Eps 6 Sepasang Naga Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo
Baca online Sepasang Naga Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo
Cersil Sepasang Naga Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo.
Setelah tiba di darat, iapun meloncat ke atas daratan dengan gerakan yang demikian cekatan sehingga mengejutkan tiga orang raksasa itu.
Mereka bertigapun berloncatan ke darat dan kini sikap Tok-sim Nio-cu berubah.
Ia berdiri sambil bertolak pinggang menanti mereka bertiga mendarat dan kini ia menghadapi mereka dengan sikap angkuh.
"Po-yang Sam-liong, sekarang dengarlah baik-baik. Kalian telah berlancang tangan membunuh Thio Kee San! Oleh karena itu kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan itu dan katakan kepadaku, mengapa kalian membunuhnya? Dengan alasan apa kalian membunuh orang she Thio itu?"
Melihat perubahan sikap ini, dan jelas kelihatan betapa wanita itu tidak menghormati mereka bahkan memandang rendah, si berewok Poa Seng marah sekali.
"Haiii, nona! Ketahuilah bahwa kami sudah biasa memberi hadiah besar kepada orang yang menyenangkan hati kami, akan tetapi akan kami bunuh orang yang membikin kami marah! Kenapa sikapmu berubah-ubah dan engkau ternyata palsu? Awas, jangan membikin aku marah karena engkau tentu akan mengalami siksaan hebat!"
Tok-sim Nio-cu yang berniat untuk menundukkan tiga orang ini agar ia dapat merampas peta yang dikehendaki, menjebikan bibirnya yang merah dan yang tadi membalas ciuman si berewok dengan panas penuh gairah.
"Huh, apa artinya srigala-srigala membentak seekor singa betina? Kalian yang mencari mampus kalau kalian berani berlagak di depanku!"
Tiga orang itu terkejut dan marah bukan main.
"Seng-ko, serahkan saja perempuan ini padaku. Aku akan membekuknya dan kita perkosa dia lalu serahkan kepada anak buah agar ia dipermainkan sampai mati!"
Poa Teng yang ompong membentak, dan biarpun gigi ompongnya membuat kata-katanya tidak begitu jelas, namun cukup dimengerti oleh Nio-cu yang menghadapinya dengan mata bernyala.
Tanpa menanti persetujuan kakaknya, Poa Teng sudah menubruk dengan mengembangkan kedua lengannya yang panjang dan kokoh kuat itu untuk memeluk Nio-cu, gerakannya seperti seekor biruang menyerang seekor kijang muda.
Akan tetapi, tubrukan itu mengenai tempat kosong dan hampir tidak nampak olehnya ketika tubuh Nio-cu berkelebat amat cepat, meloloskan diri melalui, bawah lengan kanannya.
Poa Teng cepat membalik dan untung dia tidak terlambat karena saat itu, Nio-cu sudah membalas dengan tendangan kakinya yang cepat dan kuat.
Poa Teng miringkan tu-buhnya dan lengannya yang panjang bergerak cepat ketika tangannya berusaha menangkap kaki yang menendangnya itu.
Namun, kaki itu sudah ditarik kembali dan sebelum Poa Teng sempat menyerang lagi, tangan kiri Nio-cu sudah menyambar.
Demikian cepatnya sambaran tangan itu sehingga tahu-tahu pipi kanan Poa Teng terkena tamparan keras.
"Plakkk!"
Poa Teng terbatuk-batuk dan melangkah mundur, mukanya menjadi merah sekali.
Giginya yang tinggal beberapa buah itu, kini copot lagi dua buah yang di kanan oleh tamparan tadi, dan sialnya, dua buah gigi itu copot dan meloncat ke dalam memasuki perutnya!
"Perempuan keparat, kubunuh kau!"
Bentaknya marah dan diapun menyerang kalang kabut, kedua lengannya yang panjang itu menyambar-nyambar dan jari-jari tangannya mencengkeram, kakinya yang panjang dan besar menendang-nendang.
Namun semua itu dapat dielakkan oleh Nio-cu dengan amat mudahnya karena memang ia memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi.
Apa lagi wanita ini memang memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang sudah matang, membuat ia mampu bergerak seperti seekor burung walet saja.
Kalau Tok-sim Nio-cu menghendaki, agaknya tidak sukar baginya untuk merobohkan lawannya, bahkan membunuhnya.
Akan tetapi ia tidak bermaksud membunuh mereka sebelum peta itu berada di tangannya.
Tiga orang ini merupakan jejak terakhir untuk menemukan peta setelah orang she Thio itu tewas.
"Plak-plakk!"
Kini tubuh Poa Teng terpelanting dan terbanting keras oleh tamparan yang disusul tendangan itu.
Sambil bergulingan, Poa Teng sudah mencabut senjatanya, yaitu seutas rantai baja yang tadi melibat pinggangnya.
Dari mulutnya mengalir darah, yaitu dari bekas dua buah gigi yang copot tadi.
"Teng-te, tahan dulu!"
Si berewok Poa Seng membentak dan dia melangkah maju menghadapi Tok-sim Nio-cu, mengamati wanita itu dengan penuh selidik.
"Nona, bukankah engkau ini yang berjuluk Tok-sim Nio-cu?"
Wanita itu mengangguk dan bertolak pinggang.
"Benar, akulah Tok-sim Nio-cu!"
Tiga orang laki-laki raksasa itu terkejut bukan main mendengar nama ini.
Sudah lama mereka mendengar akan nama Tok-sim Nio-cu, seorang di antara para tokoh sesat yang terkenal lihai di Propinsi Kiang-si.
"Ah, kiranya Tok-sim Nio-cu yang sudah lama kami dengar nama besarnya! Akan tetapi, sepanjang ingatan kami, kami Po-yang Sam-liong selamanya belum pernah bermusuhan denganmu! Kenapa hari ini engkau sengaja hendak menentang kami, Nio-cu?"
Kembali si berewok berkata, sikapnya jauh berbeda dari tadi, kini jelas agak jerih.
Bukan hanya nama besar wanita itu yang membuatnya jerih, akan tetapi kenyataan betapa adiknya tadi sama sekali tidak berdaya menghadapi kelihaian Nio-cu.
"Po-yang Sam-liong, dengarlah baik-baik. Aku diutus oleh Beng-cu untuk menangkap Thio Kee San. Akan tetapi ternyata kalian telah lancang membunuhnya!"
"Beng-cu......? Kaumaksudkan...... yang terhormat Siauw-bin Ciu-kwi?"
Si berewok berkata dan jelas bahwa dia dan adik-adiknya kini merasa gentar sekali.
Tentu saja mereka sudah mendengar akan nama besar datuk yang menguasai hampir seluruh dunia kang-ouw di Propinsi Kiang-si!
"Benar sekali!"
"Tapi...... tapi... kami bertiga tidak pernah mengganggu beliau......., kami tahu diri dan kami hanya melakukan pekerjaan kecil di Po-yang......"
"Hemm, kamipun tidak perduli akan pekerjaan kalian di sini. Akan tetapi kalian sudah lancang membunuh orang yang dikehendaki Beng-cu, itu berarti menentangnya! Untuk itu kalian harus bertanggung jawab. Nah, katakan terus terang, mengapa kalian membunuh Thio Kee San?"
Tiga orang raksasa itu saling pandang, dan si berewok Poa Seng berkata lantang.
"Itu urusan kami, tidak ada sangkut-pautnya denganmu, Nio-cu. Kami tidak bermaksud menentangmu atau Beng-cu yang mulia. Dia kami bunuh karena urusan kami sendiri!"
Nio-cu mengerutkan alisnya.
"Hemm, tidak perlu kausembunyikan lagi. Kalian membunuhnya dan merampas sebuah peta kuno, bukan?"
Tiga orang itu kelihatan terkejut sekali.
"Tidak, kami tidak merampas peta darinya!"
Kata Poa Seng. Nio-cu kecewa sekali mendengar ini dan dia memandang wajah penuh berewok itu dengan tajam menyelidik.
"Kalau bukan untuk merampas selembar peta, lalu mengapa kalian membunuhnya? Hayo jawab!"
"Nio-cu, bagaimanapun juga, kami bukanlah anak buahmu, bukan anak buah Beng-cu. Kami berhak hidup dan bekerja sendiri tanpa mengganggumu. Urusan kami dengan Thio Kee San adalah urusan kami sendiri dan tidak dapat kami ceritakan kepadamu."
"Bagus! Kalau begitu, jelas kalian menantangku!"
"Apa yang akan kaulakukan?"
Tanya pula si berewok yang memang sudah merasa jerih.
"Kalau kalian tidak mau berterus terang, terpaksa aku akan membunuh dua orang di antara kalian, dan menyeret yang seorang lagi ke depan Beng-cu!"
Tiga orang itu nampak jerih, akan tetapi Poa Seng merasa betapa kehormatan dia dan adik-adiknya diinjak-injak.
Bagaimanapun juga, mereka bertiga merupakan kelompok yang paling berkuasa di Po-yang, ditakuti lawan disegani lawan.
Karena merasa betapa mereka kuat dan berkuasa, maka biarpun mendengar akan munculnya Siauw-bin Ciu-kwi yang mengangkat diri menjadi Beng-cu, mereka tidak mau tunduk dan tidak merasa menjadi bawahan datuk itu walaupun tentu saja mereka tidak berani menentang dengan berterang.
Kini, muncul seorang pembantu Beng-cu itu, seorang wanita lagi dan mereka dipandang rendah sekali.
Namun, dia juga bukan orang bodoh.
Dia sudah mendengar banyak sekali tentang Beng-cu, seorang yang kabarnya memiliki kesaktian seperti dewa, dengan banyak pembantunya yang lihai.
Menentang dengan berterang sama saja dengan mencari penyakit, bahkan dapat mati konyol.
"Nio-cu, engkau tahu bahwa selama ini kami sama sekali tidak berani dan tidak pernah menentang kekuasaan Beng-cu. Hanya kami menjauhkan diri dan bekerja sendiri di telaga ini. Sekarang, karena engkau memaksa kami untuk membuka rahasia kami sendiri yang tidak ada hubungannya denganmu, marilah kita berjanji begini saja. Kalau engkau seorang diri dapat memenangkan kami bertiga, maka kami akan menceritakan segalanya kepadamu, tanpa ada yang kami rahasiakan lagi tentang Thio Kee San itu. Akan tetapi kalau sebaliknya engkau tidak mampu menangkan kami bertiga, harap engkau tidak lagi mengganggu kami. Bagaimana?"
Nio-cu tahu bahwa sebetulnya tiga orang raksasa itu takut kepada Beng-cu.
Akan tetapi karena ia hanya seorang diri, mereka melihat kesempatan untuk lolos, atau melakukan penentangan dengan aman.
Kalau mereka kalah, mereka akan mengaku dan tidak akan terancam nyawa mereka.
Dan kalau mereka menang, tentu mereka dapat berbuat apa saja, mungkin membunuhnya dan menghilangkan jejaknya.
Beng-cu tidak akan mengetahuinya!
Nio-cu tersenyum mendengar usul itu.
"Kalian masih berhuntung bertemu dengan aku. Kalau kalian berhadapan dengan Beng-cu sendiri atau pembantunya yang lain, tentu kalian akan mati konyol! Baiklah, aku menerima tantanganmu!"
Berkata demikian, Nio-cu yang maklum akan kelihaian tiga orang itu, meloncat ke belakang sambil mengeluarkan senjatanya, yaitu sebatang pedang di tangan kanan dan sebuah kipas di tangan kiri!
Melihat wanita cantik itu telah siap siaga dengan sepasang senjata di tangan, Po-yang Sam-liong juga tidak sungkan-sungkan lagi.
Poa Seng yang berewok mengeluarkan senjatanya yang menyeramkan, yaitu sebatang golok besar yang lebar dan mengkilap tajam, dengan punggung golok berbentuk gigi gergaji.
Poa Leng yang berkepala botak memegang sebatang tombak pendek, sedangkan si ompong Poa Teng memegang rantai bajanya.
Mereka bertiga segera menggerakkan kaki mengepung wanita itu dari tiga jurusan, membentuk Sha-kak-tin (Barisan Segi Tiga), satu di depan, seorang di kanan dan seorang lagi di kiri.
Tok-sim Nio-cu yang cerdik maklum akan ketangguhan tiga orang lawannya, maka iapun tidak mau keduluan.
"Lihat senjata!"
Bentaknya dan tubuhnya sudah berkelebat cepat sekali, pedang di tangan kanannya menyerang Poa Seng yang berada di depannya, kemudian kipasnya juga menyambar dengan tertutup dan gagangnya menotok ke arah dada Poa Leng di sebelah kirinya.
Dua orang itu cepat mengelak sambil menangkis dan pada saat itu, Poa Teng yang tadi berada di sebelah kanan Nio-cu sudah memutar rantai bajanya dan senjata itu menyambar ke arah kepala wanita itu.
Akan tetapi Nio-cu sudah memperhitungkan bahwa kalau ia menyerang dua orang lawannya, tentu seorang pengeroyok yang tidak diserangnya akan menyerang.
Cepat ia membalik ke kanan dan pedangnya meluncur ke arah perut Poa Teng sambil merendahkan tubuh menekuk lutut.
Poa Teng terkejut bukan main.
Rantainya menyambar lewat di atas kepala lawan dan tahu-tahu pedang wanita itu sudah menyelonong ke arah perutnya!
"Uhhh......!"
Dia berseru kaget dan melempar tubuh ke belakang.
Untung ada dua orang saudaranya yang cepat menyerang Nio-cu sehingga wanita ini tidak dapat mendesak Poa Teng yang terhuyung ke belakang ketika melempar tubuh ke belakang itu.
Nio-cu sudah memutar pedangnya, menangkis dua senjata lawan yang menyerangnya, kemudian begitu tangan kirinya mengebut, sinar-sinar lembut menyambar ke arah Poa Seng dan Poa Leng!
Dua orang itu terkejut dan cepat sekali mereka melempar tubuh ke kanan kiri sambil memutar senjata.
Sinar-sinar hitam lembut itu adalah jarum-jarum hitam halus yang menyambar keluar dari ujung gagang kipas ketika kipas itu dikebutkan!
Karena ketiga orang lawannya terhuyung, Nio-cu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Pedangnya diputar cepat, juga kipasnya menotok dan akibatnya Poa Leng yang kurang cepat mempergunakan tombak pendeknya untuk melindungi diri, telah kena di"cium pundaknya oleh ujung pedang.
Baju bagian pundaknya robek berikut kulit dan sedikit daging.
Darah mengalir dan Poa Leng terhuyung ke belakang!
Melihat betapa adiknya terluka, Poa Seng terkejut.
Dia memutar goloknya dengan maksud mendesak dan memberi kesempatan kepada kedua adiknya untuk melakukan serangan balasan.
Namun, pedang di tangan Nio-cu juga diputar cepat dan membentuk sinar bergulung-gulung yang lebih cepat sehingga gulungan sinar pedang itu dapat memasuki gulungan sinar golok dan tahu-tahu ujung pedang itu sudah menggurat pergelangan tangan yang memegang golok!
"Auhhh......!"
Poa Seng terkejut, menarik kembali goloknya, akan tetapi kaki Nio-cu yang dapat bergerak cepat sudah mengirim tendangan.
"Dukk!!"
Lutut kanan Poa Seng tercium ujung sepatu dan tanpa dapat dipertahankannya pula, dia jatuh bertekuk lutut!
Dua orang adiknya menyerang membabi buta, namun gerakan mereka itu terlalu kasar dan lamban bagi Nio-cu yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi sehingga semua serangan mereka dapat dielakkan atau ditangkis.
Belum lewat tigapuluh jurus, kembali pedang di tangan kanan Nio-cu menemui sasaran, sekali ini paha kiri Poa Teng yang terpelanting roboh.
Darah bercucuran dari pahanya yang terobek.
Melibat kenyataan pahit ini, Poa Seng segera berseru.
"Tahan senjata!"
Dia maklum bahwa kalau dilanjutkan, pihaknya akan kalah dan tentu akan menderita lebih hebat lagi.
Lawan ini terlampau tangguh.
Pada hal, ia hanya seorang wanita dan seorang pembantu dari Beng-cu.
Apa lagi kalau Beng-cu itu maju sendiri.
Mengerikan!
Pula, dia teringat akan kemesraan dan kehangatan yang diperlihatkan Nio-cu tadi.
Kalau mereka berteman, ada harapan sekali waktu dia akan dapat menikmati kemesraan cumbuan wanita cantik itu.
Nio-cu menahan kedua senjatanya dan bagaikan bermain sulap saja, pedang dan kipasnya sudah disimpannya kembali dan ia berdiri sambil bertolak pinggang memandangi tiga orang bekas lawannya sambil tersenyum.
"Bagaimana pendapat kalian?"
Poa Seng mewakili kedua orang adiknya yang sudah terluka itu, menjura kepada Nio-cu, menarik napas panjang dan berkata.
"Sungguh tidak kosong belaka nama besar Tok-sim Nio-cu, Kami mengaku kalah!"
Katanya dengan jujur.
"Bagus! Karena aku sendiri adalah utusan dan pembantu Beng-cu, maka kekalahan kalian itu berarti bahwa mulai saat ini kalian harus pula membantu Beng-cu dan melaksanakan semua perintahnya. Setujukah kalian?"
Tiga orang itu maklum bahwa baru melawan seorang pembantu Beng-cu saja mereka kalah, maka kalau mereka menentang Beng-cu sama dengan bunuh diri! "Kami setuju!"
Kata mereka serempak.
"Ketahuilah bahwa aku diutus Beng-cu untuk menangkap orang she Thio, karena kami mendengar bahwa orang itu yang menyimpan peta rahasia Patung Emas! Akan tetapi ketika aku tiba di sini, ternyata kalian sudah membunuh dia! Nah, apakan kalian telah merampas peta itu? Kalau sudah, berikan kepadaku dan kalian berarti sudah berjasa besar terhadap Beng-cu."
Tiga orang raksasa itu saling pandang dan kembali Poa Seng menghela napas panjang.
"Kami akan bercerita terus terang kepadamu, Nio-cu. Sesungguhnya sudah lama kami mendengar tentang peta rahasia harta karun bergambar patung emas itu. Namun kami menganggap berita itu hanya semacam dongeng saja. Akan tetapi, pada suatu hari kami mendengar dari seorang anak buah kami yang bertugas sebagai tukang perahu, bahwa dia melihat tanpa sengaja ketika Thio Kee San membuka sebuah gulungan ketika berada di dalam perahunya. Dari belakang, dia melihat bahwa gulungan itu berupa peta dan ada gambarnya patung emas. Thio Kee San segera menyimpan gulungan itu ketika anak buah kami mendekat. Laporan inilah yang membuat kami hari ini memaksa Kee San untuk mengaku. Akan tetapi dia berkeras tidak mau mengaku, mengatakan bahwa dia tidak memiliki peta itu. Saking kecewa dan marah, kami memukulinya dan diapun tewas. Kami tidak berhasil mengetahui di mana adanya peta itu, apa lagi merampasnya!"
Sampai beberapa saat lamanya Nio-cu mengamati wajah tiga orang itu dengan penuh selidik. Akhirnya iapun menarik napas panjang.
"Kalian sungguh bodoh dan kasar, tidak mampu membujuk dia agar mengaku. Banyak cara penyiksaan yang akan membuat dia mengaku sebelum dia mampus. Akan tetapi, aku percaya kepada kalian dengan keyakinan bahwa kalian pasti tidak berani berbohong. Membohongi aku berarti membohongi Beng-cu dan kalian tahu apa hukumannya!"
"Nio-cu, untuk apa kami berbohong? Selain kami tidak berani menentang Beng-cu, juga kami tadi sudah berjanji dan kami telah kalah. Kami memukuli Thio Kee San sampai mati karena kami merasa kecewa dan marah sekali. Kami mengira bahwa dia memang benar-benar tidak mempunyai peta itu."
"Kalian bodoh! Dia memiliki peta itu!"
"Ahhh.....??"
Tiga orang itu terbelalak dan jelas nampak betapa mereka menyesal sekali telah membunuh orang she Thio itu.
Sikap mereka itu menambah keyakinan hati Nio-cu bahwa mereka tidak berbohong.
Tiga orang raksasa tolol itu memang tidak berhasil merampas peta.
Mereka bertiga itu hanya memiliki kelebihan otot, akan tetapi kekurangan otak.
"Kini kalian mengerti bahwa perbuatan kalian membunuhnya itu berarti merugikan Beng-cu! Maka, kalian harus bertanggung jawab dan kalian kuserahi tugas untuk mencari peta itu sampai dapat!"
Tiga orang itu terbelalak.
"Tapi...... tapi, Nio-cu? Bagaimana mungkin? Dia sudah mati..... dan peta itu tidak ada padanya. Sudah kami geledah seluruh badannya. Juga sebelum kami menemuinya di telaga, kami sudah menggeledah rumahnya dan tidak berhasil menemukan peta itu!"
Nio-cu tersenyum.
"Kalian memang bodoh, karena itu aku tidak akan meninggalkan kalian. Kalian menjadi pembantu-pembantuku, anak buahku. Aku yang akan mengatur rencananya, kalian tinggal melaksanakannya saja. Aku yakin kita akan dapat menemukan peta itu."
Tiga orang itu kelihatan lega.
Kalau Nio-cu yang menjadi pemimpin, mereka banya pembantu atau anak buah, maka segala kegagalan tentu ditanggung oleh Nio-cu.
Akan tetapi Poa Seng masih merasa penasaran.
"Nio-cu, kalau Thio Kee San itu sudah mati tanpa memberi keterangan tentang peta, bagaimana kita akan dapat menemukan benda itu? Kepada siapa lagi kita bertanya kalau dia sudah mati? Harap memberi penjelasan agar kami tidak bingung dan tahu apa yang harus kami lakukan."
"Sam-liong, coba kalian pikir. Andaikata Kee San menyimpan peta itu, setelah kalian menyiksa dan memukuli dia, sudah pasti dia akan mengaku! Untuk apa dia memberatkan peta itu kalau dia akan dibunuh? Tidak ada gunanya bagi dia, dan tidak ada benda yang cukup berharga di dunia ini yang lebih dihargai dari pada nyawa. Tidak, kalau Kee San sampai nekat menutup mulut dan lebih baik mati dari pada membuka rahasia peta itu, hal ini berarti bahwa dia tidak menyimpannya!"
Tiga orang raksasa itu saling pandang, dan pandang mata mereka bodoh, tanda bahwa mereka tidak mengerti.
"Nio-cu, kalau tidak disimpannya, lalu di kemanakan? Sungguh aku menjadi bingung,"
Kata Poa Seng.
"Aku juga!"
Sambung Poa Leng.
"Akupun tidak mengerti!"
Kata Poa Teng. Nio-cu menjebikan bibirnya yang menggairahkan, bukan sekedar gaya melainkan memang ia mendongkol sekali.
"Kalian ini orang-orang she Poa memang bodoh sekali. Sepatutnya kalian semua bernama Poa Gong (sinting atau tolol)! Tentu saja peta itu dia serahkan kepada orang lain!"
"Diserahkan kepada orang lain?"
Seru Poa Seng.
"Akan tetapi kalau diserahkannya kepada orang lain, kenapa dia tidak mau mengaku kami gebuki sampai mampus? Kalau dia mengaku, setidaknya dia tidak akan mati, mungkin hanya tiga perempat atau setengah mati saja."
