Ceritasilat Novel Online

Pendekar Patung Emas 7

Eps 7 Pendekar Patung Emas - Qing Hong

Baca online Pendekar Patung Emas - Qing Hong

Cersil Pendekar Patung Emas - Qing Hong.

"Jika kau bosan dengan aku biarlah aku segera pergi"

Ujar Wi Lian In kurang senang kemudian diteguknya jugs teh dalam cawan itu.

"Ha ha ha..jangan ngomong begitu"

Wi Lian In segera meletakkan cawannya ke atas meja, kemudian berjalan ke hadapannya, ujarnya dengan malu-malu.

"Coba ngomonglah secara terus terang, sebenarnya ... kau suka . suka padaku tidak?"

Ti Then sama sekali tidak menduga kalau dia bisa mengeluarkan kata-kata ini, untuk seketika itu juga dia dibuat kelabakan.

"Su... sudah..sudah tentu suka". Wi Lian In angkat kepalanya memandang sekejap ke arahnya, dengan wajah sedih ujarnya.

"Tetapi aku merasa kalau kau tidak suka padaku, kau selalu menghindari aku, selalu berlagak pura... berlagak pilon-"

Ti Then pun meletakkan cawannya ke atas meja, sambil memegang kencang sepasang pundaknya dia menghela napas dengan perlahan-"Tidak salah, aku selalu berusaha menghindari kau, hal ini karena..karena aku tidak sesuai untuk mencintai..mencintai dirimu."

Menggunakan kesempatan ini Wi Lian In menyatuhkan diri ke dalam pelukannya ujarnya dengan air mata yang menetes ke luar.

"Kau sedang omong kosong,jika kau tidak pantas siapa lagi yang pantas? siapa lagi yang sesuai?"

"Siapa pun pantas, siapa pun sesuai cuma aku seorang yang tidak pantas"

Jawab Ti Then perlahan sedang tangannya dengan sangat mesra mengelus elus rambutnya yang indah itu.

Mendadak Wi Lian In angkat kepalanya dengan air muka penuh perasaan terkejut bercampur gusar, ujarnya.

"Apa arti dari perkataanmu ini?"

Dengan cepat Wi Lian In angkat tangannya untuk menutupi bibirnya, ujarnya dengan manya.

"Siapa yang menghendaki kau punya kedudukan? siapa yang menghendaki kau punya uang? Kenapa kau bisa punya pikiran yang demikian menggelikan?"

Berbicara sampai di sini mendadak sepasang tangannya yang sedang merangkul Ti Then dengan perlahan terlepas sedang tubuhnya pun dengan amat lemasnya merosot ke bawah untuk kemudian jatuh terlentang tidak sadarkan diri.

Ti Then yang melihat seCara tiba-tiba dia jatuh tidak sadarkan diri hatinya menjadi amat terperanyat, cepat-cepat ditariknya.

"Wi Lian In kau kenapa?"

Tanyanya dengan cepat.

Sepasang mata Wi Lian In dipejamkan rapat-rapat, tubuhnya lemas tak bertenaga sama sekali ternyata dia benar-benar jatuh tak sadarkan diri Ti Then sama sekaii tidak menduga die bisa jatuh tidak sadarkan diri secara tiba-tiba untuk sesaat hatinya menjadi bingung sekali, segera dia meaggendong badannnya untuk di atas pembaringan.

Tetapi baru saja dia berjalan dua langkah dari tempat semula mendadak lututnya menjadi sangat lemas saking tidak kuatnya tubuhnya mau pun tubuh Wi Lian In sama-sama jatuh ke atas tanah.

Dia pun jatuh tidak sadarkan diri.

PERTAMA-TAMA yang sadar kembali adalah Ti Then, dia seperti baru saja bangun dari suatu tidur yang amat pulas sekali, tetapi ketika dia bisa membuka matanya kembali dan melihat dengan jelas pemandangan di sekeliling tempat itu tanpa terasa lagi dia menemukan dirinya sudah tidak tertidur di dalam kamar pada kuil san cing Koan itu, kini dia berada disuatu ruangan bawah tanah yang amat dingin, lembab dan gelap sekali.

Luas dari ruangan bawah tanah itu kurang lebih hanya lima kaki saja, sekelilingnya merupakan dinding dinding tanah yang amat lembab.

Di bawah dinding tanah sebelah badannya terdapatlah sebuah tangga-tangga batu yang menuju ke atas, diujung tangga batu terdapat sebuah pintu besi, sedang di samping pintu di atas dinding tergantunglah sebuah lampu minyak.

selain itu tidak tampak barang lainnya.

Ti Then merasakan baru saja terbangun dari suatu impian yang amat buruk.

sesudah tertegun beberapa saat lamanya barulah dia mulai angkat kakinya berjalan menuju ke atas tangga-tangga itu.

Tetapi baru saja berjalan sejauh tiga depa, mendadak terdengartah..

"cring .."

Seketika itu juga badannya berhenti bergerak.

walau sudah berusaha sekuat tenaga tetap tidak berhasil untuk maju.

Cepat-cepat dia tundukkan kepalannya memandang, saat itulah dia baru merasa kalau dibagian pinggangnya sudah di ikat dengan seutas rantai yang amat kuat sedang ujung rantai tersebut diikat dengan sebuah tiang besi yang ditanam amat dalam sekali di bawah permukaan tanah.

Pada waktu dia melihat adanya tiang besi itulah dia juga melihat diri Wi Lian In seperti juga dirinya dirantai dengan besi dan saat ini sedang berbaring dipojokan dinding.

Ti Then segera meloncat ke samping tubuh Wi Lian In, tertaknya dengan cemas.

"Lian In-. Lian In, cepat kau bangun"

Wi Lian In lelap tertidur dengan amat pulasnya. Ti Then segera gerakan tangannya menggoyangkan tangannya teriaknya kembali.

"Lian In-, Lian In-, cepat bangun"

Waktu itulah Wi Lian In baru mengeluarkan sedikit suara, dengan perlahan matanya dipentangkan kemudian gumamnya dengan suaranya yang amat manya.

"Hari belum terang, tidur sebentar lagi."

Baru berbicara sampai di situ mendedak dia bangkit berdiri, air mukanya berubah sangat hebat.

"Hey, tempat mana ini?"

"Sebuah ruangan bawah tanah"

Sa hut Ti Then tertawa pahit.

"Ruang bawah tanah?"

Teriak Wi Lian In dengan perasaan amat terperanyat "Ruang bawah tanahnya siapa?? bagaimana kita sampai di sini??"

"Mungkin ruang bawah tanahnya kuil Sam Cing Koan, HHmm, kita masih bilang mereka angat sopan dan ramah menghadapi tamu-tamu, kiranya tak lebih kaum bajingan rampok"

"Tetapi. ."

Seru Wi Lian In lagi dengan kaget.

"Bagaimana mereka bisa berhasil menawan kita kembali?"

"Sesudah kita minum air tehnya tidak lama kemudian sudah jatuh tidak sadarkan diri, tentu di dalam tehnya sudah diberi obat pemabok oleh mereka."

Wi Lian In menjadi amat geli, sekali pergelangan tangannya dengan cepat di balik untuk mencabut keluar pedangnya, siapa tahu dia sudah menangkap tempat kosong, sehingga tanpa terasa lagi air mukanya berubah sangat hebat, dengusnya dengan amat dingin-"Hmmm pedangku juga diambil mereka"

Melihat kegusaran dari Wi Lian In, Ti Then tertawa pahit lagi, ujarnya sambil menuding kearah rantai yang mengikat pinggang mereka.

"Mereka masih merantai kita dengan sebuai rantai yang begitu besar"

Wi Lian In dengan cepat mencekal erat-erat rantai itu, sepasang matanya merah berapi saking marahnya.

"Bisa tidak diputus dengan paksa?"

"Biar aku coba-coba."

Dia putar badannya kearah tiang besi itu, sepasang tangannya dengan kencang mencekal erat-erat rantai tersebut kemudian di tariknya beberapa kali.

Akhirnya bukan saja tidak berhasil memutuskan rantai itu bahkan untuk menggoyangkan tiang besinya pun tidak sanggup.

Tanpa terasa lagi dia mengeluarkan seruan kecewa.

"Tidak bisa, tidak bisa ...barang semacam ini harus ada sebuah pedang pusaka yang bisa memotong besi baru bisa berhasil"

Wi Lian In pun mengerahkan tenaganya untuk mencoba tarik rantai itu, ketika dilihatnya betul-betul dia tidak berhasil memutuskan rantai tersebut, dia baru berhenti menarik, ujarnya sambil menggerutuk gigi "Toosu bangsat, apa maksud mereka untuk menahan kita ditempat seperti ini?"

Ti Then tidak memberikan jawabannya, matanya dengan amat tajam memandang lurus ke atas tiang besi itu. Lama sekali baru dia buka mulutnya.

"Entah tiang besi ini bisa dicabut keluar dari permukaan tanah atau tidak?"

"Mari kita coba bersama-sama."

Demikianlah mereka berdua segera mendekati tiang besi itu, empat buah tangan bersama-sama merangkul tiang besi tersebut kemudian bersama-sama mencabutnya.

siapa tahu sekali pun mereka sudah kerahkan seluruh tenaga yang mereka miliki, jangan dikata tercabut, sedikit bergerak pun tidak.

seperti tiang besi itu sudah berakar di dalam tanah.

Hal ini membuat Wi Lian In menjadi amat heran-"Suatu urusan yang amat aneh, dengan kekuatan kita berdua, sekali pun sebuah pohon besar juga bisa roboh, kenapa tidak sanggup untuk mencabut keluar sebuah tiang besi saja."

"Dalam hal ini hanya ada satu sebab saja, tiang besi ini dihubungkan dengan tiang besi yang lain, jika ada empat tiang besi yang ditanam di bawah tanah, sekali pun kita berdua kerahkan semua tenaga juga tidak akan berhasil."

Tak terasa lagi Wi Lian In menjadi murung dibuatnya.

"Lalu bagaimana baiknya?"

"Duduk dulu, kita menanti sebentar lagi"

Sambil berkata dia duduk bersandar ke dinding. Dengan gemasnya Wi Lian In pun mendepakkan kakinya ke atas tanah, kemudian duduk disisi Ti Then, ujarnya lagi.

"Sungguh aneh sekali, aku lihat Toosu-Tosu bangsat itu sama sekali tidak memiliki kepandaian silat, coba kau lihat mereka memiliki ilmu silat tidak?"

"Ehmm.. tidak."

Sahut Ti Then gelengkan kepalanya. Dengan gemas sekali lagi Wi Lian In menghela napas panjang.

"Ternyata kita bisa kecundang ditangan para tosu-tosu bangsat yang tidak berkepandaian silat, sungguh menyesal sekali"

"Di dalam kuil Sam Cing Koan bukan hanya ada Toosu menerima tamu itu saja, Toosu-toos yang lain mungkin memiliki kepandaian silat"

Wi Lian In segera merogoh ke dalam sakunya, tapi sebentar kemudian sudah mendengus dengan amat gusar.

"Hmm semua uangku sudah diambil mereka, punyamu bagaimana?"

Ti Then pun ikut merogoh ke dalam sakunya.

"Semua sudah diambil oleh mereka, iih, salah masih ada ini"

Kiranya uang kertas itu adalah uang yang diterimanya dari si Giok Bin Longkung cu Hoay Lo, itu manusia cabul tempo hari, uang yang sebesar lima belas laksa tahil itu di dalam gudang uang Tiang An Glen Khie di kota Tiang An.

Waktu itu sesudah dia berhasil menawan itu manusia cabul Giok Bian Lang cung cu Hoay Lo dia pernah menggunakan uang itu untuk menebus nyawanya, dia menganggap uang itu adalah hasil rampasan, rampokan pihak lawannya karena itu tidak mau menyanggupi permintaannya dan turun tangan menghukum mati dia orang.

Setelah itu dalam anggapannya dia ingin pergi kekota Tiang An untuk mengambil uang tersebut guna dibagikan kepada orang-orang miskin, karena perubahan yang terjadi berulang kali, maksudnya ini tidak terlaksana terus tidak di sangka ini hari ternyata uang itu tidak sampai terampas oleh bajingan-bajingan toosu di atas kuil Sam Cing Koan.

"Sungguh suatu urusan yang aneh"

Teriak Wi Lian In keheranan.

"Uang kertas ini bisa memperoleh uang sebesar lima belas laksa tahil kenapa mereka tidak mau"

"Ehmm"

Ti Then segera memasukkan uang itu ke dalam sakunya kembali.

"Inilah keteledoran mereka, kau jangan berteriak keras-keras sehingga mereka bisa tahu urusan ini"

Dengan perlahan Wi Lian In mengangguk. ujarnya dengan suara yang amat lirih sekali.

"Mereka mengurung kita ditempat ini entah bermaksud hendak menggunakan cara apa membereskan kita?"

"Semoga saja tidak memotong daging kita untuk di jual sebagai makanan."

"Kau jangan omong sembarangan"

Teriak Wi Lian In dengan amat terperanyat.

"Mereka bukannya sedang membuka kedai gelap. buat apa potong daging kita untuk dijual ??"

"Selain itu tidak terpikir oleh ada alasan apa lagi mereka mau tangkap kita, jika ditinyau dari keadaan biasanya setelah mereka merampas uang kita tentu membunuh sekalian kita sehingga bersih"

"Dan terbukti kini dia tidak membunuh kita, tentu ada maksud-maksud lainnya..."

Sambung Wi Lian In segera.

"Tidak mungkin-. tidak dia menawan kita sebagai sandera untuk memeras ayahmu"

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Aku percaya di dalam kuil itu pasti ada Toosu yang memiliki kepandaian silat, sedang ketika kita masuk ke dalam kuil untuk menginap secara gegabah sudah lapor nama kita, mereka kalau sudah tahu kalau kau adalah putrinya Pek Kiam Pocu, sekali pun nyalinya mereka lebih besar pun belum tentu berani melakukan pekerjaan ini."

Wi Lian In yang merasa perkataan dari Ti Then sangat berasalan sekali, tanpa terasa sudah mengangguk.

"Tidak salah.. karena itu turun tangan membinasakan diri kita tetapi mereka sama sekali tidak turun tangan terhadap kita"

"Itulah sebabnya"

Seru Ti Then sambil kerutkan alisnya rapat-rapat.

"Kita tidak bisa paham soal ini ..Hmm. Aku sudah tahu, tentu Tosu-toosu dari kuil Sam Ciang Koan ini adalah anak buah dari si anying langit rase bumi"

Air muka Wi Lian In segera berubah sangat hebat.

"Berdasarkan hal apa kau berani memastikan kalau mereka adalah anak buah dari si anying langit rase bumi??"

"Anak buah dari si anying langit rase bumi sangat banyak sekali dan meliputi berbagai golongan, apa lagi tempat ini dengan istana Thian Teh Kong jaraknya sangat dekat sekali, karena Toosu-toosu dari kuil san Cing Koan ini pasti anak buah dari si anying langit rase bumi mereka tahu si rase bumi Bun Jen Cu sudah menantang ayahnya untuk bertanding, maka dari kini mereka tawan kita terlebih dahulu kemudian memaksa ayahmu untuk mengaku kalah"

Air muka Wi Lian In segera berubah menjadi pucat pasi, dengan nada amat cemas serunya.

"Kalau benar begitu, kita harus cepat-cepat berusaha untuk melarikan diri dari sini"

Dengan perlahan Ti Then mengangguk, mendadak ujarnya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara.

"Ada orang datang, kita cepat-cepat berbaring ke tanah pura-pura masih belum sadar"

Dengan meminyam kesempatan dia tidak bersiap siaga kita turun tangan menguasai dirinya"

Selesai berkata dengan mengambil tempat seperti semula Ti Then jatuhkan diri berbaring kembali.

Wi Lian In pun dengan cepat ikut berbaring ketempat semula.

Baru saja mereka selesai berbaring, pintu besi diluar tangga batu itu sudah terbuka kemudian disusul dengan suara gesekan pintu yang amat panjang, seorang berkerudung hitam dengan membawa makanan berjalan turun ke bawah.

Manusia berkerudung ini seluruh badannya memakai pakaian berwarna hitam, selain dari potongannya bisa dilihat kalau dia adalah seorang lelaki sampai kira-kira berusia berapa tahun pun tidak tahu.

Dia berjalan turun ke bawah tangga batu yang terakhir, kemudian berhenti kurang lebih empat depa dari tempat dimana Ti Then sekalian berbaring, setelah memandang beberapa waktu ke arah Ti Then serta Wi Lian In yang berbaring di atas tanah, mendadak dia mengeluarkan suara tertawanya yang amat dingin.

"He. Hee.. kalian sungguh-sungguh belum sadar kembali?"

Selesai berkata dia bungkukkan badannya meletakkan makanan yang dibawanya itu ke atas tanah, kemudian putar badannya siap pergi dari sana.

Mendadak Ti Then meloncat bangun tangannya dengan dahsyat melancarkan satu cengkeraman maut mengarah pinggang pihak lawannya, serangan ini dilakukan bagaikan kilat cepatnya tetapi ketika berada kurang lebih lima enam cun dari pihak lawannya tubuhnya sudah tertahan oleh rantai yang mengikat pinggangnya.

Agaknya manusia berkerudung hitam itu telah tahu kalau Ti Then tidak akan sanggup mencengkeram dirinya, karena itu sengaja dia tidak menghindar bahkan berdiri tegak tidak bergerak sedikit pun juga, ujarnya sambil tertawa aneh.

"Suatu ilmu cengkeraman yang amat bagus, jikalau tadi aku terkena cengkeramanmu itu pasti sekerat dagingku akan hilang"

Ti Then betul-betul dibuat amat gusar sekali, telapak kanannya ditarik sedang kakinya mendadak melancarkan satu tendangan kilat mengancam lambung pihak lawannya.

orang berkerudung hitam itu sekali lagi tertawa terbahak-bahak, dia mundur setengah langkah ke belakang menghindarkan diri dari tendangan tersebut, ejeknya lagi.

"Tendanganmu kali ini juga tidak jelek. hanya kurang panjang sedikit ha ha ha..."

Ditengah suara tertawanya yang amat keras dia mulai melangkah naik ke atas tangga-tangga batu itu untuk pergi.

"Berhenti"

Bentak Ti Then dengan amat gusar.

Orang berkerudung hitam itu sama sekali tidak mau menggubris dan meneruskan langkahnya menaiki tangga-tangga batu itu, setelah melewati pintu besi lantas ditutupnya pintu itu dengan amat keras.

Saking gusarnya hampir-hampir Ti Then merasakan dadanya mau meledak dibuatnya, makinya dengan amat gusar.

"Bajingan pengecut, cucu kura-kura, Kenapa kalian tidak mau bicara lebih jauh lagi?"

"Sudah..sudahlah..tidak usah memaki lagi"

Ujar Wi Lian In sambil bangkit duduk.

"Aku lihat mereka pasti anak buah dari si anying langit rase bumi"

"Hmm, jika aku berhasil meloloskan diri dari sini, pasti kubunuh mereka satu persatu"

Seru Ti Then dengan amat gemas.

"Jika dilihat bentuknya, dia bukan Toosu-toosu itu."

Ti Then dengan berdiam diri duduk kembali ke tempat semula, sesudah menghembuskan napas panjang-panjang barulah ujarnya.

"Tempat ini kemungkinan sekali bukan berada dikuil Sam Cing Koan itu .."

"Dan ruangan bawah tanah ini bukan ruang bawah tanahnya kuil Sam Cing Koan?"

Tanya Wi Lian In dengan amat terperanyat.

"Mungkin kita sudah berada di dalam istana Thian Teh Kong."

Sekali lagi Wi Lian In dibuat terperanyat oleh perkataan ini.

"Tidak mungkin, agaknya kita belum begitu lama jatuh pingsan."

"Bagaimana kau bisa tahu kalau kau belum jatuh pingsan sangat lama? Mungkin kita sudah tidak sadarkan diri beberapa hari lamanya, kemudian mereka membawa kita dari kuil Sam Cing Koan ke dalam istana Thian Teh Kong."

Berbicara sampai di sini, dia mengambil makanan yang baru saja dikirim itu ujarnya lagi.

"Coba kau lihat, makanan ini jauh lebih bagus dari makanan yang kita temui sewaktu berada di dalam kuil Sam Cing Koan, tempat ini pasti bukan kuil Sam Cing Koan itu"

Dengan perasaan amat terkejut bercampur ragu-ragu teriak Wi Lian In lagi.

"Jikalau tempat ini adalah istana Thian Teh Kong, tadi orang itu kenapa harus berkerudung?? si rase bumi Bun Jin Cu kenapa tidak turun kemari untuk bertemu muka dengan kita??"

"Dia mungkin sengaja memperlihatkan kemisteriusannya, dia pikir mau menyiksa kita terlebih dulu".

"Hey. ."

Wi Lien in menghela napas panjang.

"Kelihatannya untuk melarikan diri kita akan mengalami kesulitan.

"Lain kali jika dia kirim santapan buat kita lagi, aku harus carikan satu akal buat menawan dia"

Mendengar perkataan itu Wi Lian In tertawa pahit.

"Jika dia tidak mau berjalan mendekati kita, bagaimana kita bisa menawan dirinya?"

"Aku punya akal, mari sekarang kita makan dulu"

Dia bangkit berdiri dan mengambil makanan itu ke hadapan Wi Lian In, ketika dilihatnya makanan itu sangat lezat kelihatannya tanpa terasa dia sudah tertawa.

"Coba kau lihat makanan itu jauh lebih enak daripada makanan yang kita temui sewaktu berada di kuil Sam Cing Koan, aku berani bertaruh tempat ini pasti bukan kuil Sam Cing Koan itu"

Agaknya Wi Lian In tidak bernapsu untuk bersantap, dengan wajah amat murung ujarnya.

"Coba kau katakan, kau punya akal apa untuk menawan orang berkerudung itu?"

Ti Then tidak mau langsung memberikan jawabannya, dia mengambil semangkok nasi, ujarnya kemudian sambil tertawa.

"Makan kenyang dulu, setelah itu aku baru beritahukan kepadamu"

"Aku tidak bernapsu"

"Tidak makan kenyang mana ada tenaga untuk menawan musuh? Cepat makan, cepat makan!"

Wi Lian In segera merasa kalau perkataannya sedikit pun tidak salah, dengan paksakan diri dia pun mengambil nasi untuk makan.

Ti Then yang dikarenakan sudah mem punyai cara untuk menawan musuh hatinya sangat gembira sekali, satu mangkuk nasi belum berapa lama sudah habis disikat olehnya.

Wi Lian In yang melihat dia bersantap dengan begitu bernapsunya segera mengangsurkan nasinya yang masih separuh ke hadapan wajahnya, ujarnya dengan manya.

"Aku tidak habis, kau tolonglah aku habiskan nasi yang masih separuh ini"

Dengan perlahan Ti Then gelengkan kepalanya. Jika kau tidak mau habiskan nasi itu maka aku tidak mau beritahukan bagaimana caranya menawan pihak musuh"

"Aku sungguh-sungguh tidak bernapsu untuk bersantap"

"Bagaimana juga kau harus makan"

Wi Lian In menjadi agak gemas dibuatnya.

"Hmmm, kau mau paksa aku?"

"Sekarang kau baru tahu?"

Balas tanya Ti Then sambil tertawa terbahak-bahak.

Dalam hati Wi Lian in tahu dia berbuat demikian karena takut dia menderita kelaparan karena itu memaksa dia untuk berdahar, tanpa terasa hatinya merasa terhibur juga, sehingga tanpa dia sadari nasi yang masih ada separuh mangkuk di dalam sekejap saja sudah disikat hingga ludas.

Agaknya dia sangat ingin sekali mengetahui caranya Ti Then hendak menawan musuh, sambil membersihkan mulutnya dia berkata.

"Sudah selesai, ayoh sekarang beritahukan padaku kau mau menggunakan cara apa untuk menawan orang berkerudung itu?"

"Menggunakan cambuk"

"Darimana kau mendapatkan cambuk itu?"

Tanya Wi Lian In agak melengak.

Ti Then segera melepaskan ikat pinggangnya dan memegang ujung dari ikat pinggang tersebut, sedikit tangannya digetarkan seketika itu juga ikat pinggang yang amat lemas menjadi kuat bagaikan seekor naga yang sedang menari.

Ujarnya sambil tertawa.

"Inilah cambuk, bajingan tadi bilang kakiku tidak cukup panjang, sekarang cambuk ini cukuplah panjang buat menawan dirinya"

Melihat itu Wi Lian In menjadi amat girang sekali.

"Permainan ini adalah ilmu andalan dari si rase bumi Bun Jin Cu, kau juga bisa?"

Sekali lagi Ti Then menggerakkan ikat pinggangnya.

"Dulu aku belum pernah mempelajari ilmu ini tetapi di dalam keadaan yang terpaksa mungkin masih bisa memperoleh sandaran"

Wi Lian In menjadi amat girang sekali. -ooo0dw0ooo-

Jilid 19.1. Terjebak dalam lautan api "Bagus sekali, sewaktu kau mengenakan ikat pinggang ini menggulung sepasang kakinya aku segera kirim satu pukulan ke badannya"

Dengan perlahan Ti Then mengangguk.

"Betul sekali"

Sahutnya tertawa.

"Kita harus bekerja sama dengan sangat erat, sekarang kau berdirilah di sana biar aku coba-coba terlebih dulu."

Wi Lian In menurut dan berdiri ditempat dimana dia tidak dapat mundur kembali, ujarnya.

"Kau harus berlatih hingga betul-betul bisa menggulung sepasang kakiku kemudian menarik seluruh tubuhku kearahmu sana."

Perkataan "sana"

Baru selesai di katakan mendadak terasa olehnya pandangannya menjadi kabur, pinggangnya terasa mengencang seperti juga dililit oleh seekor ular, seluruh badannya meninggalkan permukaan tanah melayang menuju kearah Ti Then.

Dengan gerakan yang amat gesit Ti Then membuang ikat pinggangnya ke atas tanah kemudian sepasang tangannya menerima tubuhnya yang ramping kecil itu dan memeluknya dengan amat kencang.

Dengan mengambil kesempatan itu dengan amat mesranya dia kirim satu ciuman ke atas pipinya, ujarnya dengan perlahan.

"Apa betul begitu??"

Saking malunya seluruh wajah Wi Lian In berubah menjadi merah dadu, kepalanya segera disusupkan ke atas dada Ti Then bersamaan pula kepalannya dengan perlahan-lahan memukuli badan Ti Then.

"Kau jahat, aku tidak mau. ."

Serunya sambil tertawa malu-malu. Ti Then memeluk badannya semakin kencang lagi.

"Sejak dulu aku sudah bilang aku lebih jahat dari Hong Mong Ling."

"Ehmm..jika kau sebut namanya lagi aku tidak mau perduli kau lagi."

Ti Then angkat kepalanya kembali, dia segera berganti dengan bahan pembicaraan yang lain.

"Sekarang entah waktu siang atau malam?"

"Mungkin sudah tengah malam."

"Kalau begitu kita harus tunggu beberapa jam lagi bajingan itu baru datang kembali."

"Jikalau misalnya secara tiba-tiba si rase bumi Bun Jin Cu datang kemari kau punya maksud untuk berbuat bagaimana?"

Tanya Wi Lian In tiba-tiba.

"Kita harus melihat bagaimana sikapnya terhadap kita terlebih dulu, jikalau dia punya maksud untuk turun tangan membinasakan kita, terpaksa kita harus turun tangan untuk mengadu jiwa, kalau tidak lebih baik kita jangan banyak bergerak secara gegabah."

"Jika bisa berhasil menawan dia bukankah sangat bagus sekali, kenapa lebih baik berdiam saja??"

Tanya Wi Lian In lagi.

"Kepandaian silat dari si rase bumi Bun Jin Cu bukankah kau sudah melihat sendiri, jika mau menggunakan ikat pinggang ini untuk menawan dia mungkin tidak terlalu mudah."

"Tetapi jikalau orang berkerudung itu bukan seorang yang terpenting, buat apa menawan dirinya??"

"Aku lihat manusia berkerudung itu bukanlah seorang yang tidak terpenting, jikalau tidak penting kenapa dia harus mengerudungi wajahnya."

"Masih ada lagi, jikalau dibadannya tidak membawa kunci dari rantai ini bagaimana??"

"Kalau begitu jika si rase bumi Bun Jin Cu mau menolong nyawa dia, harus memberikan kuncinya kepada kita."

"Apa mungkin si rase bumi Bun Jin Cu mau melepaskan kita hanya untuk menolong nyawa orang anak buahnya?"

Ti Then segera angkat bahunya.

"Benar, dia tidak akan melepaskan kita hanya untuk menolong nyawa seorang anak buahnya, tetapi di dalam keadaan seperti ini selain kita harus mencoba untuk menggunakan cara itu, apa kau punya cara yang lain lagi??"

Wi Lian In juga tidak terpikirkan cara yang lebih bagus lagi, terpaksa dia menghela napas panjang, kemudian menundukkan kepalanya rendah-rendah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Kurang lebih sesudah lewat tiga jam lamanya, apa yang ditunggu-tunggu Ti Then selama ini sudah muncul.

Terdengar suara pintu besi diluar dibuka kemudian suara langkah seseorang yang semakin lama semakin mendekat bergema datang.

Ti Then segera kirim tanda kepada Wi Lian In, sepasang tangan ditekuk di depan dadanya padahal tangan kanannya secara diam-diam masuk ke dalam sakunya mengambil keluar ikat pinggangnya dan siap untuk turun tangan.

Wi Lian In pun segera bergeser ke depan dan duduk di sebelah kanan dari Ti Then, dia cudah bersiap sedia untuk turun tangan menotok jalan darah pihak musuhnya begitu ikat pinggang dari Ti Then berhasil meliliti pinggang lawannya.

Pada saat kedua orang itu baru saja selesai bersiap sedia, pintu besi sudah terbuka dan masuklah orang berkerudung hitam tadi.

Pada tangannya dia membawa sebuah tong kayu yang besar agaknya tempat itu sengaja dikirim buat Ti Then berdua membuang kotoran.

Dia menuruni terus tangga-tangga batu itu, sesudah meletakkan tong besar itu ke atas tanah dari dalamnya diambil keluar dua mangkuk nasi dan diletakkan ditempat di mana Ti Then berdua tidak bisa maju lagi.

sesudah mengambil kembali mangkuk-mangkuk kosong yang terdahulu, dia baru mendorong tong besar itu ke depan, gerak geriknya amat hati-hati dan teliti sekali agaknya dia terus menerus bersiap sedia terhadap todongan Ti Then yang mendadak.

Ti Then yang melihat dia amat waspada dan tidak gampang untuk turun tangan, di dalam hatinya diam-diam merasa amat cemas sekali, ujarnya kemudian sambil tertawa.

"Saudara terus menerus tidak mau beritahukan alasan kenapa menawan kami berdua, agaknya di dalam hal ini ada sebab-sebab tertentu, tetapi ada satu hal tentunya saudara mau menyawabnya dengan berlega hati bukan, sekarang waktu apa?"

Orang berkerudung hitam itu mengambil kembali kedua buah mangkuk yang kosong itu, tertawanya dengan seram.

"Buat apa kalian menanyakan soal itu??"

Ujarnya dingin.

"Ingin tanya saja, kami di kurung di dalam tempat ini sudah beberapa lamanya?"

"Sekarang waktu pasang lampu, kalian sudah jatuh tidak sadarkan diri selama satu malam"

"Ooh kiranya sudah satu hari satu malam"

Seru Ti Then agak tertahan "Lalu apa saudara juga tidak mau beritahu alasan apa kalian mau menawan kami??"

"Belum sampai waktunya"

Jawab manusia berkerudung itu singkat.

"Aku tahu sekarang, kalian tentu sedang menanti Wi Pocu datang memenuhi janyi kemudian baru jatuhi hukuman kepada kita, bukan begitu??"

Manusia berkerudung itu segera memperlihatkan senyumannya yang amat misterius.

"Sedikit pun tidak salah"

Sahutnya dingin.

"Sekarang si rase bumi Bun Jin Cu apa berada di sini?"

Tanya Ti Then lagi.

"Benar"

Sahut orang berkerudung itu singkat.

"Kenapa dia tidak mau turun bertemu muka dengan kami??"

"Jika kalian pengen mati juga tidak perlu begitu cepat-cepat, pada saat dia bertemu muka dengan kalian berarti juga waktu kalian untuk meninggalkan dunia ini."

"Aku tahu dia pasti benci sekali kepada diriku karena aku sudah bunuh suaminya"

Ujar Ti Then tertawa.

Manusia berkerudung hitam itu hanya tertawa dingin saja, kemudian putar tubuhnya pergi dari situ.

Tangan kanan Ti Then segera melayang mengebutkan ikat pinggang yang sudah disiapkan ditangannya itu, laksana seekor ular raksasa yang baru keluar dari dalam gua bagaikan kilat cepatnya meluncur ke depan.

"Plaakk"

Dengan amat tepat sekali ikat pinggang itu melilit seluruh pinggang dari manusia berkerudung hitam itu Orang berkerudung hitam itu menjadi sangat terperanyat, dengan cepat dia berusaha melepaskan diri dari lilitan tersebut, tetapi pada saat yang bersamaan itu pula seluruh tubuhnya berhasil ditarik meninggalkan permukaan melayang kearah Ti Then.

Wi Lian In segera melayang ke depan melancarkan satu totokan yang dahsyat menghajar jalan darah Ling Thay Hiat di bagian punggungnya, karena itu ketika tubuhnya orang berkerudung hitam itu terjatuh ke atas tanah dia sudah tidak bertenaga lagi untuk bergerak.

Kiranya jalan darah "Ling Thay Hiat"

Sekali pun merupakan salah satu jalan darah kematian di dalam tubuh manusia tetapi asalkan turun tangan tidak terlalu berat tidak akan sampai mencabut nyawa orang tersebut, karena Wi Lian In masih ingin menggunakan dia sebagai sandera untuk memaksa si rase bumi Bun Jin Cu melepaskan dia serta Ti Then karena itu dia tidak membinasakan orang tersebut.

Dengan cepat Ti Then bergerak kembali menambahi orang itu dengan satu totokan kembali pada jalan darah kakunya, seperti baru saja mendapatkan harta kekayaan dengan cepat dia seret orang itu ke samping.

"Cepat geledah badannya"

Seru Wi Lian In dengan suara yang lirih.

Dengan cepat Ti Then mengulur tangannya merogoh ke dalam saku orang berkerudung itu, tetapi walau pun sudah diperiksa setengah harian lamanya tetap tidak menemukan sesuatu apa pun, tanpa terasa lagi dia merasa sedikit kecewa.

"Hmm dia sungguh-sungguh tidak membawa kunci itu."

Dengusnya dengan cemas.

Wi Lian In tidak mau ambil diam, tangannya dengan cepat merampas kain kerudungnya itu sehingga terlihatlah suatu wajah yang ramah dan gagah, sedikit pun tidak nampak tanda-tanda pernah berbuat jahat sedang usianya sudah berada di atas lima puluh tahunan.

Tidak terasa lagi dia menjadi melengak.

"Orang ini aku tidak kenal, apa kau kenal dengan dia orang?"

"Aku juga tidak kenal, sungguh aneh sekali. ."

Seru Ti Then sambil gelengkan kepalanya.

"Benar"

Sambung Wi Lian In lagi dengan air muka penuh perasaan ragu-ragu "Kalau dia memangnya tidak kenal dengan kita, kenapa harus mengerudungi wajahnya??"

Ti Then segera menggigit kencang bibirnya.

"Sekarang aku punya suatu perasaan, kemungkinan sekali orang ini bukan anak buah dari si rase bumi Bun Jin Cu itu"

Wi Lian In agak tertegun mendengar keterangan ini.

"Ooh..bagaimana bisa bukan?"

"Pertama, jika orang ini betul-betul anak buah dari si rase bumi Bun Jin Cu, tidak ada alasan buat dia untuk mengerudungi wajahnya, kedua, pertama kali dia datang kemari sepatah kata pun dia tidak mau berbicara, tetapi ketika kedatangannya kali ini dengan amat cepatnya dia sudah mengaku sebagai anak buah dari si rase bumi Bun Jin Cu, hal ini membuktikan bahwa setelah mereka melihat kita sudah salah menganggap dia sebagai anak buahnya si rase bumi Bun Jin Cu untuk menutupi asal usulnya yang sesungguhnya dia sudah mengakui dengan cepat"

"Jika orang ini bukan anak buah dari si rase bumi Bun Jin Cu, lalu siapakah dia? Apa tujuannya menawan kita di sini?"

Tanya Wi Lian In dengan perasaan amat terkejut bercampur heran.

"Cepat kita sadarkan kemudian paksa dia untuk berbicara."

Tetapi ..

baru saja mereka membalikkan badan manusia berkerudung hitam itu untuk bersiap menyadarkan dirinya, pintu besi di atas tangga-tangga batu itu mendadak tanpa mengelearkan sedikit suara pun sudah muncul kembali dua orang manusia.

Tidak salah, dua manusia berkerudung hitam.

Pada tangan ke dua orang manusia berkerudung hitam itu masing-masing membawa seperangkat busur serta anak panah dan berdiri berjajar di atas tangga batu itu, sikapnya amat dingin dan kaku mirip sekali dua setan yang baru saja keluar dari neraka.

Melihat hal itu air muka Ti Then segera berubah sangat heran, dengan cepat dia lintangkan badan manusia berkerudung hitam itu ke depan Wi Lian In serta dirinya, kiranya dia mau menggunakan tubuh manusia berkerudung hitam itu sebagai tameng dari serangan anak-anak panah, ujarnya dengan tertawa dingin.

"Jika kalian berani lepaskan anak panah untuk memanah kami, maka yang binasa adalah dia terlebih dulu". Kedua orang manusia berkerudung hitam itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, mereka masing-masing mulai mempersiapkan anak panahnya masing-masing, terdengarlah salah satu diantara mereka berdua dengan suara yang amat dingin dan kaku berkata.

"Kalian mau lepaskan orang itu tidak??"

"Jika kalian mau melepaskan kami pergi, maka kami juga akan melepaskan orang ini"

"Kalau tidak?"

Ejek manusia berkerudung hitam itu sambil tak henti-hentinya memperdengarkan suara tertawanya yang amat dingin "

Kalau tidak. kami minta dia menemani kami mati"

"Kalian tidak akan kami jatuhi hukuman mati, asalkan kalian mau lepaskan dia maka kalian bisa menanti di sini dengan tenang."

"Menanti apa?"

Desak Ti Then cepat.

"Menanti sesudah usaha kita mencapai keberhasilan maka kalian segera akan mendapatkan kebebasan juga."

"Kalian bukan anak buah dari si rase bumi Bun Jin Cu bukan?"

"Benar atau bukan sekarang kalian tidak perlu tahu."jawab orang berkerudung hitam itu keras.

"Aku mau tahu."

Mendadak orang berkerudung hitam itu terbahak-babak dengan amat keras.

"Tetapi siapa yang mau beritahu kepada kalian??"

Ti Then segera menuding kearah orang berkerudung hitam yang berada ditangannya.

"Dia bisa beritahu kepada kami"

Sahutnya dingin. Suara tertawa dari manusia berkerudung hitam itu mendadak berhenti, sepatah demi sepatah ujarnya dengan suara berat.

"Kalian bila tidak lepaslan dia kembali maka kalian akan mendapatkan suatu pelajaran yang lain dari pada yang lain, kalian lihat saja"

"Suatu perlakukan yang bagaimana??"

Tanya Ti Then dengan wajah dingin sedang mulutnya tidak hentinya memperdengarkan suara tertawa yang amat menusuk telinga.

"Kalian tidak mungkin akan memperoleh makan"

Ti Then angkat kepalanya tertawa terbahak-bahak.

"Tetapi jika kami berdua mati kelaparan, kalian mau menggunakan apa untuk berjual beli dengan diri Wi Pocu??"

"Tidak lama lagi Wi Ci To akan memperoleh berita dari kami, sedang urusan kita dengan dia pun bisa di selesaikan di dalam lima hari ini, kalian tidak makan tidak akan sampai membuat kalian mati kelaparan, hanya saja suatu penderitaan yang agak berat akan menimpa diri kalian, buat apa kamu semua memaksa untuk merasakan penderitaan tersebut??"

"Sebenarnya kalian sedang mengadakan jual beli apa dengan Wi Pocu?"

"Kalian tunggu saja dan tanya sendiri dengan Wi Ci To"

Jawab orang berkerudung itu dingin.

"Baiklah"

Sahut Ti Then kemudian sambil angkat bahunya.

"Jika kawanmu memang tidak mau berbicara biarlah aku pergi tanya Wi Pocu sendiri sudah bertemu muka"

Sekali lagi orang berkerudung hitam itu mendengus dengan amat dinginnya.

"Kalian betul-betul tidak mau melepaskan dia?"

"Tidak"

Orang berkerudung hitam itu menjadi betul-betul gusar dibuatnya.

"Heee... hee.. kau bangsat cilik agaknya tidak takut mati kelaparan tetapi apa benar-benar merasa tega melihat nona Wi menderita kelaparan???"

"Kalian tldak perlu ikut merasa kuatir, nonamu tidak akan menderita kelaparan"

Sambung Wi Lian In dengan dingin.

"Tidak urung kalian tidak bisa lolos dari sini, buat apa mencari gara-gara??"

Ti Then tidak mau kalah, segera dia pun menuding kearah orang berkerudung hitam yang berhasil ditawan itu.

"Temanmu ini juga tidak akan solos dari cengkeramanku, apa kalian tidak ingin menolong nyawanya"

Dari sepasang mata orang berkerudung hitam itu segera memancarkan sinar yang amat tajam dan buas sekali, serunya dengan gemas.

"Kau bangsat cilik jangan harap bisa mendapatkan berita seperti apa yang kalian inginkan"

"Kau bukanlah dia, kenapa dia tidak mau menyawab semua pertaayaanku???"

Ejek Ti Then sambil tertawa.

Orang berkerudung hitam itu tidak mau menyawab lagi, dia melirik sekejap kearah temannya yang berada disisinya, kemudian mereka berdua mulai menarik busurnya mengarah ulu hati dari manusia berkerudung hitam yang berada di depan diri Ti Then.

Tiba-tiba ....

mereka mulai melepaskan anak panah itu.

Jarak mereka tak lebih hanya lima depa saja, karena itu meluncurnya dua buah anak panah itu bagaikan kilat cepatnya.

Ti Then sama sekali tak menduga pihak lawannya begitu teguh untuk melenyapkan nyawa kawannya sendiri Ketika dilihatnya kedua buah anak panah itu meluncur datang sebetuinya dia mau menyingkirkan orang berkerudung itu ke samping, tapi ketika teringat bilamana dia membawa orang berkerudung itu menyingkir ke samping maka Wi Lian In yang ada di belakangnya akan mengalami bencana, karena itulah disaat yang amat keritis itu dia tetap ragu-ragu dan tidak bergerak sedikit pun dari tempat semula.

Sedang meluncurnya kedua batang anak panah itu pun amat cepat, di dalam sekejap mata saja terdengarlah .."Bluk ...

bluk..."

Kedua batang anak panah itu dengan tepat menghajar ulu hati dari orang berkerudung itu. Melihat hal ini Ti Then menjadi sangat gusar.

"Bajingan bangsat, kalian sungguh amat kejam."

Orang berkerudung hitam itu hanya memperdengarkan suara tertawanya yang amat aneh, lama sekali baru ujarnya.

"Sekarang kalian sudah tidak dapat memaksa dia untuk mengucapkan kata-kata lagi, bagaimana kalau mayatnya kembalikan kepada kami?"

Ti Then takut sesudah mayat itu dilemparkan kembali kepada mereka, lantas mereka melancarkan serangan kembali terhadap dirinya berdua karena itu dia tak mau melepaskan tamengnya dari orang berkerudung tersebut.

Ketika orang berkerudung bitam itu melihat mereka tak mau mengembalikan mayat tersebut, segera angkat kepalanya tertawa-tawa.

"Baiklah jikalau kalian merasa sangat tertarik terhadap mayat tersebut, biarlah aku tinggalkan di sini untuk kalian dahar dagingnya"

Selesai berkata dia putar badan sambil menarik kawan di sebelahnya untuk meninggalkan tempat itu.

Terlihatlah mereka mulai menaiki tangga-tangga batu itu sesudah menutup kembali pintu besi dan menguncinya kembali terdengar suara langkah kakinya semakin lama semakin jauh.

Lama sekali Ti Then berdiri tertegun di sana, kemudian baru meletakkan kembali mayatnya ke atas tanah.

"Dugaanku ternyata tidak salah."

Ujarnya sambil menghela napas panjang.

"Ternyata mereka bukan anak buah dari si rase bumi Bun Jin Cu."

Wi Lian In pun bergeser ke samping tubuh Ti Then, ujarnya sambil memandang mayat tersebut dengan pandangan terperanyat.

"Sungguh kejam, untuk menyaga rahasia mereka ternyata dengan tidak sayang turun tangan jahat membinasakan kawannya sendiri, di dalam dunia ini ternyata masih ada manusia yang tidak berprikemanusiaan"

"Dari hal ini sudah bisa diketahui kalau sekali pun mereka harus mengorbankan dirinya pun tetap berjuang terus sampai mencapai pada tujuannya...memeras ayahmu."

"Tetapi tidak tahu mereka mau Tia menyanggupi ucapannya?"

"Hmm, mereka pasti sedang ayahmu untuk menyerahkan semacam barang"

"Betul, otak pimpinan dari orang orang yang menawan kita kali ini pastilah orang yang sudah melakukan jual beli dengan Hu Pocu"

Air muka Wi Lian In segera berubah hebat.

"Tidak salah..pasti dia orang, sedang manusia berkerudung ini tentu anak buahnya semua"

Dia segera bangkit berdiri dan berjalan bolak balik di sana, ujarnya lagi dengan perasaan murung.

"Bagaimana sekarang baiknya??"

"Bilamana ayahmu sudah setuju untuk menyerahkan barang itu berarti kesempatan buat kita untuk hidup masih ada, tetapi. ."

"Kau pikir Tia bisa serahkan barang itu tidak?"

Potong Wi Lian In dengan cepat.

"Untuk menolong nyawa kita mungkin dia mau, tetapi bukankah karena kita berdua sudah menyusahkan ayahmu?."

"Tetapi kita tidak bisa meloloskan diri dari sini"

Dengan berdiam diri Ti Then memandangi mayat yang ada di atas tanah itu dengan mata melotot, mendadak seperti baru saja teringat akan sesuatu hal mendadak dia mencabut keluar dua batang anak panah yang tertancap di dalam tubuh orang berkerudung itu, serunya dengan sinar mata penuh gembira.

"Dua batang anak panah ini, mungkin bisa bantu kita untuk meloloskan diri"

Semangat Wi Lian In segera timbul kembali.

"Benar"

Serunya kegirangan.

"Kita gunakan kedua batang anak panah ini sebagai senyata rahasia dan berusaha membinasakan mereka."

"Tidak. sekali pun kita berhasil membinasakan mereka untuk meloloskan diri tetap tidak bisa."

"Kalau tidak, kau bermaksud berbuat bagaimana ???"

Tanya Wi Lian In tertegun. Ti Then segera memperendah suaranya.

"Kita gunakan kedua batang anak panah ini untuk membongkar tiang besi yang tertanam di dalam tanah.

"Apa bisa??"

Tanya Wi Lian to ragu-ragu.

"seharusnya bisa. ."

"Tetapi, jika sewaktu kita sedang membongkar tiang besi ini mendadak mereka masuk lagi, lalu. ."

"Tidak mungkin"

Potong Ti Then segera.

"Baru saja mereka menghantarkan nasi buat kita makan, di dalam dua tiga hari ini mungkin mereka tidak akan datang lagi"

Pandangan Wi Lian In menjadi bersinar kembali.

"Kalau memang demikian, mari kita mulai bekerja, tetapi entah harus bekerja berapa hari baru bisa membongkar tiang besi ini?"

"Jika di bawah tiang besi ini masih ada besi yang melintang di dalam tanah, paling cepat mungkin kita harus bekerja satu hari penuh baru bisa"

Wi Lian In segera mengambil satu batang anak panah dari tangan Ti Then kemudian mulai berjongkok di bawah tiang besinya dan mulai turun tangan bekerja.

Ti Then pun mulai bekerja untuk membongkar tiang besi itu, ujarnya dengan suara perlahan.

"Hati-hati sedikit, jangan sampai ujung anak panah itu menjadi putus"

Demikianlah bagaikan kilat cepatnya mereka bekerja terus menggali tanah itu untuk berusaha membongkar tiang besi yang mengikat mereka, tidak kurang satu jam kemudian mereka sudah berhasi menggali tanah itu sedalam dua depa lebih.

Tapi semakin mereka bekerja semangatnya semakin berkobar, karena tanah itu tidaklah keras, sehingga Ti Then tidak perlu menggunakan ujung panah, cukup dengan telapak tangan saja sudah bisa bekerja.

Ketika mereka sudah mencapai kurang lebih tiga depa dalamnya mendadak terasa oleh mereka ujung anak panahnya terbentur dengan suatu barang yang amat keras.

Wi Lian In segera menjerit keras.

"Ada batu"

"Tidak salah, memang batu."

Seru Ti Then kegirangan.

"Kenapa kau malah kegirangan?"

Ti Then dengan menggunakan ujung anak panahnya membersihkan pasir yang ada disekeliling batu itu kemudian telapak tangannya ditusuk keujung pinggiran batu seketika itu juga sebuah batu yang amat besar sudah terangkat dari dalam tanah.

Ujarnya sambil tertawa.

"Bukankah demikian satu persatu kita singkirkan batu ini jauh lebih cepat daripada harus membongkar tanah itu?"

Wi Lian In ketika melihat perkataannya sedikit pun tidak salah dia menjadi amat girang.

"Bagus sekali, jika demikian adanya kita bisa membongkar tiang besi itu jauh lebih cepat lagi"

Ti Then sudah mendorong batu pertama ke samping segera bungkukan badan mendorong kembali batu yang kedua..ketiga.

.ke empat.

Tidak sampai satu jam kemudian mereka sudah berhasil membongkar permukaan tanah sekitar tiang besi itu seluas lima depa dengan dalam lima enam depa ditambah lagi sejumlah tiga puluh buah batu besar sudah berhasil dikeluarkan dari dalam tanah.

"Tiang besi itu sungguh panjang sekali kenapa masih belum teriihat dasarnya?"

Tanya Wi Lian In kemudian-"Mungkin sudah hampir.."

Dikarenakan rantai yang mengikat badan mereka hanya sepanjang tiga depa ke sananya mereka harus bekerja sambil membungkukkan badannya rendah-rendah, sesudah membongkar sedalam satu depa kemudian ternyata tidak salah lagi, mereka sudah dapat melihat ujung sebelah dalam dari tiang besi itu dan dugaan Ti Then sertikit pun tidak salah, pada ujung tiang besi itu dihubungkan lagi dengan empat tiang besi yang melintang.

Keempat tiang besi yang melintang itu ada sebesar batang pedang panjangnya, setiap tiang besi ada tiga depa lebih dengan mendatar lurus di dalam tanah, tidak tahu tiang itu dihubungkan dengan tempat mana lagi.

Ti Then segera merangkul tiang besi itu dan menggoyangkannya beberapa kali dengan sekuat tenaga, alhasil tiang besi itu kelihatan sedikit mengendor, tanpa terasa lagi dia mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Tidak bisa jadi, kita harus membongkar permukaan tanah ini lebih lebar lagi sehingga keempat tiang besi yang melintang itu bisa diangkat keluar."

"Jika kita begitu, mungkin kita harus bekerja satu hari lagi baru bisa lolos"

Seru Wi Lian In murung "Kita sekarang sudah bekerja dua jam lamanya mungkin sekarang sudah tengah malam buta,jika kita teruskan pekerjaan ini sekarang juga mungkin ketika cuaca menjadi terang kembali seluruh pekerjaan kita sudah selesai, ayoh, cepat turun tangan."

Demikianlah mereka berdua segera melanjutkan kerjanya kembali menggali tanah di bawah tiang besinya masing-masing.

Ti Then yang bekerja deagan amat giat hanya di dalam beberapa waktu saja sudah berhasil membongkar permukaan tanah sepanjang tiga depa dan saat itulah dia sudah tidak bisa bekerja kembali karena rantai yang mengikat badannya sudah tidak dapat mau kembali.

Ini merupakan suatu persoalan yang paling berat, rantai yang mengikat badannya mereka hanya sepanjang tiga depa saja, di tambah dengan lengannya paling banyak juga hanya mencapai sejauh empat lima depa dari tempatnya, untuk lebih maju lagi sudah tentu tidak mungkin.

Wi Lian In bekerja jauh lebih perlahan tetapi ketika dilihatnya keadaan Ti Then yang tidak dapat melanjutkan pekerjaan itu tanpa terasa dia pun berhenti, ujarnya sambil menghela napas panjang.

"Bagaimana??"

Sepasang mata dari Ti Then mengeluarkan sinar yang amat tajam, dia membuang anak panah itu dan memundurkan diri ke samping tiang besinya itu tubuhnya sedikit berjongkok ke bawah sepasang tangannya dtngan kencang mencekal tiang itu dan menariknya dengan sekuat tenaga.

"Kraaak ... ."

Terdengar suara yang amat nyaring bergema memenuhi seluruh ruangan itu, tiang besi itu patah menjadi dua bagian oleh tenaga tarikan dari Ti Then ini.

Melihat kejadian ini Wi Lian In menjadi amat girang.

"Kekuatan sakti, coba kita cabut yang lainnya lagi."

Ti Then segera putar tubuhnya menuju kearah tiang besinya sesudah mencoba mencabutnya berulang kali akhirnya dengan timbulkan suara yang amat nyaring tiang besi itu pun putus juga .

Perasaan girang yang meliputi seluruh hati Wi Lian In semakin memuncak.

Kita putuskan satu tiang lagi, kita segera akan lolos dari sini".

"Tidak bisa, tidak bisa"

Jawab Ti Then dengan napasnya yang ngos-ngosan seperti kerbau.

"Biar aku istirahat sebentar, aku sudah kerahkan semua tenagaku kini badanku betul-betul terasa amat lelah."

"Kalau begitu biar aku yang coba mencabut"

Dia segera putar badannya.

sepasang tanganya dengan erat-erat mencekal tiang besi itu, kuda-kudanya diperkuat mendadak dengan seluruh tenaganya dia mencabutnya ke atas, tetapi sekali pun sudah kerahkan tenaga penuh tiang besi tersebut hanya sedikit bengkok saja.

Ti Then segera tarik napas panjang-panjang.

"Mari kita coba dengan bergabung."

Sambil berkata tubuhnya pun ikut masuk ke dalam liang, sepasang tangannya dengan erat mencekal tiang besi itu, bersamaan pula tenaga mereka berdua dikerahkan ke luar, tanpa banyak rewel lagi tiang ketiga itu pun berhasil dipatah menjadi dua bagian.

Kini masih tersisa satu tiang lagi, tetapi mereka saat ini betul-betul sudah kehabisan tenaga, jangan dikata untuk mencabutnya hanya untuk mendorong saja mereka sudah merasa tidak kuat.

Mereka berhenti sebentar untuk istirahat, setelah itu sekali lagi dicobanya dan kali ini ternyata berhasil.

Tiang besi yang terakhir ini pun berhasil mereka patahkan menjadi dua bagian.

Tetapi hal ini bukanlah berarti mereka sudah lolos dari kesukaran, karena waktu sekarang dibadan mereka masih ada rantai yang mengikat badan mereka, sedang rantai itu dengan amat kuatnya terikat di atas tiang besi itu, jika mereka ingin lolos dari ruang bawah tanah itu terlebih dahulu harus dapat menerjang pintu besi itu, bahkan sekali pun mau terjang itu pintu besi dibadan mereka masing-masing pun tetap harus membawa sebuah tiang besi yang amat banyak.

dengan membawa tiang besi yang amat berat.

Berat tiang besi itu saja sudah ada dua ratus kati, jikalau diluar sana sudah bersiap-siap musuh dalam jumlah yang amat banyak.

dengan membawa tiang besi yang demikian beratnya apa mereka bisa meloloskan diri?"

Mereka berdua tampak duduk beristirahat sebentar, ujarnya Wi Lian In pada saat itu "Bagaimana kalau kita terjang pintu besi itu dengan menggunakan tiang besi ini?"

"Jangan, tunggu sebentar . ."

Seru Ti Then sambil gelengkan kepalanya.

"Masih mau tunggu apa lagi?"

"Kita tangsal perut terlebih dahulu baru cari akal."

Dia bangkit berdiri dan mengambil kedua mangkuk nasi yang dihantar oleh dua orang berkerudung hitam itu, sambil memberikan satu mangkuk nasi kepada Wi Lian In ujarnya sambil tertawa.

"Jika mau adu jiwa kita juga harus makan kenyang dulu, bukan begitu?"

Wi Lian In hanya tersenyum saja sambil menerima mangkuk nasi itu, tidak lama kemudian dia sudah menyikat habis nasi tersebut.

Selesai bersantap mereka berdua baru bangkit berdiri, ujar Ti Then sambil tertawa.

"Sudah, sekarang kau mulai berteriak." . Wi Lian menjadi melengak.

"Apa?"

"Dari pada harus menggunakan tiang besi ini untuk mendobrak pintu besi tersebut, lebih baik kita pancing mereka datang untuk membukakan pintu buat kita."

Wi Lian In segera merasa cara ini sedikut pun tak salah, dia menjadi amat girang sekali.

"Bagus"

Serunya "Biar aku mulai berteriak ... Ehmm, tunggu sebentar ..."

"Ada apa?"

Mendadak wajah Wi Lien In berubah menjadi merah dadu, dia menundukkan kepala rendah-rendah kemudian ujarnya malu.

"Tidak mengapa aku hanya ingin ..."

"Kau ingin berbuat apa?"

Tanya Ti Then melengak. Dengan gemasnya Wi Lian In mendepakkan kakinya ke atas tanah, sahutnya dengan malu malu.

"Aku tidak ingin berbuat apa-apa, aku hanya ingin ..ingin..."

Ti Then yang melihat jawabannya terputus-putus tanpa terasa sudah tertawa terbahak-bahak.

"Kau ingin apa cepat katakaniah, buat apa sungkan??"

"Kau ..kau.. berdirilah menghadap ke sana."

Sera Wi Lian In dengan perasaan amat malu.

"Jangan bergerak yaah, jangan menoleh tahu tidak"

Seketika itu juga Ti Then menjadi paham, segera dia memutar tubuhnya membelakangi dirinya dan berdiri tidak bergerak sedikit pun juga.

"Sudahlah, sekarang silahkan"

Agaknya Wi Lian In masih merasa tidak lega hatinya ujarnya lagi.

"Kau jangan mengintip yeah, kalau tidak..kalau tidak aku pukul kau"

"Baik, baiklah, sekarang silahkan cepat"

Wi Lian In barulah mulai melepaskan ikat pinggang dan pakaiannya untuk berjongkok menyelesaikan urusan pribadinya, sebentar kemudian dengan perasaan malu dia sudah bangkit berdiri kembali.

"Sudahlah sekarang bagaimana kalau aku mulai berteriak??"

Tanyanya sambil tersenyum malu.

"Baik, sekarang mulai berteriak."

"Harus berteriak bagaimana??"

"Bagaimana pun boleh, asal bisa memancing mereka datang kemari."

"Bagaimana kalau aku berteriak ngeri?"

"Baiklah"

Sahut Ti Then sambil tertawa.

Demikianiah Wi Lian In lantas berteriak ngeri dengan amat panjang dan kerasnya, suara itu penuh diliputi oleh perasaan yang amat takut, kesakitan seperti baru saja digigit oleh setan.

Ti Then pun segera memungut dua buah potongan tiang besi tadi, sambil mengangsurkan kepada kepada Wi Lian In ujarnya lagi.

"Bawa barang ini, nanti bisa kita gunakan sebagai pengganti pedang"

Wi Lian In segera menerimanya dan disisipkan ikatan pinggangnya, kemudian bersama-sama dengan Ti Then mengangkat tiang besi itu, siap menerjang kearah pintu-pintu besi tersebut.

Dengan pusatkan seluruh perhatian mereka bersiap sedia, tetapi lama sekali tidak terdengar juga adanya orang yang menuruni tangga-tangga batu itu, tanpa terasa dia menjadi ragu-ragu.

"Kenapa?? kenapa mereka belum datang juga ??"

"Sttt, jangan berbicara"

"Bagaimana kalau aku berteriak lagi?"

"Tidak perlu, mereka pasti akan datang."

Ternyata dugaan dari Ti Then sedikit pun tidak salah, baru saja dia selesai berbicara dari depan pintu besi itu sudah terdengar suara langkah dua orang yang berjalan dari kejauhan mulai mendekati tempat tersebut.

Kemudian disusul dengan suara dibukanya kunci besi itu.

Ti Then yang mengangkat ujung tiang yang berada di depan segera sedikit mengangguk memberi tanda kepada Wi Lian In, setelah itu dengan memperingan langkah masing-masing mereka mulai berjalan menaiki tangga batu itu siap menerjang keluar.

"Kraaaak..."

Suara yang smat nyaring bergema, pintu besi itu perlahan-lahan mulai membuka.

Yang muncul tidak lain adalah dua orang berkerudung hitam yang tadi, tetapi begitu mata mereka terbentur dengan Ti Then serta Wi Lian In yang berdiri di belakang pintu sambil mencekal tiang besi tersebut saking terperanyatnya mereka sudah berteriak tertahan, salah satu diantara mereka segera menyambar ujung pintu siap untuk di tutup kembali.

Tetapi baru saja tangannya mencapai pinggiran pintu itu, Ti Then serta Wi Lian In dengan masing-masing mengeluarkan suara bentakan yang amat nyaring dengan mencekal tiang besi itu sudah menerjang ke luar dari sana.

Berat tiang besi itu ada dua ratus kati di tambah dengan tenaga dorongan mereka berdua sudah cukup sebetulnya untuk menerjang sebuah pintu kota, apa lagi hanya pintu besi yang kecil.

Jika orang sampai kena terjang tiang ini tidak urung seketika itu juga akan binasa ditempat, karenanya orang-orang berkerudung hitam itu dengan amat gugupnya sudah meloncat ke samping untuk menghindarkan diri.

Demikianiah Ti Then beserta Wi Lian In dengan tanpa perduli keadaan disekelilingnya sudah menerjang keluar dari pintu besi itu dengan masih membawa tiang besi yang amat berat.

Diluar pintu besi itu merupakan sebuah rumah yang terbuat dari tanah liat di dalamnya bertumpuk-tumpuk barang-barang pertanyan, sekali pandang saja sudah tahu rumah itu merupakan sebuah gudang pertanyan yang biasanya digunakan untuk menyimpan gandum serta alat-alat bertani.

Ketika Ti Then serta Wi Lian In melihat keadaan ditempat itu tanpa tarasa lagi sudah menjadi melengak, tetapi mereka tidak berhenti sampai di sana ketika dilihatnya kedua orang berkerudung hitam sudah meloncat keluar dari rumah itu itu mereka pun segera menerjang terus keluar dari sana.

Saat ini cuaca menunjukkan hampir terang tanah, keadaan disekeliling tempat itu masih gelap gulita, tetapi pada saat mereka sudah berada diluar rumah itu sekali pandang saja mereka sudah melihat tempat itu adalah sebuah tanah lapang yang biasanya digunakan untuk menjemur padi.

Pada permulaan ketika mereka dikurung di dalam ruangan di bawah tanah di dalam otak mereka masing-masing terus menerus memikirkan di tempat manakah sekarang mereka berada, semula mereka mengira sudah berada diruang bawah tanahnya istana Thian Teh Kong akhirnya tahu juga kalau dugaan mereka salah, tetapi mereka sama sekali tidak menduga kalau mereka sudah berada dirumah seorang petani.

Bagaimana bisa di rumah seorang petani?

Jilid 19.2 .

Janyi menjadi suami istri Baru saja mereka berdua merasa terkejut dan heran mendadak terdengarlah suara desiran angin yang amat tajam, tampak dua batang anak panah dengan amat dahsyatnya sudah meluncur secara diam-diam kearah mereka.

Sabatang anak panah mengancam Ti Then sedang sebatang lainnya mengancam Wi Lian In.

Ti Then segera bungkukkan badannya ke bawah tiang hesi yang ada ditangan kanannya dengan tepat memukul kearah anak panah tersebut, bersamaan pula bentaknya dengan cemas.

"Lian In, hati-hati"

Dengan kecepatan yang luar biasa Wi Lian In segera mencabut tiang besinya pula untuk memukul jatuh anak panah yang mengancam badannya.

"Cepat mundur ke dalam rumah!"

Serunya keras.

Baru saja dia selesai berkata tampak dua batang anak panah dengan mengeluarkan sambaran angin yang amat tajam meluncur kembali mengancam mereka berdua.

Sekali lagi mereka pukul jatuh anak-anak panah itu.

Terdengar Ti Then berteriak dengan amat keras.

"Mereka berada di ujung rumah di sebelah depan, cepat kita serang ke sana!"

"Jangan!"

Seru Wi Lian In dengan amat cepat.

"Kita mundur kembali ke dalam rumah saja, lebih baik kita cari kampak untuk putuskan rantai-rantai ini"

Ti Then segera merasa perkataannya sedikit pun tidak salah, akhirnya bersama-sama dengan Wi Lian In dengan tergesa-gesa mereka mengundurkan diri ke dalam rumah itu dan menutup rapat-rapat pintunya, setelah meletakkan tiang besi itu ke atas tanah mereka mulai mencari alat untuk memutuskan rantai-rantai tersebut.

Tetapi sekali pun sudah mencari disekeliling rumah itu tetap tidak tampak adanya kampak, tetapi ditemuinya sebuah cangkul.

Ti Then segera mengambil cangkul tersebut, ujarnya dengan cepat kepada Wi Lian In.

"Cepat berjongkok, biar aku coba"

Wi Lian In menurut omongannya dan berjongkok lantas meletakkan rantainya ke atas tanah.

"Criiiing!"

Terdengar suara yang amat nyaring bergema diseluruh ruangan disertai dengan percikan bunga-bunga api, ujung cangkul itu sedikit bengkok tetapi rantainya tetap utuh tidak cedera sedikit pun juga.

"Tidak ada gunanya, cangkul itu tidak berguna"

Seru Ti Then sambil membuang cangkul itu ke atas tanah.

"Kurang ajar"

Teriak Wi Lian In dengan amat gusar.

"Di sini terdapat begitu banyak alat-alat tetapi sebuah kampak pun tidak kelihatan"

"Tentu sudah disembunyikan oleh mereka, mari kita terjang lagi keluar, bagaimana kalau kita cari di dalam rumah yang lain?"

"Mereka melancarkan serangan dari tempat kegelapan, sukar buat kita untuk berjaga-jaga, lebih baik untuk sementara kita menunggu di sini saja sampai terang tanah"

"Begitu pun juga boleh"

Sahut Ti Then kemudian sambil mengangguk sesudah berpikir sebentar.

"Agaknya mereka cuma dua orang saja, baiklah kita tunggu sampai terang tanah baru turun tangan bereskan mereka."

"Gelegar ..!"

Mendadak suara yang amat keras bergema memenuhi seluruh ruangan , kiranya pintu kayu depan rumah itu sudah mulai diserang dengan menggunakan batu-batu cadas yang amat besar sehingga menggetarkan dengan amat kerasnya.

"Hmmm.."

Ti Then tertawa dingin tak henti-hentinya.

"Coba kau lihat mereka malah berani menyerang kita"

"Kelihatan sekali kepandaian slat mereka tidak seberapa, bilamana berani merusak pintu untuk menyerang kita Iebih baik kita tutup jalan mundurnya terlebih dahulu kemudian baru kita tangkap dari dalam."

"Betul"

Seru Ti Then tertawa.

"Bluuuk..!"

Sekali lagi suara pintu kayu yang terkena gempuran batu besar.

"Mari kita palangkan tiang besi ini di belakang pintu kayu itu"

Seru Ti Then dengan suara perlahan.

"Jika kita melihat mereka menyerang masuk segera angkat tiang besi itu biar mereka jatuh tersungkur"

Wi Lian In menjadi amat girang sekali.

"Pendapat yang amat bagus."

Mereka berdua satu di sebelah kiri yang lain di sebelah kanan berjongkok didekat pintu kemudian palangkan itu tiang besi di depan pintu untuk menanti dengan amat tenangnya.

Sebuah batu besar mengenai pintu rumah itu lagi membuat pintu tersebut menjadi patah dua bagian dan terpentang ke samping.

Terdengar orang berkerudung hitam itu dengan suaranya yang tertawa seram.

"Hey bocah cilik cepat keluar dan menyerah tanpa melawan, kalau tidak kalian akan merasakan siksaan yang sangat berat"

Ti Then tertawa terbahak-bahak dengan amat kerasnya.

"Kalian punya kepandaian apa saja silahkan gunakan keluar, aku sekalian sudah siap sedia untuk minta petunjuk."

"Jika kau bangsat cilik ingin hidup lebih lama cepat menggelinding keluar."

"Aku tidak ingin hidup, kalian masuklah"

Jawab Ti Then sambil tertawa nyaring.

"He...he .. he...kalian sungguh-sungguh sudah ambil keputusan untuk mati didaIam rumah itu?"

Tanya orang berkerudung hitam itu sambil tertawa aneh.

"Benar."

"Bagus, lohu akan memenuhi harapan kalian"

Selesai dia berbicara mendadak terlihatlah segumpal bayangan hitam melayang menuju ke atas atap rumah tersebut.

Kiranya setumpuk rumput kering adanya.

Selesai melemparkan rumput kering itu disusul dengan desiran anak panah berapi meluncur kearah rumput kering tersebut, agaknya rumput itu semula sudah diberi minyak karena itu begitu terkena api segera terbakar dengan amat besarnya.

Kiranya mereka punya maksud untuk membakar Ti Then berdua di dalam rumah batu itu.

Ti Then sama sekali tidak menyangka nereka bisa berbuat begitu, ketika dilihatnya api berkobar dengan amat besarnya dia merasa amat terperanyat, dengan tergesa-gesa dia meloncat keluar sedang kakinya dengan melancarkan satu tendangan kilat menendang rumput-rumput kering yang berapi itu.

Tendangan itu dilancarkan bagaikan kilat cepatnya karena itu tidak sampai melukai kakinya.

Siapa tahu kedua orang berkerudung yang berada diluaran ketika melihat dia melancarkan tendangan kilat menyingkirkan rumput-rumput kering tersebut, empat telapak mereka segera melayang melancarkan satu serangan dahsyat.

Terasalah segulung angin serangan yang amat dahsyat bagaikan menggulungnya ombak besar ditengah samudra menggulung tak henti-hentinya kearah rumput kering itu membuat api yang sedang berkobar bergolak dengan dahsyatnya melayang kembali ke dalam rumah itu.

Ti Then yang badannya masih terikat oleh rantai membuat gerakannya tidak leluasa lagi, karenanya dia tidak sanggup untuk melancarkan serangan juga memukul balik rumput-rumput kering itu, di dalam keadaan yang amat gugup diambilnya cangkul yang menggeletak di atas tanah kemudian menyambut datangnya rumput-rumput kering itu.

Sambarannya kali ini membuat rumput-rumput kering itu menjadi tersebar keempat penjuru dan jatuh di tiang-tiang pintu yang terbuat dari kayu, seketika itu juga rumput-rumput kering yang berapi itu mulai membakar apa yang ditemuinya.

Wi Lian In dengan cepat mengambil sebuah karung goni dan dipukul-pukulkan ke atas tanah dimana api mulai berkobar.

Tetapi baru saja mereka selesai memadamkan api itu tampak segumpal rumput kering serta sebatang anak panah berapi melayang kembali ke dalam, seketika itu juga rumah tersebut terbakar kembali.

Ti Then menjadi amat gusar sekali, makinya.

"Anak jadah cucu kura-kura, Lian In ayoh kita terjang keluar saja adu jiwa dengan mereka"

"Baik, kita bunuh mereka semua"

Kedua orang itu segera menerjang keluar, sambil membentak keras mereka menerjang keluar dari rumah itu dengan ditangan kiri dan tangan kanan mereka masing-masing membopong sebuah tiang besi.

Kedua orang berkerudung hitam ketika melihat mereka menerjang bersamaan waktunya melancarkan satu serangan dengan menggunakan anak panah mereka kemudian bersama-sama menyatuhkan diri ke samping bersembunyi ditempat kegelapan.

Di dalam sekejap mata saja ada dua batang anak panah lagi meluncur dari arah Barat serta Utara menyerang ke tubuh Ti Then serta Wi Lian In dengan amat cepatnya.

Kiranya mereka tidak berani bertempur berhadap-hadapan dengan Ti Then, kini mereka hendak menggunakan kelemahan dari Ti Then yang harus membopong tiang besi untuk melancarkan serangan mendesak dirinya.

Ti Then dengan amat gusarnya membentak keras, mendadak dia melemparkan tiang besi yang dibawanya dan melayangkan tangannya menyambut datangnya sambaran anak panah itu, kelihatannya dia hendak menggunakan anak panah itu sebagai senyata rahasia untuk balas melancarkan serangan kepihak musuh.

Wi Lian In pun segera berbuat sama dengan diri Ti Then, hanya sayang mereka berdua tidak bisa melihat dengan jelas tampat persembunyian mereka berdua karenanya serangan balasan mereka dengan menggunakan anak panah itu tidak sampai mencapai pada sasarannya.

Dengan kecepatan bagaikan kilat Ti Then memungut kembali tiang besi itu kemudian bentaknya .

"Bunuh dulu binatang yang ada di sebelah Timur, ayoh jalan."

Mereka berdua dengan masing-masing menggotong tiang besi itu dengan cepat berlari menuju kesudut sebelah Timur, tetapi ketika sampai ditempatnya ternyata tidak tampak bayangan musuh.

Sedang pada saat yang bersamaan pula dari belakang tubuh mereka meluncur datang dua batang anak panah membokong diri mereka.

Mereka berdua dengan cepat putar tubuhnya memukul jatuh anak panah itu, ketika memandang ke atas tampaklah kedua orang berkerudung hitam itu sudah berdiri di atas atap dua buah rumah.

Dengan amat gusarnya Ti Then membentak keras.

"Kalau kalian betul-betul punya nyali turunlah, kita tentukan di atas permainan senyata"

"Ha ha ha ... .jangan cemas"

Teriak manusia berkerudung hitam itu sambil tertawa terbahak-bahak.

"Sebelum kucing menghabiskan tikus hasil mangsanya seharusnya dipermainkan dulu sampai puas"

Ti Then segera menaungut anak panah yang terjatuh ke atas tanah itu dan disambit kembali kearah orang itu, bentaknya.

"Ayo gelinding turun dari sana."

Anak panah itu meluncur lebih dari pentangan busur tetapi begitu orang berkerudung hitam itu melihat Ti Then melayangkan tangannya tubuhnya dengan cepat menyingkir ke samping beberapa depa jauhnya kerena itu dengan sangat mudah sekali dia berhasil menghindarkan serangan tersebut.

Manusia berkerudung hitam lainnya segera membalas serangan itu dengan memanahkan sebatang anak panah kearahnya, demikianlah saat itu juga antara pihak terjadilah suatu pertempuran panah yang amat seru sekali.

Mendadak ujar Wi Lian In dengan suara perlahan.

"Jangan disambit kembali"

Waktu itu Ti Then baru saja menangkap sebatang anak panah dan siap disambit kembali, mendengar perkataan itu dia menjadi tertegun.

"Kenapa ?"

Tanyanya. Dengan suara yang amat Iirih sehingga hampir-hampir tidak terdengar sahut Wi Lian In.

"Anak panah yang mereka bawa sudah tidak banyak lagi, asalkan kita terus menerima saja menanti setelah anak panah mereka habis, mereka tidak akan mengapa-apakan kita lagi."

"Betul"

Seru Ti Then tertawa.

"Labih baik kita maju beberapa langkah ke depan untuk pancing mereka memanah lebih banyak lagi."

Mereka berdua lantas maju dua langkah ke depan dan berdiri ditepi lapangan untuk penjemuran padi itu.

Kedua orang berkerudung hitam itu ketika melihat mereka berdua bukannya mencari tempat bersembunyi bahkan malah munculkan kini segera memanahkan anak panahnya terus menerus.

Dengan amat gesitnya Ti Then mau pun Wi Lian In meloncat kekanan kekiri untuk menghindarkan diri dari serangan tersebut, walau pun ditangan mereka harus mengangkat sebuah tiang besi yang amat berat tetapi tidak sebuah pun anak-anak panah itu mangenai badan mereka.

Tidak lama kemudian anak panah dari kedua orang berkerudung hitam itu sudah tinggal tidak seberapa banyak lagi.

"Ha ha ha ha .... bagaimana?"

Ejek Ti Then tertawa terbahak bahak.

"Terang-terangan kalian tidak bisa mengapa-apakan kami, aku lihat Iebih baik kalian turun saja ke sini untuk bergebrak"

Kedua orang berkerudung hitam itu tidak memberikan jawabannya barang sekejap pun, mereka saling bertukar pandangan kemudian secara tiba tiba bersama-sama menyatuhkan diri ke belakang wuwungan rumah dan lenyap tanpa bekas.

Wi Lian In menjadi melengak dibuatnya.

"Hmmm.. entah mereka berdua menggunakan permainan setan apa lagi?"

"Tidak usah takuti mereka, cuma dua orang saja bahkan hari pun hampir terang tanah apa pun yang bakal terjadi kita tidak usah takuti lagi"

"Dekat dekat sini agaknya tidak ada rumah petani yang kedua, entah tempat manakah ini?"

Baru saja Ti Then mau memberi jawabannya mendadak terasalah olehnya dari belakang tubuhnya ada sambaran angin tajam yang membokong dirinya dengan cepat dia bungkukkan badannya sedang tiang besi yang ada ditangannya di balik melancarkan tangkisan.

"Traaaaang ."

Suara benturan besi segera bergema disusul dengan percikan bunga api memenuhi angkasa.

Secara diam-diam kedua orang berkerudung itu sudah munculkan diri di belakang badan mereka berdua, kali ini ditangan masing-masing mencekal sebuah golok besar kelihatannya mereka punya maksud untuk beradu tenaga dengan diri Ti Then berdua.

Ti Then sesudah berhasil menangkis pergi serangan golok pihak musuhnya, tubuhnya dengan cepat berputar balik, tiang besi ditangannya ditekan ke atas kemudian secara tiba-tiba menyerang kearah orang berkerudung hitam yang sedang membokong diri Wi Lian In itu.

Serangannya ini dilancarkan bagaikan kilat cepatnya, hanya sayang ditangan kirinya harus menggendong tiang besi yang amat berat bahkan Wi Lian In yang ada di sampingnya tidak bisa menyesuaikan diri dengan gerakannya karena itu serangan yang dilancarkan ini tidak sampai pada tubuh pihak musuhnya dan mencapai sasaran yang kosong.

Kedua orang berkerudung hitam itu sama-sama tertawa aneh, satu dari sebelah kiri yang lain dari sebelah kanan bersama-sama mengangkat goloknya melancarkan serangan kembali, tetapi mereka tidak berani langsung menyerang berhadap-hadapan dengan diri Ti Then, setiap serangan mereka pasti ditujukan pada tempat-tempat yang sukar bagi Ti Then untuk bergerak.

Semula di dalam anggapan Ti Then asalkan pihak lawannya mau turun tangan dengan dia maka dirinya dengan amat mudah bisa menggunakan ilmunya yang amat sakti untuk membinasakan mereka berdua, tetapi sekarang sesudah bergebrak beberapa jurus banyaknya dia baru merasa kalau keadaannya tidak semudah apa yang dipikirkan semula.

Ketika dilihatnya Wi Lian In diserang dan dipaksa berada di dalam keadaan amat bahaya, segera serunya dengan gugup.

"Lian In, lepaskan tiang besi itu dan duduklah."

Wi Lian In yang mendengar perkataan itu segera tahu kalau Ti Then siap menggunakan sikap tenang untuk menguasai lawannya, karena itu dia lantas meletakkan tiang besi itu ke atas tanah dan dia sendiri tanpa ragu-ragu lagi duduk ke atas tanah.

Ti Then pun ikut duduk, merekti berdua duduk dengan punggung menempel punggung sedang tangannya yang lain memutarkan tiang besi itu untuk melindungi dirinya sendiri dari serangan pihak musuh, demikianlah mereka dengan amat mudahnya berhasil memunahkan setiap serangan musuh.

Kedua orang berkerudung hitam itu menyerang kembali beberapa saat lamanya ketika dilihatnya mereka tidak sanggup melukai diri Ti Then berdua, salah satu diantara orang berkerudung hitam itu segera memberi tanda dan mereka berdua dengan tidak banyak cakap lagi mengundurkan diri ke belakang kemudian melenyapkan diri di balik kegelapan.

"Mungkin mereka mau melepaskan panah-panah lagi, mari kita mundur ke bawah tembok pojokan sana untuk menghindarkan diri dari bokongan pihak musuh."

Siapa tahu sekali pun mereka sudah menunggu setengah jam lamanya tetap tidak mendengar sedikit gerakan apa pun.

"Heran..."

Seru Wi Lian In ragu-ragu.

"Apa mereka sudah tahu sukar lantas mengundurkan diri?"

"Aku kira tidak mungkin, mereka pasti tidak akan melepaskan kita dengan begini saja, mereka tentu sedang mempersiapkan suatu penyerangan kembali"

Dengan dinginnya Wi Lian In mendengus.

"Aku tidak percaya mereka bisa melancarkan penyerbuan dengan cara yang lain lagi."

"Aku hanya tahu mereka tidak lepas tangan begitu saja, untuk menutup penyamaran mereka....."

Perkataannya belum selesai mendadak di sekeliling rumah petani itu bergema Suara percikan yang amat keras disusul berkobarnya lautan api yang amat dahsyat.

Lautan api itu muncul dari empat penjuru rumah pertanyan itu, hanya di dalam sakejap mata saja gulungan api yang amat dahsyat menggulung ketengah udara dan menge pung semua tempat.

Jelas sekali kedua orang berkerudung hitam itu secara diam-diam sudah menyiram sekeliling tempat itu dengan minyak bakar kemudian menyulut api sehingga membuat api itu baru mulai saja sudah berkobar begitu dahsyatnya, hanya di dalam sekejap mata saja kedua buah rumah itu sudah terbakar menjadi abu.

Air muka Wi Lian In segera berubah amat hebat, teriaknya dengan amat terperanyat.

"Celaka mereka mau bakar kita hidup-hidup."

Selamanya Ti Then punya nyali yang amat besar dan tidak pernah kacau pikirannya menghadapi berbagai mara bahaya, tapi kali ini ketika dilihatnya empat penjuru semuanya merupakan lautan api yang berkobar-kobar dengan amat dahsyatnya, air mukanya tanpa terasa berubah memucat juga, teriaknya dengan gemas.

"Kurang ajar, seharusnya sejak tadi aku punya pikiran kalau mereka bisa melakukan pekerjaan ini"

"Kalau begitu kita cepat-cepat mundur ke liang ruang bawah saja untuk bersembunyi"

Teriak Wi Lian In dengan amat cemasnya.

"Tidak bisa, walau pun ruang bawah tanah itu tidak sampai terbakar tetapi kita bisa dipanggang sampai mati."

Pikiran Wi Lian In menjadi amat kacau, serunya dengan gemetar.

"Lalu bagaimana baiknya?"

"Terjang keluar."

"Tidak mungkin, empat penjuru merupakan lautan api bagaimana kita bisa terjang keluar ? Lebih baik kita bersembunyi di dalam ruang bawah tanah itu saja?"

"Tidak bisa."potong Ti Then dengan tegas.

"Kita tidak bisa bersembunyi di dalam ruang bawah tanah itu lagi..mari ikuti diriku!"

Dia mengangkat tiang besinya kembali bersama-sama dengan Wi Lian In mereka Iari keluar dari rumah itu menuju ketengah lapangan penjemur padi.

Di depan Iapangan penjemuran padi tidak terdapat barang apa pun, karena api yang berkobar di sebelah sana agak lemah, jilatan api tidak lebih hanya enam tujuh depa tingginya.

Pada jarak kurang Iebih tiga kaki dari tembok api itu Ti Then menghentikan langkahnya.

"Mari kita meloncat dari sebelah sini saja."serunya. Wi Lian In menjadi terkejut bercampur gugup.

"Dengan menyeret tiang besi yang begitu beratnya apa mungkin bisa meloncat keluar?"

Serunya.

"Bisa, gunakan saja tiang besi itu untuk meloncat keluar, demikian saja, kita Masing-masing menggendong satu pojokan kemudian Iari ketepi tembok lautan api itu kemudian menancapkan ujung yang lain ke atas permukaan tanah, dengan meminyam kekuatan ini kita layangkan badan keluar dari lingkungan tersebut"

Sambil berkata dia member contoh kepada diri Wi Lian In. Melihat hal itu Wi Lian In menjadi amat terkejut bercampur girang.

"Cara ini sedikit pun tidak jelek, hanya saja kalau tidak berhasil badan kita pasti akan terjatuh ke dalam lautan api"

"Betul"

Seru Ti Then tersenyum pahit.

"Tetapi selain ini tidak ada cara lain lagi"

"Baiklah, daripada mati lebih baik kita tempuh bahaya ini saja, tetapi..."

"Tetapi kenapa?"

Wajah dari Wi Lian In mendadak berubah menjadi merah dadu, dengan perasaan amat malu ujarnya.

"Waktu itu sewaktu masih ada di kuil Sam Cing Koan kau pernah bilang suka padaku, entah itu sungguh-sungguh atau tidak?"

Ti Then sama sekali tidak menduga di saat-saat yang begitu kritis dan membahayakan jiwa mereka dia sekali lagi mengungkit urusan ini membuat di dalam hati diam-diam merasa amat geli juga.

"Sudah tentu sungguh-sungguh"

Serunya sambil mengangguk. Wi Lian In dengan perlahan mengangkat kembali wajahnya yang telah memerah itu, tanyanya lagi dengan perasaan malu bercampur girang.

"Kalau begitu, kau punya rencana untuk meminang aku tidak?"

"Sudah tentu"

Sekali lagi Ti Then mengangguk.

"Tetapi....sekarang aku kira bukan waktunya untuk membicarakan soal ini.."

"Tidak"

Potong Wi Lian In dengan serius.

"Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk membicarakan soal ini, jika kau mau meminang aku maka sekarang juga aku sudah menganggap kau sebagai suamiku, dengan demikian jikalau kita sampai mati tertelan oleh lautan api itu kita mati juga sebagai suami istri"

"Kalau kita tidak jadi mati?"

Tanya Ti Then lagi.

"Kalau begitu dari kedudukan sebagai suami istri kita undurkan sebagai calon suami istri, nanti setelah Tia setuju kita baru resmikan upacara ini"

Ti Then menjadi sangat girang sekali.

"Baik, kalau begitu bagus sekali"

"Perlu kita berlutut untuk upacara?"

"Sesukamu"

Sahut Ti Then tertawa.

"Kalau begitu kita berlutut menghadap ke langit"

Seru Wi LIan In sambil tertawa malu.

"Sesudah sembahyang dengan langit dan bumi kita masing-masing saling member hormat, bagaimana?"

"Bagus sekali!" --Mereka berdua segera berlutut menghadap ke sebelah selatan dan menghormat kepada langit dan bumi setelah itu bangkit berdiri dan saling memberi hormat lagi. Saat itu Wi Lian In betul-betul merasa amat girang sehingga tanpa bisa dicegah lagi dia sudah menubruk ke dalam pelukan Ti Then dan mengucurkan titik air mata kegirangan. Mereka berdua saling berpeluk dengan eratnya, masing-masing tidak ada yang buka suara untuk memecahkan kesunyian yang nikmat tersebut. Api yang berkobar disekeliling mereka semakin lama semakin membesar dan akhirnya disekitar tempat itu pun mulai terbakar dengan dahsyatnya. Lama sekali baru kelihatan Ti Then dengan perlahan mendorong badannya ke samping.

"Mari, sekarang kita lompati tembok lautan api ini"

Mereka berdua dengan tidak banyak cakap masing-masing mencekal satu ujung tiang besi itu kemudian bersama-sama mengangkatnya.

"Ayoh jalan"

Bentaknya disusuI tubuhnya bergerak menerjang ke depan.

SeteIah berlari sampai ditepian tembok api itu mereka segera meletakkan ujung yang satu dari tiang besi itu ke atas tanah kemudian membentak Iagi .

"Naik!"

Tubuh mereka bersama-sama meloncat ke atas dengan meminyam kesempatan sewaktu tiang itu berdiri mereka bersama-sama meIepaskan ujung tiang besi sehingga dengan begitu tubuh mereka pun ikut melayang ke atas.

Tiang besi itu sebetulnya ada enam depa panjangnya ditambah dengan panjang rantai tiga depa karenanya sekali loncat mereka bisa mencapai setinggi sembilan depa, akhirnya mereka berhasii juga melewati jilatan api setinggi enam tujuh depa itu dengan selamat dan berkelebat menuju kearah luar.

Siapa tahu lebar tembok api itu ada satu kaki, karenanya ketika mereka masing-masing mencapai di atas permukaan tanah empat buah kaki mereka dengan serta merta terjatuh ke dalam lautan api.

Suatu perasaan yang amat sakit menyerang diseluruh kulit kaki mereka membuat Ti Then mau pun Wi Lian in saking sakitnya sudah berteriak keras.

Tanpa terasa lagi dengan sekuat tenaga mereka berguling kearah luar dan menyeret pergi tiang besi yang ada ditengah lautan api itu sejauh tiga empat kaki jauhnya dan lolos dari bahaya tersebut.

Ti Then dengan tidak perdulikan perasaan amat sakit yang menyerang kakinya dia dengan sekuat tenaga meloncat ke depan kemudian dengan menyeret Wi Lian In serta tiang besi itu berlari lagi sejauh beberapa kaki.

Tetapi pada saat mereka baru saja lolos dari bahaya ituiah mendadak dari samping kiri kanan mereka berkelebat bayangan manusia kemudian disusul dengan berkelebatnya dua batang golok besar yang memancarkan sinar keperak-perakan, hanya di dalam sekejap saja golok tersebut sudah membabat di pinggiran badan mereka.

Sekali lagi kedua orang berkerudung hitam itu melancarkan serangan kearah Ti Then berdua.

Di dalam keadaan yang amat bingung dan kacau Ti Then tidak sempat mencabut keluar tiang besi yang terselip dipinggangnya untuk digunakan menangkis serangan golok pihak Iawannya, terpaksa dia mengguling ke samping bersamaan pula dia membentak keras dan melancarkan tendangan sapuan kearah kaki musuh.

Dengan tendangan sapuan ini sebetulnya dia tidak mengharapkan bisa mengenai pihak musuhnya, siapa tahu urusan yang berada diluar dugaannya sudah terjadi, orang berkerudang hitam itu ternyata tidak sanggup untuk menghindarkan diri dari serangan tersebut.

"Bluuuk .."

Dengan disertai suara teriakan kaget orang berkerudung hitam itu jatuh terlentang di atas tanah.

Pada saat yang bersamaan pula Wi Lian In berhasil menghindarkan diri dari serangan golok orang berkerudung hitam lainnya, di dalam keadaan yang amat cemas tanpa terasa lagi tangannya sudah mencomot segenggam pasir dan disambitnya tepat mengarah wajah pihak musuh.

Serangan aneh dengan menggunakan secomot pasir ini kelihatan sekali berada diluar dugaan orang berkerudung hitam itu karenanya dengan tepat pasir tersebut menghajar wajahnya, mungkin ada beberapa pasir yang masuk ke dalam matanya, terdengar dia berteriak aneh kemudian sambil menutupi wajahnya mengundurkan diri ke belakang dengan tergesa gesa.

Sebaliknya orang berkerudung hitam yang tersapu jatuh oleh serangan Ti Then tadi tidak sempat untuk melarikan dirinya.

Ti Then yang melihat dia terjatuh segera menubruk ke atas tubuhnya sedang sepasang tangannya dengan sekuat tenaga mencekik lehernya dan menekan terus ke atas tanah.

Dia betul-betul merasa benci dan gemas atas keganasan pihak lawannya oleh sebab itu sewaktu turun tangan dia sama sekali tidak ragu-ragu.

"Kraaak . Suara remuknya tulang-tulang bergema memenuhi sekeliling tempat itu, ternyata tulang leher dari orang berkerudung hitam itu sudah berhasil dicekik remuk olehnya. Dikarenakan sewaktu turun tangan dia melancarkan serangannya dengan secepat kilat maka sampai suara teriakan ngerinya pun belum sempat diteriakkan dia sudah binasa. Orang berkerudung hitam yang terkena percikan pasir tadi setelah melihat kawannya binasa saking takutnya seluruh wajahnya sudah berubah menjadi pucat pasi, berulangkali dia mundur ke belakang agaknya dia betul-betul merasa amat takut. Ti Then menarik kembali tangannya dan bangkit berdiri dengan perlahan, ujarnya dengan amat dingin sambil memandang tajam wajah orang berkerudung hitam itu.

"Kini tinggal kau seorang."

Sekali lagi orang berkerudung hitam itu mundur beberapa langkah ke belakang, agaknya dia bermaksud melarikan diri dari sana.

"Kau tidak akan bisa lari."

Seru Ti Then tertawa dingin.

"Kau harus menyerang kami lagi, menyerang sampai kami betul-betul binasa baru boleh pergi, kalau tidak asalkan kami berhasil melarikan diri sini dan menanyakan pada rumah-rumah petani yang ada disekitar tempat ini siapa majikan kalian, aku tidak akan menemui kesukaran untuk mengetahui siapakah otak dari kalian."

Sepasang mata dari orang berkerudung hitam itu segera berkedip-kedip, mendadak ujarnya.

"Kam pung pertanyan ini adalah lumbung dari Sian Thay-ya, Cuo It Sian, otak pimpinan kita adalah sipembesar kota Cuo It Sian tersebut."

Selesai berkata sepasang kakinya mendadak menutul permukaan tanah dan lari ke depan, Iaksana segulung asap hitam hanya di dalam sekejap saja dia sudah lari tanpa bekas ditelan kagelapan yang masih mencekam sekeliling tempat itu.

Ti Then seketika itu juga menjadi tertegun.

Perkataan dari orang berkerudung hitam itu membuat hatinya betul-betul tergetar, dia tidak paham apa maksud dari perkataan orang itu, apakah perkataannya itu benar?

Apa tujuannya untuk mencelakakan diri si pembesar kota Cuo It Sian ??

Atau memang punya maksud lain ?

Wi Lian In pun dibuat terkejut oleh perkataan tersebut, ketika dilihatnya orang berkerudang hitam itu sudah berlari amat jauh tanpa terasa dia sudah bergumam seorang diri.

"Apa betul perkataannya? Apa betul pemimpin mereka adalah itu pembesar kota Cuo It Sian ?"

Tampak Ti Then menarik napas panjang-panjang.

"Sukar untuk dipastikan."

Serunya sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

"Perkataannya ini boleh dipercaya juga boleh tidak dipercaya."

"Perkam pungan tani ini apa betul milik si Cuo It Sian atau bukan kita bisa selidiki dengan mudah."

Ti Then berpikir sejenak, kemudiana baru menyahut.

"Aku kira tidak salah, perkam pungan tani ini pasti miliknya Cuo It Sian."

"Bagaimana kau bisa tahu ?"

Tanya Wi Lian In terperanyat.

"Perkataan dari orang itu pastl terselip suatu rencana busuk Iainnya.kalau memangnya suatu siasat busuk maka tempat yang dimaksud tentu sungguh-sungguh sehingga membuat kita menjadi percaya, makanya aku rasa ucapannya yang mengatakan perkam pungan tani ini miliknya itu pembesar kota Cuo It Sian sedikit pun tidak salah."

"Kalau begitu orang yang perintah tangkap dan tawan kita juga betul-betul perbuatan dari Cuo It Sian?"

"Belum tentu"

Ti Then gelengkan kepalanya.

"Untuk menutupi asal usul yang sebetulnya pihak lawan tanpa ragu-ragu turun tangan melenyapkan kawannya sendiri, kenapa sewaktu mau pergi sudah membocorkan keadaan yang sebenarnya ?"

Tanpa terasa Wi Lian In sudah mengangguk.

"Tidak salah. Tidak salah, dia berkata begita tentu mau menjerumuskan diri Cuo It Sian."

Sekali lagi Ti Then gelengkan kepalanya.

"Tetapi dia harus tahu juga kalau kita tidak akan percaya omongannya dengan begitu mudah, maka... perkataannya ini kemungkinan juga memang betul, maksud dia berbicara terus terang pasti mengharap dalam hati kita timbul perasaaan tidak percaya memancing kita masuk ke dalam alam kebingungan"

"Sebetulnya kau sedang membicarakan apa?"

Tanya Wi Lian In melongo.

"Maksudku, majikan mereka. Adalah itu pembesar kota Cuo It Sian juga mungkin betul lima bagian karena dia melihat dirinya tidak berhasil mencelakai kita dan Kita pun bisa bertanya-tanya disekitar tempat ini apalagi sewaktu kita sudah dapat dengar dari penghuni perkam pungan tani ini kalau tempat itu miliknya sipembesar kota Cuo It Sian sudah tentu kita akan mencurigai diri Cuo It Sian, karena dia memberitahu kita terlebih dahulu kalau pemimpin mereka adalah Cuo It Sian agar di dalam pikiran kita timbul perasaan tidak percay, karena dia merasa kita tidak akan percaya atas omongannya"

Saat itu Wi Lian In baru paham tanpa terasa dia mengangguk lagi.

"Tidak salah, jika ditinyau dari sini orang yang menjadi otak dari penangkapan kita kemungkinan sekali perbuatan dari Cuo It Sian."

"Yah atau bukan, sekarang kita hanya bisa pilih salah satu."

"Kita boleh pergi Tanya-tanya dulu sekeliling perkam pungan tani ini, tetapi sebelumnya kita harus mencari akal membuka rantai yang mengikat pada badan kita", Ti Then tersenyum, sambil menunjuk kearah orang berkerudung hitam yang baru saja dibunuhnya itu ujarnya.

"Jika dugaanku tidak salah, kunci untuk membuka rantai kita ada di dalam badannya"

Wi Lian In segera memperlihatkan perasaan yang amat girang.

"Ooooh, bagaimana kau bisa tahu kunci itu berada di dalam badannya?"

"Tadi sesudah aku bunuh mati orang ini, manusia berkerudung hitam yang lainnya segera mundur ke belakang dengan perasaan amat takut, jika ditinyau dari keadaan kita sekarang ini dengan badan dirantai pada tiang besi yang amat Berat untuk mengejar dirinya pun tidak mungkin bisa berhasil, buat apa harus takut? Karena itu pikiranku segera bergerak, aku pikir..."

"Kunci itu berada dibadannya"

Sambung Wi Lian In dengan amat girang.

"Betul"

Seru Ti Then ikut tertawa girang.

Wi Lian In segera meloncat ke samping mayat dari manusia berkerudung hitam itu san mulai memeriksa isi sakunya, mendadak tampak dia berteriak girang kemudian meloncat bangun sambil memperlihatkan dua buah kunci.

"Coba kau lihat"

Teriaknya keras.

"Dugaanmu sedikit pun tidak salah, kunci itu memang ada di dalam sakunya"

Ti Then betul-betul merasa amat girang sekali.

"Coba bawa kemari, kita coba"

Serunya cemas. Wi Lian In segera menuju ke belakang badannya dan memasukkan salah satu kunci yang ada ditangannya ke dalam lobang kunci rantai tersebut kemudian memutarnya kekanan.

"Klik"

Rantai sudah terbuka.

Ti Then betul-betul merasa amat girang sekali, cepat-cepat direbutnya kuncinya yang lain dan membukakan rantainya mereka berdua yang bisa bebas kembali dari belenggu tak tertahan sudah pada meloncat kegirangan.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 20.1 Api cinta Wi Lian In Tiba-tiba Wi Lian In menjerit kesakitan.

"Aduh ..kakiku sakit benar aduh ..."

"Waah ... tentu terkena api sewaktu meloncat tadi, mari sini biar aku periksa sebentar."

Dia menarik celana kakinya ke atas, terlihatlah kakinya yang semula berwarna putih laksana salju kini sudah berubah menjadi memerah dengan penuh gelembung-gelembung air yang amat banyak.

dalam hati Ti Then merasa sedikit tak tega lalu hiburnya dengan suata perlahan-"Wah masih untung cuma kulitnya saja yang terluka, sebentar saja akan sembuh dengan sendirinya"

"Lalu bagaimana?"

Tanya Wi Lian In kemudian dengan nada kuatir.

"Omong kosong ,mari sini biar aku yang periksa"

"Tidak usah periksa lagi"

Ujar Ti Then sambil tertawa, dia lantas bangkit dan berdiri kembali.

"Saat ini kau juga tidak membawa obat luka terbakar, cuma lihat-lihat saja apa gunanya?? Yang penting kita sekarang harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini, nanti setelah sampai di dalam kota kita baru beli obat buat luka-luka terbakar ini."

Waktu itu sang surya sudah memancarkan sinarnya keempat penjuru, dari tempat kejauhan seCara samar-samar terdengar kokokan ayam yang saling sahut menyahut.

Mendengar suara kokokan ayam itu Wi Lian In segera angkat tangannya menuding kearah mana berasalnya suara kokokan ayam tersebut serunya dengan girang.

"Di sebelah sana tentu ada rumah kaum petani, ayoo kita lihat ke sana."

Kedua orang itu segera meninggalkan rumah petani yang kini sudah terbakar musnah itu.

Kurang lebih setelah melakukan perjalanan sejauh setengah li, tak salah lagi mereka sudah menemukan sebuah rumah petani, kaum petani di sana sejak pagi-pagi sudah bangun dari tidurnya dan kini hanya terlihat seorang perempuan sedang menCuoi pakaian didekat sumur.

Dengan tanpa sungkan-sungkan lagi Wi Lian In maju menghampiri perempuan itu untuk kasi hormat.

Ujarnya.

"Toa so permisi."

"Kalian ...."

Teriak perempuan desa itu mendadak dengan pandangan penuh perasaan terperanyat, dia memandang kearah Ti Then berdua kemudian meloncat bangun "Kalian datang dari mana??"

"Kami kakak beradik sedang mencari seorang famili kami, siapa tahu ketika berjalan sampai di sini sudah tersesat,Toa so tolong tanya tempat manakah ini?"

"Ooh, kiranya di sini bernama desa Thay Peng cung,"

Sengaja Wi Lian In memperlihatkan perasaan terperanyat.

"Kami kakak beradik sebetuinya mau pergi ke Tiong cing hu, entah kota Tiong cing hu terletak didaerah mana? jaraknya dari sini masih seberapa jauh?"

"Waah jauh sekali. Kota Tiong cing hu terletak di sebelah barat daya harus melakukan perjalanan selama satu hari penuh baru sampai di sana."

"Aaah, masih harus menempuh satu hari perjalanan??. kami kira kota Tiong cing hu sudah dekat dari sini"

"Kota Tiong khing hu adalah sebuah kota besar, sewaktu hamba masih muda pernah pergi satu kali, pergi ke sana waktu itu hamba harus berjalan satu hari penuh baru sampai"

"Famili kami kakak beradik bernama Cuo It sian, mungkin Toa so pernah mendengar nama dari Cuo it sian ini bukan?"

Mendengar disebutnya nama Cuo It sian ini perempuan desa itu menjadi sangat girang sekali.

"Oooh ... kiranya kalian mau mencari Cuo Lo-ya, kami penduduk dari desa Thay Peng Cun semuanya merupakan lumbung padi milik dia orang tua, sudah tentu kami tahu diri Cuo Lo-ya"

Berbicara sampai di sini sikapnya pun berubah menjadi sangat ramah sekali, sepasang tangannya yang masih basah oleh air Cucian dengan tergesa gesa digosok-gosokkan ke atas celananya kemudian dengan wajah penuh dihiasi oleh senyuman ujarnya.

"Mari ... mari . silahkan kalian berdua masuk ke dalam rumah, tentu kalian berdua belum sarapan pagi bukan ... ."

"Tidak. tidak perlu kami sudah makan."

Potong Wi Lian In dengan gugup "Terima kasih atas maksud baik dari Toa so, kita harus segera berangkat"

Dengan terburu-buru mereka memberi hormat, kemudian putar badannya melanjutkan perjalanannya..sesudah melakukan perjalanan beberapa saat lamanya barulah terdengar Wi Lian In tertawa dingin.

"Heee.. hee .. kelihatannya si pembesar kota Cuo It sian tidak bisa luput dari kecurigaan kita."

Ti Then tidak langsung memberikan tanggapannya, dia termenung berpikir sejenak lalu baru jawabnya.

"Sebelum kita memperoleh bukti yang betul-betul bisa di pegang teguh, lebih baik jangan secara sembarangan menuduh kalau dialah orang manusia berkerudung itu untuk menawan dan menyekap kita..."

"Lalu apa rencanamu dari sekarang untuk menyelidiki urusan ini ??"

"Kembali ke kuil Sam cing Koan dulu"

"Benar"

Seru Wi Lien In menganguk.

"Kita mengupas bajingan-bajingan toosu itu terlebih dulu, jikalau mereka sudah mengaku kalau pemimpin mereka adalah Cuo It sian, kita bisa bawa mereka untuk bertemu dengan Cuo It Sian."

"Aku pikir peristiwa kita dibikin mabok kemungkinan sekali tidak ada sangkut pautnya dengan tosu-tosu dari kuil Sam cing Koan-"

Wi Lian In menjadi melengak "Bagaimana tidak ada sangkut pautnya?? kita dibikin mabok sewaktu berada di dalam kuil, apalagi yang kirim teh itu kepada kita juga toosu-toosu dari kuil tersebut"

"Jikalau yang menjadi otak mereka adalah cuo It Sian, seharusnya mereka tahu bisa jelas dari kuil Hwesio-hwesio sukar untuk melarikan diri dari kuil tosu, mereka tidak mungkin berani memerintahkan toosu-toosu kuil itu untuk memberi obat pemabok ke dalam air teh yang bakal kita minum"

"Kalau begitu, dia sudah kirim orang lain untuk bersekongkol dengan toosu-toosu kuil Sam cing koan ??"

"Kalau misalnya betul-betul begitu"

Sahut Ti Then kemudian "Maka orang itu seharusnya mem punyai hubungan yang sangat erat sekali dengan tosu-tosu kuil Sam cing Koan, karena itu para toosu baru menyanggupi untuk membantu mereka, aku lihat tidak mungkin..tidak mungkin"

"Tetapi tidak perduli bagaimana pun juga, peristiwa dibikin maboknya kita oleh toosu-toosu kuil sam Cing Koan adalah peristiwa yang betul-betul sudah terjadi"

"Sekali pun begitu"

Bantah Ti Then lagi.

"Kemungkinan sekali otak dari peristiwa ini datang sendiri lalu kirim orang untuk secara diam-diam bercampur baur dengan toosu-tosu yang lain kemudian secara sembunyi-sembunyi memasukkan obat pemabok itu ke dalam air teh kita."

"Walau pun kemungkinan bisa begitu, tapi. ."

"Aku rasa pasti demikian"

Potong Ti Then cepat.

"Kalau memangnya demikian lalu buat apa kita pergi ke kuil Sam Cing Koan?"

"Pergi mengambil buntalan serta kuda kita"

Saat itulah Wi Lian In baru ingat kalau buntalan serta kuda tunggangan mereka masih ketinggalan di dalam kuil sam Cing Koan-segera dia tertawa.

"Ha.. haa.. aku sudah lupa kalau buntalan serta kuda tungggangan kita masih disimpan di dalam kuil sam Cing Koan-.."

Satu jam kemudian mereka berdua sudah tiba di dalam dusun dimana terletak kuil sam Cing Koan, sesudah pergi membeli obat terbakar di sebelah kedai obat barulah mereka menuju kekuil sam Cing Koan-"Tidak perduli bagaimana pun kita harus memancing-mancing pada mereka dengan pertanyaan-pertanyaan"

Seru Wi Lian in kemudian sampainya di depan kuil sam Cing Koan itu.

"Kemungkinan sekali diantara tosu-tosu yang ada di dalam kuil sekarang ini masih ada yang merupakan komplotan dari orang-orang berkerudung hitam itu."

"Sudah tentu harus ditanyai dulu, tetapi aku percaya kita tidak akan bisa berhasil memperoleh jawaban yang memuaskan hati, mari kita masuk."

Mereka berjalan menaiki tangga di depan pintu kemudian masuk ke dalam ruangan besar yang bernama sam Cing Thlen waktu itulah mereka sudah melihat si penerima tamu .

"It Cing"

Tojin menerima seorang kakek tua itu dari rakyat biasa dan kini baru berbicara, ketika dia orang melihat Ti Then serta Wi Lian In berjalan ke dalam ruangan, air mukanya seketika itu berubah menjadi amat terkejut bercampur gembira, cepat-cepat dia berdiri dan datang menyambut.

"Bukankah kalian berdua adalah sepasang kakak beradik yang kemarin hari menginap di dalam kuil kami??"

Teriaknya.

"Benar"

Jawab Ti Then sambil bungkukkan badannya memberi hormat.

"Malam itu sesudah kalian berdua bersantap. kenapa secara tiba-tiba sudah lenyap tanpa bekas?"

"Ha. ha . soal itu kami harus bertanya juga kepada Totiang yang pada malam itu mengirim santapan buat kami berdua."

"Ooooh..."

Teriak It Cing Toojin tertegun.

"Apa mungkin sian Tong sudah berlaku kurang hormat kepada kalian dan sudah berbuat salah kepada kalian berdua?"

"Oooh totiang yang malam itu kirim santapan buat kita bersama sian Tong??"

Tanya Ti Then tersenyum.

"Benar, selama ini dia sangat sopan menghadapi orang lain, tidak disangka kali ini sudah melakukan kesalahan terhadap kalian berdua, waah. dia memang seharusnya dihukum"

Ti Then segera tersenyum.

"sian Tong totiang bukannya melakukan kesalahan kepada kami berdua karena sikap serta tindak tanduknya"

"Kalau tidak"

Teriak It Cing Toojin melengak.

"Bagaimana dia sudah berbuat salah kepada kalian berdua"

Ketika Ti Then melihat dalam ruangan itu masih ada orang sedang menyambangi kuil dia tidak mau secara terus terang membeberkan kejadian yang sesungguhnya di depan orang lain sehingga membuat nama baik dari kuil sam Cing Koa bernoda, karenanya itu ujarnya kemudian.

"Dapatkah Tootiang mempersilahkah sian Tootiang untuk ikut kami berbicara di dalam kamar belakang??"

"Baiklah"

Sahut It Cing Toojin kemudian sambil mengangguk "Buntelan dari sicu berdua masih ada di dalam kamar belakang, silahkan kalian berdua menanti sebentar di dalam kamar belakang, biarlah pinto mencari sian Tong"

Ti Then mengangguk menyetujui, dengan diikuti oleh Wi Lian In mereka berdua berjalan melalui pintu samping ruangan tengah itu menuju kekamar di mana kemarin malam mereka menginap.

Ternyata kedua buah buntalan itu masih tetap terletak di atas pambaringan dengan baiknya, agaknya mereka memang betul-betul tak pernah menggeserkan buntalan itu.

Wi Lian In segera membuka buntalannya untuk memeriksa sebentar isinya, setelah itu barulah ujarnya sambil tertawa.

"Kelihatannya mereka betul-betul jujur, buntalanku sama sekali tidak dikutik-kutik oleh mereka"

"Tapi buntalanku pasti sudah diperiksa oleh mereka"

Perkataan ini baru saja di ucapkan terlihatlah It Cing Tojin serta Sian Tong Toojin sudah berjalan masuk ke dalam kamar.

Agaknya It Cing Toojin sudah mendengar apa yang diucapkan oleh Ti Then tadi, sambungnya kemudian.

"Benar, pinto memang pernah membuka buntalan dari sicu untuk diperiksa isinya karena lenyapnya kalian berdua secara tiba-tiba membuat pinto merasa tidak tenang untuk mencari tahu asal usul kalian berdua mau tak mau terpaksa kami mesti membuka buntalan kalian untuk diperiksa, harap sicu berdua tak sampai marah karena hal ini"

"Tidak mengapa, tidak mengapa..memang seharusnya begitu."

It Cing Tojin lantas menuding ke arah Sian Tong Toojin yang berada di sampingnya, ujarnya.

"Dialah sian Tong yang pada malam itu melayani sicu berdua, dia sudah berbuat salah apa sicu sekalian boleh secara langsung menegur padanya agar pinto pun bisa menyatuhi hukuman kepadanya"

Sepasang mata Ti Then dengan amat tajamnya memandang seluruh tubuh dari Sian Tong Toojin, lama sekali baru terdengar dia tertawa dingin.

"To Tiang sudah mendapatkan perintah dari siapa untuk memasukkan obat pemabok ke dalam air teh kami?"

"Sicu, kau sedang berbicara apa??"

Tanya sian Tong Toojin termangu-mangu.

"Kenapa Tootiang harus berpura-pura bodoh?"

Air muka Sian Too Toojin semakin berubah hebat, dia segera menoleh ke arah It Cing Toojin yang berdiri di sampingnya.

"Susiok"

Ujarnya dengan perasaan bingung "sicu ini sedang berbicara apa?"

Agaknya It Cing Tojin sudah dibuat terperanyat oleh perkataan tersebut, keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya, wajahnya pun berubah pucat pasi serunya lagi sambil memandang kearah diri Ti Then-"Jadi maksud sicu air teh yang pada malam itu dikirim sian Tong kekamar kalian sudah ditaruhi obat pemabok di dalam?"

"Sedikit pun tak salah."

Sahut Ti Then dengan amat dingin "setelah kami minum air teh itu tak lama kemudian jatuh tak sadarkan diri, sewaktu sadar kembali ternyata kami sudah dikurung di sebuah ruangan di bawah tanah"

"Hal ini sungguh-sungguh sudah terjadi?"

Teriak It Cing Toojin dengan perasaan terkejut.

"Sampai pagi hari inilah kami baru berhasil melarikan diri dari dalam ruangan bawah tanah itu, Tootiang, kau bisa melihat sendiri bukan dari dandanan serta pakaian kami yang kotor dan koyak ini."

"Tetapi siauwte tak pernah melakukan pekerjaan semacam ini."

Seru Sian Tong Toojin keras-keras. Ti Then tertawa dingin.

"salah satu dari ketiga orang berkerudung hitam yang menculik dan mengurung kami itu sudah mengaku kepada kami."

"Dia bilang siauw te yang menaruh obat pemabuk itu ke dalam air teh kalian?"

Teriak sian Tong Toojin dengan amat gusar.

"Tidak salah"

"Omong kosong."

Teriak Sian Tong Toojin sambil mencak-mencak saking gemasnya.

"Dia sedang memfitnah aku, sekarang dia ada dimana?? Ayoh kita cari dia untuk diajak beradu muka dengan aku."

"Dia sudah aku lukai bagian lehernya kini masih berada di tempat itu."

"Kalau begitu"

Ujar sian Tong Toojin dengan amat gusarnya "Mari kita bersama-sama pergi cari dia, di hadapan kita semua boleh kalian tanyakan, siauw te mau lihat dia masih berani mengoceh tak karuan tidak"

"Sebetulnya siapakah mereka itu? Kenapa mau menculik kalian berdua?...."

Tanya It Cing Toojin kemudian-Ti Then berdiam diri tak menyawab, dia tahu sian Tong Toojin memang benar-benar tidak tersangkut di dalam urusan ini karenanya dia pura-pura tak mendengar.

"Demikian pun baik juga."

Ujarnya kemudian.

"cayhe akan pergi ke sana untuk membawa dia orang datang kemari, aku mau lihat dia yang sedang memfitnah diri Too tiang atau Too tiang yang sedang berbohong bagaimana?"

"Bagus sekali, hal ini memang jauh lehih bagus, kebersihan hati siauw te bagaimana bisa dirusak orang dengan seenaknya, sicu cepat engkau tangkap dia dan bawa ke sini agar semua orang bisa menjadi jelas. Hmm... h mm... kurang ajar... kurang ajar..."

Ti Then segera menyinying buntalannya dan diikat pada punggungnya, setelah itu baru tanyanya.

"Kuda tunggangan kami berdua masih di sini bukan?"

"Benar, biar siauw te pergi menuntunnya kemari."

Selesai berkata dengan tergesa-gesa dia berjalan pergi. Ti Then segera merangkap tangannya memberi hormat kepada diri It Cing ujarnya.

"Kemungkinan sekali orang berkerudung hitam itu memang dia membohong untuk memfitnah diri sian Tong Tootiang. pokoknya bagaimana keadaan yang sebetulnya biarlah cayhe sesudah membawa dia datang ke sini baru kita periksa lagi dengan lebih teliti"

"Baiklah, pinto berani pastikan kalau sian Tong tidak mungkin merupakan seorang yang begitu jahatnya, sicu silahkan pergi tawan orang itu untuk dibawa ke sini"

Mereka bertiga segera berjalan keluar dari kamar, terlihatlah sian Tong tojin sudah menuntun kedua ekor kuda itu menanti di depan pintu.

Ti Then serta Wi Lian In segera menerima kudanya masing-masing dan meloncat naik ke atas, sesudah memberi hormat kembali kepada It Cing Tojin mereka segera melarikan kudanya meninggalkan kuil sam Cing Koan.

Mereka berdua sesudah melarikan kudanya beberapa waktu lamanya baru terlihatlah Ti Then tertawa pahit.

"Coba kau lihat, betul tidak omonganku ?? mereka tentu tidak tahu urusan ini".

"Kenapa tadi kau bilang mau membawa orang berkerudung hitam itu untuk dihadapkan dengan dia orang?, bukankah orang berkerudung hitam itu sudah kau cekik mati sejak tadi-tadi?"

"Jikalau tidak berbohong mana mungkin mereka akan melepaskan kita pergi dengan begitu saja"

"Kini seharusnya kita pergi cari Cuo It sian"

"Tidak. tidak ada gunanya cari dia"

Wi Lian In menjadi melengak.

"Tidak pergi cari Cuo It sian lalu seharusnya pergi cari siapa?."

"Cari ayahmu.."

Sekali lagi Wi Lian in dibuat melengak oleh jawaban dari Ti Then ini.

"Ooooh..benar ??"

"Sekali pun yang menjadi dalang penculikan kita adalah Cuo It sian tetapi sekarang kita sama sekali tidak punya bukti apa pun, kita bisa mengapa-apakan dirinya, tidak perduli siapa orang yang menjadi dalang di dalam penculikan ini, tujuan mereka adalah hendak menggunakan kita orang sebagai tunggangan untuk memaksa ayahmu menyerahkan barang itu, makanya kita harus mencari ayahmu untuk diajak berunding, asalkan kita berhasil bertemu dengan ayahmu kemudian menanyakan lebih jelas lagi, tidaklah sukar bagi kita untuk mengetahui siapa dalang yang sebenarnya."

"Ehmmm, memang beralasan juga"

Jawab Wi Lian In kemudian sambil mengangguk "Tetapi entah sekarang Tia sudah tiba diistana Thian Teh Kong belum?"

"Kita berangkat sekarang juga, kemungkinan sekali bisa bertemu dengan beliau"

"Aku punya satu pendapat, bagaimana kalau kits kembali kedesa Thay peng sun untuk melihat-lihat keadaan di sana?"

"Tidak salah"

Seru Ti Then, segera di teringat akan sesuatu hal kembali.

"Mari kita berangkat sekarang juga, kemungkinan sekali di sana kita bisa bertemu dengan pihak lawan"

"Selain itu masih bisa mencari kembali pedang kita, kita mau pergi keistana Thian Teh Kong seharusnya mem punyai pedang yang menggembel dibadan kita."

"Baiklah, ayoh kita cepat berangkat"

Mereka berdua segera melarikan kuda dengan cepat, tidak selang lama kemudian sudah berada kembali di dalam dusun Thay Peng Cung.

Pada jarak kurang lebih ratusan langkah dari depan dusun tersebut mereka meloncat turun dari kuda dengan sangat cepat, memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu.

Terlihatlah keadaan didusun tersebut sebagian besar sudah terbakar musnah, kini hanya tinggal tembok-tembok serta tiang tidak ikut terbakar berdiri serabutan, diatap asap dengan tebalnya tetapi keadaan disekitar tempat itu tidak tampak bayangan manusia pun-Agaknya Wi Lian In merasa keadaan diluaar dugaannya, serunya.

"Bagaimana di sini tidak tampak sesosok bayangan manusia pun???"

"Mari kita lihat-lihat ke sana"

Dengan jalan menyelinap mereka berdua dengan bersembunyi-sembunyi jalan mendekati perkam pungan tersebut, sesudah memeriksa disekeliling dusun itu, terasalah oleh mereka kalau disekeliling tempat itu memang betul-betul tidak tampak bayangan musuh, karenanya dengan tenang-tenang baru berani munculkan diri untuk berjalan maju ke depan.

orang berkerudung hitam dibunuh mati Ti Then tadi, kini mayatnya sudah terbakar, panasnya hawa di sana saat ini seluruh kulit badan sudah terkupas bahkan seluruh tubuhnya sudah digenangi dengan air bercampur darah yang amis sekali baunya, keadaan begitu seram dan memaksa orang mau muntah.

"Mayat ini belum pernah dipindah dari tempat semula, kelihatannya mereka belum datang ke sini"

Ujar Ti Then kemudian-"Tetapi aneh, seharusnya penduduk disekitar dusun ini tahu kalau ditempat ini terjadi kebakaran tetapi kenapa tidak ada orang yang datang??"

"Api mulai membakar ditengah malam buta, kemungkinan sekali mereka memang tidak melihatnya"

"Lalu satu keluarga dari petani yang mendiami tempat ini sudah pergi kemana?"

Potong Wi Lian In tiba-tiba. Ti Then termenung berpikir sebentar kemudian baru jawabnya.

"Ada dua kemungkinan, yang pertama sudah dibunuh oleh mereka, yang kedua sudah pindah dari tempat sini. jikalau sudah pindah lalu.."

"Lalu yang perintah mereka sudah tentu si pembesar kota Cuo It sian"

Potong Wi Lian In-"Benar"

Jawab Ti Then mengangguk.

"Cuo It Sian merupakan pemilik tanah dari perkam pungan ini, hanya dia seorang saja yang bisa memerintahkan penduduk sini untuk pindah."

"Waaaah. .waaah... celaka, pedang kita sudah tentu rusak karena terbakar"

"Pedang itu tidak mungkin bisa terbakar rusak. ayoh kita lihat-lihat di dalam sana, mungkin pedangnya masih ada."

Demikianlah mereka berdua segera masuk ke dalam rumah itu untuk mencari kembali pedang mereka, sesampainya diruangan yang sudah terbakar hangus di sana di temuinya oleh mereka lima sosok mayat yang sudah terbakar hangus.

"Ooh Thian "

Teriak Wi Lian In dengan perasaan terperanyat.

"Kelima sosok mayat ini apakah mayat dari pemilik rumah ini?"

"Pasti benar"

Jawab Ti Then dengan wajah serius.

"Coba kau lihat diantara kelima sosok mayat adalah mayat bocah . ."

Tak tertahan lagi Wi Lian In menarik napas dingin, dengan gemas teriaknya.

"Hmm ... sungguh kejam hati bajingan-bajingan itu"

Ti Then pun mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Yang aneh, sewaktu kemarin malam kita melarikan diri dari ruangan bawah tanah kenapa tidak menemukan mereka-mereka ini?"

"Kemarin malam kita sama sekali tidak masuk ke dalam ruangan tamu ini."

"Tetapi sewaktu terjadi kebakaran seharusnya orang-orang ini berteriak minta tolong ... ."

Bantah Ti Then lagi, tapi sebentar kemudian dia sudah menjerit tertahan "HHmm, mereka berlima tentu telah di totok jalan darah bisunya sehingga tak sanggup untuk berteriak minta tolong, Heeey..sungguh mengerikan"

Wi Lian In tidak berani terlalu banyak melihat lagi, serunya kemudian-"Mari kita keluar saja."

Ti Then melakukan pencarian kembali di antara reruntuhan tembok, tetapi tetap tidak menemukan kembali kedua belah pedang mereka, akhirnya dia mengundurkan diri juga dari ruangan tamu itu untuk mencari diantara reruntuhan ditempat lainnya.

Mereka berdua dengan susah payah mencari setengah harian lamanya tetapi tetap tidak memperoleh hasil, terpaksa dengan hati kesal Ti Then berdua berhenti mencari.

Ti Then mengambil keluar bubuk obat dan membubuhinya pada luka Wi Lian In kemudian membubuhi juga pada kakinya sendiri, setelah itu baru ujarnya.

"Aku lihat di dalam waktu yang sangat singkat tidak mungkin kita memperoleh hasil, kita tak usah menunggu lagi, sekarang juga kita berangkat ke istana Thian Teh Kong."

"Baiklah, aku mau berganti pakaian dulu tolong kau jagakan jikalau ada orang datang cepat-cepat beritahu padaku"

"Jadi maksudmu sewaktu kau berganti pakaian aku tidak usah menutup mataku?"

Goda Ti Then sambil tertawa.

"cis ... jangan omong sembarangan aku mau berganti pakaian di belakang runtuhan tembok itu,tapi kau jangan ngintip lho, kalau tidak... awas aku pukul kau."

"Kita sekarang sudah jadi suami istri, buat apa kau begitu rikuh-rikuh terhadap aku orang??"

"Bukan suami istri, tapi calon suami istri"

Bantah Wi Lian In dengan serius.

"Kemarin malam aku sudah berbicara sangat jelas, jikalau kita mati maka boleh dianggap kita sudah menjadi suami istri, tetapi kalau tidak mati kita harus undurkan sebutan kita sebagai calon suami istri."

"Omongan apa itu??"

Seru Ti Then sambil menghela napas panjang-panjang "Aku sungguh menyesal kenapa kemarin malam tidak terbakar mati saja?"

Wi Lian In segera tertawa cekikikan, dia melepaskan buntalannya dan berjalan ke balik reruntuhan tembok untuk berganti pakaian-"Cepat sedikit, aku juga mau berganti"

Wi Lian In yang di balik runtuhan tembok segera menyawab.

"Kenapa kau tidak berganti pakaian di sana saja??"

"Waaah tidak bisa .. .tidak bisa, jika ada orang datang aku harus lari kemana??"

"Kau seorang lelaki takut apa lagi?"

Seru Wi Lian In sambil tertawa geli.

"Orang lelaki tidak takut orang lelaki tapi takut dengan orang perempuan, jikalau secara tiba-tiba datang seorang nona dan waktu itu aku sedang telanyang .. waah kemana aku harus lari??"

"Hmmm, kamu orang sedang mimpi yaa?"

Teriak Wi Lian In sambil tertawa terus. Ditengah percakapan itulah dia sudah selesai berganti pakaian dan berjalan keluar dari balik runtuhan tembok. Ti Then segera melepaskan buntalannya sendiri.

"Sekarang giliranku, kau jangan mengintip aku ganti pakaian lho"

Serunya sambil tertawa Air muka Wi Lian in seketika itu juga berubah menjadi merah padam.

"Cis..siapa yang mau mengintipkan ganti pakaian??"

Sambil tertawa Ti Then berjalan ke balik runtuhan tembok kemudian melepaskan semua pakaiannya yang sudah kotor, siapa tahu baru saja dia memakai celananya mendadak terdengar Wi Lian in yang ada diluar sudah berteriak.

"Aduh celaka ada orang datang"

Seketika itu juga Ti Then menjadi kelab akan, tanpa memakai pakaian atasnya lagi dengan badan setengah telanyang dia berlari keluar.

"Dimana..dimana??"

Tanyanya gugup, seketika itu juga Wi Lian In tertawa cekikikan sehingga badannya terbungkuk-bungkuk .

-ooo00000ooo-Dua hari kemudian mereka sudah tiba dekat dengan gunung Kim Hud san-dimana terletaknya istana Thian Teh Kong, dari jauh hanya terlihatiah pegunungan yang saling bersambungan menembus awan.

Jika dilihat dari kejauhan puncak Kim Hud san semuanya ada empat buah, lingkar melingkar sambung menyambung laksana naga yang sedang tertidur keadaannya amat megah sekali.

Tak terasa lagi Wi Lian In sudah memuji.

"Gunung Kim Hud San inijauh lebih bagus dari pada gunung Kiam Teng san."

"Aku dengar di atas gunung ada tempat-tempat pesiar yang bagus-bagus dan indah sekali seperti kuil Lian Hia si, si Ci Gi, gua sak Gouw Tong, gua Ku Hud Tong dan lain-lainnya. Katanya dahulu sering banyak pelancong yang berpesiar ke sana. ."

"Lalu sejak si anying langit rase bumi mendirikan istana Thian Teh Kong di sana kaum pelancong jarang yang berani ke sana?"

"Benar."

Sahut Ti Then mengangguk.

"Bukan saja kaum pelancong tidak berani berpesiar ke sana, sampai pada hwesio yang berdiam di dalam kuil di atas gunung pun pada meninggalkan gunung, mereka tidak berdiam menjadi satu dengan kaum perampok."

"Hmmm si anying langit rase bumi sungguh buas sekali."

Maki Wi Lian In dengan gusar.

"Mereka tidak pergi ke tempat lain justru datang ke sini merusak pemandangan indah.".

"Bukan begitu saja"

Tambah Ti Then lagi.

"Aku dengar semua kuil yang ada digunung sekarang ini sudah dijadikan sarang perampok oleh mereka."

"Lalu istana Thian Teh Kong didirikan di sebelah mana?"

"Mungkin tidak jauh dari si ci Go tetapi tempat yang sejelasnya aku sendiri juga tidak tahu"

"Jarak waktu dengan saat perjanyian masih ada dua hari lamanya, kini kita mau langsung naik ataukah menanti Tia di bawah gunung saja?"

"Siang hari menunggu di bawah gunung"

"Kalau malam naik ke gunung melakukan penyelidikan?"

Sambung Wi Lian In sambil tersenyum.

"Benar."

Jawab Ti Then sambil mengangguk "Si rase bumi Bun Jin Cu kini sudah kehilangan suaminya, dengan kepandaian serta kekuatan anak buahnya dia tidak mungkin berani menantang ayahmu secara terang-terangan, kemungkinan sekali mereka sudah pergi mengundang jago-jago Bu lim lainnya untuk mereka di dalam pertempuran kali ini atau mungkin juga dia sudah mengatur jebakan buat kita agar kita terpancing, karenanya kita harus naik ke atas gunung untuk mengadakan penyelidikan terlebih dahulu."

Wi Lian in segera angkat kepalanya memandang keadaan cuacanya lalu baru ujarnya.

"Sekarang masih ada waktu satu jam baru malam hari menjelang datang, lebih baik kita cari suatu tempat yang baik untuk istirahat."

Ti Then segera pentangkan matanya memandang keadaan sekeliling tempat itu, terlihatlah di sebelah kiri diantara rentetan pegunungan yang melingkar terdapat sebuah hutan yang sangat lebat sekali, serunya kemudian sambil menuding kearah sana.

"Mari kita ke sana saja."

Sewaktu naik gunung mereka berdua sudah menitipkan kuda tunggangan mereka pada rumah kaum tani disekitar tempat itu, karenanya gerak geriknya mereka sekarang jadi lebih lebih leluasa, hanya di dalam beberapa kali loncatan saja mereka berdua sudah berada di dalam hutan yang lebat itu.

"Kita bersembunyi di dalam hutan yang begini lebat, jikalau Tia datang apa dia orang tua bisa melihat kita?"

Ujar Wi Lian In kemudian sesampainya di dalam hutan itu.

"Bisa, tempat ini merupakan jalan gunung untuk menuju ke atas gunung."

"Buat sementara orang lain tentu akan menggunakan jalan ini tetapi buat ayahku belum tentu"

Ti Then segera tersenyum.

"Tidak ayahmu pasti bisa menggunakan jalan ini untuk naik gunung."

"Alasanmu."

"Karena ayahmu merupakan seorang yang suka terus terang, jikalau dia naik gunung untuk memenuhi janyi pastilah dia akan secara terang-terangan naik gunung, tidak mungkin dia orang tua mau naik gunung secara sembunyi-sembunyi."

Ketika Wi Lian In mendengar dia orang sedang memuji ayahnya dalam hati lantas merasa sangat gembira sekali, tanpa terasa lagi dia sudah melemparkan satu senyuman manis kepadanya.

"Perkataanmu sedikit pun tidak salah. Tia memang seorang lelaki yang demikian-"

Ti Then tersenyum, tambahnya kemudian-"Tetapi kemungkinan sekali kita tidak bisa bertemu dengan ayahmu jika terus menanti di sini"

"Perkataanmu kenapa begitu plin plan?"

Seru Wi Lian In melengak.

"Kemungkinan sekali si otak dari penculikan diri kita itu sama sekali tidak tahu kalau kita sudah melarikan diri Wi Lian In segera merasa perkataannya sedikit pun tidak salah, tak terasa lagi dia mengangguk.

"Ehmm jika memang betul-betul begitu, bilamana Tia sudah mendengar kalau kita tertawan kemungkinan sekali sudah membatalkan datang ke sini untuk memenuhi undangan dari pihak istana Thian Teh Kong"

Sinar matanya yang amat indah itu berkedip-kedip sebentar kemudian dengan merasa kuatir tambahnya.

"Lalu bagaimana kita sekarang??"

"Biar aku seorang diri naik ke atas gunung untuk memenuhi undangan"

"Lalu aku??"

"Pergi cari ayahmu."

"Kau suruh aku pergi kemana mencarinya?"

"Sebelum si otak penculikan itu mau menggerakkan ayahmu, dia tentu membiarkan ayahmu melihat diri kita terlebih dulu. Karenanya kau harus menuju ke dusun Thay Peng cun sana."

"Tetapi"

Bantah Wi Lian In lagi "Dengan seorang diri kau naik ke atas gunung untuk memenuhi undangan, apakah kamu orang sudah merasa punya pegangan untuk mengalahkan si rase bumi Bun jin Cu beserta anak buahnya??"

"Jika mereka menyerang satu persatu aku merasa masih punya kekuatan untuk menghalau mereka, bilamana mereka bergerak secara bersama-sama tidak kuat jauh lari dengan kedua belah kakiku ini."

"Tidak"

Sekali lagi bantah Wi Lian In.

"Malam ini kita masih menyelidiki dulu keadaan istana Thian Teh Kong kemudian baru balik ke sini menunggu Tia, bilamana lusa masih belum datang untuk memenuhi janyi hal itu berarti Tia sudah ikut si penculik itu pergi ke perkam pungan Thay Peng cun itu, kita harus berusaha bertemu dengan sirase bumi Bun jin Cu untuk mengundurkan perjanyian ini, setelah itu bersama-sama pergi mencari Tia."

"Demikian pun baik juga, tetapi malam ini biar aku seorang diri saja yang pergi mengintip. kau lebih baik tunggu saja di sini."

"Kenapa ??"

Seru Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.

"Jika seorang diri saja yang mengintip maka keadaan kita sukar diketatui oleh mereka, jikalau kita harus pergi bersama-sama, bilamana sampai ketemu waahh sulit buat kita untuk menolong dari jebakan si rase bumi Bun Jin Cu."

"Tidak aku juga mau ikut"

"Baik"

Seru Ti Then setengah mengancam "Bilamana kau tidak mau mendengar omonganku, sesudah kembali kebenteng Pek Kiam Po aku segera minta berhenti dari ayahmu"

Mendengar ancaman itu Wi Lian In jadi gugup.

"Baik . .... baik"

Serunya cepat.

"Aku mendengar omonganmu, aku mendengar omonganmu"

Ti Then segera tersenyum.

"Calon istriku yang paling cantik, sekarang silahkan mengambil keluar rangsum kita, bagaimana kalau kita makan bersama-sama .??"

Mereka berdua lalu mendahar rangsum tersebut setelah itu saling berpelukan dan bermesraan, lama sekali di bawah pohon yang rindang. Tiba-tiba terdengar Wi Lian In menghela napas panjang.

"Haay ... malam begitu cepat datang."

"Heehh ... kenapa ???"

Saru Ti Then melengak. Wi Lian In segera tersenyum malu, kepalanya ditundukkan rendah-rendah.

"Kau mau berangkat kapan?? "

"Sebentar lagi, dari sini untuk mencapai istana Thian Teh Kong masih ada setengah hari perjalanan-"

Perlahan-lahan Wi Lian In menyatuhkan dirinya kembali ke dalam pelukannya, ujarnya sambil memejamkan sepasang matanya.

"Lebih baik kau berangkat pada kentongan pertama saja, si rase bumi Bun Jin Cu tentu sudah mengatur banyak penjagaan di sekeliling istananya, kalau pergi terlalu pagi malah lebih mudah di ketahui oleh mereka"

Perlahan-lahan pada wajahnya terpancarkan suatu sinar kebahagian, sinar tersebut tentu bisa ditemui di wajah setiap nona yang sedang terjerumus di dalam lembah percintaan, karena hal inilah Ti Then segera tahu kenapa dia minta dirinya berangkat sesudah kentongan pertama, dia bukan merasa kuatir atas keselamatan dirinya kalau sampai diketahui oleh anak buahnya si rase bumi Bun Jin cu melainkan dia mengharapkan bisa bergumul dan bermesra-mesraan lebih lama lagi dengin dirinya.

Jilid 20.2 Terperangkap di istana Thian Teh Kong Setiap kali dia menghadapi "Rasa cinta yang demikian tebalnya"

Ini Ti Then selalu merasa seperti meneguk secawan arak yang manis bercampur rasa pahit, dalam hati dia merasa girang juga merasa murung, karena dalam pikirannya segera terbayang kembali olehnya kalau dia hanya menerima perintah dari seseorang..dia cuma sebuah patungnya saja.

Tanpa terasa lagi tangannya mulai mengusap wajahnya yang halus itu, sembari merasakan kenikmatan dari perasaan cintanya yang berkobar-kobar ini dalam hatinya merasa perih juga seperti diiris-iris oleh beribu-ribu golok.

Tetapi Wi Lian In sama sekali tidak mengetahui akan hal ini, pada wajahnya terbayang suatu senyuman yang sangat gembira, ujarnya sambil tertawa ringan-"Aku punya usul.

"Usul apa?"

Tanya Ti Then melengak.

"Selesai kita membereskan urusan di sini kita langsung pulang ke dalam Benteng saja, sewaktu kau bertemu dengan si locia itu pelayan tua kau bisa secara diam-diam kasi tanda kepadanya. ."

Untuk beberapa waktu lamanya Ti Then dibuat bingung oleh perkataannya yang tidak ada ujung pangkalnya ini.

"Beri tanda apa kepada si Lo-cia..???"

"Hmm, kau pura-pura bodoh."

Seru Wi Lian In dengan manyanya, sedang tangannya dengan perlahan mencubit kakinya Ti Then-"Oooh. ."

Ti Then segera paham apa yang sedang dimaksudkan-.

"Kau minta aku suruh si Locia mewakili aku pergi meminang dirimu??"

"Si Locia sangat suka kalau kita orang bisa bersatu, dia tentu mau membantu kamu orang."

"Tapi aku tidak bisa omongnya."

"Tidak usah terus terang, secara diam-diam saja kau beri tanda kepadanya"

"Bagaimana caranya?"

Tanya Ti Then lagi.

"Sewaktu lain kali dia mengungkat kembali hubungan diantara kita berdua, kau bolehlah berkata kepadanya sambil tertawa.

"Locia, kau cuma bicara di mukaku terus apa gunanya?, sesudah dia mendengar perkataanmu ini dia toh punya pikiran untuk menjadi mak comblangnya, walau pun dia cuma seorang pelayan saja, tetapi dia sudah turut dengan ayahmu selama puluhan tahun lamanya, perkataannya Tia tidak akan menganggapnya sebagai angin lalu"

"Bilamana ayahmu tidak setuju?"

Tanya Ti Then sambil tertawa.

"Tidak mungkin, bilamana Tia menolak dia orang tua tidak mungkin bisa membiarkan kita berdua melakukan perjalanan bersama-sama pada kali ini."

"Bilamana ayahmu bermaksud untuk menjodohkan kau kepadaku, kenapa tidak tunggu saja sampai dia bilang sendiri?"

Wi Lian in tidak bisa berbuat apa-apa lagi, tak terasa lagi sambil tertawa malu dia mencubit kembali kaki Ti Then berulang kali.

"Baiklah"

Serunya dengan gemas.

"Sudah..sudahlah, aku sama sekali tidak memaksa."

"Lian In"

Seru Ti Then kemudian sambil menghela napas panjang.

"Sekali lagi aku mau berbicara aku betul-betul suka padamu tetapi kemungkinan sekali pada satu hari kau bisa mengetahui kalau aku bukanlah seorang yang baik."

Wi Lian In pun ikut menghela napas panjang.

"Andaikata seperti apa yang kau katakan, di kemudian hari kau berbuat tidak baik kepadaku, waktu itu aku mau menerimanya dengan rela hati, bajingan itu selamanya tidak pernah mengatakan begitu, dia selalu bilang kalau dia jadi orang sangat jujur, sangat pendiam sangat berbudi dan bagaimana cintanya kepadaku. ."

Setelah mendengar perkataan ini Ti Then semakin merasa menyesal, dalam hati segera dia mengambil satu keputusan pikirnya.

"Dia begitu cinta dan menaruh hatinya kepadaku, bagaimana aku tega mempermainkan dirinya?? Heey. sudah. .sudahlah, lain kali jikalau majikan patung emas perintahkan aku untuk melakukan pekerjaan yang merugikan mereka ayah beranak. sekali pun harus binasa aku juga tidak melakukannya."

Sesudah mengambil keputusan ini, hatinya pun terasa begitu leganya, mendadak dia ulurkan tangannya mengangkat kepalanya ke atas kemudian kirim sebuah ciuman mesra ke atas bibirnya.

Wi Lian In sama sekali tidak menduga dia bisa berbuat demikian, seketika itu juga dia dibuat kelabakan, tetapi hal ini pun merupakan suatu kejadian yang sangat diinginkan sejak dahulu karenanya dia hanya memberi sedikit perlawanan kemudian berdiam diri membiarkan Ti Then melakukan penyerbuannya.

Suasana yang manis dan mendebarkan hati itu hanya di dalam sekejap saja sudah berlalu, kentongan pertama kini menjelang di depan mata, terpaksa dengan hati berat Ti Then mendorong badannya ke samping lalu bangkit berdiri "Sekarang aku harus berangkat"

Ujarnya perlahan.

"Ti Toako, biarkan aku mengikuti dirimu?"

Mohon Wi Lian In segera.

"Tidak. kau harus menanti di sini."

"Woow..kamu orang. ."

Seru Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.

"Aku tidak ingin kau pun menempuh bahaya, aku juga tidak mau membiarkan si rase Bumi Bun Jin Cu menawan dirimu karenanya terpaksa aku harus berbuat demikian-"

"Kalau begitu kapan kau baru kembali??"

"Sebelum terang tanah, bilamana sesudah terang tanah aku belum kembali juga, hal ini berarti juga aku sudah menemui sesuatu kejadian diluar dugaan, waktu itu kau harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini pergi cari ayahmu, paham tidak??"

"Tidak, jikalau kau tidak kembali aku pasti mau raik ke atas gunung mencari kau."

"Hmm"

Sahut Ti Then sambil tertawa "Jikalau benar-benar begitu tentu si rase bumi segera membagi hartanya kepada anak buah mereka."

"Soal ini aku tidak mau ikut campur"

Desak Wi Lian In tetap ngotot.

"Besoknya aku mesti bersama-sama kau orang"

"Baik..baiklah"

Sambung Ti Then dengan cepat "Urusan tidak akan berobah menjadi demikian beratnya, kau tidak usah berbicara lagi, aku mau pergi"

Baru saja dia selesai berbicara tubuhnya sudah berkelebat sejauh puluhan kaki kemudian dengan cepatnya berlari dan lenyap di balik pepohonan yang amat lebat disekitar tempat itu.

Bagaikan melayangnya seekor burung elang dengan amat cepatnya dia berkelebat menuju ke atas puncak gunung Kim Hud san, di dalam sekejap mata saja sudah berada di atas sebuah puncak bukit, sambil berdiri diam diam memandang kealam di sekelilingnya.

Terlihatlah kurang lebih satu li di punggung gunung secara samar-samar terlihatlah memancarnya beberapa titik lampu yang sangat terang, dia tahu tempat itu pasti bukanlah istana Thian Teh Kong melainkan sebuah kuil yang sudah direbut oleh orang-orang istana Thian Teh Kong.

Tubuhnya dengan berkelebat menuju ke arah dimana berasalnya sinar yang terang itu.

Tetapi sesudah berlari selama beberapa waktu lamanya mendadak dia merasakan kalau keadaan sedikit tidak beres.

Karena kini dia sudah berada kurang lebih empat lima li jauhnya memasuki gunung tetapi selama perjalanan ini dia sama sekali tidak bertemu dengan seorang penjaga pun.

Gerak geriknya sangat gesit dia cepat sekali, tetapi selama ini dia tidak lupa untuk memeriksa setiap tempat yang kemungkinan sekali ditempati sebagai pos penjagaan, tetapi setiap tempat pegunungan yang dilalui selama ini bukan saja keadaannya amat terang bahkan tidak tampak seorang penyahat pun yang berjaga ditempat-tempat yang strategis.

Keadaan seperti tidak perduli untuk orang yang berjalan malam macam apa pun tentu merasakan suatu keadaan yang tidak beres.

Atau dengan perkataan lain tidak ada penjagaan di atas gunung bukannya berarti si rase Bun Jin Cu sudah mengendorkan penjagaan terhadap serangan orang lain, melainkan dia sudah perintahkan orang agar termakan ke dalam jebakan yang membingungkan ini, dia sengaja tidak memberi penjagaan pada pos-posnya, hal ini bermaksud agar musuhnya terjerumus ke dalam jebakannya yang sudah disiapkan terlebih dahulu.

Karenanya gerak gerik Ti Then semakin berhati-hati, dia tidak berani bergerak maju secara serampangan, tubuhnya dibungkukkan rendah-rendah, kemudian dengan menggunakan pohon-pohon serta dedaunan yang tumbuh di sana sebagai penghalang pandangan, bergerak dengan sangat hati-hati sekali, dia sama sekali tidak membiarkan sinar rembulan menyinari tubuhnya sehingga meninggalkan bayangan di belakangnya, apalagi sesuatu yang membuat orang lain merasa curiga.

Sebentar dia berlari cepat, sebentar kemudian dia berhenti dan berjongkok, gerak geriknya amat berhati-hati, sesudah membuang waktu yang sangat banyak akhirnya dia berhasil juga mendekati tempat dimana berasalnya sinar lampu tadi.

Dengan terburu-buru dia menerobos ke dalam sebuah semak kemudian menongolkan kepalanya keluar, terlihatlah olehnya sebuah pemandangan yang lain daripada yang lain, bahkan hal itu membuat dia berdiri tertegun.

Apakah sinar lampu itu mendadak lenyap?

Bukan, sinar lampu masih ada, cuma yang ia lihat sekarang bukanlah sinar lampu melainkan sinar dari api yang sedang berkobar.

Di atas punggung gunung itu tidak tampak adanya kuil lagi, melainkan setumpukan puing-puing berserakan memenuhi permukaan tanah.

Setumpukan puing-puing itu diantaranya masih mengepulkan api yang lumayan besar.

Tempat itu memang betul-betul merupakan sebuah kuil, cuma sekarang kuil itu sudah terbakar hingga tinggal puing-puingnya.

Iih..sudah terjadi peristiwa apa?

Apa mungkin Wi Ci To sudah tiba?

Tidak mungkin, dia adalah seorang yang tahu aturan dan bukanlah manusia semacam dia sebelum waktunya yang sudah dijanyikan pasti tidak akan mempercepat waktunya datang ke atas gunung untuk melancarkan serangan bokongan.

Peristiwa ini tentu dilakukan oleh musuh-musuh dari si anying langit rase bumi yang sudah mendengar akan kematian dari si anying langit Kong Sun Yau dan kini sengaja datang hendak balas dendam dan membumi hangus semua tempat yang ada disekitar istana Thian Teh Kong.

Sambil berpikir keras Ti Then memandang keadaan sekelilingnya dengan lebih teliti lagi, baru saja dia mau majukan jalannya ke depan untuk melihat lebih jelas lagi mendadak dari antara pepohonan di sebelah kiri dari reruntuhan puing-puing kuil itu berjalan mendatang dua orang lelaki berpakaian singsat, keadaan dari mereka berdua amat mengenaskan sekali, pakaian mereka sudah robek-robek tidak karuan bahkan kelihatan beberapa lubang bekas terkena api apalagi badannya terluka bakar sehingga membuat gerak-gerik mereka sangat lamban sekali.

Mereka berdua dengan saling rangkul-merangkul memaksakan diri berjalan ke depan sedang dari mulutnya tidak henti-hentinya mengeluarkan suara rintihan yang memilukan hati.

Sesampainya di luar hutan di dekat runtuhan puing-puing kuil itu mereka baru menghentikan langkah kakinya, sambil memandang ke arah puing-puing yang berserakan itu mereka bersama-sama menghela napas panjang.

Terdengar salah satu diantara mereka itu sambil menghela napas panjang makinya dengan perasaan sangat gemas.

"Maknya..tidak kusangka ini hari aku bisa terjatuh sampai keadaan semacam ini."

Salah seorang lelaki dengan telinga seperti kuping gajah itu segera menyambung.

"Heeeyy....cialat...cialat...begitu Thian Cun modar semuanya juga ikut musnah."

"Hanya sayang kita sudah mengikuti Thian Cun selama puluhan tahun lamanya kini apa pun tidak mendapat."

"Itu salahnya kita sendiri, semua orang secara diam-diam membuat rencana untuk merampok semua harta benda yang ada di dalam istana sebaliknya kita malah dengan enak-enak tertidur pulas, untung saja kita cepat-cepat sadar kembali, kalau tidak...waaah...waaah..nyawa pun ikut lenyap."

"Heey..entah bagaimana keadaan di dalam istana sekarang ini?"

"Apanya yang bisa dibicarakan lagi, sudah tentu keadaannya seperti tempat ini. Semua orang dengan andalkan nyawa sendiri-sendiri pada merampok barang yang ditemui kemudian lemparkan api ke dalamnya..semuanya akan segera beres, makanya..makanya..."

"Bagaimana kalau kita ke istana sebentar untuk lihat?"

"Sudah, sudahlah tidak perlu pergi lagi, kaki kanan aku si orang tua sudah terluka bakar kini terasa begitu sakitnya, buat apa balik ke sana lagi..makanya, lebih baik kita turun gunung saja."

"Turun gunung sekarang juga?"

"Kenapa?"

"Cuaca begini gelapnya, apalagi di badan kita masih terluka, jikalau sampai jatuh bukankah keadaan kita semakin parah?"

"Tidak mungkin, ayoh kita perlahan-lahan jalan.."

Berbicara sampai di sini mereka berdua segera saling bombing membimbing untuk menuruni gunung itu dengan mengikuti jalan kambing yang ada di sana.

Ti Then sesudah melihat bayangan dari kedua orang itu lenyap dari pandangannya dia barulah bangkit berdiri, pikirnya.

"Kiranya di dalam istana Thian The Kong sudah terjadi kekacauan, kaum perampok sudah pada berontak dan kini merampok semua harta kekayaan yang tersimpan di dalam istana Thian Teh Kong."

Akhirnya seperti ini dia sama sekali tidak pernah membayangkannya, tetapi dia paham akibat ini memang seharusnya terjadi, pada waktu yang lalu pengaruh istana Thian Teh Kong bisa kuat hal ini dikarenakan kepandaian silat dari si Anying langin Kong Sun Yauw sangat liehay, karenanya anak buahnya tidak berani melawan, sebaliknya kini si Anying langit Kong Sun Yauw sudah binasa, si Rase bumi Bun Jin Cu pun sedang merasa sedih sehingga tidak ada kekuatan untuk mengurusi anak buahnya, sudah tentu banyak anak buahnya akan memberontak kemudian merampok dan melarikan diri dari atas gunung.

Akibat yang terjadi seperti ini terhadap kalangan Bu-lim memang merupakan suatu hal yang menyedihkan.

Ti Then menarik hawa segar dalam-dalam kemudian pikirnya lagi .

"Entah sirase bumi Bun Jin Cu masih ada di atas gunung atau tidak ? Aku harus naik ke atas untuk Iihat-lihat, jikalau dia masih ada di sana lebih baik aku selesaikan saja urusan ini secara pribadi."

Begitu pikiran ini berkelebat di dalam benaknya dia segera mulai menggerakkan badannya melayang menuju ke puncak gunung.

Setelah diketahui olehnya kalau di dalam istana Thian Teh Kong sendiri sudah terjadi kekacauan hal ini berarti juga tidak adanya penjagaan di atas gunung bukanlah merupakan salah satu siasat yang sedang diatur oleh sirase bumi Bun Jin Cu, karenanya dia tidak perlu menyembunyikan dirinya lagl selama di dalam perjalanan ini, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai pada kesempurnaan dia melayang terus menuju puncak gunung.

Setelah melewati gua Sak Gouw Tong serta Si Ci Go dia melanjutkan kembali perjalanannya sejauh puluhan li dan akhirnya sampai juga di istana Thian Teh Kong.

Istana Thian Teh Kong yang sudah menggetarkan seluruh dunia kangouw ini sama sekali tidak sampai dibakar oleh kaum pemberontak, tetapi depan pintu istana terlentanglah berpuIuh puluh mayat yang menggeletak memenuhi permukaan tanah, ada yang kepalanya putus, ada yang perutnya robek sehingga ususnya keluar dan lain-lain, keadaan yang begitu mengerikan, darah yang berbau amis tercecer memenuhi seIuruh permukaan tanah.

Jika dilihat dari keadaan .tersebut agaknya pertempuran sengit baru saja berhenti tidak lama.

Ti Then takut di dalam istana kemungkinan sekaIi masih tersisa kaum penyahat yang masih belum meninggaIkan tempat itu dan tidak berani langsung menerjang masuk ke dalam, setelah diperiksanya dengan amat teliti keadaan sekeliling tempat itu dan betul-betul merasa yakin kalau tidak ada musuh yang masih sisa di dalam istana itu, dia barulah berani meloncat naik ke atas wuwungan dari istana Thian Teh Kong tersebut.

Keadaan di dalam istana itu sama saja seperti keadaan diluar, mayat-mayat menggeletak diseluruh tempat agaknya karena perebutan harta kekayaan memaksa mereka saling bunuh membunuh.

Diantara mayat-mayat itu bahkan ada dua mayat yang gayanya sangat menggelikan sekali, mereka berdua sudah binasa semua,yang satu terkena tembusan pedang panjang sedang yang lain terkena bacokan pada pundak sebelah kirinya tetapi ditangan masing masing bersama sama mencekal sebuah buntalan, agaknya sesudah terluka parah dan rubuh ke atas tanah mereka masih ingin memperebutkan buntalan tersebut.

Ti Then sesudah berdiam diri untuk memperhatikan keadaan disekelilingnya beberapa saat kemudian dengan tanpa mengeluarkan sedikit suara pun dia meloncat turun dari atas wuwungan rumah.

lalu berjalan mendekati buntalan itu, terlihatlah di dalam buntalan itu kini cuma tersisa dua stel pakaian saja, agaknya intan permata yang berharga sudah disikat oleh "Nelayan Beruntung"

Yang menonton di samping.

Dia melemparkan kembali buntatan itu ke atas tanah.

kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke dalam, setelah melewati ruangan besar, ruang Teh, ruang bunga sampailah dia disebuah serambi yang amat panjang sekali bahkan dari dalam serambi itu secara samar-samar terdengarlah suara seorang perempuan sedang menangis terisak-isak.

Dia segera angkat kepalanya memandang ke sana terilhatlah di hadapannya berdirilah sebuah ruangan yang amat besar dan megah sekali, di atas ruangan itu terpancanglah sebuah papan nama bertuliskan "Khie le Tong"

Tiga huruf kata dari emas. Suara tangisan itu tidak lama berkumandang keluar dari dalam ruangan "Khie le Tong"

Itulah. Dalam hati Ti Then merasa amat terperanyat, cepat-cepat dia menyatuhkan diri berjongkok di samping sebuah tiang besar, pikirnya.

"Untung sekali masih ada seorang yang hidup, entah siapakah dia orang ?? Apakah sirase bumi Bun Jin Cu ? Ataukah dayang dari istana Thian Teh Kong?"

Dengan amat tenangnya dia memperhatikan keadaan di sana selama beberapa saat lamanya, akhirnya dia mengambil keputusan untuk masuk ke dalam mengadakan memeriksa, demikianlah tubuhnya segera bergerak menuju kearah ruangan Khie Ie Tong tersebut.

Sesampainya di samping ruangan Khie Ie Tong itu suara tangisan terisak dari dalam ruangan itu terdengar semakin jelas lagi, di atas tebing Sian Ciang di belakang benteng Pek Kiam Po tempo hari pernah mendengar suara isak tangisan rase bumi Bun Jin Cu oleh karena jtulah begitu dia mendengar suara tangisan tersebut segera diketahui olehnya kalau suara tangisan itu bukan lain berasaI dari si Rase bumi Bun Jin Cu.

"Hmmm, ternyata dia masih ada di sini."

Setelah berpikir keras beberapa waktu lamanya mendadak terdengar Ti Then berteriak .

"Orang yang ada di dalam apa benar si rase bumi Bun Jin Cu ?? Dari dalam ruangan Khie le Tong suara tangisan dari si rase bumi Bun Jin Cu segera berhenti kemudian diikuti ruangan itu menjadi terang benderang.

"Siapa ?"

Tanya si rase bumi Bun Jin Cu dengan suara yang amat dingin sekali. Ti Then segera munculkan dirinya di depan pintu Khie le Tong itu.

"Cayhe Ti Then,"

Sahutnya.

tenang.

TerIihatlah pada waktu itu si rase bumi Bun Jin Cu sedang duduk disebuah kursi kebesaran, pakaiannya tidak karuan rambutnya kacau sedang wajahnya amat pucat, begitu dilihatnya Ti Then sudah muncul di depan air mukanya tanpa terasa lagi sudah berubah sangat hebat.

Cepat-cepat dia meloncat bangun kemudian serunya dengan amat benci.

"Kiranya kamu orang."

"Entah di dalam istana itu sudah terjadi urusan apa?"

Si rase bumi Bun Jin Cu tidak memberi jawabannya, dengan pandangan mata yang rnemancarkan sinar kebencian dia pelototi diri Ti Then, kemudian sambil menggigit bibirnya dia berteriak kembali.

"Waktu perjanyan belum tiba, kau bangsat cilik buat apa datang ke sini ?"

"Aku boleh bicara terus terang padamu malam ini sebenarnya aku cuma datang ke atas gunung untuk melakukan pengintaian, siapa tahu di dalam istana Thian Teh Kong sudah terjadi peristiwa yang demikian menyedihkan karena itu terpaksa aku meneruskan perjalanan datang ke sini untuk melihat keadaan yang sebenarnya."

Sepasang alis dari Si rase bumi Bun Jin Cu segera dikerutkan rapat-rapat, sambil menggerutuk giginya dia menjerit kembali.

"Semuanya ini hasil hadiah yang kau berikan kepada kami, kedatanganmu malam ini sungguh bagus sekati bilamana aku tidak bisa menghancurkan tubuhmu sekali pun binasa mataku tidak meram."

"Hee..heee..bukankah anak buahmu sudah pada meninggalkan dirimu seorang diri?"

Ejek Ti Then sambil tertawa tawar.

"Tidak salah"

Teriak si rase bumi Bun Jin Cu sambil menghajar sebuah meja dengan amat kerasnya.

"Mereka semua memang sudah pergi, tetapi kau bangsat cilik jangan bergembira terlebih dahulu, cukup aku seorang sudah lebih dari cukup untuk bereskan dirimu."

"Aku menaruh perasaan simpatik terhadap kejadian yang kau alami, tetapi harus kau ketahui pada itu hari kejadian di atas tebing Sian Ciang jikalau aku tidak bunuh suamimu kemungkinan sekali aku sudah terbunuh oleh dirinya. ."

"Tidak usah banyak omong lagi,"

Sekali lagi teriak si rase bumi Bun Jin Cu sambil menghajar meja yang ada di sampingnya. Ti Then segera tertawa dingin.

"Aku cuma mengharapkan kau menjadi paham, istana Thian The Kong kalian bisa menjadi demikian kesemuanya dikarenakan keserakahan dirimu, janganlah kau salahkan urusan ini kepadaku."

"Tidak usah banyak omong lagi, pokoknya ini hari aku harus bunuh dirimu untuk melampiaskan kebencianku terhadap dirimu."

"Bagus sekali, aku tahu untuk selamanya kau tidak akan melepaskan aku hidup, memang lebih baik kita selesaikan urusan diri kita pada malam ini juga. Tetapi kini, seperti omonganku tadi, aku betul-betul merasa simpatik atas kejadian yang kau alami, walau pun kau Bun Jin Cu bukanlah seorang perempuan baik-baik, tetapi tidak perduli bagaimana pun kejadian yang kau alami selama satu bulan ini betul-betul membuat keadaanmu patut dikasihani."

"Telur makmu."

Maki si rase bumi Bun Jin Cu dengan gusarnya.

"Aku tidak membutuhkan rasa simpatik dari kau bangsat."

Mendengar makian yang kotor itu Ti hen. tanpa terasa sudah kerutkan alisnya rapat-rapat.

"Maksud dari perkataanku tadi, malam ini aku tidak akan membunuh dirimu, nanti bilamana terjadi pertempuran diantara kita kau boleh serang aku dengan. menggunakan cara apa pun, waktu itu aku akan bertahan saja tanpa melancarkan serangan balasan, jikalau kau berhasil membunuh mati aku, yaaah.. tidak ada perkataan lain lagi tetapi jikalau kau tidak berhasil rnembinasakan diriku maka lain kali jikalau sampai bertemu kembali, aku, tidak akan sungkan-sungkan lagi terhadap kau orang."

"Hmm..kau bangsat cilik jangan bermimpi, malam ini kau tidak akan berhasil meloloskan diri dari tanganku."

Teriak si rase bumi Bun Jin Cu sambil tertawa dingin tak henti-hentinya.

"Perkataanku kini sudah selesai, sekarang silahkan kau mulai turun tangan"

Dari balik sebuah kursi Si rase bumi Bun Jin Cu mencabut keluar sebilah pedang panjang, teriaknya sambil menudingkan pedang itu ke hadapan Ti Then.

"Kau masuklah ke sini, kita bereskan hutang-hutang kita di dalam ruangan Khie le Tong ini juga"

Ti Then sama sekali tidak mau percaya kalau dirinya bisa terluka ditangannya,..tanpa ragu-ragu lagi dia berjalan masuk ke dalam ruangan itu.

Ketika Bun Jin Cu melihat dia berjalan memasuki ke dalam ruangan mendadak berteriak kembali .

"Berhenti !"

"Ada apa??"

Tanya Ti Then tersenyum tapi dia menghentikan langkahnya juga.

"Aku mau bertanya suatu urusan..."

"Silahkan berbicara"

"Malam ini kalian datang berapa orang?"

"Cuma dua orang saja, aku serta nona Wi."

"Wi Ci To ???".

"Dia tidak datang bersama kami, mungkin lusa baru sampai didini."

Sepasang mata dari Bun Jin Cu segera berkedip-kedip tanyanya kembali.

"Dimana budak itu ?"

"Dia tidak ikut naik ke atas gunung"

"Kenapa tidak sekalian ikut ke sini??"

"Sebelum waktunya perjanyian buat apa dia datang ke sini??"

"Kini dia ada dimana ?"

"Maaf tentang pertanyaan ini cayhe tidak bisa memberikan jawabannya."

Seru Ti Then sambil tertawa. Si rase bumi Bun Jin Cu segera tertawa dingin tak henti-hentinya.

"Aku sangat mengharapkan dia ikut datang, agar dia bisa melihat dengan cara bagaimana aku menghukum rnati dirimu"

"Haaaa ..haaaaa.. tapi dia tidak punya ganyalan sakit hati apa-apa dengan dirimu.."

Sepasang mata bolanya segera berputar-putar sekali lagi dia tertawa dingin.

"Tentu dia sedang menunggu di bawah gunung, hmmm.. kini aku mau tawan dirimu terIebih dulu, jikalau lama sekali dia tidak melihat kau kembali tentu dengan sendirinya bisa naik ke atas gunung untuk mengadakan pencarian. hee ,... heee..saat itu aku mau sekalian tangkap dirinya,"

"Tidak salah pada waktu itu dia memang bisa naik ke atas gunung untuk mencari aku tetapi apa kau punya kekuatan untuk menawan aku orang ?"

"Hee..hee.. tanpa membuang banyak tenaga aku bisa tawan kau bangsat"

Mendadak Ti Then teringat kembali kalau di dalam istana Thian Teh Kong penuh dipasangi alat-alat rahasia, kemungkinan sekali di dalam ruangan Khie Ie Tong ini sudah dipasang sebuah alat rahasia yang sangat dahsyat sekali, tanpa terasa lagi dia sudah merasa amat terperanyat, cepat-cepat dia menjejak tubuhnya meloncat mundur ke belakang.

Tetapi...

dia sudah terlambat satu tindak.

Pada saat dia sedang teringat kembali untuk mengundurkan diri dari ruangan Khie le Tong itulah mendadak permukaan tanah yang diinyaknya sudah meresap ke dalam, kemudian diikuti dengan suara peletekan yang amat nyaring, permukaan tanah itu sudah membalik kearah dalam tanah.

Kiranya permukaan tanah dari ruangan Khie le Tong ini merupakan sebuah papan yang bisa berputar.

Ti Then tidak sempat untuk menghindarkan diri lagi dari kejadian itu, padahal sekali pun dia sempat meloncat mundur juga tidak mungkin bisa menghindarkan diri dari kejadian itu karena seluruh badannya kini sudah meluncur turun ke bawah dengan kecepatan yang luar biasa.

Begitu tubuh Ti Then meluncur ke bawah, papan permukaan yang ada di atasnya sudah menutup kembali seperti asalnya semula, karenanya Ti Then yang meluncur ke bawah dengan amat cepatnya itu sebelum tubuhnya mencapai permukaan tanah keadaan di sekelilingnya sudah menggelap kembali.

Dia tidak tahu, bagaimana keadaan di bagian bawahnya, tetapi dengan cepat, di dalam hatinya sudah mengambil suatu bayangan yang paling buruk yaitu dia menduga dibagian bawahnya sudah dipasang golok-golok yang amat banyak sekali menantikan kejatuhan badannya, karena itu cepat-cepat dia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya melancarkan satu pukulan dahsyat kearah bawah, pada saat yang bersamaan puIa.

dengan menggunakan tenaga pantulan itu dia berjumpalitan di tengah udara untuk kemudian melayang turun dengan amat ringannya.

Di daIam sekejap saja tubuhnya sudah mencapai permukaan tanah, pada saat kakinya mencapai tanah itulah seperti menggerakkan alat rahasia lainnya terdengarlah suara benturan yang amat keras di bagian atasnya sebuah benda besi yang amat berat sekali melayang turun menghajar kepalanya.

Ti Then menjadi amat terperanyat sepasang tangannya dengan cepat diayunkan ke atas siap-siap menerima benda yang mau menekan dirinya itu, siapa tahu pada jarak kurang lebih beberapa depa di atasnya benda itu berhenti bergerak.

Dia menghembuskan napas lega, dengan perlahan kakinya mulai bergerak ke samping sedang tangannya mulai meraba-raba, terasalah di sekelilingnya Cuma ada terali besi yang amat kuatnya.

Sebuah...dua..tiga..empat buah..mendadak dia menjadi paham, teriaknya dengan perasaan amat kaget.

"Celaka, kiranya aku dikurung di dalam sebuah sangkar besi."

Cepat-cepat dia mencekal besi-besi itu kemudian dengan sekuat tenaga ditarik-tariknya beberapa kali, walau pun sudah kerahkan seluruh tenaganya keadaan masih tetap seperti semula, bukan saja tidak cidera bahkan gemilang sedikit pun tidak.

Besarnya terali besi itu ada sebesar kepalan bocah cilik, sedang luasnya tempat itu hanya cukup buat dia berdiri saja,..dia tahu ternpat ini adalah sebuah kurungan besi yang amat kuat sekali.

Bagaimana sekarang ?

Si rase bumi Bun Jin Cu sebentar lagi tentu sudah sampai di sini .

" . Mendadak ditengah kegelapan itu tertembuslah suatu sinar yang amat terang sekali, sinar itu semakin lama semakin membesar, dengan diikuti masuknya sinar terang terdengar juga suara cicitan yang amat nyaring. Sebuah pintu batu yang amat besar dengan perlahan-lahan bergeser kearah sebelah kiri. Ketika seluruh pintu batu itu sudah bergeser ke samping, sinar terang memancar masuk memenuhi seluruh ruangan, dia bisa melihat keadaan disekelilingnya dengan amat jelas sekali bahkan melihat juga si rase bumi Bun Jin Cu yang berdiri di depan pintu. Sedikit pun tidak salah, dia memang sudah terjerumus di dalam sebuah sangkar terbuat dari besi. Pada tangan Bun Jin Cu menenteng sebuah lampu yang tahan terhadap angin sedang wajahnya penuh dengan senyuman puas sedang memandang dirinya, mendadak terlihatlah tangannya menekan sebuah tomboI pada dinding di sampingnya kemudian serunya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Hey bangsat cilik, ayoh kemari."

Sangkar dari besi itu dengan perlahan-lahan segera bergeser ke depan dan terus bergerak sampai pada ujungnya yang persis ada di hadapan dari dari si rase bumi Bun Jin Cu.

Bun Jin Cu segera meletakkan Iampu yang ada ditangannya ke atas tanah kemudian sambil bertolak pinggang, ejeknya dengan suara yang amat dingin.

"Bagaimana ? Hey bangsat, kau punya perkataan apa lagi ?"

"Tidak ada yang bisa dibicarakan lagi, sekarang aku sudah terjatuh ke tanganmu, mau dibunuh mau disiksa sesukamu.".

"Kau sudah bunuh suamiku, mencelakakan kami orang-orang istana Thian Teh Kong sehingga berantakan, aku tidak akan memberikan kematian yang terlalu cepat buat kamu orang, aku mau menggunakan bermacam-macam cara siksaan untuk menyiksa kamu, aku mau membuat kau binasa perlahan-lahan, binasa sepotong demi sepotong"

"Apa itu binasa secara perlahan-Iahan, binasa sepotong demi sepotong?"

Tanya Ti Then sambil tertawa pahit.

"Nanti kau akan tahu dengan sendirinya."

"Besok lusa Wi Pocu sudah sampai di sini, jika kau mau menghukum mati diriku lebih baik cepat sedikit."

"Hmmm.."

Dengus Bun Jin Cu dengan amat dinginnya.

"Kau masih mengharapkan ada orang yang dating menolongmu keluar dari sini?"

"Bilamana Wi Pocu tahu kalau aku sudah kau tawan sudah tentu akan berusaha untuk menolong aku."

"Betul!"

Seru si rase bumi Bun Jin Cu sambil tertawa dingin.

"Tetapi selamanya dia tidak akan berhasil."

"Hee..soal ini lebih baik kita tunggu saja di kemudian hari."

Bun Jin Cu tidak berbicara lagi, pada sebuah tempat di atas dinding dia menekan lagi sebuah tombol alat rahasia, setelah itu dengan tenangnya dia meninggalkan tempat tersebut.

Semula Ti Then menganggap tentunya dia akan menggerakkan alat rahasia untuk mengembalikan sangkar besinya ketempat semula, tetapi segera dia merasa keadaan sedikit tidak beres karena begitu dia menekan tombol tersebut sangkar besi dimana dia berada bukannya mundur ke belakang melainkan meluncur kembali ke bawah, Kurang lebih sesudah menurun sejauh tiga empat depa dalamnya mendadak permukaan sangkar besi itu sudah terendam di dalam air yang sangat dingin, kiranya di bawah permukaan tanah itu merupakan sebuah kolam air yang sangat dingin.

Sangkar besi itu meluncur turun terus ke bawah sehingga air yang merendam badan Ti Then setinggi lehernya, dalam hati dia benar-benar merasa berdesir pikirnya.

"Oooh...Thian, sebetulnya dia mau berbuat apa terhadap diriku dengan merendam badanku ke dalam kolam?? mau menenggelamkan badanku ataukah agar badanku menjadi hancur ?"

Kelihatannya dia punya maksud untuk menenggelamkan seluruh badannya, karena ketika air sudah mencapai pada lehernya sangkar besi itu masih terus meluncur ke bawah sehingga seketika itu juga air kolam melampaui kepalanya.

Dengan tergesa-gesa dia merambat naik ke atas sangkar besi itu untuk menongolkan kepalanya ke atas permukaan air, siapa tahu sangkar besi itu tidak berhenti sampai di situ saja akhirnya sangkar besi itu berhenti pada dasar kolam.

Kini dia terkurung di dalam sangkar, untuk keluar sudah tidak mungkin lagi karena seluruh tubuhnya sudah terkurung di dalam air sedang pernapasannya pun mulai terasa amat sesak.

Seperti seekor tikus yang terjatuh ke dalam air dengan gugup dia bergerak ke sana kemari berusaha membuka penutup dari sangkar besi itu, tetapi walau pun dia sudah berusaha dengan menggunakan seluruh tenaga dalamnya tetap tidak memperoleh hasil yang diinginkan, beberapa waktu kemudian dia mulai terasa napasnla habis, tanpa bisa dicegah lagi dia mulai membuka mulutnya meneguk air kolam itu.

Satu detik kemudian dia tidak bisa bergerak lagi, tubuhnya dengan amat tenangnya menggeletak pada dasar kolam ..jatuh tidak sadarkan diri.

XXX Waktu itu Wi Lian In sedang menunggu di bawah pohon dengan amat tenangnya, dia rnerasakan hatinya amat kesepian tetapi sedikit pun tidak merasa kuatir atas keselamatan dari Ti Then, karena dia percaya dengan kepandaian silat yang dimiliki Ti Then sekarang ini dia masih sanggup untuk menghadapi segala mara bahaya.

Sepasang tangannya dipangku di depan dadanya sedang kepalanya didongakkan memandang rembulan yang terpancang ditengah awan, pada benaknya terbayang kembali berbagai pemandangan indah semasa lalu, terbayang olehnya juga keadaan sewaktu benteng Pek Kiam Po mengadakan perayaan buat perkawinannya dengan Ti Then, bagaimana para tamu pada berdatangan untuk memberi selamat sehingga seluruh Benteng penuh sesak, ayahnya dengan senyum manis menarik tangannya Ti Then untuk dikenalkan pada tamunya satu persatu...

Mendadak segulung awan gelap menutupi cahaya rembulan membuat cuaca menjadi sangat gelap, seketika itu juga dia menjadi sadar kembali dari lamunannya.

Pada saat itulah mendadak dia merasakan seseorang dengan perlahan lahan mendekati badannya, dalam hati diam-diam dia merasa sangat girang pikirnya.

"Tentu dia sudah kembali, tentu dia sudah datang. Hmmmm,dia mau memeluk aku dari belakang agar aku menjadi kaget."

Karena itu dia tidak bergerak lagi, dengan pura-pura tidak tahu dia tetap berpangku tangan duduk di sana.

Perasaannya sedikit pun tidak salah, di belakang badannya memang benar-benar ada seseorang yang mulai berjalan mendekati badannya, cuma saja orang itu bukan Ti Then melainkan adalah seorang yang berkerudung hitam.

Orang berkerudung hitam ini bukanlah orang yang sudah melarikan diri sewaktu ada di perkam pungan Thay Peng Cung melainkan orang lain.

Tubuhnya tinggi bahkan kelihatan gemuk sekali, sepasang matanya memancarkan sinar yang amat tajam, jika dilihat dari gerak-geriknya jelas sekali kepandaian silatnya berada jauh di atas kedua orang berkerudung hitam yang melarikan diri dari perkam pungan Thay Peng Cung tempo hari itu.

Dengan perlahan-lahan dia menggeserkan badannya mendekati Wi Lian In yang sedang duduk terpekur, agaknya dia punya maksud untuk menawan diri Wi Lian In secara tiba-tiba.

Akhirnya dia sudah mencapai pada kurang lebih tiga depa dari diri Wi Lian In.

Tampak tangan kanannya dengan perlahan-lahan diangkat ke atas sehingga terlihatlah lima jarinya yang seperti kuku garuda, dengan perlahan dia mulai mendekat tubuh Wi Lian In dan mengancam jalan darah Cian Cing Hiat-nya.

Pada saat yang bersamaan pula mendadak Wi Lian In putar badannya menubruk kearah sepasang kaki dari "Ti Then"

Sambil serunya genit.

"Haa....haaa..mau menggoda aku yaah?"

Orang berkerudung itu sama sekali tidak menyangka dia bisa melancarkan serangan ini dengan cepat sepasang kakinya menutul permukaan tanah kemudian meloncat mundur sejauh tujuh delapan kaki dari tempat semula.

Ketika Wi Lian In melihat orang itu bukanlah Ti Then dalam hati juga merasa terperanyat, dengan gugup dia meloncat bangun kemudian teriaknya.

"Siapa kau?"

Walau pun di dalam keadaan terperanyat dan gugup tetapi dia bisa melihat kalau pihak lawannya bukanlah anak buah dari si rase bumi Bun Jin Cu (Karena anak buah dari si rase bumi Bun Jin Cu tidak perlu menggunakan kain kerudung segala), juga dia tahu orang ini bukanlah orang berkerudung hitam yang melarikan diri tempo hari sewaktu ada di dalam perkam pungan Thay Peng Cung.

Ketika orang berkerudung hitam itu mendengar perkataannya ditambah lagi melihat perubahan wajahnya yang amat terperanyat bercampur gugup segera tahu kalau tadi dia sudah salah menganggap dirinya sebagai Ti Then, tanpa terasa lagi dia tertawa terbahak-bahak.

"Kau kira aku siapa? Kekasihmu Ti Then? He..hee..."

Wi Lian In benar-benar merasa malu, gusar bercampur kaget, segera dia maju satu langkah ke depan, kemudian bentaknya dengan nyaring.

"Siapa kamu orang?"

Orang berkerudung hitam itu tetap tidak bergerak, dia hanya tertawa dingin tak henti-hentinya.

"Aku datang khusus hendak menyampaikan sebuah kabar buruk, kekasihmu Ti Then sudah binasa di dalam istana Thian Teh Kong."

Wi Lian In benar-benar merasakan hatinya tergetar sangat keras sekali, air mukanya berubah menjadi pucat pasi sedang suaranya pun rada gernetar.

"Kau ... kau orang dari istana Thian Teh Kong?"

"Tidak salah"

Jawab orang berkerudung hitam itu mengangguk. -ooo0dw0ooo-

Jilid 21.1 . Wi Lian In juga terjebak Walau pun dalam hati Wi Lian In merasa amat terperanyat, tetapi dengan perasaan curiga tanyanya pula "

Bilamana kau anak buah dari istana Thian Teh Kong kenapa mukamu kau tutupi dengan kain kerudung?"

"Hee ?. hee .. karena akulah majikan yang baru dari istana Thian Teh Kong"

"Hmmmm"

Dengus Wi Lian In dengan amat dingin.

"Kecuali Si rase bumi Bun Jin Cu sudah modar, kalau tidak dari istana Thian Teh Kong tidak akan muncul pemimpin baru."

"Ha..ha.. kau bodoh, bodoh amat, sekarang si rase bumi Bun Jin Cu kan sudah menjadi istriku."

Mendengar perkataan ini Wi Lian In semakin terperanyat, pikirnya.

"Jikalau si rase bumi Bun Jin Cu itu benar-benar sudah mendapatkan seorang suami yang baru maka sebagai pemimpin baru dia mem punyai cara berpikir yang berbeda pula, dia memang mirip sekali dengan lagak seorang pemimpin."

"Omong kosong "

Teriaknya kemudian sembari berusaha menenangkan pikirannya.

"Bun Jin Cu baru saja kehilangan suaminya, dia tidak mungkin mau mencari suami yang baru sebelum suaminya dikubur satu bulan lamanya"

"Tetapi dia mau tidak mau terpaksa harus berbuat demikian "

Sahut lelaki berbaju hitam yang berkerudung itu.

"Karena dia sangat memerlukan bantuan dari seorang suami untuk menyelesaikan pekerjaannya pada esok hari."

Wi Lian In segera merasa perkataannya ini beralasan juga, seketika itu juga kepercayaannya terhadap "Kematian"

Ti Then pun menjadi bertambah tebal beberapa bagian hatinya terasa semakin terkejut lagi.

"Kau jangan omong sembarang di sini."

Bentaknya dengan teramat gusar.

"Kau tahu bagaimana macam Ti Kiauw tauw kami? dengan mengandalkan kepandaianmu yang seperti monyet kepanasan jangan harap bisa melukai dirinya."

"Kau tidak tahu siapakah aku yang sebetulnya, bagaimana bisa tahu pula kalau aku tidak sanggup untuk melukainya?"

Balas seru lelaki berbaju hitam yang berkerudung itu sembari tertawa dingin.

"Aku tidak mau perduli siapa kau orang"

Teriak Wi Lian ln dengan amat gusarnya.

"Di dalam Bu lim pada saat ini kecuali si kakek pemalas seorang jangan harap bisa menemukan orang yang bisa mencelakai jiwanya."

"Heee ...heee .... aku bisa anggap perkataanmu itu sedikit pun tidak salah tetapi alat-alat rahasia yang dipasang di dalam istana Thian Teh Kong kami sudah cukup untuk menghancur lumurkan seluruh isi badannya"

Wi Lian In pun tahu bagaimana hebat serta dahsyatnya a!at-alat rahasia yang dipasang di dalam istana Thian Teh Kong, kepercayaannya kali ini semakin bertambah beberapa bagian lagi.

Di dalam keadaan yang amat sedih bercampur gusar dia segera membentak keras, tubuhnya sambil menubruk maju ke depan teriaknya "Aku akan adu jiwa dengan kau orang"

Sepasang tangannya dipentangkan di tengah udara, jari-jari tangannya ditegangkan bagaikan baja lalu melancarkan serangan dahsyat mencukil kearah sepasang mata pihak lawan.

Lelaki berkerudung itu segera tertawa panjang, telapak tangannya dengan gaya "

Tong Ci Pay Kwan Im"

Atau bocah cilik menyembah dewi Kwan Im menyambut datangnya serangan tersebut, bersamaan pula kaki kanannya diangkat melancarkan tendangan kilat menghajar lambungnya.

Ketika Wi Llan ln melihat serangan yang dilancarkan pihak lawan ternyata tidak jelek dia tidak berani berlaku gegabah lagi, tubuhnya dengan amat cepat miring ke samping sepasang telapak tangannya dengan amat cepat membabat kearah kaki kanan pihak Jawan yang menendang dirinya.

Telapak kiri lelaki berkerudung itu cepat cepat menyambar ke samping.

"Plaak."

Dengan keras lawan keras dia tangkis datangnya serangan dari Wi Lian In itu.

Wi Lian In segera merasakan tangannya seperti terbentur dengan baja yang amat kuat, telapak tangan kanannya terasa amat sakit sekali sehingga tak kuasa lagi tubuhnya tergetar mundur dua langkah ke belakang.

Dengan pertempuran ini masing-masing pihak sudah merasa amat jelas bagaimana kehebatan ilmu silat lawannya, jelas di dalam hal tenaga dalam lelaki berkerudung itu jauh lebih tinggi beberapa tingkat dari diri Wi Lian In.

Wi Lian In yang melihat tenaga dalam dirinya tidak sanggup memenangkan pihak lawan cara bertempurnya segera berubah, serangan-serangan yang dilancarkan banyak kosong dari pada nyata dia tidak ingin menyambut datangnya serangan pihak lawan denganke ras lawan keras kembali.

Dari ayahnya dia pernah belajar sebuah ilmu telapak yang khusus ditujukan untuk melawan pihak musuh yang memiliki tenaga dalam jauh Jebih tinggi dari dirinya, ilmu tersebut disebut sebagai ilmu telapak "Lok Hoa Ciang"

Atau ilmu bunga berguguran, segera tanpa berpikir panjang lagi dia mengeluarkan seluruh jurus dari ilmu telapak bunga berguguran untuk menyambut datangnya serangan dari pihak musuh.

Untuk beberapa saat lamanya lelaki berkerudung itu segera terdesak mundur terus oleh keampuhan dari ilmu telapak itu, tetapi semakin lama akhirnya dia berhasil juga mengetahui kunci kelemahan dari ilmu telapak bunga berguguran itu, di dalam sepuluh jurus kemudian dia sudah berhasil memunahkan seluruh serangan pihak lawan di atas angin kembali.

Wi Lian ln yang hatinya bercabang karena memikirkan keselamatan dari Ti Then membuat perhatiannya pun menjadi tidak tercurahkan di dalam pertempuran ini, ketika diiihatnya ilmu telapak bunga berguguran sudah digunakan habis tetapi masih belum juga berbasil mendapatkan kemenangan hatinya terasa semakin bertambah kacau, serangan yang dilancarkan menjadi kacau balau sehingga berturut turut dia terdesak mundur terus oleh serangan musuh.

Lelaki berkerudung itu tidak mau melepaskan barang satu detik pun, dia terus menerus melancarkan serangan gencar mendesak mundur Wi Lian In sedangkan mulutnya memperdengarkan suara tertawanya yang amat menyeramkan.

"Heee ..hee , , budak liar-"

Ejeknya dingin.

"Jikalau kau orang mau menemukan mayat kekasihmu lebih baik serahkan saja kau orang tanpa melawan, aku segera akan membawa kau naik ke atas gunung untuk menemuinya "

Baru saja dia orang habis berkata mendadak wajah Wi Lian In berubah sangat girang sekali, teriaknya dengan cemas.

"Aaaah.."

Ti Kiauw tauw sudah datang "

"Haaa ,, haa , mayatnya pun sudah mulai dingin"

Seru lelaki berkerudung itu sambil tertawa terbahak-bahak.

"Kau jangan ngibul tidak karuan, dia orang tidak akan bisa muncul kembali di sini hee,, hee, kau mengharapkan dia orang bisa datang menolong dirimu? mimpi, hii, hii, kau orang sedang mimpi di siang hari bolong"

Wi Lian In yang melibat dia orang sama sekali tidak dibuat takut oleh gertakannya ini dalam hati semakin percaya lagi kalau Ti Then sudah binasa di dalam istana Thian Teh Kong, saking sedih hatinya permainan siiatnya pun menjadi bertambah kacau balau.

Melihat kesempatan yang amat baik lelaki berkerudung itu dengan cepat maju melancarkan titiran serangan gencar mendadak kakinya menyapu kearah kaki Wi Lian In dengan cepatnya sembari membentak keras "

Kau rubuhlah."

Wi Lian ln tidak sempat menghindarkan diri lagi, kakinya terkena sapuan tersebut dengan amat cepatnya.

"Bruuuk."

Tubuhnya dengan amat keras terbanting ke atas tanah tidak bisa berkutik lagi.

Lelaki berkerudung itu segera tertawa terbahak-bahak, jari tangannya dengan kecepatan bagaikan kilat melancarkan serangan totokan ketubuh Wi Lian In.

Mendadak ...."Lian In kau jangan gugup, aku datang"

Suara seseorang yang amat berat secara tiba-tiba berkumandang keluar dari dalam sebuah hutan yang amat lebat.

Jika didengar dari nada suaranya orang itu mirip sekali dengan diri Ti Then.

Seluruh tubuh lelaki berkerudung itu terasa bergetar dengan amat kerasnya jelas sekali dia benar-benar merasa terperanyat.

Tanpa memperdulikan lagi diri Wi Lian ln yang menggeletak di atas tanah dengan cepat tubuhnya meloncat ke atas pohon kemudian berlalu dengan terbirit-birit.

Wi Lian ln benar-benar dibuat teramat girang, cepat-cepat dia meloncat bangun lalu berseru dengan keras.

"Then ko, apa betul kau orang yang datang?"

Terdengar suara ujung baju yang tersampok angin berderu mendatang, mendadak di depan tubuhnya berkelebat datang sesosok bayangan manusia.Tetapi orang itu bukanlah Ti Then, melainkan seorang pendekar berusia pertengahan.

Wajah pendekar berusia pertengahan ini cukup tampan, pakaiannya merupakan sebuah jubah enghiong yang bersulamkan seekor naga dari emas pada pinggangnya tersoren sebilah pedang, sedang pada ujung pedang tergantunglah sebuah kain yang berwarna merah.

"Kau, Suma suko"

Seru Wi Lian In agak tertegun dengan membelalakkan matanya.

Kiranya pendekar berusia pertengahan ini bukan lain adalah salah satu pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po yang bergelar "Mo lm Kiam Khek"

Suma San Ho adanya.

Begitu tubuh si Mo Im Kiam Khek-Suma Sin Ho.

melayang turun ke atas permukaan tanah dengan cepat dia melintangkan padangnya di depan dada.

matanya menyapu sekejap ke empat penjuru lalu ujarnya dengan cemas.

"Sumoay-di mana musuhnya? "

Dalam hati Wi Lian In merasa sangat kecewa sekali karena orang yang datang bukanlah diri Ti Then, tetapi dalam hati dia pun merasa amat terkejut bercampur heran karena dia sama sekali tidak menyangka di dalam keadaan yang sangat berbahaya pendekar pedang merah ini bisa tepat munculkan dirinya di sana, dengan pandangan termangu mangu dia orang memperhatikan diri Suma San Ho.

"Suma Suko. bagaimana kau orang bisa sampai di sini? "

Bukannya memberi jawaban dia malah balik bertanya.

"Ie heng tahu besok pagi Wi Pocu ada janyi dengan pihak istana Thian Teh Kong-karenanya aku bermaksud malam ini mengadakan penyelidikan dulu terhadap situasi pihak musuh karena itu aku sengaja datang ketempat sini. tadi aku dengar kau berteriak Ti Kiauw Tauw sudah datang,.... .sebenarnya sudah terjadi urusan apa??? Ti Then sudah pergi kemana??? siapakah orang yang sudah menyerang dirimu tadi ??? "

Mendengar pertanyaan itu tak tertahan lagi titik-titik air mata mengucur keluar dengan derasnya membasahi seluruh wajah Wi Lian ln.

"Ti Kiauw tauw sudah binasa."

Ujarnya sembari menangis terisak-isak.

"Sungguh?"

Teriak Suma San Ho dengan amat terkejut.

"Jadi yang dimaksud sebagai mayat pun sudah mendingin olteh orang itu adalah diri Ti Kiauw tauw."

"Benar."

Sahut Wi Lian In mengangguk, suara tangisannya semakin lama semakin keras.

"Dia bilang Ti Kiauw Tauw sudah terjebak oleh alat rahasia dan kini sudah meninggal"

"Lalu siapakah orang itu?"

Tanya Suma San Ho dengan semakin cemas lagi.

"Seorang lelaki yang berkerudung, dia menyebut dirinya sebagai suami si rase bumi Bun Jin Cu yang baru, pemimpin baru dari istana Thian Teh Kong."

"Tetapi aku rasa hal ini tidak mungkin"

Seru Suma San Ho kaget.

"Aku pun merasa demikian, si rase bumi Bun Jin Cu tidak mungkin mau kawin lagi dengan begitu cepat, -tetapi perkataan dari lelaki berkerudung itu sangat beralasan sekali, dia bilang Bun Jin Cu sangat membutuhkan seorang suami untuk menggantikan ayahku, perkataan ini ..."

"Perkataan ini tidak dipercaya."

Potong Suma San Ho dengan cepat. Wi Lian In menjadi melengak.

"Kenapa tidak boleh dipercaya? Bun Jin Cu memang seharusnya membutuhkan seorang yang memiliki kepandaian silat amat tinggi untuk membantu dia orang menghadapi musuh-musuhnya untuk memenangkan pertempuran esok pagi dia seharusnya mengorbankan semuanya demi tercapainya cita-cita ini,"

"Tidak benar, tidak benar"

Ujar Suma San Ho sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

"Berita yang le heng dapatkan sama sekali tidak ada yang menganggap soal Bun Jin Cu sudah kawin lagi"

"Kau sudah memperoleh berita apa? "

Tanya Wi Lian In melengak.

"Kemarin sore le heng mendengar banyak orang yang berbicara katanya orang-orang pihak istana Thian Teh Kong sudah pada menghianati diri Bun Jin Cu, katanya karena mereka melihat si anying langit Kong Sun Yau sudah modar dan mengetahui juga perjanyiannya dengan Wi Po cu esok hari mereka segera merasakan kalau pemimpin mereka tidak akan sanggup mengalahkan orang-orang benteng Pek Kiam Po karenanya bersama sama mereka sudah berkhianat dan melarikan diri turun gunung sesudah merampok seluruh kekayaan yang ada di dalam istana , ..apakah kalian tidak pernah mendengar adanya berita ini?"

"Tidak pernah, apakah sungguh hal ini sudah terjadi?"

Tanya Wi Lian ln terkejut.

"Kemungkinan besar hal ini sudah terjadi, karena di tengah perjalanan le-heng sudah menemui beberapa orang anggota istana Thian Teh Kong ketika mereka melihat diri le-heng ternyata sudah pada berlarian menyauhi diriku tanpa berani memberikan perlawanannya "

"Jika hal ini benar-benar sudah terjadi maka lelaki berkerudung tadi pasti bukanlah suami yang baru dari si rase bumi Bun Jin Cu"

Seru Wi Lian In mendadak.

"karena jika Bun Jin Cu mau kawin dia tentu mencari seorang yang memiliki kepandaian silat amat lihay, jikalau dia sudah mem punyai seorang suami yang memiliki kepandaian silat amat lihay anak buahnya sudah tentu tidak akan menghianati dirinya lagi, bukan begitu? "

"Kapan kau serta Ti Kiauw-tauw tiba di sini ?"

"Sebelum malam hari sudah tiba di sini, Ti Kiauw-tauw bilang mau naik ke gunung untuk menyelidiki jejak musuh di dalam istana Thian Teh Kong dan menyuruhi aku menunggu di sini, aku sudah menunggu dua jam lamanya mendadak muncul lelaki berkerudung itu, kepandaian silatnya sangat lihay sekali aku tidak bisa mengalahkan dia "

"Tetapi.."

Ujar Suma San Ho kemudian sambil mengerutkan keningnya setelah berpikir sejenak.

"Jika dia orang bukan orang pihak istana Thian Teh Kong lalu mengapa sudah turun tangan membokong dirimu ? maka , . ."

"Aaaah ... sekarang aku baru tahu"

Tiba-tiba teriak Wi Lian In dengan keras.

"Dia tentunya pemimpin dari tiga orang berkerudung yang terdahulu, dia bukan lain tentu yang sudah melakukan jual beli dengan Hu Pocu kita."

Suma San Ho yang mendengar perkataan ini segera dibuat menjadi bingung, sambil mengucak-ucak matanya dia bertanya.

"Siapakah ketiga orang berkerudung itu? siapa yang sudah mengadakan jual beli dengan Hu Pocu kita ?"

Persoalan ini jika diceritakan amat panjang sekali, lebih baik kita pergi memecahkan teka teki mati hidupnya Ti Kiauw tauw serta keadaan dari istana Thian Teh Kong dulu, lalu aku baru menceritakam seluruh persoalan kepadamu"

"Baiklah"

Jawab Suma San Ho mengangguk.

"Tetapi le heng percaya Ti Kiauw tauw belum menemui bencana, dia pasti masih hidup "

Mendengar perkataan ini Wi Lian In menjadi amat girang, tanyanya.

"Dengan berdasarkan apa kau berani memastikan, kalau Ti Kiauw tauw belum menemui bencana?"

Suma San Ho segera tersenyum.

"Tadi secara mendadak kau berteriak "Ti Kiauw tauw sudah datang"

Apakah sengaja sedang memancing jawaban dari pihak lawan? "

"Benar, tetapi bangsat itu sama sekali tidak dibuat kaget oleh perkataanku itu, bahkan sebaliknya malah tertawa terbahak bahak, dia bilang mayat dari Ti Kiauwtauw sudah mendingin maka aku jadi merasa sangat kuatir terhadap keselamatan Ti Kiauw tauw"

"Ti Kiauw tauw sudah pergi selama dua jam lamanya dan belum kembali juga, kemungkinan sekali dia memang sudah terjatuh ke tangan si rase bumi Bun Jin Cu tetapi dia pasti belum menemui kematiannya alasannya, pertama. Besok pagi Bun Jin Cu akan mengadakan pertempuran melawan Wi Pocu jikalau malam ini dia berhasil menawan diri Ti Kiauw tauw maka dia tidak akan cepat-cepat penghukum mati dirinya sebaliknya menahan dirinya untuk menguasahi Wi Po cu pada keesokan harinya. Kedua . tadi aku sewaktu Ie-heng menirukan nada suara dari Ti Kiauw tauw dengan berkata "Aku datang"

Lelaki berkerudung itu cepat-cepat melarikan diri dari sini, hal ini berarti juga kalau Ti Kiauw tauw belum mati, jika dia sudah mati mengapa lelaki berkerudung itu segera melarikan diri sesudah mendengar suaranya?"

"Benar, benar sekali"

Seru Wi Lian In dengan amat girang.

"Tetapi lebih baik kita menyeiidiki urusan ini sampai jelas terlebih dulu .

" , ayoh jalan"

Wi Lian In dengan cepat berlari menuju ke atas gunung, Suma San Ho pun mengikuti dari belakangnya sambil berlari tanyanya dengan suara keras.

"Sumoay, apakah Pocu tidak berjalan bersama-sama dengan kalian ?"

"Tidak, Tia berangkat dulu satu hari sebelum kita berangkat, katanya dia mau menawan diri Hong Mong Ling. Ooooh benar, aku mau memberitahukan satu hal kepadamu, itu bangsat yang tidak tahu malu Hong Mong Ling sudah menemui ajalnya."

"Aaaah??? dia mati di tangan siapa?"

Tanya Suma San Ho tertegun.

"Dia sudah dibinasakan oleh lelaki berkerudung tadi. aku percaya orang berkerudung tadi pastilah orang yang sudah melakukan jual beli dengan Hu Pocu kita."

"Sebetulnya sudah terjadi urusan apa?"

"Baiklah aku sekarang juga menceritakan urusan ini kepadamu, sebenarnya urusan adalah begini, setelah aku serta Ti Kiauw tauw meninggalkan benteng karena waktu itu masih ada dua puluh hari lamanya dengan waktu perjanyian dengan Bun Jin Cu maka Ti Kiauw tauw mengajak aku berpesiar kegunung Kim Teng San ..."

"Kim Teng San?"

Sela Suma San Ho terperanyat.

"Bukankah gunung Kim Teng San merupakan tempat kediaman dari si kakek pemalas Kay Kong Beng, kalian sudah bertemu dengan dia orang? "

"Sebenarnya kami tidak bermaksud untuk menemui Kay Kong Beng itu tetapi sesampainya di atas gunung Kim Teng San karena tidak ada tempat indah yang bisa dinikmati maka kami mengambil keputusan untuk pergi ke rumah kediaman Kay Kong Beng. Siapa sangka sewaktu tiba di depan gua tempat tinggal Kay Kong Beng di atas puncak gunung Kim Teng San ternyata kami sudah menemukan itu bangsat cilik Hong Mong Ling sedang berlutut di depan gua memohon Kay Kong Beng untuk menerimanya sebagai murid.."

Sewaktu dia menyelesaikan ceritanya mereka berdua sudah tiba di punggung gunung, yaitu tepat di depan kuil yang sudah terbakar hangus itu.

Melihat asap yang masih mengepul di antara tumpukan puing-puing tak terasa lagi Suma San Ho sudah berkata.

"Kelihatannya berita yang tersiar dalam dunia kang ouw adalah sungguh-sungguh terjadi, istana Thian Teh Kong agaknya memang benar-benar sudah menemui pengkhianatan"

"Tidak tahu bagaimana dengan keadaan istana Thian Teh Kong-nya sendiri?"

Ujar Wi Lian In sambil memandang ke tempat kejauhan.

"Jikalau di sana pun sudah terbakar musnah hal ini berarti juga Ti Kiauw-tauw tidak mungkin sudah terjebak di dalam alat rahasia yang dipasang di dalamnya.

"Benar"

Jawab Suma San Ho mengiakan.

"Kemungkinan sekali istana Thian Teh Kong belum sampai terbakar musnah, jikalau sudah hancur lebur mana mungkin Bun Jin Cu tetap berdiam ditempat ini ? Ti Kiauw tauw pun tidak mungkin pergi sedemikian lamanya."

Seketika itu juga Wi Lian ln merasakan hatinya mulai murung kembali, tanyanya dengan amat cemas .

"Jarak dari sini ke istana Thian Teh Kong masih seberapa jauh?"

"Tidak terlalu jauh lagi, mari ikuti diriku"

Dengan dipimpin oleh Suma San Ho mereka berdua segera melakukan perjalanan kembali ke depan, setelah melewati sebuah tebing yang terjal mendadak Suma San Ho menghentikan langkahnya, ujarnya dengan suara perlahan sambil menuding kearah sebuah bayangan hitam di atas gunung yang ada diseberangnya.

"Coba kau lihat, itulah istana Thian-Teh Kong"

Saat ini pagi hari sudah mulai mendekat, sinar rembulan telah lenyap dari udara membuat suasana di sekeliling tempat itu amat gelap sekali, ditengah kegelapan cuma terlihat sedikit sinar lampu yang memancarkan keluar dari dalam istana Thian Teh Kong ditempat kejauhan, keadaan pada saat itu amat menyeramkan sekali.

"Kau lihat bagaimana?"

Tiba-tiba bisik Wi Lian ln dengan suara perlahan.

"Selama di dalam perjalanan menuju ke tempat ini sama sekali kita tidak menemukan kaum perampok yang berjaga-jaga di sekitar tempat ini, jelas sekali istana Thian Teh Kong sudah menemui bencana tetapi jika ditinyau dari keadaan ini agaknya istana Thian Teh Kong itu sama sekali tidak menemui cedera, sudah tentu Bun Jin Cu pun masih ada di sana.."

"Jika demikian tidak salah lagi Ti Kiauw tauw pasti sudah tertawan olehnya"

Sambung Wi Lian In dengan hati yang berdebar-debar keras.

"Ehmmm..coba kau lihat baiknya kita masuk ke dalam istana sekarang juga atau menanti sesudah terang tanah?"

"Sudah tentu sekarang juga,"

"Tetapi suasana di dalam istana itu amat gelap sekali "

Seru Suma San Ho ragu-ragu.

"Apalagi kita pun tidak tahu bagaimana keadaan di dalam istana tersebut, jikalau sampai terjebak oleh alat rahasia mereka ..."

"Jika kau tidak berani masuk tunggulah di tempat ini saja biar aku masuk seorang diri"

Potong Wi Lian In cepat. Tubuhnya dengan cepat melayang ke arah istana Thian Teh Kong itu. Dengan terburu-buru Suma San Ho memburu ke depan.

"Nona Wi kau jangan salah paham"

Ujarnya dengan suara yang amat lirih, bukannya nyali le-heng kecil tetapi aku rasa kita harus bekerja dengan berhati-hati"

Saat ini Wi Lian In cuma ada satu tujuan saja di dalam hatinya yaitu mengetahui keadaan yang sebenarnya dari Ti Then terhadap keselamatan dirinya sendiri sama sekali dia tidak mengambil pikiran lagi, mendengar perkataan itu dia segera tertawa dingin.

"Setelah kita tiba di istana Thian Teh Kong asal jangan masuk ke dalam rumah bukankah alat-alat rahasia itu sama sekali tidak bisa mengapa-apakan diri kita?"

"Sekali pun begitu lebih baik kita sedikit berhati-hati "

Ujar Suma San Ho perlahan.

"Kemungkinan sekali masih banyak orang yang tidak menghianati diri Bun Jin Cu."

Wi Lian In tidak berbicara lagi, dengan beberapa kali loncatan dia melayang turun di depan istana Thian Teh Kong itu.

Ketika dilihatnya terdapat banyak mayat-mayat yang bergelimpangan di depan istana itu dia menjadi tertegun.

"liih " . orang-orang ini apakah dibunuh mati oleh Ti Kiauw tauw?"

Suma San Ho segera berjongkok memeriksa keadaan dari mayat mayat tersebut lalu gelengkan kepalanya.

"Bukan, orang-orang ini sudah mati kurang lebih sudah mati satu hari lamanya "

"Lalu siapa yang melakukannya? "

Tanya Wi Lian In heran.

"Kemungkinan sekali dilakukan oleh Bun Jin Cu sendiri"

"Tidak salah "

Seru Wi Lian In menjadi panas kembali.

"Dia melihat orang orang ini pada mengkhianati dirinya sudah tentu sangat marah sekali, karenanya dalam keadaan marah dia lalu turun tangan kejam membinasakan mereka semua"

Dia berhenti sebentar untuk menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, lalu tambahnya lagi.

"Jika dilihat dari keadaan ini di dalam istana masih ada orang lain tidak?"

"Menurut apa yang le heng ketahui di antara anak buah si anying langit rase bumi cuma ada dua orang saja yang tidak mungkin mengkhianati diri mereka,"

"Siapa?"

Tanya Wi Lian ln sambil memandang kearahnya dengan tajam.

"Si menteri pintu serta Pembesar jendela. dua orang ini paling setia terhadap si anying langit rase bumi, kini sekali pun si anying langit sudah modar tetapi mereka tidak mungkin mau mengkhianati diri Bun Jin Cu"

Mendengar disebutnya nama-nama itu Wi Lian ln segera tertawa dingin.

"Jika cuma kedua orang ini saja kita tak perlu terlalu takut lagi, kepandaian silat mereka aku orang sudah pernah menyajalnya, aku kira tidak ada yang bisa dibanggakan"

Dia berjalan menuju ke samping sesosok mayat lalu memungut sebilah pedang panjang.

"Ayoh jalan"

Ujarnya sambil berjalan menuju ke pintu depan.

"Kita lihat-lihat ke dalam"

Setelah mereka berdua keluar memasuki pintu depan, apa yang dilihat keadaan di sana mirip sekali seperti yang ditemui Ti Then semula di dalam istana penuh bergelimpangan mayat-mayat yang kebanyakan kehilangan lengannya, kaki atau kepalanya, darah yang mulai membeku berceceran di semua tempat membuat keadaannya sangat mengerikan sekali.

Suma San Ho yang merupakan seorang pendekar yang memiliki nama terkenal di dalam Bu lim entah sudah menemui berapa banyak pertempuran yang ngeri tetapi ketika melihat suasana di dalam istana itu tak terasa lagi dengan membelalakan matanya dia menghela napas panjang.

"Sungguh tidak kusangka istana Thian Teh Kong yang sudah memimpin kaum Liok-lim selama puluhan tahun lamanya kini sudah mendapatkan akhir yang demikian mengenaskan"

"Bilamana pada hari biasa si anying langit serta rase bumi bisa baik-baik menarik anggotanya sudah tentu tidak akan terjadi pengkhianatan semacam ini "

Mereka berdua dengan melintangkan pedang di depan dada melakukan pemeriksaan kembali di sekeliling tempat itu, ketika dirasanya tak tampak sesosok manusia yang masih hidup dan dengan segera mereka melanjutkan langkahnya masuk ke dalam istana itu dan tiba di depan ruangan Khie Ie Tong tersebut.

Mendadak dari dalam ruangan Khie Ie Tong berkumandang keluar suara rintihan yang amat lemah sekali.

Suara itu sepertinya dikeluarkan oleh seorang yang sudah mendekati ajalnya, kedengarannya amat mengerikan sehingga mendirikan bulu roma.

Wi Lian In serta Suma San Ho yang mendengar suara ini bersama sama menjadi amat terkejut, cepat-cepat tubuhnya membungkuk ke bawah dan pusatkan perhatiannya untuk mendengar.

Beberapa saat kemudian terdengar Suma San Ho berbisik dengan suara yang amat lirih kepada Wi Lian In .

"Agaknya suara itu berasal dari seorang rampok muda"

"Tapi aku rasa suara itu mirip sekali dengan suara Ti Kiauw-tauw"

Bantah Wi Lian In. Air muka Suma San Ho segera berubah sangat hebat.

"Oooooh ... benar ?"

Wi Lian In segera pusatkan perhatiannya untuk mendengarkan kembali suara itu beberapa saat lamanya, akhirnya dengan wajah berubah amat hebat bisiknya.

"Aaaah .... semakin didengar aku rasa semakin mirip "

"Jika dia orang adalah Ti Kiauw-tauw bagaimana dia orang bisa terluka di dalam ruangan Khie Ie Tong ini ?"

"Tentu sewaktu dia memasuki ruangan Khie Ie Tong ini untuk mengadakan pemeriksaan sudah tersenggol alat rahasia dan terhajar semacam senyata rahasia."

"Tidak bisa jadi "

Seru Suma San Ho mengemukakan kecurigaan hatinya.

"Jikalau Bun Jin Cu melihat dia sudah terluka tentu segera menawan dia orang untuk disimpan di dafam penyara, dia tidak mungkin membiarkan dia orang berbaring di sana terus"

"Tetapi jika Bun Jin Cu sudah meninggalkan istana Thian Teh Kong ini?"

Sinar mata Suma San Ho segera berkelebat, akhirnya dia mengangguk juga.

"Ehmmm tidak salah, kemungkinan sekali Bun Jin Cu sudah meninggalkan tempat ini...coba kau berteriaklah untuk lihat-lihat adakah reaksi dari dalam ruangan"

Wi Lian In segera bangkit berlari dan berteriak ke arah ruangan Khie Ie Tong itu.

"Hey ..di dalam ada orangkah ? Dari tengah ruangan tersebut segera menyahut suara seorang dengan nada terputus-putus.

"Lian..In ..kau... kau ..ce . , . pat ... daaa -., datang ."

Kecuali Ti Then siapa orang lagi yang bisa memanggil dirinya dengan sebutan Lian In?

Wi Lian In menjadi sangat girang sekali dia menoleh dan menggape kearah Suma San Ho lalu bertindak menuju ke ruangan Khie Ie Tong tersebut "Tunggu dulu"

Cepat Suma San Ho menarik tangannya.

"Kenapa?"

Teriak Wi Lian In dengan amat gusar. Suma San Ho tidak ambil perduli terhadap dirinya yang merasa kurang senang terhadap tindakannya ini, teriaknya keras .

"Ti Kiauw tauw, di dalam sana adakah alat rahasia ?"

"Kaaau .... kau .. kau siapa ?"

Suara rintihan dari Ti Then segera bergema kembali.

"Cayhe adalah Suma San Ho dari pendekar pedang merah ".

"Aiaa ... aaaalat .... alat rahasia di sini ---di si ni sudah .... sudah berjalan ... kaaa .... kalian cepat .. , cepat masuk . tolong ..tolong ..aaaku ..-aku . --aaa .""

Aku datang"

Wi Lian In tidak bisa menahan golakan hatinya dengan cepat dia berkelebat masuk ke dalam ruangan tersebut.

Suma San Ho yang melihat sumoaynya berlari masuk segera mengikutinya dari belakang mereka berdua dengan cepat menerjang masuk ke dalam ruangan Khie Ie Tong yang amat gelap gulita itu.

Untuk beberapa saat lamanya mereka tidak bisa melihat Ti Then sebenarnya sudah terluka diarah sebelah mana, Wi Lian ln jadi bingung serunya kembali.

"Ti Kiauw iauw, kau berada di mana?"

Baru saja ucapannya selesai mendadak permukaan tanah yang diinyak oleh mereka sudah membalik kearah dalam.

Seperti halnya dengan Ti Then mereka pun tidak punya kesempatan untuk melarikan diri, bersama-sama tubuhnya meluncur jatuh ke bawah.

Lalu seperti juga dengan Ti Then mereka berduaan terkurung di dalam kerangkeng besi di bawah tanah itu.

Wi Lian In menjadi sangat terperanyat, teriaknya berulang kali "Aduh celaka...

kita kena tipu, kita kena tipu,"

Suma San Ho lalu mencabut keluar pedangnya dan membacok kearah kurungan besi tersebut tetapi tidak berguna, besi terali itu terbuat dari baja murni yang tidak mungkin bisa dihancurkan dengan menggunakan pedang biasa, dia menjadi menghela napas panjang.

"Sungguh jahanam sekali "

Makinya dengan gusar.

""Semuanya adalah kesalahanku"

Ujar Wi Lian ln dengan wajah sangat malu.

"Aku sama sekali tidak mendengar kalau suaranya ternyata palsu"

"Heee, heee, semuanya dikarenakan kelihayan dari permainanku untuk menirukan nada suara dari kekasihmu itu "

Dengan diiringi suara tertawanya yang kegirangan si rase bumi Bun Jin Cu sudah muncul pada ujung kurungan besi itu.

Bersamaan dengan suara terbukanya pintu batu, pada ujung dinding dengan perlahan-lahan terbuka ke samping, serentetan sinar yang amat terang memancar masuk dalam ruangan.

Dengan wajah penuh senyuman Bun Jin Cu muncul di depan pintu, lalu tangannya menekan tombol pada dinding, kurungan besi itu dengan cepatnya sudah meluncur ke depan tubuhnya.

"Hii.... bii . penghasilanku malam ini sungguh bagus sekali "

Ujarnya tertawa cekikikan.

"Di dalam satu malaman aku sudah berhasil memperoleh tiga ekor ikan besar "

Wi Lian In benar-benar dibuat sangat gusar sekali, kakinya dengan cepat melancarkan tendangan dahsyat menghajar besi kurungan tersebut. f "Nenek bangsat"

Makinya dengan amat gusar "Kau sudah apakan Ti Kiauw-tauw kami ?"

"Kau ingin cepat-cepat bertemu dengan dia bukan ?"

Ejek Bun Jin Cu tertawa.

Sudah tentu Wi Lian ln sangat mengharapkan bisa bertemu dengan diri Ti Then untuk mengetahui mati hidupnya, tetapi dia tidak memberikan jawabannya, sepasang matanya dengan amat gusar melotot ke arahnya dia kepingin sekali menerjang keluar dari kurungan lalu kirim satu bacokan membinasakan dirinya.

"Nona Wi"

Ujar Bun Jin Cu kembali sambil tertawa.

"Aku tahu kau sangat suka kepada dirinya, tetapi aku orang mau memberi nasehat kepadamu lebih baik perasaan cintamu ini kau tarik kembali, karena untuk hidupmu kali ini tidak mungkin bisa memperoleh jawabannya lagi"

Wi Lian In ketika mendengar perkataan itu menjadi amat terperanyat.

"Kau sudah mencelakai dirinya ?"

Bentaknya dengan amat gusar.

"Apakah dia orang tidak seharusnya modar?"

Balas tanya Bun Jin Cu sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding tembok. Wi Lian In benar-benar dibuat teramat gusar sambil menggetarkan pedangnya dia menantang.

"Lepaskan aku keluar, aku mau menyagal kau nenek tua yang jelek."

Bun Jin Cu tenang-tenang saja seperti baru melihat harimau betina yang sedang kalap dia tersenyum-senyum.

"Perkataan kau orang sungguh lucu sekali, mana mungkin aku mau melepaskan dirimu hanya untuk membunuh diriku?"

"Mari kita adakan pertempuran yang menentukan mati hidup kita, coba lihat kau yang mati atau aku yang hidup,"

Teriak Wi Lian In kembali.

"Heee ..-hee .. , , aku tidak akan berbuat demikian,"

Ujar Bun Jin Cu sambil gelengkan kepalanya,"

Aku sudah berbasil menawan dirimu, buat apa kau paksa aku untuk membuang tenaga dengan percuma?"

"Perempuan cabul, nenek tua yang jelek, tidak aneh kalau anak buahmu pada menghianati dirimu, kau..., , kau tidak cukup bersikap sebagai pentolan perampok perempuan"

"Hiii ..-hiii . .,hiii ... ayo maki, maki terus sepuas hatimu, nanti aku mau suruh kau menangis terus."

"Bun Jin Cu."

Tiba-tiba Suma San Ho menimbrung-"Kau punya rencana menghukum kita dengan cara apa?"

"Kau tunggu saja nanti,"

"Heee ... heee . , .aku mau peringatkan satu hal kepadamu"

Ujar Suma San Ho kembali sambil tertawa dingin.

"Pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po sudah pada kumpul di atas gunung ini, jikalau kau kepingin hidup cepat lepaskan kita dari sini"

Mendengar perkataan tersebut Bun Jin Cu segera angkat kepalanya tertawa terbahak bahak.

"Pendekar pedang merah dari benteng Pek Kiam Po kalian itu masing-masing macam apa? kini aku orang sudah berhasil menawan nona Wi yang terhormat ini, sekali pun datang seratus orang Wi Ci To aku pun tidak akan takut."

"Tapi bilamana kami mati kau pun jangan harap bisa meloloskan diri dengan selamat"

Bun Jin Cu tertawa semakin keras lagi.

"Perkataanmu ini kemungkinan sekali tidak salah, tetapi sejak semula. aku orang sudah tidak ingin hidup lebih lama lagi, ini hari aku orang bisa menghukum mati Ti Then serta nona Wi ini sekali pun pada kemudian hari harus binasa ditangan Wi Ci To sedikit pun aku tidak merasa menyesal"

"Ti Kiauw-lauw sudah membinasakan suamimu, kalau kau orang mau membalas dendam ini kami tidak bisa berkata apa-apa lagi, tetapi Wi Sumoay kami ini tidak punya dendam apa-apa dengan kau orang, kenapa kau pun ingin membinasakan dirinya?"

Bun Jin Cu segera tertawa.

"Sewaktu ada dialas tebing Sian Ciang dia sudah mengejek diriku, karena itu setelah aku orang membuat dia merasakan penderitaan yang amat hebat lalu sekalian membasminya dari muka bumi "

Wi Lian In segera menjerit keras, teriaknya "Sekarang juga aku mau mengejek dirimu lagi, kau kehilangan suamimu memang pantas, bagus sekali kematiannya ini namanya takdir buat kau orang, tahu tidak perempuan cabul ?"

Air muka si rase bumi Bun Jin Cu berubah sangat hebat.

"Menteri pintu, pembesar jendela, kalian masuk kemari"

Panggilnya dengan keras.

"Baik".

Jilid 21.2 . Pengkhianatan menteri pintu Ditengah suara sahutan tampak dua orang berjalan masuk ke dalam pintu dan muncul di belakang tubuh Bun Jin Cu.

"Bawa mereka ke dalam ruangan siksa"

Perintahnya kepada kedua orang itu.

Selesai berkata dia berjalan meninggalkan tempat itu.

Ketika si menteri pintu melihat dia berlalu dari sana dari wajahnya segera terlintas senyumannya yang amat seram, dengaa perlahan dia ke ujung ruangan dan menekan sebuah tombol di sana.

Dengan disertai suara gesekan yang amat keras kurungan besi dimana Wi Lian In serta Suma San Ho berada dengan perlahan mulai menurun ke bawah dan masuk ke dalam kolam air itu.

Atau dengan perkataan lain, mereka pun mendapatkan penyambutan seperti yang dialami Ti Then.

Kurang lebih seperempat jam kemudian, menteri pintu baru menekan tombol kembali untuk mengerek naik kurungan besi tersebut.

Saat Wi Lian In serta Suma San Ho yang ada di dalam kurungan besi itu sudah jatuh tidak sadarkan diri, bagaikan dua ekor ayam yang tercebur ke dalam air dengan lemasnya mereka menggeletak di dasar kurungan.

Si pembesar jendela segera memandang ke arah Wi Lian In, wajahnya sudah penuh diliputi oleh napsu jahat, ujarnya dengan cengar cengir.

"Nona yang begitu cantiknya kalau dibinasakan sungguh sayang sekali . ."

"Haa , . haa , , bagaimana, kau sudah mengilar.."

Goda si menteri pintu tertawa terbahak bahak.

"Cuma aku tidak enak untuk mengusulkan permintaanku ini"

"Bagaimana kalau Lohu yang mewakili dirimu?"

"Apakah Hujin setuju? "

"Jangan kuatir"

Seru si menteri pintu tersenyum "Menanti setelah Wi Ci To pun berhasil ditawan aku kira hujin tentu menyetujuinya, kau menggunakan barang apa untuk mengucapkan terima kasihnya kepadaku?"

Si pembesar jendeia segera tertawa terbahak-bahak.

"Kita menteri pintu pembesar jendeia, kau suka harta aku suka perempuan sudah tentu aku menggunakan uang untuk mengucapkan terima kasihku kepadamu"

"Berapa ?"

"Bagaimana kalau seratus tahil perak"

"Baik, kita putuskan demikian."

Demikianlah mereka berdua lalu membuka pintu kurungan besi itu dan menggotong tubuh Wi Lian In serta Suma San Ho keluar.

Setelah diberi pertolongan seperlunya ketika melihat mereka hendak sadar kembali dari pingsannya kedua orang itu segera menotok jalan kakunya, setelah itu dengan seorang membopong sesosok tubuh berjalan keluar dari sana.

Setelah melewati sebuah lorong kecil dan melewati sebuah pintu, sampailah mereka di dalam sebuah ruangan siksa yang agak lebar.

Di dalam ruangan siksa itu sudah tersedia berbagai macam alat siksa yang sangat menyeramkan.

Si rase bumi Bun Jin Cu duduk di atas sebuah kursi yang tertutup dengan sebuah kulit macan, beberapa kaki di hadapannya berdirilah tiga buah tiang kayu yang pada tiang tengah sudah terikat seseorang.

Orang itu bukan lain adalah Ti Then.

Sepasang tangan serta sepasang kakinya terpentang lebar-lebar yang masing-masing bagiannya sudah terikat kencang-kencang di atas tiang kayu tersebut, baju bagian atasnya sudah terbuka sehingga terlihatlah dadanya yang sudah dipenuhi dengan bekas-bekas cambukan, setiap bekas cambukan masih mengalirkan darah segar.

Jelas sekali dia baru saja memperoleh pukulan yang kejam sehingga jatuh tidak sadarkan diri.

Setelah si menteri pintu dan pembesar jendela menyeret tubuh Wi Lian In serta Suma San Ho masuk ke dalam ruangan siksa terdengar Bun Jin Cu sudah berkata.

"Ikat mereka di atas tiang kayu itu lalu bebaskan jalan darahnya"

"Perlukah membuka pakaian mereka? "

Tanya si pembesar jendela tiba-tiba sambil lertawa.

"Pakaian dari Suma San Ho boleh di buka, pakaian Wi Lian In jangan"

Air muka si pembesar jendela segera memperlihatkan rasa kecewanya.

"Kenapa tidak ditelanyangi sekalian?"

Tanyanya tertawa nyengir.

"Lo Ciauw, kau orang semakin tua semakin menjadi"

Goda Bun Jin Cu sambil tertawa cekikikan,"Kau sudah mengambil perhatian khusus dengan budak itu?"

Air muka si pembesar jendela segera berubah memerah, dia tertawa dengan malu-malu.

"Hamba tidak berani "

Sahutnya perlahan.

"Ehmmrnm ...

"Kenapa kau orang sudah berlaku sungkan?"

Goda si menteri pintu sembari mengikat tubuh Suma San Ho ke atas tiang kayu. Dengan mengambil kesempatan itulah si pembesar jendeIa tertawa cengar cengir tanyanya.

"Hujin, kau bermaksud berbuat apa terhadap budak ini? "

"Nanti sesudah berhasil tawan Wi Ci To sekalian kita baru menghukum mereka dengan perlahan-lahan, tapi kau jangan kuatir aku tahu kesukaan dari Lo Ciauw kau orang, sebelum aku menghukum mati dirinya aku akan kasih kesempatan buat kau orang untuk menikmati tubuhnya.."

Si pembesar jendela menjadi amat girang.

"Baik ... baik .."

Sahutnya berulang kali.

"Terima kasih hujin.. terima kasih hujin,"

"Masih ada kau Lo si, nanti setelah dendam sakit hatiku terbalas aku orang akan perseni dirimu sebanyak-banyaknya. Hey.. di tengah tiupan angin taupan kita bisa mengetahui mana yang rumput mana yang bukan, ditengah kesusahan baru ketahuan siapa yang setia siapa yang tidak, tidak ku sangka sama sekali diantara ribuan orang banyaknya cuma kalian berdua saja yang mau setia kepadaku"

"Hujin kau jangan bicara sembarangan lagi "

Bantah si menteri pintu dengan cepat.

"Hamba sama sekali tidak menaruh minat terhadap perempuan "

Bun Jin Cu segera tetawa.

"Kau tidak suka perempuan apakah tidak suka pada harta pula?"

"Harta? siapa yang tidak suka padanya?"

Ujar si menteri pintu sambil tertawa malu.

"Tetapi saat ini seluruh harta kekayaan yang ada di dalam istana Thian Teh Kong sudah dirampok habis-habisan.."

"Tidak, terus terang saja aku beritahukan kepada kalian, harta kekayaanku masih amat anyak sekali"

"Sungguh?"

Tanya si menteri pintu dengan amat girangnya.

"Kau sudah tertarik?"

Goda si rase bumi Bun Jin Cu kembali sambil melirik sekejap kearahnya. Dengan gugup si menteri pintu gelengkan kepalanya berulang kali.

"'Tidak tidak ..hamba ikut bergembira buat diri hujin.. ternyata hujin sudah merasakan hal yang bakal terjadi di kemudian hari sehingga menyimpan sebagian besar dari harta kekayaannya ke dalam suatu tempat yang tersembunyi, dengan demikian ..dengan demikian bisa digunakan oleh Hujin untuk melanjutkan hidup di kemudian hari "

"Heeey ... harta kekayaan yang tersimpan bernilai di atas jutaan tahil perak banyaknya, untuk beberapa keturunan pun tidak akan habis dipakai"

"Kalau begitu bagus sekali, untuk beberapa keturunan pun tidak akan habis dipakai "

"Biarlah menanti setelah aku berhasil membalaskan dendam buat suamiku aku akan mengambil keluar sebagian untuk menghadiahkan kepadamu, sedikit-dikitnya aku harus beri seratus ribu tahil perak buat kau orang."

"Tidak ...tidak, hamba tidak berani menerimanya"

Tolak si menteri pintu dengan cepat.

"Kenapa ?"

"Hamba tidak ikut mengkhianati diri hujin bukanlah dikarenakan mengharapkan persenan yang begitu banyak dari hujin"

Jawab si menteri pintu dengan serius.

"Hamba cuma mengharapkan bisa mengikuti hujin untuk selamanya untuk membalas terima kasihku atas perhatian yang di berikan hujin kepada kami."

Agaknya Bun Jin Cu dibuat terharu juga oleh kata-katanya ini, matanya menjadi memerah hamper-hampir butiran air mata menetes keluar.

"Aku tahu kalian berdua sangat setia kepadaku, tetapi sejak Thian Cu binasa aku sudah merasa berputus asa, nanti biarlah setelah urusan selesai semua aku mau cari sebuah tempat yang tidak pernah didatangi manusia untuk melanjutkan hidupku selanjutnya, karena itu kau tidak usah sungkan-sungkan lagi, perkataan yang sudah aku katakan selamanya tidak akan berubah kembali, sampai waktunya aku pasti akan menghadiahkan seratus ribu tahil perak kepadamu"

"Budi kebaikan dari hujin hamba menerimanya saja di dalam hati"

Ujar si menteri pintu serius pula "

Tetapi hamba tidak akan menerima uang barang satu peser pun dari hujin"

Agaknya si pembesar jendela merasa keheranan atas kebaikan hati dan kesetiaan dari menteri pintu ini, tak tahan lagi dia berseru .

"Lo si selama hidupnya kau orang paling suka dengan uang perak yang putih berkilauan, kenapa kali ini kau menolak pemberian dari hujin?"

"Tidak salah, lohu selama hidupnya memang paling suka dengan uang perak"

Jawab si menteri pintu dengan wajah berubah keren.

"Bahkan boleh di kata saking senangnya sampai tidak bosan-bosannya, tetapi uang yang lohu sukai adalah uang orang lain, bukan uang dari Hujin"

Ketika si pembesar jendela melihat wajahnya yang serius tak terasa lagi sudah menjulurkan lidahnya.

"Hee . heee, , , tidak kusangka kau Lo si ternyata seorang manusia yang berbudi "

Bun Jin Cu yang melihat mereka sudah selesai mengikat tubuh Wi Lian In serta Suma San Ho ke atas tiang lalu ujarnya sambil tertawa.

"Sudah, sudahlah, sekarang kalian boleh keluar berjaga-jaga di sana, jikalau menemukan Wi Ci To sudah datang cepatlah datang memberi kabar kepadaku"

Si menteri pintu serta pembesar jendela segera menyahut dan mengundurkan diri dari dalam ruangan siksa itu.

Bun Jin Cu lalu bangkit berdiri dan mengambil segentong air dan disiramkan ke atas wajah Ti Then, setelah meletakkan kembali gentong tersebut dia mengambil sebuah cambuk dan kembali ke kursinya semula.

"Hmmm "

Dengusnya dingin.

"Kali ini aku mau lihat kau bangsat busuk merasa tidak "

Tidak lama kemudian Ti Then sudah sadar kembali dari pingsannya. Dia segera memperdengarkan suara tertawanya yang mendirikan bulu roma, ujarnya.

"Hey bangsat cilik, coba kau angkat kepalamu siapa yang sudah ada dikanan kirimu ??? ". Dengan perlahan Ti Then angkat kepalanya, ketika melihat Wi Lian ln yang ada di sebelah kiri serta Suma San Ho yang ada di sebelah kanannya dia menjadi sangat terperanyat.

"Bukankah dia adalah "

Mo Im Kiam khek "

Suma San Ho, kenapa kau pun tawan dirinya ?"

"Dia datang bersama-sama dengan kekasihmu, aku dengan tanpa membuang sedikit tenaga pun sudah berhasil menawan mereka berdua"' "Tentu kau menggunakan papan terbalik yang ada di dalam ruangan Khie Ie Tong ?"

Seru Ti Then tertawa pahit.

"Sedikit pun tidak salah"

Jawab Bun Jin Cu mengangguk.

Walau pun papan terbalik itu merupakan satu macam alat rahasia yang paling sederhana tetapi kegunaannya amat besar sekali, kemungkinan sekali dengan alat itu aku pun berhasil menawan Wi Ci To tanpa membuang banyak tenaga."

Dengan perlahan Ti Then menghela napas panjang.

"Aku betuI-betul merasa tidak paham, sebetulnya siapakah musub besar yang sudah membinasakan suamimu?"

Bun Jin Cu segera tertawa dingin tak henti-hentinya.

"Malam itu sewaktu ada di atas tebing Sian Ciang jika bukannya Wi Ci To datang tepat pada waktunya dan melancarkan pisau terbang sehingga memutuskan angkinku kau bangsat cilik tidak akan berhasil membinasakan suamiku, maka itu seluruh orang-orang dari Banteng Pek Kiam Po merupakan musuh besarku"

"Hmm, tentu selama ini kau merasa cuma suamimu seorang saja yang tidak patut untuk menerima kematiannya ?"

"Benar"

"Tapi aku rasa cuma orang yang bisa berjaga diri saja yang tidak seharusnya binasa"

Bun Jin Cu mendadak meloncat bangun dan kirimkan satu pukulan cambuk ke atas badannya, dia tertawa dingin dengan seramnya.

"Kau orang tidak usah banyak bicara dengan aku, aku tidak ingin berbicara soal apa pun dengan kau "

Berbicara sampai di sini dia menarik rambut Wi Lian ln dan mendongakkan kepalanya ke atas lalu mendengus dengan amat dingin.

"Kau budak jelek, tidak mau sadar-sadar juga?"

"Cuh . ."

Mendadak Wi Lian In meludahkan riak ke atas wajahnya yang dengan tepat menghajar hidung Bun Jin Cu.

Si rase bumi menjadi amat gusar sekali, dia mundur dua langkah ke belakang lalu mengangkat cambuknya kirim satu cambukan ke atas tubuhnya.

Wi Lian In segera merasakan badannya amat sakit sekali, dengan menahan sakit dia melototkan matanya memandang dia orang dengan amat gusar.

Ti Then yang melihat kejadian itu segera merasakan hatinya seperti diiris iris dengan amat gusar dia meronta sekuat tenaga lalu bentaknya dengan keras.

"Tahan, perempuan cabul kenapa kau pukul badannya?"

OooooOooooo Mendengar perkataan itu Bun Jin Cu menghajar tubuh Wi Lian In makin keras lagi, sembari memukul ujarnya tertawa melengking.

"Aku sengaja akan memukul dia, aku mau lihat kau merasa sedih tidak ?"

Saat ini Suma San Ho pun sudah sadar kembali dari pingsannya, ketika dilihatnya Wi Lian In mendapatkan hajaran yang begitu kejam seketika itu juga dia menjadi amat gusar.

"Perempuan sundal. Nenek jelek. kenapa kau tidak memukul aku saja?"

Teriaknya dengan mata melotot.

"Kau tunggu saja sebentar lagi akan tiba giliranmu "

Sembari berkata cambuknya bagaikan titiran air hujan dengan kerasnya dihajarkan ke atas tubuh Wi Lian ln.

Ti Then benar-benar dibuat gusar oleh tindakannya ini, sambil membentak keras sepasang tangannya mengerahkan seluruh tenaga untuk meronta.

"Kraak , ."

Tiang kayu yang mengikat tangannya seketika itu juga terputus menjadi dua bagian.

Kiranya tali yang digunakan untuk mengikat sepasang tangan serta sepasang kakinya itu merupakan otot kerbau yang sangat kuat, semula dia pernah mencoba untuk memutuskannya tetapi tidak berhasil kini melihat Wi Lian In memperoleh hajaran yang demikian kejam membuat dia orang dalam keadaan amat gusar segera mengeluarkan suatu tenaga gaib yang amat hebat sekai membuat tiang kayu tersebut menjadi patah.

Tetapi walau pun kayu itu patah orang masih tidak sanggup untuk meninggalkan tiang kayu itu karena sepasang kakinya masih terikat di atas tiang.

Ketika Bun Jin Cu melihat dia sudah berhasil meronta sehingga tiang kayu menjadi putus dengan cepat tubuhnya meloncat ke belakang lalu melancarkan serangan menotok jalan darah kakinya.

Ti Then tidak bisa menghindar lagi terasa seluruh tubuhnya menjadi linu seketika itu juga anggota badannya tidak bisa bergerak.

Bun Jin Cu segera berputar ke depan badannya, sambil bertolak pinggang memperlihatkan sikapnya yang menantang, dia tertawa genit.

"Sejak tadi aku sudah tahu lebih baik aku pukul dia daripada memukul dirimu sekarang tentu puas bukan?"

"Kubunuh kau bangsat Perempuan."

Teriak Ti Then dengan amat gusarnya.

"Bilamana kau bangsat cilik berhasil meloloskan diri dari istana Thian Teh Kong ini aku akan menantikan kedatanganmu kembali, tetapi sekarang aku orang tetap mau memukul dia, kau baik-baiklah berdiri nonton di sana."

Selesai berkata pinggulnya digoyang-goyangkan lalu berjalan ke hadapan Wi Lian In dan dengan perlahan mulai mengangkat cambuknya.

Baca Juga: Rajawali Hitam Kho Ping Hoo

Baca Juga: Dewi Maut Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert