Eps 2 Sakit Hati Seorang Wanita - Kho Ping Hoo
Baca online Sakit Hati Seorang Wanita - Kho Ping Hoo
Cersil Sakit Hati Seorang Wanita - Kho Ping Hoo.
Kembali kakek itu hanya menarik bagian tubuh yang ditendang dan serangan itupun luput.
Cui Hong menjadi semakin marah.
Kakek itu mengelak sambil terkekeh dan membuat gerakan-gerakan yang mengejek sekali.
Ia lalu mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, menyerang kalang-kabut dan membabi buta, kedua tangan dan kedua kakinya menyambar-nyambar dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi.
Namun, terjadilah hal yang lucu dan aneh.
Kakek bongkok itu meliuk-liukkan tubuhnya seperti seekor ular, mengelak ke kanan kiri, hanya dengan cara menarik tubuh ke belakang atau ke depan, ke atas atau ke bawah tanpa menggeser kedua kakinya dan semua serangan itu selalu mengenai tempat kosong!
Cui Hong sedang dilanda kedukaan, putus asa, dan kemarahan yang memuncak sehingga ia kehilangan kecerdikannya.
Kalau tidak dikuasai perasaan yang memabukkan itu, tentu ia sudah cepat dapat melihat kenyataan bahwa kakek yang menjadi lawannya itu memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi darinya.
Akan tetapi ia tidak menginsyafi hal itu dan terus saja menyerang semakin ganas, dengan penuh nafsu, bahkan ia lalu berseru keras.
"Kubunuh kau.!"
"Heh-heh-heh, membunuh diri sendiri saja tidak becus, mau membunuh orang lain. Wah, jahat sekali kau!"
Dan kakek itu mengangkat tongkatnya. Dia memang memegang sebuah tongkat kayu butut berwarna hitam yang sejak tadi dikempitnya saja ketika dara itu menyerangnya kalang kabut.
"Tukkk.....!"
Kepala Cui Hong kena dipukul tongkat.
Nyeri sekali rasanya dan otomatis tangan gadis itu meraba kepala yang terpukul.
Betapa gemas hatinya ketika meraba kepalanya dan mendapatkan benjolan sebesar telur ayam pada kepala yang terpukul.
Rasa berdenyut-denyut nyeri menambah kemarahannya.
"Kurang ajar kau!"
Ia berteriak dan menubruk ke depan, hendak merampas tongkat itu.
Dan.....
ternyata tongkat itu dengan mudah dapat dirampasnya!
Akan tetapi sebelum Cui Hong sempat mempergunakan tongkat itu, baru diayunnya untuk memukul, tahu-tahu tongkat itu seperti bersayap saja.
"terbang"
Dan kembali ke tangan pemiliknya.
"Bukkk!"
Tahu-tahu tongkat itu telah menggebuk pinggul Cui Hong, cukup keras sehingga terasa nyeri bukan main dan Cui Hong jatuh terpelanting.
Dara itu meringis dan mengusap-usap pinggulnya.
Seolah-olah pecah-pecah rasa kulit pinggulnya dan baru lega hatinya ketika ia meraba pinggulnya, di situ tidak ada tanda luka, hanya terasa ngilu saja.
Sambil menggosok-gosok pinggul Cui Hong bangkit dan memandang kakek yang ter-senyum-senyum tanpa gigi di depannya itu, seperti seorang anak kecil kegirangan.
Tiba-tiba Cui Hong teringat akan sesuatu dan ketika kemarahannya lenyap.
"Kakek, engkaukah yang bernyanyi tadi? Bernyanyi lagu Bebas?"
"Heh-heh-heh, kalau benar begitu, mengapa? Kau marah-marah karena nyanyianku tadi?"
Kakek itu balas bertanya sambil mengamang-amangkan tongkatnya.
"Kalau marah-marah, boleh maju, akan kuhajar lagi. Anak nakal perlu dihajar sampai jera!"
Cui Hong menggeleng kepalanya.
"Aku tidak ingin digebuk lagi. Akan tetapi engkau adalah seorang yang berhati palsu, kek."
"Lho! Palsu? Eh, bocah bengal. Kapan engkau menjenguk hatiku? Bagaimana engkau bisa mengatakan hatiku palsu?"
"Orang yang lain tindakannya dari ucapannya, dia berhati palsu. Nyanyianmu tadi menyatakan satu hal, akan tetapi perbuatanmu terhadap diriku merupakan lain hal yang sama sekali bertentangan."
"Eh, kok begitu? Apanya yang berlainan? Kau bocah tolol, tiada hujan tiada angin mau gantung diri. Apa yang bermimpi bahwa kau telah menjadi Giam Lo Ong Si Raja Akhirat? Hal itu sama sekali tidak boleh, maka aku terpaksa menggunakan tongkat saktiku untuk menggagalkan perbuatanmu yang tolol dan pengecut."
"Nah, perbuatanmu itulah yang palsu! Engkau tadi bernyanyi tentang kebebasan, dan nyanyianmu menggugah hatiku. Aku ingin bebas dari kehidupan yang penuh derita ini. Aku ingin bebas dari kesengsaraan lahir batin, dari duka, dari dendam yang tak mungkin dapat dibalas, dari keputusasaan. Aku ingin bebas dan mengakhiri ini semua. Akan tetapi engkau begitu jahil untuk menggagalkan keinginanku untuk bebas. Bukankah perbuatanmu itu berlawanan dengan nyanyianmu di mana engkau mengatakan bahwa engkau ingin bebas pula?"
"Ho-ho-ha-ha, wah ngawur! Bebas bukan berarti lalu membunuh diri agar terlepas dari semua kesengsaraan lahir batin. Siapa bilang kalau sudah mat i itu lalu dapat bebas dari kesengsaraan lahir batin? Heh-heh, anak bengal, mari kita duduk dan bicara. Tubuhku yang tua ini tidak enak kalau harus bicara sambil berdiri lama-lama."
Dan kakek itu dengan santainya menjatuhkan diri begitu saja di atas tanah berumput tebal.
Sampai kaget hati Cui Hong dan hampir ia turun tangan menyambut tubuh kakek yang agaknya terpelanting jatuh itu.
Akan tetapi ia teringat bahwa kakek itu bukan orang sembarangan, maka ia menahan diri dan benar saja.
Biarpun tadi kelihatan terguling, kakek itu ternyata dapat mendarat dengan lunak, duduk bersila di atas tanah.
Cui Hong menarik napas panjang.
Orang ini aneh dan sakti seperti setan.
Ada-ada saja peristiwa yang dihadapinya dalam hidup ini.
Entah perkembangan apa yang akan menimpa dirinya, bertemu dengan manusia luar biasa ini.
Iapun tidak peduli lagi.
Mati pun bukan apa-apa lagi baginya, apalagi menghadapi malapetaka lain.
Tidak akan ada malapetaka yang lebih hebat daripada yang pernah dialaminya.
Ia pun duduk di depan kakek itu, memandang penuh perhatian dan kembali merasa seram.
Wajah kakek itu memang menyeramkan sekali.
Tiba-tiba kakek serta hitam itu lalu menggerakkan bibirnya membaca sajak sambil memukul-mukulkan tongkatnya ke atas sebuah batu sehingga terdengar suara "tak-tok-tak-tok"
Berirama.
Mula-mula hanya suara tak-tok-tak-tok berirama itulah yang terdengar, kemudian disusul suara kakek itu yang terdengar lembut dan lirih namun amat jelas memasuki telinga Cui Hong, seolah-olah kakek itu berbisik di dekat telinganya.
Dan Cui Hong yang sejak kecil pernah menerima pelajaran sastera dari mendiang ayahnya, kini mendengar kata-kata dalam nyanyian itu yang tidak asing baginya.
"Tidak condong itulah Tiong (tegak lurus) tidak berubah itulah Yong (seimbang) Tiong adalah Jalan Kebenaran Yong adalah hukum alam."
Mendengar kata-kata itu, Cui Hong lalu berkata.
"Kakek yang aneh apa maksudmu mengutip kata-kata dari Sang Budiman Beng Cu itu? Bukankah itu merupakan penjelasan tentang kitab Tiong Yong?"
Kini kakek itu yang mencoba untuk melebarkan sepasang matanya yang sipit dan dia kelihatan lucu, seperti orang mengantuk yang berusaha membuka mata lebar-lebar memandang dara itu.
"Eh, eh....! Kau tahu tentang Tiong Yong?"
Tiong Yong adalah satu di antara kitab-kitab suci pelajaran Agama Khong Kauw.
"Aku pernah membaca kitab suci itu walaupun sukar untuk mengerti maksudnya."
Jawab Cui Hong dengan jujur.
Kakek itu nampak girang sekali, terkekeh senang mendengar bahwa dara itu pernah membaca kitab Tiong Yong.
Dia tidak tahu bahwa mendiang ayah dara ini adalah seorang penggemar pelajaran Khong Kauw, bahkan banyak pula membaca kitab-kitab Too Kauw sehingga ketika memberi pelajaran membaca kepada puterinya, dia menyuruh puterinya membaca kitab-kitab itu.
Memang pada jaman itu, belajar membaca didasarkan kepada pembacaan kitab-kitab agama atau filsafat yang tinggi-tinggi sehingga anak-anak itu hanya mampu menghafal huruf-huruf itu tanpa mengerti artinya secara mendalam.
"Kalau beg itu dengarkan ini. Hi Nouw Ai Lok Ci Bi Hoat, Wi Ci Tiongl"
"Ah, aku ingat!"
Seru Cui Hong, terseret oleh kegembiraan kakek itu yang mengingatkan dia akan masa kecilnya ketika mempelajari semua ujar-ujar itu.
"Itulah bagian ke empat dari kitab Tiong Yong dan artinya Sebelum timbul perasaan Senang, Marah, Duka dan Girang, keadaan itu disebut Tiong (tegak lurus tidak miring)!"
"Heh-heh, bagus, bagus! Atau dengan lain kata-kata, keadaan itulah yang dinamakan Kosong atau Bebas! Aku selalu rindu akan keadaan itu."
Seru kakek serba hitam dengan girang.
"Tapi kau tadi bernyanyi bahwa kau rindu akan kebebasan. Aku yang terhimpit kekecewaan ingin bebas dari semua kesenangan dengan jalan mengakhiri hidup, akan tetapi engkau menghalangiku. Bebas yang bagaimana yang kaumaksudkan, kek?"
"Dengarkan ini Lima warna membutakan mata, Lima nada menulikan telinga, Lima kelezatan menumpulkan rasa."
"Wah, itu kitab Tao-tek-keng....!"
Seru Cui Hong. Kakek itu menjadi semakin g irang.
"Bagus! Engkau seorang anak perempuan aneh. Hafal akan ujar-ujar dalam kitab Tiong Yong dan Tao-tek-keng, akan tetapi hendak membunuh diri. Bebas yang kaumaksudkan bukan melarikan diri dari kenyataan, betapapun pahit kenyataan itu terasa oleh kita, melainkan bebas dari semua pengaruh panca indranya, bebas dari pengaruh perasaan dan pikiran. Eh, anak baik, siapakah engkau dan mengapa engkau seorang diri berada di tempat ini dan ingin membunuh diri?"
Dia berhenti sebentar, memukul-mukulkan tongkatnya ke atas tanah lalu berkata lagi.
"Sungguh pun engkau pernah mempelajari ilmu silat, akan tetapi kepandaianmu itu masih terlampau rendah untuk dapat kau pakai membela diri, padahal di dunia ini penuh dengan kekerasan."
Setelah semua perasaan kecewa, dendam dan keputusasaan meninggalkan batinnya untuk saat itu karena pikirannya dipenuhi dengan pertemuan aneh itu, maka kecerdikan Cui Hong pun timbul kembali.
Ia memang seorang gadis yang cerdik dan kini ia melihat jelas terbukanya suatu kesempatan yang amat baik baginya.
Kakek inilah yang akan dapat menolongnya!
Kakek ini adalah seorang sakti, hal itu tak dapat diragukannya lagi dan kalau ia bisa mewarisi ilmu-ilmu kesaktian dari kakek ini, tentu bukan hal mustahil lagi baginya untuk kelak membalas dendam terhadap empat orang musuh besarnya!
Cui Hong lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.
"Locianpwe, saya adalah seorang yang menderita malapetaka. Ayah dan suheng saya dibunuh orang, sehingga sekarang saya hidup sebatangkara di dunia ini. Karena putus asa, tadi saya bermaksud mengakhiri penderitaan ini dengan bunuh diri. Akan tetapi, setelah bertemu dengan locianpwe, baru saya sadari betapa kelirunya niat saya tadi. Saya akan merasa beruntung sekali kalau locianpwe sudi menerima saya sebagai murid locianpwe....."
"Heh-heh-heh, aku harus tertawa agar tidak menangis. Di pelosok manapun di dunia ini selalu kutemui kebencian, kekerasan, permusuhan, bunuh-membunuh di antara manusia. Tidak mudah untuk menjadi muridku, karena selamanya aku tak pernah menerima murid. Akan tetapi.... engkau ini anak perempuan yang aneh, hapal akan kitab-kitab suci akan tetapi mau bunuh diri, hemm, siapakah namamu?"
"Nama saya Kim Cui Hong."
"Kenapa ayahmu dan suhengmu dibunuh orang?"
"Mula-mula putera jaksa di Thian-cin meminang saya. Karena saya sudah ditunangkan dengan suheng, maka pinangan itu dito lak oleh ayah. Hal ini membuat marah putera jaksa itu dan dia hendak menggunakan kekerasan. Kami melawan dan akhirnya kami ditangkap, ayah dan suheng dibunuh dan saya..... saya mengalami penghinaan-penghinaan, akan tetapi tidak dibunuh dan dibuang di dalam hutan ini....."
"Aihhh.....! Sungguh benar sekali para bijaksana mengatakan bahwa kecantikan, kekayaan, kedudukan, kepandaian lebih banyak mendatangkan sengketa dan permusuhan daripada kedamaian dan persahabatan. Kim Cui Hong, jadi sekarang engkau hidup sebatangkara, tanpa sanak-kandang, tanpa rumah tinggal?"
"Benar, locianpwe, saya tidak memiliki apa-apa lagi dan karena itu mohon sudilah locianpwe menerima saya sebagai murid."
"Hemmm, selamanya aku belum pernah menerima murid, dalam usia setua ini muncul engkau. Inikah yang dinamakan nasib, jodoh atau kebetulan saja? Agaknya aku harus meninggalkan semua yang pernah kupelajari kepada seseorang, akan tetapi bagaimana kalau kelak kepandaian itu dipergunakan untuk kejahatan?"
Cui Hong yang mendengarkan kakek itu bicara seperti bicara kepada diri sendiri, cepat menjawab.
"Saya bersumpah tidak akan mempergunakan ilmu yang saya terima dari suhu untuk kejahatan. Saya akan mentaati semua pesan dan perintah suhu!"
Dengan cerdiknya ia langsung menyebut "suhu"
Kepada kakek itu untuk melenyapkan sama sekali keraguan yang masih membayang pada suara kakek itu.
"Suhu..... aih, sungguh enak sebutan itu, agaknya sama dengan sebutan ayah yang belum pernah kurasakan. Suhu..... heh-heh-heh, anak baik, aku suka menjadi suhumu."
Bukan main girangnya hati Cui Hong dan iapun segera memberi hormat sambil berlutut.
"Suhu, teecu (murid) Kim Cui Hong siap menerima petunjuk dan perintah suhu yang akan teecu taati dengan taruhan nyawa."
"Heh-heh-heh, bangkit dan duduklah, Cui Hong. Kuharap saja engkau akan menjadi murid yang baik. Akan tetapi ketahuilah bahwa tidak enak menjadi murid orang seperti aku, tidak enak dan tidak mudah. Melihat tingkat kepandaian-mu, sedikitnya engkau harus berlatih dengan penuh semangat dan tekun selama lima tahun, baru boleh diharapkan engkau akan memperoleh kemajuan."
"Teecu berjanji akan berlatih dengan tekun dan biarpun sampai lima tahun lebih teecu tidak akan mengendurkan semangat dan akan selalu mentaati petunjuk dan perintah suhu."
"Bagus, dan sekarang sebagai tugas pertama, engkau harus bersumpah bahwa kepandaian yang kau pelajari dariku tidak akan kau pergunakan untuk membunuh! Engkau tidak boleh membunuh!"
Mendengar ini, Cui Hong terkejut bukan main sampai mukanya berubah agak pucat dan kedua matanya terbelalak.
Tidak boleh membunuh?
Dan ia ingin be lajar silat yang tinggi hanya dengan satu tujuan, yaitu membalas dendam dan membunuh musuh-musuhnya!
"Cui Hong, aku bertemu denganmu ketika engkau hendak membunuh diri.
Karena itu, aku ingin menghapus semua keinginan membunuh dari dalam lubuk hatimu.
Engkau tidak boleh membunuh, baik membunuh diri sendiri maupun orang lain!
Engkau mempunyai musuh-musuh dan dendam kebencian membayang di wajahmu, karena itulah maka aku minta kau bersumpah bahwa engkau tidak akan menggunakan kepandaian dariku untuk membunuh!"
Biarpun ia terkejut dan kecewa mendengar larangan membunuh ini, namun Cui Hong yang mendapatkan kembali kecerdikannya, cepat memutar otaknya dan iapun lalu tanpa ragu-ragu lagi bersumpah.
"Baiklah, suhu. Teecu bersumpah bahwa teecu tidak akan menggunakan kepandaian dari suhu untuk membunuh orang."
Ia membayangkan bahwa untuk membalas dendam kepada musuh-musuhnya, tidak perlu membunuh! Masih banyak jalan lain kecuali membunuh untuk melampiaskan dendamnya. Kakek ini menarik napas panjang.
"Bagus, Cui Hong. Aku percaya engkau akan memegang teguh sumpahmu. Ketahuilah, mengapa aku menyuruh engkau bersumpah untuk pantang membunuh? Tiada lain karena aku sudah terlalu banyak membunuh orang! Dan aku tidak ingin muridku, selain mewarisi ilmu-ilmu-ku, juga mewarisi pula kesenanganku membunuh orang."
Dia mengangkat tongkat hitamnya dan mencium tongkat itu.
"Dengan kaki tanganku, terutama dengan tongkat ini, entah sudah berapa ratus atau ribu nyawa orang kurenggut dari tubuhnya. Gurumu ini pernah dijuluki orang Toat-beng Hek-mo (Iblis Hitam Merenggut Nyawa) karena paling suka membunuh orang tanpa pilih bulu! Aku diperhamba nafsu-nafsuku sendiri, karena itulah aku melarikan diri ke hutan-hutan, ke gunung-gunung, tidak mau bertemu manusia dan aku selalu mencari kebebasan, bebas dari nafsu-nafsuku sendiri. Aih, betapa tersiksanya batinku, betapa kuatnya ikatan-ikatan ini. Karena itu, aku tidak ingin melihat engkau terbelenggu oleh dendam, diperhamba nafsu sendiri. Aku tidak ingin melihat muridku menderita seperti aku."
Cui Hong tidak mengerti, akan tetapi tidak membantah.
Ia tidak peduli akan semua masalah gurunya.
Yang penting baginya mempelajari ilmu agar dapat membalas dendam kepada musuh-musuhnya.
Dan ia sudah bersumpah takkan membunuh, maka iapun tidak akan membunuh musuhmusuhnya, akan tetapi mem balas dendam, itu harus dan merupakan tujuan tunggal hidupnya!
Ia tidak sama dengan gurunya.
Gurunya suka membunuh orang tanpa pilih bulu.
Ia tidak, sama sekali tidak!
Dendamnya hanya kepada empat orang saja.
"Teecu akan menaati semua petunjuk dan perintah suhu,"
Katanya lagi untuk melegakan hati kakek itu.
Suhunya dijuluki Toat-beng Hek-mo, tentu saja memiliki kesaktian luar biasa, pikirnya dengan girang.
Tidak peduli apakah gurunya itu seorang datuk sesat, seperti julukannya, yang penting ia dapat mempelajari ilmu silat tinggi dari kakek itu untuk kelak menghadapi Thian-cin Bu-tek Sam-eng!
"Engkau tidak akan menyesal telah bertemu dengan aku yang menggagalkan niatmu membunuh diri tadi, Cui Hong.
Kalau engkau sudah mewarisi ilmu-ilmu-ku, maka engkau akan mampu menjelajahi dunia ini tanpa khawatir diganggu lagi.
Engkau akan sukar menemukan tandingan!"
"Terima kasih, suhu."
"Akan tetapi, jangan dikira menjadi muridku itu enak, Cui Hong. Aku orang miskin, tidak punya apa-apa, rumah pun tidak punya. Aku sudah tua, untuk mencari makan sehari-hari pun sukar. Kalau kau menjadi muridku harus mencarikan makan setiap hari untukku dan untukmu sendiri, kalau perlu mengemis, atau mencuri."
"Teecu sanggup!"
Kata Cui Hong.
"Masih ada satu hal lagi."
Kata kakek itu, mulai gembira melihat betapa dara itu memang keras hati dan besar semangat, tidak pantang mundur menghadapi segala macam kesukaran.
"Selama engkau belajar silat, kita akan tinggal di puncak gunung yang sunyi terpencil dan selama itu, engkau hanya boleh turun ke dusun kalau kehabisan bumbu masak dan keperluan lain, dan itu pun harus kaulakukan dengan singkat, sama sekali engkau tidak boleh melibatkan diri dengan urusan dan pertikaian dengan orang lain, tidak boleh mencampuri urusan orang lain. Sanggup kati?"
"Teecu (murid) sanggup!"
Kata pula Cui Hong.
Apa pun syarat-syarat gurunya akan disanggupinya karena memang tujuannya hanya satu, ialah mempelajari ilmu silat dari kakek ini.
Demikianlah, mulai hari itu Cui Hong menjadi murid kakek yang berjuluk Toat-beng Hek-mo, seorang kakek yang sudah puluhan tahun lamanya tidak pernah lagi muncul di dunia kang-ouw, yang mengasingkan diri berperang dengan batin sendiri mencari kebebasan, seorang kakek yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi akan tetapi yang memiliki pengetahuan tentang filsafat hidup melalui ayat-ayat kitab suci yang hanya diketahui kulitnya saja, dengan penafsiran isinya yang kacau balau.
Kebebasan, dalam arti kata bebas lahir batin, tidak mungkin bisa didapatkan dengan jalan mencari dan mengejar.
Kebebasan, seperti juga kebahagiaan, adalah satu keadaan, bukan merupakan suatu hasil dari pengejaran atau usaha.
Kebebasan yang sudah didapatkan melalui usaha bukan merupakan kebebasan lagi, melainkan merupakan kebebasan semu yang terbelenggu oleh KEINGINAN UNTUK BEBAS.
Dan di mana ada keinginan, dalam bentuk apapun juga, maka takkan mungkin ada kebebasan.
Kebebasan adalah suatu keadaan di mana tidak ada lagi aku yang ingin ini dan itu, tidak ada lagi aku yang sarat dengan nafsu-nafsu yang membelenggu.
Kebebasan bukan sekedar bebas dari ikatan dengan manusia lain atau dengan benda, sehingga tidak mungkin didapatkan melalui pengasingan diri jauh dari manusia dan harta benda.
Sebaliknya, orang dapat berada dalam keadaan bebas walaupun hidup di tengah-tengah masyarakat ramai.
Batin yang tidak memiliki apa-apa walaupun lahirnya mempunyai banyak benda, batin yang sama sekali tidak terbelenggu walaupun badannya mempunyai ikatan, dengan pekerjaan, dengan keluarga, dengan kewajiban-kewajiban dan sebagainya.
Memang lebih mudah dibicarakan tentang kebebasan, namun semua pembicaraan itu hanya teori belaka.
Kebebasan bukan untuk dibicarakan, melainkan untuk dihayati dalam kehidupan ini karena tanpa adanya kebebasan, takkan mungkin ada cinta kasih, takkan mungkin ada kebahagiaan.
Hidup kita ini sudah demikian sarat dengan beban, demikian ruwet penuh ikatan-ikatan sehingga isinya hanyalah permainan emosi belaka karena sang aku sudah terlanjur merajalela dipermainkan oleh Im dan Yang (Positif dan Negatif).
Semenjak mengikuti gurunya ke puncak yang amat sunyi, sebuah di antara puncak-puncak yang tinggi dari Pegunungan Lu-Iiang-san di sebelah barat kota raja, Cui Hong mulai suka akan warna pilihan gurunya, yaitu warna hitam.
Ia menyukai warna hitam karena untuk menyusup-nyusup ke dalam hutan dan semak-semak belukar, warna ini paling aman, tidak cepat kotor.
Dan setelah beberapa bulan lamanya ikut gurunya, berlatih ilmu silat setiap hari sambil mengurus kepentingan gurunya dan diri sendiri, mencuci, mencari air, memasak dan sebagainya, mulai pulih kembali keadaan badan Cui Hong.
Kedua pipinya menjadi kemerahan lagi, wajahnya nampak segar berseri, sepasang matanya menjadi hidup dan lincah.
Agaknya sisa-sisa peristiwa hebat itu, bekas-bekas malapetaka yang menimpanya, tidak lagi meninggalkan bekas di tubuhnya, walaupun jauh di dalam hatinya, bekas-bekas itu tak mungkin dapat dihapus begitu saja biarpun Cui Hong tidak pernah membicarakannya dengan suhunya.
Dendam yang amat hebat itu disimpannya di dalam hati sebagai suatu rahasia pribadi yang takkan diungkapkan kepada siapa pun juga, kepada gurunya pun tidak.
Apalagi karena ia melihat sikap gurunya yang tidak setuju dengan pemeliharaan dendam itu.
Kakek yang berjuluk Toat-beng Hok-mo itu ternyata memang seorang yang sakti.
Ilmu kepandaiannya tinggi sekali dan hal ini dirasakan benar oleh Cui Hong.
Dari hari pertama saja ia sudah menerima latihan sinkang yang luar bisa.
Kakek itu bahkan membantunya dengan kedua tangannya diletakkan di punggung dara itu, membantunya agar dapat dengan cepat menghimpun tenaga sakti, mempergunakannya di seluruh tubuh dan berlatih samadhi untuk memperkuat sinkang di dalam tubuhnya.
Setelah berlatih selama hampir dua tahun, barulah ia dianggap mulai memiliki sinkang yang cukup kuat untuk mempelajari ilmu silat kakek itu.
Dan Toat-beng Hek-mo juga tidak mengajarkan banyak ilmu silat, hanya satu macam saja!
Akan tetapi ilmu s ilat ini dapat dimainkan dengan tangan kosong maupun dengan senjata tongkat.
Nama ilmu silat ini menyeramkan, sama dengan nama julukannya, yaitu Toat-beng-kun (Ilmu Silat Mencabut Nyawa)!
Kalau dimainkan dengan tongkat maka nama ilmu itu menjadi Toat-beng Koaitung (Tongkat Aneh Mencabut Nyawa ).
Dan biarpun hanya satu macam, ternyata ilmu silat ini sedemikian sukar, aneh dan dahsyat sehingga untuk melatihnya sampai sempurnya, dibutuhkan waktu hampir lima tahun!
Dapat dibayangkan betapa kesepian rasanya harus hidup sampai bertahun-tahun di tempat sunyi dan dingin itu.
Hanya berteman seorang kakek tua renta yang buruk, dan yang jarang sekali bicara karena kakek itu lebih banyak bersamadhi dan hanya bicara kalau sedang memberi petunjuk dalam pelajaran ilmu silat.
Bahkan di waktu makan pun Toat-beng Hek-mo jarang mengajak bicara muridnya.
(Lanjut ke
Jilid 04) Sakit Hati Seorang Wanita (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 Waktu yang seolah-olah merayap itu merupakan latihan yang paling berat bagi Cui Hong.
Hampir ia kehilangan kesabaran dan beberapa kali ada dorongan kuat dalam hatinya untuk melarikan diri, turun gunung dan mencari musuh-musuhnya.
Apalagi setelah ia merasa bahwa kepandaiannya telah meningkat dengan cepat.
Namun, dendam yang amat mendalam itu membuat ia cerdik dan tidak mau bertindak lancang dan tanpa perhitungan.
Ia teringat akan kelihaian Thian-cin Bu-tek Sam-eng.
Kalau ia sekali turun tangan membalas dendam, ia tidak boleh gagal!
Kegagalan berarti membuat musuh-musuhnya menjadi kuat, berjaga dan akan semakin sukarlah kelak baginya untuk mengulangi usahanya membalas dendam.
Ia harus berhasil dengan sekali pukul dan untuk dapat memperoleh keyakinan dalam hal ini, ia harus tekun belajar sampai gurunya menyatakan bahwa pelajarannya sudah tamat.
Cui Hong adalah seorang gadis yang masih muda, dan memiliki pembawaan lincah gembira.
Biarpun ia pernah menderita malapetaka hebat hampir saja membuatnya putus asa dan membunuh diri, namun setelah tinggal di puncak gunung itu dan menyibukkan diri dengan pekerjaan sehari-hari dan latihan-latihan, kesegarannya pulih kembali bagaikan setangkai bunga yang pernah layu kini hidup dan segar kembali mendapatkan air dan embun.
Bahkan kini, setelah lewat kurang lebih enam tahun, Cui Hong telah berubah, dari seorang dara remaja yang masih memiliki sifat kekanakkanakan, menjadi seorang gadis yang bagaikan bunga sedang mekar semerbak.
Tubuhnya ramping dan padat, keindahan bentuk tubuhnya yang tidak dapat disembunyikan oleh pakaian sederhana berwarna hitam itu.
Bahkan pakaian serba hitam itu membuat kulitnya yang putih kuning dan halus nampak semakin menyolok.
Cui Hong telah menjadi seorang gadis dewasa yang amat cantik, seorang perempuan yang penuh daya tarik.
Pada suatu pagi, seperti biasa dilakukannya satu dua kali setiap bulan, ia berpamit kepada suhunya untuk membeli bumbu dan sedikit kain untuk membuat pakaian baru di sebuah dusun di kaki gunung.
Untuk memperoleh uang guna berbelanja, Cui Hong membawa sekarung dendeng yang dibuatnya.
Di hutan yang terletak di balik puncak terdapat banyak binatang hutan.
Cui Hong banyak berburu binatang ini, dagingnya didendeng dan kulitnya dijemur, kemudian kulit dan dendeng ini dibawanya ke dusun, dijualnya atau ditukarnya dengan bumbu-bumbu dapur, pakaian dan keperluan lain.
Karena selama enam tahun lebih ini sudah seringkali ia berkunjung ke dusun itu, maka semua orang dusun mengenalnya sebagai nona penghuni puncak yang cantik manis.
Melihat betapa nona berpakaian serba hitam itu membawa beban berat dan turun dari puncak, semua orang dapat menduga bahwa tentu nona cant ik ini seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka tak seorang pun berani mengganggunya.
Akan tetapi pada pagi hari itu, setelah menjual dendeng sekarung dan membeli bumbu masa kan, kain hitam dan lain keperluan, seperti minyak, lilin dan lain-lain, terjadi keributan yang sama sekali tidak dikehendakinya.
Sejak terjadi malapetaka yang menimpa dirinya, Cui Hong merasa tidak senang kalau melihat mata laki-laki memandangnya penuh gairah.
Ingin ia marah-marah dan menghajar orang lelaki yang berani memandangnya seperti itu, namun ia masih harus menahan kesabarannya selama ini.
la teringat akan pesan suhunya, bahwa ia tidak boleh mencari keributan, permusuhan dan tidak boleh mecampuri urusan orang lain.
Maka, karena pandang mata itu tak mungkin dianggap sebagai gangguan, ia pun pura-pura tidak melihatnya saja walaupun hatinya merasa mendongkol.
Agaknya, perbuatan empat orang musuh besarnya terhadap dirinya menumbuhkan semacam perasaan benci di dalam hatinya terhadap pria pada umumnya, apalagi kalau pria itu memandangnya dengan sinar mata kagum dan membayangkan gairah birahi.
Hal itu dianggapnya kurang ajar, dianggapnya bahwa pria yang memandangnya itu tiada bedanya dengan empat orang musuh besarnya, dan kalau mempunyai kesempatan tentu akan melakukan kekejian yang sama seperti yang pernah dilakukan empat orang musuh besarnya itu terhadap dirinya.
Ketika Cui Hong selesai berbelanja dan berjalan perlahanlahan hendak meninggalkan dusun itu, membawa buntalan terisi barang-barang belanjaannya, tiba-tiba terdengar suara laki-laki di belakangnya.
"Nona, bolehkah aku menemanimu?"
Cui Hong terkejut dan seketika mukanya berubah merah.
Ia melirik sambil menoleh dan melihat bahwa yang menegurnya itu seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun yang bertubuh besar dan perutnya agak gendut, matanya sipit dan sinar matanya penuh gairah, mulutnya menyeringai dan sikapnya jelas menunjukkan bahwa orang ini kagum kepadanya dan berniat menggodanya.
Cui Hong membuang muka dan tidak melayaninya, tidak menjawabnya, melainkan berjalan terus tanpa memperdulikan orang itu.
"Aih, nona, mengapa diam saja? Aku sudah tahu bahwa nona tinggal di puncak gunung. Siapakah nama nona dan dengan siapakah nona tinggal di puncak? Kasihan sekali, seorang perempuan cantik jelita tinggal di tempat yang begitu tinggi, dingin dan sunyi."
Cui Hong hampir tak dapat menahan lagi kemarahannya. Tanpa menoleh ia membentak lirih dan ketus.
"Pergilah kau dan jangan ganggu aku!"
Akan tetapi, orang itu bahkan memperlebar langkahnya sehingga kini dia berjalan di samping Cui Hong.
Ketika Cui Hong melirik, dilihatnya orang itu menyeringai dan muka yang agak bulat putih itu mengingatkan ia akan muka seorang di antara musuh-musuh besarnya yang paling dibencinya, yaitu Koo Cai Sun.
Akan tetapi jelas bukan karena orang ini masih muda, baru tiga puluh tahun usianya, sedangkan musuh besarnya itu sekarang sudah lebih dari empat puluh tahun.
"Wahai, nona, kenapa marah? Aku bermaksud baik, ingin berkenalan denganmu. Marilah kutemani kau naik ke puncak dan biarlah barang-barangmu yang berat itu kubantu kubawakan."
Laki-laki itu kembali berkata dengan suara mengandung rayuan.
Dia bukan penduduk dusun itu, melainkan pendatang dari kota lain yang datang ke dusun itu untuk berdagang kain.
Ketika dia tadi melihat Cui Hong, hatinya segera tertarik sekali.
Dia memang seorang yang mata keranjang dan melihat ada seorang dusun demikian cantik manisnya, dia merasa gembira dan ingin sekali memetik bunga dusun itu.
Apalagi ketika dia bertanya dan mendapat keterangan bahwa wanita serba hitam yang manis itu tinggal di puncak gunung, dan tak seorang pun mengenal namanya, agaknya merupakan seorang wanita penuh rahasia, hatinya menjadi semakin kagum.
Dibereskannya dagangan-nya, dititipkan kepada seorang kenalannya dan diapun cepat mengikut i Cui Hong dan menegur di tengah jalan.
"Aku tidak mau berkenalan dan tidak mau dibantu. Pergilah kau!"
Kata pula Cui Hong.
Laki-laki itu terkekeh.
Mereka tiba di pinggir dusun, di mana keadaan sepi sehingga laki-laki itu menjadi semakin berani.
Dia tahu, menurut pengalamannya, bahwa jika seorang wanita berkata tidak dengan mulutnya, hal itu besar kemungkinan berarti ya di dalam hatinya.
Pengetahuan ini membuat ia semakin berani melihat betapa wanita cantik yang menarik hatinya ini "pura-pura"
Tidak mau.
"Nona manis, tidak usah malu-malu. Aku adalah pedagang kain. Nanti kuberi segulung kain yang paling baik, sutera halus yang mahal. Mari kutemani, mau bukan?"
Dan tiba-tiba saja, sungguh di luar dugaan Cui Hong, laki-laki itu menggunakan tangan kirinya untuk meraba dan mencubit pinggulnya!
Meledak kemarahan di hati Cui Hong dan sekali membalikkan tubuhnya dan mencengkeram, punggung baju baju orang itu sudah dicengkeramnya dan sekali ia berseru, tubuh laki-laki itu sudah diangkatnya ke atas.
Buntalannya dilepaskan begitu saja dan kini tangan kirinya sudah diangkat hendak memukul remuk kepala orang yang berani kurang ajar kepadanya itu!
Laki-laki itu terkejut, meronta namun tidak mampu melepaskan diri.
Tangan kiri Cui Hong sudah diangkat dan sudah berisi tenaga sinkang sepenuhnya, akan tetapi mendadak ia teringat akan sumpahnya kepada suhunya.
Dilarang membunuh!
Maka, ketika tangannya meluncur turun, ia mengubah serangannya, bukan kepala orang itu melainkan tangan kirinya yang menjadi serangan tangan Cui Hong yang meluncur ke depan.
"Krekkk.....I"
Pergelangan tangan laki-laki itu remuk tulangtulangnya dan dia pun menjerit-jerit kesakitan. Cui Hong melontarkan tubuh itu jauh ke depan.
"Brukkkk....!"
Tubuh itu terbanting ke atas tanah dan tidak mampu bergerak lagi karena saking nyerinya laki-laki ceriwis itu jatuh pingsan ketika tubuhnya terbanting.
Cui Hong tidak menengok lagi kepada laki-laki itu, mengambil buntalannya kemudian pergi dari situ dengan cepat.
Setelah tidak ada orang melihatnya, ia lalu mengerahkan tenaganya dan menggunakan ilmu berlari cepat mendaki puncak.
Wajahnya masih merah sekali, sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi.
Marah sekali ia.
Kalau menurutkan hatinya, ingin ia menghancurkan kepala orang tadi, menginjak-injak dadanya sampai patah-patah semua tulang iganya!
Orang itu baginya tadi seolah-olah menjadi pengganti empat orang musuh besarnya dan semua dendam dan kebencian ia tumpahkan kepada orang itu.
Akan tetapi ia sudah bersumpah tidak akan membunuh dan bagaimanapun juga, ia tidak boleh melanggar sumpahnya sendiri.
Ketika tiba di depan pondok kayu kasar yang menjadi tempat tinggal mereka, Cui Hong melihat suhunya sudah duduk bersila di depan rumah, tidak seperti biasanya karena pada saat seperti itu biasanya gurunya itu masih bersamadhi di depan kamarnya dan baru akan keluar kalau ia sudah memberitahukan bahwa makanan siang telah tersedia.
Dan gurunya itu memandang kepadanya dengan matanya yang kecil mencorong itu dengan sinar aneh.
Agaknya gurunya melihat perubahan pada wajahnya yang kemerahan, pada sinar matanya yang berapi itu.
"Cui Hong, apakah yang telah terjadi?"
"Suhu, teecu seperti yang telah teecu katakan ketika berpamit pagi tadi, pergi menjual ikan kering dan membeli bumbu-bumbu dan kain hitam untuk pakaian kita. Sayang benang hitamnya habis dan tidak ada yang menjual, suhu, terpaksa nanti teecu menjahit dengan benang merah."
"Bukan itu maksudku. Engkau penuh dengan semangat berapi, penuh kemarahan. Apakah engkau telah membunuh orang?"
Cui Hong terkejut.
"Tidak, suhu. Mana berani teecu melanggar sumpah teecu sendiri? Teecu tidak membunuh orang, hanya..... teecu menghajar seorang laki-laki yang kurang ajar terhadap teecu."
"Apa yang dia lakukan dan apa pula yang telah kau lakukan?"
"Dia kurang ajar terhadap teecu, tidak teecu layani, akan tetapi dia berani meraba tubuh teecu. Teecu mematahkan tangan itu dan melemparkannya akan tetapi tidak membunuhnya, lalu teecu pulang."
Kakek itu mengangguk-angguk, memandang muridnya dan berkata.
"Cui Hong, sudah berapa lama engkau menjadi muridku?"
"Teecu tidak dapat menghitung tepat, akan tetapi kurang lebih tujuh tahun."
"Nah, bersiaplah, mari kau hadapi serangan-seranganku. Ini merupakan latihan terakhir, kalau lulus engkau boleh pergi, kalau tidak lulus engkau harus menemani aku sampai aku mati."
Tiba-tiba kakek itu bangkit berdiri.
Diam-diam Cui Hong terkejut mendengar ini.
Suhunya sering mengajak latihan dan kadang-kadang menyerangnya dengan sungguh-sungguh, akan tetapi dalam batas-batas latihan.
Kini, suhunya ingin mengujinya, sebagai latihan terakhir dan yang mengejutkan hatinya adalah kalimat terakhir itu.
Kalau ia lulus, ia boleh pergi, kalau tidak lulus, ia harus menemani suhunya itu sampai suhunya mati!
Jantungnya berdebar keras, inilah saat yang dinanti-nantikannya selama ini, yang ditunggunya dengan menyabarkan hatinya.
Agaknya pelajarannya sudah tiba di saat terakhir, sudah tamat!
"Teecu menaati perintah suhu."
Katanya dan ia pun menyingkirkan buntalan itu, lalu berdiri tegak, menghadap suhunya, kedua tangan lurus ke bawah di kanan kiri tubuh, kedua kaki rapat.
Inilah kuda-kuda yang aneh dari Toat-beng-kun!
Gurunya juga memasang kuda-kuda yang sama.
Mereka berdua itu saling berhadapan dengan berdiri tegak seperti patung, dengan kedua tangan merapat di kanan kiri dan kedua kaki juga merapat.
Pasangan kuda-kuda yang lucu sekali, akan tetapi jangan dikira bahwa kuda-kuda seperti ini lemah!
Biarpun pemasangan kuda-kuda itu demikian kaku, akan tetapi kaki dan tangan ini dapat bergerak setiap saat ke segala jurusan, baik ketika menghadapi serangan maupun ketika menyerang.
Keistimewaan kuda-kuda ini adalah sukar bagi lawan untuk menduga ke arah mana kaki dan tangan akan bergerak dalam serangan pertama.
"Lihat serangan!"
Tiba-tiba kakek itu berseru dan mulailah dia menyerang dengan cepat, kuat dan dahsyat sekali.
Namun, Cui Hong sudah siap s iaga dan ke manapun gurunya menyerang, ia selalu dapat mengelak atau menangkis dengan tepat sekali.
Dan gadis itu pun tidak sungkan-sungkan lagi, hal yang diperbolehkan dalam latihan itu, dan ia pun membalas serangan gurunya setiap kali terbuka kesempatan baginya.
Terjadilah serang-menyerang antara guru dan murid itu.
Kakek itu tidak main-main, melainkan mengeluarkan semua keahliannya dan mengerahkan semua tenaganya.
Juga Cui Hong tidak bersikap sungkan dan gurunya itu dianggap seorang lawan yang harus dilawannya mati-matian.
Diam-diam Toat-beng Hek-mo merasa kagum, bangga dan girang sekali.
Tidak percuma selama tujuh tahun menggembleng muridnya ini.
Biarpun d ia berkelahi sungguh-sungguh, namun dia sama sekali tidak mampu mendesak muridnya dan setelah mereka bertanding selama seratus jurus, napasnya sendiri mulai terengah-engah sedangkan muridnya masih segar bugar.
"Haiiiitttt....."
Tiba-tiba kakek itu berseru keras dan tahutahu tongkat hitam sudah berada di tangannya.
Dia menyerang dengan tongkatnya, memukul ke arah kepala Cui Hong.
Gadis ini cepat mengelak dengan melempar diri ke kiri.
Tongkat itu menyambar, dekat sekali dengannya dan agak lambat sehingga memikat orang untuk menangkap dan mencoba merebutnya.
Namun Cui Hong tidak mau melakukan ini.
Ia tahu bahwa itulah satu di antara keampuhan Ilmu Tongkat Toat-beng Koai-tung.
Nampak begitu mudah dirampas, akan tetapi sekali lawan merampasnya, tentu dia akan terkena hantaman tongkat itu sendiri.
Tongkat itu menyambar ke bawah, membabat kedua kakinya.
Cui Hong melompat ke atas dan berjungkir balik ke belakang.
Akan tetapi tongkat itu terus mengejar-sehingga terpaksa ia membuat jungkir balik berkali-kali makin mendekati pohon yang berada di sebelah kanan pondok.
Ketika tongkat itu masih terus mengejar, Cui Hong tiba-tiba melempar tubuh ke belakang dan bergulingan di atas tanah, menuju ke pohon.
Ketika tiba di bawah pohon, tiba-tiba ia mengeluarkan suara melengking dan tangannya bergerak.
Segenggam pasir dan tanah menyambar ke depan, ke arah muka Toat-beng Hekmo.
Kakek ini tentu saja tidak mau kalau mata atau hidungnya kena sambaran pasir dan tanah.
Dia meloncat ke samping menghindarkan diri.
Akan tetapi pada saat itu, Cui Hong sudah meloncat ke atas, menyambar sebatang dahan pohon sebesar lengannya.
Terdengar dahan patah dan ketika meloncat turun kembali, gadis itu sudah memegang tongkat dari dahan pohon yang masih ada daunnya pada ranting-ranting kecil.
"Haiiittt....!"
Cui Hong berteriak, menggerakkan tongkatnya dan berhamburanlah ranting dan daun-daun itu sehingga dahan itu kini gundul dan berubah menjadi sebatang tongkat yang menjadi senjatanya.
"Bagus!"
Gurunya memuji kagum dan menyerang lagi.
Cui Hong menangkis dan balas menyerang.
Kembali guru dan murid itu saling serang dan kedua tongkat mereka berkali-kali saling bertemu mengeluarkan bunyi tak -tuk -tak -tuk.
Keduanya bergerak cepat sehingga tubuh mereka lenyap terbungkus sinar kedua senjata itu.
Kembali seratus jurus telah lewat dan Toat-beng Hek-mo sudah merasa lelah.
Tiba-tiba dia meloncat jauh ke belakang dan berseru.
"Cui Hong, kau lulus!"
Cui Hong girang bukan main, membuang tongkatnya dan cepat menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gurunya.
"Su-he, teecu menghaturkan terima kasih atas segala budi suhu yang telah membimbing teecu selama tujuh tahun ini. Teecu tidak akan mampu membalas budi kebaikan suhu."
"Hemm, akupun t idak mengharapkan balasan, Cui Hong. Asal saja engkau memegang teguh sumpahmu, tidak melakukan pembunuhan, berarti engkau telah membalas budi itu."
"Teecu pasti akan memegang teguh sumpah teecu."
"Bagus, kalau begitu kau pergilah turun gunung, muridku."
"Tapi, suhu. Suhu sudah tua, bagaimana teecu tega meninggalkan suhu hidup sendirian di sini? Siapa yang akan menanak nasi untuk suhu, membuatkan minuman hangat, siapa yang akan merawat suhu?"
Kakek itu menyeringai dan mulutnya menjadi sebuah guha kecil menghitam.
"Heh-heh, engkau ini membuat diriku menjadi manja saja. Sebelum ada engkau, aku pun hidup sendirian dan mampu merawat diri sendiri. Pula, setelah engkau pergi, aku pun hendak pergi dari sini. Sudah bosan aku terlalu lama tinggal di sini. Pergilah dengan tenang, muridku, engkau berhak untuk menikmat i hidup di dunia ramai."
Cui Hong memberi hormat lagi lalu mengusir keharuan hatinya yang tiba-tiba saja muncul.
Ia tidak pernah merasa cinta kepada gurunya ini dan ia bahkan ingin menguasai ilmu silat tinggi.
Akan tetapi setelah secara tiba-tiba gurunya mengambil keputusan bahwa ia telah selesai belajar memperbolehkan turun gunung, setelah secara tiba-tiba mereka hendak saling berpisah, timbul juga keharuan itu di dalam hatinya.
Baru terasa olehnya betapa selama tujuh tahun ini, tanpa mengenal lelah, kakek ini melatihnya dengan ilmu silat yang hebat dan biarpun tak pernah memperlihatkan sikap kasih sayang, namun dari ketekunan kakek itu saja ia pun kini dapat melihat dengan jelas bahwa kakek itu amat sayang kepadanya!
Dan selama hidup bersama tujuh tahun itu, Toatbeng Hek-mo yang sudah melepas budi, memberikan ilmunya yang tinggi, sebaliknya ia tidak pernah memberi apa-apa.
"Suhu, teecu akan selalu ingat kebaikan-kebaikan suhu dan tidak akan melanggar sumpah teecu. Selamat tinggal, suhu, harap suhu menjaga diri baik-baik."
"Selamat jalan, muridku. Engkaulah yang harus menjaga diri baik-baik dan ingatlah bahwa ilmu silat ada batasnya dan betapapun tinggi ilmu kepandaianmu, masih ada orang-orang lain yang lebih lihai lagi. Karena itu, jangan terlalu mengandalkan ilmu silat. Kecerdikan dan kewaspadaan selalu lebih berguna daripada sekedar kekerasan ilmu silat."
Cui Hong lalu turun dari puncak, membawa buntalan terisi dua stel pakaian hitamnya, dan juga membawa bekal daging kering dan roti yang tadi dibelinya di dusun.
Sebagian belanjaannya ditinggalkan untuk suhunya.
Hanya sebentar saja rasa keharuan karena berpisah dari gurunya itu menyelubungi hatinya.
Setelah ia tiba di lereng gunung, melihat ke bawah, melihat dunia yang luas terbentang di bawah kakinya membayangkan betapa ia mulai sekarang hidup seorang diri, bebas lepas seperti seekor burung di udara, hatinya berdebar penuh ketegangan dan kegembiraan, la sudah bebas, berarti boleh berbuat apa saja sesuka hatinya sendiri.
Dan tentu saja ia harus pergi mencari musuh-musuhnya.
Itulah tujuannya mempelajari ilmu silat!
Bahkan itulah tujuan hidupnya, karena kalau bukan untuk membalas dendam, tentu ia sudah mati membunuh diri.
Untuk apa hidup menanggung aib, malu dan penghinaan yang sedemikian hebatnya, menderita kesengsaraan yang demikian mendalam?
Ia harus membalas dendam!
Tanpa disadarinya, ia berjalan sambil mengepal kedua tangannya dan bibirnya bergerak-gerak, akan tetapi suaranya hanya terdengar oleh dirinya sendiri, karena hanya hatinya yang berbisik melalui gerak bibirnya.
"Jahanam keparat Pui Ki Cong, Gan Tek Un, Koo Cai Sun, dan Louw Ti, tunggulah pembalasanku!"
Kemudian gadis ini pun mempercepat langkahnya, dengan penuh semangat ia lalu turun gunung menuju ke kota Thiancin.
Kalau dibandingkan dengan tujuh tahun yang lalu, sukarlah mengenal dara remaja puteri gur u silat Kim Siok itu.
Kim Cui Hong kini bukan seorang gadis remaja lagi, bukan setangkai bunga yang sedang mulai mekar kuncupnya.
Ia kini seorang gadis yang dewasa, berusia dua puluh dua tahun lebih seorang gadis bertubuh ramping dan padat, makin menonjol lekuk lengkung tubuhnya oleh pakaian serba "hitam yang ketat dan ringkas itu.
Di dagunya masih nampak tahi lalat kecil yang membuat dagu itu nampak manis sekali.
Sepasang matanya lebar dan jeli, bahkan kini memancarkan sinar yang mencorong tajam.
Mulutnya bahkan lebih indah daripada dahulu, kini mulut itu nampak selalu segar basah kemerahan, dengan bibir yang dapat bergerak secara hidup dan menggemaskan, seakan-akan menantang dan menjanjikan kegairahan yang penuh nikmat.
Mulutnya itu merupakan bagian yang paling manis dan indah dari wajah gadis ini.
Selain buntalan digendong di punggungnya, ia tidak membawa apa-apa lagi.
Tidak ada apa pun padanya yang membayangkan bahwa ia adalah seorang gadis yang memiliki ilmu silat tinggi!
Ia tidak akan menarik perhatian orang sebagai seorang ahli silat, akan tetapi jelas bahwa seorang gadis seperti Cui Hong akan selalu menarik perhatian kaum pria karena gadis itu cantik jelita dan manis sekali.
Justru pakaiannya yang serba hitam dan amat sederhana itulah yang membuat kecantikannya menonjol, kemulusan kulit yang putih kuning itu nampak jelas dan membuat ia berbeda daripada wanita lain.
Akan tetapi tentu saja Cui Hong tidak menyadari hal ini sebelum ia terjun dalam dunia ramai.
Perubahan besar terjadi di mana-mana, juga di Thian-cin semenjak ditinggalkan selama tujuh tahun oleh Cui Hong.
Dalam waktu tujuh tahun itu telah terjadi banyak sekali peristiwa penting.
Bukan hanya diri Cui Hong yang berubah banyak sekali, akan tetapi juga keadaan dalam negeri telah mengalami perubahan.
Karena lemahnya kaisar Beng-tiauw terakhir, yaitu Kaisar Cung Cen, yang menjadi seperti boneka di tangan para pembesar thai-kam (kebiri), pemerintahan yang penuh dengan para pejabat korup itu menimbulkan kekacauan dan pemberontakan di mana-mana.
Mereka yang merasa kecewa dengan pemer intah yang lemah dan korup itu memberontak dan yang paling terkenal adalah pemberontakan-pemberontakan yang dipimpin oleh Lee Cu Seng dan Bu Sam Kwi.
Sementara itu, kekuasaan bangsa Mancu semakin berkembang dan pasukan-pasukan telah menerobos ke selatan, menguasai banyak wilayah di utara dan timur.
Pada waktu itu, bangsa Mancu yang berhasil menaklukkan banyak suku bangsa liar di utara, dan sudah mulai melebarkan sayapnya ke selatan dan mendesak pemer intah Beng yang mulai suram, segera mendirikan suatu wangsa baru yang mereka namakan Kerajaan Ceng-tiauw.
Yang menjadi kaisar pada waktu itu adalah Kaisar Thai Cung yang di waktu mudanya bernama Pangeran Huang Thai Ci, seorang pemuda yang gagah perkasa dan tampan, juga amat terkenal sebagai seorang penakluk wanita.
Dan seperti tercatat dalam sejarah, di dalam kekuasaan Kaisar Thai Cung dari Kerajaan baru Mancu yang disebut Kerajaan Ceng itu, permaisurinya mempunyai jasa yang amat menonjol.
Permaisuri dari Kaisar Thai Cung ini berasal dari puteri seorang kepala suku bangsa liar, dan namanya Ta Giok (Kemala Besar).
la amat dicinta oleh Kaisar Thai Cung karena memang sejak muda, di antara mereka telah terjadi suatu jalinan cinta yang mesra.
Ketika Kaisar Thai Cung masih muda dan masih disebut Pangeran Huang Thai Ci, di perbatasan Mancuria sebelah selatan terdapat sekelompok suku bangsa yang masih belum takluk kepada bangsa Mancu, penakluk oleh kepala suku yang gagah perkasa.
Kepala suku ini mempunyai dua orang puteri yang sudah menjelang dewasa.
Yang pertama diberi nama Kemala Besar atau Ta Giok, sedangkan yang ke dua diberi nama Siauw Giok atau Kemala Kecil.
Keduanya merupakan dara-dara remaja yang cantik sekali, terutama Ta Giok yang amat jelita dan manis.
Sebagai puteri kepa la suku, dua orang dara ini sejak kecil sudah pandai berburu binatang buas, pandai menunggang kuda, pandai melepas anak panah, memainkan senjata dan membela diri.
Suku bangsa Mancu memang lebih besar, dan membiarkan wanita-wanita mereka bekerja seperti laki-laki, terbiasa dengan hidup yang serba keras dan sukar karena mereka adalah bangsa Nomad, yaitu bangsa yang suka berpindah-pindah dalam kelompok, mencari daerah baru yang lebih mencukupi kebutuhan hidup mereka.
Suku bangsa yang dipimpin o leh ayah Ta Giok ini merupakan suku bangsa yang gagah perkasa dan dengan gigih mereka mempertahankan kedaulatan mereka, tidak mau tunduk kepada bangsa lain, juga tidak mau tunduk kepada bangsa Mancu yang mulai berkembang kuat itu.
Mereka juga tidak peduli akan lahirnya kerajaan baru, yaitu Kerajaan Ceng-tiauw yang didirikan oleh bangsa Mancu yang mulai menguasai wilayah luas di sebelah selatan Tembok Besar.
Dan agaknya, mengingat bahwa kelompok ini hanya merupakan sekelompok suku bangsa pemburu yang kecil jumlahnya, Kerajaan Ceng tiauw yang baru ini pun tidak mengganggu mereka, apalagi kerajaan yang baru ini ingin menarik para kepala suku bangsa yang kecil-kecil itu sebagai sekutu, maka kebebasan suku bangsa ini pun tidak mereka ganggu.
Bangsa Mancu tidak mau mengganggu wilayah suku bangsa ini yang tidak begitu luas, dan menghindarkan setiap kesalah-pahaman atau bentrokan kecil antara perajurit mereka.
Pada suatu pagi yang cerah, di sebuah sungai kecil yang mengalir di tepi hutan, terdengar dua orang gadis bersendagurau.
Mereka mandi di sungai yang jernih airnya itu, berenang ke sana ke mari, saling siram, tertawa-tawa dan membuat suara berirama dengan menepuk-nepukkan telapak tangan ke permukaan air.
Memang sejuk dan segar sekali mandi di air sungai itu, ditimpa sinar matahari pagi yang hangat.
Suasana amat gembira dan meriah, apalagi karena tempat itu sunyi sekali.
Dua orang gadis itu adalah Ta Giok dan Siauw Giok.
Karena tempat itu sunyi dan tidak ada manusia lain kecuali mereka maka dua gadis itu mandi bertelanjang bulat tanpa malu-malu lagi.
Mereka menanggalkan pakaian mereka di tepi sungai, ditumpuk di atas batu kering dan bagaikan dua ekor ikan yang aneh mereka masuk ke dalam air.
Tubuh mereka yang berkulit mulus dan agak coklat karena sering kali tertimpa matahari itu nampak keemasan.
Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan dua orang dara remaja itu terkejut bukan main.
Tak mereka sangka bahwa di tempat itu akan ada orang lewat!
Mereka tentu saja cepat mendekam ke dalam air dan hanya nampak kepala mereka saja, dengan dua pasang mata yang lebar jernih itu terbelalak mereka memandang ke arah jalan di tepi hutan, tak jauh dari tempat mereka mandi.
Tak lama kemudian, muncullah lima orang pria muda yang menunggang kuda.
Mereka itu adalah lima orang muda, berusia antara dua puluh sampai tiga puluh tahun, kesemuanya nampak gagah dan bertubuh tegap, dengan pakaian indah dan kuda mereka merupakan kuda pilihan Mereka itu adalah seorang perwira dan empat orang pembantunya, perajurit-perajurit Kerajaan Ceng, orang-orang muda Mancu yang pandai menunggang kuda.
Ketika mereka melihat dua wajah cantik tersembul di atas permukaan air sungai, mereka pun tertegun dan menahan kuda mereka.
"Aihhh.... ada dua orang bidadari di sana....!"
Kata perwira itu dan mereka berlima segera mengajukan kuda dan menghampiri sungai itu ke tepinya.
Di situ mereka memandang dengan penuh kagum.
Melihat ini, Ta Giok yang tadi sudah membisiki adiknya, tiba-tiba bangkit berdiri sehingga tampaklah tubuhnya dari pusar ke atas, telanjang sama sekali, diikuti adiknya.
Tentu saja penglihatan ini membuat lima orang pria itu melongo, mata terbelalak dan mulut ternganga saking kagumnya menyaksikan segala keindahan di depan mata mereka itu.
Akan tetapi, sebelum mereka sempat melompat turun untuk menuruti dorongan hati mereka, tiba-tiba dua orang dara remaja itu menggerakkan kedua tangan mereka bergantian dan hujan batu kerikil menyerang lima orang itu.
Tiba-tiba lima ekor kuda itu meringkik kesakitan lalu meloncat dan kabur!
Kiranya, dua orang dara itu memiliki kepandaian menyambit dengan baik sekali sehingga mereka berhasil menyambit dengan jitu dan kerikil-kerikil mereka mengenai mata lima ekor kuda itu.
Binatang-binatang itu menjadi ketakutan sekali dan mereka kabur tanpa dapat dikendalikan lagi.
Saking kuatnya mereka melompat dan mengangkat kedua kaki ke atas, dua di antara lima orang pria itu terlempar dari atas punggung kuda, dan karena kaki mereka masih terlibat, mereka pun terseret sampai beberapa mil jauhnya sebelum kuda mereka dapat ditenangkan dan mereka dapat membebaskan diri, dengan tubuh penuh luka dan babak belur!
Tentu saja mereka menjadi marah sekali dan setelah mereka mampu menguasai kuda mereka, lima orang itu kembali ke tepi sungai, akan tetapi dua orang dara yang cantik jelita dan bengal itu sudah tidak nampak lagi batang hidungnya.
Berita tentang peristiwa itu tersiar di kalangan perajurit dalam pasukan pemerintah Ceng dan lima orang itu menjadi bahan tertawaan mereka.
Akan tetapi, ketika Pangeran Huang Thai Ci mendengar tentang dua orang dara itu, hatinya tertarik bukan main.
Dia adalah seorang pria yang suka sekali mendekati wanita cantik, seorang mata keranjang dan penakluk wanita yang terkenal karena memang dia gagah perkasa, berwajah tampan dan bertubuh tegap.
Kenyataan bahwa dua orang dara itu termasuk keluarga suku yang tidak bersahabat, yang tentu akan menyerang setiap orang asing yang memasuki wilayah mereka, tidak membuat pangeran mata keranjang dan petualang asmara ini menjadi gentar.
Pangeran Huang Thai Ci ingin sekali berkenalan dengan dua orang dara itu.
Dia lalu mengutus pembantu-pembantunya yang cerdik dan pandai untuk melakukan penyelidikan, siapa adanya dua orang dara itu dan kapan kiranya ia dapat bertemu dan berkenalan dengan mereka bertiga saja.
Petugas itu melakukan penyelidikan dan segera melaporkan bahwa dua orang dara itu bernama Ta Giok dan Siauw Giok, dua orang puteri kepala suku itu dan melaporkan pula kebiasaan dua orang dara itu berburu binatang di dalam hutan dalam waktu-waktu tertentu.
Mendengar laporan ini, sang pangeran lalu berangkat seorang diri.
Dengan penuh keberanian dan menyembunyikan kudanya di dalam sebuah guha di tepi hutan di mana dua orang gadis itu akan datang berburu, dan diapun mengenakan kulit harimau yang sudah dipersiapkannya, dan menunggu di tengah jalan.
Tak lama ia menunggu.
Sesuai dengan laporan yang diterimanya, terdengar derap kaki kuda dan tak lama kemudian dua orang dara itu nampak menunggang kuda perlahan-lahan, membawa belasan ekor kelinci dan ayam hutan hasil buruan mereka, dan mereka lewat sambil bercakap-cakap dan bersendau-gurau penuh kegembiraan.
Pangeran Huang Thai Ci mempersiapkan diri di balik semak-semak belukar, dan pada saat dua ekor kuda itu t iba di depannya, dia meloncat ke depan sambil mengeluarkan gerengan yang nyaring.
Biarpun terkejut, dua ekor kuda itu agaknya tahu bahwa yang muncul dan menggereng ini bukan harimau aseli.
Akan tetapi tidak demikian dengan dua orang dara itu.
Siauw Giok menjadi demikian kagetnya sehingga ia membedal kudanya dan kabur meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi, penuh rasa takut karena seolah-olah merasa ada harimau mengejar di belakangnya!
Memang demikianlah orang yang dicengkeram rasa takut.
Ta Giok lebih tabah daripada adiknya, akan tetapi ia pun terpaksa harus mencabut pedangnya karena tidak mungkin lagi mempergunakan busur dan anak panahnya.
Harimau itu terlampau dekat dan sebelum ia siap dengan busur dan anak panahnya, harimau itu dapat menyerangnya lebih dahulu.
Dengan gagah sekali, dara ini siap dengan pedang di tangan, menghadapi harimau itu.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget dan heran rasa hatinya ketika ia melihat harimau itu t iba-tiba dapat bangkit berdiri di atas kedua kaki belakang, seperti seorang manusia!
Ta Giok adalah puteri kepala suku yang masih terbelakang dan tentu saja ia percaya akan tahyul.
Melihat betapa ada harimau dapat berdiri seperti manusia ia pun segera menduga bahwa tentu ia berhadapan dengan seekor harimau jadi-jadian atau seorang siluman!
Ketabahannya luntur dan ia pun memandang pucat dengan tubuh agak menggigil.
Apalagi ketika tiba-tiba harimau itu dapat mengeluarkan suara ketawa, ia semakin takut lagi.
Harimau itu tiba-tiba bergerak dan terlepaslah kulit harimau itu dan kini yang nampak berhadapan dengan dirinya adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah sekali!
Pemuda itu, Pangeran Huang Thai Ci, dengan sigapnya melompat ke depan, sekali renggut dia sudah merampas pedang dari tangan Ta Giok yang masih terpesona dengan tangan kirinya, lalu tangan kanannya meraih dan dia memondong tubuh Ta Giok dar i punggung kuda.
Dara itu meronta-ronta, akan tetapi dia sama sekali tidak berdaya dalam dekapan Huang Thai Ci yang pandai merayu.
Dihujani rayuan dan belaian pemuda yang sudah amat menarik hatinya itu, akhirnya Ta Giok bertekuk lutut, takluk dan tidak melawan lagi, bahkan menyambut pencurahan cinta birahi Pangeran Huang Thai Ci dengan penuh gairah dan semangat pula.
Tanpa bicara kedua orang muda itu menurutkan gelora hati penuh birahi di balik semak belukar, di atas rumput hijau yang lunak tebal.
Baru kemudian Tanpa bicara kedua orang muda itu menurutkan gelora hati penuh birahi di balik semak belukar, di atas rumput hijau yang lunak tebal.
Ta Giok bertanya dengan lembut, memandang kekasihnya itu dengan sinar mata penuh kagum dan kasih sayang siapa adanya pemuda itu yang demikian beraninya melakukan siasat untuk menghadangnya.
Sambil tersenyum dan merangkul leher kekasihnya, menciumnya, pemuda itu berbisik di dekat telinga Ta Giok.
"Aku adalah Pangeran Huang Thai Ci"
"Ahhhh.....!"
Pengakuan ini membuat Ta Giok terkejut, akan tetapi juga kagum dan girang sekali.
Kekasihnya, pria pertama yang menyentuhnya, adalah sang pangeran yang sudah amat terkenal itu.
Dan dia pun balas merangkul dan keduanya kembali tenggelam ke dalam kemesraan yang mendalam.
Kemudian mereka beristirahat, rebah di atas rumput sambil memperkenalkan diri masing-masing.
Pangeran itu membujuk Ta Giok agar suka ikut bersama dia ke istana keluarganya.
Ta Giok merasa ragu-ragu.
Kalau ayahnya atau anggauta suku bangsanya tahu bahwa ia bukan hanya berkenalan dengan pangeran pihak musuh, bahkan telah bermesraan dan menyerahkan dirinya, tentu ayahnya akan marah sekali.
Bahkan kalau pangeran itu ketahuan, besar sekali kemungkinannya Pangeran Huang Thai Ci akan dikeroyok dan dibunuh tanpa banyak cakap lagi.
Selagi ia ragu-ragu dan belum dapat menjawab, tiba-tiba terdengar bunyi banyak kaki kuda menuju tempat itu, diseling teriakan-teriakan memanggil namanya!
"Celaka....
mereka datang....!"
Kata Ta Giok.
"Cepat, kau pergilah, pangeran.....!"
Huang Thai Ci juga terkejut sekali dan maklum akan bahaya yang mengancam, tanpa berkesempatan pamit lagi kepada kekasihnya, cepat melompat dan lari menuju ke guha di mana dia menyimpan kudanya, kemudian diam-diam dia kabur dari tempat itu melalui lain jurusan.
Sementara itu, Ta Giok setelah membereskan pakaiannya, lalu pura-pura rebah pingsan di dekat semak-semak di tepi jalan.
Ternyata rombongan itu terdiri dari belasan orang perajurit dipimpin oleh ayahnya sendiri dan ditemani oleh Siauw Giok yang menjadi penunjuk jalan.
Ayahnya segera melompat turun dan bersama Siauw Giok menyadarkan Ta Giok.
Kepala suku itu menghujaninya dengan pertanyaan di mana adanya harimau itu, akan tetapi karena khawatir kalau-kalau ayahnya merasa curiga, Ta Giok hanya menggeleng kepala ketakutan dan pura-pura tidak mampu bicara saking takutnya.
Mereka membawa Ta Giok pulang dan dara ini dapat menyimpan rahasianya, hanya menyimpan pertemuannya dengan Pangeran Huang Thai Ci itu sebagai sebuah kenangan yang manis dan indah sekali.
Akan tetapi ayahnya bukan orang bodoh dan diam-diam ayahnya menaruh hati curiga karena terjadi perubahan dalam sikap Ta Giok yang suka duduk termenung.
Karena itu, ayahnya lalu memaksanya untuk menikah dengan seorang kepala suku yang masih muda dan yang menjadi sahabatnya.
Pernikahan Ta Giok ini terdengar pula oleh Pangeran Huan Thai Ci.
Tentu saja hati pangeran ini merasa kecewa sekali dan ketika terbuka kesempatan, yaitu ketika kaisar mengambil keputusan untuk membasmi kelompok-kelompok suku bangsa yang tidak mau tunduk kepada Kerajaan Ceng-tiauw, pangeran ini lalu mengepalai sendiri pasukan yang kuat dan dia lalu menyerbu ke perkampungan suku bangsa di mana Ta Giok ini menjadi isteri kepala sukunya.
Dia membasmi kepala suku itu dan berhasil merampas Ta Giok dan Siauw Giok.
Pertemuan dua hati yang dipisahkan keadaan ini amat menggembirakan kedua pihak.
Dengan penuh kasih sayang, Huang Thai Ci lalu mengangkat Ta Giok menjadi isterinya, dan Siauw Giok lalu dinikahkan pula dengan adiknya, yaitu Pangeran Tuo Ek Kun.
Sifat mata keranjang Pangeran Huang Thai Ci memang sudah tidak ketulungan lagi!
Biarpun d ia sudah menguasai Ta Giok sebagai isterinya, namun melihat betapa Siauw Giok yang menjadi adik iparnya kini pun nampak cantik jelita menyaingi kakaknya, dia tidak dapat menahan gelora hatinya.
Dan karena adiknya pun merupakan seorang pria yang tidak pantang melakukan pelanggaran susila, maka terjadilah tukar-menukar antara kakak beradik ini!
Bukan merupakan hal yang aneh lagi kalau seringkali Ta Giok menemani adik iparnya dalam kamarnya, sebaliknya Siauw Giok tidur bersama Huang Thai Ci' Peristiwa seperti itu tidak jarang terjadi di dalam istana yang megah dan mulia, bahkan seringkali di tempat-tempat yang dianggap penuh kemuliaan dan kemewahan ini terjadi pelanggaran susila yang lebih hebat dibandingkan dengan yang terjadi di luar tembok istana.
Hal ini adalah karena kebebasan para wanita di dalam tembok istana amat terbatas, dan kehidupan mereka itu seperti di dalam rumah penjara saja, di dalam tahanan walaupun mereka berenang dalam kemewahan.
Dan para pangeran, keluarga kaisar, yang merasa bahwa mereka berada di puncak kekuasaan, kadang-kadang tidak pantang melakukan hal-hal yang tidak pantas, bahkan yang tidak akan dilakukan oleh seorang petani gunung yang bagaimana terbelakang dan bodoh sekalipun.
Tentu saja hal-hal semacam itu tidak pernah dicatat di dalam sejarah.
Sejarah orang-orang besar selalu penuh dengan kebaikan-kebaikan dan kebersihan-kebersihan belaka, penuh dengan catatan perbuatan yang patut-patut dan mulia.
Demikianlah, ketika Pangeran Huang Thai Ci diangkat menjadi kaisar menggantikan ayahnya dan berjuluk Kaisar Thai Cung dari kerajaan Ceng, Ta Giok yang berasal dari keluarga kepala suku bangsa kecil sederhana itu diangkat pula menjadi Permaisuri!
Dan ia masih menjadi permaisuri yang amat berpengaruh dan berkuasa ketika balatentara Mancu terus mengancam kota raja Kerajaan Beng-tiauw yang sudah hampir runtuh itu.
Dalam keadaan Kerajaan Beng-tiauw yang sudah makin lemah itu, tentu saja roda pemerintahan tidak dapat berjalan lancar.
Para pembesar di daerah-daerah seperti terlepas dari pengaruh kota raja dan mereka itu seolah-olah berdiri sendiri, menjadi raja-raja kecil di daerah masing-masing yang berada di dalam kekuasaan mereka.
Dan dalam hal ini pun, hukum rimba tetap berlaku.
Pembesar yang dekat dengan pasukan, terutama pembesar yang menguasai atau mengepalai pasukan yang terkuat, dialah yang menjadi raja tanpa mahkota!
Dengan modal kekuatan pasukannya, dia dapat memaksakan kehendaknya di daerah yang dikuasainya dan tidak ada siapa pun yang berani menentangnya.
Hal ini terjadi karena atasan mereka yang lebih kuat dan besar kekuasaannya berada di kota raja dan kota raja sedang kacau dilanda pemberontakanpemberontakan.
Akan tetapi, di mana ada kekeruhan, di situ pasti ada yang ingin memancing ikan di air keruh, manusia-manusia yang ingin memperoleh keuntungan dari keadaan kacau itu.
Setiap kali negara mengalami kekacauan, pasti muncul oknumoknum yang mencari sasaran dan ingin memperoleh keuntungan diri sendiri melalui kekacauan-kekacauan itu.
Hal ini terjadi karena terbukanya kesempatan-kesempatan bagi mereka.
Karena itu, ada benarnyalah kalau dikatakan bahwa kesempatan menimbulkan kemaksiatan!
Demikian pula dengan para pembesar tinggi di kota raja.
Mereka melihat kesempatan terbuka dengan adanya penguasa-penguasa daerah yang berdiri sendiri di daerah-daerah.
Dengan pengaruh dan kekuasaan mereka, para pembesar tinggi ini mendatangi para pembesar daerah, menggertaknya dan mengancamnya dengan tuduhan korupsi dan kalau mereka melawan, akan dituduh pemberontak!
Tentu saja, di jaman merajalelanya pemberontakan itu, para pejabat daerah paling takut dituduh pemberontak dan untuk meredakan kemarahan dan ancaman para pejabat tinggi yang datang dari kota raja untuk "mencari-cari kesalahan"
Itu, para pembesar daerah tidak sayang untuk mengeluarkan banyak harta guna menyogok.
Maka merajalela pula penyogokan dan penyuapan, agar para pemeriksa dari kota raja itu melaporkan yang baikbaik saja mengenai daerah mereka!
Di kota Thian-cin yang dekat dengan kota raja, hal serupa juga terjadi.
Para pejabat kota ini, tidak terkecuali, menggunakan keadaan selagi pemerintah pusat lemah, mereka ini hidup sebagai raja-raja kecil.
Sebagai seorang kepala jaksa, maka Pui Kian atau Pui Taijin (Pembesar Pui), tidak mau ketinggalan berlumba mengumpulkan kekayaan dan memperkuat kedudukan.
Dipeluknya komandan pasukan keamanan kota Thian-cin sebagai kawan akrabnya dan mereka berdualah yang seakan-akan menjadi raja-raja kecil di Thian-cin.
Pui Taijin sebagai seorang kepala jaksa, berhak untuk menangkap siapa saja dan menuntutnya dengan tuduhan-tuduhan palsu atau tidak, dan men jebloskan mereka yang dianggap tidak taat atau menentang ke dalam tahanan penjara.
Dan komandan pasukan itu, Ji-ciangkun (Perwira Ji), berdiri di belakang sang jaksa bersama pasukannya dan tidak seorang pun berani menentang atau melawan mereka!
Dengan cara demikian, mudah saja bagi Pui Kian untuk memeras para hartawan, merampas tanah-tanah pertanian yang luas dan melakukan segala macam penindasan lagi.
Karena itu, tidaklah mengherankan apabila dia menjadi panik setengah mati ketika mendengar berita pengumuman bahwa pekan depan akan datang seorang pembesar tinggi dari kota raja untuk mengadakan pemer iksaan di Thian-cin!
Dan dia mendengar bahwa Kwa Taijin (Pembesar Kwa) itu adalah seorang pembesar tinggi yang keras dan suka mengambil tindakan tegas, juga memiliki kedudukan yang kuat di kota raja!
Tentu saja dia menjadi panik dan ketakutan, maka cepat dia menemui 3i Ciangkun, sekutunya di Thian-cin.
"Ciangkun, engkau harus dapat menyelamatkan aku sekali ini. Aku gelisah sekali menghadapi pemeriksaan Kwa Taijin. Kabarnya dia keras sekali dan suka bertindak tegas!"
Demikian katanya dengan muka agak pucat membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan dapat menimpa dirinya. Wajah pembesar militer itu juga nampak gelisah.
"Pui Taijin, permintaanmu itu sungguh membingungkan hatiku. Bagaimana aku akan dapat menolongmu? Aku sendiri pun bingung mendengar dia akan muncul di sini. Sungguh heran, bagaimana dia tahu-tahu akan melakukan pemeriksaan di sini? Aku khawatir kalau-kalau ada orang yang mengadu ke kota raja."
"Apa..... apa maksudmu? Apakah engkau tidak dapat mempergunakan kekuasaan dan pengaruhmu untuk..... untuk sekedar melemahkan semangatnya?"
"Aih, kau tidak tahu, Taijin. Pembesar she Kwa itu amat berkuasa dan hatinya seperti terbuat dari baja. Kalau dia sedang tidak senang, biarpun disogok harta berapa banyak sekalipun, dia t idak akan goyah. Dan aku bahkan pernah menjadi korban ketegasannya. Ketahuilah bahwa aku dipindah ke Thian-cin dari kota raja juga karena dia!"
"Apa..... apa maksudmu?"
Tanya pembesar she Pui itu dengan kaget dan semakin panik.
Perwira itu menarik napas panjang, mengenang kembali pengalamannya yang pahit ketika dia menjadi korban ketegasan Kwa Taijin.
Ketika itu, lima tahun yang lalu, kedudukannya adalah seorang panglima di kota raja yang berkedudukan baik.
Akan tetapi, pada suatu hari dia telah melakukan kesalahan, menggunakan kedudukannya untuk menekan keluarga yang sejak lama menjadi musuhnya.
Dia berhasil menggunakan kekuasaannya untuk menuntut keluarga itu sehingga mereka ditahan dan dihukum dengan tuduhan melakukan perlawanan kepada alat negara dan memberontak, dan dia berhasil menguasai semua harta milik musuh itu.
Dan gara-garanya hanyalah karena puteranya bentrok dan berkelahi dengan putera keluarga itu, dan puteranya itu kalah dalam perkelahian itu dan terluka.
Akan tetapi, akhirnya urusan itu sampai ke tangan Kwa Taijin yang turun tangan menyelidiki dan mengadilinya melalui pengadilan kota raja.
Dalam urusan ini, dia dianggap bersalah.
Keluarga musuh itu dibebaskan, harta mereka dikembalikan dan dia sendiri lalu diturunkan pangkatnya dan dipindahkan ke Thiancin.
Dan kini, sahabatnya ini minta kepadanya agar mau melindunginya dari Kwa Taijin!
Tentu saja nyalinya belum apa-apa sudah menjadi kecil.
Semua ini dia ceritakan kepada Pui Taijin yang menjadi semakin panik.
"Celaka, kalau begitu, bagaimana baik nya?"
"Jangan khawatir, sahabatku. Sebaik-baiknya orang, sekeras-kerasnya orang, pasti ada cacatnya dan ada kelemahannya. Kukatakan tadi bahwa kalau hatinya sedang tidak senang, Kwa Taijin itu dapat keras seperti baja dan sukar sekali dibelokkan kehendak dan keputusannya, bahkan disogok pun tidak dapat. Akan tetapi kalau hatinya sedang senang, dia pun murah hati sekali. Karena itu, engkau harus berusaha menyenangkan hatinya."
"Bagaimana caranya, ciangkun? Ingat, ini kepentingan kita berdua. Engkau harus membantuku memikirkan jalan yang baik agar kita berdua dapat lolos dari bahaya. Bagaimana caranya untuk menyenangkan hatinya? Perempuan? Makan minum yang lezat?"
Perwira itu menggeleng kepala.
"Bukan, dia bukan tukang main perempuan, bukan pula pelahap makanan lezat. Akan tetapi dia punya kelemahan terhadap batu-batu permata yang indah, terutama sekali batu kemala dan mutiara. Terhadap dua macam batu permata itu, melebihi batu-batu mulia yang lain, dia tergila-gila."
"Batu giok (kemala)? Mutiara? Wah.... alangkah mahalnya....!"
"Apa artinya harta benda, taijin? Habis harta, bisa cari lagi. Kalau kehilangan kedudukan, apalagi dihukum, kita akan mati seperti tikus dalam jebakan."
Pembesar itu mengangguk-angguk seperti ayam makan jagung.
"Kau benar, kau benar! Baiklah, mulai sekarang aku akan mengumpulkan batu giok dan mutiara, akan kubeli dari semua pedagang batu permata. Akan kukumpulkan yang paling bagus, biar sampai habis uang simpananku asal hatinya menjadi senang."
Pada saat itu, di dalam kegelapan malam, ada bayangan orang mengangguk-angguk pula ketika mendengar percakapan dua orang pembesar ini.
Orang itu tadi menyelinap dan meloncat seperti seekor kucing saja, tanpa mengeluarkan suara dan tidak kelihatan oleh para penjaga.
Orang itu bertubuh ramping, berpakaian serba hitam dan memiliki gerak-an luar biasa ringan dan cepatnya.
Bayangan hitam ini adalah Kim Cui Hongl Sepasang matanya mencorong mengerikan ketika nampak berkilat.
Seperti telah kita ketahui, gadis ini turun dari sebuah di antara puncak Pegunungan Lu-liang-san, berpisah dari guru nya, Toat-beng Hek-mo, membawa buntal an pakaian dan juga ilmu kepandaian t inggi yang dipelajarinya selama tujuh tahun setiap hari tak pernah berhenti secara tekun sekali.
Tentu saja ia langsung menuju ke Thian-cin.
la melakukan penyelidikan tentang jenazah ayahnya dan suhengnya, namun ia gagal dalam penyelidikannya.
Tak seorang pun tahu di mana kuburnya dua orang itu.
Tadinya ada niat di hatinya untuk menghubungi saudara-saudara seperguruannya, akan tetapi niat ini lalu d ibatalkannya.
Tidak, la t idak akan mencari teman atau pembantu dalam usahanya membalas dendam.
Akan ditanganinya sendiri dan andaikata gagal pun akan ditanggungnya sendiri!
Balas dendam ini merupakan satusatunya tujuan sisa hidupnya.
Pertama-tama ia harus dapat mencari dana untuk penyelidikan dan usahanya membalas dendam.
Ia tahu ke mana harus mencari uang.
Ke rumah gedung keluarga jaksa Pui!
Ke mana lagi kalau bukan ke rumah musuh besar nomor satu itu?
Mengambil harta dari situ merupakan sebagian pembalasan dendamnya.
Demikianlah, dengan menggunakan ilmu kepandaiannya, ia berhasil menyelinap dan naik ke atas wuwungan rumah gedung keluarga Pui Taijin.
Secara kebetulan saja ia melihat dan mendengar percakapan antara Kepala jaksa Pui Kian dan ji Ciangkun.
Tentu saja percakapan antara kedua orang itu amat penting baginya.
Dari percakapan itu ia dapat menangkap bahwa akan ada pembesar tinggi dari kota raja datang ke Thian-cin dan agaknya Kepala jaksa Pui bersama sekutunya yang berpakaian perwira itu akan berusaha mengambil hati pembesar tinggi itu dengan jalan menyogok dengan barang-barang yang amat disukainya, yaitu batu-batu mulia berupa batu kemala dan mutiara yang tentu amat mahal harganya.
Kebetulan sekali, pikirnya dan kepalanya yang penuh dengan siasat terdorong oleh keinginannya membalas dendam itu sudah diputarnya dan ia sudah memperoleh siasat yang baik sekali.
Sekali turun tangan, ia harus dapat menguasai barang-barang berharga itu dan juga memukul keluarga Pui!
Setelah selesai urusan ini, baru ia akan turun tangan langsung kepada Pui Ki Cong yang belum dilihatnya di gedung itu.
Diurungkannya niatnya mencuri barang berharga dari gedung itu dan pada keesokan harinya, kembali ia melakukan penyelidikan tentang keluarga Pui dan tentang segala sepakterjang kepala jaksa itu.
Dan ia memperoleh keteranganketerangan yang amat penting.
Kiranya sudah empat tahun lebih Pui Kongcu atau Pui Ki Cong tidak tinggal lagi di Thiancin, dan menurut keterangan yang diperolehnya, musuhnya nomor satu itu telah pergi pindah.
kini tinggal di kota raja, menduduki jabatan tinggi dan penting di istana!
Dan tentang Jaksa Pui sendiri, ia memperoleh berita bahwa pembesar itu kini seperti raja kecil, seolah-olah dialah yang paling ber kuasa di Thian-cin, menentukan segala hukum yang berlaku di Thian-cin, berbuat sewenang-wenang mengandalkan kedudukannya dan dilindungi pula oleh sekutunya, yaitu Ji Ciangkun, komandan pasukan keamanan Thian-cin.
Juga gadis yang cerdik ini berhasil mendengar percakapan antara dua orang pegawai kabupaten yang sudah tua tentang diri Kwa Taijin, pembesar tinggi yang datang dari kota raja untuk mengadakan peneliti an dan pemeriksaan di Thian-cin dalam pekan depan ini.
Cui Hong mengangguk-angguk dan ia mulai memintal siasat yang direncanakannya seperti seekor laba-laba memintal jaring laba-labanya dengan teliti dan tekun.
Beberapa hal penting dicatatnya dan dikumpulkannya dari pendengarannya dalam percakapan Pui-taijin dan Ji Ciangkun, dan dari hasil penyelidikannya, yaitu Kwa Taijin, pembesar yang keras dan tegas dari kota raja akan tetapi memiliki kelemahan terhadap batu-batu permata, akan datang mengadakan pemer iksaan dan agaknya pembesar tinggi itu sudah mendengar akan sepak-terjang Pui Taijin di Thian-cin.
Pui Taijin dibantu oleh sekutunya, Ji Ciangkun, sudah mempersiapkan diri untuk menyogok pembesar Kwa itu dengan batu-batu kemala dan mutiara yang indah-indah untuk menyenangkan hatinya agar terlepas dari pengamatan dan tuntutan, tentu saja.
Malam terakhir dari hari kedatangan Kwa Taijin, kembali Pui Kian dan Perwira Ji mengadakan pertemuan di dalam kamar Jaksa Pui.
Kepala jaksa itu memperlihatkan hasil usahanya mengumpulkan batu-batu kemala dan mutiara, dan membuka sebuah bungkusan kain merah.
Di dalam bungkusan itu terdapat sebuah peti berukir indah dari kayu berwarna hitam.
"Ciangkun, coba kauperiksa, apakah barang-barang ini kiranya cukup untuk menyenangkan hati Kwa Taijin?"
Kata Pui Kian sambil tersenyum bangga.
Ditaruhnya peti itu di atas meja dan ketika peti dibuka, Ji Ciangkun mengeluarkan seruan kagum.
Di dalam peti itu nampak benda-benda indah dari batu giok yang berwarna kehijauan, gilang-gemilang dengan ukiran halus sekali.
Ada sepasang naga berebut mustika terbuat dari batu giok kemerahan, ada burung merak hijau, burung hong terbang sepasang juga dari giok hijau, ada pula gelang-gelang batu giok yang amat halus dan indah, semua itu diukir dengan halus dan pengikatnya dari emas putih.
Benda-benda ukiran yang demikian indahnya, terbuat dari batu-batu giok murni, sukar ditaksir berapa harganya.
Tentu amat mahal!
Dan di samping itu ada pula perhiasan-perhiasan terbuat dari batu-batu mutiara pilih an.
Ada kalung mutiara, ada pula giwang yang terbuat dari mutiara bermacam warna, dan ada pula gelang dari mutiara hitam yang tentu amat mahal harganya.
"Ah, selama hidupku belum pernah aku melihat kumpulan giok dan mutiara seindah ini, Taijin!"
Kata Ji Ciangkun dengan kagum.
"Kalau dia tidak puas dan senang dengan benda-benda ini, aku sendiri tidak tahu harus memberi yang bagaimana! Hebat sekali!"
"Tentu saja hebat! Benda-benda ini adalah barang-barang pilihan, ciangkun. Bahkan ukiran naga dan burung hong kemala ini tadinya adalah benda dari kamar pusaka istana kaisar yang !olos keluar! Tak ternilai harganya dan untuk mengumpulkan benda-benda ini, apalagi dalam waktu tiga empat hari ini, uangku tidak cukup dan a ku harus pinjam dari banyak kawan."
"Ah, apa artinya uang, Taijin? Yang penting, kedudukanmu masih selamat dan engkau masih tetap berkuasa. Apa sukarnya kelak mencari uang lagi? Yang penting, harimau dari kota raja itu harus dibikin senang hatinya agar tidak mencakar dan menggigit!"
Ji Ciangkun mengakhiri kata-katanya sambil tertawa. Pui Taijin juga tertawa bergelak dan menutup kembali peti itu.
"Ha-ha-ha, engkau benar. Harimau! Dia memang seperti harimau yang galak. Akan tetapi harimau pun akan kehilangan galaknya kalau dia diberi daging kesayangannya dan perutnya kenyang, bukan? Ha-ha-ha!"
Pui Taijin nampak gembira sekali karena kekhawatirannya hilang atau setidaknya banyak berkurang setelah dia memperoleh kepastian sahabat dan sekutunya bahwa hadiah itu cukup untuk menyenangkan hati Kwa Taijin yang ditakutinya itu.
Dia membungkus lagi peti hitam itu dan meletakkan bungkusan merah ke da lam almari yang berdiri di sudut kamar itu, di belakang tempat tidurnya.
"Mari kita rayakan hasil ini, ciangkun. Hatiku terasa lega dan aku berterima kasih padamu atas nasihatmu. Kelak aku tentu tidak akan melupakan budimu ini. Mari, mar i kita makan minum sepuasnya di ruangan makan."
Kepala jaksa itu mengajak sekutunya untuk mengadakan pesta di kamar makan.
"Akan tetapi, engkau tentu tidak akan meninggalkan begitu saja barang-barang yang amat berharga itu di dalam kamar ini, Taijin!"
Ji Ciangkun berseru ketika mereka hendak meninggalkan kamar. Pui Taijin tersenyum lebar dan membuka pintu kamar.
"Kau lihat, aku tidaklah sebodoh itu, ciangkun. Kamar itu kusuruh jaga siang malam. Aku selalu berhati-hati menjaga diriku, dan setiap hari, kamar ini dijaga oleh enam orang penjaga secara bergilir. Mereka berada di luar kamar dan siapa pun, kecuali aku dan keluargaku, tidak mungkin dapat memasuki kamar ini. Belum lagi diingat bahwa di sekeliling gedung kami ini selalu d ijaga pengawal-pengawal siang malam. Penjahat yang berani mencoba memasuki gedung kami sama saja dengan bosan hidup dan mau bunuh diri. Ha-ha-ha!"
Ji Ciangkun juga tertawa dan mengangguk kagum ketika dia melihat enam orang penjaga yang bersenjata lengkap memang nampak berjaga di depan kamar itu.
Mereka lalu meningalkan kamar yang hanya ditutupkan begitu saja daun pintunya oleh Pui Taijin, dan menuju ke ruangan makan di mana telah menanti pelayan-pelayan wanita yang siap melayani mereka berdua makan minum dengan hidangan-hidangan yang masih panas dan mewah.
Para penjaga di luar kamar itu, mau pun yang berjaga di sekeliling gedung Pui Taijin, adalah penjaga-penjaga biasa yang menjaga keamanan keluarga pembesar itu dari gangguan orang-orang biasa yang hendak memusuhi keluarga itu.
Tentu saja mereka itu tidak ada artinya bagi seorang pengunjung seperti Kim Cui Hong yang sejak tadi sudah mengintai di antara wuwungan rumah dan mendengarkan, bahkan melihat ke dalam kamar ketika Jaksa Pui dan Ji Ciangkun bercakap-cakap dan melihat kumpulan batu permata yang hendak diserahkan sebagai sogokan kepada pembesar Kwa Taijin yang akan datang besok.
Selagi dua orang pembesar itu bersenang-senang makan minum di ruangan makan dilayani oleh pelayan-pelayan wanita yang muda-muda dan cantik-cantik, Cui Hong yang memang sejak tadi sudah mempersiapkan rencana siasatnya, melayang turun ke dalam kamar tidur pembesar itu.
Ia membuka genteng dan membongkar langit-langit, melayang turun bagaikan seekor burung walet ke dalam kamar itu sehingga sama sekali tidak terlihat atau terdengar oleh para penjaga.
Cui Hong menggendong sebuah buntalan yang kini diturunkannya dari atas punggung dan diletakkannya di atas meja.
Ia pun lalu membuka almari di belakang tempat tidur, mengambil buntalan kain merah yang tadi sudah dilihatnya ketika ia melakukan pengintaian.
Dengan tenang (Lanjut ke
Jilid 05) Sakit Hati Seorang Wanita (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05 namun cepat dibukanya buntalan itu dan dengan hati-hati agar tidak mengeluarkan suara, dibukanya peti hitam yang penuh dengan barang-barang indah dari batu giok dan mutiara.
Semua benda itu dikeluarkan ke atas meja, kemudian peti itu ia isi dengan isi buntalannya sendiri yang terisi batu-batu biasa.
Setelah penuh dan beratnya sama dengan berat barang-barang berharga tadi, ditutupnya kembali peti Itu dan dibuntalnya kembali dengan kain merah, kemudian dikembalikan benda itu ke dalam almar i.
Barang-barang berharga itu kini dibuntalnya dan digendongnya di atas punggung.
Setelah memeriksa dengan telit i dan merasa yakin bahwa ia tidak meninggalkan bekas-bekas yang mencurigakan, Cui Hong lalu meloncat ke atas, tangannya menyambar tiang melintang dan menerobos melalui langit-langit yang sudah dibongkarnya dan melalui genteng-genteng yang sudah dibukanya.
Ia membetulkan kembali langit-langit dan genteng dari luar, kemudian tersenyum puas melihat hasil perbuatannya.
Ia telah melakukan siasat yang telah direncanakannya dengan sempurna.
Seperti sebatang pedang yang tajam kedua sisinya, sekali bergerak ia telah mendatangkan dua hasil yang baik.
Pertama, ia memperoleh barang-barang berharga yang akan dapat menjamin biaya semua usahanya membalas dendam, memperolehnya dari keluarga Pui Ki Cong musuh besarnya nomor satu, dan ke dua, ia pun dapat menjerumuskan Jaksa Pui ke dalam kesulitan kalau peti yang sudah diganti isinya dengan batu-batu kali itu besok diserahkan kepada pembesar tinggi dari kota raja!
Memang tadinya tidak sedikit pun terkandung dalam hati Cui Hong untuk mencelakakan Kepala Jaksa Pui ini, kecuali mengambil harta untuk dipakai sebagai biaya mencari dan membalas dendam kepada empat orang musuhnya.
Akan tetapi, ketika ia mendengar bahwa putera jaksa itu tidak berada lagi di situ, dan ketika secara kebetulan selagi melakukan penyelidikan hendak mencuri harta ia mendengar percakapan antara Jaksa Pui itu dengan Perwira Ji, timbullah rencananya untuk mencelakakan Pui Taijin.
Bagaimanapun juga, kepala jaksa ini adalah ayah Pui Ki Cong dan telah membantu perbuatan puteranya tujuh tahun yang lalu!
Ia maklum bahwa belum tentu usahanya mendatangkan kesulitan kepada keluarga Pui ini berhasil.
Bisa saja gagal, misalnya, kepala jaksa itu kebetulan memer iksa peti atau melihat kembali isi peti sebelum diserahkan kepada pembesar tinggi dari kota raja itu.
Andaikata benar demikian, ia pun tidak akan terlalu kecewa karena tujuan utamanya adalah mencari dana untuk biaya usahanya membalas dendam dan dalam hal itu ia telah berhasil dengan baik.
la akan menanti saja sampai besok dan menyelidiki hasil perbuatannya malam ini.
Agaknya memang nasib Cui Hong sedang baik atau nasib Kepala Jaksa Pui Kian sedang sial.
Peti hitam itu tak pernah dibuka lagi oleh pembesar itu sampai t iba saatnya peti itu diserahkan kepada Kwa Taijin dari kota raja!
Matahari telah condong ke barat ketika akhirnya rombongan yang dinanti-nanti dengan jantung berdebar tegang oleh para pejabat di Thian-cin itu tiba.
Sebuah kereta berkuda empat yang dikawal oleh pasukan pengawal kota raja yang berpakaian indah dan gagah sebanyak lima puluh orang.
Pada waktu itu, para pembesar kota raja tidak berani rnelakukan perjalanan ke luar kota raja tanpa pengawal yang kuat, karena banyak nya kerusuhan dan pemberontakan yang timbul di mana-mana.
Biarpun di Thian-cin ada kepala daerah yang sebetulnya memiliki kedudukan lebih tinggi dari Kepala Jaksa Pui, namun pengaruh dan kekuasaan kepala daerah Teng itu kalah oleh Pui Taijin sehingga ketika para pembesar melakukan penyambutan, kepala daerah ini diam saja, bahkan menganjurkan ketika Pui Taijin mempersilakan tamu agung itu untuk tinggal di gedungnya.
Diam-diam Kwa Taijin mencatat sikap ini.
Memang dia sudah mendengar desas-desus dan keluhan ra kyat di Thian-cin yang sampai ke kota raja tentang pembesar she Pui ini, yang menurut kabar h idup sebagai raja yang berkuasa penuh di Thian-cin!
Maka, melihat sikap Pui Taijin dan mendengar penawarannya agar dia suka tinggal di gedung pembesar itu, dia pun menerimanya karena hal itu akan memudahkan usahanya untuk melakukan penelitian dan penyelidikan.
Penyambutan di gedung Pui Taijin amat meriah.
Hal ini memang sudah dipersiapkan lebih dahulu oleh Pui Taijin.
Pembesar tinggi Kwa dari kota raja itu disambut seperti orang menyambut kaisar sendiri saja.
Dan begitu tiba di rumah gedung Pui Taijin yang luas, pembesar dari kota raja itu bersama para pengiringnya lalu dijamu dengan hidangan-hidangan yang mewah dan lezat.
Bahkan lima puluh orang pengawal itupun dijamu d i ruangan lain oleh kepala pengawal yang dikepalai oleh Ji Ciangkun, komandan pasukan keamanan di Thian-cin.
Di dalam kesempatan ini, setelah memberi sambutan selamat datang dan penghormatan dengan cawan-cawan arak, disaksikan oleh para pembesar lain, dengan wajah penuh senyum, Pui Kian lalu menyerahkan buntalan kain merah terisi peti hitam itu kepada Kwa Taijin.
"Mendengar akan kesukaan taijin, maka sebagai penyambutan selamat datang dan penghormatan, saya haturkan sedikit barang-barang kesenian terbuat dari batu kemala dan mutiara ini, harap taijin sudi menerimanya dengan senang hati."
Kwa Taijin adalah seorang yang paling suka mengumpulkan barang-barang terbuat dari batu kemala dan mutiara. Mendengar ucapan itu, dengan mata berseri dia memandang ke arah buntalan kain merah itu.
"Batu giok dan mutiara? Ah, Pui Taijin terlalu sungkan,"
Katanya sambil menerima buntalan itu, meletakkannya ke atas meja dan karena ingin sekali melihat benda-benda yang tentu amat indah itu, dibukanya bundalan itu, kemudian dikeluarkannya peti kecil hitam itu, diikuti oleh pandang mata Pui Taijin yang tersenyum gembira karena hadiahnya diterima dengan sikap demikian gembira oleh pembesar tinggi yang amat ditakuti ini.
Peti hitam itu dibuka o leh Kwa Taijin sendiri dan.....
wajah Kwa Taijin berubah keruh, sinar matanya penuh kemarahan, sebaliknya wajah Pui Taijin menjadi pucat, matanya terbelalak dan dikejap-kejapkan beberapa kali seolah-olah dia tidak dapat percaya kepada matanya sendiri melihat betapa barang-barang ukiran batu giok dan mutiara yang amat indah itu kini telah berubah menjadi setumpuk batu-batu kali biasa!
Juga mereka yang duduk dekat meja itu memandang dengan kaget.
Gilakah kepala jaksa itu?
Sungguh berani mati mempermainkan Kwa Taijin dari kota raja, memberi hadiah berupa batu-batu biasa dikatakannya perhiasan dari batu giok dan mutiara!
Dapat dibayangkan betapa besar kemarahan yang bergelora di hati Kwa Taijin.
Dia merasa dipermainkan, bahkan dihina oleh kepala jaksa yang dia dengar merupakan orang paling berkuasa di Thian-cin ini.
Dia begitu datang ke Thiancin dihina dan dijadikan bahan tertawaan oleh kepala jaksa ini!
Diangkatnya peti terbuka itu dan dilemparkannya ke atas lantai dengan wajah -berubah merah sekali.
"Brakkkk....!"
Peti itu pecah dan isinya, batu-batu kali itu berantakan di atas lantai. Pembesar itu lalu memutar tubuhnya menghadapi Kepala Daerah Teng yang duduk di dekatnya.
"Teng Taijin, mari kita pergi!"
Dan dia pun memberi isarat kepada komandan pasukan pengawalnya untuk pergi dari situ tanpa pamit kepada Pui Taijin.
Tentu saja Pui Kian tidak mampu bicara apa-apa, saking kagetnya, heran dan takutnya.
Baru setelah pembesar itu pergi, dia berjongkok dan memunguti batu-batu itu, mengamatinya satu-satu seperti orang kehilangan ingatan.
"Taijin, apakah yang terjadi? Bagaimana bisa menjadi batubatu ini....?"
Suara Ji Ciangkun menyadarkan Pui Taijin dan dia pun cepat memegang tangan Ji Ciangkun.
"Ciangkun, ada..... ada yang tidak beres....."
Dan dengan marah sekali, tanpa memperdulikan betapa para pejabat lainnya sudah berbondong-bondong meninggalkan ruangan itu untuk meninggalkan tempat itu agar tidak terlibat, Pui Kian lalu berteriak memanggil kepala pasukan pengawalnya.
"Periksa mereka yang semalam berjaga di luar kamarku! Siksa mereka agar mengaku siapa yang telah mencuri barang-barang dari dalam peti ini. Lakukan penggeledahan di tempat tinggal mereka!"
Dengan marah akan tetapi juga khawatir sekali Kepala jaksa Pui mengajak Perwira Ji berunding di dalam kamarnya.
Mereka berdua juga melakukan pemeriksa an di dalam kamar itu, akan tetapi tidak nampak tanda-tanda bahwa kamar itu kebobolan.
Keduanya mengambil kesimpulan bahwa yang bermain gila tentu seorang di antara para pengawal!
Kita tinggalkan dulu dua orang pembesar yang berunding dengan hati penuh kekhawatiran itu, dan mengikuti perjalanan Kwa Taijin yang dengan muka merah saking marahnya kini menuju ke gedung Kepala Daerah Teng.
Karena marah dan juga kesal hatinya, pembesar dari kota raja ini langsung saja memasuki kamar yang sudah disediakan untuknya dan menyatakan kepada pihak tuan rumah bahwa malam itu dia tidak mau diganggu lagi dan baru pada keesokan harinya dia mulai bekerja!
Diam-diam Kepala Daerah Teng merasa girang melihat adanya peristiwa aneh itu.
Dia pun menduga bahwa pasti terjadi hal-hal yang luar biasa karena dia tahu bahwa orang she Pui itu kaya raya dan sudah biasa memberi hadiah kepada atasannya.
Tak mungkin Jaksa Pui itu sengaja menghina Kwa Taijin.
Hal ini sama dengan bunuh diri!
Akan tetapi, diam-diam dia merasa girang karena peristiwa itu mungkin saja akan menjatuhkan Pui Taijin yang menjadi saingan utamanya, atau setidaknya akan mengurangi kekuasaan Pui Taijin sehingga dia sendiri akan mampu mengembangkan kekuasaannya di Thian-cin yang sebenarnya merupakan wilayahnya karena dialah kepala daerah di situ, sedangkan Pui Taijin hanyalah kepala jaksa yang terhitung anak buahnya.
Biarpun hatinya marah sekali akhirnya saking lelahnya, Kwa Taijin dapat pulas juga di dalam kamarnya yang mewah, disediakan oleh Kepala Daerah Teng.
Akan tetapi lewat tengah malam, dia terbangun.
Dia terkejut melihat bayangan orang di dalam kamarnya, dan jelas bahwa orang itu mengambil cap kebesarannya yang terletak di atas meja, lalu orang itu meloncat keluar dari jendela kamarnya.
Kwa Taijin bangkit dan mengucek-ucek matanya.
Akan tetapi dia tidak bermimpi dan cap kebesaran itu sudah lenyap dari atas meja.
Kemudian terdengar suara orang di luar kamarnya, di luar jendela dari mana orang tadi meloncat keluar.
"Aku berhasil mengambil cap kebesarannya. Cepat larikan cap ini kepada Pui Taijin. Cepat!"
Mendengar suara itu, Kwa Taijin kini yakin bahwa memang ada maling memasuki kamarnya dan mencuri cap kebesarannya. Dia lalu berteriak-teriak keras "Maling.....! Maling.....! Tangkap.....!!"
Teriakannya disambut oleh derap kaki para pengawal yang lari mendatangi.
Kwa Taijin sendiri lari ke jendela yang terbuka dan dia melihat bahwa empat orang penjaga yang berada di luar jendela telah roboh pingsan!
Gegerlah gedung itu ketika para pengawal lari berserabutan untuk mengejar dan mencari maling itu.
Akan tetapi, bayangan maling itu tidak nampak lagi.
"Cepat, antar aku ke rumah Jaksa Pui. Sekarang juga!"
Tiba-tiba Kwa Taijin memberi perintah kepada komandan pengawalnya.
"Dan bersiaplah untuk menangkapnya!"
Komandan pengawal itu segera mengumpulkan anak buahnya, dan ditemani oleh Kepala Daerah Teng yang masih merasa bingung dan kaget itu, Kwa Taijin lalu naik keretanya menuju ke rumah gedung Kepala jaksa Pui.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya rasa hati Kepala jaksa Pui Kian ketika dia menerima kedatangan Kwa Taijin bersama Kepala Daerah Teng dan semua pengawal dari kota raja itu pada waktu lewat tengah malam!
Begitu berhadapan dengan Pui Kian, Kwa Taijin mengerutkan alisnya, dengan mata bersinar-sinar penuh kemarahan, telunjuk kanannya menuding ke arah muka kepala jaksa itu, dia membentak.
"Pengkhianat she Pui! Hayo cepat kau kembalikan Cap besaranku!"
Tentu saja Pui Kian melongo, tidak mengerti apa yang dimaksudkan pembesar tinggi itu.
"Cap..... cap kebesaran....? Apa..... apa yang taijin maksudkan?"
Sikap dan ucapan ini oleh Kwa Taijin dianggap sebagai sikap pura-pura yang palsu, maka kemarahannya makin memuncak.
"Keparat, kau masih mau berpura-pura lagi setelah menyuruh maling mencuri cap itu dari kamarku? Pengawal, geledah kamarnya dan cari cap itu, dan tahan dia!"
Para pengawal pribadi Pui Kian hanya melongo, tidak berani membela majikan mereka karena mereka pun mengenal siapa Kwa Taijin dan tahu bahwa para pengawal kota raja itu adalah pasukan yang lebih tinggi kedudukannya daripada mereka.
Kepala pengawal bersama anak buahnya cepat melakukan penggeledahan dan tak lama kemudian, kepala pengawal sudah keluar dari kamar membawa sebuah cap kebesaran milik Kwa Taijin yang tadi dicuri maling.
"Hemm, lihat ini! Kau masih hendak menyangkal lagi?"
Kwa Taijin memperlihatkan cap itu di depan hidung Pui Kian. Pucatlah wajah Pui Kian.
"Tapi..... sungguh mati...... saya..... saya tidak mencurinya....."
"Hemm, kau penjahat kepalang tanggung! Kalau t idak menyuruh curi, apakah cap kebesaranku itu bersayap, terbang meninggalkan meja kamarku lalu hinggap di meja dalam kamarmu?"
"Fitnah...., ini tentu fitnah....."
Pui Kian meratap.
"Tangkap dia! Bawa ke dalam tahanan di tempat kepala daerah!"
Bentak Kwa Taijin.
Malam itu Pui Kian, kepala jaksa Thian-cin yang biasanya menjadi raja kecil di kota itu, harus meringkuk di dalam penjara di belakang gedung kepala daerah, dijaga ketat oleh pengawal-pengawal kota raja atas perintah Kwa Taijin sendiri.
Akan tetapi, penjagaan yang amat ketat ini masih tidak mampu mencegah Cui Hong yang membungkus sebuah kerikil dengan kertas yang telah diberi tulisan, lalu melontarkan kertas itu ke dalam kamar tahanan dari jauh, dan kertas yang membungkus kerikil itu melayang melalui jeruji besi, dan tepat mengenai kepala Pui Kian.
"Tukk!"
Pui Kian mengaduh dan melihat benda kecil putih itu yang tadi menyambar kepalanya, dia cepat memungutnya.
Penerangan lampu di luar kamar tahanan cukup terang menerobos melalui jeruji-jeruji besi dan dia lalu membuka kertas yang membungkus kerikil itu, dan dibacanya tulisan tangan yang halus di atas kertas.
"Kepala Jaksa Pui, kami mengucapkan selamat kepadamu!. Mendiang guru silat Kim Siok sekeluarga". Membaca tulisan itu, Pui Kian mengerutkan alisnya. Guru silat Kim Siok? Sudah mendiang? Dia mengingat-ingat, lalumengepal tinju dengan geramnya. Ah, kini dia teringat akan peristiwa tujuh tahun yang lalu. Guru silat Kim? Dengan anak gadisnya yang dilamar oleh Pui Ki Cong puteranya, akan tetapi ditolak. Guru silat itu bersama seorang muridnya telah tewas dan gadis itu..... ah, ke mana perginya gadis itu? Bukankah menurut kabar yang diperolehnya, gadis anak Kim Kauwsu itu oleh puteranya diberikan kepada Thian-cin Bu-tek Sam-eng? Dan bagaimana mungkin guru silat Kim yang sudah mati itu mampu melemparkan surat ini? Kini dia dapat menduga bahwa yang mencuri barang-barang berharga dan menggantinya dengan batu, kemudian melakukan fitnah atas dirinya dengan mencuri cap kebesaran milik Kwa Taijin kemudian menaruh ke dalam kamarnya tentu juga orang yang melemparkan surat itu! Akan tetapi siapa? Kim Kauwsu tidak mungkin karena dia sudah mati. juga muridnya yang akan menjadi mantunya itu. Lalu siapa? Anak perempuannya? Rasanya tidak mungkin. Anak perempuan itu sudah dibawa Bu-tek Sam-eng, kalau belum mati pun tentu menjadi bini muda mereka. Apakah murid-murid Kim Kauwsu? Ah, bisa jadi. Bukankah banyak juga murid-murid guru silat itu? Dia mengepal tinju. Dikirimkannya surat pemberian selamat atas malapetaka yang menimpa dirinya itu jelas merupakan ejekan. Ingin dia menangkap orang itu, menghukumnya dengan tangan sendiri. Akan tetapi, pembesar itu teringat akan keadaan dirinya dan lenyaplah semua kemarahan terhadap orang yang memfitnahnya, terganti oleh ketakutan yang amat hebat. Dia membayangkan dirinya dihukum, dipecat, dan dibuang, atau bahkan mungkin dihukum mati! Gemetar seluruh tubuhnya mengingat ini dan tanpa dapat ditahannya lagi dia menangis! Kerap kali terbukti bahwa orang-orang yang paling kejam hatinya adalah orang-orang yang paling penakut! Ada kalanya pula sifat pengecut dan penakutlah yang mendorong seseorang untuk berwatak kejam terhadap sesama manusia. Karena merasa takut dan merasa terancam keselamatannya, maka orang itu akan menyerang siapa saja yang dianggapnya men jadi ancaman bagi keselamatannya, kesejahteraannya atau kemuliaan hidupnya. Agaknya Kepala Jaksa Pui ini orang seperti itulah. Biasanya, kalau dia memperlihatkan kekuasaannya menindas orang lain, hatinya merasa gembira dan puas sekali melihat orang lain itu meratap-ratap minta ampun, menangis di depan kakinya minta keringanan hukuman. Puas dan gembira karena tangis orang lain itu merupakan mahkota kekuasaannya. Ratap tangis orang lain bagaikan nyanyi merdu di telinganya. Kini, menghadapi ancaman terhadap dirinya yang sukar untuk dapat dihindarkannya, melihat betapa kekuasaannya runtuh dan dia sama sekali tidak ber daya, kebanggaan dirinya runtuh pula dan timbul iba diri yang berlebihan besarnya, yang mendorong mengalirnya air mata dari sepasang matanya yang sudah lama mengering tak pernah disentuh perasaan itu. Dan si pelempar surat, Kim Cui Hong, sambil tersenyum puas dengan sinar mata berkilat dan wajah berseri-seri, meninggalkan kota Thian-cin pada pagi hari itu juga, masih gelap, membawa bungkusan pakaiannya yang kini juga terisi sebuah kantung terisi barang-barang berharga yang indah dan amat mahal harganya. Kota raja masih nampak megah dan ramai, walaupun sebenarnya banyak penduduknya merasa gelisah karena kini pasukan-pasukan pemberontak sudah semakin maju mendekati kota raja dari semua jurusan. Dari timur kabarnya pemberontak yang dipimpin oleh Lie Cu Seng sudah semakin maju sampai ke perbatasan propinsi, hanya tinggal tiga ratus li dari kota raja. Di barat juga pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Bu Sam Kwl memperoleh kemenangan-kemenangan. Apalagi di utara. Pasukan kerajaan kewalahan menghadapi serbuan-serbuan bangsa Mancu yang semakin kuat saja. Pendeknya, kota raja telah dikepung dari berbagai jurusan oleh banyak musuh. Bukan hanya tiga golongan musuh itu saja. Mereka bertiga itu adalah golongan musuh paling besar dan paling kuat. Masih banyak lagi pemberontakan-pemberontakan kecil terjadi di daerah-daerah. Semua ini membuat para menteri yang masih setia kepada kerajaan menjadi semakin gelisah. Akan tetapi apa daya mereka? Kaisar dininabobokkan oleh para thaikam dan selalu menerima pelaporan yang baik-baik saja dari para thaikam itu. Karena keadaan seperti mendung dan gelap oleh kegelisahan, oleh ancaman-ancaman yang tidak nampak dan terasa oleh semua orang bahwa kota raja berada dalam ancaman bahaya besar, maka yang berpesta pora dalam keadaan seperti itu adalah orang-orang yang menjual tenaga dan kepandaian silat mereka sebagai pengawal-pengawal dan penjaga-penjaga keamanan. Orang-orang berpangkat dan orang-orang hartawan yang memiliki uang, tidak sayang mengeluarkan banyak uang membayar jagoan-jagoan yang bertugas menjaga keamanan mereka dan keluarga mereka. Dalam keadaan ketakutan, orang memang dapat melakukan hal-hal yang menggelikan. Orang-orang hartawan itu sama sekali tidak ingat lagi bahwa ancaman perang tidak mungkin dapat dihindarkan oleh perlindungan yang diberikan jagoan-jagoan silat begitu saja! Dan mereka pun lupa bahwa yang mungkin mengganggu dalam keadaan kacau itu justeru orang-orang yang biasa bertindak kasar dan keras, yaitu orang-orang yang merasa punya kepandaian silat dan yang merasa unggul, termasuk orang-orang yang mereka angkat menjadi jagoan-jagoan itu! Mereka tidak ingat betapa sudah banyak terjadi adanya pagar makan tanaman, atau orang-orang yang diandalkan sebagai penjaga keamanan bahkan menjadi pengacau keamanan itu sendiri! Seperti memelihara harimau untuk mencegah serbuan serigala. Serigalanya tidak datang, akhirnya sang harimau peliharaan itu yang akan menerkam dan memangsanya! Betapapun juga, sudah pasti bahwa para jagoan atau mereka yang merasa memiliki kepandaian silat dan yang berani berkelahi, dalam keadaan seperti itu menjadi laris sekali. Tenaga mereka dan jaminan mereka dibayar mahal oleh orang-orang beruang yang rela membayar mahal hanya sekedar untuk menenteramkan hati mereka dan "merasa terlindung". Banyak jagoan-jagoan atau tukang-tukang pukul yang memiliki ilmu silat tinggi dan yang ditakuti dan disegani orang, yang perlindungannya berharga mahal sekali, berhasil mengumpulkan kekayaan dan menjadi orang kaya. Di antara mereka terdapat seorang jagoan yang terkenal sekali dengan julukannya, yaitu Toat-beng joan-pian (Cambuk Pencabut Nyawa)! Dia telah menjadi kaya raya karena menjadi pelindung beberapa orang hartawan di kota raja. Melihat betapa usaha di luar lebih baik daripada menjadi kepala-kepala pengawal yang makan gaji, sudah lama jagoan ini meninggalkan pekerjaannya sebagai pengawal seorang pembesar di kota raja dan membuka usaha melindungi hartawan-hartawan dengan menerima bayaran mahal setiap bulannya. Dan dia agaknya memang berdarah pedagang. Usahanya ini dapat diperluasnya menjadi semacam perusahaan penjaga keamanan dan dia memiliki puluhan orang pembantu yang bertugas men jaga rumah-rumah hartawan. Dia sendiri hanya dipakai namanya saja untuk menakuti-nakuti orang. Dan memang sesungguhnyalah, hartawan yang dijaga oleh anak buah Toat-beng Joan-pian ini, tidak ada yang berani mengganggu. Agaknya para penjahat di kota raja tidak berani menentang Si Cambuk Pencabut Nyawa yang selain terkenal lihai bukan main, akan tetapi juga terkenal bertangan besi dan tidak pernah mau mengampuni siapa yang berani mengganggu hartawan yang dilindunginya. Setelah membunuh beberapa orang yang berani mencoba-coba, akhirnya tak seorang pun berani mengganggunya lagi dan dalam waktu dua tiga tahun saja dia telah menjadi seorang yang kaya raya. Jagoan itu kini mempunyai sebuah gedung besar di pinggir kota raja dekat pintu gerbang sebelah barat. Dia hidup mewah di situ bersama seorang isterinya dan dua orang anaknya. Usianya sudah empat puluh tahun lebih, tubuhnya pendek tegap dan mukanya buruk, ternyata isterinya masih muda dan cantik sekali! Isterinya itu baru berusia dua puluh lima tahun dan dua orang anaknya baru berusia tujuh tahun dan tiga tahun. Hal ini tidak mengherankan karena dia memiliki kepandaian tinggi, memiliki banyak uang dan nama besar! Dan karena dia pun pandai mencinta isterinya yang muda dan cantik, wanita ini pun dapat menjadi seorang isteri yang setia dan seorang ibu anak-anaknya yang baik. Pendek kata, Toatbeng Joan-pian Louw Ti, ya namanya adalah Louw Ti, hidup serba kecukupan dan dapat diduga hidup berbahagia bersama keluarganya. Para pembaca tentu masih ingat kepada nama ini. Louw Ti, jagoan yang pandai memainkan joan-pian, semacam ruyung lemas atau cambuk yang saking tangguhnya diberi nama Cambuk Pencabut Nyawa yang kemudian menjadi julukannya. Ya, dia adalah Louw Ti, seorang di antara Thian-cin Bu-tek Sam-eng (Tiga Jagoan Tanpa Tanding dari Thian-cin), bahkan orang yang paling tua, lebih tua setahun daripada dua jagoan lainnya dari Bu-tek Sam-eng. Louw Ti, seperti yang lainnya, mendengar juga akan kejatuhan Kepala Jaksa Pui Kian di Thian-cin. Akan tetapi karena persahabatannya dengan pejabat itu dahulu hanyalah persahabatan belian, dalam arti kata persahabatan yang dijalin karena saling menguntungkan, maka di dalam hatinya dia sama sekali t idak merasa akrab dan sama sekali bukan sahabat Pui Kian. Karena itu, mendengar betapa bekas kepala jaksa itu kini menjadi orang hukuman, dia hanya tersenyum saja dan beberapa menit kemudian sudah melupakan lagi berita tentang kejatuhan orang she Pui itu. Kalau saja dia tahu mengapa dan siapa yang menyebabkan kejatuhan Pui Kian, mungkin dia tidak akan tersenyum acuh! Dia sama sekali tidak tahu bahwa mendung kelabu mulai datang dari jauh untuk membikin gelap sinar keberuntungan yang menerangi kehidupannya. Mula-mula terjadi pencurian di rumah gedung seorang hartawan yang dijaga oleh empat orang anak buah Louw Ti. Bukan hanya sejumlah perhiasan emas permata yang dicuri orang, akan tetapi juga empat orang anak buah itu dihajar babak-belur oleh pencuri itu.
"Orangnya bertubuh kecil, akan tetapi mukanya memakai topeng hitam dan pakaiannya juga hitam semua,"
Demikian empat orang anak buah itu melapor kepada Louw Ti.
"Ilmu silatnya lihai sekali. Ketika dia melakukan pencurian, kami berempat yang berjaga di depan pintu besar sama sekali tidak mengetahuinya. Adalah dia sendiri yang mendatangi kami dan mengejek, mengatakan bahwa dia telah mencuri banyak barang perhiasan berharga dari kamar tuan rumah."
"Hemm....!"
Louw Ti mengerutkan alis nya dan sepasang matanya yang lebar itu memancarkan sinar berkilat karena marahnya.
"Apakah kalian t idak memberi tahu bahwa kalian adalah anak buahku?"
"Sudah kami beri tahu, Louw-twako. Kami memberi tahu bahwa kami adalah pembantu-pembantu Toat-beng Joan-pian yang bertugas menjaga di rumah itu dan kami minta agar dia mengembalikan barang-barang itu dan jangan mengganggu kami."
Orang yang bercerita itu berhenti seolah-olah takut melanjutkan.
"Dan apa katanya?"
Louw Ti menuntut, penasaran.
"Saya..... saya tidak berani menceritakan....."
"Dess....!"
Tubuh orang itu terlempar dan bergulingan kena tendangan Louw Ti yang menjadi marah bukan main.
"Apakah kau ingin mampus? Sudah gagal melakukan penjagaan sehingga tuan rumah kemalingan, masih berani merahasiakan keterangan kepadaku?"
"Ampun, twako. Akan tetapi orang itu..... dia menghina sekali kepada twako."
"Hemm, berani menghinaku? Apa kata nya?"
"Dia bilang bahwa tidak takut kepada Toat-beng Joan-pian, bahwa dia tidak takut kepada Louw Ti yang pendek bermuka hitam, bahkan dia minta kami menyampaikan kepada twako bahwa dia adalah Pencabut Nyawa orang she Louw....."
"Jahanam keparat....!!!"
Louw Ti meloncat dan tentu dia sudah menerjang empat orang pembantunya itu kalau saja dia tidak ingat bahwa dia sendiri yang memaksa mereka mengaku.
Sepasang mata yang lebar itu menjadi kemerahan, mulutnya terengah-engah seperti mengeluarkan uap panas, kedua tangannya dikepal dan berbunyi berkerotokan.
"Di mana dia?"
Hanya itu yang dapat ditanyakan karena kemarahan yang hebat membuat dia sukar bicara.
"Kami tidak tahu, twako. Mendengar penghinaannya, kami lalu maju mengeroyoknya, akan tetapi kami tidak mampu menandinginya dan kami dihajar sampai tidak mampu bangun kembali."
"Kerbau tolol! Kamu tidak tanya siapa namanya dan di mana tempat tinggalnya?"
Bentak Louw Ti.
"Saya sudah tanyakan, akan tetapi dia hanya tertawa dan meloncat pergi, menghilang dalam kegelapan malam."
Tentu saja peristiwa itu membuat hati Louw Ti menjadi panas dan marah sekali.
Hiburan isterinya pun tidak dapat mengobati luka di hatinya dan sejak malam itu, dia sering keluar malam untuk meronda, kalau-kalau dia akan dapat bertemu dengan orang bertopeng hitam itu.
Dan untuk menjaga nama baiknya, dia mengganti kerugian hartawan yang kecurian itu dan meyakinkan hati hartawan itu bahwa pencurian seperti itu tidak akan terulang kembali dan dia akan menangkap si pencuri.
Memang perbuatannya mengganti kerugian ini membuat namanya menjadi bersih kembali dan kepercayaan para hartawan itu timbul lagi walaupun tadinya mereka meragu dengan adanya pencurian itu.
Akan tetapi hanya untuk beberapa hari saja karena segera terjadi lagi pencurian-pencurian yang sama.
Pencuri itu datang mencuri uang yang cukup banyak atau perhiasan dari hartawan-hartawan yang rumahnya dijaga oleh anak buah Louw Ti, dan selalu menghajar para penjaga itu sambil menyampaikan ucapan penghinaan kepada Louw Ti.
Setelah terjadi peristiwa seperti itu sampai lima enam kali, Louw Ti benar-benar merasa dirongrong dan setiap malam dia melakukan penyelidikan untuk menangkap pencuri itu.
Tanpa hasil.
Hartanya sampai hampir habis untuk mengganti kerugian para hartawan itu, karena yang dicuri oleh pencuri berkedok hitam itu bukan jumlah yang kecil.
Kalau begini terus, akhirnya dia akan jatuh miskin dan namanya tentu akan menjadi rusak.
Di antara hartawan langganannya bahkan sudah ada tiga orang yang berhenti dan mencari jagoan lain untuk menjaga keamanan keluarga mereka.
Hal ini merupakan pukulan hebat bagi Louw Ti.
"Aku bersumpah untuk menangkap pencuri keparat itu!"
Omelnya marah-marah ketika pada suatu malam dia pulang dari meronda tanpa hasil.
"Akan kupatah-patahkan kedua lengannya, kubikin buntung kedua kakinya dan kutusuk buta kedua matanya!"
Isterinya bergidik mendengar ancaman-ancaman itu.
"Ah, kenapa marah-marah setiap hari, suamiku? Kalau pencuri itu memang tidak mau bertemu denganmu, biar setiap malam kau meronda pun, takkan ada gunanya. Lebih baik mengurangi jumlah langganan dan melipatgandakan penjagaan agar lebih kuat."
"Uang kita sudah hampir habis untuk mengganti kerugian. Kalau dikurangi jumlah langganan, mana penghasilan kita bisa cukup? Selama pencuri jahanam itu masih berkeliaran, aku akan tak dapat tidur nyenyak. Agaknya dia memang sengaja memusuhiku. Sudah kuselidiki di kota raja ini, tidak ada tempat lain yang diganggunya kecuali rumah-rumah hartawan yang menjadi langgananku."
"Aih, kalau begitu jelas dia itu seorang musuhmu."
Kata isterinya khawatir.
"Cari saja siapa musuhmu itu, tentu engkau akan dapat menduga siapa adanya pencuri itu."
Suaminya menggeleng-geleng kepala dan matanya yang lebar itu makin bercahaya penuh ancaman yang amat bengis.
"Mana aku tahu? Selama menjadi pengawal orang-orang besar dahulu, sudah banyak yang menjadi lawan dan musuhku. Hemm.... sekali waktu aku pasti akan bertemu dengan dia dan joan-pianku inilah yang akan menghabiskan nyawanya!"
Dia meraba senjata itu yang tak pernah terpisah dari pinggangnya.
"Hati-hatilah, suamiku. Bagaimana kalau kau kalah? Menurut laporan anak buahmu, pencuri itu lihai bukan main."
"Betapapun lihainya, aku tidak mungkin kalah!"
Bentak suami itu dengan hati mendongkol dan isterinya tidak berani banyak cakap lagi.
Pada keesokan harinya, ketika Louw Ti masih tidur karena semalam dia kurang t idur sehingga setelah matahari naik tinggi belum juga bangun, dia tergugah oleh isterinya.
"Ah, aku masih ngantuk, kenapa kau membangunkanku?"
Omelnya dengan sikap ogah untuk meninggalkan bantal gulingnya.
"Suamiku, ada tamu penting yang ingin sekali bertemu dan bicara denganmu. Katanya dia mempunyai pekerjaan untukmu yang akan mendatangkan penghasilan besar sekali dan hanya dapat dilakukan oleh engkau sendiri."
"Hemm.... pekerjaan apa? Siapa dia?"
"Agaknya ia puteri seorang bangsawan atau hartawan besar, ia seorang wanita yang cantik sekali dan pakaiannya serba mewah, seperti puteri istana saja...."
Mendengar keterangan ini, Louw Ti seketika membelalakkan matanya dan cepat dia membersihkan mukanya, bertukar pakaian lalu keluar menemui tamunya yang disambut oleh isterinya di ruang depan.
Ketika berhadapan dengan tamu itu, Louw Ti cepat memberi hormat dan dia merasa kagum bukan main.
Benar isterinya.
Tamu ini seorang wanita yang luar biasa cantiknya!
Seperti seorang puteri istana memang.
Ketika dia menoleh keluar, di sana berdiri sebuah kereta dengan empat ekor kuda, sebuah kereta yang amat indah.
Tentu dia seorang wanita bangsawan, pikirnya dan diam-diam dia merasa heran karena belum pernah dia melihat wanita ini.
Dengan kedua matanya yang lebar dan bersinar tajam, dia memperhatikan tamu itu.
Ia seorang wanita muda, usianya masih lebih muda dari isterinya, antara dua puluh satu dan dua puluh dua tahun.
Wajahnya cantik jelita dan terutama sekali matanya yang lebar dan jernih, mulutnya yang berbibir segar kemerahan itu, sungguh amat menarik hati.
Rambutnya digelung ke atas dan dihias dengan hiasan sanggul terbuat daripada emas permata yang amat indah, berbentuk seekor burung Hong.
Pakaiannya juga terbuat dari sutera yang amat mahal, dan tubuhnya penuh dengan perhiasan yang serba indah.
Gelang, kalung, cincin, hiasan rambut, hiasan baju di dada, semua begitu indah dan mahal, gemerlapan.
Ketika Louw Ti memberi hormat, wanita itu pun bangkit berdiri dan mengangguk, lalu tersenyum manis dan bertanya.
"Apakah aku berhadapan dengan Louw-enghiong (Pendekar Louw)?"
Suaranya merdu dan halus, sikapnya lembut seperti seorang puteri istana atau puteri bangsawan tinggi.
Girang hati Louw Ti mendengar dirinya disebut enghiong!
"Benar, siocia (nona), saya adalah Louw Ti, seorang di antara Thian-cin Bu-tek Sam-eng!"
Dia sengaja menyebut julukan itu untuk menonjolkan diri dan mengaku bahwa memang dia seorang enghiong, seorang di antara Sam-eng (Tiga Pendekar).
"Ah, kalau begitu tepat sekali nasihat pamanku agar aku minta bantuanmu, Louw-enghiong. Pekerjaan ini amat penting, barang yang harus dilindungi berharga ribuan tail emas, dan mengingat bahwa pada waktu sekarang ini sangat tidak aman, maka pekerjaan ini hanya dapat dilakukan dengan hasil baik oleh seorang yang memiliki kepandaian tinggi seperti Louw-enghiong."
"Barang apakah yang dilindungi dan di mana, siocia? Dan kalau boleh saya mengetahui, siapakah siocia?"
"Maaf, aku harus merahasiakan diriku, juga pekerjaan ini harus dirahasiakan, dan hanya Louw-enghiong dan isteri saja yang boleh mengetahui. Kalau engkau setuju dengan syarat itu, kami akan memberi upah sebanyak lima puluh tail emas! Kalau tidak setuju, biarlah aku pergi mencari pengawal lain."
Mendengar upah lima puluh tail emas, jantung dalam dada Louw Ti berdebar.
Jumlah itu bukan sedikit!
Jauh lebih banyak daripada jumlah yang sudah dikeluarkannya untuk mengganti kerugian kepada hartawan-hartawan langganannya yang kecurian.
Hartanya akan pulih kembali bahkan bertambah!
"Baik, ceritakanlah, nona.
Pekerjaan apakah yang harus saya lakukan?"
"Ayahku seorang pejabat tinggi dalam istana yang kini mengundurkan diri. Kami mempunyai harta pusaka yang harus kami kirim ke dusun di mana ayah telah membeli dan mendirikan sebuah rumah.
"Nah, tugasmu adalah mengirim dan mengawal harta kami itu ke dusun itu sampai tiba di sana dengan selamat. Akan tetapi tak seorang pun boleh tahu akan harta itu. Karena itu, engkau harus membawanya sendiri, jangan memberi tahu lain orang dan jangan membawa kawan. Harta pusaka itu terdiri dari benda-benda berharga terbuat dari emas permata yang amat mahal harganya, mencapai seribu tail emas lebih, dapat kau bawa dengan berkuda. Setelah tiba di dusun itu, kami menanti di sana untuk menerimanya dan setelah kami terima dengan selamat, kami akan membayar lima puluh tail emas, dalam bentuk emas murni."
Wajah Louw Ti berseri gembira, akan tetapi dia pun khawatir.
Membawa harta sebanyak itu bukan merupakan hal yang ringan, apalagi perjalanannya jauh.
Cukup berbahaya pada waktu itu, apalagi kalau sampai ketahuan orang-orang dunia hitam, tentu harta sebanyak itu akan menjadi rebutan dan perjalanannya akan menemui banyak halangan.
"Dari mana dan ke manakah harta pusaka itu harus dibawa, nona?"
"Tidak begitu jauh, hanya memakan waktu dua hari saja kalau menggunakan kuda yang baik. Dibawa dari kota raja ini menuju ke dusun dekat Thian-cin."
Makin giranglah hati Louw Ti. Begitu dekat! "Dusun manakah, nona?"
"Ayahku telah membeli sebidang tanah di dusun Ang-kebun dekat Thian-cin, dan sudah membangun rumah di sana. Kakekku berasal dari dusun itu, maka ayah ingin beristirahat di hari tuanya disana."
"Ang-ke-bun? Aku tahu tempat itu. Baiklah, saya bersedia, nona."
"Ah, tidak begitu mudah. Louw-enghiong. Harta itu berharga ribuan tail, kalau saya serahkan kepadamu, lalu apa tanggungannya? Bagaimana kalau sampai harta pusaka itu hilang dirampas orang? Bagaimana tanggung jawabmu? Hal ini harus kita bicarakan dulu, kita rundingkan pahitnya dulu. Setidaknya, setelah harta itu kau bawa, engkau harus menyerahkan sejumlah uang tanggungan, walau tidak sepenuh harga harta itu, sedikitnya setengahnya."
"Hayaaa.....! Mana kami ada uang begitu banyak, nona? Kalau ada, tentu dengan senang hati saya akan memberikan uang tanggungan itu. Akan tetapi...."
Dia menengok kepada isterinya dengan bingung.
"Bukankah engkau masih mempunyai rumah gedung ini dan semua isinya? Kalau digadaikan dengan bunga tinggi, kukira banyak hartawan di kota raja yang menerimanya. Nah, kau gadaikan rumahmu ini, kau serahkan uang tanggungan itu kepadaku, dan aku akan menyerahkan harta itu padamu. Kau boleh memeriksa isinya agar hatimu tenang. Dan tentang bunga uang penggadaian rumahmu, biarlah aku yang membayarnya, sebagai tambahan upahmu. Bagaimana? Setujukah?"
Tentu saja Louw Ti setuju.
Upah lima puluh tail emas bukanlah sedikit!
Dan apa salahnya menyerahkan uang penggadaian rumahnya kepada nona ini?
Bukankah dia juga menerima harta pusaka itu yang jauh lebih besar harganya?
Hanya dua hari dan dia akan menerima upah lima puluh tail emas, berikut uang tanggungannya dan bunga penggadaian rumahnya.
Dari kota raja ke Ang-ke-bun, dusun kecil di luar kota Thian-cin itu.
Amat dekat dan amat mudah!
Dia yakin benar bahwa perjalanan antara dua tempat itu aman.
Belum pernah terjadi gangguan perampokan besar di daerah itu.
Kalaupun ada tentu hanya gangguan penjahat-penjahat kecil yang sudah akan berlari terbirit-birit kalau berjumpa dengan dia.
Louw Ti tertawa girang.
"Baiklah, nona. Besok pagi atau nanti saya kira saya sudah akan berhasil menggadaikan rumah kami ini berikut isinya."
"Baiklah, Louw-enghiong. Besok pagi saya akan datang lagi membawa harta pusaka itu, menyerahkan kepadamu dan menerima uang tanggungan darimu, dan sekalian akan kujelaskan bagaimana engkau harus melaksanakan tugas itu."
Wanita muda yang cantik jelita itu tersenyum manis lalu berpamit, diantar sampai ke depan pintu oleh Louw Ti dan isterinya.
Kefeta berkuda empat itu lalu bergerak dan dengan cepat lalu meninggalkan rumah Louw Ti.
Tentu saja Louw Ti gembira bukan main.
Untuk sementara dia melupakan maling berkedok hitam yang menggangunya.
Ada pekerjaan yang lebih penting, yang akan mampu menolongnya dan memulihkan keadaan keuangannya.
Dan memang tidak sukar baginya untuk menemukan seorang hartawan yang mau menggadai rumahnya berikut isinya, hanya untuk jangka waktu beberapa hari saja dengan bunga tinggi tentunya.
Demikianlah, ketika pada keesokan harinya nona bangsawan yang cantik itu datang bersama keretanya, dengan bangga Louw Ti dapat menumpuk uang hasil penggadaian rumah dan isinya itu di atas meja.
Hanya kurang dari sepersepuluh harga harta pusaka itu, namun nona cantik itu menerimanya dengan girang dan puas.
"Bukan uang dan jumlahnya yang penting."
Katanya.
"Melainkan tanggungan itulah. Karena ada tanggungan rumah dan semua isinya, tentu Louw-enghiong akan bekerja lebih hati-hati lagi. Dan inilah pusaka itu, harap enghiong periksa sebentar dan cocokkan dengan catatannya."
Bungkusan kain kuning yang tebal itu dibuka dan Louw Ti bersama isterinya terbelalak kagum.
Benar-benar isinya merupakan benda-benda yang amat berharga, tak ternilai harganya.
Berkilauan permata yang besar-besar, seperti mata yang banyak dan yang hidup berkedip-kedip kepada mereka.
Dengan jari-jari tangan agak gemetar karena selama hidupnya belum pernah melihat, apalagi memegang harta pusaka sebanyak itu, Louw Ti lalu mencocokkan jumlah benda-benda itu dengan catatannya.
Kemudian, setelah merasa cocok, dia menandatangani catatan itu dan menyerahkannya kepada nona bangsawan itu bersama uang hasil penggadaian rumahnya.
"Nah, hari ini juga engkau boleh membawa harta ini dengan berkuda menuju ke dusun Ang-ke-bun, Louw-enghiong. Sebaiknya dibungkus dengan buntalan kain yang tua agar tidak menyolok, seperti buntalan pakaian saja. Engkau terpaksa harus bermalam di tengah perjalanan dan besok siang akan dapat sampai ke Ang-ke-bun. Rumah yang dibangun ayahku berada di dekat jembatan di sebelah dalam pintu gerbang dusun yang di selatan. Dia sana ada rumah baru yang paling besar di dusun itu, bercat kuning dan jendela depannya berbentuk bulan purnama. Aku akan menantimu di sana. Sudah jelaskah, Louw-enghiong?"
Louw Ti mengangguk-angguk dan tersenyum gembira.
"Sudah cukup, lebih dari jelas. Saya akan berangkat sekarang juga mungkin malam ini terpaksa harus bermalam di tengah perjalanan....."
"Berhati -hatilah, Louw -enghiong....."
Nona bangsawan itu memperingatkan dengan wajah agak khawatir.
"Ha-ha-ha, jangan khawatir, nona. Di luar hutan pohon pek di sebelah selatan bukit, di lereng itu terdapat sebuah kuil tua. Di sanalah biasanya kami yang melakukan perjalanan beristirahat atau bermalam. Tempat itu aman sekali, belum pernah ada gangguan. Saya jamin bahwa pada besok hari, harta pusaka ini akan saya serahkan kepada nona di Ang-ke-bun dalam keadaan utuh dan selamat!"
"Baiklah, kini tenteram hatiku."
Nona bangsawan itu lalu berpamit dan membawa uang tanggungan itu keluar, lalu keretanya pun pergi dengan cepat meninggalkan pekarangan rumah gedung Louw Ti.
Derap kaki kuda itu memecah kesunyian dalam hutan.
Seekor kuda yang besar dan kuat berlari cepat di senja hari itu.
Penunggangnya adalah Louw Ti yang berpakaian ringkas dan menggendong buntalan di punggungnya.
Buntalan kain hitam kasar dan kuat, tidak menarik perhatian.
Wajahnya yang angker itu, dan kemilau cambuknya yang melingkari pinggangnya, lebih menarik dan mendatangkan keseraman.
Biarpun tubuhnya pendek, orang ini memang mempunyai pembawaan diri yang berwibawa dan menyeramkan.
Wajahnya yang hitam buruk dan terutama sekali sepasang matanya yang lebar dan mencorong itulah yang mendatangkan perasaan segan dan takut orang lain, karena wajahnya itu membayangkan kebengisan dan keberanian.
Louw Ti membalapkan kudanya karena dia ingin tiba di kuil tua itu sebelum hari gelap.
Tadi dia berangkat agak siang karena harus menemui dulu para pembantunya dan memesan agar mereka bekerja dengan hati-hati, agar selama dia pergi jangan sampai terjadi pencurian-pencurian lagi di rumah-rumah hartawan yang mereka jaga.
Perdagangan agak sunyi semenjak kota raja terancam bahaya oleh para pemberontak yang makin mendekat.
Para saudagar enggan untuk melakukan perjalanan jauh meninggalkan keluarganya.
Karena itu, perjalanan kali ini dari kota raja menuju ke selatan amat sunyi.
Hanya beberapa kali saja Louw Ti bertemu dengan pejalan kaki atau penunggang kuda yang lewat jalan kecil itu.
Akan tetapi dia tidak berkecil hati.
Sudah biasa jagoan itu melakukan perjalanan seorang diri.
Dia terlalu percaya akan kemampuan sendiri.
Siapakah orangnya berani mengganggu di daerah yang sudah amat dikenalnya ini?
Setiap orang penjahat, dari yang kecil sampai yang besar, semua telah mengenalnya dan takkan ada seorang pun di antara mereka yang berani mencoba-coba mengganggunya.
Apalagi, tak seorang pun yang tahu bahwa buntalan kain hitam di punggungnya itu terisi harta pusaka yang harganya mencapai seribu tail emas!
Cuaca sudah mulai remang-remang akan tetapi belum gelap benar ketika akhirnya dia tiba di depan kuil tua.
Melihat kesunyian di sekitar situ, juga di depan kuil t idak nampak ada kereta atau kuda, Louw Ti merasa lega.
Lebih enak kalau kuil itu kosong daripada kalau ada orang lain yang juga bermalam di situ, pikirnya.
Dia meloncat turun dari atas punggung kudanya, menuntun kuda memasuki kuil tua itu dan menambatkan kudanya di ruang depan yang sudah agak rusak.
Berbahaya juga meninggalkan kuda itu di luar, karena pada malam harinya mungkin saja ada orang yang akan mencuri kudanya itu.
Baru saja dia selesai mengikat kendali kuda pada tiang ruangan depan dan hendak menuju ke ruangan belakang yang masih agak bersih dan tidak bocor, tiba-tiba dia mendengar suara dan cepat-cepat dia menengok.
Matanya yang lebar itu semakin melebar ketika dia melihat bahwa di sebelah kanannya, hanya dalam jarak tiga empat meter, berdiri seorang yang berpakaian serba hitam dan yang mengenakan topeng hitam pula di depan mukanya.
Dua lubang pada topeng itu memperlihatkan dua buah mata yang amat tajam, mencorong dari dalam topeng atau kedok itu!
Jantung dalam dada Louw Ti berdebar walaupun dia tidak merasa takut.
Dia terkejut dan merasa tegang karena dia mengenal orang berkedok itu.
Bertubuh ramping sedang, berpakaian serba hitam dan berkedok hitam, tidak memegang senjata apa pun.
Inilah yang digambarkan oleh orang-orangnya, pencuri yang selalu mengganggu rumah-rumah hartawan yang dilindunginya, pencuri yang telah banyak merugikannya bahkan yang berani mengeluarkan kata-kata menghinanya!
Dan orang yang selama ini dicari-carinya tanpa hasil itu tahu-tahu sekarang muncul di kuil ini, selagi dia seorang diri dan membawa barang-barang berharga!
Kecut-kecut juga hatinya teringat akan buntalan di punggungnya terisi barang-barang yang amat berharga dan menjadi tanggung jawabnya untuk melindungi dan mengantar sampai ke tempat tujuan.
"Siapa kau dan mau apa!"
Bentak Louw Ti untuk mendahului dengan gertakan, selain untuk membesarkan hati sendiri juga untuk menggertak orang itu. Terdengar dengus suara mengejek dari balik topeng.
"Louw Ti, jangan pura-pura tidak mengenal aku, cepat serahkan buntalan di punggungmu itu kepadaku!"
Dapat dibayangkan betapa hebat kemarahan membakar hati Louw Ti.
Dugaannya tidak keliru.
Inilah pencuri kurang ajar itu!
Dan sekarang pencuri itu agaknya memang sengaja menghadangnya di tempat ini untuk merampas buntalan di punggungnya.
Perasaan benci, marah, dendam, akan tetapi juga gelisah bercampur-aduk dalam hatinya.
Otomatis tangan kirinya meraba buntalan di pinggangnya, dan tangan kanannya mencabut keluar cambuk dari pinggangnya.
"Jahanam busuk, memang aku sedang mencarimu untuk menghancurkan kepalamu!"
Bentaknya dan tanpa banyak cakap lagi, cambuknya menyambar dengan suara meledak-ledak ke arah kepala orang itu.
Akan tetapi, dengan gerakan yang amat gesit, orang itu sudah mengelak dengan loncatan ke belakang.
Cambuk di tangan Louw Ti menyambar terus karena dia memang bernafsu sekali untuk segera merobohkan orang itu, melucuti kedoknya dan menyiksanya sampai mati.
Akan tetapi, biarpun didesak oleh menyan barnya cambuk yang dahsyat itu, orang berkedok itu dapat mengelak pula ke samping kanan dan kakinya tiba-tiba menyambar ke arah perut Louw Ti.
Cepat sekali gerakan ini dan serangan balasan yang tidak terduga-duga ini hampir saja mengenai perut Louw Ti.
Namun, dia seorang ahli silat yang sudah biasa melakukan perkelahian, maka dia pun dapat cepat melemparkan diri ke belakang dan cambuknya meledak-ledak dari atas menyambar ke depan sehingga lawannya terpaksa mengelak pula.
Tentu saja orang berkedok itu bukan lain Kim Cui Hong!
Dan seperti pembaca tentu sudah dapat menduga, gadis bangsawan cantik jelita yang menyerahkan harta pusaka kepada Louw Ti untuk diantarkan ke Ang-ke-bun itu adalah Cui Hong pula!
Dengan hasil rampasannya, yaitu benda-benda berharga dari tangan Kepala jaksa Pui, gadis ini telah menjadi seorang yang kaya raya.
Ia menjual beberapa potong benda itu kepada pedagang besar di kota raja, menerima banyak uang dan diaturnyalah rencananya untuk mulai dengan pembalasan dendamnya.
Karena menurut hasil penyelidikannya, musuh yang pertama kali diperoleh keterangan adalah Louw Ti, maka dara ini pun segera mengatur siasat untuk turun tangan terhadap Louw Ti terlebih dahulu.
Dengan sebagian uangnya, ia membeli tanah bekas keluarga ayahnya, tanpa memperkenalkan diri kepada penduduk dusun itu, dan membangun sebuah gedung yang megah.
Kepada para tetangga yang sama sekali tidak mengenal gadis bangsawan berkereta itu, ia hanya mengatakan bahwa ayahnya seorang pembesar tinggi dari kota raja yang sudah pensiun dan ingin beristirahat di dusun itu.
Mula-mula ia mengganggu anak buah Louw Ti, selain untuk merusak nama baik Louw Ti sebagai pelindung bayaran juga untuk membikin rugi Louw Ti yang harus mengganti kerugian-kerugian para hartawan yang kecurian itu.
Kemudian, ia pun muncul sebagai gadis bangsawan yang menyerahkan harta pusakanya kepada Louw Ti untuk dilindungi dan dengan cerdiknya ia minta uang tanggungan sehingga terpaksa Louw Ti menggadaikan rumahnya dan semua isinya!
Dan kini, ia telah menjadi si topeng hitam lagi yang melakukan penghadangan di kuil tua untuk merampas buntalan di punggung musuh besarnya itu.
Louw Ti merasa terkejut juga menyaksikan orang bertopeng ini benar-benar memiliki gerakan yang amat lincah dan juga aneh.
Sampai belasan kali cambuknya yang biasanya ampuh sekali itu menyambar-nyambar ganas, namun selalu lawan itu dapat menghindarkan diri dengan cepat.
Padahal, dalam belasan jurus itu dia sengaja mengeluarkan jurus-jurusnya yang paling ampuh untuk cepat merobohkan lawan yang amat dibencinya itu!
Dia bukan seorang bodoh dan setelah melihat bukti kelihaian orang itu, Louw Ti maklum bahwa lawannya amat berbahaya.
Mulailah dia merasa khawatir akan keselamatan harta pusaka yang berada di punggungnya.
Diam-diam dia mulai mencari kesempatan untuk melarikan diri.
Akan tetapi, kudanya sudah diikat kendalinya kuat-kuat pada tiang di luar, dan untuk melepaskan kendali membutuhkan waktu.
Orang ini tentu takkan membiarkan dia lari, maka dia pun kini mengubah gerakan cambuknya.
Cambuk itu tidak lagi meledak-ledak menghujankan serangan, melainkan sebagian dipergunakan untuk melindungi tubuhnya dari serangan lawan.
Setelah mengubah gerakan cambuknya, kini gulungan sinar cambuk itu merupakan benteng yang amat kuat, yang melindungi tubuh Louw Ti sehingga lawannya sukar melakukan serangan, apalagi hanya dengan tangan kosong.
Ilmu cambuk dari Louw Ti memang dahsyat dan kuat sekali, walaupun kini kehilangan daya serangannya namun masih memiliki daya tahan yang luar biasa kuatnya.
Cui Hong juga maklum bahwa hanya dengan tangan kosong saja sukarlah baginya untuk menundukkan lawan ini.
Pantas mendiang ayah dan suhengnya dahulu tidak mampu menang, karena memang ilmu silat orang ini amat tinggi.
Kalau ia menghendaki kematian orang ini, walau tanpa senjata pun ia akan sanggup melakukannya karena di antara berkelebatnya sinar cambuk bergulung-gulung, ia masih dapat melihat lowongan-lowongan yang dapat diterobosnya.
Akan tetapi, tidak, dia tidak akan melanggar sumpah nya, tidak akan membunuh orang ini.
Juga, terlalu enak kalau dibunuh begitu saja, tidak sepadan dengan perbuatannya yang terkutuk tujuh tahun yang lalu terhadap dirinya.
Orang ini, seperti tiga orang musuhnya yang lain, harus disiksa lahir batinnya, agar mati perlahan-lahan, bukan mati langsung oleh tangannya.
Cui Hong meloncat jauh ke kiri dan ia sudah menyambar sebatang tongkat yang tadi ia sandarkan di dinding ruangan itu.
"Wirrrr....!"
Tongkat itu diputarnya secara aneh, menyerbu gulungan sinar cambuk dan terkejutlah Louw Ti ketika tiba-tiba saja cambuknya macet dan menempel pada tongkat lawan! "Haiiiitttt....!"
Dia mengerahkan tenaganya membetot cambuknya agar terlepas dari tempelan tongkat, akan tetapi tiba-tiba kaki Cui Hong sudah bergerak menyambar ke depan mencium lututnya.
"Dukk....!"
Tak dapat ditahan lagi Louw Ti jatuh berlutut karena sebelah kakinya tiba-tiba menjadi lumpuh dan tiba-tiba saja cambuknya terlepas, akan tetapi ujung tongkat itu sudah berkelebat an menyambar ke arah kedua pundak dan kedua pinggangnya, menotok secara cepat bukan main sehingga tahu-tahu Louw Ti merasa betapa kedua kaki tangannya tak dapat digerakkan lagi.
"Hemm, kiranya hanya begini saja kemampuan Louw Ti yang berjuluk Toat-beng Joan-pian, yang terkenal sebagai seorang di antara Thian-cin Bu-tek Sam-eng!"
Orang berkedok itu mengejek dan sekali tangan kirinya merenggut, buntalan di punggung Louw Ti sudah berpindah ke tangannya!
Wajah Louw Ti menjadi pucat sekali, akan tetapi karena kaki tangannya tidak dapat digerakkan lagi, dia hanya memandang dengan mata terbelalak.
"Ja..... jangan rampas itu..... aku mohon padamu, itu..... bukan..... bukan milikku....."
Akhirnya dia dapat mengeluarkan kata-kata yang penuh permohonan dan kegelisahan.
Orang berkedok itu berdiri di depan Louw Ti yang sudah rebah terlentang tak berdaya itu.
Biarpun tidak nampak karena tertutup kedok, namun mudah diduga bahwa mulut di balik kedok itu tentu ter senyum, entah tersenyum mengejek ataukah tersenyum puas.
"Louw Ti, orang macam engkau ini masih dapat memohon, masih dapat minta dikasihani? Aih, betapa aneh dan lucunya! Louw Ti, pernahkah engkau memenuhi permohonan orang lain, pernahkah engkau mengasihani orang lain?"
Setelah berkata demikian, Kim Cui Hong, orang berkedok itu, meloncat ke luar kuil dan terdengarlah derap kaki kuda.
Louw Ti menjadi bingung.
Buntalan terisi barang-barang berharga itu dirampas orang, dan kudanya juga dibawa pergi, dan dia sendiri tidak mampu menggerakkan kaki tangan karena totokan yang luar biasa sekali.
Dia mencoba untuk menduga-duga siapa orang berkedok yang selama ini mengganggunya, akan tetapi tidak menemukan orang yang cocok.
Saking bingung, gelisah dan marahnya, Louw Ti tak dapat menahan mengalirnya air matanya!
Baru sekarang selama ia menjadi jagoan dia tahu dan me rasakan sendiri apa artinya duka.
Dia sudah menggadaikan rumahnya, dan kalau barang-barang harta pusaka itu tidak dapat dirampasnya kembali, dia kehilangan segala-galanya.
Rumah dan semua isinya, dan dia bahkan tentu akan dituntut oleh puteri bangsawan itu!
Kehilangan semua hartanya masih masuk penjara lagi!
Setelah lewat tengah malam, barulah dia mampu menggerakkan kaki tangannya karena pengaruh totokan jalan darah mulai menipis.
Begitu dia dapat bergerak, Louw Ti cepat bangkit dan dia lalu melakukan perjalanan secepatnya menuju ke dusun Ang-ke-bun.
Dia harus berjalan kaki atau lari karena kudanya juga dibawa pergi perampok berkedok itu.
Sambil menyumpah-nyumpah Louw Ti berlari cepat.
Setengah malam lamanya otaknya diputar mencari siasat.
Dia tidak memikirkan lagi si kedok hitam karena dia kini terhimpit oleh pertanggungan-jawabnya.
Dia harus menghadapi nona bangsawan itu dan urusan inilah yang terpenting dan harus dapat diselesaikan dan diatasinya terlebih dahulu.
Dan dia sudah merencanakan siasatnya untuk dapat keluar dari ancaman bahaya itu dengan baik.
Teringatlah dia akan kedatangan nona bangsawan cantik itu, ketika nona itu menerima uang tanggungan, dan menyerahkan harta pusaka, dan memesan agar dia merahasiakan kesemuanya itu.
Yang tahu akan urusan harta pusaka itu hanyalah nona bangsawan itu sendiri dan dia disaksikan pula oleh isterinya.
Tidak ada orang lain yang mengetahuinya!
Tidak ada jalan lain kecuali yang sudah direncanakannya ketika dia masih rebah tak mampu bergerak dan kini dia bergegas lari menuju ke Ang-ke-bun untuk melaksanakan rencana siasatnya menyelamatkan diri, bahkan memperoleh keuntungan dari masalah yang menghimpitnya itu.
Pada keesokan harinya, matahari telah naik tinggi ketika Louw Ti memasuki dusun Ang-ke-bun dan dia segera langsung menuju ke rumah besar baru seperti yang diterangkan oleh nona bangsawan itu.
Jantungnya berdebar tegang ketika ia memasuki pekarangan rumah itu.
Punggungnya menggendong sebuah buntalan besar.
Dia merasa lega dan girang sekali melihat betapa rumah besar itu nampak sunyi, tidak ada orang lain.
Ketika dia mengetuk pintu, yang membuka daun pintu adalah nona bangsawan itu sendiri.
Nona itu nampak makin cantik jelita, dengan pakaian yang indah dan sungguh aneh sekali, Louw Ti merasa seolah-olah ia pernah mengenal nona ini.
Bukan kemar in dulu ketika nona bangsawan itu datang ke rumahnya di kota raja, melainkan jauh sebelum itu.
Dia pernah mengenal atau setidaknya bertemu dengan wanita ini.
Akan tetapi dia lupa lagi kapan dan di mana.
Akan tetapi, hati dan pikirannya segera dipenuhi oleh (Lanjut ke
Jilid 06) Sakit Hati Seorang Wanita (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 rencana siasatnya dan dia tidak mau repot-repot tentang hal itu. Apalagi nona bangsawan itu sudah tersenyum sehingga nampak deretan gigi yang putih seperti mutiara dan rapi.
"Ah, kiranya Louw-enghiong baru datang?"
Tepat seperti yang direncanakan, Louw Ti memandang ke kanan kiri seolah-olah takut kalau-kalau kedatangannya diketahui orang.
"Kudaku jatuh sakit di tengah jalan, nona, sehingga saya terpaksa berjalan kaki. Maaf, saya agak terlambat, akan tetapi saya berhasil membawa harta..... eh, ini sampai ke sini."
Kembali ia memandang ke kanan kiri dan menahan katakatanya hendak menyebut harta pusaka. Nona bangsawan itu tersenyum.
"Tidak usah khawatir, Louw-enghiong, di sini tidak ada orang lain hanya aku sendiri. Masuklah, aku girang bahwa engkau sudah berhasil membawa harta pusaka itu dengan selamat sampai ke rumah ini. Rumah ini masih kosong, karena masih baru dan belum ada pelayan. Besok pagi baru keluarga ayah datang bersama barangbarang dan pelayan."
Bukan main girang rasa hati Louw Ti.
Keadaan tempat ini sungguh tepat sekali untuk pelaksanaan siasatnya!
Sunyi tidak ada orang lain kecuali mere ka berdua!
Dia mengikuti nona itu masuk ke ruangan sebelah dalam dan dia melihat bahwa rumah ini memang besar, mempunyai banyak kamar.
"Mari, silakan duduk dan berikan buntalan itu kepadaku, Louw-enghiong,"
Kata nona itu setelah mereka tiba di ruangan sebelah dalam yang luas, di mana hanya ada beberapa buah kursi dan sebuah meja besar.
Louw Ti merasa betapa jantungnya berdebar semakin kencang.
Dia tidak pernah mengalami ketegangan seperti ini.
Biasanya, biar ada maksud membunuh orang atau melakukan perbuatan apa pun, dia bersikap tenang saja.
Akan tetapi entah mengapa, sekali ini dia merasa amat tegang dan buntalan itu mengeluarkan bunyi ketika dia letakkan di atas meja, tanda bahwa tangannya agak gemetar.
"Nanti dulu, Siocia, Buntalan ini akan saya serahkan kepada nona kalau uang tanggungan saya berikut ongkos pengiriman yang lima puluh tail emas itu nona serahkan dulu kepada saya."
Nona bangsawan itu tersenyum manis dan kembali Louw Ti seperti merasa pernah melihat mulut yang amat menggairahkan itu.
"Ah, tentu saja, tunggu sebentar,"
Kata nona itu dan saking tegang dan gembiranya, Louw Ti telah melupakan lagi perasaannya itu.
Nona itu memasuki sebuah kamar dengan langkah berlenggang-lenggok amat menggairahkan dan pada saat itu Louw Ti menambah rencananya.
Sayang kalau nona itu dibunuh begitu saja, pikirnya, sayang tubuh yang demikian indah, wajah yang demikian cantik!
Malam tadi dia merencanakan untuk membunuh nona bangsawan ini, karena tidak ada seorang pun yang tahu bahwa nona ini berhubungan dengan dia, tidak ada yang tahu bahwa nona ini menyuruh dia mengirim harta pusaka itu.
Kalau dia dapat membunuh nona itu dan melenyapkan mayat dan bekas-bekasnya, tentu dia akan selamat.
Baca Juga: Dewi Maut 11
Baca Juga: Bu Kek Siansu 11