Eps 12 Pendekar Patung Emas - Qing Hong
Baca online Pendekar Patung Emas - Qing Hong
Cersil Pendekar Patung Emas - Qing Hong.
"Oooh " , ..sekarang boanpwe paham sudah,"
Tiba-tiba potong Ti Then sambil tertawa.
"Kau sudah memahami apa?"
Tanya Wi Ci To melengak.
"Dahulu dia pernah menggunakan pedang pendek Biat Hun Kiam itu untuk melakukan satu perbuatan yang merugikan masyarakat, akhirnya pedang pendek itu patah jadi dua dan secara tidak sengaja sudah didapatkan oleh Gak-hu sehingga menangkap pangkal peristiwa inu, bukan begitu?"
Ujar Ti Then sambil tertawa.
"Benar"
Sahut Wi Ci To kemudian sambil mengangguk sesudah berpikir sebentar.
"Sekarang kau adalah menantuku, maka aku sudah menaruh kepercayaan kepadamu, peristiwa yang terjadi memang seperti apa yang kau duga, dia memang pernah menggunakan pedang ini untuk melakukan satu perbuatan yang merugikan orang lain."
"Peristiwa apa?"
Dengan perlahan-lahan Wi Ci To menghela napas panjang.
"Orang itu sebetulnya tidak jelek"
Ujarnya.
"Pada masa yang lalu setelah lulus ujian dia lantas diangkat sebagai pembesar negeri dan memangku jabatan disatu kota tetapi dia orang bersifat jujur dan suka menegakkan keadilan bahkan paling tidak suka melihat cara bekerja dari pembesar lainnya, akhirnya karena tidak betah dia meletakkan jabatan dan kembali kedesa, beberapa tahun kemudian dia mulai berkelana didalam Bu-lim. dikarenakan semasa kecilnya dia pernah memperoleh pelajaran ilmu silat dari seorang manusia aneh di dalam Bu-lim maka tidak sampai satu tahun dia mengembara namanya sudah terkenal sekali diseluruh sungai telaga bahkan di dalam beberapa tahun itupun dia sering melakukan pekerjaan baik maka orang2 sudah menganggap dia sebagai seorang pendekar yang patut dihormati. Heei.. , , siapa tahu setelah tiba di masa tuanya ternyata perbuatannya malah tidak keruan dan sudah melakukan satu perbuatan yang sangat tercela sekali"
Dia berhenti sebentar untuk tukar napas kemudian sambil tertawa dingin sambungnya.
"Urusan sudah begini, pada suatu tengah malam empat tahun yang lalu, dikarenakan lohu ada urusan hendak pergi menyambangi Yuan Koan Thaysu itu ciangbunjin dari Siauw lim pay ditengah perjalanan melewati sebuah dusun didekat kota Tiong Cing Hu yaitu dusun Sak Peng, mendadak dari sebuah rumah petani berkumandang datang suara jeritan ngeri dari seorang perempuian, lohu dengan cepat mengejar kesana begitu masuk kedalam pintu satu pemandangan yang amat memalukan dan mengerikan terpampang dihadapan mata, Didalam rumah itu menggeletaklah sepasang suami istri, yang lelaki sudah tertotok jalan darah kematiannya sehingga binasa diatas lantai, yaug perempuan telanjang bulat menggeletak diatas pembaringan, jelas sekali bagian bawah badannya sudah mengalami perkosaan yang ganas, pada dadanya masih mengalir keluar darah segar dengan amat derasnya sedang disamping badannya menggeletaklah potongan pedang pendek tersebut. Jika ditinjau dari keadaan itu jelas perempuan tersebut sudah diperkosa dulu kemudian baru dibunuh dan alat untuk melakukan pembunuhan itu bukan lain adalah pedang pendek tersebut entah secara bagaimana pedang pendek yang digunakan untuk menusuk dada perempuan itu bisa putus sedangkan pembunuhnya mungkin karena keadaannya amat gugup ternyata potongan pedang itu pun sudah lupa untuk memungutnya kembali."
Ketika mendengar kisah tersebut sampai disana Ti Then segera mengerti, bangsat tukang perkosa itu bukan lain adalah si pembesar kota Cuo It Sian, tidak terasa lagi hawa amarah sudah membara didalam dadanya.
"Hmm, sungguh ganas perbuatannya!"
Makinya dengan gusar. Sekali lagi Wi Ci To menghela napas panjang, sambungnya lagi .
"Ketika Lohu melangkah masuk kedalam kamarnya perempuan tersebut masih belum putus nyawa, begitu bertemu dengan lohu dengan kata kata terputus dia cuma mengucapkan Cuo It Sian tiga kata saja setelah itu napasnya putus dan menemui ajalnya."
"Dia mempunyai banyak uang, untuk main perempuan masih mempunyai cara yang amat banyak sekali, tidak kusangka ternyata dia masih menggunakan juga cara yang demikian kejamnya. Hmm, patut dibunuh"
Wi Ci To tersenyum.
"Manusia adakalanya memang sangat menggelikan"
Ujarnya lagi dengan perlahan.
"Terang-terangan didalam hati mempunyai sifat suka main perempuan tetapi dihadapan orang lain sengaja memperlihatkan sikap yang keren dan berwibawa di wajahnya memperlihatkan sikapnya yang sok suci ... karena itu untuk melampiaskan napsu binatangnya terpaksa dia melakukan pekerjaan mencuri, demikian pula dengan keadaan dari Cuo It Sian, terang terangan dia kepingin sekali main perempuan tetapi tidak berani memperlihatkan keinginannya itu secara terbuka didalam keadaan yang kebelet pikiran serta kesadarannya jadi terganggu, kesadarannya jadi kalut sehingga tanpa memikirkan akibatnya dia sudah melakukan pekerjaan yang amat rendah dan memalukan itu."
"Tetapi jikalau ditinjau kekayaan yang berlimpah limpah untuk mencari perempuan atau gundik bukanlah satu soal yang amat sulit, didalam rumahnya dia menyembunyikan perempuan ada siapa yang bakal tahu ?"
Ujar Ti Then sambil tertawa.
"Dengan usianya yang sudah lanjut boleh dikata sudah patut menjadi kakeknya orang lain, bagaimana pun dia harus memperlihatkan juga kewibawaannya apalagi ada beberapa patah kata entah kau pernah dengar orang berkata atau tidak ?"
"Perkataan apa ?"
Tanya Ti Then cepat.
"Daripada istri lebih baik gundik, daripada gundik lebih baik budak perempuan, daripada budak perempuan lebih baik memperkosa."
"Hmmm, sungguh mirip tulang kere!"
Seru Thi Then sambil tertawa pahit. Mendadak Wi Ci To mendehem perlahan, senyuman yang menghiasi bibirnya pun telah lenyap.
"Pokoknya"
Ujarnya lagi dengan serius.
"Perbuatan dari Cuo It Sian memperkosa perempuan itu bukan dikarenakan godaan hatinya saja. sebab yang penting adalah dikarenakan perempuan itu mempunyai wajah yang amat cantik serta bentuk badan yang montok dan menggiurkan."
"Aaaah.., perempuan ini sangat cantik?"
Tanya Ti Then tertegun.
"Benar."
Sahut Wi Ci To mengangguk.
"Boleh dikata saking cantiknya sukar untuk dibandingkan, apalagi sepasang matanya yang hitam dan besar itu membuat setiap orang yang melihatnya pasti akan terpikat. Sudah tentu Cuo It Sian terpikat hatinya oleh kecantikan wajah perempuan itu sewaktu menarik hasil panennya sehingga saking tidak tahannya dia sudah melakukan perbuatan tersebut."
"Lalu apakah suami dari perempuan itu adalah anak buah dari Cuo It Sian?"
Tanya Ti Then keheranan-"Tidak salah, kalau tidak bagaimana perempuan itu bisa mengetahui kalau orang yang memperkosa kemudian membunuhnya adalah hasil perbuatan dari Cuo It Sian?"
Dia berhenti sebentar untuk tukar napas kemudian sambungnya lagi.
"Berbicara selanjutnya, sewaktu loho melihat perempuan itu telah mati untuk menghindarkan diri dari kesalah pahaman dari orang-orang kampung, maka lohu segera pungut kembali potongan pedang itu dan meninggalkan dusun itu kembali ke kota Tiong Cing Hu"
Sewaktu Lohu sampai dirumahnya waktu itu dia masih belum tidur, ketika lohu munculkan dirinya dan bertemu dengan dia kemudian memperlihatkan pula potongan pedang itu dia segera jadi ketakutan bahkan secara tiba-tiba sudah berlutut dihadapan lohu untuk minta diampuni dosanya, dengan memandang jasa yang pernah diperbuat sewaktu berkelana didalam Bu-lim dia berjanji empat tahun kcmudian dia akan bunuh diri dihadapan lohu untuk menebus dosanya"
"Kenapa dia mengajukan permintaan itu?"
"Dia bilang dia masih ada perintah dari suhunya yang masih belum diselesaikan, menurut perkataannya sesaat suhunya menemui ajalnya dia minta dia orang bantu mencarikan keturunan dari seorang tuan penolongnya kemudian mewariskan seluruh kepandaian silat itu kepada putra atau cucu dari orang itu, dan selama ini dia masih belum menjalankan tugasnya itu karenanya dia berharap sebelum meninggalkan dunia ini dia ingin menyelesaikan dulu perintah dari Suhunya ini.."
"Perkataannya ini apa sungguh-sungguh?"
"Waktu itu wajahnya dipenuhi dengan air mata bahkan sudah mengangkat sumpah. Lohu segera mempercayainya dan mengijinkan dia hidup empat tahun lagi. Saat itu perduli dia sudah berhasil menemukan keturunan dari tuan penolongnya itu atau tidak dia diharuskan bunuh diri untuk menebus dosa tersebut."
"Lalu apakah Gak-hu tidak pernah memikirkan bilamana sampai waktunya dia mungkiri sumpahnya dan tidak mau membunuh diri untuk menebus dosanya itu?".
"Lohu pernah memberitahu kepadany dengan jelas bilamana sampai waktunya dia tidak mau bunuh diri untuk menebus dosa tersebut maka pada pertemuan puncak di gunung Hoa san tahun besok dihadapan orang banyak Lohu akan membongkar rahasianya ini"
"Dan potongan pedang itu sebagai barang buktinya ? sambung Ti Then lebih lanjut.
"Benar"
Sahut Wi Ci To membenarkan.
"Selama tiga tahun ini secara diam-diam beberapa kali Lohu memeriksa gerak-geriknya; aku menemukan dia agaknya memang benar sedang mencari-keturunan tuan penolongnya sesuai dengan pesan terakhir suhunya, tetapi waktu hari itu Lohu mendengar pengakuan dari Hu-Poocu yang berlutut sambil menjelaskan maksudnya mengadakan jual beli dengan Cuo It Sian, Lohu baru merasa aku orang sudah tertipu*, kiranya dia sengaja ulur waktu sebenarnya sedang berusaha untuk mencuri kembali potongan pedang itu untuk melenyapkan bukti"
"Setelah Hu poocu bunuh diri seharusnya Gak-hu lantas mengumumkan kejahatannya"
"Waktu itu dikarenakan sedang mempersispkan perjanjian dengan si anjing langit rase bumi lohu tidak ada waktu untuk mengumumkan kejahatannya dihadapan umum tetapi menanti setelah aku berhasil menghancurkan istana Thian Teh Kong dia sudah berhasil menawan Ih Koen, Cha Cay Hiong serta Pau Kia Yen tiga orang"
"Sewaktu dia orang sesudah memperkosa lalu membunuh perempuan itu, potongan pedang yang lain masih tertinggal didalam badan perempuan itu, akhirnya bagamana dia bisa mengambil kembali potongan pedang yang masih tertinggal itu ?"
Tanya Ti Then lagi.
"Hari itu setelah lohu perintah kau pergi kegunung Cun san untuk mencuri kembali potongan pedang tersebut, lohu segera berangkat menuju ke dusun Sam Peng untuk mengadakan penyelidikan, saat itulah lohu baru tahu pada malam setelah perempuan itu diperkosa kemudian dibunuh dan tepatnya setelah lohu meninggalkan diri Cuo It Sian dia segera kembali lagi ke perkampungan Sam Peng untuk mengambil keluar potongan pedang yang masih tertinggal dibadan perempuan itu kemudian minjam kesempatan sebelum terang tanah dia sudah bakar habis rumah petani itu, karenanya sewaktu Lohu mengadakan penyelidikan didusun Sam Peng orang2 dusun disekeliling tempat itu semuanya bilang sepasang suami istri itu menemui ajalnya karena rumah yang mereka diami sudah terbakar, mereka sama sekali tidak tahu kalau mereka sudah mati terlebih dahulu ditangan Cuo It Sian. Ditinjau dari hal ini saja jelas sekali sejak semula dia sudah punya rencana untuk merebut kembali potongan pedang itu dari tangan Lohu dan hendak mencuci bersih dosanya." -oooOdwOooo-"PERISTIWA ini sekalipun Gak-hu tidak dapat segera mengumumkan dihadapan Bu-lim seharusnya boleh juga diberitahukan kepada para jago yang ada didalam Benteng "ujar Ti Then kemudian.
"Kenapa Gak-hu selalu tidak mau berkata?"
"Sesudah potongan pedang itu berhasil dia orang dapatkan kembali lohu sendiri pun tidak mempunyai bukti lagi untuk membuktikan dosanya secara terbuka berarti juga sudah membuka kedoknya yang sebenarnya dia mempunyai pengaruh dan harta yang cukup banyak dan dapat menggunakan uangnya untuk membeli kekuatan dari luar untuk melawan Benteng kita, maka itu Lohu harus berpikir sebelum membeberkan dosa dihadapan umum."
"Tetapi pedang pendek itu sudah disambung seperti sedia kala, sekalipun kita rebut kembali apakah bisa digunakan sebagai bukti atas kejahatannya?"
"Dapat"
"Bagaimana bisa jadi ?"
Tanya Ti Then tidak paham.
"Pedang pendek itu adalah hadiah dari Nyio Sam Pak kepadanya di kemudian hari setelah ada ditangan kita sekalipun dia mau memberi penjelasan juga tidak bakal jadi terang apalagi ada kau sebagai yang dengan mata kepala sendiri melihat dia membinasakan Cu Kiam Lojien serta Si elang sakti Cau Ci Beng-lain kali di hadapan para jago dalam Bu lim kau bisa menunjukan pula tempat dimana Cu Kiam Lo-jien serta Si elang sakti Cau Ci Beng dikubur."
Ti Then segsra mengangguk membenarkan.
"Tadi Gak-hu bilang kalau memangnya dia menerima undangan tersebut datang ke Perkampungan Thiat Kiam San cung ada kemungkinan pedang pendek Biat Hun Kiam itu dibawa serta kemudian sengaja diperlihatkan pada Nyio locianpwe sehingga dengan demikian ada orang yang membuktikan kalau pedang pendek itu belum pernah patah."
Tidak menanti dia meneruskan perkataannya Wi Ci To sudah menyambung.
"Sebaliknya alasannya tidak dibawa serta kemungkinan sekali dia takut hilang."
"Kalau begitu sekarang kita pura-pura mengatakan dia datang dengan membawa pedang pendek itu. kita harus carikan satu akal untuk mendapatkan pedang tersebut"
"Kau punya pendapat apa ?"
"Sebenarnya maksud kita datang kemari adalah hendak melihat wajah serta perawakan dari Nyio Locianpwe kemudian oleh Gak-hu atau boanpwe yang menyamar sebagai Nyio Locianpwe pergi ke kota Tiong Cing Hu untuk memeriksa pedang itu kemudian menukar pedang yang asli dengan yang palsu-Kini kalau memangnya Cuo It Sian akan datang di perkampungan Thiat Kiam San Cung bagaimana kalau kita jelaskan seluruh persoalan itu kepada dia orang tua kemudian minta dia menanyakan pedang Biat Hun Kiam itu sesudah dia tiba didalam perkampungan, bilamana Cuo It Sian membawa serta pedang pendek Biat Hun Kiam itu maka dia akan mengambil keluar untuk diperlihatkan kepada Nyio Locianpwe, saat itulah kita dengan menurut rencana yang semula turun tangan dan biarlah Nyio Locianpwe yang menukar pedang yang asli itu dengan yang palsu".
"Bilamana siasat ini diketahui olehnya?"
Tanya Wi Ci To setelah termenung berpikir sebentar. Ti Then segera tersenyum manis. ---ooo0dw0ooo---
Jilid 34.1 .
Cuo It Sian akhirnya datang juga "Kalau begitu kita harus menawannya secepat mungkin, dia sudah memperkosa dan membunuh orang jikalau dibicarakan dari dosanya ini kita boleh membasminya terlebih dahulu tanpa menanti pertemuan puncak para jago diatas gunung Hoa San tahun depan"
Wie Ci To termenung berpikir sejenak akhirnya dengan tegasnya dia mengangguk.
"Baiklah, kau tidurlah terlebih dulu,"
Ujarnya kemudian.
"Loohu sekarang juga akan pergi menemui Nyio Cung-cu dan menceritakan seluruh peristiwa ini kepadanya"
Selesai berkata dia segera mengambil mantelnya dan turun dari atas pembaringan untuk pergi dari dalam kamar.
Dengan perlahan Ti Then menghembuskan napas lega, teka teki yang menyelimuti hatinya selama beberapa bulan ini boleh dikata ini hari sudah terpecahkan, tidak terasa diam2 dia sudah memperingati diri sendiri.
Seorang manusia yang benar2 sejati tidaklah seharusnya berbuat kejahatan seperti Cuo It Sian ini sebetulnya dia adalah seorang yang suci dan berbudi, tetapi dikarenakan menuruti hawa napsu didalam hatinya sehingga melakukan pekerjaan yang begitu memalukan bahkan setelah peristiwa itu dia tidak mempunyai keberanian untuk menebus dosanya, akhirnya semakin terjerumus kedalam lembah kehinaan yang lebih mendalam sehingga tidak dapat terhindar lagi dia harus menebus dosa itu hal ini sungguh menakutkan sekali ....
Selanjutnya dia memikirkan dirinya sendiri, teringat dirinya yang diperintahkan oleh Majikan Patung Emas untuk memperisteri Wie Lian In maka keadaannya pada saat itu mirip sekali dengan keadaan dari Cuo It Sian yang sudah memperkosa perempuan itu, untuk berpaling pun sudah terlambat !
Bolehkah dirinya kawin dengan Wie Lian In?
Tidak boleh!!!
Tetapi majikan patung emas sudah menerangkan dengan begitu jelasnya, bilamana dirinya tidak mau mendengarkan kembali perintahnya untuk memperistri Wie-Lian In dan bantu dia mencapai pada tujuannya maka terpaksa dia akan melakukan satu tindakan "Kekerasan".
Tindakan "
Kekerasannya "
Itu sudah tentu hendak turun tangan membinasakan Wie Ci To serta Wie Lian In, dengan kepandaian silatnya yang begitu dahsyat dan sempurna untuk membinasakan Wie Ci To boleh dikata satu pekerjaan yang amat mudah sekali.
Kalau begitu, jikalau dia mau mengikuti perintahnya dan memperistri Wie Lian In bukankah hal ini sama saja dengan telah menolong Wie Ci To dari kematian, tetapi persoaiannya terletak setelah dia kawin dengan Wie Lian In ....Semakin berpikir semakin bingung dan semakin mangkel, selama satu malaman dia tidak dapat memejamkan matanya barang sekejappun.
XXXXX Hari sudah terang ..Dengan wajah yang sangat terharu Nyio Sam Pak bersama dengan Wie Ci To berjalan masuk kedalam kamar Ti Then, Setelah duduk di dalam kamar dia baru menghela napas panjang dan ujarnya.
"Ti Kiauw tauw, tempat terkuburnya jenasah muridku apakah kau masih bisa menemukannya ?"
"Sudah tentu bisa"
Sahut Ti Then mengangguk-"Sekalipun boanpwee tidak tahu nama dari tempat pegunungan yang amat sunyi tersebut tetapi dengan amat mudahnya boanpwee bisa menemukannya kembali."
Titik2 air mata mulai mengucur keluar membasahi wajahnya, kemudian sambil gelengkan kepalanya dia menghela napas panjang.
"Tidak kusangka Cuo It Sian sebetulnya adalah seorang manusia yang berhati begitu kejam. tidak aneh kalau muridku sampai kini belum kembali juga, kiranya dia sudah menemui bencana."
"Karena dia sudah membinasakan Cu Kiam Loojien didadalam hatinya dia baru ambil keputusan untuk membereskan sekalian muridmu karena muridmu bilang mau pergi kegunung Cun San mencari Cu Kiam Loojien untuk mengambil pedang, sedangkan tempat itunya amat dekat sekali dengan gunung Cun San apalagi ditengah malam bisa pula dia takut setelah muridmu menemukan mayat dari Cu Kiam Loojin lantas menaruh curiga dialah pembunuhnya, karena itu tanpa berhenti lagi dia menusuk mati sekalian muridmu,"
Kata Ti Then.
"Sungguh kejam, terlalu kejam!"
Maki Nyio Sam Pak dengan amat gusarnya.
"Kali ini orang yang pergi mengundang dia datang kemari adalah putra sulung dari Nyio cungcu atau putra yang kedua ?"
Tanya Wie Ci To tiba2. Air muka Nyio Sam Pak seketika itu juga berubah sangat hebat.
"Putra sulung loolap Si Ce."
Sahutnya sambil mendongakkan kepalanya.
"Maksud Wie Poocu ... kemungkinan dia bisa turun tangan membinasakan putraku ?"
"Loohu rasa tidak mungkin"
Sahut Wie Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Sekalipun dia menaruh curiga kalau undangan Nyio heng kepadanya untuk mengunjungi perkampungan Thiat Kiam San Cung adalah bertujuan untuk membalas dendam atas kematian dari muridmu dia pun tidak akan berani turun tangan untuk sekalian membunuh mati putra dari Nyio heng karena sekalipun dia bunuh putramu juga tidak ada gunanya."
Mendengar perkataan tersebut Nyio Sam Pak baru merasa rada lega.
"Putraku sudah ada tiga, empat hari lamanya meninggalkan perkampungan, sekali pun mengirim orang untuk suruh dia pulang juga tidak bakal kecandak"
Ujarnya perlahan.
"Kalau begitu kitapun terpaksa harus menggunakan siasat melawan siasat seperti apa yang aku orang She Wie katakan kemarin malam ... menanti saja kedatangannya!"
Sahut Wie Ci To kemudian.
"Bilamana dia datang juga untuk memenuhi undangan mungkin setengah bulan kemudian baru bisa tiba ditempat ini"
Ujar Nyio Sam Pak lagi sambil menggigit kencang bibirnya.
"Loolap cuma takut dia orang tidak berani datang untuk memenuhi undangan".
"Kalau begitu kita tunggu dua puluh hari dulu disini bilamana dia tidak datang juga maka kita ber-sama2 pergi ke kota Tiong Cing Hu untuk mengunjungi diri nya". Nyio Sam Pak segera mengangguk.
"Sewaktu dia tiba di perkampungas Thiat Kiam San Cung waktu itu janganlah sekali-kali membiarkan diapun tahu kalau kita ada didalam perkampungan "Tukas Ti Then pula.
"Maka itu Nyio Loocianpwee harus baik2 memberi pesan wanti2 sama orang2 perkampungan agar semuanya baik2 menjaga rahasia ini"
"Soal ini loolap paham"
Sahut Nyio Sam Pak mengangguk.
Demikianlah mulai hari itu Wie Ci To serta Ti Then pun tinggal didalam perkampungan Thiat Kiam San Cung.
Didalam sekejap saja sepuluh hari lewat dengan cepatnya .
sepasang mata serta kedua tempat luka pedang ditangan Ti Then pun sudah sembuh seperti sedia kala, dikarenakan Nyio Sam Pak menaruh rasa terima kasih atas bantuan mereka membasmi Si iblis bungkuk Leng Hu Ih serta anak buah-nya.
setiap hari tentu dengan masakan yang paling lezat dia menjamu Wie Ci To berdua, karena itulah sekalipun sewaktu luka Ti Then sudah kehilangan banyak darah tetapi saat ini boleh dikata sudah sembuh kembali seperti sedia kala.
Hari itu putra kedua dari Nyio Sam Pak, Nyio Si Jien sudah kembali kedalam perkampungan dengan membawa dua orang jagoan kelas satu dari Bu lim merekapun merupakan kawan akrab dari Nyio Sam Pak, yang satu adalah Im Si Tiauw Ong atau si kakek tukang pancing Shia Si Yuen sedangkan yang lain adalah toosu dari Bu-tong pay Lam Yang Cu.
Setelah mereka meadengar penjelasan dari Nyio Sam Pak dan mengetahui berkat bantuan dari Pek Kiam-Pocu Wie Ci To kawanan iblis bungkuk Leng Hu Ih berhasil dibasmi maka mereka berdua cuma tinggal satu hari saja didalam perkampungan kemudian pada hari kedua pamit diri untuk kembali ketempat asalnya.
Didalam sekejap mata empat hari kembali berlalu dengan cepatnya.
Nyio Sam Pak pun menduga ada kemungkinan Cuo It Sian hampir datang karenanya dia segera rnempersiapkan satu kamar rahasia buat Wie Ci To serta Ti Then untuk bersembunyi setelah itu dia mengumpulkan seluruh anggota perkampungannya untuk diberi wanti2 jangan sampai membocorkan rahasia dimana Wie Ci To serta Ti Then berhasil menghancurkan si iblis bungkuk Leng Hu Ih kemudian mertamu selama beberapa lama didalam perkampungan.
Keesokan harinya Nyio Si Ce yang diperintahkan Nyio Sam Pak untuk mengundang Cuo It Sian mendadak muncul kembali didalam perkampungan Thiat Kiam San Cung seorang diri.
Nyio Sam Pak yang melihat putranya kembali dalam keadaan selamat, hatinya jadi amat lega sekali.
"Si Ce kau sudah kembali?"
Serunya kegirangan.
"Benar Tia !"
Sahut Nyio Si Ce cepat.
"Selama dua puluh hari ini apakah Si iblis bungkuk Leng Hu Ih tidak mencari gara2 lagi dengan kita ?"
"Tidak, kau sudah bertemu dengan Cuo It Sian ?".
"Benar, dia telah menyanggupi untuk datang membantu kita mengusir Si iblis bungkuk tersebut ".
"Lalu kenapa dia tidak datang ber-sama2 kau? "
Tanya Nyio Sam Pak kemudian.
"Dia bilang masih ada urusan yang harus diselesaikan, dan memerintahkan aku untuk pulang dulu. dia bilang dua hari kemudian akan menjusul sendiri kemari ".
"Bagus, kau ikutlah Loolap!"
Ujar Nyio Sam Pak kemudian sambil mengangguk.
Dengan memimpin putranya Nyio Si Ce dia berjalan masuk kedalam kamar rahasia itu, ujarnya kemudian sambil menuding kearah Wie Ci To serta Ti Then yang sedang bermain catur didalam kamar rahasia tersebut.
"Mereka adalah Wie Toa Poocu dari Benteng Pek Kiam Poo serta Ti Then, Ti Kiauw-tauw dari Benteng Pek Kiam Poo, cepat kau maju menyambut mereka !", Nyio Si Ce yang mendengar perkenalan dari ayahnya itu semula rada tertegun tetapi sebentar kemudian dengan wajah kegirangan segera maju memberi hormat, Menanti setelah mereka mengucapkan kata2 merendah barulah ujarnya kembali.
"Si Ce, sekarang kau ceritakanlah keadaanmu sewaktu bertemu dengan Cuo It Sian kepada kita semua"
Nyio Si Ce yang mendengar perkataan tersebut ada sesuatu yang tidak beres segera jadi tertegun.
"Cuo Loocianpwee dia ... dia kenapa ?"
Tanyanya keheranan.
"Nanti saja aku beritahu padamu. sekarang kau ceritakanlah dahulu kisahmu"
"Aku melakukan perjalanan siang malam dengan cepatnya pada hari kesembilan sudah tiba di kota Tiong Cing Hu. setibanya didepan rumah Cuo Loocianpwee kebetulan dia sedang keluar rumah dan agaknya mau pergi keluar, ketika melihat putramu datang agaknya dia merasa sangat terkejut sekali dan katanya . Iih ...bukankah kau adalah putra sulung dari Nyio Sam Pak dari perkampungan Thiat Kiam San Cung, Nyio Si Ce? putramu lantas cepat turun dari kuda memberi hormat. Dia tanya kepadaku ada urusan apa datang kekota Tiong Cing Hu, aku menjawab mendapatkan perifctah dari Tia untuk menyambangi dirinya dan ada urusan yang hendak dirundingkan, setelah mendengar perkataan tersebut air mukanya kelihatan rada aneh, lama sekali dia mamperhatikan aku tanpa mempersilahkan aku masuk kedalam rumah. Setelah berada didalam rumah dia baru tanya ada urusan apa putramu suruh datang kemari, aku lantas menceritakan kisah dimana si iblis bungkuk Leng Hu Ih datang ke atas gunung Lak Ban san untuk mendirikan sarang dan mencari gara-gara dengan kita dari perkampungan Thiat Kiam San Cung kemudian mengutarakan sekalian msksudnya minta dia suka membantu. Dia lalu menanyai keadaan dari si iblis bungkuk Leng Hu Ih dengan amat teliti, setelah itu termenung berpikir beberapa saat lamanya kemudian baru menyetujui, tetapi dia bilang masih ada urusan yang harus dikerjakan terlebih dulu maka itu dia memerintahkan aku untuk kembali dulu dan dua hari kemudian dia baru menyusul kemari."
Dengan perlahan Nyio Sams Pak mengangguk, kepada Wie Ci Tc lantas tanyanya.
"Menurut Wie Poocu bagaimana ?".
"Bilamana dia telah menyanggupi untuk datang memberi bantuan seharusnya ikut datang pula dengan putramu ..."
Sahut Wie Ci To setelah termenung berpikir sebentar.
"Benar. tetapi jika ditinjau dari keadaan ini ada kemungkinan dia tidak berani datang".
"Tidak tentu, jikalau dia tidak datang bagaimana dia orang akan memberi alasannya kepada Nyio Loocianpwee ?? "
Sela Ti Then kemudian.
"Menurut pendapat boan-pwee tentu dia akan secara diam2 datang kegunung Lak Ban san dulu untuk memeriksa apakah Si iblis bungkuk Leng Hu Ih pernah mendirikan sarangnya diatas gunung ini setelah itu baru datang ke perkampungan kita"
"Bilamana demikian adanya, jikaiau dia melihat sarang itu sudah terbakar belum tentu mau datang!"
"Dia pasti datang, asalkan dia orang sudah memeriksa dan mengetahui kalau memang pernah terjadi urusan ini maka dia pati akan datang kemari".
"Bilamana dia datang kemari, lalu loo-lap harus menjelaskan kepadanya dengan cara apa?"
Tanya Nyio Sam Pak lagi.
"Katakan saja secara tiba2 datang seorang jagoan Bu-lim yang tidak diketahui namanya, dengan seorang diri dia pergi mencari siiblis bungkuk Leng Hu Ih lalu membunuh dirinya dan membakar sarangnya.
"Bilamana kita harus memberi penjelasan secara begini maka kita harus mengirim orang untuk menjaga dibekas sarang itu, kalau tidak bilamana ada kaum penjahat yang tersisa dan ditanyai oleh Cuo It Sian bukankah urusan-akan berabe??"
Timbrung Wie Ci To.
"Benar! "
Sahut Nyio Sam Pak mengangguk "Nanti Loolap akan kirim orang untuk pergi kesana"-. Nyio Si Ce yang mendengar dari pembicaraan orang2 itu agaknya mengandung "Siasat"
Tidak terasa dalam hati merasa terkejut bercampur ragu2.
"Tia! Sebetulnya sudah terjadi urusan apa?"
Tanyanya keberanan.
"Kau duduklah"
Seru Nyio Sam Pak kemudian dengan wajah serius.
"Aku akan menceritakan kepadamu dengan perlahan ...."
Xxx Hari ketiga siang sejak Nyio Si Ce pulang kedalam perkampungan mendadak dengan tergesa-gesa Nyio Sam Pak berjalan masuk kedalam kamar rahasia, kepada Wie Ci To ujarnya.
"Dugaan dari Wie Poocu sedikitpun tak salah. Cuo It Sian sudah hampir datang."
Semangat Wie Ci To segera berkobar kembali.
"Apakah dia pergi memeriksa dulu keadaan dari sarang tersebut?"
Tanyanya cepat.
"Benar,"
Sahut Nyio Sam Pak sambil mengangguk.
"Seorang anak buah Loolap yang diperintahkan untuk menjaga disekitar sarang itu baru saja melepaskan burung merpati yang kirim kabar katanya Cuo It Sian sudah munculkan dirinya di belakang sarang tersebut, bahkan katanya sebentar lagi segera tiba."
"Apakah dia orang pernah berbicara dengan anak buah dari Nyio heng itu?"
Tanya Wie Ci To kegirangan.
"Tidak! Loolap perintah dia untuk menyamar sebagai anak buah dari si iblis bungkuk Leng Hu Ih dan bersembunyi di sekeliling hutan itu, begitu ditemui oleh Cuo It Sian maka dia harus mengaku sebagai sisa dari anak buahnya si iblis bungkuk. Akhirnya Cuo It Sian tidak menganiaya dirinya, di atas suratnya dia melaporkan bahwa Cuo It Sian cuma memeriksa sebentar abu dari sarang tersebut setelah itu lantas berangkat menuju kemari."
Wie Ci To segera mengambil keluar pedang pendek palsu yang persis seperti pedang pendek Biat Hun Kiam itu kepadanya.
"Kalau begitu bagus sekali"
Serunya sekarang kita harus bekerja sesuai dengan rencana"
Pedang pendek yang mirip dengan pedang Biat Hun Kiam itu adalah pedang yang dicuri si pencuri tiga tangan dari badan Cuo It Sian.
Cuo It Sian pernah menggunakan pedang itu untuk menipu Ti Then sekarang Wie Ci To pun ikut menggunakan cara yang sama untuk menipu diri Cuo It Sian-Setelah menerima pedang itu Nyio Sam Pak segera memasukkanya ke dalam saku.
"Mungkin dia sudah hampir tiba"
Katanya dengan cepat.
"Loolap segera pergi menyambutnya"
Selesai berkata dia segera putar badan berlalu. Baru saja tiba diluar kamar rahasia itu tampaklah putra sulungnya Nyio Si Ce dengan tergesa-gesa sudah datang.
"Tia! Dia sudah tiba didepan pintu perkampungan! "
Lapornya dengan suara yang perlahan. Dengan langkah yang cepat Nyio Sam Pak segera berjalan keluar dari pintu perkampungan.
"Cepat buka pintu menyambut! "
Teriaknya.
Dengan membawa ketiga orang putranya Nyio Sam Pak segera berjalan keluar dari pintu perkampungan-Tampaklah sesosok bayangan manusia dengan amat cepatnya muncul diatas jalanan luar perkampungnn tersebut, Gerak gerik dari bayangan tersebut amat cepat sekali, hanya didalam sekejap saja sudah berada kurang lebih sepuluh kaki dari depan pintu perkampungan.
Dia ...
bukan lain adalah si pembesar kota Cuo It Sian!!
Dengan wajah penuh senyuman Nyio-Sam Pak segera merangkap tangannya menjura.
"Cuo-heng, Loo-lap sedikit terlambat menyambut, maaf ... maaf".. Cuo It Sian segera tertawa terbahak2, sahutnya sambil menepuk2 pundak dari Nyio Sam Pak;
"Jangan terlalu sungkan2 , ... Nyio-heng kita adalah kawan lama yang sudah ada puluhan tahun lamanya buat apa masih membicarakan segala macam adat?"
"Haah ... haaa ... haaa .., , ada beberapa tahun tidak bertemu ternyata Cuo heng masih tidak kelihatan tua, sebetulnya Cuo-heng lah yang lebih pandai merawat badan"
Ujar Nyio Sam Pak sambil tertawa ter-bahak2.
"Mana ... mana ... bilamana siauw-te sudah menginjak usia seperti Nyio-heng kiranya tidak bakal bisa sehat seperti diri Nyio heng sekarang ini !"
"Mari kita bicara didalam saja"
Ujar Nyio Sam Pak kemudian sambil menggandeng tangannya.
Mereka segera berjalan masuk kedalam ruangan tengah, setelah duduk Nyio Si Ce lantas menyuguhi air teh.
Kemudian Nyio Sam Pak memerintahkan putranya yang kedua, ketiga dan beberapa orang anak muridnya untuk ber-sama2 maju memberi hormat.
Sesudah semuanya selesai Nyio Sam Pak baru berkata dengan suara yang serius.
"Kali ini Loolap mcngundang Cuo-heng jauh2 datang kemari sungguh merasa tidak enak."
"Aaaah ..buat apa Nyio heng berbicara demikian"
Seru Cuo It Sian dengan cepat.
"Bilamana kawan ada kesusahan sudah seharusnya aku turun tangan membantu apa lagi si iblis bungkuk Leng Hu Ih adalah seorang penjahat Bu lim yang patut dibasmi bilamana Siauwte dapat ikut serta di dalam pembasmian penjahat ini boleh dikata merupakan satu urusan yang patut digembirakan"
"Cuma sayang urusan sudah bisa dibikin bares."
"Iiih ..bagaimana bisa beres?"
Tanya Cuo It Sian sengaja memperlihatkan rasa kagetnya.
"Urusan sudah terjadi diluar dugaan, hari itu setelah Loolap memberitahukan Si Cie, Si Jien dua orang bersaudara untuk turun gunung -mengundang Cuo heng serta Im Si Tiauw Ong dan Lam Yang Ci dari Bu tong Pay, mendadak pada hari ketiga putraku yang bungsu Si Ih datang melapor, katanya didepan sarangnya Leng Hu Ih sudah kedatangan seorang jagoan berkepandaian tinggi yang sedang bertempur dengan amat serunya melawan Leng Hu Ih"
"Entah siapakah jagoan Bu lim itu?"
Timbrung Cuo It Sian-"Cuo-heng dengarkan dulu Loolap menceritakan urusan ini dengan perlahan lahan, ketika loolap mendengar ada orang yang sedang bertempur seru dengan Leng Hu Ih maka segera loolap mengumpulkan seluruh anak muridku untuk menerjang kesana, siapa tahu setibanya didepan sarang itu tampaklah Leng Hu Ih sudah menggeletak mati sedangkan sarangnya pun sudah berada didalam lautan api."
"Aaah .., sudah tentu perbuatan dari si kakek pemalas Kay Kong Beng "
Seru Cuo It Sian dengan wajah terperanjat.
"Bukan,"
Sahut Nyio Sam Pak tersenyum dan gelengkan kepalanya. Air muka Cuo It Sian segera berubah hebat.
"Kalau tidak tentu perbuatan dari Pek Kiam Poocu Wie Ci To,"
Serunya lagi dengan sinar mata yanng berkedip2.
"Juga bukan!"
Dengan pandangan tajam Cuo It Sian memandang diri Nyio Sam Pak tidak berkedip.
"Kalau tidak tentunya Kiauw-tauw dari Benteng Pek Kjam Poo ..si pendekar Ti Then"
Sahutnya sepatah demi sepatah.
"Bukan .... bukan "
Rasa tegang dari Cuo It Sian pun segera lenyap tak berbekas, diganti dengan senyuman yang amat ramah menghiasi bibirnya.
"Lalu siapa ?"
Nyio Sam Pak mendehem dulu beberapa kali kemudian baru sambungnya.
"Loolap sekalian yang melihat Si iblis-bungkuk Leng Hu Ih sudah mati tetapi anak buahnya masih ada maka segera menghajar mereka sehingga dibuat kocar kacir tidak karuan, waktu itu Loohu berhasil membunuh Si kupu kupu bunga Hong it Peng, Si manusia banci Ong Cuo Ting. Thian San Ji Lang-' Kiem Hoo dan Kiem Hay, Si ketemu tidak mujur Cang Hiong serta si Siluman bocah dari lembah setan Yu Si beberapa orang"
"Lalu siapa yang telah membinasakan Leng Hu Ih itu ?".
"Setelah Loolap berhasil mernperoleh kemenangan segera menangkap seorang penjahat untuk ditanyai. Katanya orang yang berhasil membinasakan Leng Hu Ih adalah seorang kakek tua berbaju hijau yang usianya sudah ada tujuh puluh tahunan, wajahnya amat segar dan berwibawa, ketika dia bertemu muka dengan Leng Hu Ih didepan sarangnya dia orang cuma mengucapkan sepatah kata saja, katanya.
"Hey bungkuk kau masih ingat hutangmu pada tiga belas tahun yang lalu ?"
Setelah itu mereka segera bertempur"
"Tadi sewaktu Nyio-heng sampai di sana dia orang sudah pergi ?"
Tanya Cuo It Sian-"Benar !"
Sahut Nyio Sam Pak mengangguk.
"Setelah dia berhasil membunuh Leng Hu Ih dan membakar sarangnya lantas tanpa mengucapkan kata2 lagi sudah berlalu dari sana".
"Tahukah kau dia meaggunakan senjata apa ?"
"Menurut jawaban dari penjahat itu dia menggunakan pedang"
"Sunggug aneh sekali"
Seru Cuo It Sian sambil mengerutkan alisnya rapat2.
"Leng Hu Ih mempunyai julukan sebagai raja iblis dari seluruh Bu-lim. jago2 Bu-lim pada saat ini kecuali si kakek pemalas Kay Kong Beng, Pek Kiam Poocu Wie Ci To serta si pendekar baju hitam Ti Then, siapa lagi yang bisa membinasakan diri Leng Hu Ih ??".
"Loohu sendiripun tidak dapat mengetahui dia adalah Nabi dari mana, cuma saja didalam Bu-lim yang demikian luasnya memang pasti ada beberapa orang jagoan yang berkepandaian amat tinggi sekali tanpa diketahui oleh orang lain". Lama sekali Cuo It Sian termenung berpikir keras, lalu gumamnya seorang diri.
"Ehmm ... apa muagkin dia ."
"Cuo-heng sudah teringat akan siapa ?"
"Seorang yang bernama Boe Beng Loojien"
"Boe Beng Loojien?"
Tanya nyio Sam pak pura-pura terkejut.
"Benar,"
Sahut Cuo It Sian mengangguk. Wajahnya berubah amat serius sekali.
"Dia adalah suhu dari si pendekar baju hitam Ti Then itu-Kiauw tauw dari benteng Pek Kiam Poo . , tahukah Nyio heng akan si pendekar baju hitam Ti Then-pemuda-ini ?"
"Loolap pernah mendengar cuma tidak begitu jelas, dia adalah pemuda macam apa ?"
"Usianya ada dua puluh tahunan, tetapi kepandaian silat yang dimilikinya amat tinggi sekaii sukar diukur dia pernah mengalahkan pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan,"
Mendengar perkataan tersebut Nyio Sam Pak segera menghela napas panjang.
"Heeei . kepandaian silat dari si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan tidak ada dibawah kepandaian dari Wie Ci To, kalau memangnya si pendekar baju hiram Ti Then bisa mengalahkan dirinya maka kepandaian silatnya jelas jauh diatas kepandaian dari Wie Ci To,"
"Ehmin ... !"
Sahut Cuo It Sian mengangguk.
"Sekalipun tidak dapat melampaui Wie Ci To, sedikit2nya juga tidak ada dibawah Wie Ci To sendiri!"
"Sebenarnya dia dengan Wie Ci To ada sangkut paut apa?"
Tanya Nyio Sam Pak kemudian dengan wajah serius.
"Katanya pula si pendekar baju hitam itu Ti Then melakukan perjalanan lewat diluar kola Go-bie dan menemukan murid dari Wie Ci To yaitu Hong Mong Ling menggeletak dijalan dalam keadaan tidak sadar, dia lantas menolongnya kembali ke Benteng Pek Kiam Poo, akhirnya Wie Ci To menemukan kalau Ti Then memiliki kepandaian silat yang amat tinggi sekali, karenanya dia diangkat sebagai kiauwtauw didalam Benteng Pek Kiam Poo,"
"Seorang bocah cilik yang baru berusia dua puluh tahunan ternyata berhasil memiliki kepandaian silat yang tinggi sungguh bukanlah satu pekerjaan yang gampang"
"Siauw-te pernah dua kali bertemu muka dengan dirinya, dia mengaku suhunya bernama Boe Beng Loojien, mengenai siapakah namanya yang sebetulnya dia sendiripun tidak tahu, tidak perduli perkataannya ini benar atau tidak dengan kepandaian silatnya yang begitu tinggi, kepandaiannya tidak mungkin bisa dimilikinya sejak lahir-dia pasti ada seorang suhu bahkan kepandaian silat dari suhunya itu pasti jauh berada diatas kepandaian silat dari si kakek pemalas Kay Kong Beng."
Jilid 34.2 . Ada saksi pengakuan Cuo It Sian Dengan cepat Nyio Sam Pak menganggukkan kepalanya.
"Benar"
Sahutnya.
"Kalau memangnya kepandaian silat yang dimiliki Ti Then tidak berada dibawah kepandaian silat dari Wie Ci To maka kepandaian silat dari suhunya pasti berada diatas si kakek pemalas Kay Kong Beng."
"Maka itu siauwte menduga orang yang membinasakan Leng Hu Ih itu ada kemungkinan besar adalah suhunya Ti Then, Si Boe Beng Lojin"
"Hey . cuma sayang kedatangan loolap ada sedikit terlambat, kalau tidak loolap tentu akan berkenalan dengan jagoan yang memiliki kepandaian silat amat tinggi ini"
Dia berhenti sebentar untuk tukar napas lalu sambungnya lagi sambil tertawa.
"Heei tapi dengan kejadian itu kedatangan dari Cuo heng dari tempat jauh ini akan sia-sia belaka tetapi tidak mengapa asalkan Cuo-heng ada kesenangan pasti ada yang hendak dibunuh"
"Aaaah .... masih ada musuh?"
Tanya Cuo It Sian melengak.
"Ada!"
"Siapa ?"
"Loolap"
Sahut Nyio Sam Pak sambil menuding hidungnya sendiri.
"Haa haaa kiranya sengaja Nyio-heng mengundang siauw-te kemari sebetulnya hendak memuaskan keinginanmu untuk main catur,"
Seru Cuo It Sian tertawa keras.
"Kali ini bilamana Cuo-heng tidak mau melayani Loolap untuk bermain sebanyak sepuluh atau delapan kali, Loolap tidak akan melepaskan kau pergi"
"Baik, siauw-te akan melayani sampai akhir"
Saat itulah Cia Pu Leng sudah berjalan masuk ke dalam ruangan.
"Suhu, perjamuan sudah dipersiapkan"
Lapornya kepada Nyio Sam Pak, Nyio Sam Pak segera bangkit berdiri meninggalkan tempat duduknya, Mereka segera berjalan menuju ke ruangan makan, tampak ditengah ruangan sudah tersedia satu meja perjamuan yang mewah.
Nyio Sam Pak segera mempersilahkan Cuo It Sian untuk menduduki tempat yang teratas sedang dirinya duduk disampingnya kemudian memerintahkan pula Si Ce, Si Jien serta Si Ih untuk menemaninya.
Tua muda lima orang segera angkat cawan dan meneguknya dengan gembira.
"Nyio-heng bilang sudah mengundang pula sikakek tukang pancing serta Lam Yang Ci dari Bu-tong Pay, kenapa mereka tidak ikut datang untuk sama2 bersantap?"
"Mereka sudah datang, tetapi ketika mendengar Leng Hu Ih sudah mati keesokan harinya lalu pada berlalu dari perkampungan"
"Lama sekali tidak bertemu dengan si kakek tukang pancing, dia orang apakah masih suka mancing seperti dulu?"
"Benar, Shia Si Yuen loo-heng ini memang sangat menyenangkan sekali ."
"Katanya dia suka mancing ikan dikarenakan untuk menghindari istrinya yang cerewet, lama kelamaan dia maiah terkena demam mancing."
Nyio Sam Pak segera angkat cawannya dan menghormati kembali satu cawan kepadanya, setelah itu baru tanyanya.
"Beberapa tahun ini Cuo-heng sendiri mengisi kekosongan waktu dengan bekerja apa ?"
"Beberapa tahun akhir ini Siauw-te jarang melakukau perjalanan jauh, setiap hari duduk dirumah teh untuk ngomong2."
"Kenapa tidak mencari seorang murid?"
"Siauw-te memang bermaksud demikian, cuma saja untuk mencari seorang pemuda yang mempunyai hati serta sifat yang baik dan jujur bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, bahkan sifat dari Siauw-te pun sangat pemalas. tidak sabaran untuk memberi petunjuk kepada murid maka itu sampai sekarang Siauw-te tidak pernah menerima seorang murid pun"
Nyio Sam Pak lantas tersenyum.
"Sebaliknya Loo-lap mempunyai murid yang tidak sedikit jumlahnya. bilamana Cuo-heng tidak menampik atas kebodohan mereka aku akan hadiahkan seorang muridku agar jadi ahli warismu"
"Haaa ... haaa , ..Nyio-heng jangan berguyon"
Ujar Cuo It Sian sambil tertawa terbahak2.
"Bagaimana mungkin muridmu boleh diberikan kepada orang lain?"
"Sungguh,"
Jawab Nyio Sam Pak dengan serius.
"Kepandaian dari Loolap ada batasnya, bilamana mereka mengikuti loolap terus sebetulnya tidak bakal bisa memperoleh kemajuan, bilamana Cuo-heng benar benar ada maksud loolap pasti akan memberikan seorang kepadamu, usianya tidak begitu besar cuma dua puluh tiga tahun bahkan sifatnya pun amat bagus sekali,"
Cuo It Sian melihat dia orang berkata dengan nada yang serius, tidak terasa sudah tanyanya sambii memperhatikan wajahnya tajam.
"Siapa?"
"Itu orang yang sudah melayani Cuo-heng sewaktu Cuo-heng mertamu di perkampungan Loolap tempo hari,"
"Siapa?"
Tanya Cuo It Sian agak melengak.
"Sekarang dia tidak ada di dalam perkampungan, Loolap sedang mengirim dia pergi ke gunuog Cun San untuk mengambil kembali sebilah pedang dari Cu Kiam Loojien, tetapi ada kemungkinan sebentar lagi dia bakal kembali... Cuo-heng apa sudah tidak ingat lagi dengan dirinya ?"
Dengan perlahan Cuo It Sian angkat cawannya untuk meneguk habis isinya, lantas dia tertawa terbahak-bahak.
"Kelihatannya siauw-te harus berpikir keras lagi ..eeee "aduh siapa toh namanya? loolap sudah agak lupa."
"Dia bernama Cau Ci Beng"
"Oooh ... benar... benar"
Sahut Cuo It Sian dengan wajah yang biasa saja.
"Agaknya dia mempunyai julukan sebagai si . si .."
"Si elang sakti !"
"Ehm ."
Tidak salah.. tidak salah, memang benar si elang sakti"
Sahut Cuo It Sian keras.
"Bagaimana Nyio heng secara tiba-tiba punya maksud hendak memberikan dia orang sebagai muridnya siauw-te?"
"Dia mempunyai bakat yang amat bagus sekali tidak sampai seberapa lama seluruh kepandaian silat dari Loolap sudah berhasil dipelajari seluruhnya, diam2 Loolap pergi mengadakan pameriksaan Loolap rasa bilamana dia dapat memperoleh seorang guru yang ternama maka di kemudian hari dia tentu akan jadi seorang jagoan Bu-lim. Setelah pikir pulang pergi Loolap rasa cuma Cuo-heng seorang saja semua yang mempunyai hubungan persahabatan yang erat dengan loolap bahkan Cuo-heng memiliki kepandaian silat yang tinggi pula maka itu Loolap rasa hanya Cuo-heng seorang saja yang patut menjadi gurunya itulah sebabnya kenapa Loolap mempunyai maksud untuk memberikannya kepada Cuo-heng"
Dia berhenti sebentar untuk tukar napas lalu sambil tersenyum tambahnya.
"Tetapi Loolap tidak terlalu memaksa bilamana Cuo-heng tidak berminat yaa.. sudahlah."
Cuo It Sian tersenyum tawar.
"Urusan ini harus menunggu dia orang menyetujuinya baru bisa jadi. aku lihat lebih baik tunggu sampai dia pulang dulu baru kita bicarakan lagi"
"Baiklah, kita tunggu dia pulang dulu baru dibicarakan kembali."
Berbicara sampai disini kepada putranya yang ketiga Si Ih lantas tanyanya.
"Si Eh, Ci Beng, bocah itu agaknya sudah pergi sangat lama bukan?"
"Benar, sudah ada sebulan lamanya"
Sahut Nyio Si Ih dengan hormatnya. Nyio Sam Pak segera mengerutkan alisnya rapat2.
"Bocah ini segala-galanya baik cuma sayang dia rada suka bermain!"
Serunya.
"Nyio-heng apa suruh dia pergi mengambil pedang dirumah kediamannya Cu Kiam Loojien?"
Tiba2 Cuo It Sian bertanya.
"Benar, tahun yang lalu Loolap pergi melakukan perjalanan kedaerah Lam Huang dan secara tidak sengaja sudah menemukan sebuah besi baja yang bagus, maka loolap lantas serahkan besi itu kepada Cu Kiam Loojien untuk dibuatkan sebilah pedang, bulan kemarin Cu Kiam Loojien datang mengirim surat katanya pedang tersebut sudah jadi maka loolap lantas kirim orang untuk mengambilnya."
"Haaaa ... haaaa ... walau pun Nyio-heng sudah mengundurkan diri dari keramaian dunia, tetapi kegemarannya terhadap pedang agaknya belum pernah hilang"
Ujar Cuo It Sian sambil tertawa.
"Benar ... benar ... mari, mari ..kita minum arak."
Mereka berlima kembali saling maneguk satu cawan setelah itu mulai bersantap.
Tiba-tiba agaknya Nyio Sam Pak sudah teringat akan sesuatu, daging yang sudah disumpit dan hendak dimasukkan kedalam mulut mendadak ditarik kembali.
"Aaaah , , benar"
Ujarnya sambil angkat kepalanya.
"Pedang Biat Hun Kiam yang tempo hari Loolap hadiahkan kepada Cuo-heng apakah masih ada ?"
"Masih ada, masih ada, Siauw-te selalu membawanya didalam badan."
Agaknya Nyio Si Ih tidak mengerti apa yang dibicarakan itu. cepat tanyanya. Apa itu pedang pendek Biat Hun Kiam ?"
"Oooh sebilah pedang pendek dari jaman Cun Ciu, dahulu loolap hadiahkan kepada Cuo heng."
"Bagaimana macamnya pedang pendek dari jaman Cun Ciu itu ?"
Tanya Nyio Si Ih lagi dengan wajah ke-heran2an.
"Cuo-heng"
Ujar Nyio Sam Pak kemudian kepada diri Cuo It Sian.
"Sewaktu tempo hari loolap hadiahkan pedang Biat itu kepada Cuo heng bocah-bocah masih kecil sehingga belum pernah melihat bagaimana bentuk dari pedang Biat Hun Kiam itu, sekarang dapatkah Cuo-heng mengambilnya keluar untuk dilihat-lihat ?"
Cuo It Sian segerai mengangguk, dari dalam sakunya dia mengambil keluar pedang pendek Biat Hun Kiam itu kemudian diangsurkan kepada Nyio Si Ih.
"Hian-tit silahkan melihat"
Ujarnya sambil tertawa.
Nyio Si ih segera bangkit berdiri dan menerima pedang itu dengaa menggunakan sepasang tangannya, setelah itu perlahan mencabut keluar pedang pendek itu.
Ketika dilihatnya pedang tersebut memancarkan sinar yang menyilaukan mata tidak terasa lagi dia sudah memuji.
"Sebuah pedang yang amat bagus,"
"Mari berikan kepadaku"
Ujar Nyio Si Jien dengan cepat. Mereka tiga bersaudara segera saling bergilir memandang pedang tersebut, akhirnya Nyio Sam Pak menerima pedang itu. Sembari memperhatikan pedang itu ujarnya.
"Pedang Biat Hun Kiam ini memang merupakan sebilah pedang yang amat bagus sekali cuma saja mendatangkan hawa membunuh yang tidak enak, apakah Cuo heng pernah menggunakan pedang ini untuk membunuh seseorang ?"
"Tidak pernah! "
Sahut Cuo It Sian sambil gelengkan kepalanya.
Baru saja dia berbicara sampai disitu mendadak dari depan ruangan berkumandang suara terjatuhnya barang yang pecah berantakan.
Cuo It Sian yang didalam hatinya memang sudah menaruh curiga, begitu mendengar suara terjatuhnya barang pecah belah itu dengan cepat meloncat bangun kemudian putar badannya menengok keluar.
"Ada urusan apa?"
Teriaknya.
Diatas lantai didepan pintu tampaklah pecahan mangkok serta tumpahan kuah yang mengotori seluruh permukaan.
Kiranya seorang pelayan yang membawa satu nampan kuah ayam entah secara bagaimana sewaktu ada didepan pintu itu sudah jatuh sehingga kuahnya tumpah.
"Nyio An, kau kenapa tidak berhati~hati!"
Bentak Nyio Sam Pak dengan gusar "Nyio An"
Si pelayan itu segera memperlihatkan rasa takutnya, dengan badan gemetar sahutnya dengan gugup.
"Ham ... hamba . , hamba . salah! kaki ... kaki hamba kena ... kena ter ter -..tersangkut batu . ."
"Cepat ambil sapu dan bersihkan tempat itu !"
Bentak Nyio Sam Pak lagi dengan gusar. Nyio An segera menyahut dan dengan ter-gesa2 mengundurkan diri dari sana.
"Hmmm! Usianya sudah lanjut tetapi bekerja selalu saja tidak keruan !"
Maki Nyio Sam Pak lagi.
"Nyio-heng tidak usah memaki dirinya lagi"
Cegah Cuo It Sian dengan cepat.
"Kemungkinan sekali kuah itu memang amat panas sekali."
Nyio Sam Pak segera memasukkan kembali pedang pendek itu kedalam sarungnya lalu diserahkan kembali kepadanya.
"Cuo-heng silahkan duduk kembali"
Ujarnya sambil tertawa.
"Budak itu sungguh bodoh, baik2 semangkuk kuah ayam kini malah hancur berantakan tidak keruan !"
Cuo It Sian segera menerima kembali pedang pendek itu, baru saja hendak dimasukkan kembali kedalam badannya mendadak air mukanya berubah sangat hebat, sambil mencabut kembali pedang pendeknya jelas wajahnya berubah semakin seram.
"Nyio-heng sebenarnya kau mau berbuat apa ?"
Tanyanya sambil memandang tajam diri Nyio Sam Pak.
"Kenapa?"
Balas tanya Nyio Sam Pak sambil tertawa.
"Bilamana Nyio-heng merasa keberatan untuk memberikan pedang Biat Hun Kiam itu kepadaku lebih baik mintalah kembali secara terus terang, di siang hari bolong buat apa kau melakukan pekerjaan itu?"
Sembari berkata tangannya dengan cepat disamber menekan pundak kanan dari Nyio Si Ce.
"Si Ce-heng cepat menyingkir."
Suara peringatan itu keluar dari mulutnya Ti Then.
Secara diam-diam dia bersama-sama dengan Wie Ci To sudah munculkau dirinya di depan ruangan makan tersebut.
Mendeogar suara peringatan itu Nyio Si Ce segera berjumpalitan kebelakang ber-sama2 dengas kursinya dia mundur kebelakang lantas dengan meminjam kesempatan itu meloncat sejauh dua kaki lebih.
Nyio Si Jien serta Nyio Si Ih bersaudara pun bersama-sama meloncat dua kaki kebelakang meninggalkan meja perjamuan.
Cuo It Sian yang telapak tangannya menekan tempat kosong tubuhnya dengan cepat berputar kamudian menoleh memandang kearah pintu luar, Begitu melihat Wie Ci To serta Ti Then muncul didepan pintu ruangan, air mukanya seketika itu juga berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat.
"Heee heee. kiranya Wie Poccu juga sudah datang,"
Ujarnya sambil tertawa dingin "Kalian terus menerus memfitnah dan mendesak loohu untuk menyerahkan harta kekayaan loohu, kalian sungguh kejam sekali."
"Hmmmm, orang she Cuo sampai keadaan seperti ini juga ingin sekalian menggigit loohu,"
"Nyio-heng."
Ujar Cuo It Sian kemudian kepada diri Nyio Sam Pak.
"Wie Poocu ini demi berhasilnya maksud hati untuk merebut harta kekayaan dari loohu berulang kali dia berusaha memfitnah aku dengan merebut pedang Biat Hun Kiam tersebut, karena dia hendak menggunakan pedang Biat Hun Kiam itu sebagai bukti menuduh siauw-te sudah membunuh orang, kau jangan sampai kena tertipu olehnya,"
Wajah Nyio Sam Pak segera berubah jadi amat keren. Sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap keatas wajahnya lalu dengan dinginnya bertanya;
"Apakab Cuo-heng benar2 tidak pernah membunuh orang ?"
"Tidak! Siauw-te buat apa membunuh orang? Seharusnya Nyio-heng tahu bagaimana aku jadi orang ..."
"Kalau begitu !"
Potong Nyio Sam Pak dengan cepat.
"Siapa yang sudah membunuh mati Cu Kiam Loojien serta muridku Cau Ci Beng?". Selama ini Cuo It Sian selalu menganggap perbuatannya membunuh mati Cu Kiam Loojien serta si elang sakti Cau Ci Beng tidak akan diketahui orang lain. Saat ini mendengar secara tiba2 Nyio Sam Pak mengungkat kembali akan kedua orang itu didalam hati dia merasa sangat terkejut sekali.
"Siapa yang sudah melihat ?"
Tanyanya tanpa terasa.
"Ti Kiauw-tauw"
Sahut Nyio Sam Pak dengan wajah yang amat adem. Mendadak Cuo It Sian tertawa keras dengan amat seramnya.
"Nyio-heng, persahabatan kita sudah ada puluhan tahun lamanya, apakah sampai ini hari kau masih tidak memahami sifat dari Siauw-te? Kenapa bukannya kau mempercayai omongan Siauw-te bahkan sebaliknya mempercayai omongan sembarangan, omongan fitnah dari mereka berdua yang ingin mencelakai Siauw-te ?"
"Mata loolap masih belum kabur, siapa yang benar siapa yang salah masih dapat membedakan dengan jelas "
Seru Nyio Sam Pak sambil tertawa dingin.
"Apa lagi dari tindak tandukmu tadi yang hendak menawan putraku Si Ce. loolap sudah tahu kalau perkataan dari Wie, Ti dua orang tidak salah!"
Sepasang mata dari Cuo It Sian dengan mengandung rasa benci yang amat sangat memandang diri Wie Ci To berdua tanpa berkedip, dari wajahnya tersungginglah satu senyuman dingin yang amat menyeramkan.
"Tidak salah! "
Ujarnya kemudian.
"Cu Kiam Loojien serta muridmu Cau Ci Beng memang loohu yang bunuh tetapi kalian tidak punya bukti, dengan nama baik serta kedudukan yang terhormat dari loohu didalam Bu-lim aku rasa didalam dunia kangouw tidak bakal ada orang yang mempercayai tuduhan j&ng kalian lancarkau kepada loohu! "Tetapi beberapa patah kata perkataan yang kau ucapkan barusan ini merupakan satu bukti yang nyata !"
Sahut Wie Ci To sambil tertawa nyaring;
"Tetapi kecuali kalian, ada siapa yang mendengar pula perkataanku ini?"
Ejek Cuo It Sian sambil tertawa dingin.
"Masih ada loolap!"
Bersamaan dengan berkumandangnya suara itu didepan pintu muncul kembali seorang.
O Dia adalah seorang hweesio tua yang memakai baju lhasa berwarna abu2 dengan ditangannya membawa sebuah tongkat.
Melihat munculnya orang itu air muka Cuo It Sian berubah semakin hebat lagi.
"Siapa kau ?"
Tanyanya dengan cepat.
Walaupun dia tidak tahu siapakah hweesio tua itu tetapi dia tahu dia orang bukanlah anggota dari perkampungan Thiat Kiam San Cung ini.
Bilamana seseorang yang bukan termasuk orang dari perkampungan Thiat Kiam San Cung mendengar perkataannya tersebut sudah tentu lebih dari cukup untuk menjadi seorang saksi, karenanya hal ini benar2 membuat dia merasa sangat terperanjat.
Dengan sikap yang amat keras dan berwibawa hweesio tua itu bungkukkan badannya memberi hormat.
"Loolap It Ie !"
"Ciangbunjin dari Ngo Thay San. It Ie Sangjien?"
Tanya Cuo It Sian dengan kaget, tubuhnya tergetar dengan amat keras sekali.
"Benar loolap adanya!"
Sahut hweesio itu sambil mengangguk.
Air muka Cuo It Sian semakrn pucat lagi.
dia percaya dengan nama serta kedudukannya yang ada didalam Bu-lim sekali pun Wie Ci To serta Nyio Sam Pak menuduh dia pernah melakukan pembunuhan dan perkosaan dengan diri mereka sebagai saksinya orang2 didalam Bu-lim sebagian besar tidak akan mau percaya karena itu tadi dia berani mengaku kalau Cu Kiam Loojien serta Cau Ci Beng memang dia yang bunuh, siapa sangka pada saat yang bersamaan It Ie Sangjien dari Ngo Thay San sudah munculkan diri disana.
Dia tahu dengan kedudukan It Ie Sangjien sebagai seorang pendeta yang beribadat tinggi setiap perkataan dan perbuatannya tentu akan dihormati oleh semua orang bilamana dia orang bertindak sebagai saksinya maka bukankah kedudukan akan jadi kepepet.
Nyio Sam Pak yang melihat air mukanya penuh diliputi oleh perasaan terkejut tak terasa lagi dia sudah tersenyum.
"Wie Poocu menduga kau tentu tidak akan mengakui dosa2 tersebut maka mengusulkan kepada Loolap untuk kirim orang pergi ke gunung Ngo Thay San mengundang datang It Ie Sangjien ini, sekarang kau sudah mengaku telah membunuh orang dan It Ie Sangjien pun sudah mendengarnya dengan jelas, kau ada perkataan apalagi yang hendak dikatakan?". Lama sekali Cuo It Sian termenung akhirnya dia menghela napas panjang.
"Hey kau orang she-Wie, hatimu sungguh begitu atos"
Ujarnya sambil menoleh kearab Wie Ci To.
"Loohu dikarenakan menuruti napsu sendiri sehingga melakukan satu perbuatan yang memalukan kau tanpa mengingat perbuatan mulia yang sudah loohu lakukan selama ini didalam Bu-lim memaksa Loohu harus melakukan bunuh diri juga, kau .... kau sungguh kejam! ". Berbicara sampai disini tidak kuasa lagi dua titik air mata menetes keluar membasahi pipinya. Air muka Wie Ci To segera berubah sangat hebat, dengan nada yang amat keren dan serius ujarnya;
"Tanpa sebab kau sudah membunuh anak buahmu sendiri, lalu memperkosa istrinya kau manusia yang tidak lebih menyerupai binatang masih berani membela diri juga ?". Dengan perlahan Cuo It Sian menundukkan kepalanya rendah2. Ujar Wie Ci To lagi .
"Untuk menutupi dosamu kau sudah menggunakan pelbagai cara yang memalukan untuk mtnculik Ti Kiauw-tau serta Siauw-li bahkan membinasakan pula sekeluarga petani didusun Thay Peng Cung, diikuti membunuh Cu Kiam Loojien serta si elang sakti Cau Ci Beng. Perbuatanmu sungguh kejam sekali".
"Hee ... heee ... Wie Ci To. Di mana dapat mengampuni orang ampunilah dia orang"
Ujar Cuo It Sian sambil tertawa seram.
"Loohu sudah hidup sampai begini tua apakah kau benar2 ingin merusak nama baik dari Loohu?".
"Perkataan dari Loohu pada tiga tahun yang lalu ini hari masih terhitung."
Ujar Wie Ci To dengan suara yang berat.
"Bila mana kau mau bunuh diri untuk menebus dosa ini maka loohu tidak akan mengumumkan dosamu ini secara terbuka !".
"Bagaimana kalau Loohu menggunakan seluruh kekayaanku untuk menolong orang miskin sebagai tebusan atas dosaku itu, setelah itu loohu akan mengundurkan diri dari keramaian Bu-lim ..."
Serunya lagi dengan ter-sedu2.
"Tidak bisa !"
Potong Wie Ci To dengan keras.
"Kalau begitu kau benar2 mengingini nyawa dari Loohu ini?"
Seru Cuo It Sian sambil tertawa dingin.
"Ayoh cepat turun tangan !". Baru saja kata2 terachir diucapkan mendadak dengan gaya burung bangau menerjang kelangit tubuhnya meluncur keatas atap.
"Braaaak ....!"
Dengan disertai suara yang amat keras sekali atap rumah itu sudah hancur berantakan sedang tubuhnya dengan melalui lubang diatas atap itu menerjang keluar.
Wie Ci To segera membentak keras, tubuhnya pun segera meloncat naik keatas wuwungan rumah, Sewaktu dilihatnya Cuo It Sian melarikan diri kebelakang perkampungan diapun dengan cepat mengikuti dari belakang, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang paling lihay dengan cepatnya dia mengejar dari belakang.
Ti Then serta Nyio Sam Pak dengan cepat mengikutinya pula dari arah belakang untuk melakukan pengejaran.
Cuo It Sian melarikan diri dengan amat cepatnya.
hanya didalam sekejap saja dia sudah melewati empat buah rumah bagaikan kilat cepatnya dia melarikan diri terus kedepan.
Tetapi agaknya orang2 didalam perkampungan Thiat Kiam San Cung itu sudah mengadakan persiapan, sewaktu sepasang kaki dari Cuo It Sian menginjak pada atap bangunan yang kelima mendadak tampaklah dari atas wuwungan rumah muncul sesosok bayangan manusia yang dengan dahsyatnya membabat sepasang kaki dari Cuo It Sian.
"Turun !"
Bentaknya.
Di dalam keadaan yang ter-gesa2 Cuo It Sian jadi terperanjat sekali, tetapi bagaimanapun dia adalah seorang jago kawakan.
tubuhnya dengan cepat menjatuhkan diri kebawah kemudian berbelok kekanan melanjutkan larinya.
Disebelah kanan merupakan bangunan yang berloteng.
Siapa tahu diatas loteng itupun sudah ada orang yang bersembunyi disana, baru saja tubuhnya hampir mencapai atas loteng itu mendadak kembali tampaklah seorang yang muncul kembali dari atas bangunan itu sambil melancaikan satu serangan dahsyat kearahnya.
Dengan cepat Cuo It Sian berjumpalitan ditengah udara.
karena tidak sempat lagi untuk menangkis lagi datangnya serangan tersebut, sembari mengebutkan ujung jubahnya dia melayang turun keatas tanah.
Wie Ci To, Ti Then, Nyio Sam Pak serta It Ie Sangjien waktu itupun sudah tiba disana dan mengurungnya rapat2.
Cuo It Sian yang melihat dia orang tidak dapat melarikan diri lagi, air mukanya gera berubah jadi pucat pasi.
"Bagus ..bagus"
Serunya sambil tertawa seram.
"Walaupun ini hari loohu tidak bisa meloloskan diri dari kematian tetapi kau orang she-Wie pun jangan harap dapat hidup lebih lama lagi". Air muka Wie Ci To segera berubah sangat adem.
"Seluruh perbuatan dari loohu selama hidup belum pernah tercela, sekalipun setelah mati kau jadi setan loohu juga tidak akan takut!"
Sahutnya.
"Tidak salah! "
Seru Cuo It Sian dengan gusar.
"Kau orang she-Wie memang suci bersih dan jujur, tetapi kaupun jangan harap bisa lolos, ada satu hari kau pun akan menyesal sendiri"
"Untuk membasmi penjahat sekalipun loohu harus mati juga tidak akan menyesal!"
Ujar Wie Ci To lagi sambil tertawa dingin.
Jilid 34.3 .
Ancaman pasukan aneh "Kau tunggu saja Loohu sejak semula sudah atur satu pasukan aneh yang dapat menghancurkan dirimu, tidak sampai setengah tahun kemudian kau beserta seluruh benteng Pek Kiam Poo jangan harap bisa meloloskan diri dari bencana ini!"
Selesai berkata tangan kanannya dengan cepat digaplokkan keatas kepalanya sendiri.
Terdengar suara hancurnya tulang batok kepalanya seketika itu juga hancur berantakan dan berserakan diatas tanah, setelah itu tubuhnya dengan perlahan roboh keatas tanah menemui ajalnya.
Melihat kejadian itu It Ih sagjien segera memejamkan matanya.
"Omintobud . , ,siancay " , ,siancay"
Serunya berulang kali. Nyio Sam Pak berdiam diri lama sekali setelah itu dia baru menghela napas panjang.
"Walaupun dia sudah bunuh diri tetapi dia orang sama sekali tidak memperlihatkan rasa menyesalnya .., heeai ... sungguh sayang..sungguh sayang.."
"Dia selalu menganggap perbuatan baiknya yang selama ini dipupuk bisa menghapuskan kejahatan yang pernah diperbuat itu siapa sangka sekalipun seorang budiman hanya karena sedikit salah saja maka jasanya yang terdahulu akan ikut lenyap dengan sendirinya, apalagi kejahatan yang diperbuat olehnya kali ini benar-benar merupakan satu kejahatan yang luar biasa."
"Bilamana bukannya ini hari loolap mendengar dengan mata kepala sendiri akan pengakuannya mungkin loolap masih tidak akan percaya kalau dia pernah melakukan perbuatan dengan memperkosa istri orang lain"
Ujar Nyio Sam Pak lagi sambil menghela napas panjang.
"Dengan sifatnya sebenarnya tidaklah mungkin bisa melakukan pekerjaan semacam itu."
"Manusia tidak akan terhindar dari sifat kebinatangannya, bilamana tidak dapat mawas diri maka sukar sekali buat kita untuk bisa menghindarkan diri dari perbuatan semacam itu"
Ujar Wie Ci TO.
"Benar"
Sambung It Ih sangjien dengan cepat.
"Perkataan dari Wie sicu sedikitpun tidak salah, mungkin Cuo sicu bisa berbicara demikian dikarenakan hartanya yang banyak dirumah membuat dia harus bersikap keras dan berwibawa, karenanya untuk memuaskan napsu kebinatangannya dia harus melakukan perbuatan semacam ini"
"Dia bilang sudah mengatur satu pasukan aneh, entah siasat apa lagi itu?"
Ujar Nyio Sam Pak tiba2 sambil angkat kepalanya memandang kearah diri Wie Ci To.
"Mungkin omong kosong untuk gertakan saja !"
Jawab Wie Ci To sambil tertawa dingin.
"Lebih baik Wie Poocu sedikit berhati2, loolap dahulupun mengira dia adalah seorang kawan yang patut untuk diajak sebagai teman, tetapi dari sini sudah dapat dilihat kalau dia orang adalah seorang yang amat licik sekali bahkan suka untuk menggunakan akal, kemungkinan sekali sejak semula dia memang sudah mempersiapkan semacam siasat yang hendak mencelakai Wie Poocu serta Benteng Pek Kiam Poo"
"Ini hari ada It Ih Sangjien yang bertindak sebagai saksi, lain kali bilamana di antara Benteng kami dengan pihak Cuo It Sian terjadi sesuatu urusan, aku rasa mudah sekali untuk dapat dibereskan..."
"Sekarang kita hendak mengurus jenazahnya dengan cara bagaimana ?"
Tanya Nyio Sam Pak kemudian.
"Baik2 menguburkan dirinya saja"
"Baiklah, urusan ini serahkan saja kepada putriku untuk pergi menguruskannya, mari kila kembali keruangan tengah saja". xxxxx Keesokan harinya It Ih Sangjien berpamitan pada Nyio Sam Pak serta Wie Ci To untuk kembali kegunung Ngo Thay san. Wie Ci To yang merasa tidak tenang atas perkataan-perkataan yang sudah diucapkan oleh Cuo It Sian sesaat hendak bunuh diri, setelah menghantarkan It Ih Sangjien pulang diapun segera berkata kepada Nyio Sam Pak.
"Nyio-heng, aku orang she-Wie pun harus pulang".
"Tidak!!"
Cegah Nyio Sam Pak dengan cepat.
"Wie Poocu harus tinggai lagi beberapa hari baru pulang".
"Bilamana dilain waktu ada kesempatan kita bertemu lagi, sekarang aku orang she Wie harus pulang ke benteng untuk mengurusi perkawinan".
"Perkawinan siapa?"
Tanya Nyio Sam Pak melengak.
"Putriku."
Nyio Sam Pak pernah mendengar Ti Then memanggilnya sebagai Gak hu, mendengar perkataan tersebut dia segera memandang sekejap kearah Ti Then.
"Menantu dari Wie Poocu apakah Ti Kiauw tauw ini?"
Tanyanya sambil tertawa.
"Benar."
Sahut Wie Ci To mengangguk.
"Aku orang she Wie sudah berkata bilamana urusan dari Cuo It Sian ini sudah beres aku akan segera melangsungkan perkawinan mereka."
"Putrimu bisa dijodohkan dengan Ti Kiauw tauw boleh dikata merupakan pasangan yang setimpal"
Ujar Nyio Sam Pak dengan girang.
"Selamat. selamat, sampai waktunya jangan lupa memberi kabar kepada Loolap,"
"Tentu, tentu.."
Sahut Wie Ci To tertawa. Mendadak Nyio Sam Pak menarik kembali senyuman yang menghiasi bibirnya itu, lalu ujarnya dengan serius.
"Bilamana Wie Poocu benar-benar bermaksud berangkat ini hari, loolap ada satu permintaan."
"Nyio-heng silahkan berbicara, asalkan aku orang she Wie bisa melaksanakan pasti akan melakukannya!"
"Sebetulnya bukan satu urusan yang besar cuma saja jenasah dari muridku Cau Ci Beng Loolap ingin memindahkan ia kedalam perkampungan, bilamana tidak menunda perjalanan kalian bagaimana kalau loolap perintahkan Si Ce serta Si Jien untuk mengikuti kalian ? Cukup Wie Poocu suka menujukkan tempat terkuburnya Cau Ci Beng biarlah putraku yang bekerja sendiri"
"Baiklah"
Sahut Wie Ci To kemudian sambil mengangguk.
"Kalau begitu putramu boleh siap-siap untuk melakukan perjalanan."
Nyio Sam Pak segera menoleh kearah putranya Nyio Si Ce serta Nyio Si Jien.
"Kalian cepatlah mengadakan persiapan, Wie Poocu serta Ti Kiauw tauw sebentar lagi akan berangkat."
Kedua orang bersaudara itu segera menyahut dan masuk kedalam untuk mengadakan persiapan, Agaknya Nyio Sam Pak teringat kembali akan sesuatu, mendadak dia bangkit berdiri.
"Ooooh benar, kalian berdua tunggulah sebentar, loolap akan pergi kedalam sebentar"
Dengan tergesa-gesa dia meninggalkan ruangan besar, tidak selang lama kemudian dia sudah berjalan masuk kembali kedalam ruangan dengan membawa satu kotak. Ujarnya kemudian sambil tertawa tawar.
"Putrimu dengan Ti Kiauw-tauw akau melangsungkan perkawinannya, loolap tidak ada barang apa2 cuma sedikit hadiah ini harap kau suka menerimanya"
Air muka Ti Then segera terasa amat panas.
"Tidak ... Nyio loocianpwee kau jangan berbuat demikian, boanpwee tidak berani menerimanya "ujarnya dengan gugup"
Nyio Sam Pak duduk kembali keterapas semula setelah ltu dia tertawa ter~bahak2.
"Jangan dikata Ti Kiauw-tauw sudah menolong loolap membasmi Si-iblis bungkuk Leng Hu Ih, sekalipun dengan persahabatan antara loolap dengan Wie Poocu kedua hadiah ini harus diberikan juga kepadamu."
Sambil berkata dia meletakkan kotak yang semula kesamping kemudian dari dalam sakunya mengambil keluar pula satu kotak yang amat indah itu.
Ketika kotak itu dibuka, tampaklah sebuah intan sebesar jari kelingking muncul di hadapan mata.
"Intan iai adalah pemberian dari seorang kawanku dari daerah Si Ik pada beberapa tahun yang lalu"
Ujarnya kemudian.
"Sekarang loolap akan menghadiahkannya kepada putri Wie Poocu sebagai tanda selamat."
Intan tersebut berwarna biru dan memancarkan sinar yang berkilauan.
jelas sekali harganya tidak ternilai, Agaknya Wie Ci To juga mengerti bagaimana berharganya barang tersebut, dengan cepat dia gelengkan kepalanya.
"Tidak bisa jadi, tidak bisa jadi.."
Tolaknya.
"Bagaimana Nyio heng boleh menghadiahkan barang itu kepada siauwli? Bilamana Nyio heng memang bermaksud untuk memberi hadiah maka hadiah itu tidak boleh kelewat seratus tahil perak"
Intan tersebut boleh dikata mempunyai harta sebesar sepuluh laksa tahil.
"Sekalipun berharga sepuluh laksa tahil tetapi barang itupun merupakan benda mati"
Ujar Nyio Sam Pak tertawa.
"Bilamana bukannya kalian datang tepat pada waktunya mungkin loolap beserta seluruh isi perkampungan ini sudah tanpa bernyawa lagi, apakah intan ini masih bisa disimpan?"
"Tidak bisa ..tidak bisa!"
Seru Wie Ci To terus sambil gelengkan kepalanya berulang kali.
"Eeh ... eeh , ..bukannya disumbangkan untuk Wie Poocu, kenapa kau orang begitu ribut?"
Berbicara sampai disini dia segera mengangsurkan intan itu kepada Ti Then.
"Ti Kiauw-tauw harap suka mewakili aku untuk menyerahkan barang ini kepada nona Wie sesampainya didalam Benteng". Ti Then menoleh memandang kearah Wie Ci To, dia tidak berani untuk menerimanya.
"Wie Poocu, sebenarnya kau tahu bagaimana sifat dari Loolap"
Ujar Nyio Sam Pak lagi.
"Bilamana ini hari kau tidak mau menerimanya maka Loolap akan suruh orang sengaja mengirim benda terebut ke-dalam Benteng Pek Kiam Poo!".
"Baiklah, kau terimalah!"
Ujar Wie Ci To kemudian sambil mengerutkan alisnya. Saat itulah Ti Then baru berani menerima intan tersebut.
"Sudah seharusnya boanpwee mewakili nona Wie mengucapkan terima kasih atas pemberian dari Nyio Loocianpwee ini "
Ujarnya perlahan. Setelah itu dengan hormatnya dia menjura memberi hormat. Nyio Sam Pak segera tertawa ter-bahak2 dia mengambil pula kotak yang lebih besar itu.
"Yang ini loolap hadiahkan untuk Ti Kiauw-tauw sebagai hadiah. Sedikit sumbangan ini harap kau suka menerimanya."
Ujarnya lagi sambil tertawa.
"Barang itu barang pusaka apa lagi ?"
Timbrung Wie Ci To dari samping. Nyio Sam Pak segera membuka kotak itu, dia tersenyum.
"Sebuah pakaian yang terbuat dari kulit ! "
Serunya.
Pakaian yang terbuat dari kulit itu berwarna putih, diatasnya dengan amat rapatnya tertancap jarum2 yang amat tajam.
Melihat barang tersebut air muka Wie Ci To segera berubah amat hebat "Aaah .., Luan Wee Cia ??"
Serunya.
"Penglihatan Poocu sungguh lihay. memang tameng landak adanya."
Luan Wee Cia atau baju luar tameng landak ini jika dibicarakan di daiam Bu-lim boleh dikata merupakan satu barang yang sangat berharga sekali, jikalau dipakai dibadan boleh dikata mirip dengan sebuah tameng besi yang amat dahsyat tidak perduli senjata atau telapak tangan jangan harap bisa melukai barang seujung rambut pun"
"Tidak, tidak"
Seru Wie Ci To lagi sambil gelengkan kepalanya.
"Barang pusaka yang demikian berharganya seharusnya Nyio heng ..."
"Seharusnya diberikan orang lain"
Sambung Nyio Sam Pak dengan cepat.
"Dan orang yang paling cocok untuk menerima barang tersebut adalah Ti Kiauw tauw"
"Nyio Loocianpwee harap menerimanya kembali, boanpwee tidak berani menerimanya,"
Tampik Ti Then cepat.
"Apa kau orang baru menerima barang ini bilamana Loolap sudah berlutut dihadapanmu?"
"Tidak. tidak ada urusan semacam ini"
Teriak Ti Then sambil membelalakkan matanya.
"Ti Kiauw tauw membantu perkampungan kami melenyapkan musuh besar, budi semacam ini apa halangannya kalau loolap berlutut dihadapanmu ?"
Sehabis berkata dia sungguh2 mau jatuhkan diri berlutut. Ti Then benar2 amat terperanjat sekali, dengan gugup dia meninggalkan tempat duduknya sambil berteriak.
"Sudah. sudahlah boanpwee menerimanya"
"Haaa haaa loolap tidak takut kau tidak menerimanya"
Seru Nyo Sam Pak sambil tertawa terbahak-bahak. Setelah menerima pakaian luar tameng landak itu Ti Then segera bungkukkan badannya memberi hormat.
"Barang yang demikian berharganya boanpwee benar-benar tidak berani untuk menerimanya,"
Ujarnya cepat.
"Bilamana dikemudian hari Nyio Loocianpwee membutuhkan sesuatu harap segera kirim orang pergi mencari boanpwee"
"Baik, baik bilamana memang ada kejadian seperti itu Loolap segera akan kirim orang untuk meminjamnya dari tangan Ti Kiauw tauw."
Saat itulah tampak Nyio Si Ce dua bersaudara dengan membawa buntalan sudah berjalan keluar.
"Baiklah,"
Ujar Wie Ci To kemudian sambil merangkap tangannya member hormat.
"Sekarang juga loohu pamit dulu, setelah hari perkawinan siauwli ditetapkan tentu loohu akan kirim orang untuk memberi kabar kepada Nyio-heng, sampai waktunya Nyio-heng harus dating ber-sama2 dengan putramu"
"Sudah tentu ! sudah tentu !"
Dia menghantar Wie Ci To serta Ti Then sampai diluar perkampungan, setelah mereka berangkat dia baru balik kembali kedalam perkampungan.
Wie Ci To, Ti Then serta dua bersaudara dari keluarga Nyio masing2 dengan menunggang seekor kuda mengikuti jalan gunung menuruni gunung Lak Ban San tersebut kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kearah Timur.
Selama ditengah perjalanan tidak terjadi peristiwa apa2, pada hari yang kelima mereka sudah tiba dikota Tiang An.
Ti Then dengan mengambil kesempatan itu segera menguangkan kertas uang sebesar lima belas laksa tahil perak yang didapatkan dari tangan Giok Bien Langcoen, Coe Hoay Loo itu kemudian membelikan juga beberapa macam kado buat Wie Lian In.
Setelah menginap satu malam didalam kota, keesokan harinya mereka kembali melajutkan perjalanannya.
Sebelum meninggalkan kota Tiang An Ti Then memasukkan uang sebanyak lima belas laksa tahil itu kedalam empat buah karung, kemudian dengan minta bantuan dari Wie Ci To serta dua bersaudara dari keluarga Nyio setiap kali mereka memasuki kota dan menemukan rumah orang miskin secara diam2 lantas memberi beberapa tahil perak kedalamnya.
Demikianlah sembari melakukan perjalanan mereka menyebarkan uang tersebut kepada kaum miskin.
Sewaktu memasuki daerah Auw Leng uang sebesar lima belas laksa tahil perak sudah tersebar habis.
Ti Then merasa sangat gembira sekali, ujarnya sambil tertawa.
"Beberapa hari ini aku rasakan sebagai hari2 yang paling berbahagia buatku selama hidupnya !"
"Inilah yang dinamakan berbuat amal paling menyenangkan"
Seru bang Wie Ci To sambil tersenyum.
"Harta kekayaan dari Cuo It Sian jika dihitung ada seberapa banyaknya ?".
"Dia adalah manusia yang paling kaya di wilayah daerah Siok Ceng bilamana dihitung dengan sawah dan tanahnya mungkin ada diatas seribu laksa tahil perak".
"Uang yang sebegitu banyaknya bisa menolong banyak orang miskin, hari itu kenapa Gak-hu tidak mau menerima uang tebusannya itu untuk kemudian dibagi bagikan kepada orang miskin ?"
"Tidak, dosa dari seorang manusia tidak dapat ditebus dengan menggunakan uang"
Seru Wie Ci To dengan keren.
"Dengan kematian ini entah harta kekayaan yang sebegitu banyaknya itu hendak diberikan kepada siapa?"
"Dia ada seorang putra yang sejak semula sudah meninggalkan rumah entah pergi kemana, kali ini setelah mendengar ayahnya bunuh diri kemungkinan sekali bisa pulang untuk mengatur urusan terakhir dari ayahnya"
"Putranya apa bisa bersilat ?"
"Loohu dengar tidak bisa, dia adalah seorang sastrawan yang pernah lulus ujian Negara, agaknya bernama Ing Koei"
"Perkataan yang diucapkan Cuo It Sian sebelum bunuh diri Gak-hu merasa sungguh-sungguh atau bohong ?"
"Loohu sendiri juga tidak jelas..."
"Bilamana urusan ini adalah nyata"
Sambung Nyio Si Ce dengan cepat.
"Dan Wie Loocianpwee merasa sulit untuk dihadap mereka segeralah kirim orang untuk memberi kabar kepada kami-walaupun Tia dia orang tua sudah mengundurkan diri dari dunia kangouw tetapi kami bersaudara nanti akan memberi bantuan kepada Wie loocianpwee untuk sumbang sedikit tenaga."
"Baik"
Ujar Wie Ci To sambil tertawa.
Tua muda empat orang sembari berjalan sembari bercakap cakap, kembali berjalan sepuluh hari lagi sampailah mereka di tengah tanah tandus antara gunung Cun san dengan kota Hoa Yong Sian, yaitu tempat dimana Si elang sakti Cau Ci Beng menemui ajalnya.
Ti Then segera turun dari kudanya dibawah pohon tersebut, sambil menuding keatas tanah gundukan dibawah pohon yang rindang itu ujarnya.
"Cau-heng dikubur ditempat ini."
Nyio Si Ce serta Nyio Si Jien lantas meloncat turun dari kuda, kemudian setelah mencabut keluar pedangnya mereka mulai menggali kuburan tersebut.
Tidak begitu dalam mereka menggali segera tersiarlah bau busuk mayat yang amat menusuk hidung.
Mereka dua orang bersaudara segera berhenti menggali.
"Cau sute kau menemui kematian dengan begitu kasihannya !"
Ujar Nyio Si Jien sambil melelehkan air mata. Dengan perlahan Nyio Si Jien menoleh kearah Wie Ci To, kemudian ujarnya.
"Wie Loocianpwee serta Ti-heng apakah hendak kembali kedalam Benteng?"
"Loohu akan menuuggu setelah jenazahnya akan dikeluarkan dari tanah baru berangkat"
"Tidak !"
Seru Nyio Si Ce dengan gugup.
"Wie Loocianpwee serta Ti-heng yang bersusah payah sudah menghantar kami bersaudara sampai disini sudah lebih dari cukup, kini biarlah Si Jien mengikuti Loocianpwee ber-sama2 melakukan perjalanan sampai dikota Hoa Yong Sian untuk membeli kereta-peti mati dan barang2 lain setelah itu Wie Loocianpwee berdua boleh berangkat kembali ke Benteng."
"Tidak membutuhkan bantuan Loohu?".
"Tidak, urusan yang demikian kecilnya ini, kami bersaudara bisa membereskan sendiri".
"Kalau begitu Loohu berpisah dulu sampai disini, sampai waktunya perkawinan antara Ti Kiauw-tauw serta siauw-li, kalian dua bersaudara harus datang pula untuk minum arak kegirangan".
"Tentu ... tentu, kami pasti datang"
Sahut Nyio Si Ce sambil merangkap tangannya memberi hormat.
Demikianlah Wie Ci To, Ti Then serta Nyio Si Jien segera melanjutkan kembali perjalanannya kearah Barat kembali ke kota Hoa Yong Sian.
Tidak sampai dua puluh li mereka sudah berada didalam kota, setelah menemani Nyio Si Jien membeli kereta serta peti mati dan menghantar dia orang melakukan perjalanan, Ti Then serta Wie Ci To baru bersantap siang kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Benteng.
Air muka Wie Ci To penuh dihiasi senyuman kegembiraan, ujarnya di tengah perjalanan.
"Kali ini kita dapat membereskan Cuo It Sian dengan begitu mudahnya sungguh berada diluar dugaan . ."
"Benar."
Sahut Ti Then mengangguk.
"Dengan demikian kita sudah membuang banyak kerepotan dari pada harus melakukan sesuai dengan rencana dimana mengharuskan Gak-hu menyamar sebagai Nyio Sam Pak, walaupun kita berhasil mencuri pedang itu tetapi untuk membereskan nyawanya harus menanti dulu sampai tahun besok setelah Gak hu mengumumkan dosanya di hadapan umum, wah kalau sampai waktu itu baru bisa turun tangan untuk membinasakan dirinya mungkin hati pun sudah mangkel sekali."
"Cuo It Sian bilang Loohu bernapsu untuk membunuh dirinya terus menerus, berarti pula dia sedang menegur loohu tidak mempunyai hati untuk mengampuni orang lain, kau rasa bagaimana?"
"Tidak, dia yang melakukan pekerjaan jahat dosanya amat besar sekali tidak boleh diampuni lagi."
"Karena kau akan menjadi menantu loohu maka loohu akan memberi nasehat kepadamu kau janganlah sekali-kali menganggap dengan kepandaian silat yang amat tinggi dan pergi kesana kemari tanpa diketahui orang lain sekalipun melakukan suatu perbuatan salah tidak bakal bisa ketahuan, kau harus ingat akan kata-kata yang mengatakan . Sekaiipun kau bisa mengelabui orang tetapi jangan barap bisa mengelabui dirimu sendiri, apa lagi mengelabui mata hati Lao Thian-ya setiap orang yang percaya berbuat jahat dia tentu akan menerima karma sesuai dengan perbuatannya,"
Ti Then yang teringat akan dirinya yang mendapat perintah dan majikan patung emas untuk pergi memperistri putri orang lain uatuk kemudian melaksanakan satu rencana busuk dalam hati merasa sangat menyesal sekali, saking gemasnya dia kepingin sekali mencari sebuah lubang untuk diterobosi.
Dia ingin sekali menceritakan seluruh rencana yang sudah disusun oleh majikan patung emas dan rahasia dimana dia orang telah digunakan oleh majikan patung emas tetapi setelah teringat akan sesuatu dia batalkan kembali maksudnya itu.
Karena sejak bersama-sama dengan Wie Ci To meninggalkan Benteng Pek Kiam Poo sampai kedalam perkampungan Thiat Kiam San Cung dan hingga kini walaupun dia belum pernah bertemu kembali dengan pemuda berbaju biru itu orang yang dikirim majikan patung emas untuk mengawasi gerak geriknya tetapi dia selalu merasa pemuda berbaju biru itu masih mengawasi terus akan dirinya, bilamana sekarang dia membeberkan semua rahasia dari majikan patung emas bilamana sampai terdengar atau terlihat oleh pemuda berbaju biru itu dan dilaporkan kepada majikan patung emas.
Walaupun hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan dia orang tetapi Wie Ci To beserta seluruh anggota Benteng Pek Kiam Poo akan menemui bencana yang luar biasa ada kemungkinan majikan patung emas segera akan turun tangan ....
membunuh Wie Ci To atau menculik Wie Lian In!"
Maka itu setelah berpikir bolak balik akhirnya dia merasa lebih baik urusan jangan dibicarakan dulu, menanti setelah dia mendapatkan satu cara untuk menghadapi majikan patung emas waktu itulah dia baru minta ampun dihadapan Wie Ci To.
Wie Ci To yang melihat setelah dia orang mendengar perkataannya itu air mukanya segera kelihatan sangat aneh dalam anggapannya dia mengira perkataannnya sudah terlalu berat, segera dia tertawa.
"Loohu percaya penuh kau pasti bukanlah manusia semacam itu, perkataan yang aku ucapkan ini hari cumalah omongan sepintas lalu saja."
"Nasehat dari Gak-hu sedikitpun tidak salah, aku orang pasti akan mengingatkan terus didalam hati."
"Loohu bisa mempunyai seorang menantu seperti kau dalam hati loohu merasa amat girang sekali "
Ujar Wie Ci To tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mendadak terdengar Ti Then menghela napas panjang.
"Seperti Cuo It Sian, orang yang memiliki nama baik didalam Bu-lim setelah melakukan sedikit kesalahan saja maka namanya akan jadi rusak. Sebaliknya kita yang sudah turun tangan memberi hukuman pun menemui banyak kesukaran. coba bayangkan saja disamping harus menghukum dia kita pun harus memberi penjelasan kepada orang2 Bu-lim lainnya. Setelah dipikir-pikir aku rasa membunuh orang2 dari kalangan Hek-to jauh lebih gampang lagi misalnya saja boanpwee sudah membinasakan Giok Bien Langcoen Coe Hoay Loo jelas tidak usah diterangkan lagi orang2 lainpun sudah pada tahu kenapa boanpwee membunuhnya".
"Benar. perkataan tersebut sedikitpun tidak salah. Menghadapi Cuo It Sian, Loohu merasa benar2 merupakan satu pekerjaan yang paling susah"
"Kejadian yang seperti peristiwa Cuo It Sian ini apakah Gak-hu pernah menemuinya lagi ?"
Tanya Ti Then kemudian dengan meminjam kesempatan ini.
"Sudah tidak ada!"
Sahut Wie Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Selama hidupnya Gak-hu kecuali mengikat permusuhan dengan si pendekar pedang tangan kiri apakah tidak pernah mengikat permusuhan dengan jago2 Bu lim lainnya?"
"Tidak ada. buat apa kau menanyakan hal ini?"
"Tidak mempunyai arti yang istimewa, boanpwee cuma sembarangan bertanya saja!"
Sahut Ti Then tertawa. Dengan perlahan Wie Ci To menghela napas panjang. ---ooo0dw0ooo---
Jilid 35
"LOOHU jarang sekali mengikat permusuhan dengan orang lain dikarenakan urusan pribadi bilamana para jagoan dsri kalangan hek-to yang pernah loohu kasi hukuman dahulu sekarang menaruh dendam kepadaku hal itu yaa boleh dikata merupakan satu hal yang jamak."
"Sewaktu boanpwee belum memasuki benteng Pek Kiam Poo, terhadap diri Gak-hu pun pernah menaruh satu perasaan ..."
Kata Ti Then.
"Eeeei ... perasaan apa ?"
Tanya Wie Ci To sembari memperhatikan wajahnya dalam2. Setelah mendengar perkataan dari boanpwee, Gak-hu jangan marah lhoo."
Ujar Ti Then tertawa.
"Loohu tidak akan marah, kau boleh langsung berkata terus terang saja."
"Boanpwee merasa seluruh perbuatan serta gerak gerik dari Gak-hu mengandung kemisteriusan hingga membuat orang merasa susah untuk mengambil dugaan."
"Kau maksudkan dari segi apa?"
Tanya Wie Ci To tertawa.
"Semisalnya dengan loteng penyimpan kitab itu ...."
"Rahasia yang menyelubungi loteng Penyimpan kitab itu sudah kau ketahui "
Potong Wie Ci To dengan cepat.
"Di tempat itu kecuali menyimpan sebuah kenangan lama yang sukar loohu lupakan sama sekali tidak menyimpan rahasia apapun !"
"Sudah tentu boanpwee mau pecaya terhadap apa yang Gak-hu katakan. tetapi boanpwee rasa orang luar tidak bakal mau percaya. mereka tentu akan menganggap Gak-hu menyimpan barang pusaka yang berharga didalam Loteng penyimpan kitab tersebut."
Wie Ci To yang mendengar perkataan itu lantas tertawa.
"Jago Bu~lim yang mengetahui kalau loohu memiliki sebuah Loteng Penyimpan kitab yang melarang setiap orang memasuki tempat itu sudah tidak sedikit jumlahnya, tetapi selama puluhan tahun ini tiada seorang pun yang berani mengadakan penyelidikan kedalam Loteng tersebut, kini mereka sudah tidak merasa keheranan lagi terhadap tempat itu."
"Hanya untuk menyimpan sebuah lukisan serta sebuah rahasia pribadi Gak-hu harus membangun sebuah loteng penyimoan kitab yang demikian kuatnya boanpwee rasa hal ini rada luar biasa, sama saja dengan persoalan kecil yang dibesar2kan"
"Kau berkata demikian apa mungkin di hatimupun sudah menaruh curiga kalau di dalam Loteng penyimpan kitab dari loohu itu sudah tersimpan semacam barang pusaka yang berharga ?"
Tanya Wie Ci To sambil memandang tajam dirinya kemudian tertawa.
"Boanpwee menduga bilamana Gak-hu benar2 sudah menyimpan semacam barang di dalam loteng penyimpan kitab itu maka barang itu pasti bukan barang pusaka yang berharga melainkan sebuah benda yang sama sekali tidak berharga tetapi mempunyai sangkut paut yang amat besar sekali dengan keselamatan kita semua, atau boleh dikata sifat dari barang itu ada kemiripan dengan potongan pedang pendek dari Cuo It Sian, bukan begitu ?"
Wie Ci To tersenyum tetapi tidak memberikan jawabannya, lewat beberapa saat kemudian baru menggelengkan kepalanya.
"Tidak benar. dugaanmu sama sekali salah"
Ti Then pun tertawa.
dia tidak banyak berbicara lagi.
Setengah bulan kemudian, akhirnya tua muda dua orang tiba juga didalam Benteng Pek Kiam Poo.
Wie Lian In serta para jagoan pedang yang ada di dalam Benteng sewaktu mendengar berita ini cepat pada keluar pintu Benteng untuk melakukan penyambutan kemudian bsrsama sama masuk kedalam Benteng dan duduk beristirahat di dalam ruangan tamu.
Wie Ci To yang dikarenakan Cuo It Sian sudah melakukan bunuh diri maka dia tidak mengumumkan akan kejahatan yang sudah diperbuat olehnya, oleh sebab itulah terhadap pengalamannya selama ia meninggalkan benteng bersama-sama dengan Ti Then sepatah katapun tidak dia ungkat, dia cuma menanyakan keadaan dari Benteng dari diri si pendekar penembus ulu hati Shia Pek Tha.
"Keadaan Benteag aman tenteram tidak terjadi urusan apapun."
Terdengar Shia Pek Tha memberikan laporannya.
"Cuma si Cui lojien dari gunung Cing Shia pernah datang berkunjung mencari poocu untuk diajak main catur tetapi setelah mengetahui poocu tidak ada dalam benteng dia lantas pulang,"
"Baiklah, tidak ada urusan lagi. kalian boleh mengundurkan diri"
Seru Wie Ci To kemudian sambil mengangguk.
Msnanti setelah Shia Pek Tha serta para jagoan pedang mersh sudah pada mengundurkan diri dari dalam ruangan, Wie Ci To bangun berdiri dan kirim satu senyuman kepada diri Wie Lian In.
"In-jie."
Ujarnya dengan halus.
"Bilamana kau ingin mengetahui bagaimana kesudahan dari pekerjaan yang dilakukan loohu serta Ti Kiauw tauw, kau boleh suruh Ti Kiauw tauw menceritakannya loohu sekarang mau beristirahat dulu,"
Selesai berkata dia segera berjaian keluar dari ruangan tersebut.
Menanti setelah bayangan punggung dari Wie Ci To lenyap dari pandangan, dengan tidak sabaran lagi Wie Lian In segera menoleh dan mendesak Ti Then dengan kata2 yang keras.
"Cepat ceritakan, kalian berhasil atau tidak ?"
"Haaa . , haaa ..jangaa keburu, biarlah aku mengembalikan buntalan kedalam kamar dan cuci muka dulu nanti aku tentu menceritakan kisah ini dengan jelas.
"Baiklah kalau begitu cepatlah kau pergi aku tunggu dirimu didalam kebun."
Sekembalinya dalam kamar, Ti Then meletakkan dulu buntalannya keatas meja setelah itu dia baru perintah si Loo-cia mengambil air untuk mencuci muka.
Setelah semuanya selesai dengan langkah perlahan dia baru berjalan menuju kedalam kebun.
Sejak semula Wie Lian In sudah menanti didalam gardu, sewaktu melihat Ti Then muncul disana dia lantas menepuk2 bangu yang ada disamping badannya.
"Mari, duduk disini!"
Katanya. Ti Then tanpa berbicara lagi segera duduk disisi badannya. Wie Lian In segera menjatuhkan diri kedalam pelukannya, dengan wajah yang kikuk ujarnya perlahan.
"Aku mau tanya padamu, beberapa hari ini apakah kau merindukan diriku?".
"Sudah tentu! tiada seharipun aku tidak merindukan akan dirimu!"
Sahut Ti Then sembari merangkul pinggangnya yang ramping itu.
"Sungguh ?"
"Sungguh !!"
"Akupun sangat merindukin dirimu"
Ujar Wie Lian In lagi dengan pandangan penuh cinta.
"Ada berapa kali aku bermaksud untuk menyusul dirimu".
"Aaaah ... masih untung kau tidak menyusul diriku".
"Kenapa?"
Tanya Wie Lian In keheranan.
"Urusan sudah terjadi diluar dugaan, kami tidak jadi pergi kekota Tiong Cing Hu. Aku dengan ayahmu berhasil membereskan diri Cuo It Sian didalam perkampungan Thiat Kiam San cung".
"Aaaah . , . Cuo It Sian juga pergi ke perkampungan Thiat Kiam San Cung?"
Tanya Wie Lian In dengan terperanjat.
"Benar, urusan sebenarnya adalah begini"
Diapun segera menceritakan seluruh kejadian itu kepada diri Wie Lian In.
"Demikianlah....akhirnya dia terdesak dan bunuh diri dihadapan kita !"
Terdengar Ti Then mengakhiri ceritanya. Wie Lian In setelah selesai mendengar cerita itu segera menghembuskan napas panjang2.
"Sungguh tidak disangka bajingan tua itu bisa dilenyapknn dengan demikian mudahnya, bagaimana dia mau melakukan bunuh diri ?"
Tanyanya.
"Didalam keadaan seperti itu dia tahu untuk meloloskan diri bukanlah satu pekerjaan yang gampang, apalagi ayahmu pun sudah memberi ancaman bilamana dia tidak mau melakukan bunuh diri untuk menebus dosanya maka seluruh kejahatan yang diperbuat akan diumumkan didalam Bu-lim maka itu terpaksa dia harus memilih jalan bunuh diri ini."
Dengan pandangan penuh rasa kuatir Wie Lian In segera dongakkan kepalanya memandang sepasang mata Ti Then.
"Kau bilang matamu kena disambit kapur oleh si iblis bungkuk Leng Hu Ih, sekarang spa sudah sembuh ?"
Tanyanya.
"Sama sekali sudah sembuh."
"Luka yang dilengan ?"
"Juga telah sembuh."
"Setelah kau serta Tia menghantarkan dua bersaudara dari keluarga Nyio menemukan tempat dikuburnya jenszah Cau Ci Beng lalu segera berangkat pulang?"
Dari dalam sakunya dia lantas mengambil keluar sebuah kotak dan diangsurkan kepada Wie Lian In.
"Ini terimalah barang hadiah untukmu dari! Nyio Loo cung-cu coba bukalah untuk dilihat-lihat.
"Barang hadiah ?"
Tanya Wie Lisn In melengak.
"Benar. sewaktw dia mendengar ayahmu bilang kau hendak kawin dengan aku. maka hadiah ini lantas dititipkan kepadaku untuk disampaikan kepadamu,"
Ujar Ti Then sambil tertawa. Air muka Wie Lian In seketika itu juga berobah merah.
"Ayahku bilang spa ?"
Tanyanya dengan malu.
"Dia bilang setelah kembali kedalam Benteng maka dia orang tua segera akan mempersiapkan perkawinan kita."
Wie Lian In segera membuka kotak itu sewaktu dilihatnya isi dari kotak itu bukan lain adalah sebuah berlian biru tidak kuasa lagi matanya terbelalak lebar.
"Oooh, , Thian!"
Teriaknya kaget.
"Berlian biru ini sangat berharga sekali."
"Menurut taksiran ayahmu ada kemungkinan berlian itu bernilai sapuluh-laksa tahil perak"
"Barang yang demikian berharganya bagaimana kau berani menerimanya ?"
Tanya Wie Lian In dengan terkejut bercampur girang.
"Nyio Loo cung-cu jadi orang sangat lapang dada dia paksa aku untuk menerimanya bahkan dia bilang bilamana aku tidak mau terima maka dia sengaja akan kirim orang untuk menghantarkan barang itu kemari"
Wie Lian In segera mengambil keluar berlian biru itu dan ditelitinya beberapa saat setelah itu sambil tertawa katanya.
"Mungkin untuk membalas budi kalian yang sudah membantu dia membasmi si iblis bungkuk Leng Hu Ih dan anak buahnya maka sengaja dia hadiahkan barang2 yang berharga, waah ... aku yang tidak ikut2 malah kecipratan rejeki . ."
"Dia masih hadiahkan barang ini untukku"
Ujar Ti Then kembali sambil mengeluarkan baju tameng landak psmberian Nyio Sam Pak itu.
"Tahukah kau barang apakah ini ??". Wie Lian In lantas terima pakaian luar tameng landak itu dan diperhatikan beberapa saat lamanya.
"Ooooh sebuah pakaian dalam, agaknya terbuat dari kulit semacam binatang!"
Katanya.
"Eeehni ..baju ini kalau dipakai dibadan bisa tahan tusukan senjata tajam bahkan dapat msmunahkan pula tenaga lweekang dari jagoan macam apapun".
"Apakah baju luar tameng landak ?"
Tanya Wie Lian In dengan bersemangat.
"Tidak salah, ternyata kau mengerti juga akan barang berharga"
Sahut Ti Then sembari mengangguk. Wie Lian In menarik napas panjang.
"Barang semacam ini bukankah merupakan satu barang pusaka yang di-idam2kan oleh setiap jago Bu-lim?"
Serunya dengan hati sangat gembira.
"Sebetulnya aku tidak berani menerima pemberian hadiah yang sangat berharga ini, tetapi Nyio Loo Cung-cu terus menerus mendesak bahkan dia bilang jikalau aku tidak mau menerima maka dia mau berlutut dihadapanku, aku tidak punya akal lagi terpaksa barang ini aku terima."
Dia berhenti sebentar untuk tukar napas setelah itu sambil tertawa tambahnya .
"Padahal aku tidak membutuhkan barang semacam ini, aku sudah mengambil keputusan untuk hadiahkan barang ini kepada orang lain!". Mendengar keputusan dari Ti Then ini tidak terasa lagi Wie Lian In jadi merasa tegang.
"Tidak boleh ... tidak boleb, tidak bisa jadi!"
Serunya dengan gugup.
"Barang pusaka yang di-idam2kan oleh setiap jagoan Bu-lim bagaimana boleh kau hadiahkan kepada orang lain, kau jangan berbuat ke-tolol2an!"
"Aku mau hadiahkan barang ini buat calon istriku yang tercinta apa juga tidak boleh ?"
Tanya Ti Then sambil memandang diri Wie Lian In dengan mesra. Wie Lian In agak tertegun dibuatnya, tetapi sebentar kemudian dia sudah tertawa cekikikan.
"Hmmm sungguh pintar mulutmu, aku tidak mau!"
Teriaknya.
"Kenapa kau tidak mau ? Tanya Ti Then melengak.
"Barang semacam ini sangat berguna sekali buat dirimu, lain kali bilamana kau keluar Benteng harus memakainya dibadanmu. jikalau misalnya sampai bertemu dengan jagoan yang memiliki kepandaian silat amat tinggi jadi tidak sampai menderita luka. oooOOOooo Dengan perlahan Wie Lian In segera mencubit pahanya, lalu dengan wajah penuh perasaan cinta kasih ujarnya dengan suara perlahan.
"Oooh.., engkohku yang bodoh, beberapa hari kemudian barangmu sama juga dengan barangku, barangku sama juga seperti barangmu, buat spa kau hadiahkan barang itu kepadaku ?"
Ti Then yang merasa perkataannya sedikit pun tidak salah,segera angkat bahunya dan tertawa.
"Kalau begitu lain kali bilamana kau mau keluar pintu maka harus mengabulkan permintaanku untuk memakainya dibadan."
Wie Lian In segera menganggukkan kepalanya lalu menempelkan pipinya keatas dadanya, dia benar2 sudah dimabuk oleh cinta. Dari dalam sakunya kembali Ti Then mengambil keluar sebuah kotak.
"Ehmm yang sekarang ini adalah hadiahku yang aku beli sewaktu ada di kota Tiang An, entah sukakah kau dengan barang2 ini?"
Tanyanya.
"Asalkan kau yang membeli aku tentu suka!"
Sembari berkata dia membuka kotak itu untuk dilihat isinya, terlihatlah tusuk konde, anting2, gelang dan macam2 perhiasan yang memancarkan cahaya terang muncul dihadapan matanya, tidak kuasa lagi dalam hati dia merasa amat girang.
"Bukankah kau pernah bilang hendak membelikan hadiah buatku yang nilainya tidak melebihi satu tahil perak?"
Godanya sambil tertawa.
"Aku rasa barang2 perhiasan ini tidak sampai satu tahil perak bukan ?"
"Barang2 itu aku beli dengan menggunakan uangku sendiri maka harganya tidak ada batas-batasnya."
"Aku pun sudah belikan beberapa pakaian buat-mu, sekarang barang-barang itu sudah ada didalam kamarku biar nanti aku ambilkan buat kau lihat..."
Mereka berdua duduk ber-mesra2an hingga jauh malam menjelang datang, waktu itulah sambil bergandengan tangan mereka baru berjalan keluar dari dalam kebun menuju kekamar baca untuk menjenguk Wie Ci To sebentar, kemudian ber~sama2 pergi bersantap malam.
Sehabis bersantap Ti Then kambali ke kamarnya untuk membersihkan badan, berganti pakaian lalu jalan2 keluar untuk melakukan perondaan disekeliling Benteng.
Sehabis berkata sebentar dengan para jagoan pedang dia baru kembali kedalam kamarnya untuk beristirahat.
Dia tahu tanpa diundang majikan patung emas pasti akan munculkan dirinya ditengah malam, karenanya tanpa mengirim tanda lagi dia lantas naik keatas pembaringan untuk tidur.
Ternyata sedikitpun tidak salah, seperti juga beberapa kali yang lain pada kentongan ketiga tanpa diundang majikan patung emas sudah munculkan dirinya diatas atap rumah, setelah membuka atap dengan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun dia mulai menurunkan patung emasnya.
Kali ini Ti Then merasakan kedatangannya jauh lebih jelas, sesaat sebelum patung emas itu berada ditepi pembaringannya dia sudah terjaga dari pulasnya, dia segera bangun dari tidurnya lalu menarik tali hitam yang mengikat patung emas tersebut.
"Hey agaknya kali ini kau merasa begitu ter-buru2, kenapa selalu saja kau tidak memberikan waktu buatku untuk beristirahat dengan nyenyak?"
Teriaknya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara. Nada ucapan dari majikan patung emas masih tetap dingin, kaku dan sangat tawar sekali.
"Apakah setiap kali kau meninggalkan benteng Pek Kiam Poo tidak pernah tidur dengan nyenyak?"
Serunya dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara pula.
"Perjalanan jauh melelahkan badan, setelah kembali kedalam Benteng sudah tentu harus tidur dulu semalam dengan nyenyaknya!".
"Kau tidak usah banyak bicara lagi, ayoh cepat melaporkan seluruh pengalamanmu dengan jelas!"
Perintah majikan patung emas dengan angkernya.
"Orang yang kau kirim untuk mengawasi diriku apa masih belum kembali?"
Tanya Ti Then sambil tertawa.
"Bagaimana kau tahu kalau aku kirim orang lagi untuk mengawasi seluruh gerak-gerikmu?"
"Hal ini sudah ada didalam dugaanku! "
Jawab Ti Then tertawa geli.
"Kali ini dugaanmu sama sekali meleset aku tidak kirim orang untuk membuntuti dirimu".
"Kenapa ?"
Majikan Patung emas segera tertawa dingin.
"Karena aku tahu kau merasa sayang terhadap nyawa Wie Ci To ayah beranak, untuk melindungi mereka dari bencana yang tidak diinginkan sudah tentu kau tidak akan bermaksud untuk merusak rencanaku dari tengah jalan "
Katanya.
"Akhir dari Cuo It Sian adalah sebuah cermin buatmu, orang yang bermaksud jahat tentu akan memperoleb akhir yang tidak menyenangkan !"
"Hmm! kau bangsat cilik berani memberi nasehat kepadaku ?? "
Teriak majikan Patung emas dengan gusar.
"Cuo It Sian tetap Cuo It Sian sedang aku tetap aku?"
"Jadi maksudmu kepandaian silat yang kau miliki jauh lebih lihay dari kepandaian Cuo It Sian sehingga tidak ada orang yang bisa menguasahi dirimu lagi ?"
"Sedikitpun tidak salah!"
Jawab majikan patung emas tidak ragu2 lagi.
"Heee ... heee kalau begitu anggapan kau itu adalah salah besar! walaupun kepandaian silatmu tiada orang yang dapat melawan tetapi Thian bisa menghukum dirimu, bilamana kau berbuat jahat maka karmanya akan selalu mengikuti dirimu."
"Sudah cukup belum perkataanmu ?"
Potong majikan patung emas dengan gusarnya. Dalam hati Ti Then tahu hawa amarahnya sebentar lagi akan berkobar karenanya nada ucapannya semakin dipertajam.
"Belum selesai"
Jawabnya sambil tertawa "Sekarang aku mau mulai dengan laporanku """
Demikianiah dia segera menyerukan seluruh kejadian yang dialaminya sewaktu ada didalam perkampungan Thiat Kiam San Cung.
Dengan tenangnya majikan patung emas mendengarkan kisah itu hingga habis setelah itu barulah ujarnya.
"Jadi dengan demikian peristiwa yang menyangkut diri Cuo it Sian dapat dikatakan sudah beres?"
"Benar!!"
Sahut Ti Then mengangguk "Tetapi sesaat sebelum dia melakukan bunuh diri pernah mengancam katanya dia sudah mengatur satu pasukan aneh yang di dalam setengah tahun mendatang bakal mendatangkan bencana bagi Benteng Pek Kiam Poo, perkataan ini bilamana sungguh2 maka lain kali kita masih ada urusan lagi!"
"Hmm! orangnya sudah mati masih bisa memperlihatkan permainan setan apa lagi?"
Seru majikan patung emas sambil mendengus dingin.
"Aku pun berpikir demikian , , ."
"Sekarang kita bicarakan soal perkawinanmu dengan Wie Lian In, apakah Wie Ci To pernah menyinggung kembali persoalan ini?"
Ujar majikan patung emas kemudian mengalihkan bahan pembicaraannya.
"Pernah! dia bilang setelah kembaii ke dalam Benteng maka dia akan mulai mengadakan persiapan. aku rasa kejadian itu pasti bakal berlangsung didalam satu, dua bulan mendatang.
"Kalau memangnya sudah mulai mengadakan persiapan lalu buat apa harus menunggu satu dua bulan lagi ?".
"Sudah tentu harus memilih satu hari yang bagus agar semua tetamu ditempat kejauhan bisa ada kesempatan untuk mendatangi Benteng Pek Kiam Poo, kau bilang benar tidak? "
Seru Ti Then tertawa.
"Ehmmm .... tidak salah...Wie Ci To mempunyai sahabat serta kenalan ysng amat banyak dan tersebar diseluruh Bu-lim, tetamu yang diundang tentu sangat banyak sekali".
"Tujuanmu sudah hampir tercapai pada apa yang kau inginkan, maka itu sekarang aku mau menjelaskan telebih dahulu akan aesuatu hal kepadamu. Sewaktu aku sudah jadi suami istri dengan Wie Lian In maka tidak perduli kau mau mencuri atau berbuat apapun pokoknya tidak boleh melukai keselamatan barang seorangpun dari anggota Benteng Pek Kiam Poo, kalau tidak sekali pun harus mati aku juga tidak akan melakukan perintahmu !"
"Boleh". Ti Then lalu termenung sebentar, mendadak sambil tertawa ujarnya lagi .
"Kau pernah bilang perintahmu yang kedua baru akan kau sampaikan setelah aku kawin dengan Wie Lian In tetapi setelah aku kawin dengan Wie Lian In maka aku akan tidur satu pembaringan dengan dirinya. Saat itu bagaimana kau bisa memberikan perintahmu yang kedua ? Apakah kau hendak menggunakan cara yang sama seperti sekarang, menurunkan patung emas dari atas atap untuk bercakap-cakap dengan aku ?".
"Soal ini sampai waktunya sudah tentu ada caranya sendiri".
"Baiklah, jikalau kau tidak ada perkataan yang lain sekarang silahkan untuk mengundurkan diri".
"Aku masih ada beberapa patah kata lagi yang hendak aku sampaikan kepadamu. Aku tahu selama ini kau menerima perintahku untuk kawin dengan Wie Lian In dengan rasa tidak puas, kemungkinan sekali kau bisa melaporkan urusan ini kepada diri Wie Ci To. Hmm! bilamana kau berani berbuat demikian maka kau akan menyesal karena kesemuanya ini tidak bakal biss lolos dari pengawasanku begitu aku menemukan kau bermaksud untuk membocorkan hal ini kepadanya maka aku segera akan turun tangan membunuh mereka ayah beranak terlebih dulu, setelah itu baru membasmi seluruh jagoan pedang yang ada di dalam Benteng,"
Mendengar ancaman itu Ti Then segera merasakan hatinya bergidik.
"Bilamana kau ada nyali untuk membinasakan diri Wie Ci To kenapa tidak kau lakukan sejak semula?"
Tantang Ti Then dengan kesal.
"Kenapa kau kirim aku kemari untuk melakukan segala macam siasat dengan ber-sembunyi2 ?".
"Setiap manusia mempunyai rasa cinta kasih yang tersembunyi, jika tidak sampai pada keadaan yang benar2 terpaksa aku tidak ingin membuka pantangam membunuh!"
Jawab majikan patung emas dengan dingin.
Selesai berkata dia segera menarik kembali patung emasnya.
Dua hari kemudian mendadak Wie Ci To memerintahkan seluruh jagoan pedang merah yang ada didalam Benteng untuk ber-sama2 bersantap siang.
Semua orang yang mendengar pemberitahuan itu segera mengetahui kalau di dalam perjamuan nanti tentu Poocu mereka akan menyampaikan sesuatu hal.
Maka tanpa membuang tempo lagi mereka segers berkumpul didalam ruangan makan.
Ternyata sedikitpun tidak salah, setelah bsrsantap Wie Ci To lantas mengumumkan kalau putrinya akan dijodohkan dengan Ti Then.
Seluruh jago pedang merah segera menyambut pengumuman itu dengan hati girang, ditengah suara sorakan yang gegap gempita mereka pada angkat cawannya memberi selamat buat Wie Ci To serta diri Ti Then.
Tampak sambil tersenyum Wie Ci To berkata lagi.
"Loohu sudah pilihkan suatu hari yang baik uatuk perkawinan itu, yaitu pada tanggal dua puluh delapan bulan depan, jaraknya dari ini hari masih ada lima puluh hari!"
"Apakah perlu mengadakan perayaan dengan mengundang sanak keluarga serta sahabat karib?"
Tanya Shia Pek Tha.-"Sudah tentu!"
"Kalau begitu kita harus segera membuat undangan untuk disebarkan kepada semua teman kalau tidak bagaimana mungkin para sahabat dan handai taulan bisa mengetahui waktunya?"
"Benar, perkataanmu sedikitpun tidak salah"
Sahut Wie Ci To sambil mengangguk.
"Selesai bersantap cepatlah kalian membuat surat undangan untuk kemudian segera disebarkan, dan sampaikan pula perintahku bagi seluruh jagoan pedang merah yang masih berkelana di tempat luaran untuk kembali ke benteng pada waktunya dan ikut di dalam perayaan ini."
"Terima perintah"
Sehabis bersantap Shia Pek Tha segera kembali kedalam kamarnya untuk mulai menulis surat undangan.
Sebaliknya Ti Then seperti juga seorang tawanan yang baru saja menerima keputusan hukuman mati, hatinya merasa amat murung.
Dengan perlahan dia mulai menjauhi orang-orang lain ustuk kembali kedalam kamarnya dan termenung selama setengah harian lamanya.
tetapi sebentar kemudian satu ingatan sudah berkelebat didalam benaknya baru saja dia meloncat bangun dengan wajah yang kukuh mendadak pintu kamar sudah dibuka.
"Ti Kiauw-tauw selamat .... selamat untukmu.'"
Seru Loo-cia itu si pelayan tua sambil tertawa ha haa-hihi.
Ti Then tertawa tawar dan tidak mengucapkan sepatah katapun, dia lantas berjalan meninggalkan kamar menuju kekamar baca dari Wie Ci To.
Didalam hati dia sudah mengambil keputusan untuk membuka seluruh rahasia hatinya dihadapan Wie Ci To, karena semakin lama dia berpikir semakin terasa olehnya kalau dirinya tidak seharusnya menerima perintah dari majikan patung emas untuk merusak nama baik serta kesucian dari seorang nona.
Dengan langkah yang lebar dia berjalan menuju kedepan kamar baca Wie Ci To lalu mulai mengetuk pintu.
"Siapa ?"
Terdengar suara dari Wie Ci To berkumandang keluar dari dalam kamar baca itu.
"Boanpwee adanya !"
"Silahkan masuk !". Ti Then segera mendorong pintu itu ke samping lalu berjalan masuk kedalam. Tidak! pada saat kaki kanannya mulai melangkah masuk kedalam pintu kamar itulah mendadak dia dibuat benar2 tertegun. Karena ada serentetan suara yang halus seperti suara nyamuk bergema masuk kedalam telinganya.
"Ti Then ! Bilamana kau mengira aku tidak berani membunuh mati mereka ayah beranak maka dugaanmu itu adalah salah besar!". Orang yang mengirim suara itu tentu majikan patung emas adanya. Ti Then segera merasakan hatinya berdebar keras, tanpa terasa lagi kepalanya sudah menoleh memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu. Dia sangat mengharapkam bisa menemukan tempat persembunyian majikan patung emas itu. Didalam hati dia benar2 merasa sangat terkejut karena tidak menduga majikan patung emas berani munculkan dirinya ditengah siang hari bolong, diapun sama seka1i tidak mengira kalau pihak lawan bisa mengerti apa yang sedang dipikirkan dihatinya. Tetapi sewaktu dia menoleh dan memeriksa keadaan disekeliling tempat itu apa pun tidak kelihatan. suasana disekitar tempat itu amat sunyi sekali tidak tampak sesosok bayangan manusiapun.
"Ada urusan apa?"
Terdengar Wie Ci To sudah membuka mulut bertanya. Dengan ter-buru2 Ti Then berusaha untuk menenangkan hatinya lalu melanjutkan langkahnya berjalan masuk kedalam kamar baca tersebut.
"Aaaah ... tidak mengapa . .."
Jawabnya sambil sertawa paksa.
"Air mukamu rada tidak benar, apakah terlalu banyak minum arak ?"
"Benar. saudara2 pada memberi selamat kepadaku dengan arak membuat boanpwee merasa rada tidak kuat."
"Ada perkataan yang hendak kau sampaikan?"
Dalam hati diam2 Ti Then menghela napas sedih, pikirnya;
"Tidak. tidak , , ... Majikan patung emas benar2 mempunyai kekuatan untuk membinasakan mereka ayah beranak, aku tidak boleh mencari keselamatan buat diriku sendiri sebaliknya mencelakai diri mereka berdua"
Pikiran ini dengan cepat berkelebat didalam benaknya dia lantas menjawab dengan cepat.
"Boanpwee ada satu urusan yang hendak minta bantuan dari Gak-hu Thay jien"
"Urusan apa ?"
Tanya Wie Ci To keheranan.
"Suhu dari boanpwee Bu Beng Loojien walaupun jejaknya tidak jelas tetapi boanpwee rasa adalah suatu keharusan bagiku untuk berusaha mencari dapat dia orang tua dan memberi kabar kepadanya akan berita baik ini"
"Baik ..baik ..bilamapa bukannya kau yang mengingatkan Loohu sendiripun akan melakukan akan hal ini, cuma dunia demikian luas entah harus kemana kita pergi untuk menemukan dia orang tua dan menyampaikan kabar ini ?"
"Perkataan Gak-hu sedikitpun tidak salah, untuk menemukan dia orang tua memang bukanlah satu pekerjaan yang gampang, sekalipun misalnya berhasil juga kita menemukan dirinya, mau datang atau tidak masih merupakan satu persoalan, boanpwee cuma ingin menunjukkan sedikit rasa baktiku saja sebagai muridnya."
"Lalu Hian-say (menantu) bermaksud untuk berbuat apa ?"
Tanya Wie Ci To kemudian.
"Tempo hari setelah suhu menerima boanpwee sebagai muridnya pernah membawa aku berpesiar ke gunung Lok san, terhadap pemandangan disekitar tempat itu dia sangat tertarik, dia pernah bilang lain kali mau mendirikan sebuah rumah didekat tempat itu maka itulah ada kemungkinan di tempat tersebut kita bisa menemukan dia orang tua"
"Jarak dari sini ke gunung Lok San sangat jauh sekali sedangkan hari perkawinanmu dengan In-Jie pun sudah dekat, apalagi masih ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, bilamana kau bermaksud untuk pergi mencari sendiri loohu rasa ...."
"Boanpwee tidak bermaksud untuk pergi mencari sendiri "
Ujar Ti Then dengan gugup.
"Kalau tidak apakah Hian-Say bermaksud minta loohu kirimkan seseorang untuk mewakili dirimu pergi mencari ?"
"Benar, tetapi tidak usah khusus kirim seseorang, asalkan Gak-hu ada teman yang tinggal disekitar gunung Lok San maka sewaktu membagi undangan sekalian suruh saudara itu pergi keatas gunung untuk mencari-cari atau meninggalkan tulisan diatas puncak, dengan berbuat demikian entah berhasil menemukan dia orang tua atau tidak hati boanpwee pun sudah rada lega".
"Baiklah, kalau memangnya begitu kau pergilah kekamar Pek Tha yang lagi menulis undangan, katakan kepadanya sewaktu mengirim undangan buat "Auh in Suseng"
Han Tiong Thian di gunuog Lok San sekalian perintah saudara yang menyampaikan undangan itu untuk pergi keatas puncak gunung mencari cari jejak dari Suhumu "
Kata Wie Ci To kemudian. Ti Then segera bungkukkan badannya menjura.
"Baiklah, terima kasih atas perhatian dari Gak-hu"
Sahutnya.
Selesai berkata dia segera mengundurkan dirinya dari dalam kamar baca itu.
Sewaktu memasuki kamar baca tadi dia sebetulnya ber-siap2 untuk membuka rahasia dimana dia menerima perintah dari majikan patung emas untuk melaksanakan segala sesuatunya.
Tetapi setelah mtndapatkan peringatan dari majikan patung emas yang mendadak itu mcmbuat keberanian yang sudah muncul dihatinya seketika itu juga hancur lumur kembali.
"Dia tahu demi suksesnya tujuan yang diharapkan majikan patung emas sudah membuang banyak waktu dan tenaga, bilamana dirinya bermaksud hendak merusak rencananya yang sudah hampir mencapai keberhasilan itu didalam keadaan gusar ada kemungkinan dia dapat melaksanakan ancamannya itu. Karena itulah demi untuk melindungi keselamatan dari Wie Ci To berdua terpaksa dia melenyapkan kembali maksud hatinya dan sengaja mengarangkan satu alasan hendak mencari suhunya untuk menutupi maksud yang sebetulnya. Tetapi pada saat ini hatinya benar-benar merasa sangat menderita karena undangan saat ini mau dibagikan. Bilamana dia tidak membuka rahasia ini pada waktu sekarang maka begitu undangan tersebut dibagikan maka keadaan sudah terlambat. Dengan hati murung dia berjalan menuju ke kamarnya Shia Pek Tha, tampaklah pada saat itu Shia Pek Tha lagi menulis undangan dengan repotnya. Sambil tertawa dia lantas maju kedepan menghampiri dirinya.
"Pek Tha heng,"
Tegurnya.
"Buat apa kau begitu terburu-buru."
"Ti Ktauw-tauw apa tidak merasa terburu-buru?"
Goda Shia Pek Tha sambil tertawa.
"Siauwte sedikitpun tidak merasa ter-buru2 !"
"Haaa ..haaa ... bilamana perkataanmu ini sampai didengar oleh nona-dia pasti tidak akan mengampuni dirimu."
Seru Shia Pek Tha sambil tertawa ter-bahak2. Ti Then pun tertawa, dia segera mengambil selembar undangan dan dilihatnya sekejap.
"Sebenarnya kita mau mengundang beberapa orang sahabat?"
Tanyanya.
"Kawan karib dari Benteng kami seluruhnya ada tiga ratus orang, ditambah dengan kawan2 karib Ti Kiauw-tauw aku rasa kali ini tentu akan ramai sekali."
"Walaupun Siauw-te juga ada beberapa orang kawan karib tetapi jejak mereka tidak menentu, sulit untuk mencari mereka itu "
Kata Ti Then perlahan.
"Apa Ti Kiauw-tauw tidak bermaksud untuk mengundang mereka ikut minum arak kegiraaganmu ?"
Tanya Shia Pek Tha keheranan.
"Benar, cuma ada seorang yang harus diundang, cuma saja aku takut orang ini pun sulit untuk ditemukan .... diantara nama2 yang diundang apakah Pek Tha-heng mengikut sertakan juga "Auh Ih Suseng"
Han Tiong Thian yang tinggal digununc Lok San !"
Shia Pek Tha segera memeriksa sebentar daftar yang ada dimeja, setelah itu dia baru mengangguk.
"Ada, orang ini juga merupakan sahabat dari Benteng kami, apakah Ti Kiauw tauw mempunyai hubungan persababataa dengan orang ini ?"
"Yang hendak Siauw-te undang bukan dia melainkan suhuku Bu Beng Loojien dia orang tua ada kemungkinan sudah menetap diatas puncak gunung Lok San. baru saja Siauw-te melaporkan hal ini kepada Poocu. Sekarang Siauw-te sangat mengharapkan agar Pek Tha-heng suka memberi tugas kepada saudara yang mengantarkan undangan bagi Auh In Suseng Han Tiong Thian ini untuk sekalian menaiki puncak Lok san mencari tahu jejak dan suhuku, bilamana tidak menemukan dia disana maka tolong disuruh dia meninggalkan pesan di atas puncak itu katakan saja tanggal serta hari dimana siauw-te serta nona Wie akan menikah. Dengan berbuat demikian maka hati siauw-te baru bisa merasa rada lega."
"Baiklah"
Sahut Shia Pek Tha dengan girang.
"Undangan besok akan mulai dibagi, nanti biarlah aku suruh seorang saudara pergi menghadapi Ti Kiauw tauw, waktu itu Ti Kiauw tauw bisa berikan sedikit keterangan tentang bentuk wajah serta perawakan badan suhumu kepadanya, dengan demikian dia baru bisa mengenali suhumu itu"
"Baiklah, kali ini harus membuat undangan tentu bakal merepotkan banyak saudara bukan ?"
"Tidak seberapa banyak, cukup kirim dua puluh orang saja."
"Betul,"
Seru Ti Then setuju.
"Menurut apa yang aku dengar para jago pedaog merah yang mau keluar Benteng atau kembali kedalam benteng tentu mencatatkan tanggal terlebih dahulu di tempat Pek Tha-heng sini, apakah sungguh-sungguh ada urusan lain ?"
"Ada, Waktu keluar benteng serta tempat yang hendak dituju semuanya dicatat jelas-jelas agar dikemudian hari bilamana ada urusan bisa menemukannya kembaii dengan gampang."
"Buku catatan tersebut entah dapatkah siauw-te melihatnya sebentar ?"
"Sudah tentu boleh."
Jawab Shia Pek Tha tertawa.
"Kini Ti Kiauw tauw sudah menjadi menantu dari Poocu kami, kenapa kau malah berlaku begitu sungkan2 ?"
"Sehabis berkata dia segera membuka lacinya dan mengambil keluar se
Jilid buku yang tebal kemudian diangsurkan kepada diri Ti Then.
Ti Then lantas menyambut buku itu dan mencari sebuah kursi didalam kamar untuk mulai membuka setiap lembar dengao teliti.
Apa yang sedang dicari dari kitab tersebut ?
Kiranya secara mendadak dia teringat kembali akan diri pemuda berkerudung yang mendapat perintah dari majikan patung emas untuk mengawasi gerak geriknya itu, dia memastikan kalau pemuda berkeruduug itu pastilah salah satu dari pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Poo karena itu dia bermaksud untuk mencari tahu dirinya.
Dengan mengikuti tanggai dimana dirinya meninggalkan Benteng menuju ke gunung Cun san untuk mencari Cu Kiam Loojien akhirnya dia berhasil menemukan kalau semuanya ada tiga orang pendekar pedang merah yang ber-sama2 dengan dirinya meninggalkan Benteng.
Ketiga orang itu adalah Thio Yen Hoat, Fang Loo Tek serta Ie Si Kuang.
Sekalipun sejak memasuki Benteng sampai sekarang cuma ada tujuh delapan bulan saja tetapi terhadap setiap pendekar pedang merah yang ada didalam Benteng dia tidak dapat meng-ingat2nya satu persatu.
"Pek Tha-heng!"
Ujarnya kemudian sambi1 dongakkan kepalanya.
"Diantara pendekar pedang merah yang ada didalam Benteng kita ada siapa yang usianya paling muda ?"
Shia Pek Tha menghentikan menulisnya dan berpikir sebentar, beberapa saat kemudian dia baru menjawab .
"Usianya yang paling muda adalah Yuen Cia Nian, tahun ini dia baru berusia dua puluh empat tahun".
"Yang keiua ?". Yang kcdua adalah Pang Loo Tek, tahun ini dia berusia dua puluh enam tahun, kecuali dua orang ini lainnya sudah berusia diantara tiga puluh tahun keatas. Ti Kiauw-tauw buat apa kau menanyakan persoalan ini ?".
"Aaah ... , tidak mengapa. apakah saat ini Yuen Cia Nan serta Pang Loo Tek ada didalam benteng?".
"Tidak ada, mereka lagi kembali ke rumah untuk menjenguk orang tuanya tetapi beberapa hari kemudian ada kemungkinan mereka akan kembali lagi kedalam Benteng".
"Mereka masuk ke dalam Benteng sudah ada berapa tahun lamanya ?"
Tanya Ti Then lagi.
"Yuen Cia Nian masuk kedalam Benteng sewaktu berusia dua belas tahun. Poo cu yang melihat tulang serta bakatnya amat bagus bahkan memiliki kecerdikan yang luar biasa maka sengaja mendatangi orang tua mereka untuk mengangkat dia orang jadi murid. Sedangkan Pang Loo Tek masuk kedalam Benteng sewaktu berusia lima belas tahun, dia masuk dengan perantara orang lain".
"Siapakah perantaranya?"
Tanya Ti Then mendesak.
"Cui Toojien dari gunung Cing Shia!". Ti Then segera merasakan dugaannya tidak mungkin bisa terjadi, majikan patung emas tidak mungkin menyelundupkan orang2nya sejak sebelas, dua belas tahun yang lalu karenanya dia lantas Yuen serta Pang dua orang bukanlah orang yang patut dicurigai. Dia segera bangkit berdiri dan mengembalikan kitab tersebut kepada diri Shia Pek Tha.
"Tidak mengganggu lebih lama lagi, siauw-te mau kembali kekamar untuk beristirahat nanti..."
Baru saja berbicara sampai disini tampaklah seorang pendekar pedang merah yang berjulukkan sebagai Liong Cau Kiam Khek atau si jagoan pedaog cakar naga Sun Thian Jiu berjalan masuk kedalam kamar.
"Aaaah ... sungguh kebetulan sekali.."
Seru Shia Pek Tha dengan cepat.
"Ti Kiauw tauw harap tunggu sebentar, cayhe memang ada bermaksud untuk meminta bantuan dari Thian Jiu heng untuk pergi satu kali ke gunung Lok San, kini Ti Kiauw tauw boleh menjelaskan bagaimana bentuk wajah serta perawakan badan dari suhumu kepada Ihian Jiu heng sehingga dia bisa sedikit memahami."
"Eeeei ada urusan apa ?"
Tanya si jago pedang cakar naga ini melengak.
Shia Pek Tha segera menceritakan maksud Ti-Then untuk mencari dapat suhunya Bu Beng Loojien untuk ikut merayakan perkawinannya ini, akhirnya dia menambahkan .
"Ti Kiauw tauw merasa ada kemungkinan suhunya tinggal disekitar puncak gunung Lok san. maka itu cayhe punya maksud untuk meminta bantuan Thian Jiu heng, agar bsrtanggung jawab didaiam penyebaran undangan kawan2 yang ada di sekitar daerah Kan Cing, dan sekalian harap Thian Jiu heng suka pergi ke puncak gunung Lok san untuk mencari jejak dari Bu Beng Loojien."
"Baik, akan cayhe lakukan dengan senang hati"
Sahut Sun Thian Jiu dengan hati girang.
"Bilamana tidak menemukan dia orang tua maka harap Thian Jiu-heng suka meninggalkan beberapa patah tulisan di suatu tempat yang mencolok di atas puncak gunung Lok San itu, tulis saja kalau siauw-te mengundang dia orang tua untuk dating ke Benteng Pek Kiam Poo mengikuti perayaan perkawinan siauw-te.."
"Ti Kiauwtauw, bagaimanakah bentuk wajah dari suhumu?"
Ti Then segera menerangkan bagaimanakah bentuk wajah dari suhunya Bu Beng Loojien, setelah itu dia baru meninggalkan kamar dari Shia Pek Tha.
Baru saja berjalan keluar dari dalam kamar itu mendadak tampaklah pelayan dari Wie Lian In, itu si budak Cun Lan sudah berjalan mendatang.
"Cun Lan, ada urusan apa?"
Tanyanya kemudian sambil menghentikan langkahnya.
"Siocia mengundang Ti Kiauwtauw untuk bertemu muka di dalam kebun, katanya ada urusan yang hendak dirundingkan dengan diri Ti Kiauw-tauw"
Jawab Cun Lan sambil memberi hormat.
"Kenapa tidak melihat dia munculkan dirinya?"
Tanya Ti Then lagi sambil tertawa. Cun Lan segera menutup mulutnya menahan rasa geli di hatinya.
"Nona kami takut malu, dia tidak berani keluar sendiri.."
Ti Then segera tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju kearah kebun.
xxxxx Didalam sekejap saja sebulan sudah lewat dengan cepatnya, jarak dengan waktu perkawinan Ti Then pun tinggal dua puluh hari lagi.
Pagi itu sewaktu Wie Ci To serta Ti Then sedang ada ditengah lapangan latihan silat memberi petunjuk para pendekar pedang hitam dan putih berlatih silat, mendadak terlihatlah seorang pendekar pedang hitam lari masuk dengan tergesa2 lalu memberi hormat didepan Wie Ci To.
"Lapor Poocu, Ciangbunjien dari Siauw lim pay. Bu tong pay, Kun-lun pay serra Tiang Pek pay datang menyambangi!"
Mendengar laporan tersebut air muka Wie Ci To segera terlintaslah satu perasaan keheranan.
"Iih ... bagaimana mungkin mereka dapat datang dengan begitu cepat ?".
"Benar, para pendekar pedang yang dikirim untuk menyebar undangan pun belum kembali, bagaimana mungkin tetamu yang hendak memberi selamat sudah datang dua puluh hari lebih pagi?"
Ti Tnen pun merasakan didalam urusan ini ada hal2 yang tidak beres.
"Apakah keempat orang ciangbunjin ini datang untuk memberi selamat ?"
Serunya. Sepasang mata Wie Ci To berkedip2 lalu sambil mengulapkan tangannya dia berseru.
"Ayoh jaian kita pergi menyambut kedatangannya !". Mereka berdua dengan tergesa-gesa berjalan keluar dari benteng terlihatlah Yuen Kuang taysu itu ciangbunjin dari Siauw lim pay beserta Leng Cing Ceng jien dari Bu-tong Pay, Kiem Cong Loojien dari Kun lun pay serta sekuntum bunga Bwee Mong Yong Sian Kauw dari Tiang Pek pay sedang berdiri didepan pintu benteng. Wie Ci To segers maju kedepan menyambut.
"Tidak mengetahui kunjungan dari empat orang ciangbunjin, maaf loohu tidak menyambut dari jauh ..maaaf , maaf , ,"
Yuen Kuang Thaysu segera merangkap tangannya membalas hormat.
"Kunjungan secara tidak sengaja, masih mengharapkan Wie Loosicu jangan marah"
"Aaa , mana . mana, Ciangbunjin berempat silahkan masuk"
Ujar Wie Ci To kembali.
Sehabis berkata dia segera miringkan badannya kesamping mempersilahkan tetamunya untuk masuk, Keempat orang ciangbunjin dari Siauw lim pay, Butong pay, Kun lun pay serta Tiang Pek pay sembari tersenyum segera bersama-sama jalan masuk kedalam benteng.
Setelah masing-masing dipersilahkan duduk di dalam ruangan tamu, Ti Then baru maju kedepan menghunjuk hormat.
Dengan pandangan yang amat teliti Leng Cing Ceng jien memperhatikan seluruh tubuh Ti Then dari atas kebawah, setelah itu sambil tartawa ujarnya.
"Diakah Kiauw tauw dari Benteng Pek Kiam Poo, si pendekar baju hitam Ti Then, Ti Siauw sicu ?"
"Benar"
Sahut Wie Ci To sambil tersenyum pula.
"Tampan, cerdik, bersemangat dan gagah sekali, sungguh merupakan orang pilihan"
Puji Leng Cing Ceng jien tiada hentinya.
"Apakah Ciangbunjien berempat sudah menerima undangan yang kami bagikan? "
Tanya Wie Ci To kemudian sambil tertawa. Ciangbuojin dari Bu tong Pay, Leng Cing Ceng jien kelihatan rada tertawa.
"Undangan apa ?"
Balik tanyanya. Wie Ci To segera menuding kearah diri Ti Then.
"Aku orang She Wie sudah menjodohkan Siauw li Lian In kepadanya, dan hendak mengawinkan mereka pada tanggal dua puluh delapan bulan ini undangan yang aku orang She Wie kirimkan pada sebulan yang lalu apakah ciangbunjien berempat belum menerimanya?"
"Tidak! "
Sahut Leng Cing Ceng-jien dengan terperanjat.
"Pada sebulan yang lalu Pinto sudah turun gunung, tentu undangan itu tiba sewaktu Pinto baru saja turun gunung ... hal ini sungguh kebetulan sekali"
"Tidak salah!"
Sambung Kiem Cong Loojien dari Kun-lun Pay sambil tertawa.
"Kedatangan kita kali ini sungguh kebetulan sekali haaa , ..haaa ... aku bisa mencicipi arak kegirangan itu."
"Kalau memangnya ciangbnnjien berempat tidak mengetahui akan urusan ini maka kedatangan kalian ini hari entah ada arusan apa? "
Tanya Wie Ci To kemudian, Air muka Yuen Kuang thaysu dari Siauw-lim Pay segera berubah serius.
"Sebelum menyelesaikan persoalan ini Pinceng dengan memberanikan diri hendak menanyakan beberapa persoalan kepada diri Wie Loo-sicu ". katanya.
"Ciangbunjien ada petunjuk apa?"
Tanya Wie Ci To sembari memandang tajam wajahnya.
"Pada sebulan yang lalu apakah Wie Loo Sicu pernah ber-sama2 dengan Ti Siauw Sicu pergi mengunjungi perkampungan Thiat Kiam San cung?".
"Aaaa ... bagaimana ciangbun thaysu bisa mengetahui akan urusan ini ?"
Tanya Wie Ci To melengak. Yuen Kuang Thaysu segera tersenyum.
"Dapatkah Wie Loo sicu memberikan jawaban atas pertanyaan dari pinceng ini ?"
Wie Ci To termenung beberapa saat, akhirnya dia mengangguk.
"Pernah!"
Jawabnya.
"Ada urusan apa kalian berdua pergi ke perkampungan Thiat Kiam San Cung?"
Tanya Yuen Kuang Thaysu lagi. Wie Ci To segera mengerutkan alisnya rapat2. Tetapi dengan ramahnya dia tetap tersenyum.
"Bilamana ciangbun thaysu ada beberapa persoalan yang mencurigakan hatimu kenapa tidak ditanyakan secara terus terang saja?". Wajah Yuen Kuang Thaysu berubah semakin serius lagi.
"Ada orang yang melaporkan kepada pinceng berempat dan minta peradilan kepada kami katanya Wie Loosicu ber-sama2 dengan Nyio Sam Pak dari perkampungan Thiat Kiam San Cung telah membunuh seseorang untuk merebut harta kekayaannya"
Ujarnya setelah berdiam beberapa saat lamanya. Wie Ci To jadi tertegun, tapi sebentar kemudian dia sudah tertawa terbahak-bahak dengan gusarnya.
"Sungguh berarti .... sungguh berarti. tolong tanya siapakah orang yang sudah melaporkan urusan ini kepada kalian?"
"Si pembesar kota Cuo It Sian."
Air muka Wie Ci To seketika itu juga membeku, sepasang matanya terbelalak besar;
"Apa ? Cuo It Sian, ?"
Tanyanya keras-keras.
"Tidak salah."
"Kapan dia pernah pergi ketempat ciangbunjin berempat untuk mengadukan persoalan ini ?"
Tanya Wie Ci To dengan rasa keheranan.
"Kurang lebih pada empat bulan yang lalu mendadak dia munculkan dirinya di kuil Siauw lim si dan menyerahkan sepucuk surat kepada pinceng dia memesan wanti2 kepada pinceng katanya surat itu baru boleh dibuka setelah mendengar berita tentang dia terbunuh, didalam surat itulah dia menuliskan siapakah yang sudah membunuh dirinya,"
Berbicara sampai disini dia segera menuding kearah Leng Cing Ceng jien, Kiem Cong Loojin serta si sekuntum bunga Bwee Mong Yong Sian Kauw lalu sambungnya lagi.
"Mereka bertigapun saling susul menyusul memperoleh sepucuk suratnya, dia minta surat itu disimpan terus hingga ada kabar yang mengatakan dia sudah mati, saat itu dia minta kami membaca isi suratnya itu dan mengajukan tuntutan"
"Satu bulan yang lalu", sambung Leng Cing Ceng jien kemudian.
"seorang pelayan dari Cuo It Sian datang ke kuilku, sambil menangis dia melaporkan akan kematian majikannya diatas perkampungan Thiat Kiam san Cung dia bilang simpanan uang dari Cuo Loosicu yang disimpan diperbagai gudang uang sudah diambil oleh seseorang sehingga habis dan uang itu lima puluh laksa tahil banyaknya setelah pinto mendengar berita itu lantas membaca suratnya itu . , ,"
Berbicara sampai disini dia segera berhenti berbicara agaknya dia merasa tidak enak untuk meneruskan kembali kata-katanya itu.
"Apa yang ditulis diatas suratnya itu ?"
Tanya Wie Ci To sambil tertawa dingin. Dari dalam sakunya Yuen Kuang Thaysu dari Siauw lim pay segera mengambil keluar sepucuk surat dan diangsurkan kehadapan Wit Ci To.
"Wie Loo sicu boleh membaca sendiri."
Ujarnya. Wie Ci Tio segera menyambut surat itu dan dibukanya untuk kemudian membaca.
"Ditujukan kepada Yuen Kuang thaysu Ciangbunjien dari Siauw-lim pay . Selama hidupnya loolap berkelakuan malas, satu2nya kegemaranku cuma berpesiar ke-tempat2 yang berpemandangan indah, selama puluhan tahun bergeluntungan di dalam Bu-lim sekalipun tidak banyak melakukan kebajikan tetapi perbuatan jahat belum pernah loolap lakukan barang sebuahpun, tentunya thaysu tahu bukan akan hal ini? Siapa tahu baru2 ini beberapa kali Pek Kiam Poocu Wie Ci To muncul dirumah lolap secara tiba2 dan menuduh loolap pernah melakukan kejahatan memperkosa perempuan orang, dia berkata asalkan loolap suka memberi seratus laksa tahil perak maka rahasia ini akan disimpan baik2, kalau tidak maka dia akan siarkan didepan umum. Loolap yang menerima tuduhan ini sudah tentu merasa kaget, coba bayangkan dengan tindak tanduk dari loolap yang tidak psrnah melakukan kejahatan bagaimana mungkin bisa melakukan perbuatan tersebut ? Sejak ini hari bilamana loolap mengalami kejadian diluar dugaan maka perbuatan ini pastilah perbuatan dari Wie Ci To beserta Kiauw tauwnya Ti Then harap Thaysu suka membela keadilan menuntutkan persoalan ini dihadapan umum sehingga walaupun loolap mati juga tidak mati dengan kecewa."
Akhirnya tertulislah beberapa kata.
"Tahun xxx bulan xxx tanggal xxx, Cuo It Sian ". Selesai membaca surat itu tidak kussa Wie Ci To tertawa pahit.
"Hmmm! Kiranya yang dimaksud sebagai pasukan aneh tersebut sebelum bunuh diri adalah permainan semacam ini!"
Serunya, Dia segera menyerahkan surat itu ketangan Ti Then lalu kepada Leng Cing Ceng jien, Kiem Cong Loo-jien serta Si sekuntum bunya Bwee Mong Yong Sian Kouw tanyanya.
"Surat yang ciangbunjien bertiga terima apakah persis sama seperti apa yang ditulis didalam surat yang ditujukan kepada Yuen Kuang Thaysu itu?".
"Tidak salah! "
Sahut Leng Cing Ceng-jien, Kiem Cong Loo jien serta Mong Yong Sian Kauw ber-sama2.
"Apakah ciangbunjien berempat mempercayai atas segala tuduhan yang dia lontarkan atas diri loohu ?"
Tanya Wie Ci To kembali.
"Pinto sekalian tidak bcrani mempercayai begitu saja seluruh tuduhannya, tetapi setelah mengadakan penyelidikan kami bisa mengambil kesimpulan kalau kematian Cuo Loo Sicu diatas perkampungan Thiat Kiam San cung adalah benar2 karena terpaksa oleh Wie Loo Sicu serta Nyio Loo Sicu"
Ujar Leng Cing Ceng-jien dengan serius.
"Oleh karena itulah didalam hati tidak terhindar kami menaruh curiga juga. karena menurut pengetahuan kami tidak ada orang yang menggunakan kematiannya untuk memfitnah orang,"
"Betul!"
Ujar Wie Ci To mengangguk.
"Bilamana seorang hendak memfitnah orang lain dia tidak mungkin tidak akan menggunakan cara membunuh diri untuk melaksanakan niatnya itu, karena setelah dia bunuh diri walaupun tujuannya tercapai tetapi dirinya sendiripun tidak mendapatkan apa pun !"
"Wie Poocu serta Nyio Cung-cu paksa dia untuk melakukan bunuh diri sudah tentu ada alasannya, dapatkah kau menjelaskannya kepada kami ?"
Ujar Si Sekuntum bunga Bwee Mong Yong SianKauw dengan perlahan.
Dia adalah seorang wanita yang sudah berusia setengah abad tetapi dandanan serta suaranya masih jelas, nyaring dan merdu.
Air muka Wie Ci To berubah jadi amat keren.
"Aku orang she-Wie pernah menjamin terhadap dirinya untuk tidak mengumumkan dosa2nya asalkan dia suka membunuh diri untuk menebus kesalahan yang sudah diperbuat, tetapi kalau memangnya dia tidak menyesal juga sekalipun sudah mati bahkan mau menyeret aku orang she-Wie maka terpaksa seluruh dosanya aku umumkan kepada semua orang". Demikianlah dia segera meceritakan kembali peristiwa yang sudah terjadi pada tiga tahun yang lalu dimana dia menemukan Cuo It Sian memperkosa lalu membunuh istri orang lain, dikarenakan mengingat perbuatan mulia yang dilakukan pada masa sebelumnya maka dia mengijinkan dirinya untuk hidup empat tahun lagi. Siapa sangka untuk menghilangkan dosanya ini ternyata dia sudah mencelakai sekeluarga penduduk petani dusun Tbay Peng Cung dan menggunakan gudang dibawah tanahnya untuk mengurung putrinya serta Ti Then, akhirnya dia berhasil menawan tiga orang pendekar pedang merah untuk rebut kembali separuh pedang pendeknya itu untuk kemudian dibawa ketempatnya Cu Kiam Loojien untuk diperbaiki, lalu bagaimana dia membunuh mati Cu Kiam Loojien Cau Ci Beng dan lain ... lainnya ... Akhirnya dia meceritakan juga siasatnya yang sudah ia susun bersama2 Ti Then untuk merebut kembali potongan pedang itu dengan jalan menyamar sebagai Nyio Sam Pak, siapa sangka sewaktu ada diperkampungan Thiat Kiam San Cung dia sudah menemukan si iblis bungkuk Leng hu Ih mencari gara2, lalu bagaimana Ti Then membunuh mati Leng Hu Ih, Cuo It Sian bagaimana datang ke perkampungan untuk membantu mengusir musuh lalu bagaimana membuka rahasia terbunuhnya Cau Ci Beng, akhirnya dia terdesak dan bunuh diri. Terakhir dia menambahkan juga dengan beberapa patah kata .
"Aku orang She Wie tahu dengan nama serta kedudukannya didalam Bu-lim maka perbuatannya tidak akan dipercaya oleh orang lain, maka itu sengaja loohu pergi ke gunung Ngo Thay san mengundang datang It Ie Sang-jien sebagai saksi, seluruh pengakuan dari Cuo It Sian sudah didengar sendiri oleh dirinya, bilamana ciangbunjien berempat tidak percaya boleh segera-berangkat kegunung Ngo Thay San dan tanyakan sendiri kepada It Ie Sang jien". Mendengar perkataan itu Yuen Kuang Thaysu, Leng Cing Ceng-jien, Cong Loo-jien serta Mong Yong Sian Kauw jadi terperanjat.
"Jadi dengan demikian Cuo It Sian lah bermaksud jahat, heeei sungguh tidak disangka dia adaiah seorang manusia kejam yang hatinya seperti binatang."
"Untung sekali It Ie Sang-jien yang bertindak sebsgai saksi, kalau tidak bukankah aku orang she Wie akau terkena getahnya"
Seru Wie Ci To sambil menghela napas.
"Harap Wie Loo Sicu yangan marah atas perbuatan pinceng sekalian yang menanyakam kembali persoalan ini kepada dirimu, sesungguhnya dengan nama serta kedudukan dari Cuo Loo Sicu yang ada di dalam Bu-lim siapapua tidak bakal menyangka akan perbuatan jahatnya itu."
Ujar Yuen Kuang Thaysu menjelaskan.
"Saudara berempat suka turun tangan mengusut peristiwa ini boleh dikata merupakan pekerjaan yang mulia. aku orang she Wie mana berani menyalahkan diri kalian?"
Berbicara sampai disini mendadak dia menghela napas lalu tambahnya .
"Aku orang she Wie selamanya menganggap orang jahat musuh buyutan, sungguh tidak kusangka menghadapi urusan ini ternyata harus menemui berbagai kesulitan... Sampai sekarang urusan semacam ini didalam hati aku orang she-Wie masih ada sebuah lagi. heeey aku bingung harus berbuat bagaimana enaknya". Ti Then yang mendengar perkataan itu diam2 dalam hati segera berpikir .
"Apakah perkataan yang diucapkan ini menunjukkan peristiwa seperti apa yang ditunjuk majikan patnog emas?".
"Wie Loo sicu, kau sedang membicarakan apa?"
Tanya Yuen Kuang Thaysu tiba2.
"Heeei , ..lebih baik tidak usah dibicarakan lagi"
Jawab Wie Ci To sambil gelengkan kepalanya.
oooOOOooo "PERTEMUAN puncak para jago di atas gunung Hoa San yang diadakan tahun besok telah hampir tiba, bilamana Wie Loo sicu ada urusan yang susah dipecahkan kenapa tidak diberitahukan dihadapan umum?
pinto sekalian tentu akan berusaha keras untuk memberi bantuan "
Ujar Leng Cing Ceng-jien.
"Tidak mudah ... tidak mudah ..."
Seru Wie Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Peristiwa mengenai diri Cuo It Sian lebih baik Wie Poocu cepat2 umumkan dihadapan umum, sehingga semua orang bisa dibikin paham kembali "
Ujar Kiem Tong Loojien memberikan pendapatnya"
Kalau tidak bilamana ada urusan seperti ini hari bukankah hanya mendatangkan kerepotan saja?"
"Benar !"
Sambung Mong Yong Sian Kauw dengan cepat "Kami berempat mungkin masih mempercayai perkataan dari Wie Poocu, tetapi para jagoan dari kalangan Hek-to aku rasa belum tentu mau percaya atas perkataanmu ini, aku lihat lebih baik Wie Poocu cepat2 mengumumkan peristiwa ini ke dunia-kangouw sehingga mereka pun mengetahui kejahatan yang sudah dilakukan oleh diri Cuo It Sian".
Dengan perlahan Wie Ci To segera mengangguk.
"Perkataan dari ciangbunjin berdua sedikitpun tidak salah,"
Sahutnya.
"Dua puluh hari lagi adalah saat perkawinan putriku, aku orang she-Wie pun sudah membagikan undangan kepada semua sahabat, ada kemungkinan It Ie Sang-jien dari Ngo-thay San pun ikut datang, biarlah menggunakan kesempatan itu aku siarkan berita ini dihadapan para jago".
"Wie Poocu pun baru sedikit mengadakan persiapan, orang2 dari kalangan Pek-to ada kemungkinan mau mendengarkan penjelasan dari Wie Poocu ini tetapi orang2 dari kalangan Hek-to belum tentu mau menerima penjelasan itu dengan demikian saja"
Kata Mong Yong Sian Kauw member peringatan.
"Aku orang She Wie cuma takut kesalah pahaman dari jago2 kalangan Pek-to, sedang mengenai orang2 dari golongan Hek-to baik dia mau percaya atas perkataan dari aku orang She Wie atau tidak hal itu bukanlah satu urusan yang terlalu penting"
Ujar Wie Ci To sambil tertawa.
"Kini rasa curiga sudah tersapu bersih, kita berempat bermaksud untuk tinggal di sini menanti saat diadakannya perayaan perkawinan Ti Kiauw-tauw atau pulang dahulu ?"
Tanya Kiem Cong Loojien tiba2.
"Sudah tentu harus menunggu didalam Benteng loohu"
Sahut Wie Ci To dengan gugup.
"waktu perkawinan siauw-li sudah dekat, buat apa kalian lari2 dengan percuma?".
"Diatas gunung Go-bie banyak terdapat kuil Pinceng ada maksud untuk tinggal selama beberapa hari di kuil, menanti setelah hari Perkawinan menjelang Pinceng baru datang lagi untuk mengganggu"
Ajar Yuan Kuang Thaysu sambil tertawa.
"Pinto juga bermaksud untuk pergi ke kuil Sang Cing Kong diatas gunung Cing Shia untuk temui bsberapa Too-su yang sudah lama tidak bertemu muka"
Ujar Leng Cing Ceng-jien memberikan maksud hatinya. Kiem Cong Loojien yang mendengar perkataan dari kawan2nya itu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaa . , haaa .., si hwecsio pergi cari hweesio yang Toosu pergi mencari Toosu, loolap adalah rakyat biasa terpaksa harus pergi mencari kawan sebangsaku"
Katanya.
"Bukankah aku orang she Wie adalah kawan sebangsa ciangbunjin ?"
Seru Wie Ci To sambil tertawa.
"Tidak salah"
Sahut Kiem Tong Loojien sambil mengangguk.
"Maka itu loolap bermaksud untuk tetap tinggal di dalam Benteng"
Wie Ci To segera menoleh kearah si sekuntum bunga Bwee Mong Yong Sian Kauw lalu katanya.
"Bagaimana kalau Mong Yong ciangbunjin tetap tinggal didalam Benteng?"
"Didalam Benteng Wie Poocu banyak lelaki daripada perempuan, aku rasa tidaklah terlalu leluasa untuk melayani aku seorang perempuan bukan?"
Ujar Mong Yong Sian Kouw sambil tertawa.
"Haa , , haa . tidak. tidak benar"
Ujar Wie Ci To sambil tertawa terbahak-bahak.
"Didalam benteng kami masih terdapat banyak sekali istri-istri pendekar pedang merah kami, bilamana Mong Yong ciangbunjin merasa perempuan harus mencari perempuan maka didalam Benteng loohu ini masih terdapat banyak sekali orang perempuan."
Dia berhenti sebentar, senyuman yang semula menghiasi bibirnya mendadak lenyap tak berbekas.
"Mong Yong ciangbunjien"
Ujarnya lagi "Aku orang she-Wie ada satu urusan ingin meminta bantuan dari ciangbunjien"
"Ada urusan apa ?"
Tanya Mong Yong Sian Kouw sambil tersenyum. Dengan perlahan Wie Ci To mengalihkan pandangannya ketempat kejauhan lalu menghela napas panjang.
"Sejak kecil siauwli sudah kehilangan ibunya sehingga sifatnya rada manja bahkan banyak urusan yang dia tidak mengerti, kini dia sudah hampir kawin, harap ciangbunjien suka membantu loohu untuk sedikit mendidik urusan dapur maupun rumah tangga daripada tugas seorang istri,"
"Sifatku rada berangasan dia tidak mirip seorang perempuan, bilamana suruh aku yang memberi petunjuk ada kemungkinan malah jadinya tidak karuan"
Ujar Mong Yong Sian Kouw sambil tertawa.
"Aaah ... mana., mana -"
"Bilamana Wie Poocu merasa berlega hati maka aku akan tinggal disini saja"
Akhirnya ujar Mong Yong Sian Kauw sambil mengangguk. Wie Ci To segera mengucapkan terima kasihnya, kepada Yuan Kuang thaysu serta Leng Cing Ceng-jien ujarnya kemudian.
"Silabkah ciangbunjien berdua untuk tinggal semalam, bagaimana kalau besok baru berangkat ?"
"Baiklah!"
Sahut Yuen Kuang Thaysu dan Leng Cing Ceng-jien berbareng.
"Ti Kiauw-tauw!"
Seru Wie Ci To kemudian kepada Ti Then.
"Kau masuklah dan panggil In-jie untuk keluar menghunjuk hormat kepada ciangbunjien berempat, setelah itu perintah juga untuk menyediakan dua meja perjamuan, yang sata tanpa daging yang satu biasa". Dengan hormatnya TiThen segera menyahut dan mengundurkan diri dari ruangan. Tidak lama kemudian dengan seorang diri Wie Lian In munculkan dirinya ditengsh ruangan kemudian dsngan malu2 maju menghunjuk hormat kepada keempat orang ciangbunjien itu. Tampak sembari tertawa ujar Mong Yong Sian Kauw dengan perlahan.
"Aku tidak tahu kalau nona Wie mau menikah sehingga tidak membawa barang sumbangan, lain kali aku kirim saja untuk menyusul kekurangan ini". Baru saja perkataan itu selesai diucapkan mendadak terlihat Ti Then berjalan masuk kedalam ruangan dsngan ter-gesa2 wajahnya kelihatan sangat aneh sekali. Wie Ci To yang melihat wajahnya rada aneh dalam hati merasa sedikit terkejut.
"Ada urusan apa?"
Tanyanya dengan cepat. Ti Then tertawa dingin.
"Diluar benteng sudah kedatangan serombongan orang yang ingin bertemu muka dengan Gak-hu thayjien serta boanpwee!"
Katanya.
"Siapa ?"
Tanya Wie Ci To dengan air muka berubah.
"Jago2 dari kalangan Hek-to, kebanyakan adalah anak buah dari si anjing langit rase bumi serta si iblis bungkuk Leng Hu Ih, sebagai pentolannya adalah si pendekar tangan kiri Cian Pit Yuan!". Wie Ci To mulai tertawa dingin tak hentinya, lalu dengan perlahan bangun dari tempat duduknya.
"Hmmm kedatangan mereka tentu disebabkan oleh karena peristiwa matinya Cuo It Sian, heee ..hee ... sungguh cepat kedatangan mereka"
Ujarnya.
"Semuanya ada bsrapa orang ?"
Tanya Yuen Kuang Thaysu tiba-tiba.
"Kurang lebih ada dua ratus orang banyaknya."
"Lalu Wie Loosicu siap2 mau berbuat apa ?"
Tanya Yuen Kuang thaysu sambil menoleh kearah Wie Ci To.
"Sudah tentu menjelaskan urusan ini terlebih dahulu, bilamana mereka tidak mau percaya maka terpaksa terserah mereke ingin berbuat apa,"
Saat ini ada beberapa orang pendekar pedang merah sudah memasuki ruangan tamu untuk siap menerima perintah. Dengan perlahan Wie Ci To pandang diri mereka kemudian baru ujarnya dengan keren.
"Perintahkan semua jago pedang yang ada di Benteng untuk siap menghadapi pertempuran tetapi tidak diperkenankan turun tangan terlebih dahulu."
Bcberapa orang pendekar pedang merah itu segera menyahut dan mengundurkan diri dari ruangan untuk menjalankan perintahnya.
"Bagaimana kalau biarkan pinceng berempat menjelaskan terlebih dahulu akan persoalan ini kepada mereka, ada kemungkinan mereka bisa mendengar perkataan kami, bagaimana menurut pendapat Wie Loo sicu ?"
Ujar Yuen Kuang Thaysu memberikan usulnya.
"Baiklah, mari kita keluar bersama-sama". Demikianlah tua muda tujuh orang segera bersama-sama meninggalkan ruangan untuk menuju ke pintu luar benteng. Sewaktu hampir tiba di pintu benteng suara hiruk pikuk serta percakapan orang yang ramai berkumandang datang dari tempat luaran jika didengar dari suara itu jelas gerakan dari orang-orang golongan Hek-to kali ini amat dahsyat sekali. Sesampainya dibawah pintu benteng Wie Ci To segera memberikan perintahnya kepada bsberapa orang pendekar pedang hitam yang berjaga-jaga disana.
"Segera buka pintu!"
Bentaknya.
Dengan perlahan-lahan pintu benteng mulai terbuka, terlihatlah didepan benteng sudah berkumpul banyak orang yang lagi berkerumun diantara orang-orang itu kelihatan ada beberapa orang jagoan Hek-to yang rada terkenal.
Kecuali sisa anak buah dari istana Thian Teh Kong serta Si Iblis bungkuk yang bergabung, Ti Then menemukan juga tiga orang "Kawan lamanya "
Mereka adalah Si majikan ular Yu Toa Hay, Si kakek kura2 Phu Tong Seng serta Si nenek iblis penghalang jalan Han Giok Bwee.
Dan sebagai pentolannya bukan lain adalah si Pendekar tangan kiri Cian Pit Yuan.
Sewaktu Ti Then melihat adanya Si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan ada disana mendadak dalam hatinya timbul sedikit harapan, dia mengharapkan didalam pembicaraannya dengan Wie Ci To Cian Pit Yuan bisa "menyinggung' pula si pemuda berkerudung yang telah menolong dia lolos dari kurungannya diatas gunung Boe Leng San itu.
Mengenai peristiwa tertawannya dia oleh Cian Pit Yuan selama ini belum pernah dia ceritakan kepada Wie Ci To ayah beranak, sedang kini bilamana Cian Pit Yuan mengungkat kembali peristiwa tersebut maka setelah urusan ini dia pasti akan mendesak dirinya untuk memberi penjelasan, saat itulah dia merasa punya "alasan"
Untuk menceritakan rahasia diperintahnya dia orang oleh majikan patung emas.
Atau dengan perkataan lain demikian Wie Ci To tidak akan menjodohkau putrinya kepadanya dan diapun bisa melaporkan kalau Cian Pit Yuan lah yang sudah merusak rencana dari majikan patung emas ini.
Maka itu dia sangat mengharapkan Cian Pit Yuan dapat mengungkat kembaii peristiwa hari itu.
Saat ini sewaktu si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan melihat munculnya Yuen Kuang Thaysu, Leng Cing Ceng jien, Kiem Cong Loojien serta Mong Yong Sian Kauw empat orang Ciangbunjien ber-sama2 dengan munculnya Wie Ci To air mukanya tidak kuasa lagi berubah hebat, agaknya mereka menduga Wie Ci To sudah mengetahui terlebih dahulu akan rencana mereka sehingga kini mengundang empat orang ciangbunjien sebagai pembantunya.
Tidak menanti Wie Ci To membuka mulut si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan sudah tertawa keras dengan amat seramnya.
"Wie Toa Poocu!"
Serunya dengan dingin.
"Kedatangan loohu ini hari bukannya dimaksudkan untuk menuntut dendam kita dahulu!".
"Kalau memang demikian bagaimana kalau Cian-heng berserta kawan2 lainnya untuk minum the terlebih dulu didalam ruangan?"
Ujar Wie Ci To dengan tawar.
"Terima kasih, lebih baik kita membicarakan persoalaa ini ditempat luaran saja"
"Kalau begitu silahkan Cian~heng mulai berbicara.
"Hey Penguasa Go ayoh keluar kemari"
Teriak Cian Pit Yuan kearah tengah gerombolannya.
Seorang kakek tua yang memakai pakaian perlente jalan keluar dari antara gerombolan manusia dan mendekati kesamping badan Cian Pit Yuan.
Kiranya orang tua itu bukan lain adalah Si-penguasa dari Cuo It Sian itu Si-pembesar kota.
"Wie Toa Poocu apakah kenal dengan orang tua ini?"
Tanya Cian Pit Yuan sembari menuding kearah Si penguasa.
"Maaf Loohu tidak kenal!"
Jawab Wie Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Dia adalah penguasa rumah dari Cuo It Sian"
Bisik Ti Then sewaktu dilihatnya ayah mertuanya tidak kenal. Walaupun telinga dari Cian Pit Yuan sudah terkena papas habis sehingga lenyap tetapi pendengarannya masih amat tajam.
"Tidak salah!"
Sambungnya sambil tertawa.
"Bagaimanapun orang muda jauh lebih jujur dan suka terus terang daripada orang tua, dia memang penguasa rumah dari Cuo It Sian"
"Cuo It Sian sudah loohu hokum, apakah ini hari kalian siap2 datang kemari untuk membalas dendam?"
Tantang Wie Ci To dengan nada mendongkol.
Agaknya Cian Pit Yuan sama sekali tidak menduga kalau Wie Ci To berani mengakui dialah yang sudah memaksa Cuo It Sian untuk bunuh diri mendengar perkataan tersebut dia jadi tertegun, tetapi dengan cepat wajahnya sudah berubah jadi beringas kejam.
"Bagus sekali !"
Serunya sambil tertawa dingin.
"Kalau memangnya Wie Toa poocu sudah mengakui kaulah yang paksa Cuo It Sian untuk melakukan bunuh diri maka urusan jadi lebih mudah lagi untuk dibicarakan ". Berbicara sampai disini dia segera menoleh kearah keempat orang ciangbunjin dari Siau-lim pay, Bu-tong Pay, Kun-lun Pay serta Tiang Pek Pay, lalu tambahnya.
"Sekarang aku orang she Cian cuma ingin bertanya beberapa patah kata dengan ciangbunjien berempat, kalian berempat bermaksud untuk berbuat apa terhadap urusan ini? hendak menegakkan keadilan Bu-lim dengan menghukum Wie Toa Poocu ataukah membalaskan dendam bagi kematian Cuo It Sian?"
"Omintohud ..Omintohud!"
Seru Yuen Kuang Thaysu sambil merangkap tangannya memuji keagungan Buddha.
"Kedatangan pinceng berempat kali ini bermaksud untuk menegakkan keadilan di Bu-lim. Cuma saja, mengenai persoalan yang menyangkut kematian Cuo It Sian ini sesudab mengalami suatu penyelidikan dari kami berempat maka kami menemukan kalau tuduhan yang dilancarkan Cuo Loo-sicu sebenarnya adalah terbalik."
"Bagaimana bisa terbalik?"
Seru Cian Pit Yuan sambil mendengus dingin.
"Urusan yang sebetulnya adalah begini. Pada tiga tahun yang lalu Cuo Loo Sicu pernah melakukan perkosaan terhadap istri orang lain lalu membunuh suaminya sekalian. Dan urusan ini kebetulan ditemui oleh Wie Loosicu.."
"Omong kosong !"
Teriak si penguasa Go secara tiba2.
"Dikolong langit pada saat ini ada siapa yang tidak tahu akan keluhuran budi dari Loo-ya kami, apa maksud kalian memfitnah kesucian nama serta kedudukannya ?"
"Go Sicu jangan keburu marah dulu"
Ujar Yuen Kuang Thaysu dengan wajah serius.
"Pinceng sebagai seorang ketua partai tidak akan berani berbicara sembarangan sebelum ada bukti yang nyata."
"Lalu apa buktinya?"
Teriak penguasa Go lagi dengan gusar.
"Seorang penganut agama tidak akan berbobong. Silahkan saudara sekalian mendengarkan penjelasan dari Pinceng setelah itu pinceng akan tunjukkan sekalian buktinya !"
Jawab Si hweesio dari Siauw-lim Pay ini dengan wajah amat tenang.
"Baik, sekarang cepatlah katakan !"
Seru Si penguasa Go lagi dengan mendongkol.
Demikianlah Yuen Kuang Thaysu segera membeberkan seluruh dosa yang telah diperbuat oleh Cuo It Sian tanpa kekurangan sepatah katapun.
Dia bercerita sampai dimana Cuo It Sian kedesak dan merlakukan bunuh diri di perkampungan Thiat Kiam San Cung, akhirnya sambil menuding kearah Ti Then tambahnya.
"Ti siauw-cu ini boleh dikata termasuk salah seorang saksi, dia melihat dengan mata kepala sendiri dimana Cuo Loo-sicu membunuh Cu Kiam Loojien serta si elang sakti Cau Ci Beng."
"Heee ..hee ... Thaysu kau sungguh tolol"
Seru si penguasa Go sambil tertawa dingin.
"Bilamana bangsat cilik itu boleh bertindak sebagai saksi maka aku pun bisa pula sembarangan memanggil orang sendiri untuk menfitnah orang lain!". Yuen Kuang thaysu sama sekali tidak menjadi marah karena kata2 yang kasar dari penguasa Go itu, dia malah tersenyum.
"Jadi maksud dari sicu setiap perkataan yang diucapkan oleh orang2 Benteng Pek Kiam Poo tidak boleh dijadikan sebagai bukti".
"Sudah tentu".
"Kalau begitu bagaimana kalau orang yang lepas dari Benteng Pek Kiam Poo bertindak sebagai saksi ?"
Tanya Si hweesio lagi sambil tersenyum.
"Soal itu harus dilihat siapakah dia orang!".
"Seorang hweesio dari gunung Ngo Thay San, It Ie Sang-jien!".
"Apakah dia melihat Loo-ya kami membunuh orang?"
Dengus si penguasa Go dengan dingin.
"Wie Loo-sicu pasti akan datang mengunjungi perkampungan Thiat Kiam san Cung agar dia jangan sampai mungkiri lagi atas dosa-dosanya maka sengaja sudah mengirim orang ke gunung Ngo Thay San untuk mengundang It Ie Sangjien datang mengunjungi perkampungan Thiat Kiam San Cung. Cuo Loo-sicu yang tidak mengetahui disampingnya masih ada orang luar yang sedang mencuri dengar dia sudah mengakui seluruh dosa yang pernah dilakukan"
"Lalu dimanakah It Ie Sang-jien itu?"
Tanya si penguasa Go lagi sambil tertawa dingin.
"Lewat sepuluh hari lagi dia bakal datang mengunjungi benteng Pek Kiam Poo bilamana saudara2 sekalian tidak percaya atas perkataan yang pinceng ucapkan maka sampai waktunya kalian boleh datang kemari lagi untuk langsung mendengarkan penjelasannya "
Si Penguasa Go mendenus, lalu sambil menoleh kearah para jago lainnya dia berkata kembali.
"Saudara2 aekalian apakah parkataan dari It Ie Sang jien boleh dianggap sebagai bukti?"
"Tidak, mereka tentu sudah bersekongkol!"
Jawab Cian Pit Yuan sambil tertawa.
"Cian Loo Sicu! kau seharusnya mempercayai perkataan dari It Ie Sang-jien sebagai seorang psndeta beribadat."
Seru Yuen Kuang Thaysu kurang senang."
Dia pernah menjabat sebagai ciangbunjin kuil Lak Hok dikota Tiang An dan pernah mendalami pelajaran agama Buddha dengan kedudukannya dia tidak akan berbohong, dia adalah seorang pendeta yang patut kita hormati!"
"Tetapi sungguh sayang aku orang she Cian sudah menganggap dia sebagai seorang hweesio yang pinter berbohong !"
Ejek Cian Pit Yuan sambil tertawa. Mendengar ejekan ini Yuen Kuang Thaysu jadi amat gusar, toya ditangannya segera diayunkan kedepan melancarkan serangan. -ooo0dw0ooo-
Jilid 36
"PERKATAAN dari pinceng sampai disini saja, bilamana saudara2 sekalian suka mendeagarkan perkataanku maka silahkanlah turun gunung, jikalau tidak suka percaya kenapa tidak lantas turun tangan saja".
"Tidak salah"
Sambung Wie Ci To dengan cepat.
"Yuan Kuang ciangbunjin sudah menjelaskan seluruh persoalan hingga benar2 terang, bilamana saudara2 sekalian merasa kalau perkataan ini boleh dipercaya maka silahkan sekarang juga turun gunung, bilamana tidak percaya heee ....heee ... aku orang she-Wie akan menantikan petunjuk selanjutnya dari saudara2 sekalian". Dua ratus orang jagoan dari kalangan Hek-to dengan membusungkan dadanya pada berdiri tidak bergerak. Tidak, akhirnya ada juga seorang yang mempercayai perkataaa tersebut. Dialah si "Tang Loo Koei Bo"
Han Giok Bwee.
"Selamanya aku si nenek tua paling tidak suka mencari gara2 tetapi akupun tidak ingin mengikat permusuhan dengan lain golongan, hey penguasa Go, aku pergi dulu !"
Teriaknya dengan keras. Selesai berkata tanpa mengucapkan kata2 lagi dia lantas putar tubuh untuk turun gunung.
"Han Giok Bwee, kau berani pergi ?"
Bentak si penguasa Go dengan nada amat gusar.
"Benar"
Jawab Tang Loo Koei Bo tertawa.
"Oooh yaa haa ... haa kurang sedikit saja aku si nenek tua sudah melupakan akan sesuatu urusan, maaf ..maaf..."
Dari dalam sakunya dia lantas mengambil keluar sebuah kertas uang dan dilemparkan kembali kearah sipenguasa Go.
"Naah itu ambillah kembali, aku si nenek tua tidak akan merasa tertarik oleh selaksa tahil perakmu itu!"
Selesai berkata dia lantas putar badan dan berlalu bagaikan angin yang berhembus.
Seketika itu juga air muka si penguasa Go berubah jadi merah padam dia benar2 merasa amat malu sekali.
Belu lagi dia orang memperlihatkan sesuatu gerakan apapun terdengarlah si majikan ular Yu Toa Hay dengan amat gusarnya sudah gembar-gembor dan mencak2.
"Apa ?"
Teriaknya keras.
"Kau kira si Tang Loo Koei Bo jauh lebih kuat dari loohu? dia boleh mengambil selaksa tahil perak, kenapa Loohu cuma mendapat delapan ribu tahil perak saja, Loo Phu kan ambil berapa?"
"Loohu juga hanya mendapat delapan ribu tahil perak "
Jawab sikakek kura2 Phu Tong Seng.
"Hal ini tidak bisa jadi !"
Teriak si majikan ular Yu Toa Hay sambil mencak2.
"Hey orang she-Go kau tidak adil. kami majikan ular serta kakek kura2 di dalam hal apa tidak dapat melebihi si Tang Loo Koei Bo itu ? dia boleh mendapat selaksa tahil perak kenapa kami hanya mendapat delapan ribu tahil?"
"Benar, hal ini tidak adil ... .kurang ajar ! kurangajar! kau lihat bagaimana sekarang??? "
"Jangan mau kerjakan pekerjaan ini"
Teriak simajikan ular Yu Toa Hay keras.
"Mari kita pergi saja dari sini !"
Sehabis berkata dia mengambil keluar sabuah kertas uang dan dilemparkan kehadapan si penguasa Go tersebut, setelah itu kakinya menjejak tanah dan berkelebat pergi dari sana.
Si kakek kura2pun dengan cara yang sama melemparkan uang kertas it keatas tanah lalu mengikuti dari belakang kawannya berlalu dari situ.
Si penguasa Go benar2 merasa amat malu sekali atas terjadinya peristiwa ini.
"Pemberontak ! Pemberontak !"
Teriaknya sambil mendepakkan kakinya berulang kali keatas tanah.
Si "Boe Cing Shu"; Ko Cing Liong yang tempo hari berhasil meloloskan diri dari gunung Lak Ban San dengan cepat bergeser kesamping badannya, dan dalam saku diapun mengambil keluar secarik uang kertas lalu disusupkan ketangannya.
"Hmmm ! Bilamana bukannya Han Giok Bwee sengaja bicara terus terang maka Loohu akan kau tipu mentah2"
Serunya dengan dingin.
"Hmm! Kau kira aku yang harus menjual nyawa buat kau orang she Go hanya berharga enam ribu tahil perak saja? Niiiih .... aku kembalikan kepadamu !". Sehabis berkata tanpa menoleh lagi dia segera berlalu dari sana. Si muka aneh Ling Ang Lian dengan jalan yang menggiurkan pun berjalan keluar dari barissn setelah itu dia melemparkan uang kertas tersebut keatas wajah si penguasa Go.
"Han Giok Bwae adalah Loocianpwee aku tidak akan menandingi dirinya", Serunya sambil tertawa dingin.
"Tetapi si majikan ular serta sikakek ular adalah orang cacad, mereka boleh mengambil delapan ribu tahil kenapa aku cuma mendapat lima ribu tahil saja"
Dengan genitnya diapun berlalu dari sana.
"Maknya ... !"
Terdengar seorang lelaki bercambang memekik keras dengan amat gusarnya.
"Kiranya orang lain bisa mendapat lebih banyak lagi dari loohu ... mak nya! loohu cuma mendapat tiga ribu tahil, tidak mau, aku tidak mau !"
Demikianlah satu demi satu para jago dari kalangan Hek-to itu melemparkan kembali uang kertasnya keatas tanah lalu ber-sama2 mengundurkan diri dari kalangan pertempuran.
Hanya didalam sekejap saja sudah ada seratus orang lebih yang mengundurkan dirinya.
Melihat kejadian ini tidak kuasa lagi Wie Ci To mendongakkan kepalanya tertawa ter-bahak2.
"Haaa ... haha .... haaa ..Loohu masih kira saudara2 sekalian datang kemari karena setia kawan .., haaa ...haaa kiranya mereka lagi menjual nyawa buat orang lain !". Yuan Kuang Thaysu, Leng Cing Cang-jien, Kiem Cong Loojien, Mong Yong-Sian Kauw beserta seluruh jagoan pedang merah yang ada disana tidak tertahan lagi bersama-sama tertawa ter-bahak2; Sebaliknya sipenguasa Go saking gusarnya seluruh tubuhnya gemetar amat keras. Cian Pit Yuan semakin gusar lagi, mendadak dia mencengkeram dada si penguasa Go itu lalu memakinya dengan amat gusar.
"Kau kakek tua celaka ... kiranya kau orang sedang menggunakan uang untuk membeli nyawa mereka! Hampir2 Loohu kena kau kibuli !"
"Bukankah kau sama saja seperti mereka menerima uang dariku ?"
Teriak si penguasa Go.
"Kau malah menerima paling banyak, kau mengambil lima, . ."
"Omong kosong"
Ditengah suara bentakan yang amat keras telapak tangannya sudah melayang turun menghajar ubun2 dari si penguasa Go sehingga seketika itu juga kepalanya hancur berantakan.
Sehabis membunuh sipenguasa Go itu, tanpa banyak bicara lagi Cian Pit Yuan segera meloncat beberapa kaki jauhnya, dengan melewati kepala para jagoan dari kalangan Hek-to lainnya dia melayang kearah depan.
"Orang she-Cian, kau tidak boleh pergi!"
Bentak Wie Ci To sambil menjejakkan badannya meloncat ketengah udara.
Tetapi belum berhasil dia menyandak diri Cian Pit Yuan, sejak semula sudah ada orang yang menanti kedatangannya di tempat kejauhan, begitu melihat Cian Pit Yuan melayang datang dia lantas melancarkan satu pukulan kedepan.
"Terimalah seranganku!"
Bentaknya.
Orang itu bukan lain Ti Then adanya.
Cian Pit Yuan yang tubuhnya masih ada di tengah udara tidak dapat menghindarkan diri lagi, terpaksa dia mendorong telapak tangannya kedepan menyambut datangnya serangan tersebut.
"Braak . .. !"
Disertai suara bentrokan yang amat keras sekali, tdbuh Cian Pit Yuan sudah kena dipukul mental sehingga jatuh dari tengah udara dan rebah terlentang diatas tanah.
Pada saat itulah Wie Ci To kebetulan sudah berada disamping badannya, dengan cepat pedangnya berkelebat mengancam di atas lehernya.
"Jangan bergerak!"
Ancamnya. Dengan langkah yang perlahan Ti Then pun segera menghampiri datang. Air muka Cian Pit Yuan berubah pucat pasi bagaikan mayat, tetapi nada ucapannya masih amat kasar.
"Wie Toa Poocu sungguh dahsyat kepandaian silatmu!"
Jelas dari ucapannya ini mengandung nada mengejek yang amat pedas.
"Kau boleh berlega hati"
Seru Wie Ci To sambil tertawa dingin.
"Loohu bisa memberi satu kesempatan yang amat adil buat dirimu, sekarang loohu mau tanya terlebih dulu akan satu hal, kau sudah menerima berapa banyak uang dari si penguasa Go itu."
"Kau anggap Loohu manusia macam apa, tidak mengambil uang barang sesenpun dari dirinya!"
Teriak Cian Pit Yuan dengan amat gusarnya.
"Tetapi agaknya loohu pernah mendengar si penguasa Go mengucapkan kata2
"Lima"
Bukankah kau sudah menerima lima laksa tahil perak dari dirinya?"
Air muka Cian Pit Yuan seketika itu juga berubah jadi memerah.
"Kau memfitnah!"
Gembornya.
"Semua orang mengambil uang, mana mungkin kau sendiri yang tidak menerima?"
"Dia datang padaku meminta Loohu bantu dirinya untuk menegakkan keadilan, dia bilang kau orang she Wie serta Nyio Sam Pak sudah membunuh mati Cuo It Sian majikannya dengan menggunakan akal; Loohu mempercayai penuh atas perkataannya itu maka lantas menyetujui permintaan bantuannya, aku sama sskali tak menerima uangnya!"
"Kalau memangnya demikian kenapa dia membenci dan memaki dirimu?"
Seru Wie Ci To sambil mendengus dingin.
"Siapa yang tahu?"
Teriak Cian Pit Yuan pula dengan benci.
"Bilamana kau tidak mengambil uangnya maka ada seharusnya meninggalkan satu kehidupan untuk loohu tanyai sampai jelas, tetapi secara tiba2 kau turun tangan membinssakan dirinya bukankah tindakanmu itu mirip pula dengan perbuatan membunuh untuk melenyapkan bukti hidup?"
"Omong kosong, loohu membinasakan dirinya karena merasa gemas akan kelicikan serta kekejaman hatinya, aku sama sekali tidak bermaksud membunuh untuk melenyapkan bukti hidup."
Dengan perlahan Wie Ci To segera menoleh kearah Ti Then.
"Ti Kiauw tauw, coba kau periksa sakunya!"
Perintahnya dengan cepat.
Ti Then menyahut dan berjalan kesisi tubuh Cian Pit Yuan setelah itu berjongkok dan memeriksa sakunya.
Air muka Cian Pit Yuan dari pucat pasi kini berubah jadi biru ke-hijau2an, mendadak teriaknya dengan keras.
"Didalam saku Loohu ada selembar uang kertas, tetapi itu adalah uang dari loohu sendiri". Tangan kanan Ti Then yang merogoh ke da!am sakunya lantas dapat meraba secarik uang kertas, setelah dilihatnya nilai yang tertulis diatas kertas itu tidak kuasa lagi dia lantas tertawa cekikikan.
"Haaa ... haaa ... kenapa kertas uang ini pun kebetulan bernilai lima laksa tahil perak?".
"Tidak Salah, uang itu adalah uang tabungan dari Loohu sendiri!".
"Kalau begitu biarlah aku periksa sebentar dengan kertas uang yang lainnya, bilamana gudang uang yang tertera diatas kertas uang ini sama dengan gudang uang yang tertera diatas kertas2 uang lainnya maka hal ini membuktikan kalau uang itu bukan milikmu". Dia berjalan beberapa langkah kedepan untuk memungut secarik kertas uang, setelah dilihatnya gudang uang yang tertera di atas kertas uang itu tak ada bedanya tidak terasa sambil tertawa dingin ujarnya kepada sipendekar pedang tangan kiri ini.
"Hmm ! Kiranya berasal dari sebuah gudang uang yang sama, sekarang tentu saja kau tidak ada perkataan lain bukan ?". Saking malunya saat ini Cian Pit Yuan jadi amat gusar sekali.
"Kalau memangnya Loohu menerima uangnya, lalu ada sangkut pautnya apa dengan dirimu??"
Bentaknya keras.
"Siapa yang bilang tiada sangkut pautnya dengan kami?"
Sambung Wie Ci To sambil tertawa dingin.
"Kau orang she Cian terang2an mengetahui kalau tuduban yang dilancarkan mereka terhadap Loohu adalah suatu peristiwa yang tidak nyata tetapi karena ingin mempeioleh uang lima laksa tahil peraknya kau sadah membolak-balikkan persoalan. Hmmmm! Sekarang dengan memimpin jago2 dari kalangan Hitam kalian datang mencari gara2 dengan Loohu apakah dalam urusaa ini Loohu tidak boleh menuntut ??"
"Tetapi kau harus lihat dulu orang yang menerima uangnya ada dua ratus orang banyaknya, bukannya cuma loohu seorang saja"
Bantah Cian Pit Yuan dengan ter-buru2.
"Orang lain boleh dipandang rendah tapi kau orang she Cian tidak akan dipandang demikian!"
"Diluar mukanya walaupun loohu dibeli olehnya tetapi hal yang sebenarnya adalah ingin berkelahi dengan dirimu, beranikah kau bergebrak melawan loohu ??"
"Bagus sekali ... bagus sekali ..Loohupun sudah siap sedia untuk mamadamkan niatmu itu !"
Seru Wie Ci To sambil tertawa dingin. Berbicara sampai disini pedang yang mengancam tenggorokannya segera ditarik kemball dan mengundurkan diri tiga langkah kebelakang.
"Ayoh bangun berdiri !"
Bentaknya dengan keras.
Cian Pit Yuan dengan cepat meloncat bangun, diantara berkelebatnya sinar pedang yang keemas-emasan ditangan kirinya sudah bertambah lagi dengan sebilah pedang yang memancarkan hawa yang amat dingin sekali.
Tetapi agaknya dia masih menaruh rasa jeri terhadap Ti Then yang berdiri disamping, dia memandang sekejap kearahnya lalu ujarnya.
"Kita harus menjelaskan dulu perkataan kita, ini hari bilamana loohu kalah di tangan Wie Tou Poocu maka loohu akan menanti hukuman, tapi bilamana menang?".
"Bilamana kau menang maka Loohu akan serahkan diri dan menerima hukuman yang dijatuhkan kepada Loohu !"
Sambung Wie Ci To dengan cepat.
"Justru karena loohu takut tidak bertenaga untuk jatuhi hukuman kepadamu, karena anak buahmu amat banyak sekali"
Sekali dengar saja Wie Ci To sudah mengerti apa maksud dari perkataannya itu; kepada para jago pedang merah lantas pesannya.
"Kalian dengarlah semua, bilamana nantti loohu mati ditangannya maka kalian tidak boleh menyusahkaa dirinya, biarkanlah dia pergi dengan bebas, sudah dengar?"
"Dengar!"
Seru pendekar pedang merah itu serempak.
"Ti Kiauw-tauw kaupun sama juga!"
Pesannya pula kepada diri Ti Then.
"Baik!"
Sahut pemuda itu sambil menjura. Wie Ci To segera kebas2kan pedangnya dan menoleb kembali kearah Cian Pit Yuan.
"Sudahlah!"
Ujarnya sambil tertawa "Loohu sudah memberi pesan wanti2 kepada mereka, sekarang kau boleh turun tangan dengan berlega hati!"
"Baik, ini hari bilamana bukannya kau yang mati maka akulah yang modar!"
Teriak Cian Pit Yuan sambil tertawa seram.
Kuda2nya diperkuat, seketika itu juga dia sudah bersiap melancarkan serangan.
Walaupun terhadap orang ini Wie Ci To memandang menghina tetapi terhadap ilmu pedangnya dia tidak berani berlaku gegabah, tubuhnya dengan cepat diperendah kemudian dengan pandangan mata yang amat tajam memperhatikan pihak musuh.
Jago kelas satu bertempur situasinya sudah tentu tidak sama, tampaklah mereka berdua yang satu ada diselatan yang lain ada di sebelah Utara berdiri saling berhadap-hadapan, seluruh perhatiannya dicurahkan pada gerak-gerik pihak musuhnya kemudian dengan perlahan baru bergeser maju kedepan.
Suasana jadi amat tegang, seluruh jago yang hadir disana merasakan hatinya berdebar keras, napasnya menjadi sesak.
Dengan wajah yang amat seram dan penuh diliputi napsu membunuh Cian Pit Yuan segera bergeser maju terus kedepan.
Sebaliknya wajah Wis Ci To amat halus, ramah tetapi keren dan berwibawa sekali.
Ti Then yang melihat sikap serta air muka mereka berdua segera berjalan kesamping Wie Lian In dan bisiknya dengan suara yang amat lirih.
"Pertempran kaii ini ayahmu pasti menang,"
"Bagaimana kau bisa tahu ?"
Tanya Wie Lian In dengan hati tidak tenang. Ti Then tidak menjawab sebaliknya malah bertanya.
"Tahukah kau pada tempo dulu ayahmu harus menggunakan berapa jurus untuk mengalahkan dirinya ?"
"Teringat akan perkataan Tia, agaknya dia bertempur sebanyak seribu jurus banyaknya.
"Tetapi situasi pada saat ini sama sekali berbeda, aku percaya tidak sampai membutuhkan dua ratus jurus ayahmu sudah dapat memperoleh kemenangan"
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Orang yang bergebrak melawan orang selamanya harus membutuhkan keteguhan serta kepercayaan diri sendiri, terutama kali niat. Cian Pit Yuan yang dibeli oleh orang lain sebetulnya tidak mempunyai niat untuk bergebrak ditambah pula keteguhan hatinya berhasil kita pecahkan. maka pertempuran ini dengan amat cepatnya bisa diselesaikan."
Baru saja perkatan itu selesai diucapkan mendadak terdengar Cian Pit Yuan membentak keras, dialah yang pertama-tama melancarkan satu serangan dahsyat menutuk kearah diri Wie Ci To.
Dia orang yang memiliki julukan sebagai si pendekar pedang tangan kiri sudah tentu serangannya berlawanan dari biasanya, jelas kelihatan serangannya kali ini amat dahsyat sekali.
Sebaliknya permainan pedang dari Wie Ci To adalah kebalikan dari permainan pedangnya, tampak dia sedikit mengangkat psdangnya, jurus serangan tersebut segera dapat dipunahkan dengan manis.
Tetapi sewaktu dilihatnya Cian Pit Yuan mengubah jurus serangan lagi dan menyapu badannya dengan mengikuti gerakan badannya dengan mantap dia segera membabat pundak kanan dari Cian Pit Yuan, Jurus serangan ini kelihatanya amat sederhana tetapi secara samar-samar mengandung satu tenaga tekanan yang maha dahsyat.
Mendadak , .
sepasang pedsng mereka bagaikan kilat cepatnya sudah terbentur satu sama lain, hanya di dalam sekejap saja mereka berdua sudah saling serang menyerang sebanyak puluhan jurus banyaknya setelah itu baru berpisah dan masing2 mengundurkan diri keutara dan keselatan.
Beberapa puluh orasg jagoan dari kalangan Hek-to serta jago2 pedang merah dari Benteng Pek Kiam Poo pada saat ini ber-sama2 mengundurkankan dirinya kebelakang, karena mereka merasakan adanya segulung hawa pedang yang amat tajam dan santar berkelebat memenuhi angkasa.
Selangkah demi selangkah kembali Cian Pit Yuan maju kearah Wie Ci To dengan langkah yang mantap mengikuti terus kearah sebelah kiri mereka baru berhenti setelah saling berhadap-hadapan muka.
Pada wajah Cian Pit Yuan terlintaslah satu senyuman buas yang amat seram sekali, Sedangkan pada wajah Wie Ci To terlintas satu senyuman yang ramah tapi mempersonakan.
Mendadak .., masing2 pihak kembali melayang kedepan melancarkan serangannya.
Kali ini tubuh mereka bersama melayang ketengah udara lalu dengan cepat bagaikan kilat saling serang menyerang beberapa jurus banyaknya, hanya didalam sekejap mata saja mereka berdua sudah menyerang dua puluh jurus serangan dahsyat.
Tetapi belum juga bisa menentukan siapa menang siapa kalah.
Sikap Cian Pit Yuan berubah semakin menyeramkan lagi.
Sedangkan sikap dari Wie Ci To berubah semakin rsmah dan halus.
Melihat akan hal itu dalam hati Ti Then benar2 merasa sangat kagum.
Ilmu pedang mereka berdua yang satu jalan keras yang lain mengutamakan kegesitan walaupun belum bisa dikata betul-betul sempurna tetapi telah mencapai pada taraf yang benar2 matang "
Pikirnya di hati.
Pada saat pikirannya sedang berputar itulah mendadak pandangannya terasa jadi kabur, Wie Ci To serta Cian Pit Yuan untuk ketiga kalinya sudah bergebrak saling serang menyerang dengan serunya.
Pertempurannya kali ini jauh lebih dahsyat lagi dari bentrokannya yang semula, walau pun jurus2 serangan yang mereka lancarkan sedikitpun tidak kacau tetapi kelihatannya bagaikan dua ekor macan betina yang lagi berduel membuat setiap orang merasa hatinya amat tegang sekali.
Dan untuk pertempuran kali ini mereka berdua tidak berpisah lagi, sinar pedang bagaikan api membara yang berkelebat ke atas kebawab tidak hentinya seperti juga ombak ditengah samudra yang melanda pantai ...
Saking dahsyatnya pertempuran ini hampir boleh dikata tanah merekah seluruh jagat tergoncang hebat.
Hanya didalam sekejap saja mereka berdua sudah bertempur sebanyak seratus jurus banyaknya walaupun pertempuran ini amat seru tetapi masih belum juga bisa ditentukan siapa yang menang siapa yang kalah.
Semakin lama Wie Lian In merasa hatinya semakin tidak tenang, dengan cepat dia menyenggol badan Ti Then.
"Eeeei coba kau lihat, mereka sudab bergebrak sebanyak seratus jurus"
Serunnya cemas.
"Jangan kuatir, ayahmu pasti akan menang"
"Bilamana sampai kalah ?"
Tanya Wie Lian In murung. Ti Then segera tersenyum.
"Peristiwa ini tidak bakal ada."
Katanya-"Sewaktu bertempur didalam Benteng tempo hari agaknya bajingan tua ini tidak selihay ini hari"
"Soal ini ada dua sebab musabsbnya, pertama. waktu itu dia terlalu memandang rendah pihak musuhnya. Kedua, didalam setengah tahun ini dia telah berlatih kembali akan beberapa buah jurus serangan yang baru .... aaah ..menang kalah sudah dapat ditentukan."
Sedikitpun tidak salah, akhirny menang kalah bisa ditentukan juga, Semua orang mendengar suara dengusan berat terlebih dulu setelah itu tampaklah masing2 pihak dengan cepatnya mengundurkan diri beberapa kaki kearah belakang.
Sepasang kakinya menempel permukaan tanah, semuanya berdiri tegak tak bergerak, sedang matanya saling melotot tak berkedip.
Cian Pit Yuan dengan senyum kemenangan yang amat seram berdiri tak bergerak disana.
Sebaliknya air muka Wie Ci To berubah sangat keren, baju dibagian dadanya sudah terobek beberapa coen panjangnya oleh ujung pedang Cian Pit Yuan sehingga pakaian dalamnya pun ikut tergores robek, tetapi tidak terlihat adanya darah yang mengalir keluar.
Dengan sangat terkejutnya Wie Lian In menjerit kaget, hatinya merasa amat kecewa sehingga tubuhnya hampir2 rubuh tak sadarkan diri, Air muka ciangbunjin dari Siauw lim pay, Bu tong pay, Kun Lun Pay, Tiang Pek Pay serta seluruh pendekar pedang merah pada berubah sangat hebat, Ternyata Wie Ci To sudah menemui kekalahan.
Walaupun tubuhnya tidak sampai mengucurkan darah tetapi dengan kekalahannya ini akan mempengaruhi meti hidupnya, karena dengan diri Cian Pit Yuan dia sudah mengadakan perjanjian terlebih dahulu.
Siapa yang kalah dia bakal dihukum oleh pihak lawannya sedang dia sepagai seorang Toa Poocu dari Benteng Pek Kiam Poo yang namanya sudah amat terkenal didalam Bu-lim tidak akan memungkiri perkataannya yang sudah diucapkan, sudah tentu dia akan membiarkan Cian Pit Yuan turun tangan menghukum dirinya.
Senyum kemenangan yang menghias wajah Cian Pit Yuan pun semakin lama semakin menebal, dia memandang sekejap kearah diri Wie Ci To lalu sambil menuding dengan menggunakan pedangnya dia membentak.
"Orang she Wie, kau sudah kalah.."
Siapa tahu baru saja perkataan itu selesai diucapkan air mukanya sudah berubah jadi tertegun.
Pokoknya sinar matanya yang buas dan amat menyeramkan itu hanya didalam sekejap saja sudah berubah jadi amat tawar dan sedih sekali.
Diikuti tubuhnya yang berdiri tegak dengan perlahan-lahan rubuh kedepan dan jatuh tertelungkup diatas tanah.
Apa yang sudah terjadi?
Semua jago dibuat tertegun oleh peristiwa ini.
Untuk beberapa saat lamanya mereka semua tidak mengetahui siapakah yang menang dan siapakah yang kalah, masing-masing dengan mata terbelalak lebar-lebar berdiri mamatung di tempat.
Saat itu cuma Ti Then seorang yang dapat melihat seluruh kejadian itu dengan amat jelas, tampak dia berjalan maju kedepan dan menendang badan Cian Pit Yuan sehingga tidur terlentang, setalah itu dengan menggunakan tangannya dan membuka pakaiannya.
"Gak hu, sambaran pedangmu kali ini sungguh indah sekali!"
Pujinya sambil tertawa.
Waktu itulah semua orang baru dapat melihat kalau pada jalan darah Cang Bun Hiat pada pinggang Cian Pit Yuan sudah dibasahi oleb darah segar karena itulah seketika itu juga mereka mengerti peristiwa apa yang sudah terjadi.
Kiranya sewaktu dia berhasil mcmbabat robek baju bagian dada dari Wie Ci To itulah jalan darah Cang Bun Hiat pada bagian pinggangnya sendiripun terkena satu tusukan pedang dari Wie Ci To.
Sedang dirinya sama sekali tidak merasakan akan hal itu, dia masih mengira dirinyalah yang sudah memperoleh kemenangan.
Setelab semua orang mengerti apa yang telah terjadi, maka tidak kuasa lagi suara tepukan tangan serta teriakan memuji bergema memenuhi seluruh angkasa.
ocooOoooo BEBERAPA puluh jago dari kalangan Hek-to yang melihat kemenangan ada dipihak Wie Ci To tidak berani berada disana lebih lama lagi, masing2 pada bubaran dan melarikan diri dari sana, Hanya didalam sekejap saja seluruh kalangan sudah dibikin bersih dari jago2 kalangan Hek-to.
Suatu angin taupan yang bakal melanda, dengan demikian jadi tenang kembali.
Suara teriawa dari sisekuntum Bunga Bwee Mong Yong Sian Kauw tiba2 memecahkan kesunyian.
"Aaaih . , kiranya pasukan aneh yang disusul oleh Cuo It Sian sama sekali tidak lihay !"
Ujarnya.
"Benar!"
Sahut Kiem Cong Loojien dari Kun Lun-pay,"
Apalagi Tang Loo Koei Bo sinenek tua itu, dia paling mengerti bilamana bukannya dia yang sudah memecahkan rahasia sipenguasa Go yang membeli tenaga mereka dengan uang mungkin badai ombak dan angin taupan yang dahsyat ini tidak bakal sirap dengan sebegitu cepatnya."
"Dia adalah simanusia paling cantik di dalam Bu lim Han Giok Bwee"
Timbrung Wie Lian In pula." -Waktu yang ialu dia menaruh kesalah pahaman terhadap kami dan hendak merebut kitab pusaka Ie Cin Keng, terakhir dia berhasil kami tawan tetapi kemudian kami lepaskan kembali dirinya."
"Kiranya begitu, mungkin dia sengaja memecahkan rahasia sipengua&a Go ini juga dengan maksud untuk membalas budi kalian itu"
Ujar Kiem Cong Loojien.
"Inilah yang dinamakan semangka akan mendapatkan semangka, menanm sayur akan mendapatkan sayur"
Wie CiTo tertawa, dia lantas memerintahkan orang2 dari Benteng untuk membereskan jenasah dari Cian Pit Yuan, setelah itu kepada keempat orang Ciangbunjin ujarnya.
"Meja perjamuan ada kemungkinan sudah dipersiapkan, mari kita masuk kedalam untuk meneguk beberapa cawan arak!". XX XXX Keesokan harinya Yuan Kuang Thaysu serta Leng Cing Ceng-jien berpamit kepada Wie Ci To dan masing2 menuju ke gunung Go-bie dan Cing Shia untuk menyambangi teman2nya, sedangkan Kiem Cong Loojien serta Mong Yong Sian Kauw tetap menjadi tamu didalam benteng Pek Kiam Poo ... Sedangkan suasana didalam Benteng Pek Kiam Poo untuk sementara menjadi tenang kembali. Sebaliknya perasaan hati dari Ti Then tidak dapat tenang, bahkan boleh dikata duduk tidak enak tidurpun tidak tenang, hatinya benar2 terasa kacau sekali karena hari perkawinannya sehari demi sehari mulai mendekat sedangkan tak sebuah akal pun didapat olehnya hal ini membuat hatinya bertambah tidak tenang. Terhadap diri Wie Lian In dia sama sekali tidak mempunyai perasaan "
Sayang atau keberatan "
Bilamana dia bisa pergi dan membereskan urusan ini maka walau pun seperempat jam pun dia tidak ingin berada lebih lama lagi didalam Benteng Pek Kiam Poo.
Tetapi dikarenakao ancaman dari majikan patung emas membuat dia orang mau tidak mau harus mengambil satu keputusan untuk menyelesaikan urusan ini, barang yang diinginksn oleh majikan patung emas agaknya harus didapatkan juga, bilamana dirinya tanpa memperdulikan lagi segala urusan dan meninggalkan benteng Pek Kiam Poo maka majikan patung emas pasti akan menggunakan cara yang paling kejam dan paling ganas untuk membinasakan Wie Ci To ayah dan anak.
Walaupun Ti Then merasa harga diri adalah amat penting tetapi nyawa dari Wie Ci To ayah beranak jauh lebih penting lagi.
dia tidak akan mengorbankan nyawa Wie Ci To ayah beranak, karena ingin menjaga harga dirinya sendiri.
Bahkan undangan sudah dibagikan, bilamana dia melarikan diri dari Benteng Pek-Kiam Poo bukankah Wie Ci To ayah beranak bakal kehilangan muka dihadapan orang2 Bu-lim ?
Maka itulah saat ini dia sudah berada didalam keadaan kepepet.
keadaannya seperti sedang menunggang harimau sekali pun mati tidak boleh melakukan niatnya tersebut.
Satu2nya cara yang dapat dilakukan oleh dia adalah didalam sepuluh hari sebelum hari perkawinannya ini berusaha untuk menyelidiki nama serta asal usul dari majikan patung emas, bilamana nama serta asal usul dan majikan patung emas ini dapat diketahui olehnya maka ada kemungkinan dia masih bisa memikirkan satu cara untuk menghadapinya.
Tetapi, harus membutuhkan beberapa waktu dia baru berhasil mengetahui nama serta asal-usul dari majikan patung emas ini?
Hal ini sama sekali tak terpikir olehnya!
Hari itu, sewaktu dia lagi memberi petunjuk ilmu pedang kepada seorang pendekar pedang mendadak masuklah kedalam benteng seorang pemuda dengan menunggang kuda, jika dilihat dari gagang pedang merah yang tersoren pada pinggangnya jelas dia merupakan seorang pendekar pedang merah.
Ketika dilihatnya pula perawakan tubuh dari orang itu mendadak hatinya merasa rada bergerak, kepada seorang pendekar pedang putih yang ada disampingnya dia lantas bertanya .
"Eeeei ..pendekar pedang merah itu apakah anggota dari Benteng kita?".
"Benar, apakah Ti Kiauw-tauw sudah lupa ??".
"Pendekar pedang didalam Benteng kita, ada sembilan puluh orang banyaknya, bahkan ssbagian bssar berkelana didalam dunia kangouw, sudah tentu aku tidak akan kenal satu persatu"
Sahut Ti Then pura2 serius.
"Saudara ini tentunya Ti Kiauw-tauw pernah menemuinya, dia baru dua bulan yang lalu pulang kerumah menjenguk keluarganya. Ini hari dia baru pulang kembali ke dalam Benteng kita !".
"Dia tentu Yuan Cia-heng?"
"Salah ! Dia adalah Phoa Loo Tek, usianya jauh lebih besar dua tahun dari diri Yuan Cia"
Sahut pendekar pedang putih itu sambil gelengkan kepalanya.
"Aaah ... benar, benar,"
Dia adalah Phoa Loo Tek, heeeei .... bagaimana ingatanku bisa begitu buruk ?"
Saat itulah Phoa Loo Tek sudah turun dari kudanya ditengah kalangan latihan silat itu, sewaktu dilihatnya Ti Then sedang memberi petunjuk ilmu pedang kepada para pendekar pedang lainnya sambil tertawa dia lantas maju menghampiri dan menjura.
"Ti Kiauw-tauw kau sudah pulang ?"
Ujarnya.
"Benar, aku dengar Phoa-heng pun sedang pulang untuk menjenguk keluarga?"
Ujar Ti Then mengangguk.
"Betul, sebenarnya cayhe hendak kembali kedalam Benteng lebih pagian tetapi dikarenakan ibuku selalu tidak memperbolehkan cayhe untuk berangkat maka terpaksa aku harus tinggal satu bulan di rumah ".
"Dimanakah rumah Phoa heng ?"
"Cayhe tinggal disuatu dusun kecil, Swie Mo Kauw, sebelah Barat dari gunung Cing Shia!"
"Aaaah ... tempat itu tidak terlalu jauh, dengan menunggang kuda paling banter cuma dua tiga hari perjalanan "
"Benar!"
"Phoa-heng baru saja kembali kedalam Benteng perjalanan jauh melelahkan sekali, kau pergilah untuk beristirahat!". Phoa Loo Tek segera menyahut dan mengundurkan diri dari sana, Ti Then yang melihat cuaca sudah mendekati siang dia lantas membubarkan para pendekar pedang lalu berjalan menuju kamar istirahat dari sipenembus ulu hati Shia Pek Tha. Sesampainya didalam kamar Shia Pek Tha dia melihat Phoa Loo Tek lagi mencatatkan tanggal kembalinya kedalam Benteng didalam buku.. Shia Pek Tha yang melihat Ti Then berjalan masuk kedalam kamar dia segera bangkit berdiri dan menuding kearah Phoa Loo Tek.
"Ti Kiuw tauw, Phoa Lote ini baru saja kembali dari liburannya."
"Siauw te sudah tahu, kita sudah bartemu muka sewaktu ada dilapangan latihan silat"
Sahut "Ti Then sambil tertawa. Saat ini Phoa Loo Tek sudah menulis tanggal liburannya, setelah itu kepada Ti Then dan Shia Pek Tha dia tertawa dan putar badan berjalan keluar dari kamar.
"Ti Kiauw tauw ada urusan apa?"
Tanya Shia Pek Tha. Ti Then yang mendengar suara langkah dari Phoa Loo Tek sudah menjauh dia berbisik.
"Shia heng, siauwte rada menaruh perasaan curiga terhadap jagoan pedang she Phoa ini!"
Shia Pek Tha jadi melengak.
"Aaah ..apanya kurang beres dari dirinya?"
"Peadekar psdang she Phoa ini tinggal didusun Swee Mo Kauw, jaraknya dari sini cuma ada tiga hari perjalanan saja, tetapi sekali pergi sudah ada dua bulan lamanya, agaknya didalam urusan ini rada sedikit tidak beres."
Mendengar perihal tersebut Shia Pek-Tha segera tertawa.
"Tinggal beberapa hari di rumah adalah biasa, apanya yang tidak beres ?"
"Ingatkah sewaktu tempo hari Siauw-te datang untuk memeriksa buku tersebut ?"
"Masih ingat, bagaimana ?"
Tanya Shia Pek Tha sambil mengangguk.
"Tempo hari sewaktu siauw-te kembali ke dalam benteng dan ditengah jalan melewati gunung Lak Ban San ada satu hari di sebuah rumah penginapan di kota Kiam Bun Koan sudah menemukan dua orang Bu-lim yang lewat dari samping siauw te, salah satu diantaranya sudah berkata;
"Kau harap berlega hati, tadi Phoa Loo Tek sudah berbicara amat jelas sskaii, dia bisa turun tangan memberi bantuan... siauw te yang merasa nama Phoa Loo Tek ini rada dikenal maka setelah dipikir-pikir setengah harian baru teringat kembali kalau didalam Benteng dari antara pendekar pedang merah pun ada seseorang yang bernama Phoa Loo Tek ..."
"Akhirnya bagaimana ?"
Tanya Shia Pek Tha dengan pandangan tajam.
"Menanti siauw-te teringat kembali akan hal ini kedua orang Bu-lim itu sudah pergi tak berbekas, tetapi wajah dari kedua orang itu siauw te masih ingat, jika dilihat dari potongannya jeias dia bukanlah seorang manusia baik2"
"Lalu apakah arti dari perkataan kedua orang itu ?". Dengan perlahan Ti Then gelengkan kepalanya;
"Siauw te sendiri pun tidak paham, akhirnya setelah siauw-te melakukan pemeriksaan di buku catatan itu dan mengetahui kalau Phoa Loo Tek baru pulang kerumah dalam hati siauw-te baru menaruh rasa heran. Bukankah Shia heng tahu jarak antara dusun Swie Mo Kauw serta Kiam Bun Koan ada enam ratus li jauhnya, kalau memangnya Phoa Loo Tek pulang ke rumah bagaimana dia bisa lari ke kokta Kiam Bun Koan yang jaraknya ada enam ratus li itu?"
Shia Pek Tha segera termenung berpikir sebentar, akhirnya dia menjawab juga;
"Apakah Ti Kiauw tauw menaruh curiga kalau alasan Phoa Loo Tek pulang kerumah adalah pura2, sebaliknya secara diam2 dia sudah pergi mengadakan hubungan dengan orang dikota Kiam Bun Koan ?"
"Tidak salah!"
"Bagaimana kalau sekarang juga kita pergi menanyai dirinya ?"
Kata Shia Pek Tha, setelah itu dia lantas melangkah keluar dari dalam kamar. Dengan terburu-buru Ti Then menarik dia kembali.
"Kau tidak boleh berbuat demikian"
Sahutnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa ?"
Tanya Shia Pek Tha melengak.
"Pertama, yang dimaksudkan sebagai Phoa Loo Tek oleh orang itu belum tentu Phoa Loo Tek dari benteng kita, ada kemungkinan nama mereka adalah sama. Kedua, Jikalau misalnya dia orang sendir, maka sekalipun Shia heng tanya dirinya belum tentu dia orang suka mengaku buat apa kita mengejutkan dirinya terlebih dahulu ?".
"Lalu menurut pendapat dari Ti Kiauw tauw kita harus berbuat bagaimana ?"
"Secara diam2 kirim seorang kedusun Swie Mo Kauw untuk menyelidiki apakah dia sungguh-sungguh sudah pulang kerumah. Bilamana orang tuanya menjawab bahwa dia ada disana maka hal ini membuktikan kalau Phoa Loo Tek ini bukanlah dia, sebaliknya bilamana orang tuanya berkata bahwa dia tidak ada dirumah atau mungkin cuma tinggal sehari dua hari saja maka ada kemungkinan dia orang adalah Phoa Loo Tsk yang dimaksudkan kedua orang Bu-lim itu, dengan sendirinya dia adalah seorang yang patut dicurigai."
"Hmmm .., sangat beralasan sekali"
"Kedua orang Bu-lim itu bsrwajah amat menyeramkan, bilamana mereka berasal dari kalangan hitam maka janji Phoa Loo Tek untuk turun tangan membantu sudah tentu bukan satu pskerjaan yang cemerlang, apalagi Poocu kita selalu menasahati seluruh jagoan pedang yang ada didalam Benteng kita untuk menjauhkan diri dari segala kejahatan maka itu urusan ini harus kita selidiki sampai jelas."
"Benar ..benar ..."
Sahut Shia Pek Tha sambil mengangguk berulang kali.
"Ti Kiauw tauw rasa baiknya kirim siapa untuk melakukan penyelidikan ini ?"
"Urusan ini untuk sementara waktu janganlah dilaporkan terlebih dahulu kspada Poocu sehingga jangan sampai pula kawan yang lain mengetahui maka itu maksud dari Siauw te bilamana Shia heng tidak keberatan maka dengan mengambi1 beberapa waktu ini berangkatlah sendiri untuk melakukan penyelidikan, bagaimana maksud dari Shia heng ?"
"Boleh, waktu perkawinan dari Ti Kiauw tauw masih ada enam belas hari lamanya dari sini menuju ke dusun Swie Ma Kauw pun pulang balik cuma membutuhkan enam hari saja, kemungkinan sekali Poocu akan memberi izin uutuk turun gunung, cuma entah harus menggunakan alasan apa untuk minta libur ?"
"Coba Shia-heng pikirlah dengan cermat."
Lama sekali Shia Pek Tha termenung bsrpikir akhirnya dia menjerit kegirangan.
"Aaash. sudah ada, setiap tahun pada waktu begini cayhe tentu akan menuju ke gunung Kiu Cing san untuk menengok istri dari seorang kenalanku yang telah meninggal, biarlah aku menggunakan alasan ini untuk minta ijin."
"Tetapi apa hubungannya antara dirimu dengan dia orang ?"
"Dahulu cayhe mempunyai seorang sahabat karib yang bernama Siauw Tioen Hoo, dia pun merapakan seorang jagoan Bu-lim tapi akhirnya dia dibunuh orang dan meninggalkan seorang istri dengan tiga orang anak, keadaannya sangat kasihan sekali, karenanya setiap tahun cayhe tentu pergi menengok meraka dan membagi sedikit uang buar mereka, urusan ini pun diketahui pula oleh Poocu sendiri."
"Kalau memangnya begitu hal ini amat bagus sekali. Poocu tentu mengijinkan Shia heng untuk pergi keluar."
"Cayhe sekarang juga akan minta ijin kepada Poocu, bilamana Poocu setuju maka cayhe sekarang juga akan berangkat"
Sehabis berkata dengan ter-buru2 dia terus berlalu dari sana. Tidak lama kemudian dengan wajah penuh senyuman dia sudah berjalan kembali lagi.
"Haaa .. haaa . Poocu sudah setuju"
Ujarnya tertawa.
"Dia cuma memberi pesan agar beberapa hari sebelum perkawinan dari Ti Kiauw tauw harus sudah kembali ke dalam Benteng."
Dalam hati Ti Then merasa amat girang sekali.
"Lalu Shia heng mengambil keputusan hendak berangkat sekarang juga ?"
"Tidak salah, cayhe adalah seorang yang mempunyai sifat ingin terburu2, sesuatu urusan setelah diambil keputusan maka segera juga kepingin berangkat"
Dia berganti pakaian, mengambi1 beberapa stel ganti dan beberapa ratus tahil perak yang dibungkus menjadi satu buntalan lalu dipanggul keatas bahu.
"Sudahlah. sekarang aku mau berangkat"
Katanya kemudian.
"Shia heng hendak berangkat dengan menunggang kuda ?"
"Sudah tentu"
"Kawan-kawan Benteng lainnya bilamana melihat secara tiba2 Shia heng berangkat meninggalkan benteng tentu akan menaruh rasa curiga. lebih baik kau pesanlah beberapa patah kata kepada mereka."
"Baiklah, apakah Ti Kiauw tauw ada pesan lainnya ?".
"Tidak ada, Siauw te punya maksud tidak menghantar Shia heng keluar benteng, harap di perjalanan Shia heng suka berhati-hati"
Demikianlah Shia Pek Tha lantas berangkat meninggalkan benteng itu.
Sedangkan Ti Then sendiri pun dengan wajah penuh kegembiraan berjalan kembali kedalam kamarnya.
Apa yang dikatakan pernah bertemu dua orang Bu-lim di kota Kiam Bun Koan sudah tentu adalah perkataaa kosong belaka, tujuan yang utama dari dirinya adalah pergi menyelidiki kemana perginya Phoa Loo Tek selama dua bulan ini, karena dia merasa perawakan badan dari Phoa Loo Tek ini sangat mirip sekali dengan perawakan pemuda berkerudung yang diperintah majikan patung emas untuk menyelidiki dan mengawasi dirinya itu.
Bilamana Shia Pek Tha mendapat tahu kalau Phoa Loo Tek tidak pernah pulang ke rumah atau mungkin cuma beberapa hari saja disana maka delapan bagian Phoa Loo Tek ini adalah si pemuda berkerudung.
Jikalau dia berhasil membuktikan kalau Phoa Loo Tek adalah si pemuda berkerudung itu, dirinya secara diam2 bisa pancing dia keluar dari Benteng kemudian menawan dirinya dan paksa dia untuk mengaku nama serta asal usul dari majikan patung emas, dengan demikian ada kemungkinan dia akan memperoleh cara yang amat baik untuk menghadapi majikan patung emas itu.
Terhadap urusan ini dia menaruh harapan yang amat besar sekali.
Sakembalinya kedalam kamar dia lantas berganti dengan pakaian singsat.
Saat itulah tampak si Loo-cia pelayan tua itu sudah berjalan masuk ke-dalam kamar.
"Ti Kiauw tauw,"
Ujarnya.
"Tadi Coen Lan datang kemari, katanya nona mengundang kau pergi ke-sana setelah bersantap."
"Baiklah."
"Beberapa hari ini agaknya setiap hari nona terus menerus bersembunyi didalam kamar, apakah dia merasa malu?"
"Benar"
Jawab Ti Then tertawa. Mendadak, dengan pandangan mata yang tajam si Loo-cia pelayan tua itu memperhatikN dirinya lalu sambil tertawa tanyanya.
"Ti Kiauw tauw, ada urusan apa yang membuat hatimu jadi begitu gembira ?"
"Urusan yang menggembirakan ?"
Tanya Ti Then melengak.
"Air muka Ti Kiauw tauw amat giraag sekali, tentu ada satu urusan yang menyenangkan hatimu,"
Seru si Loo-cia sambil menuding wajahnya.
"Setiap orang yang menghadapi hari perkawinannya sudah tentu akan bsrsemangat, aku sudah hampir jadi pengantin ... coba kau bilang patutkah aku merasa tidak gembira?".
"Tidak, rasa girang dari Ti Kiauw-tauw kali ini sangat luar biasa sekali, perasaan gembira ini belum psrnah ditemui sejak Ti Kiauw-tauw memasuki benteng Pek Kiam Poo".
"Kau jangan omong sembarangan!".
"Sungguh, hamba yang selama hidup bekerja sebagai pelayan paling pinter melihat perubahan wajah dari majikanku, hati majikanku lagi senang atau sedih hamba mengetahuinya dengan amat jelas sekali". Ti Then tidak banyak bicara lagi dengan dirinya, dia lantas berjalan keluar dari kamar dan menuju ke ruangan makan, karena waktu itu adalah waktu bersantap. xxxxx Selesai bersantap dia berjalan menuju ke kamar Wie Lian In, saat itu dia melihat Wie Lian In lagi duduk disamping Mong Yong Sian Kauw itu si ciangbunjin dari Tiang Pek Pay dan melihat dia sedang menyulam. Dengan amat hormatnya dia lantas menjura kepada diri Mong Yong Sian Kauw setelah itu baru ujarnya kepada diri Wie Lian In.
"Coen Lan tadi bilang kau ada urusan mencari aku ?".
"Aaaah ..tidak ada urusan yang penting"
Sahut Wie Lian In sambil tertawa malu.
"Mong Yong ciangbunjien lagi memberi pelajaran menyulam kepadaku, aku ingin membuatkan satu kantongan uang buat dirimu cuma saja tidak tahu kau suka kembangan yang bagaimana maka aku sengaja mengundang kau kemari".
"Tidak boanpwee sangka Mong Yong ciangbunjin pun bisa menyulam, sungguh luar biasa sekali"
Puji Ti Then kepada Mong Yong Sian Kauw sambil tertawa.
"Aku adalah seorang perempuan sudah tentu mengerti akan menyulam, hal ini ada apanya yang aneh?7"
Seru Mong Yong Sian Kauw tertawa pula.
"Tetapi kau sebagai seorang ciangbunjien suatu partai besar bagaimana ada waktu untuk mempelajari soal begini ??".
"Sekarang aku adalah seorang ciangbunjien tetapi sewaktu kecil tidak, permainan macam ini aku mempelajari ini dari ibuku semasa kecil". Waktu ini dia sedang menyulam sebuah bunga Bwee, kelihatan sulamannya amat bagus sekali.
"Agaknya ciangbunjien amat suka dengan bunga Bwee?"
Tanya Ti Then lagi.
"Bukankah julukanku sebagai sekuntum bunga Bwee?".
"Mong Yong ciangbunjien bukan saja pandai membuat bunga Bwee bahkan bunga yang lain pun saagat indah sekali"
Timbrung Wie Lian In dari samping.
"Lalu kau sendiri sudah bisa mempelajari berapa macam?"
Tanya Ti Then terhadap diri sang nona.
"Sama sekali tidak bisa, maka itu aku mau tanya dulu kau suka dengan bunga apa, setelah kau menyebutkannya maka aku akan mempelajarinya dari Mong Yong ciangbunjien!". Mendengar perkataan tersebut Ti Then segera tersenyum.
"Bilamana diatas kantongan uang disulam sekuntum bunga, hal ini aku rasa rada kurang bagus."
"Kenapa ?"
"Mudah menghamburkan uang hingga habis!"
Jawab Ti Then sambil tertawa. (Huruf Tionghoa "Hoa"
Berarti bunga, berarti pula menghamburkan). Wie Lian In segera tertawa cekikikan.
"Uang yang ada didalam kantongan uang memang seharusnya di-hambur-hamburkan!"
Serunya.
"Mengirit adalah satu kebaikan, buat apa orang harus menghambur-hamburkan uang? aku lihat lebih baik kau sulamkan sebuah kepala harimau saja"
"Kepala macan?"
Tanya Wie Lian In melengak.
"Benar?"
Jawab Ti Then tsrtawa.
"Bilamana diatas kantongan uang disulam dengan seekor kepala macan maka setiap kali aku merogoh kantong untuk mengamhil uang lantas bisa merasakan seperti masuk kedalam mulut macan, maka setiap pengeluaran sangat berhati-hati."
Wie Lian In serta Mong Yong Sian Kauw yang mendengar perkataan tersebut tak terasa lagi segera tertawa keras.
Pada saat mereka bertiga sedang bercakap-cakap itulah mendadak dari luar bangunan terdengar suara si Loo-cia pelayan tua itu sedang berteriak teriak.
"Ti Kiauw tauw ..Ti Kiauw-tauw... diluar ada seorang tamu yang sedang mencari dirimu!"
Mendengar perkataan tersebut Ti Thens segera merasakan hatinya tergetar amat keras, dengan terburu-buru dia mohon pamit dan berjalan keluar.
"Siapa?"
Tanyanya setelah bertemu muka dengan Loocia si pelayan tua itu.
"Orang itu tidak suka melaporkan namanya, dia cuma bilang dirinya kenal dengan Ti Kiauw tauw dan sekarang ada urusan untuk bertemu muka."
Ti Then merasa tidak mungkin ada seorang kawannya yang sengaja datang untuk bertemu muka dengan dirinya karena itu dalam hati dia merasa amat curiga, tanyanya lagi .
"Bagaimana potongan dari orang itu ?".
"Katanya seorang kakek tua, hamba tidak melihatnya sendiri sehlngga tidak begitu jelas".
"Sekarang dia ada dimana?"
"Masih ada didalam pintu luar benteng". Dengan langkah yang tergesa-gesa Ti Then segera berjalan keluar dari pintu luar Benteng. Sewaktu tiba dihalaman depan dia bertemu muka dengan Wie Ci To.
"Loo-cia bilang di luar ada seorang kakek tua yang hendak bertemu dengan siauw say!"
Katanya sambil menghentikan langkahnya.
"Benar, mari kita berjalan keluar untuk melihat sebentar"
Ujar Wie Ci To sambil mengangguk.
Tua muda dua orang segera berjalan keluar dari pintu Benteng, terlihatlah didepan pintu berdiri seorang kakek tua berbaju hijau dengan pada kepalanya tertutup oleh sebuah topi lebar yang terbuat dari rerumput, saat ini dia sedang menundukkan kepalanya sebingga tidak terlihat wajahnya, tetapi jika ditinjau dari sikapnya tidak salah lagi dia adalah searang jagoan dari Bu-lim.
Ti Then sagera mengerutkan alisnya cepat 2, sambil maju merangkap tangannya memberi hormat ujarnya .
"Cayhe adalah Ti Then, entah..."
Si kakek tua berbaju hijau itu mendongakkan kepalanya lalu tersenyum.
Melihat kedatangan dari orang itu, terasa lagi Ti Then segera tertawa sanang, dengan gugup dia berlari kedepan dan jatuhkan diri berlutut.
"Aaaah . , , kiranya adalah Yuan Loocianpwee ..."
Suaranya gemetar, jelas hatinya merasa sangat terharu sekali!
Tidak salah, kakek tua itu adalah Piauw Tauw dari Yong An Piauw-kiok, Si Kiem Kong So, Yuan Siauw Ko adanya.
Dengan cepat Yuan Siauw Ko membangunkan dia.
"Tidak usah banyak adat "
Ujarnya sambil tertawa.
"Loohu dengar kau sudah hampir menikah maka sengaja berangkat kemari untuk menengok dirimu."
Bertemu dengan orang ini Ti Then merasa bertemu dengan orang yang paling rapat dengan dirinya, dsngan rasa yang amat girang dia lantas menoleh kearah Wie Ci To dan ujarnya.
"Gak-hu, dialah Piauw-tauw dari Yong An Piauw-kiok!"
"Nama besar dari Yuan-heng sudah lama aku orang she Wie kagumi, selamat bertemu! selamat bertemu! "
Ujarnya sambil merangkap tangannya menjura. Dengan gugup Yuan Siauw Ko pun membalas hormat itu.
"Kunjungan yang mendadak harap Wie Poocu suka jangan marah."
"Mana ... mana ..mari masuk ke dalam untuk minum teh". Sambil berkata dia menyingkir ke samping mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam. Mereka bertiga segera mengambil tempat di ruangan tengah Benteng dan duduk menurut urutan. Ti Then lantas menghidangkan air the, setelah masing2 pihak berbicara beberapa kata kesopanan terdengarlah dengan wajah serius Wie Cl To berbicara.
"Mengenai peristiwa lenyapnya barang kawalan sewaktu Ti Then bekerja di dalam Piauw-kiok Yuan-heng, aku orang she-Wie baru tahu pada kurang lebih sebulan yang lalu, karena urusan ini bocah ini makan tidak enak tidur tidak tenang. Tetapi aku orang she-Wie sudah berjanji setelah perkawinan mereka aku akan mengerahkan ssluruh pendekar pedang yang ada untuk menyelidiki jejak dari si Hong Liuw Kiam Khek ini, aku tidak percaya dia bisa lenyap".
"Bilamana Wie Poocu suka turun tangan memberi bantuan sudah tentu Loohu merasa sangat berterima kasih sekali"
Ujar Yuan Siauw Ko sambil tertawa.
"Tetapi sejak semula Loohu sudah tidak pikirkan urusan ini didalam hati, apakah lain kali berhasil menemukan kembali barang kawalan yang lenyap itu soal tersebut sudah tidak terlalu penting lagi."
"Apa maksud dari psrkataan Yuan-heng itu?"
"Loohu sudah mengganti lenyapnya barang itu dengan si pemilik barang, sedang terhadap mereka pun tidak ada tanggung jawab lagi maka itu dapatkah kita menemukan kembali barang itu loohu rasa bukanlah satu urusan yang penting."
"Yuan-heng sangat lapang dada menganggap harta seperti kotoran, sungguh membuat Loohu merasa amat kagum, tetapi di pihak Ti Then hal ini tidak bakal menenangkan hatinya, karena dia sudah mencelakai seluruh keluarga Yuan-heng."
"Usia Loohu sudah lanjut, terhadap pekerjaan pun sudah tidak terlalu mementingkan, setelah berkelana selama beberapa tahun didalam Bu-lim, loohu merasa sudah bosan dan ingin beristirahat saja."
"Tidak perduli bagaimana pun lenyapnya barang kawalan itu harus berusaha untuk dicari kembali"
Ujar Wie Ci To dengan wajan yang amat serius.
"Hal ini bukan saja demi Yuan-heng tetapi demi Ti Then pula. Sejak dia menjabat sebagai Kiauw tauw didalam benteng aku orang she Wie jarang sekali melihat wajahnya menampakkan kegembiraan, selalu saja dia merasa amat murung, kini dia sudah menjadi menantu dari aku orang she Wie, maka aku orang seharusnya memberi satu kebahagiaan kepada mereka. Mendengar psrkataan tersebut saking terharunya tidak kuasa lagi Ti Then mengucurkan air matanya, Dia benar2 merasa terharu, luka dihatinya pun terungkap kembali. Dengan sedihnya Yuan Siauw Ko menghela napas panjang.
"Sudah tentu Loohu sendiri pun sangat mengharapkan barang kawalan yang sudah lenyap itu bisa dicari kembali, bilamana Wie Poocu bisa bantu mencarinya kembali maka Loohu bersedia untuk menyumbangkan separohnya untuk menolong kaum miskin"
"Lao-heng serta putrimu apa tidak ikut datang ?"
Tiba-tiba Ti Then menyambung dari samping.
"Setelah pertemuan kita dulu, sebulan kemudian Loohu sudah menikahkan Lao Ie dengan putriku, kini mereka tinggal di rumah"
"Apakah mereka sudah tidak ikut loocianpwee menjual silat ?"
"Benar! "
Sahut Yuan Siauw Ko sambil mengangguk.
"Alasannya ada dua, pertama; sekaraag Lan-jie sudah mengandung sehingga tidak leluasa baginya untuk berluntang-lantung didalam dunia kangouw. Kedua. Lao Ie sekarang sudah menjadi Piauw-su dari Liong Hauw Piauw-kiok, penghidupan mereka pada saat ini lumayan juga"
"Lalu kau sendiri?"
Tanya Ti Then dengan rasa kuatir.
"Menganggur, heeeei .... di kota Han Yang Loohu buka sebuah perguruan silat dan menerima murid, idep2 mencari tambahan sesuap nasi!"
"Bilamana bisa mencari satu tempat untuk tinggal memang jauh lebih baik dari pada harus berkelana terus didalam Bu-lim ..."
Seru Ti Then dengan rada lega.
"Kapan kau akan menikah dengan nona Wie ?"
Tanya Yuan Siauw Ko kemudian.
"Masih ada enam belas hari lagi".
"Apakah Yuan-heng suka menetap selama beberapa hari disini ?"
Sambung Wie Ci To kemudian.
"Baiklah, Loohu sengaja datang kemari untuk memberi selamat sudah tentu baru pulang setelah perkawinan mereka selesai, asalkan tidak mengganggu ketenangan didalam Benteng, loohu tentu akan tinggal disini".
"Aaaah ... buat apa Yuan-heng membicarakan perkataan tersebut ? Tempo hari aku orang she Wie pun pernah membicarakan soal Yuan-heng dengan diri Ti Then, cuma karena tidak mengetahui dimanakah Yuan-heng berada maka sulit untuk mengirim undangannya keluar, kini Yuan-heng sudah datang, sudah tentu hal ini amat bagus sekali"
Sedang mereka bercakap-cakap terlihatlah ciangbunjien dari Kun Lun Pay Kiem Cong Loojien ber-sama2 dengan ciangbunjien dari Tiang Pek Pay, Mong Yong Sian Kauw sudah berjalan masuk ke dalam ruangan.
Dengan cepat Wie Ci To memperkenalkan mereka berdua dengan Yuan Siauw Ko setelah itu baru ber-sama2 mengambil tempat duduk, karena semuanya adalah orang2 dari kalangan dunia kangouw maka apa yang dibicarakan pun tidak akan lebih dari persoalan tersebut.
Malam itu Wie Ci To mengadakan perjamuan untuk menjamu diri Yuan Siauw Ko, orang yang ada didalam perjamuan itu, Kiem Cong Loojien.
Mong Yong Sian Kauw, mereka dengan amat gembiranya bersantap dan minum arak sehingga tengah malam baru bubaran.
Setelah itu Ti Then menghantar sendiri Yuan Siauw Ko ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
Baca Juga: Sepasang Naga Penakluk Iblis 4
Baca Juga: Bayangan Bidadari 6