Eps 9 Pendekar Patung Emas - Qing Hong
Baca online Pendekar Patung Emas - Qing Hong
Cersil Pendekar Patung Emas - Qing Hong.
"Lelaki berkerudung itu memang berkata demikian."
"Sedang kalian pun percaya terhadap omongannya?"
Sambung Cuo It Sian sambil tertawa dingin.
"Sudan tentu boanpwe tidak berani percaya perkataan dari orang berkerudung itu jelas sekali menujukkan kalau dia orang sedang sengaja mencelakai diri locianpwe"
Mendengar perkataan tersebut hawa amarah dari Cuo It Sian dengan perlahan mereda kembali, dia segara mengangguk.
"Kelihatannya bukan saja lelaki berkererudung itu hendak mendapatkan barang milik Wi Pocu bahkan ingin mencelakai Lolap. Hmm, sungguh kejam siasatnya sekali panah mendapat dua burung yang mereka laksanakan."
"Mungkin dia ada dendam sakit hati dengan Cuo heng sehingga berbuat demikian terhadapmu"
Tiba-tiba Wi Ci To memperingatkan.
"Selama hidupku Lolap benci orang-orang yang sudah bentrok dergan aku amat banyak sekali, tetapi entah lelaki berkerudung itu merupakan penyamaran dari musuhku yang mana?"
"Ooh yaa masih ada satu urusan yang boanpwe ingin minta penjelasan"' ujar Ti Then lagi.
"Pertanyaan ini setelah boanpwe katakan harap locianpwe jangan menjadi marah dibuatnya"
"Urusan apa? "
Tanya Cuo It Sian dengan pandangan yang amat tajam.
"Di dalam gudang di bawah tanah itu ada terpendam sebuah tiang besi yang khusus digunakan untuk menyekap tawanan-tawan, apakah di dalam gudang bawah tanah orang lain juga mempunyai barang tersebut?"
"Betul, urusan ini Lolap memang sukar untuk menjelaskannya ...."
Berbicara sampai di sini dia segera menoleh kearah Wi Ci To dan tanyanya.
"Wi Pocu, apakah kau masih ingat kalau lolap mempunyai seorang adik ?"
"Tidak salah, tidak salah"
Seru Wi Ci To membenarkan.
"Urusan itu sudah terjadi pada sepuluh tahun yang lalu."
"Jelas dari air muka Cuo lt Sian menunjukkan rasa sedihnya, dia menghela napas panjang.
"Dia sudah hidup selama dua puluh satu tahun lamanya di dalam gudang bawah itu, setiap kali lolap teringat dirinya hatiku segera merasakan seperti diiris-iris -..."
"Aaasaaah ., . , Locianpwe mem punyai seorang adik yang pernah tinggal di dalam gudang di bawah tanah itu?"
Tanya Wi Lian In keheranan.
"Benar."
Sahut Cuo It Sian sambil mengangguk.
"Dia jauh lebih cerdik dari lolap pada usia dua puluh tahun dia sudah berhasil meiatih ilmu silatnya sehingga mencapai pada tarap kesempurnaan tetapi akhirnya dikarenakan jatuh hati dengan seorang nona dan dikarenakan berbagai sebab sehingga tidak berhasil mengawini nona tersebut dia menjadi gila, bergerak sedikit saja lantas turun tangan membunuh orang akhirnya lolap tidak bisa berbuat apa-apa Iagi terpaksa mengurungnya di dalam gudang bawah tanah itu, dia hidup selama dua puluh satu tahun lamanya di dalam gudang bawah tanah tersebut dengan sangat menderitanya, akhirnya dia meninggal dunia karena sakit."
Berbicara sampai di sini tidak tertahan lagi titik air mata menetes keluar membasahi wajahnya.
"Oooh kiranya begitu"
Seru Wi Lian In ikut terharu.
"Tidak aneh kalau di dalam gudang tersebut sudah terpendam tiang besi yang begitu kuatnya."
Sekali lagi Cuo It Sian kerutkan alisnya rapat-rapat.
"Tetapi yang paling aneh bagaimana lelaki berkerudung itu bisa tahu kalau di dalam gudang bawah tanahku itu ada barang seperti itu sehingga bisa menawan kalian berdua ke sana?"
"Hal itu berarti juga kalau lelaki berkerudung itu sangat memahami keadaan dari Locianpwe, atau dengan perkataan lain kemungkinan sekali lelaki berkerudung itu adalah orang yang locianpwe sangat kenal"
"Tidak salah"
Cuo It Sian mengangguk.
"Tetapi sekarang lolap masih tidak bisa menduga siapakah dia orang "
"Ada satu hari boanpwe pasti bisa menangkap si rase tua itu, sampai waktunya aku tentu akan menyerahkan kepada locianpwe untuk dijatuhi hukuman yang setimpal"
"Jikalau lolap yang menangkapnya terlebih dahulu maka lolap segera akan memberi kabar kepada kalian oooh benar, Wi Pocu waktu itu lolap dengar dari Ti siauw hiap yang katanya Hu pocu meninggal karena bunuh diri, apakah bunuh dirinya itu sungguh-sungguh ada sangkut pautnya dengan lelaki berkerudung itu?"
"Ehmmm"
Sahut Wi Ci To sembarangan lalu bungkam kembali. Air muka Cuo It Sian agak sedikit berubah kurang senang, cepat-cepat dia berganti bahan pembicaraan.
"Lantas Wi Pocu punya maksud untuk langsung pulang ke dalam Benteng sekarang juga?"
"Benar,"
Sahut Wi Ci To mengangguk.
"Sampai saat ini cita-cita dari lelaki berkerudung itu sama sekali belum mencapai, sudah tentu dia orang tidak akan berpangku tangan saja, kemungkinan sekali dia bisa kembali ke dalam Benteng"
Baru saja berbicara sampai di situ mendadak air mukanya berubah sangat hebat cepat-cepat bentaknya "Cepat tiarap"
Cuo It Sian, Suma San Ho serta Wi Lian In empat orang segera bisa mendengar suara menyambarnya senyata rahasia yang menampok angin berkelebat kearah mereka dengan cepat tubuhnya bersama-sama membungkuk ke bawah untuk menghindar.
"Braaaaak , .."
Dengan disertai suara desiran yang amat tajam senyata rahasia itu melewati atas kepala kelima orang itu nancap di atas batang pohon di pinggir jalan.
Pada ujung anak panah itu terikatlah secarik kertas putih, jelas sekali pihak-musuh sedang mn menyambit suratnya dengan menggunakan perantara anak panah.
Cuo It Sian, Ti Then serta Suma San Ho yang melihat hal ini bersama-sama membentak keras, tubuh mereka bersama-sama berkelebat menuju ke arah mana berasalnya suara sambitan tadi.
Di kedua belah samping jalan gunung itu semuanya merupakan pepohonan yang amat rindang dan rapat sekali sehingga mereka bertiga menubruk ke depan beberapa kaki jauhnya tubuh mereka sudah lenyap di balik pepohonan.
Wi Lian In pun ingin ikut mengejar tapi keburu ditahan oleh Wi Ci To ujarnya.
"Tidak perlu, ada mereka tiga orang lebih dari cukup"
Liuw Khiet segera meloncat mendekati pohon itu dan mencabut keluar anak panah tersebut yang kemudian dengan sangat hormatnya diangsurkan kepada Wi Ci To.
Sebatang anak panah yang bersurat, pocu silahkan lihat, ujarnya.
Wi Ci To segera menerima anak panah itu dan melepaskan secarik kertas yang terikat pada batang anak panah itu laIu dibacanya.
Sebentar saja air mukanya sudah berubah sangat hebat sekali.
Kiranya pada kertas tersebut bertulisan .
"Dipersembahkan kepada Pek Kiam pocu. Wi Ci To. Tiga pendekar pedang merah dari Benteng kalian, Ih Kun. Kha Cay Hiong serta Pauw Kia Yen telah berada ditangan lohu. Jikalau kalian tidak ingin melihat mereka bertiga dibunuh oleh aku orang, cepatlah persiapkan barang yang sudah lohu ingini itu. Menanti balasan dari saudara."
Di bawah surat itu tidak tampak adanya nama si pengirim. Tetapi sekali pandang saja Wi Lian In segera berteriak keras.
"Aaaah tentu si lelaki berkerudung itu yang menulis."
Air muka Wi Ci To berubah menjadi pucat ke hijau-hijauan menahan rasa gusar, dengan dinginnya dia berdiri di sana tanpa mengucapkan sepatah kata pun tetapi barang siapa saja yang melihatnya tentu segera akan mengetahui bagaimana kegusaran yang sedang bergolak di dalam hatinya.
"le Kun, Kha Cay Hiong serta Pauw Kia Yen bagaimana bisa terjatuh di tangannya?"
Tanya Wi Lian In dengan sangat terperanyat. Dari sepasang mata Wi Ci To segera memancar keluar sinar mata yang amat tajam sekali, sepatah demi sepatah sahutnya .
"Kepandaian silat mereka bertiga tidak rendah sekali pun tidak berhasil memenangkan pihak lawan belum tentu bisa tertawan oleh mereka tentunya sewaktu mereka berangkat kemari di tengah jalan sudah terkena jebakan yang dipasang oleh mereka"
"Lalu bagaimana baiknya?"
Tanya Wi Lian In murung.
"Jikalau Tia tidak menyerahkan barang itu tentunya mereka bertiga akan dibunuh secara kejam"
Wi Ci To tetap berdiam diri tidak mengucapkan sepatah kata pun sedangkan dari sepasang matanya jelas sekali tampak kegusaran yang sukar untuk ditahan.
Sekali lagi Wi Lian In menghela napas panjang ujarnya.
"Semula aku orang selalu menaruh curiga kalau lelaki berkerudung itu adalah Cuo it Sian. kiranya dugaanku tersebut sebetulya salah"
Baru saja bicara sampai d sini tampak Cuo It Sian, Ti Then serta Suma San Ho bertiga sudah berkelebat mendatang.
Di tangan Ti Then tampaklah seorang lelaki kasar berbaju hijau yang terkena cengkeramannnya.
Ditangan lelaki berbaju hijau itu masih memegang sebuah busur, jeias sekali panah tadi dialah yang memanah.
Melihat hal itu Wi Lian In menjadi amat gusar, teriaknya.
"Hoore sudah ketangkap, sudah ketangkap"
Bagaikan sedang menenteng seekor ayam kecil saja dengan amat ringannya Ti Then berkelebat mendatang kemudian dengan kerasnya membanting tubuh lelaki berbaju hijau itu ke hadapan Wi Ci To, ujarnya.
"Tidak salah, budak inilah yang baru saja memanahkan anak panah tersebut"
Dari dandanan lelaki berbaju hijau itu jelas menunjukkan kalau dia merupakan seorang lelaki kasar yang sering berbuat jahat, dia orang yang dibanting ke atas tanah oleh Ti Then segera m merasakan kepalanya amat pening dadanya sesak, untuk beberapa saat lamanya tidak sanggup untuk bangun.
Lama sekali baru kelihatan dia jatuhkan diri berlutut di hadapan Wi Ci To, ujarnya dengan badan gemetar.
"Thay ya am pun ..hamba . , hamba..."
"Siapa namamu?"
Bentak Wi Ci To dengan amat keras.
"Hamba bernama Mao ji, penduduk dari Lam Khuan Sian "
Sahut lelaki berbaju hijau itu dengan badan gemetar.
"Anak panah tadi kau yang memanah?"
Tanya Wi Ci To kembali.
"Benar ....benar , , ."
Sahut lelaki berbaju hijau itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hamba tolol dan tidak tahu aturan harap Loya mau mengam puni dosa hamba"
"Kau sudah seberapa lama mengikuti lelaki berkerudung itu?"
Potong Wi Ci To kembali.
"Tidak -. , hamba tidak kenal dengan dia orang, kurang lebih setengah jam yang lalu sewaktu hamba melewati gunung ini dia sudah mencegat hamba, dia orang tanya maukah hamba mencari untung besar sepuluh tail perak, karena hamba kena jiret kerlipan uang perak seberat sepuluh tail perak, dia perintahkan hamba untuk bersembunyi di balik pohon dan sewaktu melihat kalian turun segera anak panah bersurat ini suruh dipanahkan . ."
"Omong kosong"
Bentak Wi Ci To secara tiba-tiba. Lelaki berbaju hijau itu menjadi sangat terperanyat, dia mengangguk-anggukkan kepalanya semakin cepat lagi.
"Sungguh... perkataan dari hamba .semuanya sungguh-sungguhi ..coba kau lihat?"
Sembari berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar sepuluh tahil perak dan ujarnya kembali .
"Coba kau lihat inilah uang sepuluh tahiI perak yang dia orang hadiahkan kepada hamba"
"Kau orang masih tidak mau bicara terus terang ?"
Bentak Wi Ci To kembali sambil melototkan sepasang matanya besar-besar. Saking cemasnya hampir-hampir lelaki berbaju hijau itu dibuat menangis, teriaknya dengan terputus-putus.
"Per...perkataan hamba....sungguh-sungguh, jika kau orang ..orang tua tidak percaya hamba . hamba segera ..segera angkat sumpah."
"San Ho bunuh dia!"
Perintah Wi Ci To kemudian sambil menoleh ke arah Suma San Ho.
Suma San Ho sudah tahu pocu mereka selamanya tidak pernah membunuh orang secara sembarangan, dia tahu Pocunya ini sedang menakut-nakuti dirinya karena itu dia segera menyahut kemudian mencabut keluar pedangnya dan ditempelkan ke atas lehernya siap ditebaskan ke atas kepalanya.
Saking takutnya lelaki berbaju hijau itu menjerit-jerit seperti babi yang disembelih, teriaknya.
"Oooh ..thay ya am pun . thay ya am punilah hamba, di rumah hamba masih ada seorang ibu yang sudah berusia delapan puluh tahun, hamba tidak boleh mati.."
"Baiklah, lepaskan dia pergi"
Seru Wi Ci To kemudian sambil tersenyum. Suma San Ho segera mendorong badannya ke depan sambil membentak.
"Sana menggelinding cepat-cepat dari sini"
Bagaikan baru saja mendapatkan rejeki nomplok lelaki berbaju hijau itu segera berteriak kegirangan, sambil menghembuskan napas lega dia merangkak bangun seperti anying yang kena gebuk dengan terbirit-birit melarikan diri dari sana.
"Tia"
Ujar Wi Lian In sewaktu melihat ayahnya melepaskan orang itu pergi.
"Kau orang tua tidak seharusnya melepaskan dia dengan begitu saja kemungkinan sekali dia anak buah dari lelaki berkerudung tersebut"
Wi Ci To tidak berdaya setelah melihat lelaki berbaju hijau itu pergi jauh baru ujarnya kepada Ti Then dengan suara yang amat lirih.
"Ti kiauw tauw coba kau buntuti dirinya, lohu akan menanti kau di dalam rumah penginapan Ya Lay di dalam kota Ci Kian Sian. Ti Then segera menyahut dan dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh dia berkelebat masuk ke dalam hutan untuk membuntuti dirinya dari tempat kejauhan. Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di tanab rumput di bawah gunung, tampak lelaki berbaju hijau itu dengan cepatnya berlari menuju ke kota Lan Khuan sian, selama di dalam perjalanannya ini dia beberapa kali menengok ke belakang agaknya dia merasa takut Wi Ci To sekalian mengejarnya. Sudah tentu jejak dari Ti Then tidak dapat diketahui olehnya, terus menerus menyaga jarak yang tertentu dengan dirinya selama di dalam perjalanan ini dia menguntit dengan sangat berhati-hati sekali. Setelah mengikuti sejauh puluhan lie akhirnya sampailah mereka di dalam kota Lam Khuan sian, begitu masuk ke dalam kota lelaki berbaju hijau itu sudah tidak tampak rasa kaget atau ketakutan. Dengan badan tegak langkah Iebar dia berjalan dengan seenaknya di tengah jalan, agaknya dia merupakan seorang benggolan yang paling ditakuti di dalam kota Lam Khuan Sian ini banyak orang-orang yang berlalu lalang di tengah jalan ketika bertemu dengan dia orang segera bungkukkan badannya memberi hormat. Ti Then tetap menguntit dirinya dari tempat kejauhan, setelah melalui jalan raya yang besar mendadak tampak lelaki berbaju hijau itu berbelok ke sebuah jalan kecil dan akhirnya berbelok pula ke sebuah lorong kecil dan mamasuki sebuah rumah yang sudah bobrok. Baru saja dia mendorong pintu untuk masuk, dari dalam rumah segera terdengar suara seseorang perempuan yang tinggi melengking sedang bertanya.
"Siapa? "
"Aku ..Lo kongmu."
Sahut lelaki berbaju hijau itu sambil menutup kembali pintu rumahnya. Tampaklah seorang wanita setengah baya yang rambutnya awut-awutan tidak karuan berjalan keluar dari dalam rumah, tanyanya.
"Heei kenapa sepagi ini kau orang sudah pulang?"
"Ambillah secawan air teh terlebih dulu"Seru lelaki berbaju hijau itu sambil duduk di atas sebuah kursi.
"Hmmm,"
Terdengar perempuan yang rambutnya awut-awutan itu tertawa dingin.
"Jika dilihat dari modelmu tentunya kau orang berhasil memperoleh suatu jual beli yang agak lumayan ?"
"Sedikit pun tidak salah,"
Sahut lelaki berbaju hijau itu sambil tertawa senang. Perempuan yang rambutnya awut-awutan itu segera masuk ke dalam rumah mengambil secawan teh dan diangsurkan kepadanya.
"Lo nio tahu setiap kali kau mem punyai uang tentu badanmu bisa gemetar dengan keras,"
Serunya sambil tertawa. Sehabis minum secawan air teh lelaki berbaju hijau itu segera mengangsurkan cawan kosongnya kepada dia orang ujarnya sambil mengangkat kakinya ke atas kursi.
"Hey nasinya sudah matang?"
"Woou...masih terlalu pagi"
"Maknya .... nenek anying"
Maki lelaki berbaju hijau itu dengan amat gusarnya.
"Tentu kau orang berjudi lagi?"
"Tidak salah"
Sahut perempuan itu tidak mau kalah.
"Kau bisa pergi main pelacur di luaran sedang Lo nio tidak pernah pergi cari lelaki unluk main, apa kau tidak terima? kau mau cari gara-gara dengan aku yaaa ?"
Lelaki berbaju hijau itu segera mendengus dingin, dari dalam sakunya dia mengambil keluar sepuluh tahil peraknya dan dengan berat digebrakkan ke atas meja.
"Coba kau lihat barang apa ini?"
T eriaknya keras.
Pandangan mata perempuan tersebut terasa menjadi terang, dengan cepat dia merebut uang itu sambil mengusap-usapnya dengan penuh bernapsu, dengan perasaan amat girang bercampur terkejut dan keheranan tanyanya "Heeey, kau dapat merampas dari mana?"
"Maknya, setiap kali aku punya uang tentu kau menganggap aku mendapatkannya dengan jalan merampas."
"Kalau tidak kau mendapatkan keuntungan dari toko yang mana ?"
Seru perempuan tersebut sambil tersenyum-senyum kuda.
"Aku bukan mendapatkannya dari cari untung di toko, aku orang memperoleh uang itu dengan taruhan nyawa"
Teriak lelaki berbaju hijau itu dengan mendongkol.
"Oooh..tidak kusangka kau masih bisa mencari uang juga, eei dengan cara bagaimana kau mendapatkan uang itu ?"
"Sore itu sewaktu aku tiba dibawab kaki gunung Kim Hud san tiba-tiba perjalananku dihadang oleh seseorang lelaki berkerudung.."
"Aduh.."teriak perempuan itu dengan amat keras.
"Apakah kau orang tukang todong sudah bertemu dengan perampok?"
"Maknya ..."
Sekali lagi lelaki berbaju hijau itu memaki sambil melototkan matanya.
"Kalau bicara perlahan sedikit, neneknya,,. aku orang setiap hari harus gulung sana gulung sini bukankah cuma memelihara kau perempuan cabul. sekarang kau malah maki aku tukang todong..perempuan sundal" -ooo0dw0ooo-
Jilid 25 . Kecurigaan pada si pembesar kota "BAGUS ! bagus !"
Seru perempuan itu kembali sambil tertawa.
"Perduli apa, teriak atau tidak berteriak pokoknya tetangga-tetangga kita sudah pada mengerti semua keadaan kita, kau orang masih takut apa lagi?"
"Hm !"' dengus lelaki berbaju hijau itu kurang puas."
Tetapi uang sebanyak sepuluh tahil yang aku dapatkan ini hari bukan dapat dari merampas"' "Scbenarnya sudah terjadi urusan apa?"
Tanya perempuan yang rambutnya awut-awutan itu dengan nada serius, sedang senyuman yang semula menghias bibirnya kini lenyap tak berbekas lagi.
"Lelaki berkerudung itu tanya padaku apakah mau untung sepuluh tahil perak, aku yang melihat wajahnya dalam hati segera tahu kalau dia orang ada urusan yang ingin meminta bantuanku, karena itu aku segera menerimanya, dia lalu mengambil keluar sepuluh tahil perak dan diberikan kepadaku di samping memberikan pula sebuah busur dan sebatang anak panah yang di atasnya terikat segulung kertas "
"Aku tahu, sekarang!"
Nyeletuk perempuan itu.
"Dia orang minta kau pergi membunuh orang, bukan begitu ?"
Lelaki berbaju hijau itu menjadi sangat gusar sekali.
"Kenapa kau terus menerus memotong pembicaraan orang ?"
"Baik -..baiklah .... sekarang kau lanjutkanlah perkataanmu !"
"Lalu dia membawa aku menuju ke sebuah jalan gunung di atas gunung Kim Hud-san, dia meminta aku bersembunyi di dalam hutan di samping jalan gunung tersebut, katanya nanti bakal ada lima, enan oraag yang akan turun gunung melalui jalan itu, dia memesan kepadaku kalau melihat mereka turun, panah bersurat ini harus dipanahkan kearah mereka."
"Akhirnya kau berhasil membinasakan salah seorang diantara mereka ?"
Tanya perempuan itu kembali. Dengan amat kasarnya lelaki berbaju hijau itu menggebrak meja yang ada di sampingnya.
"Aku suruh kau orang jangan memotong pembicaraanku, kau mengerti tidak?"
Bentaknya dengan amat gusar.
"Baik. baiklah kau boleh teruskan !"
"Lelaki berbaju hitam itu tidak perinlahkan aku untuk membunuh orang, dia cuma meminta aku memanahkan secarik surat kepada mereka, enam orang yang baru saja turun gunung itu, aku lalu menunggu di dalam hutan selama setengah jam lamanya ternyata sedikit pun tidak salah, ternyata dari atas gunung muncul enam orang, aku segera memanahkan, setelah itu lalu putar ..badan melarikan diri ...."
"Tidak aneh seluruh badanmu berkeringat bau, lalu bagaimana selanjutnya?"
Timbrung perempuan itu kembali. Lelaki berbaju hijau itu menelan ludah lebih dulu kemudian baru sambungnya.
"Aku belum barhasil lari seberapa jauh segera sudah terkejar oleh seorang tua dan dua orang pemuda, sewaktu aku melihat tidak bisa melarikan diri lagi dari kejaran mereka terpaksa memutar badan memberikan perlawanan sengit kepada mereka ..."
"Akhirnya kau berhasil dikalahkan?"
Seru perempuan itu sambil tertawa.
"Jika aku orang kalah saat ini mana mungkin bisa kembali kerumah ?"
"Hm ! hm ! terus terang saja aku beritahu kepadamu si orang tua serta kedua orang pemuda itu semuanya merupakan gentong nasi belaka tidak sampai dua jurus aku sudah berhasil pukul mereka bertiga sehingga jatuh bangun dan akhirnya berlutut di depanku minta diam puni jiwanya, aku yang melihat keadaan mereka sangat kasihan sekali lalu mengam puni mereka"
Mendengar kisahnya ini agaknya perempuan itu tidak mau percaya, sambil mencibirkan bibirnya dia tertawa mengejek.
"Oooh sungguh ??"
Serunya kurang percaya.
"Sudah tentu sungguh, kapan aku orang pernah menipu dirimu ?"
Balas teriak lelaki berbaju hijau itu dengan serius.
"Lalu siapa lelaki berkerudung itu ?"
"Siapa yang tahu"
Jawab lelaki berbaju hijau itu sambil gelengkan kepalanya.
"Setelah itu aku pun tidak pernah bertemu kembali dengan dirinya, kelihatannya dia menyerupai seorang kakek tua yang sudah berusia lima, enam puluh tahunan, tubuhnya kurus sekali Ti Then yang bersembunyi di balik rumah setelah mendengar perkataannya sampai di sini segera mendorong pintu berjalan masuk ke dalam.
"Mao Ji !"
Serunya sambil tertawa.
"Coba kau ulangi sekali lagi badan lelaki berkerudung itu apakah kurus sekali?"
Agaknya lelaki berbaju hijau itu mimpi pun tidak pernah menyangka kalau Ti Then bisa membuntuti dirinya sampai di sini, melihat kehadiran dirinya air mukanya segera berubah sangat hebat, sambil berteriak aneh tubuhnya meloncat ke atas sedang tangannya menyambar sebuah kursi yang terbuat dari bambu dan dilemparkan kearah Ti Then.
Ti Then segera ayunkan telapak tangannya mengirim satu pukulan menghantam datangnya kursi bambu itu sehingga hancur berantakan dan tersebar ke atas tanah, tubuhnya dengan mengambil kesempatan ini mendesak maju ke depan lalu mencengkeram baju didada lelaki berbaju hijau itu.
"Jika kau berani sedikit bergoyang saja segera aku orang akan mencabut keluar seluruh. Otot-ototmu satu demi satu!"
Ancamnya sambil tertawa.
Agaknya lelaki berbaju hijau itu termasuk manusia yang suka menindas yang lemah tapi takut dengan yang keras, kali ini badannya dicengkeram oleh Ti Then segera gemetar dengan amat kerasnya.
"Baa .... baaik I Baik !' sahutnyagugup.
"Ada omongan kita bicarakan secara baik-baik .... ada omongan kita bicarakan secara baik-baik"
Air muka perempuan yang rambutnya awut-awutanan itu pun kelihatan amat gugup dan terkejut sekali, dengan cepat dia menyusupkan uang seberat sepuluh tahil perak itu ke dalam sakunya lalu mengambil sapu siap dipukulkan ke atas badan Ti Then.
"Ayoh cepat lepas tangan!"
Jeritnya dengan suara yang melengking tinggi.
"Kenapa kau menangkap lakiku?"
Ti Then tidak ambil gubris terhadap dirinya, dia tetap memandang kearah lelaki berbajau hijau itu sambil tertawa, tanyanya.
"Kau sudah melihat betul-betul? Apa tidak salah lelaki itu mem punyai badan yang amat kurus sekali ?'' Dia bisa sangat memperhatikan bentuk badan dari "Lelaki berkerudung"
Itu karena dia ingin membuktikan "Lelaki berkerudung"' yang memerintahkan lelaki berbaju hijau untuk mengirim surat ancaman ini benar atau tidak sama dengan lelaki berkerudung yang muncul di dalam istana Thian Teh Kong itu, karena menurut apa yang dilihat olehnya lelaki berkerudung yang munculkan dirinya di dalam istana Thian Teh Kong itu mem punyai potongan badan yang tinggi besar, jikalau perkataan dari lelaki berbaju hijau yang mengatakan lelaki yang berkerudung itu mem punyai badan yang amat kurus sekali adalah sungguh-sungguh maka hal ini dengan amat jelas sekali membuktikan kalau "Lelaki berkerudung"
Yang mengirim surat ancaman ini sama sekali bukanlah lelaki berkedung yang ditemuinya. Dia merasa hal ini sangat penting sekali, alasan yang paling penting adalah bilamana "Lelaki berkerudung"
Yang sudah memerintahkan lelaki berbaju hijau itu adalah lelaki berkerudung yang ditemuinya maka jelas sekali menunjukkan si pembesar kota atau Si Sian Thay-ya, Cuo It Sian bukanlah lelaki berkerudung hitam itu, sebaiiknya jikalau lelaki berkerudung yang memerintahkan lelaki berbaju hijau ini sama sekali lain dengan "lelaki berkerudung hitam yang ditemuinya di dalam istana Thian Teh Kong maka keadaan dari Si Sian Thay-ya atau si pembesar kota Cuo It Sian sangat mencurigakan sekali.
Agaknya lelaki berbaju hijau itu saking tegangnya sehingga napasnya serasa sesak sekali, ujarnya kembali dengan gugup .
"Beeee ... benar ... beee .... benar tubuhnya kurus ... kurus-sekali"
"Seberapa tinggi badannya ?? "
Tanya Ti Then kembali.
"Tidak terlalu tinggi, seperti ... sepe-perti isteriku ini ..."
Ti Then segera melirik sekejap ke arah perempuan yang awut-awutan itu lagi, serunya kembali sambil tertawa .
"Kau tidak omong kosong bukan ! "
"Tidak! tidak! perkataan hamba sungguh-sungguh benar tidak ada sepatah kata pun yang berbohong."
"Tapi apa yang aku dengar selama setengah harian di luar rumah tadi sudah merasakan di dalam sepuluh patah katamu ada sembilan bagian yang sedang berbohong."
Wayah lelaki berbaju hijau itu segera berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus, lama sekali dia orang tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun juga.
Air muka Ti Then segera berubah menjadi sangat serius sekali, serunya .
"Aku sudah tahu kau orang adalah seorang tukang todong yang terkutuk, kali ini aku am puni nyawa anyingmu. Tapi lain kali jikalau kau orang masih saja melakukan pekerjaan semacam ini heee ....heee .... jangan salahkan aku orang akan mencabut nyawamu pada setahun kemudian"
Selesai berkata dengan mengerahkan tenaga dalamnya dia mendorong rubuh ujung tembok dari rumah itu.
Setelah itu dengan perlahan dia menoleh ke arah perempuan dengan rambut yang awut-awutan tadi, tambahnya.
"Lelakimu ini sungguh pandai berbohong, terang-terangan tadi aku melihat dia orang mendapatkan lima puluh tahil perak dari lelaki berkerudung itu sekarang dia bilang cuma mendapat sepuluh tahil perak saja. Heee .... heee . , kamu orang sudah kena dibohongi"
Sehabis berkata dengan langkah lebar dia berlalu dari sini.
Belum jauh dia meninggalkan rumah itu segera terdengar suara bantingan barang-barang yang amat ramai dari dalam rumah tersebut disusul dengan suara makian dari perempuan tersebut .
"Bagus, bagus sekali ! Kau lelaki bangsat, pandai juga kamu orang mengkorup uang belanya, terang-terangan orang lain perseni kau sebanyak lima puluh tahil perak sekarang kau cuma mengaku mendapat sepuluh tahil perak saja, cepat serahkan empat puluh tahil perak yang lain, kalau tidak Lo-nio segera akan adu jiwa dengan dirimu !"
"Eeeeei ... tunggu dulu, tunggu dulu. Kau jangan mau mendengar omongannya, aku betul-betul cuma mendapatkan sepuluh tahil perak dari orang itu ... Aduh !! "
Selanjutnya terdengarlah suara yang amat berisik sekali bergema dari dalam rumah tersebut.
Dalam hati diam-diam Ti Then merasa sangat geli sekali, dia segera berbelok keluar dari lorong itu melalui jalan besar, saat ini malam hari sudah tiba, perut pun terasa amat lapar, dalam hati dia segera mengambil keputusan untuk mencari sebuah rumah makan untuk berdahar dulu kemudian baru melakukan perjalanan malam menuju ke kota Ci Kiang sian untuk bertemu dengan Wi Pocu sekalian.
Dengan mengikuti jalan besar, dia kembali berjalan puluhan langkah jauhnya, mendadak di depan sebuah kuil dia melihat banyak orang yang berkerumun mengelilingi sebuah lapangan, dari tengah banyak orang itu terdengarlah suara tambur serta gembrengan yang amat ramai sekali, sekali pikir saja dia segera tahu tentunya ada orang yang jual akrobat sedang mamberikan tontonannya di sana, dengan perlahan dia pun berjalan menuju ke sana.
Tampak orang yang melakukan pertunjukan tersebut adalah seorang kakek tua, seorang pemuda serta seorang nona, saat ini si kakek tua yang ada di tengah kalangan sedang mempertunjukkan Ilmu jari sakti Ci Sin Kang"
Yang jarang ditemui di dalam Bu-lim, dia orang menggunakan jari tengah serta jari telunjuk dari tangan kanannya menutul permukaan tanah la!u tubuhnya berdiri dengan mengandalkan kekuatan jari tersebut, atau dengan perkataan lain dia menahan seluruh berat badannya dengan mengandalkan kekuatan jarinya itu.
Sungguh merupakan sebuah ilmu kepandaian yang sangat lihay sekali !
Ti Then sama sekali tidak menyangka kalau orang yang melakukan pertunjukan tersebut merupakan seseorang yang memiliki kepandaian silat demikian tingginya, dalam hati merasa sangat terkejut bercampur keheranan.
Dia segera maju ke depan untuk meIihat lebih jelas lagi, tapi sewaktu dia melihat jelas wayah dari orang tua itu seketika itu juga hatinya seperti digodam dengan sebuah palu yang amat besar, seketika itu juga seluruh tubuhnya gemetar dengan amat kerasnya.
Dengan cepat dia mendesak untuk maju ke barisan yang paling depan lantas teriaknya dengan suara yang amat keras .
"Yan Locianpwe ! "
Betul, dia memang kenal dengan orang tua penjual silat ini.
Bukan saja dia kenal dengan orang tua she Yan ini bahkan pada masa yang lalu dia orang masih, mem punyai hubungan yang sangat penting sekali dengan orang tua She Yan ini.
Kakek tua yang sedang mempertunjukkan ilmu "lt Ci Sin Kang"
Itu sewaktu mendengar ada orang yang memanggil namanya dia segera berhenti bermain dan bangkit berdiri, matanya dengan perlahan menyapu ke sekeliling tempat itu bersamaan pula tanyanya "Kawan dari mana yang sudah memanggil aku orang ?"
Sewaktu kakek tua itu melihat Ti Then ada di sana air mukanya segera berubah hebat.
"Kau....Ti Then ?"
Serunya.
Ti Then mengangguk dengan perlahan, jelas sekali wayahnya kelihatan amat terharu sekali.
Wajah kakek tua itu pun terlihat sangat terharu, setelah melototi Ti Then beberapa waktu lamanya mendadak kepada para penonton yang ada di dalam kalangan itu dia merangkap tangannya menjura.
"Saudara-saudara sekalian !"
Ujarnya sambil tertawa.
"Pertunjukan ini hari sampai di sini saja, terima kasih atas kunjungan dari saudara-saudar sekalian!"
Ketika para penonton mendengar dia mau bubaran segera pada meninggalkan tempat itu, uang persenan yang diberikan pun tidak seberapa banyak.
Si pemuda serta sang nona yang mengikuti kakek tua itu agaknya kenal juga dengan diri Ti Then, ketika melihat para penonton pada bubaran mereka bersama-sama berjalan mendekati diri Ti Then, jelas pada air muka mereka memperlihatkan kegemasan serta kebencian hatinya.
Setelah memperhatikan diri Ti Then beberapa saat lamanya terdengar si pemuda itu tertawa dingin.
"Kelihatannya pada waktu dekat-dekat ini kau orang mendapatkan penghasilan yang lumayan juga ?"
Air muka Ti Then sedikit pun tidak berubah sedangkan mulutnya tetap membungkam di dalam seribu bahasa. Sang nona itu pun segera tertawa dingin, tambahnya .
"Kenapa kau orang tidak berbicara ? Apa mungkin kau sudah tidak kenal dengan kami orang-orang yang hidupnya tergantung menjual silat ?"
Air muka kakek tua itu segera berubah amat keren, bentaknya .
"Wi lh, Lan-ji, jangan kurang ajar kalian, cepat bereskan barang-barang itu dan kembali ke rumah penginapan terlebih, dulu!"
Pemuda yang bernama Wi Ih serta nona yang bernama Lan-ji itu tidak berani membangkang perintah dari sang kakek tua, dengan gusarnya mereka melotot sekejap kearah Ti Then lalu dengan uring-uringan berlalu dari sana untuk membereskan gembrengan, tambur serta alat-alat Iainnya yang ada di dalam kalangan.
Tampak kakek tua itu berjalan maju menggandeng tangan Ti Then lalu ujarnya .
"Ayoh pwrgi, kita mencari satu tempat untuk omong-omong". Dengan berdiam diri Ti Then mengikuti dari samping kakek tua itu dan berjalan ke sebuah rumah makan.
"Bagaimana kalau kita naik ke atas loteng ? "
Tanyanya sambil menghentikan langkahnya.
"Baiklah, kita minum berapa cawan."
Sahut sang kakek tua sambil mengangguk.
Mereka berdua segera naik ke atas loteng rumah makan itu dan mencari sebuah tempat untuk duduk, setelah meminta beberapa macam arak mereka saling berpandangan tanpa ada yang mengucapkan kata-katanya terlebih du!u, agaknya mereka berdua merasa banyak perkataan yang hendak diucapkan tetapi tidak tahu baiknya memulai dari bagian yang mana karena itu sama-sama bungkam diri.
Lama sekali baru terdengar Ti Then yang mula-mula memecahkan kesunyian.
"Kau orang tua sudah ada berapa tahun lamanya melakukan pertunjukan jual silat?"
Tanyanya.
"Sudah hampir satu tahun lamanya."
"Kenapa kau memilih jalan ini untuk melanjutkan hidup kalian ?"
Kakek tua itu segera tertawa pahit.
"Kecuali menjual silat Lohu masih bisa melakukan pekerjaan apa lagi ?"
"Aaaai .... semuanya ini dikarenakan kesalahan hamba ..."
Seru Ti Then sambil menundukkan kepalanya. Kakek tua itu pun ikut menghela napas panjang.
"Kau orang tidak usah menyalahkan dirimu sendiri, orang yang sering berjalan malam pun tidak urung akan bertemu juga dengan setan." ''Wi Ih bocah itu tidak jeiek"
Sambung kakek tua itu lagi.
"Dan belum pernah, meninggalkan Lohu sedangkan Lan-ji pun mem punyai perhatian terhadap dirinya, maka itu pada beberapa bulan yang lalu Lohu sudah kawinkan mereka berdua."
"Hal itu bagus sekali !"
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Sikap serta tindak tanduk mereka tadi kurang baik terhadap dirimu harap kau orang jangan marah di hati "
Ujar kakek tua itu lagi.
"Tidak .... tidak ! Mereka memang seharusnya membenci diriku "
Ujar Ti Then dengan amat murung.
"Kau sudah bertemu dengan dirinya?"
"Siapa ?"
Tanya Ti Then melengak.
"Si Hong Liuw Kiam Khek atau si jagoan pedang yang suka pelesiran, Ing Ping Siauw?"
"Belum ?"
Jawabnya sambil gelengkan kepalanya. Kakek tua itu segera menghela napas panjang kembali.
"Kau orang apa merasa yaki perbuatan itu dilakukan oleh si jagoan pedang suka pelesiran Ing Ping Siauw ?"
Tanyanya.
"Di dalam sepuluh bagian ada delapan bagian tidak salah, karena sejak kejadian itu. di dalam Bu-lim tidak pernah terdengar namanya mau pun beritanya lagi.
" 000O000
"Janyinya dengan dirimu masih ada setahun Iamanya bukan ?"
Tanya takek tua itu lagi.
"Benar !"
Sekaii lagi kakek tua itu menghela napas panjang.
"Lohu betul-betul tidak paham apa tujuannya dia orang berbuat demikian ?"
"Aku rasa tentunya demi nama baik dirinya, ada orang bilang si jagoan pedang suka pelesiran, Ing Ping Siauw, si naga mega Hong Mong Ling serta cayhe merupakam tiga orang jago dari angkatan muda, dia orang sangat mengharapkan bisa menduduki pda jagoan yang pertama diantara tiga jagoan angkatan muda lain."
Baru saja kakek tua itu mau berbicara lagi tampak si pelayan sudah membawa sayur serta arak, dia segera menutup mulutnya kembali.
Menaati setelah pelayan itu mengatur sayur serta arak di atus rneja Ti Then segera bangkit memenuhi cawan dari si orang tua lalu memenuhi juga cawannya sendiri, setelah itu dengan berdiam diri masing-masing menghabiskan isi cawannya sendiri-sendiri.
"Pada akhir-akhir ini kau orang bagaimana ?"
Tanya kakek tua itu tiba-tiba.
"Cayhe sekarang menyabat sebagai Kiauw-tauw di dalam Benteng Pek Kiam Po"
"Apa ?"
Seru kakek tua itu kaget.
"Cayhe menyabat sebagai Kiauw-tauw di dalam Benteng Pek Kiam Po."
"Hal ..hal ini mana mungkin ?"
Seru kakek tua itu ragu-ragu.
"Orang yang bisa menyabat sebagai Kiauw-tauw di dalam Benteng Pek Kiam Po seharusnya mem punyai kepandaian silat yang jauh di atas para pendekar pedang merah lainnya yang ada di dalam Benteng, sedangkan kau ..kau , ."
"Cayhe sudah menemui suatu kejadian yang aneh dan mendapatkan pelajaran ilmu silat yang amat lihay dari seorang manusia aneh di dalam Bu-lim ..."
"Siapakah manusia aneh tersebut?"
"Hal inilah cayhe ingin sekali mengutarakannya keluar, tetapi berhubung adanya sebab-sebab yang amat penting pada saat ini cayhe tidak bisa memberitahukan seluruh keadaan dari manusia aneh tersebut harap kau orang tua suka memaafkan."
"Dia bisa melatih ilmu silatmu sehingga melebihi kepandaian silat dari pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po?"
Tanya kakek tua itu kembali.
"Benar "
"Kalau begitu tentang Ing Ping Siauw sudah tentu tidak ada persoalannya lagi?"
"Benar, tetapi cayhe harus menanti delapan bulan kemudian baru bisa mencari dirinya, sekarang cayhe masih belum bisa."
"Kenapa ?"
Tanya kakek tua itu melengak.
"Sebab-sebabnya cayhe tidak bisa menjelaskan"
Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Ehmmm"
"Menunggu setelah semua persoalan ini telah beres tentu cayhe bisa menceritakan seluruh persoalan ini kepada kau orang tua"
"Ehmmm"
"Bagaimana hidup kalian sampai sekarang?"
"Masih baik"
"Tapi harus melakukan pertunjukan silat terus bukanlah suatu acara yang baik"
"Sebaliknya Lohu merasa sangat bagus sekali, sekali pun pendapatannya amat sedikit tetapi tidak ada ikatan apa pun."
"Tetapi bilamana sampai bertemu dengan orang yang pernah dikenal .... bukankah.."
"Lohu mengandalkan kepandaian untuk mencari uang kenapa harus malu bertemu dengan orang lain? "
"Cayhe cuma mengharapkan kau orang tua bisa membangun kembali kejayaan serta kewibawaanmu seperti tempo hari."
"Tidak bisa jadi, siapa yang masih percaya dengan Lohu ?"
"Kalau begitu bagaimana kalau berdagang?"
"Soal itu harus membutuhkan sejumlah uang."
"Kalau lima belas laksa tahil perak cukup tidak?"
"Ehm,..berapa?"
Ti Then segera mengambil keluar uang kertas yang didapatkannya dari si Giok Bin Langcun, Cu Hoay Lo lalu diberikan kepada orang tua tersehut, ujarnya .
"Uang kertas ini dikeluarkan oleh gudang uang di kota Tiang An. kau orang tua dengan membawa uang kertas ini bisa pergi mengambil uang sebesar lima belas laksa tahil perak."
"Kau mendapatkan uang sebanyak ini dari mana??"
Tanya kakek tua itu dengan amat terperanyat sekali.
"Uang itu bukan milik cayhe, pada dua bulan yang lalu secara tidak sengaja cayhe sudah berhasil menawan diri si "Giok Bian Langcun"
Cu Hoay Lo, kau orang tua tentunya sudah pernah mendengar nama "Giok Bin Langcun"
Cu Hoay Lo bukan ?"
"Ehmm benar!"
Sahut kakek tua itu sambil mengangguk.
"Menurut berita yang tersiar katanya dia merupakan seorang penyahat cabul yang kejahatannya sudah bertumpuk-tumpuk.'' "Benar, waktu itu sewaktu cayhe beserta putri dari Wi Pocu, Wi Lian In karena ada urusan melewati sesuatu tempat telah ditemui oleh Giok Bin Langcun ini, dengan mengambil kesempatan sewaktu cayhe sekalian mcnginap di sebuah rumah penginapan dia secara diam-diam sudah mencampurkan obat pemabok ke dalam makanan kami, akhirnya hal itu sudah ditemui oleh cayhe dan berhasil menawannya, karena dia kepingin hidup terus segera mengambil keluar uang kertas ini untuk menebus nyawanya..."
Kakek tua itu segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, potongnya .
"Lalu kau orang menerima uang kertasnya ini dan melepaskan dirinya pergi?"
"Tidak, cayhe menerima pemberian uang kertasnya ini lalu menajatuhi hukuman mati kepadanya."
"Eeeeh .... seharusnya setelah kau orang mau menerima uangnya ini tidas sepantasnya membinasakan dirinya"
Seru kakek tua itu.
"Sesaat cayhe turun tangan aku sudah menanyainya dengan amat jelas, cayhe dapat tahu kalau uang itu dia berhasil kumpulkan dari hasil rampokannya selama ini, karena itulah cayhe merasa uang itu tidak sah buat menebus nyawanya, apalagi cayhe pun tidak punya perhatian untuk menggunakan uang sebanyak lima belas laksa tahil perak ini, cayhe mem punyai maksud bilamana ada waktu luang mau berangkat menuju ke-Tiang-An antuk mengambil uang tersebut dan dibagikan kepada kaum miskin."
"Kalau begitu Lohu semakin tidak berani menerima uang itu?"' ujar kakek tua kemudian.
"Tidak mengapa!"
Sahut Ti Then dengan perlahan.
"Menanti setelah tahun depan aku barhasil menyelesaikan urusan ini dengan si jagoan pedang suka pelesiran Ing Ping Siuw kau orang boleh mengurangi lima belas laksa tahil buat aku orang."
"Tidak!"
Seru kakek tua itu sambil gelengkan kepalanya.
"Kau bisa bertemu dengan Ing Ping Siuw atau tidak masih merupakan satu persoalan, sekarang lohu tidak bisa menerima pemberian uang tersebut."
"Cayhe percaya bisa bertemu dengan Ing Ping Siuw dan menyelesaikan persoalan ini, kau orang tua harap berlega hati untuk menerimanya."
"Tidak perlu!"
Ujar kakek tua itu sambil gelengkan kepalanya.
"Lohu sampai sekarang masih belum miskin benar-benar sehingga makan pun tidak ada, aku tidak perlu membutuhkan uang sebegitu banyak, Lebih baik kau menyimpannya kembali !"
Agaknya Ti Then tahu sifat dari orang tua itu dia pun tidak mau mendesak lebih lanjut, dan memasukkan kembali uang ketas itu ke dalam sakunya.
"Kalau begitu"
Ujarnya "kemudian.
"Kita harus menentukan waktu untuk bertemu muka kembali, kalau tidak di tempai yang demikian luasnya cahe diharuskan pergi ke mana untuk menemui dirimu??"
"Perjanyian dari Ing Ping Siuw masih ada satu tahun lamanya, kalau begitu kita tentukan saja pada hari ini tahun depan kita bertemu muka kembali di bawah loteng Cuan Yen Lo dikota Tiang An."
"Baiklah! Sampai waktunya aku orang tentu akan menunggu."
Kakek tua itu segera meneguk habis isi cawannya lalu memperhatikan diri Ti Then sambil tertawa.
"Sekali lagi Lohu mau beritahu kepadamu, kau orang tidak usah merasa menyesal dikarena urusan itu, Lohu tahu kau orang merupakan seorang pemuda yang jujur maka itu tidak perduli lain kali kau bisa atau tidak menyelesaikan persoalan ini lohu sama sekali tidak memikirkannya di dalam hati."
"Tidak !"
Seru Ti Then dengan tegas.
"Tentang persoalan itu pasti akan cayhe urus sampai selesai." ''Lohu sangat tertarik dengan kehebatan dan kepandaianmu bisa menyabat sebagai Kiauw-tauw di dalam Benteng Pek Kiam Po"
Ujar orang tua itu sambil ter senyum.
"Dapatkah kau orang menceritakan kisahmu secara bagaimana bisa memasuki Benteng Pek Kiam Po ?"
"Cayhe kenal dengan seorang pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po, dia orang she-Shia bernama Pek Tha yang merupakan anak murid dari Wi Pocu, pada suatu hari....yaitu setelah cayhe memperoleh kejadian aneh .... sewaktu melakukan perjalanan melalui kota Gobi cayhe sudah bertemu dengan Shia Pek Tha itu, dia kukuh mau mengundang cayhe untuk mertamu di dalam bentengnya, waktu itu Wi Pocu punya keinginan untuk mengetahui kepandaian silat dari cayhe, apakah bisa memenangkan pendekar pedang merah dari Bentengnya lalu dia perintahkan beberapa orang pendekar pedang merah untuk menyajal kepandaian cayhe, akhirnya beberapa orang pendekar pedang merah itu sudah terkalahkan di tanganku, ternyata Wi Pocu jadi orang sangat jujur, bukannya menjadi marah dia malah memuji-muji cayhe bahkan memberi jabatan Kiauw-tauw kepada cayhe, melihat sikapnya yang bersungguh-suugguh terpaksa cayhe menerimanya"
"Sungguh tidak kusangka kau bisa menemui kejadian aneh seperti ini"
Seru kakek tua itu sambil memperlihatkan rasa herannya.
"Lalu ada urusan apa ini hari kau datang kekota Lam Khuan sian ini ?"
"Jika membicarakan persoalan ini sukar sekali untuk dijelaskan dengan sepatah dua patah kata saja, persoalan ini dimulai dari muridnya Wi Pocu yaitu Hong Mong Ling main perempuan lacur di tempat luaran ... ."
Demikianlah dia segera menceritakan bagaimana Hong Mong Ling diusir dari perguruan, bagaimana dia orang bekerja sama dengan Hu Pocu menculik Wi Lian In lalu bagaimana Hong Mong Ling menyiarkan berita bohong di luaran yang menyatakan dirinya sudh memperoleh kitab pusaka "Ie Cin Keng"
Dari Siauw-lim-Pay lalu bagaimana si anying langit rase bumi merebut kitab tersebut sehingga terjadi peristiwa yang amat panjang.
Sewaktu kakek tua itu mendengarkan, kisah ini tak terasa lagi hatinya merasa sangat terperanyat sekali, tanyanya .."Sebenarnya Wi Pocu mem punyai barang pusaka apa toh sehingga membual leIaki berkerudung itu mau melakukan tindakan kejam semacam ini ?"
"Tidak tahu"
Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Selama ini Wi Pocu tidak mau mengakui sudah menyimpan semacam barang pusaka atau tidak, cayhe sendiri pun tidak tahu"
Mereka berdua sambil berdahar sambil bercerita tidak terasa lagi hari sudah menunjukkan tengah malam, para tetamu yang bersantap di rumah makan itu pun sudah pada berlalu, akhirnya kakek tua itu bertanya.
"Kalau begitu malam ini juga kau punya maksud untuk keluar dari kota untuk bertemu dengan Wi Pocu?"
"Benar"
"Kalau begitu"
Ujar kakek tua itu sambil bangkit berdiri.
"Kita berpisah dulu di sini, pada hari yang sama tahun depan kita bertemu kembali di loteng Cian Yen Lo di kota Tiang An!"
Ti Then segera memanggil pelayan untuk bikin rekening lalu bersama-sama turun dari loteng dan berpisah di tengah jalan, kakek tua itu kembali ke rumah penginapan sedangkan Ti Then dengan melakukan perjalanan malam meninggalkan kota untuk menunju ke kota Ci Kiang sian yang jaraknya ada ratusan li jauhnya.
Setelah melakukan perjalanan selama satu malam pada waktu hari mendekati terang tanah dia sudah tiba dikata Ci Kiang Sian.
Setelah menemukan rumah penginapan Ye Lay dan bertanya pada pemilik rumah penginapan itu dia segera mengetahui kalau Wi Ci To sekalian memang betul menginap di sana, dengan diantar oleh pelayan dia berjalan mendatangi sebuah kamar.
Pelayan itu segera menuding kearah pintu kamar itu, ujarnya .
"Sianseng tua yang she-Wi itu menginap di dalam kamar yang sebelah tengah, mungkin saat ini belum bangun."
Ti Then segera mengetuk pintu sambil berseru .
"Pocu, apakah kau orang sudah bangun ?"
Pintu kamar segera terbuka, tampak Wi Ci To sambil tersenyum sudah berdiri di balik pintu.
"Ti Kiauw-tauw kau melakukan perjalanan malam '?"
Tanyanya. '"Benar,"
"Silahkan masuk.'' Baru saja Ti Then duduk di dalam kamar nya Wi Ci To tampaklah Wi Lian In, Suma San Ho serta s i pembesar kota Sian Thay Ya yang mendengar suaranya dari kamar sebelah sudah pada berdatangan untuk menanyakan jejak dari lelaki berbaju hijau itu.
"Orang itu tentu bukan anak buah dari lelaki berkerudung itu"
Ujar TiThen kemudian.
"Kemarin cayhe menguntit dirinya terus hingga ke dalam kota Lam Khuan sian ..."
Dia orang segera menceritakan seluruh apa yang didengarnya kepada semua orang.
Sedangkan mengenai orang tua yang ditemuinya dikota tersebut dia orang sama sekali tidak mengungkap barang sepatah kata pun juga.
Wi Ci To segera menghela napas panjang.
"Hal ini sungguh berada diluar dugaanku. Lohu kemarin menyuruh Ti Kiauw tauw membuntuti dirinya tidak lebih cuma takut sudah salah menduga "
"Pihak lawan apakah tidak mengirim berita lagi?"
Tanya Ti Then kemudian.
"Tidak"
"Kemarin tulisan di atas anak panah itu mengatakan apa saja ?"
Tanya Ti Then kembali.
"Dia bilang tiga orang pendekar pedang merah dari Benteng kita .... Ih Kun,Kha Hiong serta Pauw Kia Pen sudah terjatuh ke tangannya, dia minta barang yang diinginkan supaya dipersiapkan dan menunggu beritanya."
Ti Then menjadi amat terperanyat.
"Hmm ! ternyata permainanya Iihay juga!"
"Benar"
Seru Wi Ci To sambi! Tertawa dingin.
"Tetapi di kemudian hari ia bakal menyesal su sudah memperlihatkan permainan ini!"
"Kini Wi Pocu punya rencana apa untuk menghadapi mereka ?"
"Kini orang kita tidak tahu mereka sudah membawa orang-orang itu kemana terpaksa kita harus kembali ke dalam Benteng untuk menunggu berita."
"Di atas suratnya apakah dia orang juga tidak menjelaskan barang apa yang ia minta??"
Tanya Ti Then lagi.
"Tidak"
Sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Agaknya dia mengira Lohu sudah tahu barang apa yang dia minta itu, pada hal Lohu sendiri sampai sekarang pun masih tidak tahu barang apa yang sebenarnya dia inginkan."
Ti Then segera menoleh ke arah Cuo It Sian lalu dengan amat sopannya bertanya.
"Apakah Cuo Locianpwe punya rencana untuk ikut bersama-sama kita pergi ke Benteng Pek Kiam Po ?"
"Benar"
Sahut Cuo It Sian sambil mengangguk.
"Dia berani mencari gara-gara dengan Ioolap sudah tentu lolap harus baik-baik memberi pelajaran kepadanya."
Ti Then termenung berpikir sebentar lantas baru ujarnya kembali.
"Sekarang dia orang sudah berhasil menawan ketiga orang kita, setelah ada barang tanggungan sudah seharusnya dia orang menampakkan dirinya."
"Lolap percaya dia masih belum berani menampakkan diri secara terang-terangan"
Ujar Cuo lt Sian sambil tertawa dingin tak henti-hentinya.
"Kecuali dia orang sudah tidak sayang dengan nyawanya sendiri."
"Lantas Pocu apa sudah mengambil keputusan untuk menerima ancamannya ini?"' tanya Ti Then kemudian sambil menoleh ke arah Wi Ci To.
"Lohu sendiri sampai sekarang masih belum bisa mengambil keputusan, karena Lohu tidak tahu barang apa yang orang dia mintai, apa lagi seharusnya dia orang memperlihatkan terlebih dulu Ih, Kha serta Pauw tiga orang yang sudah mereka tawan."
"Betul"
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Kita harus mengetahui terlebih dulu apakah Ih, Kha serta Pauw betul-betul sudah terjatuh ke tangannya setelah itu baru memikirkan beberapa syarat untuk ditukar dengan ketiga orang itu"
Wi Ci To melihat Liauw Khiet berdiri dipintu depan segera perintahnya .
"Liauw Khiet cepat kau perintahkan orang untuk siapkan makanan, setelah berdahar kita harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini."
Dengan sangat hormatnya Liauw Khiet menyahut dan berlalu dari tempat itu.
Ti Then yang secara tiba-tiba sudah teringat kembali kedua ekor kudanya yang sudah dititipkan di rumah petani di bawah gunung Kim Hud san lantas bertanya kepada Wi Lian In.
"Kau tidak membawa kedua ekor kuda kita ?"
"Sudah."
Sahut Wi Lian In cepat,"
Kemarin Tia sudah membeli lagi empat ekor kuda jempolan, nanti kita masing-masing menungang kuda untuk kembali ke dalam Benteng."
Setengah jam kemudian tua muda enam orang sudah selesai sarapan pagi dan melunasi rekening rumah penginapan, setelah itu bersama-sama naik ke atas kudanya dan malakukan perjalanan menuju ke kota Go-bi, Jarak kekota Ci Kiang sampai ke kota Go-bi ada tiga empat hari perjalanan, karenanya mereka berenam tidak berani melakukan perjalanan terlalu cepat takut kuda tunggangannya tidak kuat sehingga karena itu perjalanan mereka dilakukan tidak cepat juga tidak lambat.
Di tengah perjalanan tiba-tiba Wi Lian In kirim satu kerdipan mata kepada Ti Then, Ti Then yang melihat hal itu segera tahu kalau dia orang mau mengajak dirinya untuk bercakap-cakap karenanya sengaja dia orang memperlambat lari kudanya.
Akhirnya makin lama mereka berdua ketinggalan semakin jauh dari rombongan, tanya Ti Then kemudian sambil melarikan kudanya berbareng dengan dirinya.
"Ada urusan apa ?"
"Kita semua sudah salah menduga"
Ujar Wi Lian In sambil menuding kearah Cuo It Sian yang berlari di depan.
"Ternyata dia orang bukanlah lelaki berkerudung itu!" 'Sungguh !"
Sahutnya tegas "Satu orang tidak mungkin bisa berubah menjadi dua orang, kemarin dia berjalan bersama-sama dengan kita, sudah tentu dia tidak bisa pergi menyuruh lelaki berbaju hijau itu untuk mengirim surat tersebut."
"Tetapi lelaki berbaju hijau itu berkata bahwa pada setengah jam sebelumnya orang berkerudung itu baru pergi mencari dirinya, sedangkan dia..... Cuo It Sian sewaktu bertemu dengan kita sampai waktu lelaki itu memanahkan suratnya agaknya belum kelewat setengah jam Iamanya?"
"Benar !"
Sahut Wi Lian In mengangguk.
"Dia berbicara dengan kita lama sekali, pasti ada setengah jam lamanya"
"Kalau memangnya demikian dia orang masih tetap sangat mencurigakan sekali"
Ujar Ti Then sambil tertawa.
"Kenapa?"
Seru Wi Lian In lertegan.
"Apakah dia orang mem punyai ilmu untuk memisahkan diri ?"
"Manusia berkerudung yang memerintahkan lelaki berbaju hijau untuk kirim surat panah tersebut bukanlah manusia berkerudung yang kita temui, melainkan manusia berkerudung yang lain."
"Bagaimana kau bisa tahu dia adalah orang lain ?'"
Tanya Wi Lian In keheranan.
"Lelaki berbaju hijau itu bilang orang yang memerintahkan dirinya adalah seorang lelaki berkerudung yang badannya amat kurus sekali, sedangkan, lelaki berkerudung yang kita temui tempo hari sewaktu masih ada di istana Thian Teh Kong mem punyai perawakan yang tinggi besar dari hal ini saja sudah jelas membuktikan kalau dia adalah orang lain."
"Eeei . , . lelaki berkerudung yang melarikan diri sewaktu berada di perkam pungau Thay Peng Cun itu pun agaknya mem punyai perawakan yang amat kurus sekali ?"
Ujar Wi Lian In secara tiba-tiba.
"Tidak salah, kemungkinan sekali memang dia orang "
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Hmm.Jika dilihat dari hal ini, orang yang ada di depan kita ini sangat mencurigakan sekali ?"
"Jika keadaan ini tidak melihat maka aku sangat mengagumi nyaiinya yang demikian besar"
Ujar Ti Then sambil tersenyum.
"Kau orang apakah tidak menceritakan urusan ini kepada ayahku ?"
"Tidak, dia terus menerus mengikuti dari samping tubuh ayahmu lantas suruh dengan cara bagaimana membuka suara??"
"Urusan ini harus cepat-cepat dilaporkan kepada Tia, aku pencaya Tia pun masih mengira lelaki berkerudung yang memerintahkan lelaki berbaju hijau itu adalah lelaki berkerudung yang semula."
"Menanti jika malam nanti kita menginap di rumah penginapan, dengan mengambil kesempatan sewaktu Cuo It Sian tidak ada di samping ayahmu cepat-cepatlah kau menceritakan hal ini kepada beliau."
Wi Lian In segera mengangguk.
"Tetapi"
Ujar Ti Then kembali.
"Kau tidak boleh tetap ngotot menuduh Cuo It Sian adalah lelaki berkerudung itu, kau cukup memberitahu kepada ayahmu saja lelaki berkerudung yang memerintahkan lelaki berbaju hijau itu sama sekali bukanlah lelaki berkerudung yang kita temui di dalam istana Thian Teh Kong."
"Kalau cuma berkata demikian bagaimana Tia bisa mengerti ?"
"Ayahmu itu manusia macam apa ? Ada urusan apa yang dia orang tidak dapat pikirkan ?"
Seru Ti Then sambil tersenyum. Wi Lian In segera mengangguk, dia tersenyum.
"Tidak perduli lelaki berkerudung itu benar Cuo It Sian atau tidak, menanti setelah kita kembali ke dalam Benteng kemungkinan sekali segera kita orang bisa tahu barang apa yang dia minta sehingga memaksa ayahmu untuk menyerahkan kepadanya !"
Hari itu malam hari sudah menjelang, keenam orang itu pun baru saja tiba di sebuah kota, mereka segera pada mencari rumah penginapan untuk beristirahat.
Dengan mengambil kesempatan sewaktu Cuo It Sian tidak ada di samping ayahnya Wi Lian In segera menceritakan bagaimana manusia berkerudung yang memerintahkan lelaki berbaju hijau itu sama sekali bukan manusia berkerudung yang mereka temui di dalam istana Thian Teh Kong.
Setelah mendengar perkataan itu agaknya Wi Ci To sama sekali tidak menjadi terkejut atau heran.
"Lalu bagaimana ?"
Tanyanya sambil tertawa.
"Semula aku mengira dia adalah seorang yang sama ternyata dugaan ini salah, kalau begitu . , . kalau, begitu --."
"Kalau begitu hal ini berarti juga manusia berkerudung itu adalah anak buahnya dari manusia berkerudung hitam itu"
Sambung Wi Ci To dengan cepat.
"Selain itu berarti juga ada salah seorang yang harus kita curigai"
"In-ji, kau orang jangan pikir yang bukan-bukan"
Seru Wi Ci To kemudian sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Bukannya aku menaruh banyak curiga, tetapi berbagai fakta sudah membuktikan , kalau ..."
"Sudahlah "
Potong Wi Ci To sambil mengulapkan tangannya.
"Kita jangan membicarakan persoalan ini lagi, aku ada satu urusan yang hendak aku tanyakan kepadamu"
"Urusan apa ?' tanya Wi Lian In tertegun.
"Urusan ini sebetulnya ibumu yang cocok untuk bertanya"
Ujar Wi Ci To sambil tertawa perlahan."Tetapi sayang ibumu teiah meninggal dunia maka itu terpaksa akulah yang mewakili dirinya untuk menanyai kau orang....sebenarnya kau punya perhatian tidak terhadap Ti Kiauw tauw ?"
Wi Lian In sama sekali tidak menyangka ayahnya bisa menanyakan soal ini pada saat dan tempat seperti ini, seketika itu juga saking malunya seluruh wayahnya sudah berubah menjadi merah padam.
"Aku tidak tahu.., ."
Serunya sambil menutupi wayahnya dengan kedua belah tangannya. Wi Ci To segera tersenyum.
"Aku lihat selama beberapa hari Ini kau sudah mulai menaruh rasa cinta terhadap Ti Kiauw-tauw, tetapi sekali pun begitu aku harus bertanya terlebih dahulu kepapamu, kau rasa bagaimana ?"
Dalam hati Wi Lian In merasakan hatinya berdebar-debar dengan amat kerasnya, dia merasa terkejut bercampur girang tetapi tangannya tetap menutupi wayahnya dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.
'"Dengan mengambil kesempatan dia orang tidak ada di sini kau boleh mengutarakan isi hatimu kepadaku, dengan demikian aku pun bisa mengambil inisiatif"
Desak Wi Ci To selanjutnya.
"Dia . ., . dia .... putrimu merasa dia .... dia tidak jelek ... !"
"Benar !"
Ujarya Wi Ci To sambil tertawa.
"Aku pun merasa dia orang tidak jelek hanya saja lohu merasa ada berbagai tempat yang benar-benar membuat orang merasa tidak paham!"
"Tia, kau tidak memahami apanya ??"
Tanya Wi Lian In kemudian dengan malu-malu.
"Lohu sendiri pun tidak bisa mengutarakannya keluar, lohu cuma merasa agaknya dia mem punyai sesuatu rahasia."
"Tetapi aku tidak melihat bagian mananya yang tidak beres."
"Kau tentu masih ingat sewaktu si anying langit rase bumi menyerang Benteng Pek Kiam Po kita pada malam hari bukan ?"
Ujar Wi Ci To dengan perlahan.
"Malam itu setelah si rase bumi meninggalkan Tebing Sian Ciang lohu sudah mengundang dia untuk kembali ke dalam benteng dan mengajaknya masuk ke dalam kamar bukuku untuk berbicara, waktu itu lohu sangat menaruh curiga kalau dialah Lu kongcu itu lantas dengan sejujurnya lohu minta dia memberitahukan maksud tujuannya, semula dia tidak mau menyawab akhirnya setelah lohu mendesaknya lebih lanjut mendadak dia meneteskan air mata...."
Mendengar sampai di situ Wi Lian ln segera mencibirkan bibirnya.
"Dia memangnya bukan Lu Kougcu itu setelah Tia memaksa dia terus untuk menyawab sudah tentu hatinya terasa tertekan sehingga menjadi sedih hati dan meneteskan air mata "
"Tidak ....bukan demikian"
Bantah Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Waktu itu lohu cuma bertanya kepadanya apakah ada sesuatu perkataan yang sukar untuk diutarakan atau mungkin ada persoalan yang menyulitkan hatinya, lohu bilang kalau ada tentu aku akan bantu untuk menyelesaikan persoalan tersebut, setelah mendengar perkataan tersebut mendadak dia meneteskan air matanya, dia bilang jikalau lohu mau membantu dirinya untuk menyelesaikan persoalan ini hanya ada satu cara saja yaitu meminta lohu berkelahi dengan dirinya, mengalahkan dirinya !"
"Apa artinya ini?"
Seru Wi Lian In tertegun.
"Aku sendiri pun tidak paham tetapi dia orang tidak mau menjelaskan lebih lanjut, dia cuma bilang harap lohu untuk sementara waktu mau menganggap dirinya sebagai musuh besar lalu bertempur dengan dirinya, jikalau lohu berhasil mengalahkan dirinya hal ini berarti juga sudah membantu dia menyelesaikan satu persoalan yang menyulitkan sekali."
Sepasang mata Wi Lian In segera terbelalak lebar-lebar, dengan perasaan sangat terperanyat ujarnya .
"ini ... ini... sebetulnya apa artinya?"
"Dia bilang alasannya sampai kini belum bisa diterangkan, tetapi jikalau lohu berhasil mengalahkan dirinya maka dia mau menceritakan sebab-sebabnya kepadaku."
"Lalu Tia menyanggupinya ?"
Tanya Wi Lian In terperanyat.
"Dia mem punyai budi terhadap kita ayah beranak, bagaimana aku bisa mengabulkan permintaannya yang sangat membingungkan ini ?"
Seru Wi Ci To sambil tertawa pahit.
"Sampai sekarang dia belum pernah mengatakan sebab-sebabnya !"
"Tidak !"
"Kalau begitu biarlah aku pergi menanyai dirinya !"
Selesai berkata dia segera pjtar badan siap berlalu dari dalam kamar.
"Tidak !"
Cegah Wi Ci To sambil menarik tangannya.
"Kau jangan pergi menanyai dirinya !"
"Kenapa ?"
Tanya Wi Lian In keheranan.
"Setiap orang tentu mem punyai suatu rahasia yang tidak bisa dikatakan kepada orang lain. sekarang bilamana kau bertanya kepadanya belum tentu dia mau mengutarakannya keluar bahkan lohu merasa rahasianya ini tentu tidak ada sangkut pautnya dengan Benteng kita, karena selama beberapa hari ini menurut pengamatan lohu terhadap dirinya aku sudah dapat melihat kalau dia sama sekali tidak menaruh suatu rencana terhadap Benteng kita, dia Betul-betul merupakan seorang pemuda yang halus budi dan baik-baik"
"Tetapi kalau memangnya dia mem punyai kesukaran seharusnya kita pergi membantu dirinya"
Ujar Wi Lian In dengan ngotot.
"Benar!"
Sahut W ie Ci To sambil mengangguk.
"Tetapi satu-satunya jalan untuk membantu dia menyelesaikan kesukarannya adalah menyuruh lohu mengalahkan dirinya dengan menggunakan ilmu silat, coba kau pikir dapatkah hal ini dijalanan?"
"Kalau begitu biar aku pergi bertanya kepadanya, kemungkinan sekali dia mau memberikan jawabannya". Sekali lagi Wi Ci To gelengkan kepalanya.
"Tidak,jikalau kau bertanya padanya saat ini dia orang bisa salah paham dan menganggap kita ayah beranak masih menaruh curiga terhadap dirinya"
Dia berhenti sebentar lantas sambungnya sambil tertawa.
"Cuma ada suatu waktu di dalam keadaan yang tertentu kau boleh pergi bertanya kepadanya."
"Keadaan bagaimana?"
Tanya Wi Lian In keheranan.
"Setelah kalian menjadi suami isteri !"
Wayah Wi Lian In segera berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus, saking malunya tak sepatah kata pun bisa diucapkan keluar.
"Setelah kalian menjadi suami isteri berarti juga kita sudah satu keluarga, saat itulah kau boleh bertanya kepada dirinya kemungkinan sekali dia mau mengatakan sebab-sebabnya."
Ujar Wi Ci To lagi.
"Tetapi Tia masih belum jelas mengetahui asal-usulnya bagaimana Tia begitu tega menjodohkan.."
Baru saja berbicara sampai di sini mendadak dia dapat melihat Ti Then serta Suma San Ho berjalan masuk ke dalam kamar, dengan terburu-buru dia menutup mulutnya.
kembali.
Dengan perlahan Wi Ci To angkat kepalanya memandang kearah Ti Then serta Suma San Ho yang baru saja masuk ke dalam kamar itu, ujarnya kemudian sambil tertawa .
"Ti Kiauw-tauw, San Ho kalian keluarlah sebentar, lohu sedang membicarakan suatu urusan dengan Siauw-li"
Dengan sangat hormatnya Ti Then serta Suma San Ho menyahut lalu mengundurkan diri dari dalam ruangan.
Ketika Wi Lian In melihat mereka sudah mengundurkan diri segera sambungnya kembali dengan suaranya lirih .
"Tia, apakah kau tega menjodohkan kami kepadanya?"
Dengan perlahan Wi Ci To mengangguk-"Bukankah tadi aku sudah bilang dia adalah seorang pemuda yang dapat dipercaya, tidak perduli di dalam hatinya masih menyimpan rahasia apa atau lain kali akan berbuat pekerjaan apa, lohu percaya dia tidak akan membahayakan keselamatan dari Benteng kita."
Wi Lian In segara mengangguk tanpa mengucapkan kata-kata lagi.
"Sekarang aku mau tanya lagi, apakah kau sungguh-sungguh menyenangi dirinya?"
Tanya Wi Ci To lebih lanjut.
"Siauw-li serahkan Tia yang mengambil keputusan "
Sahutnya perlahan, dengan air muka yang berobah menjadi merah.
Halaman 47-48 robek/hilang "Benar, lolap masih teringat beberapa tahun yang lalu Pocu pernahmengalah dua biji catur kepada lolap tetapi akhirnya kita main seimbang, ini hari Lolap mau melihat apakah permainan caturku ada mendapatkan kemajuan atau tidak."
"Bagus sekali !"
Sahut Wi Ci To dengan girang.
"Tetapi kita batasi dua kali permainan saja, besok kita harus masih melakukan perjalanan, ini malam kita orang tidak boleh terlalu banyak capai."
Berbicara sampai di sini segera tolehnya kearah Wi Lian In."
"In-ji, kau pergilah menyuruh pelayan mempersiapkan seperangkat catur !"
Wi Lian In menyahut dan mengundurkan diri dari dalam kamar lalu perintahkan pelayan untuk mengambil alat catur.
Setelah semuanya selesai dia baru pergi mencari Ti Then serta Suma San Ho ujarnya kemudian .
"Ti Kiauw-tauw, Suma suheng, bagaimana kalau kita berjalan-jalan ke kebun bunga ?". Padahal dia cuma ingin mengajak Ti Then seorang saja, karena melihat Suma San Ho pun ada di situ dia merasa tidak baik untuk meninggalkan dia seorang diri oleh sebab itulah sengaja dia mengajaknya sekalian. Ternyata Suma San Ho tahu diri juga, sahutnya dengan cepat .
"Kalian berdua pergilah, aku tidak ingin pergi."
"Kenapa tidak mau ikut ?"
Sengaja Wi Lian In mengomel.
"Ie-heng merasa lelah sewaktu melakukan perjalanan, lebih baik aku cepat-cepat kembali ke kamar untuk beristirahat."
Selesai berkata dia sengaja memperlihatkan muka setan pada Ti Then lantas kembali ke dalam kamar.
Demikianlah akhirnya Ti Then serta Wi Lian In berjalan ke dalam kebun bunga di belakang rumah penginapan tersebut, agaknya kebun bunga itu tidak pernah terawat karena kelihatan sekali rumput yang tumbuh dengan amat suburnya ....
Walau pun begitu di dalam pandangan Wi Lian In tempat ini merupakan suatu tempat yang sangat indah sekali, bersama-sama dengan Ti Then mereka berjalan menuju ke sebuah gardu lalu duduk berdampingan "Kau sudah beritahukan urusan itu kepada ayahmu ?"
Tanya Ti Then kemudian.
"Benar !"
Sahut Wi Lian In mengangguk.
"Tetapi Tia mengatakan aku banyak menaruh curiga terhadap.orang lain dan suruh aku jangan banyak berpikir tidak karuan."
"Kemungkinan juga Cuo It Sian bukanlah manusia berkerudung hitam itu, seharusnya ayahmu jauh lebih jelas dari kita."
Dengan perlahan Wi Lian In mengangguk.
"Saat ini Tia sedang main catur dengan dia orang di dalam kamar ...."
"Tadi ayahmu sedang membicarakan apa dengan kau ?"
Tanya Ti Then kemudian.
"Coba kau terka !"
Seru Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya. Ti Then tersenyum.
"Apakah kalian sedang membicarakan barang yang diminta oleh manusia berkerudung hitam itu?"
"Bukan !"
Jawab Wi Lian In sambil mengelengkan kepalanya.
"Membicarakan cara-cara untuk menolong Ih, Kha serta Pauw tiga orang??"
"Soal itu tidak ada keharusan untuk mengelabuhi kau serta Suma Suheng !"
"Lalu membicarakan urusanmu ?"
Seru Ti Then sambil tertawa.
"Cuma benar separuh saja."
"Lalu yang separuh membicarakan siapa ?"
Tanya Ti Then lagi sambil tertawa serak. Wi Lian In segera manempelkan bibirnya dekat telinganya lantas dengan nada yang manya sahutnya .
"Membicarakan dirimu."
"Membicarakan tentang apa tentang diriku?"
Tanya Ti Then dengan hati menegang. Wi Lian In segera kirimkan satu kedipan mata yang menggiurkan kepadanya "Coba kau terka lagi?"
Ujarnya.
"Dia orang tua menasehati dirimu untuk jangan terlalu bergaul rapat dengan diriku?"
"Hihi...hiii...justru sebaliknya!"
Mendengar sampai di situ Ti Then segera menjadi paham kembali, dia tersenyum.
"Kau menceritakan urusan tentang hubungan kita yang sudah mengikat menjadi calon suami istri ?"
"Tidak, baru saja aku mau membicarakan urusan itu dengan Tia mendadak dia balik bertanya kepadaku apakah aku..apakah aku... kau mengerti bukan ?"
"Tidak!"
Sahut Ti Then sambil tertawa. Dengan manyanya dia segera mencubit lengan Ti Then, serunya dengan suara aleman.
"Jikalau kau pura-pura bodoh terus aku tidak mau berbicara lagi."
"Baik baiklah! aku tidak pura-pura bodoh lagi "ujar Ti Then kemudian sambil tertawa terbahak-bahak.
"Lantas bagaimana kau memberikan jawabannya kepada ayahmu?"
"Aku bilang aku tidak tahu."
"Bagus sekali"
"Kenapa bagus sekali ?"
Seru Wi Lian ln sambil mengirim satu kerlingan mata kepadanya.
"Tidak mau dan tidak tahu mem punyai perbedaan yang sangat besar sekali, bukan begitu ?"
"Ehmm .. , . selamanya Tia belum pernah langsung menanyakan urusan ini kepadaku, tadi aku benar-benar merasa sangat malu sekali"
Ujar Wi Lian In lagi sambil merebahkan dirinya ke dalam rangkulan Ti Then.
"Tidak usah putar-putar lagi, akhirnya bagaimana ?"
"Dia bilang sesudah menolong Ih, Kha serta Pauw tiga orang segera dia orang tua mau mengawinkan kita berdua."
Seketika itu juga Ti Then merasakan hatinya terjeblos ke dalam jurang yang amat dalam sekali, dia merasa hatinya bagaikan dipukul oleh ombak samudra yang tak putus-putusnya.
Urusan ini merupakan satu hal yang dinantikan sejak lama sekali, juga merupakan sebuah urusan yang paling ditakuti olehnya.
saat ini dia tidak dapat mengata hatinya girang atau murung, seluruh tubuhnya terasa menjadi sangat tegang sekali, karena dengan demikian berarti juga 'Rencana busuk"
Dari majikan patung emas sudah hampir mencapai kesuksesan sedangkan dirinya sebagai seorang patung emas pun bakal mulai memperoleh perintah, untuk melakukan sesuatu perbuatan yang sama sekali merugikan Wi Ci To bersama putrinya.."
OoooOOoooo Walau pun di dalam hati kecilnya dia sudah mengambil keputusan jikalau majikan patung emas mau perintah dirinya melakukan suatu pekerjaan yang sekali merugikan Wi Ci To beserta putrinya dia akan melakukan perlawanan dengan taruhan nyawa, tetapi setelah dipikir lebih teliti lagi dia pun merasa bahwa urusan ini tidak bisa diselesaikan dengan kematian dirinya, karena majikan patung emas baru mau memberikan peiintahnya yang kedua selelah dirinya kawin dengan Wi Lian In.
Sedangkan pada saat itu nasi sudah akan menjadi bubur, jikalau dirinya mati bukankah sama saja dengan dirinya sudah merusak kebahagiaan dari seorang nona?
Makanya dia merasakan hatinya sangat bingung sekali.
Saat ini Wi Lian In pun dapat melihat dia orang betul-betul mem punyai pikiran yang ruwet, dengan perlahan tangannya ditepuk-tepukkan ke atas bahunya lalu tanyanya dengan suara yang amat halus.
"Agaknya kau merasa tidak begitu gembira ??"
"Siapa yang bilang??"
Ujar Ti Then dengan cepat sambil memperlihatkan senyumya.
"Dari sikapmu aku bisa melihat jelas!"
"Tapi belum tentu rasa gembira yang terkandung di dalam hati harus diperlihatkan di atas wayah"
"Tetapi berita ini tidak seharusnya membuat kau orang merasa sangat tidak gembira !"
"Apakah wayahku memperlihatkan kalau hatiku merasa tidak senang?"
Tanya Ti Then kemudian.
"Sedikit pun tidak salah,"
"Kau sudah salah melihat"
Seru Ti Then kemudian.
"Aku tidak mem punyai alasan untuk merasa tidak gembira, aku cuma..eeei! Ini yang dinamakan ilmu menenangkan hati, yang dimaksud sekali pun gunung ambruk di depan mata tidak menjadi kaget, gembira tidak kelihatan senang, menemui bencana tidak kelihatan murung, malang tidak tampak mengerang.
"Omong kosong! Kecuali tidak suka padaku kalau tidak bagaimana bisa melihat gembira tidak menjadi girang hati?"
Sela Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.
"Bukankah aku sekarang sedang girang hati?' Ujar Ti Then cepat-cepat sambil meraperlihatkan tertawanya yang dipaksakan.
"Aku bisa melihat kau sengaja memperlihatkan tertawamu yang dipaksakan"
"Bagaimana bisa jadi ?"
Ujar Ti Then sambil mengangkat bahunya.
"Aku sudah bilang aku tidak mem punyai alasan untuk bergirang hati"
"Bilamana seseorang tidak dapat mengikuti perubahan perasaan hatinya dengan memperlihatkan gembira, marah, murung dan sedih hati hal ini membuktikan kalau ...... membuktikan kalau..."
"Membukikan kalau orang itu adalah seorang yang amat dingin kaku dan tidak berperasaan bukan begitu??"
Sambung Ti-Then dengan cepat.
"Tapi aku tahu kau bukanlah seorang manusia yang dingin kaku dan tidak berperasaan' "Kalau begitu sangat bagus sekali" ''Lalu kau mem punyai rahasia apa yang terkandung di dalam hatimu ??"
Desak Wi Lian In lagi.
"Aku tidak punya rahasia apa-apa !"
"Kau sedang menipu aku !"
"Jika semisalnya aku benar-benar ada rahasia hati maka itu berarti juga aku sedang merasa murung apakah dikemudian hari aku bisa memberikan kegembiraan buat dirimu..."
"Asalkan kau benar-benar suka padaku tidaklah perlu untuk merasa murung hati"
Ujar Wi Lian In sambil memandang tajam wayahnya.
"Sudah tentu aku suka padamu. ..."
Wi Lian ln segera menarik-narik ujung bajunya, lantas ujarnya dengan suara yang perlahan .
"Omong sesungguhnya sebetulnya kau mempnyai rahasia atau tidak ?"
Dalam hati Ti Then merasakan hatinya serasa berdesir.
"Haa ... haaa . -. haaa .... Bagaimana malam ini kau bisa memperlihatkan sikap yang demikian berubah dan tidak seperti biasanya ?"
Ujarnya sambil tertawa paksa.
"Apa kau orang minta bukti ?"' "Coba katakan !"
Ujar Ti Then sambil angkat kepalanya.
"Sebenarnya Tia sudah cegah aku untuk jangan menanyakan urusan ini kepadamu, dia bilang sekali pun di dalam hatimu tersimpan sesuatu rahasia tetapi belum tentu mem punyai bahaya bagi kita ayah beranak, sekali pun begitu tapi aku merasa ada pentingnya juga untuk bertanya lebih jelas lagi kepadamu karena sekarang aku sudah menjadi calon istrimu, aku mem punyai hak dan tugas untuk ikut memikul kemurungan hatimu itu !"
Semakin lama Ti Then merasa hatinya semakin tidak tenang, tetapi pada wayahnya masih tetap memperlihatkan sikapnya yang sama sekali tidak menjadi sesuatu urusan apa pun.
"Jikalau di dalam hatiku tersimpan suatu urusan tentu aku bisa memberitahukannya kepadamu, tapi aku betul-betul tidak mem punyai rahasia apa pun."
"Kalau begitu"
Ujar Wi Lian In lagi sambil memandang tajam wa jahnya.
"Waktu itu setelah kau berhasil memukul mundur si anying langit rase bumi di atas tebing Sian Ciang dan mengikuti Tla masuk ke dalam ruangan baca di dalam benteng kenapa kau minta Tia untuk berkelahi dengan dirimu ? Kenapa kau bilang apabila Tia bisa mengalahkan dirimu berarti pula sudah membantu kau menyelesaikan suatu urusan yang amat sulit ?"
Ti Then sama sekali tidak menyangka dia bisa secara tiba-tiba menanyakan kembali urusan ini, untuk beberapa saat lamanya dia orang dibuat kelabakan tidak tahu bagaimana baiknya untuk memberikan jawabannya.
"Ooouw .... soal ini??"
Ujarnya agak malu.
"Sekarang juga aku minta penjelasan yang beralasan dari dirimu,"
"Itu...itu ..... sebetulny tidak ada urusan ap-apa!"
Sahut Ti Then dengan gelagapan.
"Waktu Itu kalian terus menerus menganggap aku sebagai Lu kongcu maka dalam hati aku merasa kheki dan ingin sekali ..ingin sekali meningalkan Benteng Pek Kiam Po, tetapi menginginkan aku orang supaya tetap tinggal di sana, hatiku waktu itu benar-benar merasa serba susah bahkan ayabmu terus menerus mendesak aku dan bertanya apakah di daiam hatiku sudah tersimpan satu rahasia. Di dalam keadaan terdesak mendadak dalam ingatanku berkelebat satu akal. aku pura-pura memperlihatkan kalau aku benar-benar mem punyai sesuatu rahasia hati yang tidak bisa diberitahukan kepada orang lain, dengan mengambil kesempatan itu aku pun mengajak dia untuk berkelahi. Padahal aku tahu ayahmu pasti tidak akan mau bertempur dengan diriku, saat itu aku sengaja berkata demikian sebetulnya bertujuan agar ayahmu menarah rasa curiga yang lebih besar lagi terhadap diriku sehingga mengijinkan aku meninggalkan Benteng Pek Kiam Po kalian itu!"
"Penjelasan ini sama sekali tidak sesuai dengan keadaan !"
Seru Wi Lian In kemudian setelah selesai mendengarkan perkataannya itu.
"Tetapi hal ini merupakan kejadian yang sungguh-sungguh!"
Agaknya Wi Lian In merasa sangat tidak puas dengan penjelasannya itu, dia tundukkan kepalanya tidak mengucapkan sepatah kata pun, Ti Then dengan sikap seperti sengaja seperti juga tidak sengaja menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, lantas bisiknya dengan suara yang amat lirih .
"Lian in, jikalau kau merasa tidak tega hati ternadap aku orang kau boleh beritahukan kepada ayahmu supaja untuk sementara waktu menunda maksudnya untuk menyelenggarakan perkawinan di antara kita !"
Wi Lian In merasa semakin tidak puas lagi, mendadak dia bangkit berdiri.
"Baik, aku segera memberitahukan urusan ini kepada Tia ! "
Selesai berkata dengan gemas dan marahnya dia berlari meninggalkan gardu tersebut.
Dengan, pandangan yang amat sayu Ti Then memperhatikan dia orang berlalu meninggalkan kebun bunga itu, dalam hati dia benar-benr merasa sangat sedih sekali, tetapi dia pun merasa sedikit girang hati.
Dia menganggap bilamana Wi Lian In benar-benar memberitahukan perkataan ini kepada ayahnya maka untuk sementara waktu Wi Ci To tentunya akan menghapuskan pikiran tersebut, walau pun hal ini akan menusuk hatinya tetapi terhadap kehidupan selanjutnya malah mem punyai kebaikan.
Jika dibicarakan dengan perkataan lain, dia menganggap sehari dirinya belum kawin dengan Wi Lian In maka satu hari pula majikan patung emas tidak dapat memberikan perintahnya yang kedua, jika secara demikian berlarut-larut terhadap "Rencana busuk"
Yang disusun oleh majikan patung emas pun menjadi kurang menguntungkan sebaliknya terhadap dirinya sendiri Wi Ci To dan Wi Lian In sangat "Menguntungkan"
Sekali.
Tetapi apakah Wi Lian In benari pergi ke kamar ayahnya dan meminta dia orang tua untuk sementara waktu membatalkan maksudnya hendak mengadakan perkawinan di antara mereka?
Tidak!
Sama sekali tidak!
Dia terus berlari masuk ke dalam kamarnya di rumah penginapan tersebut lantas naik ke atas pembaringan untuk tidur dengan lelapnya.
Keesokan harinya tua muda enam orang sesudah membereskan rekening segera meninggalkan rumah penginapan itu untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Benteng.
Di tengah perjalanan tidak terjadi urusan apa-apa, pada hari keempat siang akhirnya mereka berenam sudah tiba kembali ke dalam Benteng Pek Kiam Po.
Di bawah sambutan yang amat hormat dari beberapa puluh orang pendekar pedang merah Wi Ci To masuk ke dalam Benteng dan duduk di tengah ruangan, tanysnya kemudian kepada si jago pedang penembus ulu hati, Shia Pek Tha .
"Pek Tha, sudah beberapa lama kau kembali ke dalam Benteng ?"
"Hamba sudah ada enam, tujuh hari lamanya kembali ke dalam Benteng."
"Apakah di dalam Benteng sudah terjadi sesuatu urusan ?"
Tanya Wi Ci To kembali.
"Tidak."
"Apakah tidak menemukan adanya manusia yang tidak dikenal menyusup ke dalam Benteng kita ?"
"Tidak ada, sejak Pocu meninggalkan Benteng keadaan di sini sama sekali aman tentram tidak t erjadi suatu peristiwa pun."
Dengan perlahan Wi Ci To menyapu sekejap kearah para pendekar pedang merah yang berdiri di sampingnya lantas tanyanya.
"Kalian semua pada menerima perintah untuk meninggalkan Benteng guna menawan Hong Mong Liang manusia terkutuk itu, sewaktu kembali ke dalam Benteng ada siapa yang pernah bertemu dengan Ih Kun, Kha Cay Hiong serta Pauw Kia Yen?"
"Tecu tidak ada yang melihat !"
Sahut para pendekar pedang merah secara berbareng.
"Bagaimana dengan mereka bertiga?"
Tanya Shia Pek Tha dengan amat terperanyat.
"Mereka bertiga sudah terjatuh ke tangan seorang manusia berkerudung hitam"
Segera dia menceritakan seluruh kejadian itu dengan sejelas-jelasnya.
Sampai waktu ini masih ada tujuh puluh dua orang pendekar pedang merah yang belum kembali dari tempat luaran, apakah Ih, Kha serta Pauw tiga orang betul-betul terjatuh ke tangan manusia berkerudung hitam itu masih merupakan satu pertanyaan yang mencurigakan bagiku ...."
Ujar Shia Pek Tha dengan perlahan.
"Tidak akan' salah lagi !"
Seru Wi Ci To sambil tertawa dingin tak henti-hentinya.
"Manusia berkerudung itu tidak perlu menggunakan omongan bohong untuk menipu kita. Ih, Kha serta Pauw tiga orang pasti sudah terjatuh ketangan musuh !"
Shia Pek Tha termenug berdiam diri.
"Dia minta lohu kem bali ke dalam Benteng untuk menunggu kabar beritanya"
Ujar Wi Ci To lagi.
"Maka di dalam beberapa hari ini pasti ada berita yang akan muncul, kalian seharusnya sedikit berhati-hati lagi."
Selelah semuanya selesai dia segera memerintahkan untuk mempersiapkan perjamuan buat menyambut datangnya si Sian Thay-ya atau si pembesar kota Cuo It Sian.
Sore itu dengan membawa mabok Ti Then balik kembali ke dalam kamarnya, si Lo-cia itu pelayan tua segera membantu dia membawakan sebaskom air untuk cuci muka, lalu sambil tertawa pecengis-an ujarnya .
"Ti Kiauw-tauw, katanya Hong Mong Ling itu bangsat cilik sudah mati ?"
"Benar!"
Sahut Ti Then sambil mencuci muka.
"Dia dibinasakan oleh sebuah batu yang disambit oleh manusia berkerudung hitam."
"Sebetulnya manusia berkerudung itu berasal dari aliran mana?"tanya Lo-cia lagi.
"Sampai sekarang masih belum tahu..."
"Hamba dengar si rase bumi Bun Jin Cu pun sudah mati"
"Tidak salah, dia sudah bunuh diri !"
Dia orang "kenapa mau bunuh diri?"
Desak si-Lo-cia lebih lanjut. Ti Then segera melemparkan handuknya kearah dia lantas menepuk-nepuk bahunya.
"Aku baru saja pulang"
Ujarnya sambil tertawa.
"Sekarang aku orang harus tidur dulu dengan nyenyak lain kali saja aku beritahukan kepadamu."
"Baik .... baik .... baik !"
Sahut Lo-cia sambil bungkukkan dirinya memberi hormat.
"Heee .... heee .... hamba selamanya tidak bisa menghilangkan penyaktt cerewetnya ini, Ti Kiauw-tauw silahkan beristirahat!"
Selesai berkata dengan mengambil baskom air itu dia mengundurkan dirinya dari dalam kamar.
Ti Then segera naik ke atas pembaringan untuk beristirahat, tidak terasa lagi dia sudah tertidur dengan amat nyenyaknya.
Menanti setelah didengarnya ada orang yang mengetuk pintunya dia baru bangun dari pulasnya, ketika melihat keluar jendela terlihatlah hari sudah gelap, dengan tergesa-gesa dia meloncat bangun sambil bertanya .
"Siapa ?"
"Aku !"
Suara dari Wi Lian In ! "Silahkan masuk !"
Ujar Ti Then kemudian sambil tersenyum.
"Kenapa tidak pasang lampu?"
Tanyanya.
"Aku baru saja cuci muka sebentar, kemudian sudah tertidur dengan amat nyenyaknya."
Dia segera menyulut lampu kamar dan katanya sambil tertawa .
"Apa sudah waktunya untuk tidur malam ?"
"Sudah hampir"
Sahut Wi Lian In mengangguk.
"Aku lihat satu siangan kamu orang terus menerus tutup pintu tidak keluar makanya sengaja aku kemari untuk menjenguk, tidak tahunya kau sedang tidur."
"Setelah tiba di dalam Benteng hatiku merasa amat tenang sekali, karenanya mudah sekali untuk tertidur nyenyak."
"Hiii ..hii .... kiranya kau pun mem punyai perasaan hati tenang setelah kembali ke dalam Benteng sehingga bisa tertidur dengan amat nyenyaknya"
Ujar Wi Lian In sambil tertawa.
"Aku masih mengira kau dapat bersikap seperti di tempat luaran, melihat kegembiraan tidak senang, menemui bencana tidak murung!"
"Kau orang sungguh pintar sekali mencari kelemahan ucapan orang lain"
Seru Ti Then sambil angkat bahunya.
"Tia serta Cuo It Sian sedang ngomong-ngomong di dalam kamar buku, bagaimana kalau kita pergi ke sana ?"
"Baiklah, mari kita ke sana."
"Rasanya kau sudah tidak menaruh rasa curiga dengan Cuo It Sian?"
"Rasa curiga sudah tentu masih ada sedikit"
Ujar Ti. Then sambil tertawa.
"Tetapi kalau memangnya ayahmu menyalahkan kita orang terlalu banyak menaruh curiga kepada orang lain lebih baik untuk sementara kita lepaskan rasa curiga tersebut"
"Tla sering menggunakan hati seorang budiman untuk menghadapi pikiran licik manusia rendah, aku merasa kuatir..."
Ti Then termenung sebentar lantas ujarnya sambil tertawa .
"Bilamana kau merasa kuatir aku bisa ajarkan satu cara buat dirimu."
"Coba kau katakanlah !"
"Selama beberapa malam ini kau jangan tidur tetapi sembunyilah diluar jendela Cuo It Sian untuk melakukan pengintaian."
"Kau menganggap jikalau dia adalah manusia berkerudung hitam itu maka dia bisa melakukan gerakannya pada malam hari ?"
Tanya Wi Lian ln sambil memperhatikan wajahnya.
"Benar "
Sahut Ti Then mengangguk.
"Kemungkinan sekali diwaktu malam secara bersembunyi-sembunyi dia bisa mendekati jendela dari ayahmu untuk kirim beritanya."
"Apakah yang kau maksud dengan berita adalah waktu serta tempat untuk saling tukar menukar barang ?"
Tanya Wi Lian ln perlahan.
"Benar."
"Dapatkah dia orang pergi mencari barang milik ayahku dengan mengambil kesempatan sewaktu ada di dalam Benteng kita ?"
"Tidak mungkin!"
Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Jikalau dia menganggap barang tersebut bisa dicuri sejak dahulu dia sudah turun tangan untuk mencurinya."
Dengan perlahan Wi Lian ln mengangguk.
"Jikalau menyuruh aku seorang diri mengawasi gerak-geriknya dengan seorang diri aku rasa terlalu tidak enak, bagaimana jika kau temani aku?"
Ujarnya kemudian. -ooo0dw0ooo-
Jilid 26 . Manusia berkerudung ternyata Sian Thay-ya "TIDAK, aku tidak dapat menemani kau orang !"sahut TI Then sambil gelengkan kepalanya.
"Kenapa ?"
Tanya Wi Lian In dengan kurang senang.
"Di dalam Banteng sebelum mendapatkan perintah dari ayahmu aku tidak leluasa untuk sembarangan bergerak"
"Jikalau Tia nanti menyalahkan kau biarlah aku ssorang diri yang menanggung."
"Aku orang bukannya takut dimaki oleb ayahmu sebaliknya karena kedudukanku sebagai Kiauw-tauw seharusnya menghormati ayahmu"
Ujar Ti Then mengharapkan.
"Baiklah, jikalau kau tidak mau menemani aku biarlah aku ajak Pek Tha suheng untuk menemani aku orang !"
Seru Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.
"Bagus, aku setuju !"
Dengan sangat tidak senang Wi Lian In berlalu dari sana.
Malam hari itu sekali lagi Wi Ci To menyamu diri Cuo It Sian, semua orang minum arak dan bersantap dengan gembiranya, setelah ngobrol ke sana ke sini akhirnya masing-masing kembali ke kamarnya sendiri-sendiri untuk beristirahat.
Ti Then yang sekembalinya ke dalam kamar segera mandi lalu naik ke atas pembaringannya untuk tidur.
Dia tahu majikan patung emas tentu akan munculkan dirinya ditengah malam untuk menanyai kejadian serta kemajuan yang dicapai dengan Wi Lian In selama satu bulan lebih ini, dalam hati dia terus berpikir untuk mencari jawaban yang akan diberikan nanti.
Ternyata sedikit pun tidak salah, kurang lebih pada kentongan ketiga majikan patung emas sudah munculkan dirinya beserta dengan patung emasnya dari atas atap rumah.
Kali ini Ti Then sudah bangun dari pulasnya sebelum majikan patung emas menurunkan patung emasnya, dengan mata melotot lebar-lebar dia memperhatikan sepasang tangan yang agak samar-samar membuat atap kamarnya lalu melihat juga patung emas itu dengan perlahan-lahan diturunkan ke samping pembaringan, dalam hati diam-diam dia orang merasa sangat terperanyat sekali pikirnya.
"Kenapa tiap kali dia munculkan dirinya di atas atap rumah selama ini tidak pernah ditemui oleh para pendekar pedang yang melakukan perondaan di sekeliling Benteng ?? apa mungkin dia benar-benar sudah berhasil melatih ilmu untuk melenyapkan diri ? "Ti Then, kau bangunlah !"
Terdengar suara dari majikan patung emas dengan amat Iembutnya berkumandang datang dari atas rumah.
Ti Then segera bangun dan menggoyang-goyangkan patung emas tersebut, serunya dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara .
"Aku tahu malam ini kau bisa datang"
Majikan patung emas pun segera tertawa.
"Aku pun tahu kau orang sedang menunggu aku"
"Kau ada banyak pertanyaan yang hendak kau ajukan bukan ?"
"Benar!"
Sahut majikan patung emas itu singkat.
"Ehmmm..kau boleh mulai bertanya !"
"Kau bicaralah ! Ceritakan seluruh kejadian yang kau alami sejak meninggalkan benteng Pek Kiam Po sampai kembali lagi ke dalam benteng"
"Jika demikian adanya, bercerita sampai pagi pun belum tentu bisa selesai"
Seru Ti Then dengan keras.
"Katakan saja yang penting-penting"
"Setelah kami meninggalkan Benteng Pek Kiam Po karena jarak waktu perjalanan dengan si rase bumi, mengambil keputusan untuk pergi kegunung Kim Teng San terlebih dahulu untuk main-main. .."
"Hey bocah Cilik !"
Potong majikan patung emas tiba-tiba.
"Kau orang sengaja pergi kegunung Kim Teng San apakah hendak mempamerkan kepandaian silatmu di hadapan si kakek pemalas Kay Kong Beng itu?"
"Apa arti dari perkataanmu ini?"
Serunya.
"Tahun yang lalu kau pernah pergi ke tempatnya meminta dia menerima kau sebagai muridnya tetapi dia tidak mau menerima, di dalam hatimu sudah tentu merasa gemas juga terhadap dirinya bukan ? kini kau sudah berhasil mempelajari kepandaian silat dari diriku, kau sengaja mau memamerkan di hadapannya bukan begitu ?"
"Tidak benar "
Jawab Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Dia orang tidak mem punyai alasan untuk harus menerima aku sebagai muridnya sehingga aku pun tidak punya alasan untuk membenci dirinya apa lagi sengaja pergi ke tempat tinggalnya untuk mempamerkan kepandaian silatku !"
"Ehmm .., sekarang teruskan !"
"Semula kami pun tidak ingin pergi menemui Kay Kong Beng tetapi kemudian Wi Lian In bilang sekali pun dia orang belum pernah bertemu muka dengan jago nomor wahid di dalam Bu-lim saat ini dan terus menerus mengajak aku untuk menyambanginya, akhirnya aku membawanya juga pergi ke atas puncak, siapa tahu sewaktu hendak tiba di depan gua tempat Kay Kong Beng itulah mendadak kita menemukan Hong Mong Ling sedang berlutut di depan gua itu ..."
Dengan amat tenangnya majikan patung emas mendengarkam semua kisahnya, menanti setelah didengarnya Hong Mong Ling telah dibinasakan oleh seorang dengan menggunakan sambitan batu sewaktu dia orang mau memberi tahu nama dari orang yang sudah melakukan jual beli dengan Hu Pocu segera diselanya .
"Sudah tentu orang itu adalah orang yang telah melakukan jual beli dengan Huang Puh Kiam Pek ?"
"Sedikit pun tidak salah, dia membinasakan Hong Mong Ling agar dia menutup mulut untuk selama-lamanya."
"Lantas kau berhasil menemukan orang ini?"
Tanya majikan patung emas lagi.
"Tidak"
Gerak geriknya sangat cepat sekali, waktu aku bersama-sama dengan nona Wi melakukan pemeriksaan di sekeliling tempat itu ternyata sama sekali tidak menemukan sedikit pun jejak yang mencurigakan, akhirnya kita teringat kembali kalau di dalam Bu-lim saat ini orang yang bisa membayar uang sebesar satu laksa tahil perak kecuali si anying langit rase bumi cuma ada Sian Thay-ha atau si pembesar kota Cuo It Sian saja karenanya kami mengambil keputusan untuk pergi mencari Cuo It Sian .."
Dia segera menceritaikan seluruh kisahnya dengan amat jelas sekali, tidak selang lama kemudian seluruh kejadian yang dialaminya sudah selesai diceritakan.
"Jika demikian adanya Cuo It Sian itu ini memang merupakan seorang yang sangat mencurigakan sekali"
Ujar majikan patung emas kemudian.
"Ya atau tidak aku tidak berani bicara sembarangan,"
"Seharusnya Wi Ci To mengetahui akan hal ini."
"Aku pun berpikir demikian !"
"Wi Ci To bilang dia orang tidak tahu barang apa yang diminta oleh manusia berkerudung hitam itu, menurut aku tentunya merupakan omong kosong belaka !"
Ujar majikan patung emas lagi dengan perlahan.
"Aku pikir tentunya kau tahu bukan barang apa yang diminta oleh manusia berkerudung hitam itu ?"
"Aku tidak tahu!"
"Tentunya aku pun berbicara tidak sesungguhnya!"
Sambung Ti Then segera.
"Aku bukannya manusia berkerudung hitam itu bagaimana aku orang bisa tahu barang apa yang diminta dirinya?"
"Aku percaya kau orang tentunya merupakan orang-orang dari satu golongan, barang yang diminta pun tentu sama!"
"Haaa..haaa....bagaimana kalau kita bertaruhan?"
Ujar majikan patung emas sambil tertawa.
"Taruhan apa?"
"Bilamana dikemudian hari kau tahu kalau barang yang diminta manusia berkerudung itu sama dengan barang yang aku minta kau boleh tidak usah menjadi patung emasku lagi, sebaliknya jikalau barang yang aku minta sama sekali berbeda bagaimana kalau kau orang jadi patung emasku lagi untuk selama satu tahun"
Ti The a segera merasakan hatinya bergidik.
"Tidak mau....tidak mau... ."
Serunya dengan gugup.
"Kau sudah takut?"
Ejek majikan patung emas sambil tertawa.
"Benar!"
Sahut Ti Then sambi! memperlihatkan tertawanya yang amat pahit.
"Aku yang jadi patung emas sudah merasakan sangat menderita sekali, jikalau harus jadi patung emas selama satu tahun lagi bukankah nyawaku pun akan ikut Ienyap?"
"Kalau begitu seharusnya kau orang mau percaya kalau tujuanku sama sekali berbeda dengan tujuan dari manusia berkerudung hitam itu!"
"Aku percaya ....... aku percaya !"
Sahut Ti Then berulang kali.
"Ehmm ...... bagaimana hubunganmu dengan Wi Lian In ?"
Tanya majikan patung emas lagi.
"Seperti keadaan semula, tidak baik juga tidak jelek."
Mendengar perkataan itu majikan patung emas menjadi amat gusar.
"Hal ini berarti juga kau orang belum mengeluarkan kepandaianmu terhadap dirinya, bukan begitu ?"
Bentaknya dengan keras.
"Coba kau pikirlah lebih teliti, kejadian yang sudah aku alami selama satu bulan ini, kami benar-benar tidak mem punyai kesempatan untuk berCintaan dan bermesra-mesraan !"
"Aku tidak percaya !"
Seru majikan patung emas.
"Jikalau diantara kalian yang satu punya rasa Cinta sedang yang lain tidak punya maksud berbuat begitu sekali pun kalian dijebloskan ke dalam neraka tingkat kedelapan belas juga sama sekali tidak punya selera untuk berkasih-kasihan."
"Aku nasehatkan kau lebih baik jangan keburu-buru, urusan semacam ini tidak bisa dipaksa!"
"Aku pun menasehatkan padamu"
Seru majikan patung emas sambil tertawa dingin."
Jikalau kau ingin cepat-cepat bebaskan diri dari belenggu, cepat-cepat memperistri dirinya !"
"Jikalau Wi Ci To mem punyai maksud untuk mengawinkan putrinya kepadaku kemungkinan sekali sudah hampir"
"Dia orang pernah memberi tanda kepadamu?"
"Belum"
Sahut Ti-Then sambil gelengkan kepalanya.
"Sekarang dia orang sedang merasa risau karena ketiga orang anak buahnya terjatuh ke tangan manusia berkerudung hitam itu, mana dia orang punya selera untuk mengurusi urusan ini?"
"Kalau memangnya begitu apa yang kau artikan dengan "Mungkin sudah hampir itu"? kau berdasarkan apa berani berkata demikian ?"
"Aku sedang berpikir jikalau aku bisa menolong Ih, Kha serta Pauw tiga orang lolos dari 'belenggu manusia berkerudung hitam itu kemungkinan sekali dia bisa mengawinkan putrinya kepadaku"
"Tidak salah !"
Sahut majikan patung emas itu membenarkan.
"Hal ini membutuhkan berapa waktu lamanya?"
"Soal ini tidak bisa diketahui dengan pasti sskarang kami sedang menunggu berita dari manusia berkerudung hitam itu, menanti selelah ada berita darinya aku segera akan melakukan sesuatu gerakan, uma saja....."
"Cuma saja apa?"
"Aku takut dia orang tidak memperkenankan aku ikut campur di dalam urusan ini"
"Yang kau maksudkan Wi Ci To ?"?"
Tanya majikan patung emas.
"Benar!"
Jawab Ti Then sambil mengangguk.
"Dia tidak mau memberitahukan barang apa yang diminta oleh manusia berkerudung hitam itu kemungkinan sekali dia pun tidak memperbolehkan aku untuk membantu dia orang pergi menolong orang karena jikalau aku ikut di dalam gerakannya maka akhirnya kemungkinan juga aku pun bisa ikut mengetahui "rahasia"
Nya !"
"Tetapi dia pun tidak mungkin membiarkan ketiga orang anak buahnya kehilangan nyawa bukan?"
"Sudah tentu, tetapi dia bisa pergi seorang diri untuk menyelesaikan urusan ini dengan manusia berkerudung hitam itu."
"Aku kira tidak mungkin, kecuali dia rela menyerahkah barang yang diminta pihak lawan kalau tidak dia pasti akan membawa pembantu di dalam menyelesaikan urusan ini"
"Jikalau dia membutuhkan tenaga bantuanku sudah tentu aku akan membantunya dengan hati rela dan menolong kembal Ih, Kha serta Pauw tiga orang, saat itu bilamana dia mem punyai maksud untuk mengawinkan putrinya kepadaku kemungkinan sekali segera akan mengutarakannya keluar."
"Baiklah., aku menunggu beritamu !"
Akhirnya seru majikan patung emas itu dengan perlahan.
"Kalau aku sudah ada janyi sebelumnya dengan dirimu sudah tentu aku bisa melakukannya dengan sepenuh hati, tetapi aku tidak berani memastikan aku pasti bisa memenuhi harapanmu, tidak perduli bagaimana pun juga perkawinan adalah, merupakan satu soal yang maha besar, hal ini kau seharusnya mengerti jelas terlebih dahulu."
Sebenarnya majikan patung emas sudah menarik patung emasnya naik ke atas untuk berlalu dari sana, mendengar perkataan itu mendadak dia berhenti sehingga membiarkan patung emasnya bergantungan ditengah udara.
"Apa arti dari perkataanmu itu ?"
Tanynya.
"Aku bilang belum tentu aku berhasil mencapai apa yang diharapkan."
"Kecuali kau sengaja mengacau jalannya rencanaku ini kalau tidak pasti akan berhasil"
Ujar majikan patung emas sambil tertawa dingin.
"Karena Wi Lian In sudah menaruh rasa Cinta kepadamu !. Kalian berdua sudah sama-sama jatuh Cinta dan sama-sama senang pada yang lainnya!"
"Tetapi masih ada searang Wi Ci To"
Sambung Ti Then dengan amat cepat.
"Jikalau dia orang tidak mem punyai maksud untuk mengawinkau putrinya kepadaku, sekali pun Wi Lian In menaruh Cinta kepadaku secara bagaimana pun juga tidak berguna."
Majikan patung emas termenung berpikir sebentar, lalu dengan suara yang amat ketus dan dingin teriaknya .
"Apakah kau orang sudah menceritakan hubungan diantara kita kepada Wi Ci To secara diam-diam ?"
"Tidak...!"
"Kalau begitu"
Sambung majikan patung emas lagi.
"Dengan watak serta kepandaian silatmu ditambah pula dengan jasa yang kau peroleh buat benteng Pek Kiam Po, Wi Ci To pasti akan menerima dirimu sebagai menantunya!"
Ti Then termenung tidak menyawab lagi.
"Tapi menurut aku"
Sambung majikan patung emas lagi.
"Tidak perduli kau berhasil bantu dia untuk menolong Ih, Kha serta Pauw bertiga atau tidak, setelah urusan ini beres semua dia pasti akan mengawinkan putrinya kepadamu, kalau tidak......kalau tidak hal ini berarti kau pernah secara diam-diam memberitahukan kepada Wi Ci To kalau kau orang sama sekali tidak punya maksud untuk mengawini putrinya, sampai waktu itu aku tidak berlaku sungkan-sungkan lagi terhadap dirimu!"
Ti Then tetap bungkam diri tidak berbicara. Dengan perlahan majikan patung emas menarik kembali patung emasnya ke atas sambil ujarnya kembali .
"Pokoknya kau orang boleh berlega hati, kau tidak usah takut kalau lain kali aku menyuruh kau mencelakai Wi Ci To, Wi Lian In atau anak buahnya, sekali lagi aku terangkan tujuanku sama sekali tidak ada jeleknya terhadap semua orang yang ada di dalam Benteng Pek Kiam Po ini"
"Tidak ada jeleknya apakah mungkin ada baiknya ?"
Waktu itu majikan patung emas sudah menarik kembali patung emasnya, ketika mendengar perkataan tersebut dia lantas menyawab .
"Boleh dikata sangat menguntungkan dirimu, karena Wi Ci To yang punya menantu seperti kau boleh dikata sangat menguntungkan dirinya."
"Kalau begitu apakah tujuanmu baru berhasil setelah aku berhasil memperistri diri Wi Lian In ?"
"Bukan, tujuanku adalah . , .. baiklah ! Aku bisa beri sedikit keterangan buat dirimu. Cuanku pun sama dengan tujuan dari manusia berkerudung hitam itu yaitu ingin mendapatkan semacam barang yang tidak berharga dari Wi Ci To, Cuma saja barang yang aku minta sama sekali berbeda dengan barang yang diinginkan oleh manusia berkerudung hitam itu !"
"Kalau memangnya sama sekali tidak berharga buat apa kau orang berusaha begitu keras dengan bersusah payah hendak mendapatkanaja ?"
"Karena dia sangat penting buat diriku"
Sahut majikan patung emas itu dengan tegas.
"Kita ambil contoh saja bilamana aku sedang membangun satu rumah tetapi kekurangan sebuah batu bata sebaliknya di daiam Benteng Wi Ci To mem punyai kelebihan batu bata maka itu aku ingin mendapatkan batu bata milik Wi Ci To ini terhadap dirinya boleh dikata sama sekali tidak menemui kerugian apa pun sebaliknya jika dibicarakan buat aku orang dengan barang itu maka rumahku akan segera jadi.... sudahlah, untuk malam ini sampai sekian saja, kau pergilah tidur!"
Dia mengulur keluar tangannya yang samar-samar untuk menutup atap kamar lantas bagaikan bertiupnya angin sudah berlalu dari sana tanpa mengeluarkan sedlkit suara pun.
Dengan termangu-mangu Ti Then memandang ke atas jendela, penjelasan dari majikan patung emas ini bukan saja tidak membuat dia menjadi jelas atas beberapa persoalan yang membingungkan hatinya bahkan semakin membingungkan lagi, sudah tentu dia paham apa yang diminta oleh majikan patung emas itu bukanlah sebuah batu bata seperti perkataannya tadi, perkataan biar pun ini tidak lain Cuma perumpamaan saja, tetapi di dalam hati dia berpikir.
"Kalau memangnya barang yang diminta oleh majikan patung emas itu sama sekali tidak ternilai sehingga menyerupai sebuah batu bata apa lagi merupakan barang 'Sisa"' dari Wi Ci To, kenapa dia orang tidak mau memintanya dari Wi Ci To secara berterus terang ? Sebaliknya menggunakan berbagai macam tindakan untuk bersusah-payah memperolehnya ?"
Karena itulah dia menanggap perkataan dari si majikan patung emas itu sama sekali tidak benar!
Dengan bersusah-payah dia memeras seluruh otaknya untuk memecahkan persoalan ini, sampai terang tanah dia tidak bisa memejamkan matanya kembali.
Pagi Itu setelah dia orang selesai sarapan pagi dengan Wi Ci To serta Cuo It Sian dikarenakan dari manusia berkerudung hitam itu masih belum ada ''Berita'"
Yang datang semua orang tidak ada pekerjaan untuk dilakukan. Cuo It Sian segera mengusulkan kepada Wi Ci To .
"Wi Pocu !"
Ujarnya.
"Dari pada menganggur bagaimana kalau kita main catur di dalam kamar bacamu ?"
"Bagus sekali !"
Sahut Wi Ci To sambil mengangguk.
"Hari itu sewaktu masih ada di rumah penginapan kita masing-masing menang satu kali, ini hari kita harus menentukan siapa yang menang siapa yang kalah !"
Demikianlah mereka berdua segera masuk ke dalam kamar baca untuk main catur. Menanti setelah mereka pergi dalam ruangan Wi Lian In buru-buru berbisik kepada Ti Then dengan suara yang amat lirih .
"Kemarin malam aku bersama-sama dengan Pek Tha suheng mengawasinya satu malam akhirnya sama sekali tidak menemukan apa pun."
"Jikalau dia adalah manusia berkerudung hitam itu maka ini hari atau malam ini tentu akan mengadakan sesuatu gerakan, kalian awasi lagi satu malam !"
Wi-Lian In segera menguap beberapa kali, ujarnya.
"Semalaman tidak tidur sungguh lelah sekali, aku mau pergi tidur dulu!"
"Benar, kau harus beristirahat dulu, nanti biarlah aku yang melakukan pengawasan."
"Jikalau kau menemukan sesuatu cepatlah datang kekamarku untuk beritahukan kepadaku."
"Tentu"
Sahut Ti Then mengangguk.
Setelah Wi Lian In pergi dia segera berjalan menuju ke kamar baca dari Wi Ci To pikirnya mau menonton jalannya permainan catur tersebut, tetapi baru saja berjalan sampai di bawah loteng penyimpan kitab itu mendadak terlihatlah Shia Pek Tha berjalan dari depan, dia segera-tertawa.
"Ti Kauw-tauw, bagaimana kalau kita mencari satu tempat untuk ngobrol ?"
Dalam hati Ti Then tahu dia mau membicarakan soal apa, segera dia mengangguk.
"Baiklah, mau kemana ?"
"Kekebun bunga saja, di sana agak tenang dan sepi"
Sesampainya di dalam kebun bunga mereka berdua segera duduk di dalam sebuah gardu bersegi enam, terdengar Shia Pek Tha membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Kemarin malam aku bersama-sama nona Wi melakukan pengintaian semalaman di depan kamar Cuo It Sian tentunya Ti Kiauw-tauw tahu bukan ?"
"Tahu!"
Jawab Ti Then sambil mengangguk.
"Semula dia minta siauw-te yang menemani tetapi siauw-te segera merasa hal itu tidak pantas karenanya aku suruh dia pergi mencari Shia-heng "
Ar muka Shia Pek Tha segera berubah menjadi sangat murung.
"Ti Kiauw-tauw!"
Ujarnya.
"Kau mengira Cuo lt Sian itu apakah ada kemungkinan adalah manusia berkerudung hitam itu ?"
"Jika dilihat dari jejak serta keadaannya memang dia orang sangat mencurigakan sekali, tetapi siauw-te tidak berani memastikan kalau dia oranglah manusia berkerudung hitam itu."
"Tapi Cuo It Sian merupakan seorang jago tua yang namanya sangat terkenal di dalam Bu-lim, bagaimana mungkin dia mau melakukan pekerjaan seperti ini?"
"Siauw-te pun berpikir demikian. , ."
"Yang dimaksudkan berbagai bukti oleh Ti Kiauw tauw tadi sebetulnya maksudkan beberapa hal ?"
"Pertama . sifat dari Hu Pocu kau, aku semuanya mengetahui jelas, jikalau orang yang melakukan jual beli bukan kawan karibnya dia tentu tidak mau menyanggupi untuk melakukan pekerjaan yang menyalahi Pocu kita, sedangkan Cuo It Sian itu adalah kawan karib dari Hu Pocu bahkan dia orang sangat kaya sekali, cuma dia orang saja yang bisa membayar sepuluh laksa tahil perak. Kedua . Tempat untuk mengurung sauw-tauw serta nona Wi di bawah gunung bawah tanah adalah di dalam rumah tani di-desa Thay Peng Cung yang merupakan milik Cuo It Sian, walau pun hai ini bisa di artikan kemungkinan sekali manusia berkerudung itu sengaja mau mencelakai diri Cuo It Sian tetapi setelah Siauw-te pikirkan masak-masak siauw-te merasa manusia berkerudung itu tidak akan mem punyai nyali untuk bersama-sama menyalahi Benteng Pek Kiam Po serta diri Cuo It Sian.
"Ketiga. Sewaktu Pocu bersama siauw-te sekalian enam orang baru saja keluar dari istana Thian Teh Kong, Cuo It Sian sudah muncul di sana bahkan tidak lama kemudian ada orang yang memanahkan surat ancaman itu, jika ditinyau dari urutan yang terjadi . secara tiba-tiba dan bersamaan itu sesungguhnya dia bertujuan untuk membersihkan kecurigaan serta nama baiknya, dengan berdasarkan tiga hal ini siauw-te segera menaruh curiga kalau Cuo it Sian itulah simanusia berkerudung hitam itu."
Dengan perlahan Shia Pek Tha mengangguk.
"Tetapi"
Ujarnya lagi memperlihatkan ragu-ragunya.
"Jikalau dikatakan Cuo it Sian adalah manusia berkerudung hitam itu lalu barang apa yang sebenarnya dia kehendaki seharusnya Pocu kita mengetahuinya dengan jelas, kenapa Pocu bilang sama sekali tidak tahu ?"
"Soal ini seharusnya Shia-heng mengetahui dengan sendirinya"
Sahut Ti Then sambil tertawa. oooOOOooo Dari sepasang mata Shia Pek Tha segera memancar keluar sinar yang berkedip-kedip, dengan wajah penuh perasaan terperanyat serunya.
"Apa mungkin Pocu kita sengaja tidak mau memberitahu ??"
Ti Then cuma tertawa saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Benar!"
Seru Shia Pek Tha sambil mengangguk.
"Di dalam loteng penyimpanan kitab dari Pocu kita ini selamanya tidak memperbolehkan orang lain untuk memasukinya aku kira di dalamnya tentu sudah di simpan semacam barang ,, .."
Ti Then tetap tersenyum tidak mengucapkan sepatah kata pun, Mendadak Shia Pek Tha angkat kepalanya memandang tajam ke atas wajahnya.
"Aku dengar katanya Pocu pernah membawa Ti Kiauw-tauw serta nona Wi memasuki loteng penyimpan kitab tersebut?"
Tanyanya dengan suara perlahan.
"Benar"
"Dapatkah Ti Kiauw-tauw menceritakan keadaan di dalam loteng penyimpan kitab itu?"
"Boleh, tetapi Pocu merasa kurang senang kalau orang lain mengetahui rahasianya, jikalau Shia-heng sudah mengetahui akan hal ini lebih baik yangan secara sembarangan memberitahukan kepada orang lain,"
"Tentang hal ini sudah tentu, harap kiauwtauw berlega hati."
Seru Shia Pek Tha dengan cepat.
"Di dalam loteng penyimpan kitab dari Wi Pocu yang penting sebenarnya tersimpan suatu kisah cinta..."
Segera dia menceritakan bagaimana pada waktu dahulu Wi Ci To sudah kawin dengan seorang perempuan yang bernama "Su Sia Mey"
Yang bermain bersama-sama sejak kecil lalu bagaimana meninggalkan rumah mencari guru silat kenamaan karena rindu Su Sin May jatuh sakit dan meninggal dunia sehingga hal ini membuat hatinya terasa amat sedih sekali, karena rindunya lantas dia membuat sebuah lukisan dari wajah Su Sin May dan disembunyikan di dalam loteng penyimpan kitab itu ..Sudah tentu cerita dari Wi Ci To ini adalah sebuah cerita bohong sesuai dengan pemberitahuan dari majikan patung emas itu tetapi saat Ini dia terpaksa harus menceritakan "Cerita bohong"
Ini kepada Shia Pek Tha. Setelah selesai mendengar kisah itu dengan perasaan amat terperanyat Shia Pek Tha berseru .
"Tidak kusangka sama sekali Wi Pocu bisa mem punyai suatu kisah cinta yang mengharukan, tetapi barang yang dikehendaki oleh manusia berkerudung hitam itu tentunya bukan lukisan dari Su Sin May itu-bukan?"
"Menurut dugaan siauw-te pasti bukan''sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Karena kisah cinta itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain"
"Kalau begitu ..."
Seru Shia Pek Tha Sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Kemungkinan sekali Pocu kita masih mem punyai rahasia lain yang belum diutarakan keluar"
"Pocu kita adalah ssorang jagoan Bu lim yang sangat mengagumkan dan patut kita hormati, maksudnya siauw-te kira tidak seharusuja kita orang pergi menyelidiki rahasianya."
"Sudah tentu, sudah tentu"
Sahut Shia Pek Tha sambil mengangguk.
"Tetapi yang membuat aku orang merasa sangat heran sekali adalah . Baik dia orang tua mau pun lelaki berkerudung hitam itu kenapa tidak ada yang mau menyebutkan nama mau pun macam dari barang tersebut ?"
"Soal ini siauw-te sendiri pun tidak jelas"
Dengan perlahan Shia Pek Tha angkat kepalanya memperhatikan wajahnya, lantas tanyanya dengan perlahan.
"Ti Kiauw-tauw! Kau rasa dapatkah Pocu kita menyerahkan barang yang diminta oleh manusia berkerudung hitam itu untuk ditukar dengan nyawa Ih, Kha serta Pauw tiga orang ?"
"Siauw-te tidak tahu."
"Aku rasa dia orang tidak mungkin dapat duduk tidak bergerak melihat Ih, Kha serta Pauw tiga orang dibunuh orang lain"
Ujar Shia Pek Tha lagi sambil menghela napas panjang.
"Sebelum manusia berkerudung hitam itu datang kemari untuk mengirim berita mengenai waktu serta tempat untuk saling tukar barang lebih baik untuk sementara waktu kita anggap saja menusia berkerudung hitam itu adalah Cuo It Sian, secara diam-diam kita meneruskan pengawasannya terhadap semua gerak gerik dia orang. Bagaimana pendapat dari Shia-heng ?"
"Sampai saat ini terpaksa kita harus berbuat demikian"
Sahut Shia Pek Tha sambil mengangguk. Sampai di situ Ti Then segera bangkit berdiri.
"Sekarang mereka sedang bermain catur di dalam kamar baca, siauw-te pikir mau pergi ke sana untuk melihat-lihat. Lain hari kita berbicara lagi!"
Serunya kemudian.
Mereka berdua segera berjalan keluar dari kebun bunga.
Shia Pek Tha melanjutkan perjalanannya menuju kehalaman luar sedangkan Ti Then berjalan menuju ke pintu luar dari kamar baca Wi Ci To, melihat pintu tersebut tertutup rapat dia orang lantas maju ke depan untuk mengetuk pintu.
"Siapa?"
Terdengar suara dari Wi Ci To berkumandang keluar dari dalam kamar baca.
"Boanpwe !' "Oooo . -silahkan masuk"
Ti Then segera mendorong pintu dan berjalan masuk ke dalam, terlihatlah Wi Ci To serta Cuo It Sian ternyata benar-benar sedang saling berhadap-hadapan main catur, cepat-cepat dia rangkap tangannya menjura.
"Boanpwe dengan besar nyali datang menonton jalannya permainan catur ini tentunya tidak mengganggu kalian berdua bukan ?"
"Tidak...tidak"
Sahut Wi Ci To cepat sambil tertawa.
Ti Then lantas mengambil sebuah bangku dan duduk di samping mereka, terlihatlah di atas papan catur kelihatan tinggal beberapa biji catur saja, tak tertahan lagi tanyanya.
"Sudah main satu babak ?"
"Belum, baru babak pertama."
"Ouww ... sungguh perlahan . sekali "
Ujar Ti Then sambil tertawa.
"Kenapa tidak?"
Timbrung Cuo It Sian itu si pembesar kota sambil tertawa pula.
"Biasanya Pocu kalian selalu bermain gesit dan cepat siapa sangka permainan babak ini ternyata sangat lambat sekali"
"Penjagaan dari Cuo-heng semakin lama semakin dahsyat dan semakin membingungkan aku orang she Wi jikalau tidak ingin babak ini menemui kekalahan sudah seharusnya bermain dengan sangat berhati-hati sekali."
Mendengar perkataan dari Wi Ci To ini Cuo It Sian segera tertawa terbahak-bahak.
"Lebih baik Pocu cepat mengambil keputusan, jikalau berpikir terlalu lama sering sekali permainan ini akan menjadi permainan catur yang busuk"
Lama sekali Wi Ci To memperhatikan papan catur serta biji caturnya, setelah termenung berpikir beberapa saat lamanya dia baru meletakkan satu biji caturnya ke atas papan catur kemudian dia menoleh ke arah Ti Then.
"Tadi Lohu mengalah dua biji catur kepadanya, kelihatannya memang benar-benar sangat berat sekali. ."
Ujarnya sambil tertawa. Ti Then cuma tersenyum-senyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sekali lagi Wi Ci To tertawa.
"Sewaktu bermain catur di dalani rumah penginapan itu kita masing-masing menang satu kali, permainan kali ini merupakan permainan untuk menemukan siapa yang bakal menang siapa yang bakal kalah karenanya lohu harus mamenangkannya "
Mendadak Cuo It Sian memajukan satu biji caturnya ke depan, dia tenawa tergelak dengan amat kerasnya.
"Sekarang adalah Lohu yang menguasai kalangan, jika ingin menang seharusnya mengeluarkan satu jurus jalan aneh!"
Ujarnya keras.
"Ehmmm...memang harus dicarikan sebuah jalan yang aneh sekali."
"Kalau begitu bunuh saja "
Timbrung Ti Then tiba-tiba. Air muka Wi Ci To berubah menjadi amat keren sekali.
"Tidak, waktunya belum tiba"
Serunya perlahan.
"Sekarang terpaksa kita harus mengikuti permainannya dengan jalan saling buntut membuntuti, menanti ada kesempatan yang baik kita baru kasih satu serangan total yang membuat dia orang gelagapan tidak karuan."
Sembari berkata dia memajukan biji caturnya kembali. Cuo It Sian segera mengambil satu biji caturnya ditaruhkan ke atas papan, ujarnya sambil tersenyum-senyum mengejek.
"Jikalau Pocu ingin bermain uber-uberan dengan Lolap terpaksa Lolap harus melakonkan suatu pertempuran cepat-cepatan dengan diri Pocu !"
"Coba kau lihat!"
Seru Wi Ci To kemudian sambil menoleh kearah diri Ti Then.
'"Dia orang meminyam kesempatan sewaktu aku mengalah berulang kali kepadanya dia mau menggunakan permainan paksaan, sungguh menjengkelkan sekali!"
Ti Then yang selama ini mendengarkan pembicaraan mereka segera merasakan kalau ucapan mereka tidak mengenai permainan catur saja melainkan menyangkut suatu kata-kata rahasia yang menyangkut suatu peristiwa besar, tidak terasa lagi hatinya berdebar-debar dengan amat kerasnya, dalam hati pikirnya.
"Apa mungkin si pembesar kota ini benar-benar adalah manusia berkerudung hitam itu ? Tetapi jika dilihat dari sikapnya yang amat tenang sekali laksana batu karang kemungkinan sekali memang betul dia orang adanya. Hmm! sungguh besar ju ga nyalinya dia orang ternyata berani saling berhadap-hadapan dengan Pek Kiam Pocu Wi Ci To yang namanya sudah meggetarkan sungai telaga"
Berpikir sampai di sini tidak terasa dia melirik sakejap kearah diri Cuo It Sian.
"Bagaimana? apakah kau juga minta lolap bertindak terlalu ganas, terlalu kejam?"
Ujar Cuo It Sian sambil tertawa sewaktu melihat dia orang melirik kearah dirinya.
"Tidak berani !"
Ujar Ti Then dengan cepat. ' Dalam hati boanpwae sedang berpikir . jikalau Pocu tidak mengalah aku kira kau orang tua tidak bisa bermain dengan demikian enaknya."
Cuo It Sian segera tertawa terbahak-bahak.
"Sudah tentu...sudah tentu ! permainan catur dari Pocu kalian jadi lebih tinggi dari kepandaian Loiap, jikalau dia orang tidak mau mengalah bagaimana Lolap berani diam-diam dengan dia orang!"
Ti Then cuma tertawa saja tidak memberikan jawabannya, sekali lagi dia orang berpikir.
"Benar jikalau perkataan ini dimaksudkan dia orang sudah menguasai Ih, Kha serta Pauw tiga orang, Wi Ci To memang benar-benar tidak leluasa untuk turun tangan"
Terdengar Cuo It Sian sudah melanjutkan lagi kata-katanya .
"Permainan ini mirip sekali dengan tindakan yang dipakai oleh manusia berkerudung hitam itu, kepandandaian silatnya tidak bisa memadahi kepandaian silat dari Pocu kalian sehingga dia harus berusaha menggunakan akan menawan Ih, Kha serta Pauw tiga orang terlebih dulu kemudian baru memaksa Pocu kalian. Lolap percaya beritanya sudah hamper tiba di sini !"
"Perumpamaan ini memang paling sesuai !"
Ujar Wi Ci To sambil tertawa keras.
"Benar !"
Sambung Ti Then sambil tertawa juga.
"Cuo Locianpwe berbicara demikian seperti juga kau adalah manusia berkerudung hitam itu "
"Bilamana Lolap adalah manusia berkerudung hitam itu maka urusan bisa kita selesaikan dengan mudah"
Ujar Cuo It Sian tiba-tiba sambil tertawa.
"Bagaimana perkataanmu ini bisa kau ucapkan?"
Tanya Ti Then keheranan "Kalian boleh turun tangan menawan Lolap lalu memaksa Lolap untuk melepaskan orang yang sudah ditawan."
"Perkataan itu ini sedikitpun tidak salah cuma sayang Locianpwe bukanlah manusia berkerudung hitam itu"
Walaupun pada mulutnya ia berbicara demikian padahal di dalam hati diam-diam pikirnya.
"Benar! sedikit pun tidak salah! jikalau dia benar-benar adalah manusia berkerudung itu kenapa Wi Ci To tidak mau melakukan hal ini? Kini Wi Ci To tidak mau berbuat demikian berarti juga kalau dia bukanlah manusia berkerudung hitam itu, ataukah dia mem punyai kesulitan sehingga tidak bisa turun tangan membuat dia ragu-ragu dan takut untuk turun tangan?"
Di tengah tertawa serta ngobrolan yang ramai kedua orang tua itu melanjutkan permainan catur mereka, Wi Ci To tetap bermain dengan amat lambat sekali, entah dia betul-betul sedang berpikir keras atau sengaja mengulur waktu?
Sampai siang hari sudah lewat permainan catur babak pertama baru selesai, dan hasilnya adalah seri.
Wi Ci To segera tertawa terbahak-bahak .
"Haaaaa, . .. .haaaaa. .. .haaa . , . seri memang paling bagus ! damai jauh lebih baik"
"Tetapi lolap tidak ingin damai atau seri, nanti sore sekali lagi kita adu kepandaian!"
Seru Cuo It Sian sambil tertawa.
Sorenya mereka kembali melanjutkan kembali permainan catur mereka di dalam kamar baca, Ti Then pun tetap menonton jalannya pertandingan itu dari samping.
Permainan catur kali ini Wi Ci To main semakin lambat lagi, menanti setelah hari menunjukkan tengah malam permainan tersebut baru sampai di tengah jalan agaknya perhatian Wi Ci To tidak terletak pada permainan catur tersebut, dengan tak hentinya dia bergumam terus .
"Aneh, kenapa masih belum datang juga?"
"Kemungkinan sekali mereka sedang mengadakan persiapan, setelah persiapan mereka selesai sudah tentu akan datang ber tanya."
Sahut Cuo It Sian tetap tenang.
"Mari kita pergi bersantap dulu !"
Ujat Wi Ci To kemudian sambil bangkit berdiri.
"Tetapi permainan catur kita belum selesai !"
Jawab Cuo It Sian sambil memandang kearah papan catur tersebut.
"Kita lanjutkan sesudah bersantap,"
Mereka bertiga segera pergi menuju ke ruangan makan, mendadak tanya Wi Ci To.
"Ti Kiauw-tauw, selama satu harian ini kenapa In-ji tidak ada? Dia pergi kemana?"
Baru saja ucapannya selesai terdengarlah suara dari Wi Lian In berkumandang datang dari tempat luaran.
"Tia ! aku sudah datang !"
Teriaknya. Disusul dengan munculnya seorang gadis ke dalam ruangan makan tersebut.
"In-ji, hari ini kau pergi kemana ?"
Tanya Wi Ci To.
"Aku tidak pergi kemana pun, seharian ini aku beristirahat di dalam kamar"
"Kau sudah tidur satu harian penuh ?"
"Benar"
Sahut Wi Lian In dengan malu-malu.
"Pada waktu-waktu yang lalu aku tidak pernah tidur dengan nyenyak, karenanya ini hari aku tidur sepuas mungkin."
"Haaaoayaaa .... kau budak semakin lama semakin malas ..."
Berbicara sampai di situ dia segera mempersilahkan Cuo it Sian untuk ambil duduk. Sewaktu mereka berempat sedang bersantap mendadak terdengar Wi Lian In membuka mulut bertanya.
"Tia, apakah sudah ada berita dari manusia berkerudung hitam itu ?"
"Belum !"
Jawab Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Entah di dalam cupu cu punya dia orang sedang menjual obat apa!"
"Sungguh aneh sekali !"
Ujar Wi Lian In keheranan.
"Dia meminta kita orang kembali ke benteng untuk menunggu beritanya, kini kita sudah dua hari kembali ke dalam Banteng tetapi belum juga mendapat berita dari dirinya, , ."
"Kecuali dia orang sudah tidak menginginkan barang dari Wi Pocu, kalau tidak cepat atau lambat dia pasti akan kirim berita buat kita"
Sahut Cuo It Sian dengan cepat. Dengan perlahan Wi Lian In menoleh ke arah Ayahnya, lantas tanyanya.
"Apakah Tia rela menyerahkan barang itu untuk menolong Ih, Kha serta Pauw tiga orang ?" ''Sampai saat ini lohu masih belum mengambil keputusan"
Jawab Wi Ci To setelah termenung berpikir sebentar.
"Karena lohu masih tidak tahu barang apa yang dia orang minta"
Wi Lian ln tidak bertanya lagi, dengan berdiam diri dia melanjutkan santapannya.
"Ti Kiauw-tauw, nanti lohu minta tolong kau orang mau memeriksa keadaan di sekeliling tempat ini, serangan terang-terangan bisa dicegah, serangan bokongan sukar diduga, kita harus berhati-hati menghadapi mereka."
"Baiklah"
"Ayoh jalan !"
Ujarnya kemudian kepada Cuo It Sian."
Kita melanjutkan permainan catur yang belum selesai tadi !"
Setelah kedua orang itu meninggalkan ruangan makan Wi Lian In segera bertanya kepada Ti Then dengan suara yang amat lirih .
"Apa kau orang sudah menemukan sesuatu yang mencurigakan ?"
"Tidak."
"Kalau begitu kemungkinan sekali dia bukanlah manusia berkerudung hitam itu?"
"Kita tidak bisa berkata begitu, aku kira lebih baik kita meneruskan pengawasan kita secara diam-diam !"
"Selama seharian ini apakah dia orang terus menerus bermain catur dengan Tia di dalam kamar baca ?"
Tanya Wi Lian In lagi.
"Benar "
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Aku masih ingat perkataanmu tempo hari, bukankah permainan ayahmu amat cepat sekali ?"
"Tidak salah, permainan catur ayahku itu memang amat cepat, selamanya dia orang paling merasa tidak sabaran untuk berpikir keras."
"Tetapi permainannya hari ini dengan Cuo It Sian ternyata sama sekali berbeda dengan keadaan biasanya, permainannya kali ini sangat lambat sekali."
"Kemungkinan sekali Tia terlalu kuatir atas keselamatan dari Ih, Kha serta Pauw tiga orang sehingga sama sekali tidak mem punyai minat untuk bermain catur ?"
"Jikalau dia orang tidak mem punyai minat untuk bermain catur seharusnya bermain lebih cepat lagi"
Sela Ti Then perlahan.
"Kalau tidak, lalu apa artinya ?"
Tanya Wi Lian In keheranan.
"Aku merasa agaknya di dalam benak ayahmu sedang memikirkan sesuatu urusan untuk cepat-cepat mengambil keputusan, dia orang bukannya sungguh-sungguh sedang bermain catur melainkan sedang memikirkan satu urusan yang lebih penting,"
"Perkataanku tadi kan tidak salah, pasti sedang memikirkan cara-cara untuk menolong Ih, Kha serta Pauw tiga orang dari belenggu manusia berkerudung hitam tersebut"
"Kini berita dari manusia berkerudung belum tiba, apanya yang bisa dipikirkan?"
Ujar Ti Then sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Makanya aku pikir tentunya ayahmu bukan sedang memikirkan persoalan untuk menolong Ih, Kha serta Pauw tiga orang, melainkan sedang berpikir perlukah dia orang pergi menolong Ih, Kha serta Pauw tiga orang atau tidak,"
"Tentunya urusan ini ayahmu tentu akan menceritakan suatu cara untuk menolong mereka !"
"Belum tentu"
Ujar Ti Then sambil tertawa.
"Di dalam pikiran kita nyawa Ih, serta Pauw tiga orang sangat penting sekali tetapi kemungkinan juga barang dari ayahmu itu jauh lebih penting dari nyawa Ih, Kha serta Pauw tiga orang!"
Wi Lian In termenung tidak berbicara.
"Sekarang kau pergilah ke kamar baca untuk melihat mereka bermain catur sedang aku mau periksa sebentar sekeliling tempat ini."
Selesai berkata dia berjalan keluar dari ruangan makan itu.
Dia melalui pintu Benteng berjalan keluar lantai dengan mengikuti tembok benteng melakukan perondaan disekeliling tempat itu.
Setelah semuanya diperiksa dengan amat teliti dia baru kembali ke dalam Benteng dengan mengambil jalan dari pintu Benteng yang semula.
Baru saja dia orang memasuki benteng, mendadak tampak Wi Lian In berlari mendatang, tak terasa lagi dengan perasaan heran tanyanya .
"Eeeeei ... kenapa kau pun ikut keluar?"
"Tia tidak memperbolehkan aku ikut menonton"
Seru Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.
"Kenapa?"
Tanya Ti Then keheranan.
"Dia meminta aku pergi memeriksa di sekeliling tempat ini untuk berjaga-jaga jangan sampai ada musuh yang menyusup ke dalam Benteng .... coba kau piker kita memangnya sedang menanti kedatangan dari pihak musuh kenapa sekarang diharuskan berjaga-jaga jangan sampai ada musuh yang menyusup kembali ?"
"Benar"
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Apalagi semua pendekar pedang kita sudah bersiap siaga di dalam Benteng, sebetulnya tidak perlu ditambah kau seorang lagi...apakah mungkin hal ini dikarenakan pelbagai sebab lantas ayahmu sengaja menyuruh kau orang keluar?"
"Aku pun berpikir demikian !"
Ti Then termenung berpikir sebentar, mendadak teriaknya.
"Aaaaah...mungkin...mungkin..biar aku pergi lihat !"
Sehabis berkata dengan langkah yang amat cepatnya dia berlari masuk ke dalam Benteng.
Di dalam sekejap saja dia sudah tiba di depan kamar baca itu, tampak keadaan di dalam kamar itu terang benderang agaknya masih ada penghuninya di dalam kamar itu, segera dia orang maju ke depan untuk mengetuk pintu.
Tetapi sekali pun dia sudah mengetuk pintu berulang kali dari kamar itu tetap tidak terdengar suara dari Wi Ci To yang sedang bertanya.
Dalam hati diam-diam dia terasa tergetar amat keras, dengan cepat teriaknya.
"Pocu! Pocu ! Bolehkah boanpwe masuk ke dalam?"
Suasana di dalam kamar itu tetap sunyi senyap tidak terdengar sedikit suara pun.
Dia segera tahu urusan tentunya terjadi suatu perubahan, dengan cepat tangannya mendorong pintu tersebut dan masuk ke dalam.
Terlihatlah di tengah kamar baca itu masih tergeletak papan catur serta biji caturnya, sebaliknya bayangan dari Wi Ci To mau pun Cuo It Sian sudah tidak nampak lagi.
"Iiih...mereka pergi kemana?"
Dengan cepat dia berlari masuk ke dalam kamar dan melakukan pemeriksaan dengan teliti, terlihatlah keadaan di dalam kamar baca itu sama sekali tidak tampak kacau balau, dalam hati dia merasa semakin terperanyat lagi.
Dengan kecepatan dia balik badan berlari keluar dari kamar baca dan bertanya kepada dua orang pendekar pedang hitam yang sedang berjaga di depan loteng penyimpan kitab itu.
"Apakah kalian melihat Poca beserta Cuo Locianpwe meninggalkan kamar baca itu ?"
"Tidak !"
Sahut kedua orang pendekar pedang hitam itu bersama-sama.
"Sejak Pocu serta Cuo Locianpwe masuk ke dalam kamar sampai kini mereka belum pernah keluar."
Ti Then segera menduga kemungkinan sekali Wi Ci To serta Cuo It Sian sudah keluar melalui jendela di belakang kamar baca itu, dengan cepat tubuhnya meloncat kembali ke dalam kamar baca tersebut.
Terlihatlah di dalam kamar baca itu semuanya ada dua buah jendela sedang kedua buah jendela itu sampai kini masih tertutup rapat-rapat, dia segera maju ke depan untuk mendorongnya tetapi walau pun sudah didorong dengan sekuat tenaga tetap tidak terbuka juga membuat hatinya bertambah cemas lagi.
Pikirnya.
"Sungguh aueh sekali, jikalau mereka keluar melalui jendela itu sudah seharusnya jendela ini tidak dapat ditutup kembali dari dalam kamar, sedangkan kedua orang pendekar pedang hitam yang menyaga di depan Loteng penyimpan kitab itu pun bilang tidak melihat mereka berdua keluar dari dalam kamar lalu apakah mereka sudah berhasil meyakinkan ilmu meienyapkan diri ? Ehemmm...benar! tentunya mereka keluar dari atap rumah, biar aku naik ke atas untuk memeriksanya !"
Berpikir sampai di situ tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas atap rumah, terlihatlah atap-atap rumah itu sama sekali tidak terlihat adanya tanda-tanda yang pernah dibuka orang, jelas sekali Wi Ci To serta Cuo It Sian tidak mungkin keluar dengan melalui tempat tersebut.
Jalan keluar dari kamar baca itu kecuali pintu kamar cuma ada dua jendela atau atap rumah, sekarang atap itu pun kelihatan tidak mungkin bisa dilalui sedangkan mereka berdua pun tidak keluar melalui pintu kamar, lalu bagaimana mereka bisa lenyap ?
Bagaimana dua orang manusia hidup bisa lenyap secara tiba-tiba dari dalam kamar tersebut ?
Apa mungkin mereka sudah berhasil meyakinkan ilmu untuk melenyap diri ?
Tidak !
tidak mungkin terjadi urusan ini !
Dia orang segera merasakan urusan ini amat gawat sekali, dengan cepat tubuhnya meloncat turun ke bawah kemudian berteriak dengan kerasnya kearah kedua orang pendekar pedang hitam, yang berjaga di luar loteng penyimpan kitab itu.
"Cepat panggil nona serta pendekar merah untuk berkumpul di sini, Pocu seru Cuo Locianpwe sudah lenyap"
Kedua orang pendekar pedang hitam itu tetap berdiri tegak, dari wajahnya jelas memperlihatkan sikap yang serba salah.
"Lapor kepada Ti-Kiauw-tauw !"
Ujar mereka berdua secara berbareng.
"Sebelum cayhe memperoleh perintah dari Pocu tidak berani melalaikan tugas kami."
Ti Then sedikit mengerutkan alisnya ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah dan berlari menuju ke halaman depan, teriaknya dengan keras .
"Heeeei .... Lian ln ! saudara-saudar sekalian kemarilah semua . , ..Pocu serta Cuo Locianpwe sudah lenyap tak berbekas"
Baru saja dia selesai berteriak segera terlihatlah Wi Lian In beserta lima, enam orang pendekar pedang merah pada berlari mendekat, tanyanya dengan amal terperanyat .
"Ada apa ?"
"Pocu serta Cuo Locianpwe telah, lenyap!"
Baik Wi Lian In mau pun keenam orang pendekar pedang merah itu segera menjerit kaget, air muka mereka berubah sangat hebat sekali.
"Bagaimana lenyapnya ?"
"Semula mereka masih ada di dalam kamar bermain catur, tetapi tadi sewaktu siauw-te mau masuk ke kamar baca itu ternyata sudah menemukan mereka tidak ada di dalam kamarnya bahkan kedua orang saudara yang berjaga di depan loteng penyimpan kitab itu pun bilang mereka tidak melihat kedua orang tua itu berjalan keluar"
"Apa mungkin mereka keluar melalui jendela ?"
Tanya. Shia Pek Tha dengan sangat terperanyat.
"Tidak, baik kedua buah jendela mau pun atap kamar itu semuanya tertutup amat rapat, siauw-te sudah memeriksanya dengan teliti...mereka tidak mungkin melalui tempat tersebut."
"Bagaimana bisa terjadi urusan ini?"
Seru Shia Pek Tha kembali dengan amat terperanyat.
"Mari kalian ikut aku pergi memeriksa!"
Tiba-tiba Wi Lian In berteriak keras.
Di tengah suara teriakannya itulah dia sudah berkelebat menuju ke depan.
Semua orang segera mengikutinya dari belakang dan bersama-sama berlari menuju ke depan kamar baca, setelah mengadakan pemeriksaan dengan amat teliti akhirnya terbukti jendela itu sama sekali tidak terbuka sedangkan atap itu pun tidak memperlihatkan tanda-tanda pernah dibuka oleh orang lain.
Shia Pek Tha segera berlari keluar dan bertanya kepada kedua orang pendekar pedang hitam yang sedang berjaga di depan loteng penyimpan kitab itu.
"Kalian benar-benar tidak melihat Pocu serta Cuo Locianpwe keluar dari dalam kamar?"
"Benar!"
Sahut kedua orang itu secara berbareng.
"Cayhe sekali pun melihatnya dengan amat jelas sekali Pocu serta Cuo Locianpwe memang benar-benar tidak pernah keluar dari dalam kamar"
"Hal ini sungguh aneh sekali!"
Sela Ki Tong Hong salah satu dari pendekar pedang merah itu dengan keras.
"Mereka tidak pernah keluar dari pintu, juga tidak keluar dari jendela mau pun dari atas atap rumah tetapi bagaimana tidak pernah kelihatan manusianya?"
Sekali lagi semua orang berlari masuk ke dalam kamar baca itu dan mengadakan pemeriksaan yang amat teliti sekali terhadap seluruh isi kamar tersebut.
Mendadak dari atas meja buku Ki Tong Hong mengambil keluar secarik kertas putih sambil teriaknya keras .
"Coba lihat, Pocu sudah meninggalkan sepucuk surat!"
"Ditujukan buat Ti Kiauw-tauw beserta semua pendekar pedang merah yang ada di dalam Benteng"
"Lohu baru saja memperoleh sepucuk surat dari manusia berkerudung hitam yang mengajak lohu pergi kesuatu tempat untuk membicarakan persoalan ini. Lohu segera mengajak Cuo-heng melakukan perjalananan cepat untuk memenuhi janyi itu. Kalian semua harus tetap tinggal di dalam Benteng dan melakukan penjagaan yang lebih ketat lagi. Jangan sekali-kali ada yang meninggalkan benteng sehingga bisa digunakan kesempatan itu bagi pihak musuh. Sekian"
Semua orang yang pada mengerubung untuk membaca surat itu segera pada berubah wajahnya, air muka mereka penuh diliputi oleh perasaan terkejut bercampur heran.
Karena sekali pun mereka sudah membaca surat yang ditinggalkan oleh Pocu mereka dan mengetahui kalau Pocu mereka bersama-sama dengan Cuo It Sian sudah pergi memenuhi janyi dengan manusia berkerudung hitam itu tetapi mereka semua masih tidak paham dengan cara apa mereka bisa meninggalkan kamar baca itu?
Masih ada lagi, surat yang dikirim oleh manusia berkerudung hitam itu dengan cara bagaimana bisa dihantar masuk ke dalam Benteng?
Sejak Wi Ci To berenam kembali ke dalam Benteng, oleh karena mengetahui kalau dari pihak manusia berkerudung hitam itu bakal ada berita yang hendak dikirim datang maka penjagaan di dalam Benteng itu sudah diperkuat berkali-kali lipat sehingga mereka semua percaya jikalau benar-benar ada orang luar yang mau masuk ke dalam Benteng pasti tidak akan lolos dari pengawasan para pendekar pedang yang melakukan penjagaan di sekitar Benteng itu.
Sebaliknya kini ternyata manusia berkerudung hitam itu bisa lolos dari pengawasan para pendekar pedang dan mengirim surat tersebut ke dalam Benteng bahkan Pocu mereka serta Cuo It Sian pun secara tiba-tiba dan amat misterius sekali bisa meninggalkan Benteng Pek Kiam Po tanpa diketahui, bukankah hal ini merupakan suatu urusan yang berada diluar dugaan mereka?
Karenanya untuk beberapa saat lamanya mereka cuma bisa saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Akhirnya Wi Lian In lah yang memecahkan kesunyian itu terlebih dahulu, setelah ragu-ragu sebentar akhirnya dia berkata.
"Aku tahu secara bagaimana Tia serta Cuo Locianpwe bisa meninggalkan kamar baca itu!"
Mendengar perrkataan tersebut tidak terasa lagi semangat semua orang berkobar kembali.
"Mereka dengan cara apa meninggalkan tempat ini?"
Tanya mereka berbareng. Dengan perlahan Wi Lian In melirik sekejap kearah sebuah lemari pakaian yang ada di dalam kamar itu, lantas ujarnya.
"Di dalam kamar baca ayahku ada sebuah jalan rahasia di bawah tanah yang bisa berhubungan dengan sebuah gua di atas tebing Sian Ciang.."
"Ooh..kiranya begitu!"
Seru semua orang dengan amat terperanyat.
"kalau begitu Pocu beserta Cuo Locianpwe tentunya berjalan keluar melalui jalan rahasia ini."
"Dimana mulut jalan rahasia itu?"
Tanya Shia Pek Tha kemudian.
"Di dalam lemari tersebut"
Sahut Wi Lian In sambil menuding kearah lemari yang ada di dalam kamar itu. Dengan wajah yang amat terkejut bercampur heran Tanya Ki Tong Hong kembali sambil memandang kearah lemari tersebut.
"Kenapa kami semua tidak tahu kalau ditempat ini ada sebuah jalan rahasia?"
"Ada satu kali"
Ujar Wi Lian In menerangkan.
"Sewaktu Tia menemukan kalau satu gua di atas tebing Sian Ciang itu menghubungkan tempat tersebut dengan tanah di bawah Benteng kita lantas secara diam-diam dia orang tua sudah menghubungkan tempat ini dengan jalan rahasia ini yang siap-siap digunakan untuk mengundurkan diri jikalau ada sesuatu kejadian yang berada di luar dugaan"
Dia berhenti sebentar, lalu sambungnya lagi.
"Karena Tia takut saudara-saudara secara tidak berhati-hati sudah membocorkan urusan ini keluar maka itu dia orang tua tidak sampai memberitahukan urusan kepada kalian semua."
"Tetapi kenapa Pocu harus keluar dengan melalui pintu rahasia ini?"
Tanya Shia Pek Tha.
"Mungkin dia tidak ingin kita semua mengikuti dirinya."
"Bilamana Pocu tidak memperbolehkan kita ikut asalkan dia orang tua kasih perintah siapa orang yang berani melanggar perintah dari Pocu?"
"Aku berani melanggar!"
Ujar Wi Lian In sambil tertawa.
"Tidak salah!"
Seru Shia Pek Tha sambil tertawa serak.
"Tentunya Pocu takut kau secara diam-diam mengikuti dirinya karena itu secara sembunyi-sembunyi dia orang sudah berlalu dari dalam jalan rahasia ini"
"Tetapi kalau memangnya Pocu tidak ingin jalan rahasia ini diketahui oleh kita semua kenapa justru membiarkan Cuo Locianpwe mengetabuinya?"
Tanya Ki Tong Hong mengemukakan rasa heran di dalam hatinya.
"Walau pun Cuo Lo-Cianpwe merupakan seorang pendekar yang mem punyai nama besar tetapi bagaimana pun juga dia adalah orang luar!"
"Soal ini aku juga tidak paham...
"Sahut Wi Lian In perlahan.
"Masih ada lagi, kenapa Pocu tidak membolehkan kita semua ikut pergi? Bukankah semakin banyak orang yang pergi harapan untuk menolong Ih, Kha serta Pauw tiga orang bertambah besar?"
"Kemungkinan sekali hal ini merupakah salah satu syarat yang diajukan manusia berkerudung itu, mungkin dia cuma mengijinkan PoCu serta Cuo Lo-Cianpwe dua orang saja yang pergi memenuhi janyi"
Dengan perlahan dia menoleh kearah Ti Then, lalu tanyanya.
"Ti Kiauwtauw, kau bagaimana?"
"Mungkin memang demikian adanya"
Sahut Ti Then sambil tertawa.
Sekarang di dalam hatinya semakin merasa kalau Cuo It Sian ada delapan bagian merupakan manusia berkerudung hitam itu, cuma saja dikarenakan urusan ini menyangkut suatu rahasia dari Wi Ci To yang tidak bisa diberitahukan kepada orang lain maka dia tidak ingin mengatakan kecurigaan di dalam hatinya.
"Tapi tulisan yang ditinggalkan oleh Pocu sudah tertulis amat jelas supaya kita semua menyaga Benteng lebih ketat lagi dan tidak diperkenankan meninggalkan tempat ini"
"Untung saja yang kau maksudkan sebagai kita tidak termasuk aku di dalamnya"
Sahut Wi Lian In sambil tertawa. Ti Then menjadi melengak.
"Bagaimana tidak termasuk kau?"
"Bukankah tulisan yang ada di dalam surua itu menulis kalau surat tersebut ditujukan buat Ti Kiauw-tauw beserta seluruh pendekar pedang merah yang ada di dalam Benteng?"
"Tapi kau pun salah satu dari pendekar pedang merah!"
Seru Ti Then sambil tertawa.
"Tidak!"
Bantah Wi Lian In sambil gelengkan kepalanya.
"Tia menganggap aku sebagai putrinya. Selama ini dia tidak pernah menganggap aku sebagai salah satu pendekar pedang merah dari Benteng kita."
"Jadi maksudmu kau ingin pergi mengejar?"
"Benar!"
Sahut Wi Lian In mengangguk.
"Baru saja kau bilang sendiri kemungkinan sekali saat ini Pocu serta Cuo Locianpwe sudah meninggalkan jalan rahasia itu dan tidak mungkin bisa kecandak, buat apa kau pergi mengejar?"
"Aku punya cara untuk mengejar Tia!"
"Cara apa?"
Tanya Ti Then heran.
"Sebentar lagi tentu kau orang akan tahu!"
Selesai berkata dia segera berlalu dari dalam kamar baca itu. Shia Pek Tha yang melihat tindak tanduknya itu segera mengerutkan alisnys.
"Dia tentu akan membawa anying sakti untuk mengejar jejak Pocu, tetapi... bagaimana kita memperbolehkan dirinya meninggalkan, benteng seorang diri?"
"Apa itu anying sakti?"
Tanya Ti Then lagi.
"Benteng kita mem punyai seekor anying srigala yang bisa mengejar seorang, asalkan bisa mengambil barang dari Pocu kau membiarkan dia menciumnya maka dia bisa mengejar diri Pocu tidak perduli dia orang kemana pun."
"Kiranya demikian, kalau begitu sangat bagus sekali!"
"Tidak, kita tidak boleh membiarkan dia pergi seorang diri!"
"Aku kira siapa pun tidak bisa menahan maksudnya ini"
Ujar Ti Then sambil tertawa.
"Lalu apakah Ti Kiauwtauw mau pergi bersama-sama dirinya?"
"Tidak bisa jadi"
Seru Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Pocu sudah memberi perintah agar siauwte tetap tinggal di dalam Benteng, bilamana siauwte pergi dan di dalam Benteng terjadi sesuatu urusan, bukankah siauwte akan kesalahan?"
"Bilamana musuh bisa menyerang kita, dsngan kekuatan dua puluh orang mungkin masih bisa memberikan perlawanan, tentunya hal ini harap Ti Kiauw-tauw berlega hati"
Ujar Shia Pek Tha dengan cepat.
"Tidak salah"
Nyeletuk Ki Tong Hong.
"Apalagi tidak perduli sudah terjadi urusan apa pun di dalam Benteng kita agaknya jauh lebih penting untuk melindungi keselamatan dari nona Wi !"
"Tetapi siauw-te sendiri tidak bisa melanggar perintah dari Po-Cu ?"
Seru Ti Then Coba mempertahankan diri.
"Ti Kiauw-tauw bisa menjelaskan kepada Pocu, karena hendak melindungi kesalamatan dari nona Wi terpaksa kau orang harus meninggalkan benteng"
Melihat mereka berdua terus mendesak dirinya terpaksa Ti Then mengangkat bahunya.
"Biarlah nanti siauwte coba-coba untuk menasehatinya kembali, jikalau dia orang tetap kukuh mau mengejar terpaksa siauwte harus mengawasinya"
Tidak selang berapa lama ternyata dugaan dari Shia Pek Tha sedikit pun tidak salah, Wi Lian In dengan membawa seekor anying yang amat besar berjalan masuk ke dalam kamar baca.
Anying raksasa itu mem punyai perawakan badan yang amat besar dan kuat sekali, sepasang matanya memancarkan sinar yang berkilauan, sepertinya mau menggigit semua orang yang ditemuinya, keadaannya amat menakutkan sekali!
Dengan menuntun sang anying, Wi Lian In berjalan masuk ke dalam kamar lalu mengambil keluar sepasang sepatu dari Wi Ci To dan membiarkan anying itu membauinya, setelah itu barulah ujarnya.
"Sepatu itu adalah sepatu milik ayahku, kau baiklah menciumnya lalu kita pergi mengejar Tia, tahu tidak?"
Anying itu segera membaui sepasang sepatu dari Wi Ci To itu lantas sambil menggonggong berlari mendekati lemari tersebut. Ti Then segera tertawa.
"Nona Wi lebih baik jangan pergi!"
Ujarnya.
"Tidak bisa, tentunya kau tahu bukan kenapa aku harus pergi?"
Beberapa perkataan ini kecuali Ti Then serta Shia Pek Tha siapa pun tidak paham apa arti dari perkataan itu, kiranya dia sudah merasa kalau Cuo It Sian kemungkinan sekali adalah manusia berkerudung hitam itu, karena dia takut ayahnya terjebak ke dalam pancingannya, karena itu memaksa untuk pergi menyusul.
"Aku percaya ayahmu pasti tidak akan terjadi sesuatu urusan apa pun, lebih baik kau tetap tinggal di dalam Benteng saja!"
Ujar Ti Then dengan perlahan.
Wi Lian In tidak mau menggubris perkataan itu, dengan cepat dia membuka lemari itu dan menarik sebuah pedang pada dasarnya, begitu papan itu ditarik keluar maka segeralah terlihat sebuah mulut jalan rahasia muncul di hadapannya.
Sambil menarik anying tersebut untuk memasuki ke dalam lemari ujarnya kemudian.
"Ayoh Cian Li Yan masuk ke dalam.."
Kiranya anying itu bernama Cian Li Yan atau simata seribu li.
Si Cian Li Yan segera merangkak ke atas lemar dan menyusup masuk ke dalam jalan rahasia itu sambil memperdengarkan suara gongongannya yang amat ramai.
"Selamat tinggal!"
Seru Wi Lian In kemudian sambil melambaikan tangannya kepada semua orang. Selesai berkata dia pun melangkah masuk ke dalam jalan rahasia tersebut.
"Nona Wi, tunggu sebentar!"
Teriak Shia Pek Tha mendadak. Wi Lian In segera menoleh dan kirim satu senyuman kepada semua orang.
"Siapa yang berani menghalangi diriku aku akan suruh Cian Li Yan menggigitnya terlebih dulu"
Ujarnya.
"Tetapi jikalau ada orang yang mau ikut kau pergi ?"
Tanya Shia Pek Tha sambil tertawa. Wi Lian In dengan perlahan melirik sekejap kearah Ti Then lantas dengan nada mengejek serunya .
"Siapa yang punya nyali untuk ikut aku pergi ?"
"Aku !"
Sahut Ti Then cepat.
"Bukankah kau orang mau menyaga Benteng?"
Seru Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.
"Aku kira ayahmu tentu akan menganggap melindungi dirimu jauh lebih penting daripada menyaga Benteng Pek Kiam Po ini."
"Tapi aku tidak membutuhkan perlindungan dari orang lain"
Selesai berkata dengan cepat dia menerobos masuk ke dalam jalan rahasia tersebut.
Ti Then pun dengan cepat mengikuti dari belakangnya, setelah masuk ke dalam jalan rahasia itu dia orang segsra merasakan keadaan di sana sangat gelap sekali sehingga tidak dapat melihat bayangan Wi Lian In yang ada di depannya, dia orang menjadi gugup.
"Nona Wi, kau dimana?"
Teriaknya dengan keras.
"Aku di sini!"
Sahut Wi Lian In dari tempat kurang lebih puluhan kaki dalamnya. Ti Then segera berjalan maju ke depan sembari berjalan ujarnya lagi.
"Jalan rahasia ini sungguh gelap sekali, kenapa tidak memasang lampu?"
"Jika kau orang takut gelap lebih baik jangan ikut"
Teriak Wi Lian In sambil tertawa. Mendadak Ti Then menghentikan langkahnya.
"Aku orang benar-benar takut tempat yang gelap, kalau begitu kau pergilah sendiri!"
Baru saja dia selesai berkata tampaklah jalan rahasia itu sudah diterangi oleh lampu yang memancarkan sinarnya dengan amat terangnya.
Tampak Wi Lian In dengan membawa sebuah lampu lentera berdiri kurang lebih dua kaki di dalam jalan rahasia itu, teriaknya sambil tertawa geli.
"Jika kau orang tidak mau datang, lihat saja lain kali aku menggubris dirimu atau tidak !"
Sambil tersenyum Ti Then segera maju mendekati dirinya.
Demikian mereka berdua segera melanjutkan perjalanannya sambil berjalan berdampingan, mendadak terdengan Cian Li yan itu anying yang ada di depan menyalak dengan amat kerasnya.
"Ada urusan apa?"
Tanya Ti Then dengan cepat.
"Di depan sana ada sebuah pintu batu, dia yang tidak bisa lewat sudah tentu menyalak terus..."
Jawab Wi Lian In menerangkan.
Beberapa langkah kemudian ternyata tidak salah lagi, di depan jalan rahasia itu terdapatlah sebuah pintu batu yang menghalangi perjalanan selanjutnya, sedangkan itu anying "Cian Li Yan"
Berdiri didekat pintu sambil menyalak tak henti-hentinya. Wi Lian In segara maju ke depan membuka pintu batu itu dan membiarkan "Cian Li Yan"
Si anying meneruskan perjalanannya ke depan. ujarnya .
"Pintu batu itu sebetulnya tertutup rapat, sekarang ternyata cuma dirapatkan saja, hal ini membuktikan kalau ayahku memang benar-benar pernah melalui jalan rahasia ini"
"Apakah jalan rahasia ini tidak dipasangi alat rahasia ?"
"Tidak"
Sahut Wi Lian In dengan sambil gelengkan kepalanya.
"Di depan sana ada sebuah pintu besi yang bisa dibuka tutup secara otomatis, setelah melewati pintu besi itu maka tempat yang di depannya adalah gua alam"
OoOOoo MEREKA berdua segera mengikuti jejak si anying"
Cian Li Yan"
Berjalan masuk ke dalam, kurang lebih setelah berjalan puluhan langkah ternyata di dalam jalan rahasia itu kembali muncul sebuah pintu besi yang menghalangi perjalanan mereka.
Wi Lian In segera mencekal gelang besi yang ada di atas pintu dan memutarnya kekiri lantas kekanan, dengan perlahan pintu itu terbuka lalu bergeser sendiri ke sebelah kanan.
Ternyata sedikit pun tidak salah di balik pintu itu merupakan sebuah gua alam yang berliku amat panjangnya.
Setelah melalui pintu besi itu Wi Lian In segera memutar kembali gelang baja yang ada di atas pintu tersebut sehingga pintu tersebut bergeser kembali ke tempat semula, kemudian barulah bersama-sama dengan Ti Then melanjutkan kembali perjalanannya mengikuti jejak anying "Cian Li Yan"
Yang sudah lari terlebih dulu di depan.
Tidak lama kemudian kedua orang beserta sang anying tersebut telah berjalan keluar dari sebuah gua yang amat sempit dan muncul di samping sebuah hutan lebat di belakang bukit Sian Ciang.
Tampak anying itu membaui lagi sekeliling tempat itu, kemudian dengan disertai suara gonggongannya yang amat keras ia berlari menyusup ke atas gunung.
Arah yang dituju ternyata adalah puncak gunung Go-bi ini untuk mengadakan pertemuan dengan ayahku"
"Jikalau manusia berkerudung hitam itu adalah Cuo It Sian maka tempat yang mmenurut dugaannya merupakan tempat yang paling cocok untuk bertemu dengan ayahmu adalah di atas gunung Go-bi ini."
"Kau rasa manusia berkerudung hitam itu apa mungkin sipembesar kota Cuo It Sian?"
Tanya Wi Lian In dengan ragu-ragu.
"Di dalam sepuluh bagian ada delapan tidak akan salah"
"lalu Tia bisa keluar Benteng bersama-sama dengan dirinya dikarenakan kemauannya sendiri ataukah dipaksa olehnya?"
"Soal ini aku orang tidak bisa mengetahui jelas, kita harus menunggu sesudah bertemu dengan mereka baru bisa mengetahui keadaan yang sebenarnya."
"Jika membicarakan di dalam soal ilmu silat Tia jauh lebih tinggi tingkatannya daripada dirinya, tetapi saat ini dia sudah menguasai Ih, Kha serta Pauw tiga orang, maka, ............Ehmmmm....kau rasa ayahmu bisa menyerahkan barang itu kepadanya, karena menolong orang lebih penting, dia orang tua tidak bisa melihat anak buahnya dibunuh orang lain kecuali......"
"Kecuali bagaimana ?"
Tanya Wi Lian In cepat.
"Kecuali barang itu jauh lebih berharga dari pada nyawa dari Ih, Kha, Pauw tiga orang, tetapi aku penrcaya di dalam dunia ini tidak ada barang yang jauh lebih berharga dari pada nyawa manusia."
"Benar !' sahut Wi Lian In mengangguk.
"Tetapi sifat ayahku amat jujur sekali, selamanya dia tidak pernah mendapatkan tekanan dari orang lain, jika permintaan dari pihak lawan sangat keterlaluan atau mungkin dia orang juga lebih menegangkan setelah dia orang menyerahkan barang yang diminta kepada pihak lawan, aku rasa Tia tidak akan menyanggupi permintaannya itu."
"Jikalau dikarenakan ayahmu tidak menyerahkan barang tersebut sehingga menyebabkan Ih, Kha serta Pauw tiga orang menemui kematian yang amat mengerikan aku kira ayahmu pasti akan mengerahkan semua jago pedang yang ada untuk menyelesaikan urusan ini dengan pihak mereka."
"Semoga saja keadaan jangan sampai begitu jelek.."
Seru Wi Lian In segera.
Berbicara sampai di sini mereka berdua tidak membuka mulut kembali, dengan mengikuti anying tersebut mereka melanjutkan perjalanan dengan berdiam diri, karena mereka berdua merasa kalau larinya "Cian Li Yan"
Semakin lama semakin cepat, hal ini membuktikan kalau "tujuan"
Mereka sudah tidak jauh lagi.
Setelah melewati hutan yang lebar dan melanjutkan perjalanan kembali sejauh satu, dua li sampailah mereka di depan sebuah tebing yang sangat curam sekali.
Cian Li Yan segera membaui tebing tersebut dan mendongakkan kepalanya memandang ke atas tebing sambil menyalak tak henti-hentinya.
Ti Then segera tahu kalau Wi Ci To serta Cuo It Sian tentunya ada di atas tebing curam tersebut.
"Lian In cepat suruh dia jangan menyalak lagi "
Teriaknya dengan suara yang amat lirih. Wi Lian In segera meloncat ke samping badan anyingnya.
"Sudah..sudahlah jangan menyalak lagi"
Serunya sambil mebelai lehernya.
"Kau baik-baiklah menunggu di tempat ini jangan bergerak, tahu tidak?"
Cian Li Yan itu segera menggoyang-goyangkan ekornya dan berbaring di bawah tebing tersebut tidak bergerak lagi.
Setelah itu Wi Lian In menggape kearah Ti Then memberi tanda supaya bersama-sama melayang ke atas tebing, ujung kakinya segera menutul permukaan tanah dan meluncur naik ke atas tebing yang amat curam itu.
Tinggi tebing itu ada dua puluh kaki yang merupakan batu-batu karang yang selapis demi selapis, karenanya mereka berdua yang mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya hanya di dalam sekejap saja sudah berhasil tiba di atas puncak tersebut.
Baru saja mereka berdua menginyakkan kakinya di atas puncak tebing itu mendadak dari samping badannya terdengar suara bentakan yang sangat keras sekali.
"Berhenti! kalian tidak diperkenankan datang kemari !"
Orang baru saja membentak itu bukan lain adalah si pembesar kota Cuo It Sian.
Dia berdiri di atas tebing sebelah utara, di belakang badannya masih ada empat orang, yaitu lelaki berkerudung hitam yang perawakannya kurus kecil (sekali pandang saja Ti Then mau pun Wi Lian In segera bisa mengenal kembali kalau orang itu adalah manusia berkerudung yang berhasil meloloskan diri sewaktu ada di perkam pungan Tay Peng cung), sedangkan ketiga orang lainnya adalah Ih Kun, Kha Cay Hiong serta Pauw Kia Yen yang mereka tawan.
Mereka tiga orang diikat di atas sebuah pohon Siong di samping tebing yang amat curam, sepasang tangan mau pun kakinya terikat dengan amat kuatnya sehingga tidak dapat bergerak sedikit pun.
Sedangkan Wi Ci To berdiri di hadapan Cuo It Sian berlima kurang lebih delapan kski di depannya, waajahnya amat murung sekali jelas dia orang sudah menemui kesulitan.
Dari pemandangan waktu itu jeias sekali memperlihatkan kalau manusia berkerudung yang mereka cari selama ini bukan lain adalah Sian Thay-ya atau si pembesar kota Cuo It Sian adanya !
-ooo0dw0ooo-
Jilid 27.1 .
Barang yang diminta....potongan pedang Jelas sekali orang yang mengadakan jual beli dengan Hu Pocu untuk mencuri semacam barang milik Wi Ci To lalu membinasakan diri Hong Mong Ling di atas gunung Kim Teng san dengan sambitan batu bukan lain adalah perbuatan dari Cuo It Sian si pembesar kota ini.
Sekali pun di dalam hati Wi Lian In sudah punya dugaan kalau manusia berkerudung itu adalah Cuo It Sian tetapi sekarang setelah melihat dengan mata kepala sendiri kalau Cuo It Sian benar-benar adalah manusia berkerudung itu tidak urung merasa terkejut bercampur gusar juga, alisnya dikerutkan rapat-rapat.
"Cuo It Sian, kiranya benar kau adanya!"
Teriaknya dengan amat gemas. Cuo It Sian segera tertawa terbahak-bahak.
"Sedikit pun tidak salah !"
Sahutnya ketus.
"Cama saja kalian mengetahui hal ini sudah terlalu lambat"
"Hmm...! Aku rasa sedikit pun tidak lambat"
Seru Wi Lian In sambil tertawa dingin. Selesai berkata pergelangan tangan kanannya membalik dan mencabut keluar pedang panjangnya lalu berjalan ke depan maju mendesak kearah diri Cuo It Sian.
"In-ji, jangan sembarangan bergerak!"
Bentak Wi Ci To dengan amat cepat.
Cuo It Sian segera mengundurkan satu langkah ke belakang dan berdiri diantara Kha Cay Hiong serta Pauw Kian Yen telapak tangan kanannya ditekan pada jantung Kha Cay Hiong sedang telapak nya menekan dada dari Pauw Kia Yen.
"Benar..! Bagus sekali, ayoh maju satu langkah lagi !"
Serunya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Lolap terpaksa main adu jiwa dengan kalian !"
Si manusia berkerudung hitam yang badannya kecil kurus itu pun segera melintangkan goloknya ke atas leher dari Ih Kun, dia bersiap sedia asalkan Wi Lian In maju menyerang maka goloknya akan segera ditabaskan ke atas kepala dari In Kun.
Wi Lian In yang melihat keadaan seperti ini terpaksa menghentikan langkah kakinya.
"Kalian sungguh tidak berguna ! gentong nasi !"
Teriaknya dengan amat gemas.
"Hey bajingan tua ! terus terang saja aku beritahu kepadamu, para pendekar pedang dari Pek Kiam Po kami sudah mengepung tempat ini rapat-rapat, jikalau kau berani turun tangan membinasakan ketiga orang itu maka kalian berdua jangan harap pula bisa lolos dari kematian !"
Cuo It Sian sama sekali tidak menjadi jera ketika mendengar ancaman tersebut, sekali lagi dia tertawa terbahak-bahak.
"Mati? haaa... , haaa. haaa. Lolap sama sekali tidak menaruh rasa takut terhadapnya, sejak semula Lolap sudah mengambil keputusan jikalau malam ini tujuanku tidak tercapai maka aku segera akan adu jiwa dengan kalian l"
"Kenapa? Air muka Cuo It Sian segera berubah menjadi amat keren.
"Kita tak perlu tahu!"
Serunya sambil mengejar kejam.
"Tia ! Sebetulnya dia orang minta barang apa?"
Tanya Wi Lian In sambil menoleh kearah ayahnya. Wi Ci To tidak langsung memberikan jawabannya, lama sekali dia termenung berpikir keras akhirnya baru jawabnya.
"Sebuah potongan pedang.."
"Hey orang she Wi, kau berani melanggar peraturan yang sudah lolap tentukan"
Teriak Cuo It Sian dengan air muka yang berubah sangat hebat. Wi Ci To tertawa tawar.
"Aku orang she Wi cuma berbicara sampai di sini saja, apa halangannya?"
Ujarnya dengan dingin.
"Asalkan kau orang berani berbicara sepatah kata lagi, Lolap terpaksa akan adu jiwa dengan kalian!"
"Aku orang she Wi merasa perbuatan dari Cuo heng ini cuma mendatangkan bencana buat dirimu sendiri !"
"Sebenarnya kau mau serahkan itu barang atau tidak?"
Teriak Cuo It Sian dengan keras, napsu mulai menyelimuti wajahnya. Wi Ci To dengan perlahan merogoh dan mengambil keluar potongan pedang tersebut lalu tertawa.
"Sejak aku orang she Wi tahu kalau Cuo heng berhasil menawan mereka bertiga, aku orang she Wi sudah mengetahui kalau aku orang tidak bisa mempertahankan ptongan pedang ini lagi"
Ujarnya perlahan.
"Tetapi dapatkah kau orang menyambung kembali kedua potongan pedang itu seperti sedia kala?"
Gagang pedang yang menghubungkan gagang dengan tubuh pedang itu cuma ada enam tujuh cun saja panjangnya, pedangnya pun amat kecil dan memancarkan sinar yang menyilaukan mata, agaknya tidak salah lagi pedang itu merupakan satu pedang pusaka.
Cuo It Sian yang melihat Wi Ci To sudah mengambil keluar potongan pedang itu air mukanya jelas kelihatan sangat terharu sekali.
"Potongan yang sebelah lagi Lolap sama sekali tidak membuangnya"
Ujarnya denga suara yang amat berat.
"Maka itu dapat mengembalikan seperti keasalnya atau tidak bukanlah urusan yang penting..cepat kau lemparkan kemari!"
Dengan hati yang keberatan Wi Ci To mempermainkan potongan pedang tersebut, agaknya dia pun merasa amat sayang untuk melemparkan pedang tersebut kepadanya, ujarnya dengan perlahan.
"Aku orang she Wi sudah menyimpan ptotongan pedang ini ada tiga tahun lamanya, sekarang sebetulnya aku merasa amat sayang sekali untuk diserahkan kepadamu..."
"Jikalau kau tetap menginginkan barang tersebut..hmmmm! hmm! Jelas sekali keiga nyawa anak muridmu sukar untuk dipertahankan lebih lama lagi!"
Ancam Cuo It Sian dengan seramnya.
"Karena itulah aku orang she Wi harus tunduk kepala terhadap pengaruh jahat untuk pertama kalinya"
Ujar Wi Ci To sambil menghela napas panjang. Dia berhenti sebentar, mendadak sinar matanya dengan amat tajam sekali perhatikan diri Cuo It Sian, lantas tambahnya.
"Tetapi, anak murid dari aku orang she Wi sudah mengepung puncak ini masa kalian percaya bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat ?"
"Lolap berdua percaya masih bisa menyingkir dari sini dalam keadaan selamat"
"Kalian tetap akan membawa ketiga orang ini?"
Tanya Wi Ci To lagi.
"Tidak, asalkan kau orang melemparkan potongan pedang itu kepadaku, maka lolap segera akan melepaskan mereka bertiga, perkataan yang aku sudah ucapkan selamanya tidak akan aku tarik kembali !"
Wi Lian In yang melihat ayahnya sudah ada maksud untuk saling bertukar barang dengan pihak lawan hatinya merasa sangat cemas sekali, walau pun dia orang sama sekali tidak mengetahui seberapa berharga potongan pedang itu tetapi dia tahu barang tersebut tentu sangat berharga sekali.
"Tia, kau sungguh-sungguh mau bertukar syarat dengan dirinya ?"
Tak kuasa lagi dia bertanya.
"Benar...."
Sahut Wi Ci To mengangguk.
Dengan perlahan Wi Lian In menoleh ke arah Ti Then, maksudnya dia mengharapkan Ti Then bisa mencarikan akal untuk merebut kembali posisi mereka yang amat terdesak ini.
Ti Then segera gelengkan kepalanya dengan perlahan, agaknya dia tidak punya kekuatan itu.
Karena tempat dimana dia berdiri sekarang ini ada sebelas, dua belas kaki jauhnya dari Cuo It Sian berada, dia merasa dirinya tidak punya kekuatan untuk mencegah Cuo It Sian jikalau dia orang mau turun tangan membinasakan seseorang.
Cuo It Sian yang melihat kejadian ini dalam hati merasa amat girang sekali, senyuman bangga segera menghiasi bibirnya.
"Wi pocu. kau masih tunggu apa lagi? "
Tanyanya sambil tertawa dingin.
"Baiklah, kau sambutlah !"
Selesai berkata dia segera ayunkan tangannya melemparkan potingan pedang tersebut kepadanya.
Cuo It Sian dengan cepat menyambutnya, seperti baru saja mendapatkan harta karun dengan cepat dia memasukan barang tersebut ke dalam sakunya.
"Bagus , , , bagus sekali...."
Ujarnya sambil tertawa.
"Pertukaran kita kali ini sama sekali tidak merugikan siapa pun aku mengharapkan kau bisa melupakan kejadian ini dan mengharapkan pula agar persahabatan diantara kita masih terikat rapat, lain kali jikalau ada kesempatan luang tentu aku akan pergi ke rumahmu untuk main catur lagi."
Berbicara sampai di sini dia segera kirim satu kerdipan mata kepada manusia berkerudung hitam yang berperawakan kurus kecil itu lantas bersama-sama mengundurkan diri ke belakang pohon.
Manusia berkerudung dengan perawakan yang kurus kecil itu pun dengan gerakan yang amat cepat menyorenkan goloknya ke atas pinggang lalu bersama-sama mengundurkan diri ke belakang pohon.
Di dalam sekejap saja mereka berdua sudah mencekal sebuah tali yang terikat di atas pohon itu lalu dengan cepatnya bergantungan melayang ke atas puncak yang lain !
Kiranya sejak semula mereka sudah mempersiapkan cara-cara untuk meloloskan diri dari sana, di atas sebuah pohon Siong yang besar di puncak gunung sebelah depan mereka sudah mengikat dua utas tali yang ujung sebelahnya lagi diikat pada puncak sebelah sini, saat inilah dengan menggunakan tali itu mereka berkelebat menuju ke puncak yang lain sehingga dengan demikian bisa jauh meninggalkan kejaran dari Wi Ci To sekalian.
Wi Ci To, Ti Then mau pun Wi Lian In yang melihat mereka berhenti melayang ke puncak seberang segera bersama-sama menubruk ke depan.
Tetapi sewaktu tiba di samping badan Kha, pauw serta Ie tiga orang, Cuo It Sian serta lelaki berkerudung hitam itu sudah melayang sejauh lima kaki lebih, bahkan dengan amat cepatnya sudah lenyap di tengah kegelapan malam.
Wi Lian ln jadi amat cemas sekali.
"Tia ! Biar putrimu yang melindungi ketiga suheng, kau dengan Ti Kiauwtauw cepatlah melakukan pengejaran !"
Ujarnya cemas.
"Tidak perlu, kita tidak mungkin bisa menyandak dirinya, biarkan saja mereka pergi ! "
Ujar Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Tetapi potongan pedang itu. Bukankah Tia ingin merebutnya kembali 7?"
Agaknya di dalam hati Wi Ci To mem punyai satu pikiran sendiri.
"Ehmmm . , ."
Sahutnya.
"Aku bisa dengan perlahan-lahan mencarikan satu cara untuk merebutnya kembali."
"Sekarang mereka belum pergi jauh jika Tia pergi mengejar bersama-sama dengan Ti Kiauw-tauw kemungkinan sekali masih bisa menyandak mereka !"
"Kau tidak tahu "
Ujar Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya kembali.
"Jikalau aku sekarang pergi mengejar, di dalam keadaan yang kepepet kemungkinan sekali dia akan menghancurkan potongan pedang tersebut, dengan demikian...Haaii...sekarang kalian lepaskanlah ikatan ketiga orang itu !"
Ti Then segera turun tangan melepaskan tali yang mengikat badan Pouw Kia Yen, sedangkan Wi Lian In dengan menggunakan pedangnya memutuskan tali yang mengikat tubuh Kha Cay Hiong serta Ih Kun.
Agaknya mereka bertiga sudah tertotok jalan darahnya, karena itu setelah talinya terlepas mereka masih berdiri di bawah pohon dengan amat kakunya, sedikit pun tidak bisa bergerak.
"Apa kalian sudah tertotok jalan darah kaku serta bisunya ?"
Tanya Wi Ci To kemudian.
Kha, Ih serta Pauw bersama-sama mengedip-ngedipkan matanya, jelas dugaan dari Wi Ci To ini sama sekali tidak salah.
Wi Ci To dengan cepat turun tangan membebaskan jalan darah dari mereka bertiga, lantas baru tanyanya.
"Bagaimana kalian bisa kena tawan oleh Cuo It Sian ?"
Dengan wajah amat menyesal Ih, Kha serta Pauw tiga orang bungkukkan badan menjura.
"Sewaktu tecu sekalian mendengar suhu mau menemui janyi di atas istana Thian Teh Kong maka tecu bermaksud untuk berangkat ke sana memberi bantuan siapa tahu sewaktu sampai ditengah jalan dan menginap disebuah rumah penginapan, mendadak di dalam makanan kami sudah ditaruhi obat pemabok.."
Agaknya selama beberapa hari ditawan ini mereka bertiga sama sekali tidak diberi makan, karena itu badannya terasa amat lemas sekali sampai berbicarapa pun tidak bertenaga.
"Baiklah kalian duduklah untuk beristirahat,"
Perintah Wi Ci To Kemudian. Ih, Kha serta Pauw tiga orang segera-duduk di atas pohon, terdengar Pauw Kia Yen melanjutkan kembali pembicaraannya.
"Tecu bertiga selama ini dikuasai oleh manusia berkerudung yang kurus kecil itu sampai pada lima hari yang lalu mereka baru memberi tecu sekalian sedikit makanan.."
"Kami tidak tahu kalau pemimpin mereka adalah Cuo It Sian itu si pembesar kota"
Sambung Ih Kun kemudian.
"Sampai pai tadi suhu datang bersama-sama dengan dia orang, kami baru paham sebanarnyasudah terjadi urusan apa"
"Tia ! "
Tiba-tiba Wi Lian In menimbrung.
"Sebenarnya potongan pedang itu mengandung rahasia apa?"
"Lohu tidak bisa menjelaskannya."
"Kenapa tidak boleh dijelaskan?"
Tanya Wi Lian In lagi dengan nada kurang senang.
"Karena Lohu sudah menyanggupi dirinya untuk tidak membocorkan rahasianya ini"
"Tia ! Kenapa kau orang begitu memegang janyi dengan manusia semacam dia?"
Serunya cemberut.
"Tidak perlu dia orang bersifat bagaimana, kalau lohu sudah menyanggupi maka di dalam urusan ini aku harus tetap pegang janyi"
Ujar Wi Ci To dengan vvajah serius.
"Itulah sifat dari Ioohu yang lohu pegang teguh sejak dahulu."
"Pocu baru malam ini tahu kalau lelaki berkerudung yang muncul di istana Thian Teh Kong itu adalah dirinya, ataukah... , ."' tiba-tiba Ti Then menimbrung.
"Sejak semula lohu sudah tahu !"
Potong Wi Ci To dengan cepat.
"Lalu kenapa sewaktu dia mertamu di Benteng, pocu tidak mau turun tangan menawannya?"
"Kalau berguna sejak semula lohu sudah turun tangan"
Ujar Wi Ci To sambil tertawa pahit.
"Kenapa tidak berguna?"
Tanya Ti Then keheranan.
"Dia tidak takut mati, bukankah tadi terang-terangan kalian dengar sendiri beberapa kali dia berkata mau mengadu jiwa? Perkataan tersebut bukanlah cuma gertak sambal belaka."
"Kenapa dia tidak takut mati?"
Tiba-tiba Wi Lian In nyeletuk.
"ln-ji, kau jangan berusaha mengorek sampai dasar kuali"
Seru Wi Ci To sambil tertawa.
"Putrimu masih ada satu pertanyaan lagi, seharusnya Tia menyawab dengan sejujur-jujurnya"
"Persoalan apa ? "
"Dia. ..Cuo It Sian sebetulnya orang baik atau orang jahat ?"
"Orang baik !"
"Kalau begitu kenapa dia orang menggunakan cara yang begitu rendah untuk merebut potongan pedang milik Tia?"
"Karena potongan pedang itu sebenarnya adalah barang miliknya!"
Mendengar perkataan ini, Ti Then, Wi Lian In serta Ih, Kha, Pauw tiga orang pada melengak semua.
"Apa?"
Tanyanya berbareng.
"Potongan pedang itu miliknya?"
"Benar!"
Sahut Wi Ci To mengangguk.
Hal ini benar-benar merupakan satu urusan yang jauh berada diluar dugaan mereka, kiranya potongan pedang itu adalah barang milik Cuo It Sian.
Sebelum kejadian ini Ti Then sekalian selalu menganggap Cuo It Sianlah yang sudah menggunakan cara yang paling kotor untuk merebut barang milik Pocu mereka, siapa tahu urusan yang benar malah ke balikannya, kiranya Cuo It Sian menggunakan cara-cara rendah ini tidak lebih untuk merebut barang miliknya sendiri.
"Tia! Jadi maksudnya..kau...kau sudah merebut potongan pedangnya?"
Tanya Wi Lian In dengan perasaan yang amat terperanyat sekali. Wi Ci To dengan perlahan gelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa tidak dikembalikan kepadanya?"
"Pertanyaan ini Ioohu tidak bisa menyawabnya, karena setelah menyawab pertanyaan ini berarti juga aku sudah membocorkan rahasia tersebut!"
Dia berhenti sebentar, lalu dengan perlahan pada wajahnya terlintaslah suatu senyuman yang amat dingin sekali, tambahnya.
"Walau pun potongan pedang itu adalah barang miiiknya tetapi lohu tetap akan berusaha menggunakan akal untuk merebutnya kembali !"
"Kenapa?"
Tanya Wi Lian In dengan terperanyat. Dengan perlahan Wi Ci To gelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa memberitahukan kepadamu sekarang ini"
Sahutnya perlahan. Kepalanya didongakkan ke atas langit nan gelap, lantas dia menarik napas panjang.
"Sudahlah, mari kita kembali ke dalam Benteng!"
Tua muda enam orang segera menuruni puncak gunung itu, di tengah perjalanan sembari memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu mendadak Wi Ci To tertawa geli.
"Eeeh In-ji!"
Serunya.
"Bukankah kau bilang seluruh jago pedang dari Benteng Pek Kiam Po sudah mengurung gunung ini rapat-rapat? Kiranya kau orang sedang berbohong!"
"Sebetulnya putrimu memang bermaksud untuk menakut-nakuti diri mereka.."
Sahut Wi Lian In sambil tertawa tawar. Wi Ci To kembali memimpin melakukan perjalanan lagi.
"Bukankah lohu sudah tinggalkan surat di dalam Benteng yang memerintahkan kalian menyaga Benteng? Kenapa kalian mengejar kemari?"
Ujarnya lagi.
"Tentu kau yang memaksa Ti Kiauwtauw untuk mengejar kemari bukan?"
"Benar..."
Seru Wi Lian In kurang senang.
Karena dia orang tidak berhasil memperoleh seluruh rahasia itu karena di dalam hati merasa sangat tidak senang sekali.
Kembali Wi Ci To melanjutkan perjalanannya, tiba-tiba sepertinya saja teringat akan sesuatu urusan mendadak dia menghentikan langkahnya.
"Oooh benar, kurang sedikit saja Lohu lupa memberitahu kepada kalian.."
Ujarnya. Ti Then sekalian pun pada menghentikan langkahnya.
"Pocu ada pesan apa?"
Tanyanya. Dengan perlahan Wi Ci To putar badannya menghadap kearah mereka, lalu dengan wajah yang amat serius dia pandangi mereka denpan amat tajamnya.
"Peristiwa malam ini aku larang kalian membocorkannya keluar, termasuk juga kepada para jago pedang yang ada di dalam Benteng, mengerti!"
"Jikalau para saudara dari Benteng menanyai tecu, maka tecu harus bagaimana memberikan penjelasannya?"
Tanya Kha Cay Hiong kemudian.
"Katakan saja kalau tujuan dari orang berkerudung itu menculik kalian sebetulnya mau merampas pedang yang lohu bawa ini dan bermaksud menghina lohu, untung saja mendapatkan bantuan dari diri Cuo It Sian sehingga akhirnya berhasil menolong kalian lolos dari tawanannya, Sekarang Cuo It Sian sedang pergi mengejar lelaki berkerudung hitam tersebut"
Mendengar perkataan itu dengan wajah yang amat tidak senang Wi Lian In mencibirkan bibirnya.
"Tia tidak mau memberitahu rahasia tentang potongan pedang itu masih tidak mengapa, kenapa sampai diculiknya jago pedang kita oleh Cuo It Sian puni harus dirahasiakan ?"
"Tidak salah"
Seru Wi Ci To dengan suara yang amat berat.
"Urusan ini menyangkut suatu pergolakan yang amat hebat di dalam Bu-lim, kalian janganlah membocorkan di tempat luaran"
"Jikalau pocu menggunakan alasan yang mengatakan manusia berkerudung itu bertujuan untuk menghina diri pocu, seharusnya kau orang tua pikirkan satu alasan yang lebih tepat lagi baru bisa"
Sela Ti Then kemudian "Alasan ?
beritahukan saja ada kemungkinan dia orang mempunyai rasa sakit hati dengan Lohu, selama hidupku lohu selalu bertindak adil dan banyak menyalahi orang-orang dari kalangan Hek-to, alasan ini sudah tentu bisa diterima, bukan ?"
"Ada satu hal yang kermungkinan sekali tidak bisa diterima !"
Sambung Wi Lian In dengan cepat.
"Soal yang mana ?"
Tanya Wi Ci To sambil mengalihkan pandangannya yang amat tajam ke atas wajahnya.
"Jika dia menculik pada jago kita dengan bertujuan untuk menghina Tia, sudah seharusnya Tia tidak bisa melepaskan dirinya dengan begitu saja, tetapi kini sebaliknya Tia malah bersama-sama kita pulang ke dalam benteng, bukanlah hal ini sangat lucu sekali ?"
"Benar..., , benar, . ."
Seru Wi Ci To sambil tersenyum.
"Kalau begitu lohu tidak jadi pulang ke dalam Benteng bersama-sama kalian ! "
Mendengar perkataan itu kini malah Wi Lian In yang dibuat tertegun.
"Jika Tia tidak ikut kami pulang, lalu..."
"Lohu sudah mengambil keputusan untuk pergi mengejar Cuo It Sian dan berusaha untuk merebut kembali potongan pedang tersebut !"
Potong Wi Ci To dengan cepat.
"Putrimu juga ingin pergi !"'cepat seru Wi Lian ln.
"Tidak bisa jadi, jikalau kau ikut aku pergi mungkin malah bisa menyulitkan pekerjaanku !"
Wi Lian In segera mencibirkan bibirnya.
"Sampai kapan putrimu baru tidak menyulitkan pekerjaan kau orang tua?"
Serunya kurang senang. j "Kali ini jikalau kau ingin ikut lohu maka kau orang tentu akan menyulitkan urusan !"
Wi Lian In yang melihat perkataan dari ayahnya amat atos dan keren sekali, di dalam hati segera paham kalau ayahnya sudah mengambil keputusan untuk tidak membiarkan dirinya ikut, sekali pun memohon juga tidak berguna terpaksa dia berdiam diri tidak berbicara lagi.
"Ingat !"
Tiba-tiba Wi Ci To berbicara lagi dengan wajah yang berubah amat keren.
"Kalian jangan sekali-kali membocorkan rahasia tentang lelaki, berkudung hitam itu adalah diri Cuo It Sian, siapa saja yang berani melanggar lohu segera usir dia dari perguruan ! ". Dalam hati Ih, Kha serta Pauw merasakan hatinya berdesir, dengan cepat mereka pada menjura bersama-sama.
"Tecu turut perintah !"
"Kau pun sama juga"
Ujar Wi Ci To lagi sambil melototi diri Wi Lian In.
"Asalkan kau berani membocorkan rahasia ini maka lohu tidak akan menganggap kau sebagai putriku lagi !"
Agaknya Wi Lian In selamanya belum pernah mendengar ayahnya berbicara dengan demikian seriusnya, sehingga dalam hati dia rada merasa sedih.
"Baiklah, putrimu tidak akan memberitahukan kepada orang lain"
Sahutnya sambil mengangguk. Mendadak Wi Ci To menarik tangan Ti Then, ujarnya.
"Ti Kiauw-tauw, kau ikutilah Lohu ke samping untuk berbicara sebentar, lohu ada urusan yang harus dipesankan kepadamu !"
Dengan menarik tangan Ti Then dia berjalan beberapa langkah ke tempat kejauhan, setelah dirasanya jarak dengan putrinya serta Ih, Kha serta Pauw tiga orang rada jauh dia baru berhenti.
"Ti Kiauw-tauw."
Ujarnya dengan suara yang amat lirih.
"Maukah kau orang membantu lohu untuk mencuri kembali potongan pedang tersebut ?"
"Hamba turut perinlah dari Pocu"
Sahut Ti Then cepat sambil mengangguk kepalanya.
"Bagus sekali !"
Teriak Wi Ci To kegirangan.
"Setelah Cuo It Sian berhasil merebut kembali potongan pedangnya kemungkinan sekali dia akan menyembunyikan barang itu ke dalam rumahnya, ada kemungkinan juga pergi memjari "Cu Kiam Lojin"
Atau siorang tua pelebur pedang untuk menyambungkan pedang yang putus jadi dua bagian itu ... Ti Kiauw-tauw tahu bukan dengan Cu kiam Lojin ini ?"
"Tahu"
Sahut Ti Then sambil mengangangguk.
"dia adalah ahli lebur pedang yang paling terkenal dikolong langit pada saat ini, menurut apa yang hamba dengar katanya dia bertempat tinggal di atas gunung Tong Ting Cun san"
"Benar, si "Cu Kiam Lojin"
Ini bernama Kan It Hong, bukan saja dia pandai membuat sebilah pedang bagus bahkan bisa pula menyambung sebilah pedatng yang sudah patah menjadi dua bagian sehingga tidak kelihatan sedikit bekasnya pun Lohu sangat mengharapkan Ti Kiauw-tauw mau mewakili Ioohu untuk pergi ke gunung Cun san satu kali, jikalau kau menemukan Cuo It Sian pun ada di tempat itu dan sedang membetulkan pedangnya maka usahakanlah untuk mencuri potongan pedang itu kembali."
"Baiklah."
"Urusan ini sangat penting sekali"
Pesan Wi Ci To lagi dengan nada sungguh-sungguh.
"Kau boleh berangkat meninggalkan Benteng pada besok hari secara diam-diam, janganlah sampai membiarkan In-ji mengetahuinya."
"Baik!"
"Kau boleh menanti selama tiga bulan lamanya di atas gunung Cun san setelah lewat tiga bulan kemudian jikalau tidak melihat Cuo It Sian pergi ke sana juga kau kembali ke dalam Benteng untuk membuat laporan."
"Tetapi, jikalau tidak berhasil mencuri bolehkah aku pergi merampas?"
Tanya Ti Then kemudian. ''Tidak, harus dicuri bahkan jangan sampai ditemui kalau kaulah yang melakukan pekerjaan tersebut."
Mendengar perkataan itu Ti Then segera tertawa.
"Bilamana Boanpwe tidak berhasil mencuri barang tersebut Pocu jangan marah lho... karena boanpwe belum pernah melakukan pekerjaan seperti ini,"
Wi Ci To pun tertawa.
"Lohu memerintahkan Ti Kiauw-tauw untuk berlaku sebagai pencjuri dalam hati sebetulnya Ioohu merasa tidak enak, tetapi Ti Kiauw-tauw boleh melakukan tugas tersebut dengan hati yang tenang, karena pekerjaan ini sama sekali bukanlah suatu pekerjaan yang jahat, semua alasan serta sebab-sebabnya lohu tentu akan menjelaskan kepadamu dikemudian hari."
"Baiklah, boanpwe percaya potongan pedang dari Pocu ini pasti mem punyai kegunaan yang sungguh-sungguh"
Jilid 27.2 . Menguntit Cuo It Sian ke gunung Cun san Wi Ci To tidak berbicara lagi, dengan memegang tangan Ti Then dia berjalan kembali ke hadapan Ih, Kha, Pauw serta putrinya.
"Sudahlah, kalian boleh pulang, ke dalam Benteng !"
Ujarnya kemudian. Pada wajah Wi Lian In segera diliputi oleh kecurigaan yang menebal, dengan pandangan yang aneh dia memperhatikan ayahnya serta diri Ti Then, lalu ujarnya.
"Tia ! kau orang tua apa mau mengejar Cuo It Sian ?"
"Tidak salah ! "
Sahut Wi Ci To sambil mengangguk.
"Lohu kemungkinan sekali langsung pergi kerumahnya di kota Tiong Cing Hu maka itu kemungkinan sekali tidak bisa langsung pulang ke rumah, kalian harus baik-baik tinggal di dalam Benteng sebelum lohu pulang ke dalam Benteng kalian dilarang berkeliaran sendiri di luaran, tahu tidak ?"
"Tetapi jikalau Tia menemui hal yang ada di luar dugaan, putrimu bagaimana bisa mengetahuinya?"
"Di dalam tiga bulan jikalau Tia belum pulang ke Benteng juga, saat itulah baru boleh meninggalkan Benteng untuk mencari Lohu."
Selesai berkata tubuhnya segera meloncat ke depan, bagaikan segulung asap hitam hanya di dalam sekejap saja sudah berada di tempat yang jauh sekali.
Wi Lian In dengan pandangan tajam memperhatikan bayangan ayahnya hingga lenyap dari pandangan, lantas dengan cepat tanyanya kepada diri Ti Then.
"Tadi ayahku membicarakan soal apa dengan kau ? '' "Tidak tahu !"
Sepasang mata Wi Lian In segera melotot lebar-lebar.
"Kau barani tidak beritahu kepadaku ?"
Serunya manya.
"Jikalau boleh membiarkan kau tahu, ayahmu pun tidak perlu memberitahukan hal itu secara diam-diam"
Agaknnya Wi Lian In dibuat bertambah kheki, dengan cepat dia berhenti berjalan.
"Sekarang ayahku sudah tidak ada di sini, bukankah tidak ada halangannya kau memberitahukan urusan tersebut kepadaku ?"
"Aku sebagai Kiauw-tauw dari benteng Pek Kiam po bagaimana boleh memberitahukan tugas rahasia yang diperintahkan oleh ayahmu ? maukah kau orang jangan nembuat aku jadi serba susah ?"
Wi Lian In sekali lagi menjejakkan kakinya ke atas tanah lalu berjalan lagi dengan cepat.
Ti Then, Ih Kun, Kha Cay Hiong serta Pauw Kia Yen pun dengan membawa serta si anying Ciaa Ii Yen mengikuti di belakangnya berjalan kembali ke dalam Benteng.
Setelah berjalan beberapa saat kemudian mendadak Wi Lian In menghentikan langkahnya kembali, terdengar dengan seorang diri dia bergumam.
"Kenapa potongan pedang itu bisa miliknya Cuo It Sian? Kalau memangnya barang milik Cuo It Sian kenapa dia tidak mau minta kembali barang itu secara terbuka ?"
Ti Then yang ada di belakangnya sewaktu melihat mulutnya berkemak kemik seorang diri segera tertawa geli.
"Eeei kau jangan berpikir sembarangan ,"
Serunya. Wi Lian In tetap seperti orang gendeng ...
"Tia adalah seorang yang jujur, kenapa dia mau merampas barang milik orang lain?" ''Ayahmu bisa menguasahi barangnya Cuo It Sian sudah tentu ada alasan yang kuat, kau janganlah dikarenakan urusan ini lantas menaruh rasa curiga terhadap perbuatan ayahmu."
"Tetapi aku merasa Tia rada sedikit aneh , ..."
Seru Wi Lian ln lagi ragu-ragu.
"Apakah sebab-sebabnya dilain hari tentu ayahmu bisa memberi penjelasan dengan sendirinya."
"Lalu kenapa tidak dijelaskan sekarang saja ?"
"Ayahmu tidak mau memberi penjelasan pada saat ini sudah tentu ada alas an-alasa tertentu"
"Masih ada lagi"
Ujar Wi Lian In lagi dengan perlahan "
Tadi terang-terangan ayah bilang tidak mau pergi mengejar Cuo It Sian, tetapi seteIah aku bilang tidak seharusnya dia kembali ke Benteng kenapa secara mendadak pula dia mau pergi mengejar diri Cuo It Sian, dia ..apakah dia sungguh-sungguh pergi mengejar diri Cuo It Sian ?"
"Sudah tentu sungguh-sungguh, kali ini ayahmu sudah bersiap sedia pergi ke kota Tiong Cing Hu untuk mencari diri Cuo It Sian."
Dengan perlahan Wi Lian In menghela napas panjang lalu melanjutkan kembali perjalanannya ke depan.
Lima orang dengan cepatnya sudah tiba di dalam Benteng, mereka segera dirubung oleh para jago untuk memanyakan pengalamannya, Ti Then serta Wi Lian In pun segera menceritakan kisahnya waktu mereka bisa dikibuli.
Setelah semuanya selesai masing-masing baru kembali ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
Ti Then yang kembali kembali ke kamarnya segera menyulut lampu minyak dan mengetuk tiga kali ke depan jendela, setelah itu baru naik ke atas pembaringan untuk beristirahat.
Dia bersiap-siap hendak mencerirakan perintah dari Wi Ci To yang menyuruh dia pergi mencuri potongan pedang itu kepada majikan patung emas, karena perjalanannnya kali ini harus memakan waktu selama tiga bulan lamanya, sewaktu dirinya kembali dari gunung Cun san maka boleh dihitung dia sudah jadi patung emas selama tujuh bulan lamanya, saat itu jaraknya dengan "
Kontrakan waktu "
Sudah tinggal lima bulan lagi, terhadap dia majikan patung emas boleh dikata kepulangan tiga bulan ini merupakan satu "kerugian "
Yang amat besar sekali, kemungkinan sekali karena urusan ini maka "rencana busuk"
Nya tidak bisa mencapai kesuksesan, maka itu dia harus memberikan penjelasannya.
Sudah tentu terhadap tugas yang diberikan Wis Ci To kali ini dia merasa sangat girang sekali, karena hal ini merupakan satu kesempatan yang paling baik buat dirinya untuk mengundurkan waktu berakhirnya perjanyian ini.
Maka dia mengambil keputusan sekali pun perjalanannya kali ini menuju ke gunung Cun san bisa memperoleh hasil dengan amat lancar, dia pun baru akan kembali ke dalam Benteng setelah tiga bulan lamanya.
Sewaktu dia tertidur sampai tengah malam, ternyata patung emas dari majikan patung emas itu muncul juga dari atas atap rumah.
"Ti Then !'"
Terdengar majikan patung emas dengan mengerahkan ilmu untuk menyampaikan suaranya memanggil dirinya..
"Cepat kau ceritakan kisahmu sewaktu pergi menolong Ih, Kha serta Pauw tiga orang !"
"Aku mengundang kau datang kemari memangnya hendak memberitahukan urusan ini kepadamu.."
"Kalau begitu cepatlah berbicara !"
"Ternyata Cuo It Sian itu si pembesar kota adalah manusia berkerudung itu !"
"Sejak semula sudah ada di dalam dugaanku !"
"Pada malam tadi'"
Ujar Ti Then kemudian.
"Dia mengajak Wi Ci To main catur di dalam kamar bacanya, akhirnya mendadak mereka lenyap secara bersamaan, Nona Wi segera memastikan kalau mereka keluar melalui sebuah jalan rahasia yang ada di dalam kamar baca itu, lantas dengan membawa seekor anying sakti Cian Li Yen mengikuti mereka"
"Jalan rahasia itu menembus sampai dimana ?"
Tanya majikan patung emas ingin tahu.
"Di dalam sebuah goa di belakang tebing "Sian Ciang, aku bersama-sama dengan nona Wi sesudah keluar dari goa itu dengan mengikuti anying sakti tersebut lantas melakukan pengejaran terus yang akhirnya sampailah disebuah tebing yang amat curam, di atas tebing curam itu terdapat sebuah puncak yang agak luas, kami segera naik ke atas puncak itu, terlihatlah Cuo It Sian dengan seorang lelaki berkerudung yang kurus kering sedang naenguasahi Ih, Kha serta Pauw tiga orang, kiranya barang yang diminta oleh Cuo It Sian adalah sebuah potongan pedang, itulah bukan lain sebuah gagang pedang yang amat pendek sekali, kalihatannya amat berharga sekali ...."
"Eeeei . , .-, kiranya potongan pedang itu yang dicari, lalu Wi Ci To apa menyerahkan kepadanya ?"
Tanya majikan patung emas lebih lanjut. ''Sudah diberikan. !'"
"Hmmmm , ... orang she Cuo itu sungguh lihay sekali !"
"Setelah dia berhasil memperoleh potongan pedang itu bersama-sama dengan si lelaki berkerudung yang kurus kecil meninggalkan tempat itu, sesaat sebelum pergi dia masih mengundang Wi Ci To untuk pergi main catur di rumahnya !"
"Sungguh berarti sekali. lalu Wi Ci To mengadakan pengejaran tidak ?"
"Tidak segera pergi mengejar "
Jawab Ti Then.
"Dia menyuruh kami jangan membocorkan rahasia dari Cuo It Sian ini terlebih dahulu kemudian memberi perintah juga kepadaku, setelah itu baru .pergi mengejar"
"Kau di perintahkan untuk berbuat apa ?"
Tanya majikan patung emas lebih lanjut.
"Soal ini nanti sada aku baru memberitahukan padamu, sekarang aku mau membicarakan soal potongan pedang itu terlebih dulu, ..sungguh mengherankan sekali . ... kiranya potongan pedang itu sebetulnya adalah barang milik Cuo It Sian, sungguh lucu tidak ?"
"Ehmm, ..memang aneh sekali ..."
"Aku sungguh tidak mengerti, kalau memangnya potongan pedang itu adalah milik Cuo It Sian sendiri kenapa dia tidak minta kembali secara terus terang saja ? sebaliknya menggunakan cara-cara yang begitu rendah untuk turun tangan ? sedangkan Wi Ci To pun merupakan seorang dari kalangan lurus yang biasanya bertindak jujur dan pendekar, kali ini dia sudah manginginkan barang milik orang lain ? bahkan mengusahakan juga mau merebut kembali potongan pedang itu ?"
"Benar!"
Seru majikan patung emas itu memperdengarkan suara keheranannya juga.
"Urusan ini memang benar-benar membuat orang kebingungan, apa mungkin potongan pedang itu sudah mengandung suatu rahasia yang amat penting?"
"Pastilah begitu !"
Teriak T i Then membenarkan.
"Bahkan rahasia itu pastilah mem punyai hubungannya dengan mereka berdua sehingga terjadilah suatu perebutan yang tidak terbuka, yang satu ingin merebut yang lain ingin mempertahankan terus"
"Tidak salah, , . .tidak salah.."
"Tetapi"
Ujar Ti Then lagi.
"Tidak perduli rahasia itu mem punyai sangkut paut dengan urusan apa pun, menurut pandanganku maka Wi Ci To berada didalarn kedudukan lurus sedangkan Cuo It Sian berada di dalam kedudukan jahat"
"Ehmmm, , , apa benar ?"
Seru majikan patung emas dengan suara yang tidak yakin.
"Benar!"
Sahut Ti Then mengangguk.
"Karena untuk mendapatkan potongan pedang itu Cuo It Sian ternyata tidak jeri-jerinya membunuh dan mencelakai orang lain, bahkan masih ingin bekerja sama dengan si rase bumi Bun Jin cu, pekerjaannya ini tidak sesuai dengan sifat asli seorang pendekar sejati !"
"Lalu kau kira bagaimana dengan cara yang aku lakukan saat ini?".
"Tindakanmu rada kalem tidak seperti Cuo It Sian yang amat ganas dan kejam tetapi ... jika dikatakan lihay juga tidak cukup lihay!"
"Apa maksudmu ?"
Tanya majikan patung emas sambil tertawa.
"Karena kau minta aku kawin dulu dengan nona Wi. hal ini sedikit keterlaluan ".
"Aku membantu kau mendapatkan seorang istri yang amat cantik dan genit dan membantu Wi Lian In mencarikan seorang suami yang tampan bahkan membantu Wi Ci To mencarikan seorang menantu yang amat bagus sekali, apanya lagi yang jelek ?"
"Jikalau kau orang tidak bertujuan, hal itu memang amat bagus sekali ! "
Seru Ti Then dengan cepat.
"Sudah....sudahlah....kau jangan omong kosong lagi ! "
Potong majikan patung emas kemudian.
"Tadi kau bilang Wi Ci To sudah perintahkan dirimu untuk melakukan satu tugas sebetulnya tugas apa itu ?"
"Dia minta aku pergi mencuri kembali potongan pedang tersebut"
"Bukankah dia sudah pergi sendiri?"
"Dia punya rencana pergi merebut barang itu di rumahnya Cuo It Sian, tetapi dia pun merasa ada kemungkinan Cuo It Sian pergi ke atas gunung Cun-san untuk mencari Ciu Kiam Lojin untuk bantu dia menyambungkan kembali pedangnya yang sudah patah jadi dua bagian itu, karenanya sudah perintahkan diriku untuk meminyam kesempatan tersebut mencurinya kembali.."
"Hmmm !"
Dengus majikan patung emas itu dengan cepat.
"Jarak dari sini menuju ke gunung Cun san selama tiga bulan lamanya, jikalau waktu itu tidak melihat juga Cuo It Sian pergi mencari Ciu Kiam Lojin maka tiga bulan kemudian akan baru boleh pulang ke dalam Benteng.'' Mendengar berita itu agaknya majikan patung emas dibuat cemas sekali.
"Maknya ... dengan begitu bukankah perkawinanmu dengan Wi Lian In juga harus diundurkan paling cepat tiga bulaa lagi "
Teriaknya dengan gemas.
"Aku tahu pekerjaan ini sangat menggangu sekali terhadap rencana yang kau susun tetapi coba kau pikir dapatkah aku menolaknya ?"
OooOOooo "Sudah tentu kau tidak bisa menolaknya ...
persoalannya sekarang...
, setelah lewat tiga bulan kemudian berarti di dalam satu tahun sudah tinggal lima bulan saja, jikalau diantara waktu itu timbul kembali persoalan bukankah tujuanku jadi berantakan ?"
"Bilamana tujuanmu sampai berantakan, hee... hee, ..bukanlah kesalahanku"
Sahut Ti Then cepat.
"Hmm! jikalau rencanaku gagal maka orang yang paling gembira tentunya kau kan ?"
Seru majikan patung emas dengan dingin.
"Mana....mana. ."
Dengan dinginnya majikan patung emas bertanya kembali.
"Kenapa Wi Ci To memerintahkan kau berjaga selama tiga bulan lamanya baru boleh pulang kembali ?"
"Alasannya mudah sekali, dia sudah mengambil keputusan untuk merebut kembali potongan pedang tersebut."
"Hmm ! Hmm ! sungguh kurang ajar sekali.."
Teriak si majikan patung emas dengan teramat gusar.
"Dia bahkan memerintahkan aku untuk meninggalkan Benteng secara diam-diam dan jangan sampai membiarkan nona Wi, karena alasannya dia orang takut sampai putrinya terjatuh kembali ke tangan Cuo It Sian, makanya aku mem punyai rencana untuk meninggalkan Benteng secara diam-diam besok pagi, entah kau orang punya perintah lain tidak ?"
Lama sekali majikan patung emas berpikir keras, akhirnya dia menyawab .
"Setelah kau orang berhasil mendapatkan potongan pedang itu kau harus cepat-cepat kembali ke dalam Benteng, aku larang kau berkeliaran lebih lama lagi di tempat luaran !"
"Hal ini sudah tentu !"
"Aku sudah mengambil keputusan untuk secara diam-diam mengirim orang untuk mengawasi seluruh gerak gerikmu, jikalau aku mengetahui kalau kau belum pulang juga walau pun potongan pedang itu sudah kau dapatkan... .hmmm. , . ,hmmm...! aku segera bunuh dirimu!"
"Kau punya hak untuk berbuat begitu?'serunya membantah.
"Rencana yang sudah aku susun harus mencapai hasil, lain waktu setelah kau kembali ke dalam benteng jikalau di dalam satu bulan Wi Ci To belum juga menyiarkan berita perkawinan putrinya dengan dirimu, maka waktu itu terpaksa aku melakukan perintahku yang kedua!"
"Perintahmu yang kedua ini adalah....."
Tanya Ti Then.
"Aku perintah kau orang cepat mengawini diri Wi Lian In !"
Ti Then segera merasakan hatinya tergetar amat keras dia tertawa pahit.
"Jikalau kau demikian adanya memungkinan sekali urusan malah jadi kacau tidak karuan!"
Serunya.
"Tidak mungkin ! sewaktu Wi Ci To tahu kau dengan putrinya sudah melakukan hubungan gelap maka satu-satunya cara buat dia orang dia. , . , .adalah, ..mengawinkan dirimu secepatnya !"
"Dia mungkin akan turun tangan membunuh diriku."
"Tidak mungkin !"
Ti Then segara termenung tanpa mengucapkan sepatah kata pun Dengan perlahan majikan patung emas menarik kembali patung emasnya ke atas, tambahnya .
"Kau harus ingat, aku bisa mengirim orang secara diam-diam mengawasi seluruh gerak gerikmu, sewaktu kau berhasil mendapatkan potongan pedang itu dan tidak kembali juga, tanpa banyak rewel lagi aku segera akan turun tangan membinasakan dirimu !". Selesai berkata dia segera menarik seluruh patung emasnya ke atas atap dan menutup kembali atapnya lalu pergi. Dengan mandongakkan kepalanya ke atas atap Ti Then diam-diam merasa geli pikirnya.
"Untung saja kau tidak melarang aku pergi... ."
Dia mengira asalkan dia orang tidak terlalu keburu untuk pergi mencuri potongan pedang dari Cuo It Sian itu maka dia masih mem punyai waktu yang banyak untuk berkeliaran selama tiga bulan ditempat luaran, karena itu terhadap gentakan dari majikan patung emas dia sama sekali tidak merasa murung, Keesokan harinya, baru saja dia selesai bersantap pagi tampaklah pelayan perempuan Cun Lan sudah menghadap datang.
"Ti Kiauw tauw !"
Ujarnya sambil menjura.
"Siocia mengundang kau untuk berbicara di dalam kebun bunga"
"Baik, beritahu kepadanya sebentar lagi aku akan ke sana."
Cun Lan segera menyahut dan meninggalkan tempat itu.
Sekembalinya ke dalam kamar Ti Then segera membereskan pakaiannya secara diam-diam dan diletakkan di dalam kamar, setelah itu dia pergi mencari Shia Pek Thad an ujarnya kepadanya.
"Shia heng, siauwte sudah mendapatkan perintah dari Pocu untuk melakukan suatu tugas, setelah aku meninggalkan Benteng maka semua urusan di sini kaulah yang mengurus"
"Pocu suruh Ti Kiauwtauw melakukan pekerjaan apa?"
Tanya Shia Pek Tha keheranan.
"Maaf, pocu sudah pesan wanti-wanti kepada siauwte untuk jangan memberitahukan urusan ini kepada orang lain, harap Shia heng suka memaafkan."
Dengan perlahan Shia Pek Tha mengangguk.
"Apa nona Wi juga ikut pergi?"
Ujarnya.
"Dia tidak pergi. Pocu minta siauwte pergi seorang diri saja."
"Kalau memang begitu lebih baik Ti Kiauwtauw pergi secara sembunyi-sembunyi saja jangan sampai membiarkan dia orang tahu."
"Benar !"
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Baru saja dia perintahkan Cun Lan untuk datang mengajak siauwte ngobrol di kebun bunga, nanti tolong secara diam-diam Shia-heng bawa kuda Ang San Khek itu keluar, dan tunggu aku di pintu Benteng setelah siauw-te bercakap cakap beberapa patah kata dengan diirinya siauwte segera mau berangkat "
"Baiklah, kepergian dari Ti Kiauw-tauw kali ini entah membutuhkan waktu seberapa lama ?"
"Tidak tentu, paling cepat satu, dua bulan, paling lambat yaa tiga empat bulan"
"Urusan yang hendak Ti Kiauw-tauw kerjakan kemungkinan sekali ada hubungannya dengan manusia berkerudung hitam bukan?''. Ti Then segera tertawa,.
"Maaf, siauw-te tidak bisa naemberitahu.."
"Baiklah "
Ujar Shia Pek Tha pula sambil tertawa.
"Aku pergi mempersiapkan kuda buat Ti Kiauw-tauw ". Selesai berkata dia segera berjalan menuju ke kandang kuda. Ti Then yang berjalan ke kebun bunga segera tampaklah olehnya Wi Lian In sedang duduk seorang diri di tepi bunga teratai, agaknya dia sedang memikirkan sesuatu. Dengan perlahan dia duduk di samping badannya lantas bertanya.
"Ada urusan apa ?"
Wi,Lian In segara memutuskan sebatang ranting pohon Liauw dan dikoyakan ke dalam air kolam.
"Perkataan yang Tia ucapkan kemarin malam kepadamu tentunya kau mau memberitahukan kepadaku bukan ?"
Ujarnya dengan perlahan.
"Sebelum aku menyawab pertanyaanmu ini, aku mau menanyakan satu urusan dulu kepadamu .." , kau .suka tidak kalau aku menghormat ayahmu ?"
"Baik.. ., baik, ... kau tidak mau bicara yaa sudahlah ! buat apa kau orang mengambil perkataan yang tidak berat untuk menekan aku ?"
Seru Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya. Ti Then segera tersenyum.
"Kau adalah putri ayahmu, seharusnya kau orang lebih percaya dan lebih menghormati ayahmu sendiri daripada aku ".
"Bukannya aku tidak percaya atau tidak menghormati ayahku, aku cuma ingin tahu apa yang dia orang tua bicarakan dengan dirimu ".
"Kemarin malam kan aku sudah bilang, jikalau ayahmu memperbolehkan kau tahu kenapa harus berbicara secara pribadi dengan aku orang."
Dengan sedihnya Wi Lian In menghela napas panjang.
"Aku tahu ayahku adalah seorang yang baik"
Ujarnya.
"Tetapi terhadap urusan yang menyangkut diri Cuo It Sian ini setelah berpikir semalaman aku tetap tidak mengerti, aku tidak tahu kenapa ayah ngotot mau mendapatkan kembali potongan pedang milik Cuo It Sian itu ? sedangkan Cuo It Sian sendiri pun kenapa tidak mau meminta langsung kepada ayahku secara terbuka ?"
"Tentang urusan ini ayahmu tidak pernah memberitahukan kepadaku, sehingga aku sendiri pun tidak tahui"
"Apakah ayahku meminta kau orang membantu dirinya untuk melakukan satu urusan?"
Tanya Wi Lian la kemudian sambil melototi dirinya.
"Bukan !"
Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya. Mendadak Wi Lian In tersenyum.
"Sungguh-sungguh bukan ?"
Tanyanya.
"Sungguh !"
Sahut Ti Then dengan serius.
"Ini hari kau ingin berbuat apa ?"
"Tidak ingin berbuat apa-apa, cuma sada sat ini aku ada satu urusan yang harus diselesaikan secepatnya , ."
"Urusan apa?"
Tanya Wi Lian In cepat. Ti Then sengaja memperlihatkan wajah kemalu-maluan lalu tertawa.
"Aku ingin pergi mengentengkan badan sebentar ! bilamana kau tidak merasa kelamaan, tunggulah sebentar....nanti kiia ngomong-ngomomg lagi."
Mendengar perkataan itu air muka Wi Lian In segera berubah memerah dengan malunya dia cemberut.
"Hmmm ! membosankan, sana. , sana. , .."
Serunya. Ti Then segera bangkit berdiri dan ujarnya lagi sambil tertawa.
"Kau harus tunggu aku di sini, menanti aku kembali lagi ke sini dan membicarakan. suatu urusan yang penting kepadamu"
Selesai berkata dengan gaya ada urusan genting dia berlari keluar dari kebun bunga itu.
Sekembalinya dari dalam kamar dengan membawa buntalan dan pedangnya dia segera berlari menuju kepintu Benteng.
Mendekati pintu benteng dia bertemu dengan Ki Tong Hong itu si pendekar pedang merah, dia yang melihat Ti Then membawa buntalan dan gerak geriknya tergesa-gesa segera maju bertanya .
"Ti Kiauw-tauw kau mau kemana ?"
"Ada urusan mau pergi ke kota sebentar.."
"Apa bukan melakukan perjalanan jauh?"
Tanya Ki Tong Hong sambil tertawa menyengir.
"Bukan.."
"Kalau begitu kenapa harus membawa buntalan?"
Desak Ki Tong Hong lebih lanjut. Untuk sesaat Ti Then tidak ada perkataan untuk menyawab.
"Kau orang boleh pergi bertanya dengan Shia-heng !"
Sehabis berkata dia segera merangkap tangannya memberi hormat lalu keluar dari pintu Benteng.
Shia Pek Tha sejak semula sudah menanti diluar Benteng dengan menuntun kuda Ang Shan Khek itu, melihat Ti Then berlari mendatang dia segera datang menyongsong dan memberikan tali les kudanya kepada dia orang.
Ti Then segera menerima tali les dan meloncat naik ke atas punggung kudanya.
Di tengah suara bentakannya yang amat nyaring dia melarikan kudanya turun gunung.
Dia tahu jikalau Wi Lian In mendengar kalau dirinya meninggalkan Benteng dia tentu akan mengejarnya, karena itu selama perjalanan dia terus melarikan kudanya dengan amat cepat sekali.
Hanya di dalam sepertanak nasi kemudian dia sudah menuruni pegunungan Go-bi dan berlari di jalaa raya yang datar.
Setelah itu dia melarikan kudanya pula menuju ke arah timur.
Selama di tengah perjalanan tidak menemui kejadian apa-apa, pada siang hari ketujuh dia sudah memasuki daerah Oh Kiang dan menaiki gunung dari Bu Leng san.
Pemandangan disepanjang jalan amat indah sekali, akhirnya dia memperlambat lari kudanya untuk melanjutkan perjalanan dengan perlahan-lahan, dia orang benar-benar dibuat mabok oleh keindahan alam sekitar tempat tersebut.
Dia berjalan ..-berjalan terus, tidak terasa lagi hari sudah menjadi gelap.
Pandangan yang terlihat di hadapannya cumalah lereng-lereng gunung terjal ini saling sambung menyambung, tak terasa lagi gumamnya seorang diri .
"Aaaa ... celaka, ini kemungkinan sekali aku harus menginap ditempat terbuka."
Baru saja dia selesai bergumam, mendadak dari samping hutan ditengah gunung berjalanlah keluar seorang tukang pencari kayu yang usianya masih sangat muda sekali.
Pemuda itu mem punyai perawakan yang tinggi kekar dan sangat berotot, wajahnya tampan dengan pada ikat pinggangnya tersoren sebilah kampak pendek, pundaknya memikul satu pikulan kayu bakar sedangkan langkahnya amat mantap sekali, jelas dia merupakan orang yang pernah belajar ilmu silat.
Jilid 27.3 . Cian Pit Yuan membalas dendam Ti Then yang melihat wajah pemuda sangat menarik rasa simpatik segera menyelimuti dirinya, dia berjalan ke samping badan pemuda itu lantas menjura.
"Lo-te maaf mengganggu !"
Pemuda itu segera menghentikan langkah kakinya, dia mengangguk sebagai balasan menghormat.
"Aaah.. Lo-heng tentu orang yang sedang melakukan perjalanan bukan ?"
"Benar ..benar, tolong tanya dari tempat ini menuju kekota yang terdekat masih ada seberapa jauh ?".
"Lo-heng mau pergi kemana ?"
"Kesebelah sana!"
Sahut Ti Then segera sembari menuding kearah Utara.
"Tempat itu menuju kekota Ih Hong, kalau menunggang kuda paling cepat juga ada setengah hari perjalanan !"
"Iiih... kalau begitu sesampainya di kota tersebut sudah tengah malam buta?"
Teriak Ti Then amat terkejut.
"Benar, bilamana Lo-heng tidak menampik. silahkan menginap satu malam di rumah gubukku?"
"Lote tinggal digunung ini?"
"Benar, tidak jauh dari sini."
"Tidak mengganggu?"
"Apa ganggu mengganggu, di rumah gubukku cuma siauw-te seorang saja"
Sahut pemuda sambil tertawa, Ti Then jadi keheranan.
"Oooh..Lote tinggal di atas gunung seorang diri ?"
"Benar !"
Jawab pemuda itu sambiI menganggukkan kepalanya.
"Setelah orang tuaku mati satu-satunya ciciku juga kawin, sekarang dirumahku cuma tinggal aku seorang diri saja."
"Lalu Lote menggantungkan pencari kayu sebagai penghidupan sehari-hari ?"
Tanya Ti Then lagi.
"Benar!"
Sekali lagi pemuda itu mengangguk.
"Ada kalanya aku berburu adakalanya pula aku mencari kayu di hutan."
"Lalu siapa namamu?"
"Aku she Kwek bernama Kwek Kwan San, lalu kau ?"
"Aku adalah Ti Then!"
Pemuda Kwek Kwan San itu segera tersenyum ramah, ujarnya.
"Bagaimana Ti-heng? kau orang jadi bermalam dirumahku tidak?"
"Baik?"
Sahut Ti Then dengan amat girang, Malam ini terpaksa aku orang mengganggu satu malam !"
Agaknya Kwek Kwan San itu pun menaruh rasa simpatik terhadap diri Ti Then, mendengar dia menyanggupinya hatinya terasa amat girang sekali.
"Kalau begitu silahkan Ti-heng mengikut diri siauw-te !"
Sehabis berkata dia berjalan terlebih dahulu mengikuti jalan gunung tersebut.
Ti Then pun turun dari kuda dan mengikuti dari sampingnya, setelah berbelok-belok di jalan pegunungan yang agak lebar kini mereka berbelok ke dalam sebuah jalan usus kambing yang amat sempit sekali.
Setelah melalui lagi beberapa ratus langkah tampaklah tidak jauh dari mereka sekarang berada berdirilah sebuah rumah gubuk.
"Itukah ramahmu ?"
Tanyanya segera.
"Benar !"
Jawab Kwek Kwan San mengangguk.
"Rumahku jeiek harap jangan dibuat geguyon"
"Mana ... mana , ..Lo-te tinggal di sini seorang diri apakah tidak terlalu kesepian ?"
Tanya Ti Then gugup.
"Dahulu aku memang rada kesepian tetapi sekarang sudah tidak, karena baru-baru ini Siauw-te sudah mengangkat seorang suhu, dia orang tua sekarang berdiam bersama-sama dengan siauw-te !"
"Oooh ... kiranya begitu! laiu siapa, kah sebutan dari suhumu ?"
Tanya riThtE kemudian "Sebutan suhuku amat aneh sekuli, dia dipanggil sebagai Sang Sim Lojin atau si kakek tua berduka hati, sedangkan siapakah nama yang sesungguhnya selama ini dia orang tua tidak pernah mau memberitahukannya kepada siauw-te .
, ,"
"Sang Sim Lojin ?"
Tanya Ti Then terperanyat.
"Benar. Sang Sim Lojin !"
"Kenapa dia orang berduka ?"
"Entahlah.."
Sahut Kwek Kwan san sambil gelengkan kepalanya.
"Dia sekarang ada di dalam rumah?"
"Ada, suhuku jarang sekali keluar pintu"
"Jika dilihat dari langka lo-te yang begitu mantap sudah tentu kepandaian silatnya amat hebat, kenapa kau orang masih menggantungkan pencarian kayu bakar sebagai biaya hidup ?"
"Mana ....mana ..."
Ujar Kwek Kwan San sambil tertawa malu.
"Siauw-te cuma berhasil mempelajari sedikit permainan kaki saja, jika dibandingkan dengan orang lain masih terpaut sangat jauh sekali"
Sewaktu mereka bercakap-cakap itulah tanpa terasa sudah tiba di depan rumah gubuk itu.
Baca Juga: Tangan Geledek 6
Baca Juga: Nurseta Satria Karangtirta 5