Eps 4 Sepasang Naga Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo
Baca online Sepasang Naga Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo
Cersil Sepasang Naga Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo.
"Saya Tan Cin Hay ingin sekali berkunjung ke rumah Paman Thio Wi Han, akan tetapi, mereka ini menghalangiku."
"Thio locianpwe, benarkah pemuda ini adalah keponakanmu?"
Yauw Ban bertanya dan pertanyaannya ini menunjukkan bahwa Yauw Ban lebih pandai menggunakan pedangnya dari pada otaknya.
Tentu saja Cin Hay menjadi girang karena dia kini yakin bahwa dia berhadapan dengan Thio Wi Han, pembuat pedang pusaka itu.
"Paman Thio, lihat, mereka bahkan telah menawan Song Tek Hin, seorang keponakanmu yang lain,"
Katanya menunjuk ke arah Song Tek Hin yang sudah dibelenggu kedua tangannya dan dikawal oleh Cap-sha-kwi. Kakek itu sejenak memandang kepada Cin Hay, lalu kepada Tek Hin dan dia mengangguk.
"Benar, mereka adalah keponakan-keponakanku, dan aku minta agar dia dibebaskan dari belenggu."
Yauw Ban dan kawan-kawannya ragu-ragu, akan tetapi kakek itu membentak lagi walaupun suaranya tetap halus.
"Cepat bebaskan dia! Kalian ini tamu-tamu yang sama sekali tidak tahu aturan, keluarga tuan rumah bahkan diganggu dan ditawan!"
Yauw Ban menjadi serba salah dan terpaksa dia memberi isyarat kepada Kwa Ti, orang pertama Cap-sha-kwi, untuk membebaskan Tek Hin.
Akan tetapi pada saat itu ada angin menyambar dan muncullah seorang kakek lain yang membuat Cin Hay terkejut sekali.
Kakek tinggi besar, bermuka hitam menyeramkan, matanya lebar, kumis, cambang dan jenggotnya lebat sekali, pakaiannya seperti pakaian hartawan dengan jubah pendeta berwarna merah, usianya lebih dari enampuluh tahun.
Seorang yang menyeramkan dan tanpa diperkenalkan diapun dapat menduga bahwa tentu inilah yang disebut Hek-sim Lo-mo, seorang di antara Sembilan Datuk Iblis!
Dari kemunculannya saja yang demikian tiba-tiba mendatangkan angin keras, dapat diketahui bahwa kakek ini berilmu tinggi!
"Jangan bebaskan dia dulu!"
Katanya dan dia menghadapi Thio Wi Han. Thio Wi Han menghadapi Hek-sim Lo-mo dengan sikap dingin.
"Hemmm, kiranya engkau yang datang. Hek-sim Lo-mo. Lihat, orang-orangmu mengganggu dua orang keponakanku yang datang untuk berkunjung kepada paman dan bibinya."
Hek-sim Lo-mo tidak kelihatan membuka mulutnya, namun terdengar suara ketawa dari dalam dadanya.
"Ha-ha-ha-ha! Thio Wi Han, saat ini engkau sedang mengerjakan sesuatu yang amat penting dan sebelum pekerjaan itu selesai, tidak boleh ada orang lain mengganggumu. Biarlah kedua orang keponakanmu ini menjadi tamu-tamuku lebih dulu. Setelah pekerjaanmu selesai, barulah mereka akan kulepaskan dan beramah-tamah denganmu."
Cin Hay mendapatkan kesempatan untuk mencoba sampai di mana kelihaian pimpinan dari gerombolan jahat yang kini menguasai Kim-san Liong-cu itu, maka sebelum Thio Wi Han menjawab, dia sudah mendahului dan melangkah maju menghadapi kakek raksasa hitam itu dalam jarak dua meter.
"Hek-sim Lo-mo!"
Katanya dengan lantang.
"Paman Thio adalah seorang tua yang terhormat dan kini menjadi tuan rumah di tempat tinggal sendiri. Engkau dan anak buahmu hanya tamu-tamu, bagaimana kalian yang kini hendak menetapkan peraturan? Sungguh tidak tahu diri. Aku berani bertaruh bahwa kedatanganmu inipun tentu hanya untuk minta tolong kepada paman Thio untuk membuatkan sesuatu. Kalau kalian sebagai tamu tidak setuju dengan peraturan paman Thio yang menjadi tuan rumah, silakan kalian angkat kaki dan pergi dari sini sekarang juga!"
Semua orang, termasuk Thio Wi Han sendiri, terbelalak mendengar ucapan pemuda pakaian putih itu.
Betapa lancangnya!
Betapa beraninya!
Juga Hek-sim Lo-mo sendiri melotot, bukan karena marah melainkan lebih karena heran ada orang berani bersikap dan berkata seperti itu kepadanya, dan yang bicara itu seorang muda lagi!
Kemudian dia tertawa, sekali ini dia membuka mulut sehingga suara ketawanya mendatangkan getaran dahsyat sekali.
Beberapa orang anak buah Cap-sha-kwi sampai terjungkal karena lutut mereka seperti lumpuh mendengar suara ketawa yang getarannya amat kuat itu!
Tentu saja Cin Hay maklum bahwa datuk ini mengerahkan tenaga khi-kang dalam suara ketawa itu, akan tetapi dia mengerahkan tenaga dan tidak berpengaruh sedikitpun juga.
"Hoa-ha-ha-ha! Engkau orang muda, anak kecil yang masih ingusan, tentu engkau belum mengenal siapa aku maka berani bersikap seperti ini!"
Dengan sengaja Cin Hay mengeluarkan kata-kata keras yang dimaksudkan untuk memancing kemarahan datuk itu.
"Engkau keliru, Hek-sim Lo-mo. Aku mengenal siapa engkau. Aku sudah mendengar bahwa Kiu Lo-mo, Sembilan Iblis Tua, telah turun ke dunia untuk membikin kacau dan engkau adalah seorang di antara mereka. Tadinya kusangka bahwa Kiu Lo-mo adalah iblis-iblis tua yang melakukan hal-hal besar, tidak tahunya engkau seorang di antara mereka, hanyalah seorang penjahat kecil saja yang mengandalkan banyak anak buah untuk menekan seorang bijaksana seperti paman Thio ini dan bertindak sewenang-wenang. Hemm, kalau begitu, nama besarmu hanya akan menjadi buah tertawaan orang sedunia kang-ouw, Hek-sim Lo-mo!"
Wajah Thio Wi Han menjadi pucat.
Celaka, pikirnya.
Pemuda ini sudah gila rupanya, terlalu berani dan tentu dia akan mati setelah berani mengeluarkan ucapan menghina seperti itu kepada Hek-sim Lo-mo yang sakti!
Wajah yang hitam dari Hek-sim Lo-mo menjadi semakin hitam ketika darah naik ke kepalanya.
Ada uap mengepul dari kepala itu, tanda bahwa kepalanya panas dan dia marah bukan main.
"Anjing kecil, engkau layak mampus!"
Katanya dan tiba-tiba dia mendorongkan kedua tangannya ke depan, telapak tangannya menghadap ke arah Cin Hay.
Pemuda ini sudah menduga bahwa kakek datuk itu sakti, maka dia tidak berani memandang rendah.
Cepat diapun menekuk kedua kakinya, mengerahkan sinkang sekuatnya dan diapun mendorongkan kedua telapak tangan ke depan.
Dua tenaga raksasa bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Cin Hay terdorong mundur sampai beberapa meter sedangkan tubuh Hek-sim Lo-mo bergoyang-goyang!
Akan tetapi, Cin Hay tidak terluka dan tidak terjengkang.
Dia tadi mengerahkan sinkang dan menggunakan tenaga lemas untuk menahan dorongan yang amat kuat itu, maka dia terdorong mundur namun tidak terluka.
Hek-sim Lo-mo yang tadinya sudah tersenyum kemenangan, kini terbelalak dan mulutnya ternganga melihat betapa pemuda yang terdorong mundur itu masih dalam keadaan memasang kuda-kuda dan bahkan tersenyum, sedikitpun tidak terluka atau roboh!
Dia menurunkan kedua tangannya dan memandang, matanya mencorong penuh rasa marah dan penasaran.
Cin Hay meloncat lagi ke depan, kini dalam jarak kurang dari dua meter di depan kakek itu.
"Tenagamu memang kuat Hek-sim Lo-mo, akan tetapi belum cukup kuat untuk merobohkan aku. Apakah engkau masih memiliki ilmu lain yang lebih hebat?"
Cin Hay memang sengaja menantang, dan tadipun dia sengaja menyebut tentang penggunaan anak buah agar datuk itu tersinggung dan menyerangnya tanpa mengandalkan pengeroyokan anak buahnya.
Dan bakarannya ini berhasil baik sekali.
Hek-sim Lo-mo menjadi marah dan dari kedua matanya seperti keluar api, hidungnya mendengus tiga kali seperti seekor kuda yang marah.
"Bocah sombong, makin lama semakin kurang ajar engkau! Kalau belum dihajar, takkan tahu siapa sesungguhnya Hek-sim Lo-mo!"
Katanya dan tubuhnya menerjang ke depan.
Biarpun usianya sudah enampuluh tiga tahun lebih, dan tubuhnya tinggi besar, namun serangan ini sungguh mengejutkan karena gerakannya cepat bukan main, seperti seekor biruang yang marah.
Tahu-tahu dia telah menyerang dari kanan kiri dengan kedua tangan yang berlengan panjang.
Melihat gerakan kedua lengan itu, sungguh mirip dua ekor ular besar yang menyambar mangsanya dengan moncong dibuka lebar.
Dan memang kakek ini seorang yang memiliki ilmu silat ular yang amat berbahaya.
Lengannya dapat bergerak cepat sekali seperti ular, meliak-liuk dan tangannya membentuk kepala ular dengan moncong dibuka, kuku-kuku kedua tangan itu seperti gigi-gigi ular yang beracun.
Cin Hay tidak berani memandang rendah.
Pernah mendiang gurunya bercerita tentang nama besar Kiu Lo-mo yang merupakan sembilan orang datuk sesat yang amat tinggi ilmunya.
Diapun cepat mengerahkan tenaga sin-kang dan mempergunakan kelincahan tubuhnya dan langkah-langkah kaki untuk menghindarkan semua serangan lawan dan membalas secepatnya dengan totokan-totokan dan pukulan-pukulan maut.
Terjadilah perkelahian yang amat hebat.
Angin pukulan menyambar-nyambar, bahkan kadang-kadang mengeluarkan suara angin bercuitan, orang-orang mundur teratur, tidak berani mendekat karena amat berbahaya kalau kena disambar pukulan sehebat itu.
Tubuh kedua orang itu lenyap bentuknya, berubah menjadi dua bayangan orang yang saling serang, bayangan putih dan bayangan merah.
Kadang-kadang terdengar dua benda bertemu, yaitu kedua lengan mereka saling bertemu membawa tenaga sin-kang yang kuat sekali sehingga benturan kedua tengan itu terasa getarannya oleh semua orang.
Namun, Cin Hay sungguh merupakan seorang pendekar muda yang hebat dan gigih sekali.
Gerakan-gerakannya mantap, dan sama sekali dia tidak sampai terdesak karena dia membalas setiap serangan lawan dengan serangan yang tidak kalah hebatnya.
Beberapa kali kalau serangannya nyaris mengenai lawan namun tetap dapat terelakkan, atau kalau lengan mereka saling bertemu dengan dahsyatnya, Hek-sim Lo-mo mengeluarkan suara gerengan seperti suara binatang buas.
"Hyaattt!"
Tiba-tiba Hek-sim Lo-mo membentak dan tangan kanannya memukul dengan kuatnya ke arah kepala Cin Hay.
Pemuda ini cepat mengelak ke kiri sambil membuat tangkisan melingkar dengan tangan kanannya.
Akan tetapi, tangan kanan Hek-sim Lo-mo membalik ke bawah dan menangkap pergelangan tangan Cin Hay.
Cin Hay segera mengerahkan sin-kangnya untuk menjaga lengan yang tertangkap, memutar kaki dan tangan kirinya mencuat ke arah mata kanan lawan!
Serangan ini berbahaya sekali sehingga Hek-sim Lo-mo terpaksa melepaskan cengkeramannya dan menangkis, tangan kirinya menyambar dari bawah ke arah ulu hati lawan.
Cin Hay memapaki serangan tangan kiri itu dengan tangan kanannya.
"Plakkkk!"
Kedua tangan bertemu saling dorong dan tubuh Cin Hay terdorong mundur sampai setombak.
Dia cepat membalikkan tubuhnya karena pada saat itu dia mendengar angin pukulan lawan kembali datang.
Dengan melangkah mundur, Cin Hay merasa yakin bahwa pukulan itu tidak akan dapat mencapai tubuhnya.
Akan tetapi lengan lawan itu terus mulur dan biarpun jarak mereka ada dua meter, tangan itu masih menyambar ke arah mukanya!
Baru tahulah Cin Hay bahwa lawannya memiliki ilmu yang aneh itu, yaitu lengannya dapat mulur seperti karet!
"Ihhhh!"
Dia melempar diri ke belakang dan berjungkir balik.
Nyaris mukanya kena dicengkeram sehingga keringat dingin membasahi leher Cin Hay yang merasa ngeri.
Lawannya sungguh lihai bukan main!
Ketika dia melompat lagi menghadapi lawan, Cin Hay lalu melakukan gerakan aneh dan dia mulai mainkan jurus-jurus aneh dari ilmu silat Pek-liong Sin-kun (Silat Sakti Naga Putih) ciptaan gurunya yang telah dikuasainya dengan sempurna dan yang jarang dia mainkan.
Kini, bertemu dengan lawan yang demikian saktinya, yang dalam segala hal bahkan lebih tinggi tingkatnya dibandingkan dengannya, terpaksa dia mengeluarkan ilmu silat simpanannya itu.
Kembali terjadi saling serang yang hebat dan dengan ilmu silat Pek-liong Sin-kun ini, Cin Hay bukan saja dapat membendung semua gerakan lawan, bahkan dapat membalas dan membuat datuk itu agak kerepotan karena Hek-sim Lo-mo sama sekali tidak mengenal ilmu silat yang aneh dan berbahaya itu.
"Plakkk!"
Dengan desakan sebuah jurus yang ampuh, tangan kiri Cin Hay berhasil menampar pundak lawan.
Tidak hebat memang, namun cukup membuat Hek-sim Lo-mo menggereng karena malu dan marah!
Dia membalas dengan dorongan tangan kirinya ke arah leher Cin Hay.
Pemuda ini memiringkan tubuh sehingga dorongan tangan itu lewat di atas pundaknya, akan tetapi tiba-tiba tangan yang mulur panjang itu membalik dan menyerangnya dari belakang dengan cengkeraman!
Cin Hay terkejut, namun tidak gugup karena dia sudah tahu bahwa lengan lawannya dapat mulur.
Sambil miringkan tubuh, dia menangkis tangan yang datang dari belakang tadi, dan tangan yang lain menusukkan jari ke arah mata lawan.
Hek-sim Lo-mo semakin marah karena semua akalnya dapat dipunahkan oleh Cin Hay.
Dia mencabut pedangnya dan tanpa banyak cakap lagi dia memutar pedang dan menyerang dengan dahsyatnya!
Cin Hay cepat mengelak dan berloncatan, namun ilmu pedang kakek itu sungguh dahsyat bukan main, membuat Cin Hay segera terdesak!
Cin Hay kini terdesak dan terkurung oleh sinar pedang yang bergulung-gulung dan dia maklum bahwa kini dia benar-benar terancam.
Ketika dia meloncat untuk menghindarkan babatan pedang ke arah kakinya, dia disambut tangan kiri yang mulur dan pukulan menyerempet bahunya, membuat dia terjatuh!
Pedang menyambar ganas dan Cin Hay masih berhasil menghindarkan diri dengan bergulingan, dikejar oleh gulungan sinar pedang!
Pada saat itu, Thio Wi Han meloncat ke depan.
"Tahan, Hek-sim Lo-mo!"
Melihat kakek ini menghadang, hampir saja Hek-sim Lo-mo membabatkan pedangnya.
Akan tetapi dia teringat akan pesanan pedang pusaka, maka dia menahan pedangnya dan memandang kepada pembuat pedang itu dengan mata melotot.
"Minggirlah, Thio Wi Han. Akan kubunuh setan cilik itu!"
Bentaknya.
"Tidak, Hek-sim Lo-mo. Kalau engkau membunuh kedua orang pemuda itu, aku tidak akan menyelesaikan pesanan pedangmu, biar kaubunuh pun aku tidak akan mau menyelesaikan!"
Katanya ketika melihat betapa Yauw Ban sudah berada di sampingnya dan menempelkan pedang di lehernya. Sikap kakek ini gagah dan berwibawa, sedikitpun tidak memperlihatkan kekhawatiran atau ketakutan.
"Tan Cin Hay, menyerah kau, atau kami akan lebih dulu membunuh kakek Thio Wi Han dan saudaramu itu!"
Kata Yauw Ban.
Cin Hay melirik dan melihat betapa sebatang golok ditempelkan pula di leher Song Tek Hin.
Melihat Cin Hay menoleh kepadanya, Tek Hin yang sudah ditempeli golok di lehernya itu berteriak.
"Taihiap, jangan perdulikan aku. Aku tidak takut mampus! Sebaiknya engkau basmi srigala-srigala jahat ini sebelum mereka menyebar kejahatan kepada orang lain!"
"Plakk!"
Seorang di antara Cap-sha-kwi menampar mulutnya dan bibir pemuda itu penuh berdarah. Namun, Tek Hin tidak menjadi gentar.
"Biar mereka menyiksaku, membunuhku, aku tidak takut. Jangan mau menyerah, taihiap! Mereka ini curang dan licik!"
Kembali dia berteriak.
"Hek-sim Lo-mo! Kalau engkau tidak membebaskan kedua orang pemuda itu, sungguh mati aku tidak sudi menyelesaikan pedangmu!"
Thio Wi Han berteriak lagi mengancam. Sejenak saja Hek-sim Lo-mo bimbang, lalu dia menyimpan pedangnya.
"Aku tidak akan membunuh mereka, akan tetapi mereka berdua itu harus menjadi tawananku dan baru akan kubebaskan setelah engkau menyelesaikan pedang-pedangku!"
Thio Wi Han bimbang, akan tetapi Cin Hay yang mengkhawatirkan keselamatan kakek itu dan Tek Hin, berkata kepadanya.
"Paman Thio, biarlah aku dan Tek Hin menjadi tawanan. Sebagai seorang datuk besar, tentu Hek-sim Lo-mo tidak akan melanggar janjinya."
THIO WI HAN mengangguk.
Dia tadipun melihat bahwa betapa lihainya pun Cin Hay, pemuda itu masih belum dapat mengalahkan Hek-sim Lo-mo yang amat lihai ilmu pedangnya.
Untuk sementara ini, yang penting adalah menghindarkan dua orang pemuda itu dari maut.
"Baiklah, Hek-sim Lo-mo. Akan tetapi engkau berjanjilah dulu bahwa engkau dan anak buahmu tidak akan membunuh kedua orang pemuda ini, dan akan membebaskan mereka setelah pedang-pedang itu kuselesaikan."
Hek-sim Lo-mo menyeringai.
"Aku berjanji."
Lalu kepada Yauw Ban dan kawan-kawannya dia memerintah.
"Tangkap mereka, belenggu kaki tangan mereka, akan tetapi jangan disiksa dan jangan diganggu!"
Cin Hay tidak melihat jalan lain kecuali menyerah, ketika kaki dan tangannya dipasangi rantai baja.
Kalau dia melawan, tentu Thio Wi Han dan Song Tek Hin mereka bunuh.
Juga dia tadi sudah merasakan kelihaian Hek-sim Lo-mo.
Datuk itu saja dia tidak mampu kalahkan, apa lagi kalau datuk itu dibantu oleh semua anak buahnya yang rata-rata amat lihai.
Akan tetapi Song Tek Hin marah-marah dan kecewa sekali melihat Cin Hay menyerah.
"Tai-hiap, engkau kena ditipu! Kalau engkau menyerah, akhirnya mereka ini tentu akan membunuh pula engkau, aku dan paman Thio! Sia-sia saja pengorbananmu. Kalau engkau melawan, biarlah mereka memhunuhku, aku tidak penasaran karena engkau tentu akan berhasil membasmi mereka."
Cin Hay tersenyum dan menggeleng kepala.
"Tenang dan bersabarlah, saudara Song Tek Hin."
Diam-diam dia suka sekali kepada pemuda yang biarpun ilmu silatnya tidak begitu tinggi, namun amat gagah perkasa ini.
Dua orang pemuda itu dimasukkan ke dalam sebuah pondok darurat di belakang rumah Thio Wi Han, dan kamar mereka dipasangi jeruji besi yang kokoh kuat.
Para pembantu utama Hek-sim Lo-mo bergiliran melakukan penjagaan di luar kamar tahanan itu.
Thio Wi Han sendiri kembali ke tempat kerjanya.
Dibantu isterinya, dia melanjutkan penyelesaian pembuatan sepasang pedang.
Yang sebatang berwarna keputihan, yang kedua berwarna kehitaman.
Yang putih agak lebih panjang dari pada yang hitam.
Kakek yang ahli ini telah berhasil memisahkan dua macam baja yang terkandung dalam benda aneh yang disebut Kim-san Liong-cu itu, mencampurnya dengan baja yang dibawa oleh Cap-sha-kwi dan membuatnya menjadi sepasang pedang itu.
Menurut keterangannya kepada Hek-sim Lo-mo, pedang yang panjang itu adalah pedang jantan dan diberi nama Pek-liong-kiam (Pedang Naga Putih) sedangkan yang hitam adalah pedang betina dan diberi nama Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam).
Kini, kedua pedang itu sudah terbentuk, sudah hampir jadi, tinggal memperhalusnya lagi saja.
Nampak indah sekali.
Malam itu, di dalam kamar mereka, Thio Wi Han dan isterinya bicara dalam bisik bisik.
Mereka bersikap waspada sekali dan baru setelah mereka yakin bahwa tidak ada orang lain yang akan mampu menangkap percakapan mereka, suami isteri ini berbisik-bisik dengan saling mendekatkan mulut dengan telinga, di atas pembaringan.
"Tidak ada lain jalan, kita harus melarikan sepasang pedang itu, sekali-kali kedua pusaka itu tidak boleh jatuh ke tangan mereka."
"Akan tetapi, itu berbahaya sekali!"
Bantah isterinya.
"Kalau kita ketahuan, kita takkan mampu melawan mereka dan kita tentu akan mereka bunuh!"
"Kaukira mereka tidak akan membunuh kita kalau pedang itu sudah selesai? Aku tahu orang-orang macam apa mereka itu. Hal ini sudah sejak semula kurencanakan, karena itu, aku membuat sepasang pedang palsu itu, sedangkan yang aseli diam-diam kuselesaikan. Engkau masih menyimpan Hek-liong-kiam yang aseli itu, bukan?"
Isterinya mengangguk.
"Di tempat yang aman."
"Bagus! Sekarang, kebetulan muncul dua orang pemuda itu. Yang bernama Tan Cin Hay dan berpakaian putih itu memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat.
"Hanya Hek-sim-lo-mo yang mampu menandinginya, dan kalau dia memegang Pek-liong-kiam, kukira dia akan mampu menandingi Hek-sim Lo-mo. Kita pergunakan kesempatan baik ini untuk melarikan diri bersama mereka."
"Tapi......, mereka sendiri tidak berdaya, dalam tawanan......"
"Aku akan membebaskan mereka."
"Ah, itu berbahaya sekali...... aku khawatir akan keselamatanmu......"
Thio Wi merangkul isterinya.
"Jangan khawatir. Dalam saat terakhir dari usia kita yang sudah tua ini, kita harus melakukan hal yang tepat dan baik. Menyerahkan sepasang pedang ini ke tangan mereka berarti kita membuat dosa besar karena di tangan mereka, sepasang pedang ini hanya akan mendatangkan banjir darah. Kita harus berdaya upaya agar pedang ini jatuh ke tangan pendekar yang layak menerimanya agar sepasang pedang ini dapat dipergunakan untuk menentang kejahatan. Setidaknya sebuah di antara kedua pedang ini, harus jatuh ke tangan orang yang layak."
Isterinya mengangguk.
"Engkau benar. Kita sudah tua, kematian bukan apa-apa bagi kita, akan tetapi dosa akan memberatkan batin. Apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Begini, mereka tidak mencurigaimu dan engkau tidak pernah diawasi. Yang diawasi hanya aku. Maka, besok pagi engkau seperti biasa bawalah keranjang untuk mencari sayur ke ladang kita, dam sembunyikan Hek-liong-kiam di balik bajumu sampai tidak kentara dari luar. Larikanlah pedang itu keluar dusun. Sebaiknya engkau mengambil jalan jurusan timur, memasuki hutan cemara itu. Mengerti?"
Isterinya mengangguk.
"Dan engkau?"
"Aku akan lari ke barat. Kita harus berpencar agar setidaknya sebatang di antara dua pedang itu dapat diselamatkan."
"Tapi itu berbahaya sekali. Mereka mengawasimu dan engkau tentu tidak akan dapat lari jauh......"
"Jangan khawatir. Sudah kurencanakan semua. Sebelum lari, aku akan membebaskan kedua orang pemuda itu. Akan kuserahkan Pek-liong-kiam kepada Cin Hay agar dia mampu menahan mereka. Kalau Thian menghendaki, tentu aku akan selamat dan kita akan dapat saling berjumpa kembali."
Suara kaki dan orang-orang bicara memberitahu mereka bahwa ada anak buah Hek-sim Lo-mo meronda, maka merekapun tidak bicara lagi.
Semalam itu mereka hampir tidak tidur, merencanakan tekad mereka itu dan membayangkan apa yang akan terjadi.
?Y?
Pada keesokan harinya, tanpa menimbulkan kecurigaan, isteri Thio Wi Han meninggalkan pondok.
Ia mengenakan baju rangkap karena hawa udara memang dingin di pagi itu, membawa sebuah keranjang sayur.
Dengan sikap biasa nenek ini berjalan perlahan menuju ke timur.
Cap-sha-kwi melihat ia meninggalkan pondok, akan tetapi mereka tidak menaruh perhatian karena tugas mereka hanya menjaga agar Thio Wi Han tidak pergi dan berhubungan dengan orang luar.
Nenek itu sendiri tidak ada artinya bagi mereka, dan memang satu-dua hari sekali nenek itu keluar membawa keranjang sayur untuk membeli sayur di pasar dusun itu.
Sementara itu, kakek Thio Wi Han sibuk di bengkelnya.
Suara palunya sudah berdenting sejak pagi tadi.
Dia sedang menempa pedang yang keputihan, tinggal menghaluskannya saja, sedangkan pedang yang lebih pendek, yang kehitaman, berada di atas meja bengkelnya, juga belum halus benar, masih memerlukan penghalusan selama beberapa hari lagi.
"Kakek Thio, masih belum jadi jugakah sepasang pedang itu?"
Thio Wi Han terkejut.
Munculnya Yauw Ban si mata satu itu sungguh mengejutkan hatinya karena selain munculnya tanpa suara, juga dia sudah sejak tadi merasa tegang menghadapi rencananya yang sudah diatur semalam bersama isterinya.
"Tinggal sedikit lagi, dalam waktu dua-tiga hari lagi pasti selesai,"
Jawabnya acuh.
Tentu saja diapun mengetahui akan perubahan sikap pembantu utama Hek-sim Lo-mo ini.
Biasanya, si mata satu ini menyebutnya Thio-locianpwe, dan bersikap hormat.
Akan tetapi sekarang sikapnya sudah berbeda, juga sebutannya.
Hal ini saja jelas membuktikan bahwa mereka memang mempunyai niat jahat terhadap dirinya.
Hampir dia berani memastikan bahwa kalau sepasang pedang itu sudah jadi dan sudah diserahkan kepada mereka, dia dan isterinya, juga dua orang pemuda itu, tentu akan dibunuh.
Yauw Ban mendekat dan melihat kedua batang pedang itu dengan penuh perhatian.
Kakek Thio Wi Han tidak khawatir kalau sampai ketahuan bahwa dua batang pedang itu palsu.
Hek-sim Lo-mo sendiri tidak akan mengetahuinya!
Dia membuat pedang itu dengan baja murni pula, dan memberi campuran yang membuat kedua batang pedang itu berwarna hitam dan putih.
Pedang yang aseli sudah jadi, yang betina berwarna hitam kini sudah dibawa pergi isterinya, sedangkan yang jantan berwarna putih disimpannya dengan aman di dalam kamarnya, di tempat rahasia bawah pembaringan.
Betapapun juga, melihat betapa mata yang tinggal satu dari Yauw Ban mengamati kedua pedang itu dengan sinar mencorong, hati kakek ini berdebar juga.
Untuk meredakan ketegangannya, sambil melanjutkan tempaannya dia berkata.
"Kuharap saja kalian tidak melanggar janji dan kedua keponakanku itu diperlakukan dengan baik dan tidak diganggu. Kalau sampai mereka diganggu, sungguh mati, aku tidak akan melanjutkan pembuatan pedang-pedang ini."
Yauw Ban mengeluarkan suara seperti sapi mendengus.
"Huh, siapa yang akan menganggu mereka! Mereka itu bagaimanapun juga tidak akan mungkin dapat membuat ribut lagi. Mereka dikurung dalam kamar berjeruji besi, siang malam dijaga secara bergilir dan andaikata mereka membuat keributanpun, kami semua akan datang dan menundukkannya. Apa lagi Beng-cu kami tidak jauh dari sini!"
Berkata demikian, Yauw Ban meninggalkan tempat kerja itu karena diapun tidak mau lama-lama mengganggu kakek itu, hal yang amat dilarang oleh majikan atau pemimpinnya.
Diam-diam kakek Thio Wi Han merasa senang mendengar keterangan tadi.
Dua orang pemuda itu masih selamat, dikurung dalam kamar yang diberi jeruji besi, dijaga secara bergiliran.
Secara bergiliran ini berarti bahwa penjaganya tidaklah terlalu banyak.
Kalau dia dapat bertindak cepat, besar kemungkinan dia akan mampu membebaskan dua orang pemuda itu sebelum melarikan diri membawa pedang pusaka.
Kalau terjadi pengeroyokan, dia dapat mengandalkan pemuda bernama Tan Cin Hay itu dan menyerahkan Pedang Naga Putih kepadanya.
Setelah Yauw Ban keluar, kakek Thio Wi Han menyelinap ke balik jendela dan mengintai.
Pembantu utama yang paling lihai dari Hek-sim Lo-mo itu pergi ke arah utara, meninggalkan rumah, berarti tidak ikut berjaga di tempat tahanan yang berada di belakang rumah.
Berarti pula satu bahaya telah menjauh.
Keadaan pagi itu sunyi dan kakek yang sudah selama beberapa hari memperhatikan kebiasaan para anak buah penjahat itu maklum bahwa kebanyakan dari mereka itu suka bangun siang, dan sepagi itu tentu masih mendengkur.
Yang sudah bangunpun masih bermalas-malasan dan saat inilah mereka lengah.
Dengan hati-hati kakek itu lalu memasuki kamarnya.
Dia mengenakan sebuah baju luar yang panjang dan dengan menggeser kaki dipan, terbukalah sebuah lubang di lantai bawah pembaringan itu dan diambilnya sebatang pedang yang bersarung kayu buruk dan kasar.
Disimpannya pedang itu di balik jubah panjangnya dan diapun menyelinap keluar dari pintu belakang.
Karena sudah bersiap siaga sebelumnya, sejak bangun pagi-pagi tadi, kakek itu sudah mengenakan pakaian yang ringkas dan sepatu yang kuat.
Tepat seperti dugaannya, tidak nampak seorangpun dari Cap-sha-kwi di situ.
Tentu tigabelas orang kasar itu masih tidur mendengkur.
Dia menyelinap masuk ke dalam pondok tempat tahanan.
Barulah dia merasa terkejut sekali melihat dua orang duduk saling berpelukan di atas bangku panjang di depan kamar tahanan!
Ketika dua orang itu mendengar langkahnya dan mereka mengangkat muka menengok, dia mengenal bahwa dua orang yang tadi bermesraan itu bukan lain adalah Kiu-bwe Mo-li si iblis betina genit dan Lui Teng si penjahat cabul!
Sungguh dua orang itu seperti cacing dan sampah, begitu cocok!
Berjaga di depan kamar tahanan, mereka masih sempat bermesraan, tidak perduli betapa dua orang pemuda tahanan itu dapat melihat perbuatan mereka melalui jeruji besi.
Sungguh orang-orang yang sudah tidak lagi mengenal kesusilaan, tidak mengenal malu.
Akan tetapi tentu saja kakek Thio tidak sempat memikirkan hal ini.
Dia sudah terlalu kaget mengenal dua orang lihai itu, apa lagi karena merekapun sudah melihatnya.
Untuk mundur lagi.
sudah terlambat karena mereka tentu akan mencurigainya.
Benar saja dugaannya, Kiu-bwe Mo-li sudah meloncat turun dari atas pangkuan Lui Teng dan sekali meloncat ia sudah berada di depan kakek Thio Wi Han.
"Heii, kakek Thio! Mau apa engkau pagi-pagi datang ke sini?"
Bentaknya penuh curiga.
"Dia meninggalkan bengkelnya dan pergi ke sini, tentu berniat buruk!"
Kata pula Lui Teng yang juga sudah meloncat dekat. Menghadapi dua orang itu, kakek Thio Wi Han bersikap tenang.
"Aku sengaja datang untuk menjenguk dua orang keponakanku. Hendak kulihat apakah benar kalian memegang janji dan tidak mengganggu mereka. Kalau kalian mengganggu mereka, aku tidak akan menyelesaikan pedang-pedang itu dan kalian tentu akan disalahkan oleh Hek-sim Lo-mo."
Sikapnya yang tenang dan kata-katanya yang tepat itu mengusir kecurigaan dua orang tokoh sesat itu dan Kiu-bwe Mo-li tersenyum mengejek dengan sikap genit.
Tadi memang ia sengaja merayu Lui Teng sehingga pria muda yang menjadi hamba nafsu itu melayani di depan kamar tahanan dan hal ini dilakukan oleh si genit untuk menarik hati Tan Cin Hay karena diam-diam ia merasa amat tertarik kepada pemuda tampan yang gagah perkasa itu.
"Hemm, kau lihat saja sendiri! Dua orang pemuda keponakanmu itu tidur dengan enaknya, sama sekali tidak terganggu."
"Boleh lihat sebentar dan segera pergi lagi ke bengkelmu!"
Kata Lui Teng yang merasa mendongkol karena keasyikannya tadi terganggu.
Thio Wi Han lalu menghampiri jeruji besi dan benar saja.
Dua orang pemuda itu dalam keadaan selamat dan sehat.
Bahkan Song Tek Hin tidak lagi terbelenggu.
Cin Hay nampak duduk bersila seperti sedang samadhi sedangkan Tek Hin duduk bersandar dinding.
Cin Hay membuka matanya dan dia terbelalak memandang kepada kakek itu.
Kalau dia menghendaki, kiranya tidak akan sukar baginya untuk menjebol jeruji besi itu dan membebaskan diri.
Akan tetapi, dia teringat keselamatan Tek Hin, kakek Thio Wi Han dan isterinya.
Dia ingin menyelamatkan mereka bertiga dari tangan orang-orang jahat itu, juga dia ingin menyelidiki tentang Kim-san Liong-cu yang agaknya oleh Hek-sim Lo-mo sedang dijadikan pedang, dikerjakan oleh kakek Thio Wi Han.
Kalau mungkin, dia ingin merampas pedang pusaka itu agar jangan terjatuh ke tangan seorang datuk jahat seperti Hek-sim Lo-mo.
"Cin Hay, ini kubawakan makanan untukmu,"
Kata Thio Wi Han.
Biarpun Kiu-bwe Mo-li dan Lui Teng memperhatikan gerak-gerik kakek itu ketika menghampiri tempat tahanan, akan tetapi mendengar bahwa kakek itu membawakan makanan, mereka tidak menaruh curiga.
Kakek Thio Wi Han menyingkap jubah luarnya dan mengeluarkan pedang yang bersarung kayu buruk itu, memasukkan melalui jeruji besi dan melemparkannya kepada Cin Hay!
"Heiiiii!
Apa yang kaulemparkan itu!"
Kiu-bwe Mo-li membentak.
Akan tetapi kakek Thio Wi Han sudah membalikkan tubuh menghadapi dua orang tokoh sesat itu dengan sepasang pedang telanjang di tangan!
Itulah pedang pendek hitam dan pedang panjang putih yang selama ini digarapnya dalam bengkel, yang sudah hampir jadi, tinggal menghaluskannya saja, pedang-pedang yang dibuat dari bahan Kim-san Liong-cu!
Dan tanpa banyak cakap lagi, Thio Wi Han sudah menggerakkan kedua pedang itu, yang putih panjang di tangan kanan, yang lebih pendek hitam di tangan kiri, langsung dia menyerang Kiu-bwe Mo-li!
Ketika wanita itu dengan kaget meloncat ke samping sambil mengelak, kakek Thio Wi Han menyerang Jai-hwa Kongcu Lui Teng dengan pedang hitam pendek yang mengeluarkan sinar hitam!
Lui Teng terkejut dan agak gentar menghadapi pedang pusaka itu, maka diapun meloncat ke belakang sambil melolos sabuk putihnya.
Kiu-bwe Mo-li juga sudah menggerakkan cambuk ekor sembilan di tangannya dan menyerang dengan ganas dan marah.
Sementara itu, Lui Teng juga menyerang dengan sabuk putihnya yang lihai.
Melawan Lui Teng seorang diri saja kakek Thio Wi Han takkan mampu mengalahkannya, apa lagi melawan Kiu-bwe Mo-li yang lebih lihai lagi.
Dan kini dia dikeroyok dua!
Cambuk ekor sembilan itu meledak-ledak dan mengancam seluruh jalan darah di tubuh kakek itu, sedangkan sabuk putih di tangan Lui Teng sudah membentuk gulungan sinar putih yang berbahaya sekali.
Tentu saja kakek ini segera terdesak hebat.
Akan tetapi dengan gigihnya dia memutar kedua pedang di tangannya dan melindungi dirinya sambil berusaha untuk membalas.
Sementara itu, Cin Hay menyambar benda panjang yang dilemparkan oleh kakek Thio Wi Han dari luar kamar tahanan itu kepadanya.
Sebatang pedang yang sarungnya butut!
Heran dia, mengapa kakek itu melemparkan sebatang pedang padanya?
Tanpa pedangpun dia akan mampu, melawan musuh.
Apa lagi pedang butut ini, apa manfaatnya?
Dicabutnya pedang itu dan diapun semakin kecewa.
Sebatang pedang yang warnanya kotor kehitaman, seperti besi biasa yang dicat!
"Tai-hiap, mari kita keluar dan kita bantu Paman Thio!"
Kata Tek Hin dengan sikap gagah. Mengingat bahwa ilmu silat pemuda ini tidak berapa tinggi, Cin Hay lalu menyerahkan pedang buruk itu kepadanya.
"Jangan banyak bergerak, saudara Song. Kau pegang pedang ini untuk berjaga diri, dan kalau aku sudah membuka jeruji tahanan ini, sebaiknya engkau cepat melarikan diri biar aku yang membantu Paman Thio."
Akan tetapi Tek Hin sudah menerima pedang itu dan berkata dengan suara lantang.
"Aku? Disuruh lari sedangkan engkau dan Paman Thio dikepung musuh? Lebih baik aku mati!"
Berkata demikian, pemuda ini dengan marah lalu menggunakan pedang kotor kehitaman itu untuk membabat jeruji besi tempat tahanan mereka.
Dan pedang itu dapat membabat putus semua jeruji, seolah-olah jeruji itu bukan dibuat dari besi melainkan dari bahan yang lunak saja!
Cin Hay terkejut melihat ini dan baru dia tahu bahwa pedang buruk itu oleh kakek Thio diberikan kepadanya agar dia dapat menghadapi Hek-sim Lo-mo dan kawan-kawannya.
Sekali melompat dia sudah berada di dekat Tek Hin dan pedang itupun berpindah tangan.
"Cepat, saudara Song. Engkau larilah menyelamatkan diri lebih dulu! Dengan pedang ini aku akan menghajar mereka dan menyelamatkan Paman Thio dan isterinya!"
Akan tetapi, Song Tek Hin adalah seorang pemuda yang tabah dan berani mati, apa lagi dia merasa sakit hati sekali kepada Hek-sim Lo-mo dan anak buahnya atas kematian tunangan dan calon mertuanya.
Mana dia mau melarikan diri begitu saja?
"Aku akan mengadu nyawa dengan iblis itu!"
Bentaknya, dan melihat betapa tigabelas orang Cap-sha-kwi telah bermunculan, dia segera menerjang orang yang terdekat sambil melompat keluar dari kamar yang jerujinya telah patah-patah itu.
"Tek Hin, jangan......!"
Cin Hay mencegah, akan tetapi pemuda itu tidak memperdulikan cegahannya, bahkan sudah mengamuk, memukul dan menendang.
Akan tetapi, kepandaiannya masih jauh untuk dapat melawan Cap-sha-kwi yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi itu sehingga dalam beberapa jurus saja, tubuh Tek Hin telah menjadi bulan-bulan pukulan sehingga dia terjungkal roboh!
Akan tetapi dasar dia sudah nekat, dia bangkit kembali ketika seorang di antara Cap-sha-kwi menubruknya dan dia menyambut orang itu dengan tendangan kuat.
Orang itu tidak menyangka dan perutnya kena ditendang sehingga dia terjengkang dan mengaduh.
Tek Hin mendapat hati dan menyerang terus, dihadang oleh beberapa orang anggauta Cap-sha-kwi.
Ketika Cin Hay melompat keluar, dia sempat merobohkan dua orang anggauta Cap-sha-kwi yang mengancam Tek Hin, akan tetapi pada saat itu dia mendengar Kakek Thio mengeluh.
Cepat dia menengok dan melihat betapa kakek itu roboh terluka dan kedua pedang di tangan kakek itu telah terampas oleh Kiu-bwe Mo-li dan Jai-hwa Kongcu Lui Teng!
Cin Hay meloncat dan pedangnya menyambar.
Kiu-bwe Mo-li dan Jai-hwa Kongcu Lui Teng menggerakkan senjata mereka, yaitu cambuk ekor sembilan dan sabuk putih untuk menyambut serangan Cin Hay.
"Bret Brettt!"
Cambuk ekor sembilan dan sabuk putih itu terbabat oleh pedang buruk di tangan Cin Hay dan kedua senjata itu putus!
Dua orang tokoh sesat itu terkejut sekali dan mereka meloncat jauh ke belakang dengan muka pucat!
Senjata mereka adalah senjata lemas yang tidak akan mudah dibikin putus begitu saja oleh sebatang pedang, namun kini sekali bertemu dengan pedang pemuda pakaian putih itu, senjata mereka telah menjadi buntung!
Cin Hay melihat betapa kakek Thio telah terluka parah, mukanya kehitaman tanda bahwa dia terkena luka beracun, maka cepat diangkat dan dipanggulnya tubuh kakek itu.
Ketika dia menengok untuk menolong Tek Hin, pemuda ini telah diringkus dan diikat tangannya, akan tetapi dia masih meronta dan memaki.
"Tek Hin......!"
Cin Hay berseru kaget.
"Tan Taihiap, pergilah, bawalah Paman Thio pergi. Selamatkan dia dan jangan perdulikan diriku!"
Teriak Song Tek Hin sebelum sebuah pukulan mengenai lehernya dan membuat dia roboh pingsan dengan mulut berdarah.
Cin Hay merasa khawatir sekali, akan tetapi diapun maklum bahwa dengan memanggul tubuh Thio Wi Han, tidak mungkin dia dapat menolong Tek Hin, apa lagi pemuda itu telah diringkus dan sebelum dia turun tangan, bisa saja pihak penjahat membunuh Tek Hin.
Maka, diapun melompat dan melarikan kakek Thio Wi Han.
Kiu-bwe Mo-li dan Jai-hwa Kongcu Lui Teng tidak berani mengejar pemuda pakaian putih yang luar biasa lihainya itu.
Apa lagi mereka sudah berhasil merampas dua batang pedang pusaka, dan itulah yang terpenting.
Kalau sepasang pedang pusaka itu lenyap dilarikan orang, tentu Hek-sim Lo-mo akan marah sekali.
Akan tetapi sepasang pedang itu telah mereka rampas dari tangan Thio Wi Han, maka larinya Thio Wi Han, yang sudah terluka parah dan pemuda berpakaian putih itu tidak menjadi persoalan lagi.
Masih ada Song Tek Hin dalam tawanan mereka, dan pemuda ini tentu dapat dijadikan umpan untuk memancing kembalinya pemuda berpakaian putih, kalau hal ini dikehendaki oleh Hek-sim Lo-mo.
Kalau tidak, pemuda itu akan dibunuh begitu saja dan mereka akan meninggalkan dusun Gi-ho-cung.
?Y?
Nyonya Thio Wi Han yang usianya masih terbilang amat muda dibandingkan dengan suaminya, baru empatpuluh dua tahun dibandingkan suaminya yang sudah tujuhpuluh tahun lebih.
Akan tetapi, ia amat mencinta suaminya.
Biarpun ketika ia menikah dengan Thio Wi Han, suaminya itu telah menjadi seorang duda berusia setengah abad lebih dan ia masih seorang gadis, namun suaminya sungguh merupakan seorang suami yang amat baik, yang memenuhi semua syarat seorang suami yang mencinta isterinya.
Bahkan setelah mereka menjadi suami isteri lebih dari duapuluh tahun lamanya dan mereka tidak mendapatkan keturunan, cinta kasih suaminya terhadap dirinya tak pernah berkurang sedikitpun juga.
Mereka selalu berdua, selalu hidup saling mencinta dan merasakan kebahagian berdua.
Akan tetapi sekarang, ia harus pergi meninggalkan suaminya!
Untuk pertama kali sejak mereka menjadi suami isteri, mereka saling berpisah dan sekali berpisah, ia harus meninggalkan suaminya yang terancam bahaya maut!
Tak terasa lagi nyonya itu menangis sambil melanjutkan perjalanannya memasuki hutan setelah ia berhasil meninggalkan dusun Gi-ho-cung.
Bagaimana kalau suaminya gagal menyelamatkan diri?
Kalau sampai ketahuan mereka, bagaimana mungkin suaminya akan mampu menyelamatkan diri?
Membayangkan suaminya mereka bunuh, nyonya itu menangis semakin mengguguk.
Ingin ia berlari kembali untuk membantu suaminya atau mati bersama suaminya kalau perlu, dan pikiran ini membuat ia menahan kedua kakinya.
"Hemm, Nyonya Thio, kenapa engkau menangis dan mengapa pula engkau meninggalkan kampung?"
Wanita itu terkejut.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa sejak ia meninggalkan dusun tadi, ia telah menarik kecurigaan Yauw Ban, Naga Mata Satu pembantu utama Hek-sim Lo-mo!
Yauw Ban merasa curiga melihat wanita itu meninggalkan dusun Gi-ho-cung dan dia lalu mengajak He-nan Siang-mo untuk membayangi nyonya itu dari jauh.
Ketika melihat wanita itu memasuki hutan, kemudian herjalan sambil menangis, kecurigaan hati Yauw Ban semakin kuat dan akhirnya dia lalu menegur wanita itu yang menjadi terkejut sekali.
Nyonya Thio Wi Han maklum bahwa ia tidak akan mampu lari.
Ia teringat kembali akan bahaya yang mengancam suaminya, maka tiba-tiba saja ia menjadi marah sekali.
Tangannya merahi ke balik jubahnya dan ia telah menghunus sebatang pedang yang rupanya kotor dan hitam.
"Kalian manusia-manusia iblis yang menyengsarakan suamiku!"
Bentaknya dan langsung saja ia menggerakkan pedangnya menyerang tiga orang di depannya itu dengan bacokan-bacokan nekat.
Terdengar bunyi mendesing nyaring dan angin yang mengandung hawa dingin menyambar.
Tiga orang itu terkejut bukan main, tak mereka sangka bahwa nyonya itu demikian dahsyat serangannya.
Mereka tidak tahu bahwa kedahsyatan serangan itu sebagian besar karena keampuhan pedang yang berada di tangan nyonya itu.
Sebuah pedang yang kelihatan buruk, akan tetapi sesungguhnya itulah Hek-liong-kiam yang aseli!
Yauw Ban mencabut pedangnya, dan kedua orang kembar He-nan Siang-mo mencabut golok mereka.
Wanita ini sebaiknya dibunuh saja, pikir mereka.
Pedang-pedang itu sudah hampir jadi dan kalau sudah jadi, kakek Thio Wi Han dan isterinya ini akan dibunuh, juga dua orang pemuda tawanan, demikian perintah Hek-sim Lo-mo.
Dan sekarang, wanita ini sikapnya mencurigakan, agaknya hendak melarikan diri, mungkin ingin minta bantuan dan hal ini amat berbahaya.
Apa lagi kini Nyonya Thio Wi Han agaknya nekat hendak melakukan perlawanan mati-matian.
Begitu Yauw Ban dan He-nan Siang-mo memainkan pedang dan golok mereka, wanita itu segera terdesak hebat!
Namun, Nyonya Thio memutar pedangnya melindungi diri.
"Trang-tranggg!"
Pedangnya menangkis dua batang golok dari si kembar, dan dapat dibayangkan betapa kaget hati He-nan Siang-mo melihat betapa ujung golok mereka yang bertemu dengan pedang itu menjadi buntung!
"Awas, pedangnya kuat sekali, jangan mengadu senjata!"
Teriak Yauw Ban.
Dia seorang ahli pedang dan dia segera mengenal pedang ampuh walaupun pedang itu kelihatan demikian buruknya.
Hal ini tidak mengherankan hatinya mengingat bahwa Thio Wi Han adalah seorang ahli pedang yang amat pandai.
Kini, dua orang kembar He-nan Siang-mo menggunakan golok yang ujungnya sudah buntung.
Mereka bersikap hati-hati dan tidak mau mengadu senjata, demikian pula Yauw Ban.
Karena memang tingkat kepandaian mereka lebih tinggi, tentu saja kini wanita itu makin terdesak hebat, ia terpaksa berloncatan ke sana sini dan berusaha membalas dengan sambaran pedangnya.
Namun, karena dikeroyok tiga, akhirnya pundak kirinya tergores golok buntung dan paha kanannya tertusuk pedang Yauw Ban!
Ia terhuyung dan sebelum ia mampu mengatur keseimbangan dirinya, tangan kiri Yauw Ban berhasil memukul dadanya.
"Desss!"
Pukulan itu hebat sekali.
Nyonya Thio Wi Han terpental dan terbanting roboh dalam keadaan nanar dan setengah pingsan.
Namun ia tetap memegangi pedang buruk dengan erat.
Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan wanita itu, tiba-tiba nampak bayangan hitam berkelebat dan seorang gadis berpakaian hitam telah menghadang ketika Gin Siong, orang kedua dari He-nan Siang-mo sudah mengangkat golok buntungnya untuk menghabiskan nyawa Nyonya Thio.
Kaki gadis itu mencuat dan menendang ke arah lengan yang mengayunkan golok.
Gan Siong maklum bahwa ada orang yang datang menolong wanita yang sudah menggeletak tak berdaya itu.
Dia marah dan mengubah gerakan goloknya, kini membabat ke arah kaki gadis berpakaian hitam itu.
Akan tetapi, gerakan gadis itu cepat bukan main.
Kaki kirinya yang menendang tadi tiba-tiba saja ditarik kembali dan pada saat golok menyambar tempat kosong, kaki kanannya sudah melayang dari samping.
"Dukkk!"
Tubuh Gan Siong terjengkang ketika perutnya kena ditendang dari samping dan dia terkejut, juga kesakitan maka diapun bergulingan untuk menyelamatkan diri.
Akan tetapi, gadis itu tidak mengejarnya melainkan cepat menyambar tubuh Nyonya Thio yang sudah payah, lalu memanggulnya.
"Kau...... pakai... pedang pusaka ini......!"
Nyonya Thio sempat berkata sambil menyerahkan (Lanjut ke
Jilid 11) Sepasang Naga Penakluk Iblis (Seri ke 01-Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo
Jilid 11 pedangnya kepada gadis itu sebelum ia pingsan di atas pundak gadis itu.
Gadis berpakaian hitam itu bukan lain adalah Lie Kim Cu atau Hek-liong-li!
Melihat keadaan wanita setengah tua itu yang pingsan dan lukanya parah, Kim Cu menerima pedang itu.
Sebatang pedang yang buruk, akan tetapi ketika dipegangnya, ternyata gagangnya enak sekali digenggam, dan berat pedang itupun seimbang dan enak pula untuk dimainkan.
Sementara itu, melihat kehebatan gadis yang dalam segebrakan saja mampu menendang jatuh Gan Siong, Yauw Ban terkejut dan memandang tajam penuh selidik dengan sebelah matanya.
Dia teringat akan cerita Kiu-bwe Mo-li dan diapun membentak.
"Apakah engkau yang berjuluk Dewi Naga Hitam?"
Kim Cu tersenyum mengejek.
"Benar, dan sekali ini aku datang untuk membasmi orang-orang berwatak iblis seperti kalian!"
Yauw Ban sudah marah sekali dan diapun cepat menyerang dengan pedangnya.
Si mata satu ini memang seorang ahli pedang dan serangannya dahsyat bukan main, pedangnya berkelebat seperti kilat menyambar.
Namun, yang diserangnya sekarang adalah seorang gadis yang amat lihai, yang telah mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi dari Huang-ho Kui-bo, maka menghadapi serangan itu, Liong-li atau Kim Cu tidak menjadi gugup dan iapun menggerakkan pedang butut itu untuk menangkis.
"Wuuss......!"
Liong-li terkejut dan heran.
Lawannya yang demikian pandai bermain pedang, juga dari sambaran pedang tadi dapat diketahui bahwa tenaga sin-kangnya juga amat kuat, ternyata mengelak dan tidak mau mengadukan pedangnya dengan pedang butut yang dipegangnya.
Pada saat itu, ia melihat sepasang orang kembar sudah menyerangnya dan iapun melihat betapa ujung kedua golok mereka itu buntung.
Kim Cu yang lihai dan cerdik segera dapat menduga mengapa lawannya yang bermata satu dan lihai itu tidak mau beradu pedang.
Tentu karena pedang di tangannya itu, yang nampak buruk, adalah sebatang pedang pusaka ampuh dan bahwa kedua golok dari orang kembar itupun mungkin telah buntung oleh pedang di tangannya itu!
Maka iapun cepat menggerakkan pedangnya untuk menangkis atau membabat ke arah sepasang golok yang menyerangnya dari kanan kiri.
Gerakannya cepat dan pedang itu mengeluarkan suara mencicit nyaring, juga mendatangkan angin yang dingin, berubah menjadi gulungan sinar yang melebar dari kanan ke kiri.
Dan seperti juga si mata satu, dua orang kembar itu cepat menarik kembali golok mereka, jelas bahwa mereka gentar dan tidak berani mengadukan golok mereka dengan pedang di tangan Liong-li.
Hal ini menggembirakan hati Liong-li.
Dari gerakan tiga orang itu, ia tahu bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang berilmu tinggi, terutama sekali si mata satu itu.
Ia tidak akan gentar menghadapi mereka dan yakin akan mampu mengalahkan mereka bertiga kalau saja tidak ada wanita pingsan yang berada di atas pundak kirinya.
Dengan adanya beban itu, tentu saja ia tidak dapat bergerak dengan leluasa, bahkan amat berbahaya baginya kalau harus menghadapi pengeroyokan tiga orang itu sambil memanggul orang pingsan.
Akan tetapi, dengan pedang pusaka ampuh itu di tangan, ia akan mampu melindungi dirinya sendiri dan wanita yang dipanggulnya, dan akan dapat menyelamatkannya.
"Haiiiitttt......!"
Wanita berpakaian hitam itu mengeluarkan suara melengking nyaring sekali, jeritan yang mengandung khi-kang ini membuat He-nan Siang-mo dan Yauw Ban terkejut dan merasa betapa jantung mereka terguncang hebat.
Cepat mereka menggerakkan senjata melindungi tubuh mereka, karena mereka melihat wanita pakaian hitam itu memutar pedang seperti baling-baling dan tubuhnya meluncur dengan serangan yang dahsyat.
Hawa dingin menyambar-nyambar dan terpaksa tiga orang ini berloncatan mundur.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Liong-li untuk meloncat jauh ke kiri dan melarikan diri untuk menyelamatkan wanita yang pingsan di atas pundaknya itu.
Melihat ini, Yauw Ban dan He-nan Siang-mo tidak berani mengejar, hanya mereka menggerakkan tangan kiri dan beberapa batang senjata rahasia piauw dan paku beterbangan ke arah tubuh Liong-li yang sedang melarikan diri.
Liong-li mendengar suara angin sambaran senjata-senjata rahasia kecil itu.
Tanpa menoleh, ia meloncat ke atas sambil memutar pedangnya ke arah belakang.
Semua senjata rahasia yang menyambar bagian bawah lewat di bawah kakinya dan yang menyambar bagian atas runtuh oleh tangkisan sinar pedang Hek-liong-kiam.
Tiga orang pembantu utama Hek-sim Lo-mo hanya memandang dengan mata terbelalak, kagum dan juga jerih melihat wanita baju hitam itu melarikan tubuh Nyonya Thio dengan kecepatan bagaikan terbang saja.
Mereka bertiga lalu bergegas menuju ke rumah Thio Wi Han, dan Yauw Ban sendiri cepat mengunjungi Hek-sim Lo-mo di tempat peristirahatannya untuk melaporkan peristiwa yang baru saja terjadi itu.
Hek-liong-li Lie Kim Cu berlari cepat untuk meninggalkan tempat berbabaya itu.
Kalau saja ia tidak menerima pedang pusaka ampuh dari wanita itu, agaknya tidak akan demikian mudah ia dapat menyelamatkan wanita itu.
Biarpun ia tidak gentar menghadapi tiga orang lawannya, namun untuk merobohkan mereka, membutuhkan waktu.
Apa lagi kalau ia harus memanggul tubuh orang, mungkin saja ia malah akan mengalami kekalahan.
Ia lari masuk ke dalam hutan yang lebat dan merasa yakin bahwa tiga orang lawan itu tidak melakukan pengejaran.
Tiba-tiba ia berhenti dan cepat ia menyelinap ke balik sebatang pohon besar.
Ada langkah kaki orang berlari ke arahnya!
Agaknya ada pula yang melakukan pengejaran!
Dengan pedang di tangan kanan dan tubuh Nyonya Thio dipanggul di atas pundak kiri, Liong-li siap siaga, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang.
Suara langkah kaki orang berlari itu semakin dekat dan kini orang itu memperlambat larinya, bahkan berjalan biasa ketika tiba di dekat tempat Liong-li bersembunyi.
Wanita ini melihat seorang laki-laki yang usianya sekitar duapuluh lima tahun, berpakaian putih, tangan kanan memegang sebatang pedang yang buruk, tangan kiri memanggul tubuh seorang kakek yang kelihatannya menderita luka parah.
Tak salah lagi, tentu seorang anak buah Hek-sim Lo-mo pula yang entah telah menangkap siapa.
Tanpa banyak cakap lagi, Liong-li lalu melompat keluar dan menerjang dengan bacokan pedangnya ke arah kepala orang berpakaian putih itu.
"Singgg......!"
Pedang di tangannya menyambar dahsyat dan mengeluarkan hawa dingin.
Orang muda itu nampak terkejut, akan tetapi tidak menjadi gugup dan dengan gerakan yang cepat diapun mengangkat pedang di tangannya untuk menangkis.
Melihat ini, girang rasa hati Liong-li karena ia merasa yakin bahwa pedang pusakanya tentu akan membabat buntung pedang lawan itu.
"Trangggg......!!"
Nampak bunga api berpijar dan keduanya merasa betapa lengan tangan mereka tergetar hebat sampai menembus ke dalam dada dan keduanya terdorong mundur sampai lima langkah!
Liong-li terkejut bukan main!
Pedang orang itu sama sekali tidak buntung, bahkan selain mampu menahan pedang pusaka di tangannya, juga tenaga yang terkandung di balik pedang itu amat kuatnya!
Di lain pihak, orang berpakaian putih itu yang bukan lain adalah Tan Cin Hay, juga terkejut bukan main.
Tadi dia sedang melarikan tubuh Thio Wi Han yang pingsan ketika tiba-tiba ada orang menyerangnya.
Tak disangkanya bahwa penyerangnya itu seorang gadis berpakaian hitam yang selain memiliki pedang pusaka yang kuat pula, juga memiliki sin-kang yang mampu menandinginya!
Keduanya kini saling pandang dengan penuh perhatian dan keduanya kagum.
Liong-li melihat seorang pemuda yang berwajah tampan dan lembut, nampaknya seperti seorang sastrawan lemah saja, sepasang matanya mencorong dan pakaiannya yang serba putih itu nampak bersih, dengan potongan sederhana.
Kakek yang dipanggul pemuda itu nampaknya terluka berat dan pingsan, dengan muka agak kehitaman seperti keracunan.
Sebaliknya, Cin Hay juga kagum melihat seorang wanita muda berpakaian serba hitam yang cantik manis.
Wajah itu bulat telur, dengan dagu meruncing, mulutnya kecil dengan bibir yang merah basah tanpa gincu.
Di bawah mata kiri ada tahi lalat di atas pipi dan wanita itu memiliki sepasang mata yang tajam, mulutnya yang indah itu menyungging senyuman sinis sehingga nampak lesung pipit di tepi mulut.
Manis sekali, akan tetapi sepasang mata itu membayangkan ketabahan, keberanian, kegalakan dan juga kecerdikan, membuat Cin Hay yang terkagum-kagum itu menjadi waspada.
Seorang lawan yang amat berbahaya, pikirnya.
Liong-li mempunyai watak yang tidak mau kalah.
Begitu tadi beradu pedang, iapun tahu bahwa ia berhadapan dengan seorang lawan tangguh yang memiliki sebatang pedang pusaka ampuh.
Ini bukan lawan seperti tiga orang yang mengeroyoknya tadi, jauh lebih lihai.
Akan tetapi tentu saja ia tidak merasa gentar, apa lagi melihat betapa orang inipun memanggul tubuh seorang yang pingsan.
Jadi keadaan mereka sama benar!
Hal ini membuat ia merasa penasaran kalau belum dapat mengalahkan laki-laki tampan itu.
"Lihat pedang!"
Bentak Liong-li dan kembali ia menyerang dengan dahsyatnya.
Pedang-nya membuat lingkaran di atas kepalanya, makin lama semakin lebar dan akhirnya dari dalam gulungan sinar pedang itu menyambar mata pedang, bagaikan kilat cepatnya menyambar ke arah leher Cin Hay!
Bukan hanya dahsyat sekali serangan ini, melainkan juga amat indah gerakannya sehingga Cin Hay memandang kagum.
Namun diapun tahu akan bahayanya serangan lawan, maka cepat dia meloncat ke belakang, menggerakkan pedangnya menangkis dari samping.
"Cringgg......!"
Kembali bunga api berpijar, dan pedang di tangan Cin Hay, begitu bertemu pedang lawan sengaja dia pentalkan ke samping untuk terus membabat ke arah pergelangan tangan lawan yang memegang pedang.
Akan tetapi, Kim Cu juga sudah tahu akan siasat ini dan cepat ia menarik kembali pedangnya yang tertangkis, memutar pergelangan tangannya sehingga pedangnya membentuk lingkaran menutup serangan lawan yang terpaksa menarik kembali pedangnya karena jalan ke arah lengan gadis itu tertutup sudah.
Terjadilah perkelahian pedang yang amat cepat, amat kuat dan juga amat indah dipandang.
Tubuh keduanya seperti digulung sinar hitam dan putih!
Tanpa mereka sadari, pertemuan pedang yang berkali-kali itu, disertai tenaga sin-kang yang amat kuat, membuat kedua pedang itu tergetar hebat dan cat yang menutupi kedua pedang itu terlepas dan kini nampaklah bentuk aseli kedua pedang itu.
Pedang di tangan Cin Hay berubah menjadi sebatang pedang berwarna putih gelap dan sinar pedangnya menjadi putih, sedangkan pedang di tangan Kim Cu menjadi sebatang pedang hitam yang sinarnya hitam sekali.
Juga pedang-pedang itu amat indahnya, buatannya halus dan ada ukiran naga di batang pedang-pedang itu.
Pedang Naga Putih dan Pedang Naga Hitam!
Pedang jantan dan pedang betina yang terbuat dari Kim-san Liong-cu dicampur baja biru.
Inilah sepasang pedang pusaka yang asli, buatan kakek Thio Wi Han yang dipesan oleh Hek-sim Lo-mo.
Adapun sepasang pedang yang hampir serupa bentuknya, yang palsu, terjatuh ke tangan Kiu-bwe Mo-li dan Lui Teng.
Setelah bertanding selama belasan jurus, baik Cin Hay maupun Kim Cu merasa betapa lihainya lawan.
Cin Hay merasa khawatir sekali kalau-kalau pedang hitam gadis itu akan melukai tubuh Thio Wi Han yang dipanggulnya.
Maka dia lalu meloncat agak jauh ke belakang sambil berseru.
"Berhenti!"
Kim Cu yang merasa penasaran, mukanya sudah menjadi merah.
Ia mendongkol sekali tidak mampu mengalahkan pemuda ini dan ia pun menahan gerakan pedangnya sambil memandang dengan mata mendelik.
Ketika mereka saling berpandangan itulah, di dalam hati masing-masing timbul kekaguman.
Liong-li melihat seorang pria muda yang sudah cukup dewasa, berwajah tampan, berbentuk sedang dan sederhana dan bersikap gagah sekali.
Bukan ketampanan pemuda ini yang menarik hati Liong-li, melainkan sinar mata mencorong dan sikap yang penuh kegagahan tanpa ada bayangan kesombongan itu.
Di lain pihak, Cin Hay juga kagum sekali melihat lawannya.
Seorang wanita muda yang usianya kurang lebih duapuluh tiga tahun, wajahnya amat manis dengan mulut yang kecil akan tetapi bibirnya penuh dan merah basah menggairahkan.
Di bawah mata kirinya ada tahi lalat di atas pipi.
Ketika wanita muda itu tersenyum mengejek, nampak lesung pipit di pinggir mulut.
Seorang wanita yang cantik jelita dan manis, dengan bentuk tubuh yang padat berisi, kulit muka dan leher yang putih mulus, akan tetapi yang lebih dari segalanya adalah matanya yang bersinar-sinar tajam dan sikapnya yang gagah perkasa penuh keberanian itu.
Mereka bukan hanya mengamati diri masing-masing lawan penuh perhatian, akan tetapi juga memandang ke arah pedang lawan dan merekapun kagum.
Cin Hay melihat betapa wanita yang pakaiannya serba hitam itu memegang sebatang pedang yang juga berwarna hitam!
Dan pedang itu tadi ternyata sudah membuktikan keampuhannya, mampu menandingi pedang di tangannya Sebaliknya Liong-li juga mengamati pedang di tangan pemuda berpakaian putih itu, sebatang pedang yang berwarna putih dan yang ampuh sekali.
"Hemm, keparat, mengapa berhenti? Takutkah engkau?"
Bentaknya dengan senyum mengejek.
Cin Hay adalah orang yang pendiam dan sabar, akan tetapi entah bagaimana, senyum mengejek dan pandang mata wanita muda itu, apa lagi kata-katanya membuat perutnya terasa panas juga.
Selain itu, juga ada perasaan penasaran di dalam hatinya karena tadi dia sudah merasakan betapa lihainya wanita ini sehingga baik tenaga maupun pedangnya dapat ditandingi oleh wanita galak itu.
Dia merasa tidak percaya kalau dia tidak mampu mengalahkannya dan timbul keinginannya untuk menguji sampai di mana kepandaian wanita itu dan kalau mungkin mengalahkannya untuk memberi hajaran atas kesombongannya.
"Aku tidak takut sama sekali! Aku minta berhenti karena pertandingan antara kita dapat melukai kakek yang kupanggul dan hal ini tidak kukehendaki sama sekali."
"Bagus! Akupun tidak ingin nenek ini terluka. Nah, mari kita turunkan mereka lebih dulu, baru kita lanjutkan pertandingan kita kalau memang engkau berani!"
"Huh, siapa takut padamu?"
Cin Hay semakin panas ditantang oleh wanita itu.
Mereka menurunkan tubuh kakek dan nenek itu dari panggulan mereka, kemudian tanpa banyak cakap lagi keduanya sudah saling terjang seperti dua ekor singa kelaparan yang berebut mangsa, atau lebih tepat lagi, seperti sepasang naga memperebutkan mustika!
Seekor naga putih dan seekor naga hitam saja layaknya mereka itu.
Cin Hay berpakaian putih dan memegang pedang putih, sedangkan Liong-li berpakaian hitam dan memegang pedang hitam.
Mereka tidak tahu bahwa nama pedang di tangan mereka itupun Pek-liong-kiam (Pedang Naga Putih) dan Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam)!
Permainan pedang mereka amat hebatnya.
Karena maklum bahwa lawan amat tangguh, keduanya sudah mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan kepandaian simpanan sehingga kini tubuh mereka lenyap menjadi bayangan putih dan bayangan hitam, dan pedang merekapun menciptakan gulungan sinar putih dan hitam yang saling belit dan saling tekan.
Makin lama serangan mereka semakin dahsyat dan keduanya juga menjadi semakin kagum di samping rasa penasaran karena sama sekali mereka tidak mampu mendesak lawan.
Cin Hay dapat melihat bahwa ilmu pedang wanita itu amat ganas dan penuh tipu daya, ciri khas ilmu silat dari golongan sesat, namun sungguh telah menduduki tingkat tinggi sehingga ilmunya sendiri yang sudah mantap dan bersih itu tidak mampu mendesaknya.
Sebaliknya, Liong-li, hampir menangis saking penasaran karena ilmu pedangnya seolah-olah membentur tembok baja yang membuat semua serangannya gagal dan membalik!
Saking penasaran, ia lupa bahwa yang bertanding dengannya bukanlah musuh, bahkan sama sekali tidak dikenalnya dan mereka bertandingpun tanpa alasan tertentu!
Ia lupa akan hal ini dan tiba-tiba Lie Kim Cu mengeluarkan bentakan-bentakan dengan suara melengking nyaring.
Ia telah menambah serangannya dengan dorongan-dorongan tangan kirinya yang berubah merah, karena ia telah mempergunakan ilmu pukulan beracun Hiat-tok-ciang!
Cin Hay terkejut bukan main.
Dia agak lengah tadi, sama sekali tidak mengira bahwa wanita secantik itu dapat mengeluarkan ilmu pukulan sekeji itu!
Dikiranya bahwa wanita berpakaian hitam itu hanya mengeluarkan pukulan biasa saja, didorong tenaga sin-kang, maka melihat tangan kiri itu mendorong ke arah dadanya, diapun menarik kaki kanan ke belakang dan menyambut tangan kiri lawan itu dengan tangan kirinya pula, menangkis dari samping dalam.
"Plakkk!"
Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya Cin Hay mengeluarkan teriakan kaget dan tubuhnya terpelanting!
Kesempatan itu dipergunakan oleh Liong-li Lie Kim Cu untuk mendesak dengan pedangnya, menyambar ke arah pundak Cin Hay, bukan untuk membunuh melainkan hanya melukai pundak saja.
Akan tetapi, biarpun Cin Hay merasa betapa tadi hawa panas menyusup melalui telapak tangannya yang menangkis, membuat tubuhnya terpelanting dan dadanya terguncang, dia masih dapat menggerakkan pedangnya menangkis dari bawah.
"Trang-cring-tranggg......!"
Tiga kali pedang Liong-li menyambar dan tiga kali pula Cin Hay menangkis.
Akan tetapi pemuda itu merasa betapa pandang matanya berkunang-kunang.
Dia telah terkena pukulan beracun!
Kalau perkelahian itu dilanjutkan, dia akan celaka.
Dia harus bersila dan menghimpun hawa murni untuk mengusir hawa beracun itu, akan tetapi lawannya tidak memberi kesempatan.
Tiba tiba terdengar seruan kakek dan nenek itu hampir berbareng.
"Tahan senjata.....! Jangan berkelahi antara orang sendiri......! Seruan ini mengejutkan Liong-li yang segera meloncat ke belakang sambil membalikkan tubuhnya untuk memandang kepada nenek yang tadi dipanggulnya. Cin Hay merasa bersyukur karena terbebas dari ancaman maut dan diapun cepat duduk bersila, memandang kepada kakek Thio Wi Han. Cin Hay dan Kim Cu memandang kepada kakek dan nenek itu yang kini sudah saling rangkul dalam keadaan luka parah dan mereka itu terhuyung menghampiri mereka, akan tetapi lalu menjatuhkan diri duduk di atas tanah sambil saling memapah.
"Orang muda, kenapa engkau berkelahi dengan nona ini?"
Thio Wi Han bertanya.
Tadi dia siuman dari pingsannya dan hampir bersamaan, isterinya juga siuman.
Mereka saling menghampiri dengan girang karena bagaimanapun juga, keduanya masih hidup dan dapat saling berjumpa.
Akan tetapi mereka berdua tidak mengerti mengapa dua orang muda yang sakti itu kini saling serang mati-matian.
Dengan singkat mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing dan tahulah mereka bahwa dua orang yang saling serang itu adalah penolong mereka dan mungkin terjadi salah paham.
Biarpun keduanya sudah terluka parah, mereka mengumpulkan sisa tenaga untuk mendekati dua orang yang saling berkelahi itu dan mereka berteriak-teriak menyuruh mereka berhenti berkelahi.
"Aku tidak tahu, locianpwe. Aku sedang berjalan melarikan locianpwe dari pengejaran musuh, tiba-tiba saja ia muncul dan menyerangku. Tentu ia seorang di antara anak buah Hek-sim Lo-mo!"
"Ngaco!"
Liong-li membentak.
"Engkaulah anak buah Hek-sim Lo-mo, maka aku menyerangmu."
"Aku bukan anak buah Hek-sim Lo-mo!"
Bantah Cin Hay.
"Akupun bukan!"
Liong-li Lie Kim Cu tidak mau kalah.
"Aih, sudahlah......!"
Kata kakek Thio Wi Han terengah.
"Ketahuilah, nona yang perkasa, yang kautolong adalah isteriku, aku adalah Thio Wi Han dan pemuda ini menolongku terlepas dari tangan anak buah Hek-sim Lo-mo, Akan tetapi aku...... ah, aku terluka parah......"
"Jangan terlalu...... banyak bicara....!"
Isterinya merangkulnya, juga dalam keadaan payah.
"Kami...... berdua terluka parah..... tubuh kami yang tua tidak sanggup menahan... ketahuilah...... pedang yang kalian pegang itu... adalah Pek-liong-kiam... dan Hek-liong-kiam..... jantan dan betina...... berasal dari Kim-san Liong-cu... jangan sampai terjatuh ke tangan Hek-sim..... Lo-mo. Kuberikan kepada kalian... pergunakanlah sebaiknya......"
Kakek itu terkulai.
Isterinya menjerit lalu terkulai pula.
Ketika Cin Hay dan Kim Cu menubruk dan memeriksa, ternyata keduanya telah tewas!
Dalam keadaan masih berlutut saling berhadapan, terhalang dua tubuh tak bernyawa lagi itu, Cin Hay dan Kim Cu saling pandang.
Sampai lama mereka saling pandang, lalu Kim Cu tersenyum, teringat akan perkelahian mereka tadi.
Cin Hay juga tersenyum, senyum kecut karena perkelahian itu tadi membuatnya menderita luka dalam yang ditahannya dan tidak ingin diperlihatkannya kepada lawan atau bekas lawan itu.
"Kita harus kubur mereka......"
Katanya lirih. Kim Cu mengangguk setuju.
"Ya, dalam satu lubang. Mereka saling mencinta sampai mati."
Cin Hay mengerutkan alisnya mendengar ucapan ini, akan tetapi tidak membantah dan tanpa bicara lagi keduanya lalu saling bantu menggali tanah.
Cukup dalam dan lebar untuk mengubur dua jenazah itu.
Biarpun secara amat sederhana, tanpa peti, namun dengan penuh khidmat Cin Hay dan Kim Cu mengubur jenazah kakek Thio Wi Han dan isterinya yang tewas secara gagah berani itu.
Setelah memberi penghormatan terakhir, tiba-tiba Cin Hay roboh terguling.
Sejak tadi, dia telah menahan penderitaannya karena nyeri akibat pukulan beracun Kim Cu tadi.
Dia menahannya saja, dan ketika dia harus menggunakan tenaga untuk menggali lubang dan mengubur dua mayat, dia telah mengerahkan tenaga yang membuat lukanya semakin parah.
Akhirnya, dia tidak kuat menahan lagi dan ketika memberi penghormatan di depan makam, dia terguling dan jatuh pingsan.
"Ehhh......??!!"
Kim Cu terkejut dan heran sekali.
Cepat ia berlutut di dekat tubuh pemuda itu dan memeriksanya.
Melihat tanda merah di pergelangan tangan pemuda itu, barulah ia tahu bahwa pemuda itu telah terluka oleh pukulan Hiat-tok-ciang yang dilakukannya tadi!
"Ah, kiranya dia luka oleh Hiat-tok-ciang tadi?"
Bisiknya dengan hati menyesal.
Pemuda ini seorang pendekar budiman yang telah menyelamatkan kakek Thio Wi Han dan biarpun ia belum mendengar semua duduknya perkara, ia sudah dapat menduga bahwa pemuda itu seorang yang lihai sekali dan juga gagah perkasa, menimbulkan rasa kagum dan suka di dalam hatinya.
Kini, pemuda itu terluka beracun oleh pukulannya.
Tanpa ragu-ragu lagi Kim Cu lalu membuka kancing baju pemuda itu.
Sejenak mukanya berubah kemerahan.
Teringat ia akan pengalaman-pengalamannya yang lalu, ketika ia secara terpaksa sekali harus melayani para pria sebagai seorang pelacur!
Betapa ia sudah pandai dan hafal cara membuka pakaian langganannya dengan cara yang menarik!
Akan tetapi, segera diusirnya ingatannya ini.
Ia kini adalah Liong-li!
Ia sekarang adalah seorang wanita perkasa dan di depannya terdapat seorang pria yang terluka oleh pukulannya, seorang pria yang sama sekali tidak berdosa!
Ia harus menebus kekeliruannya itu dan harus menyembuhkannya!
Kini wajahnya biasa saja dan jari-jari tangannya dengan cekatan membukai semua kancing baju pemuda itu dan menanggalkan baju itu.
Nampaklah dada yang bidang, dengan kulit yang putih sehat, tegap dan kuat.
Akan tetapi seperti yang diduganya, di sebagian dada kiri terdapat tanda merah dan itu menandakan bahwa racun dari Hiat-tok-ciang yang tadinya mengenai tangan pemuda itu ketika beradu lengan dengannya, telah menjalar ke atas dan hawa beracun telah memasuki dada sebelah kiri.
Dengan ilmu kepandaiannya yang demikian tinggi, pasti pemuda itu akan mampu mempergunakan sin-kang dan hawa murni untuk menekan hawa beracun itu keluar, akan tetapi ia merasa heran sekali mengapa pemuda itu tidak segera melakukannya, bahkan nekat menggali lubang dan mengubur dua jenazah itu sehingga racun itu hawanya makin menjalar naik sampai ke dada.
Hemm, agaknya pemuda ini tadi merasa malu kepadanya maka menahan semua kenyerian itu, dan akan mengobatinya kalau sudah sendirian.
Akan tetapi agaknya dia terlalu memandang rendah kepada akibat Hiat-tok-ciang!
Dengan tenang tanpa ragu-ragu, Kim Cu lalu meletakkan kedua telapak tangannya ke pundak dan dada kiri pemuda itu, lalu mengerahkan sin-kangnya dan mendorong keluar hawa beracun dari Hiat-tok-ciang itu.
Ia bersila dekat pemuda itu dan kurang lebih setengah jam saja, warna merah yang tadi nampak di dada kiri pemuda itu telah lenyap dan kini turun ke lengan kiri.
Kim Cu memandang wajah pemuda itu.
Wajah yang tampan dan halus, seperti wajah seorang pemuda pelajar, tidak pantas menjadi wajah seorang yang memiliki ilmu silat demikian tingginya.
Ia kagum.
Pemuda ini memang hebat ilmu silatnya.
Kalau tadi ia tidak mempergunakan Hiat-tok-ciang, belum tentu ia menang.
Dan iapun dapat menduga bahwa pemuda itu agaknya tidak mengira bahwa ia menghadapi pukulan beracun, maka sampai dapat terpengaruh dan terkena hawa beracun.
Wajah itu ketika dalam keadaan tidak sadar, nampak seperti orang tidur saja, dan nampak muda sekali.
"Hemm, orang muda yang malang......"
Katanya lirih. Cin Hay membuka matanya, bingung melihat dia rebah telentang dan wanita cantik itu bersila di dekatnya.
"Apa...... apa kaubilang?"
Tanyanya, masih agak nanar.
"Aku bilang, engkau orang muda yang malang......"
"Hemm, aku tidak muda lagi! Tentu lebih tua darimu, nona!"
"Kalau begitu......, laki-laki yang malang!"
Entah mengapa dia sendiripun tidak tahu, akan tetapi hatinya senang mendengar dia disebut laki-laki, bukan orang muda!
Dan pada saat itu diapun melihat bahwa bajunya telah dilucuti orang, maka serentak diapun bangkit duduk dan menutupi dadanya dengan kedua tangan.
Melihat ini, Kim Cu tak dapat menahan diri lagi tertawa.
Cin Hay menyambar pakaian atas itu cepat memakainya sambil memandang kepada wanita itu dengan alis berkerut.
"Kenapa kau tertawa?"
Dia merasa bahwa dia ditertawai karena wanita itu tertawa sambil terus memandang kepadanya.
Dia merasa mendongkol juga walaupun harus diakuinya bahwa wanita itu sungguh manis sekali kalau tertawa, tertawa bebas dan tidak malu-malu.
Mulutnya terbuka sehingga kelihatan deretan gigi yang rapi dan putih seperti mutiara, rongga mulut yang merah dan ujung lidah yang merah muda.
Kini Kim Cu menggunakan saputangan untuk menahan ketawanya, menutupi mulutnya dengan saputangan dan gerakan ini demikian penuh gaya kewanitaan yang lembut.
"Engkau...... lucu! Kenapa dadamu kau tutupi? Hik-hik, engkau ini laki-laki tulen kenapa malu kelihatan dadanya?"
Cin Hay melompat berdiri, mukanya menjadi merah.
"Kenapa engkau menanggalkan bajuku? Tentu engkau yang melakukannya! Tak tahu malu! Kenapa engkau menanggalkan bajuku?"
Kim Cu masih duduk di atas tanah sambil memandang dengan senyum manis sekali.
Hatinya makin senang, makin kagum.
Laki-laki ini marah-marah karena bajunya ia tanggalkan!
Ohh, pada hal, semua laki-laki dahulu berebut untuk ditanggalkan pakaiannya olehnya!
Jelas bahwa pria yang satu ini memang lain sama sekali.
"Orang tak mengenal budi! Engkau roboh pingsan karena terkena hawa pukulan beracun. Aku telah membantumu menghilangkan hawa beracun dari dadamu, dan engkau malah menuduhku yang bukan-bukan? Aku tidak tahu malu, ya? Bagus sekali! Apakah engkau menantangku untuk mengadu kepandaian lagi?"
Kim Cu meloncat bangun dan kini ia sudah memasang kuda-kuda yang indah, kaki kanan diangkat dan ditekuk sehingga lututnya hampir menempel dada, lengan kanan diangkat lurus menuding ke atas, tangan kiri melingkar di depan pinggang.
Kini Cin Hay teringat dan dia meraba-raba dada kirinya.
Rasa nyeri itu sudah hilang dari dadanya, dan tinggal di bagian lengan kiri saja, dari siku ke bawah.
Tahulah ia bahwa apa yang diucapkan wanita ini memang benar.
Wanita itu telah melukainya dengan pukulan beracun, ketika ia pingsan wanita ini pula yang telah mengobatinya, dan ia malah memaki-makinya.
Tadinya dia menduga bahwa wanita ini tidak tahu malu!
Diapun merasa lega, mukanya berubah merah dan diapun tertawa geli melihat betapa wanita itu sudah memasang kuda-kuda siap untuk bertanding mati-matian.
Kim Cu mengerutkan alisnya, diam-diam melirik ke arah kaki tangannya.
Apakah kuda-kudanya jelek maka pemuda itu mentertawainya.
"Ehh? Kenapa engkau tertawa? Mentertawai aku, ya?"
Cin Hay cepat memberi hormat merangkapkan kedua tangan di depan dada.
"Minta ampun, sama sekali aku tidak mentertawaimu, nona. Mana aku berani? Aku mentertawai kebodohanku sendiri. Aku yang tidak tahu malu, nona. Engkau sih...... tahu malu sekali. Aku yang tolol dan aku berterima kasih, nona. Nah, untuk membuktikan bahwa aku yang tidak tahu malu, biar kubuka lagi baju ini agar engkau dapat melanjutkan pengobatanmu, karena aku masih merasa nyeri di lengan kiriku."
Cin Hay lalu menanggalkan bajunya dan berdiri dengan tubuh atas telanjang di depan Kim Cu, sama sekali tidak kelihatan malu-malu seperti tadi lagi karena dia sudah tidak menduga yang bukan-bukan terhadap Kim Cu.
Anehnya, kini wajah Kim Cu yang menjadi kemerahan!
Ia sendiri merasa heran.
Sudah sering ia melihat dada orang, dada pria yang telanjang.
Kenapa kini jantungnya berdebar melihat dada laki-laki yang tidak dikenalnya ini?
Pada hal tadi, meraba dada itu untuk mengobatinya, ia sama sekali tidak merasa apa-apa!
Bodoh kau, Kim Cu, makinya kepada diri sendiri.
Seperti seorang perawan saja kau!
Tak tahu malu!
"Ke sinikan lenganmu, biar kuobati,"
Katanya sambil duduk dan Cin Hay juga duduk di depannya.
Keduanya duduk bersila, berhadapan dan Cin Hay menjulurkan lengan kirinya.
Sejenak Kim Cu memandang dada itu, lengan itu, bulu hitam di bawah pangkal lengan itu, akan tetapi ia segera dapat menguasai perasaannya, membuang jauh-jauh getaran dan gejolak perasaan mudanya, lalu menangkap lengan itu dan menempelkan telapak tangan kanannya ke atas lengan kiri Cin Hay, mengerahkan sin-kangnya.
Cin Hay merasakan betapa ada hawa yang hangat memasuki lengannya, terasa nyaman sekali.
Tiba-tiba dia memejamkan kedua matanya dan dia harus mengerahkan seluruh kekuatan batinnya untuk melawan gairah berahi yang tiba-tiba timbul.
Sentuhan jari tangan wanita itu pada lengannya, seolah-olah menyusup ke dalam hatinya dan terasa begitu hangat, begitu lunak dan lembut, mengandung getaran mesra.
Cin Hay segera mengerahkan kekuatannya untuk mematikan semua rasa dan menutup ingatannya.
Pikiran yang biasanya menuntun rasa dan membangkitkan gairah berahi itu.
Diapun berperang sendiri dengan pikirannya dan akhirnya diapun dapat menguasai dirinya, menguasai tubuh dan perasaannya dan menjadi tenang kembali biarpun tubuhnya kini menjadi basah oleh keringat!
Biarpun usianya baru duapuluh tiga tahun, namun Hek-liong-li atau Lie Kim Cu adalah seorang wanita yang sudah banyak pengalamannya dengan kaum pria, biarpun pengalaman itu datang kepadanya secara terpaksa.
Maka iapun dapat merasakan dan tahu bahwa tadi pemuda yang diobatinya itu telah dibakar berahi.
Akan tetapi, ia melihat pula perjuangan Cin Hay melawan gairah itu dan pemuda itu berhasil, walaupun kini tubuhnya penuh keringat.
Diam-diam Kim Cu menjadi semakin kagum.
Pemuda ini memang bukan pria sembarangan yang mudah hanyut oleh nafsunya sendiri, pikirnya.
Sukar mencari seorang pria seperti ini.
Seorang pria pilihan!
Iapun melepaskan lengan itu karena semua hawa beracun akibat pukulan Hiat-tok-ciang telah bersih dari lengan itu.
Cin Hay membuka mata memandang lengannya, menggerak-gerakkannya dan memang sama sekali sudah pulih, tidak ada rasa nyeri lagi.
"Terima kasih, engkau baik sekali, nona,"
Katanya sambil mengenakan bajunya yang putih.
Sepasang mata yang tajam bersinar itu mengamati wajah Cin Hay penuh selidik, agaknya sinar mata itu ingin menjenguk isi hati pemuda itu, kemudian Liong-li bertanya.
"Hemm, engkau ini memuji ataukah mengejek, heh?"
Cin Hay memandang terbelalak.
"Tentu saja memuji, mengapa mesti mengejek?"
"Akulah yang membuat engkau keracunan, masa untuk itu engkau memujiku?"
"Ah, itukah? Akan tetapi, ketika itu engkau menganggap aku sebagai musuh, nona, dan untuk mengalahkan musuh, engkau mempergunakan ilmu yang paling ampuh untuk itu, engkau tidak bersalah."
Kim Cu hanya tersenyum saja, akan tetapi diam-diam ia masih penasaran.
Memang tadi ia mampu mengalahkan pemuda ini, akan tetapi kalau pemuda itu siap siaga sebelumnya, kiranya akan mampu menolak pukulan beracun Hiat-tok-ciang itu.
Ia menang karena curang dan ia sebenarnya masih ingin sekali menguji kepandaian mereka berdua, siapa yang sesungguhnya lebih unggul.
Akan tetapi tentu saja ia merasa tidak enak.
Ia lalu melirik ke arah pedang yang sudah dipasang di pinggang pemuda itu.
Sebatang pedang pusaka yang baik sekali, tidak kalah oleh pedang yang diberikan kepadanya oleh nenek tadi.
Apa nama pedang pemuda itu?
Pek-liong-kiam!
Dan pedangnya sendiri Hek-liong-kiam sungguh tepat sekali menjadi miliknya.
Bukankah ia juga mempunyai julukan Hek-liong-li (Dewi Naga Hitam)?
Maka sudah sepatutnya menjadi pemilik pedang pusaka Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam)!
Akan tetapi pemuda itu, pantaskah menjadi pemilik Pek-liong-kiam?
"Siapakah namamu?"
Tiba-tiba Kim Cu bertanya.
"Aku sendiri dikenal orang sebagai Hek-liong-li!"
Cin Hay mengerutkan alisnya.
Wanita ini bagaimanapun juga sungguh tinggi hati.
Menanyakan namanya akan tetapi tidak mau memperkenalkan nama sendiri melainkan memperkenalkan nama julukannya!
Akan tetapi di samping rasa tidak puas ini, diapun terheran.
Julukan wanita ini Hek-liong-li!
Sedangkan dia sendiri dijuluki Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih).
Dia tadi sudah merasa heran akan hal yang amat kebetulan itu.
Dia berjuluk Pendekar Naga Putih dan oleh kakek Thio Wi Han diberi Pedang Naga Putih!
"Aku dikenal orang sebagai Pek-liong-eng,"
Jawabnya singkat.
Sepasang mata itu terbelalak dan muka yang cantik itu menjadi kemerahan.
Merah karena marah.
Kedua tangan yang kecil itu dikepal dan sikapnya seperti hendak memukul sehingga diam-diam Cin Hay juga siap siaga kalau-kalau dirinya diserang.
"Wah, engkau ini kiranya memang kurang ajar!"
Bentaknya marah. Cin Hay yang terbelalak kini.
"Aku? Kurang ajar? Eh-eh, bagaimana sih engkau ini, nona? Apa maksudmu mengatakan aku kurang ajar?"
"Engkau hanya ikut-ikutan aku saja! Apakah engkau bermaksud menghinaku? Katakan saja kalau engkau hendak menantang untuk bertanding sampai sejuta jurus! Aku tidak takut!"
"Sejuta jurus! Wah, mana kuat, nona. Sungguh mati, bersumpah disaksikan bumi dan langit aku tidak bermaksud menghinamu, nona, dan akupun sama sekali tidak ikut-ikutan. Karena tadi nona hanya memperkenalkan julukan, maka kukira nona tidak ingin berkenalan, maksudku, tidak ingin saling memperkenalkan nama, maka akupun tadi hanya memperkenalkan nama julukan yang kuterima dari orang-orang. Aku memang disebut Pek-liong-eng, mungkin karena aku selalu mengenakan pakaian putih, dan namaku sendiri adalah Tan Cin Hay."
Kim Cu menelan kemarahannya, bahkan kini ia merasa sungkan dan malu.
Kembali ia telah salah sangka.
Mengapa ia selalu berprasangka buruk terhadap orang ini?
Mungkin karena ia memang mulai membenci pria sejak ia dipaksa melayani bermacam-macam pria itu, yang dilakukan penuh kejijikan dan kedukaan.
"Betapa anehnya kebetulan ini,"
Katanya tanpa meminta maaf.
"Engkau berjuluk Pek-liong-eng dan engkau memperoleh warisan Pek-liong-kiam, sedangkan aku berjuluk Hek-liong-li dan aku memperoleh warisan Hek-liong-kiam pula!"
"Agaknya inilah yang dinamakan jodoh, nona."
Kembali mata itu berkilat.
"Siapa yang berjodoh?"
Tanyanya dengan suara kering, agaknya kembali ia berprasangka buruk, mengira bahwa Cin Hay hendak menggodanya.
"Siapa lagi kalau bukan kita...... dengan pedang-pedang itu, nona. Engkau berjodoh dengan Hek-liong-kiam dan akupun berjodoh dengan Pek-liong-kiam. Dan kitapun saling berjodoh untuk bekerja sama, setidaknya untuk menghadapi Hek-sim Lo-mo."
"Hemm, siapa membutuhkan bantuanmu? Seorang diri saja aku sanggup membasmi Hek-sim Lo-mo dengan kaki tangannya. Kau boleh tunggu dan lihat saja!"
Berkata demikian, Kim Cu sudah meloncat jauh dan berlari cepat meninggalkan Cin Hay.
"Heiii! Nona, tunggu dulu......!!"
Cin Hay juga melompat dan mengejar. Melihat pemuda itu mengejar, Liong-li lalu "tancap gas"
Dan ngebut secepatnya.
Tubuhnya melesat ke depan bagaikan anak panah terlepas dari busurnya sehingga sebentar saja Cin Hay tertinggal jauh.
Pemuda itu terkejut dan kagum, akan tetapi diapun tidak mau kalah begitu saja.
Kesempatan ini agaknya dipergunakan oleh mereka berdua untuk bertanding ilmu berlari cepat.
Liong-li tidak mau kalah dan ia mengerahkan seluruh gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan kekuatan larinya, akan tetapi Cin Hay juga mengerahkan seluruh tenaga dan ternyata dalam hal ilmu berlari cepat inipun tingkat mereka seimbang!
Akan tetapi agaknya Cin Hay lebih menang dalam hal pernapasan karena akhirnya wanita itupun berhenti karena napasnya terengah-engah.
Dengan marah karena tentu pernapasannya yang senin kemis itu akan kelihatan orang, yang biarpun sudah ditahan-tahankannya agar jangan terengah-engah tetap saja megap-megap seperti ikan dilempar di daratan.
Liong-li berhenti dan membalikkan tubuh dengan mata menyinarkan kilat kemarahan.
Akan tetapi kemarahannya pudar seketika dan mulut yang cemberut itu berubah menjadi senyuman ketika ia melihat bahwa keadaan Cin Hay tiada bedanya dengan dirinya, yaitu hermandi peluh dan terengah-engah!
Jadi ia tidak perlu malu-malu lagi.
"Hemm...... men... jemuhkan...... mau apa kau... mengejar-ngejar aku...?"
Tanyanya dengan nada marah akan tetapi kedengarannya lucu karena ia terengah-engah.
Sesungguhnya, Cin Hay tidak perlu terengah-engah walaupun tubuhnya juga basah oleh keringat.
Pernapasannya lebih kuat dan dia masih mampu bernapas biasa.
Akan tetapi dia mulai mengenal watak wanita cantik manis berjuluk Dewi Naga Hitam itu, yalah watak tidak mau kalah!
Melihat betapa wanita itu terengah-engah, dia maklum bahwa wanita itu akan tersinggung dan akan menjadi marah sekali kalau melihat lawannya tidak terengah"engah.
Oleh karena itu, sengaja Cin Hay megap-megap untuk mengimbangi keadaan wanita itu.
"Aku... mau..... menagih...... hutangmu padaku......"
Mendengar ini, Liong-li menjadi sedemikian herannya sampai ia melongo, matanya terbelalak mulutnya ternganga dan agaknya ia sudah lupa lagi untuk terengah-engah!
"Nagih...
nagih......
hutang??
Hai, Tan Cin Hay atau Pek-liong-eng, jangan ngawur kau!
Sejak kapan aku mempunyai hutang padamu?
Nenek moyangku pun tidak mempunyai hutang sepeserpun kepada nenek moyangmu!"
"Wah, ini namanya penyabar dan mudah lupa, yaitu sabar dan mudah lupa kalau punya hutang! Baru beberapa menit engkau hutang padaku, nona, dan sekarang sudah lupa, ataukah pura-pura lupa?"
"Wah, engkau memang setan tukang fitnah keji! Apa memang sudah miring otakmu? Aku hutang apa, hah?"
Cin Hay tersenyum.
Sungguh hebat wanita ini semua gerak-geriknya amat menarik, amat wajar, kecantikan yang aseli dan tidak dibuat-buat!
"Baiklah kalau engkau sudah lupa, Hek-liong-li, engkau hutang nama kepadaku!"
"Hutang...... hutang nama......?"
Liong-li mengulang dengan alis berkerut, tidak mengerti.
"Ketika engkau memperkenalkan nama julukanmu, akupun segera membayarnya dengan memperkenalkan nama julukanku. Kemudian aku sudah memperkenalkan nama aseliku kepadamu, akan tetapi engkau belum membayarnya. Bukankah ini berarti engkau masih hutang nama kepadaku?"
Kini mengertilah Liong-li, dan ia tersenyum mengejek.
"Hem, namaku tidak sembarangan kuperkenalkan kepada setiap orang, apa lagi kepada sembarang laki-laki!"
Berkata demikian, iapun membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ dengan cepat.
Sekali ini, Cin Hay tidak mengejar.
Untuk apa mengejar wanita yang demikian tinggi hati?
Dia bermaksud baik, mengajak wanita itu untuk bekerja sama, yaitu menentang kekuasaan Hek-sim Lo-mo yang jahat.
Dia tahu betapa lihainya Hek-sim Lo-mo, apa lagi masih dibantu oleh anak buahnya yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Biarpun Si Dewi Naga Hitam itu pun lihai sekali, namun dia meragukan apakah ia akan mampu menandingi Hek-sim Lo-mo dan kawan-kawannya.
Mengingat akan ketinggian hati wanita itu, Cin Hay merasa segan untuk membantunya.
Akan tetapi ada sesuatu pada diri wanita itu, kepribadiannya yang amat menarik, yang membuat dia menggerakkan kaki untuk membayanginya.
Tidak, dia tidak mungkin membiarkan saja wanita itu memasuki bencana, memasuki guha yang penuh dengan harimau buas dan ganas.
Dia harus membantunya.
Bukankah wanita itu dan dia yang telah dipilih oleh mendiang kakek Thio Wi Han untuk mewarisi dua batang pedang pusaka, dan menggunakan dua batang pedang pusaka itu untuk menentang Hek-sim Lo-mo dan anak buahnya?
Bagaimanapun juga, sepasang pedang itu adalah pedang jantan dan pedang betina yang dibuat dari bahan yang sama, yaitu dari Kim-san Liong-cu.
Pasangan pedang itu harus bekerja sama, apa lagi kalau menghadapi manusia-manusia sejahat iblis, seperti Hek-sim Lo-mo dan kawan-kawannya itu.
Biarpun kini tidak lagi berusaha menyusul, namun Cin Hay membayangi terus dari jarak yang cukup jauh, namun dia tidak pernah kehilangan bayangan hitam di sebelah depan itu.
Song Tek Hin didorong ke dalam ruangan itu oleh Kwa Ti, si muka burik perut gendut orang pertama Wei-ho Cap-sha-kwi.
Badannya yang penuh luka dan memar itu tak bertenaga lagi, akan tetapi semangat Tek Hin masih tinggi.
"Brukkk!"
Tek Hin roboh tersungkur di atas lantai, di dekat kaki Hek-sim Lo-mo yang duduk di atas kursi.
Wajah Hek-sim Lo-mo yang hitam itu nampak lebih hitam dari biasanya, matanya mendelik lebar dan seluruh bulu kasar di mukanya itu seperti berdiri kaku.
Dia marah sekali mendengar berita bahwa Thio Wi Han dan isterinya telah lolos, demikian pula pemuda berpakaian putih yang amat lihai itu.
"Goblok semua!"
Bentaknya dengan suara parau.
"Kalian begini banyak orang tidak mampu mencegah mereka lari? Yauw Ban, engkau yang herjuluk Tok-gan-liong, mana kelihaianmu yang kaubanggakan itu? Dan kalian He-nan Siang-mo, mana keampuhan golok kalian? Kiu-bwe Mo-li, Jai-hwa Kongcu, dan ini tigabelas orang Setan Wei-ho, kalian semua juga hanyalah gentong-gentong nasi yang kosong belaka! Hayo jawab, mana pertanggungan jawab kalian! Kalau tidak jelas keterangan kalian, jangan salahkan aku kalau kedua tanganku ini bergerak mencabuti nyawa kalian yang tidak ada harganya itu!"
Kiu-bwe Mo-li bermain mata dengan Jai-hwa Kongcu Lui Teng. Mereka tersenyum"senyum dengan terbuka sehingga kelihatan oleh Hek-sim Lo-mo yang menjadi semakin marah.
"Keparat! Kalian berdua berani mempermainkan aku dan berani mentertawakan aku?"
Bentaknya, tangannya sudah gatal-gatal untuk menyerang dua orang pembantu yang biasanya menjadi orang-orang kepercayaannya itu.
Melihat ini, Kiu-bwe Mo-li menjadi pucat wajahnya dan cepat-cepat ia melangkah maju dan memberi hormat kepada Hek-sim Lo-mo.
Biarpun ia sendiri dijuluki Mo-li (Iblis Betina) dan memiliki watak yang amat kejam, liar dan ganas, namun wanita ini amat takut kepada Hek-sim Lo-mo.
Terhadap datuk yang satu ini ia memang mati kutu.
Menggunakan ilmu kepandaian kalah jauh, mengandalkan kecantikan dan kegenitan tidak mempan.
"Ampun, Beng-cu. Harap Beng-cu menenangkan hati karena tidak percuma Beng-cu mempunyai pembantu-pembantu seperti Kiu-bwe Mo-li dan Jai-hwa Kongcu!"
Berkata demikian, dengan lagak bangga Kiu-bwe Mo-li melirik ke kanan kiri.
Yauw Ban dan para pembantu lain terkejut mendengar ucapan itu dan mereka menduga-duga apa yang dimaksudkan oleh iblis betina itu, demikian beraninya bicara besar di depan Hek-sim Lo-mo, Akan tetapi Hek-sim Lo-mo bukan seorang bodoh.
Biarpun tadi dia marah besar mendengar betapa Thio Wi Han dan isterinya berhasil melarikan diri, bahkan seorang di antara dua tawanan, yaitu pemuda berpakaian putih yang amat lihai itupun lolos, kini mendengat ucapan Kiu-bwe Mo-li, dia mengharapkan sesuatu yang menyenangkan.
"Hemm, katakanlah, Mo-li. Hasil baik apakah yang telah dilakukan olehmu dan Jai-hwa Kongcu?"
Dua orang pembantu utama itu menggerakkan tangan mengambil pedang mereka dari balik jubah dan melihat dua batang pedang itu, wajah Hek-sim Lo-mo menjadi cerah berseri.
Tentu saja dia mengenal sepasang pedang naga yang dibuat oleh kakek Thio Wi Han, yang dibuat dari Kim-san Liong-cu itu!
Kalau tadi dia marah besar adalah karena dia merasa kehilangan sepasang pedang pusaka itu.
"Ahhh! Kiranya kalian dapat menyelamatkan sepasang pedang itu!"
Katanya gembira dan dia menerima sepasang pedang itu dari tangan dua orang pembantunya.
Sambil mengamati kedua pedang itu setelah mencabut dari sarungnya dengan wajah gembira, Hek-sim Lo-mo lalu berkata kepada mereka semua.
"Sekarang ceritakan apa yang tetah terjadi dan bagaimana mereka itu sampai dapat lolos."
Wei-ho Cap-sha-kwi diwakili oleh Kwa Ti bercerita.
"Pagi hari itu, muncul kakek Thio Wi Han di dalam ruangan tahanan, katanya hendak menengok keadaan dua orang keponakannya yang menjadi tawanan. Ketika tiba di depan kamar tahanan itu, dia mengamuk mempergunakan sepasang pedang pusaka itu. Dua orang tawanan itupun keluar dan mengamuk, dan kami berhasil menangkap kembali yang seorang ini!"
Dia menuding kepada Song Tek Hin yang masih duduk di atas lantai sambil memandang mereka semua dengan tersenyum mengejek, sebagai seorang penonton yang penuh perhatian, Kiu-bwe Mo-li melanjutkan.
"Untung bahwa kami berdua segera datang menghadapi Thio Wi Han. Tentu saja kami berdua akan mampu menangkap kembali kakek itu kalau saja tidak ada pemuda berpakaian putih yang lihai itu. Dia keluar dari tempat tahanan dan dialah yang membantu kakek Thio Wi Han, bahkan dia pula yang melarikan kakek itu. Akan tetapi, kami telah berhasil melukai Thio Wi Han, luka parah, dan kami berdua berhasil pula merampas sepasang pedang pusaka ini dari tangannya."
Hek-sim Lo-mo mengangguk-angguk.
"Memang pemuda itu lihai, lawannya hanyalah aku. Tidak aneh kalau kalian tidak mampu menandinginya. Akan tetapi syukur bahwa pedang-pedang ini dapat kalian rampas. Dan bagaimana dengan engkau, Tok-gan-liong Yauw Ban?"
Datuk iblis itu menoleh kepada para pembantunya yang lain.
"Bukankah engkau dibantu oleh He-nan Siang-mo? Engkau sudah mendengar sendiri. Bagaimanapun juga, Cap-sha-kwi telah berhasil menangkap kembali seorang tawanan, sedangkan Mo-li dan Jai-hwa Kongcu telah berhasil merampas kembali sepasang pedang pusaka. Bagaimana dengan kalian bertiga?"
Wajah Yauw Ban berubah agak kemerahan. Mata tunggalnya mencorong, tanda bahwa dia marah sekali kepada pihak musuh yang telah membuat dia tersudut dan harus mengecewakan pimpinannya.
"Maafkan kami, Beng-cu. Kami bertiga bertemu dengan isteri Thio Wi Han. Kami merasa curiga dan menegurnya, akan tetapi tiba-tiba ia menyerang kami. Tentu kami akan mampu menangkapnya kembali kalau tidak ada gadis berpakaian hitam itu yang tiba-tiba muncul dan membantu nenek itu......"
"Gadis berpakaian hitam......?"
Kiu-bwe Mo-li berseru.
"Maksudmu Hek-liong-li......?"
"Benar, gadis yang pernah membuat engkau kewalahan itu, Mo-li,"
Kata Yauw Ban dengan senyum mengejek.
"Teruskan ceritamu!"
Kata Hek-sim Lo-mo tidak sabar melihat dua orang pembantunya ini agaknya saling mengejek.
"Kami bertiga berhasil melukai isteri Thio Wi Han, ia menderita luka parah dan tak mungkin dapat hidup lagi. Akan tetapi kami tidak dapat menawannya karena ia dilarikan oleh gadis berpakaian hitam itu."
Hek-sim Lo-mo mengangguk-angguk. Dia tidak memusingkan lolosnya suami isteri itu. Yang penting baginya adalah sepasang pedang itu yang kini telah terjatuh ke tangannya.
"Sudahlah, bagaimanapun juga, kita tidak rugi banyak. Sepasang pusakaku dapat kembali kepadaku, dan suami isteri itu biarpun tidak tertangkap namun terluka parah."
"]uga masih ada keuntungan kita, Beng-cu, yaitu tertawannya kembali pemuda itu!"
Kata Kwa Ti pemimpin Wei-ho Cap-sha-kwi untuk menonjolkan jasa mereka.
"Apakah kami boleh menyiksanya sampai mati untuk melampiaskan rasa penasaran Beng-cu dan kita semua?"
Hek-sim Lo-mo menoleh kepada Song Tek Hin. Pemuda ini tersenyum mengejek kepadanya.
"Kalian bunuh membunuh aku seribu kali, aku tidak takut! Kalian telah menyiksa tunanganku sampai mati, telah membunuh calon mertuaku dan merampas Kim-san Liong-cu. Kejahatan kalian bertumpuk-tumpuk, tak mungkin dapat terlepas dari hukuman Tuhan!"
"Beng-cu, biar kusiksa dia!"
Kata Kiu-bwe Mo-li. Hek-sim Lo-mo tersenyum menyeringai kepada wanita iblis itu.
"Heh, akan kauhisap dia dulu sampai habis seperti seekor laba-laba menghisap korbannya, baru akan kaubunuh?"
"Biar kusiksa dia sekarang juga di sini Beng-cu!"
Kata pula Kwa Ti. Hek-sim Lo-mo mengangkat tangannya.
"Bodoh! Orang-orang yang bijaksana seperti kita tidak melakukan perbuatan hanya menurutkan perasaan hati saja, akan tetapi harus memakai perhitungan. Apa untungnya kalau kita menyiksa dan membunuhnya? Seperti kanak-kanak saja. Tidak, dia masih ada gunanya untuk kita, setidaknya untuk aku!"
"Eh, masih ada gunanya? Untuk apa anjing ini, Beng-cu?"
Tanya Jai-hwa Kongcu yang membenci pemuda itu karena tadi jelas Kiu-bwe Mo-li membutuhkan pemuda itu untuk melampiaskan nafsunya.
Dia tidak merasa cemburu, karena bagaimanapun juga, seorang jai-hwa-cat seperti dia tentu saja tidak tergila-gila kepada seorang wanita keriputan seperti Kiu-bwe Mo-li.
"Kalian ini kurang panjang akal. Memang sepasang pedang pusaka sudah berada di tanganku, akan tetapi apakah aku akan membiarkan saja dua ekor anjing cilik itu, Hek-liong-li dan Tan Cin Hay, menghinaku dengan tindakan mereka yang berani menantangku? Mencari mereka bukan hal yang mudah, oleh karena itu satu-satunya jalan untuk dapat membalas hinaan mereka, untuk dapat menumpas mereka, adalah memancing mereka datang! Dan pemuda ini merupakan umpan yang baik sekali. Kalau mereka tahu bahwa dia ini masih hidup dan menjadi tawanan kita, pada suatu hari pasti dua orang itu akan muncul dan tibalah kesempatan bagiku untuk menghantam mereka!"
"Aih, itu akal bagus sekali, Beng-cu. Biar aku yang menjaganya agar dia jangan sampai lolos!"
Kata Kiu-bwe Mo-li yang memandang pemuda itu seperti seekor kucing kelaparan melihat daging segar.
"Ho-ho, kalau kucing disuruh menjaga ikan, tentu akan digerogotinya sendiri sampai habis!"
Tiba-tiba Gan Siang berseru sambil tertawa. Adik kembarnya ikut pula tertawa dan berkata.
"Kalau engkau yang menjaga, Mo-li, umpan itu tentu akan menjadi busuk dan rusak sebelum ikan yang dipancing datang mendekatinya, ha-ha!" (Lanjut ke
Jilid 12) Sepasang Naga Penakluk Iblis (Seri ke 01-Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo
Jilid 12 Semua orang tersenyum dan Kiu-bwe Mo-li memandang kepada si kembar itu dengan sinar mata berkilat marah. Akan tetapi Hek-sim Lo-mo meredakan mereka dengan suaranya yang parau berwibawa.
"Sudahlah, tidak perlu ribut-ribut. Pemuda itu untuk sementara ini tidak boleh diganggu, tidak boleh mati, bahkan harus kelihatan sehat agar dua orang yang kutunggu-tunggu itu muncul. Sekarang kita kembali ke Lok-yang dan sebelum dua orang itu datang dan dibinasakan, kalian para pembantu utamaku yang lima orang, dibantu oleh Wei-ho Cap-sha-kwi, harus melakukan penjagaan dengan ketat!"
Tiba-tiba Song Tek Hin tertawa sehingga semua orang menoleh kepadanya.
"Bagus sekali! Orang tidak menghendaki kematianku, justeru aku yang ingin mati! Kalau mulai saat ini aku tidak diperlakukan sebagai seorang tamu agung terhormat, tidak mendapat makanan yang enak, kamar yang bersih, ganti pakaian yang bersih, aku akan mogok makan minum dan akan membunuh diri saja!"
"Jangan khawatir, Song Tek Hin. Semua permintaanmu itu akan kami penuhi asal engkau tidak berusaha meloloskan diri,"
Kata Hek-sim Lo-mo.
"Mengapa meloloskan diri? Kawan-kawanku tentu akan datang membebaskan aku!"
Kata Song Tek Hin menyombong.
Dia meragukan apakah Pek-liong-eng akan mau datang menolongnya, dan andaikata mau juga, apakah mungkin pendekar itu seorang diri saja menghadapi Hek-sim Lo-mo dan anak buahnya?
Sedikit sekali harapan baginya untuk lobos dari kematian di tangan para penjahat ini.
Diapun tidak mengharapkan dapat lolos, hanya lebih baik mati wajar dari pada mati tersiksa, dan sebaiknya lagi kalau sebelum mati dia menikmati kehidupan yang menyenangkan, menjadi tamu agung di rumah seorang datuk iblis seperti Hek-sim Lo-mo!
Dan siapa tahu, dia mendapat kesempatan untuk meloloskan diri.
Hek-sim Lo-mo lalu mengajak semua anak buahnya pulang ke Lok-yang, di mana dia hidup sebagai seorang hartawan besar di dalam gedungnya yang luas dan megah.
Dia gembira sekali dapat membawa pulang sepasang pedang pusaka itu dan dia menepati janjinya.
Song Tek Hin hidup di dalam gedung itu sehagai seorang tamu terhormat, mendapatkan sebuah kamar yang bersih dan indah, mendapatkan ganti pakaian dan hidangan makanan untuknya juga yang serba enak.
Akan tetapi dia sama sekali tidak boleh bebas dan selalu berada dalam pengawasan para anak buah Hek-sim Lo-mo.
Song Tek Hin juga seorang yang cukup cerdik.
Dia maklum bahwa dia menjadi tamu terhormat bukan karena dimanja, bukan karena disuka, melainkan karena dia dijadikan umpan.
Dia maklum bahwa selama Tan Cin Hay belum muncul, dia akan selamat.
Kalau pendekar itu sudah muncul, barulah dia terancam bahaya dan hanya ada dua kemungkinan baginya.
Pertama, dia akan dapat diselamatkan pendekar itu dan lolos dari rumah penjara mewah ini.
Kedua, dia akan tewas terbunuh sebelum Cin Hay mampu menolongnya.
Maka, diapun tidak tergesa-gesa mencari kesempatan untuk melarikan diri, maklum bahwa hal itu selain amat sukar, juga amat berbahaya.
Sekali saja dia berusaha melarikan diri dan sampai tertangkap kembali, dia pasti akan dibunuh dengan siksaan!
?Y?
Malam itu bulan bersinar terang.
Kota Lok-yang bermandikan sinar bulan dan sejak bulan muncul tadi, orang-orang berjalan-jalan dan keluar dari rumah masing-masing untuk menikmati malam terang bulan yang indah.
Akan tetapi, hawa udara dingin sekali, tanda bahwa musim dingin sudah di ambang pintu.
Saking dinginnya hawa udara, maka belum tengah malam orang-orang sudah masuk ke rumah masing-masing.
Lebih nyaman di dalam rumah dengan perapian menghangatkan tubuh dan menikmati sinar bulan sambil memandang keluar jendela kaca saja.
Malam itu memang indah, namun amat dingin dan karenanya sunyi sekali.
Dari pintu gerbang sebelah barat kota Lok-yang, berkelebat bayangan hitam yang gerakannya seperti seekor burung saja.
Bayangan ini menyusup ke dalam bayangan-bayangan yang redup, agaknya menghindari pertemuan dengan orang dan ia menghampiri sebuah rumah gedung besar yang berdiri di pinggir kota.
Rumah gedung itu adalah tempat tinggal Hek-sim Lo-mo!
Sejenak bayangan itu mengelilingi luar tembok dan setelah bayangan itu merasa yakin bahwa tidak ada orang melihatnya, sekali tubuhnya bergerak, ia telah melompat ke atas tembok dan melayang ke dalam.
Bayangan hitam itu adalah Hek-liong-li Lie Kim Cu.
Wanita ini merasa penasaran sekali kalau belum dapat membasmi Hek-sim Lo-mo dan kawan-kawannya.
Setelah malam tiba, ia memasuki kota Lok-yang dari pintu barat dan langsung saja ia mengunjungi tempat tinggal datuk sesat itu.
Liong-li memang seorang wanita yang amat tabah.
Ia tahu siapa adanya Hek-sim Lo-mo, maklum bahwa seorang di antara Kiu Lo-mo atau Sembilan Ihlis Tua yang turun ke dunia ramai dan membuat geger dunia persilatan itu, bukanlah seorang lawan yang boleh dipandang ringan.
Dan iapun dapat menduga bahwa di rumah datuk itu tentu terdapat pula, para pembantunya yang pandai, di antaranya adalah Kiu-bwe Mo-li yang masih terhitung sucinya atau kakak seperguruannya sendiri karena Kiu-bwe Mo-li adalah murid keponakan dari gurunya.
Akan tetapi, ia tidak takut.
Apa lagi sekarang di pinggangnya tergantung Hek-liong-kiam!
Memang tepat dugaan Liong-li.
Di rumah besar itu, selain Hek-sim Lo-mo sendiri, ting-gal pula belasan orang pelayan wanita yang rata-rata muda, cantik dan pandai silat dan beberapa orang di antara mereka juga melayani majikan mereka sebagai selir-selir.
Selain mereka, di situ, seperti pernah diperintahkan Hek-sim Lo-mo, tinggal pula para pembantu utamanya, yaitu Yauw Ban, Kiu-bwe Mo-li, Jai-hwa Kongcu, dan dua orang kembar He-nan Siang-mo.
Selain mereka berlima, masih ditambah lagi Wei-ho Cap-sha-kwi yang merupakan pasukan penjaga keamanan di gedung itu.
Jelaslah betapa kuatnya keadaan di rumah besar mewah milik Hek-sim Lo-mo itu.
Karena keadaan yang kuat ini agaknya yang membuat mereka menjadi lengah.
Mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Baru Wei-ho Cap-sha-kwi saja sudah merupakan tigabelas orang yang sukar dicari lawannya, apa lagi lima orang pembantu utama Hek-sim Lo-mo.
Belum lagi diingat bahwa Hek-sim Lo-mo sendiri adalah seorang sakti yang agaknya tanpa dikawal atau dijagapun takkan ada orang yang berani mengganggunya.
Hanya orang gila sajalah yang akan berani mati mengganggu kediaman datuk iblis ini!
Pendapat inilah yang membuat para pembantu Hek-sim Lo-mo menjadi lengah dan hanya melakukan penjagaan setengah hati saja, tidak bersungguh-sungguh.
Pada malam yang dingin itu apa lagi!
Wei-ho Cap-sha-kwi merasa malas untuk berjaga di luar, apa lagi di dalam gardu penjagaan yang terbuka sehingga mereka tidak dapat berlindung terhadap serangan hawa udara yang amat dingin itu.
Tentang keindahan sinar bulan di malam itu, bagi orang-orang seperti mereka, mana ada keindahan kecuali hal-hal yang menyenangkan mereka dan memuaskan nafsu-nafsu mereka?
Sesungguhnyalah, hanya orang orang yang wataknya jahat, atau orang-orang tak berperasaan, atau orang-orang yang condong berpenyakit jiwa sajalah yang tidak mampu lagi menikmati keindahan alam.
Tidak mampu menikmati keindahan bentuk-bentuk dan warna-warna bunga, hijaunya rumput dan daun-daunan, indahnya burung-burung dan merdunya nyanyian mereka, nyamannya udara jernih di tempat sunyi, nikmatnya dendang air sungai dan segala keindahan alam yang luar biasa ini.
Lima orang pembantu utama Hek-sim Lo-mo sudah sejak tadi memasuki kamar masing-masing.
Jai-hwa Kongcu Lui Teng berhasil menggandeng seorang di antara para pelayan wanita tuan rumah dan mengajaknya masuk ke dalam kamarnya.
Kiu-bwe Mo-li yang merasa kesepian, meninggalkan kamarnya dan berkunjung ke kamar Song Tek Hin, untuk ke sekian kalinya membujuk rayu pemuda itu yang tak pernah mau melayaninya.
Untuk mempergunakan kekerasan, Kiu-bwe Mo-li tentu saja tidak berani, takut akan larangan Hek-sim Lo-mo.
Wei-ho Cap-sha-kwi yang bertugas jaga dan bahkan bertanggung jawab akan keamanan di sekitar rumah gedung itu, berkumpul di ruangan belakang, menghadapi meja, daging dan kacang goreng, juga beberapa guci arak.
Mereka berusaha menghangatkan tubuh yang diserang hawa dingin itu dengan minum arak!
Tigabelas orang kasar ini sama sekali tidak tahu betapa ada sepasang mata yang jeli dan tajam mengintai dari balik jendela ke arah mereka.
Kalau saja mereka tidak begitu lengah, tentu sebagai orang-orang yang berilmu tinggi, mereka akan menjadi penjaga-penjaga yang sukar ditembus penjagaan mereka.
Orang yang mengintai dari balik jendela itu adalah Liong-li!
Ia segera dapat menduga bahwa tigabelas orang kasar ini adalah anak buah Hek-sim Lo-mo.
Biarpun ia tidak gentar menghadapi keroyokan tigabelas orang itu, akan tetapi Liong-li bersikap hati-hati.
Ia ingin mencari Hek-sim Lo-mo lebih dulu dan ia ingin menyelidiki siapa saja yang berada di rumah itu dan yang akan menjadi lawannya.
Setelah melihat betapa tigabelas orang itu makan minum dengan lahapnya, ia menyelinap pergi.
Biarkan mereka itu minum sepuasnya sampai mabok, makin mabok makin mudah dibasminya nanti, pikirnya.
Melihat sebuah kamar masih terang dan ada suara orang bicara di dalamnya, Liong-li menyelinap ke balik jendela kamar itu dan melubangi kertas jendela.
Ia dapat melihat dengan jelas, dan dapat menangkap percakapan itu dengan jelas pula.
Mula-mula, mukanya berubah merah karena muak dan marah melihat betapa wanita yang sudah dikenalnya, yaitu Kiu-bwe Mo-li, sedang duduk berhadapan dengan seorang pemuda tampan!
Pemuda itu makan minum dan mereka duduk dihalangi meja makan.
Wanita cabul itu nampak genit bukan main, dengan muka yang tebal oleh bedak, putih seperti tembok, mengingatkan Liong-li akan pemain wayang yang menghias mukanya seperti kedok.
Dan wanita cabul itu bicara merengek-rengek, penuh bujuk rayu kepada pemuda yang kelihatannya tenang-tenang saja sambil makan paha ayam yang digerogotinya.
Kelihatannya enak benar pemuda itu makan, sehingga di luar kehendaknya sendiri, Liong-li menelan ludah karena timbul seleranya.
"Orang she Song yang tampan, kurang baik apakah kami di sini terhadap dirimu? Kami melayanimu, memberimu makan enak, pakaian yang baik, kamar yang bersih dan menyenangkan pula. Engkau dianggap sebagai seorang tamu terhormat. Bukankah aku juga selalu bersikap ramah kepadamu?"
Pemuda itu tersenyum dan dari tempat sembunyinya, Liong-li harus mengakui bahwa pemuda itu ganteng dan sikapnya tenang, sedikitpun tidak memperlihatkan rasa takut, akan tetapi jelas dia tidak tertarik oleh bujuk rayu si cabul Mo-li.
"Mo-li, memang kuakui bahwa kalian bersikap baik. Akan tetapi itu hanya karena Hek-sim Lo-mo memegang janjinya kepadaku. Bukankah aku juga bersikap tidak melawan dan tidak pernah berusaha melarikan diri? Bukankah aku telah menjadi umpan yang amat baik? Hanya sayang, Mo-li, tidak ada ikan yang tertarik oleh umpan macam aku."
"Hemm, kami masih merasa yakin bahwa sekali waktu, Pek-liong-eng Tan Cin Hay pasti akan muncul untuk menolongmu."
Tek Hin, pemuda itu, tertawa. Dia memang sedang berusaha agar penjagaan terhadap dirinya makin lengah lagi agar dia memperoleh kesempatan untuk melarikan diri.
"Ha-ha-ha, mana mungkin? Untuk apa dia datang menolongku? Dia bukan orang tolol yang tidak tahu bahwa aku dijadikan umpan untuk memancing kedatangannya! Tidak, aku sudah mengatakan bahwa aku tidak takut mati, dan tidak perlu dia mengorbankan dirinya untuk keselamatanku!"
Mendengar semua itu.
diam-diam Liong.li terkejut.
Kiranya pemuda ini teman dari pemuda berpakaian putih yang lihai itu, Pek-liong-eng Tan Cin Hay!
Dan pemuda ini ditahan di sini sebagai umpan agar Cin Hay datang menolongnya, tentu saja untuk ditangkap atau dibunuh!
"Kalau bukan dia, tentu Hek-liong-li akan datang!"
Kata pula Mo-li.
Tentu saja Liong-li terkejut mendengar ini, hampir saja ia lupa dan hampir mengeluarkan seruan kaget mendengar namanya disebut.
Akan tetapi untung bahwa ia masih mampu mengendalikan dirinya sehingga ia tidak bergerak, hanya jantungnya saja yang berdetak keras karena tegang.
"Sudah beberapa kali engkau menyebut Hek-liong-li! Wanita macam apa sih ia itu? Aku mengenalnyapun tidak! Andaikata ia mau juga menolongku, apa bisa? kuharap ia tidak datang agar tidak sampai menyerahkan nyawanya kepada orang-orang jahat di sini!"
Liong-li cemberut mendengar kalimat pertama, akan tetapi tersenyum mendengar kalimat terakhir.
Pemuda ini boleh juga, pikirnya.
Begitu tabah dan penuh keberanian, dan tidak ingin orang lain celaka untuk menolongnya.
Semangat seperti ini hanya dimiliki seorang pendekar.
Akan tetapi kalau dia pendekar, mengapa mau menjadi tamu terhormat di rumah Hek-sim Lo-mo?
Siapakah dia?
Kini ia melihat Kiu-bwe Mo-li bangkit dan mengitari meja, menghampiri pemuda itu.
"Song Tek Hin, pemuda yang ganteng. Betapa rinduku kepadamu selama ini. Kalau-kalau engkau mau menyenangkan aku, semalam ini saja, besok pagi-pagi engkau sudah akan kubawa jauh meninggalkan tempat ini dan bebas!"
Wajah Liong-li kembali menjadi merah.
Sungguh tak tahu malu, wanita hampir nenek-nenek itu membujuk rayu pemuda itu.
Akan tetapi janjinya sungguh muluk, memberi kebebasan pada keesokan harinya!
Akan maukah pemuda itu?
Akan jatuhkah?
Andaikata pemuda itu mau menerima ajakan Mo-li, ia tidak terlalu menyalahkannya karena imbalannya adalah kebebasan yang berarti mungkin juga keselamatan nyawanya.
Akan tetapi, dengan penglihatannya yang awas dan berpengalaman, Liong-li dapat menduga bahwa kalau pemuda itu mau melayani hasrat kotor nenek itu, tentu dia akan tertipu dan tidak akan mungkin Mo-li berani membebaskannya!
Semua itu hanya tipuan belaka, rayuan kosong.
Hati Liong-li tertarik sekali.
Dia seperti melihat sebuah sandiwara, dimainkan dua orang pemain yang ahli dan pandai.
Dia seperti melihat seorang pemuda diuji ketahanan batinnya.
Sembilan dari sepuluh orang pemuda tentu akan menuruti kemauan Mo-li, mengingat bahwa itu merupakan tebusan nyawa, tebusan kebebasan!
Liong-li melihat betapa kedua tangan Mo-li telah merayap ke pundak kanan kiri pemuda itu, kedua lengan itu siap merangkul dan wanita itu sudah mendekatkan mukanya.
Tiba-tiba pemuda itu menggerakkan tangan kanannya, menyambar ke arah muka Mo-li.
Gerakan pemuda itu jelas menunjukkan bahwa dia mengerti ilmu silat, walaupun tidak terlalu tinggi.
Mo-li terkejut dan hendak mengelak, akan tetapi mukanya terlampau dekat.
"Plakkk!"
Muka nenek itu telah kena ditampar, cukup keras sampai ujung bibirnya berdarah dan pipi yang kempot itu kini kelihatan merah bekas tangan si pemuda!
Hampir saja Liong-li bersorak saking girangnya.
Puas rasa hatinya melihat nenek itu ditampar pipinya, ingin ia bersorak dan bertepuk tangan.
"Nenek tak tahu malu!"
Tek Hin membentak sambil bangkit berdiri.
"Kaukira aku ini orang macam kamu yang tidak malu melakukan perbuatan hina apapun? Aku tidak sudi menuruti kemauanmu yang busuk dan kotor!"
Muka nenek itu sebentar pucat sebentar merah, sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat.
Melihat ini, Liong-li sendiri diam-diam sudah siap-siap untuk menolong kalau-kalau pemuda itu akan dibunuh, hal yang sangat boleh jadi mengingat akan penghinaan hebat yang diterima nenek itu.
"Anjing kecil......, keparat busuk, kau...... kau berani menamparku dan menghinaku?"
Bentak Kiu-bwe Mo-li, tangannya gemetar karena sudah gatal-gatal ia hendak menjatuhkan tangan maut kepada pemuda itu.
Selama hidupnya belum pernah ia menerima penghinaan seperti itu dari seorang pria.
Kebanyakan pria tentu menuruti keinginannya, kalaupun ada yang menolak, maka penolakan itu dilakukan dengan takut-takut dan penuh hormat, bukan secara menghina seperti yang dilakukan Tek Hin, bahkan dengan menamparnya!
"Kubunuh kau......
hemmm, kusiksa kau......!"
Kiu-bwe Mo-li mendesis-desis, kedua tangannya sudah gemetar, dari mulut yang mendesis itu keluar busa, mengerikan sekali sikapnya.
Akan tetapi Tek Hin tersenyum saja, bukan senyum dibuat-buat, melainkan senyum penuh ketenangan dan kemenangan.
"Mo-li, apa gunanya engkau mengancam? Sejak dulupun aku sudah siap menghadapi mati. Siapa takut mati? Mau bunuh, silakan, lakukanlah karena akhirnya engkaupun akan mampus di tangan Hek-sim Lo-mo. Nah, siksalah, hendak kulihat sampai di mana keberanianmu melanggar perintah dan larangan Lo-mo!"
Wajah itu menjadi pucat, sampai beberapa lamanya wanita itu berdiri seperti patung, tak tahu apa yang harus dilakukan, kemudian ia mendengus dan sekali meloncat ia sudah keluar dari dalam kamar itu melalui pintu dan membanting daun pintunya.
Tek Hin tertawa-tawa senang dan melanjutkan makan daging ayam.
Diam-diam Liong-li kagum bukan main.
Hebat memang pemuda itu!
Nyawanya terancam, namun masih mampu main-main, mempermainkan Kiu-bwe Mo-li dan iblis betina itu sama sekali tidak berkutik karena takut kepada Hek-sim Lo-mo.
Diam-diam Liong-li membayangkan dengan hati gentar juga.
Kalau seorang iblis betina seperti Kiu-bwe Mo-li sampai demikian takutnya terhadap Hek-sim Lo-mo, dapat dibayangkan betapa hebat dan kejamnya datuk sesat itu.
Ketika itu, dengan perasaan mendongkol dan hati yang sakit sekali, Kiu-bwe Mo-li meninggalkan kamar Tek Hin.
Ketika ia melewati ruangan dalam, Wei-ho Cap-sha-kwi masih minum-minum.
Mereka tadi mengetahui bahwa wanita itu mengunjungi Tek Hin.
Sudah berulang kali wanita itu membujuk rayu namun tak pernah dilayani oleh tawanan terhormat itu.
Maka kini melihat wanita itu lewat dengan muka keruh, diam-diam mereka mentertawainya.
Akan tetapi, mereka juga heran melihat mengapa sekali ini Kiu-bwe Mo-li kelihatan marah bukan main, bahkan tadi merekapun mendengar suara daun pintu dibanting oleh Mo-li.
Karena sudah menjadi tugas mereka mengamati tawanan yang seperti tamu agung itu, Kwa Ti merasa tidak enak dan menyuruh tiga orang anak buahnya untuk melihat keadaan Tek Hin.
"Coba lihat bagaimana dia, akan tetapi lihat saja dari jendela, tidak perlu masuk,"
Katanya.
Tiga orang anggauta Wei-ho Cap-sha-kwi itu berindap-indap menghampiri kamar Tek Hin dan mereka terkejut melihat bayangan hitam berkelebat meninggalkan jendela kamar itu.
Ada orang luar rupanya yang berada di dalam gedung dan tadi agaknya berdiri diluar jendela kamar Tek Hin!
Mereka segera mencabut senjata masing-masing dan mengejar bayangan hitam itu.
Bayangan itu agaknya sengaja mempermainkan mereka bertiga karena ia tidak segera melarikan diri melainkan berputaran di serambi samping yang menembus ke kebun samping.
Tiga orang itu makin berbesar hati karena agaknya orang itu tidak dapat bergerak dengan sangat gesit, maka tak lama kemudian mereka berhasil menyusul dan mengepung bayangan hitam itu.
Mereka tidak dapat mengenalnya, hanya melihat bayangan hitam yang bentuk tubuhnya ramping, pakaiannya serba hitam.
Dengan garang seorang di antara mereka membentak.
"Siapa engkau? Hayo cepat menyerah dan berlutut sebelum senjata kami minum darahmu!"
Bayangan itu adalah Liong-li. Mendengar bentakan ini, tiba-tiba ia membalik dengan kedua tangan kosong dan senyum mengejek.
"Monyet kecil bermulut besar!"
Katanya.
Begitu wanita itu membalik dan tiga orang itu dapat melihat wajahnya, mereka terkejut bukan main karena tentu saja mereka mengenal Liong-li yang pernah mereka dengar sebagai seorang yang sakti sekali.
Mereka tidak mampu menandingi gadis berpakaian hitam ini, apa lagi kini mereka hanya bertiga!
Orang-orang yang berhati kejam biasanya memang berwatak pengecut.
Mereka hanya berani berlagak dan sewenang-wenang kalau mengandalkan jumlah banyak, atau kalau merasa yakin bahwa mereka lebih kuat.
Kalau bertemu lawan kuat, segera hati mereka menguncup dan mereka menjadi ketakutan.
Tanpa banyak cakap lagi, biarpun golok mereka masih berada di tangan, tiga orang itu membalikkan tubuh, tanpa dikomando lagi mereka melarikan diri seperti bertemu dengan setan yang amat menakutkan.
Akan tetapi, bayangan hitam itu berkelebat cepat sekali, bergerak ke arah mereka dan satu demi satu, tiga orang itu roboh terpelanting dan tidak mampu bangkit kembali karena mereka telah tewas, terkena tamparan Hiat-tok-ciang pada tengkuk mereka!
Kwa Ti merasa khawatir juga setelah menunggu beberapa lamanya, tiga orang rekannya belum juga kembali.
Biarpun dalam keadaan agak pening karena terlalu banyak minum arak, dia masih ada kecurigaan, maka dia lalu memerintahkan lima orang rekannya lagi untuk keluar melihat dan menyusul tiga orang rekan pertama.
Lima orang yang gerakannya agak terhuyung karena terlampau banyak minum arak, sambil tertawa-tawa keluar dari ruangan itu.
"Ha-ha-ha, gara-gara Mo-li yang gila laki-laki itu, membikin repot kita saja!"
Kata seorang di antara mereka.
"Jangan-jangan tiga orang kawan kitapun disuruhnya melayani perempuan haus laki-laki itu!"
Kata orang kedua.
Sambil tertawa-tawa, mereka lalu menuju ke kamar Song Tek Hin yang kini sudah kelihatan gelap.
Akan tetapi sesungguhnya, pemuda itu belum tidur.
Tadi ketika mendengar bentakan seorang diantara anggauta-anggauta Wei-ho Cap-sha-kwi, dia terkejut, cepat memadamkan lampu dan dia mengintai dari balik jendela keluar.
Maka diapun melihat apa yang telah terjadi di luar kamarnya.
Seorang gadis cantik jelita berpakaian hitam telah merobohkan tiga orang di antara Wei-ho Cap-sha-kwi dengan demikian mudahnya, dengan tangan kosong saja!
Tek Hin juga seorang yang memiliki kepandaian silat lumayan, akan tetapi baru sekarang ia melihat seorang gadis muda yang demikian lihainya.
Kiu-bwe Mo-li memang lihai, akan tetapi kiranya nenek itu tidaklah sehebat gadis ini, pikirnya dengan girang akan tetapi juga heran mengapa gadis itu datang dan membunuh tiga orang dari Cap-sha-kwi itu.
Tentu akan terjadi kegemparan dan semua iblis itu akan keluar, pikirnya.
Diapun keluar dari kamarnya.
Melihat orang meloncat keluar dari kamar itu, Liong-li sudah siap untuk mengirim pukulan mautnya.
Akan tetapi ketika ia melihat bahwa yang keluar adalah pemuda yang dikaguminya tadi, iapun menahan senyumnya.
"Mau apa kau keluar?"
Tanyanya sambil tersenyum.
Sejenak Song Tek Hin terkesima.
Gadis itu sedemikian cantik manisnya ketika tersenyum!
Bukan main.
Demikian cantik manis, demikian tinggi ilmunya.
Dan tiba-tiba dia teringat akan percakapan antara para pimpinan kaum sesat itu.
"Apakah nona yang disebut Hek-liong-li?"
Kini Liong-li yang mengerutkan alisnya.
"Bagaimana engkau dapat mengenalku?"
Ia bertanya balik.
"Nona, harap kau cepat pergi dari sini. Mereka semua akan keluar, engkau akan dikeroyok dan mereka itu lihai sekali! Pergilah, nona, sebelum terlambat."
"Tapi engkau sendiri?"
Liong-li bertanya, semakin heran melihat sikap pemuda itu.
"Aku? Ah, biarlah, jangan pusingkan aku. Aku akan akui telah membunuh mereka ini. Cepatlah, nona......!"
Makin kagum rasa hati Liong-li kepada pemuda itu.
Begitu saja pemuda itu yang agaknya menjadi tawanan terhormat di tempat itu, hendak mengorbankan diri untuk keselamatannya dan menasihatkan agar ia cepat menyelamatkan diri, tanpa memperdulikan dirinya sendiri.
Tiba-tiba bermunculan lima orang di antara Cap-sha-kwi.
Melihat ini, Tek Hin cepat mengambil sebatang golok, milik seorang di antara tiga Cap-sha-kwi yang tewas itu.
Sementara itu, melihat betapa tiga orang kawan mereka telah menjadi mayat, tentu saja lima orang itu terkejut sekali.
Tek Hin sudah meloncat ke depan dan berkata dengan suara lantang.
"Aku yang telah membunuh mereka!"
Akan tetapi, lima orang .itu seperti tidak memperdulikannya karena mereka semua kini memandang kepada Liong-li dan wajah mereka berubah pucat, mata mereka terbelalak seperti melihat setan di siang hari!
"Hek-liong-li......!"
Seorang di antara mereka berteriak ketakutan.
Akan tetapi Liong-li sudah menerjang ke depan, membagi-bagi pukulan maut Hiat-tok-ciang.
Melihat ini, Tek Hin juga memutar goloknya dan dia sudah bertanding mati-matian melawan seorang di antara lima anggauta Cap-sha-kwi itu.
Dalam waktu singkat saja, biarpun hanya dengan tangan kosong, Liong-li telah merobohkan tiga orang lagi, Tek Hin juga berhasil menusukkan goloknya memasuki perut lawan dan orang itupun roboh dan tewas.
Seorang lagi hendak melarikan diri, akan tetapi Tek Hin melontarkan goloknya dan senjata itu menancap di punggung lawan yang roboh dan tewas pula.
Tek Hin sudah mengambil dua batang golok lawan, menyerahkan sebatang kepada Liong-li.
"Kepalang, tinggal lima orang lagi di antara Cap-sha-kwi, mari kita serbu mereka di dalam!"
Pemuda ini tidak mau mempergunakan kesempatan itu untuk melarikan diri, agaknya dia lupa saking gembiranya melihat betapa ada orang yaqg mampu membasmi Cap-sha-kwi demikian mudahnya, bahkan diapun kebagian dua orang lawan.
Hal ini sedikit banyak membuat dia mampu membalas atas kematian keluarga tunangannya, yaitu Pouw Sianseng dan Pouw Bi Hwa.
Melihat sikap pemuda ini yang berubah, dan nampaknya demikian gagah, Liong-li hanya mengangguk dan iapun mengikuti pemuda itu yang menyerbu ke dalam ruangan di mana sisa Cap-sha-kwi masih minum-minum.
Tinggal lima orang anggauta Wei-ho Cap-sha-kwi yang tinggal, dipimpin oleh Kwa Ti.
"Heii, Kwa Ti babi gendut! Sekarang tiba saatnya bagi kamu dan gerombolanmu Cap-sha-kwi mampus dan menghadap Giam-ong untuk menerima hukuman di neraka!"
Bentak Tek Hin sambil meloncat masuk melalui pintu, diikuti oleh Liong-li yang juga memegang sebatang golok rampasan.
Melihat masuknya Tek Hin yang memegang sebatang golok, lima orang itu terkejut, akan tetapi mereka lebih kaget lagi, bahkan gentar ketika melihat gadis pakaian hitam yang ikut melompat masuk di belakang pemuda itu.
"Liong-li.....!"
Kwa Ti berseru kaget dan mereka berlima sudah cepat mencabut golok masing-masing.
Dengan sikap gagah, Tek Hin yang merasa gembira karena melihat betapa delapan orang Cap-sha-kwi telah tewas, dengan penuh semangat lalu menerjang maju dan menggerakkan goloknya menyerang Kwa Ti, orang pertama dari Cap-sha-kwi!
"Trang-trang......!"
Kwa Ti yang berperut gendut itu menangkis sambil mengerahkan tenaganya dan akibatnya, tubuh Tek Hin terdorong ke belakang dan dia merasa tangan yang memegang golok tergetar hebat.
Akan tetapi, Tek Hin tidak menjadi gentar dan diapun cepat memutar lagi goloknya dan menyerang lagi lebih dahsyat.
Kwa Ti mengelak dan membalas, dia dibantu oleh seorang rekan dari kiri.
Desakan mereka membuat Tek Hin terhuyung dan tentu golok di tangan Kwa Ti akan mengenai tubuhnya kalau saja pada saat itu tidak berkelebat bayangan hitam.
Tangan Liong-li bergerak, sinar golok berkelebat dan tubuh Kwa Ti terjengkang, darah mengucur dari lehernya dan diapun tewas seketika!
Empat orang yang lain menjadi panik.
Mereka ada yang berteriak-teriak minta tolong.
Akan tetapi Tek Hin sudah merobohkan seorang lagi, sedangkan amukan golok di tangan Liong-li membuat tiga orang yang lain roboh pula.
Kini habislah Wei-ho Cap-sha-kwi, semua tewas di tangan Liong-li yang dibantu Tek Hin.
"Lihiap (pendekar wanita), engkau sungguh hebat...... aku kagum sekali, engkau sungguh luar biasa sekali!"
Tek Hin menjura dan memuji dengan pandang mata penuh kagum.
Mau tak mau Liong-li tertawa.
Pemuda ini gagah dan lucu, juga pemberani dan tidak begitu mementingkan diri pribadi, seolah-olah berani menentang maut dengan sikap terbuka.
Akan tetapi pada saat itu, nampak banyak bayangan orang berkelebat masuk dan di situ telah berdiri Yauw Ban, Kiu-bwe Mo-li, Jai-hwa Kongcu, dan dua orang kembar He-nan Siang-mo!
Mereka berlima telah memegang senjata masing-masing dan sikap mereka mengancam sekali.
Mereka semua marah melihat mayat-mayat bergelimpangan dan tahulah mereka bahwa Wei-ho Cap-sha-kwi telah tewas semua di tangan gadis pakaian hitam yang amat lihai itu.
"Awas, lihiap. Inilah para pembantu utama Hek-sim Lo-mo!"
Kata Tek Hin, hatinya gentar karena dia membayangkan betapa akan beratnya kalau nona itu harus melawan pengeroyokan lima orang ini.
"Minggirlah, biar kuhadapi mereka!"
Kata Liong-li dengan sikap tenang walaupun ia maklum bahwa lima orang lawannya ini tentu merupakan lawan yang amat berat. Kiu-bwe Mo-li terkekeh.
"Heh-he-he-be, sumoi, kiranya engkau datang juga untuk menyerahkan nyawamu!"
"Aku tidak mempunyai suci macam engkau,"
Bentak Liong-li dengan perasaan sebal.
"Tar-tar-tarrr......!"
Cambuk ekor sembilan di tangan Kiu-bwe Mo-li meledak-ledak ketika ia menggerakkan cambuk itu di atas kepalanya.
"Sumoi atau bukan, engkau akan mampus di tangan kami!"
Dan iapun sudah menerjang dengan cambuk hitamnya, mengirim serangan yang dabsyat kepada Liong-li yang masih memegang golok.
Liong-li tidak tergesa mempergunakan pedang pusakanya karena bagaimanapun juga, ia tidak begitu memandang tinggi para lawannya.
Kalau Hek-sim Lo-mo yang keluar, barulah ia akan mempergunakan pedang pusakanya itu.
Maka, menghadapi serangan Kiu-bwe Mo-li, ia menggerakkan goloknya menangkis.
Sementara itu, melihat betapa gadis perkasa itu menghadapi banyak lawan, Song Tek Hin tidak mau tinggal diam saja.
"Lihiap, aku akan membantumu sedapat mungkin!"
Teriaknya dan dengan goloknya, diapun terjun ke dalam perkelahian itu dan menyerang Kiu-bwe Mo-li dengan bacokan sekuat tenaga.
"Tranggg!"
Goloknya tertangkis di udara dan terpental lepas dari tangannya ketika pedang di tangan Yauw Ban menangkis golok itu.
Dan sebelum Tek Hin dapat mengelak, jari tangan kiri Yauw Ban meluncur dan sebuah totokan membuat Tek Hin terguling dan tak mampu berkutik lagi!
Melihat ini, Liong-li terkejut dan hendak menolong pemuda itu, akan tetapi pada saat itu, bukan hanya Kiu-bwe Mo-li yang menyerang, melainkan juga Jai-hwa Kong-cu Lui Teng dan sepasang orang kembar He-nan Siang-mo sudah pula mengeroyoknya.
Ia memutar goloknya menghadapi pengeroyokan empat orang ini dan para pengeroyoknya itu sama sekali tidak boleh disamakan dengan para anggauta Cap-sha-kwi!
Mereka sudah mendengar akan kelihaiannya, maka empat orang itu bersikap hati-hati sekali sehingga pukulan-pukulan Hiat-tok-ciang dari tangan kiri Liong-li belum juga menemui sasaran karena selalu dielakkan lawan.
Bahkan kini Yauw Ban juga turut mengeroyoknya dengan permainan pedangnya yang amat lihai itu.
Baru kini Liong-li tahu bahwa para pembantu utama dari Hek-sim Lo-mo memang hebat sekali.
Pengeroyokan lima orang itu membuat ia terdesak, akan tetapi gadis yang amat perkasa ini memutar goloknya sedemikian rupa sehingga seluruh tubuhnya lenyap terlindung oleh gulungan sinar golok yang berkilauan tertimpa sinar lampu-lampu yang lebar itu.
Golok itu milik seorang di antara Wei-ho Cap-sha-kwi.
Karena tigabelas orang tokoh sesat ini merupakan tokoh sesat yang terkenal dan sudah lama malang melintang di dunia kang-ouw, maka golok mereka tentu saja bukan golok sembarangan, melainkan terbuat dari baja yang baik.
Maka, bertemu dengan senjata lima orang itu, Liong-li dapat menandingi dan tangkisan-tangkisannya tidak sampai merusakkan goloknya.
Tiba-tiba terdengar bentakan parau yang suaranya menggetarkan ruangan itu.
"Hemm, inikah yang berjuluk Hek-liong-li??"
Dan ada angin menyambar dahsyat ke arah gadis itu. Liong-li terkejut melihat sinar terang dan karena sinar itu menyambar ke arah lehernya, ia cepat menggerakkan goloknya menangkis.
"Trakkk......!"
Goloknya patah menjadi dua potong dan angin yang amat keras menyambar ke arahnya.
Ia cepat mempergunakan gin-kangnya dan tubuhnya sudah meloncat keluar dari ruangan itu!
Kiranya yang menyerangnya adalah seorang kakek raksasa yang tinggi besar bermuka hitam.
Ia dapat menduga bahwa tentu ini yang bernama Hek-sim Lo-mo!
Ketika ia melompat keluar dari ruangan itu, Hek-sim Lo-mo dan lima orang pembantunya mengejar dan berlompatan keluar.
Liong-li bermaksud untuk melawan mati-matian, akan tetapi tiba-tiba ada bayangan putih berkelebat di sampingnya dan lengannya disentuh orang.
"Hek-liong-li, cepat lari. Jangan melawan musuh di dalam sarangnya!"
Kata orang yang menyentuh lengannya itu.
"Pek-liong-eng......!"
Liong-li berseru, agak marah melihat pemuda ini berani menghalanginya.
"Ssttt, nanti kita bicara. Mari kita pergi!"
Cin Hay sudah menangkap lengan kanan wanita itu yang tadinya hendak mencabut pedang, dan sekali meloncat, tubuh Cin Hay melesat jauh dan tubuh Liong-li terbawa loncat!
Wanita itu mendongkol sekali, akan tetapi ia dapat melihat kebenaran ajakan untuk lari ini.
Memang ia telah bersikap sembrono sekali.
Pihak musuh amat kuat, dan ia tidak tahu siapa lagi yang berada di situ.
Kalau ia dikeroyok banyak orang pandai di dalam sarang mereka, hal ini amatlah berbahaya.
Maka iapun melepaskan lengannya dan lari sendiri dengan cepatnya.
Mereka berdua menghilang ditelan kegelapan bayang-bayang pohon sehingga Hek-sim Lo-mo dan lima orang pembantunya tidak dapat melakukan pengejaran.
"Pemuda pakaian putih itupun muncul......!"
Kata Jai-hwa Kongcu dengan khawatir dan agak gemetar.
"Cap-sha-kwi telah tewas semua di tangan Liong-li!"
Kata Kiu-bwe Mo-li dengan gemas.
"Sebaiknya Song Tek Hin itu dibunuh saja. Dia yang menjadi gara-gara sampai Cap-sha-kwi tewas!"
Kata Gan Siang, seorang dari He-nan Siang-mo.
"Kalian sungguh bodoh!"
Kata Hek-sim Lo-mo.
"Kalau Cap-sha-kwi mampus, hal itu adalah karena ketololan mereka sendiri, karena mereka telah lengah dan mabok-mabokan. Akan tetapi sungguh bodoh sekali kalau Song Tek Hin itu dibunuh. Dia tetap merupakan umpan yang baik. Bukankah dua ekor ikan itu benar-benar muncul karena ada umpan pemuda itu? Malam ini mereka hanya dapat membunuh Cap-sha-kwi, akan tetapi bukan itu tujuan mereka. Mereka pasti akan datang lagi untuk menolongnya, karena itu tidak boleh dibunuh. Belum waktunya dia dibunuh!"
Demikianlah, Tek Hin masih terlepas dari maut yang sudah mengancamnya dan kini dia disekap dalam kamar, diawasi dengan ketat oleh kelima pembantu utama Hek-sim Lo-mo.
Walaupun dia masih diberi makan dan tidak disiksa, akan tetapi kaki tangannya dirantai dan dia tidak diperkenankan keluar dari kamarnya!
?Y?
"Engkau lancang sekali!
Kenapa engkau berani menarikku dan membujukku pergi meninggalkan sarang Hek-sim Lo-mo?"
Liong-li mencela Cin Hay sambil mengerutkan alisnya.
Mereka sudah tiba jauh di luar kota Lok-yang, duduk di tepi sungai kecil di sebuah hutan, di mana terhampar rumput hijau yang tebal dan lunak.
Sinar bulan menimpa air yang berdendang merdu, air yang tidak begitu dalam, namun amat jernih dan yang bermain-main dengan batu-batu kali yang berkilauan tertimpa sinar bulan.
Pohon-pohon besar di belakang sana nampak seperti barisan raksasa yang melindungi mereka, dan hamparan petak rumput itu seperti permadani hijau yang amat indah.
Malam sudah amat larut dan hawa udara amat dinginnya.
Cin Hay membuat api unggun dan api itu mendatangkan kehangatan dan mengusir nyamuk.
Mendengar ucapan Liong-li yang mencelanya, celaan yang entah ke berapa kalinya karena sejak tadi wanita itu mengomel terus, dia lalu menghadapinya.
Mereka duduk di atas rumput.
berhadapan, terhalang api unggun.
Dari balik api unggun, melihat wajah wanita muda berpakaian serba hitam itu sungguh merupakan penglihatan mentakjubkan.
Wajah yang ayu itu seperti terbuat dari pada emas.
Emas yang terukir indah.
Matanya seperti sepasang bintang.
Dan mulut itu!
Agak cemberut, bibirnya agak terbuka.
manisnya sukar diceritakan!
"Maafkan aku, nona......"
"Tidak usah nona-nonaan! Engkau bukan pelayanku!"
Liong-li yang masih mendongkol itu mencela lagi. Cin Hay membelalakkan matanya.
"Sungguh membingungkan! Disebut nona tidak mau, dan aku belum mengetahui siapa namamu, habis harus panggil apa?"
"Engkau panggil apa saja, asal jangan nona. Panggilan itu seperti ejekan saja karena engkau bukan kacungku!"
"Baiklah, Liong-li. Sebaiknya tanpa Hek (hitam) karena engkau tidak berkulit hitam, Hanya pakaianmu yang hitam. Maafkan aku tadi, Liong-li. Melihat engkau menandingi Hek-sim Lo-mo dan para pembantunya di sarang mereka, aku khawatir sekali. Ketahuilah bahwa datuk iblis itu lihai bukan main......"
"Aku tahu! Golok rampasanku tadi patah oleh pedangnya, akan tetapi engkau boleh takut kepadanya, aku tidak!"
"Ah, harap engkau suka bersikap adil dan suka mempertimbangkan, Liong-li. Ini bukan soal takut atau tidak, melainkan kita harus berhati-hati menghadapi orang-orang jahat dan licik seperti mereka. Kalau tadi engkau nekat menghadapi pengeroyokan mereka di sarang mereka, akhirnya engkau tentu akan celaka."
"Hemm, perduli amat engkau apakah aku akan celaka atau tidak? Pula, di sana terdapat pemuda yang gagah berani itu......"
"Ahhh? Kaumaksudkan Song Tek Hin?"
"Namanya Song Tek Hin? Dia seorang yang memiliki ilmu silat sedikit saja, akan tetapi dia sungguh gagah berani menghadapi maut. Tidak lari-lari ketakutan seperti kita tadi!"
Cin Hay tertawa.
"Ha-ha, memang Tek Hin memiliki keberanian yang hebat! Bahkan kalau tidak kebetulan aku melihat dan mencegahnya, dia sudah mengambil nyawanya sendiri. Tentu saja sekarang dia tidak takut mati, karena agaknya memang dia merindukan kematian."
"Ehh? Apakah yang terjadi dengan dia?"
Liong-li tertarik sekali.
Semua kemarahan lenyap dari mukanya dan kini ia bersikap seolah-olah ia sedang bercakap-cakap dengan seorang sahabat lama.
Dan Cin Hay juga merasa senang melihat sikap ini.
Entah bagaimana, dia merasa seolah-olah sudah lama sekali mangenal baik dan menjadi sahabat gadis perkasa ini!
Dia merasa cocok sekali dengan Liong-li, bahkan walaupun wataknya angin-anginan, mudah marah, namun watak inipun menarik baginya, karena marahnya gadis itu ada dasarnya.
"Dia itu calon mantu mendiang Pouw Sianseng......"
"Siapa itu Pouw Sianseng dan apa hubungannya......"
"Semua ada hubungannya. Harap dengarkan ceritaku dengan tenang dan sabar, Liong-li. Setelah kita berdua dipilih oleh mendiang kakek Thio Wi Han sebagai ahliwaris-ahliwaris Pek-liong-kiam dan Hek-liong-kiam, kiranya sudah sepatutnya kalau kita bekerja sama menghadapi Hek-sim Lo-mo, bukan?"
"Lihat saja nanti perkembangannya. Teruskan ceritamu tentang Song Tek Hin itu."
"Pouw Sianseng adalah orang yang beruntung mendapatkan Kim-san Liong-cu, yaitu batu atau logam pusaka yang diperebutkan......"
"Aku tahu tentang Kim-san Liong-cu,"
Liong-li memotong.
"guruku menyuruh aku untuk mencari dan mendapatkan Kim-san Liong-cu pula. Bagaimana Kim-san Liong-cu dapat terjatuh ke tangan orang bernama Pouw Sianseng itu?"
"Hal itu aku kurang jelas, sebaiknya kelak kita tanyakan kepada Tek Hin, kalau kita berhasil membebaskannya. Akan tetapi, agaknya Hek-sim Lo-mo tahu akan rahasia itu. Dia menangkap Pouw Sianseng dan puterinya yang menjadi tunangan Song Tek Hin. Puterinya diperkosa oleh anak buah Hek-sim Lo-mo untuk memaksa Pouw Sianseng menyerahkan mustika itu, dan akhirnya Pouw Sianseng pun dibunuh setelah Liong-cu (mustika naga) itu terampas oleh Hek-sim Lo-mo. Puterinya juga tewas."
"Hemm, memang mereka itu iblis-iblis kejam!"
Kata Liong-li gemas.
"Seperti engkau mungkin sudah dapat menduga, Hek-sim Lo-mo membawa Liong-cu itu kepada kakek Thio Wi Han, ahli pembuat pedang pusaka dan memaksa kakek itu membuatkan sepasang pedang. Anak buahnya berjaga-jaga di rumah suami isteri Thio Wi Han itu. Akan tetapi seperti kita ketahui, agaknya mereka berdua tidak rela menyerahkan pedang-pedang pusaka kepada Hek-sim Lo-mo. Mereka melarikan diri dan bertemu dengan kita."
"Hemm, lalu bagaimana dengan pemuda itu?"
"Wah, agaknya engkau tertarik sekali kepadanya!"
Cin Hay berseru. Wanita itu menatap wajahnya dengan sinar mata tajam, dan polos.
"Memang, aku tertarik kepadanya dan aku suka kepadanya. Dia pemberani, gagah, tidak mementingkan diri sendiri......"
"Dan tampan!"
"Ya, dan tampan,"
Kata pula Liong-li dengan polos.
Cin Hay tersenyum.
Dia tidak cemburu atau iri hati, seolah-olah dia mendengarkan seorang adik perempuan memuji-muji seorang kawan pria saja!
"Aku bertemu dengan Song Tek Hin ketika dia hendak membunuh diri di depan kuburan kuno dari Kiang-sun-ong, karena dia merasa berduka telah kehilangan tunangannya, yaitu Pouw Bi Hwa yang tewas bersama ayahnya di tangan Hek-sim Lo-mo dan anak buahnya.
Aku sempat mencegahnya dan menasihatinya, dan dia menurut, bahkan kami lalu pergi mengunjungi kakek Thio Wi Han.
Sayang, kami berdua tertawan oleh para penjahat itu......"
"Engkau? Tertawan? Aneh, kukira kepandaianmu cukup untuk dapat membela diri dan tidak sampai tertawan!"
"Mereka menangkap Tek Hin dan mengancam sehingga terpaksa aku menyerah dan ditawan bersama dia di dalam rumah mendiang kakek Thio Wi Han. Kemudian, kakek Thio muncul di pagi hari dan menyerahkan pedang Pek-liong-kiam ini kepadaku setelah dia terluka parah. Aku membawanya lari, terpaksa meninggalkan Tek Hin yang kembali mereka tawan."
"Hemm, dan engkau bertemu dengan aku yang menyelamatkan isteri kakek Thio itu, dan agaknya Tek Hin lalu dibawa ke sini oleh Hek-sim Lo-mo dan anak buahnya."
"Begitulah, Liong-li,"
Kata Cin Hay sambil menambahkan kayu pada api unggun.
"Tentu saja aku tidak dapat membiarkan dia menjadi tawanan, maka aku memang sudah mempunyai niat untuk mencoba membebaskannya sambil menentang Hek-sim Lo-mo dan kawan-kawannya. Akan tetapi, engkau mendahului dan aku membayangimu dari jauh. Aku melihat betapa engkau telah menewaskan Cap-sha-kwi, sungguh hebat sekali engkau, Liong-li. Setidaknya, kini kekuatan mereka berkurang."
Menerima pujian itu, kembali Liong-li merasa jantungnya berdebar.
Ini aneh, pikirnya.
Banyak sudah ia menerima pujian pria, baik untuk kecantikannya maupun untuk kelihaiannya, dan setiap kali menerima pujian, ia merasa jemu dan bahkan dengan senyum mengejek.
Ia tahu betapa pria memang paling pandai memuji dan suka mengobral pujian, tentu saja dengan maksud untuk merayu kaum wanita.
Akan tetapi, pujian yang keluar dari mulut Cin Hay ini tidak dianggapnya sebagai rayuan, bahkan berarti besar.
Hal ini adalah karena ia tahu benar bahwa kepandaian pemuda ini tidak berada di sebelah bawah tingkatnya!
Sejenak mereka saling pandang dari atas api unggun dan jelas nampak betapa masing-masing saling pandang dengan sinar mata penuh kekaguman.
"Kalau engkau tahu bahwa kekuatan mereka berkurang, kenapa engkau mengajak aku lari seperti dua orang anak kecil takut menghadapi setan-setan? Kenapa kita tidak menyerbu saja dan membasmi mereka malam tadi?"
"Aku sudah pernah menjadi tahanan mereka, akan tetapi ketika itu aku ditahan di dalam rumah kakek Thio Wi Han yang bersahaja. Kini, mereka berada di dalam sarang mereka sendiri. Orang-orang seperti mereka yang amat kejam dan jahat, tentu juga amat curang dan licik. Dalam sarang itu tentu dipasangi banyak alat-alat rahasia dan jebakan-jebakan yang berbahaya. Hal itu amat membahayakan keadaan kita sendiri."
"Apakah tidak membahayakan keselamatan Song Tek Hin?"
Cin Hay tersenyum.
"Jangan khawatirkan dia. Kalau memang para iblis itu menghendaki nyawanya, apa sukarnya bagi mereka untuk membunuhnya? Memang begitulah keadaannya yang kadang-kadang amat membingungkan. Orang yang ingin mati, tidak juga menemui kematiannya, sebaliknya orang yang tidak ingin mati, sekali waktu tiba-tiba saja mati! Kalau orang macam Hek-sim Lo-mo tidak segera membunuh Tek Hin dan menahannya, maka hal itu hanya berarti bahwa datuk iblis itu masih membutuhkan Tek Hin hidup-hidup. Dan agaknya aku mengetahui mengapa mereka belum juga membunuhnya, dan sekarangpun kita tidak perlu khawatir dia akan dibunuh tidak secepat itu!"
"Hemm, omonganmu masuk di akal. Akan tetapi apa yang menyebabkan Hek-sim Lo-mo tidak segera membunuhnya?"
"Untuk memancing kedatanganku!"
"Hemm, belum tentu hanya itu, juga memancing kedatanganku!"
Kata Liong-li tidak mau kalah.
"Ehh? Apakah mereka juga mengenalmu sebagai lawan?"
"Sebelum malam ini, aku pernah bentrok dengan mereka, juga aku telah membunuh Twa-to Ngo-houw anak buah mereka, membunuh pula Tiat-pi Hek-wan, Hek-sim Lo-mo tentu amat membenciku."
"Aihh, dan sekarang engkau membunuh pula Wei-ho Cap-sha-kwi! Hebat, engkau memang hebat, Liong-li. Aku kagum padamu, dan tentu Tek Hin akan merasa girang sekali mendengar bahwa engkau yang membunuh Tiat-pi Hek-wan, karena penjahat itulah yang memperkosa tunangannya sampai mati."
Liong-li termenung.
Betapa banyaknya manusia yang baik hidup menderita di dunia ini.
Ia teringat akan keadaan hidupnya sendiri.
Ia tidak merasa bahwa ia seorang manusia yang baik, akan tetapi setidaknya ia tidak pernah melakukan perbuatan jahat, sampai tiba perubahan hebat pada dirinya semenjak ia secara terpaksa menjadi selir Pengeran Coan Siu Ong.
Ia memandang kepada Cin Hay, diam-diam ia ingin sekali mendengar bagaimana riwayat pendekar muda berpakaian putih ini.
Apakah juga pernah menderita sengsara seperti ia dan juga seperti Tek Hin?
Akan tetapi untuk menanyakan hal itu, ia merasa rikuh.
"Sekarang, setelah kita melarikan diri dari sana, lalu apa yang akan kita lakukan?"
"Kita menghadapi Hek-sim Lo-mo dan kawan-kawannya di luar sarang mereka, agar tidak ada bahaya perangkap dengan alat rahasia."
"Bagaimana kita dapat memancing mereka keluar?"
"Kita tidak memancing mereka, melainkan menantang! Terang-terangan kita tantang Hek-sim Lo-mo untuk mengadu kepandaian di suatu tempat terbuka. Aku yakin seorang datuk iblis seperti dia memiliki watak yang angkuh dan tentu dia merasa malu kalau tidak menerima tantangan kita orang-orang muda."
Liong-li mengangguk-angguk.
"Baik, kaulakukan saja hal itu. Akan tetapi kalau tidak berhasil besok dia keluar memenuhi tantangan kita, aku akan menyerbu ke sana seorang diri!"
Cin Hay tersenyum.
"Harap jangan tergesa-gesa. Berilah waktu sampai dua hari. Aku mengundang dia dengan surat tantangan besok agar besok lusa dia suka datang ke tempat ini, lusa jam sembilan pagi untuk memenuhi tantangan kita. Kalau lusa dia tidak datang, barulah kita menyerbu ke sana."
"Kita?"
"Tentu saja, Liong-li. Kita berdua sudah sama-sama terjun ke dalam urusan ini, sama-sama basah. Apakah engkau tidak sudi bekerja sama dengan aku?"
Beberapa lamanya mereka saling pandang. Api unggun sudah padam, akan tetapi mereka tidak memerlukannya lagi karena sinar matahari pagi sudah mulai mengusir sisa kegelapan malam.
"Mengingat bahwa kita berdua adalah ahli waris sepasang pedang Naga, baiklah, aku mau bekerja sama. Akan tetapi aku tidak mau menjadi anak buahmu yang harus mentaati semua perintahmu."
"Begitukah? Baik, mulai sekarang engkau yang menjadi pemimpinnya, Liong-li, dan aku akan mentaati semua petunjukmu!"
Wajah Lie Kim Cu berubah merah dan mulutnya cemberut.
"Bukan begitu maksudku, kita bekerja sama, setiap tindakan harus dirundingkan dan disetujui bersama. Pendeknya, aku tidak mau menjadi anak buah."
"Aku tidak berkeberatan untuk menjadi anak buah,"
Jawab Cin Hay.
"biar engkau yang menjadi bapak buah...... eh, maksudku ibu buah...eh......"
"Sudahlah, aku setuju dengan maksudmu mengirim surat tantangan tadi. Bagaimana engkau hendak melakukannya?"
"Akan kutulis sebuah surat tantangan berbunyi begini . Hek-liong-li dan Pek-liong-eng menantang Hek-sim Lo-mo untuk mengadu ilmu. Kalau berani, agar datang di petak rumput tepi sungai dalam hutan sebelah timur kota, besok pagi jam 9.00 pagi. Kami tunggu!"
Liong-li mengangguk-angguk.
"Baik, kalau begitu, aku mau pergi dulu dan besok lusa pagi aku datang ke sini."
"Nanti dulu, Liong-li, masih ada siasat lain yang perlu kubicarakan denganmu."
Liong-li yang tadinya sudah bangkit berdiri, terpaksa duduk kembali dan memandang wajah pemuda itu dengan tajam penuh selidik.
"Siasat apa lagi?"
"Liong-li, engkau tentu tahu bahwa orang semacam Hek-sim Lo-mo adalah lawan yang tangguh sekali, selain tinggi ilmu silatnya, juga tentu licik dan curang. Dia menawan Tek Hin, tentu akan mempergunakan pemuda itu, selain untuk memancing kami, juga mungkin sekali dia hendak mempergunakan dia sebagai sandera untuk memaksa kita menyerah. Oleh karena itu, akan lebih baik kalau kita setelah mengirim surat tantangan, berusaha untuk membebaskan Tek Hin lebih dulu."
"Hemm, caranya?"
Tanya Liong-li sambil mengelus-elus dagunya.
Diam-diam Cin Hay amat tertarik.
Wanita cantik ini kadang-kadang lucu, mengelus dagu seperti kebiasaan banyak pria kalau sedang berpikir.
Pada hal dagu itu halus mulus, sama sekali tidak ada jenggotnya!
"Caranya?
Kita bekerja sama, maka kuserahkan padamu bagaimana baiknya untuk dapat membebaskan Tek Hin sebelum gerombolan penjahat itu memenuhi undangan kita." (Lanjut ke
Jilid 13) Sepasang Naga Penakluk Iblis (Seri ke 01-Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo
Jilid 13 Liong-li merasa bahwa ia sedang diuji kecerdikannya oleh Pek-liong-eng, maka iapun berpikir keras dan mengambil keputusan untuk memaksakan siasat yang sedang dirancangnya itu.
Ada sepuluh menit ia mengerutkan alis dan termenung itu, dan diam-diam Cin Hay mengerling dan mengamatinya dengan hati tertarik.
"Ah, sudah kudapatkan!"
Tiba-tiba wanita itu berseru dan wajahnya berseri.
"Bagus, bentangkan rencanamu, Liong-li!"
Kata Cin Hay, ikut gembira.
"Kalau kita malam ini atau malam besok menyerbu untuk menolong Tek Hin, hal itu tentu tidak ada gunanya karena kita sudah mengirim tantangan memancing mereka keluar dari sarang. Lalu bagaimana kita dapat membebaskan Tek Hin sebelum mereka keluar memenuhi tantangan kita? Hanya ada satu jalan!"
Liong-li memandang Cin Hay den keduanya saling pandang seperti hendak menjenguk isi hati masing-masing.
Cin Hay juga sudah mempunyai rencana dan memang tepat seperti dikatakan Liong-li tadi.
Hanya ada satu jalan, dan dia ingin sekali tahu apakah jalan pikiran mereka sama.
"Nanti dulu, Liong-li. Tunggu aku tuliskan dulu rencanaku, kemudian disesuaikan dengan rencanamu dan kita rundingkan sematangnya."
Cin Hay cepat mengeluarkan alat tulis yang berupa daun lebar saja yang dipetiknya dari pohon dan sebatang kayu kecil runcing untuk menulis.
Dicoret-coretnya di atas beberapa helai daun, kemudian setelah selesai, dia menelungkupkan daun-daun itu dan berkata lagi.
"Nah, sekarang katakanlah bagaimana jalan satu-satunya yang hendak kau tempuh untuk menolong Tek Hin."
"Kita tidak mungkin menolong Tek Hin keluar dari sarang itu selama Hek-sim Lo-mo dan kawan-kawannya berada di sana. Kita lihat saja. Kalau lusa dia bawa Tek Hin keluar untuk menyambut tantangan kita, seorang di antara kita serbu Hek-sim Lo-mo dan seorang lagi cepat membebaskan Tek Hin. Kalau mereka meninggalkan Tek Hin di sarang mereka, begitu mereka keluar untuk menyambut tantangan kita, kita menyelundup dulu ke dalam dan membebaskannya, baru kita mengejar gerombolan itu."
Cin Hay tersenyum. Hatinya gembira sekali, gembira dan juga kagum. Ternyata jalan pikiran mereka sama! Sungguh senang sekali bekerja sama dengan wanita yang cantik manis dan cerdik ini.
"Hemm, kenapa kau senyum-senyum?"
Cin Hay menyerahkan tumpukan daun yang ditulisnya tadi kepada Liong-li.
"Kau bacalah sendiri."
Liong-li membaca. Coretan-coretan itu cukup jelas, dan alisnya berkerut ketika ia membaca.
"Kalau mereka membawa Tek Hin, kita serbu di perjalanan, kalau mereka meninggalkannya, kita bebaskan Tek Hin selagi mereka keluar memenuhi tantangan kita."
"Heiii, kau menjiplak saja rencanaku, ya?"
"Aih, Liong-li, bagaimana aku menjiplak kalau aku yang lebih dulu menuliskannya di atas daun-daun ini? Apakah engkau tadi melihat aku corat-coret dan dapat membaca dari gerakanku?"
"Tan Cin Hay!"
Liong-li meloncat berdiri dan alisnya terangkat, matanya terbelalak marah.
"Kau menuduh aku menjiplakmu? Hei, laki-laki yang lancang mulut!"
Cin Hay terkejut. Sungguh sukar diduga sebelumnya watak wanita ini, pikirnya. Tiada hujan tiada angin, seperti kilat dan guntur menyambar-nyambar begitu saja. Cepat dia bangkit berdiri.
"Maaf, Liong-li. Aku hanya ingin bergurau. Tentu saja engkau tidak menjiplaknya, seperti akupun tidak menjiplak darimu. Ternyata jalan pikiran kita sama dan ini berarti bahwa memang kita cocok untuk saling kerja sama. Selanjutnya, bagaimana baiknya rencana ini dilaksanakan, terserah kepadamu."
Rasa panas di dada Liong-li menjadi dingin kembali.
Wataknya memang pemarah semenjak ia menjadi Liong-li, akan tetapi kesadarannya selalu membuat ia mudah melihat persoalan dan iapun tahu bahwa pemuda itu tidak sengaja menuduhnya menjiplak.
"Sudahlah, sebaiknya kau berhati-hati kalau bicara. Ingat, di antara kita belum ada yang kalah atau menang, maka sekali waktu ingin aku menguji kepandaian kita."
"Wah, lupa lagi kau, Liong-li? Aku pernah terkena pukulanmu, tangan kirimu yang membuat aku panas dingin dan keracunan."
"Hemm, itu belum berarti aku menang. Sudah, mari kita rundingkan dari mana kita dapat mengintai sebaiknya. Tentu mereka akan melalui pintu gerbang sebelah timur, kita mencari tempat persembunyian yang baik di luar pintu gerbang......"
Mereka lalu duduk lagi.
Kini api unggun telah padam, dan mereka merundingkan siasat mereka untuk mengirim tantangan dan untuk mengintai rombongan musuh itu kalau mereka keluar esok lusa pagi.
?Y?
Bayangan yang tubuhnya ramping itu bergerak dengan gesitnya, meloncati pagar tembok bangunan rumah Hek-sim Lo-mo.
Di punggungnya tergantung sepasang pedang dan ketika bulan menyinari mukanya, nampaklah wajah seorang gadis yang manis, dengan pakaian serba hijau dan matanya bersinar terang ketika ia melompat ke sebelah dalam dan memandang ke kanan kiri penuh selidik.
Agaknya iapun maklum bahwa ia berada di sarang harimau ganas, maka ia mencabut siang-kiam (sepasang pedang) dari punggungnya, lalu melangkah maju berindap-indap menghampiri bangunan gedung yang besar itu.
Ia tidak tahu sama sekali bahwa sejak ia muncul di luar tembok pagar bangunan itu, semua gerak geriknya telah diikuti oleh pandang mata beberapa orang yang mengintai dari dalam gedung.
Karena baru saja menderita kerugian besar dengan terbunuhnya Wei-ho Cap-sha-kwi, dan tahu bahwa di luar terdapat dua orang musuh yang amat lihai, maka Hek-sim Lo-mo dan para pembantunya bersikap hati-hati sekali.
Mereka tidak pernah lengah melakukan penjagaan secara bergiliran dan pada malam hari itu, tentu saja mereka yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi itu dapat melihat gerak-gerik bayangan berpakaian hijau yang melompati pagar tembok.
Malam itu yang melakukan giliran berjaga malam adalah Jai-hwa Kongcu Lui Teng dan Yauw Ban.
Mereka berdua bersama belasan orang penjaga yang menjadi anak buah mereka, mengintai dan mengamati gerak gerik bayangan berbaju hijau itu.
Ketika mereka melihat bahwa bayangan itu adalah seorang gadis, tadinya mereka terkejut dan mengira bahwa yang muncul adalah Liong-li.
Akan tetapi ketika sinar bulan menimpa wajah gadis itu dan mereka melihat bahwa gadis itu bukan Liong-li, hati kedua orang jagoan ini menjadi besar.
Apa lagi Jai-hwa Kong-cu Lui Teng, ketika melihat gadis manis itu, dia tersenyum dan berbisik kepada Yauw Ban.
"Yauw toako, serahkan saja gadis itu kepadaku. Aku akan menangkapnya!"
Yauw Ban mengerutkan alisnya.
Dia sudah mengenal benar watak Jai-hwa Kongcu ini, seorang pemuda yang gila perempuan dan tidak pernah mau melepaskan seorang gadis cantik begitu saja tanpa mengganggunya.
"Ingat, kita sedang menghadapi ancaman musuh yang lihai. Jangan pandang rendah gadis ini, dan setelah berhasil menangkapnya, jangan sekali-kali mengganggunya sebelum membawanya menghadap Beng-cu agar ia diperiksa apa maksudnya datang ke sini. Siapa tahu ia adalah teman dari Liong-li atau pemuda baju putih itu."
Jai-hwa Kongcu tersenyum.
"Aku mengerti, toako. Akan kutangkap ia dan kubawa ke depan Beng-cu, kemudian kalau Beng-cu menyerahkan ia kepadaku, hemm......!"
Matanya berkejap penuh arti, kemudian sambil menyeringai, Lui Teng berkelebat lenyap di dalam gelap untuk mencari gadis yang sudah masuk ke dalam pekarangan tadi.
Yauw Ban tidak tinggal diam.
Bersama anak buah diapun lalu membayangi, setelah berpesan kepada para penjaga lainnya agar tidak lengah dan tetap melakukan penjagaan ketat.
Siapa tahu gadis itu hanya merupakan siasat dari dua orang musuh yang lihai itu, untuk memindahkan perhatian mereka, kemudian kalau mereka lengah karena mengejar gadis baju hijau, lalu pemuda baju putih dan Liong-li akan menyerbu masuk!
Gadis baju hijau itu memang manis sekali wajahnya, dan kulit muka dan lehernya nampak putih mulus di balik pakaiannya yang serba hijau.
Sepasang pedang yang dicabutnya juga mengeluarkan sinar berkilauan, tanda bahwa itu adalah sepasang pedang yang baik dan cukup ampuh.
Gerakannya ringan sekali ketika dara ini menyelinap di antara pohon-pohon mendekati gedung itu.
Ia memasuki gedung itu dari sebuah pintu belakang yang dengan mudah ia dorong terbuka dari luar.
Sekali menyelinap masuk, sikapnya amat waspada dan iapun mencari-cari.
Yang dicarinya adalah kamar di mana ia akan dapat menemukan Hek-sim Lo-mo karena kedatangannya ini adalah untuk membunuh datuk sesat itu!
Dengan berindap-indap gadis baju hijau itu mengintai dari jendela sebuah kamar.
Ia melihat seorang pemuda tampan duduk menghadapi meja dan sedang membaca buku di bawah sinar tiga batang lilin.
Ia dapat melihat wajah pemuda itu dengan jelas dan sepasang mata yang jeli itu terbelalak penuh kaget dan keheranan!
"Song-toako......"
Terdengar ia berbisik dari luar jendela.
Pemuda itu bukan lain adalah Song Tek Hin yang menjadi tawanan!
Semenjak kegagalan Liong-li untuk membebaskannya, pemuda ini merasa kecewa sekali.
Setelah berjumpa dengan Liong-li, dia merasa kagum sekali dan merasa heran mengapa kini dia tidak lagi nekat untuk menghadapi kematian.
Kehidupan yang tadinya terasa kosong setelah kematian tunangannya, yaitu Pouw Bi Hwa, yang membuat dia tidak kerasan lagi hidup di dunia, kini berubah.
Kehidupan itu berarti kembali!
Dia tahu bahwa dia telah jatuh cinta kepada pendekar wanita yang amat perkasa itu, pendekar yang dengan beraninya menyerbu dan menentang Hek-sim Lo-mo dan berusaha untuk membebaskannya.
Sayang sekali bahwa gadis itu gagal dan terpaksa melarikan diri bersama Cin Hay, sedangkan dia tertawan kembali.
Untungnya, Hek-sim Lo-mo masih mempergunakan dia sebagai umpan dan tidak membunuhnya.
Untuk melenyapkan kekesalan hatinya, dia membaca buku yang memang disediakan oleh tuan rumah untuk dia melewatkan waktu menganggur.
"Song-toako......!"
Song Tek Hin terkejut.
Tadi dia sudah mendengar bisikan itu akan tetapi karena perhatiannya tercurah kepada bacaannya, dia tidak memperhatikan dan mengira bahwa dia salah dengar.
Akan tetapi sekali ini dia menoleh ke arah jendela dan wajahnya berseri, matanya memandang penuh harapan.
Liong-li datang lagi!
Datang lagi untuk membebaskannya, pikirnya.
"Liong-li......!"
Bisiknya kembali dan cepat dia membuka daun jendela dengan hati-hati sekali.
Akan tetapi, wajah yang dilihatnya di luar jendela sama sekali bukan wajah Liong-li, walaupun wajah itu juga manis dan menarik sekali.
"Ah, engkau...... Su Hong Ing......?"
Dalam suaranya terkandung keheranan, kekagetan juga kekecewaan karena yang muncul bukan Liong-li yang amat diharapkan dan dirindukan.
Su Hong Ing ini adalah saudara misan dari mendiang Pouw Bi Hwa, masih keponakan dari ibu tunangannya itu dan Su Hong Ing menjadi murid dari perguruan silat Bu-tong-pai yang amat terkenal pula.
Ilmu silat gadis baju hijau ini sudah lumayan tingginya, seimbang dengan tingkat kepandaian Song Tek Hin.
Tek Hin mengenal Hong Ing karena pernah gadis ini datang dan tinggal untuk beberapa bulan lamanya di rumah mendiang Pouw Sianseng dan sempat diperkenalkan kepadanya oleh mendiang Pouw Bi Hwa, tunangannya.
Sekali melompat, Hong Ing telah melompati jendela dan telah berada di dalam.
"Song-toako, bagaimana engkau dapat berada di sini?"
Bisiknya, dan melihat pemuda itu tidak terbelenggu, sama sekali bukan sebagai tahanan bahkan kamarnyapun cukup bagus, ia lalu mengerutkan alisnya.
"Ah, toa-ko, sungguh aku tidak mengerti! Mereka telah membunuh paman dan membunuh adik Bi Hwa, dan engkau malah...... agaknya menjadi sahabat para penjahat itu? Sungguh tak kusangka......!"
"Ssttt, Ing-moi, jangan kau bicara begitu. Engkau tidak tahu, aku di sini sebagai tawanan, sebagai umpan agar dua orang pendekar yang menjadi musuh mereka datang untuk mencoba membebaskan aku, tidak tahunya engkau malah yang muncul! Hong Ing, lekas engkau pergi dari sini selagi masih ada kesempatan. Cepat, mereka itu lihai sekali! Engkau dan aku bukanlah lawan mereka. Pergilah, Ing-moi......!"
"Tiba-tiba terdengar suara tertawa dari luar jendela.
"Ha-ha-ha, nona manis masuk tanpa diundang, tidak boleh pergi begitu saja sebelum berkenalan dengan aku!"
Tek Hin mengenal suara Jai-hwa Kongcu Lui Teng dan dia terkejut sekali.
Si mata keranjang itu merupakan seorang pembantu Hek-sim Lo-mo, seorang di antara para pembantu yang paling lihai!
"Celaka, dia lihai sekali,"
Bisiknya kepada Hong Ing, lalu dia menjengguk keluar jendela dan berkata dengan suara lantang.
"Saudara Lui Teng, harap jangan ganggu. Yang datang ini adalah adikku sendiri yang ingin menjengukku, tidak mempunyai iktikad buruk. Biarkan ia pergi dan harap jangan diganggu!"
"Ha-ha-ha, bagus! Kalau ia adikmu sendiri, maka berarti ia adalah tamu kami. Marilah, nona, mari kuantar engkau menghadap Beng-cu yang menjadi tuan rumah. Silakan keluar!"
Hong Ing mengerutkan alisnya.
Ia menyelundup ke tempat itu hanya dengan satu tujuan, yaitu membunuh Hek-sim Lo-mo yang telah membunuh pamannya, Pouw Sianseng dan adik misannya Pouw Bi Hwa.
Ia mengandalkan ilmu silatnya sebagai seorang murid Bu-tong-pai yang lihai dan ia percaya bahwa dengan ilmunya yang amat diandalkan, yaitu sepasang pedang, ia akan mampu membunuh datuk sesat itu.
Tak disangkanya sama sekali bahwa Song Tek Hin, calon ipar misannya yang ia tahu juga amat lihai, telah menjadi seorang tawanan di situ, kelihatannya amat tidak berdaya walaupun tidak dibelenggu!
Kini, mendengar suara orang di luar itu, tentu saja ia tidak merasa gentar.
"Aku datang hendak bertemu dan membuat perhitungan dengan Hek-sim Lo-mo, bukan ingin bertemu dengan Beng-cu atau siapapun juga!"
Bentaknya. Jai-hwa Kongcu Lui Teng tertawa.
"Ha-ha-ha, Song Tek Hin, apakah engkau tidak memberitahu kepada adikmu bahwa locianpwe Hek-sim Lo-mo itu adalah Beng-cu?"
Mendengar ini, Hong Ing menoleh kepada Tek Hin dan pemuda itu mengangguk membenarkan.
"Ing-moi, engkau cepat menerobos keluar dan lari!"
Bisiknya dengan hati khawatir sekali.
"Tidak, aku harus bertemu dengan Hek-sim Lo-mo!"
Jawab Hong Ing yang memiliki keberanian luar biasa, tiada bedanya dengan Tek Hin sendiri.
Hanya bedanya, kalau sekarang Tek Hin sudah tahu benar akan keadaan pihak lawan yang sungguh amat lihai sehingga dia sama sekali bukan lawan mereka, sebaliknya Hong Ing yang belum mengetahui keadaan dan kekuatan Hek-sim Lo-mo, masih memandang rendah mereka dan mengira bahwa dengan ilmu kepandaiannya, ia akan mampu membunuh datuk itu untuk membalaskan kematian paman dan adik misannya!
Setelah berkata demikian, dengan kedua tangan masih memegang sepasang pedangnya, Hong Ing melompat keluar dari kamar itu melalui jendela.
Di luar jendela, dia disambut oleh seorang laki-laki yang berwajah tampan, memakai pakaian seperti pelajar, sikapnya ramah dan laki-laki itu telah menjura dengan hormat kepadanya.
"Nona, namaku Lui Teng dan marilah kuantar nona untuk bertemu dengan Beng-cu Hek-sim Lo-mo yang tentu akan menyambut nona dengan baik,"
Katanya dengan halus.
Baca Juga: Suling Emas 1
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 9