Ceritasilat Novel Online

Sepasang Naga Penakluk Iblis 5

Eps 5 Sepasang Naga Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo

Baca online Sepasang Naga Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo

Cersil Sepasang Naga Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo.

Su Hong Ing hanya mengangguk, lalu ia mengikuti Lui Teng melalui lorong menuju ke sebuah ruangan di mana Hek-sim Lo-mo yang sudah dilapori tentang penyusupan seorang gadis baju hijau itu telah duduk menanti.

Ruangan itu luas dan ketika Hong Ing yang mengikuti Lui Teng dari belakang tiba di situ, ia melihat seorang kakek tinggi besar bermuka hitam, matanya lebar, kumis dan jenggotnya lebat, pakaiannya seperti hartawan dan sikapnya berwibawa.

Ia menduga bahwa tentu itulah yang disebut Hek-sim Lo-mo, maka begitu berdiri di depan kakek itu, ia lalu bicara dengan suara lantang.

"Apakah engkau yang bernama Hek-sim Lo-mo dan engkau yang telah membunuh paman Pouw dan puterinya, Pouw Bi Hwa?"

Mendengar pertanyaan ini, Hek-sim Lo-mo memandang gadis itu tanpa menjawab, lalu dia berbalik dengan sebuah pertanyaan dengan suaranya yang besar parau.

"Dan engkau siapakah, nona?"

"Namaku Su Hong Ing, aku seorang murid Bu-tong-pai dan aku datang untuk membalaskan kematian pamanku dan adik misanku. Kalau benar engkau Hek-sim Lo-mo, bangkitlah dan mari kita membuat perhitungan!"

Berkata demikian, gadis itu sudah memasang kuda-kuda dengan sepasang pedangnya.

Ilmu pedang Bu-tong-pai memang terkenal indah dan kuat.

Akan tetapi, sikap gadis itu menimbulkan perasaan geli di dalam hati Hek-sim Lo-mo.

Bagaimanapun juga, dia harus memuji bahwa gadis ini memiliki keberanian yang hebat, seperti yang diperlihatkan oleh Song Tek Hin, tawanannya itu.

Gadis seperti ini bukan orang sembarangan dan alangkah baiknya kalau ia dijadikan tawanan pula, sehingga dengan demikian, dua orang musuh yang amat dibencinya itu.

Liong-li dan Tan Cin Hay, tentu semakin tertarik untuk datang dan berusaha membebaskan Tek Hin dan gadis bernama Su Hong Ing ini!

"Hemm, engkau ini gadis yang masih hijau dan tak tahu diri.

Engkau menantang aku?

Biar orang nomor satu dari Bu-tong-pai sekalipun, belum tentu akan mampu menandingi aku, apa lagi engkau seorang murid yang masih rendah tingkatmu.

Lui Teng, wakililah aku untuk menundukkan gadis angkuh ini, akan tetapi jangan lukai karena ia harus menjadi tawanan kita pula!"

Tentu saja Lui Teng merasa girang sekali diberi perintah untuk menundukkan gadis yang telah menarik hatinya ini.

Sekali menggerakkan tubuhnya, dia telah berada di depan Hong Ing sambil tersenyum.

Wajahnya memang tampan dan senyumnya menarik, akan tetapi melihat sinar matanya yang genit itu, Hong Ing mengerutkan alisnya dan menjadi marah.

"Hek-sim Lo-mo, engkau majulah sendiri untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu yang telah membunuh pamanku dan adik misanku yang tidak berdosa, dan jangan menyuruh segala macam manusia tidak berguna untuk menghadapiku!"

Lui Teng tidak menjadi marah dan diapun tertawa.

"Aduh-aduh, orangnya cantik manis sekali, akan tetapi tinggi hati, sombong dan seperti seekor kuda betina liar. Alangkah akan menyenangkan kalau aku dapat menundukkan kuda liar ini. Majulah, nona dan mari kita lihat sampai di mana kelihaianmu maka engkau berani bersikap seangkuh ini!"

Kini Hong Ing menjadi marah sekali.

Mukanya menjadi merah dan ini menambah kemanisan wajahnya.

Dengan gerakan yang cepat dan kuat, iapun tanpa banyak cakap lagi sudah maju menyerang, sepasang pedangnya membabat dari kanan kiri untuk menggunting lawan.

Namun, dengan gerakan lincah sekali Lui Teng sudah meloncat ke belakang sehingga serangan sepasang pedang itu tidak mengenai sasaran, kemudian dari arah samping, dengan gerakan cepat dan tidak tersangka-sangka, tangan kanan Lui Teng menjulur ke arah pipinya dengan gerakan menampar atau mencolek.

Hong Ing cepat miringkan tubuhnya ke kanan dan hendak menggerakkan sepasang pedangnya untuk membalas, akan tetapi tiba-tiba saja tangan kiri Lui Teng sudah menyelonong ke depan mencengkeram ke arah dadanya!

"Ihhh......!"

Hong Ing menjerit dan cepat melempar tubuh ke belakang lalu memutar pedangnya di depan tubuh.

Wajahnya menjadi merah sekali karena hampir saja buah dadanya kena dicengkeram lawan yang kurang ajar itu.

Kemarahannya memuncak ketika ia melihat Lui Teng tertawa-tawa senang, akan tetapi iapun tahu bahwa ternyata .pria yang tampan dan genit kurang ajar ini lihai sekali!

Iapun memutar sepasang pedangnya dan menyerang lagi dengan bertubi-tubi.

Akan tetapi, tingkat kepandaian gadis baju hijau ini memang kalah jauh dibandingkan tingkat kepandaian Jai-hwa Kongcu Lui Teng yang telah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat dari perguruan Pek-tiauw-pang (Rajawali Putih) di Lu-san.

Andaikata ada lima orang Hong Ing, belum tentu akan mampu mengalahkan penjahat cabul ini.

Betapapun juga, tidak mudah bagi Lui Teng untuk menundukkan gadis yang bersenjata sepasang pedang dan yang memiliki keberanian yang nekat itu tanpa melukainya.

Setelah dilarang oleh Beng-cu, dia sendiripun tidak ingin melukai gadis ini yang telah diperhitungkannya akan menjadi korbannya dan dia ingin mendapatkan gadis ini dalam keadaan utuh dan tidak terluka.

Sepasang pedang gadis itu menyambar-nyambar, memang tidak terlalu berbahaya baginya, namun menyukarkan dia untuk dapat menundukkan tanpa melukainya.

Maka, Lui Teng lalu melolos sabuk putihnya, sabuk sutera putih yang merupakan senjatanya amat ampuh.

Begitu sabuk ini dilolosnya, nampak sinar putih bergulung-gulung dan tiba-tiba saja Hong Ing mengeluarkan suara menjerit karena sepasang pedangnya telah terlibat-libat oleh sabuk putih dan tidak dapat ia gerakkan!

Selagi ia menarik-narik sepasang pedang itu untuk melepaskannya, tiba-tiba tangan kiri Lui Teng menyambar dan menotok pundaknya.

Gadis itu mengeluh dan terguling dengan kaki tangan lumpuh.

Ia tentu akan terbanting jatuh kalau saja Lui Teng tidak dengan cepat menyambut tubuhnya dan memeluknya dengan mesra!

"Beng-cu, apa yang harus saya lakukan dengan ia.

Apakah Beng-cu menyerahkannya kepada saya?"

Tanya Lui Teng sambil mendekatkan mukanya pada wajah yang putih mulus dan berpipi halus itu. Hong Ing hampir pingsan saking ngerinya dan iapun memejamkan matanya.

"Hemm, jangan engkau main-main, Lui Teng!"

Hek-sim Lo-mo membentak sehingga mengejutkan Lui Teng dan dia segera menjauhkan mukanya dari muka gadis yang ditawannya.

"Awas, engkau tidak boleh mangganggunya! Ia harus diperlakukan baik-baik seperti tawanan pemuda itu. Biar ia memperkuat umpan yang kita pasang. Akan tetapi masukkan mereka dalam satu kamar dan jaga baik-baik agar mereka tidak lolos. Akan terlalu merepotkan kalau mereka dipisahkan. Sekali lagi, perlakukan mereka berdua baik-baik sampai umpan itu berhasil mendatangkan ikan-ikan yang kita kehendaki. Kalau sudah begitu, ia akan kuserahkan kepadamu!"

Jai-hwa Kongcu Lui Teng menjadi girang sekali.

"Hemm, nona manis, engkau sungguh beruntung. Beng-cu akan menganggapmu sebagai seorang tamu agung, dan kelak engkau akan menjadi milikku, hidup berbahagia bersama aku, manis."

Hong Ing adalah seorang gadis yang selain pemberani juga amat cerdik. Ia telah mendengar semua percakapan mereka dan tahulah ia bahwa pemuda lihai ini amat takut kepada "beng-cu"

Itu. Karena jelas bahwa Hek-sim Lo-mo tidak menghendaki ia diganggu, maka iapun berkata dengan galak.

"Bebaskan aku dan jangan pondong aku! Aku mampu berjalan sendiri!"

Lui Teng memandang dengan ragu-ragu, akan tetapi terdengar suara Hek-sim Lo-mo.

"Lui Teng, lepaskan ia dan simpan sepasang pedangnya!"

Lui Teng merasa kecewa sekali.

Biarpun dia belum boleh mengganggu gadis itu, setidaknya dia ingin memandang dan mendekapnya, membawanya ke kamar tahanan, bahkan kalau ada kesempatan dia dapat mencumbunya.

Akan tetapi, Beng-cu telah memerintahkan agar dia membebaskan gadis itu, maka diapun tidak berani membantah dan dua kali dia menepuk punggung Hong Ing yang segera dapat menggerakkan kaki tangannya.

Ia cukup cerdik untuk tidak mengamuk lagi, maklum bahwa di tangan orang-orang pandai ini ia tidak berdaya.

Sekarang tahulah ia mengapa Tek Hin mau dijadikan tawanan dan sama sekali tidak melawan.

Melawanpun tidak akan ada gunanya.

Baru menghadapi seorang pembantu Hek-sim Lo-mo saja, ia sama sekali tidak berdaya.

Apa lagi kalau banyak pembantunya maju.

Apa lagi kalau kakek raksasa itu sendiri yang maju!

Oleh karena itu, setelah ia mampu bergerak, iapun tidak mau mengamuk lagi dan menurut saja ketika disuruh berjalan dan dikawal oleh Lui Teng menuju ke kamar di mana Tek Hin berada.

Melihat gadis itu dibawa masuk ke dalam kamarnya, Tek Hin mengerutkan alisnya dan segera dia tahu bahwa Hong Ing juga sudah ditaklukkan oleh gerombolan penjahat itu.

"Song Tek Hin, engkau memperoleh seorang teman, gadis cantik manis ini. Akan tetapi awas, jangan engkau mengganggunya. Ia adalah calonku, tahu?"

Kata Lui Teng sambil meninggalkan mereka dan tertawa mengejek.

Hong Ing menjatuhkan dirinya di atas kursi, tidak menangis melainkan cemberut.

Tek Hin juga duduk di atas pembaringannya, memandang kepada gadis itu.

Seorang gadis yang cantik manis seperti yang dikatakan Lui Teng tadi, pemberani akan tetapi tinggi hati sehingga memandang rendah lawan.

"Hemm, tentu mereka telah menundukkanmu, bukan?"

Tanyanya tanpa nada mengejek, hanya menyesal mengapa gadis itu demikian bodoh melakukan penyerbuan terhadap gerombolan penjahat yang amat lihai tanpa perhitungan sama sekali.

Hong Ing menarik napas panjang.

"Tidak kusangka bahwa mereka selihai itu,"

Dan ia memandang kepada Tek Hin.

"Song-toako, apa artinya bahwa engkau dan aku, kita dijadikan umpan? Siapa yang hendak dipancing datang ke sini?"

Tek Hin lalu menceritakan dengan singkat tentang Tan Cin Hay dan Liong-li.

"Tanpa adanya engkau menjadi tawananpun, aku yakin bahwa saudara Tan Cin Hay, terutama sekali nona Liong-li, pasti akhirnya akan muncul untuk membebaskan aku. Tan-taihiap dan nona Liong-li adalah dua orang muda yang amat hebat, terutama sekali nona Liong-li! Mereka memiliki ilmu kepandaian tinggi dan kiranya hanya mereka berdua itulah yang akan mampu menandingi Hek-sim Lo-mo dan anak buahnya."

"Toako. engkau selalu memuji-muji nona Liong-li! Orang macam apakah ia itu?"

"Wah, selama hidupku baru satu kali ini aku melihat seorang gadis seperti nona Liong-li! Ia cantik jelita seperti seorang bidadari, ia pemberani dan cerdik bukan main, dan ia memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa sekali. Sungguh, aku kagum sekali pada gadis hebat itu, Ing-moi!"

Diam-diam Hong Ing merasa mendongkol.

Teringat ia betapa ia pernah merasa iri kepada mendiang Pouw Bi Hwa yang memperoleh seorang calon suami seperti Song Tek Hin yang tampan, terpelajar dan pandai ilmu silat.

Akan tetapi, kiranya pemuda ini tidak memiliki kesetiaan!

Baru saja tunangannya mati, dia sudah tergila-gila kepada seorang gadis lain!

"Hemmm, lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Tanyanya dengan suara yang kurang puas.

"Tidak apa-apa, hanya menanti saja. Mudah-mudahan tidak terlalu lama mereka akan muncul untuk membebaskan kita."

"Tinggal sekamar begini? Kita berdua? Aku tidak mau!"

"Eh, Ing-moi, mengapa engkau begitu? Kita tidak ada pilihan lain. Kita diperlakukan dengan baik hanya karena mereka mempergunakan kita sebagai umpan! Kalau tidak karena adanya nona Liong-li dan Tan Taihiap, belum tentu kita dapat diperlakukan begini baik. Bagaimanapun juga, kita adalah tawanan."

"Enak saja bagimu! Engkau seorang laki-laki, akan tetapi aku seorang wanita! Bagaimana mungkin aku tinggal sekamar denganmu? Bagaimana mungkin kita tidur sekamar?"

"Mengapa tidak, Ing-moi? Aih, aku tahu apa yang kaupikirkan! Ing-moi, kita dalam keadaan terpaksa, kita senasib! Kaukira aku ini orang laki-laki macam apa? Jangan khawatir, engkau boleh tidur di atas pembaringan ini dan aku akan tidur di kursi, atau di lantai!"

Mendengar suara pemuda itu agaknya penasaran dan marah, Hong Ing merasa tidak enak hati juga.

Ia sudah lama mengenal pemuda ini, seorang pemuda yang gagah dan baik, sehingga tidak mungkin melakukan hal yang tidak pantas terhadap dirinya.

Wajahnya berubah merah.

"Bukan maksudku tidak percaya kepadamu, Song-toako. Akan tetapi apakah kita berdua harus mandah begini saja, hanya menunggu dan menerima nasib tanpa berusaha untuk membela diri sama sekali?"

"Hong Ing, aku yakin benar bahwa kita berdua bukanlah lawan mereka. Kalau kita nekat memberontak, hal itu sama saja dengan membunuh diri dan kita tentu akan disiksa sebelum dibunuh. Dari pada begitu, kita menanti saat yang baik. Kalau mereka berdua muncul, kita langsung membantu mereka, sehingga mereka berdua menjadi lebih kuat dan kita memperlihatkan bahwa kita bukanlah orang-orang yang hanya menunggu pertolongan atau menunggu mati saja."

Barulah hati Hong Ing tidak penasaran lagi. Tek Hin lalu turun dari pembaringan, mempersilakan gadis itu duduk di sana dan dia sendiri lalu duduk di atas kursi.

"Orang yang genit tadi sungguh lihai sekali,"

Kata Hong Ing.

"dan aku ngeri melihat sikapnya. Apakah masih ada lagi para pembantu yang lihai seperti itu dari Hek-sim Lo-mo?"

"Ah, dia tadi adalah Jai-hwa Kongcu Lui Teng dan dia hanya seorang di antara para pembantu Hek-sim Lo-mo. Masih ada yang lebih lihai dari dia! Ada Tok-gan-liong Yauw Ban, kemudian Kiu-bwe Mo-li, dan dua orang saudara kembar He-nan Siang-mo dan penjahat cabul tadi. Mereka berlima adalah para pembantu utama yang amat lihai. Melawan mereka seorang saja, kita berdua masih tidak mampu menang, dan belum lagi kurang lebih duapuluh orang penjaga yang rata-rata juga pandai ilmu silat. Dan yang lebih hebat lagi adalah Hek-sim Lo-mo sendiri. Kepandaiannya seperti iblis!"

Lalu pemuda itu menceritakan tentang gerombolan penjahat itu seorang demi seorang, mengenai kekejaman dan kelihaian mereka.

Mendengar keterangan ini, Hong Ing bergidik, dan baru ia tahu betapa sembrono dan bodohnya ia, berani memasuki guha harimau yang didiami begitu banyaknya penjahat yang lihai sekali.

Mulailah ia merasa khawatir.

"Kalau mereka begitu hebat, bagaimana mungkin Liong-li mu itu akan dapat mengalahkan mereka?"

Mendengar sebutan "Liong-li mu"

Itu, Tek Hin tersenyum dan baru dia menyadari bahwa gadis ini merasa tidak senang mendengar dia tadi begitu memuji-muji seorang gadis bernama Liong-li!

"Tenangkanlah hatimu, Ing-moi.

Aku bukan hanya memuji secara gegabah saja!

Gadis yang berjuluk Liong-li itu sungguh hebat dan ilmu kepandaiannya amat tinggi.

Tahukah engkau?

Aku sendiri menyaksikan betapa ia seorang diri telah membasmi Wei-ho Cap-sha-kwi, yaitu tigabelas orang yang tadinya juga menjadi pembantu utama Hek-sim Lo-mo.

Pada hal mereka itu cukup lihai, tingkat kepandaian mereka itu masing-masing mungkin seimbang dengan tingkat kepandaianku.

Dan dalam waktu singkat sekali mereka semua tewas di tangan Liong-li, dan aku hanya membantunya sedikit saja!

Kemudian, Liong-li dikeroyok oleh lima orang pembantu utama Hek-sim Lo-mo itu!

Bayangkan saja!

Lima orang yang kepandaiannya rata-rata seperti si penjahat cabul tadi, bahkan lebih lihai, mengeroyok Liong-li dan ia tidak sampai terdesak!"

Hong Ing diam-diam terkejut bukan main dan mulai merasa kagum. Sukar dipercaya ada seorang gadis yang sedemikian lihainya! "Lalu bagaimana?"

Desaknya, tertarik.

"Kemudian muncul Hek-sim Lo-mo dan tentu saja Liong-li terdesak. Baiknya muncul Tan-taihiap dan mereka berhasil meloloskan diri dengan selamat. Aku tidak dapat mereka bebaskan karena aku sudah terjatuh ke tangan mereka lebih dulu. Dasar aku yang bodoh dan lemah......"

"Ah, kalau begitu, Liong-li itu benar-benar hebat. Apakah wanita itu sudah tua, toako?"

"Tua? Takkan lebih dari duapuluh dua tahun usianya!"

"Bukan main! Masih begitu muda akan tetapi memiliki kelihaian yang demikian hebat! Dan Tan-taihiap itu? Sudah tuakah dia?"

"Tan-taihiap juga masih muda, mungkin sebaya dengan aku. Dia tampan, terpelajar, halus budi pekertinya, bijaksana, mulia hatinya dan ilmu kepandaiannya amat hebat! Bayangkan saja, karena aku dijadikan sandera, karena dia tidak ingin melihat aku celaka, maka dia pernah menyerahkan diri untuk ditawan oleh gerombolan ini, hanya untuk menyelamatkan aku......"

"Aduh! Kalau begitu dia tentu hebat bukan main! Tidak kalah hebatnya oleh Liong-li mu itu!"

Hong Ing berseru kagum.

"Ya, mereka berdua memang sepasang orang muda yang hebat sekali! Entah siapa di antara mereka yang lebih hebat. Kalau mereka maju bersama, tentu Hek-sim Lo-mo dan para pembantunya akan dapat dibasmi, dan kita akan membantu sekuat tenaga kita."

Terhiburlah rasa hati Hong Ing dan ternyata mereka berdua mendapatkan perlayanan yang amat baik, mendapatkan hidangan yang lezat, bahkan disediakan air untuk mandi oleh para penjaga.

Dan seperti telah diduganya, sikap Tek Hin amat baik terhadap dirinya, selalu sopan dan sama sekali tidak pernah menggodanya.

Hal ini membuat Hong Ing diam-diam amat bersyukur dan berterima kasih, dan kembalilah perasaan kagumnya terhadap pemuda itu.

Di pihak Tek Hin, diam-diam diapun merasa tertarik dan kagum kepada gadis yang ternyata amat gagah, pemberani dan sedikitpun tidak cengeng ini.

Mendapatkan seorang kawan senasib seperti gadis ini sungguh membesarkan hati.

"Keparat jahanam!!"

Hek-sim Lo-mo memaki dan tangannya yang kanan mengepal-ngepal sampai terdengar bunyi berkerotokan, tangan kirinya memegangi sehelai kertas yang bertuliskan tinta merah.

Sebuah tantangan!

Ditulis dengan tinta merah, dengan huruf-huruf yang menyolok dan nadanya menghina pula!

"Kami, Hek-liong-li dan Pek-liong-eng menantang Hek-sim Lo-mo dan anak buahnya, kalau mereka bukan pengecut-pengecut untuk mengadu ilmu menentukan siapa yang lebih pandai.

Kalau berani, datanglah di petak rumput tepi sungai dalam hutan sebelah timur kota, besok jam 9.00 pagi.

Kalau takut pergilah kalian ke neraka.

Tertanda.

Hek-liong-li dan Pek-liong-eng.

Hek-sim Lo-mo memandang kepada lima orang pembantu utamanya yang nampak gentar melihat pimpinan mereka marah besar.

Kiu-bwe Mo-li memberanikan diri bertanya.

"Beng-cu, apakah yang terjadi dan surat apakah itu yang membuat Beng-cu marah"marah?"

"Siapa yang tidak marah? Anjing-anjing cilik itu berani menantangku dengan nada menghina!"

Hek-sim Lo-mo melemparkan surat itu kepada Kiu-bwe Mo-li.

Kalau bukan wanita ini yang dilempari surat, bisa celaka karena saking marahnya, Hek-sim Lo-mo mengerahkan tenaga ketika melemparkan surat sehingga kertas yang merupakan benda ringan itu meluncur bagaikan anak panah cepatnya ke arah Kiu-bwe Mo-li.

Namun wanita ini dapat menangkapnya dari samping, lalu dengan tenang membacanya.

Empat orang rekannya yang tidak sabar dan ingin sekali tahu, mendekatinya dan ikut pula membaca surat yang membuat pemimpin mereka marah-marah itu.

Dan begitu membaca, merekapun melotot dengan muka merah karena marah.

Yang ditantang bukan hanya Hek-sim Lo-mo seorang, akan tetapi termasuk mereka!

"Beng-cu, harap berhati-hati menghadapi tantangan ini dan tidak baik kalau terburu nafsu.

Siapa tahu dengan tantangan ini, mereka menggunakan siasat untuk memancing harimau keluar dari sarang,"

Kata Kiu-bwe Mo-li yang cerdik.

"Aih, Mo-li, mengapa takut? Baru Beng-cu seorang diri saja, mereka berdua tidak akan mampu menandinginya, apa lagi Beng-cu maju bersama kita yang juga ditantang? Kalau dua orang muda itu diam-diam mempersiapkan bantuan, berarti merekalah yang pengecut karena yang menantang hanya mereka berdua! Mari kita bunuh mereka!"

Kata Gan Siang dengan nada penasaran, sedangkan Gan Siong, adik kembarnya, mengangguk-angguk. Hek-sim Lo-mo mengangkat tangan melarang mereka ribut mulut sendiri, lalu berkata.

