Eps 1 Sepasang Pendekar Kembar - Kho Ping Hoo
Baca online Sepasang Pendekar Kembar - Kho Ping Hoo
Cersil Sepasang Pendekar Kembar - Kho Ping Hoo.
Sepasang Pendekar Kembar/Ouw Yang Heng Te (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 01 Kota Liok-hui pada hari itu ramai sekali karena banyak tamu luar kota bahkan luar daerah datang membanjiri kota itu.
Mereka terdiri dari bermacam-macam orang.
Ada bangsawan dan ada yang berpakaian petani, ada saudagar dan ada pula yang berpakaian seperti pengemis penuh tambalan, ada orang-orang berpakaian seperti sastrawan dan ada juga yang berpakaian seperti ahli-ahli silat, bahkan tampak pendeta-pendeta, baik hwesio (penganut agama Buddha) gundul maupun tosu (penganut agama To).
Baru keadaan para tamu yang terdiri dari berbagai ragam dan golongan ini saja sudah merupakan pemandangan menarik yang jarang tampak di kota itu, apalagi kalau orang mengikuti para tamu itu dan melihat mereka semua ternyata mengunjungi sebuah gedung besar yang dihias mentereng dan indah, maka orang akan melihat suasana yang lebih ramai lagi.
Bunyi suling dan yang-khim, gembreng dan tambur, meramaikan dan menggembirakan suasana.
Para tamu semua hanya mempunyai satu tujuan, yakni mengunjungi gedung besar yang berada dalam suasana berpesta itu.
Gedung ini adalah milik Gak Liong Ek Si Naga Terbang, seorang tokoh kenamaan di kalangan persilatan, yang juga terkenal kaya raya, hingga di kota itu ia disebut Gak-wangwe (hartawan she Gak).
Pada waktu itu Gak-wangwe sedang merayakan hari ulang tahunnya yang ke enam puluh.
Karena ia terkenal sebagai tokoh di dunia kang-ouw (dunia orang-orang gagah atau persilatan) dan juga terkenal sebagai seorang kaya raya yang mempunyai hubungan luas dengan para saudagar dan para pembesar, maka tidak heran bila hampir setiap orang yang diundangnya pasti memerlukan datang menghadiri perayaannya.
Ternyata Gak Liong Ek tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memamerkan kekayaannya.
Ia mendatangkan pemain-pemain musik yang paling ternama dari Hok-chiu dan selain memanggil tukang-tukang masak dari Lok-thian, juga sengaja mendatangkan berpuluh-puluh guci arak wangi dari An-hwe-ein.
Ia sengaja membongkar beberapa dinding di ruang depan hingga ruang itu menjadi sangat lega dan luas, di mana ia atur bangku-bangku bercat merah dan meja-meja bundar yang ditilami kain berkembang.
Kertas-kertas berwarna dan daun hijau menghias dinding dan tiang, sedangkan di atas tergantung teng-loleng (lampion) yang indah-indah beraneka warna bentuknya.
Karena sudah tua dan merasa terlalu merendahkan diri kalau ia sendiri menyambut kedatangan para tamu, maka ia perintahkan kedua orang puteranya yang kesemuanya sudah berumah tangga, untuk mewakilinya menyambut tamu.
Putera sulung menyambut tamu di pintu depan dan putera bungsu di sebelah dalam, mengantar para tamu menuju ke tempat duduk masing-masing.
Gak Liong Ek sendiri duduk di tempat yang sengaja ditinggikan di mana terdapat beberapa belas bangku lain yang khusus disediakan untuk para tamu agung yang terdiri dari para locianpwe (orang-orang tua gagah) dan para bangsawan tinggi.
Gak Liong Ek berpakaian serba biru yang indah berkilat karena terbuat dari sutera.
Pada dada bajunya itu tampak sulaman naga terbang yang sengaja dibuat berbeda bentuknya dengan naga-naga biasa karena pada waktu itu yang diperbolehkan memakai baju bersulamkan naga hanyalah kaisar seorang dan keluarganya.
Gak Liong Ek memakai sulaman naga terbang hanya untuk menyesuaikan dirinya dengan julukannya yang sudah terkenal dan yang mengangkat tinggi namanya selama berpuluh tahun, yakni julukan Hwie-liong atau Naga Terbang.
Untuk menambahkan kebesarannya, ia sengaja menggantungkan pedang pusakanya yang dimasukkan di dalam sarung pedang bergambar naga terbang pula, di atas dinding tempat ia duduk.
Dari penuturan di atas ini orang dapat mengira-ngira akan perangai jago tua itu.
Ya, Gak Liong Ek memang sejak dulu terkenal angkuh dan sangat membanggakan kepandaiannya, akan tetapi, betapapun sombongnya dia harus diakui bahwa perangai sombong dan kasar itu dibersihkan oleh adatnya yang jujur dan terus terang.
Gak Liong Ek sudah memesan kepada kedua orang puteranya untuk berlaku hormat kepada semua tamu, tak perduli tamu itu dari golongan apa.
Jago kawakan ini memaklumi, bahwa orang-orang gagah di dunia ini banyak sekali yang aneh perangai dan banyak yang menyembunyikan dirinya di balik pakaian pendeta, hwesio, sastrawan, petani, bahkan banyak yang mengenakan baju jembel.
Karena pesan ayahnya inilah, maka kedua puteranya itu m maksa diri berlaku hormat kepada siapa saja yang masuk, Baik ia seorang pendeta maupun seorang pengemis jembel.
Dan lucunya, keadaan ini rupa-rupanya diketahui juga oleh para pengemis, hingga di antara sekian banyak tamu, ada beberapa orang pengemis tulen yang membonceng dan sengaja berpura-pura menjadi tamu dan ikut masuk.
Dan ternyata mereka ini juga diterima baik-baik oleh kedua putera Gak-wangwe hingga pengemis-pengemis itu tentu saja merasa mendapat untung besar dan seperti memasuki sorga saja.
Tanpa sungkan-sungkan lagi mereka hantam kromo segala hidangan di meja karena kesempatan macam ini tak mungkin akan terjadi untuk kedua kalinya selama mereka hidup.
Kedua putera Gak Liong Ek terpaksa tak dapat menyembunyikan rasa heran, terkejut dan bingung ketika dari luar datang dua orang anak muda yang sangat aneh.
Bukan pakaian mereka yang sederhana dan ringkas itu yang aneh, juga bukan wajah keduanya yang sangat tampan dan gagah yang mengherankan.
Tapi yang sangat aneh dan menyolok mata ialah persamaan mereka.
Kedua pemuda itu demikian sama dan serupa, sebentuk, dan segaya hingga benar-benar bisa membikin orang yang melihat mereka menjadi kesima dan terheran-heran.
Muka serupa, hidung yang mancung dan mulut yang indah bentuknya itu semacam, tubuh sebentuk, pakaian sama, sepatu sama, ikat kepala serupa.
Tak aneh bahwa putera Gak Liong Ek yang menyambut mereka berdiri keheranan memandang.
Setelah kedua pemuda itu menjura dan memperkenalkan diri sebagai Ouwyang-hengte (kakak beradik she Ouwyang), barulah tuan rumah sadar dari kesimanya dan balas menjura.
Berbeda dengan putera sulung, ternyata putera bungsu yang menyambut di sebelah dalam lebih tajam matanya.
Tadinya iapun heran sekali, tapi cepat matanya mencari-cari perbedaan yang mungkin ada di antara kedua saudara Ouwyang itu, dan ia berhasil.
Ternyata pedang yang tergantung di pinggang kedua saudara itu berbeda.
Seorang berpedang panjang, yang lain berpedang pendek.
Ia lalu tersenyum lega dan puas melihat perbedaan ini dan segera mengantar mereka ke tempat duduk di bagian para muda, yakni di ujung kiri.
Sebelum duduk, sepasang pemuda yang serupa itu lebih dahulu menuju ke tempat di mana Gak Liong Ek duduk dan keduanya lalu menjura dan memberi hormat.
"Siauwte berdua mewakili suhu dan membawa pesan suhu yang menghaturkan selamat dan panjang usia kepada lo-enghiong,"
Kata yang berpedang panjang. Gak Liong Ek juga berdiri dan membalas hormat mereka, lalu ia memandang kagum kepada dua orang pemuda yang sangat tampan dan serupa itu, lalu berkata.
"Terima kasih banyak, dan jiwi-hiante ini siapakah? Serta siapa pula suhu kalian yang terhormat? Maaf, saya telah terlalu tua hingga tidak ingat lagi."
"Tidak heran bila lo-enghiong tidak ingat karena memang kita belum pernah bertemu. Siauwte berdua adalah Ouwyang-hengte dan suhu kami adalah Ang In Liang dari Hong-san."
Tiba-tiba Gak Liong Ek tampak senang sekali dan ia dongakkan kepalanya lalu tertawa gelak-gelak.
"Ha-ha-ha. Jadi suhu kalian adalah Pat-jiu Lo-mo (Iblis Tua Tangan Delapan)? Hei, apakah iblis tua itu masih hidup?"
Melihat kegembiraan dan kekasaran tuan rumah, kedua pemuda itu bersikap tenang saja. Si pedang pendek yang kini menjawab.
"Suhu sehat-sehat saja dan mengharap lo-enghiong juga dalam keadaan sehat."
"Ah, bagus, bagus. Mari, mari, jiwi harus mewakili si iblis tua kawan baikku itu untuk menghabiskan tiga cawan arak wangi."
Mendengar ucapan ini, cepat seorang pelayan yang memegang guci arak menghampiri mereka dan tanpa diperintah, pelayan yang tahu kewajiban itu menuang arak dalam tiga cawan.
Untuk menghormat tuan rumah, terpaksa kedua pemuda itu mengeringkan cawan mereka bersama-sama tuan rumah sampai tiga kali.
Kemudian mereka mundur dan duduk di tempat yang memang disediakan untuk para muda, yakni di ujung sebelah kiri tak jauh dari tempat duduk Gak Liong Ek.
Kedua pemuda itu memang murid-murid Pat-jiu Lo-mo Ang In Liang, seorang pertapa tua bekas perampok tunggal yang sangat ternama dan memiliki kepandaian tinggi dan yang kini bertapa di Bukit Hongsan.
Dua saudara ini memang sepasang anak kembar dari keluarga Ouwyeng.
Yang berpedang panjang bernama Ouwyang Bun dan adiknya, yang berpedang pendek, bernama Ouwyang Bu.
Ayah mereka adalah seorang saudagar bernama Ouwyang Heng Sun yang tinggal di daerah selatan.
Ketika mereka berusia sepuluh tahun, Ang In Liang yang tadinya hendak merampok keluarga Ouwyang, mengurungkan maksudnya ketika melihat kedua enak itu dan sebaliknya ia laiu menculik mereka dan membawanya ke Gunung Hong-san.
Ia didik dan ia gembleng kedua anak kembar itu sampai delapan tahun lebih hingga kini mereka telah berusia delapan belas tahun dan telah memiliki kepandaian silat yang tinggi sekali, karena boleh dibilang mereka telah mewarisi delapan bagian dari seluruh kepandaian Pat-jiu Lo-mo Si Iblis Tua Tangan Delapan.
Biarpun muka kedua orarfg pemuda itu serupa benar, namun ternyata perangai mereka berbeda jauh.
Ouwyang Bun berwatak pendiam, halus tutur sapanya, dan cerdik penuh akal.
Sebaliknya Bu, adiknya, beradat keras, suka terus terang, jujur dan tak begitu mengindahkan adat sopan santun, pula mudah sekali marah.
Hanya baiknya anak muda yang keras hati ini sangat cinta dan taat kepada kakaknya, hingga Ouwyang Bun yang lebih cerdik dan halus dapat menguasai dan mengendalikan adiknya itu.
Ketika Pat-jiu Lo-mo Ang In Liang, suhu mereka menerima undangan dari Gak Liong Ek, kebetulan sekali jago tua ini merasa bahwa sudah tiba waktunya bagi kedua muridnya untuk turun gunung dan mempraktekkan semua kepandaian yang telah dipelajarinya di atas gunung dengan tekun dan bersusah payah.
Oleh karena itu, maka ia mengutus kedua muridnya itu untuk mewakili dia menghadiri pesta perayaan Gak Liong Ek, agar mereka dapat bertemu dan berkenalan dengan banyak orang pandai di dunia kang-ouw.
Selain menyuruh mereka mengunjungi pesta Gak Liong Ek, juga Iblis Tua Tangan Delapan itu memberi pesan dengan kata-kata bersemangat.
"Kalian boleh pergi mencari orang tuamu yang telah kau ketahui terang nama dan tempat tinggalnya. Tapi yang terpenting sekali, aku minta kepada kamu berdua supaya menunjukkan kepada dunia bahwa kamu berdua adalah laki-laki bersikap jantan dan gagah yang tidak sia-sia belajar silat dengan tekun di sini. Ketahuilah bahwa negara sedang terancam oleh serangan-serangan para pemberontak dari utara. Siapa lagi yang akan membela negara selain putera-puteranya seperti kalian berdua? Dengan demikian, maka tidak percuma pula aku mendidik kalian sampai bertahun-tahun. Setelah kamu berdua bertemu dengan orang-tuamu, maka pergilah ke Pak-thian dan carilah seorang panglima perang bernama Cin Cun Ong yang memimpin barisan besar menindas para pemberontak di daerah utara. Ketahuilah bahwa Cin Cun Ong ini adalah susiokmu sendiri. Kalian berikan surat dariku dan kalian harus membantu dia menumpas para pemberontak pengacau negara. Bunuhlah sebanyak-banyaknya para pengkhianat negara itu, sepuas hatimu. Tapi berlakulah waspada dan hati-hati karena di antara mereka banyak terdapat orang-orang pandai."
Tentu saja kedua saudara Ouwyang ini menerima pesan suhu mereka dengan taat.
Mereka menerima masing-masing sebatang pedang, dan setelah menyimpan surat suhunya untuk diberikan kepada panglima Cin Cun Ong kelak dan berpamit, keduanya lalu turun gunung.
Tak lama kemudian, ruang yang sengaja disediakan untuk para tamu di rumah Gak Liong Ek, telah penuh dengan tamu.
Tempat tuan rumah yang agak tinggi kini telah penuh tamu pula, yakni orang-orang tua yang ganjil pakaian dan bentuk tubuhnya dan beberapa orang yang berpakaian seperti pembesar.
Karena ingin sekali kenal siapakah adanya para locianpwe yang mendapat kehormatan di kursi tinggi itu, Ouwyang Bun bertanya kepada orang-muda lain yang duduk di dekatnya.
Orang muda itu berpakaian sebagai seorang ahli silat juga dan mendengar pertanyaan itu, ia merasa girang dan bangga sekali.
Dengan menunjukkan bahwa ia telah kenal semua cianpwe itu, seakan-akan ia telah membanggakan pengalamannya hingga orang dapat menduga bahwa iapun memiliki kepandaian tinggi.
Ia menggunakan jarinya menunjuk dari kiri ke kanan sambil memperkenalkan.
"Yang duduk di ujung kiri, tubuhnya bongkok kurus, rambutnya panjang diikatkan ke atas dan berpakaian seperti tosu itu adalah Kin Keng Tojin, tokoh dari Go-bi-san. Kedua dari kiri, hwesio gundul bertubuh gemuk pendek itu adalah Cin Kong Hwesio dari kelenteng Hok-po-tong, di mana ia menjadi ketuanya. Ketiga adalah Bhok Sun Ki dan dari pakaiannya yang penuh tambalan itu kau dapat menduga bahwa dia adalah seorang pengemis, tapi bukan sembarang pengemis karena julukannyapun Raja Pengemis. Lima orang tua berikutnya yang berpakaian petani adalah tokoh-tokoh terkenal, karena mereka ini tidak lain ialah Ki-lok Ngo-koai atau Lima Setan Tua dari Ki-lok. Hanya delapan loeianpwe itulah yang berkepandaian setingkat dengan Gaklo-enghiong, sedangkan yang lain berada di bawah tingkatnya."
Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu memandang mereka yang dipuji-puji itu dengan kagum.
Mereka menduga-duga sampai di mana kehebatan dan keunggulan mereka ini.
Apakah mereka ini lebih hebat daripada gurunya?
Demikian kedua saudara Ouwyang ini berpikir.
Pada saat itu para tamu sudah banyak yang setengah mabok karena arak wangi yang dihidangkan itu benar-benar keras dan simpanan lama.
Dari rombongan anak-anak muda mulai terdengar suara-suara keras dan tertawa-tawa bebas dan berani, hingga Ouwyang Bun berdua adiknya beberapa kali menengok.
Tiba-tiba seorang yang berusia kurang lebih tiga puluh tahun dan duduk di tengah-tengah di antara kaum muda, berdiri dan mengacungkan cawan araknya ke arah tuan rumah, lalu berkata dengan suara lantang.
"Gak-lo-enghiong yang gagah dan dipanggil Hui-liong (Naga Terbang), sungguh-sungguh telah menghibur kita dengan arak baik dan hidangan lezat. Sayangnya tidak ada sesuatu pertunjukan yang menarik hati, kecuali suara musik yang membosankan. Para locianpwe yang mendapat tempat terhormat, apakah tidak hendak turun tangan sekedar membantu meramaikan pesta dan membalas budi tuan rumah?"
Semua orang-orang tua yang duduk di dekat tuan rumah saling pandang, ada yang memandang marah, ada pula yang geli dan menganggap pemuda itu sudah mabok dan mengoceh tak keruan.
"Ha-ha."
Pemuda itu tertawa.
"kalau begitu percuma saja tuan rumah menyediakan tempat khusus untuk para locianpwe yang gagah. Nah, Gak-lo-enghiong, biarlah siauwte minum arak ini untuk keselamatanmu."
Terpaksa Gak Liong Ek sambil tertawa menyambut ucapan selamat ini dengan mengangkat cawan araknya pula. Kemudian anak muda itu berkata pula.
"Sekarang, kalau para locianpwe tidak ada yang sudi turun tangan biarlah siauwte yang muda dan bodoh meramaikan pesta ini dengan pertunjukan sedikit kepandaian silat. Harap jangan ditertawakan, karena memang siauwte masih bodoh. Lihat, tempatkupun di rombongan ini, bukan di atas."
Terang sekali ia menyindir tuan rumah dan para locianpwe, dan setelah meletakkan cawan arak kosong di atas meja, orang itu dengan sekali gerakan tangan, tahu-tahu tubuhnya telah melayang dan meloncat ke panggung yang cukup luas di tengah-tengah ruangan itu.
Panggung ini memang sengaja dibangun untuk para penari dan penyanyi, juga karena Gak Liong Ek adalah seorang dari kalangan persilatan, ia sengaja menyediakan tempat ini kalau-kalau ada pertunjukan silat.
Gerakan yang didemonstrasikan oleh pemuda berbaju biru itu memang cukup gesit hingga Ouwyang-hengte (kakak beradik Ouwyang) diam-diam memuji.
Setelah berada di atas panggung, si baju biru lalu memberi tanda kepada para pemukul gamelan untuk menghentikan permainan mereka.
Kemudian ia menjura ke arah tuan rumah, lalu ke seluruh penjuru.
"Cuwi sekalian yang mulia. Mungkin cuwi belum pernah mendengar namaku dan belum mengenal siauwte, memang siauwte bukanlah orang gagah yang terkenal. Baiklah siauwte memperkenalkan diri, nah aku Lui Kok Pauw dan terus terang saja siauwte mengaku bahwa siauwte ikut menghadiri pesta ini semata-mata karena kagum akan nama Gak-lo-enghiong, bukan atas undangan. Oleh karena itu, karena aku bukanlah seorang yang hendak makan hidangan orang begitu saja tanpa membayar, biarlah sekarang siauwte bayar makanan dan hidangan itu dengan meramaikan dan menggembirakan pesta ini. Kalau kiranya di antara para locianpwe ada yang merasa bergembira untuk menemani siauwte bermain-main, hal itu akan baik sekali."
Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang tinggi dan nyaring dari arah para locianpwe.
Ternyata yang tertawa itu adalah si Raja Pengemis Bhok Sun Ki.
Dari suara tertawa ini saja dapat diketahui bahwa khikangnya sudah matang dan tentu kepandaiannya juga tinggi sekali.
"Lui-sicu."
Katanya kepada si baju biru di atas panggung.
"Kalau aku tidak salah ingat, namamu sangat terkenal di antara tokoh-tokoh dari utara. Cobalah perlihatkan kepandaianmu dulu untuk kulihat apakah cukup berharga untuk bermain-main dengan aku orang tua."
Lui Kok Pauw terkejut ketika mendapat kenyataan bahwa pengemis jembel itu mengenalnya, maka iapun menjura dan berkata.
"Lo-enghiong yang gagah menyembunyikan kepandaian tinggi di dalam tubuh yang dibungkus kain-kain lapuk penuh tambalan. Bukankah julukan lo-enghiong ini Kai-ong si Raja Pengemis?"
Kini Bhok Sun Ki yang kaget karena ternyata Lui Kok Pauw bermata tajam.
"Ha-ha, Lui-sicu, kau pun bukan orang bodoh sembarangan saja. Lekas perlihatkanlah beberapa gerakanmu, sudah gatal-gatal tanganku untuk menerima sedikit pengalaman darimu."
Lui Kok Pauw adalah seorang jago muda yang namanya telah menggemparkan daerah utara.
Dia adalah murid langsung dari Keng-an-san dan memiliki ilmu silat campuran dengan ilmu silat dan gumul dari Mongolia.
Sebenarnya, orang she Lui ini adalah seorang di antara para tokoh pemberontak yang bergerak di sepanjang tembok besar dan berusaha menjatuhkan pemerintahan kaisar yang pada waktu itu berkuasa.
Dan kini Lui Kok Pauw datang ke situ bukanlah semata-mata hendak menghadiri pesta, tapi juga hendak mengumpulkan kawan-kawan sepaham dan membujuk orang-orang kang-ouw untuk membantu pergerakan kawan-kawannya.
Untuk inilah, sengaja ia hendak memperlihatkan kepandaiannya agar menarik perhatian para orang gagah.
Ia lalu gerakkan kedua kaki dan tangannya dan memainkan Pek-wan-kun-hoat (Ilmu Silat Lutung Putih) yang eepat dan gesit karena tiap-tiap pukulan diakhiri dengan tangkap dan cengkeraman serta tiap pukulan lalu dirobah dengan serangan lain yang tak terduga datangnya.
Baru beberapa jurus saja ia bersilat, para locianpwe yang duduk dekat tuan rumah maklum sudah bahwa orang she Lui yang baru berusia paling banyak tiga puluh tahun itu memang memiliki kepandaian tinggi dan merupakan lawan yang sukar ditandingi.
Melihat gerakan-gerakan Lui Kok Pauw yang aneh itu, timbullah kegembiraan Bhok Sun Ki untuk mencobanya.
Sekali menggerakkan kaki ia telah sampai di atas panggung itu dan berkata.
"Lui-sicu. Namamu bukan kosong melompong, kau ternyata memang mempunyai isi yang baik juga. Mari kita bermain-main sebentar."
Tanpa menanti jawaban, si Raja Pengemis itu telah bersilat mengimbangi permainan Lui Kok Pauw.
Raja Pengemis ini bersilat Tat-mo-kun-hoat yang cukup kuat dan lihai hingga sebentar saja tubuh mereka berdua Berkelebatan ke sana ke mari, makin lama makin cepat hingga membikin kabur mata para penonton yang tak begitu pandai dalam hal ilmu silat.
Ketika kedua lengan mereka bertemu untuk pertama kali, keduanya maklum bahwa tenaga dalam mereka seimbang.
Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu diam-diam kagum juga melihat kelihaian mereka dan dua orang pemuda yang berkepandaian tinggi dan bermata tajam inipun tahu bahwa dalam hal ilmu silat, Lui Kok Pauw lebih menang setingkat, tapi kekalahan si Raja Pengemis itu tertutup dengan kemenangannya dalam ginkang.
Memang Bhok Sun Ki memiliki ginkang luar biasa dan tubuhnya sampai hampir tak terlihat lagi karena cepatnya ia bergerak.
Setelah bertempur seratus jurus, keduanya makin panas dan penasaran karena belum juga dapat keluar sebagai pemenang.
Sebenarnya Lui Kok Pauw tidak hendak melanjutkan perkelahian yang tadinya hanya bersifat main-main ini, tapi karena Bhok Sun Ki yang sudah memiliki nama besar dan terkenal sebagai seorang tokoh tingkat tinggi, kini tak dapat menjatuhkan seorang muda, merasa penasaran dan malu sekali hingga Raja Pengemis itu kini tidak main-main lagi, tapi berkelahi dengan sungguh-sungguh dan melancarkan serangan-serangan dan pukulan-pukulan maut.
Tentu saja Lui Kok Pauw tahu dan merasa pula, maka iapun terpaksa mengeluarkan ilmu simpanannya dan kini setiap serangan dilakukan dengan tenaga lweekang sepenuhnya hingga sangat berbahaya bagi keduanya.
Pada suatu saat, Bhok Sun Ki menyerang hebat dengan tangan kanannya.
Karena serangan ini cepat sekali, Lui Kok Pauw menangkis dan berbareng mencengkeram tangan lawan itu.
Ternyata maksudnyapun sama dengan maksud Bhok Sun Ki, karena ternyata pukulan si Raja Pengemis itu lalu diubah menjadi pukulan Eng-jiauwkang (Pukulan Cakar Garuda).
Maka secara tepat dan cepat sekali kedua tangan kanan mereka saling mencengkeram dan saling memegang hingga jari-jari tangan mereka saling menggenggam.
Karena gerakan ini dilakukan berbareng, maka kini mereka tak dapat melepaskan tangan lagi dan keduanya mengerahkan tenaga lweekang untuk menjatuhkan lawan.
Tubuh mereka diam bagaikan patung, tangan kiri diacungkan ke atas dan kedua mata mereka saling pandang tak berkedip.
Melihat betapa kedua orang itu mengadu kepandaian dan lweekang hingga berada dalam keadaan yang mengkhawatirkan sekali, semua orang menahan napas.
Memang sukar bagi kedua pihak untuk mundur lagi, karena mengalah sedikit saja pasti akan mendapat luka dalam yang berbahaya.
Adu tenaga dalam itu telah mendatangkan peluh di jidat kedua orang itu dan napas mereka telah terdengar terengah-engah.
Pada saat itu, Ouwyang-hengte yang sudah bersepakat, tiba-tiba meloncat dengan gerakan lincah dan ringan ke atas panggung.
Ouwyang Bun turun di dekat Raja Pengemis, sedangkan adiknya turun di dekat Lui Kok Pauw.
Keduanya berseru.
"Maaf."
Dan cepat sekali mereka keduanya menggunakan tangan kanan untuk menotok pergelangan tangan masing-masing dan cepat membetot tubuh mereka ke belakang.
Baik Bhok Sun Ki, maupun Lui Kok Pauw ketika tertotok merasa tenaga mereka lenyap dan tangan mereka lumpuh tak bertenaga, maka mudah saja keduanya ditarik ke belakang hingga terlepaslah genggaman masing-masing.
Sekali lagi Ouwyang Bun dan adiknya menjura kepada dua orang itu dan Ouwyang Bun berkata merendah.
"Mohon dimaafkan bahwa siauwte berdua lancang tangan memisah, karena dua harimau bergulat, pasti akan ada yang terluka. Bukankah hal itu sayang sekali?"
Sehabis memisah dua orang gagah yang bertanding mati-matian tadi, kedua saudara Ouwyang itu cepat meloncat turun dan duduk kembali ke tempat mereka semula.
Diam-diam Bhok Sun Ki dan Lui Kok Pauw merasa kagum akan kecerdikan kedua anak muda itu, dan merasa malu kepada diri sendiri yang telah melupakan maksud semula bahwa mereka bertanding hanya untuk main-main dan meramaikan pesta saja.
Bhok Sun Ki si Raja Pengemis lalu menjura sambil berkata.
"Lui-sicu, sungguh kau gagah perkasa dan aku orang tua takluk padamu. Kau benar-benar patut disebut enghiong sejati, hohan yang berjiwa patriot."
Lui Kok Pauw buru-buru membalas penghormatan itu dengan merendahkan diri dan berkata.
"Sebaliknya siauwte merasa mendapat kehormatan besar sekali karena hari ini telah berkenalan dengan keulungan lo-enghiong, dan mendapat kenyataan bahwa lo-enghiong juga berjiwa patriot sejati. Atau, apakah siauwte salah raba?"
Ia memancing untuk mengetahui pendirian orang tua gagah itu. Si Raja Pengemis tertawa gelak-gelak.
"Apakah sicu hendak samakan aku orang tua sebagai segala macam orang pengekor seperti Cin Cun Ong dan para begundalnya?"
Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu terkejut mendengar kata-kata ini, dan mereka memandang kepada pengemis itu dengan mata marah.
Cin Cun Ong adalah seorang panglima besar dan menjadi susiok mereka, mengapa kini dimaki-maki oleh raja pengemis itu?
Sebaliknya, Lui Kok Pauw menjadi girang sekali, biarpun ia merasa agak heran akan keberanian orang memaki panglima itu di depan orang banyak.
Lui Kok Pauw tentu tidak tahu bahwa sebagian besar orang-orang gagah yang duduk di situ semua merasa simpati dan setuju akan pemberontakan yang dipimpin oleh seorang gagah perkasa bernama Lie Cu Seng yang terkenal.
Orang gagah ini memimpin barisan besar sekali yang terdiri dari kaum tani dan jembel yang telah merasa cukup banyak menderita karena tindasan dan perasan para pembesar-pembesar busuk di bawah pemerintahan kaisar yang lalim.
Memang harus diakui bahwa pemberontakan yang dicetuskan oleh Lie Cu Seng ini tidak banyak mendapat sambutan dari para orang gagah yang kebanyakan hanya peluk tangan dan bersikap masa bodoh saja, walaupun di dalam hati mereka bersimpati.
Akan tetapi tidak sedikit orang-orang gagah di utara dan timur dengan aktif membantu pergerakan ini hingga lambat-laun barisan Lie Cu Seng makin besar dan kuat saja, Apalagi karena pergerakan ini dibantu oleh rakyat jelata yang memberi ransum dan makan dengan suka rela kepada mereka.
Kini mendengar betapa Bhok Sun Ki memaki-maki Cin Cun Ong, seorang panglima yang terkenal gagah dan banyak membasmi kaum pemberontak, mereka itu bersikap dingin saja, dan tidak ambil perduli.
Akan tetapi, Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu merasa marah sekali, biarpun mereka masih menahan-nahannya.
Lebih-lebih Ouwyang Bu, ketika mendengar susioknya yang dipuji oleh suhunya itu dimaki orang, hampir saja tak dapat menahan kemarahan hatinya dan hendak melompat ke atas panggung kalau saja tidak ditahan oleh kakaknya yang lebih sabar.
Lui Kok Pauw tertawa senang mendengar kata-kata si Raja Pengemis itu.
"Bagus, bagus. Sungguh senang bertemu dengan orang-orang gagah yang berhaluan mulia. Memang, pengekor-pengekor macam orang she Cin itu dan kaki tangannya, kalau bukan orang-orang gagah macam kita yang membasminya, siapa lagi? Lo-enghiong, mengapa kau tidak cepat-cepat menggabungkan diri dengan kami dari utara? Waktunya kini telah tiba untuk membebaskan rakyat dari hidup sengsara."
"Sicu berada di bawah pimpinan siapakah?"
"Siapa lagi kalau bukan Thio Sian Tiong enghiong yang bijaksana dan gagah perkasa?"
Mendengar bahwa orang she Lui itu adalah seorang anak buah dari barisan pemberontak Thio Sian Tiong, terkejutlah semua orang dan mereka menaruh perhatian besar.
Sementara itu, Ouwyang Bu yang sudah tak dapat menahan sabarnya lagi, meloncat sambil memaki.
"Bangsat pemberontak jangan kau lancang mulut."
Lui Kok Pauw dan Bhok Sun Ki terkejut karena melihat bahwa yang meloncat ke panggung dengan muka merah, ini adalah seorang dari kedua pemuda yang tadi memisah mereka.
Belum hilang kaget mereka, seorang pemuda lain melompat menyusul dan kini kedua pemuda yang bermuka sama benar itu telah berdiri menghadapi mereka.
Karena tindakan ini, maka sepasang saudara kembar ini jelas kelihatan oleh semua orang yang memandang dengan bingung dan heran.
Sungguh kedua pemuda itu sama benar bentuk dan rupanya.
Ketika kedua pemuda ini tadi naik ke panggung dan memisah kedua jago yang sedang bertempur, mereka bergerak cepat dan tidak lama tinggal di atas panggung hingga tidak menarik perhatian orang.
Juga, gerakan-gerakan mereka yang cepat tadi tak terlihat oleh sebagian besar para tamu hingga mereka tidak menaruh perhatian karena menyangka bahwa pemuda itu hanya memisah dengan mulut saja.
Bhok Sun Ki si pengemis membentak.
"He, anak muda, siapakah yang kau maki pemberontak tadi?"
"Siapa lagi kalau bukan kalian berdua? Kalian pemberontak-pemberontak rendah pengacau negara sungguh berani mati menghina Cin-ciangkun di muka umum. Agaknya kalian telah bosan hidup."
Ouwyang Bu membentak. Lui Kok Pauw lalu maju dan menjura.
"Jiwi ini sungguh anak-anak muda yang aneh. Tadi kalian bersikap sebagai sahabat, tapi kini tahu-tahu memusuhi kami. Sebenarnya siapakah jiwi dan mengapa melarang kami memaki-maki pembesar pengkhianat yang menjadi penjilat kaisar lalim itu?"
"Bangsat bermulut lancang."
Ouwyang Bu memaki, tapi kakaknya lalu berkata kepada Lui Kok Pauw.
"Saudara adalah seorang yang berkepandaian, dan bukanlah urusan kami kalau kau hendak berlaku sesat dan ikut-ikut dengan para pemberontak yang kejam dan ganas. Akan tetapi, kami berdua Ouwyang-hengte tentu saja takkan tinggal diam mendengar susiok kami dimaki-maki orang. Ketahuilah, kami berdua adalah murid-murid kemenakan Cin-ciangkun, dan kami berdua hendak membantu susiok membasmi para pemberontak dan pengkhianat yang mencelakakan rakyat jelata."
Tiba-tiba Lui Kok Pauw tertawa besar.
"Ha-ha. Sungguh lucu. Masih tidak aneh kalau kalian anak-anak muda ini membantu kaisar kejam karena mempunyai susiok yang menjadi panglima penjilat. Tapi sungguh lucu kalau orang-orang sesat dan pengkhianat seperti kalian ini mengaku sebagai pembela rakyat. Ketahuilah orang-orang muda yang buta, para pemberontak itulah rakyat jelata."
"Jangan jual obrolan kosong."
Ouwyang Bu berseru lalu maju menyerang.
Lui Kok Pauw menangkis dan sebentar saja mereka berdua bertempur hebat.
Bhok Sun Ki tentu tak mau tinggal diam saja, karena iapun sudah mengaku sebagai seorang patriot, Maka kini di situ terdapat orang-orang muda pembela kaisar, mustahil ia harus tinggal diam saja?
Maka ia lalu bergerak dan menyerang Ouwyang Bun.
Pertempuran di atas panggung makin menghebat, sedangkan semua tamu menjadi panik dan memandang ke arah panggung dengan wajah tegang.
Mereka maklum bahwa kini perkelahian dilakukan dengan sungguh-sungguh dan bukan main-main.
Sementara itu, Gak Liong Ek si tuan rumah, menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
Ia tahu bahwa kepandaian keempat orang itu sangat hebat dan untuk memisah mereka adalah pekerjaan yang sangat berbahaya dan sukar, dan ia sendiri memang berpendirian bebas, tidak pro sana tidak anti sini.
Oleh karena itu, lain tidak ia hanya bisa mondar-mandir di bawah panggung sambil berseru berkali-kali.
"Berhenti, tahan, tahan."
Akan tetapi keempat orang yang sudah terlibat dalam pertempuran seru dan mati-matian itu, tidak sudi berhenti demikian saja.
Ouwyang-hengte memang memiliki kepandaian asli dari Pat-jiu Lo-mo guru mereka yang tersohor itu, maka setelah bertempur beberapa puluh jurus, Lui Kok Pauw dan Bhok Sun Ki kena didesak hebat dan hanya sanggup menangkis saja.
Maka marahlah kedua orang itu lalu mencabut senjata masing-masing.
Lui Kok Pauw mencabut sebatang pedang dan Bhok Sun Ki mengeluarkan sebatang tongkat.
Ouwyang-hengte melihat kenekatan lawan, lalu mengeluarkan senjata mereka pula.
Ouwyang Bun mencabut pedang panjangnya, sedangkan Ouwyang Bu mengeluarkan pedang pendeknya.
Keempat senjata itu berkelebat dan kembali pertempuran berlangsung dengan hebat dan serunya, Bahkan lebih seru dan menyeramkan daripada ketika dilakukan pertandingan tangan kosong tadi.
Ternyata dalam permainan senjata, tongkat si Raja Pengemis sangat hebat sekali, karena ia memiliki kepandaian tunggal, yakni Hui-coa-tung-hoat (Ilmu Tongkat Ular Terbang).
Dengan gerakan tongkatnya yang berkelebatan dengan bergetar dan berputaran ujungnya, ia dapat melayani pedang panjang Ouwyang Bun dengan baik dan seimbang.
Tapi sebentar saja Ouwyang Bu telah dapat mendesak senjata Lui Kok Pauw dengan pedang pendeknya yang ternyata hebat dan ulung pula.
Lui Kok Pauw kini hanya dapat main mundur saja dan beberapa kali pedangnya hampir terlepas dari pegangannya kena gempur pedang pendek lawannya yang cepat dan kuat gerakannya itu.
Pada saat itu terdengar suara teriakan orang.
"Cuwi, kedua anak muda ini sungguh tak tahu diri. Agaknya ia hendak meng gunakan pengaruh Cin-ciangkun untuk meng hina kami orang-orang kang-ouw. Ayoh kita usir mereka."
Yang berseru demikian itu adalah tosu bongkok kurus, tokoh Go-bi-san yang bernama Kin Keng Tojin dan yang tadi duduk di deretan tempat para loeianpwe.
Tojin ini adalah kawan baik Bhok Sun Ki.
Maka ketika melihat kawannya itu terdesak, tentu saja tak mau tinggal diam, Apalagi ketika mendengar bahwa dua orang anak muda itu adalah murid kemenakan Cin Cun Ong, panglima raja yang gagah perkasa dan yang sudah banyak mengorbankan jiwa kawan-kawan baiknya di dunia kang-ouw, ia menjadi marah sekali.
Di antara tamu-tamu Gak Liong-Ek, banyak terdapat orang-orang gagah yang telah merasa sakit hati kepada Cin-ciangkun, maka serentak mereka bangun berdiri, hanya masih ragu-ragu karena merasa malu harus mengeroyok dua orang anak muda.
Ada juga yang tinggal diam saja karena memang tak kurang jumlahnya orang-orang kang-ouw yang tidak mau ambil perduli tentang pertentangan-pertentangan yang pro dan anti pemberontak atau yang pro dan anti kaisar.
Ouwyang Bu dan Ouwyang Bun melihat sikap orang-orang itu, segera berkata dengan suara keras kepada tuan rumah.
"Gaklo-enghiong, maafkan kami tidak dapat hadir lebih lama di sini."
Lalu dengan cepat sekali Ouwyang-hengte meloncat turun dan lari meninggalkan tempat itu dengan cepat, disusul oleh seruan Gak Liong Ek.
"Jiwi, sampaikan maafku kepada gurumu."
Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu lari dan dengan kepandaiannya meninggalkan tempat pesta itu karena mereka berdua maklum bahwa dengan tenaga berdua saja tak mungkin dapat menghadapi sekian banyak orang yang memiliki kepandaian tinggi.
Mereka langsung mengambil jalan yang menuju ke selatan, karena niat mereka hendak mencari orang tua mereka terlebih dulu.
Mereka telah tahu dari Pat-jiu Lo-mo guru mereka itu bahwa orang tua mereka tinggal di kota Nam-tin dan bahwa ayah mereka bernama Ouwyang Heng Sun.
Telah hampir sembilan tahun mereka berpisah dari kedua orang tua hingga wajah ayah ibu mereka hanya teringat dengan samar-samar saja.
Ouwyang Heng Sun adalah seorang saudagar yang berdagang hasil bumi dan memiliki tanah sawah yang beratus hektar luasnya.
Ia sangat kaya dan boleh disebut menjadi hartawan terbesar di kota Namtin.
Anaknya hanya Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu yang lahir kembar.
Maka dapat dipahami bahwa ia dan isterinya sangat menyayangi anak kembar mereka itu.
Tapi ketika kedua anak itu baru berusia kurang lebih sepuluh tahun, pada suatu malam datanglah malapetaka yang merupakan diri Pat-jiu Lo-mo, perampok tunggal yang sangat ditakuti itu.
Si iblis tua tangan delapan datang dengan maksud hendak mengambil sedikit bagian dari harta kekayaan Ouwyang Heng Sun, Tapi kebetulan sekali ia memasuki kamar kedua anak kembar itu dan sangat tertarik melihat sepasang anak kembar yang cakap dan mungil itu.
Memang, selama merantau dan malang melintang di dunia kang-ouw, iblis tua ini belum pernah menerima murid.
Juga ia belum pernah kawin dan belum pernah punya anak sendiri, maka melihat kedua anak yang cakap-cakap ini timbullah hati sayangnya.
Tanpa berpikir panjang lagi, ia batalkan niatnya untuk merampok harta benda dan sebaliknya menculik dua anak kembar itu, setelah meninggalkan surat pemberitahuan di atas meja bahwa sepasang anak kembar itu diambil oleh Pat-jiu Lo-mo untuk dijadikan muridnya.
Tentu saja peristiwa ini menghancurkan hati Ouwyang Heng Sun dan isterinya.
Mereka telah berusaha sedapat mungkin untuk mencari kedua anak itu.
Mereka gunakan harta kekayaan mereka untuk menyewa guru-guru silat dan petugas-petugas guna mencari jejak Pat-jiu Lo-mo, tapi semua usaha ini sia-sia belaka, karena andaikata ada juga guru silat yang dapat menemukan iblis tua itu, siapakah yang berani menentang perampok tunggal yang berkepandaian tinggi itu?
Maka segala kebahagiaan lenyaplah dari.
dalam hati Ouwyang Heng Sun dan isterinya dan tiap hari nyonya Ouwyang hanya pasang hio bersembahyang kepada Yang Maha Kuasa untuk memohon berkah bagi kedua puteranya.
Sedangkan Ouwyang Heng Sun sendiri, lebih banyak berkecimpung dalam dunia perdagangan untuk melupakan kesedihannya.
Oleh karena itu, maka kekayaan keluarga Ouwyang makin bertambah saja.
Ketika Ouwyang-hengte (kedua saudara Ouwyang) memasuki kota Nam-tin, kota kelahirannya, Mereka sudah lupa sama sekali dan merasai keasingannya memandangi rumah-rumah di kanan kiri jalan.
Mereka mencoba-coba mengumpulkan ingatan, tapi benar-benar keadaan kota yang memang telah banyak mengalami perubahan itu tampak baru dan asing.
Mereka lalu mencari keterangan tentang orang tuanya.
Yang ditanyai memandang heran kepada dua orang pemuda yang sebentuk dan serupa ini karena selain merasa aneh melihat sepasang pemuda yang serupa benar itu, juga ia heran mengapa terdapat orang-orang yang tidak tahu di mana rumah Ouwyang-wangwe (hartawan Ouwyang).
Setelah diberi tahu letak rumah Ouwyang-wangwe, dengan hati berdebar kedua pemuda itu menuju ke gedung orang tua mereka.
Di pintu depan mereka disambut oleh seorang pelayan muda yang menyambut dengan hormat dan menanyakan maksud kedatangan mereka.
"Saudara, apakah benar-benar ini rumah Ouwyang Heng Sun?"
Pelayan itu mengangguk dengan heran.
"Apakah orang tua itu ada di rumah?"
"Tidak ada, sedang, pergi mengurus perdagangan di Kwi-an. Jiwi dari manakah dan ada keperluan apa?"
Tapi Ouwyang Bu tidak memperdulikan pertanyaan itu, dan malah bertanya lagi dengan tidak sabar.
"Ouwyang-hujin (nyonya Ouwyang) adakah?"
Biarpun makin merasa heran, pelayan itu mengangguk dan menjawab.
"Ada, di dalam... Ada apakah kau menanya-nanyakan hujin?"
Mendapat jawaban itu, kedua pemuda itu tak dapat menahan sabar lagi dan menyerbu ke dalam. Pelayan itu menjadi marah dan membentak.
"Eh-eh. Jangan kalian masuk, bukankah sudah kuberi tahu bahwa wangwe tidak ada di rumah?"
"Minggir kau."
Seru Ouwyang Bu dan mendorong pelayan itu ke pinggir. Pelayan itu terlempar dan menabrak dinding, hingga ia berteriak-teriak kesakitan dan marah.
"Tolong, tolong, ada perampok. Tangkap pengacau."
Teriaknya.
"Diam. Kami adalah putera-putera Ouwyang-wangwe, kau mengerti?"
Mulut pelayan yang tadinya berteriak-teriak itu kini terbuka ternganga dengan mata terbelalak.
Mana ia mau mempercayai keterangan ini?
Pada saat itu dari dalam gedung keluar beberapa orang pelayan berlarian mendengar teriakan-teriakan tadi.
Seorang pelayan tua bernama Tan Ngo berdiri kesima dan memandang kedua pemuda itu.
Ia tadi sempat mendengar keterangan Ouwyang Bun bahwa mereka adalah putera Ouwyang-wangwe dan ia teringat akan kedua anak kembar yang dulu diculik penjahat.
Akhirnya ia tidak ragu-ragu lagi dan lari menubruk kedua anak muda itu.
"Ah, kongcu, benar-benarkah kalian yang datang ini? Sudah lupakah padaku? Aku A-ngo yang dulu sering bermain-main dengan jiwi."
Ouwyang Bun masih ingat ketika mendengar nama ini, maka ia pegang tangan orang tua itu dengan girang sekali.
"A-ngo, benar-benar kau berhadapan dengan kami berdua. Mana ibu?"
Dengan air mata mengalir saking gembiranya, Tan Ngo lalu menarik-narik tangan kedua anak muda itu menuju ke dalam. Di sepanjang jalan menuju ke kamar majikannya, tiada hentinya ia berteriak-teriak.
"Kedua kongcu datang... kedua kongcu pulang."
Nyonya Ouwyang yang sedang duduk di dalam kamarnya, mendengar teriakan ini, tergopoh-gopoh keluar dari kamarnya.
Ia berdiri dengan muka pucat dan sekali saja memandang kedua anak muda itu, tahulah ia bahwa mereka benar-benar puteranya.
Kedua tangannya diulurkan ke depan, bibirnya bergerak-gerak tapi tak mengeluarkan sepatah katapun, sedangkan air mata yang membanjir turun dari kedua matanya dan membasahi pipinya yang masih putih halus itu bicara dalam seribu bahasa.
Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu melihat wanita setengah tua yang masih cantik itu, untuk sesaat menahan kedua kaki mereka dan mengumpulkan semua ingatan.
Ouwyang Bun yang teringat lebih dulu, segera lari diikuti oleh Ouwyang Bu.
Mereka berdua menjatuhkan diri berlutut di depan ibu mereka dan menyebut.
"Ibu..."
"A Bun... A Bu..."
Nyonya itu akhirnya dapat juga mengeluarkan perkataan, ia menangis tapi mulutnya tertawa-tawa dan tubuhnya menjadi lemas dan limbung.
Kedua anak muda itu cepat berdiri dan memeluk tubuh ibu mereka yang setengah pingsan karena kegirangan dan karena peristiwa perjumpaan ini benar-benar mendatangkan kaget pada hatinya yang memang telah lemah karena banyak bersedih.
Dengan hati-hati dan penuh kasih sayang, kedua putera itu membimbing ibu mereka memasuki kamar dan membaringkannya di atas tempat tidur.
"Ibu... aku dan adikku telah berada di sini. Senangkanlah hatimu, ibu,"
Kata Ouwyang Bun dengan suara halus dan mengelus-elus rambut ibunya.
Nyonya Ouwyang lalu bangun dan duduk di atas pembaringannya.
Sekali lagi ia memandang kedua anaknya dari kanan ke kiri dan tiba-tiba ia merangkul mereka dalam pelukannya dan menangis keras.
Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu pun tak dapat menahan keharuan hati mereka dan ikut mengalirkan air mata.
"A Bun... A Bu... kau anak nakal... jangan kalian tinggalkan ibumu lagi..."
Setelah menangis sepuas-puasnya, legalah dada nyonya yang telah bertahun-tahun menderita sedih itu. Berkali-kali dipandanginya wajah kedua anaknya dan akhirnya ia tertawa girang.
"A Bun... yang manakah kau? Aku sendiri menjadi bingung..."
"Akulah A Bun, ibu..."
Jawab Ouwyang Bun, dan Ouwyang Bu tersenyum geli melihat ibunya.
"Kau kah A Bun? Ah, serupa benar, tentu aku akan lupa lagi. Kalau dulu mudah saja bagiku, ada tanda biru di pahamu, A Bun. Dan tanda itulah yang memudahkan aku untuk mengenal mana kau mana adikmu."
Ouwyang Bun tersenyum.
"Tanda itu masih ada, ibu."
Tiba-tiba nyonya itu teringat sesuatu, maka ia segera memanggil Tan Ngo dengan suara nyaring.
Nyonya itu ternyata dalam sekejap mata saja mendapatkan kembali kegembiraan hidupnya dan tampak lebih muda beberapa tahun.
Tapi yang dipanggil tidak menghadap, dan seorang pelayan lain yang dapat menghadap.
"Mana Tan Ngo? Suruh ia lekas beritahukan wangwe dan menyusulnya di Kwian. Suruh lekas pulang, kedua kongcu telah datang."
"Dia sudah pergi, sudah sejak tadi."
"Pergi ke mana?"
"Menyusul loya di Kwi-an."
Ternyata pelayan tua itu dengan gembira sekali mendahului perintah majikannya untuk menyampaikan berita baik ini kepada majikannya di Kwi-an.
Karena Kwian hanya terpisah beberapa li saja dari Nam-tin, maka sebentar saja Ouwyang Heng Sun yang mendapat kabar baik itu segera menyuruh pengemudi keretanya membalapkan kuda menuju ke Nam-tin.
Tidak terkira rasa bangga dan girang hati ayah ini ketika ia dapat berhadapan muka dengan kedua puteranya yang tercinta.
Semalam itu mereka berempat, kedua orang tua dan kedua anak itu, tiada henti-hentinya mengobrol dan Ouwyang-hengte harus menuturkan segala pengalamannya semenjak mereka diculik oleh suhu mereka.
Esok harinya, Ouwyang-wangwe mengadakan pesta dan mengundang handai-taulan dan langganan-langganan untuk merayakan kedatangan kedua putera mereka.
Suasana gembira sekali dan semua orang memberi selamat kepada hartawan yang bahagia itu.
Beberapa hari kemudian, Ouwyang Bun dan adiknya dengan terus terang memberitahukan kepada ayah ibunya tentang pesan suhu mereka agar mereka pergi ke utara dan membantu usaha susiok mereka, yakni Cin Cun Ong untuk membasmi para pemberontak yang bergerak di sepanjang tembok besar sebelah utara.
Ouwyang Heng Sun mengangguk-angguk dan berkata.
"Sungguhpun aku sama sekali tidak suka melihat kalian maju bertempur menghadapi para pengacau negara itu, namun aku lebih tidak suka lagi melihat dan mendengar tentang para pemberontak itu. Mereka itu namanya saja pemberontak yang merobohkan pemerintah yang sekarang, tapi pada hakekatnya mereka itu tidak lain hanya perampok-perampok yang mengincar harta benda orang. Aku mendengar dari orang-orang bahwa di utara, tiap kali mereka menduduki sebuah kampung, perampok-perampok itu merampas semua sawah dan membagi-bagikannya di antara kawan-kawan mereka dan orang-orang jembel. Perbuatan ini mereka tutupi dengan kedok menyumbang dan menolong orang melarat. Tapi apa yang dilakukan oleh para jembel yang menerima sawah rampasan itu? Mereka menjualnya lagi kepada orang-orang yang mempunyai uang dan menggunakan uang itu untuk foya-foya hingga sebentar saja sawah dan uang habis ludes. Setelah habis, mereka ikut pula dengan para pemberontak untuk mengharapkan pembagian baru. Hah..."
Ouwyang-wangwe menghela napas.
Memang tidak aneh pendapatnya ini, karena sebagai seorang kaya raya yang memiliki ratusan hektar sawah, tentu saja ia sangat khawatir kalau-kalau tanahnyapun dirampas oleh para pemberontak itu.
Apalagi sebarang telah timbul pemberontakan di mana-mana, dan tidak hanya di utara.
Di selatan inipun mulai ada orang-orang yang membentuk perserikatan dan perkumpulan-perkumpulan gelap yang maksudnya menentang dan memberontak terhadap pemerintah.
Mendengar kata-kata ayahnya itu, Ouwyang Bun lalu bertanya.
"Kalau begitu, tentu ayah tidak berkeberatan kalau anak berdua pergi memenuhi pesan suhu, bukan?"
Sebelum ayah mereka menjawab, nyonya Ouwyang sudah mendahului.
"Baru beberapa hari kalian datang sudah mau pergi lagi. Apalagi sekarang pergi untuk menghadapi pertempuran. Sungguh kalian tidak sayang kepadaku."
Ouwyang Bun segera mendekati ibunya.
"Bukan demikian, ibu. Ibu tahu bahwa aku dan adikku sayang kepada ibu, tapi kepergian kami berdua ini tidak saja demi kepentingan negara den rakyat tapi juga demi kepentingan ayah dan ibu sendiri."
"Bicara twako benar, ibu,"
Ouwyang Bu menyambung.
"kalau para pemberontak ini tidak segera dibasmi sampai mereka meluas dan menyerbu ke sini, bukankah hal itu akan menimbulkan celaka den malapetaka terhadap keluarga kita juga?"
Nyonya Ouwyang menutupi mukanya dengan tangan.
"Tidak tahu, tidak tahu."
Serunya. Tapi aku tidak suka kalian pergi sebelum kalian melangsungkan perjodohan dulu."
Ouwyang-hengte meloncat dengan kaget.
"Apa? Perjodohan kami?"
Ibu yang bersedih itu menurunkan tangannya dan memandang kepada mereka.
"Ya, perjodohan kalian. Ketahuilah, semenjak kecil kalian telah kami jodohkan dengan kedua puteri dari keluarga Can yang kini telah pindah ke Tung-han. Karena kalian dulu lenyap diculik oleh perampok itu, maka keluarga Can tidak pernah mengirim berita lagi."
"Ibu, jangan sebut suhu sebagai perampok,"
Kata Ouwyang Bu.
"Dia itu memang perampok, bukan?"
Tanya ibunya dan Ouwyang Bu tak dapat menyangkal pula. Memang dulu suhunya adalah perampok, hal ini tak dapat disangkal, maka ia diam saja dan menundukkan kepala.
"Sekarang kalian telah pulang dan telah dewasa. Kalau tidak salah, tahun ini kalian telah berusia sembilanbelas tahun, cukup dewasa untuk melangsungkan perkawinan. Maka, sebelum kalian langsungkan perjodohan itu, aku tidak rela membiarkan kalian pergi bertempur melawan para pemberontak dan pengacau itu."
Ouwyang Bun semenjak kecil memang lebih sayang kepada ibunya. Maka mendengar kata-kata ibunya ini, ia lalu bertanya kepada ayahnya.
"Bagaimana, ayah? Aku hanya menurut saja kepada kehendak ayah dan ibu, dan kurasa Bu-tepun demikian juga."
Ouwyang-wangwe meraba-raba jenggotnya.
"Memang menurut pendapatku juga demikian. Sekarang begini, karena Tung-han bukanlah dekat dari sini, lebih baik kau pergi ke Tung-han bersama adikmu, mencari keluarga Can Lim Co itu. Kalau sudah bertemu, sampaikan salam kami dan atas nama kami boleh kalian tanyakan tentang urusan perjodohan itu. Atau di sana kalian boleh mencari seorang perantara untuk menyampaikan pertanyaan ini. Kalau pihak sana bersedia, boleh ditetapkan hari kawin pada permulaan musim Chun pada hari keempat bulan depan."
Memang malam tadi, kedua suami isteri itu telah merencanakan semua itu, hingga kini tanpa mencari hari baik lagi Ouwyang Heng Sun telah dapat memutuskan harinya.
Terpaksa Ouwyang-hengte menurut kehendak ayah ibu mereka dan mereka berkemas untuk segera berangkat melakukan perjalanan ke Tung-han.
Pada waktu itu, memang di mana-mana banyak terjadi pemberontakan-pemberontakan dan orang-orang gagah di kalangan kang-ouw banyak yang bersimpati kepada gerakan Lie Cu Seng hingga diam-diam mereka di tempat masing-masing menghimpun para kawan-kawan sepaham, bersiap-siap untuk sewaktu-waktu menggabungkan diri bila masanya untuk memberontak telah tiba.
Juga di Tung-han tak terkecuali, bahkan di sekitar daerah itu telah pecah pertempuran-pertempuran antara para pemberontak melawan alat-alat pemerintah.
Melihat adanya bahaya dari segenap pihak, para pembesar setempat juga bersiap sedia menjaga keamanan sendiri-sendiri.
Mereka membentuk barisan-barisan pengawal yang terdiri dari orang-orang berkepandaian silat tinggi untuk menjadi penjaga keamanan dan menumpas para pemberontak yang berani mengacau.
Karena kota Tung-han bukanlah kota yang sangat besar, maka mudah juga mencari rumah keluarga Can Lim Co.
Ternyata orang she Can ini adalah seorang sastrawan yang miskin, biarpun dulu ketika masih tinggal di selatan, ia adalah putera seorang yang kaya raya.
Agaknya Can Lim Co bukan berjiwa pedagang hingga ia tak dapat mempergunakan uang warisan ayahnya untuk berdagang.
Bahkan sebaliknya, uang warisan itu lekas habis karena dimakan sambil menganggur saja, dan pula, orang she Can ini suka sekali bergaul dengan segala macam orang dan tiap lari di rumahnya selalu penuh dengan tamu-tamu yang diajaknya bercakap-cakap sambil minum arak.
Mereka selalu mempersoalkan syair-syair kuno yang penuh arti, tentang peperangan, tentang sejarah dan tentang ilmu pengetahuan lain, tergantung dari sifat dan keadaan tamu yang diajaknya bercakap-cakap itu.
Tak heranlah, apabila lambat-laun harta benda yang dulu dikumpulkan dengan susah payah oleh ayahnya menjadi ludes dan habis.
Terpaksa Can Lim Co menjual rumah dan sawah, lalu pindah ke kota Tung-han.
Ia mempunyai dua orang anak perempuan yang usianya sebaya dengan Ouwyang-hengte.
Dulu ketika ia masih tinggal di selatan, ia menjadi kenalan baik keluarga Ouwyang, maka terjadilah ikatan jodoh itu.
Kemudian, setelah Ouwyang-hengte diculik orang, dan keadaan keluarganya makin susah, ia lalu pindah ke Tung-han dan semenjak itu ia tak pernah berkabar-kabaran dengan keluarga Ouwyang.
Ketika Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu mengunjungi rumah keluarga Can dengan pertolongan seorang perantara, mereka diterima oleh Can Lim Co sendiri.
Sastrawan ini telah nampak tua dan rambutnya telah putih, tapi sikapnya masih lemah-lembut dan pakaiannya bersih.
Ketika dua anak muda itu memperkenalkan diri sebagai kedua putera dari Ouwyang Heng Sun, ia merasa terkejut dan heran sekali.
Lalu dipanggilnya isterinya yang berada di dalam dan kedua orang tua itu menghujani Ouwyang-hengte dengan bermacam-macam pertanyaan, membuat kedua anak muda itu menjadi malu dan menuturkan pengalaman mereka dengan singkat.
"Kalian telah belajar silat, itu baik sekali."
Kata Can Lim Co sambil mengangguk angguk senang.
"Memang dalam keadaan zaman seburuk ini, perlu sekali orang memiliki kepandaian bu (silat) untuk membela keadilan. Apakah gunanya sebatang pit (alat tulis) dan kertas pada masa sekacau ini?"
Orang tua ini menghela napas, kemudian dengan cara jujur seperti yang telah menjadi kebiasaannya, ia tanyakan maksud kedatangan kedua anak muda itu mengapa mereka datang membawa seorang perantara.
Kini giliran perantara itu untuk bicara, karena mendengar pertanyaan ini.
Sedangkan Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu tak berani menjawab.
Mereka hanya tunduk dengan muka merah.
Perantara itu lalu memberi tahu maksudkeluarga Ouwyang untuk menetapkan hari kawin, yakni pada permulaan musim Chun pada hari keempat bulan depan.
Setelah perantara itu selesai bicara, barulah Ouwyang-Yiengte berani mengangkat muka untuk mendengar jawaban calon mertua mereka.
Tapi sungguh mengherankan sekali karena wajah sastrawan tua tiba-tiba tampak muram dan tak senang, kemudian terdengar ia berkata.
"Pada waktu sekacau ini, siapakah yang ada waktu untuk bicara tentang perkawinan?"
Kata-kata ini seakan-akan ditujukan kepada diri sendiri, kemudian segera disambungnya dan kini ia bicara kepada kedua anak muda yang masih duduk di depannya dengan hati tak enak mendengar ucapannya tadi.
"Jiwi hiante, sungguh menyesal sekali bahwa, aku tak dapat menyetujui kehendak orang tuamu. Tolong kau sampaikan saja salamku disertai pernyataan maaf dan hormatku. Kami menolak bukannya tanpa alasan, tapi sesungguhnya pada waktu ini kedua puteri kamipun tidak berada di rumah."
Kedua anak muda itu heran dan bibir mereka bergerak hendak bertanya ke mana perginya kedua "tunangan"
Mereka itu tapi mereka tak kuasa membuka mulut karena malu. Can Lim Co maklum akan maksud kedua pemuda itu, maka ia berkata perlahan.
"Karena keadaan di sini kurang aman, mereka pergi dan untuk sementara tinggal di rumah paman mereka di utara."
Kemudian kedua anak muda itu berpamit dan Can Lim Co berkata lagi kepada mereka.
"Biarlah urusan perjodohan ini ditunda dulu sampai keadaan menjadi aman dan beres. Dan jiwi hiante yang memiliki kepandaian, tidak menggunakan kepandaian itu pada masa ini, mau tunggu kapan lagi?"
Sebetulnya maksud Cam Lim Co ialah menganjurkan kedua calon mantunya itu untuk membantu pergerakan para pemberontak, tapi karena pada waktu itu tak seorangpun berani mengatakan hal ini dengan terang-terangan yang dapat mengakibatkan mereka ditangkap dan dianggap anggauta pemberontak lalu menerima hukuman mati, maka ia hanya berkata seperti tadi hingga kedua saudara Ouwyang salah mengerti.
Mereka mengira bahwa calon mertua mereka juga benci kepada para pemberontak dan menganjurkan untuk menggunakan kepandaian mereka membasmi pemberontak-pemberontak itu.
Maka tanpa ragu-ragu lagi mereka menjawab.
"Memang telah menjadi cita-cita kami berdua untuk secepatnya berangkat ke utara menyumbangkan tenaga."
Mendengar kata-kata ini, orang tua itu tampak senang sekali.
Maka pergilah Ouwyang-hengte meninggalkan rumah keluarga Can.
Mereka lalu menyuruh orang untuk mengirimkan suratnya kepada orang tua mereka di Namtin, karena dari Tung-han mereka akan terus ke utara hingga tidak usah pulang lagi.
Ketika menerima surat kedua puteranya itu, Ouwyang Heng Sun dan isterinya hanya bisa menghela napas dan mengharap mudah-mudahan kedua anak muda itu akan pulang dengan selamat.
Karena ayah mereka memberi bekal uang yang cukup, kedua saudara itu lalu membeli dua ekor kuda agar perjalanan dapat dilanjutkan lebih cepat dan tidak tertunda-tunda lagi.
Dengan menunggang kuda mereka dapat melakukan perjalanan jauh tanpa merasa lelah.
Pada suatu hari, pagi-pagi mereka telah memasuki sebuah hutan besar.
Hutan itu liar dan penuh dengan pohon-pohon raksasa.
Ketika mereka telah memacukan kuda beberapa li jauhnya di dalam hutan itu, terdengar suara ringkik kuda dibarengi suara senjata beradu dan orang-orang berteriak.
Jelas bahwa di sebelah depan sedang terjadi pertempuran hebat.
Mereka lalu mempercepat jalan kuda untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam hutan itu.
Tak lama kemudian tampaklah oleh Ouwyang-hengte sebuah pertempuran yang dahsyat dan hebat.
Kurang lebih dua puluh orang berpakaian seragam sedang mengeroyok lima orang yang memainkan pedang dengan gerakan luar biasa.
Di sana-sini ada beberapa orang pengeroyok yang roboh mandi darah.
Melihat pakaian para pengeroyok tadi, tahulah Ouwyang-hengte bahwa mereka adalah tentara negeri, dan rata-rata memiliki kepandaian lumayan juga.
Tapi lima orang yang dikeroyok itu lebih hebat lagi.
Ketika diperhatikan, ternyata bahwa lima orang itu berpakaian sederhana.
Mereka adalah laki-laki semua yang rata-rata sudah berusia empat puluh tahun lebih.
Ouwyang Bun dan adiknya lalu melompat turun dari kuda dan Ouwyang Bun yang tidak mau berlaku ceroboh, lalu meng hampiri seorang tentara yang luka.
"Saudara, siapakah lima orang yang mengamuk itu?"
Tanyanya. Tentara yang luka itu memandang heran, lalu menjawab dengan suara lemah karena ia telah banyak mengeluarkan darah.
"Siapa lagi, mereka adalah pemberontak."
Mendengar ini, Ouwyang-hengte lalu meloncat berdiri dan mencabut senjata.
Tanpa banyak cakap lagi mereka menyerbu dan menyerang lima orang pemberontak itu.
Kedatangan Ouwyang-hengte merobah keadaan pertempuran, karena dengan ilmu pedang mereka yang lihai sebentar saja mereka dapat mendesak kelima orang pemberontak itu.
Dan para tentara negeri dengan gembira sekali bersorak-sorak dan mengurung.
Akan tetapi, ternyata lima orang itu betul-betul gagah, karena melihat keadaan mereka terdesak, kelimanya lalu mengeluarkan senjata rahasia mereka yang berbahaya.
Beberapa orang pengeroyok roboh lagi oleh senjata itu hingga kurungan menjadi kendur.
Kesempatan itu mereka gunakan untuk melompat dan kabur.
Tapi Ouwyang Bu secepat kilat mengirim serangan pada pemberontak yang terakhir larinya hingga ketika orang itu menangkis, pedangnya kena babat dan putus oleh pedang Ouwyang Bu, berikut dua buah jari tangan orang itu.
Dia menjerit kesakitan dan cepat menggunakan tangan kiri menyerang Ouwyang Bu dengan senjata rahasia berupa jarum-jarum halus.
Ouwyang Bu maklum akan bahaya senjata-senjata rahasia ini, maka ia cepat melompat mundur dan membiarkan orang itu lari menyusul kawan-kawannya.
Terdengar kuda mereka meringkik dan suara kaki kuda mereka meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Ouwyang-hengte hendak mengejar, tapi pemimpin tentara yang berjenggot pendek mencegahnya.
"Mereka mungkin masih mempunyai banyak kawan, awas jangan sampai terjebak."
Katanya. Setelah merawat para korban pertempuran itu, kepala rombongan tentara lalu menjura kepada mereka.
"Ji-wi enghiong sungguh gagah perkasa. Terima kasih atas pertolongan ji-wi yang telah mengusir (Lanjut ke
Jilid 02) Sepasang Pendekar Kembar/Ouw Yang Heng Te (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02 lima penjahat itu. Bolehkah kami mengetahui nama ji-wi yang terhormat agar kami dapat memasukkan dalam buku laporan?"
"Tak usah, tak perlu nama kami disebut-sebut dalam buku laporan. Kami adalah Ouwyang-hengte yang hendak mencari tempat markas barisan Cin-ciangkun di Pak-thian untuk membantu usahanya membasmi pemberontak."
Mendengar ini, tiba-tiba sikap pemimpin rombongan itu menjadi sangat hormat dan kagum.
"Jadi ji-wi adalah pembantu-pembantu Cin-ciangkun? Pantas demikian hebat. Maaf kami berlaku kurang hormat."
Setelah berkata demikian, dengan tubuh tegak ia memberi hormat lagi.
"Janganlah berlaku sungkan-sungkan, lebih baik tunjukkan kepada kami jalan mana yang terdekat untuk pergi ke Pak-thian,"
Kata Ouwyang Bun.
"Jika ji-wi keluar dari hutan ini dari sebelah kiri dan dari situ dengan lurus menuju ke utara melalui Sungai Luan-ho, maka dalam waktu tiga hari saja ji-wi akan tiba di Pak-thian. Harap sampaikan hormatku kepada semua kawan dalam barisan Cin-ciangkun."
Setelah mendapat keterangan lengkap, kedua anak muda itu lalu melanjutkan perjalanan mereka.
Setelah matahari telah naik tinggi, baru mereka dapat keluar dari hutan itu dan mereka lalu menurut petunjuk pemimpin rombongan tadi menuju ke utara.
Betul saja, dua hari kemudian mereka tiba di pinggir Sungai Luan-ho yang lebar.
Dari jauh tampak beberapa orang sedang berdiri di pinggir sungai dan beberapa orang lagi duduk di atas perahu yang dijalankan di pinggir.
Ketika mereka telah dekat Ouwyang-hengte melihat seorang laki-laki yang mereka kenal baik-baik berdiri di situ sedang memandang kedatangan mereka.
Juga semua orang kini menengok dan memandang mereka dengan mata mengancam.
Ternyata orang yang berdiri paling depan tidak lain ialah Lui Kok Pauw si pemberontak yang pernah bertempur dengan mereka di rumah Gak Liong Ek dulu.
Dan ketika mereka memandang dengan penuh perhatian, tampak pula lima orang yang dikeroyok di dalam hutan pada kemarin dulu, juga orang kelima yang dua jarinya dibuntungkan oleh pedang Ouwyang Bu, berada pula di situ dengan tangan dibalut.
Tahulah kedua saudara itu bahwa mereka telah dicegat oleh sekawanan pemberontak yang berkepandaian tinggi.
Tapi mereka tidak gentar.
Dengan tenang mereka meloncat turun dari kuda dan menuntun kedua kuda mereka maju menghampiri sungai.
Lui Kok Pauw menghadang dan berkata.
"Aha, benar-benar kalian anak muda hendak menghambakan diri kepada para penindas rakyat itu dan rela menjadi kaki tangan kaisar?"
Ouwyang Bu tidak sesabar kakaknya. Mendengar makian ini ia mendelikkan mata dan membentak.
"Kami tak mempunyai urusan dengan kamu orang rendah, mengapa mengganggu? Apakah belum cukup mendapat hajaran di pesta Gak-lo-enghiong? Atau minta ditambah lagi?"
Tiba-tiba sikap Lui Kok Pauw yang tadinya seperti bermain-main itu berubah. Wajahnya memerah dan matanya mengeluarkan cahaya.
"Dua saudara Ouwyang. Kami telah menyelidiki halmu dan kami tahu bahwa kalian adalah anak-anak muda yang masih bersih. Kebetulan saja kalian menjadi murid Si Iblis Tua Tangan Delapan dan menjadi murid keponakan dari komplot besar she Cin. Tapi jiwa kalian masih belum ternoda, hanya karena kurang pengalaman, maka kalian tak tahu bahwa kalian telah mengambil jalan sesat. Sadarlah sebelum terlambat."
Ouwyang Bun tertawa terbahak-bahak.
"Ha-ha, orang she Lui. Sungguh lucu lagakmu. Sebenarnya kau lah orangnya yang harus sadar. Kau dan komplot-komplotmu tidak saja mengacau negara, tapi juga merampok dan mencelakakan rakyat jelata. Apakah kau kira kami tidak tahu?"
"Pandangan ayahmu. Kami tahu ini. Kau berdua anak-anak orang kaya yang selalu mementingkan diri sendiri."
"Sudahlah, jangan banyak cerewet."
Ouwyang Bu membentak sambil mencabut pedangnya.
"Kami hendak menyeberang sungai ini dan jangan menghalang-halangi perjalanan kami. Kalau tidak, terpaksa pedang ini yang bicara.
"Kalau begitu kalian akan terpaksa dikubur di pinggir sungai ini, dan sungguh sayang usia yang masih begini muda."
Lui Kok Pauw mengejek dan mencabut pedangnya.
Beberapa orang yang berada di situ, termasuk kelima orang yang kemarin dulu dikeroyok di tengah hutan, pada mencabut senjata masing-masing.
Melihat hal ini, Ouwyang-hengte juga mencabut pedang masing-masing dan siap sedia menanti serangan.
Setelah berseru.
"Serbu."
Lui Kok Pauw lalu melancarkan serangan hebat yang dapat ditangkis dengan mudah oleh Ouwyang Bu.
Yang lain serempak menyerbu pula dan sebentar saja kakak beradik itu telah dikeroyok oleh tujuh orang yang berkepandaian tinggi.
Mereka berdua mengeluarkan seluruh yang mereka warisi dari Pat-jiu Lo-mo hingga pedang mereka berkeredepan dan berubah menjadi segulung sinar yang mengurung tubuh mereka, hingga para pengeroyok itu sukar untuk menerobos gulungan sinar ini dan melukai Ouwyang-hengte.
Akan tetapi, ketujuh orang pengeroyok itu bukanlah orang sembarangan dan mereka sengaja diajak oleh Lui Kok Pauw untuk mencegat di situ.
Kelimanya memiliki kepandaian tinggi dan pengalaman pertempuran puluhan tahun, maka biarpun mereka tak dapat segera merobohkan Ouwyang-hengte, namun sukar juga bagi Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu untuk merobohkan seorang saja di antara ketujuh pengeroyok itu.
Lui Kok Pauw dan kawan-kawannya merasa kagum sekali melihat permainan ilmu pedang kedua pemuda itu dan di dalam hati mereka menyayangkan mengapa pemuda-pemuda gagah perkasa ini mau diperalat oleh kaki tangan kaisar lalim.
Tapi karena mereka pikir kalau sampai ke dua pemuda itu dapat menggabungkan diri dengan para tentara negeri, maka tugas mereka akan makin berat dan musuh-musuh mereka makin tangguh saja, maka maksud mereka menggabungkan diri dengan Cin Cun Ong perlu dihalang-halangi dan bahkan kalau perlu dibinasakan di situ juga.
Karena pikiran ini, maka kurungan me reka makin rapat dan desakan mereka makin hebat.
Walaupun Ouwyang-hengte memiliki kepandaian tinggi, namun mereka kurang pengalaman bertempur, maka menghadapi tujuh lawan yang kesemuanya merupakan lawan-lawan kuat ini, mereka menjadi sibuk juga.
Betapapun juga, kalau terus saja mereka bertempur tanpa memperoleh hasil, tentu mereka akan kalah tenaga.
Para pengeroyok itu tak menggunakan tenaga sebanyak mereka yang harus menghadapi tujuh buah senjata.
Setelah bertempur duaratus jurus lebih, maka kurungan mereka makin rapat saja dan tak lama lagi kedua anak muda itu tentu takkan kuat bertahan lagi.
Tapi dengan kertak gigi, kakak beradik itu berlaku nekat dan mereka mempertahankan diri sambil kadang-kadang membalas dengan serangan-serangan maut.
Hal ini membuat ketujuh orang itu merasa terkejut dan kagum, karena sungguh tak mereka sangka kedua anak muda itu berhati sekeras itu.
Tadinya memang ada harapan pada mereka kalau-kalau pemuda kembar itu akan menyerah dan takluk.
Kini melihat bahwa Ouwyang-hengte benar-benar tak sudi menyerah, mereka juga menjadi gemas.
Atas isyarat Lui Kok Pauw, mereka kini bergerak lebih cepat dan serangan dilancarkan lebih hebat untuk membinasakan kedua anak muda itu.
Benar saja, serangan-serangan ini akhirnya membuat Ouwyang-hengte menjadi kewalahan dan dengan napas terengah-engah mereka kini hanya dapat menangkis sambil mundur saja.
Pada saat yang sangat berbahaya bagi jiwa kedua saudara itu, tiba-tiba terdengar bentakan keras dan bayangan seorang berbaju serba biru berkelebat dan menyerbu ke dalam kalangan pertempuran.
Orang yang baru datang ini bersenjata siang-kiam (sepasang pedang) yang dimainkan dengan hebat sekali hingga kepungan yang mengeroyok Ouwyang-hengte menjadi buyar.
Ouwyang-hengte cepat menengok dan alangkah heran mereka berdua ketika melihat bahwa yang membantu mereka adalah seorang gadis berbaju biru yang wajahnya cantik sekali seperti bidadari.
Kedua pedang di tangan kanan kiri itu bergerak-gerak bagaikan dua ekor naga bermain-main dan sekelebatan saja tahulah kedua saudara itu bahwa nona itu memiliki kiam-hoat (ilmu pedang) yang sama dengan ilmu pedang mereka.
Maka timbullah semangat baru dalam dada Ouwyang-hengte.
Timbul pula tenaga mereka hingga sebentar saja mereka mengamuk hebat, seakan-akan bersaing dengan nona penolong itu.
Keadaan para pengepung menjadi kacau, dan cepat bagaikan kilat pedang nona itu telah berhasil melukai dua orang pengeroyok.
Melihat kehebatan ini, pengeroyok-pengeroyok yang lain lalu menolong kawan yang luka dan dengan cepat mereka melarikan diri di atas kuda dan kabur dari situ.
Karena sudah lelah sekali, Ouwyang-hengte tidak mau mengejar, demikianpun nona penolong itu tidak mengejar, hanya berdiri bertolak pinggang sambil memandang kedua saudara itu.
Dan pada saat ia memandang wajah kedua saudara Ouwyang, barulah ia tahu akan persamaan wajah itu hingga sepasang matanya yang indah itu terbelalak dan ia memandang ke kanan kiri dengan bingung, karena dua orang pemuda di kanan kiri yang berdiri berjajar itu sungguh-sungguh sama.
Tapi ia lalu melihat pedang di tangan mereka dan baru ia tahu bahwa ia bukan sedang berhadapan dengan ilmu sulap atau sihir.
Ternyata pedang di tangan mereka itu berbeda hingga tentu saja di depannya ada dua orang, bukan satu orang yang menyihirnya.
Ouwyang Bun segera menjura dan berkata.
"Kami berdua sungguh merasa berhutang budi kepada lihiap. Kalau tidak ada lihiap yang menolong, mungkin sekarang kami telah menjadi mayat."
Nona itu menggeleng-gelengkan kepala dan kelihatan ngeri mendengar orang menyebut-nyebut mayat.
"Ji-wi memiliki kepandaian tinggi, tak mungkin demikian mudah dirobohkan mereka. Aku kebetulan lewat saja dan melihat ji-wi dikeroyok oleh perampok-perampok dan pemberontak-pemberontak itu. Melihat bahwa kita dari satu cabang persilatan, maka tak dapat tidak aku harus membantu. Ji-wi dari manakah dan murid siapa?"
Ouwyang Bu yang mewakili kakaknya menjawab.
"Kami juga tadi merasa heran sekali karena melihat lihiap mainkan kiam-hoat dari cabang kami dan belum juga bertanya, lihiap telah mendahului kami. Kami adalah Ouwyang-hengte, dia ini kakakku bernama Ouwyang Bun dan aku sendiri bernama Ouwyang Bu. Suhu kami ialah Pat-jiu Lo-mo..."
Tiba-tiba wajah gadis itu berubah terang berseri.
"Jadi kalian ini murid-murid supek? Ah, maaf, ji-wi suheng, aku tidak tahu hingga berlaku kurang hormat."
Gadis itu menjura untuk memberi hormat.
Ouwyang Bun yang tadinya merasa heran mengapa adiknya tiba-tiba menjadi demikian ramah dan pandai bicara, kini lebih heran lagi mendengar nona ini menyebut suheng kepada mereka.
Tapi otaknya yang cerdik segera dapat menduga.
"Lihiap ini bukankah puteri dari Cin-susiok?"
Gadis itu mengangguk sambil memperlihatkan senyumnya yang manis sekali hingga kedua saudara itu berkata hampir berbareng.
"Ah, sumoi, sungguh kami girang sekali dapat bertemu dengan sumoi di sini."
Mereka terus saja menyebut sumoi sebagai layaknya seorang menyebut adik perempuan seperguruan, karena selain mereka lebih tua usianya, juga berada di tingkat lebih tua, karena ayah gadis itu adalah adik seperguruan suhu mereka.
"Kami memang sengaja hendak menghadap susiok dan membantu pekerjaannya, dan kami membawa surat suhu untuk su-siok."
Kata Ouwyang Bun dengan girang. Nona itu tertawa gembira dan wajahnya makin manis.
"Sungguh-sungguh pekerjaanku hari ini boleh dibilang berhasil baik dan kebetulan sekali, hingga tanpa kusengaja dapat membantu ji-wi suheng. Perkenalkanlah, Ouwyang-suheng berdua, aku bernama Cin Lie Eng. Dan mari kuantar ji-wi suheng menghadap ayah. Baiknya aku datang membawa perahu besar yang cukup dipakai menyeberang kita bertiga."
"Habis, kuda kami bagaimana?"
Tanya Ouwyang Bu sambil memandang kuda mereka yang tadi diikatkan pada sebatang pohon tak jauh dari situ. Lie Eng tertawa lagi hingga dapat diduga bahwa gadis ini memang seorang periang.
"Jangan kau bingungkan urusan kuda, saudara... eh, kau ini Bun-suheng atau Bu-suheng? Nah, aku sudah bingung dan tak dapat mengenal yang mana saudara Bun dan mana saudara Bu."
Tapi lalu ia pandang sarung pedang yang tergantung di pinggang kedua "orang itu, maka teringatlah ia bahwa yang berpedang panjang adalah Ouwyang Bun dan yang berpedang pendek Ouwyang Bu.
Sementara itu, kedua kakak beradik itu hanya tersenyum dan mendiamkan saja gadis itu menerka-nerka.
"Ha, aku tahu, kau tentu Bu-suheng."
Katanya girang.
"Betulkah dugaanku?"
Tanyanya kemudian dengan ragu-ragu. Sungguh sikap gadis ini lucu menarik hingga kedua saudara itu ikut tertawa gembira. Ouwyang Bu mengangguk membenarkan.
"Bu-suheng, kau jangan bingung perkara kuda itu, kalau kita sudah menyeberang, maka akan kuperintahkan orang mengambilnya. Pula, kedua kuda itu kurang baik, lihatlah kalau kita sudah tiba di markas ayah, kau boleh pilih kuda yang jempolan."
Demikianlah, mereka bertiga lalu menaiki perahu Lie Eng dan menyeberangi Sungai Luan-ho yang lebar dengan airnya yang mengalir tenang.
Lie Eng ternyata pandai sekali bergaul dan bercakap-cakap tiada hentinya hingga kedua saudara itu makin tertarik dan ikut bergembira.
Setelah menyeberang, mereka lalu berjalan ke utara dan sebentar saja mereka bertemu dengan banyak tentara negeri yang bersikap hormat sekali bila bertemu dengan Cin Lie Eng, puteri panglima Cin yang mereka ketahui memiliki kepandaian tinggi dan gagah perkasa itu.
Di samping menghormat, mereka juga memandang dengan kagum sekali.
Memang, siapakah yang takkan kagum memandang dara yang cantik jelita dan bersikap gagah itu?
Lie Eng memerintahkan orang untuk mengambil dua ekor kuda di seberang, lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke markas.
Di sepanjang jalan menuju ke markas, kedua saudara Ouwyang itu melihat banyak sekali tenda-tenda tentara negeri di pasang di mana-mana, dan markas besar sendiri berada di sebelah dalam tembok besar.
Tampak banyak tentara negeri menjaga di atas tembok besar itu dengan senjata tombak dan anak panah.
Agaknya para pemberontak itu berada di luar tembok hingga pertahanan dikerahkan di tempat itu.
Setelah melalui banyak sekali tenda-tenda tentara, mereka menuju ke sebuah tenda yang berwarna coklat dan berada ditengah-tengah, juga paling besar dan tinggi.
Di puncak tenda besar itu berkibar bendera pangkat dari Cin-ciangkun dan huruf "CIN"
Tampak megah dan gagah di tengah-tengah bendera itu.
Sebetulnya, tidak sembarang orang dapat keluar masuk begitu saja di daerah itu, apalagi sampai di depan markas besar dan memasuki tempat kediaman Cin-ciangkun.
Akan tetapi, karena Ouwyang-hengte datang bersama Lie Eng, para penjaga hanya memandang saja kepada mereka dengan menduga-duga, dan mereka berdua sama sekali tak mendapat gangguan.
Tepat di depan pintu tenda ayahnya, mereka bertiga bertemu dengan laki-laki gagah perkasa dengan pakaian perang yang bersisik-sisik berwarna hijau.
Laki-laki Itu berusia paling banyak tiga puluh tahun, wajahnya gagah, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar.
Pedangnya yang panjang tergantung di pinggang kiri menambah kebesarannya.
Ketika melihat Lie Eng, sikapnya yang tegap berubah seketika dan wajahnya yang keras itu membayangkan kelembutan.
"Nona Cin, kau baik saja, bukan?"
Tegurnya dengan suara halus.
"Terima kasih, Gui-ciangkun,"
Jawab Lie Eng, dan gadis itu lalu memperkenalkan Ouwyang-hengte yang tadinya tak dipandang sebelah mata oleh panglima muda yang berpakaian gagah itu.
"Gui-ciangkun, kedua saudara kembar ini adalah kedua suhengku yang bernama Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu, mereka ini murid-murid supekku. Ia datang hendak membantu ayah. Mereka lucu, bukan? Lihat dan kau takkan dapat membedakan mana kiri dan mana kanan."
Gadis itu tertawa lucu, lalu berkata kepada Ouwyang-hengte.
"Ji-wi suheng, ini adalah Gui-ciangkun, pembantu ayah yang paling berjasa. Dan untuk daerah utara sini, selain ayah, tidak ada orang lain yang lebih ditakuti lawan, disegani kawan seperti Gui-ciangkun."
Ouwyang-hengte lalu menjura dan mengangkat tangan tanda memberi hormat yang dibalas dengan tak acuh oleh Gui-ciangkun.
"Cin-siocia, ayahmu di dalam tadi mencari-carimu."
Hanya demikian ia berkata kepada nona itu lalu pergi tanpa melirik sedikitpun kepada kedua saudara yang baru datang itu.
Ouwyang-hengte merasa tak enak dan tak senang melihat sikap angkuh dari panglima muda itu, tapi sebaliknya Lie Eng tersenyum geli dan mengajak mereka memasuki tenda.
Cin Cun Ong adalah seorang yang bertubuh tinggi kurus dan wajahnya telah mengerat, tapi memiliki sepasang mata yang tajam bagaikan mata burung rajawali, kumisnya panjang dan bercampur dengan jenggotnya.
Pakaian perangnya berwarna biru.
Ketika kedua saudara Ouwyang itu masuk, panglima tua yang terkenal namanya itu sedang duduk menghadapi meja sambil menggunakan pit untuk corat-coret di atas kertas, entah sedang menuliskan surat perintah apa.
Ia tidak memakai topi dan topi itu telah ditanggalkannya dari kepala dan kini terletak di atas meja sebelah kirinya.
"Ayah."
Lie Eng memanggil dengan suara manja, lalu gadis itu meloncat di dekat ayahnya dan mulai membereskan rambut ayahnya yang terurai ke belakang.
"Kau dari mana saja?"
Ayah itu menegur dengan mulut tersenyum tanpa menengok, karena seluruh perhatiannya tertuju pada kertas yang ditulisnya itu.
"Ayah, ada tamu menghadap engkau,"
Kata Lie Eng lagi.
Panglima itu menunda menulis dan memandang kepada Ouwyang-hengte yang segera menjura dalam-dalam untuk memberi hormat.
Untuk sejenak mata panglima tua itu bercahaya tajam dan memandangi kedua anak muda itu dengan pandangan menyelidiki, tapi segera sinar matanya berubah heran dan tercengang melihat persamaan kedua anak muda itu.
"Mereka ini siapa, Lie Eng?"
Tanyanya kepada anak tunggalnya yang mulai menjalin rambutnya menjadi kuncir yang besar.
"Ha, ayah mulai bingung bukan?"
Lie Eng menggoda.
"Dapatkah ayah membedakan satu dari yang lain? Ayah, mereka adalah murid-murid dari twa-supek."
Kini Cin-ciangkun memandang penuh perhatian.
"Hm, betulkah kalian ini murid Pat-jiu Lo-mo?"
Sambil tetap menjura, Ouwyang Bun menjawab.
"Betul, susiok. Teecu berdua adalah murid orang tua itu, dan kedatangan teecu berdua adalah atas pesan dan perintahnya. Teecu membawa surat suhu untuk disampaikan kepada susiok yang terhormat,"
Sambil berkata demikian, Ouwyang Bun mengeluarkan surat suhunya dan memberikannya kepada panglima itu.
Cin Cun Ong menerima surat dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk mengambil topinya dan dipakainya.
Sementara itu, Lie Eng yang telah selesai menguncir rambut ayahnya, lalu berdiri di pinggir dan memandang kepada kedua saudara itu dengan mata berseri.
Sehabis membaca surat itu, Cin-ciangkun bertanya.
"Jadi kalian hendak membantuku? Tahukah kalian siapa lawan-lawan kita dalam pertempuran ini?"
Ouwyang Bun menjawab.
"Maaf, susiok. Teecu berdua memang belum mempunyai banyak pengalaman, tapi kalau teecu tidak salah, musuh-musuh kita adalah pemberontak-pemberontak dan perampok-perampok yang mengacau rakyat jelata."
Tiba-tiba panglima tua itu tertawa geli.
"Ha-ha-ha. Tahumu hanya pemberontak dan perampok. Ketahuilah, hai anak-anak muda, musuh-musuh kita adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang ternama, orang-orang gagah yang biasa hidup sebagai pendekar-pendekar, ketua-ketua dan pemimpin-pemimpin cabang persilatan, bahkan banyak pula pendeta-pendeta dan pendekar-pendekar wanita. Mereka banyak sekali yang memiliki kepandaian tinggi dan hebat sekali."
"Tapi teecu tidak percaya, susiok."
Tiba-tiba Ouwyang Bu yang semenjak tadi diam saja kini membuka mulut, membuat panglima tua itu keheranan karena biarpun muka dan potongan tubuh serupa dan sebentuk, namun suara mereka berbeda.
Ia memandang Ouwyang Bu dengan mata tertarik ketika ia berkata dengan suara keras.
"Apa alasanmu maka kau tidak percaya omonganku, anak muda?"
"Kalau mereka itu benar-benar orang gagah, mengapa mereka mengacau negara dan merampok rakyat? Tak mungkin, susiok, tak mungkin orang-orang gagah sudi menjadi pemberontak, pengacau, dan perampok."
"Ha-ha-ha. Anak muda, kau hanya tahu kulitnya tapi tak tahu isinya. Bagaimana pendapatmu?"
Panglima itu tiba-tiba bertanya kepada Ouwyang Bun. Pemuda ini dengan tenang menjawab.
"Susiok, kalau memang para pemberontak itu terdiri dari orang-orang gagah perkasa dan pendekar-pendekar budiman yang memang bermaksud mulia, tidak mungkin suhu menyuruh teecu berdua datang ke sini dan membantu susiok. Pula, susiok terkenal sebagai seorang tokoh yang ternama dan gagah perkasa, maka kalau memang mereka itu benar-benar orang gagah, tak mungkin kiranya susiok memusuhi dan menghancurkan mereka."
"Ha, kau cerdik. Tapi kau pun tidak mengetahui isi-isinya. Segala hal di dunia ini memang tergantung dari pandangan dan pendapat orang. Aku semenjak muda telah menjadi tentara negeri, maka sudah menjadi tugas kewajibanku untuk membela negara tanpa melihat dan menyelidiki sebab-sebab pertempuran yang sewaktu-waktu timbul. Pokoknya, menjadi tentara berarti membela negara, tak perduli siapa-siapa saja yang berani mengganggu negaraku, pasti akan berhadapan dengan aku dan akan kulawan mati-matian. Tapi terus terang saja kukatakan kepada kalian bahwa seringkali aku harus menghadapi orang-orang gagah yang dulu pernah menjadi kawan-kawan baikku. Dan tahukah kau bahwa pernah aku mencucurkan air mata menangisi mayat seorang tokoh persilatan yang mati di ujung pedangku sendiri?"
Panglima tua itu menghela napas berat dan keadaan menjadi sunyi, karena kedua saudara Ouwyang itu sama sekali tidak mengerti akan maksud kata-kata Cin-ciangkun.
Lie Eng sendiri selalu dilarang oleh ayahnya untuk ikut-ikut dalam pertempuran-pertempuran untuk membantunya, maka gadis itu tidak menjadi heran mendengar ucapan ayahnya yang sampai saat itu belum dapat diselami arti dan maksudnya.
Namun, Lie Eng adalah anak tunggal yang mencintai ayahnya karena sudah tak beribu lagi, maka biarpun dilarang tak jarang gadis itu membantu ayahnya dalam pertempuran-pertempuran karena iapun memiliki kepandaian silat yang cukup hebat.
Setelah hening sejenak, tiba-tiba Cin-ciangkun berkata lagi.
"Bagaimana, apakah kalian tetap dengan maksud kalian hendak membantuku melawan orang-orang di luar tembok besar itu?"
"Teecu berdua tetap dengan pendirian semula, susiok. Apalagi teecu berdua sedang menjalankan perintah suhu, dan pendapat teecu berdua, tindakan ini memang benar dan patut dilakukan oleh orang-orang gagah. Teecu berdua sediakan jiwa raga untuk tugas yang mulia, yakni membela negara dan membebaskan rakyat dari gangguan segala penjahat."
Berkata Ouwyang Bun bersemangat.
"Terserah kepadamu, tapi satu syarat yang harus kau taati, yakni kalian tidak boleh sekali-kali memikirkan atau membicarakan tentang politik mereka maupun politik negara kita. Kau berjuang di sini sebagai pembantuku, yang berarti bahwa kau juga menjadi tentara dan tugasmu semata-mata hanya tunduk perintah atasan, mengerti?"
Ouwyang-hengte memberi hormat dan menjawab bahwa mereka telah mengerti akan maksud susiok mereka itu.
"Ada lagi... malam nanti adalah malam berlatih dan ujian kepandaian para panglima. Kalian bersiaplah karena sebagai orang baru, kalian harus diuji. Apalagi sebagai murid-murid keponakan dariku, kalian harus menjaga nama suhumu dan namaku, mengerti? Nah, kalian boleh mundur. Eh, Lie Eng, beritahukan kepada pengawal dalam untuk memberi tenda dan atur semua keperluan kedua suhengmu itu."
Lie Eng menjawab.
"Baik, ayah."
Lalu ia memberi hormat secara militer kepada ayahnya dengan sikap yang lucu dan manja hingga ayahnya tertawa senang.
Ketiga anak muda itu lalu keluar dari tenda panglima Cin dan Lie Eng lalu sibuk mengatur segala keperluan Ouwyang-hengte.
Ia gembira sekali dan melakukan segalanya dengan tangan sendiri, hingga Ouwyang-heng-te merasa tidak enak dan malu.
"Ji-wi suheng, kalian harus siap dan berhati-hatilah karena malam nanti kalian akan diuji dan menghadapi lawan-lawan berat. Terutama kalau si raksasa itu muncul untuk mengujimu, kalian harus waspada. Ia ahli gwakang dan kepandaiannya walaupun tidak sangat tinggi, namun tenaganya melebihi tenaga gajah."
"Raksasa yang mana, sumoi?"
Tanya Ouwyang Bun heran. Sambil tersenyum Lie Eng berkata.
"Raksasa yang tadi kita jumpai di depan tenda ayah."
"O, kau maksud Gui-ciangkun tadi?"
Kata Ouwyang Bu.
"Benar-benarkah tenaganya melebihi tenaga gajah?"
"Entahlah,"
Gadis itu menjawab sambil tertawa lucu.
"Aku sendiripun belum pernah melihat gajah, apalagi mengukur tenaganya."
Ketiga anak muda itu tertawa-tawa dan mengobrol senang.
Malam harinya, boleh dibilang semua anggauta tentara yang tidak sedang tugas berjaga, datang membanjiri lian-bu-thia (ruang main silat) di mana khusus untuk keperluan itu telah dibangun panggung semacam panggung lui-tai (tempat adu silat).
Tempat ini sedikitnya setengah bulan sekali tentu digunakan oleh Cin-ciangkun untuk menguji para panglima muda yang baru, juga para kepala-kepala regu yang baru untuk menetapkan tingkat masing-masing.
Harus diakui bahwa jika orang telah menceburkan diri dalam dunia ketentaraan, maka hati menjadi berani, tabah dan keras.
Oleh karena itu, tidak jarang dalam hal main-main dan menguji kepandaian ini sampai terjadi pertandingan seru yang mengakibatkan luka berat.
Tapi dalam hal persilatan, luka ringan atau berat adalah soal biasa dan tak patut diributkan.
Malam hari itu, tempat itu makin ramai dan lebih penuh dari biasanya karena para anggauta tentara mendengar kabar bahwa selain ada lima orang panglima muda yang baru dilantik, juga di situ datang dua orang murid keponakan dari Cin-ciangkun sendiri.
Mereka dapat menduga bahwa malam ini tentu akan terjadi pertandingan-pertandingan hebat dan ramai, maka berduyun-duyunlah mereka menuju ke lian-bu-thia itu, biarpun di antara mereka ada yang siang tadi telah bertugas menjaga sampai sehari penuh dan tubuh mereka lelah sekali.
Di atas sebuah kursi yang tinggi di dekat panggung duduklah Cin-ciangkun dalam pakaian kebesaran.
Baju perangnya bersisik biru dan mengkilap, sedangkan pedang gagang emasnya dipakai hingga menambahkan kegagahannya.
Di sebelah kirinya duduk Cin Lie Eng yang memakai pakaian ringkas warna biru muda hingga tampak terang di samping baju perang ayahnya yang berwarna biru tua.
Seperti ayahnya, gadis itupun memakai pedang di punggung.
Rambutnya diikal ke atas dan diikat dengan benang perak yang berkilauan dan ditusuk dengan hiasan rambut dari perak pula.
Gadis itu nampak gagah dan cantik bagaikan bidadari.
Tak ada seorang pun yang berada di ruang itu yang tidak menujukan matanya memandang gadis itu dengan sinar kagum.
Di atas kursi-kursi yang agak rendah, di sebelah kanan dan kiri, sejajar dengan panglima tua itu, duduk panglima-panglima muda yang jumlahnya tujuhbelas orang.
Pakaian perang mereka bersisik dan berwarna hijau semua dan pedang mereka tergantung di pinggang kiri.
Mereka ini biarpun disebut panglima muda, tapi di antara mereka banyak yang sudah berusia empat puluh lebih dan Gui-ciangkun yang duduk paling dekat dengan Cin-ciangkun, merupakan panglima muda yang tergagah, apalagi tubuhnya yang tinggi besar memang tepat sekali dipunyai oleh seorang panglima perang.
Seringkali panglima muda raksasa ini mengerling ke arah Lie Eng hingga para anggauta tentara banyak yang tersenyum-senyum dan saling berbisik.
Bukan menjadi rahasia lagi bahwa panglima muda she Gui itu punya "banyak harapan"
Untuk memetik bunga yang sedang mekar indah di taman panglima Cin itu.
Ouwyang-hengte karena belum disahkan sebagai pembantu atau panglima, mendapat tempat di bagian tamu, satu tempat khusus bagi para pendatang baru, hingga kedua saudara itu duduk bersama-sama dengan lima panglima baru yang hendak di uji dan beberapa orang pembesar Lain yang sengaja diundang dan datang menyaksikan ujian ini.
Kebetulan sekali tempat duduk mereka berhadapan dengan tempat duduk Lie Eng, hingga mereka dapat saling memandang, bahkan ketika Lie Eng memandang ke arah mereka ia mengangguk dan tersenyum lucu.
Setelah Cin-ciangkun memberi sambutan yang isinya berupa nasihat-nasihat agar semua anggauta tentara, baik yang bertingkat rendah maupun yang bertingkat tinggi, semua tunduk akan peraturan dan taat akan perintah serta disiplin maka tahulah Ouwyang-hengte mengapa paman guru itu berhasil menggembleng semua anggauta tentara di bawah pimpinannya menjadi kesatuan yang kuat dan ternama.
Di waktu menyambut, orang tua itu tampak bersemangat dan semua nasihatnya memang tepat dan baik sekali bagi setiap anggautanya, jauh bedanya dengan kesatuan-kesatuan lain yang kotor sekali keadaannya, karena para panglima dan pemimpinnya kebanyakan hanya tahu menyenangkan diri sendiri saja dan menjalankan korupsi besar-besaran.
Kalau kepalanya merayap ke selatan, mana ekornya bisa merayap ke utara?
Demikian bunyi peribahasa sindiran kuno yang maksudnya, kalau para pemimpinnya nyeleweng, mana bisa anak buahnya berlaku benar?
Akibatnya, kesatuan-kesatuan itu menjadi lemah dan menjadi tempat pemakan gaji buta saja hingga sewaktu-waktu ada bahaya mengancam negara, tenaga mereka tak banyak dapat diharapkan.
Kemudian, setelah sambutan selesai, ujian dimulai.
Kelima panglima muda itu maju seorang demi seorang untuk memperlihatkan kemahiran mereka bersilat tangan kosong dan bersilat pedang.
Dalam pandangan Ouwyang-hengte, kepandaian mereka itu biasa saja, hanya lebih tinggi sedikit daripada kepandaian guru silat biasa.
Tapi mereka mendapat sambutan hangat dan tempik sorak ramai dari para anggauta tentara yang menganggap permainan mereka cukup bagus.
Kemudian atas isyarat Gui-ciangkun yang menjadi pemimpin ujian itu, dari deretan panglima muda keluarlah seorang panglima yang bertubuh pendek.
Ia adalah seorang yang dipilih untuk menguji kepandaian perwira pertama.
Menurut peraturan, perwira yang diuji, kalau dapat memenangkan panglima muda, mendapat pangkat, perwira kelas satu, tapi yang kalah hanya menerima tanda pangkat berupa pakaian seragam perwira kelas dua saja.
Setelah memberi hormat kepada Cin-ciangkun yang menganggukkan kepala, perwira pendek itu meloncat ke atas panggung dengan gerakan Burung Walet Menyambar Air.
Gui-ciangkun lalu memanggil calon perwira pertama yang diuji, dan majulah seorang dari pada kelima calon tadi.
Mereka lalu bertanding tangan kosong.
Biarpun tubuhnya pendek, ternyata perwira penguji itu pandai sekali bersilat tangan kosong dari cabang Siauw-lim.
Juga ia memiliki tenaga yang cukup hebat hingga setelah bertanding selama lebih dari empat puluh jurus, calon perwira itu terdesak hebat dan akhirnya ia tertendang roboh keluar panggung.
Tempik sorak hebat-menjadi hadiah perwira penguji ini yang lalu menjura kepada Cin-ciangkun dan mengundurkan diri, memakai kembali pakaian perang yang tadi ditanggalkan, dan dengan langkah bangga kembali ke tempat duduk semula.
Demikianlah berturut-turut kelima calon perwira itu diuji oleh perwira-perwira muda yang ditunjuk oleh Gui-ciangkun.
Hasilnya, tiga di antara mereka kalah dan menjadi perwira kelas dua sedangkan yang dua orang menang dan diangkat menjadi perwira kelas satu.
Setelah itu, tampak Cin Lie Eng berbisik dekat telinga ayahnya dan panglima tua itu mengangguk-angguk lalu berkata kepada Gui-ciangkun.
"Sekarang biar kita. uji dua anak muda itu, mereka juga merupakan pembantu-pembantu yang cakap. Pilihlah perwira yang agak tinggi kepandaiannya karena mereka berdua tak dapat disamakan dengan orang-orang yang telah diuji tadi."
Gui-ciangkun yang semenjak siang tadi tidak suka melihat kedua anak muda yang bergaul erat dengan Lie Eng, kini makin cemburu dan iri hati, akan tetapi ia tidak berani membantah perintah atasannya, maka berdirilah ia dan dengan suara keras berkata.
"Kini kami hendak menyaksikan kepandaian dua tamu muda yang bernama Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu, yang sengaja datang ke sini untuk menawarkan tenaga bantuannya. Kami harap kedua orang itu suka maju dan memperlihatkan kepandaiannya, kalau dianggap cukup tinggi maka akan diuji pula."
Hati kedua pemuda itu panas sekali mendengar perkenalan dan perintah yang memandang rendah sekali ini, sedangkan Cin-ciangkun juga merasa heran mengapa seolah-olah pembantunya ini mempunyai iri hati terhadap kedua pemuda itu.
"Ouwyang Bu diminta maju memperlihatkan kepandaian."
Gui-ciangkun berseru lagi dengan suara memerintah. Ouwyang Bu dengan bersungut-sungut tidak mau berdiri dari tempat duduknya.
"Bu-te, kau majulah."
Kata Ouwyang Bun, tapi adiknya dengan cemberut geleng-geleng kepala.
"Biarkan anjing itu menggonggong lebih lama dulu."
Jawabnya.
"Bu-te, jangan begitu. Ingatlah bahwa dia itu hanya memenuhi perintah susiok saja. Kau majulah."
Terpaksa Ouwyang Bu berdiri dari tempat duduknya dan sekali loncat ia telah berada di atas panggung.
Ia menjura kepada susioknya, lalu bersilat.
Tapi cara bersilatnya aneh sekali.
Ia pasang kuda-kuda dan tanpa mengindahkan kedua kakinya, ia memukul ke depan ke belakang, ke kanan kiri dan hanya tubuh atasnya saja yang bergerak-gerak, sedangkan kedua kaki tetap di atas lantai tak bergerak.
Setelah memukul sana menghantam sini beberapa jurus, ia lalu menghentikan gerakannya dan menjura lagi kepada susioknya.
Semua orang mencela dan heran sekali akan ketololan pemuda itu.
Hanya Cin-ciangkun seorang yang tahu bahwa pemuda itu telah mengeluarkan dasar ilmu silat Cian-jiu Kwan-im-hian-ko (Kwan Im Tangan Seribu Mempersembahkan Buah) yang menjadi sumber ilmu silat Kiauw-ta-sin-na yakni gabungan ilmu silat Siauw-lim dan Bu-tong.
Biarpun kedua kaki tidak mengubah bhesi (kuda-kuda), namun sepasang tangan dapat bergerak dalam bermacam-macam tipu dan dapat menghadapi musuh dari manapun juga, bahkan dapat menghadapi lawan yang berada di belakang.
Maka ia tidak mencela, hanya diam-diam ia sesalkan murid keponakan itu mengapa tidak mau memperlihatkan keindahan ilmu silat cabang mereka agar semua orang menjadi kagum.
Melihat cara bersilat Ouwyang Bu, panglima she Gui itu memandang remeh sekali, maka ia segera berdiri dan dengan suara keras memerintah lagi.
"Kini Ouwyang Bun harap maju menunjukkan kemahirannya."
"Ayah, kuharap suheng ini tidak terlalu seji (sungkan) seperti adiknya,"
Kata Lie Eng kepada ayahnya.
Gadis ini biarpun berkata perlahan, tapi sengaja ia kerahkan tenaga lweekang dari tan-tian (pusar) hingga suaranya terdengar pula oleh Ouwyang Bun.
Pemuda ini tersenyum lalu dengan loncatan Naga Sakti Terjang Mega ia telah berada di atas panggung.
Loncatannya benar-benar bergaya indah hingga diam-diam panglima muda she Gui itu merasa kagum juga, dan semua anggauta tentara melihat gaya ini lalu bertepuk tangan ramai.
Ouwyang Bun lalu menjura kepada susioknya kemudian ia keluarkan ilmu silatnya.
Berbeda dengan adiknya, Ouwyang Bun yang mendengar kata-kata Lie Eng, segera berusaha "menebus"
Kerugian yang diperlihatkan oleh adiknya.
Ia maklum bahwa selain susioknya dan sumoinya itu, mungkin semua orang memandang rendah kepada ilmu silat yang baru saja diperlihatkan Ouwyang Bu, maka kini ia segera memainkan ilmu silat Ngo-heng-lian-kun-hoat, yakni ilmu silat warisan suhunya yang memang tidak saja indah dipandang, tapi juga sangat hebat dan tidak mudah dimainkan oleh sembarang orang.
Tubuhnya bergerak cepat hingga membuat mata penonton menjadi kabur.
Tidak heran bila sambutan-sambutan sorak-sorai dan tepuk tangan terdengar terus-menerus sampai ia menghentikan gerakannya dan berdiri menjura kepada susioknya dengan wajah tidak berubah.
Diam-diam Cin Cun Ong senang melihat kepandaian Ouwyang Bun dan adiknya, karena ia maklum bahwa kedua pemuda itu benar-benar merupakan pembantu yang boleh dipercaya.
Tapi pada saat itu, Gui-ciangkun segera berdiri dan berseru keras.
"Ouwyang Bun dianggap lulus dan boleh diuji melawan seorang perwira untuk menetapkan kelasnya, tapi Ouwyang Bu tidak dapat diterima karena ilmu silatnya masih rendah. Ia hanya boleh masuk menjadi perajurit biasa."
Ouwyang Bu lalu meloncat cepat ke atas panggung dan setelah menjura kepada susioknya, ia berkata kepada panglima muda itu.
"Aku juga tidak sangat mabok pangkat seperti engkau, tapi tentang kepandaian, biarpun pengertianku masih rendah, tapi dapat kupastikan bahwa dengan ilmu silatku tadi, kau takkan mampu menjatuhkan aku. Percaya atau tidak? Kalau tidak percaya, naiklah ke mari dan kita membuktikannya. Kalau kau percaya, maka kau ter nyata tidak tahu malu."
Kagetlah semua orang mendengar ucapan ini, karena siapa orangnya berani menghina Gui-ciangkun yang selain terkenal kejam dan gagah perkasa, juga menjadi tangan kanan panglima tua Cin Cun Ong.
Tantangan itu sungguh lancang dan gegabah.
Sebaliknya, Cin-ciangkun merasa menyesal mengapa pembantunya begitu bodoh hingga tak dapat mengenal ilmu silat Ouwyang Bu yang ulung tadi dan mengeluarkan pernyataan yang menyakiti hati pemuda itu, tapi memang ia telah mengangkat Gui-ciangkun menjadi pemimpin penguji hingga panglima muda itu memang berwewenang dalam hal itu.
Gui-ciangkun tentu saja sangat marah.
Kedua matanya melotot dan mukanya menjadi merah.
Kalau tidak ada Cin-ciangkun di situ, pasti ia telah memerintahkan orang-orangnya untuk menangkap anak muda kurang ajar itu.
"Apa kau sudah bosan hidup?"
Hanya demikian bentaknya. Ouwyang Bu tertawa.
"Aku atau kau yang bosan hidup? Naiklah, naiklah, ingin sekali aku melihat apakah kepandaianmu sehebat pakaianmu."
"Bu-te. Jangan begitu, kau turunlah."
Ouwyang Bun berseru karena tak suka melihat adiknya menimbulkan keributan.
Sementara itu, Cin-ciangkun merasa sudah tiba waktunya untuk bertindak sebagai pemisah, karena kalau sampai kedua orang itu betul-betul bertempur, pasti salah seorang menderita bencana dan hal ini tak ia kehendaki karena berarti merugikan kekuatan kesatuannya.
Ia lalu berdiri dan membentak.
"Gui-ciangkun, habisi pertengkaran ini. He, Ouwyang Bu, kau kembalilah ke tempat dudukmu lagi."
Bentakan ini terdengar keras dan berpengaruh sekali hingga kedua orang itu tak berani membantah.
Panglima Gui tunduk menghadapi pemimpinnya, sedangkan Ouwyang Bu tidak saja takut kepada kakaknya, tapi juga ia segan membantah susioknya.
Keduanya lalu mundur dan pada saat itu terdengar suara tertawa keras dan nyaring dari luar.
Suara ketawa ini demikian nyaring dan menyeramkan, apalagi terdengar pada saat semua orang tak berani bersuara melihat Cin-ciangkun yang marah hingga suasana sunyi sekali.
Siapakah orangnya yang demikian berani mati tertawa dalam saat seperti itu?
Semua orang menengok dan dari luar masuklah tiga orang tua-tua dengan langkah kaki perlahan.
Yang berjalan paling depan adalah seorang bertubuh tinggi kurus seperti batang bambu.
Mulutnya menjepit sebatang huncwe bambu yang kecil panjang dan ujungnya mengepulkan asap biru, kedua tangannya yang kurus seperti tangan jerangkong itu digendong di belakang.
Ia berjalan bagaikan sedang jalan-jalan di dalam taman bunga di rumahnya saja demikian seenaknya dan tenang.
Orang kedua dan ketiga juga orang-orang tua yang usianya sebaya dengan orang pertama, kira-kira lima puluhan tahun.
Yang kedua orangnya gemuk pendek, kepalanya gundul dan berjubah hwesio.
Mulutnya selalu menyeringai dan matanya yang bundar itu memandang liar ke kanan kiri.
Orang ketiga berpakaian seperti orang pertama, yakni pakaian guru silat yang serba ringkas, tapi sangat mewah karena pinggir pakaiannya dihias sulaman-sulaman benang emas.Tubuh orang ketiga ini sedang saja,tapi dadanya bidang menandakan bahwa ia kuat sekali.
Si hwesio dan orang ketiga itu berkali-kali menengok ke kanan kiri dan memuji-muji.
"Sungguh angker, sungguh kuat."
Agaknya mereka memuji-muji pertahanan dan kedudukan markas besar Cin-ciangkun.
Diam-diam Cin Cun Ong terkejut karena bagaimana tiga orang aneh ini dapat masuk ke situ tanpa dapat dicegah oleh para penjaganya?
Tentu mereka ini orang-orang pandai.
Akan tetapi, sebagai seorang berkedudukan tinggi, ia tak mau berlaku terlalu merendah, dan sebaliknya ia hanya memberi isyarat kepada Gui-ciangkun untuk menegur mereka.
Tapi sebelum Gui-ciangkun sempat menegur, si empek yang menghisap huncwe (pipa tembakau) panjang itu melepaskan huncwenya dari mulut dan bertanya kepada seorang anggauta tentara yang berdiri di dekatnya.
"Eh sahabat, kalian ini sedang melihat apakah? Sedang diadakan apa di sini?"
Anggauta tentara itu geli melihat sikap dan lagak empek itu, maka ia lalu menjawab sambil tertawa.
"Empek tua, lebih baik kau jangan dekat-dekat di sini karena kami sedang mengadakan ujian permainan silat kepada para perwira baru."
"Bagus, bagus. Memang kami bertiga datangpun hendak memasuki ujian. Mana pemimpin ujian itu?"
Ia lalu memandang ke sekeliling dengan mata mencari-cari. Lalu pandang matanya bertemu dengan Cin Cun Ong yang duduk dengan sikap tegap dan-agung.
"Oh, oh, kiranya kita tersesat di dalam markas besar panglima besar yang kalau tidak salah tentu Cin-ciangkun sendiri adanya."
Kakek penghisap huncwe itu berkata kepada dua orang kawannya. Dua kawannyapun memandang ke arah Cin-ciangkun. Tapi pada saat itu, Gui-ciangkun sudah membuka mulut membentak.
"Dari mana datangnya tiga orang-orang tua kurang ajar yang masuk ke sini tanpa ijin? Tahukah kalian bahwa pelanggaran ini dapat dijatuhi hukuman mati?"
Si penghisap huncwe memandang ke arah panglima muda itu dan tertawa geli kepada kedua kawannya.
"Lihat, agaknya Cin-ciangkun biarpun terkenal gagah perwira, tapi belum dapat mengajar adat kepada orang-orangnya."
Sementara itu, Cin Cun Ong yang dapat menduga bahwa ketiga orang itu tentu berkepandaian tinggi, menyuruh Gui-ciangkun menanyakan maksud kedatangan mereka.
Terpaksa perwira muda itu mentaati perintah atasannya dan ia menegur pula.
"Tiga tamu yang datang tanpa diundang, sebenarnya mempunyai maksud apakah? Harap segera memberi laporan."
"Kau kah yang menjadi pemimpin ujian ini?"
Tanya hwesio gemuk pendek.
"Kalau begitu, boleh kau catat bahwa kami bertiga juga minta diuji apakah kami telah cukup cakap untuk membantu pekerjaan Cin-ciangkun. Ajukan syarat-syaratmu, baru kami akan ajukan syarat-syarat kami, bukankah begitu, kawan-kawan?"
Tanyanya kepada kedua kawannya. Dan si penghisap huncwe dan orang ketiga yang berbaju biru itu tertawa-tawa dan mengangguk-angguk membenarkan.
"Syaratnya? Kalian sudah tak memenuhi syarat karena datang tanpa diundang dan tanpa ada orang perantara yang memperkenalkan kalian."
Tapi buru-buru Cin-ciangkun memberi isyarat kepada pembantunya hingga Gui-ciangkun melanjutkan kata-kata.
"Biarlah, kalian dengar syarat-syaratnya. Kalian harus dapat memenangkan seorang perwira yang kami tunjuk untuk menguji kepandaian kalian. Tapi kalau pertandingan ujian ini mengakibatkan luka atau mati, tidak boleh ada tuntutan."
"Bagus, bagus sekali."
Orang ketiga yang berbaju biru tertawa mendengar syarat-syarat ini.
"Memang adil sekali. Belum pernah seumur hidupku aku bertanding melawan seorang perwira. Tentu saja takkan ada tuntutan, karena dalam hal pibu (beradu silat) sudah sewajarnya mendapat luka atau mati. Pula, kalau orang sudah mampus, ia tak mungkin dapat menuntut."
Para anggauta tentara tertawa geli mendengar ucapan yang lucu ini.
"Kami terima syarat ini."
Si penghisap huncwe berkata nyaring.
"Sekarang kami majukan syarat-syarat kami."
"Di sini orang tidak boleh mengajukan syarat."
Bentak Gui-ciangkun yang merasa marah sekali melihat sikap orang yang ugal-ugalan. Tapi Cin Cun Ong memberi isyarat hingga perwira muda itu dengan mendongkol bertanya.
"Apakah syaratmu, he, orang-orang aneh?"
Si penghisap huncwe tertawa gelak-gelak dan berkata.
"Biarpun orang-orangnya tak tahu adat, tapi ternyata Cin-ciangkun peramah sekali, sesuai dengan nama besarnya. Nah, dengarlah, kami minta dijamin makan minum dan pakaian kami, di samping itu tiap sepekan sekali kami minta upah sepuluh tail perak. Bagaimana, setuju?"
Ternyata syarat yang dimajukan ini bukanlah syarat, tapi hanya main-main saja, hingga semua orang pada tertawa geli dan Gui-ciangkun makin mendongkol saja.
"Syaratmu diterima dan kini orang pertama naiklah ke panggung. Ujian segera dimulai."
Gui-ciangkun lalu memilih seorang perwira yang cukup tinggi ilmu silatnya untuk memberi hajaran kepada orang-orang tua gila itu.
"Orang pertama adalah aku, kau keluarkan dulu orangmu yang hendak pibu denganku dan suruh ia naik ke panggung."
Kata orang tua berbaju biru itu.
Terpaksa perwira yang hendak melayaninya itu cepat menanggalkan pakaian perangnya dan dengan pakaian ringkas ia meloncat ke atas panggung.
Orang ini adalah seorang yang telah lama menjadi perwira di situ hingga telah cukup terkenal akan kegagahannya.
Dengan gagah ia berdiri menanti datangnya kakek baju biru itu untuk segera diberi hajaran karena kekurang-ajarannya.
"Nah, sekarang aku naik. Ah, mengapa panggung ini setinggi ini?"
Sambil berkata demikian, si baju biru itu lalu menggunakan tangan dan kakinya untuk memanjat balok pinggiran panggung itu, seperti lakunya seekor monyet memanjat pohon.
Tentu saja perbuatannya ini menimbulkan suara ketawa riuh rendah karena meloncat ke atas panggung saja tidak becus, apalagi hendak melawan perwira itu?
Sungguh manusia tak tahu diri dan hendak mencari mampus.
Akan tetapi Ouwyang Bun saling pandang dengan adiknya karena dari tempat duduk mereka, kedua saudara Ouwyang ini dapat melihat jelas dan mereka kagum sekali akan ilmu merayap Pek-houw-yu-chong (Cecak Merayap Di Tembok) yang cukup hebat itu.
Kedua telapak tangan dan kaki si baju biru itu bagaikan kaki tangan cecak dapat lengket di balok yang licin itu tanpa terpeleset sedikit juga.
Ilmu ini sepuluh kali lipat lebih sukar dipelajari daripada meloncati panggung yang dua kali tingginya daripada panggung ini.
Setelah berhadapan dengan perwira itu, si baju biru lalu menjura dengan lagak sangat hormat, tapi mulutnya tetap tersenyum.
"Sungguh satu kehormatan tinggi sekali bagiku untuk pibu dengan seorang gagah lagi berpangkat. Ciangkun, harap kau berlaku murah dan jangan membinasakan aku, karena akupun tidak akan melukaimu."
Dari tempat duduknya, Gui-ciangkun berseru keras.
"Sebelum pibu, hendaknya tuan memberitahukan nama terlebih dulu."
"Aku bernama Lee Uh dan disebut orang Hoa-gu-ji (Si Kerbau Belang)."
Maka mulailah pertandingan itu ketika si perwira tanpa banyak peradatan lagi melancarkan serangannya.
Perwira itu bertenaga besar dan pukulannya mendatangkan sambaran angin keras.
Tapi ketika Lee Un menangkis dengan kepretan tangannya, perwira itu meringis karena ia rasakan pergelangan tangannya sakit sekali.
Marahlah ia karena maklum bahwa musuhnya mempunyai tenaga tak kalah besarnya.
Ia lalu menyerang dengan pukulan-pukulan berat dan berbahaya dengan bertubi-tubi.
"Hati-hati, ciangkun, jangan main keras, kau nanti jatuh."
Si Kerbau Belang menyindir sambil berkelit ke sana ke mari dengan lincahnya.
Si perwira menjadi malu dan makin marah hingga kini gerakan-gerakannya dilakukan dengan sepenuh tenaga hingga papan panggung itu bergerak-gerak tergetar oleh perubahan kakinya yang cepat dan berat.
Tapi dengan kegesitannya, Hoa-gu-ji Lee Un membuat lawannya berputar-putar karena ia selalu berkelit sambil berputar mengelilingi panggung itu.
Setelah lawannya menjadi pusing, tiba-tiba Lee Un tertawa terbahak-bahak dan ketika lawannya memukul keras dari depan ke arah dadanya, ia meloncat ke samping dan sebelum perwira itu keburu menarik kembali lengannya, Lee Un sudah berada di belakangnya dan mendorongnya dengan keras.
Karena kepalanya telah pusing dan tenaga dorong dari belakang itu sangat besar perwira itu bagaikan meloncat ke depan saja dan tidak ampun lagi tubuhnya terpelanting keluar panggung.
Terdengar tempik sorak ramai menyambut kemenangan ini, dan tiba-tiba si baju biru itu menjadi sombong sekali.
Ia bertolak pinggang dan menghadap Cin-ciangkun sambil berkata keras.
"Ciangkun, mengapa perwira-perwiramu hanya macam begitu saja? Kalau menghadapi pemberontak-pemberontak yang berkepandaian tinggi, apakah takkan mengecewakan? Kalau hanya setinggi itu kepandaian perwiramu, lebih baik kau turun sendiri dan mengujiku, ciangkun. Dengan mengukur kepandaianku, maka kau akan dapat mengira-ngira sendiri berapa pantasnya gajiku."
Ucapan ini bagaimanapun juga merupakan tantangan.
Gui-ciangkun menjadi marah sekali.
Sambil berseru keras ia genjot tubuhnya dan tahu-tahu ia telah berada di atas panggung, menghadapi si baju biru dengan pakaian perangnya masih lekat di tubuhnya.
"Ha, ini ada satu lagi. Tapi kepandaiannya jauh lebih baik daripada yang tadi,"
Kata Hoa-gu-ji Lee Un.
"He, orang jumawa dan sombong. Bilanglah terus terang, kau datang hendak membantu kami atau hendak memusuhi?"
"Eh, bagaimanakah kau ini? Sudah terang kami datang hendak membantu. Apakah kau kira kami suka pada kaum pemberontak?"
"Mengapa kau berani sekali menghina jenderal kami?"
Si baju biru itu mengangkat pundaknya lalu berkata heran.
"Siapa yang menghina? Aku hanya ingin diuji oleh orang yang benar-benar memiliki kepandaian. Kau agaknya boleh juga, mari kau coba-coba mengujiku, tapi kalau kau kalah, sudah selayaknya kau serahkan kedudukanmu kepadaku."
Marahlah Gui-ciangkun yang bernama Li Sun, karena memang ia seorang yang beradat keras sekali.
Cepat Gui Li Sun menanggalkan pakaian perangnya yang kurang leluasa dipakai bersilat itu dan kini ia memakai pakaian ringkas.
"Marilah kita main-main sebentar,"
Katanya sambil memasang kuda-kuda.
Carang she Gui ini anak murid Kun-lun-pai yang melatih tenaga gwa-kang (tenaga luar) hingga mencapai tingkat cukup tinggi.
Tenaganya besar dan kuat sekali hingga boleh dibilang bahwa di dalam seluruh pasukan Cin-ciangkun ia adalah orang terkuat.
Karena menduga bahwa perwira ini yang diserahi tugas memimpin ujian tentulah bukan orang sembarangan, maka si Kerbau Belang berlaku hati-hati.
Ia hendak mengambil keuntungan dengan menyerang lebih dulu, maka dengan tiba-tiba ia gerakkan tangannya menyerang dada lawan.
Gui Li Sun mengangkat tangan menangkis dan dua buah tenaga besar beradu keras sama keras tapi akibatnya mengagumkan karena orang she Lee itu terhuyung mundur tiga tindak sedangkan Gui-ciangkun hanya mundur selangkah saja.
Tahulah si Kerbau Belang bahwa ia kalah tenaga hingga ia merasa kagum.
Ia dijuluki Kerbau Belang karena tenaganya yang luar biasa tapi sekali ini ia bertemu lawan yang bertenaga gajah.
Melihat bahwa tenaganya lebih besar daripada tenaga lawan, Gui-ciangkun merasa besar hati dan ia mendesak makin hebat dan melancarkan pukulan-pukulan keras.
Tapi ternyata si Kerbau Belang hanya kalah tenaga saja, sedangkan dalam hal ilmu silat dan kegesitan, terbukti bahwa perwira she Gui itu masih kalah setingkat.
Hal ini dengan mudah dapat terlihat oleh Ouwyang-hengte dan Cin Lie Eng serta ayahnya, walaupun tak dapat diduga oleh orang lain karena memang Gui Li Sun berada di pihak yang selalu menyerang dan mendesak.
Li Sun makin gembira dan mendesak, terus, tidak tahu bahwa lawannya sengaja menggunakan akal untuk membuat ia berlaku sangat bernafsu hingga mengutamakan penyerangan tanpa ingat akan penjagaan diri.
Dengan demikian, maka ia memberi tempat-tempat kosong pada tubuhnya tanpa ia sadari.
Memang Lee Un si Kerbau Belang memperlihatkan sikap seakan-akan repot dan terdesak sekali, tapi ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik.
Pada saat yang menguntungkan, ia cepat bergerak menyerang dengan tendangan kakinya yang "mencuri"
Kekosongan hingga tepat menendang lambung kanan Gui-ciangkun.
Raksasa muda yang bertenaga besar itu merasa betapa seakan-akan pernafasannya tertutup.
Ia terhuyung mundur dengan terengah-engah, kemudian roboh di atas panggung.
Lawannya menjura kepadanya sambil berkata.
"Gui-ciangkun, betapapun juga, aku kagumi tenagamu yang besar."
Kata-kata ini bahkan menambah rasa mendongkol di hati Gui Li Sun hingga ia memuntahkan darah dari mulutnya karena malu, marah, dan mendongkol.
Melihat hal ini, Cin Lie Eng merasa marah sekali.
Ia merasa betapa dengan peristiwa kekalahan para perwira itu, seakan-akan orang telah mengotorkan muka ayahnya.
Ia tadi melihat bahwa Gui Li Sun hanya dikalahkan karena kecerobohannya saja dan ia taksir bahwa ia takkan kalah menghadapi si Kerbau Belang, maka ia cepat berdiri dan siap hendak menghadapi orang itu.
Tapi ia didahului orang karena pada saat itu, bayangan seorang muda berkelebat cepat dan tahu-tahu Ouwyang Bu telah berdiri di atas panggung.
"Gui-ciangkun, biarlah aku dengan ilmu burukku membayar hutangmu kepada sobat ini,"
Katanya dan pada saat itu dua orang prajurit naik ke panggung dan membawa pergi Gui-ciangkun yang terlalu lemah untuk turun sendiri.
Beberapa orang perwira meminumkan obat kepada perwira itu, kemudian setelah ditempeli obat penawar luka yang memang sudah tersedia, perwira muda yang bertubuh kuat itu sudah dapat duduk lagi di tempat semula, biarpun wajahnya masih pucat.
Ia merasa penasaran dan kini ia memandang ke atas panggung dengan keheran-heranan.
Tiba-tiba Kerbau Belang yang tangguh itu telah bertanding melawan Ouwyang Bu, pemuda yang tadi ia tolak dan nyatakan bahwa kepandaiannya terlampau rendah.
Dan yang sangat mengherankan ialah bahwa pemuda itu masih saja menggunakan ilmu silatnya yang didemonstrasikan tadi, yakni kedua kakinya tak berubah, hanya tubuh atasnya saja bergerak-gerak ke sana ke mari, sedangkan kedua tangannya seakan-akan berubah menjadi banyak sekali.
Ouwyang Bu benar-benar hebat karena dengan ilmu silat Cian-jiu Kwan-im-hian-ko yang sudah terlatih hebat itu ia dapat membuat lawannya tak berdaya.
Si Kerbau Belang tadinya hendak menggunakan kegenitannya seperti tadi untuk menjatuhkan lawan ini, tapi siapa tahu, anak muda yang tampan dan selalu tersenyum ini sama sekali tidak mau berpindah dari tempatnya hingga terpaksa dia harus menghampirinya lagi.
Segala macam serangan telah ia lakukan, tapi selalu dapat ditangkis dengan tepat oleh lawan muda itu dan ketika ia mencoba mengadu tenaga, ternyata ia merasa betapa lengannya kesemutan.
Ia terkejut dan maklum bahwa anak muda ini adalah seorang ahli lweekeh yang memiliki tenaga lweekang sangat tinggi, maka ia tidak berani main-main pula.
Karena pemuda itu hanya menangkis saja, si Kerbau Belang menjadi marah dan pada pikirnya kalau pemuda itu menyerang, tentu akan ada kesempatan baginya untuk merobohkannya.
Jika hanya bertahan, maka tentu saja pemuda itu kuat sekali karena seluruh perhatian dan tenaganya dikerahkan untuk bertahan dan membela diri, tidak demikian kalau ia balas menyerang, tenaga dan perhatian menjadi terpecah.
Maka si Kerbau Belang lalu berseru gemas.
"Eh, anak bandel, apa kau tidak berani menyerang?"
Ouwyang Bu menjawab.
"Menyerang? Kau yang minta, jangan menyesal nanti."
Dan tubuhnya lalu mulai bergerak pindah.
Sebentar saja ia berkelebat ke sana ke mari dengan kecepatan yang melebihi lawannya hingga si Kerbau Belang menjadi terkejut sekali.
Beberapa jurus kemudian, dengan gerak tipu Pai-bun-twi-san (Atur Pintu Tolak Gunung) ia berhasil mendorong dada lawannya hingga sambil berseru marah dan kesakitan si Kerbau Belang terdorong bergulingan di atas panggung kemudian menggelinding dan jatuh ke bawah.
Tapi karena ia memang berkepandaian tinggi, jatuhnya di atas tanah masih berdiri.
Ia meringis kesakitan dan mengelus-elus dadanya.
Gegap-gempita suara sambutan para anggauta tentara melihat kemenangan Ouwyang Bu yang tidak disangka-sangka ini.
Juga Cin Cun Ong nampak girang karena murid keponakan itu telah dapat membersihkan mukanya.
Lie Eng ikut tepuk-tepuk tangan saking gembiranya, sementara itu Gui-ciangkun memandang bengong seakan-akan tak percaya kepada mata sendiri.
Benar-benarkah pemuda yang tak becus bersilat itu bisa memenangkan si Kerbau Belang yang telah merobohkannya?
Tapi pada saat itu terdengar seruan keras dan hwesio gemuk pendek itu sambil menyeringai telah meloncat ke atas panggung.
"Tidak adil, sungguh tidak adil. Lee-enghiong kalah karena keroyokan? Mengapa di sini orang tidak mengerti aturan? Lee-enghiong telah dua kali menang, kepandaianmu boleh juga, coba kau jatuhkan aku kalau mampu."
Katanya kemudian sambil memandang Ouwyang Bu. Pemuda yang keras hati itu tentu saja tidak gentar sedikitpun, tapi pada saat itu terdengar kakaknya berseru dari bawah.
"Bu-te, kau turunlah. Berikan daging gemuk ini untukku, jangan kau borong semua."
Ouwyang Bu tertawa dan berkata kepada si hwesio gemuk.
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 16
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 18