Eps 2 Sepasang Pendekar Kembar - Kho Ping Hoo
Baca online Sepasang Pendekar Kembar - Kho Ping Hoo
Cersil Sepasang Pendekar Kembar - Kho Ping Hoo.
"Eh, hwesio gendut, sayang aku harus meninggalkan kau. Kakakku agaknya lapar juga dan kau memang menjadi �makanannya�."
Ia lalu melayang turun dan pada saat itu Ouwyang Bun meloncat ke atas panggung menggantikan adiknya. Hwesio gendut itu berkata kepada Ouwyang Bun sambil tertawa.
"Eh, bocah, jangan kau main gila. Kau bilang hendak digantikan kakakmu, tapi setelah meloncat turun mengapa kembali lagi. Apakah kakakmu ketakutan dan lari pulang ke pangkuan ibumu?"
Mendengar kata-kata yang diucapkan dengan suara nyaring itu, terdengar suara ketawa di sana-sini (Lanjut ke
Jilid 03) Sepasang Pendekar Kembar/Ouw Yang Heng Te (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03 karena orang-orang yang telah kenal kepada Ouwyang-hengte tahu bahwa hwesio itu salah lihat dan menyangka bahwa yang kini berdiri di depannya masih pemuda yang tadi.
"He, hwesio, bukalah matamu lebar-lebar dan lihat baik-baik, aku berada di sini."
Ouwyang Bu berteriak dari bawah. Hwesio itu cepat memandang ke bawah jdan kedua matanya terbelalak lebar karena heran. Ia lalu menghadapi Ouwyang Bun sambil menjura.
"Pemuda gagah harap perkenalkan nama. Pinceng (aku) sendiri bernama Bi Kok Hosiang."
"Siauwte Ouwyang Bun mohon pengajaran dari kau orang tua,"
Jawab pemuda itu.
"Jangan kau merendah, adikmu tadi kepandaiannya tinggi, kau tentu lebih hebat lagi. Bagaimana kalau kita main-main dengan senjata sebentar?"
"Terserah kepadamu, siauwte hanya melayani saja."
Bi Kok Hosiang lalu mengambil seuntai tasbeh yang tadi dikalungkan di lehernya. Sambil berseru "Ahh."
Ia kebutkan tasbeh-nya yang terlepas sambungannya dan kini menjadi senjata panjang seperti rantai.
Ternyata tasbeh ini memang sengaja dibuat dari baja kuat dan digunakan sebagai senjata ampuh.
Melihat hwesio itu mengeluarkan senjata aneh, Ouwyang Bun juga mencabut pedangnya dan siap menanti datangnya serangan.
"Lihat senjata."
Bi Kok Hosiang berseru dan senjata tasbehnya meluncur cepat ke arah leher Ouwyang Bun.
Pemuda itu cepat menangkis dan balas menyerang.
Sebentar saja kedua opang itu saling serang dengan hebat sekali hingga semua penonton menahan napas saking tegangnya.
Memang kepandaian kedua pihak berimbang dan hwesio itu biarpun tubuhnya gemuk, tapi gerakan-gerakannya gesit dan cepat psekali.
Akan tetapi, Ouwyang Bun tidak kalah gesit.
Ia putar pedangnya dan mulai memainkan ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat (Ilmu Pedang Garuda Sakti) hingga tubuhnya tertutup sinar pedang dan ia menyambar-nyambar dengan sinar pedangnya bagaikan seekor garuda melayang dan menyambar-nyambar korbannya.
Sekali lagi Gui-ciangkun dikejutkan oleh kehebatan anak muda yang dipandang rendah itu dan diam-diam ia menghela napas karena terus terang ia mengakui bahwa ilmu kepandaian Ouwyang Bun masih jauh berada di atasnya.
Perwira muda yang kasar dan sombong ini menjadi insyaf bahwa kepandaiannya sebenarnya masih dangkal sekali.
Cin Lie Eng tidak heran melihat kehebatan kedua saudara kembar itu karena gadis ini pernah menyaksikan kepandaian mereka ketika dikeroyok oleh para pemberontak di pinggir sungai.
Tapi ia merasa kagum juga melihat permainan pedang Ouwyang Bun dan tahu bahwa dengan permainan pedang sehebat itu, Ouwyang Bun tak kalah oleh hwesio yang juga sangat hebat itu.
Sebaliknya Cin Cun Ong berpikir lain.
Panglima tua ini merasa gembira sekali karena selain kedua saudara Ouwyang yang kosen, ia juga kedatangan tiga orang tua yang cukup hebat hingga mereka ini kesemuanya merupakan pembantu-pembantu yang sangat berharga baginya.
Kini melihat jalannya pertempuran antara Ouwyang Bun dan Bi Kok Hosiang, timbul kekhawatirannya, la maklum bahwa hwesio itu tentu merasa malu kalau sampai dikalahkan maka melawan mati-matian dan nekat, Sebaliknya Ouwyang Bun yang masih muda tentu saja berdarah panas dan tidak akan mau mengalah begitu saja.
Ini berarti bahwa banyak kemungkinan seorang di antara mereka tentu akan terluka atau binasa, dan kalau hal ini terjadi, tentu akan timbul permusuhan di antara Ouwyang-hengte dan ketiga orang tua itu.
Maka orang tua ini lalu segera bertindak.
Ia gerakkan tubuhnya dan tahu-tahu ia telah melayang ke atas panggung.
Semua penonton terkejut melihat jenderal besar itu turun tangan dan berada ni atas panggung begitu tiba-tiba.
Cin-ciangkun lalu menggunakan kipas yang sejak tadi dipegang untuk mengipasi tubuhnya.
Kipas yang terbuat dari bambu itu dikebutkan ke tengah-tengah di antara kedua orang yang sedang bertempur itusam-bil berseru keras sekali.
"Tahan..."
Bi Kok Hosiang dan Ouwyang Bun terkejut bukan main karena kebutan kipas itu mendatangkan tenaga besar hingga kedua senjata mereka tertolak mundur hingga keduanya juga cepat-cepat mundur.
Ouwyang Bun lalu memberi hormat kepada susioknya, sedangkan Bi Kok Hosiang juga memberi hormat karena ia merasa kagum akan kelihaian panglima tua ini.
"Toyu, kepandaianmu cukup tinggi. Aku amat merasa girang sekali kalau kau sudi membantu kami."
Hwesio gendut itu tersenyum girang dan menjura kepada Cin-ciangkun.
Ia suka kepada panglima tua yang dapat menghargai tenaganya walaupun tadi ia tak dapat dikatakan menang atas kepandaian anak muda yang menjadi lawannya itu.
"Ouwyang Bun, kau duduklah di sana dengan adikmu."
Orang tua ini menuding ke arah deretan tempat duduk di dekat kursinya sendiri hingga Ouwyang Bun menghaturkan terima kasih. Mendengar bahwa anak muda itu menyebut "susiok"
Kepada panglima itu, Bi Kok Hosiang terkejut dan berkata.
"Tidak kusangka sicu adalah murid keponakan Cin-tai-ciangkun, pantas saja demikian hebat."
Katanya sambil memberi hormat yang dibalas Ouwyang Bun dengan merendah.
Kemudian pemuda itu mengajak adiknya pindah tempat duduk di dekat Cin Lie Eng dan disambut dengan gembira oleh gadis yang sudah menyediakan kursi untuk mereka berdua itu.
Selain Bi Kok Hosiang, juga Lee Un si Kerbau Belang diterima oleh Cin-ciangkun hingga si baju biru itu berterima kasih sekali, walau terang bahwa ia sudah dikalahkan, tapi tetap diterima oleh panglima itu.
Setelah kedua orang itu menduduki kursi yang disediakan, tiba-tiba dari bawah melayang naik ke atas panggung si penghisap huncwe tadi.
"Ha-ha-ha. Cin-ciangkun, orang-orangmu sungguh gagah dan kau sendiri benar-benar ulung. Kedua kawanku memang tepat bekerja di bawah perintahmu. Aku sendiri... kalau memang ada orang-orang yang lebih pandai di sini, pasti dengan suka rela membantu."
Sambil berkata begini ia sedot huncwenya kuat-kuat dan dari mulutnya ia tiupkan asap huncwenya yang berwarna putih kebiru-biruan, dan heran.
Asap itu bergulung-gulung tidak mau buyar dan terbentuklah bundaran menyerupai tengkorak.
Semua orang merasa heran melihat ini dan sebagian besar menganggap bahwa si kurus ini sedang main sulap maka di sana-sini terdengar seruan memuji.
Tapi Cin Cun Ong terkejut melihat demonstrasi tenaga dalam ini dan ia lalu menjura sambil berkata.
"Tidak kusangka aku berhadapan dengan si Huncwe Maut. Sungguh satu keberuntungan besar sekali hari ini kami mendapat kunjungan orang gagah yang telah tersohor dan terkenal kehebatannya. Lebih beruntung lagi jika sicu (tuan yang gagah) suka membantu usaha kami menumpas para pengkhianat dan pemberontak."
"Ucapanmu betul, ciangkun, karena memang aku telah datang ke sini, mau apalagi kalau tidak ikut membantu pekerjaanmu? Tapi, kawan-kawanku telah diuji, dan akupun perlu diuji, ciangkun."
"Ha-ha, siapa yang belum pernah mendengar nama Huncwe Maut? Tak perlu diuji, kami telah tahu kehebatanmu."
Kata Cin Cun Ong.
"Tapi aku belum tahu kehebatanmu, dan ini penting kuketahui, karena bukankah kau akan menjadi pemimpinku yang kutaati perintahnya?"
Cin Cun Orig berpikir.
Orang ini memang hebat dan tenaga lweekangnya cukup tinggi.
Tapi kalau aku tidak memperlihatkan kehebatanku, tentu ia kelak akan banyak membandel, juga derajatku akan turun dalam pandangan mata semua anak buahku.
Maka ia lalu berkata sambil tertawa.
"Sicu hendak memberi pelajaran kepada semua anak buahku? Baik, baik silahkan."
Si tinggi kurus itu lalu menancapkan huncwenya di dalam mulut, dan ia mulai menggerak-gerakkan kedua lengannya.
Ketika ia adu-adukan kedua tangan, maka terdengar suara seakan-akan dua batang kayu diadu hingga Ouwyang-hengte dan Lie Eng terkejut sekali, karena mereka pernah mendengar adanya satu ilmu yang disebut Tiat-bhok-ciang (Tangan Kayu Besi) yang sangat hebat dan berbahaya.
Kini mereka dapat menduga bahwa si kurus ini tentu memiliki ilmu itu dan diam-diam mereka merasa khawatir.
Tapi Cin Cun Ong hanya memandang dengan tersenyum, bahkan berkata.
"Berlakulah murah kepadaku, sicu."
Dan kemudian ia memasang kuda-kuda.
"Kau menyeranglah dulu, ciangkun,"
Kata Huncwe Maut dengan suara tidak jelas karena bibirnya terganjal huncwe.
"Kau tamu aku tuan rumah, jangan berlaku sungkan, sicu,"
Jawab Cin Cun Ong.
Maka bergeraklah si Huncwe Maut dengan serangan tangan kanan.
Sungguh mengherankan sekali, serangannya itu dilakukan perlahan sekali dengan gerakan yang lambat, memukul ke arah pundak lawan.
Cin Cun Ong tidak berkelit, tapi sengaja menerima pukulan itu dengan tangannya pula.
Ini adalah gerakan percobaan untuk mengukur tenaga masing-masing dan kesudahannya membuat si Huncwe Maut heran dan kagum.
Ketika tangannya bertemu dengan tangan panglima tua itu, ia merasa bagaikan memukul kapas yang empuk dan lemas sekali hingga buru-buru ia tarik kembali tangannya yang tadinya digunakan dengan tenaga Tiat-bhok-ciang sepenuhnya.
Ternyata dengan menggunakan lweekangnya yang tinggi Cin-ciangkun telah dapat memunahkan serangan lawan hingga tenaga Tiat-bhok-ciang itu tak berdaya sama sekali.
Maka si tinggi kurus tak berani main-main lagi.
Ia berlaku waspada dan mengeluarkan ilmu silatnya yang tertinggi.
Tapi ternyata Cin Cun Ong tak percuma mendapat nama besar sebagai seorang panglima yang kosen dan tak terkalahkan.
Selain memiliki tenaga besar dan kepandaian tinggi, juga Cin Cun Ong mempunyai pengalaman bertempur puluhan tahun.
Entah sudah berapa banyak lawan-lawan lihai dan musuh-musuh hebat pernah dihadapinya, maka selain pandai iapun tenang dan tabah, serta sudah hafal akan ilmu-ilmu silat dari berbagai cabang.
Kini menghadapi si Huncwe Maut, ia dapat membuat lawannya tak berdaya dan semua serangan dapat dipatahkan dengan mudah saja.
Karena merasa takkan mungkin menang jika bertempur dengan tangan kosong, maka si Huncwe Maut lalu berkata sambil memegang huncwenya.
"Maaf, marilah kita main-main sebentar dengan senjata."
"Silakan, sicu."
Cin Cun Ong maklum bahwa lawannya ini tentu istimewa sekali kepandaiannya dalam hal mempergunakan huncwe dan melihat ujung huncwe yang kecil setengah runcing itu maklumlah ia bahwa si tinggi kurus ini tentulah seorang ahli totok yang lihai.
Tapi karena sudah dapat mengukur kepandaian lawannya, ia sengaja hendak melayaninya dengan tangan kosong untuk membuktikan keunggulan dan kelihaiannya.
Melihat panglima tua itu tidak mengeluarkan senjata, si tinggi kurus lalu berkata.
"Ciangkun, mana senjatamu? Lekas keluarkan biar kurasakan pukulannya."
"Aku adalah tuan rumah, mana aku berani menghina tamuku dengan sambutan senjata tajam. Sicu, jangan kau sungkan-sungkan, pergunakanlah huncwemu, kebetulan sekali aku ingin sekali belajar kenal dengan huncwe maut yang telah terkenal. Biarlah aku bertahan dengan kedua tanganku."
Si Huncwe Maut marah dan penasaran sekali karena merasa dipandang rendah, tapi karena maklum bahwa panglima tua she Cin ini tak boleh dibuat gegabah, ia tak banyak bicara lagi lalu berseru.
"Awas senjata."
Berbeda dengan ilmu silatnya tadi yang dilakukan dengan ayal-ayalan dan lambat karena mengandalkan kehebatan Tiat-bhok-ciang di lengan tangannya, kini gerakan si kurus itu berubah cepat sekali.
Huncwenya berkelebatan ke sana ke mari dan ujungnya selalu menuju jalan darah Cin Cun Ong dengan totokan-totokan berbahaya dan cepat sekali.
Sementara itu, karena api di dalam huncwe itu belum padam, maka a-sap tembakau yang berbau keras itu keluar ikut menyambar muka orang membuat lawan yang kurang hati-hati tentu akan merasa bingung dan mabok.
Diam-diam Cin Cun Ong kagum melihat permainan si kurus ini dan tak terasa pula ia berseru.
"Bagus, memang hebat sekali si Huncwe Maut."
Ia berlaku hati-hati sekali dan segera mengeluarkan ilmu silatnya Ngo-heng-lian-hoan-kun-hoat.
Ilmu silat ini tadi telah dimainkan oleh Ouwyang Bun tapi setelah kini dimainkan oleh Cin Cun Ong, maka lebih hebat dan luar biasa lagi.
Gerakan-gerakan orang tua ini demikian cepat hingga seakan-akan ia berubah menjadi lima orang yang menjaga dan menyerang dari lima penjuru.
Memang ilmu silat ini berdasarkan Ngo-heng dan gerakannya dari lima jurusan, juga perubahan kaki lima macam hingga tampaknya ia bersilat sambil berputaran, tapi selalu dapat mengelit atau memukul huncwe lawannya, bahkan dapat balas menyerang dengan hebat sekali.
Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu yang mengenal baik ilmu silat ini merasa sangat kagum Mereka tak menyangka bahwa ilmu silat Ngo-heng itu dapat dimainkan sedemikian hebatnya, karena suhu mereka sendiri Pat-jiu Lo-mo (Iblis Tua Tangan Delapan) tidak dapat memainkan sehebat itu.
Yang langsung merasai kehebatan ilmu silat Ngo-heng dari Cin Curi Ong adalah si Huncwe Maut sendiri.
Ia merasa betapa dari lima penjuru yang mengelilinginya di mana tampak bayangan lawannya menyambar angin pukulan yang membuat huncwenya terasa ringan sekali dan tak bertenaga.
Ke mana saja ia menyerang, huncwenya selalu bertemu dengan tenaga besar yang membuat senjatanya terpental kembali hingga gerakannya menjadi kacau-balau.
Sebentar saja ia merasa pening dan matanya menjadi kabur, maka dengan kewalahan ia lalu berteriak.
"Sudah, sudah, ciangkun. Aku menyerah kalah."
Maka berhentilah panglima tua yang gagah perkasa itu, lalu berdiri di depannya sambil tersenyum.
"Sicu, kau dan dua kawanmu memang cocok untuk menjadi pembantu kami,"
Tapi tiba-tiba sikapnya berobah ketika ia berkata dengan suara keras dan tetap.
"Sekarang kau mengakulah terus terang mengapa kalian datang hendak membantuku. Tentu ada sesuatu yang menyakiti hatimu hingga kalian mengambil keputusan untuk membantu kami memusuhi para pemberontak."
Si Huncwe Maut menghela nafas.
"Memang tak salah kalau orang berkata bahwa Cin-ciangkun adalah seorang panglima nomor satu di dunia ini. Kau tidak saja kosen dan lihai, ciangkun, tapi juga matamu awas sekali. Biarlah aku mengaku terus terang padamu. Kami bertiga memang telah bermusuhan dengan beberapa orang kang-ouw yang kini menggabungkan diri dengan pemberontak. Kami telah bertemu dengan mereka tapi kami kalah. Karena tidak ada jalan lain untuk membalas dendam, kami mengambil keputusan untuk menggabungkan diri dengan ciangkun di sini untuk membantu membasmi mereka dan komplot-komplot mereka."
Cin Cun Ong mengangguk-angguk dan si Huncwe Maut memperkenalkan diri.
Ternyata ia bernama Khu Ci Lok.
Kemudian Cin-ciangkun mengadakan perjamuan untuk menghormati perwira-perwira baru itu dan semua perwira ikut berpesta gembira-.
Para anggauta tentara bubaran dan mereka merasa puas sekali karena pertunjukan-pertunjukan malam ini sungguh-sungguh hebat dan lain daripada yang lain.
Bahkan Cin-ciangkun sendiri sampai maju dan turun tangan.
Ternyata Cin Lie Eng sangat suka bergaul dengan Ouwyang-hengte hingga tiap hari mereka bertiga tampak selalu bersama-sama.
Hal ini tidak menjadikan keberatan bagi ayahnya karena bagi panglima ini memang lebih suka melihat puterinya bergaul dengan kedua keponakan kembar itu yang tampaknya lebih sopan daripada bergaul dengan anak buahnya yang kasar-kasar.
Mereka bertiga sering berlatih bersama-sama karena memang tidak berbeda.
Sering pula mereka pergi berburu binatang bersama-sama.
Hubungan yang akrab ini membuat sakit hati Gui Li Sun, panglima muda yang tinggi besar itu.
Hati panglima ini merasa cemburu sekali, tapi apa yang dapat ia lakukan?
Kedua anak muda itu hebat sekali dan memiliki kepandaian tinggi, pula Ouwyang-hengte ternyata memperlihatkan sikap yang baik terhadapnya.
Buktinya kedua pemuda yang terang-terang telah mengalahkannya dan lebih tinggi kepandaiannya, tidak mau merebut kedudukannya, Bahkan kedua pemuda itu mengajukan permohonan kepada Cin-ciangkun untuk tetap saja dengan pakaian biasa dan tidak diharuskan memakai pakaian tentara, Walaupun mereka bersedia membantu dalam pertempuran.
Demikianpun ketiga orang tua aneh itu.
Hingga di dalam markas besar itu, yang tidak mengenakan pakaian tentara ada enam orang, yakni Lie Eng sendiri, Ouwyang-hengte, dan ketiga orang tua itu.
Biarpun Lie Eng suka bergaul dengan Ouwyang-hengte, namun ia berlaku seperti adik perempuan hingga hubungan mereka erat dan tidak canggung-canggung.
Pada suatu hari mereka pergi berburu bertiga.
Seperti janji Lie Eng dulu ketika mereka bertemu pada pertama kalinya, kedua saudara kembar itu akan mendapat kuda yang bagus-bagus dan besar.
Mereka bertiga berburu sambil naik kuda dan di sepanjang jalan mereka bercakap-cakap gembira.
"Kalau aku sedang berburu begini, seakan-akan di sekelilingku tidak ada perang, tidak ada pertempuran-pertempuran, yang ada hanya kesenangan belaka. Aah... alangkah senangnya kalau keadaan damai dan tenteramhingga orang boleh hidup sesukanya tanpa rasa takut."
Ouwyang-hengte tersenyum mendengar kata-kata nona ini yang sebetulnya kurang tepat keluar dari mulut seorang puteri panglima besar. Tapi memang Lie Eng mempunyai watak yang jujur dan terbuka.
"Seringkali aku merasa heran dan menyesal mengapa kita harus bertempur dan membasmi bangsa sendiri, seakan-akan keluarga besar saling bunuh-membunuh,"
Gadis itu berkata lagi. Ouwyang Bu yang melarikan kuda di sebelah kirinya menjawab.
"Biarpun bangsa sendiri, mereka itu pemberontak, pengkhianat dan perampok-perampok jahat. Dan orang-orang jahat harus dibasmi habis agar negara tidak menjadi kacau dan rakyat tidak hidup ketakutan."
Nona itu menghela nafas, tapi bibirnya yang indah bentuknya itu tersenyum manis ketika ia memandang kepada Ouwyang Bu.
"Kau betul,"
Demikian katanya.
Mendengar percakapan antara adiknya dan gadis itu, Ouwyang Bun yang melarikan kuda di sebelah kanan nona itu, mendapat pikiran yang membingungkan hatinya.
Benar-benarkah pemberontak-pemberontak itu perampok-perampok jahat?
Selama ia turun dari gunung, baru sekali ia bertemu muka dengan anggauta pemberontak, yakni Lui Kok Pauw dan kawan-kawannya yang dulu mengeroyoknya di pinggir sungai.
Mereka itu memang pemberontak-pemberontak seperti yang mereka akui sendiri, tapi apakah mereka itu perampok?
Hal ini belum ia, ketahui benar karena belum ada buktinya.
Tiba-tiba Lie Eng yang melihat dia termenung di atas kudanya menegur.
"Eh, twa-suheng, kau sedang memikirkan apa?"
Ouwyang Bun terkejut dan menoleh lalu menjawab.
"Aku sedang memikirkan apakah pemberontak itu sama dengan pengkhianat."
Lie Eng dan Ouwyang Bu memandang heran. Ouwyang Bu sendiri tidak tahu akan perbedaannya dan tak dapat menjawab, tapi Lie Eng segera menjawab dengan suara tetap.
"Tentu saja sama. Pemberontak-pemberontak itu menyerang dan memusuhi pemerintah sendiri, merampok bangsa sendiri, maka mereka dapat juga disebut pengkhianat."
Tapi Ouwyang Bun tidak puas mendengar jawaban gadis itu.
Tiba-tiba kuda yang mereka tunggangi pada meringkik ketakutan dan mengangkat kaki depan mereka ke atas sambil mendengus-dengus.
Dan terdengarlah aum harimau yang menggetarkan hati.
"Bagus, agaknya nasib kita baik hari ini,"
Kata Lie Eng yang berhati tabah itu.
Cepat ketiganya meloncat turun dari kuda, mengikatkan kendali kuda mereka pada sebatang pohon dan lalu mereka meloncat ke atas pohon untuk mengintai.
Kuda-kuda itu mereka gunakan sebagai umpan untuk memancing binatang buas itu.
Kasihan kuda-kuda itu yang meringkik-ringkik ketakutan dan berusaha memberontak untuk melepaskan tali dan kabur.
Tak lama kemudian, seekor harimau jantan yang besar dan buas keluar dari semak-semak.
Matanya yang lebar memandang liar dan tajam ke arah tiga ekor kuda yang meronta-ronta.
Karena bau manusia yang berada di atas pohon tak dapat tercium olehnya, maka ia sama sekali tidak tahu bahwa tiga pasang mata mengintainya dari atas dengan perasaan gembira dan tegang.
Sekali lagi harimau itu mengaum dan mendekam, siap untuk meloncat menubruk korbannya, yakni seekor di antara tiga kuda itu.
Ia enjot kaki belakangnya dan tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas.
Lie Eng dan dua saudara kembar telah siap untuk meloncat turun sambil menyambit-kan piauw mereka, tapi mereka tahan gerakan mereka dengan kaget karena pada saat itu dari belakang sebatang pohon besar meloncat keluar tubuh seorang kanak-kanak berusia paling banyak empatbelas.
Anak ini memegang sebatang tongkat panjang yang dipegangnya seperti orang pegang toya.
Ia meloncat tepat di depan harimau yang sedang melompat dan menggunakan tongkatnya menyodok perut harimau yang sedang melayang itu.
Tapi harimau itu cukup gesit dan cerdik.
Melihat datangnyaserangan tongkat ke arah perutnya, ia gunakan kaki depanmencakar tongkat itu sambil membuang diri ke samping.
Kini binatang yang besar dan buas itu berdiri di atas tanah menggereng-gereng, menghadapi anak kecil itu.
Tapi anak itu dengan wajah tenang dan tabah segera siap dalam bhesi (kuda-kuda) yang teguh sambil menyilangkan tongkat di depan dada.
Sikapnya yang gagah berani itu membuat Lie Eng dan Ouwyang-hengte kagum sekali, tapi mereka siap untuk membantu anak itu bila sampai terdesak oleh harimau.
Sementara itu, setelah menggereng-gereng, harimau itu meloncat lagi menubruk dengan lompatan tinggi.
Tapi anak itu sungguh tabah dan cerdik karena sementara tubuh harimau masih di atas, ia bahkan lari mendekat hingga berada di bawah perut harimau lalu menusuk lambung binatang itu dengan tongkatnya lagi.
Kali ini tusukannya tepat dan keras hingga harimau itu terpental dan jatuh dengan keempat kakinya di atas.
Anak itu cepat menambahi dua kali tusukan pada perut harimau yang sedang telentang itu.
Tapi harimau itu kuat sekali dan dengan cepat meloncat membalik.
Kali ini ia menubruk dari depan lurus ke muka, tidak meloncat tinggi.
Keadaan anak itu berbahaya, dan tiga orang yang berada di atas sudah siap membantu.
Tapi anak itu cepat sekali meloncat ke pinggir dan pada saat harimau itu lewat cepat di sampingnya, ia memukul dengan tongkatnya yang tepat mengenai pantat binatang itu.
Agaknya pukulan kali ini mengenai tempat yang lunak hingga binatang itu meraung kesakitan lalu lari secepatnya menghilang ke dalam semak belukar.
"Bagus, Ahim. Kali ini kau dapat mengusirnya. Lain kali kau harus dapat membunuhnya."
Tiba-tiba terdengar suara orang dan tiba-tiba di situ muncul dua orang muda dan seorang kakek.
Dua anak muda itu cakap sekali wajahnya, pipinya kemerah-merahan dan bibirnya merah segar hingga patut kiranya kalau menjadi anak perempuan.
Kakek itu berpakaian petani sederhana, tapi gerak-geriknya menunjukkan bahwa ia adalah seorang ahli lweekeh yang memiliki kepandaian tinggi.
"Engkong, binatang tadi buas sekali. Kulihat mukanya seakan-akan mengilar sekali dan ingin segera merasai daging dan darahku. Matanya buas dan mulutnya meringis. Kong-kong, ganas manakah harimau itu dibandingkan dengan panglima she Cin?"
Kakek itu tertawa besar mendengar pertanyaan ini, sementara itu ketiga anak muda yang berada di pohon mendengarkan dengan penuh perhatian sedang Lie Eng memandang tajam mendengar ayahnya di sebut-sebut.
"Ahim, kau ini aneh, binatang buas dibandingkan dengan manusia,"
Kata seorang di antara kedua pemuda itu, dan setelah ia mengeluarkan kata-kata, barulah Lie Eng dan Ouwyang-hengte maklum bahwa mereka itu benar-benar dua orang gadis yang berpakaian laki-laki.
Suara gadis yang bicara tadi sangat nyaring dan merdu dan ke tawanya manis sekali.
"Enci Cui Sian jangan berkata begitu, bukankah panglima she Cin itu kudengar ganas dan kejam sekali dan tak pernah memberi ampun kepada kawan-kawan pejuang yang tertawan? Kong-kong, jawablah pertanyaanku tadi."
"Ahim, kalau kau tanya mana yang lebih buas, kurasa dua-duanya sama buas dan sama kejam."
"Mana yang lebih jahat, kong-kong?"
Tanya Ahim lagi.
"Tidak ada yang jahat, cucuku,"
Jawaban ini tidak saja membuat anak itu keheranan, tapi juga kedua dara yang berpakaian laki-laki itu memandang heran. Empek tua itu maklum akan keheranan mereka maka lalu melanjutkan kata-katanya.
"Harimau itu disebut kejam karena suka makan manusia, sedangkan Cin-ciang-kun disebut kejam suka membunuh kawan-kawan kita. Tapi harimau itu hanya menurut perintah, yakni perintah perutnya yang lapar dan membutuhkan isi. Sedangkan Cin-ciangkun melakukan pembasmian dan pembunuhan besar-besaran juga hanya melakukan tugas kewajibannya belaka, untuk mentaati perintah kaisar."
"Kalau begitu, yang jahat adalah perut harimau dan kaisar itu, kong-kong?"
Tanya Ahim yang ternyata cerdik sekali. Kembali kakek itu tertawa.
"Perut harimau tidak jahat, karena kalau tidak diisi daging mentah, akan menderita kelaparan. Kaisar juga tidak jahat, tapi bodoh dan lalim, tidak memperdulikan nasib rakyatnya hingga rakyat hidup sengsara tertindas dan kelaparan tidak diketahuinya, tahunya hanya pelesir dan bersenang-senang belaka."
"Kaisar macam ini harus dibasmi dan diganti, kong-kong."
Kata Ahim bersemangat.
"Hush, Ahim, kau bicara seperti di sini tidak ada orang lain saja."
Kakek itu berkata lagi.
"Siapa lagi selain kita berempat yang berada di sini, kong-kong?"
"Kau lupa kepada pemilik ketiga ekor kuda itu?"
Kata empek tua sambil menunjuk ke arah tiga ekor kuda yang ditambatkan di batang pohon. Lalu kakek itu memandang ke atas pohon dan berkata.
"Sam-wi silakan turun."
Ouwyang-hengte dan Lie Eng merasa terkejut dan malu karena orang telah mengetahui tempat persembunyian mereka.
Lie Eng yang merasa marah mendengar percakapan mereka tadi, lalu memperlihatkan kepandaiannya.
Ia meloncat turun dengan gerakan Koai-liong-hoan-sin (Siluman Naga Berjumpalitan) dan tubuhnya melayang dan berpoksai (bersalto) di udara hingga terpelanting ke arah di mana kudanya berdiri dan dengan ringan sekali ia turunkan dirinya di punggung kuda.
"Bagus, bagus."
Ahim bertepuk-tepuk tangan dan suaranya memuji.
Sementara itu, Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu juga meloncat turun dari atas pohon.
Ouwyang Bu yang juga merasa tak senang kepada orang-orang yang ternyata adalah anggauta-anggauta pemberontak, hanya mengerling sekilas kepada empat orang asing itu.
Tapi Ouwyang Bun tersenyum kepada Ahim dan kepada kakek itu ia menjura lalu menyusul adiknya yang telah pergi ke kudanya.
"Mari kita tangkap mereka dan serahkan kepada susiok."
Kata Ouwyang Bu kepada kakaknya, tapi Lie Eng berkata cepat.
"Jangan". Kalau mereka tidak mengganggu kita, untuk apa kita mencari musuh?"
"Tapi bukankah mereka pemberontak?"
Bantah Ouwyang Bu.
"Bu-te, kurasa benar kata-kata sumoi. Tak perlu mencari musuh, lagi pula kulihat empek tua itu bukan orang sembarangan."
Sementara itu, empek itu tertawa dan berkata.
"Nona, kepandaianmu hebat sekali dan kedua suhengmu juga tidak tercela. Kalau kau pulang, sampaikanlah salamku kepada ayahmu, bilang saja salam dari orang tua she Ciu."
Ketiga anak muda itu terkejut sekali karena tak mereka sangka sama sekali bahwa dari percakapan mereka yang dilakukan perlahan itu, si kakek telah dapat mengetahui siapa mereka.
Padahal jarak yang memisahkan mereka cukup jauh.
Karena kakek dan kawan-kawannya itu tidak mengganggu, maka Lie Eng lalu memacu kudanya diikuti oleh Ouwyang-hengte pulang ke markas besar panglima Cin.
Mereka langsung menghadap Cin Cun Ong dan Lie Eng melaporkan kepada ayahnya tentang kakek yang berada di pedalaman itu.
"Orang tua she Ciu? Bagaimana rupanya? Bertubuh tinggi kurus pakaian petani, bertopi lebar dan matanya tajam serta mulutnya selalu tertawa? Ah,... tak salah lagi, tentu Ciu Pek In. Kalau Naga Sakti ini pun telah menggabung menjadi pemberontak, kita harus segera mencari bala bantuan orang-orang pandai."Melihat betapa ayahnya agak gentar mendengar nama orang tua itu, Lie Eng lalu bertanya kepada ayahnya.
"Sebenarnya kakek itu siapakah?"
Ayahnya menghela napas.
"Dia' adalah seorang dari jago-jago nomor satu di dunia pada masa ini. Ia dijuluki Sin-liong atau Naga Sakti, sesuai dengan keahliannya, memainkan Ilmu Pedang Naga Sakti atau Sin-liong Kiam-sut. Ia tidak saja sangat terkenal sebagai seorang cianpwe (cabang atas) yang disegani, tapi juga pengaruhnya besar sekali, dan jika ia sampai merendahkan diri dengan menggabung pada pemberontak, maka tentu banyak orang-orang gagah yang akan meniru dan memihaknya."
"Sampai di mana ketinggian tingkat kepandaiannya, ayah? Bagaimana kalau dengan... Khu-lo-enghiong?"
Katanya sambil memandang muka Khu Ci Lok si Huncwe Maut yang juga berada di situ, karena kebetulan pada saat itu Cin Cun Ong sedang bercakap-cakap dengan si Huncwe Maut dan dua kawannya.
Mendengar pertanyaan gadis itu, Khu Ci Lok melepaskan huncwe dari mulutnya dan ia berkata dengan wajah bersungguh-sungguh, tidak seperti biasanya suka membanyol.
"Nona, kau tidak tahu tentang orang tua itu. Aku sendiri belum mengenalnya, tapi dari namanya saja aku sudah dapat mengukur sampai di mana ketinggian ilmu silatnya. Jangan bandingkan dia dengan aku, ah, aku masih jauh berada di bawah tingkatnya."
Lie Eng terkejut. Si Huncwe Maut ini sudah memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan bahkan lebih tinggi daripada kedua suhengnya atau dia sendiri.
"Kalau begitu, apakah dapat disejajarkan dengan kepandaian ayah?"
Kini Cin Cun Ong berkata.
"Biarpun aku belum pernah mengukur tenaganya, tapi kiraku dia tidak akan mudah mengalahkanku, biarpun menurut kabar, ilmu pedangnya belum pernah dikalahkan orang. Tapi bagaimanapun juga, datangnya orang tua ini tentu tidak sendiri dan akan disusul oleh yang lain-lain, maka kita harus siap sedia. Khu-sicu, harap kau dan Lee-sicu besok pagi-pagi pergi ke kota raja untuk memanggil beberapa orang pembantu yang pandai, dan Bi Kok suhu harap suka menyampaikan sebuah surat undangan kepada tiga orang kawan baikku di See-bun."
"Siapakah kawan-kawan baik itu, ciangkun?"
Tanya si hwesio gemuk.
"Mereka adalah See-bun Sam-lo-mo atau Tiga Iblis Tua Dari See-bun. Kalau mereka dapat diundang ke sini, maka segala Sin-liong dan komplot-komplotnya takkan mungkin membikin aku gentar."
Maka dibuatlah surat-surat untuk dibawa ke See-bun dan ke kota raja. Semua lalu mengundurkan diri. Sedang Ouwyang Bun dan adiknya duduk di dalam kamar mereka sendiri.
"Agaknya tak lama lagi tentu akan terjadi perang hebat antara kita dengan pihak pemberontak,"
Kata Ouwyang Bun.
"Memang hal itulah yang kuharap-harapkan selama ini. Hatiku merasa tak senang disuruh menganggur saja tanpa ada pertempuran hingga seakan-akan kita hanya menumpang makan dan tidur. Bagi para tentara keadaan itu menyenangkan saja karena mereka selalu ada yang dikerjakan, berlatih, berbaris dan lain-lain. Tapi bagi kita?"
Ouwyang Bu dengan bersungut-sungut menyatakan ketidakpuasannya. Ouwyang Bun termenung sejenak lalu berkata.
"Bagiku kalau bisa jangan sampai ada perang."
Adiknya memandang heran dan dengan pandang mata menyelidik. Kakaknya membalas pandangan matanya dan tersenyum.
"Jangan salah sangka, aku bukannya takut, sungguhpun harus kuakui bahwa pihak pemberontak bukanlah orang-orang lemah. Dengarlah, Bu-te, melihat tampang kakek dan orang-orang tadi, aku menjadi ragu-ragu dan sangsi. Apakah orang tua gagah dan bersikap halus itu bisa menjadi penjahat? Dan pula, apakah anak kecil yang tabah dan berbakat seperti Ahim tadi juga dapat disebut penjahat yang harus dibasmi?"
"Bun-ko, biarpun mereka bukan penjahat, tapi karena mereka menggabungkan diri dengan pemberontak, maka mereka adalah pengkhianat yang berbahaya dan harus dibasmi. Coba kau ingat kata-kata anak. kecil tadi yang menganggap susiok dan kaisar sebagai binatang buas."
Ouwyang Bun tak menjawab, hanya menghela napas dan termenung.
Pada saat itu, dari arah belakang rumah, mereka mendengar suara Gui-ciang-kun bercakap-cakap dengan keras.
Mereka tertarik sekali dan mendekati jendela belakang agar dapat menangkap kata-kata yang mereka ucapkan.
"Memang para anjing pemberontak makin berani saja. Tadi kulihat beberapa o-rang berkeliaran di bawah tembok sebelah luar. Seakan-akan mereka itu menantang-nantang dan sama sekali tak pandang sebelah mata kepada kita. Sungguh celaka, dan tai-ciangkun (panglima besar) hanya bersabar saja. Apa gunanya mempunyai pembantu-pembantu seperti lima orang itu? Tiap hari kerjanya hanya makan tidur saja. Kalau aku jadi mereka, setidaknya, tentu keluar dan menyelidiki keadaan para pemberontak. Dengan pakaian preman mereka akan lebih mudah melakukan pekerjaan penyelidik. Tapi dasar jiwa pemalas dan tak tahu malu. Piara anjing masih ada gunanya."
Hampir saja Ouwyang Bu meloncat keluar dan menerjang orang she Gui yang diam-diam memaki-maki mereka itu.
Pemuda yang keras hati ini merasa malu dan marah sekali.
Tapi Ouwyang Bun cepat mencegahnya dan berkata.
"Adikku, sabarlah. Tak perlu kita bertindak terhadap orang rendah seperti dia itu Kalau kita mengadakan keributan, ma ka tentu kita akan mendapat teguran dari susiok. Dan lagi, kalau dipikir-pikir memang tidak ada salahnya kata-kata Gui-ciangkun tadi. Telah hampir sepekan kita berada di sini dan kebetulan sekali susiok menjalankan siasat bertahan dan menanti aksi gerakan lawan hingga kita terpaksa menganggur saja Bagaimana pikiranmu ka lau kita keluar dan melakukan penyelidikan? Siapa tahu kalau diam-diam mereka i-tu sedang mengatur siasat, bukankah kemarin susiok pernah mengatakan bahwa ia merasa lebih cemas melihat musuh diam-diam saja dan tidak melakukan penyerangan?"
Setelah diam sesaat, akhirnya Ouwyang Bu menyatakan setuju dengan buah pikiran kakaknya ini.
Dengan diam-diam mereka bersiap untuk melakukan penyelidikan keluar tembok besar malam nanti.
Setelah siang berganti malam yang gelap, kedua saudara itu mengenakan pakaian malam yang berwarna gelap, lalu keluar dari kamar.
Tapi mereka menjadi bingung karena ternyata tembok besar itu penuh oleh barisan penjaga.
Memang, Cin-ciangkun menaruh penjaga-penjaga di sepanjang tembok besar sampai lebih dari lima li panjangnya.
Biarpun semua penjaga telah tahu siapa mereka, tapi tanpa surat perintah dari Cin-ciangkun, mereka akan dicurigai kalau keluar dari tembok besar.
Pada saat mereka merasa bingung, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan suara yang merdu nyaring menegur mereka.
"Ji-wi suheng (kedua kakak seperguruan) hendak ke manakah?"
Ouwyang-hengte terkejut karena yang menegur mereka itu tidak lain ialah Cin Lie Eng yang juga sutfah berpakaian malam serba gelap.
"Eh, sumoi malam-malam hendak ke mana?"
Tanya Ouwyang Bun. Di bawah sinar bulan yang bercahaya terang, dara cantik itu tersenyum manis dan matanya bermain lincah.
"Ditanya belum menjawab sudah balas bertanya. Agaknya ada apa-apa yang dirahasiakan kepadaku."
Ouwyang Bun tak dapat menjawab, tapi Ouwyang Bu dengan tabah berkata dengan tertawa.
"Sumoi, memang ada rahasia, tapi bukan rahasia jahat."
"Kalau rahasia jahat, apakah kalian ma sih hidup di asrama ini? Suheng, ketahuilah, sumoimu ini diam-diam sudah tahu maksud kalian. Bukankah kalian hendak pergi menyelidik di tempat musuh?"
Terkejutlah kedua saudara itu, tapi Lie Eng hanya tertawa manis.
"Akupun tak enak tinggal menganggur, maka aku sengaja menyusulmu. Mari kita menyelidiki bertiga."
"Jangan, sumoi. Perjalanan ini berbahaya, kalau sampai terjadi sesuatu padamu, kami akan mendapat marah dari susiok,"
Kata Ouwyang Bu.
"Aku bukan anak kecil, pula, dengan adanya kalian berdua, apa yang harus kutakutkan?"
Terpaksa Ouwyang-hengte membawa gadis yang berani itu.
Dengan adanya Cin Lie Eng, mudah saja bagi mereka untuk melewati penjaga di atas tembok.
Mereka percaya penuh kepada gadis puteri Cin-ciangkun itu dan dengan mudah mereka melewati tembok besar dan turun melalui tali yang dilepas ke bawah.
Kemudian ternyata bahwa adanya gadis itu menguntungkan mereka karena Lie Eng telah tahu di mana tempat yang digunakan sebagai markas oleh pihak musuh.
Bulan bercahaya terang hingga mereka dapat melakukan perjalanan dengan mudah.
Lie Eng membawa kedua saudara itu menyusur sepanjang tembok menuju ke barat, lalu membelok ke utara menuju ke sebuah hutan yang lebat.
"Ji-wi suheng, berhati-hatilah. Aku tidak suka melihat keadaan yang terlalu sunyi di sini,"
Kata Lie Eng setelah mereka tiba di dalam hutan yang sunyi itu.
Belum sempat Ouwyang-hengte menjawab, tiba-tiba terdengar suara ranting ter-pijak kaki di sekeliling mereka dan tahu-tahu mereka telah dikurung oleh orang-orang yang bersenjata tajam.
Orang-orang yang mengurung mereka itu terdiri dari bermacam-macam orang.
Ada yang masih muda sekali, ada pula yang sudah kakek-kakek.
Ada yang berpakaian pendeta, hwesio, dan sastrawan.
Tapi sebagian besar dari mereka berpakaian petani sederhana.
Ouwyang-hengte dan Lie Eng cepat mencabut pedang mereka dan siap mengamuk tapi tiba-tiba terdengar suara orang berkata.
"Sam-wi, tahan dulu. Apakah maksud dan kehendak kalian maka malam ini datang ke tempat kami rakyat miskin?"
Suara ini mereka kenal dan ternyata dari luar kurungan masuklah kakek tua yang siang tadi mereka jumpa di dalam hutan sebelah dalam tembok besar.
Lie Eng dan, Ouwyang-hengte merasa heran sekali bagaimana orang tua itu dapat melewati tembok besar yang terjaga kuat itu.
Mendengar teguran kakek itu, dengan suara gagah Lie Eng menjawab.
"Kami ingin menyaksikan sendiri apakah kalian masih hidup, karena mengapa kalian tidak bergerak menyerang benteng pertahanan kami. Apakah kalian sudah kehabisan tenaga dan tidak berani bertempur lagi? Ketahuilah, para tentara kami telah gatal-gatal tangan untuk menghadapi kalian."
Kakek itu tertawa.
"Ha-ha-ha, ayah harimau anakpun harimau. Gagah dan berani. Nona Cin, jangan khawatir. Kawan-kawan kami bukannya takut bertempur, tapi sesungguhnya lawan dan musuh kami bukanlah ayahmu dan anak buahnya. Ayahmu adalah perajurit yang baik dan amat berguna bagi negara dan rakyat. Yang kami musuhi ialah raja lalim, para pembesar durjana, dan para pembesar penindas rakyat jelata. Mereka inilah yang hendak kami basmi."
Mendengar kata-kata ini Ouwyang Bun merasa makin tertarik, maka ia lalu maju dan menjura kepada orang tua itu.
"Siauwte tadi mendengar bahwa locian-pwe adalah Sin-liong Ciu Pek In yang terkenal di kalangan kang-ouw, betulkah itu?"
Orang tua itu tertawa.
"Tentu Cin-ciangkun yang memberitahukan padamu, bukan? Aha, ia masih ingat padaku. Memang betul aku Ciu Pek In."
"Siauwte mendengar bahwa locianpwe mengutamakan kegagahan dan keadilan serta membela pihak yang benar. Tapi mengapa locianpwe menggabungkan diri dengan para pemberontak yang selain mengacau negara juga menyusahkan rakyat? Apakah ini laku seorang gagah yang mengutamakan kebaikan dan yang pantas disebut ho-han (orang budiman)?"
Ucapan Ouwyang Bun yang panjang ini memang ia sengaja.
Ia bukan tidak tahu bahwa kata-katanya ini berbahaya, tapi karena terdorong oleh rasa penasarannya, ia tidak perdulikan lagi bahaya yang mungkin timbul karena perkataannya.
Sementara itu, semua orang yang mengurung terdengar berseru marah mendengar betapa anak muda ini berani sekali menghina kakek yang mereka hormati itu.
Mereka siap untuk maju menerjang, tapi Ciu Pek In mengangkat tangan memberi tanda dan berkata.
"Anak muda, kau bagaikan seekor burung yang baru belajar terbang dan tidak tahu keadaan dunia luas. Tahumu hanya bahwa setiap orang yang memberontak a-dalah jahat dan salah. Tapi aku tidak menyalahkan engkau karena kau kebetulan sekali menjadi murid si Iblis Tua Tangan Delapan yang justeru menjadi sute dari Cin-ciangkun. Ya... ya, aku tahu, anak, aku tahu kau dan adikmu ini siapa dan mengapa ikut membantu Cin-ciangkun. Kalian Ouwyang-hengte kena diperalat dan mengotorkan tangan tanpa kalian sadari. Sayang, sayang, sungguh sayang."
"Suheng, mari kita beri mereka pelajaran."
Kata Lie Eng yang merasa marah sekali mendengar ucapan Ciu Pek In.
"Beda lagi halnya dengan Cin-siocia ini,"
Kata kakek itu lagi tanpa memperdulikan kemarahan Lie Eng.
"Ia adalah puteri Cin-ciangkun dan sudah seharusnya menurut jejak kaki ayahnya."
"Orang tua, kami datang ke sini bukan hendak mendengarkan obrolan kosong. Beritahukan apa maksud kalian mengurung kami, jangan kira kami bertiga takut."
Tiba-tiba Ouwyang Bu membentak sambil melangkah maju dengan dada terangkat.
"Suhu, jangan kasih hati kepada orang kasar ini."
Tiba-tiba seorang gadis yang berpakaian laki-laki meloncat maju dari belakang kakek itu.
Ia adalah seorang gadis yang baru berusia kurang lebih tujuh-belas tahun, wajahnya manis dan sepasang matanya bersinar tajam dan berani.
Ia menatap wajah Ouwyang Bu dengan marah sekali.
"Kau anak kecil mau apa?"
Ouwyang Bu membalas membentak sambil tersenyum mengejek. Gadis itu marah sekali, sambil membanting-bantingkan kakinya ia berkata kepada Ciu Pek In.
"Suhu, biarkan teecu memberi pelajaran kepadanya."
Tiba-tiba kakek itu nampak gembira. Ia memberi tanda kepada semua orang untuk mundur dan memperlebar kurungan. Lalu katanya kepada gadis muridnya itu.
"Siauw Leng, kau selalu menganggap dirimu paling pandai. Kau kira anak muda ini makanan lunak? Ha, kau salah sangka. Tapi biarlah kau mencobanya."
Kemudian ia berpaling kepada Ouwyang Bu dan berkata.
"Anak muda, muridku yang bodoh ini hendak minta sedikit pelajaran darimu, harap kau tidak mengecewakannya."
Ouwyang Bu tidak suka melihat gadis yang dianggapnya memandang rendah padanya itu, tapi ia juga tidak senang bertempur melawan seorang anak perempuan.
Ia merasa tidak ada harganya dan memalukan, tapi melihat sinar mata gadis itu ditujukan padanya dengan menghina, ia lalu melangkah setindak lagi ke depan dan berkata.
"Boleh, boleh. Kau hendak bertanding dengan tangan kosong atau senjata?"
Gadis muda yang berpakaian laki-laki dan bernama Siauw Leng itu tersenyum, dan tampaklah sebaris gigi yang putih dan rapi.
"Kau bersikap seperti orang yang mau menang saja,"
Katanya.
"kulihat kau membawa-bawa pedang, mari kita bermain pedang."
Ia lalu menghunus senjatanya yang ternyata adalah sebatang pedang yang berkilauan terkena cahaya bulan.
Biarpun merasa gemas, mereka masih ingat akan sopan santun orang berpibu (beradu kepandaian) dan mereka bukanlah sedang berhadapan sebagai musuh hendak bertempur, oleh karena itu terlebih dulu mereka saling memberi hormat dengan menjura.
"Awas pedang."
Tiba-tiba gadis itu setelah menjura berseru nyaring dan pedangnya berkelebat membuka serangan yang cukup cepat.
Ouwyang Bu cepat menangkis dan menggunakan tenaga sepenuhnya dengan maksud membuat pedang lawannya terpental dan membuat gentar hati gadis itu.
Tapi si gadis bergerak gesit dan pedang yang hendak disabet lawan itu cepat ditarik mundur lalu diteruskan dalam serangan kedua yang lebih berbahaya.
Diam-diam Ouwyang Bu terkejut juga melihat kegesitan dara ini, maka ia tidak mau berlaku sembrono dan bersilat lebih hati-hati.
Ia sengaja menanti serangan-serangan lebih dulu untuk mengukur kepandaian gadis itu dan melihat sampai di mana kehebatannya.
Sementara itu, Ouwyang Bun dan Lie Eng berdiri tenang-tenang saja setelah memasukkan kembali pedang ke dalam sarung pedang masing-masing.
Mereka lalu menonton pertempuran itu dengan hati tertarik karena ternyata bahwa gadis muda itu memiliki ilmu pedang yang hebat sekali.
Hal inipun terasa benar oleh Ouwyang Bu.
Ia tadinya mempertahankan diri dengan tenang untuk mengukur kepandaian gadis itu, tapi alangkah herannya ketika melihat betapa ilmu pedang gadis itu luar biasa hebatnya.
Terpaksa ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya karena tiba-tiba ia teringat bahwa gadis muda ini adalah murid dari Sin-liong Ciu Pek In, seorang ahli pedang dan teringatlah ia akan penuturan susioknya bahwa Ciu Pek In memiliki kepandaian tunggal yang istimewa, yakni Sin-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti).
Kalau begitu kiam-sut gadis inipun tentu Sin-liong Kiam-sut.
Ouwyang Bu lalu mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk mengalahkan lawannya.
Oleh karena itu, maka sebentar saja keduanya bertempur hebat dan seru sekali.
Keduanya saling mengeluarkan ilmu pedang yang hebat dan cepat gerakannya hingga merupakan dua gulung sinar pedang saling melibat dan membelit.
Dari permainan pedang kedua anak muda ini ternyata bahwa ilmu pedang gadis itu masih setingkat lebih tinggi dari ilmu Ouwyang Bu.
Akan tetapi pemuda itu lebih matang latihannya dan juga lebih besar tenaganya.
Ketika pertempuran sedang hebat-hebatnya, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan suara kakek itu terdengar.
"Sudah cukup, sudah cukup."
Siauw Leng segera meloncat mundur sedangkan Ouwyang Bu tiba-tiba merasa betapa pedangnya tertolak oleh tenaga yang besar dan kuat hingga hampir terlepas dari pegangannya.
Maka terpaksa iapun meloncat mundur.
Pemisah itu, yakni Ciu Pek In, tertawa dan berkata kepada muridnya.
"Betul tidak kata-kataku tadi? Kau baru berlatih pedang tiga tahun, mana dapat melawan murid dari Pat-jiu Lo-mo?"
Ouwyang Bu makin kaget dan heran mendengar bahwa gadis itu baru saja berlatih pedang tiga tahun, sedangkan ia yang sudah berlatih lebih dari delapan tahun masih juga belum dapat mengalahkan gadis itu.
Maka diam-diam ia merasa khawatir, karena kalau sampai terjadi pertempuran, maka pihaknya tentu takkan mungkin menang.
Pada saat itu, gadis yang seorang lagi, yang agaknya kakak perempuan.dari Siauw Leng, juga berpakaian laki-laki, maju dan berkata kepada kakek itu.
"Suhu, aku juga ingin sekali mengukur tenaga tamu-tamu kita."
"Kau sudah lebih lama belajar daripada adikmu, masih juga berlaku seperti kanak-kanak?"
Suhunya berkata sambil tertawa. Sementara itu, Lie Eng merasa penasaran dan maju sambil berkata.
"Kalau kau gatal tangan, marilah mencoba kepandaianku."
Ia menantang.
"Sumoi, jangan sembrono."
Siauw Keng, gadis yang berpakaian laki-laki yang kedua itu, hanya tersenyum dan memandang suhunya, seakan-akan meminta izin. Tapi Ciu Pek In berkata kepada Lie Eng.
"Cin-siocia, kita sudahi saja segala permainan berbahaya ini. Kita bukanlah musuh. Kalian bertiga dengarlah dan boleh sampaikan kepada Cin-ciangkun. Kami sama sekali tidak ingin bermusuhan dengan dia, bukan berarti kami takut kepadanya, tapi kami anggap Cin-ciangkun bukanlah musuh kami."
"Kalau tidak bermaksud menyerang markas kami, untuk apa kalian berkumpul di luar tembok besar ini?"
Lie Eng memotong dengan suara keras. Tertawalah Ciu Pek In mendengar kata-kata nona itu.
"Ha-ha. Ayahmu telah kena kami tipu dengan siasat kami. Memang tadinya pemimpin kami, Thio Sian Tiong yang namanya tentu telah kau dengar, berkumpul di sini dengan semua anggauta. Maka kaisar lalu mengerahkan tenaga ayahmu dan barisannya untuk mencegat di tembok besar hingga lima li panjangnya. Tapi apa kau-kira orang dapat menjaga sepanjang tembok yang laksaan li panjangnya ini? Thio-enghiong telah memimpin barisannya menerobos melalui tembok besar dari sebelah barat dan yang sekarang berada di sini hanyalah beberapa kaum tani dan kawan-kawan yang datangnya menggabungkan diri terlambat. Pada waktu ini, barisan Thio-enghiong telah masuk ke pedalaman dan entah telah menyerbu sampai di mana. Ha-ha-ha..."
Pucatlah muka Lie Eng mendengar ini. Ayahnya telah kena tipu. Mereka semua telah menjaga beberapa lama di tempat itu dengan sia-sia belaka.
"Kalau memang kami mengambil sikap bermusuhan, apakah kalian kira akan dapat keluar dari tempat ini?"
Ciu Pek In kembali tertawa. Lie Eng mendengar semua ini lalu cepat membalikkan tubuh dan lari pulang, diikuti oleh Ouwyang Bu.
"Sumoi... Bu-te... Tunggulah sebentar."
Tapi kedua anak muda itu terus lari cepat tanpa menoleh lagi. Ouwyang Bun ragu-ragu hendak menyusul pula, tapi tiba-tiba Ciu Pek In berkata kepadanya.
"Ouwyang-hengte, dengarlah kata-kataku sebentar. Kau adalah seorang muda yang panjang pikirannya dan cerdik, apakah masih juga belum dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah? Masih tidak percayakah kau bahwa perjuangan para pemberontak ini suci dan mulia?"
Dan tiba-tiba Ouwyang Bun mengurungkan niatnya untuk mengejar adik dan su-moinya.
"Bagaimana siauwte tidak merasa ragu dan bimbang? Memang kalau melihat lo-cianpwe dan saudara-saudara yang berada di sini, siauwte merasa tak percaya bahwa cuwi sekalian tergolong orang-orang yang jahat, perampok dan mengacau rakyat seperti yang sering kudengar dikatakan orang. Akan tetapi sebaliknya, apakah orang-orang seperti suhu, susiok bahkan ayahku sendiri dapat keliru dan salah?"
Ciu Pek In tertawa sebelum menjawab.
"Aku tidak pernah mempersalahkan susiok-mu. Cin-ciangkun adalah seorang perwira dan perajurit dan memegang teguh tugas kewajibannya sebagai seorang perajurit sejati. Juga suhumu tak dapat dipersalahkan, karena selain orang tua itu selalu berada di atas gunung hingga tak pernah melihat keadaan dunia ramai dan tidak tahu pula kelaliman raja dan para pembesar korup, juga karena ia percaya penuh kepada sute-nya, yakni Cin-ciangkun, yang dianggapnya sedang bertugas membasmi segala gerombolan perampok jahat. Adapun tentang orang tuamu, yah, aku tak dapat memberi sambutan apa-apa terhadap pandangan seorang hartawan besar seperti ayahmu itu."
Diam-diam Ouwyang Bun merasa heran sekali terhadap orang tua yang agaknya mengerti segala apa tentang dirinya dan guru serta orang tuanya.
"Anak muda, akupun tidak menyalahkan kau, karena kau masih hijau dan belum berpengalaman. Cobalah kau merantau dan lihatlah dunia dengan segala isinya ini sambil mempergunakan pertimbanganmu, maka kau akan mengerti mengapa orang seperti kami sampai memberontak terhadap kaisar yang memegang pemerintahan pada masa ini."
Dengan hati bingung dan pikiran kacau, Ouwyang Bun akhirnya minta diri dan lari pulang ke markas Cin-ciangkun.
Ternyata sumoinya yang sudah tidak tahan lagi pada malam itu juga pergi ke kamar ayahnya dan membangunkan orang tua ini lalu menceritakan pengalamannya.Cin Cun Ong mendengar ini menjadi marah sekali dan ia berjalan hilir-mudik di dalam kamarnya sambil menggigit-gigit bibir dengan gemas.
"Kurang ajar. Pantas saja mereka tak pernah menyerang, tidak tahunya mengatur muslihat curang. Celaka, kita harus cepat-cepat mundur untuk menjaga serangan mereka di pedalaman."
Ketika Ouwyang Bun tiba di markas, ternyata panglima tua itu telah mengumpulkan semua perwira dan pemimpin pada malam hari itu juga.
"Besok pagi-pagi, di waktu fajar menyingsing, kita semua harus mundur dan berpencar menjadi lima. Sebagian harus tinggal di sini untuk tetap menjaga, kalau-kalau ada barisan pembantu pemberontak hendak lewat di sini. Aku sendiri pimpin barisan induk langsung menuju ke kota raja. Sisa barisan semua menuju ke barat dan bermarkas di kota See-bun, bersatu dengan kesatuan di bawah pimpinan Lu-ciang-kun. Jurusan barat itu harus diperkuat karena kuduga bahwa barisan pimpinan Thio Sian Tiong ini tentu hendak bergabung dengan sisa barisan Lie Cu Seng dari barat."
Setelah memberi instruksi secara cermat kepada semua perwira dan pemimpin regu, pertemuan lalu dibubarkan untuk memberi kesempatan kepada mereka bersiap dan berkemas.
Cin Cun Ong lalu memanggil menghadap ketiga orang tua yang menjadi pembantunya itu, yakni Khu Ci Lok si Huncwe Maut dan kedua temannya.
"Sam-wi ketahui sendiri bahwa tugasku di sini gagal. Kalau memang sam-wi berniat membasmi kaum pemberontak, silakan menggabung dengan para pahlawan keraton yakni barisan Sayap Garuda atau Kuku Garuda. Dapat juga sam-wi bekerja sendiri, karena kini pemberontak telah masuk di pedalaman hingga di mana-mana mereka mungkin bergerak."Kemudian panglima tua itu memberi bekal beberapa kantung emas dan perak kepada tiga orang itu sambil memberi petunjuk-petunjuk. Lalu ia panggil Ouwyang-hengte.
"Kalian berdua telah berjasa karena dengan kenekatanmu keluar dari sini malam tadi dan telah membuka rahasia mereka. Kalian merasa bosan dan tidak senang karena di sini menganggur saja? Nah, di pedalaman akan terjadi banyak pertempuran dan kalian boleh membantu aku membasmi anggauta gerombolan itu sebanyak mungkin. Kita menuju ke kota raja."
Ouwyang Bun berkata.
"Susiok, kalau kiranya susiok mengijinkan, teecu ingin sekali meluaskan pengalaman dengan merantau, karena sejak turun gunung teecu terus langsung ke sini dan belum mendapat pengalaman. Maka, ijinkanlah teecu berdua menuju ke kota raja dengan jalan memutar dan biarlah teecu menjumpai susiok di kota raja dan menggabungkan diri di sana."
Cin Cun Ong tidak keberatan dan memberi pesan agar kedua murid keponakan itu berlaku hati-hati di sepanjang jalan.
Maka pada keesokan harinya berangkatlah semua orang memenuhi tugas masing-masing.
Berbeda dengan rombongan Cin-ciangkun yang menuju langsung ke selatan, Ouwyang-hengte memutar ke barat.
Tapi ketika mereka melarikan kuda belum ada dua puluh li meninggalkan benteng itu, tiba-tiba dari belakang terdengar suara kaki kuda dilarikan dengan cepat dan ketika mereka menengok, ternyata yang mengejar mereka adalah Cin Lie Eng.
"Eh, sumoi, engkau menyusul kami?"
Terdengar Ouwyang Bu berseru girang sekali hingga kakaknya diam-diam memperhatikan adiknya ini, karena semenjak pergi tadi adiknya tampak tidak gembira, tapi kini tiba-tiba melihat sumoi itu lalu berobah menjadi girang sekali.
"Aku hendak ikut kalian merantau."
Jawab Lie Eng dengan muka merah karena tadi ia terlalu cepat melarikan kudanya.
"Sumoi, apakah hal ini sudah mendapat persetujuan ayahmu?"
Tanya Ouwyang Bun. Lie Eng memandangnya dengan mata berseri.
"Tentu saja, twa-suheng. Ayah juga menganggap ada baiknya aku mencari pengalaman, sekalian memata-matai keadaan dan gerakan lawan."
Ouwyang Bun tak dapat mengatakan ketidakcocokan hatinya terhadap sumoinya ini dan terpaksa menerimanya.
Mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan dengan perlahan sambil mengobrol dan melihat-lihat pemandangan di sepanjang jalan.
Di sepanjang jalan, dengan diam-diam Ouwyang Bun memperhatikan keadaan rakyat dan keadaan kampung-kampung serta kota-kota.
Sedikit demi sedikit terbukalah matanya terhadap kenyataan yang pahit dan menyakitkan hati.
Memang, semenjak pertemuannya dengan Ciu Pek In, dalam hatinya timbul keraguan akan kesucian tugas yang sedang dijalankan oleh susioknya.
Dalam pandangannya, Ciu Pek In tampak begitu gagah dan budiman, sedangkan kedua nona yang menjadi murid Ciu Pek In tampak begitu cantik dan gagah.
Orang-orang macam itukah yang harus dibasmi?
Ia kini melihat betapa semua sawah ladang yang berada di bumi Tiongkok sebagian besar dimiliki oleh beberapa gelintir orang saja, pertama-tama oleh para pembesar negeri, dari lurah sampai yang berpangkat tinggi, kedua oleh para hartawan yang seakan-akan menjadi raja kecil di kampung-kampung.
Pada suatu hari mereka bertiga masuk ke dalam sebuah kampung yang cukup besar dan ramai.
Ketika tiba di sebuah jembatan, terpaksa mereka hentikan kuda mereka karena jembatan itu penuh dengan orang-orang.
kampung yang sedang mengelilingi seorang laki-laki tua yang sedang menangis.
Mereka memegangi kedua lengan orang tua itu dan membujuk-bujuk-nya.
Ouwyang Bun segera meloncat turun dari kuda dan bertanya kepada seorang di antara mereka?
"Eh, laoko, apakah yang terjadi di sini?"
Orang itu menengok dan ketika melihat Ouwyang Bun dan kedua kawannya ber pakaian sebagai orang-orang gagah berpedang, segera memberi hormat dan berkata perlahan.
"Siapa lagi kalau bukan seorang daripada pembesar-pembesar busuk yang menyusahkan kehidupan kami? Sekarang yang menjadi korban adalah empek she Lim ini. Ia adalah penduduk kampung ini semenjak mudanya, hidup sebagai petani miskin. Tapi ia cukup beruntung karena anak perempuannya telah kawin dengan seorang pemuda tani yang pandai bekerja hingga penghidupan empek ini dan anaknya terjamin. Empek Lim demikian senang melihat keadaan anaknya yang telah kawin dengan baik-baik hingga ia ingin menyatakan terima kasihnya kepada Yang Mahakuasa maka diajaknya anak dan mantunya pergi ke kota Lam-ciu untuk bersembahyang di kelenteng. Tapi tiba-tiba datang malapetaka menimpanya. Di dalam kota, anak perempuannya terlihat oleh tikwan kota Lam-ciu yang terkenal mata keranjang, hingga pembesar itu mengucapkan kata-kata yang menghina dan memalukan anak perempuan empek Lim itu. Tentu saja anaknya menjadi marah dan melawannya. Tikwan itu lalu bertindak dan anak mantu empek Lim ditangkap dengan tuduhan yang telah men bosankan kami."
"Tuduhan apa?"
Ouwyang Bun bertanya penasaran, sementara itu, Ouwyang Bu dan Lie Eng juga sudah mendekat dan mendengarkan.
"Apalagi? Tentu saja tuduhan sebagai kaki tangan pemberontak. Juga anak perempuannya ditangkap. Kemudian pembesar itu diam-diam memberi tahu kepada empek Lim bahwa, jika ia memberikan anak perempuannya dengan baik-baik untuk menjadi bini muda tikwan itu, maka anak mantunya boleh pulang dengan aman, akan tetapi kalau tidak, maka anak mantunya akan dihukum (Lanjut ke
Jilid 03) Sepasang Pendekar Kembar/Ouw Yang Heng Te (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03 terus, sedangkan anak perempuannya juga akan ditahan."
Orang itu menghela napas.
"Dan sekarang mengapa banyak orang membujuk-bujuk empek itu di sini?"
Tanya Lie Eng yang juga sangat tertarik dan penasaran oleh kelakuan tikwan jahanam itu.
"Pagi tadi empek Lim hendak bunuh diri dan terjun ke dalam sungai yang curam itu, maka ia dicegah oleh, orang banyak dan dibujuk-bujuknya supaya jangan mengambil keputusan pendek dan-nekat."
Ouwyang Bu tidak sabar lagi. Ia bertindak maju mendekati empek Lim itu dan berkata.
"Orang tua, jangan kau khawatir. Kami bertiga sanggup menolongmu."
Kakek itu heran mendengar kata-kata ini karena terdengar baru dan ganjil.
Semenjak ia mendapat kesusahan ini, orang-orang hanya menghiburnya dan minta ia menyerahkan nasib kepada Yang Maha Kuasa.
Tapi anak muda ini sanggup menolongnya, maka ia lalu mengangkat muka memandang.
Melihat betapa anak muda itu berpakaian dan berwajah tampan dan gagah, serta di pinggang tampak gagang pedang,, tiba-tiba ia mendapat harapan besar.
Ia lalu maju berlutut di depan Ouw-yang Bu dan kedua kawannya yang juga mendekatinya.
"Kalau enghiong bertiga dapat menolong tak dan mantuku, aku yang tua akan bersembahyang siang malam memohon kepada Thian agar membalas budi kalian orang-orang gagah."
Kata-kata yang diucapkan dengan bibir gemetar dan mata basah ini membuat Lie Eng merasa terharu.
"Hayo antar kami ke kota Lam-oiu untuk bertemu dengan tikwan itu."
Kata gadis itu dengan gagah.
Melihat peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya itu, yakni betapa ada orang-orang muda yang hendak melawan tikwan, orang-orang kampung merasa heran dan gembira dan segera ada orang yang meminjamkan seekor kuda kepada empek Lim ke Lam-ciu.
Ketika mereka tiba di kota Lam-ciu mereka langsung menuju ke gedung tikwan.
Melihat gedung yang angker dan megah itu, empek Lim menggigil karena bagaimana mereka dapat melawan seorang pembesar yang memiliki kekuasaan Tapi Lie Eng menghiburnya.
"Jangan kau takut, lopeh, aku yang tanggung bahwa, anak dan mantumu pasti akan dibebaskan?"
Mendengar suara gadis yang gagah itu, empek Lim merasa agak terhibur. Kedatangan mereka berempat disambut oleh penjaga pintu dan Ouwyang Bu berkata kepadanya.
"Beritahukan kepada tikwan bahwa kami hendak bertemu."
Penjaga itu menjadi marah melihat lagak mereka dan sebentar saja lima orang penjaga telah menghadapi mereka.
"Kami bertiga sengaja mengantar empek Lim ini untuk menghadap kepada tikwan dan minta keadilan,"
Kata Ouwyang Bun yang tidak mau menerbitkan keributan dengan penjaga itu.
"Tunggu saja di sini, akan kami laporkan...' kata kepala penjaga yang lalu masuk ke dalam. Tak lama kemudian penjaga itu datang dan mereka diperkenankan masuk, tapi dikawal oleh belasan penjaga. Tikwan kota Lam-ciu adalah seorang gemuk yang bermulut lebar. Ketika ia keluar dengan pakaian kebesaran, wajahnya nampak pucat dan kepalanya dibalut. Begitu keluar dan melihat para tamunya yang memakai pedang di pinggang, ia segera menuding ke arah Ouwyang-hengte dan Lie Eng sambil berseru keras.
"Nah, inilah orang-orangnya. Tangkap... tangkap mereka..."
Para penjaga yang belasan jumlahnya itu segera maju mengurung hingga Ouwyang-hengte dan Lie Eng menjadi marah sekali.
Mereka cepat mencabut pedang, dan Lie Eng meloncat bagaikan seekor burung ke arah tikwan itu lalu ia pegang pundaknya dan pedangnya ditempelkan di lehernya.
"Kalau orang-orangmu bergerak, maka lehermu akan kuputuskan lebih dulu."
Ancamnya dengan marah dan gemas.
"Ampun... ampun, lihiap... ampun.,"
Tikwan itu ketakutan dan ia membentak para kaki tangan.
"Eh, kalian... mundur..."
"Kau anjing gemuk. Tidakkah kau tahu sedang berhadapan dengan siapa? Kalau aku beri tahu kepada ayahku, pasti dengan tangannya sendiri ia akan mematahkan batang lehermu. Kau kenal ayah? Namanya Cin Cun Ong, kenalkah kau??"
Makin takutlah tikwan itu mendengar nama Cin Cun Ong.
Ia kini ingat bahwa Cin-ciangkun yang berpengaruh itu mempunyai seorang puteri yang gagah perkasa.
Jadi inikah puterinya itu?
"Ampun, lihiap...
ampun.
Apakah salahku maka lihiap memberi pengajaran?
Aku...
aku tidak bersalah apa-apa terhadap Cin-ciangkun..."
"Kau memang tidak bersalah terhadap kami, tapi apa yang telah kau lakukan terhadap keluarga Lim? Lihatlah kepada empek ini, apa yang telah kau perbuat terhadap anak perempuan dan menantunya?"
"Aku... aku... ah, mereka itu adalah pemberontak-pemberontak, lihiap. Menantunya adalah anggauta pemberontak, maka kusuruh tangkap."
Tiba-tiba ia mendapat pikiran baik dan berkata dengan penuh semangat.
"Lihatlah ini, lihiap. Aku dapat membuktikan bahwa menantu kakek Lim adalah pemberontak jahat, bahkan kakek Lim inipun tadinya hendak kusuruh tangkap hari ini juga. Malam tadi telah datang kawan-kawan menantunya dan apa yang mereka lakukan terhadapku? Lihatlah, sendiri."
Tikwan itu lalu melepaskan pembalut kepalanya dan ternyata telinga kirinya terpotong dan lenyap.
Kemudian secara singkat tikwan itu menceritakan betapa tadi malam kamarnya didatangi dua orang yang masuk dari jendela.
Orang-orang itu mengancamnya untuk melepaskan menantu dari anak kakek Lim dan dengan pedang mereka lalu menyabet putus telinga kirinya.
Dan di dalam kamarnya, di dinding yang putih, mereka gunakan darah yang mengucur dari telinganya untuk melukis sebatang bunga bwee.
Mendengar penuturan ini, Lie Eng saling pandang dengan Ouwyang-hengte.
"Aku tidak percaya, yang perlu sekarang lekas keluarkan dan bebaskan anak dan menantu kakek ini."
Tapi pada saat itu, datang masuk sambil berlari-lari seorang berpakaian penjaga.
"Celaka, taijin. Dua orang penjaga penjara terbunuh mati dan menantu kakek Lim telah dibawa kabur penjahat. Juga... anak perempuannya telah lenyap dari kamar tahanan."
Tikwan itu menjadi pucat.
"Nah, inilah bukti lebih nyata lagi, lihiap. Mereka itu pasti pemberontak-pemberontak jahat. Lekas tangkap anjing tua ini."
Ia memerintahkan orang-orangnya. Tapi Lie Eng mencegah.
"Lepaskan dia. Dia orang tua, tidak tahu apa-apa. Lim-lopeh, sekarang pulanglah kau. Anak dan menantumu ternyata telah ditolong oleh orang-orang lain."
Suara Lie Eng mengandung nada tak senang karena kini iapun percaya bahwa menantu kakek Lim itu tentu anggauta pemberontak.
"Mari kita periksa lukisan di dinding kamarmu,"
Katanya kepada tikwan itu yang lalu mengantar mereka bertiga ke kamarnya.
Tikwan ini benar-benar takut dan tunduk kepada Lie Eng, karena nama Cin Cun Ong yang terkenal, sebagai seorang jenderal perang yang keras, jujur, dan suka bertindak terhadap siapa saja yang tidak benar dalam anggapannya itu membuat semua pembesar merasa takut.
Kini menghadapi puleri panglima tua itu, tentu saja ia merasa gemetar apalagi karena tahu bahwa gadis ini memiliki kepandaian tinggi dan kini datang berkawan pula.
Benar saja, di atas dinding yang putih terdapat lukisan setangkai bunga bwee yang indah, dilukis dengan menggunakan tinta darah.
"It-to-bwee (Setangkai Bunga Bwee)?? Siapakah mereka ini?"
Tanya Lie Eng. Tapi Ouwyang-hengte yang baru saja muncul dalam dunia ramai, tentu saja belum pernah mendengar nama ini. Setelah mereka keluar dari gedung tikwan, Ouwyang Bun berkata kepada Lie Eng.
"It-to-bwee tidak ada hubungannya dengan kita, untuk apa kita urus mereka? Asalkan mereka tidak mengganggu kita, biarkan sajalah. Lebih baik kita lanjutkan perjalanan kita."
Lie Eng mengerutkan jidatnya yang berkulit halus.
"Tidak tahukah kau bahwa mereka itu mungkin anggauta-anggauta pemberontak yang berada di kota ini, kita harus cari dan basmi mereka. Demikianlah pesan ayah. Coba saja ingat, malam tadi mereka telah melukai seorang tikwan dan membunuh mati dua orang penjaga."
"Tapi mereka lakukan itu untuk menolong empek Lira dan anak menantunya. Bukankah kita juga tadinya bermaksud menolong mereka? Sudah sepatutnya tikwan jahanam itu mendapat hukuman."
Kata Ouwyang Bun.
"Kalau semua orang boleh saja membunuh pegawai pemerintah, maka di manakah kewibawaan pemerintah. Tidak, twa-suheng, bagaimanapun, sudah kewajiban kita untuk mencari It-to-bwee ini dan menyelidikinya, apakah betul-betul orang-orang ini anggauta pemberontak yang perlu dibasmi."
Ouwyang Bun melihat betapa adiknya diam saja mendengar perbantahannya dengan Lie Eng, lalu bertanya untuk minta bantuan.
"Bagaimana pikiranmu, Bu-te? Apakah kita harus mencari mereka itu atau kita biarkan saja dan melanjutkan perjalanan kita?"
Setelah memandang kepada Lie Eng, Ouwyang-Bu menjawab.
"Aku sependapat dengan suraoi."
Mendengar jawaban ini, Lie Eng nampak gembira sekali dan lalu berkata dengan suara halus kepada Ouwyang Bun.
"Twa-suheng, mungkin kau juga benar dan mungkin mereka ini bukanlah anggauta pemberontak, tapi hanyalah orang-orang gagah yang merantau dari dunia kang-ouw. Tapi tidak ada salahnya kalau kita mencoba selidiki dulu. Kalau mereka ternyata orang-orang gagah, lebih baik lagi, kita bisa berkenalan dengan mereka. Bukankah ini baik sekali?"
Kata-kata ini diikuti senyuman manis hingga Ouwyang Bun terpaksa menurut.
"Tapi ke mana kita harus mencari mereka?"
Tanya Ouwyang Bu. Sebelum Lie Eng dapat menjawab pertanyaan sukar ini, Ouwyang Bun yang berotak cerdik berkata.
"Mereka telah menolong dan membawa pergi anak perempuan serta menantu empek Lim. Maka bagaimanapun juga, mereka pasti akan menghubungi empek Lim. Kalau hendak mencari tahu tentang mereka, tiada jalan lain kecuali menghubungi kakek itu."
Lie Eng bertepuk tangan memuji.
"Twa-suheng memang cerdik."
Ouwyang Bun melirik ke arah gadis itu dan diam-diam dalam hatinya ia memuji.
"Ah, kau sendiri yang cerdik luar biasa. Kau kira aku tidak tahu bahwa pujian-pujianmu ini sengaja, kau keluarkan untuk menyenangkan hatiku karena kalah dalam perbantahan tadi?"
Memang Lie Eng adalah seorang gadis yang berpikiran cepat dan cerdik.
Sebelum Ouwyang Bun mengeluarkan pendapatnya, memang ia telah berpendapat bahwa mereka harus mencari melalui empek Lim, tapi ia terlampau cerdik untuk menyatakan ini dan biarlah Ouwyang Bun yang mengemukakan pendapatnya.
Gadis ini setelah kenal baik dengan Ouwyang-hengte, dapat membedakan, kedua saudara itu, tidak saja membedakan rupa, tapi juga keadaan dan perangai mereka.
Ia tahu bahwa Ouwyang Bu keras hati dan jujur, tapi tidak sepandai Ouwyang Bun yang sangat cerdik dan berbudi halus itu.
Hanya satu hal yang tak diketahui oleh gadis itu, yakni bahwa di dalam dada Ouwyang Bun telah timbul perang pertimbangan dan perasaan mengenai baik buruk dan benar salahnya orang-orang yang mereka sebut pemberontak jahat itu.
Sebaliknya, dalam pikiran Ouwyang Bun sama sekali tiada sangkaan bahwa diam-diam gadis yang gagah dan cantik jelita itu telah jatuh hati kepadanya.
Sementara itu, sikap Ouwyang Bu yang terus terang dan jujur membuat Ouwyang Bun dan Lie Eng tahu jelas bahwa pemuda ini mencintai Lie Eng.
Demikianlah, setelah mengambil keputusan, ketiganya lalu cepat menyusul empek Lim yang pulang ke kampungnya menunggang kuda pinjamannya dengan cepat.
Dan ketika empek ini sudah mengembalikan kuda kepada pemiliknya dan pulang ke rumah, ia mendapatkan sebuah surat di dalam kamarnya.
Dengan cepat ia buka surat itu dan tangannya yang sudah tua itu gemetar ketika membaca isinya.
"Empek Lim yang baik. Aku dan kawan-kawanku telah menolong dan membebaskan anak serta menantumu dari cengkeraman pembesar korup. Tak mungkin menyuruh mereka pulang ke kampung karena pasti akan dicari oleh pembesar jahanam itu. Juga dengan suka rela menantumu hendak ikut dengan kami. Kalau kau hendak bertemu dengan mereka, datanglah malam ini di hutan sebelah timur kampung Tanda lukisan It-to-bwee."
Girang sekali hati empek Lim membaca surat ini.
Ah, benar saja anak dan menantunya telah selamat.
Tapi mengapa mereka hendak ikut dengan para penolong itu?
Siapakah mereka ini dan mengapa anak dan menantunya hendak ikut mereka?
Pada saat itu, dari luar jendela terdengar suara.
"Empek, tolong kau perlihatkan surat itu kepada kami."
Dan sebelum hilang kagetnya tahu-tahu tiga orang dengan gerakan cepat sekali telah berada di dalam kamarnya dengan meloncati jendela.
Tapi kekagetan kakek Lim segera lenyap ketika melihat bahwa yang datang adalah tiga anak muda yang menolongnya tadi.
Ia segera menjatuhkan diri berlutut di depan mereka, tapi Ouwyang Bun cepat mengangkatnya bangun.
Tanpa sangsi-sangsi lagi kakek-itu memberikan surat yang baru saja dibacanya kepada Lie Eng.
Dara ini mengangguk-angguk karena ia makin yakin bahwa It-to-bwee dan kawan-kawannya adalah para anggauta pemberontak, dapat diketahui dari sebutan-sebutan mereka kepada pembesar yang penuh dengan kebencian dan makian.
"Lopeh, hati-hatilah kau malam nanti, jangan sampai ada orang yang mengikutimu,"
Pesan Lie Eng. Mereka bertiga lalu meninggalkan kakek itu.
"Bagaimana, twa-suheng. Bukankah mereka itu mencurigakan sekali?"
Tanya Lie Eng.
Ouwyang Bun harus mengakui bahwa ia kini juga menyangka bahwa mereka itu adalah anggauta pemberontak.
Tapi dugaan ini bahkan mempertebal rasa kagumnya terhadap sepak terjang kaum pemberontak.
Kini ia dapat menduga mengapa kaum pemberontak itu demikian banyak mendapat bantuan para petani dan orang-orang miskin.
Ternyata perbuatan mereka yang selalu menolong kaum lemah dan miskin tertindas, membuat rakyat kecil merasa simpati dan membantu mereka, seperti halnya dengan menantu empek Lim yang telah tertolong itu, kini secara suka rela agaknyapun hendak masuk menjadi anggauta pemberontak.
"Lebih baik kita mendahului mereka dan menyelidiki sekarang juga ke hutan itu, ia utarakan pikirannya. Lie Eng dan Ouwyang Bu setuju dan berangkatlah mereka ke hutan di sebelah timur kampung, hutan ini memang lebat dan liar, penuh pohon siong yang telah puluhan tahun umurnya. Ouwyang-hengte dan Lie Eng menambatkan kuda mereka di luar hutan dan masuk hutan dengan jalan kaki. Mereka tak dapat menggunakan kuda karena kaki kuda bersuara berisik, menimbulkan kecurigaan.dan mudah diketahui orang dari jauh. Pada waktu itu hari telah, mulai gelap, lebih-lebih di dalam hutan yang penuh pohon-pohon besar itu. Setelah masuk di tengah-tengah hutan, ketiga anak muda itu melihat sekelompok orang duduk mengelilingi api unggun. Mereka segera menghampiri kelompok orang itu sambil sembunyi-sembunyi di belakang rumpun. Dan ketika melihat orang-orang itu, terkejutlah Ouwyang-hengte dan Lie Eng. Ternyata di antara beberapa orang yang tidak mereka kenal, tampak kedua orang gadis berpakaian laki-laki murid Ciu Pek In, dan di situ terdapat pula Lui Kok Pauw, murid Kengan-san yang pernah mereka jumpai di tempat Gak Liong Ek Si Naga Terbang dari Liok-hui dulu. Sungguh-sungguh di luar dugaan mereka, dan kini tak dapat diragukan lagi bahwa mereka ini adalah anggauta-anggauta pemberontak, bahkan tokoh-tokoh yang penting. Di antara mereka tampak juga seorang laki-laki muda dan seorang perempuan yang berpakaian petani tapi berwajah cantik, maka mereka bertiga dapat menduga bahwa kedua orang itu tentu anak dan menantu dari kakek Lim.
"Bagaimana, sumoi? Kita serbu saja?"
Ouwyang Bu berbisik perlahan kepada Lie Eng.
Melihat bahwa keadaan para anggauta pemberontak itu tidak sekuat dulu, karena hanya terdiri dari tujuh orang saja, sedangkan yang sudah ketahuan kehebatannya hanyalah kedua murid Ciu Pek ln dan Lui Kok Pauw saja, maka Lie Eng memberi tanda setuju dengan anggukan kepala.
Tapi Ouwyang Bun berpikir lain.
"Sabar dulu,"
Bisiknya.
"lebih baik kita muncul dengan baik-baik dan menanyakan It-to-bwee yang berada di antara mereka, dan kita lihat saja sikap mereka bagaimana."
Lie Eng dan Ouwyang Bu sebetulnya tidak menyetujui sikap sabar terhadap para pemberontak yang jelas menjadi musuh-musuh mereka itu, tapi tidak mau berbantah pada saat seperti itu.
Mereka lalu keluar dari tempat persembunyian dan dengan beberapa kali loncatan saja mereka telah berada di dekat mereka.
Tapi sungguh aneh, orang-orang yang mengelilingi api unggun itu tidak melihat kedatangan mereka.
Bahkan Lui Kok Pauw hanya menengok sebentar kepada mereka dengan acuh tak acuh.
Murid pertama dari Ciu Pek In, yakni gadis yang lebih tua daripada Siauw Leng yang dulu pernah mencoba kepandaian Ouwyang Bu, agaknya menjadi pemimpin kelompok itu, karena ia segera berdiri menyambut Ouwyang-hengte dan Lie Eng, menjura sebagai pemberian hormat lalu berkata.
"Sam-wi telah sudi mengunjungi tempat kami yang kotor, silakan duduk dekat api. Maaf bahwa kami tak dapat menyediakan tempat yang lebih baik kepada sam-wi, tapi agaknya dekat api lebih baik daripada di belakang rumpun alang-alang itu, ia menunjuk ke arah di belakang rumpun di mana tadi mereka bertiga bersembunyi.
"Kau sudah tahu bahwa kami tadi bersembunyi di sana, nona?"
Tanya Ouwyang Bun kagum.
Nona itu tersenyum dan wajahnya yang gagah itu tiba-tiba berobah manis sekali, hingga dalam pandangan Ouwyang Bun, gadis ini bahkan lebih cantik daripada Lie Eng.
Sayang bahwa pakaian dan topinya yang seperti laki-laki itu menyembunyikan kecantikannya.
"Bukankah sam-wi mencari It-to-bwee?"
"Di manakah pemberontak itu?"
Tiba tiba Lie Eng maju dan bertanya dengan suara keras. Gadis itu menghadapi Lie Eng dengan senyum sabar.
"Nona Cin, kau sungguh cantik dan gagah, pantas menjadi puteri Cin-ciangkun. Kau mau mencari It-to-bwee? Akulah orangnya, dan namaku Cui Sian."
"Bagus, dan mana kawanmu yang pergi bersamamu membunuh penjaga penjara?"
Tanya Lie Eng sambil mencabut pedangnya.
"Akulah orangnya, kalian sudah kenal padaku, bukan?"
Dan meloncatlah Siauw Leng menghadapi Lie Eng. Gadis yang lincah ini tersenyum dan matanya berseri-seri memandang ke arah Ouwyang Bu.
"Kalau begitu, menyerahlah kalian."
Bentak Ouwyang Bu. Cui Sian tertawa dengan nyaring.
"Kalian ini sungguh harus dikasihani. Benar seperti kata suhu bahwa kalian adalah tiga batang kembang teratai yang tumbuh di. dalam lumpur. Tanpa sadar kalian telah menghambakan diri kepada raja lalim, memusuhi pejuang-pejuang rakyat. Tanpa disadari membela para pembesar ganas, pemeras rakyat jelata."
Mendengar ini, Lie Eng tak dapat mengendalikan kesabaran hatinya lagi.
"Bangsat pemberontak."
Makinya dan pedangnya berkelebat menyambar. Tapi dengan gesit sekali Cui Sian dapat mengelakkan serangan itu sambil mencabut pedang.
"Kau hendak menguji kepandaian? Baik, baik, mari kita main-main sebentar, agar kau ketahui kehebatan It-to-bwee."
Maka bertempurlah Lie Eng dan Cui Sian.
Keduanya sama gesit dan sama mahir mempermainkan pedang.
Keduanya sama-sama murid tokoh persilatan yang tenar namanya.
Sebagai puteri tunggal dari Cin Cun Ong, tentu saja Lie Eng memiliki kepandaian silat dan ilmu pedang yang luar biasa, karena sepasang pedang (siang-kiam) di tangannya itu dimainkan dengan ilmu silat pedang-berpasang ciptaan ayahnya sendiri yang disebut Im-yang Siang-kiam-hoat.
Begitu ia putar kedua pedangnya, lenyaplah tubuhnya terbungkus sinar kedua pedangnya itu.
Tapi ia kini menghadapi Cui Sian, murid pertama dari Ciu Pek In yang terkenal sebagai Si Naga Sakti.
Cui Sian atau yang dijuluki It-to-bwee (Setangkai Kembang Bwee) segera memutar pedangnya dalam gerakan ilmu silat Sin-liong Kiam-sut yang memiliki sinar panjang dan kuat.
Gerakan pedangnya seperti gelombang samudera yang menelan sinar kedua pedang Lie Eng, tapi karena Lie Eng mempunyai ilmu pedang Im Yang yang gerakannya sangat bertentangan yang kiri dengan tenaga kekerasan, sebaliknya yang kanan digunakan dengan tenaga lembek, dan begitu sebaliknya hingga untuk beberapa puluh jurus mereka bertempur dengan hebat dalam keadaan berimbang.
Akan tetapi, setelah bertempur seratus jurus, diam-diam Lie Eng mengakui bahwa kepandaian lawan ini sungguh hebat dan luar biasa, dan mulailah ia terdesak.
Tiba-tiba terdengar bentakan Ouwyang Bu yang tidak enak harus tinggal diam saja melihat Lie Eng terdesak.
Ia menyerbu masuk ke dalam kalangan pertempuran dengan pedang di tangan.
Tapi ia disambut oleh Siauw Leng, yakni adik dari Cui Sian.
Seperti dulu, kedua anak muda ini bertanding lagi.
Tapi kalau dulu mereka hanya bertanding tangan kosong, kini keduanya menggunakan pedang.
Juga Ouwyang Bu begitu pedangnya terbentur dengan pedang Siauw Leng, harus mengakui bahwa gadis yang lincah ini memiliki tenaga lweekang dan gerakan pedang yang hebat dan merupakan lawan yang kuat.
Ouwyang Bun berdiri bingung.
Haruskah ia turun tangan?
Ia melihat bahwa selain Lui Kok Pauw, di situ masih ada tiga o-rang lagi yang agaknya memiliki kepandaian tinggi, maka andaikata ia maju pula turun tangan, belum tentu pihaknya akan mendapat kemenangan, dan hasil dari serbuan ini tentu hanya akan memperhebat permusuhan belaka.
Oleh karena itu ia mencabut pedangnya dan meloncat memisah Cui Sian dan Lie Eng yang sedang bertempur sambil berkata.
"Sumoi, tahan."
Lie Eng melohcat mundur dan merasa girang karena menyangka bahwa Ouwyang Bun hendak menggantikannya, tapi ia kecewa melihat bahwa Ouwyang Bun hanya memisah saja, bahkan kini membentak adiknya supaya menghentikan pertempurannya.
Ouwyang Bu dengan bersungut-sungut juga meloncat mundur dan pertempuran dihentikan.
Orang-orang yang mengelilingi api unggun tetap di tempatnya tidak bergerak.
"It-to-bwee, kau memang gagah dan maafkan kami-kalau mengganggu. Biarlah lain kali kita bertemu pula."
Kata Lie Eng dengan hati gemas kepada Ouwyang Bun yang tak mau membantunya.
"Nona Cin, kau juga hebat,"
Jawab Cui Sian sambil tersenyum.
"sayang kita dilahirkan di tempat yang berbeda, kalau tidak, aku akan senang sekali bersahabat dengan kau."
Tanpa menjawab dan dengan muka cemberut menandakan bahwa hatinya masih merasa dendam dan jengkel karena tak dapat mengalahkan lawannya, Lie Eng lalu meloncat pergi, diikuti oleh Ouwyang Bu.
Sementara itu, Ouwyang Bun menjura kepada Cui Sian sambil berkata.
"Kulihat bahwa nona dan kawan-kawan nona adalah orang-orang perwira yang memiliki kepandaian tinggi dan orang baik-baik, tapi mengapa sampai menjadi anggauta pemberontak?"
Nona itu memandang wajah Ouwyang Bun dengan tajam dan tiba-tiba muka yang tadinya lemah lembut itu kini tampak berapi ketika ia berkata.
"Sudahlah. Kau yang dilahirkan di air laut tentu menganggap bahwa semua air rasanya asin dan tidak tahu bahwa air daratan adalah air tawar yang rasanya manis. Berkali-kali kami masih memberi kesempatan hidup kepada kau dan kawan-kawanmu tapi sekali lagi kita bertemu, hanya ujung pedanglah yang akan menentukan."
Ouwyang Bun merasa hatinya tertusuk sekali oleh ueapan ini dan ia makin bimbang dan ragu-ragu.
Menghadapi dua pihak yang bermusuhan ini, ia merasa terjepit di tengah-tengah seakan-akan orang berdiri di antara dua api yang bernyala-nyala panas.
Akhirnya dengan menghela napas dan menundukkan kepala ia pergi menyusul Lie Eng dan Ouwyang Bu.
Setelah mereka bertiga berkumpul kembali, Ouwyang Bu berkata.
"Mereka masih berada di sana, mengapa kita tidak minta bantuan pembesar kota untuk mengerahkan barisan penjaga dan menawan mereka itu? Dengan bantuan kita bertiga, tentu mereka semua akan dapat dibekuk dan diserahkan kepada pengadilan."
Ouwyang Bun buru-buru mencela usul adiknya dan berkata.
"Ah, apa perlunya hal itu kita lakukan? Kurang baik dan memalukan. Apakah untuk melawan beberapa orang saja kita harus mengerahkan barisan penjaga? Pula mereka telah berlaku lunak terhadap kita, apakah perlunya kita membalas dengan kekerasan. Ini akan memalukan dan menodai nama baik kita saja."
"Bun-ko. Mengapa akhir-akhir ini hatimu begitu lemah? Kau pikir sedang menghadapi siapa? Ingat, kita menghadapi pemberontak jahat. Mereka itu harus dibasmi. Sekarang kita bertemu dengan mereka dan mendapat kesempatan baik sekali, mau tunggu apa lagi?"
Ouwyang Bun menghela napas. Otaknya membenarkan kata-kata adiknya, tapi hatinya membantah. Ia lebih taat kepada suara hatinya, maka katanya.
"Bu-te, sebenarnya mereka itu mempunyai kesalahan apakah terhadap kita? Apakah mereka pernah mengganggu kau atau aku, atau bahkan pernah mengganggu sumoi? Mengapa kita mau menawan mereka dan kemudian mereka dihukum mati seperti semua orang yang dianggap anggauta pemberontak? Bukankah itu terlalu kejam?"
Lie Eng memandang wajah Ouwyang Bun dengan tajam, lalu berkata.
"Untung sekali bahwa kau tidak mengucapkan kata-kata ini di depan ayah. Kata-katamu ini dapat dianggap mengkhianati negara. Ah, twa-suheng, kau tak dapat menjadi seorang perajurit yang baik. Kau bukan berdarah perajurit hingga kau terlalu menurutkan suara hati, dan tidak taat kepada perintah atasan serta tidak tahu akan tugas kewajiban sebagai seorang perajurit. Aku tidak dapat menyalahkan-mu, suheng, karena kau belum pernah mengalami pertempuran hebat. Kalau saja kau tahu dan pernah mengalami betapa para pemberontak itu menyembelih tentara kita dengan kejam, betapa mereka itu membasmi dan membinasakan seluruh keluarga para pembesar yang jatuh ke tangan mereka, betapa anggauta-anggauta mereka itu pada malam hari mendatangi gedung-gedung orang hartawan dan pembesar tinggi untuk merampok harta dan membunuh jiwa, betapa mereka bercita-cita untuk menggulingkan pemerintah dan untuk membunuh kaisar dan semua pembesar tinggi yang sekarang berkuasa, tentu kau takkan bicara seperti itu."
Gadis ini bicara dengan bernapsu sekali.
Dan aneh, tiba-tiba saja kedua matanya yang bening dan bagus itu mengalirkan air mata.
Melihat keadaan gadis itu dan mendengar kata-katanya, Ouwyang Bun duduk kebingungan, sedangkan Ouwyang Bu merasa terharu dan jengkel, la memang telah jatuh hati kepada sumoinya ini dan mencintainya tanpa disadarinya, maka mendengar kata-kata gadis itu, timbullah semangatnya.
Serentak ia berdiri dan mengepal tinju.
"Kalau begitu, mengapa kita membuang-buang waktu di sini dengan mengobrol saja? Hayo kita lekas menjemput pengawal dan membasmi mereka itu."
Tapi biarpun Ouwyang Bun telah mendengar kata-kata.
gadis itu dengan segala alasannya, namun ia tetap ragu-ragu dan1 tidak bergerak dari tempat duduknya.
Mungkinkah seorang gadis secantik dan segagah Cui Sian itu dapat berlaku sekejam dan sejahat itu?
Ketika Lie Eng melihat sikap Ouwyang Bu yang bersemangat, ia berkata.
"Ji-suheng, takkan ada artinya kalau kita menyerbu ke sana. Sepanjang pengetahuanku, mereka itu bukanlah orang-orang bodoh, dan setelah tempat mereka kita ketahui, tentu mereka akan berpindah tempat secepatnya dan dapat kupastikan bahwa jika kita membawa barisan menyerbu ke sana, tentu mereka telah pergi dari situ. Kalau hal ini terjadi, maka kita hanya akan mereka tertawakan dan mendapat malu saja. Biarlah kali ini kita biarkan mereka, tapi lain kali kalau kita mendapat kesempatan] bertemu dengan anggauta pemberontak lagi, kita sekali-kali tidak boleh berlaku lemah."
Sambil berkata demikian, Lie Eng mengerling kepada Ouwyang Bun yang hanya menundukkan kepala.
Pada keesokan harinya, setelah meninggalkan pesan kepada tikwan agar jangan berlaku sewenang-wenang dengan ancaman bahwa hal itu akan diadukan kepada ayahnya, Lie Eng dan Ouwyang-hengte meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perantauan mereka.
Pada suatu hari mereka tiba di sebuah kampung yang tampak sunyi sekali.
Di dalam kampung itu terdapat dua buah rumah penginapan sederhana, tapi anehnya, ketika ketiga anak muda itu hendak bermalam dan minta kamar, kedua rumah penginapan itu tidak mau menerima mereka dengan alasan kamar penuh.
Ouwyang Bu yang beradat keras segera berkata.
"Kamar penuh? Eh, louwko, kami datang dari tempat jauh dan sudah lelah sekali. Kau harus menerima kami."
Pengurus rumah penginapan itu dengan wajah muram menjawab.
"Bagaimana kami dapat menerima kalian? Kamar sudah penuh, lebih baik sam-wi terus saja, Di sebelah barat kira-kira limabelas li dari sini terdapat sebuah kampung dan di situ juga ada rumah penginapan."
"Kau gila?"
Ouwyang Bu membentak.
"Hari sudah malam dan kami sudah lelah, kau bilang harus melanjutkan perjalanan? Kau katakan bahwa rumah penginapanmu penuh, tapi mana tamunya? Aku tidak melihat seorangpun di sini. Jangan kau menipu kami, apa kau kira kami takkan membayar sewa kamarnya?"
Melihat pemuda itu menjadi marah, pengurus rumah penginapan yang sudah tua itu cepat menjura dengan hormat.
"Maaf kongcu, bukan saya menipu, tapi benar-benar semua kamar telah diborong oleh Lai-loya untuk digunakan malam ini dan besok hari. Saya tidak berani melanggar perintah dan pesannya."
"Lai-loyamu itu mengapa begitu serakah? Kamar begini banyak hendak disewanya semua? Sungguh gila."
Kata Ouwyang Bun yang juga merasa jengkel.
"Lai-loya hanya menggunakan dua kamar, tapi ia tidak mau terganggu oleh tamu-tamu lain, maka ia borong semua kamar. Dan siapakah yang berani membantah perintah Lai-loya?"
Kata pengurus itu dengan muka takut-takut dan melihat ke sana-sini karena ia khawatir kalau-kalau ada orang mendengar betapa Lai-loya dimaki-maki oleh Ouwyang Bun.
Mendengar jawaban ini, Ouwyang Bu marah sekali dan ia segera mengangkat tangan hendak memukul sambil berkata.
"Kau harus memberi kamar kepada kami. Sedikitnya kau harus melihat bahwa di antara kami ada terdapat seorang siocia. Aku dan kakakku dapat tidur di luar atau di lantai, tapi untuk siocia ini kau harus memberi sebuah kamar."
Ouwyang Bun melihat betapa adiknya hendak memukul tuan rumah, segera mencegahnya dan dengan suara halus lalu berkata.
"Saudara, berlakulah baik hati dan berilah sebuah kamar untuk sumoiku ini. Nanti kalau Lai-loya itu marah, kami yang akan menghadapinya."
Lie Eng juga tidak sabar lagi, lalu maju dan bertanya kepada pengurus rumah penginapan.
"Eh, sebenarnya Lai-loya ini orang macam apakah? Apakah ia telah menjadi raja?"
"Di kampung ini ia memang sama dengan raja. Siapa berani membantahnya? Hampir semua rumah-rumah di kampung ini adalah miliknya dan semua sawah ladang di sekeliling kampung inipun miliknya. Boleh dibilang sekampung ini adalah hambanya, karena betapapun juga, kami telah berhutang budi kepadanya."
"Berhutang budi? Bagaimana maksudmu?"
Tanya Lie Eng.
"Lai-loya telah begitu baik hati sudi menyewakan rumah-rumahnya itu kepada kami dan menyerahkan tanah-tanahnya itu untuk kami kerjakan dengan bagi hasil. Kalau tidak ada dia, bukankah kami akan mati kelaparan?"
Lie Eng memandang heran, sedangkan Ouwyang Bun tiba-tiba menjadi tertarik sekali.
"Kau bilang bahwa dia yang menolong semua penduduk kampung ini? Dan berapa kau bayar untuk sewa rumah ini?"
"Murah saja, hanya seperempat bagian dari seluruh hasil usaha kami."
"Seperempat bagian? Dan kau katakan ini sebagai pertolongan?"
Setelah berkata demikian, tiba-tiba Ouwyang Bun tertawa bergelak-gelak.
Ia merasa geli dan kasihan melihat kebodohan orang kampung itu dan merasa marah mengingat akan kelicinan orang she Lai yang memeras penduduk kampung tapi masih menerima ganjaran nama baik sebagai "penolong besar"
Itu. Alangkah bodohnya orang-orang kampung ini dan alangkah pintarnya hartawan itu.
"Apalagi kalau bukan pertolongan?"
Pengurus rumah penginapan itu berkata lagi.
"Kalau tidak ada Lai-loya, takkan ada rumah ini, dan kalau tidak ada rumah ini, kami takkan dapat membuka perusahaan ini."
Kembali Ouwyang Bun tertawa geli.
"Dan sawah-sawah ladang itu? Apakah hendak kau bilang juga bahwa kalau tidak ada Lai-loyamu itu, maka takkan ada sawah ladang dan tanah? Apakah Lai-loya itu yang membikin tanah di sekitar kampung ini pula?"
"Tentu, kalau tidak ada dia tentu kita tidak bisa menyewa tanah sawah di sekitar kampung ini. Dan tentang membikin tanah..."
Penjaga rumah penginapan itu berhenti karena bingung.
"Bun-ko, sudahlah,"
Tiba-tiba Ouwyang Bu menyela kakaknya.
"apakah anehnya dengan semua itu? Memang sudah menjadi kebiasaan demikian, yakni penyewa rumah harus membayar dan penggarap tanah harus pula membagi hasilnya kepada pemilik tanah. Apakah yang aneh dalam hal ini maka kau menjadi heran dan menertawakannya?"
Ouwyang Bun memandang kepada adiknya dengan heran.
"Apa? Kau juga tidak dapat melihat kelucuan hal ini? Tak dapatkah kau melihat kejahatan orang she Lai itu? Kejahatannya lebih besar daripan da kejahatan seorang perampok. Tidak tahukah kau... dan kau, sumoi, kau juga tidak tahu? Tidak mengerti...?"
Ouwyang Bun memindah-mindahkan pandangan matanya kepada Lie Eng dan Ouwyang Bu, tapi kedua anak muda itu hanya balas memandang dengan penuh keheranan.
Akhirnya Ouwyang Bu segera memegang pundak kakaknya karena ia merasa cemas kalau-kalau kakaknya itu terlampau lelah.
"Bun-ko, sudahlah. Kau perlu beristirahat. Jangan pikirkan hal itu lagi, karena bukankah ayah juga seorang kaya dan memiliki banyak tanah dan rumah pula? Ingatlah, sawah-sawah dan rumah-rumah kita juga banyak disewa orang seperti yang terjadi di kampung ini."
Tapi sungguh tak terduga sama sekali, mendengar kata-kata adiknya ini, tiba-tiba Ouwyang Bun menggunakan tangannya untuk memukul tiang yang berdiri di dekatnya hingga dengan mengeluarkan suara keras tiang kayu yang besar itu roboh karena sebagian daripadanya hancur kena pukulan Ouwyang Bun.
"Itulah yang memualkan perutku. Itulah..."
Sambil berkata demikian pemuda itu berjalan ke arah sebuah kamar yang kosong dan tanpa melepas pakaian atau sepatunya lagi ia menjatuhkan diri di atas pembaringan dan kemudian terdengarlah dengkurnya.
Ouwyang Bu saling pandang dengan Lie Eng.
Keduanya heran sekali melihat kelakuan Ouwyang Bun seperti itu.
Sementara itu, pengurus rumah penginapan melihat betapa galaknya mereka ini, hinggai ia tak berani, membantah, lalu menyediakan dua kamar untuk mereka.
Hanya ia berkata berkali-kali kepada Ouwyang Bui dan Lie Eng bahwa mereka harus berani bertanggung jawab bila nanti Lai-loya menjadi marah.
"Jangan takut, kami yang akan menghadapi loyamu itu."
Ouwyang Bu akhirnya membentak marah hingga pengurus rumah penginapan itu menjadi takut dan pergi.
Lie Eng memasuki kamarnya dan beristirahat, sedangkan Ouwyang Bu masuk ke dalam kamar yang ditiduri kakaknya.
Dengan khawatir dan penuh kasih sayang, ia perlahan-lahan membuka sepatu kakaknya itu lalu menyelimuti tubuh Ouwyang Bun.
Lalu ia duduk di pinggir pembaringan dan berkali-kali meraba jidat kakaknya, karena ia khawatir kalau-kalau kakaknya jatuh sakit.
Ouwyang Bu sampai lupa akan diri sendiri yang sama sekali belum mel ngaso itu.
Sambil memandangi wajah kakaknya, ia merasa bingung memikirkan mengapa kakaknya menjadi begini.
Sungguh ia tidak mengerti.
Terdengar suara panggilan perlahan dari Lie Eng di luar pintu.
Ouwyang Bu lalu keluar.
Ternyata, setelah mencuci muka dan badan, gadis itu memesan makanan dan maksudnya mengajak kedua suhengnya itu makan malam.
"Sumoi, kau makanlah lebih dulu. Bun-ko belum bangun."
"Bagaimana dia? Apakah sakit?"
Lie Eng bertanya dengan khawatir lalu ia memasuki kamar itu.
Dengan penuh perhatian dipandangnya muka pemuda yang berbaring itu dan dengan gaya yang mesra dirabanya jidatnya.
Kemudian ia berpaling dan bersama Ouwyang Bu keluar dari kamar.
"Kalau begitu biarlah kita menanti sampai ia bangun,"
Katanya perlahan.
"Sumoi, kau makanlah dulu. Kau lelah dan sejak pagi tadi belum makan pagi. Makanlah, nanti kau sakit,"
Kata Ouwyang Bu dengan penuh perhatian.
Mendengar suara pemuda itu, Lie Eng menjadi terharu.
Ia maklum bahwa pemuda ini mencintainya, tapi apa daya hatinya telah terjatuh oleh sinar mata Ouwyang Bun.
la hanya menggelengkan kepala dan menjawab.
"Biarlah, ji-suheng, aku juga belum lapar benar. Kita makan sama-sama saja nanti kalau twa-suheng telah bangun."
Dan gadis ini lalu lari ke kamarnya.
Ketika Ouwyang Bii memasuki kamarnya lagi, ia melihat kakaknya bergerak-gerak.
Ia cepat menghampiri dan duduk di pinggir pembaringan.
Ouwyang Bun membuka matanya perlahan dan memandang adiknya.
"Bun-ko, bagaimana? Kau merasa pening?"
Tanya adiknya sambil memegang lengannya. Ouwyang Bun menggeleng-gelengkan kepala.
"Bun-ko, kau kenapa? Apakah kau marah kepadaku? Kalau aku bersalah, pukul saja aku, Bun-ko."
Tiba-tiba Ouwyang Bun bangun cepat. Ia peluk adiknya yang dikasihinya ini.
"Adikku, adikku... tidak. Kau tidak bersalah, Bu-te. Akulah yang bersalah, ah... kau juga... kita berdua dan... dan suhu juga..."
"Bun-ko, apa maksudmu?"
Ouwyang Bu memandang dengan mata terbelalak.
"Ya, suhu salah, bahkan..., ayah juga salah... Ah, adikku, tidak tahukah kau bahwa mereka itu, orang-orang yang kita anggap pengkhianat dan pemberontak jahat itu, mereka adalah orang-orang yang benar cinta kepada tanah air dan bangsa? Mereka adalah patriot-patriot sejati. Mereka benar, memang keadaan rakyat kita sangat sengsara dan perlu ditolong."
Ouwyang Bu memandang kakaknya dengan mata liar.
Ia takut kalau-kalau kakaknya telah menjadi gila.
Kata-kata kakaknya membuat ia marah sekali.
Ia pegang kedua pundak Ouwyang Bun sambil berkata dengan suara berbisik tapi penuh nap-su hingga terdengar mendesis.
"Apa katamu...? Apa katamu...??"
Ia mengguncang-guncangkan tubuh kakaknye seakan-akan hendak membuat kakaknya sadar dari maboknya Dengan tubuh lemas dan suara terputus-putus Ouwyang Bun berkata.
"Memang... suhu... susiok... ayah dan kita sendiri... kita semua tersesat dan menjadi... alat. belaka..."
"Plok..."
Tangan Ouwyang Bu menampar muka kakaknya.
Karena Ouwyang Bun tidak mengelak atau menangkis, maka tamparannya tepat mengenai pipi Ouwyang Bun hingga darah merah mengalir keluar, dari bibir pemuda ifu...
"Ya, tamparlah... tamparlah sekali lagi, dua kali, ya tamparlah seratus kali, Bu-te. Memang aku pantas ditampar untuk menebus dosa suhu, dosa ayah... dosa kita..."
Melihat betapa muka kakaknya yang dikasihinya itu berdarah, tiba-tiba Ouwyang Bu memeluk kakaknya dan menangis.
"Bun-ko... Bun-ko, jangan kau bicara begitu, Bun-ko... kau tidak sayang kepada adikmu...?"
"Bu-te, siapa bilang aku tidak sayang kepadamu? Aku tidak gila, juga tidak mabok. Semua kata-kataku itu kuucapkan dengan penuh kesadaran. Bu-te, kalau kau memang menurut kehendakku, marilah kita pergi dari sini. Marilah kita tinggalkan sumoi dan tinggalkan semua ini, kita pergi ke puncak gunung dan mengasingkan diri dari dunia yang penuh keributan ini."
Ouwyang Bu bangun duduk dan memandang muka kakaknya.
"Bun-ko, kalau aku tidak sangat sayang kepadamu, untuk ucapanmu terhadap ayah dan suhu tadi saja, sudah cukup bagiku untuk membunuhmu. Tapi aku tak dapat melakukan itu, dan kau... janganlah kau berbuat semacam ini, Bun-ko. Apakah kau ingin menjadi seorang pengkhianat? Ingin melawan dan memusuhi pendapat dan cita-cita ayah dan suhu sendiri? Di mana jiwa kebaktianmu terhadap orang tua dan guru? Apakah kau ingin menjadi pengecut yang merasa takut terhadap para pemberontak itu dan mengundurkan diri? Ah, Bun-ko, pikirlah baik-baik."
"Adikku, bukan sekali-kali aku pengkhianat atau pengecut. Kau cukup tahu o-rang macam apa kakakmu ini. Hanya saja, aku telah merasa yakin bahwa tindakan kita ini keliru. Kita tidak boleh memusuhi para pejuang rakyat itu, bahkan seharusnya kita membantu. Kalau kau suka menurut kakakmu dan masih percaya akan bimbinganku, mari kita pergi dan kau kelak akan melihat sendiri bahwa pendapatku ini benar semata-mata."
"Tak mungkin."
Adiknya menjawab sambil menggelengkan kepala. Ouwyang Bun memegang. pundaknya.
"Bu-te, kau cinta pada sumoi, bukan?"
Pundak yang dipegang itu sesaat menggigil sedikit. Akhirnya Ouwyang Bu mengangguk perlahan lalu menundukkan mukanya. Ouwyang Bun menepuk-nepuk pundak adiknya.
"Aku tahu, adikku. Dan aku girang, karena Lie Eng memang seorang gadis yang tepat sekali untuk menjadi isteri-mu. Tentang tunanganmu pilihan ibu, ah, aku sendiripun kurang begitu cocok dengan pendapat orang-orang tua yang secara sembrono telah memilihkan calon isteri untuk anak-anak mereka. Berbahagialah kau dengan Lie Eng, adikku."
Ouwyang Bu terkejut dan memandang muka kakaknya.
"Kau...kau hendak pergi ke mana, Bun-ko?"
Ouwyang Bun menggeleng-gelengkan kepala.
"Kau tak perlu tahu, Bu-te."
"Bun-ko, kau tahu, kalau... kalau di sini tidak ada sumoi, tentu aku akan ikut padamu."
Kakak itu menepuk-nepuk pundak adiknya.
"Aku tahu... aku tahu..."
Pada saat itu, dari luar terdengar bentakan keras.
"Orang-orang kurang ajar dari manakah berani merintangi kehendak Lai-loya?"
Sementara itu, Lie Eng menolak daun pintu kamar Ouwyang-hengte sambil berkata perlahan.
"Ji-wi suheng, mari kita makan dulu. Perutku sudah lapar sekali."
Ouwyang-hengte lalu turun dari pembaringan dan melangkah keluar.
Mereka melihat seorang laki-laki tinggi besar berdiri sambil bertolak pinggang dengan lagak sombong sekali.
Laki-laki tinggi besar itu memaki-maki pengurus rumah penginapan dan beberapa kali melirik ke arah Ouwyang-hengte dan Lie Eng, tapi ketiga anak muda ini tidak memperdulikannya, bahkan dengan tenang lalu duduk mengelilingi meja makan yang sudah disiapkan oleh Lie Eng.
Gadis ini tadi mendengar suara kedua suhengnya bercakap-cakap di dalam kamar, ia segera menyediakan makanan dan mengajak suheng-suhengnya makan, dan sedikitpun tidak memperdulikari rbentakan orang kasar di luar itu.
Begitulah, dengan enak ketiganya makan.
Lie Eng yang bermata tajam maklum bahwa ada terjadj sesuatu antara kedua suheng itu, karena sebentar-sebentar Ouwyang Bu memandang kakaknya sedangkan Ouwyang Bun menjadi pendiam sekali, tapi pandangan matanya tenang dan tidak liar seperti tadi ketika marah.
Sementara itu, laki-laki tinggi besar itu setelah mendengar keterangan pengurus penginapan, menjadi marah sekali.
Ia adalah kepala dari para tukang pukul atau kaki tangan Lai-loya.
Namanya Cu Houw dan ia terkenal kejam serta ditakuti karena bertenaga besar dan berkepandaian tinggi.
Ia hendak mengajar adat kepada orang-orang yang kurang ajar itu, tapi melihat bahwa mereka membawa pedang yang tergantung di pinggang ia dapat menduga bahwa mereka ini tentu mengerti silat dan karenanya hatinya menjadi agak ragu.
Untuk menambah semangat, ia segera menggerakkan tangan ke belakang dan dari luar rumah penginapan, lima orang kawannya yang tinggi besar dan bersikap angkuh segera maju.
Karena kini berenam, Cu Houw menjadi berani dan tabah.
"Mana tiga orang rendah yang berani mati dan kurang ajar itu?"
Bentaknya.
Ouwyang Bu tidak setenang dan sesabar.
Ouwyang Bun atau Lie Eng.
Dadanya telah terasa panas bagaikan terbakar dan mukanya perlahan-lahan berubah merah.
Ia lalu berkata kepada kedua kawannya cukup keras untuk didengar oleh Cu Houw.
"Sungguh menyebalkan anjing kuning itu, sejak tadi menggonggong dan menyalak-nyalak."
Lie Eng tertawa dan berkata.
"Mungkin ia lapar."
Ouwyang Bun menyambung.
"Ia mencium bau tulang, tentu saja ia menyalak-nyalak."
Kedua mata Cu Houw terputar-putar karena marahnya mendengar sindiran-sindiran yang diucapkan oleh ketiga anak muda itu.
Lebih-lebih kepada Ouwyang Bu yang memulai mengeluarkan sindiran itu.
Ia memandang dengan mata melotot dan seakan-akan hendak menelan bulat-bulat pemuda itu.
Dengan gerakan mengerikan ia mencabut sebilah pisau belati yang kecil dan tajam dari pinggangnya, lalu berkata.
"Kawan-kawan, biarlah aku binasakan binatang rendah ini dulu. Kalian lihatlah."
Tiba-tiba tangannya yang memegang pisau itu diayun dan senjata tajam yang kecil itu melayang cepat sekali ke arah tenggorokan Ouwyang Bu.
Lie Eng dan Ouwyang Bun melihat ini, tapi mereka tetap saja makan seakan-akan tidak melihat serangan berbahaya ini, sedangkan pada saat itu Ouwyang Bu sedang menggunakan sumpitnya untuk mengambil sepotong daging.
Melihat berkilatnya pisau yang menyambar ke arah lehernya, ia lepaskan daging itu dan menggerakkan sepasang sumpitnya ke atas dan tahu-tahu pisau itu telah terjepit oleh sepasang sumpitnya.
"Ha, kebetulan, ada yang memberi pisau untuk memotong daging yang alot dan keras ini,"
Katanya sambil tertawa menyindir.
"Ah, anjing itu tidak hanya menggonggong, tapi juga memperlihatkan giginya yang sudah ompong. Menjemukan benar."
Kata Ouwyang Bun.
Biarpun Cu Houw terkejut sekali melihat demonstrasi kepandaian Ouwyang Bu ini, namun ia merasa malu untuk mengundurkan diri.
Ia adalah kepala barisan pengawal Lai-loya yang telah terkenal dan disegani, apakah ia harus mundur menghadapi tiga orang anak muda saja?
Pula, di dekatnya ada lima orang kawannya yang kesemuanya berkepandaian, dan masih berpuluh-puluh lagi anak buahnya yang akan segera datang membantunya atas perintahnya.
Maka ia lalu memaki.
"Bangsat-bangsat kecil, hari ini yaya-mu akan mengajar adat kamu sekalian."
Sambil berkata demikian, ia mencabut goloknya dan memberi isyarat kepada kawan-kawannya yang juga mencabut senjata masing-masing.
Enam orang ini lalu menghampiri Ouwyang-hengte dan Lie Eng dengan sikap mengancam.
Tiba-tiba Ouwyang Bu menoleh kepada mereka dan dengan pandangan mata tajam ia membentak.
"He, kalian mau apa?"
Suaranya keras dan nyaring hingga untuk sesaat keenam orang itu terkejut dan ragu-ragu untuk melangkah maju.
"Kalian bertiga "berani betul memaksa untuk memakai kamar rumah penginapan yang sudah diborong oleh Lai-loya. Hayo kalian keluar dan bermalam di rumah penginapan lain agar loya kami jangan sampai marah hingga kalian akan dihukum."
Kata seorang di antara pengawal-pengawal itu.
Ia memang agak ragu setelah melihat demonstrasi kepandaian Ouwyang Bu tadi dan sedapat mungkin hendak menyuruh mereka ini pergi dengan damai saja.
Tapi tiba-tiba Ouwyang Bu melemparkan pisau Cu Houw tadi ke atas yang menancap ke tiang yang melintang.
Gagang pisau itu bergoyang-goyang dan Ouwyang Bu membentak lagi.
"Diam dan jangan banyak cerewet, kami sedang makan."
Ia lalu melanjutkan makan dengan Ouwyang Bun dan Lie Eng, sama sekali tidak memperdulikan mereka berenam, seakan-akan di situ tidak ada orang lain.
Sedangkan enam orang itupun merasa ragu-ragu untuk bertindak sembrono, maka mereka hanya berdiri saja di situ melihat orang makan bagaikan pelayan-pelayan sedang menjaga majikan-majikan mereka makan.
Dan ketiga anak muda itu terus makan minum dengan tenangnya.
Sungguh peristiwa dan pemandangan yang lucu.
Setelah selesai makan, Ouwyang Bu dan kedua kawannya berdiri lalu dengan tenang menghampiri Cu Houw dan lima orang teman-temannya.
"Nah, kami telah selesai makan, kalian mau apa?"
Tanya Ouwyang Bun sambil tersenyum.
Cu Houw melihat sikap Ouwyang Bun yang lemah lembut serta melihat Lie Eng yang cantik jelita tiba-tiba timbul dugaan jangan-jangan mereka ini anak-anak orang kaya atau orang berpangkat di kota lain.
Karena itu iapun agak menjadi sabar dan berkata dengan suara ditenangkan.
"Sam-wi diharap suka pindah ke rumah penginapan lain, karena tempat ini telah lebih dulu dipesan oleh loya kami."
"Loyamu itu orang macam apa maka begitu ditakuti oleh semua orang? Dan mengapa penginapan ini diborongnya semua, bukankah cukup kalau ia menyewa satu atau dua kamar saja? Kami tak mau pergi."
Jawab Lie Eng.
"Cu-twako, mengapa banyak berdebat. Kalau tidak mau pergi, seret saja keluar."
Kata seorang dari kawan-kawan Cu Houw.
"Bagus, kalian majulah."
Ouwyang Bu menantang dan mencabut pedangnya. Tapi tiba-tiba Ouwyang Bun mencegah adiknya.
"Bu-te, membasmi kaki tangan segala hartawan kejam dan pembesar jahat bukanlah tugasmu, tapi tugasku. Kau lihatlah saja,"
Dan tiba-tiba tubuh Ouwyang Bun meloncat maju.
Terdengar teriakan ngeri dan orang yang baru saja bicara tadi tahu-tahu telah kena tendang dadanya hingga terlempar keluar dan tak dapat bangun lagi.
Maka ramailah lima orang yang lain menyerbu Ouwyang Bun yang menggunakan tangan kosong menghadapi mereka.
Ouwyang Bu heran sekali melihat sepak terjang kakaknya berobah dari biasanya.
Kini kakaknya menjadi telengas dan menurunkan tangan besi kepada, lawannya hingga sebentar saja dengan mudah empat orang telah dirobohkan dengan pukulan dan tendangan berat hingga mereka mendapat luka parah di dalam dan tak dapat, bangun lagi.
Melihat kehebatan pemuda ini, Cu Houw dan seorang kawannya yang belum roboh lalu lari keluar.
Ouwyang Bun tertawa ber-gelak-gelak.
"Ha-ha, segala anjing hina pengganggu rakyat. Baru tahu rasa kalian sekarang."
Tapi pada saat itu, dari luar menyusul banyak orang yang tidak lain adalah Cu Houw dengan kawan-kawannya pengawal lain.
Jumlah mereka tidak kurang dari tiga puluh orang dan mereka mengiringkan seorang tua yang berpakaian mewah dan memegang sebuah kipas.
Pakaiannya berwarna merah dan serba indah.
Tubuhnya tinggi kurus dan kumisnya panjang, sedangkan sepasang matanya yang kecil sipit itu memandang liar seperti yang biasa dimiliki orang-orang mata keranjang.
"Mana mereka?"
Tanyanya dengan suara marah.
"Ha-ha, inikah manusia kaya yang banyak lagak itu?"
Ouwyang Bun menyambut dengan makian.
"Mari, mari, majulah kau biar kutamatkan riwayat hidupmu yang kotor dan penuh najis itu."
Sebetulnya orang tua ini memang seorang hartawan besar dari Lok-yang.
Dengan pengaruhnya ia berhasil membeli hampir semua tanah di kampung itu hingga ia menjadi raja kecil di situ karena semua orang di kampung itu mendewa-de-wakannya.
Ia adalah seorang bandot tua yang tiada jemunya mencari daun muda hingga beberapa kali ia menggunakan pengaruh hartanya untuk mengawini seorang gadis dari kampung di mana ia berkuasa.
Orang tua mana yang berani menolak pinangannya?
Biarpun di rumahnya telah ada isteri dengan selir-selir lebih dari sepuluh orang, namun masih saja ia mencari korban baru dari kampung.
Kedatangannya kali ini juga untuk melangsungkan "perkawinannya"
Yang entah sudah keberapa puluh kalinya itu.
Tapi sungguh malang baginya, hari ini ia bertemu dengan orang-orang asing yang berani mengganggu dan merintanginya.
Maka bukan main marahnya mendengar berita tentang hal itu dan cepat-cepat ia membawa semua-pengawalnya untuk memberi "hajaran"
Kepada orang-orang "kurang ajar"
Itu.
Kini mendengar.
makian Ouwyang Bun, ia marah sekali dan siap hendak memerintahkan kaki tangannya maju mengeroyok, tapi tiba-tiba matanya yang tajam itu dapat melihat Lie Eng.
Tiba-tiba saja segala kemarahan yang terbayang pada mukanya lenyap seketika dan mulut yang tadinya cemberut itu berubah tersenyum, sedangkan mata yang tadinya merah dan mengeluarkan cahaya marah itu kini berseri-seri.
"He, kalian ini mengapa berani-berani mengganggu nona dan dua kawannya itu?"
Tiba-tiba ia menegur ke arah belakang kepada Cu Houw hingga kepala pengawal ini melongo, tapi ia memang telah tahu akan adat kelakuan majikannya dan dapat menduga bahwa si tua ini tentu tertarik oleh kecantikan gadis asing itu.
Dasar seorang berjiwa penjilat, tukang pukul inipun tiba-tiba dapat merobah sikapnya.
Kalau tadinya ia garang dan galak, kini ia membongkok-bongkok dan menjura kepada majikannya sambil berkata.
"Loya, maafkan hamba dan kawan-kawan yang tidak mengenal tamu-tamu agung."
Ia sengaja menyebut Ouwyang-heng-te "tamu agung"
Untuk mengimbangi maksud dari niat majikannya. Maka giranglah hati hartawan tua itu melihat kecerdikan orangnya, ia lalu maju dan menjura kepada Ouwyang-hengte dan Lie Eng sambil berkata.
"Sam-wi, mohon maaf sebesar-besarnya bahwa orang-orangku yang bodoh dan kasar ini mengganggu sam-wi. Kalau hendak memakai kamar di sini, silakan saja dan kami akan menganggap sam-wi sebagai tamu agung kami, karena kebetulan sekali hari ini aku sedang merayakan pesta perkawinan."
"Eh, mengapa sikap orang ini beda benar dengan sikap orang-orangnya?"
Lie Eng berkata perlahan, lalu ia maju menjura dan berkata.
"Tuan yang harus memaafkan kami karena telah terjadi, salah mengerti ini. Apakah tuan hendak mengawinkan putra tuan?"
Ditanya oleh gadis itu sendiri, muka hartawan she Lai menjadi merah bagaikan kepiting direbus.
"Eh, bukan... yang kawin... eh, saya sendiri, siocia."
Kini muka Lie Eng yang berobah merah karena muak, sedangkan Ouwyang Bun tertawa gelak-gelak.
"Ha-ha-ha. Dengar, sumoi, Bu-te. Dia mau kawin. Sudah kuduga bahwa orang yang disebut Lai-loya tentu seorang hartawan tua pemeras rakyat yang berhati binatang dan pantas diberi hajaran."
"Bun-koko, jangan bicara begitu."
Lie Eng menegur, dan dalam kebingungannya gadis itu terlanjur menyebut "Bun-koko"
Atau kanda Bun, tidak menyebut twasu-heng seperti biasa, hingga suaranya ini seakan-akan mewakili suara hatinya.
Tapi karena keadaan yang tegang itu, baik Ouwyang Bun maupun Ouwyang Bu kurang memperhatikan perubahan ini.
Ouwyang Bun berkata lagi, suaranya seram.
"Kalau orang macam ini tidak dibasmi hanya akan membikin kotor dunia saja."
Sehabis berkata demikian, ia mer loncat dan tahu-tahu ia telah memegang leher baju hartawan she Lai itu dan dibawanya meloncat ke atas genteng.
Cu Houw dan kawan-kawannya yang memiliki kepandaian lalu mengejar dan meloncat ke atas sambil berteriak-teriak.
Juga Lie Eng dan Ouwyang Bu mengejar ke atas genteng sambil berkata.
"Bun-ko, lepaskan dia."
Tapi Ouwyang Bun yang sangat marah dan gemas kepada hartawan tua itu lalu membentak.
"Kau mau minta bangsat ini, marilah."
Ia lalu melemparkan tubuh itu sekuat tenaganya ke arah para pengejarnya.
Tentu saja Cu Houw dan kawan-kawannya terkejut sekali dan mengelak karena tidak berani menyambut tubuh yang menyambar cepat ke arah mereka itu.
Hartawan Lai menjerit-jerit ketika merasa tubuhnya melayang ke bawah dan jantungnya berhenti berdetak karena ia telah merasa pasti bahwa kali ini tentu akan mati konyol.
Tapi tiba-tiba hartawan tua itu merasa betapa lengan tangannya disambar orang dan ia dibawa melayang turun ke atas tanah dengan selamat.
Ternyata pada saat yang sangat berbahaya itu, Ouwyang Bu berhasil menolong Lai-wangwe dari bahaya.
Melihat betapa adiknya menolong Lai-wangwe dari atas genteng Ouwyang Bun berkata.
"Ah, Bu-te, sekarang ternyata bahwa kau lah yang lemah. Karena anjing rendah macam itupun cukup berharga untuk kau tolong."
Suara pemuda itu mengandung penyesalan besar.
"Bun-ko, kau mau ke mana?"
Tanya Ouwyang Bu yang segera meloncat lagi ke atas genteng. (Lanjut ke
Jilid 04) Sepasang Pendekar Kembar/Ouw Yang Heng Te (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04
"Sudahlah, Bu-te, selamat tinggal, mudah-mudahan kita akan bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik. Aku tetap tak dapat mengekor dan melakukan pekerjaan yang berlawanan dengan suara batinku ini."
Setelah berkata begitu, Ouwyang Bun lalu meloncat pergi.
"Twa-suheng... Tunggu..."
Lie Eng memanggil. Ouwyang Bun menoleh.
"Sumoi, jangan menahan aku. Baik-baiklah kau menjaga diri dan berlaku baiklah kepada Bu-te."
Setelah berkata begitu, ia cepat lari pergi "Bun-ko..."
Terdengar Ouwyang Bu memanggil, tapi Ouwyang Bun tidak memperdulikan dan lari terus. Ouwyang Bu menutup mukanya dan air mata mengalir membasahi pipinya.
"Sudahlah, suheng. Dia tidak mau bersama-sama kita. Biarlah. Mungkin ia akan menyusul ayah dengan jalan lain."
Ouwyang Bu mengangkat mukanya lalu menghela napas.
"Sumoi, kau tidak tahu... Bun-ko telah mengambil keputusan lain, ia... tidak mau membantu susiok, tidak mau memusuhi para pemberontak, bahkan agaknya ia... ia... menganggap para pemberontak itu betul?"
"Apa...?"
Gadis itu menjadi pucat karena terkejut.
"Kau ma ksudkan bahwa ia... ia hendak menyeberang dan membantu pemberontak?"
"Entahlah, tadinya ia mengajak aku pergi bersama-sama ke gunung untuk mengasingkan diri, tapi aku... aku menolaknya."
Suaranya terdengar penuh penyesalan.
"Mengapa kau tidak ikut dengan kakakmu, suheng?"
Ouwyang Bu memandang gadis itu dengan mata tajam dan mesra.
"Sumoi... bagiku... pekerjaan ini dan semua urusan ini... tidak ada artinya. Aku tidak perduli mana yang benar dan mana yang salah, tapi... tapi karena ada kau di sini... bagaimanakah aku sanggup meninggalkanmu... ?"
Wajah Lie Eng yang sudah pucat kini berobah merah mendengar betapa pemuda jujur ini dengan terus terang menyatakan rahasia hatinya.
Ia merasa terharu sekali.
Tapi, ia teringat akan Ouwyang Bun, kesedihan besar membuat ia tak kuat menahan air matanya mengalir karena pemuda idaman hatinya itu telah pergi.
Tapi ini, belum seberapa bila dibandingkan dengan kehancuran hatinya bila mengingat bahwa Ouwyang Bun hendak menyeberang dan membantu pemberontak.
Inilah yang meremukkan hatinya benar.
Ia menutup mukanya dan menangis terisak-isak.
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 11
Baca Juga: Jodoh Rajawali 13