Ceritasilat Novel Online

Sepasang Rajah Naga 2

Eps 2 Sepasang Rajah Naga - Kho Ping Hoo

Baca online Sepasang Rajah Naga - Kho Ping Hoo

Cersil Sepasang Rajah Naga - Kho Ping Hoo.

Minggir bentak Ji-Tong. Akan tetapi dua orang itu sama sekali tidak mau minggir, bahkan seorang di antara mereka segera memegang kendali dekat mulut kuda.

"Turun Kau dan tinggalkan kuda untuk kami, kalau engkau ingin selamat!"

Bentak orang ke dua.

Ji-Tong marah sekali.

Dia adalah seorang yang biasa merampok, dan kini agak nya hendak dirampok orang lain!

Dia membawa Ouw Yang Hui melompat turun dari atas kuda, melepaskan tubuh anak itu di atas tanah, lalu tangannya mencabut sebatang golok yang berada di punggungnya.

"Kalian penjahat-penjahat kecil yang sudah bosan hidup!"

Bentaknya dan diapun sudah menerjang dengan goloknya.

Akan tetapi kedua orang itupun sudah mencabut golok mereka dan mengeroyok Ji-Tong.

Terjadilah perkelahian yang seru dan mati-matian.

Kuda itu dibiarkan terlepas, dan Ouw Yang Hui yang melihat perkelahian itu, memandang dengan mata terbelalak.

la tidak tahu harus berbuat apa, hendak lari harus mengambil jalan mana?

la berada di tengah hutan dan ia tidak tahu Ibunya berada di mana.

Karena kebingungan, anak itu tidak mampu beranjak dari tempat itu.

Perkelahian masih berlangsung dengan serunya.

Tempat itu sunyi, tidak tampak ada orang lain menyaksikan perkelahian itu.

Ternyata kedua orang yang melakukan penghadangan itu tangguh juga sehingga Ji-Tong mengalami kesulitan.

Biarpun sudah mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian, namun tetap saja dia terdesak hebat, kini hanya dapat menangkis saja sambil terus mundur.

Sial baginya, ketika dia mundur-mundur itu, kakinya terjegal oleh akar pohon yang menonjol di atas tanah.

Tak dapat dihindarkan lagi, diapun terjengkang dan selagi dia terhuyung mempertahankan keseimbangan tubuhnya, dua orang pengeroyoknya mengejar dan menghujamkan serangan golok mereka.

Ji-Tong tidak dapat menghindarkan diri lagi dan dia berteriak keras ketika tubuhnya menjadi sasaran dua batang golok itu.

Dia terpelanting dan roboh mandi darah oleh dua orang pengeroyoknya.

Dia roboh dengan luka parah di leher dan dadanya.

Dua orang itu memandang kepada Ji-Tong yang sudah menggeletak berlumuran darah dan tidak bergerak lagi, lalu mereka menyarungkan golok mereka ke sarung di punggung.

"A-Liuk, bawa kuda itu dan mari kita cepat pergi dari sini,"

Kata seorang dari mereka yang kepalanya botak dan usianya sekitar tiga puluh lima tahun.

Sam-ko, lihat anak itu.

Manis dan cantik sekali!

kata orang yang disebut A-Liuk, orang yang bertubuh pendek kecil dan usianya sekitar tiga puluh tahun.

Orang kedua yang bernama A-Sam menoleh dan diapun tertegun melihat Ouw Yang Hui yang sudah tidak menangis lagi.

Bukan main cantik manisnya anak itu!

"Sam-ko, ia bahkan jauh lebih berharga dari pada kuda ini!"

Kembali A-Liuk berkata.

Hati A-Sam menjadi tertarik dan dia lalu menghampiri Ouw Yang Hui.

Anak itu memandang kepada laki-laki botak yang menghampirinya dengan senyum ramah di wajahnya.

Karena melihat betapa dua orang itu telah membunuh Ji-Tong yang jahat, Ouw Yang Hui menganggap mereka berdua itu sebagai penolongnya dan iapun tidak merasa takut.

A-Sam lalu berjongkok di depan anak itu.

"Anak yang baik, kenapa engkau tadi menangis dan siapakab orang itu?"

Dia menuding ke arah tubuh Ji-Tong yang sudah tidak bergerak lagi.

"Dia orang jahat, memaksa aku berpisah dari Ibuku,"

Kata Ouw Yang Hui.

"Hemm, jangan takut lagi, anak manis. Dia telah kami bunuh. Dan di mana Ibumu sekarang?"

Ouw Yang Hui menggeleng kepala.

"Ibu juga dibawa lari penjahat, entah ke mana."

"Ah, kalau begitu, mari engkau ikut dengan kami. Kami berdua akan mencarikan Ibumu sampai dapat,"

Kata A-Sam. Mendengar ini, Ouw Yang Hui tampak gembira sekali.

"Benarkah, Paman? Ah, aku girang sekali. Tentu saja aku mau ikut dengan Paman berdua untuk mencari Ibuku!"

A-Sam saling pandang dengan A-Liuk dan mereka berdua merasa girang sekali.

Ouw Yang Hui lalu diangkat oleh A-Sam, didudukkan di atas punggung kuda rampasan itu dan mereka berdua lalu menuntun kuda dan berjalan keluar dari hutan menuju ke kota Nam-Po.

Karena percaya sepenuhnya bahwa dua orang Paman itu bersikap baik kepadanya dan akan mencarikan Ibunya maka tentu saja Ouw Yang Hui menjadi girang dan mengikuti mereka dengan taat.

Hari telah menjelang sore ket?ka akhirnya mereka memasuki kota Nam-Po yang cukup ramai.

Karena Ouw Yang Hui mengeluh perutnya lapar, maka kedua orang itu membawa Ouw Yang Hui ke sebuah rumah makan dan mereka bertiga makan minum sampai kenyang.

Ouw Yang Hui sudah mulai dapat tersenyum karena hatinya girang bertemu dengan dua orang yang baik ini, yang menjanjikan untuk mencarikan Ibunya.

Sehabis makan, A-Sam dan A-Liuk membawa Ouw Yang Hui berkunjung ke sebuah rumah mungil yang pintunya bercat merah dan di pekarangan depan rumah itu banyak tanaman bunga yang beraneka macam dan warna.

Mereka menuntun kuda yang ditunggangi Ouw Yang Hui itu memasuki pekarangan, lalu berhenti di depan rumah dan mengikatkan kuda mereka pada sebatang pohon.

A-Sam menurunkan Ouw Yang Hui dan menggandeng tangan anak perempuan itu menghampiri pintu depan.

Dia mengetuk pintu dan ketika daun pintu terbuka, seorang wanita berpakaian pelayan menyambut mereka.

Melihat dua orang laki-laki yang sikap dan pakaiannya kasar, pelayan wanita itu mengerutkan alisnya dan bertanya dengan sikap memandang rendah.

"Kalian berdua mau apa?"

A-Sam tersenyum, tidak marah melihat sikap pelayan itu.

"Kami hendak bertemu dan bicara dengan Cia-Ma, ada urusan penting sekali!"

Sambil berkata demikian, A-Sam mengijapkan sebelah matanya sambil menunjuk dengan dagunya ke arah Ouw Yang Hui.

Anak perempuan itu tidak memperhatikan dan tidak melihat isyarat ini, bahkan andaikata ia melihat sekalipun ia tidak akan dapat menduga sesuatu.

Pelayan itu, wanita berusia lima puluhan tahun memandang kepada Ouw Yang Hui dan tersenyum.

"Cantik dan manis sekali! Kau tunggulah sebentar, aku akan memberi tahu nyonya."

Setelah berkata demikian, pelayan itu lalu masuk ke dalam. Tak lama kemudian ia muncul kembali dan sikapnya sekarang tidak kaku seperti tadi.

"Kalian dipersilakan masuk ke ruangan tamu,"

Katanya. A-Sam dan A-Liuk memasuki ruangan tamu mengikuti pelayan itu. A-Sam menggandeng tangan Ouw Yang Hui yang merasa heran.

"Paman, rumah siapakah ini"? Apakah Ibu berada di sini?"

"Tenanglah, anak yang baik. Ini rumah Bibi Cia. Untuk sementara engkau akan tinggal di sini dan kami berdua akan mencarikan Ibumu. Kalau sudah bertemu, kami akan membawa Ibumu ke sini."

Mendengar ucapan itu, Ouw Yang Hui tidak bertanya lagi.

Pelayan meninggalkan mereka duduk di ruangan tamu dan tak lama kemudian, pintu tembusan terbuka dari daam dan munculiah seorang wanita berusia empat puluhan tahun berpakaian mewah dan tubuhnya penuh dengan perhiasan dari emas permata.

Wajah wanita ini cerah penuh senyurn dan begitu memasuki ruangan tamu itu, sepasang matanya yang sipit mengamati Ouw Yang Hui dengan penuh perhatian dan tampaknya ia tertarik sekali.

Kemudian wanita yang biasa di sebut Cia-Ma (Ibu Ma) atau Bibi Cia itu memandang kepada A-Sam dan A-Liuk.

la segera mengenal dua orang ini.

Dua orang yang terkenal sebagai orang-orang yang biasa melakukan segala macam kejahatan di kota Nam-Po dan sekitarnya, dua orang yang suka berjudi dan mau melakukan pekerjaan apa saja asalkan diberi upah.

Kemarin iaa mendengar bahwa dua orang ini telah berjudi habis-habisan dan ludes.

Agaknya sekarang telah rnendapatkan "Rejeki"

Lagi sehingga datang membawa seekor kuda dan seorang anak yang manis.

Tanpa bertanyapun tahulah Cia-Ma apa maksud mereka datang membawa seorang bocah perempuan kepadanya.

Akan tetapi sekali ini gadis cilik yang dibawa mereka ini lain lagi.

Bukan bocah sembarangan!

Baru pakaiannya saja sudah menunjukkan bahwa ia adalah seorang anak yang keluarganya berkecukupan.

Tubuhnya terpelihara dengan baik dan dalam keadaan sehat sekali.

Wajahnya demikian anggun dan cantik.

Hati Cia-Ma tergerak dan tak dapat ia menahan diri untuk tidak mengusap pipi anak itu dengan usapan lembut dan menyayang.

"Anak yang baik, siapakah namamu nak?"

Tanyanya dengan manis budi. Karena sikap Cia-Ma yang lembut, Ouw Yang Hui juga tidak malu-malu dan menjawab dengan jelas.

"Namaku Ouw Yang Hui, Bibi."

"Aduh, nama yang indah sekali! Dan berapa usiamu, Ouw Yang Hui?"

"Usiaku tujuh tahun, Bibi."

Dari cara bicara anak itu dalam memberikan jawaban saja sudah dapat diketahui oleh Cia-Ma bahwa anak ini memang bukan anak sembarangan.

Anak yang tahu akan usianya sendiri tentulah anak yang mendapat pendidikan baik.

Cia-Ma menoleh kepada A-Sam dan A-Liuk, lalu bertanya singkat.

"Berapa hendak kalian jual?"

A-Sarn mengacungkan tiga buah jarinya ke atas sebagai isyarat.

Cia-Ma mengerutkan alisnya, akan tetapi wajahnya masih cerah penuh senyum.

belum pernah aku membeli anak ayam yang harganya lebih tinggi dari pada seratus tahil.

"Akan tetapi anak ayam yang ini lain lagi, Cia-Ma. Lihat saja matanya! Hidungnya dan mulutnya! Pernahkah engkau melihat yang lebih hebat dari pada ini? Kelak kalau sudah dewasa tentu akan merupakan sumber uang yang tidak ada habisnya untukmu, dapat membuat engkau menjadi kaya raya kata A-Sam. Percakapan antara dua orang ini sudah jelas artinya. Tentu saja mereka membicarakan Ouw Yang Hui yang hendak diperjual-belikan. Akan tetapi anak perempuan yang masih bersih dari pada dosa itu, yang belum tahu seluk-beluknya dunia hitam, tentu saja tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Cia-Ma menimbang-nimbang dan mengamati anak yang ditawarkan kepadanya itu. Memang anak luar biasa dan pandang matanya yang tajam dan banyak pengalaman itu dapat membayangkan bahwa kalau sudah dewasa anak ini akan menjadi seorang gadis yang sukar dicari bandingannya. Cantik jelita dan dapat menjadi kembang kota Nan-po. Dan ia membayangkan betapa banyaknya para Kongcu (tuan muda) bangsawan dan hartawan akan berebutan untuk memetik dan memiliki kembang ini. Dan itu berarti hujan uang untuknya. Apa artinya uang tiga ratus tail. Kalau sudah begitu, lalu dapat mengumpulkan rIbuan tail, bahkan laksaan tail dengan mudah! 'Biarlah kuberi kalian dua ratus tail. Ini sudah gila! Aku sudah gila, berani mengeluarkan uang sebanyak itu!"

Dua pasang mata laki-laki itu berkilat.

Dua ratus tail perak!

Seratus tail untuk mereka masing-masing!

Kuda itupun tidak akan mendatangkan uang lebih dari dua puluh tail!

"Begini saja, Cia-Ma.

Dua ratus lima puluh tail perak!

Kau boleh ambil atau engkau akan kehilangan sumber rejeki yang hebat!"

Kata A-Sam.

"Pemeras Kau! Kau bikin aku bangkrut! Akan tetapi, ya sudahlah. Akan kubayar dua ratus lima puluh tail perak. Akan tetapi kalau yang punyak anak ayam datang ke sini, kalian harus bertanggung jawab. Kalian akan kulaporkan dan aku tanggung kalian akan mendapatkan hukuman berat. Ingat, jaksa di kota ini adalah langgananku dan sahabat baikku. Jangan kalian main-main!"

"Jangan khawatir, Cia-Ma. Kalau engkau simpan baik-baik anak ayam ini, Kau kurung baik-baik dan jangan dibiarkan berkeliaran di luar, tentu tidak ada burung elang yang akan menyambarnya,"

Kata A-Sam. Kemudian si botak ini dengan wajah cerah penuh kegembiraan lalu bergerak mendekati Ouw Yang Hui yang duduk di kursi dan mengelus rambut kepala anak itu.

"Ouw Yang Hui, anak yang baik. Sekarang aku dan Paman A-Liuk hendak pergi mencari Ibumu sampai dapat. Kalau kami sudah menemukan Ibumu, tentu Ibumu akan kami ajak ke sini untuk menjemputmu sayang. Sementara itu, engkau tinggai saja duiu di sini, di rumah Bibi Cia ini. Bibi Cia amat sayang kepadamu."

"Aku ikut mencari Ibu,"

Kata Ouw Yang Hui. Cia-Ma mendekati Ouw Yang Hui dan merangkulnya.

"Anak yang baik, kalau engkau ikut, engkau hanya akan mengganggu kedua Paman yang sedang mencari Iburnu. Mereka akan gagal mencari Ibumu. Sebaiknya engkau tinggal dulu di sini bersama Cia-Ma. Sebut saja aku Cia-Ma, dan aku akan menjadi seperti Ibumu sendiri. Engkau akan tidur di kamar yang indah, mendapat makanan yang lezat dan engkau akan kuberi pakaian yang indah-indah pula. Kalau Ibumu sudah berhasil ditemukan, tentu Ibumu akan datang ke sini, nak."

"Benar sekali, anak yang baik. Kami berdua akan mencari sampai jauh, membalapkan kuda. Kalau engkau ikut, tentu kami tidak dapat melakukan perjalanan cepat dan engkau akan lelah sekali. Usaha kami mencari Ibumu bisa gagal. Kau tunggulah saja di sini!"

Bujuk A-Sam. Ouw Yang Hui akhirnya mengangguk. Baiklah, Paman. Aku akan menunggu di sini."

"Bagus, anak baik, engkau memang anak yang manis sekali!"

A-Sam berkata sambil memberi isyarat dengan kedipan mata kepada Cia-Ma.

"Kalian tunggu sebentar,"

Kata Cia-Ma kepada dua orang laki-laki itu. Kemudian dia menggandeng tangan Ouw Yang Hui.

"Mari, A-Hui, hari telah sore. Pakaianmu telah kotor. Engkau perlu mandi dan bertukar pakaian bersih. Setelah itu engkau makan. marilah, nak."

A-Hui menurut saja dibimbing ke dalam, tidak menyadari bahwa ia seperti seekor anak ayam masuk ke peternakan ayam untuk dipelihara baik-baik sampai menjadi seekor ayam dewasa yang gemuk untuk dipotong!

Di ruangan dalam Ouw Yang Hui yang mulai hari itu memiliki nama panggilan A-Hui melihat enam orang gadis yang rata-rata cantik dan berpakaian mewah duduk dalam ruangan itu.

Mereka bercakap-cakap, bersenda-gurau dan terkekeh dengan bebas.

Dan ternyata rumah itu cukup besar dan di bagian belakangnya terdapat sebuah loteng dengan belasan buah kamar.

Cia-Ma membawa Ouw Yang Hui ke dalam kamarnya sendiri di bawah, sebuah kamar yang besar dan ia menyuruh seorang pelayan pria yang berjaga di luar untuk cepat membelikan beberapa stel pakaian untuk Ouw Yang Hui.

Kemudian ia menyerahkan anak itu kepada seorang pelayan wanita.

"Rawat dan layani ia baik-baik. la adalah anak angkatku dan kalian harus menyebut Hui-Siocia kepadanya. Mandikan ia dengan air hangat bercampur air mawar, kemudian taburi tubuhnya dengan bedak halus dan gantikan pakaiannya dengan pakaian baru yang sedang kusuruh beli. Nanti tambah masakan. Hui-Siocia akan makan bersamaku di dalam kamar ini."

"Baik, nyonya,"

Kata pelayan itu.

"A-Hui, engkau ikut dengan pelayan tui, pergi mandi dan bertukar pakaian. Aku akan menemui kedua orang itu untuk memesan agar mereka cepat dapat menemukan Ibumu."

Ouw Yang Hui adalah anak yang terdidik baik sehingga sekecil itu ia sudah tahu diri dan pandai bersikap baik.

Karena tahu bahwa wanita itu telah menolongnya dan bersikap baik kepadanya, ia lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada dan berkata.

"Cia-Ma, aku mengucapkan banyak terimakasih atas kebaikan hati Cia-Ma."

Melihat sikap dan mendengar ucapan ini tentu saja Cia-Ma girang bukan main. Ia membungkuk dan mEncium pipi Ouw Yang Hui.

"Engkau akan senang tinggal di sini, A-Hui,"

Katanya.

Kemudian ia mengambil sebuah karung yang cukup berat sehingga ia minta bantuan seorang pelayan pria lain untuk mengangkatkan karung itu, membawanya karung itu ke kamar tamu.

Karung itu berisi uang dua ratus lima puluh tail perak dan diserahkannya uang itu kepada A-Sam dan A-Liuk.

Setelah karung itu ditaruh di atas meja dan pelayan pria itu meninggalkan ruangan tamu, Cia-Ma mengeluarkan sehelai kertas dan alat tulis.

"Nah, buatlah pernyataan jual-beli dan tanda tangani kalian berdua!"

Katanya. muka mereka berubah merah. A-Sam dan A-Liuk saling pandang.

"Akan tetapi Cia-Ma"

Kami"

Kami tidak dapat menulis!"

Cia-Ma mengerutkan alisnya yang di gambari garis kecil melengkung hitam.

"Kalian buta huruf? Sungguh memalukan, laki-laki. buta huruf. Mari kubuatkan kalian nanti tinggal cap jari tangan saja."

Cia-Ma lalu menuliskan surat pernyataan menjual anak itu.

Tulisannya rapi dan indah, dilakukan dengan cepat, menunjukkan bahwa ia adalah seorang wanita yang terpelajar.

Setelah surat itu selesai ditulisnya, kedua orang itu bergantian mengecapkan ujung jari-jari tangan mereka ke atas surat itu setelah dibasahi tinta hitam.

Cia-Ma memandang puas.

Dengan surat pernyataan itu di tangannya, kedudukannya dalam memiliki Ouw Yang Hui menjadi kuat.

Kalaupun terjadi ada orang yang rnengaku A-Hui sebagai anaknya dan menuntutnya, ia dapat membebaskan diri dengan adanya surat itu yang menyatakan bahwa ia membeli anak itu dari kedua orang yang menanda tangani surat itu.

Mereka berdualah yang bertanggung jawab.

Pengadilan tidak akan menyalahkannya.

Apa lagi Jaksa Lui berada di belakangnya dan pasti jaksa yang menjadi langganannya itu akan membelanya.

A-Sam dan A-Liuk juga merasa puas.

Mereka pergi membawa uang dua ratus lima puluh tail itu dan merasa kaya raya.

Sekarang mereka memiliki modal besar untuk bermain, judi lagi, dan sekali ini mereka hampir merasa yakin akan menang dan menyedot kembali uang kekalahan mereka pada hari-hari yang lalu.

Demikianlah permainan pikiran para penjudi, bermain-main dengan harapan sendiri.

Yang hari kemarin menang, hari ini mengharapkan untuk mendapatkan kemenangan yang lebih besar lagi, dan yang hari kemarin kalah, hari ini mengarapkan untuk dapat menarik kembali kekalahan mereka.

Karena harapan-harapan inilah, mereka itu, baik yang pernah menang maupun yang pernah kalah, tidak dapat melepaskan kebiasaan berjudi.

Mulai hari itu, Ouw Yang Hui atau A-Hui tinggal bersama Cia-Ma.

Anak ini memang memiliki watak yang menyenangkan.Halus budi, lemah lembut, pandai membawa diri.

Cia-Ma merasa suka sekali kepada a-nak itu, bahkan segera jatuh cinta!

Cia-Ma sendiri, biarpun kini menjadi seorang mucikari, dahulu adalah seorang wanita cantik yang terpelajar.

Selain pandai membaca tulis, pandai pula meniup suling dan memainkan Yang-kim (Siter), juga pandai melukis dan menulis sajak, pernah membaca kitab-kitab kuno penuh filsafat.

Akan tetapi kehidupannya yang tidak bahagia menjerumuskannya sehingga akhirnya, dalam usia tiga puluh tahun lebih, dia sudah menjadi seorang mucikari yang memiliki rumah pelesit paling besar dan terkenal di kota Nam-Po, la menikah dalam usia yang muda sekali.

Dalam usia enambelas tahun ia telah menikah, atas kehendak orang tuanya dan menikah dengan seorang duda berusia lima puluh tahun.

Akan tetapi, duda itu hanya menganggapnya sebagai alat hIburan belaka dan sebentar saja sudah bosan karena duda yang menjadi suaminya itu memang mata keranjang dan selalu mencari yang baru.

Setelah disia-siakan, Cia-Ma bertemu dengan seorang laki-laki muda dan iapun tersesat, menjlin hubungan gelap dengan laki-laki itu.

Perbuatannya ini akhirnya ketahuan oleh suaminya.

Dia lalu dijual oleh suaminya ke rumah pelacuran dan terpaksa menjadi pelacur.

Karena ia memang cantik dan pandai, ia menjadi kembang rumah pelesir.

Setelah usianya tiga puluh tahun lebih, Cia-Ma sudah berhasil mengumpulkan uang yang cukup banyak karena memang sejak menjadi penghuni rumah pelacuran ia telah memiliki cita-cita dan menabung.

Setelah berusia tiga puluh tahun lebih, mulailah ia tidak laku dan lalu membuka sendiri sebuah rumah pelesir.

Pada mulanya memang hanya kecil-kecilan.

Akan tetapi karena pandainya ia mengatur dan mencari gadis-gadis ayu, menyenangkan hati para pemuda hartawan dan bangsawan yang datang berkunjung, maka sebentar saja rumah pelesir asuhannya menjadi sangat terkenal.

Banyak hartawan dan para pembesar menjadi langganannya.

Cia-Ma mendapatkan penghasilan besar sehingga beberapa tahun kemudian ia sudah dapat membangun sebuah rumah pelesir berdaun pintu merah yang besar yang memiliki belasan buah kamar di loteng rumahnya.

Mula-mula A-Hui masih suka menanyakan Ibunya.

Akan tetapi dengan lembut Cia-Ma dapat menghIburnya dan menyenangkan hati anak itu.

Dengan penuh kasih sayang ia memelihara anak itu, mendidiknya dengan pelajaran membaca dan menulis, bahkan mendatangkan seorang sastrawan untuk mengajar anak itu.

Juga ia mendatangkan seorang ahli tari dan nyanyi untuk melatih A-Hui.

Diperlakukan dengan penuh kasih sayang seperti itu, A-Hui lambat-laun melupakan Ibunya dan menganggap Cia-Ma sebagai pengganti Ibunya.

Cia-Ma juga benar-benar mencinta anak itu yang setiap malam tidur sekamar dengannya.

la menganggap A-Hui sebagai anak sendiri dan hatinya merasa berbahagia.

la belum pernah mempunyai anak, maka cintanya terhadap A-Hui benar-benar membahagiakannya.

Kalau tadinya ia bercita cita membuat A-Hui menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan terpelajar dan pandai agar kelak anak itu dapat menjadi sumber uang dalam rumah pelesirnya, keinginan itu dalam waktu setahun saja sama sekali tidak ada bekasnya.

Tidak, ia tidak rela melihat "Anaknya"

Menjadi seorang pelacur!

la ingin melihat anaknya menjadi seorang wanita terhormat dan mulia.

la harus mengawinkan anaknya itu dengan seorang pemuda bangsawan!

Dengan demikian anaknya itu akan menjadi seorang nyonya besar yang dihormati semua orang dan ia sebagai Ibunya tentu saja juga akan terangkat derajatnya.

Kalau sudah begitu, ia akan meninggalkan rumah pelesir jauh-jauh.

la akan menjadi Ibu mertua seorang pejabat tinggi yang dihormati orang.

Ah, betapa bahagianya.

(Lanjut ke

Jilid 04) Sepasang Rajah Naga (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04 Kita tinggalkan dulu A-Hui yang telah mendapatkan tempat di rumah pelesir milik Cia-Ma dan mari kita ikuti pengalaman Ibunya, yaitu Sim Kui Hwa atau Nyonya Ouw Yang Lee yang ke dua.

Sim Kui Hwa dilarikan dalam kereta oleh Tok-Gan-Houw Lo Cit.

Kalau tadi ketika anaknya masih berada di dalam kereta bersamanya ia tidak berani menjerit atau meronta, hanya menangis lirih karena takut ancaman Lo Cit yang akan membunuh anaknya kalau ia tidak diam, kini ia tidak takut lagi akan ancaman itu.

Anaknya telah dibawa pergi dan ia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri.

Maka Sim Kui Hwa meronta-ronta, menjerit-jerit dan menangis memangili nama anaknya.

Lo Cit menegangi kedua lengan wanita itu sehingga tidak dapat bergerak lagi.

Hati Lo Cit menjadi gemas sekali, akan tetapi dia tidak ingin memukul nyonya yang cantik dan yang menggairahkan hatinya itu.

"Sudahlah, nyonya. Jangan menangis. Anakmu pasti aman, aku tanggung itu dan engkau akan hidup berbahagia di sampingku sebagai isteriku,"

Kata Lo Cit menghIbur.

"Tidak sudi aku! Lebih baik mati!"

Sim Kui Hwa berteriak, akan tetapi karena ia tidak dapat menggerakkan kedua lengannya yang dipegang kuat-kuat oleh Lo Cit, ia hanya dapat menangis.

Pada saat itu mereka telah tiba di kaki bukit Houw-San.

Tiba-tiba kereta berhenti.

Lo Cit membuka tirai memandang keluar dan melihat betapa empatbelas orang pengawal atau anak buahnya semua berhenti dan di depan mereka berdiri seorang laki-laki.

Laki-laki itu berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar.

Seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, perawakannya sedang-sedang saja akan tetapi wajahnya yang tampan itu membayangkan kegagahan, terutama manatanya yang mencrong tajam.

Pakaiannya ringkas dan di pungungnya tampak gagang sebatang pedang Dandanannya seperti seorang kang-ouw (dunia persilatan) dan pakaiannya bersih dan rapi walaupun tidak mewah.

Melihat betapa anak buahnya yang berada terdepan tampaknya seperti sedang berbantahan dengan orang itu, Lo Cit lalu menggerakkan tangan menotok Sim Kui Hwa sehingga wanita itu seketika terkulai di atas tempat duduk kereta tanpa dapat bergerak lagi karena tertotok jalan darahnya.

Setelah membuat wanita itu tidak berdaya dan tidak akan dapat melarikan diri Lo Cit melompat keluar dari dalam kereta dan lari ke depan.

"Apa yang terjadi? Mengapa kalian berhenti?"

Tanyanya ketika tiba di bagian depan rombongannya. Seorang anak buahnya yang tadi berhadapan dan berbantahan dengan laki-laki yang agaknya menghadang rombongan itu lalu berkata.

"Pangcu, orang ini yang telah menahan rombongan kita dan dia berkeras hendak melakukan pemeriksaan ke dalam kereta!"

Mendengar laporan ini, Tok-Gan-Houw Lo Cit menjadi marah sekali.

Matanya yang tinggal sebelah kanan itu mendelik ketika dia menghampiri dan memandang kepada laki-laki itu.

Kini dia berhadapan dengan orang itu dan suaranya lantang dan membentak.

"Siapakah engkau dan apa yang Kau kehendaki menahan rombongan kami?"

Pria itu bersikap tenang dan sama sekali tidak kelihatan gentar menghadapi Lo Cit dan anak buahnya yang semua memperlihatkan sikap bengis mengancam itu.

"Aku bernama Gan Hok San. Kebetulan hari ini lewat di sini dan tadi aku mendengar suara tangis dan jerit wanita dari dalam kereta itu, maka aku harus melihat mengapa wanita menangis dan menjerit seperti itu."

"Manusia lancang! la adalah isteriku sendiri. Apakah engkeu begitu berani mati hendak mencampuri urusan suami isteri yang sedang cekcok?"

Bentak Lo Cit.

"Hemm, itu adalah keterangan sepihak, dari pihakmu. Kalau benar ia isterimu yang Sedang cekcok denganmu, aku harus mendengar sendiri dari mulut wanita itu. Biarkan aku menengok dan menanyainya sendiri."

"Keparat! Apa perdulimu dengan urusan kami? "Aku tidak akan mencampuri urusan suami isteri. Akan tetapi aku telah mendengar jerit tangisnya dan semua urusan penasaran dan penindasan adalah urusanku. Aku harus mencegah terjadinya kejahatan dan kesewenang-wenangan."

"Manusia sombong! Engkau tidak tahu dengan siapa engkau berurusan! Aku adalah Tok-Gan-Houw Lo Cit, ketua perkumpulan Houw-San-pai (Perkumpulan Bukit Harimau)!"

Akan tetapi pengakuan ini tidak membuat Gan Hok San kaget. Dia tersenyum dan berkata.

"Aku adalah seorang, perantau aku tidak mengenal Tok-Gan-Houw Lo Cit dan perkumpulan Houw-San-pai. Sobat, aku tidak berniat buruk. Aku hanya ingin menanyai wanita yang menangis tadi. Kalau setelah kutanyai ternyata benar ia isterimu dan sedang cekcok denganmu, aku akan minta maaf kepadamu dan selanjutnya tidak akan mengganggurnu lagi."

Tentu saja Lo Cit tidak ingin orang asing ini menanyai Sim Kui Hwa yang telah menjadi tawanannya. Dia marah sekali lalu menherahkan anak buahnya untuk maju mengeroyok.

"Engkau sudah bosan hidup! Dia mengerakkan tangannya ke belakang memberi isyarat kepada anak buahnya.

"Hajar dan bunuh dia!"

Dua orang anak buah yang berada paling depan dan yang sudah mempersiapkan golok telanjang di tangan, mendapatkan isyarat ini segera menggerakkan golok mereka dan menerjang ke depan, nenyerang orang yang bernama Gan Hok San itu.

"Wuuuttt... wuutt...!!"

Dua cercah sinar menyambar ke arah tubuh Gan Hok.

Akan tetapi dengan sigap dan mudah pria ini dua kali mengelak ke samping dua kali pula kakinya menyambar.

Demikian cepat dan kuatnya serangan balik itu sehingga dua orang anak buah itu tidak mampu menghindar dan mereka roboh terpelanting karena perut mereka terkena tendangan itu.

Mereka roboh dan mengaduh-aduh sambil memegangi perut mereka yang mendadak menjadi mulas sekali!

Melihat ini, Lo Cit menjadi marah sekali.

"Kalian mundur, biar aku menghajar manusia sombong ini!"

Bentaknya.

Dia hendak memamerkan bahwa dia adalah seorang ketua dan tidak akan mempergunakan pengeroyokan dan sanggup untuk menghajar musuh itu seorang diri saja.

Sekali melompat Lo Cit sudah berhadapan dengan Gan Hok San.

Dia sudah mencabut senjatanya, yaitu sebatang golok besar yang tebal dan berat.

Golok itu mengkilat tertimpa sinar matahari sore.

Lo Cit hendak memperlihatkan sikap gagah di depan anak buahnya, maka dia membentak.

"Orang she Gan, engkau memang bosan hidup dan mencari mati di ujung golokku. Hayo cabut senjatamu itu dan kita selesaikan urusan ini di ujung senjata!"

Gan Hok San tersenyum.

"Tok-Gan-Houw Lo Cit, sikapmu ini saja sudah membuktikan bahwa telah terjadi hal yang tidak semestinya di dalam kereta itu. Kalau memang benar isterimu yang menangis tadi karena cekcok denganmu, tentu engkau akan membiarkan aku menengok dan menanyainya. Engkau hendak menggunakan kekerasan? Boleh, akan kulayani kehendakmu!"

Setelah berkata demikian, tangan kanan Gan Hok San bergerak ke belakang punggungnya melalui atas pundak dan di lain saat tangan itu sudah mencabut sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya.

Setelah melihat lawannya memegang pedang, Lo Cit membentak.

"Jaga seranganku!"

Goloknya menyambar dahsyat sekali.

Diam-diam Gan Hok San terkejut juga karena dari serangan pertarna ini saja dia sudah tahu; bahwa lawannya memiliki gerakan cepat dan tenaga yang besar.

Lawannya memiliki ilmu silat yang tinggi, pantas saja kalau dia bersikap sewenang-wenang dan dia dapat menduga bahwa perkumpulan Houw san pastilah bukan sebuah perkumpulan bersih.

Gan Hok San adalah seorang pendekar besar.

Sejak muda dia hidup sebagai seorang pendekar dan namanya terkenal di daerah barat dan selatan.

Dia seorang tokoh aliran Siauw-Lim-Pai Pai yang banyak melahirkan pendekar-pendekar yang gagah perkasa dan baik budi.

Hal ini tidak mengherankan karena aliran atau partai Siauw-Lim-Pai Pai adalah perGuruan silat yang diasuh dan dibimbing oleh para Pendeta Buddha sehingga para murid Siauw-Lim-Pai, selain menerima gemblengan ilmu silat tinggi, juga menerima gemblengan batin dengan pelajaran keagamaan.

ini membuat batin para murid Siauw-Lim-Pai pada umumnya kuat sehingga mereka mempergunakan ilmu silat mereka untuk membela kebenaran dan keadilan.

Gan Hok San bertempat tinggal di lereng pegunungan Beng-San, di sebuah dusun yang tanahnya subur namun yang letaknya terpEncil dan sunyi.

Akan tetapi sejak mudanya dia suka melakukan perjalanan merantau dan di mana pun dia berada, dia selalu siap unjuk menolong yang lemah tertindas dan menentang yang sewenang-wenang.

Sebagai seorang pendekar perantau, Gan Hok San memilih hidup sendiri dan membujang sehingga sampai berusia empat puluh tahun, dia masih belum menikah dan tidak memiliki seorangpun anggauta keluarga.

Hidupnya sebatangkara di dunia ini, bebas tanpa ikatan apapun juga dan ini pula yang menjadi sebab mengapa dia suka melakukan perjalanan merantau.

Melihat betapa Lo Cit yang memegang sebatang golok besar itu menyerang secara bertubu-tubi dan semua serangannya merupakan serangan maut, semakin yakinlah hati Gan Hok San bahwa Lo Cit tentu telah melakukan perbuatan jahat dan wanita yang tadi menangis dan menjerit-jerit dalam kereta itu tentu seorang korban kejahatannya.

Maka, diapun menggerakkan pedangnya dengan cepat dan kuat mengimbangi serangan Lo Cit.

"Haiiittt! Trang-trang-trangg."

Bunga api berpijar-pijar dan Lo Cit melompat ke belakang dengan kaget sekali karena ketika pedang lawan secara beruntun bertemu dengan goloknya, dia merasa betapa tangan kanannya tergetar hebat dan hampir saja golok itu terlepas dari tangannya!

Maklumlah dia bahwa lawannya itu adalah seorang yang amat kuat!

Sebagai seorang tokoh sesat yang sudah terbiasa dengan watak yang licik dan curang, diapun tidak ragu atau malu lagi untuk memperlihatkan kecurangannya.

Kalau tadi dia bersikap gagah gagahan, hal itu hanya untuk gengsi saja.

setelah mendapat kenyataan bahwa lawannya amat kuat, diapun tidak malu-malu untuk cepat berteriak kepada anak buahnya.

"Keroyok dan bunuh dia!"

Dua orang anak buah yang tadi terkena tendangan kaki Gan Hok San sudah bangkit dan nyeri perut mereka sudah mereda.

Kini dengan marah mereka lalu bersama duabelas orang kawan mereka maju mengepung dan mengeroyok Gan Hok San.

Melihat ini, semakin jelas bagi Gan Hok San dengan orang-orang macam apa dia berhadapan.

Maka dia lalu menggerakkan pedangnya dengan cepat sekali, menerjang para pengeroyok.

Pedangnya menyambar dahsyat dan banyak golok beterbangan ketika bertemu dengan pedangnya, ada yang patah dan ada yang terlepas dari tangan pemegangnya.

Pedangnya berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan segera terdengar teriakan-teriakan kesakitan ketika sinar pedang itu menyambar-nyambar.

Dia merobohkan para pengeroyok dengan ujung pedangnya atau dengan tamparan tangan kirinya, dibantu sambaran kakinya.

Lo Cit berusaha untuk mempergunakan pengeroyokan mengalahkan pendekar itu namun dia kecelik.

Biarpun dia juga sudahmenyerang dengan hebat, tetap saja semua serangannya dapat tertangkis oleh lawan Bahkan pengeroyokan yang hiruk pikuk dan kacau ba?au itu menghalanginya sehingga serangannya tidak dapat dilakukan dengan lancar, terhalang oleh gerakan golok para anak buahnya.

Dalam waktu singkat, delapan orang anak buah gerombolan itu sudah berpelantingan roboh dan yang enam orang lagi mulai merasa gentar, tidak berani menyerang terlampau dekat, hanya mengacung-acungkan goloknya dari jarak aman saja.

Melihat ini, Lo Cit merasa bahwa pihaknya tidak akan menang.

Dia lalu berlari mendekati kereta, meloncat ke tempat kusir dan menyentakkan kendali sehingga dua ekor kuda yang menarik kereta itu meloncat kedepan dan membalap.

Melihat ini, Gan Hok San mengeluarkan seruan panjang dan pedangnya menyambar-nyambar sedemikian dahsyatnya sehingga sisa enam orang anak buah gerombolan itu tidak mampu menghindar dan merekapun roboh terluka oleh ujung pedangnya.

Setelah merobohkan semua pengeroyoknya, meihat Lo Cit melarikan kereta, Gan Hok San cepat melakukan pengejaran.

Dia mengerahkan ginkang (ilmu meringankan tubuh) dan tubuhnya melaju dengan cepatnya bagaikan terbang.

Tak lama kemudian dia dapat menyusul kereta itu, bahkan mendahuluinya, kemudian membalikkan tubuhnya dan degan kedua tangannya dia menangkap moncong dua ekor kuda itu dan menahannya.

"Berhenti...!!"

Serunya dan dua ekor kuda itu tertahan, tidak mampu bergerak maju lagi dan keretapun berhenti.

Lo Cit yang berada di depan, duduk sebagai kusir, menjadi marah sekali.

Dia menggerakkan cambuknya yang panjang untuk menyerang Gan Hok San.

"Tarr..."

Cambuk itu melecut ke arah muka Gan Hok San, akan tetapi pendekar ini menggunakan tangan kanannya menangkap ujung cambuk kemudian mengerahkan tenaga membetot.

Lo Cit hendak mempertahankan, namun ia kalah kuat dan tubuhnya terbawa oleh tarikan Gan Hok San sehingga meloncat turun dari atas kereta.

Akan tetapi dasar orang licik.

Karena maklum tidak akan mampu menandingi lawan, begitu kedua kakinya menyentuh tanah dia lalu mengambil langkah serIbu, melarikan diri dengan cepat meninggalkan kereta.

Gan Hok San tidak melakukan pengejaran.

Tidak adanya tangisan dan jeritan lagi dari dalam kereta menggelisahkan hatinya.

Maka, setelah kedua ckor kuda itu sudah tenang, dia lalu melepaskan dua ekor kuda itu dan menghampiri kereta dan membuka daun pintu kereta.

Dia mendapatkan seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun, cantik jelita, berkulit putih mulus dan berwajah jelita dan anggun, duduk setengah rebah di atas kursi kereta.

Wajah wanita itu pucat sekali dan kedua matanya masih basah mengeluarkan air mata yang mengalir di sepanjang kedua pipinya.

Maklumlah Gan Hok San bahwa wanita itu berada dalam keadaan tertotok sehingga tidak mampu mengeluarkan suara.

Dia lalu menotok kedua pundak wanita itu, menggosok tengkuk dan punggungnya dengan tangan dan, Sim Kui Hwa dapat bergerak kembali.

Begitu dapat bergerak, Kui Hwa menangis...

"Anakku... ah, kembalikan Anakku", mengapa kalian begitu jahat? Kami tidak bersalah apa-apa, kenapa kalian memisahkan aku dengan anakku""

Gan Hok San maklum bahwa wanita itu tentu mengira bahwa dia adalah seorang di antara anak buah gerombolan itu, maka dia lalu keluar dari kereta dan berdiri di luar kereta lalu berkata dengan sikap hormat.

"Nyonya""

Katanya, menyebut nyonya karena wanita itu tadi mengeluh tenang anaknya.

"Harap nyonya jangan cemas dan takut lagi. Semua penjahat telah kuusir pergi. Mereka telah melarikan diri dan meninggalkanmu di sini. Akan tetapi apakah yang telah terjadi, nyonya? Kenapa engkau dapat berada di kereta ini dan apa hubunganmu dengan penjahat Tok-Gan-Houw Lo Cit itu?"

Sim Kui Hwa merasa heran dan juga girang mendengar ucapan itu.

la menyusut air matanya dan memandang kepada pria yang berdiri di luar kereta.

Lalu ia turun dari kereta itu, memandang ke sekeliling dan benar saja, di situ tidak lagi terdapat penjahat bermata satu dan anak buahnya.

Laki-laki yang gagah perkasa ini telah menolongnya, menyelamatkannya!

Sebagai seorang wanita yang tahu tata-krama, dengan hati terharu dan penuh harapan bahwa pendekar itu akan dapat menolong puterinya, ia lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Gan Hok San sambil berkata dengan suara bercampur tangis.

"Terimakasih bahwa Taihiap (pendekar besar) telah menolong dan menyelamatkan saya dari tangan penjahat itu. Akan tetapi...mohon pertolongan Taihiap untuk anak saya, Taihiap!"

Melihat wanita itu berlutut sambil menangis di depan kakinya, Gan Hok San lalu membungkuk, menyentuh kedua pundak wanita itu dan membantunya untuk bangkit berdiri.

"Nyonya yang baik, berdirilah dan mari kita bicara dengan tenang. Ceritakan apa yang terjadi dengan anakmu, tentu saja aku siap untuk menolong anakmu. Duduklah saja dalam kereta agar lebih enak dan berceritalah, nyonya. Ceritakan semua dari permulaan agar menjadi jelas bagiku."

Karena tubuhnya terasa lemas, Sim Kui Hwa menurut dan ia duduk di dalam kereta. la menghapus air matanya dan menenangkan hatinya agar dapat bercerita dengan jelas.

"Nama saya Sim Kui Hwa dan saya adalah isteri dari Ouw Yang Lee majikan Pulau Naga."

"Ah! Maksudmu Ouw Yang Lee yang berjuluk Tung-Hai-Tok?"

Tanya Gan Hok San dengan heran dan agak kaget karena dia sudah mendengar akan narna datuk dari timur yang namanya amat terkenal itu.

Sim Kui Hwa merasa girang banwa penolongnya ini telah mengenal suaminya.

"Benar, Taihiap. Malam tadi, Pulau Naga diserbu gerombolan penjahat. Suami saya dan anak buah Pulau Naga mengadakan perlawanan akan tetapi dalam kekacauan itu, saya yang sedang berada dalam taman bersama madu saya dan dua orang anak kami, telah disergap dan kami berempat ditawan oleh dua orang kepala gerombolan. Kammi dilarikan dari Pulau dengan perahu dan setelah tiba di pantai daratan besar kami dipisahkan. Aku bersama anakku Ouw Yang Hui dibawa oleh penjahat mata satu itu dengan kereta, sedangkan maduku, Enci Lai Kim dan anaknya entah dibawa kemana."

"Ah! Akan tetapi, bagaimana suamimu tidak dapat mencegah hal itu terjadi Bukankah dia seorang tokoh yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali?"

Seru Hok San dengan heran.

"Mungkin suamiku sedang sIbuk menghadapi pengeroyokan anak buah gerombolan. Kami dilarikan dalam gelap dari taman, langsung ke pantai Pulau dan dilarikan dengan perahu pada saat laut pasang dan bergelombang. Mungkin dalam kegelapan itu suamiku tidak dapat melakukan pengejaran."

Gan Hok San mengangguk-angguk.

"Lalu bagaimana, Ouw Yang Hujin (Nyonya Ouw Yang)? "Saya dan anak saya Ouw Yang Hui dilarikan dengan kereta, akan tetapi setelah kereta tiba di jalan persimpangan, kami berdua dipisahkan dengan paksa. Anakku dibawa oleh seorang anggauta gerombolan entah ke mana dan aku sendiri dilarikan oleh si mata satu. Aku menjerit dan menangis sampai engkau muncul dan aku ditotok sehingga tidak dapat bergerak atau bersuara seperti tadi, in-kong (tuan penolong)."

La terisak lagi karena teringat akan anaknya, lalu melanjutkan.

"Tolonglah anak saya, Taihiap (pendekar besar), tolonglah selamatkan anak saya!"

Gan Hok San mengerutkan alisnya.

"Tentu aku siap untuk menolong anakmu, nyonya. Akan tetapi bagaimana aku bisa tahu ke mana anakmu dibawa pergi? Tidak ada petunjuk ke mana anakmu dibawa pergi. Apakah si mata satu itu tidak mengatakan' apa-apa ketika dia menyuruh seorang anak buahnya membawa lari anakmu?"

"Aku masih ingat. Orangnya berusia kurang lebih tiga puluh tahun, tinggi dan mukanya kurus seperti tengkorak. Namanya... kalau tidak salah ketika si mata satu memanggilnya, adalah Ji Tong. Si mata satu hanya mengatakan demikian. Ji Tong seperti sudah kuperintahkan dengan jelas kepadamu, bawalah anak ini sekarang juga Engkau tahu sudah apa yang harus Kau lakukan dengan anak itu. Demikianlah pesannya itu dan Ji Tong itu lalu melarikan anak saya di atas kuda. Aku mendengar Ouw Yang Hui menjerit-jerit."

Kembali ia terisak ketika teringat akan anaknya.

"Petunjuk itu belum jelas benar, akan tetapi rasanya cukup untuk mencari jejak orang bernama Ji Tong itu. Mari kita menggunakan kereta ini untuk mencari jejaknya, nyonya."

"Saya hanya menyerahkan kepada pertolonganmu, Taihiap. Saya akan duduk di depan sebagai penunjuk jalan."

Sim Kui Hwa lalu pindah duduk di depan, di samping Gan Hok San yang mengendalikan dua ekor kuda.

Kereta diputar dan mulailah meluncur mengikuti jalan dari arah mana tadi kereta datang.

Gan Hok San menjalankan kereta dengan cepat.

Akan tetapi setelah tiba di jalan simpang tiga, malam telah tiba dan cuaca sudah mulai gelap.

"Di sinilah jalan simpang itu, Taihiap. Di sini anakku dibawa lari ke arah jalan itu!"

Sim Kui Hwa menunjuk kemana terdapat sebuah jalan yang menuju ke utara.

Akan tetapi malam telah tiba, Hujin.

Kita tidak dapat melihat jalan.

Aku khawatir kita bukannya mendapatkan jejak orang itu, bahkan akan tersesat jalan.

baiknya kita melewatkan malam di sini dan besok pagi-pagi setelah terang tanah baru kita lanjutkan pencarian ini."

Sim Kui Hwa mengangguk lesu.

"Saya pikir engkau benar, Taihiap. Tidak ada jalan yang lebih baik dari pada melewatkan malam gelap di tempat ini."

"Engkau dapat beristirahat dan tidur di dalam kereta, nyonya, sedangkan aku akan menjaga keamanan di depan ini."

Sim Kui Hwa mengangguk dan berpindah duduk ke dalam kereta.

Sementara itu.

Gan hok San membuat api dan menyalakan lampu yang terdapat di pinggir kereta.

untung bahwa minyak pada lampu itu masih penuh sehingga malam itu mereka tidak akan kegelapan.

Setelah menyalakan lampu lalu, Gan Hok San membongkar buntalan pakaiannya dan mengeluarkan beberapa potong roti kering dan daging kering, juga seguci minuman anggur "Silakan makan, nyonya...

adanya hanya roti dan daging kering serta minuman anggur yang tidak begitu keras.

Walaupun sederhana namun lumayan untuk sekedar mengurangi rasa lapar."

Gan Hok San mempersilakan Sin Kui Hwa.

Karena tubuhnya memang terasa amat letih dan lapar, wanita itupun membuang rasa malu dan ikut makan walaupun sedikit.

la merasa beruntung sekali bertemu dengan seorang penolong yang demikian baik dan sopan.

Pada malam hari itu, Sim Kui Hwa dapat melepaskan kelelahan dan tidur pulas di dalam kereta, sedangkan Gan Hok San hanya duduk bersila di tempat kusir.

Dia sudah terbiasa beristirahat dalarn keadaan seperti samadhi.

Dalam keadaan seperti itu, semua urat syarafnya dapat beristirahat dan sama seperti orang tidur, walaupun telinganya tetap waspada untuk menjaga segala ancaman yang datang.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali begitu sinar matahari pagi mulai menyentuh tanah, Gan Hok San melanjutkan perjalanan.

Seperti juga pada kemarin sore Sim Kui Hwa berpindah duduk di depan, disamping Gan Hok San.

Kereta dijalankan oleh Gan Hok San, kini tidak begitu cepat perti kemarin karena di sepanjang jalan itu mereka memasang mata memandang kanan-kiri mencari jejak.

Setelah mereka tiba tak jauh dari kota Nam-Po, tiba-tiba Gan Hok San menghentikan keretanya.

Sim Kui Hwa juga melihat tubuh laki-laki yang menggeletak di tepi jalan itu.

Biarpun hatinya merasa ngeri, wanita ini ikut turun bersama Gan Hok San dan mereka menghampiri orang yang menggeletak di tepi jalan itu.

Orang itu rebah menelungkup dan dengan kakinya, Gan Hok San membalik tubuh yang telah menjadi mayat itu.

"Ahh...!! Dialah orangnya... dia orang yang bernama Ji Tong, yang melarikan anak ku di atas kuda itu!"

Jerit Sim Kui Hwa dengan mata terbelalak sambil telunjuknya menuding ke arah muka mayat itu. Gan Hok San mengerutkan alisnya.

"Orang ini telah terbunuh oleh bacokan-bacokan senjata tajam. Ada yang membunuhnya. Akan tetapi kuda dan anakmu itu tidak berada di sini."

"Ahhh Hui-ji... dimanakah engkau? Apa yang terjadi denganmu... tanya Sim Kui Hwa sambil mengusap air matanya. Ibu muda itu menangis. Sementara itu, Gan Hok San mencari jejaknya di sekitar tempat itu. Akan tetapi dia tidak melihat sesuatu.

"Nyonya, kurasa anakmu tentu dibawa."

"Akan tetapi, siapa dia dan ke mana?"

"Aku tidak tahu, nyonya. Akan tetapi kurasa Anakmu dibawa oleh orang yang telah membunuh Ji Tong ini. Mengingat bahwa Ji Tong adalah seorang penjahat, besar kemungkinan yang membunuhnya adalah seorang pendekar yang berniat menolong anakmu. Kalau dugaanku ini benar, tentu dia sudah mengantar anakmu kembali ke Pulau Naga. Tentu anakmu mengaku siapa Ayahnya dan dia sudah mengantarkan anakmu itu kesana."

"Terimakasih kepada Thian kalau begtu!"

Seru Sim Kui Hwa penuh harap.

"Lalu sekarang bagaimana baiknya, Taihiap?"

"Kalau kita melakukan pencarian, kurasa akan sukar sekali, nyonya. Kita tidak tahu ke mana anak itu dibawa, dan kurasa kalau memang benar pembunuh Ji Tong ini seorang pendekar, anakmu tentu akan diantarkan pulang ke Pulau Naga. Karena itu tidak ada artinya kita mencari jejak orang yang membawa anakmu. Lebih baik engkau kuantar pulang ke Pulau Naga,"

Kata Gan Hok San.

"Akan tetapi bagairnana kalau Hu-ji (anak Hui) tidak diantar pulang ke Pulau Naga?"

Tanya Sim Kui Hwa meragu.

"Mudah-mudahan saja tidak begitu. Akan tetapi seandainya pembunuh Ji Tong itu tidak mengantarkan anakmu pulang kesana kita dapat melapor kepada suamimu dan aku percaya dia pasti akan mampu mencari anakmu sampai dapat."

Setelah termenung sejenak, Sim Kui Hwa berkata.

"Baiklah, biar saya pulang ke Pulau Naga. Akan tetapi saya hanya akan merepotkan engkau saja, Taihiap. Entah bagaimana saya akan dapat membalas semua kebaikanmu, sejak engkau menyelamatkan saya dari tangan Lo Cit, sampai mencari anakku, kemudian engkau bahkan akan mengantarku pulang ke Pulau Naga."

Suara nyonya itu mengandung keharuan karena budi pertolongan pendekar itu sungguh terasa amat besar baginya. Gan Hok San tersenyum dan wajahnya berseri.

"Senang sekali hatiku dapat menolongmu, nyonya. Kuharap saja anakmu sudah diantar pulang oleh penolongnya sehingga engkau akan dapat berkumpul kembali dengan suami dan anakmu, dan hidup berbahagia."

"Terimakasih, Taihiap. Engkau benar-benar seorang pendekar yang budiman, semoga Thian selalu akan memberkahimu!"

Kata Sim Kui Hwa terharu. Gan Hok San melompat ke atas tempat duduk kusir. Sambil tersenyum dia menggerakkan cambuk kereta itu ke atas dua ekor kuda.

"Tar-tar-tar!"

Dan dua ekor kuda itu lalu membalik dan berlari menuju ke jalan simpang tadi.

Wajah Gan Hok San masih tersenyum-senyum dan dia sendiri merasa amat heran kepada dirinya sendiri.

Mengapa ada perasaan gembira yang demikian membahagiakan menyusup dalam hatinya mendengar ucapan terakhir dari nyonya itu?

Belum pernah dia merasakan hatinya merasa bahagia seperti itu.

Dia mulai memutar otaknya, menyelidiki diri sendiri.

Akan tetapi seluruh perhatiannya tidak dapat dialihkan dari dalam kereta di mana nyonya itu duduk seorang diri.

Dan tiba-tiba dia menyadari keadaannya.

Dia telah jatuh cinta!

Untuk pertama kali dalam hidupnya yang sudah empat puluh tahun itu dia jatuh cinta.

Kepada nyonya ini.

Kepada isteri orang, isteri datuk besar dari timur lagi!

"Engkau telah gila!"

Bisik hatinya dan cambuknya meledak-ledak di atas kepala kuda sehingga dua ekor kuda itu berlari semakin kencang.

Ketika mereka tiba di jalan simpang tiga, Gan Hok San membelokkan kereta itu kekiri dan menuju ke timur karena arah perjaanan itu adalah Laut Timur di mana Pulau Naga terletak.

Dalam perjalanan menuju ke pantai Laut Timur ini, Gan Hok San selalu bersikap manis dan lembut akan tetapi penuh sopan santun terhadap Sim Kui Hwa sehingga nyonya muda itu semakin berkurang rasa rikuhnya dan menjadi akrab karena ia menganggap pendekar itu seorang yang benar-benar patut untuk dijadikan sahabat.

Akan tetapi ketika mereka tiba di tepi laut, mereka mendapatkan kenyataan bahwa air laut sedang pasang dan bergelombang besar sehingga amat berbahaya untuk berperahu menyeberang ke Pulau Naga yang cukup jauh dari pantai.

"Keadaan laut tidak mengijinkan untuk pelayaran, nyonya. Tidak ada lain pilihan kecuali kita harus menanti sampai air laut tenang kembali,"

Kata Gan Hok San.

Sim Kui Hwa hanya menurut saja karena memang kenyataannya demikian.

Pendekar itu lalu mencari sebuah perkampungan nelayan di pantai untuk tempat bermalam selama menanti air laut surut dan tenang.

Diapun mencarikan dan membeli satu stel pakaian untuk pengganti pakaian Sim Kui Hwa yang sudah kotor, biarpun pakaian itu hanya pakaian wanita nelayan yang sederhana sekali, akan tetapi mengenakan pakaian yang sederhana itu tidak mengurangi kejelitaan Sim Kui Hwa, bahkan dalam pakaian bersahaja itu kecantikannya semakin menonjol dalam pandangan Gan Hok San!

Beginilah kuasa cinta terhadap hati seorang manusia, terutama Kau m prianya.

Kalau hati sudah jatuh cinta, bagaimanapun keadaan wanita yang dicintanya itu, akan selalu tampak indah menarik.

Sedang cemberutpun tampak semakin manis!

Pakaian jelek sederhana bahkan menonjolkan kecantikannya!

Akan tetapi sebaliknya kalau orang sedang membEnci.

Orang yang dibEncinya sedang terseyumpun tampak jelek sekali dan seperti menertawakannya sehingga menambah kebEnciannya!

Mereka terpaksa harus menanti sampai tiga malam di perkampungan itu sebelum mereka akhirnya berani menyewa sebuah perahu nelayan yang berani mengantarkan mereka ke Pulau Naga.

Berdebar-debar rasanya jantung di dada Sim Kui Hwa ketika ia duduk di dalam perahu yang meluncur cepat menuju ke tengah lautan itu.

Berdebar penuh harapan untuk mendapatkan puterinya sudah kembali ke Pulau dengan selamat.

Akan tetapi ada debar lain yang tidak mengenakkan hatinya.

Setelah ia tiba di Pulau dan berkumpul kembali dengan suami dan anaknya, ia harus melihat tuan penolongnya ini pergi meninggalkan Pulau, meninggalkannya dan bayangan ini entah mengapa membuat hatinya merasa kecewa dan sedih.

Makin jelas Pulau itu tampak, makin kencang debar jantung dalam dada Sim Kui wa.

Akhirnya tukang perahu dapat membawa perahu ke tepi dan perahu terpaksa berhenti di kedalaman selutut.

Daratan masih terpisah dua meter lebih dari perahu.

Karena itu, terpaksa Gan Hok San berkata dengan sikap hormat kepada Sim Kui Hwa.

"Nyonya, engkau harus menyeberang kecuali kalau aku boleh memondongmu dan membawa melompat ke darat."

Sim Kui Hwa yang sudah merasa akrab dan tahu bahwa penolong itu bukan seorang pria yang kurang ajar atau mata keranjang, mengangguk sambil tersenyum.

"Tentu saja boleh, Taihiap. Silakan,"

Katanya lirih.

Biarpun dia sudah menguatkan hatinya, tetap saja jantungnya berdebar keras ketika kedua lengannya memondong tubuh wanita itu dan sekali menggerakkan tubuh, dia sudah membawa nyonya itu melompat ke darat, lalu diturunkannya dengan lembut dan hati-hati.

Sama sekali dia tidak mengira bahwa pada saat itu, Ouw Yang Lee berlari-lari dari tengah pulai dan melihat ketika Sim Kui Hwa dipondong dan dibawa loncat ke darat olehnya.

Ketika tadi perahu nelayan mendekati pantai, dua orang anak buah Pulau Naga telah melihatnya dan ketika mereka melihat ji-hujin (Nyonya Ke Dua) berada dalam perahu itu, cepat mereka lari melapor kepada Ouw Yang Lee.

Mendengar laporan bahwa isterinya yang kedua datang dengan perahu, Ouw Yang Lee cepat berlari menuju ke pantai itu.

Dia berlari cepat sekali dan sempat melihat ketika isterinya dipondong seorang pria dan dibawa melompat turun ke darat.

alisnya berkerut dan sepasang matanya mencorong penuh cemburu dan kemarahan.

Ketika Sam Kui Hwa melihat suaminya berlari mendekatinya, ia lalu berlari juga menyambut dan mengembangkan kedua lengannya untuk merangkul suaminya sambil terisak menangis.

Akan tetapi Ouw Yang Lee menangkis dan nendorong kedua lengan itu, tidak mau dirangkul.

"Mana Ouw Yang Hui, Ouw Yang lan dan Ibunya?"

Tanya Ouw Yang Lee dengan suara mengandung geram. Mendengar pertanyaan ini, Sim Kui Hwa yang sudah merasa heran akan penyambutan suaminya yang dingin, menjadi terkejut sekali.

"Apakah... bukankah Hui-ji sudah diantar pulang oleh seseorang?"

Tanyanya penuh harap dan matanya mencari-cari untuk melihat apakah Ouw Yang Hui juga ikut menyambut kedatangannya.

"Tidak ada, Hui-ji belum pulang. Hayo cepat ceritakan apa yang telah ter jadi dan siapa orang ini!"

Dia menuding ke arah Gan Hok San yang masih berdiri dengan sikap tenang Sim Kui Hwa tidak mengerti akan sikap suaminya yang menyambutnya sedingin itu, juga ia terkejut sekali mendapat keterangan bahwa anaknya belum pulang.

Dengan suara bercampur tangis ia menceritakan pengalamannya.

"Malam itu, aku dan Enci Lai Kim beserta Lan-ji(Anak Lan) dan Hui-ji ditawan dan dilarikan oleh dua orang jahat ke pantai, lalu kami dibawa pergi dengan perahu menuju ke daratan besar. Setelan tiba di sana, kami dipisahkan. Enci Lai Kim dan Lan-ji dibawa pergi seorang penjahat, sedangkan aku dan Hui-ji dibawa dengan kereta oleh penjahat yang lain. Di tengah perjalanan, Hui-ji dilarikan seorang anak buah gerombolan dan aku dilarikan oleh pimpinan penjahat yang bernama Tok-Gan-Houw Lo Cit. Akan tetapi di tengah jalanan, aku ditolong oleh Taihiap Hok San ini. Dia amat baik, selain menyelamatkan aku juga sudah berusaha untuk mencari Hui-ji, akan tetapi di tengah perjalanan kami menemukan orang yang melarikan Hui-ji telah menggeletak di tepi jalan, sudah mati. Kami kira Hui-ji ada yang menolong dan mengembalikan ke Pulau Naga. Demikianlah apa yang kualami."

"Akan tetapi, kembali ke Pulau Naga mengapa sampai memakan waktu berhari-hari? Perempuan tidak tahu malu! Engkau bergaul dengan laki-laki selama berhari-hari, berdua saja. Perempuan macam apa engkau ini?"

Mukanya pucat dan matanya terbelalak.

"Jangan sebut aku suamimu! Engkau tidak patut menjadi isteriku dan aku tidak percaya bahwa engkau masih menjadi isteriku yang setia. Engkau telah bergaul berdua saja dengan laki-laki lain selama beberapa hari. Aku tidak sudi lagi mengakuimu sebagai isteriku!"

"Fitnah...! Itu fitnah... Aku...aku...hanya berterimakasih kepada Gan-Taihiap dan dia sudah begitu baik, bahkan mengantarkan aku pulang, dan engkau menuduh kami yang bukan-bukan?"

"Aku tidak menuduh! Aku masih mempunyai sepasang mata yang dapat melihat dengan jelas. Ketika mendarat tadi, engkau membiarkan dirimu dipondong dengan mesra. Itu saja sudah membuktikan bahwa engkau telah berbuat serong dengan laki-laki ini!"

Bentak Ouw Yang Lee dengan marah.

"Demi Tuhan, aku tidak melakukan perbuatan tercela itu!"

"Tidak perlu menyebut nama Tuhan engkau perempuan hina. Orang macam engkau tidak pantas menjadi isteriku bahkan tidak pantas untuk hidup lebih lama lagi. Lebih baik engkau mati di tanganku dari pada mencemarkan dan menodai nama besar dan kehormatanku!"

Setelah berkata demikian, Ouw Yang Lee menggerakan tangan kanannya, memukul dari jarak jauh dengan pengerahan tenaga Sinkang yang amat kuat.

Dia yakin bahwa dengan pukulan jarak jauh itu, sekali pukul dia dapat membunuh wanita yang menimbulkan kebEncian dan kemarahan karena cemburu itu.

Hawa pukulan yang amat kuat menyambar ke arah tubuh Sim Kui Hwa.

Akan tetapi ada angin menyambar dari samping, menyambut pukulan jarak jauh yang dilontarkan Ouw Yang Lee itu.

"Wuuutt...desss...!"

Dua tenaga sakti bertemu di udara dan akibatnya, kedua orang jagoan itu terdorong mundur beberapa langkah.

Ouw Yang Lee terkejut bukan main dan dia tidak memperdulikan lagi Sim Kui Hwa yang menjatuhkan diri berlutut sambil menangis.

Ouw Yang Lee memandang kepada Gan Hok San yang telah berani menangkis pukulannya tadi.

"Keparat, siapa engkau yang berani mencampuri urusan antara suami dan isterinya?"

Bentak Ouw Yang Lee menudingkan telunjuknya ke muka Gan Hok san.

Pendekar ini tersenyum tenang sambil melangkah maju mendekati Ouw Yang Lee, mudian berkata dengan suara tegas Tung-Hai-Tok Ouw Yang Lee!

"Telah lama aku mendengar akan nama besarmu sebagai seorang datuk timur yang berilmu tinggi dan disegani.

Akan tetapi apa yang kudapatkan sekarang?

Engkau bukan lain hanyalah seorang suami yang sama sekali tidak bijaksana, seorang pencemburu besar yang tidak tahu akan kesetiaan dan kebaikan budi isterinya sendiri, seorang laki-laki kejam yang hendak membunuh begitu saja Ibu dari anaknya sendiri!

Aku Gan Hok San tidak mencampuri urusan antara suami dan isterinya.

Akan tetapi tentu saja kalau melihat tindakan sewenang-wrnang, aku akan mencampuri, menentang yang sewenang-wenang, dan menolong orang yang menjadi korban kesewenang-wenangan.

Sebagai seorang murid Siauw-Lim-Pai Pai aku sudah bersumpah untuk membela kebenaran dan keadilan, di manapun juga aku berada."

Terkejut juga hati Ouw Yang Lee. Dia teringat bahwa dia pernah mendengar akan nama besar tokoh Siauw-Lim-Pai Pai ini.

"Hemm, kiranya engkau tokoh Siauw-Lim-Pai Pai bernama Gan Hok San itu! Kalau aku tetap hendak membunuh isteriku sendiri ini, engkau mau apa?"

"Aku akan mencegahnya sekuat tenaga dan menyelamatkan wanita ini. Aku pandang ia sebagai seorang wanita yang membutuhkan pertolongan, bukan sebagai isterimu. Tentu saja engkau dapat mengerahkan anak buahmu untuk mengeroyok aku, akan tetapi kalau Kau lakukan itu, hal itu hanya akan membuktikan bahwa sesungguhnya nama besar Tung-Hai-Tok Ouw Yang Lee hanya nama kosong belaka, karena sesungguhnya dia hanya seorang pengecut yang curang."

"Jahanam keparat yang sombong dan bermulut besar! Kau kira aku takut kepadamu untuk bertanding satu lawan satu? Mari kita buktikan dan mengadu kepandaian!"

Gan Hok San menyapu ke arah para anak buah Pulau Naga yang sudah berkumpul di situ dan mulutnya tersenyum mengejek.

"Benarkah satu lawan satu? Anak buahmu yang sudah siap itu tidak akan mengeroyok? Aku sangsikan hal itu!"

Hati Ouw Yang Lee menjadi semakin panas.

Dia adalah seorang gagah perkasa yang sudah yakin akan kehebatan ilmu silatnya, seorang yang dianggap datuk timur.

Tentu saja dia merasa malu untuk melakukan pengeroyokan setelah ditantang untuk bertanding satu lawan satu.

Dia lalu membalikkan tubuhnya dan berteriak kepada anak buahnya.

"Kalian mundur dan tonton saja dari jauh. Awas, tak seorangpun boleh turun tangan dalam perkelahian antara aku dan dia ini!"

Mendengar perintah itu, para anak buah Pulau Naga lalu mundur dan hanya nonton dari jarak jauh.

"Ouw Yang Lee, sebelum kita bertanding, aku ingin lebih dulu mengetahui bagaimana kalau engkau nanti kalah atau menang dalam pertandingan ini? Aku tetap curiga bahwa kalau engkau kalah olehku, engkau akan mengerahkan anak buahmu untuk mengeroyok aku!"

"Gan Hok San manusia sombong, aku berjanji tidak akan melakukan pengeroyokan, apapun yang terjadi. Aku sudah mengeluarkan perintah dan anak buahku tidak akan ada yang berani melanggar perintahku. Karena engkau datang tanpa diundang sebagai seorang tamu tak diundang engkau harus menaati peraturan yang diadakan tuan rumah. Akulah yang menentukan, Kalau dalam pertandingan ini engkau kalah maka engkau akan mati dan apa yang akan kulakukan terhadap isteriku ini tidak ada seorang pun boleh mencampurinya"

"Hemm, itu kalau aku kalah, tentu saja terserah kepadamu. Akan tetapi bagaimana seandainya engkau yang kalah?"

"Hemm, kalau aku kalah olehmu, engkau boleh membawa perempuan ini bersamamu dan meninggalkan Pulau ini. kata Ouw Yang Lee. Tiba-tiba Sim Kui Hwa berseru...

"Tidaaakk""

Dan ia bangkit lalu la menghampiri Gan Hok San dan berkata "Gan-Taihiap, pergilah sekarang juga jangan mencampuri urusan kami.

Biar aku dIbunuh suamiku, akan tetapi engkau yang tidak bersalah apa-apa tidak boleh terancam kematian.

Pergilah dan aku akan berterimakasih kepadamu sarnpai aku mati.

Gan Hok Sah tersenyum.

"Minggirlah, nyonya. Aku harus menolong dan melinungimu, biar untuk itu aku harus mempertaruhkan nyawaku. Marilah, Ouw Yang Lee, aku menerima dan menyetujui peraturan yang Kau tentukan tadi. Aku telah siap menandingimu!"

Setelah berkata demikian, Gan Hok San melangkah maju sehingga berhadapan dengan Ouw Yang Lee dalam jarak lima meter.

Kedua orang gagah itu saling pandang bagaikan dua ekor singa yang saling menantang atau dua ekor ayam jantan yang hendak berlaga, Saling pandang dengan pandang mata mencorong dan penuh selidik, seolah dengan pandang mata itu mereka hendak mengukur kekuatan masing-masing.

Gan Hok San memasang gerakan pembukaan dengan kedua kaki terpentang dan lutut ditekuk seperti orang menunggang kida, kedua tangannya dirangkap di depan dan sepasang matanya mencorong memandang lawan untuk mengikuti semua gerak-geriknya.

Maklum bahwa lawannya yang menjadi tokoh Siauw-Lim-Pai Pai itu tentu memiliki ilmu silat tinggi dan tenaga Sinkang (tenaga sakti) yang kuat, Ouw Yang Lee juga sudah mengerahkan Sinkang yang mengandung hawa beracun.

Dia membuat kedua lengan tangannya tergetar dan perlahan-lahan kedua kulit lengannya itu berubah menjadi kemerahan!

Itulah pengerahan ilmu yang disebut Ang Tok Ciang (Tangan Racun Merah), satu di antara ilmu-ilmunya tentang racun.

Kedua tangan itu sudah dirawatnya sedemikian rupa sehingga kalau dikerahkan, hawa beracun merah itu akan timbul dan pukulannya mengandung racun merah yang dapat membuat tubuh lawan yang terpukul menjadi seperti terkena bara api!

Melihat ini, Gan Hok San sebagai seorang jagoan atau pendekar yang banyak pengalarman, dapat menduga bahwa lawannya tentu memiliki pukulan-pukulan keji yang beracun sesuai dengan nama julukannya Racun Lautan Timur.

Maka pendekar inipun sudah melindungi kedua lengannya dengan pengerahan ilmu kekebalan Tiat-pou-san (Ilmu Kebal Baju Besi) sehingga kedua lengannya itu terlindung oleh Sinkang yang amat kuatnya sehingga dengan lengan telanjang dia akan mampu menangkis senjata-senjata tajam dan menolak serangan hawa beracun.

"Sambut seranganku! Haiiiittttt...!"

Ouw Yang Lee membentak nyaring sekali dan dia sudah menerjang dengan tamparan tangan kirinya ke arah kepala lawan.

Gan Hok San menundukkan kepalanya sehingga tamparan itu lewat mengenai tempat kosong.

Akan tetapi tangan kiri Ouw Yang Lee menyusul dengan pukulan membalik, menggunakan tangan itu seperti sebatang golok menghantam ke arah leher lawan.

Hantaman ini didahului oleh angin yang menyambar dahsyat dan berbau amis, tanda bahwa tangan itu mengeluarkan hawa pukulan beracun.

Namun Gan Hok San tidak menjadi gentar.

Dia mengangkat lengan kirinya menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.

"Dukkk!"

Kedua lengan kiri itu bertemu dengan kuatnya dan akibatnya, mereka berdua terdorong mundur dan agak terhuyung.

Hal ini membuat Ouw Yang Lee menjadi semakin penasaran dan kembali dia mengeluarkan bentakan nyaring dan menerjang dengan hantaman tangan kanannya ke arah dada lawan.

Gan Hok San kembali menangkis dan ketika tangan lawan terpental, dia membalas dengan serangan yang tidak kalah dahsyatnya, menggunakan tangan kiri dari samping nenampar ke arah pelipis kanan lawan.

"Wuuutt... dukk!"

Ouw Yang Lee juga berhasil menangkis pukulan ini.

Mereka lalu saling serang dengan ganas dan hebatnya.

Keduanya ternyata memiliki gerakan yang sama kuatnya, akan tetapi perlahan-lahan tampak bahwa dalam hal kegesitan atau ginkang (ilmu meringankan tubuh), Gan Hok San masih unggul sedikit.

Gerakannya sedemikian cepatnya sehingga Ouw Yang Lee merasa terdesak dan bingung mengikuti gerakan lawan yang demikian cepatnya.

Sim Kui Hwa yang sudah bangkit berdiri terpaksa menonton jalannya pertandingan itu dengan wajah pucat sekali.

la mengenal suaminya sebagai seorang yang amat keras hati dan kalau Gan Hok San kalah, tentu pendekar dan penolongnya itu akan dIbunuh mati sedangkan ia sendiripun tidak ada harapan untuk diampuni.

Tentu saja ia tidak mengharapkan kekalahan bagi Gan Hok San karena ia tidak ingin melihat penolongnya itu tewas dan dirinya sendiri terancam maut.

Akan tetapi Ouw Yang Lee adalah suaminya, Ayah dari anaknya maka tentu saja ia pun mengharapkan bahwa kalau Gan Hok San menang, pendekar itu tidak akan membunuh Ouw Yang Lee.

Biarpun ia menjadi isteri Ouw Yang Lee sudah hampir sepuluh tahun, akan tetapi wanita yang cantik dan berwajah lembut ini sama sekali tidak pernah mempelajari ilmu silat.

Maka ia tidak dapat mengikuti pertandingan itu dengan jelas, tidak tahu siapa yang akan menang atau kalah.

Tiba-tiba Song Bu lari dari kelompok para anak buah Pulau Naga, mendekati Sim Kui Hwa.

Wanita ini yang sudah amat akrab dengan anak itu, menganggap anak itu sebagai anak sendiri, merangkulnya, seolah minta dilindungi.

Song Bu juga menonton per tandingan itu dan dia sendiripun belum cukup lihai untuk dapat mengikuti dan menilai jalannya pertandingan.

Perkelahian tangan kosong itu sudah mencapai puncaknya.

Dengan kegesitannya, tiba-tiba kaki Gan Hok San mencuat dan mengenai paha lawannya.

Ouw Yang Lee terhuyung dan hampir roboh!

Sebetulnya hal ini sudah menunjukkan bahwa dia masih kalah dalam pertandingan silat tangan kosong itu.

Akan tetapi datuk ini tentu saja tidak mau mengaku kalah demikian saja.

"Singgg..."

Tampak sinar berkilat ketika dia mencabut pedangnya.

Biasanya, Ouw Yang Lee cukup bersenjatakan dayung bajanya kalau menghadapi lawan biasa.

Kalau dia sampai mencabut pedangnya, hal itu menunjukkan bahwa lawan yang dihadapinya amat tangguh.

"Keluarkan senjatamu dan lawan pedangku kalau engkau memang jantan!"

Bentaknya sambil memalangkan pedangnya didepan dada.

"Hemm, Tung-Hai-Tok Ouw Yang Lee! Belum lecet kulitmu, belum patah tulangmu, engkau sudah mernpergunakan pedang, Baiklah, kalau engkau ingin ber tanding dengan senjata, aku akan melayanimu!"

Setelah berkata demikian, Gan Hok San menggerakkan tangan kanan ke belakang punggung dan tampak sinar berkilat ketika dia mencabut sebatang pedang yang bersinar kebiruan.

Dia melihat betapa ujung pedang dan di sepanjang mata pedang yang dipegang lawannya berwarna kehitaman, maka tahulah dia bahwa pedang lawannya itu mengandung racun yang berbahaya.

Dia harus menjaga diri dengan hati-hati karena tergores sedikit saja oleh pedang itu berarti bahaya maut mengancam dirinya!

Melihat lawannya sudah memegang pedang, Ouw Yang Lee membentak nyaring.

"Sarnbut pedangku!"

Dan dia sudah menerjang ke depan, pedangnya berkelebat dan menyerang dengan sabetan ke arah leher. Gan Hok San mengerahkan tenaga dan menggerakkan pedangnya menangkis.

"Trang...!"

Bunga api berpijar ketika dua batang pedang itu saling bertemu dengan kuatnya.

Demikian kuatnya dua batang pedang itu beradu, sehingga membuat keduanya terpental dan dua orang yang sedang bertanding itu melompat ke belakang untuk memeriksa pedang masing-masing.

Setelah dengan hati lega melihat bahwa pedang mereka tidak rusak, mereka lalu maju lagi dan saling serang dengan dahsyatnya, Akan tetapi ternyata sekali ini Ouw Yang Lee salah perhitungan.

Kalau tadi, ketika mereka bertanding dengan tangan kosong, tingkat kepandaian mereka berimbang dan dia hanya kalah dalam hal kecepatan gerakan, kini setelah mereka bertanding dengan silat pedang, Ouw Yang Lee terkejut sekali.

Ilmu pedang yang dimainkan Gan Hok San ternyata hebat sekali dan segera dia terdesak hebat.

Setelah lewat lima puluh jurus, Ouw Yang Lee hanya mampu bertahan saja, menangkisi hujan serangan Gan Hok San dengan main mundur.

Masih untung baginya bahwa pendekar Siauw-Lim-Pai itu tidak bermaksud membunuhnya.

Ketika mendapatkan kesempatan, ujung pedang Gan Hok San hanya melukai pundak kanan Ouw Yang Lee sehingga baju berikut kulit pundak nya terobek.

Majikan Pulau Naga ini terpaksa melompat ke belakang dengan muka berubah kemerahan.

Dia merasa penasaran dan malu sekali karena dia harus mengakui bahwa dia telah kalah.

Kalau dia nekat dan dilanjutkan, belum tentu kalau lawannya akan demikian bermurah hati dan hanya melukai ringan pada pundaknya.

"Gan Hok San, pergilah engkau dan bawa serta perempuan hina ini!"

Katanya sambil mendelik memandang kepada Sim Kui Hwa. Wanita itu menangis dan menjatuhkandiri berlutut. Song Bu merangkulnya.

"Subo, harap jangan rnenangis..."

Dia menghIbur.

"Song Bu, ke sini engkau "

Ouw Yang Lee membentak dan Song Bu cepat meninggalkan Sim Kui Hwa dan menghampiri Gurunya lalu berdiri di sampingnya.

"Aku adalah isterimu, selama sepuluh tahun menjadi isterimu yang setia, kenapa engkau menyuruh aku pergi mengikuti seoang laki-laki lain?"

Wanita itu meratap.

"Kalau engkau tetap tinggal di sini, akan kubunuh!"

Ouw Yang Lee membentak.

"Ouw Yang Lee! Seorang laki-laki tidak akan menjilat ludah sendiri yang telah dikeluarkan, tidak akan mengingkari janji sendiri yang telah diucapkan. Engkau berjanji tidak akan membunuh wanita ini!"

Gan Hok San menegur.

"Aku berjanji tidak akan membunuhnya, akan tetapi tidak berjanji untuk menerimanya kembali tinggal di sini! Wanita rendah ini tidak boleh tinggal di atas Pulau ini dan kalau ia nekat, tentu akan kubunuh!"

"Bunuh saja aku... ahh, bunuh saja"

Gan Hok San yang diam-diam telah jatuh hati kepada wanita itu dan merasa amat iba, lalu menghampiri dan berkata dengan suara lembut.

"Nyonya, sudah jelas suamimu bersikap kejam kepadamu. Tidak baik membiarkan dia membunuhmu. Apakah nyonya tidak ingat kepada puterimu yang hilang dibawa orang? Apakah nyonya tidak ingin mencarinya dan menemukannya kembali?"

Mendengar ini, Sim Kui Hwa meratap.

"Nah, kalau engkau ingin menemukan puterimu sampai dapat ditemukan, nyonya, marilah kuantar engkau mencari anakmu, Sia-sia saja membuang nyawa di sini membiarkan anakmu kehilangan Ibunya sedangkan Ayahnya sudah begitu kejam terhadap dirlnya."

Sim Kui Hwa menurunkan kedua tangan yang menutupi mukanya dan dengan mata merah dan basah memandang suaminya.

"Suamiku... benarkah engkau begitu tega tidak mau enerimaku kembali dan mencari anak kita Ouw Yang Hui sampai dapat ditemukannya?"

Tanyanya dengan suara memelas.

"Perempuan rendah, aku tidak sudi menerimamu! Pergilah engkau dengan penolong dan kekasihmu itu, aku tidak perduli!"

Kui Hwa terkulai dan roboh pingsan di atas tanah.

"Ouw Yang Lee, engkau manusia kejam dan tak berprikemanusiaan! Lain kali kalau kita saling bertemu kembali, aku pasti akan membunuhmu!"

Kata Gan Hok San dan diapun segera menghampiri dan mengangkat tubuh Sim Kui Hwa yang pingsan, Memondongnya dan membawanya ke pantai di mana perahunya berada.

Dengan tenang dan tanpa menengok lagi kepada Ouw Yang Lee dan anak buahnya, dia merebahkan tubuh Sim Kui Hwa di dalam perahu, lalu mendayung perahu itu ke tengah dan meninggalkan Pulau Naga.

Setelah Gan Hok San pergi, diikuti pandang mata Ouw Yang Lee yang masih berdiri bertolak pinggang dengan alis berkerut, menyesali kekalahannya, Song Bu menghampirinya.

"Suhu, kenapa Suhu membiarkan orang itu pergi membawa Subo? Kenapa tidak mengerahkan para Paman untuk menangkapnya dan merampas Subo dari tangannya?"

Suara muridnya itu seolah baru menyadarkan Ouw Yang Lee dari lamunannya. Dia memutar tubuh memandang Song Bu, menghela napas panjang dan berkata.

"Untuk apa mempertahankan isteri yang tidak setia? Song Bu, catatlah dalam hatimu bahwa orang bernama Gan Hok San itu hari ini telah menghinaku dengan melarikan isteriku. Kelak engkau harus membalaskan sakit hatiku ini. Sanggupkah engkau?"

"Tentu saja tee-cu (murid) sanggup, Suhu. Akan tetapi bagaimana dengan ToaSubo (lbu Guru Tertua) dan adik Lan, juga Ji-Subo (lbu Guru Kedua) dan adik Hui? Apakah Suhu tidak pergi mencari mereka?"

"Hemm, mereka hanya dua orang puteri. Aku akan dapat mencari penggantinya dengan mudah, yang lebih muda dan cantik. Dan anak-anak itupun hanya anak perempuan, aku tidak terlalu membutuhkan anak perempuan. Sekarang, engkau lah yang menjadi pengganti mereka, Song Bu. Mulai sekarang, engkau menjadi anakku, nama lengkapmu Ouw Yang Song Bu. Bagaimana pendapatmu?"

Song Bu adalah seorang anak yang cerdik luar biasa.

Biarpun pada lahirnya dia tidak berkata sesuatu, namun otaknya bekerja dan dia sudah dapat rnembayangkan semua keadaannya.

Ucapan Gurunya itu berarti mengangkat dia menjadi anak sehingga segala yang ada pada Gurunya kelak menjadi miliknya!

Pulau Naga dan semua anak buahnya, dan terutama ilmu kepandaian Ouw Yang Lee tentu akan diwariskan kepadanya!

Maka, setelah pikirannya bekerja secepat kilat, dia lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki datuk itu, memberi hormat dengan membenturkan kepalanya berkali-kali ke atas tanah dan menyebut "Ayah"

Ouw Yang Lee yang tadinya muram karena kecewa atas kekalahannya terhadap Gan Hok San, tiba-tiba kini tertawa bergelak.

Dia telah menemukan seorang anak laki-laki yang telah lama didambakannya.

Kini Song Bu merupakan orang yang paling dekat dengannya, satu-satunya orang yang disayangnya dan kelak dapat dia andalkan.

Para anak buah Pulau Naga yang menonton dari jarak jauh tidak tahu apa yang terjadi antara Song Bu dan Ouw Yang Lee.

Mereka tadi menonton dari jauh, akan tetapi dapat melihat bahwa pemimpin mereka telah kalah dan isteri pemimpin mereka dibawa pergi oleh lawan.

Kemudian mereka melihat Song Bu berlutut di depan majikan atau pemimpin itu.

Biarpun pundak kanannya terluka, Ouw Yang Lee tidak mengeluh.

Dia membangunkan Song Bu dengan tangan kirinya, menggandeng tangan anak itu menuju ke rumah dan ketika berada di depan para anak buahnya, dia berhenti dan berkata dengan lantang.

"Kalian semua dengar baik-baik! Mulai saat ini, anak ini menjadi puteraku dan bernama Ouw Yang Song Bu. Kalian semua harus menghormatinya dan menyebutnya Ouw Yang Kongcu (Tuan Muda Ouw Yang)."

Semua orang mengangguk dan mereka pun bubaran.

Ouw Yang Lee mengajak putera angkatnya itu menuju ke rumah dimana dia mengobati luka di pundaknya.

malam itu juga dia menyuruh para pelayannya untuk mempersiapkan sebuah pesta kecil untuk merayakan pengangkatan Ouw Yang Song Bu menjadi puteranya.

Pesta kecil itu dihadiri pula oleh para anggauta pimpinan yang terdiri dari lima orang pembantu Ouw Yang Lee.

Ouw Yang Kee juga tidak banyak membuang banyak waktu membiarkan kamar-kamarnya kosong.

Dalam waktu sebulan saja dia telah mendapatkan dua orang gadis cantik yang dibawanya dari dusun-dusun di daratan, Orang tua para gadis itu tentu saja, menyerahkan anak mereka dengan senang hati karena anak mereka menjadi isteri majikan Pulau Naga yang berkuasa dan kaya raya.

Semenjak hari itu, Ouw Yang Song Bu digembleng secara tekun oleh Ayah angkatnya yang menginginkan dia menjadi seorang yang tangguh dan kelak akan dapat mengangkat nama Ayah angkatnya.

Anak yang cerdik inipun tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu, belajar silat dengan rajin sekali, berlatih siang malam sehingga cepat dia dapat menguasai seluruh gerakan dasar yang diajarkan oleh Ayah angkatnya.

Akan tetapi di samping itu, perangainya juga berubah.

Karena merasa bahwa dia adalah satu-satunya putera yang disayang dan dimanja oleh Ouw Yang Lee, dia bersikap tinggi hati terhadap para anak buah Pulau Naga yang merasa tidak berani memperlihatkan perasaan ini karena maklum bahwa Song Bu amat disayang oleh Ouw Yang Lee.

Thai-Lek-Kui (Iblis Tenaga Besar) Ciang Sek menahan kendali kudanya sehingga binatang itu berhenti melangkah.

Dia menoleh ke kiri, ke arah kuda lain yang ditunggangi Lai Kim dan puterinya, Ouw Yang Lan.

Kuda itu tampak letih, demikian pula dengan dua orang penunggangnya.

Lai Kim memegang tali kendali kuda dengan tangan kanannya sedangkan lengan kirinya memeluk Ouw Yang Lan yang duduk didepannya.

Melihat kuda yang ditunggangi Ciang Sek berhenti, Lai Kirh juga menghentikan kudanya.

la sudah lelah sekali sehingga tubuhnya membungkuk, tinggal sedikit lagi tenaganya untuk mencegahnya terpelanting dari atas punggung kuda.

Ouw Yang Lan adalah seorang anak yang pemberani, bahkan keras hati dan keras kepala.

Sejak semula ia sudah tidak takut terhadap laki-laki tinggi besar bermuka merah itu dan pandang matanya terhadap pria yang menawan Ibunya itu selalu menantang.

Kini, melihat laki-laki itu menoleh dan memandang kepada Ibunya, iapun tidak tahan untuk tidak berkata dengan suara penuh celaan.

"Paman, kenapa engkau begitu kejam? Tidak dapatkah engkau melihat bahwa kami sudah lelah sekali? Terutama sekali Ibu, tidak kasihanikah engkau kepadanya?"

"Lan-ji (Anak Lan)... Lai Kim menegur anaknya agar diam karena ia takut kalau-kalau anaknya akan membuat penawan mereka marah. Sudah beberapa kali Ciang Sek mengancam bahwa kalau ia banyak rIbut, maka laki-laki itu akan membunuh anaknya! Sejenak sinar mata Ciang Sek menatap wajah anak itu dengan tajam, akan tetapi dia tersenyum, kagum akan keberanian anak itu! Dia telah tergila-gila kepada Lai Kim dan dia ingin wanita itu menyerahkan diri dengan sukarela kepadanya, menjadi isterinya. Kalau dia membunuh anak itu dan memaksa Lai Kim menjadi isterinya, wanita itu tentu tidak akan menyerahkan diri dengan suka rela dan dia tidak menghendaki hal ini terjadi. Dia harus mengancam akan membunuh anak itu agar Lai Kim mau menyerahkun diri, dan bersikap lunak untuk merayu dan meruntuhkan hati wanita itu.

"Baiklah, kita berhenti mengaso sebentar di sini,"

Katanya dan diapun lalu melompat turun dari atas punggung kuda.

Setelah menambatkan kudanya Ciang Sek lalu membantu Lai Kim dan Ouw Yang Lan untuk turun dari atas kuda.

Untuk menenangkan dan menyenangkan hati Ibu dan anak itu, ketika membantu mereka turun Ciang Sek bersikap lembut sekali.

"Duduklah kalian di bawah pohon itu Di sana. sejuk dan ada batu-batu untuk tempat duduk,"

Katanya.

Ibu dan anak itu mengikutinya menuju ke bawah pohon yang ditunjuk.

Karena lelah sekali Lai Kim lalu duduk dia atas sebuah batu dan Ouw Yang Lan duduk di sebelahnya.

Kalau Lai Kim duduk dengan muka agak pucat dan mata menunjukkan kegelisahan dan kedukaan, sebaliknya Ouw Yang Lan memandang ke arah Ciang Sek dengan sinar mata mengandung kemarahan dan kebEncian.

Ciang Sek membuka buntalan kain yang tadi diterimanya dari anak buah Tok-Gan-Houw (Harimau Mata Satu) Lo Cit dan menaruh buntalan yang sudah terbuka itu di atas tanah di depan mereka.

Isi buntalan itu ternyata roti dan daging kering, juga terdapat seguci arak.

"Mari, kalian makanlah. Perjalanarn masih jauh dan kalian tentu sudah merasa lapar,"

Katanya. Akan tetapi Lai Kim tetap duduk di atas batu dan memeluk puterinya.

"Nyonya yang baik, engkau makanlah dan beri anakmu makan,"

Kata pula Ciang Sek.

"Apa engkau lebih suka melihat anakmu mati kelaparan?"

Teringat akan puterinya, Lai Kim terpaksa lalu turun dari atas batu dan mengambil dua potong roti dan dua potong daging kering.

Sepotong roti dan sepotong daging diberikannya kepada Ouw Yang Lan dan mereka makan roti dan daging itu tanpa berkata-kata.

Melihat sikap lembut penculiknya, Lai Kim memberanikan hati bertanya dengan hati-hati.

"Kenapa engkau menculik kami Ibu dan anak yang tidak bersalah apapun terhadap dirimu?"

Sebelum menjawab, Ciang Sek minum arak dari guci, dituangkan begitu saja ke dalam mulutnya. Setelah menyeka mulutnya, dia memandang kepada Lai Kim dan menjawab.

"Aku menculik kalian untuk memberi pelajaran kepada Ouw Yang Lee yang suka bertindak sewenang-wenang terhadap orang-orang di dunia kang-ouw (sungai telaga, persilatan). Biar dia tahu rasa dan mengurangi kesombongan nya."

"Ke mana engkau hendak membawa kami? "Kalian akan kubawa ke Pek-In-San (Bukit Awan Putih) di Pegunungan hai-san. Di sana aku tinggal sebagai majikan bukit itu,"

Jawab Ciang Sek dengan tenang.

"Akan tetapi... kapankah engkau akan membebaskan kami?"

Ciang Sek tersenyum dan menatap wajah cantik dengan tahi lalat kecil di pipi kiri itu.

"Tenanglah, nyonya. Kalau engkau tidak membuat rIbut dan tidak melawan, aku pasti akan memperlakukan engkau dan puterimu dengan baik. Akan tetapi kalau engkau banyak rewel, engkau tahu apa yang akan kulakukan!"

Berkata demikian, dengan penuh arti dia melirik ke arah Ouw Yang Lan Lai Kim mengerutkan alisnya dan iapun tersedak makanan yang serba kering itu karena ucapan dan sikap laki-laki tinggi besar itu membuatnya gelisah sekali.

melihat ini, Ciang Sek segera bangkit berdiri, membawa sebuah guci arak lain yang telah kosong.

"Kau tunggulah di sini, aku akan mencarikan air jernih untuk kalian minum. Awas, jangan pergi-pergi dari tempat ini!"

Setelah berkata demikian, Ciang Sek lalu memasuki hutan pegunungan yang berada di sebelah kiri jalan dan memghilang di balik pohon pohon dan semak semak.

Begitu laki-laki itu lenyap dari pandang mata mereka, Ouw Yang Lan segera berkata kepada Ibunya.

"Ibu, ini merupakan kesempatan baik bagi kita. Mari kita melarikan diri, Ibu!" (Lanjut ke

Jilid 05) Sepasang Rajah Naga (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 Lai Kim meragu, memandang ke kanan-kiri yang amat sunyi.

"Pergi ke mana?"

"Ah, Ibu! Ke mana saja asal dapat terbebas dari orang itu! Mari, Ibu!"

Anak itu bangkit dan menarik tangan Ibunya. Lai Kim bangkit berdiri.

"Baik kita lari!"

Akhirnya Ibu itu menyetujui ajakan puterinya.

"Akan tetapi kita jangan naik kuda. Derap kaki kuda akan terdengar olehnya. Pula kita tidak biasa menunggang kuda. Kita lari saja. Hayo!"

Ibu dan anak itu lalu berlari sambil bergandeng tangan.

Setelah berlari cukup jauh dan tidak melihat ada yang mengejar mereka, Ibu dan anak itu merasa lega juga.

Akan tetapi biarpun napas mereka sudah terengah-engah, mereka tidak mau berhenti.

Mereka terus berlari sampai mereka tidak kuat lagi.

Tidak menuju ke arah tertentu, asal menjauhi penawan mereka.

Selagi Ibu dan anak itu berlari dengan harapan berkembang dalam hati, tiba-tiba muncul tiga orang laki-laki yang berlompatan keluar dari balik pohon-pohon di tepi jalan.

Tiga orang laki-laki kasar yang memegang sebatang pedang di tangan kanan dan sikap mereka bengis!

Seorang diantara mereka yang bertubuh tinggi besar dan dahinya terhias codet memanjang bekas luka, tertawa bergelak ketika melihat bahwa yang mereka hadang adalah seorang wanita yang cantik dan seorang anak perempuan yang mungil.

"Ha-ha-ha-ha, kita untung besar, kawan-kawan! Ada seorang bidadari cantik tersesat di hutan! la pantas sekali untuk menjadi pendampingku!"

Orang kedua yang tinggi kurus juga berkata.

"Dan perempuan kecil inipun mungil dan manis sekali. Rumah pelesir tentu suka membelinya dengan harga mahal!"

Lai Kim terbelalak dengan muka pucat.

Baru melihat sikap dan mendengar ucapan itu saja ia sudah dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang jahat dan kejam, yang mempunyai maksud buruk terhadap dirinya dan puterinya.

"Mari, manis. Engkau ikut aku dan kita bersenang-senang!"

Kata si muka codet dan kali dia menubruk ke depan, tangan kirinya menyambar dan dia sudah dapat menangkap pergelangan tangan Lai Kim.

sementara itu, orang kedua yang tinggi kurus juga menyerbu dan hendak menangkap Ouw Yang Lan.

Akan tetapi anak perempuan itu melawan.

la menarik tangannya yang hendak ditangkap, bahkan tangan kanannya lalu memukul ke depan, ke arah perut si tinggi kurus itu!

"Ehh...?"

Si tinggi kurus tercengang, akan tetapi sambil tertawa dia menangkis terus menangkap tangan yang memukul itu, memuntirnya dan dia telah dapat meringkus Ouw Yang Lan yang lalu dipondongnya.

"Lepaskan aku! setan jahat, lepaskan aku!"

Ouw Yang Lan meronta-ronta dan mencoba untuk memukul dengan kedua tangannya.

Si tinggi kurus itu tetawa dan sekali tangan kanannya menotok, tubuh anak itu menjadi lemas dan tidak mampu bergerak lagi.

Ternyata si tinggi kurus itu pandai bersilat, bahkan menguasai ilmu menotok jalan darah.

Melihat anaknya ditawan, Lai KIm Yang juga sudah diringkus si muka codet itu meronta dan menjerit-jerit.

"Lepaskan anakku! Ahhhh, lepaskan anakku!"

Akan tetapi si muka codet yang bertubuh tinggi besar itu sudah mengangkat dan memondongnya, bahkan lalu mEnciumi muka Lai KIm Yang meronta dan berusaha sekuatnya untuk menghindarkan mukanya dari ciuman dan melepaskan diri dari dekapan.

Orang ke tiga yang menonton semua ini hanya tertawa-tawa gembira Pada saat itu, terdengar derap kaki kuda dan Ciang Sek menunggang seekor kuda sambil menuntun seekor kuda lain mendatangi dengan cepat.

"Keparat jahanam!"

Bentaknya setelah tiba di tempat itu dan melihat Lai Kim meronta-ronta dalam dekapan seorang laki-laki dan Ouw Yang Lan terkulai lemas dalam pondongan seorang laki-laki lain.

Dia melompat turun dari atas kudanya sambil membentak.

Orang ke tiga yang tadi hanya menonton sambil tertawa-tawa, cepat menyambut Ciang Sek dengan pedang di tangan.

"Manusia lancang, apa engkau bosan hidup? Jangan mencampuri urusan kami. Hayo cepat menggelinding pergi tinggalkan dua ekor kudamu di sini!"

Katanya sambil menyerang dengan pedangnya.

Serangan itu cepat dan merupakan serangan maut untuk membunuh.

Ciang Sek marah sekali.

Dia adalah seorang datuk, majikan dari Bukit Awan Putih yang biasanya dihormati orang dan ditakuti para tokoh dunia kang-ouw.

Kini melihat dirinya diserang oleh seorang perampok biasa, tentu saja dia marah bukan main.

Terutama sekali melihat Lai Kim, wanita yang telah menjatuhkan hatinya itu, dipondong dan hendak diciumi orang, hatinya menjadi panas sekali.

melihat pedang yang menyambar, Ciang Sek memperlihatkan kehebatannya.

ia tidak mengelak, melainkan menyambut pedang yang membacok ke arah kepalanya itu dengan tangan kiri begitu saja!

Pedang itu meluncur turun dan ditangkap tangan kirinya yang telanjang.

Akan tetapi tangan kirinya itu telah diisi penuh tenaga sakti menangkap dan meremas.

"Krakk!!"Pedang itupun hancur seperti kerupuk kering saja. Si penyerang terkejut dan terbelalak, akan tetapi dia tidak sempat melanjutkan keheranannya karena pada saat itu tangan kanan Ciang Sek menyambar dengan tamparan ke arah kepalanya.

"Darrr..."

Kepala itu terkena tamparan tangan kanan Ciang Sek menjadi pecah berantakan.

Tubuh orang itu terkulai dan tewas seketika.

Si muka codet yang menjadi pimpinan gerombolan tiga orang itu, terkejut melihatbbetapa mudahnya kawannya terbunuh.

Dia melempar tubuh Lai Kim ke atas tanah dan mencabut pedangnya.

"Siapakah engkau, berani mencampuri urusan kami?"

Bentaknya.

"Cacing busuk, memang sebaiknya engkau Kau mengenalku agar tidak mati penasaran. Aku adalah Thai-Lek-Kui (Iblis Bertenaga besar) majikan Pek-In-San!"

Mendengar ini, si muka codet terbelalak dan mukanya menjadi pucat. Dia cepat merangkapkan kedua tangan ke depan dada dan berkata gagap.

"Ohh... maafkan kami tidak mengenal maka berani bersikap kurang ajar... Tidak ada maaf! Engkau harus mampus ditanganku!"

Kata Ciang Sek sambil melangkah maju menghampiri.

Melihat bahwa datuk itu tidak mau memaafkannya, si muka codet menjadi nekat.Dari pada mati konyol lebih baik melawan dulu, siapa tahu dia akan mampu menandingi datuk yang nama besarnya sudah pernah didengarnya itu.

Tanpa berkata apapun dia lalu menyerang dengan pedangnya, menusuk ke arah dada lawan.

Ciang Sek melihat datangnya pedang yang meluncur itu dan tahu bahwa lawannya memiliki tenaga Sinkang yang cukup kuat, sehingga dia tidak menyambut dengan tangan kosong, tidak ingin membahayakan tangannya, maka diapun memiringkan tubuhnya.

Ketika pedang itu meluncur lewat secepat kilat tangan kanannya dibacokkan dengan tangan miring ke arah lengan kanan lawan yang memegang pedang.

"Krekkk!!"

Seketika tulang lengan kanan si muka codet itu patah.

Pedangnya terlempar dan lengan kanan itu terkulai.

Pada saat itu, Thai-Lek-Kui sudah menyusulkan sebuah tendangan yang amat kuat ke arah dada lawannya.

"Dessss...!!"

Tubuh yang tinggi besar dari si muka codet terlempar jauh ke belakang lalu terbanting keras dan tidak bergerak lagi karena dadanya pecah, semua tulang iganya remuk dan dia tewas seketika!

Melihat betapa dengan mudahnya Thai-Lek-Kui Ciang Sek merobohkan dua orang penjahat itu, Lai KIm Yang bingung melihat si tinggi kurus sudah melarikan diri sambil memondong tubuh Ouw Yang Lan, segera tolong selamatkan anakku"

La lari menghampiri Ciang Sek dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan laki-laki itu.

"Tolong selamatkan anakku... ia dibawa lari orang itu... la menuding ke arah laki-laki tinggi kurus yang masih tampak dari situ, berlari cepat sambil memondong Ouw Yang Lan. Akan tetapi Ciang Sek hanya memandang ke depan sebentar, lalu melipat kedua lengan di depan dada, dengan sikap tak acuh berkata.

"Hemm, engkau sudah mencoba untuk melarikan diri dariku!"

"Tolonglah anakku. Cepat... tolonglah anakku...!"

Lai Kim meratap kebingungan melihat orang yang membawa lari anaknya kini sudah hampir tidak kelihatan.

"Aku mau mengejar dan menyelamatkan anakmu, hanya dengan satu syarat. Engkau harus mau menjadi isteriku. Kalau tidak, aku tidak mau menolongmu,"

Biar ia dibawa lari dan dicelakai orang Lai Kim menjadi bingung sekali.

la menoleh dan melihat betapa bayangan orang yang melarikan anaknya sudah tidak tampak lagi Pada saat itu, satu-satunya keinginannya adalah agar anaknya diselamatkan.

Untuk itu, disuruh apapun juga ia tentu mau!

"Baiklah..."

La meratap sambil menangis.

"Berjanjilah dengan sumpah bahwa engkau akan mau menjadi isteriku!"

Kata pula Ciang Sek dengan nada gembira penuh kemenangan. Sambil terisak-isak Lai Kim berkata, Aku"

Aku bersumpah akan suka menjadi isterimu... akan tetapi cepat tolong anaku."

"Jangan khawatir, calon isteriku yang tercinta! Anakmu juga akan menjadi anakku. Tidak ada seorangpun di dunia ini boleh mengganggunya"

Setelah berkata demikin, Ciang Sek melompat ke atas punggung kudanya dan membalapkan kudanya melakukan pengejaran.

Lai Kim masih berlutut, mengikuti bayangan Ciang Sek sambil menangis tersedu-sedu.

la menyadari apa yang telah ia janjikan dan ia sumpahkan tadi.

Berarti ia harus menjadi isteri datuk itu.

Akanbtetapi apa dayanya?

la tidak mempunyai pilihan lain.

Demi keselamatan anaknya, ia akan rela menyerahkan nyawanya.

Dan ia tahu benar bahwa ia harus menuruti kehendak Ciang Sek, kalau ia menghendaki agar anaknya itu selamat.

Si tinggi kurus itu berlari secepatnya sambil memondong tubuh Ouw Yang Lan yang sudah ditotoknya sehingga anak itu tidak mampu bergerak.

Orang itu lari sekuatnya dengan ketakutan.

Dia melihat betapa dua orang kawannya roboh dan tewas di tangan pria tinggi besar muka merah yang amat lihai itu.

Diapun tadi mendengar bahwa pria itu adalah Thai-Lek-Kui, maka dia menjadi ketakutan dan melarikan diri.

Sambil memondong tubuh Ouw Yang Lan dengan tangan kiri, dia membawa pedangnya dengan tangan kanan untuk menjaga diri.

Tiba-tiba dia mendengar derap kaki kuda datang dari arah belakangnya.

Si tinggi kurus menjadi terkejut sekali.

Ketika dia menengok, dia melihat orang yang ditakutinya itu mengejarnya dengan menunggang kuda, datang dengan cepat sekali.

Karena ketakutan dan merasa tidak berdaya melarikan diri, si tinggi kurus menjadi nekat.

Dia menanti sampai kuda itu lewat dekat dan tiba-tiba dia melompat dan menyerang dengan sarnbaran pedangnya.

Akan tetapl, Ciang Sek menangkis pedang itu dengan tangan kirinya dan tubuhnya melayang dari atas kuda, tangan kanannya mencengkeram dan menyambar tubuh Ouw Yang Lan.

"Takk!"

Pedang terpental dan tuhuh anak itu dapat direnggutnya terlepas dari pondongan si tinggi kurus.

Demikian kuatnya tangkisan tangan kiri Ciang Sek sehingga pedang itu terpental dan terlepas dari pegangan si tinggi kurus.

Tentu saja dia terkejut bukan main dan tanpa berpikir dua kali, si tinggi kurus sudah membalikkan tubuh dan melarikan diri dari situ.

Ciang Sek memungut pedang itu dan sekali menggerakkan tangan, pedang itu meluncur seperti anak panah cepatnya mengejar orang tinggi kurus yang melarikan diri dan menancap di punggung, demikian kuatnya tenaga lontaran itu sehingga pedang itu menembus sampai keluar dari dada!

Si tinggi kurus roboh menelungkup dan ujung pedang yang keluar dari dadanya itu rnenancap di atas tanah menahan tubuhnya!

Ciang Sek lalu membebaskan totokan pada tubuh Ouw Yang Lan sehingga anak itu dapat bergerak kembali.

Begitu dapat bergerak dan bicara, Ouw Yang Lan teringat akan Ibunya.

"Jangan khawatir, Ibumu sudah kuselamatkan. Maka, jangan melarikan diri lagi dariku. Kalau tidak ada aku, tentu engkau dan Ibumu sudah celaka di tangan orang-orang jahat. Mari kita menjemput Ibumu."

Ciang Sek memboncengkan Ouw Yang Lan di atas kudanya, kembali ke tempat di mana tadi dia meninggalkan Lai Kim.

Setelah tiba di situ dan menurunkan Ouw Yang Lan, Ciang Sek juga turun dari atas kudanya dan memandang kepada Lai Kim sambil tersenyurn senang.

Lai Kim berlari menghampiri puterinya dan merangkulnya sambil menangis.

"Ibu, jangan menangis. Kita sudah dapat diselamatkan. Ternyata Paman ini baik dan telah menolong kita, Ibu. Lai Kim diam saja. Hatinya tidak karuan rasanya, teringat akan sumpahnya bahwa ia harus mau menjadi isteri laki-laki tinggi besar bermuka merah itu setelah Ciang Sek benar-benar berhasil menyelamatkan Ouw Yang Lan.

"Mari, kalian minum. dulu untuk menghilangkan kekagetan,"

Kata Ciang Sek sambil menyerahkan guci berisi air jernih yang tadi diambilnya dari sumber air di dalam hutan kepada Lai Kim.

Wanita itu menerimanya dan memberi minum kepada puterinya, lalu ia sendiripun minum beberapa teguk.

Ciang Sek lalu mengajak mereka melanjutkan perjalanan.

Ouw Yang Lan berboncengan dengan Ibunya.

Kuda rnereka berjalan perlahan di sarnping kuda yang ditunggangi Thai-Lek-Kui Ciang Sek.

Setelah mereka tiba di puncak bukit awan Putih, mereka disambut oleh anak buah Pek-In-San yang berjumlah kurang lebih lima puluh orang.

Ternyata Ciang Sek tinggal di situ sebagai seorang ketua atau majikan Pek-In-San' dan memiliki sebuah gedung yang besar dan megah.

Ciang Sek bersikap baik, ramah dan sopan terhadap Lai Kim sehingga akhirnya nyonya muda ini dapat ditundukkan dan suka menjadi isterinya.

Lai Kim tidak mempunyai pilihan lain.

Selain ia sudah bersumpah untuk mau menjadi isteri Ciang Sek, juga ia harus melindungi dan menjaga keselamatan Ouw Yang Lan.

Dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan puterinya hanya denga merelakan dirinya menjadi isteri datuk itu.

Ternyata kemudian bahwa Ciang Sek benar-benar menyayang dan mencintanya, bersikap baik juga kepada Ouw Yang Lan yang dianggap anak sendiri sehingga perlahan-lahan hati Lai Kim terhIbur juga dari kedukaan.

Bahkan ia harus mengakui bahwa sikap Ciang Sek sebagai seorang suami jauh lebih baik dari sikap Ouw Yang Lee yang kadang kasar kepadanya karena ia tidak mempunyai keturunan laki-laki.

Ciang Sek bahkan memperlihatkan kasih sayangnya kepada Ouw Yang Lan.

Dia mendatangkan seorang ahli sastra ke Pek-In-San, khusus untuk mendidik Ouw Yang Lan dalam ilmu kesusastraan, sedangkan dia sendiri menggembleng anak itu dengan ilmu silat.

Ouw Yang Lan berwatak keras itu akhirnya juga merasakan akan kasih sayang Ciang Sek kepadanya sehingga anak itupun menurut dan taat kepada Ayah tirinya.

Pondok kayu itu kecil saja, bahkan lebih mirip sebuah gubuk, terbuat dari papan yang disambung-sambung secara sederhana dan kasar, juga atapnya dari rumput ilalang kering yang sederhana.

Pondok itu berdiri di tengah hutan yang berada di lereng sebuah bukit.

Suasana di situ sunyi sekali karena jauh dari pedusunan.

Dikelilingi pohon-pohon dan hawanya sejuk dan jernih.

Sinar matahari menerobos di antara celah-celah daun, mendatangkan cahaya yang indah di atas tanah yang ditilami rumput hijau.

Di depan pondok itu terdapat sebuah lapangan rumput yang cukup luas.

Seorang Kakek duduk di atas bangku bambu yang terdapat di depan pondok, mulutnya tersenyum dan matanya mengiuti gerakan seorang anak laki-laki berusia kurang lebih sepuluh tahun yang sedang membuat langkah-langkah silat di atas lapangan rumput itu.

Kakek itu berusia kurang lebih lima puluh tujuh tahun.

Tubuhnya sedang, bahkan agak kurus sehingga tampak lembut dan ringkih.

Pakaiannya sederhana sekali, hanya terbuat dari kain kuning yang dilibat-libatkan di tubuhnya seperti pakaian Tosu (Pendeta To) pertapa.

Rambutnya panjang dan digelung ke atas, diikat dengan kain putih.

Wajahnya yang berjenggot dan berkumis rapi itu masih memperlihatkan ketampanan.

Wajah yang lembut dan cerah selalu terhias senyum yang membayangkan kesabaran dan kematangan jiwa.

Matanya mencorong, akan tetapi pandang matanya lembut.

Dia adalah laki-laki tua yang aneh, tidak bernama dan kalau ditanya nama mengaku bahwa namanya Bu Beng Siauwjin (Orang Rendah Tak Bernama)!

Anak laki-laki itu berusia sepuluh tahun.

Seorang anak laki-laki yang tampan.

Wajahnya berbentuk bulat telur.

Alisnya hitam berbentuk golok, sepasang matanya tajam bersinar-sinar, pandang matanya juga lembut, mata yang membayangkan kepekaan hati.

Hidungnya mancung dan mulutnya berbentuk manis, kecil dan terhias senyum.

Rambutnya hitam sekali, dipotong pendek dan diikat ke atas dengan kain kuning, Pakaiannya juga terbuat dari kain kasar dengan potongan sederhana sekali.

Kakinya bersepatu kain hitam.

Anak laki-laki itu adalah Wong Sin Cu, murid Bu Beng Siauwjin.

Seperti kita ketahui, Sin Cu yang pada tujuh tahun lalu disambar seekor burung rajawali raksasa dan diterbangkan ke sarangnya, nyaris menjadi mangsa anak-anak burung itu, telah tertolong oleh Bu-Beng Siauwjin.

Semenjak saat itu, Sin Cu menjadi murid Kakek aneh itu dan diajak berkelana, karena Kakek itu tidak mempunyai ternpat tinggal yang tetap.

Bu Beng Siauwjin telah berusaha untuk mencari orang bernama Wong Cin yang diakui sebagai Ayahnya oleh Sin Cu, namun usahanya sia-sia belaka.

Setelah tiga bulan lebih berkeliaran di sekitar daerah ditemukannya anak itu, mencari-cari, akhirnya dia mengambil keputusan untuk membawa anak itu berkelana sebagai seorang muridnya.

sambil berkelana, Kakek itu mengajarkan ilmu bun (sastra) dan bu (silat) kepada Sin Cu.

Pada tahun-tahun pertama, Sin Cu masih suka rewel dan menanyakan Ayah Ibunya kepada Gurunya.

Akan tetapi akhirnya anak itu dapat menerima kenyataan bahwa Ayah Ibunya telah berpisah dari dirinya, tidak tahu entah berada di mana, sudah mati ataukah masih hidup.

Yang diketahuinya hanya bahwa Ayahnya bernama Wong Cin.

Selebihnya dia tidak tahu lagi.

Bahkan bagaimana wajah Ayah Ibunyapun dia sudah tidak dapat ingat lagi.

Setelah bertahun-tahun hidup bersama Gurunya, dia mendapatkan kasih sayang Gurunya dan menganggap Gurunya sebagai pengganti orang tuanya, satu-satunya orang yang mengasihi dan dikasihinya, satu-satunya anggauta keluarga.

Pada waktu itu, Bu Beng Siauwjin yang tertarik oleh keindahan tempat di lereng bukit itu, membangun sebuah pondok dan untuk sementara tinggal di situ.

Dalam memberi pelajaran ilmu silat kepada Sin Cu, Bu Beng Siauwjin menekankan pentingnya berlatih mermasang kuda-kuda yang Kokoh kuat, lalu mengatur langkah-langkah yang mantap.

Pada pagi hari itupun kembali dia menyuruh Sin Cu berlatih langkah-langkah sambil memasang kuda-kuda.

Kalau anak itu merasa bosan walaupun anak itu tidak berani menyatakan Bu Beng Siauwjin dapat mengetahui perasaan dan kebosanannya muridnya itu dengan kata-kata lembut, dia berkata.

"Jangan Kau pandang ringan pelajaran memasang bhe-si (kuda-kuda) dan mengatur langkah-langkah ini, Sin Cu. Ketahuilah bahwa kuda-kuda dan langkah-langkah itu merupakan dasar dari ilmu silat, seperti pondasi dari sebuah bangunan. Kalau pondasi itu kurang kuat, maka bangunan itu mudah runtuh. Dengan bhe-si (kuda-kuda) yang Kokoh kuat, engkau tidak mudah dirobohkan lawan, dan dengan langkah-langkah yang teratur dan tepat engkau akan mendapatkan kelincahan, dapat menghindarkan diri dengan mudah dari serangan lawan dan dapat membalas serangan dengan cepat dan tepat."

Sin Cu amat patuh kepada Gurunya yang dia hormati dan sayang.

Juga dia seorang anak yang cerdik, maka dia dapat mengerti akan maksud Gurunya dan kini dia tidak pernah lagi merasa bosan kalau disuruh berlatih sendiri.

latihan yang tekun ini membuat kedua kakinya dapat memasang kuda-kuda yang Kokoh kuat, dan kedua kaki itu Tanpa disadarinya dapat membuat langkah-langkah yang gesit sekali, Bu Beng Siauwjin bangkit berdiri dan menghampiri muridnya.

"Berhentilah melangkah dan pasang kuda-kuda yang kuat!"

Kata Kakek itu.

Setelah Sin Cu menghentikan langkahnya dan memasang kuda-kuda Ji-Ma-Se (Menunggang Kuda) tiba-tiba Bu Beng Siauwjin menggunakan kakinya menendang atau mendorong tubuh anak itu dari depan.

Dorongan kaki itu kuat sekali, akan tetapi tubuh Sin Cu tidak terjengkang.

Hanya kedua kakinya yang memasang kuda-kuda itu saja yang tergeser ke belakang, namun kedua kaki itu tidak pernah terangkat, seolah telah melekat kepada tanah!

Bu Beng Siauwjin mengulangi ujiannya, mendorong dari samping, dari belakang beberapa kali.

Namun tidak pernah kedua kaki Sin Cu terangkat, hanya terdorong dan tergeser ke depan, ke samping atau ke belakang.

Bu Beng Siauwjin mengangguk-angguk sambil tersenyum.

"Bagus! Latihanmu sudah berhasil. Setelah kuda-kudamu kuat dan engkau mahir mengatur langkah, barulah aku akan mengajarkan gerakan kaki tangan untuk bersilat kepadamu!"

Sin Cu menghentikan latihannya dan dia merasa girang sekali.

Untuk dapat berlatih silat, dia harus menanti sampai empat lima tahun!

Selama empat lima tahun dia hanya diharuskan berlatih memasang kuda-kuda dan mengatur langkah-langkah!

kalau saja Sin Cu bukan seorang anak yang patuh kepada Gurunya...

tentu dia sudah merasa muak dan bosan.

Dan di luar sadarannya sendiri, dia telah menguasai gesitan yang luar biasa.

Bu Beng Siauwjin mengajak muridnya duduk di atas bangku di depan pondok mereka.

Setelah anak itu duduk dan mengusap keringatnya yang membasahi leher, Bu Beng Siauwjin berkata.

"Sin Cu, engkau telah memiliki dasar yang cukup Kokoh. Akan tetapi yang menjadi dasar ilmu silat bukan hanya itu. Masih ada lagi syarat untuk dapat menjadi ahli silat yang, baik, yaitu tenaga. Engkau harus memiliki tenaga yang kuat dan tenaga yang kuat adalah tenaga sakti yang terdapat dalam tubuh setiap orang manusia. Akan tetapi tenaga sakti itu harus dibangkitkan melalui latihan pernapasan dan samadhi. Nah, mulai sekarang engkau harus berlatih pernapasan dan siu-lian (samadhi)."

Mulai pagi hari itu, Sin Cu diberi pelajaran bersamadhi dan berlatih pernapasan untuk menghimpun sinkang (tenaga sakti).

Dia disuruh duduk bersila dibawah cahaya matahari dan setelah memberi petunjuk, Bu Beng Siauwjin meninggalkannya untuk berlatih seorang diri.

Setelah Gurunya pergi dan dia duduk bersila seorang diri, mulai belajar bersamadhi, Sin Cu tidak dapat mengosongkan pikirannya.

Bahkan bermacam pikiran timbul sehubungan dengan apa yang dipelajarinya dari Gurunya.

Dia lebih senang mempelajari sastra, karena dari pelajaran itu kini dia sudah pandai membaca dan menulis.

Yang lebih menyenangkan lagi, dengan kepandaian ini, dia dapat membaca kitab-kitab yang kadang didapatkan Gurunya, kitab-kitab kuno tentang sejarah tokoh-tokoh jaman dahulu dan juga kitab-kitab agama Budha dan agama To.

Akan tetapi ilmu silat?

Untuk apa dia mempelajari ilmu silat?

Dan dia sendiripun tidak pernah tahu, sampai di mana kepandaian Gurunya tentang ilmu silat.

Selama tujuh tahun ini, Gurunya tidak pernah memperlihatkan kepandaiannya dalam ilmu silat itu.

Pernah memang dia melihat Gurunya dapat berlari secepat terbang, akan tetapi hanya itulah yang pernah dilihatnya, bahkan itupun ketika dia masih kecil dahulu.

Tiba-tiba terdengar tangis seseorang.

Dari suara tangisnya, dapat diduga bahwa yang menangis itu tentu seorang anak anak.

Tentu saja gangguan suara yang tidak wajar ini membuat Sin Cu tidak dapat melanjutkan samadhinya.

Dia membuka kedua matanya dan bangkit berdiri.

Dia melihat Gurunya juga keluar dari pondok untuk melihat siapa yang menangis.

Seorang anak laki-laki yang sebaya dengannya, berusia kurang lebih sepuluh tahun, berpakaian seperti anak petani, berjalan dekat pondok sambil menangis.

Tangan kanannya memegang sebatang pecut, punggung tangan kirinya digosok-gosokkan mata dan dia menangis tersedu-sedu.

Bu Beng Siauwjin menghadang anak itu.

"Anak baik, kenapa engkau menangis?"

Sambil menggosok-gosok matanya dan masih menangis, anak itu berkata, ..."

Huhuuu... dua ekor sapiku dibawa pergi orang hu-huuu!"

"Dibawa pergi? Siapa yang membawa pergi dan ke mana?"

Tanya Kakek itu. Sin Cu sudah menghampiri anak itu da berkata dengan suara menghIbur.

"Sobat, ceritakanlah apa yang telah terjadi. Suhu ku tentu akan menolongmu."

Anak laki-laki itu memandang kepada Sin Cu, lalu kepada Bu Beng Siauwjin, dan dia menahan isaknya lalu bercerita.

"Tadi aku menggembala dua ekor sapiku di padang rumput di lereng bawah sana. Lalu muncul dua orang laki-laki yang galak dan mereka merampas dua ekor sapiku dan dibawa lari mendaki bukit lalu menghilang ke dalan hutan. Mereka mengancam aku dengan golok. Aku lalu mencari mereka sampai ke sini... hu-huuu Ayah tentu akan marah dan memukuli aku kalau dua ekor sapi itu hilang..."

"Tenanglah, nak. Kami akan mencari dan menemukan dua ekor sapi itu. Kau tunggu saja di pondok. kami ini. Hayo, Sin Cu, engkau ikut denganku!"

Setelah berkata demikian, Bu Beng Siauwjin memegang tangan Sin Cu dan begitu dia menggerakkan kaki untuk berlari cepat, Sin Cu merasa betapa kedua kakinya terangkat dari atas tanah dan tubuhnya seperti melayang ke depan dengan cepat sekali!

Dia membuka mata lebar-lebar dan tahu bahwa dengan memegang pergelangan tangannya, Suhunya telah mengangkatnya.

Tampak pohon-pohon seperti bergerak dan berlari dari depan.

Dengan kecepatan luar biasa, Bu Beng Siauwjin membawa Sin Cu keluar dari dalam hutan lalu memasuki hutan besar di depan.

Baru saja memasuki hutan itu, mereka mendengar suara banyak orang, suara orang bercakap-cakap dan ada yang tertawa-tawa.

Bu Beng Siauwjin menuju ke arah suara dan tampaklah di tengah hutan itu belasan orang sedang bercakap-cakap.

Ada yang sedang bekerja memasak air dan ada pula yang sIbuk hendak menyembelih dua ekor sapi gemuk yang ditambatkan pada batang pohon.

Mengertilah Bu Beng Siauwjin bahwa si pencuri sapi tentu berada di antara belasan orang itu dan dua ekor sapi gernuk itulah milik anak yang menangis tadi.

Mereka berdua mengintai dari balik pohon dan Bu Beng Siauwjin berbisik kepada muridnya.

"Sin Cu, dalam keadaan begini apa yang akan Kau lakukan terhadap mereka?"

Mereka harus ditegur karena mencuri sapi dari anak itu, dan minta agar dua ekor sapi itu dikembalikan, diserahkan kepada kita untuk kita kembalikan kepada yang berhak."

"Hemm, bagaimana kalau mereka menolak dan bahkan marah kepadamu?"

Sin Cu tertegun. Apa yang dapat dia lakukan? Dia tidak dapat menjawab. Bu Ben Siauwjin yang dapat mengerti akan isi hati Sin Cu yang kebingungan itu lalu berkata.

"Inilah sebabnya nengapa engkau perlu mempelajari ilmu silat, Sin Cu. Selama ini engkau agaknya kurang menghargai perlunya menguasai ilmu silat dengan baik. Dengan penguasaan ilmu silat, engkau akan mampu memaksa orang-orang ini mengembalikan dua ekor sapi yang mereka rampas dari anak itu. Dengan ilmu silat engkau akan mampu melindungi dan menolong yang lemah tertindas dan mampu menentang yang kuat dan jahat. Akan tetapi, beranikah engkau menegur mereka dan minta agar dua ekor sapi itu diserahkan kepada kita untuk kembalikan kepada yang berhak?"

Biarpun dia belum menguasai ilmu silat, namun Sin Cu adalah seorang anak yang berani dan tabah.

Dia merasa dirinya benar, maka timbul keberaniannya.

Dengan tenang dia melangkah keluar dari balik pohon.

Dia tidak berhenti walaupun melihat Gurunya tidak ikut keluar dan dia lalu menghampiri rombongan orang itu.

Belasan orang itu mengangkat muka memandang ketika mendengar langkah kaki Sin Cu menginjak daun kering.

Melihat seorang anak laki-laki, mereka mengira bahwa anak itu tentulah si pemilik sapi seperti diceritakan dua orang kawan mereka yang merampas sapi itu dan yang sekarang hendak mereka sembelih dan mereka pergunakan untuk pesta pora.

"Hei, bocah! Mau apa engkau di sini? relakan dua ekor sapimu dan pergilah dari sini, atau engkau juga akan kami sembelih!"

Seorang di antara mereka menggertak untuk menakut nakuti Sin Cu.

"Dia bukan pemilik sapi itu!"

Kata seorang laki-laki gendut pendek, seorang di antara dua orang perampas sapi tadi.

"Kalau begitu, siapakah engkau, bocah! Dan mau apa engkau berkeliaran ke sini?"

Tanya seorang lain yang bertubuh tinggi besar sambil menghampiri Sin Cu.

"Namaku Wong Sin Cu!"

Kata Sin Cu dengan tenang dan tabah sambil melangkah maju mendekat.

"Mau apa engkau ke sini?"

Tanya si tinggi besar sambil mengamati pakaian Sin Cu yang kasar sederhana.

"Engkau hendak mengemis? Bukan di sini tempatnya. Hayo pergi!"

"Paman, aku datang untuk menyadarkan para Paman sekalian. Paman sekalian telah bertindak salah dan jahat, merampas dua ekor sapi milik anak dusun yang tidak berdosa. Kalian membuat anak itu menangis ketakutan karena dia tentu akan dimarahi Ayahnya yang kehilangan dua ekor sapinya. Karena itu, aku mohon dengan hormat, berikanlah dua ekor sapi itu kepadaku untuk kukembalikan kepada yang berhak."

"Bocah gilal Apa Kau bilang? Apa Kau sudah bosan hidup bicara seperti itu kepada kami?"

Bentak si tinggi besar.

"Hayo pergi atau aku akan memukuli sampai pecah kepalamu!"

"Paman, aku ingin menyadarkun kalian, Apa yang kalian lakukan adalah suatu kejahatan, dan kejahatan akhirnya akan menimpa diri kalian sendiri,"

Kata Sin Cu, mengulang kata-kata yang pernah dibacanya dalam kitab-kitab agama.

"Keparat!"

Si tinggi besar itu melangkah maju dan tiba-tiba kaki kirinya menendang.

Cepat dan keras sekali tendangannya dan kalau tendangan ini mengenai tubuh Sin Cu, tak dapat diragukan lagi tubuh anak itu akan terpental jauh seperti bola ditendang.

Akan tetapi pada saat itu, Sin Cu teringat akan gerakan langkah langkahnya dan secara otomatis kakinya melangkah ke samping dan tendangan itu luput.

"Ehhh...?"

Laki-laki tinggi besar itu terkejut dan merasa heran sekali.

Dia adalah seorang ahli silat yang terkenal sekali akan lihainya tendangan kakinya.

Akan tetapi sekali ini, menendang seorang bocah berusia sepuluh tahun yang berdiri demikian dekat dengannya, endangannya itu luput dan dapat dielakkan oleh anak itu!

Tentu saja dia menjadi penasaran sekali dan cepat kaki kanannya mencuat, menyusulkan tendangan yang lebih cepat dan lebih kuat lagi.

Akan tetapi, dengan otomatis, tanpa dipikir lagi, Sin Cu menggerakkan kakinya mengatur langkah-langkah yang sudah selama lima tahun dilatihnya setiap hari dan tendangan itupun luput!

Lima enam kali menyusul tendangan bertubi-tubi dan berganti-ganti dengan kedua kaki yang besar dan panjang itu.

Namun semua tendangan itu hanya mengenai angin, sama sekali tidak dapat menyentuh tubuh Sin Cu!

Sin Cu sendiri sampai merasa terheran-heran.

Dia melangkah demikian mudahnya, akan tetapi semua tendangan itu dapat dihindarkannya dengan mudah.

Barulah dia menyadari bahwa apa yang dilatihnya selama ini mengandung manfaat yang amat besar.

Hatinya menjadi gembira dan dia menggerakkan kedua kaki dan tubuhnya dengan lebih teratur lagi.

Si tinggi besar kini bukan hanya menendang, melainkan juga memukul.

Akan tetapi seperti juga tendangannya, semua pukulannya mengenai tempat kosong!

Dia sama sekali tidak dapat mengerti bagaimana anak kecil itu dapat mengelakkan semua serangannya dengan demikian tepatnya.

Bahkan Sin Cu sendiri tidak tahu bahwa sebetulnya dia telah mulai menguasai sebuah ilmu langkah yang hebat, yang disebut Chit-Seng Sin-Po (Langkah Sakti Tujuh Bintang), satu di antara ilmu-ilmu aneh yang dimiliki Bu Beng Siauwjin.

Anggauta gerombolan yang bertubuh pendek gendut yang melihat betapa kawannya belum juga dapat memukul roboh anak itu, menjadi penasaran dan marah.

Diapun melompat dekat dan bantu memukul Sin Cu.

Akan tetapi sungguh aneh!

Beberapa kali pukulannya yang dia lakukan bertubi-tubi juga selalu mengenai tempat kosong.

Tubuh anak itu bergerak-gerak aneh dan selalu dapat rmenghindar dari semua pukulan dan tendangan dua orang itu!

Kini belasan orang gerombolan itu menghentikan kesIbukan mereka dan semua menonton.

Banyak di antara mereka yang menertawakan dua orang yang mengeroyok Sin Cu dan juga belum juga dapat merobohan anak itu.

Mendengar betapa mereka ditertawakan, dua orang itu menjadi semakin penasaran dan marah.

Mereka lalu mencabut golok yang tergantung di pinggang mereka dan mulai menyerang Sin Cu dengan menggunakan golok mereka!

Tentu saja hati Sin Cu merasa terkejut dan ngeri juga melihat dua batang golok yang berkilauan itu menyambar-nyambar ke arah tubuhnya.

Otomatis kedua kakinya bergerak tubuhnya berputaran dan dia masih selalu dapat menghindarkan diri dari sambaran sinar golok.

Tiba-tiba terdengar seruan.

"Siancai (damai) Betapa kejamnya dua hati orang dewasa yang berniat untuk membunuh seorang anak-anak!"

Dan pada saat itu, tiba-tiba saja dua batang golok yang sudah siap digerakkan dan dibacokkan itu tertahan di udara.

Yang tampak hanya bayangan Bu Beng Siauwjin yang berkelebatan dan dua batang golok.

itu terlepas dari pegangan pemiliknya, mencelat dan disusul robohnya dua orang itu yang terpelanting karena kaki mereka disabet kaki Bu Beng Siauwjin.

Laki-laki setengah tua berjenggot panjang yang agaknya menjadi pimpinan gerombolan itu melompat ke depan Bu Beng Siauwjin, sedangkan dua orang yang tadi roboh sudah berlompatan bangun kembali.

Si jenggot panjang ini berusia empat puluh lima tahun, tubuhnya juga tinggi besar dan mukanya bengis, di punggungnya tergantung sepasang pedang.

Dia menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Bu Beng Siauwjin dan mermbentak.

"Dari mana datangnya Kakek siluman yang berani membikin kacau di sini?"

Bu Beng Siauwjin menjawab dengan sikap tenang dan sabar.

"Sobat, pertimbangkanlah, siapa yang telah membikin kacau di daerah ini? Dua orang di antara anak buahmu telah merampas dua ekor sapi milik seorang anak kecil. Muridku itu datang hanya untuk menyadarkan kalian dari kesalahan, akan tetapi dua orang anak buahmu bahkan berusaha membunuh muridku. Siapakah yang membikin kacau?"

"He, tua bangka! Apa perdulimu? Beran? engkau mencampuri urusan kami. Siapakah engkau? Apa tidak pernah mendengar bahwa aku Siang-Kiam Mo-Ko (Iblis Berpedang Pasangan) yang menguasai daerah ini? Karena kami yang menguasai daerah ini, maka segala apa yang terdapat di daerah ini dapat saja kami ambil. Siapa engkau? Perkenalkan nama agar engkau tidak sampai mampus tanpa nama!"

Bu Beng Siauwjin tersenyum sabar dan tenang sekali.

"Sian-cai! Aku memang tidak mempunyai nama. Sebut saja aku Bu Beng Siauwjin."

"Bu Beng Siauwjin (Orang Rendah Tak Bernama)? Ha-ha-ha-ha! Sebentar lagi engkau akan menjadi Setan Tanpa Nama!"

Siang-Kiam Mo-Ko tertawa dan para anak buahnya ikut menertawakan Kakek itu.

Akan tetapi Bu Beng Siauwjin tidak menjadi marah, bahkan ikut pula ter tawa gembira!

Melihat ini, Siang-kiam Mo ko menggerakkan kedua tangannya dan sepasang pedang itu sudah berpindah dari belakang punggung ke dalam kedua tangannya.

Dia menyilangkan sepasang pedang itu di depan dada dan berlagak gagah.

"Bu Beng Siauwjin, keluarkan senjatamu. Jangan nanti mengatakan bahwa aku bertindak sewenang-wenang menyerang lawan yang tidak bersenjata!"

"Hemm, sikapmu ini cukup gagah Siang-Kiam Mo-Ko. Hanya sayang, kegagahanmu.Kau pergunakan untuk bertindak dengan sewenang-wenang memaksakan kehendakmu. Sekali lagi, aku mendukung peringatan yang diberikan muridku. Sadarlah akan kesalahanmu, kembalikan dua ekor sapi itu dan selanjutnya, pimpinlah anak buahmu ke jalan yang benar, jalannya orang-orang gagah yang membela kebenaran dan keadilan."

"Cukup! Kalau dengan kata-kata engkau mengharapkan dapat terlepas dari tanganku, engkau mimpi! Keluarkan senjatamu! bentak Siang-Kiam Mo-Ko.

"Aku tidak pernah membawa senjata Mo-Ko,"

Kata Bu Beng Siauwjin.

"Kalau begitu, mampuslah dan jangan penasaran!"

Bentak Siang kiam Mo-Ko dan diapun sudah menerjang ke depan, sepasang pedangnya menyambar dari kanan-kiri dengan gerakan menggunting.

Kalau sambaran kedua batang pedang itu mengenai sasaran, tentu leher dan pinggang Kakek itu akan putus!

Akan tetapi, orang berjenggot panjang itu terbelalak.

Dia yakin bahwa sepasang pedangnya tidak akan luput dari sasaran, Akan tetapi ternyata sepasang pedang itu hanya membacok angin saja dan tubuh Kakek itu seperti bayang-bayang saja yang tidak dapat dibacok.

Pada hal, tentu saja sesungguhnya tidak begitu, melainkan karena cepatnya Kakek itu bergerak sehingga tubuhnya seolah berubah menjadi bayangan.

Siang-Kiam Mo-Ko menjadi penasaran.

Dia mengeluarkan suara gerengan dan menggerakkan sepasang pedangnya dengan gaya silat yang bengis sekali, sepasang pedang itu berubah menjadi dua gulungan sinar yang menyambar nyambar membacoki bayangan Kakek itu.

Namun, tetap saja sepasang pedang yang mengeluarkan suara berdesingan itu hanya mengenai angin belaka.

Sampai lebih dari dua puluh jurus Siang-Kiam Mo-Ko mengamuk dan menyerang bertubi-tubi dan selalu Bu Beng Siauwjin hanya mengelak.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar Kakek itu berseru.

"Mundurlah!"

Dan dia mendorong dengan tangan kirinya ke arah Siang-Kiam Mo-Ko yang masih menggerakkan sepasang pedangnya dengan cepat.

Serangkum angin yang amat kuat menyambar dan kepala gerombolan itu berusaha untuk mengerahkan tenaga menahan diri, namun tetap saja tubuhnya terdorong oleh tenaga angin yang amat kuat.itu sehingga dia terjengkang dan roboh bergulingan sampai beberapa meter jauhnya!

Bagi orang biasa yang berakal sehat pengalaman ini tentu sudah cukup untuk membuka matanya bahwa dia berhadapan dengan seorang Kakek yang sakti.

Akan tetapi Siang-Kiam Mo-Ko adalah seorang tokoh kang-Ouw Yang terbiasa memaksakan kehendaknya melalui kekerasan, maka bagi seorang seperti dia itu, amatlah sulit untuk dapat menerima kekalahan dan mengakui kelemahan sendiri.

Pengalaman tadi bahkan membuat dia marah bukan main.

Sambil merangkak bangun karena dia tidak terluka, dia memberi aba-aba kepada para anak buahnya.

"Serbu! Bunuh setan tua itu!"

Limabelas orang anak buah gerombolan itu sudah mencabut golok dan pedang mereka dan bagaikan kesetanan mereka menyerbu dan menghujankan senjata mereka pada tubuh Kakek yang agak kurus itu.

Akan tetapi, kembali terjadi keanehan.

Tubuh itu berkelebat dan seolah menjadi bayang-bayang yang berkelebatan di antara belasan batang golok dan pedang itu.

Sejak tadi Sin Cu berdiri di bawah pohon dan menonton.

Ketika tadi Gurunya diserang secara bertubi-tubi oleh Siang-Kiam Mo-Ko, dia menonton penuh perhatian.

Dia dapat melihat betapa Gurunya juga menggunakan langkah-langkah reperti yang telah dia pelajari, sampai Gurunya mendorong dengan tangan kiri merobohkan lawan.

Kini dia melihat belasan orang itu mengeroyok Suhunya, namun dengan enak dan mudahnya Gurunya mengatur langkah dan dapat menghindarkan diri dari sambaran belasan senjata tajam.

Makin jelaslah bagi Sin Cu bahwa langkah-langkah yang telah dipelajarinya itu besar sekali manfaatnya untuk menjaga diri dari serangan orang.

Dia memandang penuh perhatian, akan tetapi pandang matanya menjadi kabur karena Gurunya bergerak dengan amat cepatnya sehingga berubah menjadi bayangan yang berkelebatan diantara sinar golok-golok dan pedang-pedang.

Tiba-tiba gerakan Kakek itu berubah.

Tidak lagi hanya menghindar dari sambaran senjata pengeroyoknya, melainkan kedua tangannya bergerak pula, cepat sekali dengan jari telunjuk kanan-kiri membagi-bagi totokan dan limabelas orang anak buah gerombolan itu satu demi satu roboh terkulai dalam keadaan lemas dan tidak mampu bergerak kembali!

Kini tinggal Siang-Kiam Mo-Ko seorang yang masih belum roboh.

"Siang-Kiam Mo-Ko, kalau engkau mau bertobat dan berjanji akan memimpin anak buahmu ke jalan benar, aku akan memaafkanmu. Kembalikan dua ekor sapi itu dan buang pedangmu lalu berjanjilah,"

Kata Bu Beng Siauwjin dan Sin Cu mendengar betapa suara Gurunya yang biasanya lemah lembut dan ramah itu kini mengandung wibawa yang amat kuat.

Akan tetapi, agaknya tidak mudah menyadarkan hati yang sudah berkarat dengan kotoran dosa itu.

Siang-Kiam Mo-Ko bahkan menjadi marah sekali karena merasa bahwa kesenangannya terganggu dan robohnya semua anak buahnya membuat dia merasa terhina dan sakit hati.

"Kakek sialan!"

Bentaknya dan secepat kilat dia menubruk menyerang dengan sepasang pedangnya.

"Sian-cai.!"Bu Beng Siauwjin mengelak ke belakang dan begitu tangan kirinya bergerak, dia telah menotok siku kanan lawan sehingga lengan kanan sijenggot panjang itu tiba-tiba menjadi lumpuh dan pedangnya terlepas dari pegangan. Bu Beng Siauwjin menyambar pedang itu dengan tangan kanannya, kemudian tampak sinar pedang berkelebatan menyambar-nyambar ketika dia menggerakkan pedang rampasan itu.

"Aduhh! Aduhh!!"

Dua kali dia mengaduh, pedang di tangan kirinya terlepas dan diapun jatuh terduduk, meringis kesakitan sambil menekan kedua tangannya ke atas paha.

Darah bercucuran dari kedua tangannya yang kini tidak berIbu jari lagi.

Kedua Ibu jari tangannya telah terbabat putus oleh pedangnya sendiri yang sudah dirampas Kakek itu.

Bu Beng Siauwjin melempar pedang rampasannya ke atas tanah, merogoh sebuah bungkusan kertas dari balik jubahnya.

"Ini kuberi obat untuk menyembuhkan luka di kedua tanganmu dan untuk menghentikan darah yang keluar. Tengadahkan kedua tanganmu!"

Sekali ini, karena tidak kuat menahan rasa nyeri, Siang-Kiam Mo-Ko menurut dan menjulurkan kedua tangannya yang tidak berIbu jari lagi ke depan.

Bu Beng Siauwjin menuangkan bubuk obat berwarna merah ke atas luka di tangan itu dan ternyata obat itu manjur sekali.

Darah berhenti mengucur dan rasa nyeri juga banyak berkurang.

Siang-Kiam Mo-Ko itu kini hanya duduk bengong sambil memandangi kedua tangannya, sadar sepenuhnya bahwa mulai saat itu dia telah menjadi seorang tapadaksa yang tidak akan mampu lagi memegang pedang, apa lagi mempergunakan pedang itu untuk bersilat.

Bagi seorang yang ahli bermain senjata, mengandalkan senjata dalam berkelahi, kehilangan kedua Ibu jari berarti kehilangan segala-galanya.

Mulai saat itu, tidak mungkin lagi dia memimpin gerombolan.

Tentu tidak ada anak buah yang mau tunduk terhadap dia yang tidak dapat lagi mengandalkan pedangnya untuk menjagoi.

Bu Beng Siauwjin lalu menghampiri limabelas orang anak buah gerombolan itu satu demi satu dan membebaskan totokan atas tubuh mereka dengan masing-masing diberi satu kali tepukan.

Mereka semua dapat bergerak kembali, akan tetapi kini mereka tidak berani banyak lagak lagi karena mereka semua tahu bahwa pemimpin merekapun sudah dikalahkan oleh Kakek yang amat sakti itu.

"Kalian semua orang-orang yang Sesat jalan! Bertaubat dan sadarlah kalian bahwa sikap dan perbuatan kalian yang sudah sudah hanya akan meyeret kalian ke dalam bencana. Kembalilah ke jalan benar. Bekerjalah dengan baik-baik sebagai petani atau buruh untuk mencari makan. Mudah mudahan peristiwa hari ini dapat menjadi pelajaran yang berguna bagi kalian. Nah, sekarang kalian boleh pergi meninggalkan tempat ini, membawa semua barang kalian kecuali dua ekor sapi rampasan itu!"

Belasan orang yang memang sudah merasa gentar sekali terhadap Kakek itu, tanpa bicara apa-apa lagi dan dengan menundukkan muka, pergi dari situ membawa barang-barang mereka.

Dua ekor sapi yang ditambatkan di batang pohon itu mereka tinggalkan.

"Sin Cu, lepaskan ikatan dua ekor sapi itu dan mari kita bawa pulang,"

Kata Bu Beng Siauwjin.

Dengan girang Sin Cu melepaskan tambatan kedua ekor sapi itu dan menuntun mereka, mengikuti Gurunya keluar dari dalarm hutan.

Hatinya merasa gembira bukan main.

Baru sekali ini dia menyaksikan kehebatan Gurunya dan dia girang melihat sendiri betapa Gurunya adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, seorang yang amat sakti!

Diapun membayangkan, bahwa kalau saja dia belum mempelajari ilmu langkah itu, dirinya tentu sudah menjadi korban serangan gerombolan dan kalau Gurunya tidak menguasai ilmu silat yang tinggi, mungkin Gurunya sudah tewas di tangan mereka dan dua ekor sapi itu tentu tidak bisa digiring pulang untuk diserahkan kepada anak itu.

Terbuka matanya sehingga dia dapat melihat bahwa seperti juga ilmu bun (sastra), ilmu bu (silat) juga tidak kalah pentingnya.

Di dunia ini banyak terdapat orang jahat dan tanpa memiliki ilmu bela diri yang dapat diandalkan, dirinya tentu hanya akan menjadi korban gangguan orang jahat.

Diapun berjanji kepada diri sendiri untuk melatih semua ilmu yang diberikan Gurunya kepadanya dengan tekun.

Anak penggembala sapi itu tentu saja merasa girang bukan main ketika dia melihat Kakek Bu Beng Siauwjin dan Sin Cu datang sambil menuntun dua ekor sapinya yang dilarikan orang.

Wajahnya yang masih agak pucat dengan sepasang mata agak membengkak karena tangis itu kini menjadi cerah berseri.

Dia segera menuntun dua ekor sapinya meninggalkan hutan di lereng itu, lupa untuk mengucapkan terimakasih saking girangnya!

Setelah anak itu pergi dengan menuntun dua ekor sapinya, Bu Beng Siauwjin berkata kepada Sin Cu.

"Sin Cu, berkemaslah. Bawa semua barang yang kita perlukan dalam perjalanan, dan buntal baik-baik, Kita harus pergi dari sini sekarang juga. Sin Cu merasa heran dan memandang wajah Gurunya dengan sepasang mata terbelalak.

"Eh, kenapa, Suhu? Kenapa kita harus pergi dengan mendadak? Bukankah Suhu mengatakan bahwa Suhu suka tinggal di tempat yang indah ini? Belum ada satu bulan kita tinggal di sini!"

Suhunya tersenyum.

"Terdapat banyak tempat yang indah-indah, Sin Cu. Kita terpaksa meninggalkan tempat ini karena aku tidak suka terganggu banyak orang yang tentu akan berdatangan di tempat kita ini."

"Siapakah yang akan datang ke tempat sunyi ini, Suhu? Dan mereka itu mau apa?"

"Anak itu tentu tidak akan tinggal diam, Sin Cu. Dialah yang akan bercerita tentang pengalamannya dan setelah mendengar ceritanya, tentu banyak orang akan datang ke sini."

"Akan tetapi, tentu orang-orang dusun itu datang bukan untuk mengganggu Suhu bahkan untuk mengucapkan terimakasih, untuk mengagumi dan menyanjung Suhu!"

"Hemm, justeru itulah yang membuat aku ingin segera pergi. Kekaguman dan sanjungan itu memusingkan sekali, bahkan mengerikan!"

"Ehh? Mengapa, Suhu?"

"Sudahlah, kemasi dulu barang-barang kita dan kita segera pergi dari sini. Nanti akan kuberitahukan kepadamu mengapa."

Sin Cu tidak bertanya lagi, melainkan segera bekerja.

Tak lama kemudian mereka selesai berkemas karena memang barang mereka tidak banyak.

Hanya beberapa potong pakaian sederhana, beberapa buah mangkok dan panci sebagai alat memasak dan makan, dan beberapa botol dan bungkus obat-obat milik Kakek itu.

Setelah selesai, berangkatlah mereka meninggalkan pondok itu.

Sin Cu merasa berat hatinya dan kehilangan harus meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi Bu Beng Siauwjin sama sekali tidak pernah menoleh dan melihat muridnya beberapa kali menoleh dia mengeluarkan suara tawa kecil.

"Kemelekatan mendiatangkan rasa kehilangan dan duka!"

Mereka telah agak jauh dan mulai menuruni lereng bukit.

"Apa maksud Suhu dengan ucapan itu?"

"Engkau ingat tadi ketika kita baru saja meninggalkan pondok? Beberapa kali engkau menoleh dan engkau merasa kehilangan dan berduka harus meninggalkan tempat tinggal kita itu, bukan?"

Sin Cu mengangguk.

"Benar, Suhu. Teecu (murid) merasa sayang dan suka kepada pondok kita itu."

Bu Beng Siauwjin tertawa.

"Merasa sayang karena tempat itu menyenangkan hatimu, bukan? Karena engkau merasa enak tinggal di sana? Nah, keenakan ini mendatangkan rasa sayang, dan rasa sayang menumbuhkan kemelekatan atau keterikatan, muridku. Sekali hatimu terikat atau melekat kepada sesuatu, berarti engkau telah membebani dirimu sendiri dan duka mulai membayangi dirimu."

"Mengapa begitu, Suhu? Apa salahnya kalau kita menyayang sesuatu?"

"Menyayang tanpa melekat adalah baik-baik saja karena yang menimbulkan duka adalah kemelekatan itulah. Tidak ada sesuatupun dalam kehidupan di dunia ini yang abadi. Perpisahan akan selalu terjadi menyusul kebersamaan, dan kalau tiba saatnya berpisah, kemelekatan dengan sesuatu yang terpisah dari kita akan melukai perasaan dan menimbulkan duka. Walaupun kita boleh mempunyai apapun juga dalam kehidupan ini, akan tetapi jangan memiliki apapun juga. Bahkan badan kita sendiri inipun bukan milik kita!"

Sin Cu sudah banyak membaca kitab kuno yang dimiliki Suhunya dan yang sekarang berada dalam buntalan yang digendongnya, akan tetapi ucapan Gurunya itu membuatnya terheran dan tidak mengerti.

Saking herannya, dia sampai menahan langkahnya dan bertanya.

"Suhu, apakah bedanya antara mempunyai dan memiliki? Bukankah artinya sama saja?"

Bu Beng Siauwjin juga berhenti melangkah dan dia menyadari bahwa ucapannya tadi membingungkan muridnya. Dia tersenyum.

"Mari kita duduk di atas batu sana 1tu, dan aku akan menjelaskannya kepadamu. setelah mereka berdua duduk berhadap, an di atas sebuah batu besar dan Sin Cu menurunkan buntalannya ke atas batu itu pula, u Beng Siauwjin lalu memberi penjelasan, didengarkan dengan penuh perhatian oleh Sin Cu.

"Yang kumaksud dengan mempunyai adalah segala sesuatu yang ada pada kita, yang kita peroleh dan kita berhak atas sesuatu itu, seperti pondok kita yang kita bangun sendiri sehingga kita berhak atas pondok itu. Akan tetapi mempunyai ini hanya lahiriah saja, karena kita memerlukannya dan memakainya. Kita mempunyai akan tetapi tidak memiliki. Yang kumaksud dengan memiliki adalah apa bila yang kita punyai itu melekat ke dalam batin kita, menjadi milik batin kita sehingga kita tidak mau berpisah dengannya karena perpisahan mendatangkan rasa sakit dalam batin kita. Karena itu, kita harus belajar hidup tanpa memiliki apapun. Kalau apa yang kita punyai hilang, hal itu tidak berbekas apa-apa karena tidak ada kemelekatan dengan batin kita. Yang memiliki segalanya itu hanyalah Tuhan yang juga menjadi PEncipta dan Pemberi segalanya kepada kita. Kita hanya sekedar meminjam saja dan pada saatnya yang telah ditentukan olehNya, Dia akan mengambilnya kembali apa yang dipinjamkanNya kepada kita. Inilah yang dinamakan hidup bebas, Sin Cu. Bebas dari pada kemelekatan berarti pula bebas dari pengaruh nafsu-nafsu daya rendah yang selalu ingin mernpengaruhi kita. Mengertikah engkau?"

Sin Cu tidak menjawab, tidak mengangguk atau menggeleng. Memang sesungguhnya dia hanya dapat setengah-setengah menangkap arti dari semua kata-kata itu, belum mengerti benar.

"Baiklah, tidak mengapa kalau engkau belum mengerti secara tuntas. Setidaknya engkau telah mendengar dan kelak engkau akan mengerti melalui pengalamanmu dalam hidup. Kelak, kalau engkau menginginkan dan mengejar untuk mendapatkan sesuatu, buka mata batinmu, amati penuh kewaspadaan dan engkau akan mampu melihat bahwa yang Kau kehendaki dan kejar itu adalah sesuatu yang Kau anggap akan menyenangkan dan menguntungkan dirimu. Inilah tandanya bahwa yang ingin dan mengejar itu adalah nafsu daya rendah yang menguasai dirimu, bukan keinginan jiwamu, Dan berhati-hatilah karena kalau batin sudah dikuasai nafsu, maka pengejaranmu itu akan membutakan mata batinmu, akan melenyapkan pertimbanganmu dan mengaburkan pengetahuanmu antara baik dan buruk. Ujar-ujar kuno yang mengatakan bahwa seorang kuncu (bijaksana) selalu waspada jika berada seorang diri, berarti bahwa seorang yang bijaksana selalu waspada terhadap gejolak pikirannya sendiri, karena biasanya hati akal pikiran itu sudah bergelimang nafsu, sehingga gejolak itu ditimbulkan oleh ulah nafsu. Semua perbuatan sesat didorong oleh keinginan yang datang dari gejolak nafsu inilah."

Sin Cu mengangguk-angguk.

Penjelasan Gurunya tentang nafsu agak lebih mudah dimengerti karena dia sudah banyak membaca tentang hal ini dalam kitab-kitab agama walaupun pengertiannya belun dalam taraf yakin karena dia belum pernah mengalaminya sendiri.

Selama ini belum pernah dia merasakan adanya gejolak keinginan yang menggebu-gebu.

KebuTuhannya amat terbatas bersahaja karena keadaan hidupnya yang sederhana bersama Gurunya.

"Akan tetapi, tadi Suhu mengatakan bahwa kekaguman dan sanjungan merupakan sesuatu yang memusingkan, bahkan mengerikan. Apa maksudnya, Suhu? Tee-cu sama sekali tidak mengerti."

"Kekaguman dan sanjungan orang-orang terhadap diri kita merupakan racun yang amat manis, Sin Cu. Berhati-hatilah engkau menghadapi setiap sanjungan dan kekaguman orang terhadap dirimu. Hal ini membuat aku yang mengaku-aku dalam diri kita semakin membengkak, merasa diri paling hebat, paling pandai, paling baik dan segala macam paling lagi. Keadaan ini seperti gelembung buih yang semakin menggembung dan membubung tinggi, kemudian meledak dan lenyap di udara. Kekaguman dan sanjungan orang itu hanya akan membangkitkan kesombongan dan ketinggian hati dalam diri kita, amatlah berbahaya, maka kuanggap mengerikan. Bagiku, lebih baik aku segera menyingkir dan menjauhkan diri sebelum terseret ke dalam arus sanjungan yang beracun itu."

"Akan tetapi, kalau ada orang dipuji dan disanjung, hal itu tentu karena kepandaiannya, Suhu, jadi sepatutnyalah kalau dia dipuji dan disanjung."

"Memang sudah selayaknya baginya memuji dan menyanjung, akan tetapi tidak semestinya bagi yang dipuji dan yang disanjung. Sepatutnya orang yang dipuji dan disanjung itu mengerti benar bahwa segala kepandaian yang ada pada dirinya itu bukan lain adalah kepandaian Tuhan Yang Maha Kuasa, yang diperlihatkan melalui hati akal pikirannya. Tuhan sajalah yang memiliki itu semua. Tanpa adanya kekuasaan Tuhan, maka orang yang dikatakannya pandai itu sebetuinya tidak mampu apa-apa. Jadi, hanya Tuhan sajalah yang patut untuk dipuji dan disanjung, bukan manusianya."

"Ah, mengertilah tee-cu sekarang, Suhu. Jadi karena itukah Suhu menggunakan nama Orang Rendah Tanpa Nama, dengan segala kerendahan hati?"

"Engkau benar, Sin Cu. Aku mengerti benar bahwa tanpa adanya Kekuasaan Tuhan maka aku ini hanya seorang manusia lemah tidak mampu apa-apa. Aku melihat kekurangan dan kebodohanku sendiri, maka kalau ada yang terpaksa menanyakan namaku, aku mempergunakan sebutan itu."

"Akan tetapi, Suhu, Tee-cu membaca kitab-kitab suci dan di situ ada dua sebutan yang paling bertentangan, yaitu Siauwjin (Orang Rendah) dan Kun-cu (Orang Bijak sana). Kenapa Suhu memilih sebutan orang rendah? Pada hal itu merupakan sebutan bagi orang-orang yang jahat dan hina."

"Memang aku sengaja menilih sebutan Siauwjin karena aku tahu benar bahwa aku adalah seorang yang banyak dosa. Ketahuilah, Sin Cu. Orang yang merasa dirinya kotor, benar-benar merasa dirinya kotor bukan hanya pura-pura, maka orang itu tentu akan berusaha membersihkan dirinya yang kotor. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya bersih, tentu tidak ada usaha darinya untuk membersihkan dirinya yang dianggapnya sudah bersih. Mana yang lebih baik antara keduanya itu, Sin Cu?"

"Tentu saja jauh lebih baik orang yang rendah hati dan merasa dirinya kotor, karena tentu ada usaha keras untuk membersihkan kekotoran itu, Suhu. Sama halnya dengan orang yang merasa dirinya bodoh, tentu orang itu akan selalu berusaha untuk meningkatkan pengetahuannya. Sebaliknya orang yang merasa dirinya pintar tentu tidak akan suka mendengar pendapat orang lain yang dianggapnya bodoh dan orang yang begini tidak akan pernah bertambah pengetahuannya."

"Memang begitulah. Orang yang merasa dirinya pintar seperti sebuah cawan yang telah penuh sehingga cawan itu tidak dapat ditambah lagi. Sebaliknya orang yang merasa dirinya bodoh seperti cawan yang tidak pernah dapat penuh, terus dapat menampung pengetahuan sebanyak mungkin tanpa merasa dirinya pintar. Orang yang merasa dirinya pintar seperti katak dalam tempurung. Karena itu, engkau harus selalu merasa rendah hati, Sin Cu, agar engkau mampu menampung pengetahuan sebanyak mungkin."

"Berkat bimbingan Suhu, tee-cu yakin akan mampu bersikap seperti itu, Suhu."

Mereka melanjutkan perjalanan mereka tanpa tujuan tertentu, bebas lepas seperti dua ekor burung terbang di udara, menikmati setiap pemandangan alam indah yang mereka lihat di sepanjang perjalanan mereka.

Mulai hari itu, Sin Cu dilatih ilmu silat oleh Gurunya dan anak ini berlatih dengan tekun sekali karena dia sudah yakin akan besarnya manfaat ilmu silat dalam penghidupan.

Sejak kecil Gurunya sudah menanamkan sifat gagah, pembela kebenaran dan keadilan dan menentang kejahatan dan untuk dapat bersikap seperti itu, dia harus memiliki ilmu silat yang tangguh.

Ketika Kaisar yang tua meninggal dunia, Pangeran Mahkota diangkat menjadi Kaisar.

Dia adalah Kaisar Ceng Tek (1505 1520) yang diangkat menjadi Kaisar dalam usia yang muda sekali, yaitu ketika dia berusia limabelas tahun.

Menggunakan kesempatan selagi yang memegang tampuk pimpinan seorang Kaisar muda yang kurang pengalaman dan lemah ini, mulailah para Thaikam (sida-sida, orang kebiri) berkiprah.

Mereka merupakan orang-orang yang amat pandai mencari muka, bermulut manis dan pandai merayu dan menjilat sehingga Kaisar Ceng Tek yang masih muda itu terjatuh dalam cengkeraman dan kekuasaan mereka yang menina bobokannya.

Bagi Ceng Tek, mereka adalah orang-orang yang amat setia, pandai dan boleh diandalkan, yang rela mengorbankan nyawa untuk membaktikan diri kepadanya.

Karena itulah, maka Kaisar Ceng Tek mulai menyerahkan kedudukan yang tinggi dan berkuasa kepada mereka.

Bahkan seorang yang paling menonjol di antara para Thaikam, yang bernama Liu Chin, diangkat menjadi penasihat Kaisar dan boleh dibilang Liu Chin ini yang memegang kendali pemerintahan di belakang Kaisar Ceng Tek yang dijadikan seperti sebuah boneka!

Liu Chin, seperti sebagian besar para Thaikam, adalah orang-orang yang berasal dari daratan Cina bagian utara.

Kekuasaan mereka merupakan kekuasaan gabungan dari para Thaikam dan tentu saja banyak pejabat di daerah merasa tidak suka pada mereka.

Kekuasaan para Thaikam ini mengakibatkan terjadinya pemberontakan dan rasa tidak puas di daerah-daerah.

Akan tetapi karena para pejabat daerah itu jauh dari Kotaraja, merekapun tidak berdaya mengingatkan Kaisar mereka.

Liu Chin yang memimpin gerombolan Thaikam yang menguasai pemerintahan ini, seperti juga rekan-rekannya, merupakan orang yang amat tamak.

Dia hanya memikirkan untuk menumpuk harta kekayaan saja, Karena dia dan para rekannya berkuasa, bahkan kuasa mengangkat para pejabat tinggi atas nama Kaisar, maka hanya mereka yang mampu membayar uang sogokan yang amat besar saja dapat memperoleh kedudukan tinggi.

Dan setelah orang-orang itu memperoleh kedudukan, mereka masih harus mengirim sumbangan besar setiap tahun kepada Liu Chin dan kawan-kawannya.

Hal ini tentu saja memaksa si pejabat untuk mencari penghasilan yang besar dengan cara apapun juga.

Dengan mengenakan pajak-pajak besar terhadap rakyat dan menyalahgunakan uang negara, bertindak korupsi besar-besaran.

Yang menderita adalah rakyat, terutama sekali yang berada di propinsi-propinsi yang jauh dari Kotaraja, Daerah selatan merupakan daerah yang paling menderita.

Pejabat-pejabat kecil ditekan oleh pejabat-pejabat yang lebih tinggi.

Pejabat-pejabat tinggi juga harus membayar "Sumbangan"

Yang besar kepada atasan mereka di Ibukota propinsi, sebaliknya pejabat di Ibukota propinsi ini juga harus menyetorkan harta mereka kepada para Thaikam yang dipimpin oleh Liu Chin. (Lanjut ke

Jilid 06) Sepasang Rajah Naga (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 Banyak sudah pejabat tinggi yang berwatak setia kepada Kaisar, mencoba untuk menentang kekuasaan para Thaikam ini dan berusaha untuk menyadarkan Kaisar.

Namun akibatnya, merekalah yang menjadi korban.

Banyak pejabat tinggi yang berani menentang tewas dalam keadaan rahasia, terbunuh oleh para pembunuh bayaran.

Banyak pula yang terpaksa melarikan diri, seperti halnya mendiang Panglima Tan Hok dan mendiang Jaksa Wong Cin.

dan menjadi orang buruan pemerintah.

Kemelut ini menghantui setiap orang yang tidak mempunyai kedudukan, tidak memiliki kekuasaan.

Korupsi merupakan penyakit umum, menjadi wabah yang menguasai hampir setiap orang.

Kekuasaan terbesar berada di dalam harta kekayaan, didalam uang.

Dengan pengaruh uang sogokan, maka setiap perkara pasti dimenangkan oleh si pemilik uang.

Yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan.

Diantara semua daya rendah yag menjadikan nafsu, daya rendah kebendaan adalah yang paling kuat.

Daya rendah kebendaan itu berpusat pada uang, karena dengan uang orang dapat membeli kesenangan apa saja yang dikehendakinya.

Iblis mempergunakan uang ini sebagai senjata utama untuk menyeret manusia ke dalam jurang yang paling dalam.

Manusia saling bermusuhan, golongan lawan golongan, kelompok lawan kelompok, bahkan bangsa melawan bangsa, semua saling bertentangan yang pada dasarnya memperebutan kedudukan karena kedudukan menghasilkan uang.

Andaikata kedudukan itu tidak mendatangkan kemakmuran bagi dirinya, kemakmuran yang dapat diwakili dengan uang kiranya tidak akan ada orang yang mau memperebutkan kedudukan itu.

Hidup enak, tercukupi kebuTuhannya, keinginan nafsunya, itulah yang diperebutkan manusia di permukaan bumi ini, dan untuk dapat hidup enak dan terpenuhi semua keinginan nafsu, berarti harus mempunyai banyak uang.

Kaisar Ceng Tek adalah seorang muda yang nyentrik.

Dia seolah tidak peduli dengan kedudukannya sebagai Kaisar dan dia suka berkeliaran seperti seorang pemuda hartawan biasa yang bebas lepas tanpa pengawal.

Dia berkeliaran dengan para pemuda yang menjadi putra-putra bangsawan dan hartawan, mengunjungi tempat tempat pelesir dan bersenang-senang.

Dia sudah percaya sepenuhnya kepada para Thaikam, menganggap mereka pejabat "pejabat yang setia kepadanya dan dapat dipercaya sepenuhnya.

Memang pandai sekali para Thaikam itu yang didukung oleh para pejabat tinggi yang sudah termasuk komplotan mereka.

Segala laporan yang disampaikan kepada Kaisar hanya laporan yang bagus-bagus saja, yang ditujukan untuk menyenangkan hati Kaisar.

Karena laporan-laporan ini, Kaisar merasa senang dan menganggap bahwa semuanya berjalan dengan lancar dan baik.

Demikian besar keperayaan Kaisar Ceng Tek kepada para Thaikam terutama sekali Thaikam Liu Chin sehingga kalau ada pembesar berani mencela Thaikam itu dan melaporkan bahwa Thaikam itu jahat dan korup, Kaisar bahkan membela Liu Chin dan menghukum si pelapor!

Setelah Liu Chin mempunyai kekuasaan besar, para sanak keluarga dan para kenalannya di desanya, berbondong-bondong datang ke Kotaraja untuk ikut menikmati kemuliaan Liu Chin atau setidaknya mendapat "Percikan"

Harta yang berlimpahan.

Diantara sanak keluarganya itu, terdapat dua orang keponakan dalam yang mendapatkan kedudukan tinggi.

Yang seorang bernama Liu Kui, seorang yang pandai ilmu silat dan oleh Liu Chin diusulkan kepada Kaisar, sehingga Li Kui ini diberi kedudukan sebagai Panglima yang menguasai pasukan pengawal dan keamanan Istana!

Kemudian yang seorang lagi bernama Liu wan yang pernah mempelajari sastera, dan orang ini diangkat oleh Kasar menjadi seorang jaksa agung di Kotaraja.

Dengan adanya dua orang keponakan yang menduduki jabatan tinggi dan penting di kalangan tentara dan sipil ini, kekuasaan Liu Chin menjadi semakin besar karena kedua keponakan ini tentu saja menjadi antek anteknya.

Sengsara lah rakyat yang pemerintahannya dipimpin oleh pembesar-pembesar korup dan yang berlomba-lomba mengeduk uang sebanyak-banyaknya.

Kesejahteraan rakyat dilupakan, bahkan rakyat dibebani pajak besar dan peraturan-peraturan yang mencekik leher.

Semua keperluan dan kebuTuhan rakyat dapat tercapai melalui uang sogokan.

Bahkan untuk mendapat ijin menikah saja harus mengeluarkan uang sekian, untuk menGurus kematian atau kelahiran harus membayar bahkan pindah rumahpun ada tarip gelapnya.

Korupsi semakin merajalela kalau dibiarkan.

Dari pejabat tertinggi sampai pejabat rendahan, semua berlumba-lumba untuk memadati kantung sendiri sehingga mencari pejabat yang bersih pada waktu itu sama sukarnya dengan mencari sebatang jarum di dalam tumpukan jerami.

Hebatnya, ada pejabat tinggi yang melakukan korupsi sedemikian besarnya sehingga yang dikorupsi itu kalau untuk menolong rakyat yang miskin, dapat mencukupi kebuTuhan puluhan rIbu rakyat!

Hal ini dapat terjadi karena orang yang paling tinggi kedudukannya, yang berada di tingkat paling atas, yaitu Kaisar Ceng Tek, adalah seorang yang lemah dan mudah dipermainkan para Thaikam, terutama Thaikam Liu Chin.

Dia terbuai oleh kehidupan foya-foya, menghambur-hambur kan uang Negara seperti pasir.

Untuk memberantas wabah korupsi yang sudah menjalar sedemikian hebatnya, hanya dapat dilakukan dari atas ke bawah.

Kalau bapaknya maling, bagaimana dapat mencegah anaknya untuk tidak menjadi maling pula?

Siapa yang akan mengawasi, menegur dan menjewer anak itu kalau dia menjadi maling?

Kalau Ayahnya tidak pernah mencuri, tentu dia akan mampu menegur, memarahi dan menghajar anaknya yang mencuri.

Demikian pula, kalau seorang pejabat tinggi bertangan bersih, tentu dia akan berani menegur dan menghukum atau memecat bawahannya yang bertangan kotor, dan bawahannya itu bersikap yang sama terhadap bawahannya lagi.

Demikian seterusnya, dari mereka yang duduk paling tinggi membersihkan diri lalu mengawsi bawahannya sehingga dari atas sampai yang paling bawah semuanya menjadi bersih.!

Seperti juga sebatang pohon, kalau pangkalnya batang pohon itu sehat, maka seluruh bagian pohon itu, cabang, ranting dan daun-daunnya akan sehat pulas sehingga menghasilkan bunga dan buah yang sehat dan manis.

Sebaliknya kalau pangkal batang pohonnya mengandung penyakit, seluruh bagian pohon itupun akan sakit dan menghasilkan buah yang buruk atau bahkan tidak dapat berbuah sama sekali.

Pemerintahan yang dikemudikan Kaisar Ceng Tek tidak demikian.

Setiap orang pembesar berkorupsi, menerima uang sogokan, menggunakan uang Negara untuk kepentingan diri sendiri, menumpuk harta kekayaan, hidup bermewah-mewahan, menindas rakyat.

Menjilat ke atas menginjak ke bawah terjadi di mana-mana.

Herankah kita kalau dalam keadaan pemerintahan seperti itu bermunculan banyak kejahatan?

Para penjahat itu mengail di air keruh.

Selagi keadaan kacau dan para pembesar tidak mengacuhkan segi keamanan bagi rakyatnya, para penjahat itu berpesta pora, mempergunakan kekuatan dan kekerasan untuk mendapatkan uang secara tidak halal.

Merampok, mencuri, memeras dan tindak kejahatan lain lagi.

Sarang perjudian dan sarang pelacuran bertumbuhan seperti jamur di musim hujan.

Tidak dapat disangkal bahwa dalam keadaan Negara seperti itu, bermunculan pula para pendekar, walaupun jumlah mereka tidak banyak.

Akan tetapi, apa daya mereka menghadapi para pembesar yang dilindungi oleh pasukan?

Mereka, para pendekar ini, hanya dapat menentang para penjahat yang merajalela.

Ada pula pejabat-pejabat atau bangsawan yang berhati bersih, yang menentang kelaliman ini.

Mereka memberanikan diri memprotes keadaan pemerintah, bahkan ada pula yang mencoba untuk menasehati dan menyadarkan Kaisar.

Akan tetapi apa akibatnya?

Merekalah yang tersingkir, terhukum, terbunuh, atau setidaknya mereka terpaksa harus melarikan diri mengungsi jauh dari Kotaraja.

Diantara para bangsawan yang merasa penasaran menyaksikan keadaan ini adalah Pangeran Ceng Sin.

Pangeran yang terlahir dari selir ini merupakan saudara tua Kaisar Ceng Tek.

Usianya sudah 35 tahun dan dia adalah seorang Pangeran yang setia terhadap Kerajaan.

Melihat ulah adik tirinya yang tidak memperhatikan pemerintahan dan seolah buta matanya terhadap semua penyelewengan yang dilakukan para pembesar, terutama para Thaikam sehingga menyengsarakan rakyat, dia merasa perihatin sekali.

Untuk terang-terangan menentang Thaikam Liu Chin, dia tidak memiliki kekuasaan dan tentu akan sia-sia belaka, bahkan keselamatannya terancam.

Karena itu, Pangeran Ceng Sin berusaha melakukan pendekatan kepada Kaisar Ceng Tek untuk menasehatinya.

Akan tetapi Kaisar Ceng Tek yang sudah tenggelam ke dalam racun manis berupa kehidupan penuh foya-foya dan pelesiran itu memasang telinga tuli terhadap nasihat Kakak tirinya.

Pada suatu senja, dua orang diantar oleh dua orang prajurit pengawal memasuki gedung tempat tinggal Liu Chin.

Gedung itu besar dan megah, letaknya masih di dalam daerah Istana dan siang malam gedung itu dijaga oleh pasukan pengawal yang kuat.

Seperti biasa, kalau ada tamu pribadi Thaikam Liu Chin, tamu itu akan diantar oleh prajurit pengawal, memasuki gedung lewat pintu tembusan di samping gedung.

Dua orang yang datang itupun membawa surat pribadi Liu Chin sehingga setelah melihat surat itu, dua orang prajurit lalu mengawal dan mengantar mereka memasuki gedung lewat pintu kecil itu.

Dua orang tamu itu terdiri dari seorang laki-laki berusia lima puluh dua tahun, bertubuh tinggi besar, berjenggot panjang dan wajahnya gagah seperti Pahlawan Kwan In Tiang di dalam Kisah Sam Kok.

Dipunggungnya tergantung sebatang pedang dan pakaiannya mewah seperti pakaian seorang hartawan.

Adapun orang kedua adalah seorang pemuda berusia kurang lebih lima belas tahun.

Seorang pemuda yang tampan dan bertubuh tinggi Kokoh.

Mukanya bulat seperti bulan purnama, alisnya tebal hitam matanya lebar, hidungnya mancung dan mulutnya selalu seperti tersenyum mengejek.

Sepasang matanya yang lebar dan bersinar tajam itu kadang membayangkan kekarasan hati.

Pakaiannya juga mewah seperti seorang pemuda hartawan, rambutnya hitam panjang di gelung ke atas dan diikat kain Sutera, dihias tuduk sanggul berbentuk seekor burung merak.

Laki-laki setengah tua yang gagah perkasa itu bukan lain adalah Tung-Hai-Tok (Racun Laut Timur) Ouw Yang Lee, majikan Pulau Naga.

Semakin tua dia tampak semakin gagah saja.

adapun pemuda remaja itu bukan lain adalah Tan Song Bu.

Tan Song Bu kini telah menjadi seorang pemuda berusia lima belas tahun yang tampan dan gagah.

Ketika kedua orang istri Ouw Yang Lee dilarikan penjahat, Song Bu berusia sepuluh tahun.

Selama lima tahun ini, setelah dia menjadi anak angkat Gurunya, dia digembleng secara serius oleh Ouw Yang Lee sehingga dalam usia lima belas tahun Song Bu telah menjadi seorang pemuda remaja yang tangguh.

Tubuhnya tinggi Kokoh, dadanya bidang dan dia memiliki tenaga yang kuat sekali.

Bagaimana Ouw Yang Lee dapat muncul di gedung Thaikam Liu Chin?

Hal ini ada hubungannya dengan sebuah peristiwa pada suatu malam yang gelap gulita, kurang lebih dua bulan yang lalu.

Pada malam hari itu, gedung milik Liu Chin didatangi orang yang membikin kacau.

Orang itu memiliki gerakan yang gesit sekali, melompati pagar tembok.

Akan tetapi setelah tiba di ruangan belakang gedung itu pada tengah malam, dia ketahuan prajurit pengawal dan dia dikeroyok.

Orang yang mukanya memakai kedok hitam itu mengamuk dan dalam amukannya, dia berteriak-teriak hendak membunuh Liu Chin!

Dia lihai sekali dan belasan orang prajurit pengawal telah roboh oleh pedangnya.

Akan tetapi, jumlah prajurit pengawal terlalu banyak dan diantaranya terdapat beberapa orang perwira yang lumayan tingkat ilmu silatnya.

Karena dikeroyok dan terdesak, orang berkedok itu lalu melarikan diri dan luput dari pengejaran para prajurit pengawal.

Pengalaman di malam itulah yang membuat Liu Chin menyadari bahwa keselamatannya terancam.

Dia mempunyai musuh terlalu banyak, dan tentu musuh-musuhnya yang telah mengirim seorang pembunuh bayaran untuk membunuhnya.

Dia merasa perlu melakukan penjagaan yang lebih ketat dan timbullah dalam pemikirannya untuk mengundang datuk-datuk sesat dan menggunakan kekuasaan dan kekayaannya untuk membujuk mereka agar suka menjadi jagoan menjaga keselamatannya.

Demikianlah, dia lalu mengirim undangan kepada beberapa orang dan diantara yang diundang itu, termasuk Ouw Yang Lee, majikan Pulau Naga yang namanya diketahui Liu Chin dari laporan para Panglima sekutunya.

Selain Ouw Yang Lee, Thaikam Liu Chin masih mengundang beberapa tokoh kang-ouw lainnya yang pada waktu itu belum datang.

Ouw Yang Lee merupakan orang undangan pertama yang datang dan dia mengajak putera angkatnya, Ouw Yang Song Bu yang sudah berusia lima belas tahun agar putera angkatnya ini memperoleh pengalaman di Kotaraja.

Ketika menerima surat undangan dari Thaikam Liu Chin, Ouw Yang Lee merasa gembira sekali.

Tentu saja dia sudah mendengar bahwa Thaikam Liu Chin merupakan orang kedua sesudah Kaisar yang berkuasa di Kotaraja.

Diundang oleh pembesar itu hamper sama dengan undangan diterima dari Kaisar sendiri.

Kalau saja dia dapat berjasa terhadap Tahikam Liu Chin, tentu dia akan dapat menduduki pangkat yang tinggi, menjadi orang terhormat yang hidup mulia dan berkuasa.

Inilah yang membuat Owyang Lee tertarik.

Bukan hanya Ouw Yang Lee yang tertarik untuk mendapatkan kedudukan karena kedudukan berarti kekuasaan.

Makin tinggi kedudukan sesorang semakin besarlah kekuasaannya.

Oleh karena itu, hampir setiap orang saling berlumba mendapatkan kekuasaan ini, kekuasaan dalam keluarga, dalam kelompok, dalam golongan, masyarakat, Negara.

Karena berkuasa berarti semua tindakannya harus dibenarkan dan dimenangkan, karena kekuasaan mendatangkan kemuliaan, mendatangkan harta benda, dan kesenangan.

Bahkan dunia penuh pertentangan, perang antara bangsa juga karena saling memperebutkan kekuasaan inilah.

Yang menang pasti berkuasa dan yang berkuasa pasti benar!

Karena itu siapa yang tidak menghendaki kekuasaan?

Tertarik oleh kemungkinan mendapatkan kedudukan ini membuat Ouw Yang Lee meninggalkan Pulaunya.

Dia mengajak muridnya yang kini menjadi putera angkatnya yang disayang, yaitu Tan Song Bu yang kini sudah memakai marganya, menjadi Ouw Yang Song Bu.

Dia juga ingin memberi kesempatan kepada puteranya itu untuk membuat pahala dan menerima kedudukan, di samping mencari pengalaman di kota.

Senja telah tiba dan lampu-lampu gantung mulai dinyalakan dalam gedung tempat tinggal Thaikam Liu Chin.

Pada saat itu, Liu Chin sedang berada di ruangan makan, siap untuk makan malam.

Mendengar laporan bahwa Tung-Hai Tok Ouw Yang Lee bersama puteranya yang bernama Ouw Yang Song Bu datang hendak menghadap, hatinya menjadi girang dan dia memberi isyarat kepada para pengawalnya untuk berjaga dengan ketat didalam ruangan makan yang luas itu, kemudian dia mempersilahkan dua orang tamunya langsung masuk ke ruangan makan.

Dengan langkah yang gagah, Ouw Yang Lee dan Ouw Yang Song Bu mengikuti pengawal memasuki ruangan yang telah dipasangi lampu yang amat terang itu.

Dia melihat seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun, bertubuh tinggi kurus dan bermata tajam cerdik seperti mata elang, dengan pakaian mewah seorang pembesar Istana yang tinggi kedudukannya, duduk diatas sebuah kursi menghadapi sebuah meja makan panjang.

Empat orang pelayan wanita yang cantik-cantik hilir mudik kearah meja makan itu membawa masakan-masakan yang masih mengepulkan uap dan ruangan itu penuh dengan bau masakan yang sedap.

"Taijin (sebutan pembesar), para tamu Ouw Yang Lee dan puteranya, Ouw Yang Song Bu datang menghadap!"

Kata pengawal pengantar.

Liu Chin Thaikam memutar tubuhnya menghadapi mereka yang datang, lalu memberi tanda dengan tangan kepada pengawal pengantar untuk mengundurkan diri.

Sementara itu Ouw Yang Lee melihat betapa disekeliling ruangan itu berdiri banyak sekali prajurit pengawal dan dia tahu betapa akan sukarnya meloloskan diri dari tempat yang terjaga ketat itu.

Diruangan ini saja terdapat dua puluh orang lebih prajurit pengawal yang tampaknya tangguh.

Di luar ruangan masih ada lagi pasukan pengawal, belum lagi yang berjaga di pekarangan depan.

Mungkin jumlah mereka semua lebih dari seratus orang prajurit tangguh!

Thaikam Liu Chin ini sungguh telah melindungi keselamatan dirinya dengan pengawalan yang amat kuat, seperti seorang Kaisar saja.

Dia melihat betapa pembesar tinggi kurus itu menatapnya dan mengamatinya dengan penuh selidik.

Ouw Yang Lee cepat mengangkat kedua tangan ke depan dada dan membungkuk dengan sikap hormat.

"Liu Taijin (Pembesar Liu), saya Ouw Yang Lee dari Pulau Naga memenuhi undangan Paduka dan datang menghadap bersama putera saya Ouw Yang Song Bu!"

Song Bu meniru perbuatan Ayahnya, merangkapkan kedua tangan depan dada untuk memberi hormat kepada pembesar itu.

Pemuda ini memang cerdik sekali, tanpa diberitahu diapun sudah pandai membawa diri di tempat yang amat mewah, gemerlapan dan penuh wibawa itu.

Dia dapat merasakan bahwa laki-laki tinggi kurus itu adalah seorang yang memiliki kekuasaan besar sekali.

"Bagus sekali! Selamat datang, Ouw Yang Sicu (orang gagah Ouw Yang) dan engkau juga, Ouw Yang Song Bu, pemuda yang gagah. Kebetulan sekali aku sedang hendak makan malam. Kalian berdua duduklah disini dan mari temani aku makan sebelum kami membicarakan urusan. Biarlah perjamuan makan ini sebagai ucapan selamat datang kepada kalian!"

Kata Thaikam liu Chin dengan suara lantang dan wajah berseri gembira.

Tentu saja Ouw Yang Lee merasa gembira sekali.

Perhitungannya tidak meleset, Thaikam Liu Chin ini benar-benar membutuhkan tenaganya, maka sikapnya demikian ramah dan dia merasa amat terhormat.

Begitu datang langsung diajak makan bersama.

"Terimakasih, ' Taijin,"

Katanya dan bersama Ouw Yang Song Bu, diapun lalu mengambil tempat duduk berhadapan dengan tuan rumah, terhalang meja makan yang kini sudah penuh hidangan.

Para pelayan wanita muda cantik dan cekatan itu, tanpa diperintah telah mengerti kewajiban masing-masing.

Ada yang menyediakan mangkok, sumpit, dan cawan arak baru untuk kedua orang tamu yang dijamu oleh majikan mereka.

"Tuangkan arak, isi penuh cawan-cawan kami, lalu tinggalkan kami bertiga,"

Perintah Thaikam Liu.

Empat orang pelayan; itu lalu menuangkan arak ke dalam cawan-cawan kosong di depan tuan rumah dan dua orang tamunya, kemudian mereka pergi meninggalkan ruangan itu.

Ketika melangkah, gerakan mereka demikian halus seperti penari-penari yang langkahnya lemah gemulai.

"Mari, Ouw Yang Sicu dan Ouw Yang Song Bu, mari kita minum untuk merayakan pertemuan yang menggembirakan ini!"

Thaikam Liu mengangkat cawan araknya, diturut oleh Ouw Yang Lee dan Ouw Yang Song Bu dan mereka bertiga minum sampai tiga cawan.

Kemudian mulailah mereka makan minum.

Thaikam Liu tampak gembira bukan main.

Dengan ramah dia mempersilakan dua orang tamunya untuk mEncicipi semua masakan yang serba lezat itu.

"Ouw Yang Sicu, aku ingin memperkenalkan kalian berdua dengan komandan pasukan pengawal pribadiku."

Tanpa menanti jawaban, Thaikam itu bertepuk tangan satu kali dan muncullah seorang prajurit pengawal dari balik pintu dan berdiri di depan Thaikam dengan sikap hormat.

"Pergi cepat panggil Giam-Ciangkun (Panglima Giam) ke sini! Sekarang juga!"

Kata Thaikam itu dan suaranya mengandung wibawa seorang yang sudah terbiasa mengeluarkan perintah yang harus diturut.

Pengawal itu memberi hormat lalu keluar dari ruangan itu.

Liu-Thaikam dan dua orang tamunya melanjutkan makan.

Tak lama kemudian, orang yang dipanggil itu datang, mudah diduga bahwa Panglima pasukan pengawal itu tentu tinggal di komplek gedung itu pula.

Ouw Yang Lee dan Ouw Yang Song Bu memandang.

Yang datang adalah orang laki-laki tinggi besar dan gagah berusia kurang lebih empat puluh tahun.

Pakaiannya indah gemerlapan, pakaian seorang Panglima dan sebatang pedang panjang tergantung di pinggang kirinya.

Mukanya persegi dan matanya lebar dan bersinar tajam.

"Taijin memanggil saya?"

Tanya Panglima yang bernama Giam Tit itu dengan suara lantang namun dengan sikap hormat sambil berdiri menghadap Liu-Thaikam.

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 10

Baca Juga: Bu Kek Siansu 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert