Eps 8 Pendekar Patung Emas - Qing Hong
Baca online Pendekar Patung Emas - Qing Hong
Cersil Pendekar Patung Emas - Qing Hong.
Suma San Ho yang melihat kejadian ini benar benar tidak kuasa menahan hawa amarahnya,bentaknya keras "Perempuan sundal kenapa kau tidak berani pukul aku ?
Mari kau ke sini kalau berani pukul aku saja ".
Bun Jin Cu pura-pura tidak mendengar, cambuknya diangkat tinggi-tinggi lalu dengan sekuat tenaga dihajar ke atas tubuh Wi Lian In.
Pada waktu dia menghajarkan cambuknya yang pertama itulah mendadak pintu ruangan siksa itu dibuka, tampak si pembesar jendela dengan wajah gugup berlari masuk.
"Ada urusan apa?"
Tanya Bun Jin Cu dengan cepat sewaktu dilihatnya wajah si pembesar jendela amat gugup.
"Lapor kepada hujin, di dalam istana sudah kedatangan seorang manusia yang sangat misterius"
Ujar sipembesar jendela dengan cepat.
"Siapa ?"
Tanya Bun Jin Cu kaget.
"Tidak tahu, dia memakai baju berwarna hitam, wajahnya berkerudung kepandaian silatnya tidak jelek, sewaktu dia sudah berada di belakang tubuh hamba, saat itulah hamba baru merasa ..."
"Lalu bagaimana dengan Lo-si ? "
Tanya Bun Jin Cu kaget.
"Lo-si tidak mengapa, manusia misterius itu sama sekati tidak menyerang hamba sekalian, dia cuma bilang mau bertemu dengan Hujin untuk membicarakan sebuah juai beli."
"Dia tidak mau menyebutkan namanya? Tanya si rase bumi ini semakin terperanyat.
"Benar, tetapi dia berkali-kali mengutarakan bahwa dia bukan datang kemari mencari gara-gara melainkan hendak membicarakan sebuah barang dagangan."
"Barang dagangan apa?"
"Dia biiang setelah bertemu dengan hu jin baru mau membicarakannya sendiri"
Bun Jin Cu segera tertawa dingin.
"Hmm.. aku kira tentu dialah Wi Ci To itu, da ingin memancing aku keluar dari sini"
"Tidak... bukan, bukan dia."
Cepat si pembessr jendela gelengkan kepalanya.
"Dari bentuk tubuhnya sangat mirip dengan diri. Wi Ci To"
"Sebelum aku berhasil menawan diri Wi Ci To aku orang sudah mengambil keputusan untuk tidak meninggalkan ruangan di bawah tanah ini, coba kau keluar tanya padanya mau membicarakan soal juai belii barang apa, bilamana dia tidak mau bicara terus terang katakan saja aku tidak ingin membicarakan persoalan ini dengan dirinya itu"
"Baik"
Sahut si pembesar jendela dan berlalu dari sana.
Sepasang mata dari Bun Jin berputar-putar mendadak dia melepaskan cambuk dan pergi menutup pintu setelah itu baru duduk kembali ke kursinya sambil melirik sekejap kearah Ti Then, Wi Lian ln serta Suma San Ho tiga orang.
"Kalian jangan bergirang dulu "
Ujarnya sambil tertawa dingin.
"Jika orang yang baru saja datang itu hendak menolong kalian maka jangan harap dia orang bisa melakukannya, saal ini kecuali kami orang-orang dari istana Thian Teh Kong tidak ada seorang pun yang bisa menerobos masuk ke dalam ruangan siksaan ini"
Dia berhenti sebentar untuk tukar napas lalu tambahnya.
"Sedang aku orang pun sudah mengambil keputusan untuk mempertahankan tempat ini, tidak perduli siapa yang sudah datang aku sudah memastikan diri untuk tidak keluar "
Wi Lian ln serta Suma San Ho yang mendengar dari mulut si pembesar jendela itu mengatakan orang yang baru saja datang adalah "Seorang yang misterius"
Segera mengetahui orang itu tentulah lelaki berkerudung tadi, karenanya terhadap "
Pendatang""
Itu sama sekali tidak menaruh harapan, dalam hati Ti Then tergerak juga oleh perkataan ini, walau pun dia juga menduga "Pendatang"
Itu kemungkinan sekali kaum komplotan dari orang-orang berkerudung yang munculkan diri di dusun Thay Peng Cung tetapi dia pun merasa kemungkinan sekali "Pendatang "
Itu adalah orang dari benteng Pek Kiam Po, segera dia pun tertawa dingin.
"Hmmm, sesudah istana Thian Teh Kong rata dengan tanah, tempat ini pun bisa digali dengan perlahan-lahan, akhirnya liang rasemu ini bakal terbongkar juga "
Mendadak.. Suara ketukan pintu memecahkan kesunyian kembali. Dengan amat gesit Bun Jin Cu meloncat ke samping pintu lantas tanyanya dengan suara keras.
"Siapa? Lo-Ciauw?"
"Benar, hamba adanya"
Sahut orang itu.
"Apakah orang tersebut sudah berhasil menerjang masuk ke dalam istana?"
"Belum"
Jawab pembesar jendela dengan sangat hormat.
"Dia masih berdiri di luar ruangan Khie Ie Tong"
Mendengar sampai di sana, Bun Jin Cu baru merasa lega, dia segera membuka pintu membiarkan si pembesar jendela berjalan masuk.
"Dia berbicara apa lagi?"
"Dia masih tidak mau menjelaskan persoalannya, tapi dia menjelaskan juga barang apa yang hendak diperjual belikan dengan diri hujin"
Berbicara sampai di sini dia melirik sekejap kearah Ti Then serta Wi Lian ln lalu tertawa terbahak-bahak.
"Urusan apa yang begitu menggelikan ?"
Tanya si Bun Jin Cu keheranan.
"Sungguh menggelikan, sungguh menggelikan sekali, haa .... haaa ...."
Melihat dia orang tidak memberikan jawaban juga Bun Jin Cu segera mengerutkan keningnya.
"Sebenarnya dia mau membicarakan perdagangan apa dengan aku?"
"Dia bilang mau membeli kedua orang itu dari tangan hujin "
Sahutnya sambil menuding ke arah Ti Then serta Wi Lian In.
"Ooh ... dia mau membeli kedua orang ini ?"
"Benar, dia bilang mau membayar seratus ribu tahil perak kepada hujin untuk membeli kedua orang tersebut"
Wajah si rase bumi Bun Jin Cu segera berubah adem, dia tertawa dingin.
"Perkataanku sedikit pun tidak salah bukan ? jikalau dia orang bukan Wi Ci To sendiri tentulah salah satu pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po."
"Tidak mungkin "
Bantah si pembesar jendela gelengkan kepalanya.
"Hamba berani memastikan kalau dia orang bukanlah pendekar pedang merah dari benteng Pek Kiam Po,"
"Sungguh?"
Seru Bun Jin Cu kurang percaya.
"Benar, jikalau orang-orang dari benteng Pek Kiam Po mendengar kalau ketiga orang ini sudah terjatuh ketangan hujin mereka pasti akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk berusaha menolong mereka meloloskan diri, dengan sifat mereka tidak mungkin pihak sana mau mengeluarkan banyak uang untuk membeli mereka bertiga karena jikalau mereka sampai membeli mereka bertiga bukankah nama dari Benteng Pek Kiam Po akan hancur?"
Bun Jin Cu segera merasakan perkataannya ini sediki t pun tidak salah, tanpa terasa lagi dia sudah mengangguk.
"Hmmm ... pemikiranmu ini memang sangat beralasan sekali . ."
"Apa lagi.."
Sambung si pembesar jendela itu lagi.
"Orang itu cuma bilang mau membeli Wi Lian In serta Ti Then dua orang dan sama sekali tidak mengungkat-ungkat Mo Im Kiam Khek, bilamana orang itu berbasal dari benteng Pek Kiam Po sudah tentu dia pun akan membeli sekalian diri Mo Im Kiam Khek."
"Benar, sangat beralasan, lalu apakah dia orang juga mengatakan tujuannya untuk membeli Ti Then serta Wi Lian In?"
"Benar, dia bilang dia orang ada dendam sakit hati dengan Wi Ci To, dia hendak menggunakan kedua orang ini untuk menguasahi diri Wi Ci To."
"Kalau memang demikian tujuannya sama seperti apa yang aku orang cita-citakan."
"Bagaimana dengan keputusan hujin?"
"Hmmm..."
Dengus si rase bumi dengan amat dingin.
"Kau pergi beritahu kepadanya, jangan dikata seratus ribu tahil perak sekali pun satu juta tahil perak aku juga tidak akan menjual mereka kepadanya."
"Baik,"
Sahut si pembesar jendela lalu berlalu dari sana dengan terburu-buru. Bun Jin Cu segera menutup pintu kembali, kepada Ti Then bertiga dia menyengir.
"Kalian sudah dengar belum? musuh besar dari We Ci To sungguh banyak sekali."
Ti Then bungkam tidak berbicara.
"Di antara kalian bertiga adakah yang tahu siapakah orang itu ?"
Tanyanya lagi sambil tertawa.
"Bilamana kau orang kepingin kenapa tidak keluar sendiri untuk melihat-lihat?"
Seru Ti Then dengan amat dingin.
"Aku orang sama sekali tidak tertarik dengan dirinya "
"Sebaliknya orang itu sangat tertarik kepadamu"
Sambung Suma San Ho dengan cepat.
"Dia bilang dialah suamimu yang baru."
"Suma San Ho apakah badanmu benar-benar merasa gatal?"
Teriak si rase bumi tertawa keras.
"Hal ini sungguh-sungguh terjadi, tadi sewaktu masih ada di bawah gunung dia sudah membokong nona Wi dan mengaku sebagai majikan baru dari istana Thian Teh Kong, dia bilang dialah suamimu yang baru."
"Aaaah sungguh ??? ".
"Jika kau tidak percaya kenapa tidak keluar untuk bertanya sendiri ? "
"Lalu tahukah kau siapakah dia orang?"
Tanya Bun Jin Cu lagi sambil tertawa.
"Baiklah"
"Berapa besar usianya? bagaimana wajahnya?"
"Wajahnya berkerudurg sehingga tidak bisa dilihat, tetapi jika didengar dari suaranya dia tidaklah terlalu tua, bahkan kepandaian silatnya tidak rendah aku rasa dia dia orang sangat cocok untuk dijadikan suamimu yang baru"
Wajah Bun Jin Cu segera berubah memerah, dengan nada malu-malu ujarnya.
"Bangsat, kau pun merasa kuatir juga terhadap perkawinan aku orang? "
Baru saja Suma San Ho mau memberi jawaban mendadak dari pintu luar terdengar kembali suara ketukan pintu.
"Lo ciauw?"
Tanya Bun Jin Cu dengan cepat.
"Bukan, hamba adanya "
Suara dari menteri pintu, Bun Jin Cu segera membuka pintu membiarkan si menteri pintu berjalan masuk.
"Bagaimana dengan Lo ciauw?'-tanyanya cepat.
"Dia tidak mengapa "
"Lalu bagaimana dengan orang itu?-"Dia masih ada di sana, dia minta hamba masuk ke dalam untuk memberi nasehat kepada hujin, dia bilang jikalau hujin tidak ingin menjual tawanan itu dia sangat mengharapkan hujin mau mengubah cara dengan bekerja sama dengan dia orang untuk bersama sama menghadapi Wi Ci To. hamba rasa ..."
Berbicara sampai di sini dia segera menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kau rasa bagaimana ?"
"Hamba rasa orang itu sangat bernapsu sekali untuk ikut bersama kita bahkan kepandaian ilmu silatnya amat tinggi, tadi di depan hamba dia sudah mempamerkan satu tenaga pukulannya dimana hanya dalam satu kali sambaran saja patung singa di depan ruangan Khie le Tong sudah berhasiI dihancurkan"
Air muka Bun Jin Cu segera berubah sangat hebat, serunya "Patung arca singa yang ada di depan ruangan Khie le Tong dibuat dari bahan yang sangat keras, jikalau dia orang bisa menghancurkan benda tersebut berarti puIa tenaga dalamnya mencapai pada tarap kesempurnaan."
"Benar, maka itu hamba rasa jikalau hujin mau bekerja sama dengan dia orang kemungkinan sekali bisa mendirikan kembali kewibawaan dari istana Thian Teh Kong kita untuk melanjutkan menjagoi Bu-lim"
Sepasang mata dari Bun Jin Cu segera berkedip-kedip tanyanya.
"Dia tetap tidak mau bicara terus terang soal asal usulnya?"
"Benar, dia bilang jikalau hujin mau bekerja sama dengan dia maka setelah menjadi orang sendiri sudah tentu dia orang tidak akan menyembunyikan asal usulnya"
"Jika kau dengar dari suaranya kau kira berapa besar usianya ?"
"Mungkin enam puluh tahun ke atas"
Bun Jin Cu menjadi amat gusar, teriaknya kalap.
"Ooooh , , , , kiranya seorang kakek tua celaka."
Si menteri pintu yang melihat secara mendadak dia menjadi gusar dalam hati menjadi keheranan.
"Dia ... dia .. walau pun usianya sudah lanjut tetapi bukan seorang kakek tua celaka, tubuhnya tinggi kekar perkataannya pun amat nyaring dan berwibawa membuat orang yang mendengar merasa amat kagum.
"Tidak mau, tidak mau"
Teriak si rase bumi Bun Jin Cu dengan amat gusarnya.
"Aku tidak mau bekerja sama dengan dia orang, kau suruh dia orang cepat menggelinding dari sini "
"Hujin kau jangan marah dulu"
Ujar si menteri pintu mendadak dengan memperendah suaranya.
"Dia orang benar-benar punya maksud untuk bekerja sama dengan kita, bahkan dia memberikan sebuah nota uang sebesar seratus ribu tahil perak, katanya jika hujin setuju.."
"Tidak usah banyak omong lagi"
Potong si rase bumi Bun Jin Cu sambil mengulapkan tangannya.
"kau sendiri pun tidak usah banyak komentar suruh dia cepat-cepat menggelinding dari sini."
Si menteri pintu segera tertawa, dari wajahnya terlintas sifat liciknya.
"Hujin tunggu dulu, dia masih mengatakan sesuatu, tapi hujin jangan marah setelah mendengar perkataan ini "
"Bukankah dia orang bilang mau memperistri diriku?"
Sambung Bun Jin Cu cepat.
"Bukan."
Bun Jin Cujadi tertegun.
"Kalau tidak, dia mengatakan apa?"
Si menteri pintu melirik sekejap ke arah Ti Then bertiga lalu merendahkan suaranya.
"Perkataan ini lebih baik jangan sampai mereka bertiga ikut mendengar . ."
Si rase bumi Bun Jin Cu segera menarik dia orang untuk maju beberapa langkah ke depan lalu baru ujarnya "Sekarang kau berbicaralah"
Menteri pintu segera menempelkan bibirnya ke samping telinga dan berkata dengan suara yang amat lirih.
"Dia bilang jikalau hujin tidak menginginkan uang yang seratus ribu tahil perak itu maka dia bersedia untuk menghadiahkan uang seratus ribu tahil perak itu kepada ... Lohu"
Kata terakhir "
Lohu"
Segaja diperkeras, dan pada saat yang bersamaan pula jari tangannya melancarkan serangan menotok jalan darah kaku pada tubuh Bun Jin Cu.
Air muka Bun Jin Cu segera berubah sangat hebat, sepasang matanya terbelalak, dengan perasaan amat gusar bentaknya.
"Lo si"
Kau berbuat apa?"
Perkataan terakhir baru selesai diucapkan tubuhnya sudah rubuh ke atas tanah.
Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini membuat Bun Jin Cu sangat terperajat, demikian juga dengan Ti Then bertiga yang terikat di atas tiang kayu, mereka sama sekali tidak menyangka si menteri pintu bisa ikut berkhianat juga.
Si menteri pintu segera tertawa seram.
Sikapnya sudah berubah sangat ganas dan kejam sekali, sambi memandang kearah Bun Jin Cu yang tertotok di atas tanah ujarnya dengan perlahan.
"Mau apa? Hee . , . hee .., hee ... jika kau orang belum jelas biarlah lohu mengulangi lagi, dia bilang jikalau hujin tidak mau menerima uang sebesar seratus ribu tahil perak itu maka dia rela menghadiahkan uang tersebut kepada diri Lohu."
Air muka Bun Jin Cu sudah berubah menjadi pucat kehijau-hijauan, dia tahu perbuatan apa yang hendak dilakukan si menteri pintu terhadap dirinya, di samping merasa terkejut bercampur ketakutan dia pun merasa sangat gusar, bentaknya.
"Budak bangsat nyalimu sungguh besar kau sudah bosan hidup lebih lama lagi?"
"Heee ...hee ...Hujin yang baik, kau orang jangan marah-marah dulu"
Seru si menteri pintu sambil tertawa seram.
"Di dalam keadaan seperti ini kau jangan menyalahkan tindakan dari Lohu ini"
"Kau pingin berbuat apa?"
Teriak si rase bumi dengan penuh perasaan gusar bercampur kaget.
"Jual mereka berdua untuk mendapatkan uang tambahan yang tidak terduga,"
Jawab si menteri pintu sambi! menuding ke arah Ti Then serta Wi Lian In.
"Bagus, bagus sekali, tidak kusangka kau pun mengkhianati diriku"
Seru Bun Jin Cu sambil meneteskan air mnta saking mangkelnya.
"Tetapi sewaktu aku hendak memberi uang sebesar seratus ribu tahil perak kepadamu tadi kenapa kau tidak mau terima ? mengapa sekarang hanya Jikarenakan uang sebesar seratus ribu tahil perak pula kau mengkhianati diriku?"
"Haaaa , haaa , , , kau terlalu memandang rendah keinginanku, jikalau Lohu cuma menginginkan seratus ribu tahil perakmu buat apa aku orang menanti sampai hari ini batu berkhianat? terus terang saja aku beritahu kepadamu, sejak semula Lohu sudah tahu kalau sebagian besar harta kekayaanmu sudah kau sembunyikan di suatu tempat karena tidak tahu tempat penyimpannya maka aku tidak ikut kawan-untuk mengkhianati kau "
"Kau jangan mimpi"
Teriak Bun Jin Cu gusar.
"Kau jangan harap bisa memperoleh harta kekayaan tersebut."
Pada wajah menteri pintu segera terlintaslah senyuman yang amat licik dan kejam.
"Tidak, Lohu tahu kau masih tidak ingin mati kau tentu bisa berikan barang barang itu kepadaku, bukan begitu ? "
"Sekali pun aku harus mati aku bersumpah tidak akan menyerahkan barang-barang itu kepadamu."
Teriak Bun Jin Cu sambil menggigit bibir menahan kemangkelan hatinya yang sudah memuncak.
"Bagus sekali, kalau kau orang memangnya tidak takut mati lohu pun tidak ingin membinasakan dirimu, tetapi Lohu bisa memotong sepasang kakimu lalu menghancurkan kecantikan wajahmu sehingga kau berubah menjadi seorang nenek tua yang sangat jelek dan cacad"
Mendengar ancaman itu air muka Bun Jin Cu segera berubah menjadi pucas pasi, dengan amat gusar dia melototkan matanya kearahnya, akhirnya sambil menghela napas panjang dia berkata dengan nada yang amat sedih "Lo-si, kau berlaku demikian kepada ku apakah tidak merasa kalau tindakanmu itu terlalu kejam?'"
"Begitulah."
Ujar simenteri pintu sambil tertawa serak.
"Hujin, kau tahu aku pun tahu kita semua suka membicarakan persoalan dengan baik-baik"
"Kau terlalu bodoh, orang yang ada di depan itu sekarang menyanggupi dirimu untuk menyerahkan uang sebesar seratus ribu tahil perak tetapi setelah kau menyerahkan kedua orang itu kepadanya maka dia akan turun tangan membunuh dirimu"
Ujar si rase bumi memberi peringatan. Soal ini Lohu sejak tadi sudah memikirkannya"
Sela si menteri pintu sambil angkat bahunya.
"Sebelum aku orang mendapatkan uangnya Lohu tidak akan turun tangan menyerahkan mereka berdua kepada dirinya, tentang hal ini kau boleh berlega hati "
"Tapi kemungkinan juga uang tersebut adalah palsu .."
"Tidak akan palsu, Lohu sudah memeriksa nota uang tersebut dengan teliti, aku kenal dengan tandannya yang ada di atas, Lohu pun mem punyai simpanan uang di dalam gudang uang itu"
"Lo Ciauw apakah ikut juga mengkhianati diriku?"
Akhirnya tanya Bun Jin Cu dengan sedih "Tidak, dia orang kecuali paling doyan perempuan terhadap hujin sangat setia"
Bun Jin Cu menjadi sangat girang teriaknya.
"Bagus sekali, akhirnya masih ada juga orang yang tidak mengkhianati diriku"
"Tetapi sungguh amat sayang"
Seru menteri pintu menyengir.
"Tidak beruntung dia ... dia sudah mati " -ooo0dw0ooo-
Jilid 22 . Barang apa yang diminta lelaki berkerudung? "Kau sudah membunuh dirinya? "tanyanya Bun Jin Cu tertegun.
"Tidak salah"
Sahut si menteri pintu mengangguk.
"Lohu tahu kau orang tidak akan mau menjual tawanan itu juga tidak akan mau bekerja sama dengan dia orang semakin tahu pula dia si Lo Ciauw tidak bisa menghianati dirimu, karenanya Lohu turun tangan terlebih dulu membunuh mati dia orang."
"Sungguh tidak kusangka, sungguh tidak kusangka kau Lo si mem punyai hati yang demikian kejamnya .."
Teriak Bun Jin Cu dengan wajah yang amat sedih bercampur gusar.
"Bukankah kau orang sering berkata dengan suamimu, Tahu mukanya tahu wajahnya belum tentu tahu isi hatinya beberapa perkataan ini? "
Bun Jin Cu benar-benar dibuat gemas sumpahnya.
"Kau tidak akan memperoleh cara kematian yang wajar, kau tidak akan mati dengan sempurna"
Mendengar perkataan itu air muka si menteri pintu segera berubah hebat, dari atas dinding dia mencabut keluar sebilah golok baja lalu menjerat badannya berdiri ujarnya sambil melototi dirinya dengan amat buasnya.
"Lohu sudah tidak sabaran untuk banyak bertanya, sekarang kau harus menyawab pertanyaan lobu, dimanakah harta kekayaanmu itu kau sembunyikan?"
"Jika aku tidak mau menyawab apa kah kau akan merusak kecantikan wajahku serta memotong kedua belah kakiku?"
Tanyanya lagi dengan wajah berubah pucat pasi.
"Sedikit pun tidak salah"
Jawab menteri pintu ketus.
"Tetapi bilamana aku memberitahukan tempat penyimpanan harta kekayaan tersebut kau tidak akan membunuh diriku?"
"Benar"
Sahutnya mengangguk.
"Aku tidak percaya "
"Apa yang sudah lohu katakan selama ini tidak akan berubah kembali, aku tidak akan berbohong"
"Kau tidak takut kalau aku mencari balas kepadamu pada kemudian hari?"
Si menteri pintu segera tertawa terbahak-bahak.
"Selamanya kau tidak akan bisa mencari lohu untuk membalas dendam karena lohu cuma menyanggupi untuk tidak membunuh kau, lohu sama sekali belum pernah menyanggupi untuk tidak memusnahkan seluruh kepandaian silatmu"
"Apa?"
Teriak Bun Jin Cu dengan sangat terperanyat.
"Aku mau memberitahukan tempat penyimpanan harta kekayaanku kau orang masih hendak memusnahkan seluruh ilmu silatku?"
"Yaaa, cuma ada satu jalan ini yang bisa membuat Lohu berlega hati"
Dari sepasang mata si rase bumi Bun Jin Cu segera memancar keluar sinar kemarahan yang berapi-api, agaknya saking gemasnya dia kepingin sekali menelan dia orang bulat-bulat.
Sambil menggigit bibir teriaknya sepatab demi sepatah "Si Im piauw kau binatang buas yang berhati srigala ..."
Mendadak si menteri pintu menekankan golok bajanya ke atas batang hidungnya.
"Lohu tidak akan bertanya untuk ketiga kalinya, kau mau memberi tahu tempat penyimpanan harta kekayaanmu tidak?"
Bentaknya keras. Seketika itu juga si rase bumi Bun Jin Cu berhenti memaki, setelah menarik napas panjang sahutnya dengan nada terputus-putus.
"Har ... harta .., harta kekayaan ., itu , , di , ..disimpan , --disimpan di dalam . di dalam sebuah ruang rahasia di dalam ruangan siksa ini "
"Pada dinding sebelah mana? "tanya si menteri pintu sambi! menyapu sekejap di sekeliling ruangan tersebut.
"Dinding yang di belakang itu."
Si menteri pintu segera mengalihkan pandangan matanya kearah dinding tembok yang ada di belakang ruang siksa tersebut, agaknya dia merasa berada diluar dugaan.
"Haaa . ... ha. ha .... tidak kusangka harta kekayaanmu itu kau sembunyikan di dalam dinding ruangan siksa ini ...". seru nya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana cara membuka dinding tersebut?"
"Dinding tersebut tidak akan bisa digerakkan."
"Lalu bagaimana caranya untuk masuk ke dalam ?"tanya si menteri pintu ragu-ragu.
"Pada dinding tersebut seluruhnya mem punyai seratus buah batu besar, kau singkirkan dulu batu yang ketiga puluh enam, empat puluh enam dan lima puluh enam setelah itu kau akan menemukan sebuah jalan di bawah tanah yang sempit."
"Di dalam ruangan itu adakah alat rahasianya ??"
"Tidak ada."
"Sungguh tidak ada ?"
Seru si menteri pintu tertawa dingin.
"Jikalau kau orang merasa takut kenapa tidak bawa aku sekalian kssana?"
"Lohu memang mem punyai maksud demikian."
Tangannya dengan cepat mencengkeram tangan kanan dari Bun Jin Cu lalu menyeretnya ke bawah dinding bata tersebut, lantas dengan menggunakan tangan kanannya dia memeluk pinggangnya sehingga membuat badannya bersandar pada tubuhnya sendiri, tangannya yang lain mulai menggerakkan golok baja untuk mengorek keluar ketiga buah batu bata yang dimaksud tadi.
"Ketiga buah batu bata ini?"
Tanyanya.
"Benar, empat buah batu bata ini ada yang di bawah batu nomor tiga puluh enam, empat batu bata yang ada di bawah nomor empat puluh enam serta empat batu bata yang ada di bawah batu nomor lima puluh enam harus dibongkar juga"
"Heee ... he hee maaf hujin, sewaktu ini lohu bekerja aku harus tetap memeluk dirimu seperti ini, karena jika ada suatu peristiwa yang terjadi secara mendadak kau pun tidak dapat ikut melarikan diri ... sekarang sekali lagi aku mau bertanya harta kekayaanmu itu apa betul kau simpan ditempai ini?"
"Benar"
Teriak si rase bumi Bun Jin Cu dengan amat sengit.
Si menteri pintu segera tersenyum, golok bajanya diangkat dan mulai bongkar batu-batu bata yang dimaksudkan, berturut turut dia menusuk beberapa kali pada batu nomor tiga puluh enam sehingga menjadi kendur baru menggunakan ujung golok mencukilnya keluar.
Sewaktu dia membongkar sedalam setengah depa mendadak dia berhenti bekerja dan menggeserkan kakinya setengah langkah ke samping sehingga badan dari Bun Jin Cu kini berhadap-hadapan langsung dengan dinding batu tersebut, ujarnya sambil tertawa seram.
"Sewaktu aku melepaskan batu bata ini, jikalau dari dalam dinding meluncur keluar senyata-senyata rahasia itu akan tepat menghajar wajahmu terlebih dulu"
"Heee ... hee ..kau terlalu teliti, aku lihat aku tidak akan berhasil membokong dirimu"
Ujar Bun Jin Cu sambil tertawa pahit.
Si menteri pintu segeta tertawa, dia meletakkan golok bajanya ke atas tanah lalu menggunakan tangannya membongkar batu bata tersebut.
Batu yang seberat tiga puluh kati segera terjatuh ke atas tanah sehingga mengeluarkan suara yang amat keras sekali.
Sedang dari atas dinding itu sama sekali tidak ada gerakan apa pun juga, tak ada senyata rahasia yang meluncur keluar.
Di balik batu itu suasana amat gelap sekali tidak tampak barang apa-apa di sana kecuaii secara samar-samar bisa diduga kalau tempat itu merupakan sebuah jalan rahasia.
Si menteri pintu yang melihat dari balik dinding itu tidak ada senyata rahasia yang meluncur keluar dia baru menengok ke dalam untuk memeriksa.
"Berapa panjang jalan rahasia ini?"
Tanyanya tiba-tiba sambil tertawa.
"Ada tujuh delapan kaki panjangnya "
"Kalian menyimpan harta kekayaan itu pada ujung jalan rahasia ini ?"
"Tidak, pada ujung jalan rahasia itu terdapat sebuah pintu besi, di balik pintu besi terdapat sebuah ruangan kecil, seluruh harta kekayaanku ada di dalam ruangan kecil itu."
Si menteri pintu menjadi amat girang sekali, tanpa banyak bertanya lagi dia segera membongkar keluar batu yang keempat puluh enam serta ke lima puluh enam, setelah itu dengan mengikuti ketiga buah batu tadi dia melanjutkan membongkar.
Kurang lebih seperminum teh lamanya seluruh pintu jalan rahasia sudah muncul di hadapannya.
Ti Then, Wi Lian In serta Suma San Ho yang terikat di atas tiang kayu dan menghadap ke depan pintu ruangan siksa pula karenanya tidak bisa melihat bagaimana keadaan di sana, tetapi rasa terperanyat serta ngeri yang semula meliputi hati mereka bertiga semakin lama semakin Ienyap karena mereka tahu jika mereka terjatuh ketangan orang berkerudung itu maka kesempatan untuk melanjutkan hidup masih ada.
Hal ini jelas sekali, tujuan dari si rase bumi Bun Jin Cu adalah menawan mereka untuk dibunuh sebagai balas dendam atas kematian suaminya, sebaliknya tujuan dari lelaki berkerudung itu hanya bertujuan untuk memaksa Wi Ci To menyerahkan barang tersebut kepadanya, jikalau Wi Ci To sudah menyerahkan "Barang"
Tersebut kepadanya sudah tentu mereka segera akan dilepaskan. Saat itu terdengar si menteri pintu sedang bertanya.
"Jalan rahasia ini dibangun sudah lama?"
"Sewaktu mendirikan istana Thian Teh Kong jalan rahasia itu sudah ada"
"Bagaimana lohu tidak tahu?"
"Selain kami suami istri berdua tidak ada orang ketiga yang tahu"
"Atau dengan perkataan lain, jalan rahasia ini kalian suami istri yang menggalinya sendiri?"
"Bukan begitu, orang-orang yang menggali jalan rahasia ini sudah kami bunuh semua setelah mereka menyelesaikan pekerjaannya"
"Ooooh kiranya begitu"
Ujar si menteri pintu sambil tertawa."Harta kekayaan yang disimpan di dalam ruangan tersebut apa benar-benar bernilai di atas puluhan juta tahil perak?"
"Benar, semua barang merupakan barang-barang berharga yang tidak ternilai harganya, diantara itu cuma ada sebuah peti emas yang merupakan barang paling tidak berharga, maukah kau memberikan batangan emas itu kepadaku?"
"Ada berapa banyak?"
"Cuma tiga puluh kati"
"Heee ..heee , , . tiga puluh kati emas murni merupakan sebuah harta kekayaan juga kenapa Lohu harus memberikannya kepadamu?"
Bun Jin Cu hanya bisa menghela napas paajaag.
"Jika kau tidak memberikan sedikit kepadaku bukankah aku akan menjadi ludas dan amat miskin?"
"Baiklah, mengingat hubungan persahabatan kita pada waktu-waktu yang lalu lohu akan berikan satu kati emas buatmu untuk melanjutkan hidupmu dikemudian hari"
"Cuma satu kati? satu kati emas bisa digunakan untuk apa ?"
"Kau jangan terlalu serakah, satu kati emas murni bukanlah satu jumlah yang kecil, asalkan sedikit mengirit maka barang itu bisa memberi makan kepadamu selama satu, dua tahun lamanya."
"Bagaimana untuk selanjutnya??? "
Si menteri pintu termenung sebentar, lalu tertawa.
"Sudah tentu setelah lohu memusnahkan seluruh ilmu silatmu kau tidak bisa merampok lagi kemana-mana, maka itu lohu nasehatkan kepadamu di dalam satu, dua tahun ini kau cepat-cepatIah mencari seorang suami yang baru untuk nunut hidup, dengan wajahmu yang cantik lohu kira untuk mencari pengganti suami tidaklah terlalu sukar."
"Hmmmm, terima kasih atas pemikiranmu buatku itu"
Dengus Bun Jin Cu dengan amat dinginnya.
"Sudah cukup, ayo kita masuk."
"Kau tidak takut di dalam jalan rahasia itu sudah diatur alat-alat rahasia yang bisa membinasakan jiwamu?"
Si menteri pintu segera tertawa terbahak bahak.
"Tidak takut, karena lohu akan memeluk badanmu terus, tidak perduli sudah terjadi urusan apa pun kau harus menemani lohu"
"Heee ..... perkataanmu sedikil pun tidak salah"
Ujar si rase bumi sambll menghela napas panjang.
"Aku orang memang masih tidak ingin mati .... sekarang kau dengarlah petunjukku, berjalanlah masuk dengan melalui pinggiran dinding,"
Dengan menggunakan tangan kirinya si menteri pintu memeluk pinggangnya erat-erat membuat badannya dengan kencang menempel pada badannya sendiri, segera dia mengikuti petunjuk itu untuk berjalan masuk dengan melalui pinggiran dinding sebelah kanan.
Di atas jalan rahasia itu secara samar-samar bisa terlihat tersusun rapi sebuah demi sebuah batuan hijau yang mengkilap jelas sekali di dalam jalan rahasia itu sudah dipasang alat rahasia yang amat lihay sekali.
Kurang lebih berjalan lima kaki kemudian sewaktu kaki kanan si menteri pintu hendak menginyak batu hijau yang kelima mendadak Bun Jin Cu berteriak.
"Berhenti."
Dalam hati si menteri pintu merasa amat tegang, mendengar perkataan tersebut tubuhnya tak kuasa lagi sudah tergetar dengan amat keras.
Dengan cepat dia berhenti di atas batu hijau yang kelima itu sambil tanyanya .
"Ada apa ?"
"Sekarang berganti berjalan melalui dinding sebelah kiri"
"Jika berjalan salah akan terjadi peristiwa apa?"
Tanya si menteri pintu kemudian sambil memperhatikan batuan hijau yang tersusun di atas permukaan tanah itu.
"Ada seratus dua puluh batang anak panah akan meluncur dari empat penjuru jalan rahasia ini "
Dengan perlahan si menteri pintu dongakkan kepalanya ke atas dinding jalan rahasia itu, tampak suasana amat galap sekali sehingga tidak terlihat ujung dindingn, dalam hati dia segera tahu di atas sana tentu sudah dipasang alat rahasia.
Tak terasa lagi sambil menghembuskan napas dingin ujarnya .
"Jalan rahasia ini demikian sempitnya jikalau bersamaan waktu meluncur keluar seratus dua puluh batang anak panah sekali pun dia memiliki kepandaian silat yang amat tinggi pun sukar untuk meloloskan diri .."
"Karena ini kita tidak boleh salah jalan barang satu tindak pun"
Seru Bun Jin Cu sambil tertawa dingin.
Si menteri pintu segera memindahkan badannya ke sebelah kanan lalu dengan sangat berhati-hati sekali berjalan ke samping satu langkah besar, dan tanyanya kembali .
"Sekarang maju ke depan berapa langkah ?"
"Kau jalanlah terus, sampai pada tempat yang tidak bisa dilalui tentu aku bisa memberitahukan kepadamu"
Akhirnya dengan sangat berhati-hati sekali si menteri pintu berjalan maju melalui tiga buah batu hijau dan berhenti kembali.
"Sekarang bagaimana ?"
"Aku belum suruh kau berhenti buat apa kau merasa begitu tegang?"
"Jawabanmu jangan sembarangan"
Teriak si menteri pintu dengan amat gusar.
"Maju lagi tiga langkah ke depan "
Si menteri pintu segera maju lagi ke depan. Siapa tahu baru saja dia berjalan dua langkah ke depan mendadak terdengar si rase bumi Bun Jin Cu sudah berteriak kaget.
"Aduh ....."
Suara teriakan kagetnya ini hampir-hampir membuat nyali si menteri pintu copot dari dalam raganya, tububnya tergetar dengan amat keras sekali lalu dengan ketakuan dia meloncat ke atas udara dan melayang keluar dari jalan rahasia itu dengan amat cepatnya.
oooX ooo Tetapi sewaktu dia sudah tiba di luar jalan rahasia itu, dari dalam ruangan sama sekali tidak terjadi sesuatu kejadian apa pun.
Hal ini benar-benar membuat dia menjadi melengak, dengan amat kheki tanyanya.
"Hey sudah terjadi urusan apa?"
"Tidak mengapa"
Sahut Bun Jin Cu sambi! tertawa genit "Aku ada sedikit urusan pribadiku yang harus diselesaikan"
"Telur makmu,"
Teriak si menteri pintu dengan amat gusar.
"Kau sengaja mencari gara-gara dengan lokhu."
"Ouw .... aku kan sungguh-sungguh, karena hatiku merasa amat cemas kepingin sekali aku orang menyelesaikan sedikit urusan pribadiku terlebih dulu, biarlah kita baru masuk kembali setelah aku menyelesaikan urusanku itu"
"Tidak bisa jadi,"
Teriak menteri pintu keras-keras.
"Mau pergi kencing yaah nanti, kau tunggu saja setelah kita berada didalm ruangan jalan rahasia itu,"
"Tapi aku sudah betul-betul tidak bisa tahan lagi."
"Jangan banyak bicara, jika kau berani cari gara-gara lagi jangan salahkan lohu akan kasih sedikit hajaran kepada mu"
Sehabis berkata dengan amat gusarnya dia berjalan kembali ke dalam ruangan rahasia tersebut.
Dengan melalui jalan yang semula dia berjalan lima langkah dari dinding sebelah kanan lalu berjalan lima langkah lagi dari dinding yang sebelah kiri dan berdiri pada tempat yang semula.
"Sekarang harus berjalan berapa langkah lagi ?"
Tanyanya dengan amat gusar.
"Maju satu langkah ke depan."
Dengan mengikuti petunjuk itu si menteri pintu berjalan maju satu langkah ke depan. laiu tanyanya kembali.
"Selanjutnya?"
"Sekarang berjalan melalui batuan hijau yang ada di sebelah tengah, kau maju lagi tujuh langkah ke depan"
Dengan mengikuti petunjuk itu si menteri pintu segera berjalan maju melalui batuan hijau yang ada di sebelah tengah, setindak demi setindak dia berjalan maju ke depan.
Menanti setelah Bun Jin Cu seka lian bertindak pada langkah yang kelima mendadak dia menghela napas dengan amat sedihnya.
"Si Im Piauw orang-orang berkata manusia binasa karena harta burung mati karena makanan kenapa kau tidak mau percaya terhadap pepatah kuno itu ?"
"Kau berbicara apa?"
Seru menteri pintu melengak.
Baru saja dia berkata sampai di situ kaki kirinya sudah menekan pada batuan hijau yang keenam, segera dia merasakaa batuan hijau yang diinyaknya itu menekan turun ke bawah, hatinya segera merasa tidak beres tetapi baru saja dia bersiap mengundurkan diri dari sana waktu sudah tidak mengijinkan lagi.
"Sreeet ..sreet . ."
Suara berdesirnya anak panah yang meluncur keluar bagaikan air hujan dengan amat cepatnya meluncur keluar dari empat penjuru ruangan dan berkelebat menuju kearah mereka.
Seketika itu juga ada berpuluh-puluh anak panah yang berhasil menembusi bagian kepala, lengan, dada serta kaki dari menteri pintu serta Bun Jin Cu.
Segera terdengarlah si menteri pintu memperdengarkan suara jeritan ngerinya yang penghabisan, tubuhnya berkelejet beberapa kali lalu rubuh ke atas tanah tidak berkutik kembali.
Tubuh Bun Jin Cu pun ikut rubuh ke atas tanah tetapi dia sama sekali tidak memperdengarkan suara teriakan yang ngeri sebaliknya tertawa keras dengan amat seramnya.
Suara tertawanya semakin lama semakin perlahan akhirnya dia tundukkan kepalanya menemui ajalnya dengan mulut penuh senyuman.
Ti Then, Wi Lian In serta Suma San Ho tidak bisa melihat kejadian apa yang sudah terjadi di dalam jalan rahasia itu, tetapi mereka pun sedikitnya mendengar peristiwa apa yang telah berlangsung, terdengar Ti Then dengan perasaan terkejut bercampur girang berteriak keras "Haaaa mereka sudah menggerakkan alat rahasia "
Dengan sekuat tenaga Suma San Ho menoleh ke belakang, ketika dilihatnya tubuh Bun Jin Cu serta si menteri pintu yang menggeletak di atas tanah dengan tubuh penuh tertancap oleh delapan sembilan batang dengan anak panah tak terasa lagi dia sudah menjerit tertahan.
"Tidak salah, mereka sudah binasa terkena sambaran anak panah."
"Bagus -, . bagus sekali."
Teriak Wi Lian In dengan amat girangnya sehingga melupakan badannya yang amat sakit.
"Sekarang mereka sudah binasa, itulah yang dinamakan pembalasan dari Thian"
"Ternyata dia punya keberanian untuk mengadu jiwa dengan sang pengkhianat, hal ini sungguh berada di luar dugaanku"
Ujar Ti Then dengan terharu.
"Itulah disebabkan dia terlalu becci terhadap si menteri pintu yang sudah mengkhianati dirinya sehingga tanpa sayang jiwanya sendiri dia sudah mengadu jiwa dengan dirinya"
Timbrung Suma San Ho dengan amat gembira.
"Sekarang aku mau mulai berusaha membebaskan totokan jalan darahku bagaimana kau? Tempat-tempat yang terpukul terasa sakit tidak?"
"Ada sedikit sakit tetapi tidak mengapa aku rasa perlahan-lahan akan sembuh dengan sendirinya .., . Suma suheng, bagaimana dengan keadaanmu?"
"Ie-heng baik-baik saja"
Sahut Suma San Ho dengan cepat."
Cuma saja tangan serta kakiku terikat kencang-kencang oleh otot kerbau itu ... ."
"Eeeeh lelaki berkerudung itu sudah berada di dalam istana, kita harus cepat-cepat berusaha untuk meloloskan diri dari ikatan tiang kayu ini"
Tiba-tiba Wi Lian in memperingatkan.
"Tadi si menteri pintu bilang dia orang sudah membinasakan si pembesar Jendela, entah hal ini benar atau tidak?"
"Aku kira sedikit pun tidak salah"
Jawab Suma San Ho cepat.
"Karena ingin menelan semua harta kekayaan kemungkinan sekali dia tidak akan melepaskan diri pembesrJendela"
"Kalau memang demikian adanya, cayhe rasa keselamatan kita untuk sementara tidak mengapa"
"Tidak salah"
Jawab Suma San Ho.
"Lelaki berkerudung itu tidak ada yang menunjuk jalan dia tentunya tidak berani menerjang secara sembarangan ke sini dengan menerjang kedelapan belas alat-alat rahasia yang sudah dipasang si anying langit rase bumi disekeliling tempat ini"
"Sekarang persoalannya sekali pun kita berhasil melepaskan diri dari belenggu ini tapi tidak bia menorobos keluar dari tempat ini"
Ujar Ti Then lagi.
"Lebih baik kita bicarakan persoalan itu setelah kita lolos dari tiang kayu ini, kau membutuhkan waktu berapa lama untuk membebaskan diri dari totokan jalan darahmu itu ?"
"Kurang lebih setengah jam lamanya"
"Kalau begitu cepatlah kau mengerahkan tenagamu, tidak perduli bagaimana pun kita harus meloloskaa diri dari ikatan tiang kayu ini sebelum lelaki berkerudung itu berhasil memasuki ruangan siksa ini."
"Baik, aku tidak akan berbicara kembali dengan kalian."
Ti Then segera memejamkan matanya untuk pusatkan seluruh perhatiannya mengatur pernapasan, dengan mengikuti aliran jalan darah dia berusaha menggunakan hawa murninya untuk menerjang jalan darahnya yang tertotok.
Waktu itu lelaki berkerudung yang sedang menanti diluar ruangan Khie Ie Tong sewaktu melihat si menteri pintu sudah amat lama sekali tidak keluar-keluar juga hatinya tidak sabaran, sambil menggendong tangan dia berjalan mondar mandir dan bergumam seorang diri.
"Hmmm, sudah begitu lama kenapa dia tidak balik? tentu di sana sudah terjadi peristiwa, tetapi jikalau dia tidak berhasil menguasai Bun Jin Cu sebaliknya dibunuh olehnya kenapa si rase bumi itu tidak keluar untuk menengok ?? apakah dia sudah bersiap sedia umuk bertahan di dalam ruangan siksanya itu?"
Mendadak telinganya menangkap suatu gerakan tubuh yang mencurigakan, tubuhnya dengan cepat berkelebat bersembunyi di balik sebuah wuwungan rumah.
"Ada orang yang datang?"
Tidak salah, tempat itu sudah kedatangan dua orang.
Kedua orang itu kurang lebih sudah berusia empat puluh tahunan, tubuhnya memakai baju singsat berwarna hijau dengan sebuah golok besar tergores pada punggungnya, jika dilihat dari wajahnya yang bengis kejam jelas sekali mereka bukanlah manusia baik-baik.
Gerakan tubuh mereka sangat mencurigakan sekali, seiampainya di depa t ruangan Cbi le Tong sewaktu dilihatnya tubuh si pembesar jendela sudah menggeletak tak bernyawa di atas tanah wajah mereka segera berubah amat hebat.
Mereka saling berpandangan sekejap lalu terdengarlah salah seorang yang berbadan tinggi besar berbisik dengan suara yang amat lirih.
"Bukankah dia orang adalah sipembesar jendela ?"
Lelaki kasar yang punya bentuk badan pendek kecil segera mengangguk.
"Tidak salah, dialah si pembesar jendela itu."
"Sungguh heran sekali,"
Terdengar lelaki berbadan tinggi besar itu berseru dengan pandangan terperanyat.
"Dia sama sekali tidak mengkhianati diri Teh Ho Kenapa dia pun terbunuh ?"
"Entah si menteri pintu masih ada tidak?"
Tiba-tiba silelaki berbadan pendek memberi peringatan sedang matanya berputar memandang ke sekeliling tempat itu.
"Si pembesar jendela sudah mati sudah tentu si menteri pintu pun tidak akan hidup kemungkinan juga dia sudah meninggalkan tempat ini."
"Tapi Teh Ho kemungkinan juga masih di dalam."
"Tidak mungkin"
Seru lelaki berbadan besar itu cepat.
"Aku berani bertaruh dengan kau orang, dia pasti sudah meninggalkan istana Thian Teh Kong ini"
"Tapi lebih baik kita sedikit berhati-hati jangan dikarenakan sedikit harta kita malah kehilangan nyawa"
Dia berhenti sebentar untuk tukar napas lalu sambungnya kembali.
"Omong terus terang saja, Lo Liuw, sebenarnya kau merasa Teh Ho masih ada seberapa banyak harta kekayaan yang terpendam di ruang bawah tanahnya ? apa barang-barang ini pasti ada ?"
"Pasti, tidak salah lagi"
Sahut lelaki berbadan besar itu sambil mengangguk.
"Lo cu sudah kerja selama tujuh, delapan tahun lamanya di dalam ruangan alat-alat rahasia dan sering sekali melihat Thian Cun serta Teh Ho memasuki ruangan siksa itu, mereka pasti sudah menyembunyikan sejumlah harta kekayaan di dalam ruangan itu."
"Jikalau di dalam ruangan siksa itu benar-benar sudah tersimpan sejumlah harta kekayaan bagaimana Teh Kong ini?"
Sela si lelaki berbadan pendek itu.
"Aku orang tua bisa mengambil kesimpulan kalau dia orang sudah meninggalkan tempat itu alasaanya ada dua Pertama, esok hari merupakan waktu janyinya kepada Wi Ci To untuk mengadakan pertandingan, dia orang bukanlah tandingan dari Wi Ci To karenanya dia harus menghindarkan diri dari tempat tersebut, kedua. menurut anggapannya harta kekayaan yang disimpan di dalam ruangan siksa tak ada yang mengetahuinya, karena itu dengan berlega hati dia meninggalkan tempat itu, dia bisa balik kembali ke atas gunung setelah waktu perjanyian dengan Wi Ci To lewat."
Lelaki kasar berbadan pendek itu segera termenung berpikir sebentar akhirnya sambil memandang tajam wajahnya dia berkata.
"Lalu apakah ksu sudah merasa yakin bisa melewati kedelapan belas buah alat rahasia itu ?"
"Aku orang tua sudah bekerja selama tujuh, delapan tahun lamanya di dalam kamar alat-alat rahasia itu, terhadap semua alat rahasia aku sudah mengenalnya seperti mengenali jariku sendiri, kau boleh berlega hati tidak perlu melewati kedelapan belas alat rahasia itu pun masih bisa sampai di dalam ruangan siksa"
Mendengar perkataan teisebut lelaki berbadan pendek itu menjadi amat girang sekali.
"Kalau memangnya demikian urusan tidak bisa ditunda-tunda lagi, ajoh mari kita masuk ke dalam"
"Sekali lagi aku orang tua berbicara"
Tiba-tiba ujar lelaki berbadan tinggi besar itu dengan serius.
"Setelah kita mendapatkan harta kekajaan itu maka aku orang tua akan mendapatkan tujuh bagian sedangkan kau orang cuma tiga bagian."
"Tidak ada persoalan. tetap seperti perkataan semula."Jawab lelaki pendek itu mengangguk berulang kali.
"Kalau begitu ikutilah diri lohu"
Ujarnya kemudian sambil melanjutkan langkahnya memasuki ruangan Khie Ie Tong tersebut, Pada saat mereka berdua berjalan memasuki pintu ruangan Khie Ie Tong itulah si lelaki berkerudung yang semula bersembunyi di atas wuwungan rumah mendadak melayang turun ke atas tanah dan bergerak menuju ke belakang badan kedua orang laki-laki kasar itu.
Kedua orang lelaki kasar itu masih tetap tidak merasakan sesuatu, mereka melanjutkan perjalanannya terus menaiki tangga.
Tangan kanan dari lelaki berkerudung itu dengan cepat berkelebat mencengkam leher dari lelaki berbadan pendek itu kemudian mengangkat seluruh badannya ke atas.
"Aduuh .."
Saking terkejutnya lelaki berbadan pendek itu sudah berteriak tertahan.
Tetapi baru saja suara teriakannya keluar dari mulut tubuhnya sudah dilemparkan beberapa kaki jauhnya oleh lelaki berkerudung itu sehingga kepalanya hancur dan darah segar berceceren keluar, tubuhnya hanya berkelejet beberapa kali lalu rubuh binasa.
Lelaki berbadan tinggi besar itu menjadi amat terperanyat sekali hamper-hampir membuat sukmanya pun ikut melayang, sambil menjerit-jerit keras tubuhnya dengan cepat mengundurkan diri ke belakang.
Tubuh lelaki berkerudung itu bagaikan bayangan setan saja mengikuti terus dari belakang badannya.
"Heee ..hee jangan lari aku tidak akan membinasakan dirimu"
Lelaki berbadan tinggi besar itu tidak mau tahu, pergelangan tangan kanannya dengan cepat di balik mencabut keluar golok yang terselip pada pinggangnya lalu dengan dahsyatnya dibacok ke atas kepala lelaki berkerudung itu.
Tubuh lelaki berkerudung itu dengan cepat berkelebat ke samping, telapak tangannya di balik mencengkeram pergelangan tangan lawannya sedang mulutnya membentak keras.
"Lepas"
Seketika itu juga lelaki berbadan tinggi besar itu merasakan pergelangan tangan yang dicengkeram oleh orang berkerudung itu terasa amat sakit sekali, golok di tangannya tidak dapat dicekal lagi dengan menimbulksn suara yang amat nyaring goloknya terjatuh ke atas tanah.
Saking-takutnya seluruh tubuh lelaki berbadan tinggi besar itu gemetar dengan amat kerasnya, sepasang lututnya menjadi lemas, tak kuasa lagi dia jatuhkan diri berlutut di atas tanah.
"Ooh Thayhiap am puni aku orang"
Mohonnya dengan suara gemetar.
"Hmm.. aku bilang tidak akan membunuh kau yah tidak bunuh, apa telingamu sudah tuli?"
Mendengar perkataan tersebut lelaki itu menjadi terkejut bercampur gembira, serunya berulang kali.
"Baik, baik, kau ..kau siapakah kau orang tua?"
"Lohu adalah Wi Ci To dari benteng Pek Kiam Po"
Sahut orang berkerudung itu dingin.
"Aaaah?"
Tak kuasa lagi lelaki itu menjerit tertahan lalu berdiri melongo tak bisa mengucapkan sepatah kata pun juga.
Sinar mata lelaki berkerudung itu segera berkelebat dengan amat tajamnya, dia tertawa dingin tak henti-hentinya.
"Siapa namamu?"
Tanyanya.
"Hamba bernama Liuw Khiet"
Sahut lelaki tersebut sambil menelan ludah.
"Kau pun anak buah dari istana Thian Teh Kong?"
"Benar"
Jawab si Liauw Khiet mengngangguk."Tetapi sekarang hamba sudah mengkhianati Teh Ho dan bukan anggota dari istana Thian Teh Kong lagi."
"Tadi kau bilang sudah bekerja selama tujuh delapan tahun lamanya di dalam ruangan alat rahasia, perkataanmu itu sungguh-sungguh atau sedang berbohong?"
"Sungguh ... sungguh waktu itu hamba benar-benar terdesak karenanya tidak berani melawan.""
"Kau benar-benar mem punyai cara untuk memasuki ruangan siksa itu tanpa melalui kedelapan belas alat rahasia tersebut? "
Sambung lelaki berkerudung itu. Benar.
"Seru lelaki tersebut setelah ragu ragu sebentar.
"Bagus sekali, kau bawalah lohu masuk ke dalam,"
"Wi Pocu mau berbuat apa masuk ke dalam ruangan siksa itu?"
Tanya Liuw Khiet ragu ragu.
"Mencari Bun Jin Cu"
"Aaaah "
Liuw Khiet segera berteriak kaget.
"Teh Ho masih ... masih ada di dalam istana Thian Teh Kong?"
"Tidak salah"
Sahutnya mengangguk.
"Dia tahu lohu sudah datang lalu tidak berani keluar bertempur, selama ini dia terus menerus bersembunyi di dalam ruangan siksanya saja, karena itu terpaksa lohu harus masuk ke dalam mencarinya."
"Tentang soal ini ...tentang ini.."
Lelaki berkerudung itu segera tertawa dingin.
"Jikalau kau orang tidak mau baik-baik membawa lohu masuk ke dalam, jangan salahkan lohu akan membinasakan dirimu"
Air muka Liuw Khiet segera berubah pucat pasi, sahutnya berulang kali.
"Baik..baik. hamba akan membawa Wi Pocu masuk ke dalam. cuma ..".
"Cuma apa ?"
"Jikalau Wi Pocn tidak berhasil membinasakan dirinya maka hamba akan menerima akibat yang mengerikan."
"Ooooh... hehe ,, heee .. kau boleh berlega bati,"
Ujar lelaki berkerudung itu sambil tertawa seram.
"Lohu pasti berhasil membasmi dirinya"
"Setelah Wi Pocu membinasakan dirinya apakah kau orang tua juga mau melepaskan hamba?"
"Sudah tentu, sudah tentu "Sahut orang berkerudung itu berulang kali.
"Jikalau di dalam ruangan siksa itu benar-benar terdapat harta kekayaan maka Lohu mau perseni beberapa bagian kepadamu."
Mendengar perkataan tersebut Liuw Khiet menjadi amat girang sekati, dia segera mengangguk.
"Baik , , . baik , ,, terima kasih Wi Pocu, sejak ini hari hamba tentu akan berubah sifat dan jadi orang baik-baik"
Lelaki berkerudung itu tidak mau banyak bicara lagi dia segera menarik tangannya berjalan memasuki ruangan Khie Ie Tong itu tanyanya.
"Kita masuk melalui ruangan Khie Ie Toag ini?"
"Benar, di belakang meja panjang itu."
"Lohu tahu diatss permukaan ruangan ini sudah dipasang papan terbalik, kita harus berjalan melalui mana sehingga tidak mengenai alat rahasia tersebut?"
"Papan membalik ini bukan bergerak secara otomatis tetapi harus digerakkan dengan tenaga manusia, alat untuk menggerakkan papan itu ada di bawah meja panjang tersebut, kini di balik meja panjang tidak ada orang yang ada di sana dengan sendirinya alat rahasia ini tidak akan berjalan"
"Hmm, jika kau berani menipu lohu jangan salahkan aku membinasakan dulu dirimu"
Tiba-tiba ancam lelaki berkerudung itu dengan suara yang amat berat.
"Wi Pocu harap kau berlega hati, hamba sekali pun punya nyali lebih besar-pun tidak berani menipu kau orang tua"
"Baiklah, mari kita masuk ke dalam"
Dengan menarik tangan Liuw Khiet dia berjalan memasuki ruangan Khie Ie Tong itu.
Dengan sangat berhati-hati sekali dia berjalan menuju ke belakang meja panjang itu lalu bungkukan badannya memeriksa, tetapi di atas meja itu sama sekali tidak terlihat adanya tombol rahasia segera di dalam anggapannya Liuw Khiet sudah apusi dirinya, dengan amat gusar sekali dia mengerahkan tenaga murninya untuk menggencet pergelangan tangan dari Liuw Khiet.
"Hmm, heee .... hee ,, di bawah meja panjang itu sama sekali tidak ada tombol rahasia,"
Ujarnya sambil tertawa dingin.
Seketika itu juga Liuw Khiet merasa kan pergelangan tangannya sangat sakit se hir-tga serasa menusuk tulang, dia cepat-cepat bungkukkan badannya "Ada.
ada, hamba akan membukanya buat kau orang tua lihat,"
"Dimana tombol rahasia itu?"
Seru lelaki berkerudung itu kembali sambil tertawa dingin, tetapi lima jarinya yang mencengkeram pergelangan tangan Liuw Khiet sudah mulai mengendor.
Dengan terburu-buru Liuw Khiet mengulur tangannya menepuk dan mendorong meja panjang tersebut, segera terlihatlah sebuah jalan rahasia yang sangat gelap.
Pada tengah pintu ruangan rahasia itu tampaklah empat buah tomboi yang berwarna merab, kuning, hitam dan putih empat warna.
Dia segera menuding kearah tombol tersebut sambil berkata .
"Coba kau orang tua lihat, bukankah ini merupakan tombol-tombol alat rahasia?"
"Ehmm ..kenapa ada empat buah banyaknya"
"Yang merah digunakan untuk membuka papan berputar, yang hitam untuk turun sedang yang putih untuk naik ke atas dan yang kuning digunakan untuk menutup papan berputar"
Sahut Liuw Khiet menerangkan.
"Apa yang dimaksud dengan naik ke atas dan turun ke bawah"
"Jika kita menekan tombol hitam maka papan yang kita inyak sekarang akan turun ke bawah dan terus meluncur sampai jalan rahasia di bawah tanah"
"Oooh kiranya begitu, di dalam jalan rahasia dbawah tanah adakah alat rahasia?"
Tanya lelaki berkerudung itu menjadi paham kembali.
"Tidak ada, di sana cuma ada tiga buah pintu besi"
"Setelah melewati ketiga buah pintu besi itu kita akan sampai di dalam ruangan siksa?"
"Benar "
Agaknya lelaki berkerudung itu tidak percaya kalau susunan ditempai itu bisa begitu sederhananya, nada suaranya segera berubah menjadi amat keras.
"Tadi kau bilang di dalam ruangan siksa itu si anying langit rase bumi sudah menyimpan barang-barang berharganya, kalau memang begitu kenapa di dalam ruangan siksanya dia tidak memasang alat rahasia apa pun?"
"Jaian rahasia ini biasanya cuma digunakaa oleh Thian Cun serta Teh Ho dua orang saja, untuk keselamatan mereka sendiri sengaja mereka tidak memasang alat rahasia di sana,"
"Baiklah, sekarang kau boleh pencet tombol itu,"
Liuw Khiet segera menekan tombol berwarna hitam itu, papan yang seluas tiga depa itu segera tanpa mengeluarkan sedikit suara pun meluncur ke bawah menuju ke ruangan rahasia yang ada di bawah tanah.
Ruangan bawah tanah itu terbuat dari batu batu cadas yang amat kuat, luasnya ada empat depa sedang tingginya satu kaki dan panjangnya lorong tersebut tidak diketahui karena tiga kaki dari sana sudah terhalang oleh sebuah pintu besi.
Lelaki berkerudung itu segera menarik Liuw Khiet turun ke atas tanah tanyanya kembali "Di dalam lorong bawah tanah ini apakah tidak ada lampu?"
"Tidak ada"
"Kalau begitu"
Ujar lelaki berkerudung itu lagi sambil menuding kearah papan yang baru saja meluncur ke bawah itu."jika barang ini sudah naik ke atas bukankah kita harus meraba-raba ditengah kegelapan."
"Tidak mengapa, pintu besi itu mudah untuk dibukanya."
Agaknya lelaki berkerudung itu merasa hatinya kurang mantap, dia segera menuding kearah pintu besi ini dulu kemudian baru menaikkan kembali barang ini.
Liuw Khiet segera menyahut, dia berjalan ke depan pintu besi yang ada di dalam lorong bawah tanah lalu mencekal gelang pintu dan menariknya lima kali lalu mendorong ke belakang.
"Kraaak .."
Dengan menimbulkan suara yang amat nyaring pintu besi itu segera membuka ke samping.
Saat ini di hadapan mereka terbentanglah sebuah jalan rahasia yang panjangnya ada tiga kaki, pada ujung jalan rahasia itu muncul kembali sebuah pintu besi yang bentuknya serupa dengan pintu besi di hadapan mereka sekarang ini.
"Pintu besi yang kedua itu apa perlu di buka pula?"
Tanya Liuw Khiet sambil memandang kearah orang itu.
"Bukankah kau bilang semuanya ada tiga buah pintu?"
"Benar"
"Kalau begitu buka semuanya terlebih dahulu kita batu menutup pintu masuk "
Liuw Khiet segera menyahut dan berjalan ke depan pintu besi yang kedua itu tangannya menarik gelangan pintu empat kali dan mendorongnya ke belakang, pintu besi itu pun terbuka.
Ketika dia berhasil membuka pintu yang ketiga, tampak jalan rahasia itu berbelok ke kanan, pada ujungnya terdapatlah sebuah pintu batu "Itulah ruangan siksa"
Ujar Liuw Khiet dengan perlahan sambil menuding kearah pintu batu itu. Suaranya rada gemetar, karena dia merasa sangat takut dan ngeri terhadap diri si rase bumi Bun Jin Cu.
"Jika pintu besi itu ditutup mati dari dalam kita harus berbuat bagaimana untuk membukanya ?"
Tanya lelaki berkeruduog itu pula dengan suara perlahan.
"Terpaksa kita harus menghancurkan pintu tersebut."
Lelaki berkerudung itu segera termenung berpikir sebentar, akhirnya jawabnya "Baiklah,lohu akan kembali ke sana untuk menutup pintu, kau baik-baiklah menunggu di sini"
Sembari berkata tangan kanannya dengan cepat berkelebat menotok jalan darah kaku dari tubuh Liuw Khiet.
Belum sempat Liuw Khiet menjerit tertahan tubuhnya sudah jatuh duduk di atas tanah, wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
Lelaki berkerudung itu dengan cepat membalikkan badannya kembali ke pintu depan lalu menekan tombol berwarna putih itu untuk menaikkan kembali papan tersebut, setelah itu berjalan kembali ke depan pintu batu dan mendorong pintu tersebut dengan sekuat tenaga, tetapi pintu itu sama sekali tidak gemilang.
Dia menjadi gusar, tubuhnya mundur satu langkah ke belakang lalu membentak keras dan melancarkan satu tendangan dahsyat kearah pintu tersebut.
"Braaak ..,"suara yang amat nyaring segera bergema memenuhi seluruh lorong tetapi pintu itu sema sekali tidak tampak cedera, jelas sekali memperlihatkan kalau pintu tersebut memang amat kuat sekali. Ti Then, Wi Lian In serta 3uma San Ho yang mendengar dari luar ruangan siksa itu ada suara orang yang sedang menendang pintu dalam hati segera tahu kalau lelaki berkerudung itu sudah sampai di sana, mereka bertiga segera saling bertukar pandangan dengan hati yang ngeri.
"Ti Kiauw tauw"
Terdengar Wi Lian In berkata dengan suara yang amat cemas.
"Kau sudah berhasil membebaskan jalan darahmu?"
Ti Then gelengkan kepalanya tetapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Sebetulnya pada detik-detik terakhir itu dia sudah akan berhasil membebaskan jalan darah kaku yang tertotok pada badannya tetapi suara tendangan pintu yang berkumandang secara tiba-tiba itu membuat dia merasa terkejut sehingga hawa murni yang sudah dipersatukan menjadi buyar kembali.
Tetapi dia tidak berani banyak berbicara dia hendak mengumpulkan kembali hawa murninya untuk menggunakan kesempatan yang terakhir ini menerjang jalan darahnya yang tertotok sehingga bisa terbebas sebelum pihak musuh berhasil mendobrak hancur pintu batu tersebut.
Kirannya kayu yang mengikat tangannya kini sudah terputus oleh tangannya, asalkan jalan darahnya terbebas maka sepasang tangannya segera akan bebas bergerak.
"Braaak. Braak. Braak"
Pintu batu itu ditendang kembali sehingga membuat pintu menjadi tergetar dengan amat kerasnya, jika ditinyau dari keadaan saat ini kemungkinan sekali sebentar lagi pintu itu akan terpukul bancur.
Wi Lian In menjadi sangat terperanyat, teriaknya dengan hati cemas.
"Cepat ... ccpat sekali, Ti Kiauw tauw kau cspatlah sedikit, mereka sudah hampir berhasil menerjang piniu itu"
"Jangan takut."
Tiba-tiba Suma San Ho menenangkan suasana yang mulai menegang itu.
"Pintu itu terhalang oleh besi, untuk beberapa saat lamanya dia tidak mungkin bisa msnjebolkan pintu itu,"
"Tidak"
Bantah Wi Lian In dengan cepat,"
Dia bisa menghancurkan pintu itu dengan cepat.
"Braak. Braaak"
Braak."
Suara tinjuan yang amat nyaring bergema kembali, ternyata sedikit pun tidak salah pintu itu sudah kelihatan mulai mengendor dari engselnya, Mendadak terdengar lelaki berkerudung itu tertawa terbahak bahak.
"Hey Bun Jin Cu"
Teriaknya mengejek.
"Kau bersembunyi terus di dalam ruangan bukanlah suatu cara yang bagus lebih baik kau orang cepat bukakan pintu buat aku?"
Wi Lian In menjadi melengak, medadak di dalam benaknya berkelebat suatu ingatan dengan menirukan nada suara dari Bun Jin Cu teriaknya "Hey siapa kau orang?"
Lelaki berkerudung itu sama sekali tidak mengerti kalau Bun Jin Cu sudah mati, karenanya dia orang sama sekali tidak mencurigai pula kalau suara itu bukan suara dari Bun Jin Cu sendiri, kakinya sekali lagi menendang pintu batu itu dengan berat-berat lalu tertawa terbahak-bahak.
"Jika kau orang mau tahu siapakah Lohu kenapa tidak membuka pintu mempersilahkan aku orang masuk saja?"
"Tidak, aku tidak akan membukakan pintu sebelum kau orang menjelaskan siapakah adalah kau orang"
"Kau boleh berlega hati"
Teriak lelaki berkerudung itu.
"Lohu bersumpah tidak akan mengganggu seujung rambut pun dirimu. Lohu sengaja datang kemari untuk membicarakan kerja sama kita untuk menghadapa Wi Ci To"
"Bagus, bagus sekali"
Sahut Wi Lian In dengan menirukan lagak dari Bun Jin Cu.
"Tetapi aku orang masih tidak mengetahui siapa ssbenarnya kau, bagaimana aku bisa menyetujui untuk bekerja sama dengan dirimu?"
"Lebih baik kita bicarakaa soal ini setelah berhadap-hadapan muka, di samping itu lohu pua bisa memberitahukan namaku"
"Hee . hee . aku tidak akan tertipu oleh pancinganmu"
Seru Wi Lian In mendadak sambil tertawa dingin.
"Jika mau membicarakan soai ini leoih baik kau berdiri saja di pintu luar"
"Omong yang mudah saja lohu hendak menggunakan putrinya serta bangsat cilik she-Ti itu untuk memaksa Wi Ci To menyerahkan sebuah barang"
"Kau akan memaksa Wi Ci To untuk menyerahkan barang apa ?"
Desak Wi Lian In lebih lanjut. f "Sebuah barang yang sangat tidak berharga untuk dibicarakan."
"Kalau memangnya tidak berharga, buat apa kau mencari barang tersebut?"
"Barang itu sangat tidak berharga, sampai dijual pun tidak laku,"
"Sebetulnya barang apa yang sedang kau cari?"
Desak Wi Lian In terus.
"Lohu tidak bisa memberitahukan hal ini kepadamu."
"Hal ini berarti juga kau sama sekali tidak bermaksud sungguh-sungguh untuk bekerja sama dengan diriku."
"Lohu akan segera memberikan uang sebesar seratus ribu tahil perak untuk membeli tawaranmu itu."
Wi Lian In segera tertawa dingin.
"Aku orang sama sekali tidak tertarik dengan uang seratus ribu tahil perakmu itu."
"Tapi Lohu masih bisa membantu dirimu untuk menghadapi Wi Ci To, dengan tenaga gabungan dari kita berdua Wi Ci To pasti bisa diringkus dengan mudah"
Ujar lelaki berkerudung itu coba memaksa Bun Ji Cu untuk tertarik.
"Sekarang aku sudah punya tiga orang tawanan, buat. apa aku orang takut dengan Wi Ci To lagi?"
"Kau terlalu memandang rendah dirinya, dia tidak akan mau kau kuasai dengan begitu mudahnya"
"Oooh benar?"
Seru Wi Lian In sambil tertawa terbahak-bahak.
"Coba kau bilang tegakah dia orang melihat putrinya, dia masih mem punyai berpuluh puluh orang pendekar pedang merah yang memberikan bantuannya. Kau tidak akan bisa bertahan melawan kerubutan mereka."
"Hii ..hiii ...hii . , . menunggang keledai membaca not lagu, kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti."
Sela Wi Lian In kemudian sambil tertawa.
"Tidak perduli bagaimana pun apa kau sudah ambil keputusan untuk tidak mau bekerja sama dengan Lohu ?"
Tiba-tiba ancam lelaki berkerudung itu sambil tertawa dingin.
Wi Lian In menoleh memandang sekejap kearah Ti Then, ketika dilihatnya dia masih mengerahkan tenaga dalamnya untuk membebaskan jalan darahnya yang tertotok lalu ujarnya lagi.
"Di dalam keadaan seperti ini aku punya beberapa syarat, jika kau bisa penuhi syarat-syarat tersebut aku baru mau bekerja sama dengan dirimu"
"Cepat kau katakana!"
"Pertama, sebutkan siapa kau orang. Kedua, katakan barang apa yang hendak kau paksakan dari Wi Ci To untuk diserahkan kepada dirimu"
"Hmmm "
Dengus lelaki berkerudung itu dengan kurang senang.
"Buat apa kau tertarik dengan urusan ini?"
"Tertarik?"
Mendadak Wi Lian In tertawa terbahak-bahak "Sifat manusia memang demikian"
"Jikalau lohu tidak mau berbicara apakah kau tidak ingin menerima permintaan dari lohu untuk mengadakan Kerja sama?"
Seru lelaki berkerudung itu dengan amat dingin. Wi Lian In tidak memberikan jawaban secara langsung, dia segera tertawa.
"Jikalau kau mau bsrbicara terus terang, aku orang pasti akan merahasiakannya bahkan tidak mau pula barang yang hendak kau hadiahkan kepadaku, kau lihat bagaimana?"
"Tidak"
Potong lelaki berkerudung itu dengan tegas.
"Permintaanmu itu lohu tidak sanggup untuk memenuhinya,aku cuma minta kau mau menyetujui kerja sama diantara kita kalau tidak lohu segera akan menerjang masuk ke dalam ruanganmu ini"
Dia berhenti sebentar lalu sambungnya sambil tertawa seram .
"Jikalau Lohu berhasil mendobrak pintu ini sampai waktu itu sekali pun ingin bekerja sama dengan Lohu aku pun tidak akan mau"
Wi Lian In yang melihat jalan darah dari Ti Then belum berhasil juga dibebaskan hatinya merasa amat cemas sekali nada ucapannya segera berubah amat halus sahutnya "Jikalau aku orang menyanggupi kau hendak menggunakan cara apa untuk membantu diriku untuk menghadapi Wi Ci To?"
"Sewaktu besok pagi dia naik ke atas gunung dia orang tentu membawa banyak sekali pendekar pedang merah. Lohu membantu dirimu membasmi semua pendekar pedang merah lalu bersama-sama bergabung tenaga menghadapi dirinya."
"Kau punya pegangan kuat untuk mengalahkan para pendekar pedang merah itu?"
"Sama sekali tidak ada soal"
Jawab lelaki berkerudung itu singkat.
"Tetapi aku pun percaya tanpa bantuan dari dirimu aku masih sanggup untuk menghadapi para pendekar pedang merah itu dan membasminya semua"
"Hmm"
Terdengar lelaki berkerudung itu tertawa dingin.
"Kau hendak menggunakan cara apa untuk membasmi seluruh pendekar pedang merahnya?"
"Asalkan aku berhasil memanctng mereka untuk memasuki ruangan di bawah tanah ini maka aku bisa menggerakkaa alat rahasia untuk membasmi para pendekar pedang merah itu"
Mendengar perkataan itu lelaki berkerudung itu segera terbahak bahak.
"Cuma sayang kedelapan belas alat rahasiamu itu sudah aku hancurkao semua, coba pikirlah jika aku tidak berhasil menghancurkan alat-alat rahasia itu bagaimana Lohu bisa sampai di sini dalam keaadaan selamat?"
"Haaa.. kau berhasil melewati kedelapan belas alat rahasiaku itu?"
Teriak Wi Lian In pura-pura kaget.
"Sedikit pun tidak salah"
Jawab lelaki berkerudung itu sambil tertawa tergelak.
"Karena Lohu melihat si menteri pintu lama sekali tidak kembali juga, di dalam keadaan cemas terpaksa aku menerjang kemari seorang diri, sekarang kedelapan belas alat rahasiamu itu sudah berhasil Lohu hancurkan"
"Hmmm, tidak kusangka kau lihay juga"teriak Wi Lian In semakin terperanyat.
"Maka itu sekarang kau cuma ada satu jalan saja .... menyanggupi untuk bekerja sama dengan Lohu"
"Soal ini aku harus pikirkan terlebih dulu, sudah tentu kau harus memberi waktu buat aku orang berpikir sebentar bukan?"
"Tidak"
Tolak lelaki berkerudung itu ketus.
"Jika kau tidak mau menerima maka Lohu segera akan menerjang pintu batumu ini"
"Jikalau kau orang benar-benar punya maksud untuk bekerja sama dengan aku sudah tentu membiarkan aku untuk berpikir sebentar". Lelaki berkerudung itu termenung berpikir sebentar, akhirnya dia baru menyawab "Baiklah, cepat kau berpikir"
Ketika Wi Lian In mendengar dia orang sudah menyetujui untuk mcmberi waktu kepada dirinya untuk berpikir hatinya menjadi agak lega, segera kepada Ti Then tanyanya dengan suara perlahan.
"Hey, kau harus menunggu berapa waktu lagi baru berhasil membebaskan diri dari totokan jalan darah?"
Ti Tben tetap bungkam tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"Jangan ganggu dia, waktu masih belum tiba sekali pun kau ribut juga tidak Berguna"
Tiba-tiba Suma San Ho menimbrung dengan suara yang perlahan.
Wi Lian In mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia tidak berbicara lagi.
Beberapa saat kemudian terdengarlah suara teriakan dari lelaki berkerudung berkumandang lagi agaknya dia sudah merasa tidak sabaran.
"Bun Jin Cu, kau sudah mengambil keputusan belum?"
"Kau jangan ribut,aku sedang barpikir masak-masak"
Seru Wi Lian In dengan gugup.
"Hmm jika kau mau cepat-cepatlah bilang kalau tidak mau yaa cepat menolak buat apa berpikir lama-lama?"
Teriak lelaki berkerudung itu dengan amat gusar.
"Aku sedang memikirkan satu urusan jikalau aku setuju untuk bekerja sama dengan dirimu nanti setelah kau mendapatkan barang yang kau dapatkan apakah kau orang masih melanjutkan untuk bekerja sama dengan dirimu? ataukah kita berjalan berpisah?"
"Jika kau orang senang untuk bekerja sama terus dengan lohu sudah tentu lohu akan membantu kau untuk mendirikan istana Thian Teh Kong kembali."
"Kalau begitu bukankah kita orang akan menduduki sebagai pemimpin baru dari istana Thian Teh Kong?"
"Haaaa ... haaa . , , jika lohu yang menduduki puncak pimpinan hal ini tidak akan merendahkan nama besar dari dirimu."
"Tadi aku dengar dari si menteri pintu serta pembesar jendeia katanya kepandaian silatmu amat tinggi sekali, tetapi saudara bukan apaku bagaimana kau orang bisa menduduki tempat puncak pimpinan dari istana Thian Teh Kong?"
"Hiii.. hiii ,. jika kau mau, lain kali kita bisa hidup bersama untuk selama-lamanya,"
"Baiknya sih baik cuma aku takut di tertawai orang lain"
Seru Wi Lian In tertawa malu-malu. Lelaki berkerudung itu segera tertawa terbahak-bahak.
"Usiamu masih sangat muda, jika kawin lagi memang sepantasnya siapa yang berani mentertawakan dirimu?"
"Tetapi . ,Heeey."
Tak tertahan lagi Wi Lian In menghela napas panjang.
"Aku masih tidak bisa melupakan suamiku yang terdahulu."
"Orang yang sudah mati tidak akan bisa hidup kembali, buat apa kau begitu rindu kepadanya?"
"Semasa hidupnya dia terlalu baik kepadaku, bagaimana aku orang tidak memikirkan dirinya?"
"Kalau begitu"
Ujar lelaki berkerudung itu kemudian sambil tertawa serak.
"Kau ingin menyanda untuk selamanya?"
"Tentang soal ini untuk sementara waktu aku masih belum mengambil keputusan"
"Jika kau tidak ingin kawin lagi yah sudahlah, setelah kita bekerja sama untuk melenyapkan benteng Pek Kiam Po kita bisa berjalan menurut jalannya masing-masing"
"Tunggu dulu"
Tiba tiba Wi Lian In berteriak dengan suara berat.
"Aku hendak menanyakan suatu urusan kepadamu"
"Ada urusan apa lagi?"
Tanya lelaki kerudung itu sambil mendengus dingin.
"Ini tahun kau umur berapa?"
"Sudah enam puluh tahun lebih."
"Aih ..."
Teriak Wi Lian In dengan amat keras.
"Sudah berumur enam puluh tahun ?"
"Kenapa ?"
"Usiamu sudah terlalu tua"
Lelaki berkerudung itu menjadi amat gusar sekali setelah mendengar perkataan dari Wi Lian In itu, kakinya dengan hebat melancarkan satu tendangan kilat ke arah pintu batu itu, sedang mulutnya dengan amat gusar membentak.
"Jika kau orang tidak punya maksud kawin dengan Lohu buat apa ikut campur dengan bertanya-tanya umurku?"
"Aaaah ....jangan marah dulu, jangan marah dulu"
Seru Wi Lian In dengan gugup "Aku masih belum mengambil keputusan"
"Kau siluman rase sungguh amat licik kau hendak mengulur ulur waktu ??"
Teriak lelaki berkerudung itu sambil melancarkan tendangan kembali menghajar pintu batu itu.
Wi Lian In yang mendengar dia melancarkaa serangan kembali menghajar pintu batu itu dalam hati merasa sangat cemas sekali, apalagi saat ini jalan darah dari Ti Then belum berhasil dibebaskan, terpaksa teriaknya dengan amat keras.
"Aku mau bertanya kembali tentang satu urusan, kau sudah beristri belum?"
Lelaki berkerudung itu tidak mau memberikan jawabannya lagi, dengan sekuat tenaga dia melancarkan tendangan menghajar pintu batu itu sehingga membuat seluruh ruangan siksa menjadi tergetar dengan amat kerasnya.
Situasi sudah mencapai pada tarap sangat kritis sekali.
Saat ini Ti Then masih tetap memejamkan matanya untuk mengatur pernapasan dari atas kepalanya tampak butiran keringat sebesar kacang kedelai dengan derasnya menetes keluar, wajahnya merah padam agaknya dia sudah mencapai pada puncak latihannya.
ooo00ooo Tak tertahan lagi Wi Lian In berseru dengan suara yang perlahan.
"Ti Kiauw tauw, cepat sedikit dia dan hampir berhasil mendobrak pintu tersebut"
Baru saja perkataannya selesai mendadak terdengar suara jatuhnya benda besi ke atas tanah ...
pantek dari pintu batu itu sudah berhasil digetarkan hingga terlepas dari tempatnya.
Bersamaan dengan membukanya pintu batu itu bagaikan kilat cepatnya lelaki berkerudung itu berkelebat masuk ke dalam tubuhnya tegak sepasang tangannya disilangkan di depan dada, lagaknya sedang siap menerima serangan musuh.
Tetapi ketika dilihatnya di dalam ruangan siksa itu sama sekali tidak tampak bayangan dari Bun Jin Cu dia menjadi tertegun, bersamaan pula tubuhnya berdiri tegak matanya dengan amat tajam sekali menyapu sekejap ke arah diri Ti Then, Wi Lian In serta Suma San Ho bertiga.
"Dimana Bun Jin Cu?"
Tanyanya dengan suara berat.
"Dia sudah lari."
Cepat-cepat sahut Suma San Ho.
"Heee , he , .. dia lari kearah mana?"
Seru si lelaki berkerudung itu sambil tertawa dingin.
"Tadi aku lihat dia orang berlari menuju ke belakang dinding batu itu."
Sepasang mata lelaki berkerudung itu dengan cepat msnyapu sekejap kesekeliling tempat itu, ketika dilihatnya pada dinding batu pada bagian belakang dari ruang siksa itu tampak sebuah lubang besar dia segera menjerit tertahan.
"Dia melarikan diri melalui dinding batu itu?"
Tanyanya lagi.
"Tidak salah"
Mendadak lelaki berkerudung itu berkelebat menuju ke samping dinding batu itu dan menengok ke dalam ruangan jalan rahasia yang ada di balik dinding, waktu itu lah dia menemukan pada kurang lebih tiga kaki di dalam ruangan rahasia itu menggeletak dua sosok mayat yang dia orang bisa melihat dengan jelas orang tersebut bukan lain adalah Bun Jin Cu serta si menteri pintu tubuhnya segera terasa bergetar dengan amat keras.
"Iiilh ..dia sudah mati?"
Serunya tertahan.
"Siapa yang sudah mati?"
Tanya Suma San Ho pura-pura merasa terperanyat.
"Bun Jin Cu serta si menteri pintu, mereka suduh menginyak alat rahasia dan kini sudah binasa ditengah jalan rahasia itu terhajar hujan panah"
"Tidak aneh sewaktu kau berhasil menerjang pintu dan memasuki ruangan ini kita mendengar suara teriakannya, kiranya dia sudah terkena alat rahasia ..haa...haaa hal ini sungguh menyenangkan sekali, tidak kusangka sama sekali Bun Jin Cu pun bisa menemui ajalnya terkena alat rahasia yang dipasangnya sendiri"
Lama sekali lelaki berkerudung itu memandang tajam mayat Bun Jin Cu yang menggeletak di atas tanah, mendadak dia mengambil sebuah batu cadas yang besar dan disambitkan tepat menghajar mayatnya yang menggeletak di atas tanah.
Batu cadas itu dengan amat kerasnya terjatuh ke atas tubuh Bun Jin Cu sehingga mengeluarkan suara yang amat keras sekali.
Ketita batu itu mengggelinding ke samping dengan tepat membuat wajah Bun Jin Cu tertoleh kearah luar.
Kiranya dia takut Bun Jin Cu sedang berpura-pura mati karenanya sengaja dia menyambitkan batu itu untuk memeriksa apakah Bun Jin Cu benar-benar sudah binasa, kini ketika dilihatnya dia orang benar-benar sudah menemui ajalnya seketika itu juga hatinya menjadi sangat gembira sambil mendongakkan kepalanya tertawa terbahak serunya.
"Tidak salah, tidak salah, dia orang memang betul-betul sudah binasa, haaa . .haa baaa ..-berarti juga kalian bertiga kini sudah menjadi barang di dalam kantong lohu"
Ditengab suara tertawanya yang amat keras tubuhnya melayang menuju ke hadapan Ti Then bertiga.
Melihat lelaki berkerudung itu melayang mendekati mereka bertiga,, Suma San Ho menjadi kuatir, ujarnya dengan cepat.
"Kita bertiga harus terjatuh ketangan saudara hal ini sungguh merupakan suatu tejadian j"ng sangat beruntung"
"Oooh benar?"
Teriak leliki berkeru dung itu sambil tertawa tergelak.
"Sedikit pun tidak salah"
Sahut Suma San Ho membenarkan.
"Bun Jin Cu menawan kami dikarenakan mau membalas dendam sedangkan saudara cuma hendak menggunakan kami untuk merebut semacam barang saja"
"Tetapi jikalau Wi Ci To tidak mau menyerahkan barang yang Lohu minta itu maka kalian pun jangan harap bisa hidup"
Ujar lelaki berkerudung itu sambil tertawa seram.
"Sekali pun perkataanmu sedikir pun tidak salah tetapi saudara pun tidak akan membinasakan kita pada saat ini, bukan begitu?"
Lelaki berkerudung itu tidak memberikan jawabannya, dengan langkah perlahan dia berjalan menuju kehadaoan Ti Then lalu mengangkat kepalanya yang tertunduk dengan lemasnya itu.
Ketika dilihatnya sepasang mata Ti Then terpejam rapat-rapat, sepertinya sedang jatuh tidak sadarkan diri tak terasa lagi dia sudah tertawa dingin.
"Kenapa dengan bangsat cilik ini?"
"Dia sudah terpukul rubuh oleh Bun Jin Cu"
Sahut Suma San Ho berbohong. Dengan amat teliti sekali lelaki berkerudung itu memeriksa kedua buah tiang kayunya yang terpatahksn, melihat ini dia menghela napas panjang.
"Hey...tenaga dalamnya sungguh tidak lemah, kayu yang begitu kuatnya dia masih bisa mematahkannya"
"Karena dia memutuskan kayu tiang itulah Bun Jin Cu baru memukulnya hingga jatuh tidak sadarkan diri, pukulannya sungguh amat kejam sekali."
Dengan langkah perlahan lelaki berkerudung itu beralih ke hadapan Wi Lian In ejeknya sambil tertawa.
"Hee...hee..agaknya kau pun sudah merasakan sedikit deritamu juga?"
Wi Lian In melengos, mulutnya tetap ditutup rapat-rapat. Lelaki berkerudung itu pun segera beralih ke depan tubuh Suma San Ho.
"Bun Jin Cu bersiap-siap mau melarikan diri kenapa dia tidak mau membunuh dirimu terlebih dulu?"
Ujarnya sambil tertawa.
"Kemungkinan sekali dia tidak bermaksud uniuk melarikan diri meninggalkan istana Thian Teh Kong ini, agaknya dia berusaha untuk membawa si menteri pintu bersembunyi di suatu tempat lalu baru balik kemari membawa kita semua meninggalkan ruangan siksa, siapa sangka mereka sudah tidak kebentur dengan alat rahasia sehingga menemui ajalnya."
Agaknya lelaki berkerudung dia sama sekali tidak mencurigai perkataan dari Suma San Ho ini, dia segera mengangguk.
"Sebetulnya Lohu punya maksud sungguh-sungguh untuk bekerja sama dengan dirinya, asalkan dia mau menyanggupi diri Lohu maka dia pun tidak akan menerima kematiannya dengan demikian mengenaskan"
"Sebetulnya saudara bermaksud meminta barang apa dari Pocu kami?"
Tiba-tiba tanya Suma San Ho.
"Soal ini kalian tidak perlu tahu"
Sahutnya ketus.
"Apakah kitab pusaka Ie Cin Keng itu?"
Mendengar disebutnya kitab pusaka Ie Cin Keng lelaki berkerudung itu segera terbahak-bahak.
"Kitab pusaka Ie Cin Keng itu sekali pun kalian hadiahkan untuk Lohu sebagai kertas pembersih pantatku. Lohu belum tentu mau."
"Apakah dikarenakan sebuah lukisan?"
Tiba-tiba timbrung Wi Lian In, Agaknya lelaki berkerudung itu dibuat melengak, tapi sebentar kemudian sudah tertawa kembali.
"Haaa ... haaa . , , haaa , ..bagaimana kalian bisa pikirkan tentang lukisan? apakah di dalam loteng penyimpan kitab dari ayahmu itu sudah tersimpan sebuah lukisan yang sangat berharga sekali?"
"Di dalam loteng penyimpan kitab ayahku kecuali kitab serta lukisan tidak ada barang yang berharga lagi."
"Lobu tidak menghendaki kitab-kitab serta lukisan-lukisan dari ayahmu itu"
Ujar lelaki berkerudung itu sambil tertawa.
"Sekali pun kitab serta lukisan lukisan itu lebih berharga lohu tidak akan memandang barang sekejap pun"
"Lalu kau orang menghendaki barang apa?"
Desak Wi Lian In.
"Soal ini kalian tidak perlu tahu"
Potong lelaki berkerudung itu sambil gelengkan kepalanya.
"Bukankah lohu tadi sudah bilang kalian tidak usah ikut mengetahui persoalan ini?"
Tiba-tiba Wi Lian In menghela napas panjang ujarnya.
"Aku sangat haus dapatkah kau orang carikan secawan teh buat diriku?"
"Ditempat ini mana ada teh?"
Ujar lelaki berkerudung itu sambi menyapu sekejep kesekeliling tempat itu.
"Aku pun tidak tahu, coba kau keluarlah dari sini tolong membantu aku carikan"
Perasaan curiga segera menyelimuti wajahnya, mendadak dia tertawa seram.
"Heee ..hee , . sekarang aku tahu, bukankab kau sedang menipu lohu untuk keluar dari sini lalu dengan mengambil kesempatan itu melarikan diri dari tempat ini?"
"Jikalau kami mem punyai cara untuk melarikan diri tidak akan menanti sampai sekarang, buat apa kau orang banyak curiga?"
"Tapi kekasihmu segara akan sadar kembali"
Ujar lelaki berkerudung itu sambil menuding kearah Ti Then.
"Dia sudah berhasil memutuskan tiang kayu yang mengikat tubuhnya maka setelah dia sadar kembali dengan cepat dia akan berhasil melepaskan otot kerbau yang mengikat badannya, bukan begitu?"
"Dia baru saja dipukul dengan amat kejam, tidak mungkin dia orang bisa sadar kembali dengan cepat"
Ujar Wi Lian In sambil menghela napas panjang dengan amat sedihnya. Lelaki berkerudung itu tak bias menahan gelinya, dia segera tertawa keras.
"Jika kau mau minum the boleh saja, tetapi Lohu harus menotok jalan darah kakunya dulu"
"Kalau begitu sudahlah, aku tidak jadi minum"
Teriak Wi Lian In dengan gugup.
"Hal ini semakin membuktikan kalau kau sedang menipu diri Lobu, sekarang Lohu harus menotok jalan darah kakunya terlebih dulu"
Selesai berkata jari tangannya dipentangkan lalu dengan kecepatan bagaikan kilat menotok jalan darah kaku pada tubuh Wi Lian ln.
Wi Lian In yang melihat permainannya yang pura-pura malah jadi berantakan tak terasa lagi menjadi sangat gusar, makinya.
"Bajingan tua, kau tunggu saja setelah ayahku datang tentu ada tontonan yang bagus buat kau orang"
Lelaki berkerudung itu tertawa terbahak-bahak, kakinya mulai bergerak mendekati diri Ti Then.
"Lohu memang kepingin sekali kalau ayahmu bisa datang kemari dengan cepat"
Sambil berkata jari tangannya pun dengan cepat diangkat menotok jalan darah kaku pada tubuh Ti Then.
Pada saat jari tangannya hendak mendekati jalan darah kaku pada tubuh Ti Then itulah mendadak sepasang tangan dari Ti Then diangkat, tangan kirinya dengan kecepatan bagaikan kilat membabat kearah lambungnya.
Seketika itu juga lelaki berkerudung itu mendengus berat, tubuhnya dengan sempoyongan mundur tiga langkah ke belakang lalu berjongkok sambil memegangi lambungnya yang kena hajar.
Hal ini memperlihatkan kalau serangan dari Ti Then tadi dengan amat tepat sekali berhasil menghajar lambungnya sehingga dia mendapatkan luka dalam yang tidak ringan.
Dengan cepat Ti Then bungkukkan badannya melepaskan otot kerbau yang mengikat kakinya, dia harus cepat-cepat melepaskan ikatan kakinya ini untuk meloloskan diri, karena sebentar lagi lelaki berkerudung itu tentu akan melancarkan serangan ke arahnya.
Tetapi baru saja dia berhasil melepaskan belenggu pada kaki kanannya lelaki berkerudung itu sudah bangkit berdiri.
Dengan disertai suara bentakan yang amat kerasnya menubruk maju ke depan, telapak tangan kanannya dipentangkan sehingga tampaklah lima jarinya yang bagaikan cakar burung elang dengan amat dahsyat menghajar jalan darah "Yu Bun hiat"
Pada dada sebelah kirinya.
Datangnya serangan ini sangat dahsyat sekali, agaknya dia hendak membinasakan Ti Then sebelum terlepas dari ikatan karena itu tubuhnya pun tidak sanggup untuk meloloskan diri dari tiang kayu tersebut melihat datangnya serangan pihak musuh terpaksa tubuhnnya menyingkir ke samping bersamaan pula kaki kanannya dengan sekuat tenaga menjejak permukann tanah sehingga tubuhnya akan sedikit meleng, dengan bersusah payah akhirnya dia berhasil juga menghindarkan diri dari serangan musuh.
Tangannya dengan cepat menyambar otot kerbau yang semula digunakan untuk mengikat tangannya itu dengan menggunakannya sebagai cambuk dia melancarkan serangan melilit leher pihak lawan.
Tubuhnya yang harus memikul sebuah tiang kayu yang amat berat tetapi berhasil juga menghindarkan diri dari satu serangan dahsyat jeng dilancarkan oleh lelaki berkerudung itu bahkan berhasil pula menggunakan otot kerbau sebagai cambuk balas melancarkan serangan membuat Wi Lian In serta Suma San Ho yang melihatnya merasa sangat kagum, tak terasa lagi mereka berteriak mcmuji.
Sebaliknya gerakan silat dari lelaki berkerudung itu pun tidak bodoh, bukannya mundur tubuhnya semakin mendesak maju ke depan, tubuhnya yang sebelah atas membungkuk untuk menghindarkan diri dari ancaman otot kerbau dari Ti Then sedangkan sepasang telapak tangannya bersama-sama membabat ke depan menghajar pinggang dari Ti Then.
Kecepatan geraknya amat mengagumkan sekali laksana berkelebatnya sinar kilat di tengah udara.
Ti Then segera bersuit panjang mendadak dengan membawa serta tiang kayu yang mengikat badannya dia meloncat sejauh lima enam kaki jauhnya ke ujung kanan dari dinding batu itu.
Di bawah dinding batu itu tersedialah bermacam-macam alat siksa yang diantaranya tergantung sebuah rantai besi.
Dengan cepat Ti Then menyambar rantai besi itu kemudian digetarkan dan menyapu ke tubuh lelaki berkerudung yang saat itu datang mengejar.
Melihat datangnya serangan rantai lelaki berkerudung itu segeta tertawa dngin kakinya menggelincir ke samping, tubuhnya dengan cepat rebah kekiri, telapak tangan kirinya bagaikan kilat cepat menyambar datangnya serangan rantai dari Ti Then itu.
Ti Then mana mau membiarkan rantainya tertangkap, dengan cepat tangannya digetarkan kembali, rantai besi itu mendadak bagaikan seekor ular dengan licinnya beputar-putar lalu dengan dahsyatnya menusuk ke dada pihak lawan.
Agaknya lelaki berkerudung itu sama sekali tidak menyangka kalau Ti Then bisa memainkan rantai itu sehingga demikian sempurnanya, untuk sesaat dia tidak sanggup untuk memecahkan jurus tersebut terpaksa dengan cepat tubuhnya melayang mundur kembali ke belakang.
Ti Then berhasil mendesak mundur pihak lawannya dengan cepat dia meloncat kembali ketengah udara kemudian memepetkan tiang kayunya pada dinding batu.
Kiranya dia sudah menemukan kalau di atas dnding itu tergantung sebuah golok baja, dia berharap bisa memperoleh golok baja itu sehingga bisa digunakan untuk memutuskan otot kerbau yang mengikat kakinya.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 23 .
Wi Ci To datang memenuhi janji Sudah tentu lelaki berkerudung itu pun mengetahui maksud hatinya, karena itu setelah tubuhnya terdesak mundur ke belakang disertai dengan suara bentakan yang amat keras tubuhnya sekali lagi menubruk ke arah depan.
Ti Then yang meloncat kearah dinding di mana tergantung golok baja itu sama sekali tidak segera mencabut keluar golok tersebut.
Mendadak dia membentak keras, rantai besi ditangannya dergan sekuat tenaga diobat-obitkan ke depan lalu meluncur terlepas dari tangannya.
Rantai besi itu bagaikan seutas tali dengan kecepatan tinggi meluncur dengan dahsyatnya menghajar tubuh lelaki berkerudung itu.
Agaknya lelaki berkerudung itu sama sekali tidak menyangka Ti Then bisa melakukan hal itu, untuk sesaat lamanya dia terdesak untuk menyingkir ke samping kiri menghindar diri dari sambitan rantai besi itu.
Dan pada saat yang amat singkat itulah Ti Then sudah berhasil mencabut keluar golok baja yang tergantung di atas dinding lalu dengan beberapa kali bacokan berhasil memutuskan otot kerbau yang mengikat kaki kirinya.
Dengan demikian dia sudah bebas dari belenggu.
Setelah tidak ada tiang kayu yang mengganggu gerakannya pun semakin bebas lagi, serangan yang dilancarkan kearah lelaki berkerudung itu menjadi semakin gencar siapa tahu pada saat dia hendak menggerakkan golokya melancarkan serangan itulah lelaki berkerudung itu sudah berhasil meloncat ke hadapan Wi Lian In.
Telapak tangan lelaki berkerudung itu dengan cepat ditekan ke atas batok kepala dari Wi Lian ln sembari membentak mengancam .
"Jangan bergerak, sedikit kau bergerak saja Lohu segera akan menyagal budak ini"
Ti Then sama sekali tidak menyangka kalau orang berkerudung itu bisa menggunakan cara yang paling rendah untuk mempersalahi dirinya, dia segera menghentikan langkahnya.
"Heee ..heee -. beranikah kau bertempur secara jujur dengan diriku?"
Tantangnya dengan wayah adem. Ketika lelaki berkerudung itu melihat ternyata dia benar-benar tidak berani bergerak maju hatinya merasa agak lega, dia pun tertawa dingin dengan amat seramnya.
"Aku tidak ada keperluan untuk berbuat demikian."
Serunya.
"Tidak kusangka di dalam Bu lim ternyata masih ada juga manusia yang tidak tahu malu seperti kau"
Dengus Ti Then dengan amat gusar. Lelaki berkerudung itu segera menyengir kejam.
"Lohu tidak malu, yang aku takuti cuma tujuanku yang tidak mencapai sukses"
"Sekarang kau tidak akan bisa mencapai tujuanmu lagi, jikalau kau ingini nyawamu cepatlah bergelinding dari sini,"
"Hmm, sekarang Lohu masih ada di atas angin, kenapa harus menggelinding dari sini ?"
Serunya dengan nada mengejek. Mendadak suaranya berobah menjadi amat keren, dengan gusarnya dia membentak.
"Lepaskan golokmu, kalau tidak jangan salahkan lohu tidak berlaku sungkan-sungkan lagi terhadap budak ini "
"Ti Kiauw tauw,jangan perduli dirinya "
Teriak Wi Lian In dengan cepat.
"Cepat kau serang dia orang, kau tidak usah mengurusi diriku lagi."
Telapak tangan kiri dari lelaki berkerudung itu dengan cepat dipentangkan di depan dadanya dengan gaya hendak meraba teteknya.
"Kau surgguh-sungguh tidak takut ?"
Ancamannya sambil tertawa menyengir dengan kejamnya.
Seketika itu juga air muka Wi Lian In berubah pucat pasi, dia tidak berani membuka mulut lagi.
Ketika lelaki berkerudung itu melihat dia tidak berani berteriak lagi kepalanya dengan perlahan ditoleh kearah Ti Then.
"Kau dengar tidak? Lohu perintah kau untuk melepaskan golok tersebut"
Walau pun Ti Then tahu kalau pihak lawannya tidak akan turun tangan jahat dengan membinasakan diri Wi Lian In tetapi dia pun tidak berani menggunakan taruhan nyawa Wi Lian In untuk menempuh bahaya, segera dengan hati uring-uringan dia melemparkan goloknya ke atas tanah, tetapi mulutnya tetap memperdengarkan suara tertawa dingin yang tak henti-hentinya.
"Sekali pun golok ini aku lepaskan tetapi kukira kau belum bisa mengapa-apakan diriku ?"
"He.. hee kau bangsat cilik lihat saja nanti'"
Seru lelaki berkerudung itu sambil tertawa seram.
Sehabis berkata mendadak tangan kirinya diulur memeluk pinggang dari Wi Lian In dengan membawa sekalian tiang kayunya dia berjalan menuju ke pintu depan.
Ti Then yang tidak tahu dia orang hendak berbuat apa terhadap Wi Lian ln ketika melihat dia membawa pergi Wi Lian In dari sana hatinya menjadi amat cemas tak terasa lagi tubuhnya maju satu langkah ke depan teriaknya dengan gusar.
"Kau mau berbuat apa terhadap dirinya?"
Telapak tangan kanan dari lelaki berkerudung itu dengan cepat ditekankan kembali ke atas batok kepala Wi Lian In.
"Jangan bergerak."
Teriaknya kasar.
"Apakah kau ingin melihat budak ini menemui ajalnya ditanganku ?"
"Kau hendak membawa dirinya kemana ?"
"Tidak akan meninggalkan ruangan siksa ini. Lohu sudah datang dengan membawa seorang pembantu."
Diam-diam Ti Then merasa amat terperanyat sekali, tak terasa lagi dia sudah bertanya .
"Kau sudah membawa pembantu ? "
"Benar, dia sekarang berada di depan pintu ruangan siksa ini "? sahut lelaki berkerudung itu dtngaa amat bangga. Sambil berkata dengan menyeret tubuh Wi Lian In dia mengundurkan diri dari pintu batu itu. Pada saat dia mengundurkan diri ke depan pintu batu itulah dengan amat gesit tangannya rnelancarkan cengkeraman mengangkat sesosok tubuh manusia ke atas. Orang itu bukan lain adalah Liuw Khiet yang membawa dia orang memasuki ruangan siksa ini. Sudah tentu Ti Then tidak kenal dengan Liuw Khiet, ketika dilihatnya tubuh orang itu amat kaku dia orang segera mengerti kalau orang tersebut sudah tertotok jalan darahnya oleh lelaki berkerudung itu, dalam hati dia merasa semakin heran.
"Orang inikah pembantumu?"
Tanyanya perlahan.
"Tidak salah"
Sahut lelaki berkerudung sambil mengangguk.
"Jika dia menginginkan nyawanya sudah tentu harus menjadi pembantu lohu"
"Siapakah sebenarnya dia orang?"
Tanya Ti Then kembali.
"Dia bernama Liuw Khiet, yang semula merupakan salah seorang anak buah dan istana Thian Teh Kong yang bekerja di ruang alat rahasia "
"Tentang hal ini aku sama sekali tak menduga, kiranya di tempat ini masih ada dia seorang yang belum meninggalkan istana Thian Teh Kong ini"
"Tidak"
Bantah lelaki berkerudung itu dengan cepat "Dia sudah pergi dari sini tapi Kembali lagi untuk mencuri harta kekayaan dari Bun Jin Cu, akhirnya dia tidak untung sudah berhasil Lohu tangkap"
Dia melepaskan tubuh Liuw Khiet itu ke atas tanah lalu dengan kerennya dia membentak.
"Hey Liuw Khiet, kau ingin mati atau hidup ?"
"Mau hidup ..mau hidup"
Sahut Liuw Khiet dengan suara gemetar.
"Hamba mau menjadi pembantu dari kau orang tua"
"Kalau begitu sangat bagus sekali"sahut lelaki berkerudung itu sambil tertawa.
"Apa yang Lohu perintahkan kau harus melakukannya dengan cepat, tahu tidak ?"
"Tahu ..tahu . , tahu."
"Kau orang bisa menotok jalan darah ?"
Tanya lelaki berkerudung itu.
"Sedikit-sedikit saja."
"Kalau begitu kau pun kenal letaknya jalan darah di tubuh manusia bukan ?"
Tanya lelaki berkerudung itu lagi dengan suara yang amat dingin.
"Kenal ... kenal"
"Bagus sekali "
Seru lelaki berkerudung itu dengan amat gembira.
"Sekarang Lohu mau membebaskan jalan darahmu yang tertotok lalu kau pergi menotok jalan darah kaku dari bangsat cilik itu, berani tidak ?"
"Asalkan kau orang tua masih menguasai nona Wi itu hamba sudah tentu berani"
"Bagus sekali"
Teriak Ielaki berkerudung itu lagi dengan amat gembiranya.
"Baik-baiklah kau membantu Lohu untuk menguasahi ketiga orang itu, setelah urusan selesai Lohu pasti akan perseni dirimu banyak-banyak bahkan melepaskan kau dari sini."
"Baik .. baik terima kasih atas kebaikan budi kau orang tua."
"Tetapi bilamana kau orang berani memperlihatkan permainan busuk seketika itu juga Lohu akan mencabut nyawamu saat itu juga"
"Baik ,. baik, hamba tidak berani"
Seru Liuw Khiet berulang kali. Telapak tangan dari lelaki berkerudung itu segera menepuk ke atas badannya membebaskan jaian darah kakunya yang tertotok.
"Nah sekarang bangunlah."
Liuw Khiet berdiam diri sebentar lalu baru bangkit berdiri, dengan gaya yang amat hormat ujarnya.
"Sekarang aku harus pergi menotok jalan darahnya ?"
"Tidak salah"
Sahut lelaki berkerudung itu mengangguk.
"Sewaktu turun tangan kau harus melancarkannya dengan sekuat tenaga"
"Dia tidak akan melawan bukan?"
Tanya Liuw Khiet lagi dengan ketakutan sambil melirik sekejap kearah Ti Then.
"Tidak mungkin berani"
Sahut lelaki berkerudung itu tertawa.
"Jika dia berani melawan maka nona Wi inilah yang akan menderita terlebih dulu"
Mendengar perkataan tersebut nyali Liuw Khiet jadi bertambah besar, dengan gaya seekor anying hendak menggigit manusia dengan langkah perlahan dia berjalan mendekati tubuh Ti Then.
"Liuw Khiet"
Seru Ti Then sambil tertawa.
"Kau sungguh amat bodoh, sewaktu kau berhasil menotok jalan darah kakuku maka dia akan turun tangan membinasakan dirimu,, dia selamanya tidak pernah melepaskan siapa pun "
"Cuh, kau bangsat cilik tidak usah banyak omong lagi"
Bentak Liuw Khiet dengan amat gusar "Pandanganku orang tua jauh lebih terang dari dirimu, siapa yang bisa dipercaya aku baru menentukannya sendiri"
"Jikalau kau orang tidak parcaya terhadap omonganku, silahkanlah untuk cepat turun tangan"
Sahut Ti Then kemudiaa sambil tertawa serak.
"Angkat tanganmu ke atas."
Bentak Liuw Khiet dengan cepat.
Ti Then tertawa dia menurut saja, perintah tersebut dengan mengangkat tangannya ke atas, Jari telunjuk serta jari tengah dari Liuw Khiet dengan amat tepatnya menghajar jalan kaku dari Ti Then.
Seketika itu juga Ti Then rubuh ke atas tanah.
Saat itulah lelaki berkerudung itu baru bisa menghembuskan napas lega, dia segera meletakkan tubuh Wi Lian In ke atas tanah lalu tertawa ter-babak-bahak.
"Bagus .... bagus sekali. sekarang seret dia orang kemari lalu mengikat tangan serta kakinya dengan menggunakan otot kerbau tersebut."
Liuw Khiet menyahut dan menarik sepasang kaki Ti Then untuk dibawa menuju ketengah itu antara tubuh Wi Lian In serta Suma San Ho, setelah itu memungut otot kerbau yang menggeletak di atas tanah.
Dengan perlahan dia memungut dua utas otot kerbau, baru saja tubuhnya hendak berjalan menuju ke samping tubuh Ti Then mendadak air mukanya berubah sangat hebat, sambil membelalakkan matanya lebar-lebar dia memandang ke depan pintu itu lalu berteriak dengan amat keras "Iiiih siapa kau?"
Ssbenarnya saat ini telaki berkerudung itu sedang berdiri membelakangi pintu batu tersebut, mendengar perkataan itu dengan amat terkejut sekali dia putar badannya ke belakang lalu melancarkan satu serangan dahsyat ke depan.
Perubahan yang dilakukan amat cepat sekali, laksana berkelebatnia kilat, siapa tahu setelah melancarkan serangannya itu dia segera menemukan kalau di depan pintu batu itu sama sekali tidak menemui jejak musuh.
Sedang saat dia merasakan kalau di depan pintu tidak tampak adanya orang itulah mendadak punggungoja sudah terhajar oleh satu pukulan yang amat dahsyat sekali.
Orang yang melakukan serangan dahsyat itu bukan lain adalah Ti Then sendiri.
Kiranya Liuw Khiet tadi sama sekali tidaksecara sungguh-sungguh metotok jalan darah kakunya, sedangkan di dalam ruangan siksa itu pun sama sekali tidak terdapat manusia lain.
Setelah lelaki berkerudung itu merasakan punggungnya kena hajar dengan amat keras itulah dia segera merasa dirinya sudah kena tipu, tubuhnya dengan cepat berjumpalitan keluar dari pintu batu itu lalu dengan amat cepatnya melayang keluar dari ruangan bawah tanah itu.
Ti Then segera membentak keras, tubuhnya meloncat ke atas melakukan pengejaran dari belakang.
Liuw Khiet pun dengan tergesa-gesa memungut golok yang ada di atas tanah lalu meloncat ke samping tubuh Wi Lian ln dengan menggunakan golok itu dengan cepat dia memutuskan otot kerbau yarg mengikat tangan kakinya setelah itu menyusul memutuskan otct kerbau yang mengikat tangan serta kaki dari Suma San Ho.
Perubahan yang terjadi secara mendadak ini benar benar berada diluar dugaan dan Wi Lian In mau pun Suma San Ho sendiri, Wi Lian In dangan membelalakan matanya memandang kearah Liuw Khiet serunya dengan amat terkejut bercampur girang.
"Kau ... kau tidak menotok jalan darah kakunya?"
Liuw Khiet setelah memutuskan otot kerbau yang mengikat tangannya Suma San Ho dia segera berjongkok memutuskan otot kerbau yang mengikat kakinya., saat itu dia segera tertawa sahutnya.
"Tidak, bukankah tadi hamba sudah bilang pandangan hamba jauh lebih jelas siapa yang bisa dipercaya siapa yang tidak bisa dipercaya,"
"Bagus sekali"
Teriak Wi Lian In dengan amat girang sekali.
"Kau jadi manusia tidak jelek juga, nanti kami tentu baik-baik mengucapkan terima kasih kepadamu"
Berbicara sampai di situ tubuhnya sudah menerjang keluar dari ruangan siksa tersebut.
Saat ini Liuw Khiet sudah berhasil memutuskan seluruh otot kerbau yang mengikat tubuh Suma San Ho.
Dengan cepat Suma San Ho meloncat kearah dinding sebelah kiri untuk mencabut keluar sebilah pedang yang tergantung di sana.
Baru saja dia hendak menerjang keluar dari ruangan itu untuk menyusul diri Wi Lian In mendadak tampak Wi Lian In sudah balik kembali ke dalam ruangan siksa itu.
"Kenapa kau?"
Seru Suma San Ho tertegun.
"Sungguh cepat sekali."
Teriak Wi Lian In dengan wayah amat terkejut.
"Mereka sudah berlari meninggalkan tempat ini dengan amat cepatnya,"
Air muka Liuw Khiet segera berubah sangat hebat.
"Kalau begitu tentu mereka sudah berlari masuk ke dalam ruangan bawah tanah yang pernah dipasangi dengan alat-alat rahasia itu. kalau tidak mereka tidak akan lari dengan cepatnya."
Mendengar perkataan tersebut Wi Lian In menjadi sangat terperanyat sekali.
"Dua buah jalan rahasia itu yang mana baru menuju ke tempat alat rahasia itu"
Tanyanya dengan cemas.
"Jalan di bawah tanah yang berbelok ke kanan dan terus lempeng itu merupakan jalan di bawah tanah yang sudah dipasangi dengan delapan belas buah alat rahasia"
"Bukankah tadi bajingan tua itu bilang sudah berhasil merusak kedelapan belas buah alat rahasia tersebut?"
"Dia sedang omong kosong."
Seru Liuw Khiet dengan cepat.
"Kalau begitu"
Ujar Wi Lian In kembali "Bagaimana dia sampai di dalam ruangan siksa ini dengan selamat tanpa melewati kedelapan belas alat rahasia tersebut??"
"Dia memaksa hamba untuk membawa dia masuk kemari dengan mengambil jalan rahasia yang lain."
"Kalau begitu"
Ujar Wi Lian In dengan keheranan.
"Kenapa dia tidak melarikan diri dengan melalui jalan rahasia yang semula?"
"Pada ujung jalan rahasia itu terdapat sebuah alat rahasia yang digunakan untuk naik turun"
Ujar Liuw Khiet menerangkan.
"Mungkin dia melihat waktunya untuk mencapai jalan tersebut tidak sempat lagi makanya dia memilih jalan rahasia yang dipasangi dengan delapan belas alat rahasia itu untuk melarikan diri " . .cepat, kita pergi lihat "
Selesai berkata dia berlari terlebih dahulu memimpin yang lain untuk berlari ke depan. Wi Lian In serta Suma San Ho yang mengikuti dari belakang bersamaan sudah bertanya.
"Kau memahami jalan di sini?"
"Paham"
Sahutnya cepat.
"Aku cuma takut tidak sempat menyusul mereka, alat rahasia yang berada di paling depan bernama "Siang Sek Sin Peng "
Atau sepasang batu mengepres kue, alat tersebut amat libay sekali"
"Apa itu Siang Sek Sin Peng,?"
Tanya Suma San Ho kebingungan.
"Jikalau kita tidak mengerti bagaimama cara jalannya melalui tempat itu maka bilamana kita menyenggol alat rahasia dari kedua belah dinding akan muncul batu besar, yang bersama-sama menggencet menjadi gepeng, itulah yang dinamakan Siang Sek Sin Peng."
Wi Lian In yang mendengar kelihayan dari alat rahasia itu hatinya segera merasa berdebar debar.
"Jika bajingan tua itu berhasil digencet mati itulah paling bagus, cuma aku takut .. takut Ti Kiauw tauw pun ikut menemani dirinya."
"Semoga saja merekajangan sampai begitu ..."
Sela Liuw Khiet dengan ce pat. Selesai berkata dengan amat cepatnya dia berlari ke depan, mendadak dengan wayah terperanyat dan muka pucat dia menghentikan langkahnya.
"Kenapa??"
Tanya Wi Lian In dengan cepat sewaktu dilihatnya dia orang ketakutan.
"Coba kajian libat"
Serunya sambil menuding ke depan.
Wi Lian In serta Suma San Ho dengan cepat mengalihkan pandangan matanya, mengikuti arah yang dituding oleh Liuw Khiet itu.
tampaklah kurang lebih tiga kaki dari mereka berdiri jalan rahasia tersebut sudah terhalang oleh dua buah pintu batu yang amat rapat sekali, Wi Lian menjadi bingung, tanyanya.
"Kau tidak bisa membuka pintu batu yang besar itu?"
"Itu bukan pintu batu"
Seru Liuw Khiet dengan cepat sembari menarik napas panjang-panjang.
"Itulah yang tadi hamba maksudkan sebagai alat rahasia Siang San Sin Pek, kedua buah batu itu merupakan batu yang digunakan untuk menggencet ke tengah. Sedang saat ini kedua buah batu besar itu sudah merapat satu sama lainnya hal ini sudah tentu berarti juga kalau alat rahasia itu sudah menggencet sesuatu."
Wayah Wi Lian In segera berubah amat hebat, serunya.
"Jadi maksudmu, mereka sudah tergencet di dalam?"
"Kemungkinan sekali memang demikian .."
Sahut Liuw Khiet mengangguk. Wayah Wi Lian In segera berubah menjadi amat sedih sekali, sambil mencekal tangan Liuw Khiet serunya dengan suara setengah menangis.
"Apa betul-betul tidak ada jalan untuk meloIoskan diri?"
Liuw Khiet segera tertawa pahit.
"Panjang kedua buah batu ini ada lima kaki, jikalau sewaktu mereka menyenggol alat rahasia itu dapat segera meloncat mundur kemungkinan sekali bisa lolos . ..tetapi menurut apa yang sudah sering terjadi mereka tidak mungkin berhasil mencapai lima kaki jauhnya di dalam satu kali loncatan saja."
Mendengar keterangan itu Wi Lian In menjadi amat sedih, mendadak dia menutupi wayahnya dengan tangan lalu menangis terseduh-seduh dergan amat sedihnya.
"Eeeeh jangan menangis,jangan menangis"
Seru Suma San Ho dengan gugup.
"Kita sama sekali tidak mendengar kalau mereka sudah memperdengarkan suara yang mencurigakan, kemungkinan sekali sebelum kedua buah batu besar itu menggencet ketengah mereka sudah berhasil meloncat keluar dari jalan rahasia ini."
"Kaujangan menghibur diriku,"
Seru Wit Lian In sambil menangis semakin keras.
"Tidak perduli siapa pun tidak mungkin berhasil meloncat sejauh lima kaki hanya di dalam satu kali loncatan saja, dia, ... dia tentu sudah tergencet di tengah."
"Dapatkah kau memisahkan kedua buah batu besar itu ?"
Tanya Suma San Ho kemudian kepada Liuw Khiet.
"Dapat .... dapat "
Jawab Liuw Khiet mengangguk.
"Tetapi hamba harus berputar satu jalan yang amat panjang sekali baru bisa sampai di dalam kamar alat rahasia tersebut, aiat untuk membuka alat rahasia "Siang Sak Sia Peng "
Ini pun berada di dalam kamar rahasia tersebut"
"Kalau begitu bagaimana kalau kau pergi membuka alat rahasia ini terlebih dulu ?"
Ujar Suma San Ho dengan gugup.
"Baiklah, kalian harap tunggu sebentar di sini "
Selesai berkata dengan cepat dia putar badan meninggalkan tempat itu. Suma San Ho dengan perlahan menoleh kearah Wi Lia n In dan hiburnya dengan kata-kata yang halus.
"Sumoay untuk sementara waktu lebih baik kaujangan bersedih hati dulu."
Ie-heng percaya Ti Kiauw tauw tidak mungkin menemui bencana, dari wayahnya jelas memperlihatkan kalau dia orang bukanlah seorang yang pendek usia . ."
"Sungguh ?"
Tanya Wi Lian In mendadak sambil angkat kepalanya yang sudah dibasahi oleh butiran air mata itu.
"Sungguh"
Jawab Suma San Ho mengangguk.
"Alisnya panjang sekali hal ini membuktikan kalau dia orang termasuk orang yang panjang umur, dia tidak mungkin bisa mati dengan begitu mudahnya,"
"Kau bisa meramal ?"
Tanya Wi Lian In tertegun.
"Benar"
Sahut Suma San Ho sambil tertawa paksa.
"Cuma hanya paham sedikit kulitnya saja"
Wi Lian In menundukkan kepalanya kembali sambil menangis tersedu-sedu.
"Jika dia mati aku pun tidak ingin hidup lebih lanjut, kau tahu tidak dia jadi orang amat baik, dia sangat baik sekali terhadap diriku, bahkan kita ..kita , , ."
"Benar, orang budiman akan selalu di lindutgi Thian, dia tidak akan mati"
Coba hibur Suma San Ho sekali lagi, tak urung nada suaranya menunjukkan kesedihan hatinya pula.
"Tetapi aku mengetahui dengan amat jelas kepandaian silat yang dimilikinya, tak mungkin bisa sekali loncat mencapai sejauh lima kaki"
Jika seseorang mencapai pada saat kritis yang mengancam jiwanya kadang kala bias muncul suatu tenaga gaib yang sesuatu luar biasa sekali, Ie-heng percayaTi Kiauw tauw pasti lolos dari mara bahaya ini"
Mendadak Wi Lian In meloncat ke hadapan kedua buah batu raksasa itu lalu berteriak menghadap ke arah celah yang ada di tengahnya.
"Ti Kiauw tauw... Ti Kiauw tauw, kau berada dimana?"
Selesai berteriak dia menempelkan telinganya kearah celah-celah tersebut untuk pusatkan perhatiannya mendengar.
Tetapi dia segera menjadi kecewa, dia sama sekali tidak mendengar sedikit suara pun dari Ti Then.
Suma san Ho segera maju ke depan menariknya ke belakang.
"Kemungkinan sekali dia sudah jauh meninggalkan tempat ini"
Ujarnya.
"Karena itu dia orang sudah tidak mendengar suara teriakanmu itu"
"Jalan rahasia ini adalah lurus, jikalau dia masih hidup sudah seharusnya mendengar suara teriakanku ini"
"Tadi Liuw Khiet sudah berkata kalau di dalam jalan rahasia ini dipasang delapan belas buah alat rahasia, jikalau alat rahasia tersebut sudah mulai bergerak belum tentu jalan rahasia ini masih tetap lurus seperti semula"
"Itu Liuw Khiet sudah pergi amat lamanya tidak ada beritanya lagi? Apa dia sudah melarikan diri?"
Gumam Wi Lian In kemudian.
"Tidak mungkin, dia memberi bantuan dulu kepada kita tidak mungkin dia orang akan melarikan diri"
"Aku ada satu hal yang tidak paham"
Ujar Wi Lian In mengemukakan keberatan hatinya.
"Kenapa dia orang bias berdiri di pihak kita?"
"Karena dia tahu kita tidak akan membinasakan dirinya"
"Sungguh sayang sekali Ti Kiauw tauw tidak berhasil melukai bajingan tua itu dengan pukulannya tadi"
Seru Wi Lian In sambil menghela napas panjang.
"Jikalau pukulannya tadi berhasil membinasakan dirinya maka sudah tentu tidak akan terjadi peristiwa semacam ini"
"Kenapa tidak?"
Sambung Suma San Ho.
"Tetapi hal ini tidak bias dikatakan karena tenaga dalam Ti Kiauw tauw terkuras pada saat itu dia melancarkan serangan dengan berbaring sudah tentu tenaga dalamnya tidak dapat dikerahkan sepenuh tenaga, apalagi bajingan tua itu..."
Perkataannya belum selesai mendadak terdengar suara berderiknya batu-batuan yang amat ramai, kedua belah batu raksasa yang merapat tadi dengan perlahan mulai bergeser kekanan dan kekiri.
Di dalam sekejap saja batu tersebut sudah kembali menjadi sebuah jalan rahasia.
Walau pun jalan rahasia itu amat gelap tetapi mereka berdua hanya di dalam sekali pandang saja bisa melihat pada batu cadas yang ada di sebelah kanan terbanting sesosok mayat manusia yang kini sudah d buat gepeng oleh gencetan batu.
Dengan suara yang amat keras Wi Lian In menjerit ngeri tubuhnya menjadi lemas seketika itu juga dia jatuh tidak sadarkan diri di atas tanah.
Suma San Ho menjadi amat terperanyat, dengan gugup dia membangunkan badannya kembali sambil berteriak dengan suara yang amat cemas .
"Sumoay, sumoay, kau bangunlah."
Wi Lian In sedikit pun tidak berkutik, biji matanya yang setengah terbuka dan setengah tertutup itu berputar kearah atas, tubuhnya amat lemas jelas sekali dia memang sudah jatuh tidak sadarkan diri.
Suma San Ho berteriak lagi beberapa kali tetapi dia tetap jatuh tidak sadarkan dirinya, terpaksa dia meletakkan kembali tubuhnya ke atas tanah lalu berlari memasuki jalan rahasia tersebut keadaasnya saat ini amat bingung sekali karena dia tahu orang yang sudah kena gencet mati itu pasti Ti Then, dia bisa mengambil kesimpulan ini karena ada sebuah alasan yang amat kuat.
Sewaktu alat rahasia itu muIai berjalan lelaki berkerudung itu berlari dipaling depan sehingga dia masih mem punyai harapan untuk meloloskan diri, sebaliknya Ti Then yang melakukan pengejaran di belakang pasti sukar untuk meloloskan diri, hal ini sudah terang jelas sekali dan masuk diakal.
Tetapi sekali pun begitu dia masih mem punyai satu harapan, dia mengharapkan orang yang sudah kena gencet mati itu bukanlah Ti Then.
Dengan langkah yang amat cepat dia terlari mendekati mayat itu, terlihatlah seluruh tulang dari mayat itu sudah kena gencet sehingga gepeng laksana selembar kertas saja, keadaannya penuh dilumuri dengan darah sehingga karena amat menyeramkan sekali.
Dikarenakan keadaan di dalam ruangan bawah tanah itu amat gelap untuk beberapa saat lamanya dia tidak bisa membedakan yang mati itu Ti Then atau si lelaki berkerudung itu, tiba-tiba dia teringat kembali dengan lampu lentera yang tergantung di dalam ruangan siksa, tubuhnya dengan cepat berlari balik mengambil lampu lentera itu kemudian kembali lagi ke tempat semula.
Dengan meminyam sinar lentera itu dia melakukan pemeriksaan dengan amat telitinya terhadap mayat tersebut sudah lama membeku, hatinya menjadi sangat girang sekali, dengan cepat dia meloncat balik, ke sampinng tubuh Wi Lian ln sembari teriaknya keras .
"Sumoy! cepat bangun, orang yang kena gencet mati itu bukan Ti Kiauw-tauw."
Perkataan ini ternyata amat manjur sekali jika dibandingkan dengan obat mujarab lainnya, seketika itu juga Wi Lian ln sadar kembali dari pingsannya.
"Kau bilang apa ?"
Tanyanya dengan cemas.
"Ti Kiauw-tauw tidak mati"
Seru Suma San Ho dengan amat girang-"Sungguh? "
Teriak Wi Lian ln sambil meloncat bangun.
"Sungguh."
Dengan cepat Wi Lian ln merebut lampu lentera yang ada ditangannya dan berlari menuju ke ruangan bawah tanah itu. Ketika dia dapat melihat "
Lembaran "
Mayat itu tak terasa lagi hatinya menjadi bergidik, dengan ketakutan teriaknya .
"Aduh ,.. sungguh sukar sekali untuk dilihat, dia . .orang siapa ? "
"Dia bukan Ti Kiauw-tauw juga bukan bajingan tua itu"
"Bagaimana kau bisa tahu kalau dia bukan bajingan tua itu?"
Teriak Wi Lian In dengan terperanyat.
"Coba kau lihat darah dari mayat itu sudah lama membeku,"
Ujar Suma San Ho sambil menuding kearah mayat tersebut, jikalau yang mati adalah Ti Kiauw-tauw atau bajingan tua itu maka orang yang baru saja mati kena gencet darah yang mengalir keluar tidak mungkia bisa langsung membeku,"
"Tidak salah."
Sahut Wi Lian In setelah memeriksa dengan teliti mayat itu,"Bahkan baju yang dia pakai pun tidak mirip dengan pakaian yang d pakai oleh Ti Kiauw tauw. tetapi siapakah orang ini?"
"Aku duga dia orang tentu salah satu dari anak buah Bunn Jin Cu, kemungkinan sekali orang ini meminyam kesempatan sewaktu semua orang memberontak memasuki ruangan bawah rahasia ini untuk mencari harta siapa tahu sudah kena gencet alat rahasia hingga menemui ajalnya"
Sekali lagi Wi Lian In mengangguk dengan perlahan matanya beralih kearah depan.
"Kalau begitu Ti Kiauw tauw setelah pergi kemana?"
Tanyanya.
"Sudah tentu berada di jalan rahasia sebelah depan, nanti biarlah kita tunggu Liuw Khiet datang dulu kemudian kita baru..."
Baru saja dia berbicara sampai di situ mendadak terdengar dari dalam ruangan bawah tanah itu berkumandang datang suara seseorang.
"Kalian berdua harap berlega hati seluruh alat rahasia yang ada di dalam ruangan bawah tanah ini sudah hamba tutup"
Suara dari Liuw Khiet dengan amat ringannya berkumandang datang dari suatu tempat yang agaknya amat jauh sekali.
Suma San Ho menjadi melengak, dengan cepat dia menyuruh Wi Lian In mengangkat tinggi lampu lentera itu, saat itulah mereka baru menemukan di at as dinding atap ruangan tersebut terdapat sebuah lubang yang bulat kecil, segera dia angkat kepalanya berteriak .
"Liuw Khiet, kaukah ? "
"Benar"
Sahut Liuw Khiet dengan keras.
"Kalian berdua sekarang sudah berada di tengah-tengah alat rahasia Siang Sek Sia Peng ini. apakah kalian menemukan sesuatu ?"
"Di sini sudah kena gencet seseorang, tetapi dia bukan Ti Kiauw-tauw juga bukan orang berkerudung itu"
Teriak Suma San Ho dengan keras.
"Oooh ,. kalau tidak siapa yang sudah kena gencet sehingga mati ?"
Seru Liuw Khiet dengan terperanyat.
"Aku tidak kenal, tetapi darah dari mayat sudah membeku, kelihatannya dia sudah mati dua hari yang lalu."
"Kalau begitu dia tentulah orang dari istana Thian Teh Kong .."
"Hey Liuw Khiet. kau berada di dalam kamar alat rahasia?"
Teriak Wi Lian In bertanya.
"Benar"
"Kau yang berada di dalam kamar rahasia dapatkah melihat semua keadaan alat-alat rahasia tersebut?"
"Aku tidak bisa melihatnya secara langsung, tetapi dari perubahan yang terjadi di sini aku bisa tahu alat rahasia mana sudah mulai jalan . ."
"Kalau begitu"
Potong Wi Lian In dengan cepat.
"Sebelum kau menutup semua alat-alat rahasia yang sudah berjalan? "
Ooo O ooo "Sudah ada tiga macam alat rahasia yang bekerja, yaitu"
Siang Sek Sia Peng, Thay San Ya Ting -serta -ln Sian Wan", alat rahasia "
Thay San Ya Ting "
Itu terletak jalan rahasia depan kalian, hamba sudah menaikkannya."
Tidak menanti dia bicara habis Wi Lian In sudah bertanya kembali dengan cemas "Apakah yang dimaksud sebagai Thay San Ya Ting serta In Sian Wang itu ?"
"Yang dimaksud sebagai Thay san Ya Ting adalah sebuah plat besi yang beratnya dua ribu kati bergerak dari atas atap di jalan rahasia ini menuju ke bawah dan dapat membuat orang menjadi hancur"
"Lalu adakah orang yang kena kena ditindih mati oieh alat rahasia Thay San Ya Ting itu ?"
Tanya Wi Lian In terperanyat.
"Tidak ada,, tetapi di dalam alat rahasia In Sian Wang agaknya sudah menawan seorang, hamba tidak tahu orang yang ada di dalam alat rahasia In Sian Wang itu Ti siauw hiap atau lelaki berkerudung itu karenanya hamba tidak berani . , ..aduh ."
Perkataannya belum selesai diucapkan mendadak dia sudah menjerit kaget. Suma San Ho menjadi cemas, tanyanya dengan cepat .
"Liuw Khiet, kau kenapa ?"
"Ti, .., tida .... tidak mengapa . .tidak mengapa ....."
Seru Liuw Khiet tetapi suara jelas rada gemetar.
"Lalu kenapa kau menjerit kaget ?"
Tanya Suma San Ho menjadi curiga.
"Seee ... seekor tikus .... baru saja dia berlari melalui atas kakiku ... ."
Walau pun pada saat ini dalam hati Wi Lian In sedang merasa kuatir atas keselamatan dari Ti Then, ketika mendengar perkataan ini tak urung dia tertawa cekikikan juga.
"Hmm"
Godanya.
"Kau orang adalah lelaki berbadan gede, kenapa sama seekor tikus yang begitu kecil juga takut ? "
Liuw Khiet segera ikut tertawa, tetapi lertawanya sangat dipaksakan.
"Sudah tentu hamba tidak takut dengan tikus, hamba kira sudah kedatangan musuh"
"Hey alat rahasia In Sian Wang itu terletak di mana ? sebetulnya permainan apa itu ? "
Sela Suma San Ho.
"Alat tersebut terletak di depannya Thay San Ya Ting yang merupakan sebuah jala besar yang tidak mungkin bisa diputus dengan menggunakan senyata tajam, sekarang di dalam jala itu agaknya sudah menangkap seseorang, kalian cepatlah pergi lihat ke sana."
Wi Lian In segera berlari dengan amat cepatnya menuju ke depan.
Sumai San Ho pun mengikuti dengan cepat dari belakang, mereka berdua setelah berlari beberapa saat lamanya mendadak merasakan permukaan di hadapan mereka agak melesak masuk beberapa Cun ke dalam.
Wi Lian In segera mengangkat lampu lenteranya untuk memeriksa, tampak di atas dinding jalan rahasia itu terdapat sebuah besi plat yang amat besar sekali, tak terasa lagi ia menghembuskan napas dingin.
"Mungkin inilah yang disebut sebagai alat rahasia Thay San Ya Ting itu?"
"Tidak salah"
Sahut Suma San Ho mengangguk.
"Jika plat baja yang demikian besarnya terjatuh dari atas tentu seketika itu juga membuat orang tergencet jadi hancur"
Wi Lian ln tidak mau membuang banyak waktu lagi ditempat itu, dengan cepat dia berlari ke depan sambil serunya.
"Hayo cepat kiia melihat alat rahasia In Sian Wang itu"
Mereka berdua berlari kembali beberapa puluh kaki jauhnya, mendadak di hadapan mereka terlihatlah sebuah jalan rahasia yang melesak dalam sekali, disekeliling tempat liang itu tampaklah jeriji-jeriji besi yang dengan amat rapatnya mengurung tempat tersebut.
Wi Lian In serta Suma San Ho cepat-cepat berlari mendekati liang itu dan melongok ke bawah mendadak mereka menemukan dalam liang terkurung sesosok bajangan hitam yang di atasnya tertutup oleh sebuah jala, orang tersebut tidak lain adalah Ti Then.
"Ti Kiauw tauw"
Teriak Wi Lian ln dengan cepat. Ti Then yang sedang meronta di dalam In Siang Wan itu ketika melihat Wi Lian In serta Suma San Ho sudah pada datang menjadi amat girang sekali, teriaknya .
"Lian In, Suma Heng, cepat kalian tolong aku keluar dari sini "
"Kau tidak terluka bukan ?"
Tanya Wi Lian In dengan hati yang cemas.
"Tidak, tetapi jala ini sangat kuat sekali, aku tidak berhasil menjebolnya...."
"Kau tunggulah sebentar, biar kusuruh Liuw Khiet segera mengereknya ke atas"
Dia segera angkat kepalanya ke atas, ketika dilihatnya di atas tempat itu tidak terdapat adanya lubang untuk berbicara dengan nada mencoba dia segera berteriak.
"Hey Liuw Khiet, kau dengar suaraku bukan?"
Agaknya di ruangan sebelah atas terdapat juga lubang untuk mendengarkan percakapan yang ada di bawah, terdengar suara dari Liuw Khiet segera bergema mendatang.
"Dengar, apakah orang yang yang ada di dalam jala itu adalah Ti Siauw hiap?"
"Benar."
Seru Wi Lian In dengan amat girang.
"Cepat kau gerakan alat rahasia itu dan menggereknya ke atas"
Liuw Khiet segera menyahut dengan perlahan jala itu dikerek naik ke atas sedang tubuh Ti Then yang terjerumus ke dalam liang itu pun naik ke atas, dengan perlahan permukaan tanah yang tadinya berliang dengan tanpa mengeluarkan sedikit suara pun sudah balik kembali seperti keadaan semula.
Dengan tergesa-gesa Wi Lian In serta Suma San Ho membuka jala itu menolong Ti Then keluar.
Ti Then yang berhasil meloloskan diri dari dalam jala In Sian Wang dengan amat gemasnya melancarkan satu tendangan menghajar jala itu.
"Permainan apa ini."
Teriaknya gemas.
"Bukannya menangkap bajingan tua itu malahan menahan aku orang"
"Sebenarnya sudah terjadi urusan apa?"
Tanya Suma San Ho sambil tertawa. Ti Then garuk garuk kepalanya.
"Aku mengejar bajingan tua itu dengan berturut turut melewati dua buah alat rahasia, tidak disangka sewaktu aku mengejarnya sampai di sini mendadak permukaan tanah yang aku inyak sudah menurun ke bawah dan terjatuh ke dalam sebuah jala yang amat besar, masih untung bajingan tua itu hanya memikirkan untuk melarikan diri saja sehingga tidak melihat kalau aku sudah terjebak di dalam alat rahasia itu, jikalau dia melihat aku terjatuh ke dalam jala sudah tentu dia tidak akan melepaskan aku dengan demikian mudah"
"Kalau begitu bajingan tua itu sudah berhasil meloloskan diri dari jalan rahasia ini"
Timbrung Suma San Ho. Ti Then menjadi melengak.
"Bagaimana Suma heng bisa tahu kalau dia orang telah lolos dari jala di bawah tanah ini?"
Tanyanya keheranan.
"Liuw Khiet sekarang masih ada di kamar alat rahasia, dia bilang dari ke delapan belas alat rahasia cuma ada tiga buah saja yang sudah bergerak, dari hal ini jelas membuktikan kalau bajingan tua itu sudah berhasil meloloskan diri dari sini "
"Nyawanya sungguh betuntung sekali "
Tak tertahan lagi Ti Then menghela napas panjang.
"Pukulanku tadi ternyata sama sekali tidak berhasil merubuhkan dirinya"
"Tadi dengan cara apa kau berhasil meloloskan diri dari Siang Sek Sia Peng itu?"
Sela Wi Lian In tiba-tiba.
"Apa yang dimaksud Siang Sek Sia Peng itu?"
Tanya Ti Then melengak.
"Dua buah batu raksasa yang bisa menggencet barang yang ada ditengahnya, bagaimana kau bisa meloloskan diri dari gencetan batu besar yang ada lima kaki panjangnya itu?"
"Oooh kiranya barang itu yang dinamakan Siang Sek Sia Peng"
Seru Ti Then sambil tertawa.
"Hmm, si anying Iangit rase bumi sungguh lucu sekali, ternyala dia orang sudah menyamakan manusian dengan kue"
"Sebenarnya kau menggunakan cara apa untuk meloloskan diri dari sana?"
Desak Wi Lian In lebih lanjut.
"Gampang sekali, walau pun di dalam satu kali loncatan aku tidak berhasil mencapai lima kaki jauhnya tetapi asalkan sebelum kedua buah batu besar itu merapat aku bisa menutulkan kakiku ke permukaan tanah di tengah batu lalu meloncat lagi keluar bukankah sudah lolos?"
"Oooh , , . kiranya begitu, tadi aku betul-betul merasa sangat kuatir sekali,"
Ujar Wi Lian In sambi! tertawa.
"Tadi sewaktu sumoay melihat di dalam Siang Sek Sia Peng itu tergencet mati seorang dia sudah mengira Ti Kiauw-tauw .,". sudah mati, di dalam keadaan yang amat terperanyat dia sudah jatuh tidak sadarkan diri"
Sambung Suma San Ho dengan cepat.
"Lalu ?"
Seru Ti Then kaget. Suma San Ho segera tertawa terbahak-bahak.
"Akhirnya setelah mengetahui kalau orang yang mati itu bukan Ti Kiauw-tauw dia segera sadar kembali."
Wayah Wi Lian In segera terasa amat panas, dengan gemasnya dia pelototi diri Suma San Ho.
"Sudah ..sudahlah,jangan bicarakan soal itu lagi"
Teriaknya cepat dengan hati mendongkol.
"Sewaktu aku lewat di sana tadi aku pun dapat melihat di atas dinding batu ada sesosok mayat, siapakah orang itu ?"
"Orang itu sudah mati dua hari yang lalu aku kira tentulah anak buah dari istana Thian Teh Kong."
"Ehmmm , .."
Dengan perlahan Ti Then angkat kepalanya memandang kearah jalan rahasia itu.
"Sepertinya tadi aku dengar suara Liuw Khiet ada di atas, apakah dia berada di sana ?"
"Benar"
Dia berada di dalam kamar alat rahasia, dia berbicara dengan kita melalui sebuah corong kecil.
"Hey Liuw Khiet, kau meadengar suaraku tidak ?"
Teriak Ti Then dengan keras.
"Dengar, apakah kau adalah Ti Siauwhiap ?"
Terdengar suara dari Liuw Khiet berkumandang kembali dari atas ruangan.
"Benar, aku seharusnya mengucapkhn banyak terima kasih kepadamu, bilamana bukannya kau bisa membedakan yang mana jahat yang mana baik kita bertiga tentu akan sukar untuk meloloskan diri dari cengkeraman bajingan tua itu."
"Aaaah Ti Siauw-hiap tidak usah sungkan-sungkan"
"Bajingan tua itu sudah meloloskan diri dari dalam jalan rahasia ini, kau harus berhati-hati."
"Baik, hamba bisa.. hamba bisa berhati-hati"
Ti Then segera merasa nada suaranya sangat mencurigakan sekali, dalam hati dia merasa keheranan, segera kepada Wi Lian In serta Suma San Ho ujarnya dengan suara lirih.
"Sungguh aneh sekali, kenapa pada waktu berbicara kenapa suaranya rada gemetar"
"Tadi dia dibikin terkejut oleh seekor tikus, mungkin rasa kagetnya belum hilang"
Sahut Wi Lian In sambil tertawa.
"Kaget karena seekor tikus?"
Seru Ti Then keheranan.
"Dia yang bilang sendiri, tadi sewaktu Suma Suheng bercakap-cakap dengan dirinya di dekat alat rahasia Siang Sak Sia Peng mendadak dia menjerit kaget lalu Suma suheng tanya kepadanya ada urusan apa dia jadi kaget, dia bilang baru saja ada seekor tikus meloncat kakinya yang dia kira ada musuh datang sehingga menjadi terperanyat, haa haaa seorang lelaki segede itu ternyata bisa dibuat terperanyat hanya karena seekor tikus saja, sungguh lucu sekali "
Ti Then segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Tetapi tidak mungkin dia bisa terperanyat sampai seperti itu?"
Berbicara sampai di sini dia segera angkat kepalanya berteriak.
"Liuw Khiet, kau tidak mengapa bukan?"
Liuw Khiet tidak menyawab, lewat beberapa saat kemudian dia baru menyawab.
"Tidak mengapa, tidak mengapa"
"Kami mau mengejar musuh lagi, kau lihat lebih baik kami melalui jalan mana sehingga terasanya aman?"
Liuw Khiet tidak langsung menyawab lewat beberapa saat kemudian baru sahutnya.
"Hamba sudah menutup semua alat rahasia yang ada di dalam jalan rahasia ini, kalian bertiga boleh berjalan terus ke depan, tidak selang lama segera akan menemukan kembali jalan keluar"
"Baiklah, sekarang kita baru berada di perjalanan melewati alat rahasia In Sia Wang, di sebelah sana lagi merupakan alat rahasia apa?"
"Alat rahasia selanjutnya bernama "Thian Ciang Kan Liem' "Permainan macam apa itu?' tanya Ti Then tertawa.
"Sewaktu alat rahasia ini digerakkan dari atas atap dinding akan memancar keluar air lima racun atau Ngo Tok Swe, barang siapa yang terkena air beracun ini seketika itu juga akan menemui ajalnya"
"Tempat itu ada seberapa jauh letaknya dari tempat kita sekarang berada?"
"Kurang lebih dua puluh langkah, tetapi hamba sudah menutup alat rahasia tersebut kalian bertiga boleh lewat dengan berlega hati,"
"Baiklah sekarang kami juga akan pergi ke sana"
Selesai berkata dengan menggape kearah Wi Lian In serta Suma San Ho dengan dia berjalan dipaling depan mereka melanjutkan perjalanannya kembali.
Berjalan kurang lebih lima belas langkah mendadak dia menghentikan langkahnya tidak bergerak lagi kepada Suma San Ho yang ada di belakangnya dia berkata dengan suara yang amat lirih.
"Suma San Ho tolong pinyamkan pedangmu itu kepada siauw te?"
Suma San Ho segera mencabut pedangnya dan diserahkan kepadanya.
"Ti Kiauw tauw kau mau berbuat apa?"
Tanyanya keheranan. Ti Then tidak menyawab, setelah menerima pedang tersebut dia segera angkat pedang itu dan dilemparkan kearah jalan rahasia yang ada di depannya.
"Braaak "dengan menimbulkan suara yang nyaring pedang itu segera menggetarkan di atas tanah sehingga menimbulkan suara yang ribut. Seketika itu juga Suma San Ho mengerti maksud dari Ti Then, dia segera tertawa ringan.
"Apakah Ti Kiauw tauw tidak ....percaya dengan Liuw Khiet lagi ? "
Tanyanya.
"Segala sesuatu lebih baik berhati-hati, bukan begitu?"
Bisik Ti Then sambil tertawa.
"Sekarang boleh lewat bukan ? "
"Tidak,"
Cepat Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Kita coba satu kali lagi, coba kau lemparkan sarung pedang itu ke depan."
Suma San Ho segera mencabut keluar sarung pedangnya dengan mengerahkan tenaga dalamnya dia menyambitkan sarung pedang itu ke depan.
Sarung pedang itu jatuh ke atas tanah dengan menimbulkan suara yang nyaring tetapi alhasil sama saja seperti keadaan semula dari dalam jalan rahasia itu sama sekali tidak memperlihatkan gerak-gerik apa pun.
"Sekarang kita boleh maju ke depan"
Ujar Ti Then kemudian sambil tertawa. Mereka bertiga setelah berjalan kembali tiga puluh langkah jauhnya dan dirasakannya sudah berlalu dari alat rahasia "Thian Ciang Kan Liem"
Terdengar Wi Lian In sudah bertanya .
"Entah selanjutnya merupakan permainan macam apa?"
"Coba aku Tanya"
Ujar Ti Then sambil menghentikan langkah kakinya.
"Hey Liuw Khiet."
Teriaknya dengan keras.
"Ti Siauw hiap kau ada perintah apa lagi?"
Terdengar suara dari Liuw Khiet berkumandang keluar dari atas ruangan.
"Kita sudah melalui alat rahasia Thian Ciang Kan Liem ,coba katakanlah alat rahasia apa lagi yang ada di depan?"
"A!at rahasia itu dinamakan Ong Cong Coat Pit atau menangkap kura-kura di dalam kendi."
"Apa itu yang dimaksud dengan menangkap kura-kura di dalam kendi ?"
"Sewaktu alat rahasia itu bergerak maka ada dua buah terali besi yang akan meluncur turun ke bawah sehingga orang yang ada di dalamnya kena kurungan"
"Hmmm aku tahu alat rahasia ini sama sekali tidak kelihatan keistimewaannya,"
"Benar"
Sahut Ti Then membenarkan.
"Sewaktu si anying langit rase Bumi bermaksud hendak menangkap musuhnya dalam keadaan hidup maka dia akan menggunakan alat rahasia ini."
"Alat rahasia itu terletak dimana?"
"Berada kurang lebih sepuluh langkah dari tempat kalian sekarang berada, hamba sudah menutup seluruh alat rahasia itu kalian boleh maju terus dengan berlega hati"
"Baiklah, aku akan segera melewati tempat itu."
Dia orang segera mengangkat pedang panjangnya dan disambitkan kembali ke arah depan.
"Traaang"
Sekali lagi pedang itu dengan mengeluarkan suara yang amat nyaring terjatuh di atas tanah kurang lebih sepuluh langkah di atas permukaan jalan rahasia itu.
"Braak . .. Braaak "
Tidak lama suara pedang yang jatuh ke atas tanah itu bergema diikuti dua buah suara yang amat keras menggeletar memenuhi seluruh ruangan, dua buah terali besi yang amat besar sudah terjatuh ke atas tanah satu terjatuh pada sepuluh langkah di depan mereka sedang yang lain jatuh pada dua puluh langkah dari mereka berdiri.
Wi Lian In yang nampak hal ini menjadi teramat gusar baru saja dia mau membuka mulut untuk memaki Ti Then terburu-buru sudah menutupi mulutnya.
"Jangan marah dulu. sebentar lagi kita baru memaki,"
Ujarnya suara yang lirih. Sehabis berkata tubuhnya dengan cepat meloncat ke depan terali besi itu dan menggoyangkannya dengan amat keras, sembari mendorong sembari teriaknya.
"Hey Liuw Khiet, kau orang sudah berbuat apa?"
"Haaa ... ha . , haa . ."
Suara tertawa yang amat keras dan nyaring sekali bergema datang dari ruangan di atas jalan rahasia itu.
Wi Lian In yang ikut meloncat ke tepian terali besi itu setelah mendengar suara tertawa tersebut air mukanya segera berubah sangat hebat, serunya dengan kaget.
"Aaah ... dia"
"Tidak salah"
Sahut lelaki berkerudung itu sambil tertawa amat keras "Memang Lohu adanya, haa . .haa ..Liuw Khiet sudah menjual kalian kepadaku"
"Cepat"
Teriak Ti Then dengan suara amat keras.
"Kita bersama-sama coba mengangkat terali besi Ini"
Pada mulutnya berteriak-teriak dengan amat ribut padahal badannya tetap berdiri tidak bergerak, agaknya dia berteriak-teriak secara demikian bertujuan agar lelaki berkerudung yang ada di atas ruangan itu mepgira kalau mereka bertiga sudah terkurung di dalam terali besi itu.
Suma San Ho serta Wi Lian In segera mengetahui maksud hati dari Ti Then mereka pun segera ikutan berteriak dengan suara yang amat lantang.
"Mari, kita angkat terali besi ini,.."
Pada hal mereka sendiri pun tetap berdiri tidak bergerak. Sekali lagi terdengar lelaki berkerudung itu tertawa terbahak bahak.
"Lohu nasehatkan kepada kalian lebih baik duduk saja dengan tenang-tenang di sana, kedua buah pintu terali itu sudah tertutup mati, kecuali kalian mem punyai kekuatan selaksa kati hee ... heee . kalau tidakjangan harap kalian berhasil mengangkat terali besi ini"
"Hey keledai tua."
Maki Wi Lian In dengan gusar."Jika kau punya nyali ayoh turun bergebrak satu lawan satu dengan kami"
"Sudah tentu Lohu akan turun"
Ujar lelaki berkerudung itu sambil tertawa.
"Ayoh kalau mau turun cepat menggelinding ke sini."
Lelaki berkerudung itu sama sekali tidak memberikan jawabannya, hal ini jelas memperlihatkan kalau dia orang meninggalkan kamar alat rahasia itu untuk berangkat menuju ke kamar alat rahasia menangkap kura-kura di dalam kendi ini.
"Hey keledai tua, kau dengar suaraku tidak?"
Teriak Wi Lian In kembali.
"Nona Wi, dia orang sudah turun ke sana"
Terdengar suara Liuw Khiet bergema mendatang.
"Kau , . Liuw Khiet "
Seru Wi Lian ln tertegun.
"Kau sudah "menjual kami kepadanya"
"Tidak, hamba tidak akan berani menjual kalian kepadanya "
Jawab Liuw Khiet ketakutan.
"Peristiwa ini terjadi di luar dugaan hamba, tadi secara mendadak dia menerjang masuk ke dalam kamar alat rahasia ini lalu menangkap hamba dan hamba memaksa untuk mendengarkaa perintahnya, kalau tidak .."
"Cepat bilang, dia akan muncul sebelah mana? "
Potong Ti Then dengan cepat.
"Dia berjalan masuk dari jalan rahasia di depan kalian, kurang lebih sekarang sudah ada ditengah jalan "
Dia berhenti sebentar untuk tukar napas lalu tambahnya.
"Sungguh maaf sekail saat ini jalan darah hamba sudah tertotok aku orang tidak bisa menggerakan alat rahasia itu untuk menolong kalian keluar dari jebakan tersebut"
"Terus terang saja aku beritahukan kepadamu"
Ujar Ti Then dengan cepat.
"Kami sama sekali tidak terkurung di dalam kerangkeng besi itu."
Mendengar perkataan itu Liuw Khiet menjadi teramat girang.
"Sungguh? tanyanya kaget.
"Kalian berada dimana?"
"Kami ada di dekat alat rahasia Thian Ciang Kan Liem ini."
"Bagus sekali"
Seru Liuw Khiet dengan cemas.
"Kalian cepat mundur kembali keluar pintu ruangan siksa lalu memutar dengan mengambil jalan rahasia yang berbelok kesebeiab kanan dan berjalan sampai di ujung, pada dinding ujung jalan itu bakal ada sebuah batu yang bisa terlepas kalian cepat mendorong batu itu ke dalam maka segera kalian akan menemukan dua buah tombol alat rahasiayang berwarna putih serta hitam, kalian tekanlah tombol hitam terlebih dulu maka akan ada sebuah papan meluncur turun ke bawah kalian cepat-cepat berdiri di atas papan tersebut lalu tombol berwarna putih, maka papan itu dengan ce pat akan membawa kalian keluar dari ruangan Khie le Tong -..cepat,"
Ti Then dengan cepat mengingat kata-kata tersebut lalu menggape ke arah Suma San Ho serta Wi Lian In untuk berlari dengan cepat-cepatnya melalui jalan rahasia semula.
Di dalam sekejap saja mereka bertiga sudah tiba di depan pintu ruangan siksa itu lalu berputar ke kanan dan berlari lagi beberapa kaki hingga mencapai pada ujung jalan.
Dengan diterangi Iampu lentera yang dibawa oleh Wi Lian In Ti Then segera memeriksa di sekitar tempat itu, Ternyata sedikit pun tidak salah mereka segera menemukan sebuah batu yang sudah kendor, dengan cepat batu itu didorong.
"Kraaak ."
Dengan secara otomatis batu itu menyusup ke dalam dinding sehingga muncullah dua buah tombol yang berwarna putih serta hitam. Dia agak ragu-ragu sebentar lalu ujarnya.
"Tadi Liuw Khiet mengatakan suruh menekan tombol yang hitam dulu bukan ?"
"Tidak salah, menekan yang hitami dulu"
Ti Then segera menekan tombol itu, terdengar sedikit suara yang amat perlahan sebuah papan seluas tiga depa dengan perlahan-lahan meluncur turun ke bawah.
Serentetan sinar terang menyorot masuk ke dalam ruangan bawah tanah, sudah tentu sinar itu berasal dari ruangan Khie le Tong dekat dengan istana Thian Teh Kong itu.
Ketika papan yang sedang meluncur turun ke atas permukaan tanah itu mencapai kurang lebih dua kaki dari pintu keluar Ti Then segera menggape ke arah Suma San Ho serta Wi Lian In, ujarnya.
"Mari kita meloncat keluar "
Wi Lian In menyahut, tubuhnya dengan cepat melayang ke atas lalu meloncat keluar dari pintu ruangan itu dan hinggap di tengah sebuah ruangan yang amat besar dari ruangan Khie Ie Tong.
Suma San Ho pun dengan cepat ikut meloncat keluar.
Ti Then segera menekan tombol putih itu untuk menggerakkan papan itu naik kembali ke atas sedang dirinya pun ikut meloncat keluar.
Kecepatan meluncur dari papan itu jauh lebih cepat naik ke atas dari pada turun ke bawah, tidak selang lama Ti Then berhasil keluar dari mulut ruangan tersebut papan itu sudah menutupi permukaan tanah, dan tertutup mati.
Waktu itu adalah tengah malam dari hari ketiga, mereka bertiga dengan hati penuh kegirangan memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu lalu memperlihatkan senyuman yang amat gembira.
"Mungkin saat ini keledai tua itu sudah menemukan kalau kita orang sudah tidak berada di dalam terali besi itu"
Ujar Wi Lian In sambil tertawa.
"Aduh ... celaka."
Mendadak teriak Ti Then dengan kaget.
"Aku sudah lupa menanyakan kepada Liuw Khiet dimana letaknya kamar alat rahasia itu jikalau bajingan tua itu menemukan kalau kita berada di dalam jebakan tersebut sudah tentu dia bisa benci terhadap Liuw Khiet dan membinasakan dirinya."
"Tidak salah,"
Sahut Suma San Ho dengan serius.
"Hati orang tidak jelek, kita harus berusaha untuk menolong dirinya."
"Tetapi di dalam istana Thian Teh Kong ini terdapat begitu banyak kamar-kamar, untuk sesaat lamanya aku kira sukar bagi kita untuk menemukan kamar alat rahasia itu, lebih baik aku turun lagi"
Baru saja berbicara sampai di sini mendadak dia melihat ke depan pintu ruangan Khie le Tong itu tampak sesosok bajangan manusia berkelebat dengan amat cepatnya dengan segera tangannya menyambar sebuah pot bunga dan disambitkan ke arahnya dengan amat keras.
Suma San Ho serta Wi Lian In melihat adanya musuh yang muncul di sana segera lintangkan telapak tangannya di depan dada siap menghadapi sesuatu.
Tetapi, pada saat Ti Then menyambitkan pot bunga itulah dia bisa melihat dengan jelas wayah dari orang tersebut, tak terasa lagi dia sudah menjerit kaget.
Kiranya orang yang baru saja datang itu bukannya lelaki berkerudung melainkan itu Pek Kiam Pocu dari benteng seratus pedang, Wi Ci To adanya.
Ti Then takut pot kembang yang disambit olehnya mengenai tubuhnya, segera dengan hati cemas serunya "Cepat menghindarkan."
Dengan sama sekali tidak gugup Wi Ci To memukul jatuh pot bunga itu lalu berjalan memasuki ruangan Khie Ie Tong.
"Kalian pun sudah datang semua ?"tanyanya. Tetapi di dalam satu kali pandangan itulah dia bisa melihat baik Ti Then mau pun Suma San Ho pada setengah telanyang bahkan melihat pula pada tubuh Ti Then sudah dipenuhi bekas cambukan yang penuh dinodai oleh darah yang sudah membeku, air mukanya segera terlintas suatu rasa yang amat kaget sekali.
"Eeeeh ..kalian kenapa?"
Tanyanya terperanyat. Wi Lian In yang melihat ayahnya sudah datang dengan cepat berlari menyambut, teriaknya sambil tertawa.
"Tia, kau pun sudah datang"
Dengan cepat Wi Ci To menarik tangan putrinya dan memperhatikan seluruh tubuhnya dengan amat teliti.
"Lian In"
Ujarnya dengan terkejut.
"Agaknya kau pernah dipukuli dengan menggunakan cambuk?"
"Ehmmm ... tadi aku dipukuli oleh Bun Jin Cu, kami secara tidak sengaja sudah kena alat rahasianya dan di tawan di ruangan siksanya"
"Mana Bun Jin Cu itu bangsat perempuan?"
Serunya dengan wajah amat gusar sekali, sedangkan matanya menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu.
"Dia sudah mati "
"Aaaah?"
Dengan perlahan sinar matanya dialihkan kearah Ti Then lalu tanyanya.
"Apakah dia orang dibunuh oleh Ti-Kiauw tauw?"
"Bukan"
Sahut Ti Then sambiI memberi hormat.
"Urusan ini sulit untuk diceritakan secepatnya, biarlah setelah urusan ini beres semua boanpwe baru laporkan urusan ini dengan lebih teliti lagi, sekarang boanpwe harus menolong nyawa seseorang yang berada di dalam keadaan yang sangat berbahaya ."
"Nyawa siapa orang yang sedang berada dalam keadaan bahaya? "
Tanya Wi Ci To dengan pandangan tajam.
"Seorang anak buah dari istana Thian Teh Kong yang bernama Liuw Khiet, dia sudah menolong boanpwe bertiga meloloskan diri dari cengkeraman seorang lelaki berkerudung yang tidak jelas asal usulnya, sedangkan dia orang sekarang sudah tertotok jalan darahnya oleh orang itu dan rubuh di dalam kamar alat rahasia."
"Kemungkinan sekali lelaki berkerudung itu hendak pergi membinasakan dirinya karena dia sudah menolong kita, cuma saja boanpwe tidak tahu kamar alat rahasia itu terletak di bagian mana dari istana ini, Pocu agaknya jauh lebih memahami hal-hal tentang alat rahasia, dapatkah kau orang tua membawa kami menuju ke kamar alat rahasia itu?"
Walau pun Wi Ci To cuma mendengar sedikit penjelasan saja tetapi melihat sikap Ti Then yang amat serius segera mengetahui kalau urusan ini tidak bisa ditunda lagi, dengan cepat dia putar badannya menuju keluar.
"Kalian cepat ikut Lohu."
Dengan memimpin diri Ti Then, Suma San Ho serta Wi Lian In dia berjalan keluar dari ruangan Khi Ie Tong itu dan memasuki sebuah ruangan dalam yang amat lebar dan indah sekali.
"Kamar alat rahasia itu berada di bawah ruangan ini"
Ujarnya kemudian sambil menghentikan langkahnya.
"Tia, bagaimana kau orang bisa tahu?"
Tanya Wi Lian in dengan amat girang.
"Kemarin sewaktu aku orang berjalan kemari di tengah jalan sudah bertemu dengan seorang jagoan berkepandaian tinggi dari istana Thian The Kong, dia beritahu kepada Lohu kalau istana Thian Teh Kong sudah mengalami penghinaan bahkan memberitahukan kepadaku juga kalau Bun Jin Cu sudah berada di dalam istana bersiap-siap menggunakan alat rahasia untuk menghadapi diriku, di samping itu dia pun menjelaskan letak keadaan dari berbagai alat rahasia yang dipasang di dalam istana Thian Teh Kong ini dan menjelaskan pula letak dari kamar alat rahasianya"
"Bagaimana orang itu mau membocorkan banyak urusan kepada Tia?"
Tanya Wi Lian In keheranan, Wi Ci To segera tertawa dingin.
"Semula aku orang juga merasa bingung dengan kejadian ini, akhirnya setelah aku orang pikir masak-masak baru aku ketahui kemungkinan sekali dia orang sudah merampok barang-barang berharga dari istana Thian Teh Kong dalam jumlah yang amat banyak, dikarenakan takut Bun Jin Cu datang mencari balas kepadanya sengaja dia hendak menggunakan tangan Lohu untuk membinasakan dirinya"
"Bagaimana kalau sekarang Wi Pocu terangkan dahulu jalan masuk ke dalam kamar alat rahasia itu?"
Sela Ti Then dengan hati cemas.
"Di dalam sebuah kamar kosong di dalam ruangan ini, kalian masuklah untuk melihat-lihat"
Ujar Wi Ci To sambil menuding kearah belakang ruangan itu.
Sambil berkata dia berjalan memasuki pintu ditengah ruangan tersebut.
Ternyata sedikit pun tidak salah, di belakang ruangan itu terdapat sebuah kamar kosong yang amat besar sekali, saat ini pintu itu tertutup rapat.
Wi Ci To segera mendorongnya dan berjalan masuk menuju kesebuah dinding di samping ruangan.
Dengan amat teliti sekali dia orang memperhatikan goretan-goretan yang ada di sana lalu dengan mengarah satu tujuan telapak tangannya melancarkan satu pukulan ke depan, Batu pada dinding itu dengan cepat terpukul masuk sedalam tiga cun tetapi sebentar kemudian sudah mental kembali seperti sedia mula.
Dan pada saat itulah mendadak dinding tembok itu merekah menjadi dua bagian yang setengah bagian bergeser ke sebelah kiri dan yang lainnya bergeser ke sebelah kanan dan muncullah sebuah ruangan rahasia.
Ditengah ruangan rahasia itu terdapat rentetan anak tanggayang terus memantang ke dalam, suasananya amat gelap sekall sehingga sulit untuk melihat lebih teliti seberapa dalam ruangan bawah tanah itu.
"San Ho,"
Terdengar Wi Ci To berseru "Ditengah ruangan tadi ada sebuah lampu lentera coba kau ambil dan bawa kemari"
Suma San Ho segera menyahut dan mengundurkan diri tidak lama kemudian dengan membawa sebuah lentera dia berjalan kembali ke dalam kamar itu.
Wi Ci To segera menerima lampu itu dan berjalan masuk kedakm ruang rahasia tersebut, tanyanya.
"Kalian tadi bilang lelaki berkerudung itu masih ada di dalam kamnr rahasia ?"
"Semula ada di jalan rahasia tetapi saat ini kemungkinan sekali sudah kembali ke dalam kamar rahasia itu"
Sahut Ti Then sembari berjalan mengikuti dari belakangnya. Suma San Ho serta Wi Lian In pun dengan cepat mengikuti dari belakang Ti Then setindak demi setindak berjalan menuruni anak tangga tersebut.
"Apakah dia bukan orang dari istana Thian Teh Kong?"
Tanya Wi Ci To lagi.
"Bukan, dia merupakan orang dari aliran lain."
"Bagaimana dengan kepandaian silatnya?"
"Tidak jeiek, pendekar pedang merah dari benteng kita tak seorang pun yang bisa melawan dirinya."
"Kenapa dia dataog kemari mencari gara-gara dengan kalian?"
"Omong yang gampang saja, dia pingin penawan diri Lian In serta hamba untuk dijadikan barang tanggungan untuk memaksa Pocu ..."
Saat itu Wi Ci To sudah mulai menuruni tangga yang bawah ketika mendengar perkataan tersebut seketika itu juga dia menghentikan langkahnya.
"Dia mau memaksa Lohu?"
Tanyanya dengan sinar mata yang berkelebat tajam.
"Dia orang tidak memberikan penjelasan yang seterang-terangnya"
Sahut Ti Then tertawa, tetapi bilamana kita nanti berhassil menawan dirinya sudah tentu akan menjadi jelas apa yang sebenarnya dicari"
Wi Ci To termenung berpikir sebentar lalu tidak berbicara lagi, dengan langkah lebar dia berjalan memasuki ruangan bawah tanah tersebut.
Setelah menuruni tengah-tengah sampailah mereka disebuah jalan rahasiayang amat lebar, tua muda empat orang segera melanjutkan perjalanannya kembali dan tiba di depan sebuah pintu besi.
Pintu besi itu cuma dirapatkan saja.
"Inilah yang dinamakan sebagai kamar alat rahasia"
Ujar Wi Ci To kemudian sambil menuding ke arah pintu besi itu.
Selesai berkata dengan tendangan kilat dia melancarkan serangan kearah pintu besi itu.
Tangan kirinya dia membawa lampu sedang tangan kanannya disilangkan di depan dada lalu dengan sangat berhati-hati sekali berjalan masuk ke dalam, Dangan mengikuti geseran lampu terlihatlah sebuah kamar alat rahasia yang dipenuhi roda-roda bergerigi serta rantai yang malang melintang tidak karuan muncul di hadapan mereka berempat.
Dikarenakan banyaknya alat yang ada di dalam kamar itu untuk beberapa saat lamanya mereka tidak bisa melihat apakah di dalam kamar itu ada orang atau tidak, Wi Ci To segera berkata kepada diri Ti Then bertiga.
"Kalian bertiga berjaga-jagalah di pintu keluar ini biar lohu seorang diri mencari-cari ke dalam"
"Tia, kau harus sedikit hati-hati"
Ujar Wi Lian ln kemudian memberi peringatan.
Wi Ci To segera menyahut dan dengan langkah yang sangat hati-hati dia berjalan memasuki ruangan itu, Lampu lenteranya diangkat tinggi-tinggi sehingga bisa menerangi ruangan jauh lebih luas lagi, dengan berjalan melewati berbagai macam alat rahasia dia melakukan pemeriksaan terus akhirnya sampailah di sebuah roda bergigi yang amat besar dan berhenti bergerak.
"Iih ..di sini berbaring seseorang"
"Hamba ..hamba Liuw Khiet, kau .."
Terdengar suara dari seseorang bergema datang. Ketika Ti Then mendengar suara itu segera berseru.
"Pocu, dialah Liuw Khiet, dia orang tidak terluka bukan?"
"Tidak, cuma jalan darahnya ter totok"
Liuw Khiet yang mendengar suara dari Ti Then segera berteriak.
"Ti Siauw-hiap cepat kemari tolong"
Sinar mata dari Wi Ci To menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu lalu baru bungkukkan badannya membebaskan jalan darah dari Liuw Khiet.
"Dimana telaki berkerudung itu?"
Tanyanya.
"Sudah lari."
"Lari kearah mana ?"
Tanya Wi Ci To lagi sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat.
Dengan berusaha keras akhirnya Liuw Khiet berhasil berdiri juga, ujarnya kemudian sambil menuding kearah sebuah pintu di tengah ruang alat rahasia tersebut.
"Agaknya setelah dia orang tahu kau datang kemari segera berlari masuk ke dalam kamar alat rahasia ini dan membuka alat rahasia"Menangkap kura-kura di dalam kendi, setelah itu dengan terburu-buru melarikar diri ke arah jalan keluar yang ada di dekat ruangan Khie Ie Tong"
Ti Then,yang mendengar perkataan tersebut dengan cepatnya dia berlari menu ju keluar ruangan depan dan berlari ke arah ruangan Khie Ie Tong.
Jarak antara ruangan Khie Ie Tong sampai ruangan dalam itu ada dua puluh kaki jauhnya karena itu hanya di dalam beberapa kali loncatan saja dia sudah berada di dalam ruangan Khie Ie Tong, dengan cepat dia berlari ke samping meja panjang itu.
Terlihatlah papan bergerak sudah menurun ke bawah, jika dilihat dari keadaannya kemungkinan sekali lelaki berkerudung itu sudah melarikan diri keluar dari ruangan Khie Ie Tong ini kemungkinan juga dia baru akan meloncat keluar dari jalan rahasia itu.
Ti Then dengan cepat melongok ke dalam tetapi tidak terlihat adanya bajangan dari lelaki berkerudung itu hatinya diam-diam berpikir.
"Aku kira dia sudah melarikan diri dari sini, biar aku periksa sekali lagi"
Begitu pikiran itu berkelebat di dalam benaknya dengan cepat dia orang meloncat masuk ke dalam.
Dia percaya kepandaian silatnya masih bisa menangkan pihak lawannya karena itu hatinya sama sekali tidak merasa takut, setelah meloncat masuk ke jalan bawah tanah dengan langkah lebar dia berjalan maju ke depan.
Setelah berjalan puluhan langkah banyaknya sampailah dia di depan sebuah jalan rahasia yang bercabang, belok sebelah kanan adalah ruangan siksa sedang belok sebelah kiri adalah jalan rahasia yang dipenuhi dengan alat-alat rahasia.
Dia menengok ke arah kedua belah samping tetapi tidak tampak bajangan dari lelaki berkerudung itu juga, segera tubuhnya dengan cepat berkelebat menuju ke kamar siksa untuk memeriksanya terlebih dahulu.
Langkah kakinya amat ringan sekali, dengan perlahan-lahan dia berjalan mendekati pintu ruangan siksa itu lalu dengan cepatnya menerjang masuk ke dalam ruangan sedangkan sinar matanya menyapu ke sekeliling tempat itu.
Tetapi dengan amat cepatnya dia sudah menemukan kalau ruangan siksa itu kosong melompong tak tampak sesosok manusia pun, tubuhnya dengan cepat mendekati dinding menyambut keluar sebilah golok dan menerjang keluar kembali menuju ke jalan rahasia yang terpasang alat-alat rahasia itu.
Setelah melewati alat rahasia Siang Sek Sia Peng, Thay san Ya Ting, In Siang Wang serta "menangkap kura-kura di dalam kendi"
Empat buah alat rahasia terlihatlah kedua buah terali besi yang tadinya menutupi jalan rahasia kini sudah diangkat kembali, segera teriaknya dengan keras.
"Hey Liuw Khiet, Liuw Khiet, kalian masih ada di dalam kamar alat rahasia ?"
"Masih,"
Sahut Liuw Khiet dari atas ruangan.
"Apakah Ti siauw hiap sudah menemukan sesuatu ?"
"Tidak, sekarang aku berdiri di dekat alat rahasia "Menangkap kura-kura di dalam kendi"
Itu mau mencoba periksa ke tempat a!at-alat rahasia yang lain apakah semua alat sudah ditutup?"
"Biarlah aku periksa sebentar. ."
Sebentar kemudian dia baru menyawab.
"Sudah ditutup semua, Ti siauw hiap silahkan lewat dengan hati lega."
Dengan langkah yang cepat Ti Then segera berlari ke depan, terlihatlah jalan rahasia itu ada yang lebar ada yang sempit bahkan diantaranya terdapat pula beberapa ruangan yang mewah dan sebuah gua yang amat besar, setelah lewat gua itu dia melewati beberapa jalan tikungan yang membingungkan dan akhirnya sampailah di depan sebuah pintu dan muncul kembali di dalam kamar alat rahasia itu.
Wi Ci To masih memeriksa seluruh ruangan kamar alat rahasia itu dengan amat teliti ketika dilihatnya Ti Then muncul kembali ke dalam kamar itu dia agaknya dibuat tertegun.
"Bagaimana?"
Tanyaya.
"Pocu tidak usah mencari kembali, dia sudah melarikan diri dari sini"
"Dia melarkan diri dengan mengambil jalan melalui pintu ruangan Khie Ie Tong itu?"
Timbrung Liuw Khiet dengan cepat.
"Benar,"
Sahut Ti Then mengangguk.
"Sewaktu aku sampai di depan ruangan Khie IeTong di pintu keluar sudah terbuka, aku kira dia teatunya sudah melarikan diri dari sini"
Wi Lian In yang sedang berjaga di pintu depan segera mendepakkan kakinya ke atas tanah saking gemasnya.
"Aku kira dia belum lari jauh, mari cepat kita kejar"
Sehabis berkata dia mau putar badan untuk mengejar.
"Lian In kembali, jangan kejar lagi!"
Bentak Wi Ci To dengan cepat. Mendengar suara bentakan dari ayahnya Wi Lian In segera menghentikan langkahnya.
"Kenapa tidak dikejar?"
Tanyanya sambil putar badan.
"Keledai tua itu jauh Iebih jahat dari Bun Jin Cu, seharusnya kita pergi menawan dia orang untuk tanyai lebih jelas lagi"
"Sewaktu Ti Kiauw-tauw mengejar ke ruangan Khie Ie Tong dia sudah melarikan diri"
Sahut Wi Ci To menerangkan.
"Saat ini kemungkinan sekali dia sudah berada jauh beberapa li dari sini, apalagii kita pun tidak tahu dia melarikan diri dengan mengambil arah yag mana, lebih baik tidak usah dikejar lagi"
"Hmmm, berka!i-kali dia membokong Ti Kiauw tauw serta putrimu, bagaimana kita bisa melepaskan dirinya begitu saja ? "Seru Wi Lian In dengan gemas. -ooo0dw0ooo-
Jilid 24 . Lelaki berkerudung lolos.
"Jangan cemas"
Ujar Wi Ci To dengan perlahan.
"Lebih baik kita keluar dari tempat ini terlebih dahulu lalu kalian ceritakan kejadian yang sudah kalian alami kepadaku, kemungkinan sekali aku bisa menebak siapakah orang itu"
Demikianlah mereka berlima segera berjalan keluar dari kamar alat rahasia itu dan menuju keruangan luar, setelah mengadakan pemeriksaan kembali dengan teliti dan memastikan kalau lelaki berkerudung itu benar-benar sudah merat dari istana Thian Teh Kong mereka baru berkumpul dan duduk-duduk di dalam ruangan Khie Ie Tong.
"Eeei di mana baju Ti Kiauw tauw serta San Ho ?"
Tanya Wi Ci To kemudian.
"Masih ada di dalam ruangan siksa"
Sahut Ti Then cepat.
"San Ho"
Seru Wi Ci To memberi perintah.
"Coba kau turun ke bawah dan ambil pakaian kalian kemari lalu kita harus cepat-cepat atur langkah kita selanjutnya. Suma San Ho segera menyahut dan meninggalkan tempat itu untuk balik kembali ke daIam jalan rahasia.
"Tia "
Ujar Wi Lian In kemudian.
"Janyi pertempuran kita adalah besok pagi, bagaimana tia ini hari sudah sampai ?"
"Aku dengar orang bilang katanya di dalam istana Thian Teh Kong sudah terjadi pemberontakan karena itu sengaja aku lebih pagi datang kemari, , . -eeehm tadi kalian bilang Bun Jin Cu sudah mati, sebenarnya dia mati ditangan siapa?"
"Dia sudah bunuh diri,"
Sahut Ti Then.
"Kenapa dia harus bunuh diri ?"
Tanya Wi Ci To keheranan.
"Saking kehekinya karena pengkhianatan dari si menteri pintu yang mengingini harta kekayaannya, ternyata dia orang telah mengambil kesempatan sewaktu dia orang tidak siap sudah menotok jalan darah dirinya dan paksa dia untuk mengakui tempat penyimpanan harta kekayaannya, setelah dia orang memberitahu tempat penyimpanan harta kekayaan itu si menteri pintu segera menawan dia untuk mengikuti dirinya masuk ke dalam, akhirnya sudah kena senggol alat rahasia sehingga mereka berdua sama-sama terbinasa di tengah hujan anak panah ..."
OooOOooo Baru saja dia membicarakan sampai di situ tampaklah Suma San Ho dengan membawa pakaiannya sudah meloncat keluar dari dalam ruangan rahasia.
Ti Then segera menerima pakaiannya dan mengenakannya lalu sekali lagi menceritakan kisahnya sejak meninggalkan benteng Pek Kiam Po.
sewaktu dia menceritakan sudah bertemu dengan Hong Mong Ling di atas gunung Kim Teng san di mana dia orang sudah terbinasa kena sambitan batu, air muka Wi Ci To berubah sangat hebat, timbrungnya.
"Siapa yang sudah turun tangan terhadap dirinya? "Boanpwe tidak melihatnya, tetapi. ."
"Apa mungkin sikakek pemalas Kay Kong Beng yang turun tangan?"
Potong Wi Ci To kembali.
"Tidak mungkin!"
Sambung Wi Lian In dengan cepat.
"Sewaktu Ti Kiauw tauw mengejar turun gunung putrimu menyusul ke bawah bersama-sama dengan si kakek pemalas Kay Kong Beng, sebelum dia dan diriku menemukan mayatnya Hong Mong LIng dia orang belum pernah meninggalkan diriku barang selangkah pun"
"Kalau begitu menurut kalian siapa yang sudah menyambit mati diri Hong Mong Ling?"
Tanya Wi Ci To.
"Menurut boanpwe pastilah lelaki berkerudung yang baru saja melarikan diri dari istana Thian Teh Kong itu"
"Apa alasanmu?"
Seru Wi Ci To sambil memandang tajam wajahnya.
"Menurut pengakuan Hong Mong Ling dikarenakan Hu pocu sudah menerima jual beli dengan orang lain maka dia sengaja perintahkan Hong Mong Ling untuk mencuIik pergi nona Wi, waktu Hong Mong Ling mau menyebutkan nama orang yang melakukan jual beli itu ternyata dia sudah dihajar mati oleh sambitan batu itu, dari hal ini saja sudah jelas menunjukkan kalau orang yang turun tangan membinasakan dirinya adalah orang yang mengadakan juai beli Hu pocu itu sebetulnya Ielaki berkerudung itu terus menerus menyusun siasat untuk menawan nona Wi serta boanpwe juga bertujuan untuk mengadakan jual beli dari soal inilah boanpwe berani memastikan kalau orang yang melakukan pembunuhan terhadap Hong Mong Ling pastilah lelaki berkerudung hitam itu"
Air muka Wi Ci To segera berubah menjadi amat keren.
"Apakah dia orang terus menerus berusaha menawan kalian berdua?"
"Benar"
Sabut Ti Then mengangguk.
"Setelah baanpwe serta nona Wi meninggalkan gunung Kim Teng San selama dalam perjalanan kami terus menerus, berpikir siapa lagi yang bisa membayat uang tebusan sebesaf sepuluh laksa tahil perak di dalam Bu lim pada saat ini? Akhirnya kami teringat pada seseorang, dialah itu pembesar kota atau Sian Thay ya Cuo It San,"
Begitu Wi Ci To mendengar disebutnya nama Sian Thay ya Cuo It Sian air mukanya segera berubah sangat hebat, seketika itu juga dia bungkam dalam seribu bahasa.
Terdengar Ti Then melanjutkan kembali pembicaraannya.
"Boanpwse sudah lama mendengar sifat yang lurus dan berbudi dari itu Sian Thay ya Cuo It Sian dan menganggapnya tidak mungkin orang semacam ini melakukan kejahatan, tetapi teringat kembali persahabatannya yang amat rapat sekali dengan Hu Pocu kecuali dia, orang lain sekali pun mem punyai uang tebusan yang lebih banyak pun belum tentu Hu Pocu mau menerimanya, karena itu kami segera mengambil keputusan untuk pergi ke kota Tiong Jin Hu mencari Cuo It Sian guna membicarakan persoalan ini . Segera dia pun menceritakan kisahnya ketika bertemu dengan Cuo It Sian lalu dimana didaiam kuii Sam Cing Kong termakan obat pemabok dan ditawan di bawah ruang sebuah rumah petani di dusun Thay Hung Cung beserta bagaimana kemudian berhasil meloloskan diri dari kurungan mereka. Semakin mendengarkan kisah ini air muka Wi Ci To berubah semakin hebat, dari matanya memancarkan sinar yang amat tajam sekali, ujarnya dengan suara yang berat.
"Perkam pungan petani itu apakah merupakan lumbung padi dari Cuo It Sian? "
"Tidak salah"
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Salah satu di antara ketiga orang berkerudung itu sebelum meninggalkan tempat itu apakah sungguh-sungguh mengaku anak buah dari Cuo It Sian?"
Tanya Wi Ci To kembali.
"Benar, dia orang berkata begitu."
Wi Ci To segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Jika cuma berdasarkan hal itu saja kita belum bisa memastikan kalau orang berkerudung tadi adalah Cuo It Sian bahkan menyawabnya dengan tenang saja kemungkinan sekali mereka memang mem punyai rencana untuk mencelakai diri Cuo It Sian, tetapi kemungkinan juga orang yang melakukan jual beli itu adalah Cu It Sian sendiri, sedangkan orang itu sengaja mengaku terus terang kemungkinan sekali bermaksud agar di dalam hati kita timbul perasaan ke balikannya terhadap mereka dan menganggap Cuo it Sian pastilah bukan pemimpin mereka."
Wi Ci To termenung berpikir sebentar, akhirnya dia baru menyawab.
"Jadi menurut pendapat Ti Kiauw tauw lelaki berkerudung tadi pastilah Cuo It Sian?"
"Benar atau bukan boanpwe tidak berani memastikannya."
Tiba-tiba dengan sedikit pun tidak ragu-ragu ujar Wi Ci To dengan suara tegas.
"Tetapi Lohu dapat memberitahukan kepada kalian, lelaki berkerudung itu bukanlah Cuo It Sian."
"Lalu siapakah dia ?"
"Lohu sendiri pun tidak tahu"
Sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Tia, dengan berdasarkan apa kau orang tua berani memastikan kalau lelaki berkerudung itu bukanlah Cuo it Sian ?"
Timbrung Wi Lian In.
"Alasannya ada dua, pertama. Cuo lt Sian adalah seorang pendekar tua yang sifat mau pun tindak tanduknya amat jujur dan berbudi. Lohu sangat memahami dirinya, orang semacam dia tidak mungkin bisa melakukan pekerjaan seperti ini. Kedua, Jika Cuo It Sian mau melaksanakan niatnya ini dia tidak akan berani menggunakan lumbung padinya sendiri untuk berbuat sesuatu."
"Betui."
Seru Ti Then.
"Tetapi boanpwe masih ada satu persoalan yang masih merasa tidak paham, yaitu gudang di bawah tanah yang digunakan untuk mengurung kami ..."
"Orang yang mem punyai gudang di bawah tanah bukan cuma satu dua oran g saja."
Cepat sela Wi Ci To sambil tersenyum.
"Tidak salah. Kebanyakan rumah, gudang di bawah tanah itu dipergunakan untuk menyimpan barang-barang keperluan tetapi gudang di bawah tanah yang digunakan untuk mengurung kami sangat berlainan sekali dengan gudang-gudang yang lain, di dalam gudang tersebut sudah tertanam tiang besar yang malang melintang tidak keruan dan sangat berbeda dengan tiang besi lainnya, pada dasarnya ada empat buah cabang besi yang satu sama lainnya saling sambung menyambung, jelas sekali tempat itu khusus digunakan untuk menawan jago-jago berkepandaian tinggi dari Bu lim"
Terhadap pertanyaan ini agaknya Wi Ci To tidak dapat memberikan jawabannya, dia cuma mengerutkan alisnya rapat-rapat sambil gelengkan kepalanya berulang kali.
"Coba bayangkan"
Ujar Ti Then kembali.
"Bilamana lelaki berkerudung itu bukan Cuo It Sian bagaimana di dalam gudang orang lain sudah disediakan peralatan seperti ini?"
"Tidak salah"
Sambung Wi Lian ln pula."Orang lain tidak akan tahu kalau di bawah gudang rumah petani itu sudah dipasang perlengkapan seperti ini"
Wi Ci To jadi termenung lama sekali dia berpikir keras akhirnya ujarnya kembali.
"Waktu itu aku orang merasa sangat gusar sekali, sehingga sudah salah mengira kalau setelah menaruh simpatik kepada Mong Ling dan sama sekali tidak menyelidiki lebih lanjut"
Soal ini sudah tentu membuat orang merasa kebingungan, tetapi lohu percaya lelaki berkerudung itu pasti bukanlah Cuo It Sian.
"Tia berani memastikan kalau lelaki berkerudung itu bukan Cuo It Sian. sudah tentu Tia telah tahu siapakah lelaki berkerudung itu bukan?"
"Aku betul-betul tidak tahu."
Sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Lalu sebelum Hu Pocu bunuh diri apakah dia orang tidak memberitahukan sesuatu kepada Tia?"
Tak tertahan lagi desak Wi Lian In lebih lanjut.
"Tidak,"
Sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Dia cuma bilang merasa malu terhadap Tia, sedangkan karena apa dia mau bekerja sama dengan Hong Mong Ling untuk menculik dirimu dia orang sama sekali tidak mau memberi tahu."
"Jikalau memangnya begitu, tidak seharusnya Tia membiarkan dia orang lalu bunuh diri"
Agaknya Wi Lian In merasa sangat tidak puas terhadap penjelasan dari ayahnya, tiba-tiba sambil mencibirkan bibirnya ujarnya kepada Liuw Khiet.
"Liuw Khiet, di dalam istana ini apakah masih ada makanan yang bisa didahar?"
"Hamba tidak begitu jelas, mungkin masih ada sedikit,"
Sahut Liuw Khiet dengan sangat hormatnya.
"Kalau begitu kau pergilah cari sedikit, kalau ada bawalah kemari perutku terasa agak lapar. Liuw Khiet sgera menyahut dan berlalu dari sana. Wi Lian In memandang hingga bayangan tubuh Liuw Khiet lenyap dari ruangan Khie le Tong lalu baru menoleh kembal kearah ayahnya.
"Tia,"
Ujarnya dengan perlahan.
"Tujuan lelaki berkerudung itu menculik Ti Kiauw tauw serta purtimu sebetulnya hendak memaksa Tia untuk menyerahkan semacam barang ?"
Tidak menanti orang selesai berbicara Wi Ci To sudah gelengkan kepalanya.
"Lohu tidak paham barang apa yang di minta oleh dia orang."
"Dia bilang barang itu sama sekali tidak berharga. Tia, tentunya tahu bukan barang apa yang sama sekali tidak berharga yang disimpan di dalam loteng penyimpan kitab tetapi baginya merupakan barang yang maha penting ?"
"Lohu banyak menyimpan kitab-kitab serta lukisan-lukisan yang kelihatannya sama sekali tidak berharga padahal merupakan barang yang amat penting sekali."
"Tetapi dia bilang tidak mau kitab-kitab serta lukisan itu."
Wi Ci To tertawa pahit.
"Kalau begitu lohu semakin tidak tahu barang apa yang sebenarnya dimaui dirinya."
Wi Lian ln sekali lagi mencibirkan dirinya, dengan nada yang amat manya serunya "Tia, kau sungguh-sungguh tidak tahu ataukah memang sengaja tidak mau beritahu kepada kami ?"
Air muka Wi Ci To segera berubah amat keren.
"Loteng penyimpan kitab yang ada di dalam benteng Pek Kiam Po bukankah kau orang sudah melihatnya sendiri?"
Serunya dengan nada kurang senang.
"Di dalam sana selain kitab serta lukisan apa pun tidak ada lagi"
"Kalau begitu urusan ini sungguh aneh sekali, walau pun lelaki berkerudung itu tidak mengatakan nama dari barang itu tetapi jika didengar dari nada ucapannya jelas dia tahu kalau dia pun mengetahui barang yang dimintanya itu "
"Lalu kenapa dia tidak mau bicara terus terang?"
Balik tanya Wi Ci To.
"Dia tidak mau bicara terus terang sudah tentu ada sebabnya.
"Sudah ., sudahlah, kau tidak usah berpikir sembarangan lagi "
Sela Wi Ci To kemudian kurang sabar.
"Teniunya dia orang sudah mendengar orang lain bilang kalau lohu mem punyai sebuah loteng penyimpan Kitab yang tidak memperkenankan orang lain masuk atau melihatnya karena itu sudah menganggap di dalam loteng penyimpan Kitab lohu itu sudah tersimpan semacam barang pusaka yang sangat berharga sekali lalu timbullah niatnya untuk merebut."
"Tidak mungkin begitu."
Bantah Wi Lian In dengan cepat.
"Jikalau dia orang sama sekali tidak mengetahui barang apa yang dimaui oleh dirinya sendiri bagaimana dia berani mengeluarkan uang sebesar sepuluh laksa tahil untuk membelinya?"
"Menurut apa yang lobu ketahui Hu Pocu sama sekali tidak pernah menerima uang sebesar sepuluh laksa tahil itu."
"Dia sudah bersiap sedia untuk membayar uang sebesar sepuluh laksa tahil perak itu, karena di dalam kantongnya dia membawa selembar uang kertas ....."
Agaknya Wi Ci To tidak ingin melanjutkan pembicaraan tentang soal ini mendadak dia bangkit berdiri.
"Kalian tadi bilang Bun Jin Cu sudah mati, dimana mayatnya ?"
"Ada di dalam sebuah jalan rahasia di balik tembok ruangan siksa, dia memberitahu kepada si menteri pintu katanya seluruh harta kekayaannya disimpan di dalam jalan rahasia tersebut.
"sahut Ti Then segera.
"Kalian ikutlah aku masuk ke dalam."
Segera kepada Suma San Ho perintahnya.
"San Ho kau jagalah di atas ruangan ini, bilamana menemui lelaki berkeudung itu , kembali lagi cepatlah kirim tanda bahaya.
"Tecu menerima perintah."
Sahut Suma San Ho sambil bungkukkan badannya memberi hormat. Wi Ci To segera berjalan ke belakang meja panjang dan melongok ke dalam ruangan bawah tanah itu, tanyanya.
"Kita berjalan melalui tempat ini?"
"Benar,"
Sahut Ti Then perlahan.
"Biar boanpwe membawa jalan."
Selesai berkata dia segera meloncat turun ke bawah.
Wi Ci To serta Wi Lian ln pun ikut meloncat turun ke bawab, sesampainya di bawah tanah Ti Then mengambil obor sebagai penerangan untuk menyulut lampu lentera tadi baru memimpin mereka berdua berjalan masuk ke dalam.
Mereka bertiga dengan cepat sudah tiba di dalam ruangan siksa itu dan berhenti di depan jalan rahasia di balik dinding tersebut, di bawah sorotan sinar lampu terlihatlah dengan amat jelasnya majat dari Bun Jin Cu serta si menteri pintu masih menggeletak ditengah jalan rahasia.
Lama sekali Wi Ci To memperhatikan mayat dari Bun Jin Cu lalu sambil menghela napas panjang ujarnya .
"Seseorang asalkan hidup dengan teratur dan memakai aturan pastilah tidak menemui ajal tanpa terurus"
"Tia, Bun Jin Cu bilang di jalan rahasia itu dia sudah menyimpan harta kekayaannya dalam jumlah yang amat besar, bagaimana kalau kita masuk untuk melihat-lihat?"
"Tidak."
Sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Tidak perduli ada beberapa banyak harta kekayaannya semua itu bukanlah milik kita"
"Cuma melihat saja kan tidak mengapa?"
Desak Wi Lian In lebih lanjut.
"Kalau memangnya tidak mau mengambil buat apa pergi melihat?"
"Menurut pendapat boanpwe."sela Ti Then tiba-tiba.
"Jikalau di dalam sana benar-benar sudah tersimpan harta kekayaan dalam jumlah yang amat besar sekali pun kita tidak mengambilnya tetapi paling sedikit harus diatur sedemikian rupa sehingga berguna"
"Bagaimana mengaturnya?"
"Diambil keluar lalu dibagi untuk menolong kaum miskin?"
"Ehmm .., baik sih baik,"sahut Wi Ci To perlahan.
"Cuma saja siapa yang mau percaya kalau harta itu kita ambil guna menolong kaum miskin?"
"Kini ada Liuw Khiet di sini, sewaktu kita membagikan harta kekayaan tersebut kita boleh membawa sekalian dirinya agar dia pun bisa menjadi saksi"
Wi Ci To termenung untuk berpikir sebentar akhirnya dia mengangguk.
"Baiklah, kita masuk ke dalam untuk meIihat-lihat ...apakah alat rahasia yang dipasang di dalam jalan rahasia ini sudah semua?"
"Putrimu kira masih ada alat rahasia yang belum bekerja, biarlah aku menyambitkan semacam barang ke dalam sana untuk memeriksa."
Wi Lian In segera mengambil sebuah batu cadas lalu dilemparkan ke dalam jalan rahasia yang agak dekat dengan jalan keluar, sewaktu dilihatnya sama sekali tidak terjadi perubahan apa pun dia mengambil kembali sebuah batu dan disambitkan kearah jalan rahasia di depan kedua mayat yang menggeletak ditengah jalan itu, tetapi keadaan tetap tenang-tenang saja, ujarnya kemudian.
"Kelihatannya sudah pada bekerja"
"Hmm, bagaimana kau bisa tahu menggunakan cara ini untuk memeriksa keadaan?"
Tanya Wi Ci To sambil tertawa.
"Aku belajar dari Ti Kiauw tauw"
Jawab Wi Lian In tertawa malu sedangkan tangannya menuding kearah Ti Then.
"Bagus ..bagus sekali,"
Puji Wi Ci To sambil menganggukkan kepalanya.
"Tetapi jikalau jalan rahasia ini panjang maka di dalamn ja tentu masih terdapat alat rahasia, maka itu kita tidak boleh cepat-cepat mengambil kesimpulan kalau alat rahasia ini sudah bekerja semua"
Sambil berkata dia bungkukkan badannya mengambil dua buah batu lalu berjalan masuk ke dalam ruangan rahesia itu.
Mereka bertiga melewati mayat dari Bun Jin Cu serta si menteri pintu lalu ber jalan kembali beberapa langkah dengan mengikuti jalan rahasia yang berbelok ke kiri mereka melanjutkan perjalanannya ke depan.
Ti Then dengan membawa lampu lentera berjalan dl belakang Wi Ci To, segera mereka dapat melihat kalau jalan itu semakin lama semakin sempit dan semakin panjang, luasnya cuma ada dua depa sedang kedua belah dindingnya terbuat dari batu yang tidak dibubuhi oleh pasir untuk menguatkannya.
Wi Ci To memandang sebentar ke sekeliling tempat itu lalu ujarnya .
"Di dalam jalan rahasia ini pasti ada alat rahasianya, bahkan alat rahasia itu tentu ada di atas dinding."
Sambil berkala dia melemparkan sebuah batu kearah depan untuk memeriksa keadaan di sana.
Ketika batu itu jatuh ke atas tanah segera terdengarlah suara yang amat nyaring, memecahkan kesunyian tetapi sama sekali tidak tampak adanya alat rahasia yang bekerja.
"Aaah.. tidak ada."
Seru Wi Lian In tegas.
Segera dia melempar kembali sebuah batu ke arah dinding yang lain.
Segera terdengarlah suara yang amat keras diikuti suara desiran yang amat nyaring dari dinding sebelah kanan mendadak meluncur keluar ratusan batang tombak yang bersama-sama meluncur ke dinding sebelah kiri.
Tombak-tombak panjang itu dengan amat rapatnya terjejer di atas dinding tembok laksana paku yang memantek di atas kayu membuat seluruh jalan rahasia itu tertutup rapat.
Jikalau orang yang berjalan melewati sana sekali pun ilmu silat yang dimilikinya amat dahsyat tentulah sebentar saja akan berubah menjadi seekor Landak.
Tak terasa lagi Wi Lian In menghembuskan napas dingin.
"Ooooh Thian"
Serunya.
"Untung sekali kita belum berjalan ke dalam"
"Sungguh aneh sekali"
Timbrung Ti -Then sambil mengerutkan alisnya.
"tadi Liew Khiet bilang semua alat rahasia sudah tertutup bagaimana sekarang alat rahasia di tempat ini bisa bekerja?"
"Sebabnya alat rahasia yang ada di dalam jalan rahasia ini bukan diatur dari kamar alat rahasia yang ada di sana"
Sahut Wi Ci To menerangkan.
"Oooh kiranya begitu"
Ujar Ti Then menjadi paham kembali.
"Jadi dengan perkataan lain, selain si anying langit rase bumi berdua siapa pun yang berani melewati jalan rahasia ini tentu sukar lolos dari kematian."
Wi Ci To mengangguk.
"Selain ini dapat dibuktikan pula kalau di ujung jalan rahasia Ini memang betul-betul tersimpan harta kekayaan dalam jumlah yang amat besar sekali."
Wi Lian In memandang berates-ratus tombak yang menutupi jalan tadi, dia amat tertegun.
"Kita harus masuk ke dalam melalui mana?"
Tanyanya. Wi Ci To segera mengambil lampu lentera yang ada di tangan Ti Then sambil ujarnya.
"Di tempat ini tentu ada alat rahasia untuk membukanya, biarlah lohu periksa sendiri "
Dia mengangkat lam punya memeriksa keadaan di sekeliling tempat itu bersamaan pula tangannya memukul dinding serta permukaan tanah, akhirnya di ujung permukaan tanah dia dapat menerima suara pantulan yang sangat berbeda, akhirnya dia membongkar jubin yang ada tempat pojokan itu.
Tampak di bawah jubin itu terdapat sebuah lubang kecil, di tengah lubang itu terpendam sebuah tabung besi yang kecil pula sedang di atas tabung besi itu terdapat sebuah alat untuk memegang yang berwarna hitam pekat, jelas sekali itu adalah alat yang digunakan untuk membuka alat rahasia tersebut.
Wi Ci To segera memegang tabung besi itu dan dengan perlahan menariknya ke arah sebelah kanan, terdengar suara yang amat nyaring, tombak-tombak besi yang tertancap di atas dinding tadi dengan perlahan balik kembali ketempat semula.
"Sekarang kita boleh masuk ke dalam bukan?"
Ujar Wi Lian In kemudian.
"Tidak boleh, coba kau lemparkan sebuah batu kembali ke dalam."
Seru Wi Ci To memberi perintah. Wi Lian In segera berjalan keluar dari jalan rahasia itu dan mengambil sebuah batu besar untuk kemudian dilempar ke depan.
"Sreest ...."
Tombak besi yang semula sudah tertarik kembali ke tempatnya yang semula sekali lagi meluncur keluar menancap pada dinding yang ada di hadapannya. Wi Lian In menjadi sangat terperanyat sekali.
"Aduh ..... bagaimana bisa jadi?"
Serunya keras. Wi Ci To tersenyum.
"Hal ini berarti bilamana kau tidak mengerti caranya berjalan melewati tempat ini tentu akan tersenggol alat rahasia"
"Jika alat rahasianya bekerja tombak-tomabk itu menghalangi jalan hingga kita tidak bisa berlalu jika tidak bekerja kita pun tidak mengerti cara jalannya, bukankah dengan demikian kita dapat masuk ke dalam?"
Ujar Wi Lian ln sambil kerutkan alisnya.
"Soal itu sangat mudah sekali"
Sela Wi Ci To tersenyum.
"Asalkan gagang dari tabung besi itu kita ganyal sehingga tidak bergerak lagi maka alat rahasia itu pun akan mati dengan sendirinya"
Sehabis berkata dari dalam sakunya dia mencabut keluar sebilah pisau belati dan sekali lagi mengembalikan gagang tabung besi itu kea rah sebelah kiri membuat tombak besi itu menyusup kembali ke tempat asalnya, setelah itu pisau belatinya baru ditusuk ke dalam liang kecil menahan daya luncur daripada gagang tabung besi tersebut.
Ti Then yang melihat pisau belati itu sudah selesai menahan gagang dari tabung besi itu, dia orang segera putar tubuh membopon sebuah batu cadas dan dilemparkan kea rah dalam.
Kali ini ternyata alat rahasia itu sama sekali tidak jalan.
Wi Lian In menjadi amat girang, serunya keras.
"Bagus, sekarang kita boleh masuk bukan?"
Wi Ci To mengangguk, dengan tegakkan badan dia menggetakan kakinya berjalan masuk ke dalam.
Mereka bertiga berjalan kembali beberapa kaki jauhnya, mendadak jalan rahasia itu berubah menjadi tangga-tangga batu yang menurun ke bawah, Wje Ci To segera perintahkan Ti Then untuk balik ke jalan rahasia sebelah depan mengambil lagi dua buah batu cadas lalu dilemparkan ke arah bawah anak tangga batu tersebut.
Sewaktu dilihatnya dari tempat itu sama sekali tidak dapat perubahan apa pun hatinya menjadi terasa amat lega.
Di bawah tangga batu itu merupakan sebuah ruangan batu yang luasnya ada satu kaki lebih, di dalamnya tidak terlihat adanya barang lain kecuali dua buah peti mati yang terbuat dari tembaga.
Kedua buah peti mati tembaga itu membujur berdampingan dan diletakkan tepat di tengah ruangan batu tersebut, kelihatannya sangat menjeramkan sekali.
Tua muda tiga orang sewaktu melihat di dalam ruangan itu kecuali dua buah peti mati tembaga, tidak terlihat adanya barang apa pun tidak terasa lagi dibuat melengak juga.
"Iih.. si anying langit rase bumi menyimpan semua harta kekayaan di dalam peti mati?"
Seru Wi Lian In sambil menjerit tertahan. Wi Ci To pun angkat lam punya untuk menerangkan empat penjuru lalu dengan nada yang amat tenang ujarnya .
"Ruangan batu ini agaknya merupakan ujung dari pada jalan rahasia tersebut"
Ti Then segera mengambil kembali dua buah batu yang tadinya disambitkan ke arah tangga batu itu lalu dilemparkan ke tengah ruangan batu tersebut, tetapi sama sekali tidak kelihatan adanya perubahan apa pun dari dalam ruangan, ujarnya kemudian.
"Mari kita turun ke sana lihat!"
Mereda bertiga dengan langkah perlahan berjalan masuk ke dalam ruangan batu itu, sekali lagi Wi Ci To memeriksa keadaan di sekeliling tempat itu akhirnya deagan nada pasti serunya.
"Tidak bisa salah lagi, kecuali ruangan batu ini tidak ada jalan rahasia atau ruangan batu lagi."
"Sungguh aneh sekali"
Ujar Ti Then kemudian mengutarakan keheranan hatinya.
"Apakah mungkin si anying langit rase bumi sudah menyimpan seluruh harta kekayaannya di dalam peti mati tembaga tersebut?"
Wi Ci To termenung berpikir sebentar lalu dengan perlahan dia mengusap peti mati yang terbuat dari tembaga itu.
"Jika dilihat keadaannya"
Ujarnya perlahan.
"Kemungkinan sekali Bun Jin Cu menipu si Menteri pintu, dalam tempat ini agaknya sama sekali tidak tersimpan semacam harta kekayaan .."
"Lalu kedua buah peti mati tembaga ini?"
Timbrung Wi Lian in dengan ragu-ragu.
"Mereka suami istri berdua tentunya mempersiapkan tempat ini sebagai tempat pekuburan jenasah bagi mereka sendiri,"
Sambung Wi Ci To kemudian. Dia meletakkan lampu lentera tersebut ke atas tanah lantas mengangkat kedua peti mati tembaga itu sebentar, ujarnya lagi.
"Peti mati yang ada di sebelah kiri rada enteng sedang peti mati yang ada di sebelah kanan rada berat, kemunkinan sekali peti mati yang berat itu sudah berisikan jenasah dari si anying langit Kong Sun Yauw"
"Bagaimana kalau kita buka penutupnya?"
Ujar Ti Then mengusulkan.
Wi Ci To berpikir sebentar kemudian baru jawabnya "Kita buka peti mati yang rada enteng itu saja, jikalau di dalamnya kosong melompong berarti juga kalau peti mati yang ada di sebelah kanan itu terbaring jenasah dari Kong Sun Yauw"
Ti Then segera mengangguk dan dengan perlahan membuka penutup peti mati yang ada di sebelah kiri. Sekali pandang saja segera kelihatan kalau peti mati itu memang betul-betul kosong tak berisi.
"Jika peti mati ini kosong tentunya peti mati yang ada di sebelah kanan berisikan jenasah dari Kong Sun Yauw,"
Ujar Wi Lian In perlahan.
"Tapi kenapa mereka suami istri mau berbuat demikian?"
"Kemungkinan sekali dia orang takut mayatnya dirusak orang lain la!u baru mempersiapkan alat rahasia itu, kejahatan yang mereka suami istri perbuat sudah terlalu banyak sekali sudah tentu dalam hati mereka pun takut kalau ada orang yang merusak mayat mereka setelah mereka mati."
"Kelibatannya orang jahat yang terlalu banyak melakukan kejahatan setelah mati pun tidak tenang,"
Ujar Ti Then sambil tertawa pahit.
Dengan perlahan Wi Lian In mengeIus-elus peti mati tembaga yang ada di sebelah kanan, dengan perasaan ingin tahu bercampur rasa takut ujarnya "Kemungkinan sekali di dalam peti mati ini bukan tersimpan mayat dari Kong Sun Yauw, bagaimana ...
bagaimana kalau kita buka sebentar untuk dilihat?"
"Wi Ci To tidak menyawab sebaliknya kepada Ti Then ujarnya.
"Ti Kiauw-tauw, kita berbuatlah sedikit amal, coba kau bawa jenasah dan Bun Jin Cu dan masukkan ke dalam peti mati yang masih kosong ini."
Ti Then mengangguk dan balik ke jalan rahasia di bagian depan dan membopong jenasah dari Bun Jin Cu masuk ke dalam ruangan batu, setelah mencabut keluar semua anak panah yang tertancap di badannya barulah dia masukkan mayatnya ke dalam peti dan menutup peti mati tersebut, ujarnya kemudian sambil tertawa.
"Setelah mati dia tentu tahu perbuatan kita ini dan seharusnya mengucapkan terim kasih kepada kita, karena sampai kini kita sudah bantu dirinya mengurusi mayatnya yang terlantar"
"Berbuat baik harus timbul dari hati sendiri, kita tidak mengharapkan adanya ucapan terima kasih buat kita"
Sela Wi Ci To sambil tertawa. Air muka Ti Then segera berubah merah.
"Perkataan dari Pocu sedikit pun tidak salah, boanpwe cuma omong guyon saja"
Sahutnya sambil tertawa malu.
"Ayoh jalan"
Seru Wi Ci To kemudian sambil balik menaiki tangga batu.
"Tia"
Seru Wi Lian In tiba-tiba.
"Kita memeriksa lebih teliti lagi sekitar tempat ini, kemungkinan sekali harta kekayaan itu dipendam di bawah ruangan batu itu."
Wi Ci To tidak menyawab sebaliknya melanjutkan langkahnya menuju keluar.
Wi Lian In cuma bisa meleletkan lidahnya terhadap diri Ti Then terpaksa dengan mengikuti dari belakangnya mereka berjalan keluar dari tempat itu.
Sekembalinya di ruangan Khie le Tong tampak Liuw Khiet membawa senampan makanan sedang menanti, dia tahu Wi Ci To bertiga masuk ke dalam jalan rahasia itu untuk mencari harta karenanya kelihatan sekali air mukanya penuh diliputi ketegangan dan gembira cuma saja dia orang tidak berani membuka mulut untuk bertanya.
Suma San Ho sendiri pun ingin sekali cepat-cepat tahu keadaan di dalam jalan rahasia itu melihat Pocu tidak menyawab tak tertahan lagi tanyanya "Pocu, di dalam jalan rahasia itu apa benar-benar ada harta kekayaan?"
"Tidak ada."
Sahut Wi Ci To dengan wajah yang amat serius sekali.
"Di dalam jalan rahasia itu ada sebuah ruangan batu, di dalam kurungan batu itu ada dua buah peti mati tembaga, yang satu berisi jenasah dari Kong Sun Yauw sedang yang lain kosong. Ti Kiauw tauw sudah memasukkan jenasah dari Bun Jin Cu ke dalam peti mati yang kosong itu. Selain itu tidak tampak barang Iainnya"
"Ouuww"
Teriak Suma San Ho dengan amat kagetnya.
"Kalau begitu Bun Jin Cu cuma sengaja menipu si menteri pintu"
Wi Ci To mengangguk.
"Tidak, Bun Jin Cu ada harta kekayaan di dalam jumlah yang amat besar di dalam istana ini"
Timbrung Liuw Khiet secara mendadak. Wi Ci To segara melirik sekejap ke arahnya, lantas tertawa dingin.
"Kau sangat ingin mendapatkan hartaitu?"
Tanyanya dengan suara yang amat dingin. Liuw Khiet menjadi sangat terperanyat sekali.
"hamba tidak berani ..hamba tidak terani"
Jawabnya gugup.
"Liuw Khiet, aku mau bertanya kepadamu"
Sambung Ti Then kembali.
"Kau kira hara kekayaan lebih penting ataukah nyawa lebih penting?"
Air muka Liuw Khiet segera berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus, dia menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Sudah tentu ... sudah tentu nyawa lebih penting, jika tidak punya nyawa bagaimana harta kekayaan itu bisa digunakan?"
"Betul,"
Seru Ti Then tertawa.
"Makanya jika ingin nyawamu panjang janganlah memikirkan harta kekayaan itu lagi, coba kau lihat saja si menteri pintu yang ingin merebut harta kekayaan akhirnya dia harus mengorbankan nyawanya."
Agaknya Liuw Khiet dapat dibuat mengerti, dia menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Benar . , --benar ..."
Serunya.
"Di dalam ruangan batu itu benar-benar tidak ada harta kekayaan apa pun,"
Sambung Ti Then lagi.
"Tetapi aku percaya tentu si anying langit rase bumi masih mem punyai sejumlah harta kekayaan yang disimpan di sesuatu tempat, persoalannya tempat disimpannya harta kekayaan itu tentunya sudah dipasangi alat rahasia yang amat lihay sekali, jikalau kau tidak berhati-hati kemungkinan sekali sebelum memperoleh harta kekayaan itu sudah binasa terkena alat rahasianya."
Liuw Khiet menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Perkataan dari Ti Siauw Hiap sedikit pun tidak salah, hamba sudah mengambil keputusan tidak akan memikirkan harta kekayaan itu lagi."
Selesai berkata dia angkat kepalanya memandang sekejap kearah Wi Ci Tou agaknya ada perkataan yang hendak disampaikan tetapi tidak berani mengutarakan keluar.
"Kau ingin berbicara apa lagi ?"
Tanya Wi Ci To kemudian setelah dilihatnya perubahan wajah dari Liuw Khiet. Mendadak Liuw Khiet jatuhkan diri berlutut di atas tanah, ujarnya .
"Hamba ada satu permintaan harap Wi pocu mau menerima hamba untuk dijadikan seorang penjaga atau pelayan di dalam Benteng Pek Kiam Po"
Agaknya Wi Ci To sama sekali tidak menduga dia bisa mengajukan permintaan ini, untuk sesaat lamanya dia dibuat serba salah, ujarnya kemudian setelah berpikir sebentar.
"Ehmmm ... soal ini ..."
Dengan cepat Liuw Khiet mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali.
"Bilamana Pocu mau menerima hamba, sejak ini hari hamba bersumpah untuk berbuat jadi seorang baik-baik"
Ujarnya setengah mendesak.
"Pocu,"
Ujar Ti Then kemudian sewaktu melihat Wi Ci To dibuat serba susah.
"Hati orang ini tidak jelek terhadap boanpwe untuk menerimanya tidaklah salah."
"Baiklah."
Sahut Wi Ci To kemudian setelah mendengar perkataan tersebut.
"Cuma peraturan perguruan Lohu amat keras sekali, sekali pun seorang penjaga benteng yang kecil pun asalkan perbuatannya sedikit melanggar peratutan tentu akan segera mendapatkan huskuman yang berat, tentang hal ini kau harus memikirkan lebih masak lagi."
"Baik .... baik hamba sudah menyesali perbuatan hamba tempo hari, hamba akan berusaha untuk memperbaiki semua perbuat an serta sifatku yang jelek, jikalau melanggar peraturan silahkan Pocu segera menyatuhkan hukuman kepada hamba."
"Baiklah, kalau begitu kau bangun."
Liuw Khiet menjadi amat girang sekali, setelah menganggukkan kepalanya tiga kali dia baru merangkak bangun dan berdiri di samping dengan amat hormatnya.
Dengan perlahan Wi Ci To menyapu mereka bertiga dan ujarnya.
"Kalian bertiga pun harus dahar dulu, sesudah itu masih ada urasun yang harus diselesaikan."
"Tia, kita mau bekerja apa lagi? "
Tanya Wi Lian ln kemudian.
"Nanti sesudah dahar aku baru beritahu kepada kalian."
Demikianlah, Ti Then, Suma San Ho, Wi Lian In bertiga segera mulai mendahar makanan yang ada di atas meja panjang itu.
Di dalam sekejap saja mereka bertiga sudah menghabiskan semua makanan yang ada di atas nampan, sambil mambersihkan mulutnya ujar Wi Lian la dengan cepat.
"Sudah, Tia kau ingin suruh kami berbuat apa ?"
"Kita masing-masin berpencar untuk menyulut api membakar habis istana Thian Teh Kong ini"
Wi Lian ln menjadi melengak.
"Aaaaaa .... istana Thian Teh Kong yang demikian besarnya jikalau harus dibakar semua bukankah terlalu sayang ?"
"Harus dibakar sampai musnah, kalau tidak lain kali tentu ada orang yang bisa menggunakan tempat ini untuk berbuat jahat lagi,"
"Benar,"
Sambang Ti Then.
"Liuw Khiet coba kau pergi cari sedikit minyak .."
Waktu itu hari sudah, magrib sebuah bangunan istana Thian Teh Kong yang amat megah hanya di dalam sekejap saja sudah berada di tengah lautan api yang berkobar dengan besarnya sehingga suasana di sekeliling tempat itu terasa amat terang sekali bagaikan sang surya yang memancarkan sinarnya dari balik gunung.
Di tengah berkobarnya api yang amat besar itulah tua muda lima orang bersama-sama turun gunung.
Di tengah perjalanan terdengar Wi Lian In bertanya "Tia, apakah kita tidak berusaha untuk menyelidiki asal-usul dari manusia berkerudung itu?"
"Kita tidak tahu siapakah dirinya, bagaimana bisa pergi mengadakan penyelidikan?"
Seru Wi Ci To dengan tawar.
"Pergi cari Cuo It Sian"
"Tidak bisa!"
""Kenapa?"tanya Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.
"Apakah Tia merasa dia orang sama sekali tidak mencurigakan?"
"Benar."
Sahut Wi Ci To mengangguk.
"Kau tidak boleh menganggap lelaki berkerudung itu adalah Cuo It Sian dikarenakan kau ditawan dan disekap di dalam gudang di bawah tanah milik dirinya."
"Sejak tadi aku kan sudah bilang jikalau dia orang mau melakukan kejahatan tentu tidak akan berani menggunakan perkam pungannya sendiri."
"Tetapi sekali pun bukan dia jikalau kita pergi ke sana untuk mengajak dia orang membicarakan persoalan ini kemungkinan sekali masih bisa mendapatkan sedikit keterangan yang berguna"
Kata Wi Lian In lebih lanjut. Dengan perlahan Wi Ci To gelengkan kepalanya.
"Sebelum kita memperoleh bukti yang nyata aku tidak akan membuat kesalahan dengan seorang pendekar tua yang mem punyai nama serta kedudukan yang amat terkenal di dalam Bu lim."
"Tapi kita cuma mengajak dia membicarakan persoalan ini saja . , ."
Desak Wi Lian ln kembali.
"Tidak perlu,"
Potong Wi Ci To dengan cepat.
"Jika ingin menawan orang lelaki berkerudung hitam itu satu-satunya jalan adalah kembali ke dalam Benteng menantikan kedatangannya, kalau memang dia ingin mendapatkan semacam barang dari diriku sudah tentu sejak saat ini dia akan munculkan dirinya berulang kali."
Wi Lian In tidak berbicara lagi jika dilihat dari wajah ayahnya yang kukuh dan tidak mau pergi mencari Cuo It Sian jelas sekali menunjukkan kalau ayahnya tdak punya maksud untuk menyelidiki hal ikhwal tentang manusia berkerudung tersebut.
Sikapnya yang sama sekali berlawanan dengan keadaan biasanya ini sudah cukup bagi Ti Then untuk membenarkan dugaannya, ia tahu Wi Ci To tentu sedang menyembunyikan sesuatu barang yang tidak menginginkan dirinya ikut mengetahui.
Sambil berkata dia melirik sekejap ke arah Ti Then lalu melemparkan satu senyuman pahit.
"Apa boleh buat."
Ti Then cuma bisa angkat bahunya sambil balas mengirim satu senyuman pahit dia tidak mengucapkan sesuatu apa pun.
Dalam hati dia tahu bilamana Wi Ci To tidak mau menyelidiki asal usul dari lelaki berkerudung itu jelas sekali di dalam hal ini tentu ada sesuatu rahasia yang dia orang tidak ingin pun orang lain ikut, sebaliknya walau pun dirinya merupakan seorang Kiauw tauw dari Benteng Pek Kiam Po tetapi bagaimana pun juga merupakan orang luar.
Jikalau dirinya terus menerus memaksa untuk menyelidiki asal usul dari lelaki berkerudung itu berarti juga dia hendak membongkar rahasia pribadinya, hal ini sama sekali tidak berguna bagi dirinya.
Karena itu di dalam hati kecilnya Ti Then sudah mengambil keputusan untuk tidak ikut memberikan pendapatnya mengenai diri lelaki berkerudung itu.
Dengan berdiam diri mereka berlima melanjutkan perjalanannya ke arah depan, sewaktu hamper mendekati kaki gunung Kim Hud san mendadak Wi Ci To yang berada di paling depan memperdengarkan suara tertahannya yang amat perlahan lalu menghentikan langkahnya.
Wi Lian In yang ada di belakangnya menjadi melengak.
"Tia, ada urusan apa?"
Tanyanya.
"Coba kau lihat dari sana muncul seseorang ,"
Sahut Wi Ci To sambil menuding ke arah jalan gunung yang ada di sebelah depannya.
Ti Then berempat segera mengalihkan pandangannya ke depan, ternyata sedikit pun tidak salah dari jalan gunung di tempat kejauhan tampaklah seseorang yang memakai baju bijau dengan cepatnya berlari mendatang.
"Hey agaknya seorang kakek tua, bahkan kepandaian silatnya tidak jelek "
Seru Ti Then pula.
"Apa mungkin jagoan berkepandaian tinggi dari pihak istana Thian Teh Kong? "
Sela Suma San Ho.
"Lobu kira bukan ..."
"Kalau begitu lebih baik kita bersembunyi dulu, coba kita lihat siapa yang telah datang, setelah itu ..."
"Tidak perlu"
Potong Wi Ci To sambil tertawa.
"tidak perduli yang datang musuh atau kawan, kita tidak boleh bersembunyi."
Pada waktu mereka sedang berbicara itulah orang tersebut sudah datang semakin mendekat.
Sewaktu mereka berlima dapat melihat, dengan jelas wajah orang tersebut tak tertahan lagi pada menjerit tertahan, agaknya peristiwa ini jauh berada diluar dugaan mereka.
Siapakah yang sudah datang?
Orang itu bukan lain adalah si pembesar kota atau Sian Thay-ya Cuo It Sian.
Ternyata secara tiba-tiba dia sudah munculkan dirinya di atas gunung Kim Hud san.
Ti Then serta Wi Lian In pun merasa jauh berada di luar dugaannya dengan kedatangan dari Cuo It Sian secara tiba-tiba seketika itu juga dari dalam hatinya timbul perasaan curiga, karena mereka segera terpikirkan, jikalau lelaki berkerudung itu adalah penyamaran dari Cuo It Sian maka dia memang ada alasannya untuk cepat-cepat mengembalikan wajah aslinya untuk mencuci bersih kecurigaan yang timhul di hati orang lain.
Di dalam sekejap saja Cuo It Sian pun dapat melihat kedatangan yang mendadak dari Ti Then sekalian, dia agak tertegun tetapi sebentar kemudian sudah menerjang ke hadapan mereka, teriaknya dengan perasaan kaget bercampur girang.
"Wi Pocu, kalian ... kalian baru saja datang dari istana Thian Teh Kong?"
"Benar,"
Sahut Wi Ci To sambil rangkap tangannya menjura.
"Sudah lama kita tidak bertemu, Cuo heng, bagaimana ini hari bisa muncul di tempat ini?"
"Haa ,.. , haa , , Lolap memang sengaja datang kemari untuk bertemu dengan kalian."
"Oohh ."
Seru Wi Ci To lalu kepada Ti Then, Suma San Ho serta Putrinya dia berkata kembali.
"Ti Kiauw tauw, Suma San Ho, In ji kalian cepat datang menghunjuk hormat kepada locianpwe."
Kiranya walau pun Wi Ci To terhitung manusia berkepandaian tinggi yang kedudukannya amat terhormat tetapi usianya jauh lebih kecil beberapa tahun dari Cuo lt Sian, kerenanya terhadap diri Cuo It Sian dia orang menaruh rasa hormat yang berlebihan, Walau pun di dalam hati Ti Then, mau pun Wi Lian ln menaruh rasa curiga terhadap diri Cuo It Sian tetapi sebelum mendapat bukti yang menerangkan lelaki berkerudung itu adalah hasil penyamarannya sudah tentu mereka tidak berani berlaku tidak hormat, segera bersama-sama dengan Suma San Ho pada bertindak maju untuk memberi hormat.
oooOOooo Cuo It Sian yang melihat wajah Ti Then serta Wi Lian In agak tidak beres dia segera tertawa terbahak-bahak.
"Ti Siauw Hiap, nona Wi kalian tidak perlu kuatir, Lolap kali ini sengaja datang ke gunung Kim Hud san bukanlah hendak mengadukan parsoalan ini kepada Wi Pocu."
Wi Lian lu segera tertawa tawar.
"Urusan hari itu dimana Tit li sudah menyambangi Cuo Locianpwe ayahku sudah mengetahui."
"Ocoouw begitu?"
Kepada Wi Ci To ujarrnya.
"Wi Pocu sudah bertemu muka dengan Bun Jin Cu?"
"Belum, sewaktu aku orang she Wi sampai ke istana Thian Teh Kong dia sudah bunuh diri."
Cuo It Sian menjadi amat terperanyat serunya.
"Aaaah... kenapa dia bunuh diri?"
"Anak buahnya pada kemarin hari sudah pada mengkhianati dirinya sedangkan anak buahnya yang bernama Menteri pintu telah turun tangan menotok tubuh dirinya dan memaksa dia orang menyerahkan harta kekayaannya, di dalam keadaan gusar dia sudah memancing menteri pintu untuk memasuki sebuah jalan rahasia yang penuh dipasang alat rahasia lalu sengaja menggerakkan alat rahasia untuk bersama-sama menemani ajalnya dengan si menteri pintu itu."
Mendengar sampai di sini Cuo It Sian semakin terperanyat lagi.
"Apa? ternyata ada urusan seperti ini? kenapa anak buahnya pada mengkhianati dirinya?"
"0rang-orang dari istana Thian Teh Kong sebenarnya merupakan manusia ganas yang sukar diatur"
Ujar Wi Ci To sambil tertawa.
"Mereka sewaktu melihat si anying langit sudah mati segera menganggap seorang wanita tidak mungkin bisa berbuat sesuatu pekerjaan yang amat besar karena itu mereka pada tidak mau mendengarkan perintah si rase bumi lagi dan akhirnya memberontak. Dengan perlahan Cuo It Sian mengangguk ujarnya sambil menghela napas panjang.
"Orang jahat pasti akan menerima pembalasan yang mengerikan, inilah satu contoh buat kita"
"Tadi Cuo heng bilang ada satu urusan sengaja datang mencari lohu entah urusan apa yang penting? tanya We Ci To kemudian. Dengan perlahan Cuo It Sian mengalihkan pandangannya melirik sekejap ke arah Ti Then serta Wi Lian ln, lalu baru berkata ujarnya.
"Wi Pocu kau tidak tahu, beberapa hari yang lalu di rumah lumbung padiku di desa Thay Peng Cung sudah terjadi suatu peristiwa yang amat mengagetkan, sewaktu Lolap bertanya dengan para petani yang ada di sekeliling tempat itu katanya peristiwa itu kemungkinan sekali ada sangkut pautnya dengan seorang pemuda serta seorang nona, dalam hati loap segera menduga pemuda serta gadis itu kemungkinan sekali adalah Ti siauw hiap serta putrimu karenanya sengaja aku datang kemari untuk bertanya."
"Tidak salah,"
Sambung Ti Then dengan cepat.
"Sepasang pemuda pemudi itu memang benar boanpwe serta nona Wi"
Air muka Cuo It Sian segera berubah sangat hebat.
"Jikalau demikian adanya pemilik rumah lumbung padi yang ada di sana sebanyak lima orang dibinasakan oleh Ti siauw hiap ?"
Ujarnya dengan keras.
"Bukan."
"Kalau bukan siapa yang sudah turun tangan terhadap mereka ?"
Seru Cuo It Sian sambil melototi dirinya.
"Mereka dibunuh oleh tiga orang berkerudung, mereka meminyam kesempatan sewaktu boanpwe berdua menginap dikuil Sam Cing Kong secara diam-diam sudah menyelinap ke dalam kuil dan menaruh obat pemabok ke dalam air teh yang dikirim ke kamar boanpwe berdua, sehingga boan pwe berdua tidak sadarkan diri, sewaktu kami sadar kembali boanpwe berdua sudah disekap di dalam sebuah gudang di bawah tanah, akhirnya boanpwe dengan memakai akal berhasil meringkus sa!ah seorang di antara mereka . ."
Dengan amat jelasnya dia segera menceritakan kejadian yang telah dialami olehnya kepada si pembesar kota.
Air muka Cuo It Sian tampak berubah menjadi terperanyat bercampur gusar, dari matanya memancarkan sinar yang tajam sekali.
"Perkataan dari Ti siauw hiap ini apakah sungguh-sungguh?"
Tanyanya.
"Sedikit pun tidak salah,"
Sahut Ti Then mengangguk."Akhirnya boanpwe berdua melakukan pemeriksaan kembali di dalam perkam pungan tersebut, saat itu api sudah padam sedang boanpwe berdua kembali untuk mencari pedang yang lenyap di tengah abu tetapi di dalam ruangan tengah sudah menemukan lima sosok mayat yang sudah hangus terbakar, menurut dugaan boanpwe tentunya semalam ketiga orang berkerudung itu sudah menotok jalan darah kaku serta bisunya sehingga sewaktu terjadi kebakaran sama sekali tidak terdengar suara mereka yang berteriak minta tolong"
Cuo It Sian menjadi setengah percaya setengah tidak, tanyanya lagi.
"Lalu apa tujuan mereka untuk menculik kamu berdua ?"
Dengan perlahan Ti Then menoleh arah Wi Ci To, tanyanya.
"Wi Pocu bolehkah boanpwe berbicara?"
"H mm m ..katakanlah"
Sahut Wi Ci To mengangguk. Waktu itulah Ti Then baru berkata lagi terhadap diri Cuo It Sian yang sudah memperhatikan dirinya terus menerus.
"Mereka bertiga mendapat perintah dari seorang lelaki berkerudung hitam, sedangkan tujuan dari lelaki berkerudung hitam itu sehingga menculik boanpwe berdua ialah hendak menggunakan kami berdua sebagai barang tanggungan untuk memaksa Pocu kami menyerahkan semacam barang."
Sinar mata Cuo lt Sian segera berkilap-kilap, desaknya lebih lanjut .
"Dia mau memaksa Wi Pocu menyerahkan barang apa?"
"Soal ini dia orang terus menerus tidak mau mamberi penjelasan, katanya cuma sebuah barang yang sama sekali tidak berharga."
Cuo It Sian segera berpaling memandang ke arah Wi Ci To lantas tanyanya.
"Wi Pocu apakah kau tahu barang apa yang diminta olehnya?"
"Aku orang she Wi pun tidak mengerti"
Sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Pihak lawan mengatakan barang itu tidak berharga tetapi bisa dipikir tentunya sangat berharga sekali buat dirinya, Wi Pocu sebaiknya kau harus mengetahuinya."
Wi Ci To segera tersenyum.
"Aku orang she Wi benar-benar tidak tahu, di dalam loteng penyimpan kitab aku orang she Wi memang banyak tersimpan lukisan serta kitab-kitab kuno yang kelihatannya tidak berharga padahal sangat bernilai sekali, tetapi pihak lawan bilang tidak menghendaki lukisan atau kitab sehingga membuat aku orang she Wi sendiri pun tidak paham barang apa yang sebenarnya diminta olehnya."
"Hal ini memang membuat orang menjadi kebingungan"
Seru Cuo It Sian sambil kerutkan alisnya rapat-rapat. Dia berpikir sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke arah Ti Then, tanyanya kemudian .
"Jika didengar perkataan Ti siauw hiap agaknya kau orang sudah pernah bertemu dengan dirinya?"
"Benar,"
Sahut Ti Then mengangguk.
"Dia pernah datang ke gunung Kim Hud san pada beberapa jam yang lalu sewaktu masih ada di dalam istana Thian Teh Kong"
Demikianlah dia pun segera menceritakan bagaimana lelaki berkerudung itu hendak bekerja sama dengan Bun Jin Cu lalu peristiwa yang sudah terjadi setelah itu.
Cuo It Sian menjadi sangat terperanyat sekali.
"Kalian sudah tahu siapakah mereka itu?"
Tanyanya.
"Dia orang terus menerus memakai kerudung pada kepalanya bahkan sewaktu berbicara sengaja mengubah nada suaranya sehingga kita tidak dapat mengenal dirinya."
"LaIu menurut Ti Siauw hiap berapa besar usianya?"
"Kurang lebih enam puluh tahunan"
"Senyata tajam apa yang digunakan?"
"Tidak membawa senyata tajam,"
Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Lalu ilmu silatnya termasuk ilmu yang berdasarkan Iwekang ataukah Gwa-kang?"
"Ilmu silatnya termasuk dalam golongan orang yang meyakinkan Iwekang, tenaga dalamnya berhasil dilatih sehingga mencapai taraf yang sangat tinggi cuma saja tidak tahu dia dari aliran mana karena sebenarnya dia belum pernah secara sungguh-sungguh bergebrak dengan boanpwe"
"Bagaimana dengan perawakan badannya?"
"Tinggi besar seperti locianpwe, gemuk kurusnya pun sangat mirip dengan Locianpwe"
"Ehmmm ..."
Alisnya dikerutkan rapat-rapat lalu tanyanya kepada diri Wi Ci To.
"Wi Pocu, apakah kau orang sudah teringat seseorang dari kalangan Bu lim yang mem punyai perawakan seperti itu?"
"Aku ingat akan seseorang"
Sahut Wi Ci To tertawa.
"Siapa?"
Tanya Cuo It Sian dengan amat girang.
"Si pembesar kota Cuo It Sian."
Sahut Wi Ci To sambil tertawa. Cuo It Sian jadi melengak disusul dengan suatu senyuman pahit menghiasi bibirnya.
"Wi Pocu kau orang jangan berguyon, dengan amat kejamnya dia sudah membinasakan orang-orang Lolap, pikirannya pun amat licik Lolap pasti akan mencari dirinya untuk membalas dendam"
"Masih ada satu geguyon lagi yang Locianpwe setelah mendengar tentu akan gusar dan gembar-gembor saking marahnya"
Timbrung Wi Lian ln secara tiba-tiba. Cuo It Sian menjadi melengak.
"Geguyon apa?"
Tanyanya.
"Malam itu sewaktu masih ada di perkam pungan tersebut setelah kami berhasil meloloskan diri dari lautan api dan membinasakan orang berkerudung yang kedua, orang berkerudung terakhir sebelum meninggalkan tempat itu sudah memberitahukan suatu berita yang menggetarkan hati.."
"Dia bilang apa?"
Tanya Cuo It Sian dengan penuh perhatian.
"Dia bilang pemimpin mereka bernama si pembesar kota Cuo It Sian"
Seketika itu juga air muka Cuo It Sian berubah sangat hebat, sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap kearab Wi Ci To sekalian lalu ujarnya.
"Kelihatannya kalian sudah menaruh curiga terhadap Lolap?"
"Locianpwe kau jangan marah,"
Sela Ti Then dengan nada serius sekali.
Baca Juga: Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan 020741176
Baca Juga: Pendekar Penyebar Maut 8