Nio-cu menarik napas panjang. Ia amat cerdik, maka menghadapi orang-orang yang tidak secerdik dirinya, ia menjadi kurang sabar.
"Apakah kalian tidak dapat menggunakan sedikit saja otak dalam kepala kalian? Kalau Kee San memilih mati dari pada membuka rahasia itu, hal ini jelas menunjukkan bahwa dia amat sayang kepada orang yang diserahi peta itu. Untuk melindungi orang itulah maka dia rela kalian gebuki sampai mampus. Nah, sudah jelas, bukan? Kalian kini tinggal cari saja siapa orangnya yang paling dikasihi oleh Kee San, dan tentu kalian akan menemukan peta itu ada padanya!"
Kini Poa Seng dan kedua orang adiknya mengangguk-angguk.
Barulah sadar mereka bahwa mereka berhadapan dengan seorang wanita yang selain cantik jelita dan lihai ilmu silatnya, juga amat cerdik!
Dan orang sehebat ini hanya menjadi pembantu Beng-cu, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya sang Beng-cu itu!
"Hebat, Nio-cu.
Engkau memang hebat bukan main!"
Kata Poa Seng mengangguk-angguk dan terang-terangan dia mengacungkan kedua ibu jarinya ke atas tanda kagum.
Aih, kalau saja aku dapat memiliki seorang wanita seperti engkau ini, beberapa malam saja, puaslah hidupku di dunia ini!"
Biarpun ucapan itu kasar bukan main, akan tetapi wajah Nio-cu menjadi kemerahan saking bangga dan girangnya.
Justeru kekasaran Poa Seng itu amat menarik hatinya, dan pujian yang keluar dari mulut kasar itu adalah pujian yang tulus tanpa maksud merayu sedikitpun.
"Bekerjalah dengan baik. Kalau engkau berhasil, siapa tahu aku begitu berterima kasih kepadamu sehingga kuanggap engkau cukup berharga untuk menjadi teman baikku."
"Ha-ha-ha, bagus sekali! Bukan hanya janjimu yang manis itu yang membesarkan semangatku, Nio-cu. Akan tetapi mulai saat ini memang kami sudah takluk kepada Beng-cu melalui engkau, dan kami akan bekerja keras untuk membuktikan bahwa kami bukan pembantu-pembantu yang tidak ada gunanya."
"Ingat, di sini tempat pertemuan kita menyelidiki peta. Selama kita menyelidiki peta itu, setiap senja menjelang malam aku berada di sini dan kalian dapat menemui aku di sini."
"Kenapa begini rahasia, Nio-cu? Kalau kita bertemu di bandar umpamanya, siapa yang akan berani mengganggu kita?"
Poa Seng membantah.
"Bukan begitu, bodoh. Engkau tentu sudah mendengar betapa peta itu dijadikan perebutan oleh orang-orang kang-ouw. Biarpun kami tidak takut, akan tetapi lebih enak bekerja tanpa banyak gangguan yang hanya akan menambah pekerjaan saja. Contohnya, lihat. Bukankah tadinya aku akan dapat menangkap Thio Kee San dengan mudah, akan tetapi karena kalian juga memperebutkan peta maka pekerjaanku menjadi semakin repot?"
"Kau benar...... kau benar......!"
Poa Seng mengangguk-angguk dan merekapun berpisah.
Setelah mendapatkan keterangan yang amat jelas dari Nio-cu yang cerdik sekali itu, dengan amat mudah Po-yang Sam-liong yang menyebar anak buahnya untuk melakukan penyelidikan siapa orang yang paling disayang oleh mendiang Thio Kee San, dapat menemukan kenyataan bahwa mendiang Thio Kee San sering kali berkunjung ke Rumah Merah, yaitu rumah pelesir milik Bibi Ciang!
Kee San sudah tidak mempunyai keluarga sama sekali, tiada ayah tiada ibu atau saudara, maka tidak ada lagi orang yang disayangnya kecuali teman-temannya.
Dan dalam penyelidikan Po-yang Sam-liong, Kee San tidak mempunyai sahabat yang terlalu dekat.
Sahabat-sahahat dalam perjudian bukanlah sahabat dekat dan tidak mungkin ada perasaan sayang di antara para penjudi yang selalu memperebutkan kemenangan uang itu.
Satu-satunya tempat hanyalah rumah pelesir itu!
Demikian perhitungan Tok-sim Nio-cu ketika mendapat keterangan dari Po-yang Sam-liong.
"Tidak salah lagi!"
Demikian katanya kepada tiga orang pembantu baru itu.
"Rumah Merah itulah tempatnya! Dia pasti mempunyai seorang kekasih atau seorang sahabat yang disayangnya, dan melihat bahwa dia rela mengorbankan nyawa dari pada mencelakai orang yang disayangnya, kiranya orang itu tentu seorang wanita. Carilah sampai dapat siapa orang yang amat disayangnya di rumah pelesir itu. Kalau perlu tangkap semua penghuninya dan paksa mereka mengaku!"
Gegerlah rumah pelesir itu ketika pada suatu malam, Po-yang Sam-liong datang berkunjung.
Para tukang pukul di rumah pelesir itu tentu saja kehilangan keberanian dan kegalakan mereka ketika mengenal tiga orang datuk sesat yang menguasai daerah Telaga Po-yang itu, bahkan menyambut mereka seperti kalau menyambut orang-orang berpangkat tinggi saja.
Apa lagi ketika tiga orang raksasa itu mulai menyatakan maksud kedatangan mereka, yaitu untuk mencari tahu siapa kekasih atau sahabat baik Thio Kee San, semua orang menjadi pucat ketakutan.
Mereka sudah mendengar bahwa Kee San ditemukan orang mati di atas perahunya di telaga, dan sekarang tiga orang ini bertanya siapa sahabat terbaik dari korban itu!
Semua orang mengatakan tidak tahu.
"Kalian tidak tahu? Baik, kami akan memaksa kalian mengaku!"
Bentak Poa Seng dan semua penghuni rumah pelesir itu, Bibi Ciang, enam orang pelacur, dan lima orang tukang pukul, mereka kumpulkan dalam ruangan belakang.
Mereka semua disuruh duduk di atas lantai sedangkan tiga orang raksasa itu duduk di atas kursi.
"Kalian berani menyembunyikan orang itu dari kami, ya? Nah, sekarang akan kami tanya seorang demi seorang!"
Kata pula Poa Seng.
Dia menyuruh lima orang anak buahnya menjaga para tawanan itu dan bersama dua orang adiknya dia lalu memasuki sebuah kamar.
Pertama-tama, Bibi Ciang sendiri yang dipanggil memasuki kamar.
Dengan tubuh gemetar ketakutan wanita setengah tua memasuki kamar yang segera ditutup pintunya dari dalam.
Semua orang yang menanti di luar merasa tegang sekali dan mereka menjadi semakin ketakutan ketika terdengar jerit kesakitan dan tangis nenek pemilik Rumah Merah itu.
"Aduuuhhh...... ampun... ampunkan saya..... sungguh mati saya tidak tahu..."
Nenek itu meratap ketika ia ditanya tentang peta sambil dijambak rambutnya sampai sebagian rambutnya jebol.
"Katakan, siapa kekasih dan teman terbaik dari Thio Kee San dalam rumah pelesir ini!"
Bentak Poa Seng sambil mengendurkan jambakannya agar wanita itu dapat menjawab.
Poa Teng sudah melibatkan rantai bajanya di leher wanita tua itu, siap untuk mencekiknya!
Tentu saja semangat wanita itu sudah terbang dan hampir ia jatuh pingsan saking takutnya.
"Kekasihnya? Ah, kekasihnya yang amat disayangnya adalah Bi Hwa....., ya Bi Hwa...... bunga rumah pelesir kami......"
Rantai itu dilepaskan. Tiga orang raksasa saling pandang, lalu dengan suara agak halus Poa Seng berkata.
"Ceritakan tentang hubungan mereka dan yang mana Bi Hwa ini. Cerita sebenarnya, kalau kau tidak ingin kami siksa lebih mengerikan lagi!"
Sambil berlutut dengan muka pucat, rambut awut-awutan dan tubuh gemetar ketakutan, Bibi Ciang lalu bercerita.
"Bi Hwa adalah seorang di antara para pelacur, menjadi bunganya karena ia paling cantik dan paling laris. Dan Kee San amat mencintanya, bahkan dia ingin mengumpulkan uang untuk menebus Bi Hwa yang akan diambil sebagai isterinya......"
Bukan main girangnya hati tiga orang tokoh sesat itu mendengar ini.
Tak disangkanya akan semudah itu mereka mendapatkan orang yang dimaksudkan oleh Tok-sim Nio-cu dan kembali mereka merasa amat kagum kepada Nio-cu yang memiliki perkiraan dan perhitungan sedemikian tepatnya.
Poa Seng berkedip kepada dua orang adiknya, lalu mendorong Bibi Ciang bangkit.
"Hayo tunjukkan kepada kami yang mana pelacur yang bernama Bi Hwa!"
Mereka bertiga lalu mendorong Bibi Ciang keluar dari dalam kamar.
Semua orang yang berada di ruangan itu, dengan muka pucat ketakutan melihat betapa Bibi Ciang keluar terhuyung-huyung, dengan rambut awut-awutan, muka pucat dan basah air mata.
Bibi Ciang dengan tangan gemetar lalu menunjuk ke arah Bi Hwa yang berada di situ bersama para pelacur lainnya.
Po-yang Sam-liong memandang dan mereka melihat seorang wanita muda yang memang cantik manis, dengan riasan muka tidak setebal para wanita muda yang lain.
Bahkan wanita ini menundukkan muka, diam seperti patung, tidak seperti orang-orang lain yang nampak ketakutan.
Pelacur ini memang lain dari pada yang lain.
Poa Seng lalu memberi isyarat kepada dua orang adiknya dan mereka bertiga lalu mengamuk!
Semua orang, kecuali Bibi Ciang dan Bi Hwa, mereka pukuli dan tendangi sampai mereka itu jatuh bangun dan mengeluh kesakitan.
Bahkan lima orang tukang pukul itupun menerima tamparan dan tendangan tanpa berani melawan sama sekali.
Setelah puas menyiksa mereka, Poa Seng menghampiri mereka satu demi satu dan bertanya dengan suara lantang.
"Hayo katakan, siapa kekasih Thio Kee San di sini?"
Semua orang yang ditanya menuding ke arah Bi Hwa yang masih berlutut dan menundukkan muka tanpa bergerak.
Poa Seng lalu menjambak rambut Bi Hwa dan memaksa waanita muda itu mengangkat muka.
Bi Hwa mengangkat mukanya yang pucat, akan tetapi matanya itu memandang penuh sinar kebencian, sama sekali tidak membayangkan rasa takut!
"Engkau yang bernama Bi Hwa dan engkau kekasih Thio Kee San!"
Bentak Poa Seng, kini melepaskan rambut itu dan tangan yang tadi menjambak, kini mengelus pipi yang halus.
Bi Hwa menjawab dan suaranya mengejutkan semua orang karena gadis ini menjawab dengan suara yang kaku dan penuh kebencian.
"Dan kalian bertiga tentu pembunuh-pembunuh koko Thio Kee San! Kalian orang-orang terkutuk, kejam dan jahat! Apa kesalahan San-koko maka kalian membunuhnya?"
Melihat sikap ini, Po-yang Sam-liong saling pandang dan tertawa bergelak. Mereka merasa girang sekali karena sikap itu saja menunjukkan bahwa memang antara wanita ini dan Kee San terdapat (Lanjut ke
Jilid 17) Sepasang Naga Penakluk Iblis (Seri ke 01-Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo
Jilid 17 hubungan yang erat.
"Ha-ha-ha!"
Poa Seng tertawa.
"Dan engkaupun akan mampus kalau engkau tidak mau berterus terang kepada kami!"
Berkata demikian, dia mengangkat tubuh wanita itu, dipondongnya ke dalam kamar, diikuti oleh dua orang adiknya, dipandang dengan muka pucat oleh semua orang yang masih merintih dan mengerang kesakitan karena dihajar oleh tiga orang raksasa itu.
Lima orang pelacur yang tadi ikut pula dihajar, menangis terisak-isak.
Sementara itu, setelah tiba di dalam kamar, Poa Seng melempar tubuh Si Hwa ke atas pembaringan.
Gadis itu pucat sekali, akan tetapi matanya tetap memandang penuh kebencian.
Kee San, satu-satunya orang di dunia ini yang mencintanya dengan tulus dan juga dicintanya, yang menjadi gantungan harapan hidupnya, telah dibunuh oleh tiga orang ini!
Apa lagi yang perlu ditakuti?
Baginya, bahkan mati menyusul kekasihnya jauh lebih baik dari pada hidup, melanjutkan hidup sebagai seorang.
pelacur hina!
Karena sakit hati, duka dan kebencian itu membuat Bi Hwa, seorang wanita yang lemah, saat itu tidak mengenal rasa takut sama sekali walaupun ia tahu bahwa ia berada di tangan tiga orang yang amat kejam dan jahat!
"Nah, nona manis.
Sekarang katakanlah terus terang, di mana engkau menyimpan peta yang kauterima dari Thio Kee San itu?
Berikan kepada kami dan kami tidak akan menyiksamu, tidak akan membunuhmu,"
Kata Poa Seng, suaranya tidak sekasar tadi dan mengandung bujukan.
Kini mengertilah Bi Hwa mengapa kekasihnya dibunuh.
Karena peta itu!
Tiga orang manusia iblis ini menghendaki peta bergambar patung emas itu!
Dan Kee San menjadi korban karena pernah memiliki peta itu.
Dan sekarang, peta itu berada di tangannya, dan iapun terancam maut.
Akan tetapi, untuk apa menyerahkan peta itu kepada tiga orang manusia ini?
Ia memang sudah mendengar akan peristiwa yang amat menyedihkan itu.
Bukan hanya karena kematian kekasihnya, akan tetapi juga ia sudah mendengar akan terculiknya Loan Khi Hwesio, ketua kuil.
Kekasihnya pernah mengatakan bahwa dia menerima peta itu dari Loan Khi Hwesio.
Kemudian, Loan Khi Hwesio sebagai pemegang peta pertama diculik orang dan mungkin sekali dibunuh, sesudah itu, Kee San sebagai pemegang peta kedua juga dibunuh!
Dan peta itu kini berada di tangannya, maka tidak aneh kalau nyawanya pun terancam.
Oleh karena itu, ia sudah lebih dulu menyingkirkan peta itu, bukan untuk menyelamatkan diri yang sudah putus harapan setelah kematian kekasihnya, melainkan untuk menyelamatkan peta agar jangan terjatuh ke tangan para pembunuh kekasihnya!
Tidak!
Ia tidak akan mengaku.
Biar mereka membunuhnya.
Ia tidak rela kalau sampai peta itu terjatuh ke tangan mereka yang membunuh kekasihnya, iapun sudah tidak mengharapkan hidup lebih lama lagi.
"Aku tidak tahu!"
Jawabnya ketus, akan tetapi matanya mengeluarkan sinar seolah-olah ia merasa gembira dapat melihat kekecewaan pada pandang mata tiga orang itu.
"Hemm, jangan memaksa kami untuk menggunakan siksaan, nona manis. Sayang kecantikanmu. Lebih baik engkau mengaku terus terang dan kami akan menebusmu bebas dari Bibi Ciang, bahkan kami akan memberi banyak uang kepadamu. Engkau dapat membeli seorang suami yang baik dan......"
"Sudahlah, tidak perlu membujuk dan kalau mau siksa, mau bunuh aku, silakan. Aku tidak tahu!"
Bi Hwa berseru dengan nekat. Poa Seng memandang kedua orang adiknya.
"Geledah kamarnya!"
Dua orang raksasa itu keluar dan menyeret Bibi Ciang untuk menunjukkan di mana kamar Bi Hwa.
Mereka mengobrak-abrik seluruh isi kamar, bahkan merobek kasur dan bantal untuk mencari peta itu.
Namun sia-sia belaka.
Mereka tidak dapat menemukan peta itu.
Sementara itu, di dalam kamar, Poa Seng juga merobek-robek semua pakaian yang menutupi tubuh Bi Hwa, untuk mencari kalau-kalau peta itu disembunyikan di dalam baju.
Namun diapun tidak berhasil.
Ketika Poa Leng dan Poa Teng kembali ke dalam kamar dan melaporkan kepada Poa Seng bahwa mereka tidak berhasil, tiga orang itu menjadi marah dan penasaran.
Mulailah mereka menyiksa Bi Hwa.
Namun, Bi Hwa tetap membisu dan kalau mengeluarkan suara, ia hanya berkata.
"Aku tidak tahu!"
Atau kadang-kadang malah ia memaki.
"Kalian ini iblis-iblis terkutuk, membunuh kekasihku yang tidak berdosa!"
Po-yang Sam-liong sampai kehabisan kesabaran.
Mereka itu menyiksa sejadi-jadinya, memperkosa Bi Hwa secara bergantian, menyayat kulitnya dan sampai keadaannya lebih banyak mati dari pada hidup, Bi Hwa tetap tidak mau mengaku dan mengatakan tidak tahu!
Setelah ia tidak mampu bersuara lagi, ia hanya menggeleng kepala dan pandang matanya penuh kebencian kepada tiga orang penyiksanya itu.
Po-yang Sam-liong menjadi semakin penasaran.
Akan tetapi mereka khawatir kalau sampai terjadi wanita ini tewas di tangannya sebelum mereka berhasil menemukan peta, maka mereka lalu menggulung tubuh yang sudah sekarat itu dengan selimut, lalu meninggalkan rumah pelesir itu.
Tentu saja Bibi Ciang dan para pelacur, juga para tukang pukul, menjadi geger dan dengan berita tentang diculiknya Bi Hwa oleh orang-orang jahat segera tersiar dengan luas.
Akan tetapi, tak seorangpun di antara para penghuni rumah pelesir itu berani mengatakan bahwa pelakunya adalah Po-yang Sam-liong!
Ketika Tok-sim Nio-cu menerima Po-yang Sam-liong yang membawa Bi Hwa yang sudah mendekati mati itu tanpa memperoleh hasil, Nio-cu mengerutkan alisnya dan menjadi marah sekali.
"Kalian ini benar-benar poa-gong (tolol)! Sudah kukatakan, jangan melakukan kekerasan sebelum berhasil! Lihat perempuan ini. Di tangannyalah rahasia peta itu, dan kalian membuatnya hampir mati sebelum ia mengaku di mana adanya peta itu! Hayo cepat rawat ia baik-baik sampai ia sembuh benar! Kalau sudah sembuh, nanti aku yang membujuknya."
Po-yang Sam-liong menggunakan segala daya untuk menyembuhkan kembali Bi Hwa.
Mereka tidak mengganggunya, memberi obat dan makan, melayaninya dengan sebaiknya.
Akan tetapi tiga hari kemudian, setelah kesehatan wanita itu agak membaik dan kekuatannya pulih, pagi-pagi mereka mendapatkan bahwa wanita itu telah membunuh diri di dalam pondok darurat yang mereka buat di hutan tepi telaga itu!
Bi Hwa menggantung diri dengan sabuknya sendiri setelah ia diberi pakaian lengkap oleh Po-yang Sam-liong!
Tentu saja Po-yang Sam-liong menjadi bingung dan ketika Nio-cu datang, iblis betina inipun marah bukan main.
"Dasar kalian yang kasar dan tolol! Aih, sungguh menyesal aku menyuruh kalian yang menyelidiki urusan ini. Kalian hanya menggagalkan urusan saja, bukan membantu!"
"Nio-cu, maafkan kami. Maksud kami hendak memaksa Bi Hwa mengaku, akan tetapi sungguh tidak kusangka bahwa ia begitu keras kepala, tidak mau mengaku dan menantang segala siksaan!"
Poa Seng mengepal tinju penuh penasaran dan penyesalan.
"Hemm, kalian hanya orang-orang kasar! Sudahlah, kalian boleh pulang. Akan tetapi ingat, bahwa kalian telah menjadi anak buah Beng-cu dan setiap waktu apa bila Beng-cu membutuhkan tenaga kalian, maka kalian harus siap untuk membantu."
"Baik, Nio-cu dan terima kasih."
Tok-sim Nio-cu meninggalkan tempat itu untuk memberi laporan kepada Siauw-bin Ciu-kwi. Tentu saja datuk ini merasa kecewa.
"Hemm, kenapa tidak kaubasmi saja Po-yang Sam-liong yang tolol itu, menggagalkan urusan saja!"
"Kedudukan dan kekuasaan mereka cukup kuat di daerah telaga, Beng-cu. Sayang kalau mereka dibasmi begitu saja. Mereka sekali waktu dapat berguna bagi kita, apa lagi mereka sudah kutaklukkan dan mengaku kekuasaan Beng-cu dan sudah berjanji untuk membantu,"
Bantah Tok-sim Nio-cu.
Kalau saja bukan Nio-cu yang telah dianggap gagal dalam tugasnya itu, tentu Siauw-bin Ciu-kwi akan marah besar dan menghukum pembantu yang gagal itu.
Akan tetapi, di samping sebagai pembantu, Tok-sim Nio-cu juga menjadi kekasihnya, seorang wanita yang amat pandai menyenangkan hatinya.
Sementara itu, para pembantu yang mendengar semua cerita Nio-cu, juga merasa penasaran.
"Beng-cu, biarkan aku yang pergi mencari peta itu. Mendengar cerita Nio-cu, aku yakin bahwa peta itu masih berada di sekitar Nan-cang dan Telaga Po-yang. Agaknya pelacur itu telah menyerahkannya kepada orang lain!"
Kata Pek I Kongcu Ciong Koan. Siauw-bin Ciu-kwi mengangguk-angguk.
"Baik, cari dan temukanlah, Kongcu!"
Julukan Pek I Kongcu ini telah demikian terkenal sehingga Beng-cu sendiri juga lebih suka menyebutnya Kongcu seperti juga para pembantunya.
Dengan penuh keyakinan akan kemampuan sendiri, Pek I Kongcu lalu berangkat untuk melaksanakan tugasnya.
Jejak itu masih jelas nampak, pikirnya.
Yang terakhir peta itu berada di tangan Bi Hwa, bagaimana mungkin dapat lenyap tanpa bekas?
Sudah jelas bahwa agaknya Bi Hwa telah menduga akan datangnya bahaya, maka ia segera menyingkirkan peta itu, dan ke mana lagi wanita itu menyembunyikannya kalau tidak menyerahkannya kepada orang lain?
Tentu seseorang yang amat dipercayanya, dan hal inilah yang harus dia selidiki.
Perahu itu meluncur sunyi di Telaga Po-yang.
Menjelang senja itu, telaga telah ditinggalkan orang dan hanya ada satu-dua buah perahu saja yang nampak di atas telaga, yaitu perahu para nelayan yang masih mencoba-coba mengadu untung dengan mengail ikan.
Setelah meluncur ke bagian tepi dekat hutan yang rimbun, perahu itu berhenti dan penumpang tunggalnya, seorang pria muda, segera melakukan persiapan memancing ikan.
Dia bukan seorang nelayan, juga beberapa buah perahu nelayan itu ditumpangi nelayan yang mengail dengan harapan tipis.
Kalau pria berpakaian putih di atas perahu itu seorang nelayan, tentu tidak sebesar itu semangatnya untuk mengail.
Semua nelayan di Telaga Po-yang tahu bahwa sekarang bukan musim mengail ikan, melainkan musim mencari uang melalui penyewaan perahu kepada para pelancong.
Di waktu hari cerah musim panas itu, telaga dibanjiri pelancong, bukan ikan.
Ikan-ikan.
itu sudah kenyang karena setiap hari, dari pagi sampai sore, para pelancong membuang banyak sisa makanan ke dalam telaga dan ikan-ikan itu berpesta pora pula sehingga setelah telaga itu ditinggalkan para pelancong, ikan-ikan yang kekenyangan itu sudah terlalu malas untuk mencari makanan di dekat permukaan air.
Beberapa orang nelayan yang mengadu untung itu agaknya memang amat kekurangan, atau mungkin hanya iseng, dari pada tidak ada yang dikerjakan sore itu.
Pria muda itu berusia kurang lebih duapuluh enam tahun.
Pakaiannya serba putih, sederhana namun bersih.
Wajahnya bersih dan tampan, juga amat sederhana dan dia lebih mirip seorang terpelajar yang miskin.
Tubuhnya sedang dan ketika dia bergerak melempar umpan di ujung mata kailnya, tubuh itu mengandung kelenturan.
Akan tetapi kalau orang menentang pandang matanya, ada sesuatu pada pandang mata yang berlawanan dengan kelembutan yang nampak pada mukanya, sesuatu yang amat kuat dan berwibawa, sinar mata yang kadang-kadang mencorong, akan tetapi selalu ingin bersembunyi di balik mata yang redup.
Bagaimanapun juga, lekukan di ujung dagunya membayangkan kekuatan hatinya, dan ada tahi lalat hitam kecil di lehernya sebelah kiri.
Sebuah buntalan kain berada di atas perahu kecil itu, buntalan yang agak panjang, terbuat dari kain hijau yang tebal dan kuat.
Hal ini menunjukkan bahwa dia seorang yang biasa melakukan perjalanan jauh dan buntalan itu adalah bekal dalam perjalanan, pakaian dan lain-lain.
Karena dia bukan nelayan, bukan pula penggemar kesenangan mengail yang biasa memancing di telaga itu, maka diapun tidak tahu bahwa sore hari seperti itu, ikan-ikan lebih senang bermalas-malasan di dasar telaga karena perut mereka sudah kenyang.
Dengan sabar dia memegangi joran pancingnya.
Akan tetapi setelah lewat setengah jam belum juga ada ikan yang menyambar umpannya, bahkan dia melihat ada bayangan ikan yang lumayan besarnya berenang tak jauh dari tali pancingnya tanpa memperdulikan bahwa ada orang yang memberi umpan enak, kesabarannya mulai menipis.
"Hemm, apakah umpannya yang tidak cocok dengan selera ikan-ikan di sini?"
Gerutu-nya.
Kembali ada bayangan ikan berenang di bawah permukaan air, ikan sebesar betisnya.
Cepat dia menarik jorannya dan menghadang ikan itu dengan umpannya.
Ikan itu hampir menabrak umpan, akan tetapi jangankan mencaplok umpan, bahkan menciumpun tidak, lewat begitu saja tanpa menoleh!
"Wah, ini namanya orang kelaparan diejek dan dipandang rendah oleh ikan!"
Dia mengomel lalu mengangkat pancingnya, membuang umpan di mata kail dan diapun bangkit berdiri di dalam perahunya, dengan joran di tangan tanpa tali dan pancing lagi.
Joran itu terbuat dari bambu dan ujungnya runcing, semacam bambu sebesar jari tangan yang kuat.
Matanya dengan tajam memandang ke permukaan air yang masih diterangi matahari senja yang kemerahan.
Apa yang dinanti-nantikanpun tiba.
Tidak perlu dia menanti terlalu lama seperti ketika mencoba menangkap ikan dengan pancing tadi.
Seekor ikan yang sebetis besarnya meluncur lewat, perlahan-lahan dalam jarak dua meter dari perahunya.
Seekor ikan yang kepalanya hitam dan ekornya kemerah-merahan, ketika berenang dan membelok, perutnya kelihatan keputihan.
Tangan yang memegang joran itu menegang, bergerak dan joran itupun meluncur seperti anak panah ke arah ikan.
"Ceppp......!"
Joran itu meluncur masuk ke dalam air.
Tentu tidak mengenai sasaran karena ikan dapat bergerak amat cepatnya di dalam air dan menangkap ikan secara demikian tentu saja jauh lebih sukar dari pada mengail seperti tadi!
Akan tetapi, joran itu muncul kembali dan diujungnya nampak ikan menggelepar, perutnya ditembusi ujung joran yang runcing!
"Ha-ha, terisi juga perutku yang lapar ini!"
Pria itu bicara seorang diri, mendayung perahunya mendekati jorannya dan meraih joran itu.
Ikan yang sebesar betis dan cukup gemuk.
Dia lalu menaruh ikan dan jorannya ke dalam perahu, mendayung perahu ke arah hutan.
Dari peristiwa itu saja mudah diduga bahwa pria muda itu bukanlah orang sembarangan.
Cara dia melempar joran dan tepat mengenai ikan yang sedang berenang di bawah permukaan air, membuktikan bahwa dia seorang yang amat pandai.
Dan memang hal ini benar adanya.
Pria itu bernama Tan Cin Hay dan di dunia persilatan, dia terkenal dengan julukan Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih).
Apa lagi ketika beberapa bulan yang lalu dia berhasil membasmi gerombolan penjahat di bawah pimpinan Hek-sim Lo-mo, seorang di antara Kiu Lo-mo yang terkenal jahat!
Hek-sim Lo-mo adalah seorang datuk besar dunia hitam yang amat lihai, dan dia dibantu oleh banyak tokoh-tokoh sesat yang memiliki kepandaian tinggi pula.
Namun, Pek-liong-eng Tan Cin Hay berhasil membasmi dan membunuh datuk itu dan semua pembantunya, bersama seorang pendekar wanita yang juga menjadi amat terkenal namanya.
Pendekar wanita itu adalah Hek-liong-li (Pendekar Wanita Naga Hitam) dan bernama Lie Kim Cu.
Pendekar Naga Putih ini tinggal di sebuah dusun yang sunyi di dekat kota Hang-kouw, di dekat Telaga See-ouw.
Kalau sekarang dia berada di Telaga Po-yang adalah karena dia sedang melakukan perantauan dan lewat dekat telaga itu.
Dia memang suka melancong di telaga, maka dia tidak melewatkan kesempatan itu untuk berpesiar di telaga ini dan sorenya, dia memancing ikan karena merasa perutnya lapar dan malas untuk makan di rumah makan.
Telaga Po-yang terkenal dengan ikan-ikan ekor merah yang kabarnya amat lezat dagingnya.
Pendekar ini adalah seorang laki-laki yang bernasib malang, menjadi korban kejahatan.
Dahulunya dia seorang putera guru yang hidup di dusun dan dia telah mempunyai seorang isteri yang amat dicintanya.
Ketika dia dan isterinya yang baru mengandung muda itu berpesiar naik perahu di Telaga See-ouw, muncullah orang-orang jahat yang hendak mengganggu isterinya.
Dia melakukan perlawanan, akan tetapi tidak ada gunanya.
Dia bahkan dipukul dan dilempar keluar perahu, hampir saja mati tenggelam.
Adapun isterinya ditangkap dan diperkosa sampai mati oleh para penjahat!
Dengan hati penuh dendam dan duka, Tan Cin Hay menjadi murid mendiang Pek I Lojin, seorang kakek sakti.
Setelah tamat belajar ilmu silat, dia menjadi seorang pemuda gemblengan yang tinggi ilmunya.
Dia menuntut balas, menghajar dan membunuh mereka yang pernah menghina, memperkosa dan membunuh isterinya, dan sejak itu dia menjadi seorang pendekar yang setiap saat siap untuk menentang kejahatan, membela kebenaran dan keadilan, membela rakyat kecil miskin yang menjadi korban penindasan, pemerasan dan kejahatan.
Pengalaman pertamanya sebagai pendekar yang paling hebat adalah ketika dia menentang gerombolan yang dipimpin Hek-sim Lo-mo, seorang di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua).
Dia berhasil membasmi gerombolan itu bersama Hek-liong-li, dan sejak itu, biarpun terpisah jauh, dia menjadi sahabat pendekar wanita itu dan saling berjanji bahwa kalau masing-masing menghadapi bahaya dan membutuhkan bantuan, mereka akan saling mengabari.
Demikianlah sedikit riwayat hidup Pek-liong-eng Tan Cin Hay yang pada senja hari itu seorang diri berada di Telaga Po-yang dan kini dia sudah mendarat sambil membawa seekor ikan gemuk sebesar betis.
Perahu kecil itu dia ikat dengan sebatang pohon dan dia sendiri lalu memasuki hutan, berhenti di tempat terbuka di mana rumputnya gemuk dan tempatnya bersih, dilindungi pohon besar dan terdapat banyak batu-batu yang enak dijadikan tempat duduk atau tidur karena batu-batu itu besar, rata dan bersih.
Tak lama kemudian, Liong-eng (Naga Putih) sudah duduk menghadapi api unggun yang terlindung antara dua batu besar, dan memanggang daging ikan segar!
Dari dalam buntalannya dia mengeluarkan garam dan sekedar bumbu, sehingga kini daging ikan yang sudah dibumbui itu mengeluarkan bau yang sedap, membuat perutnya yang sudah lapar itu terasa semakin lapar.
Dia masih mempunyai bekal roti kering yang cukup banyak.
Roti kering dan panggang ikan saja sudah lebih dari mencukupi untuk menenangkan perut lapar.
Ketika ikan itu hampir matang dan tinggal beberapa kali balikan lagi, tiba-tiba pendengaran Liong-eng yang terlatih dan amat tajam itu menangkap gerakan dan langkah orang menghampiri tempat itu.
Dia bersikap waspada, akan tetapi melanjutkan pekerjaannya seolah-olah tidak tahu bahwa ada orang menghampiri tempat itu.
"Siancai (damai)......! Sungguh dosamu besar sekali, orang muda! Engkau menjadi seorang penggoda yang amat kejam......!"
Liong-eng menengok dan dia melihat seorang kakek berusia enampuluh tahunan, berpakaian seperti seorang pendeta dengan rambut digelung ke atas.
Biarpun kakek itu mengeluarkan suara teguran, namun wajahnya lembut dan mulutnya tersenyum ramah, dan sepasang matanya itu ditujukan ke arah ikan yang masih dipegang dan dipanggangnya.
Tentu saja dia merasa heran mendengar teguran itu.
"Totiang, mengapa begitu? Apa dosaku, dan kenapa totiang mengatakan aku seorang penggoda kejam?"
KAKEK itu menghela napas, hidungnya kembang kempis dan diapun duduk di atas batu dekat Liong-eng, menikmati kehangatan api unggun yang mengusir nyamuk dan hawa dingin.
"Sejak pagi tadi pinto (aku) belum makan apapun. Perut ini terasa lapar dan tiba-tiba saja hidung ini mencium bau sedap ikan dipanggang sehingga perutku terasa semakin lapar dan tersiksa. Karena engkau yang membakar ikan, bukankah berarti engkau telah menggoda pinto dan menyiksa perut pinto? Alangkah besar dosamu, orang muda, kalau engkau tidak menebusnya dengan mengajak pinto makan malam."
Hampir Liong-eng tertawa bergelak mendengar ucapan itu, akan tetapi dia tidak mau bersikap tidak sopan mentertawakan seorang tosu (pendeta Agama To). Dengan hormat dia lalu berkata.
"Kalau memang totiang merasa lapar seperti juga aku, mari silakan makan malam bersamaku, totiang."
"Siancai......! Kalau begitu, tadi engkau bukannya menggoda, orang muda, melainkan sengaja memancing dan mengundang pinto makan malam. Terima kasih, terima kasih!"
Dengan segala senang hati Liong-eng lalu mempersilakan kakek itu duduk di dekat api unggun. Panggang ikan itu sudah matang dan diapun mengeluarkan buntalan roti kering.
"Silakan, totiang, mari kita makan seadanya!"
"Siancai...... terima kasih. Roti kering dan ikan panggang, diantar anggur dari He-nan. Sedaaap!"
"Sayang anggurnya tidak ada, totiang."
"Jangan khawatir, pinto masih menyimpan anggurnya, cukup untuk kita berdua. Anggur aseli He-nan, manis dan harum!"
Tosu itupun mengeluarkan sebuah guci anggur dari dalam buntalannya dan memang benar anggur itu mengeluarkan bau harum ketika dibuka tutupnya.
Isinya masih hampir penuh, lebih dari cukup untuk mereka berdua.
Begitu menggigit roti kering lalu disusul secuwil daging ikan yang masih panas, mengunyahnya, tosu itu berseru.
"Terima kasih kepada Tuhan! Sungguh Tuhan Maha Pengasih dan Pemurah! Belum pernah pinto makan selezat ini.......!"
Kembali Liong-eng tertawa, akan tetapi diapun melirik ke kanan karena kembali pendengarannya menangkap gerakan orang dari sana.
Cuaca sudah mulai gelap dan sinar api unggun itu terbatas sekali, tidak cukup menembus kegelapan malam yang tebal.
"Omitohud! Dua orang makan minum seenaknya tanpa memperdulikan seorang lain yang kelaparan. Apakah itu bukan suatu dosa besar? Semoga dosa besar itu diampuni, omitohud......."
Liong-eng menengok dan diapun tersenyum.
Kiranya yang bicara itu seorang hwesio yang usianya sebaya dengan pendeta tosu yang sedang duduk di dekatnya.
Hanya bedanya, kalau tosu itu menggelung rambutnya ke atas, hwesio ini mencukur gundul rambutnya.
Kalau tosu itu tinggi kurus, hwesio ini agak pendek dan gendut perutnya.
Keduanya sama-sama memakai pakaian pendeta yang sederhana.
Liong-eng cepat bangkit berdiri dan memberi hormat.
"Selamat malam, lo-suhu. Kalau lo-suhu lapar, silakan duduk dan makan malam bersama kami, makan malam seadanya, hanya roti kering, ikan panggang dan...... anggur manis milik totiang ini."
"Silakan, hwesio kelaparan! Ikan panggangnya lezat bukan main dan anggur pinto inipun manis dan enak. Silakan makan dan minum bersama! "Omitohud, terima kasih...... terima kasih, semoga Sang Buddha memberkahi anda berdua!"
Hwesio gendut itupun duduk di dekat api unggun, dan perut gendutnya itu agaknya tidak menjadi penghalang ketika dia duduk, bahkan dia lalu bersila dengan bentuk teratai, yaita kedua kaki di atas kedua paha.
Tanpa rikuh lagi, hwesio itu lalu mengambil roti kering dan memasukkannya ke mulutnya, dikunyah perlahan-lahan.
"Ini ikan panggangnya, lo-suhu. Silakan!"
Hwesio itu menggeleng kepalanya.
"Omitohud...... pinceng berpantang melakukan kekejaman dan kekerasan, apa lagi membunuh. Lebih-lebih makan daging! Tidak, pinceng cukup dengan ini saja!"
Dia mengeluarkan sebuah bungkusan yang ternyata adalah sayur asin! Dia makan roti kering dan sayur asin itu, nampak nikmat sekali.
"Hwesio, mari kauminum anggur pinto. Ini anggur He-nan aseli, enak segar dan manis!"
Tosu itu menawarkan anggurnya. Akan tetapi hwesio itu menolak sambil tersenyum ramah.
"Omitohud......! Pinceng berpantang minuman keras yang akan mengeruhkan pikiran. Pinceng minum ini saja, heh-heh!"
Dia mengeluarkan sebuah guci terisi air jernih dan minum air itu. Mereka makan minum tanpa berkata-kata lagi dan akhirnya mereka merasa kenyang. Hwesio itu mengelus perutnya yang gendut.
"Omitohud, pinceng mengucap syukur kepada Sang Buddha yang telah memberkahi kita semua!"
Tosu itupun menengadah, memandang langit yang dipenuhi bintang cemerlang.
"Pinto berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberkahi kita semua dengan segala keindahan dan kenikmatan dalam hidup ini! Sian-cai...... sungguh jarang ada manusia yang dapat menikmati hidup yang begini indah!"
Liong-eng diam-diam tertarik sekali.
Tanpa disangkanya, dalam perantauannya yang santai ini, dia bertemu dengan dua orang pendeta yang nampaknya sama-sama bijaksana, akan tetapi memiliki cara hidup yang berlainan sama sekali.
Karena itu, timbul suatu akal di dalam hatinya untuk mempertemukan keduanya ini dalam suatu percakapan atau perdebatan yang tentu akan menarik sekali.
Dia seorang yang cerdik dan dia tadi melihat bagaimana dua orang pendeta itu memiliki kebiasaan yang amat berbeda, bahkan berlawanan ketika mereka makan dan minum.
Tosu itu makan daging ikan dan minum anggur sebaliknya, hwesio itu tidak makan daging dan tidak minum minuman keras.
Akan tetapi keduanya sama-sama menikmati makanan dan minuman mereka, dan keduanya tetap bijaksana dan tidak saling mencela.
"Tempat inipun indah sekali untuk melewatkan malam,"
Kata Liong-eng.
"Enak sekali melepaskan lelah di atas batu-batu yang rata ini, terlindung oleh pohon-pohon besar. Membuat api unggun juga amat mudah karena banyak terdapat kayu kering."
"Omitohud, engkau betul, orang muda. Pinceng ingin beristirahat di sini untuk semalam ini."
"Pinto juga ingin menikmati malam ini di sini. Bertilamkan rumput, berdinding pohon"pohon, beratap langit dan berlampu sejuta bintang. Siancai...... adakah yang lebih nikmat dari pada ini?"
Liong-eng tertawa.
"Dan aku ingin sekali menambah pengetahuan tentang hidup ini dari totiang dan losuhu berdua, yakni kalau ji-wi (anda berdua) berkenan memberi wejangan kepadaku."
"Omitohud......, sudah sepatutnya yang kuat membantu yang lemah, yang pandai menuntun yang bodoh, yang tua menasihati yang muda."
"Siancai......, kalau pinto dapat memberikan sesuatu kepadamu, orang muda yang baik, pinto akan senang sekali. Daging ikan panggangmu tadi jauh lebih bermanfaat dari pada seratus wejangan kosong hampa, ha-ha!"
Mereka bertiga duduk di atas batu yang jaraknya ada dua meter satu sama lain sehingga mereka dapat bercakap-cakap dengan santai. Liong-eng lalu memulai dengan pancingannya.
"Ji-wi suhu adalah dua orang pendeta yang telah mengenakan jubah pendeta dan karena itu tentu telah memiliki kebijaksanaan dan keadaan hidupnya lain dari pada manusia biasa."
"Siancai......, apa bedanya pinto dengan orang lain? Pinto juga manusia biasa!"
"Omitohud......, benar apa yang dikatakan to-yu (sahabat) ini. Pinceng juga hanya manusia biasa."
"Akan tetapi, ji-wi (anda berdua) adalah seorang tosu dan seorang hwesio. Biarpun manusia biasa, telah memiliki pengetahuan luas tentang kehidupan dan kebatinan. Yang kuherankan adalah melihat perbedaan yang saling bertolak belakang antara ji-wi ketika kita bersama-sama makan dan minum tadi. Kulihat bahwa totiang makan daging ikan dan minum anggur, akan tetapi kulihat bahwa losuhu tidak makan daging dan tidak minum-minuman keras. Nah, yang ingin saya ketahui, mengapa ada perbedaan ini?"
Dua orang pendeta itu saling pandang. Api anggun masih bernyala besar sehingga hawa menjadi hangat dan sinar api cukup menerangi tempat itu sehingga mereka dapat saling melihat.
"Omitohud......! Hidup penuh penderitaan karena ulah manusia sendiri. Kami tidak makan daging karena melihat kenyataan bahwa daging mengandung rangsangan kepada tubuh, memperbesar nafsu hewani. Selain itu, kami pantang menyiksa, pantang menyakiti dan pantang kekerasan. Dengan demikian, mana mungkin kami harus membunuh binatang hanya untuk memuaskan selera dan nafsu hewani? "Adapun minum-minuman keras amat tidak baik untuk ketenangan batin, karena minuman keras merangsang otak, membuat orang menjadi mabok dan juga terikat. Kalau sudah melihat bahwa daging dan arak itu buruk untuk badan dan batin, mengapa kita harus memakannya dan meminumnya?"
Sambil berkata demikian, hwesio itu memandang kepada tosu di depannya, akan tetapi dengan senyum yang lebar dan ikhlas, sama sekali tidak mengejek atau menyalahkan walaupun mengandung tantangan untuk berdebat.
Liong-eng mendengarkan dengan gembira.
Pancingannya mengena dan dia menanti jawaban tosu itu.
"Siancai......, memang benar bahwa hidup penuh penderitaan karena ulah manusia sendiri! Alam sudah mempunyai aturan sendiri, sehingga aturan yang diadakan manusia kadang-kadang malah berlawanan dengan aturan alam dan ini menimbulkan kekacauan pada alam yang hanya merugikan manusia sendiri! "Pinto makan daging karena memang daging itu sudah diatur alam untuk menjadi makanan manusia. Alam juga mengatur bahwa ada beberapa macam daging yang tidak boleh dimakan, yang beracun dan yang berbahaya bagi kesehatan badan manusia. Kekerasan dan kebencian berada di dalam hati. Makan daging belum tentu berarti menyiksa atau berkeras hati! "Apakah makan sayur juga tidak berarti membunuh? Siapa berani mengatakan bahwa pada sayur-sayuran itu tidak terdapat benda-benda hidup dan bernyawa? Makan sayur berarti juga membunuh dan makan banyak sekali mahluk hidup dan bernyawa! Jadi sama saja! Yang penting adalah di dalam hati! Yang penting adalah kebijaksanaan dalam memilih daging apa yang patut dimakan untuk mengenyangkan perut dan mempertahankan hidup.
"Adapun tentang anggur...... ha-ha, alangkah bodohnya kalau tidak mau meminumnya! Anggur merupakan minuman yang amat menyehatkan. Tentu saja kalau terlalu banyak menjadi racun dan amat tidak baik. Segala sesuatu yang kita, makan atau minum, betapapun baiknya, kalau terlalu banyak tentu menjadi tidak baik! Minuman keras, kalau sedikit, menjadi obat, kalau terlalu banyak menjadi racun. Tergantung kepada kebijaksanaan kita sendiri, bukan? Bukan salah minumannya atau makanannya! Pinto sudah puluhan tahun minum arak atau anggur akan tetapi tidak pernah mabok dan tidak pernah kecanduan!"
"Omitohud...... apa yang dikatakan to-yu memang benar!"
Kata hwesio itu menyambut sehingga Liong-eng makin gembira, mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Tak dapat disangkal bahwa di dalam sayur, di dalam air, bahkan di dalam hawa udara ini terdapat banyak mahluk hidup dan bernyawa dan kalau kita makan sayur dan minum air, bahkan menghirup udara, kita sudah membunuh dan makan mahluk-mahluk hidup bernyawa yang amat kecil sehingga tidak nampak oleh mata. Akan tetapi, setidaknya kita membunuh mahluk kecil tak nampak, yang berarti kita melakukan pembunuhan tanpa disengaja. Tidak seperti kalau menyembelih sapi, babi atau ayam, sengaja kita sembelih dan kita makan dagingnya.
"Biarpun demikian, pinceng membenarkan pendapat to-yu bahwa segalanya yang menentukan adalah kebijaksanaan batin. Akan tetapi, bagaimana batin dapat menjadi bijaksana kalau batin dibiarkan menjadi hamba nafsu hewani? Nafsu akan menyeret batin sehingga batin selalu menjadi haus akan kesenangan badani! "Tepat sekali ucapan itu, to-yu! Ada dua macam dasar ketika kita makan daging, yang pertama dasarnya adalah kebutuhan hidup, dan yang kedua dasarnya adalah mencari kenikmatan atau keenakan. Orang yang mengejar kenikmatan, baik melalui makan daging atau melalui pertapaan sekalipun, keduanya menyimpang dari jalan kebenaran!"
Liong-eng mendengarkan dengan wajah berseri.
Biarpun dua orang pendeta ini bicara ramah dan agaknya seperti saling membenarkan, namun pada dasarnya, terdapat perbedaan cara atau pandangan dalam mengatur langkah hidup menuju kebenaran.
Dia ingin menyelidiki lebih mendalam lagi dan melihat betapa mereka seperti hendak menghentikan perdebatan itu, diapun melempar umpan lagi.
"Maafkan saya, ji-wi suhu. Saya adalah seorang yang masih bodoh dan tidak mengerti tentang kehidupan. Kalau mendengar uraian ji-wi tadi, saya dapat menarik kesimpulan bahwa yang menyeret manusia ke dalam kesengsaraan adalah perbuatan yang ditunggangi nafsu rendah. Begitukah?"
"Siancai, benar sekali, orang muda."
"Omitohud, memang demikianlah adanya,"
Sambung hwesio itu. Liong-eng mengangguk-angguk.
"Kalau begitu, biang keladi kesengsaraan manusia adalah nafsu-nafsu itu! Dari manakah datangnya nafsu-nafsu ini, ji-wi suhu?"
"Nafsu? Ha-ha, nafsu terlahir bersama kita, orang muda. Bukankah demikian, to-yu?"
"Omitohud, benar sekali. Nafsu terlahir bersama kita!"
Liong-eng mengerutkan alisnya.
"Totiang dan suhu, bukankah kita dilahirkan di dunia, sebagai manusia ini atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa?"
"Benar sekali!"
Kata dua orang pendeta itu hampir berbareng.
"Dan bukankah Tuhan Maha Kasih dan Maha Adil?"
"Benar sekali!"
Kembali keduanya mengangguk.
"Kalau begitu, mengapa Tuhan melahirkan kita disertai nafsu yang hanya akan menyeret kita ke dalam perbuatan jahat dan yang akibatnya membuat kehidupan penuh kesengsaraan?"
"Omitohud......, orang muda, buanglah jauh-jauh pikiran menyalahkan Tuhan itu!"
"Siancai......, Tuhan Maha Kasih. Tuhan telah mengatur segalanya dengan tertib, dengan sempurna. Segala sesuatu datang dari Dia dan kembali kepada Dia! Tuhan Maha Sempurna, tidak ada kesalahan setitik debupun, orang muda! Segala yang diciptakannya adalah sempurna, seperti Sang Penciptanya sendiri!"
"Tapi...... tapi... mengapa Dia menyertakan pula nafsu kepada kita? Bukankah nafsu hanya akan menyeret kita ke dalam kesengsaraan?"
Liong-eng membantah untuk memancing.
"Nafsu adalah nafsu, seperti juga benda dan mahluk lain. Tidak jahat dan tidak baik! Kalau bisa disebut buruk, sudah pasti ada kebaikannya. Di sinilah letaknya rahasia Im-yang. Mana bisa ada sebutan buruk kalau tidak ada sebutan baik? Kalau kita sudah mengatakan bahwa nafsu itu buruk, maka sudah pasti di lain pihak nafsu itu juga baik!"
Kata tosu itu.
"Akan tetapi, di mana letak kebaikannya, totiang?"
Liong-eng mengejar.
"Lihat, orang muda. Tanpa adanya nafsu, bagaimana mungkin kita dapat hidup di dunia ini? Ketika manusia terlahir sebagai bayi, dia belum mampu mempergunakan alat pikiran yang sudah ada padanya, karena itu, hanya nafsu yang membimbingnya agar dapat hidup. Dia sudah dapat membedakan mana enak mana tidak enak tanpa menggunakan pikirannya.
"Setelah dia mulai memiliki kemampuan menggunakan alat berupa akal pikirannya, maka nafsu menyusup dan bersatu dengan pikiran, membentuk si aku yang selalu ingin enak menurut apa yang pernah dialaminya. Dan kalau orang sudah diperhamba nafsu, maka dia akan selalu mengejar keenakan tanpa memusingkan hal-hal lain, dan pengejaran terhadap keenakan atau kesenangan inilah yang membuahkan perbuatan-perbuatan jahat, penyelewengan dan kejahatan!"
"Kalau begitu, nafsu itu jahat sekali!"
Seru Liong-eng.
"Dan tidak ada gunanya!"
"Siancai......! Jangan bilang begitu, orang muda. Tanpa ada nafsu, bagaimana mungkin kita hidup? Ingat, apa yang menyebabkan kita dapat merasakan enak kalau makan? Kalau mendengarkan sesuatu, melihat sesuatu, mencium sesuatu, apa yang membuat kita memperoleh kenikmatan dari pancaindera kita kalau bukan nafsu? Yang mendorong kita untuk hidup adalah nafsu. Tanpa nafsu, mana mungkin kita dapat hidup? "Omitohud......, ucapan itu benar sekali. Nafsu banya menjadi buruk kalau menjadi majikan dan memperhamba kita, akan tetapi menjadi suatu rahmat dan nikmat kalau kita yang memperhambanya. Nafsu seperti air dan api dan angin, menjadi hamba yang baik sekali akan tetapi menjadi raja yang amat bengis! Nafsu bagaikan kuda-kuda penarik kereta, kalau terkendali dapat membawa kereta kepada kemajuan, sebaliknya kalau tak terkendali dan kabur, dapat membawa kereta terjun ke dalam jurang!"
Kata hwesio itu.
Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih) itu tersenyum dan hatinya merasa girang bukan main.
Tidak percuma dia menjamu dua orang pendeta ini dengan hidangan yang amat bersahaja, akan tetapi sebagai imbalannya dia telah mendengarkan percakapan yang amat mendalam dan amat penting bagi pengertian hidupnya.
Dia memandang kedua orang pendeta itu dan tiba-tiba saja dia tertawa geli, tak tertahankan sehingga dua orang pendeta itu memandang kepadanya dengan mata bertanya-tanya.
"Eh, orang muda, apanya yang lucu?"
Tanya si tosu.
"Omitohud, engkaulah yang lucu, orang muda. Kami bicara serius tentang soal-soal kehidupan yang mendalam, engkau malah tertawa seperti melihat dan mendengarkan celoteh dua orang badut di panggung!"
Sambung si hwesio dengan senyum polos, sama sekali tidak merasa tersinggung.
Pendekar Naga Putih adalah seorang yang bukan saja gagah perkasa, memiliki ilmu silat yang tinggi, akan tetapi dia juga pandai dalam ilmu sastra dan sudah banyak mempelajari buku-buku suci dan tahu tentang tata susila dan kebudayaan.
Maka diapun menginsyapi sikapnya yang kurang patut itu maka cepat dia berdiri dan memberi hormat dengan bersoja kepada mereka berdua.
"Harap ji-wi (kalian berdua) suka memaafkan sikap saya yang lancang dan kurang patut. Akan tetapi entah mengapa, tiba-tiba saja saya ingin tertawa dan merasa geli, yaitu setelah melihat keadaan tubuh ji-wi."
"Siancai......! Ada apakah dengan tubuhku yang tinggi kurus ini?"
"Omitohud, agaknya tubuh pinceng yang pendek gendut ini yang nampak lucu?"
Sambung si hwesio.
"Sekali lagi maaf, ji-wi losuhu dan totiang, karena entah bagaimana, melihat bentuk tubuh ji-wi, mendadak saya menjadi geli dan ingin sekali tertawa. Totiang suka makan daging akan tetapi bertubuh kurus sebaliknya losuhu yang tidak makan daging, hanya makan sayur, mengapa malah gemuk? Sungguh keadaan yang amat terbalik dan lucu!"
Akan tetapi sekali ini Pek-liong-eng Tan Cin Hay tidak tertawa lagi karena dia sudah mampu menguasai perasaan hatinya. Tosu itu tertawa.
"Ha-ha-ha, apanya yang aneh, orang muda? Memang sudah semestinya begitu. Lihat saja, harimau yang suka makan daging itu tubuhnya kuat dan perutnya kecil, termasuk kurus. Sebaliknya kerbau yang hanya makan rumput dan daun-daunan, perutnya gendut! Ha-ha-ha!"
Hwesio itupun tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, omitohud! Engkau hendak memaki pinceng seperti kerbau, to-yu? Kalau ingin memaki, langsung saja, kenapa harus berbelok-belok? He, orang muda, mengapa engkau tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Lihat saja. Semua binatang yang makan sayur dan rumput saja merupakan binatang yang memenuhi segala segi kebaikan.
"Yang paling kuat di antara binatang? Gajah dan gajah pemakan rumput dan sayur, tak pernah makan daging! Yang paling tangkas dan cepat? Kuda, juga pemakan sayur dan rumput, tidak makan daging. Yang paling berguna bagi manusia? Kerbau, lembu, kambing, kesemuanya tidak makan daging, hanya rumput dan daun-daunan. Burung apa yang paling indah dan paling suaranya? Burung-burung yang tidak pernah makan daging, melainkan makan biji-bijian.
"Semua binatang yang tidak makan daging pada umumnya lembut dan baik, jinak dan tidak pernah buas. Sekarang lihat binatang yang makan daging! Paling buas dan liar? Harimau, pemakan daging. Paling licik dan menjijikkan? Ular, pemakan daging. Dan burung-burung pemakan daging amat buruk dan suaranya mengerikan, seperti burung gagak, burung pemakan bangkai, dan lain-lain!"
Tosu itu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, memang engkau ini pandai sekali to-yu. Tapi bagaimanapun juga, pinto lebih suka menjadi seekor harimau yang perkasa dari pada seekor babi gemuk!"
Melihat suasana menjadi panas dan tidak enak. Pek-liong-eng cepat melerai dan memberi hormat.
"Sudahlah, harap ji-wi suka menghentikan percakapan mengenai makan daging dan makan sayur ini. Saya yang tadi bersalah menyinggung soal itu. Akan tetapi, kita bertiga sudah makan minum bersama, bercakap-cakap dengan akrab, akan tetapi belum saling mengenal nama......"
"Siancai......! Apa sih artinya nama, kedudukan dan penggolongan perorangan? Semua itu hanya mendatangkan garis pemisah di antara manusia!"
"Omitohud, tepat sekali ucapan itu! Begitu ada nama, maka si anu bermusuhan dengan si anu, golongan dengan golongan, bangsa dengan bangsa. Penggunaan nama adalah suatu kebodohan!"
Sambung si hwesio sambil tersenyum lebar. Pek-liong-eng juga tersenyum.
"Biarlah saya masuk ke dalam golongan yang bodoh saja karena saya ingin sekali mengenal nama ji-wi agar saya tahu dengan siapa saya berhadapan. Saya sendiri bernama Tan Cin Hay, tinggal di dusun luar kota Hang-kouw dekat Telaga See-ouw......"
"Omitohud, kiranya engkau adalah Pek-liong-eng, pendekar besar itu?"
Seru si hwesio.
"Tak salah lagi,"
Sambung si tosu.
"Pinto (aku) pun sudah mendengar akan nama besar pendekar muda yang telah menghancurkan gerombolan Hek-sim Lo-mo!"
Pek-liong-eng tersenyum.
Tak disangkanya bahwa namanya yang sebenarnya belum begitu dikenal itu telah menjadi terkenal karena sepak terjangnya membasmi Hek-sim Lo-mo bersama Hek-liong-li!
Diapun memberi hormat dengan sikap merendah.
"Saya yang muda dan belum banyak pengalaman masih mengharapkan banyak petunjuk dari ji-wi. Kalau boleh saya mengetahui, siapakah nama dan julukan totiang?"
Tanyanya kepada si tosu.
"Omitohud, siapa lagi tosu rakus ini kalau bukan Tiong Tosu?"
Seru si hwesio gendut. Tosu itu tertawa.
"Memang benar pinto di-sebut Tiong Tosu tanpa julukan apapun, dan hwesio gendut pemakan rumput ini tentulah Yong Hwesio!"
Hwesio itupun tertawa dan diam-diam Pek-liong-eng Tan Cin Hay terkejut.
Biarpun dua nama itu sederhana saja, namun pernah dia mendengar akan nama mereka sebagai orang-orang yang amat pandai, sambil beribadah mereka berkelakar, sambil berkelakar mereka menentang kejahatan dan membikin gentar nama para penjahat di sepanjang pantai utara sampai ke selatan!
Cepat dia memberi hormat kepada kedua orang pendeta itu.
"Ah, kiranya saya berhadapan dengan dua orang locianpwe yang nama besarnya menggetarkan kolong langit!"
Katanya dengan kagum.
Dua orang pendeta itu saling pandang dan tertawa geli.
Tiong Tosu yang tinggi kurus itu memandang kepada Pek-liong-eng dengan penuh perhatian, mengamati dari kepala sampai ke kaki, agaknya terheran dan sukar dapat percaya bahwa pemuda ini mampu membasmi seorang datuk besar seperti Hek-sim Lo-mo yang merupakan seorang di antara Kiu Lo-mo atau Sembilan Iblis Tua yang merupakan datuk-datuk besar sakti.
"Tidak ada gunanya kita saling puji dan saling merendah. Taihiap adalah seorang yang gagah perkasa dan berhasil menumbangkan kekuasaan Hek-sim Lo-mo yang amat jahat dan sakti. Pinto kagum dan tunduk. Kalau boleh kami ketahui, urusan apakah yang membawa taihiap dari Telaga See-ouw datang ke Telaga Po-yang ini?"
"Pinceng (aku) juga ingin sekali tahu, karena kalau muncul seorang pendekar seperti Tan Taihiap, tentu akan terjadi urusan besar!"
Sambung Yong Hwesio yang gendut. Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih) atau disingkat Pek-liong (Si Naga Putih) terse-nyum.
"Terus terang saja, ji-wi lo-cianpwe. Saya tidak mempunyai urusan tertentu di Telaga Po-yang ini. Saya sedang menganggur di rumah dan merasa kesal, maka saya melakukan perjalanan merantau dan setiba saya di tempat ini, hati saya tertarik dan saya berperahu mencari ikan. Tiada kepentingan khusus dan kalau tidak terjadi sesuatu, besok pagi saya akan melanjutkan perjalanan meninggalkan telaga ini. Nah, saya sudah berterus terang. Tidak tahu apakah ji-wi juga mau berterus terang? Tentu kalau dua orang tokoh besar seperti ji-wi datang ke telaga ini, dapat dipastikan ada sesuatu yang menarik."
Tiong Tosu menghela napas panjang dan dia memandang ke arah tengah telaga.
Bulan telah menerangi permukaan telaga.
Air telaga itu tenang dan sama sekali tidak bergerak, memantulkan bulan dan sinarnya, nampak indah bukan main, sunyi dan juga penuh rahasia.
"Telaga ini menyembunyikan rahasia besar,"
Kata Tiong Tosu, suaranya dalam dan penuh kesungguhan, matanya tak pernah berkedip memandang ke tengah telaga, seolah dia mengharapkan munculnya mahluk aneh dari sana dengan tiba-tiba.
"Pinto mendengar dongeng menarik sekali tentang telaga ini dan untuk itulah maka pinto kini datang ke sini."
"Nanti dulu, Tiong Tosu! Apakah dongengmu itu ada hubungannya dengan Patung Emas?"
Tosu itu terbelalak memandang kepada hwesio gendut.
"Yong Hwesio, jadi engkau sudah tahu?"
"Omitohud, tentu saja. Justeru untuk itulah pinceng datang ke sini. Akan tetapi lanjutkan ceritamu, nanti giliran pinceng bercerita."
Tosu itu mulai bercerita, didengarkan penuh perhatian oleh Pek Liong dan Yong Hwesio.
Dongeng itu menceritakan tentang Kerajaan Cin pada kurang lebih delapanratus tahun yang lalu.
Raja besar Cin Si Huang-ti adalah seorang raja yang keras dan aneh, yang suka dan percaya akan ilmu-ilmu gaib dan kesaktian-kesaktian.
Bahkan dia berguru kepada banyak pertapa sakti dengan maksud untuk mencari ilmu menentang maut, yaitu ingin hidup abadi di dunia ini!
Menurut dongeng itu, pada suatu hari dia mendaki Gunung Thai-san di Shan-tung, dan di situ dia bertemu dengan seorang pertapa yang memberikan beberapa butir pel panjang usia kepadanya!
Menurut dongeng, siapa yang minum pel itu, setiap butir, usianya akan bertambah empatpuluh tahun!
Cin Si Huang-ti menerima duapuluh butir, berarti dia akan dapat menambah umurnya selama delapanratus tahun!
Akan tetapi, menurut pertapa itu, pel itu baru ada khasiatnya dan manjur kalau dibiarkan menghisap sari air Telaga Po-yang selama sepuluh tahun!
Cin Si Huang-ti lalu kabarnya menyembunyikan obat-obat penentang maut itu dalam sebuah patung emas dan kabarnya patung emas itu disembunyikan di sekitar telaga, atau mungkin di dalam telaga!
Dan ada berita angin pula bahwa selain obat itu, disimpan pula harta karun yang amat besar jumlahnya.
Akan tetapi seperti diketahui dari sejarah, Cin Si Huang-ti meninggal dunia sebelum minum obat itu, bahkan dia meninggal dalam usia yang masih belum tua benar, di bawah limapuluh tahun!
"Dongeng itulah yang membawa pinto datang ke sini,"
Tiong Tosu mengakhiri cerita-nya.
"Dan ada berita lagi bahwa setelah raja itu mati, muncul sebuah peta yang katanya menunjukkan di mana adanya patung emas yang disembunyikan itu."
Pek-liong mendengarkan dengan hati tertarik.
Dongeng yang nampak menarik dan bagus karena diceritakan di tepi Telaga Po-yang, pada hal dalam dongeng itu disebutkan bahwa harta dan obat sakti itu disembunyikan di sekitar Telaga Po-yang!
"Omitohud......
sungguh kebetulan sekali!
Kedatangan pinceng ke sini justeru ada hubungannya pula dengan peta rahasia penyembunyian patung emas itu!"
"Eh, bagaimana bisa serba kebetulan itu. Ceritakan, Yong Hwesio!"
Kata Tiong Tosu dan Pek-liong mendengarkan semakin tertarik.
"Tak jauh dari telaga ini terdapat sebuah kuil kecil. Pinceng mengenal baik ketuanya. yaitu Loan Khi Hwesio. Baru-baru ini pinceng kedatangan seorang hwesio dari kuil itu yang minta pertolongan pinceng untuk mencari Loan Khi Hwesio yang katanya diculik orang jahat!"
"Wah? Untuk apa orang jahat menculik seorang hwesio tua?"
Tiong Tosu berseru kaget dan heran, hampir tidak percaya.
"Menurut keterangan para hwesio, pada suatu hari datang empat orang penjahat ke kuil mereka dan dengan paksa membawa Loan Khi Hwesio. Para hwesio di kuil itu, sebanyak lima orang, melawan akan tetapi mereka semua roboh terluka. Loan Khi Hwesio mereka culik dan tidak pernah kembali ke kuil."
"Eh, Yong Hwesio, apa hubungannya ceritamu tentang penculikan Loan Khi Hwesio itu dengan urusan peta patung emas?"
Tanya Tiong Tosu, mengerutkan alisnya.
"Hubungannya dekat sekali karena Loan Khi Hwesio itulah yang tadinya menjadi pemilik peta patung emas."
"Siancai......!"
"Ahhh......!"
Pek-liong menjadi semakin tertarik sedangkan Tiong Tosu terbelalak memandang kepada Yong Hwesio.
"Sungguh suatu kebetulan yang menarik sekali!"
"Siapakah orang-orang jahat yang menculik Loan Khi Hwesio itu?"
Tanya Tiong Tosu.
"Tidak ada yang mengetahuinya, hanya para hwesio itu menceritakan bahwa mereka itu orang-orang kasar yang amat lihai dan mereka mengatakan bahwa mereka membawa Loan Khi Hwesio untuk dihadapkan kepada Beng-cu mereka.
"Dan...... peta itu......?"
Pek-liong bertanya.
"Sabarlah, Tan Taihiap. Akan pinceng ceritakan semua. Menurut keterangan para hwesio kuil itu, Loan Khi Hwesio yang memiliki peta itu tidak lagi membawa peta itu dengannya, karena peta itu telah dia berikan kepada orang lain, seorang dermawan yang suka menderma kepada kuil. Dan sekarang berita yang paling aneh dan amat mengguncang perasaan pinceng. Yaitu, selagi Loan Khi Hwesio sendiri belum diketahui bagaimana nasibnya, dermawan itu telah kedapatan mati terbunuh di atas perahu sewaannya di Telaga Po-yang!"
"Siancai......!"
Tiong Tosu berseru dan Pek-liong juga terkejut. Sungguh amat menarik dan penuh rahasia.
"Dermawan itu bernama Thio Kee San, seorang pemilik perahu sewaan di Telaga Po-yang. Pada suatu pagi dia kedapatan tewas terbunuh di atas perahunya. Tidak ada yang tahu siapa yang membunuhnya, hanya ada kabar bisik-bisik bahwa malam itu perahunya dipakai oleh Po-yang Sam-liong, yaitu tiga orang jagoan yang menguasai Po-yang."
"Dan peta patung emas itu tadinya berada pada Thio Kee San?"
Tanya Pek-liong.
"Hal itu siapa yang mengetahuinya, taihiap? Mungkin dia bawa, mungkin pula tidak. Akan tetapi, para hwesio itu menceritakan hal lain yang lebih aneh, yaitu bahwa di kota Nan-cang, tak jauh dari sini, terjadi keributan di rumah pelacuran yang bernama Rumah Merah. Po-yang Sam-liong di rumah pelesir itu, mengamuk dan menangkap seorang pelacur bernama Bi Hwa, menyiksanya kemudian membawa pergi entah ke mana. Menurut keterangan para penghuni rumah pelesir itu, Po-yang Sam-liong bertanya apakah Bi Hwa itu kekasih dari mendiang Thio Kee San."
"Siancai, tentu ada hubungannya dengan peta rahasia itu! Agaknya mereka tidak dapat menemukan peta itu pada Thio Kee San, lalu mereka mencari orang yang paling disayang oleh Thio Kee San, maka mereka menyangka bahwa peta itu disimpan oleh pelacur Bi Hwa. Aih, lalu apa yang terjadi dengan Bi Hwa?"
"Sampai kini tidak ada yang tahu. Bi Hwa lenyap seperti juga Loan Khi Hwesio,"
Kata Yong Hwesio.
"Ini menurut penuturan para hwesio di kuil itu."
Tiba-tiba Pek-liong memberi isyarat kepada dua orang pendeta itu untuk menghentikan percakapan.
Sebuah perahu besar meluncur di tepi telaga itu, dan di atas perahu itu kelihatan ada lima orang laki-(Lanjut ke
Jilid 18) Sepasang Naga Penakluk Iblis (Seri ke 01-Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo
Jilid 18 laki tinggi besar yang agaknya mengamati mereka bertiga yang duduk di daratan tepi telaga.
Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan seekor kuda tinggi besar yang ditunggangi seorang laki-laki muda lewat pula dekat mereka.
Penunggang kuda ini tentu mahir sekali menunggang kuda.
Di malam hari begini dia berani menunggang kuda dengan cepat dan cara dia duduk tegak di atas pelana kuda juga membuktikan kemahirannya.
Di bawah sinar bulan yang cukup terang, Pek-liong melihat bahwa penunggang kuda itu seorang laki-laki muda yang tampan dan gagah, berpakaian serba putih seperti dia, hanya bedanya, kalau dia berpakaian secara sederhana saja, pria itu mengenakan pakaian putih dari sutera tersulam dan sepatunya mengkilat.
Juga sebatang pedang tergantung di punggungnya, seperti juga lima orang laki-laki tinggi besar yang naik perahu itu, si penunggang kuda juga menoleh ke arah mereka dan mengamati mereka penuh perhatian dengan pandang matanya yang bersinar tajam.
Tiong Tosu dan Yong Hwesio saling pandang.
"Agaknya kebetulan saja mereka itu lewat,"
Kata Tiong Tosu dan Yong Hwesio mengangguk.
"Bagaimanapun juga, pinceng tidak dapat mendiamkan saja Loan Khi Hwesio lenyap diculik orang. Pinceng mendapat perasaan buruk bahwa dia sudah tewas."
"Siancai......, agaknya engkau benar, Yong Hwesio. Pinto juga mempunyai perasaan bahwa pelacur bernama Bi Hwa yang lenyap dibawa orang itupun agaknya telah tewas. Lalu, apa yang akan kaulakukan?"
"Omitohud, pinceng harus menyelidiki. Bukan hanya untuk merebut peta itu, karena pinceng tidak membutuhkan semua harta benda itu, melainkan terutama sekali untuk menyelidiki bagaimana nasib Loan Khi Hwesio. Biarpun para hwesio tidak mengenal empat orang penyerbu itu dan mereka itu bukan Po-yang Sam-liong, namun jelas bahwa Po-yang Sam-liong, mempunyai kaitan dengan peristiwa itu. Maka, pinceng hendak mencari Po-yang Sam-liong dan minta keterangan dari mereka!"
"Siancai......! Itu bagus sekali dan pinto akan membantumu, Yong Hwesio. Kita berdua adalah orang-orang tua yang tidak membutuhkan harta benda, akan tetapi demi menentang kejahatan dan kekejaman, kita harus bertindak."
"Bagus, Tiong Tosu. Pinceng sudah lama mendengar akan sepak terjangmu, dan senang sekali bekerja sama denganmu sekali ini!"
Kata Yong Hwesio dengan gembira sekali. Melihat kegembiraan dua orang tua itu, diam-diam Pek-liong merasa kagum, akan tetapi juga khawatir.
"Saya harap ji-wi locianpwe (kedua orang tua perkasa) suka berhati-hati. Menurut pendapat saya, lima orang dalam perahu dan si penunggang kuda bukan kebetulan saja lewat di sini. Cara mereka memandang ke arah kita sungguh tidak sewajarnya. Saya juga mempunyai perasaan bahwa ada kekuatan besar tersembunyi di balik semua peristiwa itu dan mungkin saja mereka yang disebut Po-yang Sam-liong itu hanyalah anak buah belaka."
"Hemm, bagaimana taihiap bisa memperoleh pendapat seperti itu?"
Tanya Yong Hwesio.
"Seperti yang locianpwe ceritakan tadi, Loan Khi Hwesio diculik dan tidak nampak kembali"
Demikian pula Bi Hwa diculik oleh Po-yang Sam-liong dan tidak pernah kembali, sedangkan orang she Thio itu dibunuh di atas perahunya.
Andaikata yang mengejar peta itu empat orang penyerbu kuil atau juga Po-yang Sam-liong, tentu mereka tidak akan menculik orang.
Kalau mereka menculik, itu hanya berarti bahwa mereka tidak dapat mengambil keputusan sendiri dan membawa para korban ttu kepada atasan mereka!"
"Siancai......! Ada benarnya juga keterangan Tan Taihiap ini!"
Kata Tiong Tosu.
"Ini hanya perkiraan saya saja, belum tentu benar. Betapapun juga, saya hanya mengharap agar ji-wi suka berhati-hati."
"Bagaimana dengan engkau sendiri, Taihiap? Bagaimana kalau engkau suka pula bergabung dengan kami dan melakukan penyelidikan bersama?"
Pek-liong memang sudah tertarik sekali. Akan tetapi dia tidak pernah bekerja sama dengan orang lain, kecuali tentu saja dengan Hek-liong-li.
"Terima kasih, saya kira ji-wi berdua sudah lebih dari cukup untuk membongkar rahasia itu. Saya...... ah, mungkin saya akan memperpanjang tinggal saya di daerah ini. Telaga ini memang menarik sekali, banyak rahasianya,"
Katanya.
Tiba-tiba ketiganya berloncatan bangun dari tempat duduk di atas batu dan rumput.
Sambil melompat mereka sudah mengelak dan ternyata ada tiga batang piauw, yaitu senjata rahasia runcing menyambar ke arah mereka.
Untung bahwa mereka bertiga adalah ahli-ahli silat yang sudah lihai, maka dengan mudah mereka mampu menghindari dari serangan gelap itu.
Pek-liong sudah berkelebat ke kiri untuk menangkap orang yang telah menyerang mereka.
Tiga batang piauw itu tadi menyambar dari kiri, dari balik sebatang pohon besar.
Akan tetapi, dia hanya melibat berkelebatnya bayangan putih disusul derap kaki kuda yang lari menjauh.
Dia kagum bukan main.
Si penunggang kuda baju putih itu ternyata mampu bergerak luar biasa cepatnya.
Mengejar di dalam hutan itu tidak ada gunanya, apa lagi di malam hari.
Dia tidak mengenal daerah itu.
Maka diapun kembali dan menghampiri dua orang pendeta yang masih berdiri di situ.
"Dia adalah si penunggang kuda tadi. Dapat berlari cepat dan melarikan diri dengan kudanya,"
Kata Pek-liong.
"Nah, sekarang terbukti kekhawatiranku tadi. Harap ji-wi berhati-hati sekali. Baru si penunggang kuda putih itu tadi saja sudah lihai bukan main! Pertama, dia mampu melepaskan tiga batang piauw sekaligus ke arah kita dan lemparannya tadi cukup bertenaga. Lihat, ini yang sebatang menancap di sini!"
Dia mencabut sebatang piauw yang menancap hampir masuk semua ke dalam sebatang pohon. Piauw itu tercabut dan di bawah sinar bulan, Pek-eng mengamati.
"Ahh, piauw ini bukan saja dilempar dengan kecepatan tinggi tanda bahwa pelemparnya bertenaga besar, akan tetapi juga ujungnya mengandung racun berbahaya dan mematikan. Serangan tadi dimaksudkan untuk membunuh kita! Dan kedua, orang itu memiliki gin-kang yang amat tinggi sehingga ketika saya tadi mengejar, dia sudah lari jauh."
Dua orang pendeta itu saling pandang lalu mengangguk-angguk, kemudian mereka berpamit.
"Terima kasih atas peringatan Taihiap. Setelah terjadi serangan tadi, kami berpikir untuk memulai dengan penyelidikan kami sekarang juga!"
Kata Yong Hwesio.
"Benar sekali, Taihiap. Kami akan pergi ke bandar dan di sana mencari keterangan tentang Po-yang Sam-liong, di mana mereka tinggal dan sebagainya."
Pek-eng membalas penghormatan mereka.
"Selamat jalan dan selamat bekerja, ji-wi lo"cianpwe. Akan tetapi sekali lagi, harap ji-wi berhati-hati."
Dua orang pendeta itu membawa buntalan mereka dan meninggalkan tempat itu, diikuti pandang mata Pek-eng yang diam-diam mengkhawatirkan keselamatan mereka berdua.
Akan tetapi, tentu saja tidak mungkin dia harus menjaga keselamatan semua orang, apa lagi dua orang pendeta itu bukan orang sembarangan dan sudah memiliki tingkat kepandaian yang tinggi.
Hal ini sudah dibuktikan melihat cara mereka tadi menghindarkan diri dari sambaran piauw, demikian cekatan dan mudah sekali.
Tidak sembarang penjahat saja akan mampu mengalahkan mereka, apa lagi kalau mereka maju bersama.
Pagi itu indah sekali.
Sinar matahari sudah membakar langit di timur, mula-mula sinarnya kemerahan, makin lama semakin pucat dan akhirnya putih seperti perak dan menyilaukan mata.
Tadinya cahaya kemerahan ikut membakar permukaan telaga yang tenang, kemudian permukaan itupun menjadi putih menyilaukan dan setelah matahari muncul di ufuk timur, bayangan matahari kemerahan terpantul di situ.
Karena air demikian diam, matahari itu seperti sebutir bola kemerahan besar yang tenggelam ke dasar telaga.
Makin terang, makin terbentuklah suatu garis putih kemilau di permukaan air.
Bukit-bukit di sekeliling telaga muncul dari kegelapan, pohon-pohon nampak segar menghijau, bagaikan puteri-puteri yang baru saja mandi.
Butir-butir embun di ujung daun bagaikan mutiara berkilauan di ujung telinga puteri jelita.
Burung-burung sudah sibuk sekali.
Mahluk yang paling sibuk ini menyambut datangnya hari dengan kicau yang hiruk pikuk, bagaikan sekelompok wanita genit yang siap-siap pergi ke pasar.
Sambil berkicau mereka beterbangan dan berloncatan dari dahan ke dahan, seolah-olah hendak meninggalkan pesan yang cerewet sebelum berangkat bekerja.
Akhirnya, berkelompok-kelompok mereka itu berangkat bekerja!
Mencari makan!
Pek-liong-eng Tan Cin Hay menikmati keindahan alam ini.
Pagi-pagi sekali dia sudah terbangun dari tidurnya yang nyenyak di tepi telaga, lalu menuju ke tengah telaga dengan perahu kecilnya, mendayung seenaknya dan setelah tiba di tengah telaga, dia membiarkan perahunya bergerak sendiri menurut aliran air yang lemah.
Angin bersilir lembut sehingga permukaan telaga tidak terlalu terpengaruh.
Tiba-tiba Pek-liong-eng sadar dari lamunannya.
Lorong perak yang dibuat matahari di permukaan telaga itu terguncang dan terputus.
Sebuah perahu meluncur dengan cepatnya.
Dia mengangkat muka memandang dan diapun terpesona.
Pandang matanya bertemu dengan wajah yang amat manis, bentuk tubuh yang amat menggairahkan, dari seorang gadis yang usianya paling banyak sembilanbelas tahun!
Gadis itu mengenakan baju luar semacam mantel atau jubah yang lebar, diselimutkan menutupi tubuhnya.
Namun karena di bagian pinggangnya diikat dengan tali sutera, maka masih nampak bentuk tubuhnya yang menggairahkan.
Rambutnya digelung ke atas dan diikat kuat-kuat, wajahnya tanpa bedak dan gincu, nampak segar dan wajar.
Ia berdiri di tengah perahu sambil bertolak pinggang, tak bergerak bagaikan sebuah patung yang indah.
Jelas bahwa gadis ini sudah biasa berperahu, karena cara ia berdiri tegak dan dapat mengimbangi gerakan perahu itu saja sudah membuktikan bahwa ia pandai menguasai diri di atas perahu.
Perahu itu didayung oleh seorang pemuda yang usianya duapuluh dua tahun kurang lebih, seorang pemuda yang bertubuh tegap dan berwajah tampan pula.
Dan pemuda itu dapat dikata telanjang, karena hanya sebuah celana pendek seperti cawat saja yang menutupi tubuhnya.
Nampak betapa otot-otot tubuhnya yang kekar itu menonjol ketika dia mendayung perahu, dan kulitnya yang agak kecoklatan itu menunjukkan bahwa dia banyak membiarkan kulit tubuhnya ditimpa sinar matahari.
Tubuh yang amat sehat, penuh dengan gairah hidup, segar dan kokoh kuat.
"Hemm, pasangan yang serasi sekali,"
Pikir Pek-liong sambil mengelus dagunya mengikuti perahu itu dengan pandang matanya.
Entah mengapa dia sendiri tidak tahu, akan tetapi kedua tangannya seperti otomatis menggerakkan dayungnya dan perlahan-lahan diapun mengikuti perahu yang meluncur cepat ke arah utara itu.
Dia melihat perahu di depan itu berhenti tak jauh dari pantai di ujung utara yang amat sunyi.
Memang telaga itu amat sunyi pagi itu.
Masih terlalu pagi bagi para pelancong, dan terlalu siang bagi nelayan penangkap ikan.
Hanya jauh di bandar terdapat banyak perahu yang belum dijalankan, akan tetapi bandar yang berada di ujung selatan itu terlalu jauh sehingga tidak nampak dari situ.
Perahu di depan itu membuang jangkar.
Hal ini saja menunjukkan bahwa perahu itu akan lama berhenti di situ.
Apakah mereka hendak mengail ikan?
Ataukah......
dua orang muda yang sedang berpacaran dan mencari tempat sunyi?
Berpikir demikian, berdebar rasa jantung Pek-liong dan mukanya berubah merah.
Ih, celanya kepada diri sendiri, mengapa engkau mendadak menjadi iri hati?
Tak tahu malu!
Dia lalu memutar perahunya, karena dia tidak ingin mengganggu orang yang hendak berpacaran.
Bagaimanapun juga, tak dapat dia menahan diri untuk tidak melirik ke arah perahu mereka.
Wah!
Dia terbelalak dan mulutnya ternganga.
Gadis itu telah menanggalkan jubahnya dan apa yang dia lihat?
Sesosok tubuh yang bukan main indahnya, yang dari jauh nampak seperti bertelanjang saja.
Akan tetapi tidak, gadis itu tidak telanjang, melainkan mengenakan pakaian yang amat ketat, pakaian berwarna hitam yang menutupi dari leher sampai ke kaki, akan tetapi pakaian itu demikian tipis dan ketat sehingga semua bentuk tubuhnya tidak ada yang tersembunyi!
Melihat keanehan ini, Pek-liong tidak jadi pergi, melainkan mendayung perahunya di sekitar tempat itu saja.
Agar tidak menimbulkan kecurigaan, dia tadi sudah mengeluarkan alat pancingnya sehingga seolah-olah dia sedang mencari tempat yang enak untuk memancing ikan.
Andaikata gadis itu tadi benar-benar telanjang, tentu dia akan melarikan diri secepat mungkin, tidak sudi mengintai orang berpacaran.
Akan tetapi karena gadis itu sama sekali tidak telanjang, melainkan menutup seluruh tubuhnya dengan pakaian yang amat ketat, timbul keheranannya dan dia ingin sekali tahu apa yang akan dilakukan dua orang muda di tempat sunyi itu.
Untung dia membawa sebuah caping untuk menahan panas di atas perahu yang tidak terlindung itu.
Dia mengenakan caping itu dan dengan mudah dia mengintai ke arah perahu di depan itu dari bawah capingnya sambil berpura-pura memancing ikan.
Pemuda dan gadis itu tentu melihatnya pula, akan tetapi agaknya mereka tidak perduli sama sekali.
Kemudian, gadis itu bangkit berdiri, berdiri di kepala perahu.
Ia mengeluarkan sebuah pisau belati yang tajam mengkilat, dan Pek-liong melihat betapa pinggang yang ramping itu diikat ujung segulung tali hitam yang kuat.
Gadis itu kini menggigit pisaunya dan iapun terjun ke dalam air.
Cara ia terjun saja menunjukkan bahwa ia memang ahli renang.
Terjunnya seperti seekor katak saja dan tidak banyak air yang muncrat ketika ia terjun, juga tidak mengeluarkan bunyi nyaring seolah-olah sebatang tombak dilemparkan ke air.
Dan pemuda itu duduk di perahu sambil memegangi gulungan tali, mengulur tali itu perlahan-lahan.
Ah, kini mengertilah Pek-liong.
Kiranya gadis itu adalah seorang penyelam!
Pinggangnya diikat tali yang ujungnya berada di perahu, dan membawa sebatang pisau tajam!
Akan tetapi penyelam apakah?
Apakah yang diselaminya dan dicarinya?
Dia semakin tertarik karena selama hidupnya belum pernah dia melihat penyelam bekerja.
Lama benar gadis itu menyelam sehingga diam-diam Pek-liong menjadi khawatir juga.
Bagaimana mungkin orang menahan napas di dalam air sampai demikian lamanya?
Dia sendiri, dengan sin-kang dan khi-kangnya, akan mampu menahan napas sampai selama itu, akan tetapi di udara terbuka, bukan di dalam air yang amat dalam dan dingin!
Akan tetapi, tiba-tiba pemuda itu menarik tali perlahan-lahan dan tak lama kemudian, sebelum tali itu habis ditarik, kepala gadis itu telah tersembul di permukaan air.
Ia membuka mulut seperti seekor ikan, mengambil pernapasan, baru ia naik ke perahu dibantu oleh pemuda itu.
Ternyata gadis itu kini membawa sebuah kantung yang tadi agaknya dilipat dan diselipkan pinggangnya, dan pisau itupun kini terselip di pinggang.
Ketika gadis itu berdiri di perahu, kembali Pek-liong terpesona.
Kini pakaian yang ketat dan tipis itu basah lagi!
Makin jelaslah bentuk tubuh yang amat indah itu tercetak!
Kedua orang itu kini sibuk berjongkok di atas perahu dan membuka kantung.
Ternyata terisi batu-batuan!
Dan mereka memilih dan memeriksa batu-batuan itu.
Akhirnya, mereka menarik napas kecewa dan batu-batuan itu, setelah diteliti, satu demi satu dilempar keluar perahu.
Pek-liong tadinya merasa heran.
Akan tetapi lalu dia teringat.
Bukankah banyak orang menyukai batu-batu yang indah dan bahkan ada batu-batu indah, setelah digosok, berharga mahal?
Tentu mereka itu penyelam batu-batu indah yang mereka dapatkan di dasar telaga!
Kini pemuda itu yang menyelam, si gadis manis menjaga di atas perahu.
Pek-liong sudah tidak ragu-ragu lagi.
Mereka penyelam batu-batu indah.
Dan agaknya tidak mudah bagi mereka karena setelah beberapa kali menyelam, mereka agaknya baru memilih beberapa buah batu yang belum digosok.
Sebagian besar dilempar kembali ke dalam telaga.
Pek-liong-eng Tan Cin Hay mulai merasa jemu karena kini tidak ada lagi yang perlu diselidiki.
Memang, gadis itu merupakan pemandangan yang amat menarik dan menyenangkan, akan tetapi gadis itu sama sekali tidak memperdulikannya dan juga lebih sering berada di dalam air.
Kalau timbul di atas, lalu asyik meneliti batu-batuan di atas perahu.
Dia mulai menggulung tali pancingnya dan mengambil keputusan untuk pergi saja ke bandar karena matahari mulai menyengat kulit.
Akan tetapi tiba-tiba perhatiannya tertarik kepada sebuah perahu agak besar yang datang dengan kecepatan tinggi.
Lima orang laki-laki tinggi besar berada di dalam perahu itu dan jantung dalam dada Pek-liong berdebar tegang.
Dia mengenal lima orang laki-laki tinggi besar itu!
Bukankah mereka yang semalam lewat dekat pantai dan memandang ke arah dia dan dua orang pendeta dengan penuh perhatian?
Kembali perhatian Pek-liong dibangkitkan dan kini melihat lima orang itu mendayung perahu mereka menuju ke arah perahu dua orang penyelam itu.
Dia menjadi semakin tertarik.
Kiranya lima orang itu bukan sedang mencarinya, melainkan langsung saja menghampiri pemuda dan gadis itu.
Dia segera menyembunyikan mukanya di balik capingnya dan mengintai.
Gadis itu kini sedang mendapat giliran menyelam.
Baru saja ia meloncat ke dalam air ketika lima orang itu dengan perahu besar mereka menghampiri dan ketika pemuda yang hanya mengenakan celana dalam itu melihat mereka, dia nampak terbelalak dan kaget.
Pek-liong melihat betapa lima orang itu menghentikan perahu mereka dan mengait perahu kecil itu dengan kaitan besi yang bergagang panjang.
"Hayo bawa ke sini semua hasil selamanmu untuk kami pilih yang baik untuk dipersembahkan kepada Beng-cu!"
Terdengar seorang di antara lima laki-laki tinggi besar itu menghardik.
Pemuda itu mengerutkan alisnya.
Agaknya dia bukan seorang penakut, walaupun wajahnya membayangkan kegelisahan karena dia maklum bahwa dia berhadapan dengan orang-orang jahat.
"Kami baru saja menyelam dan baru mendapatkan sedikit batu-batu yang belum tentu berharga karena belum jelas benar sebelum digosok. Mengapa kalian mengganggu kami yang mencari nafkah dengan susah payah?"
Terdengar pemuda itu membantah dengan suara lantang.
Sikap pemuda ini saja sudah mendatangkan perasaan suka di hati Pek-liong.
Namun dia juga mengkhawatirkan keselamatannya, mengingat bahwa lima orang itu kelihatan begitu bengis dan jahat.
"Apa? Kalian berani membantah? Kami diutus oleh Po-yang Sam-liong!"
Bentak seorang di antara mereka yang hidungnya besar, seolah-olah baru saja hidung itu disengat lebah. Mendengar disebutnya nama ini, wajah pemuda itu berubah pucat.
"Akan tetapi...... biasanya mereka tidak pernah mengganggu kami kakak beradik mencari batu-batu di dasar telaga!"
Bantahnya dan entah mengapa, hati Pek-liong merasa lebih suka kepada pemuda itu setelah mendengar bahwa pemuda itu dan gadis tadi adalah kakak beradik, bukan pacar!
Kini perahunya sudah mendekat tanpa diketahui mereka yang sedang ribut mulut.
"Sudahlah jangan banyak cerewet! Serahkan hasil selamanmu kepada kami, setelah kami pilih yang terbaik untuk Beng-cu, sisanya kami kembalikan padamu!"
Bentak pula si hidung besar. Ketika pemuda itu nampak ragu-ragu, si hidung besar memberi aba-aba kepada dua orang temannya.
"Tangkap dia dan bawa ke sini bersama hasil selamannya!"
Perahu kecil itu sudah terkait merapat pada perahu besar dan kini dua orang tinggi besar meloncat ke perahu kecil, tangan mereka memegang sebatang golok besar.
Melihat ini, pemuda itu menjadi semakin gelisah.
Terpaksa dia menyerahkan buntalan kecil berisi batu-batu yang sudah dia pilih bersama adiknya tadi.
Seorang di antara mereka yang meloncat ke perahunya, menyambar buntalan itu.
"Wah hanya sedikit dan batu-batu ini seperti tidak ada harganya!"
Katanya. Si hidung besar menghardik.
"Kalau begitu tendang saja dia ke dalam air, biarkan dia menyelam lagi agar mendapatkan lebih banyak. Kita tunggu di situ!"
Seorang penjahat menendang, akan tetapi pemuda itu sudah menghindarkan tendangan dengan meloncat ke dalam air!
Pada saat itu, adiknya, gadis manis tadi muncul di permukaan air, mengambil pernapasan dan tanpa menyangka sesuatu, ia memegangi tepi perahu kecil untuk naik.
Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika ia sudah dapat melihat dengan jelas.
Yang menarik tangannya ke atas bukanlah kakaknya, melainkan dua orang laki-laki tinggi besar yang sudah berada di perahunya, sedangkan kakaknya entah berada di mana!
Dan sebuah perahu besar merapat dengan perahunya, tiga orang laki-laki tinggi besar lainnya berada di perahu besar itu.
Kini, lima pasang mata itu terbelalak seperti hendak menelan bulat-bulat gadis yang berpakaian ketat basah itu.
"Ha-ha-ha, ikan ini sungguh mulus dan segar!"
Kata laki-laki yang masih memegang lengan gadis itu.
"Bawa ia naik ke sini!"
Kata si hidung besar, air liurnya membasahi mulut.
Gadis itu meronta, akan tetapi orang yang memegang lengannya amat kuat sehingga lengannya tidak dapat terlepas.
Akan tetapi tiba-tiba kakinya bergerak menendang.
"Bukk!"
Perut gendut itu terkena tendangan, cengkeramannya melonggar akan tetapi sebelum gadis itu mampu meronta melepaskan diri, orang kedua sudah merangkul dan memeluknya dari belakang.
Dua lengan besar panjang yang kuat itu memeluk dan gadis itu tidak mampu bergerak lagi.
"Lepaskan aku! Ah, lepaskan aku!"
Bentaknya, meronta-ronta dengan sia-sia.
Laki.laki yang merangkulnya dari belakang itu terbahak senang karena makin keras gadis itu meronta, makin terasa kehangatan dan kelunakan tubuh yang kenyal itu.
Perahu kecil itu bergerak sedikit ketika bayangan putih berkelebat dan Pek-liong sudah berada di situ.
"Lepaskan gadis itu!"
Bentaknya, tangannya menampar pundak laki-laki yang merangkul gadis itu.
"Plakk! Aughhh......!"
Laki-laki itu berteriak kesakitan dan rangkulannya terlepas.
Pek-liong menendang dan tubuh orang itupun terlempar keluar dari perahunya, menimpa air telaga.
Orang tinggi besar kedua, melihat temannya terlempar ke air, menjadi marah.
Dia memang sudah marah karena perutnya ditendang gadis itu.
Kini kemarahannya memuncak melihat munculnya seorang laki-laki muda berpakaian putih.
Dia menggerakkan goloknya menyerang sambil memaki.
"Jahanam cilik, berani engkau mencampuri urusan kami?"
Goloknya menyambar dari kanan ke kiri, akan tetapi hanya mengenai tempat kosong saja dan tiba-tiba tubuhnya juga terlempar oleh tendangan Pek-liong.
"Byurrr......!"
Untuk kedua kalinya air muncrat tinggi ketika tubuh yang tinggi besar itu menimpa air.
Gadis itu lalu meloncat pula, terjun dan berenang ke arah orang tinggi besar yang agaknya hendak menyelamatkan diri berenang ke arah perahunya.
Ia tadi melihat bahwa orang tinggi besar pertama telah disambar oleh kakaknya yang ternyata sudah berada di dalam air dan yang itu diseret oleh kakaknya, dibawa menyelam!
Iapun kini berenang dengan kecepatan seperti ikan, memutari tubuh penjahat kedua dan berhasil menangkap rambutnya, lalu iapun menyelam!
Orang itu terbelalak, gelagapan dan berusaha untuk meronta, namun dia kalah biasa dan kepalanya berulang kali masuk ke dalam air dan mulut dan hidungnya kemasukan air yang mengalir ke dalam perut.
Sementara itu, Pek-liong sudah meloncat ke atas perahu besar.
Tiga orang penjahat itu menghadapinya dengan golok di tangan.
"Kau....?"
Bentak si hidung besar yang agaknya mengenal Pek-liong yang semalam telah dilihatnya di daratan bersama dua orang pendeta "Siapa kau berani ntencampuri urusan kami?
"Kenapa tidak berani?
Kalian orang-orang jahat, terjunlah ke air!"
Kata Pek-liong dan ketika tiga orang itu menggerakkan golok mereka, diapun menyambut dengan tendangan dan tamparan yang amat cepat sehingga sebelum tiga orang itu tahu apa yang telah terjadi, tubuh mereka sudah terlempar dari atas perahu besar dan terbanting ke air telaga!
Dan di situ sudah menunggu dua orang kakak beradik yang menyambutnya dengan cengkeraman dan tariknya sehingga mereka dibawa menyelam!
Tiga orang ini, seperti yang dua tadi, meronta-ronta, namun karena mereka itu kalah jauh dalam hal ilmu bermain di dalam air, ketiganya sudah tidak berdaya dan sebentar saja perut mereka sudah membengkak penuh air dan merekapun sudah pingsan!
Melihat betapa dua orang pertama sudah pingsan, dan yang tiga orang lagi dibenam-benamkan ke air dan juga sudah tidak mampu melawan, Pek-liong khawatir kalau-kalau mereka itu tewas.
Maka diapun cepat meloncat ke dalam perahu kecilnya sendiri, mendayung perahu dan menyambar pundak dua orang penjahat yang sudah pingsan, lalu melontarkan tubuh mereka ke atas perahu.
"Heiii, saudara-saudara yang baik, jangan bunuh mereka! Jangan bunuh mereka, kata-ku!"
Dia berteriak kepada kakak beradik yang masih membenam-benamkan kepala tiga orang itu dengan gemas.
Kakak beradik itu mengangkat muka, memandang kepada Pek-liong.
Mereka tahu bah-wa pemuda berpakaian putih itu lihai bukan main, pemuda itulah yang telah melempar-lemparkan lima orang jahat itu ke dalam air.
Biarpun wajah mereka masih membayangkan perasaan marah, mereka mentaati permintaan Pek-liong dan sambil menjambak rambut tiga orang penjahat yang sudah pingsan itu, mereka menyeret tiga orang penjahat itu ke dekat perahu Pek-liong.
Pendekar ini kembali mencengkeram pundak mereka satu demi satu dan melempar-lemparkan mereka ke atas perahu besar.
Melihat ini, dua orang kakak beradik itu terbelalak kagum.
Dibutuhkan tenaga yang luar biasa besarnya untuk melempar-lemparkan tubuh para penjahat yang tinggi besar seperti itu, dan pemuda pakaian putih itu melemparkan mereka seolah-olah melemparkan bangkai ayam saja!
Keduanya kini naik ke perahu mereka.
Kembali Pek-liong terpesona.
Melihat gadis itu dari dekat, melihat betapa tubuh yang indah itu, nampak lembut namun kuat, naik ke perahu dan sinar matahari membuat lekuk lengkung tubuh itu semakin jelas, dia terpesona.
Namun dia cepat menundukkan muka karena tidak mau memandangi tubuh orang seperti orang kelaparan.
Gadis itupun cepat mengenakan baju luarnya dan menutupi pakaian ketat tipis yang basah itu.
"Biarkan saja mereka di perahu mereka. Nanti tentu ada orang-orang melihat dan menolong mereka. Dan mari kita cepat menyingkir dari tempat ini, jangan sampai teman-teman mereka datang dan mengganggu kita,"
Kata pula Pek-liong sambil mendayung perahunya.
Kakak beradik itu mengangguk dan merekapun mendayung perahu mereka mengikuti Pek-liong yang membawa perahunya mendarat di pantai yang sunyi, di ujung utara.
Setelah mereka berloncatan ke daratan dan menarik perahu ke tepi, kakak beradik itu lalu memberi hormat kepada Pek-liong dan si kakak mengucapkan terima kasih.
"Tai-hiap telah menyelamatkan kami dari gangguan mereka. Terima kasih atas budi pertolongan tai-hiap."
Pek-liong tersenyum dan membalas penghormatan mereka.
"Sudahlah, tidak perlu hal itu dibicarakan lagi. Aku hanya merasa heran mengapa kalian tadi agaknya berusaha keras untuk membunuh mereka!"
Memang di dalam hatinya, Pek-liong merasa penasaran mengapa kakak beradik yang pandai dengan ilmu bermain di air itu tadi bermaksud membunuh para penjahat itu.
Kakak beradik itu saling pandang dan si kakak kembali mewakili mereka menjawab.
"Tai-hiap, kami bukanlah pembunuh-pembunuh kejam, bahkan selama hidup kami belum pernah kami membunuh orang. Akan tetapi, lima orang penjahat itu...... kalau mereka tidak dibunuh, tentu mereka akan mendedam dan melapor kepada Po-yang Sam-liong dan kami...... kami tentu akan dicari dan akhirnya kamilah yang akan mereka bunuh! Itulah sebabnya mengapa tadi kami berusaha membunuh mereka, tai-hiap."
Lega rasa hati Pek-liong dan pandang matanya tidak penasaran lagi.
Bahkan dia kini tersenyum dan pada saat dia tersenyum, pandang matanya bertemu dengan pandang mata gadis itu.
Alangkah manisnya!
Dan gadis itupun agaknya terkejut ketika pandang matanya bertaut dengan sinar mata pemuda yang gagah perkasa dan tampan itu, dan dengan tersipu ia menundukkan mukanya.
"Ah, kalau begitu kalian tidak merupakan orang-orang yang kejam. Aku melarang kalian membunuh mereka. Pertama karena tidak baik membunuh orang, apa lagi orang-orang yang sudah tidak berdaya seperti mereka tadi. Kedua, karena aku memang ingin menyelidiki mereka yang berjuluk Po-yang Sam-liong itu. Kalian jangan khawatir, tentu lima orang itu akan melaporkan bahwa mereka itu roboh oleh aku, bukan oleh kalian berdua. Siapakah kalian berdua dan mengapa pula lima orang penjahat itu mengganggu kalian? Apakah benar mereka itu pun pembantu Po-yang Sam-liong dan si apakah mereka? Siapa pula yang mereka sebut Beng-cu tadi?"
"Ting-ko, kau berilah keterangan kepada tai-hiap, aku akan mengganti pakaianku yang basah,"
Kata gadis itu kepada kakaknya yang mengangguk.
Gadis itu lalu membawa buntalan pakaian dan pergi mencari tempat yang dapat melindungi dan menyembunyikan dirinya untuk berganti pakaian karena pakaian ketat yang basah di balik mantel itu sungguh tidak enak.
Kakaknya lalu memperkenalkan diri mereka berdua.
"Kami adalah kakak beradik yang sudah yatim piatu. Namaku Kam Sun Ting dan adikku itu bernama Kam Cian Li. Kami tinggal di sebuah dusun luar kota Nan-cang dan pekerjaan kami adalah mencari batu-batu indah di dasar telaga, melanjutkan pekerjaan mendiang ayah kami dan kami mempelajari ilmu menyelam dari mendiang ayah kami. Hasil kami tidak terlalu banyak, namun cukup untuk biaya hidup kami berdua dengan pantas. Kamipun tidak pernah berurusan dengan Po-yang Sam-liong walaupun kami pernah mendengar nama mereka yang tersohor, sampai dengan pagi hari ini kami secara langsung mendapat gangguan dari lima orang yang mengaku sebagai utusan mereka. Untung ada tai-hiap yang dapat menyelamatkan kami."
Pada saat itu, gadis yang bernama Kam Cian Li itu muncul dan kembali Pek-liong-eng Tan Cin Hay harus mengakui bahwa gadis itu memang manis sekali, manis dan segar, tanpa riasan menyolok dan dengan pakaian yang sederhana saja namun bersih.
Melihat adiknya sudah berganti pakaian, Kam Sun Ting lalu berpamit kepada Pek-liong untuk berganti pakaian pula.
Diapun menghilang ke balik semak belukar dan kini gadis itu yang berdiri berhadapan dengan Pek-liong dan gadis itu kelihatan malu-malu.
Ketika ia mengangkat muka dan bertemu pandang dengan pemuda berpakaian putih itu, mukanya kembali merah dan warna merah itu menjalar sampai ke leher dan telinganya, ia tersenyum simpul dan menunduk kembali.
Gerakan kewanitaan yang sederhana ini menggerakkan hati Pek-liong dan diapun tersenyum, hatinya penuh gairah.
"Nona Cian Li, engkau duduklah,"
Katanya mempersilakan melihat gadis itu berdiri saja dengan sungkan dan malu. Cian Li memandang dan senyumnya melebar, memperlihatkan kilatan deretan gigi yang putih.
"Terima kasih tai-hiap,"
Katanya lirih dan iapun memilih tempat duduk di atas sebuah batu datar yang bersih, empat-lima meter di depan Pek-liong.
Pek-liong-eng Tan Cin Hay sendiri sebenarnya seorang pria yang tidak pandai banyak bicara, apa lagi kalau berhadapan dengan seorang wanita.
Akan tetapi melihat sikap Cian Li, dia merasa kasihan dan dia maklum bahwa kalau tidak diperlihatkan sikap ramah, tentu gadis itu akan merasa semakin salah tingkah dan canggung.
"Nona, engkau dan kakakmu Kam Sun Ting memiliki ilmu kepandaian renang dan menyelam yang mengagumkan sekali. Apakah kalian juga pernah mempelajari ilmu silat?"
Benar saja. Setelah Pek-liong bersikap ramah, gadis itu lebih terbuka dan berani menentang pandang matanya tanpa canggung lagi.
"Ah, kami berdua hanya menerima pendidikan dari mendiang ayah kami, tai-hiap. Karena mata pencaharian kami adalah menyelam ke dalam telaga mencari batu indah, maka kami lebih banyak diajari ilmu renang dan menyelam dan menahan napas di dalam air, dan hanya sedikit saja ilmu silat, sekedar untuk membela diri."
"Akan tetapi, kalau berada di air, engkau merupakan seorang yang tangguh sekali, nona. Penjahat yang kuat itu sama sekali tidak berdaya, bagaikan anak kecil saja kaubenam-benamkan ke dalam air. Engkau sungguh hebat, dan aku sendiri tidak akan berani melawanmu kalau di dalam air."
Gadis itu tersenyum cerah dan menutupi mulutnya.
"Tai-hiap terlampau merendahkan diri. Melawan tai-hiap, satu juruspun aku tidak akan mampu bertahan!"
Pada saat itu, Kam Sun Ting keluar dari balik semak-semak, sudah mengenakan pakaian kering, dan seperti adiknya, dia berpakaian sederhana walaupun hal itu tidak mengurangi ketampanan dan kegagahannya.
Kam Sun Ting adalah seorang pemuda yang ganteng.
Kulitnya yang agak kecoklatan karena banyak terbakar matahari itu bahkan membuat dia semakin menarik.
"Li-moi, apakah engkau sudah mengetahui nama penolong kita?"
Begitu keluar, pemuda itu bertanya kepada adiknya. Yang ditanya menggeleng kepala sambil memandang kepada Pek-liong.
"Aih, benar. Aku belum memperkenalkan diri. Namaku Tan Cin Hay, dan aku tinggal di dusun dekat Hang-kouw, dekat Telaga See-ouw."
"Ah, Telaga See-ouw?"
Seru Kam Cian Li kagum.
"Kami sudah sering mendengar tentang telaga itu, katanya jauh lebih indah dari pada Telaga Po-yang ini, dan bahkan mungkin sekali di sana terdapat batu-batu yang indah dan mahal."
Pek-liong-eng Tan Cin Hay mengangguk dan memandang gadis itu dengan sinar mata ramah sekali.
"Kenapa tidak sekali-kali kalian berdua ke sana dan mengadu untung? Siapa tahu di sana kalian sekali menyelam akan menemukan harta terpendam!"
Tiba-tiba mereka tersentak kaget mendengar suara teriakan yang memanjang dan menyeramkan.
Kakak beradik itu semakin terkejut ketika tiba-tiba mereka melihat bayangan putih berkelebat ke arah dalam hutan dari mana jeritan itu tadi terdengar dan pemuda berpakaian putih di depan mereka, yang tadi duduk di atas batu, kini telah lenyap!
Mereka saling pandang, dengan mata terbelalak dan penuh kagum.
Pemuda berpakaian putih itu seperti setan saja yang pandai menghilang begitu saja dari depan mereka!
Akan tetapi, mereka tadi sudah berkenalan dengan Pek-liong dan mereka tahu bahwa pemuda itu bukan setan, dan mereka semakin yakin bahwa pemuda itu adalah seorang pendekar yang sakti!
"Ting-koko, mari kita susul dia......"
Kata Cian Li dan iapun sudah cepat lari menuju ke arah suara tadi.
Andaikata tidak ada Pek-liong-eng yang tadi lari ke arah suara teriakan, tentu gadis itu tidak akan mengajak kakaknya menyusul.
Ternyata gadis yang sampai berusia sembilanbelas tahun tidak pernah tertarik kepada pria ini, begitu bertemu dengan Pek-liong seketika telah jatuh cinta!
Ia merasa kagum dan tertarik sekali, bukan hanya oleh ketampanan dan kegagahan Tan Cin Hay, melainkan terutama sekali oleh kesaktiannya dan sikapnya yang ramah.
Sementara itu, dengan mempergunakan ilmunya berlari cepat, Pek-liong Si Naga Putih telah tiba di tengah hutan.
Teriakan tadi memberitahu kepadanya bahwa tentu terjadi hal yang hebat, setidaknya tentu pembunuhan atau siksaan yang mengerikan.
Dan tiba-tiba dia menghentikan larinya, berdiri dan memandang dengan mata terbelalak.
Di depannya, di atas rumput, dia melihat dua sosok tubuh menggeletak mandi darah dan dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya ketika dia mengenal bahwa mereka itu bukan lain adalah Tiong Tosu dan Yong Hwesio!
Dua orang pendeta itu baru semalam bersama dia makan bersama dan mengobrol di tepi pantai telaga, dan kini mereka telah menggeletak mandi darah.
Tidak salah lagi, tentu mereka atau seorang di antara mereka yang tadi mengeluarkan teriakan melengking itu.
Dia cepat berlutut dekat tubuh Tiong Tosu yang paling dekat.
Ternyata tosu itu telah tewas dengan leher hampir putus, agaknya terbabat senjata yang amat tajam.
Dia lalu menghampiri tubuh Yong Hwesio.
Pendeta ini terluka tusukan pada dadanya dan darah masih mengucur dari situ.
Dan ketika dia berlutut, hwesio itu mengeluh dan membuka matanya.
"Locianpwe, apa yang terjadi......?"
Pek-liong-eng bertanya.
"Syukur...... engkau mendengar...... teriakan pinceng..... Po-yang Sam-liong..... anak buah Beng-cu...... banyak orang pandai......"
Hwesio itu tersengal-sengal.
"Locianpwe, siapa itu Beng-cu?"
Pek-liong-eng bertanya sambil mengguncang pundak hwesio gendut itu.
"Dia...... Siauw-bin Ciu-kwi..... sakti banyak yang sakti...... oughhh...!"
Leher itu terkulai dan tahulah Pek-liong-eng bahwa hwesio itupun tewas.
Dia merebahkannya dan pada saat itu, dia mendengar suara kaki berlari-lari ke arahnya.
Dua orang datang berlarian.
Dia bangkit berdiri.
"Saudara Sun Ting dan nona Cian Li, ke sini!"
Teriaknya memberi arah dan tak lama kemudian, mereka muncul.
Jelas nampak kelegaan membayang pada wajah manis gadis itu, akan tetapi ia dan kakaknya terbelalak melihat dua sosok tubuh yang sudah tak bernyawa lagi dan yang mandi darah itu.
"Mereka terbunuh oleh teman-teman Po-yang Sam-liong,"
Katanya singkat.
Dia kini menjadi serius sekali.
Kiranya urusan yang dihadapinya ini menjadi semakin hebat.
Perebutan peta Patung Emas itu ternyata telah mendatangkan banyak korban nyawa.
Dan yang berdiri di belakangnya, yang disebut Beng-cu (Pemimpin) kiranya adalah seorang sakti bernama atau berjuluk Siauw-bin Ciu-kwi (Setan Arak Muka Tertawa), seorang di antara Kiu Lo-mo!
Keadaan menjadi gawat sekali kalau begini, pikirnya.
Dan menurut keterangan Yong Hwesio tadi, gerombolan penjahat itu mempunyai banyak orang sakti!
Hal itu sudah terbukti dengan tewasnya tosu dan hwesio yang berilmu ini secara demikian mengerikan.
Mungkin oleh pedang yang sama, oleh seorang di antara mereka.
Dan teringatlah dia akan penunggang kuda yang membawa pedang di punggungnya itu!
"Aih, Po-yang Sam-liong demikian jahat......"
Bisik Kam Cian Li.
"Kami berdua yang tidak berdosapun tadi akan mereka bunuh......"
Dalam suara ini terkandung rasa ngeri dan takut.
Mengertilah Pek-liong-eng Tan Cin Hay apa yang harus dilakukannya.
Dia harus melindungi kakak beradik ini.
Dia harus membongkar rahasia peta Patung Emas itu yang agaknya dengan cara bagaimanapun akan dicari oleh gerombolan yang dipimpin oleh Beng-cu, dan sudah terlalu banyak jatuh korban.
Kakak beradik inipun mungkin menjadi korban berikutnya walaupun mereka tidak tahu menahu tentang Patung Emas.
Dia harus membongkar rahasia itu, harus menentang gerombolan yang jahat itu.
Dan dia tahu bahwa pihak lawan amatlah berbahaya, selain memiliki banyak kaki tangan, juga di antara mereka terdapat banyak orang sakti seperti yang dipesankan oleh mendiang Yong Hwesio.
"Saudara Sun Ting, bantulah aku mengubur dua jenazah ini,"
Katanya. Kam Sun Ting mengangguk, bahkan Kam Cian Li juga cepat membantu menggali lubang.
"Apakah engkau mengenal mereka, tai-hiap?"
Tanya Cian Li ketika mereka menggali lubang bersama. Pek-liong-eng mengangguk.
"Aku mengenal mereka, karena itu, aku harus mencari Po-yang Sam-liong dan anak buah mereka."
Tiba-tiba gadis itu melepaskan pisau yang tadi dipergunakannya untuk menggali tanah dan tanpa disadarinya, tangannya yang kotor berlumpur memegang tangan Pek-liong-eng yang telanjang karena pemuda ini menggulung lengan bajunya.
"Tai-hiap....., mereka...... mereka itu jahat dan berbahaya sekali! Engkau...... akan terancam bencana......"
Pek-liong tersenyum dan gadis itupun menyadari bahwa tangannya telah mengotori lengan itu, maka iapun melepaskan pegangannya dan menggali lagi dengan muka merah.
"Bukan aku yang terancam bahaya, Cian Li, melainkan engkau. Karena itu, aku harus melindungimu pula......"
Gadis itu senang sekali disebut namanya tanpa nona.
"Terima kasih, tai-hiap......"
"Hushh, sudahlah, jangan menyebut tai-hiap kepadaku. Kita sudah saling berkenalan, bukan? Namaku Tan Cin Hay, tanpa tai-hiap (pendekar besar)."
"Baik, Hay-twako...... dan terima kasih......"
Kam Sun Ting diam saja mendengarkan percakapan mereka. Setelah mereka tidak bicara lagi, dia bertanya.
"Tai-hiap......"
"Wah, Ting-ko, kenapa menyebut tai-hiap? Hay-ko tidak suka disebut tai-hiap walaupun dia seorang pendekar yang hebat!"
Tegur adiknya yang kini mulai berani dan tidak begitu malu-malu lagi.
Mau tidak mau Kam Sun Ting tersenyum dan diapun dapat menduga bahwa hati adiknya sudah jatuh oleh pendekar yang tampan dan gagah ini.
"Twako, siapakah mereka ini dan mengapa mereka terbunuh?"
"AKUPUN baru bertemu dengan mereka malam tadi. Akan tetapi terlalu panjang untuk diceritakan. Saudara Sun Ting, kita menghadapi komplotan penjahat yang amat kejam dan juga amat lihai. Bahkan aku tidak bicara berlebihan kalau kukatakan bahwa kita bertiga berada dalam ancaman bahaya maut! Oleh karena itu, sebaiknya kalau kita bekerja sama."
"Dengan adanya engkau, aku tidak takut ancaman bahaya, Hay-koko!"
Kata gadis itu sambil tersenyum manis, seolah untuk membuktikan bahwa ia sama sekali tidak merasa takut atau ngeri mendengar ucapan pendekar itu.
"Kami akan merasa beruntung dapat bekerja sama denganmu, toako,"
Kata pula Sun Ting dengan sungguh hati.
Diapun mengerti bahwa setelah peristiwa dengan lima orang penjahat tadi, tentu keselamatan dia dan adiknya terancam bahaya karena mereka telah berani menentang Po-yang Sam-liong!
Dan seperti juga adiknya, setelah dia menyaksikan kelihaian Pek-liong-eng, hatinya menjadi besar dan dia siap untuk membantu pendekar itu menentang gerombolan penjahat.
"Kalau begitu kita harus membagi tugas,"
Kata Pek-liong-eng.
"Ketahuilah bahwa gerombolan penjahat ini memiliki banyak orang sakti, dan dipimpin oleh seorang di antara Kiu Lo-mo, para datuk sesat yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali. Oleh karena itu, untuk menghadapi mereka, aku harus mendapat bantuan seorang sahabat baikku dan aku minta agar engkau yang menyampaikan suratku kepadanya untuk mengundangnya, saudara Sun Ting."
Sun Ting mengangguk-angguk mengerti.
"Siapakah dia dan di mana tempat tinggalnya?"
"Ia seorang pendekar wanita perkasa, bernama Lie Kim Cu dengan julukan Hek-liong-li, bertempat tinggal di kota Lok-yang. Rumahnya di sudut barat kota, di tepi jalan raya. Rumah itu mudah dicari karena di depannya terdapat sebuah kolam ikan dengan arca besar seorang puteri menunggang angsa, di tengah kolam yang penuh dengan bunga teratai."
"Baik, toako. Akan kucari dan kuserahkan suratmu kepadanya,"
Kata Sun Ting yang diam-diam merasa heran sekali mendengar bahwa sahabat baik pendekar itu yang hendak diajak menentang para penjahat lihai adalah seorang wanita.
Pek-liong lalu membuat surat singkat dan menyerahkannya kepada Sun Ting sambil berkata.
"Engkau berangkatlah sekarang juga. Biarkan nona Cian Li di sini bersamaku. Kalau pergi berdua, akan menyolok dan menarik perhatian. Pula, aku ingin nona...... eh, adik Cian Li bersikap biasa saja, pulang ke rumah untuk memancing mereka. Jangan khawatir, aku akan melindunginya."
Kakak beradik itu mengangguk, kemudian Kam Sun Ting lalu pergi meninggalkan mereka. Setelah kakaknya pergi, Cian Li memandang kepada pendekar itu.
"Hay-ko, lalu apa yang menjadi tugasku? Berilah aku tugas karena akupun ingin sekali membantumu."
Pek-liong-eng tersenyum memandang gadis itu.
"Engkau pulanglah, Li-moi. Engkau bersikaplah biasa agar tidak meacurigakan, dan bawalah hasil selamanmu tadi pulang, kemudian lakukan pekerjaanmu sehari-hari seperti biasa, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu."
Gadis itu mengerutkan alisnya dan pandang matanya yang jeli itu nampak kecewa.
"Akan tetapi aku aku ingin sekali membantumu, Hay-ko!"
Pemuda itu tersenyum ramah.
"Justeru sikapmu yang wajar dan biasa itulah yang akan banyak membantu padaku."
"Akan tetapi engkau...... engkau sendiri hendak ke mana?"
"Aku akan melakukan penyelidikan."
"Aku ikut......!"
"Jangan, Li-moi. Pekerjaan ini berbahaya bukan main, dan kalau engkau pulang dan bersikap biasa, hal itu amat menolongku, Li-moi. Engkau percayalah saja padaku!"
Biarpun hatinya diliputi kekecewaan karena ia ingin sekali selalu berdekatan dengan pemuda itu, dan iapun siap untuk menempuh bahaya yang bagaimana besarpun asal berada di samping Pek-liong-eng, namun Kam Cian Li tidak berani membantah lagi.
"Baiklah, Hay-ko. Nah, aku akan pulang sekarang......"
Iapun memandang tajam dan sejenak pandang matanya melekat pada mata Pek-liong-eng, kemudian gadis itu membalikkan tubuh dan melangkah pergi ke arah telaga.
Langkahnya gontai dan Pek-liong-eng memandang kagum.
Gadis itu memang memiliki bentuk tubuh yang hebat, pikirnya, akan tetapi dia lalu membayangkan bahaya yang mungkin sekali mengancam Cian Li, maka dengan sigap diapun meloncat pergi.
Rumah gedung itu tidak terlalu besar dan megah, akan tetapi mungil sekali.
Temboknya bersih dan semua tanaman di halaman rumah yang luas itu terawat rapi.
Bermacam bunga sedang mekar dan di tengah halaman itu nampak sebuah kolam ikan yang berbentuk bulat dengan garis tengah kurang lebih empat meter.
Banyak bunga teratai tumbuh di kolam ikan dan di tengah-tengahnya terdapat arca batu, seorang puteri menunggang angsa putih yang besar.
Dengan jantung berdebar karena girang, Kam Sun Ting memasuki halaman itu.
Sunyi saja di situ, tidak nampak seorangpun.
Dia masih terheran-heran dan juga sangsi, mengapa jagoan yang diundang oleh Pek-liong-eng Tan Cin Hay hanyalah seorang wanita!
Betapapun pandainya seorang wanita, apa artinya kalau menghadapi gerombolan penjahat seperti Po-yang Sam-liong dan kawan-kawannya?
Tiba-tiba dia dikejutkan oleh munculnya seorang wanita berbaju hijau.
Wanita ini masih muda, usianya kurang lebih tigapuluh tahun, cantik dan segar, tanpa hanyak riasan, pakaiannya sederhana dan ringkas.
Entah dari mana munculnya wanita itu, seperti setan saja!
Inikah orang yang dicarinya?
Dia cepat memberi hormat, sedangkan wanita itu dengan sinar mata tajam mengamatinya penuh selidik.
"Maafkan saya. Akan tetapi, benarkah saya berada di halaman rumah tempat tinggal Hek-liong-li Lie Kim Cu?"
Wanita baju hijau itu mengerutkan alisnya mendengar disebutnya Hek-liong-li Lie Kim Cu.
"Siapakah engkau dan ada keperluan apakah mencari Hek-liong-li?"
Melihat sikap angkuh itu, Sun Ting menjadi agak bingung.
"Maaf, saya hanyalah seorang suruhan. Saya datang membawa surat dari Pek-liong-eng Tan Cin Hay untuk disampaikan kepada Hek-liong-li Lie Kim Cu."
"Ahhh.......!"
Sepasang mata yang jeli itu terbelalak dan wajahnya segera berubah. Lenyaplah kecurigaan dan keangkuhannya, lalu ia menoleh dan berseru dengan suara melengking nyaring.
"Sam-moi......! Kesinilah, ada tamu!"
Sun Ting ikut menengok dan ia terkejut ketika tiba-tiba berbelebat bayangan merah dan tahu-tahu di situ sudah muncul seorang gadis lain yang berpakaian merah.
Gadis ini usianya beberapa tahun lebih muda dari pada gadis baju hijau, nampak cantik dan segar, dengan senyum yang manis.
"Tamu dari mana, toa-ci (kakak tertua)?"
Tanya gadis baju merah sambil menatap wajah tampan Sun Ting dengan penuh selidik.
"Dia adalah utusan Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih), membawa surat beliau untuk Hek-liong-li-hiap (Pendekar Wanita Naga Hitam)! Cepat hadapkan dia, kalau berlambat-lambat kau akan kena marah nanti! Ingat, setiap berita yang datang dari Pek-liong-enghiong harus disampaikan secepat mungkin!"
"Baik, toa-ci. Marilah, kongcu (tuan muda), mari kuantarkan menghadap Li-hiap,"
Kata si baju merah sambil melepas senyum manisnya.
"Terima kasih,"
Kata Sun Ting dengan jantung semakin berdebar.
Kiranya dua orang gadis cantik itu hanya semacam pembantu saja dari orang yang berjuluk Pendekar Wanita Naga Hitam itu!
Kalau pembantu-pembantunya saja seperti ini, lalu seperti apakah pendekar wanita itu?
Seorang nenek-nenek tua yang menyeramkan?
Seorang wanita setengah tua yang genit?
Atau mungkinkah seorang gadis pula?
Dia melangkah mengikuti gadis baju merah itu memasuki lorong dalam rumah yang ternyata dalamnya juga bersih dan terawat rapi, hawanya segar karena banyak jendelanya dan di setiap sudut terdapat sebuah pot bunga atau jambangan terisi tanaman.
Akan tetapi gadis baju merah itu mengajaknya terus menuju ke sebuah bangunan samping dan setiba mereka di pintu bangunan itu, gadis baju merah menaruh telunjuknya di depan mulutnya sambil menoleh kepada Sun Ting.
Mereka kini berdiri di ambang pintu dan Sun Ting menjadi penonton dari adegan yang amat menarik dan mengagumkan hatinya.
Bangunan itu ternyata merupakan sebuah ruangan berlatih silat yang luas dan terbuka.
Di sudut nampak berbagai macam alat olah raga dan senjata untuk berlatih silat dan dia melihat di ruangan itu terdapat seorang wanita yang dikepung oleh tujuh orang wanita lain.
Wanita itu berdiri tegak, sedang tujuh orang yang mengepungnya memasang kuda-kuda, dan mereka itu memegang senjata, ada pedang, golok, tombak dan cambuk.
Adapun wanita yang dikepung itu bertangan kosong, sikapnya tenang sekali,.
Kam Sun Ting memandang dengan penuh perhatian.
Tujuh orang wanita pengepung itu rata-rata cantik dan usia mereka antara duapuluh tiga sampai tigapuluh tahun, tubuh mereka ramping dan gesit, seperti gadis baju hijau dan baju merah yang mengantarnya itu.
Akan tetapi, ketika dia melihat wanita yang berada di tengah, yang dikepung, dia melongo!
Wanita itu berusia kurang lebih duapuluh tiga tahun.
Pakaiannya dari sutera serba hitam yang ketat dan ringkas, dan warna hitam ini membuat kulit muka, leher dan tangannya nampak semakin putih mulus.
Wajahnya bulat telur kecil dengan dagu meruncing.
Mulutnya kecil dengan bibir yang agaknya selalu tersenyum, bibir yang merah membasah.
Senyum yang tersungging itu dihias lesung pipit yang tidak terlalu dalam, dan tahi lalat kecil di atas pipi, di bawah mata kirinya, menambah kemanisannya.
Seorang gadis yang luar biasa cantik jelita dan manisnya.
Rambutnya yang hitam tebal itu disanggul tinggi ke atas, dihias tusuk sanggul perak berukir seekor naga kecil di atas bunga teratai.
Seorang wanita yang luar biasa!
"Kalian mulailah!"
Tiba-tiba bibir yang tersenyum dan merah basah itu berseru lirih dan mulailah tujuh orang wanita pengepung itu menerjang dan menyerang gadis pakaian hitam dengan senjata mereka.
Sun Ting terkejut bukan main.
Celaka, pikirnya.
Tujuh orang gadis itu menyerang.
Sungguh-sungguh dan gerakan mereka rata-rata gesit dan kuat!
Bagaimana mungkin gadis jelita berpakaian hitam itu akan mampu bertahan?
Setidaknya ia tentu akan menderita luka!
"Heiii, tahan......!
Sungguh tidak adil, tujuh orang bersenjata mengeroyok seorang yang tidak (Lanjut ke
Jilid 19) Sepasang Naga Penakluk Iblis (Seri ke 01-Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo
Jilid 19 memegang senjata!"
Teriak Sun Ting tanpa dapat dicegah lagi dan diapun melompat ke dalam ruangan itu. Si baju merah terkejut, namun sudah terlambat karena pemuda itu sudah meloncat masuk.
"Tahan.......!"
Si dara berpakaian serba hitam itu berseru dan tujuh orang pengeroyoknya menahan senjata.
Kini wanita itu memandang kepada Sun Ting, kemudian kepada gadis baju merah yang kini sudah menjatuhkan diri berlutut.
"Hemm, Sam-hwa, apa artinya ini?"
Wanita itu membentak, suaranya merdu akan tetapi penuh wibawa.
"Maaf, Lihiap...... dia.... dia adalah utusan dari Pek-liong-enghiong yang membawa surat untuk Lihiap. Saya...... saya melihat lihiap sedang siap berlatih, maka tidak berani mengganggu dan hendak menunggu sebentar. Tak saya sangka dia... dia......"
Berubahlah sikap gadis berpakaian hitam itu.
Wajahnya menjadi cerah dan dipandangnya wajah Sun Ting dan seketika ia sudah memaafkan sikap pemuda itu tadi.
Diam-diam hatinya merasa geli melihat betapa sahabat baiknya, Pek-liong-eng Tan Cin Hay telah menyuruh seorang pemuda yang begitu bodoh sehingga mengganggu latihannya.
Bagaimanapun juga, ia memandang kagum.
Pemuda itu tampan dan bertubuh tegap sekali, dan melihat betapa dia tadi mencela para pembantunya yang dianggapnya hendak mengeroyoknya, menunjukkan bahwa betapapun bodohnya, pemuda ini memiliki watak yang gagah!
Ia lalu maju menghampiri, sedangkan Sun Ting sudah menjadi merah mukanya mendengar ucapan gadis baju merah tadi.
Kiranya gadis berpakaian hitam inilah orang yang dicarinya, dan ternyata bahwa tujuh orang gadis pengepung yang mengeroyok tadi hanyalah merupakan latihan saja!
Cepat dia memberi hormat.
"Maafkan kalau saya tadi mengganggu latihan Lihiap. Akan tetapi saya tidak tahu...... ah, apakah Lihiap, yang bernama Hek-liong-li Lie Kim Cu?"
Wanita itu memang benar Hek-liong-li Lie Kim Cu.
"Benar, akulah orangnya."
"Sekali lagi maaf! Karena Hay-toako, eh...... maksud saya Pek-liong-eng tidak menceritakan keadaan Lihiap, karena tergesa-gesa, maka saya tidak mengenal Lihiap dan telah bersikap lancang. Saya datang untuk menyerahkan surat ini kepada Lihiap."
Dia cepat mengeluarkan surat itu dari saku bajunya.
Hek-liong-li mengangguk dan tersenyum.
Ternyata tidak bodoh, pikirnya dan ia merasa semakin suka kepada utusan sahabatnya itu.
Ia lalu membuka surat itu dan membacanya dengan tenang.
"Harap engkau suka datang untuk bersamaku menghadapi Siauw-bin Ciu-kwi, seorang di antara Kiu Lo-mo dengan kaki tangannya, dan membongkar rahasia Patung Emas. Menarik sekali, sudah banyak jatuh korban."
Sampai jumpa, Pek-liong-eng.
Sementara wanita itu membaca surat, Kam Sun Ting mengamatinya penuh perhatian dan dia menjadi semakin kagum saja.
Segala-galanya pada wanita itu nampak kematangan yang mengagumkan.
Memang, usianya tentu tidak akan lebih dari duapuluh tiga tahun, akan tetapi sikapnya, gerak-geriknya, bentuk tubuhnya, pandang mata dan senyumnya, sungguh membayangkan kematangan seorang wanita, bagaikan setangkai bunga yang mekar sepenuhnya dan sedang harum-harumnya!
Memang penilaian Sun Ting ini tidak jauh meleset dari kenyataannya.
Wanita itu adalah seorang wanita yang sudah matang, baik ilmu silatnya, maupun kewanitaannya dan pengalamannya segudang!
Ia bernama Lie Kim Cu, berusia duapuluh empat tahun dan ia dikenal sebagai Hek-liong-li (Dewi Naga Hitam).
Sejak remaja puteri berusia enambelas tahun, ia telah menderita dengan hebat.
Ayahnya seorang pembesar di Lok-yang, akan tetapi ayahnya tergila-gila perjudian, melakukan korupsi dan akhirnya dia dihukum buang dan membunuh diri di tengah jalan.
Adapun Lie Kim Cu sendiri, oleh ayahnya telah dijual atau untuk pembayaran hutang kepada Pangeran Coan Siu Ong di Lok-yang.
Lie Kim Cu diperkosa, ia mengamuk dan akhirnya dijual oleh pangeran yang marah itu ke rumah pelacuran.
Di rumah pelacuran ini Kim Cu disiksa dan dipaksa untuk menjadi pelacur, melayani belasan orang laki-laki!
Akhirnya, ia berhasil melarikan diri dan ia ditolong oleh seorang datuk sesat yang amat sakti, yaitu yang bernama Huang-ho Kui-bo dan dari nenek sakti ini ia mewarisi banyak ilmu silat yang tinggi sehingga membuatnya menjadi seorang wanita yang sakti!
Lie Kim Cu telah menjadi seorang wanita yang hebat setelah mempelajari ilmu selama enam-tujuh tahun.
Ia menghajar para pria yang pernah mempermainkan dirinya.
Bahkan ia kemudian menentang Hek-sim Lo-mo, seorang datuk sesat, seorang di antara Kiu Lo-mo bekerja sama dengan Pek-liong-eng Tan Cin Hay.
Dan sejak mereka berdua berhasil membasmi dan membinasakan Hek-sim Lo-mo nama kedua orang pendekar muda ini menjadi amat terkenal!
Ada hubungan istimewa antara Lie Kim Cu dan Tan Cin Hay, atau antara Si Naga Hitam dan Si Naga Putih ini.
Selain mereka berdua telah mewarisi sepasang pedang yang ampuh, yaitu Pedang Naga Hitam yang jatuh ke tangan Kim Cu dan Pedang Naga Putih yang jatuh ke tangan Cin Hay, juga keduanya mempunyai perasaan kasih sayang luar biasa terhadap satu sama lain.
Perasaan senasib sependeritaan, sepaham dan segolongan, menumbuhkan suatu pertalian batin, suatu rasa kasih sayang yang luar biasa, lebih mendalam dari pada kasih sayang antara saudara, bahkan antara kekasih.
Namun, keduanya tidak pernah membiarkan diri melangkah lebih dekat, tidak membiarkan nafsu berahi memasuki perasaan kasih di antara mereka, karena mereka khawatir bahwa sekali nafsu berahi masuk dan mereka menjadi kekasih, maka pertalian batin yang penuh kesetia-kawanan dan senasib itu akan menjadi berubah atau luntur!
Mereka berhasil, membasmi gerombolan Hek-sim Lo-mo dan saling berpisah, akan tetapi mereka saling berjanji akan memberi kabar kalau yang satu membutuhkan bantuan yang lain.
Hek-liong-li Lie Kim Cu tinggal di Lok-yang, bersama sembilan orang gadis yang menjadi pembantu-pembantunya, juga anak buahnya.
Mereka dilatihnya dengan ilmu silat, dan rata-rata mereka memiliki kecerdikan sehingga menjadi serba guna.
Di Lok-yang dan sekitarnya, ia terkenal sebagai Hek-liong-li dan biarpun ia tidak mengangkat diri menjadi seorang pendekar, namun nama besarnya membuat para tokoh jahat menjadi gentar dan Lok-yang dan sekitarnya menjadi aman karena tidak ada penjahat berani bermain gila di wilayah yang dipengaruhi nama Hek-liong-li!
Demikianlah, maka Hek-liong-li tidak jadi marah dan perhatiannya segera tertarik ketika mendengar bahwa pemuda tampan ganteng itu adalah utusan Pek-liong-eng dan ketika membaca surat Pek-liong-eng, wajahnya segera berubah berseri-seri.
Bekerja sama lagi dengan Pek-liong-eng menghadapi musuh-musuh tangguh!
Apa lagi musuh itu seorang di antara Kiu Lo-mo!
Tidak ada kesenangan yang lebih mengasyikkan dari pada bekerja sama antara mereka berdua menghadapi musuh-musuh yang jahat dan tangguh!
"Bagus!
Terima kasih, saudara......
eh, siapakah namamu?"
Kata Hek-liong-li kepada Kam Sun Ting.
"Nama saya Kam Sun Ting, lihiap, tinggal di dekat Telaga Po-yang."
"Surat dari Pek-liong-eng telah kuterima dan kubaca dan kita segera berangkat sekarang juga ke sana setelah aku menyelesaikan latihanku. Kau duduklah sebentar di bangku sana. Sam-hwa, sediakan minuman untuk tamu!"
Sun Ting mengangguk dan segera duduk di atas sebuah bangku di dekat dinding, sedangkan Hek-liong-li sudah berdiri lagi di tengah ruangan, dikepung tujuh orang pembantunya.
Sam-hwa, si baju merah, pergi mengambilkan minuman untuknya.
Ketika Sam-hwa datang, lagi membawa minuman, latihan silat itu telah dimulai dan Sun Ting hampir tidak menyentuh minuman yang disuguhkan karena dia tidak pernah berkedip menonton latihan silat itu.
Bukan main!
Tujuh orang wanita itu melakukan serangan yang sungguh-sungguh.
Bermacam senjata tajam dan runcing berkelebatan dan menyambar-nyambar ke arah tubuh Hek-liong-li.
Akan tetapi wanita berpakaian hitam ini menggerakkan tubuhnya secara aneh, kedua kakinya melangkah ke sana-sini, bergeser ke depan belakang, kanan kiri, dan semua serangan itu tidak mengenai sasaran sedikitpun juga!
Kemudian, Hek-liong-li mengeluarkan suara melengking nyaring.
Tujuh orang pembantunya maklum bahwa majikan dan juga guru mereka akan membalas serangan.
Mereka bersiap siaga dan memutar senjata, berjaga diri baik-baik.
Namun, tiba-tiba tubuh Hek-liong-li berkelebatan dan lenyap, hanya nampak bayangan hitam berkelebatan ke sana sini dan nampak seorang demi seorang para pengeroyok itu terhuyung, senjata mereka terpental dan dalam waktu sebentar saja, mereka semua telah terhuyung atau terlempar dan semua senjata terlepas dari tangan!
Hek-liong-li menghentikan gerakannya.
Ada sedikit keringat di dahinya yang putih mulus, akan tetapi pernapasannya biasa saja, hanya dada yang membusung itu agak naik turun bergelombang.
Sun Ting masih bengong.
Alangkah indahnya gerakan tubuh Hek-liong-li tadi, pikirnya.
Seolah-olah dia dapat melihat otot-otot halus bergerak-gerak hidup di bawah pakaian hitam ketat itu, dan dari gerakan halus itu, dari ke dua tangan yang lembut itu, agaknya memancar kekuatan yang luar biasa.
Akhirnya, ketika wanita itu tersenyum kepadanya, mukanya berubah merah sekali.
Dan dia tadi bersikap gagah-gagahan mencegah tujuh orang itu mengeroyok Hek-liong-li!
Betapa lucunya, betapa memalukan.
Untuk menutupi rasa malunya, diapun lalu bertepuk tangan memuji.
Karena lupa bahwa dia masih memegang cawan arak, maka ada arak tertumpah menimpa celananya sehingga dia memakin tersipu.
Tujuh orang pembantu itu keluar setelah memungut senjata masing-masing.
Kini Hek-liong-li berdua saja dengan Sun Ting.
Wanita itu masih tersenyum geli.
"Saudara Kam Sun Ting, minumlah araknya!"
"Ah, terima kasih, lihiap. Latihan tadi sungguh...... sungguh hebat sekali."
"Ah, engkau terlalu memuji! Bukankah engkau seringkali melihat Pek-liong-eng berlatih silat dan tentu latihannya lebih hebat lagi?"
Sun Ting menggeleng kepalanya.
"Sayang sekali tidak begitu, lihiap. Terus terang saja, saya dan adik saya baru saja berkenalan dengan Pek-liong-eng dan saya tidak sempat menyaksikan kelihaian ilmu silatnya. Saya dan adik saya adalah penyelam di Telaga Po-yang, mencari batu-batu berharga yang menjadi mata pencaharian kami, ketika kami diserang orang jahat dan ditolong oleh Pek-liong-eng."
Dengan singkat Sun Ting menceritakan peristiwa itu.
Hek-liong-li mendengarkan penuh perhatian.
Mendengar akan tewasnya seorang hwesio dan seorang tosu di hutan, serangan terhadap kakak beradik itu, iapun menjadi tertarik sekali.
Ia mengamati pemuda itu dari kepala sampai ke kaki.
Ganteng dan bertubuh kokoh kuat.
"Hemm, bagaimanapun juga, tentu engkau jauh lebih pandai dari pada aku kalau berada di air!"
Sun Ting tersenyum dan nampak deretan giginya yang bagus dan bersih, juga kuat.
"Ah, menyelam dan renang adalah pekerjaan kami sejak kami masih kecil, li-hiap. Akan tetapi mengenai ilmu silat, kami kakak beradik hanya diajar sedikit saja oleh mendiang ayah kami."
"Hal itu masih harus dibuktikan kelak. Mari kita berangkat, saudara Kam Sun Ting. Kita berkuda saja agar dapat cepat tiba di sana."
Iapun bertepuk tangan dan dua orang pelayan atau pembantunya muncul.
Mereka diutus untuk menyediakan dua ekor kuda yang baik sementara Hek-liong-li mengajak tamunya untuk makan bersama.
Sun Ting menjadi semakin kagum.
Makin dikenal, makin banyak hal-hal mengagumkan pada diri wanita itu.
Begitu ramah, dan juga tidak banyak peraturan sehingga mereka berdua makan minum di dalam ruangan makan dengan bebas, bagaikan dua orang sahabat lama saja.
Wanita itu sama sekali tidak merasa canggung, bahkan dia sendirilah yang agak salah tingkah, karena selamanya belum pernah dia berdekatan dengan seorang wanita, apa lagi wanita secantik itu, bahkan makan bersama!
Hal inipun diketahui Hek-liong-li yang menjadi semakin tertarik.
Tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang pemuda yang gagah, jujur dan masih hijau, agaknya belum pernah berdekatan dengan seorang wanita.
Kemudian berangkatlah mereka menunggang kuda dan di sepanjang perjalanan.
Hek-liong-li minta penjelasan lebih lanjut tentang semua peristiwa yang terjadi dan yang diketahui oleh pemuda itu.
Sikapnya demikian ramah dan manis sehingga tak lama kemudian mereka telah menjadi akrab, bahkan kadang-kadang Kam Sun Ting lupa bahwa dia melakukan perjalanan dengan seorang gadis yang selain cantik jelita juga amat perkasa, diharapkan oleh pendekar Pek-liong-eng untuk membantunya menghadapi gerombolan penjahat yang kejam dan lihai sekali!
Hati Kam Cian Li agak kecewa.
Selama hidupnya, sampai kini berusia sembilanbelas tahun, belum pernah ia jatuh hati kepada seorang pria dan baru sekaranglah ia benar-benar amat kagum dan tertarik kepada seorang pemuda.
Biarpun ia dan kakaknya baru saja mengalami hal yang amat berbahaya dan kini bahkan keselamatan dirinya terancam, namun ia tidak merasa gentar sedikitpun juga.
Ia bukan seorang gadis penakut.
Bahaya bukanlah hal asing baginya.
Pekerjaannya sebagai gadis penyelam selalu diliputi bahaya.
Akan tetapi sekarang ia merasa amat kecewa.
Ia disuruh pulang seorang diri.
Kakaknya diberi tugas mengundang seorang sababat yang lihai dari Pek-liong-eng, dan pendekar itu sendiri katanya akan melakukan penyelidikan terhadap gerombolan penjahat yang hendak membunuh ia dan kakaknya tadi.
Akan tetapi ia sendiri, ia disuruh pulang tanpa tugas apapun, disuruh bersikap seperti biasa.
Ia merasa amat kecewa, terutama sekali karena harus berpisah dari pendekar yang dikaguminya itu.
Ia telah jatuh cinta!
Ketika ia mendayung perahunya, timbul rasa penasaran dalam hatinya.
Kenapa ia tidak melakukan penyelidikan sendiri?
Lima orang penyerangnya tadi, yang semua telah dibikin pingsan dengan perut kembung, mungkin masih menggeletak di atas perahu mereka.
Ia dapat menyelidiki mereka, mengancam mereka agar mengaku dan menyebutkan nama semua orang yang berdiri di belakang mereka, selain Po-yang Sam-liong!
Kalau ia memperoleh keterangan seperti itu, tentu hal itu amat berguna bagi Pek-liong-eng!
Dan ia akan berjasa, akan membikin senang hati pendekar itu.
Mengapa tidak?
Dengan penuh semangat Cian Li mendayung perahunya ke tengah, menuju ke arah ditinggalkannya perahu besar yang ditumpangi lima orang penjahat yang sudah pingsan dengan perut kembung tadi.
Akan tetapi, ternyata perahu itu sudah tidak ada lagi.
Cian Li merasa penasaran dan ia terus mendayung perahu berputar-putar di sekitar tempat itu.
Agaknya tidak mungkin kalau lima orang telah siuman dan dapat menyingkir dari tempat itu, kecuali kalau mereka itu ditolong orang lain.
Kemudian ia melihat berapa perahu-perahu pesiar sudah mulai meninggalkan bandar, bahkan beberapa buah perahu nelayan telah hilir mudik.
Maka iapun segera mendayung perahunya menuju pulang.
Matahari telah naik tinggi ketika ia meninggalkan perahunya dan berjalan menuju ke rumahnya yang berada di sebuah dusun kecil tak jauh dari telaga itu.
Dari mendiang ayah mereka, ia dan kakaknya menerima warisan sebuah rumah yang berada di ujung dusun itu, sebuah rumah yang sederhana namun cukup baik.
Sambil membawa buntalan pakaian dan hasil penyelaman mereka pagi tadi, tidak berapa banyak, Cian Li melenggang dengan langkahnya yang gontai.
Kedua kaki gadis ini berbentuk panjang dan kuat sehingga kalau melangkah, ia melenggang dengan lemas sekali, nampak menarik dan menggairahkan.
Bentuk tubuh yang panjang ramping itu tentu saja hasil dari pada pekerjaan menyelam dan renang itu.
Karena rumahnya memang tidak dipenuhi barang berharga, maka pintu rumahnya ditutup begitu saja tanpa dikunci.
Ia mendorong daun pintu rumahnya dan melangkah masuk.
Dengan hati masih kecewa, ia melemparkan buntalan pakaian dan batu hasil penyelaman itu ke atas meja, lalu memasuki kamarnya untuk membuka jendela.
Rumah mereka mempunyai dua buah kamar, sebuah untuknya dan sebuah lagi untuk kakaknya.
Begitu ia masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba ia menjerit kecil dan matanya terbelalak, mukanya berubah pucat sekali.
Seorang laki-laki tinggi besar yang berhidung besar telah berada di dalam kamarnya, dan orang itu menyeringai kepadanya.
Mukanya demikian menyeramkan, dengan hidung besar, mata melotot dan gigi yang besar-besar nampak ketika dia menyeringai!
Yang membuat ia terkejut adalah karena ia mengenal orang ini sebagai seorang di antara lima penjahat tadi, bahkan si hidung besar ini agaknya yang menjadi pemimpin para penjahat tadi!
"He-he-he, nona manis, engkau baru datang?
Sudah kesal aku menunggumu.....
heh-heh-heh!"
Cian Li cepat membalikkan tubuhnya hendak berlari keluar, akan tetapi ia terbelalak melihat betapa empat orang penjahat lainnya sudah berdiri di depan pintu, menghadangnya sambil menyeringai kejam.
"Ha-ha-ha, engkau tadi menyiksaku, membenam-benamkan aku ke dalam air. Sekarang tiba saatnya kami membalas dendam. Bersiaplah untuk menerima siksaan sampai mampus!"
Kata seorang di antara mereka yang perutnya gendut.
Cian Li merasa bulu tengkuknya meremang.
Setankah mereka ini?
Setan dari mereka yang telah mati dan kini hidup kembali untuk mengganggunya, membuat pembalasan?
Perut gendut ini, bukankah karena perutnya kembung penuh air?
"Tidak......
tidaaaakk....!"
Ia menjerit dengan perasaan ngeri sekali.
Dari pada menghadapi empat orang itu, lebih baik melawan yang seorang saja di dalam kamar, pikirnya dan iapun membalik lagi ke dalam kamar dan dengan nekat ia menerjang si hidung besar yang menyeringai lebar menyambut terjangannya dengan kedua lengan dikembangkan!
Cian Li memang pernah belajar silat dari mendiang ayahnya.
Akan tetapi ilmu silatnya itu tidak ada artinya dibandingkan dengan si hidung besar itu, seorang penjahat kawakan yang sudah biasa mampergunakan kekerasan dan sudah seringkali berkelahi.
Cian Li melakukan dorongan dengan kedua tangannya, dengan maksud membuat si hidung besar itu terpelanting agar ia dapat melarikan diri lewat jendela kamarnya yang tertutup.
"Plakk!"
Si hidung besar menangkis dari samping dengan maksud untuk menangkis dengan satu tangan lalu tangannya yang lain mencengkeram dari samping.
Akan tetapi, biarpun ilmu silatnya tidak tinggi, Cian Li memiliki tenaga yang kuat sebagai hasil dari kebiasaannya renang dan menyelam.
Pertemuan kedua lengannya yang ditangkis itu sempat membuat si hidung besar terdorong ke samping dan terhuyung!
Kesempatan ini dipergunakan oleh Cian Li untuk menggempur daun jendela dengan dorongan kedua tangannya.
"Brakkkkk......!"
Daun jendela itu pecah berantakan dan Cian Li berusaha untuk menerobos keluar.
Akan tetapi hanya separuh tubuhnya saja yang sempat keluar karena tiba-tiba kedua pergelangan kakinya ditangkap orang dari belakang!
Kiranya yang menangkapnya adalah si hidung besar!
Kini Cian Li hanya dapat meronta karena tubuh bagian atas sebatas pinggang berada di luar jendela, akan tetapi dari pinggang ke bawah masih berada di dalam kamar.
Dengan mudah si hidung besar sambil tertawa-tawa menarik tubuh Cian Li dan sebelum gadis itu sempat melepaskan diri, kedua lengan dari si hidung besar yang panjang dan kuat sekali itu telah memeluknya sehingga kedua tangannya tidak mampu bergerak.
Si hidung besar itu memeluknya dari belakang.
Ia meronta-ronta namun sia-sia belaka.
Empat orang kawan si hidung besar, memasuki kamar sambil tertawa-tawa pula melihat gadis itu meronta dalam dekapan pemimpin mereka.
"Toako, biar kubedah dadanya dan kukeluarkan jantungnya. Enak diganyang mentah-mentah, untuk obat kuat!"
Kata yang berewokan dengan sikap bengis dan di tangan kanannya nampak sebatang pisau tajam mengkilat.
"Ia menyiksaku dan membenamkan kepalaku di air. Jangan dibunuh dulu, biar aku akan balas menyiksanya!"
Kata si perut gendut, siap untuk mempergunakan tangannya mencengkeram gadis yang sudah tidak berdaya itu. Akan tetapi si hidung besar membentak marah.
"Mundur kalian semua! Sebelum aku selesai dengannya, kalian tidak boleh menyentuhnya! Gadis ini sekarang milikku dan setelah aku selesai dengannya, baru kuberikan kepada kalian. Nah, kalian cepat mencari benda itu sampai dapat. Geledah seluruh rumahnya, bawa semua yang berharga dan bakar saja yang tidak ada artinya!"
Empat orang itu tidak berani membantah dan merekapun keluar dari kamar itu, meninggalkan si hidung besar berdua saja dengan gadis yang masih meronta-ronta dengan sia-sia dalam rangkulannya yang seperti dekapan seekor biruang itu.
"Heh-heh, sejak di perahu itu aku sudah tergila-gila padamu, nona manis. Engkau cantik manis dan tubuhmu indah!"
Si hidung besar melemparkan tubuh Cian Li ke atas pembaringan gadis itu.
Cian Li terbanting ke atas pembaringannya dan cepat ia bangkit untuk melompat, melawan atau melarikan diri.
Akan tetapi dengan cepat pula si hidung besar sudah menubruknya sehingga ia terjengkang kembali dan mereka bergumul di atas pembaringan itu.
Cian Li melawan sekuat tenaga, meronta dan sekali ini berkat pekerjaannya berenang dan menyelam, ia tertolong.
Tubuhnya telah menjadi kuat dan licin, dengan menggeliat-geliat ia selalu mampu menghindar sehingga biarpun pakaiannya sudah robek di sana-sini, namun si hidung besar tidak mampu menghimpitnya, bahkan beberapa kali Cian Li berhasil mencakar, menampar bahkan menggigitnya.
Akhirnya si hidung besar menjadi marah dan penasaran bukan main.
Tubuhnya sakit-sakit karena ulah gadis itu dan agaknya sampai habis tenaganya, akan sukar ia menundukkan gadis yang seperti seekor kuda betina liar ini, atau seekor anak harimau yang mengamuk.
Dia melompat ke samping dan dicabutnya golok besarnya yang tadi dia taruh di atas meja.
Golok yang amat tajam itu kini menempel di leher Cian Li, dan si hidung besar menghardik.
"Hayo diam dan jangan bergerak! Kalau engkau tidak mau menyerahkan diri, terpaksa akan kusembelih kau!"
Di sinilah letak kesalahan perhitungan si hidung besar.
Dia mengira bahwa gadis ini sama seperti para korbannya yang sudah-sudah, yaitu merupakan seorang wanita yang takut mati dan akan menyerah bulat-bulat karena takut mati!
Akan tetapi, Cian Li bukan seorang gadis penakut.
Baginya, lebih baik ia mati dari pada harus menyerahkan kehormatannya tanpa melawan mati-matian.
Melihat golok tajam itu menempel di lehernya dan si hidung besar mengancam, tiba-tiba saja ia bergerak ke depan dan kaki kanannya menendang sekuat tenaga.
Yang diarahnya adalah bawah pusar.
Akan tetapi si hidung besar sempat menarik tubuh ke belakang.
"Bukk!"
Yang kena tendang adalah perutnya yang gendut.
Hampir dia terjengkang, dan perutnya terasa nyeri juga.
Kemarahannya memuncak dan semua nafsu berahinya terbang entah ke mana, terganti nafsu amarah dan kebencian yang hanya akan mereda kalau dia sudah melihat darah tersembur dari tubuh yang sekarat.
"Perempuan keparat! Mampuslah!"
Bentaknya dan kini goloknya menyambar ganas ke arah leher Cian Li.
"Tukk!"
Golok itu terlepas dari pegangan "i hidung besar dan jatuh ke atas lantai ketika sebuah tangan menangkis pergelangan lengan si hidung besar dari samping.
Kemudian, tangan itu dilanjutkan dengan sebuah tamparan dan si hidung besar terpelanting dan terbanting keras.
"Hay koko......!"
Cian Li berseru girang sekali melihat munculnya pendekar muda berpakaian putih itu.
"Biar kubereskan yang lain!"
Kata Pek-liong sambil berkelebat keluar dari kamar itu.
Akan tetapi, hanya seorang penjahat lagi saja yang dia robohkan karena tiga orang yang lain sudah melarikan diri, dan bagian belakang rumah itu sudah terbakar!
Pek-liong memadamkan kebakaran itu sebelum dia kembali ke kamar Cian Li dan matanya terbelalak melibat betapa tubuh si hidung besar itu telah menjadi mayat dan sebatang golok besar masih menancap dalam sekali di dadanya.
Cian Li berdiri di sudut kamar itu dengan termenung.
"Li-moi......!"
Pek-liong berseru.
"Apa yang kaulakukan ini?"
Cian Li sadar dan terisak menangis.
"Kubunuh dia......! Dia... dia terlalu jahat. Ah, kalau engkau tidak segera datang......"
Pek-liong menarik napas panjang.
"Sudahlah, Li-moi. Mungkin memang sudah tiba saatnya dia harus menebus kejahatannya dengan kematian. Akan tetapi, sekarang engkau harus meninggalkan rumah ini karena mereka tentu tidak akan tinggal diam."
"Tapi...... tapi ke mana aku harus pergi?"
"Untuk sementara kita tinggal di rumah penginapan saja."
"Kita...... berdua.....?"
Gadis itu mengerling dan wajahnya berubah kemerahan, akan tetapi mulutnya tersenyum.
"Ya, kita berdua. Mulai sekarang aku harus selalu melindungimu."
Senyum itu melebar.
"Benarkah, Hay-ko? Engkau tidak akan meninggalkan aku lagi seperti tadi?"
"Tadipun aku diam-diam membayangimu, adik manis. Memang engkau sengaja kujadikan umpan agar mereka datang. Tidak tahunya mereka sudah menunggumu di dalam rumahmu, sungguh hal yang tidak kusangka-sangka. Untung aku tidak terlambat dan melihat ketika mereka membakar rumahmu."
"Kalau begitu, mari kita ke kota Hay-ko."
"Tentu saja kita akan menggunakan dua buah kamar, Li-moi, sebuah untukmu dan sebuah untukku."
Gadis itu diam saja, akan tetapi senyumnya berubah masam.
Ia sendiri merasa heran mengapa perasaannya menjadi demikian tak tahu malu, ingin sekamar dengan pendekar itu dan hatinya merasa kecewa mendengar bahwa mereka akan menggunakan dua buah kamar.
Teringat akan ini, wajahnya menjadi semakin merah.
Mereka lalu meninggalkan perkampungan itu tanpa dilihat orang, pada saat para penghuni dusun lari berdatangan melihat rumah kakak beradik itu kebakaran bagian belakangnya.
Mereka lalu memadamkan sisa api dan memeriksa ke dalam.
Akan tetapi, mereka terheran-heran melihat bahwa rumah itu kosong, kakak beradik penyelam batu itu tidak ada dan mereka hanya menemukan keadaan kamar yang berserakan.
Mereka tidak tahu bahwa baru saja seorang tinggi besar memondong sesosok mayat melarikan diri dari rumah itu.
Dia adalah penjahat yang tadi dirobohkan Pek-liong.
Penjahat ini menemukan mayat si hidung besar dan melarikan mayat itu tanpa diketahui orang.
Pek-liong mengajak Cian Li pergi ke Telaga Po-yang.
Dia bertekad untuk mencari keterangan tentang Po-yang Sam-liong karena dia merasa yakin bahwa lima orang penjahat itu adalah anak buah Po-yang Sam-liong, maka tentu tiga orang tokoh sesat itu yang menjadi biang-keladi penyerangan terhadap kakak beradik Kam, juga mereka pula yang mungkin sekali membunuh dua oraug pendeta, tentu saja dengan kawan-kawan mereka yang tergabung sebagai para pembantu Siauw-bin Ciu-kwi!
Dari tiga orang itulah dia mungkin akan dapat membuat kontak dengan beng-cu yang berjuluk Siauw-bin Ciu-kwi itu.
Akan tetapi, setiap orang nelayan atau pemilik perahu pelesir di telaga itu juga sama halnya dengan kakak beradik Kam.
Tak seorangpun di antara mereka yang tidak mengenal nama Po-yang Sam-liong, akan tetapi tak seorangpun mengetahui di mana mereka tinggal.
Mungkin ada yang tahu, akan tetapi siapakah berani membuka rahasia tiga orang tokoh sesat yang amat mereka takuti itu?
Penyelidikan yang dilakukan Pek-liong sia-sia belaka.
"Mereka tidak pernah muncul sendiri di sini,"
Kata seorang nelayan yang agak berani.
"Mereka menagih pajak melalui kaki tangan mereka yang banyak sekali. Kami tidak tahu dan tidak pernah berani menanyakan di mana tempat tinggal mereka."
Ah, tidak ada lain jalan kecuali menanti munculnya seorang kaki tangan mereka, menangkap orang itu dan memaksanya mengaku di mana dia dapat bertemu dengan mereka, pikir Pek-liong.
Karena hari mulai gelap, dia lalu mengajak Cian Li pergi ke kota Nan-cang dan mereka menyewa dua buah kamar di sebuah rumah penginapan kecil agar tidak menyolok dan tidak menarik perhatian.
Bagaimanapun juga, Pek-liong masih mengharapkan bahwa Cian Li tetap merupakan "umpan"
Yang akan menarik datangnya kakap yang dia kehendaki.
Dengan tewasnya si hidung besar oleh gadis itu, tidak mungkin mereka melupakan gadis itu demikian saja dan sekali waktu, pasti mereka yang akan datang mencari Cian Li.
Syukur kalau Po-yang Sam-liong yang datang sendiri agar dia tidak usah bersusah payah mencari mereka.
Setelah mandi, makan di sebuah restoran terdekat, mereka memasuki kamar masing-masing untuk beristirahat.
"Engkau tidurlah, Li-moi, dan jangan khawatir, aku selalu menjagamu. Kalau engkau mendengar sesuatu yang tidak wajar, berdiam sajalah di kamar, jangan membuka jendela atau daun pintu,"
Demikian pesan Pek-liong kepada gadis itu yang kelihatan lesu dan sedih ketika memasuki kamarnya.
Bagaimana gadis itu tidak berduka?
Kakaknya pergi dan ia tidak dapat kembali ke rumahnya sendiri, selalu terancam keselamatannya oleh gerombolan penjahat, dan pemuda yang diandalkannya itu, yang melindunginya berpisah kamar!
Pek-liong-eng Tan Cin Hay tidak merebahkan badannya, melainkan duduk bersila di atas pembaringan tanpa melepas sepatunya.
Dia tahu bahwa dia harus siap sedia menjaga keselamatan gadis di kamar sebelah dan dia tidak boleh lengah.
Baca Juga: Mutiara Hitam 8
Baca Juga: Petualang Asmara 5