"
Teriaknya dan dia pun memandang Cui Hong dengan penuh gairah.
"Dia sahabatku sendiri, Hwa-moi, jangan takut. Bukalah pintunya."
Tentu saja Cui Hong diam-diam merasa mendongkol sekali.
Musuh besar yang amat dibencinya ini telah berada di dalam genggaman tangannya, tinggal melaksanakan balas dendamnya saja dan kini datang gangguan yang merupakan pertolongan bagi Cai Sun.
Tentu saja mudah baginya untuk merobohkan Cai Sun dan melarikannya dari situ, akan tetapi tempatnya telah diketahui orang dan kalau dilakukannya hal itu, berarti ia membuka rahasia sendiri.
Padahal masih ada Pui Ki Cong yang harus dibalasnya pula.
Tidak, ia harus melakukan pembalasan tanpa diketahui orang.
Setelah semua musuhnya dibalas, ia tidak perduli lagi apakah ia dikenal orang ataukah tidak.
Maka, sambil menyembunyikan kekecewaannya, ia lalu membuka daun pintu.
Di depan pintu berdiri seorang laki-laki bertubuh tinggi besar bermuka hitam penuh brewok yang memegang sepasang pedang.
Laki-laki itu bukan lain adalah Su Lok Bu, jagoan yang menjadi pelindung keluarga Pui, dan di belakangnya nampak setengah losin perajurit pengawal yang bersenjata lengkap.
"Su-toako, ada urusan apakah engkau menyusulku?"
Cai Sun bertanya. Sejenak Su Lok Bu memandang kepada Cui Hong penuh perhatian, lalu bertanya.
"Koo-siauwte, siapakah wanita Ini?"
Cai Sun tertawa.
"Ia adalah..... sahabatku yang baru, Toako, namanya Ok Cui (Lanjut ke
Jilid 08) Sakit Hati Seorang Wanita (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 Hwa, seorang.. eh, janda kembang....."
Su Lok Bu mengerutkan alisnya memandang kepada rekannya itu.
"Koo-siauwte, engkau terlalu sembrono, pergi seorang diri sampai di bagian yang sepi ini. Seorang pengawal melihatmu dan memberi laporan kepada Pui Kongcu yang mengutus aku untuk segera menyusulmu. Engkau membikin pekerjaan kami menjadi repot saja, Koo-siauwte."
"Maaf, maaf! Dalam bersenang-senang aku sampai lupa diri, Toako. Akan tetapi, di rumah Hwa-moi ini aku aman, harap jangan khawatir dan laporkan saja kepada Pui-kongcu bahwa aku sedang bersenang-senang di dalam rumah sahabat baruku."
"Tidak, Koo-te, engkau harus kembali, demikianlah perintah Pui-kongcu."
Bantah Su Lok Bu dengan suara tegas.
Cai Sun ragu-ragu untuk membantah lagi.
Dia tahu bahwa di dalam keluarga Pui, dia masih kalah berkuasa dibandingkan orang tinggi besar ini, dan pula, dia tahu bahwa kepandaiannya pun masih belum mampu menandingi kepandaian Su Lok Bu.
"Akan tetapi..... mengapa aku tidak boleh bersenang-senang?"
"Tidak ada yang melarangmu bersenang-senang, akan tetapi tidak boleh meninggalkan gedung keluarga Pui terlalu jauh. Kenapa tidak kaubawa saja sahabatmu ini ke sana?"
Wajah Cai Sun nampak berseri.
"Ya, kenapa tidak demikian? Hwa-moi, mari ikut dengan aku ke gedung keluarga Pui, engkau akan senang di sana!"
Tentu saja Cui Hong tidak sudi dibawa ke rumah keluarga Pui, karena se lain hal itu amat berbahaya baginya, ia pun tidak sudi dipermainkan untuk kedua kalinya!
"Tidak, aku.....
aku tinggal saja di sini....."
"Eh, kenapa, Hwa-moi? Bukankah kita telah bersahabat baik? Aku ingin menyenangkan hatimu, percayalah, di sana engkau akan gembira sekali. Rumahnya indah dan mewah, tidak seperti di sini dan....."
"Terima kasih, akan tetapi, aku malu..... apa akan kata orang"
Melihat penolakan itu, Cai Sun menjadi kecewa dan marah.
Kesenangan yang sudah dibayangkan sejak tadi, akan gagal.
Seolah-olah makanan lezat yang sudah berada di depan bibir, kini akan terlepas.
Tentu saja dia tidak rela melepaskannya.
"Hwa-moi, engkau tidak boleh menolak lagi. Engkau harus ikut denganku. Harus kubilang tadi, mengerti?"
Berkata demikian, Cai Sun hendak menangkap lengan tangan Cui Hong, akan tetapi wanita itu sudah melangkah mundur sehingga tangkapannya tadi luput.
"Hemm, lagi-lagi ada laki-laki hendak memaksakan kehendaknya kepada seorang wanita baik-baik! Apakah di kota raja ini seperti di dalam hutan rimba?"
Ucapan itu mengejutkan semua orang dan mere ka menoleh ke luar.
Kiranya dari luar muncul seorang pemuda yang memandang kepada Cai Sun dengan alis berkerut dan pandang mata marah.
Melihat pemuda itu, Cui Hong terkejut sekali.
"Tan-toako, harap jangan mencampuri ....."
Ia khawatir sekali karena ia tahu betapa lihainya Cai Sun, apalagi di situ terdapat pasukan pengawal yang dipimpin oleh Su Lok Bu yang ia sudah dengar memiliki kepandaian tinggi itu.
Sekali ini Tan Siong tentu akan celaka.
"Biar lah, Hwa-moi. Siapa pun akan kuhadapi kalau ia berani mengganggu dan menghinamu!"
Kata Tan Siong dengan sikap tenang dan tabah sekali.
Sementara itu, ketika melihat bahwa pemuda yang muncul ini adalah pemuda petani yang pernah ribut di dalam rumah makan menghadapi empat orang pria yang mengganggu wanita itu, bangkit lah kemarahannya dan sekali loncat, Cai Sun sudah berada di depan pemuda itu.
"Petani dusun busuk! Mau apa kau? Apakah sudah bosan hidup? Hayo menggelinding pergi!"
Berkata demikian, tangan kanannya menampar.
Tamparan yang kuat sekali karena dia sengaja mengerahkan tenaga dan kalau pemuda tani itu terkena tamparan tadi yang mengarah kepalanya, tentu dia akan roboh dan mungkin akan terluka berat atau bahkan tewas.
Cui Hong terkejut bukan main dan ia sudah siap untuk melindungi Tan Siong ketika tiba-tiba ia melihat hal yang luarbiasa, hal yang terjadi di luar dugaan sama sekali.
Dengan gerakan yang amat lincah dan ringan, dan dengan amat mudahnya, Tan Siong telah menggeser kakinya dan mengelak!
"Sudah mengganggu wanita baik-baik masih memukul orang tanpa dosa lagi.
Wah, sungguh jahat sekali kau ini!"
Kata Tan Siong, menudingkan telunjuknya ke arah hidung Cai Sun yang bentuknya merupaan ciri khas hidung laki-laki mata keranjang.
Melihat betapa tamparannya dapat dielakkan oleh pemuda tani itu, Cai Sun menjadi marah bukan main.
"Jahanam busuk, engkau sudah bosan hidup!"
Dan dia pun menerjang maju, sekali ini bukan sekedar tamparan saja, melainkan serangan dengan jurus ilmu silatnya yang ampuh.
Dengan gerakan yang cepat walaupun tubuhnya bundar dengan perut gendut, dia mengirim pukulan dengan tangan kanan ke arah ulu hati lawan, sedangkan pukulan ini disusul dengan tendangan kaki kirinya mengarah selangkangan.
Hebat serangan ini karena merupakan serangan dari Ilmu Silat Thian-te Sin-kun yang menjadi kebanggaannya.
Sesuai dengan namanya, Ilmu Silat Thian-te Sin-kun (Silat Sakti Bumi Langit) mendasarkan gerakan kombinasi atas dan bawah dan dia menyerang dengan jurus Kilat Mengguncang Bumi Langit.
Senyum kagum membayang di bibir Cui Hong ketika dia melihat sikap Tan Siong menghadapi serangan itu.
Kalau tadi ia masih khawatir dan juga terheran-heran, kini hatinya mulai merasa tenang dan bahkan kagum.
Melihat sikap pemuda itu yang amat tenang, ia percaya bahwa pemuda yang disangkanya petani dusun sederhana itu ternyata adalah seorang pendekar yang memiliki kepandaian silat tinggi!
Kalau tidak tinggi tingkat kepandaiannya, tidak mungkin sikapnya demikian santai dan tenang menghadapi serangan Cai Sun yang dahsyat.
"Wuuuutttt....!"
Tan Siong mengelak ke kiri membiarkan pukulan tangan lawan ke arah ulu hatinya lewat, dan ketika tendangan susulan menyambar, dia memutar lengan kanannya ke bawah untuk menangkis.
"Dukk....!"
Kaki yang menendang itu tertangkis dan terpental, bahkan Cai Sun menyeringai karena merasa betapa tulang keringnya nyeri, tanda bahwa pemuda petani itu memiliki tenaga yang amat kuat!
Tahulah dia bahwa pemuda yang kelihatannya bodoh itu sebenarnya adalah seorang yang memiliki kepandaian silat tinggi, maka dengan marah sekali Cai Sun mencabut sepasang senjata tombak pendeknya.
Nampak sinar berkilauan ketika sepasang senjata itu digerakkan, dan dua gulungan sinar segera menyerang ke arah Tan Siong.
Pemuda itu cepat meloncat ke belakang dan ketika Cai Sun menerjang lagi, dia sudah mencabut sebatang pedang yang tadi dipergunakan sebagai ikat pinggang.
Sebatang pedang yang lemas dan lentur sekali, tipis akan tetapi juga tajam berkilauan ketika tercabut dari sarungnya yang melingkari pinggang.
Terdengar suara berdenting berkali-kali dan Cai Sun segera menjadi silau karena gulungan sinar pedang itu membuat sepasang tombaknya seperti mati langkah.
"Hwa-moi, larilah cepat.....pergilah...!"
Tan Siong yang tahu bahwa lawannya amat tangguh, berteriak kepada Cui Hong yang masih berdiri dengan bengong.
Mendengar ini, Cui Hong lalu berlari masuk ke dalam rumahnya, untuk melarikan diri dari pintu belakang.
Tentu saja ia tidak merasa takut, akan tetapi sebagai Ok Cin Hwa, tentu saja ia harus berpura-pura takut dan melarikan diri selagi Cai Sun terlibat dalam perkelahian melawan Tan Siong.
Lega rasa hati Tan Siong melihat gadis itu sudah melarikan diri.
Dia melawan dengan penuh semangat dan tak lama kemudian, Koo Cai Sun mulai terdesak.
Jagoan ini juga melihat betapa wanita yang diinginkannya itu lari maka dia cepat berteriak.
"Apakah kalian diam saja terus? Hayo bantu aku menghadapi bocah ini! "
Enam orang perajurit pengawal itu segera bergerak mengepung Tan Siong membantu Cai Sun, akan tetapi Su Lok Bu masih berdiri saja menonton.
Jagoan ini merasa sungkan untuk melawan pengeroyokan, dan juga dia kagum terhadappemuda itu.
Nampaknya seorang pemuda sederhana, pemuda petani dusun yang bodoh, akan tetapi ternyata pemuda berpakaian kuning itu adalah seorang ahli silat yang amat pandai, dan lebih dari itu, dia mengenal gerakan ilmu pedang itu sebagai ilmu pedang dari Kun-lun-pai yang besar dan amat terkenal!
Pemuda ini seorang murid Kun-lun-pai yang pandai dan hal inilah yang membuat hati Su Lok Bu merasa tidak enak.
Dia sendiri adalah murid Siauw-lim-pai dan di antara kedua perkumpulan itu, biarpun Siauw-lim-pai dipimpin oleh para hwesio beragama Buddha sedangkan Kun-lun-pai dipimpin oleh para tosu beragama To, namun terdapat persahabatan yang baik.
Biarpun kini dikeroyok oleh Cai Sun dan enam orang pengawal, ternyata Tan Siong mampu menandingi mereka, bahkan ketika dia mempercepat gerakan pedangnya, dua orang pengawal terpaksa melom pat mundur karena yang seorang terluka pundaknya, seorang lagi terluka pahanya yang robek berdarah.
Empat orang penga wal lainnya menjadi gentar juga menghadapi kegagahan pemuda itu, dan kini Tan Siong mempercepat serangannya untuk merobohkan Cai Sun.
Si mata keranjang yang gendut perutnya ini menjadi sibuk sekali.
Dia pun mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua ilmu silatnya untuk melawan, namun tetap saja dia terdesak hebat.
Kembali dua orang pengawal roboh oleh tendangan kaki Tan Siong sehingga kini t inggal dua orang, tiga bersama Cai Sun yang mengepungnya.
Melihat ini, hati Su Lok Bu merasa tidak enak.
Bagaimanapun juga, Cai Sun adalah rekannya yang sama-sama melindungi Pui Ki Cong, dan kini bahkan empat orang pengawal telah kalah dan tidak dapat maju lagi.
Dia mencabut sepasang pedangnya dan meloncat ke dalam kalangan perkelahian sambil membentak.
"Tahan dulu!"
Melihat berkelebatnya dua sinar pedang yang panjang dan kuat, Tan Siong meloncat mundur dan perkelahian itu terhenti.
"Orang muda, siapakah engkau dan mengapa engkau berani melawan kami yang bertugas sebagai pengawal-pengawal bangsawan di kota raja?"
Tan Siong memandang kepada orang tinggi besar bermuka hitam yang nampak gagah dan kuat ini.
"Namaku Tan Siong dan semua orang tahu bahwa bukan aku yang mencari perkara. Aku hanya kebetulan lewat dan melihat perlakuan sewenang-wenang terhadap seorang wanita baik-baik, maka aku pun menegur." --------------------------------------------------------------------------------------------"Hemm, engkau telah lancang tangan melukai pengawal-pengawal, bagaimana fyp p ta' '' (fasBjjaiaw suara dosa """". ????????????? --------------------------------------------------------------------------------------------yang harus dihukum. Menyerahlah untuk kami tangkap dan kami hadapkan kepada majikan kami."
Su Lok Bu masih berusaha agar tidak usah berkelahi melawan pemuda itu dan kalau pemuda itu menyerah, dia akan menjaga agar Cai Sun tidak bertindak sewenang-wenang, dan agar pemuda itu diadili secara baik-baik.
"Aku harus menyerah?"
Tan Siong membentak penasaran.
"Kawanmu inilah yang harus dihukum, bukan aku!"
"Berani engkau melawan? Nah, sambutlah pedangku ini!"
Su Lok Bu menyerang dengan sepasang pedangnya.
Diam-diam terkejutlah hati Tan Siong menyaksikan gerakan pedang itu, yang demikian cepat dan juga kuat.
Serangan yang amat dahsyat dilakukan Su Lok Bu, dengan sepasang pedang melakukan gerakan meng dari kanan kiri.
"Trang-tranggg.....!"
Nampak bunga api berpijar dan Tan Siong berhasil menghalau dua pedang yang mengguntingnya dengan tangkisan beruntun ke kanan kiri.
Su Lok Bu mengeluarkan seruan memuji, lalu menyerang lagi dengan lebih dahsyat.
Melihat gerakan pedang Su Lok Bu, Tan Siong merasa semakin kaget.
Dia pun mengenal gerakan ilmu pedang Siauw-lim-pai, maka sambil meloncat jauh ke belakang dia berseru.
"Tahan senjata!"
Tan Siong mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat kepada Su Lok Bu sambil berkata.
"Kiranya bertemu dengan seorang gagah dari Siauw-lim-pai. Terimalah hormat seorang murid Kun-lun-pai, sahabat, dan maafkan kalau aku kesalahan tangan."
Su Lok Bu mengerutkan alisnya.
Kalau pertikaian ini merupakan urusan pribadinya, tentu dia pun akan merendah dan mengalah terhadap murid Kun-lun-pai seperti sikap pemuda itu.
Akan tetapi, pada saat ini dia adalah seorang petugas yang harus membela rekan-rekannya.
Dia harus membantu Cai Sun, dan dia pun harus membantu para pengawal yang sudah menderita kerugian dengan kalahnya empat orang itu.
Dalam urusan ini, Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai tidak ada sangkut-pautnya, dan ia pun melihat yang ada hanyalah seorang pemuda yang telah melukai para perajurit pengawal dan aku sebagai seorang kepala pengawal.
"Menyerahlah untuk kutangkap dan aku pun tidak akan mempergunakan senjata terhadap dirimu."
Tan Siong mengangguk.
"Baiklah, ini urusan pribadi dan tidak ada sangkut-pautnya dengan Siauw-lim-pai maupun Kun-lun-pai. Akan tetapi aku tidak merasa bersalah, maka terpaksa aku menolak untuk menyerah dan ditangkap."
"Su-toako, pemuda ini sombong sekali. Kalau tidak diberi hajaran tentu akan memandang rendah kepada kita!"
Teriak Cai Sun marah karena dia merasa khawatir kalau-kalau rekannya itu akan berdamai dan tidak melanjutkan perkelahian melawan pemuda itu.
Dia sendiri sudah menggerakkan pedang di tangannya melakukan serangan dahsyat yang disambut oleh Tan Siong dengan tenang.
Melihat ini, terpaksa Su Lok Bu maju lagi melakukan serangan dengan sepasang pedangnya.
Juga dua orang pengawal membantu dengan pedang mereka.
Tiba-tiba muncul seorang laki-laki pendek berkulit putih dan berperut gendut, dengan rambut dan jenggot putih semua.
"Penjahat muda yang nekat, lihat golok besarku!"
Bentak orang itu dan begitu tiba di situ, dia membentak dan menggerakkan sebatang golok besar dan berat dengan gerakan yang amat dahsyat.
Suara golok itu semakin berdesing-desing dan menyambar-nyambar ganas menyerang Tan Siong.
Tentu saja Tan Siong terkejut bukan main karena golok itu tidak kalah bahayanya dengan sepasang pedang di tangan Su Lok Bu!
Orang yang baru datang ini adalah Cia Kok Han yang menyusul rekannya dan begitu melihat rekan-rekannya mengeroyok seorang pemuda yang amat lihai dan melihat ada empat orang pengawal yang terluka, dia pun segera maju mengeroyok.
Kini Tan Siong kewalahan sekali, apa lagi karena dia tahu bahwa yang baru datang ini tentulah seorang Bu-tong-pai hatinya merasa semakin ragu dan khawatir.
Karena itu, gerakan pedangnya agak terlambat dan tiba-tiba saja sebuah bacokan pedang kiri Su Lok Bu mencium pangkal lengan kirinya sehingga bajunya yang kuning terobek berikut kulit dan sedikit dagingnya.
Untung luka itu tidak terlalu dalam benar, tidak sampai mengenai tulangnya.
Namun rasa nyeri, perih dan panas membuat dia terhuyung dan cepat memutar pedang dan berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari hujan serangan yang dilancarkan para pengeroyoknya, terutama sekali Cai Sun, Cia Kok Han, dan Su Lok Bu.
Diam-diam dia mengeluh karena rasanya akan sukar untuk dapat meloloskan diri dari kepungan tiga orang yang lihai ini.
Akan tetapi tiba-tiba tiga orang lawannya memperlambat gerakan mereka, bahkan mereka seperti tertahan oleh sesuatu dan tidak mendesaknya lagi.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Tan Siong untuk melompat jauh ke luar pintu depan pekarangan rumah itu dan dia pun terus berlompatan dan melarikan diri.
Tiga orang jagoan itu tidak melakukan pengejaran, bahkan mereka bertiga lalu memandang ke kanan kiri seperti orang yang merasa gentar.
Ketika tadi mereka mendesak Tan Siong dan pedang kiri Su Lok Bu berhasil melukai pangkal lengan pemuda itu, dan mereka bertiga sudah siap untuk merobohkannya tiba-tiba saja ketiganya terkejut karena berturut-turut ada sepotong batu kerikil yang menyambar dan mengenai tubuh mereka.
Hanya batu-batu kerikil kecil saja, akan tetapi datangnya demikian kuat dan hampir mengenai jalan darah sehingga terasa nyeri dan bagian yang kena menjadi kesemutan hampir lumpuh.
Hal inilah yang mengejutkan mereka dan sebagai ahli-ahli silat tinggi mereka maklum bahwa pemuda itu telah diarn-diam dibantu oleh seorang yang berilmu tinggi!
Maka, ketika Tan Siong melarikan diri, mereka tidak melakukan pengejaran, melainkan menanti munculnya orang yang telah menyambit mereka dengan kerikil-kerikil kecil tadi.
Akan tetapi, tidak ada orang muncul sampai bayangan pemuda itu lenyap.
"Ke mana perginya Cin Hwa? Ialah yang menjadi biang keladinya!"
Tiba-tiba Cai Sun berseru ketika dia mencari-cari wanita itu dengan pandang matanya.
"Biar kubawa wanita itu!"
Diapun lalu masuk ke dalam rumah.
Akan tetapi, di dalam rumah itu tidak ada seorang pun juga.
Ok Cin Hwa telah lenyap, dan tidak nampak bayangan seorang pun pelayan.
Selain itu, Cai Sun melihat bahwa peralatan dalam rumah itu sederhana sekali.
"Ah, tentu ia melarikan diri karena ketakutan."
Kata Cai Sun dengan hati menyesal sekali.
"Aku akan mencarinya, tentu ia tidak lari jauh."
Akan tetapi Su Lok Bu yang merasa marah karena gara-gara Cai Sun yang keluyuran sampai mereka bertemu dan berkelahi melawan orang pandai, berkata dengan suara ketus.
"Kita pulang sekarang, dan harap kau jangan mencari gara-gara lagi, Koo-te!"
Melihat sikap rekannya itu, Cai Sun tidak berani membantah lagi dan berangkatlah mereka meninggalkan tempat itu, kembali ke gedung keluarga Pui.
Pui Ki Cong juga menegur Cai Sun yang dikatakan sembrono sekali dan melarang teman dan pembantu itu untuk pergi jauh tanpa kawan.
Tan Siong yang mengalami luka bahunya, tidak berani langsung kembali ke tempat persembunyiannya di kuil tua, melainkan berputar-putar di tempat-tempat sunyi.
Setelah matahari turun ke barat dan cuaca menjadi remang-remang, barulah dia menyelinap di antara gedung-gedung, melalui lorong-lorong menuju ke kuil tua.
Akan tetapi tiba-tiba dia dikejutkan oleh teriakan banyak orang bahwa ada terjadi kebakaran.
Dia segera menuju ke tempat itu menyelinap di antara orang banyak.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika melihat bekas lawannya tadi, yaitu Koo Cai Sun, bersama dua orang rekannya yang lihai, berada pula di tempat itu dan mendengar dari orang-orang yang menonton bahwa yang terbakar itu adalah toko milik laki-laki berperut gendut yang tadi merayu Ok Cin Hwa!
Huh, manusia jahat tentu akhirnya akan mengalami musibah dan malapetaka, pikir Tan Siong dan diapun tidak perduli lagi, lalu menyelinap di antara banyak orang dan pergi dari situ.
Dia memasuki kuil tua yang gelap itu, menuju ke ruangan belakang yang untuk sementara menjadi tempat dia bersembunyi.
Gelap sekali ruangan itu.
Dia meraba-raba untuk mencari lilin yang ditaruh di sudut ruangan.
Akan tetapi tangannya tidak menemukan sesuatu.
"Engkau mencari lilin, Toako?"
Tiba-tiba terdengar suara halus.
Tan Siong terkejut, akan tetapi girang mendengar bahwa itu adalah suara Ok Cin Hwa.
Lilin itu dinyalakan oleh wanita yang ternyata adalah Cui Hong itu.
Tentu para pembaca dapat menduga bahwa orang sakti yang diam-diam membantu Tan Siong tadi bukan lain adalah Cui Hong sendiri, la tidak lari jauh, melainkan bersembunyi dan menonton perkelahian itu.
la merasa terkejut, heran dan kagum sekali karena ternyata pemuda itu memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup t inggi, tidak terlalu banyak selisihnya dengan tingkat kepandaiannya sendiri!
Ia melihat dengan kagum betapa dengan mudah Tan Siong menghadapi pengeroyokan Cai Sun yang dibantu enam orang perajurit, kemudian datang pula membantu dua orang jagoan yang amat lihai itu.
Juga dia tahu bahwa pemuda itu adalah seorang murid Kun-lun-pai, seorang pendekar yang gagah perkasa.
Akan tetapi, kekagumannya berubah menjadi kekhawatiran ketika ia melihat betapa Tan Siong mulai terdesak payah dan bahkan menderita luka pada bahunya.
Cepat ia membantu dari tempat persembunyiannya, menyambitkan batu-batu kerikil yang mengenai tubuh tiga orang lihai itu sehingga mereka terkejut dan menghentikan serangan mereka terhadap diri Tan Siong yang sudah terdesak.
Kesempatan itu, seperti yang diharapkan, dipergunakan dengan baik oleh Tan Siong yang berhasil meloloskan diri.
la lalu mendahului pemuda itu memasuki ruangan belakang kuil tua dan menanti di situ sampai gelap.
Kini mereka dapat saling pandang di bawah sinar lilin yang remang-remang.
Tan Siong menyembunyikan kegirangannya melihat Cui Hong berada di situ dengan duduk bersila di atas lantai.
"Syukur engkau dapat meloloskan diri, Hwa-moi."
"Berkat pertolonganmu, Tan-ko. Karena tidak tahu harus lari ke mana, aku teringat akan tempat ini dan bersembunyi di sini."
"Engkau benar, di sini kita aman karena mereka tentu tidak menyangka bahwa kita berada di sini."
"Tan-ko, sungguh aku kagum sekali karena engkau ternyata bukan seorang petani dusun biasa, melainkan seorang pendekar yang amat lihai sehingga engkau berhasil menyelamatkan aku dan menandingi orang-orang jahat yang mengeroyokmu."
"Ah, jangan memuji, Hwa-moi. Bagaimana aku dapat disebut lihai kalau hampir saja aku tewas di tangan mereka?"
Dia meraba luka di bahu kirinya dan menggigit bibir menahan rasa nyeri ketika dia mencoba untuk membuka baju di bagian bahu yang robek dan melekat pada lukanya karena darah yang mengering.
"Aih, engkau terluka parah, Tan-ko? Mari, biar aku yang merawatnya. Luka itu perlu dibersihkan."
Kata Cui Hong yang segera menghampiri lalu berlutut di dekat pemuda itu.
Dengan cekatan jari-jari tangannya yang halus membuka bagian baju yang terobek itu lebih besar sehingga luka itu nampak.
Biarpun t idak berbahaya dan tidak sampai mengenai tulang, namun luka itu cukup lebar dan nampak mengerikan, dan ia tahu bahwa luka itu tentu terasa nyeri, pedih dan panas sekali.
"Aku butuh air panas untuk mencuci luka ini sebelum diobati, Tan-ko. Aku akan mencari air panas dan obat keluar sebentar."
"Jangan, Hwa-moi, berbahaya kalau engkau keluar sekarang. Ini ada arak, cucilah saja dengan arak ini, kemudian berikan obat ini lalu balut. Aku memang selalu menyediakan obat untuk merawat luka."
Kata Tan Siong.
Tentu saja Cui Hong juga tahu akan cara pengobatan luka, maka ia lalu mencuci luka itu dengan arak.
Pedih perih rasanya dan Tan Siong menggigit bibir menahan rasa nyeri.
Tidak sedikit pun keluar keluhan dari mulutnya, padahal Cui Hong maklum betapa nyerinya luka yang dibakar oleh arak itu.
Setelah membersihkan luka itu, ia lalu menggunakan obat bubuk putih yang diberikan Tan Siong, setelah itu ia membalut bahu itu dengan mempergunakan sobekan ikat pinggangnya yang berwarna putih bersih.
Selama perawatan ini, Cui Hong berlutut dekat sekali dengan Tan Siong sehingga kadang-kadang, tanpa disengaja, ada bagian tubuh mereka yang saling bersentuhan.
Hal ini membuat Tan Siong hampir tak berani berkutik.
Bau khas wanita yang keluar dari tubuh dan rambut Cui Hong, sentuhan jari-jari tangan yang seperti membelai bahunya, geseran-geseran halus antara bagian tubuh mereka yang saling bersentuhan, mendatangkan getaran dalam diri Tan Siong dan membuat jantungnya berdebar keras.
Dia tidak tahu bahwa keadaan wanita itu pun tidak jauh bedanya dengan dirinya.
Belum pernah selama hidupnya Cui Hong berada dalam keadaan seperti itu, demikian dekat dengan seorang pria.
Pengalamannya tujuh tahun yang lalu dengan empat orang pria yang memperkosanya merupakan hal yang lain sama sekali karena di situ t idak terdapat kemesraan, yang ada hanya rasa takut, duka, dan kebencian.
Akan tetapi sekarang, ia merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang amat mesra, yang membuat jantungnya berdebar keras dan jari-jari tangannya kadang-kadang agak gemetar.
Untuk menghibur ketegangan aneh ini, Cui Hong lalu bertanya.
"Siong-toako, engkau adalah seorang pendekar yang berkepandaian tinggi. Kenapa engkau demikian baik kepadaku, membelaku sampai mati-matian sehingga engkau menderita luka parah begini?"
Tan Siong menarik napas panjang.
"Mula-mula hanya kebetulan saja kita saling jumpa di dalam rumah makan itu, Hwa-moi. Tentu saja aku tidak suka melihat orang-orang kasar itu mengganggumu sehingga aku menegur mereka."
"Akan tetapi ketika meja itu dibalikkan oleh Si Muka Bopeng, kenapa engkau diam saja sehingga pakaianmu tersiram kuwah?"
"Ketika itu aku tidak ingin menonjolkan diri, tidak ingin diketahui orang bahwa aku memiliki kepandaian silat. Untung pada waktu itu t idak terjadi apa-apa, akan tetapi kemunculan Si Muka Babi itu...."
"Si Muka Babi...?"
Cui Hong bertanya sambil mengangkatalis matanya karena heran.
"Itu, laki-laki perut gendut bermuka bulat yang membawa senjata siang-kek..."
"Ahh, dia....!"
Cui Hong menahan ketawanya.
"Dia bernama Koo Cai Sun."
"Kemunculannya mendatangkan perasaan tidak enak di hatiku, karena itu aku mengajakmu lar i ke sini tempo hari. Melihat pandang matanya dan sikapnya, aku dapat menduga bahwa dia itu selain lebih lihai daripada empat orang kasar itu, juga lebih jahat. Dan setelah kita berpisah di dekat rumah penginapan, hatiku tetap merasa gelisah dan aku amat mengkhawatirkan keselamatanmu. Lebih gelisah lagi hatiku ketika aku tidak melihatmu di rumah penginapan itu dan aku mendengar dari para pengurus bahwa engkau tidak pernah bermalam di sana."
"Maaf, Toako. Aku memang sengaja membohong tempo hari kepadamu, karena aku tidak ingin engkau mengetahui tempat tinggalku."
"Kenapa, Hwa-moi? Kenapa? Bukankah kita sudah saling berkenalan?"
"Aku ingin merahasiakan diriku dan tempat tinggalku, Toako."
"Tapi kenapa?"
Cui Hong menarik napas panjang, menceritakan hal itu sama saja dengan membuka rahasia dirinya. Ia menggeleng kepala.
"Sekali lagi maaf, itu merupakan rahasia besar bagiku dan belum waktunya kuceritakan kepadamu, Toako. Akan tetapi, lanjutkanlah ceritamu."
La memandang wajah pemuda itu.
"Bagaimana engkau dapat muncul lagi dalam peristiwa tadi?"
"Kembali suatu hal yang kebetulan saja, Hwa-moi. Aku sedang berjalan-jalan, seperti biasa mencari pamanku yang sampai sekarang belum juga kutemukan, juga untuk mencarimu karena hatiku masih merasa penasaran karena tidak dapat menemukan engkau di rumah penginapan itu. Dan kebetulan aku melihat engkau berjalan-jalan bersama Koo Cai Sun itu... ah, benar, lupa aku memberitahukan. Tadi, menjelang senja, aku melihat kebakaran dan ternyata yang terbakar habis adalah toko dan rumah milik Si Muka Babi itu!"
Tentu saja Cui Hong tidak merasa heran mendengar ini karena kebakaran itu adalah hasil pekerjaannya.
Dalam kekecewaannya karena Cai Sun terlepas dari cengkeramannya di rumah yang disewanya karena kemunculan pengawal-pengawal keluarga Pui, ia lalu pergi ke toko dan rumah musuhnya itu dan membakarnya habis karena sebelum membakar, ia menyiramkan minyak ke dalam toko dan rumah itu.
Karena ia mempergunakan kepandaiannya yang tinggi untuk menyelinap masuk dan keluar lagi, tidak ada orang yang melihatnya ketika ia melakukan hal itu, dan karena rumah itu pun kosong, ditinggal pergi oleh keluarga Koo Cai Sun yang mengungsi ke rumah gedung Pui Ki Cong.
"Bagus! Aku merasa senang mendengar itu. Memang dia jahat dan kurang ajar, sudah sepatutnya dia mengalami nasib buruk seperti itu!"
"Hwa-moi, aku merasa heran ketika melihat engkau dan dia jalan bersama, kemudian masuk ke dalam rumah yang sunyi itu. Apakah sebenarnya yang telah terjadi?"
Kembali Cui Hong menarik napas panjang. Ia harus pandai membuat cerita yang lain karena tidak mungkin ia dapat membuka rahasianya sel-ma tugasnya membalas dendam belum selesai dengan lengkap.
"Aku bertemu di jalan dengan dia, Toako. Dan mengingat bahwa dia pernah menolongku terlepas dari tangan orang kali tidak membayangkan kekurangajaran sehingga tidak membikin ia marah. Sebaliknya, ia malah merasa girang sekali!"
"Toako, apa sih yang membuat aku menarik di hatimu?"
La memancing pujian yang lebih terperinci. Pemuda itu menatap tajam wajah Cui Hong, lalu berkata dengan jujur.
"Tentu saja pada permulaannya ketika engkau muncul di rumah makan, yang menarik hatiku adalah kepribadianmu, kecantikanmu...."
Cui Hong tertawa, lirih.
"Aihh, Toako, di kota raja ini gudangnya wanita cantik, di setiap tempat engkau dapat menemukan wanita yang cantik-cantik, kenapa justru tertarik kepadaku, seorang wanita biasa saja?"
"Memang banyak wanita cantik, Hwa-moi, akan tetapi hanya ada engkau seorang saja! Engkau bukan hanya cantik manis, akan tetapi ada sesuatu dalam sinar matamu, dalam senyummu, gerak-gerikmu, yang menarik hatiku. Apalagi setelah aku melihat sikapmu yang tabah menghadapi bahaya, dan yang lebih dari itu lagi, ada sesuatu keanehan dalam dirimu yang membuat aku tertarik sekali."
"Apanya yang aneh....?"
Otomatis Cui Hong melirik ke arah tubuhnya yang dapat dilihat, takut kalau-kalau ada sesuatu yang tidak beres sehingga ia disebut aneh oleh pemuda itu.
"Hwa-moi, engkau seorang gadis yang begini cantik hidup sebatangkara dan yatim piatu namun kaya-raya, dan tidak seperti gadis lain yang akan tinggal di rumah dan hidup serba kecukupan, engkau malah merantau sendirian, kadang-kadang hidup serba sulit, membiarkan dirimu terjun ke dalam kehidupan yang penuh dengan bahaya yang mengancam keselamatanmu. Tidakkah ini amat aneh?"
"Toako, kita bukan kanak-kanak lagi, kita sudah cukup dewasa untuk bicara secara terbuka dan terang-terangan."
Tiba-tiba Cui Hong berkata karena mendadak ia ingin memperoleh kepastian tentang isi hati pemuda itu, karena ia sendiri merasa betapa hatinya terpikat dan merasa suka sekali kepada Tan Siong.
"Apakah hanya karena semua itu maka engkau lalu mencari-cari aku, begitu memperhatikan aku dan membelaku mati-matian sehingga engkau bentrok dengan orang-orang yang amat lihai dan engkau menderita luka, bahkan mempertaruhkan nyawa untukku?"
Sambil berkata demikian, sepasang mata Cui Hong seperti mencorong dan memandang penuh selidik. Ditanya demikian, wajah Tan Siong nampak tegang dan bingung, sebentar pucat sebentar merah.
"Aku.... aku..."
Dia tergagap, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya, kemudian melanjutkan.
"Aku minta maaf sebelumnya, Hwa-moi. Memang engkau benar, kita bukan kanak-kanak lagi, sudah cukup dewasa dan seyogyanya kalau kita bicara jujur dan terus terang. Aku memang tertarik sekali kepadamu, terutama melihat persamaan antara kita, sama-sama yatim piatu dan hidup sebatangkara. Terus terang saja, sejak kita bertemu pertama kali, hatiku tertarik dan aku kemudian merasa yakin bahwa aku.... telah jatuh cinta padamu, Hwa-moi. Maafkan aku.... yang lancang mulut...."
Pernyataan ini demikian tegas dan jujur sehingga membuat Cui Hong, yang memang sudah bersiap-siap, tetap saja tertegun dan terbelalak, kemudian ia menunduk, alisnya berkerut.
Kalau saja ia bukan Cui Hong yang sudah digembleng oleh pengalaman-pengalaman mengerikan sehingga air matanya sudah sejak dahulu habis terkuras, tentu akan ada air mata bercucuran dari matanya.
Namun ia hanya termenung dan membisu.
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 16
Baca Juga: Si Bangau Merah 5