"Kalian semua benar. Kita harus berhati-hati menghadapi tantangan ini kalau-kalau menyembunyikan siasat. Akan tetapi kalaupun mereka bersiasat, maka tentu siasat itu dipergunakan untuk mencoba membebaskan dua orang tawanan kita. Juga kita harus memenuhi tantangan itu, dan kita hancurkan mereka, dua budak sombong itu. Kita harus maju serentak untuk membunuh mereka, akan tetapi dua orang tawanan juga tidak boleh ditinggalkan sendiri begitu saja sehingga memudahkan orang luar untuk membebaskan mereka."

"Sebaiknya kita bunuh saja dulu dua orang tawanan itu!"

Kata Yauw Ban Si Naga Mata Satu mengajukan rencananya.

"Serahkan saja mereka kepadaku!"

Kata Kiu-bwe Mo-li penuh gairah.

"Tidak, biar aku yang menghabisi mereka!"

Kata Jai-hwa Kongcu tidak kalah gairahnya.

"Ha-ha, kalau diserahkan Mo-li, tentu hanya yang wanita dibunuh seketika, akan tetapi yang pria akan dikeramnya dan dihisapnya sampai kering! Kalau diserahkan Jai-hwa Kongcu, yang pria akan seketika dibunuh, akan tetapi yang wanita tentu akan diperma"inkan dulu sepuasnya!"

Kembali Hek-sim Lo-mo mengangkat tangan melarang mereka ribut sendiri, dan diapun berkata.

"Mereka tidak perlu dibunuh sekarang. Kita bawa saja serta ke tempat tantangan itu! Kalau mereka itu menyerbu di perjalanan, kita hadapi bersama dan Jai -hwa Kongcu Lui Teng bersama semua anak buah harus membawa para tawanan kembali ke gedung selagi kita mengepung dua orang musuh itu. Dua orang tawanan itu masih berguna bagi kita, merupakan kelemahan dua orang musuh kita yang hendak membebaskan mereka, maka bodohlah kalau kita bunuh sekarang. Mereka dapat kita manfaatkan sewaktu-waktu kalau keadaan mendesak."

Lima orang pembantu itu mengangguk maklum dan merekapun tahu bahwa diam-diam pemimpin mereka ini mulai merasa gentar juga menghadapi dua orang muda yang berani menentangnya itu sehingga perlu membiarkan dua orang tawanan tetap hidup untuk dijadikan sandera, kalau-kalau usaha mereka membunuh dua orang musuh itu gagal.

Demikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi Hek-sim Lo-mo sudah keluar dari gedungnya, ditemani lima orang pembantu dan duapuluh orang anak buah yang menggiring dua orang tawanan itu di tengah-tengah mereka.

Tentu saja Liong-li dan Cin Hay yang sudah melakukan pengintaian di dekat tempat itu, menjadi gemas sekali.

Kiranya pihak musuh sedemikian cerdiknya sehingga tidak meninggalkan dua orang tawanan itu!

Bukan hanya membawanya ke tempat tantangan, bahkan juga mengepung dengan sekian banyaknya penjaga dan pengawal!

Melihat betapa Tek Hin yang menjadi tawanan itu kini berjalan bersama seorang gadis berpakaian hijau yang cantik dan gagah yang kelihatan juga sebagai tawanan, Cin Hay dan Liong-li memandang heran.

"Siapa gadis itu?"

Bisik Liong-li. Cin Hay menggeleng kepala dan mengerutkan alisnya.

"Aku tidak tahu, baru sekarang melihatnya."

Dia memperhatikan gadis berbaju hijau yang cantik manis itu, akan tetapi tetap saja dia belum merasa pernah melihat gadis itu.

"Akan tetapi, ia agaknya menjadi tawanan juga. Lihat, ia agaknya akrab dengan Tek Hin."

Liong-li mengerutkan alisnya, berpikir dan mengelus dagunya yang putih mulus.

"Hemm, lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Mereka begitu banyak."

"Tidak ada jalan lain, kita melanjutkan rencana kita,"

Kata Cin Hay "Yang terpenting adalah menyelamatkan Tek Hin dan agaknya gadis itu juga.

Seperti telah kita rencanakan, kita membagi tugas.

Aku menyerbu Hek-sim Lo-mo dan teman-temannya, dan engkau menyerbu dari belakang untuk membebaskan Tek Hin dan gadis baju hijau itu."

Liong-li mengangguk.

"Sudah pasti aku akan membebaskan Song Tek Hin, akan tetapi gadis itu? Aku belum tahu siapa dia, kawan atau lawan."

"Kalau engkau sudah turun tangan, tentu Tek Hin akan memberitahu siapa gadis itu dan perlu diselamatkan atau tidak,"

Kata Cin Hay.

Kini rombongan itu sudah keluar dari kola Lok-yang, melalui pintu gerbang sebelah timur.

Cin Hay dan Liong-li hanya membayangi saja dan setelah rombongan itu memasuki hutan menuju ke sungai yang dimaksud dalam surat tantangan, tepat seperti yang telah mereka rencanakan, tiba-tiba saja Cin Hay meloncat keluar dan menghadang di depan Hek-sim Lo-mo dan kawan-kawannya.

"Hek-sim Lo-mo, saat ini aku akan menamatkan riwayat hidupmu yang penuh dosa dan kekotoran!"

Kata Cin Hay dengan sikap gagah. Melihat munculnya musuh besar ini, Hek-sim Lo-mo menjadi marah sekali.

"Jahanam sombong, engkau menantang bertanding di tepi sungai akan tetapi menghadang di sini!"

Bentaknya.

"Beng-cu, biarkan kami menghajarnya!"

Kata Yauw Ban yang memang merasa benci sekali kepada pemuda berpakaian putih itu.

Dia memberi isyarat kepada teman-temannya dan bersama Kiu-bwe Mo-li, Jai-hwa Kongcu Lui Teng, dan sepasang saudara kembar He-nan Siang-mo, dia lalu menerjang Cin Hay.

Yauw Ban sudah mencabut pedangnya, Kiu-bwe Mo-li mengeluarkan cambuk hitam ekor sembilan, Jai-hwa kongcu Lui Teng menggunakan sabuk sutera putih, sedangkan si kembar He-nan Siang-mo masing-masing mencabut golok besar mereka.

Segera Cin Hay dikepung dan pemuda ini dengan tenang sekali menghadapi pengepungan mereka dan mencabut pedang Pek-liong-kiam dari sarung pedang.

Nampak sinar putih berkelebat ketika dia mencabut pedangnya, dan dengan pedang melintang di depan dada.

Cin Hay menanti serangan mereka karena tadi Yauw Ban ternyata tidak jadi menyerangnya, hanya melakukan gerakan isyarat dan mereka berlima kini sudah mengepungnya.

Agaknya lima orang itu, maklum betapa lihainya pemuda berpakaian putih, bersikap hati-hati dan mengepung penuh perhitungan.

Pada saat itu, di bagian belakang rombongan itu terjadi kegemparan.

Seorang gadis berpakaian hitam-hitam mengamuk dan dalam beberapa kali gebrakan saja, empat orang pengawal telah roboh!

"Liong-li......"

Tek Hin berseru dengan girang bukan main kepada Hong Ing.

Akan tetapi gadis ini hanya menengok sebentar kepada gadis berpakaian hitam yang mengamuk di antara para pengawal karena perhatiannya amat tertarik kepada pemuda berpakaian putih yang kini dikepung oleh lima orang pembantu Hek-sim Lo-mo!

"Itukah yang bernama Tan Cin Hay?"

Ia bertanya seperti orang mimpi dan matanya tak pernah berkedip memandang kepada pemuda berpakaian putih yang menghadapi pengepungan lima orang musuh lihai itu dengan sikap tenang sekali.

Betapa tenangnya, betapa gagahnya, betapa tampannya, demikian Hong Ing berbisik dalam hatinya.

"Mereka telah datang! Mari, Ing-moi, kita bantu mereka!"

Kata Tek dan pemuda ini sudah bergerak menghantam kepada seorang pengawal yang berdiri paling dekat dengannya.

Pengawal itu terpelanting dan melihat ini, Hong Ing juga membalikkan tubuhnya dan sebuah tendangannya membuat seorang pengawal terjungkal pula.

Melihat betapa gadis berpakaian hijau itu bersama Tek Hin sudah pula mengamuk, tahulah Liong-li bahwa gadis baju hijau itu memang seorang kawan yang perlu diselamatkan.

Akan tetapi tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan si raksasa Hek-sim Lo-mo telah berdiri di depannya, tangan kirinya membuat gerakan mendorong dan ada angin pukulan yang amat hebat menyambar ke arah Liong-li.

Gadis ini cepat mengerahkan tenaganya dan menghindar ke samping, namun tetap saja ia agak terhuyung oleh dorongan angin pukulan yang amat dahsyat!

Tahulah ia bahwa memang benar, seperti yang dikatakan Cin Hay, iblis tua ini lihai bukan main.

"Lui Teng, bawa dua tawanan kembali!"

Teriak Hek-sim Lo-mo sambil menghadang di depan Liong-li.

Mendengar ini, Jai-hwa Kongcu Lui Teng yang memang sudah mendapat tugas sebelumnya, lalu meninggalkan teman-temannya yang mulai mengeroyok Cin Hay, lalu dia melompat ke tengah kerumunan para pengawal yang mengeroyok Tek Hin dan Hong Ing yang sedang mengamuk.

Dengan mudah saja, Lui Teng merobohkan dua orang muda ini dengan totokannya yang ampuh dan dengan dikawal oleh sisa pasukan pengawal yang menjadi anak buahnya, dia lalu bergegas membawa Tek Hin dan Hong Ing yang sudah tidak mampu bergerak itu kembali ke dalam kota Lok-yang!

Liong-li dan Cin Hay mendongkol sekali dan tidak mampu mencegah, karena Liong-li sudah harus membela diri terhadap serangan-serangan Hek-sim Lo-mo, sedangkan Cin Hay juga dikeroyok oleh empat orang lawan yang amat lihai.

Terpaksa kedua orang muda ini mencurahkan seluruh perhatian mereka kepada para lawan yang amat berbahaya itu.

Cin Hay yang dikeroyok empat orang itu harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya karena empat orang pengeroyoknya merupakan datuk-datuk sesat yang amat lihai.

Untung bahwa dia memegang Pek-liong-kiam karena dengan pedang ini dia sempat membuat empat orang pengeroyoknya terkejut bukan main.

Ujung pedang Yauw Ban patah ketika bertemu dengan Pek-liong-kiam, juga cambuk ekor sembilan dari Kiu-bwe Mo-li rontok bulunya.

Golok di tangan dua orang kembar He-nan Siang-mo juga rusak ujungnya.

Empat orang itupun maklum bahwa pedang pemuda berpakaian putih itu ampuh bukan main maka merekapun sebagai ahli-ahli silat pandai dan sudah banyak pengalaman, tidak lagi berani mengadu senjata secara langsung.

Yang membuat mereka heran sekali adalah ketika melihat pedang di tangan Cin Hay.

Mereka semua mengenal baik pedang itu.

Pedang yang pernah mereka lihat ketika sedang dibuat oleh kakek Thio Wi Han!

Bagaimana sekarang pedang itu, sebatang di antara sepasang pedang, berada di tangan pemuda berpakaian putih ini?

Bukankah kedua pedang itu telah berada di tangan pemimpin mereka, Hek-sim Lo-mo?

Bukan hanya empat orang itu saja yang merasa heran.

Juga Hek-sim Lo-mo yang angkuh dan yang belum menggunakan sepasang pedang pusakanya, karena diapun memandang rendah kepada Liong-li, datuk ini terkejut dan heran melihat pedang hitam di tangan gadis berpakaian hitam itu.

Pedang itu amat ampuh, hal ini dapat dia rasakan dari sambaran pedang, dan pedang itu serupa benar dengan sebatang di antara sepasang pedangnya!

Melihat betapa gadis itu berbahaya sekali dengan pedangnya yang ampuh, tiba-tiba Hek-sim Lo-mo mengeluarkan suara gerengan yang menggetarkan jantung, disusul pandang mata yang mencorong dan teriakan yang seperti guntur memasuki telinga Liong-li.

"Hek-liong-li, hentikan seranganmu dan berikan pedang itu kepadaku! Cepat!!!!"

Sungguh aneh sekali.

Ada kekuasaan yang amat kuat mencengkeram batin Liong-li, membuat ia mau tidak mau menuruti perintah itu dan seketika menahan gerakan tubuhnya dan menghentikan serangannya!

Akan tetapi, ia masih belum menuruti perintah memberikan pedang, melainkan memandang heran kepada tangan dan pedangnya, seolah-olah ia tidak mengerti mengapa ia tidak lagi menyerang dan mengapa pula ia ingin menyerahkan pedang pusaka itu kepada kakek iblis raksasa itu!

Cin Hay juga merasakan getaran hebat akibat bentakan Hek-sim Lo-mo.

Tahulah dia bahwa kakek itu tentu mencoba untuk menggunakan ilmu hitam atau ilmu sihir untuk menundukkan Liong-li, maka cepat diapun berteriak.

"Liong-li! Hati-hati terhadap ilmu sihirnya!"

Untung sekali Cin Hay mengeluarkan teriakan ini karena pada saat itu, melihat gadis itu ragu-ragu, Hek-sim Lo-mo sudah menubruk ke depan untuk merampas pedang dan merobohkan gadis itu dengan totokan.

Serangan ini hebat sekali, apa lagi terhadap Liong-li yang tadinya kesima seperti patung tak bergerak.

Teriakan Cin Hay menyadarkan gadis itu, maka pada detik terakhir, ketika tangan Hek-sim Lo-mo tinggal beberapa sentimeter lagi, ia sudah melempar tubuh ke belakang, terus bergulingan menuju ke arah Cin Hay dan begitu ia meloncat, ia lalu memutar pedangnya membantu Cin Hay menghadapi pengeroyokan empat orang lawan yang tangguh itu!

Liong-li kini menyadari betapa hebat ilmu datuk sesat yang seperti iblis itu dan lebih aman kalau ia berkelahi di dekat Cin Hay sehingga mereka berdua dapat saling bantu dan saling melindungi.

Diam-diam Liong-li harus mengakui bahwa tanpa bantuan Cin Hay yang menyadarkannya tadi, ia tentu sudah roboh menjadi korban sihir Hek-sim Lo-mo!

Ia berhutang budi, bahkan mungkin nyawa kepada pemuda berpakaian putih itu, dan hal ini diam-diam ia catat di dalam lubuk hatinya.

Empat orang pengeroyok Cin Hay itu sudah gentar menghadapi kelihaian Cin Hay yang memegang pedang pusaka ampuh, kini nampak sinar hitam berkelebatan menyerang mereka.

Gan Siang, orang pertama dari He-nan Siang-mo, melihat ada sinar hitam menyambar ke arah kepalanya dari belakang, segera membalik dan menangkis dengan golok besarnya sambil mengerahkan tenaga.

Maksudnya agar dengan tenaganya yang besar itu dia akan mampu menangkis pedang Liong-li agar terlepas dari pegangan gadis itu.

"Trakkkk!!"

Gan Siang terkejut setengah mati ketika goloknya yang ujungnya sudah rompal oleh pedang Cin Hay tadi, begitu bertemu dengan pedang hitam di tangan Liong-li, seketika patah di tengah-tengah!

Saking kagetnya, dia terhuyung ke belakang dan pada saat itu, sinar putih menyambar seperti kilat.

Sepasang mata di wajah yang bulat itu terbelalak, mulutnya ternganga, golok yang tinggal sepotong terlepas dari pegangan, tubuhnya tergetar dan Gan Siang roboh terkulai, kedua tangan mendekap dada yang relah ditembusi Pek-liong-kiam dan diapun tewas!

Adiknya, Gan Siong, menjadi pucat seketika dan dalam kemarahan yang berkobar, dia menjadi nekat.

Dengan goloknya, dia menyerang Cin Hay yang telah menewaskan kakak kembarnya itu.

Golok menyambar ganas ke arah leher Cin Hay.

Pemuda ini melihat betapa lawan ini telah dibikin mabok oleh kemarahan dan kedukaan, dengan mudah dia merendahkan dirinya dan dari bawah, sinar putih berkilat menyambar.

Dada Gan Siong juga dimasuki pedang pusaka itu dan jantungnya tertembus.

Dia roboh di samping kakak kembarnya, tewas seketika.

Liong-li mengamuk dan pedangnya menyambar-nyambar ganas.

Yauw Ban dan Kiu-bwe Mo-li menjadi gentar sekali melihat robohnya dua orang kembar itu.

Dalam gugupnya, Kiu-bwe Mo-li menangkis dengan cambuk ekor sembilan, lupa bahwa pedang dalam tangan gadis berpakaian hitam itu adalah sebatang pedang yang luar biasa ampuhnya.

"Pratttt!"

Semua ujung cambuk yang sembilan ekor itupun terbabat buntung.

Dalam kagetnya, Kiu-bwe Mo-li menggerakkan kepalanya.

Rambutnya terlepas dari ikatan dan menyambar ke arah muka Liong-li.

Gadis ini kaget bukan main.

Tidak ada waktu lagi untuk mengelak, maka tangan kanannya cepat menyambar dan di lain saat, rambut nenek itu telah digenggamnya, pedangnya membabat dan pinggang Kiu-bwe Mo-li dibabat pedang sampai hampir putus!

Yauw Ban yang melihat robohnya Kiu-bwe Mo-li, terkejut dan hendak melarikan diri, namun sekali berkelebat, Liong-li sudah berada di depannya dan menyerang dengan pedang hitamnya.

Yauw Ban melawan mati-matian.

Pembantu nomor satu dari Hek-sim Lo-mo ini merupakan pembantu yang paling lihai dan selain ilmu pedangnya amat kuat, juga dia memiliki gin-kang yang membuat dia mampu bergerak cepat bukan main.

Namun, sekali ini dia berhadapan dengan Liong-li, dan hatinya sudah gentar pula.

Dia mengharapkan bantuan dari pemimpinnya, akan tetapi pada waktu itu, Hek-sim Lo-mo juga sibuk sendiri memanggil bala bantuan karena melihat betapa para pembantunya roboh seorang demi seorang di tangan dua orang muda yang lihai itu.

Apa yang dilakukan oleh Hek-sim Lo-mo?

Kakek tinggi besar bermuka hitam ini mengeluarkan sebatang suling yang bentuknya aneh, dengan perut yang besar dan mulai meniup suling itu.

Terdengarlah suara melengking aneh pula, lengking panjang yang tiada berkeputusan, tinggi rendah dan menggetar.

Melihat ini, Cin Hay menjadi ragu-ragu dan diapun siap-siap karena menduga bahwa tentu kakek yang lihai itu hendak mempergunakan ilmu sihir atau ilmu hitam.

Diapun melihat betapa Liong-li telah berhasil menewaskan Kiu-bwe Mo-li dan kini hanya tinggal bertanding melawan seorang lawan saja, yaitu Yauw Ban.

Melihat kesempatan baik ini, selagi Hek-sim Lo-mo sibuk dengan sulingnya (Lanjut ke

Jilid 14) Sepasang Naga Penakluk Iblis (Seri ke 01-Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo

Jilid 14 yang aneh dan melihat betapa Liong-li sudah mendesak Yauw Ban dengan keras, Cin Hay lalu meloncat dan menggerakkan pedangnya, membantu Liong-li menyerang Yauw Ban!

Tok-gan-liong Yauw Ban sudah repot sekali menghadapi desakan Liong-li, kini tiba-tiba datang Cin Hay yang menyerangnya, tentu saja dia menjadi semakin sibuk.

Dia sedang mencari-cari kesempatan untuk melarikan diri, akan tetapi kini, setelah pemuda berpakaian putih itu masuk ke dalam gelanggang perkelahian, kesempatan untuk itu tertutup sama sekali.

Maka diapun menjadi nekat dan dia memutar pedangnya yang tinggal sepotong dan menyambut Cin Hay dengan terkaman nekat!

Melihat kenekatan lawan ini, Cin Hay cepat meloncat ke samping, pedangnya menjadi sinar putih menyambut pedang buntung itu.

"Krakkk!"

Pedang itu patah dan yang tinggal di tangan Yauw Ban hanyalah gagang pedang saja!

Dan pada saat itu, sinar hitam menyambar dan robohlah tubuh Yauw Ban dengan leher yang hampir putus terbabat oleh pedang Hek-liong-kiam di tangan Liong-li!

Kini dua orang muda itu menoleh dan memandang ke arah Hek-sim Lo-mo.

Dan ke-duanya terbelalak, bahkan Liong-li bergidik melihat betapa kakek itu dikelilingi oleh ratusan ekor ular besar kecil!

Bahkan kini dari jauh masih berdatangan ular-ular yang agaknya terpanggil dan tertarik oleh suara sulingnya yang masih terus berbunyi!

Sekarang baru mengertilah Cin Hay bahwa kakek itu meniup sulingnya yang aneh untuk memanggil pasukan ular yaitu semua ular yang tinggal di hutan dan di daerah itu, yang dapat menerima panggilan suara sulingnya!

Kakek itu sudah melihat pula betapa pembantunya yang terakhir, Yauw Ban, telah tewas.

Dia mulai merasa gentar dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong penuh kemarahan, kebencian, dendam akan tetapi juga ketakutan.

Tak disangkanya bahwa dua orang yang demikian mudanya mampu membasmi habis semua pembantunya!

Kini dia hanya mengandalkan diri sendiri dan juga ular-ularnya yang diharapkannya akan dapat membantu dia membunuh kedua orang muda itu.

Melihat betapa Liong-li menjadi agak pucat dan bergidik melihat ular-ularnya, Hek-sim Lo-mo menjadi semakin bersemangat dan kini dia merobah suara sulingnya, penuh dengan nada tinggi yang mendesak dan memerintah.

Dan sungguh hebat sekali pengaruh suara suling itu.

Ratusan ekor ular itu bergerak dengan cepat dan ular-ular besar kecil kini mengepung Cin Hay dan Liong-li!

Mereka kelihatan marah sekali, mendesis-desis dan di antara ular-ular itu terdapat banyak yang berbisa!

Ada pula ular-ular sejenis cobra yang mengangkat tubuh depan ke atas, dengan leher berkembang dan menyekung, lidah keluar masuk dan desisnya mengeluarkan uap kehitaman!

Melihat ini, Liong-li merasa jijik dan juga gentar sekali.

Biarpun ia seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tidak takut menghadapi lawan yang bagaimanapun juga, namun ia tetap seorang wanita dan binatang seperti ular memang mendatangkan rasa jijik dan takut dalam hati seorang wanita.

"Tenanglah dan mari kita basmi ular-ular ini. Hati-hati, tahan pernapasanmu kalau ada uap hitam mendekat!"

Bisik Cin Hay dan diapun tahu betapa temannya itu gentar menghadapi pengepungan ular-ular itu, maka dia memberi contoh dengan menggerakkan pedangnya, membabat ke arah ular-ular itu.

Senjata-senjata tajam dari baja dan besi saja terbabat buntung eleh Pek-liong-kiam, apa lagi binatang ular yang lunak.

Begitu sinar putih itu menyambar-nyambar, banyak ular terbabat buntung dan darahpun mengucur keluar.

Bau amis yang memuakkan menyerang dua orang muda itu.

Liong-li juga menjadi lebih berani dan ia mencontoh perbuatan temannya, menggerakkan Hek-liong-kiam yang menyambar-nyambar dan membuntungi banyak ular.

Akan tetapi, bau amis itu membuat mereka berdua menjadi terkejut dan mereka meloncat keluar dari kepungan ular-ular itu.

Namun, ular-ular itu terus mengejar, agaknya mereka tidak memperdulikan teman-teman yang telah mati dan ular-ular itu sungguh nekat, dimabokkan suara suling yang terus mendorong dan menggairahkan binatang-binatang itu dan membuat mereka seperti gila.

Ular-ular itu, ada yang kecil sekali seperti kelingking tangan dengan panjang belasan sentimeter, akan tetapi ada pula beberapa ekor yang besarnya melebihi paha manusia dan ular sebesar itu, dengan panjang sampai hampir sepuluh meter, akan mampu menelan seekor kerbau!

Dua orang muda itu terus mengamuk, dan selalu mencoba berloncatan agar jangan terkepung karena mereka berdua maklum betapa besar bahayanya kalau sampai mereka itu keracunan hawa dan bau amis.

Akan tetapi, berapa banyakpun ular yang mereka bunuh, dan ke manapun mereka pergi, ular-ular itu terus mengejar mereka.

Liong-li kembali diserang perasaan jijik dan ngeri.

Ia sudah hampir melarikan diri, ketika tiba-tiba Cin Hay berseru kepadanya.

"Liong-li, mari kita serang saja iblis itu!"

Mendengar seruan ini, Liong-li pun sadar.

Sejak tadi, mereka berdua hanya mencurahkan perhatian kepada ular-ular itu sehingga mereka melupakan musuh utama mereka.

Lupa bahwa ular-ular itu sebenarnya dikendalikan, digerakkan atau dituntun oleh suara suling itu.

Yang penting adalah menghentikan sumber suara itu, dan hal ini hanya dapat terlaksana kalau mereka mengalihkan perhatian mereka dan menyerang peniup suling!

Seperti dikomando saja, dua orang muda itu kini meloncat dan menggunakan pedang mereka untuk menyerang Hek-sim Lo-mo!

Menghadapi serangan dua orang muda yang amat lihai itu, Hek-sim Lo-mo terkejut sekali dan tentu saja dia tidak mungkin dapat melanjutkan tiupan sulingnya.

Dan diapun cepat mencabut sepasang pedangnya dan timbul kembali semangatnya.

Dia masih mempunyai andalan, yaitu sepasang pedang yang terbuat dari Kim-san Liong-cu yang ampuh.

Tiba-tiba, dibesarkan hatinya oleh sepasang pedang yang amat diandalkan itu, diapun tertawa sehingga dua orang muda itu terkejut dan menahan senjata mereka karena menduga bahwa tentu kakek iblis itu akan mempergunakan siasat lain yang keji.

Akan tetapi kakek itu hanya berdiri memegang sebatang pedang putih di tangan kanan dan sebatang pedang hitam yang lebih pendek di tangan kiri, mengamangkan kedua pedang itu sambil tertawa.

"Ha-ha-ha, kalian dua orang muda yang sudah bosan hidup! Lihat, di tanganku ini apa? Sepasang pedang dari Kim-san Liong-cu dan kini tidak ada lagi yang akan dapat menyelamatkan nyawa kalian!"

Berkata demikian, kakek ini menggerakkan dua batang pedangnya dengan gerakan yang amat dahsyat sehingga nampak dua gulung sinar hitam putih bersilangan dan terdengar deru angin menyambar-nyambar amat dahsyatnya.

Memang tepat perhitungan Cin Hay.

Begitu suara suling itu berhenti berbunyi, ular-ular itu menjadi kacau balau dan bingung tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, bahkan mereka itu kemudian seperti menjadi marah-marah melihat banyak kawan mereka yang tewas, ada yang masih menggeliat-geliat karena tubuhnya putus dan akhirnya mereka kini dengan buas saling serang sendiri!

Atau mereka seperti berpesta pora setelah perkelahian tadi, yang besar menelan yang kecil!

Menghadapi sepasang pedang di tangan Hek-sim Lo-mo, tentu saja Cin Hay dan Liong-li sama sekali tidak merasa khawatir, bahkan mereka itu tersenyum geli karena mereka tahu bahwa sepasang pedang di tangan datuk iblis itu hanyalah pedang palsu.

Pedang pusaka yang aseli, yang terbuat dari Kim-san Liong-cu, berada di tangan mereka!

Memang bentuk dan warna pedang mereka itu serupa dengan sepasang pedang yang dipegang di tangan Hek-sim Lo-mo dan diam-diam mereka memuji keahlian Thio Wi Han membuat pedang-pedang itu.

Kini dua orang muda itu menyambut serangan Hek-sim Lo-mo dengan pedang mereka, pedang pusaka Pek-liong-kiam dan Hek-liong-kiam yang aseli!

Melihat ini, Hek-sim Lo-mo tersenyum menyeringai, dalam hati mentertawakan dua orang muda itu karena pedang mereka tentu akan patah-patah bertemu dengan pedang pusakanya.

Maka diapun terus melanjutkan serangannya sambil mengerahkan seluruh tenaga sin-kangnya, bermaksud mengadu pedang di kedua tangannya dengan pedang dua orang muda itu.

Dan agaknya, menurut penglihatannya, dua orang muda itu sedemikian tololnya untuk berani mengadu senjata mereka dengan sepasang pedang yang dibuat dari Kim-san Liong-cu "Sing-singgg......

trang-trak-trakkk!!!"

Wajah yang tadinya menyeringai itu berubah seketika.

Matanya terbelalak, matanya ternganga dan wajah yang berkulit hitam itu agak pucat, dan cepat sekali membuang tubuhnya ke belakang lalu bergulingan, dan ketika dia meloncat berdiri, wajah Hek-sim Lo-mo berubah sama sekali!

Seperti orang melihat setan di siang hari, Hek-sim Lo-mo memandang kepada dua gagang pedang yang masih dipegangnya.

Sepasang pedang pusakanya itu patah-patah ketika bertemu dengan pedang kedua orang lawannya!

Pedang-pedang yang dibuat oleh Thio Wi Han dari bahan Kim-san Liong-cu itu patah oleh pedang lawan!

Bagaimana mungkin ini?

Dia kini memandang kepada dua orang lawannya, terutama kepada pedang di tangan mereka, dua batang pedang yang serupa benar dengan sepasang pedangnya yang patah-patah tadi.

"Pedang...... pedang.....!"

Dia tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi saking bingung, penasaran, menyesal dan saking terkejutnya melihat betapa pedangnya, sepasang pedang yang amat dibanggakan itu, sekali beradu dengan kedua pedang lawan, menjadi patah.

Cin Hay dan Liong-li melangkah maju menghampiri kakek itu dan Cin Hay tersenyum.

"Hek-sim Lo-mo, perbuatan jahat tidak akan dilindungi Tuhan! Engkau telah melakukan terlalu banyak dosa. Dengan kejam sekali engkau membunuh Pouw Sianseng untuk merampok Kim-san Liong-cu, bahkan dengan keji engkau membunuh pula puterinya. Kemudian, engkau memaksa kakek Thio Wi Han untuk membuatkan sepasang pedang dari Kim-san Liong-cu rampokan itu, dan akhirnya, Thio Wi Han suami isteri juga tidak terhindar dari kekejamanmu dibantu anak buahmu. Engkau tidak tahu bahwa sepasang pedang pusaka dari bahan Kim-san Liong-cu itu, yaitu Pek-liong-kiam dan Hek-liong-kiam, oleh mendiang kakek Thio Wi Han telah diberikan kepada kami. Yang berada di tanganmu itu hanyalah pedang-pedang palsu. Inilah Pek-liong-kiam!"

Kata Cin Hay sambil mengangkat pedangnya ke atas kepala.

"Dan ini Hek-liong-kiam!"

Kata pula Liong-li sambil mengangkat pedang hitamnya ke atas.

Sepasang mata Hek-sim Lo-mo menjadi liar dan kemerahan.

Kini mengertilah dia bahwa dia telah dikhianati dan dipermainkan oleh Thio Wi Han.

Kemarahannya membuat dia lupa bahwa dia berhadapan dengan dua orang lawan yang amat tangguh.

Apa lagi dua orang muda itu memegang sepasang pedang yang luar biasa ampuhnya.

Dan barisan ularnya sudah tidak ada artinya lagi, bahkan kini ular-ular itu sudah saling serang seperti gila!

Kemarahan yang mendatangkan kelengahan membuat kakek itu menjadi nekat.

Selama puluhan tahun Hek-sim Lo-mo menjadi datuk hitam yang amat tinggi kedudukannya.

Dia adalah seorang di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis tua) yang di dunia persilatan dianggap sebagai datuk-datuk sesat yang paling tinggi kedudukannya.

Kurang lebih sepuluh tahun lamanya, Kiu Lo-mo menghilang dari dunia persilatan karena mereka ditentang oleh sekelompok pendekar yang sakti, di antara mereka adalah mendiang Pek I Lo-jin guru Cin Hay.

Selama sepuluh tahun menghilang, Kiu Lo-mo menyembunyikan diri di pegunungan-pegunungan, di dalam guha-guha dan mereka itu bukan bersembunyi karena takut kepada para pendekar, melainkan diam-diam mereka itu menggembleng diri, menyusun kembali kekuatan mereka setelah dicerai-beraikan oleh para pendekar.

Dan kini, Kiu Lo-mo telah kembali terjun ke dunia ramai.

Mereka bukan Kiu Lo-mo sepuluh tahun yang lalu.

Mereka telah menjadi lebih lihai dari pada dahulu.

Dan mereka itu terjun ke dalam dunia kang-ouw secara terpisah, mengusai beberapa daerah masing-masing dan menyusun kekuatan sendiri dengan menalukkan para tokoh sesat yang berkepandaian tinggi dan menarik mereka menjadi para pembantu dan anak buah seperti yang dilakukan Hek-sim Lo-mo.

Karena selama ini selalu mendapatkan kemenangan, Hek-sim Lo-mo terlalu mengagul-kan diri sendiri dan memandang rendah orang lain sehingga di luar dugaannya, hari ini dia harus berhadapan dengan dua orang muda yang ternyata amat lihai, membuat dia kehilangan sepasang pedang dan semua pembantu utamanya, bahkan yang menggagalkan dia memperoleh sepasang pedang yang dibuat dari mustika Kim-san Liong-cu.

Maka, dapat dimengerti betapa marah dan sakit hati Hek-sim Lo-mo yang kini harus menghadapi dua orang lawan itu.

"Keparat, jangan kira aku takut kepada kalian!"

Dan ketika tangan kanannya bergerak ke arah pinggangnya, dia telah melolos sebatang sabuk rantai baja hitam yang panjangnya ada dua meter, tebal dan nampak berat sekali.

Dia memutar benda itu dan nampaklah sinar hitam bergulung-gulung, mengeluarkan suara bercuitan dan angin mendesir menyambar-nyambar ke depan.

Cin Hay dan Liong-li maklum akan kelihaian kakek ini, maka merekapun tidak berani memandang ringan walaupun kakek itu telah kehilangan sepasang pedangnya.

Mereka lalu meloncat ke kanan kiri untuk mengeroyok Iblis Tua Berhati Hitam itu, memutar pedang masing-masing sehingga kini ada gulungan sinar putih dan hitam yang terang menyambar dari kanan kiri.

Kakek iblis itu memiliki banyak macam ilmu silat dan kini dia mainkan sabuk rantai bajanya dengan dahsyat.

Tubuhnya kadang-kadang membuat gerakan seperti ular, dan yang amat berbahaya adalah ketika lengannya kadang-kadang mulur sampai dua meter sehingga senjatanya menjadi semakin jauh jangkauannya, dan disamping sambaran rantai baja itu, juga tangan kirinya membantu dengan tamparan atau cengkeraman yang tidak kalah berbahayanya dibandingkan rantai bajanya.

Cin Hay dan Liong-li bersikap waspada.

Mereka tahu bahwa tanpa pedang pusakapun, kakek ini masih berbahaya bukan main, lebih berbahaya dari binatang buas apapun.

Bahkan mereka harus mengakui bahwa selamanya belum pernah mereka bertemu lawan selihai Hek-sim Lo-mo dan andaikata mereka itu harus menghadapi kakek itu seorang diri saja, akan amat sukar bagi mereka untuk memperoleh kemenangan, bahkan besar kemungkinan mereka akan roboh di tangan kakek iblis yang amat lihai itu.

Hek-sim Lo-mo memang lihai bukan main.

Tidak mengherankan kalau dia setelah turun gunung, berhasil menjadi beng-cu, sebutan bagi seorang pemimpin karena dia memang dianggap sebagai pemimpin oleh semua golongan sesat, menjadi beng-cu yang menguasai seluruh wilayah He-nan dan Shan-tung.

Sebagai seorang datuk sesat di dunia persilatan, dia merupakan seorang yang sudah matang.

Dia berhasil menghimpun tenaga khi-kang yang amat kuat sehingga dengan tenaga itu dia mampu melakukan sihir.

Di samping tenaga sinkang yang besar, yang membuat tubuhnya kebal, dia juga memiliki ginkang yang tinggi, yaitu ilmu meringankan tubuh yang dapat membuat dia bergerak seperti seekor burung saja.

Semua ini ditambah lagi ilmu silat yang bermacam-macam dan penuh daya muslihat, dan ilmunya membuat kedua lengannya mulur juga amat berbahaya bagi lawan.

Akan tetapi, sekali ini dia menghadapi dua orang lawan yang biarpun masih muda, namun memiliki kepandaian yang tinggi.

Tan Cin Hay telah mewarisi ilmu kepandaian mendiang Pak I Lojin yang amat sakti, apa lagi kini dia memegang Pek-liong-kiam.

Dari gurunya, di antara ilmu-ilmu silat lain, dia mempelajari ilmu yang hebat, yaitu Pek-liong Sin-kun (Silat Sakti Naga Putih) dan kini, dengan pedang di tangan, dia mainkan ilmu silat itu yang dapat dimainkan dengan pedang.

Dan ternyata, pedang Pek-liong-kiam itu sungguh cocok sekali untuk dimainkan dengan ilmu silat Pek-liong Sin-kun dan dalam perkelahian ini, terciptalah ilmu pedang Pek-liong Kiam-sut yang kelak akan semakin disempurnakan oleh Cin Hay, ilmu silat pedang berdasarkan ilmu silat tangan kosong Pek-liong Sin-kun.

Adapun lawan kedua dari kakek iblis itu adalah Hek-liong-li, seorang wanita muda yang telah mewarisi ilmu-ilmu yang ampuh dari Huang-ho Kui-bo, seorang nenek tua renta yang dahulunya juga merupakan tokoh besar di dunia persilatan.

Huang-ho Kui-bo, walaupun julukannya Kui-bo (Biang Iblis), namun ia tidak dapat digolongkan penjahat, juga bukan seorang pendekar yang menentang para penjahat.

Ia berdiri di antara dua golongan itu dan kalau ia dijuluki Kui-bo adalah karena kesaktiannya dan karena keganasannya tidak pernah mau memberi ampun kepada orang yang berani menentangnya.

Dari gurunya itu, Liong-li menerima banyak macam ilmu silat yang hebat, dahsyat dan ada pula yang keji.

Kini, dengan pedang Hek-liong-kiam di tangan, ia seperti seekor harimau yang memiliki sayap!

Dua kali sudah ujung rantai baja yang panjang itu buntung ujungnya sehingga panjangnya berkurang banyak, walaupun ketika ujung rantai bertemu pedang, saking kuatnya tenaga yang berada pada rantai itu, Cin Hay dan Liong-li terhuyung ke belakang.

"Haiiiiiittt!"

Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan teriakan nyaring, matanya mencorong lalu disambungnya dengan mulut berkemak-kemik dan diapun berteriak lagi.

"Lihat, aku telah berubah menjadi dua orang!"

Cin Hay dan Liong-li terkejut ketika tiba-tiba mereka melihat kakek itu berubah menjadi dua.

Akan tetapi Liong-li mengeluarkan bentakan melengking dan Cin Hay berkata dengan suara yang mengandung khi-kang.

"Tak perlu bermain sulap, Lo-mo. Kami tidak dapat kaupengaruhi!"

Dan dengan pengerahan tenaga khi-kang, dua orang muda itu dapat membuyarkan ilmu sihir lawan dan mereka melihat bahwa kakek itu hanya seorang saja, bukan dua seperti tadi.

"Haaaaaahhhh! Berlutut kalian! Berlutut kataku......!!"

Kembali kakek itu membentak, di dalam suaranya terkandung getaran yang amat hebat dan kuat sekali sehingga Liong-li merasa betapa kedua kakinya lemas!

Akan tetapi Cin Hay yang sudah siap siaga, dapat menahan serangan gelombang getaran sihir itu dan pada saat Hek-sim Lo-mo menggerakkan rantai untuk melancarkan serangan maut terhadap Liong-li yang masih termangu karena kedua kakinya seperti tiba-tiba menjadi lemas yang memaksanya untuk berlutut akan tetapi ia pertahankan, Cin Hay yang tidak terpengaruh, cepat meloncat ke depan dan menggunakan pedangnya untuk menangkis rantai yang menyambar ke arah kepala Liong-li itu.

"Tranggg......!"

Kembali ujung rantai itu putus dan Cin Hay terhuyung ke belakang.

Hek-sim Lo-mo marah sekali.

Dia sudah mulai lelah setelah lebih dari seratus jurus mereka berkelahi dan dia selalu berada di pihak yang terdesak dan repot.

Dan pada saat dia hampir memperoleh kemenangan, hampir dapat membunuh gadis berpakaian hitam itu, Cin Hay menggagalkan serangannya, bahkan membuat rantainya kembali putus ujungnya.

Kemarahan yang meluap-luap membuat dia menjadi mata gelap.

Rantai bajanya tinggal pendek dan dengan sekuat tenaga dia melontarkan sisa rantai baja itu ke arah kepala Cin Hay yang sedang terhuyung ke belakang.

Cin Hay yang tetap waspada itu mengangkat pedangnya untuk menangkis dan kembali lengannya terasa gemetar saking kuatnya lontaran rantai itu, namun dia berhasil menangkis sehingga rantai itu terlempar ke samping.

Akan tetapi pada saat itu, tubuh yang tinggi besar itu sudah menerkamnya dari depan dengan dahsyatnya!

Kiranya, begitu melontarkan rantainya, Hek-sim Lo-mo yang sudah mata gelap itu langsung menubruk dan menerkam ke arah Cin Hay.

Terkaman itu dilakukan tanpa diduga-duga oleh Cin Hay bahwa lawannya akan senekat itu.

Dia tidak mungkin mengelak kecuali meloncat ke belakang dan menusukkan pedangnya ke depan pula, selain untuk melindungi tubuhnya, juga untuk menyerang.

Kalau kakek itu melanjutkan terkamannya, sebelum terkaman berhasil, tentu dadanya akan ditembusi Pek-liong-kiam yang ditusukkan ke depan.

Betapa heran dan kagetnya hati Cin Hay ketika melihat bahwa kakek itu tidak menarik kembali terkamannya!

"Cappp......

Pedang Pek-liong-kiam memasuki dada Hek-sim Lo-mo, akan tetapi tiba-tiba Cin Hay merasa betapa dua buah tangan yang berjari panjang dan kuat, bagaikan dua jepitan baja telah mencekik lehernya!

Samar-samar dia teringat bahwa kakek itu tentu menggunakan ilmunya yang dapat membikin kedua lengan kakek itu mulur sampai panjang!

Namun, terlambat dia teringat akan kemungkinan ini karena kedua tangan itu telah mencekiknya dengan kekuatan yang luar biasa dan biarpun Cin Hay sudah mengerahkan seluruh tenaga sin-kang untuk melindungi lehernya, tetap saja jari-jari tangan itu menekan sedemikian kuatnya sehingga dia tidak mampu bernapas lagi!

Matanya terasa panas, kepalanya berdenyut seperti akan meledak karena agaknya semua jalan darah yang menuju ke kepala, terhenti di leher, tertahan oleh cekikan yang amat kuat itu.

Dalam keadaan setengah kehilangan kesadaran itu, Cin Hay masih memegang gagang pedangnya dengan erat karena dia tidak ingin pedangnya itu terampas lawan.

Sementara itu, Liong-li sudah dapat membebaskan diri dari keadaan termangu karena kedua kakinya merasa lemas sebagai akibat pengaruh ilmu sihir Hek-sim Lo-mo.

Begitu sadar, ia melihat betapa Cin Hay berada dalam keadaan gawat dan terancam bahaya maut.

Liong-li dapat menduga bahwa orang sejahat Hek-sim Lo-mo, sampai bagaimanapun jua tidak akan mau melepaskan cengkeraman kedua tangannya dari leher Cin Hay yang tercekik.

Buktinya, jelas betapa Pek-liong-kiam telah tertanam ke dalam dada kakek itu, namun dengan wajah beringas dan mata merah, kakek itu tetap mencekik dengan pengerahan tenaga terakhir.

Agaknya dia hendak mengajak Cin Hay mati bersama!

Dan Cin Hay tidak dapat berbuat sesuatu dengan tangan kirinya karena tubuh kakek itu cukup jauh, jarak yang hanya dapat dicapai oleh kedua lengan kakek itu yang memanjang.

Usaha Cin Hay untuk melepaskan cekikan itu dengan tangan juga sia-sia dan tenaga pemuda itu semakin lemah karena dia membutuhkan hawa yang tertutup oleh cekikan.

Liong-li maklum bahwa kalau ia tidak cepat turun tangan, tentu nyawa Cin Hay terancam bahaya maut.

Maka iapun bergerak maju, pedang Hek-liong-kiam di tangannya menyambar dua kali.

"Crok! Crokk!!"

Kedua lengan Hek-sim Lo-mo terbabat buntung sebatas siku dan ketika kaki Liong-li menendang, tubuh kakek yang sudah tidak berlengan dan yang dadanya sudah ditembusi Pek-liong-kiam itu terlempar dan menimpa empat ekor ular besar yang sedang mengamuk di antara ular-ular kecil.

Begitu tertimpa tubuh yang mandi darah itu, empat ekor ular besar itu dan belasan ekor ular kecil menjadi marah dan mereka semua segera menyerang tubuh Hek-sim Lo-mo yang masih berkelojotan!

Kakek ini memang memiliki tubuh yang kuat dan nyawa yang ulet sekali.

Biarpun dadanya sudah ditembusi pedang Pek-liong-kiam dan kedua lengannya sudah buntung, akan tetapi dia masih sadar sepenuhnya.

Melihat dirinya yang sudah tidak berdaya itu dikeroyok ular, dia terbelalak dan ketakutan!

Sungguh aneh sekali.

Datuk iblis yang biasanya suka menyiksa orang, bahkan entah berapa orang korbannya yang mati dikeroyok oleh ular-ularnya, kini menghadapi serangan ular-ularnya, dia menjadi ketakutan dan mulailah dia berteriak-teriak!

Dia hendak bangkit dan hendak melarikan diri, akan tetapi kedua kakinya digigit ular besar dan dia roboh kembali, meronta-ronta dan memekik-mekik, kemudian, seekor ular besar membuka moncongnya lebar-lebar dan mencaplok kepala Hek-sim Lo-mo.

Barulah pekikan yang mengerikan itu terhenti dan hanya tubuh itu yang masih bergerak-gerak, akan tetapi hanya sebentar.

Liong-li membuang muka dan cepat menghampiri Cin Hay.

Pemuda ini duduk memegangi pedang, terengah-engah dan mengurut lehernya dengan tangan kiri.

Leher itu membengkak dan membiru, akan tetapi ketika Liong-li membantunya mengurut dan memijat, sebentar saja kesehatannya sudah pulih kembali.

"Liong-li, terima kasih...... engkau telah menyelamatkan nyawaku,"

Kata Cin Hay. Liong-li tersenyum.

"Sudahlah, aku hanya membayar hutangku kepadamu. Lebih baik kita memikirkan Tek Hin......"

"Ah, celaka! Mudah-mudahan aku tidak terlambat!"

Cin Hay terkejut ketika teringat akan temannya itu dan dia lalu meloncat dan berlari cepat menuju ke kota Lok-yang.

Sambil tersenyum Liong-li juga berlari cepat, akan tetapi sekali ini ia harus mengakui keunggulan Cin Hay.

Kini pemuda itu tidak berpura-pura lagi dan benar-benar mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat dan ternyata Liong-li tidak mampu menandinginya.

Tahulah ia kini bahwa dahulu Cin Hay telah mengalah kepadanya!

Ia menjadi semakin kagum.

?Y?

Jai-hwa Kongcu Lui Teng memondong tubuh yang hangat itu dengan senyum cerah di bibirnya.

Gadis baju hijau yang selama ini dirindukannya kini telah berada dalam pondongannya.

Hong Ing tidak berdaya.

Tubuhnya lemas tak mampu bergerak sehingga ketika Lui Teng yang memondongnya dan membawanya pergi itu beberapa kali menciumnya, iapun hanya dapat memejamkan mata saja karena tidak mampu mengelak atau meronta.

Hanya pandang matanya saja bernyala penuh kebencian.

Sementara itu, Tek Hin yang juga tertotok lemas, dibawa oleh anak buah penjahat.

Mereka membawa lari Hong Ing dan Tek Hin, membawa mereka kembali ke Lok-yang seperti yang diperintahkan Hek-sim Lo-mo.

Jai-hwa Kongcu Lui Teng maklum bahwa dia dan anak buah penjahat disuruh menyingkirkan dua orang tawanan itu agar jangan sampai diselamatkan oleh Tan Cin Hay dan Hek-liong-li.

Dua orang tawanan ini masih ada gunanya, setidaknya sebagai sandera dan kalau perlu untuk memaksa dua orang muda yang lihai itu untuk menyerah.

Dan dia melihat kesempatan baik terbuka baginya.

Gadis baju hijau itu sepenuhnya berada di dalam kekuasaannya.

Ketika dia dan anak buahnya tiba di gedung besar tempat tinggal Hek-sim Lo-mo, dia menyuruh anak buahnya melemparkan tubuh Tek Hin yang masih tertotok itu ke atas lantai dalam kamar di mana kedua orang itu biasanya ditahan.

Kemudian dia menyuruh para anak buahnya melakukan penjagaan ketat di luar gedung dan dia sendiri membawa tubuh Hong Ing yang masih dipondongnya ke atas pembaringan!

Dan tanpa malu-malu, tanpa menghiraukan Tek Hin yang rebah di atas lantai dan memandang dengan mata melotot, Jai-hwa Kong-cu Lui Teng lalu membelai-belai dan menciumi wajah Hong Ing yang masih tidak berdaya dan tidak mampu bergerak.

"Jahanam keparat! Anjing busuk hina dina. Awas kau, akan kulaporkan kepada Hek-sim Lo-mo agar engkau dihajar sampai mampus kalau kau tidak menghentikan perbuatanmu yang kotor ini!"

Hong Ing hanya dapat berkata dan memaki-maki tanpa mampu mengelak ketika Jai-hwa Kongcu Lui Teng mencium mulutnya sampai lama sekali dan yang membuatnya terengah-engah.

Melihat itu, Tek Hin marah bukan main, juga timbul kekhawatiran di dalam hatinya kalau-kalau penjahat cabul itu akan berbuat lebih jauh lagi dan memperkosa Hong Ing yang tidak berdaya.

"Anjing kotor! Akupun akan melapor kepada Hek-sim Lo-mo dan hendak kulihat bagaimana engkau akan melawan dia nanti!"

Katanya mengancam. Akan tetapi yang diancam itu bahkan tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, boleh saja kalian mengoceh dan mengancam. Tahukah kalian bahwa kalau dua orang bocah sombong itu sudah berhasil dibunuh, kalian berdua akan diserahkan kepadaku? Aku akan menyerahkan engkau kepada Kiu-bwe Mo-li, Tek Hin. Dan engkau, manis, engkau akan kuajak bersenang-senang sampai sepuasmu, ha-ha-ha! Sekarang akan keselidiki apakah mereka sudah berhasil membunuh dua orang bocah sombong itu!"

Jai-hwa Kongcu Lui Teng lalu berteriak memanggil penjaga. Dua orang berlari mendatangi dan dengan suara lantang Lui Teng berkata kepada mereka.

"Suruh sediakan arak dan daging ke sini untukku, dan seorang lagi pergilah cepat ke tempat perkelahian tadi. Lihat apakah dua orang bocah sombong itu telah mampus, dan cepat laporkan kepadaku!"

Dua orang penjaga itu mengangguk lalu meninggalkan kamar tawanan. Tak lama kemudian, Jai-hwa Kongcu Lui Teng sudah menghadapi hidangan yang mengepul panas dan seguci arak yang wangi.

"Manis, engkau lapar, bukan? Mari kita makan, kutemani engkau atau engkau menemani aku? Ha-ha-ha, katakan engkau mau makan dan aku akan membebaskan totokanmu."

"Tidak sudi! Lebih baik aku mati kelaparan dari pada harus makan bersamamu!"

Kata Hong Ing, menahan turunnya air matanya karena sesungguhnya ia merasa ngeri, takut dan juga malu terhadap Tek Hin yang tadi melihat betapa ia dibelai dan diciumi penjahat itu, jantungnya berdebar penuh ketegangan dan ketakutan yang ditahan-tahan dan hendak disembunyikan, karena ia tidak ingin penjahat yang dibencinya itu melihat bahwa ia ketakutan.

Jawaban Hong Ing itu hanya disambut oleh Lui Teng dengan senyum-senyum saja.

Dia membayangkan betapa akan manisnya kalau gadis yang kini melawan dan marah-marah, membencinya ini, kelak akan menyerahkan diri kepadanya.

Makin besar kebencian dan perlawanannya, kalau kelak menyerah akan semakin terasa manis!

Diapun lalu duduk menghadapi meja dan makan minum dengan lahapnya, sengaja mengeluarkan suara untuk membikin kedua orang itu tersiksa.

Akan tetapi, baik Tek Hin maupun Hong Ing sama sekali tidak mau menengok ke arah dia duduk, Tek Hin diam-diam membayangkan apa akan jadinya dengan dirinya dan Hong Ing kalau sampai Cin Hay dan Liong-li benar-benar dapat dikalahkan oleh Hek-sim Lo-mo dan para pembantunya.

Dia memutar otak bagaimana agar dapat terbebas dari totokan sehingga dia dapat melakukan perlawanan.

Andaikan sampai dia dan Hong Ing harus mati sekalipun dia tidak akan merasa penasaran.

Akan tetapi kalau harus mati dan mengalami penghinaam tanpa melawan sedikitpun juga, sungguh matinya akan penasaran sekali.

Tak lama kemudian, tepat setelah Jai-hwa Kongcu Lui Teng selesai makan minum, sisa makanan disingkirkan dan yang ditinggalkan hanya seguci arak dan cawan arak, muncullah seorang penjaga yang tadi bertugas melakukan penyelidikan ke luar kota melihat keadaan mereka yang berkelahi.

Dengan wajah pucat dan napas terengah-engah karena baru saja berlari cepat-cepat, orang itu melaporkan bahwa dua orang muda itu masih dikeroyok, akan tetapi dua orang saudara kembar He-nan Siang-mo telah tewas, dan kini Beng-cu sedang memanggil banyak sekali ular!

"Saya........

takut sekali dan segera lari untuk memberi kabar ke sini, akan tetapi seorang kawan masih tinggal di sana dan mengintai untuk nanti memberi laporan susulan,"

Katanya mengakhiri laporannya, lalu dia mengundurkan diri keluar dari kamar itu. Song Tek Hin sengaja tertawa bergelak dan siasat ini memang sudah sejak tadi dia rencanakan.

"Ha-ha-ha, dua orang dari temanmu sudah mampus dan sebentar lagi yang lain-lain pasti akan tewas di tangan Tan-taihiap dan Hek-liong-li! Engkau sendiri, kalau saja bukan seorang pengecut dan penakut besar, kalau saja engkau berani membebaskan aku dari totokan, sudah sejak tadi tulang-tulangmu kupatah-patahkan dan kepalamu kuhancurkan, isi perutmu kukeluarkan. Ha-ha-ha!"

Wajah Jai-hwa Kongcu Lui Teng menjadi merah padam.

Dia adalah seorang penjahat besar yang sudah banyak pengalamannya dan cerdik pula.

Dia dapat menduga bahwa Song Tek Hin sengaja mengeluarkan ucapan menghina itu untuk memancing kemarahannya dan agar dia suka membebaskan totokan itu.

Akan tetapi perasaan malu membuat dia marah besar dan tidak dapat menahan dirinya.

Kalau saja Tek Hin tidak mengeluarkan ucapan itu di depan Hong Ing, tentu dia akan mentertawakan saja tawanan itu, atau akan menyiksanya atau membunuhnya tanpa membebaskan totokannya.

Akan tetapi, dia diejek dan dihina di depan gadis yang membuatnya tergila-gila, maka dia merasa malu kalau tidak memperlihatkan keberaniannya, agar makian pengecut dan penakut itu dapat dihapusnya di depan gadis manis itu.

Apa lagi dia tahu benar bahwa biarpun Tek Hin pandai ilmu silat, namun bagi dia masih terlalu rendah sehingga andaikata ada lima orang dengan tingkat kepandaian seperti Tek Hin mengeroyoknya sekalipun, dia tidak akan kalah.

Maka, diapun dengan sekali loncat sudah mendekati Tek Hin yang menggeletak tak mampu bergerak di alas lantai.

"Tikus busuk, masih berani engkau bermulut besar? Engkau hendak membunuhku? Kau? Hemm, hendak kulihat apa yang dapat kaulakukan kepadaku!"

Berkata demikian, cepat sekali tangan Jai-hwa Kongcu Lui Teng bergerak menepuk tengkuk dan punggung Tek Hin yang seketika mampu bergerak kembali.

Akan tetapi tubuhnya masih terasa kaku-kaku dan nyeri, maka dia bangkit duduk sambil menggeliat untuk melemaskan tubuhnya.

"Bukk!"

Lui Teng menendangnya sehingga dia terguling-guling.

"Ha, ha, hayo kau bangkit dan lawan aku, tikus sombong!"

Lui Teng tertawa dan maju mendekat.

Inilah yang dikehendaki oleh Tek Hin dan sejak tadi memang dia sudah mencari akal bagaimana agar dia dapat dibebaskan dari totokan, Dia tahu bahwa dia bukanlah lawan Jai-hwa Kongcu Lui Teng yang lihai, akan tetapi dia tidak ingin mati konyol.

Kalau dia dapat bergerak dan melawan mati-matian biarpun akhirnya dia akan kalah dan tewas, dia tidak penasaran karena mati dalam perlawanan dan perkelahian.

Mati sebagai seekor harimau jauh lebih berharga dari pada mati sebagai seekor babi yang tidak mampu melawan.

Kalau tendangan yang dilakukan Lui Teng tadi dimaksudkan untuk membunuh tentu kini Tek Hin sudah tidak mampu bangun kembali.

Akan tetapi, agaknya Lui Teng tidak tergesa-gesa hendak membunuh Tek Hin, melainkan hendak memamerkan dulu keunggulannya di depan Hong Ing dan menghajar Tek Hin sepuas hatinya.

Tek Hin meloncat bangun dan kini tubuhnya sudah terasa ringan dan tidak kaku lagi.

Maka diapun menerjang ke depan dan menyerang dengan pukulan yang didukung oleh seluruh tenaganya, menghantam ke arah dada Lui Teng.

Akan tetapi, yang dipukul itu tenang-tenang saja, setelah pukulan Tek Hin menyambar dekat, barulah dia menangkis sambil mengerahkan tenaga.

"Dukkk!"

Ketika kedua lengan bertemu, Tek Hin yang kalah tenaga merasa lengannya nyeri dan tubuhnya terdorong miring.

Lui Teng menggerakkan tangan amat cepatnya dan dia sudah memukul pundak Tek Hin dengan tangan terbuka.

"Plakk!"

Tubuh Tek Hin terpelanting dan sebelum dia dapat bangkit berdiri lagi, Lui Teng sudah menyusulkan tendangan ke arah punggungnya.

"Desss!"

Kembali tubuh Tek Hin terguling-guling dan menabrak dinding ruangan itu.

Ketika dia bangkit lagi, darah mengalir dari ujung bibirnya yang pecah.

Akan tetapi sedikitpun Tek Hin tidak kelihatan takut dan dia sudah meloncat dan menyerang lagi, kini dengan kedua tangan bertubi-tubi melakukan serangan pukulan.

Akan tetapi, kembali Lui Teng meloncat ke samping dan kakinya mencuat dengan kecepatan kilat.

"Bukk!"

Perut Tek Hin tertendang dan dia terjengkang, lalu roboh terbanting keras.

Dia meringis kesakitan dan kepalanya terasa pening karena kepalanya terbanting ke atas lantai, akan tetapi dia sudah merangkak dan bangkit lagi.

"Ha-ha-ha, macam engkau ini mau membunuh aku? Hayo cepat bunuh, hayo patahkan tulang-tulangku, hancurkan kepalaku dan keluarkan isi perutku, ha-ha-ha!"

Tek Hin menubruk, akan tetapi disambut dengan tendangan lagi yang membuat dia untuk kesekian kalinya terpelanting keras. Melihat betapa Tek Hin dihajar, Hong Ing berteriak dari atas pembaringan.

"Pengecut besar, hayo bebaskan totokanku kalau engkau berani! Aku akan membunuhmu!"

Akan tetapi, Lui Teng menoleh dan tersenyum.

"Manis, tenanglah. Engkau akan mendapat giliranmu nanti, heh-heh!"

Selagi dia menoleh, Tek Hin mempergunakan kesempatan itu untuk menerjangnya dengan serangan yang nekat.

Dia berhasil menerkam dan mencengkeram dada dan leher Lui Teng yang tadi lengah karena menoleh dan bicara dengan Hong Ing.

"Ehh.......!!"

Dia terkejut juga ketika tahu-tahu Tek Hin sudah mencekik leher dan mencengkeram dadanya.

Namun dengan kecepatan luar biasa dan dengan pengerahan tenaga, Lui Teng mengangkat lututnya yang memasuki perut Tek Hin dan kedua tangannya bergerak merenggut jari-jari kedua tangan Tek Hin, lalu mendorong.

"Bressss......!"

Kembali Tek Hin terjengkang dan terbanting, dan hanya secuil baju Lui Teng saja yang terobek dan tertinggal dalam tangan Tek Hin.

Kini Lui Teng menjadi marah sekali.

Biarpun terkaman tadi tidak mendatangkan luka, hanya sedikit kenyerian pada kulit leher dan dada, namun cukup membuat dia mendongkol sekali dan sebelum Tek Hin dapat bangkit kembali, diapun mulai menghajar pemuda itu dengan tendangan-tendangan!

Tubuh Tek Hin terguling-guling dan darah bercucuran keluar dari hidung yang terkena tendangan, dan dia sudah tidak dapat melawan sama sekali.

Tek Hin menanti datangnya tendangan atau pukulan maut yang akan merenggut nyawanya.

Akan tetapi dia merasa puas karena dia sudah sempat melawan dan akan tewas sebagai seorang gagah yang kalah dalam perkelahian.

Pada saat itu, seorang penjaga berlari masuk dan munculnya orang ini menghentikan Lui Teng dari amukannya terhadap tubuh Tek Hin yang sudah tidak berdaya itu.

"Kongcu......"

Kata orang itu terengah-engah. Dia adalah orang yang mengintai apa yang terjadi di tempat pertempuran di luar kota.

"Semua teman kongcu telah tewas! Semua tewas oleh Liong-li dan pemuda pakaian putih itu! Dan sekarang mereka berdua sedang dikepung oleh barisan ular yang dikerahkan Beng-cu. Aku takut sekali dan ngeri, lalu cepat pulang untuk memberi laporan."

Terkejut juga hati Lui Teng mendengar berita ini.

Semua temannya mati?

Tok-gan-liong Yauw Ban, Kiu-bwe Mo-li dan si kembar He-nan Siang-mo telah tewas oleh Tan Cin Hay dan Hek-liong-li!

Akan tetapi, mereka kini dikepung ular-ular yang dikerahkan oleh Hek-sim Lo-mo!

Tentu mereka akan mampus, dan bukankah di sana masih ada Hek-sim Lo-mo?

"Bawa dia keluar!

Boleh kalian siksa dan bunuh dia!"

Katanya.

Orang itu mengangguk, lalu bangkit dan menyeret Tek Hin keluar dari dalam kamar itu.

Lui Teng menutupkan pintu kamar itu dan menghampiri pembaringan di mana Hong Ing masih rebah miring dan belum dapat menggerakkan kaki tangannya, dan matanya terbelalak penuh kengerian memandang kepada pemuda cabul itu.

Lui Teng tersenyum, menggunakan jari tangannya mencolek dagu yang manis itu.

"Nah, sekarang tiba giliranmu, manis. Engkau ingin bebas? Boleh, kubebaskan karena akupun tidak senang dilayani seorang wanita yang tidak mampu bergerak seperti mayat. Nah, engkau boleh mencoba melawanku, atau engkau menyerahkan diri dengan suka rela melayani aku. Boleh kaupilih!"

Tiba-tiba jari-jari tangannya menotok punggung dan seketika Hong Ing dapat menggerakkan kembali kaki tangannya.

Akan tetapi pada saat itu, Lui Teng sudah menubruknya, mendekap dan mencoba untuk menciumi muka dan bibirnya.

Ketika tiba-tiba dapat bergerak, Hong Ing segera meronta dan memukul, mendorong Lui Teng yang menciuminya penuh nafsu.

Lui Teng melepaskan pelukannya sambil tertawa, melompat turun dari atas pembaringan.

Timbul kegembiraannya untuk mempermainkan gadis ini, seperti seekor kucing mempermainkan seekor tikus sebelum diterkam dan diganyangnya.

Hong Ing juga melompat turun dan iapun mulai menyerang dengan nekat!

Untuk beberapa belas jurus lamanya, Lui Teng melayaninya, mengelak dan menangkis, kemudian tiba-tiba tangannya menampar dari samping.

Cepat sekali tamparannya itu dan tentu akan mengenai kepala Hong Ing kalau saja tangan itu tidak merubah arahnya, turun dan tahu-tahu mencengkeram baju di pundak Hong Ing.

"Bretttt.......!"

Dengan tenaganya yang kuat sekali, sekali renggut saja baju itu terobek dan terlepas dari tubuh atas Hong Ing sehingga nampak baju dalam warna merah muda di baik baju hijau yang direnggut lepas tadi.

"Aduh, manisnya!"

Lui Teng menggoda dan mencium baju itu lalu dilemparkannya baju itu ke atas meja.

Hong Ing marah bukan main, marah dan malu, akan tetapi ia tidak mempunyai sesuatu untuk menutupi tubuh atas yang hanya ditutup baju dalam yang amat tipis itu, dan dengan nekat untuk mengadu nyawa, iapun menyerang lagi.

Kakinya menendang-nendang dengan cepat dan kuat.

Kembali Lui Teng melayaninya sambil mentertawakan dan menggoda sehingga Hong Ing menjadi semakin marah.

Tiba-tiba, ketika kaki kanannya menendang, dari samping Lui Teng menggerakkan tangannya dan berhasil menangkap pergelangan kaki gadis itu dengan tangan kiri, lalu tangan kanannya mencengkeram dan merenggut dengan kuat.

"Bretttt......!"

Kini celana bijau itulah yang robek-robek dan terlepas.

Tali pinggang dan kancing-kancingnya putus dan di lain saat, celana hijau itu telah berada di tangannya.

Hong Ing terbelalak!

Kini seluruh tubuhnya hanya tertutup oleh pakaian dalam yang tipis sekali.

Akan tetapi apa yang dapat ia lakukan kecuali mengamuk semakin nekat?

Ia tidak lagi memperdulikan keadaan pakaiannya, hanya menyerang semakin hebat seperti seekor harimau yang tersudut.

Ia ingin mati dalam perkelahian itu!

Akan tetapi, kepandaiannya jauh di bawah tingkat Lui Teng yang dengan mudah mempermainkannya.

Sambil tertawa-tawa Lui Teng mengelak dan menangkis dan pada suatu saat, dia berhasil, menangkap kedua pergelangan tangan gadis itu, diringkusnya ke belakang dan sekali renggut, terdengar bunyi kain robek dan kini Hong Ing sudah berada dalam rangkulannya!

Akan tetapi, ketika pemuda itu mencoba untuk menciumnya, Hong Ing membuka mulut dan mencoba untuk menggigitnya!

Lui Teng mengelak dan mengangkat tubuh Hong Ing, Ialu melemparkannya ke atas pembaringan!

Sekarang barulah Hong Ing ketakutan setengah mati!

Ia tahu bahwa segala usahanya untuk meronta akan gagal.

Orang itu terlampau kuat dan terlampau pandai.

Biarpun demikian, ia mengambil keputusan untuk mempertahankan kehormatannya sampai mati, dan kalau sampai ia tidak berhasil dan diperkosa, ia akan membunuh diri!

Sambil menyeringai menyeramkan, Lui Teng menghampiri pembaringan, kedua tangannya mulai meraba-raba kancing bajunya dan gerakan ini membuat Hong Ing semakin ketakutan, memandang dengan mata terbelalak.

Semua akalnya sudah hilang dan ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Ia hanya duduk meringkuk di sudut pembaringan paling jauh dan berusaha sedapat mungkin untuk menutupi tubuhnya dengan kedua tangan.

Pada saat Lui Teng melempar bajunya yang sudah terbuka dan menjulurkan tangan ke arah Hong Ing, tiba-tiba terdengar suara keras.

"Braakkkkk......!! Daun pintu kamar itu jebol dan sesosok bayangan putih berkelebat masuk ke dalam kamar itu. Lui Teng terkejut dan menengok untuk lebih kaget lagi sampai mukanya berubah pucat ketika dia mengenal siapa yang memasuki kamar dengan paksa itu. Tan Cin Hay atau Pek-liong-eng! Jai-hwa Kongcu Lui Teng menjadi ketakutan! Munculnya pemuda berpakaian putih itu hanya berarti bahwa Hek-sim Lo-mo gagal membunuh dua orang muda itu, dan mungkin malah Beng-cu itu telah tewas. Dia menoleh ke arah jendela karena dia ingin melarikan diri, maklum bahwa dia tidak akan menang melawan pemuda berpakaian putih itu. Dan menuruti hatinya yang penuh rasa takut, tiba-tiba Jai-hwa Kongcu Lui Teng meloncat ke arah jendela kamar itu untuk melarikan diri! Akan tetapi, bayangan putih berkelebat didahului gulungan sinar putih dan tubuh Lui Teng terkulai di bawah jendela, mandi darah dan tewas karena jantungnya telah ditembusi pedang Pek-liong-kiam di tangan Tan Cin Hay! Cin Hay menoleh ke arah pembaringan, Gadis itu sudah rebah telentang dalam keadaan pingsan! Saking merasa ngeri menghadapi ancaman perkosaan atas dirinya, gadis yang tabah itu akhirnya tidak tahan dan jatuh pingsan pada saat pintu kamar itu pecah berantakan. Rasa ngeri yang sudah sampai di puncaknya, porak poranda karena harapan baru yang muncul ketika daun pintu jebol, membuat Hong Ing tak sadarkan diri. Cin Hay berdiri di tepi pembaringan. Melihat wajah yang manis itu, diam-diam Cin Hay mengerti mengapa Lui Teng tadi mati-matian hendak memperkosa gadis ini, tidak takut lagi kepada pemimpinnya. Siapapun akan tergila-gila oleh gadis seperti ini, pikirnya. Diambilnya sehelai selimut yang masih terlipat di sudut pembaringan, lalu ditutupinya tubuh itu dengan selimut, digulungnya dan diapun memanggul tubuh Hong Ing yang sudah terbungkus selimut dan sebelum dia keluar dari kamar, dia menyambar pakaian gadis itu yang robek dan berserakan di atas lantai, lalu pakaian itu dia susupkan ke dalam gulungan selimut pula. Dan keluarlah Cin Hay dari dalam kamar itu, menuju ke ruangan dalam di mana terjadi hal lain yang hebat! Ketika Song Tek Hin dalam keadaan seluruh tubuh nyeri-nyeri karena hajaran Lui Teng diseret oleh penjaga itu keluar kamar, dia menurut saja, akan tetapi diam-diam Tek Hin mengumpulkan kekuatannya. Untung bahwa tidak ada tulang di tubuhnya yang patah-patah, dan luka-lukanya hanya luka luar saja, tubuhnya matang biru dan bengkak-bengkak, dari hidung dan mulutnya mengalir darah karena tamparan Lui Teng yang memecahkan bibirnya dan membuat hidungnya berdarah. Dia diseret ke tengah ruangan di mana masih ada duabelas orang penjaga yang berkumpul. Wajah para penjaga itu tegang sekali karena merekapun bingung dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, dan mereka khawatir kalau-kalau pimpinan mereka akan kalah oleh dua orang muda yang lihai itu. Bahkan dua orang di antara mereka tadi sudah lari untuk melapor dan minta bantuan kepada Kwa-ciangkun, komandan pasukan keamanan di benteng kota Lok-yang yang sudah menjadi sahabat baik dari Hek-sim Lo-mo! Begitu melihat Tek Hin diseret masuk dan penjaga yang menyeretnya itu berkata.

"Kong-cu telah menyerahkan orang ini kepada kita, boleh kita siksa dia sampai mampus!"

Semua penjaga yang sudah ketakutan dan marah kepada musuh ini, segera mengepung dan berlumba untuk memukuli Tek Hin.

Akan tetapi pemuda ini sudah sejak tadi mengumpulkan tenaga.

Kini dia tahu bahwa dia terancam bahaya maut di tangan tigabelas orang penjaga ini.

Mereka tidaklah selihai Jai-hwa Kongcu Lui Teng, pikirnya, maka bangkitlah semangatnya dan diapun mengamuk, menghantam sana, menerjang sini dan tidak memperdulikan hujan pukulan yang jatuh kepada tubuhnya.

Semangatnya makin berkobar ketika dia mendapatkan hasil dengan robohnya beberapa orang pengeroyok.

Akan tetapi, dia sendiri sudah semakin lemah, dihujani pukulan dan dia terhuyung ke sana-sini seperti seekor jangkerik sekarat dikeroyok sekumpulan semut.

Ketika keadaan Tek Hin gawat sekali karena kini para penjaga itu saking marahnya sudah mencabut golok masing-masing, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam didahului sinar hitam bergulung-gulung dan para penjaga itu roboh dan tewas seketika kena disambar oleh Hek-liong-kiam di tangan Liong-li!

Tek Hin masih berdiri dengan tubuh bergoyang-goyang, dan dia tersenyum melihat Liong-li yang berdiri dengan pedang di tangan dan semua pengeroyok telah roboh.

"Hebat...... kau wanita hebat...... aku yakin engkau pasti datang menolongku...... kau..... Liong-li yang cantik jelita dan hebat......"

Dan diapun terguling dan tentu akan terbanting jatuh karena pingsan kalau saja tidak cepat disambut oleh Liong-li.

Wanita ini merasa kagum sekali melihat keberanian Song Tek Hin, juga terharu mendengar pujian menjelang pingsannya tadi.

Dipanggulnya tubuh itu dan dibawanya meloncat keluar.

Tiba-tiba terdengar derap banyak kaki kuda dari orang di luar gedung itu.

Agaknya serombongan besar orang berkuda dan berjalan kaki menyerbu ke pekarangan gedung itu dan segera Liong-li melihat di bawah sinar bulan betapa puluhan orang menyerbu masuk pekarangan dan melihat pakaian mereka yang seragam, tahulah ia bahwa penyerbu itu adalah pasukan keamanan kota!

Selagi ia termangu-mangu, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan ia melihat Cin Hay telah berdiri di dekatnya dan di pundak pemuda itu terpanggul tubuh seorang gadis cantik yang dibungkus selimut!

Liong-li merasa geli dan iapun mengenal gadis yang tadi menjadi tawanan bersama Tek Hin.

Akan tetapi Cin Hay berkata dengan suara serius.

"Liong-li, mari kita cepat pergi. Mereka itu adalah pasukan keamanan yang telah bersekutu dengan Hek-sim Lo-mo. Mari, lewat belakang saja!"

Tubuhnya berkelebat cepat dan Liong-li juga tidak membuang waktu, cepat mengikuti Cin Hay.

Dengan mempergunakan ilmu mereka berlari cepat, biarpun masing-masing memanggul tubuh orang, mereka dapat cepat keluar dari kota Lok-yang.

"Kita pergi ke petak rumput tepi sungai!"

Kata pula Cin Hay yang setelah tiba di luar tembok kota mempercepat larinya.

Liong-li maklum tempat mana yang dimaksudkan, tentu tempat di mana mereka tadinya menantang kepada Hek-sim Lo-mo untuk bertanding.

Iapun mempercepat larinya, akan tetapi tetap saja ia tidak mampu menandingi Cin Hay dalam hal berlari cepat.

Bulan bersinar terang sehingga Liong-li dapat mencari tempat itu di tepi sungai kecil yang jernih airnya, dan ketika ia tiba di situ, ia berhenti melihat dari jauh betapa gadis itu merangkul leher Cin Hay sambil menangis!

Liong-li menahan ketawanya dan iapun mengambil jalan lain, menuju ke tepi sungai yang agak jauh dari tempat Cin Hay, terhalang banyak semak belukar sehingga mereka tidak dapat saling lihat.

Ketika Cin Hay menurunkan "buntalan selimut"

Itu, Hong Ing siuman dari pingsannya.

Begitu siuman, dan melihat dirinya dibungkus selimut, tanpa disadarinya ia bangkit duduk dan bungkusan selimut itupun terlepas dan ia bergidik.

Lalu ia teringat dan memandang ke kiri.

Ia melihat Cin Hay duduk bersila di atas rumput dan pemuda ini berkata halus.

"Pakaianmu berada di dalam selimut itu, nona."

Hong Ing terkejut, lalu teringat bahwa tadi pintu kamar itu jebol ketika ia hampir putus asa menahan Lui Teng yang hendak memperkosanya dan biarpun batinnya terguncang hebat dan pandang matanya sudah kurang terang, namun ia masih dapat melihat berkelebatnya bayangan putih dan melihat munculnya seorang pemuda berpakaian putih yang memegang sebatang pedang yang berkilauan sebelum ia jatuh pingsan!

Kini, melihat pemuda yang duduk bersila di dekatnya, pemuda yang berwajah tampan dan halus, yang berpakaian serba putih sederhana, ia teringat kesemuanya.

Pemuda inilah yang telah menyelamatkannya dari ancaman bahaya yang lebih hebat dari pada maut!

Pemuda ini telah menyelamatkan nyawanya, menyelamatkan kehormatannya!

Keharuan menggenangi perasaannya.

"Apakah..... apakah engkau... Tan-taihiap?"

Ia teringat akan cerita Song Tek Hin kepadanya. Cin Hay memandang kepadanya dan tersenyum.

"Namaku Tan Cin Hay, nona......"

"Ahhh..., terima kasih, taihiap...... terima kasih..."

Dengan hati diliputi penuh keharuan, Su Hong Ing lalu maju dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan pemuda yang bersila itu.

Tentu saja Cin Hay menjadi repot sekali!

Dia memegang kedua pundak wanita itu, mengangkatnya bangkit agar tidak berlutut.

Dilepasnya lagi pundak itu dan dia memandang penuh kagum.

Cin Hay adalah seorang laki-laki yang baru berusia duapuluh lima tahun, tentu saja penglihatan di depannya itu, wajah yang cantik manis, merasa betapa tubuh itu mengeluarkan hawa yang hangat, ditambah sinar bulan yang romantis, tak dapat dicegah lagi diapun terpesona.

Sampai lama dia mengamati gadis itu, dan Hong Ing yang berterima kasih, kagum dan maklum akan pandang mata yang penuh kagum itu, menundukkan mukanya.

"Nona... kau...... kau sungguh cantik sekali...!"

Kata Cin Hay lirih dan suaranya tersendat-sendat.

Hong Ing mengangkat mukanya, muka yang kini berubah merah dan matanya bersinar-sinar.

Ia merasa bahwa ia berhutang nyawa, berhutang budi kepada pemuda perkasa yang seketika menarik hatinya ini, dan seperti ditarik oleh besi semberani, gadis itupun merangkulkan kedua lengannya ke leher Cin Hay, menyandarkan mukanya di dada itu dan menangis!

Cin Hay tidak dapat berbuat lain kecuali merangkul dan memeluknya, mengelus rambutnya dan hatinya diliputi rasa kasihan dan sayang.

Pada saat gadis itu merangkul dan menangis di dadanya itulah Liong-li melihat dari jauh dan gadis itupun tersenyum geli, kemudian pergi mencari tempat lain.

Ketika Liong-li menurunkan tubuh Tek Hin dari pondongan atau panggulannya ke atas rumput tebal, pemuda itu mengeluh, tanda bahwa dia telah siuman dari pingsan.

Begitu siuman, dia segera teringat dan cepat dia bangkit duduk.

"Li-hiap (pendekar wanita), aku......"

Katanya dengan sinar mata penuh kagum dan terima kasih yang mudah dilihat oleh Liong-li di bawah sinar bulan. Liong-li cepat meletakkan jari tangannya di atas (Lanjut ke

Jilid 15) Sepasang Naga Penakluk Iblis (Seri ke 01-Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo

Jilid 15 bibir pemuda itu dan berkata lirih.

"Sshhhh, jangan banyak bicara dulu. Rebahlah, aku harus memeriksamu, kalau-kalau engkau menderita luka dalam atau patah tulang."

Tek Hin merebahkan diri lagi telentang.

Ah, jangankan hanya luka dalam atau patah tulang, biar mati sekalipun dia tidak penasaran kalau akhirnya dia dapat berduaan dengan pendekar wanita yang amat dikaguminya ini!

Berduaan di tempat sunyi, di malam hari terang bulan, dan wanita ini sekarang meraba-raba seluruh tubuhnya dengan jari-jari tangan yang lembut dan hangat!

Amboii!

Sama sekali dia tidak pernah mimpi akan dapat merasakan kemesraan seperti ini dengan Liong-li!

Liong-li memeriksa seluruh tubuh Tek Hin, memijat tulang-tulangnya, meraba dengan telapak tangan untuk memeriksa kalau-kalau ada tulang patah atau luka dalam yang berbahaya.

Dan ia semakin kagum.

Pemuda ini bukan saja hebat semangatnya, gagah berani dan tidak takut menghadapi kematian, akan tetapi selain tampan dan gagah juga memiliki bentuk tubuh yang hebat!

Seorang pria yang akan mudah menundukkan hati wanita yang manapun juga, termasuk ia sendiri!

Hatinya tergerak dan ia tertarik sekali, apa lagi ia adalah seorang wanita yang masih muda, baru berusia duapuluh tiga tahun, bagaikan bunga sedang mekarnya.

Pengalamannya dengan para pria dahulu hanya merendahkan dan menghina dirinya.

Ia hanya dijadikan korban, menjadi alat pemuas nafsu para pria itu tanpa ia merasakan sedikitpun kemesraan kasih sayang, sedikitpun tidak pernah merasakan cinta di dalam hatinya, melainkan benci yang terselubung karena terpaksa.

Kini, melihat Song Tek Hin, hatinya mekar seperti kelopak bunga menyambut embun pagi dan tanpa disadarinya, jari-jari tangannya memancarkan gelora yang timbul dari hati yang menyayang.

"Bukan main!"

Katanya.

"Engkau tidak apa-apa! Engkau dikeroyok, dihajar oleh banyak orang, mengalami siksaan dan penahanan selama berhari-hari, sampai mukamu bengkak-bengkak, kulitmu lembam dan matang biru, akan tetapi sedikitpun engkau tidak menderita luka dalam atau patah tulang! Song-toako, engkau sungguh gagah bukan main!"

Bagaikan mimpi rasanya Tek Hin mendengar betapa dari mulut pendekar wanita yang dikaguminya itu meluncur sebutan "Song-toako"

Sedemikian merdunya! Merdu dan mesra. Diapun bangkit dan segera menjatuhkan diri berlutut di depan gadis pendekar itu.

"Li-hiap, jangan menumpuk budi terlampau banyak sampai aku merasa tidak kuat untuk menerimanya! Berkat pertolonganmu yang dua kali, aku kini masih hidup, dan engkau malah memuji-mujiku. Li-hiap, aku bersyukur dan berterima kasih sekali kepadamu, dan kalau dalam kehidupan yang sekarang aku tidak mampu membalas budi, biarlah di lain kehidupan mendatang aku akan menjadi kuda tungganganmu!"

Wajah Liong-li berubah merah membayangkan betapa pemuda ini menjadi kuda tunggangannya!

"Ihh, jangan begitu, toako.

Bangkitlah, engkau lebih tua dariku, dan engkau begini gagah perkasa, tidak layak kalau berlutut kepadaku!"

Liong-li memegang kedua pundak Tek Hin dan menariknya pemuda itu bangkit duduk.

Tek Hin memegang kedua lengan yang begitu halus mulus kulitnya akan tetapi yang dia tahu menyembunyikan tenaga dahsyat di dalamnya.

Mereka masih saling pegang, dan duduk berhadapan.

Liong-li memegang kedua pundak pemuda itu dan Tek Hin memegang kedua lengannya.

Dua mata saling berpadu, penuh sinar aneh dan agaknya cahaya bulan mendorongkan pengaruhnya kepada dua hati itu sehingga tanpa diketahui lagi siapa yang mendahului, tahu-tahu mereka sudah saling rangkul!

Perasaan kagum dan iba merupakan dua di antara perasaan-perasaan yang berpengaruh kuat sekali terhadap pertumbuhan kasih sayang.

Dan kasih sayang antara dua jenis yang berlawanan selalu menjadi makanan lunak bagi nafsu yang selalu mengintai untuk menerkam hati yang dilemahkan oleh perasaan kasih sayang.

Kalau dua buah hati yang haus akan kemesraan belaian kasih sayang, kalau dua buah hati yang mendambahkan curahan cinta bagaikan bunga kekeringan mengharapkan tetesan embun, kalau dua buah hati yang dirundung rindu dendam sudah saling bertemu dan bersatu padu, maka dunia ini rasanya bagaikan sorga.

Waktu tidak ada lagi, ruang tidak ada lagi, aku dan engkau tidak ada lagi, yang ada hanyalah kebahagiaan yang tak dapat diukur dan digambarkan lagi.

Tahu-tahu pagipun sudah menjelang, sinar matahari pagi mulai memudarkan sinar bulan dan bintang-bintang di angkasa.

Bersama lenyapnya cahaya bulan yang mempesona dan menyihir hati, maka kesadaranpun mulai kembali menguasai batin.

"Li-hiap......, benarkah engkau tidak mau hidup selamanya di sampingku? Begitu tegakah engkau untuk meninggalkan aku lagi pagi ini, setelah engkau merampas cintaku, merampas hatiku, merampas segalanya yang ada padaku?"

Liong-li yang menyandarkan kepalanya di dada pemuda itu, menarik napas panjang. Sepasang matanya masih sayu seperti orang mengantuk, akan tetapi bibirnya tersenyum.

"Alangkah indahnya hidup ini! Alangkah akan bahagianya kalau aku dapat terus begini......!"

"Mengapa tidak, Li-hiap? Engkau dapat menjadi isteriku yang terkasih! Aku akan mencintamu selama hidupku, sebagai suamimu, dan kita akan hidup bersama selamanya......"

Liong-li menggeleng kepala.

"Itu tidak mungkin, Song-toako. Sama sekali tidak mung-kin, dan karena itu, maka pagi ini aku terpaksa harus berpisah darimu. Kita harus berpisah dan biarlah semua yang terjadi menjadi kenangan manis dalam kehidupan kita."

Tek Hin mendekap kepala itu ke dadanya erat-erat, seolah-olah kepala itu sebuah mustika dan dia tidak mau kehilangan mustika itu, hendak membenamkan di dalam dadanya agar selamanya tidak keluar lagi.

"Akan tetapi kenapa, Li-hiap? Kenapa tidak mungkin? Bukankah engkau juga mencintaku seperti aku cinta padamu, Li-hiap?"

Liong-li mengangkat mukanya, merangkul leher di atas itu dan menarik kepala Tek Hin turun, lalu bibirnya mengecup dagu pemuda itu.

"Aku sayang padamu, Song-toako, hal ini tentu engkau ketahui dan boleh yakin. Akan tetapi, tidak semua cinta dan sayang harus berakhir dengan pernikahan."

Ia lalu bangkit duduk dan menghadapi. pemuda itu, pandang matanya penuh kesungguhan.

"Dengar baik-baik, toako. Aku tidak mungkin dapat hidup sebagai seorang isteri dan rumah tangga. Aku seorang petualang dan hidupku penuh bahaya maut. Aku tidak mau membawa engkau masuk ke dalam ancaman bahaya setiap waktu! Aku harus hidup sendirian!"

Dengan pandang mata sayu Tek Hin memandang wanita itu.

Betapa cantik jelitanya, dengan rambut yang agak awut-awutan seperti itu, mata yang demikian tajam bersinar akan tetapi masih nampak kesayuannya penuh kemesraan.

"Li-hiap, aku bersedia untuk hidup menghadapi tantangan bahaya maut di sampingmu!"

Kembali Liong-li menggeleng kepalanya.

"Tidak mungkin, toako. Pernikahan bukan hanya membutuhkan cinta kasih, lebih dari pada itu! Selain cinta kasih, juga harus dilandasi saling pengertian, selera yang sama, cara hidup yang sama. Kalau tidak, maka cinta itu akan mudah goyah. Sudahlah, engkau percayalah bahwa aku, Lie Kim Cu, selamanya tidak akan melupakan Song Tek Hin. Selamat tinggal!"

Tek Hin hendak bicara, akan tetapi tiba-tiba gadis di depannya itu telah berkelebat menjadi sesosok bayangan hitam dan lenyap dengan kecepatan seperti menghilang saja!

Tek Hin bangkit berdiri, memandang ke empat penjuru, akan tetapi dia tidak melihat sesuatu, tidak mendengar sesuatu dan dengan kedua kaki lemas dia menjatuhkan diri lagi di atas rumput, menelungkup dan hidungnya masih dapat mencium bau sedap yang ditinggalkan tubuh Liong-li, masih dapat merasakan kehangatan yang ditinggalkan tubuh wanita itu pada rumput.

Kalau saja dia seorang wanita lemah, bukan seorang laki-laki jantan, tentu dia sudah menangis mengguguk!

Sementara itu di tepi sungai agak jauh dari situ, Hong Ing menangis sambil merangkul pundak Cin Hay, menyembunyikan mukanya di dada pendekar itu sehingga baju Cin Hay menjadi basah oleh air mata.

Cin Hay mengelus rambut yang halus itu dan menghibur.

"Sudahlah, Ing-moi, tenangkan hatimu."

"Tapi, tai-hiap...... begitu tegakah hatimu untuk meninggalkan aku? Aku... aku ingin ikut denganmu selamanya, tai-hiap...... tidak ingin berpisah lagi darimu..... biar aku menjadi bujangmu, menjadi pelayanmu, aku.... aku...... bukankah kita saling mencinta, tai-hiap......?"

Kata Hong Ing di antara isak tangisnya. Cin Hay mengangkat muka itu dengan memegang dagunya, lalu mengecup bibir yang gemetar itu, mengecup pipi yang dibasahi air mata.

"Tentu saja aku cinta padamu, Hong Ing. Engkau seorang gadis yang amat baik, gagah perkasa dan berbudi mulia, akan tetapi, sekali lagi kujelaskan bahwa aku bukan seorang yang pantas menjadi suami dan ayah. Hidupku mengharuskan aku menjadi seorang petualang, pembasmi kejahatan dan hidupku bergelimang kekerasan dan selalu terancam bahaya maut."

"Aku tidak takut........ !"

"Aku percaya, akan tetapi aku yang tidak ingin melihat engkau selalu terancam bahaya. Tidak, engkau harus memperoleh jodoh yang cocok bagimu. Engkau seorang gadis yang baik, aku hanya akan berdoa untukmu, Ing-moi. Percayalah, aku selamanya takkan melupakanmu. Selamat tinggal, Ing-moi, selamat tinggal dan semoga engkau berbahagia!"

"Tai-hiap......!"

Hong Ing menjerit ketika tiba-tiba Cin Hay melepaskan dirinya dan sekali berkelebat, hanya nampak bayangan putih dan pemuda itu telah lenyap.

"Tai-hiap...... aahhh, tai-hiap......!"

Dan gadis itupun menangis, mengguguk sambil menelungkup di atas rumput. Setelah tangisnya mereda, Hong Ing bangkit duduk, masih terisak dan ia berkata seorang diri.

"Tai-hiap... engkau meninggalkan aku...... apa artinya lagi hidup bagiku? Tai-hiap, lebih baik aku mati saja..."

Ia bangkit berdiri dan pada saat itu terdengar suara halus di belakangnya.

"Hong Ing, jangan engkau berkata seperti itu!"

Hong Ing terkejut, penuh harap ia membalikkan tubuhnya. Kiranya yang berdiri di depannya adalah Song Tek Hin.

"Ing-moi, tenangkanlah hatimu, sabarkanlah hatimu, aku... aku tahu apa yang kausedihkan, Ing-moi. Aku sendiri juga amat kehilangan ia... ia telah meninggalkan aku pula, seperti Tan-taihiap meninggalkanmu......"

Hong Ing merasa hatinya seperti ditusuk karena diingatkan dengan nada penuh iba itu.

Ia lalu lari menubruk Tek Hin dan menangis di dada pemuda itu, seperti seorang anak kecil.

Tek Hin merangkul dan menarik napas panjang, mengelus rambut gadis itu dengan hati penuh iba.

Dia tahu bagaimana rasanya hati yang ditinggal pergi kekasih, bukan hanya ditinggal pergi, melainkan juga direnggut putus tali cinta kasihnya.

Dia merasakan hal yang sama seperti yang kini diderita Hong Ing.

"Ing-moi, engkau tentu mencinta Tan-taihiap, bukan?"

Tanyanya halus, seperti kepada seorang adik. Tanpa menjawab, dengan muka masih disembunyikan di dada itu, dengan pundak masih terguncang oleh isak, Hong Ing mengangguk.

"Dan Tan-taihiap terpaksa meninggalkan engkau karena dia tidak ingin engkau menjadi teman hidupnya?"

Kembali Hong Ing mengangguk, sesenggukan.

"Aku juga mengalami hal yang sama, Ing-moi. Aku mencinta Li-hiap, dan iapun sayang padaku, akan tetapi, ia terpaksa meninggalkan aku karena ia tidak ingin aku hidup selamanya di sampingnya."

Hong Ing terheran mendengar ini dan ia lalu melepaskan diri, mundur dua langkah dan memandang kepada pemuda itu dengan muka basah air mata, kini matanya terbelalak memandang pemuda itu.

"Kau...... kau juga?"

Hanya demikian ia bertanya.

Tek Hin tersenyum, senyum yang pahit sekali dan mengangguk.

Hong Ing menghentikan tangisnya, kini hatinya diliputi rasa iba terhadap pemuda itu.

Keduanya menunduk sampai lama.

Tek Hin menarik napas panjang.

"Mereka itu benar, Ing-moi. Kita yang tidak tahu diri. Bagaimana mungkin dua orang pendekar sakti seperti mereka itu mau berjodoh dengan orang-orang bodoh seperti kita? Kehidupan mereka akan menjadi pincang dan kita hanya akan menjadi beban mereka. Seekor naga tak mungkin berjodoh dengan seekor ular. Burung-burung Hong seperti mereka tidak mungkin berjodoh dengan burung-burung gagak seperti kita. Burung gagak jodohnya juga burung gagak, seperti engkau dengan aku."

Hong Ing mengangkat mukanya dan matanya terbelalak.

"Apa... apa maksudmu, toako?"

Tek Hin tersenyum.

"Engkau mengalami patah hati dan kekecewaan cinta, akupun demikian, Ing-moi. Engkau tahu, aku telah kehilangan tunanganku Pouw Bi Hwa, dan sekarang aku kehilangan Hek-liong-li. Sekarang barulah aku menyadari bahwa orang yang jauh lebih pantas dan cocok untuk menjadi jodohku adalah engkau! Kita sama-sama menderita kekecewaan, bagaimana kalau kita sama-sama berusaha saling menghibur? Bersediakah engkau menjadi isteriku, Ing-moi?"

Wajah itu berubah kemerahan dan matanya semakin terhelalak.

Dahulu, sudah lama sekali, ketika untuk pertama kalinya diperkenalkan kepada tunangan saudara misannya, Pouw Bi Hwa, pernah diam-diam ia mengagumi pemuda ini dan merasa iri kepada Bi Hwa.

Dan kini, pemuda itu secara tiba-tiba melamar dirinya untuk menjadi isterinya!

Setelah apa yang dialaminya bersama Pek-liong-eng Tan Cin Hay!

Hong Ing termenung, sukar sekali untuk menjawab.

Akan tetapi kemudian ia mengangkat mukanya lagi menatap wajah pemuda itu.

Mereka saling pandang dengan sinar mata penuh selidik dan mendapat kenyataan betapa mereka memang saling menaruh rasa iba.

"Toako, kita berdua baru saja mengalami hal-hal yang hebat, baru saja lolos dari maut yang mengerikan. Agaknya kita memang senasib sependeritaan, juga dalam cinta. Karena itu...... kalau memang engkau sungguh-sungguh tulus dan jujur, aku..... aku akan merasa berbahagia sekali, mendapatkan kembali harapanku untuk hidup berbahagia di sampingmu, toako."

Tek Hin tersenyum, melangkah maju dan merangkul pundak gadis itu, diajaknya melangkah menuju ke timur di mana matahari mulai muncul dengan cerahnya.

Mereka berjalan melangkah perlahan-lahan menyongsong Sang Surya, menyongsong kehangatan dan cahaya terang penuh kedamaian.

Lengan kiri Tek Hin merangkul pundak dan leher Hong Ing dan perlahan-lahan, lengan kanan gadis itupun melingkar di pinggang Tek Hin ?Y?

"Liong-li, perlahan dulu......!"

Liong-li yang sedang berlari cepat itu, menahan langkahnya dan menoleh, ia tersenyum melihat Tan Cin Hay berlari mengejarnya.

"Hemm, engkau, Liong-eng (Pendekar Naga)?"

Tegurnya dan Cin Hay tersenyum mendengar sebutan itu.

Liong-li menyebutnya Liong-eng, dan memang sebutan ini cocok sekali dengan sebutan Liong-li!

Biarlah mulai sekarang, setidaknya untuk Liong-li, dia berjuluk Liong-eng, singkatan dari Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih).

Mereka, tanpa berunding, duduk di atas rumput di tepi sungai kecil yang airnya jernih itu.

Mereka telah meninggalkan Tek Hin dan Hong Ing jauh sekali, akan tetapi masih terus mengikuti sungai dan tadi mereka berlari menyusuri tepi sungai.

"Jadi engkau juga meninggalkan dia?"

Tanya Cin Hay. Liong-li menatap tajam.

"Engkau juga meninggalkan gadismu baju hijau atau baju selimut itu?"

Ia tersenyum mengejek. Cin Hay mengangguk serius.

"Aku bukan seorang calon suami yang baik."

"Aku juga bukan seorang calon isteri yang baik,"

Kata pula Liong-li. Kemudian disam-bungnya.

"Liong-eng, mengapa engkau berkata bahwa engkau bukan seorang calon suami yang baik?"

"Aku pernah menjadi suami orang, akan tetapi aku seorang suami yang tidak mampu menjaga keselamatan isterinya sehingga isteri itu tewas dalam tangan manusia-manusia iblis."

Cin Hay lalu menceritakan pengalaman hidupnya, betapa dia dan isterinya di Telaga See-ouw diganggu oleh Koan Taijin dan tukang-tukang pukulnya, yaitu See-ouw Sam-houw.

Betapa dia hampir tewas dan isterinya dirampas, kemudian isterinya diperkosa sampai mati, pada hal isterinya sedang mengandung tiga bulan.

Diceritakannya pula betapa dia kemudian ditolong oleh mendiang Pek I Lojin yang menjadi gurunya.

Dia digembleng oleh kakek itu, kemudian dia, tujuh tahun kemudian, membalas dendam kematian isterinya, membunuh See-ouw Sam-houw dan membuat Koan Taijin menjadi seorang manusia yang tidak berguna lagi.

"Kemudian aku memenuhi pesan mendiang suhu untuk mencari Kim-san Liong-cu yang membawaku bertentangan dengan Hek-sim Lo-mo dan bertemu denganmu, Liong-li. Nah, entah mengapa aku menceritakan semua ini kepadamu, Liong-li, pada hal aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk merahasiakan riwayat hidupku yang buruk ini. Entah mengapa aku menaruh kepercayaan yang mutlak kepadamu. Engkau merupakan orang pertama dan orang terakhir yang mendengar riwayatku, maka kupercaya engkau akan merahasiakannya pula."

Liong-li mendengarkan dengan terharu. Kiranya pemuda ini memiliki riwayat hidup yang cukup menyedihkan.

"Percayalah, aku akan menyimpannya seperti rahasia pribadiku sendiri."

"Akan tetapi, kuharap engkaupun cukup percaya kepadaku untuk menceritakan riwayatmu, Liong-li. Dengan demikian, kita berdua saling mengenal secara mendalam. Aku mendapat firasat bahwa bukan hanya sekali ini saja kita akan bekerja sama menentang kejahatan. Maukah engkau bercerita kepadaku, Liong-li!"

Liong-li menundukkan mukanya dan menyembunyikan warna merah yang naik ke wajahnya yang manis itu. Beberapa kali ia menarik napas panjang, kemudian berkata.

"Akupun menaruh kepercayaan besar kepadamu, Liong-eng. Maka biarlah engkau mendengar riwayatku dan engkaupun orang pertama dan orang terakhir yang akan mendengarnya."

Liong-li lalu bercerita secara singkat namun padat.

Betapa untuk menyelamatkan ayahnya yang korup, ia dipaksa menjadi selir Pangeran Coan Siu Ong dan karena ia melawan ketika hendak digauli, ia disiksa, diperkosa secara kejam oleh pangeran itu, kemudian karena masih terus melawan, ia dijual ke rumah bordil dan oleh pemilik rumah bordil yang mempunyai tukang-tukang pukul, iapun disiksa dan dipaksa untuk menjadi pelacur!

Tanpa malu-malu lagi ia menceritakan betapa ia dipaksa melayani banyak orang, dan betapa ia diam-diam ia mengusahakan pelariannya.

Betapa ia berhasil melarikan diri, dikejar-kejar dan ditolong oleh nenek Huang-ho Kui-bo yang kemudian menjadi gurunya selama tujuh tahun.

Setelah selesai belajar silat, ia lalu membalas dendam dan membuat semua orang yang pernah menghinanya menjadi penderita cacat seumur hidup dengan membuntungi kaki tangannya, dan para hidung belang itu ia buntungi hidung mereka.

Pangeran Coan Sui Ong ia buntungi kaki tangannya.

"Akupun dipesan oleh subo untuk mencari Kim-san Liong-cu dan dalam usaha mencari mutiara itu, aku bertemu dengan Hek-sim Lo-mo dan bertemu denganmu. Nah, demikianlah riwayat hidupku dan kuharap engkau sebagai satu-satunya orang yang pernah mendengarnya, akan merahasiakannya."

Cin Hay atau yang kini berjuluk Liong-eng menghela napas panjang, memandang kepada kawannya itu dengan penuh perasaan iba.

"Aduh, riwayat hidupmu sungguh menyedihkan sekali, Liong-li. Tentu saja aku akan merahasiakannya seperti rahasia pribadiku sendiri."

"Tidak, Liong-eng. Engkau yang lebih menderita, karena engkau kehilangan isteri yang tercinta, bahkan kehilangan calon anak. Engkau menderita kehilangan, sedangkan aku hanya menderita penghinaan."

"Betapapun juga, Liong-li, Kita berdua adalah dua orang yang menjadi korban kejahatan manusia yang berhati iblis. Oleh karena itu, kita harus selalu menentang kejahatan dalam bentuk apapun juga! Maukah engkau bekerja sama dengan aku dalam hal ini? Dengan bekerja sama, tentu kita menjadi lebih kuat."

"Aku setuju, Liong-eng. Akan tetapi, tidak semua lawan perlu kita hadapi bersama. Kalau seorang di antara kita menghadapi kesulitan, bertemu dengan lawan yang amat tangguh seperti Hek-sim Lo-mo dan anak buahnya, barulah kita saling mengabari dan saling bantu. Setujukah engkau?"

Liong-eng atau Tan Cin Hay mengangguk.

Diapun tahu bahwa kalau mereka selalu berkumpul, banyak sekali bahayanya.

Mereka itu saling kagum, dan kalau terlalu sering berkumpul, bukan tidak mungkin akan terjalin hubungan yang lebih akrab dan mesra di antara mereka dan hal itu akan merupakan kelemahan mereka.

"Baik, Liong-li. Akan tetapi, bagaimana kita akan dapat saling menghubungi atau mencari?"

"Aku berasal dari Lok-yang, maka akupun tidak akan meninggalkan Lok-yang jauh-jauh. Aku akan berada di sekitar Lok-yang, dan kalau engkau ingin bertemu atau menghubungi aku, datanglah engkau ke tepi sungai ini. Aku akan mendirikan sebuah pondok di sini untuk tempat peristirahatan, dan di tempat inilah engkau akan menemui aku. Dan bagaimana dengan kau? Kalau aku perlu denganmu, ke mana aku harus mencarimu?"

"Aku? Aku akan berada di sekitar Telaga See-ouw! Aku tidak dapat melupakan telaga yang indah itu. Kampung halamanku tidak jauh dari telaga itu di mana orang tuaku hidup bertani, dan kuburan isteriku juga berada di sana."

"Bagus, kalau begitu semua telah disepakati. Aku girang sekali dapat menjadi sahabatmu, Liong-eng dan mudah-mudahan tidak lama lagi kita akan dapat saling bertemu kembali."

Iapun bangkit berdiri. Liong-eng juga bangkit berdiri.

"Kita berpisah sekarang, Liong-li?"

Wanita itu tersenyum, manis sekali.

"Ada pertemuan harus ada perpisahan, dan hanya perpisahan yang membuat pertemuan berikutnya menjadi teramat indahnya! Bukankah begitu?"

Liong-li tersenyum, mengangguk.

Sungguh menyenangkan sekali mempunyai seorang sahabat sejati seperti Liong-li ini, wataknya aneh akan tetapi amat gagah dan baik, pandangan luas, dan hatinya bebas.

Dan yang lebih dari itu, wanita ini pernah menyelamatkan nyawanya, dan dia sendiripun pernah menyelamatkan nyawanya.

"Selamat jalan dan selamat berpisah, Liong-li,"

Katanya sambil membungkuk dan mengangkat kedua tangan ke depan dada, bersoja.

Liong-li membalas penghormatan itu, lalu tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya, mendekati Liong-eng.

Sambil tersenyum orang muda itu menyambut uluran tangan itu, menyambut dalam jabatan tangan yang hangat di mana kedua tangan itu saling genggam penuh getaran persahabatan.

Begitu keduanya melepaskan jabatan tangan, keduanya saling pandang, tersenyum dan keduanya lalu berkelebat lenyap, yang seorang ke utara, seorang ke selatan menurut arah sungai yang membelok ke selatan itu.

Sebentar saja yang nampak hanyalah dua titik, satu hitam satu putih yang makin lama makin saling menjauhi sampai akhirnya lenyap.

?Y?

Rumah besar di lereng bukit luar kota itu memang menyeramkan.

Bentuknya seperti sebuah benteng yang dikelilingi pagar tembok yang tinggi dan tebal.

Di sebelah dalam pagar tembok terdapat beberapa bangunan mengelilingi bangunan induk yang besar dan kuno, seperti kuil-kuil saja.

Bukit itu merupakan sebuah di antara bukit-bukit yang mengelilingi Telaga Po-yang di Propinsi Kiang-si.

Di bukit-bukit itu memang terdapat banyak bangunan kuno, peninggalan jaman dahulu, kuil-kuil tua yang sudah tidak dipergunakan sebagai kuil lagi, hanya menjadi peninggalan kuno yang kadang-kadang dikunjungi orang untuk dikagumi.

Akan tetapi, bangunan yang satu ini, yang terletak di lereng Bukit Merak, tidak pernah dikunjungi orang!

Semua orang di sekitar daerah itu tidak ada yang berani, apa lagi berkunjung, mendekatipun mereka tidak berani.

Kecuali mereka yang mempunyai keperluan seperti pedagang beras dan kebutuhan lain untuk dikirimkan kepada penghuni bangunan besar itu.

Kalau para penduduk di sekitar tempat itu takut mendekatinya karena telah mendengar betapa para penghuni rumah besar itu bengis dan galak, juga lihai dan suka main pukul, para tokoh kang-ouw lebih takut lagi untuk mendekati tempat itu.

Dunia kang-ouw sudah mengetahui bahwa rumah besar di lereng bukit yang disebut Bukit Merak itu adalah tempat tinggal dari Siauw-bin Ciu-kwi (Iblis Arak Muka Tertawa), seorang di antara datuk sesat yang dikenal dengan sebutan Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua) yang kini merajalela di dunia persilatan setelah puluhan tahun mereka tidak pernah mencampuri urusan dunia.

Baru beberapa tahun ini Kiu Lo-mo terjun ke dunia ramai dan dunia kang-ouw menjadi gempar karena sepak terjang mereka yang menggegerkan dunia persilatan, menaklukkan seluruh golongan hitam untuk menjadi anak buah mereka di daerah kekuasaan masing-masing.

Siauw-bin Ciu-kwi yang menguasai seluruh daerah Propinsi Kiang-si, dalam waktu beberapa tahun saja sudah menalukkan sebagian besar kaum sesat dan diapun diangkat menjadi Beng-cu (pemimpin) oleh para tokoh sesat yang tidak mampu menandingi ilmu kepandaiannya yang konon amat tinggi sehingga dia dinamakan seorang yang sakti.

Malam itu amat sunyi di sekitar lereng Bukit Merak.

Lampu-lampu gantung di atas pagar tembok dan di luar rumah-rumah besar tua itu nampak berkelap-kelip di antara kegelapan malam, menambah seramnya suasana yang amat sunyi itu.

Tidak ada seorangpun penduduk di sekitar Telaga Po-yang berani mendekati Bukit Merak, apalagi sampai ke lerengnya, baru di kaki bukit itu saja mereka tidak berani.

Lebih baik mengambil jalan memutar yang lebih jauh dari pada harus melalui kaki Bukit Merak.

Akan tetapi, dalam keremangan cuaca malam yang hanya disinari oleh laksaan bintang di langit, nampak empat orang laki-laki mendorong-dorong seorang hwesio, mendaki kaki bukit terus ke lereng.

Beberapa kali, kalau hwesio itu berjalan kurang cepat, dia didorong oleh empat orang yang berjalan di belakangnya sambil dibentak sehingga hwesio itu terhuyung-huyung ke depan.

Hwesio itu usianya sudah enampuluhan tahun, bertubuh kurus dan bermuka pucat.

Ke-palanya gundul dan jubahnya yang kuning itu agak kumal.

Dia melangkah sambil merangkap kedua tangan di depan dada, agaknya dia sudah menyerahkan segalanya kepada Yang Maha Kuasa, maklum bahwa dia tidak berdaya dan terjatuh ke dalam tangan orang-orang yang jiwanya dikuasai nafsu iblis.

Hwesio ini bernama Loan Khi Hwesio, ketua dari sebuah kuil kecil di sebuah bukit yang berada di sebelah barat Telaga Po-yang.

Sore tadi, dia kedatangan empat orang laki-laki yang tidak pernah dikenalnya ini, dan dengan suara kasar mereka memaksa dia harus ikut bersama mereka untuk menghadap Beng-cu di lereng Bukit Merak!

Lima orang hwesio yang menjadi pembantunya, hwesio-hwesio muda, tentu saja tidak merelakan dia yang menjadi ketua kuil diculik begitu saja.

Mereka melawan, akan tetapi apa daya lima orang hwesio yang hanya menguasai sedikit ilmu silat menghadapi empat orang yang lihai itu?

Dengan mudah lima orang hwesio itu dihajar sampai pingsan semua dan dia pun dipaksa untuk ikut mereka ke Bukit Merak.

Loan Khi Hwesio maklum siapa yang disebut Beng-cu itu.

Dia sudah mendengar tentang Siauw-bin Ciu-kwi, seorang datuk besar kaum sesat yang amat sakti dan kejam.

Maka, diapun pasrah dan hanya mempergunakan kekuatan batinnya untuk menghadapi ancaman bahaya maut ini.

Empat orang itu yang rata-rata berusia empatpuluh tahun, memiliki tubuh yang kokoh kuat dan wajah yang bengis, orang-orang yang sudah biasa melakukan kekerasan untuk memaksakan kehendak mereka.

Mereka adalah sebagian dari para pembantu Siauw-bin Ciu-kwi, hanya merupakan pembantu rendahan saja, bukan pembantu utama yang berilmu tinggi.

Kini mereka tiba di depan pintu gerbang yang terbuat dari kayu tebal.

Seorang di antara empat tukang pukul itu membunyikan genta dan dari dalam pintu, seorang penjaga mengintai melalui lubang daun pintu, kemudian membuka pintu gerbang itu, dibantu oleh seorang teman karena pintu gerbang itu amat berat saking tebal dan besarnya.

Loan Khi Hwesio didorong masuk dan hampir saja jatuh karena kakinya tersandung batu.

"Hayo cepat!"

Bentak seorang di antara empat jagoan itu sambil menangkap lengan hwesio itu dan menyeretnya menuju ke sebuah bangunan induk di dalam tembok yang seperti benteng.

Setelah mereka tiba di sebuah ruangan yang cukup terang, hwesio itu didorong masuk sampai jatuh menelungkup.

Akan tetapi, dia bangkit lagi tanpa mengeluh, kedua tangan masih dirangkap depan dada dan mulutnya berkemak-kemik membaca doa untuk mohon kekuatan kepada Yang Maha Kuasa.

Dia lalu mengangkat muka memandang.

Kiranya di dalam ruangan itu duduk beberapa orang yang kesemuanya memandang kepadanya, bagaikan segerombolan anjing srigala kelaparan.

Loan Khi Hwesio merasa betapa dia seperti seekor kelinci yang dikepung srigala-srigala itu sehingga diam-diam diapun bergidik walaupun penyerahan dirinya kepada Tuhan telah membuat dia tidak merasa takut.

Dia merasa ngeri menghadapi manusia-manusia yang pada lahirnya saja sudah nampak sedemikian mengerikan dan penuh dengan kepalsuan dan kekejaman.

Siauw-bin Ciu-kwi mudah dikenal oleh orang yang baru mendengar namanya dan belum pernah melihat mukanya.

Seorang laki-laki yang usianya kurang lebih limapuluh tahun, tubuhnya pendek dengan perut gendut, nampak semakin pendek karena duduk di atas kursi yang besar dan dalam.

Dia nampak seperti seekor katak bersembunyi di dalam lubangnya.

Kepalanya botak, sedemikian botaknya sehingga kelihatan gundul.

Mukanya sungguh aneh.

Muka yang seperti muka kanak-kanak, gemuk dengan kedua pipi tebal, akan tetapi mulutnya terus menyeringai, tersenyum lebar!

Seluruh wajahnya tersenyum kecuali matanya.

Sepasang mata itu sama sekali tidak tersenyum, sama sekali tidak membayangkan keramahan atau kegembiraan, melainkan sepasang mata yang mencorong dengan sinar yang tajam menusuk dan mengandung kekejaman dan kecerdikan luar biasa.

Agaknya karena mulutnya yang selalu menyeringai itulah maka dia dijuluki Siauw-bin (Muka Tertawa).

Di atas meja di depannya nampak sebuah guci arak besar dan di tangannya nampak cawan arak yang tak pernah kosong karena setiap kali dia meneguk isi cawan, selalu ada tangan halus yang mengisi cawan itu kembali dari guci arak.

Tangan halus itu milik seorang wanita muda yang selalu duduk di samping Beng-cu itu, seorang wanita berusia kurang lebih tigapuluh tahun yang berwajah cantik manis, pesolek, dengan mulut penuh gairah dan sepasang mata yang indah.

Melihat seorang wanita yang memiliki bentuk tubuh demikian indah, wajah manis dan sikap yang genit memikat, orang tidak akan mengira bahwa wanita ini sungguh bukan seorang wanita yang lemah!

Biarpun ia dapat menjadi hangat dan penuh kemesraan, namun di balik semua keindahan itu tersembunyi kekuatan yang amat dahsyat, kekejaman yang membuat seorang penjahat sekalipun menjadi ngeri, dan kepandaian silat yang membuat namanya terkenal di seluruh Propinsi Kiang-si.

Wanita yang kini seolah-olah menjadi pelayan terkasih dari Beng-cu itu terkenal dengan julukan Tok-sim Nio-cu (Nona Berhati Racun).

Nama kecilnya adalah Lui Cin Si, akan tetapi di dunia kang-ouw, nama ini tidak dikenal orang, akan tetapi kalau sekali orang menyebut Tok-sim Nio-cu, penjahat yang paling kejam sekalipun akan merasa serem dan takut!

Ketika Siauw-bin Ciu-kwi muncul di dunia persilatan dan bermukim di Propinsi Kiang-si, tentu saja seperti banyak tokoh kang-ouw, Tok-sim Nio-cu juga tidak sudi untuk menyerah dan takluk kepada datuk besar yang baru muncul ini.

Apa lagi melihat orangnya yang tidak mengesankan, hanya seorang laki-laki setengah tua yang pendek berperut gendut dan selalu senyum-senyum seperti orang sinting.

Tok-sim Nio-cu bahkan memandang rendah dan ia menantang datuk ini.

Sungguh di luar perkiraannya, menghadapi si pendek gendut itu, dalam beberapa jurus saja, kurang dari sepuluh jurus, ia sudah terjungkal roboh!

Akan tetapi, Tok-sim Nio-cu bukan orang yang mudah menyerah.

Tidak mudah bagi Siauw-bin Ciu-kwi untuk menalukkan wanita liar ini, yang masih merasa penasaran dan ia mengumpulkan kawan-kawannya untuk mengeroyok.

Baru setelah berkali-kali semua usahanya menentang Siauw-bin Ciu-kwi gagal dan berkali-kali ia dirobohkan tanpa dibunuh, akhirnya Tok-sim Nio-cu menyatakan takluk dan menyerah!

Setelah Tok-sim Nio-cu menyerah, kini ia malah menjadi seorang pembantu yang paling dipercaya oleh Siauw-bin Ciu-kwi, bahkan tidak hanya itu, ia juga menjadi kekasih Beng-cu itu dan karena ini, kekuasaannya amat besar dan hanya di sebelah bawah kekuasaan sang Beng-cu!

Yang lebih menggirangkan hatinya lagi, ternyata si pendek gendut yang tidak dapat dibilang ganteng dan tidak memiliki banyak daya tarik sebagai seorang pria terhadap wanita itu, ternyata adalah seorang pria yang jantan bagi seorang wanita haus laki-laki seperti Tok-sim Nio-cu!

Seorang pria yang dapat memuaskan hatinya!

Di samping ini, juga Beng-cu itu berkenan mengajarkan beberapa jurus ilmu silat yang tinggi kepadanya, menguruknya pula dengan kemuliaan, kemewahan dan kedudukan sehingga membuat wanita genit itu benar-benar takluk dan setia!

Demikianlah, wanita ini bahkan tidak malu-malu dan tidak merasa rendah untuk menuangkan arak dan melayani Beng-cu seperti seorang pelayan biasa saja, biarpun di depan banyak orang!

Tentu saja tidak ada seorangpun berani memandang rendah kepadanya, yang kekuasaannya hanya di bawah kekuasaan Beng-cu!

Hanya Tok-sim Nio-cu seorang yang duduk di samping Beng-cu menghadapi meja, seperti seorang pelayan, juga seperti seorang kekasih atau isteri, karena Beng-cu tidak mempunyai isteri.

Ada pula enam orang wanita muda yang menjadi semacam selir, atau dayang atau juga pelayan, menjadi penghibur Beng-cu.

Mereka duduk bersimpuh di atas lantai, siap untuk melaksanakan perintah Beng-cu, baik perintah untuk bermain musik, menari, bernyanyi, atau juga beramai "mengeroyok"

Beng-cu melayani segala kehendak pria pendek gendut yang amat sakti itu!

Mereka adalah gadis-gadis pilihan yang mau tidak mau kini menjadi pelayan dan penghibur datuk besar itu.

Di belakang datuk itu, nampak tiga orang laki-laki yang nampak aneh dan tidak seperti manusia biasa.

Memang mereka bukan manusia biasa, melainkan manusia berwatak iblis yang sejak lama menjadi tokoh-tokoh sesat di Propinsi Kiang-si.

Seperti juga Tok-sim Nio-cu, mereka ditundukkan oleh Siauw-bin Ciu-kwi dengan kekerasan dan mereka baru mau sungguh-sungguh takluk setelah kalah mutlak menghadapi Beng-cu yang sakti itu.

Kini mereka menjadi pembantu-pembantu setia dari Beng-cu yang pandai mengambil hati mereka dengan melimpahkan kemuliaan dan kemewahan.

Juga, menjadi pembantu Beng-cu mengangkat nama mereka lebih tinggi di dunia kang-ouw membuat mereka semakin disegani dan ditakuti orang.

Yang pertama hanya dikenal julukannya saja, yaitu Lim-kwi Sai-kong (Si Muka Singa Setan Hutan), dan memang sebelum menjadi pembantu utama Beng-cu, dia menjadi seorang penunggu hutan yang ditakuti.

Usianya sudah enampuluh tahun, tubuhnya tinggi besar dan mukanya seperti muka singa, penuh dengan cambang bauk dan persegi menyeramkan, wajah yang penuh kegarangan dengan mata yang lebar dan sinarnya aneh.

Pakaiannya selalu hitam dari kain tebal dan tidak pernah bersih, tubuhnya juga berbau binatang hutan.

Sebatang golok besar tak pernah meninggalkan pinggangnya dan sehelai rantai baja besar melilit pula pinggang itu.

Biarpun dia seperti seorang hutan tulen, namun jangan dikira bahwa dia hanya buas dan mengandalkan tenaga raksasa saja, seperti seekor singa.

Tidak, di samping tenaga besar dan kebuasannya, juga dia memiliki ilmu silat yang dahsyat, bahkan pandai pula mempergunakan khi-kang untuk mengeluarkan auman yang menggetarkan jantung dan melumpuhkan kaki seorang lawan!

Orang kedua kurang mengesankan sebagai seorang jagoan, apa lagi sebagai seorang pembantu utama dari Siauw-bin Ciu-kwi.

Dia seorang pria berusia tigapuluh lima tahun bernama Ciong Koan dan berjuluk Pek-i Kongcu (Tuan Muda Baju Putih).

Pria muda ini selalu mengenakan pakaian putih, akan tetapi bukan putih sederhana, melainkan putih pesolek, rambutnya disisir licin dan diminyaki.

Seorang pria yang berwajah tampan, mulutnya memiliki senyum memikat akan tetapi matanya jelas membayangkan kecabulan.

Pria berbaju putih ini dahulunya adalah seorang murid Kun-lun-pai yang memiliki keahlian bermain pedang.

Dari remaja dididik untuk menjadi seorang pendekar.

Akan tetapi setelah dewasa, dia runtuh oleh nafsunya sendiri, melakukan penyelewengan-penyelewengan karena diperbudak oleh berahi yang tidak wajar.

Akhirnya, dia terseret oleh lingkungan dan menjadi seorang tokoh sesat yang suka mempermainkan wanita, baik melalui rayuan dan ketampanannya, maupun melalui paksaan mengandalkan kelihaiannya.

Entah berapa banyak gadis diperkosanya, isteri orang dirayunya sehingga melakukan penyelewengan.

Setelah ditaklukkan oleh Siauw-bin Ciu-kwi, dia menjadi seorang pembantu setia dan kekejamannya bertambah karena selalu berdekatan dengan para datuk dan tokoh sesat.

Orang ketiga bernama Lok Hun berjuluk Hek-giam-ong, berusia empatpuluh lima tahun, bertubuh tinggi kurus dan sesuai dengan julukannya, yaitu Hek-giam-ong (Raja Maut Hitam), maka seluruh kulit tubuhnya, dari muka sampai kaki, berwarna hitam gelap.

Mukanya yang hitam itu amat menyeramkan, apa lagi karena wajahnya itu amat dingin, matanya seperti tanpa sinar, mulutnya tidak pernah tersenyum dan muka itu seperti topeng saja, tidak pernah membayangkan apa yang dirasakannya.

Senjata istimewanya adalah sebuah ruyung yang berat.

Demikianlah keadaan Siauw-bin Ciu-kwi dan empat orang pembantu utamanya.

Dengan hati yang penuh penyerahan karena maklum bahwa dia terjatuh ke dalam tangan orang-orang berhati iblis, Loan Khi Hwesio memandang kepada mereka semua sambil berdiri dan merangkap kedua tangan depan dada.

"Hwesio sialan! Berlutut kau!"

Bentak Lim-kwi Sai-kong dengan suaranya yang mengguntur ketika dia melihat betapa tawanan itu berdiri saja di depan Beng-cu.

"Omitohud......!"

Loan Khi Hwesio menjura sambil tetap merangkap kedua tangan depan dada.

"Pinceng tidak pernah berlutut, kecuali kepada Sang Buddha......"

Para anak buah rendahan yang tadi menangkap dan mengantar hwesio itu menghadap Beng-cu, sudah disuruh keluar dan tidak boleh ikut mendengarkan dan melihat apa yang terjadi di dalam ruangan itu.

Kini yang menyaksikan hanyalah Beng-cu dan para pembantunya, termasuk enam orang dayang yang menjadi pembantu dan juga selir-selirnya.

Mendengar jawaban pendeta itu, Hek-giam-ong Lok Hun yang sudah biasa menjadi algojo dari Beng-cu, berseru.

"Beng-cu, haruskah kupatah-patahkan kakinya agar dia mau berlutut?"

Siauw-bin Ciu-kwi yang sejak tadi menyeringai, kini tertawa dan menenggak secawan arak, lalu memberikan cawan kosong kepada Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si untuk diisi kembali.

"Biarkanlah, nanti saja kalau dia tidak mau mengaku, baru kau boleh siksa dia sampai setengah mati!"

Kata Siauw-bin Ciu-kwi, sengaja mengancam untuk mengecilkan hati hwesio itu. Kemudian dia bertanya kepada tawanan itu.

"Apakah engkau yang bernama Loan Khi Hwesio?"

Loan Khi Hwesio menjura dengan sikap hormat.

"Benar sekali, pinceng bernama Loan Khi Hwesio. Tidak tahu ada urusan apa maka pinceng dipaksa datang ke tempat ini?"

"Ha-ha-ha, Loan Khi Hwesio, apakah engkau benar tidak tahu atau tidak dapat menduganya? Ataukah hanya berpura-pura saja?"

"Pinceng sungguh tidak tahu dan tidak dapat menduga......"

Tiba-tiba Beng-cu itu menggebrak meja dengan marah walaupun mulutnya masih menyeringai.

"Serahkan peta itu kepadaku!"

Wajah yang sudah pucat itu semakin pucat dan mata pendeta itu terbelalak memandang kepada wajah yang kekanak-kanakan itu.

"Peta? Peta apakah yang kaumaksudkan?"

"Hwesio tolol!"

Kembali Lim-kwi Sai-kong membentak marah.

"Jaga sikap dan bicaramu! Engkau menghadap Beng-cu yang berkuasa di seluruh Kiang-si! Salah sedikit saja bicaramu, kaki tanganmu akan dibuntungi dan lidahmu akan dipotong!"

Tentu saja hwesio itu menjadi semakin ngeri.

"Maaf, Beng-cu. Sungguh, pinceng tidak mengerti peta apa yang dimaksudkan itu......"

Siauw-bin Ciu-kwi mendengus dan mulutnya menyeringai semakin lebar.

"Huh, peta apa lagi kalau bukan peta Patung Emas!"

"Peta Patung Emas? Pinceng...... tidak...... tidak tahu......"

"Brakkk!"

Kembali Beng-cu menggebrak meja.

"Tak perlu bohong! Kami sudah tahu bahwa engkau telah mendapatkan sebagian dari peta itu. Peta yang ada gambarnya patung emas, peta harta terpendam di Telaga Po-yang! Sudahlah, tidak perlu pura-pura tidak tahu lagi. Serahkan peta itu kepadaku dan engkau akan kami bebaskan dan boleh melanjutkan pekerjaanmu di kuil tua itu! Akan tetapi kalau engkau tidak mau menyerahkan, tidak mau mengaku di mana adanya peta itu, engkau akan disiksa sampai mati!"

Seluruh tubuh pendeta itu gemetar, mulutnya terasa kering dan suaranya lirih dan gemetar ketika ia berkata.

"Sungguh, pinceng tidak menyimpannya...... pinceng tidak tahu peta itu di mana......"

"Hek-giam-ong, paksa dia mengaku di mana peta itu!"

Kata Siauw-bin Ciu-kwi.

Pembantunya yang menerima perintah ini bangkit dari kursinya.

Tubuhnya yang tinggi kurus itu menjulang tinggi dan mukanya yang seperti topeng hitam itu nampak dingin dan tidak membayangkan sesuatu.

Akan tetapi ketika dia melangkah dan mendekati Loan Khi Hwesio, sinar matanya mencorong penuh ancaman.

Hwesio itu memandang dengan mata terbelalak dan mulutnya kemak-kemik membaca doa karena dia maklum bahwa bahaya maut mengancamnya.

Dia tidak takut mati, akan tetapi menghadapi ancaman siksaan, tentu saja hatinya merasa ngeri.

"Hwesio, sekali lagi kuulangi permintaan Beng-cu. Serahkan peta itu atau katakan di mana adanya peta itu sekarang!"

Kata Hek-giam-ong Lok Hun dengan muka tidak membayangkan sesuatu, tetap dingin dan suaranya juga terdengar datar saja sehingga terdengar menyeramkan, lebih menyeramkan dari pada kalau suara itu mengandung bentakan marah.

"Tidak.... tidak tahu...... pinceng tidak tahu!"

Tiba-tiba tangan Hek-giam-ong meluncur dan menangkap lengan kiri hwesio itu.

"Katakan, atau akan kupatahkan jari tanganmu satu demi satu!"

Loan Khi Hwesio menggeleng kepala.

"Omitohud...... maafkan... pinceng sungguh tidak tahu......!"

Hek-giam-ong yang memegang lengan kiri hwesio itu dengan tangan kanan, lalu menangkap ibu jari tangan itu dengan tangan kirinya dan menekuk ibu jari itu ke belakang punggung tangan.

"Kreekkk!"

Tulang ibu jari itu patah dan Loan Khi Hwesio mengeluarkan suara rintihan.

mukanya yang semakin pucat itu basah dengan keringat yang keluar dari tubuhnya saking nyerinya.

Kini telujuknya ditekuk ke belakang sampai patah tulangnya, dan satu demi satu, perlahan-lahan, kelima jari tangan kirinya ditekuk ke belakang sampai patah tulangnya.

Loan Khi Hwesio merintih, mengerang, bahkan menjerit.

Ketika kelingkingnya ditekuk patah, dia meraung dan pingsan!

Ketika dia siuman kembali, tangan kanannya sudah dipegang tangan kiri algojo itu.

"Nah, sekarang katakan terus terang, di mana peta itu? Kalau engkau tidak mau mengaku, jari-jari tangan kananmu akan kupatah-patahkan seperti tangan kirimu tadi!"

Hek-giam-ong mengancam Tubuh Hwsio itu menggigil.

Dia kini bangkit duduk.

Tangan kirinya tak dapat dia gerakkan, nyeri bukan main, rasa nyeri yang datang dari jari-jari tangan itu dan terus menerus sampai ke jantungnya.

Akan tetapi, dia tetap berusaha melindungi dirinya dengan doa, walaupun kini dia mulai meragukan apakah doanya akan berguna dalam keadaan seperti itu.

Dia menggeleng kepala.

"Pinceng...... tidak...... tidak tahu......"

Dan diapun memejamkan kedua matanya dan mulutnya berkemak-kemik, menanti datangnya saat penyiksaan yang lebih hebat.

Dan siksaan itupun datang!

Seperti tadi, ibu jari tangan kanannya ditekuk ke belakang sampai mengeluarkan bunyi "krekkk!"

Dan tulang ibu jari itu patah sambungannya, disusul jari-jari yang lain.

Baru tiga batang jari yang dipatahkan, kembali hwesio itu sudah jatuh pingsan, karena tidak dapat menahan lagi perasaan nyeri yang menusuk jantung.

Ketika untuk kedua kalinya dia siuman, seluruh tubuhnya terasa nyeri.

Rasa nyeri dari kedua tangannya itu menjalar ke seluruh tubuh.

Dua buah tangannya sudah tidak dapat dia gerakkan lagi.

Dia bangkit duduk lalu menunduk dan memejamkan kedua matanya, mohon kekuatan dari Yang Maha Kuasa, dan menyerahkan seluruh jiwa raganya.

Ketika dia tenggelam ke dalam penyerahan ini, terjadilah keanehan pada dirinya.

Tadinya, dari kedua tangannya keluar denyut-denyut yang amat nyeri, kiut-miut rasanya, menusuk-nusuk jantung.

Sukar digambarkan bagaimana perasaan nyeri itu.

Ada rasa panas, perih, menusuk-nusuk dan mencabut-cabut.

Akan tetapi, rasa berdenyut-denyut itu kini berubah sama sekali!

Tidak lagi mendatangkan nyeri, bahkan mendatangkan nikmat!

Sungguh!

Tidak perlu lagi dia merintih.

Denyut-denyut nyeri tadi kini bertukar denyut nikmat.

Ataukah penerimaannya, alat penerimaannya yang berubah?

Bukankah nyeri dan nikmat hanyalah permainan dari perasaan belaka?

Penyerahannya yang sebulatnya kepada Tuhan melenyapkan perbedaan antara nyeri dan nikmat, antara enak dan tidak enak, sehingga diapun tidak tahu lagi apakah kedua tangannya itu terasa nyeri ataukah nikmat!

Loan Khi Hwesio yang memejamkan matanya itu kini tersenyum.

Senyum wajar karena bebas dari rasa nyeri, bahkan merasakan kenikmatan pada kedua tangannya.

Melihat hwesio itu tersenyum, Beng-cu berpandangan dengan para pembantunya.

Siauw-bin Ciu-kwi adalah seorang datuk besar.

Dia menduga bahwa tentu hwesio yang tentu saja memiliki ilmu kebatinan yang mendalam itu agaknya sudah mampu menguasai perasaan nyeri, maka dalam keadaan semua jari tangannya patah-patah itu masih mampu tersenyum, senyum sama sekali bebas dari rasa nyeri!

"Loan Khi Hwesio, apakah engkau masih juga belum mau menyerahkan peta itu?"

Terdengar Siauw-bin Ciu-kwi bertanya.

"Kesempatanmu untuk bebas dari maut hanya tinggal yang terakhir!"

Tanpa membuka matanya, Loan Khi Hwesio berkata.

"Omitohud biar dibunuh sekali-pun, pinceng tidak dapat memenuhi permintaan itu. Pinceng tidak tahu di mana peta yang dimaksudkan itu......"

"Jahanam! Engkau tidak akan mati begitu saja! Giam-ong, pergunakan siksaan Selaksa Tetes Air!"

Sepasang mata dari muka yang hitam itu mengeluarkan sinar berkilat, agaknya perintah ini mendatangkan perasaan gembira di hatinya yang penuh dengan sifat yang sadis dan kejam bukan main.

Dia lalu mengambil seember besar air dan menggantung ember itu.

Kemudian, setelah menotok tubuh Loan Khi Hwesio sehingga pendeta ini tidak mampu bergerak, dia memaksa hwesio itu duduk di bawah ember, mengikat tubuh hwesio itu dengan sebuah bangku.

Ember itu telah dilubangi kecil dan kini dari bawah ember, air menetes-netes satu-satu!

Loan Khi Hwesio sendiri tidak mengerti apa artinya hukuman seperti ini.

Dia hanya merasa ada air menetes dan menimpa kepalanya yang gundul.

Akan tetapi tentu saja hal itu tidak merupakan siksaan.

Hanya tertimpa setetes air dan membuat kepalanya basah.

Tetes demi tetes air menimpa kepalanya dan mulailah air mengalir turun dari kepala, membasahi leher.

Akan tetapi hal itu tidaklah menyiksa benar.

Yang lebih menyiksa adalah bahwa dia sama sekali tidak mampu menggerakkan tubuhnya, bukan hanya karena diikat pada bangku, melainkan karena tertotok.

Menggerakkan kepalapun tidak mampu!

Agaknya, Beng-cu dan para pembantunya tidak lagi memperhatikan dia.

Kini ada pelayan datang membawa hidangan dan mereka mulai makan minum sambil tertawa-tawa.

Itukah yang dimaksudkan mereka untuk menyiksanya?

Memaksa dia melihat, atau lebih tepat mendengarkan orang-orang berpesta?

Hwesio yang masih memejamkan matanya itu tersenyum di dalam hati.

Agaknya para penjahat ini tidak tahu bahwa dia, sebagai seorang hwesio, sudah lama sekali menalukkan nafsu makan enak.

Mendengar atau bahkan melihat sekalipun orang-orang makan enak, seujung rambut dia tidak kepingin!

"Tukk......!

Tukk.....!

Tukkk......!!"

Terdengar keluhan keluar dari mulut Loan Khi Hwesio!

Air yang menimpa kepalanya itu, setetes demi setetes, kini tidak lagi terasa seperti tetesan air biasa!

Melainkan terasa amat menyakitkan.

Air setetes itu seperti berubah menjadi sebutir baja yang keras dan berat!

Dia tidak tahu bahwa air yang menetes-netes satu-satu dan yang menimpa di suatu titik tertentu, memiliki kekuatan yang amat dahsyat.

Batu dan besi saja lama-lama akan dapat berlubang tertimpa air setetes demi setetes di tempat yang sama, apa lagi kepala orang!

Kini setiap tetes air yang menimpa kepala terasa seperti palu godam dan mendatangkan suara berdengung di telinganya, rasa nyeri yang sukar dapat dipertahankannya lagi!

Dia masih menyerah, akan tetapi karena tadinya dia tidak mengira akan mengalami siksaan seperti ini, maka penyerahannya berbeda dengan tadi ketika tulang jari-jari tangannya dipatahkan.

Kini dia mengaduh, mengeluh, menjerit dan meraung!

Beng-cu dan para pembantunya masih makan minum dengan lahap.

Akan tetapi, diam-diam Beng-cu dan para pembantunya memperhatikan keadaan pendeta yang sedang mengalami penyiksaan hebat itu dan senyum Siauw-bin Ciu-kwi melebar.

Bagus, pikirnya, hwesio itu mulai merasakan hebatnya penyiksaan itu dan tidak mungkin dia mampu bertahan sampai detik terakhir!

Kini keadaan Loan Khi Hwesio semakin payah.

Setiap kali air menetes dan menimpa kepalanya, tubuhnya tergoncang hebat lalu menggigil.

Hek-giam-ong Lok Hun yang sudah biasa menjadi algojo penyiksa dan pembunuh, tahu saatnya yang tepat, maka dia sudah menghampiri hwesio itu lalu membebaskan totokannya.

Begitu dibebaskan, keadaan hwesio itu semakin tersiksa.

Dia berusaha mengelak dari serangan air yang menetes, akan tetapi tenaganya sudah habis dan dia hanya mampu menggerakkan sedikit saja kepalanya.

Kembali air menimpa dan dia meraung!

"Bodoh, membiarkan diri tersiksa seperti ini hanya karena sepotong peta yang tidak ada harganya!"

Kini Siauw-bin Ciu-kwi menghampiri dan mengejek.

"Peta itu hanya merupakan barang duniawi, mengapa engkau sebagai seorang pendeta masih begitu kukuh mempertahankannya? Katakanlah di mana peta itu dan engkau akan kubebaskan!"

Dalam keadaan setengah sadar dan hampir gila oleh rasa nyeri, mulut pendeta itu berkata lemah.

"......pinceng..... berikan... kepada dermawan Thio...... dermawan Thio....."

Diapun terkulai dan nyawanya melayang.

Serangan air yang menetes-netes itu telah mencabut nyawanya.

Lebih baik begitu kiranya bagi hwesio yang bernasib malang ini.

Banyak korban siksaan seperti itu bernasib lebih buruk lagi, yaitu tidak mati akan tetapi hidup sebagai seorang yang sinting, Pengakuan terakhir dari hwesio itu membuat Siauw-bin Ciu-kwi tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, sungguh manjur sekali cara memaksa orang mengaku dengan air menetes itu, ha-ha-ha!"

Kemudian suara ketawanya berhenti dan dia mengerutkan alisnya, memandang kepada para pembantunya.

"Dermawan Thio? Siapakah itu? Cin Si, kuserahkan tugas ini kepadamu! Carilah orang yang disebut dermawan Thio itu sampai dapat!"

Tok-sim Nio-cu tersenyum manis.

"Jangan khawatir, Beng-cu. Kau serahkan urusan ini kepadaku dan tentu beres! Kalau memang benar ada orang yang dimaksudkan itu, tentu akan segera dapat kutemukan!"

Pertemuan itu berakhir dengan masuknya Siauw-bin Ciu-kwi ke dalam kamarnya sendiri, ditemani oleh enam orang dayangnya dan malam itu Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si meninggalkan sarang itu untuk (Lanjut ke

Jilid 16) Sepasang Naga Penakluk Iblis (Seri ke 01-Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo

Jilid 16 melaksanakan tugas vang diberikan kepadanya.

Mayat hwesio itu dikubur tanpa upacara oleh anak buah Siauw-bin Ciu-kwi dan tak seorangpun di antara penduduk di sekitar daerah itu yang mengetahui apa yang terjadi dengan kepala kuil yang biasanya hidup tenteram dan damai itu dan ke mana dia menghilang.

Para hwesio lainnya dalam kuil itupun hanya dapat bercerita bahwa kepala kuil itu diculik empat orang yang tidak mereka kenal!

Bintangnya memang sedang terang cemarlang!

Dengan lenggang yang ringan dan hati penuh kegembiraan, Thio Kee San meninggalkan rumah judi itu dan pergi menuju ke Rumah Merah, yaitu sebuah rumah pelesir di sudut kota Nan-cang.

Senja telah mendatang dan dia tidak mau terlambat.

Dia harus tiba di rumah pelesir itu sebelum Bi Hwa, bunga Rumah Merah itu dipesan laki-laki lain!

Baru saja dia meninggalkan rumah judi dengan kemenangan yang cukup banyak di dalam saku bajunya.

Bi Hwa tentu akan girang bukan main!

Thio Kee San adalah seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun.

Hidupnya membujang dan dia memiliki sebuah perahu pelesir di Telaga Po-yang di mana dia menyewakan perahu dan memperoleh nafkahnya dari pekerjaan itu.

Hasil pekerjaannya itu cukup memadai, bahkan lebih dari cukup untuk keperluan hidupnya yang hanya membujang.

Bahkan kelebihannya dapat dia pakai untuk memuaskan kesenangannya, yaitu berjudi dan bersenang-senang dengan wanita pelacur di Rumah Merah!

Baru beberapa bulan ini, dia akrab sekali dengan Bi Hwa, bunga Rumah Merah.

Hubungan mereka bukan sekedar hubungan seorang pelacur dan langganannya.

Sama sekali bukan.

Lebih mendalam dari pada sekedar pelesir.

Agaknya ada perasaan kasih sayang di antara mereka dan bagi Bi Hwa.

Thio Kee San adalah seorang pria yang amat mencintanya, yang memberikan apa saja kepadanya!

Dan memang Kee San seorang bujangan yang tak pernah menyimpan uang.

Kalau ada kelebihan uangnya, dia hamburkan dan berikan kepada siapa saja yang disukanya.

Bahkan sering sekali dia mendermakan uangnya kepada kuil yang dipimpin oleh Loan Khi Hwesio, kuil di dekat Telaga Po-yang di mana dia pernah memperoleh pertolongan.

Ketika dia menderita penyakit payah dan semua temannya sudah mengira bahwa dia tentu akan mati karena segala macam obat tidak ada yang dapat menyembuhkannya, kuil itulah yang menolongnya.

Dia minta obat ke kuil itu dan menerima semacam obat sederhana yang kemudian ternyata mampu menyembuhkannya!

Karena itu, setiap kali dia mempunyai kelebihan uang, kalau tidak dipakai untuk bersenang-senang, tentu akan didermakan kepada Loan Khi Hwesio.

Karena perbuatan inilah, maka Loan Ki Hwesio dan para hwesio di kuil itu menganggapnya sebagai orang yang amat budiman, dan menyebut dia "Dermawan Thio"!

Tentu saja hati Kee San pada sore hari itu gembira bukan main.

Sudah beberapa hari dia tidak mengunjungi Bi Hwa yang menjadi kekasihnya.

Bukan karena Bi Hwa enggan menerimanya kalau dia tidak membawa uang, sama sekali tidak.

Akan tetapi dia sendiri yang merasa malu.

Beberapa hari ini dia memang tidak memiliki uang dan nasibnya baru sial, kalah melulu dalam perjudian.

Dia malu kalau harus berkunjung ke Rumah Merah tanpa uang yang cukup di sakunya.

Malu karena tidak akan dapat mengajak Bi Hwa berpesta, malu pula kepada Bibi Ciang yang mengurus Rumah Merah itu, biarpun Bi Hwa tidak akan segan-segan dan tidak akan merasa sayang untuk mengeluarkan uangnya sendiri untuk mereka berdua.

Dan hari ini dia menang cukup banyak!

Dapat dia pergunakan untuk bersenang-senang dengan Bi Hwa yang sudah amat dirindukannya.

Bukan uang kemenangan yang cukup banyak itu saja yang akan dihamburkan bersama Bi Hwa dan sisanya akan diberikan kepada Bi Hwa semua, akan tetapi di samping itu ada sebuah benda lain yang akan dia berikan kepada kekasihnya itu.

Seperti yang sudah dibayangkannya, Bi Hwa menyambut kedatangannya dengan gembira sekali.

Biarpun dia belum memberitahu akan kemenangannya, wanita itu sudah menyambutnya dengan wajah cerah, dengan senyum manis, pandang mata penuh kasih, dan dengan rangkulan dan cumbuan yang menyatakan betapa rindunya wanita itu kepadanya.

Sikap ini saja sudah mengayun perasaan Kee San ke sorgaloka, karena baginya sikap ini menunjukkan bahwa wanita pelacur itu sungguh-sungguh mencinta dirinya, bukan sekedar mengharapkan uangnya!

Kegembiraan Bi Hwa bertambah ketika kekasihnya itu menceritakan tentang kemenangannya yang cukup banyak di meja judi.

Mereka lalu berpesta, menghadapi hidangan yang lezat dan anggur yang sedap.

Dan malam itu mereka saling melepas rindu, dan Bi Hwa berhasil membuat Kee San berjanji bahwa pria itu akan mengumpulkan uang agar dapat menebus diri kekasihnya dari Bibi Ciang sehingga mereka dapat menjadi suami isteri yang sah.

"Koko, percayalah bahwa hatiku selalu tersiksa setiap kali ada pria meniduriku dan aku teringat kepadamu. Aku benci pekerjaan ini setelah aku bertemu denganmu, koko. Aku ingin menjadi isterimu, ingin menjadi..... ibu anak-anakmu......"

Kee San merasa terharu.

Sampai berusia empatpuluh tahun, dia sendiri tidak pernah memikirkan berumah tangga, akan tetapi kini wanita ini, biar hanya seorang pelacur, namun sungguh amat menarik hatinya dan dia akan merasa berbahagia kalau dapat hidup bersama Bi Hwa selamanya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka sudah bangun dari tidur dan mereka bercakap-cakap.

Agaknya berat bagi Bi Hwa untuk melepas kekasihnya pergi, dan berat pula bagi Kee San untuk meninggalkan kekasihnya.

Akan tetapi, dia harus pergi, harus ke telaga untuk mencari nafkah karena hari itu kabarnya banyak pengunjung datang berpesiar ke telaga.

Dia mengeluarkan seluruh isi kantungnya dan diberikannya semua sisa uangnya kepada Bi Hwa.

Wanita ini menjadi terharu.

"Koko, semua uang pemberianmu kusimpan dan kutabung agar kelak dapat kita pergunakan untuk menebus diriku. Harap engkau jangan lagi bermain judi, koko. Hari ini engkau menang akan tetapi hari esok berturut-turut engkau akan kalah. Demikianlah perjudian, sekali menang lima kali kalah. Engkau kumpulkan uang agar cepat dapat membebaskan diriku, koko."

Kee San mengangguk-angguk, membenarkan ucapan kekasihnya.

"Baik, Bi Hwa, mulai hari ini aku akan rajin mencari uang dan menyerahkannya kepadamu agar cepat terkumpul jumlah untuk menebus dirimu. Ah, benar, aku masih mempunyai sebuah benda yang amat berharga. Biar engkau saja yang menyimpan benda itu."

"Benda berharga apakah itu, koko?"

Tanya Bi Hwa sambil memandang penuh perhatian ketika kekasihnya mengeluarkan sebuah gulungan kain kuning dari saku bajunya.

"Isi gulungan kain ini adalah sebuah potongan peta kuno yang kuterima dari Loan Khi Hwesio, kepala kuil di dekat telaga sana. Karena terima kasihnya kepadaku yang sudah banyak memberi derma kepada kuil, maka dia menyerahkan peta ini kepadaku."

"Peta kuno? Untuk apa, koko? Mengapa pula amat berharga?"

"Aku sendiri tidak tahu peta apa, akan tetapi menurut Loan Khi Hwesio, banyak sekali orang memperebutkan peta ini. Kalau mereka tahu bahwa peta ini ada padaku, mereka akan berebut untuk membelinya dariku dan harganya cukup untuk menebus kebebasan dirimu!"

Mata yang indah itu terbelalak.

"Sepuluh tail emas?"

"Ya, bahkan lebih dari itu! Peta ini merupakan rahasia tempat persembunyian harta karun dan ini merupakan setengah dari peta yang lengkap. Yang setengah lagi entah berada di tangan siapa. Demikian kata Loan Khi Hwesio, aku sendiri belum pernah membukanya."

"Kenapa dia memberikan kepadamu dan tidak menjualnya saja sendiri?"

Kee San tersenyum dan merangkul kekasihnya.

"Loan Khi Hwesio adalah seorang pendeta, bukan seorang pedagang. Dia menyerahkannya kepadaku, tentu merasa yakin bahwa aku akan menyerahkan sebagian hasil penjualannya untuk kuil."

"Lalu bagaimana engkau akan menjualnya?"

"Kalau ada yang mencarinya, akan kutemui orangnya dan kutawarkan......, dan kita akan memiliki modal untuk berdagang, setelah kau kutebus dari Bibi Ciang. Nah, kausimpan ini baik-baik, Bi Hwa dan jangan beritahukan kepada siapapun juga tentang peta kuno ini."

Bi Hwa menerima gulungan kain itu dan menyimpannya di tempat yang aman.

Dengan penuh harapan Bi Hwa menyongsong hari baik itu, yaitu hari di mana ia dibebaskan sebagai pelacur, menjadi isteri Kee San dan mereka memulai hidup baru, dengan memiliki uang modal hasil penjualan peta kuno dan hidup berbahagia!

Sementara itu, dengan hati penuh kegembiraan karena kenangan yang amat manis dari Bi Hwa masih melekat di hati dan masih terasa di badan, Kee San menuju ke Telaga Po-yang untuk bekerja menyewakan perahunya kepada para pelancong.

Seperti juga Bi Hwa, harinya penuh harapan masa depan yang amat cerah, memiliki modal berdagang, dan wanita yang dicintanya setiap hari siang malam menemaninya!

Bi Hwa akan menjadi miliknya sendiri, tidak perlu lagi dia harus membagi kekasihnya itu dengan pria-pria lain yang berani membeli, atau menyewa diri Bi Hwa seperti sekarang ini.

Ingatan ini selalu menghantuinya, selalu mengganggu perasaannya.

Setiap kali perahunya disewa orang, dia pasti teringat kepada Bi Hwa, yang seperti juga perahunya, dapat dipakai siapa saja yang sanggup membayar dan menyewanya!

Benar seperti telah didengarnya, hari itu telaga yang indah, Telaga Po-yang didatangi banyak tamu.

Kee San tidak perlu menanti lama.

Perahunya adalah sebuah di antara perahu-perahu terindah di telaga itu, dengan bentuk yang kokoh, tempat duduk yang bersih dan dicat baru, dengan layar yang belum ada tambalannya lagi.

Di antara para tamu yang memenuhi bandar di tepi telaga, terdapat pula seorang wanita cantik yang pakaiannya indah.

Wajahnya yang manis itu dirias sehingga nampak semakin cerah, senyumnya memikat dan sepasang matanya memiliki kerling yang tajam sehingga tidak ada pria yang bertemu dengan wanita ini yang tidak memandang dengan penuh pesona dan beberapa kali menengok.

Wanita berusia tigapuluh tahun dan yang memiliki daya tarik kuat ini bukan lain adalah Lui Cin Si atau Tok-sim Nio-cu (Nona Berhati Racun)!

Tidak sukar bagi wanita yang berpengalaman ini untuk mencari dermawan Thio!

Ia menerima tugas dari Siauw-bin Ciu-kwi dan langsung saja ia pergi ke kuil di mana mendiang Loan Khi Hwesio menjadi ketuanya.

Untung bahwa ketika anak buah Beng-cu menculik Loa Khi Hwesio dari kuil ini dan melukai lima orang hwesio di situ, ia tidak ikut sehingga para hwesio itu tidak mengenalnya.

Ia beraksi sebagai seorang ibu rumah tangga yang bersembahyang mohon berkah di kuil itu, dan dengan royal ia memberi uang sumbangan kepada hwesio penjaga yang masih kelihatan pucat karena luka pukulan yang dideritanya belum sembuh benar.

Tentu saja hwesio itu merasa girang dan mendoakan kepada Lui Cin Si agar semua permintaannya dalam sembahyangan itu akan terkabul.

Kesempatan inilah yang dipergunakan oleh Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si untuk bertanya di mana tempat tinggal dermawan Thio yang pernah didengarnya sebagai seorang yang berbudi dan suka menderma kepada kuil.

Hwesio yang sama sekali tidak menduga buruk itu menerangkan bahwa dermawan Thio bernama Thio Kee San, pemilik perahu yang suka menyewakan perahu di Telaga Po-yang.

Begitu mendengar keterangan ini, Tok.sim Nio-cu bergegas pergi meninggalkan kuil dan langsung saja ia pergi ke Telaga Po-yang dan pada pagi hari itu iapun berada di antara banyak pelacong yang memenuhi bandar Telaga Po-yang.

Di tempat ini, tidak sukar pula baginya untuk memperoleh keterangan tentang Thio Kee San.

Akan tetapi karena perahu milik Kee San telah disewa orang, terpaksa ia menyewa sebuah perahu lain, sebuah perahu kecil yang didayung sendiri ke tengah telaga.

Karena sudah memperoleh keterangan yang cukup jelas tentang bentuk, warna cat dan warna layar dari perahu milik Kee San, maka iapun mulai mencari perahu yang dimaksudkan itu.

Akhirnya, setelah bersusah payah mendayung perahu menyusup di antara banyak perahu di telaga, ia melihat warna perahu dan layar milik Kee San itu berada di ujung telaga yang sunyi.

Tidak ada perahu lain di sana, hanya sebuah perahu itu, maka dengan cepat didayungnya perahu kecilnya itu mengejar ke sana.

Kebetulan, pikirnya, di tempat yang sepi itu ia segera dapat bertindak, tanpa diketahui orang lain, kecuali tentu saja mereka yang menyewa perahu Kee San itu.

Akan tetapi itu merupakan persoalan yang mudah saja.

Apa artinya beberapa orang melihat ia menculik Kee San?

Kalau perlu, bunuh saja mereka dan habis perkara!

Soal bunuh membunuh ini merupakan makanan sehari-hari bagi seorang tokoh, sesat seperti Tok-sim Nio-cu!

Akan tetapi, alangkah terkejut rasa hati tokoh sesat ini ketika perahunya sudah mendekati perahu besar milik Kee San, ia melihat seorang laki-laki dihajar oleh tiga orang laki-laki yang tinggi besar seperti raksasa!

Laki-laki itu dijadikan bulan-bulan pukulan dan tendangan mereka dan dari jauh Tok-sim Nio-cu melihat betapa laki-laki yang dipukuli itu sama sekali bukan lawan mereka, dan agaknya tiga orang tinggi besar itu memaki-maki sedangkan yang dipukuli menjerit-jerit kesakitan!

Tok-sim Nio-cu tidak tahu siapa mereka, akan tetapi melihat sikap tiga orang laki-laki tinggi besar itu, dengan mudah ia mengetahui bahwa mereka adalah ahli-ahli silat yang pandai.

Oleh karena itu, tidak sukar baginya untuk menduga bahwa yang dipukuli itu tentulah orang yang dicarinya, yaitu Thio Kee San!

Wanita perkasa itu mengerahkan tenaganya dan perahu kecilnya meluncur dengan amat cepatnya.

Ketika tiba di dekat perahu besar, sekali menggerakkan tubuhnya, ia telah meloncat ke atas perahu besar.

Akan tetapi, bukan main marahnya hati Tok-sim Nio-cu ketika melihat bahwa laki-laki yang dipukuli itu telah tewas.

Ia memandang kepada tiga orang laki-laki tinggi besar seperti raksasa itu yang juga memandang kepadanya dengan terkejut dan heran.

Siapa yang tidak heran melihat betapa tiba-tiba saja muncul seorang wanita cantik di perahu itu, muncul seperti setan saja?

Melihat tiga orang laki-laki yang berwajah bengis dan bertubuh raksasa ini, Tok-sim Nio-cu mengerutkan alisnya.

Ia sudah pernah mendengar tentang mereka ini walaupun belum pernah saling jumpa.

"Hemm, kiranya Po-yang Sam-liong (Tiga Naga dari Po-yang) yang berada di sini!"

Katanya dengan nada suara mengejek, senyumnya manis namun mengandung pandang mata merendahkan.

Tiga orang tinggi besar itu memang menyeramkan.

Tubuh mereka hampir satu setengah, kali tubuh laki-laki normal dan tubuh itu kokoh kekar penuh otot-otot menggelembung.

Mereka kini saling pandang, merasa heran betapa wanita cantik ini telah mengenal mereka.

"Heh-heh, Leng-te (adik Leng), apakah diam-diam engkau mempunyai simpanan wanita begini cantiknya dan kini ia menyusul ke sini?"

Berkata seorang di antara mereka yang berewok.

Dia adalah Poa Seng, orang tertua di antara tiga bersaudara yang dijuluki Po-yang Sam-liong itu.

Poa Leng yang berkepala botak itu menggaruk botaknya sambil menyeringai.

"Uwah, sayang aku tidak kenal dengannya. Mungkin Teng-te yang diam-diam mempunyai peliharaan yang cantik ini?"

Poa Teng yang mulutnya ompong tertawa, akan tetapi segera menutupi mulutnya yang ompong agar tidak kelihatan oleh wanita cantik itu.

"Tidak, akupun tidak kenal dengannya. Sayang sekali! Akan tetapi sekarang kita berkesempatan untuk mengenalnya, bukan?"

Dua orang kakaknya tertawa dan si berewok Poa Seng yang menjadi orang tertua, memandang kepada wanita itu dengan penuh selidik.

"Nona cantik, siapakah engkau yang telah mengenal kami? Dan mau apa engkau datang ke sini?"

Tiga orang ini tidak begitu heran bahwa wanita ini mengenal mereka.

Mereka adalah tiga orang tokoh yang seolah-olah menguasai Telaga Po-yang.

Semua pedagang dan pemilik perahu setiap bulan membayar "pajak"

Kepada mereka melalui kaki tangan mereka.

Walaupun mereka sendiri jarang turun tangan ke lapangan, hanya mengutus anak buah, namun nama mereka dikenal semua orang di daerah telaga itu.

Yang membuat mereka heran adalah bahwa wanita cantik itu seorang diri berani menemui mereka dengan cara yang cukup mengejutkan, yaitu meloncat dari perahu kecil ke atas perahu besar, membuktikan bahwa wanita ini memiliki kepandaian.

Anehnya, mereka bertiga belum pernah mengenalnya!

"Aku datang untuk mencari Thio Kee San!"

Jawab Tok-sim Nio-cu sambil lalu dan memandang kepada tubuh laki-laki yang menggeletak tak bernyawa lagi di atas papan perahu.

Ia tidak memperkenalkan diri, seolah merasa terlalu tinggi untuk memperkenalkan nama besarnya kepada orang-orang rendahan!

Kembali tiga orang raksasa itu saling pandang dan si berewok tertawa bergelak.

"Mencari Thio Kee San? Nah, itu dia orangnya!"

Biarpun tadinya sudah menduga bahwa tentu orang yang disiksa itu Thio Kee San yang dicarinya, ketika mendengar hal ini Tok-sim Nio-cu terkejut dan marah sekali.

Celaka, tugasnya menjadi kacau karena ulah tiga orang ini.

Akan tetapi, tiga orang ini adalah tokoh-tokoh besar Telaga Po-yang, tentu mereka membunuh Thio Kee San bukan tanpa alasan!

Jangan-jangan merekapun menghendaki peta kuno itu dari tangan Thio Kee San, dan siapa tahu mereka telah merampas peta itu!

Dengan sinar mata mencorong, ia menghadapi tiga orang raksasa itu.

"Kalian berani membunuh orang yang sedang kubutuhkan?"

Mendengar ucapan itu, si botak tertawa.

"Ha-ha-ha, dia sudah mati, nona! Akan tetapi jangan khawatir, masih ada kami bertiga yang kiranya lebih dari cukup untuk menemanimu sepuasmu. Betul tidak, Seng-ko dan Teng-te?"

Dua orang itu tertawa membenarkan.

Tok-sim Nio-cu sudah marah sekali.

Ingin rasanya sekali serang ia membunuh mereka itu.

Akan tetapi ia adalah seorang wanita yang amat cerdik.

Tidak, ia harus menahan kemarahannya.

Tidak boleh ia membunuh mereka.

Pertama, mereka itu masih amat berguna baginya apalagi setelah Thio Kee San tewas.

Tentu rahasia itu telah berpindah tangan, ke tangan mereka!

Ia harus dapat menyelidiki hal ini dan kalau benar peta itu telah berada di tangan mereka, ia harus merampasnya dari mereka.

Dan menyerang mereka di perahu ini, sungguh tidak baik.

Mereka terkenal sebagai tiga orang tokoh telaga, sedikit banyak mereka tentu pandai berenang, jauh lebih pandai dari ia sendiri yang hampir tidak pandai renang.

Kalau berkelahi di situ dan mereka itu menggulingkan perahu, ia akan celaka!

Ia harus memancing mereka mendarat, baru ia merasa aman untuk bertanding melawan mereka.

Pula ia tidak boleh membunuh mereka, setidaknya seorang di antara mereka harus dibiarkan hidup sebelum peta itu dapat ia temukan.

Dengan menekan kemarahannya, Tok-sim Nio-cu kini tersenyum.

Manis sekali.

"Hemm, aku tertarik kepada orang she Thio ini karena dia menjanjikan banyak uang kepadaku. Dia sudah berjanji akan menanti di bandar, akan tetapi meninggalkan aku, maka aku menyusulnya. Sekarang, dia sudah mampus, kalau kalian bertiga sejantan dia dan juga seroyal dia, tentu saja akupun lebih menyukai yang hidup dari pada yang mati."

Ia memainkan bibirnya dengan pandai sekali sehingga ketika bicara, mulutnya seperti menantang penuh gairah.

Tiga orang raksasa itu tentu saja menjadi gembira sekali.

Si berewok langsung saja menggunakan lengannya yang besar dan panjang untuk merangkul pinggaug Tok-sim Nio-cu dan mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu mencium bibir itu dengan kasar!

Tok-sim Nio-cu membalas ciuman itu penuh gairah dan memang ia adalah seorang wanita yang sudah berpengalaman.

Walaupun hatinya merasa mendongkol sekali, namun ia dapat memperlihatkan sikap yang memikat.

Ia meronta manja.

"Lepaskan......! Lepaskan aku, aku tidak mau kalau di sini......, lepaskan......!"

Sambil tertawa, si berewok yang sudah mulai panas itu melepaskan wanita yang meronta manja.

"Kenapa, manis? Bukankah engkau juga suka?"

"Tentu saja aku suka, akan tetapi tidak di sini. Aku...... aku ngeri dan suka mabuk air. Pula, dengan adanya mayat itu, bagaimana mungkin hatiku bisa tenteram? Marilah kita ke darat dan di sana baru kita benar-benar dapat menikmati kesenangan. Asalkan kalian benar jantan dan royal seperti orang she Thio itu!"

Berkata demikian, Tok-sim Nio-cu mengerling dengan sikap menantang. Tiga orang bersaudara itu girang sekali.

"Mari kita ke darat,"

Kata si berewok kepada dua orang adiknya.

"Kita tinggalkan saja mayat itu di sini. Takkan ada yang menyangka kita yang melakukan."

"Andaikata ada yang menyangkapun, perduli apa?"

Kata si botak.

"Benar,"

Kata yang ompong.

"Kita katakan saja bahwa dia tidak membayar pajak dan melawan kita, lalu terpaksa kita membunuhnya!"

"Mari kita cepat pergi, kita pergunakan perahuku!"

Kata Tok-sim Nio-cu kepada mereka.

Mereka berempat lalu berloncatan ke atas perahu kecil itu dan melihat cara mereka meloncat dan tiba di perahu tanpa menimbulkan banyak guncangan mengertilah Tok-sim Nio-cu bahwa tiga orang ini memang lihai dan tidak boleh dipandang rendah.

Nio-cu mendayung perahunya dengan cepat, menuju ke pantai yang sepi, pantai yang merupakan sebuah hutan kecil.

Baca Juga: Mutiara Hitam 5

Baca Juga: Si Bangau Merah 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert