Ceritasilat Novel Online

Pendekar Patung Emas 10

Eps 10 Pendekar Patung Emas - Qing Hong

Baca online Pendekar Patung Emas - Qing Hong

Cersil Pendekar Patung Emas - Qing Hong.

Kwek Kwan San segera meletakkan kayu bakar yang dipikulnya tadi ke atas tanah lantas berjalan masuk ke dalam rumah.

"Suhu ..suhu ..."

Teriaknya keras "Kita sudah kedatangan seorang tetamu."

Tetapi sewaktu dia berjalan masuk ke dalam rumah tidak terasa lagi air mukanya rada sedikit tertegun.

"Iih . suhu, dia orang tua sudah pergi ke mana ?"

Jeritannya kaget. Ti Then pun ikut berjalan masuk ke dalam, ternyata di dalam ruangan itu memang benar-benar kosong melompong dan sama sekali tidak kelihatan jejak dari "Sang Sim Lojin"

Itu, lantas ujarnya .

"Kemungkinan sekali suhumu sudah keluar dari rumah."

Pada wajali Kwek Kwan San segera terlintaslah satu perubahan yang amat aneh lantas dengan perlahan mengangguk.

"Benar .... Ti heng silahkan duduk biarlah siauw-te pergi mencarinya sebentar"

Selesai berkata dia segera putar badan dan berjalan keluar.

Ti Then pun segera duduk di atas ruangan tersebut, matanya dengan perlahan menyapu sekejap keseluruh dinding ditempat itu, ketika dilihatnya di atas dinding sudah tergantung sebilah pedang panjang dengan sarung yang amat kuno sekali dalam hati diam-diam berpikir.

"Oooh ... kiranya si Sang Sim Lojin ini pun merupakan seorang jagoan pedang entah bagaimana kepandaiannya di dalam permainan pedang ? dan mengapa mem punyai sebutan sebagai Sang Sim Lojin?"

Sewaktu pikirannya berputar dengan keras itulah terdengar Kwek Kwan yang ada diluar sedang berteriak keras.

"Suhu .... suhu ... kau ada dimana ?"

Suara teriakannya semakin lama semakin perlahan dan semakin lama semakin kecil agaknya dia sudah berada di tempat yang amat jauh sekali.

Kurang lebih seperempat jam kemudian tampaklah Kwek Kwan San dengan wajah yang amat sedih sekali berjalan masuk kembali ke dalam rumah, alisnya dikerutkan rapat-rapat.

"Aneh sekali, entah suhu dia orang tua sudah pergi ke mana ?"

"Apa suhumu jarang keluar?"

"Benar!"

Jawab Kwek Kwan San mengangguk.

"Selama beberapa bulan ini setiap kali siauw-te pulang dari mencari kayu dia pasti menunggu di dalam rumah, entah mengapa ini hari sudah keluar rumah..... haaaai..entah dia orang sudah pergi kemana ?"

"Jikalau mau pergi ke tempat kejauhan seharusnya dia orang tua meninggalkan surat sebagai pemberitahuan"

"Benar ... sungguh aneh sekali .."

Seru Kwek Kwan San keheranan tidak ada habisnya.

"Apa mungkin sudah menemui peristiwa lain ?"

"Jikalau sudah terjadi urusan, dengan kepandaian silat yang dimiliki oleh suhu dia orang tua seharusnya bisa menghadapi dengan mudah, kepandaian silat dari dia orang tua amat hebat sekali"

"Pedang itu apakah milik suhumu ?"

Tanya Ti Then kemudian sambil menuding kearah pedang yang tergantung di atas dinding itu.

"Tidak salah!"

Sahut Kwek Kwan San mengangguk.

"Kalau begitu"

Ujar Ti Then lagi.

"Dapatkah suhumu pergi ke sekitar tempat ini untuk berjalan-jalan? Bilamana sudah terjadi peristiwa yang diluar dugaan pedang itu tidak seharusnya masih tergantung di atas dinding."

Mendengar penjelasan dari Ti Then itu dengan perlahan perasaan murung yang menyelimuti wajahnya mulai luntur.

"Perkataan dari Ti heng sedikit pun tidak salah"

Sahutnya rada girang.

"Silahkan kau tunggu sebentar, biar siuwte masuk ke dalam untuk mempersiapkan makanan"

Selesai berkata dia berjalan masuk ke dalam rumah.

Tidak lama kemudian nasi panas dengan beberapa macam sayur asin sudah dihidangkan di atas meja.

Kwek Kwan San kembali berjalan keluar dari rumah untuk menengok, lalu dengan keheran-heranan ujarnya .

"Sungguh aneh sekali, bagaimana dia orang belum kembali juga?"

"Coba tunggu sebentar lagi"

Kwek Kwan San segera kembali ke dalam rumah.

"Tidak, mari kita makan dulu"

Ujarnya kemudian.

Dia mempersilahkan Ti Then duduk dan mengambilkan dua mangkuk nasi yang satu diangsurkan kepada Ti Then dan yang lain buat dia sendiri, lantas bersama-sama bersantap.

Sembari makan tanya Ti Then lagi.

"Lo-te tahun ini umur berapa?"

"Delapan belas."

"Kau punya maksud untuk selamanya menggantungkan pencarian kayu baker untuk biaya hidup?"

"Tidak, lain kali setelah kepandaian silatku berhasil aku latih hingga mencapai pada taraf yang tinggi siauwte punya rencana untuk jadi Piauw-su, aku dengar jadi piauwsu paling mudah mencari uang, bukan begitu?"

"Benar, tetapi juga sangat berbahaya sekali "

Sahut Ti Then sambil mengangguk.

"Guruku pernah bilang, asalkan siauw-te mau berlatih selama tiga tahun lamanya maka dia tanggung siauw-te bisa jadi jagoan nomor satu, saat itu untuk jadi piauw-su bukanlah satu soal yang sulit "

"Jadi piauwsu bukan saja harus mem punyai kepandaian silat yang amat tinggi bahkan pengalamannya pun harus amat luas sekali "

"Aku tahu "

Sahut Kwek Kwan San mengangguk.

"Aku beleh menyabat sebagai pengawal rendahan terlebih dulu. ooohh yaa, Ti-heng bekerja apa ?"

"Cayhe menyabat sebagai Kiauw-tauw dari Benteng Pek Kiam Po"

Agaknya Kwek Kwan San belum pernah mendengar nama dari Benteng Pek Kiam Po ini, mendengar perkataan tersebut dia jadi tertegun.

"Apa itu Benteng Pek Kiam Po?"

Tanyanya.

"Benteng Pek Kiam Po adalah satu aliran di dalam Bu-lim yang cukup besar pengaruhnya, markas besarnya ada di gunung Go-bi, apakah suhumu belum pernah membicarakan soal Pek Kiam Po ini kepadamu ?"

"Tidak!"

Sahut Kwek Kwan San sambil gelengkan kepalanya.

"Suhu kecuali setiap hari memberi pelajaran ilmu silat kepada siauw-te, apapan tidak pernah dibicarakan."

"Di dalam Bu-lim pada saat ini setiap jago yang pernah terjunkan diri ke kalangan kang-ouw pasti akan tahu kalau di atas gunung Go-bi ada sebuah Benteng Pek Kiam po, suhumu tidak pernah mengungkatnya kepada mu mungkin dikarenakan perhatiannya cuma dipusatkan pada pemberian pelajaran ilmu silat."

"Apakah orang-orang dari Benteng Pek Kiam Po pun berlatih ilmu pedang semua?"

Tanya Kwek Kwan San lagi.

"Benar !"

"Siapakah Pocunya ?"

"Si pedang naga emas Wi Ci To."

"Apakah ilmu pedangnya sangat tinggi sekali?"

"Dia mem punyai nama harum sebagai Bu Lim Cit Ji Kauw-jin atau jagoan nomor dua dari seluruh Bu-lim,"

Agaknya Kwek Kwan San menaruh perhatian khusus terhadap urusan ini, desaknya lebih lanjut.

"Lalu siapakah si jagoan nomor wahid di dalam seluruh Bu-lim saat ini ?"

"Si kakek pemalas Kay Kong Beng, tetapi dia bukan orang benteng Pek Kiam Po kami, dia berdiam di puncak gunung Kim Teng San "

"Ilmu pedang dari suhuku di dalam pandangan siauw-te amat dahsyat dan liehay sekali, entah dapatlah kepandaian silatnya dibandingkan dengan si kakek pemalas Kay Kong Beng serta pocu dari Benteng Pek Kiam Po tidak ? "

"Cayhe belum pernah melihat ilmu pedang dari suhumu, sehingga sukar buatku untuk menyawab pertanyaan ini "

"Ada satu hari suhu pernah mendemontrasikan permainan pedangnya buat siauw-te lihat, dia menancapkan tiga batang bambu ke atas tanah lantas di dalam satu kali babatan saja sudah berhasil menebas putus ketiga batang bambu tersebut, tetapi bambu yang cuma diberdirikan itu sama sekali tidak rubuh"

"Kalau begitu kepandaian ilmu pedang dari suhumu memang sangat dahsyat sekali "

Seru Ti Then tertarik.

"Jika dibandingkan dengan si kakek pemalas Kay Kong Beng serta Pocu dari Ti-heng rasanya bagaimana?"

"Hmmmm..mungkin hampir sama"

"llmu pedang dari Ti-heng tentunya sangat lihay bukan?"

"Mana..mana. , ,"

Ujar Ti Then sambil tersenyum.

"Cayhe masih terpaut jauh"

"Tadi Ti-heng bilang kau menyabat sebagai apa di dalam Benteng Pek Kiam Po?"

"Cong Kiauw-tauw."

"Apa yang dimaksud dengan Kiauw-tauw itu ?"

Tanya Kwek Kwan San lagi "Kedudukan Kiauw-tauw ada di bawah Pocu seorang dan bertugas untuk memberi pelajaran ilmu silat kepada seluruh jagoan pedang yang ada di dalam Benteng."

Mendengar penjelasan itu Kwek Kwan San jadi terperanyat "Jagoan pedang yang ada di dalara Benteng Pek Kiam Po apakah usianya sederajat dengan usia dari Ti-heng ?"

Tanyanya lagi.

"Tidak, jagoan pedang di dalam Benteng Pek Kiam Po yang berusia sekecil cayhe cuma ada beberapa orang saja "

"Lalu bagaimana Ti-heng bisa menyabat sebagai Kiauw-tauw dari para jago di dalam Benteng Pek Kiam Po"

Tanya Kwek Kwan San lagi sambil berseru keheran-heranan.

"Hal ini dikarenakan , . , Ehmm, pertanyaan dari Lo-te ini sungguh-sungguh membuat cayhe sukar untuk memberi jawaban.."

"Ooooh sekarang aku paham sudah tentu ilmu pedang dari Ti heng jauh melebihi kepandaian silat dari para jago pedang lainnya sehingga diangkat sebagai Kiauw-tauw, bukan begitu ?"

Ti Then sambil tertawa segera mengangguk. Kwek Kwan San jadi amat girang sekali, serunya.

"Dapatkah Ti-heng memperlihatkan sedikit kepandaian untuk siauwte lihat?"

"Haa..haa..siauwte tidak berani memperlihatkan kejelekanku di hadapan kalian!"

Serunya dengan cepat sambil gelengkan kepalanya cepat.

"Ti-heng kenapa sungkan?"

Ujar Kwek Kwan san dengan terburu-buru.

"Siauw-te cuma ingin mengetahui bagaimana taraf kepandaian silat yang aku miliki sekarang ini jika dilihat dari kepandaian yang Ti-heng miliki. Siauw-te sejak belajar ilmu pedang dari suhuku dia orang tua sampai saat ini belum pernah mengetahui bagaimana hasil dari latihanku itu jikalau Ti heng mau sedikit memperlihatkannya maka Siauw-te segera akan tahu seberapa tinggi kepandaian yang aku miliki."

"Tapi...jikalau sampai suhumu pulang dan menemuinya bukankah terlalu tidak baik ... ,"

Ujar Ti Then kembali berusaha menampik. ''Suhuku kemungkinan sekali ada urusan pergi ke kota, aku rasa dia orang tua tidak mungkin bisa kembali dengan cepat,"

"Kalau begitu setelah selesai makan bilamana suhumu belum kembali juga, cayhe akan memperlihatkan sedikit kejelekan."

Akhirnya Ti Then mengabulkan. Kwek Kwan San jadi amat girang sekali.

"Bagus sekali, mari kita cepat makan !"

Selesai berkata dengan lahapnya dia menghabiskan nasinya.

Tidak lama kemudian mereka berdua sudah kenyang benar-benar.

Kwek Kwan San tidak sempat membereskan mangkok sumpitnya segera dia memohon lagi kepada diri Ti Then .

"Ti-heng bagaimana kalau mendemonstrasikan sekarang saja !"

"Baik, mari kita keluar rumah."

Mereka berdua segera jalan keluar dari rumah gubuk itu, Ti Then memungut tiga batang bambu dan diletakkan di atas tanah lalu mencabut keluar pedang panjangnya, dia tertawa.

"Cayhe pun mau jajal mengayunkan cara seperti suhumu, jikalau jelek Ioo-te jangan tertawa Iho. ."

"Tidak mungkin, tidak mungkin. Ti-heng silahkan bermain"

Seru Kwek Kwan San dengan cepat.

Ti Then segera pusatkan pikirannya, lantas kakinya maju satu langkah ke depan, pedang yang ada di tangannya dengan cepai bagaikan sambaran kilat dibabat ke depan.

...Sreeeet.

.....

ditengah bekelebatnya sinar pedang yang menyilaukan mata pedangnya sudah dimasukkan kembali ke dalam sarungnya.

Sedang ketiga batang bambu itu pun masih tetap berdiri tidak bergerak dari tempatnya, dengan lurus bamboo-bambu tersebut masih berdiri di atas tanah.

Sepasang mata dari Kwek Kwan San terbelalak lebar-lebar melototi ketiga bambu tersebut, beberapa saat kemudian dia baru berjalan mendekati bambu tersebut menyenggolnya dengan perlahan.

Ketiga batang bambu tersebut segera putus dan jatuh berantakan di atas tanah, air mukanya segera berubah, dia merasa terkejut bercampur kagum sehingga tidak terasa lagi menarik napas panjang-panjang.

"Oooh....Ilmu pedang dari Ti-heng ternyata seimbang dengan ilmu pedang dari suhuku, kau orang bagaimana bisa berhasil melatih sehingga demikian hebatnya?"

Ti Then cuma tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia tidak ingin memberitahu kalau dirinya bisa mematahkan lima batang bambu sekaligus, karena dia tidak ingin menghilangkan kepercayaan seorang murid terhadap suhunya.

Lama sekali Kwek Kwan San mematung melongo kearahnya, lantas dengan ragu-ragu serunya.

"Kau.., usiamu masih muda, bagaimana kau orang berhasil melatih ilmu pedangmu sehingga demikian tingginya ?"

"Cayhe berlatih ilmu pedang sejak berumur lima enam tahun sehingga dengan demikian bisa memperoleh kesuksesan seperti ini, tetapi jikalau membicarakan tenaga dalam mungkin Cayhe masih kalah jika dibandingkan dengan suhumu"

Dengan amat kagumnya Kwek Kwan San memperhatikan dirinya terus menerus ujarnya kemudian.

"Siauw-te baru belajar ilmu pedang beberapa bulan saja, entah sampai kapan baru bisa berhasil mencapai seperti apa yang dimiliki Ti-heng saat ini ?"

"Bakat lo-te amat bagus sedang pikirannya pun amat tajam sekali, asalkan mau berlatih dengan giat lima tahun kemudian pastilah kau orang bisa berhail mencapai taraf seperti ini"

"Tetapi.."

Bantah Kwek Kwan San.lagi.

"Lima tahun kemudian sewaktu siauwte berhasil mencapai pada taraf seperti Ti-heng saat ini, maka pada waktu itu kedahsyatan dari ilmu silat Ti-heng entah sudah menanyak seperti apa ?"

Ti Then segera tertawa geli.

"Lo--te kau tidak boleh berpikir demikian "

Ujarnya keras.

"Ada pepatah yang mengatakan satu gunung, lebih tinggi dari gunung yang lain, ditengah yang hebat pasti ada yang jauh lebih hebat, cayhe cuma bisa begini saja dapat dihitung seberapa tingginya?"

Agaknya Kwek Kwan San rada kikuk juga oleh perkataannya tadi, dia tertawa malu dan ujarnya .

"Benar. siauw-te tidak seharusnya menginginkan diriku jauh lebih tinggi dari orang lain"

Ti Then segera memungut kembali ketiga batang bambu itu dan dilempar ke tempat kejauhan.

"Nanti sewaktu suhumu pulang lebih baik Lo-te jangan mengungkat-ungkat soal ini, mau bukan ? "

Ujarnya.

"Ti heng takut kalau suhuku mencari kau orang untuk diajak bertanding ?"

"Benar !"

Jawab Ti Then tertawa.

"Suhumu adalah seorang locianpwe dari Bu-lim, cayhe seharusnya menaruh hormat kepadanya ". Suhu dia orang tua jadi orang memang amat baik sekali, bilamana dia tahu kalau ilmu pedang Ti-heng amat tinggi sekali, dia orang tua pasti akan ikut merasa bergirang hati ".

"Suhumu mem punyai julukan sebagai si kakek tua bersedih hati, tentunya pada masa yang lalu sudah menemui suatu pengalaman pahit yang mendukakan hati-nya..."

Ujar Ti Then tiba-tiba.

"Ada satu kali, dia pernah beritahu kepada siauw-te. katanya di dalam Bu-lim dia mem punyai dendam dengan seorang jagoan berkepandaian tinggi, cuma saja dia tidak pernah memberitahukan siapakah nama si jagoan berkepandaian tinggi itu?"

"Suhumu mem punyai rencana hendak membalas dendam?"

Tanya Ti Then.

"Agaknya memang begitu, karena di samping dia orang tua menurunkan ilmu silat kepadaku dia pun setiap hari berlatih dengan rajinnya"

Mereka berdua sembari bercakap-cakap sembari berjalan kembali ke dalam rumah, Kwek Kwan San segera membereskan mangkok sumpit dan dari dalam dapur membawa keluar sepoci teh panas.

Dia mengambil secawan buat Ti Then lalu mengambil pula secawan buat dirinya sendiri, ujarnya lagi .

"Ilmu pedang dari Ti-heng belajar dari siapa ?"

"Cayhe pernah mengangkat seorang suhu yang mem punyai julukan sebagai Bu Beng Lojin ".

"Bu Beng Lojin ?"

Tanya Kwek Kwan San keheranan.

"Benar "

Sahut Ti Then sambil meneguk air tehnya satu tegukan.

"Suhuku sama dengan suhumu, dia pun mem punyai satu pengalaman di masa lampau yang amat menyedihkan hatinya..."

Baru saja dia berbicara sampai kata-kata yang terakhir mendadak terlihatlah olehnya tubuh Kwek Kwan San bergoyang tidak henti-hentinya seperti seorang lagi kemabokan terhuyung-huyung dan sempoyongan tidak karuan.

Tidak terasa lagi di dalam hati Ti Then merasa sangat terperanyat.

"Iiih... Lo-te kau kenapa?"

Tanyanya.

"Heran..kepalaku..oh...kepalaku."

Seru Kwek Kwan San sambil memegang kepalanya sendiri dan mengerutkan alisnya rapat-rapat.

Perkataannya belum selesai diucapkan mendadak cawan yang ada ditangannya terjatuh ke atas tanah sedang tubuhnya pun ikut rubuh ke atas tanah, ...secara tiba-tiba dan sangat aneh sekali dia jatuh tidak sadarkan diri lagi.

Ti Then yang melihat kejadian itu menjadi sangat terperanyat sekali, dengan cepat dia meletakkan cawan air tehnya ke atas meja lalu berjongkok ke samping badan Kwek Kwan San dan membimbingnya bangun.

"Hey Lo-te.. Lo-te.. kau kenapa ?'"

Teriaknya. Pada saat itulah mendadak dia pun merasakan kepalanya sangat pening sekali, dalam hati dia merasa sangat terperanyat, pikirnya.

"Celaka...! pasti ada orang yang memasukkan obat pemabok ke dalam air the ini !"

Dengan cepat dia meletakkan badan Kwek Kwan San ke atas tanah dan berusaha bangkit berdiri, tetapi pada saat itulah kepalanya terasa semakin pening sehingga membuat matanya berkunang-kunang tubuhnya terhuyung-huyung dengan sempoyongan akhirnya tidak kuasa lagi rubuh ke atas tanah dan jatuh tidak sadarkan diri.

Baru saja dia jatuh tidak sadarkan di ri ke atas tanah, dari pintu rumah gubuk itu tampaklah berkelebatnya sesosok bayangan manusia diikuti munculnya seorang manusia aneh.

Orang aneh ini berusia kurang lebih enam puluh tuhunan, tubuhnya sedengan sedang rambutnya awut-awutan dan amat kotor dengan kepala yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, ditambah lagi dengan sepasang matanya yang memancarkan sinar yang amat tajam sekali membuat orang yang melihat dirinya seperti juga me lihat mayat hidup yang baru saja bangkit dari dalam kuburan.

Siapakah orang itu ?

Bukan lain, dialah, si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan adanya !

Si pendekar aneh dari Bu-lim yang telinga kanannya berhasil dipapas putus oleh Wi Ci To pada masa yang lalu dan terpapas lagi telinga kirinya oleh Ti Then pada beberapa bulan yang lalu ternyata sudah munculkan dirinya di depan rumah gubuk di atas.gunung Bu Leng san ini.

Begitu tubuhnya berjalan masuk ke dalam rumah, matanya dengan amat tajam melirik sekejap ke atas badan Ti Then yang menggeletak di atas tanah lalu memperdengarkan suara tertawanya yang amat dingin sekali, setelah itu dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebotol obat dan mengambil keluar sebutir untuk kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya Kwek Kwan San.

Tidak selang lama kemudian Kwek Kwan San sadar kembali dari pingsannya.

Dengan perlahan sepasang matanya dipentangkan, sewaktu dia bisa melihat jelas orang yang ada di hadapannya bukan lain adalah si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan dengan amat girangnya dia segera meloncat bangun.

"Suhu"

Teriaknya. '' Kau sudah pulang ?"

Tetapi sebentar kemudian dia sudah melihat tubuh Ti Then yang rubuh tidak sadarkan diri di atas tanah serta cawan air teh yang berserakan di atas meja, seketika itu juga dia teringat kembali dengan kejadian yang baru saja berlangsung itu, teriaknya.

"Aduuuh ... bagaimana bisa jadi ? Tadi tecu dengan Ti-heng ini -."

"Bukankah sudah jatuh tidak sadarkan diri ?"

Potong .si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan sambil tertawa.

"Benar "

Teriak Kwek Kwan San dengan sangat terperanyat."

Tecu mendadak merasakan kepalaku pening dan berputar amat cepat lalu jatuh tidak sadarkan diri, saat itu agaknya Ti-heng masih baik-baik saja ..bagaimana sekarang pun dia juga jatuh tidak sadarkan diri ?"

"Karena kalian berdua sudah terkena obat pemabok !"

Jawab si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan sambil tertawa dingin.

"Aaaah terkena obat pemabok ??"

Tanya Kwek Kwan San dengan sangat terkejut sekali. -ooo0dw0ooo-

Jilid 28 1 . Manusia berkerudung utusan Majikan Patung Emas "Tidak salah,"

Jawab si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan sepatah demi sepatah.

"Memang benar ada orang yang sudah memasukkan obat pemabok ke dalam air teh kalian"

"Siapa yang memasukkan obat petnabok itu?"

Tanya Kwek Kwan Ssn dengan amat terperanyat.

"Aku."

Kwek Kwan San seketika Itu juga dibuat melengak.

"Haah .... suhu kau orang yang memasukkan obat pemabok itu ke dalam air teh kami?"

Ujarnya tidak mau percaya.

"Benar . ."

Sahut si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan mengangguk "Kau merasa ada diluar dugaanmu bukan?"

"Tidak salah, kenapa suhu memasukkan obat pemabok itu ke dalam air teh kami sehingga kami jadi mabok?"

Teriak Kwek Kwan San dengan melototkan sepasang matanya lebar-lebar.

"Karena aku orang tua mau merubuhkan dirinya"

Jawab si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan sambil menuding kearah diri Ti Then yang menggeletak di atas tanah. Kwek Kwan San benar-benar merasa terkejut.

"Suhu kenal dengan dia orang?"

"Sudah tentu aku kenal, dia adalah Kiauw tauw dari Benteng Pek Kiam Po yang bernama Ti Then "

"Suhu ada dendam sakit hati dengan orang ini?"

"Aku orang tua memang punya dendam dengan Pocu mereka Wi Ci To, sedangkan bangsat cilik ini ...aku sih tidak punya ganyalan apa apa"

"Kalau memangnya tidak punya ganyalan hati apa-apa kenapa suhu mau merubuhkan dirinya?"

Tanya Kwek Kwan San keheranan.

"Karena aku ingin menanyakan satu urusan dengan dirinya, kau pergilah mencari seutas tali"

Kwek Kwan San ragu-ragu sebentar, akhirnya dia masuk ke dalam rumah juga untuk mengambil seutas tali.

Si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan segera turun tangan mengikat seluruh tubuh Ti Then dengan cepatnya setelah itu menotok jalan darah dari Ti Then dan memasukkan sebutir pil ke dalam mulutnya.

Tidak selang lama kemudian Ti Then pun dengan perlahan-lahan sadar kembali dari pingsannya.

Ketika dia dapat melihat orang yang berdiri di hadapannya bukan lain adalah si pendekar tangan kiri Cian Pit Yuan dalam hati dia merasa sedikt bergidik, disusul satu senyuman pahit menghiasi bibirnya.

"Aaah, kiranya Sang Sim Lojin adalah kau!"

Serunya.

"Setelah Lohu mengasingkan diri ke atas gunung dan berlatih ilmu pedang dengan susah payah selama dua puluh tahun lamanya tidak kusangka sewaktu menerjunkan diri ke dalam Bu lim untuk kedua kalinya sudah dikalahkan ditangan kau bangsat cilik, bagaimana hal ini tidak membuat Lohu bersedih hati"

"Hal itu dikarenakan ilmu silatmu tidak sempurna, bagaimana bisa menyalahkan diriku?"

"Lohu sama sekali tidak menyalahkan dirimu."

"Lalu kenapa kau menawan aku seorang?"

Tanya Ti Then sambil tertawa dingin.

"Karena aku ingin menanyakan satu urusan dengan dirimu."

"Kau bersikap demikian kasarnya terhadap diriku, kau mengira aku mau menyawab pertanyaan-pertanyaan yang kau ajukan?"

Si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan segera tertawa dingin.

"Bilamana kau tidak mau menyawab pertanyaan yang lohu ajukan maka jangan harap bisa meninggalkan tempat ini."

Sahutnya. Ti Then tertawa, dengan perlahan dia mengalihkar sinar matanya kearah wajah diri Kwek Kwan San.

"Lote. suhumu memang amat bagus sekali"

Ejeknya. ooOOoo AIR muka Kwek Kwaa San seketika itu juga berubah memerah, dengan menundukkan kepalanya rendah-rendah dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

"Bangsat cilik!"

Seru si Cian Pit Yuan dergan suara yang amat berat.

"Kau bisa mencari sampai di sini hal ini jelas tidak mengandung maksud baik terhadap Lohu, siapa yang bilang salah kalau Lohu turun tangan dulu?"

"Aku sedang melakukan perjalanan lewat di tempat ini, aku sama sekali tidak sedang mencari dirimu"

Ujar Ti Then sambil tertawa pahit.

"Benar"

Sambung Kwek Kwan San lebih lanjut.

"Suhu, Ti-heng memangnya sedantg melakukan perjalanan lewat di tempai ini, dia bukannya sengaja datang mencari kau orang tua"

"Kau mengerti apa?"

Bentak Cian Pit Yuan dengan gusarnya sambil melotolt dirinya.

"Tempat ini sangat jarang sekali dilalui orang, dia pasti sengaja datang mencari aku orang-tua, kalau tidak mana mungkin bisa tiba di sini?"

Ti Then tiba-tiba tertawa terbahak-bahak "Sejak semula aku sudah melupakan dirimu sama sekali buat apa aku datang mencari dirimu lagi?"

Serunya.

"Omong kosong,"

Bentak Cian Pit Yuan dengan amat gusar.

"Wi Ci To takut lohu pergi ke benteng Pek Kiam Po-nya untuk membalas dendam maka dia sengaja mengirim dirimu untuk menyelidiki keadaaan dari lohu, kau kira lohu tidak mengerti akan hal ini?"

"Bagaimana mungkin Wi Pocu kami takuti dirimu yang pergi ke benteng Pek Kiam Po untuk membalas dendam? kau kira kami pihak benteng Pek Kiam Po ada dendam dengan dirimu?"

"Apa mungkin tidak ada?"

Ejek Cian Pit Yuan dengan dingin.

"Tidak ada"

Cian Pit Yuan jadi teramat gurar, dia mendengus dengan amat ademnya.

"Tetapi Lohu merasa punya satu dendam yang sedalam lautan dengan dirinya,"

"Bagaimana kalau suruh muridmu itu menimbangnya dari tengah?"

"Tidak perlu."

"Yang kau maksudkan dengan dendam sedalam lautan tentunya dikarenakan Wi Pocu serta aku berhasil membabat putus sepasang telingamu bukan?"

Cian Pit Yuan yang mendengar lukanya dikorek kembali oleh Ti Then air mukanya seketika itu juga berubah jadi merah padam, dia menggembor dengan amat kerasnya.

"Tidak salah, karena Lohu tidak hati-hati telingaku berhasil kalian tabas sampai putus, maka itu Lohu mau membalas dendam. Pokoknya ada satu hari Lohu pasti akan msnabas putus juga sepasang telinga dari kalian berdua."

"Soal ini aku sama sekali tidak menolak"

Jawab Ti Than dengan air muka yang sangat tenang sekali.

"Tetapi kau boleh menganggap tersayatnya sepasang telingamu oleh kita adalah satu dendam sedalam lautan, pada mulanya kita melukai kau dengan mengandalkan ilmu silat yang sungguh-sungguh dan sama sekali tidak menggunakan akal licik mau pun siasat busuk, maka itu jika lain kali kau merasa dirimu sudah cukup kuat untuk bergebrak dengan diri kita lebih baik pergunakanlah ilmu silat yang benar, tidaklah benar kalau menganggap kami sebagai satu musuh buyutan yang dendamnya sedalam lautan."

"Lohu pasti akan memotong sepasang telinga dari kalian berdua"

Teriak Cian Pit Yuan lagi sambil menggigit kencang bibirnya menahan kegemasan dalam hatinya.

"Kalian tunggu saja waktunya"

"Sampai waktunya kami akan menyambut dirimu dengan senang hati, sekarang mari kita bicara terang-terangan saja, perjalananku hari ini bukanlah sengaja datang mencari dirimu."

"Lohu tidak percaya!"

"Jika aku sengaja datang untuk menyelidiki keadaanmu, aku tidak akan mengikuti muridmu untuk bersama masuk rumah ini."

Seru Ti Then tertawa.

"Kalau begitu ceritakanlah apa maksudmu lewat jalan ini dan kau bangsat cilik mau pergi kemana?"

"Maaf soal ini sukar untuk memberi jawaban."

Cian Pit Yuan segera tertawa dingin.

"Jika kau orang suka berterus terang menyawab pertanyaan yang aku ajukan ini Lohu akan segera melepaskan dirimu pergi, kalau tidak heee heee heee seharusnya kau tahu, pada saat ini cukup Lohu angkat jari tangan saja kau segera akan menemui ajalnya."

"Aku rasa kau tidak akan berbuat demikian"

"Kau mengira Lohu tidak berani membunuh dirimu? seru Cian Pit Yuan sambil tertawa aneh.

"Menurut apa yang ku ketahui kau orang kecuali berpikiran picik dan mem punyai rasa ingin menang yang berlebih-lebihan sebetulnya bukanlah satu orang yang suka membunuh orang dengan sembarangan."

"Kau terlalu memandang tinggi diri Lohu"

"Apa mungkin tidak?"

Seru Ti Then.

"Ini hari kau harus menyawab dua buah pertanyaan dari Lohu, kalau tidak Lohu pasti tidak akan melepaskan dirimu"

"Apa itu kedua buah persoalanmu itu?"

"Pertama, beritahu kepada Lohu kau hendak kemana,"

Ujar Cian Pit Yuan dengan keren.

"Kedua, beritahu kepadaku, kepandaian silat yang kau pelajari ini kau dapat dari siapa?"

"Kedua buah persoalan itu sebetulnya mudah saja untuk dijawab,cuma aku mempunyai satu sifat yang kukoay sekali, bilamana aku menyawab pertanyaanmu dengan perkataan yang sungguh atau mungkin mengarangkan satu jawaban hanya bertujuan untuk memperoleh kebebasan hal ini sama saja aku sudah menemui satu kekalahan, aku tidak ingin memperoleh kekalahan ini."

"Jadi kau tidak mau menyawab?"

Teriak Cian Pit Yuan dengan air muka penuh diliputi oleh hawa napsu membunuh.

"Tidak!"

Cian Pit Yuan segera tertawa dingin dengan amat seramnya.

"Haruslah kau ketahui,"

Ajarnya dingin.

"Bilamana malam ini Lohu turun tangan melenyapkan dirimu, tidak mungkin ada orang yang bisa tahu atas kejadian ini."

"Tapi sedikitnya ada dua oraag yang tahu, yang satu adalah kau dan yang lain adalah muridmu itu."

Dengan perlahan sipendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan mengalihkan pandangannya ke atas wajah Kwek Kwan San, tanyanya dengan nada mencoba.

"Kwan San, bangsat cilik ini adalah musuh besar suhumu, bagaimana kalau suhu turun tangan membinasakan dirinya?"

"Baik,"

Sahut Kwek Kwan San mengangguk.

"Tetapi suhu kau orang tua haruslah memberi satu kesempatan buat dirinya."

"Mau kasi kesempatan apa lagi?"

Tanya Cian Pit Yuan melengak.

"Lepaskan dia lantas bunuh dirinya dengan mengandalkan ilmu silat yang suhu miliki."

Agaknya Cian Pit Yuan sama sekali tidak menyangka kalau muridnya bisa mengucapkan kata yang demikian "Gagah"nya, untuk sesaat lamanyadia malah dibuat sangat rikuh.

Karena dia pun pernah menyajal kepandaian silat dari diri Ti Then dan di dalam hati tahu bilamaoa dirinya diharuskan mengadakan pertempuran secara adil dengan diri Ti Then maka kesempatan untuk memperoleh kemenangan tidaklah terlalu besar di dalam hatinya justru dia tidak ingin bertempur secara adil dengan dirinya.

Dia agak melengak sebentar tapi sebentar kemudian sudah angkat kepalanya tertawa terbahak-bahak.

"Bagus... Bagus... aku orang mern punyai ahli waris seperti dirimu dalam hati aku benar-benar merasa girang sekali."

Mendengar perkataan tersebat Kwek Kwan San jadi sedikit ketakutan.

"Bilamana tecu sudah salah berbicara harap suhu mau memaafkan"

Ujarnya dengan cepat.

"Tidak, perkataanmu sedikit pun tidak salah"

Sahut Cian Pit Yuan sambil gelengkan kepalanya.

"Aku orang tua tidak akan membinasakan dirinya di dalam keadaan situasi seperti ini, tetapi aku pun tidak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja, kecuali dia mau menyawab kedua buah pertanyaan yang aku ajukan tadi."

"Aku tidak akan menyawab kedua pertanyaanmu itu."

Teriak Ti Then sambil tertawa.

"Kalau begitu kau jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat"

"Kalau memangnya demikian bilamana aku punya kesempatan bisa meloloskan diri dari sini, aku tentu tidak berlaku sungkan-sungkan lagi terhadap dirimu."

"Untuk selamanya kau tidak akan mem punyai kesempatan untuk meloloskan diri lagi,"

Sahut Cian Pit Yuan sambil tertawa dingin dengan amat seramnya.

"Mulai saat ini setiap jsm sekali Lcohu akan menotok jalan darah kakumu, kau tidak bakal bisa melarikan diri."

"Haaa ..... haaa ... tapi kau harus ingat dengan pepatah yang mengatakan, orang budiman tentu akan dibantu oleh Tbian kemungkinan sekali ada orang bakal turun tangan menolong diriku."

"Kau jangan mimpi"

Seru Cian Pit Yuan dengan serius ambil tertawa.

"Tidak akan ada orang yang bisa sampai di sini apalagi di dalam Bu-lim pada saat ini kecuali si kakek pemalas Kay Kong Beng serta Wi Ci To dua orang tidak akan ada yang bisa menolong dirimu dari tangan lohu."

Ti Then segera melirik sekejap kearah Kwek Kwan San lantss dia tersenyum.

"Hal ini sukar sekali untuk dijawab, kemuungkinan sekali cuma seorang yang berkepandaian sangat biasa pun bisa menolong aku meloloskan diri dari sini"

Agaknya Cian Pit Yuan pun teringat pula dengan muridnya, tidak terasa lagi dia sudah menoleh kearah Kwek Kwan San ke atas dengan wajah yang serius dan keren ujarnya.

"Kwan San, kau tidak akan mengkhianati suhumu bukan?"

Agaknya Kwek Kwan san tidak paham dengan kata-kata tersebut, dia agak melengak.

"Tecu mana berani mengkhianati suhu,"

Ujarnya.

"Maksudku kau dilarang menolong bangsat cilik ini secara diam-diam"

Ujar Cian Pit Yuan dengan serius.

"Tecu tidak berani"

"Hey bangsat cilik."

Ujar Cian Pit Yuan kemudian sambil menoleh kearah Ti Then dan tertawa dingin.

"Lohu bilang satu ysa satu, jikalau kau mau menyawab pertanyaan dari Lohu itu maka Lohu segera akan melepaskan dirimu"

Agaknya Kwek Kwan San pun tidak tega melibat Ti Then tersiksa, tiba-tiba dia nyeletuk.

"Benar, Ti-heng, kedua pertanyaan yang diajukan oleh suhuku agaknya tidak terlalu sukar untuk menyawab kenapa kau tidak mau memberi jawabannya?"

"Lepaskan diriku terlebih dulu, setelah itu aku baru kasi jawabannya"

"Tidak."

Potong Cian Pit Yuan dengan ketus.

"Kau jawab dulu pertanyaanku kemudian lohu baru lepaskan dirimu."

"Kalau begitu kita tidak usah berbicara lagi."

"Bangsat cilik"

Teriak Cian Pit Yuan sambil mendengus dingin.

"Tulang badanmu sungguh-sungguh keras sekali."

"Benar, sudah keras bau lagi."

"Bagus, Lohu mau lihat kau bangsat cilik bisa bersabar sampai seberapa lama,"

Ti Then pejamkan matanya tidak menyawab lagi. Kepada Kwek Kwan San dengan cepat Cian Pit Yuan memberi perintah.

"Kwan San, bawa dia ke dalam kamar!"

Kwek Kwan San menyahut dan membopong tubuh Ti Then masuk ke dalam sebuah kamar tidur dan meletakkan badan Ti Then di atas pembaringan kemudian dengan tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia mengundurkan diri dari tempat itu.

Kepada Cian Pit Yuan tanyanya dengan suara yang amat lirih.

"Suhu, apa kau orang tua benar-benar mau menawan dirinya selama beberapa hari di sini."

Cian Pit Yuan mengangguk, lalu menarik dirinya keluar dari rumah tersebut.

"Kwan San,"

Ujarnya dengan suara yang amat rendah.

"Di dalam hati kecilmu tentunya kau merasa perbuatan dari suhumu ini salah bukan?"

"Tecu tahu suhu amat benci terhadap dirinya,"

Sahut Kwek Kwan San sambil menundukkan kepalanya.

"Karena seperti apa yang dikatakan agaknya telinga suhu sudah dilukai olehnya."

"Dia memang sudah melukai telingaku sebelah kiri, tetapi aku sama sekali tidak membenci dirinya. Karena ilmu silatnya memang benar-benar bisa mengalahkan diriku, kini suhu menahan dirinya sebetulnya ingin mengetahui asal-usul yang sebetulnya."

"Dia bilang suhunya bermama Bu Beng Lojin."

"Bukankah hal ini sama saja dengan tidak diberitahu?"

"Suhu, buat apa kau ingin mengetahui asal-usulnya?"

Tiba-tiba Kwek Kwan San angkat kepalanya dan bertanya.

"Karena dia adalah satu-satunya pemuda aneh yang pernah aku temui selama hidupku, tabun ini dia cuma berusia dua pulun tahunan tetapi kepandaian silat yang dimiliki amat dahsyat dan sempurna sekali sehingga sukar diukur."

"Tadi dia sudah mendemonstrasikan ilmu pedangnya di hadapan tecu, tecu rasa ilmu yang dimilikinya tidak lebih seimbang dengan kepandaian silat yang dimiliki kau orang tua"

"Tidak,"

Jawab Cian Pit Yuan sambil gelengkan kepalanya.

"Kepandaian silatnya jauh lebih tinggi satu tingkat dari diriku, beberapa bulan yang sewaktu aku pergi ke Benteng Pek Kiam Po untuk menunutut balas saat itu dia mengaku sebagai pendekar pedang hitam dari Benteng Pek Kiam Po tetapi setelah bertempur ternyata aku sudah dikalahkan satu jurus dari dirinya, akhirnya aku baru tahu kalau dia adalah Kiauwtauw dari Benteng Pek Kiam Po..."

Berbicara sampai di sini dengan perlahan dia menghela napas panjang, sambungnya kemudian.

"Hal ini benar-benar merupakan satu peristiwa yang sama sekali tidak terduga semula aku cuma tahu di dalam Bu-lim pada saat ini kepandaian silat dari si kakek pemalas Kay Kong Beng adalah yang paling tinggi kemudian Wi Ci To dan terakhir aku, tetapi kini sesudah munculnya Ti Then ini dimana kepandaian silatnya tidak berada di bawah aku orang bahkan kelihatannya jauh di atas Wi Ci To membuat aku jadi berpikir, dia orang yang usianya masih sedemikian mudanya sudah memiliki kepandaian silat yang demikian sakti dan dahsyatnya apalagi kepandaian silat dari suhunya sudah tentu jauh lebih lihay lagi"

"Kepandaian ilmu silat dari orang itu tentu jauh berada di atas kepandaian silat dari si kakek pemalas Kay Kong Beng, sedangkan pada berpuluh-puluh tahun ini agaknya di dalam Bu-lim sama sekali tidak pernah terdengar adanya orang yang memiliki kepandaian silat jauh melebihi kepandaian silat dari si kakek pemalas Kay Kong Beng, maka itu aku ingin sekali mengetahui siapakah sebenarnya suhunya itu"

"Sekarang dia tidak mau memberi jawaban atas pertanyaan yang suhu ajukan, suhu pikir mau berbuat apa terhadap dirinya?"

Seru Kwek Kwan San kemudian.

"Biar dia merasa lapar selama beberapa hari, pada saat itu dia tentu akan berbicara dengan sendirinya"

"Kalau berbuat demikian rada tidak baik suhu kalau memangnya tidak bermaksud membinasakan dirinya lebih baik kita cepat-cepat lepaskan dirinya pergi saja, tidak urung di kemudian hari pun suhu harus melepasksn juga dia orang. Aku kuatir sampai waktu itu sampaidia bisa.."

"Kau tidak perlu kuatir, dia tidak akan bisa berbuat sesuatu terhadap kita."

Potong Cian Pit Yuan dengan cepat.

"Tecu punya satu akal, kemungkinan sekali ada gunanya.

"Akal apa?"

Tanya Cian Pit Yuan sambil memperhatikan dirinya.

"Apa kemungkinan ini hari dia lewat di tempat ini sebetulnya hendak pulang untuk bertemu dengan suhunya, nanti lebih baik suhu lepaskan dia pergi saja kemudian secara diam-diam menguntit dari belakang, kemungkinan sekali dengan berbuat demikian bisa bertemu dengan suhunya."

Mendengar perkataan itu air muka Cian Pit Yuan sedikit bergerak.

"Ehmm... memang satu cara yang amat bagus . ."

Serunya kemudian. Ketika Kwek Kwan San melihat agaknya suhunya mau menerima usulnya tersebut dalam hati dia merasa sangat girang sekali.

"Bagaimana kalau tecu pergi membebaskan dirinya?"

Tanyanya dengan cepat.

"Jangan keburu. biar aku pikir-pikir dulu."

"Tecu rasa inilah satu cara yang paling bagus,"

Sambung Kwek Kwan San lebih lanjut.

"Dengan demikian kita bisa menyelidiki asal usul perguruannya bisa pula menghindarkan diri dari bentrokan secara langsung dengan dirinya."

"Baiklah."

Sahut Cian Pit Yuan kemudian sambil mengangguk.

"Tetapi kita bebaskan besok pagi saja, besok pagi aku akan berpura-pura pergi meninggalkan rumah lalu kau secara diam-diam melepaskan dirinya pergi, dengan berbuat demikian dia tentu tidak akan menaruh curiga kepada kita."

"Betul, baiklah kita kerjakan demikiau saja. Sekararg kau tidurlah dulu aku mau pergi menyaga dirinya"

Selesai berkata dia segera putar badan memasuki kamar tersebut.

Setelah masuk kamar dimana Ti Then disekap, ketika melihat Ti Then terbaring di atas pembaringan dia segera menariknya dan merebahkan ke atas tanah.

"Sungguh maaf"

Serunya sambil tertawa.

"Di dalam rumah ini cuma ada dua buah pembaringan saja, malam ini terpaksa kau harus tidur di atas tanah tanpa alas."

Ti Then segera tertawa dingin.

"Kau bermaksud semalam tidak tidur dan duduk di atas pembaringan untuk menyaga diriku?"

Tanyanya.

"Benar,"

Jawab Cian Pit Yuan tersenyum kemudian naik ke atas pembaringan dan duduk bersila.

"Lohu tahu kau bisa mengerahkan tenaga dalammu untuk membebaskan diri dari totokan jalan darah, karena itu aku hendak korbankan tidak tidur satu malam untuk setiap setengah jam sekali menotok kembali jalan darahmu."

Tiba-tiba Ti Then tertawa terbahak-bahak.

"Haa .... haa cuma sayang perhitunganmu kali ini rada meleset, karena aku cuma membutuhkan seperempat jam saja sudah bisa mengerahkan tenaga dalam untuk membebaskan diri dari totokan."

"Seperempat jam?"

Tanya Cian Pit Yuan sambil mendengus dingin.

"Tidak salah, seperempat jam sudah cukup."

"Di dalam Bu-lim pada saat ini sekali pun sikakek pemalas Kay Kong Beng sendiri pun belum tentu bira membebaskan diri dari totokon jalan darah hanya di dalam seperempat jam saja, bagaimana kau orang bisa?"

"Kay Kong Beng tidak dapat tetapi aku bisa melakukanuny"

Sahut Ti Then tertawa.

"Agakaja kau sudah kena totok selama seperempat jam bukan ?"

"Benar."

Cian Pit Yuan segera tertawa terbahak-bahak.

"Kalau begitu kenapa sampai sekarang kau masih belum bisa bergerak?"

Tanyanya mengejek.

"Siapa bilang aku belum dapat bergerak?"

Sewaktu Ti Then mengucapkan kata yang terakhir itulah terdengar suara terputusnya tali yang mengikat badannya bergema memenuhi seluruh ruangan.

Cian Pit Yuan jadi sangat terperanyat, dengan cepat bagaikan kilat dia mcloncat turun dari atas pembaringan lalu sepasang telapak tangannya bersama-sama didorong ke depan menghajar badan Ti Then yang masih menggeletak di atas tanah itu.

Dengan cepat Ti Then meloncat bangun dari atas tanah menghindarkan diri dari datangnya serangan gencar itu disusul tubuhnya meloncat bangun, di tengah suara tertawanya yang amat keras telapak tangannya segera melancarkan satu pukulan menghajar pinggangnya.

Walau pun Cian Pit Yuan melakukan gerakannya dalam ksadaan yang amat kritis tetapi dia sama sekali tidak gugup, melihat serangannya mencapai pada sasaran yang kosong dengan cepat kaki kanannya ditarik ke belakang, tubuhnya berputar setengah lingkaran lalu dengan menggunakan telapak tangannya menangkis datangnya serangan Ti Then yang amat dahsyat.

Ti Then ysng melihat serangan gsncarnya tidak mencspai pada sasaran serangan yang kedua segera menyusul datang, telapak kirinya dengan menggunakan jurus banteng menerjang langit menyerang kening kanan musuhnya.

Dengan cspat Cian Pit Yuan menundukkan kepalanya menghindarkan diri dari serangan tersebut kakinya dengan gencarnya melancarkan tendangan kilat ke depan.

"Bangsat cilik!"

Bentaknya dengan keras.

"Ayoh kita bertempur diluaran saja"

Telapak kanan dari Ti Then segera dibabat ke bawah menyambut datangnya tendangan kaki kirinya, segera tertawa.

"Di dalam kamar bukankah sama saja?"

Serunya mengejek.

Mendadak Cian Pit Yuan mengundurkan diri ke belakang hingga punggungnya terbentur dengan tembok ruangan dengan mengambil kesempatan itulah dia segera mengerahkan tenaga dalamnya menghajar hancur tembok yang menghalangi perjalanannya itu.

"Braaak ..!"

Dengan disertai suara yang amat keras tembok itu kena hajar satu lubang yang besar dengan cepatnya tubuhnya melayang keluar dari kamar. Bagaikan bayangan saja Ti Then menguntit terus dari belakangnya.

"Hey Cian Pit Yuan, kau mau melarikan diri?"

Teriaknya sambil tertawa keras.

"Baru saja dia selesai berkata mendadak dari samping tubuhnya berkumandang datang suara seorang asing yang amat halus tapi keren dan berwibawa sekali.

"Sudah .. sudahlah Ti Then, kau tidak usah membuang banyak waktu lagi di tempat ini,"

Ujarnya.

Orang yang baru saja berbicara itu bukan lain adalah manusia berkerudung itu.

Lelaki berkerudung berbaju biru itu jika didengar dari suaranya serta dipandang dari perawakannya jelas merupakan seorang pemuda yang baru berusia dua puluh tahunan, dia berdiri kurang lebih tiga kaki di depan pintu rumah dengan pada tangan-kirinya mengempit seseorang, Kwek Kwan San.

Entah dengan cara bagaimana Kwek Swan San sudah dikuasainya, saat ini badan dengan amat lemasnya bergantungan di atas tangannya dan sama sekali tidak kelihatan bergerak..Menyambung pedang patah Cian Pit Yuan pun mendengar juga suara itu, sewaktu dilihatnya manusia berkerudung itu mengempit muridnya sendiri untuk sesaat lamanya dia dibuat teramat gusar sekali.

"Siapa kau?"

Teriaknya dengan keras. Lelaki berkerudung itu segera tertawa ringan.

"Cian Pit Yuan"

Serunya.

"Jika orang tidak terlalu ingin tahu mungkin usiamu masih bisa diperpanjang beberapa tahun lagi"

Dengan cepat Cian Pit Yuan menoleh kearah diri Ti Then lantas tanyanya dengan suara yang amat berat.

"Kalian berasal dari satu golongan?"

"Ooooh bukan....bukan .."

Sahut manusia berkerudung itu tertawa.

"Cuma secara diam-diam aku sudah memasuki kamarmu lantas membebaskan jalan darah yang tertotok dari Ti Then."

"Haaa --haahaa -. saudara sungguh keterlaluan"

Seru Ti Tben dengan cepat.

"Ha ha ... haaa , ."

Mendengar suara dari Ti Then itu manusia berkerudung tersebut segera tertawa terbahak.

"Dikolong langit pada saat ini masih belum ada orang yang bisa membebaskan dari pengaruh totokan hanya di dalam waktu seperempat jam saja, kalau mau berbohong jangan berlebihan."

Cian Pit Yuan segera maju satu langkah mendekati manusia berkerudung itu dengan wajah penuh perasaan gusar teriaknya lagi.

"Kalau kalian bukan berasal dari satu golongan kenapa secara diam-diam membantu dia melepaskan totokan jalan darahnya? Lalu kenapa kau pun menculik anak muridku?"

"Semuanya demi kebaikanmu sendiri,"

Sahut manusia berkerudung itu sambil tertawa.

"Aku tidak tega melihat kau terbinasa di tangan Ti Then."

"Kentut makmu"

Teriak Cian Pit Yuan dengan amat gusar. Manusia berkerudung itu sama sekali tidak jadi marah oleh makian tesrebut, kepsda diri Ti Then lantas ujarnya.

"Ti Then, kau boleh pergi."

"Saudara hendak menyatuhkan hukuman yang bagaimana terhadap guru bermurid itu?"

Tanya Ti Then sambil memperhatikan diri manusia berkerudung itu.

"Soal ini kau tidak usah ikut campur."

"Walau pun dia orang bukanlah seorang manusia baik-baik tetapi muridnya Kwek Kwan San itu tidak jelek, cayhe berharap jangan sampai melukai dirinya."

"Aku menyanggupi untuk tidak melukai diri Kwek Kwan San, kau boleh berlega hati."

"Eeeh ... aku boleh bertemu lagi dengan dirimu?"

"Kau barus tahu kita tidak ada keperluan untuk bertemu muka kembali."

Ti Then terpaksa angkat bahunya.

"Sebetulnya saudara apa dia orang?"

Tanyanya kemudian. Yang dia maksud sebagai "Dia"

Sudah tentu adalah Majikan patung emas itu.

Tadi, setelah manusia berkerudung itu membebaskan jalan darah dari Ti Then dengan menggunakan kesempatan sewaktu Cian Pit Yuan guru bermurid sedang bercakap-cakap diluar rumah, dengan amat cepatnya Ti Tben sudsh bisa menduga kalau manusia berkerudung berbaju biru ini tentulah manusia yang sudah dikirim oleh majikan patung emas untuk mengawasi dan membuntuti dirinya, karena majikan patung emas takut setelah dia mendapatkan potongan pedang itu tidak mau cepat-cepat kembali ke dalam benteng, karenanya dia lantas kirim orang untuk mengawasi seluruh gerak geriknya.

Ternyata manusia berkerudung itu memang orang yang dikirim oleh majikan patung emas, mendengar perkataan tersebut dia segera manyawab.

"Soal ini kau tidak perlu tahu"

"Tentu kau ahli warisnya bukan?"

Seru Ti Then lagi aambil tertawa.

"Perkataanmu sudah terlalu banyak,"

Seru manusia berkerudung itu kurang senang.

"Aku ada satu perasaan, agaknya kita pernah bertemu disuatu tempat."

"Kau jangan omong sembarsngan"

"Sungguh,"

Sahut Ti Then sambil tertawa.

"Walau pun saudara berkerudung tetapi aku bisa merasakan dari sepasang matamu itu."

"Sebetulnya kau orang mau pergi tidak?"

Teriak manusia berkerudung dengan keras.

Ti Then angkat bahunya lantas masuk ke dalam rumah mengambil buntalan serta pedangnya kemudian naik ke atas punggung kuda Ang Shan Kheknya, sambil merangkap tangannya memberi hormat kepada Cian Pit Yuan serunya tertawa.

"Hey Cian Pit Yuan, aku msu pergi dulu! Jikalau kau orang mau membalas dendam atas terpotongnya telingamu pada tiga bulan kemudian aku akan menanti kedatanganmu di dalam benteng Pek Kiam Po."

"Ada satu hari Lcohu pasti akan datang!"

Teriak Cian Pit Yuan dengan amat gusar.

Ti Then segera menyentak tali les kudanya lalu melarikan kudanya meninggalkan rumah tersebut untuk melanjutkan kembali perjalanannya dengan mengikuti jalan gunung yang ada.

---ooo0dw0ooo---Pada hari yang ketujuh belas sore Ti Then sudah berada di dalam kota Hoa Yong Sian yang jaraknya tinggal beberapa ratus li dari gunung Cun San.

Di dalam kota itu dia menginap satu malam dirumah penginapan 'Im Hok' untuk kemudian pada keesokan harinya setelah menitipkan kudanya di rumah penginapan itu dia melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki.

Pada suatu magrib akhirnya dia sampai di atas gunung Cun San tersebut.

Cun san, disebut juga sebagai gunung Siang san dengan luas puncak tujuh li merupakan satu gunung yang amat indah sekali.

Di atas gunung kecuali ada kuil Siang te Bio serta kuil Cong Sin si yang terletak di kaki gunung, pemandangan di atas jalan amat indahnya, bahkan banyak kaum pelajar yang berpelancongan di sana.

Hari itu Ti Then sudah tiba di depan pintu kuil Cong sin si di bawah kaki gunung, ketika dilibatnya ada seorang hwesio sedaog bersapu membersihkan rontokan dedaunan ia segera maju menjura.

"Lao suhu, permisi.."

Serunya. Si hwesio tua itu dengan cepat meletakkan sa punya dan merangkap tangannya memberi hormat.

"Siauw sicu ada petunjuk apa ?"

Tanyanya dengan halus.

"Aku dengar di atas gunung Cun san seorang Cu Kiam Lojin, entah tahukah Lo-suhu dia tinggal di gunung yang sebelah mana ?"

Tanya Ti Then cepat.

"Siauw-sicu mencari dia apa mau membuat pedang?"

"Benar."

Si hwesio tua itu segera menuding kearah sebuah lembah yang ada di depan kuilnya.

"Siauw-cu boleh naik ke atas gunung dengan mengikuti lembah tersebut, dan carilah Liong Hauw Ji Tong, bilamana kau orang berjodoh kemungkinan sekali bisa bertemu dengan Cu Kiam Lojin itu."

"Apakah Cu Kiam Lojin tinggal di dalam gua Liong Hauw Ji Tong?"

"Benar"

Sahut hwesio tua itu mengangguk.

"Ada kalanya dia tinggal di dalam gua naga, ada kalanya juga tinggal didaiam gua macan. tetapi sekali pun tahu dia ada di dalam gua belum tentu kau bisa bertemu muka dengan amat mudah."

"Kenapa ?"

Tanya Ti Then keheranan.

"Apakah Siauw sicu tidak tahu begaimana keadaan dari gunung tersebut?"

Tanya si hwesio tua tertawa.

"Cayhe tidak tahu, harap Lo-suhu mau memberi petunjuk."

"Gunung Cun san di atasnya tanah padahal tengahnya kosong, dan ada berates-ratus ruangan mau pun gua yang saling berhubungan satu sama lainnya, Jikalau Cu Kiam lojin tidak membuat pedang kebanyakan tinggal di salah satu ruangan diantara beratus ruangan tersebut, maka itu mau mencari dia tidak terlalu gampang."

"Apa sungguh ada keadaan seperti itu?"

"Benar atau tidak siauw-sicu boleh pergi melihatnya sendiri Jikalau siavw sicu tidak menemukan apa yang aku katakan maka anggap saja perkataan dari pinceng adalah bohong tetapi kalau slauw sicu menemui apa yang kukatakan sudah tentu sicu akan tahu kalau perkataan dari pinceng bukanlah bohong."

Mendengar perkataan tersabut Ti Then segera tersenyum.

"Baiklah, terima kasih atas petunjuk dari Losuhu, cayhe akan segera mengadu untung". Selesai berkata dia segera merangkap tangannya memberi hormat dan putar badan melanjutkan kembali perjalanannya. Dengan mengikuti lembah gunung dia berjalan beberapa saat lamanya, sehingga menemukan juga gua naga serta gua macan, dia melakukan pemeriksaan beberapa saat lamanya disekeliling gua tersebut akhirnya dia mengambil keputusan untuk memasuki gua naga terlebih dahulu. Tetapi pada saat dia sedang menggerakkan langkah mendadak dari dalam gua berkumandang datang suara pembicaraan manusia, dalam hati dia merasa amat terperanyat. Dengan cepat tubuhnya mengundurkan diri ke belakang lantas bersembunyi di balik sebuah batu besar di sekeliling tempat itu. Wi Ci To sudah memberi pesan wanti-wanti kepadanya untuk jangan sampai diketahui pihak lawan sewaktu hendak mencuri potongan pedang dari Cuo It Sian maka itu begitu dia mendengar ada suara pembicaraan manusia dengan cepat dia menduga salah satu diantara mereka pastilah diri Cuo It Sian, karenanya dengan cepat dia menyembunyikan dirinya. Sebentar kemudian suara pembicaraan manusia semakin lama semakin dekat, tampaklah dari dalam gua naga muncul dua orang tua. Salah satu diantara mereka adalah seorang kakek tua berjubah kuning dengan wajah yang amat segar, rambut serta jenggot yang berwarna putih memenuhi seluruh wajahnya. Sedang orang yang terakhir bukan lain adalah Cuo It Sian itu si pembesar kota. Kakek tua berjubah kuning itu sudah tentu adalah Cu Kiam Lojin Kan It Hong, dia dengan mengikuti Cuo It Sian si pembesar kota berjalan keluar dari gua naga dan berhenti di depan pintu gua, ujarnya sembari mendongakkan kepalanya memandang keadaan cuaca.

"Hari sudah hampir gelap. Lebih baik Cuo heng bermalam satu malaman saja di sini, lalu berangkat pulang pada keesokan harinya"

"Tidak"

Tolak Cuo It Sian dengan cepat.

"Aku orang she Cuo benar-benar punya urusan penting yang harus diselesaikan, aku harus cepat-cepat pulang untuk membereskannya"

"Jikalau aku tahu setelah mengambil pedang Cu heng segera mau pulang, Lolap seharusnya mengundurkan pembuatan pedang itu beberapa hari kemudian."

Seru Cu Kiam 1oojin sambil tertawa. Cuo lt Sian yang mendengar perkataan tersebut segera tertawa.

"Ha..ha..Kan-heng tidak perlu menyesali, setelah lewat beberapa hari aku orang she Cuo tentu akan datang lagi kemari untuk bermain catur dengan diri Kan-heng"

"Lolap tinggal di sini benar-benar membuat aku merasa tersiksa adalah dikarenakan tidak memperoleh lawan permainan catur yang setangguh Cuo-heng, permainan catur yang paling tinggi di sekitar tempat ini cumalah ketua kuil Siang hui bio, tetapi usianya sudah amat lanjut pandangan matanya pun sudah tidak seberapa jelas lagi dia tidak begitu suka main catur lagi."

Dengan perlahan Cuo It Sian memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu terlebih duu, lantas dia tertawa lagi.

"Sudahlah, aku orang she-Cuo harus mengucapkan terima kasihku kepada Kan-heng, karena sudah menolong aku menyambungkan kembali pedang tersebut, bilamana di kemudian hari ada waktu luang aku tentu akan datang mengganggu Kan-heng lagi, sekarang silahkan Kan-heng kembali ke dalam gua"

Selesai berkala dia rnerangkap tangannya mengambil perpisahan.

"Bagaimana kalau lolap menghantar Cuo heng sampai di tengah jalan?"

Ujar Cu Kiam Lojin.

"Aaah tidak berani. Iiih -. -Kan-heng, coba kau lihat, siapa yang ada di belakangmu?"

Air muka Cu Kiam Lojin segera berubah sangat hebat, dengan tergesa-gesa dia menoleh kearah dalam gua.

Dengan mengambil kesempatan itulah mendadak Cuo It Sian melancarkan satu pukulan dahsyat yang dengan amat tepat sekali menghajar batok kepala dari Cu Kiam Lojin itu, dikarenakan tenaga pukulan yang disalurkan keluar amat dahsyat dan berat sekali segera terdengarlah suara benturan yang amat keras sekali tanpa berteriak sepatah kata pun tubuh Cu Kiam Lojin sudah rubuh ke atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa.

Ti Then yang bersembunyi di balik batu sewaktu melihat secara tiba-tiba Cuo It Sian turun tangan membinasakan diri Cu Kiam Lojin, untuk sesaat lamanya saking terperanyatnya hamper-hampir dia menjerit keras.

Peristiwa ini benar-benar sangat mengejutkan sekali.

sebetulnya mereka berdua berbicara dengan baik-baik sedikit percek-cokan pun tidak ada, sungguh tidak terkira ternyata Cuo It Sian bisa turun tangan secara tiba-tiba membinasakan diri Cu Kiam Lojin.

"Kenapa dia mau membinasakan diri Cu Kiam Lojin? Apakah dia orang mem punyai ikatan permusuhan sedalam lautan dengan diri Cu Kiam Lojin? Tidak, Bilamana dia orang mem punyai dendam sedalam lautan dengan diri Cu Kiam Lojin dia orang tidak mungkin bisa pergi mencari Cu Kiam lojin untuk membetulkan pedangnya yang patah. Berbagai macam pikiran dengan amat cepatnya berkelebat memenuhi benaknya, darah panas yang mengalir di dalam tubuh terasa bergolak dengan amat kerasnya, saking terharunya atas kejadian itu hamper-hampi dia meloncat keluar untuk membinasakan diri Cuo It Sian. Tetapi akhirnya dia berhasil menahan pergolakan di dalam hatinya itu, dia teringat bahwa untuk membinasakan diri Cuo It Sian sebetulnya bukanlah satu peristiwa yang amat sulit setiap saat setiap waktu dia masih bisa mencabut nyawanya. Sekarang persoalannya bilamana dirinya segera munculkan diri dan turun tangan membinasakan dirinya walau pun dapat mmperoleh pedang pendek itu tetapi dia takut setelah kematian dari dirinya maka pedang pendek itu akan kehilangan semacam daya yang amat berharga. Dia bisa mem punyai dugaan ini semuanya dikarenakan sewaktu dilihatnya Cuo It Sian masih ada dalam Benteng Pek Kiam Po, sebenarnya Wi Ci To mem punyai kesempatan yang sangat baik untuk membinasakan diri Cuo It Sian, sedangkan waktu itu Wi Ci To sama sekali tidak turun tangan bahkan akhirnya pernah memesan wanti-wanti kepadanya untuk mencuri pedang tersebut sewaktu Cuo It Sian tidak berada. Walau pun dia tidak bisa memahami alasannya tetapi dia tahu Wi Ci To berbuat demikian sudah tentu ada satu sebab-sebab tertentu. Karena itu dia mengambil keputusan untuk mengikuti pesan dari Wi Ci To dan mencuri kembali pedang pendek itu kemudian setelah menanti Wi Ci To mendapatkan hasil dari perbuatannya ini dia baru turun tangan membinasakan si bajingan tua yang berhati licik dan kejam dengan bersembunyi di balik kulit sebagai pendekar tua yang bijaksana. Karena itu walau pun dia merasa amat gusar melihat kematian dari Cu Kiam Lo-jin di tangannya tetapi dia masih tetap bersembunyi di balik batu dengan amat tenangnya. Cuo It Sian yang berhasil dalam satu kali pukulan membinasakan Cu Kiam Lo-jin pada wajahnya segeralah memperlihatkan satu senyuman yang amat licik sekali, dengan cepat dia memutar balik jenasah dari Cu Kiam Lojin lalu gumamnya seorang diri.

"Kan It Hong, sebenarnya diantara kau dan aku tidak mem punyai dendam sakit hati apa pun,. sebetulnya Lolap tidaklah seharusnya turun tangan membinasakan dirimu, tetapi untuk melenyapkan saksi berbicara, Lolap mau tidak mau harus turun tangan membinasakan dirimu juga untuk menutupi kesalahan ini, aku akan membantu untuk menguburkan mayatmu sehingga mayatmu tidak sampai berserakan tanpa terurus"

Selesai berkata dia menggendong mayat dari Cu Kiam Lojin dan balik kembali ke dalam gua.

Kurang lebih setengah jam kemudian baru tampak dia berjalan keluar lagi dari dalam gua naga, saat ini cuaca sudah sangat gelap.

Beberapa saat lamanya dia berdiri di depan mulut gua, lalu dengan menggerakkan tubuhnya dia berkelebat menuju kearah Barat.

Menanti setelah bayangannya lenyap dari pandangan Ti Then baru muncullah dirinya dari balik batu besar dan menguntitnya dari tempat kejauhan.

Setelah menuruni gunung Cun san, Cuo It Sian rnelanjutkan kembali perjalanannya menuju kearah Barat, kurang lebih dia berlari lagi sejauh lima puluh li dan sampailah disuatu tempat pegunungan yang amat sunyi, waktu itulah dia baru berhenti.

Dengan perlahan dia menengok sekejap kesekeliling tempat itu lantas baru duduk di bawah pohon dan menyeka keringat yang mengucur keluar membasahi wajahnya, dari dalam saku dia mengambil keluar sebilah pedang pendek dan dipermainkan beberapa saat lamanya, akhirnya dia memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung dan memejamkan matanya untuk beristirahat.

Ti Then pun bersembunyi di balik semak-semak kurang lebih dua puluh kaki dari tempat itu dan berjongkok tidak bergerak, sedang dalam hati diam-diam pikirnya.

"Mungkin dia sudah lelah karena lari terlalu lama sehingga sekarang harus beristirahat sebentar. ..."

Baru saja pikiran tersebut berkelebat melewati benaknya mendadak dari atas tidak jauh dari Cuo It Sian tampak secara tiba-tiba berkelebat datang satu bayangan hitam.

Melihat akan hal itu Ti Then merasakan hatinya agak tergetar, pikirnya dalam hati.

"Hmm,.. kiranya dia sedang menantikan kedatangaa seseorang.."

Tetapi dugaannya ternyata salah.

Agaknya orang yang melakukan jalan malarn itu bukanlah orang yang sedang dinantikan oleh Cuo It Sian, karena begitu Cuo It Sian melihat orang yang melakukan jalan malam itu mendekati dirinya dengan cepat dia meloncat bangun.

"Siapa?"

Tanyanya dengan suara yang amat berat.

Agaknya orang yang sedang melakukan perjalanan malam itu merasa sangat terkejut sekali, dengan cepat dia menghentikan langkah kakinya lalu menyilangkan telapak tangannya di depan dadanya.

"Kau adalah .., Aaaah bukankah kau orang tua adalah Cuo It Sian Cuo Lo cianpwe si pembesar kota?"

Serunya terkejut.

Di bawah sorotan sinar rembulan dapat dilihat orang yang melakukan perjalanan malam itu berumur empat puluh tahunan, wajahnya gagah dan'merupakan seorang berusia pertengahan yang mem punyai semangat tinggi.

Air muka Cuo It Sian kelihatan amat ragu-ragu sekali dengan amat telitinya dia memperhatikan beberapa saat lamanya lelaki berusia pertengahan itu.

"Kau siapa?"

Tanyanya kemudian sesudah memperhatikan orang beberapa saat lamanya. Sikap dari orang berusia pertengahan itu sangat menghormat sekali, dia segera merangkap sepasang tagannya menjura.

"Boan pwe Cau Ci Beng. dengan gclar Sin Eng atau si elang sakti."

"Kau kenal dengan lolap ?"

Tanya Cuo It Sian lagi.

"Benar."

Sahut si elang sakti Cau Ci Beng mengangguk.

"Suhuku adalah Thiat Kiam Ong atau si kakek pedang baja Nyio Sam Pak, pada tiga tahun yang lalu bukankah Cuo Lo cianpwe pernah membantu dia orang tua membebaskan diri dari satu bencana kemudian Cuo locianpwe masih bertamu di dalam perkam pungan Kiam San Cung kami dan waktu itu bpanpwe yang meladeni diri kau orang tua"

"Tidak salah . ., tidak salah . .."

Seru Cuo It Sian jadi paham kembali.

"Sekarang lolap sudah teringat kembali, bagaimana keadaan dari suhumu pada rnasa-masa ini?"

"Suhu di dalam keadaan selamat dan sehat."

Cuo It Sian segera tersenyum.

"Lolap sudah amat lama sekali belum pernah bertemu dengan suhumu,"

Ujarnya.

"Suhuku pun sering merindukan diri Cuo locianpwe."

"Lolap sendiri juga tidak melupakan suhmu ..Coba kau lihat, pedang pendek Biat Hun atau pembasmi sukma yang suhumu hadiahkan kepada lolap tempo hari masih lolap simpan terus di dalam sakuku."

Ujar Cuo It Sian sambil tertawa.

Dia segera mengambil keluar pedang pendek itu dan digoyang-goyangkan di hadapannya Cau Ci Beng lantas disimpan kembali ke dalam sakunya.

Mendengar keterangan tersebut diam-diam Ti Then merasa sangat terperanyat sekali, pikirnya.

"Kiranya pedang pendek itu adalah pedang hadiah dari si kakek pedang baja Nyio Sam Pak "

Mengenai si kakek pedang baja Nyio Sam Pak ini dahulu dia pernah mendengar orang bercerita katanya, si kakek pedang baja ini merupakan orang jagoan pedang yang sudah lama mengasingkan diri dari dalam kalangan dunia persilatan, dalam ilmu pedangnya kecuali Wi Ci To yang bisa menandingi boleh dikata jarang sekali menemui tandingannya, tetapi dikarenakan usianya yang sudah lanjut maka beberapa tahun yang lalu dia sudah cuci tangan terhadap urusan dunia ramai.

Sekali pun begitu anak murid yang diterima amatlah banyak sekali, karenanya sekali pun dia orang tua sudah lama mengundurkan dirinya tetapi nama perkam pungan Thiat Kiam San Cung masih sangat terkenal di dalam Bu-lim bahkan mendapat sanjungan dan penghormatan dari orang lain.

Karena seperti Juga Wi Ci To, sikakek pedang baja ini pun menerima murid dan mendidik anak muridnya untuk berbuat jujur dan bersikap pendekar.

Saat ini sewaktu Si elang sakti Cau Ci Beng memperlihatkan pedang hadiah dari suhunya itu ada air mukanya segera memperlihatkan senyuman girangnya.

"Bilamana suhu dia orang tahu kalau Cuo locianpwe begitu sayang terhadap pedang pendek Biat Hun ini tentu dia orang tua sangat girang sekali, kenapa ditengah malam buta ini Locianpwe berlari-lari di tempat luarau?"

"Pada malam tadi Lolap sedang mengejar seorang penyahat pemetik bunga dari kota Gak Yang, tidak disangka sewaktu sampai di sini sudah kena terlolos olehnya, karena itu aku lantas beristirahat di sini sejenak."

"Penyahat pemetik bunga yang mana?"

Tanya Cau Ci Beng dengan serius.

"Dia mengerudungi wajahnya dengan menggunakan secarik kain, karenanya lolap sama sekali tidak bisa tahu siapakah dia orang"

Dengan gemasnya Cau Ci Beng menghela napas panjang.

"Penyahat pemetik bunga yang ada di dalam Bu-lim memang tidak sedikit jumlahnya, aku dengar itu "Giok Bin Lang Cu' Cu Hoay Lo yang sudah berbuat banyak sekali kejahatan telah dibinasakan oleh Ti Then itu Kiauw-tauw dari benteng Pek Kiam Po." 000odwo000

"EHHMMM.Lolap pun mendengar orang berkata begitu, cuma tidak tahu sungguh-sungguh atau cuma berita isapan jempol saja"

"Kemungkinan sekali bukan lain isapan jempol,"

Ujar Cau Ci Beng sambil gelengkan kepalanya.

"Belum lama boanpwe pernah bertemu dengan seorang pendekar pedaug merah dari benteng Pek Kiam Po, boanpwe dengar berita tersebut dari penlekar pedang merah itu."

"Malam ini Cau Hian tit datang kemari sedang ada urusan apa?"

"Boanpwe mendapat perintah dari suhu untuk pergi ke gunung Cun san untuk meminta sebilah pedang dari Cu Kiam Lojin"

Mendengar perkataan tersebut air muka Cuo It Sian rada sedikit berubah.

"Eeeei...pergi mengambil sebilah pedang ?"

"Benar, suhu sudah memesan suruh Cu Kiam Lojin membuatkan sebilah pedang dan hari ini sudah jadi, pada setahun yang lalu sewaktu suhu berpesiar kedaerah Lam Huang secara tidak sengaja dia orang tua sudah menemukan sebuah besi baja yang amat bagus sekali, lantas dia menyerahkan besi itu kepada Cu Kiam Lojin untuk membuatkan sebilah pedang, pada akhir-akhir ini dia orang tua mengirim surat kepada suhu yan katanya pedang tersebut sudah jadi, karenanya boanpwe sekarang diperintahkan untuk pergi mengambilnya."

"Oooh .... kiranya begitu."

"Locianpwe kenal dengan Cu Kiam Lojin ini ?"

Tanya Cau Ci Beng lagi.

"Kenal..."

Sahutnya mengangguk. Cu Kiam Lojin berturut-turut sudah membuatkan empat bilah pedang buat suhu dia orang, sekarang yang boanpwe bawa ini adalah satu diantaranya."

"Kan It Hong adalah seorang akhli yang berpengalaman di dalam membikin pedang, setiap pedang yang dibuat oleh dia orang pastilah merupakan sebilah pedang yang amat bagus sekali."

"Benar,"

Jawab Cau Ci Beng mengangguk.

"Boanpwe sudah menggunakan pedang ini selama sepuluh tahun lamanya, sampai sekarang pedang ini masih tetap tajam tanpa memperoleh sedikit kerusakan apa pun"

"Lolap sekali pun ada jodoh pernah bertemu beberapa kali dengan Kan It Hong tetapi pedang yang dibuat lolap sama sekali belum pernah melihatnya, dapatkah Cau hiantit meminyamkan pedang itu kepadaku sebentar?"

Cau Ci Beng segera mencabut keluar pedangnya lalu dengan menggunakan sepasang tangannya diangsurkan ke depan.

Cuo It Sian segera menerima pedang itu dan memperhatikannya di bawah sorotan sinar rembulan.

"Ehhh, ternyata memang sebilah pedang yang sangat bagus sekali,"

Pujinya berulangkali.

"Cau hiantit sudah membinasakan berapa banyak orang dengan menggunakan pedang ini?" 3 . Kehilangan jejak Cuo It Sian "Boanpwe sudah membinasakan puluhan orang, tetapi yang perlu diterangkan, manusia-manusia yang boanpwe bunuh kebanyakan adalah kaum penyahat yang sudah sering melakukan pekerjaan-pekerjaan durhaka, dan selama ini belum pernah membinasakan seorang manusia baik pun.."

"Sebaliknya Lolap pernah membinasakan seorang manusia baik..."

Seru Cuo It Sian sambil membelai pedang tersebut dan menghela napas pendek.

"Ooh...benar?"

Seru Cau Ci Beng melengak.

"Benar, Lolap terang-terangan tahu kalau dia adalah seorang manusia baik, tetapi mau tidak mau aku harus membinasakan dirinya."

"Lalu kenapa?"

Cuo It Sian tidak menyawab, dengan pandangan mata yang melongo dia memperhatikan pedang yang ada di tangannya kemudian baru angkat kepalanya dan bertanya.

"Kali ini Cau hian-tit melakukan perjalanan seorang diri ?"

"Benar"

Sahut Cau Ci Beng mengangguk.

"Boanpwe dengan seorang kawan sudah berjanyi untuk bertemu kembali beberapa hari yang akan datang di kota Hoa Yong Sian, karena takut tidak sampai kecandak waktunya maka terpaksa boanpwe melakukan perjalanan dengan siang malam, aku punya perhitungan setelah terang tanah nanti boanpwe sudah bisa tiba di atas gunung Cun san"

Dengan perlahan Cuo It Sian mengangguk.

"Kalau memangnya demikian, Cau Hian-tit cepat-cepatlah melakukan perjalanan,"

Ujarnya kemudian.

Selesai berkata pedang panjang yang ada ditangannya mendadak ditusuk ke depan menghajar ulu hati dari Cau Ci Beng.

Cau Ci Beng lantas berteriak ngeri dengan amat menyayatkan hati.

sepasang tanganya mencekal kencang-kencang pedang panjang itu sedang air mukanya memperlihatkan rasa kaget yang bukan alang kepalang, sambil melotot kearah Cuo It Sian serunya gemetar.

"Lo ... Locianpwe kenapa ... ke napa . .!"

Bicara sampai di sini dia tidak kuat untuk bertahan lebih lama lagi, tubuhnya rubuh ke atas tanah dan menemui ajalnya seketika itu juga. Cuo It Sian segera menghela napas panjang.

"Kenapa aku membinasakan dirimu?"

Serunya dengan terharu.

"Hei...alasannya karena sewaktu kau tiba di gua naga di atas gunung Cun San kemungkinan sekali bisa menemukan tempat terkuburnya Kan It Hang dan dari penemuan mayat dari Kan It Hong yang terbunuh oleh orang lain jika dihubungkan dengan penemuan mala mini dengan lolap bukankah kau orang bisa timbul rasa curiga. Lain kali mungkin kau bisa menceritakan kisah ini kepada orang lain dan orang pastilah akan menaruh curiga kalau Kan It Hong adalah lolap yang turun tangan membinasakannya."

Dengan perlahan dia menggelengkan kepalanya lantas menghela napas panjang lagi.

"Kesemuanya ini adalah alasan lolap kenapa terpaksa aku harus turut membinasakan dirimu. bagaimana kau mati tidak meram sukmamu pergi mencari Wi Ci To untuk membalas dendam ini karena dialah yang memaksa lolap harus melakuka jalanan ini."

Selesai berkata dia segera memungut kembali pedangnya dan mulai menggali tanah untuk mengubur mayat dari Cau Ci Beng.

Ti Then yang melihat kejadian itu di dalam hati benar-benar merasa sangat terkejut bercampur gusar, makinya diam-diam.

"Bajingan tua, kau patut menemui kematianmu, kau sudah membinasakan orang kini malah mengalihkan dosanya kepada orang lain"

Terhadap kematian dari Cau Ci Beng ini ia merasa amat menyesal sekali, karena sewaktu dia mendengar perkataan yang terakhir dari Cuo lt Sian tadi secara samar-samar dia sudah merasakan kalau Cuo It Sian bermaksud hendak melenyapkan saksi hidup.

Pada waktu itusebetulnya dia mem punyai kesempatan untuk kirim suara memberi peringatan kepada diri Cau Ci Beng, tetapi dikarenakan dia belum benar-benar yakin kalau Cuo It Sian benar mau turun tangan membinasakan Cau Ci Beng di samping dia pun memikirkan perintah yang dibebankan kepadanya maka membuat dalam hatinya sedikit ragu-ragu sewaktu keadaan sangat kepepet itulah untuk memberi peringatan sudah tidak sempat lagi skhingga tidak berhasil menolong nyawa dari Cau Ci Beng.

Diam-diam dia menggigit kencang bibirnya, dalam hati pikirnya.

"Pokoknya ada satu hari aku tentu akan mengumumkan seluruh kejahatan dari kau bajingan tua di hadapan orang-orang Bu-lim kemudian menghancurkan badanmu sehingga berkeping-keping."

Agaknya Cuo It Sian sendiri pun takut I kalau sampai diketemukan oleh orang lain, gerak-geriknya amat cepat dan tidak selang kemudian dia sudah berhasil menggali liang yang amat besar dan memasukkan mayat Cau Ci Beng ke dalam liang tersebut kemudian menutupnya kembali dengan tanah, semuanya telah selesai dia baru putar badannya melarikan diri ke sebelah Barat.

Ti Then tetap menguntitnya dari arah belakang.

Dia tidak berani terlalu dekat dengan dirinya.

Ketika sang surya muncul kembali di ufuk sebelah timur Cuo It Sian sudah tiba di kota Hoa Yong Sian.

Ti Then segera mengikuti masuk ke dalam kota tersebut, ketika dilihatnya Cuo It Sian sembari berjalan di tengahi jalan kepalanya menengok ke kanan menengok ke kiri dia segera tahu kalau dirinya sedang mencari rumah penginapan, teringat kuda Ang Shan Khek nya masih dititipkan dipenginapan Im Hok tidak terasa diam-diam doanya.

"Lebih baik jangan dibiarkan dia masuk ke rumah penginapan Im Hok tersebut, kalau tidak aku akan menemui kesukaran untuk turun tangan."

Dia mem punyai rencana untuk meminyam keempatan sewaktu Cuo It Sian menginap di rumah penginapan dia segera berusaha untuk mencuri pedang pendek tersebut.

Sebaliknya di rumah penginapan Im Hok sudah ada nama serta kudanya yang tertinggal di sana, karenanya dia tak ingin Cuo It Sian masuk ke dalam rumah penginapan Im Hok itu sehingga membuat urusan selanjutnya jadi berantakan.

Akhirnya rasa kuatir itu lenyap juga dari benaknya.

Cuo It Sian menginap di sebuah rumah pemginapan kecil dengan nama Ban Seng.

Ti Then segera tahu dia sengaja mencari sebuah penginapan kecil karena takut sampai ditemui oleh orang-orang yang dia kenal, bersamaan pula dia tahu tentunya dia sedang melakukan siasat siang mendekam malam bergerak paling sedikitnya dia akan mendekam di penginapan Ban Seng itu seharian lamanya.

Segera dia mengambiI satu siasat pula.

Dia segera membeli seperangkat sepatu dan pakaian baru kemudian dengan menggunakan beberapa macam barang untuk mengubah wajahnya sete!ah itu baru berjalan ke luar kota dan mencari sebuah tempat yang sunyi untuk mulai menyamar.

Terhadap ilmu mengubah wajah dia mem punyai satu pengalaman yang cukup sempurna, tidak lama kemudian dia sudah berhasil menyamar sebagai seorang pedagang pertengahan.

Setelah menyembunyikan sepatu, pakaian serta pedangnya dia baru berjalan kembali lagi ke dalam kota.

Setelah memasuki kota dia langsung menuju kerumah penginapan Ban Seng, ketika dilihatnya ada beberapa orang tamu sedang membayar rekening siap meninggalkan tempat tersebut dia segera menanti di samping, Tidak lama kemudian terlihatlah seorang pelayan maju memberi hormat kepadanya.

"Khek-koan.. kau . ."

"Mau mencari kamar,"

Sahut Ti Then dengan cepat.

"Baik ... baik."

Sahut si pelayan sambil membungkukkan badannya, silahkan Khek koan mengikuti hamba."

Selesai berkata dia segera putar kepalanya berjalan masuk ke dalam.

"Apa tidak perlu tinggalkan nama?"

"Tidak usah... tidak usah, silahkan kau orang beristirahat dulu ke dalam kamar, nanti baru...."

"Tidak"

Potong Ti Then dengan cepat.

"Aku mau menulis namaku terlebih dulu, nanti sore ada kemungkinan seorang teman akan kemari mencari aku"

"Kalau begitu silahkan ikuti hamba pergi ke sana"

Sahut pelayan itu sambil menghentikan langkah kakinya.

Dia memimpin Ti Then menuju ke kamar kasir dan mengambil sebuah kitab untuk kemudian membukanya pada halaman yang terakhir menyilahkan Ti Then menulis namanya.

Tidak salah lagi pada nama tamu yang terakhir dia menemukan tinta bak yang masih belum kering benar, tetapi nama yang ditulis bukannya "Cuo It Sian"

Tiga kata melainkan Cu Khei Kui. Ti Then yang tidak menemukan nama "Cuo It Sian"

Diantara nama-nama tersebut dia segera menuding ke atas nama Cu Khei Kui tersebut.

"Nama orang ini sungguh berarti sekali"

"Benar"

Sahut sang pelayan sambil tertawa.

"Nama ini adalah nama dari seorang tamu yang baru saja menginap di rumah penginapan kami."

Ti Then segera menulis namanya dengan sebutan Ciau Cuang di belakang nama Cu Khei Kui tadi sambil meletakkan kembali pitnya ke atas meja dia berkata sambil tertawa.

"Aku adalah seorang pedagang, dan paling suka membicarakan soal rejeki atau sial, nama orang ini adalah Khei Kui, tolong beri aku satu kamar yang persis disarnpingnya saja, biar aku pun ikut kecipratan rejeki."

"Boleh.. boleh, tetapi tetamu tua itu baru mau tidur, dia berpesan kepada hamba untuk jangan membangunkan dia, maka . ..."

"Aku pun hendak pergi tidur sebentar "

Potong Ti Then dingan cepatnya.

"Aku tidak akan membangunkan dirinya".

"Kalau begitu bagus sekali. Khek koan kau ingin makan?"

Tanya pelayan itu kemudian dengan cepat.

"Baiklah, ambilkan beberapa macam sayur dan bawa ke dalam kamarku"

Demikianlah si pelayan itu segera memimpin dia masuk ke dalam rumah penginapan dan membuka pintu kamar tepat di samping kamar dari Cu Khei Kui dan membiarkan Ti Then masuk, kemudian mempersiapkan makanannya.

Ti Then segera masuk ke dalam dia segera mepetkan badannya dengan tembok untuk mendengarkan suara yang ada di sampingnya dengan penuh perhatian, Dia cuma mendengar suara napas yang agak keras dari Cu Khei Kui itu, dia tentu pihak lawan sudah tertidur dengan amat pulasnya, segera dia pun mengundurkan diri ke samping pembaringan dan mulai memikirkan cara-cara untuk mencuri pedang pendek itu.

Tidak lama kemudian si pelayan sudah menghidangkan sarapan pagi.

"Khek koan,"

Serunya.

"Makanan pagimu sudah datang."

"Baik,"

Sahut Ti Then sengaja mengganti nada ucapannya.

"Setelan makan aku pun mau tidur, kau tidak perlu melayani aku lagi."

Dengan amat hormatnya pelayan itu menyahut.

setelah meletakkan sarapan itu di atas meja dia segera mengundurkan dirinya.

Setelah bersantap pagi Ti Then pun membaringkan badannya ke atas tempat pembaringan melanjutkan pemikirannya cara-cara untuk mencuri pedang tersebut.

Akhirnya dia memperoleh dua cara .

Pertama, sewaktu Cuo It Sian ada urusan dan meninggalkan kamarnya.

Dan kedua, Sewaktu dia berganti pakaian atau sedang mandi.

Tetapi kedua buah cara itu baru bisa dilakukan menanti setelah dia sadar kembali dari pulasnya, tetapi kapan dia baru sadar kembali dari pulasnya?

"Ehmm, dia baru saja tertidur sudah tentu paling cepat siang nanti baru bangun, lebih baik kini dirinya pun tidur sebentar.

Berpikir sampai di sini dia tidak melanjutkan kembali pemikirannya, segera dia memejamkan matanya dan tertidur dengan nyenyaknya.

Siapa tahu baru saja dia tertidur tidak lama, mendadak dari luar kamar berkumandang datang suara yang amat ramai sekali.

Terdengar si pelayan itu dengan suara yang cemas sedang berteriak.

"Eei . ,..eei nona, kau sedang berbuat apa?"

Disambung dengan suara yang amat merdu dan nyaring dari seorang gadis memberi jawabannya.

"Nonamu sedang cari orang"

"Kau sedang cari siapa?"

"Kau tidak usah ikut campur"

"Nona, kau...kau..menuntun anying itu, tentunya bukan sedang perintah dia untuk menggigit orang bukan?"

"Bukan!"

"Lalu.. kenapa kau menuntun anying itu datang kemari?"

"Tadi aku sudah bilang aku sedang mmencari orang, apa telingamu sudah tuli?"

"Tetapi...tetapi..."

"Kalau kau banyak bicara lagi nonamu segera akan perintah Cian Li Yen ini untuk menggigit dirimu terlebih dulu"

Ti Then yang mendengar disebutnya nama "Cian Li Yen"

Tiga buah kata tidak terasa lagi menjadi sangat terkejut sekali, dengan gugup tubuhnya meloncat bangun kemudian serunya di dalam hati.

"Aduh ..celaka, bagaimana dia bisa sampai di sini?"

Pada saat dia ingin membuka pintu kamar itulah mendadak dari pintu kamar sebelah luar terdengar suara gonggongan anying sangat ramai sekali, kemudian disusul suara dari Wi Lian In berkata.

"Cian Li Yen, apa tidak salah kamar ini?"

Sekali lagi anying itu menggonggong dengan amat kerasnya bersamaan pula terdengar suara kuku anying yang mulai mencakar pintu kamar. Diam-diam Ti Then menghela napas panjang, pikirnya.

"Habis..habis sudah. Cuo It Sian yang ada di kamar sebelah sesudah mendengar suara itu tentu akan kabur"

Dia takut Wi Lian In berteriak memanggil namanya terpaksa dia segera maju ke depan membuka pintu kamar.

"Ada permainan setan apa? Siapa yang sudah membawa seekor anying gila mengganggu orang?"

Teriaknya dengan gusar.

Wi Lian In yang berdiri di depan pintu di dalam anggapannya orang yang ada di dalam kamar sudah tentu adalah diri Ti Then, ketika dilihatnya orang yang ada di depan matanya sekarang bukan lain adalah seorang lelaki berusia pertengahan dengan memelihara jenggot pendek pada janggutnya seketika itu juga dia melengak.

"Kau siapa?"

Serunya dengan air muka yang sudah memerah.

"Cayhe Ciau Cuang"

Sahut Ti Then dengan nada suara yang sengaja diperberat.

"Nona ada keperluan apa datang mencari cayhe?"

Untuk beberapa saat lamanya Wi Lian In dibuat kelabakan juga dengan paksa dia menarik anying "Cian Li Yen"-nya.

"Maaf, maaf aku sudah salah mencari orang,"serunya kikuk.

"Sungguh membingungkan, hmmm.."

Seru Ti Then sambil mendengus perlahan. Selesai berkata dia hendak menutup pintu kamarnya kembali. Siapa sangka si anying "Cian Li Yen"

Itu tidak mau mengakui kesalahannya, melihat Ti Then hendak menutup pintu dengan cepat tubuhnya kembali menubruk ke depan dan menggonggong dengan ramainya kearah diri Ti Then.

Dengan sekuat tenaga Wi Lian In segera menarik anyingnya ke belakang.

"Binatang jahanam !"

Makinya dengan gusar.

"Matamu betul-betul sudah buta"

Si anying "Cian Li Yen"

Itu tetap tidak mau mengaku salah, kakinya diangkat ke atas dan tak henti-hentinya menggonggong dengan menghadap diri Ti Then.

Si pelayan yang ada di samping sewaktu melihat kejadian ini dia jadi semakin keras lagi, teriaknya berulang kali.

"Coba kau lihat, aku tadi Tanya kau mencari siapa kau orang tidak mau menyawab, sekarang anyingmu sudah membangunkan tetamu kita semua sungguh kurang ajar..sungguh kurang ajar sekali"

"Cepat, tarik dia keluar"

Teriak Ti Then pula sambil mengulapkan tangannya.

"Kalau tidak jangan salahkan aku segera akan pukul anying itu dengan menggunakan tongkat"

Wi Lian In menganggukkan kepalanya berulangkali lantas dengan sekuat tenaga menarik anying Cian Li Yen-nya untuk mengundurkan diri dari situ.

"Ayoh jalan...ayoh jalan,"

Bentaknya dengan keras.

"Kau anying goblok, anying konyol tunggu saja pembalasanku sekembalinya dari sini"

Pada saat itulah dari pintu kamar Cu Khei Kui yang ada di samping kamar Ti Then terbuka dengan perlahan disusul bergema datangnya suara seorang kakek tua."

"Ada urusan apa yang begitu ramai dan ributnya?"

"Aduh, habislah.."

Batin Ti Then diam-diam dia merasa hatinya berdebar dengan amat keras.

Dia berpendapat bahwa ketika Cuo It Sian berjalan keluar dari kamarnya dan melihat Wi Lian In seorang diri ada di sana, dia tentu akan menawan diri Wi Lian In, pada saat itu dirinya harus turun tangan memberi bantuan dengan begitu bukankah "penyamaran"-nya akan jadi berantakan?

Atau dengan perkataan lain, seluruh usahanya yang susah payah ini hancur berantakan sampai di sini.

Tetapi sewaktu dia orang sedang menghela napas panjang dikarenakan kejadian inilah mendadak dia dibuat tertegun sesudah melihat wajah dari Cu Khei Kui itu.

Kiranya Cu Khei Kui yang baru saja keluar dari kamar itu bukanlah si pembesar kota Cuo It Sian melainkan adalah seorang kakek tua yang berperawakan kurus sekali.

Dengan mata terbelalak mulut melongo Ti Then memperhatikan kakek tua itu tajam-tajam untuk beberapa saat lamanya dia tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun.

Ia selalu menganggap Cu Khei Kui itu adalah adalah diri Cuo It Sian, siapa tahu dugaannya ternyata adalah salah besar, kesalahannya kali ini benar-benar amat lihay sekali.

Kalau memangnya Cu Khei Kui ini bukanlah Cuo It Sian, lalu Cuo It Sian yang sebsnarnya tinggal di kamar sebelah mana?

Begitu pikiran tersebut berkelebat di dalam benaknya, ketika dilihatnya Wi Lian In sudah hendak meninggalkan halaman rumah penginapan tersebut dia segera berteriak dengan keras.

"Nona, tunggu sebentar!"

Sembari berteriak dia mengejar ke depan dengan langkah yang cepat.

"Ada urusan apa?"

Tanya Wi Lian In setelah mendengar perkataan tersebut, dia berhenti dan putar badannya.

"Cayhe sekarang sudah jadi paham kembali bukankah nona sedang menggunakan penciuman anying ini sedang mencari seseorang?"

Sskali pun perkataanmu itu sedikit pun tidak salah lalu kau orang mau apa?"

Seru Wi Lian In ketus.

"Anying nona itu sudah mencari sampai di sepan kamar cayhe kemungkinan sekali tidak salah orang yang sedang nona cari ada kemungkinan pernah tinggal di dalam kamarku itu."

"Ehmmm.... kemungkinan sekali memang demikian"

Seru Wi Lian In. Mendadak Ti Then memperendah suaranya, ujarnya dengan cepat.

"Aku adalah Ti Then, kau pergilah dulu sebentar kemudian aku akan menyusul datang."

Berbicara sampai di sini dia segera memperkeras suaranya.

"Kenapa nona tidak pergi ke tempat pemilik rumah penginapan ini untuk memeriksa daftar nama tetamu? Kemungkinan sekali dari sana bisa ditemukan kembali."

Wi Lian In agak melengak dibuatnya, tetapi sebentar kemudian dia sudah mengangguk berulang kali.

"Tidak salah...tidak salah"

Serunya dengan cepat.

"Biarlah aku periksa sebentar"

Selesai berkata dengan terburu-buru dia menarik anying Cian Li Yen-nya untuk berlalu dari sana.

Setelah melihat bayangan dari Wi Lian In lenyap dari pandangan Ti Then baru tertawa, putar badan dan ujarnya sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

"Nona ini sungguh amat lucu sekali..."

Si pelayan itu segera menjura berulang di depan Ti Then serta Cu Khei Kui.

"Maaf..maaf, sudah mengganggu kalian, maaf.."

Serunya sambil tertawa paksa.

Cu Khei Kui tidak menyawab, dia putar badan berjalan masuk kembali ke dalam kamarnya dan menutup pintu kembali.

Sedangkan Ti Then segera menarik tangan si pelayan itu ke samping.

"Aku mau bertanya kepadamu,"

Ujarnya dengan suara yang amat lirih sekali.

"Pagi ini orang yang memasuki rumah penginapanmu kecuali aku beserta si kakek tua she Cu itu masih ada siapa lagi?"

"Sudah tidak ada lagi,"

Sahut pelayan itu sambil gelengkan kepalanya.

"Sungguh?"

Tanya Ti Then keheranan.

"Sungguh,"

Sahutnya mengangguk.

"Tetapi kurang lebih dua jam sebelum aku memasuki rumah penginapanmu ini agaknya aku pernah melihat seorang kakek tua berjubah hijau memasuki rumah penginapan ini, kakek tua berjubah hijau itu mem punyai perawakan tinggi besar."

"Betul, betul.."

Sambung pelayan itu dengan cepat.

"Memang pernah ada seorang kakek tua berjalan memasuki rumah penginapan kita ini, tetapi dia tidak menginap di sini."

"Kenapa?"

"Siapa yang tahu?"

Sahut pelayan itu sambil merentangkan tangannya ke samping.

"Semula dia punya rencana untuk tinggal di sini selama beberapa hari lamanya tetapi setelah bersantap pagi mendadak dia bilang ada urusan penting yang harus diselesaikan, dengan terburu-buru dia membayar rekening lantas meninggalkan tempat ini."

"Kalau begitu dia pernah masuk ke dalam kamar?"

"Benar, kamarnya ada tepat di hadapan kamarmu."

Sambil berkata dia menuding kearah sebaris kamar, lantas tanyanya lagi secara tiba-tiba.

"Khek-koan, kau kenal dengan Lo-sianseng itu?"

"Tidak kenal, Cuma saja aku tahu siapakah dia orang adanya....dia adalah..ehmmm..dia adalah seorang yang sangat luar biasa sekali."

Si pelayan itu jadi ingin tahu lebih lanjut, desaknya kemudian.

"Bagaimana hebatnya?"

"Dia adalah seorang penulis yang paling terkenal pada saat ini. Setiap tulisannya bisa laku sepuluh tahil perak."

"Aaaah.."

Teriak pelayan itu sambil menjulurkan lidahnya.

"Setiap tulisannya bisa laku sepuluh tahil perak? Oohh Thian.."

"kamar yang baru saja ditinggali apa sudah kau beresi?"

"Belum"

"Kalau begitu mari kita pergi ke kamarnya untuk memeriksa jikalau bisa menemukan tulisan-tulisannya yang dibuang kemungkinan sekali kita bisa untung besar"

"Belum"

Sahut si pelayan itu dengan cepat.

"Agaknya dia tidak pernah membuang semacam barang pun."

"Kalau begitu, mari kita pergi mencari"

Sahut Ti Then menarik ujung bajunya.

Selesai berkata dia segera berjalan menuju kekamar tetamu yang amat panjang.

Si pelayan yang melihat dia begitu bernapsunya terpaksa ikut dari belakangnya dan membukakan pintu kamar dimana Cuo It Sian pernah ditinggali.

"Hamba berani bertaruh dengan Khek koan"

Ujarnya tertawa.

"Lo-sianseng itu sama sekali tidak membuang tulisan apa pun juga"

Ti Then tidak mengambil bicara, dia segera berjalan masuk ke dalam ruangan dan memeriksa keadaan di sekeliling tempat itu, akhirnya di bawah sebuah pembaringan dia menemukan sepasang sepatu yang berbau amat busuk dan sudah berlubang, dalam hati dia merasa sangat girang sekali sambil memungut sepatu tersebut ujarnya.

"Sepasang sepatu bobrok ini apakah peninggalan dari Lo-sianseng itu?"

"Benar, apakah barang itu pun sangat berharga?"

Tanya si pelayan itu sambil tertawa.

Dari dalam sakunya Ti Then mengambil secarik kain lalu membungkus sepatu itu dengan sangat berhati-hati dan dimasukkan kembali ke dalam sakunya.

Setelah itu dia mengambil pula sebuah hancuran uang perak yang disusupkan ke dalam tangan pelayan itu.

"Boleh bukan aku membawa pergi sepasang sepatu bobrok ini ?"

Si pelayan itu jadi kebingungan, dia memandang ke atas hancuran keping perak yang ada di tangannya lantas memandang pula ke arah Ti Then dengan pandangan keheranan.

"Khek-koan."

Ujarnya.

"Dengan uang sebanyak ini paling sedikit kau masih bisa membeli dua pasang sepatu baru"

"Tetapi aku labih suka sepasang sepatu bobrok ini"

Sahut Ti Then tertawa.

"Karena barang yang pernah dipakai oleh seorang penulis terkenal sangat berharga sekali."

"Hamba tidak paham"

Ujar pelayan itu sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

"Sudahlah.."

Ujar Ti Then sambil menepuk-nepuk pundaknya.

"Karena diganggu nona tadi setan tidurku pun sudah diusir keluar dari dalam badanku, aku segera mau meninggalkan rumah penginapan ini, coba kau pergi menghitung rekeningku."

"Kau mau pergi ?"

Tanya pelayan itu melengak. Ti Then segera berjalan dari kamar itu untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri.

"Benar."

Jawabnya.

"Tetapi kau boleh berlega hati, aku sanggup untuk membayar uang sewa kamar selama satu hari penuh."

Sskembalinya di dalam kamarnya send.ri dia lantas memeriksa apakah barangnya ada yang ketinggalan setelah itu baru berjalan keluar untuk membayar rekening, akhirnya meninggalkan rumah penginapan tersebut.

Sekeluarnya dari pintu rumah penginapan itu dia sudah menemukan Wi Lian In serta si anying Cian Li Yen-nya sedang menanti di ujung jalan, dengan cepat dia berjalan menuju kearahnya dan lewat dari samping badannya.

"Tunggulah aku dipintu sebelah timur"

Ujarnya denan suara yang amat lirih.

"Sudah terjadi urusan apa ?"

Tanya Wi Lian In dengan cemas. Ti Then tidak menyawab, tapi melanjutkan kembali perjalanannya kearah depan. -ooo0dw0ooo-

Jilid 29.1 .

Menggunakan anying Cian Li Yen DALAM HATI Wi Lian In merasa amat heran bercampur terkejut, tetapi dia tahu Ti Then berpesan demikian tentu ada sebab-sebabnya kareoanya tanpa bertsnya lebih lanjut dia segera mensrik anying Cian Li Yen-nya untuk berlari menuju kearah pintu kota sebelah Timur.

Ti Tben segara berjalan melewati sebuah jalan kecil lantas berdiri di pojokan lorong, secara diam-diam dia memperhatikan semua orang yang berjalan mengikuti dari belakang Wi Lian In, setelah dilihatnya bayangan dari Wi Lian In telah lenyap di ujung jalan dan betul-betul yakin kalau tidak ada orang yang membututinya dari belakang dia baru berani melanjutkan kembali langkahnya untuk mengejar diri Wi Lian In.

"Mari ikut aku,"

Serunya.

"Ada orang yang membuntuti kita?"

Tanya Wi Lian In dengan cepat.

"Tidak ada."

"Lalu kenapa kau begitu berhati-hati dan gerak-gerikmu begitu rahasianya."

"Aku mau tidak mau harus mengadakan persiapan, karena ada seseorang yang kemungkinan sekali sudah mengetahui jejakmu."

"Siapa?"

"Nanti saja aku beritahukan kepadamu"

Sahut Ti Then dengan cepat, Selesai berkata dengan langkah yang lebar dia berjalan menuju ke tempat dimana pada pagi hsrinya dia menyembunyikan pakaian serta pedang panjangnya.

Matanya dengan perlahan memeriksa sebentar keadaan disekeliling tempat itu setelah dirasakannya tidak ada orang dia baru duduk di atas tanah rumput.

"Kau duduklah"

Ujarnya kemudian. Wi Lian In segera duduk saling berhadapan dengan dirinya.

"Eei ... kenapa kau menyamar dengan wajah yang begitu jeleknya?"

Tanyanya sambil teriawa. Lama sekali Ti Then memperhatikan dirinya, kemudian balik tanyanya.

"Lalu kenapa kau ikut keluar dari Benteng?"

"Aku harus tahu apa alasanmu meninggalkan Benteng tanpa psmit,"

Sahut Wi Lian In sambil mengerutkan alisnya.

"Bilamana aku adalah ayahmu maka aku harus keras-keras mengbajar pantatmu."

"Apa alasanmu meninggalkan Benteng tanpa pamit aku harus mengetahuinya dengan jelas"

Teriak Wi Lian In dengan gusar.

"Apa Shia Pek Tha tidak menjelaskan kepadamu?"

"Aku tanya kepadanya, dia bilang tidak tahu maka secara diam-diam dengan membawa anying Cian Li Yen aku meninggalkan Benteng. karena cuma anying Cian Li Yen saja yang bisa mengejar dirimu, kau jangan harap bisa melepaskan dtri dari diriku."

"Kali ini aku meninggalkan Benteng sebetulnya sedang pergi membereskan satu persoalan yang diperintahkan oleh ayahmu, aku sama sekali tidak bermaksud meninggalkan benteng Pek Kiam Po untuk selama-lamanya"

Ujar Ti Then memberikan penjelasannya. Lalu kenapa kau tidak memperbolehkan aku mengetahui ?"

Tanya Wi Lian In kurang senang.

"Karena aku takut kau akan ikut keluar maka itu aku tidak membiarkan kau mengetahuinya."

"Seharusnya kau mengetahui sifatku, bilamana kau memberitahu secara terus terang kepadaku kemungkinan sekali aku masih mau berdiam di dalam Benteng."

"Mungkinkah ?"

Tanya Ti Then sambil tertawa pahit.

"Sudah .., sudahlah,"

Seru Wi Lian In sambil tertawa meringis.

"Sekarang aku sudah ikut keluar Benteng, lebih baik kau ceritakan dulu apa tugas yang sudah diberikan ayahku untuk kau laksanakap"

Ti Then melirik sekejap memandang kearah anying Cian Li Yen yang sedang berbaring di sampingnya, kemudian baru bertanya "Kau menggunakan anying Cian Li Yen ini membuntuti diriku apakah pernah melewati gunung Bu Leng san ?"

"Benar,"

Sahut Wi Lian In mengangguk.

"Di atas gunung ada sebuah rumah gubuk, kau menemukan sesuatu di sana?"

Tanya Ti Then lebih lanjut.

"Benar, agaknya kau pernah menginap satu malam di dalam gubuk tersebut bukan begitu?"

Sekali lagi Ti Then mengangguk.

"Lalu sewaktu kau memasuki rumah gubuk itu apakah sudah menemukan seseorang di sana ?"

Tanyanya.

"Tidak, majikan rumah itu adalah seorang penebang kayu, kemungkinan sekali dia sedang naik ke atas gunung untuk mencari kayu"

Ti Then yang mendengar perkataan tersebnt dia segera mengetahui kalau Wi Lian In sama sekali tidak bertemu dengan si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan.

Kwek Kwan San serta si manusia berkerudung berbaju biru yang dikirim majikan patung emas untuk mengawasi geraK geriknya itu karenanya dia lantas berkata.

"Tidak salah, aku sudah menginap satu malam di rumah pencari kayu itu untuk kemudian pada keesokan harinya meninggalkan tempat itu."

"Bilamana aku datang setengah hari lebih pagi kemungkinan sekali masih bisa bertemu dengan dirimu, kemudian agaknya kau melanjutkan perjalanan menuju kearah sebelah Timur dan menuju ke gunung Cun san bukan demikian ?"

Ujar Wi Lian In.

"Betul, kalau memangnya kau pernah datang ke gunung Cun san sudah seharusnya kau paham apa tugasku kali ini bukan?".

"Aku mengejar terus sampai di depan mulut gua di atas gunung Cun san, tetapi agaknya kau tidak memasuki gua tersebut sebaliknya bersembunyi di belakang sebuah batu cadas yang besar, apakah kau sedang menyelidiki seorang yang berada di dalam gua tersebut?"

"Ehmmm.."

Sahut Ti Then mengangguk.

"Tahukah kau siapa yang bertempat tinggal di dalam gua tersebut?"

"Tidak tahu."

"Gua tersebut bernama gua naga, tempat itu adalah tempat tinggal dari si Cu Kiam Lojin Kan It Hong"

"Aaah , . kiranya Cu Kiam Lojin tinggal di dalam gua itu, buat apa kau pergi mencari dirinya?"

Tanya Wi Liau In dengan sangat terperanyat.

"Aku bukan pergi mencari dia, sebaliknya sedang menanti kedatangan seseorang"

"Aah... sekarang aku sudah paham"

"Ehm.."

"Bukankah kau sedang menanti kedatangan Cuo It Sian?"

"Benar,"

Sahut Ti Then mengangguk.

"Ayahmu mengira ada kemungkinan dia bisa pergi mencari Cu Kiam Lojin untuk membetulkan pedangnya, karena itu sengaja memerintahkan diriku untuk pergi ke gunung Cun san menanti dan curi kembali pedang itu"

"Lalu apakah dia sudah datang ke sana?"

"Sudah."

"Lalu kau berhasil mencuri potongan pedang itu?"

"Tidak."

"Kenapa tidak mau merampas dengan terang-terangan"

"Ayahmu memerintahkan diriku untuk mencuri potongan pedang itu secara diam-diam tanpa sepengetahuan dirinya, dia orang tua melarang aku merampas dengan terang-terangan."

"Maksudnya?"

"Ayahmu tidak memberi keterangan"

"Apa Cu Kiam Lojin sudah berhasil menyambung kembali potongan pedang tersebut?"

"Sudah."

"Kau boleh mengadakan hubungan dengan Cu Kiam Lojin untuk mencuri kembali potongan pedang tersebut"

"Sebetulnya aku pun mem punyai maksud untuk bertindak demikian, cuma saja kedatanganku rada sedikit terlambat. Sewaktu aku tiba digua naga di atas gunung Cun san, Cu Kiam Lojin sudah berhasil menyambungkan potongan pedang dari Cuo It Sian itu sedang bersama-sama keluar dari gua aku takut jejakku sampai diketahui oleh Cuo It Sian maka sengaja aku bersembunyi di belakang batu besar."

"Akhirnya kau membuntuti Cuo It Sian terus sampai ke kota Hoa Yong Sian?"

Timbrung Wi Lian In.

"Benar,"

Jawab TiThen membenarkan.

"Tetapi aku hendak menceritakan satu peristiwa yang menyedihkan terlebih dulu ...... sesaat sebelum Cuo It Sian meninggalkan gunung Cun san mendadak dia sudah turun tangan jahat terhadap diri Cu Kiam Lojin."

"Iih...kenapa dia turun tangan jahat terhadap Cu Kiam Lojin ?"

Tanya Wi Lian In terperanyat.

"Dia membinasakan diri Cu Kiam Lojin ada kemungkinan dikarenakan dia tidak ingin membiarkan orang lain tahu kalau pedang pendek tersebut sudah pernah patah menjadi dua untuk kemudian disambung kembali."

"Perkataan apa itu?"

"Aku tidak tahu, tetapi aku percaya putusnya pedang pendek itu kemungkinan, sekali sudah menyimpan satu rahasia yang tidak memperkenankan orang lain untuk mengetahuinya,"

"Tia tentu tahu rahasia terputusnya pedang itu."

"Benar."

"Kau melihat dengan mata kepalamu sendiri dia membunuh Cu Kiam Lojin?"

"Benar,"

Jawab Ti Then mengangguk.

"Sewaktu aku headak masuk ke dalam gua naga uutuk mencari Cu Kiam Lojin mendadak dari dalam gua berkumandang keluar suara orang yang sedang berbicara."

Segera dia menceritakan kisah dimana Cuo It Sian membinasakan diri Cu Kiam Lojin kemudian bagaimana ditengah jalan membinasakaa pula anak murid dari si si kakek pedang baja Nyio Sam Pek yaitu si elang sakti Cau Ci Beng."

Ketika Wi Lian In mendeugar kalau pedang pendek Biat Hun milik Cuo It Sian itu sebenarnya adalah hadiah dari si kakek pedang baja Nyio Sam Pek dia semakin merasa terkejut bercampur heran.

"Jika demikian adanya rahasia yang menyelimuti pedang pendek milik Cuo It Sian ini mem punyai hubungan dan sangkut paut yang sangat erat sekali dengan si kakek pedang baja Nyio Sam Pek?"

"Aku rasa tidak ada."

"Tidak ada?"

Seru Wi Lian In keheranan.

"Betul, jika didengar dari perkataan si elang sakti Cau Ci Beng, pada beberapa tahun yang lalu Cuo It Sian pernah membantu Nyio Sam Pak membebaskan diri dari suatu bencana yang amat membahayakan nyawanya, untuk membalas budi kebaikan ini Nyio Sam Pal lantas menghadiahkan sepotong pedang pendek Biat Hun itu kepada Cuo It Sian setelah itu Nyio Sam Pak sama sekali belum pernah bertemu kembali dengan dirinya maka terputusnya pedang pendek Biat Hun ini agaknya sama sekali tidak ada hubungannya dengan diri Nyio Sam Pak."

Dengan perlahan Wi Lian In menganggukkan kepalanya.

"Kalau begitu"

Ujarnya kemudian.

"Dia dapat turun tangan membinasakan diri Cau Ci Beng kesemuanya dikarenakan takut Cau Ci Beng menemukan jenasah dari Cu Kiam Lojin di dalam gua naga kemudian menaruh curiga kalau dialah yang sudah turun tangan membunuh orang tua itu.

"Tidak salah"

Sahut Ti Then membenarkan.

"Tempat dimana dia bertemu dengan Cau Ci Beng cuma ada lima puluh lie jauhnya dari gunung Cun san, dia takut Cau Ci Beng menemukan mayat dari Cu Kiam Lo jin lantas menaruh curiga terhadap dirinya"

OooOooo Halaman 13-14 robek "Setelah mengetahui dia merasa ada yang mengikuti, aku mengambil keputusan untuk menyamar dan ikut menginap di dalam rumah penginapan tersebut bersamaan pula dengan ini mencari kesempatan yang baik untuk mencuri kembali potongan pedang itu, siapa tahu akhirnya aku sudah salah menganggap orang lain"

Ketika Wi Lian In mendengar dia sudah salah menganggap Cu Khei Kui sebagai Cuo It Sian tidak kuasa lagi sudah tertawa geli.

"Masih untung saja Cu Khei Kui itu bukanlah diri Cuo It Sian"

Ujarya.

"Apa artinya?"

Tanya Ti Then melengak. Wi Lian In tersenyum.

"Bilamana Cu Khei Kui itu adalah diri Cuo It Sian maka dengan perbuatanku tadi berarti juga sudah membocorkan pekerjaanmu, kau tentu akan membenci diriku setengah mati,"

Sahutnya.

"Betul,"sahut Ti Then sambil tertawa.

"Tetapi untung saja dengan perbuatanmu itu dengan cepat aku bias mengetahui kesalahan anggapanku, jikalau kau tidak dating ke sini kemungkinan sekali aku harus menunggunya sampai nanti malam baru tahu kalau aku sudah salah menganggap orang lain sebagai diri Cuo It Sian, waktu itu kemungkinan sekali dia orang sudah melarikan diri jauh-jauh"

"Kalau sekarang kita melakukan pengejaran masih bisa kecandak tidak?"

Tanya Wi Lian In kemudian.

"Kemungkinan sekali"

"Untuk sementara tidak mungkin pulang ke rumah."

"Tidak perduli dia hendak lari kemana pun aku masih ada satu cara untuk mendapatkannya"

Ujar Ti Then tertawa.

"Kau hendak mencari dengan cara apa?"

Ti Then segera menuding kearah anying Cian Li Yen itu, dia tertawa.

"Menggunakan Cian Li Yen untuk mencari jejaknya."

"Bilamana kita hendak menggunakan Cian Li Yen seharusnya ada semacam bararg dari Cuo It Sian baru bisa dilaksanakan,"

Dari dalam sakunya Ti Then segera mengambil keluar sepasang sepatu bobrok yang ditemukannya di dalam kamar Cuo It Sian itu.

"Barangnya ada di sini."

Serunya. Melibat hal itu Wi Lian In jadi amat girang sekali.

"Barang ini adalah barang peninggalannya?"

Tanyanya cepat.

"Benar,"jawab Ti Then mengangguk.

"Bagus ..bagus sekali"

Teriaknya.

"Mari kita segera melakukan pengejaran."

"Ayahmu tidak menghendaki kau ikut keluar dikarenakan dia takut kau terjatuh kembali ke tangannya."

"Kau jangan berpikir hendak mengusir aku pulang"

Sela Wi Lian In cepat.

"Kalau begitu kau harus mengubah dulu wajahmu, dengan demikian sewaktu mendekati dirinya tidak sampai bisa ditemui oleh dirinya"

"Baiklah, nanti setelah sampai di dalam kota aku akan mencari seperangkat baju -lagi dan barang-barang untuk mengubah wajah, eei, kuda Ang Shan Khek-mu ada dimana?"

Ujar Wi Lian In kemudian.

"Aku titipkan di rumah penginapan Im Hok di dalam kota.

"Karena kali ini aku keluar dari benteng secara diam-diam maka tidak sampai menunggang kuda, entah di dalam kota bisa tidak nembeli seekor kuda?"

"Kita pergi lihat-lihat saja."

Sehabis berkata dia mengambil keluar pakaian serta pedangnya dari balik semak dan bangkit berdiri.

Mereka berdua segera berjalan kembali ke dalam kota.

Ti Then kembali terlebih dahulu kemmah penginapan Im Hok untuk mengambil kembali kuda Ang Shan Kheknya, lantas membeli bahan-bahan untuk mengubah wajah buat Wi Lian In dan akbirnya di pasar kuda membeli seekor kuda untuk kemudian melanjutkan perjalanan keluar dari kota.

Sekeluar dari pintu kota sebelah Utara mereka berdua mencari sebuah hutan untuk membiarkan Wi Lian In mengubah wajahnya sendiri.

Ketika berjalan keluar kembali dari dalam hutan itu dari seorang nona yang cantik Wi Lian In kini sudah berubah menjadi seorang perempuan berusia pertengahan yang banyak berkeriput.

Kepalanya diikat dengan secarik kain berwarna bijau pakaiannya memakai seperangkat baju amat besar sekali dengan sebuah tahi lalat menghiasi di bawah bibirnya, kelihatan dia jauh lebih jelek beberapa bagian.

"Selama di dalam perjalanan kali ini kita mau saling memanggil sebagai suami istri atau saudara saja?"

Tanya Ti Then kemudian sambil tertawa.

"Sesukamu,"

Sahut Wi Lian In sambil tertawa pula.

"Lebih baik kita jelaskan terlebih dulu sehingga jangan sampai di depan orang lain memanggil aku Niocu kepadamu sedang kau memanggil koko kepadaku"

"Bilamana harus jadi suami isteri kemungkinan sekali kau tidak ma uterus terang, lebih baik kakak beradik saja"

Ujar Wi Lian In sambil tertawa malu. Ti Then tidak banyak berbicara, dari dalam sakunya dia mengambil keluar kembali sepatu dari Cuo It Sian itu lantas diberikan kepadanya.

"Sekarang kau berikanlah barang ini biar dicium Cian Li Yen"

Wi Lian In segera menyambut barang tersebut dan diciumkan kepada anyingnya Cian Li Yen.

"Hey Cian Li Yen,"

Serunya.

"Kita mau pergi mencari dia orang, kan bawalah kami Ke sana"

Cian Li Yen lantas mascium sepatu itu beberapa saat lamanya dan kemudian berlari di tempat itu, agaknya dia tidak menemukan hawa dari Cuo It Sian disekitar tempat ini terbukti dengan cepatnya ia sudah menuju ke jalan raya."

Ti Then serta Wi Lian In dengan cepat melarikan kudanya mengikuti dari belakangnya, setelah berlari sampai di atas jalan raya tampaklah Cian Li Yen berlarian bolak balik lari di atas jalan raya tersebut, agaknya dia masih belum menemui juga bau dari Cuo It Sian, akhirnya dia berdiri tidak bergerak di depan kuda Wi Lian In.

Kemungkisan sekali Cuo It Sian tidak melalui tempat ini, lebih baik kita bawa Cian Li Yen kembali ke kota terlebih dulu, biar dia mencari mulai dari rumah penginapan Ban Seng itu saja"

Ujar Ti Then kemudian.

"Baiklah,"

Sahut Wi Lian In.

Dia segera menarik tali les kudanya dan melanjutkan perjalanannya kembali ke kota Hoa Yang Sian.

Dengan disertai suara gonggongan yang keras Cian Li Yen dengan cepat berlari terlebih dulu ke depan.

Tetapi sewaktu berada dua puluh kaki dari pintu kota mendadak di sebuah perempatan jalan si Cian Li Yen, anying itu berhenti berlari dan mulai menciumi tanah di sekeliling tempat itu, kemudian angkat kepalanya dengan disertai suara gonggongan yang keras ia berlari kembali menuju kea rah Barat laut.

Dengan cepat Wi Lian In melarikan kudanya mengikuti dari arah belakang.

"Dia sudah mendapatkan bau badan dari Cuo It Sian,"

Teriaknya cepat.

"Kalau begitu perintah dia untuk melanjutkan kejarannya kearah depan"

"Cian Li Yen, apa jalan ini?"

Tanya Wi Lian In kepada anyingnya sambil menuding kearah satu jalan.

Sekali lagi si anying Cian Li Yen menggonggong kemudian berlari melalui jalan raya tersebut.

Ti Then serta Wi Lian In segera melarikan kudanya di dalam kota kecil itu, dia segera memerintahkan Wi Lian In untuk memanggil kembali si anying Cian Li Yen.

"Aku mau melihat-lihat dulu ke dalam kota"

Ujarnya kemudian.

"Bilamana tidak menemui dirinya di dalam kota, kita baru melanjutkan kembali pengejaran kita"

"Lebih baik kau masuk ke kota dengan berjalan kaki saja"

Seru Wi Lian In dengan cepat.

"Kemungkinan sekali dia kenal dengan kuda Ang Shan Khek-mu itu"

Ti Tben segera merasakan perkataan tersebut sedikit pun tidak salah, dia lantas turun dari kudanya dan menyerahkan tali les kuda tersebut kepadanya untuk kemudian melanjutkan perjalanannya masuk dalam kota dengan berjalan kaki.

Kota kecil ini cuma punya satu jalanan saja dengan tujuh, delapan puluh rumah penduduk, di pinggir jalan ada rumah penginapan ada pula rumah makan.

Ti Then dengan mengikuti jalan raya itu memeriksa keadaan disekeliling tempat itu dengan sangat teliti, tetapi walau pun sudah sampai di ujung jalan tidak menemukan juga jejak dari Cuo It Sian, terpaksa dia berjalan keluar menyambut dirinya.

"Khek koan..."

Serunya.

"Tidak masuk ke dalam untuk beristirahat sebentar?"

"Terima kasih"

Sahut Ti Then sambil menghentikan langkah kakinya.

"Cayhe sedang mencari seorang tua, apakah Loheng pagi ini pernah melihat seorang kakek tua berbaju hijau yang lewat di sini?"

"Ada ..ada .. bukankah kakek itu mem punyai perawakan tinggi besar dengan rambutnya yang sudah pada memutih?"

Ujar pelayan itu cepat.

"Benar ,. Benar"

Sahut Ti Then dengan amat girang. Pelajan itu segera menuding kearah ujung jalan tersebut.

"Kurang lebih satu jam yang lalu dia berlalu dengan melewati tempat ini dan melanjutkan perjalanannya ke sana."

Ti Then benar-benar merasa sangat girang sekali, dia segera rangkap tangan menjura "Terima kasih atas petunjukmu"

Ujarnya tergesa-gesa.

"Lain kali jika lewat di sini lagi aku tentu akan mampir di rumah makanmu"

Selesai berkata dengan langkah yang tergesa-gesa dia berjalan balik keluar kota itu kemudian memberi tanda untuk berrangkat kepada diri Wi Lian In. Sambil meloncat naik ke atas kudanya dia berkata.

"Dia sudah tidak ada di dalam kota ini lagi, mari cepat kita berangkat."

"Kau sudah mengadakan pencarian dengan teliti?"

Tanya Wi Lian In lagi.

"Aku sudah bertanya dengan seorang pelayan dari rumah makan, dia bilang pada satu jam yang lalu Cuo It Sian baru saja lewat dari kota ini."

"Kalau begitu,"

Seru Wi Lian In dengan amat girang sekali.

"Sebelum matahari terbenam nanti kita pasti bisa mengejar dirinya"

"Kita cuma bisa mencuri tidak boleh merampas, maka itu lebih baik menanti setelah dia menginap di rumah penginapan kita baru mencari kesempatan untuk turun tangan."

Ujar Ti Then sambil melarikan kudanya melanjutkan perjalanannya menuju kearah depan.

"Entah jalan raya ini berhubungan dengan kota mana.."

"Aku sendiri juga tidak tahu, pokoknya ada Cian Li Yen yang membawa jalan dan tujuan kita yaitu cuma mendapatkan Cuo It Sian kembali, kita tidak usah takut sampai tersesat jalan"

Sambil berbicara mereka berdua melarikan kudanya melewati kota kecil itu dengan dipimpin oleh si anying Cian Li Yen yang berlari dipaling depan, kurang lebih mengejar lagi dua puluh li jauhnya sampailah mereka d sebuah dusun kecil.

Waktu ini hari sudah mendekati siang, Ti Then seperti juga semula menghentikan kudanya diluar dusun lantas dia sendiri masuk mencari di sekeliling dusun setelah tidak melihat adanya bayangan dari Cuo It Sian dia baru berjalan keluar dari dusun tersebut.

Dengan membawa Wi Lian In akhirnya dia berjalan masuk kembali ke dalam dusun dan bersantap di sebuab rumah makan kecil, dari mulut sang pelayan mereka baru tahu kalau dusun ini bernama Khao Kia Ciang.

Akbirnya dengan mengikuti jalan raya itu mereka berjalan kembali sejauh tujuh puluh lie dan sampailah di sebuah kota besar yang bernama Kong An.

Demikianlah setelah selesai bersantap mereka melanjutkan perjalanannya kembali menuju kearah Barat laut dengan dipimpin oleh si anying Cian Li Yen, karena di dalam pikiran mereka berdua menduga tentunya Cuo It Sian menginap satu malam dikota Kong An sian.

Karena itu mereka melarikan kudanya cepat menuju ke sana.

Sewaktu mendekati magrib akhirnya mereka berdua sampai juga dikota Kong An sian, Ti Then segera menambat kuda tunggangannya diluar kota.

"Lebih baik kita titipkan kuda kita dirumah penduduk diluar kota saja, bagaimana pendapatmu?"

Tanyanya.

"Baik, di sebelah sana ada rumah penduduk."

Dia segera melarikan kudanya menuju ke rumah penduduk yang ditemuinya itu.

Sesampainya di depan pintu rumah penduduk itu terlihatlah seorang katek tua sedang bermain dengan seorang bocah cilik yang sedang belajar berjalan di sebuah lapangan penjemuran beras.

Ti Then segera turun dari kudanya dan merangkap tangannya menjura.

"Lo-tiang. permisi."

"Oooo . -silahkan, silahkan, Lo-te ada keperluan apa?"

Sahut kakek tua itu sambil balas memberi hormat.

"Kedua ekor kuda dari cayhe kakak beradik.."

Baru saja dia berbicara sampai pada kata-kata yang terakhir mendadak dia merasakan hatinya tergetar dengan amat kerasnya.

Karena kembali ada seorang kakek tua berbaju hijau yang secara tiba-tiba saja berjalan keluar dari dalam ruangan rumah petani itu.

Sedang kskek tua berbaju hijau itu bukan lain adalah Cuo It Sian itu si pembesar kota, Hal ini benar-benar berada diluar dugaan mereka, mereka sama sekati tidak menyangka kalau Cuo lt Sian bisa munculkan dirinya dari rumah petani tersebut.

Di dalam sekejap itulah Ti Then cuma merasakan saking kagetnya hampir-hampir sukmanya ikut melayang tetapi bagaimana pun juga dia mem punyai satu sikap yang tidak gugup di waktu menghadapi masalah ini, dengan cepat dia pura-pura tidak kenal, memperhatikan pihak lawannya dan melanjutkan kata-katanya.

"Kuda ini adalah keturunan mongol yang amat bagus sekali, karena kami membutuhkan uang pesangon maka salah satu diantaranya akan kami jual"

Dia menuding ke arah kuda Ang Shan Khek yang ada di sampingnya.

"Kuda ini amat bagus sekali, cuma tidak tahu Lo-tiang membutuhkan tidak seekor kuda"

Ujarnya.

"Bilamana membutuhkan cayhe sanggup menjualnya dengan harga yang sedikit lebih murah,"

Wi Lian In yang melihat secara tiba-tiba Cuo It Sian munculkan dirinya dari dalam ruangan rumah petani itu dia pun merasa sangat terkejut sekali, ketika mendengar pada soal yang amat kritis itulah Ti Tuen bisa berpura-pura mau menjual kuda tidak terasa lagi diam-diam dia merasa kagum atas kecerdikan dari Ti Then ini.

"Benar, kuda kami ini membelinya dengan harga enam puluh tahil perak,"

Sambungnya dengan cepat.

"Bilamana Lo-tiang bermaksud mau membelinya kita bisa kurangi dengan beberapa tahil lagi."

Ketika kakek tua itu mendengar perkataan tersebut dia segera gelengkan kepalanya.

Jilid 29.2 . Penguntitan yang terpergok "Biar pun lo-te kurangi separuh pun lo-han tidak membelinya,"

Ujarnya tersenyum. Ti Then segera memperlihatkan rasa kecewa.

"Kalau begitu terpaksa kami harus menjualnya di pasar penjual kuda"

Ujarnya kemudian.

Dia takut Cuo It Sian mengetahui wajah aslinya maka itu sembari berkata dia segera menarik kuda Ang Shan Khek-nya untuk berlalu dengan cepatnya dari sana.

Mendadak Cuo It Sian maju mendekati kearah diri Ti Then sembari berteriak dengan keras.

"Lote, tunggu dulu."

Dalam hati Ti Then merasa hatinya semakin menegang, terpaksa dengan keraskan kepalanya dia putar badannya kembali.

"Lo-tiang ini, apakah kau bermaksud hendak membeli kuda ini?"

Ujarnya sambil tertawa paksa. Sambil tersenyum Cuo It Sian berjalan mendekati kuda Ang Shan Khek itu dan ulur tangannya untuk membelai.

"Ternyata memang benar-benar seekor kuda yang amat jempolan sekali..."

Serunya memuji.

"Pandangan mata lo-tiang ini sungguh luar biasa sekali,"

Sambung Ti Then dengan cepat sambil memperlihatkan senyumannya yang kepaksa.

"Kuda ini memang betul-betul seekor kuda jempolan yang sukar ditemui walau pun cayhe tidak berani mengatakan di dalam sehari kuda ini bisa menempuh seribu li tetapi untuk melakukan perjalanan tiga, lima ratus li di dalam satu hari agaknya sama sekali tidak ada persoalan lagi."

Agaknya Cuo It Sian pun sudah mengenal akan kuda Ang Shan Khek itu, pada air mukanya segera memperlihatkan senyuman yang amat licik sekali.

"Lote, kau mendapatkan kuda ini dari mana?"

Tanyanya.

"Be... beli... beli dari daerah Mongol."

"Kiranya tidak begitu bukan?"

Seru Cuo It Sian sembari memandang dirinya dengaa sinar mata yang amat tajam sekali.

Ti Then sengaja m"nperlihatkan wajah yang sedikit ketakutan tetapi dipaksa untuk menenangkan hatinya, dia segera memperlihatkan satu senyuman yang kurang enak dipandang.

"Bagaimana kau bisa bijara begitu?"

Serunya.

"Karena Lobu pernah melihat kuda ini."

"Eeeei... kau... kau orang tua pernah melihat kuda ini?"

Tanya Ti Then pura-pura terkejut.

"Benar,"

Jawab Cuo It Sian sambil tertawa.

"Bahkan tahu juga nama dari kuda itu, dia bernama Ang Shan Khek bukan begitu?"

"Tidak... tidak... tidak..."

Teriak Ti Then sengaja ketakutan lalu dengan gugupnya mundur beberapa langkah ke belakang.

Dengan amat cepatnya Cuo It Sian segera bergerak maju ke depan telapak kirinya dengan dahsyatnya mencengkeram dada dari Ti Then.

"Cepat bicara,"

Bentaknya dengan keras.

"Kau mendapatkan kuda Ang Shan Khek ini dari mana?"

Saking takutnya seluruh tubuh Ti Then gemetar dengan amat kerasnya.

"Ada omongan kita bicarakan baik-baik... ada omongan kita bisa bicarakan baik-baik "

Serunya dengan gugup.

"Aduh..."

Teriak Wi Lian In pula yang ada di samping.

"Lotiang ini kenapa kau mencengkeram koko-ku?"

Cuo It Sian itu sipembesar kota sama sekali tidak memperdulikan dirinya, dengan sekuat tenaga dia menggoyang-goyangkan badan Ti Then.

"Kau mau bicara tidak?"

Serunya dengan suara yang amat berat dan dingin sekali. Jikalau tidak mau bicara lohu sekali pukul hancurkan badanmu.

"Baik... baik, aku bicara..."

Seru Ti Then cepat.

"Heei... sebetulnya begini, kuda ini... kuda hamba... hamba dapat mencuri dari seorang pemuda."

"Pemuda itu kurang lebih berusia dua puluh tahunan, wajahnya tampan dengan memakai baju berwarna hitam betul tidak?"

Seru Cuo It Sian sambil tertawa dingin. Pada air muka Ti Then segera memperlihatkan rasa terperanyatnya yang bukan alang kepalang.

"Benar, benar,"

Jawabnya.

"Bagaimana kau orang tua bisa tahu?"

Cuo It Sian tidak menyawab, sekali lagi dia tertawa dingin.

"Dia bukankah bernama Ti Then?"

Tanyanya.

"Hamba tidak tahu siapakah dirinya."

Ti Then menyawab sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

"Pada beberapa hari yang lalu waktu hamba berjalan melewati kota Lok san Sian mendadak hamba dapat melihat pemuda itu dengan menunggang kuda menginap disebuah rumah penginapan, ketika hamba melihat kuda itu adalah seekor kuda jempolan rasa serakah segera meliputi hatiku, maka pada malam hari itu juga hamba segera mencuri kuda tersebut."

"Nyali kalian sungguh tidak kecil."

Bentak Cuo It Sian dengan keras.

"Hamba harus mati... hamba harus mati..."

Teriak Ti Then dengan seluruh tubuhnya gemetar amat keras.

"Harap... harap kau orang tua suka lepaskan hamba satu kali ini."

"Apa kau benar tidak tahu siapakah pemuda tersebut?"

Tanya Cuo It Sian kembali dengan suara yang amat berat.

"Hamba benar-benar tidak tahu, dia... dia ada hubungan apa dengan kau orang tua?"

"Dia adalah Kiauw-tauw dari Benteng Pek Kiam Po. Orang-orang Bu-lim menyebut sebagai si pendekar baju hitam Ti Then."

"Oooh... Thian,"

Teriak Ti Then dengan amat kerasnya.

"Kiranya dia adalah Kiauw-tauw dari Benteng Pek Kiam Po, sipendekar baju hitam Ti Then adanya... lalu kau... kau orang tua adalah... adalah Pocu dari Benteng Pek Kiam Po... sipendekar pedang naga emas Wi Toa Pocu?"

"Benar,"

Sahut Cuo It Sian sambil mengangguk sedang dan mulutnya tiada hentinya memperdengarkan suara tertawa yang amat dingin sekali.

"Heeei tidak kusangka ini hari aku bisa bagitu sialnya,"

Seru Ti Then dengan wajah minta dikasihani.

"Tidak kusangka sama sekali hamba sudah mencuri kuda dari Kiauw tauw Benteng Pek Kiam Po dan kini hendak menjualnya kepada Wi Toa Pocu."

Wi Lian In-pun dengan cepat berjalan maju memohonkan am pun.

"Kau orang tua kalau memangnya adalah Wi Toa Pocu yang namanya sudah menggetarkan seluruh dunia kangouw seharusnya tidak memikirkan dosa dari kami manusia rendah, mohon Wi Toa Pocu suka mengam puni diri kokoku satu kali."

Cuo It Sian melirik sekejap kearahnya, lantas kepada Ti Then tanyanya dengan suara keren "Siapakah namamu?"

"Hamba bernama Bun Ih dengan julukan si tikus pembuat lubang sedangkan adikku bernama Bun Giok Kiauw dangan julukan kucing malam."

Cuo It Sian segera mendengus dengaa amat dinginnya.

"Cukup didengar dari julukan kalian kakak beradik Lohu sudah tahu kalau kalian adalah manusia-manusia rendah yang sering melakukan kejahatan. Seharusnya lohu turun tangan memberi hukuman mati kepada kalian, tetapi mengingat kalian baru untuk pertama kalinya terjatuh ketangan lohu maka kali ini aku kasih kesempatan buat kalian untuk mengubah sifatmu yang jelek itu, cepat menggelinding pergi."

Berbicara sampai di sini dia segera mendorong badan Ti Then dengan keras membuat dirinya jatuh berguling-guling di atas tanah dengan amat kerasnya.

Dengan terburu-buru Ti Then merangkak bangun, lantas berkali-kali menjura.

"Terima kasih Wi Pocu mau memberi am pun kepada kami, hamba kakak beradik sejak ini hari tentu akan mengubah kelakuan kami untuk membalas budi kebaikan dari Pocu."

Berbicara sampai di sini dia segera putar tubuh dan kirim satu kerdipan mata kepada Wi Lian in untuk kemudian bersama-sama melarikan diri dari sana.

Wi Lian In-pun dengan cepat meloncat naik ke atas kuda tunggangannya siap melarikan kuda tersebut dari sana.

Pada saat itulah terdengar Cuo It Sian yang ada di belakang sudah membentak dengan suara yang amat dingin sekali.

"Kuda itu pun sekalian tinggal di sini."

Dia agak melengak dibuatnya tetapi tidak berani membangkang terpaksa cepat-cepat meloncat turun dari kudanya lantas sambil mengikuti diri Ti Then melarikan diri dengan cepat dari sana.

Dua orang manusia seekor anying bersama-sama melarikan diri ketempat yang amat sunyi sekali, kurang lebih setelah berlari satu, dua li dan dilihatnya Cuo It Sian tidak mengadakan pengejaran Ti Then baru mengajak Wi Lian In untuk menyusup masuk ke dalam sebuah hutan.

Mereka berdua mencari sebuah hutan untuk duduk beristirahat.

Lama sekali mereka saling berpandangan kemudian tidak tertahan lagi sudah tertawa terbahak-bahak.

"Aku sudah hidup dua puluh satu tahun lamanya tetapi selamanya belum pernah menemukan urusan yang demikian menggelikan"

Ujar Ti Then kemudian sambil tertawa.

"Kenapa tidak"

Sambung Wi Lian In segera.

"Urusan ternyata begitu tepatnya. sama sekali aku tidak menduga bisa bertemu dengan dirinya di tempat tersebut."

Ti Then segera menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal "Yang aneh, bagaimana dia bisa menginap dirumah petani tersebut?"

Ujarnya.

"Kemungkinan sekali petani itu pun merupakan anak buahnya,"

Seru Wi Lian In memberikan usulnya.

"Tidak mungkin,"

Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.

"jarak dari tempat ini kekota Tiong Cing Hu ada seribu li lebih, tidak mungkin dia bisa mem punyai anak buah ditempat ini."

"Kalau tidak kenapa dia tidak menginap di dalam kota saja?"

Dengan perlahan-lahan Ti Then angkat kepalanya, dan memandang dirinya dengan pandangan mata yang amat tajam sekali.

"Kemungkinan sekali dia takut di dalam kota sudah bertemu dengan orang yang pernah dia kenal karena itu sengaja dia pinyam rumah petani itu untuk menginap satu malam,"

Ujarnya kemudian.

"Jarak tempat ini dengan gunung Cun san sudah amat jauh sekali kenapa dia masih takut dengan orang lain?"

Ujar Wi Lian ln dengan cepat.

"Aku kira tentunya begini kemungkinan sekali di dalam kota Tiong Cing Hu sama juga ada seorang Pembesar Kota Cuo It Sian lagi."

"Kau bilang apa?"

Wi Lian In melengak.

"Dengan perkataan lain saja, tentunya dia sudah mengatur seorang penggantinya di dalam rumahnya itu sehingga membuat penduduk disekeliling tempat itu menganggap dia orang belum pernah meninggalkan kota Tiong Cing Hu barang selangkah pun. Dikarenakan hal itu sudah tentu dia tidak dapat bertemu dengan orang-orang yang pernah dikenalnya di tengah jalan."

"Kau berdasarkan akan hal apa bisa mengambil kesimpulan demikian?"

Tanya Wi Lian In kebingungan.

"Pada beberapa hari yang lalu karena kita menaruh curiga dialah orang yang sudah mengadakan jual beli dengan Hu Pocu serta diam-diam membinasakan Hong Mong Ling pernah pergi kekota Tiong Cing Hu untuk mencari dirinya sewaktu kita bertemu muka tentunya kau masih ingat apa yang diucapkan untuk pertama kalinya bukan?"

"Dia bilang apa?"

Tanya Wi Lian In.

"Sewaktu dia melihat kita sedang menaruh rasa curiga terhadap dirinya, dia pernah bilang selama setengah tahun lamanya ini dia sama sekali belum pernah meninggalkan kota Tiong Cing Hu barang selangkah pun, bahkan berkata juga kalau penduduk disekitar tempat itu setiap hari bisa melihat dirinya, bukan begitu?"

"Benar... benar..."

Sahut Wi Lian In sambil menganggukkan kepalanya berulang kali.

"Dia memang pernah mengucapkan kata-kata tersebut."

"Tetapi, ternyata dia bisa membinasakan Hong Mong Ling di atas gunung Kim Teng san. Sedangkan orang-orang di kota Tiong Cing Hu setiap hari bisa melihat dirinya? maka itu aku percaya tentu dia mem punyai seorang pengganti. Dia hendak menggunakan tubuh seorang penggantinya menutupi seluruh gerak geriknya yang sebetulnya sedang direncanakan."

"Kalau memangnya demikian maka bila mana dia berbuat sesuatu pekerjaan yang jahat ditempat luaran siapa pun tidak akan bisa menduga kalau pekerjaan itu adalah hasil perbuatannya,"

Seru Wi Lian In dengan terperanyat.

"Benar,"

Sahut Ti Then membenarkan.

"Maka itu dia harus menghindarkan diri dari pertemuan dengan orang-orang yang pernah dikenal olehnya."

"Dia berbuat demikian tentunya tujuan yang sedang dicari adalah hendak mencuri potongan pedang dari ayahku."

"Benar"

Sahut Ti Then mengangguk. Wi Lian In segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Aku benar-benar tidak paham sebetulnya potongan pedang itu mem punyai rahasia apa?"

Ujarnya.

"Aku percaya ada suatu hari kita bisa mengetahui keadaan yang sesungguhnya."

"Sekararg kita harus berbuat bagaimana?"

Ujar Wi Lian In kemudian sambil menghela napas panjang.

"Lanjutkan kuntitan kita, ada kesempatan segera turun tangan mencuri pedang tersebut."

"Menurut pandanganmu, dia benar-benar tidak mengenal kita atau cuma berpura-pura saja?"

"Kemungkinan sekali tidak, jikalau dia sudah kenal dengan kita air mukanya tidak akan setenang itu."

"Tetapi kedua ekor kuda itu kita harus mencari akal untuk mencurinya kembali,"

Seru Wi Lian In.

"Kemungkinan sekali dia menginap dirumah petani itu, besok pagi sesudah menanti dia pergi kita baru menuntunnya kembali."

"Lalu malam ini kita mau menginap di mana?"

"Masuk ke dalam kota saja."

"Kalau begitu mari kita segera berangkat"

Ujarnya Wi Lian In kemudian sambil bangkit berdiri.

Mereka berdua segera berjalan keluar dari hutan itu untuk melanjutkan perjalanannya masuk ke dalam kota dan mencari sebuah rumah penginapan untuk masing-masing masuk ke dalam kamarnya sendiri-sendiri beristirahat.

Keesokan harinya setelah bersantap pagi mereka berdua lantas membajar rekening dan meninggalkan rumah penginapan tersebut.

Wi Lian In yang melihat hari masih amat pagi sekali, segera dia menghentikan langkahnya.

"Lebih baik kita terlambat sedikit tiba di sana, kalau pergi terlalu pagi kemungkinan sekali dia masih belum meninggalkan tempat tersebut"

Ujarnya.

"Sejak semula dia sudah meninggalkan tempat itu."

Jawab Ti Then sambil tertawa.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

Tanya Wi Lian In melengak, Ti Then tersenyum.

"Kemarin malam pada kentongan ketiga aku sudah keluar kota satu kali"

Ujarnya.

"Bagus sekali yaaa, ternyata kau melakukan gerak gerikmu dengan amat rahasia, kenapa tidak beritahukan kepadaku terlebih dulu?"

Seru Wi Lian In sambil melototkan matanya lebar-lebar.

"Jangan marah dulu"

Ujar Ti Then tertawa.

"Aku rasa jika pergi seorang diri jauh lebih leluasa sehingga tidak sampai ditemui olehnya."

Air muka Wi Lian In segera berubah sangat hebat, dia merasa benar-benar tidak senang.

"Aku tahu, tentunya kau benci karena aku mengikuti dirimu terus, bukankah begitu?"

Serunya sambil mencibirkan bibirnya.

"Kalau memangnya begitu kemarin malam aku bisa langsung membuntuti dirinya."

Wi Lian In segera kirim satu kerlingan mata kepadanya.

"Sewaktu kau tiba dirumah petani itu, apa dia sedang siap-siap mau berangkat dari sana?"

Tanyanya.

"Benar,"

Jawab Ti Then mengangguk.

"Kenapa kau tidak segera kembali kerumah penginapan untuk membangunkan aku lantas bersama-sama menguntit dirinya?"

Omel Wi Lian In lebih lanjut.

"Dia orang yang mengambil keputusan untuk berangkat ditengah malam berarti juga kalau dia sudah menaruh rasa curiga terhadap diri kita berdua bilamana pada waktu itu kita membuntuti dirinya maka pastilah jejak kita segera akan di temukan olehnya."

"Tetapi sekarang kemungkinan sekali dia sudah berada ditempat yang amat jauh sekali"

Seru Wi Lian In. Ti Then segera menuding kearah si anying Cian Li Yen yang ada disisi badannya.

"Kita ada Cian Li Yen sebagai penunjuk jalan tidak takut dia akan terbang ke atas langit,"

Ujarnya.

Pada waktu bercakap-cakap itulah tanpa terasa mereka berdua sudah keluar dari pintu kota.

Tidak lama kemudian mereka sudah tiba di depan rumah petani itu.

Pada waktu itu sikakek tua yang kemarin sedang dengan bocah cilik pada saat ini sedang menyapu diluar halaman, ketika dilihatnya Ti Then serta Wi Lian In berjalan kearahnya tanpa terasa air mukanya sudah berubah sangat hebat.

"Buat apa kalian datang kemari lagi?"

Tanyanya kurang tenang. Ti Then sambil tersenyum segera merangkap tangannya memberi hormat.

"Cayhe kakak beradik sengaja datang untuk meminta kuda kami. Silahkan Lotiang suka menuntun keluar kedua ekor kuda itu dan kembalikan kepada kami."

"Kedua ekor kuda itu kalian dapatkan dengan jalan mencuri, kalian begitu berani datang kemari lagi?"

Seru kakek tua itu.

"Bilamana tidak berani kami tidak akan kemari."

"Pergi, pergi."

Teriak kakek tua itu sambil mengulap tangannya berulang kali.

"Kedua ekor kuda itu sudah tidak ada dirumah Lohan lagi."

"Sudah dibawa pergi orang itu?"

Tanya Ti Then kemudian.

"Benar, dia sudah berangkat pada tengah malam kemarin."

"Haaa... haaa... aku tahu kalau Lo Tiang sedang berbohong, hiii... bukan begitu?"

Seru Ti Then sambil tertawa. Sepasang mata kakek tua itu segera melotot keluar lebar-lebar.

"Kalau bicara lebih baik kalian sedikit tahu sopan,"

Serunya dengan amat marah.

"Lohan sudah hidup sampai sekarang, selamanya belum pernah berbohong."

"Cuma sayang kali ini kau sudah berbohong,"

Sambung Ti Then dengan cepat.

"Jikalau kalian tidak mau pergi lagi Lohan segera akan lapor kepada pengadilan biar mereka tangkap kalian,"

Ancam kakek tua itu kemudian. Air muka Ti Then segera berubah sangat hebat sekali.

"Boleh, boleh... silahkan Lotiang pergi melapor, cuma saja... Heee... jikalau kau tidak cepat-cepat bawa kedua ekor kuda itu keluar cayhe segera akan turun tangan membakar habis rumah serta gudangmu itu."

Mendengar ancaman tersebut sikakek tua itu benar-benar merasa sangat terperanyat sekali.

"Cis... kalian pembegal kuda, nyali kalian sungguh besar,"

Teriaknya dengan keras.

"Ditengah siang hari bolong kalian juga berani memperlihatkan keganasan kalian?"

Wi Lian In agaknya merasa sikap dari Ti Then ini terlalu kasar dan buas. Dengan diam-diam dia menyawil ujung bajunya.

"Koko,"

Ujarnya dengan suara yang amat lirih kemudian.

"Sama sekali perkataan dari lo tiang ini benar, kedua ekor kuda itu pastilah sudah dibawa pergi oleh orang itu."

"Tidak,"

Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya. Wi Lian In jadi melengak.

"Kau melihat sendiri dia pergi dengan tangan kosong?"

Tanyanya.

"Benar,"

Sekali lagi Ti Then mengangguk. Si kakek tua itu jadi mencak-mencak saking gusarnya.

"Jikalau kalian tidak percaya boleh pergi mencari disekeliling tempat ini,"

Teriaknya dengan keras.

"Bagaimana kalau aku menirukan apa yang sudah kalian bicarakan?"

Ujarnya Ti Then kemudian sambil tertawa dingin.

"Kau mau bicara apa?"

Tanyanya melengak "Kemarin malam sewaktu orang itu mau pergi dia pernah berkata demikian.

Loheng kedua ekor kuda ini lohu tidak mau, baiknya aku hadiahkan kepada kalian saja.

Hnm waktu itu ternyata kau berlaku sungkan sungkan dan cepat menyawab.

Tidak...

tidak..

Lohan tidak berani menerimanya, lebih baik kau Lo sianseng bawa pergi saja.

Orang itu lantas tertawa dan berkata lagi.

Kau tidak usah sungkan-sungkan lagi, di dalam Benteng Lohu masih ada beratus-ratus ekor kuda jempolan, lohu sama sekali tidak akan memandang tinggi kedua ekor kuda ini.

Mendengar perkataan tersebut air mukamu segera memperlihatkan rasa kegirangan.

Cuma saja kemudian kau menyawab dengan agak murung.

Cuma saja jikalau kedua orang pembegal kuda itu datang lagi Lo han harus berbuat bagaimana untuk menghadapinya?

Dijawab oleh orang itu.

Mereka tidak akan berani datang kemari lagi, bilamana Lo heng takut, tidak urung untuk sementara waktu bawalah kedua ekor kuda itu untuk dititipkan pada tetangga, bilamana mereka datang lagi untuk meminta kudanya Lo heng boleh bilang saja kuda tersebut sudah Lo hu bawa...

beberapa patah kata itu tentunya ceyhe tidak salah berbicara bukan?"

Mendengar perkataan tersebut air muka sikakek tua itu segera berubah jadi pucat kehijau-hijauan.

"Kau... kau sudah mendengar semua pembicaraan kami?"

Tanyanya.

"Tidak salah"

Sahut Ti Then Sambil mengangguk.

"Bahkan aku masih melihat putramu menuntun kedua ekor kuda tersebut meninggalkan tempat ini."

Kakek tua itu jadi amat sedih sekali, dengan cepat dia berteriak keras.

"Hok Lay..... Hok Lay....."

Dari dalam ruangan itu segera meloncat keluar seorang petani berusia pertengahan yang pada tangannya mencekal sebuah tongkat pikulan yang berat, dengan amat gusarnya dia berteriak-berteriak terhadap diri Ti Then.

"Bajingan. sungguh besar nyalimu, kaliau mau pergi tidak? kalau tidak pergi juga lohu segera akan menghajar putus sepasang kaki anying kalian."

Ti Then segera tertawa, dari dalam sakunya dia mengambil sekerat perak.

"Begini saja,"

Ujarnya kemudian sambil menimang-nimang uang perak itu.

"Cayhe beri uang perak ini kalian sebagai uang ganti rugi, bagaimana?"

Petani berusia pertengahan itu segera memperlihatkan sikapnya untuk berkelahi, dia melintangkan tongkat pikulan itu ke depan.

"Tidak."

Teriaknya keras.

"Kedua ekor kuda itu bukan milik kalian, kalian tidak berhak untuk memintanya kembali."

"Bukan milik kami apa mungkin milik kalian?"

Seru Ti Then sambil tertawa dingin.

"Tidak salah,"

Jawab petani berusia pertengahan itu dengan amat ketusnya.

"Lo sianseng itu berkata sendiri kalau kedua ekor kuda itu dihadiahkan kepada kami. Sudah tentu kedua ekor kuda itu adalah milik kami."

Sepasang mata dari Ti Then dengan perlahan menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, ketika dilihatnya sebuah batu putih menggeletak ditengah lapangan dia segera berjalan menuju ke sana dan meraba sebentar batu itu.

"Batu ini sungguh besar sekali,"

Serunya sambil tertawa.

"Tentu ada tiga ratus kati beratnya bukan?"

"Kau hendak berbuat apa?"

Teriak petani berusia pertengahan itu dengan gusarnya sambil maju dua langkah ke depan.

Dengan menggunakan sepasang tangannya Ti Then mengangkat batu besar itu kemudian dipindahkan ketangan kanannya dan diangkat dengan menggunakan satu tangan.

"Coba kau lihat, kau percaya bisa menangkan aku tidak?"

Ujarnya sambil tertawa.

Sembari berkata dia berjalan mengelilingi lapangan tersebut.

Batu putih itu paling sedikit ada dua ratus kati beratnya, tetapi di dalam tangannya kelihatan sangat enteng sekali seperti sedang mengangkat kapas saja.

Kali ini petani berusia pertengahan itu benar-benar dibuat terperanyat sampai termangu-mangu, sepasang matanya terbelalak lebar-lebar untuk beberapa saat lamanya dia tidak sanggup untuk mengucapkan sepatah kata pun.

Kakek tua itu semakin dibuat terperanyat lagi, dengan gugup serunya.

"Sudah.... sudahlah Hok Lay, kau tidak usah banyak beribut dengan dirinya lagi, cepat tuntun kedua ekor kuda itu bawa kemari dan kembalikan kepada mereka."

Agaknya petani berusia pertengahan itu masih tidak mau kalah, dengan uring-urungan teriaknya.

"Kau jangan mengira tenagamu besar lalu kami takut dengah dirimu, cukup aku berteriak maling aku mau lihat kalian akan melarikan diri kearah mana,"

Tangan kanan dari Ti Then segera ditekuk kemudian didorong kearah atas dan mengerahkan tenaga dalamnya untuk melemparkan batu putih tersebut beberapa kaki jauhnya ketengah udara lantas tertawa terbahak-bahak.

"Haaaa... haaa... haaa... asal kau berteriak maling aku segera lemparkan batu ini ke atas atap rumah kalian,"

Ancamnya.

Melihat kejadian itu sipetani berusia pertengahan itu tidak berani banyak bercakap lagi saat inilah dia baru tidak berani mengumbar nafsunya lagi.

Sambil melempar tongkat itu ke atas tanah dengan uring-uringan dia pergi dari sana.

Jilid 29.3 .

Pencuri tiga tangan insaf Tidak lama kemudian kedua ekor kuda itu sudah dituntun kembali.

Ti Then segera menyusupkan uang perak itu ketangan sikakek tua tersebut kemudian menerima tali les kudanya dan bersama sama dengan Wi Lian In melarikan kudanya meninggalkan tempat itu.

Mereka berdua dengan cepatnya berlari menuju kejalan raya, saat itulah terdengar Wi Lian In berkata sambil tertawa.

"Untung sekali kemarin malam kau sudah datang, kalau tidak kita benar-benar bakal tertipu oleh mereka ayah beranak."

"Hal ini tidak bisa menyalahkan mereka ayah beranak dua orang, mereka sama sekali tidak tahu kalau kedua ekor kuda itu sebenarnya adalah milik kita berdua, dia mengira kalau memangnya Cuo It Sian sudah menjetujui untuk menghadiahkan kedua ekor kuda itu kepada mereka, hal ini berarti juga sudah menjadi miliknya."

"Kemarin malam Cuo It Sian berangkat menuju kearah mana?"

Tanya Wi Lian In kemudian. Ti Then segera menuding kearah sebelah Barat.

"Dia melanjutkan perjalanannya melalui tempat itu, kelihatannya dia bermaksud untuk kembali kekota Ciong Cing Hu."

Mendadak Wi Lian In menarik tali les kudanya untuk menghentikan perjalanannya.

"Coba kau ambil keluar sepatu milik Cuo It Sian itu dan berikan kepada si anying Cian Li Yen agar dia membauinya kembali"

Ujarnya.

"Baik,"

Sahut Ti Then dan dia segera mengeluarkan sepatu itu dan membiarkan si anying Cian Li Yen untuk menciuminya beberapa kali.

Setelah itu tampaklah si Cian Li Yen, segera berputar beberapa kali di atas jalan raya untuk mencari jejaknya, setelah itu diiringi suara gonggongannya yang amat keras ia lantas berlari menuju ke arah sebelah Barat.

Mereka berdua dengan cepat mengikutinya dari belakang.

Hari kedua, orang berserta anying itu sudah tiba disebuah kota untuk bersantap sesudah beristirahat sebentar lantas melanjutkan kembali perjalanannya.

Menanti mendekati magrib mereka sudah melakukan perjalanan seratus lie dan sampailah disebuah kota yang bernama Ngo Hong Sian.

Wi Lian In segera memerintahkan anyingnya Cian Li Yen untuk berhenti, setelah itu kepada Ti Then ujarnya.

"Apa mungkin dia ada di dalam kota ini?"

"Dia berangkat kemarin malam jika ditinyau dari kekuatan kakinya saat ini kemungkinan sekali sudah meninggalkan kota kurang lebih lima puluh lie jauhnya maka itu dia tidak mungkin masih ada di dalam kota ini."

"Dia melakukan perjalanan dengan berjalan kaki tidak mungkin bisa menandingi kita yang menunggang kuda, kemungkinan sekali dia sedang beristirahat di dalam kota,"

Ujar Wi Lian In memberikan pendapatnya.

"Kemarin dia sudah menginap satu malam dirumah petani itu sedangkan jarak antara kota Kong An Sian dengan tempat ini tidak lebih cuma beberapa ratus li saja, sudah tentu dia tidak akan mau masuk kekota, aku rasa ini hari tidak mungkin dia berani nginap di dalam kota."

"Coba kau lihat,"

Ujar Wi Lian In kemudian sambil menuding kearah sianying Cian Li Yen.

"Cian Li Yen terus mau lari masuk ke dalam kota, jelas sekali dia pernah masuk ke dalam kota, lebih baik kita sedikit berhati-hati."

"Dia memang pernah masuk ke dalam kota."

Ujar Ti Then sambil tersenyum.

"Tetapi aku berani bertaruh saat ini dia pasti sudah tidak ada di dalam kota lagi."

"Baik, mari kita masuk ke dalam kota untuk memeriksa."

Selesai berkata dia segera sentak kudanya untuk berjalan memasuki pintu kota.

Cian Li Yen masih tetap berlari memimpin jalan di depan, setelah berlari melewati beberapa buah jalan akhirnya dia berhenti sebentar di depan sebuah rumah makan dan menciumi beberapa kali tempat disekeliling tempat itu setelah itu baru melanjutkan kembali larinya kearah sebelah depan.

Ti Then segera tersenyum.

"Kelihatannya dia pernah berhenti sebentar di dalam rumah makan ini"

Ujarnya sambil menyengir.

"Tadi kau bilang dia tidak berani masuk ke dalam kota, kenapa sekarang terbukti dia berani berhenti di dalam kota?"

"Kemungkinan sekali dia yang melakukan perjalanan jauh merasa lelah dan lapar maka itu sengaja memberanikan dirinya untuk masuk kota bersantap."

Baru saja mereka bercakap cakap sampai di situ mendadak tampak anying Cian Li Yen berbelok memasuki sebuah lorong kecil. Mereka berdua cepat-cepat melarikan kudanya melanjutkan kuntitannya.

"Aduh aku sudah lapar,"

Ujar Wi Lian In secara tiba-tiba.

"Mari kita makan dulu di sini kemudian baru melanjutkan kejaran kita."

"Tidak,"

Potong Ti Then cepat.

"Kita cuma bisa membeli sedikit barang saja untuk kemudian dimakan diluar kota."

Ketika itulah mereka bisa melihat ujung jalan terdapat sebuah rumah makan segera kudanya dilarikan menuju ke sana dan Ti Then meloncat turun dari kudanya untuk membeli sedikit ransum untuk kemudian melanjutkan kembali perjalanannya kearah depan.

Selama di dalam perjalanan ini Cian Li Yen berbelok-belok lagi beberapa lorong dan tikungan, akhirnya sampailah disebuah jalanan yang amat sunyi sekali.

Lama kelamaan akhirnya Wi Lian In merasakan juga akan sesuatu, dia tertawa.

"Dugaanmu sedikit pun tidak salah dia tentu takut ditemui oleh orang-orang yang pernah dia kenal karena itu sengaja mencari jalan yang jarang sekali dilalui orang,"

"Jika dilihat dari keadaan sekarang ada kemungkinan dia sudah berjalan keluar melalui pintu kota sebeelah selatan."

"Dugaannya sedikit pun tidak salah"

Tidak lama kemudian si anying Cian Li Yen sudah memimpin mereka berlari menuju ke kota sebelah selatan dan berlari terus menuju keluar kota.

Kurang lebih setelah meninggalkan kota sejauh satu li sianying Cian Li Yen berhenti berlari dan membaui sesuatu di pinggir jalan lalu bergonggong tiada hentinya "Eeei.....

sudah terjadi urusan apa?"

Tanya Wi Lian In keheranan.

"Biar aku turun ke sana untuk lihat-lihat?"

Dengan cepat dia meloncat turun dari atas kuda dan berjalan menuju ke samping jalan untuk memeriksa.

Terlihatlah di atas tanah rumput sudah dibasahi hampir separuh bagian bahkan tercium bau yang amat menusuk hidung, dalam hati seketika itu juga tahu apa yang sudah terjadi.

Dengan cepat dia menepuk-nepuk badan si anying Cian Li Yen.

"Cian Li Yen jangan menggonggong lagi jarak kita dengan pihak musuh sudah amat dekat sekali kau janganlah sembarangan menyalak, nanti malah jejak kita konangan."

"Ada barang apa tuh di atas tanah rumput itu?"

Tanya Wi Lian In.

"Dia sudah kencing di sana."

Sahut Ti Then sambil naik ke atas kuda tunggangannya.

"Sehingga membuat tanah rumput itu jadi basah kemungkinan sekali setengah jam yang lalu dia kencing di sini."

"Kalau jarak kita dengan dirinya mungkin sekali tidak sampai sepuluh li saja,"

Ujarnya Wi Lian In.

"Benar, karenanya sejak sekarang gerak gerik kita harus jauh lebih berhati-hati lagi."

Dia segera mengangsurkan makanan yang dibelinya tadi kepadanya.

"Mari, kita sembari makan sembari melanjutkan perjalanan ujarnya lagi."

Wi Lian In segera mengambil satu biji bakpau buat sianying Cian Li Yen-nya kemudian baru mengambil satu biji lagi buat dirinya sendiri, ujarnya kemudian sembari bersantap.

"Kalau kita membuntuti dirinya terus menerus seperti ini aku rasa bukanlah satu cara yang bagus, kita harus mencari satu akal untuk turun tangan mencuri pedang itu..."

"Benar,"

Sahut Ti Then sembari makan bakpaunya.

"Tetapi aku masih belum mendapatkan cara untuk mencuri pedang tersebut..."

"Bilamana dia mau menginap dirumah penginapan ada kemungkinan kita mem punyai kesempatan untuk turun tangan mencuri. Tetapi jikalau dia tidak mau menginap dirumah penginapan lalu kita mau berbuat apa?"

"Jarak dari sini ke kota Tiong Ting Hu masih ada beberapa hari lamanya baiknya secara perlahan-lahan saja kita mencari kesempatan untuk turun tangan."

Padahal bukannya dia tidak punya siasat untuk mencuri pedang tersebut sebaliknya dia tidak ingin memperoleh pedang tersebut dengan cepat.

Karena dia tahu begitu dia berhasil mendapatkan pedang pendek itu dan diserahkan kepada Wi Ci To maka ada kemungkinan sekali dirinya segera akan dikawinkan dengan Wi Lian In, dia tetap tidak ingin menikah dengan Wi Lian In di bawah perintah dari majikan patung emas, karena itu dia hendak sengaja mengulur waktu lebih lama lagi.

Tetapi dia pun tahu si manusia berkerudung berbaju biru, pemuda yang dikirim majikan patung emas untuk mengawasi gerak geriknya sedang mengawasi dirinya terus menerus, maka itu dia harus mau tidak mau memperlihatkan juga sikap sedang berpikir dan mencari siasat untuk mencuri pedang itu.

Sudah tentu Wi Lian In sama sekali tidak mengetahui akan hal ini.

Terdengar dia berkata lagi.

"Tidak perduli bagaimana pun, kita harus berhasil mencuri pedang pendek itu sebelum dia tiba dirumahnya di kota Tiong Cin Hu. Bilamana membiarkan dia pulang ada kemungkinan kita akan menemui kesukaran sewaktu turun tangan mencuri pedang itu."

"Aku rasa hal ini belum tentu,"

Bantah Ti Then segera.

"Kemungkinan sekali setelah dia tiba dirumah, kita malah lebih mudah untuk turun tangan."

"Bagaimana bisa jadi?"

"Setelah sampai dirumah sudah tentu dia tidak akan membawa pedang pendek itu di badannya terus menerus, asalkan... Iiih"

Mendadak dia memperdengarkan satu jeritan kaget bersamaan pula menghentikan kudanya.

"Ada urusan apa?"

Tanya Wi Lian In dengan sangat terperanyat sekali.

"Baru saja aku menemukan di atas jalan raya berkelebat sesosok bajangan manusia hitam."

Air muka Wi Lian In segera berubah sangat hebat.

"Apa mungkin bajangan hitam itu adalah dirinya?"

Dengan suara yang amat lirih.

"Ada kemungkinan,"

Sahut Ti Then sambil mengangguk. Wi Lian In jadi merasa sangat tegang.

"Dia pastilah sudah menemukan diri kita bagaimana kita sekarang?"

Tanyanya gugup.

"Biar aku cari satu siasat..."

Seru Ti Then termenung berpikir sebentar.

"Bagaimana kalau mengundurkan diri?"

Ujar Wi Lian In memberikan usulnya.

"Tidak,"

Jawab Ti Then dengan cepat.

"Kita tidak boleh mengundurkan diri diri. harus pura-pura tidak mengetahui akan hal ini dan tetap melanjutkan perjalanan menuju ke depan."

"Bilamana dia munculkan dirinya untuk menghalangi perjalanan kita?"

Tanya Wi Lian In lebih lanjut.

"Kalau begitu kita pura-pura merasa sangat terkejut kemudian melarikan kudanya untuk lari berpencar, jangan sekali-kali turun tangan melawan dirinya."

"Melarikan diri secara berpencar?"

Seru Wi Lian In sambil mengerutkan alisnya.

"Benar, jikalau dia mengejar aku maka kau melarikan diri dulu kekota Ngo Hong sian dan tunggu aku di sana, aku pasti bisa meloloskan diri dari kejarannya.

"Ayoh jalan, sikap kita harus seperti tidak menemukan apa-apa."

Setelah berbicara sampai di sini dia segera melarikan kudanya untuk melanjutkan perjalanan kearah depan.

Wi Lian In segera mengikuti dari sampingnya.

Mereka berdua sembari makan bakpaunya bersama-sama melanjutkan perjalanannya ke depan.

Sikap mereka tenang-tenang saja tanpa terdapat perubahan apa pun.

"Koko..."

Tiba-tiba Wi Lian In membuka mulutnya berbicara.

"Kuda Ang Shan Khek yang kita dapatkan dari Ti Kiauw tauw dari benteng Pek Kiam Po itu agaknya tidak mudah untuk melepaskannya, untuk keselamatan kita lebih baik lepaskan saja."

Ti Then paham apa maksud dari perkataannya ini, segera dia menyambung.

"Tidak, jikalau aku takut banyak urusan aku tidak akan begitu berani merampas kembali kuda itu dari tangan sipetani tua tersebut."

"Tetapi,"

Ujar Wi Lian In lagi.

"Bilamana sampai bertemu kembali orang she Wi itu kemungkinan sekali kita bakal menemui kesulitan."

"Jangan kuatir, kita tidak mungkin bisa ketemu lagi dengan dirinya"

Ujar TI Then tertawa.

Baru saja perkataan tersebut selesai diucapkan mendadak terdengar suara bentakan yang amat keras sekali berkumandang keluar dari dalam hutan di samping jalan diikuti munculnya seorang lelaki kasar.

Lelaki ini berusia kurang lebih tiga puluh tahunan, wajahnya kurus kering perawakannya juga tidak terlalu tinggi dengan memakai baju berwarna hitam dan pada tangannya mencekal sebilah golok yang memancarkan sinar yang berkilauan.

Jika dilihat dari potongan wajahnya yang amat buas dan kejam sekali, jelas sekali dia adalah seorang pembegal dan bukannya Cuo It Sian sipembesar kota itu.

Baik Ti Then mau pun Wi Lian In, yang melihat akan hal ini diam-diam pada menghembuskan napas lega.

Mereka cuma takut bertemu muka dengan Cuo It Sian, jikalau terhadap orang lain mereka masih tidak memandang sebelah mata pun.

Ketika lelaki berbaju hitam itu meloncat turun ketengah jalan segera dia mengangkat goloknya dan dengan buasnya membentak.

"Jikalau kalian maui nyawa cepat serahkan buntalan serta kuda itu."

Ternyata sedikit pun tidak salah, dia orang bukan lain adalah seorang pembegal jalan. Wi Lian In segera tertawa cekikikan dan menghentikan kudanya.

"Aduh.... celaka.... aku sudah bertemu dengan sipembegal jalan."

Sipembegal jalan itu sewaktu melihat pada wajah mereka sama sekali tidak memperlihatkan rasa ketakutan barang sedikit pun juga, dia sendiri malah merasa kurang aman dengan cepat tubuhnya maju kembali satu langkah ke depan kemudian mengangkat goloknya siap dibacok ke depan.

"Ayoh cepat turun dari kuda,"

Bentaknya dengan kasar.

"Kalau tidak Toaya-mu segera akan bacok-bacok kepala kalian jadi dua bagian."

"Jikalau kau mengingini buntalan serta kuda kami lebih baik tanya dulu dengan Cian Li Yen-ku itu,"

Ujar Wi Lian In sambil tertawa. Si pembegal jalan itu jadi melengak.

"Siapa itu Cian Li Yen?"

Tanyanya. Wi Lian In segera menunjuk si anying Cian Li Yen yang ada di depan kudanya.

"Itulah dia,"

Jawabnya. Sipembegal jalan itu melirik sekejap kearah sianying Cian Li Yen itu lantas memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang amat menyeramkan.

"Macan-pun Toaya-mu bisa bunuh apalagi cuma seekor anying. Hee..... hee..... sungguh lucu sekali...."

"Kalau kau berani ayoh kau maju........ kau boleh coba-coba rasanya digigit oleh Cian Li Yen....."

Ti Then yang melihat Wi Lian In hendak memerintahkan anyingnya untuk melancarkan serangannya kearah sipembegal jalan itu dengan gugup dia mencegah.

"Tidak..... jangan, kau jangan memerintahkan sianying Cian Li Yen untuk menggigitnya dulu."

Dengan perlahan Wi Lian In putar kepalanya dan kirim satu senyuman manis kepadanya.

"Kau tidak usah kuatir terhadap diri Cian Li Yen, dia sudah memperoleh latihan yang amat keras sekali.... dengan kekuatannya sudah cukup untuk memberi perlawanan terhadap seorang jagoan berkepandaian tinggi dari dalam Bu-lim."

"Aku tahu,"

Ujar Ti Then sambil tertawa.

"Yang aku kuatirkan kalau Jin-heng ini sampai digigit Cian Li Yen dan menemui ajalnya."

Berbicara sampai di sini dia segera menoleh kearah sipembegal jalan itu lalu ujarnya sambil tertawa "Aku lihat wajahmu rada sedikit kukenal agaknya aku pernah bertemu dengan dirimu disuatu tempat....

siapa namamu??"

"Tidak usah banyak omong,"

Bentak sipembegal itu sambil melototkan matanya lebar-lebar, aku mau tanya kalian ingini harta atau jiwa? ayoh cepat jawab."

Lama sekali Ti Then memperhatikan dirinya dengan amat teliti tanpa memberikan jawaban, akhirnya secara tiba-tiba saja dia tertawa terbahak-bahak.

"Haa... haa sekarang aku sudah teringat kembali,"

Sahutnya.

"Bukankah kau adalah si Sam Su Tou Ji atau sipencuri tiga tangan Kauw Ban Li?"

Mendengar disebutnya nama itu airmuka sipencuri tiga tangan segera berubah sangat hebat sekali, terburu-buru dia mundur satu langkah ke belakang, sepasang matanya yang seperti tikus dengan tajamnya berkedip-kedip beberapa kali.

"Kawan kau berasal dari golongan mana? kenapa kenal dengan diriku?"

Tanyanya dengan terperanyat.

"Jika dibicarakan sebenarnya kita adalah termasuk kawan lama,"

Ujar Ti Then sambil tertawa. Seketika itu juga sipencuri tiga tangan dibuat melengak lagi.

"Kawan yang aku sipencuri tiga tangan Kauw Ban Li pernah temui tidak akan terlupakan kembali,"

Ujarnya.

"Sudah tentu, sudah tentu,"

Sahut Ti Then sambil mengangguk.

"Dahulu kau tidak pernah bertemu dengan wajahku semacam ini maka sudah tentu kau tidak kenal lagi?"

"Lalu apakah kawan sedang menyamar?"

Tanya sipencuri tiga tangan dengan terperanyat.

"Benar."

Walau pun sipencuri tiga tangan masih tidak tahu siapakah sebenarnya sipedagang berusia pertengahan yang ada di hadapannya saat ini, tetapi dia tahu sudah bertemu dengan seorang jagoan dari Bulim, tidak terasa lagi dia sudah mundur satu langkah ke belakang.

"Kawan siapakah sebetulnya kau?"

Tanyanya.

"Kurang lebih dua tahun yang lalu kita pernah bertemu muka dikota Tiang Ang hari itu aku hendak naik ke atas sebuah loteng rumah makan sedang kau mau turun dari atas loteng, lagakmu seperti orang sedang kemabokan dan sewaktu turun sudah menabrak diriku... sudah ingat bukan?"

"Tidak salah,"

Sahut Si pencuri tiga tangan dengan wajah yang sudah berubah memerah dia angkat bahunya ke atas.

"Cayhe memang pernah berkeluntungan selama dua tahun lamanya di dalam kota Tiang An, di dalam dua tahun ini memang setiap hari cayhe berada di dalam keadaan mabok terus. Entah siapakah sebetulnya kau orang."

"Seharusnya kau masih ingat dengan diriku"

Ujar Ti Then sambil tertawa.

"Karena setelah kejadian itu kau pernah berkata dengan aku, kau bilang baru untuk pertama kalinya kau tertangkap sewaktu menyalankan operasimu."

Air muka sipencuri tiga tangan segera berubah semakin riku sekali.

"Sesungguhnya aku semuanya sudah mengalami tiga kali gagal dalam pekerjaanku, pertama kali tertangkap ditangan sipendekar baju hitam Ti Then, sedangkan kedua serta ketiga kalinya air sungai menenggelamkan kuil raja naga aku sudah mencopet kawan berasal dari satu jalan."

"Dan akulah orang yang untuk pertama kalinya menangkap dirimu itu"

Sambung Ti Then sambil memperendah suaranya.

"Kau adalah...."

Teriak sipencuri tiga tangan dengan sangat terperanyat.

"Stt.... jangan menyebut nama serta julukanku, kalau tidak aku segera akan suruh kau merasakan bagaimana rasanya kalau otot serta urat nadi di-pisah-pisahkan."

Mendengar perkataan tersebut si pencuri tiga tangan jadi semakin terkejut dengan cepat dia mengucek-ucek matanya lalu dengan seluruh kekuatannya melototi diri Ti Then.

"Apa betul dirimu ?"

Ti Then segera mengangguk dan tersenyum.

"Hari itu kau berpura-pura mabok dan menumbuk aku sewaktu naik ke atas loteng, mengambil kesempatan itu kau sudah mencuri uang perakku, tetapi segera bisa aku ketahui, aku lantas kirim satu totokan merubuhkan dirimu, tubuhmu lantas terjatuh ke bawah loteng sehingga membuat seluruh wajah dan badanmu bengkak-bengkak menghijau setelah itu."

Sipencuri tiga tangan yang mendengar perkataan itu sampai di sana dengan cepat dia membuang golok yang ada ditangannya dan jatuhkan diri berlutut untuk kemudian menganggukan kepalanya.

"Hamba ada mata tak berbiji, ternyata kali ini sudah berani mengganggu kau Ti.. Ti.."

"Jangan sebut namaku,"

Seru Ti Then dengan cepat. Seluruh tubuh si pencuti tiga tangan segera tergetar dengan amat kerasnya.

"Baik... baik... sahutnya dengan gugup. Hamba harus mati, silahkan kau orang suka memaafkan aku sekali ini lagi, lain kali hamba bersumpah tidak akan berbuat jahat lagi dan tidak akan melakukan perbuatan yang memalukan ini lagi."

"Sekarang kau berdirilah, jangan terus menerus berlutut,"

Ujar Ti Then sambil tertawa.

"Kalau kau suka memaafkan diriku dan mengam puni lagi diriku maka hamba baru berani berdiri,"

Ujarnya sipencuri tiga tangan sambil tetap melanjutkan anggukan kepalanya.

"Semuanya kau sudah membunuh berapa orang?"

Tanya Ti Then kemudian.

"Seorang pun aku tidak membunuh,"

Sahut sipencuri tiga tangan sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

"Omong kosong."

"Sungguh,"

Seru sipencuri tiga tangan merengek.

"Golok dari hamba ini selamanya cuma digunakan untuk menakut-nakuti orang yang lewat di sini saja, setetes darah pun belum pernah terciprat dari golok tersebut." -ooo0dw0ooo-

Jilid 30

"HMM.. nyalimu semakin lama semakin berani yaaa, pertama-tama kau ahli mencopet harta benda orang lain, sekarang semakin berani lagi perbuatanmu, berani benar menggunakan golok untuk membunuh orang dan merampok harta kekayaan yang dibawa,"

Bentak Ti Then dengan keras.

"Hamba benar-benar tidak membunuh seorang pun"

Teriak si pencuri tiga tangan dengan keras.

"Kali ini hamba jadi si pembegal sesungguhnya dikarenakan desakan biaya hidup, hamba terpaksa mau tidak mau harus melakukan pekerjaan ini."

"Telur nenekmu, apakah ketiga buab tanganmu sudah dipotong orang lain?"

Bentak Ti Then lebih lanjut, Si pencuri tiga tangan segera tertawa pahit.

"Boleh dibilang memaag sudah dipotong orang lain"

Sahutnya perlahan.

"Siapa yang punya keahlian yang begitu dahsyatnya sehingga melarang kau untuk melakukan pekerjaan mencopet lagi?"

Liong Touw Lotoa kami sendiri.

"Miauw So Suseng?"

Seru Ti Then sambil memandang tajam wajahnya.

"Benar, memang dia orang,"

Sahut si pencuri tiga tanga mengangguk.

"Dia melarang, kau mencopet baraag milik orang lain?"

"Benar,"

Sekali lagi si pencuri tiga tangan mengangguk.

"Kenapa?"

"Ada satu kali di kota Tiang An juga hamba melihat ada seorang kakek tua yang memakai baju yang amat perlente, dari badan kakek berbaju perlente itu hamba berhasil meacuri sebuah intan permata yang mahal harganya. sewaktu aku merasa kegirangan itulah mendadak aku menghadap. saat itu terlihatlah banyak kawan-kawan lain dari satu golongan sudah pada berkumpul di sana. Liong Touw LoToa tanya di antara kita siapa yang sudah mencuri sebuah intan permata dari badan seorang kakek tua yang memakai baju perlente siauw jin segera mengaku akulah yang si pencuri, dengan langkah lebar Liong Touw Lo toa segera menghampiri siauw jin dsn lantas hadiahi beberapa tamparan membuat mukaku jadi beegkak"

"Kenapa?"

Tanya Ti Then tertawa.

Dengaa wajah yang meringis kera dia menyawab "Siauw jin punya mata tidak melihat gunung Thay san, kiranya kakek tua berjubah perlente itu bukan lain adalah ayah dari Liong Touw Lotoa kami"

"Haaa , haaaa .,. haaa , , bagus sekali bagus sekali"

Seru Ti Then sambil tertawa terbahak-baha. Kau manusia rendah juga berani mengganggu kepala Thay Swi memang harus mati , . memang harus mati,"

"Heeeei ..."

Si pencuri tiga tangan menghela napas panyan-panjang dengan sedihnya.

"Selama beberapa tahun ini nasib siauw-jin memang kurang mujur-selalu mendapatkan mangsa yang salah saja,"

"Liong Touw Lo-toa kalian memang tidak seharusnya memberi hukuman kepadaku dia boleh mencopet harta kekayaan milik orang lain kenapa orang lain tidak diperkenankan mencopet harta kekayaan milik ayahnya?"

"Dia bilang siauw-jin sudah memyeset kulit mukanya karena itu menghukum hamba untuk Menutup tangan selama tiga tahun lamanya. coba kau bayangkan jikalau mengharuskan hamba menutup pintu selama tiga tahun lamanya dia selama tiga tahun ini tidak dapat pekerjaan bagaimana siauw ji bisa mendapat uang untuk membeli makanan? di dalam keadaan yang terpaksa siauw jin mau tidak mau harus ganti pekerjaan sebagai pembegal jalan. tetapi siauw jin benar-benar tidak pernah melukai barang seorang pun, yang hamba minta cumalah harta kekayaan orang yang lewat di sini karena hamba tahu melukai orang cuma mendatangkan kerepotan saja karena itu siauw-jin tidak berani melakukan pekerjaan itu."

"Eeeei apa kau sering sekali membegal harta kekayaan dari orang yang lewat di jalan ini?"

Tiba-tiba Wi Lian In nyeletuk.

"Tidak,"

Jawab si pencuri tiga tangan sambil gelengkan kepalanya.

"Setiap tempat siauw-jin cuma melakukaa pekerjaan selama tiga lima hari saja, siauw-jin tidak berani berdiam terlalu lama."

"Dijalan ini kau sudah melakukan berapa hari?"

Tanya Wi Lian In.

"Ini hari adalah hari kedua, tetapi cuma mendapatkan tiga kali hasil saja, mendapat uang tidak seberapa banyak."

"Kurang lebih setengah jam yang lalu apakah kau melihat ada seorang kakek tua berbaju hijau lewat di sini."

"Oouw ... nona maksudkan si pembesar kota Cuo It Sian?"

Tanya si pencuri tiga tangan.

"Tidak salah"

Sahut Wi Lian In dengan amat girang.

"Kau melihat dirinya?"

"Benar,"

Sahut si pencuri tiga tangan mengangguk.

"Untung sekali siauw-jin segera mengenal kembali kalau dia adalah si pembesar kota sehingga tidak berani muuculkan diri untuk menghalangi perjalanannya, jikalau siauw-jin tadi tidak sampai melibat lebih jelas mungki nyawa anyingku pun sudah lenyap."

"Dia melihat dirimu tidak?"

Sekail lagi sipencuri tiga tangan menggelengkan kepalanya .Begitu siauw-jin melihat dirinya berjalan mendatang, siauw-jin lantas bersembunyi di balik pepobonan dan tidak berani bergerak sampai napas pun tidak berani terlalu keras"

"Bagus ,, bagus sekali,"

Seru Wi Lian In dengan amat girang sekali.

"Sekarang aku mau Tanya lagi"

Ilmu mencopetmu lihay atau tidak ?"

Si pencuri tiga tangan tidak mengetahui apa meksud dari perkataan ini, dia jadi ragu-ragu sebentar.

"Tidak berani dikatakan terlalu lihay. yaa , , ..boleh di kata cukup untuk memperoleh sesuap nasi saja."

Sahutnya kemudian.

"Sebetulnya bagaimana ?"

Tanya Wi Lian In kemudian sambil menoleh kaarah Ti Then. Ti Then tersenyum.

"Diantara kawan-kawan segolongannya bolwh dikata dia merupakan salah seorang jagoannya yang berkepandaian paling tinggi"

"Kalau begitu bagaimana kalau kita mintai bantuannya ?"

"Baik sih baik. cuma .. -.."

"Kenapa ?"

"Kauw Ban Li,"

Seru Ti Then sambil menoleh kearah diri si pencuri tiga tangan "Beranikah kau pergi msncuri barang yang ada dibadan Cuo It Sian?"

Mendengar perkataan tersebut si pencuri tiga tangan jadi amat terperanyat sekali dengan gugupnya dia menggelengkan kepalanya.

"Tidak ... tidak , ..siauw-jin tidak berani.. siauw-jin tidak berani"

Tolaknya dengan cepat.

"Si pembesar kota Cuo It Sian merupakan salah satu jagoan yang berkepandaian paling tinggi pada saat ini di dalam Bu-lim bilamana tidak untung siauw-jin kena tertawan bukankah nyawaku akan melayang ?"

"Cuo It Sian bukanlah seorang iblis tukang penjagal manusia, buat apa kau takuti dirinya?"

Sambung Wi Lian In lebih lanjut.

"Tidak , ..tidak,"

Ber-turut sipencuri tiga tangan menggelengkan kepalanya lagi berulang kali.

"Sekali pun nyali siauw jin lebih besar pun tidak akan berani mengganggu diri si pembesar kota itu."

Kami ingin sekali mendapatkan semacam barang milik Cuo It Sian.

bilamana kau mau membantu usaha kita ini dan mencurikan benda tersebut buat kami maka jasa mu itu bisa digunakan untuk menebus dosamu kali ini.

kami bisa lepaskan satu jalan hidup buat dirimu, kalau tidak bmm.., hm m..."

Mendengar perintahnya itu sepasang mata dari si pencuri tiga tangan terbelalak lebar-lebar, dengan amat terkejut sekali serunya.

"Kalian berdua ingin mendapatkan barang apa dari sipembesar kota Cuo It Sian itu?"

"Kau menyanggupi dulu untuk mencurikan buat kami sesudah itu aku baru beritahu urusan ini kepadamu."

Sinar mata dari si pencuri tiga tangan segera beralih ke atas wajah dari Ti Then jelas air mukanya memperlihatkan keragu-raguan serta rasa terperanyatnya.

"Kau dengan si pembesar kota adalah sama-sama seorang pendekar yang mem punyai nama sangat terkenal sekali di dalam Bu-lim"

Serunya.

"kenapa ..kenapa ."

"Alasannya aku tidak bisa memberitahukan kepadamu,"

Jawab Ti Then samnbil tertawa.

"tetapi aku boleh beritahu kepadamu akan sesuatu. jikalau ksu bantu mendapatkan barang itu berarti juga sudah membantu kami untuk melakukan satu pekerjaan mulia."

Agaknya rasa hormat dari si pencuri tiga tangan terhadap diri sipembesar kota Cuo It Sian jauh melebihi rasa hormatnya terhadap diri Ti Then mendengar perkataan tersebut dia tetap memperlihatkan rasa keragu-raguannya.

"Sungguh ?"

Tanyanya.

"Kau tahu siapakah dia orang?"

Tanya Ti Then kemudian sambil menuding kearah diri Wi Lian In.

"Siauw jin tidak tahu,"

Jawab si pencuri tiga tangan sambil gelengkan kepalanya.

"Dia adalah putri kesayangan dari Wi Pocu dari Benteng Pek Kiam Po. Wi Liao In adanya,"

"Aaaah kiranya nona Wi,"

Teriak si pencuri tiga tangan Kauw Ban Li dengan amat terperanyat.

Dengan nada serta kedudukan dari nona Wi serta aku orang tidak perduli kami hendak melakukan pekerjaan apa pun kau boleh merasa berlega hati."

"Aku masih bisa menanggung akan sesuatu, apa yang kami minta bukanlah harta kekayaan melainkan semacam barang yang semula adalah milik ayahku sendiri,"

Sipencuri tiga tangan jadi amat terperanyat sekali.

"Aaaaa ... Cuo It Sian sudah mencuri barang milik ayahmu?"

"Kita tidak bisa mengatakan dia sudah mancuri barang milik ayahku"

Sahut Wi Lian In lebih lanjut.

"Pokoknya dikarenakan semacam alasan yang tidak bisa dijelaskan. .-coba kau jawablah dulu mau bekerja untuk kami atau tidak?"

"Yang Siauw jin takuti kalau sampai aku ketangkap olehnya kemungkinan , kemungkinan"

Seru Si pencuri tiga tangan tetap ragu ragu.

"Sekali pun begitu belum tentu harus menemui ajal"

Potong Wi Lian In dengan cepat.

"Asalkan kau tidak bilang kami yang memerintahkan dirimu untuk melakukan pekerjaan tersebut maka dia cuma menganggap kau sebagai searang pembegal jalan biasa saja, paling banyak yaaa bakal merasakan sedikit penderitaan saja"

Si pencuri tiga tangan termenung berpikir sebentar, lalu tanyanya lagi "Jikalau Siauwjin tidak untung kena tangkap, bilamana dia hendak turun tangan membinasakan hamba maukah kalian berdua turun tangan menolong Siauw jin?"

"Tidak"

Jawab Ti Then sambil gelengkan kepalanya. Diam-diam Si pencuri tiga tangan menarik napas panjang-panjang dia tertawa pahit.

"Kalau begitu siauw jin tidak punya nyali untuk melakukan pekerjaan ini"

Ujarnya.

"Asalkan kau jangan bilang kami yang memerintahkan dirimu untuk melakukan perbuatan tersebut, aku rasa tidak akan berbahaya"

"Tidak bisa jadi . tidak bisa jadi"

Teriak si pencuri tiga tangan Kauw Ban Li sambil goyangkan tangannya berulang kali.

"Kalau begitu yaa sudah,"

Dia tahu dengan kepandaian dari si pencuri tiga tangan bilamana dia sudah menyanggupi untuk mencurikan pedang pendek yang ada di tangan Cuo It Sian maka kemungkinan sekali pekerjaan tersebut dapat mencapai hasil yang diharapkan, tetapi dia pun tidak mengharapkan bisa berhasil tnencuri pedang pendek itu secepatnya, karena itu dia orang tidak mau terlalu memaksa si pencuri tiga tangan untuk melakukannya.

Tetapi Wi Lian In tidak mau melepaskan begitu ssya kesempatan yang baik ini dia tertawa dingin.

"Tidak, kau harus menerima pekerjaan ini"

Tandasnya Si pencuri tiga tangan jadi amat gugup sekali.

"Nona Wi, kau baik-baiklah melepaskan diriku, Siauw jin benar-benar tidak punya nyali untuk mencopet barang milik si pembesar kota"

Ujarnya setengah merengek.

"Walau pun kepandaian silatnya amat tinggi tetapi terhadap perbuatan mencopet sama sekali dia tidak bisa berjaga-jaga buat apa kau takuti dirinys ?"

"Tetapi ,."

"Kalau kau tidak-setuju juga boleh saja"

Ujar Wi Lian In kemudian sambil meloncat turun dari kudanya.

"Sekarang ambil kembali golokmu itu,"

"Nona Wi, kau bermaksud untuk berbuat apa?"

Tanya Si pencuri tiga tangan dengan ketakutan lantas mundur beberapa langkah ke belakang.

"Aku tidak dapat melepaskan seorang pembegal yang mendatangkan celaka buat orang orang yang melakukan perjalanan melewati tempat ini, tetapi aku sanggup untuk memberi satu kesempatan buatmu untuk beradu jiwa, bilamana kau ingin tetap hidup maka kau harus mengalahkan diriku"

Saking takutnya seluruh air muka Si pencuri tiga tangan sudah berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat.

"Tidak, tidak"

Serunya sambil goyangkan tangannya berulang kali.

"Siauw jin tahu kalau kepandaian hamba bukanlah tandingan dari nona Wi. Nona Wi kau am punilah aku orang ini,"

"pungut senyatamu dan berdiri!"

Perintah Wi Lian In dengan suara yang amat dingin. Si pencuri tiga tangan segera menoleh kearah Ti Tben dan memohon kepadanya.

"Ti ..slauwhiap, kita sudah punya jodoh untuk bertemu muka satu kali. tolonglah diriku dan lepaskan siauw jin kali ini"

"Sayang aku tidak berkuasa"

Seru Ti Then sambil gelengkan kepalanya. Mendadak Wi Lian In berkelebat dan maju mencengkeram baju di dadanya lantas mengangkat badannya yang sedang berlutut di atas tanah itu.

"Aku kasi muka padamu kau tidak mau menerima, ini hari janganlah kau menyalahkan kalau nonamu tidak akan berlaku sungkan-sungkan lagi terhadap dirimu."

Selesai berkata telapak tangannya segera diangkat dan siap-siap turun tangan melancarkan serangan. Si pencuri tiga tangan jadi amat terperanyat sekali, teriaknya kemudian.

"Baik, baiklah, siauw jin menerima permintaan kalian itu."

Tangan kanan dari Wi Lian In segera di tekuk, kedua jari tengah serta telunjuknya dengan bagaikan kilat cepatnya berkelebat menotok jalan darah Hiat Bun Sang Ci Hiat pada iga kanannya lalu baru lemparkan badannya ke atas tanah.

"Totokan ini aku menggunakan ilmu totokan tunggal dari Benteng Pek Kiam Po kami di dalam kolong langit saat ini tiada seorang pun yang bisa membebaskannya kecuali aku serta ayahku, sekarang aku totok dulu jalan darah Hiat Bun Sang Ci Hiat di badanmu, enam bulan kemudian jikalau tidak diobati maka kau akan muntah darah dan binasa."

Mendengar perkataan dari Wi Lian In ini si pencuri tiga tangan benar-benar merasa ketakutan.

"Nona Wi"

Teriaknya ngeri.

"Siauw jin sudah menyanggupi nona untuk melakukan pekerjaan tersebut, kenapa sekarang nona masih turun tangan juga mencelakai diri siauw jin?"

"Jangan takut, di dalam sepuluh hari ini kau tidak akan marasa badannya berubah"

Ujar Wi Lian In tenang saja.

"Menanti sesudah kau berhasil memperoleh barang tersebut aku segera akan turun tangan membebaskan jalan darahmu itu dan mengobatinya."

"Bilamana siauw jin tidak sanggup untuk mencopet barang itu?"

Tanya Si pencuri tiga tangan dengan kaget.

"Untuk menolong nyawamu sendiri kau harus berhasil mendapatkan benda tersebut"

"Tapi kalau siauw-jin tidak untung tertawan olehnya, lalu ..."

"Menanti setelah dia membebaskan dirimu aku baru turun tangan menolong dirimu."

"Baiklah,"

Ujar Si pencuri tiga tangan kemudian dengan sedih lantas bangkit berdiri.

"Sekarang beritahu kepada siauw jin kalian menghendaki benda apa dari badannya."

"Sebilah pedang yang bernama Biat Hun Kiam."

"Pedang pendek itu apa selalu ada di badannya?"

Tanya Sipencuri tiga tangan lebih lanjut.

"Tidak salah"

Sahut Wi Lian In mengangguk.

"Kau harus bzrusaha mencurinya dapat pedang pendek itu sebelum dia tiba dirumahnya dikota Tiong Cing Hu."

"Dia lewat ditempat ini setengah jam yang lalu, ada kemungkinan saat ini sudah berada beberapa puluh li jauhnya, bolehkah siauw-jin berangkat sekarang juga?"

"Dia tidak tahu ada orang yang hendak mengejar dirinya, kau lebih baik mengejarnya dengan sekuat tenaga, kemungkinan sekali masih bisa menyandak dirinya."

"Setelah aku berhasil memperoleh barang itu siauw jin harus mencari kalian kemana?"

Tanya sipencuri tiga tangan kemudian.

"Asalkan kau lari balik kemari sudah tentu bisa bertemu dengan kita."

"Baiklah,"

Ujar si pencuri tiga tangan sambil garuki kepalanya.

"Siauw jin segera akan mengejar dirinya, semoga saja di dalam dua tiga hari ini bisa memperoleh hasil,"

Selesai berkata dia merangkap tangannya memberi hormat lalu putar badannya beelalu dari sana.

"Tunggu dulu,"

Tiba-tiba Ti Then berteriak.

"Ti siauwhiap ada perintah apa lagi?"

Tanya sipencuri-tiga tangan sambil putar badan.

"Tidak perduli kau berhasil mendapatkan barang itu atau tidak lebih baik kau jangan membocorkan urusan ini ketempat luaran, kalau tsdak sebelum kau berhasil mulai di dalam pekerjaanmu kau bakal menemui kematian."

"Baik, baik, baik . ."

Seru sipencuri tiga tangan berulang kali.

"Tentang hal ini siauw jin paham, sekali pun siauwjin sudah makan nyali macan juga tidak akan berani membocorkan urusan ini ketempat luaran"

"Kalau begitu baiklah, sekarang kau boleh pergi,"

Seru Ti Then kemudian sambil mengulapkan tangannya.

Si pencuri tiga tangan cepat-cepat putar badannya dan berlari meninggalkan tempat itu hanya di dalam sekejap saja dia sudah lenyap di balik kegelapan.

Wi Lian In segera membungkukkan badannya memungut kembali golok yang menggeletak di atas tanah itu lantas dibuangnya ke tengah hutan setelah itu baru naik kembali ke atas kuda tunggangannya dan tersenyum.

"Kau mengira dia bisa memperoleh hasil tidak ?"

"Ilmu mencopetnya sangat libsy sekali, ada kemungkinan dia bisa memperoleh hasil,"

"Bilamana dia bisa memperoleh hasil kemungkinan sekali Cuo It Sian tidak menduga kalau pekerjaan itu kita yang perbuat bukan ?"

Tanya Wi Lian In kemudian.

"Bagaimana bisa jadi ?"

"Dulu sewaktu dia meocopet uang perakmu bukankah dia berpura-pura seperti seorang mabok dan menumbuk dirimu ?"

"Tidak salah,"

Sahut Ti Then mengangguk.

"Bilamana waktu itu kau tidak merasa dan kemudian kau menemukan uangmu sudah lenyap, tentu di dalam anggapanmu sudah menduga dialah yang berbuat, bukan begitu ?"

"Benar"

"Kalau begitu jikalau dia mencopet dengan menggunakan cara yang sama maka Cuo It Sian di kemudian hari bisa menduga kalau pedang pendeknya itu ada kemungkinan dicopet orang lain, sedangkan orang-orang Benteng Pek Kiam Po kita tidak ada seorang pun yang memahami ilmu mencopet maka itu dia tidak akan menduga kalsu pekerjaan itu kita yang perbuat."

"Perkataanmu ini kedengarannya memang sangat beralasan"

Seru Ti Then tersenyum.

"Apa mungkin salah?"

Tanya Wi Lian In heran.

"Menurut penglihatanmu. tidak perduli Si pencuri tiga tangan hendak mencuri pedang pendek itu dengan cara apa pun sewaktu Cuo It Sian menemukan pedang pendeknya kena tercuri maka dia akan menduga itulah perbuatan dari kita."

"Tetapi dia tidak mem punyai bukti."

"Buat apa dia membutuhkan bukti?"

"Kalau begitu sewaktu dia menemukan pedang pendeknya tercuri dan memastikan kalau perbuatan itu adalah hasil pekerjaan dari Benteng Pek Kiam Po kita, coba kau pikir dia akan melakukan gerakan apa lagi"

Tanya Wi Lian In.

"Sudah tentu dia akan berusaha untuk merebut kembali dari tangan kita"

"Hmmm,"

Dengus Wi Lian Ia dengan dingin.

"Kali ini dia jangan harap bisa merebutnya kembali dari tangan kita,"

"Tetapi sekarang kita belum memperoleh hasil,"

"Aku percaya Si pencuri tiga tangan pasti akan berhasil"

Sahut Wi Lian In sambil tertawa kikuk-"Tadi kau menggunakan cara apa menotok jalan darah Hiat Bun Sang ci Hiat-nya?"

Tanya Ti Then kemudian.

"Coba kau terka,"

Seru Wi Lian Im sambil tertawa ringan. Ti Then segera angkat bahunya.

"Selamanya aku belum pernah mendengar kalau di dalam Banteng Pek Kiam Po mem punyai semacam ilmu menotok jalan darah yang menunggal, bukankah kau sedang beromong kosong?"

"Benar,"

Sahut Wi Lian In tertawa.

"Ehmmm?"

"Sungguh omong kosong"

"Kalau begitu kau menggunakan cara menotok yang mana menotok jalan darah Hiat Bun Sang Ci Hiatnya tanpa melukai dirinya?"

"Kau masih tidak paham?"

"Benar."

"Terus terang saja aku beritahu kepadamu aku sama sekali tidak menotok jalan darah Hiat Bun Sang Ci Hiat-nya, aku sedang menipu dirinya."

"Aaaah , ..aaah ..."

"Bagus tidak?"

"Bagus sekali, haaa .haa " 000odwo000 Malam semakin kelam, mereka dengan menunggang kuda melakukan perjalanan dengan sangat lambat sekali, setelah berjalan selama satu kentongan akhirnya terlihatlah di samping jalan terdapat sebuah kuil bobrok, mereka lantas masuk ke dalamnya untuk beristirahat. Keesokan harinya kembali mereka menunggang kuda melanjutkan perjalanannya mengejar ke depan. Hari itu mereka berdua sudah melakukan perjalanan sejauh ratusan li dan sampailah di sebuah kota kecil yang bernama Ngo Li Pang-Tiba-tiba tampaklah dari tempat kejauhan sipencuri tiga tangan dengan amat cepatnya sedang berlari mendatang. Baik Ti Then mau pun Wi Lian In yang melihat hal tersebut dalam hati merasa sangat girang sekali, dengan cepat mereka melarikan kudanya menyambut kedatangannya.

"Sudah berhasil?"

Tanya mereka hamper berbareng dan sama sama meloncat turun dari atas kuda.

"Untung tidak menemui kegagalan, sudah aku dapatkan"

Seru si pencuri tiga tangan sambil tertawa kegirangan.

Sembari berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah pedang pendek beserta sarungnya !alu dengan menggunakan sepasang tangannya diangsurkan kearah Ti Then.

Wi Lien In dengan cepat merebut pedang itu kemudian dicabutnya pedang pendek tersebut untuk dilihat.

"Pedang ini tidak salah bukan?"

Tanyanya dengan rasa kegirangan.

"Di dalam badannya tidak terdapat pedang yang kedua cuma ada sebilah pedang itu saja,"

Ujar si pencuri tiga tangan sambil menyeka keringat yang mengucur keluar membasahi dahinya. Ti Then segera meminta kembali pedang itu dan dilihatnya beberrpa saat lamanya, lantas dia memuji.

"Pekerjaan dari Cu Kiam Lojin memang sangat hebat sekali, dua potong pedang yang sudah patah ternyata bisa disambung kembali seperti sedia kala."

"Kauw Ban Li, ilmu mencopetmu ternyata amat dahsyat sekali, dia tidak merasa bukan?"

Tanya Wi Lian Ia tertawa.

"Waktu itu dia tidak merasa, tetapi sekarang ada kemungkinan sudah merasa,"

"Kau turun tangan dimana?"

Taaja Wi Lian In lagi.

"Di dalam kota Hok Hong Sian tidak jauh dari tempat ini, dia masuk ke dalam sebuah rumah makan."

"Kapan?"

Tiba-tiba Ti Then menimbrung. Si pencuri tiga tangan berdiam diri sebentar untuk tukar napas, lantas baru jawabnya.

"Siang ini juga kurang lebih satu jam yang lalu"

"Kalau begitu kemungkinan sekali dia bisa balik kemari untuk mencari, kita tidak boleh berbicara di tengah jalan, ayoh cepat mencari satu tempat untuk menghindar,"

Seru Ti Then dsagan cemas.

"Di atas bukit sana ada sebuah hutan, kita pergi ke dalam hutan itu saja,"

Seru Wi Lian In kemudian sambil menuding kearah sebelah kiri, Selesai berkata dia segera meloncat turun dari kudanya dan berjalan menuju ke atas bukit kecil itu.

Setelah mereka bertiga tiba di dalam hutan di atas bukit kecil itu lantas bersama-sama duduk di atas rumput.

"Sudahlah,"

Terdengar Ti Then berkata.

"Sekarang kita boleh bcrcakap-cakap dengan hati lega, coba kau ceritakanlah kisahmu sewaktu mencopet pedang pendek itu."

Kemarin malam setelah siauw-jin meninggalkan kalian berdua lantas melanjutkan perjalanan ke depan dengan mengikuti jalan raya ini pagi ini aku sudah mengejarnya sampai di kota Hok Hong, aku pikir dia tentu beristirahat di dalam kota itu makanya dengan cepat siauw-jin melakukan penyelidikan.

Setelah cari setengah harian lamanya ternyata masih belum ketemu juga.

Akhirnya sewaktu siauw-jin hendak keluar dari kota mendadak tampak dia berjalan masuk ke dalam kota."

Dia barhenti sebentar untuk menukar napas. Lantas sambungnya kembali.

"Siauw-jin melihat dia masuk ke dalam kota segera membuntutinya dari tempat kejauhan, ketika melihat dia berjalan masuk ke dalam sebuah rumah makan maka siauw-jin cepat-cepat mengikutinya dari belakang, kita berpisah cuma dua kaki saja dan saling berhadapan. Dia minta macam-macam sayur untuk makan sedang siauw-jin cuma minta semangkok mie saja maka itu sewaktu dia mulai makan siauw-jin sudah selesai bersantap, sesudah membayar rekening siauw-jin lantas berjalan lewat di samping badannya waktu itu kaki kanannya direntangkan ditengah jalan maka siauw-jin pura-pura tersangkut kakinya dan terjatuh ke depan. Siauw-jin dengan mengambil kesempatan ini lantas mencekal badannya untuk menahan badan sedangkan tangan yang lain merogoh ke dalam sakunya mencuri pedang tersebut yang kemudian hamba sembunyikan di dalam saku. Setelah kejadian itu hamba pura-pura marah dan memakinya beberapa kejap kemudian terburu-terburu aku meninggalkan rumah makan itu dan lari kemari... demikianlah akhirnya aku menemukan kalian di sini."

"Bagus, perbuatanmu amat bagus sekali"

Seru Ti Then tertawa.

"Tetapi,"

Seru si pencuri tiga tangan itu lagi sambil tertawa pahit.

Sewaktu dia menemukan pedang pendeknya tercuri maka dia akan tahu kalau perbuatan itu siauw-jin yang melakukannya dia tentu masih teringat wayah dari siauw jin..."

"Soal ini tidak mengapa, dunia adalah amat luas sekali sedang dia pun tidak tahu siapakah dirimu, untuk menemukan kau lagi adalah amat sukar sekali."

"Semoga saja demikian,"

Ujar sipencuri tiga tangan sambil menghela napas panjang.

"Bilamana kau takut sampai ditemukan kembali olehnya maka kau boleh jauh meninggalkan Siok Oauw dua daerah ini bersamaan pula boleh sedikit merubah wayahmu, dengan demikian bukankah tidak usah takut lagi dengan dirinya?"

Air muka sipencuri tiga tangan segera kelihatan sedikit murung.

"Siauw jin punya rencana untuk kembali bergulung didaerah kota Tiang An saja tetapi..."

"Ada kesukaran apa?"

"Ti siauw-hiap dengan Liong Touw Lo toa kami apakah mem punyai hubungan yang baik?"

Balik tanya sipencuri tiga tangan itu sambil memandang tajam wayahnya.

"Tidak."

Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.

"Kalau begitu sudahlah."

"Kau minta aku mewakili kau untuk mintakan keringanan dari Liong Touw Lo toa kalian agar larangan tersebut bisa dicabut kembali?"

"Benar,"

Sahut sipencuri tiga tangan sambil mengangguk.

"Tetapi kalau memangnya Ti Siauw hiap sama sekali tidak mem punyai hubungan dengan Liong Toauw Lo toa kami hal itu tidak mungkin bisa terjadi."

"Sekali pun aku bisa memintakan keringanan dari Liong Touw Lo toa kalian tetapi aku juga tidak bisa membantu pekerjaanmu ini,"

Sahut Ti Then dengan wayah serius.

"Bagaimana aku bisa membantu seorang pencopet untuk minta keringanan kemudian memberi kesempatan buat dirinya untuk mencopet harta kekayaan orang lain?"

Air muka sipencuri tiga tangan itu segera berubah jadi memerah.

"Sekali pun siauw jin adalah seorang copet tetapi di dalam kalangan penyahat pun ada caranya, siauwjin selamanya tidak pernah turun tangan terhadap kaum miskin"

Serunya.

"Orang miskin tidak beruang sudah tentu kalian tidak bakal mau turun tangan terhadap mereka."

Sekali lagi sipencuri tiga tangan garuk garuk kepalanya, kepada Wi Lian In kemudian ujarnya.

"Nona Wi sekarang kau boleh membantu siauw jin untuk mengobati luka yang terluka dari tertotoknya jalan darah Hiat Bun Sang Ci Hiat bukan?"

"Boleh."

"Kalau begitu silahkan kau turun tangan sekarang juga."

"Kau baru tertotok satu hari satu malam saja, luka dalam pun belum terjadi. Sekarang cukup sedikit dipijit maka lukamu itu bakal sembuh dengan sendirinya."

"Baik... baik..."

Seru sipencuri tiga tangan dengan amat girang.

"Sebelum aku mengobati dirimu, aku memperingatkan satu urusan lagi kepadamu, aku melarang kau untuk membocorkan rahasia dimana kau pernah membantu kami mencurikan sebilah pedang pendek dari diri Cuo It Sian, kalau tidak, jangan dikata kami tidak akan mtngam puni dirimu. Cuo It Sian tahu akan hal ini dia pun tidak bakal mau melepaskan dirimu."

"Sudah tentu, sudah tentu,"

Sahut sipencuri tiga tangan berulang kali.

"Siauw-jin sendiri juga tidak ingin mati, sudah tentu aku tidak bakal membocorkan urusan ini ketempat luaran."

"Ti Kiauw-tauw."

Ujar Wi Lian In kemudian kepada diri Ti Then.

"Kau bantu aku pijitkan dirinya sebentar."

Ti Then segera mengangguk.

"Baiklah, sekarang kau boleh berbaring di atas tanah."

Sipencuri tiga tangan menurut dan merebahkan diri ke atas tanah, Ti Then segera menepuk sebentar jalan darah Hiat Bun Sang Ci Hiat di atas tubuhnya kemudian mengurutkan juga urat nadi yang lain, setelah itu baru ujarnya.

"Sudah cukup, sekarang kau merasa nyaman tidak??"

"Sedikit pun tidak salah,"

Sipencuri tiga tangan segera merasakan badannya amat nyaman sekali, dengan cepat dia meloncat bangun.

"Nyaman..... nyaman sekali, serunya. Ti siauw hiap boleh dikata mirip dengan Hoa Tou yang hidup kembali. Sungguh hebat sekali kepandaianmu."

"Ingat."

Ujar Ti Then lagi sambil ketawa.

"Di dalam enam bulan ini kau dilarang mendekati lawan sejenis dan bermain perempuan. Kalau tidak maka luka dalammu akan kambuh kembali."

Sipencuri tiga tangan jadi melengak.

"Iiih... sungguh... sungguh??"

"Sudah tentu sungguh."

Agaknya terhadap enam bulan dilarang bermain perempuan ini sipencuri tiga tangan merasa sangat sedih dan tersiksa sekali dia mengerutkan alisnya rapat-rapat lantas menghela napas panjang.

"Sungguh minta am pun, sungguh minta am pun..."

Serunya sedih. Mendengar perkataan tersebut air muka Wi Lian In segera berubah memerah.

"Apanya yang am pun am pun? cepat menggelinding pergi dari sini,"

Bentaknya dengan keras.

"Ooh..."

Sipencuri tiga tangan segera sadar kembali, dengan cepat dia merangkap tangannya menjura lantas putar badan melarikan diri terbirit-terbirit dari sana.

Setelah Wi Lian In melihat dia telah pergi jauh, dia baru tertawa.

"Kau sungguh pintar omong kosong,"

Serunya.

"Orang semacam dia ini jikalau tidak dikasih sedikit pelajaran lain kali masa bisa berubah jadi baik? Dia mendengar selama setengah tahun tidak boleh main perempuan ternyata wayahnya sudah berubah jadi amat murung sekali, sungguh menggelikan. Orang-Orang itu pinternya cuma makan, minum, judi, main perempuan dan berbuat jahat, kini dia mendengar selama setengah tahan lamanya harus mengekang napsu birahinya sudah tentu dia merasa sedih hati."

Wi Lian In segera menyawil ujung bajunya dengan tertawa malu-malu ujarnya tiba-tiba.

"Eeeei..... aku mau tanya padamu, kau pernah bermain perempuan tidak?"

"Tidak pernah..... tidak pernah."

Seru Ti Then dengan gugap sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Sampai hari ini juga aku masih seorang jejaka. kau jangan sembarangan menuduh."

"Hmmmm, aku tidak percaya."

Seru Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.

"Sungguh. Omong sesungguhnya sampai sekarang aku masih tidak tahu bagaimana caranya bermain perempuan dan bagaimana rasanya."

"Kalau begitu begaimana kau bisa mengerti kata-kata main perempuan dua kata itu?"

"Sekali pun belum pernah makan daging babi tetapi pernah juga melihat babi lewat,"

Seru Ti Then sambil angkat bahunya.

"Sekali pun kita belum tahu bagaimana caranya main perempuan tapi tahu juga kata-kata tersebut, bilamana sampai kata main perempuan saja tidak tahu bukankah kau anggap aku sebagai seorang goblok?"

Wi Lian In tidak mengucapkan kata-kata lagi dia cuma tersenyum saja.

"Kau tertawa apa?"

"Tidak mengapa, ayoh kita melanjutkan perjalanan lagi"

Seru Wi Lian In kemudian sambil meloncat bangun.

Demikianlah mereka berdua segera naik kuda menuruni bukit tersebut dan melanjutkan perjalanan kembali.

Karena takut ditengah perjalanan bertemu dengan Cuo It Sian, maka mereka tidak berani menuju ke kota Hok Hong Sian melainkan putar ke sebelah Selatan dan jauh-jauh menghindari kota tersebut untuk kemudian melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke sebelah Barat.

"Ayahku pada saat ini ada kemungkinan masih menunggu di kota Tiong Cing Hu, bagaimana kalau kita langsung pergi mencari dirinya lantas bersama-sama pulang ke dalam Benteng?"

Ujar Wi Lian In di tengah jalan.

Ti Then yang secara diam-diam sedang berpikir kalau pekerjaannya kali ini mencuri kembali pedang Biat Hun Kiam tidak lebih cuma membutuhkan dua puluh harian saja sudah tentu tidak mau menyetujui usulnya ini, karena dia tahu bilamana dia diharuskan mencari Wi Ci To dan mengajaknya pulang bersama-sama maka ada kemungkinan dia segera akan menjodohkan putrinya kepadanya, hal ini sudah tentu sangat menguntungkan sekali terhadap usaha dari majikan patung emas karenanya dengan cepat dia gelengkan kepalanya.

"Tidak, kita tidak perlu mencari ayahmu,"

Serunya.

"Kenapa?"

"Bilamana kita pergi kekota Tiong Cing Hu ada kemungkinan bisa diketahui Cuo It Sian atau anak buahnya, sekarang kita sudah memperoleh kembali pedang Bian Hun Kiam ini, lebih baik tidak usah pergi mencari kerepotan lagi."

"Jikalau kita mengubah kembali wayah kita siapa yang bakal mengenal diri kita lagi?"

"Tetapi Cuo It Sian kenal dengan kuda serta anying ini"

Sahut Ti Then. Sambil menuding kearah kuda Ang Shan Khek serta sianying Cian Lie Yen.

"Kalau kita tidak membawanya masuk ke dalam kota bukankah hal ini sudah beres?"

Desak Wi Lian In lebih lanjut.

"Sekali pun dititipkan diluar benteng hal ini juga tidak aman. Bukankah kau tahu sendiri kalau Cuo it Sian mem punyai banyak lumbung padi diluar kota?"

"Hmmmm. Kau terlalu tidak bernyali"

Seru Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.

"Ayahmu beberapa kali memesan wanti-wanti agar usaha kita ini jangan sampai diketahui oleh Cuo it Sian, demi kebaikan lebih baik kita tidak usah melewati kota Tiong Cing Hu saja,"

"Tetapi ayahku sama sekali tidak tahu kalau kita sudah mendapatkan kembali pedang pendek itu, bilamana tidak memberi kabar kepada dia orang tua..."

"Ayahmu pasti tahu"

Potong Ti Then dengan cepatnya.

"Bagaimana bisa jadi?"

Seru Wi Lian In melengak.

"Setelah Cuo It Sian mengetahui dia sudah kehilangan sebelah pedang pendek. Coba kau pikir dia bisa berbuat bagaimana?"

"Pertama-tama dia akan pergi ke mana-mana untuk mencari diri sipencuri tiga tangan Kauw Ban Li."

"Tidak salah,"

Sahut Ti Then membenarkan.

"Tetapi dia tidak tahu sipencuri tiga tangan adalah manusia dari daerah mana, menurut keadaan pada waktu itu dia tidak mungkin bisa pergi mencari diri sipencuri tiga tangan, maka itu akhirnya dia bisa teringat untuk pergi kembali ke Benteng Pek Kiam Po kita."

Dia berhenti sebentar, lalu sambungnya lagi.

"Sewaktu da mengambil keputusan untuk pergi mengadakan penyelidikan di dalam Benteng Pek Kiam Po maka dia tentu akan pergi dulu ke kota Tiong Cing Hu, karena bagaimana pun dia pasti akan lewat dikota tersebut bahkan ada kemungkinan dia harus membawa beberapa orang pembantu..."

"Lalu bagaimana?"

Tanya Wi Lian In.

Setelah dia kembali kekota Tiong Cing Hu maka hal ini pasti akan diketahui oleh ayahmu, sedang ayahmu cukup melihat sedikit perubahan wayahnya saja maka dia bisa tahu kalau kita sudah berhasil mendapatkan hasil, saat itu sudah tentu ayahmu akan langsung kembali ke Benteng dengan sendirinya.

Bilamana Tia ditemukan oleh Cuo It Sian?

Hal itu tidak usah dikuatirkan lagi.

Kepandaian silat dari ayahmu jauh lebih tinggi dari kepandaian Cuo It Sian, sekali pun datang lagi beberapa orang juga tidak bakal bisa menandingi dirinya.

We Lian In temenung berpikir sebentar.

Akhirnya dia mengangguk.

Baiklah kita tidak usah pergi ke kota Tiong Cing Hu.

Sekembalinya ke dalam Benteng.

Kita harus baik-baik menyembunyikan kuda Ang Shan Khek serta anying Cian Li Yen itu kalau tidak bilamana sampai diketahui oleh Cuo It Sian kalau sikuda Ang Shan Khek serta anying Cian Li Yen ada di dalam benteng kami maka dia segera akan tahu kalau Si tikus pembuat lubang Bun In serta si kucing Bun Giok Kiauw yang ditemuinya hari itu dirumah petani adalah kita orang.

Padahal Tia tidak seharusnya merasa takut terhadap dirinya, jikalau dia diharuskan bertempur melawan orang dari benteng Pek Kiam Po kita boleh dikata kepandaiannya masih terpaut sangat jauh sekali.

Serangan terang-terangsan bisa ditangkis, serangan bokongan sukar terhindar, dia tahu bertempur secara terang-terangan tidak bakal menangkan kita sudah tentu dia akan bisa secara sembunyi menculik orang kita.

"Bilamana membicarakan sampai soal ini aku teringat kembali akan satu persoalan,"

Ujar Wi Lian In kemudian.

"Kalau memangnya pedang pendek ini adalah milik Cuo It Sian kenapa ayahku harus merebutnya sedangkan Cuo It San yang tahu pedang tersebut sudah diambil oleh ayahku kenapa dia tidak minta kembali secara terbuka?"

"Di dalam hal ini sudah tentu ada persoalannya. Cuma saja kita tidak tahu"

Ujar Ti Then tertawa.

"Masih ada lagi"

Ujar Wi Lian In lebih lanjut.

"Ayahku mendapatkan pedang pendek itu pasti ada gunanya, tetapi sebelum Cuo It Sian merebut kembali pedang pendeknya itu kenapa Tia sama sekali tidak pernah menggunakan pedang itu untuk melakukan sesuatu pekerjaan."

"Bagaimana kau bisa tahu tidak pernah,"

Bantah Ti Then dengan cepat.

"Selama beberapa tahun ini aku merasa semua pekerjaan yang dilakukan oleh Tia sama sekali tidak ada hubungan dengan pedang pendek tersebut."

"Kali ini kita berhasil mencuri kembali pedang pendek, aku rasa ayahmu pasti bisa menceritakan seluruh kejadian kepada kita."

"Semoga saja demikian."

Pada wajahnya secara tiba-tiba tersungginglah satu senyumam yang kemalu-kemaluan ujarnya.

"Semoga juga setelah urusan selesai kita bisa hidup dengan tenang dan bahagia."

"Benar,"

Sahut Ti Then mengangguk.

"Sejak aku menyabat sebagai Kiauw tauw sampai hari ini belum pernah secara sungguh-sungguh menurunkan pelajaran ilmu silat kepada jago pedang kita, aku rasa hal ini sungguh patut disesalkan."

"Hal ini tidak dapat menyalahkan dirimu, omong terus terang saja selama setengah tahun apabila tidak ada kau maka benteng Pek Kiam Po kita entah sudah berubah jadi bagaimana?"

"Omong sebaliknya,"

Ujar Ti Then sambil tertawa.

"Bilamana tidak ada aku maka hubunganmu dengan Hong Mong Ling tidak bakal retak. Sedangkan benteng Pek Kiam Po-pun tidak bakal terkena serangan dari sianying langit rase bumi, kau tidak boleh menyalahkan orang lain, semua bencana ini akulah yang membawa datang."

"Omong kosong,"

Seru Wi Lian In dengan manyanya.

"Kalau kau berkata demikian, berarti juga kau senang kalau aku kawin dengan Hong Mong Ling manusia jahanam itu?"

"Aku tidak mengartikan demikian...."

"Jikalau kau tidak suka dengan aku omonglah. Terus terang karena Tia ada kemungkinan sudah akan mengambil keputusan."

"Kau marah lagi,"

Seru Ti Then sambil tertawa.

"Sudah tentu aku sangat marah."

Seru Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.

"Kau orang sungguh membingungkan, kau selalu menganggap kaulah yang sudah merusak hubunganku dengan Hong Mong Ling."

"Sudah..... sudahlah, kita tidak usah membicarakan lagi soal ini."

"Bilamana kau sungguh suka padaku maka tidak seharusnya kau merasa sedih dan menyesal dikarenakan persoalan tersebut. Seharusnya kau menganggap kau telah menolong aku loloskan aku dari mulut macan."

Di dalam hati diam-diam Ti Then tertawa pahit.

"Tidak."

Pikirnya di dalam hati.

"Bilamana kau sungguh-sungguh bisa kawin dengan Hong Mong Ling hal itu sungguh bagus sekali dan tidak bakal terjadi urusan apa pun. Tetapi bilamana kau mau kawin dengan aku hal itu benar-benar seperti juga menghantar kau kemulut macan."

Wi Lian In yang melihat dia tidak mengucapkan sepatah kata pun segera memandang dirinya tajam-tajam.

"Lain kali kau tidak akan membicarakan perkataan ini lagi bukan?"

Tanyanya.

"Tidak."

Sahut Ti Then sambil tertawa paksa.

"Aku sebetulnya sedang amat gembira, mendengar perkataanmu itu sekarang aku merasa seluruh perutku jadi kotor dan mual rasanya."

"Baik, siauw-jin memang berdosa dan patut menerima hukuman mati."

Seru Ti Then dengan cepat.

"Hmmm..."

Dengus Wi Lian In, tetapi sebentar kemudian dia sudah tertawa cekikikan. Ti Then-pun tertawa, tapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

"Di dalam hati aku sudah mem punyai perhitungan. Entah kau setuju atau tidak?"

Ujar Wi Lian In kemudian.

"Coba katakanlah."

"Setelah kita kembali ke dalam Benteng dan menyerahkan pedang pendek Bian Hun Kiam itu kepada ayahku, bagaimana kalau kita pergi kekota Tiang An untuk bermain dan sekalian membeli sedikit barang?"

"Setuju,"

Seru Ti Then dengan amat girangnya.

"Cuma saja ada kemungkinan ayahmu tidak setuju. jikalau ayahmu menjetujui kita pergi sudah tentu aku amat setuju sekali."

"Hal ini sukar untuk dikatakan."

"Coba kau bilang Tia ada alasan apa melarang kita pergi?"

"Alasannya ada dua, Pertama kita harus menyaga di dalam benteng untuk bersiap-siap menghadapi serbuan dari Cuo It Sian yang hendak merebut kembali pedangnya, Kedua, haaa... haaaa... sesudah aku bicara kau jangan marah lho."

"Kau bicaralah."

"Hari itu sewaktu ada di dalam kebun bunga di dalam Benteng kau pernah beritahu kepadaku katanya ayahmu bermaksud hendak menjodohkan dirimu kepadaku, maka aku duga setelah kita kembali ke dalam Benteng kemungkinan sekali ayahmu segera mengambil keputusan, dengan demikian kita bukankah tidak bisa pergi?"

"Soal pertama aku tidak berani bicarakan, soal kedua kau tidak perlu kuatir"

Seru Wi Lian In dengan malu lantas dia melototi dirinya dengan gemas.

"Sekali pun ayahku mengumumkan pernikahan kita tetapi belum tentu langsung diadakan perayaannya, dia bisa menunggu sesudah kita kembali dari kota Tiarg An kemudian mencarikan satu hari yang amat bagus."

"Kalau memangnya bisa begitu hal itu amat bagus sekali,"

Ujar Ti Then tersenyum.

"Aku pun sudah kepingin sekali pergi kekota Tiang An untuk menarik uang lima belas laksa itu untuk dibagikan kepada fakir miskin, uang kertas dari Giok Bian Lang-cun itu sudah aku bawa selama berbulan-berbulan lamanya, kalau tidak cepat-cepat diambil mungkin kertasnya akan hancur sendiri."

"Dapatkah kau mengambil sedikit diantara uang itu untuk membelikan satu hadiah buat aku,"

Tanya Wi Lian in sambil tertawa.

"Hal ini boleh saja, cuma saja kau akan menganggap hadiahku sangat tidak berharga."

"Kau punya rencana hendak menghadiahkan aku apa?"

"Jikalau diharuskan menggunakan uang lima belas laksa maka tidak perduli mau beli barang apa pun tidak boleh lebih satu tahil perak."

"Iih..... satu tahil perak?"

Tanya Wi Lian In tertegun.

"Benar satu tahil perak,"

Sahut Ti Then sambil mengangguk.

"Aduuhh... kikir benar kau ini,"

Teriak Wi Lian In dengan amat keras.

"Kalau uang sebesar lima belas laksa ini milikku maka aku boleh menggunakan seluruh uang itu untuk membelikan hadiah buatmu."

"Hmmm, tidak kusangka kau jujur benar,"

Seru Wi Lian In sambil tertawa pahit.

00odwo00 Setelah menempuh perjalanan selama sembilan hari lamanya akhirnya pada siang hari itu juga sampailah mereka di dalam Benteng Pek Kiam Po dalam keadaan selamat.

Shia Pek Tha sekalian yang melihat Wi Lian In pulang bersama-bersama Ti Then jadi merasa terkejut bercampur girang, mereka masing-masing pada mengerubung maju untuk menanyakan bagaimana caranya dia bisa menemukan kembali Ti Then.

Wi Lian In lantas menceritakan apa yang dirasanya boleh dibicarakan, setelah itu baru kembali ke dalam kamarnya.

"Saudara-Saudara sekalian."

Ujar Ti Then kemudian kepada para jago pedang merah yang ada di sana.

"Tentunya kalian ingin mengetahui apa yang telah siauwte kerjakan sewaktu keluar dari Benteng ini bukan? tetapi dikarenakan Pocu sudah pesan wanti-wanti kepada siauw-te untuk jangan membocorkan rahasia ini maka maaf siauw-te tidak dapat menceritakan hal ini kepada saudara sekalian. Satu-Satunya hal yang bisa siauw-te katakan adalah tugas yang diserahkan kepada siauw-te oleh Pocu sudah siauw-te laksanakan dan mencapai hasil yang diinginkan."

"Pocu kita kapan baru bisa kembali ke dalam benteng?"

Tanya Shia Pek Tha kemudian.

"Menurut dugaan siauw te, ada kemungkinan paling lambat sepuluh hari kemudian Pocu baru kembali."

"Pocu kami telah pergi kemana? Dapatkah Ti Kiauw tauw memberitahukan kami?"

Sambung Ki Tong Hong lebih lanjut.

"Tidak bisa,"

Sahut Ti Then sambil tersenyum.

"Karena apabila siauwte mengatakan kemana Pocu sudah pergi berarti pula telah membocorkan rahasia ini."

"Sudahlah... sudahlah,"

Ujar Shia Pek Tha kemudian sambil tertawa lalu menarik tangan Ti Then.

"Tidak perduli Ti Kiauw tauw mendapatkan tugas yang bagaimana pun untuk diselesaikan ditempat luaran. Kali ini dia bisa pulang ke dalam Benteng dalam keadaan selamat kita harus merayakannya, ayoh jalan, kita pergi minum arak."

Malam ini setelah bersama-bersama bersantap malam Ti Then berserta Wi Lian In yang dikarenakan lelah melakukan perjalanan jauh segera bersama kembali ke kamar masing-masing untuk tidur.

Ti Then tahu pada tengah malam nanti patung emas bisa munculkan dirinya.

Tetapi dia yang dikarenakan sudah tidak merasa terperanyat oleh kemisteriusan dari majikan patung emas maka itu tidak sampai memikirkan kembali urusan itu di dalam hati, tidak lama setelah dia naik ke atas pembaringan dia sudah tertidar dengan amat pulas.

Ternyata sedikit pun tidak salah, baru saja lewat kentongan ketiga majikan patung emas sudah munculkan dirinya.

Dengan tanpa mengeluarkan sedikit suara pun dia sudah membuka atap rumah lantas menurunkan patung emasnya kesampng pembaringan Ti Then.

"Ti Then, kau bangunlah"

Seru majikan patung emas dengan mengerahkan ilmu untuk menyampaikan suaranya. Dengan terkejut Ti Then sadar dari pulasnya, sambil menggosok matanya dia bangkit duduk.

"Selamanya tanpa kuundang kau datang sendiri,"

Baca Juga: Sepasang Garuda Putih Kho Ping Hoo

Baca Juga: Cheng Hoa Kiam 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert