Eps 3 Si Bayangan Iblis - Kho Ping Hoo
Baca online Si Bayangan Iblis - Kho Ping Hoo
Cersil Si Bayangan Iblis - Kho Ping Hoo.
Pek-liong bertepuk tangan memuji.
"Hebat, engkau hebat sekali, nona. Engkau sudah dapat menghindarkan anak panah, toya dan bahkan jala kain sutera!"
Sui In menyarungkan pedangnya dan menarik napas panjang.
"Aihhh, sungguh ruangan ini berbahaya sekali! Biarpun sudah dapat membebaskan diri dari semua itu, akhirnya aku terkepung di ruangan ini! Ruangan yang satu ini saja sudah begini hebat, apa lagi yang lainnya! Toako, aku mengaku kalah dan menyatakan kagum sekali. Maafkan kalau aku merusak kain-kain sutera merah muda itu."
"Ah, tidak mengapa, In-moi."
Lalu kepada para pembantunya dia berkata.
"Ganti kain"kain sutera itu dengan yang baru dengan warna biru laut!"
Kemudian dia mengajak Sui In keluar dari ruangan itu dan mempersilakan janda muda itu ke sebuah kamar. Dia sendiri berhenti di luar pintu kamar.
"In-moi, inilah kamar tamu untukmu bermalam semalam ini. Besok pagi baru kita akan melakukan perjalanan ke kota raja. Malam ini aku akan membuat persiapan untuk perjalanan besok pagi. Makan malam nanti setelah siap dan engkau akan diberitahu oleh pembantu. Nah, beristirahatlah, In-moi."
Setelah berkata demikian, Pek-liong meninggalkan wanita itu.
Sampai beberapa lamanya Sui In berdiri di pintu kamar itu, mengikuti bayangan Pek-liong sampai lenyap di tikungan.
Seorang pria yang bukan main, pikirnya.
Gagah perkasa, berkepandaian tinggi, tampan dan ganteng, duda dan bebas, ditambah lagi kaya-raya dan juga amat sopan.
Masuk ke kamar itupun dia tidak mau!
Hatinya semakin tertarik dan dengan muka merah ia mendapatkan kenyataan betapa ia telah jatuh cinta kepada pria muda yang ganteng itu!
Betapa ia mengharapkan terjadi suatu mujijat, suatu anugerah dari Tuhan.
Ia seorang janda, dan Pek-liong-eng Tan Cin Hay seorang duda.
Sudah tepat, bukan?
Dan jantungnya berdebar-debar ketika ia memasuki kamar itu.
Begitu masuk, hidungnya bertemu keharuman semerbak.
Sebuah kamar yang mewah sekali.
Ada dupa harum masih mengepul di atas meja, tanda bahwa dupa itu baru saja dibakar oleh pelayan.
Kamar itu tidak berapa besar, namun lengkap dan enak sekali.
Udaranya nyaman, masuk dari jendela yang menembus taman, dan dari lubang-lubang hawa di atas jendela.
Sebuah kamar kecil menyambung kamar itu.
Betapa mewahnya!
Ketika ia menjenguk ke dalam kamar mandi, tersedia sudah air jernih yang cukup banyak.
Setelah menutup pintu kamar, Sui In lalu menyiram tubuhnya dengan air, mandi sekenyangnya sehingga tubuhnya terasa segar kembali, kulit tubuhnya dari muka sampai kaki tangan, menjadi kemerahan karena digosoknya dengan keras sehingga bersih dari debu.
Ia telah mengenakan pakaian bersih ketika pinta kamar diketuk dari luar, dan seorang pelayan dengan sikap hormat memberitahu bahwa makan malam telah siap, dan tamu yang dihormati itu dipersilakan datang ke ruangan makan di mana "tai-hiap"
Telah menanti.
Ketika Sui In memasuki ruangan makan, Pek-liong bangkit berdiri dan dia memandang kepada wanita itu dengan sinar mata kagum.
Harus diakuinya bahwa janda muda ini memang cantik manis dan segar bagaikan setangkai bunga mawar di pagi hari, tersiram embun pagi dan bersinar cahaya keemasan matahari.
Dengan ramah dia lalu mempersilakan tamunya duduk berhadapan dengannya, menghadapi sebuah meja.
Melihat pandang mata kagum itu, Sui In merasa betapa jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya.
Untuk menenangkan hatinya, iapun segera bertanya setelah duduk.
"Sudahkah engkau membuat persiapan, toako? Dan kapan kita berangkat?"
Pek-liong mengangguk.
"Sudah beres semua, In-moi. Besok pagi-pagi setelah terdengar bunyi ayam berkeruyuk, kita berangkat."
Sementara itu, dua orang pelayan datang membawa hidangan yang masih mengepul panas.
Sui In mencium bau masakan yang lezat dan perutnya memberontak karena memang ia telah merasa lapar.
Tidak kurang dari sepuluh macam masakan dihidangkan, kesemuanya terdiri dari masakan yang mewah dan mahal.
Mereka berdua lalu makan minum dengan gembira, sambil bercakap-cakap.
Sui In sama sekali tidak merasa canggung biarpun pengalaman seperti ini merupakan pengalaman pertama sejak suaminya terbunuh.
Makan malam berdua saja dengan seorang pria yang tampan dan gagah!
Di dalam rumah pria itu pula!
Akan tetapi, sedikitpun ia tidak merasa canggung dan kaku.
Hal ini karena sikap Pek-liong yang sopan dan ramah.
Memang, kadang-kadang sinar mata yang tajam mencorong itu membayangkan kekaguman, namun kekaguman yang wajar, tidak mengandung kecabulan atau kekurangajaran yang biasa ia lihat dalam pandang mata kaum pria kalau memandang kepadanya.
Setelah makan malam, mereka berjalan-jalan di dalam taman bunga di belakang rumah itu.
Juga taman bunga ini, walaupun tidak sangat luas, diatur indah sekali.
Di tengah taman, di antara beraneka macam bunga, terdapat sebuah tempat berteduh berbentuk payung, bangunan tanpa dinding, hanya atap yang berbentuk payung dan di bawahnya terdapat enam buah bangku dan sebuah meja.
Tempat itu enak sekali.
Empat lampu gantung menerangi tempat itu, dan di sana-sini, di ujung taman terdapat pula lampu gantung dengan berbagai warna.
Suasana amat hening dan indah, semerbak harum bunga memenuhi taman itu.
"Aduh, bagus sekali taman ini!"
Kata Sui In memuji.
"Mari kita duduk di sana. Engkau belum mengantuk, bukan?"
Kata Pek-liong dan wanita itu tertawa.
"Aih, toako. Baru saja makan kenyang, masa mengantuk dan tidur? Pula, malam baru saja tiba, belum larut."
Mereka lalu duduk berhadapan terhalang meja kecil.
Suasana sungguh indah dan romantis sekali.
Apa lagi ketika di langit muncul bulan muda yang memandikan taman itu dengan cahayanya yang lembut.
Anginpun lembut sepoi-sepoi bercanda di antara bunga-bunga, membuat udara yang penuh keharuman bunga itu menjadi nyaman dan sejuk.
Suasana yang romantis seperti ini, cahaya bulan yang lembut mengandung daya yang mengairahkan, yang amat kuat mengusik hati muda, menggelitik dan membangkitkan berahi.
Hal ini terasa sekali oleh Sui In ketika ia duduk dan menikmati keindahan itu, dan setiap kali pandang matanya berhenti di wajah Pek-liong, ia terpesona.
Wajah itu nampak demikian ganteng, demikian tampan sehingga hatinya luluh, rindu dendam dan gairahnya bangkit.
Kalau saja pada saat itu Pek-liong maju selangkah saja, mengulurkan tangan, pasti ia tidak akan mampu menolak atau mengelak, dan akan terlena dalam pelukan pria itu dengan hati penuh kerinduan!
Akan tetapi, Pek-liong sama sekali tidak melakukan uluran tangan!
Sama sekali tidak, bahkan pria mengajaknya bercakap-cakap kembali tentang semua peristiwa yang terjadi di kota raja, sehubungan dengan kemunculan Si Bayangan Iblis.
Bimbingan ke arah percakapan itu tentu saja membuyarkan keindahan khayal yang muncul dari gairah berahi tadi, apa lagi karena percakapan itu mengingatkan Sui In akan semua peristiwa dan malapetaka yang menimpa dirinya.
Iapun tertarik dan setelah mereka barcakap-cakap, iapun menerangkan dan menceritakan segala hal yang diketahuinya dan yang bertalian dengan pembunuhan-pembunuhan misterius yang dilakukan oleh bayangan yang kemudian dinamakan Si Bayangan Iblis.
Waktu berjalan cepat dan tahu-tahu bulan sudah naik tinggi ketika Pek-liong mempersilakan tamunya untuk tidur.
"Besok pagi-pagi kita berangkat, maka sebaiknya kalau engkau mengaso dan tidur di kamar, In-moi. Selamat malam dan selamat tidur!"
Sui In tidak menjawab dan ada perasaan kecewa dan menyesal di dalam hatinya bahwa malam itu ia harus berpisah dari Pek-liong.
Muncul kembali kerinduannya akan suatu kemesraan yang sudah lama lepas darinya, lama sebelum suaminya tewas dibunuh orang.
Dan ia ingin mendapatkan kemesraan ittu dari Pek-liong!
Akan tetapi, agaknya sedikitpun Pek-liong tidak menanggapi perasaannya.
Berulang tali ia menarik napas panjang penuh kekecewaan dan penyesalan ketika ia melangkah perlahan menuju ke kamarnya, setelah tadi Pek-liong meninggalkannya di taman.
Baru setelah ia merebahkan diri di atas pembaringannya, ketika suasana romantis taman bunga bermandikan cahaya bulan itu tidak mempengaruhinya, ia tersenyum!
Diam-diam ia berterima kasih kepada Pek-liong yang tidak mempergunakan kesempatan itu untuk merayunya dari menjatuhkannya!
Kalau sampai hal itu terjadi, tentu ia akan merasa menyesal sekali kemudian, karena ia sedang bertugas!
Tugas mencari Si Bayangan Iblis dan menumpas kejahatan itu sama sekali belum terlaksana!
Suaminya tewas di tangan penjahat, juga paman gurunya tewas di tangan penjahat dan penjahat itu agaknya Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis).
Sungguh tidak pantas kalau kini ia bersenang-senang mengumbar nafsu berahi.
Selain tidak pantas karena baru saja kematian suaminya, juga tidak patut karena dalam melaksanakan tugas ia hanya mementingkan kesenangan sendiri, membiarkan diri menjadi budak nafsu!
Kalau musuh itu telah terhukum, kalau ia sudah bebas dari tugas, hal itu akan lain lagi.
"Pek-liong, terima kasih......"
Bisiknya tersenyum dan janda muda inipun terlena dalam kepulasan.
Gadis itu cukup manis walaupun tidak dapat dibilang terlalu cantik, Bahkan wajah yang nampak membayangkan kebodohan itu tidak akan menarik perhatian pria, walaupun harus diakui bahwa bentuk tubuhnya amat indah.
Rambutnya juga nampak kasar dan gerak geriknya kaku.
Juga ia kelihatan takut-takut dan gelisah.
Memasuki ruangan-ruangan yang amat indah dari istana itu, ia bagaikan seekor ikan sungai yang kecil dilempar masuk ke dalam samudera.
Ia kebingungan, merasa dirinya kecil menghadapi segala kemegahan dan kemewahan itu.
Melihat kegelisahan membayang di wajah yang manis dan polos itu, pria berpakaian perwira yang berjalan di sampingnya tersenyum.
"Akim, jangan takut. Tenanglah. Asalkan engkau pandai membawa diri dan rajin bekerja juga jujur dan taat, tentu engkau akan hidup senang di istana. Sekarang, Hong-houw (Parmaisuri) ingin melihatmu sebagai seorang dayang baru, engkau harus menghadap dan memberi hormat kepada beliau seperti yang sudah kuajarkan tadi."
Gadis itu mengangguk-angguk akan tetapi jelas nampak betapa ia gelisah dan ketakutan.
Gadis yang jelas sekali kelihatan sebagai seorang gadis dusun yang disebut Akim oleh perwira itu bukan lain adalah Hek-liong-li Lie Kim Cu!
Dengan kepandaiannya menyamar yang hebat, ia sudah dapat menyulap dirinya yang merupakan seorang wanita berusia duapuluh lima yang amat cantik jelita, manis dan menarik hati, berubah menjadi seorang gadis dusun berusia kurang lebih duapuluh tahun, kasar kaku, tidak menarik walaupun cukup manis, dan wajahnya membayangkan kebodohan.
Cian Ciang-kun sendiri sampai terbalalak dan tertegun ketika pertama kali melihat penyamaran ini, dan merasa yakin bahwa tak seorangpun akan dapat mencurigai seorang gadis dusun bodoh seperti itu.
Perwira yang berjalan di sampingnya dalam ruangan-ruangan istana itu adalah Kok Ciang-kun (Perwira Kok) yang menjabat kepala pasukan pengawal thai-kam (orang-orang kebiri), yaitu kenalan Cian Ciang-kun dan yang suka "menolong"
Cian Hui untuk memasukkan seorang "sanak jauh"
Dari dusun menjadi seorang dayang baru di istana.
Di istana bagian puteri ini, tak seorangpun dari luar diperbolehkan masuk.
Hanya keluarga Kaisar yang boleh masuk, dan tentu saja para perajurit pengawal thai-kam.
Untuk mencegah terjadinya, penyelewengan dari para wanita dalam istana itu, maka sejak dahulu kala sampai saat itu, para petugas pria di istana bagian-puteri haruslah dikebiri lebih dahulu!
Pada saat itu, bukan hanya karena kepandaian saja Liong-li yang kini menyamar menjadi Kim Siauw Hwa atau biasa disebut Akim kelihatan gugup dan gelisah.
Akan tetapi memang benar-benar ada kegelisahan di hatinya.
Ia telah memasuki istana dengan menyamar, dan ia tahu bahwa bahaya bukan hanya datang dari penjahat yang dinamakan Kwi-eng-cu akan tetapi dari satu kekuatan yang mempunyai banyak orang pandai!
Dan ia merasa yakin bahwa sarang penjahat itu, atau pimpinannya, pasti berada di istana.
Kalau gerombolan penjahat itu berada di luar istana tentu sudah lama diketahui tempatnya oleh Cian Hui yang cerdik dan memiliki banyak mata-mata.
Selain merasa berada di tengah-tengah pihak musuh yang belum diketahuinya siapa, dan betapa bahayanya bagi dirinya kalau pihak musuh sampai mengetahui bahwa ia Hek-liong-li yang menyamar, juga ia harus berhadapan dengan Hong-houw (Permaisuri) Bu Cek Thian!
Menurut keterangan dari Cian Hui, wanita itu cerdik bagaikan iblis!
Ia teringat akan kata-kata pesanan Cian Hui kepadanya ketika hendak berangkat tadi.
"Berhati-hatilah terhadap Hong-houw, Li-hiap. Ia seorang wanita yang teramat cerdik seperti Iblis! Bahkan saat ini boleh dibilang ia yang paling berkuasa di seluruh istana! Hong-siang (Kaisar) sendiri seperti menjadi boneka di tangannya. Ia cerdik dan amat berbahaya, oleh karena itu, berhati-hatilah engkau terhadap wanita ini."
Tentu saja Liong-li tidak merasa takut.
Baginya, makin lihai dan makin cerdik orang"orang yang berada di pihak lawan, akan semakin gembira menghadapinya.
Yang membuat ia gelisah adalah mengingat betapa dirinya sama sekali tidak berdaya di dalam istana yang besar dan megah itu.
Ia merasa seperti seekor lalat memasuki sarang laba-laba!
Dan begitu memasuki istana, diterima oleh Kok Ciang-kun, perwira thai-kam yang gendut dan agak genit seperti wanita ini membawanya menghadap Hong-houw, wanita yang agaknya bahkan ditakuti oleh Cian Hui itu!
Kini mereka tiba di luar sebuah pintu dan Kok Ciang-kun memberi isyarat kepada Akim untuk berhenti.
Kok Ciang-kun lalu menjatuhkan diri berlutut, diikuti oleh Akim yang sudah diberitahu sebelumnya untuk mengikuti apa yang dilakukan perwira Thai-kam itu.
"Hamba Kok Tay Gu mohon diperkenankan menghadap Hong-houw!"
Dia berkata dengan suara nyaring.
Pintu dibuka dari dalam.
Sebuah pintu berukir yang indah dan ketika pintu dibuka, Akim mengangkat muka dan iapun terpesona.
Bukan main indahnya ruangan di balik pintu itu!
Dan bau semerbak harum menyergap keluar begitu pintu dibuka oleh seorang dayang muda yang cantik.
Seluruh isi ruangan itu gemerlapan dengan kemegahan dan kemewahan.
"Terima kasih, terima kasih atas kemurahan hati Hong-houw!"
Kata pula Kok Ciang-kun.
Sungguh suatu sikap yang berlebihan sehingga baginya seperti adegan dalam panggung wayang atau pelawak saja.
Akan tetapi, Akim tidak berani mengangkat muka lagi ketika tadi pandang matanya bertemu dengan sepasang mata yang indah akan tetapi juga mencorong tajam seperti mata kucing di tempat gelap!
"Kok Ciang-kun, yang mulia Hong-houw memerintahkan engkau dan calon dayang ini masuk!"
Terdengar perintah yang keluar dari mulut seorang dayang lain.
Kok Ciang-kun bangkit dengan sikap hormat, diikuti oleh Akim, kemudian melangkah memasuki kamar.
Akim hanya mengikuti saja dengan jantung berdebar penuh ketegangan.
"Ban-swe, ban-ban-swe (hidup dan panjang usia)!"
Kok Ciang-kun menjatuhkan diri berlutut lagi dan membentur-benturkan dahinya di lantai yang bertilamkan permadani merah. Akim juga berlutut dan membentur-benturkan dahinya.
"Kok Tay Gu, inikah gadis dusun yang ingin menjadi dayang itu?"
Terdengar suara yang halus namun tajam penuh wibawa. Kok Ciang-kun memberi hormat lagi sebelum menjawab.
"Benar sekali, Yang Mulia. Ia seorang gadis dusun bernama Kim Siauw Hwa, biasa disebut Akim, dan ia telah siap melakukan segala macam pekerjaan yang diperintahkan untuknya, siap melayani paduka dengan taruhan nyawa."
Hemm, taruhan nyawa hidungmu!
Demikian Liong-li memaki dalam hatinya.
Sungguh segala hal terlalu dilebih-lebihkan di dalam istana ini.
Penjilatan agaknya terjadi setiap saat, oleh orang-orang yang amat rendah terhadap orang-orang yang gila hormat.
"Hemmm, namanya Akim? Lucu juga. Akim, angkat mukamu untuk kami lihat!"
Kata pula suara yang lembut tajam itu.
Akim mengangkat mukanya dan ia melihat kepada seorang wanita yang amat cantik dan anggun.
Wanita itu usianya empatpuluh tahun lebih, namun pakaiannya mewah bukan main, dan seluruh tubuhnya terawat dengan rapi.
Agaknya setiap helai rambutnya pun tidak terluput dari perawatan sehingga ia nampak seperti hasil sebuah lukisan seorang ahli.
Sepasang matanya tajam mencorong, dan bibir yang penuh gairah dan manis menantang itu dihias dagu yang membayangkan kekerasan hatinya.
Hidung kecil mancung itu kembang kempis, pertanda bahwa ia seorang wanita yang memiliki gairah nafsu yang berkobar!
Seorang wanita yang amat berbahaya, cerdik seperti iblis, demikian keterangan Cian Hui, kepadanya.
Cepat ketika ia mengangkat mukanya, Akim memasang wajah bodoh dan ketakutan membayang pada pandang matanya yang biasanya tidak kalah tajam dan mencorong dibandingkan sepasang mata permaisuri itu.
Wajah wanita itu masih cantik menarik, ditambah lagi dengan riasan yang agak berlebihan sehingga alisnya dibuat melengkung seperti bulan tanggal muda, bibirnya merah semringah, pipinya kemerahan dan kulit mukanya lebih putih dari pada aselinya.
Sepasang alis melengkung yang terlalu hitam itu agak berkerut ketika ia melihat wajah dayang baru itu.
"Hemm, engkau terlalu buruk untuk menjadi dayang!"
Serunya.
"Heh, Kok Tay Gu, kenapa engkau membawa seorang gadis berwajah bodoh dan buruk ini untuk menjadi dayang baru? Apa engkau ingin merusak keindahan sebuah taman bunga dengan ratusan aneka bunga jelita dengan menyertakan setangkai bunga yang jelek di dalam taman?"
Kok Ciang-kun sambil berlutut menjawab.
"Mohon kemurahan hati paduka untuk mengampuni hamba, Yang Mulia. Biarpun wajahnya tidak berapa cantik namun ia pandai masak, rajin dan besar tenaganya. Iapun bersedia untuk bekerja di dapur atau di mana saja untuk menghambakan diri kepada paduka yang mulia!"
"Hemm, benarkah ia pandai masak dan rajin? Dan ia bertenaga besar dan kuat? Ingin aku melihatnya!"
Akim yang sudah menunduk kembali, juga Kok Ciang-kun, tidak melihat betapa permaisuri itu memberi isyarat dengan mata kepada seorang dayang pengawalnya.
Gadis yang bertubuh tegap itu mengambil sebatang cambuk pendek, menghampiri Akim dari belakang.
Biarpun Akim berlutut dan menunduk, pendengarannya yang terlatih dan amat tajam sudah sejak tadi menangkap gerakan orang di belakangnya.
Bahkan ia seperti dapat melihat saja ketika gadis dayang itu mengayun cambuknya ke arah punggungnya yang sedang membungkuk.
Tentu saja amat mudah baginya untuk mengelak atau menangkis kalau ia kehendaki.
Akan tetapi, Akim atau Liong-li adalah seorang wanita yang cerdik bukan main, waspada dan dapat mengetahui keadaan seketika dengan perhitungan yang tepat.
Ia sudah dapat menduga bahwa tentu permaisuri yang cerdik dan berbahaya seperti iblis itu menaruh curiga kepadanya dan kini mengutus seorang pembantunya untuk mengujinya.
Kalau dalam keadaan seperti itu ia mampu menghindarkan diri dari serangan cambuk itu, berarti ia membuka rahasianya bahwa ia seorang yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, karena hanya orang yang memiliki ilmu silat yang sudah tinggi tingkatannya saja mampu menghindarkan diri dari ancaman bahaya tanpa dilihatnya.
Sungguh ujian yang keluar dari otak yang cerdik luar biasa, pikirnya dan iapun tidak mengerahkan tenaga sedikitpun ketika cambuk itu menghantam punggung.
"Tarr! Tarrr!"
Dua kali cambuk itu menghantam punggungnya, demikian kerasnya sehingga baju di bagian punggung robek-robek, berikut kulit punggungnya yang tidak ia lindungi dengan tenaga sakti.
Darah keluar dari kulit punggung yang pecah-pecah dan Akim mengeluarkan jerit kesakitan yang ia lakukan bukan seperti permainan sandiwara, melainkan sungguh-sungguh karena ia tidak menahan diri dan membiarkan naluri perasaannya membuatnya menjerit kesakitan.
Kok Ciang-kun terkejut sekali, akan tetapi tidak berani berkutik ketika permaisuri itu turun dari atas kursi emasnya dan melangkah perlahan untuk memeriksa keadaan punggung gadis dusun yang masih berlutut dan menangis lirih itu.
Ia melihat punggung itu terluka oleh cambuk, berdarah dan iapun mengangguk puas.
Benar seorang gadis dusun yang tak begitu cantik, bodoh dan sama sekali tidak memiliki kepandaian yang membahayakan, dan mungkin tenaganya lebih besar dari wanita lain.
Hal ini tentu saja wajar kalau mengingat bahwa ia seorang gadis dusun yang sejak kecil biasa bekerja kasar dan keras.
"Kok Tay Gu, Akim ini kami terima sebagai pelayan. Mundurlah, dan kami senang dengan jasamu ini."
Bukan main girangnya hati Kok Ciang-kun yang tadinya sudah gemetar ketakutan karena dia mengira bahwa kehadiran Akim mendatangkan perasaan tidak senang di hati permaisuri itu.
Dia membentur-benturkan dahinya di lantai, menghaturkan terima kasih berulang kali, kemudian merangkak mundur meninggalkan ruangan itu.
Permaisuri Bu Cek Thian berkata kepada seorang dayang pengawal.
"Bawa ia ke belakang, beri pakaian dan obati punggungnya. Lalu serahkan ia kepada kepala dapur untuk menerimanya sebagai pembantu di dapur."
Akim yang sudah mempelajari bagaimana ia harus bersikap di depan sang permaisuri, segera meniru apa yang dilakukan Kok Ciang-kun tadi.
Ia membentur-benturkan dahinya di lantai sambil mengucap terima kasih berulang kali, walaupun hatinya mendongkol bukan main dan hatinya ingin sekali menghajar wanita pesolek yang sewenang-wenang dan kejam itu.
Tentu saja ia tidak berani melakukan hal semacam itu, karena betapapun pandainya, kalau ia berani melakukan hal itu, tentu nyawanya takkan dapat tertolong lagi!
Wanita di depannya ini adalah permaisuri kaisar, bahkan menurut Cian Hui, wanita ini merupakan orang paling berkuasa di seluruh kerajaan, bahkan kaisar sendiri menjadi seperti boneka dalam genggaman wanita ini.
Ia lalu ditarik berdiri dan didorong secara kasar oleh dayang pengawal yang menerima perintah, diajak keluar dari ruangan itu dan setelah menerima beberapa helai pakaian baru, diobati punggungnya dengan obat bubuk.
Ia lalu diajak ke dapur dan diserahkan kepada kepala dapur, seorang laki-laki thai-kam gendut seperti bola yang dari gerak geriknya saja sudah dapat diduga bahwa dia adalah seorang koki yang pandai!
Mulailah Akim atau Hek-liong-li Lie Kim Cu bekerja di dapur istana permaisuri yang menjadi satu dengan dapur istana kaisar.
Hanya saja para pekerja thai-kam sajalah yang diperbolehkan masuk ke bagian puteri sedangkan para pekerja pria biasa sama sekali dilarang dan mereka ini yang membawa masakan dan segala keperluan lain ke istana bagian putera.
Karena pandai membawa diri, dalam waktu sehari saja Akim yang rajin disuka oleh mereka yang bekerja di dapur, apa lagi mendengar bahwa Akim diterima dan ditunjuk sendiri oleh permaisuri bekerja di bagian dapur.
Karena ia ditunjuk sendiri oleh Permaisuri, maka ia dianggap "istimewa"
Dan tidak ada yang berani mengganggu.
Pula, Akim pandai sekali memperlihatkan sikap yang tidak menarik bagi pria, dan ia kelihatan sebagai seorang gadis yang bodoh dan kaku walaupun rajin dan memiliki bentuk tubuh yang elok.
Malamnya, Akim mendapatkan sebuah kamar di antara deretan kamar para pelayan di bagian paling belakang, dekat dapur.
Karena ia dianggap istimewa pula, pekerja yang ditunjuk permaisuri, maka ia mendapatkan sebuah kamar untuk dirinya sendiri.
Pelayan lain merasa enggan untuk tinggal sekamar dengannya, karena seorang yang ditunjuk oleh permaisuri dianggap berbahaya.
Siapa tahu ia mata-mata permaisuri yang mencatat semua kegiatan mereka?
Permaisuri amat galak dan siapa yang bersalah mendapatkan hukuman yang mengerikan.
Pernah ada seorang pelayan wanita di dapur yang wajahnya manis, tertangkap basah ketika ia melakukan hubungan mesra dengan seorang pelayan pria dari bagian putera.
Permaisuri yang menganggap pelayan itu menodai "kesucian"
Istana bagian puteri, dipaksa mati secara mengerikan.
Ia dipaksa duduk di atas sebuah kursi, dengan kaki dan tangan terikat kepada kursi sehingga tak mampu bergerak.
Kemudian, sebuah kantung kain diselubungkan ke kepalanya dan diikat tertutup rapat-rapat.
Tentu saja setelah udara di dalam kantung itu habis, wanita malang itu tidak dapat bernapas.
Akan tetapi ia tidak mampu meronta, hanya kepalanya saja yang meronta-ronta minta lepas, akan tetapi sebentar saja kepala itu terkulai dan ia tewas.
Mayatnya dikubur diam-diam dan semua hukuman ini berlangsung secara rahasia tanpa diketahui orang luar, kecuali para pekerja di istana.
Tentu saja Akim yang "diasingkan"
Oleh para pekerja lain, merasa girang bukan main.
Justeru inilah yang ia kehendaki.
Karena ia memiliki kamar tersendiri, dengan leluasa ia mampu mengadakan penyelidikan.
Pada malam harinya, setelah semua orang tidur, Akim mengganti pakaiannya dengan pakaian serba hitam yang sudah ia persiapkan, menutupi mukanya dengan topeng kain, dan iapun menyelinap keluar dari dalam kamarnya tanpa diketahui siapapun.
Ia lalu mulai dengan penyelidikannya.
Malam pertama itu ia tidak bertemu dengan Bayangan Iblis seorangpun, hanya melihat seorang kebiri berjalan mengiringkan seorang dayang pengawal menuju ke kamar Sang Permaisuri.
Laki-laki kebiri itu usianya kurang lebih tigapuluh tahun, wajahnya ganteng dengan kulit putih bersih dan perawakannya jantan, tinggi besar dan kokoh kuat.
Hal ini membuat Akim tertegun dan terheran-heran.
Memang hanya para thai-kam (laki-laki kebiri) saja yang diperbolehkan berkeliaran melakukan tugas masing-masing di istana bagian puteri.
Laki-laki kebiri dianggap "aman"
Karena tidak mungkin dapat melakukan hubungan gelap dengan para wanita istana.
Kalau ia melihat thai-kam itu memasuki kamar Sang Permaisuri pada siang hari, ia tidak akan merasa heran.
Akan tetapi malam hari?
Dan ketika semua orang sudah tidur dan mengunci pintu kamar mereka?
Sungguh janggal!
Apa lagi ketika ia melihat thai-kam itu memasuki kamar sang permaisuri seorang diri saja, sedangkan dayang pengawal yang tadi bersamanya tinggal di luar dan melakukan penjagaan dengan para dayang pengawal lainnya, enam orang jumlahnya.
Apa saja yang dikerjakan thai-kam itu di dalam kamar sang permaisuri?
Ah, mungkin dia seorang ahli pijat, pikir Akim.
Ya, tentu saja.
Thai-kam itu seorang ahli pijat dan kini bertugas memijati tubuh sang permaisuri, untuk mengusir semua kelelahan dari tubuh yang amat dimanja itu.
Tentu saja Akim tidak mau menghabiskan waktu untuk menyelidiki persoalan pribadi Sang Permaisuri yang agaknya tidak ada sangkut pautnya dengan Kwi-eng-cu, dan ia melakukan penyelidikan ke bagian lain.
Namun malam itu ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Keesokan harinya, sambil bekerja, iapun memasang mata dan telinga untuk mengamati setiap orang bahkan ia berhasil memancing seorang pelayan kebiri yang setengah tua dan yang gemar mengobrol untuk bicara tentang Kwi-eng-cu.
Mereka berdua sedang mencabuti bulu ayam.
Istana memang merupakan tempat keroyalan dan kemewahan.
Setiap hari tidak kurang dari seratus ekor ayam gemuk dipotong, belum daging babi atau kambing atau sapi, juga ikan dan banyak macam sayuran.
Maka, mencabuti bulu ayam memakan waktu yang cukup lama sehingga Akim dan thai-kam itu mempunyai waktu untuk mengobrol.
"Ketika aku datang dari dusun ke kota raja, aku mendengar kabar angin tentang pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di kota raja. Aku menjadi ngeri. Siapakah yang dibunuh dan siapa pula yang membunuh, paman?"
Akim mulai memancing, dengan suara biasa dan sikap acuh, sambil lalu saja.
Akan tetapi mendengar pertanyaan itu, Akong, si thai-kam, nampak terkejut dan ketakutan.
Dia menoleh ke kanan kiri.
Akan tetapi memang di situ tidak ada orang lain kecuali mereka berdua.
Tempat pencucian daging itu memang tidak sebersih bagian lain dan orang enggan ke situ kalau tidak untuk bekerja.
Akim tentu saja sudah yakin bahwa tidak ada orang lain mendengarkan percakapan mereka.
"Kenapa, paman?"
"Hushhh, jangan keras-keras. Kalau terdengar dia, salah-salah malam nanti lehermu atau leherku putus!"
Akim menjadi ketakutan dan ia menggeser duduknya mendekati thai-kam itu, suaranya gemetar dan tubuhnya menggigil.
"Aih, paman, aku....... aku takut.....!"
Katanya lirih setengah berbisik.
"Akan tetapi...... kenapa tidak boleh keras-keras......? Dan...... siapa yang melarang kita bicara?"
Ia sengaja memperlihatkan wajah ketakutan.
"Paman, kalau bersamamu, aku tentu akan selamat. Jangan takut-takuti aku, paman."
Akong menyeringai bangga.
"Boleh, bicara, akan tetapi jangan keras-keras. Kabarnya, Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis) memiliki seribu telinga dan kita tidak boleh bicara buruk tentang dia. Bisa berbahaya!"
Katanya lirih pula.
"Ah, agaknya paman tahu banyak. Aku ingin sekali mendengar, paman. Siapa sih Kwi-eng-cu itu?"
"Ssttt, berbisik saja,"
Kata thai-kam itu sambil mendekat dan bicara kasak-kusuk berbisik.
"Dia seorang yang entah manusia entah dewa, akan tetapi semenjak terjadi pembunuhan, sudah puluhan orang pejabat tinggi terbunuh, ada yang melihat munculnya Si Bayangan Iblis itu. Tak seorangpun melihat dia yang melakukan pembunuhan, hanya timbul dugaan karena dia muncul ketika terjadi pembunuhan-pembunuhan......."
"Ih, betapa mengerikan! Apakah tidak kelihatan orangnya, paman?"
Akong menggeleng.
"Dia bergerak cepat dan hanya nampak bayangannya saja. Bayangan tinggi besar dan kepalanya bertanduk, karena itu dinamakan Si Bayangan Iblis......."
"Hiiii, menakutkan sekali !"
Akim kembali menggigil.
"Akan tetapi kita aman, paman, Sehebat-hebatnya dia, tidak mungkin dia berani muncul di lingkungan istana ini!"
"Siapa bilang? Sstttt.......!"
Dia memperingatkan diri sendiri yang bicara terlampau keras.
"Dia dapat muncul di mana-mana. Di sini juga."
"Tidak mungkin, paman. Jangan paman membohongi aku dan hendak menakut-nakuti aku!"
"Eh, anak buruk! Siapa berbohong?"
"Aku tanggung itu hanya kabar angin saja. Siapa yang pernah melihat dia di sini?"
"Bukan kabar angin. Aku pernah melihatnya sendiri."
Akim merasa betapa jantungnya berdebar penuh ketegangan. Tak disangkanya bahwa ia akan memperoleh keterangan yang amat penting dari thai-kam ini.
"Aih, paman Akong, engkau hanya main-main saja dan mencoba untuk menakut-nakuti aku!"
Akim berkata mengejek.
"Akim, jangan kurang ajar engkau! Kau anggap aku berbohong? Engkau tidak percaya kepadaku?"
Akim mengangguk-angguk.
"Maaf, maaf, paman Akong yang baik. Sejak datang di sini bertemu denganmu, aku sudah merasa seolah engkau ini pamanku sendiri. Engkau begini baik, paman. Aku tentu saja percaya kepadamu, akan tetapi ceritamu terlalu aneh. Bagaimana mungkin pembunuh itu dapat berkeliaran di dalam istana?"
"Sssttt, tutup mulutmu yang lancang dan jangan keras-keras bicara. Dengar, aku tidak berbohong. Ketika aku bertugas di bagian putera, pada suatu malam aku melihat bayangan berkelebat dan bayangan itu berhenti sejenak di sudut dinding gudang di belakang. Jelas sekali bayangan itu, dan menyeramkan. Bayangan tinggi besar dan kepalanya mempunyai dua buah tanduk. Huuhhh, masih meremang bulu tengkukku kalau mengenangnya."
"Dan paman tidak menceritakan kepada siapapun sampai sekarang ini?"
"Mana aku berani? Baru sekarang aku bercerita kepadamu untuk meyakinkan hatimu."
"Hanya satu kali itu saja paman melihatnya? Dan tidak pernah nampak di bagian puteri sini?"
"Baru satu kali itu, dan tidak pernah ada yang melihat bayangan itu muncul di sini. Dan selain aku sendiri, sebelum itu juga pernah ada ada seorang perajurit pengawal melihat, bahkan mengejar bayangan itu di dalam istana bagian putera, akan tetapi bayangan itu menghilang.
"Peristiwa itu terjadi ketika Pangeran Kelima terbunuh di luar istana, maka pernah gegerlah istana. Akan tetapi setelah diperiksa di seluruh pelosok, tidak ditemukan Si Bayangan Iblis di istana."
Tiba-tiba thai-kam itu memberi isyarat agar Akim diam dan mereka melanjutkan pekerjaan mereka dengan tekun, seolah-olah mereka tidak pernah bercakap-cakap tentang Si Bayangan Iblis.
Seorang pelayan lain masuk ke dapur bagian pencucian daging itu.
Diam-diam Akim mengenang kembali semua percakapan tadi.
Dugaannya kini semakin kuat bahwa sarang gerombolan pembunuh itu, atau setidaknya pemimpin mereka, besar sekali kemungkinannya bersembunyi di dalam istana ini, atau juga pemimpin itu merupakan seorang anggauta keluarga kaisar sendiri, atan pejabat yang bertugas di dalam lingkungan istana.
Jelas bukan Permaisuri atau seorang di antara para selir atau puteri kaisar, karena bayangan itu tidak pernah nampak di sini, melainkan di istana bagian putera.
Akan tetapi, ia tidak sama sekali melepaskan kemungkinan bahwa pemimpinnya seorang penghuni bagian puteri, walaupun pemimpin itu bekerja "di belakang layar".
Siapa tahu?
Ia harus menyelidikinya di bagian putera.
Malam nanti!
Tugas yang berbahaya memang, namun tanpa menempuh bahaya itu, bagaimana mungkin ia akan mampu memecahkan rahasia Kwi-eng-cu?
Setelah mandi sore dan makan malam, karena tidak ada lagi tugas untuknya, Akim duduk bersila di dalam kamarnya, di atas pembaringan, mengatur pernapasan dan menghimpun tenaga.
Siapa tahu malam ini ia membutuhkan banyak tenaga.
Ia sudah mengambil keputusan untuk mengalihkan medan penyelidikannya di waktu malam.
Tidak lagi di bagian puteri, melainkan di istana induk, tempat tinggal Kaisar dan para pangeran yang masih tinggal di istana.
Ia sudah mendengar keterangan Cian Ciang-kun bahwa istana induk itu berbahaya, dijaga ketat oleh pasukan pengawal thai-kam, dan ada tiga orang jagoan thai-kam yang amat lihai.
Maka, ia harus berhati-hati karena ia menyelidiki seorang yang rahasia sehingga ia tidak tahu siapa kawan siapa lawan di dalam istana itu.
Segala kemungkinan ada.
Pemimpin para pembunuh itu mungkin saja seorang pangeran, mungkin seorang thai-kam, mungkin pula permaisuri, bahkan mungkin kaisar sendiri!
Mungkin pula pejabat penting yang tinggal di istana karena pekerjaan dan tugasnya.
Ia menanti sampai keadaan di istana menjadi sunyi.
Kamarnya berada di antara kamar-kamar para pelayan, pekerja yang paling rendah tingkatnya di istana itu, dan kebetulan sekali setiap jam tentu peronda keamanan lewat di kebun belakang perumahan itu.
Maka, ia dapat menghitung waktu dan menjelang tengah malam ia sudah mengenakan pakaian serba hitam dan memasang kedok kain hitam pula.
Sebetulnya bukan kedok, hanya kain saputangan hitam yang lebar, diikatkan menutupi hidung dan mulutnya.
Juga kepalanya dibungkus kain hitam, bahkan menutupi dahinya sehingga yang nampak hanya sepasang matanya saja.
Bukan mata Akim lagi, melainkan mata Hek-liong-li Lie Kim Cu, sepasang mata yang jeli, indah dan mencorong amat tajamnya!
Karena maklum bahwa tugasnya amat berbahaya, iapun mengeluarkan pedang pusakanya, Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam) yang diselundupkan oleh Cian Ciang-kun dan kemudian disimpan di tempat rahasia, yaitu di bawah atap kamarnya.
Pedang itu ia selipkan di ikat pinggang, tertutup oleh jubah hitamnya yang lebar.
Setelah ia mengintai dari jendela kamarnya keluar, dan melihat bahwa malam telah larut dan suasana sudah amat sunyi, dan juga rombongan peronda, yaitu para pengawal thai-kam baru saja lewat.
Ia lalu membuka daun jendela kamarnya dan seperti seekor kucing saja, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, tubuhnya sudah meloncat ke luar jendela.
Dari luar, daun jendela ditutupnya kembali dengan hati-hati, lalu cepat tubuhnya sudah menyelinap ke dalam kebun di belakang perumahan para pelayan itu.
Di kebun ini terdapat banyak pohon, dan iapun menyusup di antara pohon-pohon.
Ia sejak sore tadi sudah memperhitungkan dan merencanakan bagaimana ia akan memasuki istana induk.
Tentu saja yang paling mudah dan aman melalui kebun itu.
Kebun itu bersambung dengan kebun di belakang istana induk, hanya dibatasi oleh pagar tembok yang tinggi dan tidak terjaga ketat.
Memang tidak perlu dijaga ketat karena orang-orang biasa saja tidak akan dapat melewati tembok itu.
Setelah menanti beberapa menit dan melihat bahwa keadaan sekeliling tetap sunyi, tidak nampak bayangan orang dan tidak terdengar suara apapun, hatinya lega.
Tangan kirinya memegang kedua ujung jubah yang diselimutkan di tubuhnya, lalu ia menyelinap di antara pohon-pohon di kebun itu, menuju ke tembok pemisah antara kebun istana puteri dan kebun istana induk.
Ia memang sudah memperhitungkan bahwa malam itu bulan bercahaya cukup terang karena bulan sudah berusia sepuluh hari.
Langit bersih dan cerah sehingga dengan mudah ia dapat menyelinap di antara pohon-pohon yang tidak begitu gelap dengan adanya sinar bulan.
Ketika ia tiba di bagian terbuka, dan tembok pemisah kebun itu sudah nampak putih cerah tertimpa sinar bulan, tiba-tiba ia terkejut bukan main karena bermunculan delapan bayangan yang agaknya tadi bersembunyi di balik batang pohon yang tumbuh di sekitar tempat itu!
Melihat gerakan mereka, Akim memperhitungkan bahwa tidak mungkin mereka itu dapat membayanginya sejak tadi tanpa ia dapat melihatnya.
Kalau mereka membayanginya sejak tadi, sudah pasti ia dapat melihat, atau setidaknya mendengar gerakan mereka.
Jelaslah bahwa mereka memang sudah menanti di balik batang-batang pohon itu sehingga tentu saja ia tidak tahu bahwa ada delapan orang yang agaknya sudah menghadangnya dan menanti kemunculannya!
Hal ini hanya berarti bahwa gerakannya sudah diketahui sejak ia meninggalkan kamar, bahkan sudah diketahui bahwa ia akan lewat di tempat itu!
Luar biasa sekali.
Akan tetapi hatinya merasa lega, juga sekaligus terheran-heran ketika melihat bahwa pengepungnya itu sama sekali bukan orang-orang berkedok seperti Si Bayangan Iblis!
Sama sekali bukan!
Mereka itu adalah pengawal-pengawal thai-kam!
"Bayangan Iblis!
Menyerahlah, engkau sudah terkepung!"
Bentak seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar dan tangannya memegang sebatang golok besar.
Teman-temannya ada yang memegang golok, ada yang bersenjata pedang dan mereka itu telah mengepungnya dengan sikap mengancam.
Mendengar bentakan ini, Akim merasa semakin heran.
Ia malah disangka Si Bayangan Iblis!
Hampir saja ia menyangkal.
Akan tetapi kalau ia menyangkal ia harus membuka saputangan hitam penutup mukanya, dan ia tentu akan dicurigai dan ditangkap pula karena ia kini telah menanggalkan penyamarannya sebagai Akim, dan wajahnya kini adalah wajah Liong-li!
Andaikata ia berada dalam penyamaranpun, tentu ia tetap akan ditangkap sebagai Akim!
Serba salah memang!
Maka, begitu si (Lanjut ke
Jilid 07) Si Bayangan Iblis (Seri ke 02 -Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 tinggi besar itu membentak, ia sudah membalik dan menerjang orang yang berdiri mengepung di belakangnya.
Melihat gerakan ini, orang yang memegang golok di belakang itu menyerang dengan bacokan golok.
Akan tetapi, dengan mudah Akim atau Liong-li mengelak dengan loncatan ke samping, kemudian ia mengerahkan gin-kangnya dan ia sudah berlari oepat sekali meninggalkan tempat itu!
"Berhenti!
Hendak lari ke mana kau?"
Bentak delapan orang perajurit pengawal itu dan mereka melakukan pengejaran.
Akan tetapi, bayangan orang berpakaian serba hitam itu sudah lenyap ditelan bayangan pohon-pohon!
Dan pada saat delapan orang itu mencari-cari, Liong-li sudah menyamar lagi sebagai Akim dan rebah di atas pembaringannya.
Pakaian serba hitam, juga pedang Hek-liong-kiam, sudah tersimpan aman di bawah atap sehingga andaikata para perajurit pengawal menggeledah kamarnya, mereka takkan dapat menemukan tanda-tanda bahwa ialah yang tadi mereka kejar-kejar.
Dan iapun merasa lega dan dapat tidur pulas setelah tidak ada gangguan datang, walaupun ia masih menduga-duga dengan heran bagaimana delapan orang pengawal itu tahu-tahu sudah menghadang di sana!
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Akim sudah bangun dan bekerja seperti biasa, membersihkan dapur dan ia pura-pura acuh saja seperti tidak pernah terjadi sesuatu dengan dirinya.
Semalam Akim tidur nyenyak di kamarnya dan tidak melihat atau mendengar sesuatu sampai bangun pagi hari ini, demikian ia meyakinkan penyamarannya.
Akan tetapi, diam-diam ia menaruh perhatian akan keadaan sekelilingnya.
Ia melihat betapa para pelayan lainnya bekerja seperti biasa pula, menyalaminya seperti biasa.
Hanya ada satu hal yang dirasa aneh, atau hanya kebetulan saja, yaitu tidak adanya Akong.
Ia pura-pura acuh dan tidak berani bertanya, karena kalau ia bertanya, berarti ia menaruh perhatian khusus untuk Akong dan hal itu akan dapat saja menimbulkan kecurigaan.
Ia menyapu lantai dapur dengan tenang dan tekun.
Tiba-tiba para pelayan yang sedang sibuk bekerja itu berdiri dengan sikap hormat dan menunda pekerjaan mereka.
Akim menoleh dan iapun terheran melihat munculnya seorang perwira thai-kam yang gendut dan yang dikenalnya sebagai Kok Ciang-kun, perwira yang memasukkannya ke dalam istana!
Tentu saja ia segera memberi hormat, akan tetapi dengan sikap dingin Kok Ciang-kun memandang kepadanya dan berkata singkat.
"Bergantilah pakaian bersih dan ikut dengan aku!"
"Ke..... ke mana, Ciang-kun?"
Tanyanya dengan jantung berdebar tegang.
"Engkau dipanggil menghadap oleh Hong-houw!"
Liong-li menekan perasaan hatinya yang terguncang sehingga wajahnya hanya membayangkan keheranan, bukan kegelisahan.
Ia lalu pergi ke kamarnya dan berganti pakaian sambil mengingat-ingat.
Adakah hubungannya panggilan Permaisuri ini dengan peristiwa semalam?
Ah, tidak mungkin ada hubungannya, kalau ia dicurigai, andaikata ada sesuatu yang membocorkan rahasianya, tentu ia akan ditangkap oleh pasukan pengawal, bukan dipanggil melalui Kok Ciang-kun, orang yang membawanya masuk ke istana.
Tidak, ia tidak perlu gelisah, harus bersikap tenang.
Sebentar saja ia sudah berjalan bersama Kok Ciang-kun meninggalkan ruangan dapur menuju ke istana permaisuri.
Di dalam perjalanan ini, ia mencoba memancing dan bertanya kepada Kok Ciang-kun mengapa ia dipanggil oleh Hong-houw.
Akan tetapi, Kok Ciang-kun menggeleng kepalanya.
"Aku tidak tahu. Akupun baru pagi ini, pagi-pagi sekali dipanggil menghadap, dan setelah menghadap, aku diutus untuk menjemputmu dan bersama-sama menghadap."
"Aku........ aku bekerja dengan rajin dan sebaik mungkin, aku tidak pernah melakukan kesalahan,"
Kata Akim dengan suara gelisah.
"Apakah beliau kelihatan marah-marah?"
Perwira pengawal thai-kam itu menggeleng kepala.
"Menurut pengamatanku, beliau tidak marah, hanya nampak kesal."
Lega rasa hati Akim.
Kalau memang menyangkut urusan besar, tentu permaisuri sudah marah dan ia sudah disuruh tangkap.
Ia harus bersikap tenang saja.
Mereka berlutut di depan pintu ruangan yang terbuka, agaknya memang sejak tadi dibuka menanti kedatangannya.
Seorang dayang pengawal memerintahkan mereka masuk dengan suara lantang, menyampaikan perintah Hong-houw.
Mereka lalu bangkit dan melangkah masuk dengan kepala menunduk, kemudian di depan kursi emas Sang Permaisuri Bu Cek Thian, Kok Ciang-kun dan Akim menjatuhkan diri berlutut.
"Ban-swe, ban-ban-swe......!"
Mereka berkata dengan khidmat sambil menempelkan dahi ke lantai.
"Bangkitlah kalian!"
Kata Hong-houw. Keduanya mengangkat kepala dan tubuh mereka tegak, akan tetapi kaki mereka masih berlutut.
"Kok Tay Gu, kepadamu kami mengajukan sebuah saja pertanyaan yang harus kau jawab dengan sebenarnya. Kalau jawabanmu bohong, sekarang juga kami akan perintahkan agar lehermu dipenggal!"
Bukan main keras dan tegasnya ucapan itu dan ketika ia melirik, Akim melihat betapa perwira pengawal itu gemetar seluruh tubuhnya, dan suaranya tergagap ketika dia berkata.
"Hamba...... hamba akan menjawab dengan sebenarnya...... dan bersedia menerima hukuman kalau berbohong."
"Kenalkah engkau siapa gadis ini dan dari siapa engkau menerimanya?"
Diam-diam Akim terkejut bukan main.
Kiranya, di luar dugaannya, memang ada sangkut pautnya dengan dirinya!
Ia telah dicurigai dan tentu permaisuri itu tidak bertanya tentang dirinya seperti itu.
Kini, kepala pengawal thai-kam itu mati kutu dan dia sudah lemas.
"Hamba...... hanya tahu... ia bernama Kim Siauw Hwa dan biasa disebut Akim, dan hamba.... hamba dimintai tolong oleh bekas Panglima Cian Hui untuk menerimanya sebagai..... dayang atau pelayan di sini...... mohon beribu ampun kalau hamba bersalah......"
Hening sejenak.
Keheningan yang mencekik rasanya, karena seolah Akim menanti datangnya putusan mati atau hidup!
Kemudian terdengar suara itu, suara yang lembut namun mengandung kekerasan seperti baja, akan tetapi suara itu terdengar lega.
"Engkau berkata sebenarnya. Memang ia bernama Kim Siauw Hwa alias Akim dan engkau menerimanya dari Cian Hui. Nah, keluarlah kamu dari sini, laksanakan tugasmu dengan baik. Perintahkan pasukan pengawal untuk lebih ketat lagi menjaga istanaku."
Akim seolah mendengar betapa kepala pengawal itu bersorak dalam hatinya, dan ia sendiripun merasa lega, seolah baru saja lepas dari himpitan batu besar yang berat.
Kok Ciang-kun menghaturkan terima kasih berulang kali, lalu memberi hormat dan benturan dahinya pada lantai sampai menimbulkan kekhawatiran di hati Akim kalau-kalau kepala pengawal menderita gegar otak karenanya.
Kok Ciang-kun mundur dan kini tinggal Akim seorang diri masih berlutut.
Karena yang diperintah mundur hanya Kok Ciang-kun, maka ia tidak berani bergerak dan diam saja, walaupun hatinya ingin sekali ia segera terbang dari situ.
Baru pertama kali ini selama ia menjadi seorang wanita perkasa, Hek-liong-li Lie Kim Cu merasa gentar!
Ia merasa seperti menghadapi seorang lawan yang jauh lebih pandai dan lebih lihai darinya, yang membuat ia merasa hampir tidak berdaya!
Kalau ia disuruh memilih, ia memilih menghadapi dua orang datuk sesat yang lihai dari pada harus mengadapi permaisuri ini sebagai musuh!
Ia merasa seperti menghadapi seekor ular berbisa yang amat berbahaya dan ia tidak tahu dari mana dan kapan ular berbisa itu akan mematuk.
Membuat ia ingin menghindar jauh-jauh dari tempat itu, sejauh mungkin!
Akim masih berlutut dan menundukkan mukanya ketika ia mendengar suara Hong-houw, kini suaranya meninggi dan penuh ejekan.
"Engkau bernama Kim Siauw Hwa, ya? Akim? Hemmm, orang lain boleh saja kaukelabui, akan tetapi jangan mengharap akan dapat mengelabui kami."
Lalu terdengar perintahnya kepada para pengawal.
"Ambil air dan sikat, cuci bersih mukanya dan tarik rambut palsunya!"
Bukan main kagetnya rasa hati Liong-li mendengar ini.
Kalau ia meloncat, tentu para pengawal itu mengepungnya dan sekali terdengar tanda bahaya, ratusan bahkan ribuan perajurit pengawal akan datang dan ia tidak mungkin dapat lolos.
Kalau ia menangkap dan menyandara permaisuri itupun tidak mudah, karena para dayang pengawal nampaknya sudah siap melindungi junjungan mereka.
"Ampun, Yang Mulia. Perkenankan hamba menanggalkan penyamaran hamba sekarang juga!"
Katanya dan cepat ia menggosok mukanya, melepaskan kedok tipis yang menutupi muka aselinya, dan mencopot pula sedikit rambut palsu yang merubah bentuk sanggulnya.
Sanggulnya terlepas, rambut aselinya yang hitam dan halus panjang itu terurai, mukanya yang asli nampak, muka seorang yang cantik jelita dan manis.
Bahkan sinar matanyapun kini berubah, tidak lagi bodoh, melainkan mencorong dan tajam penuh kecerdikan!"
Kini permaisuri itu tersenyum.
"Hemm, sudah kuduga, engkau tentu seorang wanita yang cantik. Nah, sekarang mengakulah, siapa engkau dan mengapa pula, engkau diseludupkan ke sini oleh Cian Hui?"
Bagaimana pun juga hati Liong-li merasa lega karena tidak terkandung kemarahan atau permusuhan di dalam suara yang lembut dan berwibawa itu.
"Ampunkan hamba, Yang Mulia. Akan tetapi sebelum hamba memberi penjelasan, hamba ingin sekali mengetahui bagaimana paduka dapat mengetahui rahasia penyamaran hamba......"
Permaisuri itu tidak marah, sungguh mengherankan hati para dayang pengawal yang menganggap pertanyaan Liong-li itu kurang ajar.
Sebaliknya malah permaisuri itu tertawa geli dan senang.
Memang hati permaisuri itu merasa senang dan bangga karena pertanyaan Liong-li itu membuktikan bahwa wanita muda yang cerdik sekali dan pandai menyamar sehingga mengelabui mata semua penghuni istana, kini kagum kepadanya dan terheran akan kecerdikannya!"
"Engkau memang seorang perempuan muda yang amat cerdik, akan tetapi bagi kami, kecerdikanmu itu belum seberapa dan tidak ada artinya. Ketika kami mengujimu untuk melihat apakah engkau benar seorang gadis dusun dan bukan seorang mata-mata berbahaya yang menyelundup ke istana, engkau dengan cerdik berlagak bodoh dan bahkan membiarkan punggungmu pecah kulitnya oleh cambuk. Akan tetapi ketika aku mendekat, aku melihat dibalik kain baju yang robek dan kulit punggung yang terluka, dekat luka itu kulitnya putih halus.
"Aku sudah menduga bahwa tentu kulit tubuhmu yang aseli putih mulus, tidak kecoklatan dan kasar. Tentu engkau telah memolesi seluruh kulit tubuhmu dengan semacam obat cairan. Aku sudah mulai curiga dan engkau lihat siapa yang berdiri di sana itu!"
Karena sejak tadi Liong-li tidak berani mengangkat muka, kini setelah diperintah, ia mengangkat muka dan memandang ke arah yang ditunjuk permaisuri itu.
Di sudut sana, berdiri dengan sebatang tombak di tangan, adalah......
Akong!
Pelayan thai-kam itu ternyata adalah seorang perajurit pengawal yang menjadi kepercayaan sang permaisuri!
Kini mengertilah ia!
Tentu karena merasa curiga, permaisuri yang luar biasa cerdiknya itu telah diam-diam menyelundupkan Akong ke bagian dapur, bekerja sebagai pelayan dapur sehingga mendapat kesempatan bercakap-cakap dengannya!
Pada hal, ia merasa cerdik sudah berhasil mengorek rahasia dan memancing keterangan dari Akong.
Tidak tahunya, ialah yang terkorek rahasianya.
Karena sikapnya yang ingin tahu dan bertanya-tanya tentang Kwi-eng-cu itu tentu saja dicatat oleh Akong dan pada malam harinya diteruskan kepada Hong-houw.
Dan permaisuri yang seperti dikatakan Cian Hui cerdik seperti iblis itu sudah memperhitungkan bahwa malam itu ia tentu akan melakukan penyelidikan ke istana induk, maka sengaja menyuruh delapan orang perajurit itu untuk menghadangnya dan mengepungnya.
Dan biarpun delapan orang itu tidak berhasil menangkapnya, namun kini ia yakin bahwa ketika ia kembali ke dalam kamarnya, seperti ia keluar dari kamarnya, tentu sudah ada beberapa pasang mata yang mengintainya.
Agaknya permaisuri itu hanya ingin merasa yakin bahwa "Akim"
Benar seorang mata-mata yang diselundupkan ke dalam istana. Melihat Akong, Liong-li segera memberi hormat kembali.
"Sungguh benar sekali apa yang diterangkan oleh Cian Ciang-kun kepada hamba tentang paduka yang mulia......"
"Heh? Apa kata Cian Hui? Tentu dia memperingatkan bahwa engkau harus berhati-hati menghadapi aku, bukan? Heh-heh-hi-hik!"
Kembali Liong-li tertegun, bukan pura-pura melainkan sungguh ia merasa heran dan kagum.
Wanita ini seolah-olah tahu segalanya!
"Aku mengenal siapa Cian Hui!
Dia seorang yang cerdik, kalau tidak begitu, tentu dia tidak diangkat menjadi penyelidik.
Kalau dia yang menyelundupkan kamu ke istana, tentu dia memperingatkanmu untuk berhati-hati terhadap kami.
Dia sudah tahu siapa aku!"
Suara ini mengandung kebanggaan hati yang besar terhadap diri sendiri.
"Sesungguhnya demikian, Yang Mulia. Karena paduka sudah tahu segalanya, hamba kira hamba tidak perlu menerangkannya lagi."
"Hemm, Cian Hui memilih engkau, itu berarti bahwa engkau tentu memiliki kelihaian dan kecerdikan. Akan tetapi di sini, engkau kurang berhati-hati. Bayangkan saja seandainya aku ini Kwi-eng-cu! Apa kau kira masih hidup saat ini?"
"Hamba beruntung sekali bahwa Kwi-eng-cu bukan paduka. Akan tetapi hamba yang terkagum-kagum akan kecerdikan dan kebijaksanaan paduka, hamba ingin sekali tahu apakah paduka sudah pula mengetahui siapa hamba sebenarnya?"
Kembali para dayang mengerutkan alisnya.
Perempuan itu sungguh kurang ajar, seolah menantang sang permaisuri, atau seperti mempermainkan saja.
Bicaranya seolah permaisuri itu sahabatnya, bukan junjungannya!
Akan tetapi aneh, permaisuri tidak marah melainkan tersenyum manis!
Dan memang hati permaisuri itu senang sekali, merasa ditantang kecerdikannya.
"Kami memang belum mengetahui siapa kamu, akan tetapi kami dapat menduganya,"
Kata permaisuri itu dengan suara yang tenang sekali.
Liong-li tertarik dan semakin kagum, ia mengangkat muka memandang dan sejenak dua pasang mata yang sama indahnya, sama jeli dan sama tajamnya bertemu dan bertaut.
Selamanya belum pernah Liong-li beradu pandang dengan seorang wanita yang memiliki pandang mata seperti itu dan diam-diam ia bergidik.
Juga agaknya Permaisuri Bu Cek Thian mempunyai pendapat yang sama.
Ia mengerutkan alisnya dan seperti mewakili suara hati Liong-li ia berkata.
"Aihhh, matamu seperti mata kucing atau harimau betina! Mengerikan sekali!"
Tepat sekali, pikir Liong-li. Memang matamu seperti mata harimau betina kelaparan! "Bolehkah hamba mengetahui, paduka menduga hamba ini siapakah?"
Ia masih ingin mengetahui sampai di mana kecerdikan permaisuri itu.
"Hek-liong-li Lie Kim Cu, dibandingkan dengan kami, engkau seperti anak masih ingusan!"
Kini Liong-li menatap wajah permaisuri itu dengan mata terbelalak.
Ia benar takluk dan kagum bukan main, permaisuri itu tentu tidak berbohong ketika mengatakan bahwa belum mengetahui dirinya dan hanya menduga saja.
Akan tetapi betapa tepatnya dugaan itu!
Matanya penuh pertanyaan, mewakili suara hatinya yang ingin sekali tahu bagaimana permaisuri itu mampu menduganya demikian tepat!
Dan agaknya pertanyaan pada sinar matanya itupun terbaca oleh Permaisuri Bu Cek Thian.
Wanita ini kembali tertawa dan menutupi mulut yang terbuka dengan sapu tangan sutera.
"Mudah saja menduga bahwa engkau Hek-liong-li Lie Kim Cu. Biarpun kami belum pernah bertemu denganmu, akan tetapi berita tentang dirimu sudah pernah kami dengar. Kami mendengar bahwa di Lok-yang terdapat seorang wanita muda cantik jelita yang kabarnya memiliki ilmu silat yang tinggi dan kecerdikan yang mengagumkan, namanya Lie Kim Cu dan berjuluk Hek-liong-li. Bukan seorang penjahat, bahkan kadang-kadang menentang kejahatan, kaya raya dan ditakuti dunia kang-ouw.
"Ketika Kaisar, atas dorongan kami, memerintahkan Cian Hui untuk menyelidiki tentang pembunuhan-pembunuhan di kota raja dan tentang Kwi-eng-cu, kami mendengar dari penyelidik kami bahwa Cian Hui pergi seorang diri menuju Lok-yang. Tadinya kami kira bahwa mungkin dia pergi ke sana ada hubungannya dengan penyelidikannya, atau untuk mengikuti jejak. Nah, peristiwa itu saja sudah menunjuk kepadamu.
"Kemudian Kok Tay Gu memasukkan seorang dayang yang mukanya buruk seperti penyamaranmu tadi. Kami mulai curiga dan ternyata kecurigaan kami benar ketika kami melihat kulit punggungmu ada yang putih mulus dekat luka. Dan ketika malam tadi engkau keluar dari kamar sebagai seorang wanita bertopeng hitam dan berpakaian serba hitam, kemudian melihat betapa engkau sedemikian lihainya sehingga mampu menghindarkan diri dari kepungan delapan orang perajurit pengawal pilihan.
"Lalu sekarang melihat bahwa engkau seorang wanita muda yang cantik jelita dan juga cerdik, bahkan mampu menguji kecerdikanku dengan pertanyaan-pertanyaan yang amat cerdik, lalu siapa lagi engkau, kalau bukan Hek-liong-li Lie Kim Cu? Dan kami yakin bahwa pedang yang semalam katanya terselip di pinggangmu tentulah pedang pusakamu Hek-liong-kiam yang terkenal itu. Entah di mana sekarang pusaka itu kausembunyikan!"
Saking kagumnya, Long-li memberi hormat dan menempelkan dahinya di lantai.
"Ban-swe, ban-ban-swe......! Sungguh hebat, sungguh luar biasa sekali! Paduka adalah seorang yang amat cerdik, bijaksana dan hamba mengaku kalah!"
"Hek-liong-li, bangkitlah. Aku sudah muak dengan penghormatan berlebihan seperti itu. Nah bangkit dan duduklah, aku ingin bicara denganmu!"
Lalu ia memberi isyarat kepada para dayang pengawal agar mereka meninggalkan ruang itu!
Semua pengawal, kecuali dua orang wanita muda yang wajahnya sama, masih berdiri di belakang kursi permaisuri itu.
Mereka adalah sepasang saudara kembar yang merupakan pengawal pribadi yang tidak pernah meninggalkan Permaisuri Bu Cek Thian sejenak pun!
Juga Akong sudah keluar tanpa menoleh kepada Liong-li.
Pintu ruangan itu ditutup dan di dalam ruangan yang luas dan amat indah itu, Permaisuri Bu Cek Thian duduk di atas kursi emasnya yang agak tinggi.
Kedua kakinya menginjak punggung sebuah batu berukir yang berbentuk kura-kura, lambang panjang usia, seolah-olah Permaisuri itu selalu menunggangi lambang yang membuat usianya menjadi panjang.
Dua orang saudara kembar yang menjadi pengawal pribadi itu, keduanya mahir ilmu silat dan tangan kanan mereka tak pernah meninggalkan gagang pedang yang tergantung di pinggang, berdiri di belakang kursi emas itu.
Liong-li diperintahkan duduk di atas sebuah bangku yang agak rendah.
Hanya mereka berempat yang berada di situ dan Liong-li yakin bahwa tidak ada seorangpun lainnya yang berani mengintai atau ikut mendengarkan karena hal itu dapat mengakibatkan hukuman mati!
Dan iapun kini merasa lega karena jelas bahwa permaisuri yang amat cerdik ini, yang dapat menjadi lawan yang amat berbahaya, kini nampaknya sudah percaya benar kepadanya.
"Lebih dulu katakan, di mana engkau menyembunyikan pedang pusakamu itu? Satu-satunya tempat persembunyian adalah di bawah atap kamarmu!"
Liong-li tersipu. Akan sia-sia sajalah membohongi wanita seperti ini! "Memang benar di sana, Yang Mulia."
"Hemm, kalau begitu, engkau pergilah dulu, ambil pedangmu itu lalu kembalilah kesini. Cepat! Berbahaya kalau sampai didahului orang lain!"
Mendengar ini, Liong-li terkejut, cepat memberi hormat dan keluar dari ruangan itu.
Ternyata di dekat ambang pintu, tentu ada alat rahasianya, karena sebelum ia tiba di pintu, daun pintu itu telah terbuka dari luar.
Agaknya para penjaga di luar tahu bahwa ada orang hendak keluar!
Ia keluar dan cepat pergi ke kamarnya setelah ia memasang kembali kedok tipisnya dan rambut palsunya sebagai Akim!
Setibanya di dalam kamar, ia menutupkan daun pintu dan meloncat ke atas, mendorong langit-langit di sudut.
Cepat ia mengambil pedang dan pakaian hitam, lalu melompat turun kembali.
Pada saat itu, ia mendengar langkah kaki dekat jendelanya.
Cepat ia menyembunyikan pedang dan pakaian di bawah kasur, lalu ia sendiri merebahkan diri di atas pembaringan.
Daun jendela terbuka dan sesosok bayangan melompat masuk.
"Heii, siapa itu? Maliiingg......!"
Ia berteriak.
Tentu saja ia harus bersandiwara karena bukankah semua orang di situ mengira ia seorang gadis dusun?
Sudah sewajarnya kalau ia berteriak ada orang laki-laki memasuki kamarnya lewat jendela.
Orang itu jangkung kurus, mukanya tertutup lengan baju, terkejut dan meloncat keluar lagi.
Liong-li tidak mengejar dan kembali ia mengagumi sang permaisuri.
Kalau tidak permaisuri itu cepat memerintahkan ia mengambil pedang pusakanya, besar sekali kemungkinan Hek-liong-kiam sudah diambil orang.
Ketika ia menghadapi kembali permaisuri yang cantik berwibawa itu, Liong-li terus terang menceritakan apa yang baru saja ia alami di kamarnya ketika ia mengambil pedang.
Agaknya, terhadap wanita yang satu ini, ia tidak boleh menyimpan rahasia karena segala peristiwa agaknya dapat diketahuinya atau diduganya.
Mendengar cerita Liong-li, permaisuri Bu Cek Thian mengangguk-angguk.
"Bagaimana wajah bayangan itu?"
Tanyanya singkat.
"Tidak nampak jelas, Yang mulia. Hanya nampak bayangan yang bentuk badannya jangkung kurus, akan tetapi dia memiliki gerakan yang gesit dan cepat sekali sehingga ketika hamba mengejar keluar, dia telah lenyap."
Permaisuri itu mengerutkan alisnya.
"Hemm, kehadiranmu sebagai penyelidik agaknya sudah dicurigai orang. Biarlah untuk sementara engkau menjadi dayangku yang baru di sini. Bagaimana, maukah engkau, Hek-liong-li?"
Liong-li menyambut tawaran ini dengan gembira sekali.
"Tentu saja hamba suka dan banyak terima kasih atas bantuan paduka. Yang penting bagi hamba adalah dapat melakukan penyelidikan sampai hamba berhasil menangkap, atau setidaknya membongkar rahasia Kwi-eng-cu itu, seperti yang diminta oleh Cian Ciang-kun."
"Bagus, aku senang sekali engkau mau menjadi dayangku, Hek-liong-li. Dan mulai sekarang nama panggilanmu di sini Siauw Cu (Mestika Kecil). Aku akan merasa lebih aman kalau engkau menjadi dayangku dan engkau boleh menemaniku setiap saat membantu tugas Bi Cu dan Bi Hwa ini,"
Katanya menunjuk kepada dua orang gadis kembar yang kelihatan gagah perkasa dan yang berdiri di belakang kursinya.
"Hamba merasa terhormat sekali, Yang Mulia, dan mudah-mudahan, berkat petunjuk paduka, hamba akan berhasil membongkar rahasia si Bayangan Iblis."
Permaisuri itu mengerutkan alisnya dan senyumnya manis, akan tetapi juga mengandung ejekan.
"Hemm, sekali ini kepandaianmu akan diuji berat sekali, Hek-liong-li...... eh, Siauw Cu. Yang kau hadapi adalah seorang yang amat lihai, amat berbahaya sekali."
"Ah, ampunkan hamba, Yang Mulia. Jadi kalau begitu paduka sudah mengetahui siapa adanya si Bayangan Iblis? Lebih mudah bagi hamba untuk menghadapinya dan melaporkan kepada Cian Ciang-kun!"
Permaisuri itu menatap tajam wajah Liong-li, lalu menggeleng kepala dan menarik napas panjang.
"Siauw Cu, kalau aku sudah mengetahui dengan jelas siapa dia, apa kau kira dia akan mampu bernapas lagi saat ini? Kami baru menduga-duga saja tanpa bukti. Yang jelas, dia tidak pernah berani mencoba untuk mengganggu kami. Bagaimanapun juga, dia tetap merupakan ancaman dan duri dalam daging yang harus dihancurkan. Aku sendiri akan memberi hadiah besar kepadamu kalau engkau mampu menangkapnya, Siauw Cu."
Diam-diam Liong-li merasa girang dan lega.
Akan lebih berbahaya dan lebih sukar rasanya kalau si Bayangan Iblis menjadi kaki tangan wanita di depannya ini.
Berhadapan dengan permaisuri ini, ia merasa dirinya kecil dan lemah, seperti menghadapi seekor naga betina yang amat berbahaya, penuh rahasia dan sukar ditebak dari arah mana akan menyerang.
Kalau si Bayangan Iblis bukan anak buah permaisuri, berarti ia akan menjadi sekutu permaisuri ini dan ia merasa yakin, dengan bantuan permaisuri yang amat cerdik ini, ia pasti akan berhasil.
"Hamba tidak mengharapkan imbalan jasa dan hadiah, Yang Mulia, melainkan hamba menganggapnya sebagai suatu kewajiban untuk menghalau pengacau yang membahayakan ketenteraman kota raja. Hamba akan berusaha sekuat tenaga untuk menangkap si Bayangan Iblis!"
"Bagus! Akan tetapi agar hatiku lebih yakin akan kemampuanmu karena pihak lawan benar-benar tangguh, kami harus menguji kemampuanmu dulu, Siauw Cu. Bersiaplah engkau untuk menghadapi dua orang pengawalku ini. Beranikah engkau?"
Tidak ada tantangan yang pernah ditolak oleh Liong-li, dari siapapun juga datangnya. Dan Bu Cek Thian memang cerdik bukan main. Kalau ia mengatakan.
"Maukah engkau?", mungkin Liong-li akan mencari alasan dan menolak. Akan tetapi dengan pertanyaan "beranikah engkau?"
Tidak ada pilihan lain bagi Liong-li kecuali menerimanya! "Hamba bersedia!"
Katanya sambil menatap tajam kedua orang wanita yang selalu berdiri di belakang permaisuri itu.
Mereka adalah dua orang wanita yang serupa benar, baik bentuk mukanya, bentuk sanggul dan pakaiannya.
Sukar sekali membedakan antara dua orang gadis kembar ini.
Usia mereka sekitar duapuluh lima tahun, dengan bentuk tubuh yang tinggi langsing dan wajah yang manis, dingin dan angkuh.
Di punggung mereka terdapat pedang dengan ronce berwarna biru.
Pakaian mereka ringkas berwarna kuning sehingga rambut mereka nampak semakin hitam.
"Bi Cu! Bi Hwa! Kalian boleh uji kepandaian Siauw Cu dengan tangan kosong dan semua tidak boleh menggunakan senjata. Kami ingin melihat sampai di mana kemampuan Siauw Cu! Mulailah!"
Gerakan dua orang wanita kembar itu ringan sekali ketika mereka tiba-tiba saja meloncat ke depan Liong-li setelah dengan suara halus menyanggupi perintah sang permaisuri.
Liong-li melangkah mundur, agak menjauhi permaisuri itu karena tidak baik untuk bertanding silat terlalu dekat wanita bangsawan tinggi itu.
Pula, ia mencari tempat yang lebih luas agar jangan sampai merusak perabot dan hiasan di ruangan yang luas dan amat mewah itu.
Ketika mereka berdiri saling berhadapan, Liong-li melihat bahwa tinggi badannya hanya sampai setinggi bawah telinga kedua orang wanita kembar itu.
Padahal, menurut ukuran wanita pada umumnya, ia bukan termasuk pendek.
Jadi, mereka itulah yang tergolong tinggi, seperti para wanita dari daerah propinsi Shan-tung.
Tinggi dan biarpun pinggang mereka ramping, namun kaki tangan mereka kokoh kuat.
"Ketika kedua orang wanita itu memasang kuda-kuda, ia melihat dasar kuda-kuda dari ilmu silat Bu-tong-pai. Ia menduga bahwa mereka itu selain lihai dalam ilmu silat tangan kosong, tentu mahir pula memainkan pedang kalau benar mereka itu murid Bu-tong-pai. Maka iapun tidak berani memandang rendah dan berhati-hati. Dua orang wanita kembar yang sudah terpilih menjadi pengawal pribadi permaisuri sudah pasti memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan.
"Enci berdua, majulah, aku sudah bersiap!"
Kata Liong-li, sikapnya tenang saja bahkan ia tidak memasang kuda-kuda seperti mereka, namun biar ia berdiri santai, sesungguhnya di bawah kulit tubuhnya, seluruh urat syarafnya sudah menegang dan siap siaga menghadapi serangan dari mana pun datangnya.
Bi Cu dan Bi Hwa memang dua orang gadis kembar yang pernah menjadi murid Bu-tong-pai, dan selain mahir ilmu silat Bu-tong-pai, setelah dipilih menjadi pengawal pribadi Bu Cek Thian, merekapun oleh permaisuri itu diperintahkan untuk memperdalam ilmu silat mereka dengan mempelajarinya dari jagoan-jagoan istana.
Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau mereka menjadi sepasang gadis kembar yang amat lihai.
Kelihaian mereka terutama sekali terletak dalam kerja sama mereka yang amat kokoh dan erat.
Mereka memiliki kepekaan satu sama lain yang tidak dimiliki orang lain.
Ada semacam hubungan batin di antara mereka sehingga mereka itu seolah-olah dapat saling mengerti kehendak dan dapat mengimbangi gerakan masing-masing seperti dua badan yang dikendalikan oleh satu pikiran saja.
"Li-hiap, sambutlah serangan kami!"
Seru Bi Hwa dan merekapun sudah bergerak maju.
"Tahan!"
Tiba-tiba terdengar seruan Bu Cek Thian dan sungguh luar biasa sekali, begitu mendengar seruan ini, dua orang gadis yang sudah mulai melakukan serangan itu tiba-tiba mencelat ke belakang seperti dipagut ular berbisa.
Demikian kuat dan penuh wibawa perintah dari permaisuri itu sehingga Liong-li yang tadipun sudah siap siaga memandang heran dan kagum.
"Bi Cu dan Bi Hwa, kalian ingat. Sekali-kali tidak boleh menyebut li-hiap kepadanya, apalagi di depan orang lain. Sebut saja namanya. Namanya Siauw Cu, mengerti?"
Dua orang wanita kembar itu memberi hormat dengan menekuk sebelah lutut di depan permaisuri itu dan dengan suara berbareng mereka berkata.
"Baik, Yang Mulia. Hamba mentaati perintah."
"Nah, sekarang seranglah, akan tetapi yang sungguh-sungguh. Kalau kalian mampu mengalahkan Siauw Cu, kalian akan kuberi hadiah!"
Kata sang permaisuri.
yang duduk bersandar di kursinya dengan sikap santai dan sinar matanya berseri tanda bahwa hatinya gembira.
Kembali dua orang wanita kembar itu sudah menghadapi Liong-li dengan kuda-kuda mereka yang gagah.
Mula-mula kedua kaki mereka dipentang miring dan kedua tangan di pinggang, lalu perlahan-lahan kaki kanan diangkat ke lutut kiri dan tubuh mereka tegak, lengan kanan tetap ditekuk di pinggang dan tangan kiri diangkat ke atas kepala dengan telunjuk menuding ke arah atas lurus, kepala miring menghadapi lawan.
"Majulah, enci berdua!"
Kata Liong-li dengan wajah berseri dan mulut tersenyum.
Ia sama sekali tidak berani memandang rendah, akan tetapi juga sikapnya amat tenang seolah-olah ia merasa yakin bahwa dua orang pengeroyok itu tidak akan mampu mengalahkannya.
"Haiiittt......!"
Bi Cu menyerang dengan luncuran tubuhnya yang menerjang ke depan dari kiri, tangan kanannya dengan jari terbuka menusuk ke arah dada kanan Liong-li.
"Hyaaattt......!"
Bi Hwa juga berteriak dan sudah menerjang dari depan kanan dengan tendangan kakinya ke arah pinggang.
Menghadapi serangan dua orang yang dilakukan dengan berbareng ini, Liong-li bersikap tenang, memutar kedua lengan dari atas ke bawah untuk menangkis dua serangan itu.
"Plak! Plakk!"
Kedua lengannya dapat menangkis tangan dan kaki dua orang lawannya, akan tetapi dua orang wanita kembar itu sudah memutar tubuh dan kembali menyerang dengan lebih cepat dan lebih kuat lagi.
Kini Bi Cu mencengkeram ke arah pundak dan Bi Hwa menendang untuk membabat kaki lawan.
Liong-li meloncat menghindarkan sabetan kaki dan terus menarik tubuh ke belakang untuk menghindarkan cengkeraman, dan ketika tubuhnya meloncat ke atas itu, kedua kakinya terpentang dan menyambar dengan kakinya ke arah dua orang lawannya yang berada di depan kanan kiri.
Sungguh merupakan serangan yang aneh dan tidak terduga.
Tidak mudah meloncat sambil melakukan tendangan kedua kaki pada saat yang sama ke arah dua jurusan ini.
Namun tendangan itu cepat dan kuat sekali.
Hal ini dapat diketahui oleh dua orang wanita kembar itu yang tidak berani sembarangan menangkis, melainkan cepat melangkah mundur ke belakang untuk menghindarkan diri dari sambaran sepatu yang di bawahnya dipasangi baja itu.
Karena tendangannya tidak mengenai sasaran, tubuh Liong-li membuat pok-say (salto) sampai tiga kali di udara dan begitu turun, tubuhnya sudah menerjang ke arah kedua orang lawannya seperti seekor burung garuda menyambar!
"Bagus......!"
Seru Bu Cek Thian yang merasa kagum bukan main.
Permaisuri ini tidak bisa ilmu silat, akan tetapi ia mengagumi keindahan gerakan Liong-li tadi, dari melayang ke udara, berjungkir balik tiga kali di udara kemudian turun menyambar seperti seekor burung garuda.
Dua orang wanita kembar juga cukup waspada, dan mereka sudah mengelak lagi dengan gesitnya.
Begitu tubuh Liong-li turun, mereka sudah menyerang lagi dari kanan kiri dengan tenaga yang kuat sehingga pukulan atau tamparan tangan mendatangkan angin bersiutan.
Liong-li menghindarkan diri dengan mengelak atau menangkis, dan segera membalas dengan serangan yang tak kalah dahsyatnya.
Terjadilah pertandingan yang amat seru dan menarik.
Demikian cepat gerakan tiga orang wanita ini sehingga bagi pandang mata permaisuri Bu Cek Thian, sukarlah mengikuti bayangan tiga orang yang berkelebatan itu.
Yang dapat ia bedakan hanyalah dua bayangan kuning berkelebatan di antara bayangan hijau karena Liong-li mengenakan pakaian berwarna kehijauan.
Ia tidak tahu siapa yang mendesak, siapa pula yang terdesak.
Diam-diam dua orang gadis kembar itu terkejut setengah mati.
Mereka berdua sudah memiliki ilmu silat tingkat tinggi dan kalau hanya para pengawal istana saja, jangan harap akan mampu menandingi mereka kalau mereka maju bersama.
Bahkan selama ini, keamanan permaisuri terjamin karena mereka berdua tidak pernah meninggalkannya.
Akan tetapi sekarang, menghadapi Hek-liong-li, mereka sungguh menjadi bingung.
Wanita itu dapat bergerak dengan kecepatan yang tak pernah mereka duga, bahkan juga tenaga Dewi Naga Hitam itu demikian kuatnya sehingga setiap kali mengadu tangan, mereka tentu terdorong dan terhuyung ke belakang!
Di lain pihak, Hek-liong-li sendiri juga kagum.
Dua orang wanita kembar ini memang pantas menjadi pengawal kepercayaan permaisuri, karena mereka berdua merupakan lawan yang cukup tangguh baginya.
Kalau saja ia tidak memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang ditunjang ilmu langkah ajaib Liu-seng-pouw, sukar baginya untuk dapat mengatasi pengeroyokan dua orang kembar yang memiliki kerja sama demikian baiknya.
Langkah-langkah ajaibnya membuat ia tidak pernah dapat tersentuh serangan mereka.
Ia tidak berani menggunakan ilmunya yang ampuh dan mematikan seperti Hiat-tok-ciang karena ia tidak mau melukai atau membunuh mereka, maka kini ia merobah ilmu silatnya dan mulai memainkan ilmu silat Bi-jin-kun (Silat wanita cantik).
Begitu ia mainkan ilmu silat ini, dengan gerakan diperlambat, sang permaisuri bertepuk tangan dan memuji.
"Bagus! Indah sekali......! Hei, Siauw Cu, engkau ini sedang berkelahi atau sedang menari?"
Memang Bi-jin-kun merupakan ilmu silat tangan kosong yang gerakannya seperti orang menari, indah dan lembut.
Namun di balik kelembutan itu tersembunyi kekuatan yang dahsyat sehingga ketika pada suatu saat ia mendorongkan kedua lengannya dengan gerakan lemah gemulai, dua orang lawannya itu berseru kaget dan terhuyung ke belakang, hampir saja terjengkang!
Melihat ini, Bu Cek Thian segera bertepuk tangan dan berseru.
"Sekarang kalian coba bermain pedang!"
"Singgg! Singgggg!"
Nampak sinar putih berkilat ketika sepasang saudara kembar itu mencabut pedang mereka dari punggung dan mereka memasang kuda-kuda dengan menyilangkan pedangnya di depan dada.
Melihat ini, Liong-li tersenyum.
Ia harus memperlihatkan kemampuannya, bukan saja untuk membuat sang permaisuri percaya kepadanya, akan tetapi juga untuk menundukkan keangkuhan dua orang saudara kembar ini agar kelak tidak lagi berlagak di depannya.
"Singgg!"
Sinar hitam yang menyilaukan mata nampak ketika ia mencabut pedangnya.
"Aihhh! Itukah Hek-liong-kiam?"
Seru sang permaisuri kagum.
"Benar, Yang Mulia. Inilah Pedang Naga Hitam!"
Jawab Liong-li sambil memberi hormat, lalu dengan pedang di depan dada, menuding lurus ke atas ia menghadapi dua orang wanita kembar itu.
"Siauw Cu, sambutlah pedang kami!"
Bi Cu membentak dan bersama saudara kembarnya ia telah menggerakkan pedangnya.
Dua gulungan sinar putih menyambar-nyambar dengan ganasnya dan terdengar suara kedua pedang itu mendesing-desing ketika meluncur dengan ganasnya.
Namun sekali ini Liong-li tidak mau main-main lagi.
Ia dapat menduga bahwa pedang-pedang di tangan kedua orang lawannya itu bukan pedang biasa.
Sebagai pelindung atau pengawal pribadi permaisuri, tentu saja mereka memiliki pedang pusaka yang ampuh dan kuat, maka ia tidak khawatir bahwa Hek-liong-kiam akan merusak kedua pedang itu, asal ia tidak mempergunakan tenaga sin-kang terlampau kuat.
Melihat gerakan pedang mereka, ia semakin yakin bahwa mereka adalah ahli-ahli pedang dari Bu-tong-pai yang hebat.
Dilihat dari gerakan mereka dan ketika bertanding dengan tangan kosong melawan tadi, ia tahu bahwa tingkat kepandaian dua orang kembar ini sudah cukup tinggi, bahkan lebih tinggi dibandingkan tingkat ilmu silat Cian Ciang-kun agaknya.
"Trang-tranggg......!"
Bunga api berpijar ketika ketiga pedang itu saling bertemu.
Dua orang wanita kembar merasa betapa lengan kanan mereka tergetar hebat dan mereka terkejut sekali, meloncat ke belakang dan memeriksa pedang mereka.
Sepasang pedang itu adalah pemberian Hong-houw, merupakan pusaka istana, maka tentu saja merupakan pusaka yang ampuh.
Untung pedang mereka tidak rusak bertemu dengan pedang hitam di tangan Liong-li.
Mereka maju lagi dan menyerang dengan gerakan yang lebih dahsyat.
Akan tetapi, mereka segera menjadi terkejut sekali menghadapi gulungan sinar pedang yang hitam dan amat kuatnya, seolah-olah sinar pedang itu menggulung sinar putih dari kedua pedang mereka dan membuat mereka sama sekali tidak ada kesempatan untuk menyerang.
Liong-li kini tidak main-main lagi dan ia sudah memainkan Sin-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti), yaitu ilmu pedang yang diciptakannya bersama Pek-liong-eng Tan Cin Hay.
Sebetulnya ilmu pedang ini merupakan ilmu simpanan dari Liong-li dan tidak ia keluarkan kalau tidak perlu sekali.
Akan tetapi sekali ini, walaupun dengan ilmu yang lain ia masih sanggup untuk menandingi dua orang gadis kembar, ia ingin memperlihatkan kepandaiannya kepada sang permaisuri agar percaya penuh kepadanya.
Maka, ia mengeluarkan Sin-liong Kiam-sut itu dan begitu ia mainkan jurus-jurus ilmu ini, pedang hitamnya seperti berobah menjadi seekor naga hitam yang menyambar-nyambar dengan ganas dan dahsyatnya, seperti seekor naga hitam bermain-main di angkasa.
Dua gulungan sinar pedang putih itu semakin menyempit dan akhirnya tergulung sama sekali.
"Trangg! Trangggg......!"
Dua orang gadis kembar itu terhuyung ke belakang dengan muka pucat karena ronce-ronce pedang mereka telah terbabat putus, dan mereka mengerti bahwa kalau tadi terjadi perkelahian yang sungguh, tentu mereka berdua sudah termakan pedang hitam di tangan lawan yang jauh lebih pandai dari mereka itu.
"Kami mengaku kalah!"
Mereka berdua menjura kepada Liong-li, lalu berlutut menghadap Bu Cek Thian.
"Hamba berdua telah kalah, siap menerima hukuman."
Akan tetapi Bu Cek Thian tidak marah, bahkan tersenyum lebar dengan wajah gembira.
"Kalian tidak perlu penasaran dikalahkan oleh Hek-liong-li yang namanya sudah terkenal di seluruh dunia persilatan. Kembalilah ke tempat kalian!"
Dua orang itu menghaturkan terima kasih lalu pergi kembali berdiri di belakang sang permaisuri itu, pandang mata mereka kini tidak angkuh lagi dan bahkan mereka kini memandang kagum kepada Liong-li.
"Siauw Cu, simpan pedangmu baik-baik, agar jangan sampai diketahui orang lain. Berikan kepadaku, biar aku yang menyembunyikannya dan engkau boleh menggunakan jika perlu saja."
Liong-li tidak berani membantah, lalu memberikan Hek-liong-kiam bersama sarungnya kepada permaisuri itu.
Bu Cek Thian menyimpan pedang itu di dalam lubang yang berada di bagian bawah kursinya sehingga tidak nampak dari luar karena ada tutupnya.
Liong-li memandang kagum.
Kiranya kursi berukir yang indah itu mengandung alat-alat rahasia pula untuk melindungi keselamatan sang permaisuri yang amat cerdik itu.
Baru saja Permaisuri Bu Cek Thian menyimpan Hek-liong-kiam, dua orang dayang memasuki ruangan itu sambil berlarian dan cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Bu Cek Thian.
Permaisuri itu seketika menjadi merah wajahnya dan matanya mengeluarkan sinar berapi ketika ia memandang kepada dua orang dayang yang berlutut dengan tubuh gemetar dan muka pucat itu.
"Apakah kalian sudah bosan hidup? Berani masuk tanpa kami perintahkan?"
"Ampun, Yang Mulia, ampunkan hamba...... di luar ada pangeran Souw Cun yang memaksa masuk. Para penjaga dan dayang telah berusaha untuk menghalanginya, namun hamba semua mendapat pukulan dan tendangan......"
Belum habis dayang itu melapor, terdengar seruan marah di luar ruangan itu.
"Kalian berani menghalangi aku? Mau mati??"
Dan muncullah seorang pria berpakaian mewah memasuki ruangan itu dengan sikap marah, akan tetapi begitu dia melihat Permaisuri Bu Cek Thian, dia cepat merubah sikapnya.
Dengan sikap sopan dan lembut dia lalu menghampiri dan memberi hormat dengan membungkuk dan merangkap kedua tangan di depan dada.
Dia membungkuk sampai dalam di depan wanita yang anggun dan berwibawa itu.
"Pangeran, apa artinya ini? Engkau masuk begitu saja tanpa kupanggil dan memukuli para pengawal dan dayang kami?"
Bu Cek Thian menegur, namun suaranya tetap lembut.
Sementara itu, dalam keadaan masih berlutut, diam-diam Liong-li memperhatikan pangeran itu.
Seorang pemuda yang usianya kurang lebih tigapuluh tahun, tinggi kurus, wajahnya tampan dan pesolek, matanya tajam dan lagaknya congkak.
Dari gerak geriknya, Liong-li menduga bahwa pangeran ini bukan seorang lemah, dan agaknya memiliki kepandaian silat.
Hal ini dapat diketahui dari langkahnya.
Sinar mata yang tajam itu membayangkan kecerdikan dan seketika Liong-li tahu bahwa ia harus berhati-hati terhadap orang ini.
"Selamat pagi, Ibu Permaisuri!"
Katanya dan suaranya juga lembut namun nyaring dan penuh semangat.
"Para pengawal dan dayang itu yang tidak tahu diri. Bagaimana mereka berani mencegah saya masuk ke sini menghadap paduka? Ibunda adalah ibuku, dan sudah selayaknya kalau saya sebagai puteranda datang pada pagi hari ini untuk menghaturkan selamat pagi, bukan? Saya harus mematuhi pelajaran yang saya dapatkan dari Bouw Sianseng (bapak guru Bouw)......"
"Hemmm, pelajaran apa yang kaudapatkan dari Bouw Sianseng yang menjemukan itu?"
Permaisuri Bu Cek Thian bertanya, nada suaranya ingin tahu sekali.
"Bahwa seorang kun-cu (budiman) mengenal tiga macam hauw (bakti), yaitu pertama berbakti kepada Thian (Tuhan), kedua berbakti kepada Negara, dan ketiga berbakti kepada orang tua, terutama ibu. Nah, kalau pagi-pagi saya mencari ibunda untuk menghaturkan selamat pagi, itu adalah untuk memenuhi Hauw yang ketiga itulah."
Diam-diam Liong-li memperhatikan pemuda itu. Seorang pemuda yang amat cerdik, pikirnya, akan tetapi juga ia merasa geli mendengar alasan yang jelas dicari-cari itu.
"Huh! Pelajaran dari orang yang menjemukan itu bisa menyesatkanmu, Souw Cun! Buktinya, engkau ingin berbakti, akan tetapi telah melanggar peraturan, menggangguku dengan hadir di sini tanpa kupanggil!"
Pemuda itu membelalakkan mata dan mengangkat sepasang alisnya, lalu memandang ke sekeliling.
"Aih, kiranya saya telah mengganggu paduka, ibunda Permaisuri? Akan tetapi saya tidak melihat paduka sedang bercengkerama, tidak mengadakan rapat atau persidangan, bahkan hanya ditemani si kembar dan ini...... ah, siapakah gadis jelita ini, ibunda?"
Kini Pangeran Souw Cun memandang kepada Liong-li yang masih berlutut dan menundukkan mukanya.
Jantungnya berdebar tegang karena ia merasa seolah-olah sikap pangeran itu dibuat-buat.
Bukan tidak mungkin kalau pangeran ini sudah tahu atau dapat menduga siapa ia, atau setidaknya menaruh curiga kepadanya!
"Ah, ia dayangku yang baru, namanya Siauw Cu,"
Kata sang Permaisuri dengan sikap acuh.
"Siauw Cu? Mustika kecil? Wah, nama yang cocok sekali dengan orangnya. Manis, coba kau angkat mukamu, aku ingin melihatnya!"
Kata pangeran itu. Dengan sikap seorang gadis yang bodoh dan penakut, Liong-li semakin menundukkan mukanya dan suaranya gemetar ketika ia menjawab lirih.
"Ampun...... hamba..... tidak berani......"
"Hemm, berani engkau membantah?"
Tiba-tiba tangan kanan pangeran itu menangkap dagu Liong-li dan wanita ini merasa betapa jari-jari tangan itu mengandung tenaga kuat dan kalau ia mengerahkan tenaganya, tentu jari-jari tangan itu akan mencengkeram.
Ia bersikap wajar saja, nampak ketakutan dan menurut saja ketika dagunya didorong naik sehingga mukanya tengadah.
"Hmm, cantik jelita...... manis sekali dayang ini, ibunda Permaisuri!"
Kata Pangeran Souw Cun sambil tertawa.
"Souw Cun, lepaskan dayangku!"
Teriak sang Permaisuri dengan suara marah. Pangeran itu melepaskan tangannya sehingga Liong-li menunduk kembali dan kini ibu tiri dan pangeran itu saling pandang dengan sinar mata saling menentang.
"Ibunda, dayang yang satu ini berikan saja kepada saya. Puteranda suka sekali melihat wajahnya,"
Kata pangeran itu.
"Tidak! Tidak boleh! Siauw Cu baru saja kuangkat menjadi dayang dan ia akan kujadikan dayang pribadiku. Dan engkau tidak boleh mengganggunya, pangeran!"
Pangeran Souw Cun tertawa, dan ketika dia tertawa, jelas bahwa sikap hormatnya tadi kepada sang permaisuri hanya pura-pura saja.
Ketika tertawa nampak bahwa sesungguhnya, di balik sikap hormat itu dia tidak suka kepada ibu tirinya ini!
Hal itu tampak jelas sekali oleh Liong-li yang melirik dari bawah.
"Ha-ha, mohon paduka mengampuni saya, ibunda. Kalau saya tadi meraba mukanya, hal itu hanya untuk melihat kecantikannya, dan untuk membuktikan bahwa ia benar seorang wanita!"
"Pangeran! Apa maksud ucapanmu itu?"
Sang permaisuri membentak.
"Ibunda permaisuri yang mulia, seorang pemuda yang tampan dan lembut mudah saja menyamar aebagai seorang gadis. Ibunda, Puteranda mohon mengundurkan diri!"
Dan tersenyum lebar pangeran itu meninggalkan ruangan setelah menjura dengan sikap hormat sekali kepada Permaisuri yang memandang dengan mata melotot dan muka merah karena marah.
"Tutup pintu ruangan ini dan jaga yang rapat. Jangan biarkan siapapun memasuki ruangan ini, biar kaisar sendiripun sebelum kuberi ijin masuk!"
Teriak sang permaisuri dengan marah sekali sehingga ucapannya itu sudah menyimpang dari peraturan.
Mana mungkin sang permaisuri memerintahkan pengawalnya untuk melarang kaisar sendiri?
Hal itu hanya menunjukkan betapa besar kemarahannya.
Setelah pintu ditutup kembali, kini yang berada di ruangan itu hanya sang Permaisuri Bu Cek Thian, dua orang pengawal pribadi gadis kembar dan Liong-li.
Kini Bu Cek Thian menyandarkan diri di kursinya dan menarik napas panjang.
"Menyebalkan, sungguh menyebalkan. Anak itu makin besar kepala dan semakin berbahaya saja!"
Katanya seperti kepada dirinya sendiri.
"Yang Mulia, maaf pertanyaan hamba. Nampaknya...... Pangeran Souw Cun kurang..... Eh, kurang suka kepada paduka. Benarkah dugaan hamba?"
Tanya Liong-li dengan hati-hati.
Permaisuri itu memberi isyarat kepada dua orang pengawal pribadinya dengan gerakan kepala ke arah jendela dan pintu.
Dua orang wanita kembar itu cepat berloncatan ke pintu dan jendela, memeriksa semuanya dan segera kembali dan berdiri lagi di belakang sang permaisuri setelah mengangguk memberi isyarat bahwa semua dalam keadaan terkunci dan aman, tidak ada orang yang mendengarkan di luar jendela atau pintu.
Biarpun demikian, permaisuri itu masih menggapai kepada Liong-li agar berlutut lebih dekat.
Liong-li lalu maju dan duduk bersimpuh di depan kursi sang permaisuri.
"Siauw Cu, engkau telah kuangkat sebagai dayang pribadiku, juga pembantu dan pelindungku, membantu tugas kedua orang pengawal pribadiku ini. Oleh karena itu engkau boleh mengetahui semua rahasia yang kami ketahui atau kami duga."
Liong-li merasa tidak enak.
Ia tidak ingin mengetahui rahasia istana kecuali rahasia Si Bayangan Iblis karena adanya ia di istana adalah untuk menanggulangi kekacauan yang dilakukan oleh Bayangan Iblis.
Ia tidak ingin terlibat dengan urusan istana dan keluarga kaisar.
"Mohon paduka ingat bahwa tugas hamba adalah untuk menyelidiki si Bayangan Iblis seperti telah hamba janjikan kepada Cian Ciang-kun. Oleh karena itu, hamba mohon petunjuk paduka tentang semua hal yang mengenai kegiatan Si Bayangan Iblis."
"Hemm, Siauw Cu! Berapa kali engkau menekankan bahwa engkau adalah pembantu Cian Hui. Tahukah engkau bagaimana Cian Hui sampai terlibat dalam urusan ini? Akulah yang mendesak Kaisar untuk memanggil dia dan menyerahkan tugas ini kepadanya! Dan Kaisar telah menyerahkan kepadaku untuk mengatur semua penyelidikan ini sampai berhasil! Dengan demikian, maka engkau sebagai pembantu Cian Hui berarti juga menjadi anak buahku. Mengerti?"
Diam-diam Liong-li terkejut.
Cian Ciang-kun tidak pernah bercerita tentang ini kepadanya.
Ia belum pernah selama ini membayangkan bahwa permaisuri kaisar ternyata seorang wanita yang demikian luar biasa cerdiknya, juga agaknya memegang kekuasaan yang amat besar di istana, dan ia tidak akan merasa heran kalau wanita seperti ini dapat menguasai pula kaisar dan seluruh penghuni istana!
Akan tetapi, juga agaknya permaisuri ini menyimpan suatu rahasia yang kalau diketahui umum amat merugikannya, dan agaknya ia dapat menduga apa rahasia itu.
Pertama ia pernah melihat thai-kam muda berkeliaran di waktu malam di daerah yang dihuni sang permaisuri, dan kedua, sindiran dari Souw Cun, pangeran tadi, membayangkan bahwa pangeran itu agaknya mencurigai terjadinya penyelundupan pemuda tampan yang menyamar sebagai dayang!
Dan melihat sinar mata tajam dan jalang dari permaisuri ini, Liong-li dapat menduga bahwa permaisuri ini memiliki gairah nafsu berahi yang amat besar sehingga besar sekali kemungkinannya ia suka melampiaskan gairahnya itu di luar kamar sang kaisar!
Ia sudah banyak mendengar tentang kehidupan para wanita di dalam harem kaisar, banyak wanita yang hanya melayani seorang pria saja, yang sudah tua dan lemah pula sehingga banyak di antara para wanita itu tentu saja merasa tersiksa, (Lanjut ke
Jilid 08) Si Bayangan Iblis (Seri ke 02 -Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 tidak terpenuhi kebutuhan gairah mereka sehingga walaupun selalu dijaga ketat, mereka itu senantiasa mencari kesempatan untuk dapat menyalurkan gairah mereka lewat penyelewengan.
"Hamba siap menerima perintah paduka dan mendengar semua keterangan dari paduka,"
Akhirnya ia berkata.
"Duduklah di atas kursi itu dan dekatkan kursinya ke sini, Siauw Cu. Tidak enak bicara kalau engkau berlutut di situ."
Siauw Cu atau Liong-li mentaati perintah ini dan ia sudah duduk di atas sebuah kursi yang diangkatnya dekat di depan sang permaisuri dan siap mendengarkan dengan menundukkan muka dan dengan sikap hormat.
Setelah duduk berhadapan dengan dekat, ia melihat bahwa wanita yang usianya sudah empatpuluh tahun lebih ini masih memiliki kulit muka, leher dan tangan yang putih mulus dan belum ada keriputnya.
Wajah itu terhias rapi sekali, pakaiannya juga amat mewah indah rapi, rambutnya mengkilap dan dari pakaian dan rambutnya itu semerbak harum.
Seorang wanita yang cantik dan pandai sekali merawat dirinya sehingga nampaknya baru berusia tigapuluh tahun saja!
Entah bagaimana, ia diam-diam merasa ngeri, seperti kalau berdekatan dengan seekor ular cobra yang amat berbahaya, yang tidak diketahui kapan akan menyerang, dan setiap serangannya mengandung cengkeraman.
maut!
Dengan suara bisik-bisik, Permaisuri Bu Cek Thian menceritakan keadaan di dalam istana yang amat menyeramkan hati Liong-li.
Menurut cerita itu, kiranya di dalam istana, di antara keluarga kaisar, terdapat suatu pertentangan, suatu permusuhan diam-diam, kebencian dan persaingan yang mengerikan.
Walaupun semua itu tidak nampak sama sekali, ditutup oleh sikap berkeluarga dan taat kepada kaisar!
"Engkau tentu tahu bahwa aku adalah Permaisuri, juga calon Ibu Suri karena puteraku, Pangeran Tiong Cung, adalah seorang Putera Mahkota yang kelak akan menggantikan kedudukan ayahnya, yaitu Sribaginda Kaisar.
Namun, di samping puteraku sebagai putera mahkota, masih terdapat banyak lagi pangeran lain, juga puteri-puteri kaisar dan mantu-mantu kaisar.
"Mereka semua itu saling bersaing untuk mendapatkan kedudukan tertinggi, saling berlomba untuk mengambil hati Sribaginda Kaisar dan untuk itu mereka tidak segan-segan untuk saling melempar fitnah, bahkan saling serang secara terbuka, tentu saja tidak di depan Sribaginda Kaisar. Sribaginda Kaisar terlalu sibuk dengan urusan negara sehingga tidak ada waktu lagi untuk memusingkan diri tentang urusan keluarga sehingga keadaan keluarga kami menjadi semakin kacau. Dan di dalam kekacauan ini, tiba-tiba saja muncul peristiwa pembunuhan-pembunuhan yang misterius itu."
Permaisuri Bu Cek Thian menghela napas panjang dan ia nampak khawatir, dan baru sekarang Liong-li melihat wanita yang cerdik dan pandai itu nampak gelisah, tidak disembunyikan lagi.
"Akan tetapi, Yang mulia, apa hubungannya pembunuhan-pembunuhan yang kabarnya dilakukan oleh si Bayangan Iblis itu dengan persaingan di antara keluarga kerajaan?"
Liong-li memancing.
"Memang tadinya kami menganggap bahwa itu hanya merupakan persaingan yang terjadi di antara para pejabat tinggi di kota raja yang saling memperebutkan kedudukan. Akan tetapi, semakin lama keadaannya menjadi semakin mencurigakan. Bahkan keselamatan diriku sendiri terancam!"
Kini wajah permaisuri itu menjadi pucat dan hal ini tidak dilewatkan oleh pandang mata Liong-li yang tajam.
"Pernahkah ada serangan yang ditujukan kepada paduka?"
Sang Permaisuri menjebikan bibir bawahnya yang merah dengan sikap menghina.
"Mereka takkan mampu! Kalau saja mereka berani memperlihatkan diri, pasti akan dapat tertangkap! Pasukan pengawalku cukup kuat, ditambah pasukan rahasia, dan masih ada lagi Bi Cu dan Bi Hwa. Akan tetapi pada suatu malam pernah Bi Cu dan Bi Hwa mendengar suara mencurigakan di luar kamarku di taman. Mereka mengejar, akan tetapi bayangan itu melarikan diri dan meninggalkan sebatang senjata rahasia beracun yang agaknya tercecer."
"Ah, kalau begitu menurut paduka, Si Bayangan Iblis itu berada di dalam istana?"
Permaisuri itu menggeleng kepalanya.
"Aku tidak tahu. Mungkin pemimpinnya berada di istana, mungkin juga yang berkeliaran di istana itu hanya anak buah saja. Siapa tahu? Tugasmulah untuk menyelidikinya. Yang jelas, istana ini telah dijamah oleh tangan gerombolan penjahat yang mungkin saja dipergunakan orang yang memperebutkan kedudukan dan mereka memiliki orang-orang yang berkepandaian tinggi."
"Hamba yakin bahwa setidaknya pimpinan mereka, bahkan mungkin Si Bayangan Iblis sendiri, bersembunyi di dalam istana, Yang Mulia."
"Bagaimana engkau dapat yakin?"
"Cian Ciang-kun bukan seorang bodoh dan dia sudah menyebar para penyelidiknya di kota raja, namun tak pernah dapat menemukan jejak Si Bayangan Iblis. Hal itu membuktikan bahwa Si Bayangan Iblis tentu mempunyai tempat persembunyian yang tidak dapat dimasuki para penyelidik, dan tempat seperti itu, di mana lagi kalau bukan dl istana? Dan setelah mendengar keterangan paduka, hamba yakin bahwa dia berada di dalam istana induk, di bagian putera!"
"Hemm, bagaimana engkau dapat menduga begitu?"
"Yang Mulia, kalau kepala penjahat itu berada di istana bagian puteri, bagaimana mungkin dia dapat lolos dari pengamatan paduka yang arif bijaksana?"
Bersinar sepasang mata yang indah itu karena ia yakin bahwa ucapan itu bukan sekedar pujian kosong belaka.
"Siauw Cu, engkau memang cerdik sekali. Dugaanmu sama dengan dugaanku, kalau Si Bayangan Iblis benar bersembunyi di dalam istana, tentu dia berada di bagian putera!"
"Hamba tahu dan yakin kebijaksanaan dan kecerdikan paduka. Apakah paduka telah menemukan orang yang paduka curigai, yang patut menjadi Si Bayangan Iblis?"
Permaisuri itu mengerutkan alisnya.
"Inilah yang membingungkan, dan ini pula yang membuat kami ingin menahanmu di sini agar membantu kami. Di istana memang terdapat banyak orang yang pandai ilmu silat tinggi, namun mereka adalah hamba-hamba yang setia dan tidak mungkin mengacau. Bahkan merekapun giat membantu untuk menangkap penjahat, namun tak pernah berhasil. Menurut penglihatanku, tidak ada yang dapat dicurigai, dan tidak terdapat orang luar yang mungkin bersembunyi di dalam istana."
"Dia mungkin saja menyamar, Yang Mulia. Mungkin menyamar sebagai perajurit pengawal biasa, sebagai pelayan, tukang kebun, pekerja kasar, atau juga bukan tidak mungkin kalau anggauta keluarga sendiri yang menjadi pemimpin. Maafkan pendapat hamba ini."
"Tidak mengapa, Siauw Cu. Memang pendapatmu itu masuk di akal. Dan jalan satu-satunya agar kita dapat membongkar rahasia ini adalah bahwa engkau harus dapat diselundupkan ke dalam istana induk bagian pria."
Berdebar rasa jantung Liong-li mendengar ini.
"Akan tetapi. Yang Mulia. Bagaimana mungkin? Hamba seorang wanita dan........"
"Aku tahu. Engkau wanita dan cantik jelita lagi masih muda. Tak mungkin engkau menjadi hamba pekerja kasar, karena engkau terlalu cantik. Satu-satunya jalan yalah bahwa engkau harus masuk ke sana sebagai seorang dayang atau seorang selir....."
"Tapi......!"
Liong-li terkejut.
"Menjadi selir Sribaginda tidak mungkin karena hal itu tentu akan menyolok dan menarik perhatian. Akan tetapi menjadi dayangpun engkau tetap akan diganggu oleh para pangeran dan para pekerja pria di sana, dan engkau kurang dihormati karena setiap perajurit pengawalpun akan berani menggoda dan mengganggumu. Kalau menjadi selir seorang pangeran baru engkau akan terlindung. Eh, tadi Pangeran Souw Cun ingin mengambilmu sebagai dayangnya. Bagaimana kalau aku minta agar engkau dijadikan selirnya yang baru?"
Liong-li bergidik.
Ia akan dengan senang hati dan suka rela menyerahkan badannya kepada pria yang disukanya, dan ia sama sekali tidak suka kepada Pangeran Souw Cun walaupun pangeran itu cukup tampan.
Yang menarik hati pendekar wanita ini bukan sekedar ketampanan wajah saja.
Bahkan ia condong membenci kepada pangeran itu yang dianggapnya membayangkan kepalsuan dan kekejian.
"Ampun, Yang Mulia. Hamba...... hamba mengabdikan diri dengan kepandaian hamba bukan dengan tubuh hamba. Hamba...... tidak suka menjadi selir pangeran itu......"
Lalu disambungnya oepat.
"Hamba tidak akan menyerahkan diri kepada pria manapun yang tidak hamba sukai......"
Tadinya Liong-li merasa khawatir kalau-kalau permaisuri itu akan marah akan tetapi ternyata tidak. Permaisuri Bu Cek Thian tersenyum dan wajahnya nampak semakin cantik, lalu ia menoleh ke belakang.
"Bi Cu dan Bi Hwa, Siauw Cu ini seorang wanita gagah yang bijaksana. Jangan engkau khawatir, Siauw Cu. Kalau engkau tidak ingin tubuhmu dijamah pria yang tidak kausukai, biar kuselundupkan engkau sebagai selir seorang pangeran yang aku percaya, seorang pangeran yang baik sekali dan kalau engkau tidak menghendaki, aku yakin dia tidak akan suka menyentuhmu."
Liong-li hampir tidak percaya akan keterangan ini.
Mana mungkin di dunia ini ada seorang laki-laki, apa lagi kalau dia pangeran, yang tidak akan mau menyentuh seorang wanita yang telah menjadi selirnya, kalau wanita itu tidak mau menyerahkan diri dengan suka rela?
Sudah terlalu banyak ia mendengar akan nasib para wanita yang dipaksa menjadi dayang atau selir para bangsawan, kalau tidak diperkosa secara biadab, tentu ditundukkan dengan obat bius, dengan obat perangsang, atau dengan alat lain.
Namun, terhadap segala macam obat atau cara lain itu ia tidak takut.
Asal pangeran itu tidak memaksanya, ia mampu menjaga diri.
"Siapakah pangeran itu, Yang Mulia?"
"Dia Pangeran Souw Han, usianya baru duapuluh tahun dan berbeda dengan para pangeran lain, sampai sekarang dia belum mempunyai seorangpun selir. Bahkan beberapa orang gadis yang menjadi dayang dan pelayannya, belum pernah ada yang diganggunya. Dia seorang yang tekun mempelajari sastera dan seni dan tidak pernah mau memperebutkan kedudukan sehingga tidak seorangpun membencinya di istana ini. Nah, dengan menjadi selirnya, lain orang tidak akan berani mengganggumu dan engkau dapat dengan leluasa melakukan penyelidikan. Dan dia sendiripun tidak akan mengganggumu, Siauw Cu."
"Tapi, Yang Mulia. Kalau beliau tidak pernah mau mempunyai selir, bagaimana hamba dapat menjadi selirnya? Tentu beliau akan menolak."
"Hemm, kalau aku sendiri yang menghadiahi seorang selir kepadanya, bagaimana dia berani menolaknya? Dia amat sopan dan tahu aturan. Engkau akan menjadi selir pertamanya, akan tetapi aku yakin, kalau engkau tidak mau dijamahnya, dia terlalu angkuh untuk merendahkan diri memaksamu. Bagaimana?"
Liong-li tertarik sekali. Kalau memang ada seorang pangeran yang seperti itu, tentu ia akan aman dan akan mudah sekali melakukan penyelidikan.
"Akan tetapi, bagaimana kalau beliau curiga kepada hamba?"
"Tidak. Sudah kukatakan, Pangeran Souw Han tidak mau mencampuri urusan persaingan. Kalau kujelaskan kepadanya bahwa engkau kuselundupkan sebagai selirnya untuk menyelidiki Si Bayangan Iblis, tentu dia tidak akan menaruh curiga lagi kepadamu."
"Baiklah kalau begitu, Yang Mulia."
Hek-liong-li mengerling ke arah pemuda itu dan jantungnya berdebar penuh kagum.
Seorang pemuda yang masih muda sekali, usianya paling banyak duapuluh tahun, namun sikapnya demikian dewasa.
Begitu tenang, begitu wibawa, begitu sopan santun ketika dia menghadap Sang Permaisuri yang mengundangnya.
Pemuda itu begitu memasuki ruangan, langsung saja menghampiri sang permaisuri, tidak sedikitpun melirik kepadanya atau kepada Bi Cu dan Bi Hwa.
Dengan sikap hormat dia berlutut dengan sebelah kaki dan merangkap kedua tangan di depan dada.
"Semoga Thian selalu melindungi Ibunda dalam keadaan sehat dan bahagia selalu,"
Katanya.
Ucapannya juga lembut dan halus, dengan kata-kata yang indah.
Bukan main pemuda ini, pikir Liong-li.
Amat menarik, amat mengagumkan, akan tetapi juga membuat orang merasa canggung dan segan!
Dengan sudut kerling matanya, tidak berani terlalu menyolok, diam-diam Liong-li mempelajari pemuda yang kini sudah dipersilakan duduk di atas kursi berhadapan dengan Sang Permaisuri itu.
Pangeran Souw Han yang menghadap itu usianya kurang lebih duapuluh tahun, pakaiannya seperti pakaian pangeran, akan tetapi tidak terlalu mewah, bahkan mirip pakaian seorang sasterawan, hanya terbuat dari sutera halus dan topinya menunjukkan bahwa dia seorang pangeran.
Pakaian itu rapi dan bersih, akan tetapi tidak pesolek, bahkan sederhana.
Juga ketika dia memasuki ruangan itu, tidak tercium semerbak wangi seperti ketika Pangeran Souw Cun masuk tadi.
Nampaknya seperti seorang pemuda biasa, namun wajahnya dan pembawaannya sungguh membuat Liong-li kagum bukan main.
Sudah banyak ia berteman pria, akan tetapi belum pernah bertemu dengan seorang pria setampan ini, sehalus ini.
Seperti wanita berpakaian pria saja!
Hanya sepasang alis berbentuk golok yang hitam tebal itu saja yang menunjukkan dia seorang pria tulen, juga kalamanjing di lehernya.
Wajahnya berkulit demikian putih halus seperti dibedaki saja, dan kedua pipinya merah jambon seperti buah tomat, segar seperti pipi gadis remaja saja.
Hidungnya agak besar dan mancung, sepasang matanya lebar dan lembut, dan mulutnya?
Hampir Liong-li sukar mengalihkan pandang matanya dari mulut itu.
Bibir itu begitu merah seperti dipoles gincu.
Akan tetapi tidak, bibir itu memang merah karena segar dan sehat.
Ih, kau mata keranjang, Liong-li memaki diri sendiri dan iapun menundukkan pandang matanya yang tadi melekat di pipi dan bibir itu.
Ia bukan seorang yang gila sex, bukan budak nafsu berahi.
Ia hanya mau bermain cinta dengan pria yang benar-benar disukanya, bukan sembarang lelaki asal tampan saja!
Akan tetapi ketampanan pangeran muda ini sungguh membuat ia terpesona, bukan membangkitkan gairah, hanya membangkitkan kagum dan heran mengapa di dunia ada seorang pria yang demikian tampannya!
Seperti gambar saja!
"Anakku Pangeran Souw Han yang baik, sungguh engkau menyenangkan sekali hatiku.
Terima kasih, pangeran.
Dan engkau juga nampak sehat.
Bagaimana dengan pelajaranmu?
Aku mendengar engkau rajin sekali mempelajari sastera dan seni."
"Berkat doa Ibunda Permaisuri, hamba memperoleh kemajuan dan dapat menikmati ilmu yang hamba pelajari."
"Aihh, Souw Han. Lain kesempatan ingin sekali aku mendengarkan permainanmu yang-kim dan suling, juga ingin sekali mendengarkan engkau bersajak atau melukis. Akan tetapi sekarang, aku mengundangmu untuk suatu urusan yang penting sekali."
Wajah yang tadinya menunduk dan hanya memandang ke arah sepatu ibu tirinya itu, kini diangkat dan sepasang mata yang lembut itu menatap wajah sang permaisuri dengan penuh pertanyaan.
Belum pernah dia mempunyai urusan penting dengan Permaisuri atau dengan siapa saja.
Setiap hari dia hanya sibuk dengan urusan pelajaran sastera dan seni.
"Ada urusan yang penting apakah, Ibunda?"
"Anakku, Souw Han, katakan dulu. Maukah engkau menolong aku?"
"Paduka tentu mengetahui bahwa hamba akan selalu mentaati perintah paduka, dan tentu saja suka membantu paduka dengan segala kemampuan hamba, asal saja perintah paduka itu benar dan sudah sepatutnya dilakukan oleh hamba sebagai putera paduka, Ibunda."
Kembali Liong-li kagum.
Jawaban itu demikian tepat dan benar, akan tetapi juga halus sehingga tidak akan menyinggung.
Kalau permaisuri itu memiliki niat yang tidak patut, maka niat itu akan lenyap sebelum dinyatakan oleh jawaban itu.
"Tentu saja, anakku. Dengar baik-baik. Engkau tentu telah tahu akan kekacauan yang terjadi oleh ulah apa yang dinamakan Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis), bukan?"
Biarpun sikapnya tetap tenang, namua Liong-li melihat betapa pangeran itu terkejut mendengar disebutnya nama itu.
"Ibunda Permaisuri, hamba sudah mendengar akan tetapi hamba tidak mencampuri urusan itu yang seharusnya ditangani oleh para petugas keamanan."
"Memang benar, anakku. Akan tetapi sampai kini usaha para petugas keamanan itu belum juga berhasil dan engkau tentu tahu berapa banyaknya korban yang telah jatuh. Apakah tidak sudah sepantasnya kalau engkau sebagai seorang pangeran ikut pula membantu agar penjahat yang membuat kekacauan itu tertangkap?"
Pangeran itu memandang heran, sepasang matanya yang lebar itu terbelalak dan nampak indah.
"Ibunda Yang Mulia, bagaimana seorang seperti hamba dapat membantu penangkapan seorang penjahat yang demikian lihainya?"
"Engkau bisa, anakku. Bahkan justeru kepadamulah aku menggantungkan harapan akan berhasilnya usaha kami untuk membongkar rahasia si Bayangan Iblis itu. Kau lihat wanita ini!"
Sang Permaisuri menunjuk ke arah Liong-li yang masih duduk dengan kepala tunduk.
"Ia adalah dayangku yang kupercaya penuh bernama Siauw Cu. Ia seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi dan ialah yang kutugaskan untuk menyelidiki si Bayangan Iblis, bahkan menangkapnya. Akan tetapi hal itu tidak mungkin dapat ia lakukan kalau ia tidak diselundupkan ke dalam istana induk, dibagian putera......"
"Ehhh? Jadi menurut Ibunda...... Si Bayangan Iblis itu berada di dalam istana?"
Sang Pangeran benar-benar terkejut sekarang.
"Itu baru dugaan kami, anakku. Oleh karena itu untuk menyelidiki benar tidaknya dugaan itu, kami ingin menyelundupkan Siauw Cu ini ke sana. Dengan demikian, ia akan dapat melakukan penyelidikan dengan leluasa."
"Lalu apa hubungannya dengan bantuan hamba, Ibunda?"
"Agar jangan menimbulkan kecurigaan komplotan si Bayangan Iblis, ia akan kuselundupkan ke sana sebagai selirmu, Pangeran!"
"Ahh......!"
Wajah yang berkulit putih kemerahan itu kini menjadi merah sekali dan pangeran itu menoleh kepada Liong-li.
Sejenak pandang mata mereka bertemu, akan tetapi melihat betapa pangeran itu menjadi merah mukanya seperti seorang perawan dilamar, Liong-li menjadi tidak tega dan iapun cepat menunduk.
"Bagaimana mungkin, Ibunda? Paduka mengerti bahwa hamba.... hamba tidak mempunyai selir dan belum ingin punya selir.....! Kenapa tidak Ibunda berikan saja kepada para kakak pangeran lain yang mempunyai banyak selir?"
Permaisuri Bu Cek Thian menggeleng kepala.
"Aku tidak percaya kepada siapapun lagi di sana kecuali Sribaginda Kaisar dan engkau, anakku. Kalau kuberikan kepada puteraku, Pangeran Tiong Cung, akan lebih mencurigakan lagi. Hanya engkaulah satu-satunya orang dapat kupercaya, Pangeran. Demi ketenteraman istana, bahkan kota raja dan negara, bantulah kami. Terimalah Siauw Cu sebagai selirmu."
"Tapi...... tapi..... ah, Ibunda. Bukan hamba tidak ingin membantu. Akan tetapi....... selir? Bagaimana kalau ia hamba terima sebagai dayang saja? Seorang dayang baru? Hamba sudah mempunyai lima orang gadis dayang, kalau ditambah seorang lagi tentu tidak mencurigakan."
"Akan tetapi kalau menjadi dayangmu, Siauw Cu harus tidur bersama para dayang lainnya dan hal ini membuat ia tidak leluasa melakukan penyelidikan, anakku. Kalau sebagai selirmu, tentu boleh tinggal di kamarmu, dan malamnya ia dapat melakukan penyelidikan tanpa dicurigai orang lain."
"Tapi...... tapi.... Ibunda......."
"Dengar dulu, Souw Han anakku. Aku sudah mendengar bahwa engkau tekun mempelajari sastra dan seni, dan mendengar bahwa engkau sampai sekarang belum pernah dan belum suka bergaul dengan wanita sehingga belum mempunyai seorangpun selir. Akan tetapi, jangan engkau mengira bahwa Siauw Cu akan menjadi selirmu yang sungguh-sungguh! "Kalau begitu, iapun tidak akan mau. Kalau ia mau menjadi selir sungguh-sungguh, tentu persoalannya lebih mudah dan ia sudah kuselundupkan menjadi selir Pangeran Souw Cun yang menginginkannya. Akan tetapi ketahuilah, anakku, Siauw Cu ini adalah seorang pendekar wanita.
"Ia bertugas menyelidiki dan menangkap Si Bayangan Iblis dan iapun hanya mau diselundupkan sebagai selir asal tidak diganggu pria manapun. Jadi, kalau menjadi selirmu sudah cocok. Engkau tidak ingin menjamahnya, dan iapun tidak ingin disentuh pria. Engkau hanya mengakuinya saja sebagai selir, menyembunyikannya di kamarmu dan malamnya engkau biarkan ia melakukan penyelidikan. Nah, tepat, bukan?"
Kini pandang mata pangeran itu mengamati Liong-li dengan penuh perhatian dan agaknya dia tertarik sekali.
Belum pernah selamanya dia mendengar ada seorang wanita yang tidak mau dijamah pria, apa lagi pangeran!
Dan di samping keheranannya, diapun kagum.
"Kalau begitu, tentu saja hamba tidak berkeberatan, ibunda Permaisuri. Walaupun tentu hamba akan digoda setengah mati oleh para pangeran lainnya."
Kemudian ditambahkannya sambil mengerling ke arah Liong-li.
"Dan asal saja ia tidak menganggu pelajaran hamba!"
Liong-li menahan senyumnya, mengangkat muka memandang pangeran itu dan berkata.
"Harap paduka tenangkan hati, Pangeran. Hamba berjanji tidak akan mengusik atau mengganggu paduka sedetikpun!"
Kembali dua pasang mata bertemu dan agaknya pangeran itu bergidik ketika melihat sepasang mata yang demikian indah dan jelitanya, juga yang mempunyai sinar mencorong, seperti mata harimau di malam hari!
"Nah, sekarang juga bawalah Siauw Cu bersamamu Pangeran.
Dan agar tidak menimbulkan kecurigaan, Siauw Cu harus berdandan lebih dulu seperti layaknya seorang gadis yang baru saja diboyong oleh seorang pangeran, dan biar diantar oleh enam orang dayang pribadiku sehingga orang-orang akan tahu bahwa selir yang kau bawa merupakan hadiahku untukmu."
Liong-li diajak masuk ke dalam kamar oleh seorang dayang yang dipanggil masuk dan ketika wanita ini merias dirinya di depan cermin, jantungnya berdebar tegang.
Ia akan hidup sekamar dengan seorang pemuda yang demikian tampannya!
Hemm, tentu membutuhkan pengerahan tenaga batin yang kuat agar jangan sampai tergugah gairah kewanitaannya.
Kalau pangeran ini bersikap lain, misalnya seperti Pangeran Souw Cun yang mata keranjang itu, tentu ia tidak perlu khawatir akan perasaan hatinya sendiri karena ia yakin bahwa sikap seorang pria seperti itu, yang mata keranjang dan kurang ajar, tentu tidak mungkin akan mampu menimbulkan gairahnya.
Akan tetapi Pangeran Souw Han ini, hemmmm......
jantungnya berdebar tegang juga dan ia harus berhati-hati sekali menjaga dirinya sendiri.
Setelah Liong-li menyisir rambutnya, mengenakan pakaian yang lebih indah dari pada pakaian pelayan ketika ia menyamar Akim, lalu mengenakan bedak tipis dan membasahi kedua bibirnya dengan lidah, dayang yang tadi mengantarnya berias, memandang kagum.
"Nona...... sungguh cantik jelita......"
Kata dayang itu.
Liong-li tersenyum memandang kepada dayang itu, seorang gadis yang usianya paling banyak delapanbelas tahun dan berwajah manis sekali.
Kalau berada di sebuah dusun, tentu gadis ini dapat menjadi kembang dusun yang menjadi rebutan semua pemuda.
Akan tetapi di sini, di dalam istana ini, ia hanya seorang dayang, seperti benda hiasan, seperti setangkai bunga yang sudah dipetik dan ditaruh di dalam gedung indah, entah bagaimana nasibnya kelak.
Kalau ia bernasib baik, ia akan dipilih menjadi selir seorang pangeran.
Kalau tidak, ia hanya akan menjadi dayang sampai akhirnya ia dipaksa melayani seorang pangeran atau diberikan kepada seorang ponggawa, seperti setangkai bunga yang dibuang begitu saja setelah dipetik, diremas dan menjadi layu.
"Engkau juga cantik, mudah-mudahan engkau akan mampu menjaga kecantikanmu itu,"
Kata Liong-li dan iapun bangkit setelah selesai berdandan.
Ia lalu diantar oleh dayang itu kembali ke dalam ruangan tadi di mana permaisuri dan Pangeran Souw Han masih menantinya.
Permaisuri Bu Cek Thian mengangkat mukanya dan jelas sekali nampak kekaguman pada matanya ketika ia melihat Liong-li yang kini berdandan sebagai seorang selir, dengan pakaian yang lebih mewah dan lebih indah dibandingkan pakaian seorang dayang.
"Siauw Cu, sungguh...... sudah kuduga....., engkau cantik jelita sekali! Mata Pangeran Souw Cun sungguh tajam bukan main, sekali lihat saja dia sudah tahu bahwa engkau seorang wanita yang memiliki kecantikan luar biasa!"
Akan tetapi, Liong-li melihat betapa Pangeran Souw Han hanya memandang kepadanya sepintas lalu saja, seolah-olah ia hanya sebuah benda biasa saja yang tidak ada bedanya dibandingkan sebuah meja atau sebuah kursi.
Dan di lubuk hatinya, ia merasa penasaran dan kecewa!
Baru sekarang ia merasakan kekecewaan dan penasaran seperti ini.
Kecewa karena tidak dihiraukan oleh seorang pria!
Pada hal biasanya, kalau ia terlalu diperhatikan pria, ia malah marah.
"Ibunda Permaisuri, hamba hanya mentaati perintah paduka ibunda, hanya untuk memberi tempat persembunyian kepada nona.... eh, Siauw Cu ini. Akan tetapi, hamba hanya dapat memberi waktu seminggu saja. Kalau sudah seminggu, hamba harap paduka mengambilnya kembali agar hamba tidak terlalu terganggu."
Gemas juga perasaan hati Liong-li mendengar ucapan yang walaupun halus namun jelas menyatakan betapa pangeran itu merasa terganggu dan sebenarnya tidak suka kalau harus mengambilnya sebagai selir, walaupun hanya sebutannya saja demikian.
"Yang Mulia, hamba hanya minta waktu lima hari saja. Kalau selama lima hari hamba belum berhasil menemukan atau membongkar rahasia Si Bayangan Iblis, hamba akan keluar saja dari istana ini!"
Katanya kepada Sang Permaisuri, akan tetapi matanya mengerling ke arah pangeran muda itu. Akan tetapi, sang Pangeran itu agaknya malah menyambut pernyataan Liong-li itu dengan gembira.
"Bagus kalau begitu, lebih cepat lebih baik bagiku! Mari kita pergi. Ibunda, sudah siapkah para dayang yang akan menjadi pengikut?"
"Sudah,"
Kata Sang Permaisuri karena memang di situ kini sudah berlutut enam orang gadis dayang, yang akan menjadi "pengantar"
Liong-li yang diangkat menjadi selir Pangeran Souw Han!
Dua orang perajurit thai-kam yang gendut dan kuat dipanggil.
Mereka datang membawa sebuah joli karena seperti sudah menjadi kebiasaan, seorang selir adalah seorang wanita yang mendapat kehormatan, maka sudah berhak diangkut dengan sebuah joli.
Berangkatlah rombongan itu, sang pangeran di depan dengan langkahnya yang halus, di belakangnya joli yang ditumpangi Liong-li digotong dua orang thai-kam, dan di belakangnya berjalan enam orang dayang permaisuri dalam barisan dua-dua yang rapi.
Semua penjaga dan perajurit pengawal mengenal Pangeran Souw Han, dan tahu pula bahwa enam orang dayang itu adalah dayang-dayang permaisuri, maka tidak ada seorangpun yang berani menghalangi atau bertanya ketika rombongan ini lewat, dari bagian puteri memasuki istana induk.
Dan sebentar saja tersiarlah berita di dalam istana bahwa pangeran Souw Han telah dihadiahi seorang selir oleh Permaisuri.
Berita ini mendatangkan perasaan gembira kepada semua orang, di samping keheranan dan peristiwa ini tentu saja menjadi bahan pergunjingan karena selama ini mereka mengenal Pangeran Souw Han sebagai seorang pemuda yang sama sekali tidak mau berdekatan dengan wanita!
Tentu saja timbul keinginan tahu dari mereka untuk melihat seperti apa gerangan wanita yang terpilih menjadi selir pangeran yang disuka ini.
Akan tetapi, selir itu jarang sekali keluar dari dalam kamar.
Hanya beberapa orang dayang saja yang pernah melihatnya dan dari mulut merekalah tersiar berita, bahwa selir Pangeran Souw Han adalah seorang wanita yang cantik jelita seperti bidadari!
Ketika enam orang dayang permaisuri yang mengantar Liong-li kembali ke istana bagian puteri, dan Liong-li sudah berada di dalam kamar Pangeran Souw Han, diperkenalkan kepada beberapa orang dayang pangeran itu, Liong-li merasa canggung juga.
Ia bukanlah seorang perawan dusun yang pemalu.
Ia seorang pendekar wanita yang sudah menjelajah dunia kang-ouw, sudah banyak pengalaman.
Namun, kini diperkenalkan oleh "suaminya"
Yang lemah lembut itu kepada beberapa orang dayang, ia merasa canggung bukan main.
Dan ia melihat betapa beberapa orang dayang pelayan pangeran itu tidak ada yang cantik seperti dayang permaisuri, hanya wanita biasa saja namun cekatan dan sopan.
Tahulah ia bahwa memang sang pangeran ini tidak suka diganggu wanita cantik!
Ia merasa semakin penasaran, merasa seperti ditantang kecantikannya sebagai wanita.
Selamanya belum pernah ada secuwilpun ingatan dalam benaknya untuk memikat atau merayu pria.
Dalam hal ini ia tinggi hati.
Akan tetapi, keadaan Pangeran Souw Han sungguh membuat ia merasa rendah diri.
Kalau saja ia tidak ingat bahwa ia sedang menghadapi tugas penting yang berat, ingin rasanya ia menyambut keadaan yang dianggapnya sebagai tantangan terhadap kewanitaannya itu.
Ingin rasanya ia menjatuhkan hati pangeran yang tinggi hati terhadap wanita itu agar pangeran itu tahu bahwa ia adalah seorang wanita sejati, seorang wanita cantik jelita yang membuat banyak pria terpesona, dan agar pangeran itu tidak memandangnya sebagai sebuah kursi atau meja saja!
Setelah Pangeran Souw Han memerintahkan semua dayangnya untuk keluar dari kamar, kini mereka hanya berdua saja di dalam kamar itu.
Liong-li duduk di atas sebuah kursi, setelah tadi ia pindah dari tepi pembaringan.
di mana ia disuruh duduk ketika pertama kali dibawa masuk kamar dan segera pindah ke kursi begitu para dayang keluar, sedangkan Pangeran Souw Han kini nampak berjalan-jalan hilir mudik, nampaknya bingung dam gelisah.
Dengan sudut matanya yang mengerling Liong-li mengikuti gerakan pemuda bangsawan itu dan hatinya merasa geli sekali, juga kasihan.
Ia dapat membayangkan betapa kehadirannya di dalam kamar pangeran itu membuat dia menjadi salah tingkah, bingung dan agaknya tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Pangeran,"
Ia memanggil lirih.
Hanya lirih saja namun agaknya mengejutkan pemuda itu karena dia tiba-tiba menghentikan langkahnya, membalik dan memandang kepadanya.
Tidak menjawab, hanya memandang dengan penuh selidik.
Mulutnya yang indah itu, dengan bibirnya yang merah segar, nampak agak cemberut, membuat Liong-li menjadi semakin geli.
"Pangeran, saya...... saya tidak ingin mengganggu paduka. Biarlah saya mengundurkan diri, di manakah saya harus tinggal? Di mana kamar saya?"
"Di mana lagi?"
Pangeran itu berkata, bukan menjawab melainkan bertanya, dan mulutnya makin meruncing cemberutnya.
"Aku tidak seperti para pangeran lain yang mempunyai banyak kamar! Kamarku hanya sebuah ini, kubikin cukup luas. Ini kamar tidurku, kamar kerjaku, kamar belajarku, kamar makan, kamar bersantai. Di sebelah itu kamar para dayang. Di mana lagi kau dapat tinggal?"
Pangeran itu menghela napas panjang, lalu menjatuhkan diri duduk di atas sebuah kursi.
Mereka duduk berhadapan, dalam jarak lima meter, saling pandang.
Liong-li tersenyum simpul, Pangeran Souw Han cemberut.
Liong-li mengerling ke kanan kiri.
Kamar itu memang luas, seperti empat buah kamar dijadikan satu, dan karena ruangan yang luas itu maka hawanya sejuk dan menyenangkan.
Hanya ada sebuah tempat tidur di situ, yang didudukinya tadi.
Tempat tidur yang bersih dan cukup lebar, cukup untuk empat orang dan longgar sekali kalau hanya untuk dua orang!
Ada meja kursi makan, meja kursi duduk, almari penuh buku, almari pakaian, pot-pot kembang, lukisan dan sajak-sajak dengan tulisan indah bergantungan.
Lantainya bertilam permadani tebal.
Sebuah kamar yang enak ditinggali!
Apa lagi berdua dengan seorang pangeran seperti itu.
Sayang muka yang tampan itu kini muram dan mulut yang indah itu cemberut.
"Tempat tidurnya....... hanya sebuah......?"
Ia bertanya, hanya untuk memancing percakapan karena tanpa bertanyapun sudah jelas bahwa di situ hanya ada sebuah tempat tidur. Pangeran itu mengangguk.
"Tentu saja hanya sebuah! Hanya aku sendiri yang tidur di kamar ini, sejak aku, remaja!"
"Kalau begitu, biarlah saya tidur bersama para dayang di kamar sebelah saja, Pange-ran."
"Itu baik sekali!"
Pangeran Souw Han berseru gembira sambil bangkit berdiri, akan tetapi, segera sepasang alis yang tebal hitam itu berkerut dan dia jatuh terduduk kembali.
"Tidak mungkin! Ibunda Permaisuri tentu akan marah kepadaku. Bagaimana mungkin seorang....... selir tidur di kamar dayang? Tentu akan dibicarakan orang dan menimbulkan kecurigaan, dan orang-orang akan tahu bahwa engkau hanya pura-pura saja menjadi selirku. Semua rahasia akan terbuka dan Ibunda akan marah kepadaku!"
"Kalau begitu, jangan khawatir, Pangeran. Biarlah kalau siang hari saya bersembunyi di sini. Dapat kulakukan pekerjaan membersihkan semua perabot di kamar ini, mengaturnya sehingga rapi. Kalau malam, diam-diam saya akan menyelinap keluar dan melakukan penyelidikan......."
"Tapi tentu tidak semalam suntuk. Kalau engkau malam-malam kembali ke kamar ini......."
"Tidak perlu paduka bingung. Saya dapat tidur di sudut sana itu, di atas lantai yang sudah ditilami permadani dan saya tidak akan mengganggu paduka. Paduka tidurlah seperti biasa di atas pembaringan paduka dan......"
Tiba-tiba pangeran itu bangklt berdiri dan memandang kepada Liong-li dengan mata bersinar dan alis berkerut.
"Siauw Cu! Kaukira aku ini orang apa?"
Liong-li terbelalak.
"Paduka? Paduka seorang pangeran yang terhormat......"
"Lebih dari itu, aku seorang laki-laki! Seorang laki-laki sejati, tahu engkau?"
Liong-li memandang heran, terkejut dan menelan ludah sambil mengangguk, tidak berani membuka mulut karena khawatir salah bicara.
"Dan kaukira seorang laki-laki sejati begitu tak tahu malu enak-enak tidur di atas pembaringan dan membiarkan seorang wanita menggeletak di atas lantai begitu saja? Huh! Kau kira aku seorang laki-laki yang tidak tahu tata susila, tidak tahu menghargai kaum wanita yang lemah?"
Sepasang mata yang jeli dan indah itu semakin terbelalak, akan tetapi bukan hanya karena kaget dan heran, melainkan kini penuh kagum.
Bukan main pangeran ini!
Sungguh jauh melampaui segala kekagumannya!
"Lalu......
lalu....
bagaimana maksud paduka?
Saya.....
hamba...
hanya menurut saja....."
"Kalau engkau ingin tidur, siang ataupun malam, engkau tidur di atas pembaringan ini, tidak boleh di atas lantai! Mengerti?"
Pangeran itu berkata, suaranya masih lembut akan tetapi mengandung perintah yang tidak mau dibantah.
Liong-li mengangguk dan jantungnya berdebar aneh.
Kiranya pangeran ini tidaklah seaneh yang ia sangka, kiranya masih sama saja dengan pemuda lainnya, menghendaki ia tidur bersamanya!
"Aku yang akan tidur di atas lantai!"
Buyarlah semua renungan Liong-li dan ia terkejut lagi, memandang aneh.
"Tapi...... tapi.... bagaimana mungkin hamba tidur di atas pembaringan sedangkan paduka, seorang pangeran...... tidur di lantai.....?"
Liong-li benar-benar terkejut.
"Aku sudah biasa. Seringkali kalau membaca kitab ketiduran di lantai. Kalau hawa udara panas akupun tidur di lantai. Mengapa? Engkau wanita, sudah sepatutnya mendapat tempat terbaik."
Liong-li menjadi bengong.
Kalau saja ia seorang wanita cengeng tentu ingin ia menangis saat itu.
Akan tetapi, ia tidak menangis, hanya mengamati wajah itu dan lupa bahwa ia berhadapan dengan seorang putera kaisar ia berkata.
"Pangeran, paduka....... paduka adalah seorang jantan, seorang laki-laki yang...... hebat!"
Wajah yang berkulit putih halus itu menjadi kemerahan.
"Hushh, jangan coba merayuku! Engkau duduk yang baik dan mari kita bicara. Engkau harus berterus terang karena aku harus mengenal benar siapa wanita yang tidur di kamarku. Siapa namamu?"
Liong-li tersenyum.
Kini ia mengenal watak pangeran ini.
Seorang pangeran yang berwatak halus, bukan saja halus budi bahasanya, juga wataknya amat baik, dan kiranya di antara seribu orang pangeran belum tentu dapat menemukan seorang yang seperti ini!
Ia sudah percaya seribu persen kepada Souw Han.
"Nama saya? Siauw Cu........"
Ia masih mencoba.
"Huh, kaukira aku bisa dibohongi begitu saja? Namamu Siauw Cu adalah nama yang diperkenalkan Ibunda Permaisuri kepadaku. Sebenarnya, tentu engkau seorang gadis perkasa yang berilmu tinggi, kalau tidak demikian, tak mungkin engkau disuruh menangkap Si Bayangan Iblis. Hayo katakan, siapa namamu dan dari mana engkau datang?"
Bukan main, pikir Liong-li, pangeran ini sungguh memiliki banyak segi yang mengagumkan. Sudah bertumpuk semua hal yang mengagumkan hatinya, ditambah memiliki kecerdikan lagi.
"Baiklah, Pangeran. Saya mengaku kalah. Nama saya Lie Kim Cu dan saya tinggal di kota Lok-yang."
Kini pangeran itu bangkit berdiri, menghampirinya dan mengamati wajah dan tubuh Liong-li dengan penuh perhatian.
Sepasang mata yang bersinar tajam namun lembut dan tidak mengandung kecabulan atau kekurangajaran sama sekali.
"Hemm, kiranya engkau inilah yang berjuluk Hek-liong-li?"
Liong-li semakin kagum dan iapun bangkit dan memberi hormat dengan membungkuk.
"Paduka memang hebat, Pangeran. Benar, sayalah yang disebut Hek-liong-li. Akan tetapi, bagaimana paduka dapat menerkanya? Kalau paduka mempelajari ilmu silat, bergaul dengan para ahli silat, hal itu tidak mengherankan. Akan tetapi menurut yang saya dengar dari Yang Mulia Permaisuri, paduka hanya suka mempelajari sastera dan seni."
Pangeran itu tersenyum dan Liong-li merasa hatinya seperti ditarik-tarik.
Belum pernah ia melihat senyum sedemikian manisnya dari seorang pria!
"Aku juga banyak mendengarkan berita yang menarik dari luar istana, li-hiap (pendekar wanita)."
"Ihhh......! Pangeran, harap jangan menyebut saya li-hiap. Apa lagi kalau sampai terdengar orang. Ingat, nama saya Siauw Cu!"
"Hemm, tidak enak rasanya menyebutmu Siauw Cu. Biarlah kusebut Enci Cu saja. Engkau tentu lebih tua dariku."
"Tentu saja, Pangeran. Usia saya sudah duapuluh lima tahun."
"Ah, sukar dipercaya. Kukira tadinya hanya lebih tua satu-dua tahun dari aku. Aku sudah duapuluh tahun."
Bukan main, pikir Liong-li.
Sudah duapuluh tahun dan agaknya belum pernah bergaul dengan wanita!
Masih perjaka tulen!
"Pangeran, saya bukan sekedar memuji.
Biarpun paduka baru duapuluh tahun, akan tetapi paduka telah memiliki kebijaksanaan yang dewasa, bahkan paduka lebih dewasa dari pada Pangeran Souw Cun yang pernah saya lihat tadi di ruangan Yang Mulia Permaisuri."
"Kakanda Souw Cun? Ahh! Engkau harus berhati-hati terhadap pangeran yang satu itu, Cu cici!"
Diam-diam Liong-li girang sekali mendengar sebutan Cu cici (kakak Cu) ini, sebutan yang amat akrab dari seorang pangeran! "Dia kenapakah, Pangeran?"
Pangeran Souw Han menarik napas panjang, lalu duduk di depan Liong-li. Kini mereka duduk berhadapan dekat, hanya dalam jarak dua meter saja.
"Sebenarnya, tidak pantas bagiku, seorang pangeran, untuk membicarakan keburukan keadaan keluargaku sendiri. Akan tetapi mengingat akan terjadinya kekacauan dan mengingat pula bahwa engkau diangkat oleh Ibunda Permaisuri untuk menangkap pengacau, biarlah aku ceritakan semua keadaan di istana ini. Katakanlah dulu, Enci Cu, tugasmu ini untuk menyelidiki dan menangkap Si Bayangan Iblis, ataukah untuk menyelidiki perang dingin antar anggauta keluarga kerajaan?"
"Eh? Apa hubungannya Si Bayangan Iblis dengan keluarga kerajaan, Pangeran?"
"Kukira hubungannya erat sekali, enci. Ketahuilah, jauh hari sebelum muncul tokoh rahasia yang dikenal dengan julukan Si Bayangan Iblis itu, di dalam istana telah terjadi semacam perang dingin."
"Perang Dingin?"
Tanya Liong-li heran.
"Maksud paduka......"
"Semacam permusuhan terselubung, permusuhan dan kebencian karena persaingan yang tidak dilakukan secara terbuka atau terang-terangan. Orang-orang saling membenci, ingin saling menjatuhkan, memperebutkan kedudukan dan memperebutkan perhatian ayahanda Sribaginda Kaisar. Aku jemu dengaa semua itu, enci. Maka aku tidak perduli akan semua urusan istana, aku lebih menenggelamkan diriku ke dalam sastera dan seni."
"Maukah paduka memberi penjelasan yang lebih terperinci? Siapa yang bermusuhan? Dan di pihak mana kiranya Si Bayangan Iblis itu berdiri? Barangkali paduka tahu pula siapa kiranya tokoh itu? Sungguh saya mengharapkan bantuan paduka dalam hal ini, Pangeran."
"Nanti dulu!"
Kata pangeran itu dan kini pandang matanya penuh selidik.
"Engkau memang didatangkan oleh Ibunda Permaisuri dan dibayar untuk menangkapnya, untuk bekerja demi kepentingan Ibunda Permaisuri?"
Liong-li menggeleng kepala.
"Tidak, Pangeran. Terus terang saja, saya dimintai bantuan oleh Perwira Cian Hui, dan saya diselundupkan ke dalam istana, akan tetapi Yang Mulia Permaisuri mengetahui rahasia saya."
Ia lalu menceritakan semua yang terjadi, kemudian menyambung.
"Saya tidak berpihak kepada siapapun yang bermusuhan di istana ini. Saya hanya ingin menangkap pengacau dan membantu agar istana dan kota raja menjadi tenteram, tidak lagi terganggu oleh penjahat yang melakukan pengacauan dengan pembunuhan-pembunuhan gelap."
"Bagus! Kalau begitu, aku mau memberitahu kepadamu segala yang kuketahui. Pertama-tama Ibunda Permaisuri sendiri. Beliaulah yang sesungguhnya merupakan pengacau besar di istana!"
"Ehhh......??"
Liong-li terkejut dan terbelalak. Pangeran itu menarik napas panjang.
"Aku merasa diriku sebagai seorang pengkhianat tak tahu malu, cici. Akan tetapi entah mengapa kepadamu aku tidak ingin menyimpan rahasia, karena aku percaya bahwa engkaulah agaknya orangnya yang akan mampu mendatangkan ketenteraman di keluarga kami.
"Ibunda Permaisuri adalah seorang yang memiliki ambisi besar sekali. Jelas bahwa ia kini telah menguasai seluruh kekuasaan di kerajaan. Ayahku...... semoga Thian mengampuninya, ayahku seperti...... boneka saja di tangan Ibunda Permaisuri.
"Memang harus kuakui bahwa beliau amat pandai, akan tetapi...... kadang-kadang beliau dapat bersikap tegas dan bahkan kejam terhadap siapa saja yang dianggap menjadi penghalang ambisinya. Beliau juga mempunyai pasukan pengawal khusus, mempunyai jagoan-jagoan........"
"Saya tahu bahwa Bi Cu dan Bi Hwa, gadis kembar yang menjadi pengawal pribadi beliau itu, adalah dua orang wanita yang lihai."
"Mereka hanya dua di antaranya. Masih banyak lagi dan siapa saja yang dianggap berbahaya oleh Ibunda Permaisuri, jangan harap dapat hidup! Selain itu...... ah, bagaimana, ya? Rasanya aku membongkar rahasia busuk di dalam keluarga sendiri."
Liong-li adalah seorang wanita yang cerdik bukan main.
Ketika Pangeran Souw Can muncul pagi itu, ia sudah menduga bahwa ada rahasia busuk pada diri permaisuri yang agaknya diketahui bahkan disindirkan oleh pangeran itu.
Kini, Pangeran Souw Han juga membayangkan adanya rahasia busuk dan pangeran ini merasa ragu untuk menceritakan kepadanya.
Memang bukan urusannya, akan tetapi siapa tahu bahwa hal itu ada sangkut pautnya dengan si Bayangan Iblis.
Kalau mungkin, ia ingin mengetahui semua rahasia agar memudahkan ia melakukan penyelidikan terhadap Si Bayangan Iblis.
"Pangeran, kalau memang paduka merasa keberatan, lebih baik jangan diceritakan kepada saya. Apakah itu menyangkut penyelundupan pemuda tampan yang secara diam-diam diselundupkan ke istana bagian puteri?"
Pangeran itu membelalakkan matanya.
"Kau...... kau....... sudah tahu?"
Liong-li tersenyum.
"Saya hanya menduga saja, Pangeran."
Pangeran Souw Han menghela napas.
"Sudahlah, engkau sudah tahu. Memang itulah kelemahan Ibunda Permaisuri. Beliau...... ah, bagaimana, ya..... sungguh memalukan. Beliau suka kepada pemuda pemuda tampan. Akan tetapi sudahlah, itu urusan pribadinya, kita tidak perlu membicarakan hal itu. Hanya ia amat berambisi dan akan menempuh cara apapun saja untuk melenyapkan mereka yang dianggap menentang kekuasaannya."
"Tapi, Pangeran. Dari Cian Ciang-kun saya mendengar bahwa korban pembunuhan rahasia yang dilakukan Si Bayangan Iblis terdapat pula orang-orang yang dekat dengan Sribaginda Kaisar, dekat dengan Yang Mulia Permaisuri. Bahkan ada pula korban yang menentang beliau...... sungguh membingungkan."
"Itulah! Tadinya, ketika jatuh korban mereka yang menentang Ibunda Permaisuri, aku sendiri mencurigai Ibunda Permaisuri. Akan tetapi setelah jatuh korban lain yang dekat dengan beliau, aku menjadi bingung dan ragu. Memang sungguh aneh dan memang sebaiknya kalau engkau dapat membongkar rahasia ini, Enci Cu."
"Apakah selain Yang Mulia Permaisuri masih ada lagi orang lain yang kiranya patut dicurigai?"
"Aih, banyak permusuhan di sini. Di antara para pangeran juga banyak yang bersaingan memperebutkan perhatian ayahanda Kaisar. Aku muak sekali, dan aku tidak sudi! Aku tidak membutuhkan kedudukan!"
"Bagaimana dengan pangeran Souw Cun?"
"Dia? Ah, diapun agaknya tidak perduli akan kedudukan dan kekuasaan. Baginya, asal dia dapat hidup senang, berfoya-foya, mengumpulkan selir sebanyaknya, berganti-ganti selir, berpesta setiap hari. Dia seorang yang genit, mana dia mampu memikirkan urusan negara?"
"Tapi, bukankah dia seorang pangeran yang pandai ilmu silat?"
"Kakanda Souw Cun? Aha, dia hanya suka pelesir, mana mampu ilmu silat? Setahuku, dia tidak pernah berlatih atau belajar ilmu silat."
Diam-diam Liong-li merasa heran.
Ketika pangeran itu memegang dagunya, ia merasakan benar adanya kekuatan yang terkandung dalam jari-jari tangan itu!
"Kalau begitu, dia lebih suka mempelajari sastera seperti paduka?"
"Huh, Dia hanya belajar asal bisa baca huruf saja! Gurunya pun kulihat brengsek! Sasterawan macam apa itu yang disebut, Bouw Sianseng? Mungkin baru dapat menulis beberapa ribu macam huruf saja, lagaknya seperti seorang mahaguru, akan tetapi tata susilanya demikian kasar. Tidak enci Cu kurasa Pangeran Souw Cun boleh kau lewatkan dari perhatianmu. Dia memang menjemukan, akan tetapi penyakitnya, hanyalah mata keranjang dan berfoya-foya saja. Sukar menghubungkan dia dengan urusan Si Bayangan Iblis."
"Kalau dia tidak dapat dicurigai, lalu siapakah kiranya yang patut saya selidiki, Pangeran?"
Pangeran itu menarik napas panjang dan menggeleng kepalanya.
"Keluarga kami berada dalam kemelut, enci Cu. Terlalu ruwet, juga sukar untuk menduga siapa sebetulnya Si Bayangan Iblis. Aku sendiri sudah tidak perduli. Biarkan mereka bersaing, saling memperebutkan kekuasaan dan kedudukan, aku tidak butuh! Ah, benar, engkau bertugas menyelidiki hal itu. Aku tidak dapat menduga siapa penjahat itu, akan tetapi biarlah kuceritakan kepadamu semua keadaan keluarga kami dengan semua rahasianya yang kotor."
Dengan perlahan dan sikap masih tenang sekali, Pangeran Souw Han lalu menceritakan keadaan keluarga ayahnya, yaitu Kaisar Tang Kao Cung yang mempunyai banyak selir disamping permaisurinya, yaitu Permaisuri Bu Cek Thian.
Banyak hal-hal yang tadinya amat rahasia, oleh pangeran itu diceritakan kepada Liong-li, rahasia yang amat mengejutkan hati pendekar wanita itu.
Kiranya keadaan keluarga kerajaan itu sungguh dipenuhi dengan persaingan yang kotor, kebencian dan iri hati.
Bahkan ada fitnah memfitnah, bunuh membunuh dengan menggunakan pembunuh bayaran.
Banyak pula gadis-gadis yang menjadi korban kejalangan nafsu para pangeran yang tidak menghendaki keturunan dari para dayang dan selir sehingga kalau ada selir atau dayang yang mengandung, maka wanita itu akan lenyap tanpa ketahuan jejaknya!
Dari Pangeran Souw Han pula ia tahu bahwa Sang Permaisuri mempunyai dua orang putera.
Yang seorang adalah Pangeran Mahkota Tiong Cung dan yang kedua adalah Pangeran Li Tan yang masih kecil.
Secara halus Pangeran Souw Han menyindirkan keraguannya bahwa Pangeran Li Tan adalah putera ayahnya.
Karena sudah lama sekali ayahnya jarang bermalam di kamar permaisuri.
Juga dia mencela sikap para pangeran yang kebanyakan memiliki watak yang amat buruk, menjadi hamba nafsu yang kerjanya setiap hari hanya mengejar kesenangan.
"Biarpun dengan perasaan malu, terpaksa aku harus mengakui bahwa saudara-saudaraku itu sebagian banyak hanyalah manusia-manusia yang tiada gunanya!"
"Aih, mengapa paduka demikian pahit, Pangeran? Banyak rakyat yang menghormati keluarga Sribaginda Kaisar, sebagai para bangsawan agung, dan banyak pula yang bermurah hati memberi derma kepada kuil-kuil, kepada para miskin dalam jumlah besar."
Liong-li sengaja memancing dengan memuji atau menyatakan kebalikan dari apa yang diceritakan pangeran itu. Akan tetapi ucapan ini bahkan membuat Pangeran Souw Han nampak penasaran.
"Palsu! Semua itu palsu! Keagungan, kemuliaan dan kehormatan dapat dibeli! Kau bilang sokongan dan dermaan itu tanda murah hati? Hemmm, enci Cu. Kalau engkau memiliki satu juta lalu kaudermakan yang seribu, apakah artinya itu? Murah hatikah itu? Aku akan jauh lebih menghargai seseorang yang memiliki duapuluh akan tetapi dengan rela memberikan yang sepuluh kepada orang lain untuk menolongnya! Mereka itu pura-pura, munafik, bangsawan pakaian saja!"
Diam-diam Liong-li menjadi semakin bingung mendengar semua keterangan pangeran itu kepadanya.
Ia hanya merasa terharu bahwa pangeran itu sungguh percaya kepadanya sehingga membongkar semua rahasia kebusukan keluarga istana yang sebelumnya tak pernah disangkanya.
Akan tetapi, semua keterangan itu sama sekali tidak membantunya dalam penyelidikannya tentang Si Bayangan Iblis.
Baca Juga: Suling Naga 12
Baca Juga: Pusaka Pulau Es 2