Eps 3 Raja Silat - Chin Hung
Baca online Raja Silat - Chin Hung
Cersil Raja Silat - Chin Hung.
Sesaat ini dia hanya bisa bernapas tersengkal sengkal saja, tubuhnya terasa begitu panas sehingga sukar ditahan, tidak terasa teriaknya dengan keras.
"Aduh.. panas sekali"
Begitu dia berteriak, hawanya tidak bisa mengalir lagi sehingga tanpa bisa ditahan lagi dia jatuh tak sadarkan diri.
Sekarang walaupun Liem Tou sudah berhenti bernapas tapi dia merasa gadis itu terap tidak menghentikan gerakannya, akhirnya dia hanya merasa perut serta punggungnya sangat sakit waktu itulah tubuhnya baru rubuh ketanah.
Ujar gadis cantik pengangon kambing itu.
"Liem Koko ingatlah delapan buah urat nadimu kini sudah terbuka, lain kali asalkan bisa mundur ke In Hu kemudian memasuki Yang Hwee dengan menggunakan cara Hung Ho Ci Ing Coan mempertahankan hawa murni jangan sampai tersebar kemana-mana tentu mendatangkan kebaikan untukmu, siauw moay kini pergi dulu lain waktu bertemu lagi."
Dengan mengalunnya suara seruling pualam kawanan kambingnya dengan menimbulkan suara derapan yang ramai makin lama makin pergi jauh dan akhirnya suasana sunyi kembali, bersamaan waktunya pula Liem Tou merasakan kepalanya sangat pening kemudian tidak tahu apa apa lagi.
Entah lewat berapa lamanya mendadakLiem Tou merasakas sinar matahari yang sangat tajam menusuk matanya, membuat dia sadar kembali dengan terkejut, saat itu merupakan pagi hari yang amat cerah matahari memancarkan sinarnya yang sangat tajamnya suara air yang mengalir tenang menambah keindahan suasana saat itu, dengan cepat dia bangkit berdiri.
Dia merasakan tubuhnya sangat nyaman sekali sedikitpun tidak merasakan linu kaku serta kesakitan itu, waktu inilah dia teringat kembali akan gadis cantik pengangon kambing itu tetapi walau sudah mencarinya kemanapua tetap tidak tampak bayangannya.
Saat itulah dia baru tahu gadis cantik pengangon kambing itu memang betul betul berniat datang memberi pelajaran silat kepadanya, sebaliknya dirinya sudah anggap dia sebagai orang orang kangouw biasa yang akan bertujuan merebut kitab pusaka "To Kong Pit Liok' nya, hal ini sungguh merupakan satu kesalahan besar diantara kesalahan.
Berpikir sampai disini dia merasa betui betul menyesal atas tindakannya kemarin hari, tetapi gadis itu sudah pergi..entah pergi kemana…walaupun menyesal tetapi sudah terlambat.
Teringat kembali olehnya akan kata kata gadis cantik pengangon kambing itu sesaat meninggalkan dirinya.
Delapan buah urat nadi aneh kini sudah terbuka asalkan lain kali bisa mundur ke In Hu kemudian memasuki Yang Hwee dengan menggunakaa cara Heng Ho Ci Ing Coan mempertahankan hawa murni jangan sampai tersebar kemana mana.
Berpikir sampai disini hatinya menjadi bargerak dengan cepat dia mengambil kembali kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng"
Nya pada halaman bagian urat nadi disana tertuliskan.
'Urat urat nadi didalam tubuh manusia yang biasa ada dua belas buah yang aneh ada delapan, Wie Jin Tu dua buah urat mempunyai hubungan yang erat dengan mati hidup seorang msnasia, dua buah urat itu terletak didepan dan belakang yang dipisahkan sehingga terdapat perubahan perubahan yang sangat banyak, hawa yang terdapat disana mempengaruhi panjang panjangnya usia manusia, jika urat nadi pusat bisa bertemu dengan urat urat nadi yang tersebar maka ratusan urat yang lain akan tertembus juga karenanya harus mundur ke In Hu kemudian memasuki Yang Hwee, sedang cara Heng Ho Ci Ing Coan bisa memusatkan hawa pada satu titik tertentu yang disebut sebagai akarnya, dengan tidak menyebarkan hawa hawa ini maka hawa itu akan berusaha menerjang ke atas, dengan demikian seluruh urat didalam tubuh bisa tertembus.’ Melihat hal itu Liem Tou menjadi sangat girang mendadak dia menjatuhkan diri duduk bersila diatas tanah untuk mencoba mengerahkan tenaganya, ternyata tidak salah lagi seluruh tubuhnya terasa sangat nyaman, dengan cepat dia merangkak bangun sambil gumannya.
"Liem Tou..Liem Tou, coba coba kekuatanmu, apakah kamu sudah bisa naik keatas gunung untuk bertemu dengan Ie cici, semua harapanmu hanya tergantung tindakanmu kali ini"
Tenaga murninya dengan cepat dipusatkan pada lengannya, dengan mengarah sebuah pohon sebesar mangkak dengan cepat dia melancarkan serangan membabat pohon itu.
Dalam anggapannya tebasan inl sekalipun tidak sanggup mematahkan pohon itu tetapi sedikitpun juga berhasil merontokkan daun serta ranting rantingnya.
Siapa tahu pohon itu tetap tidak gemilang sedikitpun bahkan bekas seperti ditiup angin pun tidak ada.
Tidak terasa Liem Tou menjadi sangat kecewa dan berdiri mematung disana beberapa waktu lamanya.
Padahal dia mana tahu sekali pun urat nadinya sudah tertembus tapi hawa murninya belum sampai terpusat pada satu tempat sudah tentu tidak mungkin bisa melancarkan serangan.
Sesaat dia sedang merasa kecewa itulah mendadak dari samping tubuhnya terdengar suara tertawa dingin yang sangat menyeramkan ujarnya.
"He he..bangsat cilik kiranya kamu jadi orang cepat putus asa, kunanti kamu setengah harian lamanya, jika bukannya kamu sebut namamu sendiri hampir hampir saja aku tertipu olehmu"
Liem Tou dengan cepat menoleh memandang terlihat pada dua kaki pada dirinya Thian Pian Siauw cu dengan tindakan perlahan berjalan mendatang.
Keadaannya saat ini jauh berbeda dengan keadaannya sewaktu masih berada dilembah cupu cupu kecuali pada punggungnya bertambah dengan sebilah pedang panjang, terdapat pula tiga ekor elang yang mengikuti dirinya dua ekor berputar pada kurang Iebih beberapa kaki diatas kepalanya sedang seekor lagi berada diatas pundak kanannya.
Ketiga ekor elang itu bentuknya jauh lebih kecil dari elang biasa, tetapi matanya berwarna biru tua, seluruh bulu tubuhnya berwarna hitam pekat, sekali pandang saja sudah tahu kalau elang itu termasuk binatang yang sangat buas.
Dalam hatinya ia sangat terperanjat, hatinya berdebar dengan sangat keras seluruh perhatian dicurahkan pada tubuh Thian Pian Siauw cu yang berjalan mendekatinya dengan langkah perlahan, ketegangannya sudah mencapai pada puncaknya tidak tertahan lagi selangkah demi selangkah dia mengundurkan dirinya kebelakang.
Thian Pian Siauw cu hanya tertawa dingin terus menerus, ujarnya lagi dengan perlahan.
"Sampai waktu seperti ini kamu masih mau berusaha lari? Lebih baik cepat cepat kamu orang berlutut dan kamu serahkan itu kitab pusaka 'To Kong Pit Liok"
Kepadaku, kemungkinan sekali aku masih bisa mengampuni jiwamu".
Sambil mengundurkan diri kebelakang, pikiran Liem Tou terus menerus berputar, berbagai ingatan dengan cepat muncul didalam benakvya, ketika dia menoleh kearah kerbaunya justru saat itu berada beberapa kaki dari tempat dimana berada dan sedang makan rumput dengan tenangnya.
Jika dirinya berlari kesana mungkin sekali sebelum mencapai tujuan sudah berhasil ditangkap oleh Thian Pian Siauw cu itu.
Tetapi jika harus berbuat demikian bukanlah suatu cara yang bagus, diam-diam matanya berputar kembali memandang keadaan sekeliling tempat itu.
Tempat dimana dirinya berada sekarang masih ada kurang lebih dua kaki jauhnya dari tepi sungai, asalkan dia bisa meloncat ke dalam air maka nyawanya pun akan berhasil diselamatkan.
Sesudah berpiki begitu hatinya semakin tenang sambil berhenti ditempat ujarnya dengan keren.
"Ke Siauw cu tunggu sebentar, dengarlah kata kataku orang she Liem dulu. Dengan kepandaian silat dari Siauw cu saat ini sampai Tiong goan Ngo Koay yang bekerja samapun sukar untuk menahan tiga jurus serangan dari Siauw cu apalagi aku, kini aku sudah ditemui kembali aku mengakui memang nasibku yang buruk, perhitungan manusia tidak bisa menangkan kemauan Thian. Hal ini boleh dikata memang nasibku. Tetapi suruh aku dengan begitu saja serahkan diri Liem Tou sekalipun harus mati juga tidak meram."
Mendengar perkataan itu Thian pian siauw cu segeta menghentikan langkahnya bertanya dengan dingin.
"Lalu apa maumu?"
"Begini ..."
Ujar Liem Tou dengan tegas.
"Jika Ke Siauw cu inginkan aku orang serahkan itu kitab pusaka To Kong Pit Liok kepadamu sebetulnya tidak sukar tapi kamu harus bisa menahan tiga kali seranganku terlebih dulu setelah itu barulah aku serahkan itu kitab pusaka kepadamu, bahkan terserah Siauw cu mau kasih hukuman apa padaku "
Mendengar kata itu Thian Pian Siauw cu menjadi melengak, sapasang matanya dengan sangat tajam memperhatikan seluruh tubuh Liem Tou dari atas sampai kebawah.
Satu kali pandangannya ini membuat air mukanyapun ikut berubah berulang ulang, sesudah termenung beberapa saat lamanya dengan air muka kecut tanyanya.
"Hey Lie Loojie itu apa suhumu ?"
Pikiran Liem Tou dengan cepat berputar beberapa kali, diam-diam dia pikirkan kata kata apa yang tidak sampai mendatangkan kesukaran baginya akhirnya ujarnya pula.
"Kamu jangan tanyakan hal ini, aku berani saling bergebrak dengan kamu sudah tentu tidak usah aku banyak bicara lagi."
Didalam benaknya teringat kembali peristiwa ketika elang raksasa itu terluka dan jatuh ke atas tanah sambungnya kemudian.
"Jika kamu tidak percaya, aku mau tanya padamu elangmu yang kemarin ikuti aku sudah pulang kesamping Siauw cu belum?"
Mendengar kata ini air muka Thian Pian Siauw cu berubah sangat hebat sekali, teriaknya.
"Lenyapnya Giok jie kiranya hasil kaki tanganmu, hmmm, hemm.."
Sepasang matanya menjadi sangat tajam dengan wajah yang meringis menyeramkan dia maju selangkah kedepan jelas sekali napsu membunuhnya sudah timbul.
Melihat air muka yang begitu menyeramkan itu Liem Tou menjadi sangat terperanjat, diam diam teriaknya.
"Celaka."
Dengan capat dia pusatkan seluruh perhatiannya siap menerima serangannya, ujarnya lagi.
"Ke Siauw Cu, pada masa yang lalu kita tidak ada ganjalan apa apa ini haripun tidak ada dendam sakit hati tetapi bila bertemu selalu saja terjadi pertarungan, sepertinya pada penghidupan yang lalu merupakan musuh buyutan saja. Baiklah, biar aku adu jiwa sama kamu orang kita tentukan siapa yang akan binasa kali ini."
Sehabis berkata dengan perlahan Liem Tou mengerahkan tenaganya dan angkat telapaknya siap siap melancarkan satu serangan, sikapnya mirip dengan orang yang sedang mengerahkan tenaga murni sebaliknya dalam hati diam-diam sedang merencanakan untuk melarikan diri dengan ceburkan diri kedalam sungai.
Thian Pian Siauwcu melihat sikapnya yang sungguh-sungguh itu segera menganggap dia betul-betul mau melancarkan serangan, dia tidak berani berlaku ayal dengan berdiri tegak ditempat matanya dengan tajam memperhatikan seluruh gerak gerik dari Liem Tou padahal dalam tubuh dengan perlahan lahan mengerahkan hawa khiekangnya untuk melindungi badan.
"Aaah, Siauw cu aku masih ada perkataan", Thian Pian Siauw cu tidak tahu tindakannya itu hanya merupakan satu siasat saja mau menunggu perkataan selanjutnya mendadak Liem Tou berseru.
"Siauw cu selamat tinggal."
Ujung kakinya dengan keras menutul tanah kemudian dengan cepatnya lari menuju ketepi sungai.
Menanti Thian Pian Siauwcu sadar apa yang sudah terjadi sejak tadi dia sudah tiba ditepi sungai untuk mencegah tidak keburu lagi.
Dalam hati diam diam Liem Tou merasa sangat girang, mendadak depan matanya berkelebat bayangan hitam kemudian kepalanya terasa seperti dipukul dengan sebuah martil berat sakitnya luar biasa, hampir hampir saja dia tidak kuat dan tiba tiba jatuh tidak sadarkan diri, ketika kepalanya ditoleh kebelakang kiranya yang melancarkan serangan itu tidak lain adalah elang yang dibawah Thian Pian Siauw cu itu.
Didalam sekejap saja elang yang kedua sudah menubruk datang Liem Tou menjerit keras tangannya dipentangkan melancarkan serangan kearahnya , tetapi gerakan dari elang itu jauh lebih gesit sayapnya dengan sangat kuat berhasil menghajar lengannya.
Kelihayan dari elang itu justru terletak pada kedua sayapnya ini, pada ujung sayap mereka masing masing tumbuh sebuah gumpalan daging yang bulat dan keras sekali, sewaktu bertarung kehebatannya luar biasa.
Jangan dikata tubuhnya tidak sebesar elang biasa kenyataannya elang elang lain begitu melihat dia seperti juga macan bertemu dengan macan tutul sebelum tarung sudah jeri tiga bagian terlebih dulu.
Saat ini kedua pundak Liem Tou masing masing sudah terhajar satu kali oleh sayap elang itu, didalam keadaan tidak sadar kakinya pun sudah bergeser menjauhi tepi sungai.
Terdengar Thian Pian Siauwcu berteriak dengan keras.
"Bangsat cilik, kamu tidak akan bisa lolos lagi"
Segulung angin santer berkelebat dengan cepatnya, air sungai segera terpukul hingga ombak bergulung dengan sangat keras.
Liem Tou sadar jika saat ini dia meloncat kedalam sungai lagi sebelum mencapai permukaan air tentu akan terpukul binasa oleh angin pukulannya yang sangat dahsyat, sudah tentu dia tidak berani menempuh bahaya lagi.
Diam diam dia gigit kencang bibirnya, tubuhnya dengan cepat menjatuhkan diri kebelakang, kakinya dengan mengerahkan seluruh tenaga yang dimiliki bergelinding kesamping, dia merasa seluruh badannya menjadi jauh lebih ringan lagi sekali gelinding berhasil menerobos sejauh satu dua kali lebih, dengan cepatnya bersalto bangkit berdiri.
Waktu itulah Thian Pian Siauwcu sudah tiba dan melancarkan cengkeraman maut kebadannya, didalam keadaan yang sangat cemas sekali lagi dia menerjang kedepan hingga mencapai pinggiran hutan.
Thian Pian Siauw cu mana mau melepaskan begitu saja dengan cepat tubuhnya berkelebat mengikuti dari belakangnya.
Langkah Liem Tou dengan cepat berubah dan bergeser kesamping, sepasang pundaknya sedikit merendah dengan tanpa sadar dia sudah mengeluarkan ilmu tiga puluh enam langkah badai memutar, tubuhnya kelihatan dengan sangat cepat berkelebat mencapai ketengah hutan kemudian mengelilingi ketengah hutan, Thian Pian Siauw-cu tidak melepas, dengan kencangnya membuntuti dari belakangnya.
Liem Tou yang lari dengan cepat itu diam-diam dalam hatinya merasa sangat heran, kenapa larinya ini hari bisa begitu cepatnya ?
Mana dia tahu hal ini adalah hasil dari gadis cantik pengangon kambing yang membantu dia menembuskan kedelapan urat nadi anehnya ?
jika saat ini dia mencoba untuk meloncat mungkin bisa mencapai setinggi satu kaki.
Jika hal ini ditambah lagi dengan hasil semedinya maka kehebatannya jauh lebih hebat lagi.
Dengan mengandalkan penemuannya yang tidak terduga Liem Tou melarikan diri mengelilingi hutan itu.
Tapi kelamaan caranya ini diketahui juga oleh Thian Pian Siauwcu sebagai seorang iblis sakti yang kenamaan.
Sehingga sekalipun dia mau melarikan diri dengan cara apapun akhirnya akan tertangkap juga.
Semakin jauh larinya Liem Tou merasa hatinya semakin merasa berdebar keras, waktu itulah terlihat kerbau tunggangannya berdiri dengan tenangnya disana, pikiran bagus segera terbayang dalam benaknya.
Begitu terpikir akan hal ini dengan tanpa banyak pikir lagi dia mengeluarkan kitab pusaka.
"Toa Loo Cin Keng-nya dari dalam saku kemudian berlari mendekati kerbaunya, tangannya diulurkan dengan tidak perduli lagi kitab pusaka Toa Loo Cin Keng merupakan salah satu kitab aneh dalam Bu lim, dengan keras ditancapkan keatas tanduk kerbaunya, setelah itu barulah teriaknya berulang kali.
"Hoa hoa hoa. ."
Melihat kejadian itu Thian Pian Siauw cu jadi sangat gusar, mendadak dia berhenti berlari ujarnya kepadaLiem Tou.
"Hmm hmm bangsat cilik benda apa yang dibawa kerbau itu?"
Sambil berkata sepasang matanya memandang tajam kearah Liem Tou, kelihatan sekali hatinya yang tidak tenang.
Dengan bersembunyi dibalik pohon yang besar Liem Tou munculkan kepalanya balik tanyanya dengan perlahan.
"Kamu terka benda apa itu?"
"Bangsat cilik"
Ujar Thian Pian Siuwcu tiba-tiba dengan gusarnya.
"Jika kitab pusaka To Kong Pit Liok itu sampai terjatuh ketangan orang lain, aku mau hancurkan tubuhmu hingga berkeping-keping"
Sambil berkata dia mencabut keluar padang yang memancarkan sinar keemas-emasan yang sangat menyilaukan mata, pedangnya memang terlihat sebilah pedang yang bagus, sedikit tangannya digerakkan sebuah pohon sebesar mangkok dengan mengeluarkan suara yang gemerisik roboh keatas tanah dalam keadaau dua bagian yang terpisah.
Kepandaian yang sangat tinggi ini membuat Liem Tou sangat terkejut, dengan cemas ujarnya.
"Siauwcu kamu tanyakan itu kitab pusaka To Kong Pit Liok ? mungkin saat ini sudah dibawa pergi kerbau itu sangat jauh"
"Perkataan itu sungguh-sungguh?"
Bentak Thian Pian Siauwcu dengan sangat gusar.
"Siapa yang mau menipu kamu, kamu tidak percaya ya sudah"
Thian Pian Siauwcu tetap ragu-ragu akan perkataannya, untuk membuat dia percaya Liem Tou dengan gusar bentaknya lagi.
"Hey orang she-Ke, aku beritahu kepadamu kepandaian silat didalam kitab pusaka To Kong Pit Liok itu merupakan kepandaian silat yang sangat hebat, siapapun didalam dunia ini ingin memperolehnya, tetapi aku Liem Tou melihat keganasan atau kekejamanmu sudah merasa muak, makanya sekalipun didapatkan orang lain juga tidak mengijinkan kitab itu sampai jatuh ke tanganmu."
Mendeagar sampai disana, Thian Pian Siauw cu tidak bicara lagi, mendadak dengan sangat cepat tubuhnya berkelehat, dengan tidak menoleh lagi dia mengejar kearah dimana kerbau itu melarikan diri.
Liem Tou melihat dia pergi dalam hati diam diam merasa sedih dan sayang atas hilangnya kitab pusaka Toa Loo Cin Keng itu, tapi dia tak dapat berbuat apa apa kecuali merasa sayang saja.
Dengan cepat dia lari ketepi sungai siap terjunkan diri kedalam air, karena dia tahu sabentar lagi Thian pian Siauw cu tentu kembali, sekonyong konyong dari belakang tubuhnya terdengar seseorang berteriak.
"Hey Engkoh cllik tunggu sebentar."
Liem Tou dengan cepat menoleh dilihatnya kakek aneh yang ditemuinya kemarin dengan menuntun kerbaunya berjalan mendatang, ujarnya lagi sambil tertawa tawa.
"Hey Engkoh cilik perbuatanmu sungguh bagus sekali. Bagus..bagus "
Liem Tou menjadi terlengak, dia tahu jika kerbau itu tertangkap olehnya sudah tentu kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng"
Itu ddapatnya, karena sambil ulur tangannya kedepan ujarnya.
"Hey Tui Jie kiranya kamu, kamu sudah curi taku punya kerbau dan kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng kenapa berani muncul lagi didepan aku?? cepat cepat kembalikan barangku itu, ayo cepat bawa sini"
Mendengar omongannya itu si kakek tua menjadi tertawa lebar ujarn ya.
"Ha ha ... Liem Tou bagus sekali kamu, jika dilihat wajahmu kelihatannya memang seorang yang jujur tidak tahunya sifatmu juga licik Baiklah kamu orang boleh dihitung aku yang curi kerbau serta kitab pusaka Toa Loo Cin Keng-mu itu. Tapi aku mau tanya itu kitab pusaka Toa Loo Cin Keng apa barang peninggalan ayahmu buat kamu orang? pada pipi sebelah kiri dari muka ayahmu apa ada tahi lalat hitam? ? ? sewaktu main catur apa sering menggunakan benteng terlebih dahulu untuk rebut menyerang?"
Liem Tou teringat kembali keadaan dari ayahnya semasa hidup, lama kelamaan barulah sahutnya dengan sedih.
"Hui Tui Jie aku tahu kamu seorang yang luar biasa, tapi kenapa kamu orang menanyakan wajah ayahku terus menerus"
Kakek tua Hui Tui Jie melihat Liem Tou tidak mau mengaku tapi juga tidak mungkir diam-diam mengangguk, ujarnya.
"Liem Tou jika aku beri tahu padamu saat ini hanya mendatangkan bencana saja, kemarin malam Wan jie sudah beritahu padamu kami ayah beranak bakanlah musuhmu. Sekarang aku lihat kesalahanmu semakin tebal hal ini perlihatkan bencana yang akan menimpa belum lenyap didepan mata masih banyak berbahaya yang harus kamu tempuh, tapi jika tidak berani tidak mungkin, karenanya kerbau serta kitab pusaka Toa Loo Cin Keng tidak berguna dibadanmu, bahkan malah memancing perhatian orang banyak, karenanya untuk sementara waktu kamu boleh pergi ke tebing Ling-Ai di gunung Go-bie san untuk minta kembali barang-barang itu"
Dia berhenti sebentar, sesudah menghela napas panjang sambungnya lagi.
"Heey ... sebentar lagi iblis itu mungkin akan kembali kesini, kamu cepatlah pergi."
Sehabis berkata dia lalu meloncat naik punggung kerbau itu, sambil goyangkan tangannya dia menjalankan kerbaunya kearah dalam hutan tidak lama kemudian sudah lenyap dari pandangan.
Dengan termangu-mangu Liem Tou berdiri disana beberapa saat lamanya teringat kembali kata-kata yang diucapkan kakek tua Hui Tui Jie itu, dalam hati dia merasa kakek itu tentu punya hubungan yang sangat erat dengan ayahnya, kalau tidak bagaimana terus menerus dia menanyakan asal usul dirinya.
Tapi kakek tua itu tidak mau beritahu dengan terus terang bahkan meninggalkan tempat itu dengan tergesa gesa, sudah tentu Liem Tou tidak bisa berbuat apa apa lagi dan sementara tidak mau pikirkan urusan itu nanti sesudah bertemu dengan le Cici diatas gunung Ha Mo San baru pikirkan lagi.
Berpikir sampai disini dengan cepat dia menyeburkan dirinya dalam sungai dengan mengikuti aliran air yang cukup deras tubuhnya mengalir terus kedepan.
Untung saja kepandaiannya bermain didalam air sudah mencapai pada taraf kesempurnaan sehingga gerakkannyapun sangat lincah tapi cepat.
ooo0Oooo Ditengah jalan kecuali beristirahat tidak ada peristiwa yang terjadi lagi, ketika cuaca mendekati magrib dia sudah berenang sejauh puluhan li, saat itu udara menjadi sangat gelap, ketika Liem Tou melihat ditepi hadapannya terdapat sebuah perahu layar yang sedang berhenti disana, segeta didalam hati pikirnya.
"Kenapa malam ini aku tidak menginap diatas perahu itu saja??"
Berpikir sampai disitu dengan cepat dia berenang kesana dan mohon pemilik perahu itu untuk menginap satu malam diatas perahunya.
Orang orang didalam perahu begitu melihat keadaannya yang begitu kasihan segera dia diberi makan dan dibiarkan dia tidur dibelakang buritan bahkan membiarkan dia tidur bersama-sama orang lain.
Ketika itulah dia baru tahu kedua buah perahu itu milik dari suatu perusahaan ekspedisi yang bernama Cing Liong Piauw kiok, dengan diam diam dia melihat kalau diatas setiap perahu ada dua orang pengawal yang menjaga perahunya, pada perahu dimana dia menginap terdapat dua orang yang menjaga yang seorang tua yang lain muda, jika dilihat dari sikap mereka agaknya hubungan mereka sangat erat sekali.
Hari itu Liem Tou sudah melakukan perjalanan mendekati ratusan li jauhnya karenanya saking lelahnya tidak lama kemudian sudah tertidur dengan nyenyaknya.
Malam itu udara sangat gelap tidak terlihat bintang atau bulan yang menyinari jagad, angin bertiup sangat kencang membuat udarapun semakin dingin, ditepi pantai dimana kedua buah perahu itu berlabuh terdapat tiga orang berpakaian malam dengan gerak gerik mencurigakan mendekati perahu.
Saat itu orang yang berdiri diujung kiri bertanya.
"Tia kamu lihat malam ini apa mereka mengadakan persiapan?"
"Cing Liong Piauw kiok selamanya berlaku sumbar"
Sahut orang yang ditanyai itu.
"Dia mengira sesudah Siok to Siang Mo dibasmi, maka didaratan maupun lautan sudah aman, dimaaa bendera Cing Liong Piauw Kiok berada maka tak akan ada orang yang berani turun tangan lagi, sudah tentu tidak akan ada persiapan diantara mereka"
"Tia"
Ujar orang itu lagi.
"Aku dengar orang bilang kepala pengawal dari Cing Liong Piauw kiok si pemetik bintang Kwan Piauw sangat hebat didalam penrmainan sepasang martilnya, nanti bolehkah aku hadapi dia??"
"Ling jie kamu jangan bicara tidak karuan"
Bentak orang itu dengan nada memberi peringatan.
"Gerakan malam ini punya hubungan yang sangat besar dengan bukanya Aug In Piauwkiok dikemudian hari, untuk bereskan malam ini semakin cepat semakin baik, jika ini hari sampai loloskan salah seorang saja diantara mereka, pada hari kemudian jika mereka sampai bisa ketahui hal ini perbuatan kita lalu bagaimana kita tancapkan kaki lagi didalam dunia kangouw ??"
Diantara ketiga orang yang berada diseberang tepi ketiga orang semula salah seorang angkat bicara pula dengan perlahan.
"Kian Po hang, coba kamu lihat pekerjaan yang Cung cu kita kerjakan selalu sangat terlatih dan rapat, sungguh membuat orang lain menjadi kagum."
Lama sekali orang itu baru menjawab, ujarnya sambil mengangguk.
"Ehm . tapi Toa Toang heng. Apa kamu tidak merasa pekerjaan ini sangat bertentangan dengan peraturan Bu lim ?"
Saat itulah mendadak orang ketiga sudah buka omongan .
"Coba lihat, Cung cu sudah kirim tanda."
Kedua orang itu tidak bicara lagi dan angkat kepalanya memandang kearah tepian seberang, terlihatlah suatu sinar berwarna kehijau hijauan dengan cepat lenyap ditengah kegelapan.
Saat itulah dengan perlahan mereka bertiga bangkit berdiri membereskan pakaiannya dan mengambil keluar senjata tajam masing-masing.
Ketiga orang yang berada ditepi sebelah kiri saat itu sudah menyebrangi sungai dengan menggunakan dua buah papan persegi empat yang diinjak pada kedua kakinya, dengan demikian mereka bisa meluncur ketengah sungai dengan Iancarnya.
Ketiga orang yang berada disini ketika secara samar-samar melihat ketiga orang itu sudah bampir mendekati perahu dengan cepat meloncat naik keatas perahu tersebut ilmu meringankan tubuh dari mereka bertiga walaupun sangat tinggi tapi perahu itu tidak urung sedikit oleng juga.
Dua orang dari tepi sebelah sini bertepatan waktu juga sudah tiba, mereka masing-masing meloncat naik perahu dengan sangat cepat.
Mendadak dari dalam ruangan perahu terdengar suara menjerit kaget kemudian disusul dengan bentakan sedang bertanya.
"Siapa?"
Suara bentakan itu begitu kerasnya membuat Liem Tou yang tertidur nyenyak segera sadar kembali dari pulasnya.
Ketika dia buka mata terlihatlah cuaca masih sangat gelap mungkin baru kentongan ketiga, dua orang berbaju hitam yang memakai kerudung mendadak menerjang masuk kedalaun bilik itu bahkan salah satu diantaranya tepat berdiri disisinya.
Waktu itu baru saja dia sadar dari pulasnya sehingga pikirannyapun belum begitu sadar, atas kejadian yang muncul secara tiba tiba dihadapannya membuat dia menjadi sangat terkejut, dengan cepat dia mengusap beberapa matanya sehingga terang ternyata tidak salah lagi, kejadian itu memang betul-betul sudah terjadi bahkan berada dihadapan matanya tak terasa lagi hatinya berdebar dengan sangat keras.
Pada waktu hatinya sedang merasa sangat terkejut itulah mendadak dari dalam ruangan perahu berkumandang datang suara jeritan yang amat ngeri yang sangat memilukan kemudian di susul dengan suara tertawa dingin yang keras, ujarnya.
"Hemm. , . Hemmm..– gentong-gentong nasi seperti ini juga mau jadi pengawal barang."
Liem Tou mendadak menjadi sangat terkejut karena suara itu tidak lain adalah suara Pouw Siauw Ling. Kemudian disusul dengan suara bentrokan senjata tajam yang sangat ramai teriak seorang dengan keras.
"Kalian siapa ? Kami Cing Liong Piauw kiok punya dendam sakit hati apa dengan kalian ?"
"Tidak usah banyak bicara, serahkan nyawamu"
Bentak Pouw Siauw Ling dengan gusar.. Setelah itu teriaknya lagi.
"Jangan berada diluar apa Liok Siok siok ? Sampai waktu ini kenapa tidak juga turun tangan ? Kamu orang mau tunggu sampai kapan lagi?"
Orang yang berdiri disamping Liem Tou ketika mendengar perkataan itu segera menggeserkan kakinya lagi, Liem Tou tahu keadaan saat itu betul-betul amat kritis dan membahayakan jiwanya sehingga tubuhnya tanpa terasa sudah meringkuk kepojokan perahu tanpa berani bergerak lagi, tapi sepasang matanya dengan memperhatikan gerak gerik dari orang itu hatinya berdebar keras, hampir-hampir terasa mau copot dari dalam tubuhnya.
Pengemudi perahu yang semula berbaring di samping Liem Tou mendadak meloncat bangun sambil berteriak keras.
'Aduh...mak..
tolong ada penjahat"
Melihat hal itu diam diam pikir Liem Tou dalam hati.
"Hemmm ... cari mati sendiri."
Ternyata dugaannya tidak salah, terdengar penjahat berkerudung yang berdiri disampingnya itu mendadak membentak keras dengan gusarnya.
"Pergi temui makmu "
Golok ditangannya dengan cepat berkelebat, terlihatlah sinar golok yang menyilaukan mata menyambar tubuh pengemudi itu, tanpa sempat menjerit kesakitan lagi tubuhnya rubuh keatas perahu dan binasa seketika itu juga.
Melihat kejadian yang sangat mengerikan itu hati Liem Tou menjadi tergetar dalam hati dia tahu saat inilah kesempatan yang paling bagus baginya untuk melarikan diri, tanpa pikir panjang lagi tubuhnya dengan sekuat tenaga menggelinding ketepi perahu.
Menanti penjahat berkerudung itu merasa dan membacok tubuhnya.
Liem Tou sudah menceburkan dirinya kedalam sungai sepasang tangannva dengan cepat digerakkan menyelam kedasar perahu tersebut.
Waktu itulah hatinya baru berasa agak tenang, teringat akan kata tadi dengan jelas didengar olehnya berasal dari Pouw Siauw Ling; hal ini membuat hatinya merasa terkejut bercampur heran, pikirnya.
"Kemarin sewaktu bertemu dengan mereka, dia masih bilang mau mendirikan sebuah perusahaan ekspedisi, bagaimana sekarang malah berbuat kejahatan menjadi perampok ?? bahkan merampas barang barang kawalan orang lain ??.. Semakin berpikir Liem Tou merasa semakin bingung, dengan perlahan lahan dia munculkan diri kembaii keatas permukaan dan bersembunyi dibelakang kemudi , saat itu malam semakin kelam cuacapun begitu gelap hingga sukar untuk ditemui tempat persembunyian itu, ditambah lagi saat ini Liem Tou sudah berada didalam air, sekalipun ditemui dia juga tidak merasa takut . Sesudah muncul keatas permukaan air Liem Tou segera mendengar suara teriakan teriakan yang memilukan hati serta bentrokan bentrokan senjata senjata tajam yang sangat ramai berkumandang dari kedua buah perahu itu, keadaannya demikian mengerikan membuat hati setiap orang terasa bergidik. Tidak lama berselang dari atas perahu sebelah tidak terdengar suara lagi, keadaan begitu tenang sunyi serta menyeramkan, sebalikaya dari atas perahu dimana dia menyembunyikan dirinya sekarang masih terdengar suara bentakan bentakan senjata tajam yang sangat ramai. Hati Liem Tou menjadi tergerak, dengan perlahan-lahan dia merangkak naik melalui tali yang ada dan mengintip dari celah lobang yang sangat kecil pada perahu itu, terlihatlah tiga orang perampok berkerudung dengan rapatnya sedang mengepung Piauwsu yang masih muda itu, ditengah remang-remangnya cuaca terlihatlah tubuh pemuda sudah basah oleh darah segar yang mengucur keluar dengan derasnya, tapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun dengan mencekal pedang panjangnya dia melawan ketiga orang itu dengan seluruh tenaga. Melihat situasi seperti itu tidak tertahan lagi Liem Tou merasa sangat gemas, dendam dan sakit hati. Mendadak terdengar Pouw Siauw Ling yang berada salah satu diantara ketiga orang berkerudung itu berkata dengan keras.
"Tia, bangsat cilik ini semakin bertarung semakin menggila, biar aku bunuh dia saja"
Salah satu diantara ketiga perampok berkerudung yang melawan musuhnya dengan menggunakan sepasang telapaknya, membuka mulut sahutnya.
"Hmm..hm..sekalipun kepandaian silatnya lebih tinggi ini hari tidak mungkin bisa meloloskan diri dari bencana."
Mendangar perkataan itu Liem Tou yang sedang bersembunyi menjadi terkejut karena suara itu bukan lain berasal dari Pouw Sak San itu Cungcu dari le Hee Cung.
Tentang urusan ini dia tidak ragu ragu lagi karenanya didalam hati dia merasa sangat enak, dendam sakit hati dan gemas, bersamaan pula merasa sedih atas nasib para rakyat yang hidup dalam kampung Iee Hee Cung diatas gunung Ha Mo San.
Saat ini dendam dan sakit hati pribadinyapun muncul bercampur dengan perasaan gemasnya, darah segarnya serasa bergolak dengan keras, dalam hati dia punya niat untuk menolong pengawal itu lolos dari kematiannya.
Mendadak dengan mengerahkan seluruh terra ga Nang dimilikinya berteriak dengan keras.
"Hey bangsat, bangsat tahan!"
Ditengah sungai yang lebar dan jauh dari keramaian ditambah lagi ditengah malam buta yang sunyi tenang, suara bentakannya ini membuat para penjahat itu merasa sangat terperanjat apalagi itu Ang in sin pian Pouw Sak San serta Pouw Siauw Ling mereka sama sekali tidak menduga ditempat itu bisa muncul seseorang, pada waktu mereka bertiga sedang tertegun itulah piauw su yang masih muda itu menggerakkan pedangnya kedepan, seraya teriaknya dengan gusar.
"Dendam sakit hati ini kami dari Cing Liong Pauw kiok bersumpah akan membalas dendam"
Sambil berkata tubuhnya meloncat setinggi dua kaki lebih kemudian menceburkan diri ke dalam sungai.
Gerakan ini dilakukan hanya pada sekejap mata saja, Liem Tou pun dengan cepat ikut menyusupkan tubuhnya kedalam air.
Cuaca yang gelap gulita sudah cukup membuat mereka tidak melihat jelas apalagi kini berada didalam air.
Walaupun dalam hati Liem Tou punya niat mencari Piauw su muda itu untuk mcmbantu dia meloloskan diri dari bahaya tapi karana takut terjadi salah paham makanya terpaksa tidak berani bergerak, dalam hati diam diam dia berdoa agar dia bisa lobos dari mara bahaya ini.
Dengan kejadian ini niatnya untuk bertemu Lie Siauw Ie semakin menebal lagi.
Sesudah berenang hingga ketengah sungai barulah dia munculkan diri kembali keatas permukaan sungai sambil memandang kearah dua buah perahu itu makinya.
"Hmmm..kiranya bajingan-bajingan itu adalah kawanan perampok yang tidak tahu malu, manusia macam binatang seperti itu harus dibunuh"
Sambil memaki badannya mengikuti aliran air sungai melanjutkan berenang kedepan, bersamaan pula pada benaknya teringat akan kejujuran serta budi halus dari rakyat dusun Ie Hee hiung.
Teringat pula kehidupan didalam dusun sewaktu masa kecilnya tidak terasa saking sedihnya air mata menetes keluar dari kelopak matanya.
Suasana ditengah sungai begitu sunyi senyap tidak terdengar suara bisikan sesosok manusiapun, Liem Tou dengan seorang diri perlahan-lahan berenang menuju kedepan.
Sebentar bentar dia memandang bintang-bintang yang tersebar luas diatas langit hatinya beratus ratus macam kesedihan yang sekaligus memenuhi pikirannya, mendadak tangannya ditepukkan keatas kepalanya sendiri sembari tangannya yang sebelah mencopot topeng kulit yang dikenakan pada wajahnya, kepada langit sumpahnya dengan sungguh sungguh.
"Pada suatu hari jika aku Liem Tou berhasil melatih ilmu silat yang lihay aku bersumpah akan membunuh kaum bajingan itu hingga binasa, sebelum tercapai cita cita ini aku tidak akan berdiam diri"
Sambil berkata dia manyimpan kembali topeng kulitnya kedalam saku sedang titik air matanya mengucur keluar dart kelopak matanya dengan deras.
Beberapa saat kamudian haripun menunjukkan saat kentongan kelima.
Liem Tou pun merasakan sepasang lengannya mulai terasa linu kaku dan capai sedikitpun tidak bertenaga lagi, mendadak ditengah sungai dihadapannya secara samar samar muncul sebuah perahu kecil dengaa perlahan lahan bergerak mendatang, bahkan dari atas perahu kelihatan sinar lampu berkedip kedip.
Perahu itu mungkin milik seorang nelayan yang sedang inenangkap ikan dimalam hari, kenapa aku tidak beristirahat sebentar disana??
bila mereka ada makanan kemungkinan sekali sedikit menangsal perutku yang lapar?"
Tidak lama kemudian dia sudah mendekati perahu kecil itu, Liem Tou dengan cepat mencekal pinggiran perahu dengan kencang.
Waktu itulah terdengar dari dalam perahu berkumandang suara pertanyaan yang disusul dengan jeritan kaget.
"Heey siapa diluar ??"
"Seorang yang kecebur dalam sungai karena bertemu perampok, dapatkah aku beristirahat sebentar diatas perahu saudara ?"
Dari dalam perahu tak terdengar suara sahutan --lama sekali ditunggu tetap saja tidak terdengar sedikit suarapun.
Pada saat Liem Tou sedang merasa kecewa itulah mendadak terdengar pertanyaan lagi dari dalam perahu.
"Siapa namamu? bertemu perampok dimana?"
"Aku bernama Liem Tou, baru saja bertemu dengan perampok diatas dua buah perahu pangawal barang disungai sebelah depan. Hey pemilik perahu bolehkah aku beristirahat sebentar ??"
"Ehm ...kalau begitu naiklah."
Mendengar pemilik perahu itu menyanggupi Liem Tou dengan cepat meloncat naik keatas perahu, Tapi ... belum tubuhnya berdiri tegak mendadak jalan darah "Hong Hui Hiat"
Serta jalan darah gagunya sudah tertotok oleh orang lain, tak tertahan lagi tubuhnya rubuh keatas perahu dengan keras kemudian disusul dengan suara tartawa keras dari orang ini sambil ujarnya.
"Liem Tou . Liem Tou, kami cari kamu kemanapun tak bertemu, tidak disangka kamu hantarkan diri sendiri kemari ha ha ha ha . aku tidak bisa banyak bicara lagi ha ha.."
Jalan darah "
Hong Hui Hiat"
Serta jalan darah gagu Liem Tou sekalipun tertotok sehingga tidak dapat bergerak dan berbicara tetapi sepasang matanya masih bisa memandang kearah orang yang menotok jalan darahnya itu.
Orang itu tidak lain adalah Si jari beracun jarum cams Song Beng Lan yang ditemui dilembah cupu cupu bersama sama pengemis busuk itu.
Dalam hati dia tahu orang ini tentu sangat benci kepadanya hingga tidak terasa diam diam menghela napas panjang, pikirnya.
"Heei ..kemauan Thian sudah begitu aku juga tidak bisa berbuat apa apa lagi mau dibunuh mau disiksa aku terpaksa ikuti saja kemauannya."
Sepasang matanya segera dipejamkan rapat rapat tanpa berbicara sepatah kata lagi.
Mendadak Liem Tou merasakan badannya di tendang hingga berguiing dengan keras diatas perahu kemudian terdengar suara Song Beng Lan sedang berkata.
"Hey Liem Tou kamu orang tidak usah pura pura mati, coba kamu lihat siapa yang berada dihadapanmu ?"
Mendengar perkataan itu barulah Liem Tou membuka matanya dengan perlahan, mendadak pandangannya menjadi terang terasa olehnya badannya sekarang sudah terlenteng didepan pintu ruangan perahu ditengah ruangan dalam perahu duduklah seorang gadis berbaju hijau yang tipis dengan usia kurang lebih baru tujuh belas delapan belas tahunan, alisnya yang melengkung tipis dengan bibirnya yang kecil mungil sungguh merupakan seorang gadis yang cantik menarik sekali .
Melihat hal itu Liem Tou menjadi melengak, mendadak teringat makian Cian Pian Ngo Koei sewaktu berada didalara lembah cupu cupu yang mengatakan Song Beng Lan ini adalah Jay Hoa Cat, tidak terasa pikirnya.
"Hemmnm ternyata dia memang seorang bangsat cabul, ditengah sungai yang begini jauh dari keramaian serta sunyi masih menyembunyikan seorang gadis cantik juga hemmm sungguh tidak malu, Konyol ."
Baru raja pikiran itu berkelebat dalam bcnaknya, mendadak gadiscantik berbaju hijau Nang ducluk didalarn ruangsn perahu sudah tar senaum kearabuya, kemudian ujarnya "Hey Liem Tou, orang yang berjodoh dimanapun selalu bertemu, kamu masih kenal aku tidak?"
Mendengar perkataan itu tak terasa Liem Tou merasa sangat heran, pikirnya dalam hati.
"Aku Liem Tou merupakan seorang lelaki sejati, salamanya belum pernah main perempuan diluaran bagaimana bisa kenal dia ?"
Sekalipun didalam benaknya dia berpikir begini tetapi tanpa terasa matanya memandang teliti kearah gadis berbaju hijau itu, saat itulah gadis berbaju hijau itu sedang memandang dirinya sambil tersenyum manis.
Semakin dilihat Liem Tou merasakan gadis ini seperti pernah ditemuinya disuatu tempat, matanya semakin memandang tajam kearahnya… lama sekali mendadak pikirannya menjadi sadar.
Gadis berbaju hijau itu melihat air muka Liem Tou sedikit berubah segera tahu kalau dia sudah mengenal dirinya kembali maka ujarnya dengan merdu.
"Hey Beng Lan, cepat bebaskan jalan darahnya yang tertotok."
Mendengar pekataan itu Song Beng Lan dengan cepat maju dan menepuk dengan perlahan leher Liem Tou. Saat itulah dengan keras teriak Liem Tou.
"Aaaah bukankah kamu orang pengemis busuk itu?"
Gadis cantik berbaju hijau itu begitu mendengar dia memaki dirinya sebagai pengemis busuk tidak terasa alisnya dikerutkan rapat rapat.
Song Beng Lan yang berdiri disampingnya seketika itu juga melancarkan satu tendangan membuat tubuhnya sekali lagi berguling diatas permukaan perahu, bentaknya.
"Hey bangsat cilik kamu orang sungguh tak tahu sopan, hati-hati aku tendang badanmu sampai tulangmu copot."
Tiba tiba gadis cantik berbaju hijau itu mencegah perbuatan Song Beng Lan, ujarnya.
"Beng Lan, kamu orang jangan menyakiti dia sampai keterlaluan, lebih baik kamu ikat kaki tangannya dengan tali dulu kemudian baru membebaskan jalan darahnya, setelah itu naikkan jangkar lanjutkan parjalanan sekarang juga."
Sikap Song Beng Lan terhadap gadis cantik berbaju hijau itu agaknya begitu menghormatnya, sesudah memberi hormat, dengan sangat patuhnya baru sahutnya dengan perlahan.
"Baik Kungcu."
Dengan mengikuti perintahnya dia mengikat kaki tangan Liem Tou dengan tali kemudian membebaskan jalan darah Hong Hui Hoat-nya setelah itulah baru menaikkan jangkar untuk melanjutkan perjalanannya.
Saat itu berkatalah gadis cantik berbaju hijau itu kepada Liem Tou sambil tertawa.
"Liem Tou, kamu merasa sangat heran bukan? Aku beritahu padamu, aku bernama Ciang Beng Hu dan bertempat tinggal dipantai Say Kiem Thay tepi danau Au Hay didaerah In Lam"
Sejak Liem Tou mengetahui kalau gadis cantik berbaju hijau yang berada dihadapannya ini adalah pengemis busuk yang ditemuinya di dalam bui segera teringat kembali keganasan serta kelakuannya yang kasar dalam hati tidak tertahan muncul kembali perasaan benci serta gemasnya, dengan gusar sahutnya.
"Siapa yang mau dengar namamu yang sangat memalukan itu, ini hari aku Liem Tou sudah terjatuh ketanganmu, mau dibunuh mau disiksa silahkan kamu orang lakukan, aku Liem Tou tidak akan takut dan bukan seorang manusia pengecut yang takut mati."
Mendengar hal itu Ciang Beng Hu tertawa nyaring, ujarnya.
"Cis. Liem Tou ---Liem Tou, binasa dengan begini mudah apa kamu tidak merasa sayang?? kalau kamu orang memang kepingin mati tapi jangan begitu cemasnya."
Sepasang mata dari Liem Tou mendelik melotot kearahnya dengan gusar ujarnya lagi dengan jengkel.
"Kau ingin apakan aku ?"
"Kamu boleh pikirkan sendiri"
Sahutnya sambil tertawa ringan sedang kepalanya dimiringkan kesamping.
Tetapi air muka dengan ceoat berubah menjadi serius kembali, dengan pandangan tajam dia memandang sekejap kearah wajah Liem Tou kemudian ujarnya lagi dengan keren.
"Liem Tou, perkenalan kita didalam bui walaupun belum begitu lama tapi aku tahu dengan jelas kamu merupakan seorang yang sangat cerdik. Aku tidak perlu bicara tentunya kamu orang sudah tahu sendiri. Buat apa aku yang hidup enak-enak didaerah Cian Pian sebelah selatan dengan susah payah pergi kemari, hey Liem Tou aku belum gila ??.
"Siapa yang mau urus kamu gila atau tidak, hey pengemis gila kau mau bawa aku kemana?"
Ciang Beng Hu hanya memandang sekejap kearahnya sambil tersenyum sedang mulutnya tetap membungkam. Tidak terasa hawa amarah Liem Tou muncul kembali, teriaknya keras dengan amat gusar.
"Terhadap kawanan bajingan yang tidak tahu malu seperti kalian aku Liem Tou walaupun binasa juga tidak akan menyerah, aku omong terus terang saja padamu, jika kalian mau paksa aku barterus terang mengakui tempat penyimpinan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu.. hemm hemm jangan harap."
"Hemm, , kau tak usah banyak bacot, tunggu saja"
Ujar Ciang Beng Hu dengan amat dingin. Sehabis berkata teriaknya denagn keras.
"Beng Lan masuk, bangsat cilik ini sampai sekarang masih tetap bandel saja kelihatannya dia belum merasakan kelihayan kita. Hemm totok jalan darah pulasnya dulu."
Song Beng Lan segera menyahut dan menotok jalan darah pulas dari Liem Tou.
Saketika itu juga Liem Tou hanya merasakan matanya menjadi kabur kemudian tertidur dengan nyenyaknya .
Menanti dia sadar kembali entah sudah lewat berapa saat lamanya, juga tidak tahu kini sudah berada dimana.
Dia hanya merasa tempat itu begitu gelap gulitanya sehingga tak sanggup untuk melihat lima jarinya sendiri.
Tempat itu begitu gelap serta apeknya sehingga terasa susah untuk bernapas.
Dengan cepat Liem Tou menggerakkan badannya, kiranya seluruh tubuhnya sudah terlepas dari totakan maupun ikatan tali, tidak terasa gumamnya seorang diri.
"Mereka bawa kemana aku ini ?"
Perlahan lahan dia bisa melihat juga keadaan ditempat itu, ditengah keadaan yang sangat gelap secara samar-samar terlihat olehnya kalau dia kini berada dalam sebuah gua yang penuh lumpur didepan gua terdapat sebuah ruji-ruji kayu yang sangat besar sekali sebagai penghalang jaIan, tapi diluar gua itupun kelihatan tidak terdapat sedikit sinarpun juga.
Tangannya dengan perlahan lahan didorong kearah kayu-kayu perintang jalan itu, tapi walau sudah didorong sekuat tenaga kayu tersebut tetap tidak gemilang sedikit pun juga kuatnya laksana batu.
Melihat hal itu Liem Tou menjadi amat gusar, campur dahaga yang makin lama semakin tidak kuat untuk ditahan, teriaknya dengan gusar.
"Hey kalian manusia bangsat yang tidak tahu malu... kamu bawa aku ketempat apa ini ?"
Hey pengemis busuk kamu jangan bersembunyi aku Liem Tou tak kan memberikan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadamu."
Sekalipun dia sudah berteriak sehingga tenggorokannya terasa sakit tiada seorangpun yang menyahut atau menggubris, bahkan suara yang aneh sedikitpun tak terdengar.
Hal ini membuat Liem Tou menjadi gemas pikirnya dalam hati.
"Jika mereka kurung aku ditempat ini tanpa mau gubris aku lagi lama kelamaan aku bisa dimatikan dengan perlahan.. Aduh... Aduh. perutku mulai merasa lapar"
Baru saja dia berpikir sampai disini mendadak dari tempat kejauhan secara samar-samar berkumandang datang suara tindakan kaki yang sangat perlahan kemudian disusul dengan munculnya sinar merah yang samar-samar.
Semangat Liem Tou tidak terasa muncul kembali dengan tergesa gesa dia bangkit berdiri menempel pada pagar kayu yang besar itu untuk menengok kedepan, sinar merah itu makin perlahan semakin menajam semakin lama semakin mendekat.
Tidak tertahan lagi teriak Liem Tou dengan keras.
"Hey Siapa itu ? cepat kalian lepaskan aku keluar"
Terlihat sesosok bayangan manusia berkelebat Song Beng Lan dengan membawa dua orang lelaki kasar yang bertubuh kuat dengan membawa obor berjalan mendekat, melihat hal itu Liem Tou semakin gusar, teriaknya.
"Hey kamu bajingan cabul kenapa kurung aku ditempat ini ?"
Jilid 10 . Perjamuan Pouw sak San di Ie Hee Cung "Hmm, dengus Song Beng Lan dengan sangat dingin.
"Liem Tou, mati hidupmu kini berada ditanganku, buat apa kamu ngotot terus?"
Sehabis berkata dia mengulap tangannya, kedua orang lelaki berbadan kuat itu segera berjalan mendekati pagar kayu itu dan membuka pintunya, melihat hal ini Liem Tou bertambah gusar lagi, bentaknya dengan keras.
"Kalian pingin berbuat apa?"
Sehabis berkata dia mundur dua langkah kebelakang, sepasang telapaknya dikencangkan siap memberikan perlawanannya.
Dengan langkah yang sangat perlahan Song Beng Lan berjalan ketepi pagar kayu itu sambil mengangkat tinggi tinggi obornya dengan nada yang sangat dingin.
"Liem Tou aku lihat lebih baik kau ikuti perintahku tanpa membantah. Pada saat ini sekalipun kau mau melawan juga tidak berguna ."
"Huuh..tutup mulut anjingmu Hey bangsat cabul."
Mendadak ..dua orang lelaki kesar bertubuh kuat itu dengan cepat maju dua langkah kedepan tangannya dengan kecepatan bagaikan kilat mencengkeram tubuh Liem Tou.
Melibat datangnya serangan itu Liem Tou menjerit keras sepasang kepalannya dengan cepat melancarkan serangan kedepan untuk menahan datangnya cengkraman itu, siapa tahu baru saja tangannya diangkat terasa olehnya kepalan itu lemas sedikitpun tidak bertenaga, serangannya belum sempat mencapai pada sasarannya badannya sudah berhasil dicengkram oleh lelaki kasar lainnya, tidak tertahan lagi Liem Tou dengan sempoyongan maju kedepan, kesematan itulah digunakan oleh kedua lelaki kasar itu untuk mcnangkap tubuh Liem Tou kemudian mengikatnya dengan tali.
Sekalipun Liem Tou saking gemas dan jengkelnya berteriak teriak dan memaki dengan enaknya tapi apa gunanya ?"
Tubuh Liem Tou sesudah diikat dengan kencang kedua lelaki kasar itu segera menggotong tubuhnya keluar gua, sesudah berputar putar beberapa saat lamanya sampailah mereka disebuah lorong gua yang sangat panjang sekali.
Dengan membawa obor Song Beng Lan berjalan didepan membuka jalan.
Kurang lebih sesudah berjalan berpuluh puluh kaki jauhnya gua itu perlahan lahan semakin sempit dan semakin sampai akhirnya, tempat itu hanya bisa dilalui oleh seseorang dengan membungkukkan badan.
Kurang lebih berjalan lagi dua kaki jauhnya sampailah mereka dimulut gua.
Liem Tou dengan cepat memandang sekeliling tempat itu waktu itulah dia baru tahu kalau dirinya sudah berada dipunggung gunung, dibawahnya terlihat air selokan mengalir dengan derasnya keadaan amat bahaya sekali, ketika memandang kesamping lagi terlihatlah sebuah air terjun yang amat besar sedang memuntahkan airnya kepunggung gunung, keadaannya mirip dengan seekor naga terbang yang ganas, sungguh amat angker dan agung sekali.
Song Beng Lan segera mematikan obornya dan putar tubuh berjalan mendekati samping air terjun itu, didalam sekejap saja tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Liem Tou melihat hal itu dengan amat jelas dalam hati diam diam merasa sangat heran, pikirnya.
"Aaah bangsat cabul itu sudah kemana perginya?"
Baru saja dia berpikir sampai disitu kedua lelaki kasar berotot kuat itu sudah mengangkat tubuhnya mendekati samping air terjun tersebut.
Kiranya dibalik tebing air terjun itu sedikitpun tidak ada air yang mengenai tempat itu dibelakang air terjun yang sangat dahsyat itulah terdapat sebuah gua yang sangat besar sekali.
Liem Tou dengan cepat diseret masuk kesana, dalam gua itu sangat besar dan megah sekali, empat penjuru dindingnya terbuat dari batu porselen yang berbentuk tumpuk menumpuk tidak teratur, kelihatan sekali kalau dinding itu merupakan kejadian alam.
Sesudah masuk lagi beberapa kaki mendadak Liem Tou dapat melihat didepannya berdirilah sepuluh orang lelaki dengan rapinya, jika ditinjau dari pakaian dan dandannya serta usianya dapat dilihat diantara mereka terdapat perbedaan yang sangat menyolok sekali, ada kakek-kakek yang usianya sudah amat lanjut sehingga rambutnya sudah pada memutih, ada pula anak anak kecil yang masih ingusan, bahkan dandanan mereka serta kedudukannyapun sangat berbeda.
Hweesio, Nikouw, pengemis, kuli, serta nelayan nelayan semuanya ada ditempat itu.
Sedang ditengahnya duduklah seorang nyonya berusia pertengahan dengan pakaian yang amat perlente, di samping kanannya berdirilah itu gadis cantik berbaju hijau Ciang Beng Hu.
Kedua orang lelaki itu segera meletakkan Liem Tou keatas tanah kemudian menyingkir berdiri kesamping.
Nyonya berusia pertengahan itu dengan perlahan bertanya .
"Orang itukah yang bernama Liem Tou"
Liem Tou tetap membungkam, sekali lagi nyonya itu bertanya tetapi Liem Tou tetap menutup mulutnya rapat rapat. Melihat hal itu Ciang Beng Hu segera ikut berbicara, ujarnya.
"Hey Liem Tou kamu tuli yaah?? Ratu Au Hay Au Hay Ong Bo sedang menanyai kamu tetap membisu ?"
"Hmm.."
Dengus Liem Tou dengan gusar. Kalian bajingan-bajingan yang tidak tahu malu, dengan mengikat badanku seperti ini bagaimana suruh aku bicara ?"
"Liem Tou "Bentak Ciang Beng Hu sambil melotot kearahnya.
"Didepan Ong Bo kamu orang berani berlaku tidak sopan hay Beng Lan pukul dia terlebih dulu sehingga dia rasakan sedikit pelajaran, sesudah itu barulah kau lepaskan tali yang mengikat kakinya". Song Beng Lan segera menyahut, dengan mengikuti perintahnya dia cambuk seluruh tubuh Liem Tou dengan kerasnya, membuat badannya terluka dan mengucurkan darah segar, tetapi Liem Tou dengan menggigit kencang bibirnya terus bertahan, sedikit suara dengusan pun tidak kedengaran. Melihat kegagahan serta keketusan Liem Tou yang jadi orang keras kepala itu Ciang Beng Hu tertawa dingin tak henti-hentinya, ujarnya lagi.
"Liem Tou, sekalipun ini hari kau tetap keras kepala, aku mau lihat besok hari kamu masih bisa keras kepala tidak?"
Sekali lagi Song Beng Lan pukul tubuh Liem Tou dengan cambuknya setelah itu barulah lepaskan tali yang mengikat kakinya.
Dengan perlahan-lahan dia bangkit berdiri, sepasang matanya dengan berapi-api menahan hawa amarahnya yang sudah meluap pandang tubuh Ciang_Beng Hu dengan amat gusarnya.
Dengan perlahan Au Hay Ong Bo barulah buka bicara lagi, ujarnya.
"Liem Tou, kesemuanya ini karena kebandelanmu sendiri, jika kamu mau katakan tempat persembunyian kitab pusaka To Kong Pit Liok itu maka kamu orang tidak akan merasakan siksaan serta penderitaan seperti ini"
Perkataan dari Au Hay Ong Bo ini diucapkan sangat perlahan dan halus bahkan air mukanya membawa senyuman yang amat ramah, sikapnya jauh lebih halus dan lebih lunak dari Ciang Beng Hu.
Waktu itu Liem Tou sudah membenci diri Song Beng Lan serta Ciang Beng Hu hingga menusuk ketulang samsumnya, pikirnya didalam hati.
"Hmmm..hmm..asalkan aku Liem Tou bisa lolos dari cengkeramanmu, tunggu saja pada suatu hari aku bisa datang menuntut balas sakit hati hari ini"
Terhadap situasi yang dihadapinya sakarang ini dalam hati dia sudah ambil keputusan untuk tidak mengeluarkan sepatah katapun, karenanya walaupun Au Hay Ong Bo sudah bertanya berkali-kali dia tetap bungkam tidak mengucapkan sepatah katapun juga.
Au Hay Ong Bo tetap tidak menjadi marah karena keketusannya itu, ujarnya lagi.
"Liem Tou, manusia cerdik tidak akan menelan kerugian didepan mata sendiri, kamu sudah jatuh katangan orang lain menurut pangihatanku jauh lebih baik sedikit penurut dan lunak sehingga tidak sampai merasakan penderitaan dari siksaan siksaan kejam, tidak urung kamu orang sudah sampai didalam istana terlarang dari partai Kim Tian Pay diatas puncak gunung Ngo Lian Cong, untuk pikir melarikan diri ehmm.. ehmm..itu urusan yang sangat mudah asalkan kamu orang bisa melaksanakannya saja."
Ciang Beng Hu meluap hawa amarahnya terhadap Au Hay Ong Bo ujarnya.
"Ibu, bangsat cilik itu keterlaluan sekali, lebih baik kita pukul dia dulu sampai kapok baru ditanyai lagi"
"Hu jie!"
Ujar Au Hay Ong Bo dengan halus.
"Kamu salah besar jika dilihat sifat orang ini sungguh bersemangat sekali, tidak mungkin dia berbuat begini hanya pura pura saja, jika kamu orang hendak manggunakan cara kekerasan untuk menaklukkan dia, hei tidak mungkin"
Dia berbenti sebentar, kemudian sambungnya lagi.
"Jika kamu bertamtah kejam dengan menggunakan cara ini, sekalipun mati tidak akan dia mau bicara, lebih baik untuk sementara simpan saja didalam penjara kemudian dengan perlahan-lahan kita cari suatu cara untuk menaklukkan dia.
"Ibu lebih baik kamu orang tua serahkan padaku saja, aku mau lihat dengan siksaan berat dia masih mau mengaku tidak"
Au Hay Ong Bo segera gelengkan kepalanya, sambil mengulap tangan ujarnya.
"Hu jie kamu harus dengar omonganku, kamu kira ibumu bisa salah bertindak?"
Saat inilah Ciang Beng Hu baru tidak mengucapkan kata-kata lagi.
Liem Tou pun segera dibawa kedalam penjara didalam gua yang sangat gelap itu kembali.
Hanya saja kali ini ada orang yang menghantar makanan untuk dirinya.
Semula Liem Tou yang dikurung didalam gua merasa sangat gemas dan berteriak teriak tidak karuan, akhirnya karena tidak ada orang yang manggubris dirinya, lama kelamaan dia sendiri merasa sekalipun kemarahannya memuncak bagaimanapun tidak ada gunanya karena itulah dia mulai menjadi tenang kembali, dengan mengikuti cara mengatur pernapasan yang diajarkan He Loo toa perlahan dia melatih dirinya.
Tiga hari kemudian hatinya semakin tenang lagi, didalam keadaan yang tidak disadari napsu kemarahannya mulai lenyap dari dalam hatinya.
Selain kadang-kadang teringat akan Lie Siauw Ie hatinya terasa sedikit goncang, terkurungnya dia didalam gua sama sekali tidak membingungkan dirinya bahkan membuat hatinya semakin tenang.
Diantara saat ini baik Au Hay Ong Bo mau pun Ciang Beng Hu tidak ada yang datang untuk mencari dia lagi.
Sampai hari yang keenam pada waktu Liem Tou sedang enak-enaknya bersemedi, mendadak terasa oleh dirinya segulung hawa yang sangat panas muncul dari daerah Hiat hay terus menerjang naik hingga Ni-Tan.
Keringat mengucur dengan amat derasnya pikirannya menjadi kosong badannya merasa sangat nyaman, hawa panas itu dengan perlahan naik dari Ni Tan menuju ke Yan Hay, hawa murninya berhasil mengelilingi tubuhnya satu kali.
Dalam hati Liem Tou tahu bahwa saat ini merupakan saat yang paling penting dan paling kritis didalam seorang melatih ilmu pernapasannya, segera dia tidak berani barkhayal lagi dan melanjutkan latihannya hingga berturut-turut hawa murninya mengitari tiga pulah enam barulah berhenti.
Mencapai hari yang kasepuluh tenaga murni yang dilatih Liem Tou sudah mencapai pada hasilnya, dirinya pun merasa didalam tubuhnya terjadi perubahan yang luar biasa karenanya dia berlatih terus hingga hawa murninya sambil menerobosi tiga urat nadi terpenting lagi.
Hari itu baru saja Liem Tou selesai bersemedi, mendadak terlihatlah Ciang Beng Hu dengan membawa obor berjalan masuk, ujarnya terhadap diri Liem Tou.
"Liem Tou, ibuku boleh dikata menghormati kamu orang dengan amat ramah selama sepuluh hari ini agar kamu orang bisa sadar dari kesalahan. Bagaimana sudah berpikir matang ?"
"Hmmm ..hmmm.. !"
Liem Tou tertawa dingin tak henti-hentinya.
"Walaupun kamu orang bilang baik atau buruk aku Liem Tou tidak akan menggubris kamu orang lagi, aku mau lihat bisa berbuat apa terhadap diriku ?"
"Sejak dulu aku sudah tahu kamu harus merasakan siksaan dulu barulah tahu rasa,"
Seru Ciang Beng Hu dengan gusarnya. Segera dia menoleh kebelakang sambil teriaknya.
"Hey pengawal kemari."
Segera terlihatlah empat lima orang lelaki dengan cepat berjalan mendekati jeriji kayu itu dari belakang tubuh Ciang Beng Hu, agaknya mereka mau menangkap Liem Tou lagi.
Dalam hati Liem Tou sudah tahu kalau kepandaiannya saat ini sudah tidak seperti waktu yang lalu, dia percaya ketiga empat orang ini bukanlah tandingannya jika dia mau memberontak hanya beberapa orang ini tidak mungkin bisa menangkan dia.
Persoalan yang membingungkun dia adalah apakah saat ini dia punya pegangan yang kuat untuk menerobos keluar dari goa untuk melarikan diri??
Karenanya dia membiarkan orang orang itu menangkap dirinya tanpa memberikan sedikit perlawanan pun.
Siapa tahu setelah orang-orang itu berhasil menangkap dirinya kemudian menekan badannya keatas tanah dan diikatnya dengan tali kuat ujar Ciang Beng Hu lagi.
"Pukul badannya sampai hancur!"
Orang itu segera menyahut, dari pinggangnya mengeluarkan sebuah cambuk berwarna hitam.
Liem Tou yang melihat diatas cambuk itu penuh dengan duri yang tajam dalam hati merasa aangat terkejut sekali.
Didalam keadaan tidak sadar dia sudah mengerahkan tenaga murninya, tangan serta kakinya sedikit disusutkan, tali-tali yang mengikat tubuhnya itu segera terputus sama sekali, dengan cepat dia meloncat bangun melancarkan serangan dahsyat, angin pukulan menyambar segulung demi segulung membuat orang orang yang berada didalam goa penjara itu segera terpental dan jatuh terlentang diatas tanah.
Bersama pula bentaknya keras.
"Hmmm..siapa yang berani bergerak aku segera minta nyawanya"
Sambil berkata dia berdiri bertolak pinggang disana, sepasang matanya melotot keluar dengan bulatnya.
XXX Ketika Ciang Beng Hu yang berada diluar pagar kayu yang melihat keadaan yang demikian gagahnya dari Liem Tou, dalam hati diam-diam sedikit merasa terperanjat, dia tahu sekalipun dirinya sendiri masuk kedalam belum tentu bisa menguasai dirinya.
Sedang dia merasa serba salah terlihat Song Beng Lan berjalan mendatang sambil ujarnya.
"Oooh kiranya kuncu berada disini, Ong Bo sedang mencari kamu orang."
"Kedatanganmu sangat tepat sekali, mari kita masuk kedalam menguasai bangsat cilik itu terlebih dahulu."
Sambil berkata dia menarik Song Beng Lan masuk kedalam pagar kayu dan berdiri dikedua samping yang berlawanan, ujarrya.
"Hey Liem Tou, ini hari mari kita bertempur dikandang binatang, aku mau lihat seberapa kelihayanmu."
O000o0000o00000 Begitu Ciang Beng Hu masuk kedalam pagar kayu itu, lelaki-lelaki kasar yang dipukul rubuh Liem Tou tadi dengan cepat merangkak bangun untuk mengepung kembali.
Liem Tou begitu melihat sekelilingnya sudah dikepung rapat-rapat oleh pihak musuh bahkan kedua orang jago berkepandaian tinggi satu berada didepan yang lain dibelakang mengepung dirinya mombuat hatinya merasa sedikit jeri juga.
Bagaimana juga pengalamannya didalam menghadapi musuh masih terlalu cetek sehingga sebelum turun tangan keadaannya sudah amat bingung dan gugup, teringat akan kekejaman, keganasan serta penghinaan yang dilontarkan Ciang Beng Hu kepadanya tidak terasa hawa amarahnya memuncak, bentaknya dengan keras.
"Pelacur bau, terima seranganku ini."
Mendadak ...hawa murninya dipusatkan pada telapak tangannya kemudian dengan hebat dibabat kearah dada Ciang Beng Hu, dengan cepat bahu Ciang Beng Hu sedikit miring kesamping Liem Tou hanya merasakan secara tiba-tiba belakang punggungnya ada segulung angin yang santer membokong tubuhnya, pinggangnya dengan cepat ditekuk kedepan gerakannya berubah dengan jurus serangan yang lain telapak kirinya menyerang ketubuh Ciang Beng Hu.
Ciang Beng Hu melihat Liem Tou hanya khusus menyerang dirinya saja membuat hawa amarahnya berkobar kobar, air mukanya berubah sangat hebat kuda-kudanya diperkuat tanpa menghindarkan diri lagi sepasang telapaknya didorong kedepan secara berbareng.
"Bluuk ..."
Dengan keras lawan keras dia menerima datangnya serangan Liem Tou itu.
Ciang Beng Hu merupakan Putri kedua dari Au HAy, sejak kecil dia sudah dimanja oleh orang tuanya, kepandaian silat yang diterima dari partai Kiem Tian Pay sekalipun belum berhasil dilatih hingga mencapai kesempurnaan tetapi boleh lihay juga.
Kalau tidak bagaimana didalam pengadilan kota Tiong Leng bisa menahan serangan dan Kioe Long Wan Kauw yang sudah lama punya nama besar didalam dunia kangouw?
Sabaliknya kapandaian silat Liem Tou sekalipun baik, tenaga murninya bagaimanapun juga masih merupakan hasil latihannya selama sepuluh hari ini saja, sekalipun boleh dibilang tenaga murninya boleh juga tetapi didalam keras lawan keras ini dengan sangat jelas sekali boleh diketahui siapa yang lemah siapa yang kuat.
Begitu sepasang telapak tangan Ciang Beng Hu dilancarkan berbareng Liem Tou segera merasakan segulung hawa pukulan yang sangat keras sekali dan berat menekan tubuhnya dengan sangat dahsyat, tidak tertahan lagi tubuhnya bergoyang mundur kebelakang dengan cepat, sebaliknya Ciang Beng Hu masih tetap saja berada ditempat semula.
Baru Liem Tou terdorong dua langkah kebelakang mendadak jalan darah "Ie Sun Hiat"
Pada punggungnya serta jalan darah "Cing-Ju Hiat"
Pada pinggangnya terasa menjadi kaku, tidak kuasa lagi badannya rubuh keatas tanah dengan sangat keras, mulutnya terbuka lebar lebar lidahnya menjulur keluar tidak sanggup untuk bangun kembali.
Terdengar Song Beng Lan sambil tertawa dingin ujarnya.
"Hmmm . .. aku mau lihat kamu orang bisa galak seperti apa lagi"
Ciang Beng Hu pun dengan girang berteriak.
"Ha ha ha , . aku sudah salah duga dirimu pada waktu yang lalu, kiranya kamu orang hanya macan-macanan dari kertas hanya bisa mengejutkan kamu orang saja."
Sehabis berkata dia lalu merebut cambuk hitam dari orang itu, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi dengan sekeras kerasnya dia menghajar seluruh tubuh Liem Tou dengan menggunakan cambuk berduri tersebut.
Saat ini kedua jalan darah penting pada tubuh Liem Tou sudah tertotok sehingga untuk bersuara tidak bisa bergerak pun tidak murgkin terpaksa sambil menggigit kencang bibirnya menahan siksaan dan perasaan sakitnya.
Beberapa saat kemudian seluruh tubuh Liem Tou sudah basah kuyup oleh darah segar yang mengucur keluar dengan derasnya terkena cambuk yang berduri tajam itu, sakitnya luar biasa hingga meresap di dalam tulang sumsumnya, saat ini dia sudah membenci Ciang Beng Hu sehingga meresap dalam hatinya, dia pingin menelan bulat-bulat tubuhnya semakin dia memukul lebih keras sepasang matanya yang merah darah dipentangkan semakin lebar lagi dalam hati diam-diam sumpahnya.
"Dalam sepuluh hari ini aku Liem Tou tentu akan membalas dendam sakit hati ini."
Tapi Ciang Beng Hu tetap memukul tanpa berhenti sebentarpun juga, akhirnya Liem Tou tidak dapat menahan perasaan sakit yang luar biasa ini tidak tertahan lagi dia jatuh tidak sadarkan diri.
Sekali pun dia sudah jatuh pingsan tetapi sepasang matanya masih tetap melotot betul betul dengan besarnya.
Menanti dia sadar kembali dari pingsannya, orang itu sejak semula sudah meninggalkan tempat itu, dengan perlahan dia mulai mencoba menggerakkan tubuhnya dia tahu jalan darahnya sudah dibebaskan hanya saja kulit serta tubuhnya penuh dengan luka yang merekah lebar, sedikit bergerak saja terasa begitu sakitnya hingga sukar ditahan.
Mendadak dalam ingatannya terbayang kembali tali pengikat pinggang dari Hek Loo Toa itu dengan cepat dia lepaskan tali itu dari pinggangnya sendiri tanpa parduli apa-apa lagi, dengan cepat digigitnya satu utas.
Semula didalam anggapannya tentu sukar sekali dalam menelan tali itu, siapa tahu begitu masuk kedalam mulutnya terasa sangat mujarab sekali tidak terasa lagi diam-diam dia sudah menghabiskan satu kerat.
Jangan dikira tali itu tidak berguna, kiranya benda itu merupakan barang berharga yang sangat mujarab sekali, begitu dia menelan tali itu didalam sekejap saja seluruh bekas pukulan cambuk berduri itu tidak terasa sakit lagi, sekalipun bekas lukanya belum tertutup sama sekali.
Mana dia tahu kalau tali yang kelihatannya sangat sederhana itu sudah membuang waktu serta tenaga yang besar dari Hek Loo toa untuk membuatnya, disamping beratus ratus macam tumbuhan obat yang sukar dicari didalamnya juga mengandung obat kuat serta jien som yang berusia ribuan tahun.
Kalau tidak penderitaan dari Hek Loo toa didalam penjara yang gelap itu dimana setiap hari menerima cambukkan yang kejam, jangan dikata tiga tahun sekalipun tiga hari saja dia tidak mungkin bisa bertahan.
Luka cambukan yang diderita Liem Tou sudah tidak sakit lagi teringat kembali kekejaman dari Ciang Beng Hu membuat Liem Tou tidak mau melepaskan sedetik waktupun dengan sia-sia setiap detik, setiap waktu dia duduk bersemedi melatih ilmunya, jika ada orang yang menengok kedalam penjara itu segera dia pura-pura rebahkan diri diatas tanah seperti orang yang sakit parah, merintih kesakitan tidak henti-hentinya.
Dengan tidak henti-hentinya Liem Tou melatih tenaga dalamnya ditambah dengan obat dari Hek Loo toa yang sangat mujarab lama kelamaan pendengaran telinganya secara mendadak menjadi sangat tajam dengan sendirinya ditengah gua penjara yang sangat gelap sekali bukan saja dapat melihat benda yang ada disana dengan amat jelas sekali bahkan seperti di siang bari saja.
Bahkan suara terjunan air diluar gua bisa didengarnya sangat jelas sekali.
Sampai waktu itu asalkan ada orang yang mau masuk gua memeriksa keadaannya sejak mereka masuk kemulut gua dia sudah tahu terlebih dahulu, karenanya beberapa kali Ciang Beng Hu menjenguk dirinya setiap kali dia rebah terlentang ditanah pura-pura sakit parah.
Tidak terasa sepuluh hari lewat lagi, hari itu sewaktu Liem Tou duduk barsemedi melatih tenaga dalamnya mendadak terasa olehnya hawa panas yang menerjang naik didalam tubuhnya secara tiba-tiba lenyap tanpa bekas, dalam hati terasa dibuat tertegun.
Dengan cepat dia menarik kemudian menyerahkan seluruh tenaga murninya yang berada didalam tubuhnya, siapa tahu tubuhnya yang sedang duduk bersila diatas tanah itu secara mendadak melayang meninggalkan permukaan tanah.
Perasaan terkejut kali ini benar-benar membuat Liem Tou hampir jatuh pingsan, dengan cepat pikirannya berputar memikirkkan akan hal ini tetapi walaupun sudah berputar beberapa lama tetap tidak paham apa yang sudah terjadi.
Tetapi semakin lama dia merasa penglihatannya semakin tajam, keadaan gua itu jauh lebih terang lagi seperti disiang hari bolong, ketika dilihatnya atap gua itu tidak lebih hanya beberapa kaki tingginya dari permukaan tanah suatu pikiran aneh mancul didalam benaknya.
Dengan cepat tubuhnya sedikit menutul permukaan tanah badannya dengan sangat ringan sudah mencapai atap gua itu, hatinya merasa sangat girang sekali, baru saja tubuhnya mencapai permukaan tanah telapak tangannya dengan sangat dahsyat menghajar kayu itu.
Didalam anggapannya dia hanya ingin mencoba-coba kekuatan telapak tangannya sudah mencapai tingkat yang bagaimana siapa tahu pukulannya ini jauh berada diluar dugaannya.
"Bluuk ---"
Pagar kayu sebesar mangkok itu secara mendadak terpukul patah menjadi tiga empat bagian.
Saking girang dengan hasil yang dicapainya ini sekali lagi Liem Tou melancarkan serangan dahsyat dengan mengguaakan tangan kirinya suatu suara yang sangat nyaring berkumandang kembali pagar kayu itu sekali lagi terputus menjadi beberapa bagian.
Melihat hal ini dia meloncat-loncat saking girangnya sepasang telapaknya berbareng melancarkan serangan bersama-sama ..Blummm ...
seluruh pagar yang tersiap terpukul hingga melayang keempat penjuru.
Saat ini kegembiraannya sudah memuncak tanpa perduli apa-apa dia meninggalkan gua itu.
Padahal beberapa hari sebelumnya dia sudah sanggup meninggalkan goa itu, hanya saja sewaktu melatih ilmunya tadi dia baru merasakan akan hal ini.
Padahal dengan ketiga urat nadi terpentingnya yang sudah ditembus ditambah dengan latihannya siang malam secara giat selama beberapa hari ini mungkin hanya untuk memberikan suatu tenaga murni untuk melindungi badannya sudah jauh lebih cukup.
Gerakkannya menerjang keluar gua itu sudah mengejutkan orang-orang yang menjaga goa tersebut dengan cepat terlihatlah beberapa orang dengan cepat berlari masuk gua untuk melihat apa yaag sudah terjadi tidak menanti mereka berlari mendekat dari tempat jauh dia sudah melancarkan satu serangan kilat, gua itu sangat kacil sekali ditambah datangnya serangan sangat dahsyat membuat orang-orang itu tidak bisa bertahan lagi, berturut turut terdengar suara dengusan berat orang-orang itu rubuh keatas tanpa bisa bangkit kembali.
Tanpa ambil perduli lagi dia melewati orang orang itu berjalan keluar dari gua itu, ketika kepalanya memandang keangkasa terlihatiah bulan dan bintang bertebaran dilangit, saat itu sedang di tengah malam yang buta, kiranya dia yang tertawan didalam gua yang gelap gulita sadar untuk menentukan saat itu siang atau malam karenanya dia tak tahu kalau saat dia keluar gua ini adalah ditengah malam buta.
Satu satunya keinginan pada saat ini adalah mencari Ciang Beng Hu untuk balas dendam dengan mengikuti jalanan kecil disamping air terjun itu dia memasuki gua yang amat besar dibalik tempat itu, tapi disana tak terlihat sesosok bayangan manusiapun, tak terasa dia jadi sangat heran pikirnya.
"Apa mereka tidak bertempat tinggal disini?"
Dengan cepat dia mengundurkan diri dari tempat itu dan berdiri disamping air terjun tersebut, lama sekali dia herpikir keras tapi belum dapat bayangan juga pergi kekanan untuk mencari Ciang Beng Hu itu mendadak suatu pikiran bagus berpikir dalam benaknya, dengan cepat dia putar tubuhnya memeriksa sekeliling tempat itu, tak salah lagi dibawah gunung disamping selokan yang mengalir itu terlihatlah titik sinar yang sangat samar-samar hatinya menjadi bergerak pikirnya.
"Ditengab gunung yang demikian sunyi dan liar bagaimana ada orang yang berdiam disana?"
Berpikir sampai disini dengan cepat tubuhnya bergerak menuruni bukit itu, tapi ditengah gunung yang terjal ditambah dengan batu batu cadas yang tajam mana ada jalan baik untuk dilalui ?
Terpaksa dengan sangat berhati hati dia merambat turun dengan pegangan dinding tebing yang curam saat itulah mendadak sebuah batu cadas yang dipegang olehnya jatuh menggelinding kebawah, agaknya badannya akan ikut terjatuh kedalam jurang, saat yang sangat kritis itulah mendadak kakinya menutul batu itu dengan cepat tubuhnya melayang keatas sebuah batu cadas yang menonjol keluar, saking terkejutnya keringat dingin sudah mulai mengucur keluar.
Ketika dia menoleh kebelakang terlihatlah batu dimana dia berdiri tadi ada dua tiga kaki jauhnya dari tempat sekarang ini puluhan dirinya tidak mengerahkan tenaga yang sangat besar saat itulah dia baru tahu tenaga dalam yang dilatihnya selama ini sudah mendapatkan kemajuan yang sangat pesat sehingga tanpa dia sadari tubuhnya bertambah ringan lagi.
Didalam keringanan itu dia tak berpikir panjang lagi dengan cepat dikerahkannya lagi, ilmu meringankan tubuhnya berlari menuruni tebing itu dengan lincahnya, sekarang dihadapannya sudah muncul sebuah bangunan besar yang sangat megah sekali pikirnya dalam hati.
"Ciang Beng Hu itu pasti berdiam dirumah ini."
Dengan cepat dia berlari kesamping tembok pagar, dengan satu kali loncatan tubuhnya sudah melayang keatas atap bangunan itu.
Tubuhnya begitu ringan sehingga gerakannya ini tidak menimbulkan suara sedikitpun juga.
Sesudah melewati dua buah bangunan dari tempat kejauhan terlihatlah sinar lampu yang dilihatnya itu berasal dari bangunan sebelah selatan, dengan tidak berpikir panjang lagi tubuhnya melayang kearah sana.
Dari luar jendela terlihatlah keadaan dalam ruangan itu dengan sangat jelas, kiranya orang-orang dengan dandanan yang berbeda yang ditemuinya waktu yang lalu kini sedang duduk berkumpul disana dan bermain judi dengan ramainya.
Melihat orang-orang itu mendadak dalam ingatan Liem Tou berkelebat suatu bayangan bagus pikirnya.
"Ehmm . aku harus menggunakan orang-orang ini baru bisa memancing keluar Ciang Beng Hu pengemis terkutuk itu."
Matanya dengan cepat berkelebat memeriksa keadaan disekeliling itu sesudah didapatkan satu tempat persembunyian yang sangat bagus barulah diangkatnya sebuah batu besar itu ke arah orang-orang yang sedang berkumpul bentaknya dengan sangat keras.
"Cepat suruh Kuncu terkutuk kalian keluar". Sambil berkata tubuhnya dengan cepat melayang bersembunyi pada tempat persembunyian yang sudah dicarinya terlebih dahulu. Terdengar dua kali jeritan yang sangat mengerikan, dua orang diantara orang yang sedang berjudi itu seketika itu juga binasa dengan kepala yang pecah hancur berantakan terkena sambitan batu besar dari Liem Tou yang dilakukan tanpa mereka sadari, suasana menjadi kacau balau. Dengan tergesa-gesa mereka pada lari keluar ruangan dan meloncat naik keatas atap rumah. Pada saat yang bertepatan juga dari ruang sebelah berkelebat keluar dua sosok bayangan manusia yang melayang datang, tanyanya.
"Saudara saudara sekalian, telah terjadi urusan apa?"
Liem Tou yang bersembunyi dibelakang gunung-gunungan ditengah taman bagitu mendengar suara itu darah panasnya segera bergolak, orang itu tidak lain adalah Ciang Beng Hu yang paling dia benci itu, kemudian telah terdengar suara suara yang ribut dari orang itu sedang menceriterakan keadaan yang sebenarnya, terdengar suara dari Au Hay Ong Bo sedang berkata.
"Kalau memang begitu, tentu orang itu belum meninggalkan tempat ini..bangsat dari mana yang bernyali besar berani lari kesini mengacau ?"
"Ibu"
Ujar Ciang Beng Hu pula yang berdiri disampingnya.
"Apa mangkin kawan-kawan dari Bu Lim sudah dapat berita kalau Liem Tou berhasil kita tawan kemari sehingga datang mengacau ??"
Mendengar perkataan itu didalam hati diam-diam Liem Tou tuerasa sangat geli sekaii.
Liem Tou yang bersembunyi ditempat kegelapan mendadak sangat terkejut, kiranya saat itu terlihatlah seorang dengan langkah yang mantap berjalan mendekati tempat persembunyiannya, segera pikirnya dengan cepat.
"Aduh..dia datang kesini, agaknya tempat ini tidak mungkin bisa aku gunakan lag!, jika mereka tahu aku bersembunyi disini dengan jumlah yang banyak aku tidak akan bisa lobos dari kepungan mereka, lebih baik kini juga aku mengundurkan diri kemudian baru cari kesempatan mencari balas."
Berpikir sampai disini dengan tidak perduli disana banyak orang atau tidak, mendadak tubuhnya meloncat keluar dari tembok pagar kemudian lari dengan cepatnya keluar dari bangunan itu mendekati sebuah sungai yang amat deras.
Begitu dia munculkan diri, jejaknya segera diketahui orang-orang itu terdengar suara teriakan yang sangat ramai.
"Bangsat itu melarikan diri keluar perkampungan, cepat kejar."
Liem Tou yang berlari hingga tepi sungai hatinya menjadi mantap, sambil putar tubuhnya ia membentak dengan keras.
"Hey Ciang Beng Hu, kamu kemari."
Orang-orang itu ketika melihat orang tersebut tidak lain adalah Liem Tou yang dipenjarakan didalam gua yang gelap tak terasa dibuat tertegun dibuatnya, Au Hay Ong Bo serta Ciang Beng Hu pada saat itu juga tepat sedang tiba disana, begitu melihat orang itu Liem Tou pada air mukanya jelas memperlihatkan perasaan herannya.
Teriak Liem Tou lagi dengan keras "Ciang Bang Hu, aku Liem Tou sudah merasakan penderitaaa dan siksaan yang kejam dari kamu manusia tidak tahu malu sekarang kamu berani tidak menerima satu kali pukulanku ?"
Mendengar tantangan itu Ciang Beng Hu tertawa cekikikan kegelian, sahutnya sambil tertawa.
"Liem Tou, kepandaian cakar ayammu itu aku sudah merasakan kehebatannya, kini walau pun aku mengikat salah satu tanganku kiranya kamu orang juga tidak akan bisa lolos dari cengkeramanku."
Sehabis berkata tangannya yang sebelah ditekuk kebelakang kemudian dengan langkah perlahan berjalan mendekati kearah Liem Tou.
Melihat sikapnya yang pandang rendah pihak musuh Au Hay Ong Bo segera berteriak memberi peringatan.
"Hu jie kamu harus sedikit berhati-hati jangan terlalu gegabah sehingga terkena pukulan mematikannya."
"Ibu kamu orang tua harap berlega hati"
Sahut Ciang Beng Hu sambil berjalan sembari menjawab.
"Dia tidak lebih hanya sebuah macan kertas saja, kelihatannya memang galak padahal sedikitpun tidak berguna"
Melihat Ciang Bang Hu itu begitu tidak melihat sebelah matapun kepada Liem Tou dia merasa sangat girang, pikirnya.
"Hmmm..kebetulan sekali, kini mau kuperlihatkan suatu pemandangan indah kepadamu."
Diam-diam tenaga dalamnya segera disalurkan kedalam telapak tangannya sedangkan pada air mukanya sengaja memperlihatkan perasaannya yang sangat tegang, teriaknya lagi dengan keras.
"Ciang Beng Hu, kau berdiri saja disana jangan bergerak, kalau kamu berani maju mendekati lagi jangan salahkan aku segera turun tangan membinasakan kamu orang"
Bersamaan pula tubuhnya dengan perlahan-lahan mulai bergeser mundur kebelakang. Melihat sikapnya yang ketakutsn itu tak terasa lagi Ciang Beng Hu tertawa keras, ujarnya.
"Liem Tou kamu orang jangan takut sebelum memberitahukan tempat penyimpanan kitab To Kong Pit Liok itu aku takkan membiarkan kau binasa dengan cepat."
Sambil berkata tubuhnya setindak demi setindak maju mendesak mendekati tubuh Liem Tou.
Sekali lagi Liem Tou mundur dua langkah ke belakang sehingga sekarang badannya sudah sangat dekat dengan sungai itu, saat itulah baru dia membentak dengan sangat keras.
"Hmmm ---hmmm — -jika kamu berani maju satu langkah lagi, aku segera akan turun tangan"
"Kamu turun tanganlah,"
Ujar Ciang Beng Hu sambil tertawa.
"Aku akan menyambut semua seranganmu itu."
Dalam hati Liem Tou tahu siasatnya sudah termakan oleh pihak lawannya, kini melihat jarak Ciang Beng Hu dengan dirinya tidak lebih hanya terpaut tiga lima tindak saja mendadak telapak kirinya diangkat bentaknya.
"Terima seranganku ini"
Dengan cepat Ciang Beng Hu mengangkat telapaknya menutup seluruh tubuhnya siapa tahu serangan dari Liem Tou ini tidak lebih hanya gertakan kosong saja, mendadak tangannya ditarik kembali sedang telapak kanannya secara mendadak melancarkan satu serangan dahsyat.
Dengan cepat Ciang Beng Hu menghindarkan diri ke samping, tetapi jurus serangan Liem Tou ini entah didapatkan dari mana sedikit tenaga pukulan tidak tampak.
Segera terdengarlah suara tertawa ejekan serta makian dari orang orang disekitar tempat itu.
"Bangsat cilik ini sungguh tidak tahu kekuatan sendiri, dengan kebodohan seperti ini masih berani bergebrak lawan Kuncu kita . , ha ha ha ha . ."
Pada saat itulah mendadak Liem Tou miringkan badan kesamping, seluruh tenaga dalamnya disalurkan pada sepasang telapak tangannya kemudian didorongnya segera bersama-sama kedepan, bentaknya.
"Ciang Beng Hu jangan keliwat kegirangan dulu, terimalah serangan mautku ini"
Ciang Beng Hu tetap dengan menggunakan tangan tunggalnya menerima serangan tersebut, sahutnya sambil tertawa ewa.
"Tidak lebih sama juga."
Perkataannya belum selesai diucapkan mendadak air mukanya berubah sangat hebat, teriaknya.
"Celaka."
Perkataannya baru saja keluar dari mulutnya segulung angin serangan yang sangat dahsyat sudah menggulung datang bagaikan menggulungnya ombak besar ditengah samudra. 'Bluuk..bluuuk.."
Terdengar suara dengusan yang sangat berat tubuh Ciang Beng Hu seketika itu juga terpental sejauh tiga kaki lebih dan roboh keatas tanah dengan sangat kerasnya dari mulutnya kelihatan darah segar menyembur keluar dengan derasnya disertai dengan jeritan melengking yang sangat mengerikan.
"Liem Tou kau . ."
Suaranya mendadak terputus dan suasana jadi hening sejenak.
Au Hay Ong Bo sekalian dengan cepat menyerbu kedepan mengurung tubuh Liem Tou rapat-rapat, tetapi saat itu juga Liem Tou sudah menyeburkan badannya kedalam sungai, terlihat percikan air memancar keempat penjuru bayangan tubuh Liem Tou sudah lenyap ditelan oleh aliran air sungai yang sangat deras itu.
Kota Li Cian Ko dibawah gunung Cin Jan hari ini mendadak kedatangan berbagai jago-jago berkepandaian tinggi dari dunia kangouw pada umumnya, semua jago jago itu secara serentak bersama-sama menginap dirumah penginapan di dalam kota tersebut sehingga suasana menjadi sangat ramai sekali.
Kiranya mereka adalah jago-jago yang mendapat undangan dari si Ang in sin pian Pouw Sak San untuk menghadiri pembukaan serta peresmian dibukanya Ang In Piauw kiok diatas gunung Ha Mo San.
Hari itu diperkampungan Ie Hee Cung diatas gunung Ha Mo Leng suasana pun tidak kalah ramai serta repotnya ruangan Cie Eng Toug sudah dihiasi dengan alat-alat perlengkapan yang sangat mewah khusus diperuntukkan perjamuan yang diadakan untuk para jago-jago dari dunia kangouw itu.
Malam itu Si Ang In Sin pian Pouw Sak San akan membuka perjamuan itu dengan segala kemegahan serta kemewahannya karena suasana sangat kacau dan ribut, siapapun tidak memperhatikan gerakan-gerakan yang terdapat disekeliling tampat itu.
Mendadak dibelakang perkampungan Ie Hee Cung itu terlihat sesosok bayangan manusia dengan gerakan yang mencurigakan dan bersembunyi-sembunyi menyelinap kedalam perkampungan itu.
Kiranya orang itu adalah Liem Tou yang baru saja meloloskan diri dari ceragkeraman raja Au Hay dari partai Kiem Tian Pay, siang malam dia melakukan perjalanan dari daerah Chuan Tien melalui Ngo Lian Hong terus menuju kearah gunung Cing Jan hingga mencapai bawah gunung Ha Mo Leng, kemudian dengan tidak pikir-pikir panjang lagi, dengan melalui jalan rahasia ditengah sungai itu dia terus lari menaiki puncak gunung.
Ketika dia tiba dimulut gua hari masih terlalu pagi karenanya dia tidak berani munculkan dirinya, dia takut ditemui orang lain sehingga niatnya untuk menemui Ie cici menjadi gagal total, karenanya menanti cuaca sudah menjadi gelap dengan merindip-rindip mulai melakukan perjalanan menuju kernmah Lie Siauw Ie.
Jalanan didalam perkampungan Ie Hee Cung boleh dikata sudah sangat hapal sekali, beberapa saat kemudian dia sudah tiba didepan pintu rumah Lie Siauw Ie, dia menemukan tempat itu masih terang benderang oleh sinar lampu dengan perlahan dia mulai mendekati rumah itu dan mengintip kedalam melalui celah-celah jendela, terlihatlah waktu itu Lie Siauw Ie sedang duduk sendirian didalam rumah wajahnya penuh dengan bekas-bekas air mata.
Dengan perlahan-lahan Liem Tou mengetuk pintu rumahnya baru saja mau berteriak memanggil mendadak terlihatlah Lie Siauw Ie dengan sangat terkejut meloncat bangun, sepasang matanya dengan melotot bulat bulat memandang tajam luar jendela, teriaknya kemudian.
"Ibu . --setan itu datang lagi, setan itu datang lagi."
Melihat sikapnya yang begitu, dalam hati Liem Tou betul-betul merasa sedih, ujarnya dengan perlahan.
"Ie cici aku bukan setan aku Liem Tou aku adalah adik Tou mu ---Tou titimu."
Mendengar perkataan itu agaknya Lie Siauw Ie menjadi melengak, tapi segera tertawa kalap lagi, ujarnya.
"Ha ha ha ha , . ibu, kau sudah dengar belum, setan itu bilang dia adalah Tou titi, Tou titi sudah binasa sangat lama sekali."
Mendadak ..air mukanya berubah sangat hebat, dengan wajah yang sangat menyeramkan bentaknya keras.
"Pouw Siauw Ling, aku mau adu jiwa sama kamu orang."
Sehabis membentak tangannya diayunkan kedepan beberapa sinar keperak-perakan berkelebat menyilaukan mata berpuluh batang jarum Kioe Cu Gin Ciam sudah disambit keluar sehingga menancap pada jendela itu.
Dalam hati Liem Tou betul-betul merasa sangat sedih seperti diiris-iris baru saja mau berteriak memanggil namanya, mendadak Lie Siauw Ie menyambar bangku didepannya kemudian dilemparkan keluar jendela dengan kerasnya.
"Bruuk ..."
Suara yang sangat nyaring segera memecahkan kesunyian, terlihatiah ibu dari Lie Siauw Ie dengan tergesa-gesa masuk kedalam kamarnya sambil ujarnya kepada Lie Siauw Ie.
"Siauw Ie ada apa? Dia datang lagi?"
Lie Siauw Ie memandangi ibunya sejenak kemudian mengangguk. Melihat gerak-gerik dari Ibu beranak itu Liem Tou menjadi bingung dibuatnya, dalam hati diam-diam pikirnya.
"Haaa bagaimana sebetulnya? Kenapa didalam sekejap saja Ie cici sudah sadar kembali??"
Baru saja pikirannya berputar mendadak dari samping tembok diujung tempat itu secara samar-samar muncul sesosok bayangan manusia yang dengan langkah perlahan berjalan mendekat, saat ini dia bisa melihat benda ditempat gelap seperti melihat pada siang hari saja karenanya begitu memandang segera mengetahui kalau orang itu tidak lain adalah Pouw Siauw Ling, hatinya menjadi sangat terkejut sekali, tanpa berpikir panjang lagi tubuhnya menyusup kesamping hendak menyembunyikan diri.
Begitu dia bergerak Pouw Siauw Ling segera sadar, mendadak dengan suara yang keren bentaknya.
"Siapa yang sedang mengintip rumahnya Ie moay moay?"
Sebetulnya Liem Tou hanya ingin bertemu dengan Ie cicinya saja, tetapi kini jejaknya sudah diketahui oleh Pouw Siauw Ling mau tak mau terpaksa berhenti juga, pikirannya dengan cepat berputar pikirnya.
"Kini dia sudah mangejar datang, kenapa aku tidak permainkan dirinya terlebih dulu?"
Berpikir sampai disini tubuhnya dengan cepat meloncat keatas kemudian melayang kearah belakang kampung melihat hal ini Pouw Siauw Ling tidak mau melepaskan dengan begitu saja dengan cepat menyusul dari belakangnya.
Liem Tou segera mengerahkan tenaga murninya, dengan menutul tanah tubuhnya melayang pergi, makin lama Pouw Siauw Ling semakin ketinggalan sehingga akhirnya sampailah mereka didalam hutan dibelakang perkampungan itu.
Liem Tou pun semakin lari semakin bertambah perlahan Pouw Siauw Ling sudah sangat dekat dengan dirinya mendadak dia putar tubuhnya dan berdiri tidak bergerak disana.
Didalam sekejap saja Pouw Siauw Ling sudah tiba disana, bentaknya dengan keras.
"Manusia pengecut dari mana berani mengacau ditempat ini, cepat sebut namamu untuk terima kematian."
Liem Tou tetap tidak bergerak dari tempat semula, mendadak sepasang matanya melotot keluar dengan bulatnya.
Phuuu segulung angin yang sangat dingin segera disemburkan kearah Pouw Siauw Ling yang semakin mendekati kearahnya itu, sengaja dengan nada yang menyeramkan ujarnya.
"Pouw Siauw Ling, ini hari aku sengaja datang hendak mencabut nyawamu kau coba lihat siapa aku ini?"
Sesudah mendengar perkataan itu barulah Pouw Siauw Ling memperhatikan kearah Liem Tou dengan cermat, mendadak teriaknya setengah kalap.
"Ada setan. Ada setan."
Dengan cepat dia putar tubuh dan lari meninggalkan tempat itu dengan terbirit-birit. Liem Tou tidak mau melepaskan begitu saja dengan segera dia mengejar dari belakang, ujarnya.
"Pouw Siauw Ling kamu orang jangan pergi. Perbuatanmu sungguh bagus sekali, ditengah sungai kamu orang membegal barang kawalan orang kemudian bunuh orangnya . Hmmmm orang-orang didunia tidak akan tahu tapi kami yang berada diakhirnya tahu semua perbuatanmu dengan sejelas jelasnya."
Beberapa saat kemudian Liem Tou dapat melihat Pouw Siauw Ling sambil terkencing kencing saking ketakutannya sudah memasuki dalam perkampungan, makanya dia berhenti mengejar ujarnya kemudian.
"Hmmm . , ma!am ini aku biarkan kamu orang melarikan diri, besok pagi sesudah dibukanya perjamuan aku akan cari kamu untuk hitung hutang-hutang kita yang lalu."
Sehabis berkata dia berkelebat kesamping dan menyambunyikan diri ditengah hutan yang lebat dipingiran perkampungan itu.
Kita balik pada Pouw Siauw Ling yang melarikan diri kembali kerumahnya, dengan air muka yang sudah berubah pucat pasi dengan perlahan-lahan dia masuk kedalam ruangan, tubuhnya gemetar sangat keras untuk setengah harian lamanya tidak sepatah katapun yang sanggup diucapkan keluar.
Menanti sesudah dia menceritakan urusan ini dengan jelas maka keesokan harinya urusan munculnya roh Liem Tou dibelakang perkampungan sudah tersebar luas didalam perkampungan itu, bahkan kata-kata itu menyebutkan juga kemungkinan Liem Tou akan munculkan diri pula disiang hari ini untuk menghadiri pertemuan yang akan diadakan itu.
Tetapi perkataannya ini siapa yang mau percaya?
Sampai Si Ang in sin pian Pouw Sak San yang melihat dengan mata kepala sendiri parasaan takut yang tergambar pada air mukanya tidak percaya juga, hanya saja secara mendadak dia teringat akan perkataan dari Pouw Siauw Ling sewaktu membagi-bagikan kartu undangan pada para jago itu, tanyanya kemudian pada Pouw Siauw Ling.
"Ling jie, yang kamu temui kemarin adalah Liem Tou sungguh-sungguh atau setan?"
"Setan, pasti setan."
"Menurut penglihatanku, jika betul betul kamu melihat dia terang dia adalah manusia, di dalam dunia ini mana bisa ada setan?"
"Tapi Tia,"
Bantah Pouw Siauw Ling lagi dengan ngotot.
"Hal ini tidak mungkin bisa salah, bangsat cilik Liem Tou itu kita melihat sendiri dengan mata kepala kita kalau dia sudah mati bagaimaua bisa hidup kembali, bahkan .."
Mendadak Pouw Siauw Ling merendahkan nada ucapannya, ujarnya lagi.
"Tia, Peristiwa kita membegal barang-barang kawalan itu dia ternyata tahu juga. Lingjie dengan telinga sendiri mendengar perkataan itu dengan sangat jelas, coba kamu pikir dia manusia atau setan.?"
Perkataan ini seketika itu juga membungkamkan si Ang in sin pian Pouw Sak San. Lama kemudian barulah sahutnya sambil gelengkan kepalanya.
"Kalau begitu sangat aneh sekali."
Tapi rakyat didalam perkampungan Ie Hee Cung itu hanya seorang saja yang percaya Liem Tou sudah munculkan dirinya, orang itu tidak lain adalah Lie Siauw Ie sendiri.
Pagi pagi itu begitu dia dengar berita tentang bertemunya Pouw Siauw Ling dengan roh halus Liem Tou semangatnya tidak terasa berkobar kembali didalam dadanya, dengan cepat dia lari menuju kearah luar perkampungan bahkan berteriak-teriak memanggil nama Liem Tou dengan tidak henti-hentinya.
Setelah dilihatnya tidak ada orang yang menguntit dirinya dengan diam-diam dia memeriksa keadaan gua yang tersembunyi itu, terlihatlah diatas permukaan tanah didalam gua itu masih terlihat bekas-bekas air yang masih belum mengering, dia semakin percaya kalau Liem Tou sudah munculkan dirinya disana, teringat juga percakapan kemarin malam diluar jendela, dengan jelas suara itu adalah suara dari Liem Tou tapi dia sudah salah menduga kalau Pouw Siauw Ling yang sudah munculkan dirinya kenapa waktu itu dia tidak bisa membedakan suara-suara tersebut??
Kiranya hari itu sesudah Liem Tou pura-pura mati naik ke gunung dan bersembunyi didalam gua, malamnya secara diam-diam Lie Siauw Ie menghantar makanan dan minuman kepadanya tetapi begitu tiba disana tidak ditemui jejaknya lagi, semalaman itu dia merasa sangat cemas dan menangis hingga menjelang pagi hari.
Keesokan harinya dia kembali lagi kedalam gua itu, ketika dilihatnya jejak kaki Liem Tou berjalan menuju kearah dalam gua maka dia pergi cari Pouw Jien Coei, kemudian bersama-sama memasuki gua itu.
Ditengah perjalanan mereka bertemu dengan ular aneh berkepala dua itu dengan tenaga gabungan mereka berhasil membasmi binatang tersebut dan akhirnya ditemui juga kalau gua itu menghubungkan puncak dengan sungai, waktu itulah Lie Siauw Ie baru tahu Liem Tou sudah pergi melewati tempat itu sehingga hatinya menjadi sangat girang sekali.
Siapa tahu beberapa hari kemudian si Ang in sin pian Pouw Sak San mendadak mendatangi ibunya kembali untuk membicarakan perkawinannya, sedang Pouw Siauw Ling pun setiap hari tentu pergi mengacau kerumahnya, didalam keadaan gusar dan apa boleh buat terpaksa Lie Siauw Ie mendatangi rumah Ang in sin pian Pouw Sak San dan memaki-maki disana dengan pinjam kesempatan ini pura-pura menjadi gila dibuatnya.
Pouw Siauw Ling sendiri walaupun melihat gerak geriknya yang seperti orang gila padahal didalam hati dia sangat tidak percaya, maka selalu menyelidiki kerumah Lie Siauw Ie secara diam-diam.
Walaupun begitu Lie Siauw Ie juga bukan seorang yang tolol, sejak semula dia sudah mempersiapkan dirinya, karena itulah sampai saat ini rahasianya tetap tidak sampai terbongkar.
Tetapi dengan sebab-sebab ini pula dia sudah membuang suatu kesempatan yang sangat baik untuk bertemu dengan Liem Tou.
Kita balik pada Lie Siauw Ie yang menuju keluar parkampungan mencari jejak Liem Tou, padahal saat itu Liem Tou menyembunyikan dirinya ditengah rerumputan tidak jauh dari tempat dimana Lie Siauw Ie berdiri, tapi saat ini dia melihat sikap serta gerak gerik dari Lie Siauw Ie yang kegila-gilaan menjadi tidak berani keluar.
Pikirnya didalam hati.
"Ehmmm... sejak Ie cici menjadi gila tentu secara diam diam ada orang yang mengawasi gerak-geriknya secara diam-diam. Untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang tidak menyenangkan aku tidak boleh menempuh bahaya untuk menemui dia ..."
Tidak lama kemudian pagi yang cerah sudah berlalu dengan cepat, siang haripun menjelang didalam sekejap mata, Lie Siauw Ie, sekalipun sudah pulang kedalam perkampungan, pikirnya lagi dalam hati.
"Mungkin saat ini sudah banyak jago yang naik keatas gunung menghadiri pertemuan itu, aku harus hadir juga kesana."
Dengan perlahan dia mengambil keluar topengnya dari dalam saku kemudian dikenakan pada wajahnya, setelah itu secara diam-diam mengitari belakang perkampungan menuju kepuncak gunung itu, dari sana terlihatlah sangat jelas sepasang binatang, sepasang bangau beserta Pouw Siauw Ling secara berpisah sedang menyambut para tamu-tamunya dipinggiran ketiga rintangan yang paling diandalkan Ie Hee Cung tersebut.
Disamping sungai sebelah sana terlihatlah berpuluh-puluh orang sudah berkumpul, hanya saja setelah dilihatnya cara menyeberangi sungai dan mendaki gunung ada beberapa yang merasa sulit, sedangkan orang-orang yang dapat melewati ketiga buah rintangan itupun hanya setengah dari jumlah seluruhnya, orang-orang yang tidak sanggup terpaksa dengan menahan malu meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Setelah melihat beberapa saat lamanya kesana, Liem Tou segera teringat kembali para jago-jago yang sudah berkumpul didalam ruangan Cie Eng Tong pikirnya.
"Kenapa aku tidak meminjam kesempatan ini menyelundup kedalam ruangan dan melihat-lihat siapa saja yang menghadiri perjamuannya ini?"
Pikiran ini baru saja berkelebat didalam hatinya, mendadak dari pantai seberang terlihatlah munculnya segerombolan kawanan kambing sangat banyak sekali, itulah gadis cantik pengangon kambing dengan perlahan-lahan munculkan dirinya dibalik hutan, melihat hal ini Liem Tou segera menyembunyikan dirinya agar gadis pengangon kambing itu jangan sampai dapat mengetahui dirinya.
Pada saat Liem Tou mengalihkan pandangannya kedalam ruangan Cie Eng Tong tanpa disadari olehnya gadis pengangon kambing yang dilihatnya telah menghampiri dirinya.
Setelah gadis pengangon kambing telah berada semakin mendekat dengan dirinya, Liem Tou baru dapat menyadari bahwa didekat dirinya ada terdengar suara derap kaki orang mendekat kepadanya.
Waktu itu gadis cantik pengangon kambing sedang memanggil Liem Tou dengan cepat ia menoleh kebelakang terlihatlah lelaki kasar berwajah hijau yang ditemuinva ditengah jalan pada tempo hari kini sudah berada dibelakang badannya tidak terasa dia menjadi melengak pikirnya.
"Eh. kapan dia naik keatas gunung ? kenapa aku tidak melihat dia ?"
Gadis cantik pengangon kambing itu dengan cepat menyongsong Liem Tou sambil mencekal tangannya.
"Oooh. Koko muka hijau ayahku bilang kamu orang menemui kesusahan, aku merasa sungguh amat cemas."
Liem Tou melihat perhatian dari gadis cantik pengangon kambing itu kapadanya begitu mendalam teringat pula kebaikan budi serta kejujurannya tidak terasa dalam hati merasa sangat berterima kasih sekali tapi mendadak didalam ingatannya berkelebat bayangan dari Lie Siauw Ie serta sikap gerak-geriknya, tidak terasa hatinya merasa amat sedih dengan cepat dia menarik kembali tangannya sambil ujarnya dengan dingin.
"Ayo jalan"
Segera dia berjalalan lebih dulu menuju keruangan Cie Eng Tong, ketika dia berjalan masuk kedalam ruangan terlihatlah didalam ruangan itu sudah terdapat berpuluh-puluh orang yang duduk ditempat masing-masing.
Diam-diam gadis cantik pengangon kambing menarik ujung baju Liem Tou sambil ujarnya dengan perlahan.
"Liem Koko orang-orang itu bukan orang baik-baik, kita duduk disebelah sini saja."
Kedua orang itu segera mencari suatu tempat dekat pojokan ruangan. Ujar Liem Tou kemudian.
"Nona aku terus terang beritahu padamu. Sejak kecil aku dibesarkan diatas gunung Ha Mo san ini sehingga seluruh rakyat disini tiada seorang pun yang tidak kenal dengan aku tapi Cung cu itu tak punya maksud baik terhadap diriku sehingga tidak sampai diketahui oleh mereka."
"Agaknya kau orang takut sama mereka yaah?"
"Bukannya aku takut pada mereka"
Sahut Liem Tou sambil gelengkan kepalanya."Hanya saja dikarenakan peraturan gunung ini sudah menentukan sebelum tiba pada waktunya meyambangi gunung tidak boleh mencuri naik keatas gunung secara diam diam."
"Ooh... kiranya begitu, kalau begitu kamu orang tak usah bicara lagi, semuanya biar aku yang uruskan."
Dengan perlahan Liem Tou mangalihkan pandangannya kesekeliling tempat itu, mendadak dari luar pintu ruangan berjalan masuklah seorang lelaki, yang satu tua yang lain muda.
Dengan cepat Liem Tou memandang sangat teliti kearah orang itu ternyata pemuda tersebut bukan lain adalah Piauwsu muda yang berhasil melarikan diri dari perahunya malam itu, ketika melihat kearah kakek tua itu lagi terlihatlah pada janggutnya sudah penuh tumbuh jenggot putih tapi kakinya masih tetap mantap, matanya memancarkan sinar yang sangat tajam sedang kedua buah keningnya menonjol keluar, sekali pandang sudah tahu kalau kakek tua itu sudah berhasil melatih tenaga dalamnya hingga mencapai pada taraf kesempurnaan.
Tanyanya Liem Tou pada gadis cantik pengangon kambing sesudah melihat munculnya kedua orang itu.
"Nona kau tahu siapa kedua orang itu?"
Dengan perlahan gadis cantik pengangon kambinq itu menoleh memandang kearah dua orang tersebut.
"Aku juga belum pernah bertemu dengan orang ini, tapi jika ditinjau dari dandanan serta usianya mungkin dia adalah pemilik ekspedisi barang Cing Liong Piauw kok dikota Yong Jan itu golok naga hijau atau Cing Liong To Sie, kau tanya dia ada perlu apa ?"
"Kalau begitu memang betul, kalau begitu memang betul"
Gumam Liem Tou seorang diri. Mendadak ujarnya lagi kepada gadis cantik pengangon kambing itu.
"Nona, kau pernah dengar tidak kalau ekspedisi Cing Liong Piauw kiok dibegal orang?"
"Bukan dibegal barang kawalannya saja bahkan semua Piauw su yang mengawal perahu itu dibunuh habis."
"Tidak...salah kau salah, sudah lolos satu orang."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Tanya gadis cantik pengangon kambing itu dengan nada terkejut bercampur heran.
Liem Tou sebenarnya mau bicara terus terang tetapi hatinya tetap ragu-ragu karenanya dia hanya gelengkan kepalanya tetap membungkam.
Waktu itu didalam ruangan bertambah lagi dengan berpuluh-puluh orang banyaknya, Liem Tou dapat melihat diantara orang-orang itu terdapat juga Hek Loojie serta Tian Pian Ngo Koei.
Jilid 11.
Au Hay Ong Bo menuntut balas BEGITU Hek Loojie masuk dalam ruangan, mendadak matanya dengan tajamnya memandang kearah gadis cantik pengangon kambing, sehingga memaksa dia menoleh kearah Liem-Tou sambil ujarnya dengan perlahan.
"Liem koko, coba kau lihat sepasang mata bangsatnya."
Liem Tou segera teringat kembali pesan terakhir dari Hek Lootoa sesaat menjelang kematiannya, tidak terasa lagi dia tertawa dingin tak ada henti hentinya.
"Nona kau tidak usah urus dia, lain kali dia akan binasa ditanganku."
Terpaksa gadis cantik pengangon kambing itu hanya tersenyum senyum saja.
Siang haripun sudah lewat, si Ang in sin pian Pouw Sak San dengsn membawa Siang Hui Hok, Liong Ciang, Hauw Jiauw serta Pouw-Siauw Ling berjalan masuk kedalam ruangan Cie Eng Tong, sambil memberi hormat ujarnya.
"Maaf ... maaf sudah menanti lama?"
Sepasang mata Liein Tou dengan tajamnya memperhatikan segala gerak gerik dari Piauw su muda dari perusahaan ekspedisi Cing Liong Piauw kiok itu, terlihatlah ketika dia mendengar si Ang In Sin Pian buka mulut, air mukanya berubah sangat hebat, sepasang matanya dengan berapi api memandang tajam semua gerak gerik si Ang in sin pian Pouw Sak San, Dalam hati Liem Tou tahu tentunya saat ini dia mengenal kembali nada suara dari si Ang in sin pian Pouw Sak San sangat mirip dengan orang berkerudung yang membegal barang kawalannya malam itu, tidak terasa dalam hati pikirnya.
"Jika dia betul betul sudah mengenal orang berkerudung itu adalah dia, ini hari tentu ada pertunjukan yang sangat menarik."
Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak terlihatlah Lie Siauw Ie masuk bersama sama Pouw Jien Coei berjalan masuk kedalam ruangan.
Begitu Lie Siauw Ie masuk kedalam ruangan matanya segera memandang sekeliling tempat itu memeriksa setiap tamu yang hadir disana.
Melihat hal itu tidak terasa lagi hati Liem-Tou berdebar sangat keras sekali, tanpa terasa lagi dia sudab bangkit berdiri hendak menyambut kedatangan mereka.
Melihat dia bangkit berdiri, gadis cantik pengangon kambing yang berada disampingnya menjadi sangat heran.
Dengan cepat tanyanya.
"Hey Liem Koko, kau mau pergi kemana??"
Begitu ditanyai Liem Tou baru merasa sangat terkejut dan duduk kembali ketempat semula.
Waktu itulah Lie Siauw Ie sedang memandang kearah mereka, mendadak gadis cantik pengangon kambing itu tersenyum dan menggape kearah mereka.
Liem Tou msnjadi sangat terkejut, tanyanya dengan cepat.
"Kau mau berbuat apa?"
"Coba kau lihat kedua orang nona itu sangat cantik sekali, aku pingin berkawan dengan mereka berdua."
Lie Siauw Ie serta Pouw Jien Coei segera berjalan menuju kearah mereka, melihat hal ini hati Liem Tou berdebar semakin keras lagi bah kan dia merasa juga kenapa sekarang Lie Siauw Ie sudah sembuh kembali seperti sedia kala???
sedikitpun tidak terlihat bekas jadi gila??
Begitulah Lie Siauw Ie serta Pouw Jien Coei kini duduk disamping mereka berdua.
Walaupun Liem Tou tidak berusaha memandang kearah Lie Sieuw Ie atau Ie cicinya itu tapi tanpa terasa matanya memandang juga kearahnya tanpa bisa ditahan lagi, bertepatan juga waktu itu Lie Siauw Ie sedang memandang kearahnya, tanpa terasa lagi mereka berdua pada tertegun dibuat nya.
Mendadak Lie Siauw Ie berseru degan keras.
"Tou titi !"
Tangannya dengan cepat mencengkeram wajahnya untuk melepaskan topeng itu.
Liem Tou tidak berani munculkan dirinya di depan umum karenanya dengan cepat ia kesamping.
Saat ini dia tak bisa membuka mulutnya melawanpun tidak mungkin karenanya dia melirik kearah gadis cantik pengangon kambing itu untuk meminta bantuannya.
Mendadak Pouw.
Siauw Ling dengan cepat berlari kesana sambil tanyanya dengan cepat.
"Ie Moay, terjadi urusan apa?"
Begitu Liem Tou melihat murculnya Pouw-Siauw Ling disana hatinya menjadi semakin cemas lagi, diam diam pikirnya.
"Aduh jika Ie cici tidak lepas tangan, urusan akan menjadi runyam."
Waktu itu Liem Tou bisa melihat kalau pada sir muka Lie Siauw Ie sama sekali tidak tampak bekas bekas sakit atau gila sehingga tanpa terasa matanya sekali lagi terbentur dengan mata Lie Siauw Ie.
Walaupun kini Liem Tou memakai topeng, akan tetapi dari air muka serta pandangan matanya dikenali juga oleh Lie Siauw Ie, karenanya dia berteriak lagi.
"Adik Tou "
Sekali lagi tangannya menyambar berusaha melepaslan topeng yang dikenakan psda wajahnya itu, Liem Tou menjadi cemas bercampur gugup saat ini tak mungkin dia bisa memperlihatkan wajah sesungguhnya dihadapan umum, apalagi didalam ruangan terdapat si Ang in sin pian Pouw Sak San, Pouw Siauw Ling, Hek Loo jie serta Tian Pian Ngo Koei, jika mereka mengetahui siapa sebetulnya dia maka urusan akan semakin runyam lagi.
Pouw Siauw Ling yang tak mendapat kesempatan untuk lebih dekat lagi menggauli gadis cantik pengangon kambing kini melihat suatu kesempatan yang sangat bagus segera berjalan mendekat sambil tanyanya.
"le moay, terjadi urusan apa ?"
Lie Siauw Ie begitu melibat Pouw Siauw Ling berjalan mendekat air mukanya segera berubah sangat hebat, bukannya memberi jawaban kepadanya mendadak telapak tangannya dibalik membabat ketubuhnya dengan sangat hebat.
"Lingte"
Cepat cepat Pouw Jien Coei lari sambil bentaknya kepada Pouw Siauw Ling.
"Di sini tidak ada urusanmu, lebih baik kau kesana saja membantu Tia menyambut tamu2 itu."
Saat itu tujuan Pouw Siauw Ling tidak berada pada Lie Siauw Ie, walau Pouw Jian Coei sudah bicara begitu hanya tersenyum senyum saja sambil putar tubuh kearah gadis cantik pengangon kambing serta Liem Tou dia beri hormat ujarnya.
"Gadis cantik pengangon kambing serta Heng tay ini sungguh dapat dipercaya, kunjungan kalian berdua kedalam perkampungan kami betul betul merupakan kebanggaan bagi kami, sewaktu di jalan raya tempo hari karena urusan yang perlu dibereskan cepat cepat sehingga menyalahi kalian berdua harap kalian memaafkan"
Liem Tou didalam hati sudah kepingin menghajar Pouw Siauw Ling hingga hancur sudah tentu kini tidak mau ambil perduli lagi, dengan cepat dia melengos kesamping.
Sebaliknya itu gadis cantik pengangon kambing yang sifatnya periang segera menyahut sambil tertawa.
"Ooh . ,. aku juga sudah lupa minta maaf kepada kau ketika itu hari merebut cambukmu dan menggetar pecah talapak tanganmu"
Air muka Poaw Siauw Ling seketika itu juga berubah merah padam, dengan penuh perasaan malu dia menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Kepandaian dari nona sungguh sangat sempurna, sekalipun Cayhe ada sepuluh orang juga bukan musuh dari kamu orang jika tempo hari bukannya nona sudah mengampuni jiwa Cayhe kemungkinan sekarang sudah tidak berjiwa lagi, sebetulnya Cayhe lah seharusnya yang mengucapkan terima kasih kepada nona atas budi tersebut."
Sehabis bicara dengan sangat terhormat dan sopan sekali dia membungkukkan badannya mem beri hormat, sikap serta gerak geriknya yang sombong pada hari biasa sudah tidak kelihatan lagi.
Ketika Liem Tou melihat sikapnya yang sangat tengik itu kepingin sekali tendang membunuh mati dia, mendadak didalam ingatannya berkelebat akan sesuatu bayangan, selama diatas puncak Ngo Lian Hong dia sudah melatih tenaga dalamnya hanya saja entah sudah sampai tingkat yang bagaimana, kenapa tidak pinjam kesempatan ini menjajal tenaga dalamnya sendiri ?
Berpikir sampai disini mendadak dia mundur satu langkah kedepan, seluruh tenaga murninya dipusatkan pada sepasang telapak tangannya kemudian bagaikan kilat cepatnya melancarkan satu cengkeraman maut kepergelangan tangan Pouw Siauw Ling.
Pouw Siauw Ling yang secara mendadak dicengkeram sepasang pergelangan tangannya dalam hati merasa terkejut sekali dengan cepat tangannya ditari k kembali sekuat tenaga.
Sudah tentu Liem Tou tidak akan membiarkan dia berhasil melepaskan cekalan tersebut, diam2 tenaga murninya diperlambat kelima jarinya semakin mengencang ketika itu Pouw.
Siauw Ling merasakan sakit yang luar biasa sehingga sukar ditahan, bersamaan pula dia mengerahkan tenaga dalamnya tertahan, tanyanya sedikit gusar.
"Entah Heng thay punya petunjuk apa?"
Liem Tou tetap membungkam, hanya saja tenaga murni yang disalurkan ke tangannya semakin diperhebat, perasaan sakit yang menerjang diri Pouw Siauw Ling semakin hebat lagi, dia tidak berani berteriak, untuk minta tolong pun maiu terpaksa dengan menggigit kencang bibirnya diam diam menahan perasaan sakit yang luar biasa itu.
Saat ini Liem Tou sudah mengerahkan empat Iima bagian tenaga dalamnya sedang Pouw Siauw Ling pun dengan paksakan diri masih sanggup untuk bertahan untuk beberapa saat lamanya.
Walaupun ucapannya bernada musuhan tapi perasan sakit pada pergelangan tangannya tidak sanggup untuk ditahan lebih lama lagi, badannya mendadak merendah kebawah dan menjadi berjongkok diatas tanah.
Liem Tou ketika melihat tenaga dalam yang dilatihnya selama ini tak sia2 dalam hati baru merasa amat girang, dengan demikian dia-pun sudah melepaskan cekalannya.
Dengan meminjam kesempatan ini Pouw-Siauw meloncat bangun, perasaan malu yang diterimanya kali ini cukup memalukan dirinyanya, karena itu didalam hati dia merasa sangat tak puas, baru saja dia mau umbar hawa amarahnya, mendadak gadis cantik pengangon kambing sudah bangkit berdiri, ujarnya sambil tertawa.
"Koko muka hijau hanya mau jajal tenaga dalammu saja tanpa ada maksud yang lain, harap kau jangan salah paham"
Di dalam hati Pouw Siauw Ling tahu kalau tenaga dalamnya sudah jauh tertinggal jika dibandingkan dengan tenaga dalam pihak lawannya, sekalipun kini dia umbar hawa amarahnya didalam sepuiuh bagian ada sembilan bagian yang merugikan dirinya, terpaksa dengan menahan perasaan mangkel, jengkel dan marah dia mendelik sekejap kearah Liem Tou kemudian berlari dari tempat itu.
Setelah itu barulah gadis cantik pengangon kambing mempersilahkan Lie Siauw Ie serta Pouw Jien Coei duduk, ujarnya.
"Kedua orang cici ini silahkan duduk."
Pouw Jien Coei yang melihat gadis cantik pengangon kambing ini merupakan seorang gadis muda yang sangat cantik sekali didaiam benaknya mendadak berkelebat suatu ingatan, pikirnya.
"Ini hari Tia buka perjamuan diatas gunung untuk meresmikan dibukanya perusahaan ekspedisi Ang In Piauw kiok, tamu tamu yang diundang sebagian besar merupakan para jago berkerandaian tinggi yang punya nama besar didalam Bu lim, dilhat usianya baru lima belas tahun apa mungkin merupakan salah seorang jago yang sudah punya nama besar didaiam kalangan Bu lim ?? Sambil berpikir ujarnya sambil tersenyum.
"Nona masih demikian muda ternyata sudahi menjadi seorang jago Bu lim kenamaan sungguh merupakan burung Hong didaiam manusia,, entah nama besar dari nona apa bisa diberitahu? "Siauw moay bernama Lie Wan Giok merupakan seorang gadis desa yang tolol, bukan seorang jago bernama besar didaiam Bu lim seperti yang cici katakan tadi, harap dikemudian hari cici mau banyak beri petunjuk."
Dengan cepat Pouw Jien Coei mengecapkan beberapa kata rendah kemudian menyebutkan juga namanya serta nama dari Lie Siauw Ie, semakin lama pembicaraannya dengan gadis cantik pengangon kambing itu semakin menjadi rapat lagi.
Sebaliknya Lie Siauw Ie saat ini dengan mata yang melotot lebar sedang memandang air muka Liem Tou yang berwarna hijau menyeramkan itu dengan termangu mangu jelas sekali air mukanya menggambarkan perasaan ragu ragu, curiga serta sedihnya.
Air mukanya ini yang patut dikasihani ini di dalam pandangan Liem Tou sangat memalukan hatinya, kekasih hatinya kini sudah berada di hadapan matanya tapi justru tidak bisa berkasih kasihan, dalam hatinya diapun merasa sangat kasihan terhadap Lie Siauw Ie ini.
Tapi apa boleh buat musuh2 tangguh yang sedang mencari dirinya kini berkumpul didalam ruangan, asalkan sedikit dia membuat gerakan yang mencurigakan maka nyawa akan menjadi sangat bahaya sekali.
Karenanya terpaksa Liem Tou menahan pergolakan didalam hatinya, dalam hati dia tahu walaupun kini tidak bisa bertemu tapi dikemudian hari kesempatan untuk bertemu dengan Ie cicinya ini masih sangat banyak.
Terlihatlah si Ang In sin pian Pouw sak san dengan muka penuh senyuman berjalan ke tengah ruangan kemudian memberi hormat pada hadirin yang berada ditempat penjuru tempat, ujarnya dengan suara lantang.
"Cayhe Pouw Sak San dengan mendapatkan persetujuan seluruh rakyat perkampungan Ie-Hee Cung dengan menggunakan atas nama cayhe hendak mendirikan usaha ekspedisi Ang ln I Piauw kiok, ini hari bisa mendapatkan kunjungan dari para enghiong hoohan sekalian cayhe betul betul merasa sangat bangga dan berterima kasih, sedikit arak serta hidangan yang ada harap saudara sekalian mau menerima ala sekedarnya."
Para hadirin yang berjumlah dua tiga puluhan segera pada berdiri begitu mendengar perkataan itu, kemudian bersama sama mengucapkan terima kasih .
Diantara mereka hadir hanya terlihatlah pemimpin dari usaha ekspedisi Cing Liong Piauw kiok serta Piauwsu muda itu saja yang tetap duduk ditempat semula tanpa bergerak, melihat hal ini air muka Si Ang in sin pian Pouw Sak-San segera berubah sangat hebat dalam hati dia I merasa sangat tidak senang tapi perasaan gusarnya itu tidak sampai diperlihatkan pada wajahnya, dengan tetap tersenyum ujarnya lagi.
"Oooh ... Cayhe masih ada beberapa perkataan yang hendak dijelaskan kepada saudara-saudara sekalian, dikota Yong Jan sebetulnya sudah ada usaha ekspedisi Cing Liong Piauw-kiok bahkan ini hari pimpinan Piauw kiok si-golok naga hijau Sie Piauw tauw sudah hadir didalam perkampungan cayhe ini, dalam hati cayhe betul betul merasa sangat berterima kasih sekali. Tapi Ang In Piauw kiok kita juga hendak didirikan dikota Yong Jan yang bersamaan maka itulah sebelumnya cayhe jelaskan dulu, didalam usaha ini kita berjalan sendiri sendiri harap Sie heng mau memaafkan akan hal ini."
Begitu dia berbicara segera ada seorang lelaki berusia pertengahan dengan bentuk tubuh tinggi kurus bangkit berdiri, ujarnya.
"Didalam sebuah kota Yong Jan yang sangat besar apalagi daerah Chuan Si yang sangat ramai perhubungan darat maupun airnya, jika hanya terdapat sebuah usaha ekspedisi Cing Liong Piauw kiok saja yang melayani sebetulnya tidak cukup harap Pouw Cung cu jangan begitu merendahkan diri."
Begitu lelaki kurus berbicara segera terlihatlah sepuluh dua puluh orang bersama sama memberi tanggapannya.
"Perkataan dari Ming sao Touw cu ChinKhie sedikitpun tidak salah, lebih baik Pouw Cung cu tidak usah berlaku banyak adat lagi, kami kira Shie Piauw tauw pun takkan menyalahkan hal ini kalau tidak ini hari dia juga tidak akan datang."
Mendadak sigolok naga hijau Shie Piauw tauw mendengus dengan amat dingin bentaknya dengan keras.
"Perkataan dari kawan-kawan sekalian sedikitpun tak salah kota Yong Jan itu memangnya bukan milikku seorang bagaimana bisa menyalahkan orang lain ?? tapi demi kepentingan diri sendiri demi kemajuan dan kemakmuran perusahaan ekspedisi yang akan didirikan dengan tidak perduli kerugian orang lain, coba kalian jawab itu menurut aturan dunia?"
Suasana dalam ruangan seketika Itu juga bcr ubah menjadi sunyi senyap, berpuluh puluh pasang ma'a dengan tanpa terasa dialihkan pada diri Sie Piauw tauw untuk menantikan ucapan selanjutnya.
Sebaliknya Liem Tou saat ini secara diam2 sudah memperhatikan perubahan air muka dari Si Ang in sin pian Pouw Sak San, terlihatlah semula dia melengak kemudian dengan sinar pandangan penuh napsu membunuh dialihkan pada Piauw su muda itu.
Dalam hati Liem Tou menjadi tergerak, terdengar si Ang in sin pian sudah angkat bicara lagi.
"Sie heng bagaimana bisa bicara begitu ?? apa mungkin cayhe pernah menyerang Cing Liong Piauw kok kalian ??"
Sambil berkata selangkah demi «elangkah ia bergeser kearah Piauw su muda itu.
Air muka sigolok naga hijau Sie Ie segera berubah sangat keren, sambil menuding wajah Ang in sin pian Pouw Sak San bentaknya dengan amat gusar.
"Sungguh bagus perbuatanmu, kau tua bangka yang licik masih mau pura2 apa lagi? Barang kawalan Cing Liong Piauw kok kami dibegal orang di tengah sungai siapa yang tidak tahu? Ini hari aku baru tahu kiranya kau manusia kura kura yang melakukan ..."
Mendadak golok naga hijaunya dicabut keluar teriaknya dengan keras.
"Hey orang she Pouw, kembalikan barang kawalanku."
Waktu Pauw Sak San sudah berdiri kurang lebih lima depa dari Piauw su muda itu selesai mendengar perkataan dari sigolok naga hijau Sie Piauw tauw yang penuh hawa amarah itu ia tetap tenang tenang saja bagaimana juga dia tetap merupakan seorang yang licik, banyak akal dan punya pengalaman yang sangat luas mendengar perkataan itu bukannya menjadi marah sebaliknya bertambah hormat lagi, sambil tersenyum ramah ujarnya.
"Sie heng harap jangan marah dulu coba dengar perkataan cayhe terlebih dulu dibegalnya barang kawalan Cing Liong Piauw kiok di tengah sungai Yang tze Kiang siapapun sudah tahu dan percaya peristiwa ini memang sungguh sungguh terjadi, tapi jika didengar perkataan dari Sie heng tadi terus menerus menuduhku orang yang kerjakan sekarang tolong tanya bukti apa Sie heng bicara begitu ? Kau jadi orang jangan terlalu menekan orang lain. Kalau memangnya dalam hati Sie heng senang kalau cayhe membuka usaha ekspedisi dalam kota Yong Jan lebih baik terus terang dikatakan, jangan lah menggunakan cara yang paling kejam ini memfitnah orang lain sehingga meiukai hubungan diantara sesama kawan, baiklah biar sekarang juga dengan kesaksian para enghiong hoohan kita bicara dengan baik2."
Perkataan dari si Ang in sin pian Pouw Sak San ini sangat lihay sekali, bukan saja perkataannya ini sangat beralasan dan pakai aturan bahkan menuduh Sie Piauw tauw lah sedang menggunakan cara ini hendak memfitnah dirinya.
Semua hadirin yang mendengar perkataan itu tanpa terasa pada mengangguk tanpa setuju, sedang suasana yang semula sunyi senyap kini menjadi sedikit gaduh dengan bisikan2 para hadirin yang sama sama membicarakan soal ini, jika dilihat situasinya sedikitpun tidak menguntungkan pihak Sigolok naga hijau Sie Ie.
Hal ini membuat kegusaran Sie Piauw tauw memuncak, baru saja membuka mulut bicara terdengar Pouw Siauw Ling sudah menggunakat kesempatan ini membentak.
"Ini hari sebenarnanya merupakan perjamuan kita kepada para jago tidak tahunya kau sebagai pimpinan Cing Liong Piauw kiok menuduh kami dengan hal yang bukan2, jika hal ini kau teruskan lagi jangan salahkan kami ayah beranak akan perintah orang mengusir kau dari atas gunung."
Dengan perkataan ini semakin membuat kegusaran Sie Piauw tauw sukar ditahan lagi, sambil mengobat abitkan golok naga hijaunya dia membentak dengan sangat keras.
"Orang she Pouw, kau jangan mengandalkan jumlah yang banyak hendak menekan aku orang, kau boleh cari berita didalam Bu lim kami dari Cing Liong Piauw kiok kapan pernah memfitnah orang lain?"
Sambil berkata dia menuding kearah Piauw su muda itu, sambungnya lagi.
"Waktu itu diatas perahu sebetulnya ada empat orang Piauw su yang mengawal barang. Hu Piauw tauw sipemetik bintang Kwan Piauw juga termasuk salah satu diantaranya. Tidak disangka dengan mereka bertiga berhasil kalian bunuh hanya tinggal dia seorang saja yang berhasil melarikan diri dengan badan terluka parah, ini hari dia dapat mengenal kembali kalau nada suara bangsat yang membegal barang kawalan pada malam itu adalah kau orang, hey orang she Pouw kau ada perkataan apa lagi ?"
Semua hadirin setelah mendengar perkataan itu menjadi gaduh kembali, masing masing pada berbicara dan bertukar pikiran akan hal itu.
Ang in sin pian Pouw Sak San bukannya menjadi marah sebaliknya tertawa terbahak bahak.
"Liem Tou yang memusatkan seluruh perhatiannya mengawasi gerak-gerik Ang in sin pian Pouw Sak San segera melihat pada saat dia sedang tertawa terbahak bahak itulah sepasang matanya beberapa kali melirik kearah Piauw su-muda itu, segera dalam hati dia tahu kalau dia hendak melakukan suatu gerakan, tidak terasa lagi darah panas bergolak didalam dadanya tanpa hiraukan dirinya lagi mendadak dia meloncat bangun sambil membentak keras.
"Awas ! "
Tapi peringatannya terlambat satu langkah tubuh Ang in sin pian Pouw Sak San lantas ditengah suara tertawanya yang amat keras bagaikan kilat cepatnya sudah mencengkeram urat nadi Piauw su muda itu.
Sebaliknya Lie Siauw Ie yang selama ini terus menerus memandangi wajah Liem Tou begitu mendengar dia berteriak segera mengenal akan suaranya, tanpa tertahan lagi dia berseru.
"Ooh . --adik Tou."
Air matanya tidak bisa ditahan lagi mengucur keluar dengan sangat derasnya.
Saat ini walaupun Liem Tou mau rahasiakan asal usulnya tidak mungkin bisa lagi, baru saja mau memberi alasan kepada Lie Siauw Ie di sebelah sana terdengar si Ang Ie Sin Pian Pouw Sak San sudah tertawa nyaring lagi.
"Saudara2 sekalian apa kalian kenal siapakah saudara ini?"
Seorang hadirin segera berdiri, sahutnya dengan lantang.
"Dia adalah murid terkecil dari golok naga hijau Sie Piauw tauw yang bernama Oei Poh."
Baru saja orang jiu selesai bicara ada berpuluh puluh hadirin didaiam ruangan itu segera meledak suara tertawa yang amat keras sekali dengan meminjam kesempatan ini sindir Pouw Siauw Ling.
"Muridnya bertindak sebagai saksi suhunya, hal itu memang suatu hal yang paling cocok."
Ang In Sin pian segera melapaskan cenkeramannya kepada Piauwsu muda itu, air mukanya yang dihiasi senyuman mendadak berubah amat dingin kaku, sambil menuding kearah golok naga hijau Sie Ie makinya.
"Sie le, kamu orang jangan salahkan aku Ang In Sin pian tidak pakai aturan, cepat bawa muridmu meninggalkan gunung ini, cepat."
Kemudian teriaknya dengan keras.
"Pouw Beng. Pouw Liang hantar tamu."
Air muka golok naga hijau Sie Ie waktu ini sudah berubah menjadi pucat kehijau-hijauan, badannya gemetar amat keras menahan hawa amarahnya yang sukar ditahan lagi, hampir hampir golok naga hijau di tangannya tidak sanggup dipegang lagi, sudah tentu untuk memberikan jawaban tidak mungkin lagi.
Para hadiran ketika melihat kegusarannya yang amat memuncak itu suasana y»ng semula penuh dengan suara tertawa pun kini berubah menjadi sunyi kembali, ada dua orang diantara mereka yang pada biasanya mempunyai hubungan persahabatan yang agak erat dengan golok naga hijau Sie Ie segera bangkit berdiri mendekatinya berusaha untuk menasehati beberapa patah kata.
Siapa tahu baru saja mereka berdua berjalan hingga kesampingnya belum sempat mengucapkan kata-kata mendadak Sie Piauw tauw bagaikan seorang gila membolang balingkan goloknya sambil membentak dengan gusar.
"Minggir."
Golok Cing Liong Tocu sedikit diangkat pundaknya direndahkan kebawah, dengan disertai sambaran angin yang sangat keras tubuhnya me layang kedepan badan si Ang in sin pian Pouw Sak San.
Serangan yang datangnya diluar dugaan ini seketika itu juga mengacaukan suasana didalam perjamuan itu masing-masin hadirin pada meninggalkan tempat duduknya dan bangkit berdiri.
Dalam keadaan yang sangat kalut itulah mendadak dari pojokan ruangan berkumandang suara bentakan yang amat keras.
"Sie Piauw tauw tunggu sebentar."
Bentakan ini sangat nyaring sehingga menggetarkan seluruh ruangan itu, si golok naga hijau, Ang in sin pian serta hadirin menjadi meIengak ketika mendengar suara bentakan nyaring itu, ketika menoleh kearah berasalnya suara terlihatlah seorang lelaki dengan air muka yang sangat menyeramkan sudah berdiri ditengah ruangan itu, dengan air muka yang berwarna hijau menyeramkan terlihatlah sepasang biji mata yang bulat lagi bening sedang memandang keempat penjuru ruangan itu.
Para jago yang hadir disana rata-rata tidak tahu siapakah orang itu dan berasal dari golongan mana, seketika itu juga ruangan menjadi sunyi senyap, seluruh sinar mata para jago ditujukan ke arahnya menantikan gerakan selanjutnya.
Sebaliknya Ang in sin pian dalam hati tahu kalau orang itu adalah kawan dari gadis c»ntik pengangon kambing itu kepandaian silat dari gadis cantik pengangon kambing itu dia sudah menjajal sedang orang inipun berjalan jalan bersama dia sudah tentu kepandaian silatnya tidak berada di bawahnya.
Tapi manusia berwajah hijau kini tampilkan dirinya secara di luar dugaan, apa yang mau di katakan lagi.
Sebaliknya didalam perasaan serta pandangan Pouw Siauw Ling sama sekali berbeda dengan dugaan Ang in sin pian itu, ketika suara bentakan tadi bergema didaiam ruangan segera dia merasa kalau suara itu sangat dikenal olehnya hanya saja didaiam waktu singkat ini dia tidak bisa mengingatnya kembali, karenanya dia dibuat tertegun olehnya, dengan melototkan sepasang matanya dia memandang tajam kearah manusia berwajah hijau itu, Waktu ini manusia berwajah hijau itu sudah berdiri ditengah, matanya diputar kesekeliling tempat itu sedang terhadap ada Ang in sin pian disana sama sekali tidak digubris.
Mendadak tangannya menunjuk kearah seorang yang berdiri disisi kiri, bentaknya.
Orang yang ditunjuk itu tidak lain adalah Liong Ciang Lie Kian Po, begitu mendengar omongan tersebut hatinya merasa sangat terperanjat.
Baru saja mau membantah manusia berwajah hijau itu sudah putar tubuhnya sambil menuding keerah Pouw Siauw Ling ujarnya lagi.
'Yang membunuh mati Hu Piauw-tauw si pemetik bintang Kwan piauw adalah kamu orang, bagaimana ?
mau membantah juga ?
Sehabis bicara tanpa menanti jawaban dari Povw Siauw Ling dia sudah menyambung lagi dengan suara amat keras.
"Pembegalan barang barang kawalan Cin-Liong piauw kiok semuanya dilakukan oleh bajingan bajingan tak tahu malu itu, malam itu tepat aku sedang menginap didalam perahu tersebut, kalau bukannya dengan cepat aku bergelinding ke dalam sungai mungkin akupun ikut terbunuh ditangan mereka, piauw su muda ini bisa melarikan diri semuanya juga karena aku menolong dia hingga tak sampai ikut kehilangan nyawa Ang in sin pian Pouw Sak San ayah beranak semuanya berhati kejam dan ganas membuat aku merasa tak puas sehingga kini munculkan diri membuka rahasia ini, dengan tak perduli akibat apa yang akan terjadi aku dengan pertaruhan nyawaku bertindak sebagai bukti dan saksi harap para saudara saudara sekalian suka melakukan keadilan bagi Sie piauw-tauw ini."
Seketika itu juga suasana menjadi sangat gaduh, masing2 orang pada membicarakan soal soal ini sedang sinar matanya tanpa terasa sudah beralih kearah si Ang-in-sin pian Pouw Sak San, walaupun mereka tak mengucapkan sepatah katapan tapi dari air mukanya jelas mereka sudah mulai curiga terhadap dirinya.
Sewaktu suasana sangat kacau itulah mendadak Pouw Siauw Ling meloncat mendekati ayahnya Pouw Sak San sambil berseru dengan keras.
"Tia, dia adalah Liem Tou. Dia adalah Liem Tou. Dia adalah Liem Tou."
"Apa Liem Tou ?? Dia adalah Liem Tou? "
Seru pouw Sak San dengan sangat terkejut disertai dengan suara jeritan kaget dari hadirin lainnva.
Segera terlihatlah Hek Loojie, Tian Pian Ngo Koei serta beberapa orang jago yang pernah ikut mengepung Liem Tou dilembah cupu cupu pada bangkit berdiri dan mulai mendesak kearahnya.
Ang in sin pian Pouw Sak San serta Pouw Siauw Ling pun mencabut senjata tajamnya bersama sama mendekati kearah Liem Tou dengan air muka penuh kegusaran.
Liem Tou berani munculkan dirinya sudah tentu dalam hati sudah menduga terlebih dulu bahaya yang akan diterimanya sehingga didalam hati tak begitu tegang lagi, selain diam2 mengerahkan tenaga dalamnya mempersiapkan diri, tangannya dengan cepat mengusap melepaskan kembali topengnya.
"Bukan salah,"
Teriaknya dengan keras.
"Aku adalah Liem Tou, mereka mau celakai dirimu, kamu harus berhati hati."
Sepasang mata Liem Tou dengan sangat tajam sekali memperhatikan setiap lawannya yang sedang mendelik kearahnya dengan penuh nafsu, sudah tentu dia tak berani memecahkan perhatian untuk memberikan jawaban.
Terdengar Ang in sin pian dengan sangat dingin berkata.
"Liem Tou, aku tidak sangka manusia berwajah hijau itu adalah samaranmu, bangsat cilik yang licik jika bukannya kau sesdiri yaug membuka rahasiamu sediri, hampir hampir akupun berhasil kau kelabuhi.Waktu untuk naik gunung belum tiba saatnya kau berani melanggar peraturan kita. Hmm hmm ... ini hari aku mau buat kamu orang menyesal untuk selamanya."
Mendadak hatinya bergerak secara tiba t iba teringat akan sesuatu hal, nada ucapannyapun segera berubah.
"Bagus sekali! Hey Liem Tou kiranya kitab pusaka "To Kong PitLiok"
Yang diberitakan di dalam dunia kangouw sudah kau dapatkan, tidak aneh kalau nyalimu begitu besar."
Seluruh perhatian Liem Tou dipusatkan pada gerakan para hadirin lainnya, walaupun dia mendengar seluruh perkataan dari si Ang-in-sin pian Pouw Sak San dia tetap tak berani buka mulut memberi jawaban.
Ang in sin pian sekali lagi maju satu langkah kedepan, baru saja bahu kanannya sedikit bergerak hendak melancarkan serangan kearah Liem Tou mendadak terdengar suara bentakan yang amat keras dari si golok naga hijau Sie Piauw tauw.
"Bangsat tua yang tidak tahu malu, kemalikan uang kawalanku kembalikan nyawa Hu Piauw tauw kami"
Sinar hijau berkelebat, segulung sinar golok yang amat menyilaukan mata mengurung seluruh tubuh Ang in sin pian Pouw Sak San, melihat hal itu si Ang in sin pian segera menggerakkan tubuhnya menggunakan cambuk mautnya menggulung kearah sinar terssbut, dengan demikian terjadilah satu pertempuran yang sangat seru antara Pouw Sak San dengan si golok naga hijau itu.
Tian Pian Ngo Koei yaag melihat waktu yang sangat mendesak segera terdengarlah Toa Koei berteriak keras.
"Saudara saudara sekalian, serang."
Lima setan itu segera pada mengerahkan tenaga dalamnya, dengan menggunakan ilmu serangan yang memekikkan telinga bersama sama menerjang kedepan.
Gerakan mereka amat cepat tapi ada orang yang jauh lebih cepat dari dia.
Mendadak terlihatlah sesosok bayangan putih berkelebat menerjang ketengah antara Ngo-Koei serta Liem Tou itu, secara tiba tiba pandangannya menjadi kabur segulung angin sangat dahsyat sudah menerjang datang disusul dengan bentakan yang sangat nyaring dari seorang gadis.
"Siapa yang berani mengganggu seujung rambut Liem Koko ku, hmmmm . , .aku gadis cantik pengangon kambing segera akan mencabut nyawamu kembali."
Ke lima setan itu hanya merasakan segulung angin pukulan yang amat kuat menekan ke tubuh mereka, memaksa mereka tidak sanggup untuk bergerak lagi.
Datangnya cepat perginyapun semakin cepat, tubuh ke lima setan itu terkumpul terpental sejauh satu kaki lebih oleh pukulan gadis cantik pengangon kambing itu, saking terkejutnya kelima setan itu hanya bisa saling tukar pandangan sambil merangkak bangun dengan perlahan.
Pouw Siauw Ling yang melihat ayahnya Ang in sin pian Pauw Sak San beserta Thian-pianNgo Koci hampir bersamaan waktunya melancarkan serentan tapi bersama sama pula serangannya berhasil ditahan oieh si golok hijau serta si gadis cantik pengangon kambing, dalam hati diam diam merasa sangat terkejut, sedang diapun melihat selama ini Liem Tou tidak pernah bergerak dengan siapapun, diam diam dalam pikirannya.
"Hmmm ..-sampai sekarang dia tak turun tangan juga, tentunya dia sama sekali tak punya kepandaian siat, walaupun ada juga tak mungkin akan sangat lihay ..."
Berpikir sampai disini diam diam tubuhnya mulai bergerak kedepan dengan mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya dia mulai mendekati belakang tubuh Liem Tou.
Semua kejadian ini dapat dilihat Lie Siauw Ie dengan amat jelas, begitu melihat dia hendak melancarkan serangan bokongan segera teriaknya dengan keras.
"Adik Tou, awas belakang tubuhmu."
Begitu Liem Tou mendengar peringatan dari Lie Siauw Ie segera merasakan adanya sambaran angin serangan yang membokong beIakang tubuhnya, dalam hati diam diam dia agak terperanjat, tapi Liem Tou sekarang jauh oerbeda dengan Liem Tou sewaktu masih berada didalam Lembah cupu cupu, seluruh jalan darahnya sudah lancar atas bantuan gadis cantik pengangon kambing itu ditambah dengan tenaga latihan selama beberepa hari ini, sehingga boleh dikata kepandaian silatnya lumayan juga.
Dengan cepat tubuhnya tanpa melihat siapa yang berada dibelakangnya tenaga murninya segera dikerahkan pada telapak tangan kemudian dengan keras mematahkan serangan tersebut.
"Aduh ..."
Jeritan kesakitan dari Pouw Siauw Ling segera bergema didalam ruangan, tubuhnya seketika itu juga terpental sejauh satu kaki lebih kemudian menggeletak diatas tanah tanpa bisa bergerak lagi.
Ditiga tempat bersamaan waktu yang terjadi tiga pertempuran yang amat seru sedang pada waktu yang bersamaan juga hasilnya sudah kelihatan.
Tian Pian Ngo Koei berhasil dikalahkan gadis cantik pengangon kambing, Pouw Siauw Ling berhasil dipukul rubuh oleh Liem Tou, hanya didalam satu gerakan saja, sedang Ang in sin pian Pouw Sak San pun bertempur dengan amat serunya melawan si golok naga hijau.
Serangan Liem Tou yang berhasil memukul rubuh Pouw Siauw Ling ini seketika itu dengan menggusarkan keempat jago berkepandaian tinggi dari perkampungan Ie Hee Cung.
bersama sama mereka meloncat kedepan Liem Tou sambil membentak sangat keras.
"Liem Tou kau sudah melanggar peraturan perkampungan ini melukai Pouw Siauw Ling juga, aku mau lihat kau bisa turun gunung dengan selamat tidak ?"
"Hmm ..hmm " ..kalau begitu kita coba coba saja"
Seru Liem Tou dengan amat dingin.
"Kalian mau bertempur seorang demi seorang secara berbareng?? Hmm ... aku lihat kalian berempat maju ber sama-sama saja."
Dtantara mereka berempat sifat Hauw Jiauw Pouw Toa Tong paling berangasan begitu mendengar perkataan yang sangat menghina itu dia menjadi amat gusar.
"Liem Tou, aku masih mengira sewaktu itu kau sudah binasa tenggelam dalam sungai , . tak disangka ini hari kau munculkan dirinya kembali..agaknya nyawamu memang amat untung sekali... tapi ini hari walaupun kau punya tujuh nyawa cadangan akan kuhabiskan juga, lihat serangan."
Lima jarinya mendadak dikencangkan sehingga seperti cakar kuku garuda, kemudian dengan dahsyatnya mencengkeram keatas kepala batok Liem Tou.
Liem Tou tak berani berayal, dengan cepat dia mengeluarkan gerakan langkah tiga puluh enam langkah badai mutar ke belakang tubuhnya.
Melihat ilmu itu Pouw Toa Tong sedikit merasa terkejut, tanpa perduli Liem Tou berada disebelah mana mendadak tubuhnya memutar sepasang cakaran mencengkeram kebelakaag tubuhnya.
Siapa tahu baru saja Pouw Toa Tong putar tubuh melancarkan serangan kebelakang sekali lagi serangan itu mencapai pada sasaran yang kosong, waktu inilah dia baru sadar Liem Tou bukanlah Liem Tou yang dahulu,hanya didalam beberapa tahun saja dia berkelana didaiam dunia kangouw sudah berhasil melatih kepandaian yang demikian hebatnya dalam hati diam2 me rasa terkejut juga.
Baru saja pikiran ini berkelebat didalam benak Poa Toa Tong mendadak terdengar suara dari Liem Tou sudah berkumandang dari belakang tubuhnya.
"Toa Tongsiok. bagaimana ? Jangan ragu ragu ayoh. Aku melihat Toa Tong siok jarang melakukan kejahatan kini aku kalahi tiga jurus kepadamu ..sekarang baru dua jurus."
Kegusaran Pouw Toa Tong memuncak sambil meloncat ketengah udara katanya.
"Liem Tou saat kematianmu sudah tiba.."
Mendadak tubuhnya yang berada ditengah udara berputar setengah lingkaran kemudian bersalto beberapa kali dan menubruk kebawab bagaikan seekor harimau kelaparan.
Sekarang dia bisa melihat dengan jelas kalau Liem Toa berada kurang lebih tujuh delapan tindak dari dirinya, dan kini dengan mata yang melotot sedang memandang dirinya sambil tersenyum.
Kegusarannya tak bisa ditahan lagi tubuhnya bagaikan kilat cepatnya menubruk keatas tubuhnya sedang sepasang cakarnya dengan sangat dahsyat mengancam batok kepalanya.
Jurus harimau lapar ini merupakan salah satu jurus andalan dari Pouw Toa Tong, melihat datangnya serangan yang amat dahsyat ini Liem Tou segera tahu kelihayannya dengan cepat tubuhnya menyingkir ke samping beberapa kaki dari tempat semula, Lie Siauw Ie yang berada disamping begitu melihat datangnya serangan dahsyat saking terkejutnya air mukanya sudah berubah menjadi pucat pasi, teriaknya kaget.
"Adik Tou hati hati, Toa Tong siok sedang menggunakan jurus yang mematikan, cepat menghindar kesamping."
Pouw Toa Tong tak mau melepaskan mangsanya begitu saja, melihat Liem Tou menyingkir kesamping sekali lagi dia melancarkan serangan mautnya dan menubruk kembali keatas tubuh Liem Tou.
Kali ini Liem Tou tidak sempat lagi untuk menghindarkan diri, baru menggunakan langkah tiga puluh enam langkah badai memutarnyapun tidak mungkin lagi, didalam keadaan yang amat kritis itulah mendadak dia menarik hawa murninya dari atas pusar.
Sepasang cakar dari Pouw Toa Tong kini sudah berada dihadapan mukanya, tubuh Liem Tou dengan cepat merendah kebawah sepasang tangannya bersama sama didorong kedepan, telapak kirinya dengan menggunakan jurus"Pah-Ong Khie Tian"
Atau raja bengis mengangkat hioloo sedang telapak kanannya membabat dengan menggunakan jurus Pit Gwat Lui Cuang atau menutup bulan mendorong jendela, dalam satu serangan menggunakan dua gerakan yang berlainan, terdengarlah sambaran angin yang amat dahsyat menyambut datangnya serangan pihak musuh .
Serangan menolong diri dari bahaya yang digunakan Liem Tou ini sudah tentu menggunakan tenaga dalam yang ada didalam tubuhnya.
Sekalipun Pouw Toa Tong memiliki kepandaian lebih tinggipun tidak terasa merasa sangat terkejut juga, karena jika dia meneruskan serangannya maka kedua belah pihak akan sama-sama terluka parah.
Bagaimanapun juga pengalaman dari Pouw-Toa Tong sangat luas sekali, didalam keadaan yang amat kritis itulah mendadak dia membuyarkan serangannya kemudian dengan menerobos angin serangan melayang turun keatas permukaan tanah, sepasang matanya melotot bulat-bulat memandang tajam kearah Liem Tou, untuk beberapa waktu lamanya tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun .
Liem Tou yang berhasil meloloskan diri dari serangan maut kini pun sedikit termangu mangu, tapi sebentar kemudian sudah angkat bicara .
"Toa Tong siok, tiga jurus sudah lewat, kini aku tidak akan berlaku sungkan sungkan lagi."
Perkataan dari Liem Tou ini benar benar keluar dari hati nalurinya, tapi didengar dalam pendengaran Pouw Toa Tong sangat tidak enak sekali.
Kemarahannya sekali lagi memuncak tanpa mengucapkan kata kata lagi mendadak tubuhnya menubruk kearah Liem Tou .
Liem Toupun sudah dibuat gusar oleh tindakan Pouw Toa Tong ini, sepasang alisnya di kerutkan rapat rapat teriaknya .
"Toa Tong siok kau jangan menyesal."
Mendadak tubuhnya menyingkir kesamping, menghindarkan diri dari datangnya serangan musuh, telapak tangan sebelah kirinya dengan menggunakan jurus Pek Lok Heng po atau Bangau putih menimbulkan ombak dari jurus maut partai Kun lun pay menyerang kedepan sedang badannya mendadak meloncat tiga langkah kedepan dengan menggunakan langkah tiga puluh enam langkah badai memutar.
Baru saja Pouw Toa Tong berhasil menghindarkan diri dari serangan pertama mendadak telapak tangan kanan dari Liem Tou melancarkan serangan dahsyat lagi dengan menggunakan jurus serangan mematikan dari partai Khong tong pay.
"Heng In Toan Hong "aiau mega datar memotong puncak. Semakin bertempur kegembiraan LieonTou semangkin memenuhi benaknya . Telapak tangannya dengan cepat bergerak menggunakan jurus-jurus serangan yang berbeda-beda terlihatlah pergelangan tangannya sedikit bergeser serangannya segera berubah lagi dengan menggunakan jurus serangan dari partai Go bie,"Tong In Mie puh"
Atau mega merah terbesar rapat tubuhnya berputar dengan kencang telapak kirinya bagaikan kilat cepatnya melancarkan serangan dengan menggunakan jurus "Ie Hun put San "
Ajaran Hek Loo toa, dengan menimbulkan angin yang amat dahsyat membabat ke depan.
Baru saja Pouw Toa Tong menbruk kedepan siapa sangka didaiam sekejap mata Liem Tou melancarkan tiga buah serangan dahsyat dari tiga perguruan yang berlainan tidak terasa dia menghembuskan napas dingin .
Seketika itu juga dia menjadi kalang kabut hampir hampir terkena serangan hebat itu, hanya untung saja Liem Tou sekalipun bisa menggunakan jurus jurus serangan itu tapi belum memahami betul betul kalau tidak jangan dikata tiga jurus serangan sekali pun hanya satu serangan saja Pouw Toa Tong jangan harap bisa tahan.
Tetapi jurus terakhir yaitu "In Hun put san"
Sudah berulang kali digunakan oleh Liem Tou sehingga hampir boleh dikatakan sangat hafal sekali. Mendadak ....
"Aduh. ..
"dada Pouw Toa Tong terhajar sangat keras oleh serangan dahsyat Liem Tou ini, tak tertahan lagi tubuhnya terjengkang kebelakang kemudian menggeletak diatas tanah tak dapat bergerak lagi. ooOOoo Pada saat tubuh Pouw Toa Tong roboh keatas tanah itulah mendadak suasana ditengah ruangan menjadi sangat gaduh sekali. Mendadak hasil Liem Tou menjadi bergerak pikirnya.
"Haaa . aneh sekali. Ketika Hauw jiauw Pouw Toa Tong terpukul roboh kenapa bisa ada suara mengaduh yang berbeda?"
Dengan cemas dia menoleh kebelakang kiranya Ang in sin pian Pouw Sak San dengan si golok naga hijau Sie sudah mencapai pada titik penentuan, golok naga hijau yang berada ditangan Sie piauw tauw tadi entah kini sudah terbang kemana oleh lilitan cambuk maut Pouw Sak San, saat ini terpaksa dengan mengandalkan sepasang telapak tangannya berkelebat dan berusaha meloloskan diri dari kepungan bayangan cambuk maut Pouw Sak San.
Ketika dipandang lebih teliti lagi tanpa bisa ditahan lagi Liem Tou menjerit kaget, kiranya saat iui Sie piauw tauw sudah kehabisan tenaga dan hanya bisa bertahan saja, keringat yang mengucur keluar membasahi keningnya semakin deras lagi, kelihatannya sebentar lagi akan terIuka dibawah serangan cambuk Ang in sin pian.
Liem Tou tak bisa berpikir panjang lagi segera teriaknya.
"Celaka."
Ujung kakinya menutul permukaan tanah siap menyusup kedepan menolong si golok naga hijau Sie Piauw tauw lolos dari bahaya itu.
Baru saja pikiran ini berkelebat didalam benaknya, belum sempat badannya meloncat ke depan mendadak sesosok bayangan manusia sudah berkelebat menghadang didepan badannya, bayangan itu tanpa mengucapkan sepatah kitapun, segera melancarkan serangannya meng hajar dadanya.
Di dalam keadaan yang sangat terkejut Liem Tou dengan tergesa gesa meloncat kesamping menghindarkan diri dari serangan tersebut.
"Bluuuk..."
Angin serangan bayangan itu mencapai sasaran yang kosong dan manghajar permukaan tanah sehingga timbullah sebuah liang yang cukup lebar, jika dipandang dari kekuatan serangan ini mungkin orang itu sudah menggunakan sepuluh bagian tenaga murninya.
Dengan cepat Liem Tou menoleh kearah bayangan itu, ternyata orang itu tidak lain adalah Hek Loojie adik dari Hek Lootoa.
Sambil tertawa dingin tak henti hentinya Hek Loojie berjalan maju mendesak kearahnya, matanya melotot lebar lebar mulutnya meringis rnenyeramkan, ujarnya dengan dingin.
"Hey Liem Tou, tidak disangka hanya satu bulan kepandaian silatmu mendapatkan kemajuan yang amat pesat, ini hari jika sampai membiarkan kau lolos kembali ...Hmmm lain kali siapapun jangan harap bisa kuasahi dirimu lagi."
Dalam hati Liem Tou hanya bertujuan membebaskan si golok naga hijau dari mara bahaya, baru saja Hek Loo jie selesai berbicara mendadak Liem Tou menerjang kembali kedepan siap menerobos dirinya menolong Sie piauw Tauw.
HekLoo jie tahu maksud dan tujuannya dari Liem Tou ini, dia hanya tertawa riang saja.
"Bruuk ---"
Satu serangan mendatar dengan dahsyat menghalangi perjalanan Liem Tou ujar nya sambil tertawa.
"Bencana ada sebabnya hutang ada pemiliknya mereka bertempur biarlah mereka yang selesaikan apa hubungannya dengan kau?? Hey Liem-Tou. hutang kitapun harus kita selesaikan"
Dengan perbuatan Hek Loo jie ini membuat Liem Tou saking jengkelnya mendepak depakkan kakinya keatas tanah, apa lagi waktu itu cambuk maut dari Ang in sin pian sudah menekan kepala Sie Piauw tauw sedang nyawa pun hanya tinggal beberapa saat saja.
Terlihatlah murid Sie Piauw tauw yang masih muda itu dengan menggunakan pedangnya berusaha menyerang dari sisi tubuh Angin sin pian menolong suhunya dari bahaya, tapi gerakannya ini sama sekali tidak berguna.
Pouw cungcu hanya cukup memberikan satu serangan yang ringan dia sudah tidak sanggup untuk menerima.
Disaat yang amat kritis itulah mendadak seso sok bayangan putih berkelebat menubruk ketengah lingkungan bayangan merah cambuk maut Pouw Sak San, kemudian disusul dengan bentakan yang nyaring tapi sangat merdu.
"Tahan."
Terdengar Ang in sin pian Touw Sak San men jerit sangat keras, cambuk mautnya dengan cepat ditarik kembali sadang tubuhnya dengan sempoyongan mundur lima enam langkah kebelakang.
Ditengah kalangan pertempuran terlihatlah gadis cantik pengangon kambing itu dengan mencekal seruling pualamnya berdiri disana, sedang tangannya yang sebelah lagi sedang membimbing tubuh si golok naga hijau Sie Piauw tauw yang usianya sudah mendekati enam puluh tahunan itu.
Begitu Liem Tou melihat gadis cantik pengangon kambing sudah berhasil menolong Sie Piauw tauw lolos dari mara bahaya hatinya menjadi lega kembali, dengan perlahan lahan dia putar tubuhnya menghadap kearah Hek Loo jie ujarnya sambil tertawa dingin.
"Kau manusia berhati srigala. sudah mencelakai kakaknya sendiri kini masih punya muka berkelana didalam dunia kangouw . --Hmmm .., Hek Loo toa Ioocianpwe sejak semula sudah serahkan nyawamu ketanganku, kalau tadi kau tidak bilang mau melunasi hutang masih tidak mengapa, kini kau akan sudah berani bilang --ini hari aku akan membalaskan dendam bagi Hek Loo Toa Loo cianpwe."
Sehabis berkata seluruh tenaga daiamnya segera dikerahkan pada telapak tangannya jeritnya.
"Hak Loo jie terima seranganku."
Satu serangan telapak yang amat dahsyat mengarah dada Hek Loo Jie dipukul kedepan.
Hek Loo Jie yang merupakan seorang jago yang sudah memiliki nama besar didalam dunia kangouw sudah tentu tidak mau anggap Liem didalam pandangannya begitu melihat datangnya serangan Liem Tou ini dengan tidak gugup sedikitpun mengangkat telapak tangannya mematahkan serangan itu.
Dua gulung angin yang sangat dahsyat bertemu.
"Bruuk ---Liem Tou maupun Hek Loo jie hanya merasakan lengannya menjadi kaku sedang tubuhnya tak tertahan lagi pada mundur bebera pa langkah kebelakang. Semula Hek Loo jie bilang kepandaian Liem Tou medapatkan kemajuan yang pesat sebetulnya mengandung nada mengejek siapapun tahu begitu bentrokan angin pukulan barusan ini seketika itu juga membuat hatinya merasa sangat terkejut sekali, pikirnya.
"Sewaktu bangsat cilik ini bertempur melawan hweesio-hwesio bau di dalam lembah cupu-cupu waktu itu, sekalipun jurus serangannya sangat banyak dan bermacam-macam tapi jalas tenaga dalamnya belum berhasil dilatih. Bagaimana hanya didalami waktu satu bulan saja dia bisa berhasil melatih tenaga dalamnya setinggi begini ? Apa mungkin kitab pusaka To Kong Pit Liok sudah ber hasil dia dapatkan kemudian melatihnya di dalam beberapa waktu ini ?"
Liem Tou yang d dalam beberapa waktu saja berhasil mengajar rubuh Pouw Siauw Ling serta Pouw Toa Tong kemudian menggetarkan Hek Lo jie, kepercayaan pada dirinya semakin menebal teriaknya lagi.
"Hek Loo jie, terima serangan ini lagi."
Sepasang telapak tangannya diputar, tenaga murninya disalurkan ketelapaknya kemudian dengan sekuat tenaga didorong sejajar dengan dadanya.
Baru saja Hek Loo jie hendak menerima serangan itu mendadak satu bayangan berkelebat didalam benaknya.
"Para jago yang hadir dalam ruangan ini siapa pun tahu kalau di tubuh Liem Tou membawa kitab pusaka yang sangat berharga sekali, tapi mereka tetap tidak mau turun tangan dan menonton saja tentunya punya maksud maksud tertentu, mereka mau menunggu aku dengan Liem Tou bergebrak hingga sama sama lelah kemudian merekalah yang dapat hasilnya."
Berpikir sampai disini dengan cepat dia menarik kembali telapak tangannya dan menghindarkan diri kesamping, Liem Tou dapat melihat semua gerakannya dengan amat jelas, tanpa terasa lagi tenaga pukulannya yang dikerahkanpun berkurang tiga bagian lagi, walaupun begitu angin pukulannya tetap mendengung memekikkan telinga.
Ketika dia sedikit berayal itulah mendadak Liem Tou hanya merasakan segulung angin pukulan yang sangat hebat membokong dirinya dari samping tempat menghajar sisi tubuhnya.
Di dalam keadaan yang amat bingung Liem Tou menjadi sangat gugup, sambil membentak keras dengan tergesa gesa dia meloncat beberapa langkah kebelakang.
Walaupun dia berhasil meloncat kebelakang tapi tenaga pukulan yang amat kuat itu tetap mengikuti dirinya ...
"Bluum .. tidak ampun lagi tubuhnya terpental hingga sejauh dua kaki lebih tepat terjatuh disamping tubuh gadis can tik pengangon kambing itu, hanya saja dia se gera merasakan lengan kirinya kaku, linu dan sakit sekali. Masih untung saja dia melayang sesuai dengan arah datangnya angin pukulan itu, kalau kebalikannya ... entahlah. Dengan tergesa gesa Liem Tou merangkak bangun kemudian memandang kearah berasalnya angin pukulan itu, tapi ...dia menjerit kaget dengan amat kerasnya. Didaiam sekejap saja ditengah ruangan itu sudah bertambah dengan seorang perempuan berusia pertengahan dengan air muka yang dingin kaku menyeramkan, rambutnya terurai memanjang sedada, sedang pada tangannya menggendong sesosok mayat gadis berbaju hijau yang sangat tipis sekali. Ketika Liem Tou memandang lebih teliti lagi segera dikenal olehnya orang itu tidak lain adalah Au Hay Ong Bo yang ditemuinya sewaktu berada diatas puncak Ngo Liong Hong, sedang mayat gadis berbaju hijau yang berada dipangkuannya itu adalah Ciang Beng Hu yang berkali kali menganiaya dirinya tapi kemudian terkena satu pukulannya yang sangat dahsyat. Melibat hal itu diam diam pikirnya.
"Apa pukulanku itu bisa membinasakan dirinya?"
Jika dipikirkan Liem Tou sedikit tidak percaya, tetapi kenyataan sudah berada didepan matanya sekalipun tidak percaya kini juga harus percaya.
Melihat dandanan dari Au Hay Ong Bo yang menyeramkan itu, dalam hati Liem Tou merasa berdesir tapi dengan membesarkan nyali tanyanya juga.
"Yang datang apakah Au Hay Ong Bo?"
Sewaktu tadi Au Hay Ong Bo munculkan diri, para jago yang berada didaiam ruangan sudah merasa terkejut, hanya saja mereka sama sekali tidak tahu siapakah wanita berusia pertengahan yang berwajah dingin kaku dan menyeramkan itu, kini sesudah Liem Tou menyebut namanya seketika itu juga memancing kegaduhan didalam ruangan.
Air muka setiap jago yang hadir disana pada menampakkan perasaan terkejut, bingung serta ragu ragu, karena sekalipun mereka tahu Au-Hay Ong Bo merupakan seorang manusia yang lihay dan berbahaya tapi selamanya belum pernah munculkan dirinya didalam Bu lim.
Tidak disangka pada saat seperti ini bisa munculkan dirinya secara mendadak, dari hal ini bisa ditinjau kalau urusan yang sudah terjadi merupakan urusan yang di luar dugaan.
Sepasang mata Au Hay Ong Bo dengan sinar berapi api memandang sekejap kearah Liem Tou mendadak dengan memperlihatkan sebaris giginya yang putih menyeramkaa dia menjerit ngeri, sesudah meletakkan mayat Ciang Beng Hu keatas tanah dengan perlahan mulai berjalan mendekati Liem Tou.
Seluruh tubuh Liem Tou gemetar sangat keras, mendadak bentaknya .
"Au Hay Ong Bo, aku Liem Tou sudah kau kurung mendekati satu bulan lamanya setiap hari mendapat siksaan serta cemoohan apa kau masih merasa kurang ?Sebetulnya aku dengan kalian manusia manusia dari partai Kiem Thian Pay punya dendam sakit hati apa sehingga kalian terus menerus mengejar aku ??"
"Ada dendam sakit hati apa ... ada dendam sakit hati apa ...."
Mendadak dia tertawa panjang dengan sangat keras sekali, sambil menunding mayat dari Ciang Beng Hu ujarnya .
"Hu jie ada dendam sakit hati apa dengan kau? Kenapa kau turun tangan jahat terhadap dirinya sehingga binasa?? Liem Tou .-. anjing-kecii ... aku mau telan kau hidup hidup,"
Sehabis berkata dengan rambut yang pada berdiri seperti duri, sepasang matanya dengan penuh kemarahan mendelik bulat bulat, keagungan serta kewibawaannya ketika masih berada diatas puncak Ngo Lian Hong sama sekali tidak kelihatan lagi, bahkan boleh dikata mirip dengan peri yang sangat jelak dan sangat kejam .
Musuh tangguh kini berada didepan mata, Liem Tou tidak berani berbuit gegabah lagi dengan cepat dia mengarahkan tenaga dalamnya melakukan persiapan .
Gadis cantik pengangon kambing yang berada disisinya ketika melihat ketegangannya memuncak, mendadak bertanya .
'Liem Koko, apa orang itu betul betul Au-Hay Ong Bo?
Tia pernah bilang dia berhasil melatih ilmu pukulan Kioe In Thiat Siu Kang yang amat lihay sekali, bagaimana kau bisa bunuh putrinya ?"
Seluruh perhatian Liem Tou sedang dipusatkan pada gerak gerik Au Hay Ong Bo, mendengar perkataan itu terpaksa dia hanya menganggukkan kepalanya saja sedang mulutnya tetap membungkam .
Saat ini suasana didaiam ruangan itu sunyi senyap, masing masing hadirin pada nenahan pernapasannya masing masing menanti dengan tenang gerakan selanjutnya dari Au Hay Ong-bo yang sedang berdiri berhadap hadapan dengan Liem Tou itu .
Mendadak .
Liem Tou hanya melihat sepasang mata Au Hay Ong Bo sedikit berputar tubuhnya dengan cepat sudah berputar setengah lingkaran ditengah udara, ujung bajunya dikebutkan kedepan bersamaan pula membentak sangat keras.
"Siapa berani membokong Loo nio?"
Pada saat Liem Tou melengak mendengar perkataan itu terdengarlah Lie Siauw Ie yang berada d ihadapannya sudah menjerit amat keras, seketika itu juga bagaikan sebuah logam mentah yang amat keras menimpa dada Liem Tou, tanpa memperdulikan nyawanya lagi dengan cepat dia menubruk kedepan.
"Jangan...!"
Teriak gadis cantik pengangon kambing dengan kaget.
Belum habis dia berteriak Au Hay Ong Bo sudah memutar tubuhnya kembali, dan dengan tepat menyambut datangnya tubrukan Liem Tou.
Tubuhnya sedikit merendah, telapak kirinya dengan cepat dikebutkan kedepan.
segulung angin pukulan yaug amat dingin segera menghantam keluar.
Sebetulnya Liem Tou tadi menubruk kedepan sudah tidak memikirkan nyawanya lagi, kerena-nya untuk menarik diri tidak mungkin lagi.
Didalam keadaan yang sangat kritis itu walaupun dia tahu dirinya bukan tandingannya terpaksa dengan diam diam menggigit kencang bibirnya, sepasang telapak tangannya dengan meminjam kekuatan menubruk kedepan itu mendadak melancarkan satu serangan dahsyat dengan menggunakan seluruh tenaga murninya.
Jilid 12 .
Terkepung di Ie Hee Cung Angin serangan dari Au Hay Ong Bo itu datangnya memang sangat aneh sekali, baru saja sepasang tangan Liem Tou separuh di dorong kedepan segera sudah terbentur dengan angin pukulan pihak lawannya, terasa suatu hawa yang amat dingin tinggi menusuk kedalam tulang menyerang dirinya hamper-hampir dia sukar untuk menahan hawa yang amat dingin itu.
Walaupun telapak tangannya didorong dengan cara bagaimanapun tetap tangannya tidak bisa maju satu coen pun, saat itulah Liem Tou baru merasa terkejut pikirnya cemas.
"Aduh ---habis sudah kali ini."
Sekonyong konyong -..tenaga tekanan pihak lawannya semakin memberat, segera Liem Tou hanya merasakan kepalanya pening, matanya berkunang kunang dan dadanya terasa sangat mual.
Dalam hati dia tahu saat inilah saat yang paling kritis,bagi jiwanya, bagaimanapun juga dia harus mempertahankan dirinya.
Berpikir sampai disini semangatnya bangkit kembali, dengan sekuat tenaga dia menarik hawa murninya kemudian dengan paksakan diri menerjang kedepan.
Mendadak terdengar gadis cantik pengangon kambing itu membentak nyaring.
"Siluman tua, kau berani."
Liem Tou hanya merasakan sepasang telapak tangannya sedikit tergetar, tenaga tekanan pihak lawannya sedikit kendor membuat tubuh Liem Tou tidak tertahan lagi mundur dua tiga langkah kebelakang dengan semponyongan, untung saja tidak sampai jatuh terduduk diatas tanah.
Ketika dia menoleh memandang terlihatlah gadis cantik pengangon kambing itu sudah bertempur dengan amat serunya melawan Au Hay Ong Bo.
Terlihat ujung baju gadis cantik pengangon kambing yang berwarna putih itu berkibar tertiup angin, seruling pualam ditangannya bagaikan kilat cepatnya melancarkan serangan.
Didalam sekecap mata dia sudah melancarkan tujuh kali serangn dahsyat bahkan setiap serangan yang digunakan terdapat perubahan gerakan yang sangat ruwet sekali, ketika dipandang dari depan hanya terlihat segulung bayangan seruling yang berputar dengan sangat rapatnya melindungi seluruh tubuh.
Sebaliknya Au Hay Ong Bo pun sudah mengeluarkan jurus-jurus serangan andalannya sebentar dia berkelebat kekiri sabentar lagi menahan serangan apa saja hanya terlihat ujung bajunya berkelebat dan menari dengan kencangnya.
Walaupun gadis cantik pengangon kambing itu sudah melancarkan berpuluh puluh serangan dengan menggunakan jurus seragnan yang berbeda, jangan dikata memukul hanya menyenggol saja sukar untuk tercapai.
Waktu itu Liem Tou punya niat untuk melihat jalannya pertempuran yang amat seru itu, dengam cepat dia berlari kesampingnya.
Terlihatlah air muka Lie Siauw Ie sudab be rubah pucat pasi bagaikan mayat, bibirnys yang kecil mungil gemetar terus menerus.
Waktu itu Pouw Jien Coei sedang membimbing tubuhnya berdiri sedang dari kelopak matanya air mata mulai mengucur keluar dengan derasnya.
Dengan setengah berlutut Liem Tou berjongkok didepan tubuh Lie Siauw Ie tanyanya dengan cemas.
"Ie cici, kau terluka parah??"
"Adik Tou"
Seru Lie Siauw Ie begitu melihat Liam Tou berjalan mendekati tubuhnya.
"Kau tidak usah ikut, tempat ini tidak bisa ditahan lebih lama lagi cepat kau lari."
"Tapi luka cici sangat parah, bagaimana aku bisa pergi?"
Mendengar perkataan itu Lie Siauw le segera bangkit berdiri dari bimbingan Pouw Jien Coei makinya.
"Adik Tou, aku hanya terkena jarum Kioe Cu tok cianku sendiri, asalkan makan obat penawar segera akan sembuh kembali, jika kau tidak mau dengar omonganku lain kali jangan datang cari aku lagi."
Sehabis berkata dia paling kearah lain kemudian dengan terhuyung huyung lari keluar dari ruangan itu.
Dengan cepat Pouw Jien Coei lari membimbing lengannya dan bersama-sama meninggalkan ruangan tersebut, sesampainya diluar ruangan, sekali lagi dia menoleh mendelik kearah Liem Tou, agaknya ada perkataan yang hendak disampaikan, hanya saja karena Ang in sin pian sekarang masih berada disana akhirnya dia tidak jadi bicara dan lari keluar dengan cepat.
Sesudah Lie Siauw Ie meninggalkan ruangan itu dalam hati Liem Tou hanya merasakan hatinva yang hampa dengan termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun berdiri disana.
Kiranya Lie Siauw Ie memang betul terluka oleh senjata rahasia Kioe Cu gin Ciam-nya sendiri, ketika dia melihat Au Hay Ong Bo mendesak kearah Liem Tou terus menerus karena takut Liem Tou cedera oleh serangannya maka sengaja dia melancarkan serangan dengan menggunakan senjata rahasianya.
Siapa tahu Au Hay Ong Bo yang merupakan seorang jago yang berkepandaian tinggi serta tenaga dalamnya sudah mencapai kesempurnaan panca indranya yang terlatih amat tajam sekali.
Begitu didengarnya ada sambaran senjata rahasia mengancam tubuhnya dengan cepat dia berkelebat balikkan tubuhnya sambil mengebut dengan menggunakan ujung bajunya, begitulah jarum jarum perak itu terpukul balik segera menghajar badan Lie Siauw Ie tanpa ampun lagi.
Untung saja waktu itu Liem Tou sempat menubruk kedepan sehingga bisa terhindar dari mara bahaya, jika waktu itu Au Hay Ong Bo menambah dengan satu serangan lagi begitu badan Lie Siauw Ie terkena pukulan Kioe Im thiat Siu-nya --entah bagaimana jadinya.
Sedang Liem Tou berdiri termangu mangu mendadak terdengar Au Hay Ong Bo sudah membentak dengan amat keras.
"Siapa kau ??"
Liem Tou menjadi amat terkejut sekali, baru saja dia mau putar tubuhnya mendadak segulung angin pukulan yang amat tajam menyambar dari belakang tubuhnya tanpa menoleh lagi ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah dengan tergesa-gesa3 meloncat beberapa langkah kedepan kemudian baru menoleh ke belakang.
Kiranya orang yang baru melancarkan serangan bokongan itu tidak lain adalah Hek Loo jie itu manusia yang paling pengecut didunia saat itu Liem Tou menjadi amat gusar, kuda kudanya sedikit diperkuat, badannya sedikit merendah siap melancarkan balasannya.
Baru saja dia mengerahkan tenaga dalamnya mendadak terasa olehnya seluruh tubuhnya gemetar amat keras, hawa murni yang dikerahkan keseluruh badan tiba tiba buyar ditengah jalan, sampai saat itulah dia baru tahu dirinya sedang dalam terluka sedang saat itu Hek Loo jie semakin lama semakin mendekati badannya.
Ketika matanya melirik kesamping terlihat para jago yang berada didalam ruangan itu sudah meninggalkan tempatnya masing masing dan bergeser mendekati dirinya.
Siang hui hok Pouw Beng serta Pouw Liang dengan melototkan matanya memandang dirinya mereka berdiri tegak menjaga pintu keluar ruangan tersebut.
Liem Tou yang dikurung ditengah kepungan musuh yang berada di empat penjuru sedang dirinyapun terluka, teringat kembali Lie Siauw Ie yang ikut terluka karena dirinya tidak tertahan lagi batinnya sangat sedih sekali, jika dibadannya membawa senjata tajam kemungkinan waktu itu dia sudah cabut pisaunya untuk bunuhdiri.
Sesaat Liem Tou sedang merasa sangat sedih dan putus asa itulah mendadak terdengar Au-Hay Ong Bo membentak dengan amat gusarnya.
"Hay budak liar, Lie Loo jie itu apamu cepat bilang?"
Mungkin waktu itu gadis cantik pengangon kambing sudah melihat keadaan Liem Tou yang amat barbahaya itu, sambungnya.
"Liem koko kau masih tak pergi, kau mau tunggu kapan lagi ??"
"Enmm..."
Pikir Liem Tou diam diam.
"Jika aku bisa melarikan diri buat apa tunggu kau bilangi aku dulu..."
Terdengarlah Au Hay Ong Bo tertawa terbahak bahak dengan sangat seramnya.
"He he he.., Loo nio atur jebakan seluruh penjuru tempat ini. Bangsat anjing kau mau melarikan diri kemana ??"
"Hey siluman tua kau jangan sombong dulu"
Seru gadis cantik pengangon kambing dengan amat gusarnya.
"Aku sengaja mau suruh Liem koko melarikan diri dari sini, aku mau lihat kamu orang bisa berbuat apa". Kemudian gapenya kepada Lem Tou. Waktu itu Liem Ton tidak tahu sudah terjadi urusan apa, baru saja dia menoleh mendadak di depan matanya berkelebat sebuah sinar yang amat menyilaukan mata sebilah pisau belati yang amat tajam sudah melayang kehadapannya dengan cepat dia ulur tangan menyambutnya. Ujar gadis cantik pangangon kambing itu "Liem koko, siapa yang berani ganggu kamu orang bunuh terlebih dulu, cepat pergi."
Liem Tou yang didalam genggamannya telah bertambah dengan sebilah pisau belati yang amat tajam perasaan sedih serta putus asa yang menghiasi air mukanya tadi kini secara mendadak hilang lenyap tanpa bekas, semangat kejantanannya muncul kembali didalam hatinya, bagaikan meeyambarkan segulung angin taufan dengan sebilah pisau belati yang kecil tapi memancarkan sinar yang amat tajam ini dia melancarkan serangan kedepan, sambil bentaknya dengan keras.
"Siapa yang berani menghalangi perjalanan aku Liem Tou ?"
Tubuhnnya dengan cepat menyusup dan lari dengan cepatnya keluar ruangan.
Sejak tadi Hek Loojie sudah buat persiapan sudah tentu dia tidak akan membiarkan dia pergi dengan begitu mudahnya, sambil mendengus dengan amat dingin dia melancarkan satu serangan dahsyat dari samping tubuh Liem Tou, ujarnya.
"Hey Liem Tou kalau kamu orang seorang lelaki sejati jangan pergi". Padahal didalam hati Liem Tou sudah punya rencana yang sangat teguh, gerakannya menyusup keluar dari ruangan tadi, tidak lain hanya siasatnya, suara di timur menyerang ke barat. Baru saja Hek Loo jie selesai berbicara mendadak dia menjatuhkan diri ke arah belakang, serangan yang dilancarkan Hek Loo jie tepat lewat dari atas kepalanya. Sungguh ilmu Thiat Pian Ciauw yang sangat bagus"
Teriak Hek Loo jie ketika serangannya mancapai pada sasaran yang kosong.
Serangan kedua segera menyusul lagi, Liem Tou sudah tentu tidak membiarkan dia berlaga kuasa mendadak dia membalikkan badannya, pisau belati di tangannya sedikit digetarkan kemudian didorong kedepan, tubuhnya dengan mengikuti gerakan tersebut bagaikan kilat cepatnya menerobos kedepan badan Hek Loo jie dan menusuk tubuhnya Jurus ini merupakan jurus serangan Ooh Koei Ciat Hun atau Setan lapar menubruk sukma, salah satu jurus serangan yang dahsyat dari Hek Loo toa khusus unruk menghadapi Hek Loo jie menjadi amat terperanjat, teriaknya.
"Sungguh hebat"
Bagaimanapun juga dia merupakan salah soorang dari Siok To Siang Mo yang mempunyai nama sangat terkezal didalam Bu lim sehingga gerakan untuk meloloskan diripun sudah dilatihnya amat sempurna.
Ditambah lagi serangan dari Liem Tou ini dilancarkan terialu jauh dari sasarannya.
"Sekalipun dia merasa terkejut oleh serangan ini tapi didalam keadaan yang amat tergesa-gesa itu serangan kedua yang dilancarkan secara mendadak diubah menjadi cengkeraman maut. Tangannya dibalik dengan cepat mencekal pergelangan tangan Liem Tou yang menggenggam pisau belati itu, gerakannya dilakukan amat cepat ketepatan mencengkeram urat nadipun sangat hebat. Liem Tou pernah berhasil menggunakan jurus ini untuk melawan Ciang Beng Hu yang waktu itu sedang menyamar sebagai pengemis cilik serta hweesio mayat hidup siapa tahu ini hari telah mencapai sasaran kosong ketika melawan Hek Loo jie sendiri tanpa terasa hatinya merasa terheran heran juga. Di dalam keadaan yang amat tergesa-gesa dia menutul permukaan tanah meloncat ketengah udara, pisau belati di tangannya diputar kemudian bagaikan kilat cepatnya melancarkan serangan dengan menggunakan jurus-jurus Pek In Jut Siuw atau mega putih muncul dari bukit, Toan In Jan Gwat atau mega terputus putus menutupi hutan, serta jurus cong In Pau Huang atau mega merah didelapan penjuru.
"Sreet...sreet...-sreet..."
Sinar keperak perakan memenuhi angkasa sebingga mengacaukan pandangan setiap orang, tanpa dipikir lebih panjang lagi dia melanjutkan serangannya dengan menggunakan ilmu pedang dari Kun lun Pay Hong In Chiat Kiam atau ilmu pedang angin dan mega dengan dahsyatnya mengurung seluruh tubuh Hek Loo jte.
Terhadap jurus jurus serangan yang aneh dari pisau belati itu selama ini Hek Loo jie belum pernah menemuinya sudah tentu dia tidak sanggup untuk melawannya, terpaksa berturut turut dia mundur beberapa langkah kebelakang.
Melinat kesempatan yang sangat bagus Liem Tou tidak mau membuangnya dengan percuma, tubuhnya berputar ditengah udara pisau belatinya dengan memancarkan sinar keperak-perakan menerjang keluar dari ruangan itu.
Siang Hui hok begitu melihat Liem Tou menerjang kearah mereka, satu dari kanan yang lain dari kiri bersama sama menubruk kedepan menghalangi perjalanan Liem Tou selanjutnya.
Secara tiba tiba Pouw Beng serta Pouw Liang merasakan pisau belati ditangan Liem Tou di dalam satu kali tebasan itulah sudah berubah menjadi tiga bilah pilau yang secara bersama-sama menyerang kearah mereka, hal ini memaksa mereka berdua terpaksa menyingkir kesamping dan pada saat yang bersamaan pula Liem Tou sudah menerjang keluar.
Dia tidak berani berhenti terlalu lama, untuk berpikir panjang pun tidak akan berani lagi dengan tidak menghiraukan keadaan sekitarnya dia melarikan diri dengan cepat ke arah belakang perkampungan.
Baru saja beberapa langkah meninggalkan tempat semula tiba-tiba dirasanya keadaan sedikit tidak beres, dengan cepat dia angkat kepalanva memandang ternyata yang mengepung sekitar tempat itu, saat itu secara serempak mereka sedang berteriak teriak.
"Liem Tou. Kau tidak malu, tidak punya kemampuan untuk mengunjungi gunung secara terang terangan sekarang berani menyelundup secara sembunyi sembunyi,"
"Liem Ton, kau manusia goblok juga mau sebut dirimu sebagai seorang enghiong"
"Liam Tou. Kau mencemarkan nama baik ayahmu."
Liem Tou benar semua orang itu adalah para pemuda perkampungan yang sebaya usianya dengan dia, sedang mereka pun merupakan kawan-kawan karib dari Pouw Siauw Ling yang sering mengejek dan menganiaya dirinya.
Kini melihat orang-orang itu menghalangi perjalanannya dengan gusar bentaknya keras.
"Cepat menyingkir Kalian mau cari mati yaa?"
Segera dia menerjang kedepan, orang itu ketika melihat keganasan dan kehebatannya di tambah lagi dengan berita yang tersiar mengatakan Pouw Siauw Ling serta Pouw Toa Tong sudah terluka ditangannya dengan tanpa berani mengganggu lagi pada menyingkir ke samping memberi jalan.
Mendadak terlihatlah seorang pemuda yang tak tahu,diri sudah tunjukkan diri menghalangi perjalanannya, dia menganggap Liem Tou masih seperti Liem Tou yang dahulu mudah untuk dianiaya, dengan mengandalkan ilmu silat yang dilatihnya dia menyambut kedatangan Liem Tou.
Bagaimana pun juga Liem Tou bukanlah seorang yang bodoh, ketika melihat orang itu begitu nekat hendak mengadu tenaga dengan dirinya dengan cepat dia mengerem gerakannya.
"Cepat menyingkir "
Teriaknya keras.
"Apakah kau betul betul mau cari mati?"
"Liem Tou kau jangan membual terlalu besar"
Bentak orang itu sembari menuding kearah Liem Tou dengan menggunakan pedangnya.
"Hanya didalam satu tahun saja kau sudah melatih kepandaianmu seberapa tinggi Liem Tou tak mau gubris orang itu dengan cepat dia menoleh kebelakang, terlibatlah dengan dipimpin Pou Liang serta Pouw Beng semua tamu serta hadirin termaauk juga Hek Loojie sudah pada mengejar lebih dekat, apalagi itu Pouw Liang yang mendapatkan julukan sebagai Siang hui houw, ilmu meringankan tubuhnya sudah dilatih mencapai pada taraf kesempurnaan hanya didalam satu kali loncatan saja mereka sudah hampir mencapai belakang tubuhnya. Melihat keadaan yang begitu bahaya Liem Tou segera membentak "Kau cari mati sendiri."
Pisau belatinya dibabat kedepan menyambar dada orang itu, dengan cepat pemuda tersebut angkat pedangnya menangkis.
"Peletak.."
Seketika itu juga pedang ditangannya berhasil dibabat putus menjadi dua bagian, asalkan pisau belati Liem Tou didorong satu coen lagi kedepan maka pemuda itu tanpa ampun segera binasa seketika itu juga.
Tapi bagaimana pun juga Liem Tou tak tega untuk turun tangan jahat terhadap orang itu, telapak kirinya segera melancarkan satu serangan memukul mundur tubuhnya sejauh tujuh delapan langkah kebelakang.
Pada saat dia sedikit berayal itulah Pouw Liang serta Pouw Beng sudah berada dibelakang tubuhnya.
"Breeet..."
Liem Ton hanya merasakan punggungnya menjadi dingin kemudian disusul dengan panas, perih, sakit dan amat linu dia tahu pundaknya sudah terluka oleh goresan pedang pihak lawannya, tanpa terasa dia menagembor dengan keras, pisau belatinya dibalik menyambar kebelakang segera terdengarlah suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati dari Pouw Liang tubuhnya menggeletak keatas tanah tidak berkutik lagi.
"Pouw Liang,"
Suara teriakan dari Pouw Beng memecahkan kesunyian disekeliling tempat "Pouw Liang, oh .. adikku"
Liem Tou tidak mau ambil perduli lagi, dengan cepat dia melarikan dirinya kedepan.
Baru saja lari beberapa ratus kaki dari tempat semula terasalah olehnya pundak yang terluka terasa sakit luar biasa, darah didepan dadanya terasa bergolak dengan amat kerasnya membuat terasa amat pening.
Dia tahu pukulan dari Au Hay Ong Bo tadi sudah membuat badannya terluka amat parah, kini terasalah olehnya seluruh badan lemas tak bertenaga, rasa mual yang sukar ditahan menyerang dadanya membuat dia hamper-hampir jatuh tak sadarkan diri.
Pada waktu itulah dia mendengar suara teriakan serta bentakan dari orang yang mangejar dirinya semakin mandekat, dia mana mau begitu saja tnenyerah kepada mereka, hatinya mendadak menjadi agak mantap dengan menggigit kencang bibirnya dan melarikan diri kearah sebelah belakang perkampungan.
Dalam hati diam-diam pikirnya lagi.
"Asalkan aku berhasil melarikan diri ke dalam lorong yang menghubungkan tempat ini dengan sungai tanpa berhasil ditangkap oleh mereka, waktu itu aku tidak usah takut pada mereka lagi."
Tak selang berapa lamanya sampailah dia di dalam hutan di belakang perkampungan tersebut, hatinya saat ini semakin mantap lagi.
Mendadak .
kuburan dari ayahnya Liem Han San muncul di hadapannya, bagaimana pun juga hubungan ayah beranak jauh lebih erat sehingga walaupun kini berada di saat-saat yang amat kritis hatinya terasa sedih juga, apalagi sejak ditinggal oleh ayahnya dan selalu menemui penderitaan yang amat hebat, tidak punya tempat tinggal yang tetap, ditambah lagi kini dalam keadaan terluka dalam yang amat parah masih dikejar kejar orang sehingga tidak ada jalan lain lagi.
Penderitaan serta perih getir yang terlintas didalam pikiran kini mernbuat lututnya terasa amat lemas.
Mendadak dia jatuhkan diri berlutut di hadapan kuburan ayahnya, tidak bisa ditahan lagi dia menangis amat sedihnya.
Saat itu dia sudah lupa akan keadaannya yang amat bahaya.
Terdengar disamping badannya berkumandang suara pujian kepada Buddha yang amat nyaring.
"Omitohud"
Bersamaan pula terdengar suara yang bargema memenuhi seluruh angkasa.
"Buliang sohud". Ada pula yang sudah membentak dengan amat keras.
"Liem Tou, saat ajalmu sudah diambang pintu, menangis apa gunanya ?"
Mendengar bentakan yang amat keras itulah Liem Tou baru sadar kembali dari sedihnya, ketika mengangkat kepalanya memandang terlihatlah lima enam orang sudah mengepung dirinya rapat-rapat diantara mereka ada Hwesio, tosu, pengemis termasuk juga Tok Ci Kiem Ciam atau si jari beracun jarum emas Song Beng Lan beserta Hek Loo jie.
Kepungan berlapis disekelilingnya itu mengenal semuanya adalah orang orang penjaga Au Hay Ong Bo sewaktu masih ada didalam gua besar di atas puncak Ngo Lian Hong, ketika dia memandang keluar kembali terlihatlah diluar orang-orang itu masih ada para pemuda dari perkampungan sudah mengepung rapat-rapat tempat itu.
Didalam keadaan yang amat berbahaya seperti ini seharusnya Liem Tou merasa terkejut tapi dia yang baru saja menangis dengan amat sedihnya kini malah berubah semakin tenang.
Sambil berpikir didalam hati dengan perlaban dia bangkit berdiri.
"Kenapa kau tidak mau pukul aku sampai binasa ??"
Dia menyapu sekejap kearah orang orang itu kemudian menggerutu.
"Liem Tou kali ini sudah berada disini kalian mau berbuat apa lakukanlah sekehendak kalian"
Perkataannya ini membuat semua orang yang mengepung dirinya menjadi melengak dibuatnya, terlihat Song Beng Lan, Si Hwesio gundul, tosu serta pengemis itu saling bertukar pandangan kemudian baru ujarnya.
"Sejak partai Kiem Thian pay diresmikan selamanya belum pernah terjadi suatu sakit hati seperti kematian Kuncu kami. Hmmm, kau bangsat licik banyak akal aku linat lebih baik kita tidak usah tunggu kedatangan Ong Bo lagi, rubuhkan dia terlebih dulu baru bicara kemudian bagaimana pendapat kalian bertiga ??"
Perkataan dari Song heng sudah salah besar"
Timbrung tosu itu.
"Ong Bo sudah ada perintah demikian, janganlah kau menyalahi, kau kan sudah tahu bagaimana sifat dari Ong Bo kita."
Liem Tou yang mendengar tanya jawab antara Song Beng Lan serta tosu itu segera menjadi radar kembali, kiranya selama ini mereka ragu-ragu tidak mau turun tangan membinasakan dirinya dikarenakan Au Hay Ong Bo sendiri yang mau balaskan dendam bagi putrinya, tetapi ketika teringat akan luka yang diderita oleh Lie Siauw Ie kemudian teringat pula kalau Au-Hay Ong Bo sudah tertahan oleh sigadis cantik pengangon kambing tanpa terasa keinginan untuk hidup muncul kembali didalam hatinya, semangat jantannya berkobar kembali, pikirnya kemudian.
"Bagaimana aku bisa setolol begini, kenapa aku harus serahkan nyawaku kepada orang-orang semacam begitu?"
Seketika itu juga dalam hatinya mulai memikirkan cara untuk meloloskan diri dari kepungan tersebut, walaupun bekas luka goresan pedang pada punggungnya kini tcrasa begitu sakitnya tapi dengan keteguhan hati yang sudah dilatih sejak dia masih kecil, dengan paksakan diri itu dia menahan perasaan sakit hati itu, sepasang matanya dengan cepat segera berputar memandang sekeliling tempat tersebut.
"Hati-hati anjing kecil ini mau melarikan diri."
Tiba tiba Song Beng Lan berteriak memberi peringatan ketika melihat keadaan dari Liem Tou itu.
Tangan kanannya dengan cepat didorong kedepan siap siap melancarkan serangan sedang matanya dengan melotot lebar lebar memperlihatkan seluruh gerak gerik dari Liem Tou ini.
Liem Tou tertawa dingin tak henti-hentinya, pisau belati di tangannya diperkencang kakinya dengan cepat berputar kemudian secara tiba tiba melancarkan satu tusukan kearah manusia berpakaian pengemis itu.
Pengemis itu sama sekali tak mau mambalas serangan itu, dia mengundurken dirinya satu langkah ke samping untuk menghalangi kembali perjalanan Liem Tou.
Sebaliknya Song Beng Lan, si Hwesio gundul serta tosu itu tidak bersabar lagi, tiga orang bersama-sama membentak, lalu sepasang tangannya bersama-sama menyerang kedepan secara berbareng.
Siapa tahu jurus serangan dari Liem Tou ini merupakan salah satu dari ilmu pedang Thian San Hwe Sian Kiam, serangan yang menusuk ke arah si pengemis tadi hanya merupakan satu serangan kosong belaka, tujuan yang sebetulnya dari jurus itu tidak bukan adalah Song Beng-Lan Terlihatlah serangan pukulan atau jari Sakti dari Song Beng Lan serta Hwesio dan Tosu itu hampir mengenai badannya, mendadak Liem Tou membentak keras, tubuhnya secara tiba-tiba berubah arah bagaikan kilat cepatpya berputar kcsamping sedang pisau belati di tangannya dengan mengeluarkan sinar bagaikan busur membuat perhalangan tangan dari si Hwesio, Toosu serta Song Beng Lan.
Ketiga orang itu menjadi amat terperanjat, dengat cepat mereka mengundurkan dirinya ke belakang kemudian dengan pandangan terpesona memandang ke arah Liem Tou.
"Hey bangsat cilik"
Teriak Song Beng Lan dengan perasaan geram dan ragu-ragu.
"Jurus-jurus serangan yang begitu aneh ini kau dapatkan dari mana?"
"Hey Mou heng"
Serunya kemudian sembari menoleh kea rah manusia berdandan tosu.
"Apa kau juga mau menunggu sampai Ong Bo datang kemari?"
Tosu itu melirik sekejap kea rah hwesio-hwesio itu, kelihatan sekali kalau dalam hati dia merasa sangat ragu-ragu.
Sedangkan hwesio itu dengan pandangan penuh arti memandang kea rah Liem Tou, lama sekali baru tanyanya.
"Hey bangsat cilik, kau bisa menggunakan jurus-jurus sakti dari Thian San Hwee Sian Kiam tentunya mempunyai hubungan yang sangat erat dengan partai Thian San?"
Liem Tou yang mempelajari semua jurus serangan itu dari kitab pusaka "Too Loo-Cin Keng"
Sudah tentu tidak tahu jurus-jurus serangan tersebut berasal dari partai mana, kini ditanyai begitu dia hanya membungkam dalam seribu bahasa, sedangkan di dalam hati dia terus menerus memikirkan cara untuk melarikan diri dari sana.
"Hey bangsat cilik"
Tiba-tiba hwesio gundul itu membentak lagi dengan suara seperti geledek.
"Kalau kau adalah anak murid Thian san pay sudah tentu mengenal juga Soat Hu Li atau si Rase salju Jien Hui, bukan?"
Selesai berkata dia menoleh kepada ketiga orang temannya, kemudian sambungnya lagi.
"Kalian bertiga hengthay silahkan turun tangan, jika nanti Ong Bo menyalahkan kalian biarlah aku yang menanggung semua"
Tidak menanti ketiga orang kawannya memberikan jawaban dia sudah melancarkan satu serangan dahsyat ke arah Liem Tou.
Liem Tou menjadi amat terkejut, baru saja dia mau menghindarkan diri dari serangan dahsyat tersehut, Hek Lao jie yang sampai saat itu terus menerus menanti saat-saat yang baik untuk turun tangan secara tiba-tiba bagaikan kilat cepatnya sudah melancarkan suatu serangan dahsyat menahan angin pukulan dari Soat Hu Li itu.
"Jien-heng tahan dulu."
Teriaknya dengan keras.
"Sewaktu bangsat cilik Liem Tou ini melawan cayhe tadi jurus-jurus serangan yang digunakan semuanya merupakan jurus serangan dari ilmu pedang Hong In Kiam nya partai Kunlun, kini dia menggunakan juga ilmu pedang Hwee Sian Kiam dari aliran Thian San Pay, menurut pendapatku dia bukanlah anak murid dari partai mana pun, tapi agaknya sedikit punya hubungan dengan Lie Loojie."
Mandengar omongan dari Hek-loojie ini air muka Soat hu li segera berubah amat hebat.
"Hek loojie."
Teriaknya gusar.
"Kami dengan kalian Siok to Siang Mo selamanya tak punya ganjalan sakit hati apapun, lebih baik kau berdiri disamping. Bangsat cilik ini punya dendam sakit hati dengan kami dari partai Kiem Thian Pay, jika kau adalah kawan kami maka harap berdiri di samping jangan turut campur, tapi jika musuh…Hmm..hmmm.."
Hek Loojie tertawa licik, sambil memandang ke arahnya dia berkata lagi.
"Aku Hek Loojiee bukan kawan juga bukan lawan kalian partai Kiem Thian Pay, hanya saja aku mau peringatkan kepadamu saja kalau ia punya hubungan dengan Lie Loojie, Siapa yang tidak tahu kalau kau Soat Hu Li kenapa mau meuggabungkan diri dengan partai Kiem Thian.Hmm, kau mau mempelajari ilmu jari sakti Yan Wi Toan Hok Ci Kong nya Au Hay Ong Bo kemudian hendak kau gabungkan dengan ilmu telapak Toa Su Log Cing hoat yang kamu pelajari dari hweesio Tibet kemudian bendak kau gunakan balas sakit hati atas diusirnya kau dari perguruan Thian San Pay."
"Hmmmm, apa kau tidak tahu kalau Liem Tou memiliki juga kitab pusaka To Kong Pit Liok-nya Cio Coesu ? Jika kau berhasil memiliki kitab pusaka tersebut maka kepandaianmu akan jauh lebih tinggi sepuluh kali lipat dari pada mempelajari ilmu jari Yan Wei Toan Hun Ci"
Hek Loojie bisa berbicara begitu telah tentu punya rencana hendak menculik pergi Liem Tou untuk memperoleh kitab pusaka To Kong Pit Liok tersebut, makanya dia berusaha keras untuk mencegah Soat Hu Li ini turun tangan jahat terhadap Liem Tou sehingga dia jadi binasa.
Setelah mendengar omongan dari Hek Loojie ini agaknya Soat Hu Li tertarik juga, dengan cepat dia menarik serangannya dan berpikir keras.
"Jien-heng "
Teriak Song beng Lan dengan cepat.
"Kau jangan mau dengar omongannya, siapa yang tahu hatinya sedang merencanakan apa ? Lebih baik kita kuasai dulu bangsat cilik ini."
Sambil berkata dia maju dua langkab ke depan, jarinya dengan cepat melancarkan suatu serangan kilat mengarah jalan darah di pundak Liem Tou.
Gerakan dari Song Beng Lan ini dilakukan dengan amat cepat tapi gerakan dari Soat Hu Li jauh lebih cepat lagi, tetapi begitu dia meiihat Song Berg Lan melancarkan serangan dahsyat dengan cepat dia mengibaskan ujung bajunya.
"Saudara Song tahan dulu"
Serunya,"Biarlah aku pikir pikir dulu baru kita bicarakan lagi."
Waktu itulah Hek Loo jie merasa waktunya sudah tiba, dengan meminjam kesempatan sewaktu Soat Hu Li mengibaskan ujung bajunya itulah secara tiba tiba dia membentak keres, telapak kirinya melancarkan satu serangan dahsyat membabat ketiga orang itu sedang tangan kanannya dengan cepat bagaikan kilat mencengkeram pundak dari Liem Tou.
Orang orang dari partal Kiem Thian Pay ini walaupun berjumlah banyak sekali tetapi berada di dalam keadaan tidak bersiap sedia ketika itu juga mereka berhasil memukul mundur lima enam langkah oleh angin pukulan itu hahkan Liem Tou pun terserang secara mendadak itu membuat dia menjadi kalang kabut, untuk menyerang dengan menggunakan pisau belatinya, guna meuolong diri tidak sempat lagi dengan cepat dia melancarkan serangan dengan menggunakan ilmu "Hwe In Su"
Yang pernah diingatnya dari Heng San Ji Yu sewaktu masih berada di dalam lembah Cupu-cupu, telapak kirinya tiba-tiba menerobos diantara ketiak, dengan cepat menyambut datangnya serangan maut dari Hek Lao Jie itu.
Walaupun dengan gerakan ini Liem Tou berhasil menghindarkan diri dari serangan serangan yang menuju punggungnya tapi kepandaian Hek Loo Jie didalam ilmu cengkeraman mautnya ini berada diatas dugaannya, begitu dia melihat Liem Tou melihat datangnya serangan itu menjadi amat girang di dalam hatinya memang dia tidak punya minat untuk mencelakai nyawanya, pergelangan tangannya dengan cepat ditekan kebawah kemudian mencengkeram pergelangan tangan Liem Tou.
Ketika itu juga Liem Tou merasakan pergelangan tangannya seperti dijepit dengan jepitan besi, sakitnya sampai terasa diulu hatinya.
Mendadak dia membentak keras pisau belati ditangan kanannya dengan seluruh tenaga dibacok kearah pergelangan tangan Hek Loo jie.
Dengan dinginnya Hek Loo ji mendengus, tangannya sedikit ditarik kebelakang membuat badan Liem Tou menjadi sempoyongan, biar bagaimanapun juga dia menusuk membabat dan membacok dengan sekuat tenaga hanya cukup Hek Loo ji menarik lengannya membuat dia tidak sanggup untuk mendekati badannya.
Hek Loo ji yang melihat Liem Tou mencak mencak terus menerus membuat kegusarannya memuncak, dia membentak keras cengkeramannya diperkencang lagi membuat Liem Tou yang sebelumnya sudah menderita luka dalam kini merasa tidak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi.
Saking sakitnya air muka Liem Ton sudah berubah menjadi pucat kehijau hijauan, giginya menggerutuk menahan perasaan sakit yang luar biasa, dari perubahan wajahnya yang begitu ngeri sudah cukup diketahui bagaimana perasaan sakit yang dideritanya pada saat itu.
Waktu ini si Soat Hu Li, Lie Hui, si jari beracun jarum emas Song Beng Lan, Toosu, serta pengemis sekalian menjadi amat gusar kali, mereka sama sekali tak menyangka hanya didalam satu pukulan saja Hek Loo ji berhasil pukul mundur mereka semua bahkan berhasil menguasai Liem Tou untuk dipaksa nunjukkan tempat penyimpanan Kitab pusaka To Kong Pit Liok bersama sama mereka melancarkan serangan dahsyat mengancam seluruh tubuhnya.
Didalam hati Hek Loo ji tahu dengan jelas jika dirinya berani melawan jago jago berkepandaian tinggi yang mengepung dirinya saat ini maka tidak ampun dia akan menderita kerugian, didalam keadaan seperti itu segera dia menarik badan Liem Tou sehingga bergeser kekanan menutupi seluruh badan sendiri, kiranya dia hendak menggunakan badan Liem Tou untuk dipergunakan sebagai perisai dirinya.
Liem Tou yang berturut turut menderita luka sejak tadi sudah kehilangan tenaganya untuk melawan, untuk meloloskan diripun tak ada cara terpaksa dengan hati yang cemas dia memandang sekelilingnya.
Keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh badannya apa lagi kini di hadapannya terdapat empat orang jago berkepandaian tinggi dari Kiem Thian Pay yang selalu melancarkan serangan dahsyat ke arah Hek Loo ji setiap serangan mereka besar kemungkinan bisa mampir dan bersarang dibadan sendiri membuat dia merasa sangat terkejut sekali hanya cukup satu serangan saja dari mereka mungkin sudah cukup mencabut nyawanya sendiri.
Siapa tahu entah disebabkan oleh apa, mereka empat orang yang semula hendak membinasakan diri Liem Tou kini malah menganggap dia sebagai penghalang saja setiap serangan yang mereka lancarkan asalkan sudah mendekati dengan badan Liem Tou dengan cepat ditarik kembali, sepertinya mereka sangat takut sampai melukai dirinya.
Dengan kejadian ini kegusaran keempat orang jago dari Kiem Thian Pay ini semakin memuncak lagi.
Kurang lebih lewat seperminum teh lagi waktu itu Liem Tou yang dibawa berputar sudah mulai merasakan kepalanya sangat pening, pandangannya mu1ai menjadi kabur sedang perasaan mual didalam dadanya sukar ditahan lagi, napasnya ngos-ngosan sedang keringat yang mengalir keluar seperti air bah yang mengalir deras.
Tita .tiba.
, .
"Krooook.."
Dari pusarnya mengeluarkan suatu suara yang ringan tapi nyaring, hawa murninya dengan cepat menerjang keatas kemudian mengitari seluruh tubuhnya.
Dalam hati Liem Tou menjadi bergerak dengan cepat dia tarik napas panjang membuat seluruh badannya terasa amat nyaman tenaga dalamnya pulih kembali seperti sedia kala membuat hatinya betul betul merasa teramat girang bercampur heran, dengan cepat dia pejamkan matanya mengatur pernapasan.
Saat ini keempat jago dari Kiem Thian Pay yang sedang bertarung melawan Hek Loo ji semakin bertempur semakin seru sedang pergelangan tangan kiri dari Liem Tou yang di cengkeram oleh Hek Loo ji pun ikut bergoncang semakin keras membuat pisau belati ditangan sebelah kanannya ikut manari dan berputar dengan amat santarnya.
Kini racun pukulan dingin Kiem Im Han Tok Ciang dari Au Hay Ong Bo sudah berhasil di paksa keluar oleh keringat yang mengucur keluar dengan amat derasnya itu sehingga luka dalamnya sudah dia sembuhkan tanpa dia sadari ditambah lagi dengan pengaturan napas beberapa lamanya membuat tenaga dalam dari Liem Tou jadi pulih kembali.
Saat ini dia tidak mau bergerak banyak banyak, dia ingin menunggu kesempatan yang bagus untuk melancarkan serangan dengan menggunakan pisau belatinya membuat Hek Loo Ji menemui ajalnya.
Mendadak.
"Berhenti"
Suatu suara yarg memekikkan telinga bergema disekeliling tempat itu.
Terlihat sesasok bayangan manusia berkelebat, Au Hay Ong Bo sudah memunculkan dirinya disana.
Ujung bajunya yang seperti baja dengan manimbulkan angin pukulan yang amat dingin menggulung kearah Hek Loo ji, serangan ini dilakukan begitu cepatnya sehingga sukar diketabui oleh pandangan mata.
Walaupun kepandaian silat dari Hek Looji tidak begitu liehay tapi jaraknya berdiri dengan diri Au Hay Ong Bo masih agak jauhan, melihat dia melancarkan satu serangan kearahnya dengan cepat dia lepaskan cengkeramannya pada Liem Tou lalu melayang mundur beberapa kaki kearah belakang.
Melihat hal ini Soat Hu Li sekalian berempat dengan gusarnya membentak keras, dengan cepat mereka melancarkan satu serangan dahsyat kearahnya membuat Hek Looji saking takutnya cepat-cepat melarikan diri terbirit birit.
Baru saja Liem Tou merasa lega karena lolos dari cengkeraman Hek Looji kini musuh tangguh muncul kembali dihadapan matanya didalam keadaan ketakutan dan terkejut pisau belati ditangan kanannya bersamaan dengan pukulan dengan menggunakan telapak kirinya bersama sama melancarkan serangan ke arah Au Hay Ong Bo, dia tahu dirinya bukanlah tandingan dari Ay Hay Ong Bo tapi dia sadar siapa yang cepat dialah yang menang, karena itulah tanpa pikir-pikir panjang lagi dia sudah melancarkan suatu serangan kearahnya.
"Heey.."
Pikirnya pula didalam hati.
"Kenapa siluman tua ini bisa kesimi? apa mungkin gadis cantik pengangon kambing nona Lie sudah dikalahkan olehnya?"
Tidak perduli si gadis cantik pengangon kambing itu menang atau kalah terbukti dia tidak muncul ditengah kalangan pada saat ini sama artinya Au Hay Ong Bo tidak ada yang bisa menandingi lagi.
Karenanya segera dia melancarkan serangan gencar kearahnya dengan menggunakan berbagai macam jurus yang tidak menentu membuat Au Hay Ong Bo seketika itu juga dibuat tertegun.
Dengan menggunakan kesempatan Au Hay Ong Bo sedang tertegun itulah dengan cepat Liem Tou meloncat beberapa kaki dari sana kemudian melarikan diri dengan cepatnya kedepan.
Menanti Au Hay Ong Bo sadar kembali dia sudah berada kurang lebih dua tiga kaki dari tempatnya berdiri, dengan cepat dia membentak keras kemudian mengejar dari belakang.
Kali ini Liem Tou sudah sadar bahwa dirinya tidak mungkin berhasil mencapai gua rahasia yang menghubungkan puncak gurung dengan tepi sungai itu, karenanya dia berbalik melarikan diri kearah dalam perkampungan, untung saja jarak antara sana kearah perkampungan tidak jauh, tidak lama kemudian dia sudah sampai sedangkan waktu itu Au Hay Ong Bo sudah berada satu dua langkah dari dirinya.
Didalam keadaan amat terkejut bercampur terperanjat Liem Tou tanpa pikir panjang lagi sudah menerjang masuk kedalam rumah rakyat perkampungan yang berada dihadapannya.
Tubuhnya dengan cepat bagaikan kilat menerobos kedalam pintu rumah itu sedang Au Hay Ong Bo dengan kencangnya menguntit terus dari belakangnya memaksa Liem Tou melarikan diri lebih cepat lagi sesudah berputar putar beberapa tikungan begitu dilihatnya ada jendela di depannya tanpa pikir panjang lagi dia sudah menerobos keluar dari jendela tersebut.
Ketika dia menoleh kebelakang terlihatlah Au Hay Ong Bo masih berada didalam ruangan rumah itu, dengan cepat dan gugup dia menerobos kembali ke rumah yang lain, untung saja rakyat di dalam perkampungan itu rata rata sudah kenal dengan diri Liem Tou, begitu melihat dia muncul didalam rumah mereka sakalipun merasa kedatangannya itu secara tiba tiba tapi tidaklah terlalu merasa heran dan aneh bahkan di antara mereka ada yang berusaha membantu Liem Tou untuk menyembunyikan dirinya.
Tetapi saat ini Liem Tou yang merasa musuh musuh yang mengejar dirinya terlalu tangguh tidak mau menyusahkan orang orang yang berbaik hati itu, apalagi didalam pikirannya sudah punya maksud untuk melarikan diri kerumah kediaman Lie Siauw Ie guna melihat keadaan lukanya, karena itu dia tidak mau menerima kebaikan hati orang orang itu dengan meminjam kesempatan untuk secepat cepatnya dia menerobos keluar kemudian meloncat keatas tiang-tiang untuk melanjutkan melarikan dirinya kedepan.
Sesudah mengalami berbagai kesusahan dan rintangan akhirnya Liem Tou berhasil tiba di depan rumah Lie Siaue Ie tanpa pikir lagi dia sudah menerobos kedalam rumah.
Dengan terlihatnya Lie Siauw Ie sedarg berbaring di atas pembaringannya, melihat hal itu di daiam hatinya menjadi amat terkejut bercampur girang segera dia maju menubruk sambil teriaknya.
"Ie Cici."
Air matanya tidak bisa ditahan sudah meleleh keluar dengan derasnya, bersamaan pula secara tiba tiba dia merasakan kepalanya amat pening, tanpa bisa ditahan lagi dia rubuh keatas tanah jatuh tidak sadarkan diri.
Kiranya sekalipun luka dalamnya sebagian besar sudah hampir sembuh, hal ini dikarenakan sewaktu tadi manahan serangan telapak tangan dari Au Hay Ong Bo dia mendapatkan pukulan Kioe Im Han Tok Ciang tidak terlalu parah, sesudah mengeluarkan keringat boleh dikata racun tersebut sudah dipaksa keluar dari badannya, tapi bekas luka goresan pada punggungnya tetap terus mengalir darah segar tak henti-hentinya tadi waktu dia melarikan diri karena suasana tegang membuat dia tak begitu terasa, tapi sekarang sesudah keadaan tenang kembali membuat dia seketika itu juga merasakan keperihannya sehingga tanpa terasa lagi dia jatuhkan diri dengan tidak sadar.
Lie siauw Ie yang melihat dia jatuh pingsan menjadi amat terkejut, dengan cepat dia meloncat turun dari pembaringannya sambil berteriak dengan nada yang amat cemas.
"Adik Tou kau kenapa ?"
Saking cemasnya air matanya meleleh dengan amat derasnya, dengan cepat dia meloncat turun dari pembaringan kemudian membopong tubub Liem Tou ke atas pembaringannya.
Baru saja tangannya mulai bergerak menepuk seluruh tubuhnya guna menyadarkan dirinya dari pingsan mendadak dari luar kamar terdengar suara terikan yang amat ramai sekali mulai mendekati tempat tersebut, mendengar akan suara itu Lie Siauw Ie segera sadar kalau orang orang perkampungan sudah mengejar hingga kemari.
Dalam hati Lie Siauw Ie tahu bahwa orang tidak akan melepaskan rumahnya dengan begitu saja, mereka tentu akan mengadakan pemeriksaan yang amat teliti disekeliling rumahnya, karena itu kepada ibunya dia berkata.
"Ibu, jika mereka mencari sampai disini berusahalah mencegah gerakan mereka selanjutnya, jangan sekali-kali melepaskan mereka masuk ke dalam kamar, mereka mempunyai niat yang tidak baik terhadap adik Tou"
Sambil berkata dia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh dari Liem Tou, sedang dirinyapun ikut berbaring di sampingnya.
Tidak selang lama kemudian segerombolan suara tindakan kaki yang amat ramai sudah berhenti didepan pintu rumah, bahkan diantara mereka sudah ada beberapa orang yang mulai berteriak.
"Liem Pek Bo. bangsat cilik Liem Tou sudah datang mengacau perkampungan, bukan saja sudah melukai Siauw Ling ko serta Toa Tong-siok bahkan sudah bunuh mati Pouw Liang Jiesiok, aptkah bangsat cilik itu sudah bersembunyi didalam rumah Pek Bo?"
Lie Siauw Ie berbaring didalam kamar ketika mendengar berita itu didalam hatinya diam diam merasa terkejut, dia tak menyangka sama sekadi Liem Tou bisa menimbulkan bencana begitu besarnya.
"Oooh bukan, bukan…"
Sahut seorang pemuda diantara orang orang kampung itu.
"apakah dia betul betul tidak kemari ? ? Anjing kecil itu sudah menderita luka yang amat parah dia bisa lari ke mana lagi ??"
Gerombolan pemuda itu akhirnya tanpa mengucapkan terima kasih sudah meninggalkan tempat itu uutuk mencari jejak ditempat yang lain.
Lie Siauw Ie yang mendengar mereka sudah pada meninggalkan tempat ini hatinya menjadi amat lega, dia putar tubuhnya memandang ke arah Liem Tou yang terbaring dibalik selimut, terlihatlah dia tertidur di sampingnya dengan sangat pulasnya.
Dalam hati Lie Siauw Ie hanya merasakan hatinya amat kecut dan sedih, gumamnya seorang diri.
"Ooh adik Tou, selama beberapa waktu ini tentu menderita siksaan serta penderitaan sangat hebat, kau tidurlah dengan tenang, cicimu bisa melindungi dirimu dengan mempertaruhkan nyawa cici, sejak saat ini kita berdua tidak akan berpisah kembali"
Sudah bergumam beberapa saat lamanya sekali lagi memandang ke arah Liem Tou yang jatuh pulas dengan nyenyaknya itu.
Mendadak terlihatlah olehnya diujung kelopak mata Liem Ton mengucur keluar titik-titik air mata, melihat hal itu tanpa terasa lagi dari kelopak matanya sendiri mengucur keluar juga air mata dengan derasnya.
Lewat dua tiga jam kemudian suasana didalam ruangan itu semakin lama semakin redup dan mulai menggelap, saat itu merupakan permulaan musim salju pada bulan ke sepuluh tidak selang lama magrib pun sudah menjelang tiba.
Saat itu Liem Tou masih tidur dengan sangat pulasnya.
Lie Siauw Ie yang lukanya sudah sembuh dengan perlahan lahan turun dari pembaringan dan berjalan menuju ke dapur untuk mempersiapkan makanan malam.
Pada saat itulah gerombolan pemuda yang tadi mencari jejak Liem Tou kini mendatangi kembali tempat itu bahkan kali ini dipimpin langsung Ang ing-sin pian Pouw Sak San itu Cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung.
Sesampainya didepan pintu rumah dia tak terus menggedor pintu, sebaliknya dengan amat teliti dia memeriksa keadaan di sekeliling rumah tersebut.
Begitu melihat munculnya gerombolan orang itu perasaan tegang mulai meliputi kembali di hati Lie Siauw Ie beserta ibunya diam diam keringat dingin mulai mengucur keluar dengan sangat derasnya.
Perlahan lahan Lie Siauw Ie mendekati pintu rumah itu, dengan meminjam sinar yang ada dia mulai mengintip dari celah-celah lubang.
Terlihatlah, Si Ang in sin pian Pouw Sak San Cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung dengan air muka penuh diliputi dengan napsu membunuh memimpin diri Liong ciang Lie Kian Poo, Pouw Beng serta pemuda perkampungan berdiri di depan rumah dengan angkernya.
Ketika melihat lagi ke arah lain terlihatlah ditempat kejauhan si Au Hay Ong Bo dengan memimpin Soat Hu Lie beserta anak buahnya dan seluruh jago yang menghadiri parjamuan sudah berdiri menyebar sekeliling tempat itu.
Dalam hati segera tahu tentunya orang orang itu sedang mengincar diri Liem Tou tanpa terasa lagi perasaan cemas dia sudah menoleh ke arah ibunya lagi.
"Ibu"
Teriaknya dengan sedih.
"Bigaimana? "Bagaimana dengan baiknya ?"
Orang tua itu agaknya juga dibuat cemas untuk beberapa saat lamanya, tapi sebentar kemudian sudah bisa menenangkan pikirannya lagi.
"Aku sendiri juga tak tahu harus berbuat bagaimana"
Sahutnya dengan menghela napas panjang.
"Ie-jie, aku pikir perlahan lahan tentu kita mendapatkan cara juga untuk meloloskan diri, untuk sementara kau janganlah kuatir dulu."
"Ibu"seru Lie Siauw Ie kembali.
"Jika mereka ngotot mau masuk rumah untuk mengadakan pemeriksaan bagaimana kita harus berbuat? Jika Liem Tou sampai ditawan mereka nyawanya sukar untuk ditahan lagi"
Semakin berkata Lie Siauw Ie semakin cemas dan semakin sedih lagi sehingga air mata mengucur keluar lebih deras lagi, melihat hal itu ibu Lie Siauw Ie dengan gugup memberi hiburan.
"Kau janganlah murung dulu,"
Ujarnya.
"Urusan sekarang belum terjadi buat apa kau murung??? Mungkin juga sebentar lagi mereka akan pergi"
Baru saja perkataan itu diucapkan terdengarlah diluar rumah berkumandang suara teriakan seseorang secara tiba tiba.
"Lapor Cungcu, Cepat kemarilah. Darah darah Liem Tou bangsat cilik itu pasti berada didalam rumah ini!"
Mendengar teriakan itu air muka Lie Siauw Ie segera berubah menjadi pucat pasi, dengan cepat dia menubruk ke dalam rangkulan ibunya.
"Oooh ibu!"
Serunya setelah gemetar.
"Bagaimana baiknya? Sebentar lagi pasti mereka masuk kemari."
Seperti orang gila Lie Siauw Ie segera melepaskan dirinya dari rangkulan ibunya kemudian lari masuk ke dalam kamarnya, dengan amat gugup sekali dia menggoyangaan tubuh Liem Tou yang masih pulas.
"Adik Tou!"
Teriaknya dengan amat cemas.
"Cepat bangun.Bencana sudah berada diambang pintu, kau cepatlah bangun"
Saat itulah dengan suara yang amat kasar dan keras Si Ang in sin pian Pouw Sak San itu cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung sudah mulai menggedor pintu sembari berteriak.
"Liem Tou bangsat cilik, cepat mengelinding keluar!"
Dengan perlahan Liem Tou membuka matanya kembali, tapi begitu mendengar suara bentakan dari Pouw Sak San dengan pandangan tertegun dia memandang Lie Siauw Ie yang sedang berdiri disampingnya.
"Adik Tou, kau cepat bangun."
Teriak Lie Siauw Ie dengan amat cemas.
"Mereka sudah mencari sampai disini, kita harus mencari cara untuk menghadapi mereka. Oooh bagaimana baiknya sekarang?"
Dengan cepat Liem Tou meloncat bangun, sesudah tertidur dengan amat nyenyaknya beberapa saat lamanya semangatnya kini sudah pulih kembali.
"Cici"
Tanyanya dengan cemas.
"Siapa? Siapa yang datang cari aku?"
"Cungcu"
Sahut Lie Siauw Ie singkat tapi cukup menimbulkan getaran yang amat kuat.
Mendadak sinar mata Liem Tou meemancarkan sinar yang amat tajam, dengan cepat bagaikan kilat tubuhnya bergerak lari keluar.
Melihat gerak gerik Liem Tou ini Lie Siauw Ie menjadi amat terperanjat, dengan cepat dia menyambar menahan diri Liem Tou sembari bertanya.
"Adik Tou."
Kau mau pergi kernana?"
"Bangsat anjing itu harus kubunuh sekarang juga "
Teriaknya dengan amat gusar sedang air mukanya berubah membesi.
"Aku.. aku tidak akan takut padanya"
"Adik Tou, kau tidak boleh pergi"
Lie Siauw Ie dengan suara yang amat lirih.
"Selain Cungcu sendiri beserta siluman perempuan beserta seluruh tamu yang diundang Cungcu sudah berada di sekeliling ternpat ini, jika kau keluar bukankah hanya mengantar diri ke mulut macan?"
Mendengar omongan dari Lie Siauw Ie ini hati Liem Tou seketika itu juga menjadi dingin separuh, lama sekali dia tidak meagucapkan sepatah katapun.
Tapi beberapa saat kemudian secara tiba-tiba teringat akan sesuatu hal, ujarnya kemudian.
"Kalau begitu apakah cici melihat nona pengangon kambing nona Lie itu? Dia sekarang pergi kemana? Apa dia sudah turun gunung terlebih dulu?"
Air muka Lie Siauw Ie segera berubah hebat, sepasang matanya yang jeli dan bening menarik itu dengan tajamnya memandang wajah Liem Tou, lama kemudian barulah tanyanya secara Tiba-tiba.
"Siapa dia? Apa hanya dia seorang yang bisa menolong kau?"
Sejak kecil Liem Tou sudah terbiasa dipandang rendah orang dan diejek kanan kiri sehinaga tanpa terasa dia sudah paham sekali terhadap perubahan wajah serta perasaan seseorang begitu melihat sikap serta perubahan Lie Siauw Ie tanpa terasa hatinya sudah berdesir.
"Cici, kau jangan salah paham,"
Sahutnya dengan nada yang sangat berhati hati.
"Dia hanyalah gadis pengangon kambing yang sedang mengangon kambingnya, aku baru saja mangenal dia ketika bertemu ditengah jalan, Tapi kepandaian silat yang dimilikinya amat tinggi sekali, bukankah ketika masih berada didalam ruangan Cie Ie Tong kau sudah melihat sendiri bagaimana tingginya kepandaian silat yang dimilikinya?"
Dengan perasaan amat tidak puas Lie Siauw Ie mendengus, kemudian tidak mengucapkan kata kata lagi.
Waktu itu Si ang in sin pian Pouw Sak San itu cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung sudah gembar gembor dan menggedor pintu semakin keras lagi.
Ibu Siauw Ie segera berteriak memberi sahutan.
"Sejak tadi aku sudah bilang Liem Tou tidak berada disini, Siauw Ie masih terluka dan berbaring diatas pembaringan, baru saja dia tertidur dengan pulas, buat apa kalian gembar gembor tidak karuan di luaran sana?"
"Lie Toa so!"
Teriak Pouw Sak San pula tidak mau kalah "Kami betul betul karena terpaksa harus menemui dia barulah memeriksa ditempat ini, sedang itu Au Hay Ong Bo pun harus mau temui dia terlebih dahulu baru meninggalkan tempat ini.
Toa so, bukankah kau sudah tahu kalau Au Hay Ong Bo itu merupakan jagoan yang paling telengas didalam Bu lim saat ini?
jika sampai dia marah didalam perkampungan ini tidak ada orang yang sanggup menahan dirinya.
Liem Tou ada atau tidak asalkan aku melihat sebentar saja segera akan tahu.
Toa so harap kau buka pintumu."
Liem Tou serta Lie Siauw Ie segara berjalan mendekati samping badan Ibu dari Siauw Ie itu.
"Pouw Sak San!"
Teriak ibu Siauw Ie pura-pura marah sesudah mendengar omongan dari Ang in sin pian Pouw Sak San itu.
"Kau bertindak sebagai seorang Cungcu perkampungan yang sangat terhormat apakah demikian perbuatannya? aku sejak tadi sudah bilang kalau Liem Tou tidak berada disini, apa kau kira aku biasa ngomong bohong? Apa kau mau menganiaya aku ibu beranak yang sudah lama ditinggal mati oleh suamiku? Hmmm .. Hmmm. jikalau memangnya mau berbuat begitu silahkan hajar pintu depan, kami ibu beranak akan menyerahkan diri kepada kalian tanpa melawan."
Beberapa patah katapun dari ibunya Siauw Ie betul betul amat lihay sekali, seketika itu juga membuatnya si Pouw Sak San itu hanya membungkam dalam seribu bahasa, agaknya dia sudah dibuat tidak berkutik oleh omongan-omongan tersebut.
"Toaso"
Lama sekali barulah terdengar seseorang yang lain membuka mu!ut secara tiba-tiba.
"Aku adalah Lie Kian Poo, kalau memangnya Liem Tou tidak berada didalam kamar bukan kah tidak ada halangannya Toaso buka pintu agar Cungcu bisa melihat dengan mata kepala sendiri?"
Begitu Lie Kian Poo mulai angkat bicara seketika itu juga membuat ibunya Siauw Ie menjadi tertegun, karena Lie Kian Poo jadi orang paling jujur dan paling pegang peraturan.
Semua orang di dalam perkampungan rata-rata pada menghormati dirinya sebagai pemimpin, karena itulah seketika itu juga membuat ibunya Siauw Ie tidak bisa memaki lagi.
"Ooh ... Kian Poo siok juga ikut datang "
Serunya terpaksa dengan nada mendatar "Kalau memangnya tak percaya lagi dengan omonganku apa kini Kian Poo Siok tidak mau percaya lagi terhadap omonganku ?"
"Toaso kau tak tahu keadaan yang sebenarnya."
Bantah Lie Kian Poo dengan cepat.
"Kini bukanlah Cungcu berlaku sebagai pemimpin, tentunya dari dalam rumah Toaso juga bisa lihat itu Au Hay Ong Bo berdiri mengawasi gerak gerik kita dari tempat kejauhan, karena itulah harap Toaso jangan salah artikan bila Cungcu kita sudah tak mau percaya dengan omongan Toaso, hal ini kami lakukan karena terpaksa."
Beberapa perkataan dari Lie Kian Poo ini sangat pakai aturan dan merupakan kejadian yang terbukti, ibunya Siauw Ie yang juga merupakan seorang yang pegang teguh aturan dalam hatinya diam-diam merasa camas, dengan perlahan dia menoleh memandang kearah Liem Tou serta Lie Siauw Ie.
Terlihatlah kedua orang itu yang satu berwajah tampan menarik sedang yang lain cantik menggiurkan dengan mesranya sedang bersandar dipelukan Liem Ton apalagi sepasang matanya yang bulat menarik itu sedang memandang dirinya dengan perasaan penuh kasihan.
Teringat akan kedua orang itulah membuat ibunya Siauw Ie terpaksa dengan gigit kencang bibirnya sendiri memberi sahutan.
"Kian Poo-siok, pintu ini aku tidak akan membukanya, jikalau Cungcu sudah tidak menyukai berdua ibu beranak, sekarang juga meninggalkan kampung ini untuk selamanya, kalau tidak silahkan menghancurkan pintu ini kemudian cabut sekalian nyawa kami berdua."
Perkataan yang penuh perasaan pedih dan sedih membuat keadaan diluar pintu sunyi senyap, agaknya Lie Kian Poo sedang berunding dengan Cungcu bagaimana caranya untuk manghadapi keadaan salanjutnya.
Mendadak..
salah satu dari Siang hui hok itu yang bernama Pouw Beng dengan amat gusarnya sudah berteriak keras.
"Hey Cung cu, kamu orang tidak bisa berbuat begini, dengan terang-terangan Liem Tou berada didalam rumah kenapa kau tidak langsung masuk ke dalam untuk tawan dia keluar?? Apa kau kira nyawa saudara bisa dibuang dengan sia-sia saja ? ? Haaa ? Jika kamu tak mau turun tangan biar aku yang kerjakan sendiri,"
"Pouw Beng,"
Teriak ibunya Siauw Ie dengan amat gusar sedang dalam hati diam-diam merasa amat terperanjat.
"Menghormati yang tua membantu yang muda, melindungi yang tua melindungi kaum pelajar itulah peraturan dari perkampungan kita, kau berani."
"Kau jadi orang tidak pakai aturan perkampungan dengan kamu ?"
Bentak Pouw Berg yang berada diluar rumah dengan amat gusarnya.
"Braaak .."
Terdengar suara yang amat keras bergema memenuhi sekeliling tempat itu, pintu rumah dari Lie Siauw Ie sudah terhajar oleh bogem mentahnya Pouw Bang, seketika itu juga debu serta pasir memenuhi angkasa sedang pintunya sendiri hanya berbunyi dengan sangat keras, pintu yang terbuat dari kayu keras itu tetap utuh tak sampai terhajar bobol oleh pukulan tersebut.
Keahlian pertama dari Pouw Beng terletak pada ilmu meringankan tubuh saja sedangkan tenaga pukulannya tidak begitu hebat, karena itu biar pun dia sudah melayangkan bogem mentahnya pada atas pintu tapi tidak sampai berhasil menghancurkan pintu tersebut.
Tetapi dengan terjadinya peristiwa ini membuat suatu perasaan yang ngeri meliputi tiga orang yang terkurung dalam rumah itu, suatu perasaan aneh muncul di dasar lubuk hati mereka, di dalam keadaan yang amat terperanjat serta cemas itulah tanpa terasa, mereka bertiga sudah diikuti oleh ketegangan yang sukar dikatakan, air muka mereka dengan sendirinya juga ikut berubah menjadi amat keren.
Tangan kiri Liem Tou dengan kencang memegang pisau belati sedang tangan kanannya melindungi dadanya, sebaliknya Lie Siauw Ie melintangkan pedangnya di depan siap menghadapi serangan musuh bersamaan pula meraup senjata rahasia Kioe Cu Kien Ciam siap disambitkan keluar.
Jilid 13 .
Jatuh ke jurang Sampai waktu seperti ini mau tak mau ibunya Siauw Ie pun terpaksa siap mengadu jiwa, sepasang golok tipisnya dicabut keluar siap menghadapi musuh.
Mereka bertiga sama-sama memusatkan seluruh perhatiannya menanti serangan musuh selanjutnya, asalkan pintu itu sedikit terbuka maka secara serentakan dan tiba tiba mereka akan melancarkan serangan untuk seIanjutnya menerjang keluar bagaimana kemudian mereka tidak berani berpikir lanjut bahkan memangnya tidak punya waktu untuk berpikir hal itu lebih teliti bagi.
"Dak ... duk ..duk ... suara gedoran dari Pouw Beng sekali lagi bergema diseluruh ruangan, jika situasi pintu itu agaknya sebentar lagi tidak akan sanggup untuk menerirna gemparan telapak Pouw Beng. Pada saat yang amat kritis itulah tiba-tiba dari belakang Perkampungan berkumandang bentakan serta suitan yang amat nyaring bagaikan kicauan burung kenari memecahkan kesunyian yang mencekam kemudian disusul dengan suara teriakan si gadis cantik pengangon kambing dengan suaranya yang amat keras.
"Liem Tou koko."
Serunya.
"Tunggu aku sebentar, kau jangan lari begitu cepat."
Begitu teriakan itu muncul sesaat kemudian suara gedoran di pintu luar menjadi tenang kembali, sedang Liem Tou yang berada didalam ruangan pun dibuat menjadi melengak.
"Liem Tou koko.
"Suara teriakan dari gadis cantik pengangon kambing itu berkumandang kembali.
"Tadi kamu orang pergi kemana? Aduh..kau membuat aku merasa tersiksa dan menderita hanya karena mencari dirimu"
Dengan omongannya itu dengan amat jelas dia sudah beritahu pada orang lain kalau Liem Tou tidak berada disana.
Pouw Beng, Ang in sin pian beserta para jago lainnya yang berada diluar rumah mendengar perkataan itu dengan sangat jelas, kalau memangnya begitu buat apa mereka buang tenaga dan waktu di luar rumah keluarga Lie ini?
"Ayoh jalan."
Suara teriakan yang amat keras segera bergema disana.
Serentetan suara langkah manusia yang amat keras berkumandang kemudian semakin lama semakin perlahan dan akhirnya lenyap dari pendengaran.
Bagaimana secara mendadak gadis cantik pengangon kambing itu bisa muncul di situ membantu Liem Tou lolos dari ancaman bahaya?
Baca Juga: Tiga Naga Dari Angkasa 5
Baca Juga: Si Bayangan Iblis 3