Ceritasilat Novel Online

Sakit Hati Seorang Wanita 6

Eps 6 Sakit Hati Seorang Wanita - Kho Ping Hoo

Baca online Sakit Hati Seorang Wanita - Kho Ping Hoo

Cersil Sakit Hati Seorang Wanita - Kho Ping Hoo.

"Mengapa harus merasa malu kalau ia melihat keadaan kita bertiga? Biarlah ia melihat betapa kejamnya Iblis Betina ini yang telah membuat kita bertiga seperti ini! Bong Lim, nyalakan saja semua lampu itu!"

Akan tetapi karena dia bekerja kepada Pui Ki Cong, Bong Lim tidak menaati perintah Koo Cai Sun, sebaliknya dia bertanya kepada Pui Ki Cong.

"Bagaimana, Pui Kongcu? Dinyalakan atau tidak lampu-lampu ini?"

Pui Ki Cong menghela napas panjang dan mengangguk.

"Benar juga pendapatmu, Koo-twako. Nyalakanlah semua lampu itu, Bong Lim."

Bong Lim lalu menyalakan tiga lampu yang lain sehingga kini ruangan itu menjadi terang sekali.

Kini Cui Hong berdiri terbelalak memandang bergantian kepada tiga orang itu karena setelah kini cuaca amat terang, ia melihat betapa wajah mereka benar-benar mengerikan sekali!

Aih, bagaimana mungkin ia dulu dapat sekejam itu?

Teringatlah ia kepada Tan Siong.

Murid Kun-lun-pai, pendekar yang budiman dan perkasa itu pernah menasehatinya bahwa membiarkan dendam di hati sama dengan meracuni diri sendiri.

Ternyata kini ia melihat sendiri betapa racun dendam dalam batinnya itu telah membuat ia mampu melakukan kekejaman yang tidak manusiawi lagi!

la merasa menyesal, sungguh menyesal!

"Bong Can Twako dan Bong Lim, periksa apakah kaki tangan gadis itu sudah diikat kuat sehingga ia tidak mungkin melepaskan diri lagi?"

Tanya Pui Ki Cong kepada dua orang pengawalnya. Kakak beradik Bong itu saling pandang.

"Gadis yang mana, Kongcu?"

Tanya Bong Lim.

"Bodoh! Tentu saja gadis yang berpakaian pria ini!"

Bentak Lauw Ti kepada Bong Lim. Dua orang kakak beradik ini diam-diam tidak suka kepada Lauw Ti yang bersikap kasar kepada mereka, seolah-olah dia itu yang berkuasa dan menjadi majikan mereka.

"Ah, jadi inikah yang bernama Kim Cui Hong dan disebut Iblis Betina yang telah bertindak kejam sekali terhadap Kongcu bertiga?"

Bong Can berkata dan bersama adiknya dia menghampiri Cui Hong. Setelah melihat dari dekat baru mereka yakin bahwa "pemuda tampan"

Itu memang benar seorang wanita yang menyamar dan diam-diam kedua orang murid Kun-lun-pai ini merasa heran bagaimana ada gadis secantik itu sudah sedemikian jahat dan kejamnya.

Setelah memer iksa belenggu pada kaki tangan Cui Hong, Bong Lim berkata.

"Ikatannya cukup kuat dan ia tidak akan mampu membebaskan diri, Kongcu."

"Hemm, bagus! Kalau begitu, ikat tubuhnya di tihang sudut ruangan itu!"

Perintah Pui Ki Cong.

Dua orang pengawal itu lalu memegang lengan Cui Hong bagian siku dari kanan kiri, kemudian mereka mengangkat tubuh gadis itu, dibawanya ke tihang tembok di sudut ruangan dan mengikat kaki tangannya pada tihang itu.

Semua ini, dari cara mengangkat tubuh gadis, itu sampai ke sudut dan mengikat kaki tangan yang sudah terbelenggu kepada tihang, dilakukan dengan cara yang tidak melanggar kesusilaan sehingga diam-diam Cui Hong mencatat bahwa dua orang pembantu Pui Ki Cong ini adalah orang-orang yang baik, tidak jahat atau kurang ajar seperti kebanyakan pengawal atau tukang pukul, bertolak belakang dengan watak dua orang bekas tukang pukul Pui Ko Cong yang kini juga duduk di kursi roda seperti tengkorak hidup.

"Ia sudah terikat pada tihang, Kongcu."

Kata Bong Can.

"Dorong aku ke depannya!"

Kata Pui Ki Cong.

Bong Lim lalu mendorong kursi roda yang diduduki Ki Cong dan mendorongnya sehingga laki-laki buta itu kini duduk di kursi roda, di depan Cui Hong yang tak mampu bergerak karena kini kaki tangan yang terikat pada tihang.

Koo Cai Sun dan Lauw Ti juga menggerakkan roda kursi masing-masing mengikuti Pui Ki Cong mendekati Cui Hong yang terikat pada tihang.

Gadis itu memandang kepada mereka dan kembali ia merasa ngeri melihat keadaan mereka.

"Can-twako dan Bong Lim, kalian harus menjaga dekat karena gadis ini lihai sekali."

Kata Pui Ki Cong yang masih merasa jerih, apalagi karena dia tidak dapat melihat bagaimana keadaan Cui Hong pada saat itu.

Berbeda dengan Koo Cai Sun dan Lauw Ti yang melihat bahwa gadis yang ditakuti itu benar-benar tidak berdaya.

"Pui Ki Cong, Koo Cai Sun, dan Lauw Ti! Sekarang aku menyadari bahwa pembalasan sakit hatiku kepada kalian memang amat kejam. Karena itu, bunuhlah aku untuk menebus kekejamanku. Aku tidak takut mati, bahkan rela menebus kekejamanku terhadap kalian itu dengan nyawaku."

Kata Kim Cui Hong sengaja menutup kedua matanya agar tidak melihat muka yang mengerikan itu.

Muka tanpa hidung, tanpa bibir, tanpa telinga.

Muka yang bagian hidungnya berlubang besar, giginya tampak berderet-deret karena tidak ada bibirnya lagi, sepasang daun telinga yang buntung, kaki tangan yang bengkok!

Apalagi Pui Ki Cong yang kedua matanya juga hanya berbentuk dua buah lubang.

Presis tengkorak hidup, hanya tengkorakini berkulit dan berambut.

"Bunuh mati begitu saja? Huh, enaknya!"

Kata Lauw Ti dengan suaranya yang pelo.

"Aku akan membalas siksaan-mu, aku akan menghinamu dan membuatmu menderita sehingga engkau akan merasa menyesal hidup sebagai manusia!"

Suaranya semakin kacau dan matanya yang tinggal satu itu mencorong seperti mata iblis karena dia dibakar kemarahan dan kebencian.

"Sekarang, lebih dulu aku akan menelanjangimu!"

Setelah berkata demikian, Lauw Ti meloncat keluar dari kursinya, berdiri dengan kaki kirinya saja karena kaki kanannya lumpuh, berloncatan mendekati Cui Hong yang merasa ngeri.

Tangan kiri Lauw Ti buntung sebatas pergelangan, maka dia menggunakan tangan kanannya, meraih baju Cui Hong dan menariknya sekuat tenaga karena tenaga saktinya juga sudah tak dapat dikeluarkan lagi.

"Bretttt....!"

Baju itu robek terlepas dari tubuh atas Cui Hong, akan tetapi gadis itu tidak menjadi telanjang karena di bawah baju pria itu ia masih mengenakan baju wanita.

Pakaian rangkap ini yang menyempurnakan penyamarannya karena tubuhnya tampak lebih besar.

Mata yang tinggal sebelah itu terbelalak dan Lauw Ti semakin marah melihat betapa tubuh Cui Hong masih tertutup baju wanita yang rapi, maka dia sudah menjulurkan tangan kanan hendak merenggut lagi baju wanita itu dari dada Cui Hong.

"Tahan, Lauw Ti!"

Teriak Pui Ki Cong.

Melihat Lauw Ti tidak menaati perintah Pui Ki Cong dan hendak tetap merenggut baju Cui Hong, Bong Can lalu menangkap tangan Lauw Ti dan mendorongnya duduk kembali ke atas kursi roda.

"berani kau....?"

Lauw Ti membentak.

"Pui Kongcu melarangmu dan engkau harus menaatinya!"

Kata Bong Can singkat.

Mendengar suara Bong Can yang tegas ini, Lauw Ti tidak berani rewel lagi, akan tetapi dia bersungut-sungut dan matanya yang tinggal sebelah memandang ke arah Cui Hong dengan penuh kebencian, seolah dia hendak menyiksa dan membunuh wanita itu dengan pandangi matanya.

"Hemm, engkau melarang aku menyiksanya? Lalu apa yang hendak kaulakukan kepada musuh besar kita ini, Pui Kongcu?"

Tanyanya dengan suara mengandungi penasaran dan kemarahan.

"Hemm, kukira tidak perlu menyiksa dan menghinanya lagi. Kesalahan kita sembilan tahun lalu tidak kita ulangi lagi sekarang. Lebih baik dia dibunuh saja dan impas sudah semua perhitungan!"

Kata Pui Ki Cong.

Terharu rasa hati Cui Hong mendengar ucapan Pui Ki Cong ini.

Mungkin putera pembesar itu mata keranjang dani suka mempermainkan wanita, akan tetapi ucapannya itu sedikitnya menunjukkan bahwa dia menyadari akan kesalahan dirinya sembilan tahun yang lalu.

"Ah, kalau aku tidak setuju ia disiksa dan tidak setuju ia dibunuh. Lebih baikia dibiarkan hidup saja!"

Kata Koo Cai Sun.

"Hee? Apa maksudmu, Cai Sun? Membiarkan musuh kita yang telah merusak kehidupan kita ini hidup? Maksudmu melepaskannya, begitu?"

Lauw Ti membentak marah.

"Koo Cai Sun, bagaimana mungkin engkau mempunyai pendirian seperti itu? Selama dua tahun ini kita hidup tidak mati pun bukan, mengandung dendam segunung tingginya dan selaut dalamnya, dan sekarang setelah ia kita tangkap, engkau bilang kita sebaiknya melepaskannya begitu saja?"

Tanya pula Pui Ki Cong yang merasa terheran-heran.

"Apakah engkau... menaruh iba kepada orang yang telah membuat mukamu menjadi seburuk setan begini?"

"Heh-heh, bukan begitu, Pui Kongcu. Aku tadi mendengar suara Kim Cui Hong ini demikian penuh penyesalan setelah ia melihat betapa mengerikan keadaan kita akibat penyiksaannya yang kejam dan buas seperti iblis. Nah, kalau ia mati berarti ia akan berhenti menderita batin teringat akan kekejamannya yang tak mengenal batas. Kalau ia disiksa seperti yang dikehendaki Lauw Ti, ia pun akan merasa sudah terbayar perbuatannya yang di luar prikemanusiaan itu. Maka, kita bebaskan ia dan biarkan ia hidup agar selama hidupnya ia akan selalu membayangkan wajah kita dan disiksa oleh penyesalan yang akan membuat batinnya menderita selamanya!"

Mendengar ini, Cui Hong memejamkan kedua matanya dan berkata lirih.

"Kalian bunuh saja aku... bunuh saja aku..."

Suara tergetar karena ia benar-benar merasa menyesal.

Ia membayangkan pula apa yang terjadi dengan keluarga tiga orang itu, betapa mereka itu, anak isteri mereka, ikut pula menderita karena keadaan suami mereka.

Dan semua ini terjadi karena ia terlalu menuruti nafsu mendendam yang membuat ia sekejam iblis!

"Tan-twako..."

Hatinya mengeluh, teringat akan Tan Siong yang dulu pernah memperingatkan dan menasehatinya bahwa dendam itu akan membakar dirinya sendiri, akan mengakibatkan penderitaan dalam batinnya sendiri karena nafsu dendam mendorong orang untuk melakukan kekejaman agar memuaskan dendamnya.

Dan kini, hanya penyesalan mendalam yang ia rasakan, melihat wajah tiga orang seperti itu.

Mendengar ucapan Koo Cai Sun yang disusul keluhan Kim Cui Hong yang minta dibunuh, Pui Kongcu menganggukangguk.

"Hemm, ada benarnya juga pendapatmu, Koo Cai Sun. Akan tetapi, biarlah hal ini kupikirkan dulu sampai besok. Akan kuambil keputusan besok."

"Can-ko (Kakak Can) dan Lim-te (Adik Lim), kalian berdua jagalah tawanan ini, jangan sampai ia terlepas. Kami hendak mengaso dulu dan besok akan kuambil keputusan apa yang akan kulakukan dengan Kim Cui Hong."

"Baik, Kongcu. Jangan khawatir, kami akan menjaganya."

Kata dua orang kakak beradik Bong itu.

Tiga orang itu lalu memutar roda kursi mereka dengan tangan dan kursi-kursi itu menggelinding memasuki bagian dalam gedung melalui pintu sebelah dalam yang dibuka pelayan dan kursi roda Pui Kl Cong lalu didorong o leh seorang pelayan.

Mereka menuju ke kamar masing-masing untuk beristirahat karena pertemuan dengan wanita yang membuat mereka kini menjadi seperti hantu itu sungguh mendatangkan ketegangan luar biasa dalam hati mereka sehingga membuat tubuh mere ka yang kini amat lemah itu menjadi lemas.

Bong Can dan Bong Lim kini duduk di atas dua buah bangku, agak jauh dari Cui Hong akan tetapi waspada mengamati gerak-gerik wanita itu.

Diam-diam dua orang murid Kun-lun-pai ini merasa iba kepada gadis itu.

Akan tetapi mereka sudah mendengar bahwa wanita cantik ini yang telah menyiksa Pui Ki Cong dan dua orang bekas pengawalnya sehingga mereka pun mendapatkan kesan buruk atas diri Cui Hong.

Mereka berdua menganggap Cui Hong seorang wanita yang teramat kejam, karena Pui Ki Cong tidak pernah memberitahu kepadanya mengapa Cui Hong bertindak sekejam itu kepada mereka bertiga.

Kini mereka melihat betapa Cui Hong memejamkan mata, tubuhnya lunglai dan jelas gadis itu mengendurkan semua urat syarafnya, bernapas dengan panjang dan teratur.

Mereka berdua merasa kagum juga.

Mereka mengenal cara mengatur pernapasan yang dilakukan gadis itu untuk mengumpulkan hawa murni dan dalam keadaan seperti itu, selain dapat menghimpun kembali tenaganya, gadis itu pun dapat beristirahat menghilangkan semua kelelahan.

Biarpun dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya dan terikat pada ti-hang, namun ternyata Cui Hong tetap tenang bahkan dapat melakukan siu-lian (samadhi) dan mengatur pernapasan dengan santai dan baik.

Su Lok Bu dan Cia Kok Han duduk di ruangan depan rumah penginapan para pendekar yang mendukung Kerajaan Beng untuk menghadapi pemberontak, berhadapan dengan Tung Ok.

Pagi itu dua orang perwira ini sudah mengadakan pembicaraan dengan Tung Ok dan mere ka merayakan keberhasilan mereka menangkap Cui Hong yang dianggap wanita iblis jahat.

Kalau Su Lok Bu dan Cia Kok Han merasa gembira karena mereka telah menolong tiga orang yang menderita hebat itu dan menangkap seorang wanita iblis yang amat kejam dan berbahaya bagi masyarakat, Tung Ok gembira karena janji yang diberikan Pui Ki Cong untuk menghadiahkan setengah dari kekayaannya kepada orang yang dapat menangkap Kim Cui Hong, dan yang berhasil menangkap gadis perkasa itu adalah dia, dibantu delapan orang anak buahnya!

Sambil minum arak dan menikmat i makanan kecil, dua orang perwira itu menceritakan kepada Tung Ok akan kekejaman yang dilakukan Kim Cui Hong kepada Pui Ki Cong, Koo Cai Sun, dan Lauw Ti yang kini menjadi tengkorak-tengkorak hidup dan selalu mengurung diri dalam gedung yang disediakan untuk mereka oleh keluarga Pui Ki Cong.

Bahkan selama di kota raja, Tung Ok sendiri belum pernah melihat mereka.

"Ha-ha-ha-ha, aku akan memiliki sebuah gedung yang lengkap dan mewah, dan akan mengumpulkan sedikitnya lima orang isteri! Tinggal menanti imbalan jasa berupa pangkat yang tinggi dan lengkaplah sudah apa yang kucitakan, ha-haha!"

Su Lok Bu dan Cia Kok Han saling lirik dan mereka mengerutkan alisnya.

Timbul perasaan tidak puas dalam hati mereka.

Mereka adalah murid Siauw-lim-pai dan murid Butong-pai yang merasa diri mereka pendekar, dan sekarang mereka terpaksa bekerja sama dengan orang seperti Tung Ok yang jelas melihat sikap dan mendengar ucapannya adalah seorang datuk sesat yang hanya mementingkan harta dan pangkat, sama sekali bukan ingin membela negara sebagai seorang pahlawan.

Su Lok Bu dan Cia Kok Han memang bukan golongan pendekar yang bijaksana, namun mereka bukan orang jahat dan perguruan mereka mengajarkan watak pendekar yang menentang kejahatan dan berjiwa pahlawan pembela negaradan bangsa.

Mereka maklum bahwa sebagai manusia, mereka harus memerangi nafsu mereka sendiri.

Mereka maklum bahwa yang membuat manusia lupa diri, bahkan membuat seorang yang tadinya berwatak pendekar dapat menjadi lemah dan jatuh ke dalam kesesatan, adalah nafsu sendiri, nafsu yang selalu mengejar kesenangan dan yang paling kuat adalah kesenangan yang didapatkan melalui tiga hal.

Pertama adalah kedudukan atau kekuasaan, ke dua adalah harta benda, dan ke tiga adalah wanita.

Tiga hal inilah yang meruntuhkan hati seorang laki-laki kalau dia t idak memiliki batin yang kuat.

Dan kini mere ka melihat Tung Ok adalah orang yang seperti itu, yakni hanya mementingkan tiga hal itu.

Mereka merasa kecewa sekali dan diam-diam merasa muak bahwa mereka harus bekerja sama dengan orang seperti itu dalam perjuangan membela Kerajaan Beng.

Enam orang berjalan menghampiri ruangan depan itu.

Tung Ok yang berwatak angkuh memandang acuh tak acuh ketika mengenal bahwa yang datang adalah Liong-san Ngoeng dan seorang laki-laki muda.

Tung Ok memang memandang rendah para pendekar, apalagi yang masih muda.

Dia tidak melihat mereka lagi dan melanjutkan minum araknya.

Akan tetapi Su Lok Bu dan Cia Kok Han segera tersenyum ketika melihat Liong-san Ngo-eng yang menjadi sahabat mereka.

Lima pendekar Liong-san itu adalah murid-murid Liong-san-pai yang gagah.

Mereka seringkali bekerja sama dengan Su Lok Bu dan Cia Kok Han, bahkan ketika hendak menangkap Li Cu Seng mereka juga bekerja sama.

"Ah, Ngo-wi Eng-hiong (Lima Pendekar), silakan duduk dan mari minum bersama kami!"

Kata Su Lok Bu ramah.

"Terima kasih, Su-ciangkun!"

Kata Thio Ki, orang pertama dan tertua dari Liong-san Ngo-eng.

"Kami hanya ingin mengundang Ji-wi ciangkun (Perwira berdua) membicarakan urusan penting."

Tiba-tiba Cia Kok Han menyentuh lengan Su Lok Bu dan dia memandang kepada laki-laki muda yang gagah perkasa itu.

Su Lok Bu juga memandang dan mereka berdua segera mengenalnya.

Tan Siong!

Pemuda berusia sekitar tiga puluh dua tahun itu adalah Tan Siong, pemuda yang pernah membela Kim Cui Hong dan memiliki ilmu silat Kun-lun-pai yang lihai.

"Saudara ini.... siapakah?"

Tanya Su Lok Bu kepada Thio Ki.

"Ini Saudara Tan Siong, seorang sukarelawan baru yag sudah diterima Jenderal Ciong. Kami berlima sudah lama mengenal dia sebagai seorang pendekar Kun-lun-pai yang budiman dan bijaksana. Justru kami ingin bicara dengan ji-wi bersama Tan-enghiong (Pendekar Tan)."

Su Lok Bu dan Cia Kok Han saling pandang dan melihat sikap mereka itu, Tan Siong lalu berkata dengan suara lembut.

"Paman berdua tentu masih ingat kepada saya. Saya ingin membicarakan sesuatu yang penting kepada ji-wi."

Su Lok Bu lalu berkata kepada Tung Ok.

"Lo-cian-pwe, maafkan kami. Kami mempunyai urusan penting dengan Saudara-saudara ini. Terpaksa kami meninggalkan Lo-cianpwe minum seorang diri."

Dengan sikap angkuh kakek itu berkata.

"Pergilah, aku pun tidak ingin diganggu orang-orang muda!"

Dan dia kembali minum arak dar i cawannya.

Su Lok Bu dan Cia Kok Han lalu mengikut i Liong-san Ngoeng dan Tan Siong memasuki taman di sebelah kiri gedung itu.

Di taman yang cukup luas ini terdapat sebuah beranda di mana terdapat bangku-bangku untuk beristirahat.

Delapan orang itu lalu duduk di atas bangku mengelilingi sebuah meja.

Mereka tidak khawatir akan ada orang lain mendengarkan percakapan mereka karena dari beranda yang terbuka itu mereka dapat melihat ke sekeliling sehingga tidak mungkin ada orang mendekati beranda itu tanpa mereka ketahui.

Setelah delapan orang itu mengambil tempat duduk, Su Lok Bu yang sejak tadi menahan rasa penasarannya, berkata kepada Tan Siong.

"Engkau Tan Siong murid Kun-lun-pai yang dulu membantu Iblis Betina Kim Cui Hong itu, bukan? Hemm, biarpun sekarang kita sama-sama hendak membela kerajaan dan menjadi pembantu Jenderal Ciong, namun kami kira tidak ada urusan apa pun di antara kita."

Suaranya agak kasar karena dia memang merasa penasaran kepada Tan Siong yang dianggap sesat karena dulu membantu gadis jahat dan kejam itu.

"Maaf, Paman Su Lok Bu dan Paman Cia Kok Han. Saya kira dahulu itu kita saling bertentangan hanya karena salah pengertian saja. Bagaimanapun juga, ji-wi (kalian berdua) adalah murid Siauw-lim-pai dan murid Bu-tong-pai dan saya sendiri adalah murid Kun-lun-pai. Saya merasa yakin bahwa perguruan kita bertiga selalu mengajarkan kepada kita untuk bertindak sebagai pendekar yang membela kebenaran dan keadilan. Maka, bentrokan antara kita dahulu itu tentu karena salah paham."

"Hemm, bagaimana mungkin salah paham? Engkau dahulu membela Kim Cui Hong, iblis betina yang amat kejam dan jahat!"

Bentak Cia Kok Han dengan penasaran.

"Apalagi yang hendak dibicarakan?"

"Paman, saya ingin membicarakan dengan ji-wi tentang Nona Kim Cui Hong yang ji-wi tawan."

Kata Tan Siong. Su Lok Bu mengerutkan alisnya dan memandang marah.

"Engkau mau apa sekarang? Masih hendak membela perempuan kejam itu? Tan Siong, kalau benar-benar engkau seorang pendekar Kun-lun-pai, apakah engkau tidak melihat kenyataan ataukah karena engkau tergila-gila akan kecantikan Kim Cui Hong maka engkau hendak membelanya mati-matian? Engkau tidak tahu kekejaman apa yang telah dilakukan iblis betina itu terhadap Pui Ki Cong, Koo Cai Sun, dan Lauw Ti? Tiga orang itu ia siksa sehingga kini mereka itu hidup bukan mati pun t idak. Mereka menjadi seperti tengkorak-tengkorak hidup dan tidak berani memperlihatkan diri kepada orang lain yang tentu akan merasa ngeri dan jijik. Kami memang telah menangkap Iblis Betina yang amat kejam itu dan kami menyerahkannya kepada mereka bertiga. Kalau engkau kini masih hendak membelanya, berarti engkau juga seorang pendekar yang menyeleweng dan sesat!"

Melihat Su Lok Bu menjadi marah, Thio Ki, orang pertama dari Liong-san Ngo-eng lalu berkata menyabarkan.

"Su-ciangkun, harap tenang dan suka bersabar. Kami berlima mengenal betul j i-wi ciang-kun (perwira berdua) yang berjiwa pahlawan dan pendekar, dan kami juga sudah lama mengenal Tan-enghiong sebagai seorang pendekar gagah perkasa dan budiman. Ji-wi ciangkun adalah murid-murid Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai sedangkan Tan-enghiong adalah murid Kun-lun-pai. Tiga perguruan dan aliran silat yang terkenal memiliki murid-murid pendekar. Kami tidak membela Tan-enghiong, hanya ingin membikin terang persoalan di antara kalian. Karena Itu kami mohon sukalah ji-wi ciang-kun mendengarkan dulu penjelasan yang akan diberikan Tan-enghiong,"

Cia Kok Han kini bicara.

"Baiklah! Penjelasan apa lagi yang hendak diberikan kepada kami? Bicaralah" (Lanjut ke

Jilid 14 -Tamat) Sakit Hati Seorang Wanita (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14 (Tamat) Dia memandang kepada Tan Siong dengan sinar mata tajam penuh se lidik. Su Lok Bu juga mengangguk, tanda menyetujui ucapan rekannya.

"Paman Su Lok Bu dan Paman Cia Kok Han, harap maafkan saya. Sama sekali saya tidak ingin membela Kim Cui Hong secara membuta. Dahulu saya sudah mencoba untuk mencegah dan menegurnya, namun sia-sia. Sekarang saya ingin bertanya, apakah ji-wi (kalian berdua) mengetahui mengapa Kim Cui Hong bertindak sedemikian kejamnya terhadap tiga orang itu?"

Dua orang perwira itu saling pandang lalu menggeleng kepala.

"Pui Ki Cong hanya memberitahu kepada kami bahwa Kim Cui Hong adalah musuh besarnya."

"Baiklah, sekarang saya hendak menceritakan mengapa Kim Cui Hong bertindak sedemikian kejamnya terhadap mereka. Sembilan tahun yang lalu, Kim Cui Hong adalah seorang gadis remaja berusia enam belas tahun, puteri dari guru silat Kim Siok di dusun Ang-ke-bun. Kim Siok adalah seorang murid Siauw-lim-pai juga, seperti Paman Su Lok Bu."

Su Lok Bu merasa tidak enak mendengar bahwa Iblis Betina itu puteri orang murid Siauw-lim-pai, berarti saudara seperguruan dengannya.

"Ah, aku tidak mengenalnya sama sekali. Kalau dia benar murid Siauw-lim-pai, mengapa dia membiarkan puterinya menjadi jahat seperti itu?"

"Maaf, Paman Su Lok Bu, agaknya Paman belum mengenal benar orang-orang macam apa Pui Ki Cong dan dua orang bekas tukang pukulnya itu, dan perbuatan apa yang mereka lakukan terhadap Kim Cui Hong."

"Kami berdua sudah mendengar bahwa mereka pernah berbuat jahat terhadap Kim Cui Hong. Akan tetapi apa yang dilakukan oleh gadis itu untuk membalas dendam sungguh di luar prikemanusiaan. la membuat tiga orang itu menjadi manusia-manusia cacat dan tidak berguna, hidup tidak mati pun bukan. Tan Siong, kalau engkau seorang murid Kun-lun-pai yang berjiwa pendekar, apakah engkau menganggap tindakan Kim Cui Hong itu benar? Ia menjadi begitu kejam seperti iblis, apakah pantas orang seperti itu dibela?"

Kata Cia Kok Han.

"Itu masih belum seberapa! Ia bahkan kini menjadi seorang pemberontak dan antek pemberontak Li Cu Seng! Dosanya benar-benar tak terampunkan!"

Tambah Su Lok Bu.

"Harap Paman berdua bersabar dan mendengarkan cerita saya. Sembilan tahun yang lalu, ketika Kim Cui Hong berusia enam belas tahun, ia menarik perhatian Pui Ki Cong yang kemudian meminangnya. Akan tetapi pinangan itu ditolak oleh Paman Kim Siok, ayah Cui Hong karena pertama, dia tidak suka puterinya dijadikan selir. Kedua, karena pada waktu itu Cui Hong sudah ditunangkan dengan seorang suhengnya bernama Can Lu San, murid Ayahnya sendiri. Penolakan ini membuat Pui Ki Cong dan Ayahnya marah, dan menggunakan kekerasan. Akan tetapi para tukang pukul mereka dikalahkan oleh Kim Cui Hong, Can Lu San dan Kim Siok. Keluarga yang maklum bahwa urusan akan menjadi besar itu lalu melarikan diri dari dusun Ang-ke-bun. Ketika mere ka tiba di kaki Pegunungan Tai-hang-san, mereka dapat dikejar oleh Thiancin Bu-tek Sam-eng (Tiga Pendekar Tanpa Tanding dari Thiancin) yang dibayar keluarga Pui Ki Cong untuk menangkap Cui Hong. Dalam perkelahian itu, Kim Siok dan Can Lu San tertawan. Kim Cui Hong ditangkap dan diserahkan kepada Pui Ki Cong. Paman tahu apa yang terjadi? Apa yang dialami oleh Cui Hong, gadis remaja berusia enam belas tahun yang tidak berdosa itu? la diperkosa oleh Pui Ki Cong di depan Ayah dan tunangannya sebelum mereka berdua mati dibunuh! Bukan hanya oleh Pui Ki Cong. Setelah puteri jaksa ini memperkosa dan menghinanya sampai bosan, lalu Cui Hong diserahkan kepada Thian-cin Bu-tek Sam-eng yang terdiri dari Gan Tek Un, Koo Cai Sun, dan Lauw Ti. Tiga orang yang mengaku pendekar ini pun secara buas melebihi iblis sendiri bergantian memperkosa Cui Hong sekehendak dan sepuas hati mereka. Setelah mereka semua merasa bosan, mereka membawa tubuh Cui Hong yang sudah seperti mayat hidup itu ke tengah hutan dan meninggalkannya di hutan begitu saja! Nah, ji-wi (Anda berdua) dapat membayangkan apakah ada siksaan bagi seorang wanita yang lebih mengerikan daripada apa yang dilakukan empat orang itu?"

Wajah Su Lok Bu dan Cia Kok Han berubah pucat.

Mereka terbelalak saling pandang dan merasa benar-benar terkejut dan ngeri.

Tak pernah mereka membayangkan bahwa Pui Ki Cong dan anak buahnya itu melakukan kebiadaban sehebat itu!

Saking terkejut, bingung dan menyesal mereka tidak dapat mengeluarkan kata apa pun.

"Paman berdua, dalam keadaan hampir mati lahir batinnya itu, muncul Toat-beng Hek-mo dan orang tua yang sakti itu menolong Kini Cui Hong dan mengambilnya sebagai murid. Setelah belajar selama tujuh tahun, Cui Hong lalu pergi dan melakukan balas dendam kepada empat orang yang telah menghancurkan hidupnya itu. Nah, sekarang Paman berdua dapat menilai apakah balas dendam yang dilakukan Cui Hong itu lebih kejam daripada apa yang la derita dari empat orang itu?"

Su Lok Bu menghela napas panjang.

"Hemm, sama sekali tidak pernah kusangka mereka melakukan perbuatan biadab sekejam itu. Akan tetapi, engkau tentu hanya mendengar cerita itu dari Kim Cui Hong. Bagaimana kami dapat yakin bahwa cerita itu tidak bohong?"

"Sama sekali tidak bohong, Paman Su, karena saya mendengar cerita itu sejelasnya dari seorang di antara empat orang yang telah melakukan kebiadaban itu. Seorang diantara Thian-cin Bu-tek Sam-eng itu adalah Gan Tek Un, Paman saya sendiri. Dialah yang bercerita kepada saya sebelum dia meninggal dunia."

"Sungguh biadab! Mereka memang pantas dihukum, akan tetapi mengapa Cui Hong tidak membunuh saja mereka melainkan menyiksa mereka? Bukankah itu merupakan perbuatan yang kejam sekali?"

Kata Cia Kok Han.

"Cui Hong tidak membunuh mereka karena ia sudah berjanji kepada gurunya bahwa dalam membalas dendam ia tidak boleh membunuh. Ia menaati pesan gurunya itu. Adapun tentang kekejaman itu, kita dapat memaklumi, Paman. Dendam sakit hati yang sedemikian hebat itu membuat ia menjadi mata gelap dan ingin membalas penderitaan yang ia rasakan selama hidupnya! Bahkan sampai sekarang Cui Hong masih menderita akibat kebiadaban mereka. Gadis itu tidak berani menikah karena merasa dirinya kotor. Pamanku sendiri, Gan Tek Un menghibur diri menjadi pendeta karena menyesali perbuatannya terhadap Cui Hong. Akhirnya, ketika Cui Hong datang, dia membunuh diri sebagai penebus dosanya terhadap Cui Hong. Sikap Pamanku ini masih baik karena dia mau bertanggung jawab dan menyesali perbuatannya. Akan tetapi, Pui Ki Cong, Koo Cai Sun, dan Lauw Ti tidak menyesali kebiadaban mereka, bahkan berusaha untuk menangkap Cui Hong. Kini, Paman berdua menyerahkan Cui Hong kepada mereka. Dapat Paman bayangkan kekejaman yang lebih biadab lagi tentu akan mereka lakukan terhadap Cui Hong!"

Dua orang perwira itu terbelalak! "Celaka, kalau begitu kita harus menolongnya!"

Kata Su Lok Bu.

"Nanti du lu!"

Kata Cia Kok Han.

"Dalam urusan ini memang kita harus mencegah Pui Ki Cong dan dua orang anak buahnya menyiksa Kim Cui Hong. Akan tetapi ada satu hai yang menyakit kan hatiku. Mengapa gadis itu menjadi antek atau pembela pemberontak Li Cu Seng?"

Tan Siong mengerutkan alisnya.

"Untuk pertanyaan itu, Paman Cia, terus terang saja saya tidak dapat menjawabnya karena saya sendiri pun tidak atau beium mengerti. Bagaimana kalau sekarang kita tanyakan sendiri kepada Cui Hong untuk memastikan apakah Paman berdua tidak salah tangkap?"

"Ji-wi Ciang-kun (Saudara Perwira Berdua), inilah saatnya kita semua mengetahui hal sebenarnya tentang Kim Cui Hong. Kalau benar-benar kita keliru memusuhinya dan ji-wi salah tangkap, sungguh kami berlima juga merasa bersalah karena kami pernah pula membantu ji-wi memusuhinya. Mari kita menemuinya dan mencegah tiga orang itu menyiksanya."

Dua orang perwira yang sudah mulai merasa menyesal dan meragu akan urusan yang menyangkut Kim Cui Hong, menurut saja dan mereka semua, yaitu Liong-san Ngo-eng, Su Lok Bu, Cia Kok Han, dan Tan Siong pergi menuju ke gedung tempat tinggal Pui Ki Cong.

Ketika delapan orang itu tiba di gedung itu, para pelayan yang sudah mengenal Su Lok Bu dan Cia Kok Han karena dua orang perwira itu pernah datang mengantarkan gadis tawanan, tidak mencegah mereka sungguhpun mereka terkejut dan juga takut sekali.

Mendengar suara orang-orang datang di gedung itu, Bong Can dan Bong Lim yang ditugasi menjaga Kim Cui Hong yang kini telah dipindahkan di atas sebuah dipan dan terikat kaki tangannya, segera meninggalkan ruangan itu dan keluar.

Mereka melihat delapan orang perwira dan sudah mengenai Su Lok Bu dan Cia Kok Han yang tadi datang mengantarkan gadis tawanan itu.

Ketika mereka melihat Tan Siong di antara delapan orang itu, Bong Can dan Bong Lim terkejut dan girang.

"Tan-suheng...!"

Kata mereka sambil maju menghampiri.

Biarpun Bong Can tiga tahun lebih tua daripada Tan Siong, namun dalam perguruan Kun-lun-pai Tan Siong merupakan suheng (Kakak Seperguruan) karena tingkatnya lebih tinggi.

Dua orang kakak beradik ini amat mengagumi Tan Siong yang telah mengharumkan nama Kun-lun-pai dengan sepak terjangnya sebagai seorang pendekar budiman yang gagah perkasa.

"Eh? Kalian berdua berada di sini, Sute? Apakah kalian bekerja kepada Pui Ki Cong itu?"

Tanya Tan Siong dengan alis berkerut, heran dan tidak senang.

Wajah kakak beradik Bong itu berubah merah.

Mereka memang akhir-akhir ini merasa curiga kepada majikan mereka, terutama melihat sikap Lauw Ti dan kecurigaan mereka semakin hebat ketika mereka melihat Kim Cui Hong menjadi tawanan di situ.

Mereka melihat sikap yang gagah perkasa dari gadis itu, sebaliknya mereka melihat sikap yang keras dan penuh kebencian dari t iga orang penghuni gedung.

"Mengapa, Suheng?"

Bong Lim bertanya.

"Salahkah kami kalau bekerja di sini, sebagai pengawal Pui Kongcu yang cacat dan lemah itu?"

"Hemm, mereka itu orang-orang jahat, Sute."

Tan Siong lalu menceritakan semua perbuatan mereka terhadap Kim Cui Hong. Mendengar ini, Bong Can dan Bong Lim merasa menyesal sekali.

"Ah, kami pun sudah curiga ketika melihat gadis tawanan itu. Kalau begitu, mar i kita temui Nona Kim."

Kata Bong Can.

Bong Can dan Eong Lim menjadi penunjuk jalan, mereka langsung menuju ke ruangan di mana Kim Cui Hong ditahan.

Mereka berdelapan melihat gadis itu dibelenggu di atas sebuah dipan.

Kaki tangannya terikat dan bajunya terkoyak, hanya mengenakan pakaian dalam.

Akan tetapi gadis itu tampak tenang dan melihat keadaannya, agaknya dia tidak diganggu, mungkin hanya dicaci-maki saja.

Akan tetapi melihat kedatangan orang-orang itu, Cui Hong terbelalak, apalagi ketika melihat munculnya Tan Siong bersama mereka.

Ia sama sekali tidak mengerti mengapa pemuda itu datang bersama orang-orang yang berpakaian perwira itu.

Bahkan Tan Siong juga mengenakan pakaian perwira!

"Hong-moi....!!"

Kata Tan Siong dan suaranya mengandung kekhawatiran.

"Siong-ko, mengapa engkau datang bersama mereka yang memusuhi aku?"

Cui Hong bertanya ketika ia mengenai tujuh orang itu sebagai perwira-perwira yang pernah menyerang Li Cu Seng yang dibantunya karena ia melihat saudara sepupunya, Kim Lan Hwa, terancam bahaya.

"Jangan engkau mencampuri urusanku, Siong-ko, agar engkau tidak dianggap jahat. Biarkan mereka membunuhku, aku t idak takut mati!"

"Hong-moi...."

Tan Siong berkata terharu.

"Nona Kim Cui Hong, kami sudah mendengar akan riwayatmu. Akan tetapi sebelum kami memutuskan apakah engkau ini kawan ataukah lawan, katakan kepada kami mengapa engkau membela Pemberontak Li Cu Seng. Apakah engkau menjadi anggauta pemberontak, anak buah Li Cu Seng?"

Tanya Su Lok Bu dan tujuh orang perwira itu menatap wajah Kim Cui Hong dengan tajam penuh selidik.

"Hemm, siapa membantu Li Cu Seng? Aku tidak peduli akan semua perebutan kekuasaan antara sesama bangsa ini!"

Jawab Kim Cui Hong.

"Akan tetapi, Nona Kim Cui Hong, mengapa ketika pasukan menyerang Li Cu Seng, engkau membantunya?"

Tanya pula Cia Kok Han, penasaran.

"Bukan Li Cu Seng yang kubantu, melainkan Enci Kim Lan Hwa. Selir Panglima Bu Sam Kwi itu adalah Kakak sepupuku. Ia terancam, tentu saja aku membantunya. Sekarang terserah, kalian sudah menyerahkan aku kepada iblis-iblis itu. Aku tidak minta dikasihani!"

Tiba-tiba terdengar suara bergedebugan di luar ruangan itu, disusul jeritan-jeritan kesakitan.

Delapan orang itu terkejut dan mereka cepat berlari keluar dari ruangan itu.

Suara gaduh itu datang dari ruangan dalam.

Ketika tiba di luar ruangan mereka melihat beberapa orang pelayan berlarian keluar ketakutan dan terdengar suara cambuk meledak-ledak, disusul suara tawa bergelak.

Mereka cepat menuju ke ruangan itu dan mereka melihat pemandangan yang mengerikan.

Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun terkapar di atas lantai.

Kursikursi roda mereka berantakan dan tubuh kedua orang itu hancur tersayat-sayat.

Muka mereka hancur, bahkan perut Koo Cai Sun yang gendut itu terkoyak sehingga isi perutnya berhamburan.

Darah membanjir mengerikan.

Lauw Ti berdiri dengan senjata cambuknya di tangan.

Senjata cambuk ini berwarna hitam, ujungnya dipasangi kaitan baja dan cambuk ini yang menghancurkan tubuh kedua orang itu.

Lauw Ti masih terus menghantamkan cambuknya pada dua tubuh rekannya yang sudah hancur itu, sambil tertawa bergelak dan dia berloncatan dengan sebelah kakinya, lengan kirinya yang buntung bergerak-gerak seperti menari dan yang kanan mengayunkan dan memukulkan cambuknya sekuat tenaga sehingga terdengar bunyi meledak-ledak dan tampak daging dan darah muncrat berhamburan!

"Ha-ha-ha, siapa berani melarangku?

Ha-ha-ha, aku akan memperkosa Kim Cui Hong sepuasku, baru akan kusayat-sayat dagingnya sedikit demi sedikit sampai ia lebih cacat daripada aku.

Kalian menghalangiku, harus mampus!"

Lauw Ti tertawatawa dan memaki-maki.

Kemudian dia melompat-lompat dengan sebelah kaki menuju ke ruangan di mana Kim Cui Hong terikat di atas dipan.

Dia seolah tidak melihat adanya sepuluh orang yang muncul itu dan melewati mereka begitu saja.

Sepuluh orang itu melihat betapa mata Lauw Ti berputaran, dan segala gerak-geriknya jelas menunjukkan bahwa dia benar-benar menjadi iblis, bukan saja wajahnya melainkan juga p ikirannya.

Tidak waras dan telah kemasukan iblis.

Sepuluh orang itu mengikut inya, hendak melihat apa yang akan dilakukan Lauw Ti yang kumat gilanya itu.

Keadaannya benar-benar menyeramkan.

Muka yang menyeramkan itu, juga kedua tangan dan pakaiannya bagian depan, berlepotan darah!

"Ha-ha-ha, sekarang engkau akan membayar lunas semua perbuatanmu, Kim Cui Hong!"

Dia melepaskan cambuknya lalu menubruk maju, tangan kanannya membentuk cakar hendak mencengkeram dan merenggut pakaian Cui Hong.

"Piak! Desss....!"

Su Lok Bu yang tak dapat menahan kesabarannya lagi sudah bergerak maju, menangkis tangan Lauw Ti yang hendak mencengkeram gadis itu, lalu mendorong sehingga tubuh Lauw Ti jatuh terjengkang.

Lauw Ti menggereng seperti binatang buas.

Matanya terbelalak dan liar, lalu dia mengambil cambuknya dan melompat bangun, kemudian dengan kaki sebelah berloncat-loncatan dia mengamuk, menyerang ke arah sepuluh orang itu.

Akan tetapi sepuluh orang Itu adalah ahli-ahli silat yang tangguh, maka dengan mudah mereka menghindarkan diri dengan elakan.

Lauw Ti lalu membalik dan cambuknya menyambar ke arah kepala Kim Cui Hong!

Bong Lim yang merasa bertanggung jawab sebagai pengawal Pui Ki Cong dan majikannya itu terbunuh tanpa dia ketahui, marah sekali kepada Lauw Ti yang menjadi pembunuhnya.

Maka melihat Lauw TI hendak membunuh Kim Cui Hong, dia bergerak ke depan dan pedangnya telah menembus dada Lauw Ti.

Lauw Ti mengeluarkan jerit menyeramkan dan roboh terguling, tewas seketika.

Agaknya nyawanya keluar bersama teriakannya tadi.

Tan Siong lalu menghampiri dipan dan membebaskan Kim Cui Hong dari ikatan kaki tangannya.

"Cu-wi Ciang-kun (Para Perwira Se-kalian), saya minta persetujuan cu-wi (kaiian semua) untuk mengajak pergi Nona Kim Cui Hong keluar kota raja. Kepada Liong-san Ngo-eng saya minta tolong agar menyampaikan hormat dan maafku kepada Ciong Goanswe karena saya terpaksa meninggalkan benteng."

Baik Liong-san Ngo-eng, kakak beradik Bong, dan dua orang perwira Su Lok Bu dan Cia Kok Han, mengangguk dan tidak ada yang merasa keberatan.

Mereka semua kini yakin bahwa tiga orang itu memang benar merupakan orang-orang berwatak jahat sekali dan Kim Cui Hong menjadi korban kebiadaban mereka.

"Hong-moi, mari kita pergi!"

Kata Tan Siong sambil membuka jubahnya dan memberikannya kepada Cui Hong untuk dipakai.

Cui Hong mengangkat kedua tangan, dirangkapkan di depan dada memberi hormat kepada sembilan orang itu dan berkata.

"Terima kasih atas kepercayaan dan kebaikan budi Cu-wi (Anda Sekalian) kepada saya."

Tan Siong dan Kim Cui Hong lalu keluar dari gedung itu. Sembilan orang gagah itu lalu berunding apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Su Lok Bu yang dianggap sebagai yang tertua berkata.

"Biarlah mayat-mayat ini diurus oleh para pelayan di sini. Aku akan melaporkan kepada pejabat yang berwenang mengurusnya. Urusan mengenai Kim Cui Hong kita rahasiakan saja karena kita pun ikut merasa malu bahwa kita pernah memusuhi ia yang sesungguhnya tidak jahat dan kita bahkan membantu orang-orang macam Pui Ki Cong dan anak buahnya yang amat kejam itu. Adapun Saudara Bong Can dan Bong Lim, kalau kalian hendak berbakti kepada kerajaan, mari kuhadapkan Ciong Goan-swe yang pasti dengan senang hati mere ka akan menerima kalian sebagai perwira. Juga tentang mundurnya Tan Siong akan kulaporkan kepadanya."

Kakak beradik Bong itu setuju dan sembilan orang itu lalu keluar dari gedung tempat tinggal mendiang Pui Ki Cong.

Jenderal Ciong menerima dua saudara Bong sebagai perwira dan sembilan orang ini menjadi rekan-rekan yang sepaham dan akrab.

Akan tetapi tak lama kemudian, mereka merasa kecewa sekali setelah melihat keadaan pemerintahan Kerajaan Beng yang semakin rusak dan lemah.

Kaisar Beng yang terakhir itu, yaitu Kaisar Cung Ceng, adalah seorang laki-laki yang lemah dan menjadi boneka dalam tangan para Thaikam (Laki-laki Kebiri atau Sida-sida) yang menguasai pemer intahan bersama para pejabat tertinggi.

Boleh dibilang semua pejabat pemerintah, dari yang paling tinggi kedudukannya sampai yang paling rendah, dari yang bertugas di pusat sampai yang bertugas di daerah-daerah paling terpencil, semua melakukan korupsi besar-besaran dan menindas rakyat, berlumba mengumpulkan uang haram untuk memenuhi gudang uang mereka sendiri masing-masing.

Mereka berlumba untuk bermewah-mewahan, bersenang-senang, menari-nari di atas penderitaan rakyat jelata.

Hal-hai seperti ini diketahui oleh para pendekar sehingga mereka yang tadinya penuh semangat membela pemerintah Kerajaan Beng untuk menghadapi pemberontakan, mulai ragu dan penasaran.

Sesungguhnya, keadaan brengsek dari Kaisar dan para pejabat itulah yang akhirnya akan menghancurkan Kerajaan Beng.

Pemer intahan di negara manapun juga, pasti menjadi lemah dan akan runtuh kalau tidak mendapat dukungan dari rakyatnya.

Cara tunggal untuk mendapatkan dukungan rakyat sepenuhnya, bukan dukungan karena ancaman atau suapan, hanyalah mengkikis habis korupsi, menindak dan menghukum petugas pemerintahan yang melakukan korupsi, menyejahterakan rakyat dan para pejabatnya memberi tauladan yang baik dengan bekerja keras dan bersih dari tindakan manipulasi dan korupsi.

Kalau begini keadaannya, rakyat pasti juga akan bekerja keras, bersemangat membangun negara, yakin bahwa cucuran keringatnya akan membawa hasil bagi keluarga seluruh rakyat.

Bukan bersemangat karena takut dihukum, karena hendak menjilat mengharapkan jasa dan sejuta keadaan timpang dan kepalsuan lagi.

Li Cu Seng adalah seorang pemimpin rakyat yang gagah dan jujur.

Dia memimpin rakyat dengan penuh semangat, semata-mata didasari keprihatinan melihat nasib rakyat yang semakin menderita di bawah pemerintahan Kaisar Cung Ceng, yaitu kaisar terakhir Dinasti Beng.

Karena itu, dia didukung banyak rakyat dan dengan cepat dia menguasai daerah-daerah.

Setelah dia berhasil menyelundup ke dalam kota raja dan melihat keadaan kota raja, mendengar dari para mata-mata bahwa pertahanan pemerintahan kerajaan di kota raja amat lemah, juga tidak ada bantuan dari Jenderal Bu Sam Kwi, panglima besar yang berjaga dan bertugas di utara, Li Cu Seng mengerahkan barisannya dan terus menyerbu sampai akhirnya memasuki kota raja Peking!

Pasukan yang tadinya setia kepada Kaisar Cung Ceng, akhir-akhir ini berkurang kesetiaannya setelah melihat dengan jelas betapa yang berkuasa di istana sesungguhnya adalah para Thaikam yang korup dan sewenang-wenang mengumpulkan harta kekayaan untuk diri mereka sendiri.

Maka, ketika pasukan rakyat pimpinan Li Cu Seng datang menyerbu, perlawanan pasukan kerajaan tidak sepenuh hati.

Sebagian besar dari mere ka bahkan melarikan diri mencari selamat keluar kota raja.

Memang ada yang berjiwa patriot, mempertahankan kota raja sampai tit ik darah penghabisan.

Di antara mereka terdapat pula Su Lok Bu, Cia Kok Han, kelima Liong-san Ngo-eng, dua saudara Bong Can dan Bong Lim.

Bersama sejumlah pendekar patriot, terutama para murid perguruan silat yang besar, mereka mempertahankan kota raja sampai akhirnya mereka gugur sebagai pahlawanpahlawan yang gagah perkasa.

Memang benarkah pendapat para bijaksana bahwa terdapat tiga hal yang bisa meruntuhkan seorang laki-laki yang bagaimana gagah perkasa dan cerdik pandai sekalipun.

Tiga hal itu adalah pertama kekuasaan, kedua harta-benda, dan ketiga wanita.

Tiga hal ini dapat membuat hati seorang laki-laki yang tadinya sekuat baja menjadi cair dan lemah, membuat dia menjadi mabok.

Mabok kuasa, mabok harta, dan mabok wanita membuat seorang laki-laki dapat melakukan hal-hal yang tadinya merupakan pantangan baginya.

Satu di antara kelemahan-kelemahan pria itu hinggap pula dalam hati Li Cu Seng.

Dia tergila-gila kepada Kim Lan Hwa yang memang cantik jelita wajahnya, indah menggairahkan tubuhnya, lemah lembut tutur sapanya, dan pandai membawa diri.

Seorang wanita muda, berusia dua puluh lima tahun dan sedang masak-masaknya, dengan seribu satu macam daya tarik yang mempesona.

Setelah membantu wanita ini melarikan diri dari kota raja, Li Cu Seng tidak mengirimkan wanita itu kepada suaminya, yaitu Panglima Bu Sam Kwi yang berada di utara menjaga tapal batas membendung gerakan bangsa Mancu yang mulai berkembang dan kuat.

Akan tetapi dia sengaja membujuk Kim Lan Hwa agar mau menjadi isterinya!

Ketika barisan rakyat yang dipimpin Li Cu Seng berhasil menyerbu kota raja, Kaisar Cung Ceng yang putus asa dan baru menyadari kesalahannya bahwa selama ini dia hanya menuruti semua kehendak para Thaikam dan hanya bersenang-senang tanpa mempedulikan urusan pemerintahan, lalu melakukan bunuh diri dengan cara menggantung diri sampai mati!

Li Cu Seng menguasai kota raja dan dia pun lupa diri, hanya sibuk ingin membahagiakan Kim Lan Hwa yang tidak dapat menolak untuk menjadi isterinya.

Para panglima dan perwira pengikutnya, merasa kecewa melihat betapa Li Cu Seng bersenang-senang saja dengan Kim Lan Hwa dan tidak mengembalikan selir Panglima Bu Sam Kwi kepada suaminya.

Para pengikut itu condong kagum kepada Bu Sam Kwi yang tidak mau dipanggil Kaisar untuk mempertahankan kota raja.

Bahkan sebagian besar dari mereka menghendaki agar kelak Bu Sam Kwi yang memimpin rakyat menjadi Kaisar baru.

Bukan Li Cu Seng yang tidak berpendidikan tinggi dan bukan seorang ahli pemerintahan.

Apalagi kini melihat Li Cu Seng bahkan tergila-gila kepada selir Bu Sam Kwi dan mengambilnya sebagai isteri, berarti merampas selir orang.

Diam-diam mereka merasa penasaran.

Li Cu Seng yang tadinya hanya seorang sederhana, kini tiba-tiba berada dalam keadaan yang serba gemerlapan, mewah, di puncak kekuasaan, dibuai kecantikan yang memabokkan dari Kini Lan Hwa, benar-benar menjadi lupa diri.

Dia tidak mampu membangun sebuah pemer intahan baru dan tidak mendapat banyak dukungan dari para ahli dan cendekiawan.

Sementara itu, tadinya Panglima Besar Bu Sam Kwi dengan sengaja membiarkan kota raja diancam pemberontakan Li Cu Seng.

Sudah lama Jenderal Bu Sam Kwi merasa tidak senang dengan Kaisar Cun Ceng yang lemah.

Sudah beberapa kali dia memperingatkan dan menasihati Kaisar, dan akibatnya malah dia diperintahkan untuk memimpin pasukan menjaga di timur laut untuk menahan serbuan bangsa Mancu.

Dia seolah diasingkan oleh kaisar.

Diam-diam dia merasa sakit hati dan dia pun bersimpati dengan gerakan Li Cu Seng yang memimpin barisan rakyat.

Dia bahkan mempunyai maksud untuk bekerja sama dengan Li Cu Seng membangun kembali pemerintahan yang baik dan membasmi semua bentuk kemunafikan dan korupsi.

Akan tetapi, ketika Bu Sam Kwi mendengar bahwa selirnya tersayang, Kim Lan Hwa direbut Li Cu Seng dan diperisteri, dia menjadi marah bukan main.

Sebetulnya hal ini hanyalah persoalan pribadi yang kecil, memperebutkan seorang wanita cantik sehingga tidak diketahui orang lain.

Sebagai seorang panglima besar, Bu Sam Kwi sendiri juga merahasiakan perasaan cemburu dan marah karena selirnya direbut ini.

Bahkan para perwira pembantunya juga tidak tahu bahwa sikap Bu Sam Kwi yang berbalik membenci dan memusuhi Li Cu Seng sesungguhnya terutama sekali disebabkan karena selirnya direbut.

Dia melakukan pendekatan dan persekutuan dengan musuh besar bangsanya, yaitu dengan bangsa Mancu.

Diajaknya bangsa Mancu bergabung untuk menyerbu dan merebut kota raja Peking dari tangan pemberontak Li Cu Seng!

Li Cu Seng belum sempat membentuk sebuah pemerintahan yang kuat ketika pasukan Jenderal Bu Sam Kwi yang bergabung dengan pasukan bangsa Mancu datang menyerbu.

Biarpun para pengikut Li Cu Seng melakukan perlawanan mati-matian, akhirnya mereka terpaksa melarikan diri ke barat setelah merampok kota raja habis-habisan.

Peristiwa jatuhnya Kerajaan Beng yang disusul dengan kalahnya pasukan Li Cu Seng ini terjadi dalam tahun 16 yang merupakan berakhirnya Kerajaan Beng-tiauw di tangan Kaisar Cung Ceng yang lemah dan menjadi hamba nafsu kesenangannya sendiri sehingga kekuasaan terjatuh kepada para pejabat korup dan kepentingan rakyat terabaikan.

Jenderal Bu Sam Kwi yang juga mement ingkan diri sendiri, ketika melihat bahwa selirnya tercinta, Kim Lan Hwa, ikut dibawa lari Li Cu Seng, segera mengerahkan pasukannya untuk melakukan pengejaran ke barat.

Dia sama sekali tidak mempedulikan lagi kota raja Peking yang sudah didudukinya dengan bantuan bangsa Mancu.

Tentu saja kesempatan baik ini dimanfaatkan bangsa Mancu yang cepat menguasai kota raja Peking dan menyusun kekuatan di situ.

Peking menjadi benteng pertama yang amat kuat bagi bangsa Mancu dan dari sanalah kemudian mereka memperluas sayap mereka sehingga dapat menjajah seluruh daratan Cina.

Sementara itu, Li Cu Seng dan sisa pasukannya, melarikan diri ke barat, dikejar-kejar pasukan Bu Sam Kwi.

Jenderal Bu ini bersikeras untuk merampas kembali selirnya dari tangan Li Cu Seng.

Para pengikut Li Cu Seng mulai merasa kecewa sekali akan sikap Li Cu Seng yang ternyata hanya pandai memimpin pemberontakan namun tidak pandai mempertahankan kota raja.

Bahkan agaknya yang dipentingkan adalah menyelamatkan Kim Lan Hwa yang cantik agar jangan sampai dirampas kembali oleh Jenderal Bu Sam Kwi.

Banyak perajurit mulai meninggalkannya ketika melihat bahwa mereka hanya diajak melarikan diri dan dikejar-kejar sehingga seringkali kehabisan dan kekurangan ransum.

Mulailah mereka menyalahkan Kim Lan Hwa dan menuntut agar Kim Lan Hwa dikembalikan kepada Jenderal Bu Sam Kwi, atau dibunuh saja karena wanita itu agaknya yang menjadi gara-gara sehingga mereka dapat terpukul dan terusir dari kota raja.

Akhirnya, karena Li Cu Seng t idak mau memenuhi kehendak para perwira dan perajurit, dia malah mati dikeroyok para perajuritnya sendiri dan Kim Lan Hwa juga tewas membunuh diri.

Maka habislah sudah pasukan Li Cu Seng yang tadinya merupakan pasukan rakyat terkuat yang mampu menggulingkan Kaisar Cung Ceng.

Sebagian dari mereka menakluk kepada Bu Sam Kwi dan memperkuat pasukan pimpinan Jenderal Bu ini.

Akan tetapi, baru Jenderal Bu Sam Kwi menyadari kesalahannya ketika dia disambut dengan serbuan oleh pasukan bangsa Mancu ketika hendak kembali ke kota raja Peking setelah mendapatkan Li Cu Seng dan Kim Lan Hwa tewas.

Pasukan Jenderal Bu Sam Kwi yang sudah kelelahan itu tidak kuat melawan pasukan Mancu dan terpaksa Jenderal Bu Sam Kwi membawa pasukannya melarikan diri jauh ke barat, sampai di daerah Se-cuan di mana dia menyusun kekuatan dan mendirikan pemerintah darurat.

Di Se-cuan Jenderal Bu Sam Kwi menjadi seorang raja kecil yang berdaulatan dan bahkan sampai hampir t iga puluh tahun dia mempertahankan kerajaan kecil ini dan selalu menentang pemerintahan Kerajaan Ceng (Mancu) sampai t iba saat kematiannya.

Gadis itu berwajah pucat, rambutnya terurai awut-awutan, pakaiannya kotor dan kusut, tubuhnya lemah lunglai.

Sudah berhari-hari ia tidak makan tidak minum, sudah lima hari ia berjalan seperti orang kehilangan semangat.

Kim Cui Hong kini bagaikan seorang mayat berjalan, tanpa tujuan, tanpa harapan, masa depannya gelap pekat, tidak ada sinar sedikit pun.

Berbulan-bulan ia melarikan diri dari Tan Siong.

Ketika dia diajak Tan Siong keluar dari kota raja, ia bagaikan seorang yang tidak sadar, ia hanya menurut saja, sampai mereka tiba jauh dari kota raja.

Akan tetapi, kemudian ia menyadari keadaannya, la teringat akan semua pengalamannya, terutama sekali terbayang di depan matanya keadaan tiga orang korban penganiayaannya itu, tiga orang manusia yang mengerikan, la menyesali dirinya dan baru ia menyadari betapa kejamnya ketika ia membalas dendam.

Perbuatannya itu bukan lagi merupakan kekejaman biasa, melainkan kekejaman iblis.

Pantaslah kalau ia dianggap iblis betina!

La jahat sekali, ia kejam, melebihi kekejaman empat orang yang dulu memperkosa dan menganiayanya.

Ia merasa malu sekali melakukan perja lanan bersama Tan Siong, walaupun pria itu tidak pernah menyinggung masalah itu.

Dan ia melihat betapa Tan Siong bersikap penuh kasih, penuh sikap menghibur dan berusaha membahagiakannya.

Sikap Tan Siong ini semakin menghancurkan hatinya.

Ia merasa tidak layak menerima perlakuan sedemikian baiknya, la tidak pantas dihormati, tidak pantas dicinta, apalagi oleh seorang pria seperti Tan Siong, seorang pendekar yang gagah perkasa dan budiman.

Tidak, kedekatan mereka hanya akan mengotori nama baik Tan Siong.

Karena itulah maka ketika pada suatu malam mereka bermalam dalam sebuah rumah penginapan dan seperti biasa Tan Siong menyewa dua buah kamar, diam-diam ia melarikan diri!

Cui Hong maklum bahwa tentu Tan Siong melakukan pengejaran dan pencarian, maka ia melarikan diri dan mengembara tanpa tujuan sampai sekitar sepuluh bulan lamanya sejakia pergi meninggalkan Tan Siong.

Karena selama beberapa bulan itu terjadi perang, pertama perang antara barisan pemberontak Li Cu Seng melawan barisan Kerajaan Beng, kemudian dilanjutkan perang antara barisan Li Cu Seng melawan barisan Jenderal Bu Sam Kwi yang bergabung dengan pasukan orang Mancu sehingga keadaan, menjadi gempar, maka Tan Siong mengalami kesulitan untuk dapat menemukan wanita yang amat dicintanya itu.

Hari itu, Cui Hong berjalan mendaki bukit gersang itu.

La hanya menurut saja ke mana kedua kakinya membawanya, la sudah merasa lelah dan tidak ada gairah hidup lagi.

la melihat puncak bukit itu seolah menggapainya.

Ia ingin ke sana dan tidak ingin kembali lagi.

"Hong-moi!"

Cui Hong tersentak kaget sampai terhuyung karena kakinya tiba-tiba menggigil dan tubuhnya yang sudah lemah lunglai itu seperti terdorong angin. Suara itu! "Hong-moi.... tungguuuu....!!"

Tan Siong!

Itu suara Tan Siong!

Jantung Cui Hong berdegup keras seolah hendak meloncat keluar dari rongga dadanya.

Ia mendengar langkah kaki berlari di belakangnya.

Ia mencoba untuk lari, akan tetapi terkulai jatuh dan ia tentu akan terbanting ke atas tanah kalau saja tidak ada dua buah lengan yang menangkap dan merangkulnya.

"Hong-moi!"

Cui Hong pingsan dalam rangkulan Tan Siong! Cui Hong merasa seolah ia melayang-layang diantara awan putih. Senang sekali melayang-layang seperti itu, seorang diri, bebas dari segala sesuatu.

"Hong-moi.... ah, Hong-moi....!"

Suara ini seolah menyeretnya kembali ke bawah, la membuka mata dan melihat Tan Siong berlutut di dekatnya dan laki-laki itu menangis!

Menangis sesenggukan sambil menyebut-nyebut namanya.

Cui Hong merasa betapa mulutnya dan mukanya basah, terkena air yang sejuk.

Ia sadar kembali dan teringat akan keadaannya, la tersusul oleh Tan Siong dan tadi ia tentu roboh pingsan.

Kini ia rebah telentang di bawah pohon.

Mukanya tentu dibasahi Tan Siong dan laki-laki itu tentu telah merawatnya, mungkin menyalurkan tenaga saktinya untuk membantunya memperkuat tubuhnya yang lemah.

"Hong-moi.... Ya Tuhan, sukur engkau dapat sadar kembali! Hong-moi, aih, Hong-moi, mengapa keadaanmu sampai seperti ini? Mengapa engkau menyiksa diri sampai begini? Hong-moi, selama berbulan-bulan ini t iada hentinya aku mencarimu dan sukur saat ini Thian (Tuhan) menuntunku ke sini sehingga dapat menemukanmu."

"Siong-ko...."

Cui Hong berbisik lalu bangkit duduk.

Cepat Tan Siong membantunya.

Mereka saling berpandangan.

Cui Hong melihat betapa Tan Siong berwajah kurus dan pucat.

Duga pakaiannya kusut tak terawat.

Mukanya ditumbuhi kumis dan jenggot yang awut-awutan pula.

"Siong-ko.... mengapa engkau mengejar dan mencariku....? Mengapa, Siong-ko...?"

"Engkau bertanya mengapa, Hong-moi? Karena engkau adalah satu-satunya orang yang kupunyai, satu-satunya orang yang kucinta, satu-satunya harapanku dan kebahagiaanku. Aku cinta padamu, Hong-moi, aku tidak mungkin dapat hidup tanpa engkau...l"

Cui Hong menatap wajah Tan Siong.

Matanya yang sembab dan menjadi sipit membengkak karena kebanyakan tangis itu dilebar-lebarkan karena hampir ia tidak dapat percaya akan kata-kata yang keluar dari mulut pria satu-satunya di dunia ini yang dikaguminya dan dihormatinya.

"Tapi.... aku.... bukan perawan lagi.... aku... aku telah ternoda..., kehormatanku telah diinjak-injak empat orang...."

"Hong-moi, sudahlah jangan bicara lagi tentang hal itu. Aku cinta padamu, Hong-moi, aku mencinta pribadimu, lahir dan batinmu. Aku bukan sekedar mencinta keperawananmu atau kecantikanmu. Tidak peduli engkau perawan atau bukan, hal itu tidak penting bagiku. Apalagi aku tahu betul bahwa apa yang terjadi padamu itu bukan atas kehendakmu. Apakah engkau tidak percaya kepadaku, Hong-moi?"

Pandang mata Cui Hong mulai ada sinar, walaupun masih redup.

"Akan tetapi aku... aku seorang yang penuh dosa, penuh kekejaman... aku kejam dan buas seperti iblis!"

Ia teringat akan penyiksaan-penyiksaan terhadap musuhmusuhnya, terbayang akan keadaan tubuh dan wajah tiga orang yang telah disiksanya.

Ia tahu bahwa Tan Siong sama sekali tidak menyetujui dan menyukai batas dendam seperti itu.

"Sudahlah, Hong-moi. Yang lewat biarlah lewat. Engkau melakukan semua Itu karena ketika itu engkau dibikin buta oleh dendam. Yang terpenting adalah sekarang ini. Aku yakin bahwa sekarang engkau telah insaf, telah sadar dan menyesali perbuatanmu. Penyesalan menuntun kepada pertaubatan dan orang yang menyesal dan bertaubat pasti akan diampuni oleh Tuhan. Sekarang aku mengulangi pernyataanku tempo hari. Aku cinta padamu, Hong-moi. Sudikah engkau menerimanya dan maukah engkau melanjutkan sisa hidup ini di sampingku? Aku hanya seorang laki-laki yang bodoh dan miskin."

"Toako (Kanda), benarkah semua kata katamu Itu? Benarkah engkau masih mencintaku dan engkau tidak akan memandang rendah kepadaku?"

"Memandang rendah? Sama sekali tidak, Moi-moi. Aku mencintamu, aku menghormatimu, aku memujamu, engkau... kalau engkau sudi menerimanya, engkau adalah calon isteriku, teman hidupku..."

"Tan-toako... (Kanda Tan)...."

Cul Hong menangis akan tetapi la tidak menolak ketika Tan Slong merangkul pundaknya.

"Aku... aku tadinya seperti tenggelam ke dalam kegelapan... aku bingung, putus asa.... tidak tahu ke mana harus pergi, tak tahu apa yang harus kuperbuat selanjutnya, aku sebatang kara dan... setelah tugas balas dendamku habis, kukira... habis pula kehidupanku. Akan tetapi engkau... engkau membawa pelita dan aku... aku hanya pasrah, aku hanya ikut, ke manapun engkau membawaku.... aku... aku... ahhh...."

Tan Siong merangkulnya dan dalam dekapannya itu tercurah semua kasih sayangnya kepada wanita itu.

Sejenak mereka berangkulan dan bertangisan, tangis haru dan bahagia.

Setelah tangis itu mereda, Tan Siong berbisik di dekat telinga calon isterinya.

"Kita akan menghadapi tantangan hidup bersama Moi-moi. Kita kubur semua masa lalu karena yang penting adalah sekarang ini. Kita akan pergi jauh meninggalkan semua kenangan lama, memulai hidup baru, jauh di dusun yang bersih, dengan penduduk dusun di pegunungan yang sunyi, di antara rakyat yang bodoh dan lugu, di mana tidak ada terjadi kejahatan, pertentangan dan kebencian. Sekali lagi, jawablah, setelah engkau sudi menerima cintaku, maukah engkau menjadi isteriku, Kim Cui Hong?"

Cui Hong mengangkat mukanya memandang.

Muka mereka yang basah air mata saling berdekatan dan Cui Hong lalu menunduk dengan muka merah, menyembunyikan mukanya di dada Tan Siong dan jawabannya lirih sekali.

"Sejak engkau mengaku cinta, aku sudah ser ingkali membayangkan dan mengharapkan hal ini terjadi, Toako... tak kusangka sekarang menjadi kenyataan ya, aku bersedia menjadi isterimu yang bodoh"

Kedua orang muda itu tenggelam ke dalam kemesraan dua hati yang saling menemukan dan hanya mereka berdualah yang mampu menggambarkan bagaimana kebahagiaan yang dirasakan pada saat seindah itu.

Tak lama kemudian, keduanya saling bergandeng tangan meninggalkan bukit itu, menuruni lereng dengan wajah yang cerah penuh sinar bahagia, penuh harapan dan penuh cinta kasih menyongsong kehidupan baru.

Hidup adalah SEKARANG, bukan kemarin dan bukan esok.

Hidup adalah saat demi saat, saat ini, sekarang, detik demi detik.

Mengenang masa lalu hanya menimbulkan duka, kebencian, kekecewaan.

Membayangkan masa depan hanya menimbulkan rasa kekhawatiran atau khayalan-khayalan muluk yang akhirnya mendatangkan kecewa kalau tidak terlaksana.

Yang penting adalah SEKARANG, saat ini, detik demi detik.

Saat ini selalu waspada, saat ini selalu sadar, penuh kewaspadaan dan perhatian terhadap segala sesuatu yang berada di luar dan di dalam diri kita, saat ini bersin, saat ini benar dan saat ini bahagia.

Perlu apa menyesali dan menangisi masa lalu?

Perlu apa pula mengharapkan masa depan?

Hanya lamunan dan khayalan kosong belaka, bukan kenyataan.

Apa yang belum terjadi, kita serahkan dengan sepenuh kepercayaan, sepenuh kepasrahan, kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Apa pun yang datang terjadi pada kita, kita terima dengan penuh kewaspadaan, tanpa penilaian untung rugi.

Semua kejadian pasti ada sebabnya dan semua sebab berada di tangan kita sendiri.

Tuhan itu Maha Adil, kalau tangan kita menanam yang buruk, pasti kita akan memetik buahnya yang buruk pula.

Yang terjadi adalah kenyataan, dan sudah dikehendaki Tuhan, maka apa pun penilaian kita, manis atau pahit, menyenangkan atau menyusahkan, kenyataan yang sudah dikehendaki Tuhan itu sudah pasti benar dan adil karena Tuhan Maha Benar dan Maha Adil!

Sampai di sini pengarang menyudahi kisah ini, kisah pembalasan dendam sakit hati seorang wanita, dengan harapan semoga para pembaca dapat menikmatinya dan menarik pelajaran bahwa dendam menimbulkan kebencian dan kemudian melahirkan perbuatan yang amat kejam.

Sekian dan sampai jumpa dalam kisah-kisah lain Tamat Lereng Lawu, akhir 1991

http.//www.zheraf.net

http.//zheraf.wapamp.com

Baca Juga: Suling Emas 10

Baca Juga: Si Bangau Merah 14

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert