Eps 4 Si Bayangan Iblis - Kho Ping Hoo
Baca online Si Bayangan Iblis - Kho Ping Hoo
Cersil Si Bayangan Iblis - Kho Ping Hoo.
Bahkan makin mengacaukan, karena kalau mendengar keterangan itu, boleh dibilang semua pangeran, semua selir, bahkan Permaisuri sendiri dan Kaisar sendiri bisa saja dicurigai sebagai majikan dari Si Bayangan Iblis!
(Lanjut ke
Jilid 09) Si Bayangan Iblis (Seri ke 02 -Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09 Biarlah, ia tidak akan memusingkan semua itu.
Yang dicarinya adalah Si Bayangan Iblis, dan ia merasa yakin akan dapat menangkapnya kalau benar penjahat itu bersembunyi di istana.
Setiap malam ia akan melakukan pengintaian dan sekali penjahat itu keluar dari tempat persembunyiannya, tentu akan dapat ditangkapnya!
"Terima kasih atas semua keterangan paduka Pangeran.
Mulai malam ini saya akan menyelinap keluar dari dalam kamar ini dan melakukan pengintaian.
Mudah-mudahan saja malam ini juga Si Bayangan Iblis keluar sehingga dapat kutangkap dia!"
"Mudah-mudahan begitulah, enci Cu. Akan tetapi harap engkau berhati-hati, karena menurut pendapatku, seorang yang telah dapat menggegerkan kota raja dengan semua pembunuhan itu, pastilah orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan berbahaya sekali."
"Terima kasih, Pangeran. Tentu saja saya akan berhati-hati sekali, terutama tidak akan melibatkan paduka."
Pangeran itu menghela napas panjang, lalu bangkit dari duduknya.
"Siang ini engkau boleh mengaso dan tidur di pembaringan itu. Waktu makan nanti, dayang kepercayaanku akan mengantarkan makanan ke dalam kamar. Aku ingin membaca kitab."
Diapun melangkah menghampiri almari yang penuh kitab dan memilih-milih.
Liong-li juga bangkit dari tempat duduknya.
Tentu saja tidak mungkin baginya untuk enak-enak tidur begitu saja di pembaringan orang, apa lagi pangeran pemilik kamar itu berada di situ, walaupun ia tahu bahwa, pangeran itu tidak akan mengganggunya, bahkan mungkin sekali tidak akan pernah mau meliriknya.
Menyakitkan hati sekali sikap acuh itu!
Ia lalu melihat sebuah yang-kim (semacam gitar) tergantung di dinding.
Diambilnya yang-kim itu dan iapun duduk di atas bangku lain dicobanya alat musik itu dengan jari-jari tangannya yang mungil dan terlatih.
Tali temali yang-kim itu sudah distel dengan baik dan suaranya sungguh merdu.
Sebuah alat musik yang amat baik buatannya.
Dalam keadaan melamun, seperti tanpa disengaja, dengan sendirinya jari-jari tangannya memainkan sebuah lagu.
Lagu yang dimainkannya itu sebuah lagu yang amat sukar, juga amat indah, namanya lagu itu "Badai".
Dawai (senar) yang-kim itu berkentang-kenting, mula-mula membentuk serangkaian nada-nada yang indah, namun makin lama menjadi semakin nyaring, cepat, makin mendesak-desak, nadanya naik turun dan mengamuk bagaikan datangnya badai yang semakin mendahsyat.
Pangeran Souw Han yang tadinya sudah memilih sebuah kitab sajak kuno, menoleh, tadinya acuh, namun akhirnya dia terduduk dan memandang dengan penuh perhatian.
Sepasang matanya tak pernah berkedip memandang ke arah jari-jari tangan yang memainkan yang-kim itu, telinganya menangkap semua nada itu dan segera dia mengenal lagunya.
Dia memandang kagum, sama sekali tidak pernah mengira bahwa wanita yang amat terkenal sebagai seorang ahli silat, seorang pendekar wanita yang ditakuti semua orang penjahat di dunia hitam, ternyata adalah seorang gadis yang selain cantik jelita, halus tutur sapanya, cerdik dan berani, juga ternyata pandai sekali memainkan alat musik yang-kim!
Dia tidak jadi membaca kitab sajak yang masih dipegangnya, bahkan lalu meletakkannya di atas meja, kemudian dia melangkah maju mendekat, berhenti dalam jarak sepuluh meter dan memandang dari samping.
Betapapun juga, Liong-li hanyalah seorang wanita biasa.
Sejak pertemuannya pertama dengan Pangeran Souw Han, hatinya dipenuhi rasa penasaran dan marah terhadap pangeran yang sama sekali acuh terhadap dirinya itu.
Bukan ia minta disanjung dan dikagumi, akan tetapi sebagai wanita wajarlah kalau ia ingin agar dirinya tidak dihadapi pria dengan sikap demikian dinginnya.
Apa lagi pria itu seperti Pangeran Souw Han!
Tadinya ia memainkan yang-kim hanya untuk melampiaskan kedongkolan hatinya, untuk menghibur diri sambil menanti datangnya malam karena ia hanya dapat bekerja di waktu malam saja.
Akan tetapi, pendengarannya yang terlatih dan amat tajam itu dapat menangkap gerak gerik Pangeran Souw Han yang melangkah perlahan menghampirinya dan kini berdiri di sebelah kanannya, dalam jarak yang tidak begitu jauh lagi.
Hal ini membangkitkan kegembiraan dan meningkatkan harga dirinya, maka setelah habis memainkan lagu itu, jari-jarinya tidak berhenti, melainkan mengulang kembali dan kini iapun menambah dengan nyanyian dari mulutnya, dengan suaranya yang merdu!
"Badai menderu mengamuklah air dan salju angin puyuh menyapu bumi segala pohon dipaksa menari betapa buas dan gagah betapa indah!
Badai dahsyat di bukit itu akhirnyapun, lewat, berlalu sunyi, hening, sayu kelu, lelah, lembut tenang aman dan betapa indahnya!"
Lagu "Badai"
Itu memang indah sekali, dimulai dengan suara yang menggegap gempita, yang gagah perkasa, buas dan liar, akan tetapi kemudian perlahan-lahan makin melembut, dan akhirnya terdengar demikian penuh damai, seperti keindahan alam hening setelah badai lewat.
Begitu Liong-li berhenti bernyanyi, tiba-tiba terdengar suara suling yang melengking lembut, maka meninggi dan terdengarlah suling itu melagukan lagu yang sama, yaitu lagu "Badai".
Suara suling itu ditiup dengan ahli, amat merdunya sehingga otomatis jari-jari tangan Liong-li kembali bergerak, dan kembali ia memainkan lagu itu, kini mengiringi suara suling dan di dalam kamar itu terdengarlah paduan suara suling dan yang-kim yang amat serasi, yang cocok dan menghasilkan suara yang amat indahnya.
Setelah lagu itu habis dimainkan dan ke dua alat musik itu tidak bersuara lagi, keadaan di kamar itu menjadi sunyi bukan main.
Liong-li perlahan-lahan menengok dan kini dua pasang mata itu bertemu, bertaut dan perlahan-lahan senyum indah merekah di bibir Liong-li.
Ia mulai melihat sinar kagum membayang di pandang mata pangeran itu!
Sedikit saja kekaguman sudah cukup baginya, menandakan bahwa pangeran itu adalah seorang manusia biasa, seorang pria normal, bukan manusia berhati kayu.
"Tiupan sulingmu amat indah, Pangeran."
"Enci Cu, tidak kusangka engkau begitu pandai bermain yang-kim, dan suaramu juga amat merdu. Sungguh heran......"
"Kenapa paduka heran, Pangeran?"
"Seorang wanita seperti engkau, enci Cu, yang selalu berkecimpung dalam dunia kekerasan, yang pandai bermain pedang, pandai membunuh lawan, bergelimang kekerasan, bagaimana mungkin dapat memainkan yang-kim dan bernyanyi demikian merdunya, sedemikian lembutnya......"
"Pangeran, bukankah segala hal itu dapat saja dipelajari manusia? Dan bukankah di dalam segala keadaan itu terdapat keindahannya kalau saja kita mau membuka mata dan melihat apa adanya? Seperti lagu tadi, Pangeran. Ketika badai mengamuk dahsyat, menggegap gempita, keras dan kasar, namun gagah perkasa dan penuh kebuasan, ada keindahan di sana. Setelah badai lewat keheningan dan kedamaian tiba, juga terdapat keindahan di sana.
"Apakah hanya taman bunga dan gunung hijau yang tenang saja mengandung keindahan? Bukankah batu karang yang kokoh kuat, lautan yang menggelora diamuk badai yang ganas, di sana terdapat pula keindahan?"
"Engkau benar, enci Cu. Semua itu adalah ciptaan Tuhan, dan apapun bentuknya, ciptaan Tuhan itu selalu sempurna dan indah. Ehh, kiranya engkau pandai pula berfilsafat, enci? Apakah engkau juga mempelajari dan pernah membaca kitab-kitab filsafat?"
Liong-li tersenyum.
"Di dalam kamar perpustakaanku di rumahku saja terdapat segala macam kitab filsafat dari ke tiga agama (Budhisme, Taoisme, dan Khong-hu-cu), Pangeran."
"Amboiii......! Jangan katakan bahwa engkau pandai pula bersajak, pandai menari dan pandai melukis dan menulis halus, enci Cu!"
"Pandai sih tidak, Pangeran, akan tetapi saya pernah mempelajari itu semua."
"Aih, kalau begitu engkau seorang wanita serba bisa, enci Cu! Hebat!"
Liong-li tersenyum. Hatinya girang. Pangeran Souw Han itu seorang manusia biasa, seorang pria biasa, bukan dewa bukan pula pertapa! "Dibandingkan dengan paduka, saya bukan apa-apa, Pangeran."
Pada saat itu, daun pintu kamar itu dan pintu kamar itu didorong orang dari luar dan terbuka Pangeran Souw Han membalikkan tubuh dengan cepat dan mukanya merah.
Yang muncul adalah seorang pemuda lain yang membuat jantung dalam dada Long-li berdebar tegang dan merasa tidak enak sekali karena ia mengenal wajah itu.
Pangeran Souw Cun!
Berubah sikap Pangeran Souw Han ketika melihat siapa orangnya yang memasuki kamarnya tanpa ijin itu.
Dia tidak jadi marah, tersenyum dan dengan sikap hormat dia lalu memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada.
"Ah, kiranya engkau yang datang, kakanda Pangeran Cun. Kenapa tidak memberitahu lebih dulu akan berkunjung? Membuat hatiku terkejut saja."
Pangeran Souw Cun tertawa, lalu maju dan merangkul adik tirinya.
"Engkau tahu, adikku Souw Han. Di antara semua saudara kita, engkaulah satu-satunya orang yang paling kukagumi dan kusukai. Maka, perlukah kita berbasa-basi lagi? Aku tadi lewat dan ingin sekali bertemu dan bicara denganmu, adikku."
Sejak tadi Liong-li menunduk sambil mengerling tajam, namun tak pernah pangeran itu memperhatikannya.
Maka iapun pura-pura tidak melihat dan sibuk membalik-balik kitab sajak yang tadi diletakkan di atas meja oleh Pangeran Souw Han.
"Terima kasih, kakanda. Akan tetapi, tidak seperti biasa kakanda datang berkunjung. Ada keperluan apakah?"
"Ha-ha-ha, engkau memang selalu cerdik, belum orang bicara engkau sudah dapat menebak isi hati orang. Memang ada keperluan, adikku. Aku datang terdorong oleh perasaan yang luar biasa. Ada perasaan kaget, heran, girang, dan ingin sekali tahu."
"Aku ikut merasa girang, kakanda. Akan tetapi apakah itu yang mendatangkan bermacam perasaan?"
"Aku mendengar engkau diberi hadiah seorang gadis untuk menjadi selirmu oleh Ibunda Permaisuri. Benarkah berita luar biasa itu?"
Seketika wajah Pangeran Souw Han menjadi kemerahan.
"Benar, kakanda. Apa anehnya itu?"
"Apa anehnya? Ha-ha-ha. Adinda Pangeran! Berita itu merupakan berita yang paling aneh di dunia ini, juga amat menggembirakan dan lucu! Engkau menerima hadiah seorang selir. Engkau? Ha-ha, sejak kapan engkau belajar bergaul dengan wanita? Biasanya, melirik saja engkau tidak mau. Para dayangmu pun tidak ada yang cantik dan tak pernah ada yang kaujamah seorangpun.
"Dan tahu-tahu engkau kini menerima seorang selir! Apa tidak aneh itu? Aku kaget, heran dan juga girang, akan tetapi menjadi penasaran dan ingin sekali melihat seperti apa macamnya wanita yang herhasil menjatuhkan hati adikku yang terkenal sebagai seorang pertapa suci yang tak pernah tergiur kecantikan wanita itu.
"Dan ketika aku lewat tadi, aku mendengar permainan suling, yang-kim dan nyanyian! Aih-aih, jadi engkau malah sudah rukun dan bersenang-senang, bermain musik dengan selirmu? Itukah selirmu yang hebat itu?"
Dan kini Pangeran Souw Cun menoleh ke arah Liong-li yang masih duduk menghadapi kitab yang dibuka di atas meja.
"Siauw Cu, ke sinilah dan perkenalkan, ini adalah kakanda Pangeran Souw Cun, engkau harus memberi hormat kepadanya,"
Kata Souw Han yang terpaksa memperkenalkan isteri atau selirnya itu. Liong-li meninggalkan kursinya dan menghampiri sambil menundukkan mukanya, lalu menjura dengan sikap hormat.
"Maaf, Pangeran, karena saya tidak tahu maka saya tidak sempat menyambut kunjungan paduka,"
Katanya dengan sikap halus, akan tetapi sama sekali tidak merendahkan diri, dan melihat sikap ini, Pangeran Souw Han juga merasa senang.
Akan tetapi Pangeran Souw Cun terbelalak menatap wajah yang cantik jelita itu.
"Ah-ahhh...... kiranya engkau? Bukankah engkau dayang pribadi Ibunda Permaisuri?"
Liong-li menundukkan mukanya dan mengangguk.
"Kami memang pernah bertemu satu kali, Pangeran."
Tiba-tiba Pangeran Souw Cun tertawa dan memandang kepada wajah adiknya.
"Ha-ha-ha-ha, tadinya kusangka engkau menerima hadiah seorang selir yang seperti bidadari. dan masih amat muda. Kiranya dayang Ibunda Permaisuri ini? Ha-ha-ha, sungguh aku merasa semakin heran, dan aku kasihan sekali kepadamu, adikku!"
"Hemm, mengapa kakanda berkata demikian? Dan mengapa pula merasa kasihan kepadaku?"
"Adindaku, bagaimana mungkin seorang seperti engkau dapat jatuh cinta kepada seorang gadis seperti ini? Katakan, benarkah engkau telah jatuh jatuh cinta kepadanya?"
Selama hidupnya, Souw Han tidak pernah berbohong.
Akan tetapi sekali ini, bagaimana dia dapat berkata lain?
Kalau dia mengatakan bahwa dia tidak mencinta Liong-li, bukankah hal itu akan menimbulkan suatu kecurigaan dan akan membahayakan rahasia gadis itu?
"Aku cinta padanya, kakanda."
"Kau? Yang selama ini tidak pernah bergaul dengan wanita? Bagaimana mungkin! Tentu bertemu pun baru sekali itu, dan engkau sudah jatuh cinta? Lihat baik-baik, adinda. Biarpun aku tidak dapat mengatakan bahwa wanita itu buruk, akan tetapi ia sungguh tidak cocok untuk menjadi selirmu! Lihat, biarpun ia cantik manis, namun usianya tentu jauh lebih tua darimu! Nona, siapakah namamu?"
"Siauw Cu......"
Jawab Liong-li tanpa mengangkat mukanya, dan di dalam hatinya timbul perasaan panas bukan main.
"Siauw Cu, katakan dengan sejujurnya, berapa usiamu sekarang?"
Biarpun hatinya panas, namun Siauw Cu menjawab sejujurnya dan di dalam suaranya yang lembut terkandung ketegasan dan tantangan, seolah ia tidak takut mengemukakan usianya yang sebenarnya.
"Usia saya sudah duapuluh lima tahun, Pangeran."
"Duapuluh lima tahun? Ha-ha-ha, engkau dengar sendiri, adinda Souw Han! Dan engkau belum genap duapuluh tahun! Dan seorang wanita berusia duapuluh lima tahun tidak mungkin menjadi seorang dayang yang masih gadis. Hayo katakan, Siauw Cu. Engkau bukan gadis lagi. Tidak benarkah begitu?"
Souw Han memandang kepada "selirnya"
Dengan hati penuh iba. Dia tahu betapa pertanyaan seperti itu amat menyakitkan perasaan seorang wanita, maka diapun berkata.
"Kakanda Souw Cun, harap kakanda jangan bertanya hal-hal seperti itu kepada Siauw Cu. Siauw Cu, kalau engkau tidak suka, aku membolehkan engkau tidak usah menjawab pertanyaan kakanda Souw Cun tadi."
"Ha-ha-ha, tentu saja ia tidak mau menjawabnya, atau kalau menjawab pun tentu ia membohong, ha-ha-ha!"
Souw Cun tertawa. Kini Liong-li mengangkat mukanya, memandang kepada Pangeran Souw Cun dengan sikap angkuh dan menantang, lalu keluarlah jawaban dari bibirnya.
"Saya tidak perlu berpura-pura dan menyembunyikan kenyataan. Bukan saja saya tidak perawan lagi, bahkan ketika saya menjadi dayang Yang Mulia Permaisuri, saya sudah janda......"
Liong-li mengerling ke arah muka Pangeran Souw Han, akan tetapi pada wajah Pangeran itu tidak nampak perubahan apapun. Hal ini tentu saja tidak mengherankan. Ia menjadi "selir"
Pangeran Souw Han hanya pura-pura saja. Bagi pangeran itu, ia masih perawan atau sudah janda seratus kalipun apa bedanya? Akan tetapi Pangeran Souw Cun tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, apa kukata tadi, adinda? Ia bukan hanya tidak perawan, bahkan sudah janda. Dan engkau, seorang pangeran yang masih perjaka tulen hendak menyerahkan keperjakaanmu kepada seorang janda yang usianya sudah duapuluh lima tahun? Bodoh, adikku, bodoh sekali dan itu rugi namanya. Juga memalukan keluarga! Aku ikut malu!"
Souw Han merasa tidak enak sekali kepada Liong-li. Akan tetapi, dia tidak dapat berbuat sesuatu karena di balik wanita itu terdapat suatu rahasia yang harus dilindunginya.
"Kakanda Souw Cun, mengapa kakanda mencampuri urusan pribadiku? Harap kakanda jangan mengganggu kami lebih lama lagi. Apa sih maksud kanda sebenarnya? Aku tidak pernah membikin malu keluarga!"
"Adinda! Engkau hendak menyerahkan keperjakaanmu kepada seorang janda, dan kau bilang tidak membikin malu keluarga?"
"Habis, apa maksud dan kehendak kakanda sekarang?"
Souw Han mulai marah.
"Begini, adinda. Aku sayang padamu, dan aku tidak rela kalau engkau menyerahkan perjakamu kepada wanita tua ini. Kutukar saja ia dengan seorang gadis yang remaja, usianya baru limabelas tahun, jauh lebih cantik dari pada Siauw Cu, dan ia masih perawan. Nah, ialah yang lebih pantas menjadi selirmu, atau bahkan isterimu sekalipun. Tentang wanita ini, serahkan saja kepadaku untuk kujadikan dayang."
"Mendengar ini, Pangeran Souw Han terkejut bukan main. Dia bukan pemain sandiwara yang baik, tidak seperti Liong-li yang sedikit pun tidak memperlihatkan perubahan pada air mukanya. Ingin Pangeran Souw Han berteriak menolak usul itu, akan tetapi dia segera teringat akan rahasia Liong-li, maka diapun berkata dengan suara gelisah.
"Ah, kakanda Souw Cun, bagaimana mungkin aku dapat menukarnya dengan wanita lain? Ingat, kakanda, Siauw Cu ini adalah hadiah dari Ibunda Permaisuri dan aku..... aku suka sekali padanya."
Tiba-tiba Liong-li menjatuhkan diri berlutut di depan Pangeran Souw Han sambil menangis, menutupi mukanya dengan ujung lengan bajunya yang lebar panjang dan suaranya terdengar penuh isak ketika ia berkata.
"Pangeran, hamba..... hamba lebih baik mati kalau harus meninggalkan paduka......"
Diam-diam Pangeran Souw Han menjadi semakin kagum.
Dia tahu bahwa Liong-li hanya bersandiwara, akan tetapi sandiwara itu dimainkannya dengan demikian cemerlang sehingga dia sendiripun sedikit juga tidak akan menyangka bahwa wanita itu berpura-pura.
Maka, diapun memandang kepada Pangeran Souw Cun.
"Kakanda Pangeran, kakanda lihat sendiri. Kami sudah saling mencinta. Tidak ada wanita yang dapat menggantikannya. Aku hanya menghendaki Siauw Cu ini, bukan wanita lain."
"Hem, benarkah itu?"
Ketika Liong-li mengerling dari sudut matanya yang ia tutupi dengan tangan, ia melihat betapa sinar mata Pangeran Souw Cun penuh kecurigaan dan selidik.
Sungguh seorang pangeran yang berbahaya, pikirnya, dan ia mulai menduga bahwa maksud pangeran itu menghalangi ia diselir Pangeran Souw Han bukan semata karena cemburu atau iri, bukan semata karena pangeran itu sendiri menginginkan dirinya.
Mungkin ada alasan lain, yaitu mencurigainya!
"Ah, jangan-jangan engkau kena dipengaruhi guna-guna adikku."
"Tidak, kakanda. Aku memang cinta padanya, bukan hanya karena wajahnya, melainkan karena sikapnya, juga ia pandai bermain yang-kim, pandai bernyanyi dan mungkin masih memiliki beberapa macam kepandaian lagi yang belum kuketahui. Tentang usia dan tentang bukan perawan, aku tidak perduli!"
"Hemm, banyak kepandaiannya, ya? Eh, Siauw Cu, apakah engkau juga pandai ilmu silat?"
"Ah, kakanda!"
Seru Pangeran Souw Han, terkejut dan kekagetannya ini memang bukan pura-pura.
"Bagaimana seorang wanita lembut seperti Siauw Cu ini pandai ilmu silat? Kalau menari mungkin ia dapat. Bukankah begitu, Siauw Cu?"
Liong-li yang sudah menghapus air matanya kini memandang kepada Pangeran Souw Han dengan sinar mata yang jelas membayangkan kasih sayang besar.
"Kalau untuk paduka...... apapun akan hamba lakukan, Pangeran. Hamba pernah mempelajari ilmu menari."
"Tarian pedang? "
Tiba-tiba Pangeran Souw Cun bertanya.
"Ah, bukan, Pangeran. Tarian biasa,"
Jawab Siauw C'u atau Liong-li tanpa berani mengangkat mukanya.
"Bagus, kalau begitu, suruh ia menari agar dapat kumelihatnya, adinda Souw Han!"
Pangeran Souw Han mengerutkan alisnya.
Dia ingin agar kakaknya itu cepat pergi saja supaya tidak mengganggu Liong-li lebih lama lagi.
Pula, diapun tidak yakin apakah benar Liong-li pandai menari, dan jangan-jangan gerak tarinya akan mengandung gerak silat sehingga akan menimbulkan kecurigaan pada kakaknya .
"Kakanda, ia baru saja datang, masih lelah. Biarlah lain hari saja ia menari."
"Tidak mengapa, Pangeran. Hambapun senang sekali kalau paduka menggembirakan hati saudara tua paduka,"
Kata Liong-li. Ucapan ini saja sudah cukup melegakan hati Pangeran Souw Han.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengiringi tarianmu dengan yang-kim. Engkau tentu mau meniup sulingnya, bukan, kakanda?"
"Baik, Tapi, tarian apa yang akan ditarikan selirmu itu?"
"Hamba akan menarikan tarian rakyat dari daerah selatan, tarian para petani bekerja di sawah ladang,"
Kata Liong-li.
Tak lama kemudian, terdengarlah paduan suara suling dan yang-kim, dengan irama yang lambat dan halus.
Liong-li sudah mengambil sebuah sabuk sutera merah panjang dari almari pakaian atas petunjuk Pangeran Souw Han dan iapun mulailah menari, seirama suara suling dan yang-kim.
Dan kini kedua orang pangeran itu terpesona!
Jangan Souw Cun yang penuh curiga itu, bahkan Souw Han yang sudah tahu bahwa "selirnya"
Itu seorang pendekar wanita, terbelalak kagum melihat betapa tubuh wanita itu meliuk-liuk lemah gemulai, menarik dengan amat indahnya!
Bagaikan seorang bidadari saja selirnya itu!
Setelah selesai menari dan dua orang pangeran itu menghentikan permainan alat musik mereka, Pangeran Souw Cun bertepuk tangan memuji.
"Wah, sekarang aku mengerti mengapa engkau suka kepada selirmu ini, adinda. Ternyata suaranya merdu, permainan yang-kimnya pandai, dan tariannya pun indah. Dan tubuhnya itu! Amboi, betapa akan nikmatnya malam nanti akan kaurasakan dalam pelukkannya, adindaku."
"Kakanda! Harap jangan ganggu kami lagi dan kupersilakan kakanda meninggalkan kami!"
Pangeran Souw Han berseru marah. Akan tetapi kakaknya hanya tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, hampir aku lupa! Engkau belum pernah bergaul dengan wanita, tentu ia akan mengajarimu, atau kalau engkau memang tidak suka, biarlah kalau malam ia bersamaku, kalau siang ia bersamamu. Dan engkau pun boleh minta tukar untuk malam ini dengan beberapa saja selirku. Boleh kau pilih dan berapa banyaknya pun boleh untuk ditukar dengan ia!"
"Kakanda! Pergilah! Keluar dari sini!"
Pangeran Souw Han berteriak dan Pangeran Souw Cun tertawa, akan tetapi meninggalkan kamar itu dengan langkah tenang dan berlenggang penuh gaya.
Setelah pangeran itu pergi, Pangeran Souw Han menutup pintu kamar, lalu menjatuhkan diri duduk di atas kursi.
Dadanya bergelombang, mukanya merah dan napasnya memburu karena dia tadi menahan amarahnya.
Sejak tadi Liong-li mengamatinya, dan ia tersenyum lalu menghampiri dan duduk di atas kursi dekat dengan pangeran itu.
"Sudahlah, Pangeran. Tenangkan hati paduka. Bahaya telah lewat dan agaknya dia tidak mencurigai kita. Pangeran Souw Han mengepal tinju.
"Akan tetapi penghinaan-penghinaan itu! Terutama sekali kepadamu! Sungguh tidak patut!"
Liong-li tersenyum.
Memang tadi iapun merasa marah sekali.
Pangeran Souw Cun tidak pantas menjadi pangeran, pantasnya menjadi seorang berandal, seorang penjahat yang tidak tahu malu, yang siap menukarkan selir-selirnya dengan selir adiknya, begitu cabul, begitu jorok dan hina.
"Bagaimanapun juga, paduka telah berhasil mengusirnya, Pangeran, dan kita aman sudah. Saya yakin dia tidak akan berani lagi datang mengganggu."
"Hemm, aku belum begitu yakin. Engkau tidak mengenal siapa Pangeran Souw Cun itu, enci Cu. Kalau sudah menginginkan seorang wanita, sebelum berhasil, akan dia lakukan segala daya, segala muslihat untuk mendapatkan wanita itu! Dan dia memiliki tukang-tukang pukul yang lihai. Engkau sekarang harus lebih berhati-hati, enci Cu, karena kulihat bahwa kakanda Souw Cun itu sangat menginginkanmu tadi. Selain si Bayangan Iblis, engkau akan menghadapi musuh lain, yaitu kakanda Souw Cun dan kaki tangannya."
Liong-li tersenyum.
"Saya tidak khawatir, Pangeran. Sudah terbiasa saya oleh kepungan orang-orang yang menjadi hamba nafsu iblis, dan selalu saya dapat mengatasi mereka."
"Mudah-mudahan begitulah. Hanya pesanku, malam nanti, malam pertama engkau melakukan penyelidikan, engkau harus berhati-hati. Bagaimanapun juga, aku takkan dapat tidur karena gelisah sebelum engkau kembali ke kamar ini."
"Aihh, kalau begitu, malam nanti bukan saya saja yang bergadang, akan tetapi paduka juga rupanya!"
Liong-li berkelakar.
"Sebaiknya sekarang paduka tidur mengaso agar malam nanti tidak terlalu payah."
"Dan engkau sendiri? Nanti malam engkau akan melakukan tugas yang amat berat dan berbahaya! Engkaulah yang perlu mengaso."
Liong-li tersenyum.
"Aku tidak pernah tidur siang, Pangeran. Dan untuk memulihkan tenaga dan menguatkan tubuh, cukup dengan samadhi beberapa jam saja sambil mengatur pernapasan."
"Kalau begitu, lakukanlah samadhimu, dan aku akan tiduran sambil membaca kitab."
Liong-li tidak sungkan-sungkan lagi, melepaskan sepatunya dan naik ke atas pembaringan, lalu duduk bersila dan mengatur pernapasan.
Pangeran Souw Han sendiri lalu membawa kitab sajak dan membaca kitab sambil rebahan di atas lantai yang bertilamkan permadani dan ditambah dengan beberapa buah bantal.
Mereka hanya berhenti ketika dua orang dayang mengetuk pintu kamar dan mengantar hidangan makan siang.
Kemudian mereka melanjutkan kesibukan masing-masing dan sampai hari menjadi malam, sedikitpun juga sang pangeran tidak pernah mengganggu Liong-li, baik dengan perbuatan, kata-kata bahkan dengan pandang mata sekalipun.
Dan kembali ada perasaan penasaran dan kecewa di dalam hati Liong-li.
Ia merasa seperti menjadi sebuah kursi atau meja kembali.
Sebuah kitab sajak agaknya jauh lebih menarik bagi pamgeran itu dari pada dirinya!
Sungguh keterlaluan!
Malam tiba.
Sejak sore tadi, sejak mereka makan malam bersama, sang pangeran sudah nampak gelisah dan berulang kali dia memperingatkan Liong-li agar berhati-hati.
Kemudian, setelah mendekati tengah malam, Liong-li mengenakan pakaian serba hitam, menutupi pula mukanya dengan saputangan hitam, tidak lupa membawa Hek-liong-kiam yang disembunyikan di balik jubah hitam.
Melihat dandanan wanita itu, Pangeran Souw Han memandang dengan kagum, akan tetapi juga dengan sinar mata gelisah.
"Engkau nampak gagah sekali, enci Cu, dan....... dan mengerikan. Kuharap engkau dapat segera menyelesaikan penyelidikanmu dan kembali ke kamar ini dengan selamat."
"Tenangkanlah hati paduka dan tidurlah, Pangeran. Paling lambat besok pagi-pagi sebelum matahari terbit saya sudah akan kembali ke sini."
"Engkau keluar melaksanakan tugas yang berat, menghadapi ancaman bahaya dan aku disuruh tidur enak-enak di sini? Bagaimana mungkin, enci Cu?"
"Akan tetapi, bukankah biasanya setiap malam paduka juga tidur seorang diri di sini dan tidak pernah gelisah?"
"Ketika itu belum ada engkau di sini enci Cu. Sudahlah, harap engkau berhati-hati dan aku ikut mendoakan."
"Terima kasih, Pangeran. Aku pergi!"
Kata Liong-li yang sudah membuka daun jendela, dan sekali berkelebat, ia sudah lenyap dari depan pangeran itu, seperti seekor burung terbang saja lewat jendela yang terbuka.
Pangeran Souw Han terbelalak, sejenak hanya melongo memandang ke arah jendela, lalu menarik napas panjang dan menutupkan kembali daun jendela.
Sudah sering dia melihat jagoan-jagoan istana bermain silat dan memamerkan kelihaian mereka, akan tetapi baru sekarang dia melihat ada gadis dapat menghilang begitu saja dari depan matanya.
Dengan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali, Liong-li melompat ke luar jendela dan langsung saja tubuhnya melayang ke atas genteng, Begitu kedua kakinya menginjak genteng bangunan, ia mendekam dan sepasang matanya yang tajam menyapu keadaan sekelilingnya.
Sunyi dan cuacanya remang-remang karena bulan sepotong sudah naik tinggi.
Setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang di atas genteng bangunan-bangunan besar di kompleks istana itu, ia lalu mengeluarkan sehelai saputangan hitam dan ditutupnya mukanya bagian bawah.
Hanya dahi yang putih halus dan sepasang mata yang tajam mencorong saja yang nampak dan ia sengaja membiarkan sebagian anak rambut menutupi dahi.
Takkan ada orang yang mengenal wajahnya sekarang.
Bagaikan seekor burung walet saja, Liong-li meronda di atas atap kelompok rumah besar itu.
Tubuhnya berkelebat dan karena ia memakai pakaian hitam, maka gerakannya sukar diikuti pandang mata, apa lagi dari bawah.
Setiap kali meloncat dari satu ke lain wuwungan, ia mendekam dan mengintai sampai puluhan menit lamanya.
Hawa udara malam itu dingin sekali, akan tetapi tidak dirasakan oleh Liong-li.
Ia mengintai dan menanti dengan penuh kesabaran.
Beberapa kali ia mendengus lirih dan mengomeli diri sendiri karena pikirannya selalu teringat kepada Pangeran Souw Han!
Gila benar, ia sudah tergila-gila kepada pangeran itu!
Bukan main pangeran itu, dan kalau dipertimbangkan, tidak bisa ia terlalu menyalahkan perasaannya yang tertarik kepada pangeran itu.
Baru pertama kali berjumpa, melihat wajahnya yang tampan, sikapnya yang halus dan sopan, budi bahasanya yang lembut itu saja sudah membuat ia kagum.
Ketika mereka lebih dekat, ia mendapat kenyataan bahwa bukan itu saja kelebihan pangeran ini.
Juga seorang sasterawan, seorang seniman, dan baik budi, ramah dan penuh perhatian!
Betapa mudahnya membiarkan hati ini jatuh cinta kepada Pangeran Souw Han, ia, melamun.
Huh, engkau bertugas, menghadapi urusan penting yang berbahaya, bukan waktunya untuk melamunkan yang muluk-muluk dan yang mesra-mesra!
Demikian ia menegur diri sendiri dan kembali perhatiannya ia tujukan ke luar, pandang matanya mengamati dengan tajam keadaan sekelilingnya.
Tiba-tiba jantungnya berdebar.
Sesosok bayanpan berkelebat jauh di depan sana, di atas wuwungan atap bangunan lain.
Sekarang saatnya menangkap Si Bayangan lblis, pikirnya dan dengan mengerahkan gin-kangnya, Liong-li meloncat dan berlari cepat dengan loncatan-loncatan jauh menuju ke atap itu.
Bayangan hitam itu agaknya hendak membuka genteng untuk melakukan pengintaian ke bawah.
Terkejutlah bayangan itu ketika tiba-tiba ada angin menyambar dan sebuah tangan meluncur ke arah pundaknya.
Akan tetapi, ternyata bayangan itu memiliki gerakan yang cepat.
Tubuhnya sudah telentang dan bergulingan, lalu meloncat berdiri dan memasang kuda-kuda yang kokoh kuat.
Dia seorang yang tubuhnya tinggi besar, pakaian serba hitam dan mukanya tertutup topeng merah yang ada dua lubang kecil untuk matanya.
Sejenak Liong-li dan orang itu berdiri saling pandang.
Sepasang mata di balik kedok itu mencorong pula seperti mata Liong-li.
Kemudian, tanpa mengeluarkan suara, bayangan hitam berkedok itu menerjang ke arah Liong-li.
Dalam cuaca yang remang-remang itu, Liong-li masih dapat melihat kilauan sebatang pedang yang menusuk perutnya.
Iapun mengelak dengan loncatan ke samping dan begitu sebelah kakinya turun ke atas genteng, kaki yang lain sudah melayang dengan tendangan layang ke arah kepala lawan!
Orang itu terkejut, namun dapat pula mengelak.
Melihat gerakan orang, Liong-li maklum bahwa lawannya cukup lihai, namun tidak cukup untuk membuat ia harus mencabut pokiamnya (pedang pusakanya).
Kalau tidak perlu sekali, ia tidak akan mencabut Hek-liong-kiam, karena sekali dicabut, ada kemungkinan lawan akan mengenal pedang itu dan sekali pedangnya dikenal, maka dirinyapun pasti akan dikenal sebagai Hek-liong-li!
Iapun mendesak dengan pukulan dan tendangan di antara kilatan pedang lawan.
Bayangan hitam yang tinggi besar itu agaknya tidak begitu bernafsu untuk berkelahi terus.
Memang besar bahayanya kalau berkelahi terlalu lama di atas wuwungan, karena tentu akan menarik perhatian para penjaga keamanan dan kalau mereka melihatnya, tentu keadaan menjadi berbahaya.
Dengan gerakan cepat dan kuat sekali, tiba-tiba pedang itu menyambar dengan ganasnya ke arah leher Liong-li.
Pendekar wanita ini terkejut.
Ini merupakan serangan yang amat berbahaya, maka terpaksa ia melempar tubuh ke belakang sambil meloncat dan berjungkir balik sampai tiga kali sebelum tubuhnya turun kembali ke atas genteng.
Akan tetapi, ketika ia sudah turun, dilihatnya lawannya tadi melarikan diri dengan cepat ke arah timur.
Iapun mengejar sambil mengerahkan ginkangnya.
Akan tetapi bayangan itu lenyap di balik pagar tembok yang memisahkan istana bagian pria dengan istana bagian wanita.
Bayangan itu datang dari balik pagar, dari istana bagian wanita!
Sejenak ia berdiri termenung.
Siapakah bayangan itu?
Seorang wanitakah?
Akan tetapi tubuhnya begitu tinggi besar!
Iapun teringat akan keterangan Pangeran Souw Han bahwa Permaisuri mempunyai banyak jagoan yang lihai!
Ia lalu berloncatan lagi dan bersembunyi di balik sebuah wuwungan yang tinggi sambil mengenang peristiwa yang baru saja terjadi.
Mungkin seorang anak buah permaisuri, pikirnya.
Bagaimanapun juga, harus dicatat bahwa ada orang mencurigakan di bagian puteri.
Bukan tidak mungkin pemimpin gerombolan, yaitu Kwi-eng-cu, berada di bagian puteri, mungkin sang permaisuri sendiri!
Siapa tahu?
Kini ia mendekam di atas wuwungan tempat tinggal Pangeran Souw Cun.
Ia sudah mempelajari letak tempat tinggal para pangeran dari Pangeran Souw Han, maka kini ia dapat mengetahui bahwa ia berada di atas atap bangunan tempat tinggal Pangeran Souw Cun.
Dengan sabar ia mendekam dan mengintai di situ.
Akhirnya, lewat tengah malam, dia melihat sesosok bayangan meloncat keluar dari dalam bangunan itu!
Sekali ini, bayangan yang juga berpakaian serba hitam, bertubuh tegap tidak begitu tinggi, akan tetapi juga mukanya ditutup kedok yang berwarna hitam pula walaupun berbeda modelnya dengan yang tadi.
Liong-li cepat menyergap untuk menangkapnya.
Karena ia muncul dengan tiba-tiba dan penuh perhitungan karena tidak mau gagal lagi, Liong-li berhasil mencengkeram pundak orang itu.
"Ihhh......!"
Liong-li berseru lirih saking kagetnya ketika jari-jari tangannya bertemu dengan pundak yang keras dan licin seperti besi sehingga cengkeramannya hanya merobek baju dan meleset! "Ahhhh.......!"
Orang itu agaknya juga terkejut dan kakinya menendang ke arah perut Liong-li. Namun Liong-li kini mengerahkan tenaga dan sengaja menangkis untuk mengukur tenaga lawan.
"Dukkk......!"
Orang itu kembali mengeluarkan seruan kaget dan tubuhnya terhuyung ke belakang.
Akan tetapi dia sudah meloncat ke balik wuwungan dan ketika Liong-li cepat mengejar, bayangan itu sudah lenyap, mungkin turun kembali ke dalam bangunan itu!
Liong-li termenung sejenak!
Orang itu jelas bukan yang pertama tadi, akan tetapi juga amat lihai!
Kalau yang pertama tadi menghilang di balik tembok istana bagian puteri, kini orang kedua ini menghilang ke dalam bangunan tempat tinggal Pangeran Souw Cun!
Hemm, siapakah di antara mereka itu Kwi-eng-cu?
Ataukah hanya anak buah saja?
Siapakah yang memiliki peran dalam urusan rahasia Si Bayangan Iblis ini?
Sang Permaisuri ataukah Pangeran Souw Cun?
Kembali Liong-li melakukan perondaan dan pengintaian, Namun, tidak ada sesuatu terjadi, tidak ada bayangan hitam muncul.
Ketika dari atas wuwungan ia melihat di ufuk timur sana ada cahaya merah sang matahari, masih amat lembut, ia mengambil keputusan untuk kembali ke tempat tinggal Pangeran Souw Han sebelum fajar menyingsing.
Akan tetapi tiba-tiba ia menyelinap ke balik wuwungan.
Dari arah barat nampak sesosok bayangan hitam, berlari cepat sekali, berloncatan dari wuwungan ke wuwungan yang lain.
Kini bayangan itu tubuhnya tinggi kurus, berbeda pula dengan yang tadi.
Liong-li tidak menyerang, hanya berniat membayangi.
Akan tetapi, bayangan yang satu inipun, lihai sekali.
Agaknya tahu bahwa ada orang yang membayanginya, maka tiba-tiba saja tubuhnya meluncur ke arah Liong-li yang membayangi sambil bersembunyi dan menyelinap di bilik wuwungan, Tiba-tiba si bayangan hitam yang tinggi kurus sudah menerjangnya dari atas seperti seekor burung garuda!
"Hemm.......!"
Liong-li menyambut pukulan kedua tangan terbuka itu dengan kedua tangannya sendiri yang juga dibuka.
"Dessss.......!"Akibatnya, tubuh Liong-li terjengkang dan untung ia masih mampu berjungkir balik sehingga tidak terbanting! Akan tetapi lawannya yang tadi menyerangnya dari atas juga terpental ke belakang dan seperti juga Liong-li, orang tinggi kurus ini berjungkir balik dan dapat hinggap di atas genteng tanpa cidera. Keduanya sejenak saling pandang dari balik topeng, kemudian orang tinggi kurus itu, menggerakkan kedua tangan. Benda-benda kecil hitam menyambar ke arah tubuh Liong-li, dari kepala sampai kaki! Pendekar ini kembali terkejut dan maklum betapa berbahayanya senjata-senjata rahasia yang menyambar dengan cepat itu. Iapun menggunakan keringanan tubuhnya untuk mengelak dengan loncatan ke samping, akan tetapi tangannya menyambar, dan ia berhasil menangkap sebuah benda hitam yang ternyata hanyalah pecahan genteng! Senjata seperti ini dapat dipergunakan setiap orang dan tidak dapat ia jadikan bukti untuk kelak mengenal siapa lawannya."
Ia melihat tubuh lawan sudah melayang menjahuinya. Dengan gemas ia lalu menggerakkan tangan, mengembalikan "senjata rahasia"
Itu ke arah pemiliknya.
Lalu ia mengejar.
Ternyata orang ketiga ini malah lebih lihai dibandingkan dua orang pertama.
Tanpa menoleh, sambil tetap berlari, ia menjulurkan tangan ke belakang dan menangkis pecahan genteng yang menyambarnya.
Liong-li mengejar terus dan melihat orang itu lenyap di balik wuwungan sebuah bangunan, yang ia tahu adalah tempat tinggal Pangeran Kim Ngo Him, yaitu seorang di antara mantu kaisar!
Liong-li tertegun.
Malam ini ia bertemu tiga orang yang lihai dan ia tahu bahwa di istana ini berkeliaran banyak jagoan yang lihai, orang-orang berkedok yang penuh rahasia.
Akan tetapi ia tidak tahu yang mana Si Bayangan Iblis dan di mana sembunyinya.
Betapapun juga, ia merasa puas karena malam pertama ini ia dapat bertemu dengan tiga orang berkedok yang melarikan diri ke arah tiga tempat yang berlainan.
Iapun cepat pulang dengan cara menyelinap ke sana-sini dan yakin bahwa tidak ada orang yang tahu ketika ia melayang turun ke tempat tinggal Pangeran Souw Han.
Ia membuka daun jendela tanpa menimbulkan suara, meloncat ke dalam dengan hati-hati agar tidak mengejutkan Pangeran Souw Han yang ia tahu pasti masih tidur nyenyak.
"Enci Cu.......! Akhirnya engkau kembali juga......!"
"Ehhh......"
Liong-li melepas sapu tangan dari mukanya dan memandang kepada pangeran itu dengan mata terbelalak. Kiranya pangeran itu masih duduk di atas lantai dengan sebuah kitab di tangannya.
"Pangeran, sepagi ini paduka sudah bangun dari tidur?"
Pangeran itu tersenyum. Masih ada kegelisahan yang bersisa di sudut matanya, namun senyumnya cerah, wajahnya membayangkan kegembiraan.
"Enci Cu, bagaimana mungkin aku dapat tidur? Semalam suntuk aku gelisah menanti-nanti kembalimu!"
"Aduh, pangeran! Paduka bergadang pula semalam suntuk?"
Ada rasa haru dan gembira menyelinap di dalam hati wanita itu.
Bagaimana hatinya tidak akan terharu dan bangga, juga gembira melihat kenyataan betapa pangeran yang ganteng ini begitu mengkhawatirkan dirinya sehingga semalam suntuk tidak tidur untuknya dan selalu mengharapkan kembalinya?
Ini hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa Pangeran Souw Han mencintanya!
Pangeran itu agak tersipu.
"Sudah kuusahakan untuk memejamkan mata, namun sia-sia. Bahkan membacapun tidak dapat kucerna, karena pikiran ini selalu membayangkan engkau berada dalam ancaman bahaya besar. Enci Cu, kini hatiku demikian lega dan aku merasa lelah dan mengantuk sekali."
"Pangeran, paduka harus tidur. Kasihan sekali, tidurlah di atas pembaringan itu, pangeran, dan saya......."
Liong-li tersenyum dan menghentikan ucapannya, lalu menghampiri.
Pangeran itu telah tertidur!
Tertidur dengan tarikan napas yang halus dan mulutnya masih mengembangkan senyum, tangannya masih memegang sebuah kitab.
Dengan lembut, Liong-li mengambil kitab yang hampir terlepas di tangan kiri itu, lalu mengambil selimut dari atas pembaringan karena hawa udara yang dingin menembus ke dalam kamar, lalu dengan hati-hati ia menyelimuti tubuh pangeran itu dari kaki sampai ke leher.
Melihat betapa pangeran itu tidur pulas sekali, dan kepalanya tidak berbantal, ia lalu mengambil sebuah bantal dari pembaringan, dan dengan hati-hati ia memasukkan lengan kiri ke bawah leher sang pangeran, mengangkat kepala itu dan mendorongkan bantal ke bawah kepala.
Kepala yang berada di rangkulan lengan kiri itu ketika ia angkat, berada dekat sekali dengan mukanya.
Maka pangeran itu nampak demikian tampan, demikian lembut.
Perasaan haru dan mesra menyelinap di dalam hati Liong-li membuat ia makin menunduk dan hampir ia mencium pipi atau bibir itu.
Akan tetapi, keteguhan hatinya bergerak menolak dan menentang.
Ia memejamkan mata, menarik napas panjang!
Ia perlahan-lahan menurunkan kepala itu ke atas bantal, lalu cepat-cepat ia bangkit berdiri.
Dadanya masih tergetar oleh gairah dan ia cepat melangkah mundur.
Ia tidak boleh berada di sini selagi sang pangeran tidur, bukan saja ia tidak mau mengganggu pangeran yang kelelahan dan kurang tidur itu, juga ia menganggap terlalu berbahaya.
Ia juga takkan dapat beristirahat kalau berada di kamar itu, harus selalu berjuang melawan gairah nafsunya sendiri.
Setelah memandang sekali lagi ke arah wajah itu dan tersenyum, dengan pandang mata menjadi lembut mengandung kasih sayang.
Liong-li berganti pakaian dan meninggalkan kamar itu, menutupkan pintunya perlahan dan iapun pergi ke ruangan para dayang.
Pagi itu lima orang dayang telah terbangun dan sedang sibuk bekerja.
Ada yang menyiapkan sarapan pagi untuk pangeran, ada yang mencuci pakaian, membersihkan lantai, membersihkan semua perabot rumah, menyapu pekarangan dan sebagainya.
Melihat sang "selir"
Pangeran sudah terbangun sepagi itu, mereka merasa heran, akan tetapi menyambut majikan baru ini dengan hormat dan ramah.
Mereka menghaturkan selamat pagi dan menawarkan sarapan pagi, tidak tahu apakah selir pangeran itu akan sarapan pagi hersama pangeran nanti kalau sudah bangun tidur, atau makan pagi sendirian.
"Aku ingin sarapan di sini saja, beberapa butir telur dan bubur, dan air teh panas. Juga tolong sediakan air hangat, aku ingin mandi. Pangeran masih tidur, harap jangan membuat gaduh dekat kamar."
Liong-li mandi air hangat dan merasa segar kembali walaupun semalam ia tidak tidur sama sekali.
Dan sarapan itu membuat kekuatan tubuhnya pulih, akan tetapi sehabis makan, datanglah rasa kantuk.
Selagi ia berniat untuk kembali ke kamar dan melepas kantuknya, tiba-tiba muncul Pangeran Souw Cun bersama dua orang pengawalnya, dua orang laki-laki berusia empatpuluh tahunan yang berpakaian ringkas dan bertubuh tegap.
Lima orang dayang tentu saja terkejut dan mereka segera memberi hormat dengan membungkuk hampir berlutut.
Akan tetapi Souw Cun tidak memperdulikan mereka, melainkan memandang kepada Liong-li yang sedang duduk.
Sikapnya tidak seperti kemarin, ramah gembira.
Kini wajahnya berkerut marah.
"Nah ini ia orangnya! Tangkap ia!"
Perintahnya kepada dua orang pengawal.
Agaknya ia sudah memberitahu kepada dua orang pengawalnya bahwa yang akan ditangkap adalah seorang wanita yang memiliki kepandaian tinggi, agar mereka berdua berhati-hati.
Kini melihat bahwa yang harus mereka tangkap itu seorang wanita yang cantik dan lembut, dua orang pengawal itu saling pandang dan merasa heran.
Akan tetapi mereka tidak berani melanggar perintah majikan mereka dan sekali meloncat mereka sudah berada di kanan kiri Liong-li dan sekali menggerakkan tangan mereka sudah menangkap lengan Liong-li.
Cengkeraman mereka itu kuat sekali.
Kalau Liong-li menghendaki, tentu saja ia akan mampu membela diri, bahkan merobohkan dua orang laki-laki itu, akan tetapi ia tidak berani membocorkan rahasia dirinya, karena hal itu bukan saja akan membahayakan dirinya sendiri, bahkan juga membahayakan Pangeran Souw Han.
Maka, biarpun cengkeraman itu menyakitkan lengannya, ia tidak mau mengerahkan tenaga sin-kang dan bahkan merintih kesakitan.
"Auhhh......, lepaskan... ah, apa kesalahanku, Pangeran? Lepaskan saya!"
Ketika merasa betapa tangan mereka mencengkeram sebuah lengan yang lunak dan tidak bertenaga, dua orang pengawal itu merasa heran dan tentu saja mereka segera mengendurkan cengkeraman.
Mereka adalah jagoan-jagoan, tentu saja merasa malu kalau harus menggunakan kepandaian untuk menghadapi seorang wanita yang lemah.
"Hemm, engkau mata-mata busuk! Diam kau!"
Bentak Pangeran Souw Cun kepada. Liong-li, kemudian mengangguk kepada dua orang pengawalnya.
"Bawa ia!"
Liong-li meronta dan pura-pura ketakutan, namun dua orang pengawal itu menarik dan setengah menyeretnya pergi dari situ, diikuti oleh Pangeran Souw Cun.
Diam-diam Liong-li merasa girang karena ia mengharapkan terbongkarnya rahasia Kwi-eng-cu.
Apakah pangeran congkak ini yang memegang peran dalam rahasia Si Bayangan Iblis?
Ia tentu akan tahu nanti.
Ia tidak khawatir karena kalau tiba saat terakhir, di mana nyawanya terancam, tentu ia akan memberontak dan membela diri.
Bahkan sekarangpun kalau ia mau, ia dapat menjerit dan tentu Pangeran Souw Han akan menolongnya.
Akan tetapi ia sengaja tidak menjerit, pura-pura tidak berani menjerit seperti halnya lima orang dayang itu.
Belum saatnya ia membutuhkan pertolongan Pangeran Souw Han.
Liong-li dibawa ke dalam tempat tinggal Pangeran Souw Cun, dan ketika mereka memasuki ruangan dalam, dua orang pengawal itu mendorongnya masuk.
Dorongan itu cukup kuat dan Liong-li terpaksa harus pura-pura tersungkur ke atas lantai ruangan itu, merintih dan mengaduh.
"Heh-heh-heh, nona. Tidak perlu lagi bermain sandiwara seperti itu, heh-heh!"
Terdengar suara parau.
Liong-li pura-pura terkejut ketakutan, mengangkat mukanya dan memandang dalam keadaan masih terduduk di atas lantai.
Kiranya di dalam kamar itu terdapat seorang laki-laki tua berusia enampuluh tahun lebih, berpakaian seperti seorang sasterawan.
Tubuhnya tinggi kurus dan agak bongkok.
Kakek ini adalah Bouw Sian-seng, yaitu guru yang mengajarkan sastera kepada Pangeran Souw Cun.
"Heh-heh, Pangeran. Ia hanya pura-pura. Jangan paduka terkena tipuannya, heh-heh!"
Katanya lagi.
Kini dia sudah bangkit berdiri dan menggerak-gerakkan kedua tangan yang berlengan lebar itu.
Pakaiannya mewah, bahkan ada hiasan emas pada kancing bajunya, dan juga pada rambutnya.
Akan tetapi Liong-li melihat betapa kumis dan jenggot orang ini kotor dan tidak terawat baik, tanda bahwa di balik kemewahan pakaian itu, sebenarnya dia seorang yang jorok.
"Ketika pertama kali bertemu, akupun sudah menduga begitu, Sian-seng. Ia tentu berbahaya sekali, sudah berhasil menyelundup ke istana!"
Pangeran itu kini duduk di atas kursi, dan dua orang pengawalnya berdiri di belakangnya, siap membela majikan mereka.
Hanya ada empat orang, pikir Liong-li yang masih menangis lirih.
Dua orang pengawal itu tidak ada artinya baginya.
Yang perlu dihadapi dengan hati-hati adalah pangeran itu sendiri dan agaknya kakek inipun menyembunyikan keadaan dirinya yang sebenarnya.
Ia mengingat-ingat siapakah gerangan kakek ini, apakah seorang tokoh kang-ouw, tokoh dunia sesat?
Ia tidak pernah bertemu dengan kakek ini.
Dia inikah yang menjadi dalang keributan Si Bayangan Iblis itu?
Semua kemungkinan ada selama rahasia itu belum dapat ia pecahkan.
"Sudah, tidak perlu berpura-pura menangis, pura-pura sebagai seorang wanita lemah!"
Bentak Pangeran Souw Cun.
"Hayo mengaku saja terus terang siapa engkau sebenarnya, dan apa maksudmu menyelundup ke dalam istana?"
Dengan air mata bercucuran, Liong-li mengangkat muka memandang pangeran itu.
"Saya..... hamba...... tidak mengerti apa maksud paduka...? Hamba bernama Siauw Cu, hamba tadinya seorang dayang Yang Mulia Permaisuri...... hamba lalu diberikan kepada Pangeran Souw Han..... hamba hanya melaksanakan perintah.... dan semua sudah paduka ketahui....."
"Bohong!"
Pangeran Souw Cun membentak marah.
"Semua itu bohong! Engkau tentu mata-mata yang diselundupkan ke sini!"
"Hamba tidak berbohong......!"
"Heh-heh, ia memang pandai bersandiwara, Pangeran. Tentu ada hubungannya dengan gadis yang bekerja di dapur istana itu....... heh-heh......"
Diam-diam Liong-li terkejut. Kakek bongkok itu ternyata cerdik sekali. Menghubungkan ia sebagai dayang dengan gadis di dapur yang tentu dimaksudkan Akim, gadis penyamarannya pula.
"Hayo katakan, engkau tentu mengenal. Akim, gadis pelayan di dapur itu, bukan?" (Lanjut ke
Jilid 10) Si Bayangan Iblis (Seri ke 02 -Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 10
"Hamba tidak...... tidak tahu, hamba tidak mengenal siapapun di dapur istana."
"Heh-heh-heh, Pangeran, tidak ada cara yang lebih manjur untuk memaksa seorang wanita muda mengaku dosanya dari pada mengancamnya dengan perkosaan!"
"Hayo mengaku kau! Kalau tidak, aku akan menyuruh beberapa orang pengawalku untuk memperkosamu bergiliran!"
Bentak pula Pangeran Souw Cun, lalu dia menghampiri Liong-li, tangannya meraih dan mencengkeram baju wanita itu di bagian dada. Liong-li mempertahankan bajunya, berlagak ketakutan.
"Jangan, Pangeran...... ah, jangan......!"
Pangeran Souw Cun mengerahkan tenaga menarik baju itu dengan sentakan kuat.
"Brett......!"
Baju itupun robek dan nampaklah dada Liong-li yang sengaja tidak mempertahankan bajunya.
Ia hanya dapat menangis dan menutupi dada dengan kedua tangannya, menarik-narik baju yang terobek itu untuk menutupi dadanya yang terbuka.
"Ampun, Pangeran. Jangan perkosa saya...... ah, mengapa paduka melakukan ini kepada hamba? Hamba sudah menjadi selir Pangeran Souw Han, beliau amat mencinta hamba...... dan hamba bekas dayang kesayangan Yang Mulia Permaisuri. Kalau hamba diperkosa di sini, kalau hamba dibunuh, tentu Pangeran Souw Han dan Permaisuri akan marah sekali......, jangan hamba yang tidak berdosa ini disiksa......"
Pangeran Souw Cun bermain mata dengan Bouw Sian-seng.
Kakek itu memberi isyarat dengan gelengan kepala.
Mereka berdua tahu betapa benarnya ucapan wanita itu.
Kalau sampai ia diperkosa atau dibunuh, tentu akan mereka hadapi akibatnya yang cukup hebat dan menambah kacau keadaan.
Tentu Pangeran Souw Han akan marah sekali, juga permaisuri takkan tinggal diam.
Hal itu amat merugikan.
"Huh, siapa yang mau memperkosa seorang mata-mata, seorang wanita palsu seperti engkau? Aku hanya ingin memberi hajaran agar engkau mengaku!"
Lalu kepada dua orang pengawalnya, Pangeran Souw Cun berkata.
"Hajar ia dengan sepuluh kali cambukan!"
Dua orang pengawal yang sudah biasa bertindak sebagai algojo itu cepat maju.
Seorang dari mereka memaksa Liong-li untuk berlutut dan bertiarap dengan punggung dan pinggul telanjang, dan seorang lagi lalu mengayun sebatang cambuk.
"Tarrr......!"
Pecut panjang itu untuk pertama kali menyambar dan menyengat punggung Liong-li.
Nampak guratan merah pada kulit yang putih mulus itu.
Liong-li menjerit dan merintih kesakitan.
Akan tetapi cambuk itu menyambar lagi, dua kali, tiga kali, mengenai pinggul, punggung sampai lima kali!
Liong-li terkulai, dan Pangeran Souw Cun mengangkat tangan.
"Cukup!"
Dan cambukan keenam tidak dilakukan. Punggung dan pinggul yang berkulit putih mulus itu kini penuh jalur-jalur merah, bahkan di sana-sini terluka, kulitnya pecah berdarah.
"Engkau masih belum mau mengaku siapa dirimu sebenarnya dan siapa yang memperalat kamu menjadi mata-mata. Kalau tidak mau mengaku, akan kusuruh cambuk lagi sampai engkau mampus!"
Kata Pangeran Souw Cun, kini kata-katanya tidak "terpelajar"
Lagi, melainkan kasar.
Liong-li tidak bermain sandiwara kalau ia menyeringai kesakitan.
Memang bukan main nyerinya dicambuki seperti itu.
Perih, panas dan rasa nyeri hampir tak tertahankan.
Ia menggeleng kepala.
"Hamba tidak bohong, hamba Siauw Cu....... dayang permaisuri....... selir Pangeran Souw Han......."
"Heh-heh, Pangeran. Saya mempunyai cara lain yang membuat ia harus mengaku. Ia tidak akan dapat menahan rasa nyerinya!"
Terbongkok-bongkok Bouw Sian-seng menghampiri Liong-li, lalu menjambak rambut pada pelipis kanan kiri dengan kedua tangannya.
"Nona, kalau engkau tidak mau mengaku, akan kucabut rambut ini dari pelipismu sampai kulitnya terkupas! Katanya sambil menyeringai dan dia mulai menarik rambut di kedua pelipis itu. Liong-li terbelalak saking nyerinya. Kiut miut rasanya, rasa nyeri yang menyengat sampai ke ubun-ubun kepalanya. Hampir saja ia menggerakkan tangan. Sekali pukul saja tentu ia akan dapat membunuh kakek yang menyiksanya ini. Akan tetapi belum saatnya. Ia tahu bahwa kakek itu hanya menggertak. Pelipisnya tidak akan robek. Mereka tidak akan berani membunuhnya.
"Saya...... saya tidak..... tidak bohong......."
"Kanda Souw Cun......!"
Tiba-tiba terdengar teriakan di luar pintu.
Mendengar ini, Bouw Sian-seng cepat melepaskan rambut di kedua pelipis Liong-li dan pendekar wanita inipun jatuh terkulai, merintih lirih, akan tetapi hatinya lega bukan main mendengar suara Pangeran Souw Han di pintu.
"Nah, dia datang......"
Bisik Souw Cun, pangeran yang kini berbalik merasa khawatir.
"Katakan saja ia kurang ajar terhadap paduka, memandang rendah......"
Bisik Bouw Sian-seng.
Daun pintu kamar itu didorong dari luar dan masuklah Pangeran Souw Han dengan muka pucat.
Dia segera melihat Liong-li yang mendekam di atas lantai dengan tubuh bagian belakang telanjang dan berdarah.
"Ya Tuhan! Kanda Souw Cun, apa yang kaulakukan ini? Siauw Cu......!"
Pangeran Souw Han menubruk dan merangkul Liong-li. Wanita ini menangis tersedu-sedu.
"Pangeran......."
Pangeran Souw Han menanggalkan baju luarnya dan menyelimuti tubuh Liong-li dengan jubahnya, menariknya bangkit berdiri.
Dengan lunglai wanita itu bersandar kepadanya dan Pangeran Souw Han merangkulnya, kemudian Pangeran Souw Han kembali memandang Pangeran Souw Cun dengan mata bernyala karena marah.
"Kanda Souw Cun, apa artinya ini? Engkau..... engkau sudah berani menghinaku! Siauw Cu ini selirku, kenapa engkau berani menangkapnya dan...... dan apa yang kaulakukan kepadanya ini? Jawab! Kenapa? Atau kulaporkan kepada Ibunda Permaisuri, kepada Sribaginda?"
Dan sinar matanya yang penuh kemarahan itu juga memandang kepada Bouw Sian-seng yang berdiri agak jauh sambil menundukkan mukanya.
Dua orang pengawal Pangeran Souw Cun juga diam seperti patung.
Mereka tidak merasa khawatir karena mereka hanyalah pelaksana perintah Pangeran Souw Cun.
Pangeran Souw Cun tersenyum.
"Adikku. yang baik, jangan salah paham. Aku sama sekali tidak bermaksud menghinamu. Akan tetapi sudah kuperingatkan engkau. Wanita ini..... ia bersikap kurang ajar kepadaku, bahkan ia berani merayuku......"
"...... tidak benar, Pangeran.....!"
Liong-li Membantah.
"Ha-ha-ha, tentu saja ia ingkar dan tidak berani mengaku. Akan tetapi, Bouw Sian-seng, ini dan dua orang pengawalku menjadi saksinya!"
Souw Han menegakkan kepalanya.
Kalau dia melaporkan kepada Permaisuri dan Kaisar tentu akan terjadi heboh, dan kakak tirinya yang licik ini dapat mengajukan tiga orang itu sebagai saksi dan dia akan tersudut.
"Hemm, kanda Souw Cun. Aku mengenal selirku, ia tidak mungkin berani berbuat seperti itu! Siauw Cu, katakan, apa yang telah dilakukan kanda Souw Cun kepadamu! Engkau tidak...... tidak dihina, di...... nodai, bukan? Aku tidak terima begitu saja!"
Liong-li maklum bahwa Pangeran Souw Han marah sekali. Tidak baik kalau dibiarkan begini. Berbahaya sekali bagi pangeran yang disayangnya itu.
"Tidak, Pangeran..... saya....... saya hanya dicambuk... lima kali!"
Kata Liong-li lirih.
"Mana orangnya yang mencambukmu?"
Liong-li memandang kepada dua orang pengawal yang masih berdiri tegak.
"Mereka itu? Jahanam busuk, kalian harus menerima pembalasan!"
Pangeran Souw Han mengambil cambuk yang masih terletak di situ, lalu menggunakan cambuk itu untuk mencambuki dua orang pengawal.
Dua orang pengawal itu tidak berani melawan, bahkan tidak berani mengelak, terpaksa menerima cambukan-cambukan dari pangeran yang sedang marah dan mengamuk itu.
Sampai cabik-cabik pakaian mereka dan ada jalur-jalur merah di muka mereka.
"Cukup dinda Souw Han! Selirmu dicambuk lima kali dan engkau sudah membalas belasan kali!"
Souw Han melempar cambuk itu ke atas lantai. Mukanya merah karena marah dan dia menuding kepada kakaknya dengan mata melotot.
"Untung bukan engkau yang mencambuki Siauw Cu, kanda Souw Cun. Kalau engkau sekali pun, pasti akan kubalas! Tak seorang pun boleh menghina Siauw Cu, berarti menghina aku. Kanda tahu bahwa aku tidak pernah memusuhimu atau siapapun. Aku pura-pura tidak tahu saja akan segala kebusukkan yang terjadi di sini! Aku tahu bahwa engkau juga bersaing memperebutkan kekuasaan. Aku tidak perduli semua itu, akan tetapi mengapa engkau berani mengganggu Siauw Cu?"
Liong-li melihat dari sudut matanya betapa Pangeran Souw Cun bertukar pandang dengan Bouw Sian-seng.
Ia tidak perlu melapor kepada Pangeran Souw Han bahwa Bouw Sian-seng tadi menyiksanya.
Kakek itu berbahaya sekali.
"Adikku Souw Han. Engkau lebih memberatkan selirmu dari pada kakakmu, aku? Aih, sudahlah. Maafkan. Kalau tadi aku menghukumnya adalah karena aku merasa dihina, dan bukan karena ia hanya seorang bekas dayang, seorang janda...... dan ah, terus terang saja tadinya kami mencurigai selirmu ini. Kami mengira bahwa ia seorang mata-mata yang menyelundup. Aku melakukannya karena sayang kepadamu adikku.
"Kalau ia mata-mata yang menyelundup ke dalam istana dan menipu Ibunda Permaisuri dan juga menipumu, bukankah itu berbahaya sekali, dinda? Karena itu, hukuman cambuk tadi sesungguhnya hanya untuk mengujinya, apakah ia seorang mata-mata berbahaya yang memiliki kepandaian tinggi dan berniat jahat atau bukan."
"Hemm, betapa kejamnya! Dan bagaimana kenyataannya? Lihat, punggung selirku luka-luka berdarah! Dan ia sama sekali tidak berdosa. Ia wanita pertama dan satu-satunya yang kucinta, dan engkau menyuruh algojo-algojomu mencambukinya."
"Sudahlah, adinda yang baik. Aku sudah minta maaf, bukan? Ini hanya kesalah pahaman saja. Biarlah lain hari aku memberi hadiah untuk selirmu ini, untuk menyatakan penyesalan dan maafku." .
"Hemm......!"
Pangeran Souw Han menggandeng lengan dan merangkul pundak Liong-li lalu dipapahnya wanita itu keluar dari situ, terus menuju ke tempat tinggalnya sendiri.
Dia menyesal sekali mengapa para dayangnya tadi terlambat membangunkannya.
Para dayang itu tadi kebingungan melihat Liong-li ditangkap Pangeran Souw Cun.
Untuk melaporkan hal itu kepadanya, mereka tidak berani karena tidak berani mengganggu dia yang sedang tidur.
Akhirnya, mereka itu setelah saling dorong, memberanikan diri beramai-ramai memasuki kamarnya dan membangunkannya, melaporkannnya.
Dia terkejut sekali dan cepat berlari mengejar ke tempat tinggal Pangeran Souw Cun.
Namun sudah agak terlambat.
Liong-li telah dicambuk lima kali sampai leher, punggung dan pinggulnya luka-luka!
Setelah Souw Han dan selirnya pergi, Pangeran Souw Cun mengerutkan alisnya dan mengepal tinju.
"Sialan, ternyata perempuan itu orang lemah, bukan seorang perempuan yang berbahaya seperti yang kita sangka!"
Bouw Sian-seng mengangguk-angguk.
"Biarpun tadinya mencurigakan, akan tetapi setelah kita menyiksanya, jelas bahwa ia seorang yang lemah, sama sekali tidak melawan. Kita telah salah sangka, Pangeran."
"Hemmm, justeru itu celakanya. Ia seorang perempuan biasa, akan tetapi peristiwa ini mendatangkan bahaya baru yang hebat dan yang mengancam kita! Aku khawatir sekali......!"
"Heh-heh-heh, paduka bersikap seolah-olah sudah tidak ada hamba di sini, Pangeran. Apa yang menggelisahkan paduka, katakan saja dan hamba yang akan membereskan!"
"Kaudengar tadi ucapan dinda Souw Han? Dia agaknya telah mengetahui semua rahasiaku!"
"Beliau tadi sedang marah, Pangeran. Mungkin itu hanya gertakan saja karena sedang marah."
"Hemm, dinda Souw Han bukan seorang yang suka bicara bohong atau menggertak. Kalau dia bicara, tentu hal itu benar. Sungguh tidak kuaangka, dia nampaknya tidak perduli dan tidak memperhatikan, akan tetapi dia tahu semua rahasiaku. Ini berbahaya sekali!"
"Lalu, apa yang harus hamba lakukan, Pangeran?"
Pangeran Souw Cun mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala.
"Jangan lakukan apa-apa, hal ini harus kupikirkan masak-masak lebih dulu. Orang seperti Souw Han lebih baik dijadikan sekutu dari pada lawan. Dia disuka oleh semua pangeran, termasuk aku. Dan ibunda Permaisuri juga amat suka kepadanya. Sulit....... sulit biar kupikirkan masak-masak hal ini."
"Aih, kasihan sekali engkau, enci Cu.....!"
Kata Pangeran Souw Han ketika dia memapah Liong-li memasuki kamarnya, disambut oleh lima orang dayang yang memandang dengan mata terbelalak dan hati tegang.
Pangeran Souw Han memapah Liong-li ke pembaringan.
Akan tetapi, ketika pendekar wanita itu duduk, ia mengeluh karena pinggulnya yang terkena lecutan tadi perih.
"Sakitkah, enci Cu?Engkau rebah dulu, aku akan memanggil tabib......"
Dia membantu Liong-li merebahkan diri, akan tetapi begitu telentang, Liong-li merintih, lalu terpaksa miringkan tubuhnya agar bagian yang luka-luka tidak terhimpit.
"Auhhhh......"
"Kasihan engkau, kalau tidak bisa untuk telentang, engkau miring atau telungkup, enci Cu. Aku akan memanggil tabib sekarang."
"Jangan, Pangeran. Tidak usah. Lebih baik keadaan saya ini tidak diketahui orang luar, dan harap pesan kepada para dayang agar merahasiakan peristiwa ini. Saya dapat mengobatinya sendiri, saya mempunyai obat luka yang manjur......"
"Engkau benar, enci Cu. Akan kupanggil mereka semua."
Pangeran Souw Han bertepuk tangan lima kali dan bermunculanlah lima orang dayang itu memasuki kamar.
"Kalian berlima harus melupakan semua yang terjadi tadi, dan tidak menceritakan kepada siapapun juga. Peristiwa yang menimpa nyonya muda tadi tidak pernah terjadi. Mengerti?"
"Hamba mengerti, Pangeran,"
Kata mereka.
"Tolong disediakan air hangat-hangat kuku dalam sebuah panci dan bawa ke sini......"
Kata Liong-li kepada mereka. Mereka izin pergi dan menutup kembali daun pintu kamar.
"Terima kasih, Pangeran. Untung paduka cepat datang."
"Enci Cu, kenapa engkau membiarkan dirimu disiksa seperti itu? Engkau seorang yang berilmu tinggi, kenapa tidak kau hajar saja mereka itu?"
Liog-li tersenyum.
"Harap paduka ingat bahwa tugas saya adalah melakukan penyelidikan, bukan mengamuk dan membuat kacau di istana. Mereka agaknya mencurigai saya, kalau saya saya memperlihatkan kepandaian, berarti rahasia saya akan terbuka. Kini mereka akan menganggap saya seorang wanita biasa yang lemah, dan tidak akan mengganggu saya lagi sehingga saya dapat bekerja dengan baik tanpa dicurigai dan diawasi."
"Hemmm, tapi engkau membiarkan kulit punggung dan pinggulmu pecah-pecah berdarah. Di mana obat luka itu?"
"Di dalam buntalan pakaian saya di almari, Pangeran. Biar saya ambil sendiri dan akan saya obati setelah nanti air panas itu tersedia......"
Liong-li hendak bangkit, akan tetapi ia menyeringai ketika bangkit duduk. Pangeran Souw Han cepat memegang pundaknya dan dengan halus membantunya rebah miring kembali.
"Aih, enci Cu. Engkau terluka dan menderita nyeri. Biarlah aku yang mengambilkan obat dalam buntalan itu."
"Terima kasih, Pangeran."
Pangeran Souw Han, mencari buntalan dalam almari, membukanya dan atas petunjuk Liong-li dia mengeluarkan sebuah bungkusan kertas di mana terdapat obat bubuk putih.
"Saya dapat mengobati sendiri luka-luka ini, Pangeran."
"Enci Cu, bagaimana mungkin engkau akan dapat mengobati luka di punggung dan pinggulmu sendiri? Melihatnyapun tidak dapat. Biar aku yang mengobati, enci Cu."
"Ah, Pangeran. Saya hanya membikin repot paduka saja......,"
Kata Liong-li, akan tetapi di dalam hatinya ia memaki diri sendiri.
Engkau munafik!
Sejak tadi ia sudah bersandiwara.
Kalau di depan Pangeran Souw Cun ia bersandiwara, hal itu ia lakukan demi tugasnya, demi rahasia dirinya agar jangan terbongkar.
Akan tetapi setelah bersama Pangeran Souw Han, ia masih saja sejak tadi bersandiwara.
Luka-luka lecutan seperti itu saja bagi seorang pendekar wanita seperti Liong-li, sedikitpun tidak ada artinya!
Rasa nyeri seperti itu saja tidak akan terasa olehnya.
Jangankan sampai membuat ia mengeluh dan merintih, berkedip pun tidak!
Ia sudah mengalami bahaya dan luka-luka yang lebih hebat lagi.
Akan tetapi bukan saja ia mengeluh dan merintih, juga ia pura-pura tidak dapat duduk dan tidak dapat rebah telentang!
Makin sering Pangeran Souw Han memandangnya dengan sinar mata mengandung iba besar dan mulut mengacapkan kata-kata "kasihan", rintihan yang keluar dari mulut Liong-li semakin mengenaskan!
Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia berubah demikian!
Ingin rasanya ia menampar kepala sendiri, memaki diri sendiri.
"Jangan sungkan enci Cu. Nah, itu air hangatnya datang."
Seorang dayang, setelah mengetuk pintu dan diperbolehkan masuk, membawa panci besar terisi air yang masih mengepulkan uap.
"Taruh di atas bangku ini, kemudian keluarlah dan jangan biarkan siapapun masuk,"
Kata Pangeran Souw Han yang sudah mempersiapkan sebuah bangku dekat pembaringan. Dayang itu menaruh panci di situ, kemudian memberi hormat dan pergi.
"Pangeran, air panas itu untuk mencuci luka-luka, menggunakan sebuah kain bersih. Sesudah dicuci dan dikeringkan, baru ditaburi obat luka yang ditekan-tekan dengan jari tangan agar obat itu melekat dan memasuki bagian yang kulitnya pecah."
Pangeran itu mengangguk-angguk.
"Engkau menelungkuplah, agar lebih mudah mencuci dan mengobatinya,"
Katanya sambil mengambil sehelai kain putih bersih dari almari.
Liong-li menelungkup, menggigit bibir menahan debaran jantungnya yang mengeras.
Ia merasa betapa pangeran itu duduk di tepi pembaringan, dan terdengar suaranya yang lembut dan sopan.
"Enci Cu, maafkan aku kalau terpaksa aku melihat tubuhmu bagian belakang bertelanjang dan maafkan kalau jari-jari tanganku menyentuhnya."
Liong-li merasa geli.
Belum pernah ia bertemu seorang pria yang sudah dewasa begini canggung dan kikuk, begini pemalu.
Sikap ini saja sudah membuktikan bahwa pangeran ini belum pernah bergaul dekat, belum pernah bermesraan dengan wanita.
Dugaan ini saja sudah membuat jantungnya berdebar semakin kencang.
Hati-hati engkau, Liong-li, katanya kepada diri sendiri.
Engkau berada di tepi jurang yang akan menenggelamkanmu.
Tugasmu belum selesai, baru dimulai dan engkau hendak membiarkan dirimu terbius keindahan dan kenikmatan nafsu?
"Pangeran, maafkan saya.
Sebaiknya kalau.....
kalau saya mengobati sendiri luka-luka ini, atau......
menyuruh seorang dayang saja yang melakukannya.
Tidak baik merepotkan paduka, dan pula......
akan membuat paduka menjadi rikuh dan membuat saya menjadi malu saja......"
Hemm, munafik, ia memaki diri sendiri.
Ia malu?
Ia malah bangga dan girang!
"Enci Cu, dalam hal yang gawat ini kita harus menyingkirkan segala perasaan sungkan yang tidak ada gunanya.
Engkau tidak mungkin mengobati luka-luka di tubuh bagian belakang, kedua tanganmu takkan dapat mencapainya.
"Kalau menyuruh dayang, tentu ia akan merasa heran sekali dan siapa tahu keheranannya melihat tubuh belakangmu penuh luka itu akan membuat, ia kelepasan bicara. Dan aku...... aku sama sekali tidak merasa direpotkan atau rikuh karena memang engkau membutuhkan pertolongan. Nah, maafkan, aku akan membuka jubahku yang kuselimutkan padamu ini."
Liong-li menahan senyumnya, menyembunyikan mukanya ke dalam bantal sambil menelungkup ketika merasa betapa tangan pangeran itu menyingkap penutup tubuh belakangnya.
"Aduh, betapa mengerikan......!"
Seru pangeran itu sambil mengamati punggung dan pinggul yang penuh jalur-jalur merah dan di sana-sini kulitnya pecah dan luka berdarah itu.
"Amat burukkah tubuh belakangku?"
Pangeran itu mengamati punggung dan pinggul itu.
"Sama sekali tidak buruk, enci Cu. Punggung dan pinggulmu indah sekali, kulitnya putih halus. Ah, betapa kejamnya mencambuk kulit yang putih mulus ini sampai pecah-pecah......!"
Pangeran itu mulai mencuci darah dari punggung dan pinggul itu, menggunakan kain putih yang dicelupkan di air panas.
Lembut sekali tangan itu menggerakkan kain basah hangat di permukaan kulit yang terluka, dan Liong-li merasakan kelembutan ini, dan kalau kebetulan jari tangan itu menyentuh kulitnya, ia merasa pula betapa tangan pangeran itu gemetar!
Ia merintih lirih.
"Sakitkah, enci Cu?"
Tanya Pangeran Souw Han dengan hati iba. Tentu saja hampir tidak terasa oleh Liong-li kalau hanya nyeri seperti itu, akan tetapi ia merintih dan mengeluh seolah-olah menderita nyeri hebat.
"Perih, Pangeran......"
Katanya lirih.
"Kasihan engkau, enci Cu......."
Entah berapa kali pangeran itu mengatakan hal ini dan makin sering rintihan keluar dari mulut Liong-li!
Gila kau, ia memaki diri sendiri.
Bahaya semakin dekat!
Ia sudah berusaha untuk tidak membiarkan pangeran ini merawatnya, ia membela diri sendiri.
"Sekarang akan kutaburkan obat bubuk ini, enci Cu,"
Kata pangeran itu setelah mengeringkan punggung dan pinggul dengan kain kering.
Kedua tangannya semakin keras gemetar karena selama hidupnya, belum pernah Pangeran Souw Han melihat punggung dan pinggul seperti ini, apa lagi tubuh wanita, dan yang demikian indahnya.
Obat bubuk itu buatan Liong-li sendiri dan amat manjur.
Selain luka akan segera mengering kalau diobati dengan obat ini, juga begitu ditaburkan di atas luka, rasanya dingin dan sejuk, menghilangkan rasa nyeri!
Akan tetapi Liong-li malah merintih-rintih, bukan karena nyeri melainkan karena terbakar gairah yang makin berkobar karena sentuhan-sentuhan tangan Pangeran Souw Han ketika pangeran itu membalurkan obat bubuk itu.
Akan tetapi pangeran itu mengira bahwa Liong-li menderita nyeri yang hebat, maka dia merasa terharu dan kasihan sekali.
"Enci Cu kenapa engkau lakukan ini? Kenapa engkau membiarkan dirimu dihina dan disiksa? Kalau engkau mau, tentu dengan mudah engkau dapat menghajar mereka lalu melarikan diri."
"Aih, pangeran. Bagaimana paduka dapat mengatakan demikian? Kalau saya melarikan diri, tentu paduka akan menghadapi tuntutan dan dakwaan hebat! Bagaimana mungkin saya dapat melakukan itu, mencelakakan paduka? Dari pada mencelakakan paduka, biarlah tubuh saya ini menderita, juga untuk menyembunyikan rahasia saya."
"Hemm, enci Cu. Engkau begini baik, engkau gagah perkasa, cantik jelita, dan engkau pandai menari, bernyanyi, bermain musik, Belum pernah selama hidupku aku bertemu dengan wanita seperti engkau. Enci Cu, sekarang aku tahu bahwa ketika tadi aku mengaku kepada kanda Souw Cun bahwa engkau satu-satunya wanita yang kucinta, maka pengakuan itu bukan sekedar membelamu. Aku memang cinta padamu, enci Cu!"
"Pangeran...... ah, pangeran......!"
Entah siapa yang bergerak lebih dulu, akan tetapi seperti terdorong oleh kekuatan yang hebat mereka saling rangkul.
Mereka berangkulan dan ketika pangeran itu menciumnya, Liong-li tahu bahwa ia sudah kalah.
Sebaliknya, dalam rangkulan wanita yang berpengalaman ini, Pangeran Souw Han yang masih hijau itupun seperti mabok.
Dia lupa bahwa kini Liong-li dapat bergerak, leluasa dan kuat, dapat menelentang tanpa keluhan.
Akan tetapi pada detik terakhir tiba-tiba Liong-li bangkit duduk dan menarik pangeran itu untuk duduk pula.
Mereka duduk di atas pembaringan dan ketika pangeran itu hendak merangkulnya, Liong-li menahannya dengan lembut.
"Nanti dulu, Pangeran. Sebelum terlanjur, saya mohon paduka suka mendengarkan dulu kata-kata saya."
Pangeran Souw Han memandang dengan sinar mata penuh kasih sayang dan kemesraan.
"Katakanlah, enci Cu!"
"Pangeran, paduka adalah Pangeran Souw Han yang selamanya belum pernah bergaul dengan wanita. Sekarang paduka hendak menumpahkan cinta kasih kepada saya, sepatutnya paduka ketahui siapa saya ini.
"Pangeran, saya adalah seorang wanita yang mempunyai riwayat tidak bersih, Pangeran. Ketika gadis, oleh mendiang ayah saya dijual kepada seorang bangsawan. Saya diperkosa, kemudian saya dijual ke rumah pelacuran di mana saya dipaksa menjadi pelacur! Menjadi pelacur, Pangeran! Kemudian setelah saya mendapatkan kepandaian, saya balas semua orang keji dan jahat itu. Nah, saya bukan seorang wanita yang bersih. Benar seperti dikatakan Pangeran Souw Cun, saya tidak pantas menjadi wanita yang menerima kasih sayang paduka untuk pertama kalinya......."
"Enci Cu, aku cinta padamu, tidak perduli siapa engkau ini dan bagaimana masa lalumu. Aku tidak mencinta riwayatmu, aku mencintai dirimu!"
Pangeran itu hendak merangkul lagi, akan tetapi dengan halus Liong-li memegang kedua lengannya.
"Masih belum habis apa yang hendak saya katakan, Pangeran. Terus terang saja, begitu berjumpa dengan paduka, hati saya terpikat. Saya suka sekali dan kagum kepada paduka dan tidak ada kesenangan yang lebih saya inginkan sekarang ini kecuali melayani paduka, saling menumpahkan kasih sayang dengan paduka. Akan tetapi, saya dapat dan senang melakukan hal itu, hanya dengan satu syarat, Pangeran."
"Syarat? Orang bercinta dengan syarat?"
Pangeran itu mengerutkan alisnya.
"Syaratnya, saya tidak dapat menjadi isteri paduka, tidak dapat menjadi selir paduka. Apa yang akan kita lakukan ini adalah suka rela, tidak ada ikatan. Setelah selesai tugas saya di istana ini, saya akan pergi meninggalkan paduka, dan paduka jangan mengharapkan saya kembali apa lagi memaksa saya untuk tinggal di sini. Nah, itulah syaratnya!"
"Terserah...... apa saja kehendakmu........ aku.... aku cinta padamu, enci Cu......!"
Pangeran itu merangkul dan Liong-li menyambutnya dengan senyum manis.
Nafsu berahi, seperti semua nafsu memabokkan.
Orang lupa akan segala yang lain kalau sudah dicengkeram nafsu.
Satu-satunya yang diinginkan hanyalah terpuaskannya nafsu yang sedang menggelora.
Dan di antara segala macam nafsu, nafsu berahi merupakan nafsu yang amat kuat dan sukar diatasi.
Bahkan banyak sudah tercatat dalam sejarah betapa orang-orang besar bertekuk lutut kepada nafsu berahi.
Hek-liong-li Lie Kim Cu adalah seorang pendekar wanita yang mampu melawan apa saja dan biasanya keluar sebagai pemenang.
Iapun bukan seorang budak nafsu.
Akan tetapi, pada saat nafsu berahi mencengkeramnya, iapun hanya seorang manusia dari darah daging yang lupa diri dan lupa segala.
Biasanya, walaupun hatinya tertarik kepada seorang pria, ia tidak akan begitu mudah menyerahkan diri, apa lagi ia sedang berada di tengah-tengah tugas yang berat dan berbahaya.
Kalau tugas itu sudah selesai dan ia berada dalam keadaan santai, tentu ia tidak akan menolak gairah berahinya yang hanya ditujukan kepada orang yang benar-benar dikaguminya saja.
Pangeran Souw Han juga bukan seorang hamba nafsu.
Buktinya, biarpun dia seorang pangeran dan sudah dewasa, dia selalu menahan diri dan tidak pernah mau menyerah, tidak pernah mau bergaul dengan wanita walaupun akan mudah sekali baginya untuk mendapatkan wanita yang cantik dan muda sekalipun.
Akan tetapi kini dia benar-benar kagum sekali kepada Liong-li sehingga dia menyerah terlena dalam pelukan wanita itu.
Mereka tenggelam dam berenang dalam lautan madu asmara, meneguk madu yang memabokkan itu sepuas-puasnya sehingga sehari itu mereka tidak pernah keluar kamar, bahkan lupa makan.
Dalam diri Liong-li, pangeran itu menemukan seorang guru yang pandai dan seorang kekasih yang penuh gairah.
Pria dan wanita itu merupakan pasangan yang serasi sekali.
Yang pria berusia duapuluh tujuh tahun, berwajah tampan dan gagah.
Tubuhnya sedang dan pakaiannya yang serba putih itu bersih, terbuat dari sutera yang halus.
Dagunya yang berlekuk membayangkan keberanian dan matanya mencorong tajam, akan tetapi lebih banyak menunduk.
Yang wanita berusia sebaya, hanya satu-dua tahun lebih muda, pakaiannya serba hijau, cantik dengan mata dan mulut yang menggairahkan, tubuhnya ramping dan gerakannya ketika melangkahkan kaki ringan dan tangkas.
Mereka itu Pek-liong dan Cu Sui In.
Mereka melakukan perjalanan cepat dan berjalan kaki ketika memasuki pintu gerbang kota raja, agar jangan menarik perhatian.
Para penjaga pintu gerbang memandang penuh perhatian.
Siapapun akan tertarik kepada mereka, karena memang mereka itu nampak elok dan gagah.
Akan tetapi tidak ada penjaga pintu gerbang yang menghadang atau mengganggu.
"Kita langsung saja menghadap paman Ciok,"
Kata Sui In.
"Sekarang sudah lewat tengah hari, tentu dia sudah pulang."
Yang diajak bicara hanya mengangguk.
Sui In merasa semakin kagum kepada pendekar itu.
Semenjak pendekar itu menolongnya, kemudian mereka melakukan perjalanan bersama ke kota raja.
Setelah ia bermalam di rumah pendekar itu satu malam, sampai melakukan perjalanan bersama, Pek-liong bersikap sebagai seorang pendekar sejati yang mengagumkan!
Ia adalah seorang janda, dan Pek-liong seorang duda.
Ia kagum kepada duda itu dan mereka melakukan perjalanan bersama.
Akan tetapi, Pek-liong selalu bersikap sopan!
Tak pernah pria muda itu memperlihatkan perasaannya, baik melalui pandang mata atau kata-kata.
Selalu sopan, juga dia pendiam, tidak banyak bicara bahkan tidak bicara kalau tidak ditanya.
Sikap seorang jantan sejati dan sejak pertemuan pertama kali, hati janda muda itu sudah terusik dan ia merasa kagum bukan main.
Ia tentu tidak akan berani menyangkal kalau ada orang mengatakan bahwa ia jatuh cinta kepada Si Naga Putih.
Mendengar bahwa keponakannya pulang bersama seorang pemuda berpakaian putih, Ciok Tai-jin, pembantu Menteri Pajak yang sudah berusia limapuluh lima tahun itu, segera memerintahkan penjaga untuk mempersilakan mereka memasuki ruangan dalam di mana dia menanti seorang diri.
Sui In masuk diikuti Pek-liong.
Setelah mereka masuk, penjaga yang sudah dipesan oleh tuan rumah segera menutupkan daun pintu dan menjaga di luar agar pertemuan dan percakapan majikannya dengan dua orang muda itu tidak terganggu.
Sui In memberi hormat kepada pamannya, lalu memperkenalkan Pek-liong.
"Paman, ini adalah Pek-liong-eng Tan Cin Hay, pendekar sakti yang terkenal sekali dan yang telah menolongku ketika aku dikeroyok oleh orang-orang jahat."
"Tan tai-hiap......!"
Kata pembesar itu ketika Pek-liong memberi hormat kepadanya.
"Silakan duduk, silakan duduk!"
Kemudian dia memandang kepada keponakannya.
"Sui In, mana susiokmu yang katanya hendak kaupanggil dan mintai bantuan itu?"
Sui In mengerutkan alisnya.
"Susiok Giam Sun telah tewas terbunuh orang pula, paman."
"Ahhh? Terbunuh? Bagaimana....... oleh siapa......?"
Dengan singkat namun jelas Sui In lalu menceritakan semua pengalamannya, betapa ia dikeroyok oleh Huang-ho Siang-houw dan Pek-mau-kwi, dan diselamatkan oleh Pek-liong.
Kemudian betapa ia dan Pek-liong menemukan susioknya itu telah tewas dan ada coret-coretan pesan terakhir susioknya yang menuliskan dua buah nama yaitu Pek-mau-kwi dan Kwi-eng-cu.
"Kwi-eng-cu........? Ah, bagaimana mendiang susiokmu itu tahu tentang Si Bayangan Iblis?"
Ciok Tai-jin berseru heran.
"Menurut dugaan kami, paman, susiok terbunuh oleh Pek-mau-kwi dan teman-temannya, dan mungkin sebelum membunuhnya, Pek-mau-kwi menyebut Kwi-eng-cu. Bagaimanapun juga, tentu ada hubungannya antara Pek-mau-kwi dan Kwi-eng-cu, mungkin saja Pek-mau-kwi itu termasuk anak buahnya."
Pembesar itu mengangguk-angguk, lalu dia memandang kepada Pek-liong.
"Dan Tan tai-hiap ikut ke kota raja untuk membantu agar Si Bayangan Iblis dapat ditangkap? Memang para pendekar harus bangkit untuk menangkap pengacau yang amat berbahaya itu. Aku sendiri hampir saja terbunuh oleh iblis."
"Aihh...... paman. Kapan terjadinya dan bagaimana?"
Sui In terkejut bukan main.
"Tidak lama setelah engkau pergi. Ada pembunuh yang datang untuk membunuhku tentu saja, akan tetapi ada bayangan lain yang menyerangnya, sehingga Kwi-eng-cu gagal memasuki rumah ini. Akan tetapi, para pengawal sudah siap dan andaikata dia berani masuk, tentu kami akan mengepungnya."
Pada saat itu, daun pintu ruangan itu diketuk orang dari luar. Ciok Tai-jin mengerutkan alisnya.
"Masuk!"
Katanya dengan suara mengandung kemarahan.
"Hemm, berani engkau mengganggu kami? Sudah kukatakan bahwa aku tidak ingin diganggu siapa pun juga dan engkau berani mengetuk pintu?"
Katanya dengan nada suara marah kepada pengawal itu. Pengawal itu memberi hormat.
"Harap Tai-jin suka memaafkan saya. Saya dipaksa untuk memberitahu kepada Tai-jin bahwa Cian Hui Ciang-kun minta menghadap Tai-jin. Katanya harus sekarang juga karena amat penting. Saya tidak dapat dan tidak berani menolaknya lagi......!"
"Cian Ciang-kun? Persilakan dia masuk!"
Ciok Taijin berkata dan sikapnya berubah mendengar nama Cian Hui.
"Orang inilah yang diharapkan semua pihak akan dapat membongkar rahasia Kwi-eng-cu, bahkan dia menerima tugas itu dari Sribaginda Kaisar sendiri,"
Bisiknya kepada Pek-liong dan Sui In.
Mendengar nama ini, Sui In juga menaruh perhatian, karena ia pernah pula mendengar nama besar Cian Ciang-kun sebagai seorang perwira yang amat pandai dalam membongkar perkara kejahatan.
Hanya Pek-liong yang belum pernah mendengar nama itu dan dia bersikap tenang saja.
Ketika pria itu masuk, diam-diam Pek-liong memperhatikan.
Seorang laki-laki yang usianya kurang lebih empatpuluh tahun dan yang memiliki wajah dan pembawaan yang amat gagah.
Wajahnya yang bentuk persegi itu jantan, dengan dagu berlekuk keras, alis yang tebal sekali dan hitam berbentuk golok, hidungnya besar mancung, mulutnya membayangkan keramahan!
Sepasang matanya jelas membayangkan kecerdasan dan memiliki sinar yang hidup dan lincah.
Tubuhnya tegap dan kokoh, agak tinggi.
Jenggot dan kumisnya terpelihara rapi menambah kejantanan.
Dengan sikap gagah dan ramah dia mengangkat kedua tangannya, memberi hormat kepada Ciok Tai-jin dan berkata.
"Ciok Tai-jin, harap maafkan saya yang datang mengganggu dan memaksa para penjaga untuk melaporkan kedatangan saya menghadap Tai-jin."
Ciok Tai-jin cepat membalas penghormatan itu.
"Ah, tidak mengapa, Ciang-kun. Bahkan kami merasa senang sekali akan kunjungan Ciang-kun ini karena kami yakin bahwa ciang-kun tentu membawa berita penting."
Cian Hui kini memandang kepada Sui In dan dia tidak menyembunyikan rasa kagumnya.
Berita yang didengarnya bahwa keponakan pejabat tinggi ini cantik dan gagah perkasa, ternyata tidak berlebihan.
Wanita ini memang cantik jelita dan nampak gagah, dan sudah janda pula.
Diapun mengangkat tangan memberi hormat kepada wanita itu dan juga kepada Pek-liong yang sudah diamatinya dengan penuh perhatian.
Juga pandang matanya kepada Pek-liong tidak menyembunyikan kekagumnnya.
"Nona Cu Sui In dan tai-hiap Pek-liong-eng, selamat bertemu dan maafkan kalau aku mengganggu."
Sui In terbelalak, dan Pek-liong diam-diam juga memandang kaget.
"Bagaimana Ciang-kun dapat mengenalku? Pada hal kita belum pernah saling bertemu, atau berkenalan,"
Tanya Sui In.
"Hemm, juga kita baru saja saling bertemu di sini, Ciang-kun. Bagaimana Ciang-kun dapat mengenalku?"
Cian Hui tersenyum.
"Ah, itu hanya permainan kanak-kanak. Ketika ji-wi lewat di pintu gerbang, seorang penyelidikku yang berpengalaman telah melihat ji-wi, (kalian berdua) dan setelah menyuruh seorang kawannya melapor kepadaku, dia membayangi kalian. Karena itulah, aku tahu bahwa kalian berada di sini dan datang menyusul."
"Silakan duduk, Cian Ciang-kun,"
Kata Ciok Tai-jin.
"Kami yakin hanya kedatangan Ciang-kun ini tentu membawa suatu kepentingan besar."
"Memang benar, Tai-jin. Terutama sekali saya mempunyai kepentingan dengan tai-hiap Pek-liong-eng Tan Cin Hay."
Cin Hay merasa kagum.
Orang ini memang cerdik dan cekatan sekali.
Cara kerjanya mengagumkan dan kalau hal itu ditambah dengan ilmu silat yang tinggi, maka aneh kalau kekacauan di kota raja tidak dapat diatasi olehnya.
"Kita baru saja saling jumpa, Ciang-kun. Bagaimana Ciang-kun dapat mempunyai kepentingan dengan aku?"
Tanya Pek-liong sambil memandang tajam penuh selidik.
"Sebelum kita bicara lebih lanjut, sebaiknya kalau kusampaikan saja surat ini kepadamu, tai-hiap. Tadinya aku memang hendak mencarimu di dusun Pat-kwa-bun, akan tetapi kebetulan penyelidikku melapor akan kemunculanmu di kota raja, maka langsung saja aku menyusul ke sini untuk menyerahkan surat ini kepadamu! Dari saku bajunya, Cian Ciang-kun mengeluarkan surat dari Hek-liong-li yang dititipkan kepadanya. Pek-liong menerima surat itu dan membuka sampulnya. Begitu mengenal tulisan yang indah dan kuat itu, diapun tersenyum. Kiranya pria yang gagah ini sudah lebih dulu mengadakan hubungan dengan Liong-li! Dia segera membaca surat itu, dipandang oleh tiga orang yang duduk di situ. Pek-liong tercinta, Kalau engkau membaca surat ini, berarti aku berada dalam bahaya dan membutuhkan bantuanmu karena kupesan kepada Cian Ciang-kun untuk menyerahkan surat ini kepadamu kalau aku berada dalam bahaya. Selanjutnya engkau dapat berunding dengan dia. Hek-liong-li. Begitu membaca surat ini, Pek-liong bagaikan seekor singa yang mencium adanya musuh berbahaya. Wajahnya menjadi agak kemerahan, sepasang matanya kini mencorong dan bergerak-gerak dengan lincah, penuh semangat bertempur dan lenyaplah semua sifat lain, yang tinggal hanyalah kekerasan, ketenangan, dan kewaspadaan yang didukung semangat tempur yang luar biasa kuatnya.
"Cian Ciang-kun, harap engkau cepat menceritakan di mana adanya Liong-li dan bagaimana dapat bekerja sama denganmu. Singkat saja namun jangan melewatkan sesuatu yang mungkin penting!"
Dalam suara itu terdapat perubahan.
Kini suara itu mengandung wibawa yang kuat, seperti seorang panglima yang memberi perintah rahasia penting kepada seorang pembantunya.
Cian Hui dapat merasakan benar wibawa ini dan diapun menjadi serius.
Dengan singkat namun padat, dia menceritakan tentang pembunuhan-pembunuhan rahasia yang terjadi di kota raja dan tentang tugas yang diberikan kepadanya oleh Sribaginda Kaisar untuk membongkar rahasia itu dan menangkap pengacaunya yang hanya dikenal dengan sebutan Si Bayangan Iblis.
Betapa kemudian dia minta bantuan Hek-liong-li untuk melakukan penyelidikan di dalam istana.
"Atas prakarsanya, kami berhasil menyelundupkaan Lie li-hiap ke dalam istana sebagai seorang dayang dari Permaisuri, setelah li-hiap menduga bahwa tentu rahasia itu berpusat dalam istana. Akan tetapi, kami mendengar berita mengejutkan dari istana, Hong-houw (Permaisuri) demikian cerdiknya sehingga mengetahui rahasia penyamaran Lie li-hiap."
Dia berhenti sebentar dan tiga orang pendengarnya menahan napas saking tegangnya.
Mereka semua sudah mendengar bahwa Hong-houw adalah seorang wanita luar biasa yang amat cerdik, bahkan kini menjadi orang yang paling berkuasa di kerajaan karena Sribaginda Kaisar sendiri seperti boneka lilin di tangannya.
"Bagaimana selanjutnya?"
Tanya Pek-liong, sikapnya masih tenang biarpun hatinya dicekam kekhawatiran.
Dia percaya sepenuhnya kepada Liong-li dan yakin akan kemampuan wanita yang paling dipujanya di seluruh dunia itu.
Akan tetapi sekarang Liong-li berada di dalam istana!
Betapapun lihainya seseorang, kalau berada di dalam istana bagaikan berada di dalam benteng baja yang kokoh dan kuat dan di dalam istana terdapat banyak sekali orang-orang yang cerdik pandai dan orang-orang yang berilmu tinggi, jagoan-jagoan yang amat lihai.
"Entah bagaimana, dan entah akal apa yang dipergunakan oleh li-hiap, akan tetapi menurut keterangan penyelidik yang kutugaskan di sana, li-hiap tidak dihukum oleh Permaisuri, bahkan oleh Permaisuri ia diberikan kepada Pangeran Souw Han sebagai seorang selir."
"Hemm, dan apa artinya peristiwa itu?"
Tanya Pek-liong yang sama sekali tidak mengenal keadaan di dalam istana kaisar.
"Peristiwa itu menarik sekali untuk diselidiki,"
Kata Cian Hui.
"Banyak kejanggalan terjadi di sini. Pertama, semua orang tahu bahwa tidak ada orang yang akan dapat lolos dari hukuman mati apabila Hong-houw memusuhinya atau menganggapnya berdosa. Kenyataannya bahwa li-hiap tidak dihukum membuktikan bahwa Permaisuri tentu tidak memusuhinya walaupun penyelundupannya diketahui.
"Dan kedua, li-hiap diserahkan kepada Pangeran Souw Han sebagai selir, pada hal pangeran muda itu terkenal sebagai seorang yang alim, yang sama sekali tidak pernah bergaul dengan wanita seperti para pangeran lain. Kini tiba-tiba saja dia mau menerima seorang selir!"
Kembali Cian Ciang-kun berhenti dan pandang matanya mengamati wajah Pek-liong. Akan tetapi pendekar ini tidak menunjukkan sesuatu pada wajahnya.
"Dan menurut Ciang-kun, apa artinya kejanggalan-kejanggalan itu?"
"Kalau Hong-houw tidak menghukumnya, hal itu berarti bahwa ada kerja sama antara li-hiap dan Hong-houw, atau lebih tepat lagi Hong-houw, memanfaatkan kehadiran li-hiap di istana untuk mengerjakan sesuatu. Agaknya, Hong-houw yang sengaja menyelundupkan li-hiap ke dalam istana bagian pria dengan cara menghadiahkannya kepada Pangeran Souw Han."
"Kenapa kepada Pangeran Sauw Han?"
"Karena pangeran itu merupakan seorang yang paling disuka dan paling dapat dipercaya, yang bersih dari pada persaingan yang terjadi di istana. Selain itu, juga dia terkenal tidak suka bergaul dengan wanita, dan hal ini yang membuat li-hiap suka dihadiahkan sebagai selir. Tentu hanya luarnya saja demikian, Pangeran Souw Han tidak akan mau mengganggunya, sehingga li-hiap dapat leluasa mengadakan penyelidikan dengan sembunyi di kamar pangeran itu sebagai selir, tidak menimbulkan kecurigaan."
Pek-liong mengangguk-angguk dan merasa kagum. Benar dugaannya, orang she Cian ini memang cerdik sekali.
"Kalau begitu, kita boleh menghapus nama Permaisuri sebagai orang yang boleh dicurigai memimpin komplotan Si Bayangan Iblis?"
Tanyanya.
"Tentu saja! Sejak dulu akupun yakin bahwa Si Bayangan Iblis itu bukan dikendalikan oleh Hong-houw. Beliau memegang tampuk kekuasaan. Untuk melenyapkan orang yang tidak disukainya, beliau tinggal menuding saja dan orang itu akan ditangkap dan dibunuh. Tidak perlu beliau mempergunakan pembunuh gelap seperti Si Bayangan Iblis, karena hal itu hanya akan merugikan beliau sendiri."
"Sekarang katakan mengapa engkau menyerahkan surat Liong-li kepadaku, Ciang-kun? Bahaya apakah yang mengancam diri Liong-li?"
"Inilah yang mencemaskan hatiku, tai-hiap. Dari penyelidik yang kutugaskan di sana, aku mendapat kabar mengejutkan kemarin. Menurut penyelidik itu, Liong li-hiap ditangkap oleh Pangeran Souw Cun dan diberi hukuman cambuk. Pangeran Souw Han datang menyelamatkannya dan agaknya terjadi ketegangan antara kedua orang pangeran itu. Kabar yang disampaikan penyelidik itu hanya mengatakan bahwa li-hiap mengalami luka-luka di punggung karena lima kali cambukan, akan tetapi kini telah diajak kembali oleh Pangeran Souw Han."
"Ahhh......!"
Sui In berseru khawatir.
Akan tetapi Pek-liong menerima berita ini dengan tenang-tenang saja.
Kalau hanya hukuman cambuk lima kali, tidak ada artinya bagi Liong-li, dan kalau sampai punggungnya berdarah, hal itu tentu disengaja oleh Liong-li yang hendak menyembunyikan kepandaiannya.
Dia tahu benar kecerdikan rekannya itu.
"Siapakah Pangeran Souw Cun itu?"
Cian Ciang-kun mengerutkan alisnya.
"Hemm, bukan seorang pemuda yang baik, tai-hiap. Bahkan tidak akan heran aku kalau kemudian ternyata bahwa dia yang menjadi majikan dari para pembunuh itu. Dia memang bisa berbahaya sekali."
"Hemmm..... tahukah engkau kenapa dia menangkap dan mencambuki Liong-li yang sudah menjadi selir Pangeran Souw Han?"
Perwira itu menggeleng kepala.
"Tidak ada, yang mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Tahu-tahu li-hiap ditangkap Pangeran Souw Cun sendiri yang datang bersama pengawalnya selagi Pangeran Souw Han tidur dan li-hiap berada di ruangan para dayang, lalu li-hiap dibawa ke kamar Pangeran Souw Cun. Yang berada di sana hanya pangeran itu bersama pengawalnya dan Bouw Sian-seng sehingga penyelidikku tidak dapat tahu apa yang terjadi. Lalu Pangeran Souw Han datang dan membawa li-hiap kembali ke tempat tinggalnya dalam keadaan luka-luka dari pencambukan itu."
"Kalau begitu, berarti bahaya sudah lewat. Liong-li tidak terancam bahaya lagi."
"Kurasa tidak demikian, tai-hiap. Hek-liong-lihiap memang memesan kepadaku untuk menyerahkan surat itu kepada tai-hiap kalau ia terancam bahaya dan aku melihat bahaya besar mengancamnya, bukan hanya karena pencambukan itu, melainkan akibatnya.
"Akibat dari peristiwa itu dapat hebat dan amat berbahaya, tai-hiap. Jelas bahwa Pangeran Souw Cun mencurigai li-hiap dan karena li-hiap secara resmi telah menjadi selir Pangeran Souw Han, maka perbuatan Pangeran Souw Cun itu berarti penghinaan terhadap Pangeran Souw Han. Hal ini dapat memancing permusuhan secara terbuka.
"Mengingat bahwa Pangeran Souw Han adalah seorang pangeran yang bersih dari persaingan di istana dan beliau tidak mempunyai pengawal atau jagoan, sebaliknya Pangeran Souw Cun amat kuat kedudukannya, maka tentu saja amat berbahaya bagi li-hiap."
Pek-liong mengerutkan alisnya. Dia sudah membuat perhitungan, lalu tiba-tiba bertanya.
"Cian Ciang-kun, dapatkah engkau menyelundupkan aku ke istana, hari ini juga? Memang mungkin sekali Liong-li membutuhkan bantuanku."
"Hemm!"Cian Ciang-kun meraba-raba jenggotnya yang rapi, alisnya berkerut.
"Kurasa dapat, tai-hiap. Akan tetapi agar tidak terlalu menyolok, tai-hiap dapat kuselundupkan sebagai seorang tukang kuda yang bekerja di istal kuda istana yang letaknya di bagian belakang kompleks istana bagian pria."
"Bagus! Tolong buatkan gambar atau peta mengenai keadaan di istana, di mana adanya istal itu dan di mana pula tempat tinggal para pangeran, agar mudah bagiku untuk melakukan penyelidikan."
Sui In lalu cepat mengambilkan alat tulis dan tak lama kemudian, Cian Hui sudah membuatkan peta untuk Pek-liong. Peta itu tidak dibawa Pek-liong, melainkan dipelajari dan dihafalkan.
"Akupun ingin membantu,"
Kata Sui In.
"Sungguh tidak enak menunggu di rumah, sedangkan Hek-liong-lihiap dan Tan Tai-hiap bekerja berat dan menghadapi bahaya di istana. Cian Ciang-kun, dapatkah ciang-kun memberi saran bagaimana aku dapat memasuki istana dan mengunjungi Lie li-hiap? Aku dapat mengaku sebagai saudara sepupu!"
Cian Hui memandang dan dia melihat betapa wanita itu bersungguh-sungguh.
Mata yang bening itu memandang kepadanya dengan penuh harapan.
Ia dapat menjenguk isi hati wanita ini.
Sebagai isteri seorang korban pembunuhan misterius itu, tentu saja ia ingin membalas kematian suaminya dan sedapat mungkin membantu agar pembunuh itu dapat tertangkap.
Dan dia mendengar bahwa Cu Sui In adalah seorang murid Kun-lun-pai yang lihai sehingga tenaganya memang boleh diandalkan untuk membantu Hek-liong-li.
"Sui In, apakah tidak akan terlalu berbahaya untukmu?"
Ciok Tai-jin yang sejak tadi hanya menjadi pendengar saja, kini bertanya dengan nada suara khawatir.
Dia tidak hanya mengkhawatirkan keselamatan keponakan isterinya itu, akan tetapi juga keselamatan keluarganya sendiri.
Kalau sampai Sui In terlibat dalam keributan di istana, kemudian ketahuan bahwa ia masih keponakannya, bukan tidak mungkin seluruh keluarganya akan terlibat.
Agaknya Sui In dapat menjenguk isi hati pamannya.
"Harap paman tidak khawatir. Saya tidak akan menyebut nama paman, juga tidak akan mengaku sebagai anggauta keluarga paman. Saya akan (Lanjut ke
Jilid 11) Si Bayangan Iblis (Seri ke 02 -Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 11 mengaku sebagai seorang saudara sepupu dari Lie li-hiap...... ah, siapa tadi nama samarannya Cian Ciang-kun?"
"Ketika kuselundupkan sebagai dayang, namanya Akim, akan tetapi setelah menjadi selir Pangeran Souw Han, ia diberi nama Siauw Cu oleh Permaisuri."
"Siauw Cu....... hemm, siapakah lebih tua antara kami, Ciang-kun? Berapa usianya?"
Cian Hui tersenyum.
"Aku sendiri tidak tahu berapa usianya. Sungguh tidak mudah menaksir usia wanita, apa lagi Lie li-hiap."
"Usianya duapuluh lima tahun,"
Kata Pek-liong.
"Dan aku duapuluh enam tahun. Biarlah aku akan mencari adik Siauw Cu saudara sepupuku. Tentu saja harus ada surat pengantarnya dan kuharap Cian Ciang-kun suka membantuku."
Cian Ciang-kun memandang kepada Pek-liong seolah minta pertimbangan pendekar itu. Pek-liong mengerti dan diapun berkata.
"Tingkat kepandaian adik Cu Sui In cukup tinggi sehingga diharapkan ia akan mampu menjaga diri sendiri, juga mungkin saja dapat membantu Liong-li."
"Bagus kalau begitu! Baiklah, nona Cu, akan kuusahakan agar engkau dapat memasuki istana sabagai tamu dari Lie li-hiap. Sebetulnya hal ini bahkan baik sekali karena Lie li-hiap dan Tan tai-hiap dapat berhubungan dengan aku yang di luar istana melaluimu.
"Tan tai-hiap, jangan lupa untuk segera memberi kabar kepadaku tentang keadaan di sana. Kalau ada bahaya, cepat kabarkan sehingga aku dapat mengusahakan bantuan."
"Hemm, kalau kami terancam bahaya, siapa yang akan dapat membantu kami, Ciang-kun?"
Pek-liong ingin tahu.
"Hanya ada satu orang yang akan dapat membantumu, yaitu Sribaginda Kaisar sendiri! Kalau memang kalian dapat mengumpulkan bukti-bukti dan keterangan bahwa Si Bayangan Iblis berada di istana, maka aku dapat menghadap Sribaginda Kaisar yang tentu akan mengerahkan pasukan untuk mengadakan pembersihan di istana!"
"Baik sekali. Memang itu satu-satunya jalan. Baiklah, Ciang-kun, mari kita membuat persiapan karena aku harus berada di istana hari atau malam ini juga agar jangan sampai terlambat."
"Aku juga ingin cepat-cepat mengunjungi adik Siauw Cu,"
Kata Cu Sui In sambil memandang ke arah Pek-liong.
Pendekar yang amat dikaguminya itu siap menempuh bahaya.
Mengapa ia tidak berani?
Bukan saja untuk membalas kematian suaminya, akan tetapi juga dan ini terutama sekali, agar dia dapat bekerja sama dengan Pek-liong!
Pek-liong berhasil dimasukkan ke istana oleh Cian Hui dan diterima oleh kepala bagian pemeliharaan kuda istana, seorang pejabat istana yang menjadi sahabat Cian Ciang-kun, sebagai seorang tukang memelihara kuda.
Pek-liong menggunakan nama A-cin dan dengan penyamarannya yang sempurna, dia membuat mukanya yang tampan berubah menjadi penuh bopeng yaitu totol-totol hitam seperti bekas penyakit cacar.
Dan A-cin segera diterima dengan baik oleh para pekerja di situ karena dia begitu datang pada siang hari itu terus bekerja dengan rajinnya, tenaganya kuat dan diapun cepat akrab dengan kuda-kuda yang dipelihara di situ, tanda bahwa dia memang sudah biasa merawat kuda.
Ketika makan sore, diapun makan hanya sedikit.
Orang yang sederhana, tidak banyak bicara, tidak banyak makan, akan tetapi banyak bekerja seperti inilah yang disukai kawan-kawan sekerjanya.
Diapun pendiam sekali, tidak bicara kalau tidak ditanya.
Karena itu, dia tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali.
Siapa yang akan curigai seorang laki-laki bermuka bopeng, sederhana dan rajin bekerja seperti itu?
Ketika malam tiba, diapun lebih suka tidur di kandang kuda, di atas rumput-rumput kering, dengan alasan bahwa dia tidak biasa tidur di pembaringan yang lunak, apa lagi bersama orang lain.
Tentu saja kesederhanaannya itu ditertawakan orang, akan tetapi mereka sama sekali tidak menaruh keberatan, bahkan girang karena kuda-kuda itu ada yang menjaganya sehingga para pekerja yang lain boleh enak tidur tanpa terganggu.
Biasanya, kalau ada kuda meringkik tidak wajar, mereka terpaksa bangun untuk memerikaa kandang kuda.
Sekarang, ada A-cin tidur di istal, mereka tidak perlu bangun lagi kalau ada keperluan di kandang itu.
Setelah malam sunyi dan semua pekerja pulas, A-cin berubah menjadi sesosok bayangan yang berkelebat cepat.
Pek-liong selalu berpakaian serba putih, akan tetapi karena sekarang dia sedang menyamar dan melakukan penyelidikan, dia menutupi pakaian putih itu dengan jubah dan celana hitam, bahkan menutupi hidung dan mulutnya dengan saputangan hitam pula.
Dengan beberapa loncatan saja diapun berkelebat lenyap dari situ, ia mengambil jalan yang sudah dihafalnya dari peta yang dibuat Cian Hui sebelum mereka memasuki istana tadi.
Dia sudah mempelajari semua keadaan keluarga Kaisar dari Cian Hui.
Dia tahu bahwa Sribaginda Kaisar Tang Kao Cung yang usianya kurang lebih limapuluh tahun itu adalah seorang kaisar yang lemah karena seolah-olah menjadi boneka di tangan isterinya, Permaisuri Bu Cek Thian!
Biarpun kaisarnya masih Kaisar Tang Kao Cung, namun sudah menjadi rahasia umum bagi para pejabat bahwa segala keputusan keluar dari mulut Permaisuri melalui Kaisar.
Juga Putera Mahkota, Tiong Cung, putera kandung Bu Cek Thian, tidak berbeda dari ayahnya, merupakan boneka yang dimainkan oleh ibunya sehingga dia terkenal sebagai seorang pangeran yang manja, malas dan tidak mempunyai semangat, tidak memiliki prakarsa.
Segala keputusan penting yang diambil Kaisar tentu lebih dulu melalui penyaringan Permaisuri.
Karena itu, kekuasaan Bu Cek Thian amat besarnya dan semua orang takut kepadanya.
Dan permaisuri ini terkenal keras dan kejam terhadap lawan-lawannya, yaitu mereka yang menentang kekuasaannya, juga ia memelihara banyak jagoan yang lihai.
Namun, di samping itu semua, Bu Cek Thian terkenal amat cerdik.
Satu di antara kecerdikannya yang membuat ia berhasil dalam ambisinya adalah cara ia mendekati para panglima perang.
Ia teramat royal bahkan memanjakan para panglima sehingga dapat dibilang semua panglima merasa berhutang budi dan suka kepadanya, hal yang menimbulkan kesetiaan, dan sekali para panglima mendukungnya, maka kekuasaan mutlak berada di tangannya tanpa ada yang berani mengganggu gugat.
Di samping Pangeran Tiong Cung yang menjadi Putera Mahkota dan yang menjadi seperti boneka di tangan ibunya, ada lagi Pangeran Li Tan.Pangeran ini juga putera kandung Bu Cek Thian, baru berusia tigabelas tahun.
Pangeran ini lebih bersemangat dari pada kakaknya, namun karena ia kehilangan perhatian dari ibu kandungnya, ia menjadi nakal walaupun cerdik.
Pangeran Souw Cun adalah pangeran yang paling berbahaya di antara semua pangeran, demikian Pek-liong mendengar dari Cian Hui.
Pangeran Souw Cun ini terkenal petualang dan mata keranjang, bukan saja suka berkeliaran di luar istana dan mendatangi tempat-tempat pelacuran, akan tetapi juga suka berburu, berjudi dan mabok-mabokan.
Akan tetapi diapun suka belajar ilmu silat dan bergaul di antara orang-orang dari dunia persilatan.
Maka, pangeran itu patut diawasi dan diamati gerak geriknya karena orang seperti dia besar sekali kemungkinannya bersekongkol dengan tokoh-tokoh sesat.
Sebaliknya, Pangeran Souw Han terkenal sebagai pangeran yang lembut dan baik, jujur dan disuka karena tidak memusuhi siapa pun, tidak berambisi dan tidak ikut bersaing memperebutkan kekuasaan.
Tokoh ini amat penting dan menarik bagi Pek-liong, terutama sekali karena kepada pangeran inilah Liong-li diberikan sebagai selir!
Dia dapat menduga bahwa tidak mungkin Liong-li menjadi selir benar-benar.
Tentu hal itu hanya merupakan siasat saja dari Permaisuri untuk menyelundupkan Liong-li ke dalam istana bagian pria dan hendak dijadikan mata-mata atau penyelidik demi kepentingan Permaisuri sendiri tentunya.
Di antara banyak pangeran lain yang tidak begitu penting, ada lagi seorang pangeran yang patut diperhatikan menurut keterangan Cian Hui, yaitu Pangeran Kim Ngo Him, mantu dari Sribaginda Kaisar.
Menurut Cian Ciang-kun, pangeran yang menjadi mantu kaisar inipun berambisi dan dia juga mempunyai jagoan-jagoan.
Hanya mereka itulah yang perlu mendapatkan perhatian utama dari Pek-liong.
Malam itu, Pek-liong berlompatan sambil menyelinap di antara wuwungan bangunan istana yang luas, menuju ke tempat tinggal Pangeran Kim Ngo Him yang berada di pinggir.
Sebagai seorang mantu kaisar, tentu saja kedudukannya agak lebih rendah dibandingkan dengan pangeran putera kaisar.
Tiba-tiba dengan cepat sekali dia mendekam di balik wuwungan karena dia melihat berkelebatnya bayangan hitam dari arah kiri.
Bayangan itu ringan sekali gerakannya dan kakinya tidak mengeluarkan suara sedikitpun ketika menginjak genteng.
Hal ini saja membuktikan bahwa bayangan itu memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat.
Dan bayangan itupun tiba-tiba berhenti, membalik dan begitu tangannya bergerak, nampak benda-benda hitam kecil meluncur ke arah tubuh Pek-liong!
Pendekar ini cepat mengelak dengan loncatan ke kanan, dan terdengar suara berkelentingan ketika paku-paku itu jatuh ke atas genteng.
Dan sebelum Pek-liong sempat melarikan diri, bayangan itu seperti terbang saja sudah meloncat dan menyerangnya bagaikan seekor burung rajawali menyambar mangsanya!
Kedua tangannnya dijulurkan ke depan, menyerang ke arah kepala Pek-liong.
Ketika ada angin menyambar membawa hawa panas, Pek-liong maklum bahwa lawannya tidak boleh dipandang ringan.
Diapun mengerahkan tenaga sin-kang menyambut dengan kedua tangan terbuka.
"Dessss......!!"
Dua pasang telapak tangan bertemu di udara dan akibatnya, bayangan hitam itu terdorong dan terlempar ke atas sedangkan Pek-liong sendiri harus mempertahankan diri untuk tidak terhuyung jatuh.
Dia merasa betapa tenaga lawan itu amat kuatnya, dan andaikata mereka berdua sama-sama berpijak di atas tanah, belum tentu dia akan menang tenaga.
Orang itu terpental karena tubuhnya masih berada di udara.
Dan hebatnya orang yang terpental ke atas itu berjungkir balik beberapa kali dan tubuhnya melayang ke bawah.
Ketika Pek-liong mengejar ke bawah, bayangan itu sudah lenyap.
Melihat keadaan sekelilingnya, Pek-liong merasa yakin bahwa orang itu tentu menyelinap masuk ke dalam bangunan itu, tempat tinggal Pangeran Kim Ngo Him, mantu kaisar!
Tentu saja Pek-liong menjadi heran dan curiga.
Tentu ada hubungan antara si bayangan tadi, entah dia itu Si Bayangan Iblis atau bukan, dengan Pangeran Kim Ngo Him.
Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin orang tadi dapat bersembunyi di rumah itu.
Diapun menyelinap masuk pekarangan lalu memasuki taman di sebelah rumah, dengan cepat namun hati-hati dia mendekati jendela rumah yang berada di samping.
"Tolong......! Ada penjahat..........!!"
Tadinya Pek-liong terkejut dan mengira bahwa dia yang diteriaki, maka dia sudah siap siaga kalau-kalau ada yang akan menyerang atau mengeroyoknya.
Akan tetapi tidak ada bayangan orang, dan di dalam rumah itu terjadi keributan.
Diapun meloncat ke atas genteng dan melakukan pengintaian.
Di ruangan belakang dia melihat seorang nenek yang usianya sudah enampuluh lima tahun lebih, kurus kering, sedang berdiri gemetaran dan seorang pemuda tampan yang berpakaian bangsawan bersama enam orang pengawal berdiri di depan nenek itu.
Pangeran itu agaknya marah kepada si nenek yang nampak ketakutan.
"Lo-ma, engkau membikin kaget saja! Mana ada penjahat? Kenapa engkau berteriak-teriak membangunkan seisi rumah dengan teriakan penjahat?"
Tanya bangsawan muda yang bukan lain adalah Pangeran Kim Ngo Him seperti yang sudah diduga oleh Pek-liong itu. Nenek kurus kering itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki pangeran.
"Aduh, ampunkan hamba yang sudah tua ini, pangeran. Bagaimana hamba berani mengacau dan membikin ribut? Hamba berani bersumpah bahwa baru saja memang ada penjahat masukke sini. Hamba terkejut melihat bayangan hitam itu meloncat ke sini. Agaknya diapun tidak menduga bahwa hamba belum tidur dan berada di sini, maka dia meloncat lagi dan lenyap. Hamba lalu menjerit saking kaget dan takut. Ampunkan hamba......"
"Sudahlah, Kui Lo-ma, jangan ribut lagi. Hayo kalian cepat melakukan perondaan dan pemeriksaan!"
Kata pangeran itu kepada para pengawalnya.
Mendengar ini, Pek-liong sudah mendahului meloncat pergi meninggalkan tempat itu.
Dia kini merasa yakin bahwa memang ada penjahat yang lihai sekali berkeliaran di istana, dan agaknya penjahat itu tidak mempunyai hubungan apapun dengan Kim Ngo Him.
Namun hal ini bukan berarti bahwa nama Kim Ngo Him sudah semestinya dihapus dari daftar orang-orang yang dia dicurigai.
Tidak, dia akan tetap mengamati pangeran mantu kaisar ini.
Dia lalu melakukan penyelidikan ke bagian lain, kini hendak menyelidiki keadaan tempat tinggal Pangeran Souw Cun.
Karena Cian Ciang-kun sudah memperingatkan bahwa di antara para pangeran, Pangeran Souw Cun ini yang paling berbahaya, dan dia memiliki banyak jagoan lihai, maka Pek-liong bersikap hati-hati sekali.
Sementara itu, sejak sore tadi, Liong-li sudah sadar dari keadaan mabok madu asmara sehari penuh ia dan Pangeran Souw Han berenang dalam lautan madu asmara yang penuh kemesraan.
Biarpun ia sudah banyak bergaul dengan pria, harus diakuinya bahwa baru pertama kali itu selama hidupnya ia merasakan kemesraan yang penuh kelembutan sehingga amat mengharukan hati.
Mendekap pangeran itu dalam pelukan rasanya seperti mendekap seorang bayi yang mulus dan murni.
Hal ini tidak mengherankan karena Pangeran Souw Han juga selamanya baru sekali itu berdekatan penuh mesra dengan seorang wanita.
Dia mencurahkan semua perasaan cintanya kepada Liong-li sehingga keduanya terbuai dan lupa diri, tak pernah meninggalkan pembaringan, bahkan lupa makan!
Baru setelah keadaan cuaca di kamar itu gelap karena matahari tidak lagi meneroboskan cahayanya ke situ, dan Pangeran Souw Han menyalakan lampu penerangan, mereka seakan terseret kembali ke dunia sadar.
Keduanya baru mendengar keruyuk perut mereka yang lapar.
"Aih, laparnya perutku!"
Liong-li tertawa dan Pangeran Souw Han merangkul perut yang kempes itu.
"Kasihan perutmu, enci Cu,"
Katanya sambil membelai. Liong-li menggelinjang dan melompat turun dari pembaringan, menyambar pakaiannya.
"Cukup, Pangeran. Jangan kaujamah lagi aku, tak kuat lagi aku......"
Pangeran Souw Han juga tertawa.
"Sehari kita tidak makan, enci Cu. Mari kita makan!"
Setelah mereka berpakaian rapi, baru Pangeran Souw Han membuka daun pintu dan bertepuk tangan memanggil para dayangnya.
Lima orang dayang itu datang menghadap dan mereka saling pandang dengan sinar mata penuh pengertian ketika mereka melihat betapa kusutnya kedua orang majikan mereka itu, dan betapa wajah pangeran yang tampan itu agak pucat, sedangkan wajah Liong-li kemerahan.
"Kami lapar, hidangkan makanan yang paling lezat!"
Perintah Pangeran Souw Han.
Memang para dayang itu sudah sejak tadi mempersiapkan makanan.
Mereka menanti dengan hati gembira bercampur tegang, karena pangeran dengan selirnya itu tidak pernah keluar dari dalam kamar selama sehari penuh!
"Bagaimana dengan punggungmu, sayang?"
Tanya Pangeran Souw Han sambil memegang kedua tangan Liong-li. Liong-li tersenyum.
"Sudah sembuh, pangeran. Ternyata belaian tanganmu yang penuh kasih lebih manjur dari pada obatku."
Kembali keduanya tersenyum dan Pangeran Souw Han merangkul dan mencium wanita yang merupakan wanita pertama dalam hidupnya itu.
Akan tetapi, ciumannya tidak dapat dipertahankan lama karena terdengar langkah kaki para dayang yang memasuki kamar membawa hidangan yang mereka atur di atas meja.
Tak lama kemudian, Liong-li dan Pangeran Souw Han sudah makan minum dengan gembiranya.
Sehari berenang di lautan madu asmara membuat mereka merasa letih, lemas dan lapar sekali.
Lauk pauk yang paling lezat adalah hati senang, badan sehat dan perut lapar!
Apa lagi hidangan yang dibawa para dayang itu merupakan hidangan yang serba lezat.
Tidak aneh kalau kedua orang itu makan dengan gembulnya.
Setelah malam tiba, Liong-li berkemas, berganti pakaian hitam, siap untuk melaksanakan tugasnya.
Melihat wanita yang dikasihinya itu, yang kini seolah sudah melekat di hatinya dan di dagingnya, Pangeran Souw Han merangkulnya.
"Tidak, enci Cu! Tidak! Engkau tidak boleh pergi. Engkau baru saja menderita cambukan, dan sekarang hendak menghadapi bahaya? Engkau sudah dicurigai, tentu mereka itu lebih waspada dan selalu akan mengintai semua gerak gerikmu!"
Liong-li merasa betapa lembutnya rangkulan itu, betapa penuh perasaan kasih sayang, betapa mesranya dan hatinya terharu.
Akan tetapi ia bukan seorang wanita lemah.
Ia mengusir keharuannya dengan senyum, senyum bahagia.
Ia merasa berbahagia sekali bahwa dirinya, seorang wanita kang-ouw yang bahkan pernah dipaksa menjadi pelacur, seorang wanita dengan tubuh yang sudah ternoda, kini bisa mendapatkan kasih sayang yang demikian besarnya dari Pangeran Souw Han yang budiman dan bijaksana ini.
Kenyataan itu saja adalah merupakan karunia yang amat besar baginya, yang membuatnya bangga menjadi manusia!
Akan tetapi ia tidak mau membiarkan .dirinya tenggelam ke dalam kebahagiaan dan kenikmatan hidup itu.
Ia tidak ingin menyeret pangeran yang demikian berbudi ke dalam jalan hidupnya yang penuh kekerasan, penuh bahaya dan petualangan.
Dengan lembut iapun melepaskan diri dari rangkulan pangeran itu dan melangkah mundur.
Ia membereskan ikat pinggangnya, menyelipkan pedang Hek-liong-kiam di balik jubahnya, memperkuat ikatan rambutnya dan tersenyum memandang kepada pangeran itu.
"Pangeran, ingatlah akan semua peringatan saya pagi tadi. Kita memang telah minum anggur asmara bersama dan harus kuakui bahwa saya sendiri hampir mabok, pangeran. Belum pernah saya merasakan kebahagiaan yang demikian besar seperti tadi."
"Itulah sebabnya mengapa kita tidak boleh berpisah lagi, enci Cu. Engkau harus menjadi isteriku, hidup bersamaku selamanya......"
Kata pangeran itu penuh semangat. Senyum Liong-li melebar, akan tetapi ia menggeleng kepala.
"Ingat ucapan saya tadi, Pangeran. Saya, tidak mungkin dapat menjadi isterimu, bahkan selirmu pun tidak, walaupun saya akan berbohong kalau mengatakan bahwa hati saya tidak menginginkan hal itu.
"Hidup selamanya di sampingmu, betapa akan indahnya! Akan tetapi tidak mungkin. Saya seorang tokoh kang-ouw, seorang petualang yang terbiasa hidup bebas, hidup tanpa kekangan, terbiasa menghadapi bahaya-bahaya maut, bermusuhan dengan tokoh-tokoh sesat yang lihai dan berbahaya.
"Nah, saya harap paduka dapat menginsafi hal ini. Nanti apa bila pengaruh anggur asmara tadi sudah agak mereda, tentu paduka akan dapat melihat kebenaran pendapat saya, Betapapun juga, Bumi dan Langit menjadi saksi bahwa selama hidup saya, saya tidak akan dapat melupakan keindahan yang kita nikmati sehari tadi, Pangeran. Nah, saya pergi, pangeran."
Sekali berkelebat, Liong-li sudah lenyap dari depan pangeran itu yang seketika merasa lemas dan dia pun menjatuhkan diri di atas pembaringan yang masih kusut itu.
Dipeluknya bantal yang masih mencium bau badan yang khas dari Liong-li dan sejenak pangeran itu seperti tertidur.
Akan tetapi, akhirnya dia menarik napas panjang dan bangkit duduk, termenung.
Semua ucapan wanita itu terngiang di telinganya dan beberapa kali diapun mengangguk-angguk.
Dia dapat menyelami perasaaan wanita kang-ouw itu.
Bagaikan seekor burung hutan, yang akan mati lemas dan penuh duka kalau dikurung, walaupun dalam kurungan emas, demikian pula Liong-li akan merana kalau harus hidup sebagai seorang puteri di istana.
Bunga mawar rimba yang liar, mungkin bahkan akan menjadi kurus kalau dipindahkan ke dalam taman yang indah terpelihara baik-baik.
Dia mengeluh.
Dia merasa ragu apakah dia akan pernah dapat jatuh cinta kepada wanita lain.
Agaknya tidak mungkin di dunia ini dia akan dapat menemukan Liong-li kedua yang bersedia menjadi isterinya atau selirnya.
Dan sejak saat itu, Pangeran Souw Han merasa kehilangan sekali, bahkan merasa betapa hidup ini akan menjadi sunyi dan tak berarti tanpa adanya Liong-li di sampingnya.
Sementara itu, Liong-li keluar dari rumah Pangeran Souw Han dengan hati-hati sekali.
Sebelum ia memperlihatkan diri di tempat terbuka di luar rumah, lebih dulu ia mengintai dan setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang yang mengetahuinya, baru ia melompat keluar melalui taman bunga di belakang rumah.
Ia menyusup-nyusup di antara pohon dalam taman itu, kemudian melompati pagar tembok di belakang dan baru ia berani melompat ke atas genteng bangunan di luar kompleks perumahan Pangeran Souw Han.
Sisa-sisa kemesraan yang masih melekat di perasaannya ditanggalkannya setelah ia berada di udara terbuka, setelah tubuhnya diterpa hawa dingin malam itu dan iapun sudah mampu sama sekali melupakan bayangan Pangeran Souw Han, dan sepenuhnya seluruh perhatiannya dicurahkan untuk pelaksanaan tugasnya.
Malam ini ia harus berhasil meringkus Kwi-eng-cu, Si Bayangan Iblis!
Malam ini ia akan menyelidiki tempat tinggal Pangeran Kim Ngo Him, mantu kaisar itu.
Ada pula bayangan menghilang di rumah ini ketika ia melakukan penyelidikan yang lalu.
Untuk sementara ini agaknya Pangeran Souw Cun tidak akan berani melakukan tindakan, setelah apa yang terjadi pagi tadi.
Kemarahan Pangeran Souw Han kepadanya, ancaman Pangeran Souw Han untuk melapor kepada Kaisar dan Permaisuri, tentu akan membuat Pangeran Souw Cun tidak berani banyak membuat ulah untuk sementara ini.
Maka, yang paling tepat untuk diselidiki adalah Pangeran Kim Ngo Him.
Ketika ia tiba di dekat tembok pekarangan rumah tinggal Pangeran Kim Ngo Him, ia melihat sesosok bayangan hitam muncul dari dalam.
Dengan gerakan lincah, bayangan itu meloncat dari dalam ke atas wuwungan rumah itu, berdiri tegak memandang ke sekeliling.
Bayangan itu mengenakan pakaian serba hitam dan kepalanya dibungkus kain hitam pula.
Ada dua ujung kain itu mencuat ke atas sehingga nampaknya seperti tanduk.
Bayangan itu memiliki bentuk tubuh yang kurus agak jangkung.
Dengan jantung berdebar tegang Liong-li menahan diri untuk tidak segera muncul turun tangan.
Ia tidak ingin gagal kali ini, tidak akan tergesa-gesa.
Kalau ia muncul menyerang dan bayangan itu lari lagi ke dalam gedung tempat tinggal Pangeran Kim Ngo Him, tentu ia tidak akan melakukan pengejaran.
Terlalu berbahaya, karena selain sukar mencarinya di di dalam gedung yang tidak dikenalnya, juga mungkin malah rahasianya akan terbuka.
Ia harus menanti saat yang baik dan akan membayangi dulu.
Bayangan itu memandang ke sekeliling beberapa saat lamanya, kemudian tubuhnya melayang turun dari atas genteng dengan cepat bagaikan seekor burung saja.
Liong-li kagum dan iapun cepat melayang turun dari samping rumah yang berlawanan, kemudian ia menyusup-nyusup dan menyelinap di antara pohon-pohon dan bangunan ketika melihat bayangan itu keluar dari pagar gedung Pangeran Kim Ngo Him lalu lari menuju ke bagian belakang kompleks istana.
Bayangan itu terus berlari cepat menuju ke bagian paling belakang dari kompleks istana di mana terdapat sebuah bukit kecil.
Di atas bukit ini terdapat sebuah hutan buatan di mana dipelihara binatang-binatang hutan yang jinak seperti kijang, kelinci dan sebagainya.
Juga di puncaknya terdapat kuil istana.
Keluarga kaisar suka berpesiar di dalam hutan yang indah dan tidak berbahaya ini dan kuil itu merupakan tempat sembahyang dan pemujaan dari para anggauta keluarga kaisar.
Ketika tiba di tepi hutan, Liong-li yang tidak ingin kehilangan orang yang dikejarnya itu, mempercepat larinya agar jaraknya tidak terlampau jauh.
Sejak tadi ia sudah kagum karena orang itu harus diakuinya memiliki ilmu berlari cepat yang hebat.
Ia harus mengerahkan tenaganya untuk dapat membayangi terus orang itu dan hal ini saja sudah memberi peringatan kepadanya bahwa ia menghadapi lawan yang lihai.
Tiba-tiba bayangan itu membalikkan tubuhnya dan kedua tangannya bergerak.
Terdengar bunyi berdesingan dan Liong-li cepat mengelak dengan loncatan-loncatan ke kanan kiri karena ada paku-paku yang menyambar-nyambar ke arahnya secara berturut-turut.
Sungguh berbahaya sekali penyerangan itu.
Paku pertama menyambar dan ketika ia mengelak ke kiri, paku kedua menyambar ke tempat ia mengelak.
Ketika ia mengelak dari sambaran paku kedua, paku ketiga mengejarnya!
Sampai berturut-turut ada tujuh buah paku menyambar dan tentu saja, penyerangan ini amat berbahaya bagi orang yang tidak memiliki kelincahan gerakan seperti Liong-li.
Orang itu telah melihatnya.
Inilah saatnya untuk turun tangan menangkapnya, pikir Liong-li, maka elakan yang terakhir dari paku ketujuh dilakukan dengan melayang ke depan dan langsung tubuhnya meluncur bagaikan seekor naga melayang di angkasa dan menubruk ke arah penyerangnya!
"Ehhh......!"
Orang itu mengeluarkan seruan kaget dan agaknya bayangan itu tidak mengira bahwa orang yang membayanginya demikian lihainya, bukan saja mampu menghindarkan diri dari tujuh batang pakunya, akan tetapi bahkan berbalik menyerang sedahsyat itu!
Akan tetapi, tepat seperti yang diduga oleh Liong-li, bayangan itu lihai sekali.
Biarpun penyerangan Liong-li yang dilakukan dengan tubuh melayang seperti itu amat berbahaya, namun orang itu dengan lincahnya telah dapat menyingkir dengan loncatan ke kanan dan begitu tubuh Liong-li turun ke atas tanah, dia malah menyerang dengan dahsyat, kedua tangannya bergerak mencengkeram, yang kiri mencengkeram kepala, yang kanan mencengkeram ke arah dada!
Liong-li menggerakkan kedua tangannya menangkis dari samping dengan kedua lengan diputar melingkar ke atas dan bawah sambil mengerahkan tenaga karena ia hendak mengukur kekuatan lawan.
Jelas bahwa lawan memiliki gin-kang yang hebat dan hanya sedikit di bawah tingkatnya sendiri.
Kini ia ingin mengukur tenaga lawan.
"Dukkkk!"
Dua pasang lengan ini bertemu dan akibatnya sungguh mengejutkan kedua pihak.
Liong-li terdorong mundur dua langkah, akan tetapi orang itupun terjengkang dan terhuyung.
Kiranya dalam hal tenaga sinkang merekapun seimbang dan hal ini tentu saja membuat Liong-li amat berhati-hati.
Tentu Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis) itu, melihat akan kelihaiannya.
Iapun mendesak dengan serangan-serangan kilat yang nampaknya lemah lembut namun amat berbahaya karena ia telah memainkan ilmu silat Bi-jin-kun (Silat Wanita Cantik) yang nampaknya seperti orang menari-nari indah saja namun setiap tamparan tangan atau tendangan kaki merupakan serangan maut yang amat berbahaya bagi lawan.
Namun lawan itu lihai dan selain dapat menghindarkan semua serangan Liong-li, juga mampu membalas dengan serangan balasan yang takkalah ampuhnya, bahkan ketika tangannya menyambar, Liong-li dapat mencium bau amis, tanda bahwa tangan orang itu mengandung hawa beracun!
"Plakk!
Plakk!"
Kembali tangan mereka bertemu dan orang itu mengeluarkan seruan kaget dan melangkah mundur.
Liong-li tersenyum di balik kedoknya.
Tentu orang itu terkejut karena merasa betapa telapak tangannya menjadi panas bertemu dengan tangannya.
Ia tadi telah mengerahkan tenaga Hiat-tok-ciang (Tangan Darah Beracun)!
Akan tetapi agaknya orang itu mampu menolak pengaruh hawa beracun dari tangannya.
Buktinya orang itu tidak mundur, bahwa kini mencabut sebatang pedang yang berkilauan dan mengamuk, menyerangnya bertubi-tubi.
Liong-li belum mau mencabut Hek-liong-kiam.
Ia tahu bahwa sekali mencabutnya, tidak mungkin lagi ia menyembunyikan keadaan dirinya.
Wajahnya dapat ditutupi kedok, akan tetapi Hek-liong-kiam pasti akan dikenal orang dan di dunia ini tidak ada dua Hek-liong-kiam.
Satu-satunya yang berada di tangan Hek-liong-li!
Maka, iapun hanya melindungi diri dengan ilmu Liu-seng-pouw (langkah Ajaib Bintang Cemara).
Dengan ilmu ini, sambaran pedang lawan selalu dapat ia elakkan dengan geseran-geseran kaki yang melangkah secara aneh.
Sudah ada tigapuluh jurus lebih mereka berkelahi dan tiba-tiba bayangan yang lihai itu meloncat ke dalam hutan setelah terdengar suitan lirih dari dalam hutan.
Liong-li tidak berani mengejar.
Bukan saja karena hutan itu gelap dan mengejar orang berbahaya dan lihai di dalam hutan yang gelap amatlah berbahaya.
Ia dapat dibokong dan dijebak, juga suara suitan tadi membuktikan bahwa orang yang lihai itu masih mempunyai kawan di dalam hutan!
Tiba-tiba wajah Liong-li berubah pucat.
Orang tadi jangan-jangan hanya memancing agar ia pergi lama meninggalkan Pangeran Souw Han!
Teringat ia akan peristiwa di pagi hari tadi.
Pangeran Souw Han telah mengeluarkan ancaman kepada Pangeran Souw Cun, berarti bahwa pangeran yang disayangnya itu terancam bahaya.
Ia tidak akan ingat tentang hal ini kalau saja ia tidak melihat sikap bayangan yang mencurigakan tadi.
Bayangan itu tidak melanjutkan perkelahian dengannya, pada hal bayangan itu belum kalah, bahkan di dalam hutan masih ada kawannya.
Dan suitan tadi, bukankah itu merupakan isyarat agar bayangan yang melawannya itu pergi meninggalkannya?
Agaknya ia sengaja dipancing dengan akal "memancing harimau meninggalkan sarang", tentu untuk mengambil atau mengganggu anak harimau.
Pangeran Souw Han!
Teringat ini, Liong-li meloncat, meninggalkan tepi hutan itu dan kembali ke gedung tempat tinggal Pangeran Souw Han.
Jantungnya berdebar penuh ketegangan ketika ia tiba di atas genteng rumah Pangeran Souw Han.
Dengan ringan tubuhnya lalu meluncur turun dan ia memasuki rumah melalui pintu samping.
Ketika ia tiba di depan pintu kamar sang pangeran, hatinya lega karena nampaknya tidak ada terjadi sesuatu dan sunyi saja di situ.
Tentu pangeran telah pulas, juga lima orang pelayan di belakang.
Kasihan sang pangeran, pikirnya sambil tersenyum.
Terlalu lelah dia sehari tadi sehingga kini tentu sedang pulas dan bermimpi indah tentang pengalamannya siang tadi.
Ia tidak tega untuk mengetuk pintu menggugahnya, maka ia lalu mengambil jalan memutar ke samping, dan mencoba untuk membuka jendela dengan dorongan.
Akan tetapi, daun jendela itu terbuka dengan mudah.
Tidak dikunci!
Betapa sembrononya sang pangeran, dan juga para pelayan dayang itu.
Jendela dibiarkan tidak dikunci dari dalam!
Ia membuka jendela dan melompat ke dalam.
Gelap di dalam.
Ia lalu menyalakan lilin dan ketika memandang ke arah pembaringan, tubuh pangeran nampak tidur miring menghadap ke dinding.
Kelambunya tertutup dan sepasang sepatu pangeran itu berjajar rapi di bawah pembaringan.
Melihat tubuh pangeran itu rebah miring, bergolak pula darah di tubuh Liong-li.
Tidak, ia tidak akan menuruti nafsu berahinya.
Akan tetapi ia harus menjenguk sang pangeran, melihat bahwa dia selamat dan setelah yakin, baru ia akan pergi lagi.
Dihampirinya pembaringan.
Disingkapnya kelambu dan......
ia terbelalak, mukanya berubah pucat sekali.
"Pangeran.......!"
Ia menjerit lirih sambil menubruk.
Akan tetapi, ia terkulai lemas dan di lain saat ia telah merebahkan mukanya di dada yang sudah tidak lagi berdetak atau bernapas itu.
Pangeran Souw Han telah tewas!
"Ya Tuhan.......!
Pangeran Souw Han......!"
Liong-li menggigit bibirnya sendiri, menahan sekuatnya untuk tidak menjerit dan menangis.
Beberapa menit kemudian, setelah ia merebahkan kepalanya di dada yang tak bernapas lagi itu, ia bangkit, mengusap kedua mata yang sempat basah, lalu memeriksa.
Sebentar saja ia menemukan sebab kematian pria itu.
Pelipis kirinya retak oleh pukulan yang amat kuat dan dia tentu tewas seketika tanpa mampu berteriak lagi.
Dia telah dibunuh secara kejam!
Ia bangkit berdiri, menatap wajah yang tampan itu, wajah yang kini nampak lebih tenang dari pada biasanya, dan bibir itupun mengembangkan senyum mati.
"Pangeran, maafkan saya...... engkau mati karena terlibat penyelidikan saya. Tenangkan dirimu, pangeran. Aku bersumpah untuk membalas kematianmu, akan kubunuh orang yang telah menewaskanmu!"
Setelah berkata demikian, ia menyelimuti tubuh pangeran itu sampai ke lehernya, kemudian ia mulai menyelidik.
Kamar itu jelas dimasuki orang dan nampak barang berserakan.
Terutama sekali lemari pakaian.
Pakaian yang biasa ia pakai terutama berserakan di luar lemari.
Kemudian ia lari ke bagian belakang dan makin gemaslah ia ketika melihat betapa lima orang dayang pelayan itupun telah mati semua!
Juga mati karena pukulan pada kepala mereka!
"Jahanam Pangeran Souw Cun!"
Liong-li mengepal tinju.
Ia merasa pasti bahwa tentu pangeran jahanam itu yang telah membunuh Pangeran Souw Han dan enam orang dayang pelayannya.
Siapa lagi kalau bukan Pangeran Souw Cun itu?
Pagi tadi mereka bertengkar.
Pangeran Souw Han telah mengeluarkan kata-kata ancaman.
Dan untuk menjaga agar tidak ada saksi bahwa dia pernah menculik selir Pangeran Souw Han, maka lima orang dayang pelayan itupun dibunuh!
Kalau ia berada di kamar itu, tentu akan dibunuh pula.
Dan kini, melihat bahwa ia tidak berada di kamar, tentu Pangeran Souw Cun semakin curiga dan tahu bahwa ia adalah seorang penyelundup dan penyelidik yang menyamar selir Pangeran Souw Han.
"Keparat engkau Pangeran Souw Cun! Akan kubasmi engkau dan semua antek-antekmu!"
Katanya dengan suara mendesis.
Biasanya Liong-li merupakan seorang yang dapat menguasai perasaannya dan tidak mudah terseret oleh nafsu amarah.
Akan tetapi sekali ini, ia merasa demikian sedih dan marah sehingga ia seperti lupa diri.
Kedua matanya yang mencorong itu mengeluarkan sinar berapi-api dan mata itu masih selalu basah air mata yang ditahan-tahannya sehingga tidak sempat mengalir.
Cuping hidungnya kembang kempis dan bibirnya bergerak-gerak, dagunya mengeras.
Ia saat itu berubah menjadi Dewi Maut sendiri!
Tengah malam telah lama lewat ketika bayangan Liong-li yang dibakar kemarahan itu berkelebat di atas wuwungan rumah pangeran Souw Cun.
Seorang ahli silat yang mempunyai banyak musuh, yang hidupnya selalu dibayangi bahaya, haruslah selalu waspada.
Dan perasaan duka dan marah mengurangi kewaspadaan itu.
Demikianlah pula dengan Liong-li.
Karena hatinya dibakar dendam kemarahan, ia lupa akan keadaan dirinya, lupa bahwa ia sedang dalam penyamaran, sedang melakukan tugas penyelidikan.
Yang memenuhi ingatannya hanyalah bahwa pangeran yang disayangnya telah dibunuh secara kejam dan ia harus membalas dendam terhadap pembunuhnya!
Hal ini mengurangi kewaspadaannya sehingga ia tidak tahu sama sekali bahwa ia seperti masuk dalam perangkap yang dipasang orang-orang yang amat cerdik dan lihai.
Tidak ada lagi kecurigaan penuh kewaspadaan yang selalu menyertai dirinya, dan ia menjadi semberono.
Begitu saja ia melompat ke atas wuwungan rumah, kemudian dengan penuh keberanian karena marah ia melayang turun ke pekarangan samping gedung tempat tinggal Pangeran Souw Cun.
Begitu kedua kakinya turun menginjak tanah, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring dari sekelilingnya dan bermunculan banyak sekali orang, ada belasan orang jumlahnya.
"Tangkap Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis)!"
"Dia telah membunuh Pangeran Souw Han!"
"Tangkap penjahat!"
"Bunuh Si Bayangan Iblis!"
Liong-li yang tadinya marah sekali, kini terkejut bukan main mendengar teriakan-terikan ini.
Ia disangka Si Bayangan Iblis!
Bukan itu saja, ia malah dituduh pembunuh Pangeran Souw Han!
Ini merupakan perangkap yang berbahaya sekali!
Jelas bahwa mereka sudah tahu akan kematian Pangeran Souw Han dan ini membuktikan bahwa pembunuhnya adalah Pangeran Souw Cun dan antek-anteknya.
Akan tetapi ia tidak sempat banyak berpikir tentang ini karena pada saat itu dirinya sudah dikepung.
Ketika ia hendak meloncat kembali naik ke atas wuwungan, ia melihat di atas genteng telah berdiri beberapa bayangan orang pula.
Ia telah terkepung di sekelilingnya, bahkan di atasnya!
Dan pada saat itu, beberapa orang sudah mulai menyerangnya dengan senjata tajam dan melihat gerakan mereka, ia tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang lihai.
Pakaian mereka menunjukkan bahwa mereka adalah pengawal-pengawal dan jagoan-jagoan peliharaan Pangeran Souw Cun, Di antara mereka terdapat pula dua orang yang pagi tadi menangkapnya, bahkan kemudian mencambuknya.
Masih nampak jalur-jalur merah di muka mereka ketika Pangeran Souw Han membalas dengan mencambuki mereka itu.
Ingatan ini saja mendatangkan kembali kenangan manis betapa Pangeran Souw Han membelanya dan menyayangnya.
Timbullah kemarahannya lagi.
"Jahanam-jahanam busuk!"
Bentaknya dan sekali tangannya bergerak, nampak sinar hitam berkelebat, disusul sinar itu bergulung-gulung dan dua orang yang pagi tadi mencambukinya itu mengeluarkan teriakan kesakitan dan mereka pun jatuh bergulingan, sengaja menggulingkan tubuh menjauh sambil mengaduh-aduh karena lengan kanan yang memegang pedang telah terbabat sinar hitam dan putus!
Tentu saja hal ini mengejutkan semua orang yang mengeroyoknya.
"Aha! Kiranya Hek-liong-li......!"
Liong-li membalik dan melihat siapa yang berseru itu.
Sesosok bayangan tinggi kurus agak bongkok melayang turun dari atas genteng dan ketika bayangan itu tiba di depannya, ia mengenalnya sebagai Bouw Sian-seng, guru sastra yang nampak lemah dan tolol itu, yang pagi tadi juga telah menyiksanya!
Karena agaknya para pengawal terkejut dan gentar mendengar disebutnya Hek-liong-li, apa lagi melihat betapa dua orang kawan mereka kehilangan lengan kanan dalam segebrakan saja begitu Hek-liong-li menggerakkan pedangnya, kini mereka menahan serangan dan hanya memandang dengan penuh perhatian kepada wanita yang mengenakan pakaian serba hitam, bertopeng saputangan sutera hitam dan memegang sebatang pedang hitam yang memiliki sinar mengiriskan itu.
"Dan kiranya engkau yang menyamar sebagai guru tolol yang menjadi pemimpin para penjahat di istana!"
Liong-li berseru.
"Ha-ha! Yang menjadi Si Bayangan Iblis ternyata Hek-liong-li. Kepung! Tangkap atau bunuh!"
Bouw Sian-seng dengan suaranya yang parau berteriak dan dia sendiri sudah melolos sebatang rantai baja yang tadinya dijadikan sabuk, lalu memutar rantai baja itu, menyerang dengan gerakan yang cepat dan kuat sekali.
Liong-li sudah menjadi marah bukan main.
Ia datang untuk membalas kematian Pangeran Souw Han kepada Pangeran Souw Cun dan kaki tangannya, akan tetapi kini ia malah dituduh sebagai pembunuh Pangeran Souw Han, dan juga dituduh sebagai Kwi-eng-cu!
"Keparat!"
Bentak Liong-li dan iapun menggerakkan pedang Hek-liong-kiam untuk menangkis, mengerahkan tenaga agar rantai baja terbabat putus.
"Tranggg......!!"
Bunga api berpijar dan Liong-li terkejut sekali.
Rantai baja itu tidak putus, membuktikan bahwa rantai itu terbuat dari baja pilihan yang dapat menahan Hek-liong-kiam, juga ia merasa betapa lengan kanannya tergetar.
Kiranya si kurus agak bongkok yang kelihatan sebagai seorang sasterawan lemah ini memiliki sin-kang yang hebat, mengingatkan ia akan bayangan hitam yang pernah dilawannya dan yang menyerangnya dengan paku!
Jelas bahwa bayangan hitam yang tadi bertubuh kurus pendek, tidak jangkung seperti ini.
Akan tetapi, Bouw Sian-seng ini ternyata lihai sekali dan kini rantai baja itu sudah menyambar-nyambar dengan ganas dan dahsyatnya.
Iapun memutar pedangnya menangkis dan balas menyerang.
Anak buah Bouw Sian-seng yang datang mengeroyok rata-rata memiliki kepandaian yang tinggi dan karena tingkat kepandaian Bouw Sian-seng seimbang dengannya, maka dikeroyok belasan orang lihai itu, Liong-li mulai terdesak.
Akan tetapi begitu ia menggerakkan pedangnya dan memainkan Sin-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti), belasan orang pengeroyok itu terkejut karena kembali ada dua orang pengeroyok yang terluka oleh sambaran sinar pedang.
Ilmu pedang ini memang hebat sekali, apa lagi kalau dimainkan bersama Pek-liong karena ilmu ini adalah hasil rekaan Liong-li dan Pek-liong yang mengambil inti sari dari ilmu pedang masing-masing, mengambil yang kuat membuang atau menutupi yang lemah dan menggabungkannya menjadi ilmu pedang itu.
"Kepung ketat, jangan sampai lolos!"
Bouw Sian-seng berseru dengan marah sekali dan diapun mempercepat putaran rantai bajanya, menyerang dengan marah.
Para pembantunya mendesak pula dan kepungan mereka semakin rapat sehingga kembali Liong-li sibuk sekali karena datangnya serangan seperti hujan membuat ia hampir tidak ada kesempatan sama sekali untuk membalas.
"Trang-trang-tranggg.......!"
Pedang pusaka Naga Hitam menangkisi banyak senjata para pengeroyok dan dua batang golok patah-patah ketika bertemu dengan Hek-liong-kiam.
Akan tetapi karena terpaksa menangkis banyak senjata, Liong-li tidak sempat lagi mengelak dengan baik ketika rantai yang bergulung-gulung itu menghantam dengan totokan maut ke arah dadanya.
Ia hanya mampu merendahkan tubuh dan miring sedikit, namun ini tidak cukup dan ujung rantai masih mengenai pangkal lengan kirinya bagian luar sehingga bajunya terobek dan kulitnya terluka mengucurkan darah.
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 5
Baca Juga: Suling Emas 9