Ceritasilat Novel Online

Sepasang Pendekar Kembar 3

Eps 3 Sepasang Pendekar Kembar - Kho Ping Hoo

Baca online Sepasang Pendekar Kembar - Kho Ping Hoo

Cersil Sepasang Pendekar Kembar - Kho Ping Hoo.

Ouwyang Bu menyangka bahwa gadis itu menangis karena terharu dan menyangka pula bahwa Lie Eng diam-diam membalas perasaan hatinya, maka ia lalu memegang tangan, gadis itu dan berkata dengan suara mesra.

"Sumoi, jangan bersedih. Bun-ko tersesat, biarlah karena aku yakin ia akan kembali ke jalan benar. Aku tahu bahwa sebenarnya Bun-ko adalah seorang perwira yang berhati mulia. Memang harus disesalkan bahwa ia meninggalkan kita, tapi bukankah masih ada aku di sampingmu? Percayalah, sumoi, selama aku masih ada di dunia ini aku pasti akan membelamu samr pai napasku terakhir. Aku akan membantu perjuangan ayahmu dengan setia."

Kemudian, dengan kata-kata keras mereka menegur dan menasihati Lai-wangwe supaya tidak berlaku sewenang-wenang mengandalkan kekayaannya dan memeras rakyat kampung yang miskin.

Setelah itu, keduanya melanjutkan perjalanan, kini langsung menuju ke kota raja.

Ouwyang Bun meninggalkan adik dan sumoinya dengan perasaan campur aduk.

Sebenarnya pada dasar hatinya ia merasa bahagia dan girang sekali karena tindakannya itu membuat ia merasa seakan-akan seekor burung yang terlepas dari kurungan, seakan-akan kini ia terbang ke angkasa dengan bebas lepas dan dengan tujuan yang lebih luas.

Ia merasa seakan-akan terlepas dari sebuah tugas yang sangat menyiksa hatinya, tugas pekerjaan yang dipaksakan padanya dan yang berlawanan dengan kehendak hatinya.

Ia kini boleh pergi ke mana saja yang ia sukai, boleh berbuat menurutkan suara hatin.

Tapi bila ia teringat akan adiknya, ia merasa sedih sekali.

Ia tahu bahwa Ouwyang Bu beradat keras dan tidak mudah dirobah pikirannya.

Juga ia maklum betapa adiknya itu sangat mencintai Lie Eng hingga andaikata adiknya akan sadar juga bahwa pihak pemberontak tak seharusnya dimusuhi, masih akan sukar juga bagi Ouwyang Bu untuk meninggalkan Lie Eng, apalagi untuk menjadi lawan atau musuh gadis itu.

Dalam perjalanannya seorang diri kali ini, Ouwyang Bun mencurahkan perhatiannya kepada keadaan orang-orang kampung umumnya.

Dan apa yang ia saksikan mempertebal keyakinannya bahwa memang raja yang memegang tampuk pemerintahan saat itu perlu diganti.

Hampir di tiap kota atau kampung, tak pernah ia melihat seorang pembesar yang benar-benar patut disebut pemimpin rakyat.

Para pembesar itu menjalankan pemerasan, penggelapan, kecurangan-kecurangan yang kesemuanya dibebankan kepada rakyat jelata.

Hanya orang-orang kaya saja yang hidup senang bahkan berlebih-lebihan, karena dengan mengandalkan pengaruh uang sogokan kepada para pejabat pemerintah, mereka ini hidup terlindung.

Jelas tampak di mana-mana bahwa pada hakekat-nya yang berkuasa adalah harta kekayaan.

Seorang yang ada uang tak usah takut sesuatu.

Ingin mengawini belasan atau puluhan, gadis cantik?

Ingin menang dalam perkara biarpun berada di pihak salah?

Ingin naik pangkat secara mudah?

Ingin menjadi raja kecil yang mempunyai kekuasaan sendiri, mempunyai "posisi"

Sendiri?

Mudah, asal orang mempunyai banyak emas dan perak.

Melihat keadaan ini semua, diam-diam Ouwyang Bun merasa heran sekali mengapa suhunya dapat berdiri di pihak raja dan tidak suka kepada perjuangan para patriot bangsa yang dicap "pemberontak"

Itu.

Ia kini dapat menangkap arti dari kata-kata Ciu Pek In, orang tua perwira yang aneh itu.

Baru terbuka matanya dan diam-diam ia mengagumi orang tua yang dianggap seorang locianpwe yang berpemandangan luas sekali.

Ia merasa kagum betapa dalam keadaan bertentangan dan bermusuhan, Ciu Pek In masih memuji-muji sikap Cin Cun Ong.

Ternyata bahwa orang tua she Ciu, guru dari nona Cui Sian yang.

cantik dan perwira itu, telah dapat menundukkan perasaan perseorangan hingga pertimbangannya adil dan tepat, sama sekali bebas dari rasa sentimen.

Rasa kagumnya membuat ia ingin sekali dapat bertemu lagi dengan orang tua itu.

Dan diam-diam iapun merasa rindu kepada Cui Sian, gadis yang tampaknya pendiam tapi yang kalau sudah berkata-kata ternyata menyatakan pikirannya yang luas dan cerdik.

Beberapa hari kemudian, ia tiba di sebuah kota, yakni kota Lee-sarr yang cukup ramai.

Toko-toko dan rumah-rumah makan berderet-deret di sepanjang jalan hingga menambah kemegahan kota itu.

Ia memilih sebuah kamar di penginapan yang berada di jalan sebelah barat.

Sebetulnya hari masih belum gelap benar dan iapun belum lelah, tapi melihat bahwa udara gelap dan agaknya akan turun hujan, ia tunda perjalanannya dan bermaksud menginap semalam di kota ini.

Ketika membuka bungkusan pakaian, baru ia ingat bahwa bekal uangnya telah habis sama sekali.

Ouwyang Bun lalu mengambil keputusan untuk meniru pekerjaan suhunya ketika masih muda dulu, yakni menjadi maling.

Gurunya, Si Iblis Tua Tangan Delapan, pernah berkata bahwa mengambil sedikit harta seorang kaya untuk sekedar bekal perjalanan, bukanlah hal yang patut dibuat malu bagi seorang kang-ouw, asal saja uang yang diambil itu bukan digunakan untuk hidup royal dan bersenang-senang.

Apalagi kalau telah diketahui bahwa hartawan yang dimalingi itu adalah seorang yang bertabiat kikir dan yang menjadi kaya karena menghisap tenaga rakyat kecil.

Dengan hati tetap, ketika malam telah gelap benar, Ouwyang Bun keluar dari kamarnya melalui jendela dan langsung naik ke atas genteng.

Keadaan benar-benar gelap karena udara diliputi mendung hitam hingga langit tak berbintang sama sekali.

Biarpun matanya telah terlatih untuk dapat menangkap bayang-bayang benda di tempat gelap, namun untuk berloncat-loncatan di atas genteng pada saat segelap itu, bukanlah pekerjaan yang mudah.

Oleh karena itu, ia sangat berhati-hati dan tidak berani lari terlalu kencang.

Ketika ia telah berada jauh dari penginapannya, tiba-tiba ia melihat lima bayangan hitam bergerak turun dari atas wuwungan rumah.

Ia cepat meloncat ke arah tempat itu dan memandang ke bawah.

Dengan bantuan sinar lampu yang menyorot keluar dari lubang rumah, ia melihat lima orang tua berpakaian sebagai petani sedang berjalan di atas tanah dengan langkah cepat sekali.

Ia lalu meloncat turun mengejar pula, karena ia merasa curiga dan tertarik sekali hatinya hendak melihat siapakah mereka itu dan apa yang hendak mereka lakukan pada waktu segelap ini.

Ternyata lima orang itu menuju ke gedung besar yang dapat diduga rumah tinggal seorang pembesar.

Memang, yang tinggal di situ adalah seorang tihu kota itu.

Seperti biasanya rumah pembesar, keadaan di luar dan sekitar gedung terang sekali, karena di seluruh sudut dipasang teng.

Ouwyang Bun makin tertarik karena kelima orang itu ternyata bersikap sangat mencurigakan.

Mereka menghampiri gedung itu dari belakang dan berkumpul di suatu sudut sambil berbisik-bisik seakan-akan merundingkan sesuatu.

Dan pada saat itu teringatlah Ouwyang Bun bahwa ia pernah bertemu dengan lima orang tua berpakaian petani yang seragam ini.

Ia mengingat-ingat dan akhirnya ia tahu bahwa kelima orang itu adalah Kilok Ngo-koai atau Lima Setan Dari Kilok, yang dulu juga datang menghadiri pesta perjamuan di rumah Gak Liong Ek di Liok-hui.

Hatinya menjadi girang dan tiba-tiba Ouwyang Bun muncul dari tempat pengintaiannya dan menegur.

"Eh, ngo-wi (tuan berlima) bukankah kelima enghiong (orang gagah) dari Kilok?"

Bukan main terkejutnya kelima orang itu. Mereka segera memutar tubuh dan ketika melihat bahwa yang datang adalah Ouwyang Bun segera berkata perlahan.

"Ouwyang-hengte."

Serentak mereka berlima mencabut pedang dan menyerang dengan gerakan hebat. Ouwyang Bun terkejut sekali dan mengelak sambil meloncat jauh.

"Eh, tahan dulu. Kenapa ngo-wi menyerang aku?"

Tanyanya.

Tapi, tanpa menjawab, kelima orang tua itu maju lagi menyerang makin hebat hingga terpaksa Ouwyang Bun mencabut pedangnya untuk mempertahankan dan menjaga diri, karena ilmu pedang kelima kakek itu tak boleh dipandang remeh.

"Ngo-wi, mengapa kalian memusuhiku?"

Lagi-lagi ia bertanya, tapi Kilok Ngo-koai itu sama sekali tidak mau menjawab, hanya menyerang makin keras dan nekat hingga sekarang Ouwyang Bun juga merasa marah dan gemas.

Ia putar pedangnya sedemikian rupa hingga dapat mengimbangi serangan kelima orang lawannya.

Mereka bertempur ramai sekali.

Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan dan dari dalam gedung tihu itu keluarlah beberapa orang penjaga yang bersenjata tombak dan golok.

"Bangsat pengacau dari mana berani datang membikin ribut,"

Mereka berteriak dan hendak mengurung.

Melihat datangnya para penjaga ini, kelima petani dari Kilok itu segera meloncat dan melarikan diri.

Ouwyang Bun sebenarnya merasa gemas dan ingin sekali bertanya kepada mereka mengapa mereka memusuhinya, tapi menghadapi para penjaga tihu yang banyak itu iapun tidak ada napsu untuk melayaninya, lalu meloncat terus ke dalam taman gedung tihu yang gelap.

Dari taman itu ia langsung masuk ke dalam gedung dari belakang.

Seorang pelayan yang bangun dan kaget karena ribut-ribut di luar kebetulan keluar dari kamarnya dan melihat Ouwyang Bun yang lari masuk sambil membawa pedang terhunus, merasa kaget sekali.

Tapi sebelum ia sempat berteriak, Ouwyang Bun telah mendahuluinya dan menotok jalan darahnya yang membuat pelayan itu menjadi gagu.

"Jangan banyak ribut kalau kau menyayangi jiwamu,"

Ouwyang Bun mengancam.

"Tunjukkan aku ke kamar majikanmu."

Biarpun Ouwyang Bun bicara bisik-bisik dan ia tenang-tenangkan hatinya, namun tidak urung suaranya terdengar gemetar karena sesungguhnya selama hidupnya belum pernah ia mencuri harta orang lain seperti kelakuan seorang perampok.

Karena ketakutan, pelayan itu lalu menunjuk ke arah sebuah kamar besar di tengah ruang gedung.

Ouwyang Bun lalu me-notok roboh pelayan itu dan cepat menghampiri pintu kamar.

Sekali dorong saja terbukalah daun pintu.

Ternyata tihu telah bangun karena iapun mendengar suara ribut-ribut di luar gedung.

Tihu ini, she Lie, pernah pula mempelajari silat.

Melihat seorang pemuda asing memasuki kamarnya, cepat ia menyambar pedangnya yang tergantung di tembok dan meloncat menyerang.

Tapi sekali tangkis saja pedang ditangan tihu itu jadi terpental.

Ouwyang Bun lalu menendang lutut lawan itu hingga jatuh berlutut.

"Jangan banyak tingkah, aku tak hendak membunuhmu,"

Kata Ouwyang Bun.

"Aku hanya membutuhkan sedikit uang bekal."

Besar dan girang hati tihu itu yang tadinya menyangka bahwa yang datang ini adalah seorang anggauta pemberontak yang mengingini jiwanya. Berulang-ulang ia mengangkat tangan memberi hormat dan berkata.

"Tai-ong (raja = sebutan kepala rampok), jangan khawatir, saya akan memberi bekal secukupnya."

"Diam. Tak usah banyak mulut dan jangan sebut kepala rampok,"

Ouwyang Bun membentak marah.

"Keluarkan peti uangmu."

Dengan tubuh masih menggigil tihu itu membuka lemarinya dan Ouwyang Bun melihat uang emas dan perak berkantung-kantung dan berjajar di dalam lemari itu.

Timbul pula gemasnya karena ia dapat menduga bahwa uang itu adalah hasil perasan dan sogokan, karena kalau tidak, dari mana tihu ini dapat mengumpulkan uang sebanyak itu?

Ia lalu mengambil tiga kantung uang emas, kemudian menghadapi tihu itu ia mengancam.

"Kau tentu seorang pembesar busuk juga. Ingat, kali ini aku kebetulan lewat di sini dan hanya mengambil uang sebagai peringatan. Lain kali kalau aku masih mendengar bahwa kau adalah seorang pembesar yang menindas rakyat, jangan kaget kalau aku bukan mengambil uang, tapi mengambil kepalamu, mengerti?"

Pedang di tangan kanannya bergerak cepat dan tihu itu hilang semangatnya karena melihat sinar pedang menyambar kepalanya.

Ia segera berlutut dengan kaki lemas dan mulutnya tiada hentinya meminta ampun.

Tapi ketika ia mengangkat muka, ternyata pemuda itu telah lenyap dari situ dan ia melihat rambutnya yang dikucir panjang dan tebal telah menggeletak di dekatnya, kena sabetan pedang tadi.

Ia kaget sekali dan dengan tubuh gemetar dan panas dingin ia memekik memanggil penjaga.

Ketika beberapa orang penjaga menyerbu masuk, tihu itu jatuh pingsan karena takutnya.

Para penjaga, segera menolongnya dan mengangkatnya ke pembaringan.

Malam itu Ouwyang Bun mengelilingi kota itu dari atas genteng dan menjelang fajar baru ia kembali ke kamar hotelnya lewat jendela.

Dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, banyak orang-orang miskin yang berumah gubuk, tiba-tiba menemukan segumpal emas di dalam rumahnya, hingga mereka merasa sangat kaget dan senang, lalu diam-diam memasang hio untuk menyatakan terima kasihnya kepada penolong yang tak dikenal itu.

Ternyata ketika mengelilingi kota, Ouwyang Bun diam-diam membagi-bagi emas kepada penduduk miskin hingga habis dua kantung lebih.

Sisanya ia simpan untuk bekal sendiri.

Pada keesokan harinya, setelah matahari naik tinggi, barulah Ouwyang Bun bangun dari tidur.

Ia segera membersihkan tubuh dan setelah makan pagi, meninggalkan hotel untuk melanjutkan perjalanannya.

Karena ketika meninggalkan adik dan su-moinya ia juga meninggalkan kudanya, maka sebelum meninggalkan kota itu ia membeli seekor kuda yang cukup baik.

Tukang kuda adalah seorang she Tan yang doyan sekali mengobrol.

Ia sedang gembira karena.

dari penjualan kuda kepada Ouwyang Bun, ia memperoleh keuntungan yang lumayan besarnya dan melihat bahwa pemuda itu adalah seorang asing ia lalu berkata.

"Kongcu tentu seorang yang pandai ilmu silat,"

Katanya sambil tersenyum memuji. Ouwyang Bun kaget. Ia memandang tajam ketika bertanya.

"Bagaimana sebabnya maka kau menduga demikian?"

Pedagang kuda itu tertawa.

"Mudah saja, kongcu. Kau seorang diri berani melakukan perjalanan jauh, membawa-bawa banyak emas dan juga menyandang pedang. Kalau tidak pandai menjaga diri, mana kau bisa melakukan perjalanan dengan selamat? Pada waktu ini keadaan tidak aman, pemberontak dan perampok berkeliaran di mana-mana. Untungnya barisan Cin-ciangkun yang gagah perkasa telah mulai bertindak. Kemarin banyak sekali anggauta pemberontak tertawan oleh Cin-ciangkun."

Ouwyang Bun merasa terkejut dan heran mendengar ini, ia tenangkan hatinya dan bertanya secara sambil lalu.

"Di manakah ada pemberontak tertangkap?"

"Di sebelah timur kota ini, kongcu. Kudengar jumlahnya banyak, karena hampir penduduk seluruh kampung Beng-lok-chun menjadi anggauta pemberontak."

"Aku pernah mendengar tentang Cin-ciangkun yang kau sebut tadi. Apakah dia sendiri yang melakukan penangkapan?"

Ouwyang Bun tahu bahwa paman gurunya itu tak mungkin di sini, maka ia sengaja bertanya demikian untuk memancing dan mengetahui apakah orang she Tan ini membohong atau tidak.

"Ha, kau tampaknya takut-takut, kongcu. Jangan takut pemberontak, selama masih ada barisan-barisan Cin-ciangkun, mereka tidak akan mampu bergerak. Tentu saja bukan Cin-ciangkun sendiri yang memimpin, tapi barisan Cin-ciangkun telah tersebar di mana-mana."

"Mereka apakan anggauta-anggauta pemberontak yang tertawan itu?"

Ouwyang Bun bertanya.

"Ha-ha, diapakan? Tentu saja digiring ke kota raja untuk menanti hukuman gantung. Digiring seperti babi-babi dibawa ke pejagalan."

Orang she Tan itu tertawa girang sekali. Ouwyang Bun memandang tajam.

"Kau agaknya membenci sekali kepada pemberontak, mengapakah?"

Orang she Tan itu memperlihatkan luka yang telah mengering di lehernya sebelah belakang.

"Kau lihat ini, kongcu? Nah, inilah yang mereka lakukan padaku. Hampir saja aku mereka bunuh."

"Mengapa?"

"Mengapa? Entah, karena... karena aku pedagang kuda."

"Tak mungkin orang akan membunuh tanpa alasan,"

"Alasannya hanya karena aku didakwa membeli kuda curian."

Tiba-tiba Ouwyang Bun teringat bahwa di daerah itu memang sering terjadi pencurian kuda, maka diam-diam ia lirik kuda yang baru saja dibelinya.

Jangan-jangan inipun kuda curian.

Para pemberontak itu tentu mempunyai alasan kuat hingga menuduh orang ini pencuri kuda.

"Barangkali kau memang tukang membeli kuda curian,"

Katanya sambil naiki kuda itu dan pergi, meninggalkan si pedagang kuda yang memandangnya dengan heran.

Ouwyang Bun melarikan kudanya menuju ke timur karena ia hendak melihat sendiri keadaan para pemberontak yang tertawan itu.

Siapakah yang menawan mereka?

Apakah barangkali ia mengenal pemimpin barisan Cin-ciangkun ini?

Ketika ia tiba di luar kota, tiba-tiba ia melihat debu mengepul dari timur tanda bahwa di atas jalan yang berdebu itu sedang berjalan banyak kuda dan rombongan orang.

Ia segera menghampiri, dan benar saja, seregu tentara terdiri dari kira-kira tiga puluh orang sedang menyeret-nyeret dan menggiring tawanan kurang lebih tiga puluh orang.

Tawanan itu terdiri dari orang-orang yang berpakaian sebagai petani miskin, bahkan di antara mereka terdapat pula beberapa orang wanita.

Tawanan-tawanan itu memperlihatkan sikap macam-macam, ada yang berjalan tunduk dan bersedih, ada yang mengangkat dada dan kepala dengan gagah, ada pula yang menangis sepanjang jalan.

Kedua tangan mereka semuanya terbelenggu.

Ouwyang Bun mencari-cari dengan pandangan matanya dan melihat bahwa tiga orang perwira yang berkuda dan memimpin barisan itu tak dikenalnya.

Sebaliknya tiga orang perwira itu memandang kepada Ouwyang Bun dengan pandangan curiga dan mereka berbisik-bisik.

Melihat keadaan para tawanan itu Ouwyang Bun merasa kasihan dan sedih.

Ia maklum bahwa tak mungkin anggauta-ang-gauta pemberontak selemah itu, membiarkan dirinya begitu saja ditawan sedangkan jumlah mereka lebih besar.

Mungkin mereka adalah orang-orang kampung yang kena fitnah oleh hartawan-hartawan yang menghendaki tanah mereka.

Memikir demikian, timbullah marahnya.

Ia majukan kudanya dan menghadang di depan barisan itu.

Tiga orang perwira itu segera mencabut pedang masing-masing.

Ouwyang Bun sengaja mengangkat tangan kanannya memberi tanda berhenti kepada barisan itu.

Ia menghadapi tiga orang perwira tadi dan menegur.

"Sam-wi ciangkun, orang-orang kampung ini hendak kalian bawa ke mana?"

"Orang tidak tahu diri."

Seorang di antara ketiga perwira itu menegur.

"Siapa kau maka berani-berani mencegat kami? Apakah kau sudah bosan hidup?"

Ouwyang Bun tersenyum.

"Hm, kalau Cin-ciangkun melihat lagakmu yang sombong ini, tentu akan turun pangkat."

Sindirnya. Melihat sikap pemuda itu, perwira yang tertua berlaku hati-hati, dan bertanya sambil mengangkat kedua tangan.

"Siapa dan dari mana enghiong yang telah kenal dengan Cin-ciangkun kami, dan ada keperluan apa maka mencegat barisan kami?"

Ouwyang Bun balas memberi hormat dari atas kudanya.

"Siauwte Ouwyang Bun dan tentu saja kenal dengan Cin-ciangkun karena beliau adalah susiok dan siauwte pernah menjadi pembantunya."

Terkejutlah ketiga perwira itu dan buru-buru perwira yang tadi berlaku kasar segera memberi hormat, biarpun ia masih meragukan kebenaran kata-kata anak muda ini.

"Maaf kalau kami tidak mengenal kepada taihiap. Orang-orang ini adalah tawanan kami, mereka adalah anggauta-anggauta pemberontak dan kini sedang kami giring ke markas besar Cin-ciangkun."

"Kalian salah tangkap, kawan-kawan. Mereka itu bukanlah pemberontak. Kurasa kalian takkan semudah ini menangkap mereka kalau mereka benar-benar pemberontak. Orang-orang kampung ini hanya menjadi korban fitnahan belaka. Lepaskan mereka."

Ketiga perwira itu terkejut.

"Taihiap mengapa berkata begitu? Bukanlah hak kami untuk memutuskan apakah mereka itu pemberontak atau bukan. Kewajiban kami hanya menangkap orang-orang yang dicurigai dan membawanya ke markas besar. Dan selain Cin-ciangkun sendiri atau atasan lain, tidak ada orang yang berhak melepaskan orang-orang tawanan kami ini."

"Begitukah? Tapi aku tetap minta kalian melepaskan mereka."

Marahlah perwira termuda yang tadi mengeluarkan kata-kata kasar.

"Ji-wi twako, kukira orang ini mengaku-aku saja menjadi keponakan Cin-ciangkun. Jangan-jangan ia ini juga anggauta pemberontak."

Ouwyang Bun tertawa bergelak-gelak.

"Baik, kau percaya atau tidak, aku tetap hendak membela orang-orang kampung ini yang menderita karena kekejaman kalian."

"Bagus, kawan-kawan, tangkap orang ini."

Teriak ketiga perwira itu dan anak buah mereka lalu mengurung dengan senjata di tangan. Ouwyang Bun tertawa keras dan sambil mengangkat kepala ia berkata.

"Cin-susiok, maafkan kalau teecu terpaksa menghajar anak buahmu yang kurang ajar ini."

Tiba-tiba saja tubuhnya lepas dari punggung kuda dan menyambar ke sana ke mari di antara keroyokan para tentara itu.

Dan di mana saja ia sampai, tentu terdengar pekik kesakitan dan seorang pengeroyok roboh.

Sebentar saja beberapa orang anak buah rombongan itu jatuh terguling terpukul atau tertendang hingga keadaan menjadi kacau.

Tapi kepungan makin tebal, bahkan ketiga perwira itupun mulai mengambil bagian.

Ternyata kepandaian mereka cukup baik.

Menghadapi serangan dan kepungan yang dilakukan oleh lebih dari dua puluh orang bersenjata tajam itu, Ouwyang Bun terpaksa menggunakan pedangnya untuk melawan.

Ia tidak berlaku setengah-setengah lagi dan memainkan pedangnya dengan hebat hingga banyaklah korban luka oleh u-jung pedangnya.

Tiba-tiba dari jurusan timur datang barisan yang lebih besar lagi, dan barisan i-ni dipimpin oleh dua orang perwira yang telah lanjut usianya.

Barisan ini adalah barisan pengawal istimewa dari kota raja dan dipimpin oleh dua orang perwira yang berkepandaian tinggi karena ini adalah anggauta Pengawal Sayap Garuda, terlihat dari topi mereka yang berbentuk sayap burung garuda.

Melihat kedatangan barisan baru itu, terkejutlah Ouwyang Bun, karena hanya seorang diri saja tak mungkin ia melawan orang sebanyak itu.

Ia lalu memutar pedangnya lebih cepat dan melukai beberapa orang lagi, lalu ia cepat meloncat keluar dari kalangan pertempuran.

Ia bingung bagaimana harus menolong tawanan-tawanan sebanyak itu, sedangkan untuk melawan para anggauta barisan itu saja sudah payah baginya.

Tiba-tiba dari barisan yang baru datang itu berkilat bayangan hijau dan seorang perwira Sayap Garuda melintangkan golok besarnya dan membentak.

"Pemberontak hina, hendak lari ke mana kau?"

Suara orang itu parau dan biarpun tubuhnya tinggi besar, tapi gerakannya ketika meloncat menghadang Ouwyang Bun tadi sangat gesit hingga Ouwyang Bun maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang lawan yang "berisi".

Maka tanpa banyak cakap lagi Ouwyang Bun menggerakkan pedangnya mengirim serangan kilat, tapi perwira itu menangkis dengan golok besarnya.

Tangkisan itu saja cukup memperingatkan kepada Ouwyang Bun supaya berlaku hati-hati, karena ternyata perwira itu bertenaga kuat dan gerakan goloknyapun gesit.

Mereka berdua bertempur dengan seru, dan tak lama kemudian kembali Ouwyang Bun kena terkurung, kini lebih rapat dan hebat daripada tadi karena gerakan golok perwira itu betul-betul hebat.

Diam-diam Ouwyang Bun mengeluh karena kini keadaannya berbahaya sekali.

Jangan kata hendak menolong puluhan tawanan itu, sedangkan untuk menolong diri sendiripun ia harus mengeluarkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, dan inipun masih belum tentu berhasil.

Ia lalu berseru nyaring dan mengeluarkan ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat (Ilmu Pedang Garuda Sakti) yang dilakukan dengan cepat dan hebat sekali.

Melihat permainan pedang ini, terkejutlah perwira ini, yang meloncat mundur sambil berseru.

"Tahan. Dari mana kau peroleh Sin-eng Kiam-hoat ini? Apa hubunganmu dengan Cin-ciangkun?"

Ouwyang Bun memandang tajam dan ia tertawa menyindir ketika menjawab.

"Cin-ciangkun adalah susiokku. Kau mau apa?"

Perwira itu makin terkejut.

"Kalau begitu, mengapa kau memusuhi kami? Kenapa kau bertempur dengan anak buah Cin-ciangkun sendiri?"

Tanyanya heran.

"Kami berselisih paham,"

Jawab Ouwyang Bun dengan suara dingin.

"kalau kalian bertempur melawan pemberontak, Itu bukan urusanku, tapi kalau kalian menangkapi orang-orang kampung yang tidak berdaya, aku tak dapat membiarkannya."

"Habis, apa kehendakmu?"

Perwira Sayap Garuda itu bertanya.

"Lepaskan mereka ini."

"Aah, tak mungkin. Sungguh-sungguh aneh permintaanmu ini, apalagi kalau diingat bahwa kau adalah murid keponakan Cin-ciangkun sendiri. Seharusnya kau tahu akan peraturan ini."

"Betapapun juga, kalian harus melepaskan orang-orang kampung yang tidak berdosa dan tidak berdaya itu."

Ouwyang Bun berkata sengit dan menggerak-gerakkan pedangnya dengan sikap menantang.

"Kalau begitu, kau termasuk pengkhianat yang harus dibinasakan."

Perwira itu berseru marah dan kembali mereka bertarung sengit, dan kali ini perwira yang seorang lagi dan yang bersenjata sebatang tombak ikut menyerbu.

Maka repot juga Ouwyang Bun menahan serangan mereka yang ternyata berkepandaian tinggi hingga ia terpaksa harus mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk menjaga diri.

Dalam saat ia berada dalam keadaan terdesak itu, tiba-tiba para pengepungnya menjadi panik dan kepungannya mengendur.

Ketika Ouwyang Bun meloncat keluar dari kepungan yang sudah menipis itu, ia melihat keadaan yang mendebarkan jantungnya.

Ia melihat Kilok Ngo-koai atau Lima Setan Dari Kilok yang malam tadi bertempur dengannya, telah datang menyerang pihak tentara dengan pedang mereka, sedangkan selain kelima setan dari Kilok ini, tampak juga...

Cui Sian, nona yang dirindukannya itu, juga Siauw Leng gadis lincah yang pernah menguji kepandaian dengan Ouwyang Bu dulu, serta tidak ketinggalan Lui Kok Pauw, penyelidik kaum pemberontak yang telah dikenalnya dulu.

Dan kini terjadilah pertempuran hebat antara -kurang lebih empatbelas orang pemberontak yang berkepandaian tinggi dengan puluhan tentara negeri yang mengeroyok mereka.

Ouwyang Bun berada dalam keadaan serba salah Apakah ia harus membantu tentara?

Ah, hal itu tak mungkin ia lakukan, karena berlawanan dengan keyakinannya.

Pula, pemberontak-pemberontak itu menyerbu tentu untuk menolong orang-orang kampung yang menjadi tawanan itu, jadi berarti cocok dengan maksud hatinya sendiri.

Kalau begitu, apakah ia harus membantu pihak pemberontak?

Ini juga tak mungkin ia lakukan, karena ia masih merasa ragu-ragu dan malu untuk mengkhianati paman gurunya sendiri.

Karena merasa bingung, Ouwyang Bun lalu teringat akan para tawanan itu.

Ah, kewajibannya hanyalah membebaskan para tawanan itu.

Cepat ia lari ke tempat di mana para tawanan itu berada.

Tapi ia dicegat oleh lima orang anggauta tentara yang menjaga para tawanan itu.

Terpaksa Ouwyang Bun lalu menggunakan pedangnya untuk memutuskan semua tali belenggu yang mengikat tangan para tawanan itu.

Dan aneh, begitu terlepas dari belenggu, sebagian besar para tawanan laki-laki, yakni yang tadi mengangkat tegak kepala mereka, lalu ikut menyerbu dan melawan tentara setelah memungut senjata-senjata para korban yang terlempar ke atas tanah.

Mereka ikut mengamuk seakan-akan hendak membalas sakit hati kepada para anggauta tentara yang tadi telah menghina dan menyakiti mereka.

Setelah melepaskan belenggu semua tawanan, Ouwyang Bun lalu berdiri menganggur dan hanya menjaga para bekas tawanan yang tidak ikut bertempur.

Ternyata amukan para pemberontak dan para bekas tawanan itu membuat anggauta-anggauta tentara itu kewalahan dan tak lama kemudian mereka terdesak mundur.

Terutama pedang di tangan Cui Sian yang sangat hebat itu membuat kedua perwira Sayap Garuda merasa bahwa pihak mereka takkan menang, maka segera mereka memberi isyarat mundur.

Setelah semua anggauta tentara lari, Cui Sian memberi perintah kepada Kilok Ngo-koai yang ternyata juga pemimpin-pemimpin pemberontak, untuk membawa orang-orang kampung itu lekas pergi bersembunyi, karena tak lama lagi tentu akan datang bala bantuan tentara yang lebih besar jumlahnya Untuk mengadakan "pembersihan"

Kemudian, Cui Sian dan Siauw Leng menghampiri Ouwyang Bun dan menjura.

"Ouwyang-taihiap, pertemuan kali ini sungguh-sungguh membuat kami merasa girang sekali,"

Kata Cui Sian sambil memperlihatkan senyumnya yang mempercepat jalan darah dalam tubuh Ouwyang Bun.

Mendengar kata-kata ini, bukan main girang hati pemuda itu, hanya ia merasa kecewa mengapa gadis ini menyatakan bahwa yang bergirang bukan gadis itu seorang diri tapi menggunakan sebutan "kami", maka ia segera menjawab.

"Bolehkah aku bertanya. Dari mana li-hiap ketahui she ku yang tak ternama, dan mengapa pula lihiap merasa girang dengan pertemuan kali ini?"

Ia sengaja bertanya mengapa mereka merasa girang.

Cui Sian adalah seorang gadis yang cerdas otaknya, maka mendengar kata-kata ini saja sudah cukup untuk membuat wajahnya yang jelita itu menjadi merah karena merasa malu.

"Kami tahu bahwa taihiap bernama Ouw yang Bun dan murid dari Pat-jiu Lo-mo Ang In Liang dari Hc-ng-san. Jangan taihiap menjadi kaget karena nama suhumu sudah cukup terkenal dan kami ketahui semua itu dari suhu kami. Adapun tentang kegirangan kami karena pertemuan kali ini ialah karena kau telah membantu kami menghadapi gerombolan kaki tangan kaisar itu."

"Ouwyang-taihiap sungguh gagah perkasa, dengan seorang diri saja berani menghadapi puluhan tentara kaisar, sungguh-sungguh satu perbuatan gagah berani yang pantas dikagumi."

Siauw Leng ikut memuji dengan suara yang nyaring dan kerling mata yang tajam.

"Eh, dengarlah, ji-wi. Jangan menganggap bahwa aku telah membantu kalian. Aku bertempur dengan mereka adalah karena persoalanku sendiri. Aku adalah tetap murid keponakan dari Cin-ciangkun dan tentang pemberontakan yang kalian dan kawan-kawanmu lakukan, tiada sangkut-pautnya dengan diriku. Juga aku takkan membela mereka yang mencoba menumpas pemberontakan."

Cui Sian kembali tersenyum manis.

"Ucapanmu inipun tidak aneh bagi kami, taihiap. Kami telah tahu benar persoalanmu. Aku tahu juga bahwa kau telah meninggalkan adikmu dan sumoimu."

Hampir saja pemuda itu meloncat kaget.

"Apa? Dari mana kau ketahui semua itu?"

"Ouwyang-taihiap, kau dan adikmu adalah orang-orang hebat yang kalau menjadi lawan akan merupakan musuh yang kuat. Maka sudah menjadi kewajibanku untuk menyelidiki keadaanmu dan hal ini mudah saja karena di setiap kota, di setiap rumah penginapan, di setiap rumah makan, pasti ada rakyat yang membela dan membantu kami."

Ouwyang Bun memandang kagum dan heran kepada nona yang luar biasa cerdiknya itu, lalu ia menggelengkan kepala.

"Kalau melihat keadaan ini, hampir aku menyangka bahwa kau juga telah mengetahui segala isi hati dan jalan pikiranku, lihiap."

Cui Sian tersenyum lagi dan suaranya menjadi perlahan sekali ketika ia berkata.

"Mungkin aku dapat menduga isi hati dan jalan pikiranmu itu, taihiap."

"Benarkah? Coba kau katakan."

Ouwyang Bun merasa gembira sekali, di samping heran dan ragu.

"Di dalam hatimu kau bersimpati kepada gerakan kami dan pikiranmu juga membenarkan tindakan para patriot yang hendak membebaskan rakyat dari kekuasaan raja lalim, tapi karena susiokmu kebetulan menjadi panglima perang raja yang justeru berkewajiban membasmi kami, maka liangsim-mu (hati nurani) tidak meng-ijinkan kau untuk mengkhianati paman gurumu itu. Bukankah demikian?"

Sekarang benar-benar Ouwyang Bun merasa heran. Ia pandang wajah yang cantik berseri-seri itu dengan mata tak berkedip dan mulut ternganga.

"Nona...,"

Katanya setengah tak sadar.

"kau ini... manusia atau... dewi kahyangan yang sakti?"

Terdengar suara tertawa cekikikan dari Siauw Leng hingga sadarlah Ouwyang Bun akan kata-katanya yang lucu dan bodoh itu, maka buru-buru ia menjura dengan wajah merah.

"Lihiap, kau sungguh luar biasa. Sukakah kau menerangkan dari mana pula kau ketahui semua itu? Apakah juga dari suhumu yang sakti?"

Kini Cui Sian menggeleng-gelengkan kepala.

"Bukan dari siapa-siapa. Apakah sukarnya mengetahui atau menerka hal itu? Setiap orang yang berjiwa patriot akan berpendirian seperti itu. Setiap laki-laki yang gagah perkasa, yang berbudi mulia, yang bijaksana, yang berpemandangan luas, akan berpendirian seperti itu. Dapat melihat kebenaran dalam perjuangan para patriot bangsa, tapi juga tidak lupa akart kebaktian terhadap guru."

Kembali terdengar Siauw Leng tertawa cekikikan, kini bahkan dengan menepuk-nepuk bahu Cui Sian.

"Eh, eh, kau kenapa?"

Tanya Cui Sian sambil memandang gadis lincah itu.

"Ah, ciciku yang baik, betapa kau telah memuji-muji Ouwyang-taihiap. Bagus, bagus, ya??"

Maka sebentar saja otak yang tajam dari Cui Sian dapat menangkap maksud adiknya dan seluruh mukanya berobah merah.

Benar saja, tanpa disadarinya ia telah mengatakan bahwa pemuda itu adalah seorang laki-laki yang gagah perkasa, berbudi mulia, bijaksana dan berpemandangan luas.

Sementara itu, Ouwyang Bun tersenyum saja dengan hati berdebar girang dan hidungnya berkembang menahan geli hatinya mendengar dan melihat betapa Siauw Leng yang nakal telah menggoda Cui Sian.

Cui Sian merasa malu sekali dan untuk menghilangkan rasa malunya ia cubit lengan adiknya, yang segera lari sambil tertawa.

Ouwyang Bun dan Cui Sian yang ditinggal berdua saja hanya berdiri saling berhadapan tanpa mengeluarkan ucapan apa-apa, bahkan mereka tak berani saling memandang, hanya tunduk dan hanya kadang-kadang mencuri pandangan dengan kerling tajam.

Akhirnya Ouwyang Bun memecahkan kesunyian dan kebingungan mereka dengan berkata.

"Lihiap, kau telah mengetahui she dan namaku, tapi bolehkah aku ketahui she-mu dan apa pula hubungan nona Siauw Leng dengan kau?"

Cui Sian mengangkat muka dan memandang wajah Ouwyang Bun dengan tenang ketika ia menjawab.

"Aku she Can bernama Cui Sian, dan Siauw Leng adalah adikku sendiri bernama Can Siauw Leng."

Tiba-tiba Ouwyang Bun menjadi pucat dan ia merasa kepalanya pening ketika teringat akan sesuatu.

Hampir saja ia tak dapat mengendalikan diri lagi dan hendak memegang lengan gadis itu yang segera mundur.

"Kau... kau dan adikmu... dari manakah asalmu...?"

Cui Sian tidak tampak heran melihat sikap Ouwyang Bun yang aneh ini, bahkan dengan tenang sekali ia berkata.

"Aku sudah tahu apakah yang timbul dalam dugaanmu, taihiap. Memang dugaanmu itu benar. Ayahku adalah Can Lim Co yang tinggal di Tung-han."

"Kau... kau...,"

Ouwyang Bun tak dapat melanjutkan kata-katanya hanya menggunakan jari telunjuknya untuk menuding dada gadis itu lalu menuding dadanya sendiri. Cui Sian mengangguk-angguk.

"Ya, memang ibumu dan ibuku telah menjodohkan kita...,"

Gadis itu lalu menundukkan muka dengan malu. Ouwyang Bun teringat akan adiknya dan ia meloncat-loncat ke atas bagaikan menginjak pasir panas.

"Kalau begitu, adikmu itu... nona Siauw Leng dan Bu-te..."

"Ya, memang menurut orang tua kita, adikmu itupun telah dijodohkan dengan Siauw-Leng."

Tiba-tiba Ouwyang Bun tertawa gelak-gelak sambil mengangkat kepalanya ke atas.

Ia merasa geli sekali ketika teringat betapa Ouwyang Bu telah mengadu kepandaian melawan tunangannya sendiri.

Alangkah cocoknya jodoh itu.

Adiknya yang kasar dan jujur dan Siauw Leng yang lincah dan Jenaka.

Tapi, tiba-tiba ia teringat akan keadaan Ouwyang Bu dan tiba-tiba saja suara ketawanya berobah menjadi isak dan pemuda gagah itu lalu menjatuhkan diri di atas rumput lalu menangis.

Cui Sian yang belum mengetahui duduknya persoalan, menjadi heran sekali dan salah sangka.

Terdengar kata-katanya yang diucapkan dengan tenang tapi tetap.

"Ouwyang-taihiap, tak perlu, hal ini dibingungkan dan disusahkan. Kita adalah orang-orang yang mengutamakan kejujuran dan tidak terikat oleh segala yang tak kita setujui. Kalau kita tak menyetujui tindakan orang tua kita, mudah saja. Batalkan dan habis perkara, tak perlu dibingungkan."

Mendengar ini, sekali itu juga hati Ouwyang Bun memberontak dan ingin sekali ia meloncat dan memegang tangan gadis itu dan mengakui bahwa ia setuju sekali dengan ikatan jodoh itu, tapi karena ia sedang merasa hancur hatinya teringat kepada adiknya yang mengambil jalan lain, ia tak kuasa menjawab kata-kata Cui Sian, hanya berkata lirih berkali-kali.

"Bu-te... Bu-te..."

Ketika Ouwyang Bun mengangkat mukanya, ternyata Cui Sian telah lenyap dari situ.

Ia cepat berdiri memandang ke sekitarnya, tapi keadaan di situ sunyi senyap.

Sementara itu, hari telah berobah senja dan keadaan telah mulai gelap.

Tiba-tiba dari timur tampak beberapa orang berlari cepat sekali ke arahnya dan empat orang telah berada di hadapannya.

Mereka ini adalah perwira-perwira Sayap Garuda dan tanpa banyak cakap lagi mereka menyerang Ouwyang Bun yang masih merasa setengah sadar karena pukulan kesedihan tadi, cepat menggunakan pedangnya melakukan perlawanan.

Ternyata empat orang pahlawan keraton ini sangat hebat dan segera ia terkurung rapat.

Sementara itu, musuh datang lebih banyak.

Ouwyang Bun maklum bahwa ia takkan tertolong lagi, karena terlalu banyak musuh pandai mengurung dan menyerangnya, bahkan di antara mereka ini tampak Kin Keng Tojin, tokoh Go-bi-san yang bertubuh bongkok dan rambutnya yang panjang diikal ke atas.

Inilah tosu yang pernah ia jumpai di medan pesta Gak Liong Ek dulu, dan ternyata pendeta inipun telah menjadi kaki tangan kaisar pula.

Karena terkurung rapat-rapat sedangkan ia hanya seorang diri, Ouwyang Bun menjadi nekat.

Ia mainkan pedangnya sedemikian rupa dan ia kerahkan seluruh tenaga dan kepandaian hingga sampai dua-ratus jurus ia masih tetap dapat mempertahankan diri, biarpun tubuhnyalah merasa lemas dan lelah sekali.

Ia telah menerima hantaman tiga kali, yakni sekali bacokan golok yang meleset dan melukai kulit pundaknya, sedangkan dua kali lagi pukulan toya di lengan kiri dan pinggang.

Tapi berkat semangatnya yang menyala-nyala dan kenekatannya yang luar biasa, ia belum juga dapat dirobohkan.

Akhirnya kedua matanya menjadi gelap, pandangan matanya kabur dan kepalanya pening, sepasang lengannya terasa lemah tak bertenaga dan kedua kakinya terhuyung-huyung ke belakang.

Ia hanya mendengar suara ketawa dan bentakan-bentakan lawannya di sekelilingnya yang tiba-tiba terhenti dan akhirnya semuanya tampak hitam karena ia telah pingsan.

Ketika sadar kembali, Ouwyang Bun mendapatkan dirinya terbaring di atas sebuah dipan bambu yang bertilamkan kain putih bersih dan pinggirnya berenda.

Bantal yang mengganjal kepalanya terbungkus sutera merah bersulam kembang-kembang mawar indah sekali.

Bantal itu mengeluarkan bau harum dan sedap menyegarkan.

Ouwyang Bun merasa seakan-akan dalam mimpi.

Tanpa menggerakkan kepala, kedua matanya bergerak ke sekelilingnya.

Ternyata ia berada di dalam sebuah kamar segi empat yang terbuat dari bilik bambu sederhana.

Di sebelah kirinya terdapat lubang jendela yang tak berapa besar dan dari jendela itu masuklah angin berhembus perlahan menggerak-gerakkan sutera hijau yang tergantung di belakang jendela.

Dari atas sutera hijau itu, ia hanya dapat melihat langit yang biru muda terhias awan-awan putih berkelompok-kelompok.

Tiba-tiba teringatlah ia akan pertempuran hebat dan teringatlah ia betapa ia terluka karena dikeroyok oleh jagoan-jagoan keraton.

Maka ia segera menggerakkan kedua lengannya.

Lengan kanannya dapat digerakkan seperti biasa, tapi lengan kirinya terasa sakit sekali ketika ia gerakkan, terutama di bagian pundak.

Ketika ia raba pundaknya, ternyata bahwa bagian tubuh itu telah dibalut.

Di manakah dia?

Demikianlah otaknya mulai berpikir dan ia bangkit dengan perlahan lalu duduk di atas dipan itu.

Pada saat itu, daun pintu di sebelah kanannya terbuka perlahan dan seorang gadis masuk dengan langkah kaki perlahan dan halus.

Gadis itu membawa sebuah nampan berisi cawan kosong dan poci air teh, dan sebuah mangkuk berisi obat.

Ketika pandang mata mereka bertemu, hampir saja Ouwyang Bun berseru karena herannya.

Ia merasa seakan-akan berhadapan dengan seorang bidadari yang baru saja turun dari kahyangan.

Demikian cantik, demikian manis dengan pakaiannya yang sederhana.

Senyumnya menghias mulut yang indah bentuknya itu, sepasang matanya berseri-seri dan bercahaya bagaikan bintang pagi, dan begitu lemah gemulai.

Ouwyang Bun hampir tak percaya kepada mata sendiri, tapi tak terasa pula bibirnya bergerak memanggil.

"Cui Sian..."

Gadis yang sedang berdiri dan memandang padanya itu tiba-tiba menundukkan mukanya yang berobah menjadi kemerah-merahan dan tangan berkulit putih halus itu menggigil hingga cawan kosong di atas nampan berbunyi berkerotekan.

Benarkah ini Cui Sian, gadis yang biasanya berpakaian laki-laki, gadis yang gagah perkasa, yang telah mendapat kekuasaan memimpin barisan pemberontak, yang biasa menghadapi musuh banyak dengan tenang dan sepasang pedang di tangan.

Benarkah tangan yang biasanya pandai mengayun dan mempermainkan pedang itu kini gemetar menggigil untuk membawa sebuah nampan kosong saja?

Ternyata bahwa dara ini memang benar Cui Sian adanya.

"Ouwyang-taihiap, kau sudah sadar?"

Tanyanya. Aneh sekali pendengaran telinga Ouwyang Bun, suara gadis inipun berobah, merdu halus dan bagaikan kicau murai di waktu pagi.

"Cui Sian... moi-moi, masih perlukah kau panggil aku dengan segala taihiap-taihiapan?"

Ouwyang Bun berkata perlahan. Muka gadis itu makin merah dan ia mengerling kepada pemuda itu dengan sudut matanya.

"Baiklah, Bun-ko,"

Jawabnya perlahan hampir tak terdengar, kemudian setelah menghela napas untuk menenteramkan hatinya yang berdebar-debar tadi, ia berkata lagi, kini dengan suara biasa.

"Bun-ko, minumlah dulu obat ini."

Semenjak kecil Ouwyang Bun memang paling benci minum obat-obat yang tak sedap rasanya, apalagi kalau yang pahit.

Mendengar bahwa ia harus minum obat semangkuk penuh itu, ia kenyitkan hidungnya dan belum apa-apa ia telah merasa mau muntah.

"Haruskah kuminum obat itu, moi-moi?"

Tanyanya. Melihat wajah pemuda itu, Cui Sian tertawa geli.

"Tentu saja harus kau minum, apa kau kira aku bersusah payah masak obat ini hanya untuk main-main saja?"

"Eh, kau memasak obat untukku, adikku yang baik? Dan kau... kau rawat aku dengan baik pula, ah... sungguh kau baik sekali, moi-moi..."

"Hush... sudahlah, minum dulu obat ini dan jangan membantah."

Setelah gadis itu meletakkan nampan di atas meja kecil, lalu mengambil mangkuk obat itu dan menghampiri Ouwyang Bun.

Dari pakaian gadis itu keluar bau harum'yang sama dengan bau harum bantalnya, maka Ouwyang Bun memejamkan mata sebentar dan menarik napas dalam, lalu dengan menurut sekali ia terima mangkuk itu, menutup matanya rapat-rapat lalu sekali tuang habislah obat semangkuk itu.

"Nah, begitu baru baik,"

Gadis itu memuji dan cepat mengambil mangkuk kosong itu menuangkan teh di dalam cawan kecil yang kemudian disodorkan kepada pemuda itu.

"Dan ini obat penawar pahit,"

Katanya sambil tersenyum dan memandang penuh mesra. Ouwyang Bun juga tak membantah dan meminum habis teh itu.

"Sekarang, kau ceritakan semuanya kepadaku, moi-moi,"

Ia lalu menuntut, tapi cepat disambungnya.

"eh, jangan kau berdiri saja, duduklah..."

Pemuda itu merasa bingung karena ia merasa tidak sepantasnya kalau mereka duduk berdua di atas pembaringan, sedangkan di situ tidak ada bangku atau kursi.

Maka ia lalu cepat turun dari pembaringan.

Pinggangnya terasa agak sakit, tapi ditahannya, lalu ia berdiri dan berkata lagi.

"Nah, kau duduklah di situ biar aku berdiri saja."

Cui Sian tersenyum geli.

"Kau berbaring saja, Bun-ko. Lukamu belum sembuh benar, tidak boleh turun dari pembaringan. Biar aku duduk di pinggir pembaringan."

Karena memang pinggangnya terasa sakit dan kepalanya masih pusing, Ouwyang Bun lalu merebahkan diri lagi, dan tanpa malu-malu lagi Sui Cian duduk di pinggir pembaringan.

"Moi-moi... bukannya aku tak suka, tapi... tapi kalau terlihat orang lain... bolehkah kau duduk di pinggir pembaringanku?"

Sambil berkata demikian pemuda itu menjauhkah diri sedapat mungkin dan mukanya menjadi merah sekali. Cui Sian menggunakan ujung lengan bajunya untuk menutup mulutnya dan menahan geli hatinya.

"Koko, sungguh kau... menggemaskan. Tiga hari aku terus-menerus menjagamu di sini dan sekarang kau hendak melarang aku duduk di sini?"

"Apa? Tiga liari kau menjagaku di sini? Seorang diri? Dan di mana kawan-kawan yang lain?"

"Sabar, koko. Ketahuilah, ketika kau dengan mati-matian dan gagah berani menghadapi keroyokan beberapa perwira Sayap Garuda dan berada dalam keadaan yang berbahaya sekali, kebetulan aku dan kawan-kawan datang. Untung pada waktu itu suhuku juga ada di antara kami hingga beliaulah yang menolongmu dari bahaya maut. Kalau tidak ada suhu, kiraku sukar menolongmu, karena pengeroyok-pengeroyokmu adalah jago-jago keraton yang berkepandaian tinggi."

"Aduh, kalau begitu aku berhutang budi kepada suhumu."

"Stt, siapa bicara perkara budi? Dengarlah baik-baik ceritaku,"

Gadis itu menyela.

"Setelah kami berhasil memukul mun dur mereka semua, kami lalu membawamu ke sini yang terpisah hampir lima puluh li dari tempat kau bertempur. Suhu lalu memeriksamu dan ternyata kau mendapat beberapa luka yang berat juga. Kata suhu, kau akan pingsan sampai dua atau tiga hari karena selain mendapat luka dan terlampau lelah, kau juga menderita tekanan hatin hebat hingga jantungmu terganggu."

"Aah, suhumu sungguh pandai luar biasa seperti seorang dewa,"

Kata Ouwyang Bun dengan kagum.

"Suhu lalu memberi obat dan beliau segera pergi karena mempunyai tugas penting di kota raja, sedangkan semua kawan-kawan juga harus segera menggabungkan diri dengan kawan-kawan lain untuk bersiap sedia menanti perintah penyerbuan besar-besaran ke kota raja. Karena kau harus dirawat baik-baik seperti perintah suhu, maka aku lalu memberikan tugasku kepada Siauw Leng dan aku sendiri tinggal merawatmu."

"Ah, moi-moi, adikku yang manis,"

Ouwyang Bun berbisik terharu sambil memegang tangan gadis itu dan tanpa disadarinya ia mencium tangan yang halus dan hangat itu.

Untuk beberapa lama Cui Sian membiarkan saja tangannya dipegang tapi kemudian ia menarik tangannya sambil berkata lagi.

"Koko, menurut kata suhu, setelah empat hari barulah kau boleh melakukan.perjalanan. Aku mempunyai tugas penting, yakni memimpin kawan-kawan mencari dan menggabungkan diri dengan induk kesatuan. Maka, terpaksa besok pagi-pagi aku pergi dari sini."

Ouwyang Bun terkejut.

"Pergi ke mana, moi-moi?"

"Menyusul kawan-kawan. Ke mana lagi?"

"Aku juga ikut pergi,"

Katanya dengan suara tetap. Cui Sian mengangkat telunjuknya.

"Ingat, koko, aku menunaikan tugasku untuk menyerbu ke kota raja."

"Akupun hendak ikut menyerbu dan bertempur di sampingmu."

"Ingat, koko. Tidak ada yang memaksa kau untuk ikut menggabungkan diri menjadi pemberontak."

"Tidak ada yang memaksa, dan kau bukanlah pemberontak. Kau adalah seorang patriot wanita, semua kawan adalah patriot-patriot gagah sejati. Aku sekarang mengerti dan tahu akan isi perjuanganmu, moi-moi."

"Tapi, koko, janganlah kau berobah pikiran hanya karena ada aku. Ingatlah bahwa kau akan berhadapan dengan susiokmu, bahkan mungkin dengan... adikmu sendiri."

Mendengar adiknya disebut-sebut, Ouwyang Bun menghela napas dan berkata perlahan.

"Sayang... sayang sekali Bu-te tidak berada di sampingku..."

"Memang, aku juga sangat menyayangkan, koko. Ketahuilah, dari berita para pe nyelidik kita, aku mendapat kabar bahwa adikmu kini telah diangkat menjadi tangan kanan Cin-ciangkun."

Ouwyang Bun makin sedih mendengar ini.

"Dan diberi tugas mengepalai barisan yang menjaga benteng Kwi-ciok-bun di sebelah selatan kota raja. Kabarnya benteng nya besar dan kuat sekali dan merupakan perintang besar sekali bagi kawan-kawan kita."

"Dan kau serta kawan-kawanmu hendak menyerbu ke sana?"

Tanya Ouwyang Bun.

"Memang tugas kita harus melalui benteng itu."

"Kalau begitu, aku ikut. Biarlah, kalau perlu aku berhadapan dengan adikku sendiri. Mungkin aku dapat menyadarkannya sebelum terlambat."

Sehari itu mereka bercakap-cakap dan pada kesempatan ini Can Cui Sian menceritakan riwayatnya secara singkat.

Ternyata bahwa Can Lim Co, ayah Cui Sian dan Siauw Leng, setelah harta bendanya habis dan menjadi miskin, pindah ke Tung-han dan mendiami rumah sederhana.

Pada suatu hari, ketika hujan turun dengan lebatnya, di depan rumah keluarga Can itu tampak meneduh seorang kakek yang memikul keranjang obat.

Kakek itu menggunakan ujung lengan bajunya untuk menghapus air hujan yang menimpa kepala dan mukanya, lalu mengucapkan syair dengan suara riang sambil memandang air yang mengucur dari atas.

Kata orang purbakala Mendung timbul dari samudera Mendung jadi hujan Dan air mengalir masuk sungai Sungai bergerak maju Dan akhirnya masuk ke samudera kembali Alangkah adilnya kekuasaan alam Segala sesuatu Pasti kembali ke asal semula.

Kebetulan pada waktu itu Can Lim Co sedang duduk di dekat jendela sambil memandang air hujan juga.

Can Lim Co adalah seorang sastrawan yang tentu saja pandai akan sastra dan syair.

Mendengar syair yang diucapkan orang dari luar ini, ia merasa kagum dan tertarik sekali.

Segera ia keluar dan dengan ramah-tamah mempersilakan kakek tukang obat itu masuk.

Kakek itu ternyata adalah Sin-liong Ciu Pek In si Naga Sakti yang tidak hanya hebat sekali ilmu pedangnya.

juga seorang ahli ilmu pengobatan yang pintar dan sakti.

Ciu Pek In segera menjadi sahabat baik Can Lim Co karena keduanya suka akan syair-syair kuno, maka semenjak saat itu, seringkali Ciu Pek In mengunjungi sahabatnya itu.

Kemudian, karena Can Lim Co juga berjiwa patriot, melihat keadaan negara dalam kacau dan tahu bahwa Ciu Pek In adalah seorang pendekar gagah perkasa, orang she Can ini minta kepada sahabatnya untuk menerima kedua anak perempuannya sebagai murid.

Ternyata kedua anak perempuannya, Cui Sian dan Siauw Leng, memang mempunyai bakat baik hingga mereka mudah dapat menerima pelajaran silat tinggi dari si Naga Sakti.

Ketika pemberontakan pecah di mana-mana, sebagai seorang pen cinta bangsa Ciu Pek In juga ikut membantu pergerakan untuk meruntuhkan kekuasaan raja lalim dan para pemimpin jahat, sedangkan dua orang muridnya itu-pun mendapat izin dari orang tuanya untuk membantu pula.

Mendengar cerita Cui Sian, Ouwyang Bun merasa kagum sekali dan tiada habisnya memuji ayah.

gadis itu sebagai seorang yang berjiwa patriot.

"Sayang sekali ayahku tidak berpemandangan demikian, dan lebih sayang lagi bahwa Bu-te juga tidak menginsyafi hal ini,"

Katanya sambil menghela napas.

Pada keesokan harinya, ternyata kesehatan Ouwyang Bun telah pulih kembali dan luka-lukanya sudah hampir sembuh.

Keduanya lalu berangkat meninggalkan tempat itu dengan naik dua ekor kuda yang memang sengaja disediakan dan ditinggalkan di situ untuk mereka berdua.

Mereka memacu kudanya cepat-cepat untuk dapat menyusul kawan-kawan yang telah mendahului mereka empat hari yang lalu.

Karena kawan-kawannya telah berangkat lebih dulu, maka di mana-mana Cui Sian mendapat bantuan orang kampung dan mudah saja baginya mencari tahu dari mereka ini ten-r tang perjalanan kawan-kawannya dan tentang pergerakan tentara negeri yang beraksi mengadakan pembersihan.

Melihat sikap gadis itu kepada orang-orang kampung, makin kagumlah hati Ouwyang Bun dan ia makin yakin parapemberontak memang berada di pihak yang benar dan mulia.

Tiga hari kemudian, ketika mereka sedang melarikan kuda dengan cepat menyeberangi sebuah hutan, tiba-tiba dari depan terdengar suara kaki kuda dilarikan dengan cepat dan sebentar saja tampak penunggang kuda itu dari depan.

"Siong-lopeh, kau hendak ke mana?"

Tiba-tiba Cui Sian menegur dengan suara nyaring dan ramah.

"Twa-lihiap, aku sengaja hendak menyusul dan menyambut engkau."

Kata orang tua itu. Memang di antara kawan-kawannya itu, Cui Sian dipanggil twa-lihiap dan Siauw Leng dipanggil ji-lihiap, bahkan kadang-kadang Cui Sian mendapat julukan It-to-bwee.

"Apakah ada kejadian-kejadian yang penting, Siong-lopeh?"

Tanya gadis itu dengan sikap tenang-(Lanjut ke

Jilid 05) Sepasang Pendekar Kembar/Ouw Yang Heng Te (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 tenang saja.

"Perjalanan kita terhalang oleh barisan besar yang kuat. Telah dua kali terjadi pertempuran, tapi pihak musuh terlampau kuat dan jumlahnya jauh lebih besar. Ji-lihiap memerintahkan kami supaya mundur dan bersembunyi di dalam hutan-hutan dan tidak boleh menyerang sebelum kau datang. Karena kami merasa gelisah menghadapi musuh yang kuat dan banyak, kami lalu mengambil keputusan untuk menyusulmu dan aku yang mendapat tugas ini. Kebetulan sekali kita bertemu di sini, twa-li-hiap."

Suara gadis itu tetap tenang ketika ia bertanya.

"Bagaimana perbandingan jumlah tenaga dan siapa yang memimpin pihak musuh?"

"Jumlah musuh menurut para penyelidik kita adalah lebih dari tigaratus orang sedangkan kita hanya berjumlah enam puluh. Pemimpin pihak lawan adalah seorang perwira baru yang masih muda dan memiliki kepandaian silat tinggi. Kabarnya ji-lihiap kenal padanya dan kalau tidak salah perwira itu adalah keponakan Cin-ciangkun sendiri."

"Apa?"

Ouwyang Bun tak tahan lagi berseru dengan kaget. Tentu adiknyalah perwira itu. Tapi Cui Sian lebih tenang dan berkata.

"Kalau begitu, mari kita menemui kawan-kawan secepatnya, lopeh,"

Dan kepada Ouwyang Bun ia berkata.

"Koko, mari kau ikut."

Biarpun anggauta pemberontak she Siong itu merasa heran mendengar panggilan Cui Sian kepada pemuda itu namun ia tidak berani membuka mulut, dan ketiganya lalu memacu kuda secepatnya.

Orang she Siong itu berjalan paling depan sebagai penunjuk jalan, Cui Sian di belakangnya dan Ouwyang Bun di belakang sekali.

Setelah membalapkan kuda hampir setengah hari dan hari telah menjadi gelap, barulah mereka sampai di tempat tujuan yakni sebuah hutan pohon pek yang lebat sekali.

Di tengah-tengah hutan itulah para anggauta pemberontak menyembunyikan diri.

Ketika Cui Sian datang, semua orang merasa gembira sekali dan lega, karena dengan adanya pendekar wanita ini di antara mereka, maka hati mereka menjadi lebih tabah.

Siauw Leng menyambut encinya dengan girang kemudian memeluknya.

Gadis lincah itu lalu menjura kepada Ouwyang Bun dan berkata dengan wajah sungguh-sungguh dan lenyaplah untuk saat itu sifatnya yang nakal.

"Ouwyang-taihiap, sungguh-sungguh aku merasa girang dan lega sekali melihat kau suka datang di tempat ini bersama cici."

Kemudian, enci dan adik itu serta beberapa orang yang dianggap sebagai pembantu, mengadakan rapat di dekat api unggun.

Di sekeliling api itu ditutup dengan kain tebal hitam hingga dari jauh api itu takkan tampak oleh musuh.

Ouwyang Bun ikut duduk di situ, tapi ia hanya mendengarkan saja segala percakapan mereka.

Setelah mendengar laporan-laporan para pembantunya, Cui Sian memeras otaknya yang cerdas lalu mengatur siasat.

"Kawan-kawan kita yang berjumlah enam puluh ini kita bagi menjadi tiga kelompok. Empat puluh orang besok pagi-pagi sekali ikut dengan aku sendiri menyerbu musuh di luar hutan. Kalau jumlah mereka bertambah, aku pimpin empat puluh orang kawan ini mundur dan melarikan diri ke dalam hutan untuk memancing mereka mengejar sampai di tempat yang banyak terdapat pohon siong besar yang kulihat di sana tadi. Di belakang pohon-pohon itu, Siauw Leng harus memimpin sepuluh orang yang pandai menggunakan anak panah dan menunggu sampai musuh yang mengejarku tiba di situ lalu menghujani anak panah tanpa memperlihatkan diri. Tentu keadaan mereka menjadi kacau dan banyak korban jatuh. Kalau mereka melarikan diri dan kembali hendak ke luar hutan, maka Lui-twako yang memimpin sepuluh orang kawan lain harus menyergap mereka dengan anak panah pula dari depan hingga mereka seakan-akan terkurung tanpa mengetahui jumlah kita yang sesungguhnya. Aku sendiri akan memimpin kawan-kawanku untuk menyerbu kembali hingga mereka betul-betul menjadi kacau-balau."

Semua orang mendengarkan perintah ini dengan penuh perhatian, sedangkan Ouwyang Bun merasa kagum sekali.

Pada keesokan harinya semua orang telah bersiap melakukan tugas masing-masing.

Ouwyang Bun menemui Cui Sian dan bertanya.

"Moi-moi, aku tentu boleh ikut denganmu, bukan?"

"Lebih baik jangan, koko. Siapa tahu, jangan-jangan adikmu sendiri yang akan maju memimpin pengejaran nanti, dan jika ia melihat kau, ia akan menjadi curiga dan siasatku mungkin akan gagal. Biarlah kau mengamat-amati saja dan membantu bila di antara kawan kita ada yang terkurung atau terancam bahaya."

"Tapi kau harus berlaku hati-hati, moi-moi, jangan kau pandang ringan adikku itu dan... dan�. sedapat mungkin janganlah kau... celakakan dia."

Cui Sian memandang pemuda itu dengan mata sayu.

"Apa dayaku, koko? Dalam keadaan seperti ini apakah masih perlu perasaan perseorangan diutamakan?"

Ouwyang Bun menghela napas dan tak men jawab karena ia maklum sepenuhnya akan maksud kata-kata gadis itu.

Setelah memberi pesan terakhir kepada kawan-kawannya dan mengatur persiapan-persiapan untuk menjalankan siasat itu, Cui Sian lalu memimpin kawan-kawannya untuk menyerbu perkemahan serdadu negeri yang menjaga di luar hutan dalam tenda-tenda berwarna hijau.

Kurang lebih tigaratus orang serdadu itu memang dipimpin sendiri oleh Ouwyang Bu.

Bagaimanakah nasib pemuda gagah ini yang ditinggal pergi oleh kakaknya yang ia kasihi?

Setelah Ouwyang Bun pergi, Ouwyang Bu merasa sangat sedih, akan tetapi karena kasih dan cintanya kepada Lie Eng jauh lebih besar daripada kasih sayangnya kepada kakaknya itu, maka kenyataan bahwa ia dapat selalu berdampingan dengan gadis itu yang banyak menghibur hatinya.

Sementara itu, semenjak kepergian Ouwyang Bun, Lie Eng menjadi pendiam.

Wajahnya yang cantik itu tampak muram saja dan ia jarang tersenyum, kecuali kalau sedang bicara dengan Ouwyang Bu, karena diam-diam ia merasa sangat kasihan kepada pemuda ini.

Ia tahu bahwa pemuda ini sekarang menaruh seluruh pengharapannya kepada dia seorang, maka tidak sampai hatinya untuk menolak cinta Ouwyang Bu, biarpun ia juga tidak menyatakan bahwa ia menerima atau membalas cinta itu.

Diam-diam gadis ini masih mengingat dengan hati penuh rindu Kepada Ouwyang Bun, pemuda idaman hatinya itu.

Setelah Ouwyang Bun pergi, Lie Eng dan Ouwyang Bu tiada bernapsu lagi untuk melanjutkan perantauan mereka, maka langsung mereka menyusul pasukan yang dipimpin oleh Cin Cun Ong.

Beberapa hari kemudian mereka dapat menyusul pasukan itu karena Cln-ciangkun menggerakkan pasukannya sambil melakukan pembersihan di sana-sini.

Sambil berlutut Ouwyang Bu memintakan ampun untuk kakaknya yang telah pergi tanpa pamit itu.

Cin Cun Ong menghela napas dan diam-diam ia merasa menyesal karena ia sungguh mengharapkan tenaga anak muda itu, tapi mulutnya berkata.

"Tidak apalah, memang segala sesuatu tidak dapat dipaksakan. Mungkin dia mempunyai pendapat lain. Mudah-mudahan saja dia tidak mengambil jalan berlawanan dengan jalan kita. Dan kau sendiri bagaimana?"

"Teecu sudah berjanji hendak membantu pekerjaan susiok sampai titik darah peng habisan."

Sambil berkata demikian pemuda itu melirik ke arah Lie Eng yang berdiri di dekat ayahnya bagaikan patung, seakan-akan pikirannya melayang-layang pergi jauh dari tubuhnya.

Cin Cun Ong adalah seorang kang-ouw yang sudah ulung dan banyak punya pengalaman.

Ia maklum bahwa saudara kembar she Ouwyang itu mempunyai hubungan persaudaraan yang luar biasa.

Dan kalau ada sesuatu yang mampu memisahkan mereka berdua, maka sesuatu itu tentulah seorang wanita.

Dan dalam hal ini, siapakah lagi kalau bukan Lie Eng anak gadisnya sendiri?

"Ouwyang Bu, baik sekali kalau pendirianmu demikian.

Aku percaya penuh kepadamu.

Ketahuilah, sekarang ini dari sekeliling jurusan yang menuju ke kota raja, telah penuh dengan barisan pemberontak yang bergerak dengan sembunyi-sembunyi.

Menurut perhitunganku, yang berbahaya adalah barisan-barisan pemberontak yang bergerak dari timur dan utara.

Maka kebetulan sekali kedatanganmu ini.

Aku akan menjaga di sebelah timur dan kau menjaga di sebelah utara.

Karena kau belum berpengalaman, maka biarlah Lie Eng membantumu."

Bukan main girang hati Ouwyang Bu, bukan terlalu girang karena diberi tugas besar yang berbahaya itu, tapi gembira karena gadis yang dicintainya itu dijadikan pembantunya.

Cin Cun Ong dapat melihat sinar bahagia memancar dari muka pemuda itu, maka dugaannya makin tebal.

Tapi ketika ia menengok dan memandang muka Lie Eng, gadis itu menyambut perintah ini dengan dingin saja, walaupun ia berkata.

"Aku akan girang sekali kalau dapat membantu Bu-ko."

"Kalian harus memimpin barisan yang kini sudah berada di benteng Liok-kwa-shia. Di situ terdapat seribu orang tentara di bawah pimpinan Gui-ciangkun. Kau bawalah suratku untuknya dan boleh ambil alih pimpinan dan angkatlah ia menjadi pembantumu. Biarpun kepandaian Gui-ciangkun tidak berapa tinggi, namun ia dapat memimpin anak buahnya dan ia cukup setia. Ingat, kewajiban kalian hanya untuk menjaga daerah itu yang panjangnya lima li dan jangan bergerak terlalu jauh. Ingatlah baik-baik akan gerak-gerik barisan pemberontak yang menggunakan taktik perang secara sembunyi-sembunyi dan jangan percaya kepada segala petani dan pengemis. Mereka ini mungkin sekali adalah anggauta-anggauta pemberontak atau mata-mata. Pendeknya, tanggung jawab benteng itu kuserahkan kepadamu dan hati-hatilah jangan sampai pemberontak dapat menerobos dan melewati benteng itu."

Setelah menerima nasihat-nasihat banyak sekali dari panglima tua yang ulung itu, Ouwyang Bu dan Lie Eng berangkat dengan diiringkan oleh satu regu tentara pilihan.

Ouwyang Bu mengenakan pakaian perwira kelas satu yang terbuat dari kain berwarna hijau dengan sulaman-sulaman kuning.

Topinya dihias benang emas hingga berkilauan kena cahaya matahari sedangkan pedangnya digantungkan di pinggang.

Ia tampak gagah sekali dan untuk sesaat Lie Eng memandang padanya dengan mata mesra karena Ouwyang Bu memang dalam hal rupa dan bentuk badan serupa benar dengan Ouwyang Bun.

Juga Lie Eng berpakaian sebagai seorang panglima wanita, tapi ia tidak menggantungkan sepasang pedangnya di pinggang.

Ia lebih suka mengikatkan pedangnya itu di punggungnya hingga dilihat dari depan, hanya gagang pedang saja yang nampak mengintai dari balik bahunya.

Kedatangan mereka disambut oleh Gui Li Sun atau Gui-ciangkun, panglima yang tinggi besar itu.

Gui-ciangkun tentu saja merasa tidak puas dan kecewa sekali ketika ia harus menyerahkan pimpinan benteng itu kepada Ouwyang Bu.

Anak muda yang baru saja masuk lingkungan ketentaraan itu dan belum mempunyai pengalaman perang sama sekali, telah diserahi tugas ini?

Sungguh gemas sekali hati Gui Li Sun dan kalau ia tidak ingat bahwa Ouwyang Bu memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari padanya, pula kedatangan anak muda itu membawa surat perintah dari Cin-ciang-kun, bahkan Cin Lie Eng juga ikut membantu, tentu ia akan memperlihatkan rasa menyesal dan marahnya.

Akan tetapi, ia tidak dapat berbuat apa-apa selain memberi hormat secara militer kepada Ouwyang Bu yang semenjak saat itu menjadi pemimpinnya.

Dengan bantuan Lie Eng dan Gui Li Sun, Ouwyang Bu mengadakan peraturan baru yang keras pada seluruh anak buahnya dan penjagaan dilakukan lebih kuat lagi.

Semenjak Ouwyang Bu menjabat pimpinan di situ, benar saja para pemberontak yang hendak menerobos daerah itu selalu dapat digagalkan.

Telah lebih dari lima kali rombongan-rombongan kecil pemberontak yang lewat di situ dapat digagalkan bahkan dihancurkan.

Beberapa orang pemberontak yang berkepandaian tinggi tidak kuat menghadapi Ouwyang Bu yang dibantu oleh Lie Eng, pula tidak dapat melawan barisan yang besar jumlahnya dan dapat menerobos penjagaan yang sangat kuat itu.

Di waktu tidak ada serbuan pemberontak, tiap hari Ouwyang Bu melatih semua anak buahnya dengan latihan-latihan main senjata.

Ia sengaja menurunkan kepandaian silat yang praktis dan yang mudah dipelajari serta dapat digunakan pada saat terjadi pertempuran.

Dan pada suatu hari sampailah pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Siauw Leng ke benteng itu.

Berbeda dengan serbuan-serbuan pemberontak yang sudah-sudah, pasukan Siauw Leng ini ternyata cukup kuat hingga ketika terjadi pertempuran pertama di antara mereka, banyak juga serdadu penjaga jatuh menjadi korban.

Keadaan penjagaan menjadi kacau dan mendengar akan kehebatan para pemberontak yang kali ini menyerbu bentengnya, Ouwyang Bu menjadi marah dan ia sendiri ikut bertindak.

Alangkah marahnya ketika ia melihat bahwa yang menyerang adalah pemberontak-pemberontak yang dipimpin oleh gadis yang pernah mengadu kepandaian dengan dia dulu itu.

Ia menjadi terkejut dan berlaku hati-hati sekali.

Diam-diam ia atur barisannya untuk mengepung, dan ia sendiri bersama Lie Eng lalu menyerbu hingga rombongan pemberontak itu terpukul mundur dan melarikan diri ke dalam hutan.

Karena tahu bahwa rombongan itu terdiri dari banyak orang-orang pandai yang perlu sekali dibasmi agar tidak membahayakan pertahanan bentengnya, Ouwyang Bu lalu mengejar mereka ke dalam hutan.

Per tempuran seru terjadi berkali-kali dan pihak pemberontak selalu terdesak hingga mundur dan dikejar terus.

"Sudah, Bu-ko. Jangan-jangan kita kena dipancing."

Lie Eng memperingatkan ketika mereka mengejar sampai di pinggir hutan lain yang lebat dan gelap. Ouwyang Bu berkata dengan penuh napsu.

"Eng-moi, biarlah kita bergiliran menjaga di sini dengan tigaratus orang tentara. Kita dapat mendirikan tenda-tenda di sini, karena kalau tempat ini dijaga, maka tak ada pemberontak dapat mendekati benteng. Juga, pada siang hari kita dapat mengejar ke dalam hutan dan membasmi mereka semua."

Karena Ouwyang Bu yang memegang pucuk pimpinan, maka Lie Eng hanya menurut saja.

Tigaratus orang tentara dikerahkannya dan di situ didirikan perkemahan besar.

Lie Eng dari Gui Li Sun diperintahkan menjaga benteng, sedangkan tigaratus orang tentara itu dipimpin sendiri oleh Ouwyang Bu.

Keputusan inilah yang membingungkan Siauw Leng dan kawan-kawannya yang berjumlah enam puluh orang, karena dengan dijaganya mulut hutan itu, benar-benar mereka tak dapat keluar.

Demikianlah keadaan Ouwyang Bu, pemuda gagah perkasa yang terpaksa berselisih jalan dengan kakaknya karena pengaruh asmara.

Pada malam itu ketika Ouwyang Bu sedang mengepalai sendiri anak buahnya melakukan penjagaan di sekitar mulut hutan itu, maka di tengah-tengah hutan sedang diadakan perundingan antara Cui Sian dan kawan-kawannya, bahkan terdapat pula Ouwyang Bun di antara mereka.

Seperti telah diketahui, Cui Sian mengambil keputusan untuk memimpin sendiri empat puluh orang pada pagi hari itu dan menyerbu serta memancing barisan tentara negeri yang menjaga di luar hutan.

Dengan hati-hati dan cekatan, Cui Sian yang berjalan paling depan dapat melihat keadaan penjagaan Ouwyang Bu yang betul-betul kuat dan rapi.

Ia memberi tanda kepada kawan-kawannya dan tiba-tiba sambil memekik nyaring, ia perintahkan anak buahnya menyerbu di bagian sayap kiri di mana berkumpul para penjaga terdiri dari kira-kira lima puluh orang berpencaran di sana-sini.

Mendapat serangan tak terduga-duga yang dilancarkan pada waktu pagi sekali itu, para perajurit menjadi panik dan bingung.

Sebentar saja di pihak mereka telah jatuh korban beberapa belas orang.

Tapi bala bantuan segera datang, dikepalai oleh Ouwyang Bu sendiri.

Melihat bahwa yang memimpin penyerbuan itu adalah Cui Sian, maka panglima muda ini tertawa keras dan berkata.

"Aah, It-to-bwee sendiri yang mengantarkan jiwa."

Ouwyang Bu lalu menyerang dengan pedangnya, dibantu oleh beberapa orang yang berkepandaian cukup tinggi.

Biarpun ia belum tentu kalah menghadapi Cui Sian seorang diri saja, tapi di dalam peperangan seperti itu, tidak ada yang harus dibuat malu jika melakukan pengeroyokan, maka Ouwyang Bu juga tidak melarang anak buahnya mengeroyok, karena memang ia ingin segera membereskan pemberontak-pemberontak ini, termasuk juga nona cantik ini.

Cui Sian memang franya ingin memancing mereka saja, bukan bermaksud hendak bertempur mati-matian, maka sambil memutar pedangnya menangkis serangan para lawannya, ia mengeluarkan tiupan yang terbuat dari gading.

Setelah ia meniup benda itu, terdengar suara melengking yang tinggi dan nyaring dan serentak anak buahnya meloncat mundur dan melarikan diri ke dalam hutan.

Cui Sian sendiri lalu berkata sambil tertawa.

"Ouwyang Bu, sayang aku tidak ada waktu lebih lama untuk melayanimu."

Dan sekali loncat, melayanglah tubuhnya cepat sekali ke atas pohon.

Ouwyang Bu kagum melihat ginkang yang hebat ini, tapi ia tidak mau kalah.

Sambil memberi aba-aba agar semua anak buahnya mengejar, iapun meloncat mengejar dengan cepat sekali.

Akan tetapi, biarpun merasa gemas dan marah, Ouwyang Bu masih dapat mengendalikan perasaannya dan tidak mau meninggalkan anak buahnya karena ia khawatir kalau-kalau ia lupa diri dan meninggalkan mereka hingga jika terjadi penyerbuan dan pencegatan sewaktu-waktu tidak ada yang memimpin anak buahnya lagi.

Ia hanya berteriak keras agar semua anak buahnya cepat mengejar.

Ouwyang Bu Sama sekali tidak pernah menyangka bahwa Cui Sian yang sengaja menyuruh kawan-kawannya berteriak memaki-maki sedang memancing ia masuk ke perangkap.

Akan tetapi, biarpun Ouwyang Bu tidak sangat cerdik, namun ia masih teringat sekali tipu muslihat.

Oleh karena pikiran inilah ia menjadi curiga.

Pada saat ia hendak memberi perintah supaya anak buahnya berhenti dan mundur, tiba-tiba dari depan dan dari atas pohon datang serangan anak panah yang berhamburan bagaikan hujan.

Ouwyang Bu cepat menggunakan pedangnya diputar sedemikian rupa hingga.semua anak panah yang menuju kepadanya dapat dipukul runtuh.

Tapi terdengar pekik-pekik kesakitan dari anak buahnya yang menjadi korban anak panah hingga Ouwyang Bu menjadi terkejut dan marah sekali.

Ia pungut sebatang golok dari seorang, anak buahnya yang binasa dan sekali tangannya bergerak maka golok itu terbang ke atas pohon dan terdengar jeritan ngeri ketika golok itu dengan tepat sekali menancap di perut seorang anggauta pemberontak yang bersembunyi di atas pohon sambil melepaskan anak panah, hingga tubuh itu terjungkal ke bawah.

Tapi datangnya anak panah makin banyak dan korban yang jatuh di pihak serdadu sampai belasan orang.

Maka Ouwyang Bu lalu meneriakkan aba-aba mundur kepada anak buahnya yang sudah panik itu.

Akan tetapi baru saja bergerak mundur beberapa puluh langkah, dari sebelah kanan kiri yang penuh dengan rumpun dan alang-alang, menyambut pula puluhan anak panah hingga sekali lagi barisan Ouwyang Bu menjadi kacau dan kocar-kacir.

Sementara itu, sambil berteriak-teriak, pasukan yang dipimpin oleh Cui Sian maju menerjang lagi, kini dibantu oleh pasukan Siauw Leng dan pasukan Lui Kok Pauw.

Bukan main marah Ouwyang Bu melihat betapa tentaranya yang berjumlah banyak itu dapat ditipu hingga mengakibatkan banyak sekali jatuh korban.

Dalam marahnya ia mempergunakan pedangnya mengamuk hingga sebentar saja beberapa orang ang-gauta pemberontak roboh di tangannya.

Tapi karena ia merasa khawatir kalau-kalau masih banyak pemberontak yang bersembunyi dan menyangka bahwa jumlah pemberontak yang mengepung di hutan itu jauh lebih besar daripada sangkaannya semula, terbukti dari serangan-serangan anak panah yang dilakukan dari mana-mana, terpaksa Ouwyang Bu memberi perintah untuk mundur terus dan lari keluar dari hutan itu.

Ketika ia sedang lari, Ouwyang Bu mendengar suara tertawa merdu dari atas dan ia mengenal suara itu sebagai suara Cui Sian.

Gadis itu tertawa lalu berkata.

"Ouwyang Bu, kau tersesat. Kalau tidak mentaati pesan kakakmu, pasti hari ini kau telah menemui ajalmu di rimba ini."

Kemudian sunyi senyap.

Ouwyang Bu terkejut sekali dan menduga bahwa Ouwyang Bun pasti berada di hutan itu, menggabungkan diri dengan para pemberontak.

la tahu pula bahwa tadi Cui Sian tentu bicara dari atas sebuah pohon dan menggunakan tenaga tan-tian hingga suara ketawa dan kata-katanya terdengar sampai jauh.

Dengan menderita kekalahan besar dan kehilangan tiga puluh orang lebih, Ouwyang Bu keluar dari hutan itu dan terus kembali ke benteng, karena ia perlu mengatur siasat dan merasa bahwa malam ini ia dan barisannya bermalam di pinggir hutan, banyak sekali bahaya yang mungkin akan mendatangkan kerugian lebih besar lagi di pihaknya.

Lie Eng menyambut kedatangannya dengan ikut merasa dendam serta marah.

Ia menyatakan penyesalannya mengapa tidak ikut dalam pertempuran itu.

Sebaliknya, biarpun di luarnya Gui-ciangkun menyatakan menyesal dan marah, di dalam hati ia mentertawakan kegagalan Ouwyang Bu.

Ketika berdua saja dengan Lie Eng, Ouwyang Bu lalu menceritakan pengalaman dan pertempurannya dengan Cui Sian.

"Sayang aku tidak mendapat kesempatan untuk merobohkannya, karena ia keburu mengundurkan diri dan lari ke dalam hutan,"

Katanya, kemudian dengan wajah bersungguh-sungguh ia menyambung ceritanya.

"Dan aku mendapat dugaan keras bahwa Bun-ko berada pula di dalam hutan itu."

Bukan main terkejut hati Lie Eng mendengar warta ini.

Memang telah lama ia merindukan Ouwyang Bun dan seringkali ia termenung dan menduga-duga bagaimana keadaan pemuda itu dan bagaimana nasib serta di mana ia berada.

Kini mendengar bahwa pemuda kenangannya itu mungkin berada di dalam hutan yang tampak dari atas benteng itu, tentu saja ia merasa terkejut dan dadanya berdebar-debar.

Tapi Lie Eng dapat menekan perasaannya hingga tidak tampak perubahan air mukanya.

Dan Ouwyang Bu sama sekali tidak pernah menyangka betapa setelah ia pergi ke kamarnya, gadis yang ditinggalkan seorang diri itu duduk' termenung seakan-akan kehilangan semangat dan sampai hari berobah senja gadis itu tidak bergerak dari tempat duduknya yang tadi.

Sementara itu, kawanan pemberontak di tengah hutan itu bergembira-ria dan merayakan kemenangan mereka.

Tiada hentinya mereka memuji-muji Cui Sian yang berhasil siasatnya.

Walaupun di pihak mereka terdapat beberapa orang korban, di antaranya seorang yang tertancap oleh golok yang dilemparkan oleh Ouwyang Bu, tapi jika dibanding dengan jumlah korban di pihak musuh, mereka memang sudah sepatutnya bergembira.

Di pihak mereka hanya dua orang binasa dan lima orang luka, sedangkan pihak.

lawannya yang mati saja sudah tiga puluh orang lebih, belum yang luka.

Biarpun telah memperoleh kemenangan, namun Cui Sian tidak berlaku lalai.

Ia mengatur penjagaan di sekitar hutan itu dengan sangat rapi.

Di samping itu ia selalu memikir-mi-kirkan bagaimana caranya agar ia dapat membawa kawan-kawannya melewati benteng itu hingga dapat menggabungkan diri dengan kesatuan induk yang dipimpin oleh pemimpin besar Lie Cu Seng.

Oleh karena ini, ia tidak ikut bergembira-ria dengan kawan-kawannya, tapi bahkan menjauhkan diri dan duduk di bawah sebatang pohon pek dengan Ouwyang Bun.

Ia merasa lebih senang dan tenteram untuk duduk dan bercakap-cakap berdua saja dengan pemuda ini.

"Moi-moi, tadi aku sudah hampir tidak kuat menahan diri mendengar bahwa Bu-te sendiri yang memimpin barisan menyerbu ke sini. Aku ingin sekali keluar dan menemuinya, tapi karena pertempuran berjalan hebat, aku khawatir kalau-kalau kedatanganku malah akan mendatangkan salah paham di kedua pihak. Untungnya kau tidak berlaku kejam dan tidak membinasakan adikku itu."

Cui Sian menghela napas.

"Adikmu sungguh hebat, belum tentu aku dapat mengalahkannya. Sayang sekali dia tidak insyaf, ah, sungguh sayang. Ia akan merupakan pasangan yang tepat sekali untuk Siauw Leng..."

Nona itu menghela napas, dan Ouwyang Bu juga ikut merasa terharu.

Alangkah baiknya kalau Ouwyang Bu dapat berada di situ bersama dia dan dapat bertemu sebagai tunangan dengan Siauw Leng, seperti halnya dia dengan Cui Sian.

Diam-diam ia merasa heran sekali akan kebijaksanaan ibunya dan ibu Cui Sian.

Kedua orang tua itu agaknya telah tahu lebih dulu bahwa mereka akan menjadi pasangan yang saling mengasihi dan saling mengagumi.

"Betul katakatamu moi-moi. Alangkah bahagianya rasa hatiku kalau Bu-te dapat bertemu dengan adik Siauw Leng seperti kau dan aku..."

Cui Sian diam saja dan ia tidak membantah ketika tunangannya memegang tangannya.

"Moi-moi, kau sungguh mengagumkan. Tidak saja kau lemah lembut dan baik budi sebagaimana terbukti ketika kau merawat aku di waktu aku mendapat luka, tapi kau juga gagah perkasa dan cerdik sekali. Aku heran di mana kau belajar ilmu perang hingga bisa mengatur siasat yang begitu berhasil siang tadi. Sungguh-sungguh aku kagum padamu."

"Ah, kau memuji saja. Apakah artinya kepandaianku kalau dibandingkan dengan kepandaianmu yang tinggi?"

Pada saat itu bulan telah muncul hingga keadaan yang remang-remang itu tampak romantis sekali dan sepasang anak muda itu tenggelam dalam cahaya bulan yang mendatangkan hikmat gaib bagi para muda yang sedang dimabok asmara.

Biarpun hanya saling berpegang tangan sambil saling memandang, namun dalam sentuhan jari dan pertemuan sinar mata ini mereka telah sama-sama mengutarakan semua isi hati hingga bagi kedua pihak lebih jelas daripada seribu macam katakata.

Mereka demikian asyik dan masyuk hingga tidak tahu bahwa ada sepasang mata yang tajam memandang mereka dengan sinar mata marah, tapi dengan pipi basah oleh air mata.

Pada saat itu terdengar teriakan.

"Tangkap mata-mata musuh."

Ouwyang Bun dan Cui Sian terkejut sekali dan meloncat ke arah suara itu.

Tiba-tiba mereka melihat bayangan orang ber kelebat di belakang mereka.

Keduanya lalu mengejar.

Dan terdengarlah suara senjata beradu ketika bayangan itu diserang oleh seorang anggauta penjaga yang tadi melihat dia mengintai Cui Sian dan Ouwyang Bun.

Ketika dua anak muda itu tiba di tempat pertempuran, ternyata mata-mata musuh itu ialah Lie Eng sendiri yang sedang dikeroyok tiga orang penjaga.

"Sumoi..."

Ouwyang Bun berseru dan ia cepat meloncat ke kalangan pertempuran dan berkata keras kepada tiga orang penjaga yang mengeroyok.

"Tahan dulu."

Lie Eng mengenakan pakaian serba hijau yang kelihatan hitam ditimpa sinar bulan yang remang-remang itu dan sepasang tangannya memegang siang-kiam.

Sikapnya tegas sekali dan ia berdiri dengan kedua kaki terpentang dengan sikap menantang.

"Kau... kau juga menjadi pemberontak?"

Tegurnya kepada Ouwyang Bun dengan sikap menghina.

"Sumoi... kita memang berbeda paham. Kalau kau sudah tahu akan hal itu, mengapa... kau malam-malam ke tempat ini...?"

Tiba-tiba mata dara itu mengeluarkan cahaya penuh kemarahan. Sambil menuding ke arah Ouwyang Bun dengan pedangnya, ia memaki.

"Kau... kau pengkhianat. Kau murid murtad... Kau tidak kenal apa artinya bakti dan setia, tidak malu mengkhianati guru dan susiok sendiri... Kau... kau...,"

Dan tiba-tiba saja gadis itu menangis karena merasa betapa hatinya hancur lebur dan kecewa.

Sementara itu, Cui Sian yang mendengar betapa tunangannya dimaki-maki orang, tentu saja tidak rela.

Apalagi karena ia tahu bahwa gadis ini anak musuh besar semua hohan dan patriot, maka ia segera meloncat maju dan membentak.

"Perempuan kasar dan sombong, apa yang kau kchendaki maka kau berani lancang memasuki daerah kami? Menyerahlah kau menjadi tawanan kami."

Tiba-tiba Lie Eng tertawa dengan nyaring dan tinggi.

"Ha, It-to-bwee. Bukalah telinga dan matamu lebar-lebar. Aku Cin Lie Eng, sengaja datang ke sini untuk mencari engkau. Aku telah mendengar tentang kegagahan dan kecantikanmu maka sekarang aku sengaja datang hendak melihat sendiri kegagahan yang disohor-sohorkan orang itu. Majulah dan mari kita bertempur sampai seorang di antara kita mati di ujung pedang."

Ouwyang Bun terkejut sekali.

Tadinya ia hanya menyangka bahwa gadis yang tabah itu hanya datang untuk menyelidiki para pemberontak.

Tidak disangkanya sama sekali bahwa sikap gadis itu akan senekat ini dan tiba-tiba ia dapat.

menduga apa yang menjadi sebabnya.

Lie Eng tadi telah mengintainya dan tentu mengerti bahwa ia dan Cui Sian saling mencintai.

Dan inilah agaknya yang menjadi sebab kenekatan gadis itu dan yang membuat ia menantang Cui Sian bertanding sampai mati.

"Sumoi..."

Tegurnya sambil berdiri menghadapi gadis itu.

"Kenapa kau begini nekat? Kenapa kau hendak mengadu tenaga tanpa alasan? Sumoi... bukankah Bu-te menanti-nantimu dan alangkah akan hancur hatinya kalau... kalau kau menjadi korban kenekatanmu ini..."

"Diam. Kau perduli apa dengan tindakanku? Aku bukan sumoimu. Kau... kau... pengkhianat..."

Kembali ia terisak, kemudian ia berkata kepada Cui Sian.

"Eh, Cui Sian. Bagaimana? Takutkah kau kepadaku?"

Cui Sian lalu memegang lengan Ouwyang Bun dan menarik pemuda itu untuk mundur dan Ouwyang Bun menurut.

Kemudian gadis yang tenang sikapnya ini-maju menghadapi Lie Eng dan berkata dengan suara halus tapi tetap.

"Lie Eng, sekarang aku tahu. Kau... mencintai Bun-ko..."

"Perempuan rendah, jangan jual obrolan busuk."

Lie Eng merasa marah sekali dan cepat menusuk dengan pedangnya, tapi Gui Sian mengelak sambil mundur.

"Nanti dulu, Lie Eng. Dengarlah dulu omonganku. Memang kau adalah musuhku, musuh semua orang yang berjiwa patriot dan yang kau sebut pemberontak-pemberontak. Sudah sepatutnya kalau aku menyiapkan semua kawan untuk membunuhmu. Tapi, terus terang saja kukatakan bahwa aku mengagumi kau. Aku kagum karena kau berani dan karena kau berhati... setia."

"Kalau tidak demikian, tak mungkin kau berani datang seorang diri ke sini. Aku kagum padamu, seperti juga guruku kagum kepada ayahmu yang gagah perkasa. Tapi melihat sikapmu ini, aku khawatir bahwa kita berdua terpaksa harus mengadu pedang sampai penentuan terakhir. Sungguh satu kehormatan besar, kawan. Memang sayang bahwa justeru kau yang kukagumilah yang menjadi musuh besarku dalam hal ini, tapi sebaliknya aku takkan dendam kalau sampai terjatuh dalam tangan seorang wanita gagah seperti kau."

Lie Eng adalah seorang gadis yang juga memiliki otak yang cerdik dan pandangan yang luas, maka biarpun Cui Sian mempergunakan kata-kata kiasannya yang mengandung sindiran-sindiran, namun ia dapal menangkap seluruh isi dan maksudnya.

Untuk sesaat ia tak dapat menjawab karena merasa terharu.

Alangkah cerdiknya gadis ini, pikirnya.

Sepintas lalu saja ia telah dapat membaca seluruh isi hatiku.

Bukan main.

"Cui Sian, aku girang bahwa kau juga patut menjadi lawanku. Kita sama-sama dapat memahami. Nah, cabutlah pedangmu dan mari kita segera menyelesaikan urusan ini."

Pada saat itu yang paling bingung adalah Ouwyang Bun.

Ia juga seorang cerdik dan pintar maka tentu saja ia tahu apa yang hendak dilakukan oleh kedua nona itu dan mengapa mereka hendak mengadu tenaga.

Ia segera meloncat di tengah-tengah antara kedua nona itu sambil mengangkat kedua tangan dengan bingung.

"Sumoi. Kau pulanglah. Aku yang akan menjamin bahwa kau tentu keluar dari sini dengan selamat dan aman. Pulanglah kau dan jangan bikin ribut di sini lebih lama lagi."

"Kau laki-laki tidak setia, jangan banyak cerewet. Aku tidak berurusan dengan kau. Aku mempunyai urusan dengan Cui Sian. Kau minggirlah."

Ia menggerakkan pedangnya hendak menusuk.

Tapi Ouwyang Bun mengangkat dada dan sama sekali tidak mengelak.

Ketika ujung pedangnya sudah hampir menyentuh dada pemuda itu, Lie Eng menarik kembali senjatanya.

"Kau mau membunuh aku? Boleh, hayo tusuklah aku, sumoi. Aku juga tidak takut mati."

"Kau... mengapa kau menghalang-halangi maksudku? Aku hendak bertempur melawan Cui Sian, bukan dengan kau."

"Sumoi, dengarlah. Kalau misalnya besok kau dan Cui Sian bertemu dalam peperangan dan bertempur mati-matian, aku takkan merasa apa-apa. Tapi keadaan kalian pada waktu ini bukan sewajarnya, kalian hanya terdorong oleh napsu hati yang sedang bergolak. Kau pulanglah dan jangan berlaku seperti anak kecil."

"Kau pergilah... biarkan aku bertanding dengan Cui Sian. Ah, Cui Sian seribu kali lebih berharga daripada engkau."

Dan pada saat itu Ouwyang Bun merasa tubuhnya lemas dan ia roboh di atas tanah. Ternyata Cui Sian telah menotoknya dari belakang tanpa ia duga sama sekali.

"Koko, kau memang terlalu mulia untuk membiarkan dua orang gadis beradu tenaga karenamu. Tapi sikap Lie Eng kuhargai, dan kalau aku menampik ajakan maka aku akan merasa malu dan menyesal selama hidupku. Nah, kau lihatlah saja dan maafkan bahwa aku terpaksa menotokmu dengan diam-diam."

Kemudian Cui Sian memerintahkan orang-orangnya membuat lingkaran besar dan semua orang yang hendak menonton harus berada di luar lingkaran.

Beberapa obor dipasang untuk menerangi tempat itu dan semua orang dipesan agar jangan ikut mencampuri pertempuran ini.

"Kawan-kawan semua,"

Cui Sian berkata dengan suara lantang.

"kali ini aku bukan bertempur sebagai seorang pemimpin-mu. Ingat, ini adalah urusan pribadi yang menyangkut nama dan kehormatan. Biarpun aku sampai kalah dan mati dalam tangan nona Cin Lie Eng ini, jangan sekali-kali kalian berani mencampuri. Dan lagi, sebagai seorang pemimpinmu, aku memberi pesan dan perintah, yakni andaikata aku kalah dan roboh mati, janganlah nona ini diganggu dan biarkan dia pergi dari sini dengan aman. Mengerti semua?"

Tiba-tiba Siauw Leng meloncat memeluk cicinya.

"Cici, mengapa kau lakukan ini?"

Cui Sian dengan halus mendorong adiknya keluar lingkaran dan berkata.

"Adikku, kita adalah murid seorang gagah dan kita harus menghadap? kegagahan orang lain. Kalau aku kalah, kau lah yang menjadi pemimpin kawan-kawan kita."

Ouwyang Bun yang didudukkan di dekat situ sambil menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon dengan lemah tak ber daya, merasa hatinya seperti dipotong-po tong.

Ia menyesal sekali mengapa tadi berlaku lalai hingga kena ditotok oleh tunang annya, karena kalau tidak demikian, biarpun bagaimana juga, ia takkan membiarkan dua singa betina ini saling terkam.

Diam-diam ia mengerahkan Iweekangnya untuk membebaskan diri dari totoknn, tapi karena Cui Sian tahu akan kehebatan pemuda itu, ia telah menotok dua kali hingga tak mungkin pemuda itu dapat membebaskan diri dengan mudah begitu saja.

Sementara itu, Cui Sian berkata kepada Lie Eng.

"Lie Eng, marilah kita mulai."

Lie Eng sekali lagi memandang wajah Ouwyang Bun dan ia gunakan ujung lengan bajunya untuk mengusap air mata yang tiba-tiba memenuhi pelupuk matanya, kemudian ia menghadapi Cui Sian dengan tabah.

"Marilah, Cui Sian."

Jawabnya dan sepasang pedang di tangannya telah siap sedia.

"Kau sebagai tamu, bergeraklah lebih dulu."

Kata Cui Sian dengan pedang melintang di dada dengan sikapnya tenang sekali.

Lie Eng lalu mulai menyerang dengan hebat yang ditangkis oleh Cui Sian dengan tenang, dan beberapa saat kemudian kedua dara remaja itu telah bertempur hebat sekali.

Bayangan kedua dara itu lenyap ditelan sinar pedang yang bergulung-gulung dan angin pedang mereka sampai terasa oleh para penonton di luar lingkaran.

Ouwyang Bun yang lumpuh kaki tangannya itu berkali-kali memejamkan mata karena merasa ngeri, sedangkan semua penonton melihat pertempuran istimewa ini dengan hati tegang dan hampir tak berani bernapas.

Lui Kok Pauw meremas-remas tangannya, Siauw Leng membanting-banting kakinya dan tiba-tiba gadis ini menangis perlahan.

Semua orang tak berani mengeluarkan suara sedikitpun dan pada saat itu mereka merasa seakan-akan pertempuran ini adalah sesuatu yang suci dan yang harus dipandang dengan penuh penghormatan.

Sementara itu, kedua dara yang bertempur mati-matian itu berlaku hati-hati sekali karena maklum bahwa lawannya adalah seorang yang kuat.

Lie Eng segera memainkan ilmu pedangnya yang paling hebat, yakni Im-yang-siang-kiam-hoat.

Ilmu pedang berpasangan ini betul-betul hebat sekali, karena gerakan pedang kanan dan pedang kiri sungguh jauh bedanya dan bahkan boleh dibilang berlawanan.

Oleh karena ini, tampaknya permainannya kacau dan kalut, tapi sebetulnya kedua pedang itu merupakan imbangan atau kesatuan gerakan yang bukan main kuatnya.

Kalau pedang kiri digerakkan dengan tenaga halus, pedang kanan bergerak didorong tenaga kasar dan demikian sebaliknya hingga kalau saja yang bertanding melawan Lie Eng bukannya Can Cui Sian si Bunga Bwee, pasti takkan mampu bertahan lama.

Akan tetapi Cui Sian adalah murid pertama dari Sin-liong Ciu Pek In si Naga Sakti yang telah menggemparkan dunia kang-ouw dengan kehebatan ilmu pedangnya.

Biarpun baru belajar paling banyak lima tahun, namun kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi dan biarpun ia belajar bersamaan dengan adiknya, tapi karena ia memiliki kecerdasan otak yang luar biasa, maka tentu saja kepandaiannya menjadi lebih tinggi daripada Siauw Leng.

Dalam hal ilmu pedang ia tak khawatir kalah oleh Lie Eng, hanya ia kalah latihan karena Lie Eng telah belajar silat semenjak kecil.

Akan tetapi sebaliknya, Cui Sian menang tenaga dan ketabahan serta ketenangan wataknya membuat permainan silatnya kuat dan tetap.

Menghadapi ilmu pedang Im-yang-siang-kiam-hoat yang luar biasa hebatnya dan serangan-serangan yang bagaikan badai datangnya itu, terpaksa Cui Sian tidak berani berlaku sembarangan dan iapun segera mengeluarkan ilmu pedang tunggal yang menjadi pokok kepandaiannya yakni Sin-liong Kiam-hoat.

Ilmu pedang Naga Sakti ini adalah kepandaian tunggal dari Ciu Pek In dan selama orang tua itu malang melintang di dunia kang-ouw, belum pernah ilmu pedangnya terkalahkan, maka ke-hebatannyapun luar biasa.

Pedang di tangan Cui Sian bagaikan hidup dan sinarnya merupakan gulungan putih yang tebal dan panjang hingga benar-benar bagaikan seekor naga sakti menyambar-nyambar dan bermain-main di antara mega-mega yang terbentuk dari gundukan kedua pedang Lie Eng.

Telah seratus jurus lebih mereka bertempur dengan mati-matian dan mata para penonton di sekeliling lingkaran itu menjadi kabur karena hebatnya pertandingan itu.

Sedangkan Ouwyang Bun menonton dengan muka pucat.

Perasaannya tertekan sekali dan kesedihan hatinya memuncak.

Bagaimana kalau Cui Sian sampai mati oleh Lie Eng?

Ah, hal ini tentu akan menghancurkan hatinya, melenyapkan kebahagiaan hidupnya.

Dan bagaimana kalau Lie Eng yang binasa?

Juga susah, karena hal itu berarti hancurnya kebahagiaan adiknya.

Ia menjadi serba salah, tapi apa daya?

Tubuhnya masih berada di bawah pengaruh totokan, bahkan, andaikata ia tidak tertotokpun, belum tentu ia sanggup memisah kedua pendekar wanita yang sedang bergumul mati-matian karena kedua dara itu kepandaiannya tidak berada di sebelah bawah tingkatnya sendiri.

Karena merasa tidak berdaya, Ouwyang Bun terpaksa menekan perasaan hatinya dan ia menyerahkan nasib kedua gadis itu ke tangan Thian Yang Maha Kuasa Lie Eng juga merasa kagum sekali menghadapi ilmu pedang Cui Sian yang begitu hebat dan kuat, sedangkan Cui Sian diam-diam memuji kelihaian Im-yang-siang-kiam-hoat.

Pada suatu saat Lie Eng menggunakan pedang kanan menusuk ke arah mata kiri Cui Sian dengan gerakan Bidadari Petik Teratai, sedangkan pedang kirinya pada saat itu juga membabat kaki dengan gerakan Angin Menyapu Daun Kering Bukan main hebat dan berbahayanya serangan bercabang ini.

Seluruh perhatian lawan ditujukan untuk menghadapi serangan pedang yang menusuk mata, akan tetapi sebetulnya serangan ke arah kaki itulah yang lebih berbahaya karena mengandung perubahan tipu-tipu berbahaya.

Biarpun ia pandai, namun Cui Sian terkejut juga, karena ketika ia menggunakan pedangnya menangkis serangan pedang kanan yang menyambar matanya itu dengan gerakan Naga Sakti Perlihatkan Ekor, tiba-tiba pedang kiri Lie Eng telah melayang ke arah kakinya.

Ia cepat berseru dan menggunakan ginkang-nya untuk meloncat menyelamatkan kedua kakinya.

Tapi tidak ia sangka pedang yang dilayangkan ke kaki itu segera berobah dengan gerakannya yang membabat tadi diteruskan menjadi sebuah tusukan yang berbahaya ke arah perut.

Ouwyang Bun terkejut sekali melihat kehebatan serangan ini, apalagi ketika ia melihat betapa pedang Lie Eng di tangan kanan menyambar pula untuk menjaga dan digunakan sebagai serangan susulan apabila lawan itu mengelak.

Pemuda ini merasa betapa dadanya berdebar ngeri dan terbayanglah matanya betapa tubuh kekasihnya itu mandi darah.

Tapi, kembali kali ini ketenangan dan kecerdikan Cui Sian menolong dirinya.

Melihat datangnya pedang yang menusuk perutnya, ia tidak mau menangkis, dan karena tubuhnya masih berada di tengah u-dara, ia segera menggerakkan tubuh itu miring ke kiri sambil menarik perutnya ke dalam hingga pedang Lie Eng menyambar angin.

Cui Sian dapat menduga akan bahaya yang mengancam dari pedang kanan Lie Eng Benar saja, ketika ia mengelakkan pedang kiri lawannya ke kiri, tiba-tiba terdengar Lie Eng berseru girang dan pedang kanannya menyambar cepat membabat leher Cui Sian.

Kali ini tak mungkin Cui Sian mengelak karena selain datangnya pedang itu sangat cepat, juga tubuhnya masih miring biarpun kakinya telah menginjak tanah.

Jalan satu-satunya bagi dia ialah melemparkan tubuh ke belakang dan bergulingan.

Dara inipun melakukan hal itu, tapi ia tidak menjatuhkan diri ke belakang untuk bergulingan, hanya menggunakan ginkangnya yang tinggi untuk berjungkir balik ke belakang.

Akan tetapi Lie Eng tidak mau memberi kesempatan kepada Cui Sian untuk melepaskan diri dari kurungan pedangnya sedemikian mudah.

Ia meloncat cepat menubruk dan mengirimkan tusukan maut dengan ujung pedang digetarkan.

Ketika itu, baru saja Cui Sian menurunkan kakinya, melihat datangnya tusukan maut yang digerakkan dalam tipu Macan Buas Sambar Hati ini, ia segera kertak giginya dan mengerahkan seluruh tenaga lweekangnya, lalu dengan gerakan Naga Sakti MenyabetkanEkor ia menangkis dengan pedangnya sekuat tenaga.

"Traang..."

Dan bunga api biru dan merah memancar keluar ketika dua batang pedang itu beradu dengan kerasnya.

Alangkah terkejut kedua dara itu ketika melihat bahwa pedang mereka ternyata telah putus di tengah-tengah.

Lie Eng melempar gagang pedang itu dan kini ia menggunakan pedang kirinya untuk menyerang lagi kepada lawan yang telah tak bersenjata lagi itu.

Dalam keadaan seperti itu Cui Sian masih dapat berlaku tenang.

Iapun melempar gagang pedangnya yang telah patah itu dan siap menghadapi serangan Lie Eng dengan tangan kosong.

Akan tetapi, tiba-tiba Lie Eng menahan pedang yang telah digerakkan hendak menusuk itu.

Ia berdiri bagaikan patung karena pada saat itu ia menggunakan pikirannya.

Liang-simnya (hati nuraninya) dan sifat gagahnya tidak mengijinkan ia menggunakan kesempatan dan keuntungan itu untuk memperoleh kemenangan.

Ia lalu berkata.

"Kau bertangan kosong? Baik, lihatlah ini."

Setelah berkata demikian, Lie Eng lalu melemparkan pedangnya hingga menancap di atas tanah.

Lalu tanpa banyak membuang waktu ia maju menubruk dan melancarkan serangan dengan kepalan tangan dalam gerak tipu Sian-jin-ci-louw (Dewa Tunjukkan Jalan).

Kepalan tangan ini bergerak ke arah leher dan segera berobah menjadi tusukan dengan dua jari tangan.

Cui Sian mengelak dan balas menyerang.

Maka kembali dua dara jelita itu bertempur mati-matian.

Kali ini dengan tangan kosong, tapi kehebatannya tidak kalah dengan pertempuran menggunakan pedang tadi.

Lie Eng yang telah berpeluh dan lelah menggunakan kecerdikannya dan ia bersilat dengan ilmu gerakan Cian-jiu Koan-im-hian-ko, yakni Dewi Koan Im Tangan Seribu Persembahkan Buah.

Biarpun ilmu silat ini hebat dan dapat menghadapi serangan yang bagaimanapun, tapi cukup dimainkan dengan tak banyak perubahan kaki hingga tidak membuang tenaga.

Tampaknya Lie Eng berdiri diam saja dan hanya bergerak apabila diserang dan membalas dengan serangannya.

Sebaliknya, Cui Sian juga sama keadaannya dengan Lie Eng.

Gadis inipun telah lelah dan peluhnya telah membasahi jidat.

Menghadapi ilmu silat Lie Eng, gadis yang cerdik inipun tahu bahwa jika ia menurutkan napsu hati dan menyerang tanpa perhitungan biarpun ia takkan dikalahkan dengan ilmu silat itu, namun ia akan kehabisan tenaga juga, sedangkan Lie Eng dapat beristirahat sambil mempertahankan diri.

Oleh karena itu, iapun lalu berdiri diam tidak mau menyerang, hanya memasang kudakuda di depan Lie Eng dan menanti lawannya maju menyerang.

Melihat sikap lawannya itu, diam-diam Lie Eng mengeluh sambil memuji, karena ternyata gadis yang amat cerdik itu telah tahu akan maksudnya dan tahu pula rahasia ilmu silat Cian-jiu Koan-im-hian-ko ini.

Biarpun keduanya sama-sama cerdik dan tinggi ilmu silatnya, namun Lie Eng kalah tenang dan adat yang berangasan dan keras dari gadis ini membuat ia kalah sabar.

Ia segera berseru keras dan menubruk maju sambil melancarkan serangan maut.

Tangan kanannya memukul dada sedangkan tangan kiri ia gunakan untuk menusuk kedua mata lawan.

Serangan ini luar biasa hebat dan berbahayanya karena dilakukan dengan nekat.

Dengan dua tangan menyerang ini, maka otomatis Lie Eng telah membuka lubang bagi diri sendiri karena sama sekali tidak ada penjagaan.

Ia memang telah nekat dan biarpun ia tahu bahwa lawannya akan mudah mengirim serangan, namun ia tahu juga bahwa kalau Cui Sian menyerang, tak mungkin lawannya itu menghindarkan serangan kedua tangannya.

Tapi agaknya Lie Eng terlalu memandang rendah lawannya dan inilah kesalahannya.

Otak Cui Sian yang memang cerdas itu dalam saat sekilat saja sudah dapat melakukan perhitungan untung rugi dalam menghadapi serangan ini.

Ia maklum bahwa kalau selalu menghindari pukulan Lie Eng, maka pertempuran ini takkan ada habisnya, apalagi ia telah merasa lelah sekali.

Kini melihat datangnya serangan ia maklum bahwa Lie Eng telah berlaku nekat.

Maka cepat sekali ia merendahkan tubuhnya hingga serangan tangan kiri lawan yang menusuk matanya itu lewat di atas kepalanya sedangkan tangan kanan Lie Eng yang memukul dadanya, kini tepat menghantam pundaknya.

Tapi pada saat itu juga, dari bawah ia melayangkan pukulan ke arah lambung Lie Eng.

Keduanya menjerit ngeri dan keduanya terhuyung mundur lalu roboh pingsan.

Para pemberontak segera maju hendak menghabiskan jiwa Lie Eng, tapi terdengar bentakan keras dari Siauw Leng.

"Mundur semua. Siapa berani menyentuh dia akan berkenalan dengan tanganku."

Maka semua kawannya yang tadinya telah marah sekali kepada Lie Eng itu tiba-tiba teringat akan pesan Cui Sian.

Sementara itu, Siauw Leng lalu membebaskan totokah yang mempengaruhi Ouwyang Bun hingga pemuda itu dapat bergerak.

Ia maju menubruk Cui Sian yang rebah dengan wajah pucat seperti mayat.

Tapi hatinya menjadi lega ketika mengetahui bahwa gadis itu hanya menderita luka yang tak berapa berat di pundaknya dan jatuh pingsan hanya karena terlalu lemah dan lelah.

Kemudian ia teringat kepada Lie Eng dan segera memeriksa keadaan gadis itu.

Diam-diam Ouwyang Bun terkejut sekali karena di bibir gadis ini tampak darah mengalir.

Siauw Leng yang juga mempelajari ilmu pengobatan dari suhunya, mengerutkan jidat ketika memeriksa lambung Lie Eng yang terpukul karena ternyata gadis ini menderita luka dalam yang mengkhawatirkan keadaannya.

Ouwyang Bun lalu mendukung tubuh Cui Sian masuk ke tenda, sedangkan Siauw Leng mengangkat tubuh Lie Eng masuk ke tendanya sendiri.

Tenda Siauw Leng ini berdekatan dengan tenda Cui Sian.

Lie Eng masih pingsan ketika dibawa masuk, sedangkan Cui Sian telah sadar.

Gadis ini sadar dalam dukungan Ouwyang Bun dan ia berbisik.

"Koko, maafkan aku tadi telah menotokmu."

Ouwyang Bun menggeleng-gelengkan kepala.

"Ah, kaliangadis-gadis kepala batu. Gila sekali untuk bertempur mati-matian hanya karena seorang tak berharga seperti diriku."

"Untuk menjaga nama dan kehormatan, koko...,"

Cui Sian berbisik lemah. Ketika ia telah dibaringkan di atas dipannya, ia bertanya.

"Koko, bagaimana dengan dia?"

"Siapa? Lie Eng? Ah, pukulanmu terlalu hebat."

Cui Sian diam saja dan memejamkan mata.

"Kasihan Lie Eng yang malang..."

Sambil memejamkan mata ia berkata lirih.

Ouwyang Bun memandang wajah kekasihnya dengan heran.

Sungguh ia tak dapat mengerti sikap ini.

Tadi berkelahi mati-matian dan kini mengucapkan kata-kata menyatakan iba hati kepada bekas lawannya itu.

Sementara itu, dengan napas terengah-engah, Lie Eng sadar dari pingsannya.

Ia membuka mata perlahan-lahan dan melihat betapa Siauw Leng sedang merawat dia.

Maka ia menutup matanya lagi.

Rasa dendam dan gemas membuat lukanya makin terasa sakit.

Gadis ini memang mempunyai watak tidak mau kalah, maka tentu saja kekalahan ini menyakitkan hatinya benar.

Ia mencoba untuk mengerahkan Iweekangnya menahan rasa sakit itu dan tahulah ia bahwa lukanya memang berat dan berbahaya.

Ia diam-diam kagum akan kehebatan Cui Sian dan diam-diam ia harus mengakui bahwa gadis itu memang pantas menjadi isteri Ouwyang Bun.

Pada saat itu, telinganya yang tajam mendengar suara Ouwyang Bun di tenda sebelah, dan ia mendengar pula suara Cui Sian.

Hatinya terasa perih karena ia tahu bahwa pemuda itu tentu sedang merawat Cui Sian.

Ia teringat bahwa Cui Sian juga kena pukulannya, tapi hanya di pundak dan tehtu saja tidak berbahaya.

Kembali ia memejamkan mata dengan hati sakit.

Mengapa ia tidak mati saja?

Ah, ia malu dan apa artinya hidup menanggung malu dan patah hati?

Melihat wajah yang cantik itu nampak sedih, Siauw Leng merasa terharu.

Iapun merasa suka kepada gadis yang gagah dan jujur serta keras hati ini, sifat yang juga menjadi sifatnya.

Maka katanya perlahan.

"Lihiap, enciku itu telah ditunangkan dengan Ouwyang Bun semenjak mereka masih kecil oleh orang tua kami. Ouwyang Bun dengan enciku, dan Ouwyang Bu dengan aku."

Ucapan Siauw Leng ini sebetulnya dimaksudkan untuk memberi penjelasan agar dapat menghibur hati gadis itu, tapi tidak mengira bahwa penjelasan ini bahkan lebih menyakiti hati Lie Eng.

Tiba-tiba ia menangis tersedu-sedu dan membentak.

"Pergi kau. Jangan rawat aku, pergi..."

Dengan mengangkat pundak dan muka menyatakan kasihan, Siauw Leng keluar dari tenda itu.

Lie Eng menangis sedih tapi ia kuatkan hatinya untuk menahan suara tangisnya agar jangan sampai terdengar oleh o-rang lain.

Hatinya makin terasa sakit.

Ia malu sekali, karena ternyata bahwa Ouwyang Bun adalah tunangan Cui Sian yang sah hingga dialah yang sesungguhnya bersikap rendah, hendak merampas tunangan orang.

Dan lebih-lebih lagi, dia telah menjadi sebab hingga Ouwyang Bu terpisah dari kakaknya, bahkan kini menjadi musuh Siauw Leng, tunangan pemuda itu sendiri.

Ah, kalau saja tidak ada dia, tentu kedua pemuda itu akan berkumpul dengan kedua tunangan mereka dan semuanya akan beres dan lancar.

Semua akan berbahagia.

Tapi sekarang dengan adanya dia, segalanya menjadi kacau.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, semua orang di situ mendengar jerit tangis Siauw Leng yang memilukan, karena ketika gadis ini memasuki tendanya hendak menjenguk Lie Eng, ternyata ia mendapatkan gadis ini telah menjadi mayat.

Lie Eng telah menggunakan sebilah pisau yang terdapat di tenda itu untuk bunuh diri.

Pisau itu menancap di dada kirinya dan ia mati telentang di atas dipan.

Tangan kirinya memegang sehelai kertas yang ternoda darah yang memercik keluar dari dadanya.

Melihat keadaan Lie Engr-Oywyang Bun tak dapat menahan keharuan hatinya.

Ia maju dan berlutut di dekat tubuh itu sambil menundukkan kepala.

Diam-diam merasa bertanggung jawab akan peristiwa ini dan tahu pula bahwa kematian gadis ini adalah karena dia.

Sementara itu, Cui Sian yang juga sudah dapat turun dan berada pula di situ, hanya berdiri sambil menghela napas berulang-ulang.

Ketika Ouwyang Bun mengangkat muka, ternyata wajah pemuda ini pucat dan kedua matanya basah, sedangkan pada wajah, itu terbayang kedukaan besar hingga membuat ia tampak lebih tua.

Ia tidak saja menyedihi kematian sumoinya ini, tapi juga bersedih karena Ouwyang Bu.

Ia maklum bahwa kematian Lie Eng ini akan menghancurkan kebahagiaan hidup Ouwyang Bu.

Dengan perlanan ia ambil surat di tangan gadis itu.

Ternyata surat itu ditujukan kepadanya.

Bun-ko, Sudah Sepantasnya aku tewas di tangan Cui Sian yang gagah, tapi sayang ia memukul kepalang tanggung hingga terpaksa aku sendiri yang menamatkan hidupku, Tapi agaknya arwahku takkan tenang sebelum mendapat ampun dari engkau dan dari Bu-ko.

Aku adalah seorang gadis yang tak tahu diri dan hanya, mengacaukan kebahagiaan orang.

Dengan membabi-buta dan tak tahu malu aku telah berani mencintaimu, Bun-ko, mencintai seorang pemuda yang telah mempunyai tunangan secantik dan segagah Cui Sian.

Oleh karena akulah maka Bu-ko terpisah darimu.

Karena aku pula Bu-ko menjadi pembantu ayah dan karenanya tak dapat berkumpul dengan Siauw Leng, tunangannya.

Aku tak mungkin menjadi isterimu, dan tak mungkin pula menjadi isteri Bu-ko, hingga akibatnya aku hanya akan hidup menderita dan merusak hati Bu-ko yang mencintaiku.

Karena inilah lebih baik aku mati.

Bun-ko, aku percaya bahwa kau tentu suka memaafkan daku karena aku tahu betapa mulia hatimu.

Tapi aku masih ragu-ragu apakah Bu-ko dapat mengampuni dan melupakan aku.

Sukakah kau mintakan ampun padanya?

Selamat tinggal dan tolong sampaikan permohonan ampun kepada ayah untuk anaknya yang tidak berbakti.

Cin Lie Eng Semakin keraslah sedu-sedan dari dada Ouwyang Bun ketika ia baca isi surat ini dan tanpa berkata apa-apa ia berikan surat itu kepada Cui Sian untuk dibaca.

Gadis itupun menjadi merah mukanya karena terharu sedangkan Siauw Leng yang juga membaca surat itu menangis keras.

Ouwyang Bun lalu menyimpan surat itu dalam saku bajunya.

Ouwyang Bu merasa heran, khawatir, dan bingung ketika tidak melihat Lie Eng dalam benteng.

Ia mencari ke sana-sini dan bertanya kepada anak buahnya yang berjaga di sepanjang daerah penjagaannya, tapi tak seorangpun melihat gadis itu.

Ketika matahari telah naik tinggi, tiba-tiba ia diberi tahu oleh penjaga bahwa di luar benteng ada seorang pemuda berpakaian putih datang dengan sebuah kereta hendak bertemu dengannya.

Hati Ouwyang Bu berdebar aneh dan segera ia lari keluar.

"Bun-ko..."

Ia berseru keras sambil lari keluar menyambut kakaknya itu. Tapi ia heran sekali melihat betapa kakaknya itu berpakaian putih dan wajahnya nampak sedih sekali.

"Bun-ko, kau dari mana dan hendak ke mana? Mari, mari masuk, kita bicara di dalam,"

Kata Ouwyang Bu setelah berpelukan dengan kakaknya.

Tapi Ouwyang Bun tidak menjawab, bahkan tiba-tiba saja matanya menjadi merah dan ia pandang wajah adiknya yang gagah dan kini berpakaian perwira itu.

Pandangan mata Ouwyang Bun membuat Ouwyang Bu terkejut sekali.

"Bun-ko."

Teriaknya dengan hati tidak karuan.

"Ada kabar apa?"

Ouwyang Bun hanya menunjuk ke arah kereta yang tertutup kain putih yang ditarik oleh seekor kuda.

Ouwyang Bu masih tidak mengerti walaupun hatinya berdebar-debar cemas.

Ia lalu menghampiri kereta itu dan membuka kain putih yang menutupi kendaraan itu.

Di dalam kereta terdapat sebuah peti mati.

Dengan terkejut Ouwyang Bu melangkah mundur, Mukanya menjadi pucat.

"Bun-ko, apa artinya ini? Peti mati siapa ini dan apa maksudmu?"

"Bu-te... sumoi..."

Tiba-tiba saja Ouwyang Bu menggigil dan mukanya semakin pucat ketika ia berteriak.

"Lie Eng...?."

Dan cepat sekali ia meloncat ke arah peti mati itu.

Dengan tangannya yang kuat ia buka peti itu hingga peti mati yang telah dipaku itu terbongkar seketika itu juga.

Ia buka kain penutup muka mayat itu.

"Lie Eng... kau..."

Dan pemuda itu tak dapat melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu juga ia roboh pingsan.

"Bu-te... ah, Bu-te... kasihan kau... adikku..."

Ouwyang Bun-lalu menubruk dan memeluk tubuh adiknya.

Ia angkat kepala Ouwyang Bu dan dipangkunya serta diciuminya dengan penuh kasih sayang.

Para penjaga yang melihat peristiwa ini berdiri bingung dan tak tahu harus berbuat apa.

Mereka belum tahu siapakah yang berada di peti mati itu dan mereka tidak berani melakukan apa-apa karena tidak mendapat perintah.

Ketika Ouwyang Bu sadar sambil merintih memanggil-manggil nama Lie Eng, ia dapatkan dirinya sedang dipeluk dan dipangku oleh kakaknya.

Tiba-tiba ia meloncat berdiri dan mencabut pedangnya.

"Bun-ko... siapa... siapa yang membunuh dia? Kau kah...?"

Ia menghampiri kakaknya dengan sikap mengancam.

"Ya, tentu kau. Siapa lagi yang dapat membunuh dia? Dan kau sekarang sudah menjadi pemberontak? Hayo, mengakulah kau."

Ouwyang Bun hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu ia mengeluarkan surat Lie Eng.

Ouwyang Bu menerima surat itu dengan kedua tangan menggigil.

Ketika ia membaca isinya surat itu, mukanya menjadi sebentar pucat sebentar merah.

Ia lalu memukul-mukul kepala sendiri dengan tangan hingga topi besi yang dipakainya berbunyi tang-tung dengan keras.

Setelah habis membaca surat itu, ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kakaknya dan berkata.

"Bun-ko... kau bunuhlah aku, Bun-ko... aku hendak menyusul Lie Eng..."

Tapi Ouwyang Bun memegang kedua pundak adiknya dan ditariknya Ouwyang Bu berdiri.

"Bu-te. Bukankah kau seorang laki-laki dan seorang jantan pula. Janganlah bersikap lemah."

Tiba-tiba katakata ini bagaikan cahaya kilat yang memasuki tubuh Ouwyang Bu.

Ia berdiri tegak dan kedua matanya memandang kepada kakaknya sedemikian rupa hingga Ouwyang Bun mundur dua langkah.

Mata itu bagaikan mata seorang buta melek.

"Baik, Bun-ko. Aku tetap seorang laki-laki dan sudah menjadi tugasku untuk membalas dendam ini. Jangan kau menyesal kalau kelak aku pasti membunuh Cui Sian, Siauw Leng, dan... engkau juga."

Biarpun hatinya merasa sakit dan pilu, tapi Ouwyang Bun tahu bahwa inilah sikap terbaik bagi seorang perajurit seperti Ouw yang Bu.

"Bu-te, aku tahu bahwa surat ini telah menyakiti hatimu dan kau tentu marah kepadaku. Kalau kau sakit hati dan hendak membunuh aku, lakukanlah itu sekarang juga adikku."

"Tidak membunuh pemberontak ini sekarang, mau tunggu kapan lagi?"

Tiba-tiba terdengar orang berseru keras dan Gui Li Sun yang mengeluarkan katakata ini lalu menyerbu dan menyerang Ouwyang Bun, diikuti oleh beberapa orang perwira lain.

"Tahan."

Ouwyang Bu membentak hingga semua penyerang itu mengundurkan diri.

"Jangan serang dia."

"Ciangkun, dalam menghadapi musuh, perajurit sejati tidak kenal saudara."

Gui Li Sun memperingatkan.

"Tutup mulut."

Ouwyang Bu membentak marah.

"Kau kira aku tidak tahu aturan seorang perajurit sejati? Aku larang kau serang dia bukan karena ia saudaraku, tapi karena kedatangannya adalah sebagai seorang utusan yang membawa jenasah Cin-lihiap. Pantaskah kalau kita serang dia? Perbuatan ini akan dipandang rendah dan aku melarang siapa saja menyerang dia pada waktu sekarang ini."

Semua orang terpaksa mengakui kebenaran katakata ini.

"Sekarang kau pergilah."

Kata Ouwyang Bu dengan suara dingin. (Lanjut ke

Jilid 06 -Tamat) Sepasang Pendekar Kembar/Ouw Yang Heng Te (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 (Tamat) "Bu-te... marilah kita pergi saja, pergi dari segala peperangan ini..."

Untuk sesaat Ouwyang Bu ragu-ragu, tapi ia segera menetapkan hatinya dan berkata.

"Sudahlah, jangan banyak ribut. Bujuk-anmu tidak ada artinya bagiku...Aku seorang perajurit sejati dan harus tetap menu naikan tugasku sebagai seorang perwira. Dan kau... kau pergilah kembali kepada tunanganmu."

Kemudian Ouwyang Bu memerintahkan anak buahnya untuk mendorong kereta berisi peti mati itu ke dalam benteng dan ia sendiri lalu masuk ke dalam benteng tanpa menoleh lagi kepada kakaknya.

Ouwyang Bun menghela napas berkali-kali dan terpaksa ia lalu kembali ke dalam hutan.

Setelah berada dalam benteng, barulah Ouwyang Bu menangisi jenasah Lie Eng, sedangkan Gui Li Sun berkata dengan suara gemas.

"Ciangkun, marilah kita kerahkan tenaga dan menyerbu ke dalam hutan. Kalau belum dapat membasmi habis pemberontak-pemberontak hinadina itu, belum puas rasa hatiku."

Ouwyang Bu tidak menjawab tapi diam-diam ia mengatur siasat untuk membalas kematian Lie Eng kepada para pemberontak itu.

Benar saja, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ouwyang Bu bersama Gui Li Sun dengan tiga ratus orang tentara telah menyerbu ke dalam hutan.

Pertempuran hebat terjadi dan Ouwyang Bun melihat betapa Cui Sian dan kawan-kawannya terkurung, terpaksa turun tangan hingga di pihak tentara negeri menjadi kacau.

Amukan Ouwyang Bun dihadapi oleh beberapa orang perwira yang cukup tinggi kepandaiannya.

Karena para pemberontak itu menggunakan taktik berpencar, maka pertempuran menjadi berkelompok-kelompok.

Yang mengherankan ialah bahwa Ouwyang Bu tidak tampak dalam pertempuran itu.

Karena pihak tentara sangat banyak, maka banyak sekali jatuh korban dan akhirnya pihak pemberontak terpaksa meng undurkan diri.

Tapi pada saat itu muncul tiga orang tosu tua yang datang membantu pihak pemberontak.

Tiga orang tosu ini berkepandaian tinggi sekali hingga para tentara kocar-kacir tidak kuat menghadapi mereka bertiga yang bersenjata pedang.

Ke manakah perginya Ouwyang Bu?

Sebetulnya tadinya pemuda ini memang memimpin sendiri penyerbuan ke dalam hutan, tapi setelah pertempuran terjadi, ia memisahkan diri karena bermaksud hendak menawan hidup, seorang di antara tiga pemimpin pemberontak itu.

Ia melihat betapa Ouwyang Bun bertempur di samping Cui Sian merupakan sepasang anak muda gagah perkasa hingga sukar sekali didekati.

Maka ia lalu mencari ke kelompok lain dan melihat Siauw Leng sedang mengamuk dikeroyok beberapa orang anak buahnya.

Ouwyang Bu segera meloncat membantu karena anak buahnya yang dipimpin Gui Li Sun ternyata sangat terdesak oleh gadis lincah itu.

"Bun-ko, bantulah aku membereskan beberapa ekor tikus ini."

Siauw Leng berkata tanpa menengok.

Ouwyang Bu heran, tapi ia segera tahu bahwa gadis itu salah sangka.

Ia memang berpakaian putih untuk menyatakan kesedihannya atas kematian Lie Eng, dan gadis itu tentu menyangka, bahwa ia adalah Ouwyang Bun.

Karena inilah maka ketika Ouwyang Bu meloncat di dekatnya dan mengulurkan tangan menotok, Siauw Leng tidak menyang ka sama sekali bahwa ia bukan Ouwyang Bun dan mudah saja ia kena ditotok roboh.

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 8

Baca Juga: Jodoh Rajawali 21

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert