Eps 2 Raja Silat - Chin Hung
Baca online Raja Silat - Chin Hung
Cersil Raja Silat - Chin Hung.
Liem Tou yang mendengar suara tertawa itu sangat dikenal olehnya segera angkat kepala memandang, terlihatlah Thiat Sie Sian Seng dengan langkah lebar sedang jalan mendekat, hatinya menjadi sangat teperanjat saat ini dia baru tau kalau toosu tadi tidak lain ciangbujin dari Butongpay.
Ling Ceng Cu yang melihat munculnya Thiat Sie Sian Seng secara mendadak ditempat itu semula dibuat tertegun untuk beberapa saat lamanya, kemudian diapun tertawa tergelak sahutnya "
Haha..ha..
aku kira siapa kiranya Tiat sie heng yang telah dating selamat bertemu..
selamat bertemu.
Kitab silat To Kong Pit Liok merupakan sebuah kitab silat yang berisikan ilmu silat yang sakti dan dahsyat, siapapun dari dunia kang ouw tentu mengunginkan kitab ini tidak terkecuali aku Leng Ceng Cu, Thiat sie heng kau kira bukankah begitu?"
"Bagus..bagus…memang tepat memang tepat"
Bersamaan pula kedua orang itu tertawa terbahak bahak nampak mereka berdua sangat girang sekali.
Liem Tou sejak melihat munculnya Thias sie Sianseng ditempat itu hatinya sudah amat kuatir kini melihat mereka berdua tertawa terbahak bahak dengan diam2 mengambil kesempatan ini melepaskan tali kerbau dan siap melarikan diri dari tempat itu.
Pada saat itu terdengar olehnya Leng Ceng cu berkata "
Pada kemudian hari bila ada kesempatan harap Thiat Sie heng segera naik keatas Butong untuk berkunjung,haha..ha selamat tinggal"
Liem Tou tahu Leng Ceng cu telah meninggalkan tempat itu diapun meminjam kesempatan itu lari dari tempat tersebut, siapa tahu pada saat itu juga terdengar suara bentakan keras dari Thiat Sie Sianseng.
"Liem Tou kembali.."
Ketika Liem Tou memalingkan wajah memandang, wajah dari Thiat Sie Sianseng pada waktu mana seperti Thiat Sie Sianseng tempo hari yang wajahnya selalu tersungging senyuman manis.
Terlihat air mukanya berubah sangat keren sepasang matanya yang tajam bagaikan pisau dengan tak berkedip memandang dirinya.
Tak tertahan lagi Liem Tou merasa mengkirik, pikirnya "
Agaknya diapun akan memaksa aku memberitahukan tempat penyimpanan kitab To Kong Pit Liok itu, bilamana dia mendesak sunguh2 bagaimana harus kuperbuat??
Hai..lebih baik kuberitahukan saja padanya, bagaimanapun juga dua merupakan jago yang berbudi luhur dan berhati baik"
Berpikir sampai disini hatinya menjadi terasa tentram, dengan langkag mantap dia berjalan sampai dihadapan Thiat Sie Sianseng, dengan hornat ujarnya "
Cianpwee ada pesan apa. Siaweu Liem Tou pasti akan melaksanakannya"
Siapa tahu dengan gusar bentak Thiat Sie Sianseng.
"Liem Tou kau dengan tidak sengaja mendapatkan kitab silat kenapa masih tidak melarikan diri jauh2 untuk bersembunyi dari becana? Kau tetap berada didaerah Cong Ling ini apa sedang menanti saat kematianmu?"
Semula kitaka Liem Tou melihat wajah Thiat Sie Sianseng yang penuh dengan hawa amarah hatinya merasa amat takut, tetapi kini setelah mendengat perkataannya yang demikian memperhatikan dirinya tak terasa lagi timbul perasaan terima kasihnya yang mendalam, dia tahu saat para jago baik dari kalangan Hek to maupun dari kalangan Pek To sedang mencari jejaknya, dirinya sendiri sedang berada dalam keadaan yang sangat kritis dan bahaya bahkan kemungkinan sekali setiap saat diculik oleh orang, makin lama makin ketakutan sedang keringat dingin mengucur bertambah deras.
Tak tahan lagi dia menjatuhkan diri berlutut dihadapan Thiat Sie Sianseng, ujarnya "Boanpwee berita kita ini tentu bersumber dari pengemis laknat itu, harap cianpwee mau menolongku"
Thiat Sie Sianseng hanya berdiam diri saja, dengan pandangan tajam dia memperhatikan seluruh tubuh Liem Tou.
Tiba2 didalam pikiran Liem Tou terbayang kembali tujuan dirinya sekarang yaitu mecari guru pandai untuk belajar ilmu, kemudian sekali lagi dia naik kepuncak Hi Mo Ling untuk bertemu dengan Ie Cicinya, kini kesempatan baik sudah berada didepanya kenapa juga dia memohon Thiat Sie Sianseng mengangkat dia sebagai muridnya""
Berpikir sampai disini tanpa berpikir panjang lagi segera dia menggangguk anggukkan kepalanya sembilan kali sebagai upacara pengakatan guru.
Semula agaknya Thiat Sie Sianseng masih tak merasakan akan hal ini tetapi anggukan Liem Tou belum habis sembilan kali Thiat Sie sudah merasakannya, dengan cepat dia melayang kesamping dan mencekal tangan Liem Tou untuk ditarik bangun, bentaknya dengan gusar "
Kau ingin berbuat apa?"
"Cianpwee merupakan orang aneh yang berilmu tinggi, harap mau menerima aku Liem Tou sebagai murid, selama hidup melayani kebutuhan cianpwee"
Sepasang mata Thiat Sie Sianseng melotot keluar, dengan gusar bentaknya lagi.
"Hei bocah cilik kau masih tak terima dengan kepandaian yang bakal kau terima? Hmm… sungguh kurang ajar, bilamana aku ingin gurumu sejak dulu aku sudah pergi mencari kau buat apa kau mencari aku? Hmm..lain kali jangan coba2 untuk berbuat demikian lagi"
Liem Tou dimaki secara begini menjadi sangat murung, terpaksa ujarnya lagi.
"Sekarang cianpwee mau datang memberi peringatan Liem Tou merasa berterima kasi sekali. Kini situasi dari hamba sangat berbahaya, sekeliling tempat ini penuh dengan jebakan2 yang setiap saat dapat mencabut nyawa hamba, bilamana cianpwee memangnya tak punya niat menerima harap mau kasih keterangan untuk meloloskan diri dari bahaya kepungan ini"
Ketika Thiat Sie Sianseng melihat nada suara berubah barulah mengangguk, bagaikan keadaan semula dai mengambil Siepoanya dan dipukul pulang pergi beberapa kali sedang seluruh perhatiannyapun dipusatkan kesana.
Liem Tou dengan tenang menati hasilnya disamping, terlihatlah jari2 tangan Thiat Sie Sianseng dengan cepat dan lembut menari diantara biji2 siepoanya, sedang air muka sebentar murung sebentar girang akhirnya tangannya pada pojokan dan berhenti sambil tertawa terbahak2 dia memandang wajah Liem Tou, dengan tajam membuat yang dipandang itu menjadi tertegun tak menentu.
Siapa tahu tiba2 suara tertawa dari Thiat Sie sianseng berhenti agaknya dia telah teringat akan sesuatu, jari tengah serta jari telunjuk sekali lagi dimainkan dari baris ketiga Sinpoanya lama sekali dia berpikir tanpa mengucapkan sepatahkatapun.
Beberapa saat kemudian terlihat keningnya sudah penuh dibasahi oleh keringat yang mengucur bagaikan hujan sendang mulut tetap membaca dengan perlahan.
"Tiga kali tiga sama dengan sembilan, tiga kali tiga sama dengan sembilan, naik sembilan binasa, mata buta satu masih dapat melihat ditengah matahari melihat bintang, sapi berputar manusia budiman berjalan tiga hari tidak makan"
Thiat sie sianseng yang membaca terus dengan perlaha itu menjadi berhenti ari mukanya berubah hebat, serunya dengan keras.
"Hai bocah cepat lari"
Liem Tou yang melihat sikapnya yang sangat tegang itu menjadi ributkan cemas dengan sendirinya dengan gugup tanyanya.
"aku harus pergi kemana?"
"Cepat naik kerbaumu lari kearah timur laut. Cepat…cepat terlambat sedikit kau tidak punya nyawa lagi"
Mendengar teriakan ini tak tertahan lagi Liem Tou menjerit keras.
Dengan cepat dia meloncat naik keatas punggung kerbaunya dan melepaskan tali pengikat dengan kecepatan yang luar biasa dia melarikan kerbaunya kearah timur laut tetapi baru saja lari kurang lebih ratusan tindak terdengarlah suara bentakan orang banyak yang semakin lama makin mendekat, terdengar salah seorang berteriak.
"Hai Liem Tou kamu mau lari kemana?"
"hai bocah cilik, sekalipun kau terbang keangkasa atau masuk kedalam tanah kami juga tetap akan mengejar, kitap To Kong Pit Liok jangan harap kau bisa miliki seorang diri"
Bahkan saat itu terdengar pula suara teriakan dari Thiat Sie Sianseng yang sedang memeperingatkan dirinya.
"hai bocah cilik cepat lari, terlambat satu tindak berarti binasa"
Liem Tou semakin merasa ketakutan sambil menggigit kencang bibirnya sepasang kakinya dengan sekuat-kuatnya mengapit perut kerbau sedang ujung kakinya dengan seluruh kekuatannya menedang peru kerbau tersebut, serunya dengan keras.
"Gouw ko, cepat lari…oh..kakak kerbau yang baik lari cepatttttttttttttttttttt"
Kerbau itu sesudah ditendang dengan keras Liem Tou saking kesakitan sambil cawat ekor bagaikan sambaran kilat cepatnya dengan tidak perduli apa2 lagi melarikan diri 80KM/jam dengan sangat cepatnya.
Didalam sekejap saja Liem Tou sudah merasa sambaran angin men deru2 disamping telinganya, sedang pemandangan kedua belah sampingnyapun sangat cepat berkelebat menghilang kebelakang.
Tidak lama mereka sampailah disebuah tanah lapang rumput luas dihadapan dari lapangan rumput itu menjulang tinggi puncak2 gunung uang tersebar disekelililingnya, sehingga bentuknya seperti melingkar dengan perlahan2 Liem Tou menoleh memandang kebelakang dilihatnya orang2 yang mengejat sudah tidak Nampak sama sekali hatinya menjadi sedikit lega, sedangkan kerbau itupun sudah melihat rumput yang segar tidak mau lari lagi dengan menunduk kepalanya mulai mendahar dengan enaknya.
Liem Tou yang dibawa lari kerbau itu selama beberapa saat lamanya dengan lari yang demikian kencangnya semula masih tidak mengapa tetapi sesudah berhenti mulailah terasa seluruh tulangnya pada linu dan kaku, tak tertahan lagi dia menjatuhkan diri rebah diatas tanah rumput itu.
Baru saja duduk tidak lama tiba2 dari sekitar tanah lapang itu berkumandang datang suara bentakan yang sangat ramai kemudian disusul pula dengan suara tertawa yang terbahak2 memekikkan telinga, terdengar suara teriakan seseorang.
"Liem Tou, Liem Tou…dimana mana ada jalan kau tidak mau lewat sebaliknya sengaja memasuki lembah cupu2 ini, kali ini aku mau lihat kay bisa lari kemana lagi?"
Mendengar perkataan ini saking terkejutnya Liem Tou menjadi meloncat bangun kembali dan memandang kearah berasalnya suara itu tidak terasa lagi dia menjadi berdesir.
Kiranya kitab silat To Kong Pit Liok ini merupakan kitab rahasia yang turun temurun dari Sucouw keluarga Thio, sucouw sendiri sebenarnya bernama Ling Hu Han berasal dari kerajaan Bu Kong Hong, menurut berita turun termurun katanya dia merupakan turunan dari Thio Liang yang termasur itu, oleh orang2 selanjutnya yang mengikuti ajaran tersebut disebutnya sebagai Thio Too Leng.
Thio Too Leng sejak kecil sudah pandai mengusai seluruh kepandaian yang ada pada masa itu, ketika pada masa mendekati tua dia secara tidak sengaja telah bertemu dengan orang aneh yang memberikannya kepandaian silat kepadanya dan menetap diatas gunung Ho Uh Sar.
Sampai jaman kerajaan Song dimana perkumpulan Ceng Ie Kauw ini sedang jaya2nya didalam dunia kang ow, perkumpulan Ceng Ie Kauw ini merupakan yang didirikan pengikut2 Thio Too Leng dan mendapat hak untuk melindungi kitab rahasia, To Kong Pit Liok, padahal yang sebenarnya perkumpulan Ceng Ie Kauw itu sama sekali tidak memiliki kitab silat To Kong Pit Liok itu, meraka hanya sengaja membual untuk meluaskan pengaruhnya didalam dunia kang ouw.
Akhirnya perkumpulan itu berakhir dengan dimusnahkan oleh orang2 dari golongan lurus.
Tidak disangka saat ini kitab silat, To Kong Pit Liok sekali lagi munculkan diri bahkan jatuh ketangan Hel Loo Toa dari Siok To Siang Mo yang mengakibatkan seluruh dunia kangouw menjadi gempar para jago bail dair kalangan pek to maupun dari kalangan hek to pada keluar dari sarangnya, hanya sayang kedatangan mereka telah terlambat satu tindak, tempat penyimpanan kitab silat To Kong Pit Liok sudah didapat oleh Liem Tou ketika mereka mendengar berita ini mana mau berdiam diri masing2 berusaha untuk mendapakan jejak selanjutnya dari Liem Tou, tetapi baru saja ditempat itu mereka hendak turun tangan diketahui oleh Thiat Sie Sianseng terlebih dahulu dan memperingatkan Liem Tou untuk melarikan diri.
Kini mereka semua sesudah mengejar setengah harian lamanya dan melihat Liem Tou dengan sendirinya memasuki lembah cupu-cupu yang buntu sudah tentu mereka sangat girang sekali.
Liem Tou dapat melihat orang2 yang datang hari itu sangat banyak sekali selain yang dia kenal yaitu Tiong goan Ngo Koay, Ciangbujin Butong Pay Leng Cen Cu, Hek Looji serta pengemis cilik lainnya masih sangat banyak sekali yang belum dia kenal maupun ditemuinya.
Pada saat ini setiap orang dengan wajah yang iri dan pingin ber sma2 berjalan mendekati dirinya, sedang Liem Tou yang melihat orang2 yang datang semakin lama semakin banyak saking takutnya membuat air mukanya berubah menjadi pucat pasi sedang tubuhnya berdiri mematung disana entah harus berbuat bagaimana baiknya, dalam hati diam2 merasa sedih pikirnya.
"Aku harus berbuat bagaimana? Aku harus berbuat bagaimana?"
Rombongan orang2 sesudah berjalan kurang lebih dua kaki dari dirinya barulah berhenti.
Diantara orang2 itu yang belum melihat wajah Liem Tou tentunya mengira dia merupakan jagi yang memiliki kepandaian tinggi, siapa tahu begitu melihat bentuk serta sikapnya yang ke tolol2an sedang dandanannya pun merupakan seorang anak dusun pengembala kerbau tak terasa lagi dalam hatinya merasa sedikit ragu2, dengan sinar mata yang kurang percaya mereka memandang wajah Liem Tou tak berkedip.
Perasaan diluar dugaan ini terasa dalam hati Ciangbujin Botongpay Leng Ceng Cu ini sebenarnya dia sebanrnya sudah meninggalkal Liem Tou untuk pergi tapi ketika mendengar suara bentakan serta teriakan yang ramai itu segera membalikkan tubuh mengejar datang kembali.
Kini ketika melihat Liem Tou ternyata adalah bocah pengembala kerbau yang ditanyainya tadi tak terasa menjadi tertegun, Tanya dengan cepat.
"Ooh…kaukah yang dimanakan Liem Tou"
Dua orang toosu yang berdiri disamping Leng Ceng Cu segera bertanya dengan nada yang heran.
"Leng Ceng Cu toosu apa mungkin pada sebelumnya sudah kenal dengan orang ini? Tahukah kau berasal dari partai mana?"
"Hei…heng San Jie Ya, jika dibicarakan sungguh menggelikan sekali, ketika tadi aku mencari berita mengenai jejak dari Liem Tou siapa tahu ternyata telah bertanya pada orangnya sendiri masih tidak merasa, bukankah hal ini sangat mengelikan sekali?"
Saat ini diatara orang2 itu mendadak mucul dua orang lelaki dan perempuan yang kepalanya seperti burung elang serta kepala kera, dandannanya sangat aneh sedang wajahnya jelek sekali, mereka sambil menunding kea rah Liem Tou bentaknya.
"Kamu bocah cilik busuk dari mana, apa kitab silat To Kong Pit Liok berhak kau dapatkan? Cepat serahkan padaku"
Liem Tou tidak mengucapkan sepatah katapun diam2 dia berpikir tentunya kedua orang ini adalah Lo San Kioe Long serta Wan Kauw, baru saja berpikir demikian terdengar pembesar buta angkat bicara.
"Siapa yang sedang bicara itu? Menurut kata2mu kita silat To Kong Pit Liok itu harus kau yang dapatkan?"
Kioe Long segera menoleh memandang, terlihat pembesar buta dari Tionggoan Ngo Koay berdiri sejajar dengan Hwesio manyat hiduo, ketika sinar matanya beralih menyapu kearah orang2 lain terlihat sinar maata orang dengan penuh perasaan gusar sedang memandang dirinya, tidak terasa hatinya menjadi berdesir dia tahu dirinya sekalipun mempunyai kepandaian yang lebih tinggipun juga suka untuk memusuhi jago2 dunia kangouw yang puluhan banyaknya ini, berpikir sampai disini bagaikan kepalanya secara mendadak diguyur dengan air dingin, niatnya pun mejadi dingin separuh.
Bersamaan waktunya pula menjadi sadar akan situasi dirinya segera menarik lengan Wan Kauw mundur kebelakang dan ujarnya terhadap pembesar buta itu dengan sangat dingin.
"Kitab silat To Kong Pit Liok sekarang sudah jadi banda tanpa pamilik, kita harus mengunakan kepandaian dan kecerdikan kita sendiri untuk meadapatkannya."
Sehabis berbicara dia menari Wan Kauw kesamping dan secara diam2 merundingkan siasat untuk mendapatkan kitab silat tersebut.
Liem Tou sendiri sesudah mendengar perkataannya dalam hatinya merasa semakin terkejut, pikirnya "
Hei…hanya cukuo salah seorang dari mereka saja aku tidak sanggup untuk melawannya, apalagi sekarang berjumlah puluhan orang banyaknya.
Bilamana sunguh2 mereka menggunakan kepandaian maju merubut bukankah badanku segera akan menjadi hancur lulu oleh keroyokan mereka ini?"
Baru saja Liem Tou berpikir sampai disini terlihat orang2 itu dengan perlahan-lahan mulai menyebar secara tidak langsung pula mengepung Liem Tou ditengah kalangan membuat Liem Tou sekalipun punya maksud untuk melarikan diri juga tidak berani untuk melakukannya.
Liem Tou yang melihat situasi sekelilinya telah berubah menjadi begini segera dia tahu kalau harapannya untuk melarikan diri tidak mungkin bisa tercapai lagi, satu2nya harapan baginya adalah mengharapkan petunjuk dari Thiat Sie Sianseng untuk sementara melindungi dirinya, oleh karena itulah sinar matanya dengan per lahan2 beralih ke arah Thiat Sie Sian Seng yang berdiri disebelah kirinya, pikirnya lagi.
"Thian Sie Sianseng merupakan satu rombongan dengan si sincay bunting serta pengemis pemabok, tetapi sekarang kenapa mereka tidak jadi satu?"
Ketika dia memandang lagi terlihatlah si sincay bunting berada disebelah kanannya sedangkan pengemis pemabok berada dibelakangnya, mereka bertiga telah berdiri dengan bentuk segitiga.
Liem Tou melihat hal ini hatinya menjadi sadar, bersamaan pula ketika matanya melirik terlihatlah sipengemis cili itu berdiri sejajar dengan seorang pemuda tanpan yang memakai pakaian singset, saat ini perasaan bencinya terhadap pengemis cilik sudah meresap ketulang sumsuny, pikirnya dalam hati.
"Bencana ini semuanya tentu disebabkan oleh pengemis busuk yang banyak mulut"
Mendadak pada otaknya berkelebat sesuatu akan, teringat kembali ketika masih berada didalam penjara Hek Lo Toa pernah membuat gusar pengemis cilik itu dan menyuruhnya dia menghadapi Kiow Long Wan terlebih dahulu sebelum menginginkan kitab silat itu.
Kini tak terasa lagi berkelebat memenuhi pikirannya, mendadak sambil menunding kearah pengemis cilik itu teriaknya.
"Kitab silat To Kong Pit Liok hanya sebuah, mana mungkin bisa dibagi rata pada saudara sekalian yang demikian banyak jumlahnya, kini aku Liem Tou sudah ambil keputusan untuk menyerahkan kitab silat itu kepada kalian. Asalkan siapa saja yang sanggup menangkap pengemis cilik itu dan serahkan kepadaku untuk diberi hukuman, maka kitab silat itu akan segera kuserahkan kepadanya."
Begitu perkataan ini diucapkan segera memancing perundingan diantara orang2 di sekeliling tempat itu, ketika Liem Tou memandang kearah sipengemis cilik terlihat dengan mata melotot gusar dia sedang memandang kearahnya, sedang air mukanya kelihatan sangat jelek sekali menahan perasaan marah dan gusar dalam hati, tapi diikuti pula menengok kekanan kiri agaknya takut ada orang yang turun tangan terhadap dia sehingga sikapnyapun semakin bertambah tegang.
Saat itulah dari belakang tubuh Liem Tou terdengar seorang berteriak dengan keras.
"Perkataanmu itu sunggu sungguh??"
"Perkataan seorang laki-laki sejati sebesar gunung thaysan, sekali diucapkan tidak ditarik kembali"
Bersamaan pula Liem Tou menoleh kearah dimana berasal suara itu, terlihatlah tidak jauh dari sipengemis pemabok berdiri lima orang berwajah menyeramkan dengan memakai pakaian serta celana dari kain blaco, orang yang baru saja angkat bicara adalah salah satu dari lima orang tersebut.
Orang itu melihat Liem Tou menoleh kearahnya segera memperlihatkan sebaris giginya yang putih runcing serta menyeramkan, itu membuat tubuh Liem Tou segera merasakan bergindik sedang perasaan berdesir muncul dari dasar lubuk hatinya.
Bersamaan waktunya pula salah seorang diantara mereka tanya kepada empat orang yang lainnya kemudian ber sama2 mendekati sipengemis cilik itu.
Mendadak seorang pemuda tanpan yang selama ini berdiri disisi pengemis cilik itu memperdengarkan suara yang sangat menyeramkan kepada kelima orang lelaki jelek berbaju blaco itu, bentaknya dengan amat gusar.
"Cian Pia Ngo Koei agaknya kalian sudah makan nyali macan..hmm…hmm…siapa saja yang berani mengganggu seujung rambutnya jangan salahkan aku Tok Ci Kiam Tan (sijari beracun jarum emas) Song Beng Lan berlaku terlalu ganas"
Cian Pian Ngo Koei (silima setan dari daerah Cian Pian) sama sekali tidak memperdulikan omongannya, langkahnya masih tetap melajutkan menuju pengemis cilik itu, sahutnya.
"Sijari beracun jarum emas Song Beng Lan tidak lebih hanya seorang Jay Hoa Cat (penjahat pemetik bunga) yang gemar dupa pemabok, kita orang mau lihat kau mau berbuat apa?"
Air muka pemuda itu segera berubah menjadi ke hijau2an menahan perasaan gusar yang memuncak, bentaknua dengan keras.
"Kowncu harap berhati hati, Siauw Jin akan turun tangan"
Sehabis berkata terlihat tubuhnya berkelebat dengan cepatnya menyambut datangnya tubuh Cian Pian Ngo Koei, bersamaan pula jarinya di keraskan, kemudian dengan kekuatan dahsyat jarinya menyerang dada dari salah satu dari lima orang tersebut.
Orang yang diserang itu bukan lain adalah yang disebut sebagai Bo Beng Koei atau setan tanpa nama Loo Toa, terlihat dengan ter gesa2 dia mundur satu langkah kebelakang kemudian bentaknya.
"Song Beng Lan, kamu sendiri yang datang cari mati, jangan salahkan aku turun tangan kejam. Saudara2 sekalian bereskan dia dulu baru bicara lagi"
Sambil berkata tubuh dari Bo Beng Koei itu miring kesamping, tangan kirinya mendadak dibalik menotok jalan darah pada pundak Song Beng Lan sedang tangan kanannya bagaikan sambaran angina dahsyat menghantam iganya.
Song Beng Lan berani dengan seorang diri menyambut datangnya serangan lima setan sudah tentu bukanlah orang yang lemah, tubuhnya maju kedepan kemudian sedikit berputar dengan tangan dia menangkis datangnya pukulan dari Bo Beng Koei, jari kanannya tetap dengan jurus semula menotok kedadanya.
Tapi Bo Beng Koei sama sekali tidak menghindar maupun berkelit dari serangan ini bahkan melancarkan serangan balasanpun tidak, hanya dengan wajah yang dingin kaku memandang kearah Song Beng Lan.
Song Bengk Lan menjadi tertegun dibuatnya, saat itulah mendadak dari balik punggungnya terasa tiga gulungan angina pukulan yang sangat dahsyat menyerang datang, tidak terasa teriaknya.
"Celaka"
Ujung kakinya dengan seluruh kekuatan menutul tanah sehingga tubuhnya mumbul keatas setinggi tujuh delapan depa tingginya dan dengan berhasil menghindarkan diri dari serangan gabungan dari Ngo Koei itu, tangannya dengan cepat meraut segenggam jarum emas siap disabit kedepan, saat itulah mendadak dari sebelah utara terdengan seseorang berteriak dengan keras.
"Pengemis cilik mau kabur, cepat cegah dia, tangkap dia"
Didalam keadaan yang sangat terkejut Song Beng Lan jarun emasnya tidak jadi disebarkan kedepan, tubuhnya dengan cepat melayang sejauh puluhan kaki kemudian melayang turun kebawah, ketika memandang kesana terlihatlah si pengemis cilik itu sudah terdesak oleh serangan lima orang sekaligus, dengan cemas dia meninggalkan Ngo Koei untuk lari menolong si pengemis cilik meloloskan diri dari acaman bahaya.
Didalam sekejap mata seluruh perhatian orang2 yang hadir disana tertuju pada pengemis cilik serta Song Beng Lan didalam menghadapi serangan para jago, terlihatlah tubuh si pengemis cilik itu bagaikan melentiknya ikan dengan sangat lincahnya berkelebat dan meloncat diantara sambaran bayangan serta diselingi sambaran angina pukulan yang dahsyat membuat beberapa saat lamanya para jago nomor wahid dari Bulim ini sulit untuk berbuat sesuatu terhadap dirinya.
Liem Tou yang melihat hal ini diam2 dalam hatinya merasa girang, karena siasat licin yang diatur ternyata termakan juga hingga sebagian besar orang2 yang mengepung dirinya berhasil terpancing pergi, kini tinggal dia memancing pergi si hweesio manyat hidup serta sipembesar buta dari Tionggoan Ngo Kay, Ciangbujin dari Butongpay, Heng San Jie Yu, serta seorang hweesio, maka segera dia akan berhasil lolos dari kepungan melarikan diri dari situ.
Sesudah berpikir bolak balik akhirnya dia tertawa ter mehek mehek sangat keras, dengan nada menyindir ujarnya.
"hei..simata picek, kamu orang juga mau merebut kitab pusaka To Kong Pit Liok> kamu sungguh tak tahu kekuatan sendiri, sekalipun aku beri itu kitab pusaka kepadamu, kamu juga tak bisa lihat isinyam lalu apa gunanya?"
Sipembesar buta mendengar ejekan itu segera mengaum gusar, kakinya bagaikan kilat cepatnya tahu2 sudah berkelebat mendekati tubuh Liem Tou, tingkat besi ditangannya dengan cepatnya ditusuk kedepan menotok tubuh Liem Tou.
Bersamaan pula teriaknya dengan gusar.
"Bocah busuk tutup bacotmu, kitab pusaka To Kong Pit Liok tidak mungkin bisa didapatkan orang lain"
Liem Tou sama sekali tidak mengira kalau gerak gerik sipembesar buta itu bisa secepat sambaran kilat, gerakannyapun sangat lincah sejak tadi saking terkejutnya dia sudah dibuat menjadi melongo, kini tongkat besinya sudah tiba didepan dadanya, untuk menghindarkan diripun tidak mungkin lagi didalam saat yang sangat kritis inilah terdengar suara gulungan angin yang sangat keras, sincay buntung tepat pada waktunya tiba disampingnya, kipas ditangannya dengan cepat menangkis serangan tongkat besi itu sambil ujarnya.
"Pembesar rakus yang buta, aku kira belum tentu"
Serangan pembesar buta yang ditinggalkan oleh kipas sincay buntung menjadi sangat gusar, dengan keras2 dia menancapkan tongkat besinya keatas tanah, sehingga terbenam beberapa depa didalam tanah, ujarnya dengan gusar bercampur keki.
"Buntung bangkotan!..ini hari tidak mati kita akan buyar"
Sambil berkata tongkat besinya sekali lagi diangkat dengan mengunakan juru Thaysan Jah Ting (gunung Thaysan ambruk) menghajar wajah dari sincay buntung itu, si sincay buntung tidak melihat datangnya serangan itu hanya tertawa ringan saja, kakinya yang tinggal sebelah sedikit menutul ketanah tubuhnya dengan sangat ringan berhasil meloncat sejauh beberapa depa terhindar dari serangan itu, lengannya yang tinggal sebelah segera menggerakkan kipasnya, dengan kekuatan yang luar biasa dia menghajar ujung tongkat besi bersamaan pula tangannya menggelincir dengan mengikuti gerakan dari tongkat besi tersebut melancarkan jurus Hoa Liam Tiam Cing (mengambar naga menutul mata) dari gerakan menjaga jadi gerakan menyerang dan menotok jalan darah Khie Ban Hiat didada sebelah kiri dari pembesar buta itu.
Sipembesar buta segera berteriak membentak keras "Bagus sekali!""Buntung bangkotan ini hari apa kau tidak akan ada aku"
Tongka besinya tidak ditari kembali bahwa diteruskan membacok kedepan, bacokan ini bilamana mengenai sasarannya mungkin pundak serta lengan dari sincay buntung yang tinggal sebelah itu akan terpotong menjadi dua bagian pula.
Si sincay buntung yang gagah didalam keadaan yang sangat kritis ini tidaknya mundur atau menghindar sebaliknya berteriak dengan keras.
"Loo Kiem buta, bagus sekali seranganmu ini"
Kelihatannya tongkat besi itu akan mencapai pada sasarannya tapi entah dengan mengunakan ilmu apa tanpak tubuhnya sedikit mendak kebawah kakinya tidak meloncat hanya dengan sedikit berputar dia sudah berhasil berdiri dibelakang tubuh pembesar buta itu.
Pembesar buta merasa pukulannya meleset segera merasakan jalan darah Giok Liang Hiat dipunggungnya terancam bahaya kali ini mau tidak mau terpaksa dia harus maju satu langkah kedepan dengan kekuatan yang luar biasa tongkat besinya menyambar lagi kebelakang dengan menggunakan jurus Tag To Kiem Cong (memukul rubuh lonceng emas) berebut menyerbu ketubuh pihak musuh.
Liem Tou yang berhasil dibebaskan sincay buntung dari bahaya sambaran tongkat pembesar buta kini melihat dua orang iru saling serang menyerang tanpa loncat kesamping kerbaunya, disamping memperhatikan seluruh gerak gerik dari jalan pertempuran yang sangat seru itu diam2 dia memikirkan siasat untuk melarikan diri secara diam2.
Pada waktu itu pula mendadak didalam ingatannya berkelebat ilmu silat yang tercantum dan tertera diatas kitab pusaka Toa Lo Kin Keng ketika memandang lagi kearah jurus serangan maupun jurus bertahan si sincay buntung serta pembesar buta ternyata ada beberapa bagian yang rasanya pernah diketahui olehnya, tidak tertahan lagi dia semakin menaruh perhatian terhadap jalannya pertempuran itu, akhirnya dia menyadari juga tidak tidak tertahan lagi perasaan girang meliputi seluruh wajahnya sendang ingatan untuk melarikan diripun segera tersapu bersih dari dalam benaknya.
Tidak disangka pada saat dia sedang memusatkan perhatiannya itulah mendadak lehernya terasa menjadi dingin dengan cepat dia menoleh memandang kebelakang, tak tertaha teriaknya dengan keras.
"Ooh….tolong!!!"
Saking takutnya seluruh tubuhnya menjadi lemah tanpa tenaga.
Kiranya hweesio berbentuk manyat hidup itu entah sehak kapan secara diam2 tanpa mengeluarkan suara sudah berada dibelakang tubuh Liem Tou kemudian mengulurkan cakar mencengkeram tubuhnya.
Saat itulah hweesio manyat hidup itu tertawa terkekeh kekeh dengan anehnya, suara itu membuat semua orang yang mendengar tidak terasa menjadi pada bergindik.
Sesudah tertawa beberapa saat lamanya barulah ujarnya terhadap Liem Tou dengan nada yang sangat dingin.
"Liem Tou kau ingin hidup atau modar?"
Saat ini Liem Tou merasa tubuhnya bergindik sedang bulu romanya pada berdiri semua, keringat dingin yang mengucur dengan derasnya membuat keningnya serta perutnya basah kuyup dia sangat terkejut bercampur takut apalagi dari hweesio manyat hidup yang mencengkeram tengkuknya dengan sangan kencang terasa sangat dingin dan keras, saat ini sepatah katapun tidak sanggup untuk diucapkan keluar.
Tetapi sepasang matanya menjadi bisa memandang keadaan disekeliling tempat itu, hanya didalam waktu yang sangat singkat itulah seluruh jago yang ada ditempat itu tanpa terasa sudah pada berhenti dari pertempuran, dengan perasaan tertegun mereka semua pada memandang kemari sedang air muka setiap orang dengan jelas memperlihatkan perasaaan kecewa bercampur gusar yang tak terhingga.
Sekonyong konyong dalam benaknya teringan akan si Thiat Sie Poa (Thiat Sie Sianseng) dengan cepat dia menoleh kearah sebelah kiri saat itu kelihatan sekali air mukanya berubah sangat serius dan keren dengan kencang tangannya merangkul siepoanya yang sedang dipukul bolak balik, agaknya dia sedang berusaha mencari suatu jalan hidup bagi Liem Tou.
Saat itu dengan setengah berbisik ujar hweesuo manyat hidup itu dengan perlahan.
"Liem Tou jika kau kepingin modar cukup dua jariku ini aku tekan maka batok kepalamu segera pidan kerumah hingga kau akan menjadi satu setan tanpa kepala. Tapi jika kau pingin hidup terus cepat beritahukan tempat penyimpanan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadaku, maka aku beri satu jalan hidup kepadamu"
Sambil berkata hweesio manyat hidup itu dengan tidak henti hentinya meniup hawa murninya kedepan membuat leher Liem Tou merasa dingin dan seperti suatu hawa dingin menyusup masuk kedalam tulang sumsum, Liem Tou hanya merasa tubuhnya sangat tidak enak dengan paksakan diri sahutnya kemudian.
"Tanganmu sangat dingin seperti es aku merasa sangat susa cepat lepaskan tanganmu, nanti aku akan beritahukan kepadamu"
Tetapi manyat hidup itu hanya tertawa terkekeh kekeh dengan anehnya.pada waktu itulah puluhan jago jago sudah mengepung kalangan itu seperti semula, hweesio manya hidup itu segera berteriak dengan nadanya yang serak dan aneh.
"he…he…he kamu semua boleh maju lagi, tapi jangan salahkan aku akan pencet bocah cilik ini sampai mati sehingga kitab pusaka To Kong Pit Liok akan ikut terkubur bersama dia"
Semua orang begitu mendengar ancamannya yang kelihatannya bersunguh sungguh itu tidak berani membangkang, terpaksa mereka berdiri dua kaki jauhnya dari tempat dimana hweesio manyat hidup itu berdiri.
Terdengar hweewi manyat hidup bertanya sekali lagi.
"Liem Tou sebenarnya kau sudah ambil kepurusan belum? Kalau tidak jangan salahkan tooyamu akan pencet batok kepalamu ini"
Sambil berkata tenaganya benar2 ditambahi dengan beberapa bagian tenaga murni, Liem Tou merasakan kesakitan yg luar biasa sehingga menusuk kedalam tulang sumsumnya, sedang air yang berada dimukanyapun makin lama mulai kelihatan semakin berubah menjadi pucat pasi.
Tapi dengan sekuat tenaga dia tetap mempertahankan dirinya, untung sejak lama kemudian si hweesio manyat hidup itu sudah mengendor kembali pencetannya, saat itulah Liem Tou baru bisa menghembus nafas lega.
Tiba2 pojokan matanya terbentur dengan air muak Thait sie sianseng yang penuh dihiasi oleh senyuman manis dan sedang berjalan mendekat, tak terasa hatinya berpikir.
"mungkin aku ada harapan tertolong, kalau tidak kenapa dia begitu girang"
Siapa sangka Thiat Sie Sianseng sama sekali tak memandang kearahnya sampai melirik sekejappun tidak, hanya dengan tenangnya dia berjalan menuju kebelakang tubuh salah satu dari Heng San Jie Yu, mendadak bentaknya dengan keras.
"Heng San jie Yu. Hutang piutang diatara kita harus diperhitungkan sekarang juga"
Sambil berkata tangannya dengan kecepatan luar biasa melancarkan serangan menotok kearah jalan darah Thian Cu Hian di leher bagia belakang orang itu.
Agaknya orang itu sama sekali tak menduga akan adanya serangan ini, dalam keaadan yang sangat terkejut terpaksa dia merendahkan tubuhnya kebawah, tubuhnya tanpa berputar, kepalanya tanpa menoleh segera melancarkan ilmu Hwee in Su (membalik tangan mencekal mega) sedang tangan kanannya dari ketiak sebelah kiri menerobos kebelakang dengan menggunakan jurus Hwee Kuang Huan Cao (Sinat terakhir bercahaya) memukul kedepan secara bersamaan.
Thiat Sie Sianseng segera tertawa besar serunya.
"Ilmu Hwee In Su yang sangat lihay"
Liem Tou yang mendengar hal itu tak terasa hatinya menjadi tergerak, segera teringat kembali kalau dalam kitab silat Toa Loo Cin Keng memang termuat ilmu telapak macam itu dengan cepat dia mengingat kembalu gerakan yang dilakukan orang itu kedalam benaknya sedang dalam hatinyapun dengan cepat menjadi paham lagi.
ketika memandang kembali kearah Thiat Sie Sianseng ternyata telah melenyapkan diri entah kemana.
Saat ini Thiat Sie Sianseng merupakan satu satunya orang yang paling diandalkan oleh Liem Tou, kini begitu kehilangan dia tidak terasa hatinya menjadi sangat cemas, pikirnya "habis sudah nyawaku hari ini"
Bertepatan dengan waktu itu tiba2 terdengar suara Thiat Sie Sianseng sudah mucul dibelakang tubuhnya, terdengar dia dengan suara keras sedang berteriak.
"hweesio manyat hidup…kamu orang tidak mau lepas tangan, aku segera akan memperlihatkan kamu akan kelihayanku, lihat senjata rahasia"
Liem Tou yang mendengar perkataan itu segera tahu Thiat Sie Sianseng sedang bantu dia untuk meloloskan diri, terpikir olehnya dengan perbuatannya yang sama sekali tidak terduga ini si hweesio manyat hidup itu tentu terpecah juga perhatiannya, pada saat dia kurang perhatian dirinya itulah segera gigit bibirnya dengan seluruh kekuatan yang ada dia paksakan tubuhnya menekan kebawah, sekalipun lehernya terasa sangat sakil tetapi akhirnya dia lolos juga dari jepitan keras hweesio manyat hidup itu.
Diikuti pula segera denga melancarkan ilmu Hwee In Su (membalik tangan mencekal mega) dari Heng Su dari Heng San pay yaitu tangan kirinya menggunakan jurus Huan Su Liauw In sedangkan tangan kanannya melancarkan Hwee Koang Huan Cao (Sinat terakhir bercahaya) yang secara bersamaan dilancarkan kedepan.
Si hweesio manyat hidup segera mengaum keras, mau tidak mau harus meloncat mundur dua langkah kebelakang.
Liem Tou yang sudah merasakan kesakitan dari tangannya segera mengeraskan niatnya, mendadak dia melancarkan serangan kembali dengan menggunakan jurus serangan Ooh Koei Ciat Hun (Setan lapar menubruk sukma) dari ilmu Sam In Ghiat Ciang yang diajarkan Hek Loo Toa kepadanya, baru saja hweesio manyat hidup itu mundur kebelakang tiba2 Liem Tou menjerit kesakitan kemudian rubuh kebelakang.
Rubuhnya dia tanpa sebab musabab ini membuat semua jago yang ada disitu dibuat menjadi terkejut bercampur tercengang.
Siapa tahu belum sampai tubuh Liem Tou yang rubuh keatas tanah itu mencapai permukaan tanah hingga mendadak bagaikan seekor ular beracun yang besar mengeliat keatas tanah dan memutar tubuhnya, bersamaan pula waktunya bagaikan kilat cepatnya meluncur kea rah hweesio manyat hidup itu.
Jarak dari hweesio manyat hidup itu dengannya tidak lebih hanya dua tiga kaki saja sedang diapun pada saat itu berada dalam keadaan tanpa bersiap siaga, terdengar suara gebukan yang sangat keras tanpa ampun lagi dada hweesio manyat hidup yang kekar itu terhajar oleh kepalan Liem Tou dengan kerasnya, tak terasa lagi…berturut turut dia melompat mundur tujuh delapan kaki baru bisa berdiri tegak.
Waktu itulah Liem Tou baru bisa menghembuskan nafas panjang, makinya.
"melihat kamu orang manusia tidak mirip manusia, setan tidak mirip setan. Hmm…berani juga membohongi toaya-mu. Lain kali terjatuh ketanganku lagi jangan harap aku dapat lepaskan kamu orang yang dengan mudahnya"
Hweesio manyat hidup ini sejak mencukur gundul rambutnya diatas gunung Ngo Thaysan kemudian mendapatkan warisan dari ilmu silat Liauw In Hweesio bersama sama mengangkat namanya dengan sincay buntung, pembesar buta, pengemis mabok dan Thiat Sie Sian Seng sehingga namanya disebut sebagai Tionggoan Ngo Koay, didalam ilmu silat yang paling diandalkan adalah ilmu Han Tiauw Kang-nya (ilmu cakar maut), jago jago Bulim yang terbasmi dibawah cakar mautnya entah berapa banyak jumlahnya, siapa tahu ternyata ini hari dapat dihajar bocah ingusan seperti Liem Tou ini sehingga terpukul semponyongan, tak tertahan lagi hawa amarahnya memucak dari mulutnya segera memperdengarkan suara jeritan aneh seperti pekikan setan dimalam hari.
Didalam waktu yang singkat dari antara kepungan Liem Tou bertiga itu muncul ber puluh2 hweesio yang bersama sama melaruk datang, tanpa ditanya sudahlah sangat jelas kalau hweesio2 itu merupakan murid2 serta cucu2 murid hweesio manyat hidup.
Hweesio2 itu begitu sampai dihadapan hweesio manyat hidup segera bersama sama memberi hormat kemudian berdiri berjajar disampingnya.
Mendadak …hweesio manyat hidup itu menunding kearah Liem Tou sambil teriaknya sengah menjerit.
"cepat tangkap bocah setan itu"
Ber-puluh2 hweesio itu segera menyahut dengan serentak kemudian bersama sama berjalan mendekat kearah Liem Tou.
Liem Tou yang melihat datangnya berpuluh puluh hweesio sekaligus menjadi sangat terperanjat, baru saja dia mau cari akal untuk loloskan diri waktu itulah terdengar Thiat Sie Sian Seng tertawa nyaring kembali ujarnya.
"Hey pengemis bau, aku bilang urusan kali ini haru kuserahkan padamu bila dia sampai menderita rugi seujung rambutpun aku tak cari kamu untuk minta ganti rugi"
Liem Tou mendengar perkataan itu diam diam menjadi sangat girang, terlihat pengemis pemabok itu dengan mementangkan mulutnya yang besar seperti baskom tertawa termehek mehek sedang pentung Tah Kauw Pangnya yang besar kasar serta panjang disabetkan ketengah udara, ujarnya kalem.
"Hey pedangang licik, bocah cilik itu aneh sekali!... he..he..he kamu orang tahu ilmu apa yang digunakan dia untuk menghadiahkan satu bogem mentah kepada hweesio manyat hidup tua bangkotan itu? He he aku mau lihat dia punya ilmu apa lagi yang akan digunakan…nanti turun tangan juga belum terlambat.
"Eh ehe, tidak mungkin"
Sahut Thiat Sie Sian Seng dengan cepat.
"jurus serangan dari bocah cilik aku juga tidak tahu ilmu apa tapi menurut serangan waktu terdesak…he he tidak mungkin bisa digunakan lagi, cepat kau suruh kesayanganmu turun kegelanggang"
Pengemis mabok itu tertawa besar lagi, ujarnya.
"Pedagang licik kau cemas apakah? Coba kau lihat bocah cilik itu memang punya simpanan"
Kiranya saat itulah seorang hweesio mendadak melancarkan serangan kearah Liem Tou untuk mencengkeram dadanya.
Sebenarnya Liem Tou sedang menantikan bantuan dari sipengemis mabok sehingga perhatiannya tidak ditujukan pada hweesio2 itu, siapa tahu pada saat dia lengah itulah hweesio tersebut berhasil mencekeram baju dibagian dadanya bahkan jarinya yang seperti papaya dengan sangat tepat sekali menotok jalan darah Sim Kan Hiat.
Jalan darah Sim Kan Hiat ini merupakan salah satu jalan darah penting lainnya, bilamana salah satu saja dari jalan darah itu tertotok maka nyawanya segera melayang.
Didalam keadaan yang sangat terkejut dengan cepat Liem Tou menarik kembali dadanya kedalam, tangan kirinya mendadak menyambar kedepan, agaknya hweesio itu mempunyai dugaan Liem Tou akan mencekal urat nadinya baru saja berganti jurus siap menahan serangannya itu, siapa tahu gerakan tangan kiri dari Liem Tou jauh lebih cepat darinya, sejal semula sudah ditarik kembali ketempat semula.
Tidak terasa lagi hweesio itu menjadi tertegun, pikirnya.
"jurus serangan apa ini? Menurut keadaan yang sebenarnya gerakannya ini dengan jelas akan memaksa cengkeramanku ini ditarik kembali tetapi kenapa sebelum aku menarik kembali jurus serangannya sebaliknya dia mendahului menarik kembali serangannya?"
Pada saat dia dibuat tertegun itul telapak tangan kana dari Liem Tou dengan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun sudah menyerang datang dari bawah keatas bagaikan kilat cepatnya menghajar dada orang itu, jurus ini tidak lain merupakan jurus Un Hun Put San (sukma halus tidak buyar) dari Ilmu silat Hek Lootoa yang diturunkan kepadanya sesaat menjelang kematiannya.
Hweesio itu sama sekali tidak pernah menyangka didalam keadaan yang sangat menguntungkan baginya itu dia bisa kena hajar oleh kepalan pihak lawan, tidak tertahan lagi dia mundur semponyongan sejauh lima enam tindak kebelakang, dadanya terasa sakit dan mual hampir2 tidak tertahan akan muntah2 disana, tetapi akhirnya tak tertahankan lagi tubuhnya rubuh terjengkang kebelakang.
Peristiwa yang sangat diluar dugaan ini sekalipun Liem Tou sendiri juga merasa bingung sama sekali dia tidak percaya kalau disaat seperti ini dia bisa melancarkan serangan dahsyat membuat orang lain terpukul hingga terluka parah.
Pukulan itu sendiri masih tidak mengapa tetapi dengan demikian memancing hawa amarahnya dari hweesio lainnya segera mereka bersama sama berteriak marah dan mengerubut maju secara bersamaan, bagaikan air bah ditengah samudera mereka melaruk maju terus tanpa pikirkan keselamatan sendiri.
Liem Tou yang melihat sipengemis pemabok itu tetap saja tidak turun tangan menolong dia, didalam keadaan yang apa boleh buat terpaksa dia memperkeras niatnya, sedangkan kakinya dengan menggunakan ilmu Sah Cap Lak Thian Kang Hwee Sian Poh (ilmu langkah tiga puluh enam langkah badai) memutar menerjang ketengah larukan hweesio itu, sebentar dia meloncat sebentar lagi maju kemudian mundur tetapi sedikitpun tidak kelihatan terhalang, bahkan tangan kanan dan tangan kiri serta kakinya tidak mau ambil diam, membuat para hweesio yang melaruk maju itu terpukul hingga kocar kacir.
Begitu Liem Tou memperlihatkan ilmu gerakan ini, sipengemis pemabok yang berada disamping hampir hampir tidak mempercayai pandangannya sendiri, teriaknya dengan keras"
"HEI..PEDAGANG LICIK!!! Coba lihat, gerakan langkah kakinya sangat aneh sekali aduh sepertinya mirip sekali dengan permainanmu itu?"
Si Thiat Sie Sian Seng yang melihat gerakan kaki Liem Tou itu segera tahu kalau ilmu itu merupakan ilmu Thian Kong Poh yang pernah dia ajarkan padanya lewat corat coret ditanah tanpa memberi petunjuk padanya, bahkan sekarang ini dilakukan tanpa sedikitpun salah.
Didalam hatinya tidak terasa menjadi terkejut bercampur heran, diam diam dia memuji tak henti hentinya.
Saat ini Liem Tou yang berkelebat dengan sangat aneh membuat perasaan girang muncul didalam hatinya tanpa memikirkan akibatnya lagi segera dia mengubar seluruh hawa amarah serta kemengkelannya keatas tubuh hweesio2 itu, tangan serta kakinya yang melancarkan serangan semakin keras lagi, sedikitpun tidak menaruh belas kasihan.
Mendadak…Pengemis Pemabok yang berada disamping berteriak lagi dengan keras.
"Hei pedangan licik, kau sudah lihat dengan jelas belum? Kedua jurus yang dilancarkan itu dengan jelas merupakan ilmu telapak Lian Hian Ciang dari kunlunpay, coba lihat ini jurus Peng Jut Tiauw Ciauw (ombak menggulung tubuh ular), coba lihat lagi jurus Hong Hut Po Haua (perempuan menangkap macan). Perkataan ini baru selesai diucapkan dia menjerit kaget lagi "Aduh mak…pedangang licik bagaimana sebenarnya urasan ini? Ilmu kepalan dari bocah itu berubah lagi. Neneknya, Ilmu telapak Hauw Pauw Tauw dari Siauwlim Liok Lo Heng Ciang, hey pedagang licik coba lihat lagi Ilmu telapak, Su Leng dari Butong Tiang Ciang, haaa?? Ilmu telapak Hong Hwei Thian Hui dari Gak Jie Sam Su, Ilmu kepalan Jie Cu Tong Kwei dari Kang Lam Cu Uh Cian, Haah…Haaah?? Coba lihat lagi. Tung Mo Ciang dari Tay Ie Ciang, Cau Siang Ciang, Neneknya…pedangang licik sebenarnya dia anak murid dari partai mana??"
Saat itu agaknya Thiat Sie Sian Seng juga merasa terperanjat, sahutnya dengan cepat.
"Pengemis busuk kau jangan sembarangan berteriak teriak seperti setan kelaparan, aku sendiri juga tidak tahu, bocah cilik ini memang sedikit aneh, jurus ini merupakan jurus Yeh Be Hun Lieh dari Thay Khek Ciang, coba lihat lagi jurus ini merupakan jurus Jie Lang Tan San dari Ngo Heng Ciang, kau lihat…tentu dia punya hubungan yang rapat dengan Lie Loo Jie dari partai Tun Si Pay, kalau tidak siapa lagi yang bisa menurunkan ilmu sebanyak ini kepadanya?"
"Ehmm..ehm…benar benar"
Sahut pengemis mabok sambil mengangguk "aku lihat memang beberapa bagian mirip, bilamana benar asal usul bocah cilik ini tidak kecil ini tidak kecil juga"
Saat itu kawanan hweesio tersebut sudah dipukul Liem Tou hingga kocar kacir, setiap orang pada bengkak mukanya dan berubah kehijau hijauan saking kerasnya kepala yang bersarang dimukanya.
Jilid 6 .
Majikan elang raksasa PADAHAL yang benar Liem Tou banya tahu kalau ilmu langkah Sah cap Lak Thian Kang Poh hoat yang dilakukan itu tidak mungkin bisa terkalahkan, sedang mengenai turun tangan memukul para hwesio itu menurut penglihatannya sendiri bukanlah merupakan suatu jurus serangan yang sesungguhnya, kesemuanya ini tidak lain hanya merupakan suatu pukulan serabutan yang tidak menurut peraturan.
Tetapi siapa sangka dia pernah membaca dan mempeladjari bagian dari kitab silat Toa Koe Cin Keng pada halaman ilmu pukulan sehingga tanpa sadar olehnya didalam melancarkan serangannya itu secara tidak langsung sudah mengandung jurus jurus serangan, hanya saja jurus jurus serangan itu dilakukan sangat kacau sekali, sebentar lempeng sebentar berbelok, bahkan Im serta Yang nya tidak dibedakan sebaliknya hal ini didalam pandangan orang lain hanya didalam waktu sepertanak nasi saja dia bisa mengeluarkan ilmu ilmu pukulan dari berbagai partai serta perguruan yang ada didalam Bu lim sudah tentu membuat para jago yang hadir ditempat ini menjadi sangat terkejut, heran bercampur kagum.
Sebenarnya si hwesio mayat hidup itu sudah melihat situasinya sangat tidak menguntungkan bagi pihaknya, tetapi sekalipun dia meiihat perubahan jurus jurus serangan dari Liem Tou sangat banyak dan lihay ketika terpukul ditubuh anak muridnya tidak terlatu berat sekali, selain tempat tempat yang berbahaya paling banyak juga terpukul hingga sampoyongan saja atau terjungkir balik roboh ketanah, sehingga sampai saat itu dia hanya berdiam diri saja memandang setiap jurus serangan yang digunakan oleh Liem Tou itu, agaknya dia ingin mengetahui asal usul dari permainan silatnya.
Tetapi akhirnya hasil yang dia inginkan tetap tidak berkunjung datang sebaliknya itu murid2 serta cucu2 muridrya dipukul dan dihajar oleh Liem Tou hingga berkaok kaok kesakitan.
Saat ini dia benar benar tidak dapat menahan kemarahan serta pergolakan didalam hatinya, mendadak bagaikan segulung angin keras bertiup datang dengan sangat cepat dia sudah berdiri dihadapan Liem Tou, teriaknya dengan keras.
"Liem Tou, serahkan nyawamu."
Perkataannya belum sampai tubuhnya sudah menerjang kedepan, tangannya dengan kekuatan tenaga murni yang sangat dahsyat mencengkeram kedepan wajah Liem Tou, dengan cepat Liem Tou nguab tubuhnya kebelakang, kakinya merasa tergelincir dengan sangat manisnya dia berhasil menghindarkan diri dari serangan ini.
Thiat Sie sianseng yang saat ini melihat hweesio mayat hidup itu sudah dibuat kalap saking gusarnya segera berteriak dengan sangat cemas.
"Hey pengemis busuk, celaka, celaka cepat turun tangan . cepat turun tangan kali ini bocah cilik itu tentu akan merasakan kerugian yang besar dibawah serangan mayat hidup tua itu,"
Hweesio mayat hidup itu melihat cengkeramannya yang pertama menemui sasaran kosong dengan cepat cengkeramannya yang kedua, gerakannya ini dilakukan dengan sangat cepat sekali sehingga hanya kelihatan bayangan buram yang berkelebat tahu-tahu cengkeramannya ini sudah menempel dihadapan dadanya.
Dengan perasaan cemas kaki Liem Tou sekali lagi berputar, sekalipun kali ini dia berhasil juga menghindarkan diri tetapi wajah serta kulit dadanya terasa angin dingin yang sangat menyesakkan dadanya memancar keluar dari cengkeramannya yang seperti kuku garuda itu, hampir-hampir membuat dia saking terkejutnya sepasang kakinya menjadi lemas tidak bertenaga jurus serangan apapun kini tidak sanggup digunakan kembali didalam pikirannya hanya mengharapkan bantuan dari pengemis pemabok itu menolong dirinya meloloskan diri dari ancaman bahaya maut ini.
Siapa tahu justru saat itu si pengemis pemabok sedang menyahut.
"Hey pedagang licik kau cemas apa? Dengan kelihayan dari ilmu yang dimiliki bocah cilik itu untuk beberapa saat lamanya mayat bangkotan tidak mungkin bisa berbuat apa2 terhadapnya, coba kita lihat lagi."
Liem Tou yang melihat sipengemis pemabok itu beberapa kali menolak untuk menolong dirinya didalam hati benar2 merasa gemas, makinya.
"Ingat kau pengemis bau, pada satu hari tentu aku akan suruh kau orang rasakan siksaan seperti ini, aku melihat bagaimana kau melewati siksaan seperti ini"
Pada saat itu mendadak tubuh dari hweesio mayat hidup itu mumbul ketengah udara kemudian berjumpalitan beberapa kali, kepalanya kini berganti dibawah dengan kaki sebelah atas sedang sepuluh jarinya yang runcing bagaikan kuku garuda dengan kecepatan yang luar biasa menubruk kebawah, sehingga dalam waktu yang sangat singkat beberapa kaki disekeliling tubuh Liem Tou sudah berada dibawah lingkaran bayangan cengkeram mautnya.
Liem Tou yang melihat hal itu segera menjerit kaget.
"Celaka, aduh mak tolong ..."
Seluruh tubuhnya segera dijatuhkan keatas tanah, mendadak hawa murninya disedot dalam2 sehingga terkumpul didalam perutnya, didalam sekejap mata perutnya membesar sebesar gentong, dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga murni yang berhasil dilatihnya begitu menanti tubuh hweecio mayat hidup itu tepat menubruk diatas tubuhnya, mendadak...
"Phuuu .."
Hawa murni yang dipusatkan dipusarnya segera disemburkan keatas dengan dahsyatnya.
"Oooh...aduh, neneknya ."
Dangan disertai suara jeritan yang sangat mengerikan tubuh hweesio mayat hidup itu segera terpental keatas kemudian rubuh kembali keatas permukaan tanah dengan menimbulkan suara yang sangat keras sepasang tangannya dengan kencang2 ditutupkan keatas wajahnya sedang tubuhnya dengan terlentang rubuh diatas tanah untuk beberapa waktu lamanya tidak sanggup untuk merangkak bangun.
Pada hal tubuh hweesio mayat hidup yang rubuh keatas tanah dan tidak bisa bangun kembali itu bukannya kerena dia terluka parah oleh semprotan hawa murni itu, hal yang sebenarnya adalah karena tubuhnya yang kaku seperti balok kayu itu dengan sangat tepat rubuh terlentang sehingga sedikitpun tidak punya tenaga untuk merangkak bangun.
Keadaannya yang sangat lucu itu membuat perasaan anti dari para jago dunia Kangouw yang kumpul ditempat itu tidak bisa ditahan lagi, mereka bersama-sama tertawa terbahak-bahak sambil memegang kencang perutnya, apa lagi sisiucay buntung, pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng dari Tionggoan Ngo Koay, mereka tertawa sangat keras sekali sehingga hampir-hampir melelehkan air matanya.
Sipembesar buta itu selamanya mempunyai sifat kasar, serta berangasan apalagi dia merupakan satu kornplotan dengan si hweesio mayat hidup itu kini lihat semua orang tertawa ia bukannya ikut tertawa sebaliknya mengerutkan alisnya, air mukanya berubah membesi dengan sangat gusar bercampur gemas berdiri disamping sedang dari hidungnya tak henti hentinya mendengus dengan sangat dingin.
Suara tertawa keras dari puluhan jago Bu lim secara berbareng ini membuat seluruh lembah cupu cupu yang terkurung diantara gunung gunung yang berdiri menjulang tinggi keangkasa itu bergema tak henti hentinya.
Tak lama kemudian suara tertawa dari para jago itu dengan perlahan mulai berhenti kembali, tapi suara tertawa keras yang bergema di lembah cupu cupu itu tetap saja berkumandang tak henti2nya bahkan semakin lama semakin meninggi.
Lama kemudian barulah suara tersebut merendah dan akhirnya lenyap.
tapi pada saat suara sebut hampir lenyap itulah sekali lagi suara tertawa tersebut makin lama makin meninggi dan akhirnya tinggi melengking memekikkan telinga semua hadirin yang mendengar suara itu tak terasa pada termangu mangu dan berdiri mematung ditempatnya masing-masing.
Dengan perlahan suara tertawa itu makin meninggi bersamaan pula nadanya semakin nyaring dan akhirnya tinggi melengking memekikkan telinga, membuat Liem Tou segera dibuat menjadi bingung, ketika menoleh memandang orang orang lain tak tertahan lagi dia menjadi tertegun dibuatnya.
Kiranya saat ini setiap air muka para jago yang ada dilembah itu sudah berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat, wajah yang pucat dengan mengikuti suara tertawa itu perlahan lahan berubah kembali menjadi kehijau-hijauan, bahkan ada pula yang Iangkah kakinya dengan perlahan mulai bergeser mendekati lembah cupu cupu.
Suatu keistimewaan yang paling menyolok di antara peristiwa itu adalah siapapun tiada yang berani mengeluarkan suara sekecappun, masing masing berkumpul dengan kawan-kawannya atau kelompoknya sendiri kemudian mengundurkan diri dari lembah itu dengan tergesa gesa, tapi siapapun tak berani berlalu sangat cepat dibawah telapak kaki mereka seperti sedang dirembeti oleh seekor ular beracun, takut sekali mengejutkan dia sehingga terpagut.
Liem Tou yang melihat kejadian sangat aneh ini merasa sangat heran sekali, dengan tergesa gesa dia menoleh memandang kearah Tionggoan Ngo Koay, tampak merekapun sama halnya dengan yang lain air mukanya telah berubah menjadi sangat serius dan heran bahkan suatu hal yang membuat Liem Tou merasa terkejut dan heran adalah diantara Tionggoan Ngo Koay itu sebenarnya Sisiucay buntung, pambesar buta, hweesio mayat hidup serta pengemis pemabok musuh2 yang tak pernah bisa hidup rukun dan damai tapi entah karena apa begitu suara tertawa yang sangat aneh itu muncul maka mereka berlima segera bersatu padu dan berdiri berjajar menjadi satu.
Sepasang mata dari sisiucay buntung, pengemis pemabok serta hweesio rnayat hidup dengan tajamnya memandang kearah sekeliling gunung yang menjulang tinggi serta pintu rembah cupu cupu itu sebaliknya sipembesar buta dengan mengandalkan sepasang telinganya yang sangat tajam melebihi mata itupun dengan memusatkan seluruh perhatiannya mendengarkan gerak-gerik pihak musuh.
Hanya si Thiat sianseng saja yang tetap menundukkan kepalanya memukul pulang pergi biji biji sie poanya, air mukanya yang murung dan dikerutkan kencang2 itu seperti sedang menggambarkan suatu bencana besar yang bakal menimpa dan merupakan suatu kejadian yg sangat mengenaskan selama hidupnya .
Dengan sikap dari setiap jago dilembah itu membuat Liem Tou yang tak tahu urusan apa yang terjadi itu merasa tegang juga tidak tertahan keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya.
Lewat beberapa saat kemudian suara tertawa itu mendadak berhenti sama sekali kemudian di ikuti dengan suara pekikan ngeri dari burung elang.
Dari atas kepala para jago segera munculkan dua ekor burung elang yang sangat besar sekali dengan tak henti2nya menyambar diatas kepala para jago itu.
Sayap dari kedua elang itu kelihatan begitu besarnya sehingga hanya cukup bergoyang beberapa kali saja didalam sekejap mata mengitari lembah cupu2 itu sebanyak empat kali, hal ini bisa dibayangkan betapa cepatnya gerakan dari binatang itu.
Saat ini setiap orang memusatkan seluruh perhatiannya keatas, sedang sinar matanya pun dengan tajamnya mengikuti setiap putaran serta setiap gerak gerik dari kedua ekor burung elang tersebut, orang2 yang semula mulai menggeserkan kakinya mendekati pintu lembahpun saat ini menghentikan gerakan tubuhnya dan berdiri mematung dan tak berani bergerak sedikitpun.
Jelas sekali kelihatan air muka dari Tionggoan Ngo Koay makin berubah tegang lagi bahkan keringat sebesar kacang kedelai sudah tampak mulai menetes keluar membasahi keningnya.
Pada saat yang sangat tegang itulah mendadak diantara para jago itu terdengar suara yang sangat aneh sekali.
"Sreet "
Suara yang sangat nyaring memecahkan kesunyian ini membuat Liem Tou hampir loncat saking terkejutnya, dia menoleh kebelakang terlihatlah seorang lelaki berusia pertengahan secara mendadak mencabut keluar pedang yang tersoren dipunggungnya, suara yang sangat nyaring serta aneh itu kiranya berasal dari suara sesaat dia mencabut keluar pedangnya itu.
Siapa tahu begitu pedang panjangnya keluar dari sarung sesorot sinar matahari tepat menyoroti tubuh pedang itu sehingga memantulkan suatu sinar pedang yang sangat menyilaukan mata, suara tertawa keras yang tadi sudah berhenti sekali lagi bergema ditengah lembah cupu cupu serta sekeliling gunung yang tinggi itu bahkan secara samar samar diikuti dengan suara suitan yang keras.
"Kuak ... kuak .."
Dengan beberapa kali pekikan mengerikan kedua ekor burung elang itu secara mendadak muncuI dari antara awan kemudian menukik kebawah dengan kecepatan yang luar biasa menubruk kearah orang itu.
Semua jago yang melihat hal itu tidak bisa menahan pergolakan didalam hatinya lagi tak tertahan mereka pada menjerit kaget, tetapi di antara suara jeritan yang sangat mengerikan memecahkan jeritan kaget lainnya, kedua ekor burung elang itu dengan diikuti segulung angin sambaran yang sangat kuat sudah melayang kembali keangkasa menghilang dibalik awan.
Ketika keadaan menjadi jelas kembali para jago hanya melihat orang itu sudah binasa diatas tanah dengan badan yang hancur serta darah segar yang berceceran diatas tanah, kiranya tulang tulang batok kepalanya sudah hancur sedang tubuhnyapun koyak koyak oleh kuku elang yang sangat tajam itu.
Keadaan yang sangat mengerikan dan menggoncangkan hati setiap orang ini membuat para jago tidak tertahan lagi pada bergidik sedang bulu roma pada berdiri semua.
Liem Tou yang melihat hal itu dalam hatinya sudah merasa ngeri, pikirnya.
"Siapa orang itu ?? wow ... sungguh galak dan ganas benar". Tanpa sadar lagi dia mulai berdiri bersandar pada punggung kerbaunya itu, sedang dalam hati diam diam doanya.
"Moga moga aku bisa menaiki punggung kerbau ini dan menerjang keluar dari lembah terkutuk ini, ... Oooh Thian tolonglah aku"
Tetapi didalam hatinya mendadak berkelebat kembali keadaan yang mengerikan dari lelaki yang terkoyak oleh dua ekor elang raksasa itu, dalam hatinya sekali lagi timbul perasaan yang mencegah niatnya ini, ujarnya lagi.
"Tidak mungkin .tidak mungkin Liem Tou, Liem Tou, kau tidak mungkin bisa lolos dari lembah ini, sebelum kau orang mencapai depan lembah mungkin kedua binatang itu sudah menghancurkan dan mengoyak-oyak tubuhmu tidak mungkin tidak mungkin, Oooh . siapa dia? Kenapa sampai Tionggoan Ngo Koay juga takut seperti itu ? siapa orang itu?"
Dengan kejadian yang sangat mengerikan itu membuat hawa disekeliling lernbah itu berubah menjadi semakin berat dan semakin menyesakkan napas setiap orang, hanya cukup sekejap saja ternyata mirip dengan satu hari lamanya....
yang paling menggemaskan kedua ekor elang raksasa itu dengan tidak henti hentinya terus menerus berputar dan berkeliling di sekitar lembah itu .
Tidak lama kemudian Liem Tou benar benar tidak sanggup untuk bersabar menanti dengan keadaan seperti itu, perasaanaya sekarang ini jauh lebih gemas dari pada tubuhnya dihajar atau dipukuli setengah mati.
Tangan kanannya dengan perlahan lahan mulai diletakkan diatas punggung kerbaunya sedang tubuhnya siap siap meloncat keatas punggung kerbau untuk kemudian dengan cepat cepat menerjang keluar dari lembah itu.
Mendadak pada saat yang bersamaan pula si pembesar buta mendadak bersuit nyaring dengan tingginya membuat seluruh lembah tergetar dengan kerasnya, bersamaan pula bentaknya dengan keras.
"Kamu iblis terkutuk..iblis elang yang terkutuk aku kira sejak dulu sudah modar tidak kusangka sama sekali ini baru bisa berada ditempat ini he he kalau sudah datang kenapa tidak muncul muncul? buat apa main sembunyi sernbunyi seperti anak kura kura?? cepat gelinding keluar biar semua orang bisa lihat batang hidungmu."
Si pembesar buta sesudah berteriak demikian, ujarnya pula dengan nada yang perlahan dengan kawan kawannya.
"Hey buntung bangkotan, mayat hidup pengemis busuk serta Sie poa butut dengarkan dulu..iblis anjing ini sekali lagi munculkan diri didalam bu lim terpaksa dendam kesumat diantara kita ditunda dahulu untuk bersama sama mengusir iblis busuk itu, pada masa yang lalu kita Tionggoan Ngo Koay bisa menahan serangan iblis itu kiranya ini haripun masih sanggup ..,hem. hemmm heran buat apa kita takut dia juga?"
"Ehmm. perkataan kamu sibuta sekalipun tidak salah"
Sahut si Thiat Sie sianseng.
"tetapi masa yang silam tetap merupakan masa yang silam, masa yang silam sibuntung bukanlah buntung, sipicik bukarlah buta simayat hidup tidak kaku tetapi ini hari diantara Tionggoan Ngo Koay ada yang sudah bunturg, buta ditambah lagi sudah kaku seperti mayat hidup he-he he tidak disamakan lagi."
Sipembesar buta yang mendengar perkataan itu menjadi sangat gusar, ujarnya.
"Haaa ---perkataan apa ini hey pedagang terkutuk? Kamu kira aku semua harus korbankan nyawa untuk dia orang?? Sekalipun pada masa yang lalu kita tidak buntung, tidak kaku tidak buta tetapi kepandaian yang kita miliki sekarang jauh lebih lihay dari pada kita semasa belum buntung, belum buta, belum kaku."
"Tidak salah --tidak salah"
Sahut Thiat-Sie sianseng tenang, tetapi sekarang aku mau tanya pada waktu yang lalu kamu masih bisa menahan serangan dari kedua binatang terkutuk itu, lalu ini hari kamu masih sanggup tidak?"
Beberapa perkataan ini membuat sipembesar buta bungkam seribu bahasa tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun, tetapi dengan cepat Thiat Sie sianseng mengubah pokok pembicaraannya, ujarnya lagi.
"Tetapi kalian tidak usah kuatir tadi aku sudah menghitung dengan teliti, asalkan kita orang bisa menghadapi dia cukup seperempat jam saja maka kita akan dapat tertolong"
Sehabis berbicara dengan perlahan dia melirik sekejap kearan Liem Tou, tanyanya mendadak.
"Hey, Liem Tou! Sebenarnya kamu punya hubungan apa dengan Siok Li Sin Ken atau sicangkul pualam Lie Sang Loo jie dari partai Tun Si Pay? cepat beritahukan kepadaku"
Liem Tou yang ditanya seperti itu menjadi tertegun dibuatnya, sambil gelengkan kepalanya, sahutnya.
"Aku tidak tahu."
Si Thiat Sie sianseng yang mendengar jawabannya itu menjadi gemas, sambil melototkan sepasang mata ujarnya lagi.
"Kamu bohong, aku sudah hitung pasti punya hubungan dengan dia orang"
"Cianpwee.. cianpwee harus percaya omonganku"
Ujar Liem Tou sambil gelengkan kepalanya dengan keras. Selamanya Liem Tou belum pernah omong kosong, aku benar2 tidak kenal dengan si Lie-Sang dari Tun Si Pay itu ."
Thiat Sie sianseng yang melihat Liem Ton menjawab begini tidak terasa gumamnya seorang diri.
"Haaaa ? kalau begini aneh sekali memang aneh sekali ."
Sekonyong konyong teriaknya dengan keras.
"Binatang itu menyerang lagi…semua waspada."
Saat itu juga dari tengah awan kelihatan sekali kedua ekor elang raksasa dengan ganasnya menukik turun kemudian menubruk kearah para jago itu.
Si siucay buntung, pembesar buta.
pengemis mabok hweesio mayat hidup serta Thiat Sie sianseng lima orang segera bersama sama membentak keras, sambaran kipas-tusukan toya besi, sambitan tasbeh, kebasan toya serta kemplangan Sie poa bersama sarna menutup kedepan menahan serangan dari elang pertama yang malah mementangkan cakar mautnya untuk mencari mangsa.
Saat itulah serangan maut dari elang raksasa yang kedua mendesak datang, dengan diikuti oleh segulung angin sambaran yang kuat elang tersebut menyambar tidak lebih dua kaki dari atas kepala semua orang kemudian melayang naik kembali.
Seluruh perhatian dan tenaga dari Tionggoan Ngo Koay mau tak mau terpaksa harus dipusatkan pada gerak gerik serta serangan dari elang2 raksasa itu kendor sedikit berarti maut menjelang datang karena itulah makin lama pada kening masing2 mulai di basahi oleh keringat yang mengucur keluar dengan derasnya.
Saat ini Liem Tou juga sedang memusatkan seluruh perhatiannya melihat seluruh gerak gerik dari elang raksasa itu, pada saat yang sangat tegang dan sangat kritis itulah mendadak muncul seseorang yang berseru dengan keras.
"Tionggoan Ngo Thay hiap, Jangan terlalu tidak tahu diri."
Liem Tou yang mendengar perkataan itu tidak tertahan lagi segera bergidik, dengan cepat dia mengalihkan pandangannya kearah dimana berasalnya suara itu kiranya dua kali dari Tionggoan Ngo Koay berdiri muncullah seorang lelaki berbaju hijau yang berdiri dengan angkernya air mukanya sangat tampan sedang tubuhnyapun tegap.
Tetapi dari Tionggoan Ngo Koay begitu mendengar suaranya orang itu seperti manusia yang bertemu dengan setan tidak tertahan pada menjerit kaget.
"Haaah -?"
"Aduh ..."
Karena perasaan terkejut itulah membuat perhatian mereka menjadi sedikit bercabang, agaknya kesempatan yang sangat baik itu tidak mau disia-siakan dengan begitu saja oleh elang raksasa tersebut, dengan mementangkaa sepasang cakarnya yang sangat tajam bagaikan pisau dengan kecepatan yang luar biasa menubruk kebawah, agaknya serangan itu akan membuat tubuh Tionggoan Ngo Koay terpukul hancur atau terkoyak koyak oleh serangan dahsyat ini membuat Liem Tou yang melihat hal ini merasa sangat terkejut sehingga tidak tertahan menjerit kaget.
Saat itulah sipendekar aneh berbaju hijau itu sudah mengebutkan ujung bajunya, sambil bentaknya.
"Kiem jie tunggu dulu."
Serangan yang dilakukan oleh elang raksasa itu dilakukan dengan sangat cepat sekali tetapi perginyapun sangat cepat bagaikan kilat, baru saja suara bentakan dari pendekar aneh berbaju hijau itu keluar dari mulut, sayapnya sudah di pentangkan kembali kemudian meluncur ke tengah awan dengan cepatnya.
hanya didalam sekecap mata dia sudah mengejar kearah elang lainnya untuk kemudian melanjutkan terbang kelilingnya mengitari lembah tersebut.
Liem Tou sesudah melihat elang raksasa itu terbang pergi burulah dalam hatinya merasa lega, teriaknya dalam hati.
"Huuh . --sungguh berbahaya . .. sungguh berbahaya --"
Terdengar sipendekar aneh berbaju hijau sudah membuka mulut ujarnya kepada Tionggoan Ngo Koay dengan wegah-wegahan.
"Sehabis perpisahan kita diatas Tiong Lam san hanya didalam sekejap mata beberapa tahun sudah lewat, kiranya kalian Tionggoan Ngo Koay hiap masih belum melupakan Thian Pian Siauwcu aku orang Kie bukan?"
Sipembesar buta sesudah mendengar perkataannya segera membalikkan bola matanya yang tinggal putihnya saja itu, tongkat besi ditangannya dengan keras diketukkan diatas tanah baru akan buka bicara, Thiat Sie sianseng dengan cepat sudah berebut omong sahutnya.
"Nama besar dari Thian Pian Siauw cu atau rnajikan elang sakti dari daerah Thian Pian, Ke Hong sudah terkenal didalam Bu lim, bagaimana kita bisa melupakannya. Ke Siauwcu beberapa tahun tidak ketemu kelihatan sekali makin lama kau semakin keren dan semakin serius, entah kali ini datang kemari punya petunjuk apa?"
"He He He.."
Sahut Thian Pian Siauw cu sambil tertawa tawar.
"Kitab pusaka To Kong Pit Liok merupakan sebuah kitab pusaka yang sangat sakti, aku kira orang orang Bu lim tidak ada seorangpun yang tidak ingin untuk mendapatkan kitab itu dengan cepat, apalagi kini kedatanganku tepat wakunya buat apa kau bertanya lagi?"
Sambil berkata dia putar tubuhnya sambil menggendong sepasang tangannya dia berjalan kedepan dengan perlahan, air mukanya masih tetap tersungging suatu senyuman yang sangat dingin, sikapnya sangat sombong dan tidak memandang sebelah matapun terhadap orang lain sesudah berjalan ketengah antara para jago itu ujarnya sambil menuding satu persatu.
"Ciangbunjin dari Bu tong pay, Ciangbunjin dari Siauw lim Pay. Hang san Jie Yu. In San Siang koay, Cian Phu Ngo Koei, Siok To Siang Mo.."
Berbicara sarnpai disini mendadak tanyanya kepada Hek Loo Jie.
"Mana Hek Loo toa?"
Saat itu air rnuka dari Loo Jie sudah menjadi pucat pasi seperti rnayat, sesudah membuka mulut setengah harian lamanya barulah sahutnya dengan gemetar.
"Loo toako kemana selamanya aku Loo jie tidak tahu, bilamana Siauw cu ingin rnemanggil dia datang, biarlah sekarana juga aku pergi cari "
Sambil berkata ia balikkan tubuhnya siap meminjam kesempatan yang bagus ini untuk melarikan diri dari lembah itu, siapa tahu baru berjalan satu langkah, terdengar Thian Pian Siauw cu sambil tertawa dingin sudah mernbentak.
"Aku tidak pernah suruh kamu orang pergi cari Hek Loo toa, buat apa kamu cemas begitu? cepat kembali"
Pada saat dia mengucapkan "Cepat kembali"
Dua kata, tangannya yang sebelah dengan sangat mudahnya sedikit menjawil kearah Hek Loojie, ternyata sangat aneh sekali tubuh Hek Loo jie yang sebenarnya sedang lari kedepan saat ini ternyata dengan sempoyongan beberapa langkah kebelakang, akhirnya dia tidak sanggup untuk berdiri tegak lagi, tidak ampun tubuhnya terjengkang keatas tanah dengan kerasnya.
Keadaan dari Hek Loo jie saat ini sudah mengenaskan sekali, keganasan serta kekejamannya tempo hari saat ini sudah hilang lenyap seperti tertiup angin kencang, sesudah berhasil merangkak bangun dia menjatuhkan diri berlutut dihadapan tubuh Thian Piauw Siauw cu itu ujarnya sambil meringis ringis menahan sakit.
"Bila aku telah membuat kesalahan terhadap Siauw cu, harap kamu orang mau memaafkan dosa dosa ku itu."
Thian Plan Siauw cu sama sekali tidak mau ambil perduli atas ratapannya itu setindak demi setindak dia mulai berjalan kedepan tubuhnya.
Air muka Hek Loo jie segera berubah sangat hebat, kelihatan jelas sekali gigi serta bibir-nya gemetar sehingga saling terbentur satu sama lainnya bahkan tubuhnya seperti kena penyakit demam dengan kerasnya gemetar, sambil berjalan kaki merangkak mundur kebelakang teriaknya sambil meratap ratap.
"Siauw cu jangan ° . Siauw cu jangan"
Jubah hijau dari Thian Pian Siauw cu yang longgar itu kelihatan berkibar tertiup angin tetapi langkahnya masih tetap dilanjutkan kedepan, sedang air muka tetap dingin kaku dan sombong sedikitpun tidak kelihatan perobahan apa pun, gerak geriknya seperti tidak pernah terjadi suatu urusan.
Hek Loo jie yang mundur terus menerus ke belakang akhirnya tidak tertahan juga, teriaknya.
"Hey orang she Ke aku dengar kamu orang tidak pernah mengikat tali dendam maupun sakit hati"
Parkataannya belum selesai diucapkan mendadak tubuhnya meloncat bangun, telapak telapak tangannya dengan menggunakan jurus Tui Juang Jung Gwat atau mendorong jendela memandang bulan dengan kekuatan yang besar menghajar tubuh Thian Pian Siauw cu.
Sekali lagi si Thian Pian Siauw cu tertawa dingin, sambil rnengebutkan jubahnya yang ber warna hIjau ujarnya.
"Hek Loo jie sebetulnya aku tidak punya niat rnenyusahkan kamu orang kamu mau cari mati sendiri yaaah??"
Kebutannya memang kelihatan sangat enteng dan ringan sekali tetapi hal yang sebenarnya segulungan tenaga murni yang sangat dahsyat dengan mengikuti kebutan itu menyerang kedepan terdengar Hek Loo jie mendengus berat tubuhnya sudah terlempar sejauh satu kaki kedepan demikian menggeletak diatas tanah tidak bisa berkutik kembali.
Sejak semula hingga saat terakhir Liem Tou terus menerus melihat setiap kejadian yang mendebarkan dan mengejutkan hati itu, saat ini tidak terasa pikirnya.
"Mungkinkah Hek Loo jie terbinasa hanya degan satu kebutan pendekar aneh berbaju hijau itu? kalau begitu pesan terakhir dari Hek Loo toa yang minta aku bunuhkan itu manusia terkutuk Hek Loo jie men jadi tidak bisa terlaksana"
Baru saja pikirannya terpikir demikian terdengar Thian Pian Siauw cu sudah bicara lagi,ujarnya.
"Hek Loo jie dengan kekurang ajaranmu ini harusnya kau dihukum mati tetapi bilamana kau mau beritahu itu kitab pusaka To Kong Pit Liok sekarang berada ditangan siapa, maka aku Thian Pian Siauw cu segera akan buka satu jalan kehidupan bagi dirimu."
LiemTou yang mendengar perkataan itu segera tahulah dia kalau Hek Loo Jie belum binasa, kiranya dia hanya terluka dalam saja, sejenak kemudian terlihatlah sambil merintih kesakitan dengan paksakan diri Hek Loo jie merangkak bangun, sedang mulutnya dengan nada yang rendah mengucapkan sasuatu hanya karena jarak yang jauh sehingga Liem Tou tidak bisa dengar dengan jelas.
Ujar Thian Pian Siauw cu lagi dengan keras.
' Hek Loo jie kamu orang tidak usah ucapkan terima kasih kepadaku, cepat katakan kitab pusaka To Kong Pit Liok sebetulnya berada ditangan siapa?"
Dengan perlahan sinar mata dari Hek Loo jie beralih keatas tubuh Liem Tou yang dipandang seperti itu tidak tertahan dalam hati merasa berdesir pikirnya.
"Aduh mak ...Tolong..Thian. .. kelihatannya kali ini aku sukar untuk loloskan diri."
Mendadak sisiucay buntang yang berada di samping membuka mulut, ujarnya.
"Dari tempat kejauhan Ke Siauw cu datang kemari agaknya sudah punya pegangan yang tebal untuk mendapatkan kitab pusaka itu tetapi menurut penglihatanku sekalipun Siauw cu tahu kitab pusaka itu berada ditangan siapa belum tentu dengan mudah mendapatkannya."
"Kenapa?" 'ujar Thian Pian Siauw cu dengan sangat dinginnya sedang kepalanya dengan per ahan ditolehkan kebelakang.
"Apakah mungkin orang yang mendapatkan kitab pusaka itu mempunyai asal usul yang besar yang tidak bisa diganggu dengan seenaknya.?"
Dengan perlahan sisiucay buntung itu menudingkan tangan tunggalnya kearah Liem Tou, kemudian barulah sahutnya.
"Tentang itu masih belum memadahi, coba kamu lihat kitab pusaka itu berada ditangan orang ini, tetapi pernahkah kau terpikirkan bahwa orang yang kecil justru sukar dihadapi?"
Semula ketika Thian Pian Siauw cu melihat sisiucay buntung itu menuding Liem Tou dan melihat keadaan Liem Tou yang demikian, tidak terasa menjadi tertegun, kemudian setelah mendengar sisiucay buntung itu menyebutkan kalau orang yang kecil justru sukar dihadapi mendadak angkat kepalanya tertawa terbabak bahak, kemudian dengan perlahan dia menoleh kearah ciangbunjin dari Bu tong pay, ciangbunjin dari Siauw lim Pay, Heng San Jie Yu, In San-Siang Koei serta Tian Pian Ngo Koei sekalian dengan perlahan tanyanya.
"Kitab pusaka To Kong Pit Liok sudah men jadi milik aku orang she Ke, kalian siapa saja yang tidak puas"
Sambil berkata sepasang tangannya bertolak pinggang menantikan jawaban dari orang orang itu, tapi suasana masih tetap sunyi senyap para jago yang diajak bicara tetap membungkatn seribu bahasa.
Sesudab menanti sepertanak nasi lamanya, Thian Pian Siauw cu tetap tidak dengar sahutan mendadak bentaknya lagi.
"Kalian semua gentong nasi, cepat menggelinding dari sini."
Samba berkata ujung bajunya dikebutkan dan disambarkan kedepan segulung angin serangan yang sangat dahysat segera menggulung kedepan dengan kerasnya, tidak seorangpun yang tidak sempoyongan terkena sambaran angin ini.
Meiihat kejadian ini para jago mana berani melawan dia lagi ?
Dengan suatu gerakan yang sangat cepat mereka bersama semua pada bubaran keluar dari lembah cupu cupu itu.
Ditengah lembah kini hanya tinggal ciangbunjien dari Bu-tong Pay.
Ciangbunjin dari Siauw lim pay, Heng San Jie Yu sekalian karena kedudukannya sebagai seorang cianpwee dari satu partai yang besar sudah tentu rnereka mera sa malu untuk ikut bubaran dengan lainnya tetapi meskipun demikian mereka hanya herdir ditempat kejauhan tanpa berani ikut mengangkat bicara lagi.
Thian Pian Siauw cu yang malihat hal itu juga tidak ambil perduli lagi.
Menanti setelah para jago pada lari terbirit birit meninggalkan lembah itu Thian Plan Siauw cu barulah dengan perlahan membalikkan tubuhnya dan melirik sekejap kearah Liem Tou, ujarnya lagi terhadap Tionggoan Ngo Koay.
"Aku sudah mengambil kepastian untuk nahan orang ini, dari pihak Ngo Hiap masih punya petunjuk apa ?"
Si siucay buntung yang sudah kadung bicara saat ini untuk menarik kembali perkataannya sudah tentu tidak mungkin laga, terpaksa sahutnya dengan perlahan.
"Aku kira tidak begitu mudahnya, sekalipun pada pertemuan besar diatas gunung Tiong Lam san tempo hari Ke Siauwcu bisa mengalabkan para jago dengan mengandalkan sepasang telapal tangan, mengalahkan raja Auh Hay ClangCau, melukai Kiem Ko It Tiauw atau sipancing emas sakti Liem Tiong babkan dengan si-Giok Li Sin Koen Lie Loojie bertempur tiga hari dan tiga malam tanpa ada yang menang sehingga nama besarnya menggetarkan seluruh dunia kangouw dan terkenal hingga seluruh pelosok dunia, tetapi keganasan serta kekejamanmu jauh lebih manggetarkan seluruh jago-jago jago berkepandaian tinggi yang binasa ditanganmu semasa pertemuan besar diatas gunung Tiong Lam san entah barpuluh puluh orang banyaknya, bilamana kini kitab pusaka To Kong Pit Liok itu jatuh ketanganmu pula he he be ... kiranya diseluruh dunia kangouw maupun disekitarnya akin menemui bencana yang sangat besar. Dari pada saat itu kami lima orang menemui bencana ditanganmu jauh lebih balk sekarang juga adu jiwa dengan kamu orang. Hey orang she Ke. Untuk medapat kitab To Kong Pit Liok itu tidak sukar tapi harus singkirkan kami berlima dulu."
Thian Pian Siauw cu begitu mendengar perkataan itu air mukanya masih tetap tenang tenang saja tanpa terjadi perubahan sedikitpun, hanya saja jubah hijau yang dipakai itu secara mendadak bergoyang terus menerus.
Tiong-goan Ngo Koay begitu melihat hal itu secara diam-diam mengadakan persiapan juga, mereka tahu tenaga dalam yang dilatih Thian Pian Siauw cu ini sudah mencapai pada tarap kesempurnaan, apalagi tawa khikang yang tarpa berwujud sekalipun Giok Li Sin Kun, itu Lie loojie sendiri juga tidak mau berhadapan langsung karena kelihayaianya tdak usah diceritakan sudah sangat jelas sekali, Thian Pian Siauwcu sesudah selesai memusatkan hawa murninya, u jarnya kemudian dengan sangat dingin.
"Hemmn ... hem. jika dengar pembicaraanmu mungkin kalian akan memaksa aku turun tangan juga?? aku lihat Tiong goan Ngo Thay hiap untuk angkat nama bukanlah urusan yang gampang lebih baik kalian pikirkan lagi dengan masak masak". Sipembesar buta yang mempunyai sifat paling berangasan menjadi sangat gusar sesudah dengar perkataan itu bentaknya.
"Perkataan dari buntung tua itusedikitpan tidak salah, turun tangan jauh turun tangan buat apa kamu orang banyak bicara ?"
Mendadak Thian Pian Siauw cu tertawa terbahak bahak kembali, air mukanya berubah menjadi membesi sedang mulutnya dengan cepat bersuit panjang dengan nyaringnya, ujarnya kemudian dangan keras.
"Bagus, aku akan hadapi kalian berlima seorang diri, jangan kalian kira lima orang bersatu padu bisa merajai seluruh daratan tiong goan lalu aku tidak bisa kalahkan kamu orang, ini hari dengan bekerja sama kalian berlima boleh terima tiga jurus seranganku, bila aku gagal sejak ini hari juga didalam dunia kang ouw tidak akan dengar nama Thian Pian Siauw cu lagi". Sambil berkata seluruh tubuhnya digetarkan sehingga secara mendadak tubuhnya membesar satu kali lipat dari keadaan biasanya, Liem Tou yang melihat keadaan ini dalam hati diam-diam merasa terkejut bercampur kuatir atas keselamatannya Tiong goan Ngo Koay, tidak terasa keringat dingin mulai mengucur keluar. Saat ini Tionggoan Ngo Koay mulai bersiap sedia, mereka semua tidak berani berlaku terlalu gegabah lagi didalam menghadapi musuh yang sangat tangguh ini. Terlihatlah sipengemis pemabok berdiri ditengah tengah sedang sisiucay buntung serta Thiat Sie sianseng berdiri disamping kirinya kemudian si hweesio mayat hidup serta si pembesar buta berdiri disamping kanannya mereka bersama sama berdempet dempetan satu sama lainnya. Bersamaan pula kelima orang itu mendadak sedikit merendahkah tubuhnya, sedang kuda kudanya diperkuat, selain sipembesar buta yang memejamkan mata lainnya empat orang bersama sama memusatkan perhatiannya dan pandangannya kedepan . Thian Pian Siauwcu mendadak mendengus dengan dinginnya, sepasang telapak tangannya dengan perlahan lahan diangkat sejarak dengan dada, pada jarak kurang lebih beberapa kali dari kelima orang itu berdiri mendadak sepasang telapak bersama sama didorong kedepan. Segulung angin serangan yang sangat dahsyat bagaikan menggulungnya ombak ditengah amukan topan ditengah samudra babas dengan tidak hentinya mengalir kedepan menekan dari atas kepala kelima orang itu. Segera terdengarlah Tionggoan Ngo Koay berlima sama membentak keras, lima orang sembilan tangan bersama sama melancarkan serangan balasan. Pada saat telapak tangan masing masing terbentur satu sama lainnya itulah mendadak tubuh Thian Pian Siauwcu berjumpalitan ditengah udara kemudian tertawa terbahak bahak dengan kerasnya. Saat itu air muka dari Tionggoan Ngo Koay sudah berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat sedang dari wajahnya secara samar2 memperlihatkan perasaan kesakitannya yang luar biasa, sedang kesembilan buah tanganpun dengan tidak henti-hentinya gemetar dengan sangat hebat. Liem Tou yang melihat keadaan mereka men jadi seperti tidak terasa dari dalam hatinya timbul perasaan simpatik, sekalipun sihwesio mayat hidup serta pembesar buta itu mempunyai niat untuk mencelakai dia dan merebut kitab pusakanya tetapi didalam keadaan yang sangat kritis dan menentukan mati hidupnya seorang ini ternyata Tionggoan Ngo Koay bisa berhasil menyatukan kekuatan tenaga murni mereka untuk bersama-sama menghadapi musuh tangguh hal lni sudah sangat jelas memperlihatkan kalau diantara Tionggoan Ngo Koay sebenarnya merupakan pasangan teman yang sangat akrab sekali hanya entah akhirnya karena apa mereka menjadi bentrok sendiri dan menganggap kawan sebagai musuh bebuyutan, kini didalam menghadapi musuh tangguh bisa juga bersatu padu menghadapi musuh, keluhuran hatinya boleh dipuji, Liem Tou yang punya pikiran demi kianpun tidak terasa lagi perasaan benci serta perasaan bermusuhan didalam hatinya menjadi hilang dengan sendirinya. Didalam sekejap mata saja pukulan yang kedua sudah dilancarkan oleh Thian Pian Siauw cu itu, didalam hati sekalipun Liem Tou merasa sangat cemas tetapi dia sama sekali tidak punya cara untuk memberi pertolongan terpaksa dengan melongo dia memandang jalannya pertempuran. Tampak sepasang telapak tangan dari Thian Pian Siauw cu sesudah didorong kedepan kali ini keadaannya jauh berbeda dengan keadaan pertama, pukulannya sesudah dilancarkan sedikit pun tidak membawa sambaran angin maupun kebulan debu tertiup angin keadaannya sangat tenang dan sunyi hanya saja keadaan dari Tionggoan Ngo Koay jauh lebih menegangkan lagi, seperti juga semula mereka berlima bersama-sama dengan sembilan buah telapak bersama2 menyambut datangnya serangan musuh ini. Liem Tou yang sedang merasa heran mendadak melihat seluruh bulu roma dari Tionggoan Ngo Koay pada berdiri semua sepasang matanya melotot keluar, sedang keringat sebesar biji kedelai dengan derasnya mengucur keluar dari keningnya, apalagi kesembilan buah tangan yang sedang diulur kedepan itu ternyata tidak sanggup untuk ditarik kembali. telapaknya menghadap keluar sedang jari jarinya membuka dengan kakunya Didalam sekejap saja membuat Liem Tau yang melihat pertempuran itu menjadi sangat terperanjat sedang hatinya camas seperti ditusuki beribu ribu jarum kecil, dia tahu kedua belah pihak sedang menggunakaa seluruh tenaga yang dimilikinya untuk mengadu jiwa, bahkan masing masing pihak sediktpun tidak mau mengalah terhadap pihak lainnya. Ketika memandang lagi kearah Thian PianSiauw cu kelinatan dengan jelas pada bibirnya tersungging suatu senyuman yang sangat dingin, sepasang telapaknya dengan sejajar didada dengan tenangnya mengnadap kedepan kelihatannya dia sama sekali tidak terialu ngotot. Dalam hati Liem Tou semakin merasa sedih lagi, dia tahu saat ini Thian Pian Siauwcu sama sekali tidak menggunakan tenaga penuh tetapi Tionggoan Ngo Koay sudah kelihatan demikian ngotot dan beratnya, bilamana dia sampai menggerakkan seluruh tenaga murninya lalu bagaimana keadaan dari Tionggoan Ngo Koay saat itu? dan mana mungkin mereka sanggup menahan serangan itu??"
Berpikir sampai disini tak tertahan lagi semangat kependekarannya rnuncul dari dasar lubuk hatinya dengan tidak perduli kelihayan pihak musuh rnendadak bentaknya.
"Hey orang she Ke lihat serangan."
Thian Pian Siauwcu begitu mendengar bentakan ini tidak terasa tubuhnya sedikit tergetar, pada saat itulah Tionggoan Ngo Koay bersama sama membentak nyaring dengan paksakan di ri mereka berhasil rnendesak kembali serangan Khie kang tanpa berwujud yang dilancarkan oleh Siauw cu itu.
"Gelegar ."
Thian Pian Siauw cu tidak sempat untuk menarik kembali serangannya,suatu tenaga Khie kang yang sangat dahsyat tanpa bisa dicegah lagi menghantan tanah disisi tubuh Tionggoan Ngo Koay, terlihatlab abu dari pasir pada berterbangan, permukaan tanah yang ditumbuhi dengan suburnya oleh rerumput, didalam sekejap saja berubah menjadi liang yang dalam oleh pukulan dahsyat tenaga Khie kang itu.
Thian Plan Siauw cu melihat serangannya yang hampir mengenai sasaran ternyata telah dikacau oleh bentakan Liem Tou bahkan dengan demikian Tionggoan Ngo Koay berhasil meloloskan diri dari kurungan hawa pukulannya, tidak terasa menjadi sangat gusar sekali, dengan wajah yang merah padam dia menoleh kearah Liem Tou, makinya.
"Bangsat cilik, saat kamatianmu tidak jauh lagi"
Tetapi dia tidak melancarkan serangannya ke arab Liem Tou, hanya kepada Tionggoan Ngo Koay ujarnya dengan keras.
"Terima kembali satu jurus yang terakhir°. Dengan menggunakan hawa Khie kangnya yang tak terwujut sekali lagi Thian Pian Siauwcu melancarkan serangan dahsyatnya, didalam sekejap saja dua gulung tenaga pukuien yang sangat kuat manempel satu sama lainya. Dengan memandang dari perubahan wajah masing masing Liem Tou segera tahu bahwa walaupun Tiongoan Ngo Koay masih sanggup untuk menahan serangan dari Thian Pian Siauw cu itu tetapi lama kelamaan tidak akan sanggup bertahan dan akhirnya akan terluka dibawah serangan dahsyat dari Thian Pian Siauw cu. Untuk menolong nyawa dari kelima orang ttu mendadak dalam pikirnya berkelebat suatu ingatan, dengan cepat dia meloncat naik ke atas punggung kerbaunya, sambil serunya dengan keras. Orang she Ke, kitab pusaka To Kong Pit Liok kamu orang, jangan harap bisa mendapatkan kembali."
Sambil berkata sepasang kakinya menjepit kencang kencang perut kerbau itu sedang tangannya dengan cepat memukul pantatnya, bentaknya.
"Gouw Koko cepat..!"
Kerbau itu seperti tahu apa yang sedang di rerintahkan kepadanya, kakinya dengan cepat hergcrak kemudian dengan cepat lari keluar da ri le mbah cupu cupu itu.
Dengan perbuatannya ini segera mendatangkan hasil, Thian Plan Siauw cu rnemangnya datang dikarenakan kitab To Kong Pit Liok itu.
kini Liem Tou pergi sudah tentu dia tidak punya minat untuk rnelukai nyawa dari Tionggoan Ngo Koay Iagi, sambil menarik kembali telapak tangannya dia tertawa panjang, bentaknya.
"Bangsat cilik kamu orang tidak akan bisa lolos"
Jubah hijaunya dikebutkannya dengan cepat dia mengejar dari belakang.
Gerakan tubuhnya itu sangat ringan bagaikan bertiupnya segulung angin, hanya didalam seke jap mata saja tubuhnya sudah berada beberapa kaki dari tempat semula, saat itulah Tionggoan Ngo Koey baru merasa tidak beres,teriaknya berbareng.
"Celaka!"
Bersamaan pula sembilan buah kaki dengan cepat dipentangkan dan lari dengan cepatnya mengejar dari belakang.
Liem Tou yang merasa tubuh Thian Pian Siauw cu mulai mengejar dan mendekati belakang tubuh kerbaunya tidak dapat lari dengan cepat, dia merasa gemas kepada kerbaunya tidak punya sayap sehingga bisa terbang dari situ.
Setelah berlari beberapa waktu lamanya akhirnya Liem Tou berhasil juga keluar dari lembah itu, mendadak terdengar Thian Pian Siauw cu dengan suara, yang tinggi rnelengking sedang bersuit panjang, kemudian teriaknya.
"Hay bangsat cilik. Cepat berhenti dan serahkan itu kitab pusaka To Kong Pit Liok kepadaku, kalau tidak ... Hemmm hemmm ...coba bayangkan saja seekor kerbau bodoh mana mungkin bisa memadahi kecepatan dart Kiem Giok jieku itu?? Saat itu aku akan perintah mereka untuk mengoyak oyak tubuhmu sehingga hancur .. -hemm hemm saat itu walaupun kamu orang menyesal juga tidak berguna."
Liem Tou yang mendengar suara dari Thian Pian Siauw cu itu sangat dekat dengan dirinya segera menoleh kebelakang terlihatlah dua kaki dibelakang tubuhnya sesosok bayangan hijau dengan cepatnya lari mendatang tidak terasa hatinya menjadi sangat cemas, bentaknya.
-Ooh ..kakak sapi yang baik cepat sedikit larinya."
Pada saat hatinya sedang cemas dan bingung itulah mendadak terdengar suara pekikan ngeri dari dua ekor burung elang yang sedang terbang, ketika diangkat kepalanya memandang, terlihatlah kedua ekor elang itu entah sejak kapan sudah terbang mengelilingi disekitar kepalanya.
Waktu itu Liem Tou sudah berhasil lari hingga diluar lembah, sebelah kirinya merupakan jalan kecil sewaktu dia datang kemari, sedang sebelah kanannya merupakan jalan dekat dengan bukit, pepohonan tumbuh dengan rapatnya sehingga kelihatan sangat rimbun, Liam Tou dengan cepat menarik tali kerbaunya dan menariknya kesebelah kanan.
Sesaat kerbaunya berhenti sebentar itulah suara tertawa dingin dibelakang tubuhnya semakin dekat.
dengan cepat Liem Tou menoleh kebelakang begitu kepalanya menoleh tidak tertahan lagi dia menjerit keget.
"Aduh mak ...tolong ..tolong .. ."
Kiranya saat ini tubuh Thian Pian Siauw cu tidak labih hanya tinggal dua tiga langkah darinya sedang tangannya disambarkan kedepan berusaha rnencengkeram ekor dari kerbau tersebut, keadaan yang demikian bahaya dan mengerikan ini mana tidak membuat Liem Tou menjerit kaget saking ketakutan dan terkejut??
Dengan sekuat tenaga Liem Tou paksa kerbaunya lari lebih cepat lagi, sepasang kakinya yang rnengapit perut kerbau semakin diperkencang sehingga kerbau itu merasa kesakitan, mendadak kecepatan larinya semakin bertambah hingga samping telinganya hanya terasa angin menyambar dengan kerasnya.
Ketika sekali lagi menoleh kebelakang tubuh Thian Pian Siauw cu yang tadinya tinggal dua tiga langkah sekali lagi ditinggal sejauh dua kaki dibelakang .
Tetapi baru menoleh kepalanya mendadak sesosok bayangan abu abu dengan kecepatan bagaikan menyarnbar sebuah anak panah dengan cepatnya, saat itu gerakan dari bayangan tersebut begitu cepatnya sehingga bagi Liem Tou sarna sekali tidak sanggup membedakan apakah bayangan itu manusia apa seekor binatang.
Liem Tou yang melihat bayangan abu-abu itu dengan kecepatan yang Iuar biasa terus menerjang kearahnya segera menjadi bingung, apa tujuannya?
Sesaat dia men jadi tertegun itulah bayangan abu abu itu sudah menubruk kearah kepala kerbaunya yang tidak tertahan lagi dia menjerit kaget sedang dalam hati pikirnya.
Tidak perduli karnu manusia atau binatang sesudah menubruk kepala kerbau ini tentu akan runyam.
Siapa tahu gerak gerik dari bayangan abu-abu itu sangat Iincah sekali ketika kelihatan hampir saja tubuhnya menubruk kepala kerbau itu pada saat yang sangat kritis itulah mendadak tubuh dari bayangan itu sedikit mengerut dengan tepat sekali berhasil menerobos melalui bawah perut kerbau tersebut.
Setelah itu dibelakang tubuhnya terdengar suara benturan yang sangat keras sekali diikuti dengan suara bentakan gusar dari Thian Pian Siauw cu.
Ketika Liem Tou menoleh kebelakang tampaklah dua sosok bayangan berwarna hijau dan abu-abu sudah bergumul menjadi satu walau pun Liem Tou sudah pentangkan seluruh kekuatan matanya tetap tidak berhasil melihat dengan jelas wajah bayangan itu.
Terlihat kedua orang itu makin bertempur semakin cepat dan akhirnya sampai bayangan manusia pun sukar untuk dibedakan.
Saat itulah dari tengah awan terkumandang datang suara pekikan ngeri yang sernakin lama semakin mendekat, mendengar suara itu Liem Tou mana berani melihat jalannya pertempuran lebih lanjut dengan cepat kakinya mengapit kencang perut kerbaunya sekali lagi lari dengan cepatnya kedepan seperti diuber setan.
Beberapa menit kemudian mendadak terasa olehnya pandangan matanya telah menjadi gelap sedang angin dingin yang menyambar diatas kepalanya pun semakin santar tidak perlu ditanya sudah sangat jelas katau elang raksasa itu sudah berada diatas kepalanya.
Waktu itu Liem Tou tidak punya keberanian untuk angkat kepalanya memandang lagi didalam keadaan yang sangat kritis itu dalam benaknya segera barkelebat suatu akal, tubuhnya dengan cepat ditekuk kedepan kemudian menggelintir menyusup kebawah perut kerbaunya, dengan memegang kencang kaki bagian belakang dari kerbau itu dia melanjutkan melarikan diri dengan cepatnya kemuka, sesaat dia berhasil menyusupkan tubuhnya kebawah itulah kuku elang raksasa seperti capitan besi itu sudah menyambar datang tepat diatas punggung kerbau.
Kerbau ini hidup bersama sama dengan Liem Tou tidak lebih baru beberapa hari malamnya bukannya dia punya kepandaian khusus didalam mengangon kerbau sebaliknya karena kepandaian dari Liem Tou yang sudah terbiasa berguling dan bergurau diatas punggung kerbau sehingga membuat kepandaiannya menyusup kebawah perut kerbau sangat mahir sekali.
Saat ini secara mendadak Liem Tou memegang kencang sebelah kaki bagian belakangnya membuat kerbau itu saking terkejutnya menjadi meloncat kedepan sedang tanduknya yang diangkat keatas tepat sekali menyambut datangnya sambaran dari elang raksasa itu.
Dengan demikian asalkan cakaran dari elang raksasa itu mencapai pada punggung kerbau itu sudah tentu ujung tanduk dari kerbau tersebut akan dengan tepat menghajar perut dari elang itu.
Elang raksasa itu ketika siap menerkam punggung kerbau tersebut begItu melihat tanduk yang runcing siap menerima perutnya segera berpekik nyaring dan melayang kembali ketengah angkasa.
Liem Tou sesudah melihat elang itu terbang keangkasa sekali lagi merangkak bangun keatas punggung kerbaunya, tali lesnya ditarik dengan cepatnya mereka rnenerjang ketengah hutan yang sangat lebat.
Tetapi elang raksasa itu tidak mau melepaskan mangsanya dengan begitu saja beberapa kali memperoleh kesempatan baik segera menerjang kembali kebawah membuat Liem Tou beberapa kali hampir2 terluka oleh kuku elang yang sangat runcing dan tajam itu.
Untung saja Liem Tou sudah lama bergaul dengan sapi sehingga kepandaian dan kemahirannya menunggang kerbau sudah mencapi taraf kesempurnaan, setiap kali menghadapi bahaya yang kritis berhasil menghindarkan diri sendiri.
Dengan keadaan seperti inilah Liem Tou terus menerus melarikan dirinya dari kejaran ke dua ekor elang raksasa itu sebaliknya kedua ekor elang itu pun tak mau melepaskan mangsanya dengan mudah.
Saat itu sudah amat siang perut Liem Tou pun mulai keruyukan minta di isi tak terasa dalam hati pikirannya.
"Hei . binatang terkutuk itu kenapa tidak pergi ? ? perutku sudah mulai lapar sedang per jalanan harus ditempuh beberapa jauhnya ? ?? Nanti aku akan sampai dimana ? Bilamana kedua ekor elang raksasa itu tidak enyah dari sana cepat atau lambat Thian Pian Siauwcu tentu akan mengejar sampai disitu juga, saat itu dia harus berbuat bagaimana untuk menghadapi 'Thian Pian Siauwcu ? untuk bertempur dengannya ?? tidak mungkin ? Hal itu sama saja dengan telur di adu mencari jalan kematian diri sendiri. Berpikir sampai disini pikirannya segera bekerja untuk menghindarkan diri dari kuntitan kedua ekor elang raksasa itu, terpikir olehnya kalau tempat itu dekat sungai tentu keadaannya jauh lebih bagus, asalkan dia menceburkan diri kedalam sungai tentu kedua ekor elang raksasa itu tak akan dapat berbuat apa-apa terhadap dirinya, tetapi justru sekarang sekitarnya merupakan tanah pegunungan yang tinggi dan terjal membuat pikirannya sekali pun sudah di peras tetap tak sanggup mencari suatu jalan baik. Sambil berpikir dia tetap melanjutkan perjalanannya melarikan diri, setibanya pada sebuah hutan yang lebat mendadak suatu bayangan berkelebat dalam hatinya, tak terasa dia menjadi sangat girang pikirnya.
"Haaa…sudah ada… kenapa aku tidak mau menyembunyikan diri untuk sementara didalam hutan rimba yang lebat ini ? Menanti sesudah elang terkutuk itu pergi bukankah aku masih punya kesempatan untuk melarikan diri lagi ?"
Dengan cepat dia menepuk pantat kerbaunya sehingga larinya makin cepat, akhirnya tercapai juga tepi hutan rimba yang lebat itu.
Terlihattah pepohonan sebesar beberapa kaki Iebarnya tumbuh dengan suburnya di sekeliling tempat itu dedaunan yang lebat menutupi masuknya sorotan sinar matahari sehingga keadaan sangat lembab tapi dengan begitu terhindar juga dari serangan elang dari atas angkasa.
Liem Tou yang melihat keadaan disana tidak terasa menghembuskan napas lega, dengan perlahan dia meloncat turun dari punggung kerbaunya kemudian beristirahat disamping sebuah pohon yang sangat besar, telinganya masih tetap mendengar dengan jelas suara pekikan ngeri kedua ekor elang raksasa yarg tetap terbang disekeliling tempat itu.
Dengan perlahan kepalanya disandarkan pada dahan pohon sedang ingatannya melayang pada peristiwa yang mengerikan, mendebar serta mengejutkan yang baru saja terjadi dilembah cupu-cupu, saat yang menegangkan itu membuat tubuhnya terasa sangat letih, kini dapat sedikit beristirahat tidak terasa perasaan mengantuk yang sukar ditahan menjalar keseluruh tubuhnya, seluruh anggota tubuh merasa lemas, sedang matanyapun mulai terkatup sukar dipentangkan kembali.
Tak lama kemudian Liem Tou tak bisa nahan lagi perasaan ingin tidurnya dengan perlahan tubuhnya mulai rubuh keatas tanah.
Sesaat mencapai pada kepulasannya itulah tiba tiba...
batang kayu serta daun pada berguguran keatas tanah diikuti dengan rubuhnya batang kayu yang besar dengan menimbulkan suara yang sangat keras, suara itu begitu keras dan begitu dekatnya dengan sisi tubuh Liem Tou membuat dia yang baru saja hendak pulas saking terkejutnya hingga meloncat bangun.
sambil mengangkat kepalanya keatas bentaknya.
"Siapa ?? kurang ajar..binatang terkutuk kamu berani membokong aku dari atas pohon?"
Sesudah membentak keras dia menengok ke atas pohon dan makinya lagi dengan suara seperti geledek.
"Burung terkutuk; suatu hari tentu aku putuskan sayap-sayapmu itu dan pegal cakar cakarmu yang tajam."
Pada benaknya terbayang, kembali keganasan serta kekejaman dari Thian Pian Siauwcu teringat pula pada bayangan abu abu yang menerjang kerbaunya, siapa sebetulnya orang itu??
bagaimana bisa sanggup untuk bertempur melawan Thian Pian Siauwcu ???
kini elang elang raksasa terus menerus terbang keliling disekitar hutan bilamana si Thian Pian Siauwcu itu sampai terpancing datang lagi bukankah urusan akan semakin, tidak karuan???
Semakin berpikir Liem Tou merasa semakin takut dengan cepat dia memanjat kepuncak pohon, dengan menggunakam dedaun yang lebat sebagai penutup tubuh dengan cepat dia memandang keatas saat itu terlibat elang tersebut sedang terbang tinggi diangkasa,hanya dengan beberapa kali kebasan sayap dia sudah lenyapkan diri ditengah awan.
Tapi saat itu elang itu hanya tinggal seekor saja sedang yang lainnya entah pergi kemana.
Liem Tou yang melihat hal ini menjadi bergerak hatinya, pikirnya dalam hati.
"Celaka yang seekor tentu sedang mengundang Thian Pian Siauw cu kemari"
Dia tak berdiam disitu lebih lama lagi sekalipun harus menempuh serangan elang rakasasa yang ganas itupun dia harus melanjutkan perjalanan juga, dengan tergesa gesa dia merambat turun dari pohon dan jalan kesamping kerbau ujarnya kemudian.
"Kakak sapi yang baik kau seperti aku juga selalu menerima penderitaan, kita harus menempuh bahaya untuk lari keluar dari hutan ini"
Sambil berkata dia merangkak keatas punggung kerbaunya, waktu itulah mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara langkah kaki manusia dengan cepat dia menoleh, terlihatlah seoraag kakek tua berbaju warna abu-abu dengan celana pendek dan kaki yang telanjang sedan berjaIan mendatangi, celana pendek yang dipakai itu ternyata sangat aneh sekali, yang sebelah lebih tinggi dari lainnya.
Begitu dia melihat LiemTou menoleh segera digapenya sambil terrtawa tanyanya.
"Hei . bocah cilik, kamu mau kemana?"
Saat ini Liem Tou sudah mirip dengan burung yang dikejutkan oleh anak panah begitu melihat orang asing pada air mukanya segera memperlihatkan perasaan terkejut, takut serta ngerinya, dengan perasaan sangat takut dia memandang kakek tua itu beberapa saat lamanya kemudian barulah sahutnya.
"Aka tak kenal kamu orang, buat apa kamu tanya tujuanku ??"
"Aku orang tua sedang melakukan perjalanan"
Ujar kakek tua itu sambil berjalan mendekati samping tubuhnya.
"Siapa tahu sudah sampai ditempat ini ternyata tersesat, hei bocah cilik tahu tidak tempat apakah ini ??"
Ketika Liem Tou mendengar dia berbicara begini dan mellhat pula kakinya telanjang tak terasa perasaan curiga didalam hatinya timbul semakin tebal, sambil gelengkan kepala ujarnya singkat.
"Aku tidak tahu."
Sehabis berbicara dengan cepat dia menarik tali les kerbaunya dan putar tubuh melanjutkan perjalanan kedepan.
"Hey bocah cilik "
Seru kakek tua itu mendadak "Tunggu, tunggu aku sebentar, bagaimana jika kita melakukan perjalanan bersama sama"
Jilid 7 .
Hilangnya kitab Toa Loo Cin Keng Dalam hati Liem Tou merasa curiga kalau orang ini tidak punya niat baik sudah tentu tidak menggubris omongannya lagi, dengan cepat dia pukul pantat kerbaunya dan lari menuju keluar hutan dengan sangat cepatnya.Si kakek tua yang berada dibelakang segera berseru dengan semakin keras.
"Hey bocah cilik jangan lari, jika kamu pergi bukankah aku semakin tersesat? Hey…tunggu"
Ketika Liem Tou menoleh dan melihat kakek itu lari terpontang panting mengejar dirinya.
"Jika dilihat dari gerak geriknya mana mungkin dia berhasil mengejar kerbauku yang lari dengan kecepatan penuh?"
Sambil berpikir dia mengapit perut kerbau semakin kencang membuat larinya kerbaupun semakin kencang, didalam beberapa saat dia sudah hampir keluar dari hutan itu, asalkan sudah keluar dari hutan mau tak mau terpaksa Liem Tou harus menjaga serangan dari elang raksasa itu lagi, membuat hatinya saat ini semakin tegang.
Tanpa sadar dia menoleh kebelakang melihat si kakek tua yang sedang mengejar kearahnya, siapa tahu bukan saja kakek tua itu tidak ketinggalan bahkan jaraknya semakin dekat dengan dirinya, ketika dia melihat Liem Tou menoleh sambil tertawa hingga kelihatan gigi, ujarnya.
"Hey bocah cilik, jika kamu lebih cepat dari aku orang tua tidak akan sanggup untuk mengejar"
Liem Tou melihat dua kali gagal meninggalkan kakek tua itu tidak terasa dalam hati timbul perasaan gusarnya, dengan cepat dia menarik tali kerbaunya sehingga berhenti, kemudian makinya dengan gusar.
"Kamu kakek tua sungguh menjengkelkan sekali, bicara sesungguhnya aku sendiri juga orang yang tersesat, buat apa kamu orang terus ikuti aku?"
"Perkataanmu bagaimana bisa membuat aku percaya?". Ujar kakek tua itu sambil geleng kepalanya tidak percaya.
"Kalau memang kamu tersesat kenapa tidak boleh membiarkan aku berjalan bersama sama kamu orang? Dua orang jalan bersama sama bukankah semakin baik?"
Liem Tou yang mendengar perkataan ini hampi2 tidak ada perkataan lain untuk diucapkan lagi, dengan sangat gusar ujarnya dengan keras.
"Aku tidak ingin jalan ber sama2 kamu orang semuanya demi keselamatanmu sendiri, tahu tidak? Mukin kamu sudah bosan hidup"
Kakek tua itu menjulur lidahnya, sepasang matanya melotot keluar dengan besarnya lama kemudian baru ujarnya.
"Kalau begitu kamu bukannya seorang pencuri tentu seorang perampok"
"Ha..ha..ha"
Ujar Liem Tou dengan gugup, sedang sepasang matanya melotot keluar.
"Hati hati kalau bicara, siapa yang pencuri? Siapa yang jadi perampok?"
"Bukankah kamu orang bilang sendiri, kalau bukan kamu orang jadi pencuri apa perampok bagaimana aku bisa kehilangan nyawa hanya karena jalan bersama sama?"
Liem Tou dengar dia sudah salah tangkap pembicaraannya tak terasa geli juga, sahutnya.
"Aku bukan pencuri juga bukan perampok, sekalipun jadi pencuri aku juga tidak mau merampok seorang kakek tua miskin seperti kamu hingga sebuah sepatupun tidak kau punya"
Sambil berkata dia tunding keatas langit dan sambungnya "Sudah lihat jelas belum? Binatang terkutuk itu?"
Dengan cepat kakek itu angkat kepala melihat, mulutnya dipentang lebar2 lama kemudian baru sahutnya sambil gelengkan kepalanya.
"Binatang apa yang dapat begitu ganasnya?"
Liem Tou semakin gusar, cemas, dan geli, sahutnya.
"Kkau lihat dengan keras, seekor burung elang raksasa yang suka makan manusia, asalkan kamu keluar dari hutan ini segera dia menubruk kebawah, sudah dengar jelas belum?"
Sehabis berkata dengan cepat dia meloncat dari punggung kerbau untuk mematahkan setangkai kayu kemudian meloncat naik kembali keatas punggung kerbaunya, serunya.
"Cepat lari"
Kerbau itu dengan cepat menerjang keluar hutan dan lari dengan cepatnya kedepan.
"Koak..koak!!!"
Dugaan Liem Tou sedikitpun tidak meleset, baru saja dia keluar dari dalam hutan burung elang raksasa itu dengan mengeluarkan suara pekikan ngeri sudah menubruk kebawah dengan dahsyatnya, saat itu Liem Tou sudah siap sedia, baru saja dia akan mengelincir masuk kebawah perut kerbau saat itulah terdengar jeritan kaget suara kakek tua itu.
"Aduh mak…sungguh ganas binatang terkutuk ini…tolong dia mau makan tubuhku"
Liem Tou menjadi sangat terkejut dengan cepat dia menoleh kearah kakek tua yang terus mengikuti kerbaunya itu, saat ini elang raksasa ini sudah menubruk kedepannya Liem Tou tak bisa pikirkan lainnya lagi dengan cepat dia menerobos kebawah perut kerbaunya.
Kelihatan sekali cakar maut dari elang itu sudah berada kurang lebih beberapa depa saja dari atas kepala kakek itu, mendadak kakek itu menjerit kaget, sepasang tangannya dengan kencang menutupi kepalanya, saat itulah terdengar elang raksasa itu dengan mengeluarkan suara pekikan ngeri yang sangat keras, sayapnya sekali lagi dipentangkan dan terbang keatas awan dengan cepatnya, kiranya sebuah batu besar bagaikan kilat cepatnya sudah menyambar keatas tubuh elang itu dan menghajar perutnya dengan keras.
Baru saja elang raksasa itu terbang sampai di tengah perjalanan mendadak tubuhnya meluncur dengan cepat menuju kebawah dengan cepatnya dan bisa seketika itu juga, kiranya batu tadi dengan cepat menghajar tubuhnya sekaligus mencabut nyawanya.
Melihat hal itu kakek tua tersebut menjadi sangat girang, ujarnya.
"Hey…bocah cilik, binatang yang maka orang itu sudah jatuh kebawah, mari kita lihat"
Liem Tou segera menghentikan kerbaunya yang hendak lari kedepan itu dalam hatinya ia merasa mengkel, mendadak sambil memandang tajam kewajah kakek tua itu, tanyanya dengan nada keras.
"Siapa kamu sebenarnya?"
"Sudah tentu aku orang yang tersesat jalan"
Sahut kakek tua itu sambil tersenyum heran.
"Bocah cilik, agaknya kamu orang pelupa, cepat kita pergi lihat elang itu"
Semakin lama Liem Tou semakin merasa kalau kakek tua itu semakin mencurigakan, tanyanya lagi.
"Elang itu bagaimana bisa rubuh kebawah? Tahukah kamu siapa yang memelihara elang tersebut?"
"Haa?...jika didengar perkataanmu agaknya elang itu dipelihara orang?"
Tanya kakek tua itu sedikit tidak percaya.
"Benar, jika kamu orang mau pergi lihat pergilah lihat sendiri, aku mau pergi"
"Kamu orang tidak jadi pergi?"ujar kakek tua itu dengan gugup.
"ayolah jalan tapi kamu jangan lari terlalu cepat, usiaku sudah demikian tingginya, larikupun tidak secepat dahulu lagi, orang lain panggil aku sebagai Hui Tui Jie"
Liem Tou tidak ambil komentar apa2, hanya dalam hati pikirnya.
"Sekalipun kakek tua itu sedikit aneh tetapi agaknya tidak mengandung maksud jahat, kiranya untuk jalan bersama-sama dia juga tidak mengapa"
Berpikir sampai disitu segera ujarnya.
"Kalau begitu kita jalan pelan2 saja, tapi kamu orang mau pergi kemana?"
"Sebelumnya aku mau pergi kegunung Gobie tapi kini sudah tersesat jalan terpaksa kemana pun jadi"
Liem Tou yang mendengar perkataan ini tidak tahan tertawa geli, ujarnya.
"kalau begitu baiklah, Hui Tui Jie, aku seperti juga kamu orang kemanapun boleh juga tapi kamu punya uang tidak?"
"Ada sih ada"
Sahut si kakek sambil mengerut alis "kenapa? Kamu niat turun tangan terhadap aku?"
Liem Tou dengar dia punya uang hatinya menjadi mantap lagi segera dengan menarik tangan kakek tua itu mereka melanjutkan perjalanan bersama-sama.
Saat itu matahari sudah condong ke barat agaknya tak lama kemudian malam akan tiba tapi Liem Tou sama sekali tak gubris akan hal itu, yang penting baginya sekarang isi perutnya yang sudah satu harian lamanya belum diisi.
Untung saja tak lama kemudian kelihatan atap rumah mengepul, tidak sadar lagi Liem Tou mempercepat langkahnya, ujarnya.
"Hey, Hui Jie coba lihat didepan ada rumah orang, bagaimana kalau malam ini kita nginap disana?"
"Kenapa tidak? Selain mencangkul sawah pekerjaan apaun aku tak tahu, jika dibandingkan dengan kamu pengalamanku jauh ketinggalan baiknya kamu saja ambil putusan"
"Hui jie"
Ujar Liem Tou "Aku sendiri juga hanya tahu menggembala kerbau saja, bagaimana pengalamanku bisa luas?
Lebih baik kita berunding saja, aku bicara terus terang saja sekarang setahil perak pun aku tidak punya"
"Kalau begitu aku akan beri pinjam kau terlebih dahulu"
Ujar kakek tua itu dengan ramah.
"Lain kali kalau kamu sudah punya uang boleh kembalikan kepadaku, tapi pokoknya kita makan dan tidur dulu"
Sesudah berjalan beberapa lama kemudian sampailah mereka disebuah kota kecil, sesudah bertanya tanya barulah mereka ketahui tempat itu sudah masuk daerah Oen Kiang sendag kota itu disebut Toan Bok Ceng segera Liem Tou dengan kakek tua itu mencari sebuah penginapan untuk tinggal.
Malam itu kedua orang tsb memangil semeja perjamuan dan dahar didalam kamar, Liem Tou yang satu hari penuh tidak makan sebutir nasihpun saat ini benar2 sudah lapar dengan lahapnya, sebaliknya kakek tua itu dengan memegang cawan arak sepasang matanya memandang Liem Tou dengan terpesona, tak tahan Liem Tou dibuat heran juga, tanyanya.
"Hey Hui Jie kenaoa kamu orang pandang aku terus menerus?"
Dengan perlahan kakek tua itu meletakkan cawan araknya keatas meja sambil memandang ke wajah Liem Tou ujarnya dengan perlahan.
"Aku sedang heran kenapa kamu tersesat jalan? Apalagi jika dilihat keadaaan kamu orang juga bukan orang daerah sini, hal ini membuat aku merasa bingung, hei bocah cilik sebetulnya siapa namamu?"
Saat ini Liem Tou sudah merasa kenyang hingga hatinyapun merasa sangat gembira, perasaan curiganya terhadap kakek ini makin lama makin hilang kini mendengar dia bertanya segera sahutnya tanpa ragu ragu.
"Aku bernama Liem Tou bertempat tinggal diatas gunung Ha Mo San didaerah Cing Cen, sesudah ayahky meninggal secara turun gunung bekerja sebagai pengangon sapi tidak disangka dituduh orang sebagai pencuri sapi hngga mereka tangkap aku kedalam penjara, ditempat itulah aku bertemu dengan seorang yang bernama…"
Agaknya kakek tua itu sudah dibuat terpesona oleh cerita Liem Tou ini, dengan cemas tanyanya.
"Kamu ketemu dengan siapa? Lalu bagaimana?"
Liem Tou tidak segera menjawab, dengan tertegun dia pandang kakek tua itu mendadak tanyanya.
"Hui Tui Jie sebetulnya siapa namamu?"
Agaknya kekek tua iru menemukan sesuatu persoalan yang rumit, sesudah berpikir beberapa waktu lamanya barulah sahutnya.
"Waktu kecil semua orang panggil aku sebagai Hui Tui Jie mungkin juga aku orang memang she Lie"
Sehabis berkata dia segera mengubah pembicaraannya, tanyanya lagi.
"Siapa nama ayahmu?"
"Liem Han San"
Sahut Liem Tou cepat tanpa pikir panjang lagi.
Mendadak Liem Tou merasa bahwa pertanyaan yang diajukan oleh kakek tua itu terlalu banyak, membuat pertanyaan curiga didalam hatinya timbul kembali, dalam hati segera dia memperingatkan diri sendiri, pikirnya.
"Orang ini kelihatanya sangat aneh, aku jangan sampai terpancing"
Sedang dia berpikir begitu mendadak kakek tua itu dengan mencekal cawan araknya seorang diri berguman.
"Peng Liem Mo Mo Jan Lu Sie, Han San It Sang Sim Pek…"
Sehabis bicara mendadak dia angkat kepalanya, dari sepasang matanya memancarkan sinar yang sangat tajam tapi hanya dalam sekejap saja sudah lenyap kembali sedang matanya pun memandang terpesona kearah Liem Tou.
Liem Tou ketika mendengar dia mengucapkan syair dari Sian Jien Lie Pek segera dalam harinya memastikan kalau dia bukanlah seorang kakek tua yang sedang tersesat jalan, bahkan namanya Hui Tui Jie pun tak bisa dipertanggung jawabkan.
Tapi pada saat ini dia sama sekali tidak mau bongkar rahasia ini sebaliknya sambil tertawa ujarnya.
"Ooh…ooh..sungguh rak disangka Hui Tui Jie juga seorang siucay yang senang dengan syair terkenal, sungguh mengagumkan…sungguh mengagumkan"
"Ha..ha..aku orang tua mana bisa disebut seorang siucay??"
Ujar si kakek sambi tertawa pahit.
"Hanya secara tiba tiba teringat akan seorang yang sudah meninggal dia sering membaca syair ini, sudah tentu dengan sendirinya aku jadi ikut2an membaca syair itu juga, hey bocah cilik kau juga pernah dengar syair ini?"
"Pada masa yang lalu ayahku paling suka syair ini"
Sesudah Liem Tou menjawab pertanyaan ini mendadak hatinya tergerak terhadap kakek tua inipun seara tiba2 timbul perasaan yang sangat aneh sekali, dia merasa walaupun kakek tua ini sedikit ketolol tololan dan aneh tapi merupakan seorang yang sangat ramah Tidak lama kemudian kedua orang itu selesai dahar, sesudah pelayan membersihkan sisa2 makanan Liem Tou naik keatas pembaringan untuk istirahat sedang kakek tua dengan alasan mau nanya jalan menuju gunung Gobie berlalu dari kamar.
Liem Tou buka pakaiannya untuk istirahat, pada waktu itulah dia mendadak merasa kitab Toa Loo Cin Keng –nya sudah lenyap.
Tidak terasa hatinya sangat terperanjat, dengan cepat dia periksa lagi dengan telitinya disekeliling tempat itu tapi tetap tidak nampak bahkan kapan hilangnyapun tidak diketahui olehnya.
Liem Tou yang kehilangan kitab pusaka menjadi sangat bingung sekali, sesudah berdiri mematung beberapa saat lamanya didalam kamar dengan perlahan lahan dia baru merasa kalau urusan ini sangat mencurigakan sekali, mendadak teringat akan gerak gerik yang aneh dari kakek tua itu pikirnya diam diam.
"Urusan ini mungkin ada hubungan yang erat dengan dia, sekarang dia sedang keluar untuk mencari berita jalan menuju kedaerah gunung Gobie.."
Teringat sampai disini mendadak hatinya semakin terperanjat dia memakai baju dan lari keluar sedang pada mulutnya gumamnya seorang diri.
"Tua bangka bangkotan, mana dai sedang tanya jalan? Sudah berhasil mendapatkan kitab pusaka dengan sendirinya meminjam kesepatan ini untuk melarikan diri"
Sesudah sampai dipintu depan penginapan itu terlihat kakek tua itu sudah berada ratusan tindak dari pintu penginapan kakinya masih tetap telanjang sedang tubuhnya berjalan menuju kearah sebelah timur.
Melihat kakek itu belum kabur dalam hati Liem Tou merasa sangat girang, teriaknya keras keras.
"Hey, Hui Tui Jie tunggu sebentar aku ada perkataan yang hendak disampaikan"
Tapi kakek itu sama sekali tidak mau gubris, dia tetap melanjutkan perjalanan kearah timur. Seru Liem Tou lagi "Hey, Hui Tui Jie tunggu aku sebentar…hey…tunggu sebentar!!!!"
Kakek itu tetap tak ambil peduli dirinya seolah olah dia tuli Liem Tou menjadi cemas dengan cepat dia lari lagi mengejar kearahnya tapi kejadian aneh terjadi didepan matanya.
Liem Tou yang lari dengan cepat kedepan walaupun belum bisa dikatakan cepat bagaikan kilat tapi jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan orang biasa, kelihatan sekali kakek itu berjalan dengan langkah yang sangat perlahan tapi tetap saja dia tidak berhasil mengejarnya.
Makin lama kakek itu sudah semakin dekat dengan ujung jalan tapi Liem Tou masih tetap berada ratusan tindak dibelakangnya, saat ini Liem Tou baru tahu dan sadar bahwa kakek tua iru sama sekali bukan orang yang sedang tersesat jalan, sikapnya yang pura2 itu kesemuaanya hanya bertujuan mencari kirab pusaka tersebut saja.
Dalam hatinya dia tahu kalau tujuan yang sebetulnya dari kakek tua itu tentunya kitab pusaka To Kong Pit Liok, siapa tau yang dicuri merupakan Toa Loo Cin Keng peninggalan ayahnya, sungguh merupakan kejadian yang sangat sial.
Kini melihat kakek itu makin pergi makin jauh dan akhirnya lenyap ditengah kegelapan, Liem Tou tahu sekalipun dia mengejar juga tidak ada gunanya, teringat kembali situasi sesaat ayahnya menyerahkan kitab pusaka Too Loo Cin Keng, kepadanya tak terasa hatinya menjadi sangat sedih, air mata bercucuran denga langkah yang sempoyongan dia kembali ke penginapan.
Dalam hati dia merasa sangat gemas dan benci kepada kakek tua itu, makinya.
"Tak tahu malu, bangsat tua, cucu kura2, anak haram jadah…tunggu saja sesudah aku berhasil melatih ilmu silatky sekalipun kau lari keujung langit aku tetap akan cari kau dan merampas kembali kitab pusaka peninggalan ayahku itu"
Diam-diam Liem Tou memaki maki terus, lewat beberapa saat kemudian tiba tiba teringat olehnya kalau isi dari kitab Toa Loo Cin Keng itu walaupun belum berhasil dpahami tetapi semua perkataannya sudah dia hafalkan, kini sekalipun kitab tersebut hilang tetapi tidak sampai mengganggu latihannya tidak tertahan dia merasa untung juga.
Liem Tou yang sembari jalan sembari memaki mendadak dikejutkan oleh suara derapan kuda dibelakang tubuhnya yang sangat ramai bersamaan pula terdengar suara tentakan keras dari seseorang.
Ditengah ramainya pasar malam mendadak terdapat orang yang bertindak kasar dengan menerjang orang yang berada ditengah jalan membuat Liem Toa seketika itu juga merasa sangat terkejut, dengan cepat dia menoleh kebelakang, empat lima ekor kuda jempolan dengan cepat sedang menerjang datang.
Dengan tergesa gesa Liem Tou menghindar kesamping ketika dia memandang lebih teliti lagi kearah penunggang kuda itu tidak tertahan saking terkejutnya dia dibuat tertegun seketika itu juga, kiranya orang2 itu adalah Cungcu dari Ie Hek Cung, si Ang In Sin Pian Pouw Sak San beserta keempat jagonya Dengan cepat Liem Tou bersembunyi ditempat kegelapan, menanti sesudah kelima orang itu lewat barulah dengan tergesa gesa dia balik ke dalam penginapan.
Waktu dia sampai didapan pintu penginapan justru waktu juga terdengar suara bentakan yang keras dari si Ang In Sin Pian Pouw Sak San dari dalam rumah penginapan, jika dengan begitu saja Liem Tou berjalan masuk bukankah dengan tepat bertemu dengan mereka?
Sudah tentu dia tidak berani masuk dengan begitu saja dengan cepat tubuhnya menyelinap kesamping tempat kegelapan.
Beberapa waktu kemudian akhirnya Liem Tou teringat juga sesaat dia meninggalkan rumah penginapan itu dia sudah memandang situasi dari tempat tersebut dengan teliti terpaksa dengan merangkak dari jendela dia masuk kembali kedalam kamarnya.
Untung saja waktu itu tidak ada seorangpun yang melihat perbuatannya itu, Liem Tou yang didalam satu hari penuh mengalami berbagai kejadian yang menegangkan kemudian kehilangan pula kitab pusaka Toa Loo Cin Kengnya tidak tertahan membuat hatinya sangat kecewa, dengan lemasnya dia menjatuhkan diri berbaring diatas pembaringan.
Mendadak matanya terbentur dengan sebuah sampul surat beserta sekarat uang perak yang terletak diatas bantal, diatas sampul itu tertulis beberapa kata dengan terangnya.
Pinjam kerbaumu satu malam, besok pagi pergilah kesebelah utara disana kau bisa menerima kembali kerbau itu, To Jen.
Yu Heng, Hoo-Beng, Cian Cie, Tu tong Ti Pian, Pen Hoa, Ting Su, kitab pusaka Toa Loo Cin Keng sekalian dikembalikan.
Dibawahnya hanya terlihat satu tulisan Lie saja.
Liam Tou yang membaca surat itu walaupun sudah melihat setengah harian lamanya tetapi semakin melihat semakin bingung kata kata Co Jen, Yu heng, Ho beng, Cian cin, Tu Tong, Ti Pian, Pen hoa serta Ting Su itu sebetulnya punya arti apa?
Tetapi sedikit dikitnya dia tahu kalau surat ini ditulis oleh kakek tua tersebut jika di lihat dari isi surat agaknya kitab pusaka Toa Loo Cin Keng pun akan dikembalikan kepadanya, hal ini ssuatu kcjadian yang jauh diluar dugaan dari Liem Tou.
Sedang kata kata pinjam kerbaumu satu malam panya tujuan apa lagi?
Sedang dia berpikir keras saat itulah terlihat seorang pelayan dengan tergesa gesa datang menghampiri kamarnya sambil mengetuk pintunya dengan gencar, dengan perasaan penuh ketakutan ujarnya.
"Khek koan. kerbaumu itu entah sejak kapan sudah menghilang."
Liem Tou yang mendengar perkataan itu menjadi sedikit tertegun dia tahu kalau perkataan dari diri kakek tua itu sedikirpun tidak bohong, dia tidak ingin ribut, ulapkan tangan ujarnya.
"Pergi ...pergi, aku sudah tahu." *** LIMA Air muka dari pelayan itu segera memperlihatkan perasaan bingungnya, sambil membuka pintu berjalan keluar, gumamnya seorang diri.
"Apa yang terjadi dcngan urusan ini?"
Mendadak pada ingatan Liem Tou terbayang kembali si cambuk sakti Pouw Sak San sekalian dengan cepat ujarnya kepada pelayan ini.
"Hey tunggu sebentar, aku mau tanya itu kelima penunggang kuda yang baru saja datang apa menginap disini juga?"
"Benar"
Sahutnya sambil mengangguk..
"Mereka tinggal dikamar sabelah mana?"
"Eh! Mungkin Khek koan kenal dengan mereka?"
Tanya pelayan itu sambil mengerdipkan matanya.
"Mereka istirahat dikamar yang berpisah, salah satu diantara mereka tinggal dikamar sebelah ini, apa perlu harnba panggil?"
"Tidak perlu . tidak perlu"
Sahut Liem Tou cemas.
"Kamu boleh pergi."
Sesudah pelayan itu pergi barulah Liem Tou berbaring diatas pembaringan untuk beristirahat tetapi walaupun sudah berbolak balik namun tetap tak bisa tertidur nyenyak, pikirannya terus menerus bekerja teringat kembali akan pencurian kitab pusaka Toa Loo Cin Keng oleh kakek tua itu beserta kata kata yang ditinggalkannya, apa maksud yang.
sebenarnya dari dia orang?
Kenapa secara mendadak si cambuk sakti Pouw Sak San turun gunung bersama sama dengan keempat jago jagonya?
Bagaimana dengan keadaan Siauw Ie cici saat ini?"
Pikirannya terus menerus diperas tidak terasa lagi kentongan kedua sudah berlalu, saat itu baru saja siap memejamkan matanya mendadak diluar rumah penginapan itu berkumandang datang suara ringkikan kuda kemudian disusul dengan suara seseoraug yang sangat dikenal olehnya sedang berteriak dengan keras.
"Hey pelayan buka pintu!"
Segera Liem Tou bisa membedakan kalau suara itu berasal dari suara Pouw Siauw Ling putra dari Pouw Cungcu, tidak terasa dalam hatinya muncul kembali perasaan benci, dendam serta gemas, pikirnya dengan gusar.
"Hem dia lagi, yang memisahkan aku denga Ie cici juga dia."
Liem Tou yang teringat akan sakit hatinya ini membuat niatnya untuk tidur segera lenyap tanpa bekas, dengan perlahan lanan dia turun dari pembaringannya dan mendorong jendela luar hingga terpentang, terlihatlah sinar rembulan memancarkan sinarnya dengan remang2, suara gemerisiknya binatang kecil memberikan suatu suasana yang sangat mengharukan, buat perasaan sedih muncul meliputi seluruh benaknya.
Saat itulah pintu dari rumah penginapan itu terbuka kemudian disusul dengan langkah kaki yang berhenti dikamar sebelah, sambil mengetuk pintu ujarnya.
"Tia. kamu orang tua belum tidur? Ling jie datang". Segera Liem Tou dapat mengetahui kalau orang yang berdiam dikamar sebelah adalah Cungcu, tidak terasa lagi dengan perlahan dia menutup jendelanya kembali dan pusatkan perhatiannya untuk mendengarkau apa yang hendak mereka bicarakan. Saat itu terdengar dibukanya pintu kamar disusul dengan suara dari Pouw Cungcu yang sedang bertanya.
"Ling jie, kenapa sampai waktu ini baru datang? Sudah kamu temui kawan kawan sealiran kita?"
"Orarg lain sudah menganggap anakmu sebagai seorang tamu yang sangat terhormat tentang hal ini tidak bisa salah lagi, hanya saja di tangah perjalanan kali ini aku sudah dengar suatu berita yang sangat aneh, membuat anakmu merasa bingung."
"Urusan aneh apa?"
Tanya Pouw Cungcu.
"Cepat kamu orang ceritakan."
"Tia, tahukah kamu orarg tua siapa yang sudah mendapatkan kitab pusaka To Kong Pit Liok yang sangat menggetarkan sungai telaga itu? "Ohhh.. aku kira urusan aneh apa tidak tahunva tentang kitab pusaka itu, bukankah sejak dulu aku sudah bilang kitab pusaka To Kong Pit Liok itu sudah berada ditangan Siok to Siang Mo?? Apanya yang aneh?"
"Bilamana sungguh sungguh terjatuh ditangan Siang to Siang Mo anakmu juga tidak akan merasa heran, yang paling aneh barang itu adalah sudah berpindah tangan lagi bahkan jika dikatakan sukar membuat orang percaya, katanya majikan yang baru dari kitab pusaka itu adalah seorang bocah cilik yang bernama Liem Tou"
"Siapa!"
Seru Pouw Cungcu dengan sangat terperanjat.
"Liem Tou? mana mungkin bisa terjadi peristiwa ini? tentu kamu orang sudah salah dengar, saat ini mungkin mayat dari Liem Tou tinggal tulang tulang putih saja"
Liem Tou yang sedang mencuri dengar pembicaraan mereka saat ini tidak bisa menahan pergolakan didalam hatinya lagi air mukanya bcrubah sangat keren sedang dalam hati dengan gemas sumpahnya.
"Lihat saja, asalkan suatu hari Liem Tou masih bernapas dendam ini tidak akan aku lupakan sedikitpun, tunggu saja permainan yang kalian terima."
Saat itu terdergar Pouw Cungcu menghela napas panjang ujarnya.
"Heei..bila kita ungkap Liem Tou bocah bangsat itu sampai ini hari juga aku masih merasa gemas dan benci. Hei Lie Siauw Ie itu budak juga keterlaluan sekalian hanya kematian dari bocah bangsat itu dia sudah berubah menjadi gila seperti tni, kalau tidak boleh dikata kau dengan dia merupakan sepesang jodoh yang sangat setimpal."
Liem Tou yang mendengar sampai disitu tidak tertahan menjadi sangat terperanjat sekali.
Ie cicinya sudah gila, Ie cicinya sudah gila bagaimana mungkin?
Terdengar Pouw Siauw Ling saat itu sedang terkata.
"Tia, kgmu orang tua jangan mengungkap urusan ini lagi, Siauw Ie memang seharusnya jadi gila, semakin gila semakin baik dan lebih tepat lagi kalau saat ini dia binasa saja". Beberapa perkataan ini sungguh sungguh seperti beribu ribu batang anak panah yang menembus hati Liem Tou membuat dia sangat menderita... sargat sedih, sekali lagi gumamnya seorang diri.
"Ie cici sudah jadi gila, Ie cici sudah jadi gila, tidak mungkin bisa terjadi urusan ini, aku tidak percaya, aku tidak percaya, dia sama sekali belum binasa"
Tetapi dengan sangat jelas sekali bahkan dengan mata kepala sendiri dia mendengar perkataan dari si cambuk sakti Pouw Sak San serta Pouw Siauw Ling yang mengatakan Lie Siauw Ie sudah gila, walaupun dalam hati ia tak percaya tetapi saat ini mau tak mau dia harus mempercayainya.
Didalam sekejap mata dia dibuat tertegun dan duduk termangu mangu ditengah kamar yang gelap, perkataan selanjutnya Pouw Sak San serta dari Pouw Siauw Ling tidak ada yang masuk kedalam telinganya lagi didalam hatinya setiap kali hanya sedang berkata.
"Aku tidak percaya ..aku tidak percaya ..aku tidak akan percaya."
Lama kelamaan, dia tidak bisa menahan perasaan sedihnya lagi, air matanya setetes demi setetes jatuh membasahi wajahnya menetes keluar dengan derasnya.
Dia membiarkan butiran air matanya menetes melalui wajahnya, pada saat seperti ini dia sama sekali tidak bisa memikirkan benda apa yang bisa kekal didalam dunia ini, benda apa yang ada didalam dunia ini, bahkan penderitaaanya, siksaan yang pernah diterima kesukaran, kepedihan serta macam2 penderitaan lainnya.
"Aku tidak percaya, aku tidak percaya, aku tidak percaya, aku tidak percaya"
Aumannya kali ini merupakan suatu pekikan yang paling keras paling nyaring selama hidupnya bahkan membuat seluruh ruangan tergetar dengan sangat keras, membuat seluruh tamu rumah penginapan itu terbangun dari tidurnya, bahkan suara bentakan serta teriakan muncul dari seluruh penjuru.
"Siapa yang sedang gembar gembor?"
"Hey pelayan, sudah terjadi urusan apa?"
"Kurang ajar, bangsat mana yang tidak tahu diri, ditengah malam seperti ini gembar gembor tidak karuan."
Apa lagi si cambuk sakti Pouw Sak San serta Pouw Siauw Ling sejak semula sudah meloncat keluar dari kamarnya.
"dok .. dok ..suara ketokan yang semakin keras berbunyi terus di atas pintu kamarnya bahkan ada yang bertanya.
"Hey siapa yang berdiam didalam? Sudah terjadi urusan apa?"
Liem Tou yang mendengar Pouw Cungcu serta Pouw Siauw Ling sudah menggedor pintu kamarnya seperti bari saja sadar dari suatu impian segera dia merasa sangat terkejut, dia sadar kalau dirinya sudah telanjur berteriak sehingga mengejutkan mereka sedang saat inipun dia tidak bisa buka pintu untuk menemui mereka berdua bagaimana baiknya?
Untuk sesaat lamanya membuat Liem Tou menjadi kalang kabut dan bingung, untuk melarikan diri dari jendela dia merasa bukanlah suatu cara yang sempurna, bilamana mereka berdua mendorong pintu masuk dan melibat orang didalam kamar sudah melarikan diri tentu akan segera mengadakan pengejaran, waktu ini ketukan dari Pouw Cungcu serta Pouw Siauw Ling semakin gencar, mendadak dalam benak Liem Tou berkelebat suatu akal dengan cepat dia menekuk lidahnva keatas sengaja mempertinggi nada suaranya dan lanjut berteriak.
"Aku tidak percaya, aku tidak percaya tidak berhasil tangkap kamu hey ikan bodoh kamu mau lari kemana lagi?"
Kemudian tambahnya lagi.
"Cici cepat ambil jala, Ooh .. seekor ikan yang sangat besar sekali"
Sesudah dia bicara begini ternyata mendatangkan hasil yang gemilang, terdengar Pouw Siauw Ling yang berada diluar kamar sedang memaki.
"Huuu, Setan, kiranya seorang manusia malas yang sedang mengigau."
Sehabis berkata dia berjalan kembali kedalam kamar sebelah.
Liem Tou yang berhasil meloloskan diri disaat yang sangat kritis saat ini tidak berani banyak omong lagi, dengan perlahan lahan dia kembali keatas pembaringannya dan merebahkan diri.
Tetapi sesudah mendapat berita kalau Siauw Ie menjadi gila mana bisa memaksa dia memejamkan matanya?
dengan mata yang melotot besar dengan termangu mangu dia memandang kearah sinar matahari yang mulai muncul dari ufuk Timur, lama sekali barulah dengan perlahan dia bangkit kembali dari atas pembaringan.
Tetapi dalam hati dia sadar asalkan dia keluar dari pintu kamar tentu akan ditemui oleh Pouw Cung cu sekalian, karena itulah dia tidak berani berjalan keluar, dengan diam diam dia meletakkan sekeping uang perak itu keatas meja kemudian dengan tidak menimbulkan suara sedikitpun ngeloyor pergi melalui jendela, dengan mengikuti petunjuk perjalanannya kearah Utara.
Dalam perjalanan didalam hati Liem Tou hanya punya satu pikiran saja yaitu memikirkan keselamatan Siauw Ie, sambil berjalan pikirnya.
"Aku pasti akan naik keatas gunung Ha Mo San untuk bertemu dengan Ie cici, betulkah dia sudah gila? Mana aku bisa percaya? Aku harus kesana untuk melihat sendiri"
Tidak lama kemudian dia sudah meninggalkan kota Toan Bok Ceng tersebut, dikala itu cuaca baru saja terang tanah, burung-burung yang terbang diatas pohon disamping jalan berkicau dengan ramainya membuat semangat Liem Tou bangkit kembali, tak terasa langkah kakinya pun bertambah cepat.
Dalam waktu yang sangat singkat dia sudah berjalan kurang lebih sepuluh lie lebih, dari tempat kejauhan mendadak terdengar suara dengusan kerbau, tidak terasa hatinya menjadi tergerak, dengan cepat dia berhenti dan menengok kesekeliling tempat itu, terlihatlah disebelah depannya berdiri sebuah kuil yang sudah hampir rusak dengan cepat dia berjalan mendekat.
Terlihatlah seekor kerbau sedang menundukkan kepalanya makan rumput, melihat hal itu Liem Tou menjadi sangat girang sekali dengan cepat dia berjalan kesamping kerbau tersebut, sambil menepuk lehernya ujarnya dengan perlahan.
"Gouw koko, bagaimana kamu bisa lari sampai sini?"
Begitu dia menepak leher kerbaunya segera terasalah air keringat membasahi tangannya itu tak terasa dia menjadi sangat heran, tanyanya.
"Hey ..kenapa kamu ?? mungkin satu malaman kamu lari terus ? "
Kerbau itu begitu melihat munculnya Liem Tou secara mendadak merasa sangat girang sambil mendengus perlahan, dengan perlahan dia bergeser kesamping tubuh Liem Tou.
Mendadak ...
matanya tertumbuk dengan daun yang tergantung diatas tanduk kerbau itu, dengan cepat diambil benda itu terlihatlah diatasnya tcrtuliskan delapan huruf dengan jelasnya"Jien, Heng, Cu, Beng, Tong, Pian, Hua, Su"
Dengan perlahan Liem Tou mengulangi perkataan itu beberapa kali walaupun tidak tahu apa arti kata kata itu tetapi teringat kembali olehnya pada surat kemarin malam kakek tua itu pun pernah menuliskan delapan huruf yang membingungkan itu, dalam hati dia tahu tentu kata kata itu punya suatu arti yang sangat mendalam hanya saja saat ini tak mungkin dapat di pahami olehnya.
Ketika itu Liem Tou juga tak mau terlalu banyak menghamburkan waktu untuk memikirkan tulisan itu, dengan langkah yang perlahan dia menarik kerbaunya meninggalkan kuil itu untuk melanjutkan perjalanannya.
00000000 SEPERTANAK nasi kemudian sampailah mereka disamping lereng gunung.
waktu kelihat ada seorang penebang kayu dengan perlahan sedang berjalan mendatang, dengan cepat Liem Tou menyongsong kedepan sambil ujarnya.
"Toasiok tolong tanya jalan menuju ke Cing Cen harus melalui mana ?"
"Ooh kamu man ke Cing Cen?"
Ujar penebang itu dengan penuh keheranan.
"Tempat itu tidak dekat, dari tempat ini harus menuju ke daerah Pi Sian dulu kemudian dengan mengikuti pinggiran sungai menuju ke daerah Cian Sian. Baru dari sana menuju kekaki gunung Cing Cen.Saudara kecil jalan ini merupakan aatu satunya jalan brsar menuju ke daerah Pi Sian."
Sesudah mengucapkan terima kasih pada penebang itu Liem Tou pergi mencari sebuah sungai kecil untuk membersihkan kerbaunya sesudah itu barulah dia menaiki punggung kerbaunya untuk melanjutkan perjalanan.
Kini didalam hati Liem Tou sudah mengambil keputusan untuk kembali keatas gunung Ha Mo San untuk bertemu dengan Ie-cicinya.
Sesudah berjalan beberapa lama kemudian mendadak teringat kembali akan parkataan kakek tua itu yang menyatakan kitab pusaka Toa Loo Cin Keng akan dikembalikan kepadanya.
Kitab pusaka Toa Loo Cin Keng merupakan kitab pusaka yang sama-sama berharganya dengan kitab To Kong Pit Liok, kitab pusaka tersebut sudah dicuri tetapi katanya akan dikembalikan lagi kepadanya membuat hatinya tidak terasa berdebar dengan sangat keras, sambil melanjutkan perjalanannya dengan nunggang kerbau matanya menengok kekiri kanan untuk menanti munculnya kakek tua itu.
Tetapi walaupun sudah lewat beberapa jauh pun tetap tidak tampak bayangan dari kakek tua tidak tertahan gumamnya.
"Terang-terangan ..."
Tidak disangka baru saja dia bilang terang-terangan, atau huruf 'Beng' dan belum selesai mengucapkan `menulis demikian' kerbau tunggangannya mendadak berhenti kemudian berjalan mundur kebelakang.
Liem Tou menjadi sangat heran dengau cepat dia meloncat turun dari kerbaunya, tetapi kerbau itu masih tetap berjalan mundur kebelakang.
Semakin melihat Liam Tou semakin merasa heran, teriaknya keras.
"Gouw koko ... kenapa ? sudah ..sudah cukup jangan mundur 1agi, cepat berhenti jangan bergerak"
Siapa tahu baru saja dia mengucapkan bergerak atau ‘tong` terlihatlah kerbau itu menundukkan kepalanya, tandukuya secara mendadak disiapkan didepannya sedang suaranyapun semakin keras, bahkan boleh dikata sifat liarnya kembali lagi pada tubuhnya.
Liem Tou yang melihat hal ini menjadi semakin bingung, jika dilihat dari perubahan wajahnya boleh dikata dalam hati kian merasa sangat terperanjat, sambil berdiri disamping dengan tak henti hentinya bergumam seorang diri.
"Didalam satu malaman saja bagaimana kerbau ini bisa berubah. ."
Perkataan "berubah' atau "Pian"
Baru saja keluar dari mulutnya kerbaunya mendadak menghentikan dengusannya kemudian menendangkan kakinya kebelakang dengan sangat hebat membuat pasir dan tanah beterbangan memenuhi angkasa.
Sampai disini barulah dengan perlahan lahan Liem Tou sadar kembali apa yang sudah terjadi, sedang pada air mukanyapun dengan perlahan lahan mulai menampilkau perasaan terkejut bercampur girangnya, dalam hati pikirnya.
"Apa sungguh begini?? Didunia ini apa betul ada orang yang berkepandaian sedemikian tingginya."
Berpikir sampai disini mendadak serunya dengan keras.
"Su"
Kerbau itu dengan cepat menghentikan seluruh gerakannya dan berdiri mematung disana, seketika itu juga membuat Liem Tou berdiri mematung ditempat dengan melongo dia memandang kerbaunya itu, saking girangnya tidak tertahan lagi dia lari kedepan untuk memeluk kencang kerbau itu, ujarnya.
"Ooo Gouw koko. Kamu sunguh hebat sekalih, tidak aneh kalau tubuhmu penuh dengan keringat busuk, kiranya satu malaman kamu terus menerus berlatih dengan giat"
Sambil berkata dia meloncat naik keatas punggung kerbaunya kembali, bentaknya.
"Hoa"
Kerbau itu dengan cepat mementangkan kakinya kemudian lari dengan kencang kedepan.
Waktu ini Liem Tou betul betul merasa sangat girang, dalam hati terus menerus dia mengingat ingat delapan kata itu.
‘Jen, Heng, Ci, Bang, Tong, Pian, Hoa, Su’ Karena perasaan girang yang meluap luap itulah membuat perasaan ingin tahu meliputi seluruh tubuhnya, waktu itu kerbaunya sedang lari kencang, mendadak Liem Tou sudah berseru.
"Jen "
Kerbau itu dengan cepat memutarkan seluruh tubuhnya dan lari dengan kencangnya kesebalah kiri, sebelah kirinya itu merupakan sebuah bukit kecil tetapi hanya dua tiga lompatan saja kerbau itu sudah barhasil menerjang hingga puncak bukit.
Ketika itulah Llem Tou baru mengetahui kalau bukit iiu merupakan sebuah tebing curam yang banyak batu bau cadasnya bahkan tingginya beberapa kaki, didalam keadaan yang sangat terkejut itulah dengan cemas teriaknya lagi.
"Beng"
Dengan cepat kerbau itu menghentikan larinya dan mundur beberapa langkah kebelakang, untung saja Liem Tou berteriak dengan cepat kalau tidak dua langkah lagi mereka akan terjatuh kedalam jurang.
Sesudah menghembuskan napas lega barulah Liem Tou berseru lagi.
"Su "
Dengan cepat kerbau itu menghentikan larinya, dengan hati yang masih berdebar keras Liem Tou meloncat turun dari punggung kerbaunya dalam hati betul betul dia merasa terperanjat bercampur ngeri, diam-diam pikirnya.
"Sungguh berbahaya."
Kini Liem Tou tahu jelas kalau kerbaunya sudah mendapatkan latihan yang masak hanya didalam satu malaman saja kerbaunya sudah berubah menjadi seekor kerbau sakti bahkan disamakan dengan seekor kuda jempolan, tanduknya bisa digunakan untuk mengadakan penyerang an punggungnya bisa ditunggangi apalagi ketika kerbau itu lari dengan kencangnya kecepatan luar biasa, ditambah lagi bisa mundur secara mcndadak membuat orang lain sama sekali tidak menduga.
Liem Tou melihat kerbaunya sudah lelah segera merasa sayang dengan perlahan dia menarik kerbaunya berjalan kesebelah lapangan rumput untuk beristirahat.
Baru saja dia duduk melamun memandang ke arah awan yang melayang jauh ditengah awan sekonyong konyong.., dari tempat kejauhan kelihatan debu mengepul dengan tebalnya dalam hati Liem Tou menjadi terasa terkejut sekali, tidak terasa perasaan tubuhnya sudah berubah menjadi tegang, pikirnya.
"Mungkin Pouw Cung cu sudah sampai disini? Ditempat yang terbuka seperti ini tentu mereka menemukan aku."
Berpikir sampai disini dengan cepat keinginan untuk kaburkan diri meliputi seluruh benaknya, tetapi sesaat hendak menaiki punggung kerbaunya dengan tanpa sadar kepalanya sudah menoleh kearah dimana munculnya debu yang mengepul itu, begitu memandang tidak tertahan dia tertawa geli sendiri.
Kiranya suara derapan serta debu yang mengepul jauh keangkasa itu bukan berasal dari kuda tunggangan Pouw Cung cu sakalian melainkan beratus ratus ekor domba yang bersama sama lari mendatang.
Domba itu berwarna hitam gelap semua sehinga dari tempat kejahuan kelihatan bertumpuk warna hitam yang makin lama berlari mendatang, kedatangan domba2 yang secara mendadak itu membuat Liem Tou merasa tertarik, tidak terasa dia sudah duduk sendirian disamping kerbaunya sambil memandang dengan terpesona kearah kawanan domba tersebut.
Lewat beberapa saat kemudian kawanan domba itu sudah berada dibawah bukit, mendadak Liem Tou melihat seorang gadis cantik berbaju putih dengan menunggang seekor kambing yang besar mengikuti dari belakang kawanan kambing itu.
Tidak terasa Liem Tou menjadi tertegun di buatnya, pikirnya dalam hati.
"Seorang gadis yang sangat aneh sekali, aku menunggang kerbau sebagai pengganti kuda sudah termasuk hal yang aneh, tetapi dia menggunakan kambingnya sebagai pengganti kuda hal ini sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat mencengangkan hati orang."
Dengan tidak terasa lagi Liem Tou menoleh memandang beberapa kejap lagi kearah gadis cantik berbaju putih yang menunggang kambing itu.
Terlihatlah ujung baju putihnya menari-nari tertiup angin, gayanya mirip sekali dengan bidadari yang baru saja turun dari kahyangan, cantiknya luar biasa.
Pada tangan kirinya dia mencekal sebuah seruling yang terbuat dari batu pukulan yang digunakan sebagai pengganti cambuk, dengan gaya yang sangat lembut dia sedang mengiring kawanan dombanya menaiki bukit itu.
Gadis cantik berbaju putih itu benar2 membuat Liem Tou terpesona tetapi hanya dalam beberapa waktu saja Liem Tou sudah sadar kembali dari lamunannya, sambil menoleh kearah lain dalam hati teriaknya.
"Oooh -Liem Thu, Liam Tou kamu tidak boleh lihat gadis itu lagi, didalam dunia ini tidak akan ada gadis yang lebih cantik dari Ie ci ci, kamu orang tidak boleh lihat dia tidak boleh ... tidak boleh ..."
Dia berusaha untuk tiadk lihat kecantikan wajahnya, keagungan sikapnya serta keanehan dari gerak geriknya membuat Liem Tou terpesona bahkan benar benar di buat terpesona.
Mendadak suatu suara yang empuk halus serta lembut sekali berkumandang masuk kedalam telinga Liem Tou membuat dia tersadar kembali dari lamunannya.
"Hey.. Siauwko yang ada diatas bukit tolong tanya kamu orang apa melibat ayahku?"
Liem Tou yang mendengar perkataan itu di dalam hati merasa sangat geli, pikirnya.
"Siapa yang tahu ayahmu itu macam apa ?"
Tanpa sadar lagi dia menoleh dan memandang lagi kearah gadis cantik berbaju putih itu, mendadak pandangannya menjadi terang benderang, pada saat dia menoleh itulah gadis cantik berbaju putih itu sudah berjalan naik keatas bukit dengan langkah yang sangat perlahan sekali jaraknya saat ini dengan dirinya berdiri sangat dekat sekali.
Terlihatlah wajah si gadis itu cantik dan sangat halus sepasang matanya yang bening dan menggiurkan ditambah dengan bibirnya yang kecil mungil berwarna merah membuat hati setiap orang merasa benar-benar terpesona apalagi ketika dia tersenyum boleh dikata kecantikannya melebihi bidadari manapun juga.
Tidak tertahan lagi hati Liem Tou berdebar dengan kerasnya, dengan cepat dia memandang kearah lain sedang pada mulutnya menyahut dengan keras.
"Aku tidak pernah melihat ayahmu, kamu orang jangan berjalan terlalu dekat"
"Ayahku berjalan melalui jalan ini, kamu sudah pasti melihatnya"
Ujar gadis itu dengan manjanya. Ketika Liem Tou mendengar suaranya semakin dekat lagi dalam hati semakin merasa cemas, teriaknya lagi.
"Aku beritahu padamu aku belum pernah lihat ayahmu, kamu jangan maju lagi sekalipun maju lebih dekat aku juga tak pernah melihat ayahmu"
"Tidak mungkin"
Ujar gadis cantik berbaju putih itu dengan nada yang tak percaya.
""Ayah sudah bilang dia mau menunggu aku dijalan ini, kamu orang tentu sedang menipu aku sudah melihat tapi tak mau beritahu."
Liem Tou tak berani menoleh lagi dalam hati dia pingin marah tapi entah kenapa sekali pun kena marah juga tak berhasil dilampiaskan terpaksa teriaknya lagi.
"Oooh..kamu gadis datang dari mana..kenapa tak mau pakai aturan, cepat kamu orang turun dari bukit ini kalau tidak aku akan berlaku tidak sungkan2 lagi."
"Oooh Ie cici kamu lihat dia orang tetap tak mau pergi, dia sangat cantik sekali . memang sungguh2 cantik tapi aku tak mau lihat dia, aku tak mau lihat.."
Saat itu gadis cantik berbaju putih tersebut sudah berjalan hingga samping lapangan rumput itu, Liem Tou hanya merasakan bayangan putih berkelebat didepannya dengan cepat dia pejamkan matanya rapat rapat sambil ujarnya dengan keras.
"Kamu jangan kedepanku . sebetulnya kamu orang datang dari mana?? Jangan... jangan kedepanku "
Padahal waktu ini didalam hati Liem Ton merasa sangat canggung sekali, dia tak ingin melihat gadis cantik berbaju putih itu karena kecantikannya boleh dikata hampir2 menutupi seluruh kecantikan dari Ie cici idaman hatinya"
Tapi walaupun begitu kenapa dia tak mau pergi dari sana dengan menunggang kerbaunya ?
Sifat menyenangi yang indah, yang cantik merupakan sifat manusia pada umumnya, kini seorang gadis yang sangat cantik muncul dibadapan matanya walaupun dia sama sekali tak punya niat jahat tapi dalam hati juga merasa sayang untuk ditinggal pergi.
Sesudah ditunggu beberapa waktu lamanya Liem Tou tetap tak mendengar suara jawaban dari gadis itu dalam hati dia mengangpap gadis tersebut sudah pergi; tak terasa sambil menghela napas panjang ujarnya.
"Oooh---tak kusangka didalam dunia bisa muncul seorang gadis yang demikian cantiknya."
Dengan sendirinya dia membuka matanya kembali untuk melihat keadaan sesungguhnya, Siapa tahu baru saja dia membuka matanya terlihatlah gadis cantik berbaju putih itu sedang duduk diatas batu cadas didepan tubuhnya bahkan pada waktu itu sedang memandang dirinya sambil tersenyum manis.
*** Liem Tou menjadi sangat terkejut tidak terasa lagi dia menjerit kaget, dengan cepat mata nya dipejamkan kembali dan menoleh kearah lain.
Terdengar gadis cantik berbaju putih itu tertawa cekikikan dengan merdunya kemudian ujarnya.
"Kamu orang sungguh naenyenangkan sekali, kenapa kalau lihat aku tentu pejamkan mata? Ayahku sering panggil aku sebagat budak jelek, mungkin aku sungguh sungguh orang yang sangat jelek ?"
"Bukan . bukan, aku cuma tidak mau lihat kamu, cepat pergi.cepat pergi dari sini."
"Kalau begitu kamu takut sama diriku ? bapakku sering juga takut sama aku."
Liem Tou menjadi jengkel, ujarnya dengan keras.
"Tadi sudah aku beritahu, aku takut sama kamu orang. Aku cuma tidak mau lihat kamu ..tidak usah banyak tanya lagi cepat pergi."
"He hi hi hi kalau tak mau lihat jangan lihat, bukankab sudah beres ? ? Buat apa kamu orang harus usir aku ? 00oh ..benar. kamu belum bilang dimana ayahku sekarang ?"
Kini Liem Tou betul betul dibuat gemas tak bisa tertawapun, sesudah berdiam beberapa saat lamanya barulah pikirnya.
"Heei..aku harus berbuat bagaimana untuk menghadapi gadis cantik ini?"
Yang membuat dia semakin menemui kesulitan adalah perkataan gadis itu yang masih amat polos bagaikan sekerat batu giok yang belum digosok, jika dibandingkan dengan kecerdikan dan kelincahan dari Ie cicinya boleh dikata kelainan yang berbeda, terhadap seorang gadis dia juga tidak bisa berbuat kasar apalagi mengusirnya dari sana.
Mendadak suatu akal bagus herkelebat dalam benaknya, ujarnya kemudian.
"Baiklah, aku tidak mengusir kau pergi tetapi aku tak mengijinkan kamu orang berdiri dihadapanku, kalau kau mau baru aku mau bicara, baiklah sekarang kamu boleh bilang siapakah bapakmu"
Agaknya gadis itu juga sedikit merasa jeugkel, dengan menggerutu ujarnya.
"Hmm, kalau bukannya sedang cari ayah, aku juga tak mau mengalah padamu, baiklah lain kali jangaa harap kamu bisa melihatku lagi"
Liam Tou yang mendengar perkataan itu menjadi bingung, apa arti dari perkataannya ini?
dengan tidak terasa lagi dia melirik sekejap kebelakang, terlihatlah gadis itu walaupun masih tetap menggunakan pakaian putih tetapi kecantikan wajahnya yang melebihi bidadari itu hanya didalam sekejap mata saja sudah berubah menjadi seorang nenek barwajah kuning yang penuh dengan keriputan.
Liem Tou yang melihat hal itu menjadi melongo dibuatnya, sesudah memandang setengah harian lamanya barulah diketahui olehnya kaau dia sedang memakai sebuah topeng dari kulit kambing, hanya saja topeng itu dibuat demikian teliti dan sempurnanya sehingga sukar untuk diketahui kalau bukannya dipandang dengan teliti.
Ketika gadis berbaju putih itu melihat LiemTou dibuat melongo olehnya tidak terasa tertawa geli, ujarnya.
"Bukankah begini bagus? Sekaraug kamu harus beritahu ayahku berada dimana?"
Sebetulnya siapakah ayahmu itu? Kamu harus beritahu dulu sehingga aku bisa pikir pernah bertemu atau tidak."
Gadis berbaju putih itu berpikir beberapa saat lamanya, kemudian barulah sahutnya.
"Ayahku bilang dia mau melalui jalan ini bahkan dia bilang juga ada sebuah kitab yang sudah didapati oleh seorang yang bernama Liem Tou dia bilang Liem Tou itu tidak seharusnya mendapatkan kitab itu maka dia hendak pergi cari Liem Tou."
Berbicara sarnpai disini mendadak sambungnya lagi.
"Oooh ... siauw-ko, aku lihat kamu jadi orang sangat baik, aku harus panggil kamu bagaimana?? Tentu kau mau bukan menolong aku menceritakan ayahku?"
Ketika Liem Tou mendengar sesudah dia bicara setengah harian lamanya kiranya ayahnya adalah salah seorang yang ingin merebut kitab pusaka "To Kong Pit Liok"-nya dalam hati benar benar merasa gemas bercampur jengkel, didalam beberapa hari ini karena didesak oleh jago jago dari berbagai partai yang menginginkan kitab pusaka To Kong Pit Liok"
Nya mendesak dia hingga berkali kali menemui bahaya, sudah tentu kini dia merasa benci terhadap setiap orang yang menginginkan kitabnya itu. Mendadak air mukanya berubah, ujarnya.
"Maaf nona aku tidak pernah melihat ayahmu"
Waktuku sudah terbuang terlalu banyak, aku pergi dulu.' Sambil berkata dia berjalan kesamping kerbaunya. Melihat hal itu gadis berbaju putih menjadi cemas, serunya.
"Hey siauw ko, tunggu dulu aku masih ada perkataan lain!"
Terpaksa Liem Tou berjalan kembali, terlihatlah gadis itu mengambil keluar selembar topeng dari dalam sakunya, ujarnya sambil mengacungkan topeng tersebut.
"Siauw ko asalkan kau menyanggupi untuk menemani aku mencari ayahku maka barang ini akan kuberikan kepadamu, bagaimana?"
Liem Tou yang melihat seorang gadis cantik hanya cukup memakai selembar topeng saja maka wajahnya segera berubah menjadi orang nenek yang penuh keriputan tidak terasa hatinya menjadi tergerak pikirnya.
"Asalkan aku jaga punya benda itu maka di tengah perjalanan tidak akan takut lagi dikejar dihadang oleh orang"
Berpikir sampai disini dengan berdiam diri ia melirik sekejap kearah gadis berbaju putih itu tetapi dimulutnya tetap membungkam.
Sigadis berbaju putih tersebut ketika melihat perubahan wajah Liem Tou ini menjadi amat girang serunya.
'Kau tentu sudah setuju bukan?
Baiklah mari berangkat.-"
Tanpa perduli apapun gadis tersebut segera melemparkan topeng itu ketangan Liem Tou, ditengah berkelebatnya bayangan putih dia sudah berjalan kebawah bukit meninggalkan Liem Tou yang memegang topeng itu sambil berdiri tertegun beberapa saat Iamanya, gumamnya seorang diri.
"Gadis ini memang sangat cantik hingga melebihi batas hanya saja membuat orang menjadi bingung "
Dia yang sudah menerima topeng pemberianaya sudah tentu tak bisa menampik lagi, sambil menuntun kerbaunya dengan perlahan berjalan menuruni bukit itu.
Saat ini gadis berbaju putih itu sudah menunggang diatas punggung kambingnya menanti kedatangan Liem Tou, Liem Tou yang menunggang kerbaunya itu dengan perlahan berjalan kesamping tubuh gadis itu, ujarnya mendadak.
"Nona, terus terang saja aku beritahu padamu, setiap waktu dan setiap saat selalu aku dibuntuti dengan maut bahkan orang dari Bu-lim semuanya punya niat untuk menahan aku, bilamana nona jalan bersama-sama dengan aku mungkin saja akan ikut tertimpa bencana"
Jilid 8 . Gadis cantik pengangon kambing Perkataannya Liem Tou ini sebetulnya keluar dari hati sanubarinya siapa tahu gadis berbaju putih itu hanya tertawa ringan ujar nya.
"Siauwko, apa itu jago2 dari Bu Lim ?? Apa mereka lihay semua, tapi aku takkan takut."
Liem Tou tak bisa bicara apa apa lagi sambil berjalan disamping tubuhnya mereka melanjutkan perjalanannya kedepan sedang gadis itu pun mulai menggerakkan seruling pualam di tangannya memberi tanda pada kawanan domba dibelakangnya, demikianlah mereka mulai melanjutkan perjalanannya menuju keluar.
Terlihatlah jalan raya dipenuhi dengan kawanan donba yang sangat banyak sehingga mengganggu perjalanan dari orang orang lain seluruh jalan raya hanya terlihat serombongan berwarna hitam yang berjalan dengan perlahan-lahan.
Gadis berjubah putih itu sambil berjalan sambil tertawa, dia sungguh sungguh menganggap Liem Tou sebagai saudaranya sendirl sedang terhadap domba dombanya yang menutupi jalan raya sama sekali tak mau ambil perduli.
Sebaliknya dalam hati Liem Tou terus menerus sedang memikirkan hilangnya kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng serta `gilanya' Ie Cicinya itu bahkan dalam hati sedang memikirkan cara yang baik dan sempurna untuk kembali keatas gunung Ha Mo San untuk bertemu dengan Ie cicinya, karena itulah dengan berdiam diri dia melanjutkan perjalanan bersama sama dengan gadis berbaju putih itu.
Lewat lagi beberapa waktu lamanya mendadak dari belakang tubuh mereka berkumandang datang suara derapan kaki kuda yang sangat ramai sekali, untung saja telinga dari gadis berbaju putih itu sangat tajam, ujarnya dengan cepat sambil tersenyum.
"Siauwko dari belakang kita muncul enam penunggang kuda. Mendengar perkataan itu Liem Toa menjadi sedikit heran, pikirnya.
"Bagaimana dia bisa mendengar kalau yang datang adalah enam ekor kuda?"
Tidak terasa matanya dipentangkan lebar lebar agaknya dia tidak percaya terhadap perkataan ini. Mendadak gadis berbaju putih itu seperti juga sedang teringat sesuatu ujarnya lagi.
"Koko, kamu orang apa mau menghilangkan kemangkalan didalam hati?"
Liem Tou semakin dibuat bingung oleh perkataannya ini, dengan melongo dia memandangi wajah gadis yang terlapis oleh topeng berwarna kuning itu, saat itu suara derapan kuda semakin santar baru saja Liem Tou menoleh kebelakang terlihatlah tidak lebih tidak kurang enam orang penunggang kuda dari jauh berlari mendatang membuat debu mengepul memenuhi angkasa.
Melihat mereka itu tidak terasa hati Liem Tou menjadi bergerak, pikirnya.
"Apa mungkin mereka?"
Begitu terpikir akan hal ini tanpa sadar lagi air mukanya sudah terjadi perubahan yang sangat hebat sedang hatinyapun ikut berdebar dengan keras, gadis berbaju putih yang berada disisinya ketika melihat perubahan itu dengan gugup tanyanya.
"Hey Siauw ko sudah terjadi urusan apa? Ooooh aku teringat kembali, mungkin yang kau ceritakan itu sudah datang?"
Liem Tou yang sedang memusatkan seluruh perbatiannya pada para penunggang yang makin lama makin mendekat itu hanya menjawab seenaknya saja terhadap perkataan gadis berbaju putih itu.
"Mungkin benar, tapi sebelum melihat dengan jelas siapa mereka mereka itu aku tidak mau ambil kesimpulan dengan cepat."
"Yang datang ada enam orang"
Ujar gadis itu dengan cepat"
Yang pertama agaknva usianya paling muda kurang lebih baru dua puluh tahunan sedang yang berada dibelakang merupakan orang orang dari usia pertengahan, Oooh ada orang yang sudah berusia lima puluh tahunan pada pingganguya terikat seuntai kain merah."
Mendengar perkataan itu Liem Tou menjadi sangat terkejut. tanyanya dengan penuh perasaan heran.
"Bagairnana?? apa kamu sungguh sungguh bisa melihat? orang itu apa betul punya beutuk seperti apa kamu bicarakan sekarang ini??"
"Aku tidak akan menipu kamu"
Ujar gadis berbaju putih itu dengan manja.
Semua ini memang sungguh2 jika dilihat sikapmu yang sangat cemas agaknya kamu orang takut dengan mereka yaaah??
jangan takut, Siauw ko kita harus melanjutkan perjalanan seperti tidak ada urusan apapun, semua urusan serahkan saja pada diriku."
"Orang orang itu semuanya memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, kamu merupakan seorang gadis yang lemah bagaimana bisa menahan serangan mereka, tidak mungkin , tidak mungkin, saat ini aku masih tidak ingin dikenal oleh mereka."
"Hi hi.. kiranya kamu adalah seorang gentong nasi"
Ujar gadis itu sambil tertawa ringan.
"Seorang lelaki sejati kenapa harus takut pada manusia?"
Liem Tou yang disindir demikian tidak tertahan saking jengkelnya membuat seluruh tubuhnya gemetar keras, ujarnya dengan suara seperti geledek.
"Kamu orang tidak usah menyindir diriku, kalau nanti mereka datang kamu orang tidak usah ikut campur biarpun ini hari aku harus binasa ditangan mereka tetapi aku Liem Tou tak akan jeri sedikitpun juga"
Liem Tou yang tanpa sadar sudah menyebutkau namanya sendiri, membuat hatinya secara mendadak merasa sangat terkejut, pikirnya.
"Aduh . kenapa aku menyebutkan namaku sendiri?"
Siapa tahu gadis berbaju putih itu mendadak tertawa manis ujarnya.
"Perkataan Liem koko sendiripun tidak salah ayahku sendiri pernah bilang bahwa seorang lelaki sejati memang harus bersikap begini, biarlah aku beritahu padamu, aku bernama Lie Wan Giok puteri dari ayahku, karena satiap harinya pekerjaanku hanya mengangon domba, maka orang lain menyebut aku sebagai Mu Jang Giok Li atau gadis cantik pengangon kambing".
"Apa maksud dia memberi tahu namanya?? "Pikir Liem Tou dalam hati, belum sempat dia buka mulut untuk bicara, sigadis cantik pangangon kambing itu sudah menampakkan lagi sambil tertawa.
"Liem koko, kau legakanlab hatimu ayahku pergi merebut kitabmu itu tidak lain hanyalah omongan guyon saja, bahkan ayahku mamerintahkan diriku untuk mengambilkan kitab tersebut kepadamu."
Sambil berkata dari dalam sakunya dia mengambil se
Jilid kitab yang sangat tipis dan diserahkan Liem Tou, ujarnya.
"Liem koko coba kau lihat, bukankah ini?"
Dengan cepat Liem Tou rnenerima kitab tersebut dari tangan gadis itu, ketika memandang terlihatlah kitab itu tidak lain adalah kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng"
Yang dicuri kakek tua kemarin malam membuat dia segera menjadi tertegun dan memandang sigadis cantik pengangon kambing Lie Wan Giok dengan melongo sedang dalam hatinya berpikir ubek ubekan mencari maksud yang sebenarnya dari gadis tersebut.
Saat itu sigadis cantik berbaju putilt itu sudah bicara lagi.
"Liem koko bila ada pertanyaan lain kali saja bicarakan, coba kamu dengar mereka sudah semakin dekat. Kalau kamu tidak ingin dikenali oleh mereka cepat pergunakan topengmu itu. sekalipun dalam hati kamu orang gemas dan benci kepada mereka tapi kesempatan dikemudian hari masih sangat banyak, biarlah kali ini Siauw moay yang menggoda mereka."
Dalam hati Liem Tou tahu benar benar kalau Pouw Cungcu sekalian sudah menganggap kalau dirinya sungguh sungguh sudah binasa tenggelam disungai bilamana sampai saat ini ditemui mereka mungkin sekali akan mendapatkan cemoohan dan ejekan yang menusuk hati, daripada harus menerima penderitaan itu jauh lebih baiknya kini sembunyikan wajahnya terlebih dahulu dikemudian hari bilamana kepandaian silatnya sudah berhasil dilatih untuk membalas sakit hsti masih punya banyak kesempatan.
Sesudah berpikir sampai disini Liem Tou tidak kukuh lagi dengan pendiriannya, dengaa cepat topengnya dipakai diatas wajahnya membua air mukanya didalam sekejap saja sudah berubah menjadi seorang lelaki berusia partengahan dengan wajah berwarna kehijau hijauan bahkan kelihatan sekali keseramannya.
Sesaat dia selesai menggunakan topeng itu derapan kaki kuda sudah semakin dekat lagi hanya didalam sekejap saja si cambuk sakti sekalian akan tiba disana, mau tak mau hati Liem Tou berdebar keras juga.
Ujar Lie Win Giok dengan perlahan.
"Kita harus jalan seperti biasa, jangan sekali kali melihat mereka walau sekejap pun"
"Kamu orang akan menggunakan cara apa untuk menghadapi mereka?"
"Ini urusanku!' Mendadak suara ringkikan kuda yang panjang berkumandang dari belakang tubuh mereka, ujar Lie Wan Giok lagi dengan perlahan.
"Liem koko, ilmu menunggang kuda dari mereka sungguh sangat sempurna walaupun didalam keadaan yang sangat cepat mereka masih bisa menahan kendali mereka"
Pembicaraannya ini seperti saja dia melihat dengan mata kepala sendiri, membuat Liem Tou tidak tertahan menoleh sekejap kebelakang, terlihatlah Pouw Siauw Ling sudah berada dibelakang tubuh mereka berdua, begitu melihat Liem Tou menoleh, mendadak bentaknya.
"Cepat minggir!"
"Hey Siauwko"
Seru sigadis cantik pengangon kambing itu dengan nada sedikit mengomel "Sudah aku katakan jangan menoleh, kenapa sengaja kamu menoleh juga?"
Pouw Siauw Ling yang tidak mendengar suara sahutan dari mereka berdua segera teriaknya lagi dengan keras.
"Hee..kalian berdua cepat singkirkanlah kambing kambing kalian kepinggir, dengan menghalangi jalanan begini kalian suruh kami harus lewat dengan cara bagaimana ?"
Liem Tou serta sigadis cantik pengangon kambing itu dengan masing masing menunggang kerbau serta kambingnya dengan langkah perlahan tetap melanjutkan perjalanannya kedepan, mereka sama sekali tak mau ambil perduli terhadap teriakan Pouw Siauw Ling itu.
Melihat mereka sama sekali tak mau gubris hawa amarah dari Pouw Siauw Ling semakin memuncak, bentaknya dengan gusar.
"Hey dua anjing didepan cepat menyingkir, Toayamu sekalipun _mau lewat kalau tidak jangan salahkan kami akan menerjang kawanan kambing kalian hingga binasa semua."
Dua orang itu tetap tidak menggubris. Dengan mengerang gusar teriak Pouw Siauw Ling lagi.
"Dua manusia laki perempuan yang tak tahu diri, kalian jangan menyesa1"
Mendadak terdengar suara pekikan kuda yang sangat panjang disusul dengan suara bentakan Pouw Siauw Ling.
Liem Tou hanya merasakan sambaran segulung angin yang keras berkelebat dibelakang tubuhnya, dia tahu begitu bicara biasanya Pouw Siauw Ling tentu melaksanakan perkataannya dan kini sungguh2 dia menerjang kearah kawanan kambing tak terasa hatinya merasa sangaz terperanjat.
Ketika ia menoleh kearah sigadis cantik pengangon kambing itu terlihat sikapnya masih tenang tenang saja tanpa gugup sedikitpun, bahkan masih tetap melanjutkan perjalanannya ke depan.
Pada saat pikiran Liem Tou sedang berputar keras itulah Pouw Siauw Ling sudah menerjarg hingga dibelakang tubuh orang itu, Liem Tou hanya merasakan sambaran angin yang sangat tajam kearah tubuhnys.
Mendadak si gadis cantik pengangon kambing itu tertawa ujarnya.
"Liem koko, coba kau libat."
Sambil berkata pinggangnya yang ramping sedikit ditarik kebelakang sehingga pundaknya sekonyong konyong menempel pada punggung kambing dan pada waktu yang bersamaan pula Pouw Siauw Ling sudah menerjang datang pada saat kritis itulah tangan dari gadis cantik pengangon kambing itu diangkat, seruling pualam ditangannya dengan tepat menotok kepala dari kuda tersebut.
Kuda tersebut yang secara mendadak mendapatkan serangan dahsyat menjadi sangat terkejut sambil meringkik panjang dua kaki depannya mendadak mengangkat keatas, gadis cantik pengangon kambing itu tidak mau membuang kesempatan ini, tangannya sedikit digetarkan seruling pualamnya sudah menotok kearah perut kuda tersebut, memaksa kuda ttu menjungkir dan rubuh keatas tanah dengan empat kaki diatas.
Pouw Siauw Ling yang melihat kudanya rubuh dengan gerakan tubuh yang sangat lincah mendadak melayang keatas dengan cepatoya sehingga terhindar dari tindihan tujuh kuda itu, air mukanya sudah berubah merah padam saking gusarnya.
Tetapi hanya sekejap saja air mukanya sudah pulih pada senyuman riangnya, waktu itulah tepat Liem Tou sedang menoleh kearahnya begitu melihat senyuman tersebut hatinya jadi panas dia ingat betul betul akan senyumnya ini hanya didalam sekejap saja bayangan ketika dia dianiaya oleh Pouw Siauw Ling memenuhi seluruh benaknva, mendadak mulutnya dengan capat mengucapkan kata "Beng"
Dari delapan kata rahasia itu. Kerbau tunggangannya dengan cepat mundur kebelakang hingga Liem Tou merasa sudah cukup mendadak bentaknya dengan keras.
"Beng"
Kerbaunya dengan cepat memutar kebelakang dan tepat menerjang dimana Pouw Siauw Ling berdiri, bentak Liem Tou lagi.
"Tong"
Kerbaunya menundukkan kepalanya sehingga tanduknya dipersiapkan kedepan, kemudian dengan ganasnya menanduk tubuh Pouw-Siauw Ling, melihat keadaan yang sangat barbahaya dengan seluruh kekuatan Pouw Siauw Ling meloncat kesamping serunya dengan gusar.
"Kurang ajar .., . kurang ajar ..."
Dari pinggangnya dengan cepat dia menurunkan cambuk panjangnya tangannya sedikit digerakkan cambuknya siap disapu kedepan, mendadak dari tempat kejauhan terdengar suara teriakan seseorang.
"Ling Jie, tahan.."
Terlihat si cambuk sakti basarnya Liong Ciang Houw Jiauw, Siang Hui Hok berlari mendatang tanyanya dengan cemas.
"Ling jie, sudah terjadi urusan apa?"
Saat ini saking gemasnya Pouw Siauw Ling tidak bisa mengucapkan sepatah katapun lama lekali barulah sahutnya.
"Mereka -mereka terlalu menghina orang."
Pouw Peng, Pouw Liang dari Siang hui hok yang selamanya jadi orang paling berangasan begitu mendengar perkataan ini segera menjadi gusar, masing2 meloncat turun dari kudanya dari berjalan menerjang kearah Liem Tou.
Baru saja Liem Tou akan memberi perintah pada kerbaunya untuk melancarkan serangan mendadak si gadis cantik pengangon kambing itu muncul dari belakang tubuhnya, sambil menghalangi perjalanan dari Siang Hui Hok, ujarnya sambil menuding kearah Pouw Siauw Ling.
"Kalian jangan mau dengar omongannya, dengan jelas tanpa perduli mati hidup orang lain dia memerintahkan kudanya menerjang kami kini masih bilang orang lain yang menghina dia sungguh tidak tahu malu."
Sambil berkata ujarnya pada Liem Tou.
"Koko muka hijau tidak usah peduli mereka lagi mari kita pergi."
Sejak kecil Pouw Siauw Ling sudah terbiasa dengan sifat ingin menang dan sombong, kini dihina secara begini mana bisa meuerima, sambil membentak keras ujarnya .
"Hui Hok Jie siok harap tunggu sebentar, ini hari keponakanmu harus membasmi kedua anjing laki perempuan ini"
Sambil berkata cambuknya dengan menggunakan jurus Sin Liong Pok Wi atau naga sakti menggoyangkan ekor menghajar kearah leher Liem Tou yang masih berada diatas punggung kerbau.
Sebenarnya sigadis cantik pengangon kambing itu memang berdiri ditengah antara Liem Tou serta Siang Hui Hok..
begitu serangan cambuk dari Pouw Siauw Ling dilancarkan kearah Liem Tou maka serangan itu harus melewati samping tubuh Lie Wan Giok terlebih dulu terlihatlah secara meadadak dia mengangkat serulirg pualamnya dan diketuk dengan perlahan disamping cambuknya, ujarnya sambil tertawa.
"Koko muka hijau kamu orang turun tangan terlalu berat, sedikit-sedikit saja sudah bunuh orang kali ini biarlah siauw moay yang menerima."
Serangan dari Pouw Siauw Ling ini sebetulnya sudah menggunakan tenaga penuh, dalam anggapannya dalam satu kali serangan saja sudah cukup menjirat Liem Tou, hingga jatuh dari punggung kerbaunya, tahu hanya cukup ketokan perlahan dari seruling pualam Lie Wan Gok seperti juga secara mendadak canmbuknya diputus dari tengah dengan dahsyat sekali ujung cambuknya melibat kembali menyapu kesamping tubuh Siang Hui Hok.
Pouw Siauw Ling segera sadar sudah bertemu dengan musub tangguh, didalam keadaan yang tergesa gesa itu dengan cepat disentaknya kembali cambuk bajaya, teriaknya dengan keras.
"Tia, paman2 sekalian harap berhati hati, kepandaian dari sepasang laki perempuan sangat dahsyat . mereka bukan tandingan kita."
Mendcngar perkataan itu si gadis cantik pangangon kambing menjadi tersenyum ujarnya.
"Ling jie, jadi kamu baru tahu akan hal ini?? ooh -kasihan ..kasihan . , mari coba lagi"
"Nenek muka kuning …kamu bilang saya apa ?"
Teriak Pouw Siauw Ling aemakin gusar.
"Bukankah kamu bernama Ling-jie ?"
Saking gusarnya kontan saja air muka Pouw Siauw Ling berubah menjadi kehijau hijauan, tanpa perduli musuhnya itu lihay atau tidak tubuhnya dengan cepat berkelebat cambuk baja di tangannya dengan sekuat tenaga diayun kedepan, tenaga murninya dipusatkan pada cambuk sehingga cambuk itu berubah menjadi sebuab tombak panjang berwarna kehijau-hijauan, kemudian dengan menggunakan jurus Tok Coa To Sim atau ular beracun mengulur lidah dengan sangat dahsyat menusuk tenggorokan si gadis cantik pengangon kambing itu.
Dengan sangat cepat sekali cambuk baja itu mendekati tubuhnya, tetapi sigadis cantik pengangon kambing itu tidak ambil gubris, sambil tetap tertawa ujarnya lagi.
"Aaai ..tidak kusangka kepandaianmu lumayan juga."
Perkataan sigadis cantik pengangon kambing itu baru saja selesai ujung cambuk tersebut sudah tiba, jika dia betul2 membiarkan cambuk itu menusuk tubuhnya walaupun kepandaian gadis cantik pengangon kambing itu jauh Lebih tinggi juga sukar untuk menahannya.
Pada saat ujung cambuk Pouw Siauw Ling hampir mangenai tubuhnya itulah didalam keadaan yang sangat kritis tangan gadis itu diulur kedepan, kecepatannya sangat luar biasa sehingga orang2 yang hadir dikalangan tak ada yang melihat dengan jelas.
Pouw Siauw Ling hanya merasa ujung cambuknya sudah terjepit oleh dua jari gadis tersebut.
Pouw Siauw Ling menjadi sangat terperanjat, dengan cepat dia berusaha menarik kembali cambuk bajanya, siapa tahu walau pun sudah mengerahkan tenaga dalam yang dia miliki itu cambuk tetap tidak bergeming sedikitpun.
Sampai waktu itulah gadis cantik pengangon kambing itu baru tersenyum ujarnya.
"Eh eh .. Ling jie kenapa kau?? masih tidak kau lepas tangan? dengan i1mu silat cakar ayammu itu masih terpaut jauh jika ingin mengadu tenaga dalam dengan aku"
Waktu itu Pouw Siauw Ling benar2 serba salah untuk lepas tangan sudah tentu tidak mungkin bisa dilakukan sebaliknya untuk mencabut kembali cambuknya tidak sanggup, saking cemas dan bingungnya tidak terasa !agi air mukanya berubah merah padam.
Mendadak dengan gusar bentaknya dengan keras.
"Nenek muka kuning..aku mau adu jiwa sama kamu orang."
Sehabis berkata dia menggigit kencang bibirnya dengan memperlihatkan wajah mau mengadu jiwa dengan seluruh kekuatan dia menarik cambuknya kebelakang, mendadak tenaga dalamnya berubah dengan meminjam tenaga si gadis cantik pengangon kambing yang sedang bertahan mendadak tenaganya didorong kedepan.
Si gadis cantik pengangon kambing itu tidak disangka Pouw Siauw Ling bisa menggunakan siasat busuk seperti itu, tangannya sedikit tergetar hampir hampir saja tak sanggup untuk bertahan dan kena siasat beracunnya.
"Hmm..kamu sendiri yang cari penyakit"
Mendadak"..tangan sebelahnya yang mencekal seruling pualam dengan sangat dahsyat, memukul keatas cambuk bajanya itu.
Criing ...
, kemudian disusul dengen jeritan mengaduh dari Pouw Siang Ling sepasang tangannya tergetar oleh tenaga pantulan itu membuat telapak kontan pecah mengucur keluar darah segar dengan derasnya.
Liem Tou yang berdiri disamping bisa melihat kajadian ini dengan sangat jelas sekali, dia melihat Pouw S.auw Ling yang selalu menyiksa dan menganiaya dirinya sejak kecil kini memperoleh penderitaan dalam hati menjadi sangat girang sekali, bersamaaan pula dia punya anggapan yang lain terhadap gadis cantik pengangon kambing ini.
Tidak disangka olehnya seorang gadis cantik yang bagitu lemah lembut bisa memiliki tenaga dalam yang begitu sempurnanya, diam-diam dia merasa terkejut bercampur heran bahkan ketika teringat kembali pada sikakek tua yang tersesat "Hui Tui Jie"
Jika betul betul dia adalah ayahnya maka kepandaiannya sudah tentu jauh lebih luar biasa lagi.
Sampai saat ini barulah dia teringat kembali perasaan herannya sewaktu mendadak melihat elang raksasa yang menguntit dirinya sejak dari lembah cupu cupu secara mendadak bisa rubuh binasa dengan sendirinya, hal ini tentu merupakan pekerjaan dari kakek aneh"
Hui Tui Jie"
Itu secara diam diam. Sewaktu Liem Tou berpikir dengan nikmatnya itu mendadak terdengar si Ang in sin pian Pouw Sak San sudah angkat bicara ujarnya.
"Cayhe adalah Sak San Cung cu dari Ie Hee Cung diatas Cing Jan, putraku tidak hormat harap nyonya memaafkan. Tolong tanya juga siapa nama besar dari nyonya?"
Dengan cepat Liem Tou menoleh, tampaklala saat itu si Ang in sin pian sedang merangkap tangannya memberi hormat sedang sigadis cantik pengangon kambing itu sedang merasa bingung, bagaimana seharusnya berbuat, hatinya kelihatan sangat tidak tenang juga tidak berbicara sepatah katapun, mendadak dia putar tubuhnya bertanya kepada Liem Tou.
"Koko muka hijau, dia minta maaf kepadaku kamu orang kira bagaimana enaknya?"
Teringat kembali oleh Liem Tou keadaan sewaktu dia diusir dari atas gunung Ha Mo San, segera teriaknya dengan keras.
"Moay moay muka kuning, orang ini pura -pura gagah ..pura pura berbudi kamu harus berhati hati terhadap bokongannya."
"Baiklah."
Sigadis cantik pengangon kambing itu kemudien ."Kalau begitu biar aku coba coba kepandaiannya, aku mau lihat dia bisa berbuat apa"
Sesudah mengucapkan kata kata itu barulah dia putar tubuhnya kembali, kepada si Ang in sin pian sahutnya.
"Kamu tidak usah tanya aku lagi. sekalipun kamu orang merengek rengek aku juga tidak akan menyebut namaku, jika kamu ingin bergebrak, tentu aku melayani ."
"Aku bukan maksudkan begitu,"
Ujar Ang sin pian dengan suara halus.
"Nyonya kepandaian silat yang sangat tinggi saat ini juga sudah berada diatas angin. kenapa tidak mau meminggirkan kambing kambing itu sedikit kesamping agar cayhe bisa lewat? Buat apa karena urusan yang sangat sepele sampai terjadi bentrokan satu sama lainnya? "
"Tidak mungkin, kalian semua merupakan manusia manusia tidak berbudi manusia manusia kasar, kalian ingin merebut jimat koko muka hijauku, aku harus hajar kalian semua."
Ketika Si Ang in sin pian Pouw Sak San melihat gadis cantik pengangon kambing itu bicara tidak pakai aturan air mukanya segera berubah sangat hebat, pada alisnya pun secara samar samar mulai muncul hawa napsu untuk membunuh, sambil memandang tajam gadis cantik pengangon kambing itu ujarnya"
"Kamu orang sungguh sungguh mau berhantam? siapa betulnya kamu? diantara kita tidak ada ganjelan dan sakit hati apa, buat apa kalian begitu ngotot mau memaksa orang??"
Sambil berkata dengan perlahan lahan dia melepaska cambuk merahnya yang dilititkan pada pinggang, melihat hal itu gadis cantik pengangon kambing itu menjerit tertahan, diam diam pikirnya.
"Ohh..kiranya ahli waris dari partai itu ."
Semangatnya menjadi berkobar kembali, pecut baja yang dirampas dari Pouw Siauw Ling tadi dengan cepat disentakkan keatas udara sehingga menimbulkan suara yang menderu-deru, kenada Ang in sin pian Pouw Sak San teriaknya.
"Ayahku pernah bilang pada dua puluh tahun yang lalu pernah muncu1 sebuah cambuk merah didalam Bu Lim, kepandaiannya sangat lihay sekali sehingga banyak jago2 dari dunia kangouw yang dikalahkan ditangannya, kemudian secara mendadak melenyapken diri dari keramaian Bu lim, kini kamu juga menggunakan cambuk merah ini, apa mungkin kamu orang punya hubungan dengan dia ?"
Mendengar perkataan itu Ang in sin pian Pouw Sak San menjadi melengak, ujarnya.
"Jika didengar perkataanmu itu dia memang suhu cayhe, siapa ayahmu?"
"Ha ha ha . bicara selama setengah harian lamanya tak tahu kiranya kamu marid dari bajingan besar perampok kaki tunggal itu, kamu mau tanya siapa ayahku belum memadahi."
Beberapa patah perkataan ini seketika mernbuat Ang in sin Pouw Sak San menjadi sangat gusar, seluruh rambutnya pada berdiri matanya melotot keluar dengan besarnya sedang mulutnya tak henti2nya mendesis.
Ujar gadis cantik pengangon kambing itu lagi.
"Entah kamu orang punya kepandaian silahkan keluarkaa semua, ayahku bilang pada tiga puluh tahun yang lalu dia tak sempat menemui perampok besar itu, ini hari aku bisa bertemu dengan muridnya sudah seharusnya minta pelajaran beberapa jurus cambuk merahnya, aku mau lihat apa betul dia sangat lihay."
Kemudian bentaknya nyaring.
"Cepat keluarkan jurus2mu."
Ang in sin pian Pouw Sak San tidak bisa menahan diri lagi, tangannya diulapkan menyuruh Pouw Siauw Ling serta para pembantunya mundur kebelakang, kemudian sambil tertawa dingin ujarnya.
"Nenek muka kuning kamu kira aku betul2 jeri sama kamu orang ??? kali ini kamu yang cari gara gara terhadap diriku jangan salahkan aku Ang In Sin Pian Pouw Sak San berlaku telengas dan kejam terhadap kamu."
Sehabis berkata bentaknya dengan keras.
"Terimalah seranganku."
Cambuk merahnya diayun kedepan mendadak terpancar sinar merah yang memenuhi angkasa.
Gadis pengangon kambing itu tidak berani berayal lagi cambuk bajanya digetar keatas, dengan menimbulkan bayangan cambuk yang bersusun2 menyambut datangnyaserangan itu semuanya.
"Jurus ini merupakan ilmu cambuk buntut harimau, tiada keindahannya sama sekali."
Tubuh Ang in sin pian Pouw Sak San dengan cepat berputar.
ujung cambuknya diputar kemudian ditarik didalam sekejap mata saja cambuk panjangnya dengan mengeluarkan 'selapis sinar merah’ dengan lurus menusuk kedepan, gerakkannya mirip seekor ular emas yang sedang mematuk mangsanya, dengan tepat menerjang masuk tubuh gadis cantik pengangon kambing itu.
Gadis cantik pengangon kambing itu hanya tersenyum saja, tubuhnya berturut-turut mundur dua langkah kebelakang mendadak bayangan putih berkelebat dengan satu gerakan yang sangat indah tubuhnya melayang beberapa kali di tengah angkasa.
cambuk bajanya dengan meminjam gerakan ita menekan keatas kepala Pouw Sak San ujarnya.
"Ilmu cambuk ular malas juga tidak aneh."
Perkataannya belum selesai angin serangan Ang in sin pian Pouw Sak San menarik kembali cambuk merahnya, tenaga dalamnya dengan cepat dikerahkan pada pargelangan tangan cambuk panjang itu sekali lagi melilit keatas kepalanya, tatapi baru saja melilit satu lingkaran cambuk panjang itu mendadak melurus kedepan dengan jurus "Kie Hwee Sauw Thian' atau menyulut api membakar langit cambuknya membumbung tinggi keangkasa kemudian menekuk menotok tubuh gadis cantik pengangon kambing itu.
Liem Tou yang berdiri disamping ketika melihat tubuh gadis itu masih berada diangkasa sudah mendapatkan serangan dahsyat tidak terasa merasa sangat kuatir sekali.
Siapa tahu kepandaian silat dari gadis cantik pengangon kambing itu betul2 sangat lihay dan sudah mencapai pada kesempurnaan, bayangaa cambuk Pouw Sak San baru saja tiba seruling pualam ditangan kiri gadis dengan tidak menimbulkan sedikit suarapun sudah sedikit menutul diatas tubuh cambuk merah itu, dengan meminjam tenaga ini tubuhnya melayang pergi bersamaan pula cambuk baja ditangan kanannya mendadak melilit keatas pergelangan Pouw cungcu, mulutnya tetap berteriak.
"Jurus Kiem Ling Pian Hoat ini masih belum sanggup untuk menahan diriku."
Saat itu berturut-turut Ang in sin pian Pouw Sak San melancarkan tiga serangan sekaligus dengan menggunakan tiga macam ilmu cambuk yang berbeda, bukan saja semua jurus serangannya mencapai sasaran kosong bahkan setiap ilmu cambuk yang dia gunakan bisa diketahui orang lain dengan begitu jelasnya tidak tertahan hatinya merasa terkejut juga, pikirnya.
"Nenek muka kuning ini sungguh hebat sekali dengan kepandaian silat yang dimilikinya sekarang ini boleh dikata merupakan seorang jago yang sangat terkenal didalam dunia kangouw, bisa kuingat slapa yang bisa memadahi kepandaian silatnya ini."
Berpikir sampai disini mendadak ilmu cambuknya berubah lagi, hanya didalam sekejap mata saja bayangan cambuk bagaikan gunung, mendadak berubah kembali bagaikan mega2 merah yang melayang rendah dipermnukaan tanah dengan perlahan lahan mengurung tubuh sigadis cantik pangangon kambing itu.
Melihat serangan yang sangat dahsyat inilah gadis cantik pengangon kambing ini baru memuji.
"Hmm cambuk yang hebat."
Dengan cepat cambuk bajanya melancarkan serangan dahsyat pula dengan gerakan cepat menyambut gerakan cepat menahan serangan musuh, didalam sekejap saja beberapa kaki sekeliling tempat itu hanya terasa angin cambuk yang menderu deru, diantara bayangan merah dan kuning bayangan manusia bergebrak tidak terpisahkan, sampai akhirnya samakin bertempur semakin cepat ---semakin cepat semakin seru sehingga bayangan dari Pouw Sak San serta gadis cantik pengangon kambing itu tidak bisa dibedakan lagi, pasir serta kerikil pada beterbangan.
Debu mengepul naik membumbung ke angkasa membuat pandangan hadirin menjadi buram, untuk membedakan mana hitam mana merah sudah sangat sukar sekali.
Liem Tou, Pouw Siauw Ling, Siang hui hok, Hauw jiauw serta Liong ciang yang menonton jalannya pertempuran disamping menjadi begitu terpesonanya, mareka mamandang ketengah termangu mangu matanya melotot keluar dengan bulatnya, hatinya berdebar debar keras sedang keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya.
Beberapa ssat kemudian tiba tiba Ang in sin pian Pouw Sak San mnjerit keras kedua orang yang sedang bertempur dengan serunya itu secara mendadak berpisah.
Gadis cantik pengangon kambing itu dengan tertawa merdu berdiri disamping dengan tenangnya sedang si Ang in sin pian Pouw Sak San dengan air muka yang sudah berubah dingin kaku bardiri tertegun disana, untuk sesaat tidak sepatah katapun yang bisa diucapkan keluar, sepasang matanya itulah yang sudah kehilangan sinar terang, yang melotot keluar dengan besarnya.
"Budi kebaikan nyonya tidak sampai turun tangan jahat cayhe merasa sangat berterima kasih. Tapi aku Ang in sin pian sejak berpisah dari suhuku sekalipun sangat jarang berkelana didalam dunia kangouw tetapi mengingat kebesaran dari nama suhuku pada masa yang silam aku parcaya didalam dunia kangouw selain beberapa orang cianpwee yang bisa mengeluarkau ilmnu cambuk Ang In Pian hoat sukar untuk dicari yang lain, sebetulnya nyonya berasal dari partai mana ??? apa boleh cayhe ketahui ?"
"Ayahku pernah bilang kalau kami tidak suka berebut dengan orsng2 dunia kangouw, karenanya tidak punya perguruan maupun partai. Kalau ada juga karena orang lain yang paksa beri kepadakami tetapi orang lain panggil aku sebagai gadis cantik pengangon kambing, kamu boleh ingat2 nama itu saja."
Mendengar nama sebutan itu dengan mata yang melotot keluar Ang in sin pian Pouw Sak San memandang beberapa saat kearahnya baru saja mau buka mulut memberi jawaban mendadak terdengar Pouw Siauw Lirg yang berada disampingnya sudah berteriak.
"Ayah kamu orang tua jangan mau mendengar omongan setannya, dengan wajahnya yang sudah keriputan dan berwarna kuning bagaimana bisa disebut gadis cantik ? sungguh suatu omong kosong yang sangat besar sekali."
Ketika gadis cantik pengangon kambing mendengar perkataan yang begitu menghina dari Pouw Siauw Ling tidak menjadi marah, kepada Liem Tou ujarnya.
"Koko muka hijau, cepat kamu pejamkan matamu aka mau perlihatkan kembali asalku."
"Jangan jangan . .."
Seru Liem Tou dengan cemas.
"Kamu jangan sembarangan ..."
Tetapi seorang gadis muka yang cantik siapa yang tidak suka dipuji, tangannya dengan cepat sudah mengusap wajahnya mencopot topeng dari kulit kambing itu, kemudian dengan perlahan lahan menoleh.
Ang in sin pian Pouw Sak San, Pouw Siauw Ling, Siang hui hok, Liong ciang serta Hauw jiauw hanya merasakan pandangannya mendadak menjadi terang, tidak terasa lagi pada menjerit kaget.
"Haaaa???"
"Aaah ... sungguh cantik."
"Heeey . tidak kusangka."
"Ooh Thian begitu cantik gadis ini."
Enam orang dengan dua belas mata memandang dengan tajamnya memandang gadis cantik pengangon kambing itu tanpa berkedip sedikit pun juga. Terdengar gadis cantik itu tersenyum, ujarnya.
"Eh eh ... kenapa kalian ? ada apanya yang baik dari aku nenek muka kuning ??"
"Tidak kusangka kamu masih seorang nona yang amat muda."
Sedang Pouw Siauw Ling tidak bisa mengucapkan kata kata lagi, air mukanya sebentar berubah putih kehijau hijauan sebentar berubah kembali jadi merah padam, dengau tajamnya memandangi terus menerus wajah gadis cantik pengangon kambing itu, lama sekali barulah dengan perlahan muncul kembali senyuman ringannya.
Dengau perlahan dia berjalan maju kedepan dan membisikkan sesuatu kedalam telinga Ang in sin pian Pouw Sak San.
Sesudah mendengar bisikan itu si Ang in sin pian, Pouw Sak San termenung sebentar, kemudian barulah mangangguk memberi hormat kepada gadis cantik pengangon kambing itu ujarnya.
"Gadis cantik pengangon kambing wajahmu sangat cantik sekali kepandaian silatnyapun sangat tinggi aku Ang in sin pian orang she Pouw dapat berkenalan kamu orang sungguh merupakan suatu keuntungan, kali ini aku membawa putra serta pembantu2 ku turun gunung sebetulnya bertujuan menyambangi setiap enghiong hoohan yang terkenal didalam dunia kang ouw beserta para Poo Touwcu dari daratan maupun lautan untuk menyetujui usaba cayhe yang baru, yaitu pembukaan ekspedisi "Ang in Piauw Kiok"
Pada bulan sepuluh yang akan datang cayhe mengundang enghiong hoohan untuk menghadiri perjamuan yang diadakan didesa Ie Hee Cung diatas gunung Ha Mo San, cayhe sampai waktunya sangat mengharapkan saudari gadis cantik pengangon kambing serta Hengtay ini mau menghadiri kampung kami; bagaimana pendapat kalian ?"
Sambil berkata dia mengambil keluar dua pucuk surat undangan besar berwarna merah, dan menanti jawaban dari gadis cantik pengangon kambing itu.
Dengan cepat gadis itu menyambut surat undangan itu kemudian menoleh memandang sekejap kearah Liem Tou, saat itu sepasang mata Liem Tou yang berada dibalik topeng dari kulit kambing itu sedang dipejamkan rapat rapat sedang tubuhnya pun gemetar dengan sangat keras sekali, agaknya dalam hati dia merasa sangat tegang.
Gadis cantik pengangon kambing itu sesudah menerima surat undangan dan melihat keadaan Liem Tou begitu tegangnya tidak terasa tanyanya.
"Koko muka hijau, bagaimana? Kita pergi tidak ?"
Liem Tou yang mendengar si Ang in sin pian Pouw Sak San punya maksud mendirikan usaha ekspedisi "Ang In Piauwkok "
Bahkan mau dibuka diatas kampung Ie Hee Cung dalam hati betul betul merasa sangat terperanjat.
hingga mengenai diundangnya mereka untuk menghadiri pertemuan itu sama sekali tidak dipikirkan kini begitu ditanyai gadis cantik pengangon kambing itu membuat dia menjadi bingung.
Dalam hati diam diam pikirnva.
"Jaraknya dari sekarang hingga bulan sepuluh sangat dekat, saat itu jika kepandaianku belum cukup tidak mungkin bisa melewati tiga rintangan mereka dengan selamat, buat apa aku sanggupi mereka terlebih dulu? Jika waktu itu kepandaiannya sudah berhasil dilatih sekalipun mereka tidak mengundang aku juga mau pergi lihat."
Berpikir sampai disini segera sahutnya.
"Pergi atau tidak sampai waktunya baru kita bicarakan lagi."
"Betul "ujar gadis cantik pengangon kambing itu sambil tersenyum.
"Perkataan dari koko muka hijau sedikit pun tidak salah, pergi atau tidak sampai waktunya baru dibicarakan lagi. Sehabis berbicara seruling pualamnya ditempelkan pada bibirnya dan mulai ditiup, segera terdengariah suara seruling yang lembut dan halus berkumandang diseluruh penjuru, terlihatlah kawanan kambing kambing itu dengan perlahan lahan menyahut dan menyingkir kesamping jalan. Setelah itu barulah dia melemparkan cambuk bajanya kepada Pouw Siuw Ling, ujarnya.
"Ini aku kembalikan senjata rongsokkanmu, cepat ….cepat pergi, lain kali berani kurang ajar lagi hemmm hemmm tidak semudah hari ini."
Dengan perasaan sangat malu dan air muka yang sudah berubah merah padam Pouw Siauw. Ling menerima kembali cambuk bajanya, dengan cepat Ang in sin pian maju kedepan memberi hormat, ujarnya.
"Terima kasih atas kemurahan nona, cayhe sekalian dengan ini mohon diri terlebih dulu, kampung Ie Hee Cung diatas gunung Ha Mo San di Cing Jan kami dengan hormat menanti kunjungan saudara saudara sekalian"
Sehabis berkata dia memberi hormat lagi berulang kali, sesudah itu barulah mengulap tangannya memberi tanda kepada yang lain untuk, segera berangkat.
ooOoo TERLIHATLAH debu membumbung tinggi keangkasa, suara derapan kuda yang amat ramai dengan perlahan semakin menjauh dan akhirnya lenyap dari pendengaran.
Sesudah bayangan Pouw Sak San sekalian lenyap dari pandangan barulah Liem Tou melepaskan topeng kulit kambingnya itu, dengan memandang bayangan Pouw Sak San sekalian dengan termanngu mangu gumamnya seorang diri.
"Ehmmm akhirnya pergi juga"
Mendengar suara gumaman itu gadis cantik pengangon kambing tersebut mennjadi bingung, tanyanya.
"Liem koko kamu kenal dengan mereka itu?? Jika kamu tidak pakai topeng bagaimana mereka bisa tahu kamu adalah Liem Tou? Liem Tou yang sedang melamun ketika mendengar perkataan gadis cantik pengangon kambing itu segera meno!eh. Terlihatlah sepasang biji matanya yang bening sedang memandangi dirinya menanti jawaban. Hatinya dengan cepat berputar teringat kembali kalau kepandaian gadis ini sangat tingggi sekali sehinggs Pouw Sak San pun bukan tandingannya, kedatangannya yang sangat mendadak ditambah lagi dengan alasan yang berbeda beda, pertama dia bilang mau cari ayahnya kemudian bilang sedang mengembalikan kitab pusaka "
Toa Loo-Cin Keng kepadanya, hal ini jelas sekali sedang berpura pura dan punya maksud tertentu.
Berpikir sampai disini perasaan curiga didalam hatinya segera timbul kembali mendadak teriaknya dengan keras.
"Kalau betul nona datang kemari bertujuan mengembalikan kitab pusaka Toa Loo Cin Keng yang diambil ayahmu, aku Liem Tou merasa sangat berterima kasih sekali, kini didepan masih ada urusan yang harus aku selesaikan secepat mungkin, terpaksa aku mohon diri terlebih dulu."
"Liem Koko,"
Seru gadis itu dengan cemas. 'Kamu mau pergi kemana? Ayahku perintahkan aku sesudah kembaiikan kitab pusaka Toa Loo Cin Keng itu harus mengikuti dirimu, kamu tidak bisa tinggalkan aku seorang diri."
Liem Tou yang mendengar perkataan dari gadis cantik pengangon kambing itu sangat polos jujur segera berpikir kembali.
"Kakek Hui Tui Jie itu suruh dia mengikuti aku terus sudah tentu sedang mengincar kitab pusaka To Kong Pit Liok-ku itu, kalau tidak masih ada urusan apa?"
Berpikir sampai disini dengan cepat dia menepuk kepala kerbaunya, serunya.
"Hoa"
Kerbaunya serera menyahut dan lari dengan sangat cepatnya kedepan, bersamaan pula Liem Tou menoleh kebelakang sambil sahutnya.
"Kita bukan sanak bukan saudara buat apa berjalan bersama-sama? lebih baik kamu cari bapakmu saja"
Sehabis berkata dengan tidak menoleh 1agi dia melanjutkan perjalanannya, siapa tahu begitu si gadis cantik pengangon kambing itu melihat Liem Tou lari pergi dengan cepat seruling pualamnya ditiup, kawanan kambingnya pun dengan cepat mengikuti dibelakang tubuhnya.
Liem Tou yang menunggang kerbau dalam hati merasa sangat geli atas kelakuan gadis cantik pengangon kambing yang mau bertanding lagi dengan kerbaunya, hal ini boleh dikata sedang mimpi, siapa tahu pikiran itu baru berkelebat didalam batinya kemudian terdergarlah suara derapan kaki yang sangat ramai sekali menggetarkan seluruh permukaan tanah.
Dengan cepat dia menoleh kawanan kambing yang berjumlah ratusan ekor itu dengan kencangnya lari kedepan membuat debu mengepul memenuhi angkasa bahkan kali ini gadis cantik pangangon kambing itu berada dipaling depan memimpin kawanan kambing peliharaannya.
Melihat kedahsyatannya dari gerakan gadis itu perasaan ingin menang dalam hati Liem Tou segera timbul, sambil mengapit kencang perut kerbaunya dia terus menerus berteriak dengan keras.
"Hoa, hoa, hoa, ."
Sebetulnya kerbau itu memang sedang lari dengan kencangnya kini mendapatkan perintah yang sangat gencar membuat larinya semakin cepat lagi, seperti anak panah yang lepas dari busurnya dengan sangat cepat dia lari kedepan.
Gadis cantik pengangon kambing yarg berada dibelakang ketika melihat kerbaunya Liem Tou lari semakin cepat, seruling pualam yang ditiuppun semakin nyaring lagi.
Dalam sekejap mata kawanan kambing itu bagaikan meletusnya gunung berapi seperti juga mengamuknya samudra tertiup angin topan dengan suara memekikkan telinga menguruk kedepan semakin cepat lagi.
Demikianlah kedua orang itu saling kejar mengejar dan lari kedepan dengan kecepatan bagaikan kilat, apalagi gerakan kawanan kambing yang jumlahnya mendekati ratusan itu semakin mengejutkan setiap orang.
Gerakan ini bukan saja mengejutkan rakyat yang tinggal disekitar sana bahkan orang orang yang sedang melakukan perjalananpun merasa sangat terperanjat sehingga air muka mereka pada berubah menjadi pucat pasi, rumah pada ditutup dengan rapatnya sedangkan orang orang pada lari serabutan mencari perlindungan.
Didalam anggapan mereka ada berlaksa laksa tentara sedang menyerbu tempat itu, suasana begitu kacaunya tidak kalah seperti keadaan zaman peperangan.
**o** Sesudah barlari lagi beberapa waktu lamanya didalam anggapan Liem Tou kali ini berhasil meloloskan diri dari kejaran gadis cantik pengangon kambing itu, siapa tahu suara derapan kaki kambing-kambing gadis cantik pengangon kambing itu semakin lama makin mendekat.
Saat itulah dia baru tahu kecepatan dari kawanan kambing itu sehingga kini dia sudah kalah satu gerakan darinya, dalam hati benar2 merasa jengkel dan mangkel, mendadak dia menarik kembali tali kerbaunya sambil serunya.
Kerbaunya segera berbenti berlari, terdengar kawanan kambing serta gadis yang berada dibelakangnya dengan cepat sudah menyusul datang.
Sesampainya disamping tubuh Liem Tou seruling pualam itu sekali lagi ditiup gadis cantik pengangon kambing itu untuk menghentikan kambing kambingnya, ujarnya kemudian sambil tertawa.
"Liem koko, sungguh menarik sekali permainan ini. Bagaimana? Kenapa berhenti?"
"Hey!"
Ujar Liem Tou yang hatinya semakin jengkel.
"Siapa yang mau guyon dengan kamu orang? Aku beritahu padamu sekarang aku tidak punya waktu lagi, kenapa kamu terus menerus saja mengikuti diriku?" 'Liem koko, buat apa kamu marah marah?"
Ujar gadis itu dengan tersenyum.
"Ayahku betul betul suruh aku ikuti dirimu, kalau tidak dengan melihat wajahmu itu aku tidak akan mau bermain dengan kamu"
Liem Tou yang dikatai begitu hatinya semakin mangkel, serunya.
"Ayahmu suruh kamu ikuti aku tidak lebih seperti juga maksud orang yang lain ingin menipu kitab pusaka "To Kong Pit Liok"
Ku, aku beri tahu padamu, kamu orang jangan harap bisa mendapatkan barang itu"
"Tapi.."
Bantah gadis itu dengan cepat.
"Ayahku belum pernah suruh aku menipu kitab pusaka 'To Kong Pit Liok"
Mu itu. Oooh..Liem koko, aku bermain bersama sama kamu tidak akan mandatangkan kerugian terhadap dirimu. Semakin bicara Liem Tou semakin gusar mendadak bentaknya.
"Omonganmu semuanya menipu, aku tidak mau dengar. aku tidak mau deugar lagi, ayahmu mencuri kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng"
Ku tentu dia mengira kitab itu adalab kitab pusaka "
To Kong pit Liok"
Siapa tahu kitab itu bukan, makanya kini suruh kamu datang kesini menipu aku, kamu kira aku bisa ditipu mentah mentah cepat cepat pergi dari sini aku tidak mau bertemu lagi dengan manusia2 tidak jujur hatinya separti kalian."
Perkataaan yang tajam ini, memaksa gadis cantik pengangon kambing itu hampir hampir menangis dibuatnya tetapi perkataan dari Liem Tou itu memang beralasan dan merupakan urusan yang betul betul sudah terjadi sehingga gadis cantik pengangon kambing betul betul tidak bisa membantah barang sepatah katapun.
Liem Tou yang melihat gadis cantik pengangon kambing itu tetap bungkam ejeknya.
"Cantiknya memang cantik seperti bidadari yang turun dari kahyangan, hanya saja hatinya licik sukar diduga."
Sehabis bicara dia angkat kepalanya memandang keatas udara kemudian siap menjalankan kerbaunya lagi, mendadak ditengah udara yang berwarna biru itu dari tempat jauh muncul suatu titik hitam yang bagaikan kilat cepatnya meluncur datang kemari.
Melihat hal itu Liem Tou menjadi tertegun, pikirnya.
"Apa mungkin elang jahanam itu datang lagi?"
Pada saat pikirannya sedang berputar itulah titik hitam itu semakin lama semakin besar, menanti Liem Tou berhasil melihat jelas benda itu hatinya menjadi berdesir serunya dalam hati lagi.
"Celaka baru saja dia mau merintahkan kerbaunva lari kencang ketika dia menoleh terlihatlah gadis cantik pengangon kambing itu sedang mengucurkan air mata dengan derasnya dan duduk tidak bergerak diatas kambingrya sambil memandang kearahnya membuat Liem Tou merasa kasihan. Sesudah disemprot dengan kata kata yang tajam tadi hatinya betul betul merasa sangat sedih, untuk membawa kambingnya meninggalkan tempat itu sudah tentu tidak mungkin bisa, tetapi untuk tetap mengikuti, Liem Tou juga serba salah. Bagaimana juga Liem Tou masih tetap sangat welas kasih, melihat keadaan gadis cantik pengangon kambing yang sangat kasihan itu tak tertahan ujarnya dengan cemas.
"Nona aku tahu kamu tidak punya maksud jahat terhadap diriku, tetapi aku selalu menemui bahaya dimanapun banyak jejak musuh yang sedang mengintai jika kamu tetap ikut aku maka bahaya selalu akan mengancam tubuhmu, hal ini buat apa? Coba kamu lihat saja binatang jahanam itu datang lagi"
Gadis itu ketika mendengar nada suara Liem Tou sudah berubah menjadi sangat halus, hatinya menjadi sangat girang, ujarnya.
"Liem koko kalau begitu kamu sudah setuju kita jalan bersama sama bukan? Apa itu?"
"Jangan banyak bicara lagi, cepat pergi."
Pada saat dia sedang bicara dengan gadis cantik peugangon_kambing itulah mendadak dihadapannya menjadi gelap, tak terasa dia menjadi sangat terkejut, teriaknya..
"Hati hai..."
Tidak salah lagi elang raksasa yang sangat menyeramkan itu dengan sangat dahsyat sudah menyambar diatas kepala kedua orang itu tetapi dengan cepat sudah melayang kembali ketengah udara dan melenyapkan diri dibalik awan yang tebal.
Dengan tergesa gesa Liem Tou menepuk-nepukkan kerbaunya untuk melanjutkan perjalanan.
Gadis cantik pengangon kambing yang berjalan disampingnya tidak tahan tanyanya.
"Liem koko, apakah binatang2 juga memusuhi kamu ?"
"Kamu pernah dengar manusia yang bernama Thian Pian siauwcu ? aku dengan mata kepala sendiri pernah melihat dia mengalahkan para jago dari dunia kangouw hanya dengan satu pukulan saja bahkan sekalipun Tionggoan Ngo Koay sudah bekerja sama masih belum sanggup menahan serangannya, elang itu adalah binatang peliharaannya, keganasannya luar biasa. Kini aku sudah diketahui jejaknya oleh binatang terkutuk itu mungkin sekali sebentar lagi Siauwcu itu sudah akan tiba disini."
"Haaaa ?"
Seru gadis itu dengan sangat terkejut.
"Kiranya dia . tidak aneh kalau ayahku benar serius."
Sehabis bicara dia bungkam diri tidak bicara lagi.
Sebetulnya Liem Touw merasa sangat curiga terhadapnya tetapi dikarenakan ditengah perjalanan dia hanya memikirkan gilanya Ie Cici maka hatinya sedang merasa gemas tidak bisa dengan cepat tiba dibawah kaki gunung Ha Mo San kemudian dengan mengikuti jalan rahasia menaiki gunung itu untuk mengetahui keadaan yang sesungguhnya, sehingga dengan demikian perasaan kuatir terhadap gadis itu tidak dipikirkan lagi.
Sesudah melakukan perjalanan beberapa waktu lamanya elang itu tetap saja belum munculkan dirinya kembali, hal ini membuat hatinya jauh lebih lega.
Tidak lama kemudian sampailah mereka disuatu sungai yang sangat lebar, ombak bergulung dengan santarnya sedang angin sepoi-sepoi, hati Liem Tou betul2 merasa sangat girang pikirnya.
"Kali ini sekalipun elang itu jauh lebih besar dan lebih ganas beberapa kali-lipatpun aku tidak akan merasa takut !agi."
Hatinya betul2 merasa sangat gembira, dengan cepat dia meloncat turun dari punggung kerbaunya dan lari menuju ketepi sungai, tanpa membuka pakaian lagi dia ceburkan diri kedalam sungai.
Menanti gadis cantik pangangon kambing itu tiba ditepi sunngai, bayangan dari Liem Tou sudah lenyap tanpa bekas lagi.
Lewat beberapa menit kemudian gadis cantik pengangon kambing itu baru melihat Liem Tou munculkan diri ditengah sungai tetapi didalam sekejap saja sudah lenyap lagi ditengah sungai.
Terpaksa gadis itupun turun data tunggangannya dan menanti ditepi sungai, saat itu siang hari sudah lewat, satu hari penuh tidak dahar membuat perutnya terasa sangat lapar sekali.
Siapa tahu walaupun sudah ditunggu sangat lama tetap tidak tampak Liem Tou munculkan dirinya keatas permukaan dalam hatinya betul2 merasa sangat kesal baru saja dia mendengar deburan yang sangat keras Liem Tou sudah munculkan dirinya lagi diatas permukaan bahkan tangannya mencekal seekor ikan yang sangat besar.
Melihat hal itu gadis cantik pengangon kambing itu menjadi sangat girang, ujarnya.
"Liem koko, tidak kusangka kamu punya kepandaian menyelam yang sangat hebat sekali, ikan itu cukup buat kita menangsal perut Hey..Liem koko .aku benar2 lapar."
"Kalau tidak lapar buat apa aku tangkap dia? kamu apa bawa api? "Oh ada.. ada, biar kuambilkan untukmu"
Tempat penyimpanan barang barangnya juga merupakan tempat tempat yang cukup aneh,dari atas tanduk seeaor kambingnya dia mengambil keluar korek apinya yang kemudian diangsurkan kepadanya.
Melihat hal itu diam diam Liem Tou memuji, pikirnya.
"Cara ini sangat bagus sekali, entah kerbauku apa bisa digunakan juga seperti milik dia? jika dapat digunakan uutuk menyembunyikan kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng"
Hal itu sungguh bagus sekali, dengan begitu bisa juga digunakan untuk menghindari pencuri pencuri yang punya maksud tertentu"
Sambil berpikir dia menerima korek api setelah memungut ranting ranting kering menyulut api membakar ikan, maka mulailah dahar.
Walaupun ikan itu tanpa diberi bumbu apapun dikarenakan perut yang sangat lapar membuat mereka menghabiskan seluruh ikan itu dengan nikmatnya.
Selesai dahar Liem Tou naik kembali keatas kerbaunya melanjutkan perjalanan mengikuti aliran sungai itu, gadis cantik pengangon kambing yang melihat Liem Tou tidak gubris dirinya lagi sekalipun hatinya merasa tidak gembira terpaksa mengikuti mereka dari belakang.
Berjalan beberapa waktu lagi sampailah mereka disebuah jalan raya yang lebar, tetapi Liem Tou tidak mengambil jalan itu hanya dengan mengikuti tepian sungai melanjutkan perjalanannya, melihat hal yang sangat aneh ini tidak terasa tanya gadis itu.
"Liem koko, sebetulnya kamu mau pergi ke mana?"
"Aku mau pergi Cing Jan"
"Kenapa tidak menggunakan jalan raya?"
"Tidak!"
Ujar Liem Tou sambil gelengkan kepalanya.
"Aku tidak akan meninggalkan pinggiran sungai lagi, aku tahu dengan mengikuti tapian sungai ini akhirnya akan sampai juga di Cing Jan, aku sudah beritahu padamu ikut aku tidak ada gunanya, kitab pusaka "To Kong Pit Liok"
Yang kau inginkan saat ini tidak berada didalam tubuhku, sekalipun ingin juga percuma."
Gadis cantik pengangon kambing itu tidak mau beribut lagi dengannya,sesudah melakukan perjalanan beberapa waktu matahari sudah condong kearah barat, magrib menjelang datang haripun makin lama semakin gelap, jalan yang tidak rata dan liar memaksa mereka berdua tidak sanggup melanjutkan perjalanan lagi terpaksa mereka mencari sebuah hutan kecil ditepi sungai untuk beristirahat.
Malam itu bulan muncul remang remang, beberapa detik bintang memancarkan sinarnya samar samar, Liem Tou yang banyak urussn didalam hatinya tidak sanggup untuk memejamkan mata barang sekejap pun.
Kurang lebih mendekati kentongan tengah malam mendadak dia duduk kembali ditengah kegelapan ujarnya.
"Hey nona Wan Giok, kamu sudah tertidur?"
Tetapi pertanyaan itu tidak memperoleh jawaban, tanyanya lagi.
"Hey nona Wan Giok kau dengar apa tidak? Aku mau tanya padamu kenapa kau terus menerus mengikuti aku?"
Tetap saja suasana tenang tenang tidak memperoleh jawaban, tak terasa dalam hati Liem Tou berpikir.
"'Heei .... mungkin kalakuanku yang kasar tadi siang membuat hatinya tidak senang sehingga kini tidak mau beri jawaban."
Berpikir sampai disitu tidak terasa otaknya berputsr kembali, terasalah olehnya kalau gadis cantik pengangon kambing ini memang merupakan seorang nona yang betul2 berhati tulus bahkan tidak mergandung maksud jahat apapun terhadap dirinya, perasaan curiga yang muncul didalam hati tidak lain dikarenakan ayahnya yang pernah mencuri kitab pusaka Toa Loo Cin Keng-nya itu sehingga tidak punya pikiran begitu.
Berpikir sampai disitu tidak terasa ujarnya lagi.
"Nona Wan Giok, aku Liem Tou betul betul tidak tahu maksud tujuanmu yang sebenarnya sehingga berbuat tidak sopan, harap nona mau beri maaf atas kesalahanku itu."
Tetapi dari arah tempat tidur gadis cantik pengangon kambing itu tetap sunyi senyap tak terdengar sedikit suarapun, Liem Tou menjadi sangat heran dengan perlahan lahan dia bangkit dan berjalan menuju kearah dimana gadis tadi merebahkan diri, tetapi sesampainya disana tidak tampak bayangannya terlihat hanya kambing2 sedang tertidur dengan nyenyak tapi jejaknya sama sekali tidak kelihatan.
Dalam hati Liem Tou menjadi sangat heran lagi, pikirnya.
"Ditengah malam buta dia pergi kemana?"
Jilid 9 .
Perampokan Cing Liong Piauw kiok MENDADAK terasalah olehnya disamping tubuhnya terdapat bayangan putih sedang berkibar nan berputar dengan cepatnya bahkan terdengar suara tersampoknya pakaian terkena angin, dengan cepat dia menolea kearah sana entah sejak kapan gadis cantik pengangon kambing itu sudah berada ditepi sungai dan sedang memutarkan tububnya dengan cepat, tangannya yang halus dengan lemah lembut sedang berputar menari.
Melihat kejadian itu Liem Tou menjadi heran, tanyanya.
"Nona Wan Giok, kamu sedang berbuat apa?"
Gadis itu tetap bungkam, sedang gerakannya tetap dilanjutkan tanpa berhenti Liem Tou melihat dia tidak diberi jawaban juga tidak bertanya lagi, dengan tenangnya dia berdiri disamping memandang seluruh gerakannya, sejenak kemudian barulah dia sadar kalau gadis cantik pengangon kambing itu sedang berlatih silat, terlihat jurus jurus serangannya berubah dengan cepat bahkan tangan serta kakinya melancarkan serangan serangan dengan kecepatan luar biasa.
Liem Tau yang menandingi jurus jurus serangan itu semakin dilihat terasa olehnya seperti pernah ditemui disuatu tempat, setiap jurus yang dimainkan sangat hafal dalam ingatannya.
Pikirnya dalam hati.
"Dia sedang berlatih ilmu silat, kenapa aku tidak melihat lagi beberapa saat ?"
Karenanya dia tetap berdiri disana tanpa mangucapkan kata kata lagi, seluruh perhatiannya di tujukan pada gerakan jurus jurus serangannya, semula jurus itu memang mudah, tetapi makin lama jurus jurus serangan yang dilatih gadis cantik pengangon kambing berubah semakin mendalam bahkan perubahannya pun semakin rumit.
Liem Tou semakin memusatkan perhatiannya lagi, dengan matanya yang melotot keluar sangat besar dia memperhatikan gerakan itu, bahkan ketika diam diam mengingat kembali jurus jurus serangan yang tercantum dalam kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng"
Dalam bagian "ilmu pukulan serta telapak"
Terasa olehnya itu sangat mirip bahkan boleh dikata persis dengan jurus yang dimainkan gadis ini.
Liem Tou tidak berpikir panjang lagi, dengan cepat dia menghafalkan huruf yang pernah dihafalkan dari kitab itu.
Setiap kali Liem Tou mengucapkan sepatah kata tubuh gadis itu pun memainkan jurus-jurus sesuai dengan kata kata Liem Tou itu.
Waktu itulah Liem Tou baru sadar kalau gadis itu mempunyai niat untuk membantu dia melatih ilmu silatnya tidak terasa hatinya betul -betul merasa sangat berterima kasih, siapa tahu ketika dia selesai membaca huruf itu gadis itupun berhenti melatih, sambil berjalan ke arahnya bentaknya dengan nyaring.
"Liem Tou aku kira kau seorang lelaki sejati yang betul-betul bijaksana, tidak tahunya kamu berani mencuri lihat orang lain sedang berlatih ilmu silat."
Sekalipun Liem Tou merasa sangat diluar dugaannya atas semprotan kata-katanya ini tetapi dia tahu dalam hatinya punya niat mengajari jurus jurus silat itu karenanya sambil tersenyum sahutnya.
"Nona Wan Giok. kamu bantu aku memahami bagian ilmu pukulan dari kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng"
Dalam hatinya merasa sangat berterima kasih, tetapi perkataan tadi yang menuduh aku mencuri belajar ilmumu seharusnya dibalik menjadi kamu yang mencuri belajar ilmuku"
Gadis cantik pengangon kambing itu menjadi sangat gusar ujarnya lagi.
"Jelas sekali kau yang mencuri belajar ilmu silatku kini balik biiang aku yang curi belajar IImumu , kamu punya kepadaian apa sehingga berharga bagiku untuk mencuri belajar."
"Ayahmu mencuri kitab pusaka Toa Loo Cin Keng-ku dan baru dikembalikan pagi tadi, kepandaian silat yang termuat didalamnya sejak lama kalian sudah curi belajar, masih ada apanya yang bisa diributkan lagi ?"
Gadis cantik pengangon kambing itu semakin gusar lagi, ujarnya.
"Kepandaian silat yang temuat dalam kitab pusaka Toa Loo Cin Keng sudah aku pelajari sampai tidak sudi belajar lagi, buat apa aku harus curi ilmumu itu ? Baiklah kalau memangnya kamu tidak pakai aturan seperti itu. Hey LiemTou, terimalah seranganku ini ."
Liem Tou tahu sampai Ang-in sin pian Pouw Sak San pun bukan tandingnnnya apa lagi dirinya, kini dengar dia sungguh sungguh mau turun tangan tidak terasa teriaknya.
"Nona tunggu dulu aku hanya bicara guyon saja"
Tubuh gadis itu dengan sangat cepat sudah berkelebat mendekati tubuhnya, dengan menggunakan jurus serangan "To Ju Cin Ciauw"
Atau Cu Ju meninggal ular menyerang kedepan bentaknya.
"Siapa yang sedang main main dangan kamu?"
Liem Tou yang terdesak terpaksa mengundurkan diri dua langkah kebelakang, siapa tahu jurus serangan yang digunakan gadis cantik pengangon kambing saat ini merupakan jurus serangan Lian Huan Ciang atau pukulan berantai dari partai Kun lun pay, jurus pertama baru saja dilancarkan jurus kedua Hang Hu To Hauw atau orang wanita pukul harimau sudah tiba.
"Bluuk..."
Dengan tepat sudah berhasil menghajar jalan darah Can Ching Hiat pada pundak Liem Tou membuat Liem Tou marasa tubuhnya linu dan kaku, teriaknya kemudian.
"Nona. .. kau mau sungguh-sungguh bertempur ?? "
Gadis cantik pengangon kambing itu tidak mau ambil perduli lagi, jurus jurus serangan Liauw Hay Tiauw Tan atau Liauw Hay kail katek serta Ping Ci Bun Gouw atau Ping Ci tanya kerbau dengan cepat dilancarkan keluar.
"Bluk .. ,"
Bluuk .
jalan darah Kie Bun Hiat dikanan kiri tubuh Liem Tou kena hajar lagi dengan sangat keras.
Liem Tou yang terkena dua hajaran lagi karena tak merasa sakit makanya ia bangkit lagi kerena ia mengira gadis cantik pengangon kambing itu tentu bisa berhenti sendiri, siapa tahu jurus serangan gadis itu berubah lagi, dengan gencarnya dia melancarkan serangan dahsyat bahkan tangan kakinya dengan cepat menghajar seluruh tubuh Liem Tou tak bisa bersabar lagi, dengan gusar bentaknya.
"Kamu sudah gila ?"
Sehabis membentak dengan mengepal sepasang tangannya ia mengerahkan gerakan kaki tiga puluh enam langkah badai memutar dengan gencarnya melancarkan serangan keseluruh tubah gadis itu.
Saat inilah gadis cantik pengangon kambing itu baru tertawa, ujarnya.
"He he he ...tidak takut kamu turun tangan."
Sambil berkata dengan tidak perduli Liem Tou menggunakan langkah badai memutarnya asalkan pinggangnya sedikit berputar tangannya dengan cepat sudah menghajar lagi jalan darah "Giok Liong Hiat"
Pada punggungnya membuat Liem Tou merasa seluruh tubuhnya menjadi kaku, ujar gadis itu lagi sambil tertawa besar.
"Liem Tou, ini hari aku harus menghajar seluruh tubuhmu hingga lecet."
Dengan gusar Liem Tou mengaum keras angin pukulan semakin santar, sekali pun tidak berhasil menjamah tubuh gadis itu barang satu kalipun tapi semakin bergebrak dia semakin girang, seluruh jurus jurus serangan yang termuat didalam kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng dengan demikian semakin maju lagi setingkat.
Sesaat Liem Tou sedang dibuai dalam kegembiraan itulah mendadak gadis cantik pengangon kambing itu menarik kembali serangannya.
dengan serius ujarnya.
"Liem Tou kau ingat, aku bukan musuh besarmu"
Sehabis berbicara mendadak dia membentak keras, sambungnya lagi.
"Lain kali kamu akan tahu sendiri, terima seranganku ini"
Mendadak tubuhnya meloncat kedepan, angin pukulan yang sangat dahsyat segera memenuhi angkasa, didalam keadaan yang sangat terkejut itulah Liem Tou sudah terkurung ditengah sambaran angin pukulan gadis cantik pengangon kambing yang sangat dahsyat tersebut menanti Liem Tou sadar akan bahaya serangan gadis itu sudah begitu santarnya sehingga memaksa seluruh urat nadi didalam tubuhnya terasa hancur dan linu, tenaganya sama sekali hilang lenyap bahkan daya untuk bertahan pun lenyap tanpa bekas.
Walaupun begitu justru tubuhnya terkurung ditengah sambaran angin pukulan yang sangat hebat sehingga mau rubuh pun tidak sanggup, didalam sekejap saja seluruh tubuhnya serasa ditusuk dengan berjuta juta batang jarum tajam panas, linu sakit dan sangat perih tak tertahan lagi dia menjerit keras kesakitan.
Gadis cantik pengangon kambing itu tetap tidak gubris terhadap keadaannya, makin lama Liem Tou merasa seluruh tubuhnya penuh dengan bayangan tubuh gadis cantik pengangon kambing itu, sesudah lewat sesaat kemudian sampai bayangannya pun tidak kelihatan.
Baca Juga: Patung Dewi Kwan Im Kho Ping Hoo
Baca Juga: Si Bayangan Iblis 4