Eps 11 Pendekar Patung Emas - Qing Hong
Baca online Pendekar Patung Emas - Qing Hong
Cersil Pendekar Patung Emas - Qing Hong.
Serunya dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara.
"Apanya yang tidak benar?"
Tanya majikan patung emas sambil tertawa.
"Aku baru bisa tidur pulas setelah tiba di dalam benteng, tetapi kau selalu saja tidak membiarkan aku tertidur dengan nyaman dan enak."
"Aku mau tahu selama sebulan ini patung emasku sudah berbuat pekerjaan apa saja ditempat luaran."
"Seharusnya kau telah tahu dengan sendirinya bukan?"
"Apa maksudmu?"
"Apa dia belum pulang?"
"Siapa yang kau maksudkan dengan "dia"?"
"Manusia berkerudung baju biru yang kau kirim untuk mengawasi seluruh gerak gerikku itu."
Agaknya majikan patung emas merasa sangat kaget sekali.
"Kau... kau sudah bertemu dengan dirinya?"
Tanyanya cepat.
"Benar,"
Sahut Ti Then tenang.
"Bahkan kita pernah bercakap-cakap."
"Harus dibunuh, harus dibunuh."
Seru majikan patung emas sambil mendengus dingin.
"Ternyata dia tidak melakukan pekerjaannya sesuai dengan perintahku."
"Kecuali kau perintahkan dirinya untuk mengawasi aku secara diam-diam kau masih perintah dia untuk melakukan pekerjaan apa lagi?"
"Tidak ada,"
Sahut majikan patung emas.
"Aku cuma perintah dia untuk mengawasi seluruh gerak gerikmu secara diam-diam karena aku takut kau sengaja mengulur-ulur waktu dan tidak langsung pergi mencuri pedang itu."
"Sebetulnya dia adalah apamu?"
"Kau tidak tahu?"
"Walau pun kami pernah bercakap-cakap tetapi dia sama sekali tidak membocorkan rahasiamu."
"Kalau begitu bagus sekali."
"Sebenarnya dia adalah apamu?"
Sekali lagi Ti Then bertanya.
"Kau tidak perlu tahu."
Ti Then segera tersenyum.
"Sskali pun kau tidak berbicara kemungkinan sekali aku bisa menebaknya sendiri."
"Sekali lagi aku memberi peringatan kepadamu, jika kau berani menyelidiki sesuatu yang menyangkut diriku, aku tidak akan berlaku sungkan lagi terhadap dirimu."
"Dia adalah putramu?"
Ti Then tidak perduli tetapi bertanya terus.
"Bukan."
"Kalau begitu anak muridmu?"
Majikan patung emas segera menggerakkan patung emasnya dengan gaya hendak menyerang.
"Kau cari mati?"
Tanyanya dengan gusar.
"Sekali pun aku kepingin mati belum tentu kau membiarkan aku mati,"
Seru Ti Then mengejek.
"Kau sudah salah menduga"
Seru majikan patung emas tertawa dingin.
"Aku boleh gagal di dalam rencanaku tetapi aku tidak akan membiarkan kau mengetahui siapakah aku orang."
"Kau tidak berani membiarkan aku tahu, siapakah kau orang tetapi berani membiarkan dia tahu, kalau memang demikian pada waktu semula kenapa kau tidak menyuruh dia mewakili diriku?"
"Ada bermacam-macam persoalan, dia tidak bisa mewakili kau untuk masuk ke dalam Benteng Pek Kiam Po."
"Kelihatannya dia masih amat muda,"
Seru Ti Then membantah.
"Kepandaian silatnya-pun tidak jelek, ada alasan apa dia tidak bisa menggantikan diriku?"
"Alasannya tidak bisa diutarakan keluar."
"Aku tahu,"
Ujar Ti Then kemudian sambil tertawa.
"Wajahnya tentu tidak mendatangkan rasa simpatik dari orang lain, jikalau dia yang disuruh masuk ke dalam Benteng Pek Kiam Po, Wi Lian In tentu tidak suka kepadanya, bukan begitu??"
"Yangan banyak omong lagi,"
Potong majikan patung emas dengan gusar.
"Sekarang aku mau kau beritahu kepadaku, dimana kau sudah menemukan dirinya sedang membuntuti dirimu? apa yang sudah kalian bicarakan??"
"Sebetulnya aku tidak menemukan kalau dia sedang membuntuti diriku, dialah yang munculkan diri dengan sendirinya."
"Kenapa dia mau munculkan dirinya untuk bertemu muka dengan dirimu?"
"Alasannya dia bisa munculkan diri dikarenakan hendak menolong nyawaku, karena sewaktu ada di atas gunung Bu Leng san secara tidak sengaja sudah terjatuh ke tangan sipendekar tangan kiri Ciat Pit Yuan."
"Iiih.... sipendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan bersembunyi di atas gunung Bu Leng san?"
Tanya majikan patung emas dengan sangat terperanyat.
"Benar,"
Sahut Ti Then membenarkan.
"Dia sudah menerima seorang murid yang bernama Kwek Kwan San, guru murid dua orang berdiam di dalam sebuah rumah gubuk di atas gunung tersebut. Waktu itu aku lewat di sana dan bertemu dengan muridnya Kwek Kwan San, semula tidak tahu kalau dia adalah anak murid dari si Cian Pit Yuan itu, sehingga menerima undangannya untuk menginap satu malam di rumah gubuknya."
Segera dia menceritakan semua kejadian yang sudah dialaminya sewaktu ada di dalam rumah gubuk tersebut.
"Demikianlah akhirnya dia munculkan dirinya dan menolong aku untuk membebaskan diri dari totokan jalan darah."
Ujar Ti Then mengakhiri kisahnya. Sehabis mendengar kisahnya itu majikan patung emas baru bisa menghela napas panjang.
"Oooh.... Kiranya demikian,"
Ujarnya.
"Kalau begitu di dalam keadaan seperti itu memang ada keharusan untuk munculkan dirinya untuk menolong dirimu lolos dari bahaya maut, aku tidak bisa menyalahkan dirinya."
"Kemungkinan sekali dia bakal dengan cepat kembali kerumah."
Ujar Ti Then dengan mengambil kesempatan ini.
"Benar....."
Sahut majikan patung emas tanpa terasa. Tapi sebentar kemudian dia sudah merasa kalau dia sudah salah ngomong, cepat-cepat bantahnya.
"Aaaah.... tidak... tidak. Dia tidak mungkin bisa masuk ke dalam Benteng Pek Kiam Po ini."
Mendengar perkataan tersebut diam-diam Ti Then merasa amat geli sekali, pikirnya.
"Perduli kau adalah seekor rase tua berusia ribuan tahun, akhirnya keterlanjur ngomong juga. Hmmm... hmmm.... sekarang aku sudah tahu kalau kau mem punyai seorang anak buah yang menyelinap di dalam Benteng Pek Kiam Po ini."
Walau pun di dalam hatinya dia berpikir demikian tetapi pada mulutnya dia sudah menyawab.
"Kalau begitu bagaimana kalian bisa bertemu dan saling berhubungan berita?"
"Soal ini adalah rahasiaku. Kau tidak perlu tahu."
"Rahasiamu sungguh tidak sedikit,"
Seru Ti Then tertawa.
"Tidak usah banyak omong lagi, sekarang teruskanlah laporanmu."
"Setelah meninggalkan gunung Bu Ling san aku cepat-cepat melakukan perjalanan menuju kegunung Cun san, setelah mengetahui tempat tinggal dari Cu Kiam Lo jin, Kan It Hong adalah di dalam gua naga serta gua macan maka aku segera berangkat menuju kegua naga dan punya maksud untuk mencari dari gua itu terlebih dulu, siapa tahu baru saja memasuki gua tersebut mendadak dari dalam gua sudah berkumandang keluar suara orang yang sedang berbicara...."
Majikan patung emas yang mendengar secara tiba-tiba Cuo It Sian turun tangan membinasakan diri Cu Kiam Lojin dengan amat terperanyatnya dia menjerit kaget.
"Nama besar serta sifat kependekaran Cuo It Sian sudah memenuhi seluruh angkasa dan tersebar luas didalan Bu lim, tidak kusangka sama sekali dia bisa melakukan pekerjaan yang demikian rendahnya, kenapa dia turun tangan membinasakan diri Cu Kiam Lo jin?"
"Dia tidak mengharapkan ada orang yang tahu kalau dia pernah membetulkan pedang ditempatnya Cuo Kiam Lojin. Atau dengan perkataan lain dia tidak ingin orang orang dari Bu lim mengetahui kalau pedang pendeknya itu pernah patah jadi dua bagian."
"Alasannya?"
Tanya majikan patung emas.
"Tidak tahu."
"Ehmmm... kalau dikata mungkin Cuo It Sian pernah menggunakan pedang itu untuk...."
Ujar majikan patung emas setelah termenung berpikir keras, tetapi setelah sampai ditengah jalan dia bungkam sekali. Ti Then yang mendengar dia tidak melanjutkan kembali kata-kata-nya segera bertanya.
"Kenapa?"
"Tidak mengapa."
Sahut majikan patung emas kemudian setelah termenung berpikir keras bsberapa saat lamanya.
"Lalu akhirnya bagaimana?"
"Dia menyeret jenasah dari Cu Kiam Lojin ke dalam gua dan menguburnya. Karena aku sudah memperoleh larangan dari Wi Ci To untuk munculkan diri merampas barang itu, secara diam-diam aku membuntutinya terus dari belakang, aku punya maksud untuk mencari kesempatan yang baik, malam itu setelah dia melakukan perjalanan sejauh lima puluh li, mungkin dikarenakan telah lelah maka akhirnya dia duduk beristirahat di atas tanah tidak lama kemudian mendadak muncul kembali seorang yang melakukan perjalanan malam."
"Siapa?"
Timbrung majikan patuag emas dengan cepat.
"Tahukah kamu orang di dalam Bu lim ada seorang yang bernama sikakek pedang baja Nyio Sam Pak?"
"Tahu,"
Sahut majikan patung emas.
"Nama besar dari sikakek pedang baja Nyio Sam Pak jauh di atas dari Cuo It Sian, apakah orang yang melakukan perjalanan malam itu adalah Nyio Sam Pak?"
"Bukan, orang yang melakukan perjalanan malam itu adalah anak murid dari Nyio Sam Pak yang bernama silang sakti Cau Ci Beng."
Mendengar perkataan tersebut majikan patung emas jadi sangat terperanyat.
"Apakah mereka sudah mengadakan pertemuan ditempat itu?"
"Bukan."
Bantah Ti Then kemudian.
"Si elang sakti Cau Ci Beng cuma lewat ditempat itu saja. Ketika dia menemukan Cuo It Sian ada di sana dia segera berhenti dan memberi hormat, karena dia pun kenal dengan dirinya, kiranya Cuo It Sian dengan suhunya Nyio Sam Pak adalah kawan lama. Menurut apa yang aku dengar, pada waktu yang lalu Cuo It Sian pernah membantu Nyio Sam Pak menghindarkan diri dari suatu bencana, untuk membalas budi itu, Nyio Sam Pak lantas menghadiahkan satu pedang Biat Hun kepadanya, pedang itu adalah pedang yang dibawa Cuo It Sian untuk disambung kembali di rumahnya Cu Kiam Lo jin."
"Kalau demikian adanya rahasia yang menyelubungi pedang pendek itu ada kemungkinan mem punyai sangkut pautnya dengan diri Nyio Sam Pak,"
Ujar majikan patung emas memberikan pendapatnya.
"Aku kira tidak ada."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Demikianlah akhirnya Ti Then menceritakan kembali bagaimana Cuo It Sian membinasakan diri silang rajawali Cau Ci Beng... akhirnya dia menambahkan.
"Ditinyau dari hal ini bilamana pedang pendek Biat Hun itu ada rahasia yang mem punyai sangkut paut dengan diri Nyio Sam Pak tidak seharusnya Cuo It Sian turun tangan membinasakan dirinya."
"Heee.... heee...."
Terdengar majikan patung emas tertawa dingin.
"Di dalam satu hari berturut-turut membinasakan dua orang, hati Cuo It Sian benar-benar amat kejam sekali."
"Dia pernah bergumam seorang diri katanya semua ini adalah Wi Ci To yang memaksa sehingga dia berbuat serong."
"Menurut perkataan yang diucapkan itu aku menduga tentunya dia pernah menggunakan pedang pendek itu untuk melakukan satu urusan yang jahat, sehingga sewaktu Wi Ci To memperoleh pedang tersebut, dia jadi kelabakan dengan sendirinya."
"Soal ini aku pun pernah memikirkannya, tetapi aku rasa tidak mirip....."
"Kalau tidak, apa lagi alasan yang cocok?"
"Aku sendiri juga tidak tahu,"
Ujar Ti Then setelah ditanyakan oleh majikan patung emas itu.
"Aku rasa agaknya Wi Ci To belum sampai memegang semua buktinya, karena menurut perkataan dari Wi Ci To sendiri dia sudah menyimpan potongan pedang itu selama tiga tahun lamanya, jikalau dikata Wi Ci To sudah mencekal satu bukti yang nyata kenapa selama tiga tahun ini dia tetap merahasiakannya?"
"Mungkin Wi Ci To hendak menggunakan kesempatan ini untuk memaksakan sesuatu dengan dirinya, atau kemungkinan juga setelah didesak beberapa kali akhirnya Cuo It Sian jadi nekat dan mengambil tindakan untuk merebut kembali potongan pedang itu."
"Tidak."
"Kau menganggap Wi Ci To tidak bisa melakukan pekerjaan ini?"
Tanya majikan patung emas sambil tertawa.
"Benar,"
Sahut Ti Then singkat.
"Kau tidak merasa Wi Ci To adalah seorang manusia yang amat misterius?"
"Tetapi aku percaya dia adalah seorang yang jujur dan berhati lurus,"
Sambung Ti Then cepat.
"Sudahlah, sekarang lanjutkan laporanmu, secara bagaimana kau bisa mencuri kembali pedang pendek tersebut."
Ti Then-pun segera menceritakan bagaimana disebuah rumah penginapan dikota Hoa Yong Sian secara tidak sengaja dia sudah bertemu dengan Wi Lian In dan bagaimana dengan menggunakan ketajaman penciuman dari sianying Cian Li Yen melakukan kejaran terhadap diri Cuo It Sian dan akhirnya kurang sedikit ketahuan rahasianya sewaktu ada dirumah petani diluar kota Kong An Sian.
Dan paling akhir dia bagaimana menyuruh sipencuri tiga tangan untuk mencuri kembali pedang pendek itu.....
Selesai mendengarkan kisah tersebut majikan patung emas segera tertawa.
"Cuo It Sian dengan membuang banyak akal dan tenaga bersusah payah untuk merebut kembali potongan pedang itu kini tercuri kembali oleh kalian, bilamana dia tahu saking cemasnya mungkin bisa jadi gila dengan sendirinya."
"Aku sama sekali tidak menaruh simpatik kepadanya."
"Lalu pedang Biat Hun Kiam itu apakah sekarang ada dibadanmu?"
Tanya majikan patung emas tiba-tiba.
"Benar."
"Bagaimana kalau diperlihatkan sebentar kepadaku."
"Tapi kau tidak boleh bawa lari lho."
Majikan patung emas tertawa.
"Bilamana aku bermaksud membawa lari bukankah sama saja mendatangkan kerepotan buat diriku sendiri?"
Di dalam hati Ti Then tahu dia benar-benar sangat mengharapkan dirinya bisa memperoleh penghargaan dari Wi Ci To sehingga berhasil mempersunting Wi Lian In sebagai istrinya, karena itu dia tidak mungkin dia mau membawa lari pedang pendek Biat Hun tersebut karena bilamana dia sampai berbuat demikian bukankah sama saja merusak rencana kita sendiri?
Karena itu dia segera melepaskan pedang pendek itu dan diberikan kepada patung emas yang ada di hadapannya tersebut.
Majikan patung emas segera menarik patung emasnya itu ke atas dan melihat sebentar pedang pendek itu.
"Pedang pendek ini kelihatannya biasa saja, tidak ada keistimewaannya apa pun,"
Ujarnya kemudian.
"Benar,"
Sahut Ti Then membenarkan.
"Aku pun tidak bisa melihat adanya satu keistimewaan."
"Tetapi aku benar-benar merasa kagum atas kelihayannya dari Cu Kiam Lojin yang bisa menyambung pedang itu sehingga tidak kelihatan sedikit bekas pun."
"Benar."
Majikan patung emas segera meletakkan pedang pendek itu ke atas pergelangan tangan dari patung emasnya lagi dan mengereknya turun ke bawah.
"Ini terimalah kembali,"
Serunya. Setelah menerima kembali pedangnya, Ti Then lantas berkata lagi.
"Eeei. aku mau pergi tidur, bagaimana kalau malam ini sampai di sini saja??"
"Tidak, aku masih ada perkataan yang hendak ditanyakan kepadamu, kapan Wi Ci To baru kembali?"
"Mungkin sepuluh hari lagi."
Sahut Ti Then dengan cepat.
"Aku dengar perkataan dari para jago yang ada di dalam Benteng katanya Wi Ci To sudah memberikan putrinya kepadamu, maka itu setelah dia pulang ke dalam Benteng dia pasti mengumumkan pernikahan kalian."
"Kalau tidak, kau jangan menyalahkan aku lho."
"Kecuali secara diam-diam kau main setan, kalau tidak pasti berhasil,"
Ujarnya majikan patung emas dengan suara berat.
"Aku tidak sedang main setan, maksudku bilamana sampai terjadi lagi suatu peristiwa kemungkinan sekali Wi Ci To akan menangguhkan perkawinan diantara kita. Hal ini jelas adalah suatu alasan yang betul."
"Setelah pedang pendek itu direbut kembali kau rasa bisa terjadi peristiwa apa lagi?"
Tanya majikan patung emas.
"Hal ini sukar untuk dibicarakan, setelah Cuo It Sian menemukan kalau pedang pendeknya sudah tercuri sudah tentu dia akan menaruh curiga kalau pekerjaan ini pasti hasil perbuatan dari Wi Ci To, maka itu aku menduga Cuo It Sian pasti datang."
"Dia tidak punya bukti. Bagaimana berani datang kebenteng Pek Kiam Po untuk mencari gara-gara?"
"Untuk merebut kembali pedang pendek itu dia sudah membinasakan berpuluh-puluh orang banyaknya. Kau pikir kali ini dia tidak berani memperlihatkan satu permainan setan lagi?"
"Bilamana dia berani datang mencari gara-gara lagi, hal ini berarti pula hendak merusak rencanaku. Saat itu aku tidak akan berlaku sungkan-sungkan lagi terhadap dirinya,"
Ancam majikan patung emas dangan keren.
"Kau ingin berbuat apa?"
"Bunuh dirinya berarti juga membantu Bu lim melenyapkan satu sumber bencana kau setuju bukan kalau aku turun tangan membinasakan dirinya?"
"Aku tidak menolak."
"Bagus sekali,"
Sahut majikan patung emas dengan girang.
"Jika tidak datang yaaa sudahlah, bilamana datang maka aku surah dia tidak dapat kembali kekota Tiong Cing Hu lagi."
Berbicara sampai di sini dia segera menarik patung emasnya ke atas, menutup atap rumah dan lenyap tak berbekas.
Ti Then pun segera jatuhkan diri ke atas pembaringan dan sekali lagi tertidur dengan amat pulasnya.
Tiga hari kemudian sipedang naga emas Wi Ci To sudah kembali ke dalam Benteng Pek Kiam Po.
Begitu sampai di dalam Benteng dengan cepat dia memerintahkan Ti Then untuk menghadap ke dalam kamar bacanya.
"Ti Kiauw tauw, kau berhasil?"
Tanyanya.
"Benar..."
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Untung boanpwe berhasil mencuri kembali pedang Biat Hun ini."
Sambil berkata dia mengambil keluar pedang pendek itu dan diangsurkan ke depan.
Wi Ci To setelah menerima pedang ini lantas dengan telitinya diperiksa sebentar.
Tetapi sebentar kemudian air mukanya berubah sangat hebat.
"Secara bagaimana kau pergi mencuri pedang pendek ini?"
Tanyanya sambil mengangkat kepalanya. Ti Then segera menceritakan seluruh kisahnya dengan amat jelas sekali.... Ketika dilihatnya Wi Ci To sedang mengerutkan alisnya rapat-rapat dia jadi merasa heran.
"Ada apanya yang tidak beres?"
Tanyanya. Wi Ci To tertawa pahit lantas mengangkat pedangnya ke depan.
"Kau sudah tertipu,"
Serunya.
"Tertipu?"
Tanya Ti Then melengak.
"Benar, tetapi hal ini tidak bisa salahkan dirimu..."
"Pedang pendek itu adalah palsu?"
"Benar,"
Sahut Wi Ci To mengangguk.
"Walau pun bentuk serta besar kecilnya persis seperti pedang Biat Hun tersebut tetapi di atas pedangnya tidak terdapat tulisan Biat Hun dua kata."
Ti Then segera merasakan wajahnya amat panas sekali, matanya terbelalak lebar-lebar.
"Apa mungkin tulisan itu sudah jadi lumer sswaktu Cu Kiam Lojin menyambung kembali potongan itu?"
Tanyanya.
"Pasti tidak."
Kening yang dikerut Ti Then semakin mengencang, dengan gemasnya dia berseru.
"Tentulah sipencuri tiga tangan yang sudah main setan dengan aku, dia tidak berani mencopet pedang pendek Cuo It Sian lantas mencarikan satu pedang pendek lalu menipu diriku, bangsat cilik..."
"Tidak benar..."
Potong Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Pasti bukan sipencuri tiga tangan yang main setan, karena dia belum pernah melihat pedang Biat Hun tersebut sehingga tidak mungkin pula baginya untuk pergi mencari sebilah pedang pendek yang persis untuk menipu dirimu."
"Kalau begitu boanpwe yang kena ditipu oleh Cuo It Sian bajingan tua itu?"
Ujarnya Ti Then sambil membelalakan matanya.
"Benar, kemungkinan sekali sewaktu dia mengenal kembali kuda Ang Shan Khek sewaktu ada dirumah petani itu dalam hatinya sudah timbul rasa curiganya, karena itu dia segera menyembunyikan pedang Biat Hun yang asli dan sengaja mencarikan satu yang palsu untuk dibawa dibadannya."
Mendengar penjelasan tersebut Ti Then segera tertawa pahit.
"Bagaimana pun jahe yang tua jauh lebih pedas, boanpwe sama sekali tidak menyangka kalau dia bisa berbuat demikian"
Ujarnya.
"Dia memang benar-benar pinter sekali, sekali ini hampir-hampir saja lohu-pun kena ditipu olehnya."
"Apakah di dalam kota Tiong Cing Hu dia sudah pasang seorang penggantinya??"
"Benar, bagaimana kau bisa tahu?"
Tanya Wi Ci To melengak.
"Hal itu boanpwe ketahui setelah memikirkan dan mencocok-cocokkan semua kejadian yang ada, beberapa bulan yang lalu dikarenakan boanpwe menaruh curiga dialah yang sudah melakukan jual beli dengan Hu Pocu, pernah bersama-bersama dengan Lian In pergi menyambangi dirinya. Dia yang melihat boanpwe menaruh curiga terhadap dirinya dia segera mengeluarkan satu bukti yang amat kuat sekali, dia bilang setiap hari penduduk dikota Tiong Cing Hu melihat dia ada di dalam kota dan minta boanpwe mengadakan penyelidikan, saat itu boanpwe sudah tentu amat percaya." -ooo0dw0ooo-
Jilid 31 IA BERHENTI sebentar untuk tukar napas lalu sambungnya lagi "Dikemudian hari setelah boanpwe benar-benar yakin dialah yang membinasakan diri Hong Mong Ling maka di dalam pikiranku segera berkelebat satu ingatan.
Boanpwe merasa pastilah ada seseorang yang menyamar sebagai dirinya dan setiap hari ada dirumahnya dikota Tiong Cing Hu untuk melindungi seluruh gerak geriknya, kali ini dia pergi ke tempat Cu Kiam Lojin untuk membetulkan pedangnya bahkan mem punyai maksud untuk membunuhnya pula, sudah tentu dia menyuruh orang yang menyamar sebagai dirinya itu untuk setiap hari berlalu lalang di dalam kota Tiong Cing Hu agar semua orang melihatnya, dikemudian hari apabila ada orang yang menaruh curiga terhadap dirinya dan menudub dialah yang sudah membunuh Cu Kiam Lojin maka saat itulah dia akan meminta penduduk disekitar kota Tiong Cing Hu untuk bertindak sebagai saksi kalau dia orang sama sekali belum pernah meninggalkan kota Tiong Cing Hu barang setapak pun."
"Memang demikian adanya "
Sahut Wi Ci To sambil mengangguk.
"Kali ini Lohu pergi kekota Tiong Cing Hu setiap hari bisa melihat dia pergi main catur di dalam sebuah rumah penyual teh, selama itu Lohu selalu tidak mengetahui kalau dia adalah Cuo It Sian palsu, sampai pada tengah malam suatu hari di sana untuk keempat kalinya Lohu masuk ke dalam rumahnya untuk mencuri pedang pendek itu mendadak Lohu sudah menemukan ada dua orang Cuo It Sian muncul di tanah lapangan halaman belakangnya saat itulah Lohu baru tahu dia orang sebenarnya punya seseorang yang sengaja menyamar sebagai dirinya .."
"Waktu itu apakah pocu tidak mendengar dia membicarakan soal dia orang sudah menggunakan sebilah pedang pendek yang lain ditukar dengan pedang Biat hun Kiam yang asli?"
Tanya Ti Then kemudian.
"Tidak!"
Sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya."
Hal itu boleh dikata adalah kesalahan Lohu sendiri yang terlalu bernapsu dan gegabah, ketika Lohu mendengar Cuo It Sian mengatakan "Sudah dicuri dikota Hok Hong Sian"
Maka di dalam anggapanku kau sudah berhasil mendapatkannya. karena itu secara diam-diam aku sudah mengundurkan diri dari sana, dan tidak melanyutkan mencuri dengar pembicaraan mereka."
"Lalu seharusnya bagaimana baiknya ?"
Wi Ci To termenung berpikir sebentar mendadak sambil menengok kearah depan pintu ujarnya .
"Lian In, kau masuklah!"
Mendengar perkataan tersebut Ti Then jadi melengak, tetapi sebentar kemudian dia sudah tertawa.
"Aaaaah ..... kiranya Lian In sedang mencuri dengar diluar kamar .."
Tampak pintu kamar dengan perlahan-lahan didorong ke dalam kemudian tampaklah Wi Lian In dengan wajah yang masih diliputi oleh rasa malu berjalan masuk ke dalam kamar baca itu.
"Tia."
Serunya malu.
"Pendengaranmu sungguh tajam sekali, aku baru saja samppai ditempat ini."
"Kalau begitu orang yang mencuri dengar diluar kamar sejak tadi tentunya bukan kau orang melainkan budak setan lainnya,"
Ujar Wi Ci To sambil tertawa gemas. Ait muka Wi Lian In seketika itu juga berubah memerah.
"Hmm."
Dengusnya.
"Tia sungguh pintar sekali memaki orang dengan jalan berputar, aku tidak cuma berdiri sebentar saja diluar kamar."
"Apa yang aku bicarakan dengan Kiauwtauw kau sudah mendengar semuanya, sekarang aku mau bertanya kepadamuo kau punya akal apa yang baik?"
Ujar Wi Ci To sambil tertawa.
"Hal ini harus melihat maksud hati dari Tia, jikalau Tia sudah mengambil keputusan untuk merebut kembali pedang Biat Hun Kiam itu maka aku bsserta Ti Kiauw tauw terpaksa harus pergi mencuri lagi"
"Sudah tenta lohu punya maksud hati untuk merebut kembali pedang pendek itu. Cuma saja jikalau kita tidak mencarikan satu akal yang bagus rasanya tidak akan mudah mendapatkan hasil."
Tiba-tiba tampak Ti Then bangkit berdiri dan berjalan menuju ke pintu kamar untuk menengok sebentar keadaan ditempat luaran, setelah dilihatnya tidak ada jagoan pedang dari Benteng yang berada disekeliling tempat itu dia baru berputar kembali dan berkata dengan suara yang amat lirih sekali .
"Boanpwe punya satu akal, cuma saja tidak dapat dibicarakan secara terus terang"
"Coba kau katakanlah,"
Ujar Wi Ci To sambil memandang tajam wajahnya. Ti Then segera maju satu langkah mendekati badannya lantas bungkukkan badannya membisikkan sesuatu ketelinganya, akhirnya dia menambahkan .
"Pocu rasa bagaimana dengan siasat ini?"
Air muka Wi Ci To segera memperlihatkan rasa girangnya, dengan cepat dia mengangguk.
"Siasat ini bagus sekali, kita boleh coba... , Coba ... kita boleh coba-Coba!"
Serunya.
"Cuma saja tidak tahu bagaimana dengan perawakan badannya?"
"Lohu sendiri pun sudah ada tujuh, delapan tahun lamanya tidak pernah bertemu dengan dirinya, bagaimana perawakan badannya lohu sendiri juga tidak begitu jelas, tetapi bagaiamana pun kita harus pergi melihatnya pula, sampai waktunya kita mengambil keputusan kembali."
"Eeeei....sebetulnya ada urusan apa?"
Tanya Wi Lian In tidak sabaran lagi.
"Lian In!"
Ujar Wi Ci To tersenyum dan menoleh kearah putrinya.
"Siasat dari Ti Kiauw-tauw yang begitu baik untuk mencuri kembali pedang itu, untuk kali ini terpaksa kau tidak boleh mengikutinya."
"Asalkan aku mengetahui alasan yang melarang aku ikut pergi sudah tentu aku tidak akan pergi !"
Seru Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.
"Sudah tentu mem punyai alasan yang tidak memperbolehkan kau ikut, bilamana kali ini kau tetap ngotot untuk ikut maka semua siasat dari Ti Kiauw tauw tidak bisa dijalankan lagi."
Wi Lian In segera kirim satu kerlingan mata yang amat gemas terhadap diri Ti Then tanyanya dengan wajah yang penuh rasa tidak senang.
"Apa tokh sebetulnya siasat yang kau usulkan itu?"
"Bila kau menyanggupi untuk tidak ikut pergi maka aku baru beritahu kepadamu"
Sahut Ti Then tersenyum.
"Kau tidak mau bicara juga tidak mengapa"
Teriak Wi Lian In semakin tidak senang.
"Pokoknya aku masih punya seekor anying Cian Li Yen untuk membuntuti dirimu."
Mendadak air muka Wi Ci To berubah jadi amat keren sekali.
"Kali ini jikalau kau menggunakan anying Cian Li Yen untuk membuntuti lohu serta Ti Kiauw tauw lagi maka aku tidak akan mengakui sebagai putriku lagi."
Wi Lian In yang melihat ayahnya berbicara dengan demikian serius dan keren tidak terasa lagi dia jadi bergidik.
"Tia, kau hendak pergi bersama-sama dengan Ti Kiauw-tauw ?"
Tanyanya terperanyat.
"Benar, kami mau pergi menyambangi seseorang kemudian baru pergi kekota Tiong Cing Hu untuk mencuri pedang."
"Mau menyambangi siapa ?"
Tanya Wi Lian In lebih lanjut.
"Kau kemarilah, aku akan memberitahukan siasat dari Ti Kiauwtauw itu."
Wi Lian In segera berjalan mendekati ayahnya. Wi Ci To pun lantas memberitahukan siasat dari Ti Then itu dengan suara yang amat lirih. Selesai mendengar Wi Lian In mengangguk.
"Kira-kira harus membutuhkan beberapa lama?"
Tanyanya.
"Paling cepat juga satu setengah bulan,"
Sahut Wi Ci To setelah berpikir sebentar.
"Aku setuju tidak ikut pergi, tetapi tentunya aku boleb pergi ketempat lain untuk jalan-jalan bukan ?"
"Kau ingin pergi kemana?"
"Tiang An"
"Mau berbuat apa?"
"Aku sudah sebesar begini tetapi selamanya belum pernah pergi kekota Tiang An, aku ingin mencari pengalaman sekalian membeli barang aku dengar katanya barang yang ada di-ibu kota jauh lebih baik dari barang-barang di kota lain."
"Kalau mau main, kesempatan di kemudian hari masih amat banyak"
Ujar Wi Ci To tertawa.
"Sedangkan mengenai pembelian barang, jikalau barang itu adalah keperluan untuk perkawinanmu nanti, kau boleh berlega hati aku bisa kirim orang untuk pergi beli barang-barang tersebut buatmu."
Air muka Wi Lian In segera berubah memerah sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah ujarnya.
"Siapa yang mau pergi beli barang keperluan kawin, aku cuma ingin membeli sedikit barang saja."
"Tidak perduli kau hendak membeli barang apa pun sebelum lohu berhasil merebut kembali pedang pendek Biat Hun Kiam itu kau dilarang meninggalkan benteng seorang diri, jikalau kau tidak mau mendengar omonganku maka aku tidak akan menyayangi dirimu."
Wi Lian In segera mencibirkan bibirnya.
"Tia, kau takut aku terjatuh kembali ke tangannya Cuo It Sian bajingan tua itu?"
"Benar."
"Soal ini sebetulnya Tia tidak perlu kuatir, perjalanan putrimu kali ini menuju kekota Tiang An adalah . .."
Medadak Wi Ci To ulapkan tangannya memotong pembicaraan selanjutnya.
"Biarlah lohu beritahu satu persoalan lagi kepadamu.."
Sehabis berkata dia menarik dirinya ke samping badannya lalu membisikkan sesuatu perkataan kepadanya.
Selesai mendengar perkataan tersebut air muka Wi Lian In segera berubah merah padam, dengan rasa amat malu sekali dia menutupi wajahnya sendiri.
"Tidak, aku tidak mau."
Dengan menundukkan kepalanya dia lari keluar dari kamar baca tersebut.
Wi Ci To segera tertawa terbahak-bahak.
Ti Then yang melihat perubahan wajah antara ayah beranak itu dia segera mengetahui tentunya Wi Ci To sudah mengatakan sesuatu kepada putrinya, sehingga membuat dia merasa malu sekali.
"Pocu, kau orang tua memberitahukan soal apa kepadanya ?"
Tanyanya sambil tertawa paksa.
"Lohu beritahu kepadanya, bilamana dia tidak baik-baik tinggal di dalam Benteng maka aku tidak akan membiarkan dia kawin"
Ti Then segera tersenyum, lalu dengan cepat mengalihkan bahan pembicaraannya.
"Pocu punya rencana berangkat kapan ?"
"Bagaimana kalau besok pagi ?"
"Boanpwe ikuti saja keputusan dari Pocu."
"Kalau begitu kita berangkat besok pagi saja."
"Baikiah,"
Ujar Ti Then sambil merangkap tangannya menjura.
"Pocu silahkan beristirahat, boanpwe ...."
"Ti Kiauw-tauw, silahkan duduk lagi"
Tiba-tiba Wi Ci To mengulap tangannya memutuskan perkataan selanjutnya.
"Lohu masih ada perkataan yang hendak dibicarakan dengan dirimu."
Terpaksa Ti Then duduk kembali.
"Pocu ada petunjuk apa?"
Tanyanya. Dengan sinar mata yang amat tajam Wi Ci To memperhatikan wajahnya, dia tersenyum.
"Ada satu persoalan yang selama ini Lohu belum pernah menanyakan kepadamu, pernahkah kau kawin?"
Tanyanya.
"Belum"
Sahut Ti Then dengan hati berdebar-debar amat keras sekali.
"Kalau begitu bagus sekali"
Seru Wi Ci To kegirangan.
"Aku mau tanya satu persolan lagi, bagaimana pandanganmu terhadap putriku itu?"
Wajah Ti Then segera berubah jadi merah padam seperti kepiting rebus saking malunya.
"Lian In ba ... bagus sekali,"
Sahutnya sambil tertawa malu-malu.
"Selama hidupku lohu cuma mem punyai seorang putri dia saja, maka itu rasa sayangku kepadanya amat berlebih-lebihan, tetapi jika dilihat dari tindak tanduknya sifatnya boleh dikata tidak jelek."
"Benar, benar .."
"Bilamana Ti Kiauw-tauw tidak menampik, bagaimana kalau Lohu jodohkan saja kepadamu"
"Boanpwe tidak becus di dalam sega1a-galanya, mungkin tidak memadai untuk mendapatkan diri Lian In,"
Sahut Ti Then sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Ti Kiauw tauw tidak usab terlalu merendahkan diri, pemuda yang demikian baiknya seperti dirimu boleh dikata selama hidupku lohu baru untuk pertama kali menemuinya maka bilamana kita bicarakan memadai atau tidak seharusnyalah putrikulah yang tidak memadai,"
"Tidak berani, pocu terlalu memuji."
"Bilamana kau mem punyai perhatian khusus terhadap putriku maka setelah berhasil mencuri pedang pendek itu, lohu segera akan menguruskan perkawinan kalian, tetapi bila kau tidak punya perhatian juga tidak mengapa, bagaimana?"
"Pocu bisa memandang tinggi boanpwe . boanpwe merasa sangat berterima kasih sekali,"
Seru Ti Then dengan gugup.
"Cuma saja , , Cuma saja . ,"
"Cuma saja bagaimana?"
"Cuma saja boanpwe bisa jadi seorang Kiauw tauw yang baik tetapi belum tentu bisa jadi seoraog menantu yang baik"
Mendengar perkataan tersebut Wi Ci To segera tertawa "Soal ini Lohu tidak akan merasa kuatir, omong terus terang saja Lohu sudah memperhatikan dirimu lama sekali, terhadap seluruh tindak tandukmu lohu boleh dikata sudah mengetahui amat jelas sekali."
"Tapi boanpwe merasa...merasa boanpwe bukanlah ..bukanlah seorang manusia baik"
Seru Ti Then tertawa pahit.
"Tidak"
Seru Wi Ci To dengan tegas.
"Kau adalah seorang pemuda yang amat bagus dan berhati jujur, walau pun dalam hatimu ada kemungkinan sudah tersembunyi satu rahasia yang tidak dapat diberitahukan kepada orang lain tetap! tidak perduli apakah rahasia itu lohu berani memastikan kalau kau adalah seorang manusia yang dapat dipercaya."
Dalam hati Ti Then merasa semakin menyesal lagi.
"Dugaan dari Pocu sedikit pun tidak salah, Boanpwe mem punyai suatu rahasia yang tidak dapat diberitahukan kepada orang lain .."
Serunya terharu. Wi Ci To segera goyangkan tangannya mencegah dia orang untuk melanjutkan kembali perkataannya.
"Kalau memangnya tidak boleh diberitahukan kepada orang lain lebih baik tidak usah dibicarakan lagi"
Ujarnya sambil tertawa ramah.
"Lebih baik sekarang kita bicarakan soal perkawinan saja, bilamana tidak setuju maka Lohu tetap adalah Pocu-mu sedangkan kau pun tetap merupakan Kiauw-tauw diri Lohu,"
Sampai keadaan seperti ini boleh dikata situasi dari Ti Then seperti naik di atas pungguag macan mau turun pun tidak sanggup lagi.
Terpaksa dia menigggalkan tempat duduknya dan jatuhkan diri berlutut dihadapas Wi Ci To lantas menyalankan penghormatannya.
"Gakhu, ada dia di atas, terimalah satu penghormatannya."
Wi Ci To benar-benar merasa sangat girang sekali, dengan cepat dia ulur tangannya membimbing dia bangun kemudian tertawa terbahak-bahak dengan amat kerasnya.
"Haaa , . ha. bagus sekali. lain kali setelah kembali ke dalam Benteng lohu pasti akan mencarikan satu hari yang bagus untuk kawinkan diri kalian."
Ti Then segera bangkit berdiri, tangannya dilurus ke bawah dan berdiri tidak bergerak, dia tidak tahu haruskah hatinya merasa murung atau girang, keadaannya amat mengenaskan sekali.
"Satu-satunya syarat yang harus kau terima adalah setelah kau kawin dengan putriku maka kalian harus tetap tinggal di dalam benteng, dan kau pun tetap menyabat sebagai Kiauw tauw dari Benteng Pek Kiam Po"
Sambung Wi Ci To lagi sambil tertawa.
"Baik"
"Kau punya usul lain?"
Tanya Wi Ci To lagi.
"Tidak ada"
"Kalau begitu sekarang kau boleh kabarkan berita bagus ini kepada Wi Lian In bersamaan pula peringatkan kepadanya untuk jangan meninggalkan benteng setelah kita pergi, jika kau yang mengatakannya dia malah mau mendengar, pergilah!"
Ti Then segera menyahut dan mengundurkan diri dari kamar baca itu setelah menyalankan penghormatan kembali.
Setelah itu dia baru berjalan menuju kamar Wi Lian In.
Sesampainya di depan kamar Wi Lian In tampaklah pada waktu itu si budak Cun Lan sedang berjalan keluar dari dalam ruangan.
Dia segera menghentikan langkah kakinya.
"Siocia ada di kamar?"
Tanyanya.
"Ada,"
Sahut Cun Lan singkat.
"Tolong panggil dia keluar."
"Ti Kiauw tauw kenapa kau tidak mau masuk sendiri ke dalam?"
Ujar Cun Lan sambil tertawa.
"Aaa ... aku . aku boleh masuk ?"
Tanya Ti Then malu-malu.
"Sudah tentu boleh."
Sahut Cun Lan sambil tertawa geli.
Selesai berkata bukannya masuk ke dalam kamar untuk melapor sebaliknya malah lari keluar.
Ti Then tak dapat berbuat apa-apa lagi terpaksa dia melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam kamar.
"Lian In . , , , Lian In , ,"
Teriaknya berulang kali.
"Siapa ?"
Suara dari Wi Lian In berkumandang keluar dari dalam kamar, jika didengar dari nada suaranya jelas membawa serta tertawa yang ditahan-tahan agaknya dia sudah tahu Ti Then yang datang tetapi sengaja bcr pura-pura tolol.
"Aku"
Sahut Ti Then sambil menghentikan langkah kakinya.
"Siapa kau?"
Tanya Wi Lian In lagi tetap tidak munculkan dirinya.
"Si tikus membuat lubang Bun Ih"
Sahut Ti Then tertawa.
"Kau hendak cari siapa ?"
"Mau cari calon istriku . ."
"Siapa calon isterimu itu ?"
"Wi Lian In"
"Sungguh besar nyalimu, jikalau didengar Tia mulutmu tentu akan ditampar sampai keluar darah,"
"Aku tidak takut, aku memangnya mendapat peritah dari ayahmu sengaja datang mencari calon istriku."
Ketika Wi Lian In mendengar perkataannya yang terakhir ini bagaikan segulung angin kencang dengan cepatnya berlari keluar, jelas sekali kelihatan biji matanya yang jeli mengandung rasa girang yang bukan alang kepalang.
"Kau . .kau bilang apa?"
Tanyanya girang bercampur malu-"Aku mendapat perintah dari Gakhu dia orang tua untuk datang kemari mencari calon istriku."
Seru Ti Then sambil menepuk dadanya sendiri. Di hadapan Ti Then, Wi Lian In tidak merasa malu lagi seperti sewaktu ada di hadapan ayahnya, mendengar perkataan ini dia segera menarik tangan Ti Then.
"Tia bilang apa?"
"Dia orang tua tanya aku maukah mengawini dirimu sebagai isteriny, bilaman mau maka dia menyuruh aku berlutut dan menyalankan penghormatan besar kepadanya "
"Lalu kau sudah jalankan?"
Tanya Wi Lian In dengan sangat cemas.
"Sudah,"
Sahut Ti Then mengangguk. Wi Lian In jadi amat girang sekali.
"Lalu bagaimana?"
Tanyanya cepat.
"Dia bilang setelah kita berhasil mendapatkan pedang pendek itu maka dia akan mengawinkan kita berdua, tetapi ada satu syarat."
"Syarat apa?"
"Sebelum kita balik kembali ke dalam Benteng kau dilarang meninggalkan Benteng, kalau berani melanggar batal."
"Aku tidak pergi sudahlab, buat apa kau membicarakan soal itu demikian seriusnya"
Seru Wi Lian In sambil tertawa.
"Kau adalah putri kesayangan dari ayahmu, kau tidak boleh membuat dia merasa kuatir, begitulah tindakan seoraag anak yang berbakti kepada orang tuanya."
Wi Lian In segera mengangguk.
"Aku bersumpah tidak akan keluar pintu benteng barang selangkah pun,"
Serunya kemudian.
"Jika di dalam Benteng kau merasa megganggur bolehlah kau bantu aku membuatkan beberapa stel pakaian, sekarang apa pun aku tidak punya sampai waktunya kswin kalau diharuskan memakai baju yang kuno dan jelek bukankah akan menggelikan para tamu saja?"
"Baiklah,"
Sahut Wi Lian In sambil mengangguk berulang kali.
"Aku bisa pergi ke dalam kota untuk membeli bahan kain yang paling bagus untuk membuatkan tiga lima stel pakaian buat dirimu, ada lainnya?"
"Tidak ada"
"Kapan kau berangkat?"
"Besok pagi."
Wi Lian In yang mendengar kekasihnya hendak berangkat meninggalkan dirinya Begitu cepat jelas dari air mukanya memperlihatkan rasa keberatannya.
"Aku ada banyak persoalan yang hendak dibicarakan dengan dirimu, bagaimana kalau kita duduk-duduk di dalam kebun burga?"
Tanyanya.
"Baiklah."
Sesampainya di dalam kebun bunga akhirnya Wi Lian In tidak berbicara terlalu banyak, mereka berdua dengan berdiam diri saling berpelukan dengan mesranya.
Malam itu sehabis bersantap malam Wi Ci To mengumpulkan semua jago pedang merah yang ada di dalam Benteng dan mengumumkan kalau besok bendak keluar Benteng bersama-sama dengan Ti Then untuk membereskan satu urusan sesudah memesan wanti-wanti dan menyerahkan seluruh pekerjaan yang ada di dalam Benteng kepada anak muridnya dia membubarkan semua orang dan mengundurkan diri ke kamar untuk beristirahat.
Ti Then pun kembali ke dalam kamarnya sendiri, si pelayan tua Locia dengan matanya yang sipit berjalan masuk ke dalam kamar membawa seteko air teh panas.
"Ti Kiauw tauw, aku dengar kau hendak keluar benteng lagi?"
Tanyanya.
"Tidak salah, besok harus berangkat."
"Kali ini kau hendak pergi kemana?"
"Rahasia ini tidak boleh dibocorkan."
"Aku budak tua masih mendengar satu berita bagus lagi, berita baik ini tentunya Ti Kiauw-tauw boleh membocorkannya bukan?"
"Berita baik apa?"
Tanya Ti Then pura-pura bodoh-Si Locia segera tertawa haa haa hi hi.
"Aku dengar katanya Pocu telah menjodohkan sio-cia kepadamu, bukan begitu?"
"Kau dengar berita ini dari siapa?"
Tanya Ti Then sambil tertawa tawar.
"Semua jago pedang yang ada di dalam benteng sudah pada tahu."
"Mereka dengar dari siapa?"
"Katanya Sio-cia memberitahukan soal ini kepada Cun Lan, dan Cun Lan lah yang membocorkan ke tempat luaran." 'Hmmm! budak itu memang sangat cerewet sekali!"
Si Lo-cia segera tertawa.
"Peristiwa yang patut digirangkan oleh siapa pun ini, kenapa Ti Kiauw-tauw mengelabuhi kita juga ?"
Ujarnya.
"Teringat akulah yang merusak hubungan perkawinan antara dirinya dengan Hong Mong Ling aku merasa sedikit tidak enak"
Senyuman yang menghiasi bibir Lo-cia segera lenyap tak berbekas diganti dengan satu wajah yang serius.
"Ti Kiauw-tauw bagaimana bisa berkata demikian ?"
Ujarnya keras.
"Bangsat cilik itu sudah terpikat oleh kecantikan wajah seorang pelacur rendahan hal ini sudah merupakan satu persoalan yang amat memalukan sekali, bagaimana kau bisa berkata dirimulah yang telah menghancurkan ikatan perkawinan mereka ?"
"Jago-jago pedang yang ada di dalam Benteng setelah mendengar berita ini, bagaimana tanggapan mereka.?"
"Semuanya setuju, mereka menganggap sio-cia memang paling pantas kalau dijodohkan dengan diri Ti Kiauw-tauw!"
Sahut Si Lo-cia dengan cepat.
"Tidak ada seorang pun yang merasa tidak setuju ?"
"Tidak ada! Tidak ada !"
Sahut Lo-cia dengan cepat gelengkan kepalanya.
"Baiklah, Lo-cia, kau kembalilah ke kamarmu untuk beristirahat aku pun mau pergi tidur."
"Baik .... baik ..."
Sahut Lo-cia tertawa lalu bungkukan badannya memberi hormat.
"Ti Kiauw-tauw pun. silahkan beristirahat"
Sehabis berkata dia segera mengundurkan diri dari sana.
Ti Then berjalan mendekati depan jendela, setelah mendengar Lo-cia telah kembali ke kamarnya sendiri dia baru mengambil lampu dan mengetuk di depan jendela tiga kali, selesai memadamkan lampu dia baru naik ke atas pembaringan untuk tidur.
Dia berbaring di atas pembaringan tidak bergerak sedikit pun, tetapi dalam hati dia merasa pikirannya amat tajam sekali, bahkan benar-benar membingungkan hatinya.
Wi Ci To mengatakan pedang pendek itu adalah palsu walau pun hal ini berada diluar dugaannya semula tetapi dia merasa sangat gembira sekali, karena dengan demikian dia bisa melarikan diri lagi dari waktu yang sudah ditetapkan, dia tidak takut untuk dikawinkan cepat-cepat dengan Wi Lian In tetapi di hadapan Wi Ci To sudah bilang mau menjodohkan putrinya kepadanya, hal ini membuat harapannya jadi musnah!
Dia selalu mengharapkan Wi Ci To bisa menghapuskan maksud hatinya ini.
Sekarang akhirnya datang juga kenyataan tersebut.
"Siasat serta rencana"
Yang disusun oleh majikan patung emas akhirnya jadi kenyataan juga, setelah lewat satu setengah bulan kemudian dia bakal jadi suami istri dengan Wi Lian In.
Sewaktu dia sudah jadi suami dari Wi Lian In maka majikan patung emas bisa memerintahkan perintahnya yang kedua, apakah perintahnya itu?
Mencuri sebuah barang dari Wi Ci To yang sama sekali Tidak berharga"
"Benar !"
Majikan patung emas berkata demikian, tetapi perkataan ini tidak tentu benar, jikalau apa yang diminta majikan patung emas adalah semacam barang yang sama sekali "Tidak berharga"
Kenapa dia tidak memintanya sscara terbuka kepada diri Wi Ci To ?
Sebaliknya menyusun rencana yang demikian ruwetnya untuk menyalankan maksudnya itu?
Maka itu satu-satunya kesimpulan yang bisa diambil olehnya adalah .
Barang yang diminta majikan patung emas itu tentulah barang yang paling disayang dan paling disenangi oleh Wi Ci To!
Kalau memangnya barang itu adalah barang yang paling disayangi oleh Wi Ci To jikalau dirinya mengikuti perinlah dari majikan patung emas dan mencuri barang tersebut bukankah dengan demikian sudah membuat dosa terhadap mertuanya Wi Ci To?
merasa berdosa dengan istrinya Wi Lian In?
Berdosa terhadap Wi Ci To masih tidak begitu memberatkan, tetapi kalau berdosa terhadap Wi Lian In hal ini merupakan satu kesalahan yang maha besar bagaimana aku boleh merusak kebahagian dari seorang nona!
Satu-satunyanya jalan adalah segera meninggalkan benteng Pek Kiam Po, tidak lagi menjadi patung emasnya majikan patung emas, tetapi dengan demikian majikan patung emas pasti tidak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja, Kalau dirinya mati memang sama sekali tidak perlu disayangkan, tetapi bagaimana dengan kerugian yang diderita oleh Yuan Lociaopwe gara-gara dirinya?
Teringat akan diri "Yuan Locianpwe" ....
orang tua penjual silat itu ...
hatinya semakin merasa seperti diiris-iris, sangat menderita sekali, karenanya sekali pun sudah bolak-balik lama sekali dia tidak bisa tidur juga.
Kurang lebih mendekati kentongan ketiga itulah dia baru dengan perlahan tertidur dengan pulasnya.
Tetapi pada saat itu juga mendadak terdengar suara dari majikan patung emas berkumandang masuk ke dalam telinganya.
"Ti Then, ada urusan apa kau mencari aku?"
Tanyanya. Ti Then segera membuka matanya kembali, tampak majikan patung emas sudah menurunkan patung emasnya ke samping pembaringannya, dia segera bangun duduk.
"Apa kau tidak mendengar sedikit berita pun?"
Tanya Ti Then dengan mengerahkan ilmu untuk menyampaikan suara pula.
"Aku cuma tahu Wi Ci To sudah pulang, lainnya sama sekali tidak tahu,"
"Kalau begitu sekarang aku mau beritahu kepadamu satu berita baik dan satu berita jelek, harap setelah kau mendengar berita baik itu jangan kelewat girang dan setelah mendengar berita jelek jangan kelewat marah."
"Hmmmm!"
Dengus majikan patung emas dengan dingin.
"Kau bangsat cilik pinter juga putar-putar dulu kalau bicara. cepat katakanlah!"
"Aku beritahu dulu berita jelek ... besok pagi aku mau meninggalkan Benteng Pek Kiam Po lagi"
"Mau apa ? tanya majikan patung emas cepat, Ti Then tidak menyawab melainkan melanjutkan kembali kata-katanya "Wi Ci To minta aku pergi bersama-sama dirinya, paling cepat satu setengah bulam kemudian baru pulang."
"Mau apa?"
Desak majikan patung emas lebih lanjut.
"Cari pedang."
"Eehmm?"
"Pergi ke kota Tiong Cing Hu untuk mencuri pedang pendek Biat hun Kiam milik Cuo it Sian itu lagi !"
"Hmm ! apakah Cuo It Sian mem punyai pedang pendek Biat Hun Kiam yang kedua ?"
"Tidak ada, dia cuma ada sebilah saja."
"Kalau memang cumanya sebilah, bukankah pedang tersebut sudah kau curi kembali?"
"Tidak, aku sudah kena tertipu oleh siasatnya Cuo It Sisn, pedang yang aku curi pulang bukanlah pedang pendek Biat Hun Kiam yang sebenarnya."
"Bagaimana bisa terjadi ?"
"Cuo It Siaii menduga tentu kami bisa berusaha uatuk mencuri kembali pedang pendek itu maka dia menyembunyikan pedang Biat Hun Kiam yang asli sebaliknya membawa satu pedang tiruan yang persis seperti Biat Hun Kiam di dalam badannya, kami tidak menduga dia bisa berbuat demikian-karenanya sudah tertipu."
"Wi Ci To yang memecahkan rahasla ini ?"
"Benar."
"Kalian bakal mencuri kembali pedang Biat Hun Kiam asli dengan menggunai cara apa ?"
"Wi Ci To bilang setelah sampai di kota Tiong Cing Hu baru mencari akal lagi..."
Sahut Ti Then dengan cepat.
"Harus membutuhkan satu setengah bulan lamanya ?"
"Benar, kau tahu Cuo It Sian adalah seorang rase tua yang amat licik, dia tidak akan menyembunyikan pedang-pendek Biat Hun Kiam itu di suatu tempat yang mudah dicuri orang lain."
"Hmmm ! sungguh banyak urusan yang terjadi !"
"Sekarang aku mau memberitahu satu berita yang baik, ini hari Wi Ci To sudah menjodohkan Wi Lian In kepadaku"
"Dia bicara bagaimana ?"
"Dia tanya kepadaku maukah aku memperistri putrinya, jikalau aku mau maka aku disuruh menyalankan upacara penghormatan terlebih dulu maka aku melaksanakan permintaannya itu."
"Dia bilang kapan baru melaksanakan perkawinan kalian?"
"Sudah tentu setelah berhasil mencuri pedang pendek Biat Hun Kiam dan kembali ke dalam Benteng"
"Apakah dia tidak mengucapkan syarat apa?"
"Ada, dia minta aku tetap tinggal di dalam Benteag Pek Kiam Po dan melanjutkan menyabat sebagai Kiauw-tauw, dan aku sudah setuju."
"Soal ini sedikit pun tidak jelek"
"Apa yang kau rencanakan sudah bakal jadi kenyataan bukan?"
Sindir Ti Then.
"Ehmm ..."
"Sekarang kau beleh beritahu apa tujuanmu yang sebenarnya?"
"Tidak dapat."
"Lebih baik kau beritahu kepadaku saja barang apa yang kau inginkan itu jikalau aku merasa bisa kuambilkan sekarang juga aku bisa pergi mencurinya untukmu, kalau barang itu tidak dapat aku ambil sekali pun aku sudah kawin dengan Wi Lian In juga sama saja tidak bakal bisa ambilkan buat dirimu"
"Barang yang aku kehendaki cuma bisa diambil setelah kau menikah deagan Wi Lian In"
Seru majikan patung emas dengan tegas.
"Kalau besitu tidak ada halangannya bukan kalau memberitahukan sekarang juga kepadaku?"
Desak Ti Then lebih laajut.
"Waktunya belum tiba, tidak berguna memberitahukan urusan ini kspadamu"
"Kalau waktunya sadah tiba tetapi aku tidak mengambilkan buatmu kau mau berbuat apa?"
"Kalau demikian adanya maka kau tidak bakal lolos dari krmatian."
"Jikalau kau menghendaki aku melakukan satu pekerjaan yang merugikan Wi Ci To ayah beranak aku lebih baik mati saja."
"Sejak dulu aku sudah bilang barang yang aku minta sama sekali tidak bakal mencelakai Wi Ci To ayah beranak beserta seluruh jago pedang yang ada di dalam Benteng Pek Kiam Po, kau takut apa?"
Bentak majikan patung emas dengan gusar.
"Kalau tidak bakal mendatangkan bencana buat mereka kenapa kau tidak minta kepada Wi Ci To dengan terbuka saja?"
"Persoalannya maukah Wi Ci To menyerahkan barang itu kepadaku"
"Hal ini membuktikan kalau barang itu sama sekali bukanlah suatu barang yang sama sekali tidak berharga."
"Terhadap dirinya boleh dikata barang itu sama sekali tidak berharga, lain kali kau bakal bisa tahu kalau perkataanku ini sama sekali bukan omong kosong."
"Aku lihat, lebih baik kau turun saja kemari dan bunuh diriku."
"Hmm, kau kepingin melawan?"
Teriak majikan patung emas dengan gusar.
"Benar."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak mau berbuat sesuatu pekerjaan yang menyalahi diri Wi Ci To beserta putrinya,"
"Kau sama sekali tidak mau percaya terhadap tanggungan yang aku ucapkan?"
"Jikalau barang yang kau minta itu sama sekali tidak bakal mendatangkan bencana buat Wi Ci To ayah beranak beserta seluruh jago pedang yang ada di dalam Benteng Pek Kiam Po maka sekarang kau tidak ada keharusannya untuk menyembunyikan urusan tersebut, sebaliknya kini kau tidak mau memberitahu dengan berterus terang hal ini membuktikan kalau barang yang kau mintai itu pasti bakal mendatangkan bencana buat Wi Ci To ayah beranak serta seluruh jago pedang dari Benteng Pek Kiam Po-"
"Kau sama sekali sudah salah menduga"
"Tapi aku percaya dugaanku sedikit pun tidak salah."
"Apakah kau sudah mengambil keputusan sekali pun mati tidak bakal melakukan pekerjaanku?"
"Benar."
"Kalau begitu terpaksa aku harus membunuh mati dirimu"
"Hem, jangan ngomong terus, ayoh cepat turun kemari dan mulai turun tangan."
"Aku tidak perlu turun, cukup dengan menggunakan patung emas ini saja sudah lebih dari cukup untuk mencabut nyawamu."
OcoOooo "KALAU BEGITU silahkan mulai turun tangan."
"Aku mau pergi bunuh dulu dua orang kemudian baru datang kemari lagi untuk membunuh dirimu."
Berbicara sampai di sini majikan patung emas segera menarik kembali patung emasnya ke atas.
Ketika Ti Then mendengar dia mau pergi membunuh dua orang terlebih dulu hatinya jadi sangat terperanyat sekali.
"Kau mau pergi bunuh siapa?"
Tanyanya.
"Wi Ci To ayah beranak"
Sahut majikan patung emas sepatah demi sepatah dengan amat dinginnya. Seluruh tubuh Ti Then segera tergetar dengan amat kerasnya.
"Tidak, tunggu dulu"
Teriaknya terperanyat.
"Ada apa?"
Tanya majikan patung emas tertawa dingin.
"Kau berdasarkan alasan apa mau pergi membunuh mati mereka ayah beranak?"
"Tanpa alasan."
"Kau sedang menggertak diriku?"
"Tidak"
Potong majikan patung emas dengan suara yang amat dingin sekali.
"Sebetulnya aku hendak menggunakan cara yang amat halus untuk mendapatkan barang itu, tetapi kalau memangnya kau tidak ingin jadi patung emasku lagi terpaksa aku harus pergi dengan menggunakan kekerasan, kejadian ini terpaksa harus aku lakukan."
"Mau pergi merampas belum tentu harus membunuh mati mereka ayah beranak"
Tiba-tiba Ti Then nyeletuk.
"Terang-terangan kau sedang menggertak diriku."
"Kalau memangnya menggertak dirimu kau mau apa?"
Seru majikan patung emas itu sambil memperdengarkan suara tertawanya yang amat menyeramkan-Dalam hati Ti Then benar-benar merasa amat bingung dan sedih sekali, pikirannya kacau tak terhingga.
Dia tahu pihak musuhnya sedang menggertak dirinya dan memaksa dirinya untuk melanjutkan mendengarkan perintahnya lagi tetapi bilamana dirinya tidak mau menurut-dia bisa sungguh-sungguh pergi membunuh mati Wi Ci To ayah bcranak dengan kepandaian silat yang demikiao tingginya dari majikan patung emas, Wi Ci To pasti bukan tandingannya.
Di dalam benaknya segera berkelebatlah berbagai ingatan kemudian dengan cepatnya mengambil satu keputusan.
Jikalau dirinya menerima perintahnya terus pergi kawin dengan Wi Lian-In, pergi mencurikan semacam barang milik Wi Ci To walau pun mendatangkan satu bencana terhadap diri Wi Ci To ayah beranak tetapi bagaimana pun juga bencana masih jauh lebih ringan daripada ancaman membunuh yang dilancarkan majikan patung emas pada saat ini.
Karena itu diam-diam dia menghela napas panjang.
"Baiklah,"
Ujarnya kemudian dengan menggunakan ilmu uutuk menyampaikan suara.
"Boleh dihitung kau cukup ganas, aku menyerah."
Majikao patung emas segera tertawa.
"Lain kali kau bisa tahu kalau aku orang sama sekali tidak ganas, justru karena aku tidak ingin mencelakai mereka ayah beranaklah maka aku baru suruh kau pergi mencuri barangnya, jikalau berganti dengan orang lain, dia tidak akan bersikap demikian."
"Sudah . , sudahlah kau pergi sana, aku mau tidur"
Usir Ti Then sambil mengulapkan tangannya.
"Aku mau memberi peringatan lagi kepadamu, jikalau kau berani secara diam-diam merusak semua rencanaku maka segala akibat harus kau tanggung sendiri."
Sehabis berkata dia menutup kembali atap rumah dan lenyap tak berbekas. Dengan gemasnya Ti Then menggerutuk giginya, diam-diam dalam hati makinya.
"Iblis, kau benar-benar iblis tua yang banyak berdosa."
Dia tidak berhasil memadamkan rasa gusar yang membakar hatinya, sepasang matanya dengan berapi-api memandang ke atas atap, dari gelap berubah jadi terang dia sama sekali tidak pernah memejamkan matanya sedikit pun.
Setelah terang tanah dia baru turun dari pembaringan untuk cuci muka kemudian berjalan menuju ke ruang makan untuk bersantap pagi bersama-sama dengan Wi Ci To.
Wi Ci To yang melihat sepasang matanya merah membengkak jadi merasa keheranan.
"Ti Kiauw tauw, kemarin malam kau tidak bisa tidur?"
Tanyanya.
"Benar, teringat sudah kana tipu oleh Cuo It Sian selama satu malaman aku tidak dapat tertidur barang sekejap pun."
Sahut Ti Then sambil tertawa malu.
"Cuma sedikit urusan saja tidak perlu kau pikirkan terus di dalam hati,"
"Baik"
"Setelah bersantap kita segera akan berangkat, . kali ini kau harus tukar dengan kuda yang lain, kau tidak dapat menunggang kuda Ang San Khek lagi"
"Benar."
Sahut Ti Then membenarkan.
"Masih ada satu persoalan lagi, boanpwe duga Cuo It Sian kemungkinan sekali sudah kirim orang untuk mengawasi gerak-gerik kita dari luar Benteng, maka setelah kita keluar dari pintu Benteng ada kemungkinan dibuntuti oleh mereka, maka itu lebih baik kita sedikit berganti wajah saja kemudian jangan keluar dari pintu sebelah depan."
"Baik, kita berbuat demikian saja"
Sahut Wi Ci To sambil mengangguk.
Demikianlah setelah bersantap pagi mereka berdua segera kembali ke dalam kamarnya masing-masing untuk menyamar, Wi Ci To menyamar sebagai seorang sastrawan tua sedangkan Ti Then menyamar sebagai seorang siucay muda.
Demikianlah setelah memilih dua ekor kuda jempolan di bawah hantaran Shia Pek Tha serta para jago pedang merah lainnya Wi Ci To serta Ti Then meninggalkan benteng dengan melalui pintu benteng sebelah belakang.
Setelah mengitari satu lingkaran besar mereka baru memilih satu jalan gunung untuk kemudian melanjutkan perjalanannya kembali.
Satu jam kemudian tua muda dua orang itu sudah jauh meninggalkan benteng Pek Kiam Po dan melanjutkan perjalanan menuju kearah sebelah utara, Ditengah perjalanan Wi Ci To tiba-tiba menoleh ke belakang lantas ujarnya "Agaknya tidak ada orang yang sedang membuntuti kita bukan ?"
"Kita sudah berganti wajah apa lagi turun gunung dengan menggunakan jalan lain, bilamana ada orang juga yang membuntuti diri kita maka pihak lawan boleh dikata pendengarannya amat luas."
"Benar juga perkataanmu."
"Apakah pedang pendek itu dibawa serta?"
"Sudah kubawa"
Sahut Wi Ci To sambil menepuk-nepuk badannya.
"Pedang Biat Hun Kiam dari Cuo It Sian itu apakah ada sarung pedangnya?"
"Sebetulnya ada cuma saja kemungkinan sudah hilang."
"Semoga saja kali ini kita bisa berhasil mendapatkan pedang tersebut dengan lancar."
"Siasatmu amat bagus sekali"
Ujar Wi Ci To.
"Asalkan tidak terjadi urusan lain lagi seharusnya kita bisa mendapatkan hasil."
"Setelah mendapatkan kembali pedang pendek itu, dapatkah boanpwe mengetahui Gak-hu hendak berbuat apa?"
Wi Ci To termenung berpikir sebentar akhirnya sahutnya.
"Pertama-tama Lohu cuma bisa beritahu padamu sedikit saja, setelah Lohu dapatkan pedang pendek tersebut pada bulan permulaan tahun depan aku mau membawanya ke atas gunung Hoa San untuk mengadakan pertemuan dengan si kakek pemalas Kay Kong Beng, Yuan Kuang Thaysu dari Siauw lim Pay serta Ciangbunyin dari Bu tong Pay Leng Cing Ceng Tojin."
"Kalau begitu pedang pendek Biat Hun Kiam ini ada sangkut paut yang amat erat sekali dengan pertemuan di atas gunung Hoa san itu?"
"Lohu tidak dapat menyawab pertanyaanmu lagi,"
Sahut Wi Ci To tersenyum.
"Benar,"
Sahut Ti Then dengan gugup.
"Sejak kini boanpwe tidak akan menanyakan urusan ini lagi"
"Bukannya sengaja Lohu memperlihatkan kemisteriusan sebaliknya hal ini meyangkut keselamatan dari Bu lim, makanya tidak boleh bocor barang sedikit pun"
"Setiap diadakannya pertemuan puncak para jago di atas gunung Hoa san apakah mengharuskan Gak hu serta si kakek pemalas Kay Kong Beng, ciangbunyin dari Siauw lim Pay dan ciaogbunyin dari Bu tong Pay untuk mengikutinya?"
Tanya Ti Then mengalihkan bahan pembicaraan selanjutnya.
"Benar,"
Sahut Wi Ci To mengangguk.
"Sebetulnya pertemuan itu cuma satu tempatnya berkumpul para kawan lama dan bukannya tempat satu pertenuan yang bermaksud merebut gelar jagoan."
"Tempo hari boanpwe dengar dari ciangbynyin Siauw lim Pay berkata, agaknya di atas pertemuan Hoa san ini juga khusus untuk membereskan pertikaian yang terjadi di dalam Bu lim?"
"Benar, kami empat orang saling berjanyi untuk setiap tiga tahun berkumpul satu kali di atas gunung Hoa san, sebenarnya tujuan kami cuma untuk mempererat persahabatan diantara kita sendiri, hal ini disebabkan karena kecuali si kakek pemalas Kay Kong Beng seorang di antara kami bertiga mem punyai anak murid yang sangat banyak sekali dan sering terjadi keributan di dalam Bu lim, karena itu kami sebagai pemimpinnya harus mem punyai satu ikatan persahabatan yang erat sehingga dengan demikian suatu percek-cokan diantara anak buah kita bisa diselesaikan dengan baik-baik."
Dia berhenti sebentar untuk tukar napas kemudian sambungnya.
"Tetapi waktu serta tempat berkumpulnya kami berempat semakin lama semakin di ketahui oleh orang banyak, demikianlah diantara mereka ternyata banyak yang sudah naik ke atas gunung memohon kita membereskaankesukaran yang mereka hadapi, lama kelamaan pertemuan Hoa san ini dari hubungan empat partai kini jadi satu pertemuan Bu lim yang amat ramai sekali."
"Bukankah hal itu bagus sekali?"
Seru Ti Then cepat. Wi Ci To segera tertawa pahit.
"Benar,"
Sahutnya.
"Tetapi kadang-kadang kami menghadapi juga persoalan yang benar-benar membuat orang sukar untuk memecahkannya."
"Dengan nama besar serta kedudukan dari Gak-hu serta tiga orang cianpwe lainnya apakah masih ada juga persoalan yang tidak berhasil diselesaikan?"
"Benar, ada kalanya urusan yang kami hadapi bukanlah dapat dibereskan cuma dengan kepandaian serta nama kita."
"Gak-hu sering membereskan pertikaian yang terjadi di dalam Bu lim, sudah tentu banyak kenal dengan orang-orang Bu lim bukan?"
"Benar"
Sahut Wi Ci To mengangguk-"Orang yang sedikit punya nama tentu Lohu kenal, buat apa kau menanyakan urusan ini?"
"Aku ingin sekali mengetahui di dalam Bu lim pada saat ini apakah ada orang yang memiliki kepandaian silat seperti yang dimiliki si kakek pemalas Kay Kong Beng?"
"Ada seorang"
"Siapa?"
"Sayang lohu sendiri juga tidak kenal"
Sahut Wi Ci To tertawa.
"Siapakah nama serta sebutan orang itu?"
"Bu Beng Lojin."
Ti Then jadi melengak tapi sebentat kemudsan wajahnya sudah berubah memerah.
"Kepandaian silat dari suhuku apakah benar-benar ada di atas kepandaian dari si kakek pemalas?"
Ujarnya tertawa.
Kiranya pada beberapa bulan yang lalu sewaktu tidak lama dia memasuki benteng Pek Kiam Po, Wi Ci To pernah menanyakan tentang asal-usul perguruannya,dia tidak dapat mengatakan gurunya adalah majikan patung emas makanya dia lantas menyebutkan seorang kakek tua tanpa nama yang sudah mewarisi kepandaiannya itu, kini mendadak Wi Ci To menyebut kembali "Bu Beng Lojin"
Empat buah kata membuat hatinya rada sedikit tidak tenang.
"Tidak salah,"
Sahut Wi Ci To mengangguk.
"Walau pun Lohu belum pernah bertemu dengan suhumu tetapi lohu berani memastikan kalau kepandaian silat dari suhumu jauh berada di atas dari kepandaian si kakek pemalas Kay Kong Beng."
"Perkataan dari Gak-hu ini apakah diambil kesimpulan dari kepandaian yang boanpwe miliki ?"
"Benar, kau sendiri terhadap kepandaian silat yang kau miliki apakah masih merasa tidak jelas ?"
"Boanpwe merasa tenaga dalamku masih terlalu rendah ..."
"Tidak"
Seru Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Dengan kepandaian yang kau miliki saat ini sebenarnya sudah jauh melebihi dari lohu sendiri."
"Gak-hu, kau jangan bicara demikian, sedikit kepandaian dari boanpwe ini mana berani dibandingkan dengan diri Gak-hu"
Seru Ti Then dengan gugup. Wi Ci To tersenyum.
"Sungguh,"
Serunya.
"Kau pernah mengalahkan si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan di dalam kurang dari seratus jurus sedangkan tingkatan lohu dengan Cian Pit Yuan kira-kira terpaut sedikit saja, bilamana lohu bermaksud hendak mengalahkan dirinya, kecuali harus bertempur mati-matian sebanyak tiga-lima ratus jurus jangan harap bisa memperoleh hasil, maka itu dengan kepandaian silat yang kau miliki sekarang ini boleh dikata jauh berada di atas kepandaian dari Lohu."
Dia berhenti sebentar untuk menghela napas panjang kemudian sambungnya lagi.
"Sedangkan perbedaan antara Lohu dengan si kakek pemalas Kay Kong Beng cuma satu tingkat saja, karena itu dengan kepandaian silat yang kau miliki sekarang sekali pun tidak bisa melampaui diri si kakek pemalas Kay Kong Beng tetapi suhumu pasti jauh lebih dahsyat dari diri si kakek pemalas Kay Kong Beng."
"Omong terus terang saja sekali pun kepandaian dari boanpwe tidak rendah tetapi pernah dikalahkan di tangan seorang pemuda yang satu tingkat dengan diriku"
Ujar Ti Then tiba-tiba. Wi Ci To sedikit melengak.
"Sungguh?"
Tanyanya sambii memandang tajam wajahnya.
"Sungguh !"
Sahut Ti Then mengangguk.
"Siapakah dirinya ?"
"Si "Hong Liuw Kiam Khek"
Ing Peng Siauw !"
"Aaaah .... kiranya dia orang !"
"Gak hu tahu tentang orang ini bukan ?"
"Tahu !"
Sahut Wi Ci To mengangguk.
"Dua tahun yang lalu lohu pernah bertemu satu kali dengan dirinya dan dengan mata kepala lohu sendiri bisa melihat dia mengalahkan dua orang jagoan berkepandaian tinggi dari kalangan Hek to, tetapi jika dilihat dari gerakan tubuhnya itu agaknya tidak seberapa lihay jika dibandingkan dengan dirimu."
Ti Then tidak ingin mengatakan kalau sewaktu dia dikalahkan oleh si "Hong Liuw Kiam Khek"
Ing Peng Siauw belum belajar kepandaian silat dari majikan patung emas, karenanya dia segera berbohong.
"Kemugkinan sekal dia sengaja menymbunykan kekuatan yang sesungguhnya sehingga Gak hu sama sekali tidak dapat melihatnya,"
"Ehmm ... kemungkinan sekali memang demikian,"
Sahut Wi Ci To mengangguk.
"Tetapi ..Lohu selalu merasa bahwa sekali pun dia adalah seorang jagoan muda yang amat menonjol tetapi jika dibandingkan dengan bakat serta keadaanmu agaknya dia tidak dapat menandingi dirimu, bagaimana kau bisa dikalahkan olehnya ?"
Ti Then segera tertawa pahit.
"Kemungkinan sekali dikarenakan dia terjun di dalam dunia kangouw rada pagian sehingga pengetahuannya jauh lebih matang dari diri boanpwe sendiri "
Ujarnya.
"Siapakah suhumu ?"
"Tidak tahu!"
Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Boanpwe pernah mengadakan penyelidikan kepada banyak orang tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui asal-usul perguruannya."
"Kenapa kau dikalahkan olehnya?"
"Setahun yang lalu!"
"Kenapa kau bergebrak dengan dirinya?"
"Persoalan ini jika dibicarakan terlalu panjang sekali"
Ujar Ti Then sambil menghela napas ringan"
Tempo hari Gak-hu pernah bertanya kepadaku apakah boanpwe ada rahasia yang tidak dapat diutarakan keluar, lebih baik sekarang juga boanpwe ceritakan urusan ini .."
Wi Ci To yang mendengar dia hendak menceritakan rahasia yang selama ini terpendam di dalam hatinya tidak terasa lagi air mukanya sedikit berubah.
"Jikalau kau merasa hal ini tidak leluasa untuk dibicarakan lebih baik tidak usah diucapkan saja. Lohu pernah berkata kepada Wi Lian In tidak perduli kau mengandung rahasia yang macam apa pun Lohu percaya kau adalah seorang pemuda yang berhati lurus dan jujur."
"Tidak, urusan ini sebetulnya tidak ada halangannya untuk diberitahukan kepada Gak-hu, sebenarnya mau menceritakan urusan ini kepada Gak-hu tetapi karena boanpwe takut urusan ini sampai tersiar ditempat luaran sehingga mendatangkan satu kekacauan maka selama ini boanpwe tidak pernah membicarakannya,"
Dia bcrhenti sebentar lantas sambungnya lagi.
"Di dalam kota Tiang An dahulu pernah ada sebuah perusahaan ekspedisi "Yong An-Piauw-kiok"
Yang merupakan perusahaan terbesar diseluruh negeri tentu Gak-hu tahu bukan ??"
"Tahu!"
Sahut Wi Ci To mengangguk.
"Piauw-tauw dari Yong An Piauw-kiok itu bernama Kim Kong So atau si tangan baja Yuan Siauw Ci, aku dengar kepandaian silat yang dimilikinya tidak lemah selamanya barang kawalannya belum pernah gagal bahkan menurut apa yang lohu dengar dagangannya bagus sekali."
"Cuma sayang Yong An Piauw-kiok pada setahun yang lalu sudah hancur dan tutup"
Wi Ci To jadl melengak.
"Iiih .... kenapa tentang urusan ini lohu belum pernah mendengar orang berkata ?"
Tanyanya.
"Heey ... tidak lama berselang piauw kiok itu sudah ditutup gara-gara perbuatan dari seorang piauw-sunya."
"Siapakah piauw su itu ?"
Tanya Wi Ci To sambil memandang tajam wajahnya.
"Dialah boanpwe sendiri."
Agaknya Wi Ci To merasa berita ini berada diluar dugaannya, dengan amat terperanya dia bertanya.
"Aaaa, ..kiranya kau pernah menjadi piauw-su di perusahaan ekspedisi Yong An Piauw-kiok ?"
"Benar !"
Sahut Ti Then mengangguk "Ada satu kali secara kebetulan boanpwe bisa berkenalan dengan si tangan baja Siauw Ci, dia mengundang boanpwe untuk bekerja di perusahaan ekspedisinya, semula boanpwe menolak tetapi akhirnya setelah mendapatkan desakan berulang kali akhrnya boanpwe menerimanya juga."
"Nama besar dari perusahaan ekspedisi Yong An Piauw-kiok sudah menggetarkan seluruh kolong langit, setiap piauw-su yang ada diperusahaannya boleh dikata merupakan jago-jago pilihan, ada banyak orang yang mau masuk pun tidak dapat kini si tangan baja Yuan Siauw Ci ternyata mengundang kau untuk memasuki perusahaannya hal ini jelas membuktikan kalau dia amat memandang tinggi dirimu."
"Benar"
Sahut Ti Then membenarkan.
"Piauw-su di dalam perusahaan itu semuanya berjumlah tujuh puluh orang banyaknya, masing-masing semuanya merupakan jagoan Bu-lim yang berilmu tinggi dan memiliki pengalaman yang amat luas sekali, sembarangan mengirim seorang pun sudah dapat membereskan satu urusan maka itu barang siapa ssya yang bisa jadi piauw-su di dalam perusahaan tersebut namanya segera akan terkenal di dalam Bu-lim"
"Kau bekerja berapa bulan di perusahaan tersebut?"
Tukas Wi Ci To.
"Cuma tiga bulan lamanya dan melidungi dua buah barang kawalan, yang pertama aku mengikuti seorang piauw-su pergi mencari pengalaman dan kedua kalinya pergi mengawal sendiri sebuah barang kawalan rahasia, siapa tahu baru saja meninggalkan kota Tiang An selama tiga hari peristiwa ternyata sudah terjadi.."
"Sebetulnya barang apa?"
Tanya Wi Ci To terkejut bercampur heran.
"Satu peti mutiara, intan serta permata yang berharga seratus dua puluh laksa tahil perak"
"Ooouuw, ..suatu barang kawalan yang begitu berharganya !"
Seru Wi Ci To sambil menghembuskan napas panjang.
"Benar, pemilik barang itu adalah seorang pembesar negeri yang mem punyai pangkat tinggi, tujuannya adalah kota Thay Yuan Hu yang semuanya ada seribu li jauhnya, dikarenakan jumlah yang terlalu besar itulah apalagi perjalanan yang demikian jauhnya ini Yuan Piauw-tau merasa untuk melindungi barang kawalan secara terang-terangan terlalu bahaya maka itu dia mengambil keputusan untuk melindungi barang kawalan tersebut secara diam-diam, dia bertanya kepada para Piau-su yang ada di dalam perusahaan siapa yang berani melindungi barang itu, mungkin dikarenakan jumlah yang terlalu besar ternyata diantara piauw-su piauw-su itu tidak ada yang berani menerima. ."
"Lalu kau beranikan diri untuk menerima?"
"Benar"
Sahut Ti Then mengangguk.
"Saat itu Yuan Piauw-tauw pun sangat setuju kalau boanpwe yang bertanggung jawab, alasannya karena boanpwe belum lama memasuki perusahaan tersebut, sehingga orang yang mengetahui pun belum banyak, karena hal itulah ada kemungkinan pcrhatian dari semua orang tidak bisa dicurahkan kepada boanpwe semuanya."
"Hal ini sedikit pun tidak salah!"
"Tetapi Yuan Piauw-tauw jadi orang ternyata amat teliti sekali, dia kirim dulu seorang piauw-su yang pura-pura sedang melindungi barang kawalan itu melakukan perjalanan, setelah lewat dua hari kemudian dia baru mengijinkan boanpwe untuk meninggalkan kota Tiang An dengan mengawal barang-barang tersebut."
Dengan sedihnya dia menghela napas panjang tambahnya.
"Demikianlah pada hari ketiga sewaktu ada dikota Cong Koan, ternyata aku sudah bertemu dengan si Hong Liuw Kiam Khek Ing Peng Siauw..."
"Sebelum kejadian itu diantara kalian apa saling kenal ?"
Tanya Wi Ci To.
"Ada satu kali kami memang pernah bertemu, karena boanpwe melihat kepandaian silatnya menonjoi jadi orang pun sangat bagus maka di dalam hati aku sudah timbul rasa simpati, maka itu ketika untuk kedua kalinya bertemu muka di sebuah rutnah makan dikota Cong-kwan kami saling bersantap di dalam satu meja, dia bilang dia mau pergi ke Thay Yuan Hu untuk mencari encinya sedang boanpwe pun bilang ada urusan mau pergi ke kota Thay Yuan Hu pula, demikianlah dia lantas mau berjalan bersama-sama dengan boanpwe, boanpwe yang merasa dia adalah seorang dari kalangan lurus maka dengan hati girang meluluskannya..."
"Apakah kau pernah memberitahukan soal kawalan barang berharga itu ?"
Timbrung Wi Ci To tiba-tiba.
"Tidak"
Sahut Ti Then gelengkan kepalanya.
"Atau mungkin secara tidak berhati-hati kau sudah memperlihatkan barang berharga itu kepadanya ?"
"Juga tidak, sebelum dia memperlihatkan wajah aslinya yang menyengir kejam selamanya tidak pernah memandang sekeap pun terhadap buntalan yang ada pada punggung boanpwe!"
"Jikalau demikian adanya dia tentu dari tempat lain berhasil mendapatkan kabar kalau kau sedang mengawal sejumlah barang kawalan menuju ke kota Thay Yuan Hu, maka itu sengaja munculkan dirinya dikota Cong Kwan."
"Kemungkinan sekali memang demikian"
Sahut Ti Then membenarkan."
Tetapi yang aneh sewaktu Yuan Piauw-tauw menerima barang kawalan itu mereka membicarakan di dalam suasana yang amat rahasia sekali, kecuali Piauw-su yang ada di dalam perusahaan sampai anak buah lainnya pun tidak tahu, bagaimana mungkin dia bisa memperoleh berita ini ?"
"Kemungkinan sekali Piauw-su yang ada di dalam perusahaan itulah yang sudah membocorkan keluar."
"Tidak ... tidak mungkin !"
Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya."
Walau pun Yong An Piauw-kiok mem punyai tujuh puluh orang Piauw-su tetapi setiap piauwsu sudah pernah memperoleh pengawasan yang amat lama sekali dari Yuan Piauw-tauw,"
Setelah merasa aneh Wi Ci To segera tertawa dingin.
"Lohu tidak percaya kalau si Hong liuw Kiam Khek Ing Peng Siauw mem punyai ilmu untuk meramal kejadian yang akan datang."
"Hal ini sudah tentu, karena itulah boanpwe baru merasa sangat keheranan"
"Kau bilang majikan dari pemilik barang itu adalah seorang pembesar, siapakah namanya? dan apa jabatannya ?"
"Sampai saat ini boanpwe sendiri juga tidak tahu siapakah sebenarnya orang itu karena dia pernah memohon kepada Yuan-Piauw tauw untuk merahasiakannya, orang yang bekerja sebagai pengawal barang memang mem punyai kewajiban untuk merahasiakan namanya karena itu Yuan Piauw-tauw selama ini selalu tidak mau menyebutkan siapakah nama yang sebenarnya."
"Bagus, sekarsng lanjutkanlah lagi"
"Hari itu menunjukkan siang hari setelah kami bersantap dirumah makan tersebut ternyata dia sudah berebut untuk membayar rekening makanan setelah itu kita bersama-sama keluar kota, baru saja berjalan enam, tujuh puluh li hari sudah menjadi gelap, boanpwe segera usulkan untuk mencari penginapan sebaliknya dia bilang malam hari hawanya amat nyaman sekali dan mau melanjutkan kembali perjalanannya sejauh puluhan li lagi, boanpwe tidak curiga kepadanya maka itu menurut saja permintaannya dan melanjutkan kembali perjalanan ke depan. Siapa tahu baru saja berjalan empat lima li jauhnya dan tiba disatu tempat yang amat sunyi dia menghentikan langkah kakinya, sambil mendougakkan kepalanya memandang rembulan ujarnya "Ti heng, malam ini tanggal berapa ?"
"Tanggal empat."
"Kalau begitu masih ada sebelas hari itu sampai batas waktu yang terakhir."
"Urusan apa ?"
"Siauw-te sudah tertarik dengan seorang nona, dia adalah seorang Putri hartawan dengan memiliki potongan wajah yang amat cantik menarik, siauw-te kepingin memperistri dirinya tetapi hartawan itu mengatakan siauw-te terlalu miskin, dia tidak mau mengawinkan putrinya kepadaku.."
"Lalu bagaimana baiknya?"
"Nona itu menaruh rasa cinta yang mendalam sekali terhadap diri siauw-te dan sanggup untuk lari dari rumah bersama-sama dengan siauwte tapi sudah Siauw-te tolak maksudnya ini, siauw-te bilang kalau lari dari rumah hal itu sangat memalukan sekali"
"Betul, perkataan dari Ing-heng ini sedikit pun tidak salah"
"Akhirnya Siauw-te pergi menemui ayahnya, begitu bertemu Siauw-te segera bertanya dia mau minta uang berapa banyak baru mau mengawinkan putrinya kepadaku, coba kau terka dia bilang bagaimana?"
"Dia bilang apa?"
"Hmmm, dia minta seratus laksa tahil perak!"
"Oooohh...Thian!"
"Benar! ternyata jauh lebih mahal dari emas"
"Lalu akhirnya bagaimana?"
"Siauw-te mengabulkannya"
"Aaaah... Ing-heng punya seratus laksa tahil perak?"
"Tidak punya"
"Lalu, ... lalu ... Ing-heng punya rencana pergi meminyam seratus laksa tahil perak?"
"Tidak salah, ternyata dia tidak jelek juga, dia sudah memberi batas waktu selama satu bulan kepada Siauwte untuk pergi meminyam."
"Aku rasa tidak mudah untuk memperolehnya."
"Siauw-te kira belum tentu."
"Ehmmm??"
"Asalkan Ti-heng suka meminyamkan kepada Siauw-te. ....."
"Ing-heng jangan berguyon!"
"Sungguh, sekarang Ti-heng pinyamkan dulu kepada Siauw-te, dua tahun kemudian dari seperti ini juga Siauw-te akan kembalikan semua uangmu itu beserta bunganya! Perkataan yang sudah Siauw-te katakan selamanya tidak pernah diingkari"
"Haaaaa ....haaa ... cuma sayang Siauw-te tidak punya Seratus laksa tahil perak!"
"Intan permata yang ada dibadan Ti-heng itu bukankah berharga di atas seratus laksa tahil perak ?"
Waktu itu boanpwe yang mendengar perkataannya ini diam-diam merasa sangat terperanyat sekali, boanpwe lantas tanya dia tahu darimana kalau boanpwe membawa intan permata yang bernilaikan lebih dari seratus laksa tahil perak, dia tertawa dan menyawab kalau mendengar dari orang lain lalu boanpwe tanyai pula apa dia bermaksud merampok barang kawalanku, dia bilang kalau boanpwe tidak pinyamkan kepadanya maka dia akan turun tangan merampok barang kawalan tersebut".
Berbicara sampai di sini wajah Ti Then segera tersungginglah satu senyuman dengan perlahan-lahan sambungnya "Boanpwe yang melihat perkataannya seperti tidak sedang guyon dengan cepat cabut keluar pedang siap menghadapi serangannya, dia yang melihat sikap boanpwe itu segera tertawa terbahak-bahak dan berkata."Bagus ...
bagus sekali, kita boleh bertanding dengan pedang, kita lihat siapa lebih lihay diantara kita, bilamana siauw-te kalah maka aku segera akan lari pergi dari sini-tetapi bilamana Ti-heng yang secara tidak beruntung aku kalahkan maka minta permata-tersebut harus kau tinggal ...
, demikianlah pada waktu itu juga kami segera bertempur dengan amat serunya .
"Dia membawa pembantu tidak?"
Tukas Wi Ci To lagi.
"Tidak, sejak permulaan sampai terakhir dia mengalahkan boanpwe sama sekali tidak pernah kelihatan munculnya orang yang ketiga !"
"Kepandaian silatnya jauh lebih tinggi darimu?"
Tanya Wi Ci To lagi.
"Hal ini tidak begitu menyolok, ditengah pegunungan yang amat sunyi itu bertempur dengan susah payah sebanyak seribu jurus lebih, ketika mendekatinya terang tanah akhirnya boanpwe dikalahkan satu jurus dan terkena tusukan pedangnya pada bagian kakiku"
"Tidak dapat mengetahui asal-usul ilmu silatnya?"
"Benar, tidak tahu"
"Akhirnya harta kekayaan tersebut berhasil dia rampas?"
"Benar, sewaktu boanpwe terkena tusukannya dan rubuh ke atas tanah dengan mengambil kesempatan itulah dia merebut buntalan yang berisikan intan permata itu, sesaat sebelum meninggalkan tempat itu dia berkata bahwa dua tahun kemudian dia akan mengembalikan barang itu beserta bunganya, dia berjanyi dengan boanpwe untuk bertemu kembali dua tahun kemudian, di tempat ini juga, setelah itu dia segera berkelebat pergi dari sana."
Wi Ci To segera menghela napas panjang.
"Heeei ..... sungguh tidak disangka si Hong Liuw Kiam Khek, Ing Peng Siauw sebenarnya adalah manusia semacam itu akhirnya kau berhasil menemukan dirinya?"
"Tidak"
Sahut Ti Then tertawa pahit.
"Sejak dia berhasil memperoleh harta kekayaan itu jejaknya lantas lenyap tak berbekas, walau pun boanpwe serta seluruh piauw-su yang ada di dalam perusahaan ekspedisi Yong An Piauw kiok sudah dikerahkan semuanya dan mencari ke semua tempat tetapi tidak menemukan jejaknya juga."
"Lalu bagaimana tanggungjawab orang she Yuan itu terhadap pemilik barang tersebut?"
"Dikarenakan persoalan inilah seluruh harta benda dari Yuan Piauw-tauw jadi ludas untuk mengganti kerugian tersebut, dengan demikian perusahaan Yoang An Piauw-kiok pun hancur berantakan"
"Tidak aneh kalau setiap hari keadaanmu amat murung sekali, kiranya kau merasa tidak tenang dikarenakan sudah menghancurkan kejayaan dari Yong An Piauw kiok."
"Yang membuat boanpwe merasa lebih sedih adalah seorang Piauw tauw yang mentereng dari sebuah perusahaan ekspedisi yang besar ternyata kini sudah terlantar di dalam Bu lim dengan menjual silat sebagai biaya hidup."
"Hei ..hal ini memang patut menerima simpatik dari orang lain"
Seru Wi Ci To sambil menghela napas panjang.
"Maka itu boanpwe pernah bersumpah untuk mencari dapat harta yang sudah di rampok oleh Ing Peng Siauw itu, sebelum berhasil mencapai maksudku ini aku tidak akan berdiam diri"
"Bilamana sejak semula kau menceritakan urusan ini kepada diri Lohu maka lohu bisa perintahkan seluruh jago pedang yang ada di dalam Benteng untuk bantu kau mencarikan kabar dari dirinya"
"Justru boarpwe takut kalau berita ini sampai tersiar didaiam Bu-lim sehingga memancing datangnya incaran dari jago-jago kalangan Hek-to, dengan demikian bukankah urusan jadi semakin berabe?"
"Asalkan pesan wanti-wanti kepada mereka untuk jangan membocorkan rahasia ini bukankah urusan sudah beres?"
Ti Then segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Boanpwe ingin sekali pergi mencari dirinya sendiri, kemudian mengajak dia bertempur hingga salah satu diantara kita ada yang mati."
"Dia bilang dua tahun kemudian hendak dikembalikan entah perkataannya itu sungguh-sungguh atau cuma bohong belaka."
"Hmmm.. sudah tentu omongan setan"
Seru Ti Then sambil tertawa dingin.
"Menanti setelah urusan yang menyangkut diri Cuo It Sian ini bisa dibikin beres maka lohu segera akan menggerakkan semua jago pedang merah yang ada di dalam Benteng untuk pergi mencari jejaknya, lohu tidak percaya kalau jejaknya tidak dapat ditemukan kembali ..oooh, kalau memangnya ini hari kau sudah membuka rahasiamu itu kepadaku, lohu mau tanyakan kembali satu persoalan yang mencurigakan hatiku, tempo hari sewaktu lohu mengutarakan maksudku hendak membantu dirimu kau pernah bilang asalkan lohu mau berkelahi kemudian mengalahkan dirimu hal ini sama juga sudah membantu kau membereskan satu persoalan yang rumit, sebetulnya apa maksud dari perkataanmu itu?"
Ti Then segera tertawa malu.
"Padahal hal itu sebetulnya tidak mengandung maksud yang mendalam, semula Gak hu masih menganggap boanpwe adalah Lu Kong-cu yang pernah pergi ke sarang pelacuran Touw Hoa Yuan, karena di dalam hati boanpwse ingin sekali meninggalkan Benteng Pek Kiam Po, sedang waktu itu pun Gak-hu memaksa boanpwe untuk tinggal beberapa hari di sana boanpwe tidak mendapatkan cara untuk manolak permintaan itu karenanya sengaja boanpwe berkata demikiao agar Gak-hu menaruh rasa curiga semakin mendalam lagi terhadap boanpwe, dengan begitu boanpwe bisa meninggalkan tempat itu dengan leluasa."
"Oooh ... kiranya begitu .."
Seru Wi Ci To sambil tertawa. Mendadak Ti Then menuding kearah tempat kejauhan.
"Coba lihat"
Serunya.
"Bukankah itu kota Tan Leng Sian?"
Wi Ci To segera angkat kepalanya memandang ternyata sedikit pun tidak salah di hadapannya muncul sebuah kota yang cukup besar, dia segera mengangguk.
"Tidak salah, itu memang kota Tan Leng sian,"
Sahutnya.
"Ini hari kita sudah melakukan perjalanan sejauh seratus li."
Dengan perlahan-lahan Ti Then menengok ke sebelah Barat, dia lantas berkata lagi.
"Sang surya sudah turun gunung, hari ini kita mau menginap di kota Tan Leog sian ataukah melakukan perjalanan malam?"
"Kita beristirahat saja."
Hari berlalu dengan amat cepatnya, tidak terasa sepuluh hari sudah berlalu tanpa terasa, siang hari itu mereka sudah tiba ditepi gunung Lak Ban san didaerah Gong Si.
Dengan termangu-mangu Ti Then memandang kearah rentetan pegunungan Lak Ban san yang lenggak lenggok dengan terjalnya itu.
"Tempat ini boanpwe baru untuk pertama kali datang ke sini, pemandangannya sungguh tidak jelek"
Ujarnya.
"Lohu sudah ada dua kali ke sini, perkam pungan Thiat Kiam san ada diseberang gunung yang paling atas itu."
"Bagaimana hubungan persahabatan antara Gak hu dengan si kakek pedang baja Nyio Sam Pek?"
Tanya Ti Then.
"Tidak begitu rapat, tetapi juga tidak punya ganyaian sakit hati apa-apa."
"Menurut berita yang tersebar katanya ilmu pedangnya amat lihay?"
"Tidak salah"
Sahut Wi Ci To mengangguk.
"Di dalam Bu lim pada saat ini namanya boleh dikata termasuk di dalam kesepuluh nama jagoan yang terkenal di Bu lim, tetapi dia sudah sangat lama mengundurkan dirinya, jarang sekali orang-orang yang menyebut namanya lagi,"
"Berapa banyak anak muridnya?"
"Anak muridnya yang menonjol cuma ada puluhan orang saja tetapi baik lelaki Perempuan, tua muda kecil semuanya pada berlatih ilmu silat, pangaruhnya amat besar sekali."
"Kita harus mengembalikan wajah kita yang asli bukan ?"
"Benar."
Tua muda dua orang segera turun dari atas kuda dan mencari sebuah sumber air untuk mencuci bersih penyamarannya, setelah masing-masing berganti pakaian mereka baru melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke atas gunung.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 32 Di Perkampungan Pedang Baja KEISTIMEWAAN dari gunung Lak Ban san ini adalah curam serta terjalnya gunung serta jalan kecil yang menghubungkan tempat itu, bukan saja berliku-liku bahkan merupakan tempat berlindung yang amat bagus sekali, pada jaman dahulu tempat.
ini merupakan satu tempat persembunyian yang amat bagus sewaktu berlindung.
Setelah berhenti sebentar untuk melihat keindahan alam.
Mereka segera melanjutkan perjalanannya naik keatas gunung Lak ban san itu.
Dari kejauhan tampaklah tiga ekor kuda datang mendekati mereka berdua.
Diatas kuda tersebut duduklah tiga orang lelaki berpakaian singsat dengan sebilab pedang tersoren pada punggungnya, jelas kelihatan sikap mereka yang amat gagah dan mengagumkan sekali.
Melihat datangnya orang-orang itu Wi Ci To segera merarik tali les kudanya untuk menghentikan tunggangannya.
"Orang-orang dari perkampungan Thiat Kiam San sudab datang."
Ujarnya cepat kepada Ti Then.
Ti Then pun segera menghentikan kuda kemudian duduk sejajar dengan Wi Ci To.
Hanya di dalam sekejap saja ketiga orang penunggang kuda itu sudab mendekati diri merekaberdua.
Tampaklah ketiga orang itu sudah berusia empat puluhan sedang yang ada di tengah mempunyai wajah yang amat keren sekali.
Setelah mendekat sejauh tiga kaki dari mereka berdua, lelaki yang berwajah keren itu segera maju tiga langkah kedepan kemudian terhadap Wi Ci To dia merangkap tangannya menjura.
"Yang datang bukankah Wi toa pocu dari Benteng Pek Kiam Po?"
Tanyanya.
"Lobu benar adanya,"
Sahut Wi Ci To sambil balas menjura.
"Cayhe Nyio Si Ih tidak mengetahui kalau Wi Toa Pocu mau datang menyambangi, maaf tidak dapat menyambut kedatangan Pocu dengan cepat"
Ujar lelaki berusia pertengahan itu lagi.
"Tidak berani..tidak berani"
Jawab Wi Ci To tersenyum.
"Kiranya Lo-te adalah putera ketiga dari Nyio Lo Cung-cu, beberapa tahun yang lalu sewaktu Lohu datang menyambangi ayahmu di gunung Lak ban san ini kebetulan lote tidak ada di dalam perkampungan."
"Benar"
Sahut Nyio Si Ih dengan amat hormatnya. Dengan perlahan Wi Ci To mengalihkan pandangannya kearah dua penunggang kuda lainnya disamping Nyio Si Ih.
"Lalu, apakah mereka juga adalah..."
"Dia adalah Su sute dari boanpwe Huan Ceng Hong, sedang yang ada disebelah kanan adalah Ngo sute dari boanpwe Cia Pu Leng."
Huan Ceng Hong serta Cia Pu Leng dengan cepat pada maju memberi hormat;
"Menghunjuk hormat buat Wi Toa Pocu"
Serunya berbareng. Wi Ci To tersenyum.
"Oooh..kiranya Liong Hauw Ji Kiam (Dua jagoan pedang naga dan harimau) yang namanya sudah menggetarkan dunia persilatan, selamat bertemu..selamat bertemu.."
Serunya.
"Pujian dari Wi Toa Pocu, boanpwe berdua tidak berani menerimanya,"
Jawab Huan Ceng Hong serta Cia Pu Leng terburu-buru. Wi Ci To lantas menuding kearah Ti Then yang ada disampingnya.
"Lohu juga mau perkenalkan kepada Lo-te bertiga, dia adalah Ti Then, Ti Kiauw-tauw dari Benteng kami"
Ti Then yang masih duduk diatas kudanya sambil mengangguk tersenyum ramah.
Mendengar perkataan tersebut air muka mereka segera memperlihatkan rasa terkejutnya yang bukan alang kepalang, sesudah melototi diri Ti Then beberapa saat lamanya mereka baru merangkap tangannya memberi hormat.
"Nama besar dari Ti Kiauw-tauw laksana meledaknya guntur di siang hari bolong, ini hari bisa berkenalan sungguh kami merasa sangat bangga sekali."
Ti Then yang melihat sikap mereka sangat ramah dia pun dengan terburu-buru turun dari kuda lalu membalas hormatnya itu. Wi Ci To lantas melanjutkan bertanya.
"Kalian bertiga apakah ada urusan mau turun gunung?"
"Tidak"
Bantah Nyio Si Ih sambil menggelengkan kepalanya.
"Boanpwe mendapat perintah dari ayah untuk menyambangi seorang sahabat, Wi Toa Pocu, kami akan antar kalian ke atas gunung sebentar..."
"Eeii...bagaimana ayahmu bisa tahu kalau lohu mau datang?"
Tanyanya keheranan.
"Bukan..bukan..setelah Wi Toa Pocu serta Ti Then naik keatas gunung kami baru memperoleh kabar"
Sahut Nyio Si Ih tertawa. Mendengar perkataan tersebut Wi Ci To baru jadi paham kembali.
"Oooh..kiranya begitu...keadaan dari ayahmu apakah baik-baik saja?"
OooOOOooo "Berkat lindungan Thian-dia orang tua berada dalam keadaan baik-baik saja"
Sahut Nyio Si Ih dengan hormat.
"Karena ini karena lohu serta Ti Kiauw-tauw ada urusan lewat sini karena teringat sudah lama lohu tidak bertemu dengan ayahmu, maka sekalian naik ke gunung untuk menyambangi dirinya"
"Terima kasih atas kemurahan hati Wi Toa Pocu mau menyambangi ayah, mari ikuti boanpwe naik keatas.."
Sahut Nyio Si Ih lagi.
"Baiklah"
Demikianlah Nyio Si Ih bertiga segera naik keatas kuda untuk memimpin jalan di depan, sedangkan Wi Ci To serta Ti Then mengikuti dari belakang.
Kurang lebih berjalan kembali selama setengah jam lamanya akhirnya mereka baru tiba di puncak yang teratas dari gunung Lak Ban san tersebut.
Setelah melewati sebuah hutan pohon siong yang lebat tampaklah sebuah perkampungan yang amat besar dan megah muncul di hadapan mata.
Di luar pintu besar di depan perkampungan tersebut terlihatlah sudah ada tujuh delapan orang berdiri disisi pintu menanti kedatangan tamu terhormat, diantaranya tampaklah seorang kakek tua yang rambut serta jenggotnya sudah pada memutih semuanya.
Tidak usah dibicarakan lagi, sudah pasti kakek tua itu bukan lain adalah si kakek pedang baja Nyio Sam Pak, begitu dia melihat rombongan yang datang sambil tertawa tergelak dia maju menyambut.
"Ha..ha..sungguh gembira hati ini, entah angin apa yang membawa Wi Pocu sudi berkunjung ke perkampungan kami ini..."
Dengan cepat Wi Ci To meloncat turun dari atas kuda, dia pun tertawa terbahak-bahak.
"Wajah Nyio-heng penuh dengan cahaya merah kelihatan sekali amat segar bugar, sungguh patut digirangkan! sungguh patut diselamatkan!"
Serunya sambil merangkap tangannya menjura. Si kakek pedang baja Nyio Sam Pak segera angkat kepalanya dan memperlihatkan sebaris giginya yang sudah tinggal tak seberapa banyak itu.
"Coba kau lihat"
Ujarnya.
"Gigiku sudah pada rontok semua, bagaimana kau bisa bilang masih kelihatan segar bugar?"
Wi Ci To tersenyum.
"Usia dari Nyio-heng sudah ada sembilan puluh enam, cuma rontok beberapa buah gigi bukanlah satu urusan yang berat, ada orang bilang begitu usia manusia mula menginjak tua bukan saja giginya pada rontok bahkan telinganya akan tuli matanya akan buta, kalau tidak dialah seorang bajingan."
"Haaaa .... haaaa .... haaaaa . ..kenapa tidak. , ..kenapa tidak"
Seru si kakek pedang baja Nyio Sam Pak tidak tertahan sambil tertawa terbahak-bahak.
"Untung sekali lolap bukanlah bajingan! haaaa .... haaaa ..."
Setelabt tertawa keras beberapa saat lamanya mendadak dia menuding kearah Ti Then, dan tanyanya .
"Siapakah bocah ini ?"
"Kiauw-tauw dari Benteng kami, dia bernama Ti-Then."
Dengan cepat Ti Then maju kedepan untuk memberi hormat.
"Boanpwe Ti Then menghunjuk hormat buat Nyio Locianpwe,"
Air muka Si-kakek pedang baja Nyio Sam Pak segera memperlihatkan rasa terkejut kemudian dengan telitinya dia memperhatikan tubuh Ti Then dari atas sampai ke bawah, setelah itu dengan tak henti-hentinya dia memperdengarkan suara keheranannya.
"Usianya masih begitu muda tetapi sudah berhasil manjadi Kiauwtauw dari Benteng Pek Kiam Po, sungguh mengagumkan sekali . ... sungguh mengagumkan sekali !"
Serunya berulang kali.
"Aku orang she Wi serta Ti Then dikarenakan ada sedikit urusan melewati tempat ini, mendadak aku teringat kspada Nyio-heng yang sudah ada bebeapa tahun tidak bertemu karenanya sengaja aku naik keatas gunung untuk menyambangi diri Nyio-heng, harap kedatangan dari lohu ini tidak sampai mengganggu ketenangan dari Nyio-heng."
"Mana .... mana "
Sahut Si kakek pedang baja Nyio Sam Pak dengan serius.
"Silahkan masuk kedalam untuk minum teh... silahkan !"
Serombongan orang-orang itu segera berjalan masuk kedalam ruangan tengah, setelah duduk ditempat masing-masing dan pelayan menghidangkan air teh Nyio Sam Pak baru buka mulut berbicara.
"Wi Pocu tadi bilang ada urusan melewati tempat ini entah urusan apa itu?"
"Sebetulnya bukan satu urusan yang besar, Cuma dikarenakan anak murid dari orang she Wi yang bernama Cu Han Seng banyak meninggalkan Benteng beberapa tahun yang lalu sampai kini jejaknya tidak jelas dan baru-baru ini aku orang she Wi dengar di dekat kota Kiu Sian ada orang pernah menemui dirinya maka aku orang segera menyusul kesana untuk mencarinya, aku orang she Wi takut dia sudah menemui satu peristiwa yang diluar dugaannya,"
"LaIu apa sudah ketemu ?"
Tanya Nyio Sam Pak memperhatikan dirinya.
"Belum !"
"Wi Pocu rasa sudah terjadi urusan apa dengan dirinya ?"
Wi Ci To menghela napas panjang.
"Urusan sebetulnya adalah begini, dia adalah salah seorang pendekar pedang putih dari Benteng kami, aku orang she Wi pernah menentukan satu peraturan barang siapa diantara pendekar pedang merah dia baru berhak untuk berkelana diluaran, sedangkan Ciu Han Seng ini tidak lama setelah naik menjadi pendekar pedang putih sudah meninggalkan Benteng, Hal ini berarti pula sudah melanggar peraturan yang sudah aku orang she Wi tentukan . ."
"Karenanya Wi Pocu bermaksud menangkap dirinya pulang ke Benteng untuk menjatuhi hukuman ?"
Sambung Nyio Sam Pak kemudian.
"Benar"
Sahut Wi Ci To mengangguk.
"Tetapi sebab yang utama adalah tak takut dia sudah menemui kejadian yang diluar Dugaan, karena dia mempunyai satu dendam kesumat, orang tuanya sudah dibunuh oleh majikan ular Yu Toa Hay dan dia terus menerus ingin pergi mencari Yu Toa Hay untuk membalas dendam, tetapi dengan kepandaian yang dimiliki sekarang ini sebetulnya dia masih bukan tandingan dari Yu Toa Hay itu."
Dengan perlahan Nyio Sam Pak mengangguk.
"Kiranya masih ada bermacam-macam alasan yang demikian ruwetnya, muridmut Ciu Han Seng tentunya kepingin cepat-cepat membalas dendam orang tuanya sehingga tanpa pamit lagi dia sudah meninggalkan Benteng, soal ini memang patut dikasihani"
"Benar..."
Dengan perlahan sinar mata dari Nyio Sam Pak dialihkan keatas wajah Ti Then ia tertawa.
"Ti Kiauw-tauw, bisa diterima sebagai Kiauwvtauw dari Benteng Pek Kiam Po tentunya kepandaian silat yang dimilikinya amat tinggi sekali, entah dapatkah Lolap ikut mengetahui siapakah nama dari gurumu"
"Tidak berani!"
Sahut Ti Then sambil bungkukan badannya memberi hormat.
"Suhuku adalah Bu Beng Lo-jin, dia orang tua sudah lama sekali mengundurkan diri dari-keramaian dunia."-"Bu Beng Lojin?"
Tanya Njio Sam Pak dengan air muka keheran-heranan.
"Lolap sudah berkelana didalam Bu-lim selama lima, enam puluh tahunan lamanya tetapi belum pernah mendengar kalau didalam Bu-lim ada seorang jagoan berkepandaian tinggi yang demikian hebatnya. ..."
"Perkataan yang diucapkan Ti Kiauw-tauw adalah perkataan yang sungguh-sungguh!"
Sambung Wi Ci To dengan cepat.-"Dia cuma mendapatkan pelajaran ilmu silat saja dari Bu Beng Lojin itu sedangkan mengenai hubungan antara guru dan murid agaknya tidak terlalu penting.."
"Kenapa ?"
Tanya Nyio Sam Pak melengak.
"Kemungkinan sekali dimasa yang lalu Bu Beng Lojin pernah menemui satu peristiwa yang menyedihkan hatinya sehingga dia sudah mengasingkan diri tidak munculkan diri kembali kedalam Bu-lim, waktu dia menerima Ti Kiauw-tauw-sebagai muridnya dia pernah mengatakan sebab-sebabnya menerima murid, dia bilang tidak tega melihat ilmu silatnya ikut terkubur kedalam liang kuburan karena itu setelah Ti Kiauw-tauw berhasil didalam ilmu silatnya dia lantas pergi meninggalkan dirinya. -sampai sekarang Ti Kiauw-tauw sendiripun tidak tahu-dia telah berdiam dimana."
Mendengar perkataan tersebut Nyio Sam Pak menghela napas panjang.
"Kelihatannya didalam dunia ini masih terdapat banyak jagoan berkepandaian tinggi yang tidak diketahui oleh orang Bu-lim, walaupun lolap belum pernah melihat kepandaian dari Ti Kiauw-tauw tapi cukup ditinjau dari penghargaan yang diberikan Wi Pocu kepadanya sehingga sukar dicarikan tandingannya pada saat in Ini"
"Nyio locianpwe terlalu memuji,"
Ujar Ti Then merendah.
"Sedikit kepandaian dari boanpwe tidaklah seberapa, sebenarnya masih belum bisa dikatakan hebat"
"Kalau Ti Kiauw tauw bicara demikiao Wi Pocu kalian setelah mendengar perkataan ini hatinya tentu akan sedih"
Ujar Nyio Sem Pak sambil tertawa terbahak-bahak.
"Apa maksud dari perkataan Nyio Locianpwe ini?"
Tanya Ti Then melengak.
"Pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po semuanya adalah jagoan pedang yang sudah mempunyai nama besar di dalam Bu-lim, bilamana sekarang Ti Kiauw tauw bilang kepandaianmu tidak dapat melebihi orang lain maka bukankah para pendekar pedang merah itu termasuk golongan rendahan"
Wi Ci To yang ada disamping tertawa terbahak-bahak.
"Padahal keadaan yang sesungguhny memang demikian"
Sambungnya dengan cepat.
"Anak buah dari aku orang she Wi jikalau dibandingkan dengan Ti Kiauw tauw memang boleh dikata golongan rendah saja"
Sekali lagi Nyio Sam Pak tertawa tergelak.
"Sebaliknya anak murid golongan rendahan dari Wi Pocu itu semuanya dapat menjabat sebagai Kiauwtauw dari perkampungan Thiat Kiam san Cung kami"
"Nyio heng kita adalah kawan lama, buat apa kalau bicara begitu merendahnya?"
Ujar Wi Ci To sambil tertawa. Mendadak air muka Nyio Sam Pak berubah jadi amat sedih sekali, lalu dengan perlahan-lahan dia menghela napas panjang.
"Suagguh kami orang dari perkampungan Thiat Kiam San cung sudah tidak dapat mengembalikan kejayaan seperti dahulu lagi"
Ujarnya dengan sedih.
"Semakin lama kita semakin merosot; coba bayangkan pada masa yang lalu ada siapa yang berani datang ke perkampungan Thiat Kiam san cung kami untuk mencari gara-gara? sedan kini...."
Berbicara sampai disini dengan sedihnya dia menundukkan kepalanya lalu menghela napas panjang.
"Kenapa ?"
Tanya Wi Ci To kaget, Nyio Sam Pak segera tertawa pahit.
"Hei ... lebih baik tidak usah kita ungkap lagi"
Serunya. Wi Ci To yang melihat dia tidak mau menjelaskan lebih lanjut, dengan cepat dia mengalihkan bahan pembicaraannya.
"Putra pertama serta putra kedua dari Nyio heng apa tidak ada didalam perkampungan?"
"Mereka ada urusan sudah meninggalkan perkampungan"
"Agaknya mereka berdua sudah memperoleh seluruh kepandaian dari Nyio-heng, bahkan .."
Dia angkat kepalanya memandang kearah Huan Ceng Hong serta Cia Pu Leng yang ada dibelakang badan Nyio Sam Pak itu lalu sambungnya lagi.
"Beberapa orang anak murid dari Nyio-heng ini pun sudah mencapai kesempurnan, menurut perkataan seharusnya hal ini tidak membuat Nyio-heng merasa kecewa."
"Mereka suheng-te memangnya tidak membuat lolap merasa kecewa,"
Sahut Nyio Sam Pak perlahan.
"Persoalannya sekarang kepandaian yang lolap berikan kepada mereka sudah tidak cukup bagi mereka untuk menghadapai segalanya."
"Anak murid dari aku orang she Wi sekalipun pendekar pedang merah yang paling tinggi pun sewaktu berkelana didalam dunia kangouw belum tentu bisa menangkan seluruh pertempuran yang dihadapinya, merekapun sama saja pernah memperoleh kekalahan, tetapi lohu pernah beritahu kepada mereka, sebagai seoraog jagoan pedang yang penting adalah semangat berlatih silat yang tidak ada kunjung padamnya, belum tentu setiap menghadapi pertempuran harus memperoleh kemenangan"
"Perkataan dari Wi Pocu sedikitpun tidak salah"
Ujar Nyio Sam Pak tertawa.
"Mereka suheng-te pun bisa memegang erat-erat perkataaan tersebut"
"Kalau memangnya bisa demikian maka yang lainnya tidak perlu dipikirkan lagi"
"Tetapi bilamana setiap kali menghadapi pertempuran sengit dan seringkali menderita kekalahan begini pun bukanlah suatu cara yang baik"
"Perkataan dari Nyio-heng ini apakah mempunyai bukti?"
Nyio Sam Pak termenung berpikir sebentar, akhirnya dia tertawa pahit.
"Lebih baik tidak usah dikatakan saja, bilamana diceritakan malah mendatangkan rsa malu saja"
"Bilamana Nyio-heng ada urusan yang sukar dibereskan lebih baik kau ucapkanlah terus terang, aku orang she Wi dengan senang hati akan turun tangan memberi bantuan"
Nyio Sam Pak Cuma gelengkan kepalanya tidak berbicara.
"Nyio-heng,"
Ujar Wi Ci To kemudian berganti bahan pembicaraan.
"Pada masa Mendekat ini apakah kau pernah bertemu dengan si pembesar kota uo It Sian?"
Ketika Nyio Sam Pak mendengar disebutnya si pembesar kota Cuo It Sian mendadak semangatnya berkobar kembali.
"Tidak"
Jawabnya sambil gelengkan kepalanya.
"Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan dirinya, apakah Wi Pocu pernah melihat dirinya?"
"Tidak lama yang lalu aku pernah bertemu satu kali dengan dirinya, aku orang she Wi dengar katanya Nyio-heng dengan dirinya adalah kawan lama?"
"Benar,"
Sahut Nyio Sam Pak mengangguk.
"jadi orang tidak jelek juga, bukan saja Bun mau pun Bu lihay bahkan berhati pendekar dan suka menolong orang yang lemah, dia memang seorang manusia yang patut diajak berkawan."
"Benar...benar.."
Sahut Wi Ci To tersenyum.
"Kepergian putra pertama serta putera kedua dari lolap kali ini pun ada kemungkinan sekalian mereka pergi juga menyambangi dirinya."
Mendengar perkataan itu dalam hati Ti Then merasa sangat terperanjat sekali.
"Aaah..kedua orang putera dari locianpwe pergi menyambangi dirinya?"
Serunya tak terasa, Dia teringat kembali akan peristiwa terbunuhnya si elang sakti Cau Ci Beng oleh Cuo It Sian, urusan ini Nyio Sam Pak sampai sekarang pun masih belum tahu.
Bilamana sekarang kedua orang putra dari Nyio Sam Pak menuju ke rumahnya Cuo It Sian bukankah hal ini akan memancing rasa curiga dari Cuo It Sian ?
ada kemungkinannya sekali malah menimbulkan napsu membunuh dari dirinya sehingga hal ini membuat hatinya jadi amat cemas sekali.
Nyio Sam Pak yang melihat secara tiba-tiba dia orang menimbrung bahkan air mukanya membawa rasa tegang tidak terasa lagi jadi sedikit melengak.
"Ada yang tidak beres?"
Tanyanya cepat.
"Tidak mengapa ....tidak mengapa,"
Dengan perlahan Nyio Sam Pak menoleh ke arah diri Wi Ci To lalu dengan wajah yang ragu-ragu tanyanya;
"Apakah diantara Wi Pocu dengan Cuo It Sian ada ganjalan hati?"
Wi Ci To sendiripun tahu Ti Then sedang merasa kuatir atas keselamatan dari kedua orang putra Nyio Sam Pak itu, tetapi pada saat ini dia merasa tidak leluasa untuk menceritakannya kareoa itu dia segera gelengkaa kepalanya.
"Tidak ada, walaupun aku orang she-Wi sudah berkenalan amat lama sekali dengan dirinya tetapi belum pernah terjadi sedikit bentrokan pun"
Baru saja dia selesai berkata mendadak tampaklah seorang pemuda berlari masuk ke dalam ruangan lalu dengan sikap yang gugup dia berkata kepada Nyio Sam Pak-"Cung cu, mereka datang merampok kayu lagi"
Air muka Nyio Sam pak segera berubah sangat hebat, mendadak dia membanting hancur cawan yang ada di tangannya dan meloncat bangun.
"Hmmm..sungguh keterlaluan sekali!"
"Sudah terjadi urusan apa?"
Tanya Wi Ci To melengak. Dengan amat gusarnya Nyio sam Pak berjalan mondar mandir di tengah ruangan, kemudian dia baru tertawa dingin.
"Hmmmm..itu iblis bongkok Ling Hu-Ih berani mencari gara-gara dengan lolap"
Mendengar disebutnya si iblis bongkok Ling Hu Ih oleh Nyio Sam Pak ini baik Wi Ci To mau pun Ti Then bersama-sama jadi sangat terkejut karena si iblis bongkok Ling Hu Ih ini adalah seorang manusia yang paling lihay dari kalangan Hek-to, kepandaian mau pun nama besarnya tidak ada di bawah dari si anjing langit rase bumi, bahkan mempunyai julukan sebagai raja dari antara iblis.
Selama ini jejaknya tidak menentu karena itu sekalipun Wi Ci To sudah amat lama mendengar nama besarnya tetapi belum pernah bertemu muka, tetapi dia tahu si iblis bongkok Leng Hu Ih ini adalah seorang manusia yang sukar untuk diganggu.
"Si iblis bongkok Leng Hu Ih sudah sampai di gunung Lak Ban San?"
Tanya Wi Ci To dengan terperanjat.
"Benar, sudah ada beberapa bulan lamanya"
Sahut Nyio Sam Pak dengan air muka terharu.
"Apa tujuannya datang ke gunung Lak Ban san ini?"
"Mendirikan markas besar"
"Aaaah..ternyata ada urusan begini? Dia ingin menduduki gunung ini sebagai raja?"
"Tidak salah, selama ini iblis tersebut selalu berkelana seorang diri, tidak disangka secara tiba-tiba saja pada tiga bulan yang lalu dia memimpin segerombolan manusia datang ke gunung Lak Ban san dan berdiam kurang lebih tiga li dari perkampungan kami, katanya mereka mau mendirikan markas besar disana"
"Bukankah hal ini berarti pula sedang menantang perang terhadap Nyio-heng?"
Tanya Wi Ci To dengan air muka serius.
"Benar!"
Sahut Nyio Sam Pak tertawa dingin.
"Karena lolap sudah mengumumkan kalau aku telah mengundurkan diri dari kalangan dunia persilatan, maka lolap tidak ingin bergebrak lagi dengan orang lain, karena itu sudah memerintahkan putraku yang pernah mencegah, akhirnya setelah bergebrak, karena mereka berjumlah amat banyak putraku sekalian tidak kuat menahan serangan mereka dan setiap kali menderita kekalahan, pada waktu mendekat ini sikap mereka semakin ganas lagi, ternyata pepohonan dan kayu-kayu yang ada di sekitar tempat ini sudah diambili, bukankah hal ini terang-terang sedang menantang aku?"
"Apakah dahulu Nyio heng pernah ada ganjalan hati dengan Ling Hu Ih ?"
"Dengan dia orang sendiri tidak ada, tetapi dengan adik misannya Si "Ping sin siucay"
Atau-siucay penyakitan Ciu Kia Leng psrnah terjadi sedikit peristiwa pada tujuh delapan tahun yang lalu dia sudah lolap hukum, kemungkinan sekali dengan berdasarkan urusan inilah dia sengaja naik keatas gunung Lak Ban San untuk mencari gara-gara"
"Tadi Nyio heng tidak mau menceritakan urusan tersebut apakah yang dimaksud dengan peristiwa dari Leng Hu Ih ini?"
"Benar!"
Sahut Nyio Sam Pak sambil menghela napas panjang.
"Omong terus terang saja dikarenakan lolap tidak mempunyai pegangan yang kuat untuk memperoleh kemenangan maka selama ini lohu terus menerus bersabar diri dan menghindarkan diri dan setiap bentrokan langsung dengan mareka, tetapi ternyata mereka mendesak terus menerus, bukankah hal ini semakin tidak memandang sebelah mata pun kepada lolap?"
Dia berhenti sebentar untuk kemudian sambungnya lagi.
"Orang yang dibawa olehnya kali ini ada dua ratus orang lebih, diantaranya ada beberapa orang yang merupakan jagoan berkepandaian tinggi dari kalangan Hek-to, lolap yang merasa tidak dapat menangkan mereka maka pada beberapa hari yang lalu sudah memerintahkan kedua orang putraku untuk turun gunung mencari bala bantuan. Cuo It Sian pun termasuk salah seorang yang lolap mintai bantuannya."
Wi Ci To yang mendengar Cuo It Sian pun termasuk orang yang diundang untuk membantu pertempuran ini tidak kuasa lagi dia sudah melirik sekejap kearah Ti Then kemudian tanyanya.
"Bala bantuan yang diundang Nyio heng entah kapan baru bisa tiba disini?"
"Paling cepat mungkin dua puluh hari kemudian baru bisa tiba"
"Ada satu persoalan yang aku orang she-Wi mengharapkan Nyio-heng suka menjawabnya secara terus terang ..."
"Urusan apa?"
Tanya Nyio Sam Pak sambil pandang tajam wajahnya.
"Nyio-heng, maukah kau orang memandang aku orang she-Wi sebagai teman?"
"Apa maksud perkataan dari Wi Pocu ini?"
"Bilamana Nyio-heng suka memandang aku orang she-Wi sebagai teman maka sekarang juga kita pergi temui si iblis bongkok Leng Hu Ih itu"
"Bisa memperoleh bantuan dari Wi Pocu sudah tentu sangat bagus sekali, Cuma saja Wi Pocu baru saja tiba dari tempat kejauhan, bagaimana boleh ...
"Kau tidak usah sungkan-sungkan lagi !"
Ujar Wi Ci-To sambil bangkit berdiri, nenanti setelah membereskan Leng Hu Ih, Nyio-heng baru baik-baik menjamu kita dengan beberapa cawan arak saja"
"Kalau begitu Lolap segera akan memrntahkan anak muridku untuk bikin persiapan"
Ujar Nyio Sam Pak dengan amat girang.
"Kemudian kita bersama-sama berangkat, pergi mencari diri Leng Hu Ih untuk bertempur mati-matian"
"Tidak . ..tidak perlu"
Cegah Wi Ci To dengan cepat.
"Lebih baik Nyio-heng perintahkan anak muridmu untuk baik--m-enjaga perkampungan saja, cukup kita-tiga orang sudah dapat membereskan mereka"
"Tetapi mereka berjumlah amat banyak"
Seru Nyio Sam Pak melengak-Wi Ci To lantas tersenyum tawar.
"Untuk menawan penjahat harus menangkap rajanya terlebih dulu, asalkan kita berhasil membunuh Leng Hu Ih maka sisanya tidak perlu ditakuti lagi."
"Tetapi mereka masih mempunyai beberapa orang pembantu yang amat lihay sekali seperti "Ci Hun Suseng"
Atau si-sastrawan banci Ong Cuo Ting"
Pan Bian si Sah"
Atau si muka aneh Ling Ang Lian"
Boe-Cing atau Si kakek tak berbudi Ko Cing Im serta It Kiam Pun Ci"
Atau bertemu tidak mujur Cang Hiong, bilamana Leng Hu Ih tidak mau bertempur satu lawan satu melainkan memerintahkan mereka-untuk turun tangan mengerubuti.."
"Soai ini pun tidak usah dikuatirkan !"
Potong Wi Ci To dengan cepat. Nyio Sam Pak melihat dia orang mempunyai kepercayaan yang begitu teguh tidak-banyak berbicara lagi kepada putranya yang ketiga Nyio Si Ih lantas perintahnya.
"Si Ih, kau pergi ambil pedang baja dari Lolap!"
Nyio Si Ih dengan hormatnya menyahut kemudian dengan tergesa-gesa lari masuk ke dalam ruangan.
Tidak lama kemudian pedang bajanya sudah tiba.
Nyio Sam Pak segera menerima pedang itu dan dicabutnya keluar, seperti baru saja bertemu dengan kawan lama ujarnya kemudian sambil menghela napas panjang.
"Pedang baja ini sudah lolap simpan lama sekali, tidak kusangka ini hari harus digunakan kembali !"
Pedang baja ini besar kecilnya persis dengan pedang pusaka biasa, cuma saja dari badannya mengeluarkan sinar yang amat tawar sekali, kelihatannya sangat aneh. Wi Ci To tersenyum.
"Pedang baja dari Nyio-heng ini pada masa yang lalu pernah mengetarkan seluruh? dunia kangouw dan ditakuti oleh kaum penjahat, kali ini bisa muncul kembali dari sarungnya membuat Nyio-heng kelihatan makin gagah lagi"
Pujinya. Nyio Sam Pak cuma tertawa tawar lalu memasukkan kembali pedang bajanya ke dalam sarung, kepada putranya yang ketiga Nyio Si Ih dia segera berpesan.
"Si Ih, kau baik-baiklah menjaga perkampungan, lolap bersama-sama dengan Wi Pocu akan menemui Leng Hu Ih tersebut."
Berbicara sampai disini dia segera menoleh kearah Wi Ci To serta Ti Then.
"Mari kita berangkat !"
Ujarnya sambil tertawa.
Dengan demikian mereka bertiga segera berjalan meninggalkan perkampungan Thiat kiam San Cung.
Nyio Sam Pak memimpin berjalan di depan, dengan melalui sebuah jalan usus kambing yang kecil disamping kiri perkampungan dia berjalan sejauh setengah li, mendadak terdengarlah suara ditebangnya kayu berkumandang datang dari hutan sebelah depan.
Nyuo Sam Pak segera mempercepat langkahnya.
"Heee ... heeee , ..kemarin dulu pemimpin yang meronda disini adalah Hoa Hu Tiap atau sikupu-kupu bunga Hong It peng, kemungkinan sekali ini hari pun dia juga yang pimpin"
Serunya sambil tertawa dingin.
"Bagaimana dengan kepandaian silatnya?"
Tanya Wi Ci To.
"Tidak lemah, muridku Cia Pu Leng pernah bergebrak melawan dirinya tetapi bsrakhir dengan seimbang."
"Hoa Hu Tiap, atau sikupu-kupu bunga Hong It Peng ini boanpwe pernah mendengar orang berkata"
Tiba-tiba tukas Ti Then."
Menurut apa yang boanpwe dengar dia adalah adik angkat dari Giok Bian Langcoen, Coe Hoay Lo !"
"Tidas salah, mereka berdua adalah bajingan-bajingan cabul yang kejahatannya sudah bertumpuk-tumpuk"
"Giok Bin Langcoen Coe Hoay Lo sudah boanpwe basmi"
Ujar Ti Then sambil tertawa.
"Ini hari biarlah si kupu-kupu bunga Hong It Peng ini pun boanpwe basmi sekalian,"
Berbicara sampai disini mendadak di hutan sebelah depan terdengar suara benturan yang amat keras sekali sehingga memekikkan telinga, agaknya ada sebatang pohon besar yang berhasil dirobohkan.
"Kurang ajar !"
Maki Nyio Sam Pak dengan gusar.
Tubuhnya segera berkelebat menubruk kearah hutan itu.
Wi Ci To serta Ti Then pun dengan cepat mengikuti dari belakangnya di dalam sekejap saja mereka bertiga sudah tiba dilapangan tersebut.
Pada saat ini di tengah lapangan ini ada dua puluh orang lelaki herpakaian ringkas sedang menggergaji kayu sedaag yang lain sedang memotong-motong kayu itu jadi beberapa bagian dan siap digotong pergi.
Diantara mereka ada seorang yang mamakai baju berwarna-warni dengan wajah kurus kering sedang berdiri bergandeng tangan disana jika dilihat dari sikapnya jelas dialah pemimpin yang memimpin pekerjaan di tempat ini.
Ketika pandangan matanya dapat melihal si kakek pedang baja Nyio Sam P-k, Wi Ci To serta Ti Ihen menubruk datang air mukanya sedikit berubah, tetapi dia orang sama sekali tidak memperhatikan rasa jerinya.
Bukan begitu saja bahkan dia melengos dan pura-pura tidak melihat kedatangan mereka itu.
Dengan wajah yang amat gusar sekali Nyio Sam Pak segera berjalan menghampiri dirinya.
"Kau kah si kupu-kupu bunga, Hong It Peng ?"
Tanyanya dengan suara yang berat.
"Cayhe memang adanya"
Sahut lelaki berusia pertengahan itu.
"Siapakah nama besar dari lo sianseng ? Ada keperluan apa datang kemari ?"
"Lolap Nyio Sam Pak"
Si kupu kupu bunga Hong It Peng sengaja memperlihatkan rasa terkejutnya, dengan gugup dia bungkukkan badannya menjura.
"Aaih . .. kiranya kiranya kau orang tua adalah Nyio Lo Cung-cu selamat bertemu , selamat bertemu."
"Siapa yang suruh kalian tebangi kayu-kayu disini?"
Seru Nyio Sam Pak tertawa dingin. Si kupu-kupu bunga Hong It Peng tertawa.
"Toako kami si iblis bongkok Leng Hu Ih yang suruh."
Dia mengucapkan kata-kata Iblis bongkok Leng Hu Ih dengan dengan amat tegas sekali agaknya dia mengira nama Leng Hu Ih bisa mengejutkan orang yang mendengar.
"Sekarang aku perintah kalian untuk menghentikan penebangan kayu dan cepat menggelnding pergi dari sini!"
Perintah Nyio Sam Pak lagi dengan dingin. Mehdengar perkataan itu si kupu-kupu bunga Hong It Peng segera tertawa terbahak-bahak.
"Nyio lo Cung-cu kau sungguh pandai bergurau"
Ujarnya mengejek.
"Hutan belantara ini bukannya harta milik kau Nyio Lo Cungcu, siapa yang senang menebang siapa pun tidak ada yang bisa mencegah."
"Tetapi Lolap bisa mencegahnya,"
Ujar Nyio Sam Pak dingin.
Sinar mata dari si kupu kupu bunga segera melirik sekejap kearab Wi Ci To serta Ti Then yang berdiri disampingnya, agaknya dia sama sekali tidak kenal dengan Pocu dari benteng Pek Kiam Po serta Ti Kiauwtauw yang namanya sudah menggetarkan seluruh dunia kangouw ini, air mukanya sama sekali tidak memperlibatkan sedkit rasa jeripun.
"Oouw kiranya ini hari Nyio Lo Cung-cu sudah memnbawa pembantu"
Ejeknya dengan dingin.
"Makanya omonganmu begitu besar hee...he.."
Sepasang mata dari Nyio Sam Pak segera melotot lebar-lebar lantas tertawa seram-"Tidak-salab,, ini hari lolap memang sengaja mengundang datang dua orang pembantu tetapi untuk membasmi kau bajingan cabul lolap percaya masih ada kekuatan"
Berbicara sampai kata-kata yang terakhir telapak tangan kanannya segera didorong ke depan melancarkan satu pukulan menghajar dada darI si kupu-kupu bunga itu.
Di tangan kirinya dia masih mencekal pedang bajanya, saat ini dia tidak ingin menggunakan pedangnya melancarkan serangan, hal ini sudab tentu dikarenakan dia lagi menjaga kedudukannya sendiri dan tidak ingin bertempur secara resmi melawan si kupu kupu bunga ini.
Dengan cepat si kupu-kupu bunga merasa datangnya serangan tersebut amat hebat baru saja pundak dari Nyio Sam Pak sedikit bergerak dia sudah meloncat mundur ke belakang.
"Hee ..hee ..tunggu sebentar!"
Serunya sambil tertawa aneh.
"Ada kentut cepat lepaskan!"
Teriak Nyio Sam Pak tertawa dingin. Si kupu-kupu bunga segera memperlihatkan senyuman menyengirnya yang sangat mengejek.
"Nyio Lo cung cu."
Ujarnya sambil menuding ke arah Wi Ci To serta Ti Then yang berdiri disampingnya itu.
"Kedua orang pembantu yang kau bawa ini hari sudah seharusnya kau kenalkan dulu biar aku pun mengetahui nama mereka."
"Yang tua adalah si pedang naga emas Wi Ci To, Pocu dari Benteng Pek Kiam Po, si pendekar pedang yang muda adalah Kiauw tauw dari Benteag Pek Kiam Po si pendekar baju hitam Ti Then"
Seketika itu juga air muka si kupu-kupu bunga berubah sangat hebat.
Dia orang yang mempunyai si iblis bongkok Leng Hu Ih sebagai tulang punggung sebenarnya sama sekali tidak memandang sebelah mata terhadap para pembantu yang diundang oleh Nyio Sam Pak ini, tetapi ketika didengarnya kedua orang itu bukan lain adalah Wi Ci To itu Pocu dari Benteng Pek Kiam Po serta si pendekar pedang hitam Ti Then, seketika itu juga dia dibuat ketakutan.
Sekalipun si iblis bongkok Leng Hu Ih sendiri pun tidak berani mencari gara-gara dengan Wi Ci To apalagi si kupu-kupu bunga sendiri ?
Maka itu didalam keadaan yang amat cemas itulah sikapnya pun sudah berobah jauh lebih hormat lagi.
Dengun gugup dia bungkukkan badannya menjura terhadap diri Wi Ci To.
"Oooow ..kiranya Wi Toa Pocu sudah datang maaf cayhe punya-mata tak berbiji . .maaf ..maaf .."
Serunya sambil menyengir-nyengir, Wi Ci To segera melengos dia tidak ambil gubris terhadap omongannya.
Air muka si kupu-kupu bunga seketika itu juga berubah memerah dan merasa sangat malu sekali, dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk tetap mempertahankan senyuman di bibirnya-"Hee ...
heea .
cayhe ..cayhe membawa beberapa orang saudara ini datang menebang kayu .
.se..
sebetulnya mendapat perintah dari toako Kami si iblis bungkuk Leng Hu Ih , , , kini kini , heee .
hee , kini bilamana Wi Toa Pocu perintahkan kami untuk berhenti ..cayhe .., cayhe segera kembali ke markas uotuk melaporkan urusan ini kepada toako kami"
Berbicara sampai disini dia segera menoleh dan teriaknya dengaa keras kepada anak buahnya-"Heeey saudara sekalian, berhenti menebang, ikut aku pulang.."
Mendengar perintah tersebut orang-orang itu lantas pada berhenti bekerja dan membereskan alat-alatnya siap meninggalkan tempat itu.
"Hong It Peng,"
Tiba-tiba terdengar Ti Then berseru sambil maju kedspan.
"Biar mereka pulang sendiri,"
Air muka si kupu-kupu bunga segera berubah jadi pucar pasi, dia segera memperlihatkan senyuman paksa.
"Ti Kiauwtauw ada petunjuk apa?"
Tanyanya. Ti Then berjalan sampai beberapa langkah dan badannya baru berhenti, kepada Nyio Sam Pak segera ujarnya.
"Nyio Locianpwe, kau orang tua boleh beristirahat dulu, orang ini serahkan saja kepada boanpwe untuk dibereskan."
Agaknya Nyio Sam Pak pun ingin sekali mengetahui kelihaian dari Ti Then, dia segera tertawa dan mengundurkan diri dari sana, waktu itu Ti Then baru menoleh kearah si kupu-kupu bunga.
"Aku dengar kau adalah adik angkat dari Giok Bian Langcoen Coe Hoay Lo ?"
"Benar"
Sahut si kupu kupu bunga Hong It-peng sambil terpaksa mengangguk.
"Kalau begitu seharusnya kau membalas dendam atas kematian dari Giok Bian Langcoen, dia sudah aku bunuh mati"
"Cayhe mempunyai perintah yang belum terlaksana, saat ini bukan waktunya untuk membicarakan soal balas dendam, nanti setelah aku laporkan urusan ini kepada toako aku baru datang lagi untuk minta beberapa pelajaran dari Ti kiauw tauw"
Usai berkata dia putar badan siap meninggalkan tempat tersebut kembali.
"Berhenti!"
Bentak Ti Then sambil tertawa, si kupu kupu bunga segera merasakan hatinya bergidik, terpaksa dengan keraskan kepala dia putar badannya kembali.
"Ti Kiauw tauw kau punya perintah apa lagi?"
Tanyanya sambil tertawa kering.
"Agaknya kau takut mati.?"
Air muka si kupu kupu bunga segera berubah memerah.
"Cayhe tidak paham apa maksud dari perkataan Ti Kiauwtauw ini."
"Selama hidupku aku paling benci terhadap manusia Jay Hoa Cat yang tukang merusak perawan perempuan, maka itu setiap kali aku bertemu dengan penjahat pemetik bunga aku tidak bakal akan melepaskan dirinya."
"Tapi cayhe bukanlah seorang penjahat pemetik bunga."
"Sedikit-dikitnya satu golongaa dengan dia, kau adalah adik angkat dari Giok Bian LangCoen maka sudah tentu sama sepeiti dia kau pun Seoracg penjahat pemetik bunga."
"Kalau bicara lebih baik kalau ada buktinya, Ti Kiauwtauw jangan sembarangan menuduh."
Ti Then segera tertawa dingin.
"Ditinjau dari julukanmu sebagai kupu kupu bunga, kupu-kupu selamanya tidak bakal meninggalkan bunga. Agaknya si kupu kupu banga merasa keadaan tidak baik, dengan cepat dia menarik kembali rasa takutnya diikuti memperdengarkan suara tertawanya yang sangat tidak enak.
"Kelihatannya ini hari Ti Kauwtauw tidak bermaksud melepaskan cayhe?"
"Benar, kau boleh mulai melancarkan serangan"
Sahut Ti Then mengangguk.
"Bagus sekali, cayhe akan menemani kau bermain sebentar"
Tubuhya segera bergerak mundur beberapa depa ke belakang tangan kanannya merogoh ke dalam sakunya mencabut keluar sebilah pedang emas yang memancarkan sinar yang amat-tajam, Ti Then tetap tidak mencabut keluar pedangnya, dia tertawa nyaring.
"Bagus sekali, sekarang silahkan mulai turun tangan"
Si Kupu kupu bunga segera menggetarkan pedang lemas di tangannya sehingga memperdengarkan suara dengungan yang amat keras, dia tertawa dingin.
"Kenapa kau tidak cabut keluar pedangmu?"
"Di dalam sepuluh jurus bilamana aku tidak dapat mencabut nyawamu dengan menggunakan sepasang kepalanku ini maka ini bari ku akan lepaskan satu kehidupan buat dirimu"
Walaupun si kupu-kupu bunga sudah lama mendengar nama besar dari Ti Then dan mengetahui kalau dia memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, tetap; karena ia belum pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri maka dalam hatinya masih tak mau percaya.
Kini mendengar perkataan dari Ti Then itu tak terasa dia jadi gusar juga.
"Kita putuskan demikian, terimalah seranganku!"
Bentaknya sambil tertawa seram.
Baru saja perkataannya selesai pedangnya sudah membabat datang dengan cepat menusuk hati dari Ti Then.
Ti Then tetap berdiri tidak bergerak, menanti setelah ujung pedangnya hampir mendekati badannya tubuhnya baru sedikit miring kesamping, telapak tangannya diubah jadi cengkeraman mengancam pergelangan tangan kanan pihak lawan.
Siapa tahu tusukan pedang dari si kupu kupu bunga itu tidak lebih cuma serangan kosong belaka, melihat Ti Then miringkan badannya menghindar dengan cepat dia gerakkan badannya maju kedepan pedang lemasnya dari gaya minimal jadi membabat, laksana berkelebatnya naga perak dia mengancam pergelangan tangan kanan dari Ti Then.
Perubahan jurus yang sangat cepat ini benar-benar boleh dipuji sebagai serangan jagoan kelas satu di Bulim, Ti Then segera membentak keras, tubuhnya sedikit berjongkok ke bawah telapak tangan kirinya bagaikan kilat cepatnya menghajar pusar dari pihak lawan.
Ketika si kupu-kupu bunga menemukan serangannya yang kedua kembali mencapai sasaran yang kosong untuk mengubah jurus kembali sudah tidak sempat saking terdesaknya terpaksa dia mengundurkan dirinya kebelakang.
Tetapi bersamaan dengan mundurnya sang badan kebelakaog itulah dia membentak keras lagi, pedang lemasnya membacok pundak-kiri dari Ti Then.
Datangnya serangan pedang kali ini amat dahsyat dan ganas sekali, bilamana pundak dari Ti Then ini terkena bacokannya maka kontan segera akan terpapas putus jadi dua.
Tetapi menang kalahpun pada saat itu sudah dapat ditentukan.
Ketika pedang si kupu-kupu bunga dibabat kebawah itulah mendadak dia merasakan pandangannya jadi kabur, dia sudah kehilangan bayangan dari Ti Then.
Diikuti jalan darah Leng Thay hiat pada punggungnya terasa seperti kena ditusuk, saking kesakitannya seketika itu juga dia tidak sadarkan diri.
Tubuhnya sedikit bergoyang lantas rubuh tak dapat bergerak lagi.
Kedua puluh orang penjahat lainnya sewaktu melihat pemimpin mereka si kupu-kupn bunga hanya didalam tiga jurus saja sudah menggeletak tak bangun, semuanya pada terkejut dan berdiri termangu-mangu di sana.
Untuk melarikan diri pun mereka sudah lupa.
Nyio Sam Pak sendiripun dibuat terbelalak oleh kejadian ini.
Dia sejak semula sudah tahu kalau Ti Then tentu memiliki kepandaian silat amat tinggi sekali hingga bisa diterima sebagai Kiauwtauw didalam Benteng Pek Kiam Po tetapi dia tidak menyangka kalau gerakan Ti Then dapat demikian lihaynya.
Lama sekali dia termangu-mangu kemudian dengan sangat terperanjatnya berpikir.;
"Dalam tiga jurus saja dia sudah berhasil memukul rubuh si kupu-kupu bungs. kepandaian yang demikian tingginya ini kemungkinan Wi Ci To sendiripun tidak sanggup untuk melakukannya. Berpikir sampai disitu tidak tertahan lagi dia segera membuka mulutnya bertanya.
"Ti Kiauw tauw, apa kau sudah membunuh dirinya ?"
"Benar"
Sahut Ti Then mengangguk, Para penjahat lainnya sewaktu mendengar si kupu-kupu bunga sudah binasa saat itu seperti baru saja bangun dari impian, dengan cepat-cepat pada melarikan diri dari sana dengan terbirit-birit.
"Semuanya berhenti!"
Tiba-tiba dengan suara yang seperti guntur membelah bumi Ti Then membentak keras.
Mendengar suara bentakan yang memekikkan telinga itu suasana di sekeli1ing kalangan jadi bergetar, para penjahat sudah mulai melarikan diri terbirit-birit itu pun segera pada berhenti berlari dan tidak berani bergerak barang sedikitpun.
"Maju dua orang dan angkat mayat ini, sisanya dengan berbaris jadi satu mengikutinya dari belakang"
Perintah Ti Then lebih lanjut.
Para penjahat itu mana berani membangkang, segera tampaklah dua orang penjahat maju ke depan menggotong mayat si kupu-kupu bunga sedang yang lainnya berbaris jadi satu mengikutinya dari belakang, tapi mereka tidak ada yang berani bergerak.
Karena mereka tidak tahu Ti Then hendak memerintahkan mereka pergi ke perkampungan Thiat Kiam San-cung ataukah kembali ke markas besarnya sendiri.
"Ayoh jalan! Kembali ke markas besar kalian!"
Perintah Ti Then lebih lanjut.
Demikianlah dua orang yang menggotong mayat itu berjalan di paling depan berbaris mengikuti dari belakangnya.
Thi Then, Nyio Sam Pak serta Wi Ci To tiga orang berjalan di paling belakang, bagaikan sebuah ular panjang mereka beramai-ramai bergerak menuju ke markas mereka.
Kurang lebih sesudah melakukan perjalanan sejauh dua li setengah sampailah mereka di depan sebuah perkampungan.
Perkampungan itu belum selesai dibangun, saat ini masib ada berpuluh-puluh orang penjahat sedang mendirikan pagar kayu serta bahan tangga.
"Berhenti!"
Perintah Ti Then selanjutnya.
Kedua puluh orang penjahat itu agaknya sudah pernah mendapat pendidikan yang amat keras sekali, mendengar perintah itu dengan gerakan yang sama mereka menghentikan barisannya.
"Berlutut..!"
Para penjahat jadi melengak tapi mereka tidak berani memmbangkang dengan cepat pada berlutut keatas tanah.
"Yang membopong mayat tidak usah berlutut"
Kedua orang penjahat yang menggotong mayat itu mengikuti perintah dan tetap berdiri.
"Bagus sekali, sekarang semua orang merangkak masuk kedalam perkampungan dan suruh Leng Hu Ih menggelinding keluar!"
Para penjahat itu tidak ada yang berani membangkang, dengan mengikuti dari belakang mayatnya si kupu-kupu bunga mereka merangkak masuk kedalam perkampungan.
Para penjahat lainnya yang ada didalam perkampungan itu semula tidak mengetahui apa yang sudah terjadi, ketika melihat ada segerombolan orang merangkak masuk kedalam perkampungan mereka pada tertawa terbahak-bahak kegelian.
Tetapi setelah melihat jelas kalau mereka adalah orang sendiri bahksn melihat pula mayat tersebut bukan lain adalah mayat dari si kupu kupu bunga air muka mereka baru pada berubah hebat.
Dengan meninggalkan pekerjaannya sendiri-sendiri mereka pada melarikan diri masuk kedalam markasnya dengan terbirit-birit.
Tidak lama kemudian si iblis bungkuk Leng Hu Ih dengan memimpin serombongan orang berjalaa keluar dari sarangnya.
Usianya ada enam puluh tahun, kepalanya besar dengan mata yang bulat, wajahnya"
Penuh barcambang walaupuo badannya bongkok tetapi perawakannya besar dia amat ganas sakali kelihatannya, pada saat ini air mukanya diliputi oleh napsu untuk membunuh.
Orang yang mengikutinya dari belakang semuanya ada dua belas orang banyaknya, diantara mereka tidak ada seorangpun yang berwajah genah, mereka semua mempunyai bentuk wajah yang bengis dan ganas sekali-Setelah berjalan keluar dari sarangnya mereka berhenti karang lebih empat kaki dari antara Wi Ci To bertiga.
Si iblis bungkuk Leng Hu Ih segera mengulap tangannya mencegah kedua belas orang pembantunya untuk berhenti sedang dirinya maju tiga langkah kedepan, kepada Wi Ci To lantas rangkap tangannya memberi hormat.
"Lo-heng ini apakah bukan si pedang naga emas Wi Ci To, Pocu dari Benteng Pek-Kiam Po ?"
Ujarnya.
"Lo-hu memang adanya"
Sahut Wi Ci To sambil balas hormatnya. Si iblis bongkok Leng Hu Ih segera memperdengarkan suara tertawanya yang amat menyeramkan.
"Nama besar dari saudara aku sudah mendengarnya seperti mendengar guntur di siang hari bqlong, ini hari beruntung dapat bertemu aku merasa sangat beruntung sekali "
"Haaaa .... haaa .... tidak berani ..tidak berani!"
Si iblis bongkok Leng Hu Ih segera memperlihatkan sebaris giginya yang putih runcing kemudian tertawa seram kembali.
"Selama puluhan tahun lamanya Wi Pocu memimpin Bu-lim dan menjagoi seluruh kolong langit hal ini benar-benar patut dikagumi oleh semua orang."
"Terima kasih....terima kasih."
Sahut Wi Ci To kembali. oooooOooooo "Tidak lama berselang aku dengar katanya Wi Pocu menghancurkan istana Thian Teh Kong dan membasmi si anjing langit rase bumi, entah benarkah urusan ini ?"
Tanya si iblis bongkok Leng Hu Ih tertawa.
"Benar !"
"Ini hari Wi Pocu datang kemari entah ada keperluan apa ?"
"Sengaja datang menghantar kau ke-akherat !"
Air muka si iblis bongkok Leng Hu Ih segera berubah sangat hebat.
"Perkataan dari Wi Pocu sungguh enak sekali !"
Serunya tertawa serak. Wi Ci To tersenyum.
"Selamanya lohu kalau berbicara tidak pernah berbelok-belok !"
"Bagus sekali, kalau begitu sekarang aku orang she-Leng Hu ingin minta satu penyelasan kepadamu, kau mau menghantar aku orang she Leng Hu menuju ke akherat berdasarkan alasan apa ?"
"Membasmi penjahat !"
"Kau mengartikan aku orang she Leng Hu yang memerintahkan anak buahku pergi ke sekitar perkampungan Thiat Kiam San Cung menebangi kayu ?"
Seru Si iblis bongkok Leng Hu Ih tertawa dingin.
"Bukan !"
"Kalau begitu membasmi penyahat dua kata mempunyai maksud apa ?"
"Kau mengumpulkan manusia-manusia celaka ini datang kemari dan bendak mendirikan sarang hal ini terang-terangan sedang mempersiapkan satu komplotan perampok, demi keselamatan dari penduduk terpaksa lohu harus membasmi dulu bibit-bibit bencana ini agar pendudukpun bisa terhindar dari bencana yang menderitakan."
Tiba-Tiba Leng Hu lh tertawa terbahak-bahak.
"Haaa . , -. haaaa . haaa .. Wi Ci To ! Kau terlalu tidak pandang diri kami,"
Teriaknya mendongkol.
"Orang lain mungkin takuti dirimu tetapi aku Leng Hu Ih tidak bakal akan pandang sebelah matapun kepadamu!" '*Selama hidup tujuan lohu membasmi penjahat bukanlah bermaksud hendak jadi seorang pahlawan, kau tidak pandang lohu hal ini tidak akan menyusahkan hati lohu."
"Nyio Sam Pak"
Tiba-tiba Leng Hu Ih menoleh kearah diri Nyio Sam Pak lantas ejeknya dengan suara yang menghina,."Lohu kira kau adalah seorang manusia luar biasa, tidak disangka kau orang lebih cuma seorang kawanan tikus bernyali.kecil, menanti setelah kedatangan pembantu kau baru berani menongolkan kepala bertemu dengan lohu!"
Mendengar perkataan tersebut Nyio Sam Pak segera maju kedepan.
"Bliamana kau berharap hendak berkelahi dengan lolap, sekarang bukankah sudah ada kesempatan' ujarnya perlahan.
"Bagus. , ..bagus .... bagus sekali, hal ini memang sesuai dengan maksud hati lohu!"
Sahut Leng Hu Ih sambil angkat kepalanya tertawa tertawa terbahak-bahak.
SambiI berkata dari tangan seorang sastrawan berusia pertengan dia menerima sebilah pedang kemudian maju kedepan menyambut kedatangan dari Nyio Sam Pak.
Melihat suasana sudah meruncing Wi Ci To segera berkata dengan menggunakan ilmu menyampaikan suaranya .
"Ti Kiauw tauw, badan Nyio Cungcu sudah lemah usianya pun sudah lanjut,aku rasa dia tidak bakal bisa menahan serangannya lebih baik kau saja yang menyambut serangan kali ini."
Mendengar perkataan tersebut Ti Then segera maju kedepan menghalangi Nyio Sam Pak.
"Nyio Locianpwe!"
Ujarnya sambil. rangkapkan tangannya memberi hormat.
"Kau orang tua sudah mengumumkan diri untuk mundur dari dunia persilatan, tidak seharusnya kau orang tua menggerakkan senjata lagi, biarlah pertempuran kali ini boanpwe yang mewakili."
"Tidak !"
Tolak Nyio Sam Pak sambil tertawa.
"Ti Kiauw tauw silahkan mengundurkan diri. lolap mau turun tangan sendiri* "Bilamana Nyio Locianpwe sayang kepada boanpwe maka seharusnya pertempuran kali ini kau orang tua berikan kepada Boanpwe, agar boanpwe pun mendapat kesempatan untuk mengangkat nama !"
Berbicara sampai disini tidak menanti Nyio Sam Pak setuju atau tidak dia segera menyambut datangnya Si iblis bongkok Leng Hu Ih.
"Hey manusia bongkok!"
Ujarnya sambil tertawa.
"Seharusnya kau mencari diriku dulu. dan balaskan dendam atas kematian dari anak buahmu si kupu-kupu bunga"
"Menyingkir!"
Bentak Leng Hu lh sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Kau bangsat cilik manusia macam apa. Kau berani juga menantang Lohu bertempur?"
Kelihatannya dia sama sekali tidak mengetahui kalau Ti Then adalah seorang manusia yang sukar untuk dihadapi.
"Ooow kau suruh aku menyingkir ? mudah sekali! asalkan kau gerakan pedangmu aku bisa mundur .sendiri."
Mendengar perkataan dari Ti Then ini Leng Hu Ih jadi amat gusar sekali dengan cepat dia putar badan meninggalkan tempat itu.
"Cuo Ting!"
Perintahnya dengan dingin.
"Kau turun tangan dan jagal bangsat cilik itu!"
Jika didengar dari nada suaranya jelas dia tidak mau menurunkan derajatnya berternpur dengan angkatan rendah.
Si sastrawan berusia pertengahan itu segera menyahut dan meloncat maju kedepan.
Wajahnya adalah yang paling "Genah"
Diantara kedua belas orang lainnya telapi bibirnya memakai gincu serta pipinya berbedak, seorang lelaki dengan memakai gincu dibibirnya hal ini jelas memperlihatkan kalau dia orang adalah seorang banci.
Ti Then yang melihat potongannya segera merasa dadanya amat mual hamper muntah.
"Kau orang yang disebut sebagai sastrawan Banci Ong Cuo Ting?"
Tanyanya.
"Benar"
Sahut si sastrawan banci Ong Cuo Ting dengan suara yang melengking kecil dan gaya yang tengik.
"Kau sebenarnya lelaki atau perempuan?"
Bentak Ti Then dengan mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Lalu kau melihat aku seorang lelaki atau perempuan?"
Balik Tanya si sastrawan banci sambil paling kepalanya tertawa melengking.
"Aku lihat kau mirip dengan seorang siluman!"
"Betul sekali!"
Sahut si sastrawan banci tertawa.
"Aku memang paling suka makan itunya manusia...hee..hiii..hiii..kau bocah cilik lebih baik sedikit waspada!"
"Kau berbadan tidak laki-laki tidak perempuan sungguh membuat orang merasa mual, harus dibunuh!"
Begitu kata-kata terakhir diucapkan keluar dari mulutnya, serangannya sudah menyambar kedepan.
Agaknya si sastrawan banci itu tidak menyangka kalau gerakan Ti Then bisa begitu cepatnya, dia jadi terperanjat lalu dengan terburu-buru mundur beberapa tindak kebelakang.
Serangan kedua dari Ti Then segera menyambar dating lagi menghajar pinggangnya.
"Rubuh!"
Bentaknya keras. Pukulannya ini dilancarkan amat cepat sekali, sedangkan ketepatannya serta kemantapannya luar biasa.
"Braaak!"
Punggung dari si sastrawan banci Ong Cuo Ting itu segera terkena hajar sehingga badannya berjumpalitan diatas tanah.
Melihat kejadian itu si iblis bongkok Leng Hu Ih baru merasa terkejut, air mukanya berubah sangat hebat sekali, agaknya pada saat ini dia baru mengetahui kalau Ti Then sebetulnya adalah seorang manusia berbahaya.
"Pukulanku barusan cuma merupakan satu peringatan saja kepadamu agar kau jangan terlalu memandang rendah musuhmu, ayoh bangun kita bergebrak kembali!"
Air muka si sastrawan banci Ong Cuo Ting segera berubah memerah, dengan cepat dia melompat bangun.
"Bangsat cilik, kau pintar juga!"
Teriaknya.
Pukulannya tadi agaknya tidak sampai melukai badannya, tetapi tidak urung nyalinya terpukul goyah juga, senyuman yang menghiasi wajahnya seketika itu juga lenyap tak berbekas.
Begitu tubuhnya meloncat meloncat bangun dia segera merendahkan badannya memperkuat kuda-kuda kemudian pusatkan seluruh perhatiannya menanti serangan lawan selanjutnya.
Ti Then sama sekali tidak memperlihatkan gaya apa pun, sambil tertawa mengejek ujarnya.
"Kali ini lebih baik kau saja yang mulai menyerang!"
Si sastrawan banci Ong Cuo Ting segera geserkan bandannya bergerak maju, kemudian secara tiba-tiba membentak keras, telapak tangannya laksana sebilah golok dengan tajamnya membabat badan Ti Then.
Ti Then yang mendengar datangnya angin pukulan amat keras dia segera mengetahui kalau serangan tersebut adalah serangan yang benar-benar, telapak tangan kanannya segera diayun menyambut kedatangannya.
Si sastrawan banci Ong Cuo Ting yang baru saja menerima satu pukulannya tanpa menderita Iuka dalam hati dia mengira Ti Then cuma mengandalkan kelincahan ilmu telapaknya saja sedangkan tenaga dalamnya biasa saja, karena itu melihat Ti Then menyambut datangnya serangan tersebut dalam hati merasa sangat girang sekali, dia mengambil keputusan untuk mengadu keras.
lawan keras dengan diri Ti Then.
Mendalak ..."
Braak !"
Ujung telapak masing-masing pihak dengan menimbulkan suara yang amat keras saling berbentur satu sama lainnya.
Si sastrawan banci segera menjerit ngeri tubuhnya berturut-turut mundur tiga langkah kebelakang kemudian jatuh terduduk di atas tanah, air mukanya berubah pucat pasi bagaikan mayat.
sedang keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya...Sebaliknya Ti Then bagaikan batu karang saja dengan tenangnya masih tetap berdiri tidak bergerak, Air muka Leng Hu lh berubah sangat hebat.
"Cuo Ting, kau luka dimana?"
Tanyanya dengan cemas. Tangan kiri dari Si sastrawan banci Ong Cuo Ting ditekan pada lengan kanannya kemudian memperlihatkan rasa kesakitan.
"Aduuh ... lengan kananku! aduuh .habis sudah lengan kananku."
Teriaknya meringis.
Leng Hu Ih segera maju kedepan dan menyincing ujubg baju kanannya untuk memeriksa, tampaklah ujung telapaknya sudah mendekok kedalam.
sebuah lengan kanan yang bagus kini sudah terhajar patah jadi empat bagian, tulang-tulangnya sudah hancur lebur sedangkan otot-otot maupun urat nadinya sudah pada pecah berantakan.
Tidak terasa lagi dia menghembuskan napas dingin.
kepada seorang kakek tua yang ada disampingnya dia segera berseru.
"Lo-ko, cepat kau bimbing Cuo Ting masuk kedalam...!"
Seorang kakek tua .segera menyahut dan membimbing Si sastrawan banci masuk kedalam sarangnya.
Setelah itu Leng Hu Ih baru mendengus dingin.
sepasang matanya dengan perlahan beralih keatas wajah Ti Then, Dengaa pandangan berapi-api dan penuh napsu membunuh teriaknya sepatah demi sepatah.
"Bangsat cilik, lohu ternyata sudah salah menyangka dirimu!"
"Sekarang pun aku rasa masih belum terlambat"
Sambung Ti Then dengan cepat.
Agaknya Leng Hu lh tetap tidak bermaksud untuk turun tangan sendiri, dia kembali pergi ketempat semula "Kim Ho, Kim Hay kalian kakak beradik cepat turun kedalam kalangan, minta beberapa petunjuk dari Ti Kiaw tauw"
Perintahnya.
Dua orang kakek tua yang kurus kering dengan wajah yang sama dan berusia kurang lebih lima puluh tahunan dengan mencekal gada bersama-sama berjalan keluar dari barisan.
Wajah mereka seperti pinang dibelah dua-pakaian yang dipakai pun sama sampai perawakan pun kembar, jelas sekali mereka adalah saudara kembar.
Wi Ci To yang melihat munculnya sepasang saudara kembar yang bernama Kim Ho serta Kim Hay itu air mukanya segera berubah sangat hebat,..
"Haaaa .., haaa ..-haaaa . ; , kiranya Thian san Ji Lang! atau dua ekor serigala dari Thian san, sudah lama kita tidak bertemu !"
Ujarpja tiba-tiba. Thian San Ji Lang segera tertawa seram.
"Wi Toa Pocu selama ini baik-baik kah ?'* ujarnya berbareng.
"Haaaa ... haaa ... pertempuran kita sewaktu ada diatas gunung Thian mungkin sudah sepuluh tahun bukan?"
"Tidak salah, sepuluh tahun !"
"Kalian saudara-saudara kembar yang dapat turun tangan bersama-sama bahkan memiliki kerja sama yang amat bagus sungguh mengagumkan sekali untung sekali pada sepuluh tahun yang lalu Lohu berhasil menangkan setengah jurus dari kalian, lohu rasa setelah berpisah sepuluh tahun. kepandaian kalian berdua tentu jauh lebih lihay bukan?'' Thian san Ji Lang segera tertawa dingin.
"Nanti setelah kita bertemu dengan Ti-kiauwtauw mu ini, cayhe bersaudara masih ingin minta petunjuk dari Wi toa pocu, harap toa pocu suka member muka kepada kami."
"Bagus...bagus sekali, lohu akan menanti kedatangan kalian!"
Ti Then sebetulnya tidak tahu keadaan yang sebetulnya dari Thian san Ji Lang ini, setelah mendengar pembicaraan dengan Wi Ci To dia baru tahu kalau kedua orang saudara ini bukanlah manusia sembarangan, dia tahu secara diam-diam Wi Ci To sedang memberi peringatan kepadanya untuk jangan memandang enteng musuhnya, dia lantas bertanya .
"Wajah kalian dua orang sungguh mirip sekali. tentunya anak kembar bukan ?"
"Tidak salah !"
Sahut Thian San Ji Lang berbareng.
"Siapakah "Kim Ho ? dan siapa Kim Hay?"
"Aku Kim Ho"
Sahut orang yang ada di sebelah kiri.
"Aku Kim Hay !"
Sahut orang yang ada di sebelah kanan.
"Oooouw... Kim Ho adalah Lo-toa Kim Hay-adalah Lo-ji ?"
Tukas Ti Then lagi sambil tertawa.
"Tidak salah!"
Sahut Kim Ho mengangguk, air mukanya berubah amat keren sekali.
"Kalian menggunakan serigala sebagai julukan, tentunya bukan manusia baik-baik !"
"Aku rasa tidak seberapa ....hanya saja kami doyan makan daging manusia !"
Kata Kim Hay sambil tertawa seram.
"Ouuw begitu?? sungguh tepat sekali aku orang memang ahli didalam menangkap srigala yang doyan makan manusia!"
"Tidak usah banyak omong lagi cepat cabut keluar pedangmu!"
Bentak Kim Ho sambil melototkan matanya. Dengan perlahan-lahan Ti Then mencabut keluar.pedangnya, ujung pedangnya dituding keatas tanah sambil tertawa ringan.
"Silahkan -.!"
"Kau bangsat cilik jikalau kepingin hidup lebih lama lagi lebih baik turun tangan terlebih dulu.";
"Sedikitpun tidak salah."
Ditengah suara pembicaraannya mendadak tubuhnya bergerak maju kedepan, pedang panjangnya dengan cepat melancarkan serangan gencar mengancam tubuh musuh-musuhnya.
Ditengah berkelebatnya sinar pedang yang menyilaukan mata tampak dua kuntum bunga pedang dengan amat cepatnya melayang kekiri dan kekanan.
Ternyata kedua orang srigala dari Thian san bukan marusia tolol, gada ditangan masing-masing dengan cepat diangkat menangkis datangnya serangan pedang dari Ti Then.
"Crring...criing"..dua buah suara benturan berbunyi pada saat yang bersamaan hal ini membuktikan bagaimana cepatnya gerakan pedang dari Ti Then. Baiu saja suara bentrokan tersebut bergema tubuhnya sudah rnenerobos ke tengah antara Thian.san.Ji Lang; dengan jurus Hong Cian Jan Im atau angin berhembus membuyarkan mega pedangnya bagaikan kilat cepatnya melayang membabat bagian bawah dari tubuh Thian san Ji Lang. Ketenangannya laksana perawan, kecepatannya laksana sambaran kilat, Tetapi kepandaian silat dari Thian san Ji Lang pun amat tinggi sekali, baru saja jurus serangan dari Ti Then dilancarkan kedepan tubuh mereka pun melayang sejauh lima depa menghindarkan diri dari serangan tersebut. Kemudian disusul gada dari Kim Ho mendadak menekan kebawah dengan jurus "Hay The Ci Sah"
Atau menusuk hiu di dasar laut menangkis pedang dari Ti Then.
Satu bertahan yang lain menyerang, kerjasama mereka benar-benar sangat hebat sekali.
Sekali pandang saja Thi sudah tahu kalau pertempuran kali ini merupakan pertempuran yang paling seru sejak dia terjunkan dirinya kedalam dunia Kangouw, tetapi dia sedikit pun tidak keder sejak semula dia sudah tidak memperhatikan nyawanya sendiri, bahkan dia sangat berharap didalam satu pertempuran yang amat sengit sekali dia bisa mengakhiri hidupnya sehingga dengan demikian bisa lolos dari perintah majikan patung emas.
Sudah tentu yang dimaksudkan dengan berharap bisa mengakhiri hidupnya didalam satu pertempuran sengit bukannya berarti dia mempunyai niat membiarkan musuhnya membinasakan dirinya sebaliknya dia bermaksud hendak mengadu jiwa dengan mengeluarkan seluruh kepandaiannya.
Maka itu setiap kali ia bisa bertemu dengan musuh tangguh semangatnya malah berkobar, dia semakin berani untuk bergerak maju dan semakin bertempur semakin bersemangat.
Karena itulah walaupun kerja sama dari Thian San Ji Lang amat lihay sekali tetapi tidak sampai membuat dia jadi keder.
Tampak telapak tangannya bersama-sama dengan pedang di tangannya mendadak melancarkan serangan berbareng ke depan.
Telapak kirinya dengan cepat disambar kedepan menghajar dada dari Kim Hay sehingga dia orang terdesak mundur disusul badannya maju kedepan, pedang ditangannya laksana seekor naga sakti menyambut datangnya serangan dari Kim Ho.
Di dalam sekejap saja masing-masing pihak sudah saling serang sebanyak lima puluh jurus.
Keadaan seperti semula siapa pun tidak ada yang berhasil memperoleh kemenangan.
Nyio Sam Pak yang menonton jalannya pertempuran seketika itu juga dibuat terbelalak dan mulut melongo.
Sebaliknya Leng Hu Ih serta jagow kelas satunya pun dibuat terbelalak melihat pertempuran tersebut, mereka benar-benar tidak dapat percaya akan kejadian yang dilihatnya di depan mata pada saat ini.
Seorang pemuda yang baru berusia dua puluh tahunan ternyata bisa bertempur seorang diri melawan Thian San Ji Lang yang namanya telah menggetarkan dunia kangauw sejak puluhan tahun yang lalu, bukan saja tidak kelihatan kalah bahkan semakin bertempur semakin berani dan semakin lama semakin gagah.
Kembali tiga puluh jurus berlalu dengan cepatnya, hati Thian San Ji Lang pun mulai goyah dan gugup.
Hal ini sudah tentu terjadi, bilamana pihak lawannya adalah Wi Ci To sekali pun bertempur sangat lama mereka tidak bakal jadi gugup kerena Wi Ci To adalah jagoan yang satu angkatan dengan mereka, bilamana tidak berhasil mendapatkan kemenanga didalam waktu yang singkat adalah soal yang jamak.
Sebaliknya Ti Then dia tidak lebih adalah seorang bocah yang masih ingusan, ternyata dengan seorang diri dia bisa menahan serangan gabungan dari Thian san Ji Lang bahkan semakin bertempur semakin gagah, sudah tentu didalam hati mereka merasa sangat terperanjat sekali-Pertempuran diantara jagoan kelas satu paling mengutamakan ketenang'an, sedikit mereka merasa gugup perhatiannya jadi buyar dengan sendirinya kerja sama diantara mereka pun jadi rada kendor, semakin bertempur mereka semakin jarang menyerang dan akhirnya terdesak ada dibawah.
Ti Then yang berhasil merebut diatas angin jurus serangan yang dilancarkan keluar pun semakin ganas lagi, jurus-jurus mematikan dengan tak hentinya mengalir keluar, sinar pedangnya laksana beribu-ribu jarum ganas dengan cepatnya menerjang kedepan membuat keadaaan serasa kabur dibuatnya.
Mendadak suara jeritan ngeri menyayatkan hati berkumandang keluar dari mulut Kim Hay.
Tampak tubuhnya mendadak meloncat kedepan meninggalkan kalangan pertempuran, baru saja sepasang kakinya menempel permukaan tanah tubuhnya sudah bergoyang-goyang tidak hentinya.
Kiranya bagian lambungnya sudah tertusuk pedang..darah segar dengan amat derasnya mengucur keluar membasahi bajunya.
Mungkin dikarenakan luka itu tepat ada di tempat bahaya maka akhirnya dia tidak kuat menahan tubuhnya lagi dan rubuh ke atas tanah.
"Lo-ji, kau..."
Teriak Kim Ho dengan perasaan terperanjat sekali.
Baru saja dia selesai berkata mendadak air mukanya sudah berubah sangat hebat.
Karena pada saat itulah dia merasa lengan kanannya terasa amat dingin, dalam hati dia segera tahu urusan tidak beres, tubuhnya dengan terburu-buru meloncat beberapa kaki kedepan sedangkan telapak kirinya pun tanpa terasa sudah menekan ke lengan kanannya.
Tetapi dia segera menemuka tempat itu sudah kosong kemudian disusul rasa nyeri yang amat sangat, air mukanya berubah sangat berduka, sambil menghela napas panjang dia jatuhkan diri duduk diatas tanah.
Darah segar dengan derasnya mengucur keluar dari lengannya.
Kiranya seluruh bagian dari lengan kanannya sudah kena dibabat putus.
Gada serta tangan kanannya tepat terjatuh di depan kaki Ti Then.
Leng Hu Ih semula menganggap dengan dikeluarkannya Thian san Ji Lang maka kemenangan pasti ada di tangannya, siapa tahu akhirnya satu mati yang satu terluka, membuat hatinya merasa terkejut bercampur gusar, air mukanya jadi kehijau-hijauan, kulitnya mengerut, setelah memerintahkan anak buahnya menggotong pergi Thian San Ji Lang dia segera berjalan maju mendekati Ti Then.
---ooo0dw0ooo---
Jilid 33
"BANGSAT CILIK!"
Bentaknya sambil tertawa seram "Kau memang betul-betul seorang manusia berbakat alam yang sukar ditemui diantara Bu-lim, kau berhak bermain-main dengan Lohu."
"Haaa ... haaa ..haaahaa sebentar lagi kau bakal tahu bukan saja aku punya hak untuk bermain dengan diirmu bahkan mempunyai kekuatan pula untuk membereskan dirimu"
Sahut Ti Then sambil tertawa terbahak-bahak.
Leng Hu Ih segera menggetakkan taagannya mencabut keluar pedang panjang dari sarungnya sambil melemparkan sarung pedangnya ke samping serunya dengan suara yang amat keras.
"Ayoh! mulai serang!".
"Tunggu sebentar!"
Tiba-tiba Wi Ci To berteriak mencegah. Dia segera berjalan kesamping Ti Then dan mengulapkan tangannya minta dia orang mengundurkan diri, lalu kepada Leng Hu Ih ujarnya sambil tersenyum.
"Kiau-tauw dari Benteng kami sudah melayani dua kali pertandingan, kali ini seharusnya adalah giliran Lohu!"
Sinar mata yang amat buas dari Leng Hu Ih berkelebat beberapa kali, dia lantas mengangguk.
"Bagus .... bagus sekali, Lohu dari dulu memang mempunyai maksud untuk terjadinya satu peristiwa seperti ini hari"
Sahutnya sambil tertawa seram. Dengan perlahan2 Wi Ci To mencabut keluar pedang panjangnya, dia tersenyum tawar.
"Saudara mempunyai julukan sebagai iblis nomor satu didalam Bu-lim, sekalipun diantara kita berdua tidak ada ikatan sakit bati tetapi demi melenyapkan bibit bencana untuk Bu-lim lohu sudah ambil keputusan untuk melenyapkan kau dari muka bumi, karena itulah nanti kalau turun tangan kaupun tidak usah sungkan2 lagi."
"Baik!"
Teriak Leng Hu Ih tertawa seram dengan kerasnya.
"Ini hari juga kita tentukan siapa yang menang siapa kalah, kita lihat saja setelah hari ini seluruh Bu-lim adalah milikmu atau milik Lohu!"
"Heee ... heeee . , , kiranya saudara ingin mcrajai seluruh sungai telaga."
Tidak tertahan lagi Wi Ci To tertawa dingin.
"Tidak salah, urusan ini bukannya tidak dapat dikerjakan!"
"Sekalipun kau dapat membinasakan lohu jangan harap kau dapat merajai seluruh Bu-lim, haruslah kau ketahui jago2 Bu-lim yang kepandaiannya jauh melebihi lohu pun masih amat banyak sekali!"
"Hee ..heeee ... heeee ... cuma ada dua orang saja, yang satu adalah si kakek pemalas Kay Kong Beng sedang yang lain adalah Suhunya bangsat cilik She-Ti itu, tetapi kedua orang ini aku rasa tidak terlalu sukar untuk dihadapi."
"Haa ..haaa ... haaa ... lalu tahukah kau orang siapa sebetulnya Suhu dari Ti Kiauw-tauw?"
Ejek Wi Ci To sambil tertawa ter-bahak2.
"Lohu dapat menyelidikinya dengan seksama."
"Kau orang sama sekali tidak mengetahui siapakah Suhu dari Ti Kiauw-tauw, bagaimana kau bisa tahu kalau dia orang tidak sukar untuk dihadapi?"
"Tidak usah banyak omong lagi, ayoh, mulai serang"
Bentak Leng Hu Ih tidak sabaran lagi kemudian mendesak maju satu langkah kedepan.
"Lohu lihat lebih baik kau saja mulai menyerang, tidak perduli kau bagaimana sombongnya dimata lohu kau orang tidak lebih cuma seorang cacad, bagaimana lohu tega untuk turun tangan terlebih dulu terhadap seorang yang sudab cacad?"
Mendengar perkataan tersebut Leng Hu Ih benar-benar dibuat amat gusar, dia segera berpekik nyaring lalu membentak keras.
"Mulutmu jelek harus dihancurkan, lihat pedang!"
Tubuhnya berkelebat kedepan, sekonyong-konyong pedang panjangnya ditusuk kehadapan dada Wi Ci To.
Kecepatan geraknya benar-benar membuat Ti Then yang berdiri disamping pun merasa sangat terperanjat, dia dapat melihat kecepatan gerak dari Leng Hu Ih tidak berada dibawah dirinya, karenanya dia mulai merasa kuatir terhadap keselamatan dari Wi Ci To, dia takut Wi Ci To tidak sanggup menahan datangnya serangan yang begitu gencar dari Leng Hu Ih.
Tetapi bagaimanapun Wi Ci To adalah seorang ahli di dalam ilmu pedang, tampak tubuhnya sedikit miring kesamping dengan amat indahnya dia berhasil menggeserkan kedudukkannya dan dengan amat cepatnya menghindarkan diri dari tusukan pedang Leng Hu Ih ini.
Pokoknya diapun berhasil juga untuk balas melancarkan satu tusukan mengarah badan musuhnya.
Tusukannya ini amat aneh dan dahsyat sekali, pedangnya dari arah bawah menuju keatas menusuk leher dari Leng Hu Ih.
Sebaliknya gerakan dari Leng Hu Ih untuk memecahkan datangnya jurus serangan itupun sangat aneh sekali, tampak sepasang kakinya tidak bergerak tubuhnya bagian atas menjatuhkan diri kebelakang pedang pedangnya dengan mendatarkan dada ditusuk kedepan menutul tubuh pedang dari Wi Ci To, kecepatannya luar biasa sekali.
Sekali pandang saja Ti Then dapat melihat kalau di dalam jurus serangannya ini secara diam-diam sudah terkandung satu serangan mematikan yang amat ganas sekali.
Ternyata dugaannya sedikitpun tidak salah, pada waktu pedang panjang dari Wi Ci To menyambar kedepan menangkis datangnya serangan dari Leng Hu Ih itulah mendadak Leng Hu Ih melancarkan satu jurus yang amat aneh.
Pedangnya bagaikan ular dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat berturut-turut menusuk jalan darah "Tiong Ting, Hun Swe serta "Tan Thian"
Tiga buah jalan darah penting.
Wi Ci To tidak sempat menangkis datangnya serangan tadi, seketika itu juga dia kena terdesak mundur tiga langkah ke belakang.
Leng Hu Ih segera mendesak kedepan pedang panjangnya bagaikan bayangan setan berkelebat keatas kebawah tak ada hentinya menyerang keseluruh tubuh Wi Ci To.
Dalam hati Ti Then merasa sangat tegang sekali, tidak kuasa lagi kepada Nyio Sam Pak yang disampingnya dia berbisik dengan suara yang amat lirih.
"Si bongkok ini sungguh lihay sekali jalannya jurus pedang amat aneh dan ganas,"
"Benar!"
Sahut Nyio Sam Pak mengangguk.
"Katanya ilmu pedangnya ini dia dapatkan dari seorang hwesio Si Ih yang amat lihay."
Baru saja Ti Then mau membuka mulut lagi mendadak dari dalam sarang musuh berkelebat datang tiga sosok bayangan manusia.
Sewaktu dilihat lebih jelas lagi ternyata mereka adalah ketiga orang yang membawa pergi si sastrawan banci serta Thian-shan Ji lang itu.
Ketika memandang pula kearah keenam orang yang ada ditengah kalangan tampaklah mereka dengan mata melotot sedang memandangi dirinya tajam2.
Di dalam hati dia segera tahu kalau mereka mempunyai maksud untuk mengerubuti dirinya berdua.
Kepada diri Nyio Sam Pak kembali ujarnya dengan suara yang perlahan.
"Nyio Locianpwe apa kau kenal dengas kesembilan orang itu?"
"Kenal ..kenal.."
Sahut Nyio Ssm Pak dengan cepat.
"Dari kiri kekanan adalah Si kakek tak berbudi Ko Cing Liong, si ketemu tidak mujur Cing Hiong, si muka aneh Leng Ang Lian, Kui Kok Yau Tong atau si siluman bocah dari lembah setan Yu Si, atau si malaikat botak Yu Sam San, Ci Hua Kui atau si sastrawan rambut merah Gong Pit Kay, sedang tiga orang yang baru datang itu adalah Ang Liuw Ci atau si bisul merah Tiauw Ih, Touw Ciauw Liong atau si naga bertanduk tunggal Lu Cian San serta Sam Cian Lang Ci atau si mata keranjang Si Koan Khei."
"Anak buah dari si iblis bongkok apakah cuma ini saja yang lihay?"
Tanya Ti Then kembali.
"Masih ada tujuh, delapan orang yang tidak datang mungkin orang-orang itu sudah mendapat perintah untuk turun gunung menyelesaikan sesuatu tugas."
"Dari antara kesembilan orang ini Nyio locianpwe percaya bisa sekaligus menghadapi berapa orang?"
"Paling banyak cuma tiga orang saja"
Sahut Nyio Sam Pak setelah termenung berpikir sebentar.
"Ti Kiauw tauw apakah mengira mereka bakal maju mengerubuti kita?"
"Benar, coba kau lihat mereka sudah saling bertukar pandangan, aku rasa sebentar lagi mereka akan bergerak"
"Lalu Ti Kiauw tauw sendiri bisa menerima berapa orang?"
Balik tanya Nyio Sam Pak.
Didalam hati Ti Then merasa dengan kekuatannya sendiri didalam sekejap saja dia bisa menerima empat orang musuh, tetapi agar membuat pihak sana tidak merasa terlalu malu maka jawabnya;
"Boanpwe sendiri pun cuma bisa menghadapi tiga orang saja, maka itu bilamana mereka bersembiian bersama-sama menyerang kiranya kita bakal menemui kerepotan, kita harus menggunakan cara yang paling cepat dan diluar dugaan turun tangan terlebih dulu membereskan dua orang dari antaranya,"
"Coba kau lihat, mereka sudah datang"
Tiba-tiba Nyio Sam Pak berteriak dengan air muka berubah hebat, Sedikitpun tidak salah, Si kakek tak berbudi Ko Cing Liong sekalian bersembilan bersama-sama mencabut keluar senjata tajamnya masing-masing kemudian dengan gagahnya berjalan mengbampiri diri Ti Tben serta Nyio Sam Pak yang masih berdiri tak bergerak.
Menanti setelah mereka hampir mendekati dirinya mendadak Ti Then tertawa nyaring.
"Heee ...hee ... kalian ingin mengandalkan jumlah banyak untuk memperoleh kemenangan ?"
Baru saja perkataan tersebut diucapkan keluar mendadak tubuhnya berkelebat ke depan, saking cepatnya sehingga orang lain tidak dapat melihat jelas tahu-tahu tubuhnya sudah berada diantara kesembilan orang itu.
Di tengah berkelebatnya sinar pedang yang menyilaukan mata terdengarlah dua kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi angkasa.
Diikuii suara jatuhnya dua tubuh manusia ke atas tanah.
Orang yang rubuh binasa diatas tanah adalah si Setan rambut merah Gong Pit Kay serta si naga bertanduk tunggal Lu Cing San.
Bagian badannya yang terkena pedang adalah diatas kening serta pada lehernya, begitu tubuhnya mencapai permukaan tanah napasnya pun ikut putus.
Sebenarnya mereka pun sudah bersiap sedia untuk ikut maju mengerubuti Ti Then berdua, mereka pun dapat melihat tubuh Ti Then yang menerjang kearah mereka tetapi walaupun sudah bersusah payah untuk menghindar keadaan masih tidak mengijinkan.
Hal ini seketika itu juga membuat sisanya bertujuh jadi termangu-mangu.
Sudah tentu mereka semua adalah jago-jago dari kalangan Hek-to yang sering memperoleh kemenangan didalam menghadapi pertempurannya, mereka semua berani menerjang dan berani beradu jiwa, setelah termangu-mangu beberapa saat lamanya kesadarannya pun jadi pulih kembali, mereka mulai berteriak-teriak dan maju kedepan mengerubuti Ti Then.
Tampak bayangan golok serta pedang berkelebat memenuhi angkasa membuat pandangan jadi kabur, hanya dalam sekejap saja Ti Then sudah terjerumus di dalam dengan keadaan yang sangat berbahaya sekali.
Walaupun dia orang memiliki kepandaian silat yang amat tinggi tetapi dengan kekuatan seorang diri mana mungkin dia dapat menahan serangan gabungan dari tujuh orang jagoan kelas satu dari kalangan Hek to ini, karena tujuh orang ada empat belas buah tangan sebaliknya dia orang cuma ada dua tangan saja.
Dua tangan tidak mungkin bisa menahan serangan berbareng dari empat belas buah tangan.
Nyio Sam Pak tidak berani berlaku ayal lagi, dengan menggerakkan pedangnya dia pun segera menubruk masuk kedalam kalangan.
Dengan menggunakan jurus Hong In Yong atau angin bertiup ombak menggulung secara terpisah dia menyerang si siluman bocah dari lembah setan Yu Si serta si bisul merah Tiauw Ih berdua.
Dia orang adalah seorang ahli pedang yang sudah sangat terkenal didalam Bu lim bahkan tenaga dalamnya amat tinggi sekali, si siluman bocah dari lembah setan Yu Si serta sibisul merah Tiauw Ih mana berani memandang enteng musuhnya, berturut-turut mereka menggerakan pedangnya menangkis datangnya serangan tersebut.
Demikianlah dengan cepatnya Nyio Sam Pak sudah terjerumus kedalam satu pertempuran yang amat seru sekali melawan si siluman bocah dari lembah setan Yu Si serta si bisul merah Tiauw ih.
Beberapa jurus lewat dengan cepatnya, sewaktu dilihatnya Ti Then yang harus melawan lima orang ternyata sudah terdesak 'U dibawaJi acgin.
sec&ra mendadak dibawah angin, secara nendadak dia sudah kirim satu tusukan kearah si ketemu tidak mujur.
"Ayoh kemari seorang lagi!"
Bentaknya dengan keras.
"Kalian lima orang tua bangka mengerubuti seorang pemuda apakah tidak merasa malu?"
"Bagus sekali,"
Sahut si ketemu tidak mujur Cang Hiong sambil tertawa dingin.
"Kalau kau orang tidak ingin berumur panjang, aku si orang tua segera kirim kau pulang ke rumah nenekmu."
Gada di tangannya dengan mengarah tepat kepala Nyio Sam Pak membacok ke bawah.
Dengan adanya hal ini Ti Then segera merasakan tekanan yang mendesak dirinya jauh lebih enteng lagi, tempo hari sewaktu ada di dalam Benteng Pek Kiam Poo dia pernah membasmi habis kedelapan belas malaikat iblis dari si anjing langit rase bumi, sekalipun sekarang dia merasa si kakek tak berbudi si malaikat botak serta si mata keranjang memiliki kepandaian silat yang jauh lebih tinggi dari kedelapan belas orang malaikat iblis tersebut tetapi dia merasa untuk merebut kemenangan bukanlah suatu persoalan yang menyulitkan.
Dugaannya sedikitpun tidak meleset, setelah berlalu puluhan jurus perlahan-lahan dia berhasil merebut posisi yang lebih baik lagi.
Senjata yang digunakan si kakek tak berbudi empat orang adalah toya, pedang, cambuk serta kipas, mereka yang melihat Ti Then dari kedudukan banyak bertahas sedikit menyerang, makin lama berubah jadi kedudukan banyak menyerang sedikit bertahan hatinya mulai merasa terkejut bercampur gusar, empat macam senjata bagaikan titiran air hujan dan tiupan angin topan dengan gencarnya menyerang tubuh Ti Then.
Didalam sekejap saja lima puluh jurus sudah berlalu dengan cepatnya, walau pun si kakek tak berbudi berempat masih berada diatas angin tetapi toya, pedang, cambuk serta kipas empat macam senjata tajamnya untuk menjiwit ujung baju dari Ti Then pun tidak sanggup.
Saat ini Wi Ci To serta si iblis bongkok Leng Hu Ih pun sedang bertempur dengan amat serunya, untuk beberapa saat lamanya tidak dapat ditentukan siapa yang kuat siapa yang lemah.
Sebaliknya Nyio Sam Pak ada sedikit tidak kuat menahan serangan musuhnya, ilmu pedangnya amat lihay sekali tetapi dikarenakan usianya yang sudah lanjut ditambah pula badannya sudah mulai lemah, setelah bergebrak mendekati ratusan jurus gerakannya mulai menjadi perlahan, kelihatannya dia sudah tidak ada harapan lagi untuk merebut kemenangan.
Ti Then, yang melihat akan hal ini diam-diam didalam hati merasa amat cemas sekali mendadak dia bersuit panjang, jurus pedangnya berkelebat semakin cepat lagi menerjang musuh-musuhnya.
Tiba-tiba si malaikat botak Yu Sam San mendengus berat, dengan terhuyung-huyung tubuhnya mundur beberapa langkah kebelakang, dari kaki kirinya mengucur keluar darah segar dengan amat derasnya jelas dia sudah tersambar pedang dari Ti Then.
Ti Then yang serangannya mendapatkan hasil semangatnya semakin berkobar, pedang panjangnya dengan mengikuti gerakannya menekan kebawah kemudian laksana serentetan sinar kilat dengan cepatnya membabat sepasang kaki dari si kakek tak berbudi.
Dengan terburu-buru si kakek tak berbudi meloncat menghindar, sepasang tangannya mencekal toya besinya semakin kencang kemudian dengan mengarah kepala Ti Then membacok kebawah.
Jurus serangannye amat kuat dan dahsyat, gerakannya pun cepat bagaikan sambaran kilat.
Ti Then tertawa dingin mendadak tubuhnya miring kesamping kemudian berputar kearah kanan, pedangnya dari gerakan membacok diubah jadi gerakan menusuk dengan menggunakan jurus Huan Liong Ci Hauw atau naga membalik menusuk macan berbalik menerjang si mata keranjang Su Koan Khei terdengar dia berpekik aneh kemudian dengan gugupnya mengebutkan kipasnya menangkis datangnya serangan tersebut tetapi akhirnya dia tidak berhasil juga untuk menghindarkan diri dari seluruh serangan tersebut pinggangnya dengan kerasnya kena tertusuk pedang Ti Then.
"Aduuuh ...!"
Dengan amat terperanjatnya dia berteriak keras kemudian ujung kakinya menutul permukaan tanah dengan cepatnya mengundurkan diri sejauh dua kaki ke belakang, kedua tangannya menekan menutupi luka pada pinggangnya kemudian dengan terbirit-birit melarikan diri kedalam sarangnya.
Si malaikat botak Yu Sam Sian pun tidak berani bertempur lebih lama lagi cambuknya dengan cepat disambar kebawah kemudian dengan menyeret kaki kirinya yang terluka mengikuti dari belakang si mata keranjang, mengundurkan diri kedalam sarang dengan ter-gesa2, Dengan demikian orang yang mengerubuti diri Ti Then kini tinggal dua orang saja yaitu si kakek tak berbudi serta si muka aneh.
Ti Then merasa semakin enteng lagi, serangan yang dilancarkan semakin ganas lagi, seketika itu juga membuat si kakek tak berbudi serta si muka aneh terdesak mundur terus dan tidak kuat untuk bertahan lebih lanjut.
Tetapi pada saat itulah Nyio Sam Pak berhasil dipukul kaki kanannya oleh gada dari si ketemu tidak untung Cang Hiang sehingga terjatuh keatas tanah.
Senjata siluman bocah dari lembah setan Yu Si adalah sepasang tombak pendek, ketika dilihatnya Nyio Sam Pak rubuh keatas tanah dia segera tertawa aneh.
Dengan mengambil kesempatan ini sepasang tombaknya dengan disertai tenaga yang dahsyat ditusuk keatas lambung Nyio Sam Pak.
Bilamana tusukannya ini mendapatkan hasil maka seketika itu juga seluruh isi perut dari Nyio Sam Pak akan berserakan diatas tanah.
Tetapi pada saat yang amat kritis itulah mendadak Si siluman bocah dari lembah setan Yu Si menjerit ketakutan, tubuhnya dengan sempoyongan mundur satu kaki lebih kemudian rubuh keatas tanah tak bergerak lagi.
Tepat pada bagian ulu hatinya tertancaplah sebuah gagang pedang yang menembus sampai pada punggungnya.
Matinya amat cepat sekali, begitu tubuhnya menggeletak diatas tanah sepasang matanya mendelik keluar dan tidak bernyawa lagi.
Orang yang baru saja turun tangan melancarkan serangan itu bukan lain adalah Ti Then adanya.
Ti Then yang melihat Nyio Sam Pak rubuh diatas tanah dikarenakan jaraknya ada tiga kaki jauhnya didalam keadaan cemas dalam hati segera mengambil keputusan untuk menyambitkan pedangnya guna menolong nyawa dari Nyio Sam Pak.
Begitu pedangnya disambitkan kedepan tubuhnya ikut menubruk maju kedepan tubuh Nyio Sam Pak.
Telapak tangannya bagaikan kilat cepatnya dihantam kedepan menghajar dada dari si ketemu tidak mujur.
Si ketemu tidak mujur yang dikarenakan melihat si siluman bocah dari lembah setan Yu Si secara tiba tiba menemui ajalnya terkena sambitan pedang pada saat ini saking terkejutnya sudah dibuat termangu-mangu, maka itu sewaktu pukulan Ti Then menyambar datang ternyata dia sudah lupa untuk menangkis maupun menghindar.
"Braak . ."
Dengan disertai suara yang amat keras tubuhnya terpukul pental keatas udara, serentetan darah segarpun mengikuti melayang sang tubuh memancar keluar dari mulutnya.
Sewaktu tubuhnya mencapai tanah dia sudah tidak bergerak lagi.
Sebaliknya si bisul merah Tiauw Ih yang melihat kehebatan Ti Then laksana malaikat dari angkasa saking takutnya dia tidak berani bergebrak lebih lanjut, sepasang kakinya menutul permukaan tanah kuat-kuat kemudian mengundurkan diri beberapa kaki jauhnya.
Si kakek tak berbadi serta si muka aneh pun tidak berani maju kembali, dengan perlahan mereka mulai menggeserkan kakinya kebelakang, agaknya mereka bermaksud untuk molor pergi.
Melihat sikap mereka itu Ti Then segera mendesak tiga langkah kedepan.
"Heee -, . heee ... jangan lari!"
Bentaknya sambil tertawa dingin.
"Kalian bertiga harus bertempur lagi dengan aku"
Air muka si kakek tak berbudi seketika itu juga berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, mendadak dia putar tubuh kemudian bagaikan segulung asap berlalu dengan tergesa-gesa dari sana, Si muka aneh serta si bisul merah yang melihat si kakek tak berbudi melarikan diri sudah tentu tidak berani berdiam lebih lama lagi disana, mereka pun dengan cepat melarikan diri terbirit-birit dari kalangan.
Ti Then segera tertawa terbahak-bahak kemudian baru putar badannya dan berkata kepada Nyio Sam Pak.
"Bagaimana dengan luka Nyio Locianpwe ?"
Nyio Sam Pak tidak menjawab, sepasang matanya dengan terbelalak lebar-lebar melototi diri Ti Then beberapa saat lamanya dia orang banar-benar dibuat melongo.
Lama sekali baru terdengar dia orang menghela napas panjang kemudian gelengkan kepalanya berulang kali.
"Oooh ... Thian, kepandaian silat dari Kiauw-tauw ini sebetulnya dilatih dengan cara bagaimana?"
Ti Then cuma tersenyum tidak menjawab, dia segera maju kedepan membimbingnya bangun.
"Heeeei, masih untung kakiku tidak sampai putus ..."
Ujar Nyio Sam Pak kemudian sambil tundukkan kepalanya memperhatikan kaki kanannya.
"Ombak belakang sungai Tiang Kang mendorong ombak di depannya, manusia baru menggantikan manusia-manusia lama, perkataan ini ternyata sedikit pun tidak salah. Lolap memang sudah terlalu tua,"
Ti Then yang melihat dia tidak menemui cedera yang berarti segera menoleh memandang kearah pertempuran yang masih berlangsung dengan sengitnya antara Wi Ci To dengan Leng Hu Ih, ketika melihat mereka masih bartempur dengan begitu ramainya tak terasa dia sudah tersenyum.
"Mereka benar-benar sepasang musuh yang bagus!"
Ujarnya.
"Tidak-"
Bantah Nyio Sam Pak dengan cepat.
"Si iblis bungkuk hampir kalah, coba kau lihat keringat sudah mulai mengucur membasahi keningnya, sebaiiknya keaadaan Wi Poocu masih biasa saja seperti sedia kala . ."
"Tidak salah, si iblis bungkuk tidak bakal bisa bertahan seratus jurus lagi."
"Tetapi ..."
Ujar Nyio Sam Pak dengan suara yang amat lirih.
"Bilamana dia ingin melarikan diri agaknya Wi Poocu tidak bakal bisa menghalangi dirinya."
Ti Then segera mengangguk tanda menyetujui pendapat ini, dia pun sudah bisa melihat kalau Leng Hu Ih adalah seorang manusia yang luar biasa.
Bilamana dia orang dibandingkan dengan diri si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan, dia orang memang jauh lebih tinggi satu tingkat darinya.
Terdengar dengan perlahan Nyio Sam Pak menghela napas panjang, lalu gumamnya seorang diri.
"Bilamana iblis ini tidak dibasmi maka dia merupakan satu bencana yang tak terhingga dikemudian hari ...."
"Tadi dia bilang mau bertempur mati-matian melawan Poocu, entah benar tidak perkataannya itu"
"Menurut penglihatan lolap dia tidak bakal mau bertempur mati2an melawan Wi poocu, dia pasti akan melarikan diri"
Sahut Nyio Sam Pak tertawa. Tetapi dia tidak akan berhasil meloloskan dirinya..."
Perkataannya yang gagah dan tegas ini menunjukkan kalau didalam hatinya dia sudah berniat untuk membasmi si iblis bungkuk Leng Hu Ih tersebut.
Selesai berkata dia segera berjalan menuju kedepan mayat dari si siluman bocah dari lembah satan dan mencabut keluar pedangnya, setelah membersihkan darah yang menempel pada tubuh pedang itu dia baru kembali lagi kesamping badan Nyio Sam Pak.
"Ti Kiauw-tauw ini hari sudah menolong lolap lolos dari kematian, entah lolap harus berbuat bagaimana untuk membalas budimu yang besar itu?"
Ujar Nyio Sam Pak kemudian sambil memandang diri Ti Then tajam2.
ooOoo "Nyio locinpwe kau tidak usah begitu sungkan2, membasmi kaum penjahat dan menolong sesamanya adalah tugas kami, buat apa Locianpwe memikirkannya didalam hati ?"
Seru Ti Then dengan cepat.
Pada saat itulah mendadak terdengar si iblis bongkok Leng Hu Ih yang ada didalam kalangan berteriak keras, dengan cepat dia menoleh kearah tengah kalangan.
Tampaklah pada saat itu si iblis bongkok Leng Hu Ih sedang melayang kebelakang untuk mengundurkan diri.
Sejak semula Ti Then sudah memperhatikan dirinya, begitu melihat dia mengundurkan dirinya kebelakang dengan cepat tubuhnya bergerak, maju kedepan untuk menghalangi perjalanan mundurnya.
"Hey Bungkuk ! mati hidup belum ditentukan kau sudah ingin lari ?"
Bentaknya keras.
f Dibagian dada dari si-iblis bongkok Leng Hu Ih sudah tergores sebuah luka yang panjang, darah segar menetes keluar membasahi bajunya.
jelas dia audah berhasil di lukai oleh ujung pedang dari Wi Ci To.
Ketika dilihatnya Ti Then menghalangi jalan mundurnya, pada air mukanya jelas menampilkan rasa gusarnya yang amat sangat;
"Siapa yang menghalangi aku mati!"
Bentaknya dengan keras.
Pedang ditangannya dengan kecepatan yang luar biasa ditusuk kedada Ti Then.
Dengan cepat Ti Then menggeserkan badannya kesamping, pedangnya dengan menggunakan jurus "Giok Ti Heng Coei"
Atau seruling pualam berbunyi alun, membabat pinggangnya.
Siapa tahu jurus serangan yang baru saja dilancarkan oleh Leng Hu Ih ini cuma sebuah jurus tipuan belaka, baru saja menyambar sampai ditengah jalan mendadak tubuhnya menyingkir kesamping untuk kemudian berkelebat pergi.
Ti Then segera tertawa terbahak2 bagaikan bayangan setan dia mengikuti dari belakangnya dan menghalangi didepannya.
"Kau tidak bakal bisa lolos dari sini!"
Teriaknya keras sambil membabat pedangnya ke depan.
"Lebih baik kau tinggal disini untuk baik2 bergebrak dengan aku saja"
"Baik. Lohu akan mengadu jiwa dengan kau bangsat cilik!"
Bentak Leng Hu Ih dengan gusarnya sambil menangkis datangnya serangan itu.
Ditengah suara teriakannya yang amat nyaring kembali dia melancarkan tujuh kali tusukan mengancam tubuh Ti Then.
Ti Then harus mengundurkan diri tujuh tindak baru berhasil memecahkan ke tujuh buah serangan dahsyatnya itu, dengan cepat dia balas melancarkan tujuh buah se rangaa dahsyat pula mendesak dia orang sehingga terpaksa mundur tujuh delapan tindak kebelakang, Wi Ci To tahu Ti Then tidak bakal menderita kekalahan ditangan Leng Hu Ih karenanya didalam hati dia merasa berlega hati, dia segera berjalan mendekati diri Nyio Sam Pak dan tanyanya dengan penuh perhatian .
"Agaknya tadi Nyio-heng terluka, bagaimana?? Tidak mengapa?"
"Tidak mengapa!"
Sahut Nyio Sam Pak sambil gelengkan kepalanya.
"Sedikit aku berlaku ayal kaki kananku terkena satu kali gebukan dari gadanya Si ketemu tidak mujur"
"Masih dapat berjalan?"
"Bisa!"
"Kalau begitu mari kita serbu kedalam sarangnya dan sekalian membakarnya"
"Tetapi menang kalah diantara mereka belum ketahuan, bagaimana kita.."
Seru Nyio Sam Pak sambil menuding ketengah kalangan dimana Ti Then serta Leng Hu Ih sedang bergebrak dengan amat serunya.
"Kau tidak usah menaruh rasa kuatir terhadap diri Ti Kiauw-tauw"
Potong Wi Ci To dengan cepat "Tidak sampai seberapa lama dia sudah dapat membereskan musuhnya."
"Bukan begitu, maksud lolap bilamana kita meninggalkan tempat ini dan anak buahnya ber-sama2 mengerubuti diri Ti Kiauw-tauw bukankah urusan akan berabe?"
"Justru dikarenakan takut anak buahnya menyerbu kesini dalam jumlah yang besar maka aku orang she-Wi bermaksud untuk menerjang dulu kedalam sarangnya dan hancurkan seluruh orang yang ada disana."
Nyio Sam Pak termenung berpikir sebentar akhirnya dia mengangguk.
"Baiklah. mari kita masuk!"
Demikianlah dengan cepat mereka berdua berkelebat menaiki tangga didepan sarang tersebut kemudian menerjang masuk kearah dalam.
Leng Hu Ih yang melihat Wi Ci To serta Nyio Sam Pak menerjang masuk ke dalam sarangnya dan dia segera tahu mereka hendak menghancurkan seluruh isinya tidak terasa lagi didalam hati merasa tarkejut bercampur gusar.
Dia meraung keras, ber-turut2 pedangnya dibabat kedepan memaksa mundur Ti Then kebelakang kemudian dengan meminjam kesempatan itu hendak menerjang masuk pula kedalam sarang tersebut dan mencegah Wi Ci To berdua menghancurkan gerakannya.
Sudah tentu Ti Then tidak akan membiarkan dia orang mengundurkan diri dari sana, ditengah suara tertawanya yang amat keras tubuhnya segera meloncat keatas mengejar dari belakang.
Sekali loncat Leng Hu ih sudah mencapai tiga kaki jauhnya, ilmu meringankan tubuhnya jelas sangat hebat, tetapi baru saja sepasang kakinya menncapai atas tanah Ti Then pun dalam waktu yang bersamaan melayang lima depa dihadapannya, pedang panjangnya dengan amat gencar melancarkan serangan mendesak dirinya membuat dia orang kembali terkurung didalam bayangan2 pedang yang amat rapat itu.
Sekali lagi mereka berdua bergebrak beberapa jurus banyaknya diatas tangga itu.
Leng Hu Ih yang melihat dia tidak berhasil meloloskan diri tidak kuasa lagi segera memaki dengan gusarnya.
"Neneknya ..anak anjing! lohu dengan kalian Benteng Pek Kiam Poo ada sakit hati apa? kenapa kalian mau membasmi kami sampai keakar2nya?"
"Kami Benteng Pek Kiam Poo selalu mengutamakan sifat pendekar untuk membasmi kaum penjahat yang mengacau ketentraman Bu-lim, selamanya kami menganggap kaum penjahat sebagai musuh2 kita yang harus dibasmi"
Ujar Ti Then sambil tertawa berat.
Leng Hu Ih setelah berhasil menangkis beberapa jurus serangan, mendadak tubuhnya meloncat keatas kemudian berjumpalitan ditengah udara dan melayang turun ditangga yang lebih depan.
Dengan cepat Ti Then meloncat mengejar.
"Mau pergi boleh saja, tetapi sebuah tanganmu harus ditinggal"
Serunya sambil tertawa nyaring. Mendadak Leng Hu Ih putar badannya dan mengayunkan tangannya kebelakang.
"Barang ini kau terimalah !"
Teriaknya sambil tertawa keras-Segenggam kapur dengan cepatnya menyambar datang.
Ti Then menduga dia orang sedang menyambitkan senjata rahasia ke arahnya tetapi sama sekali tidak menyangka kalau senjata rahasianya adalah segenggam kapur yang khusus digunakan untuk melukai mata, dikarenakan jaraknya terlalu dekat baru saja dia bermaksud menutup matanya keadaan sudah terlambat.
Ada sebagian kecil dari kapur itu sudah tepat menghajar matanya sehingga terasa amat perih.
Mata adalah bagian badan yang paling lemah, setiap jago Bu-lim yang terkena kapur tersebut bilamana bukannya untuk sementara akan jadi buta maka untuk selamanya dia tidak dapat melihat lagi, karenanya keadaan seperti itu sangat berbahaya sekali.
Sudah tentu Ti Then tidak terkecuali, dia merasakan sepasang matanya amat sakit, seketika itu juga pandangannya jadi gelap tak dapat melihat suatu apapun.
Rasa terperanjatnya kali ini benar2 luar biasa, dengan gugup dia menghentikan gerakannya dan meloncat turun dan atas tangga.
Dikarenakan dia orang tak dapat melihat suatu apapun, begitu mencapai permukaan tanah seketika itu juga tubuhnya jatuh terjengkang tak dapat bergerak.
Melihat hal itu Leng Hu Ih jadi amat girang sekaii, dengan cepat dia menubruk kebawah.
"Bangsat cilik, serahkan nyawamu!"
Bentaknya sambil tertawa keras.
Pedangnya digetarkan dengan cepat mengarah ulu hati Ti Then, dia menyerang kearah bawah.
Walaupun sepasang mata Ti Then sudah jadi buta tetapi telinganya masih tajam dan dapat membedakan datangnya angin serangan.
Dengan gesitnya dia menggelinding ke samping menghindarkan diri dari tusukan pedang tersebut, diikuti tubuhnya meloncat keatas dengan mengikuti arah datangnya angin serangan tadi menyapu ke depan.
Serangannya kali ini mengancam sepasang kaki dari Leng Hu Ih.
Kecepatan serangannya amat dahsyat seperti menggunakan mata yang normal.
Dengan lekas Leng Hu Ih meloncat kesamping untuk menghindarkan diri dari babatan itu, pada wajahnya segera tersungginglah satu senyuman yang amat buas dan ganas sekali.
"Heee ....bangsat cilik. kau masih ingin mempamerkan kepandaianmu ?"
Ejeknya dingin.
Air muka Ti Then amat tawar sekali, dengan perlahan-lahan dia menekukkan kaki kirinya kebawah sehingga membentuk gaya setengah berlutut pedang panjangnya dilintangkan didepan dada memperhatikan sikap menanti serangan.
"Hmm.... sekarang adalah kssempaian yang baik buatmu, ayoh maju!"
Serunya dingin.
Dengan diam2 Leng Hu Ih bergeser tiga langkah kesamping kemudian secara diam2 menusuk kearah pinggangnya, menanti ujung pedangnya sudah berada satu dua coen dari pinggangnya dia baru membentak dengan keras .
"Awas !"
Mendadak tubuh Ti Then berputar setengah lingkaran, didalam keadaan yang amat kritis dia sudah membabat pedangnya kesamping memukul miring serangaanya itu, kemudian dengan mengikuti gerakan badannya sang pedang membacok kearah dadanya.
Gerakannya amat keras dan aneh sekali.
Dengan ter-buru2 Leng Hu Ih meloncat mundur kebelakang.
"Heee ... heee .... bangsat cilik"
Teriaknya sambil tertawa seram."
Aku mau lihat kau masih bisa terima berapa jurus serangan dari Lohu !"
Selesai berkata tubuhnya bergerak maju lagi melancarkan serangan ganas.
Dengan mengandalkan pendengarannya Ti Then segera menggerakkan pedangnya menangkis serangan tersebut, semakin lama dia merasa semakin tidak tahan akhirnya terpaksa dia meloncat bangun untuk menghindar.
Leng Hu Ih tidak mau memberi kesempatan buatnya untuk bertukar napas.
tubuhnya sekali lagi menubruk maju kedepan, serangannya pun semakin lama semakin gencar semakin lama semakin dahsyat.
"Hey bangsat cilik"
Teriaknya sembari menyerang sembari tertawa seram.
"Ini hari kau sudah membinasakan empat orang anak buah dari Lohu, sekarang lohu mau tabas putus sepasang tangan serta sepasang kakimu terlebih dulu untuk membalaskan dendam atas kematian dari mereka berempat! "
Ti Then dengan sekuat tenaga menahan datangnya serangan itu, sembari bertempur tangannya yang lain segera mengucak matanya berusaha untuk mengembalikan penglihatannya tetapi sekalipun sudah berusaha amat lama dia semakin merasa matanya semakin sakit sehingga tak terasa lagi didalam hati dia menghela napas panjang.
"Sudahlah "
Pikirnya kemudian.
"tidak kusangka aku Ti Then ini hari harus menemui ajalnya ditangan Si iblis bungkuk ini tetapi ..bagaimana aku boleh mati dengan sama sekali tidak berharga ini ? Aaku harus mengadu jiwa dengan dirinya."
Baru saja berpikir sampai disitu mendadak dia merasakan lengannya amat sakit sekali agaknya Leng Hu Ih sudah berhasil menggores luka lengannya.
Masih untung luka tersebut tidak terlalu berat, dengan tergesa-gesa dia angkat badannya untuk menangkis.
"Traaaang .."
Dengan tepatnya dia berhasil memukul kesamping pedang dari Leng Hu Ih, dia tidak mau membuaug kesempatan lagi tubuhnya dengan cepat bergerak maju mendesaknya lebih lanjut.
Ssbaliknya Leng Hu Ih tidak mau mengadu jiwa dengan dirinya, ketika dilihat tempat kedudukkannya sudah diketahui dengan cepat tubuhnya meloncat kesamping.
Kemudian dengan perlahan-lahan dia memutar kebelakang badan Ti Then, sambil meringankan tindakannya dengan tanpa mengeluarkan sedikit suara pun dia mendesak maju kembali.
Ti Then dengan pusatkan seluruh perhatiannya mendengar, dikarenakan tidak mendengar juga pihak lawannya menyerang terpaksa dia putar badannya melancarkan serangan dengan menggunakan jurus Ya Can Pat huan atau delapan penjuru petempur malam.
Leng Hu Ih tetap berdiam ditempat sama sekali tidak bergerak.
"Leng Hu Ih, kau terlalu tolol"
Maki Ti Then kemudian sambil menghentikan gerakammya.
"Bagaimana sudah begitu lama kau masih belum sanggup untuk membinasakan diriku ?"
Didalam hati Ti Then tahu dia hendak melancarkan serangan bokongan kepadanya karena itu di dalam hati dia pun segera mengambil keputusan untuk dengan siasat melawan siasat.
Dia akan berdiri tenang menunggu datangnya serangan musuh, menanti pedangnya sudah menempel badannya dengan menggunakan saat yang amat kritis itulah dia hendak balas melancarkan satu serangan beradu jiwa dengan dirinya.
Karena itu keadaannya jadi semakin tegang lagi, dengan dinginnya dia berdiri menanti.
Leng Hu Ih yang melihat pihak lawannya pun hendak menggunakan tenang ma lawan tenang semakin tidak berani bergerak lagi, sepasang matanya yang buas dengan cepatnya berputar-putar, mendadak dengan perlahan-lahan dia berjongkok memungut sebuah batu kemudian dengan perlahan-lahan bangkit dan mneyambitkan batu itu kedepan tubuh Ti Then.
"Plooook!"
Dengan disertai suata yang amat nyaring batu itu tepat terjatuh dihadapannya.
Tubuh Ti Then segera kelihatan bergetar amat keras.
Tetapi dia pun tidak turun tangan, dia hendak menanti sampai pedang pihak lawan menempel badannya dia baru melancarkan serangan balasannya.
Sebaliknya Leng Hu Ih menduga Ti Then pasti akan terkena pancingannya dan turun tangan melancarkan serangan, karena itu begitu melihat badan Ti Then sedikit tergetar dengan cepat dia ayunkan pedangnya menyerang lengan sebelah kanan dari Ti Then.
Dia tetap mempunyai rencana untuk membacok putus tangan serta kaki Ti Then dulu kemudian baru membinasakan diri Ti Then dengan perlahan-lahan.
Tampaklah sinar pedang berkelebat menyilaukan mata, pedangnya dengan amat tepat sekali berhasil membacok lengan kanan dari Ti Then, Sedang Ti Then pun dengan menggunakan saat pedang tersebut menempel badannya mendadak dia putar pedangnya dari bawah-ketiak kanannya menusuk kearah belakang.
"Aaaaaah ,"."..". Suara teriakan ngeri yang mendirikan bulu roma segera bergema keluar dari mulut Leng Hu Ih. Ti Then segera merasakan kalau pedangnya dengan amat tepat sekali berhasil menusuk lambung lawannya, didalam hati dia merasa sangat girang sekali, dengan cepat tubuhnya berputar kebelakang kaki kanannya dengan kecepatan yang luar biasa melancarkan tendangan kilat menghajar lambungnya kemudian sembari mencabut keluar pedangnya dia meloncat mundur satu langkah. Dia sama sekali tidak mendengar suara rubuhnya pihak lawan, karena itu begitu ujung kakinya mencapui permukaan tanah dengan pusatkan seluruh perhatiannya dia siap-siap menghadapi perubahan selanjutnya, Tetapi walaupun sudah ditunggu beberapa saat lamanya masih belum terdengar juga suara rubuh maupun berjalannya Leng Hu Ih, didalam hati diam2 dia merasa terkejut bercampur curiga, tidak kuasa lagi tanyanya dengan suara keras;
"Hey bungkuk, kau sudah mati?"
Leng Hu Ih tidak menjawab.
Tadi dia merasakan pedangnya itu dengan amat tepat sekali berhasil menusuk lambung dari pihak lawannya bahkan pedangnya menancap sangat dalam sekali, menurut keadaan biasa seharusnya pihak lawan sudah menemui ajalnya.
Tetapi kenapa dia tidak mendengar suara rubuhnya pihak lawan?
karenanya didalam hati dia merasa tidak paham.
pedangnya segera dikibaskan kembali dengan menggunakan jurus Ya Can Pat Hong atau delapan penjuru bertempur malam.
Akhirnya dia sama sekali menemui sasaran yang kosong.
"Apa mungkin dengan membawa luka dia sudah melarikan diri ?"
Pikirnya didalam hati-"Bilamana memang demikian adanya maka tentunya dia meloncat pergi sewaktu aku mencabut keluar pedangku tadi ..?"
Berpikir akan hal ini rasa tegang yang mencekam didalam hatinya pun manjadi kendor kembali, dia mulai merasakan lengan kanannya terasa amat sakit.
Ketika dia meraba dengan menggunakan tangannya saat itulah dia baru menemukan kalau luka pada lengannya itu tidak kecil, panjangnya ada dua coen dengan lebar tiga coen bahkan hampir melukai tulangnya, darah segar dengan tak-henti2nya menetes keluar membasahi bajunya, dengan cepat jari tangannya berkelebat menotok jalan darah yang dekat dengan tempat tersebut.
Setelah itu kepalanya didongak memandang kearah sebelah sarang penjahat itu, secara samar2 dia merasakan ada sinar merah yang muncul didaerah sekitar tempat itu, tak kuasa lagi dia bergumam seorang diri;
"Aaah...... itu tentu warna api, Wi Ci To serta Nyio Sam Pak sudah membakar sarang perampok tersebut"
Berpikir sampai disitu mendadak telingany mendengar suara hiruk pikuk yang amat keras sekali berkumandang datang dari tempat kejauhan, Jika didengar dari suara tersebut agaknya berasat dari anak buah dari si iblis bongkok yang sedang melarikan diri kocar kacir dari dalam sarangnya.
"Ehmm .... bilamana diantara orang2 itu ada seorang jagoan yang melarikan diri melewati tempat ini dan melihat aku sedang terluka..."
Berpikir akan hal ini dengan ter-gesa2 dia berjalan menuju kesebelah kanan.
Dia masih ingat disebelah kanas dari tempat itu terdapat sebuah hutan yang amat lebat dia bermaksud untuk bersembunyi beberapa saat lamanya didalam hutan itu, karena mata serta kedua luka dilengannya sudah sukar buatnya untuk bergebrak kembali.
Tetapi baru saja dia berjalan beberapa langkah mendadak terdengarlah suara tersampoknya ujung pakaian berkelebat dating dengan kecepatan yang luar biasa.
Dengan cepat dia putar badannya siap2 menghadapi sesuatu.
"Ti Kiauw-tau kau kenapa?"
Suara dari Wi Ci To. Mendengar suara itu Ti Then segera menghembuskan napas lega, dengan wajah yang menampilkan senyuman pahit dia berkata.
"Gakhu..kau..."
Wi Ci To yang melihat wajahnya sudah dipenuhi dengan kapur menjadi amat terperanjat sekali, dengan cepat dia berlari mendekat.
"Kenapa matamu?"
Tanyanya dengan cemas.
"Karena sedikit tidak waspada, mataku sudah terkena sambitan kapur dari si iblis bongkok.."
Belum habis dia berbicara tiba-tiba terdengarlah suara dari Nyio Sam Pak berkumandang keluar dari belakang Wi Ci To.
"Aaaah...kau sudah bunuh iblis ini!"
Teriaknya dengan keras.
"Aaaah..dia sunguh-sungguh sudah mati?"
Tanya Ti Then kegirangan.
"Kau...kau membinasakan dirinya setelah matamu dibutakan olehnya?"
Tanya Wi Ci To dengan terperanjat.
"Benar"
Sahut Ti Then mengangguk.
"Dia ingin menabas tangan serta kaki dari boanpwe tetapi akhirya boanpwe berhasil menusuk dirinya... agaknya boanpwe berhasil menusuk lambungnya"
"Tidak!"
Seru Nyio Sam Pak membenarkan kesalahannya.
"Kau sudah menusuk ulu hatinya"
"Oooh..lalu mayatnya apa rubuh disana?"
"Benar"
"Sungguh aneh sekali"
Gumam Ti Then seorang diri.
"Kenapa boanpwe tidak mendengar tubuhnya rubuh keatas tanah?"
"Tentunya dia rubuh keatas tanah dengan perlahan"
Sahut Wi Ci To memberikan pendapatnya.
"Matamu sudah tidak dapat melihat?"
"Benar, aku cuma bisa melihat sinar putih yang rada samar2 dan buram . ."
Wi Ci To dengan ter-gesa2 memasukkan pedangnya kedalam sarung kemudian serunya dengan cemas.
"Mari, lohu gendong kau pulang kedalam perkampungan !"
Tidak menanti Ti Then memberikan jawabannya dengan cepat dia sudah menggendong badan Ti Then dan lari menuju ke perkampungan Thiat Kiam San Cung.
Nyio Sam Pak sambil menenteng pedang-segera mengikuti dari belakangnya.
"Bagaimana dengan sarang mereka ?"
Tanya Ti Then kemudian ditengah jalan.
"Sedang terbakar hebat, anak buah mereka sebanyak seratus orang sudah bubaran bagaikan buuung !". Sahut Wi Ci To.
"Diantara pembantu2 Leng Hu Ih kini cuma Sikakek tak berbudi, Si muka aneh serta sibisul merah tiga orang saja yang berhasil meloloskan diri"
Sambung Nyio Sam Pak lebih lanjut.
"Boleh dikata pertempuran kita kali ini memperoleh kemenangan total, cuma saja Ti Kiauw-tauw sudah menderita luka. hal ini benar2 membuat lolap merasa tidak tenang".
"Nyio Locianpwe buat apa mengucapkan kata2 tersebut ? sedikit luka dari boanpwe ini tidaklah seberapa buat apa locianpwe merasa kuatir ?".
"Tetapi bilamana sepasang mata dari Ti Then Kiauw-tauw tidak dapat melihat kembali, maka " ...
"Tidak! dia dapat melihat lagi,"
Sela Wi Ci To dengan cepat."
Setelah kembali kedalam perkampungan nanti, asalkan dibersihkan beberapa kali dengan menggunakan air maka dia bisa melihat kembali seperti sedia kala"
"Semoga saja demikian..."
Sambung Nyio Sam Pak sambil menghela napas panjang.
"Bilamana tidak dapat melihat juga tidak mengapa, nyawa dari boanpwepun ini didapat dari pungutan, ada apanya yang dapat disesali ?"
Di dalam keadaan buta ternyata Ti Kiauw tauw masih bisa melukai dan membinasakan Leng Hu Ih, hal ini sungguh2 sukar untuk dipercaya!"
"Soal ini mungkin dikarenakan dia orang terlalu memandang rendah diriku. Bilamana bukannya dia ingin membacok putus sepasang tangan serta kaki dari boanpwe kemungkinan sekali dia sudah berhasil membinasakan diri boanpwe."
Mereka bertiga sembari berjalan sembari ber-cakap2, tidak selang seperempat jam kemudian mereka sudah tiba didalam perkampungan Thiat Sam Kiam san Cung.
Nyio Si Ih sekalian yang melihat Ti Then menderita luka jadi merasa terkejut, dengan cepat mereka pada maju mengerubung dan menanyakan parsoalannya..
Tetapi Nyio Sam pak sudah mengulapkan tangannya mencegah, tegurnya.
"Nanti saja kita bicarakan lagi, sekarang cepat ambil beberapa pikul air bersih,"
Huan Ceng Koei serta Cia Pu Leng yang ada dikalangan dengan tergesa2 segera berlalu. Kepada putranya Nyio Si Ih dengan cepatnya Nyio Sam Pak memberi perintah lagi.
"Si Ih, cepat kau siapkan obat2an dan menolong Ti Kiauw-tauw balutkan lukanya."
"Baik!"
Sahut Nyio Si Ih kemudian dengan tergesa-gesa berlalu dari sana.
Beberapa saat kemudian Huan, Cio dua orang sudah mengambil empat pikulan air bersih, Wi Ci To segera membimbing Ti Then untuk berjongkok dihadapan air bersih itu dan serunya.
"Mari masukkan kepalamu kedalam air!"
Ti Then segera menurut dan memasukkan kepalanya kedalam air, kapur yang di wajahnya setelah terkena sir segera pada buyar dari kawahnya, Wi Ci To yang melihat air yang bersih atu sudah tercampur sehingga kotor segera ganti dengan air yang baru.
"Sekarang coba kau membuka matamu dengan perlahan-lahan"
Katanya, Sekali lagi Ti Then memasukkan kepalanya kedalam air kemudian dengan ptrlahan-lahan membuka matanya, Ternyata sedikitpun tidak salah, rasa sakit sudah semakin berkurang, kaput yan masih tertinggal didalam matapun sebagian besar sudah larut kedalam air.
Ketika dia angkat kepalanya secara samar2 dia dapat melihat beberapa sosok bayangan yang kabur, dalam hati dia merasa sangat girang sekali.
"Aaah .., sudah lebih baikan!".
"Sudah dapat melihat??"
Tanya Wi Ci To dengan cepat.
"Masih sedikit kabur, tetapi sudah dapat melihat bentuk badan orang!".
"Coba ganti sepikul air lagi!"
Setelah mencuci lagi dengan sebaskom air bayangan orang yang semula kelihatan kabur kini jauh lebih jelas lagi, cuma saja jaraknya masih kelihatan jauh.
Wi Ci To yang melihat Nyio Si Ih sudah membawa obat2an datang kesana lantas ujarnya kemudian.
"Sekarang balut dulu lukamu, setelah itu lohu akan bantu mencucikan kembali matamu dengan perlahan". Demikianlah dengan dibimbing oleh Wi Ci To, Ti Then dibaringkan keatas sebuah pembaringan. Wi Ci To serta Nyio Sam Pak segera turun tangan sendiri mencucikan mulut luka itu kemudian baru diberi obat dan di bungkus dengan kain.
"Kau sudah banyak mengalirkan darah, sekarang merasa bagaimana?"
Tanya Wi Ci To tiba2.
"Sekarang aku merasa rada lapar! "
Sahut Ti Then sambil tersenyum.
"Aaaah ..."
Seru Nyio Sam Pak tertahan, kepada putranya Nyio Si Ih cepat ujarnya.
"Si Ih, perjamuan telah dipersiapkan?".
"Sejak semula telah dipersiapkan "
Sahut Nyio Si Ih dengan sangat hormat.
"Sekarang Ti Kiauw-tauw tidak dapat makan dimeja perjamuan, . kau cepatlah bawa kemari makanan tersebut". Nyio Si ih lantas menyahut dan berlalu dari sana.
"Nyio-heng!"
Tiba? terdengar Wi Ci To berkata.
"Disini apakah ada kapas yang bersih?"
"Buat apa Wi Poocu memerlukan kapas?"
Tanya Nyio Sam Pak melengak.
"Bersihkan matanya!"
Sahut Wi Ci To sambil menuding kearah Ti Then.
"Matanya harus dibersihkan dengan menggunakan-kapas baru dapat bersih dari kapur". Nyio Sam Pak lalu memerintahkan anak buahnya untuk pergi mengambil kapas, kemudian dengan rasa girang ujarnya.
"Jika dilihat keadaan ini penglihatan dari Ti Kiauw-tauw akan dapat pulih kembali seperti sedia kala"
"Benar! "
Sahut Wi Ci To mengangguk.
"kapur memang barang yang paling mudah melukai mata, tetapi kalau dapat cepat2 dibersihkan dengan air maka hal itu tidak lagi terlalu bahaya". Leng Hu Ih selamanya menyebut dirinya sebagai iblis nomor satu didalam Bu-lim dan selamanya bersikap amat sombong sekali, tidak disangka didalam sakunya dia pun memiliki benda yang amat rendah seperti ini! ".
"Mungkin benda ini sudah dipersiapkan untuk menghadapi kita berdua dia sebeenarnya adalah orang dari kalangan Hek-to sudah tentu berbuat apa pun dia tidak takut". Sewaktu berbicara sampai disana tampaklah Nyio Si Ih dengan membawa nampan makanan yang lezat sudah berjalan masuk ke dalam. Baru saja makanan itu diletakkan di meja orang yang diperintahkan untuk membawa kapas pun sudah tiba.
"Mau cuci mata dulu atau makan dulu?"
Tanya Nyio Sam Pak kemudian.
"Cuci mata dulu"
Sahut Wi Ci To, Dia mengambil sebuah bangku dan membiarkan kepala dari Ti Then menjulur keluar dari dalam pembaringan dan bersandar diatas bangku tersebut.
setelah itu dia mengambil kapas dibasahi dulu dengan air dingin kemudian baru mulai membuka mata dari Ti Then dan membersihkan kapur yang masih tertinggal didalam kelopak matanya itu.
Sesudah dicuci beberapa kali akhirnya rasa sakit yang diderita Ti Then pun jauh berkurang, sedangkan penglihatannya sudah pulih delapan bagian.
"Sekarang bagaimana rasanya ?"
Tanya Wi Ci To.
"Sudah hampir pulih seluruhnya cuma saja masih merasa sedikit sakit."
"Soal ini tidak bisa terhindar lagi tetapi setelah lewat satu dua hari tentu akan sembuh kembali seperti sediakala, sekarang kau duduklah dan bersantap."
"Tidak!"
Cegah Nyio Sam Pak dengan cepat.
"Tangan kanan dari Ti Kiauw-tauw masih belum sembuh. biarlah dia tetap berbaring Lolap akan suruh putraku membantu dia!"
Dengan cepat dia menekan badan Ti Then untuk berbaring kembali, setelah itu kepada putranya Nyio Si Ih perintahnya.
"Si Ih, coba kau bantulah Ti Kiauw-tauw untuk menyiapkan makanan itu kepadanya!"
"Tidak perlu begitu. boanpwe bisa makan dengan menggunakan tangan kiri."
Seru Ti Then menampik.
Tetapi walaupun dia sudah berbicara secara bagaimanapun dia orang tua tidak memperkenankan juga dia makan sendiri.
Ti Then tidak dapat berbuat apa-apa lagi terpaksa sahutnya kemudian.
"Kalau begitu silahkan Nyio Locian-pwe pergi bersantap, cuma dikarenakan sedikit luka dari boanpwe membuat Lo-cianpwe pun harus bingung-benar2 membuat boanpwe merasa tidak tenang."
"Baiklah!"
Ujar Nyio-Sam Pak kemudian dan menoleh kearah Wi Ci To.
"Mari kita pergi makan dulu, nanti kita datang lagi!"
Setelab dua orang tua itu pergi Nyio Si Ih mulai membantu Ti Then menyuapinya, dia orang sampai waktu ini masih tidak tahu bagaimana Ti Then terkena sambitan kapur oleh pihak lawan serta bagaimana kesudahan pertempuran melawan Leng Hu Ih, tidak tertahan lantas tanyanya;
"Ti-heng siapa yang sudah melukai matamu itu ?"
"Leng Hu Ih"
"Oooh... kau sudah bergebrak dengan si iblis bungkuk Leng Hu Ih ?"
Tanya Nyio Si Ih terkejut.
"Benar."
"Lalu bagaimana kesudahannya ?"
Sembari menyuapi makan Ti Then segera menceritakan bagaimana dia sudah mengalahkan diri iblis bungkuk itu.
Ketika Nyio Si Ih mendengar dia orang sudah berhasil membinasakan diri iblis bungkuk Leng Hu Ih tidak terasa lagi sepasang matanya sudah terpentang lebar2, dengan wajah kurang percaya tanyanya dengan terkejut.
"Sungguh ? kau ... kau bisa menangkan si iblis bungkuk Leng Hu Sian?"
Ti Then cuma tersenyum saja tidak menjawab.
xxxx Malam ini dengan alasan hendak menjaga Ti Then Wi Ci To tidur satu kamar dengan diri Ti Then.
Nyio Sam Pak menemani mereka berdua sampai tengah malam baru pamit untuk pulang ke kamarnya.
Setelah melihat bayangan punggungnya lenyap dari balik pintu, Ti Then baru menoleh ke arah Wi Ci To dan tersenyum pahit.
"Siasat kita aku rasa sukar untuk dijalankan lagi"
Ujarnya dengan suara yang rendah.
"Gak-hu punya rencana berbuat bagaimana?"
"Lohu sendiri juga tidak mengetahui cara untuk menghadapi perubahan ini.."
Sahut Wi Ci To kemudian dengan wajah serius setelah termenung berpikir beberapa saat lamanya.
"Ini hari kita harus membantu Nyio-locianpwe melenyapkan si iblis bungkuk Leng Hu Ih, walau pun urusan terjadi di luar dugaan tetapi boleh dikata perjalanan kita tidak sia-sia, bilamana kita tidak pergi ke perkampungan Thiat Kiam San Cung terlebih dulu bagaimana bisa tahu kalau Nyio locianpwe juga mengundang Cuo It Sian untuk member bantuan?"
"Benar!"
Sahut Wi Ci To sambil mengangguk "Untung sekali Nyio Cung-cu berkata kalau paling cepat Cuo It Sian baru sampai disini dua puluh hari kemudian, maka itu kita masih punya kesempatan untuk mengubah siasat"
"Gak-hu menduga apakah Cuo It Sian bisa menerima undangan dari Nyio Locian-pwe untuk datang ke perkampungan Thiat Kian San Cung?"
"Delapan bagian dia bisa dating!"
"Tetapi ada kemungkinan juga dia tidak berani datang, karena dia sudah membinasakan anak murid dari Nyio locianpwe, Si elang sakti Cau Ci Beng, sewaktu putra dari Nyio Locianpwe sampai di rumahnya dan menjelaskan maksud hatinya untuk memohon bantuannya membasmi Si iblis bungkuk Leng Hu Ih, mungkin dia sudah menaruh curiga kalau rahasia dimana dia sudah membunuh mati si elang sakti Cau Ci Beng telah diketahui oleh dia orang tua sehingga dengan demikian dia sudah menaruh salah anggapan bahwa undangannya untuk mengunjungi perkampungan Thiat Kiam San Cung hanyalah satu siasat balaka !"
"Sudah tentu dia bisa berpikir sampai kesana, tetapi lohu percaya dia bisa datang karena diapun menduga kalau pembunuhan yang dilakukan ditengah malam buta itu tidak bakal bisa diketahui oleh siapapun juga, maka itu Nyio Cung-cu tidak mungkin bisa mengatahui kalau Cau Ci Beng mati ditangannya, bahkan bilamana dia tidak datang maka hal ini semakin bisa diperlihatkan kecurigaan yang lebih besar !"
Dia berhenti sebentar untuk kemudian katanya lagi .
"Sudah tentu jikalau dia tidak datang kita bisa melakukan pekerjaan sesuai dengan rencana,"
"Bilamana dia sudah datang apakah Gak-hu merasa dia dapat membawa pedang Biat Hun Kiam-nya ?"
Tanya Ti Then "Sukar untuk dibiarakan, dia ada kemungkinan membawa serta pedang tersebut ada kemuugkinan juga tidak membawa pedang itu ..."
"Apa maksud perkataanmu itu ?"
"Untuk menutupi rahasia patahnya pedang pendek itu ada kemungkinan dia bisa membawa serta pedang pendek Biat Hun Kiam itu untuk sengaja diperlihatkan kepada Nyio Cung cu sehingga dengan demikian bisa ada orang yang membuktiksn kalau pedang pendek Biat Hun Kiam itu belum pernah terputus , . ."
Baca Juga: Pedang Sinar Emas 15
Baca Juga: Kilat Pedang Membela Cinta 3