Eps 1 Raja Silat - Chin Hung
Baca online Raja Silat - Chin Hung
Cersil Raja Silat - Chin Hung.
Karya .
Chin Hung (Qing Hong) aka.
Lahirnya Dedengkot Silat.
diterjemahkan oleh Tjan Ing Djoe tahun 1969 Scan djvu .
axd002 Sumber .
lavilla.
Editor .
Masriski, budiwijaya, lavender, edisaputra Upload by Masrizki di Indozone.
Final editor & Ebook by Dewi KZ
http.//kangzusi.com/.
Jilid 1 .
Liem Tou kembali ke Ie Hee cung.
Puncak Ha Mo Leng yang terletak dekat kota Ceng Shia dalam propinsi Coan See merupakan sebuah gunung yang sangat tinggi, curam serta berbahaya.
Batu-batu cadas menghiasi seluruh puncak gunung disamping jurang yang tak terhingga dalamnya, sedang jalan-jalan yang menghubungi tempat itu pun tak ada, dengan demikian hubungan dengan dunia luar boleh dikata putus sama sekali.
Sebaliknya pada lereng gunung banyak terdapat sungai serta air terjun yang penuh dengan batu cadas yang tajam disamping pusaran air yang amat dahsyat.
Perahu yang berani melayari tempat itu tak lebih hanya mencari mati saja.
Saat itu merupakan tengah malam pada pertengahan musim gugur, bulan purnama yang berada jauh ditengah awan menyinarii seluruh jagad dengan terangnya.
Suasana pada saat itu begitu sunyi serta tenangnya, hanya terlihat mengalirnya air sungai mengisi keheningan malam yang semakin kelam, tak ubahnya seperti irama surga membelah bumi.
Tiba-tiba ditengah sungai yang tenang serta berkilauan memantulkan cahaya rembulan itu beriak dan memecah keempat penjuru disertai dengan suara deburan ombak yang keras, pancaran air sungai memancar keatas setinggi beberapa kali yang kemudian jatuh kembali kedalam sungai yang saat itu mulai menjadi tenang kembali.
Tak selang lama kemudian dari permukaan sungai muncullah seorang pemuda yang baru berusia kurang lebih lima enam belas tahun.
Tampak dia terus berenang hingga mencapai tepi sebuah batu cadas, sambil menengadah keatas, mulutnya berkemak-kemik dengan perlahan.
‘Sungai kematian, Tebing maut, Jembatan pencabut nyawa, bagaimana aku harus melalui tempat-tempat itu?’ Dia duduk sejenak diatas batu cadas tersebut, beberapa saat kemudian mendadak meloncat bangun lagi, ujarnya dengan nada yang penuh semangat.
‘Bagaimanapun juga aku harus pergi sekalipun dipukul atau dibinasakan oleh mereka aku tetap akan menemui cici Siauw Ie’ Sehabis berkata kakinya menjejak tanah, sekali lagi tubuhnya meluncur ketengah sungai yang kemudian berenang dengan cepatnya kedepan.
Pada saat yang bersamaan ruangan Cie Eng Tong atau ruangan para orang gagah didalam perkampungan Ie Hee Cung diatas puncak Ha Mo Leng terlihat terang benderang oleh sorotan sinar lampu.
Cungcu atau ketua perkampungan yang bergelar Ang in sin piau atau si cambuk mega Pouw Sak San sedang berkumpul dengan keempat jago penjaga kampungnya yang paling diandalkan, Liong ciang atau lengan naga, Houw jiauw atau si Kuku harimau, Siang hui kok atau sepasang bango terbang serta putranya yang bernama Pouw Siauw Ling guna merundingkan siasat penjagaan ketiga tempat-tempat berbahaya tersebut.
Tetapi, mereka sama sekali tidak menduga kalau putri dari cungcu yang bernama Pouw Jin Cui bersembunyi dibalik horden mencuri dengar perundingan mereka dengan hati yang kebat-kebit, keringat dingin mengalir keluar membasahi seluruh bajunya, sedang jantungnya hampir-hampir terasa copot dibuatnya.
Beberapa saat kemudian tak tersadar olehnya dengan perlahan ujarnya berkali-kali.
"Sungai kematian, Tebing maut, Jembatan Pencabut nyawa….Sungai kematian, Tebing maut, Jembatan Pencabut nyawa…"
Kemudian pikirnya lagi.
"Biasanya ayah sangat welas asih dan ramah terhadap siapa pun, kenapa terhadap seorang anak yang tidak memiliki kepandaian serta yatim piatu semacam Liem Tou dapat bersikap demikian kejam serta tanpa perikemanusiaan? Apalagi pada saat ayah Liem Tou yaitu Liem Han San masih hidup telah diakui oleh ketua perkampungan yang terdahulu Lie Cungcu sebagai warga perkampungan Ie he cung ini. Dulu dengan menggunakan alasan ayah telah mengusir Liem Tou dari kampong tindakannya ini sudah tak pantas, ini hari merupakan hatri yang telah ditetapkan baginya untuk balik keatas perkampungan, tetapi kenapa ayah akan mencelakakannya? Bukankah tindakannya ini kelewat kejam?"
Pada saat Pouw Jin Cui sedang berpikir dengan perasaan sangat bingung, Cungcu dari Ie hee cung telah meneruskan pesannya pada para jago berkepandaian tinggi dari perkampungan itu.
"Ingat, bilamana Liem Tou si cecunguk itu benar-benar berani menempuh bahaya mendaki atas puncak ini harap saudara sekalian tanpa perasaan was-was membinasakan dirinya. Tindakanku ini semata-mata hanya dikarenakan aku tidak ingin melihat perkawinan diantara keluarga Lie dan keluarga Pouw kami diberantakkan oleh campur tangan seorang bocah dungu"
Sehabis berkata dia menoleh memberi perintah kepada putranya Pouw Siauw ling.
"Siauw Ling, saat tengah malam hampir tiba lekas turun gunung melakukan pemeriksaan apakah bocah itu telah datang atau belum? Tetapi bila sampai bertemu dengan dia jangan sampai diketahui olehnya. Lekas pergi dan cepat balik kembali"
Pouw Siauw Ling menyahut, tubuhnya dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat melayang meninggalkan ruangan itu.
Pouw Jin cui yang mencuri dengar dibalik horden menjadi bingung dan tidak mengerti kenapa ayahnya dapat mengambil tindakan sedemikian kejamnya terhadap Liem Tou, bagaimana pula dia merasakan sedih bagi Lie Siauw Ie yang hidup bagaikan kakak beradik dengan dirinya itu.
===ooo=== Sementara di puncak sebelah timur Ha Mo Leng seorang gadis berbaju putih berusia enam tujuh belas tahun sedang berdiri tertekur dibawah sorotan sinar rembulan, wajahnya sangat cantik, bibirnya kecil mungil berwarna merah muda, hidungnya mancung sedang alisnya kelihatan hitam, hanya sayang wajahnya sedikit pucat, rambutnya riap-riap bergoyang tertiup oleh angina malam sedangkan matanya yang sayu serta mengandung kesedihan yang amat sangat itu dengan terpesona memandang ke bawah gunung dengan tak berkedip.
Tak selang berapa lama dari bawah gunung terdengar siulan panjang yang memecahkan kesunyian, tak terasa alisnya dikerutkan, sedang dari air mukanya menampilkan perasaan yang sangat girang, ujarnya seorang diri.
"Adik Tou…Adik Tou, kau benar-benar dating, cicimu telah sangat lama menantikan kedatanganmu disini, sekali pun cicimu tidak percaya kalau dalam setahun ini kau berhasil memiliki kepandaian silat guna menerobos tiga tempat berbahaya itu untuk bertemu denganku tetapi dengan melalui siulan yang panjang dengan jurang atau lembah sebagai penghalang, kita masih bisa saling berhubungan, bukankah itu sangat bagus?"
Sehabis berkemak-kemik seorang diri dipetiknya sehelai daun dan ditiupnya kencang-kencang sehingga mengeluarkan suara siulan yang panjang, hal ini diulangi beberapa kali.
Mendadak dia berhenti meniup, teriaknya.
"Adik Tou…Adik Tou…dengarkah kau cicimu sedang menantimu disini?"
Sekali pun teriakan dari Lie Siauw Ie sangat tinggi sehingga menembus awan tetapi suaranya mana mungkin menandingi suara siulan dari daun itu sehingga dapat berkumandang hingga tempat yang sangat jauh?
Setelah berteriak beberapa kali dia mulai sadar kembali, sekalipun berteriak hingga tenggorokannya pecah juga tak mungkin suaranya bisa terdengar kebawah gunung.
Pikirannya segera berubah, dengan perlahan kain putihnya dilepaskan dan disentakkan keatas hingga berkibar-kibar.
Dibawah sorotan rembulan dipertengahan musim gugur yang cerah kain putih itu melambai-lambai dengan indahnya, tak ubahnya bidadari yang turun dari khayangan sambil menari-nari .
Tak selang lama dari bawah gunung terlihat berkelebatnya sinar api yang bergerak dari arah sebelah kiri ke sebelah kanan, ditengah berkelebat sinar api itu Siauw Ie dapat melihat sesosok bayangan manusia yang bergerak dengan perlahan, sudah tentu dia tahu kalau bayangan itu tak lain dan tak bukan adalah Liem Tou, kekasihnya yang dirindukan siang dan malam, hanya saja karena jaraknya terlalu jauh hingga dia tak dapat melihat lebih jelas lagi.
Mendadak dibawah sinar rembulan Siauw Ie melihat bayangan berkelebat dengan cepatnya dari dalam perkampungan Ie hee cung, gerakan tubuhnya begitu gesit serta tangkasnya sedang pada tangannya membawa dua buah benda persegi panjang, segera dia paham kalau benda tersebut merupakan benda yang biasa digunakan untuk melalui sungai kematian.
Terlihat bayangan manusia itu dengan kecepatan yang luar biasa meneruskan larinya kebawah gunung.
Siauw Ie yang sedang mengumpulkan seluruh perhatiannya dapat melihat bayangan itu agak merandek sesampainya diatas Jembatan pencabut nyawa, tetapi dengan cepat dia meloncat kembali sebanyak beberapa kali diatas tempat itu, tebing curam setinggi beberapa kai tersebut dengan mudahnya berhasil dilalui.
Adapun jembatan Pencabut nyawa itu luasnya tak kurang dari dua puluh lima depa yang menghubungkan dua tebing diantara sebuah jurang sedalam ratusan kaki.
Kedua tebing itu dihubungkan dengan seutas tali baja sebesar jari kelingking, selain orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna, jangan harap bisa melewati tempat itu dengan selamat.
Siauw Ie yang melihat ilmu meringankan tubuh dari orang itu telah mencapai demikian tingginya bahkan tidak dibawah kepandaian keempat jago penjaga perkampungan, hatinya menjadi bergerak segera ia tahu kalau orang itu tak lain adalah Pouw Siauw ling, putra dari Cungcu Ie Hee cung, tak terasa pikirnya.
"Untuk apa dia turun gunung disaat begini?"
Ketika memandang lagi daerah tebing sebelah sana tampaklah sinar api dibawah gunung itu masih tetap bergerak-gerak terus, mendadak olehnya teringat akan sesuatu hal dan hatinya menjadi sangat cemas sekali karena dia mengetahui dengan sangat jelas bahwasanya Liem Tou serta Pouw Siauw Ling selamanya bermusuhan terus.
Selagi Liem Tou masih berada di perkampungan, Pouw Siauw Ling lah yang sering menganiaya dirinya.
Kini dia telah turun gunung bilamana bertemu dengan Liem Tou tak dapat dihindarkan lagi suatu pertarungan sengit pasti akan terjadi dan sudah tentu pula Liem Tou lah yang akan menderita kalah.
Berpikir sampai disini tak ayal lagi dengan cepat Siauw Ie membunyikan siulannya susul menyusul.
Inilah tanda rahasia yang digunakan mereka berdua sejak dahulu bila hendak berhubungan.
Benar saja begitu siulan itu berbunyi, sinar api dibawah gunung itu dengan sekonyong-konyong menjadi kecil.
Melihat hal itu Siauw Ie menjadi sedikit lega.
Tetapi pada saat ini dia tahu Liem Tou telah datang hanya dia tidak tahu apakah dia akan mendaki gunung atau tidak, bersamaan pula apabila dia benar-benar naik keatas gunung bagaimana sikap tindakan cungcu dengan dirinya?
Atas beberapa hal ini membuat hatinya tetap merasa tak tenang.
Didalam beberapa saat itulah Pouw Siauw Ling telah selesai melakukan pemeriksaannya dan kembali keatas gunung.
Siauw Ie hanya merasakan berkelebatnya sesosok bayangan dihadapan matanya.
Pouw Siauw Ling telah berdiri kira-kira dua depa dihadapannya sambil tersenyum licik ujarnya.
"Siauw Ie moay, kiranya kau seorang diri sedang berdiri di tempat ini. Tampaknya kau belum juga bisa melupakan Liem Tou si bocah dungu itu? Ha..ha.."
Siauw Ie yang merasa ia sedang menyindir dirinya, air mukanya segera berubah dengan dingin sahutnya.
"Apa hubungannya aku berdiri seorang diri disini denganmu? Kau tak usah banyak omong"
Siauw Ling dengan sikap yang ceriwis perlahan-lahan mendekati tubuh Siauw Ie ujarnya sambil tersenyum tengik.
"Justru aku tidak mengerti Liem Tou si bocah dungu yang sangat goblok, sifatnya pemurung serta tak memiliki kepandaian silat sedikitpun bahkan boleh dikata seluruh anggota perkampungan jauh lebih lihay sepuluh kali lipat dari dirinya, bagaimana Siauw Ie moay bisa demikian memperhatikan dirinya? Aku kira Ie moay-moay seorang yang cerdik, lupakan saja si bocah dungu itu"
Siauw Ie mendengar ocehan yang makin lama makin tidak karuan itu menjadi amat gusar, seluruh tubuhnya menjadi gemetar dengan keras menahan pergolakan didalam dadanya, teringat kembali olehnya ketika Liem Tou masih berada didalam perkampungan, beberapa kali dia dianiaya oleh Pouw Siauw Ling hingga babak belur dan seluruh tubuhnya penuh dengan luka-luka hanya dikarenakan sifatnya yang keras kepala serta ketus itulah membuat dia merintih pun tidak.
Teringat pula olehnya kalau dia adalah seorang anak yang sangat kuat tetapi bandel, biarpun lagaknya ketolol-tololan tetapi sepasang matanya memancarkan sinar yang terang dan bening, dikarenakann seringnya dia menerima siksaan serta aniaya dari seluruh anggota perkampungan itulah membuat perasaan kasihan dari dirinya lama kelamaan menjadi perasaan cinta kasih.
Kini dia mendengar ocehan serta cemoohan dari Siauw Ling membuat amarahnya meledak tanpa tertahan lagi, bentaknya dengan keras.
"Tutup mulut, manusia yang tak tahu malu kau masih bisa menganiaya Liem titi, tetapi jangan coba-coba main-main denganku"
Pouw Siauw Ling melihat Siauw Ie dibuat gusar olehnya, dengan cepat dia tersenyum-senyum tengik, ujarnya dengan cepat.
"Oh Ie moay-moay jangan marah adikku yang manis, kakakmu hanya guyon saja"
Perkataannya belum sempat diucapkan, mendadak Siauw Ie membentak lagi dengan nyaring.
"Siapa yang mau menjadi adikmu?"
Muka tebal tak tahu diri, lekas bergelinding dari hadapanku!"
Selesai berkata, tangannya diayun dengan cepatnya.
"Plaak"
Tamparan dari Siauw Ie itu dengan tepat mengenai pipi dari Pouw Siauw Ling , air mukanya berubah menjadi sangat keren, sepasang matanya melotot keluar, dengan gusarnya dia memandang wajah Pouw Siauw Ling yang telah menjadi merah karena gaplokan tadi dengan gemetar makinya.
"Jika bukannya karena kau si muka tebal, Liem Tou tak mungkin akan diusir dari perkampungan, lekas pergi dari sini, aku sebal..sebal melihat tampangmu lagi..cepat bergelinding dari sini"
Sekali lagi tangan yang putih mulus melayang kedepan siap melancarkan tamparan berikutnya, sekali ini Pouw Siauw Ling telah siap sedia, dengan cepat dia mundur beberapa langkah ke belakang sambil mendengus dengan dingin balas makinya.
"Kau budak yang tidak tahu diri, kapankah aku Pouw Siauw Ling pernah menderita rugi darimu? Kini kau berani turun tangan memukul orang"
Dia berhenti sejenak, kemudian ujarnya lagi.
"Baiklah, akan kuberitahukan padamu ini hari bila Liem Tou si bocah dungu itu tidak berusaha naik gunung masih tidak mengapa, bila dia sungguh berani akan kubunuh cecunguk itu, aku mau lihat engkau bisa berbuat apa?"
Siauw Ie begitu mendengar ancaman tersebut hatinya terasa tergetar dengan keras, tetapi pada air mukanya sedikitpun tidak memberi reaksi apapun apalagi memperlihatkan kelemahannya, mendadak dari dalam tubuhnya dia meraup segenggam senjata rahasia yang berupa jarum perak, bentaknya dengan keras.
"Cepat bergelinding dari hadapanku..hmm..hmmm, jangan salahkan aku berlaku kurang sopan terhadapmu bila mukamu masih tebal"
Kiu cu gin ciam atau Sembilan jarum perak maut merupakan senjata rahasia yang ampuh dari keluarga Lie, sudah tentu Pouw Siauw Ling mengenal kelihayannya.
Mendengar ancaman itu air mukanya segera berubah dengan hebatnya, dengan cepat dia mundur beberapa depa dari tempat semula, tetapi didalam sekejap saja marahnya memuncak, tangannya dengan cepat mencabut keluar Joan pian yang melilit dipinggangnya dengan gusar makinya.
"Budak tebal, kau kira benar-benar aku takut denganmu? Seluruh kepandaian yang kau miliki boleh dikeluarkan semua, coba kau lihat apakah aku Pouw Siauw Ling bisa berlaga seperti Liem Tou si cecunguk yang menjadi cucu kura-kura"
Selesai berbicara dengan cepat joan piannya diputarnya, sehingga menjadi bayangan yang menyilaukan mata, terdengar angin serangan menderu-deru memekik telinga dengan cepat dia mulai melancarkan jurus-jurus serangan menurut ajaran ayahnya Ang in sin pian.
Seorang yang bertabiat berangasan seperti Siauw Ling mana mau menerima hinaan serta pandangan rendah dari musuhnya, saking gusarnya dia mendepak-depakkan kakinya keatas tanah sedang mulutnya tak henti-hentinya memaki.
Tangannya digerakkan dengan kecepatan yang luar biasa, senjata rahasia Kiu cu gin ciam yang berada di tangannya segera dilancarkan di depan dengan menggunakan jurus ‘Man thian hoa ie’ atau seluruh jagad menjadi hujan bunga.
Tampak sinar berwarna keperak-perakan berkelebat dengan kecepatan luar biasa keseluruh penjuru tempat itu.
Pouw Siauw Ling memiliki kepandaian yang tidak rendah, dengan cepat menyentak serta memutar joan pian ditangannya melindungi seluruh tubuhnya, terlihat sinar tajam memancar disekeliling tubuhnya, jarum-jarum yang melayang mendekati tubuhnya dengan cepat berhasil dipukul jatuh, tak terasa dia memperlihatkan perasaan bangganya, sambil tertawa terkekeh-kekeh godanya.
"Bagaimana? Hanya cukup kepandaian ini saja sudah lebih dari cukup bagi si bocah dungu itu untuk berlatih selama berpuluh-puluh tahun. He..he…aku heran gadis cantik seperti kau masa mau dengan bocah goblok, tak ubahnya seperti bunga segar tertancap diatas tahi kerbau, sungguh sayang..sungguh sayang."
Siauw Ie yang mendengar cemoohan itu saking gusarnya wajahnya telah berubah menjadi putih kehijau-hijauan, baru saja dia siap sedia hendak menerjang kedepan beradu jiwa dengan dia, pada saat itu pula Pouw Jin Cui muncul secara tidak terduga di tempat itu.
Pouw Jin Cui yang tampak mereka berdua sedang bertempur dengan serunya, segera makinya terhadap Pouw Siauw Ling.
"Adik Ling, lagi-lagi kau mengganggu dan menyiksa Ie moay. Masih tidak lekas pulang, ayah sedang menanti kedatanganmu"! Pouw Siauw Ling hanya tersenyum mengejek mendengar perkataan itu, segera dia melibatkan kembali senjatanya kedalam pinggang, setelah memandang sekejap lagi kearah Siauw Ie barulah meninggalkan tempat itu. Siapa tahu pada saat itu Siauw Ie telah membenci dirinya hingga menusuk kedalam tulang sumsum, sebuah jarum perak yang tergenggam ditangannya segera dilancarkan kedepan sambil membentak dengan keras.
"Cepat menggelinding dari sini!"
Pouw Siauw Ling sama sekali tidak pernah menduga akan terjadi peristiwa seperti ini, ketika dia merasa adanya sambaran dari senjata rahasia dengan cepat dia mengangkat tangannya berusaha menangkis serangan tersebut, tetapi keadaan sudah terlambat, jarum Kiu cu gin ciam tersebut telah berada dihadapannya sehingga tak ampun lagi pundaknya kena terhajar jarum itu.
Pouw Jin Cui menjadi sangat terkejut, baru saja hendak mencegah perbuatan dari Siauw Ie itu tak tersangka olehnya setelah dia melancarkan serangan senjata rahasianya ternyata telah balik menubruk kedalam pangkuannya dan menangis tersedu-sedu dengan sedihnya.
Untuk sesaat Pouw Jin Cui dibuat gugup dan melongo kesana itu, setelah tertegun untuk beberapa saat lamanya barulah Pouw Jin Cui menjadi sadar kembali dari lamunannya, sambil memeluk tubuh Siauw Ie bentaknya terhadap diri Pouw Siauw Ling.
"Kau masih tidak cepat meninggalkan tempat ini untuk minta obat dari Lie Pe bo, apa kau ingin mencari mati?"
Pouw Siauw Ling setelah terkena serangan senjata rahasia sebenarnya merasa sangat gusar sekali, tetapi kini malah sebaliknya tersenyum sambil memandang tajam kearah kedua orang gadis itu.
Pouw Jin Cui yang melihat keadaan tersebut segera tahu kalau dia sedang menaruh niat untuk membalas dendam, oleh sebab itu sengaja dia membentak dengan keras memaki dirinya.
Begitu diperingatkan oleh kakaknya Pouw Siauw Ling menjadi teringat kalau senjata rahasia Kiu cu gin ciam dari keluarga Lie mempunyai dua macam, yang satu beracun sedang yang lain tak beracun.
Ketika dia terkena senjata rahasia tadi oleh karena sedang dalam keadaan gusar sehingga tidak merasakan macam yang manakah senjata rahasia yang terkena didalam tubuhnya, ingin dia menanyakan pada diri Siauw Ie tapi kuatir dia tak mau memberi jawaban terpaksa dia tetap membungkam.
Terpikir sampai disini dia tak berani mengulur waktu lebih lama lagi, dengan hati yang mendongkol dengan cepat dia berlalu dari tempat itu.
Pouw Jin Cui tampak Siauw Ling telah meninggalkan tempat itu, sambil menghibur tanyanya kepada Siauw Ie.
"Ie moay, jangan menangis lagi beritahu kepada diriku apa adik Tou telah datang? Kita harus mencegah dia untuk melanjutkan usahanya menempuh bahaya mendaki keatas gunung"
Mendengar perkataan itu, Siauw Ie berhenti menangis, dengan tertegun tanyanya.
"Mereka mau berbuat apa atas dirinya?"
"Mereka…aku kuatir mereka…mereka..hendak…."
Agaknya sukar baginya untuk meneruskan perkataan selanjutnya, tetapi dengan menggigit kencang bibirnya ujarnya lagi.
"Mungkin mereka akan menghabiskan nyawanya"
Mendengar penjelasan tersebut Siauw Ie hanya merasakan dadanya terasa menjadi sesak hingga sukar untuk bernapas, bagai baru saja terpukul suatu serangan dahsyat hingga sakit sukar ditahan, air mukanya berubah menjadi pucat kehijau-hijauan, tetapi dengan paksa dirinya dia tetap mempertahankan pergolakan didalam benaknya, tanyanya lagi.
"Cici Cui, benarkah perkataannmu itu? Kenapa mereka bisa bertindak demikian kejamnya? Bukankah cungcu yang terdahulu mengakui mereka ayah beranak sebagai warga Ie he cung ini dan mereka mempunyai hak untuk menerima hukuman sepantas dengan peraturan perkampungan tetapi berhak juga untuk merasakan kebahagiaan serta hak untuk melindungi perkampungan ini? Lagi pula menurut peraturan perkampungan orang-orang yang sudah diusir dari perkampungan ini masih mempunyai kesempatan kembali kedalam perkampungan sebanyak tiga kali dan bilamana didalam ketiga kesempatan itu dia berhasil melewati ketiga rintangan berbahaya yang berupa Sungai kematian, tebing maut dan Jembatan pencabut nyawa, bukan saja dia diperbolehkan berdiam kembali didalam perkampungan bahkan kedudukan sebagai cungcu pun harus diserahkan kepadanya. Kenapa sekarang baru saja pertama kali dia mencoba kembali kedalam perkampungan mereka telah siap hendak mencelakai dirinya? Bukankah dengan demikian peraturan perkampungan Ie hee cung telah diinjak-injak sendiri secara keji oleh mereka?"
"Dalam hal ini aku pun tidak mengerti, aku hanya tahu tentang perundingan penjagaan ketiga tempat bahaya tersebut dengan mencuri dengar dibalik horden, karena pentingnya serta kritisnya keadaan dengan cepat aku lari kemari beritahu padamu, bagaimanapun juga kita harus mencari akal untuk berusaha mencegah adik Tou menghantarkan nyawanya secara percuma"
Perkataan ini sudah tentu masih banyak terdapat hal-hal yang tidak disebutkan olehnya, karena bagaimana pun juga Cung cu yang sekarang adalah ayahnya sendiri, bila dia berbicara terus terang seluruh apa yang diketahuinya sudah tentu terdapat banyak tempat yang akan memaksa dia tak enak untuk membicarakannya.
Setelah mendengar penjelasan itu, Siauw Ie hanya berdiam diri tak berbicara, hatinya terasa ditusuk oleh beribu-ribu batang jarum.
Tiba-tiba air matanya meleleh keluar membasahi pipinya, sambil menahan isak tangis ujarnya lagi.
"Cici Cui, habis bagaimana sekarang? Bilamana adik Tou mendapatkan cidera atau binasa Cici Cui, adik Ie mu juga tak mau hidup lebih lama lagi didalam dunia ini.."
Untuk sesaat Pouw Jin Cui pun merasa bingung harus berbuat bagaimana untuk mencegah usaha Liem Tou untuk menghantarkan nyawanya dengan percuma, sedang Siauw Ie dengan perlahan menundukkan kepalanya kembali, agaknya sedang memikirkan sesuatu.
Tak lama kemudian terdengar ia berkata lagi dengan terisak-isak.
"Sungguh kasihan benar dia, hei… kasihan benar adik Tou yang malang"
Mendadak dia mengangkat kepalanya keatas, dengan keras lanjutnya.
"Cici Cui, kau harus menolong dia, kau pasti bisa menolong dia, kau lihat dia sebatang kara tanpa sanak keluarga, sungguh amat kasihan"
Perkataan Siauw Ie ini membuat seluruh tubuh Pouw Jin Cui terasa berdesir, tak tertahan air matanya pun keluar meleleh membasahi seluruh wajahnya, tapi mendadak teringat olehnya kenapa tadi Siauw Ie bisa bilang kalau pasti bisa menolongnya?
Apa mungkin dia sudah menemukan cara untuk menolongnya.
Pada saat Pouw Jin Cui terbenam dalam lamunannya itu, dari samping tunuhnya, suara tajam memekikkan telinga memecahkan kesunyian yang mencengkam disekitar daerah itu, ketika dia menoleh terlihat Siauw Ie sedang meniup daun ditangannya dengan keras, sedang suara yang memekikkan telinga itu terdengar berasal dari daun tersebut.
Begitu suara suitan itu berkumandang beberapa saat lamanya dari arah bawah terlihat munculnya sinar api yang bergerak-gerak, dengan cepat ujarnya pada Pouw Jin Cui.
"Cici Cui, lihatlah…dia, Liem Tou, antara kita berdua kepandaianmu telah mencapai taraf yang sangat tinggi tentu kau sanggup untuk melewati ketiga tempat berbahaya itu. Bilamana cici Cui punya niat untuk menolong nyawa adik Tou, saat ini juga cepatlah turun gunung memberi tahu padanya agar dia jangan sampai menempuh bahaya dengan percuma, bilamana kepandaianku sudah berhasil kulatih tentu aku bisa turun gunung mencari dia. Cici Cui maukah kau? Adik Ie mu selamanya tak akan melupakan budimu yang besar ini"
Sambil berkata tak tertahan butiran air mata menetes keluar semakin deras, sudah tentu Pouw Jin Cui tak tega untuk menolaknya.
Dalam hati dia tahu jelas bilamana ayahnya mengetahui perbuatannya ini kemungkinan kecil harapan untuk bisa lolos dari suatu makian serta hukuman yang berat tapi urusan ini telah menjadi begini, berpikir panjang juga tiada gunanya.
Sekalipun akhirnya akan mendapatkan hukuman yang sangat berat dari ayahnya juga tidak mengapa.
Tak disangka olehnya ketika dia hendak mengabulkan permintaan dari Siauw Ie itu, dari dalam perkampungan Ie hee cung terlihat berkelebat datang empat lima buah bayangan manusia, sekali pandang saja segera dia tahu kalau bayangan manusia itu terdiri dari ayahnya serta beserta keempat orang penjaga perkampungan yang paling diandalkan.
Tak terasa teriaknya.
"Celaka, adik Ie aku pergi dulu"
Perkataannya baru saja keluar dari mulut, tubuhnya melayang jauh beberapa kaki tetapi dia tak berani terlalu memperlihatkan gerak tubuhnya, terpaksa dengan membungkukkan tubuhnya melayang dengan cepatnya kedepan, tidak selang lama Siauw Ie telah melihat Pouw Jin Cui sudah berada disamping jembatan pencabut nyawa, dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah berhasil lompati jembatan tersebut.
Tetapi setelah melewati jembatan pencabut nyawa itu, ditengahnya masih terdapat jarak yang cukup panjang, merupakan sebuah tebing yang kosong, sebaliknya cung cu beserta Liong ciang Houw jiauw Siang hui hok sekalian telah berada tidak jauh dari jembatan pencabut nyawa itu, dengan demikian sekali sebelum Pouw Jin Cui tiba di ujung tebing untuk menyembunyikan diri telah diketahui oleh mereka.
Tanpa sadar seluruh tubuh Siauw Ie basah kuyup oleh mengalirnya keringat dengan derasnya, diam-diam pikirnya.
"Apabila cici Cui diketahui oleh mereka, semuanya tentu akan berantakan"
Dalam keadaan yang sangat cemas, mendadak tanpa berpikir panjang lagi teriaknya dengan keras.
"Tolong…Tolong…!"
Dugaannya ternyata benar, begitu suara teriaknya berkumandang segera terlihatlah beberapa orang itu memutar kembali arahnya menuju kearah dia berdiri dengan gerakan yang sangat cepat, dia tahu kalau siasatnya berhasil, segera dengan nada yang keras teriaknya lagi.
"Ada ular…ada ular…!"
Sambil berteriak tubuhnya ikut berloncat-loncatan dan melayang kearah perkampungan Ie hee cung dengan gerakannya yang amat lincah, setelah dilihatnya tempat itu tertutup dan sukar untuk melihat keadaan dibawah gunung, barulah dia pura-pura membungkuk berlagak seperti sedang memandang sesuatu sedang kakinya menjejak dengan kerasnya kearah dedaunan diatas tanah.
Begitu cung cu sekalian tiba dihadapannya segera dia dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Siauw Ie, telah terjadi urusan apa?"
"Ooh, paman-paman, bagaimana sampai disini? Seekor ular, ooh.., ular beracun yang amat besar, kurang sedikit saja aku tergigit olehnya untung saja ketika itu aku melepaskan senjata rahasia hingga dia melarikan diri karena kesakitan"
Apa yang diucapkan Siauw Ie begitu lancar, lincah serta menyenangkan membuat beberapa orang itu sama sekali tidak menaruh curiga apa pun.
Lebih-lebih si telapak naga yang bernama Lie Kian Po yang merupakan satu she dengan diri Siauw Ie, dengan penuh perasaan kuatir tanyanya.
"Siauw Ie, hari telah demikian malamnya tapi mengapa dan kenapa kau masih berada disini. Andaikata benar-benar kau sampai dipagut ular beracun bukankah hal ini hanya akan menyusahkan ibumu?"
Siauw Ie telah mendengar nasehat itu sekali pun dalam hati dia merasa sangat berterima kasih atas perhatiannya, tetapi diam-diam dia pun merasa geli.
Sambil tersenyum dia menutup mulutnya tidak menjawab.
Tak disangka tiba-tiba terlihat Cung cu Pouw Sek San mendengus dengan dinginnya sambil mendesak dia memandang gusar kearah Siauw Ie.
Siauw Ie yang merupakan seorang gadis cilik yang sangat cerdik begitu melihat perubahan wajahnya segera teringat kemungkinan sekali dia gusar karena dirinya telah menyambitkan sebuah senjata rahasia Kiu cu gin ciam kearah Pouw Siauw Ling, dalam hati dia semakin gusar bercampur cemas sedang pikirannya terus berputar, pikirnya.
"Kenapa tidak sejak sekarang juga aku berusaha menguasai dirinya? Disamping bisa memaki dia dengan beberapa kata hingga rasa mangkal dalam hati menjadi berkurang, dengan demikian aku pun bisa mengulur waktu lebih lama lagi agar cici Cui mempunyai kesempatan untuk balik kembali"
Berpikir sampai disitu dia tidak ambil diam, air mukanya segera berubah menjadi sangat dingin, dengan nada yang serius ujarnya pada diri Pouw Cung cu.
"Paman cung cu, keponakan ada suatu hal yang perlu disampaikan kepadamu, entah paman mau tidak memberi kesempatan kepada keponakanmu ini?"
Cung cu tidak pernah menyangka dia bisa berbuat demikian, setelah tertegun beberapa saat lamanya barulah sahutnya.
"Ada urusan apa cepat kau katakana?"
"Sejak kecil keponakanmu ini telah kehilangan ayah dan aku menjadi besar berkat rawatan serta didikan dari ibu, aku sadar kalau tidak punya kekuatan didalam membantu melakukan pekerjaan yang menguntungkan bagi perkampungan kita dalam hatiku sering merasa sangat menyesal, aku semakin sedih…"
"Tentang ini aku sudah tahu jelas, buat apa kau banyak bicara?"
Potong Cung cu ketika dia mendengar yang dibicarakan semakin jauh.
"Bila semua menolong dan memberi bantuan kepada kalian ibu beranak sebenarnya sudah merupakan tugas kami, kau tak perlu berpikir lebih jauh lagi"
Siauw Ie menjadi mendelik, dengan gusar ujarnya lagi.
"Sekali pun paman sekalian dengan setulus hati menjaga serta membantu kami, tapi kakak Siauw Ling selamanya berpura-pura baik, pada hal pekerjaannya hanya melulu mengganggu aku serta mencemooh diriku, bahkan adakalanya gerak-geriknya kurang sopan. Oleh karena itu tadi didalam keadaan yang amat gusar, keponakanmu telah menghadiahkan sebuah jarum Kiu cu gin ciam kepadanya, aku kira paman sekalian serta Cung cu tidak sampai menyalahkan tindakan kasar dari keponakanmu ini"
Atas dari kata-kata dari Siauw Ie yang tajam dan sukar dibantah itu membuat Pouw Sek San untuk sesaat lamanya tidak bisa menjawab.
Siauw Ie yang melihat Cung cu dibuat tidak bisa berkutik oleh kata-katanya yang pedas serta tajam itu segera menambahnya lagi.
"Masih ada lagi, keponakanmu tahu kalau paman Pouw Cung cu telah mengutus orang untuk bertemu dengan ibu guna meminang diriku bagi kakak Siauw Ling, aku ingin paman menghapuskan niatmu ini untuk selamanya, aku merasa tidak sanggup untuk menerima penghargaan yang demikian tingginya"
Saking gusarnya air muka Pouw Sek san berubah menjadi putih kehijau-hijauan sekali pun hanya disoroti oleh sinar rembulan yang remang-remang, tetapi dapat terlihat dengan jelas, agaknya hawa amarahnya telah mencapai pada puncaknya, seluruh tubuhnya gemetar dengan keras, sedang untuk sesaat lamanya membuat dia merasa bingung harus berbuat bagaimana untuk memberi jawaban atas perkataan dari Siauw Ie itu.
Untung saja si telapak naga Lie Kiam Po yang melihat keadaan bertambah tegang segera memakinya.
"Siauw Ie, kenapa kau?"
Tak tertahan lagi Siauw Ie menangis tersengguk, sambil menahan isak tangisnya menyahut.
"Paman Kiam Po aku tidak apa-apa, aku benar-benar tidak tahan"
Beberapa orang lainnya melihat dia bersikap demikian, hanya bisa saling pandang memandang tanpa berkata-kata, untung saja pada saat itu Pouw Jin Cui muncul secara mendadak di tempat itu, dengan cepat dia menarik Siauw Ie menyingkir sambil ujarnya.
"Adik Ie, coba lihat sikapmu seperti anak kecil saja, mari kita pulang saja"
Siauw Ie melihat Pouw Jin Cui telah kembali keinginan untuk mengetahui keadaan Liem Tou mendesak dia untuk mengakui ajakan Pouw Jin Cui tanpa membantah.
Cung cu yang menerima makian tersebut juga tak dapat berbuat apa apa hingga terpaksa dengan hati yang mendongkol mengaajak keempat anak buahya melanjutkan untuk menjaga Sungai kematian tebing maut atau jembatan pencabut nyawa.
Lie Siauw le setelah meningalkan tempat semula dengan diri Pouiw Jin Cui tak tertahan lagi dengan gugup tanyanya.
"Cici Cui, kau sudah bertemu dengan dia ?"
Pouw Jin Cui mengangguk dengan sahutnya perlahan.
"Bagaimana juga, dia tetap ingin menemui mu, sekalipun aku sudah bilang keadaan sangat berbahaya tetapi dia tetap menggelengkan kepala bahkan kukuh dengan pendiriannya untuk bertemu dengan kau."
Mendengar perkataan itu bukan main rasa girang dalam hati Siauw Ie, tapi dibalik kegembiraannya itupun merasa sangat cemas, teringat olehnya dalam keadaan bahaya didalam saat men daki ketiga tempat bahaya itu, tak terasa jantungnya berdebar dengan keras, teriaknya dengan keras.
"Tidak, bagaimanapun juga dia tidak boleh datang, Cici Cui, sebelum tiba diatas gunung tentu dia telah dibunuh mati oleh mereka."
"Adik le, untuk sementara kau tidak perlu cemas sekalipun adik Tou bilang pasti ingin menemui kau, tetapi dia juga bilang tidak akan sampai menemul bahaya."
Mendengar itu Siauw le menjadi sangat he¬ran tanyanya.
"Jika demikian adanya apa boleh dikata, benar-benar dia telah memiliki kepandaian untuk melewati ketiga tempat bahaya itu? Selain itu masih ada cara apalagi dia bisa datang menemui aku"
Pouw Jin Cui menggelengkan kepala tidak menjawab, padahal dalam hatinya diapun tidak tahu dengan cara apa Liem Tou bisa bertemu dengan Siauw Ie. Terdengar Siauw Ie telah bertanya lagi.
"Katau begitu dia bilang kapan mau datang?"
"Katanya begitu terang tanah segera dia naik kegunung menemui kau."
Ketika mengetahui kalau Liem Tou baru akan naik gunung setelah terang tanah, kedua orang itu setelah berunding sebentar segera pulang untuk beristirahat dan siap pada hari esoknya naik kepuncak menanti kedatangan Liem Tou.
Setelah sampai dirumah tanpa tukar pakaian Siauw le segera naik kepembaringan, tetapi mana dia bisa tidur?
Dalam otaknya telah penuh dengan bayangan Liem Tou, sepasang matanya melotot hingga jauh malam.
Tetapi akhirnya saking lelah serta sedihnya ketika hari mendekati fajar tanpa dapat tertahan lagi dia tertidur pulas.
Menanti dia mendusin kembali matahari telah jauh tinggi sekonyong konyong terdengar olehnnya suara ribut yang amat berisik dari orang orang perkampungan, agaknya telah terjadi sesuatu hal.
Dengan kecepatan yang luar biasa segera dia meloncat bangun dan lari keluar rumah, tetapi sebelum dia mencapai luar pintu secara tiba-tiba terdengar diantara suara yang amat ribut itu terdengar seorang menjerit kaget sambil ujarnya dengan keras.
"Aah, si Liem Tou yang malang telah tenggelam didalam sungai, Ooh..matinya sungguh mengenaskan sekali". Ada pula yang berteriak.
"Jenazahnya segera akan dibawa balik keatas gunung oleh si Telapak naga paman Lie. 0oh Penguasa Liem hanya meninggalkan seorang putra dungu itu, kini dia telah mati tenggelam dalam sungai — -Ooh Thian sungguh kau tidak adil, kenapa penguasa Liem yang begitu baiknya diberi hukuman demikian beratnya."
Siauw le yang mendengar perkataan itu bagaikan disambar petir disiang hari bolong telinganya terasa berdengung dengan keras sedang darah didalam dadanya bergolak dengan kerasnya, seluruh tubuhnya gemetar dengan keras, air mukanya berubah menjadi putih kehijau-hijauan.
Sedang tubuhnyo.
dengan tertegun berdiri mematung ditempat, pada mulutnya tak henti hentinya berkemak-kemik.
-Mungkin aku sedang bermimpi, apa mung¬kin aku bermimpi??
Mimpi ini sungguh menakutkan.
Aku tidak ingin mimpi lagi , .
ah .
bagaimana adik Tou bisa mati tenggelam dalam sungai??
Orang lain menganggap dia tolol padahal sama sekali dia tidak bodoh, bagaimana bisa tenggelam dalam sungai?
Tidak, tidak ,tentu aku sedang bermimpi.."
Sambil berkemak kemik mendadak dengan keras dia menjambak rambutnya sendiri, teriaknva dengan keras.
"Aku tidal mau mimpi lagi .. aku tidak mau... mimpi lagi ..Ooh aku sedang bermimpl."
Mendadak rambutnya yang dijambak menjadi rontok, sedang darah segar menetes keluar membasahi wajahnya, pada saat itulah dia baru tahu kalau dirinya sebenarnya bukan sedang bermimpi, pukulan batin kali ini semakin berat rasanya.
Tiba-tiba sepasang matanya melotot keluar bagaikan seorang gila dengan cepat berlari kedepan sambil teriak dengan keras.
"Adik Tou. Kau sungguh kejam. Kiranya kau bilang pada fajar menyingsing hendak menemui aku ternyata dengan jalan ini, baiklah, kita akan segera bertemu, aku akan segera bertemu, aku segera akan menyusul dirimu"
"Adik le, kau jangan pergi, untuk sementara kau jangan pergi, Ie moay-moay, dengarlah perkataanku, untuk sementara kau jangan pergi"
Ketika berkata sampai disitu air matanya tak tertahan lagi menetes keluar membasahi wajahnya, pada saat seperti ini mana mungkin Siauw Ie mau mendengar perkataannya sambil berlari terus kedepan mulutnya tetap berteriak-teriak.
"Aku mau menemui dia, aku mau menemui dia"
Pouw Jin Cui melihat, mencegahpun tak ada gunanya terpaksa melepaskan Siauw Ie yang meneruskan larinya, sedang dirinya sambil meneteskan air mata berjalan disamping tubuhnya untuk mencegah terjadinya sesuatu hal yang tidak diinginkan.
Dengan melototkan sepasang matanya serta air muka yang telah berubah hijau membesi, Siauw Ie terus lari menerjang kedepan, tidak perduli dimukanya ada orang atau tidak dia tetap menerjang kedepan.
Semua orangyang melihat perubahan wajahnya tak terasa lagi pada menyingkir dengan sendirinya.
Baru saja dia berlari sampai didepan perkampungan dilihatnya si Telapak naga Lie Kiam Po dengan membawa sesosok mayat yang basah kuyup berjalan mendatang, kedua belah sampingnya berjalanlah Cung cu perkampungan Ie hee cung, Houw jiauw, Sian hui hok serta Pouw Siauw Ling lima orang, air muka semua orang terlihat sangat serius serta berat kecuali Pouw Siauw Ling seorang yang masih menampilkan senyuman ejeknya.
Siauw Ie begitu tiba pada jarak yang tidak begitu jauh dari beberapa orang itu, secara mendadak dia memperlambat langkah kakinya, bahkan boleh dikata saking lambatnya hingga sukar dilukiskan.
Pouw Jin Cui yang berdiri disampingnya pun merasa hatinya berdebar dengan keras, dia tak dapat menduga bakal terjadi peristiwa apa.
Rombongan Cung cu sekalian ketika sampai di hadapan Siauw Ie dan melihat air mukanya sangat aneh, tanpa disadari oleh mereka bersama-sama menghentikan langkah kakinya, sepasang mata Siauw Ie terlihat makin memancarkan sinar merah berapi-api menahan kegusarannya, sambil menuding kearah si Telapak naga bentaknya.
"Lepaskan dia keatas tanah"
Si Telapak naga Lie Kiam Po yang dibentak secara demikian dihadapan orang banyak semula menjadi tertegun, kemudian disusul dengan hawa amarah yang meluap.
Baru saja dia hendak memaki atas kekurang ajaran dari Siauw Ie itu, dilihatnya Pouw Jin Cui yang berdiri disampingnya telah memberi kerdipan mata sebagai tanda, sambil berebut maju satu langkah kedepan ujarnya.
"Paman Kian Po, jangan gusar, ikutilah permintaan dari Siauw Ie moay itu"
Lie Kian Po melihat air muka kedua orang gadis itu berbeda dari keadaan biasa segera tahu kalau didalam hal ini pasti terselip suatu sebab tak terasa dia menoleh memandang kearah cung cu minta persetujuannya, dengan perlahan cung cu mengangguk menyetujui, kemudian membalikkan tubuhnya berlalu dari tempat itu.
Terpaksa Lie Kian Po melepaskan mayat yang telah menjadi kaku itu, Siauw Ie segera mengenali mayat itu bukan lain dari Liem Tou adanya.
Terlihat perutnya kembung menandakan kalau dia baru saja kenyang minum air sungai, hanyalah biarpun dia suduh putus napas dan matanya tertutup rapat, air mukanya masih tetap segar bugar, sedikit pun tidak memperlihatkan tanda seorang yang telah binasa, hanya rambutnya saja yang tidak karuan sedang warna kulitnya pun sedikit berubah kehitam-hitaman.
Siauw Ie yang memandang kearah jenazah itu makin dilihat hatinya semakin sedih, terasa suatu aliran yang amat panas dengan cepat mengalir keseluruh tubuhnya, tak terasa seluruh tubuhnya gemetar dengan keras.
Dia tak dapat mempertahankan dirinya lagi bagaikan seluruh tubuhnya serasa hendak meledak mendadak dengan menjerit keras dengan cepat dia menubruk keatas tubuh Liem Tou yang telah berubah menjadi mayat sedang air matanya menetes keluar dengan derasnya, teriaknya dengan keras.
"Adik Tou..adik Tou kau tak boleh mati, aku disampingmu, bukalah matamu, aku berada disampingmu..Ooh..adik Tou.."
Suara tangisannya yang demikian sedih membuat suasana disekeliling tempat itu diliputi oleh kesedihan, sedang Pouw Jin Cui pun tak dapat menahan menetesnya air mata demikian juga sekalian orang-orang juga merasa sangat sedih akan terjadinya kisah ini, hanya Pouw Siauw Ling yang merasa senang, pada bibirnya tersungging suatu senyuman mengejek, sedikitpun tak tergerak hatinya melihat kepedihan itu.
Setelah menangis dengan sedihnya beberapa waktu lamanya dengan keadaan yang tak sadar benar dia membopong jenazah dari Liem Tou dan meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Beberapa orang yang berada disekeliling tempat itu menjadi sangat terkejut dengan cepat mereka berusaha menghalangi tindakan dari Siauw Ie itu sedang Pouw Jin Cui dengan cepat bertanya.
"Adik Ie kau hendak kemana?"
Tapi Siauw Ie hanya sedikit mengangkat kepalanya saja dengan dinginnya dia memandang sekejap kearah beberapa orang itu, kemudian melanjutkan lagi berjalan kedepan.
Orang-orang itu menjadi semakin bingung harus berbuat bagaimana baiknya, ketika Siauw Ie berjalan sampai dihadapannya dengan tanpa sadar mereka menyingkir memberi jalan, kemungkinan sekali mereka terpengaruh oleh sikapnya yang serius, berwibawa serta dapat menguasai orang lain tanpa sadar.
Sambil membopong jenazah dari Liem Tou, dengan langkah yang perlahan Siauw Ie berjalan melewati perkampungan Ie hee cung kemudian meneruskan perjalanannya menuju kebelakang kampong ditengah sebuah hutan yang sunyi.
Setelah berjalan keluar dari perkampunga, Pouw Jin Cui kuatir terjadi sesuatu hal dengan diri Siauw Ie segera mengikuti terus dibelakang tubuhnya, tetapi tiba-tiba terdengar dengan nada yang rendah ujar Siauw Ie.
"Cici Cui, aku sangat berterima kasih atas perasaan simpatikmu. Kini kau boleh kembali, adik Ie mu tak mungkin akan berbuat hal-hal yang nekad"
Sekalipun Pouw Jin Cui mendengar dia berkata dengan tegas, tetapi hatinya tetap merasa kuatir, baru saja mau memberikan jawabannya Siauw Ie telah melanjutkan lagi.
"Cici Cui, coba pikirlah dirumah aku masih ada ibu, apa mungkin aku bisa berbuat sesuatu yang nekad? Aku hanya ingin berdua dengan Liem Tou ditempat yang sunyi, lebih baik kau pulang terlebih dulu, orang-orang yang mengikuti dibelakangku tolong cici uruskan, adikmu tentu akan merasa sangat berterima kasih"
Setelah mendengar perkataan dan dipikirnya bolak-balik, Pouw Jin Cui merasakan kalau perkataannya sangat beralasan, segera dia mengikuti apa yang diucapkan untuk melaksanakannya, terlihatlah dengan perlahan-lahan Siauw Ie berjalan masuk kesebuah hutan yang lebat dibelakang perkampungan Ie hee cung.
Siauw Ie segera membawa jenazahnya Liem Tou yang telah kaku kedalam hutan yang berada disitu, ketika itu juga didalam pikirannya timbui kenangan lama sewaktu masih bermain main dan berjalan jalan bersama dirinya terasa air matanya menetes keluar semakin deras, setelah terpekur beberapa saat kemudian ujarnya seorang diri.
"Adik Tou, masih ingatkah dulu ketika kau bermain bersama ditempat ini derganku? Suara siulan dari dedaunan juga kau belajar dari aku ditemnat ini. Mereka bilang kau anak gobloke padahal hanya cukup dua kali saja aku memberitahu padamu kau sudah bisa."
Sambil berkata tak terasa air mukanya jatuh menetes keatas wajah Liem Tou dia mengawasi kekasihnya dengan penuh haru.
Pada saat itulah tubuh yang semula telah mulai kaku kini menjadi lemas secara tiba tiba.
Tak terasa Siauw le menjadi sangat terkejut.
Tetapi dari dalam hatinya segera terlintaslah suatu pikiran, diam-diam batinnya.
'Apa mungkin adik Tou telah, merasakan kesedihanku, hingga roh halusnya hendak munculkan diri dihadapanku?"
Ketika berpikir sampai disitu dia tidak merasa terkejut lagi, sambil meneruskan perjalanannya menuju kedalam rimba mulutnya bergumam dengan perlahan.
"Adik Tou. Mari kita pergi lihat tempat kita beristirahat sewaktu telah lelah, tempat itu hingga kini tak seorang pun yang mengetahuinya. Adik Tou, mau tidak? Lihatlah, sudah hampir tiba!"
Pada saat itu Siauw Ie telah berjalan kearah lereng dibelakang puncak Ha Mo Leng, sesampainya dibawah sebuah pohon yang amat lebat dia berhenti ujarnya lagi.
"Adik Tou, kita telah sampai.."
Sambil berkata dia meletakkan jenazah Liem Tou kebawah pohon, sedang dia sendiri duduk termenung disampingnya, dengan terpesona memandang awan awan yang bergerak dan beriring itu diten gah udara, sebentar dia tertawa sendiri sebentar meneteskan air matanya dan menangis dengan sedihnya.
Sekonyong konyong.
dilihatnya dedaunan serta cabang pada pohon yang besar diatas kepalauya tanpa sebab ternyata bargoyang sendiri padahal waktu itu tak ada angin yang sedang bertiup, dia merasa sangat heran dan bingung, apa yang telah terjadi?
Dengan cepat dia melompat bangun dan termangu-mangu memandang kearah jenazah Liem Tou keatas tanah perutnya yang kencang dengan air sungai masih terlihat mengembang dengan besarnya hingga menyerupai sebuah gundukan gunung kecil, siapa tahu dalam sekejap saja telah lenyap tak tanpa bekas.
Setelah termangu-mangu memandang beberapa saat ketika Siauw Ie melihat perubahan dari perut Liem Tou tidak menampilkan perubahan aneh lainnya barulah dia merasa lega dan berjalan ketempat semula, setelah berpikir bolak-balik sambil menghela napas ujarnya lagi.
"Adik Tou kau pergilah dengan hati yang tenang, selama hidup cicimu akan selalu mengingat dirimu, tetapi dunia dan alam baka berpisah jauh, entah titik apa akan selalu mengingat cicimu?"
Sambil berkata dia menghela napas panjang.
"Akan kuingat selalu. Sekalipun aku teiah berubah menjadi setan aku akan selalu ingat diri Cici. Ciciku yang tercinta kau tak usah kuatir tak akan kulupa diri Clci untuk selamanya"
Siauw Ie merasakan kalau suara itu berasal dari tubuh Liem Tou yang berbaring disampingnya, dia rnenjadi sangat kaget, tak terasa bulu tengkuknya pada berdiri semua.
Tiba tiba dilihatnya Lim Tou mulai meluruskan kakinya dan merangkak bangun dengan perlahan-lahan dari atas tanah, rasa terkejutnya kali ini bukan alang kepalang dengan kecepatan kilat dia segera meloncat bangun tangannya dengan kencang mencekal beberapa batang jarum perak dengan keraas bentaknya.
"Kau---kau manusia atau setan!"
Dengan lagak yang ketolol-tololan Liem Tou tersenyum setelah membereskan rambutnya yang basah ujarnya.
"Cici Ie kau jangan demikian galaknya, adik mu adalah manusia bukan setan"
Siauw Ie tetap tidak mau percaya satelah berdiam diri selama beberapa waktu dengan perlahan barulah dia memegang Liem Tou, tapi dengan cepat ditariknya kembali ujarnya.
"Kalau manusia kenapa tanganmu demikian dinginnya?"
"Adikmu telah merendamkan diri didalam air sangat lama sekali hingga sekarang merasa kedinginan. Cici maukah sekarang kau memberi kehangatan tubuh kepadaku?"
Slauw le tersipu sipu karena malunya, sambil tersenyum manis dia memandang tajam ke arah Liem Tou, tetapi tiba tiba dia melelehkan air matanya kembali ujarnya dengan sedih.
"Apabila adik Tou benar-benar binasa, Cici mu juga tak mau hidup lebih lama lagi."
Liem Tou tidak menjawab, hanya dengan senyuman yang ketolol-tololan memandang diri Siauw Ie.
ooooOOoooo Adapun perkumpulan Ie Hee Cung yang terdiri dari keluarga Lie serta keluarga Pouw, pada ratusan tahun yang lalu mereka merupakan suatu keluarga yang bekerja sebagai pengusaha Piau kok atau pengawal barang-barang angkutan.
Oleh karena hasil usaha mereka banyak menanam permusuhan, untuk menghindarkan diri dari pembalasan dendam orang-orang jahat terpaksa dengan membawa seluruh keluarga mengasingkan diri ketempat yang sunyi.
Tahun ketemu tahun anak beranak mereka semakin banyak akhirnya dari perkampungan yang kecil berubah menjadi perkampungan besar.
Sedangkan ayab dari Liem Tou yaitu Liem Han San merupakan seorang Siucay atau terpelajar yang mempunyai kepandaian sangat tinggi didalam bidang Bun atau surat menyurat.
Oleh Lie Ek Beng Cung Cu yang terdahulu dia diundang datang kedalam perkampungan untuk memberikan pelajaran surat kepada penduduk kampung pada saat itu Liem Tou baru berusia lima enam tahun, sifatnya yang pendiam serta alim itu membuat dia suka menyendiri.
Padahal anak-anak yang sebaya dengannya semuanya telah memperoleh pelajaran silat, sudah tentu tubuhnya jauh lebih kekar serta gesit dari dirinya.
Hanya dia seorang diri yang paling lemah tanpa memiliki kepandaian apa pun, lagipula penduduk kampung itu sangat benci terhadap orang luar, tak heran kalau Liem Tou sama sekali tidak diberi pelajaran silat.
Jilid 2 .
Bukan pencuri kerbau khok dipenjara..
Tahun ketemu tahun akhirnya dia jadi besar, biarpun tampangnya ganteng dan cakap, tetapi kelihatan sekali sifatnya yang masih ke tolol-tololan.
Pada waktu itulah oleh karena perasaan kesatuan dan simpatiknya dari Siauw Ie yang selalu melindungi dirinya, akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih yang saling sayang menyayangi.
Tak terkira pada suatu malam, pertengahan musim salju ayah Liem Tou yaitu Liem Han San meninggal dunia secara mendadak, sewaktu dia mau menarik napas yang penghabisan telah memberikan se
Jilid kitab kepada anaknya bahkan memesan untuk dipelajari dengan baik, di samping itu dia memesan juga, agar kitab itu jangan sampai diketahui oleh orang lain.
Setelah meninggalkan pesan-pesannya dia menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Karena kesedihan atas meninggalnya Liem Han San, membuat Liem Tou tak terlalu memperhatikan hal itu.
Pada saat itu juga Lie Ek Hong dihadapan orang-orang kampung telah mengangkat Liem Tou ayah beranak sebagai warga perkampuugan le Hee Cung bahkan dengan segala upacara besar mengubur jenazah Liem Han San.
Siapa tahu Lie Ek Beng pun menyusul kealam baka, dengan menurut peraturan2 perkampungan sesudah diadakan pibu atau pertandingan silat Pauw Sak San menjadi cungcu yang baru.
Sejak malam itu juga Liem Tou mulai mempelajari kitab peninggalan ayahnya.
Pada suatu malam ketika Liem Tou sedang mempelajari kitab peninggalan ayahnya, dari luar jendela terdengar suara tertawa dingin, begitu mendengar suara tertawa mengejek itu segera Liem Tou tahu kalau orang itu tak lain adalah Pouw Siauw Ling, dengan cepat dia menyembunyikan kitabnya.
Pada waktu itu juga terdengar dari luar Pouw Siauw Ling telah menggape kearahnya sambil serunya dengan keras.
"Liem Tou ! Ayahku memanggilmu untuk menghadap."
Karena perjntah dari Cung-cu, Liem Tou terpaksa keluar dari rumah.
Siapa tahu baru saja dia melangkah keluar dari pintu secara mendadak Pouw Siauw Ling telah memberikan hajaran yang hebat keatas tubuhnya, tangannya melayang tak henti2-nya memukuli seluruh tubuhnya bahkan ancamnya.
"Adik Siauw Ie merupakan menantu dari keluarga Pouw kami, coba pikir macam apakah kau ini berani demikian kurang ajarnya, harus kuberi hajaran yang setimpal pada kau cecunguk busuk, rasakanlah kelihayanku"
Pada waktu itu sekalipun dia menerima pukulan yang amat kejam hingga tubuhnya babak belur oleh pukulan tangan serta terdangan keras dari Pouw Siauw Ling tetapi merintihpun ia tidak.
Kelakuan tersebut sudah menjadi kebiasaan baginya sejak kecil bahkan dia pun tahu dengan jelas sekalipun didalam perkampungan punya paraturan bahwa keluarga Lie harus dikawinkan dengan keluarga Pouw, tetapi pada saat itu dia telah diizinkan dan dianggap sebagai warga dari perkampungan Ie Hee Cung oleh Cung cu yang terdahulu, sudah tentu dia tak dapat dianggap sebagai orang luar lagi.
Sesudah dipukuli babak belur oleh Pouw Siauw Ling, segera dia digusur kehadapan Pouw Sak San.
Tampak dengan mandelikkan matanya Cung cu memandang gusar kearahnya, air mukanya amat keren, bentak dia kemudian.
"Liem Tou. Disini tak dapat menampungmu lagi, kau harus cepat2 turun gunung."
Begitu mendengar perkataan dari Cung cu itu Liem Tou merasa terkejut sekali bagaikan diguyur dengan air dingin air matanya hampir-hampir meleleh keluar membasahi wajahnya, tetapi dengan paksakan dirinya dia tetap bersabar, diam2 pikirnya.
"Liem Tou, Liem Tou, kau tak boleh menangis, walaupun mereka bersikap bagaimanapun juga kau tak boleh menangis, sekalipun mereka melihat kau meneteskan air mata."
Berpikir sampai disitu pula, dengan cepat dia menahan mengalirnya air mata dari kelopak matanya, dengan tersengguk-sengguk tanyanya.
"Cung cu aku kenapa aku diusir dari perkampungan ? ? ? ?"
"Apa kau tidak mau mendengar perkataan dari Cung cu ? ? ? Menyuruh kau turun gunung.Buat apa kau tanya sebab2-nya ??"
Bentak Cung cu dengan gusarnya.
Liem Tou yang dibentak seperti itu hatinya menjadi membeku, sama sekali tak disangka olehnya kalau Cung cu ini bisa bartindak demikian tak tahu aturannya, pada saat itu terpikir kembali Lie Siauw Ie yang sangat menyayang dirinya.
Mandadak entah dari mana datangnya suatu semangat jantan membuat nyalinya menjadi semakin besar, dengan keras sahutnya.
"Baik. Turun gunung yah turun gunung . .? Tetapi bolehkah aku menemui Siauw le cici terlebih dahuIu ?"
Sama sekali Cung cu tak pernah menduga kalau nyali Liem Tou demikian besarnya, tak terasa dia menjadi tertegun dibuatnya. Setelah berpikir bolak balik dengan tegas sahutnya.
"Tidak bisa, segera aku akan menghantar kau turun gunung. Ingat perkampungan Ie Hee Cung ini tidak akan membiarkan seorang asingpun berdiam terus menerus ditempat ini."
Liem Tou tak bisa berbuat apa-apa lagi, pada malam itu juga dia diusir dari perkampungan Ie Hee Cung.
Menanti setelah Cung Cu balik dari atas gunung tak tertahan lagi dia menangis tersedu-sedu dipinggir sungai.
Setelah puas mengeluarkan air matanya rasa mangkal didalam hatinyapun lenyap, dengan berlutut diatas tanah segera ia angkat sumpah.
"Aku Liem Tou pasti akan menemui Cici Ie lagi, Pasti… pasti kulakukan."
Hari-hari selanjutnya Liem Tou bekerja sebagai pengangon sapi ditepi sungai dibawah gunung Ha Mo leng bahkan disamping mengangon sapi sering juga dia belajar berenang didalam sungai serta mempelajari kitab peninggalan ayahnya.
Tak disangka olehnya ternyata kitab tersebut berisi tulisan2 yang tak dimengerti olehnya, maksudnyapun sangat mendalam.
Tetapi dia tidak menjadi putus asa karena hal tersebut, akhirnya setelah berjerih payah selama beberapa bulan barulah dia berhasil memahami maksud dari bagian keenam dari kitab tersebut yaitu ilmu pernapasan.
Pada waktu itu pula dia baru tahbu kalau kitab itu merupakan sebuah kitab pelajaran silat yang amat hebat, hatinya menjadi sangat girarg, dengan demikian dia setiap hari berlatih dengan kerasnya, tetapi bagaimanapun juga dikarenakan tak ada orang yang memberi petunjuk sehingga rahasia dari ilmu pernapasan itu tetap tak dipahaminya, tenaga murni yang tersimpan didalam tubuhnyapun, tak berhasil dialirkan mengitari seluruh tubuhnya.
Oleh karena itu sekalipun dia berlatih dengan rajin juga tak lebih baru bisa mengembangkan perutnya sehingga besar sesuai dengan kehendaknya, sekalipun demikian sebaliknya ilmunya itu malah membantu didalam ilmu berenangnya, sekali dia menghirup udara maka dapat menyelam didalam air selama dua tiga jam lamanya.
Disaat itu dengan menggunakan ilmu pernapasan tersebut dia segera menutup seluruh pernapasannya pura2 mati tengggelam, bukan saja berhasil menipu Cung cu sakalipun hingga bisa melewati ketiga tempat berbahava tanpa rintangan bahkan dapat berjumpa pula dangan diri Siauw Ie.
Liem Tou melihat dengan wajah yang amat girang Siauw Ie mencekal tangannya, tak terasa hatinya malah menjadi sedih, ujarnya.
"Ci ci Ie, adiktmu berhasil menipu mereka hingga bisa tiba disini bertemu dengan Cici, tetapi aku tak bisa bardiam terlalu lama ditempat itu, kini aku harus berbuat bagaimana untuk turun gunung?"
Sepasang mata Siauw le dengan sangat tajam memandang kewajahnya, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya ujarnya.
"Adik Tou, untuk sementara kita tak usah menyebutkan hal ini, selama satu tahun kita tidak bertemu kita harus menggunakan waktu ini sebaik2nya coba pikirlah selama satu tahun cici mu tidak bisa bertemu dengan kau setiap hari aku selalu merindukan dirimu."
"Adikmu juga begitu."
Sahut Liem Tou dengan perlahan.
"Didalam dunia ini dalam hatiku hanya terisikan cici seorang bilamana aku, bisa hidup bersama cici untuk selamanya diatas gunung ini tentu akan sangat bahagia sekali."
Dia berbenti sejenak sedang air mukanya berubah, terlintaslah perasaan gemas serta dendamnya, tetapi didalam sekejap saja telah lenyap ujarnya lagi.
"Cici. Nasib adikmu sungguh sangat buruk, setelah turun gunung kali ini kemungkinan sekali akan mengembara kesemua tempat, bila aku berhasil mempelajari kepandaian silat tentu adikmu akan datang kembali keatas gunung, tetapi masa depan sukar diduga, mungkin juga aku menemui ajal ditengah jalan."
Tak tertahan lagi titik2 air mata menetes keluar tetapi dengan cepat dia menahan mengalirnya cucuran air mata yang semakin deras itu, ketika dia menoleh memandang kearah Siauw le lagi, terlihatlah sepasang matanya dipejamkan rapat2, dengan wajah yang penuh air mata ujarnya.
"Adikku, teruskanlah, ucapanmu cici suka mendengarkan perkataanmu "
Sambil berkata dengan cepat dia menubruk menjatuhkan diri kedalam rangkulan Liem Tou, isak tangisnya semakin menjadi. Dengan sekuat tenaga Liem Tou berusaha mempertahankan dirinya, batinnya.
"Liem Tou .., Liem Tou. Tahanlah rasa sedihmu. Dihadapan Ie Cici jangan menangis, siapapun jangan harap memaksa aku meneteskan air mata, tahanlah perasaan sedihmu. Tahanlah . tahan terus. Sampai tua."
Setelah menangis dengan sadihnya beberapa saat lamanya, mendadak terdengar dengan nada yang halus ujar Siauw Ie.
"Adik Tou. Cicimu selalu akan menantikan pulang keatas gunung, tidak perduli kau kembali atau tidak, pokoknya Cicimu pasti menantikan kedatanganmu untuk selamanya"
Baru saja Liem Tou mau menjawab, mendadak saja dari puncak gunung itu terdengar suara panggilan Pouw Jin Cui dengan nada yang keras .
"Ie moay moay..ibumu suruh kau cepat pulang"
Dengan cepat Siauw Ie bangun, sambil mengusap keringat bekas air matanya ,dengan cemas ujarnya.
"Adik Tou dengan tipu daya aku berhasil naik gunung, rahasia ini jangan sampai diketahui orang lain. Cepat kau menyembunyikan diri kedalam gua kita yang dahulu, aku akan pulang sebentar bilang kalau kau telah dikubur, nanti malam aku akan datang kembali membawakan makan malam bagimu"
Sehabis berkata dengan cepat Lie Siauw le loncat dan lari keatas puncak gunung Ha Mo Leng.
Liem Tou segera mengusik rumput2 didekat akar pohon yang amat besar itu, disitu terdapatlah sebuah liang gua yang cukup untuk seorang, tanpa ragu2 lagi deugan cepat dia menerobos masuk ke dalam.
Kurang lebih setelah berjalan puluhan tindak, gua itu semakin lama semakin melebar makin luas, mendadak bau yang sangat apek dan amis bertiup datang, tak tahan lagi dia bersin beberapa kali, diam2 pikirnya.
"Tempat ini bagaimana bisa demikian dinginnya, moga-moga saja Cici le tidak lupa membawakan api untuk membuat api unggun hing¬ga bajuku bisa kering"
Berpikir sampai disitu segera dia duduk bersandar didinding gua, terlihatiah gua itu makin kedalam makin seinpit, agaknya sangat dalam sekali sehingga sukar diukur ditambah keadaannyapun sangat gelap, tetapi dia tak mau mengurusi hal itu, dengan memejamkan mata ia menantikan kedatangan Siauw Ie.
Sepertanak nasi kemudian rasa dingin yang menerjang tubuhnya terasa semakin menusuk tulang hingga terasa sangat tidak enak dibadan.
Segera ia bangkit berdiri pikirnya hendak berjalan keluar dari gua tersebut.
Siapa tahu baru saja berjalan beberapa langkah dari luar gua tiba terdengar suara.
"Kok ...Kok . ."
Suara itu kedengaran sangat aneh sekali tetapi waktu itu Liem Tou tidak begitu memperhatikannya dan tetap melanjutkan perjalanannya kearah depan.
Kelihatannya tinggal dua langkah lagi dia berhasil keluar dari gua itu, mendadak suara yang sangat aneh itu berbunyi lagi yang kemudian disusul munculnya sepasang kepala berwarna merah darah yang amat aneh sekali didapan gua itu.
Liem Tou melihat munculnya seekor binatang aneh saking terkejutnya hingga menjerit keras, dengan cepat dia mundur kebelakang balik ketempat semula.
Dengan sepasang matanya yang dipentangkan lebar-lebar, Liem Tou mengawasi luar gua, napas pun tak berani keras-keras.
Tampak dua buah kepala merah darah yang sangat aneh itu dengan empat buah mata mendesiskan lidahnya yang mirip dengan desisan ular berjalan makin mendekat,hanya bentuknya amat aneh serta menakutkan sekali.
Liem Tou yang melihat bentuk binatang itu segera mengetahui kalau binatang itu merupakan binatang beracun, dia semakin mempertajam matanya memandang kearah tempat itu, ketika itulah binatang aneh berkepala dua tersembur setelah mengeluarkan suara, kok, kok, yang aneh dengan perlahan mulai menjulurkan kepalanya masuk kedalam gua.
Pada waktu itu juga Liem Tou baru dapat melihat binatang aneh berkepala dua itu mempunyai bentuk tubuh yang sangat besar dan bulat, seluruh tubuhnya penuh bersisik merah darah, pada perutnya terlihat empat buah kakinya hanya sayang sangat pendek sekali sehingga kelihatan sangat tidak sesuai dengan tubuhnya yang sangat besar.
Dengan perlahan binatang aneh itu mulai merangkak masuk kedalam gua, terpaksa Liem Tou setindak demi setindak mundur kebelakang.
Tetapi justru semakin dia mundur kedalam gua yang sangat gelap itu binatang aneh itu tetap tak henti2nya merangkak maju mendekati dirinya.
Entah telah lewat berapa saat lamanya Liem Tou barulah merasakan kalau dia semakin terjerumus lebih dalam lagi kedalam gua yang sangat sempit lagi apek itu, pandangannya makin lama makin gelap.
Kiranya dia telah berada di tengah2 dari gua tersebut.
Mandadak hatinya menjadi tergerak teriaknya "Celaka..."
Selamanya dia belum pernah memasuki jauh kedalam gua itu, sudah tentu tak tahu pula gua tersebut menembus kearah mana, jika bergerak mundur terus kebelakang bukankah dengan begitu secara tidak langsung dirinya masuk kedalam parangkap binatang aneh berkepala dua tersebut ????
Berpikir sampai disitu dia menyedot napas dalam2, perutnya dengan perlahan mulai berkembang menjadi sangat besar, dengan sekuat tenaga disemburkannya kearah binatang aneh itu.
Sepasang kepala dari binatang aneh itu segera berpisah kesamping dan mangeluarkan jeritan aneh, tapi ternyata tak mengalami cedera apapun bahkan kakinya yang berada di depan menjangkau meloncat beberapa depa tingginya manubruk kearah Liem Tou.
Liem Tou yang ditubruk demikian hebataya segera menjerit kaget tanpa pikir panjang lagi tergesa2 dia mundur tapi binatarng itu sedikitpun tak mau melepaskannya, sedikitpun tak mau melepaskan sekalipun perutnya agak besar hingga gerakannva agak terintang tapi langkahnya sangat cepat sekali diluar dugaan Liem Tou.
Sampai waktu itu Liem Tou juga tak dapat berbuat lagi sekalian semakin dia berjalan jauh kedalam gua keadaan semakin gelap, ter-paksa dengan sepenuh tenaga lari kearah dalam, bahkan beberapa kali dia jatuh terguling2 hingga menumbuk dinding gua, tapi dia tak mau ambil perduli, hanya terdengar suara aneh yang makin lama makin mendekat membuat keringat dingin mengucur keluar semakin deras membasahi seluruh tubuhnya.
Setelah lari lagi beberapa saat lamanya keadaan gua itu makin lama makin menjarok ke bawah, bahkan dari tanah pasir telah barubah menjadi tanah lumpur yang tebal membuat langkahnya makin lama makin bertambah perlahan.
Ketika dia menoleh kebelakang lagi terlihatlah keempat buah mata yang barwarna hijau mengkilat memancarkan sinar yang tajam memandang kearahnya sedang tubuhnya tetap barada tidak jauh dari tubuhnya.
Tak terasa pikirnya.
"Kali ini habis sudah, entah tempat didepan itu menembus kemana, kini binatang aneh itu pun terus mengejar."
Tapi sejenak kemudian pikirnya lagi.
"Tak perduli gua ini menembus kearah mana bagaimanapun juga aku tak bisa tunggu disini saat kematian."
Berpikir sampai disitu segera dia mcnyedot hawa dalam2 sekali lagi menerjang kedepan, makin lama tanah didalam gua itu terasa mulai ada airnya, bahkan makin lama makin dalam, didalam sekejap saja air itu telah mencapai lututnya, setelah berjalan beberapa langkah lagi air itu telah mencapai dipinggangnya, pada saat itu dia menjadi sadar, kiranya gua tersebut menghubungkan diri dengan sungai yang mengalir dipuncak Ha Mo Leng, dia yang mengerti akan ilmu dalam air tak terasa menjadi sanagat girang dengan cepat dia merendamkan seluruh tubuhnya kedalam air dan menyelam lebih dalam lagi.
Setelah merasa kalau binatang aneh itu tak mengejar dirinya lagi barulah dia muncul kembali keatas permukaan, tapi dia tak berani balik ketempat semula, dengan cepat mangikuti mengalirnya arus sungai itu barenang kearah depan.
Tak lama kemudian tiba2 arus yang sangat santar menerjang, kaki kirinya maju kedepan, didalam keadaan yang sangat terkejut segera dia munculkan dirinya untuk melihat.
Kiranya dia telah berada didepan gua tarsebut dan sama sekali tak diduga olehnya kalau gua itu ternyata menghubungkan puncak gunuag dengan kaki gunung Ha Mo Leng.
Hatinya menjadi demikian girangnya, pikirnya kemudian.
"Bila aku ingin naik gunung lagi bukankah akan sangat gampang sekali ?"
Tapi tiba-tiba dalam otaknya berkelebat bayangan dari binatang aneh berkepala dua tersebut, hatinya segera menjadi beku separuh, bila binatang aneh itu masih tetap hidup didalam gua tersebut maka seluruh keinginannya akan buyar menjadi bayangan saja.
Sekonyong2 teringat pula olehnya.
'Nanti malam Siauw Ie akan menghantarkan makan malam bagiku, bila dia sampai bertemu dengan binatang aneh berkepala dua itu bukankah akan runyam ??"
Tapi teringat pula kalau Lie Siauw Ie memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, apalagi dalam tubuhnya menggembol senjata rahasia Kin cu gin ciam, tak terasa hatinya menjadi lega kembali.
Ketika dia munculkan dirinya pada permukaan sungai hari telah jauh siang, matahari tepat berada diatas kepalanya memancarkan sinarnya dengan sangat terang, angin sepoi-sepoi bertiup menyejukkan tubuh mcmbuat setiap orang merasakan sangat nyaman sekali.
Setelah mengingat benar-benar letak dari gua rahasia itu dengan cepat dia berenang ketepi sungai, pikirnya lagi.
"Ketika ini bisa meninggalkan Siauw Ie untuk sementara waktu juga jauh lebih baik, diatas gunung akupun tak bisa tinggal terlalu lama akhirnyapun aku harus meninggalkan tempat itu jua."
Berpikir sampai disitu tiada pikiran lagi yang berada dalam otaknya, terlihat gunung yang berwarna biru serta sawah yang berwarna hijau membentang dengan indahnya, air sungai mengalir dengan tenangnya disamping burung yang berkicau mengisi suasana yang kosong tapi ditempat yang kosong demikian luasnya haruskah dia pergi ketempat mana ??
Dengan menundukkan kepalanya dengan perlahan dia mulai berjalan kedepan terasa tubuhnya yang basah kuyup tak enak dibadannya.
Apalagi perutnya pun terasa mulai lapar dengan pikiran yang bingung sekali lagi dia menerjun sekali lagi dia menerjunkan dirinya kedalam sungai untuk menangkap beberapa ekor ikan sebagai menangsal perutnya, kemudian dengan tergesa-gesa kembali kerumah majikan dimana selama kurang lebih beberapa tahun dia bekerja sebagai pengangon sapi.
Malam harinya dia tak bisa memejamkan matanya, otaknya penuh diliputi oleh soal-soal yang terasa amat rumit baginya terpikir olehnya alangkah baiknya kalau dia bisa terus menerus tinggal bersama sama dengan Siauw Ie, tapi pikirannya menjadi sadar lagi satu-satunya jalan mencapai cita-cita itu hanyalah harus belajar ilmu silat hingga mencapai kesempurnaan.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Liem Tou telah pamitan dengan majikannya untuk meninggalkan rumah itu sekalipun sang majikan berkali-kali mencoba untuk menahannya tapi tetap ditolak olehnya dengan bulatkan semangat Liem Tou meninggalkan rumah itu pergi mencari suhu untuk belajar silat.
Dua hari semenjak dia meninggalkan rumah majikannya, Liem Tou masih tetap berjalan tanpa arah, dia tak tahu harus menuju kemana baiknya, dalam perjalanan yang tak menentu itu pada malam hari dia tidur di k elenting, sedang makan pun hanya ikan-ikan yang ditangkap sendiri olehnya, dalam hatinya dia hanya terpikirkan satu tujuan, cepat-cepat berhasil melatih ilmu silatnya dan balik keatas gunung menemui Cici Siauw Ie-nya.
Hari itu setelah manempuh perjalanan selama setengah harian dia mulai merasakan tubuhnya sangat penat, didalam sebuah rimba yang lebat dan rindang dia manyatukan diri duduk bersandar pada sebuah pohon untuk beristirahat, tak terasa lagi saking letihnya dia jatuh tertidur dengan nyenyaknya.
Ketika mendusin kembali matahari telah jauh condong kearah barat, haripun hampir gelap, Liem Tou yang melihat keadaan cuaca itu segera bangkit siap meninggalkan tempat itu mendadak dari dalam rimba berkumandang keluar suara tertawa yang sagat keras sambil berkata.
"Hee. Pembesar Buta, rasakanlah langkah bentengku menghancurkan pertahananmu, Bagus, Bagus sekali hanya sayang kau masih belum punya kepandaian untuk menahan aku si orang siucay, hati-hatilah."
Mandadak sebuah suara yang tajam melengking memotong ucapannya.
"Hati-hati dengan kudaku mengepung rajamu siucay rudin yang tak tahu malu, jangan sombong dulu, lihatlah kelihayanku ini "
"Pembesar sombong, hati2 dengan bentengku menghancurkan kubu pertahananmu he.. he jangan keburu girang kau"
Sahut suara yang pertama sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haim, . , tak usah banyak omong rasakan kelihayanku."
"He... he... kau tak mau menghindar malah menggunakan siasat keras lawan keras. Hm... hm..kau kira aku siucay buntung takut padamu?"
Liem Tou ketika mendengar suara teriakan itu seperti orang yang sedang main catur rasa ingin tahunya meliputi seluruh otaknya, oleh karena sejak keciI dia sering bermain catur dengan ayahnya Liem Han San kini mendenger ada orang sedang bermain catur tak terasa dengan mengikuti jalan kecil disamping rimba itu berjalan makin masuk kedalam rimba tersebut.
Semakin dia berjalan kedalam suara bentakan dua orang yang sedang main catur semakin terdengar makin keras bahkan keadaannya kelihatanya seimbang dan telah mencapai puncak ketegangan.
Liem Tou yang mcndengar suara itu begitu jelasnya tak merasa hatinya makin tertarik, segera langkah kakinya dipercepat dengan setengah berlari dia berjalan masuk kedalam rimba dimana suara tersebut berasal.
Tak lama kemudian dimana suara berkumandangnya orang sedang main catur secara samar2 terdengar pula suara angin yang menyambar dengan kerasnya, sebuah batu cadas sebesar gentong air dengan kecepatan yang luar biasa melayang melalui atas kepalanya, malihat hal itu dengan tergesa2 Liem Tou menghindarkan diri sedang dalam hatinya terasa semakin heran.
Pada saat itu pula dia lebih hati-hati dan waspada, sekalipun langkah kakinya tetap berjalan menuju kedepan tapi matanya tetap memandang tajam sekitar tempat itu, takut ada batu besar lagi menyambar kearahnya.
Semakin lama dia berjalan makin dekat pula dengan tempat berasalnya suara itu, kalau tak melihat kedua orang yang sedang bermatn catur tersebut tak terasa saking terkejutnya keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, dia semakin tak berani munculkan dirinya, dengan cepat menyembunyikan diri dibelakang sebuah pohon besar memandang kearah kedua orang itu.
Kiranya ditengah rimba yang lebat itu terlihatlah sebuah tanah lapang yang luas dan kosong dimana terdapat dua orang yang semula Liem Tou menduga sedang bermain catur itu tetapi mereka bukannya sedang bermain catur, sebaliknya sedang bertempur dengan seru dan dahsyatnya, pasir beterbangan keempat penjuru, bayangan tangan berkelebat menyilaukan mata serta angin pukulan yang menyesakkan dada.
Yang aneh adalah dikedua orang itu yang satu memakai jubah kebesaran berwarna merah tua yang telah kumal, kepalanya memakai kopiah kebesaran pula hal ini memperlihatkan kalau dia merupakan seorang pembesar kerajaan hanya sayang kedua matanya telah buta, pada tanganya mencekal sebuah tongkat besi yang berkepalakan naga dengan ganasnya menusuk dan menyambar pihak lawannya, sedang yang seorang lagi adalah seorang tua yang mengenakan pakaian model seorang Siucay, pada janggutnya terurai janggut yang panjang berwarna hitam pekat sepanjang dada, wajahnya masih terlihat sisa-sisa ketampanannya semasa muda sedang tangannya mencekal sebuah kipas berwarna putih cuma yang heran orang ini hanya mempunyai kaki tunggal, demikian juga dengan tangannya yang tinggaI sebelah.
Usia kedua orang aneh itu kelihatan lebih dari lima puluh tahunan.
Liem Tou yang melibat kejadian itu segera merasa heran bercampur curiga, diam2 pikirnya.
Orang buntung berkelahi dengan orang buta, sungguh merupakan peristiwa yang jarang terdengar didunia ini, bahkan setiap kaii mereka melancarkan serangannya pada mulutnya tentu mengucapkan langkah2 dari jalanan catur, sedang apa-apaan mereka itu sebenarnya.
Rasa curiganya semakin tebal meliputi dirinya, ketika dia memandang lagi kearah langkah kaki mereka tak terasa perasaan herannya makin menjadi-jadi, kiranya tempat dimana kedua orang itu bergebrak dengan sangat jelas tergoreskan kotak-kotak catur, sedang kedua orang itu meloncat loncat dan saling serang menyerang diantara kotak kotak catur tersebut.
Pada saat itu Siucay buntung itu sedang berdiri di perbatasan kotak-kotak caturnya, tiba-tiba kakinya yang tinggal sebelah itu mentul keatas tanah dan meloncat tinggi beberapa depa sambil bentaknya dengan keras.
"Hey pembesar buta, hati hati bentengku maju enam langkah"
Liem Tou yang melihat mereka bergebrak sesuai dengan jalannya biji catur segera menduga kalau Siucay buntung itu telah meloncat ketengah udara tentu akan menubruk dengan ganasnya kearah pembesar buta tersebut, siapa tahu mendadak tubuhnya dimiringkan kesamping kemudian dengan ringannya melayang turun keatas tanah, sedikitpun tidak menmbulkan suara.
Siapa duga telinga dari pembesar buta itu sangat tajam dan jauh lebih tajam dari semua orang, dengan amat gusar bentaknya dengan nada yang melengking.
"Budak yang tak tahu diri, kau sedang menggunakan siasat apa?"
Sehabis berkata tongkatnya diangkat siap menyerang kearah pihak musuhnya, pada saat itulah Siucay buntung itu secara mendadak meloncat maju Iagi beberapa tindak bentaknya dengan keras.
"Kudaku maju tiga langkah, suara ditimur memukul Barat, aku sedang melancarkan siasat macam apa coba kau katakan"
Kipas putih ditangannya dilipat menotok kearah jalan darah didepan dada Pembesar buta tersebut, gerakannya sangat cepat bagaikan sambaran, kilat.
Liem Tou hanya melihat berkelebatnya sebuah bayangan manusia segera terdengar pembesar buta itu telah membentak dengan keras.
"Sungguh bagus seranganmu. Menteri maju lima langkah benteng mundur empat langkah pembawa bunga menyembah Budha"
Tangan kiri Pembesar buta itu dengan cepat diangkat menutup serangan kipas dari Siucay buntung tersebut, sedang tongkat besi ditangan kanannya mendadak digetarkan dengan menggunakan ujung tongkat bergambarkan naga2an dia menotok punggung Siucay buntung.
Siucay buntung itu segera memutarkan tubuhnya, kakinya yang tinggal sebelah dengan tidak menimbulkan suara sedikitpun menutul permukaan tanah kemudian meloncat beberapa depa dibelakang sambil tertawa keras ujarnya.
"Benteng maju sembilan langkah dengan berkecepatan luar biasa mundur kebelakang. Hei pembesar buta kita tidak bertemu hanya beberapa tahun saja kepandaian bermain caturmu ternyata telah maju satu tingkat."
"Apa kau kira sejak mataku kau butakan, sejak itu pula aku benar2 menjadi cacat!,"Sahut pembesar buta itu sambil tertawa terkekeh2. Sebabis berkata wajahnya mendadak berubah menjadi pucat pasi, tongkat berkepala naganya pun dengan secara mendadak melancarkan serangan dahyat ketengah udara sambil bentaknya dengan keras.
"Aku beritahu padamu hei si buntung bangkotan, pada suatu hari tentu aku akan membalas dendam atas butanya sepasang mataku ini, kau tunggu saja peristiwa ini baru terbukti kau mengundurkan diri, sudah tentu telah kalah satu tingkat dari aku. Kitab rahasia To Kong Pit Liok sudah tentu menjadi milikku."
Mendengar perkataan itu si Siucay buntung itu segera mengebutkan lengannya yang tinggal sebelah. sambil tertawa keras ujarnya.
"He .. he Pembesar buta, matamu buta kau mau balas dendam, lalu aku harus balas dendam pada siapa atas hilangnya sebuah langan serta kakiku ini? Pada waktu yang lalu bila kau menginginkan pangkat dan kedudukan terhormat kita sebenarnya merupakan sepasang kawan karib yang disegani oleh setiap orang, kini coba jadi apa kita sekarang?. Kitab rahasia To Kong Pit Liok dengan cara demikian saja diserahkan kepadamu, he.. he, . kau jangan mimpi di siang hari"
Liem Tou yang bersembunyi dibalik pohon setelah mendengar ucapan dari kedua orang itu barulah menjadi sadar.
Kiranya kedua orang itu sebenarnya merupakan sepasang kawan karib, kamudian karena pembesar buta itu gila pangkat dan menjadi Pembesar Kerajaan mereka berbalik menjadi saling bermusuhan dan saling serang menyerang dengan mengadu jiwa yang akhirnya menjadi musuh bebuyutan.
Bahkan pertempuran ini hari agaknya sedang memperebutkan sebuah kitab rahasia yang bernarna "To kong Pit Liok"
Tetapi kepandaian kedua orang itu sama-2 mengejutkan sekali bahkan Liem Tou mengira kalau kepandaian mereka jauh lebih liehay beberapa kali lipat dari Ang in sin pian si cung cu dari perkampungan le Hee Cung itu.
Ketika Liem Tou sedang melamun itulah mendadak dari tempat kejauhan berkumandang datang suara siulan yang amat panjang dan nyaring sehingga menembus awan.
Liem Tou yang mendengar suara siulan itu menjadi sangat heran sekali, pada saat itu Pembesar buta telah angkat bicara, ujarnya.
"Hm..bagaimana sisetan ramal Thiat Sie Poa bisa datang juga kesini? Urusannya bisa berabe nih".
"Heei Pembesar buta kau takut? tanya si siucay buntung dengan nada yang mengejek.
"Apa yang harus kutakutkan? Balas si pembesar buta dengan seramnya. Pada waktu itu juga Liem Tou dapat melihat dengan sangat jelas sekali kedua alis dari pembesar itu dikerutkan dalam2 sedang tongkat berkepala naga ditangannya dengan secara telak menyambar dengan datar kedepan dengan gerakan yang meneter melancarkan serangan dashsyat mendesak si siucay buntung tersebut. Tongkatnya dengan tak henti2nya mengancam tenggorokan, dada serta perut. Melihat kejadian itu Liem Tou menjadi sangat terkejut. Sungguh kejam dan licik si mata picik itu. Menanti si siucay buntung itu merasakan adanya serangan membokong yang mengancam tubuhnya tongkat berkepala naga dari sipembesar itu telah mencapai tenggorokannya tidak lebih beberapa coen untuk menghindarkan diri tak sempat lagi terpaksa mau tak mau didalam keadaan yang sangat kritis itu dengan keras dia membentak sedang kipas yang berada ditangannya dengan kerasnya, mengancam ulu hati sipembesar buta tersebut, pikirya dengan demikian mungkin dirinya juga bisa membalas kekalahan tersebut. Pada saat yang sangat kritis itulah mendadak terasa sesuatu gulungan angin pukulan yang sangat dahsyat menyambar datang dari tengah udara kemudian disusul dengan berkelebatnya suatu bayangan manusia, seorang yang mempunyai bentuk tubuh pendak gemuk telah muncul ditengah kalangan, ujarnya.
"He ---he siucay buntung, Pembesar picik makin bertempur makin jadinya tidak karuan apa mungkin kalian tidak mau berhenti juga."
Tongkat serta kipas dari kedua orang itu begitu ditekan oleh angin pukulan dari orang pendek gemuk itu segera mencapai pada sasaran yang kosong.
"Hei Thiat Sie poa kau pergi urus untung rugimu sendiri saja, jangan mencampuri urusan orang lain apalagi dari tubuh kami berdua kaupun tidak mungkin akan berhasil mendapatkan keuntungan apapun juga."
Sebaliknya siucay buntung begitu melihat munculnya si gemuk pendek itu segera tertawa keras ujarnya.
"Thiat Sie heng kedatanganmu sungguh sangat tepat, kalau tidak sejak tadi Siauw te telah binasa dibawah serangan bokongan dari pembesar picik yang rakus itu, kedatangan dari Thiat Sie heng kali ini apa juga karena mempunyai perhatian tarhadap kitab rahasia To Kong pit Liok tersebut?"
Liem Tou melihat bentuk dari si gemuk pendek itu bukan saja cara berpakaiannya sangat mirip sekali dengan seorang pedagang besar bahkan pada tangannya mencekal sebuah Sie poa tak terasa menjadi sangat tertarik, dengan perlahan-lahan dia mulai merangkak maju beberapa tindak kedepan, sekalipun saat itu cuaca dengan perlahan-lahan mulai menjadi gelap tetapi dia tidak mau ambil perduli, dengan berdiam diri dia meneruskan pengintaiannya.
Thiat Sie poa itu setelah mendengar perkataan dari si siucay buntung segera tertawa tergelak, sahutnya.
"Bukan saja aku si Thiat Sie sianseng yang menginginkan kitab rahasia To Kong Pit Liok"
Itu, aku lihat Tionggoan Ngo Koay kini sudah pada datang semuanya, selain kalian berdua Siucay buntung, Pembesar buta serta aku sendiri masih ada si mayat hidup serta Pengemis pemabok yang masing-masing dengan membawa anak buahnya telah datang semua, bahkan hampir-hampir terjadi pertempuran."
Begitu Si Pembesar buta mendengar perkataan dari Thiat Sie poa, mukanya segera be¬rubah hebat, dengan sombong tanyanya.
"Hee -he -si pengemis pemabok itu juga ikut datang??"
Ejek siucay buntung tersebut.
"Kalau tahu begitu adanya aku gemas kenapa sejak dulu tidak bereskan saja anjing Tar-tar itu."
Si Pembesar buta itu menjadi sangat gusar sambil membentak keras tongkatnya diayunkan menyerang kearah siucay buntung tersebut, tetapi keburu ditangkis oleh Thiat Sie poa, sambil tertawa ujarnya.
"Eh -e --Pembesar buta kau memangnya masih memiliki kegagahan pada waktu yang lalu, kini kenapa harus main kasar??"
Ketika si pembesar buta mendengar perkataan itu segera dia sadar kalau Si Thiat Sie poa itu berdiri dipihak si siucay buntung, kegusarannya tak dapat ditahan lagi hanya pada saat ini tak dapat berbuat apa-apa, saking gemasnya tongkat berkepalakan naga itu diketukkan dengan kerasnya keatas tanah kemudian dengan cepat melayang pergi menerobos kedalam rimba yang mulai menggelap itu.
Begitu si pembesar buta pergi, si siucay buntung bersama dengan Thiat Sie poa segera bertepuk tangan sambil tertawa keras sejenak kemudian barulah tanya si siucay bunting itu.
"Thiat Sie-heng, perhitungan Sie-poa mu ini selamanya sangat cocok, kini kita hanya tahu kalau buku pusaka "To Kong Pit Liok"
Itu berada ditangan Siok To Siang mo atau sepasang iblis dari daerah Siok To yang kini bersembunyi didalam daerah Cong-teng ini, sedangkan manusianya bersembuuyi dimana kita sama se-kali tidak mengetahuinya, apalagi golongan Pek to maupun golongan Hek to didalam dunia kangouw berduyun duyun telah datang mambanjiri daerah ini, sebenarnya kitab pusaka itu akhirnya akan jatuh ketangan siapa, apa kau pernah melihatnya dengan perhitungan sie-poa mu itu?"
"Jika aku ceritakan memang sangat mengherankan sekali". Sahut Thiat Sie poa sambil tertawa pahit.
"Biasanya perhitungan Sie poaku ini sangat manjur, tetapi entah bagaimaaa sekali ini biarpun sudah kuhitung pulang pergi selama tiga hari tiga malam, hasilnya membuat aku benar benar sangsi. Aku hanya dapat melihat buku pusaka itu kini sedang terkurung dalam suatu tempat yang tertutup dan akhirnya orang yang akan berhasil mendapatkan kitab pusaka itu tak lebih hanya seetor kerbau adanya. bukankah ini merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh."
Liem Tou yang mencuri dengar dibalik pohon, begitu mendengar perkataan itu tak terasa tertawa keras, Si siucay buntung serta Thiat Sie poa begitu mendengar suara tertawa tersebut, dengan cepat memutar tubuhnya, terlihatlah seorang anak lelaki barusia enam belas tahunan dengan memakai baju yang compang camping bersembunyi dibalik pohon, segera bentaknya dengan berbareng.
"Kau siapa? Kenapa mencuri dengar pembicaaraan orang lain?"
Liem Tou yang secara tidak sengaja mengeluarkan suara tertawanya sehingga diketahui oleh kedua orang itu segera dia sadar kalau kedua orang itu memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan tak boleh diusik seenaknya, terpaksa dengan sejujurya dia menceritakan pengalamannya dimana dia terpancing datang oleh suara permainan catur sehingga dirinya tiba ditempat itu.
Si siucay buntung itu begitu selesai mendengar kisahnya segera tersenyum, ujarnya kepada Thiat Sie-poa.
"Hitung hitung dia punya rejeki yang besar, mari kita pergi saja."
Thiat Sie poa mengangguk, baru saja hendak berangkat mendadak seperti teringat akan sesuatu segera dia manoleh lagi memandang sekejap kearah Liem Tou, tanyanya.
"Siapakah namamu, kau tinggal dimana?"
Liem Tou yang melihat tubuh Thiat Sie poa yang gemuk pendek itu apalagi seluruh tubuhnya berlapiskan minyak merasa tidak begitu simpatik, tetapi jawabnya juga.
"Aku bernama Liem Tou, tidak punya rumah"
Si siucay buntung itu melihat Thiat Sie poa mengajukan partanyaan tersebut tidak terasa memandang juga kearah Liem Tou dengan teliti, kemudian sambil tersenyum ujarnya.
"Thiat Sie heng, orang ini sangat bagus dan berbakat alam, apa mungkin Thiat Sie heng punya minat terhadap dirinya?". Thiat Sie poa tidak memberikan jawaban, mendadak dia mengambil keluar Sie poanya dan dihitungnya pulang pergi selama beberapa saat lamanya, tampak kelimaa jari tangannya dengan tak henti2nya bergoyang diatas Sie poa tersebut, setelah menghitung sekali diulangi sekali lagi kemudian berulah dengan perlahan dia angkat kepalanya melirik sekejap kearah Liem Tou, tangannya memungut sebuah ranting kayu lantas melukis satu bulatan berangkai sebanyak tiga puluh enam buah diatas tanah. Setelah itu dia menoleh pada Si siucay buntung, sambil menghela napas panjang dia menggelengkan kepalanya, sahutnya.
"Aku tidak punya rejeki begitu besarnya, mari berangkat."
Sesaat sebelum meninggalkan tempat itu entah secara sengaja atau tidak mendadak Thiat Sie poa itu menoleh dengan memandang ke arah Liem Tou s ambil teriaknya dengan keras.
"Bocah ingatlah, pikiran harus lurus jangan sembarangan pergi ketempat yang tak berguna, karena akan mencelakai dirimu sendiri."
Sehabis berkata jubahnya yang lebar itu dikebutkan, bersama2 dengan Si siucay buntung meloncat kcatas pohon dan melayang pergi, tidak selang lama telah lenyap dari pandangan.
Sesudah kepergian dari si Siucay bunturg serta Tniat Sie poa itu Liem Tou menjadi tertegun untuk sesaat lamanya, ketka teringat kembali akan siucay buntung serta Thiat Sie poa mendadak dia tepok batok kepalanya sendiri teriaknya.
"Ooh sungguh sayang, kenapa tidak terpikirkan waktu tadi'? Bukankah aku sedang mencari guru pandai untuk belajar ilmu? sebenarnya tadi merupakan kesempatan yang sangat bagus bagi diriku, ternyata kubuang dengan percuma, hai --sungguh konyol aku ini. Untuk pergi mengejar sudah tentu tidak mungkin bisa terjadi, tiba2 teringat oleh gambaran lingkaran yang dilukis Thiat Sie poa diatas tanah, sebenarnya gambar apakah? Achirnya dengan perlahan dia mulai mendekati itu dan memandangnya lebih teliti, mendadak terasa olehnya gambaran itu pernah dilihatnya bahkan mirip sekali dengan apa yang pernah dia dengar, cepat dia berpikir lebih teliti lagi dan teringatlah olehnya kitab pusaka peninggalan ayahnya memang terdapat gambaran seperti itu didalamnya. Untung saja saat itu cuaca belum sampai gelap seluruhnya, dengan cepat dia mengambil keluar kitabnya dicocokkan dengan tulisan itu ternyata sangat persis tak ada bedanya, hanya dia tak tahu apa gunanya gambaran itu bahkan dia anggap tentu hal itu merupakan perhitungan aneh yang sangat mendalam dari Thiat Sie poa, tetapi jika menurut kitab pusaka peninggalan ayah, gambaran itu termasuk didalam hal ilmu langkah kaki. Mendadak hatinya menjadi bergerak pikirnya.
"Thiat Sie Poa itu membuatkan gambaran lingkaran ini diatas tanah tentu punya maksud bahkan didalam kitap pusaka ini tertuliskan ilmu langkah kaki, kenapa aku tidak mencobanya??."
Perasaan ingin tahu dari Liem Tou segera meliputi seluruh pikirannya, dengan mengikuti lingkaran yang terdapat diatas tanah itu dia mulai berjalan berputar putar, siapa tahu baru saja berjalan dua tindak kakinya tergelincir dan jatuh terjengkang keatas tanah.
Melihat kejadian itu diam-diam Liem Tou memaki ketololan dirinya sendiri, dengan cepat dia merangkak bangun lagi, sedang mulutnya bergumam.
"Bagaimana jadinya ini, jalan datar saja terjungkir seperti ini?"
Sekali lagi dia mulai berjalan mengikuti lukisan itu, siapa tahu seperti pertama kali tadi dia jatuh terjungkir kembali keatas tanah, sedang kali ini jatuhnya lebih keras lagi.
Kali ini dia mulai sadar kalau didalam lukisan itu tentu memiliki keajaiban lainnya, Kiranva jangan dipandang lukisan lingkaran yang tidak rata diatas tanah itu sekalipan sangat kacau tetapi memiliki kesaktian serta ke lihayan yang tidak terkira dalamnya, jangan di kata Liem Tou seorang bocah cilik yang tak tahu apa apa sekalipun orang lain yang memiliki ilmu silatpun juga tidak akan ada yang bisa mempertahankan tubuhnya hingga tidak sampai terjatuh.
Liem Tou yang berturut turut jatuh dua kali.
segera merangkak bangun kembali, sambil menggigit kencang bibirnya ujarnya.
"Aku tidak akan pecaya kalau demikian gaibnya, sekalipun malam ini tidak tidur aku juga harus bisa berjalan sampai bisa,"
Keputusan itu begitu diambil didalam hatinya dengan segera dia mengulangi lagi berjalan diantara lingkaran lingkaran itu, tidak lama kemudian akhirnya ditemuinya juga sedikit titik terang dan berhasil menerobos satu langkah, hatinya menjadi sangat girang sekali, demikianlah selama semalam suntuk dia terus menerus belajar berjalan diantara lingkaran itu hingga sampai hapal.
Saat itu seluruh tubuhnya terasa amat lelah sekali, keringat mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, saking lelahnya tidak terasa lagi dia jatuh tertidur dengan pulasnya dibawah sebuah pohon yang besar.
Menanti dia mendusin dari tidurnya, hari telah jauh siang, matahari memancar sinarnya dengan sangat terang Mendadak terlihat olehnya tidak jauh dari dirinya berbaring, berdiri seekor kerbau yang sangat tenangnya memakan rumput.
Sejak Liem Tou diusir dari puncak Ha Mo Leng selama beberapa tahun lamanya dia hidup sebagai pengangon sapi, begitu melihat sapi ia menjadi sangat girang sekali.
Dengan perlahan dia berjalan mendekati sambil menepuk nepuk tubuh kerbau itu, ujarnya.
"Kakak kerbau; bagaimana kau bisa seorang diri ditempat ini? Apa kau telah tersesat? Mari aku temani kau bermain"
Kerbau itu agaknya mengerti akan perkataannya dengan suara perlahan mengeluarkan desiran.
Liem Tou yang sejak kecil dianiaya terus oleh orang, begitu ada orang yang sedikit baik sraja terhadap dirinya maka dia seperti akan merasakannya, kini tak terasa menjadi sangat girang, dengan cepat ditepuk-tepuknya pundak kerbau itu.
Sekonyong konyong dari belakang tubuhnya muncul seorang lelaki kasar yang sangat gusarnya membentak.
"He, kau cecunguk kecil cepat pergi!, he he kau mau mencuri kerbauku?"
Siapa yang mau mencuri kerbaumu?, balas maki Liem Tou dengan gusarnya.
"Kau jangan sembarangan memfitnah. Kau barulah mirip sebagai seorang pencuri kerbau"
Lelaki kasar itu menjadi sangat gusar sekali, bentaknya.
"Bocah edan, kau berani menaaki Jieya mu? Aku harus memberi pelajaran padamu biar kau tau rasa kellhayan dari Jieya mu ini"
Sehabis berkata tubuhnya maju satu langkah kedepan; dengan cepat Liem Tou mengundurkan dirinya kebelakang, tetapi gerakan dari lelaki kasar itu jauh lebih cepat dari dirinya, tamparannya dengan cepat mengenai pipi sebelah kirinya.
Liem Tou menjadi sangat gusar sekali bentaknya.
"Bagus, Kau berani pukul aku"
Pada saat kegusarannya sedang memuncak itulah mendadak dari luar rimba terdengar suara hiruk pikuk yang sangat ramai sekali, terdengar ada salah satu orang yang berteriak dengan kerasnya.
"Cepat semua datang kemari, orang yang mencuri kerbau berada disini. Cepat tangkap, jangan sampai pencuri kerbau itu melarikan diri"
Lelaki kasar itu begitu mendengar ada banyak orang mengejar datang, sambil mendepakkan kakinya keatas tanah makinya.
"Sialan. Hu.."
Dengan cepat ia memutar tubuhnya dan melarikan diri kedalam rimba tersebut.
Kini tinggal Liem Tou seorang diri tertegun ditempat itu dia merasa bingung entah telah terjadi urusan apa ditempat itu, pada saat itu juga orang-orang kampung telah meluruk datang kedalam rimba itu, beberapa orang yang berada dipaling depan telah berhasil mencekal diri Liem Tou dan ditekannya kebawah tanah, tangannya dengan tak henti-hentinya mengirim jotosan serta tendangan yang keras.
Diperlakukan seperti itu Liem Tou berteriak, serunya.
"Siapakah kalian semua? Kenapa tanpa bilang merah atau hijau sembarangan memukul orang? Aduh, kalian pukullah aku sampai mati, Ooh .. aduh!"
Orang kampung yang datang itu makin lama makin banyak, dengan tepatnya mereka mengurung diri Liem Tou sedang mulutnya tak henti-hentinya memaki, mencelah, sehingga suasana menjadi sangat ramai sekali, bahkan diantaranya ada seorang wanita dusun yang berteriak.
"Kau cecunguk kecil tidak terlihat usiamu yang begitu masih muda telah melakukan perbuatan mencuri kerbau yang sangat memalukan ini, banyak waktu ini didusun kita telah kehilangan beberapa ekor kerbau secara berturut turut, kau maling kecil sebenarnya telah kau bawa kemana semua kerbau-kerbau itu?"
Seluruh tubuh Liem Tou yang dipukuli tak hentinya oleh orang orang kampung itu mulai terasa amat sakit segera dia ber-teriak2 dengan keras.
"Kalian jangan pukul aku, aku tidak mencuri kerbau kalian, aku bukan pencuri yang mencuri kerbau kalian"
Orang lelaki pertama yang menangkap dirinya segera membentak keras.
"Bukti hasil pancurianmu telah berada didepan mata kau masih berani mungkir he .. he . rasakan kepalanku ini"
Liem Tou hanya merasakan kepalan orang itu dengan kerasnya menghajar pundaknya, saking sakitnya hingga sukar ditahan.
"Aduh .."
Teriaknya sambil napasnya mengenggas-enggos.
"Aku tidak mencuri, aku bukan orang yang mencuri kerbau kalian "
Orang-orang kampung itu tidak memperdulikan mati hidup dari Liem Tou lagi, mereka semua mengira kerbau itu kini berada bersama dengan Liem Tou sudah tentu orang yang mencuri kerbau itu tidak ragu-ragu lagi adalah Liem Tou yang melakukannya, sehingga tanpa merasa sedikit kesihanpun kepalan serta tendangan mereka semakin menghebat, membuat seluruh tubuh Liem Tou luka-luka dan membengkak.
Semakin lama Liem Tou mulai merasa tidak dapat bertahan lebih lama lagi untuk menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnyapun tidak ada gunanya terpaksa sambil memejamkan matanya dia menahan terus kesakitan yang luar biasa itu, diam diam pikirnya.
"Terus pukullah, aku Liem Tou memang memiliki nasib buruk, sekalipun begitu aku juga tidak dapat barbuat apa lagi, untung aku masih ada le cici yang sangat baik terhadap diriku. Dia memejamkan matanya sedang pada mulutnya tersungging suatu senyuman yang manis, mendadak dadanya terhajar satu pukulan tak tertahan Liem Tou mengerutkan alisnya setelah mendengus berat dia jatuh tak sadarkan diri. ooOoo Entah telah lewat beberapa lamanya ketika dia sadar kembali terasalah olehnya orang orang dusun itu teriaknya.
"Hi---pencuri kerbau itu telah sadar kembali, biar dia jalan sendiri."
Orang yang menyeret tubuh Liem Tou itu begitu mendengar teriakan tersebut segera melepaskan tangannya.
Tetapi Liem Tou setelah dihajar habis habisan oleh orang orang dusun itu selain seluruh tubuhnya sangat linu dan sakit hingga sukar ditahan tubuhnyapun menjadi sangat lemas tak bertenaga, kini begitu dilepaskan mana dia berhasil berdiri tegak, kakinya tertekuk kedepan sedang tubuhnya sekali lagi rubuh keatas tanah.
Dua orang yang melihat Liem Tou benar-benar tidak kuat untuk berjalan sendiri segera menarik, kembali makinya dengan gusar.
"Hai bocah bangsat ayoh jalan, kita harus menyerahkan dirima kepada pembesar negeri biar kau dihajar hingga mati tidak dapat hidup-pun susah, Hmm..hmm bangsat cilik dengar tidak!"
Liem Tou tetap tidak mengeluarkan sepatah katapun, entah setelah ditarik oleh orang itu beberapa lama dan entah telah melakukan perjalanan beberapa jauhnya sampailah rombongan orang dusun itu pada sebuah kota dusun yang tidak begitu besar.
Liem Tou tetap diseret jalan ditengah jalan raya itu, orang-orang dalam kota, tersebut dengan terheran-heran menyaksikan kejadian tersebut sambil menggelengkan kepala makinya.
"Ha ---bocah secilik ini sudah mencuri kerbau, sungguh memalukan harus dihajar biar tahu rasa..."
Tidak selang lama seluruh penduduk diluar kota telah tahu kalau Liem Tou adalah seorang pencuri kerbau, sambil menuding mereka mencaci maki, meludahi wajahnya bahkan ada yang melempari batu2 kearah tubuhnya, sekalipun diperlakukan seperti itu Liem Tou juga tidak dapat berbuat apa apa, terpaksa sambil manahan seluruh penderitaan itu dia meneruskan jalannya dengan diseret.
Tidak seberapa lama kemudian sampailah mereka disebuah pengadilan, tetapi sekalipun telah ditunggu seberapa lama juga tidak muncul2 pembesar pengadilan itu, bahkan ada beberapa orang yang telah mulai ribut dan berteriak-teriak.
Seperminum teh kemudian munculah dua orang pengawal pengadilan dari dalam ruangan itu, ujarnya terhadap mereka.
"Pembesar kota itu sedang mengadakan pemeriksaan diluar dan kini masih belum kembali, pencuri ini biar ditinggal saja menunggu keputusan."
Semua orang setelah mendengar perkataan itu segera bubaran, sedang kedua pengawal itu bagaikan mencincing seekor anak ayam membawa Liem Tou kedalam Bui sambil bentaknya.
"Heei bangsat kecil, ayo jalan."
Sesampainya kedalam penjara segera didorong kesebuah kamar yang sangat gelap sekali keadaannya, bahkan untuk melihat sesuatu apa pun sangat sukar sekali, tak tertahan dia menjadi sangat terkejut dan berturut-turut mundur kebelakang beberapa tindak.
Kiranya dihadapannya telah berdiri seorang sipir bui yang sangat tinggi besar, dan kuat sekali saat itu orang sambil bertolak pinggang mendelik kearahnya, seluruh wajahnya ditumbuhi dengan berewok yang sangat tebal sedang matanya besar bagaikan bola.
Liem Tou melihat orang itu tidak mengucapkan apapun, dengan membesarkan nyalinya ujarnya dengan gemetar.
"Loo ya, aku tidak mencuri kerbau mereka, mereka telah salah menangkap orang."
Sipir bui itu hanya mendelikkan sepasang matanya, didalam sekejap saja tangannya telah bertambah dengan sebuan pecut yang dibuat dari kulit berwarna hitam, sedang mulutnya mendenguspun tidak.
Sejak Liem Tou dilahirkan selamanya dia dibesarkan diatas perkampungan tetapi tidak sampai pergi tertalu jauh sehingga pengalamannya didalam dunia kangouw boleh dikata sangat cetek sekali, jangan dikata penderitaan didalam bui, hanya cukup sikap yang seram dari sipir bui itu sudah cukup membuat hatinya sungguh merasa sangat terkejut bercampur takut dengan paksaan diri.
"Loo ya…"
Tak disangka baru saja dia memanggil Looya dua buah kata, pecut kulit yang berada ditangannya dengan mengeluarkan suara yang keras siap dihajarkan keatas tubuhnya, didalam saat itulah mendadak dari samping orang ini muncullah seorang pengemis cilik yang sangat dekil, Liem Tou belum sempat melihat jelas keadaan serta bentuknya segera dia merasa tubuhnya telah ditumpuk kesamping sehingga tergeser beberapa langkah dari tempat semula, makinya.
"Hee,..bocah cilik yang baru datang, bilamana kau mengetahui sedikit aturan panggilah Toako padanya, dan serahkan seluruh uang perak yang ada didalam sakumu."
Ketika Liem Tou mendengar perkataan itu segera dibuat menjadi melongo dan bingung atas sikapnya itu, entah harus berbuat bagaimana baiknya, saat itulah orang itu dengan tanpa sungkan sungkan lagi merogo kedalam sakunya Liem Tou dan mengambil seluruh uang yang berada didalam sakunya, sambil tersenyum ujarnya pada sipir bui itu.
"Harap Toako jangan marah atas kelancangan dari aku si pengemis, silahkan Toako terima sedikit uang ini."
Sipir bui ini berkedippun tidak, setelah memandang sekejap kearah pengemis cilik itu segera disambarnya uang ditangannya, kemudian memutar tubuhnya siap hendak memborgol tangan dari Liem Tou.
Jilid KE 3 LIEM TOU yang selamanya diperlakukan tidak adil membuat sifatnya penurut, kini baru saja sepasang tangannya diulur kedepan siap menerima borgolan tersebut, tiba tiba sipengemis kecil itu sambil tertawa ujarnya lagi pada Sipir Bui itu.
"Toako, coba kau lihat bangsat kecil itu seluruh tubuhnya telah luka parah, untuk berdiri saja sudah tidak sanggup buat apa harus diborgol tangannya apa dia takut melarikan diri?."
Liem Tou sama sekali tidak pernah menyangka kalau didalam penjara dapat bertemu dengan seorang yang selalu menolong dirinya tak terasa dia melirik kearah pengemis kecil itu, diam diam pikirnya.
"Aku Liem Tou selama hidupku ini orang yang terbaik denganku kecuali ayah serta le Cici selamanya tidak terdapat orang ketiga lagi, pengemis cilik ini ada sedikit aneh?"
Baru saja dia berpikir sejenak, tidak disangka si pengemis cilik itu telah menoleh kearahnya sambil membentak keras.
"Hei bocah cilik kau sedang memikirkan apa, cepat kesudut sebelah sana buka baju dan rawatlah luka lukamu itu."
Liem Tou ketika melihat si pengemis cilik sangat keren dan berwibawa tetapi secara samar samar memperlihatkan sikapnya yang sangat ramah dan halus segera menerima teguran itu dengan berdiam diri dia merasa bahwa pengemis cilik itu sedang melindungi dirinya, tak terasa lagi seperti seorang dewasa yang memarahi anak kecil dengan tanpa banyak komentar dia berpindah kearah sudut ruangan itu.
Siapa tahu baru saja dia duduk diatas tanah mendadak terdengar suara rintihan yang sangat lemah berkumandang keluar dari samping tubuhnya, dengan cepat menoleh untuk memandang, air mukanya segera berubah hebat agaknya dia merasa sangat terkejut sekali, tampaklah seorang buronan tua yang rambutnya terurai panjang sepundak dengan air mukanya yang pucat pasi bagaikan mayat sedang berbaring disamping sudut tembok dan merintih tak henti hentinya.
Ketika Liem Tou memandang lagi kearah kakinya, terlihatlah kudis serta koreng yang penuh tumbuh diseluruh permukaan kulit, baunya bukan buatan sehingga sukar untuk bertahan lebih lama.
Beberapa saat kemudian Liem Tou melihat si pengemis kecil itu berbicara beberapa patah kata kearah sipir bui itu, terlihatlah sipir bui itu amat girang sekali sambil tertawa terbahak bahak, setelah itu berjalan kearah sebuah kursi dan tertidur dengan pulasnya.
ooOOoo Dengan langkah yang perlahan sipengemis kecil itu berjalan kesamping tubuh Liem Tou tanyanya kemudian "Hei---bocah cilik yang baru datang siapa namamu?
Kenapa dimasukkan kedalam penjara oleh orang?"
Dalam hati Liem Tou masih merasa sangat gemas dan mangkal mendengar pertanyaan itu dengan gemasnya menyahut.
"Mereka bilang aku mencuri kerbau mereka.,"
Tiba-tiba si pengemis kecil itu tertawa terbahak bahak, ujarnya.
"Ha ha ha . kalau begitu engkau melanggar hukum yang serupa dengan diriku, kau sudah merupakan kawan sejalan aku kira kita lebih baik bekerja sama terus kalau sudah keluar dari penjara ini,"
"Aku tidak mencuri,"
Teriak Liem Tou dengan keras.
"Mereka yang secara seenaknya menuduh aku yang mencuri."
Si pengemis kecil itu masih tertawa terus tak henti-hentinya, mendadak dia bangktt berdiri, ujarnya.
"Perduli kau mencuri atau tidak pokoknya kini kau sudah ditangkap oleh mereka sekalipun tidak mencuri yah sudah mencuri, kau tunggu sebentar, aku akan pergi beli sedikit arak serta sayuran untuk menyambut kedatanganmu."
Liem Tou yang mendengar perkataannya ini merasa sangat bingung, didalam penjara seperti ini darimana datangnya sayur serta arak?
baru saja akan buka mulut untuk bertanya si pengemis kecil itu sudah berlari kesamping tubuh Sipir bui itu, dengan perlahan dia mulai mendorong tubuhnya sambil ujarnya.
"Toako kepala penjara, aku akan keluar sebentar."
Menanti Sipir bui mendusin dan membuka matanya dia telah lari, keluar dari pintu penjara dan lari terus keluar.
Dalam hati Liem Tou menduga tentunya Sipir bui itu akan merasa terkejut bercampur gugup, siapa tahu dia hanya membuka mulutnya dengan suara yang sangat serak barteriak.
"Hei pengemis bangsat. Tetapi pulang kembali, gentong araknya diangkut sekalian kesini."
Sehabis berteriak gumamnya seorang diri.
"Neneknya, beberapa hari ini perutku terus menerus kosong, sikap dari Loo ya terhadap dirikupun sedikit berubah."
Mendadak dia memutarkan tubuhnya dengan matanya yang mendelik besar itu mendatangi kearah Liem Tou, ketika Liem Tou melihat kedatangannya amat galak dan seram segera tahu tentu dia akan turun tangan jahat, hatinya terasa berdebar dengan kerasnya sedang matanya tak terasa lagi memandang tajam kearahnya, pikirnya.
Apa mungkin mau menggunakan pecut kulitnya untuk memukul tubuhnya.
Berpikir sampai disini segera dia menyusupkan seluruh tubuhnya menjadi satu sampai bernapas keraspun tidak berani.
Sebenarnya Liem Tou merupakan seorang yang tidak takut dipukul, oleh karena saat ini seluruh tubuhnya telah terluka hingga pecah pecah bila dipukul serangan apa pun juga tentu sukar untuk ditahan Iagi, disamping itu setelah dirinya dijebloskan kedalam bui dan bilamana mengadakan perrlawanan maka waktu bagi dirinya keluar dari bui tentu akan sangat lama sekali.
Sipir bui itu baru saja berjalan tidak jauh dari tubuhnya terlihatlah tangannya membalik melancarkan pecutannya memukul keras keatas sedang hidungnya tak henti-hentinya mendengus dengan sangat dinginnya.
Penjara itu sebenarnya sudah sangat gelap sekali, lagi pula lembab menyeramkan pula kini ditambah dengan wajahnya yang meringis menakutkan bayangan pecut serta aungan keras membuat suasana semakin mengerikan, tak tertahan lagi seluruh tubuh Liem Tou menggigil dengan kerasnya, sedang dalam hatinya merasa takut kalau pecut itu melayang menghajar tubuhnya.
Pada waktu itulah dari samping tubuhnya mendadak terdengar suara sahutnya.
"Aku tidak akan barbicara, sekalipun kalian menyiksa aku sampai mati aku juga tidak akan memberi tahukan kepada kalian."
Sipir bui itu mendengus dingin lagi, sambil berjalan dua langkah kedepan tangannya menyambar menjinjing tubuh tawanan tua itu dan dibanting ketengah ruangan bentaknya.
"Neneknya… Kakekmu tidak perduli kau mau bicara apa dengan Loo ya aku hanya terima perintah untuk setiap hari hajar kau sehingga setengah mati, hee tua bangkotan she Kan. Aku sungguh sangat sial, karena kau seorang membuat aku pun ikut serta tersiksa salama tiga tahun lamanya, cepat kau tahan hajaranku ini."
Sehabis berkata dia mulai melucuti seluruh baju kakek tua itu, ketika Liem Tou memandang tubuhnya terlihatlah bekas bekas luka yang memenuhi seluruh tubuhnya bahkan warnanya telah berubah menjadi matang biru, saking terkejutnya dengan cepat dia memejamkan matanya diam diam teriaknya.
"Ooh Thian, kau berada dimana?"
Disebelah sini dia sedang ketakutan setengah mati sedang disebelah sana sipir bui itu sudah mulai melancarkan pecutannya menghajar seluruh tubuh kakek tua itu, setiap kali pecutnya menyambar segera terdengar suara dengusan kesakitan dari mulut kakek tua itu.
Hanya saja suara kesakitan itu kini didengar dalam telinga Liem Tou mirip sekali dengan teriakan ngeri yang mendirikan bulu roma.
bahkan jauh lebih tidak enak dari tubuhnya sendiri, tak tertahan lagi seluruh tubuhnya gemetar tak henti-hentinya.
Sejenak kemudian seluruh tubuh sipir bui itu sudah penuh dibasahi oleh keringat yang mengucur keluar dengan derasnya, tetapi hajarannya masih terus berlangsung tak hentinya.
Sekalipun Liem Tou sejak kecil selalu dianiaya oleh orang lain tetapi belum pernah dia merasakan hajaran yang demikian kejam serta mengerikan.
Baru saja dia hendak mencegah perbuatan itu mendadak terdengar sipengemis kecil itu telah berteriak keras dari depan pintu penjara.
"Toako kepala bui, cepat hentikan hajaranmu, kenapa kau pukul dirinya lagi?". Begitu sipir bui itu mendengar pengemis cilik kembali, segera dia menyimpan kembali pecut kulitnya, dengan sangat dingin dia memandang sekejap kearah kakek tua yang aneh itu, dengan kasar makinya.
"Neneknya kenapa kau tidak cepat cepat mati saja ?". Sehabis berkata kakinya melayang menendang tubuh kakek aneh itu kemudian lari kearah pintu penjara menyambut datangnya sayur arak yang dibawa oleh pengemis cilik itu. Liem Tou melihat sipir bui itu sudah pergi segera membawa kakek aneh itu bersandar ditempatnya semula bahkan memakaikan pakaian yang tadi dilucuti oleh sipir bui tersebut kemudian barulah tanyanya dengan perlahan.
"Orang tua, kau masih bertahan tidak, Kenapa mereka memukuli dirimu demikian kejamnya?"
Siapa tahu kakek aneh itu tidak memperdulikan dirinya, bahkan seperti tidak mendengar pertanyaan Liem Tou, hanya tangannya merogoh kedalam pinggangnya mengambil keluar sebuah benda, tetapi sampai ditengah jalan berhenti lagi agaknya dia merasa ada Liem Tou disampingnya sehingga tidak mengambil keluar, sepasang matanya dengan sangat tajam memandang kearahnya.
Ketika sinar mata Liem Tou bertemu dengan sinar matanya dengan tak terasa menjadi sangat terkejut sekali dan tak tertahan bersin beberapa kali.
Kiranya sepasang matanya memancarkan sinar yang sangat keren, buas serta benci, membuat setiap orang merasa pada berdiri bulu kuduknya.
Pada ketika itulah waktu kakek tua itu melihat Liem Tou agaknva tidak punya maksud berbuat jahat terhadap dirinya segera mengambil keluar sebuah benda dari dalam pinggangnya, waktu Liem Tou melihat benda itu ternyata adalah sebuah tali dari celananya segera pikirnya dalam hati.
"Apa mungkin kakek aneh itu mau bergerak? Didalam sebuan ruangan penjara ini bila dia mau buang kotoran bukankah akan berabe?"
Berpikir sampai disini dia bermaksud hendak memberitahu pada sipir bui itu, tetapi ketika dia menoleh melihat lagi tak terasa dia menjadi tertegun dibuatnya, kiranya kakek aneh itu telah menelan tali celana tersebut, tanyanya dengan cepat, 'Kau orang tua sedang makan apa?
Bagaimana bisa dimakan benda seperti itu?"
Begitu kakek aneh itu mendengar pertanyaan dari Liem Tou itu seperti takut kalau dia merebut bendanya dengan cepat tali celana itu disimpan dan disembunyikan kedalam pinggangnya sedang mulutnya tak henti hentinya mulai merintih kembali, sama sekali dia tidak mau perduli terhadap sikap dari Liem Tou itu.
Liem Tou terpaksa hanya bisa menggelengkan kepalanya saja tanpa bisa berbuat apa apa lagi, tiba-tiba terdengar sipengemis kecil itu berteriak.
"Toako kepala bui agaknya masih sangat banyak cepat kau teguk segentong ini aku sipengarnis kecil tentu akan mengiringi kau untuk menghabiskan arak ini"
Ketika Liem Tou menoleh memandang kesana terlihatlah tubuh sipir bui itu sudah bergoyang tak hentinya agaknya dia sudah dibuat mabuk oleh pengemis cilik itu, bahkan mulutnya berbicara tak karuan.
"Baiklah, mari minum, kau sunggah baik sekali, Loo-ya agaknya telah berubah sikap terhadap diriku."
Si pengemis itu segera mengangkat sebuab gentong arak lagi dan diloloh kedalam mulut sipir bui itu, ujarnya.
"Toako kepala bui mari teguk lagi". Tidak disangka perkataannya baru selesai diucapkan tubuh sipir bui itu telah rubuh tak sadarkan diri diatas tanah, saat itulah dengan perlahan lahan sipengemis cilik itu baru bangkit berdiri, tangannya dengan perlahan mengangkat tubuh lelaki itu dan dilemparkan kedepan, dengan mengeluarkan suara yang amat keras tubuh Sipir bui itu sudah terjatuh keatas sebuah pembaringan sehingga hampir hampir rubuh kembali keatas tanah. Diam-diam Liem Ton yang melihat kejadian itu merasa sangat heran pikirnya.
"Jika dilihat usianya yang tidak begitu berbeda dengan usiaku, darimana datangnya tenaga yang begitu besarnya?"
Pada waktu itulah sipengemis cilik itu sudah menggape kearahnya sambil parggilnya.
"Hee . Pencuri kerbau. kau demikian sungkannya?? Sayur serta arak ini sengaja aku buatkan untuk menyambut kedatanganmu, cepat kemari"
Liem Tou yang mendengar begitu dia pentang mulutnya ternyata memanggil dirinya sebagai sipencuri kerbau dalam hati sudah merasa kekhie tetapi diapun merasa berterima kasih atas bantuannya untuk menghapuskan dirinya dari hajaran pecut kulit itu segera dia maju kedepan, dengan dingin ujarnya.
"Kita selamanya tidak saling mengenal dan bukan merupakan kawan senasib pula, buat apa kau mengadakan perjamuan ini untuk menjamu diriku ?"
Ternyata si pengemis cilik itu tertawa merdu sahutnya.
"Hee .. siapa yang menyuruh kau memiliki ilmu surat yang begitu sempurna?? Aku sipengemis cilik tidak akan paham akan hal tersebut, sudahlah, mari cepat makan."
Liem Tou yang mendengar nada suara tertawanya ternyata telah bcrubah bahkan hampir mirip dengan suara tertawa dari Ie cicinya tak terasa menjadi tertegun dibuatnya, urusan ini rungguh sangat aneh.Tak terasa lagi dia melotot matanya dengan tajam memandang kearahnya.
Si pengemis cilik itu begitu melihat sikapnya sangat aneh sepasang matanya segera berputar, sambil tertawa ujarnya lagi.
"Bagaimana? Kau takut makan apa karena jeri dengan setan itu? Kuberitahukan kepadamu. Hei si pencuri kerbau, didalam arak yang diminum telah kucampuri dengan obat tidur, tidak sampai besok pagi jangan harap dia bisa mendusin kembaii."
Mendengar perkataan itu Liem Tou merasa sangat terkejut sekali, dahulu dia pernah mendengar cerita ayahnya yang mengatakan bahwa obat bius itu biasanya digunakan oleh kedai-kedai gelap didalam membius tamu tamunya.
Kini si pengemis cilik itu ternyata menggunakan benda itu membuat Liem Tou benar benar merasa sangat curiga sekali.
Agaknya si pengemis cilik itu tahu apa yang sedang dipikir dalam hatinya, mendadak tertawa semakin merdu ujarnya.
"Hee si pencuri kerbau, kau berlega hatilah, kita merupakan kawan dari satu jalan tidak mungkin kita bisa menggunakan obat bius membius dirimu, apalagi sampai namamupun aku masih tidak tahu buat apa aku membius kau? Heee. Cepat makanlah. Aku dengan setulus hati hendak berkawan denganmu."
Sehabis berkata dia mengambil poci itu dan diisi penuh dengan arak wangi kemudian diteguknya hingga habis, ujarnya.
"Aku si pengemis cilik menghormati kau si pencuri kerbau agar sukses selalu, Hee. sipencuri kerbau, sebenarnya siapa namamu?"
Liem Tou yang dibegitukan oleh si pengemis cilik membuat ia tertawa tak dapat menangispun susah, terpaksa dia meneguk habis secawan arak kemudian sahutnya.
"Aku bernarna Liem Tou."
Mendadak teringat olehnya kalau si pengemis cilik itu memanggil dirinya sebagai si pencuri kerbau, tak terasa teriaknya dengan keras.
"Aku beritahu padamu, aku tidak pernah mencuri kerbau jangan panggil aku sebagai pencuri kerbau."
"Sungguh gagah sekali namamu,"
Ujar si pengemis cilik sambil tertawa lagi.
"Kau mencuri atau tidak mencuri apa bedanya? Aduh. Aku sungguh tolol kurang sedikit saja telah melupakan iblis tua itu."
Sehabis berkata dia menyobek sekeras paha ayam dan di lemparkan kearah sudut penjara itu sambil teriaknya.
"Hee ---Loo toa apa benar benar kau tidak mau memberitahukan kepadaku, ayahku pernah beritahu pada kau katanya pada puluhan tahun yang lalu Siok To Siang Mo pernah malang melintang di daratan maupun lautan bahkan pernah berbuat kejahatan yang tak terhingga banyaknya sehingga anak kecil pun tahu kejahatan kalian, tetapi pada tiga tahun yang lalu mendadak Siang Mo telah melenyapkan diri tanpa bekas, baru kini barulah didalam dunia kangouw tersiar berita katanya Siang Mo telah mendapatkan sebuah kitab pusaka To Kong Pit Liok peninggalan Thio sucouw kemudian menyembunyikan diri untuk berlatih, sejak semula berita itu telah menggemparkan seluruh dunia kangouw, berbagai jago dari berbagai aliran mulai mencari jejak orang tersebut sampai dimana untuk merebut buku pusaka tersebut, akupun setelah melakukan pengejaran yang jauh serta tenaga yang amat besar akhirnya baru menemukan dirimu di tempat ini bahkan mengetahui kalau urat nadi kakimu telah diputus. Sekalipun kepandaian silatmu tidak sampai hilang tetapi juga tidak dapat digunakan, maka itu coba kau pikirlah secara masak-masak. Bilamana kau mau menyerahkan kitab rahasia itu aku akan segera menolong kau keluar hingga dapat hidup ja¬uh lebih bahagia, kalau tidak coba kau rasakanlah siksaan atau pecutan dari Loo Jiemu yang sangat kejam itu."
Sehabis berkata dia menoleh memandang kearah Liem Tou dan ujarnya lagi.
"Aku heran didalam dunia ini ternyata masih ada juga manusia setolol dia, mau menolong malah ditolak bahkan mau menerima siksaan serta penderitaan didalam penjara. Hee si pencuri kerbau..Oooh..tidak, Tou loote mari kita makan punya kita sendiri, jangan urusi dia lagi"
Perkataan dari pengemis cilik tentang kakek aneh itu telah menarik perhatian diri Liem Tou, teringat kembali olehnya perkataan dari si siucay buntung serta pembesar buta sewaktu mereka bertempur dengan sengitnya itu kemudian teringat pula perkataan antara si siucay buntung serta Thiat Sie poa, apa mungkin orang yang sedang mereka cari itu adatah kakek aneh ini?
Baru saja dia berpikir sampai disitu kakek tua yang aneh itu telah menggumam sendiri.
"Aku tidak akan memberi tahu pada kalian, siapa yang akan mendesak djriku, aku juga tidak akan membuka mulut."
Mendadak dengan suara yang amat keras bentak kakek aneh itu lagi.
"Apa kau kira penderitaan siksaan serta cambukan selama tiga tahun ini telah membuat aku jeri?"
Liem Tou sagera menoleh memandang kearahnya, terlihatlah sepasang mata kakek aneh itu memancarkan sinar yang amat tajam tetapi sangat dingin, air mukanya yang pucat pasi segera berubah menjadi kehijau-hijauan, pada saat itulah si pengernia cilik sambil tertawa telah berkata.
"Aku bilang Loo toa tentang hal ini kau salah menduga, menurut apa yang kuketahui sekarang ini, para jago dari golongan Pek to maupun dari golongan Hek to sekarang ini telah pada berkumpul didalam kerisidenan Ciong ling ini sedang Loo jie mu yang kejam serta berhati binatang itu sekalipun sifatnya sangat licik dan banyak aka! telah menyembunyikan dirimu di dalam penjara yang sangat gelap tanpa menimbulkan suara apapun, orang lain aku tidak berani bilang tetapi Tionggoan Ngo Koay terutama sie poa itu apa kau kira bisa berhasil mengelabui dirinya?"
"Dia datang mencari diriku bilamana tidak mau bilang, dia bisa berbuat apa lagi"
Sahut kakek itu sambil tertawa serak.
"Kitab pusaka To Kong pit Liok itu apabila terjatuh ketangan orang jahat bukankah akan menimbulkan gelombang yang dahsyat didalam Bu-lim, coba kau pikir sekali lagi kini dia sudah tahu kalau kau berada disini apa mungkin dia mau melepaskan dirimu begitu saja ? Sekalipun sekarang kau punya perasaan menyesal atas perbuatanmu yang dahulu dahulu dan bertaruh dengan nyawa juga tidak mau menyerahkan kitab rahasia Tok Kong pit Liong itu kepada Loo jie mu itu tetapi Thiat Sie Sie sianseng yang mempunyai sepasang mata yang tajam apa dia mau mempercayainya? Pada saat itu kau boleh merasakan tindakan yang diambil dari tangannya."
Omongan dari sipengemis cilik itu ternyata membuat kakek aneh itu termenung berpikir keras.
Liem Tou yang mendengar seluruh perkataan yang diucapkan oleh si pengemis cilik itu sangat beralasan bahkan dia dengan mata kepala sendiri melihat kalau si siucay buntung serta sipembesar buta telah datang ditambah simayat hidup serta pengemis pemabok pun te¬lah tiba segera timbrungannya.
"Aee orang tua. Sekalipun aku tidak tahu ia menghendaki benda berharga apa dari tanganmu tetapi ketika aku mendengar perkataannya segera ia tahu kalau benda itu bukan merupakan benda yang berharga, lebih baik kau berikan kepadanya."
"Kiranya kaupun sekomplotan dengan pengemis cilik itu"
Maki kakek aneh itu dengan sangat gusar.
"Hm ... hm ... kalau kalian punya kepandaian gunakanIah terhadap diriku, saya mau lihat seberapa lihay kepandaian kalian itu."
"Orang tua…"
Bantah Liem Tou dengan cemas.
"Harap kau jangan salah paham, aku berkata demikian sebenarnya punya maksud baik terhadap dirimu sedang saudara ini sama sekali tidak percaya padanya, mana mungkin aku bisa sekomplotan dengan dirinya?"
Liem Tou baru saja habis berkata segera terlihatlah kakek tua yang aneh itu sudah memalingkan kepalanya tidak mau bicara lagi, sebaliknya terlihatlah si pengemis cilik itu sambil tersenyum manis menepuk nepuk pundaknya, ujarnya.
"Tou Loo te kau sungguh merupakan kawan karibku yang sangat baik, marl kita teguk arak ini."
Liem Tou yang dikatai seperti ini mana mau menerima araknya, dengan sangat serius sahutnya.
"Apa maksudmu yang sebenarnya ? Apa kau neminta aku menampar mulutku sendiri ? Aku Liem Ton bukanlah orang semacam itu."
Si pengemis cilik itu melihat sikapnya berubah sccara mendadak juga ujarnya dengan keras.
"Ini apa-apaan? Hemm kau bicara apa ? Bukankah kau sedang menasehati iblis tua itu untuk menyerahkan kitab pusaka To Kong Pit Liok kepadaku, bagaimana kini malah mungkir ? Demikianpun juga boleh, aku lihat kau bukanlah orang dari kalangan dunia kangouw lebih baik janganlah terlalu mencampuri urusan ini, kalau tidak aku bukannya orang yang terlalu baik. bila waktu aku sampai dibikin marah, he he he hati-hati dengan batok kepalamu."
Liem Tou yang melihat sipengemis cilik itu ternyata hendak menakuti dirinya menjadi sangat gusar, apalagi dirinya sejak kecil dianiaya terus orang lain kemudian tak ada hujan tak ada angin dirinya dianggap sebagai sipencuri kerbau, dalam dadanya sudah amat mangkel, sekarang dibegitukan lagi oleh pengemis cilik kegusarannya tak dapat ditahan lagi, dengan gemas dia berdiri dan bentaknya.
"Sekarang aku akan membuat kau merasa tak senang. kau mau berbuat apa ?' Sebaliknya bukannya marah si pengemis cilik itu tertawa terbahak-bahak, dengan halus sahutnya.
"He ... he ..coba kau lihat sikapmu amat kasar sehingga kelihatan ketololannya, kau punya kepandaian apa silahkan keluarkan semua, ini hari aku tidak ingin menyusahkan dirimu."
Liem Tou yang melihat dia sama sekali tidak menggubris dirinya bahkan memandangpun tidak, semakin merasa gusar, diam diam pikirnya.
"Ini hari aku harus menghilangkan kemangkalanku ini, aku melihat dia bisa berbuat apa terhadap diriku?"
Berpikir sampai disini segera dia mengangkat cawannya dan menyedot isi cawan itu sekeras-kerasnya kemudian dengan dibarengi dengan hawa murninya disemprotkan kedepan Si pengemis itu sama sekali tidak mengadakan persiapan disemprot seperti itu segera seluruh wajahma basah oleh arak dari mulut Liem Tou, Tak terasa lagi dia menjadi sangat gusar, dengan cepat dia bangkit berdiri dan bentaknya dengan keras.
"Bangsat cilik, 'kau bosan hidup lebih lama lagi yah ?"
Tengannya diulur kedepan, jari tengah serta telunjuknya dengan bentuk seperti gunting mencukil kearah mata Liem Tou serangannya pertama saja sudah amat kejam, sedikitpun tidak memperlihatkan belas kasihannya.
Tak disangka begitu dia mengeluarkan jurus itu, kakek aneh yang berada disamping itu segera menjerit tertahan, ujarnya.
"Hee --Yan wie tui hun ci atau ilmu jari pengejar ayawa, kiranya kau adalah anak buah dari partai Kiem Tian pay dari telaga Auh Lay, hee . bocah cilik pencuri kerbau kau haruslah berhati hati untuk menghadapi dirinya,"
Liem Tou yang melihat serangan jari dari si pengemis cilik itu digerakkan demikian cepatnya dan tahu-tahu telah sampai dihadapannya segera miringkan kepalanya menyingkir sedepa, langkah kakinya secara tidak sadar telah mengeluarkan suatu langkah-langkah yang sangat aneh yang dipelajari kemarin malam ditengah hutan menurut lukisan lingkaran sebanyak tiga puluh enam buah itu, sedang diriya entah secara bagaimana dan entah dengan cara apa namanya ternyata hanya cukup dua langkah saja telah berhasil bergeser kebelakang tubuh sipengemis cilik itu.
Melihat hal itu dia manjadi amat girang sambil mencubit keras keleher sipengemis itu ujarnya.-"Kau boleh galak, sekarang galaklah kepadaku"
Kakek tua aneh yang berada disamping begitu melihat langkah ajaibnva segera teriaknya.
"Ha ... bocah pencuri kerbau tak ku sangka kalau kaupun merupakan jago dari dunia kangouw ilmu Iangkah ajaib Sah cap lak Thian Kang Hwie Sian Poh atau tiga puluh enam langkah badai memutar ternyata kau telah memahaminya, tentunya kau ahli waris dari Lie Loo jie Tun si pay, kalau tidak tentu murid dari pedagang terkutuk itu."
Sipengemis cilik itu setelah dicubit sekali oleh Liem Tou dari belakang tubuhnya semakin gusar sekali, tapi baru saja dia hendak memutar tubuhnya sejak tadi Liem Tou telah memutar lagi kebelakang tubuhnya.
llmu silat dari partai Kiem Tian Pay dari telaga Auh Hay selamanya mengandalkan ilmu jari serta ilmu meringankan tubuhnya sehingga bisa menjagoi selururuh Bu-lim, bahkan si pengemis itu mempunyai kedudukan yang sangat terhorrmat di dalam partai Kim Tian Pay sehingga bolehh dikata dia telah mewarisi seluruh kepandaian dari partai itu, siapa tahu ini hari ternyata telah terpedaya dibawah tangan seorang pencuri kerbau seperti Liem Tou itu, mana mungkin dia tidak gusar benar-benar?
Didalam headaan yang sangat cemas itu memandang sipengemis cilik itu mendapat akal, segera dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan meloncat keatas tonggak diatas penjara itu, kelihatannya dia siap hendak menubruk kebawah.
Terdengar kakek aneh itu mendadak mengeluarkan suara tertahan lagi, agaknya secara tak sadar terus rnemperingatkan keadaan yaug sangat bahaya bagi keselamatan Liem Tou.
Sebenarnya Liem Tou sendiri memangnya tak memiliki kepandaian silat sedang jurus-jurus yang dilancarkan juga merupakan ketepatan saja kini ketika telah menjerumus kedalam keadaan yang sangat kritis itu barulah sadar kembali dan memandang tajam keatas tiang tonggak diatas ruangan itu sedang dalam hatinya merasa amat cemas.
Terpaksa dia hanya dapat berlari secara ngawur didalam ruangan penjara itu agar sipengemis itu tIdak dapat turun kembali.
Pada air mukanya sekalipun Liem Tou kelihatan ketolol-toiolan padahal seperti perkataan dari si siucay buntung itu dia merupakan seorang yang amat cerdik dan memiliki bakat yang sa¬ngat bagus sekali.
Sambil berdiri mengitari ruangan penjara itu dia terus menerus berpikir mencari daya untuk meloloskan diri, mendadak pikiraanya berkelebat suatu cara yang bagus teringat olehnya akan perkataan dari kakek tua yang aneh itu, mendadak bentaknya dengan keras.
"Aku ahli waris dari Thiat sie poa takkan takut padamu, sekalipun kau merupakan orang partai dari Kiem Tian Pay paling banyak aku akan bertempur mati-matian melawan kau."
Sehabis berkata ternyata dangan mengarah tepat dibawah sipengemis cilik itu dia membaringkan dirinya, sedang hawa murninya segera dipusatkan pada perutnya hingga mengembung besar ujarnya lagi.
"Marilah kalau kau benar-benar punya kepandaian turunlah untuk coba-coba kelihayanku,"
Perbuatan dari Liem Tou kali ini ternyata mendatangkan hasil, sipengemis itu tak dapat meraba apa yang hendak diperbuat olehnya ternyata tak berani menggunakan nyawanya sebagai taruhan untuk menerjang turun kebawah terpaksa dengan sangat mangkal mendelik memandang kearah Liem Tou dari atas tiang penjara itu.
Bersamaan pula kakek aneh itu juga tidak berteriak lagi, terdengar dia seorang diri gumamnya.
"Bagaimara ini bisa jadi ?? Jika dilihat cara mengerah tenaga barusan ini terbukti sangat jelas sekali kalau merupakan ilmu pernapasan dari perguruanku, apa mungkin Lao jie yang mewarisi padanya ?? Tidak benar, Tidak benar. Kalau memangnya Loo jie yang mewarisi dia dalam ilmu pernapasan itu dia tak mungkin akan mengangkat pedagang terkutuk itu menjadi gurunya. Kalau demikian adanya tentu dia merupakan ahli waris Lie Loo jie dari partai Tun Si Pay, hanya dari kitab pusakanya saja barulah termuat berbagai macam ilmu silat dari setiap partai. Tapi .. tapi, kenapa dia mengaku sebagai anak murid dari pedagang terkutuk itu. Mendadak tanyanya dengan keras.
"Hee.. bocah cilik pencuri kerbau, aku mau tanya padamu, sebenarnya kau punya hubungan apa dengan Lie Loo jie dari partai Tun Si pay itu Mendengar pertanyaan itu diam-diam pikiran Liem Tou mulai bekerja.
"urusan telah menjadi begini, aku seharusnya mengatakan kalau kepandaianku semakin tinggi semakin baik bilamana kakek aneh ini menyebut Lie Loo jie dari partai Tun Si Pay itu tentunya dia merupakan seorang yang memiliki kepandaian sangat tinggi aku tak dapat melepaskan kesempatan ini"
Berpikir sampai disini segera sahutnya dengan cepat.
"Dia adalah paman Lie Ku."
"Ooooh kiranya begitu."
Si pengemis cilik yang mendengar perkataan itu diatas tonggak kayu segera memejamkan matanva tak membuka mulut lagi ketika memandang lagi kearah Liem Tou terlihatlah perutnya masih tetap mengembang besar dan berbaring diatas tanah, keadaannya mirip sekali dengan mayat yang ditemukan tenggelam dalam laut.
Sekarang dia tak ingin bergebrak mati-matian melawan Llem Tou lagi, mendadak sambil tersenyum ujarnya.
"Sudahlah Tou Loo te. Kau jangan membuat aku tertawa sampai mati, cepat bangun, aku takkan memukul kau lagi "
Liem Tou yang berbaring diatas tanah, mana mau percaya terhadap perkataaanya sahutnya dengan cepat.
"Kau turunlah terlebih dulu."
Terpaksa sipengemis cilik itu meloncat terlebih dulu dari samping sedang pada saat itu dalam hati pikir Liem Tou.
"Hm... aku harus memperlihatkan sediklt kelihayanku dihadapan sipengemis busuk itu agar dia tak berani terlalu memandang rendah diriku lagi."
Mendadak hawa murni yang dikumpulkan perutnya itu dikerahkan keatas.
"Braaaak..."
Genting ruangan penjara itu segera dipukul oleh hawa murninya hingga menimbulkan sebuah lubang yang sangat besar, debu beterbangan mengotori empat penjuru sedang orang orang yang berada disanapun sangat terkejut akan kelihayannya itu.
Setelah itu baru Liem Tou dengan perlahan bangkit berdiri.
Melihat kejadian itu dalam hati si pengemis cilik itu merasa sangat terperanjat, pikirnya.
"Untung saja aku tak sampai bergebrak melawan dia, kalau tidak susah juga..."
Tidak selang lama, matahari sudah terbenam diarah barat sedang malampun telah tiba. Dengan melototkan matanya kakek aneh itu tiba2 memanggil diri Liem Tou sambil ujarnya.
"Dua buah kitab pusaka didalam dunia ini kini yang satu telah didapatkan oleh Lie Loo jie, apa mungkin kau datang kedalam penjara ini bertujuan meminta kitab pusaka yang satunya lagi?"
Pada saat ini Liem Tou telah amat terkejut serta kagum terhadap kakek aneh itu kini mendengar perkataan itu itu dengan gugup sahutnya.
"Mana aku berani, aku benar benar dikarenakan orang lain menganggap aku telah mencuri kerbaunya hingga ditangkap dan dimasukkan kedalam penjara, mana aku berani punya niat serakah terhadap barang dari cianpwee?"
"Ehm..sahut kakek aneh itu perlahan kemudian ujarnya lagi.
"Kalau begitu kau kemarilah "
Liem Tou tahu kalau kakek aneh itu sekalipun memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi tapi tak dapat digunakan lagi, dengan membesarkan nyalinya dia berjalan mendekat.Tidak disangka baru saja dia menggerakkan kakinya untuk bergerak maju dari depan penjara itu berkumandang suara gemerisik yang sangat nyaring kemudian disusul dengan suara tertawa tergelak yang sangat keras, ujarnya.
"Hek Lootoa.. kiranya selama puluhan tahun ini kau telah menyembunyikan diri ditempat ini tak dapat disalahkan iagi kalau aku tak berhasil mendapatkan dirimu. Kawan karibmu dari gunung Im San datang menyambangi."
Mendengar perkataan itu kakek aneh itu merasa amat terkejut, air mukanya berubah hebat sedang rambutnya pada berdiri menahan kegusarannya.
Mendadak bagaikan orang gila tubuhnya meloncat keatas beberapa depa tingginya, belum saja tubuhnya mencapai tanah tiba-tiba dengan mengeluarkan suara kesakitan tubuhnya rubuh keatas tanah katanya dengan gusar makinya.
"Kalian enyahlah dari sini, tempat ini tidak ada yang bernama Hek Lootoa, Hek Lootoa sudah mati"
Sipengemis cilik yang setelah meloncat turun dari atas tonggak sebenarnya sedang menyulut lampu pada saat itu dengan cepat meniup padam lampu itu sambil ujarnya dengan perlahan.
"Aku bilang Loo toa, lebih baik cepat-cepat ambil keputusan didalam hatimu dan serahkan kittab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadaku. 0rang yang berada diatas genting saat ini adalah Kioe Long dari gunung Im san didaerah Mo Pak. Bila benar-benar dia yang datang mungkin juga si Wan Kouw juga ikut datang, aku dengar kedua orang itu sangat jarang memasuki daerah Tiouggoan, kali ini mereka datang juga tentu ada urusan yang penting. He …tindakan dari Kioe Liong Wan Kouw sangat kejam dan gusar, lebih baik kau pikir lebih masak !agi."
Kakek aneh itu hanya mendengus dingin saja sedikitpun tidak memberikan jawabannya.
"Saat ini !"
Ujar sipengemis cilik itu lagi.
"bilamana kau mau menyerahkan kitab pusaka itu aku masih bisa menolong kau untuk keluar dari penjara ini, tetapi sejenak lagi kemungkinan sekalipun aku sanggup juga belum tentu punya tenaga yang besar untuk menolong kau kini cepatlah ambil keputusan"
Mendengar perkataan itu kakek aneh tersebut semakin gusar, bentaknya dengan keras.
"Cepat kau menggelinding dari sini."
Tiba-tiba orang yang berada diluar penjara itu telah melanjutkan lagi ucapannya.
"Hek Loo toa, cara bekerja serta sifat dari aku Kioe Long dari gunung Im San tentu kau telah sangat jelas sekali ini hari aku telah berhasil menemukan dirimu bilamana kau ingin mengenyahkan diriku dengan gampang sebenarnya bukan sebuah urusan yang amat susah asalkan kau mau memperlihatkan sekejap kitab pusaka yang kau dapatkan itu, aku akan segera pergi dari sini dan tidak akan menyusahkan dirimu lagi."
Saat itu tiba-tiba terdengar suara dari seorang wanita menyambung ucapan itu.
"Benar, Hek Loo toa ---sekalipun boleh dikata kita tidak punya hubungan persahabatan yang sangat erat tetapi juga pernah bertemu beberapa kali, ini kali kami banya ingin meminjam sebentar apa kau merasa keberatan?"
"Loo toa kau dengar dengan jalas bukan?"
Ujar sipengemis kecil itu dengan suara yang perlahan sambil melirik sekejap kearahnya.
"Bukankah perkataanku sedikitpun tidak salah? Kioe Long Wan Kouw selamanya tidak pernah melakukan gerakan dan pekerjaan dengan seorang diri, sekarang coba kau akan menggunakan cara apa untuk menghadapi mereka berdua?."
Kakek aneh itu masih tetap tidak memperdulikan diri sipengemis cilik itu, sedang pada saat itu Kioe Long yang berada diatas genting ruangan penjara itu sudah tidak sabar lagi, dengan berat ujarnya.
"Hek Loo toa, kau sebenarnya hendak berbuat bagaimana? Aku Kioe Long merupakan seorang berangasan yang sudah terkenal, he he he .. aku tidak akan sabar untuk menanti lebih lama lagi."
Entah kenapa tiba-tiba kakek aneh itu memandang dengan tajam kearah sipengemis cilik itu agaknya pikirannya telah berubah tanyanya.
"Apa benar kau menginginkan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu? Aku akan memberitahukan padamu, benda aneh yang terdapat didalam dunia ini pasti terdapat pemilik yang sebenarrya, bilamana bukannya pemilik yang sesungguhnya maka mendapatkan benda itu sama saja dengan mendatangkan ... bencana untuk diri sendiri, kau apa sudah pikir masak-masak menghadapi bencana-bencana tersebut?, Hmm.."
Si pengemis cilik itu begitu mendengar ucapan dari kakek aneh segera tahu kalau dia punya niat untuk menyerahkan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadanya, tak terasa lagi menjadi sangat girang, cepat sahutnya.
"Loo cianpwee punya perintah apa, boanpwee tentu akan melaksanakannya tanpa membantah."
"Sebelum kita membicarakan kitab pusaka itu terlebih dahulu aku hendak memberitahukan padamu dengan jelas. Bilamana kau berhasil mendapatkan batok kepala dari Kioe Long serta Wan Kouw sehingga dapat membasmi dua orang penjahat dari dunia ini maka Loolap akan segera menyerahkan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadamu tanpa membantah, bagaimana kau sanggup?"
Mendengar perkataan itu air muka sipenge¬mis cilik itu sedikit berubah, ujarnya.
"Ini , .ini...
Dengan keras barkata kakek aneh itu lagi.
"Kalau kau tidak sanggup untuk melaksanakan tugas ini lebih baik sekarang juga menghilangkan pikiran itu dan cepat pergi dari sini"
Saking khekinya air muka si pengemis cilik itu telah berubah menjadi merah padam, sambil mendepak kakinya keatas tanah sahutnya.
"Baiklah."
Dangan cepat dia membuka pintu penjara dan meloncat kaluar.
Tidak selang lama diatas atap penjara itu agaknya terdengar orang yang bergerak disertai dengan suara bentakan yang tidak henti-hentinya.
Sejenak kemudian terdergar suara terbentaknya senjata tajam sehingga suasana amat ramai.
Saat itulah kakek aneh itu tertawa terbahak-bahak ujarnya terhadap Liem Tou.
'Cepat tutup penjara itu, kau masih tunggu apa lagi?"
"Hanya demikian saja bisa menahan serangan mereka?"
Diam-diam pikiran Liem Tou terus berputar.
Tetapi dia tidak mengucapkan apapun dengan mengikuti permintaannya mengunci pintu penjara tersebut.
Siapa tahu pada saat itu juga mendadak terdengar suara tertawa terbahak dari si siucay buntung serta Thiat Sie sianseng, ujar si Thiat Sie poa itu dengan keras.
"Hee siucay buntung Loo te, aku bilang disini telah ada yang mendahului kita tidak salah bukan?. Haa .., kiranya sepasang binatang itu , bagaimanapun juga bangsa binatang jauh lebih tajam penciumannya dari manusia."
Tidak disangka baru saja dia mengucapkan perkataan itu, Liem Tou telah mendengar lagi seorang yang memiliki suara yang serak tapi keras melanjutkan lagi.
"Si siucay bunting Loo te, tidak disangka aku yang merupakan seorang yang cerdik kini telah menjadi demikian tololnya. Sie poa dari pedagang terkutuk itu selamanya hanya menghitung yang masuk dan tidak akan menghitung yang keluar, apa kau tidak tahu bilamana jalan bersama dengan dia selamanya tidak akan mendapatkan keuntungan apa pun?"
"Heee, kamu pengemis pemabok yang tldak mati-mati, bukannya pergi menangkap cacing, laba-laba serta kodok untuk teman arakmu, kini lari kemari mau apa?"
Balas si siucay buntung itu. Mendengar suara itu Liem Tou segera tahu kalau sipengemis pemabokpun telah tiba, diam-diam pikirnya.
"Malam ini selain Koen Long Wan Kouw yang datang terlebih dahulu, Tionggoan Ngo Koay telah hadir tiga orang, aku kira didalam sekejap lagi kaum jago dari dunia kangouw tentu akan bertambah banyak yang sampai didini. Pertempuran sengit ini tentu segera menarik sekali."
Saat dia sedang melamun itulah tiba tiba terdengar suara panggilan dari kakek aneh itu.
"Bocah cilik cepat kemari"
"Cian pwee mau member perintah apa lagi?"
Tanya Liem Tou dengan kaheranan tetapi kakinya tetap berjalan mendekati kaarahnya.
Agaknya kakek aneh itu mau mengucapkan sesuatu tetapi dibatalkan kembali, hanya sepasang matanya dengan sangat tajam memandang kearah Liem Tou, mendadak dia menunjuk kedepan tubuhnya sambil ujarnya dengan perlahan.
"Kau duduklah disini, dan cobalah mengerahkan tenaga murnimu untuk aku lihat."
Liem Tou ketika melihat air muka kakek aneh itu sangat serius dan kerena sekali dia tidak berani membangkang, dengan mengikuti perintahnya dia duduk didepan tubuhnya kemudian mulai memusatkan selurah hawa murni dalam pusat.
Dengan perlahan kakek aneh itu meletakkan tangannya diatas perutnya kemudian ujarnya lagi.
"Bagus, sekarang mulailah."
Liem Tou segera mengikuti cara mengerahkan tenaga murni yang dipelajarinya dari kitab peninggalan ayahnya itu, dengan cepat dia menarik napas panjang panjang sehingga membuat perutnya membesar seperti bola setelah itu ditarik kembali seperti biasa.
Tidak disangka kakek aneh itu tertawa terbahak ujarnya.
"Aku kira kitab pusaka"Tou Loo Cin Keng"
Benar benar memuat berbagai jurus silat dari semua aliran, tidak disangka ternyata hanya begini saja, boleh dikata aku orang tua tidak sia sia mengetahui rahasia ini sehingga matipun tidak sayang"
Liem Tou yang melihat sikapnya itu menjadi bingung dan tidak tahu sedang berbuat apa dia itu, kakek aneh itu setelah tertawa keras beberapa saat lamanya barulah berhenti dan tanyanya lagi.
"Lie Loo Jie dari partai Tun Si Pay apa benar merupakan pamanmu? Aku dengar sipedagang terkutuk itupun kini telah tiba disini apa dia benar benar suhumu?"
Tadi Liem Tau secara ngawur mengaku sebenarnya hanya bertujuan menipu sipengemis cilik itu saat ini urusan telah berlalu sehingga untuk berbohong baginya tidak berguna lagi, akhirnya dengan terpaksa dia menceritakan keadaan yang sesungguhnya.
'Oooh..begitulah agaknya"
Sahut dari kakek yang aneh itu setelah dia mendengar kisah yang sesungguhnya dari Liem Tou ini, kali ini dia tidak berani tertawa lagi.
Setelah termenung berpikir keras beberapa saat lamanya barulah ujarnya dengan perlahan.
"Apa kau mau meminjamkan kitab pusaka peninggalan ayahmu itu untuk aku lihat sebentar?"
Begitu perkataan ini keluar dari mulutnya, Liem Tou segera merasakan serba susah, oleh karena pesan terakhir dari ayahnya meninggalkan wanti-wanti pesan baginya untuk tidak secara sembarangan memperlihatkan kitab pusaka itu kepada siapapun juga.
Kakek aneh itu begitu melihat sikapnya yang serba salah segera mengira kalau mungkin dia merasa kuatir terhadap dirinya, dan ujarnya.
"Kau tidak usah merasa kuatir, Loo lap jadi orang selamanya pegang janji apa lagi seluruh jalan darah terpenting ditubuh Loolap telah di totok oleh orang lain sedang urat nadi kakipun telah dipotong bagaimana Loolap berani punya niat serakah?"
"Cianpwee telah salah menduga"
Sahut Liem Tou.
Bukannya aku punya maksud demikian hal ini tidak dapat dilakukan karena menurut pesan yang ditinggalkan ayahku almarhum tidak memperkenankan aku untuk meminjamkan kitab ini kepada orang lain secara sembarangan.
Mendengar perkataan ini diam-diam pikir kakek aneh itu.
"Ternyata bocah cilik ini benar-benar jujur dan menurut perkataan, orang ini patut dipuji"
Berpikir sampai disitu segera ujarnya.
"Sebenarnya Loolap tidak punya maksud untuk memaksa orang lain, tetapi jika didengar dari perkataanmu agaknya kau sama sekali tidak paham terhadap isi dari kitab pusaka Toe Loo Cin keng itu kini kau perlihatkan kepadaku bila buku itu benar benar asli kemungkinan sekali kepandaian yang terdapat didalamnya aku pernah melatihnya dengan meminjam kesempatan ini aku akan menurunkannya padamu, perkataan dari Loolap ini surgguh sungguh dan tidak akan membohongi dirimu."
Pada saat itu orang orang yang berada diatas atap penjara itu agaknya telah mencapai pada sengit sengitnya bertempur, bahkan kedengarannya telah bertambah lagi dengan beberapa jago, suara bantakannya disertai dengan suara angin pukulan semakin santar, membuat suasana semakin kacau.
Diam diam Liem Tou memikirkan perkataan dari kakek aneh itu dan merasakan kalau perkataannya sedikitpun tidak salah, segera dia tidak kukuh lagi dengan pendiriannya, dan mengambil keluar kitab pusaka itu untuk diperlihatkan pada sikakek aneh.
Setelah dia menerima kitab itu segera terlihatlah perasaan yang sangat bergolak, sepasang tangannya terlihat sedikit gemetar, sedang dari sepasang matanya memancarkan sinar yang sangat tajam, didalam kegelapan itulah selembar dami selembar dibukanya, semakin dia melihat isi dari kitab itu gemetarnya semakin keras hingga akhirnya giginyapun gemerutuk dengan kerasnya, tiba tiba bentaknya dengan keras.
"He ... aku Hek Loo-toa sekalipun harus mati juga akan mati dengan meramkan sepasang mataku ."
Sehabis berkata, buku itu segera diangsurkan ditangan Liem Tou sambil ujarnya.
"Keuntunganmu tidak kecil, mulai saat ini aku akan memberitahukan rahasia dari ilmu pernapasan yang termuat didalam kitab pusaka itu, tetapi yang kuketahui juga tidak lebih hanya sebagian dari "Ilmu pernapasan"
Tersebut oleh karena ilmu tersebut merupakan ilmu dari perguruanku sehingga aku baru dapat mewariskannya padamu, tetapi sisanya harus melihat kau punya kepandaian serta kecerdikan untuk mempelajarinya".
Liem Tou berdiam diri mendengarkan saluruh uraiannya.
Sekonyong konyong dari luar penjara itu terdengar suara teriakan orang yang sangat ramai kemudian disusal dari luar jendela itu bermunculan sinar api yang menerangi tempat itu, bahkan ada yang berteriak teriak.
"Tangkap penjahat, tangkap penjahat, ada penjahat berani mengacau pengadilan."
Mendengar teriakan itu Liem Tou segera tahu kalau orang orang yang sedang bertempur diatas genting itu telah mengejutkan pengawal dari pengadilan itu sehingga mereka terjaga dan mengadakan pengepungan disekeliling tempat itu.
Kakek aneh yang mendengar suara itu segera terlihatlah air mukanya berubah menjadi kehijau-hijauan, dengan cepat ujarnya pada Liem Tou.
"Loo jie bila tahu jejak Loolap telah diketahui oleh orang lain, tentu tidak akan melepaskan diriku lagi, kini waktunya tidak banyak lagi cepat pusatkan seluruh perhatianmu untuk mendengarkan penjelasan dari diriku."
Dengan tergesa gesa Liem Tou metnusatkan seluruh perhatiannya untuk mendengarkan penjelasan dari ilmu pernapasan itu urusan yang semula diketabui hanya setengah saja kini setelah mendapatkan penjelasan dari kakek aneh itu menjadi bertambah paham.
Tidak lama kemudian kakek aneh itu telah selesai menjelaskan inti sari semua rahasia dari ilmu pernapasan sedang Liem Tou sendiripun semakin paham terhadap ilmu itu, tak terasa lagi pada wajahnya menampilkan perasaan yang amat girang.
Tidak disangka kakek aneh itu mendadak melototkan sepasang matanya, dengan gusar bentaknya pada diri Liem Tou.
"Bocah yang tak tahu diri kau jangan merasa bangga terlebih dahulu, ilmu yang tersebut di dalam kitab pusaka Toa Loo Cin Keng ini sangat luas sekali sehingga laksana samudra luas. Apa yang aku Hek Loo toa turunkan pada mu tak lebih hanya merupakan ilmu dari aliran hitam terhadap dirimu sebenarnya hanya akan membawa celaka saja hanya dikarenakan waktu yang amat mendesak untuk sementara waktu masih bisa digunakan untuk melindungi diri sendiri bilamana kau menginginkan nama yang cemerlang didalam Bu-lim dan menjadi seorang jago yang tanpa tandingan sebenarnya harus melihat kejodohanmu sendiri, kau sekarang tidak perlu girang dulu."
Dengan cepat Liem Tou menarik kembali perasaan girangnya, dengan serius sahutnya.
"Silahkan cianpwee memberikan petunjuk."
Sikap dari kakek aneh itu semakin bertambah serius dan keren, lama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun juga. Diam-diam dalam hati Liem Tou berpikir.
"Kenapa dia harus berbuat demikian?"
Tiba-tiba terdengar kakek aneh itu bergumam sendiri.
"Mo Ku Tiauw Cong Ci cien Tong.."
Sejak kecil Liem Tou telah belajar ilmu surat dari ayahnya Liem Han San oleh sebab itulah terhadap segala syair maupun pantun dia paham benar-benar, begitu mendengar perkataan itu dengan cepat perasaan herannya memenuhi seluruh otaknya, pikirnya.
"Kenapa tidak ada angin tidak ada hujan dia membaca syair dari Tong Po Ci Su?"
Karena perasaan keheranan itulah tak terasa olehnya telah menyambung syair selanjutnya.
"Pit Hun Kong Cen Tui Jan Kang .."
Kakek aneh itu ketika mendengar syair selanjutnya ini mendadak sepasang matanya melotot keluar, dengan cepat lanjutnya lagi.
"Pek Hwie Sian Po Tong Ang Hwie"
"Wu Ting Siauw Soat Ta Cuang.."
Tidak disangka baru saja dia selesai mengucapkan syair itu, mendadak kakek aneh itu dengan cepat meloncat bangun sambil bentaknya dengan keras.
"Siapa kau?"
Didalam keadaan yang terkejut itulah tidak terasa lagi Liem Tou mengundurkan diri dua langkah kebelakang dan dengan tertegun memandang kearah air muka kakek aneh telah berubah menjadi sangat menyeramkan itu, mana dapat memberikan jawabannya.
Ketika kakek aneh itu melihat Liem Tou sama sekali tidak memperlihatkan sikap permusuhannya mendadak dia tertawa sedih kemudian duduk kambali ditempat semula dan memejamkan sepasang matanya.
Pada ketika itulah diluar penjara terdengar suara yang sangat berat berkumundang datang.
"Loo toa ..Loo-toa .tiga tahun siksaan pecut ternyata belum juga membuat kau benar-benar takluk kepadaku, janganlah kau menyalahkan aku Loo Jie akan turun tangan lebih kejam dan ganas lagi. Sebenarnya kau mau menyerahkan kitab pusaka To Kong pit Liok itu atau tidak?"
Ketika mendengar perkataan dari orang itu segera terlihatlah orang aneh itu membuka matanya lebar lebar, tetapi Liem Tou yang berdiri disampingnya dapat melihat seluruh tubuhnya gemetar tak henti hentinya sedang giginya gemerutuk dengan kerasnya, dengan cepat Liem Tou mendekati tubuhnya sambil tanyanya.
"Siapakah dia?"
Siapa tahu kakek aneh itu ternyata telah mendorong tubuh Liem Tou dengan kerasnya sambiI ujarnya.
"Pergi …. pergi .!"
Liem Tou tidak tahu akan sebabnya tetapi dia tahu tentu telah terjadi sesuatu peristiwa.
Diam diam dia mulai menggeserkan dirinya ke sudut penjara itu pada ketika itulah dari atas genting telah terdengar suara pembicaraan dari Kioe Long yang sedang berteriak.
"Hee ...Hek Loo Jie, kau jangan ikut campur."
"Didalam daerah Ciong ling ini aku tidak akan membiarkan Im San Siang Koay membikin huru hara, cepat kau bergelinding dari tempat ini"
Bentak orang itu dengan gusarnya.
Dibentak seperti itu Kioe long itu segera tertawa dingin yang tidak enak didengar membuat seluruh bulu kuduk Liem Tou pada berdiri, terdengar dengan sangat dingin ujarnya.
"Hek loo Jie, tidak disangka hanya berpisah selama beberapa tahun saja kini kami harus memandang dengan cara lain kapadamu."
Tiba tiba dengan gusar tambahnya lagi.
"Hek Loo Jie apa kau dapat melakukannya? Kau bangsat cilik yang tidak tahu budi, semua orang didalam dunia ini boleh kau basmi tetapi tak akan seorangpun yang mau memandang wajahmu lagi."
Agaknya Si Hek Loo Jie itupun telah dibuat gusar oleh perkataannya sambil membentak keras dia melancarkan serangan dahsyat. Serunya.
"Hee --he --lihat pukulan."
Suara perkataan baru saja berhenti sagera terdengar suara bentrokan yang amat dahsyat membuat atap pada rontok kebawah.
Kioe Long itu tertawa aneh lagi, kemudian diikuti dengan suara suitan nyaring yang memekikkan telinga memecahkan kesunyian, menembus awan, dengan gusar bentaknya lagi.
"Hek Loo jie, kami lm San Siong Kioe Long selamanya selalu melakukan pekerjaan sesuai dengan perkataan. Ini hari kami telah turun tangan sebelum mencapai hasil tidak akan mengundurkan diri. Hmm sampai waktu itu janganlah kau manyalahkan aku Kioe Long turun tangan terlalu kejam sehingga membasmi habis pengawal pengawal kerocomu itu."
Ternyata suara ucapan itu baru saja selesai dari tempat kejauhan berkumandang datang suara suitan panjang yang amat nyaring, diikuti dengan suara suitan pertama yang makin lama makin jauh.
Liem Tou yang sedang mendengarkan dengan penuh perhatian itu tiba-tiba dibuat kaget oleh perkataan kakek aneh itu ujarnya.
"Loo Jie telah dipancing pergi oleh Kioe long, bocah cilik itu cepat kemari, aku akan menurunkan beberapa macam ilmu pukulan kepadamu, asalkan kau bisa belajar rajin pada kemudian hari sekalipun dikejar oleh Loo Jie pasti bisa mempertahankan jiwamu"
Mendengar perkataan itu dengan cepat Liem Tou bangkit berdiri tetapi baru saja berjalan satu langkah terdengar suara jeritan ngeri dari pengawal yang berada diluaran, kemudian disusul dengan suara sipengemis cilik itu yang sedang membentak.
"He .. Nenek kera ! turun tangan kejam ter¬hadap gentong-gentong nasi itu apa gunanya? Coba kau terima pukulanku ini."
Sejak sipengemis cilik itu keluar dari penjara mulai saat itulah bagaikan batu yang tenggelam dalam lautan bebas, sedikitpua tidak mengeluarkan suara, kini secara tiba-tiba terdengar suaranya tak tarasa lagi ujar Liem Tou dengan cepat.
"Locianpwee coba kau dengar, dia benar-benar telah bergebrak melawan orang orang itu."
Tetapi teringat pula akan Si siucay buntung, Thiat Sie Sianseng serta pengemis pemabokan yang datang terakhir, entah dimana mereka-mereka ini?
Baru berpikir sampai disitu langkah kaki pun tidak terasakan telah menjadi lambat lagi, dengan sangat gusar bentak kakek aneh itu.
"Hei bocah cilik kau tidak bersungguh-sungguh hati, jodohmu hanya sampai disini"
Mendengar ancaman itu dengan cepat Liem Tou lari menghampiri kakek itu, siapa tahu sepasang matanya telah dipejamkan rapat rapat, sekalipun Liem Tou telah berulang kali memanggil Locianpwee tetapi kakek aneh itu masih tetap berdiam diri tidak menjawab.
Saat itulah Liem Tou baru menyesal karena telah menghilangkan kesempatan yang baik, terpaksa dia kemball ketempat semula dan mulai bersemedi sesuai dengan petunjuk dari kakek aneh itu.
Ternyata tidak salah, kali ini dia merasa jauh berbeda dengan waktu semula, hawa murninya tidak mengumpul didalam pusar lagi sebaliknya telah mulai menyebar keseluruh tubuh sehingga terasa olehnya tubuhnya menjadi sangat nyaman.
Semula ketika Liem Tou mulai melakukan semedinya dia masih dapat mendengar suara bentrokan senjata yang berada diluar, tetapi lama-kelamaan akhirnya terasa seluruh tubuhnya menjadi kosong, sehingga membuat lupa akan segala-galanya.
Keesokan harinya ketika dia mendusin kembali, terdengarlah suara kokokan ayam yang memecahkan kesunyian, sinar matahari dengan perlahan-lahan memancarkan sinarnya menembus jendela penjara itu tetap keadaan diluar penjara sangat sunyi, ketika dia mengalihkan pandangannya terlihatlah kakek aneh itu masih tetap duduk ditempat semula agaknya dia belum sadar dari pulasnya,
Jilid 4.
Hek Loo toa meninggal...
Dengan cepat dia merangkak bangun, terasa olehnya seluruh tubuhnya merasa sangat nyaman, ketika melirik kearah sipir bui itu terlihatlah dia masih mendengkur dengan enaknya, dengan perlahan dia mulai berjalan keluar terlihatlah diatas tanah darah segar berceceran memenuhi seluruh ruangan, teringat kembali olehnya pengalaman kemarin malam tak terasa bulu kuduknya pada berdiri.
Baru saja dia hendak melangkah keluar lagi tiba tiba terdengar suara peringatan dari si pengemis cilik itu .
"Hei, pencuri kerbau cepat bersembunyi, Hek Loo jie mau datang memeriksa tempat ini"
Mendengar perkataan itu dengan tergesa gesa Liem Tou memeriksa sekeliling tempat itu tapi tetap tak melihat bayangan dari sipengemis cilik itu, baru saja mau menyusup mengundurkan dirinya kebelakang terdengar sipengemis cilik itu berteriak lagi.
"Keadaan disekeliling tempat itu sekarang sangat bahaya, baik jago dari kalangan Hek to maupun dari kalangan Pek To pada bersembunyi disekeliling tempat ini siap munculkan dirinya, cepat kau balik bilang sama itu Hek Loo toa bilamana nanti Loo jie datang memeriksa bui dia harus sedikit berhati-hati karena dia secara diam-diam mau turun tangan jahat terhadap dirinya."
Setelah mendengar perkataan itu tak tertahan lagi seluruh tubuh Liem Tou gemetar dengan keras dia sama sekaIi tak menyangka kalau di tempat yang semakin sunyi suasananya keadaannya makin bahaya dan semakin mengerikan.
Dia tahu saat ini telah sangat mendesak sekali, dengan tergesa gesa dia putar tubuhnya lari kesamping tubuh kakek tua yang aneh itu sambil dorong tubuhnya serunya.
"Locianpwee cepat bangun, Locianpwee cepat bangun."
Pada saat yang bersamaan itu pula mendadak dari luar penjara terdengar suara digetarkannya pecut kulit sehingga mengeluarkan suara yang nyaring kemudian disusul dengan teriakan seorang dengan suara yang amat keras.
"Pembesar kota datang mengunjungi penjaga bui harap keluar menyambut"
Dalam hati Liem Tou tahu dengan jelas yang dimaksud sebagai pembesar kota itu tentunya bangsat Hek Loo jie itu, hatinya semakin cemas tapi justru kakek aneh itu sudah di dorong beberapa kali tetap saja tak mau sadar dari pulasnya didalam keadaan yang sangat cemas dan terdesak itu dengan tak memperdulikan peraturan serta adat istiadat lagi sepasang tangannya mencekal batok kepala kakek aneh itu dan menggoyang-goyangkan beberapa kali sedang mulutnya teriaknya dengan keras.
"Loocianpwee cepat bangun, apa kau tak ingin nyawamu."
Saat itulah dengan perlahan kakek aneh itu baru sadar kembali dari pulasnya, sambil me-mandang kearah LiemTou yang berdiri disampingnya dengan amat dingin ujarnya.
"Siauwcu kau tak bersungguh sungguh hati pikiranmu pun tak menentu sekarang datang kesini mau apa ?"
Segera Liem Tou menyampaikan apa yang dikatakan sipengemis cilik itu kepadanya, dalam hatinya dia mengira setelah kakek aneh itu mendengar perkataan itu air mukanya tentu akan berubah menjadi tegang.
Siapa tahu sesudah mendengar perkataan tersebut keadaannya masih tetap saja seperti semula, sahutnya sambil tertawa tawar.
-Oooh...
loo jie mau datang ?
Itulah sangat bagus sekali.
Aku Hek Loo toa sudah dapat melihat kedua buah kitab rahasia didalam dunia ini sekalipun binasa juga rela."
Perkataan ini diucapkan dengan nada yang demikian menyedihkan mcmbuat hati Liem Tou yang mendengar disampingnya tak tertahan Iagi bergidik, tiba tiba sepasang matanya yang sangat tajam itu dengan tak berkedip kedipnya memandang sekejap kearah Liem Tou, tanyanya.
"Heei bocah cilik, kenapa kau demikian cemasnya?"
"Selama tiga tahun lamanya Loocianpwee merasakan siksaan didalam penjara gelap serta merasakan penderitaan pecut yang setiap hari menghajar tubuh cianpwee semuanya ini tidak lebih hanya dikarenakan se
Jilid ilmu kitab silat yang tak mau diserahkan kepada orang jahat, hal ini memang membuat hati satiap orang merasa kagum juga merasa sedih kini situasi telah demikian mendesak serta bahayanya kenapa boanpwee tak ikut cemas melihatnya?"
Atas perkataannya ini rnenbuat air muka kakek aneh itu segera berubah jadi sangat serius agaknya hatinya sangat berterima kasih sekali atas ucapannya, sepasang matanya bersinar dengan sangat tajam memandang muka Liem, tanyanya kemudian.
"Hei bocah cilik, perkataanmu ini apa sungguh-sungguh keluar dari dasar hatimu ? Hek Loo toa pada masa yang lalu merupakan seorang iblis yang paling ditakuti didaerah Siok lo, tapi benar-benar aku merupakan seorang yang patut dipuji patut dikasihani?"
Seseorang yang berhasil melepaskan dirinya dari kejahatan dan kemhali kejalan yang benar bahkan telah melalui penderitaan serta siksaan yang maha berat maka orang itu secara tidak sadar akan, merasakan suatu pergolakan yang hebat, begitu mendengar perkataan yang menghibur dirinya, demikian juga halnya dengan Hek Iootoa ini sesudah dia menderita siksaan selama tiga tahun lamanya achirnya dari jalan yang sesat dia telah berhasil kemball kejalan yang benar, dan kini setelah mendengar perkataan dari Liem Tou ini sudah tentu hatinya segera bergolak dengan kerasnya.
Liem Tou yang melihat sikap dri kakek aneh itu tidak terasa lagi menganggukkan kepalanya, sahutnya.
"Tidak salah, bukan saja boanpwee seorang diri yang merasa kagum terhadap loocianpwee, aku kira sekalipun para jago dalam dunia persiiatan pun seharusya menaruh rasa kagum terhadap diri loocianpwee."
Semakin mendengar perkataan dari Liem Tou ini air muka dari kakek aneh itu berubah semakin cepat, sebentar terlihat perasaan girangnya sebentar lagi timbul perasaan ragu ragu tetapi sepasang matanya dengan sangat tajam tetap memperhatikan wajah Liem Tou.
Tiba tiba .
, tangannya yang kurus kering itu diulur kedepan mencekal kencang-kencang pundak dari Liem Tou, dari kelopak matanya yang teJah menekuk kedalam itu secara mendadak menetes keluar titik-titik air mata dengan derasnya, sambil tertawa girang ujarnya.
"Hei bocah cilik, Hei bocah cilik apa sungguh sungguh perkataanmu ini ? Maukah kau ulang sekali lagi perkataanmu itu ?? Ha ... ha . .Hek Loo toa tidak sia-sia menerima siksaan selama tiga tahun ini,"
"Perbuatan dari cianpwee sedikitpun tidak salah, bagaimana bisa bilang siksaan ini tidak sia-sia?". Kakek anek itu dengan cepat melepaskan cekalannya dan bangkit berdiri, mulutnya tetap tertawa ternahak bahak denga kerasnya tetapi suara tertawa ini jika didengar didalam telinga Liem Tou penuh mengandung perasaan sedih serta dukanya yang amat sangat. Suara tertawa dari kakek aneh itu bukannya tambah berhenti sebaliknya semakin lama suaranya semakin keras pada saat itulah suara sambatan pecut diluar panjara berbunyi kembali, Liem Tou menjadi sangat terkejut, teriaknya.
"Loocianpwee hati hati!, dia sudah hampir datang."
"Ha ha ha ha ..-Loo jie mau datang ??? biar dia datang aku tidak takut padanya lagi, aku tidak akan takut padanya lagi."
Sehabis herkata terlihatlah tubuhnya mendadak merendak kebawah, sepasang tangannya dipentangkan keluar sedang air mukanya berubah kembali menjadi amat seram, serius keren serta menakutkan, sikapnya mirip sekali dengan seorang dari angkatan yang lebih tua.
Liem Tou yang melihat perubahan wajahnya menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya sedang dalam hati diapun semakin menghormat dan kagum lagi terhadap kakek ini.
Kakek aneh itu sesudah merentangkan tangannya terhadap Liem Tou tiba tiba ujarnya.
"Kau perhatikanlah dengan teliti, inilah tiga jurus terakhir yang merupakan jurus paling lahay dari ilmu Sam In Chiat Cuang Cing atau ilmu telapak dingin penjebol hati yang telah mengangkat namaku atau ilmu didalam Bu lim pada waktu yang lalu, pada masa yang lampau suhuku hanya menurunkan ilmu ini pada aku seorang saja Loo jie sama sekali tidak mendapatkan, didalam kitab silat Toa Lo Cin keng sekalipun terdapat juga ilmu ini tetapi tidak lebih juga garis besarnya saja sadang perubahan yang penting justru tidak terdapat. Sabenarnya aku tidak ingin menurunkan ilmu ini kepadamu tetapi saat ini entah apa sebabnya aku sendiri juga tak tahu mendadak telah berubah pendapat, sekarau kau lihatlah dengan teliti."
Tiba tiba telapak tangan kirinya didorong setengah lingkaran kedepan kemudian sambil menebas ditarik kebelakang kembali sedang tangannya, mendadak bagaikan kilat cepatnya mambabat dari atas turun kebawah dengan kerasnya, teriaknya dengan keras.
"Jurus pertama In Hun Put San atau sukma halus tidak buyar"
Diikuti tubuhnya berputar setengab lingkaran ditengah udara, kedua buah pundaknya diangkat secara mendadak men jatuhkan diri kebawah dan bersalto.
Liem Tou yang melihat disamping merasa sangat heran, diam diam pikirnya.
"Ilmu telapak macam apa ini?"
Pada saat ini pundak dari kakek aneh itu belum sempat mencapai pada permukaan tanah tiba tiba pinggangnya memutar ternyata bagaikan seekor ular menggeliat keatas dan mumbul keatas dengan cepatnya, bersamaan pula sekarang telapaknya didorong kedepan, teriaknya.
"Jurus kedua Ooh Koei Ciat Hun atau setan lapar menubruk sukma."
Sesudah itu dia berdiri tegak tak bergerak sedang napasnya terengah engah, ujarnya lagi kepada Liem Tou.
"Jurus ketiga Chie Mey Hang atau siluman iblis bergoyang baru dilakukan bilamana memiliki IImu meringankan tubuh yang agak lumavan, kini otot-otot kakiku sudah diputar oleh Loo Jie sekalipun dalam hati punya kemauan apa daya kekuatan tidak memadainva, apa boleh buat.?"
"Hanya cukup sampai disini saja budi yang loocianpwee sedikit kalau memangnya demikian biarlah boanpwee pada kemudian hari belajar sendiri dari atas kitab silat Toa Loo Cin Keng itu saja ."
"Hmm … "
Sahut kakek aneh itu sambil mengangguk, memang terpaksa harus berbuat begini.
Sehabis berbicara menundukkan kepalanya termenung berpikir sebentar mendadak kepalanya diangkat memandang wajah Liem Tou ujarnya dengan terengah engah.
"Sedang mengenai . .. mengenai tempat penyimpanan kitab silat To Kong pit Liok .."
Liem Tou begitu mendengar kalau kakek aneh itu ternyata mau memberi tahu padanya tempat penyimpanan kitab rahasia To Kong pit L,ok itu mcnjadi sengat girang sekalt dia samna sekali tak pernah menyangka kalau dirinya bisa kejatuhan untung yang demikian besar, tak tahan lagi wajahnya memperlihatkan sikap yang sangat dan berubah dengan hebatnya, sikap yang ketololan muncul kembali pada wajahnya disaat amat tegang ini.
Baru saja kakek aneh itu mau mengucapkan sesuatu ketika melihat sikap dari Liem Tou yang ketolol tololan itu mendadak matanya dipejamkan kembali, sambil menggelengkan kepalanya sahutnya.
"Aku tidak akan bicara, siapa tahu kalau kau bocah cilik mau juga dengan sipengemis busuk itu sesgaja datang dengan bertujuan benda itu."
Liem Tou juga tidak dapat berbuat apa spa, sebenarnya dia memang tidak punya minat un tuk mendapatkan kitab rahasia ilmu silat ini, hanya saja karena secara kebetulan menemuinya saja membuat hatinya merasa tertarik, kini dia tidak mau bicara tentu dia juga tidak mau terlalu mendesak.
Pada saat ini suara gendereng berbunyi untuk ketiga kalinya kemudian dari luar pen jara disusul dengan suara bentakan keras, segera terlihat petugas penjara sebagai petunjuk jalan membentang pintu penjara dan berjalan masuk.
Begitu kakek aneh itu melihat masuknya penjaga penjara itu segera terlihatlah alisnya dikerutkan dalam dalam, mendadak tangannya dengan keras mencengkeram tubuh Liem Tou dan dilemparkan kearah pojokan yang gelap, ujarnya.
"Bocah cilik, disini tidak ada urusanmu lagi cepat pejamkan matamu pura pura tidur."
Liem Tou yang didorong dengan tenaga besar oleh kakek aneh itu segera terhuyung beberapa tindak kedepan baru berhasil menegakkan tubuhnya kembali tetapi saat itu kakek aneh tersebut memalingkan kepalanya memandang kearah pintu luar penjara yang berjeruji besi itu sejak tadi telah terlihat beberapa orang petugas penjara memasuki penjara dan berdiri didepan dengan tegapnya.
Terpaksa Liem Tou mengikuti ucapannya duduk bersandar dipojok dinding penjara tetapi hatinya tetap berdebar dengan kerasnya, dia tahu kini tempat persembunyiannya dari Hek Loo Toa telah diketahui orang lain kemungkinan sekali setiap saat dia akan diculik untuk dibawa ketempat lain, kali ini Hek Too Jie sendiri yang menjenguk kedalam penjara sudah tentu dia tidak akan melepaskan dia dengan demikian mudahnya, bahkan diluar penjara secara diam diam sudah ada beberapa orang yang siap turun tangan, dengan demikian agaknya Hek Loo-toa sukar untuk meloloskan diri dari bencana itu.
Berpikir sampai disai tidak tertahan lagi teriaknya.
"Cianpwe kau baik2 jaga diri"
Didalam nada ucapan itu agaknya masih mengandung maksud yang rnerdalam, kakek aneh itu mendengar per kataannya segera menoleh tanyanya.
"Bocah cilik, kau bicara apa?."
Tidak disangka baru saja perkataannya selesai diucapkan dua orang petugas penjara telah menggotong sebuah anggun api yang sangat panas berjalan masuk kedalam penjara, api yang bergolak didalam angun itu berkobar dengan sangat besarnya ditangan petugas penjara lainnya terlihatlah sebuah japitan besi yang besar diangkat masuk pula, begitu melihat melihat besar tersebut tat tertahan lagi Liem Tou serta kakek aneh itu merasa bergidik sedang hatinya te rasa berdesir.
000O000 Pada saat itu sipir bui yang diberi obat tidur oleh pengemis cilik mendadak dicekal oleh penjaga penjara itu kemudian pipinya diga¬plok dengan kerasnya terdengar suara yang amat nyaring berkumanding datang tetapi dia masih tetap belum sadarkan diri dari tidurnya yang sangat nyenyak .
Terdengar dari luar penjara seseorang telah berteriak dengan keras.
"Thay ya tiba."
Liem Tou segera menoleh memandang kearah sana terllihatlah seorang lelaki berusia kurang lebih tiga puluh tahunan dengan memakai kopiah pembesar serta jubah pembesar dengan senyuman berjalan masuk kedalam penjara, tubuhnya tak begitu besar sedang wajahya licin, diam diam dalam hati Liem Tou berpikir.
"Jika dilihat dari sikapnya yang halus bagaikan seorang siucai ini sedikitpun tidak mirip dengan penjahat yang suka main bunuh tanpa pilih bulu"
Sebaliknya kakek aneh itu begitu melihat dia beralan masuk sepasang matanya dengan sangat tajam memandang dirinya tanpa berkedip, bahkan sepasang tangannya disiapkan sehingga terlihatlab sepuluh jarinya yang runcing bagaikan cakar garuda.
Dengan langkah yang sangat perlahan sekali pembesar kota itu setindak demi setindak berjalan mendekati arahnya tetapi sepasang matanya tak memandang sekejappun kearahnya, sebaliknya sepasang mata kakek itu tetap memandang tak berkedip.
Pembesar kota itu berjalan maju dua langkah lagi, mendadak sambil balikkan tubuhnya dia membentak dengan keras.
"Kau mau brabuat apa?"
Jubahnya dikebitkan kemudian dibabat kebawah dalam sekejap saja dia berhasil mencekal urat nadi dari tangan kiri kakek aneh itu, serangan yang dilakukan didalam keadaaan yang tidak terduga ini membuat Liem Tou yang hendak disampingpun saking terkejutnya tak terasa Iagi keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya.
Kakek aneh itu mana mau menyerah dengans begitu saja terdengar sambil membentak yang sangat mengerikan dengan seluruh kekuatannya dia berusaha membebaskan urat nadinya yang dicekal oleh pihak musuh ini, diam-diam Liem Tou merasa amat cemas melihat keadaannya ini.
Tiba tiba tangan kanannya membalik dengan cepat salah satu jurus serangan dahsyat dari ilmu telapak dingin penjebol hati yakni jurus lh Hun Put San atau sukma halus tak buyar dilancarkan kedepan, serangan ini dilakukan demikian cepatnya sehingga sukar untuk dilihat dengan pandangan mata biasa.
terdengar pembesar kota itu menjerit kesakitan tanpa bisa menghindarkan diri lagi dadanya kena hajar serangannya yang dahsyat ini, sedang kakek aneh itu pun dengan mengambil kesempatan ini melarikan diri kesamping.
Tetapi langkah kakinya kelihatan sedikit terhuyung huyung sehingga sukar untuk berdiri tegak.
Liem Tou yang memandang wajahnya terlihatlah menjadi pucat kehijau-hijauan sungguh menakutkan sekali, dia tahu seluruh jalan darah penting didalam tubuhnya telah tertotok ditambah lagi serangan dilancarkan dengan sepenuh tenaga membuat dia menjadi kehilangan keseimbangan.
Ketika memandang lagi kearah pembesar kota itu terlihatlah sepasang tangannya mencekal kencang-kencang dadanya, tetapi dari atas wajahnya yang putih halus itu memancarkan sepasang sinar mata yang amat buas, melihat hal itu diam diam pikir Liem Tou didalam hati.
"Hm ..bukannya saat ini Koay Loo tauw tak punya tenaga, mana mungkin kau bisa hidup lebih lama lagi."
Pcmbesar kota atau si Hek Loo jie itu sesudah berdiri beberapa saat lamanya saling berhadapan dengan kakek aneh itu selangkah demi selangkah dia maju kembali dengan dingin bentaknya.
"Loo toa, aku memandang diatas hubungan persaudaraan diantara kita memberikan kesempatan sekali lagi bagimu untuk berpikir kau mau menyerahkan itu kitab atau tidak ? Sebentar lagi aku akan mengambil keputusan."
"Kau binatang yang tak tahu malu, enyahlah dari sini."
Hek Loo jie hanya tertawa dingin saja sama sekali tak ambil perduii atas makiannya, sambungnya lagi.
"Siok To Siang Mo sudah terkenal sabagai penjahat gemar bunuh orang, sekalipun kau tidak mau menyerahkan kitab silat orang-orang dari dunia kangouw juga tidak akan mengampuni dosa-dosamu ?"
Sambil berkata setindak demi setindak Hek Loo jie mulai mendekati tubuh kakek aneh itu lagi.
Liem Tou yang menyembunyikan dipojokan penjara, dengan sangat jelas sekali melihat seluruh peristiwa yang terjadi sejak dia melancarkan cengkeraman mencekai urat nadi Loo-toa sampai saat ini dalam hatinya segera dia sadar kalau dia merupakan seorang manusia yang berhati kejam, licik serta banyak akal, saat ini sekali lagi dia melangkahkan kakinya mendekati tubuh Loo toa, kebanyakan dalam hatinya sudah mengandung maksud jahat.
Siapa tahu ketika Hek Loo jie itu melihat sipir bui masih tidur terlentang dengan nyenyaknya itu, mendadak dia barjalan kearahnya, sesudah memandang beberapa saat kearahnya barulah dia mengulurkan tangan memeriksa dadanya, bentaknya.
"Seret dia keluar dari sini."
Sejak Hek Loo jie masuk kedalam ruangan penjara tak seorangpun diantara penjaga bui itu yang angkat bicara, agaknya mereka amat jeri terhadapnya, Saat ini seorang diantara para penjaga itu menyahut dan mulai berjalan keluar sambil menyeret sipir bui yang kekar besar itu.
Siapa duga begitu dia menyeret turun dari sipir bui itu Liem Tou yang berada disamping hamper-hampir saja menjerit keras saking kagetnya.
Kiranya tubuh dari sipir itu begitu digerakkan dari mulutnya mendadak menyemburkan darah segar membuat penjara yang menyeret tubuhnya itu saking terkejutnya hampir saja melemparkan tubuhnya.
Tetapi begitu dilihatnya Hek Lok Jie dengan mata yang melotot sedang memandang kearahnya sekalipun mau dilepaskan juga tidak berbuat demikian.
Dengan perlahan Hek Loo jie memutar tubuhnya kembali kearah Loo-toa, bentaknya sambil tertawa dingin.
"Loo toa, bagaimana?, aku lihat lebih baik kau serahkan padaku saja."
Kakek aneh itu tetap tidak mau menggubris dirinya dengan tenangnya dia berdiri mematung ditempat.
Tiba-tiba sinar mata yang amat tajam dari Hek Loo-jie dengan perlahan lahan mulai bergeseser kearah tubuh Liem Tou yang bersembunyi dipojokan ruangan.
Liem Tou yang dipandang seperti itu tidak terasa lagi jadi meringkik saking takutnya seluruh tubuhnya gemetar dengan sangat keras, sedang dalam hatinya diam diam berteriak.
"Dia turun tangan padamu seperti juga pada saat turun tangan pada sipir bui itu, aku harus menggunakan cara apa untuk meladeni dirinya."
Tidak salah dengan langkah yang perlahan tapi mantap, setindak demi setindak Hek Loo¬jie mulai mendekati tubuhnya, hati Liem Tou semakin bardesir bibirnya digigit kencang kencang sedang dalam hatinya secara mendadak teringat akan Lie Siauw Ie, doanya.
"Ie cici, kau dimana, aku adik Tou sekarang sedang menemui bahaya! mungkin selama hidup kita tidak akan dapat berjumpa kembali"
Bersamaan waktunya pula sepasang kakinya yang lurus kedepan ditarik kembali, sikapnya menjadi duduk bersila sedang hawa murninya pun secara diam diam dipusatkan pada pusarnuya siap menghadapi musuh, sehingga setiap saat dapat melancarkan serangan untuk melindungi dirinya sendiri.
Saat itu Hek Loo jie semakin berjalan satu tindak mendekat, hatinya semakin tegang satu kali lipat, tidak lama kemudian jarak dariHek Loo jie dengan tubuhnya tidak lebih tinggal tiga lima langkah lagi, seluruh bulu kuduknya menjadi berdiri peluh dingin mengucur dengan derasnya sedang sepasang matanya dengan melotot memandang tak berkedip atas wajahnya, mana berani berlaku ayal didalam saat seperti itu, teriaknya didalam hati.
"Jangan dekati aku .jangan dekati aku lagi.."
Waktu itu sekalipun jumlah orang yang berada didalam penjara itu tidak sedikit tetapi suasananya sunyi senyap tak terdengar suara sedikitpun juga, siapapun tidak berani mengeluarkan suara sehingga keadaan pada saat itu ngeri menyeramkan.
Pada saat yang kritis itulah tiba tiba terdengar teriakan dari kakek aneh itu dengan keras.
"Hei kau binatang, kau kira dengan bunuh babi jagal kambing bisa membuat aku ketakutan?, jangan mimpi!"
Suara makiannya makin lama makin keras, bentaknya lagi dengan semakin keras.
"Aka beri tahu hei binatang, sekalipun kitab silat To Kong Pit Liok"
Aku beri padamu kau kira bisa dengan aman lolos dari daerah Cong Ling ini?"
Mendengar perkataan itu, Hek Loo jie segera menghentikan langkahnya dan membalik tubuhnya kembali, waktu itulah Liem Tou baru bisa menghembuskan napas lega.
"He .. hei ..! bentak Hek Loo jie, apa maksud ucapan itu? Apa mungkin sudah berubah maksud untuk menyerahkan kitab silat itu padaku?"
Kakek aneh itu tertawa serak, dengan perlahan lahan jarinya yang kurus kering ditudingkan keluar penjara sambil ujarnya.
"Sekalipun akal dan sifat diri Hek Loo jie sangat keji dan kejam, dengan tersenyum bisa membunuh orang tetapi selamanya terhadap kecerdikan serta akal dari Loo toa sangat jeri sekali oleh karena itulah begitu Loo toa bicara demikian diapun terpaksa secara diam diam mengambil kewaspadaan lagi."
Saat ini air muka Hek Loo jie berubah pucat kehijau hijauan, hatinya setengah percaya setengah tidak terhadap perkataan dari Lao toanya itu, sebentar sebentar dia memandang keluar penjara sebentar lagi beralih memandang terpesona keatas wajah Loo toa.
Air muka kakek aneh itu mendadak berubah menjadi amat keren, bentaknya.
"Kau mau coba coba ?"
Sesaat sesudah Hek Loo jie mendengar perkataan dari Loo toanya itu sebenarnya didalam hatinya sudah timbul perasaan curiga kini melihat sengaja dia memperbesar omongannya tak terasa lagi tertawa dingin tak henti hentinya, sahutnya.
"He .. he .. he . agaknya kau tidak mau padam hatimu sebelum melihat sungai Hoang Hoo, tidak akan melelehkan air mata, sebelum melihat peti mati, sudah sampai keadaan seperti ini masih ingin menggunakan perkataan apa lagi?"
"Hmm..hmm baiklah,"
Sahut kakek aneh itu sambil mengangauk."
Bagus sekali, kau tunggu saja."
Sekonyong konyong ..terdengarlah kakek aneh itu dengan suara yang keras berteriak ke arah luar penjara, serunya.
"Kitab silat To Kong Pit Liok merupakan salah satu kitab rahasia pada saat ini seharusnya dimiliki oleh orang yang budiman dan berhati luhur, Loo jie kau binatang bilamana kau terus menerus mendesak jangan salahkan aku kalau segera akan merobek robek kitab ini, siapa saja jangan harap bisa memilikinya kembali."
Liem Tou sesudah mendengar perkataan itu tidak terasa lagi menjadi sangat heran dengan sangat jelas diketahui olehnya kalau kitab silat "To Kong pit Lok "
Tidak berada didalam tubuhnya bagaimana dia kini bisa bicara demikian ??"
Tidak disangka baru saja pikiran ini berkelebat didalam benak Liem Tou dari luar penjara terlihatlah melayang datang bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa, tahu tahu didepan pintu penjara telah berdiri dua orang menghadang jalan perginya, bersama sama mereka membentak dengan keras.
"Hek Loo toa, tahan.", Liem Tou yang bersembunyi ditempat gelap dipojokan ruangan penjara dengan sangat jelas sekali segera dapat mengenal salah seorang diantaranya merupakan pembesar buta yang memakai baju kebesaran serta kopiah kebesaran itu sedang orang yang satunya lagi mempunyai bentuk tubuh kurus kering tetapi sangat tinggi, air mukanya pucat pasi kehijau hijauan wajahnya kurus lancip sedang pada tangan kirinya membawa tasbeh melihat hal itu tak terasa hatinya menjadi tergerak diam diam pikirnya.
"Apa mungkin orang ini adalah hweesio yang disebut sebagai mayat hidup oleh Thiat Sie sianseng?"
Begitu kedua orang itu munculkan dirinya didepan pintu penjara sesudah merandek segera berjalan masuk kelalam ruangan penajara.
Liem Tou yang memperhatikan hweesio itu secara diam diam segera dapat melihat sewaktu dia berjalan tubuhnya memang sangat kaku bagaikan mayat hidup, setiap langkahnya tentu kedua kakinya bersama sama meninggalkan permukaan tanah, boleh dikata dia sedang meloncat, melihat hal ini Liem Tou segera sadar kalau dugaannya ternyata tidak meleset, orang ini tentu adalah hweesio mayat hidup.
Perasaan terkejut yang mencekam hati Hek Loa jie jauh lebih hebat lagi, mimpipun dia tidak pernah mengira kalau ditengah hari siang bolong seperti ini masih terdapat juga orang-orang yang menyatroni dirinya.
Jangan dikata hweesio mayat hidup serta pembesar buta itu turun tangan bersama-sama sekalipun salah seorang turun tangan sendiripun dia tidak akan sanggup melayaninya, didalam keadaan terkejut bercampur cemas tangan diulapkan memberi tanda para penjaga penjara, sambil teriaknya.
"Kalian gentong nasi, cepat tangkap mereka!"
Para penjaga penjara itu mana tahu kelihayan dari kedua orang, ditengah suara bentakan yang keras bersama sama mereka menerjang maju.
Si hweesio mayat hidup dengan pembesar buta itu sama sekali tidak bergerak, kakinya tidak bergeser, sampai kepalanyapun tidak diputar sedikitpun.
Terdengar sihwcesio mayat hidup itu dengan perlahan berdoa.
"Omintohud."
Tasbeh yang berada ditangannya diayunkan, Liem Tou hanya melihat suatu bayangan hitam berkelebat dengan sangat cepat, penjaga yang berada dipaling depan segera menjerit ngeri, kepalanya hancur luluh, sedangkan tubuhnya rubuh keatas tanah binasa seketika itu juga.
Begitu dia memperlihatkan kepandaiannya bagaikan anjing yang kena kemplangan, penjaga penjaga lainnya saking ketakutan air mukanva berubah menjadi pucat pasi, kaki tangannya berubah menjadi lemas mana berani maju setengah tindak lagi.
Dalam hati Hek Loo jie tahu kalau keadaan tidak mengijinkan, baru saja hendak meminjam kesempatan ini untuk melarikan diri siapa tahu begitu matanya melirik keluar penjara hatirya menjadi sangat terkejut sekali.
Kiranya entah mulai kapan, si Siucay buntung, pengemis pemabok dan Thiat Sie Sian¬sang sekalian dengan tidak manimbulkan suara sedikitpun telah berdiri diluar penjara, hanya dalam sekejap saja tempat itu telah dihadiri oleh Tionggoan Ngo Koay coba kau pikir dia merasa terkejut tidak akan kejadian ini ?
Si pembesar buta yang memiliki telinga yang sangat tajam saat ini agaknya juga merasakan sesuatu, dengan cepat dia putar tubuhna sambil bertanya.
'Siapa ?"
Mendengar suara bentakan itu si hweesio mayat hidup dengan cepat putar tubuhnya berpaling saat itulah terdengar suara tertawa tergelak yang sangat nyaring dari sisiucay buntung, pengemis pemabok dan Thiat Sie Sianseng, sambil mengayunkan Tha Kauw Pang-nya maki pengemis pemabok itu.
"Hei mayat hidup, pembesar picek, kemarin malam kita belum puas bertanding mari hari ini kita lanjutkan pertandingan ini"
Si hweesio mayat hidup yang diejek dengan perkataan ini tetap tidak ambil perduli, air mukanya yang pucat pasi sedikitpun tidak menampilkan perubahan sabaIiknya saking kekhira si pembesar buta itu membentak keras tongkat, tongkat besi ditangannya dengan cepat diayunkan ke depan secara mendadak sekali mengancam tenggorokan sipengemis pemabok itu serangannya amat ganas, bertenaga dan dilakukan bagaikan kilat cepatnya.
Tetapi sekalipun dia cepat, orang Iain lebih cepat dari dirinya baru saja tongkat penggebuk anjing dari pengemis pemabok hendak memunahkan serangannya itu, sie poa ditangan Thiat Sie Sianseng dengan cepat telah dibalik menahan serargannya, ujarnya dengan kalem.
"Kau pembesar picek, tunggu sebentar, dengar dulu omonganku."
Kepada si Siucay buntung dan Thiat Sie Sianseng Liem Tou memangnya pernah bertemu sekali dan terhadap mereka berdua pun didalam hatinya telah timbul rasa simpatiknya, kini melihat mereka berdua munculkan dirinya ditempat ini bahkan saat ini mendengar Thiat Sie Sianseng hendak berbicara tanpa terasa lagi semangatnya menjadi terbangun kembali sedang seluruh perhatannyapun dipusatkan padanya, perhatiannya terhadap kakek aneh serta Hek Loo jie pun tidak terasa menjadi semakin kendor.
Kedengaran Thiat Sie Sianseng dengan perlahan telah berkata kembali.
"Selama berpuluh tahun lamanya Tionggoan Ngo Koay mengasingkan dirinya masing-masing, ini hari bisa berkumpul kambali ditempat ini tidak lebih karena se
Jilid kitab silat To Kong pit Liok, kini kali bukannya memusatkan seluruh perhatian untuk mendapatkan kitab silat bahkan sebaiiknya berebut kembali soal dendam sakit hati pada masa yang lalu, bukannya ini sangat aneh sekali, kemarin malam kalianpun sudah melihat sendiri orang orang yang menghendaki kitab silat ini bukan kami Tionggoan Ngo Koay saja, bahkan para jago dari partai-partai lain pun sudah pada berdatangan disamping itu menurut apa yang aku ketahui Partai Kiem Tian pay dari Telaga Auh Hay serta partai Tun Sin pay yang tidak pernah mencampuri urusan dunia luarpun telah mengirim orang datang"
Sipembesar buta yang melihat dia berbicara tidak henti-hentinya sejak tadi sudah merasa tidak sabaran, kini potongnya dengan nada yang sangat keras.
"Persetan mereka mau mengirim berapa banyak orang, kitab silat To Kong pit Liok ini bila kalau bukannya milikku maka kau peda¬gang licik jangan harap bisa mendapatkannya, dengan mengandalkan Siepoa bututmu tidak usah banyak omong.
"Ha ha ha --."
Ujar Thiat Sie Sianseng sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kau sudah buta sepasang matamu sekalipun mendapat kitab silat To Kong pit Liok, apa gunanya? Tidak perlu terlalu berangasan dengar dulu omonganku. Sekalipun jago dari Bu lim maupun dari lain perkumpulan disini juga tidak akan membuat kita jeri hanya saja tali hubungan yang paling penting sekarang ini terletak diatas tubuh Hek Loo Jie, sejak dahulu dia sudah punya maksud membunuh dan mencelakai Hek Loo toa, bilamana dia sampai binasa lalu siapa lagi yang tahu kitab silat To Kong pit Liok, disimpan dimana?"
Begitu dia mengucaplan kata kata ini diam-diam Liem Tou merasa sangat kagum atas kecerdikannya, dengan cepat sinar matanya digeser keatas wajah Hek Loo Jie, dalam hati dia mengira tentunya air mukanya telah berubah pucat kehijauan, siapa tahu air muka dari Hek Loo Jie saat ini masih seperti semula memasuki penjara, senyumannya menghiasi seluruh wajahnya sedang sikapnyapun tenang-tenag saja tidak terasa lagi hatinya menjadi sangat heran.
Pada saat itulah terdengar Thian Sie Sianseng membentak dengan keras.
"Hati hati tangkap dia!"
Perkataan dari Thiat Sie Sianseng belum diucapkan selesai sejak semula Hek LooJie membentak keras, tubuhnya berputar ditengah udara kemudian dengan meminjam kesempatan tersebut dia melancarkan suatu serangan yang dahsyat kearah dada dari Hek Loo toa membuat dia saking tak tertahan tubuhnya terjengkang kebelakang, darah segar memancar keluar dengan derasnya dari mulut, sedang tubuhnya bergelinding hingga kesamping tubuh Liem Tou.
Setelah itu dengan tidak membuang kesempatan lagi tubuhnya bagaikan kilat cepatnya mererobos keatas membuat genting pada rontok kebawah sedang tubuh dari Hek Loo jie itu dengan cepat keluar dari atas genting dan melarikan diri.
Keadaan yang berubah dengan demikian cepatnya inilah mem buat Tionggoan Ngo Koay dibuat bingung secara mendadak, dengan tidak memperdulikan lagi pada diri Hek Loo toa dengan cepat mereka mangejar kearah Hek Loo Jie yang melarikan diri itu, inipun termasuk perhitungan bintang atau takdir mengharuskan Liem Tou yang mendapatkan kitab silat ini secara tidak disengaja.
Kita balik lagi pada tubuh Hek loo toa yang terkena pukulan dahsyat dari Hek Loo Jie hingga terpental jatuh kesamping tubuh Liam Tou.
Dengan tergesa gesa Liem Tou mentangkan tubuhnya, sehingga untuk sementara masih bisa mempertahankan tubuhnya untuk sekejap hanya saja saat ini darah segar mengucur keluar dengan derasnya, dia telah terluka dalam parah sekali, sekalipun dewa turun dari kahyangan pun tidak mungkin bisa menolong jiwanya lagi.
Dengan sangat berhati-hati Liem Tou meletakan tubuh Loo toa keatas tanah, memandang keadaan yang sangat mengenaskan itu dia dibuat men jadi bingung, tanyanya dengan gugup.
"Loocianpwee, aku Liem Tou, lukamu sangat parah masih bisa disembuhkan tidak?"
Saat itu mendadak terlihat dua orang penjaga penjara berjalan mendekat kearah mereka Liem Tou yang melihat hal itu saking gusarnya seluruh wajahnya berubah menjadi merah padam bentaknya dengan keras.
"Kalian cepat menggelinding dari sini kalau tidak hemm , .. hem ... jangan menyalahkan aku turun tangan kejam."
Begitu selesai berbicara tangannya diajukan melancarkan serangan, angin pukulan yang dikerahkan keluar sekalipun tidak begitu dahsyat tapi kedua orang penjaga penjara itu tidak sanggup untuk menerimanya dengan cepat dan tergesa gesa mereka mengundurkan dirinya kebelakang.
Dengan cemas ujar Liem Tou lagi sambil menggoyang-goyangkan tubuh dari Hek Lao toa.
"Loocianpwee, kau bicaralah dengan cara apa aku harus menolong untuk menyembuhkan luka mu ini ?"
Dia tidak tahu saat ini Hek Loa toa sudah amat susah untuk barbicara terlihatlah dengan paksakan dirinya dia menggelengkan kepalanya tak terasa lagi Liem Tou menjadi amat sedih ujarnya.
"Kalau begitu Loocianpwee memang sungguh tak ada harapan lagi?"
Loo cianpwee, aku adalah Liem Tou bilamana Loo cianpwee punya urusan yang penting sampaikanlah kepadaku , aku pasti akan melaksanakan harapan Loo cianpwee hingga berhasil."
Tidak disangka begitu Liem Ton mengucapkan kata-kata itu sepasang mata dari Hek loo toa yang tadinya dipejamkan rapat rapat itu secara mendadak dipentangkan lebar lebar sesudah me¬mandang beberapa saat lamanya kearah Liem Tou barulah dengan perlahan dia mengangguk sedang dari kelopak matanya tak tertahan lagi melelehkan titik air mata.
Liem Tou yang melihat dia me!elehkan air mata semakin dibuat bingung baru saja hendak buka mulut untuk bicara mendadak terlihatlah tangan kanan dari Hek Lao toa dengan perlahan menggeser pada pinggangnya.
Hati Liem Tou segera bergerak teringat lagi ketika kemarin hari sesudah dia dihajar dengan pecut dan makan tali pinggangaya maka lukanya segera sembuh hatinya menjadi girang de¬ngan cepat tanyanya.
"Loo cianpwee apa mau cari tali pinggang itu?"
Hek Loo toa mengangguk kembali dengan cepat Liem Tou melepaskan tali pinggang itu dan menghantarkan kepinggir mulutnya, dengan tak menunggu nunggu lagi kira-kira dua coen dari tali pinggang itu telah ditelan kedalam perutnya.
Tak lama lagi Hek Loo ton sudah tidak muntah darah, sedang suara rintihannyapun mulai terdengar, Liem Tou menjadi sangat girang sambil berlutut disampingnya serunya.
"Loocianpwee, kau merasa baikan bukan?"
Hek Loo toa hanya menggelengkan kepalanya sambil memejamkan matanya dengan perlahan gumamnya.
"Mo Ku Tiauw Cong Ci Cie Tong."
Liem Tou yang mendengar perkataan itu diam-diam merasa sangat bingung pikirnya dalam hati.
"Ehm--kematiannya sudah diambang pintu ternyata dia masih punya niat untuk membaca syair ini Aaaai sungguh kasiban sekali."
Siapa tahu begitu Hek Loo toa selesai mambaca kalimat pertama tetap tak mendengar sahutan dari Liem Tou mendadak sepasang matanya melotot keluar memandang kearah Liem Tou, sedang air mukanyapun telah terjadi perubahan besar.
Liem Tou menjadi tertegun secara tiba-tiba dia sadar kembali, dengan cepat lanjutnya dengan suara perlahan.
"Pit Bun Kong Can Tui Jan Kang."
Saat itu barulah terlihat pada bibir Hek loo toa tersungging suatu senyuman, lanjutnya lagi.
"Pak Hwie Sian Po Tong Ang Hwee."
"Wu Ting Stauw Liauw Soat Ta Cuang."
Seperti juga pada semula menanti Liem Tou selesai membaca syair ini tanyanya dengan -cepat.
"Siapa kau?"
"Boanpwee Liem Tau"
Sahut Liem Tou tanpa ragu-ragu.
"Cianpwee punya perintah apa lagi terhadap diriku?"
"Bukan ..bukan"
Ujar Hek Loo toa sambil gelengkan kepalanya.
"Bukan bukan Liem Tou ingat kau bukan Liem Tou, kau adalah…."
Agaknya secara mendadak Liern Toupun telah merasa kalau perkataan ini masih mengandung mak sud yang sangat mandalam dengan cemas tanyanya.
"Locianpwee, slapa kau?"
Bukannya menjawab tiba-tiba pada mulut Hek-Loo toa tersungging suatu senyuman yang amat dingin, ujarnya dengan tawar.
"Sanggupi aku untuk bunuh binatang itu, maka aku akan segera beri tahu padamu."
"Hek Loo jie jadi orang licik menganiaya saudara sendiri siapapun yang tahu tentu akan berusaha membasmi dirinya."
"Aku minta kau bunuh dia"
Bentak Hek loo toa sambil melototkan matanya.
"Asalkan boanpwee berbasil melatih ilmu silat tentu akan membantu cianpwee membalaskan dendam ini."
Setelah rnendengar perkataan itu Hek Loo toa barulah menjadi puas sambil mengangguk sahutnya.
"Siapa kau ? Makan tanpa ikan, pergi tanpa kereta, mana-mana tiada rumah tinggal, hamba bukan manusia."
Diam diam Liem Tou mengingat ingat perkataan ini didalam hatinya, terdengar dengan paksakan diri ujar Hek Loo toa lagi.
"Akt sudah tak bisa bertahan lebih lama lagi untuk mendapatkan kitab rahasia To Kong Pit Liok"
Itu kau harus ingat perkataan tadi, kitab itu disembunyikan di . .."
Parkataan selanjutnya belum sempat diucapkan tiba tiba terlihatlah sipengemis cilik itu dengan cepat lari masuk kedalam penjara, tangannya dengan cepat mencengkeram tubuh Hek Lo toa sambil bentaknya dengan keras.
"Hek Lao toa, kau tak bisa binasa dengan demikian saja, kitab silat "To Kong Pit Liok"
Kau semunyikan dimana?
Cepat bicara.
Karena perbuatan jahatrnu selama puluhan tahun lamanya ditambah lagi dengan dosamu yang sudah tumpuk tumpuk sekalipun harus binasa juga tidak sayang, tapi bilamana kitab silat "To Kong Pit Liok"
Itu sampai musnah dikarenakan kematianmu maka dosa ini sangat besar sekali, kau harus binasa dengan keadaan yang mengerikan."
Liem Tou yang mendengar ucapannya yang kasar itu tak terasa menjadi sangat gemas, dengan gusar bentaknya.
"Kini Loo cianpwee sedang mederita luka parah bagaimana kau berani bertindak demikian kasarnya ? Cepat lepaskan."
Sejak Hek Loo toa menelan tali pinggang itu sebenarnya dengan paksakan diri dia masih sanggup untuk mempertahankan dirinya, saat ini begitu dicengkeram oleh sipengemis cilik dadanya terasa sangat sesak dan kesakitan tak kuasa lagi darah segar menyembur keluar dari mulutnya dengan sangat deras sedang dia sendiri jatuh tak sadarkan diri .
Baru saja Hek Loo toa mau memberitahukan tempat penyimpanan kitab silat "To Kong Pit Liok"
Kepadanya secara mendadak telah terjadi perubahan demikian besarnya, membuat hawa amarah didalam tubuh Liem Tou tak kuasa lagi memuncak, tangannya menyambar , Plaaak...dengan tidak dapat dihindar lagi pipi dari pengemis cilik itu telah terkena gaplokannya yang sangat keras ini dengan gusar bentaknya.
"Bangsat tak tahu malu terjun sumur mengangkat batu, menyiram minyak menyulut api cepat menggelinding dari sini."
Sipengemis cilik yang merupakan jago yang memiliki kedudukan sangat tinggi didalam partai Kiem Tian Pay ditelaga Auh Hay ditambah lagi disekitar daerah telaga Auh Hay kecuali Auh Hay Ong sendiri siapapun jeri tiga bagian terhadapnya siapa sangka ini hari merasakan gaplokan dari Liem Tou membuat wajahnya segera berubah menjadi hijau seperti besi saking gusarnya dengan suara yang melengking tinggi bentaknya.
'Bangsat anjing busuk, kau berani pukul aku"
Tangannya diangkat melancarkan ilmu yang paling lihay, Yan Wie Cui Hun Cie atau ilmu dari burung walet mengejar nyawa menotok wajah Liem Tou, sedang pada saat yang bersamaan pula Liem Tou yang melihat tubuh Hek Loo toa bergoyang sedang membungkukkan tubuhnya sehingga dengan tepat terhindar dari serangan jari dari pengemis cilik itu, tanyanya.
"Loocianpwee, kau kenapa ? Kau belum sempat berbicara dengan ku."
Dari tenggorokan Hek Lootoa hanya terdengar suara serak yeng tidak enak didengar sedang sepatah katapun tidak sanggup untuk dibicarakan lagi.
Si pengemis cilik yang berdiri disamping begitu mendergar perkataan Liem Tou ini segera berhenti menyerang, bentaknya.
He ...he .bagus sekali, kiranya sejak tadi sudah beritahu padamu "
Liem Tou tidak mau perduli terhadap dirinya tetap saja dia melanjutkan bertanya pada Hek Loo toa, tapi keadaan dari Hek Lootoa sudah parah benar-benar, terIihatlah tubuhnya mendadak berkerut, sepasang kakinya diluruskan kedepan napasnya putus dan demikianlah dia menemui kematiannya dengan sangat mengenaskan.
Hubungan antara Liem Tou dengan Hek Lao toa selama dua hari ini sekalipun tidak dapat dikatakan sangat rapat tetapi bagaimnapun juga budi menurunkan kepandaian silat serta pemberitahuan untuk menemukan kitab silat To-Kong Pit Liok membuat hatinya tak terasa lagi timbul perasaan simpatiknya, apalagi terhadap kematian dari Hek Lootoa yang kembali ke jalan yang lurus membuat hatinya sangat kagum.
Sekarang sudah tentu merasa amat sedih sekali, tanpa sadar dengan periahan dia menjatuhkan diri berlutut disamping tubuhnya, untuk beberapa saat lamanya tidak mengucapkan sepatah katapun juga.
Si pengemis cilik yang menunggu disampingnya mana bisa bersabar lebih lama lagi teriak nya.
"Hei bangsat cilik, tamparanmu tadi untuk sementara aku tidak mau menraih, aku mau tanya padamu tempat penyimpanan kitab silat To Kong Pit Liok apa Hek Lootoa benar benar sudah beritahukan pada dirimu?"
Saat ini Liem Tou yang berlutut disamp;ng jenazah Hek Loo toa secara tiba-tiba menemukan tangan kanan dari mayat Hek Loo toa masih tergetar dengan keras, dengan tidak memperdulikan lagi perkataan dari si pengennis cilik itu seluruh perhatiannya dipusatkan.
Kiranya entah pada saat kapan tangan kanan Hek Lootoa telah menuliskan sebuah kata "Wu"
Pada tanah dengan menggunakan darah segar yang dimuntahkan itu. Liem Tou yang melihat tulisan itu dalam hatinya segera berputar, pikirnya.
"Wu? Bukankah yang dimaksud gunung Wu San? Hek Loo toa merupakan saIah satu iblis dari Siok To Siang Mo, pada masa yang lampau seluruh kejahatan yang dilakukan juga hanya terbatas pada daerah Siok To ini saja, sudah tentu tulisan Wu yang dimaksudkan sesaat menjelang kematiannya adalah gunug Wu San"
Liem Tou yang berpikir sampai disini segera menjadi paham semuanya dengan cepat dan sa¬ngat hormat dia menganggukkan-kepalanva didepan jenasah Hek Loo toa sambil ujarnya.
"Terima kasih atas petunjuk Loocianpwee, boanpwce sudah benar benar paham,."
Dengan perkataan dari Liem Tou ini semakin mcmbuat kecurigaan didalam hati si pengemis cilik bertambah tebal, dengan cemas tanyanya.
"He bangsat cilik, dia sungguh-sungguh sudah beri tahu padamu tempat penyimpanan kitab silat To Kong Pit Liok itu?"
Saat ini Liem Tou sudah benar-benar benci terhadap sipengemis cilik ini, dengan periahan-lahan dia bangkit berdiri dan siap berjalan keluar dari penjara itu, bagaimananun juga saat ini sudah tidak ada orang lagi yang bisa mengurusi dirinya bilamana tidak pergi maka akan tunggu kapan lagi?"
Baru saja dia berjaIan dua langkah tiba-tiba teringat kembali akan ikat pinggang dari Hek Lao toa itu, dalam hati pikirnya.
"Ehm .. tali ikat pingaarg itu tentu merupakan obat yang sangat mujarab sekali, lebih baik aku simpan untuk digunakan dikemudian hari. Berpikir sampai disitu segera dia putar tubuhnya memungut kembali ikat pinggang itu yang ditalikan pada tubuh sendiri. Si-pengemis cilik ying sudah tahu kalau Liem Tou telah mengetahui tempat penyimpanan kitab silat "To Kong Pit Liok", mana mau malepaskan dia dengan demikian mudahnya, tubuhnya berkelebat dengan cepatnya menghalangi jalan pergi Liem Tou bentaknya lagi.
"Bangsat cilik, bilamana kau tidak mau beritahu tempat penyimpanan kitab silat "To Kong pit Liok"
Ini hari jangan harap bisa lolos dari tempat ini dengan selamat."
"Hmm.. pengemis busuk, siapa yang bilang aku tahu tentang kitab silat itu, engkau jangan edan."
Dalam hati Liem Tou tahu urusan ini menyangkut perebutan benda didalam dunia kang ouw, bilamana dia sampai mengakuinya secara terus terang maka pasti akan menemui bencana kematian, oleh karena itu bagaimanapun juga ia tidak berani mengakuinya secara terus terang, tetapi pengemis cilik yang mendengar dari Liem Tou dengan mata telinga sendiri mana mau mempercayainya dengan begitu saja, sudah tentu tidak akan melepaskan dirinya dengan demkian mudahnya.
Hal ini membuat hawa amarah Liem Tou sekali lagi memuncak, sambil mendelik ujarnya.
"Kau mau paksa aku?"
Tetapi didalam hati Liem Tou tahu dengan jelas bilamana dia benar benar bergebrak melawan pengemis cilik, sudah tentu bukanlah tandingannya, oleh sebab itulah sekalipun pada mulutnya dia bicara membuat amat gusar, tetapi tetap saja tidak mau turun tangan.
Dalam hati sipengemis cilik sendiri juga ragu-ragu, jika dilihat dari sikapnya yang ketolol-tololan serta langkah kakinya yang berat slapapun tidak akan percaya kalau kepandaian silatnya lumayan, tetapi dia sendiri sudah dua kali mengalami kerugian ditangannya, oleh karena itu diapun tak berani turun tangan dengan segera.
Demikianlah kedua orang itu saling berdiri berhadap-hadapan, sepasang mata dari masing masing pihak melotot saling memperhatikan gerak gerik musuhnya, sipengemis cilik yang memandang wajah Liem Tou itu semakin dipandang dia semakin merasa wajahnya yang tampan, kulitnya yang putih bersih serta pengetahuannya yang luas, sekalipun lagaknya seperti orang ketolol-tololan tetapi juga tidak kehi¬langan sifat jantan dari seorang lelaki sejati, sebaliknya Liem Tou yang memandang wajah pengemis cilik itu semakin dilihat terasa olehnya semakin mangkal terasa olehnya sekalipun wajahnya kotor pakaiannya yang dipakai sangat dekil tetapi pancainderanya sangat indah, giginya yang rata putih bersih serta kulitnya yang halus lembut sungguh sangat indah dan menarik sekali.
Tiba tiba bayangan dari Lie Siauw Ie berkelebat didalam hatinya pikirnya.
"Bagaimana aku bisa membuang waktu dengan percuma ditempat ini?. le cici setiap hari tentu sedang menanti kedatanganku di perkampungan Ie Hee Cung, bilamana aku harus menyia-nyiakan kesempatan menyerang gunung pada dua tahun mendatang maka aku harus mananti tiga tahun lagi, bukankah membuat Ie cici semakin sedih?"
Berpikir sampai disini tidak tertahan lagi hatinya berdebar dengan sangat kerasnya, saat ini dia tidak ingin membuang waktu lagi, didalam ruangan penjara itu sambil mementangkan sepasang matanya yang jeli bentaknya dengan amat gusar.
"Minggir, bilamana kau tetap menghadang jangan salahkan aku akan berbuat kesalahan° Sambil berkata dengan Iangkah yang lebar dia berjalan keluar penjara, si pengemis cilik yang diterjang dengan cepat mementangkan tangannya menghalau, melihat hal ini Liem Tou semakin gusar, bentaknya lagi.
"Minggir."
Tangan kirinya diulur kedepan mencengkeram tangan dari si pengemis cilik itu sedang tubuhnya maju lagi kedepan. Pengemis cilik itu tertawa dingin, ejeknya.
"Hmmm .. dengan kepandaianmu apa kau kira dengan mudah bisa keluar dari sini ?"
Tangannya yang hendak dicengkeram itu mendadak dibalik mencekal urat nadi tangan kiri Liem Tou, siapa tahu jurus yang dilancarkan oleh Liem Tou ini merupakan salah satu jurus dari ilmu telapak Sam In Ciat Cuang Ciang yaitu jurus In Hum Put Sam atau sukma halus tidak buyar, tangan kiriaya hanya dikembangkan sedikit kemudian secara tiba-tiba ditarik kembali, telapak kanannya dengan tenaga murni yang amat dahsyat secara mendadak menyambar dari bawah keatas, kekuatannya ternyata tidak lemah.
Sebenarnya seluruh perhatian dari pengemis cilik itu sedang dipusatkan pada urat nadinya, siapa tahu serangan ini datangnya amat ganas dan aneh ketika dia merasakan datangnya serangan telapak tangan dari Liem Tou sudah berada didepan dadanya, tidak terasa lagi dia menjerit kaget dengan kerasnya dan dengan tergesa gesa meloncat mundur, tetapi sekalipun serangan dari Liem Ton ini tidak sampai menyebabkan dia teriuka parah tetapi dadanya sudah ditekan dengan keras.
Berturut turut pengemis cilik itu mundur beberapa langkah kebelakang seluruh tubuhnya gemetar saking gusarnya, tetapi air mukanya telah berubah menjadi merah padam sampai pada lehernya dengan termangu-mangu dia berdiri mamatung beberapa saat lamanya memandang diri Liem Tou, tiba-tiba perasaan sedihnya mencekam seluruh hatinya tidak tertahan lagi menangis tersedu-sedu dengan sedihnya, sedang tubuhnya bagaikan seekor burung walet dengan cepat melayang keluar.
Liem Tou yang melihat kepergian dari pengemis cilik itu begitu cepatnya menjadi sedikit tertegun, tetapi sebentar saja dia merasa geli sekali dengan perlahan diamenoleh memandang sekali lagi ke jenazah Hek Loo toa yang terlentang ditengah darah yang berceceran membasahi lantai, ujarnya dengan sedih.
"Loocianpwee beristirahatlah dengan tenang, Liem Tou minta diri"
Sehabis barkata dengan langkah tenang dia berjalan keluar dari penjara terus kejalan raya, dalam hatinya diam diam dia merasa sangat heran ruangan pengadilan yang menjadi satu dengan penjara itu sekalipun sangat luas tetapi tak nampak sesosok bayangan manusiapun, agaknya pertempuran kemarin malam membuat para penjaga dibikin kalang kabut oleh para jago yang datang menyerang sehingga sekarang pada melarikan dirinya.
Liem Tou juga tidak mau menggubris hal ini, dengan langkah perlahan dia berjalan keluar jalan raya terlihat orarg yang sedang lalu Ialang ditengah jalan hampir sebagian besar merupa kan jago-jago Bu lim yang membawa senjata ta jam sekali, sedang saja sudah tahu kalau mereka merupakan jago pasaran yang tidak boleh disalahi, tidak aneh lagi kalau kaum pengemis serta hwesio banyak yang muncul disitu.
Liem Tou yang kini sudah mengetahui tempat penyimpanan kitab silat To Kong Pit Liok, malah membuat dia merasa tidak tentram, hatinya berdebar terus dengan kerasnya.
Begitu dia bertemu dengan orang orang itu tidak dia sadari lagi kepalanya ditundukan rendah-rendah sinar matanya memandang kebawah dan jalannyapun semakin tergesa gesa.
Sambil berjalan hatinya terus berputar sesudah ini dia harus pergi kemana?
langsung ke gunung Wu san atau pergi kelain tempat terlebih dahulu ?
Sebagai pengangon sapi untuk menabung uang guna berangkat ke gunung, Wu san mencari itu kitab silat To Kong Pit Liok pada waktu-waktu yang senggang dalam mengangon sapi itu mungkin juga dia bisa memperdalam ilmu silatnya dari kitab To Loo Cin Keng, mungkin juga dengan demikian kepandaiannya mendapatkan kemajuan.
Sambil berpikir sambil berjalan tidak terasa lagi dia sudah berada jauh diluar kota, sawah yang luas terbentaag disekelilingnya, dia tidak mau ambil perduli terus saja dia melanjutkan perjaIanannya kedepan.
Tidak lama kemudian di tempat kejauhan terlihatlah olehnya seorang petani yang sedang mencangkuli sawahnya, dengan cepat berjalan mendekat sambil ujarnya.
"Tolong tanya, disekitar dusun ini apa terdapat orang yang sedang butuhkan seorang pengangon sapi ?"
Petani itu ketika mendengar ada orang sedang mengajak dia bicara dengan perlahan menoleh memandang tapi segera ia jadi tertegun sesaat lamanya, kiranya petani itu tak Iain adalah pemimpin para petani yang pada dua hari yang lalu membawa Liem Tou masuk kedalam penjara.
Pada saat dia melihat Liem Tou yang sedang bicara dengan dirinya tak tertahan lagi mendadak mementangkan mulutnya sambil menjerit keras.
"Tolong.. , tangkap maling sapi"
Jilid 5.
Liem Tou di uber jago jago Bulim LIEM TOU yang melihat itu menjadi amat terperanjat, didalam keadaan yang cemas serta bingung itu air mukanya berubab menjadi amat keren, dengan amat gusar bentaknya.
"Tutup mulutmu"
Bersamaan pula tubuhnya maju satu tindak ke depan dan mencengkeram pakaian dari kakek petani itu sambil ujarnya lagi.
"Persetan dengan maling atau bukan maling, kau jangau coba coba memfitnah orang baik2, pada waktu kemarin aku masih belum buat perhitungan dengan kau, ini hari kau tidak sopan lagi..Hmm..Hmm.. jangan salahkan aku kalau bertindak tidak sopan kepadamu"
Saat ini Liem Tou merupakan seorang yang sangat besar oleh sebab itulah begitu dia mencengkram pakaian kakek itu kemudian diangkatnya membuat wajah dari petani itu segera berubah menjadi merah padam sedang napasnya tersengkal sengkal Dengan perlahan Liem Tau melepaskan cekalannya, petani itu berubah menjadi bisa menghembus nafaf lega dengan perasaan terkejut bercapur gusar, bentaknya.
"Hai maling kerbau kau ingin bagaimana? "Siapa yang mencuri kerbaumu? Kau melihat sendiri aku mencuri kerbaumu?"
Kakek tua yang dibentak seperti itu menjadi tertegu, dengan sinar mata yang cermat dia memandang sekejap seluruh tubuh Liem Tou, melihat wajahnya yang tampan serta bersih memang tidak mirip sebagai pencuri.
Hanya saja sampai saat ini dia masih tak mau percaya penuh atas perkataannya itu, tanyanya lagi .
"Tetapi bagaimana kerbau itu bisa bersama-sama kau?"
Terpaksa dengan hati yang mangkel bin mendongkol Liem Tou sekali lagi menceritakan pengalamannya pada hari itu, bahkan maki2 ketololan orang-orang desa itu.
Kakek itu setelah mendengar kisahnya segera termenung berpikir sejenak, barulah kemudian sambil mengangguk sahutnya.
"Oh.. kiranya demikian adanya memang hal ini bisa saja terjadi begini, kalau begitu memang diantara kita telah menjadi kesalahan. Liem Tou yang mendengar nada ucapannya segera tau kalau dia masih setengah percaya itu saking gemasnya hampi-hampir saja perutnya pecah dengan cepat dia putar tubuhnya siap meninggalkan tempat itu, baru saja berjalan beberapa langkah tiba2 terdengar kakek yang berada dibelakang tubuhnya berseru dengan keras.
"Hei..balik, kau mau kemana?"
Liem Tou yang sedang gusar dan mangkel, dengan ketus segera sahutnya.
"Aku sudah kalian pukul sehingga seluruh tubuhku sampai kini masih belum sembuh apa kau mau mengumpulkan kawan2mu untuk mengeroyokku lagi?"
"Hei… Kau yang tidak tau, pada masa dekat ini disekitar tempat ini sering kehilangan kerbau sehingga bisa timbul kesalah pahaman seperti itu, tempat meneduhpun kau tidak milik daripada malam ini kau menginap didalam hutan lebih baik tinggal dirumahku saja, bagaimana?"
Liem Tou mendengar ucapannya yang ramah itu segera membuat perasaan mengkel didalam hatinya lenyap separuh.
Pikirnya dalam hati "Hmm…kini aku tak ada tujuan yang tetap, tempat tidurpun tak punya lebih baik ikut saja"Pikirnya.
Sesudah berpikir sejenak barulah dai menyanggupi.
Kakek itu segera membereskan dengan memimpin Liem Tou berjalan kea rah kesebuah dusun yang berpenghuni kurang lebuh puluhan keluarga saja.
Orang2 dusun yang tempo hari ikut menangkap Liem Tou sebagai pencuri kerbau ketika melihat Liem Tou yang saat ini diajak kakek itu masuk dusun segera menjadi gempar, tidak lama berselang berpuluh-puluh orang membanjiri rumah kakek itu sehingga suasana menjadi ramai, tetapi setelah diberi penjelasan dengan kakek itu urusan menjadi tenang dengan sendirinya.
Dengan keramah tamahan kakek itu yang terus menerus menyuruh Liem Tou tinggal di rumahnya memaksa dia terpaksa berdiam disana tiga hari lamannya, dalam tiga hari ini Liem Tou dengan mengikuti petunjuk dari Hei Loo Jie melatih ilmu pernafasannya sedang oada siang harinya membantu kakek itu mengangonkan sapinya.
Hari keempat pagi2 dengan paksakan diri Liem Tou minta diri pada kakek tua itu, siapa tahu dengan perasaaan iba hari dan hati yang jujur ujar petani tersebut "
Kau tidak punya rumah, tidak punya tujuan, sekarang mau kemana? Lebih baik tinggal saja dirumahku bilamana kau merasa tidak enak biarlah bekerja sebagai pengagon sapi disini saja"
Agaknya kakek itu telah tahu maksud dair Liem Tou yang sebernarnya, sebenarnya dia memang tidak mau meninggal tempat itu kini sesudah mendengar perkataan itu Liem Tou pun tidak menapik lagi.
Tidak disangka pada hari kelima didalam dusun itu secara mendadak berturut-turut muncul pengemis-pengemis serta hweesio yang dandanannya sangat aneh sebang dimalam harinyapun sering dengan jelas Liem Tou mendengar suara dari orang2 sedang berjalan malam.
Dengan demikian Liem Tou yang tinggal didalam dusun itu menjadi tidak tenang, jantungnya terus menerus berdebar dengan keras, tetapi untuk sesaat diapun tidak dapat minta ijin dari kakek itu untuk meninggalkan dusun tersebut.
Suatu hari Liem Tou dengan membawa kerbau menuju kebelakang gunung makan rumput, dia sendiri duduk disamping sebuah batu besar meng ingat2 kembali jurus2 dari ilmu pukulan dari kitab rahasia Toa Loo Gin Keng, mendadak dari samping muncul seorang tousu berusia pertengahan yang dengan perlahan berjalan mendekati dirinya, terlihatlah toosu itu memberi hormat padanya sambil Tanya.
"Hei bocah cilik, didalam beberapa hari ini didalam kampungmu apa melihat munculnya seorang asing?"
Liem Tou mendengar pertanyaan itu hatinya menjadi bergerak, dengan tidak berubah wajah balas tanyanya.
"Orang asing macam apa?"
"Oh.. orang itu aku sih belum menemuinya, hanya aku tahu dia bernama Liem Tou"
Liem Tou yang tau namanya disebut hampir saja air mukanya berubah menjadi hijau sangking terkejutnya, tubuh meloncat mundur beberapa tindak. Sahutnya sedikit gugup "
Aku juga belum pernah mendengar nama orang ini, hanya hal ini sangat aneh bilamana tooya tidak kenal dengannya mengapa mencarinya?"
Toosu itu memandang sekejap kearah Liem Tou kemudian bentaknya "Buat apa kau tanya ini, sudah tentu aku punya urusan cari dia"
"lalu siapa sebutan dari tooya? Bilamana pada kemudian hari aku bertemu dengan orang bernama Liem Tou akan kusampaikan kalau seorang tooya sedang mencari dia"
"hmm… tentang hal ini tidak perlu"
Sesudah itu dia lalu putar tubuh dan berlalu dari tempat itu, tetapi baru saja dia berjalan beberapa langkah dari tempat semula dari bawah bukit telah berkumandang suara tertawa ter galak2 dari seorang sambil ujarnya "
Ha..ha..ha..Ciangbujin dari Butongpay Leng Ceng Cu juga dating.. wakakakak.. selamat bertemu.. tentu kaupun sendang mencari berita dari Liem Tou, bukan?"
Baca Juga: Pendekar Tanpa Bayangan Kho Ping Hoo
Baca Juga: Lembah Selaksa Bunga 4