Ceritasilat Novel Online

Mutiara Hitam 8

Eps 8 Mutiara Hitam - Kho Ping Hoo

Baca online Mutiara Hitam - Kho Ping Hoo

Cersil Mutiara Hitam - Kho Ping Hoo.

Jarum itu serupa benar dengan jarumnya dan warna hijau itu tak salah lagi adalah racun bunga hijau yang ia pergunakan untuk meracun jarum-jarumnya.

Inilah jarumnya, tak salahlagi.

Ia bangkit berdiri, wajahnya berubah.

Melihat wajah gadis ini, Siang Ki mulai percaya.

"Kwi Lan, agaknya ada orang yang mencuri jarum-jarummu dan mempergunakannya untuk membunuh hwesio-hwesio ini."

Katanya sambil maju mendekat. Kwi Lan menggeleng kepala dan mengingat-ingat.

"Tak mungkin."

Katanya kemudian penuh keyakinan.

"Jarum-jarumku tidak pernah terpisah dari badan, selalu berada di saku dalam bajuku. Siapa dapat mencurinya?"

"Akan tetapi buktinya, hwesio-hwesio ini tewas karena jarum-jarum hijau.."

"Benar, tak dapat disangkal lagi. Pantas saja kau menuduh aku.."

"Maafkan aku, Kwi Lan. Aku kebetulan lewat di sini, curiga terhadap rombongan orang-orang Thian-liong-pang, mengikuti secara diam-diam. Aku tahu akan perbuatanmu menghajar orang-orang Thian-liong-pang di sungai Siang tadi, akan tetapi karena aku sedang menyelidiki mereka, aku menyembunyikan diri. Malam ini aku datang menyelidik, melihat hwesio-hwesio ini sudah tewas dan orang-orang Thian-liong-pang tidak kelihatan seorang pun di sini."

"Hemm, tentu ada hubungannya antara mereka dengan kematian para hwesio ini."

Yu Siang Ki mengerutkan keningnya yang tebal.

"Aku meragukan hal ini, Kwi Lan. Kalau mereka yang membunuh hwesio-hwesio ini, mengapa menggunakan jarum-jarummu atau lebih tepat lagi.. jarum-jarum yang serupa dengan jarum-jarummu? Mari kita kejar mereka"

Kwi Lan mengangkat mukanya dan sepenuhnya muka itu kini tertimpa sinar bulan.

Alangkah cantik jelita muka ini.

Siang Ki meramkan mata dan menarik napas panjang sambil menekan isi dada yang bergerak-gerak.

"Mengapa?"

"Mereka sudah membunuh hwesio-hwesio tak berdosa"

Kata Siang Ki sewajarnya.

"Bukankah wajar seorang pendekar menjadi marah melihat pembunuhan atas orang-orang tak berdosa?"

"Hemm, bukan urusanku. Aku tidak mengenal hwesio-hwesio ini."

Jawab Kwi Lan seenaknya.

Kerut di kening Siang Ki makin mendalam.

Ia kagum akan kecantikan dan kelihatan gadis ini, namun kecewa melihat sikap dan wataknya.

"Akan tetapi mereka telah menggunakan senjata rahasia seperti milikmu, itu berarti mencemarkan nama baikmu. Siapa tahu mereka sengaja memalsukan senjatamu."

"Hemm, justeru karena itu aku tidak mau mengejar. Mereka tentu melakukan hal ini menurut rencana dan tentu mereka akan datang mencari aku kalau tiba saatnya. Aku mau menanti di perahu dan kalau sampai besok mereka tidak datang aku akan melanjutkan perjalananku."

"Ke mana?"

"Ke utara."

Wajah Yu Siang Ki berseri.

"Aihh, mengapa begini kebetulan? Aku pun hendak ke utara."

"Hemmm? Benarkah?"

Kwi Lan kurang percaya, menyangka bahwa pemuda ini mencari-cari alasan untuk melakukan perjalanan bersamanya.

"Mengapa tidak? Aku hendak mencari Suling Emas."

Berdebar jantung Kwi Lan mendengar ini.

"Kenapa mencari ke utara?"

"Menurut laporan anak buahku, Locianpwe itu menuju ke utara. Ada kepentingan besar sekali yang memaksa aku mencarinya ke utara."

Kwi Lan melamun.

Suling Emas ke utara?

Hendak bertemu ibu kandungnya, Ratu Khitan?

"Kalau kau tidak keberatan, kita dapat melakukan perjalanan bersama."

Kwi Lan tersenyum.

"Mengapa keberatan? Asal kau tidak lagi menuduh aku dengan fitnah yang bukan-bukan seperti tadi."

"Maafkan aku sekali lagi, Siauw-moi."

Yu Siang Ki menjura dan Kwi Lan tertawa geli.

"Mari ke perahuku. Kuharap saja mereka akan muncul agar enak kita berdua mengganyang mereka di perahu"

Namun Yu Siang Ki tidak segembira Kwi Lan.

Hatinya tetap merasa gelisah dengan munculnya hal yang merupakan teka-teki ini.

Siapa pembunuh hwesio-hwesio itu?

Andaikata orang-orang Thian-liong-pang, apakah maksudnya?

Namun ia tidak sempat bicara lagi karena Kwi Lan sudah berkelebat dan meloncat jauh dari tempat itu.

Cepat ia mengejar dan sebentar saja mereka sudah berada di perahu cat merah yang disewa Kwi Lan.

"Aku mau tidur."

Kata Kwi Lan dan terus saja ia tidur telentang di atas papan perahu berbantal bungkusan pakaiannya.

Sejenak Siang Ki tertegun memandang tubuh yang melintang di depannya, kagum bukan hanya oleh keindahan bentuk tubuh, juga oleh sikap yang demikian polos dan wajar.

Ah, ada remaja yang jujur dan bersih, tidak berpura-pura, liar seperti bunga mawar hutan, pikirnya terharu.

"Aku duduk menjaga di luar."

Katanya dengan suara tergetar sambil duduk di atas papan melintang di kepala perahu, memandangi bulan purnama yang bermain-main di dalam air sungai.

Sinar bulan dan keadaan yang sunyi itu membuat Siang Ki melamun.

Pelabuhan sungai itu sunyi sekali karena setelah peristiwa yang terjadi siang tadi, semua nelayan merasa takut dan menghentikan kegiatan pekerjaan malam.

Mereka menduga bahwa tentu akan terjadi sesuatu yang hebat antara nona perkasa itu dengan para penjahat yang bermalam di Kuil Ban-hok-tong.

Siang Ki berkali-kali menarik napas panjang.

Ia terpaksa meninggalkan Kang-hu karena peristiwa yang amat penting telah terjadi.

Mula-mula berita itu tidak dipercayanya.

Berita yang didengar dari beberapa orang pengemis anggauta perkumpulannya bahwa di daerah selatan muncul Suling Emas yang memusuhi para pengemis.

Mula-mula ia mengutus Gak-lokai dan Ciam-lokai untuk menyelidiki berita yang tak masuk akal itu.

Dan dua orang kakek pengemis itu pulang dengan babak-belur.

Mereka telah bertemu dengan Suling Emas itu dan ternyata berbeda dengan Suling Emas yang telah menyamar sebagai Yu Kang Tianglo.

Akan tetapi Suling Emas yang baru ini berpakaian seperti Suling Emas dengan tanda gambar sulaman suling di depan dadanya.

Hebatnya, Suling Emas baru ini pun berkepandaian tinggi sehingga Gak-lokai dan Ciam-lokai tidak mampu menandinginya dan dirobohkan.

Bahkan Suling Emas itu menantang agar supaya Yu Kang Tianglo datang sendiri menandinginya.

Mendengar ini, panas hati Yu Siang Ki.

Maka ia lalu melakukan perjalanan ke selatan, menemui Suling Emas ini sebagai wakil ayahnya, Yu Kiang Tianglo.

Ia menjadi bingung, tidak tahu mana yang tulen mana yang palsu antara Suling Emas yang pernah menyamai sebagai mendiang ayahnya dengan Suling Emas yang sekarang.

Akan tetapi nyatanya, dalam belasan jurus saja ia roboh oleh orang ini.

Karena inilah Yu Siang Ki lalu mengambil keputusan untuk pergi mencari Suling Emas pertama, untuk dimintai tolong menghadapi Suling Emas kedua ini.

Kini duduk melamun di kepala perahu, memandang sepasang bulan, yang di atas dan di dalam air, teringatlah ia akan sepasang Suling Emas yang membingungkan hatinya.

Suling Emas kedua ini selain lihai juga agaknya sengaja memusuhi pihak pengemis, namun tak pernah terdengar melakukan kejahatan dan tidak pula melukai berat kepada para pengemis termasuk Gak-lokai berdua dan dirinya sendiri.

Agaknya asal dapat menang cukuplah bagi Suling Emas ke dua itu.

Kembali ia menarik napas panjang memandangi dua bulan berganti-ganti, lalu tanpa disadarinya Yu Siang Ki bersenandung.

"Bulan terapung di angkasa bermain dengan mega tak mungkin terbang menjangkaunya Bulan tenggelam di air bercanda dengan gelombang tak mungkin menyelaminya"

Kembali Siang Ki menarik napas panjang.

Dua orang Suling Emas itu seperti dua bulan ini, bulan dan bayangannya, yang mana tulen dan mana palsu?

Keduanya sakti, dan sukar menyelidiki keadaannya.

"Ah.. kau.. kau gagah.."

Siang Ki terkejut dan menoleh.

Ia melihat Kwi Lan menggeliat perlahan dan mulut gadis itu berbisik-bisik.

Hatinya berdebar.

Tak salahkah pendengarannya bahwa gadis itu dengan suara bisik merayu menyebutnya gagah?

Tak salahkah penglihatannya bahwa gadis itu menggeliat dan seolah-olah mengharapkan dia datang membelainya?

Tanpa disadarinya lagi Siang Ki melangkah maju mendekati tubuh yang masih tidur telentang itu.

Sinar bulan tertutup atap perahu sehingga wajah gadis itu terlindung dalam cuaca remang-remang.

Bergerak-gerakan bulu mata panjang lentik itu?

Sampai lama Siang Ki berdiri menatap wajah yang amat cantik itu.

Bibir gadis ini seperti tersenyum menantang, tangan kiri di atas perut dan tangan kanan di bawah dagu.

Rambutnya harum hitam halus yang dikucir dua itu terletak di atas dada, kanan kiri, ikut bergerak-gerak turun naik bersama dadanya.

Ada dorongan hasrat yang amat kuat merangsang dari dalam dada Siang Ki, membuat ia membungkuk dan hampir saja ia mencium pipi dan bibir itu, namun kesadaran dan keteguhan hatinya menahannya.

Dia seorang laki-laki sejati, seorang jantan yang hidup sebagai seorang pendekar.

Tak mungkin melakukan hal sekeji ini, menggunakan kesempatan selagi seorang dara tidur untuk menciumnya.

Pekerjaan hina.

Sama dengan mencuri, sama dengan memperkosa.

Dua macam perasaan berperang di hati Siang Ki, yang satu mendorong yang lain menahan.

Untung pada saat itu perasaannya yang tajam dapat merasa betapa perahu bergoyang sedikit.

Cepat ia menoleh dan tampaklah dua orang laki-laki meloncat ke atas perahu.

Gerakan mereka ringan bagai burung, membuktikan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang memiliki, ilmu kepandaian tinggi.

Bayangan beberapa orang lagi tampak berloncatan di perahu-perahu yang berada di pelabuhan, juga di pantai tak jauh dari situ.

Perahunya telah terkepung"

Seorang di antara dua laki-laki yang sudah meloncat ke perahu itu dahinya berhias mutiara, itulah salah seorang di antara Cap-ji-liong, jago-jago Thian-liong-pang yang tersohor lihai.

"Kau gagah Suling Emas.."

Kembali terdengar suara Kwi Lan barbisik dan Siang Ki yang masih menoleh ke belakang itu seperti ditusuk jantungnya.

Kiranya gadis ini tadi bukan memuji dia yang gagah, melainkan memuji Suling Emas di dalam mimpi"

Dengan muka merah saking malu mengingat akan sikap dan persangkaannya sendiri tadi, Siang Ki meloncat bangun sambil menyambar tongkatnya.

"Kalian siapa dan mau apa mengganggu kami?"

Bentaknya sambil melintangkan tongkat di depan dada.

Akan tetapi sebagai jawaban, dua orang itu sudah mencabut golok masing-masing, menerjang maju sambil berteriak.

"Kepung. Tangkap sepasang anjing muda ini"

Siang Ki marah sekali, tongkatnya berkelebat dan saking dahsyatnya serangan tongkatnya, dua orang itu berseru kaget dan meloncat mundur, keluar dari perahu.

Yu Siang Ki menoleh dulu sebelum mengejar, dan melihat betapa Kwi Lan sudah bangkit duduk mengucek-ucek mata, ia berseru.

"Kwi Lan, setan-setan itu sudah datang hayo bantu aku basmi mereka"

Setelah berseru demikian, pemuda ini dengan gerakan gesit telah melayang keluar dari perahu ke darat.

Sebentar saja ia sudah dikepung dan alangkah kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa yang mengepungnya adalah dua belas orang yang memakai mutiara di dahinya.

Kedua belas orang Cap-ji-liong, jagoan dari Thian-liong-pang lengkap berada di situ.

Dan di samping dua belas orang ini masih ada sedikitnya tiga puluh orang laki-laki tinggi besar yang merupakan anak buah mereka dan kesemuanya sudah siap dengan senjata di tangan.

Hebat, pikirnya dengan hati kecut.

Akan tetapi karena keadaan mendesak, ia tidak mau banyak cakap lagi dan cepat ia menggerakkan tongkatnya yang panjang sambil berteriak.

"Kiranya dua belas ekor cacing dari Thian-liong-pang yang datang. Kalian mau apa?"

"Tranggg.."

Tongkatnya tertangkis oleh sepasang pedang panjang di tangan seorang yang brewok, tinggi besar dan bermata lebar.

Inilah Ma Kiu, atau Thian-liong-pangcu, ketua perkumpulan itu, juga merupakan orang pertama atau pimpinan Cap-ji-liong yang tersohor.

Siang Ki sudah pernah mendengar tentang orang ini, akan tetapi belum pernah bertemu.

Kini ia dapat menduganya dan pantas saja tangkisan tadi demikian kuat, pikirnya.

Makin tidak enak hatinya karena ia maklum bahwa kali ini ia menghadapi banyak lawan pandai.

"Orang muda, siapa pun adanya engkau, jangan mencampuri urusan kami. Pergilah kalau kau ingin selamat. Kami hanya membutuhkan Mutiara Hitam"

Kata Ma Kiu yang marah sekali mengingat akan semua perbuatan Mutiara Hitam yang pernah mengacaukan Thian-liong-pang bersama seorang pemuda berandalan bernama Tang Hauw Lam.

Tadinya ketika ia mendapat laporan, hatinya girang, menyangka bahwa Mutiara Hitam yang dilaporkan bersama seorang pemuda di perahu itu tentulah Tang Hauw Lam.

Kiranya pemuda tampan itu hanya pengemis muda yang tidak dikenalnya.

Sebagai Ketua Thian-liong-pang yang merasa derajatnya jauh lebih tinggi, tentu saja Ma Kiu tidak mau melayani pengemis muda ini maka mengeluarkan ucapan seperti itu.

Panas juga hati Siang Ki mendengar ucapan itu.

Ia tahu bahwa Ketua Thian-liong-pang ini, memandang rendah kepadanya, maka sambil mengangkat dada ia menjawab.

"Kalau tak salah dugaanku, engkau tentulah yang bernama Ma Kiu, yang menjadi pimpinan Cap-ji-liong dan juga menjadi Ketua Thian-liong-pang."

"Orang jembel sudah mengenal tidak lekas pergi"

Bentak seorang di antara Cap-ji-liong.

"Thian-liong-pangcu. Biarpun jalan kita bersimpangan, namun sudah lama aku mendengar tentang Thian-liong-pang dan Cap-ji-liong. Ketahuilah, aku adalah pangcu dari Khong-sim Kai-pang. Dan Mutiara Hitam adalah sahabatku. Kuharap, mengingat akan kedudukan kita bersama, engkau suka melihat mukaku dan tidak mengganggunya. Kalau engkau berkeras, marilah kita sama-sama pangcu dari perkumpulan besar melihat siapa di antara kita yang lebih unggul"

Ma Kiu dan sute-sutenya terkejut dan memandang lebih teliti.

Kiranya pengemis muda ini adalah Pangcu dari Khong-sim Kai-pang.

Tentu saja mereka sudah mendengar akan sepak terjang pangcu baru ini, betapa Khong-sim Kai-pang di bawah pimpinan pangcu muda ini telah membasmi golongan pengemis baju bersih yang tadinya menguasai kai-pang-kai-pang (perkumpulan pengemis) di daerah Kang-hu.

Karena para pengemis golongan baju bersih adalah sekutu Thian-liong-pang, maka tentu saja dua belas orang Cap-ji-liong ini menganggap Yu Siang Ki sebagai musuh.

"Ah, kiranya engkau jembel muda pengacau itu? Bagus kau datang menyerahkan diri"

Ma Kiu membentak dan sepasang pedangnya berkelebat menyambar, Siang Ki yang sudah siap cepat menggerakkan tongkat, sekaligus menangkis sepasang pedang itu dan membalikkan tongkat mengirim serangan dengan tusukan ke arah perut yang gendut.

Ma Kiu meloncat ke kanan dan pada saat itu, sebelas orang sutenya yang menyaksikan gerakan cepat Siang Ki, segera maju mengeroyok.

"Dua belas ekor cacing Thian-liong-pang tak tahu malu"

Terdengar bentakan Kwi Lan disusul sinar hijau pedang Siang-bhok-kiam.

Gadis ini sudah melompat maju dan begitu ia memutar pedangnya, empat batang pedang lawan telah dapat tertolak mundur berikut pemiliknya.

Akan tetapi pada saat itu anak buah yang bertubuh tinggi besar dan mereka ini adalah bekas-bekas bajak sungai yang sudah takluk kepada Siauw-bin Lomo, kini maju mengepung Kwi Lan.

"Bagus, makin banyak makin baik."

Memang pedangku sudah haus darah"

Teriak gadis itu sambil membabat ke sekelilingnya.

Hebat bukan main gerakan Kwi Lan ini dan lebih-lebih karena para pengeroyoknya yaitu para bajak, hanya mengandalkan tenaga besar dan kekasaran saja, maka dalam sekejap mata terdengar teriakan kesakitan dan lima orang sudah roboh mandi darah.

Kalau Kwi Lan dengan enaknya membabati para pengeroyoknya, adalah Yu Siang Ki yang benar-benar menghadapi pengeroyokan berat.

Cap-ji-liong terdiri dari orang-orang pandai dan mereka ini bergerak bukan sembarangan, melainkan menurut aturan dalam bentuk barisan yang amat rapi dan kuat.

Tingkat kepandaian Yu Siang Ki sudah tinggi dan andaikata Cap-ji-liong maju seorang demi seorang, biarpun Ma Kiu sendiri takkan dapat menangkan pemuda ini.

Akan tetapi begitu Cap-ji-liong maju bersama dalam bentuk barisan yang mengurung rapat, Siang Ki menjadi repot sekali dan terdesak hebat.

Dua belas orang itu menggunakan bermacam-macam senjata sehingga gerakan mereka itu bagi Siang Ki amat kacau-balau dan sukar diduga.

Karena itulah, maka pemuda ini hanya dapat memutar tongkat melindungi tubuhnya dari hujan senjata para pengeroyok yang rata-rata memiliki tenaga lwee-kang cukup besar.

Biarpun ia sedang mengamuk, Kwi Lan tidak melepaskan perhatiannya terhadap Siang Ki yang ia tahu menghadapi pengeroyokan Cap-ji-liong yang lihai.

Maka ia dapat melihat betapa pemuda itu betapa pun lihainya, repot sekali menyelamatkan diri dari ancaman senjata-senjata lawan.

Maka ia lalu berseru keras, merobohkan dua orang pengeroyok terdepan lalu sekali meloncat ia sudah tiba di luar barisan Cap-ji-liong yang mendesak Siang Ki.

Pedangnya berkelebat menyerbu barisan Cap-ji-liong dari belakang sehingga tiga orang anggauta barisan terpaksa membalikkan tubuh dan menangkis, kemudian secara teratur sekali mereka bergerak diikuti teman-temannya dan di lain saat Kwi Lan telah terkurung pula bersama Siang Ki.

"Siang Ki, mari kita basmi cacing-cacing yang menjemukan ini"

Seru Kwi Lan marah sambil memutar pedangnya menerjang kepungan.

Akan tetapi barisan itu teratur rapi sekali dan betapapun lihainya pedang Kwi Lan, karena sekaligus ditangkis oleh sedikitnya tiga senjata secara berbareng, ia kalah tenaga dan berbalik ia pun dijadikan sasaran hujan senjata.

"Kwi Lan, kita berdua beradu punggung"

Siang Ki berseru dan Kwi Lan yang maklum akan maksud temannya segera membelakangi pemuda itu dan kini mereka berdiri saling membelakangi.

Dengan demikian, kedudukan mereka lebih kuat dan tidak perlu lagi mereka membagi perhatian ke belakang karena bagian belakang masing-masing telah terlindung sehingga perhatian dapat dicurahkan ke depan.

Bahkan kanan kiri dapat terjaga oleh kedua orang muda perkasa ini.

Benar saja, setelah beradu punggung, dua orang muda ini dapat melawan lebih ringan dan biarpun kadang-kadang para pengepungnya berlari-lari memutari mereka, kedua orang muda ini tidak usah ikut berlari-lari takut diserang dari belakang lagi.

Mereka melayani dengan tenang dan kini mendapat kesempatan untuk balas menyerang, sungguhpun serangan mereka kurang berhasil karena selalu ditangkis oleh banyak lawan.

Diam-diam Siang Ki menjadi gelisah karena balasan lawan benar-benar hebat.

Andaikata dia dan Kwi Lan dapat bertahan mengandalkan kegesitan, tenaga dan ilmu silat mereka yang lebih tinggi tingkatnya, namun sampai berapa lama mereka mampu bertahan?

Di luar barisan dua belas orang Thian-liong-pang ini masih terdapat puluhan orang anak buah mereka.

Ma Kiu yang memimpin sute-sutenya ketika melihat betapa barisannya tidak berdaya menghadapi dua orang muda yang benar-benar lihai itu, menjadi penasaran dan marah sekali.

Tak disangkanya bahwa Ketua Khong-sim Kai-pang yang masih muda ini ternyata juga amat lihai sehingga diam-diam ia harus meragukan kepandaiannya sendiri apakah ia akan sanggup menghadapi orang muda itu satu lawan satu.

Ia lalu memberi aba-aba dalam bahasa rahasia perkumpulannya.

Mendengar aba-aba ini dua belas orang Cap-ji-liong itu lalu berlari-lari mengelilingi dua orang muda itu dan makin lama lingkaran itu menjadi makin jauh.

"Awas.."

Siang Ki berseru keras dan Kwi Lan yang sudah menduga segera memutar pedangnya, melindungi tubuhnya dari sambaran senjata-senjata rahasia mereka, yaitu Sin-seng-piauw yang berbentuk bintang.

Juga Siang Ki memutar tongkatnya sehingga sebentar saja di sekitar mereka berdiri berserakan senjata rahasia musuh.

Hebatnya, tidak hanya Sin-seng-piauw yang menyambar bagaikan hujan, kini banyak anak panah yang dilepas oleh anak buah bajak.

Sibuk sekali Siang Ki dan Kwi Lan menghadapi hujan serangan senjata rahasia ini.

"Kwi Lan.. kau larilah.. lekas serbu sayap kiri. aku membantu dan melindungimu, kau harus lari.."

Terdengar Siang Ki berkata dengan napas memburu.

Ketika Kwi Lan melirik tanpa menghentikan putaran pedangnya, ia terkejut melihat pemuda itu terluka pundak kirinya sehingga mengeluarkan darah.

"Huh, enak kau bicara"

Kau kira aku pengecut yang takut mampus? Kau lihat"

Sambil berkata demikian, tangan kiri Kwi Lan bergerak menyambitkan jarum-jarumnya ke sebelah kanan.

Sinar hitam menyambar dan terdengarlah jerit-jerit kesakitan disusul robohnya lima anggauta bajak yang menjadi korban sambaran jarum-jarum hijau beracun.

Akan tetapi gerakan ini hampir mencelakakan Kwi Lan juga karena dengan gerak serangannya ini, putaran pedangnya kurang kuat dan kalau ia tidak cepat meloncat ke kiri, tentu ia menjadi korban sambaran sebuah di antara puluhan senjata rahasia.

"Tiada guna.. mereka terlalu banyak dan lihai. Lekas kau lari selagi ada kesempatan Kwi Lan."

"Ih, kalau kau takut, kau larilah. Aku tidak takut, akan kulawan sampai mampus"

"Aku tidak takut, aku ingin kau menyelamatkan diri, jangan pikirkan diriku.."

"Eh, orang bernama Yu Siang Ki. Apakah kau mau menjadi orang gagah sendiri dan aku harus menjadi pengecut? Tidak, kalau kita lari, harus lari bersama, kalau melawan terus harus berdua"

Jawab Kwi Lan dengan kukuh dan suaranya jelas memperdengarkan kemarahan.

"Ah, kau bodoh"

Kata Siang Ki sambil memutar tongkat dan mengebutkan lengan baju lalu melompat tinggi. Biarpun sudah terluka ternyata ia masih gesit sekali.

"Bukan berani atau takut, melainkan kita harus gunakan otak. Kalau melawan terus dan keduanya mati, siapa akan tolong? Kau lari dulu, kalau aku tertawan, masih ada kau yang menolongku. Kenapa nekat? Hayo lekas serbu ke sayap kiri, aku bantu kau melarikan diri"

Kwi Lan menjadi gemas sekali.

Sambil memutar pedang menangkis senjata rahasia, ia berhasil menangkap sebuah peluru bintang dan cepat mengembalikannya dengan sambitan kuat.

Kembali terdengar jerit seorang anggauta bajak roboh dan tewas.

"Aku punya rencana. Hayo kau lindungi aku"

Bentaknya kepada Siang Ki, kemudian tanpa memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk membantah, ia sudah meloncat dan menyerbu, bukan ke kiri melainkan ke kanan.

Yang mengurung di sebelah kiri adalah anggauta-anggauta termuda Cap-ji-liong dan ketika bertempur tadi Siang Ki sudah dapat melihat bahwa sayap kiri ini yang paling lemah.

Akan tetapi gadis ini sekarang malah menyerbu sayap kanan di mana terdapat Ma Kiu, Ketua Thian-liong-pang yang tentu saja paling kuat di antara adik-adiknya.

Karena melihat Kwi Lan sudah menyerbu, tentu saja ia pun tak dapat mencegah cepat ia melindungi gadis itu dari dekat.

Ma Kiu terkejut dan cepat ia bersama adik-adiknya menyambut serangan Kwi Lan dan sekaligus tiga orang menangkis sedangkan tiga orang lain membalas dengan serangan dari kanan kiri.

Akan tetapi Kwi Lan tidak peduli akan serangan ini, bahkan ia terus menerjang maju ke arah Ma Kiu dengan tikaman dan sabetan pedang bertubi-tubi.

Melihat ini, tiga orang anggauta Cap-ji-liong menjadi girang dan mengira bahwa serangan mereka tentu akan mengenai sasaran.

"Trang-trang-trang.."

Tangkisan tongkat Siang Ki amat kerasnya sehingga golok dan pedang yang mengancam Kwi Lan itu sampai terpental dari tangan pemegangnya.

Akan tetapi karena Siang Ki sudah terluka dan dalam tangkisan ini ia mempergunakan terlalu banyak tenaga maka ketika ruyung di tangan Cap-ji-liong ke empat menyambar punggung, ia tidak dapat menghindar lagi sehingga punggungnya kena hantaman ruyung.

Siang Ki mengeluh dan cepat memutar tubuh menggerakkan tongkat.

Robohlah orang Cap-ji-liong pemegang ruyung itu dan pingsan karena perutnya terkena sodokan tongkat.

Akan tetapi Siang Ki yang menjadi gelap pandang matanya oleh hantaman ruyung di punggungnya tadi juga roboh karena pada saat itu, dua buah peluru bintang yang mengandung racun telah menyambar dan mengenai dada dan lehernya.

Siang Ki roboh pingsan dengan tongkat masih terpegang erat-erat.

Pada saat yang hampir berbareng, Kwi Lan yang menyerang Ma Kiu juga telah berhasil.

Dengan gerakan seperti burung walet terbang miring, gadis itu melompat menghindarkan sambaran sepasang pedang Ma Kiu, Kemudian dari samping atas tangan kirinya bergerak dan tanpa dapat dicegah lagi jari-jari tangannya yang kecil halus namun kuat dan cekatan itu telah menotok tengkuk Ma Kiu.

Ma Kiu mengeluarkan jeritan parau dan roboh, kedua pedangnya terlepas.

Sebelum adik-adik seperguruannya mampu menolongnya, Kwi Lan sudah meloncat turun, menginjakkan kaki kirinya pada tubuh Ma Kiu yang pingsan itu, menodongkan pedangnya ke dada Ketua Thianliong-pang ini sambil membentak.

"Mundur semua atau kurobek perut Ketua Thian-liong-pang"

Ancaman yang dikeluarkan dengan suara nyaring penuh amarah ini berhasil.

Orang-orang Thian-liong-pang yang tadinya sudah menggerakkan senjata hendak membunuh Siang Ki yang sudah tak berdaya itu menarik kembali senjata masing-masing, juga mereka yang hendak menyerbu Kwi Lan kini terpaksa melangkah mundur.

Akan tetapi sepuluh orang Cap-ji-liong yang belum terluka masih mengurung tubuh Siang Ki yang sudah pingsan.

Mereka bukan orang bodoh dan melihat kepala mereka terjatuh di tangan gadis itu, mereka pun mengurung dan menawan Siang Ki.

"Bebaskan kawanku itu, baru aku akan membebaskan Ketua Thian-liong-pang"

Kembali Kwi Lan membentak dan pedangnya masih ditodongkan ke arah dada Ma Kiu.

Seorang di antara sepuluh anggauta Cap-ji-liong yang bertubuh kurus bermuka pucat, melangkah maju mewakili teman-temannya.

Ia melihat betapa banyaknya anak buah bajak yang roboh menjadi korban nona perkasa itu, dan melihat pula betapa nyawa ketuanya terancam bahaya maut.

Akan tetapi ia pun melihat betapa bulu mata Ma Kiu bergerak-gerak, tanda bahwa ketuanya itu tidak pingsan.

Memang dalam hal ini Kwi Lan kurang menghargai kepandaian lawan.

Ia tidak tahu bahwa Ma Kiu berjuluk Thai-lek-kwi (Setan Bertenaga Besar), memiliki gwa-kang yang bukan main kuatnya sehingga jalan darah di tubuhnya seakan-akan terlindung oleh otot-otot baja dan kulit besi.

Tadi ketika terkena totokan, Ketua Thian-liong-pang ini hanya puyeng sebentar akan tetapi jalan darahnya tidaklah terhenti seperti yang disangka Kwi Lan.

Ia hanya setengah pingsan sebentar saja dan kini ia sudah sadar kembali.

Akan tetapi dasar ia cerdik, ia diam saja karena maklum bahwa sedikit saja ia bergerak, tentu gadis yang sakti ini akan curiga dan menusuk dadanya.

"Hemm, Mutiara Hitam."

Kata anggauta Cap-ji-liong yang bermuka pucat tadi.

"keadaanmu tidak menguntungkan akan tetapi kau masih membuka mulut besar. Kau boleh mengancam ketua kami akan tetapi kami pun dapat mengancam nyawa kawan baik dan kekasihmu ini. Ha-ha-ha"

Wajah Kwi Lan menjadi merah sekali, pandang matanya melotot dan ia membentak.

"Baik, kau boleh bunuh dia, akan tetapi selain ketuamu ini kubunuh, juga semua orang Thian-liong-pang takkan kubiarkan hidup"

Tiba-tiba anggauta Cap-ji-liong yang bermuka pucat itu bersuit nyaring dan mereka berbareng menerjang maju pada saat Ma Kiu menggerakkan tubuh bergulingan menjauhi Kwi Lan.

Gadis itu kaget sekali.

Kalau ia menghadapi penyerbuan mereka, tentu Ketua Thian-liong-pang itu terlepas dari tangannya.

Sebaliknya kalau ia mengejar dan menyerang Ma Kiu yang bergulingan, tentu ia akan menjadi korban serbuan sepuluh orang Cap-ji-liong.

Tentu saja yang terpenting adalah menyelamatkan dirinya sendiri, karena kalau ia roboh, berarti Siang Ki takkan dapat tertolong lagi.

Dengan geram ia memutar pedangnya menyambut serbuan sepuluh orang anggauta Cap-ji-liong itu.

Demikian hebat gerakan pedangnya yang dirangsang kemarahan sehingga tubuhnya berkelebat lenyap dan gerakan pedang yang aneh itu tidak saja dapat menangkis senjata yang mengancamnya, juga ia berhasil pula merobohkan dua orang pengeroyok.

Sungguhpun pedangnya tidak mengenai tepat, hanya menyerempet saja namun dua orang anggauta Cap-ji-liong itu roboh karena terluka dekat leher.

Segera Kwi Lan dikurung oleh sisa anggauta Cap-ji-liong dan anak buah Thian-liong-pang yang amat banyak.

Terdengar suara Ma Kiu marah sekali.

"Seret ketua jembel itu dan bawa pergi"

Siapkan barisan Am-gi (Senjata Rahasia), keroyok iblis betina ini"

Makin bingung dan gelisah hati Kwi Lan mendengar perintah yang dikeluarkan Ketua Thian-liong-pang ini.

Ia masih dan belum berpengalaman seperti Siang Ki.

Andaikata ia menurut nasihat Yu Siang Ki dan menyelamatkan diri, agaknya tidak terlalu sukar bagi Kwi Lan untuk meloloskan diri di dalam kegelapan malam.

Namun gadis ini luar biasa beraninya dan juga tak dapat menahan kemarahannya.

Melihat betapa temannya terancam bahaya maut, ia tidak pedulikan lagi akan keselamatan diri sendiri, terus saja mengamuk seperti seekor naga sakti.

Namun Ma Kiu yang maklum akan kelihaian gadis ini dan menghendaki agar gadis ini ditawan dalam keadaan hidup, lalu mengatur barisan.

Mereka lalu mengeluarkan tambang-tambang yang diayun-ayun untuk menyerimpung kedua kaki Kwi Lan, di samping itu hujan senjata rahasia membuat Kwi Lan sibuk bukan main.

Selain ia harus menghindarkan diri dari hujan senjata, ia pun harus berloncatan karena kakinya diancam oleh ayunan tambang-tambang yang dipegangi para pengeroyok dari depan dan belakang serta kiri kanan.

Kini ia terkepung rapat dan andaikata ia mempunyai maksud hati untuk melarikan diri sekalipun sudah tak mungkin lagi, sudah terlambat.

Sementara itu, Ma Kiu yang cerdik dan banyak siasat, diam-diam sudah mengambil jaring yang berada di tepi sungai, jaring para nelayan dijemur di tepi sungai.

Diam-diam Ketua Thian-liong-pang ini mengatur siasat dan alangkah kaget hati Kwi Lan ketika tiba-tiba banyak sekali jaring melayang dari atas menyelimutinya.

ia berusaha memutar pedang membela diri.

Banyak jaring yang robek oleh pedangnya, akan tetapi tiba-tiba kakinya terasa sakit tertusuk senjata rahasia anak panah, sehingga ia terhuyung-huyung.

Pada saat itu, beberapa buah jaring menutup tubuhnya, dan ada tambang melibat kakinya dan menjegalnya.

Betapa pun kuatnya Kwi Lan, ia tidak dapat mempertahankan diri lagi dan roboh terguling.

Para anggauta Thian-liong-pang bersorak-sorak dan sebentar saja tubuh Kwi Lan sudah dilibatlibat jaring.

Ia tertawan dalam libatan jaring-jaring itu dan hanya mampu memaki-maki akan tetapi sama sekali tidak dapat meronta lagi.

Ma Kiu memimpin orang-orangnya membawa pergi Kwi Lan dan Yu Siang Ki sebagai dua orang tawanan penting.

Masih untung bagi dua orang muda itu.

Kwi Lan adalah gadis yang pernah mengacau Thian-liong-pang akan tetapi juga mengaku sebagai utusan Pak-sin-ong mengirim kuda hitam, maka ia bukan orang biasa dan oleh Ma Kiu akan dibawa dan dihadapkan kepada Siauw-bin Lo-mo yang kini hendak mengadakan hubungan dengan barisan Hsi-hsia.

Adapun Yu Siang Ki adalah Ketua Khong-sim Kai-pang yang menjadi musuh besar Bu-tek Siu-lam karena pemuda ini berani memusuhi para pengemis baju bersih, maka juga merupakan orang penting yang patut dihadapkan kepada Siauw-bin Lo-mo untuk diambil keputusan nasibnya.

Selain ini, juga Ma Kiu yang melihat kecantikan Kwi Lan, merasa sayang kalau membunuh gadis ini secara begitu saja.

Rombongan orang Thian-liong-pang ini lalu pergi meninggalkan desa Ci-chung sebagian naik kuda dan ada yang berjalan kaki mendorong dua buah kereta kecil, yaitu kereta tawanan yang bentuknya seperti kurungan binatang buas di mana menggeletak Yu Siang Ki yang pingsan dan Kwi Lan yang memaki-maki di sepanjang jalan.

Lembah Sungai Nu-kiang yang meluncur turun dari lereng Gunung Kao-likung-san memang merupakan tempat yang selain amat indah, juga amat strategis untuk dijadikan tempat persembunyian para pendeta Tibet yang memimpin sisa pasukan Hsi-hsia.

Lembah ini penuh dengan hutan-hutan liar, tanahnya amat subur dan selain banyak tetumbuhan yang dapat menjadi bahan makanan, juga di situ banyak terdapat binatang hutan.

Di samping ini semua, keadaan daerah pegunungan yang amat sukar didatangi orang itu merupakan daerah sunyi dan tidaklah mudah bagi musuh untuk datang menyerbu.

Karena tempat itu dijadikan markas untuk Bouw Lek Couwsu tokoh pendeta jubah merah dari Tibet bersama anak buahnya dan pasukan Hsi-hsia, maka di situ telah dibangun pondok-pondok darurat yang cukup besar.

Sisa pasukan yang menyerbu Nan-cao dan gagal karena dapat dipukul mundur, sebagian besar sudah mengalihkan rencana ke utara untuk memasuki dan mengganggu perbatasan Kerajaan Sung.

Akan tetapi Bouw Lek Couwsu yang suka dengan markas baru ini, hanya menyerahkan penyerbuan atau pengacauan itu kepada anak buahnya, sedangkan ia sendiri beristirahat di markas baru ini, ditemani Siang-mou Sin-ni yang biarpun tua namun masih kelihatan cantik dan menyenangkan hatinya, apalagi kalau diingat bahwa hadirnya iblis betina ini disampingnya merupakan pembantu yang amat boleh diandalkan ilmu kepandaiannya menghadapi musuh.

Dan kakek berkepala gundul yang wajahnya masih tampan ini maklum bahwa setelah ia berhasil merusak dan membunuh tokoh-tokoh Beng-kauw, tentu akan banyak lawan tangguh yang mencarinya.

Biarpun usahanya menyerbu Nan-cao gagal dan pasukan Hsi-hsia dipukul mundur, namun hati Bouw Lek Couwsu tidaklah terlalu kecewa.

Pertama, ia memang tidak terlalu ingin menaklukkan Nan-cao karena yang ia incar adalah Kerajaan Sung.

Ke dua, ia telah berhasil membunuh Ketua Beng-kauw dan para tokohnya sehingga ia dapat membalas kekalahannya dahulu.

Ke tiga, anak buahnya juga sudah cukup puas karena dalam penyerbuan itu mereka merampas banyak harta benda dan menculik banyak wanita muda.

Untuk kakek pendeta yang hanya menggunakan kependetaannya sebagai kedok belaka ini saja disediakan belasan orang gadis rampasan yang tercantik, sehingga sambil beristirahat di Lembah Nu-kiang kakek ini akan dapat bersenang-senang sepuas hatinya.

Juga Siang-mou Sin-ni yang tidak ambil pusing akan apa yang dilakukan bekas kekasihnya, menjadi amat girang ketika ia dapat menculik Kam Han Ki, putera bungsu Kam Bu Sin.

Ia melihat bahwa selain anak berusia sebelas tahun ini amat tampan dan berwatak gagah, juga memiliki darah murni dan tulang bersih sehingga terpenuhilah kebutuhannya untuk menyempurnakan ilmunya Hun-beng-to-hoat.

Siang-mo Sin-ni memesan kepada para penjaga untuk menjaga tawanan anak kecil ini baik-baik dan setiap hari supaya diberi makan minum secukupnya, bahkan diberi hidangan lezat yang sudah ia campuri obat untuk memperkuat keadaan tubuh anak itu sebelum ia "pergunakan"

Untuk keperluan ilmunya.

Akan tetapi tidaklah mudah membujuk dan membohongi Kam Han Ki.

Anak ini semenjak diculik dan dibawa ke dalam rimba lalu dijebloskan ke dalam kamar tahanan, selalu memperlihatkan sikap melawan dan menentang.

Sedikit pun anak ini tidak pernah menangis lagi sejak ditangkap, namun tidak mengenal takut dan selalu menolak apabila diberi makan.

Setidaknya, ia menerima makanan dengan sikap menentang dan baru mau makan sedikit kalau tidak ada penjaga melihatnya, ini pun hanya untuk menjaga agar ia tidak kelaparan saja, sedangkan sisanya ia lemparkan ke lantai dan minuman yang lezat dan berlebihan, ditunggu sampai satu dua pekan tubuh Han Ki tidak makin segar, melainkan makin kurus dan pucat.

Setengah bulan kemudian, pada pagi hari itu Siang-mou Sin-ni sendiri datang memasuki kamar tahanan Han Ki yang berpintu jeruji besi dan terkunci dari luar.

Melihat masuknya wanita cantik berpakaian mewah dengan rambut terurai panjang yang mengeluarkan bau wangi memabokkan itu, sepasang mata Han Ki sudah bersinar-sinar seperti mengeluarkan kilat.

Wanita inilah yang bersama pendeta gundul berkaki buntung, yang membunuh ayah bundanya dan wanita inilah yang telah menculiknya, menotok dan memondongnya sambil berlari seperti terbang cepatnya ke tempat ini.

Melihat wanita ini memasuki kamar tahanan yang bersih dan tidaklah seburuk kamar tahanan biasa, Han Ki melangkah mundur sampai kedua kakinya menyentuh tempat tidur, lalu ia duduk di pembaringannya.

Matanya tak pernah berkedip memandang wanita ini, jantungnya berdebar karena di samping kemarahan dan kebenciannya, ia dapat menduga bahwa wanita ini tak mungkin berniat baik terhadap dirinya.

Sejenak Siang-mou Sin-ni memandang dengan matanya yang genit, kemudian ia tersenyum, menggeleng-geleng kepalanya dan berkata, suaranya halus dan manis.

"Anak baik, namamu Kam Han Ki, bukan? Ah, mengapa kau mengecewakan hatiku? Kau tidak mau makan dengan baik-baik, sehingga tubuhmu makin kurus. Kenapa kau menyiksa dirimu? Aku sayang padamu, Han Ki."

"Kalau sayang kenapa kaubunuh Ayah bundaku? Tidak, kau jahat dan biarkan aku pergi dari sini"

Sambil berkata demikian, Han Ki yang melihat betapa pintu tahanan yang kokoh kuat itu kini sudah terbuka, lalu mengerahkan tenaga dan melompat ke arah pintu untuk melarikan diri.

Betapapun juga ia adalah putera suami isteri pendekar, sejak kecil sudah menerima gemblengan dasar-dasar ilmu silat sehingga gerakannya cepat dan sebentar saja ia sudah lari keluar menerobos pintu.

Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya terbetot ke belakang, bahkan melayang kembali ke dalam kamar.

Han Ki meronta dan kaget sekali melihat betapa tubuhnya sudah terbelit rambut yang hitam dan harum memabokkan, kemudian ia mendengar suara tertawa merdu yang amat dibencinya itu.

"Hi-hi-hik, Kam Han Ki, kau tampan dan nyalimu besar. Bagus"

Han Ki hendak meronta, namun sia-sia.

Rambut itu seperti hidup, membelit dan mengikatnya, membuat kaki tangannya tak dapat bergerak.

Ia tahu-tahu telah berada di atas dada wanita itu seperti dipegangi rambut yang amat kuat.

Kedua tangan iblis betina itu mulai membelai-belainya, mengelus-elus kepala, meraba-raba muka, dan dagu dan leher, mengurut-urut dada dan punggung penuh kasih sayang.

Namun sentuhan-sentuhan ini menimbulkan rasa dingin dan ngeri di hati Han Ki, seakan-akan bukan kedua tangan, melainkan ratusan ekor ular yang menggeliat-geliat dan merayap-rayap di sekujur tubuhnya.

Akan tetapi ia tidak mampu bergerak, hanya menatap wajah yang amat dekat itu dengan mata terbelalak.

Karena wajah wanita itu amat dekat dengan wajahnya, ia merasa betapa hawa panas keluar dari mulut dan hidung wanita itu menyentuh pipinya, dan ia melihat betapa wajah itu sebenarnya penuh gurat-gurat halus tersembunyi di balik bedak dan yanci.

Ia makin serem dan ngeri.

"Hi-hi-hik, anak baik, anak tampan dan ganteng. Engkau tampan dan ganteng seperti Kam Bu Sin, Ayahmu. Hi-hik Ayahmu dahulu pernah menjadi kekasihku, tahukah kau anak baik? Dia amat cinta kepadaku.. hi-hik"

"Bohong.."

Han Ki tidak begitu mengerti akan arti ucapan wanita ini akan tetapi mendengar bahwa ayahnya mencinta iblis betina ini, mana ia mau percaya?

"Hi-hi-hik, siapa bohong?

Kau lebih tampan dari dia, hem..

kulitmu lebih halus, darahmu lebih bersih dan murni..

hemmm.."

Tiba-tiba wanita itu mencium dahinya, pipinya hidungnya, bahkan kemudian mulut yang merah itu mencium mulutnya.

Han Ki gelagapan hampir pingsan, mengira bahwa wanita itu akan menggigiti dan seperti seekor serigala akan memakannya.

Ia merasa ngeri, jijik, takut dan terutama sekali marah.

Ketika Siang-mo Sin-ni mencium mulutnya seperti orang gila, atau lebih mirip dengan seekor kucing yang hendak menggerogoti tubuh tikus, Han Ki merasa betapa dada di mana tubuhnya menempel itu terengah-engah, merasa betapa mulut yang mencium bibirnya itu panas terengah dan betapa rambut yang membelit tubuhnya mengendur.

Saking takut, jijik dan marahnya, ia menggunakan kesempatan selagi rambut yang membelitnya itu mengendur, ia meronta sekuat tenaga sambil menarik mukanya ke belakang.

Gerakannya yang tiba-tiba membuat ia merosot dan cepat kedua tangannya merangkul pundak dan leher Siang-mou Sin-ni, kemudian dengan buas dan terdorong kemarahan meluap-luap, Han Ki membuka mulutnya dan..

menggigit ternggorokan Siang-mou Sin-ni.

Mulutnya bertemu kulit leher yang halus, terus saja ia menggunakan giginya yang kuat menggigit sekuat tenaga, bertekad untuk menggigit dan tidak akan melepaskan gigitannya biarpun ia dipukul sampai mati.

"Aiihhh.."

Siang-mou Sin-ni menjerit lirih.

Dia adalah seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan jarang ada tokoh kang-ouw yang dapat menandinginya.

Dialah seorang di antara Thian-te Liok-kwi (Enam Iblis Bumi Langit) yang tersohor puluhan tahun, yang bahkan dialah satu-satunya orang di antara Enam Iblis yang masih hidup.

Ilmu kepandaiannya amat hebat bahkan mengerikan bagi banyak tokoh kang-ouw.

Baru ilmunya mempergunakan rambut panjang saja sudah sukar dicari jagoan yang mampu menghadapinya, belum lagi ilmunya yang disebut Tok-hiat-hoat-lek, yaitu semacam pukulan darah beracun, bukan main kejinya.

Akan tetapi karena dalam detik-detik tadi ketika ia mencium Han Ki, ia dikuasai oleh nafsu binatang karena mengilar akan kemurnian darah dan kebersihan tulang anak itu, maka ia berada dalam keadaan seorang mabok dan pada detik-detik itu, semua tenaga sakti seakan-akan melayang meninggalkan raganya yang dikuasai oleh nafsu binatang dan semua pikiran dan perasaannya hanya ditujukan akan kenikmatan menguasai darah dan sumsum bocah itu untuk menyempurnakan ilmu yang sedang dilatihnya.

Inilah sebabnya mengapa gigitan Han Ki dengan tepat mengenai sasaran, bahkan kulit tenggorokannya robek oleh gigitan itu.

Padahal dalam keadaan biasa, bukan kulit lehernya yang robek, melainkan gigi anak itu yang rontok.

Betapapun juga, sebagai seorang berilmu tinggi, hanya sedetik Siang-mou Sinni terkejut.

Kalau saja ia bukan orang yang memiliki kesaktian luar biasa, agaknya dalam kaget dan marah ia tentu sekali menggerakkan jari tangan membunuh anak itu.

Namun ia cukup sadar bahwa ia amat membutuhkan bocah ini, maka ia tidak menurunkan tangan maut, melainkan menggunakan tangan mengetuk perlahan tengkuk Han Ki.

Bocah itu mengeluh dan gigitannya terlepas, lalu roboh di atas pembaringannya karena dilemparkan, dalam keadaan pingsan.

Siang-mou Sin-ni meraba tenggorokannya dan tersenyum memandang anak itu.

"Hebat,"

Bisiknya.

"kulit leherku sampai pecah-pecah terluka."

Ia lalu melangkah keluar dan memanggil penjaga yang datang berlarian.

"Jaga baik-baik anak ini dan mulai sekarang, semua hidangan dariku untuknya harus dia makan, kalau perlu dijejalkan ke dalam mulutnya secara paksa."

Ketika malam hari itu Han Ki siuman dari pingsannya, ia bergidik ngeri dan jijik teringat akan peristiwa pagi hari tadi.

Ia merasa beruntung masih hidup, dan semalam itu ia duduk termenung memikirkan pengalamannya.

Yang selalu terngiang di telinganya adalah pengakuan Siang-mou Sin-ni bahwa mendiang ayahnya dahulu adalah kekasih iblis betina itu.

Ia tidak sudi untuk mempercepat hal ini, akan tetapi entah bagaimana, ucapan itu selalu teringat olehnya.

Tentu saja anak ini sama sekali tidak mau percaya karena ia menjunjung tinggi kepada mendiang ayahnya, seorang pendekar dan menantu Ketua Beng-kauw.

Padahal, apa yang diucapkan iblis betina itu memang ada benarnya.

Pernah Kam Bu Sin menjadi kekasih iblis betina ini dahulu akan tetapi kekasih paksaan karena Kam Bu Sin melayani semua kehendak dan nafsu iblis Siang-mou Sin-ni dalam keadaan tidak sadar karena telah dicekoki obat perampas semangat.

(baca cerita CINTA BERNODA DARAH).

Pada keesokan harinya, seperti biasa, pagi-pagi sekali orang sudah mengantar makanan lezat untuknya.

Akan tetapi bedanya, kali ini yang datang mengantar makanan adalah seorang hwesio jubah merah yang bermuka bengis.

"Kau makan ini, kalau tidak mau akan kujejalkan ke mulutmu secara paksa."

Hwesio itu mengancam sambil menyeringai, tampak giginya yang besar-besar dan berwarna kuning dekil.

Melihat gigi besar-besar kuning dekil dan mencium bau memuakkan dari mulut hwesio yang didekatkan di mukanya itu saja sudah membuat Han Ki mual perutnya dan tidak ada nafsu makan sama sekali biarpun perutnya lapar.

Apalagi karena ia masih marah terhadap Siang-mou Sin-ni.

Wajah yang cukup bengis itu tidak mendatangkan rasa takut pada hati anak pemberani ini.

"Aku tidak sudi. Kau makan sendiri"

Ia menjawab sambil membuang muka.

"Ha-ha-ha, memang kuharapkan kau akan menolak, biar puas hatiku menjejalkan makanan ini di mulutmu, bocah bandel"

Bentak hwesio itu dan secepat kilat tangan kirinya yang penuh bulu hitam itu meraih, mencengkeram pundak Han Ki dan menarik naik anak ini mendekat.

Ia tidak pedulikan Han Ki meronta-ronta, mendudukkan anak itu dipangkuannya dan menelikung kedua lengan anak itu.

Tangan kirinya lalu membuka mulut Han Ki secara paksa.

Tentu saja amat mudah bagi hwesio yang memiliki tenaga besar dan berkepandaian tinggi ini untuk memaksa Han Ki membuka mulut, kemudian ia menjejalkan makanan itu dalam mulut Han Ki.

Bocah ini tersedak-sedak, terengah-engah dan karena makanan itu dijejalkan sampai menutup leher dan menghalangi jalan pernapasannya, mau tak mau ia terpaksa harus menelannya.

Percuma saja ia meronta-ronta, dan percuma saja ia berusaha untuk tidak menelan makanan, karena hal ini tidak mungkin.

Akhirnya semua makanan semangkok penuh itu terjejal ke mulut dan memasuki perutnya.

Masakan ini memang lezat dan hal ini sudah diketahui Han Ki yang kadang-kadang makan pula, akan tetapi dijejal seperti ini lenyaplah rasa lezatnya.

Ketika hwesio itu selesai menjejalkan makanan dan melemparkan tubuh Han Ki kembali ke atas ranjang, dua butir air mata meloncat keluar dari mata Han Ki yang melotot dan hinggap di atas keduapipinya.

Ia memandang hwesio itu dengan mata melotot penuh kebencian.

Akan tetapi hwesio itu mengebut-ngebutkan bajunya dan berkata.

"Aku masih ingin sekali menjejalkan makanan beberapa kali sampai perutmu penuh dan bibirmu robek. Ha-ha-ha"

Setelah berkata demikian, hwesio itu keluar dari kamar.

Penjaga segera datang, mengambil mangkok dan menutup pintu lalu menguncinya.

Setelah berada seorang diri, Han Ki duduk terlongong.

Hampir ia menangis menggerung-gerung kalau saja hatinya tidak menahannya.

Ia tidak mau menangis, apalagi di depan hwesio itu.

Ia tidak mau memberi kesenangan pada musuh-musuhnya dengan tangisnya.

Akan tetapi Han Ki seorang anak yang cerdik.

Ia pun maklum bahwa kalau ia tidak mau makan, tentu hwesio itu memenuhi ancamannya dan kalau sampai dijejali lagi, berarti ia mengalami penghinaan dan agaknya hal itu menyenangkan hati Si Hwesio bengis.

Inilah sebabnya maka mulai saat itu, setiap kali hwesio itu membawa masakan, ia segera memakannya dengan sukarela sampai habis.

Luar biasa sekali hasilnya.

Dalam waktu sepekan saja tubuh Han Ki menjadi gemuk, dagingnya penuh, kedua pipinya kemerahan dan sepasang matanya bersinar-sinar tajam.

Inilah hasil obat kuat dalam masakan-masakan yang dibuat oleh Siang-mou Sin-ni sendiri.

Obat yang mengandung hawa panas, memanaskan darah dan menguatkan tulang, menambah sumsum.

Han Ki merasa sehat dan kuat, hanya ia seringkali kepanasan sampai sering ia membuka bajunya di waktu siang, tidak kuat karena merasa tubuhnya seolah-olah terbakar.

Dan kini yang membawa datang makanan bukan lagi hwesio bengis.

Agaknya karena Han Ki tidak pernah menolak untuk makan hidangan, Siang-mou Sin-ni tidak mau lagi menggunakan hwesio untuk mengancam, dan kini masakan dibawa datang oleh penjaga biasa.

Penjaga itu seorang Hsi-hsia, biarpun cukup kuat dan galak, akan tetapi tidak mempunyai watak sadis (suka menyiksa) seperti hwesio itu.

Malam itu Si Penjaga kembali datang membawa makanan untuk Han Ki.

"Mungkin malam ini yang terakhir kau di sini."

Kata Si Penjaga sambil lalu. Berdebar jantung Han Ki mendengar ini.

"Mengapa? Aku hendak diapakan?"

Tanyanya. Penjaga itu tertawa mengejek.

"Apa lagi? Kau anak musuh, tidak disembelih sejak dulu sudah untung. Ha-ha, agaknya Sin-ni suka kepadamu. Entah bagaimana aku tidak tahu.. heh-heh, menurut pikiranku, kau masih terlalu kecil, mana bisa melayaninya?"

Tentu saja Han Ki tidak mengerti maksudnya, akan tetapi ia dapat menduga bahwa tentu akan terjadi hal-hal yang tidak baik atas dirinya.

Harus sekarang kulaksanakan, pikirnya.

Untung atau buntung.

Hidup atau mati, tidak ada pilihan lagi.

"Paman yang baik, apa pun yang akan terjadi, sampai mati aku tidak akan melupakan kebaikanmu."

Han Ki sengaja terisak-isak seperti bocah terharu dan menangis.

Belasan hari lamanya, Si Penjaga diam-diam amat kagum menyaksikan Han Ki.

Bocah berusia sebelas tahun menjadi tawanan, namun tak pernah menangis, tak pernah mengeluh, tak pernah ketakutan.

Maka kini melihat Han Ki menangis di depannya dan menyatakan tidak melupakan kebaikannya, ia tentu saja terheran-heran.

"Huh? Apa maksudmu?"

"Selama ini kau telah menjaga diriku, Paman. Aku tidak punya apa-apa, hanya ini kubawa dari rumah orang tuaku, akan kutinggalkan kepadamu sebagai kenang-kenangan dan balas budi.."

Dari balik bajunya, Han Ki mengeluarkan sebuah benda yang macamnya seperti sehelai tambang, akan tetapi sesungguhnya adalah baju dalamnya yang terbuat daripada sutera putih dan yang selama ini ia pilin-pilin menjadi seperti tali.

Tadinya ia melepas baju dalam ini karena merasa tubuhnya panas, akan tetapi ketika ia bermain-main dan memilin-milinnya, timbullah gagasan untuk menyelamatkan diri dengan tali istimewa ini.

"Huh? Apa ini..?"

Orang Hsi-hsia yang belum banyak mengerti tentang benda-benda milik orang kota, memandang heran.

"Inilah kalung jimat para bangsawan di Nan-cao, Paman. Sebagai cucu Ketua Beng-kauw, aku selalu memakai kalung ini. Kau diamlah, biar aku memakaikannya kepadamu, Paman, dan kau akan tahu nanti bagaimana besar manfaatnya."

Tanpa menanti jawaban.

Han Ki memutari tubuh penjaga itu dan berdiri di belakangnya.

Orang Hsi-hsia itu terlampau heran dan ingin tahu, maka ia hanya tersenyum menanti.

"Beginilah pakainya, Paman."

Han Ki lalu menggunakan kedua tangan memegangi kedua ujung tali sutera itu, mengalungkan secepatnya di leher penjaga, kemudian ia membelit-belit kedua ujung pada lengannya dan menarik sekuat tenaga.

Orang Hsi-hsia itu terkejut, meronta hebat, namun Han Ki sekarang sudah menempelkan tubuh pada punggungnya seperti seekor lintah, kedua kakinya mengempit pinggang, kedua tangan sekuat tenaganya menarik ujung tali.

Semenjak kecil Han Ki telah digembleng orang tuanya maka ia telah memiliki dasar tenaga dalam.

Namun, andaikata ia tidak kebetulan diberi makan obat yang dicampurkan dalam masakan oleh Siang-mou Sin-ni, kiranya tenaga anak berusia sebelas tahun ini belum tentu akan dapat mencekik Si Penjaga yang kuat.

Kebetulan sekali, pengaruh obat Siang-mou Sin-ni luar biasa hebatnya, membuat tenaga dalam anak itu bertambah kuat beberapa kali lipat.

Beberapa menit lamanya orang Hsi-hsia yang tak dapat berteriak dan tak dapat bernapas itu meronta-ronta, bergulingan, namun tubuh anak itu tetap lengket di punggungnya dan akhirnya ia berkelojotan dan matanya mendelik, lidahnya terjulur keluar.

Setelah penjaga itu tidak berkutik lagi, barulah Han Ki melepaskan cekikan talinya lalu meloncat menjauhi.

Seluruh tubuhnya berpeluh, bukan hanya karena hawa panas yang menyelubungi tubuhnya, juga karena tegang dan tadi mengerahkan tenaga.

Ia memegangi kedua kaki penjaga itu dan menyeretnya.

Ia sendiri merasa heran mengapa tubuh penjaga itu demikian ringan.

Ia tidak tahu bahwa bukan tubuh Si Penjaga yang ringan, melainkan tenaganya yang kini menjadi amat kuat.

Diseretnya mayat itu ke bawah pembaringannya dan ditariknya tilam pembaringan ke bawah sehingga menutupi kolong pembaringannya.

Kemudian ia mengatur letak guling bantal, ditutupnya dengan selimut sehingga sepintas lalu tampak seolah-olah ia tidur dan berselimut dari kaki sampai menutupi kepala.

Setelah itu, dengan cepat namun hati-hati ia keluar dari pintu, menutupkan pintu dan mengancingkannya dari luar.

Ia tidak tahu sama sekali bahwa tempat ia ditahan itu merupakan kamar belakang dari bangunan yang menjadi tempat tinggal Bouw Lek Couwcu dan Siang-mou Sin-ni.

Bangunan ini biarpun dibuat secara darurat, namun amat luas.

Di sinilah Bouw Lek Couwsu tinggal ditemani gadis-gadis rampasan yang menempati beberapa buah kamar-kamar besar ini, Sian-mou Sin-ni tinggal terpisah.

Karena dari kamar tahanan itu tidak ada jalan keluar kecuali melalui ruangan belakang dan yang pertama-tama menembus ke kamar Siang-mou Sin-ni yang selalu ingin berdekatan dengan kamar tahanan calon korbannya, maka ketika Han Ki menyelinap keluar dan berjalan melalui lorong dalam rumah itu, ia makin mendekati kamar Siang-mou Sin-ni seperti seekor kelinci mendekati sarang macan.

Tiba-tiba suara ketawa cekikikan membuat ia berhenti bergerak dan merasa jantungnya seakan-akan copot karena suara ketawa itu ia kenal sebagai suara Siang-mou Sin-ni.

Suara itu keluar dari jendela yang tepat berada di pinggir kepalanya, jendela kamar Siang-mou Sin-ni.

Dengan jantung berdebar Han Ki lalu mengintai dari celah-celah daun jendela, menahan napas.

Untung bahwa ia bertelanjang kaki sehingga tapak kakinya tidak menerbitkan suara.

Sedikit saja ada suara, tentu takkan terlepas dari telinga Siang-mou Sin-ni dan Bouw Lek Couwsu yang berada di kamar itu.

"Hi-hi-hik, kau bajul buntung tua bangka tak bermalu"

Terdengar suara Siang-mou Sin-ni.

Han Ki yang mengintai kini melihat kakek yang kaki kirinya buntung dan bertubuh tinggi besar berjubah merah, (Lanjut ke

Jilid 19) Mutiara Hitam (Seri ke 04

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 19 sedang duduk bersila di atas pembaringan yang indah.

Kakek ini tersenyum-senyum dan wajahnya yang tampan itu masih kelihatan muda dan sehat.

Tangan kanannya memegang sebuah cawan emas yang besar.

Siang-mou Sin-ni rebah dengan kepala di atas pangkuan Bouw Lek Couwsu, rambutnya yang panjang terurai sampai ke lantai.

Wanita ini tertawa-tawa dengan sikap genit dan manja, lalu menyambung kata-katanya.

"Kau sudah tua bangka akan tetapi hatimu lebih muda daripada orang yang paling muda. Masih kurangkah perempuan muda yang kau keram di sini? Masa kau menginginkan pula dua orang dara itu?"

Bouw Lek Couwsu yang sudah mendekatkan cawan emas pada bibirnya, menunda minumnya dan memandang wajah yang menengadah di atas pangkuannya, tersenyum dan berkata.

"Kim Bwee, setua ini kau masih cemburu?"

Ia tertawa bergelak. Siang-mou Sin-ni cepat bangkit duduk dan matanya mendelik.

"Tua bangka menyebalkan. Aku cemburu padamu? Huh, memalukan. Kau tahu aku tidak cemburu, aku tidak peduli kau akan mengumpulkan ribuan perempuan seperti juga kau tidak cemburu dan peduli kalau aku mengumpulkan ribuan pemuda-pemuda tampan. Akan tetapi, dua orang dara itu adalah puteri Kam Bu Sin, mereka itu adalah cucu-cucu Ketua Beng-kauw yang sudah berhasil kita bunuh. Mereka tadinya, dapat lolos, sekarang dapat tertawan oleh murid-muridmu, itu baik sekali. Kenapa tidak lekas bunuh mereka? Makin lama mereka dibiarkan hidup, makin banyak pula kesempatan bagi mereka untuk lolos. Lebih baik kita singkirkan bahaya di hari depan kita."

"Hemmm, omonganmu selalu benar, Kim Bwe. Akan tetapi, aku merasa sayang untuk membunuh mereka begitu saja. Seperti juga bocah laki-laki yang akan kau ambil darah dan sumsumnya, dua orang dara itu adalah keturunan orang pandai, mereka memiliki tulang yang baik dan darah bersih, juga.. hemm, amat cantik jelita. Malam ini, aku janji padamu, mereka akan kutundukkan mau atau tidak mau, dan besok masih belum terlambat untuk membunuh mereka."

"Huh, dasar mata keranjang. Akan kulihat besok, kalau kau belum bunuh mereka, aku sendiri yang akan turun tangan"

Bouw Lek Couwsu mendekatkan mukanya dan mencium pipi Siang-mou Sin-ni sambil tertawa ia mendekatkan cawan emas pada bibirnya, tetapi kembali ia menunda karena Siang-mou Sin-ni berkata mencela.

"Kau akan mencelakai dirimu dengan minuman seperti itu"

"Ha-ha-ha, mana bisa celaka? Darah ular salju amat besar khasiatnya, tentu saja terutama sekali kepadaku. Kau tahu, aku ahli Im-kang aku membutuhkan racun dingin untuk memperkuat tenagaku, tidak seperti kau yang suka akan yang panas-panas, ha-ha-ha"

Pada saat itu terdengar pintu terketok dari luar.

Han Ki yang sejak tadi mengintai dan mendengarkan dengan wajah pucat dan tubuh menggigil saking gelisahnya mendengar dua orang kakak perempuannya juga tertawan, menjadi makin kaget dan cepat-cepat ia menarik kepalanya, mendekam di bawah jendela yang gelap.

Ia hanya mendengarkan sambil menahan napas.

Akan tetapi ternyata bahwa yang datang memasuki kamar itu adalah seorang pendeta jubah merah anak buah Bouw Lek Couwsu dan mereka bicara dalam bahasa Tibet yang sama sekali tidak dimengerti Han Ki.

Kemudian terdengar Bouw Lek Couwsu memaki-maki, juga Siang-mou Sin-ni berseru marah.

"Mari kita lihat bagaimana macamnya iblis itu"

Terdengar mereka meninggalkan kamar.

Setelah keadaan di situ sunyi, barulah Han Ki berani menggerakkan lehernya mengintai.

Kamar itu kosong.

Hatinya berdebar.

Kedua orang kakaknya tertawan pula.

Di mana?

Dengan hati-hati ia lalu naik ke atas jendela, lalu memasuki kamar itu.

Tubuhnya masih gemetar dan jantungnya masih berdebar.

Lehernya seperti dicekik, amat kering dan haus.

Keadaan sudah amat sunyi dan agaknya ia akan dapat melarikan diri, akan tetapi ia mendengar bahwa dua orang kakaknya tertawan, lenyaplah keinginan hatinya untuk melarikan diri.

Ia lama menyelidiki dan mencari dimana kedua orang kakaknya ditahan dan ia akan berusaha menolongnya.

Bau harum sedap menarik perhatiannya.

Cawan emas itu masih di atas meja dan isinya penuh.

Agaknya Bouw Lek Couwsu tidak sempat meminumnya, keburu datang pelapor yang membuatnya marah-marah dan meninggalkan kamar.

Mencium bau sedap dan melihat isi cawan yang kuning kemerahan dan jernih, makin kering rasa tenggorokannya.

Sebagai putera pendekar yang dilatih silat sejak kecil Han Ki tidak asing dengan arak, karena seringkali ia diharuskan minum arak obat untuk memperkuat tulang-tulangnya dan membersihkan darahnya.

Dalam keadaaan gelisah ia menjadi haus sekali melihat arak dalam cawan emas itu tak dapat ia menahan keinginan hatinya.

Tanpa banyak pikir lagi ia lalu menyambar cawan emas dan menuang isinya ke mulut.

Sedap dan manis.

Rasa enak membuat ia minum terus sampai cawan itu kosong.

Ketika ia melempar kembali cawan ke atas meja, ia mengeluh dan terhuyung-huyung ke kanan kiri.

Tubuhnya terasa aneh sekali, sebentar terasa panas yang selama ini memenuhi tubuhnya menjadi makin panas seperti terbakar, akan tetapi di lain saat menjadi dingin sampai giginya atas bawah saling beradu dan tubuhnya menggigil.

Selain ini, di dalam dada dan seluruh tubuhnya terjadi tarik menarik antara dua macam tenaga raksasa yang membuat tubuh anak itu terhuyung-huyung dan kemudian robohlah Han Ki dalam keadaan pingsan di atas lantai dalam kamar Siang-mou Sin-ni.

Apakah yang terjadi pada anak ini?

Dia menjadi korban pengaruh dua macam obat yang bertentangan.

Mula-mula ia dijejali makanan yang mengandung hawa panas luar biasa, yang membuat darahnya seolah-olah mendidih dan tubuhnya menjadi panas sekali.

Kemudian, tanpa ia ketahui, ia minum obat dalam cawan emas, obat yang disangkanya arak biasa.

Padahal obat itu adalah milik Bouw Lek Couwsu, obat yang mengandung hawa dingin luar biasa karena terbuat daripada darah ular salju.

Dengan demikian, dua macam obat berbahaya, yang memiliki daya kekuatan luar biasa, panas dan dingin, bertemu di dalam tubuhnya, diserap oleh darahnya yang menjadi medan pertempuran antara dua kekuatan.

Darahnya keracunan secara hebat sekali.

Ketika akan roboh pingsan, dari mulut anak ini keluar bisikan.

"Aku harus menolong kedua enciku (kakak perempuanku).. harus kutolong mereka.."

Seperti kita ketahui atau dapat menduga, dua orang enci anak ini, Kam Siang Kui dan Kam Siang Hui, telah lenyap ketika mereka sedang menonton pertandingan antara Siauw-bin Lo-mo melawan Kiang Liong.

Pada saat Siauw-bin Lo-mo meledakkan senjata rahasianya yang mengeluarkan asap tebal, dua orang gadis itu secara tiba-tiba roboh tertotok.

Mereka kaget dan heran sekali karena tidaklah sembarang orang mampu merobohkan mereka begitu mudah dengan serangan gelap dari belakang.

Akan tetapi ketika mereka melihat bahwa yang mengempit tubuh mereka dengan kedua lengan adalah searang pendeta gundul jubah merah yang berkaki satu, tahulah mereka bahwa nyawa mereka terancam maut.

Mereka terjatuh ke dalam tangan musuh besar mereka, Bouw Lek Couwsu yang sakti, yang telah membunuh ayah bunda dan kakek mereka"

Ketika kakek itu tidak segera membunuh mereka dan menjebloskan mereka ke dalam kamar tahanan, dibelenggu dan dijaga oleh hwesio-hwesio jubah merah, dua orang gadis itu dapat menduga bahwa nasib yang lebih mengerikan daripada maut sendiri yang tengah menanti mereka.

Namun mereka tidak berdaya sama sekali, hanya mengambil keputusan bahwa setiap kesempatan akan mereka pergunakan untuk mengamuk dan mengadu nyawa.

"Ke sini jalannya,"

Po Leng In berbisik sambil menarik tangan Kiang Liong yang digandengnya.

Mereka menyusup di antara pohon-pohon kecil, setengah merunduk dan mendaki naik lereng gunung itu.

"Sekeliling puncak terjaga kuat, hanya bagian ini yang tidak terjaga karena sukar dilewati."

Setelah berbisik demikian, karena muka mereka saling berdekatan, Po Leng In merangkul leher dan mencium.

"Sudah, bukan saatnya bersenang-senang"

Kiang Liong mencela sambil menjauhkan mukanya. Po Leng In menarik napas panjang.

"Liong-koko..,"

Bisiknya dengan suara mesra dan manja.

"Aku.. aku cinta padamu.., selamanya aku tak ingin berpisah dari sampingmu.."

"Huh, cukuplah. Kita bertemu dan bersenang-senang, cukup sudah. Kau berjanji untuk membantuku menolong Siang Kui, Siang Hui, dan Han Ki. Jalan hidup kita bersimpang, setelah selesai tugasku, kita berpisah sebagai sahabat."

"Tapi.."

"Cukup sudah. Tidak ada cinta di antara kita, tidak ada kecocokan dalam jalan hidup. Asal kelak kita tidak saling bertentangan dalam jalan hidup masing-masing, hatiku akan lega. Nah, ke mana sekarang jalannya?"

Wajah yang cantik itu menjadi muram, mulutnya yang tadinya tersenyum bahagia itu kini menjadi pahit.

"Aku tahu.. aku harus tahu diri.."

Po Leng In menahan isak yang keluar dari dalam dada, kemudian menudingkan telunjuknya ke depan.

"Lewat lereng berbatu-batu itu dan kita akan berada di wilayah kediaman mereka. Lihat itu Sungai Nu-kiang sudah tampak."

Kiang Liong memandang ke kanan yang ditunjuk wanita itu.

Di bawah sana tampak air sungai yang berliku-liku, berwarna putih dan di sebelah depan, masih remang-remang di senja hari itu, tampak puncak Kao-likung-san yang menjadi markas para pendeta jubah merah.

Di sanalah kedua orang gadis dan adik mereka ditawan dan diam-diam Kiang Liong berdoa semoga tiga orang itu masih dalam keadaan selamat.

Tiba-tiba Po Leng In memegang lengannya.

"Sst, Koko, lihat.."

Tempat mereka berdiri merupakan lereng yang tinggi dan dari situ mereka dapat melihat pemandangan terbuka di sebelah timur Gunung Kao-likung-san.

Kiang Liong dapat melihat serombongan orang mendaki bukit itu, gerakan mereka cepat dan tangkas dan di tengah-tengah rombongan terdapat dua buah kereta tahanan yang didorong-dorong naik.

Po Leng In mengeluarkan suara melengking tinggi, mengagetkan Kiang Liong.

Pemuda itu memegang lengannya erat-erat dan membentak lirih.

"Apa yang kau lakukan?"

"Aku memberi peringatan kepada para penjaga dan semua yang berada di atas."

"Eh, apa maksudmu? Bukankah hal itu membuat mereka siap dan akan menyukarkan aku menolong anak-anak mendiang Paman Bu Sin?"

Po Leng In menggeleng kepalanya.

"Sebaliknya malah. Jika para penjahat melihat rombongan orang asing itu tentu mereka akan turun dan semua perhatian akan dicurahkan terhadap rombongan itu. Di dalam keributan, apalagi di waktu malam, penjagaan di atas menjadi kurang diperhatikan dan kau dapat bergerak leluasa."

Kiang Liong mengangguk-angguk dan melepaskan lengan gadis, itu.

"Marilah kita lanjutkan perjalanan ke atas."

Po Leng In menggeleng kepalanya.

"Jangan, kau menanti di sini sampai gelap. Aku harus pergi dulu."

Kembali tangan pemuda ini memegang lengannya.

"Leng In, apa sebetulnya kehendakmu?"

Pertanyaan ini disertai pandang mata penuh selidik dan curiga.

"Aih, Liong-koko, kau masih belum percaya kepadaku, kepada orang lain, mungkin aku akan melakukan pengkhianatan atau aku akan membunuhnya, habis perkara. Akan tetapi tidak mungkin terhadapmu. Kau tahu, setelah aku mengeluarkan suaraku tadi, Guruku dan yang lain-lain akan tahu bahwa aku telah datang. Kalau aku tidak lekas-lekas menemui mereka, apa kau kira mereka takkan menjadi curiga? Aku harus segera naik ke sana, dan akan kuusahakan agar mereka semua turun puncak menghadapi rombongan. Kalau sudah gelap, kau boleh merayap terus, melalui lereng berbatu itu. Kemudian setelah kau melihat bangunan-bangunan di puncak, carilah bangunan yang paling besar di tengah. Di sanalah dua orang gadis itu ditawan, sedangkan adik mereka itu ditawan dalam bangunan di samping kanannya, tempat tinggal Guruku. Kurasa, hanya penjaga-penjaga lemah saja yang akan menghalangimu."

"Maafkanlah kecurigaanku tadi, Leng In. Baiklah aku menurut petunjukmu."

Po Leng In tiba-tiba merangkulnya.

"Koko, kau.. kau takkan melupakan Po Leng In, bukan..?"

Kiang Liong menggeleng kepalanya, akan tetapi lalu menyambung lirih.

"Aku akan tetap mengenangmu sebagai sahabat, kecuali.. kecuali kalau kelak kita saling jumpa dalam keadaan lain. Kalau jalan kita bersimpang, terpaksa aku menentang kau dan Gurumu."

Po Leng In terisak, melepaskan rangkulannya lalu lari ke depan, menuju ke puncak.

"Gadis yang hebat,"

Kiang Liong berkata seorang diri.

"sayang terjerumus menjadi murid iblis betina itu."

Ia duduk terlindung pohon-pohon kecil dan dari tempat ia duduk, ia dapat memandang ke bawah, ke sebelah timur.

Dari tempat ia berada, ia tak dapat melihat siapa adanya rombongan orang yang gerakannya tangkas itu, juga tidak tahu siapa yang berada di dalam dua buah kerangkeng tahanan.

Akan tetapi ia mengenal kakek yang kurus, yang berjalan di depan rombongan itu.

Kakek itu menggendong bambu di punggung, pinggangnya dilingkari dompet-dompet tempat senjata-senjata rahasianya yang aneh.

Kakek itu adalah Siauw-bin Lo-mo.

Teringat akan ini, Kiang Liong terkejut dan ia mengerahkan ketajaman pandang matanya untuk menembus cuaca senja yang remang-remang untuk melihat lebih jelas siapa yang berada di dalam kereta kerangkeng itu.

Tidak tampak jelas, namun hatinya berdebar.

Siapa mereka?

Ada dua orang dalam dua buah kerangkeng itu.

Kiang Liong tak dapat menduga bahwa yang berada di dalam kereta kerangkeng itu, yang seorang adalah Mutiara Hitam.

Memang, Kwi Lan dan Yu Siang Ki yang berada di dalam kereta kerangkeng itu.

Rombongan itu adalah orang-orang Thian-liong-pang yang dipimpin oleh Cap-ji-liong.

Setelah mereka ini herhasil menawan Yu Siang Ki dan Kwi Lan, mereka lalu melanjutkan perjalanan seperti yang telah diperintahkan oleh Siauw-bin Lo-mo.

Ke Gunung Kao-likung-san.

Di kaki gunung ini Siauw-bin Lomo telah menanti dan betul saja seperti dugaan Ma Kiu dan adik-adiknya, kakek ini menjadi gembira sekali melihat dua orang tawanan itu.

"Yang seorang Ketua Khong-sim Kai-pang. Bagus, bagus. Ha-ha-ha, tentu akan kecut muka Bu-tek Siu-lam si banci melihat betapa musuh mudanya terjatuh ke tanganku. Ini merupakan sebuah jasa yang mengangkat aku lebih tinggi daripadanya, memungkinkan aku menjadi orang pertama dari Bu-tek Ngo-sian. Dan gadis ini? Mutiara Hitam? Ha-ha-ha, dia cantik. Kudengar Bouw Lek Couwsu paling suka gadis cantik, kebetulan sekali karena aku tidak membawa oleh-oleh untuknya. Hadiah seperti ini tentu akan menyenangkan pemimpin orang-orang Hsi-hsia. Ha-ha-ha-ha"

Demikianlah, dengan girang Siauw-bin Lo-mo lalu memimpin Cap-ji-liong dan beberapa orang pentolan perampok dan bajak yang menjadi anak buahnya untuk mengunjungi, pimpinan pendeta jubah merah, yaitu Bouw Lek Couwsu karena ia sudah mendengar akan sepak terjang pendeta itu yang sudah membasmi Beng-kauw dan ingin bersahabat untuk memperkuat kedudukannya.

Tokoh yang sudah berhasil membunuh Beng-kauw patut dijadikan sahabat kalau dapat ditarik untuk menguntungkan kedudukannya, sebaliknya bila perlu juga patut dibasmi kalau membahayakan.

Dibantu oleh Cap-ji-liong dari Thian-liong-pang dan para kepala bajak dan rampok, tentu saja ia tidak takut menghadapinya andaikata Bouw Lek Couwsu memperlihatkan sikap tidak bersahabat.

Siauw-bin Lo-mo yang belum mengenal watak Bouw Lek Couwsu dan para pendeta jubah merah dari Tibet, juga tidak menduga bahwa di situ terdapat pula Siang-mou Sin-ni orang terakhir Thian-te Liok-kwi, dengan hati besar memimpin rombongannya mendaki lereng Gunung Kao-likung-san.

Akan tetapi ketika rombongan tiba di padang rumput yang berada di lereng itu, hari sudah mulai gelap.

Karena tidak mengenal daerah ini, Siauw-bin Lo-mo memerintahkan rombongannya berhenti.

"Besok kita lanjutkan pendakian ke puncak."

Katanya.

Akan tetapi keadaan yang sunyi dan aman itu segera terganggu oleh suara lengking tinggi yang datangnya dari bawah puncak, lengking aneh yang mengingatkan Siauw-bin Lo-mo akan wanita muda yang pernah datang menemui para tokoh Bu-tek Ngo-sian di puncak Chengliong-san.

Lengking gadis baju merah yang mengaku sebagai murid Siang-mou Sin-ni.

Salahkah pendengarannya?

Akan tetapi kakek ini tidak sempat memikirkan hal itu karena tiba-tiba terdengar pekik kesakitan dan kemarahan di antara anak buahnya.

Di antara sinar obor yang dipasang anak buahnya, ia melihat beberapa orang perampok roboh dan kini tampaklah olehnya hujan anak panah menyerang mereka.

Siauw-bin Lo-mo kaget sekali.

Ia melompat ke depan, menyampok anak-anak panah yang menyambar ke arahnya, mengerahkan khikang dan berseru keras.

"Tahan anak panah. Di sini aku, Siauw-bin Lo-mo, seorang di antara Bu-tek Ngo-sian, memimpin Cap-ji-liong dari Thian-liong-pang dan orang-orang gagah dari hutan sungai, bermaksud mengunjungi Bouw Lek Couwsu pemimpin pasukan Hsi-hsia"

Suara Siauw-bin Lo-mo amat nyaring dan bergema di empat penjuru.

Seketika terhentilah hujan anak panah dan tiba-tiba tampak api obor yang banyak sekali menerangi tempat itu muncul puluhan orang pasukan Hsi-hsia, pasukan panah yang dipimpin oleh belasan orang hwesio berjubah merah yang berwajah keren.

Tempat itu sudah terkurung"

Seorang di antara mereka, pendeta jubah merah, melangkah maju dan berkata kepada Siauw-bin Lo-mo, suaranya parau besar dan logatnya kaku.

"Nama Siauw-bin Lo-mo sudah terkenal, akan tetapi belum cukup besar untuk berlancang datang membawa anak buah ke wilayah kami tanpa ijin. Apakah gerangan niat yang dikandung di hati Siauw-bin Lo-mo dan anak buahnya?"

"Ha-ha-heh-heh, bagus sekali kalau orang telah mendengar nama besar Siauw-bin Lo-mo. Kalau kami datang dengan maksud hati buruk, tentu tidak datang secara terang-terangan. Aku datang dengan hati terbuka, ingin bersahabat dengan Bouw Lek Couwsu dan membawa hadiah dara jelita untuk Couwsu"

"Tidak ada perintah dari Couwsu untuk menerima tamu. Kalau ada hadiah, boleh serahkan kepada kami dan selanjutnya kami harap Siauw-bin Lo-mo dan anak buahnya suka meninggalkan gunung sebagai sahabat."

"Ha-ha-ha-ha. Para pendeta Tibet benar-benar tidak memandang mata kepada Siauw-bin Lo-mo. Akan tetapi karena kedatanganku memang bukan berniat buruk, biarlah kalian boleh membawa gadis jelita yang menjadi tawanan di dalam kerangkeng itu untuk dipersembahkan kepada Bouw Lek Couwsu diiringi hormatku. Juga harap disampaikan bahwa aku Siauw-bin Lo-mo mohon berjumpa besok pagi."

Pendeta jubah merah itu kelihatan ragu-ragu.

Betapapun juga, ia tidak berani memandang ringan Siauw-bin Lo-mo yang namanya sudah amat terkenal sebagai seorang tokoh sakti dan agaknya permintaannya ini cukup pantas untuk dipertimbangkan.

Kalau ia pergi menghadap Bouw Lek Couwsu, menyampaikan persembahan berupa seorang gadis muda cantik yang memang ia tahu menjadi kesukaan ketuanya dan mohon persetujuannya menerima permintaan Siauw-bin Lo-mo yang sudah merendahkan diri untuk menghadap, agaknya ketuanya takkan marah.

"Hemm, asal cianpwe suka berjanji akan menjaga agar anak buahmu tidak menimbulkan kekacauan dan tidak pergi dari tempat ini, agaknya kami akan dapat menerima permintaan yang layak ini."

Katanya dan ia pun sudah menyebut cianpwe kepada Siauw-bin Lo-mo sebagai tanda bahwa ia mengakui kakek itu sebagai seorang sakti.

Lega hati Siauw-bin Lo-mo.

Setelah melakukan perjalanan jauh tentu saja ia cukup cerdik dan sabar untuk mengalah dan sedikit merendah terhadap pemimpin pendeta-pendeta Tibet yang sekaligus juga merupakan pimpinan bala tentara Hsi-hsia yang kuat itu.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan keras yang didahului dengan lengkingan tinggi.

"Tidak mungkin. Para Lo-suhu jangan kena dikelabuhi oleh kakek kurus kering yang jahat ini. Namanya Siauw-bin Lo-mo, mukanya tersenyum-senyum akan tetapi hatinya busuk dan palsu"

Siauw-bin Lo-mo terbelalak memandang dengan penuh kemarahan.

Ternyata yang muncul adalah gadis berpakaian merah, murid Siang-mou Sin-ni yang bernama Po Leng In.

Tampak cantik dan gagah di bawah sinar banyak obor, tangannya memegang pedang dan rambutnya yang hanya tinggal separuh itu tergantung di depan dada.

"Po-kouwnio (Nona Po), apakah yang kau maksudkan dengan ucapan itu?"

Tanya hwesio tinggi besar muka merah.

"Maksudku, dia ini adalah orang jahat yang tidak mempunyai niat baik. Kalau berniat baik, masa ia membawa-bawa pasukan? Nah, para Lo-suhu dengar baik-baik, aku akan mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya."

Setelah berkata demikian, Po Leng In melangkah maju mendekati Siauw-bin Lo-mo sambil menudingkan pedangnya ke arah hidung kakek itu.

"Heh, Siauw bin Lo-mo, kalau kau benar-benar sebagai seorang tokoh besar dan maksud kedatanganmu baik-baik, tentu kau akan menjawab semua pertanyaanku dengan sebenar dan sejujurnya. Bukankah engkau pernah bertemu dengan aku?"

"Benar, pernah aku melihat Nona di Cheng-liong-san."

Jawab Siauw-bin Lo-mo, sedikit pun tidak khawatir karena ia memang tidak tahu akan hubungan guru nona ini dengan Bouw Lek Couwsu.

"Bagus, engkau ternyata masih cukup berani untuk menjawab sebetulnya. Bukankah engkau bersama dengan Thai-lek Kauw-ong, Bu-tek Siu-lam, Jin-cam Khoa-ong, dan seorang tokoh lain lagi membentuk apa yang kalian sebut Bu-tek Ngo-sian?"

Siauw-bin Lo-mo mengangguk-angguk bangga.

"Memang benar dan akulah orang pertamanya"

"Bagus. Sekarang katakan, ketika aku muncul di sana mewakili Guruku untuk menghadiri pertemuan puncak, engkau melihat Bu-tek Siu-lam menangkapku dan menghinaku, menghina nama baik Guruku, dan hampir membunuhku. Betulkah? Dan engkau sama sekali tidak mencampuri urusan itu malah engkau lalu pergi, betul?"

Siauw-bin Lo-mo masih tidak mengerti apa artinya semua itu dan apa hubungan dengan Bouw Lek Couwsu serta para hwesio jubah merah ini.

Namun sebagai seorang cerdik, kini melihat munculnya Po Leng In di antara para hwesio jubah merah, ia dapat menduga tentu ada hubungan baik di antara mereka itu.

Maka ia lalu menjawab.

"Yang menghinamu adalah Bu-tek Siu-lam, tidak ada sangkut pautnya dengan aku."

"Bagus, tidak ada sangkut-pautnya kau bilang? Akan tetapi kau tadi mengaku bahwa Bu-tek Siu-lam adalah sekutumu, saudaramu dalam kelompok Bu-tek Ngo-sian. Engkau melihat Guruku diperhina nama baiknya tanpa bilang apa-apa, melihat aku hampir dibunuh kau pun tidak bilang apa-apa, sekarang masih berani datang dengan maksud baik?"

"Eh-eh, apa sangkut-pautnya dirimu atau Gurumu dengan kunjunganku pada Bouw Lek Couwsu? Aku.."

"Tutup mulutmu. Engkau tentu datang sebagai pembela Beng-kauw"

Setelah berkata demikian, serta-merta Po Leng In lalu menerjang maju, menyerang Siauw-bin Lo-mo dengan pedangnya yang bergerak cepat seperti kilat menyambar.

Namun dengan mudah sekali Siauw-bin Lo-mo miringkan tubuh mengelak, bahkan sekali tangannya diulur ke depan, hampir saja gagang pedang di tangan Po Leng In dapat dirampasnya.

Gadis itu berseru kaget dan meloncat mundur.

Sementara itu, para hwesio jubah merah yang mendengar betapa kakek ini berani menghina nama baik Siang-mou Sin-ni, tentu saja sudah menjadi terpengaruh dan serentak mereka maju menerjang dengan senjata mereka.

"Ha-ha-ha"

Pendeta-pendeta Tibet mudah dibujuk murid Siang-mou Sin-ni"

Siauw-bin Lo-mo tertawa bergelak dan kedua tangan dan kakinya bergerak-gerak dengan ilmu silatnya yang dahsyat dan aneh.

Dua orang hwesio yang ilmunya tinggi, setingkat dengan ilmu Po Leng In, kena ditendang mencelat.

Adapun Cap-ji-liong tokoh-tokoh Thian-liong-pang, para ketua bajak dan rampok, yang melihat betapa datuk mereka diserang dan dikeroyok, segera berteriak marah dan menyerbu, diikuti anak buah mereka.

Demikian pula dari pihak anak buah para pendeta, yaitu orang Hsi-hsia yang berani dan liar, sambil mengeluarkan teriakan lantang lalu maju menggerakkan senjata masing-masing.

Terjadilah perang kecil yang dahsyat dan seru di antara sinar-sinar obor.

Di bawah pimpinan Siauw-bin Lo-mo yang sakti, Cap-ji-liong mengamuk hebat dan tentu akan banyak jatuh korban di tangan Siauw-bin Lo-mo dan dua belas orang naga itu kalau saja Siauw-bin Lo-mo yang cerdik tidak cepat berseru nyaring.

"Hajar kerbau-kerbau dungu ini, akan tetapi jangan bunuh mereka"

Inilah sebabnya maka orang-orang Hsi-hsia yang roboh, juga beberapa orang hwesio jubah merah, hanya terluka saja dan tidak sampai tewas.

Melihat hebatnya sepak terjang para penyerbu, seorang hwesio jubah merah cepat-cepat lari naik seperti terbang cepatnya, membuat pelaporan kepada Bouw Lek Couwsu.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Bouw Lek Couwsu yang sedang bersenang-senang dengan Siang-mou Sin-ni di dalam kamar iblis betina ini, segera lari keluar ditemani Siang-mou Sin-ni.

Kwi Lan yang terkurung dalam kerangkeng tidak luka parah seperti Yu Siang Ki yang sampai lama berada dalam keadaan pingsan.

Ketika sadar dan mendapatkan kedua tangannya terbelenggu, demikian pada kedua kakinya, dan ia meringkuk di dalam kerangkeng, Kwi Lan cepat bangkit dan meneliti keadaannya.

Ia melihat Siang Ki yang masih pingsan berada dalam kerangkeng lain, tak jauh dari kerangkeng yang mengurung dirinya, didorong-dorong oleh beberapa orang, dan dijaga oleh Cap-ji-liong.

Sekarang tahulah Kwi Lan mengapa Siang Ki mendesaknya untuk melarikan diri.

Pemuda itu ternyata benar.

Kalau ia menurut nasihatnya dan membebaskan diri, biarpun Siang Ki menjadi tawanan, namun dia sendiri masih bebas dan tentu akan dapat mencari akal untuk menolong Siang Ki.

Akan tetapi, segala hal telah terlanjur, kini ia sendiri tertawan sehingga tidak saja Siang Ki tak dapat ditolong bahkan keselamatannya sendiri terancam malapetaka hebat.

Kwi Lan meneliti tubuhnya.

Tidak terluka parah.

Juga belenggu pada kaki tangannya, kalau ia mau, dapat ia patahkan.

Namun kerangkeng itu cukup kuat, dan terutama sekali di sekeliling kerangkeng terdapat tokoh-tokoh Cap-ji-liong.

Tidak ada harapan baginya untuk meloloskan diri pada waktu itu.

Saking jengkelnya, Kwi Lan lalu memaki-maki di sepanjang jalan.

Ia amat marah, akan tetapi pengalaman ini membuat ia bertambah kecerdikannya dan ia tidak mau melepaskan atau mematahkan belenggu kaki tangannya pada saat itu karena maklum bahwa hal ini akan percuma saja.

Pedang Siang-bhok-kiam dan jarum hijau dalam kantung telah dirampas musuh dan di sekeliling kerangkeng terdapat Cap-ji-liong yang kosen ditambah banyak kepala bajak dan rampok.

Ia menanti kesempatan dan saat baik untuk dapat meloloskan diri dengan berhasil sambil menolong Yu Siang Ki.

Akan tetapi, alangkah kaget dan kecewa hatinya ketika di kaki Gunung Kao-likung-san, rombongan orang Thian-liong-pang ini bertemu dengan Siauw-bin Lo-mo yang agaknya memang sudah menanti di situ.

Dengan adanya kakek ini, lenyaplah harapannya untuk dapat membebaskan diri.

Kwi Lan tadinya sudah merasa putus asa dan sudah mengambil keputusan untuk memberontak malam hari itu, nekat mengadu nyawa.

Maka dapat dibayangkan betapa tegang dan gembira hatinya ketika ia melihat munculnya kesempatan yang baik sekali yaitu pada waktu para pendeta jubah merah yang didahului oleh Po Leng In menyerang Siauw-bin Lo-mo dan anak buahnya.

Kwi Lan segera mengenal Po Leng In dan begitu pertempuran dimulai diam-diam ia mengerahkan sin-kangnya.

Setelah beberapa kali membetot dan menarik, putuslah belenggu kedua tangannya.

Tanpa banyak kesukaran, ia membebaskan kedua kakinya.

Seorang di antara kepala rampok yang ditugaskan menjaga kedua kerangkeng, berseru kaget dan cepat menghampiri kerangkeng Kwi Lan.

Namun tiba-tiba lengan tangan Kwi Lan menyambar dari dalam kerangkeng dan tahu-tahu rampok itu sudah tercengkeram lengannya, ditarik ke kerangkeng dan sebelum orang itu mampu berteriak, nyawanya sudah meninggalkan raganya karena pukulan Siang-tok-ciang yang amat dahsyat dari tangan kiri Kwi Lan.

Penjaga kerangkeng semua ada tujuh orang.

Enam orang yang lain melihat betapa temannya tewas, cepat maju mengurung kerangkeng Kwi Lan dengan tombak di tangan.

Biarpun Kwi Lan berkepandaian tinggi, namun bertangan kosong menghadapi ancaman tombak, dari enam penjuru ini sedangkan dirinya masih dikurung di dalam kerangkeng, amat berbahaya juga.

Pada saat itu, enam orang perampok ini sudah menjerit kesakitan dan roboh bergulingan.

Kwi Lan hanya melihat sinar menyambar, sinar halus.

Akan tetapi alangkah heran dan kagetnya ketika melihat betapa muka seorang di antara perampok yang diterangi sinar obor, menjadi hijau ketika orang ini roboh.

Itulah tanda bahwa dia terkena racun hijau dari senjata rahasia jarum.

Jarum hijau, seperti senjata rahasianya yang kantungnya kini dipegang seorang di antara para perampok, bersama pedang Siang-bhok-kiam.

Kini ia akan melihat orang yang telah membunuhi hwesio-hwesio dalam kelenteng mempergunakan jarum-jarum hijau.

Ketika dua orang berkelebat datang mendekati kerangkeng, Kwi Lan terkejut.

Yang seorang adalah laki-laki tua berjenggot, pakaiannya sederhana, usianya tentu sudah enam puluh tahun, tubuhnya kecil kurus, sepasang matanya bersinar lembut, punggungnya membawa pundi-pundi.

Orang ke dua adalah seorang gadis amat cantik, senyumnya manis, rambutnya digelung ke atas, usianya sebaya dengannya.

Kedua orang ini memegang sebatang pedang dan di pinggang gadis itu terdapat, sebuah kantong kulit.

Agaknya gadis itulah yang tadi melepaskan jarum-jarum hijau yang merobohkan para penjaga kerangkeng.

Kwi Lan mengerahkan tenaganya, menghantam kerangkengnya sehingga terdengar suara keras dan jebollah kerangkeng itu.

"Engkau hebat sekali, Adik manis"

Kata gadis itu melihat cara Kwi Lan menjebol kerangkengnya.

Akan tetapi sambil berkata demikian ia menggunakan pedangnya untuk dibabatkan ke arah kerangkeng yang mengurung tubuh Yu Siang Ki.

"Jangan ganggu dia"

Kwi Lan menyambar cepat, mengirim pukulan Siang-tok-ciang ke arah gadis cantik itu.

Hebat sekali serangannya dan karena hal ini ia lakukan dari belakang selagi gadis itu membabatkan pedangnya ke arah kerangkeng, maka tentu serangannya akan mengenai sasaran.

"Desss.."

Tubuh Kwi Lan terhuyung mundur dan lengannya terasa sakit. Kakek kurus yang menangkisnya itu pun terhuyung mundur dan berubah wajahnya ketika berseru.

"Ihhh.., inikah Siang-tok-ciang? Keji sekali.."

Akan tetapi Kwi Lan tidak mempedullkan kakek ini karena perhatiannya tertuju kepada keselamatan Yu Siang Ki yang ia sangka akan dicelakakan gadis cantik itu.

Ketika ia membalikkan tubuh memandang, ternyata dugaannya keliru karena kini gadis itu telah membabat?

beberapa orang hwesio jubah merah, putus kerangkeng dan bahkan sudah melepaskan belenggu tangan Yu Siang Ki.

"Siapa kalian? Mau apa..?"

Tanyanya gagap.

"Nona, kami datang menolong kalian. Selagi ada kesempatan tidak lekas lari mau tunggu apalagi? Goat-ji (Anak Goat) kau jaga dibelakangku, biar kugendong dia"

Tanpa pedulikan Kwi Lan lagi, laki-laki kurus itu lalu melompat ke dekat kerangkeng Siang Ki, menyambar tubuh pemuda itu dan memanggulnya, kemudian melompat hendak lari.

Gadis cantik yang disebut Goat itu pun dengan pedang terhunus melompat di belakangnya, melindungi kakek yang menggendong pemuda itu.

Kwi Lan cepat mengambil pedang dan kantong jarumnya dari tubuh penjaga yang sudah menjadi mayat, kemudian berpaling menonton pertempuran yang berlangsung hebat.

Ia melihat betapa Po Leng In terdesak hebat biarpun gadis ini mengeroyok Siauw-bin Lo-mo dengan beberapa orang Hwesio jubah merah.

Timbul keinginan hatinya untuk membantu Po Leng In karena dianggapnya bahwa munculnya Po Leng In merupakan pertolongan baginya, membuka kesempatan baginya untuk membebaskan diri.

Akan tetapi ia teringat akan keselamatan Yu Siang Ki.

Pemuda ini dalam keadaan luka-luka parah, kini dibawa lari dua orang yang sama sekali tak dikenalnya.

Bagaimana kalau pemuda itu terjatuh di tangan musuh?

Berpikir demikian, tanpa banyak cakap lagi Kwi Lan lalu melompat dan lari mengejar bayangan dua orang yang membawa lari tubuh Yu Siang Ki.

"Tahan, senjata.."

Bentakan ini keras luar biasa, seakan-akan menggetarkan Gunung Kao-likung-san.

Apalagi bagi anak buah Siauw-bin Lo-mo karena sambil membentak, Bouw Lek Couwsu melakukan gerakan mendorong sehingga empat orang anggauta Cap-ji-liong terpental dan terhuyung-huyung mundur hanya oleh hawa pukulan yang amat kuat, keluar dari dorongannya tadi.

Para hwesio jubah merah dan orang-orang Hsi-hsia cepat menarik senjata masing-masing dan melompat mundur.

Siauw-bin Lo-mo juga memberi perintah kepada anak buahnya untuk menghentikan pertandingan.

Mereka berdiri saling berhadapan, saling pandang di bawah sinar obor yang amat banyak, Siauw-bin Lo-mo melihat seorang hwesio tinggi besar berkaki satu, memegang sebatang tongkat kuningan yang amat besar dan berat dengan kepala tongkat berukirkan patung Buddha yang amat indah.

Di dekat kakek ini berdiri seorang wanita yang amat cantik dan garang, berambut terurai panjang.

Wanita ini sukar ditaksir berapa usianya, bibirnya manis tersenyum-senyum akan tetapi matanya membuat orang berdiri bulu tengkuknya karena sinar mata itu amat keji dan ganas.

Melihat wanita ini jantung Siauw-bin Lo-mo berdebar saking kagetnya karena biarpun selamanya ini belum pernah bertemu dengan wanita ini, sekarang ia dapat menduga bahwa wanita ini tentulah Siang-mou Sin-ni, seorang di antara Thian-te Liok-kwi yang sudah terbasmi habis itu.

Ia memang mendengar kabar bahwa hanya Siang-mo Sin-ni seorang yang masih hidup di antara Thian-te Liok-kwi, akan tetapi menurut berita, wanita sakti ini sudah mengasingkan diri di pulau kosong di laut selatan.

Kini mengertilah Siauw-bin Lo-mo mengapa Po Leng In bersekutu dengan hwesio jubah merah, kiranya gurunya berada di tempat ini, bersama Bouw Lek Couwsu.

"Ha-ha-ho-ho-ho. Terima kasih bahwa Bouw Lek Couwsu berkenan keluar sendiri menyambut. Sungguh merupakan kehormatan besar bagiku. Tidak kelirukah dugaanku bahwa sahabat yang perkasa ini adalah Bouw Lek Couwsu, pemimpin pasukan Hsi-hsia yang gagah berani?"

Siauw-bin Lo-mo menegur sambil mendekati Bouw Lek Couwsu.

Bouw Lek Couwsu mengerutkan alisnya yang tebal, lalu matanya menyapu keadaan di sekeliling tempat itu.

Ia melihat beberapa orang anak buahnya terluka dan dirawat teman-temannya, akan tetapi tak seorang pun tewas.

Ia mengangguk-angguk dan kembali memandang Siauw-bin Lo-mo sambil berkata, menggerakkan tongkat kuningan itu di depan dada.

"Pinceng pernah mendengar nama besar Siauw-bin Lo-mo. Apakah Lo-mo mengandalkan kepandaian tidak memandang mata kepada pinceng (aku) dan malam ini sengaja hendak mencoba kepandaianku?"

"Ho-ho-ha-ha-ha. Sama sekali tidak. Salah mengerti.. salah mengerti. Mana bisa aku begitu tak tahu diri membentur gunung? Aku Siauw-bin Lo-mo selamanya mengenal orang gagah. Aku sengaja datang untuk berkenalan dan bersahabat, dan sebagai bukti kemauan baikku, aku datang membawa hadiah seorang dara jelita yang liar, bukan sembarangan dara berjuluk Mutiara Hitam, untuk dipersembahkan kepada Bouw Lek Couwsu.."

Pada saat itu Ma Kiu sudah lari menghampiri Siauw-bin Lo-mo dan berkata, suaranya gugup.

"Locianpwe.., dalam keributan.. dua orang tawanan telah lolos.."

"Apa?"

Sekali ini Siauw-bin Lo-mo lupa ketawanya dan mukanya kelihatan marah sekali.

"Goblok kau. Hayo lekas kejar sampai dapat"

Ia lalu menjura kepada Bouw Lek Couwsu setelah melihat Cap-ji-liong berkelebat pergi untuk mengejar tawanan yang lolos, menjura dan berkata.

"Maaf, Couwsu, aku harus menangkap kembali tawanan itu dan mempersembahkan kepadamu sebagai bukti niat baikku. Besok aku naik untuk menghadap."

Tanpa menanti jawaban, Siauw-bin Lo-mo lalu berkelebat pergi menyusul anak buahnya.

"Hemm, iblis tua itu mencurigakan"

Kata Siang-mou Sin-ni.

"Dia, memang jahat dan sama sekali tidak boleh dipercaya"

Kata Po Leng In.

"Sudah teecu (murid) laporkan bahwa dia adalah seorang di antara Bu-tek Ngosian yang membiarkan saja ketika teecu dihina di Cheng-liong-san."

"Hemm, harus diberi hajaran"

Siang-mo Sin-ni sudah siap untuk mengejar ketika tiba-tiba terdengar suara tanduk ditiup dari puncak.

Itulah tanda rahasia yang digunakan oleh pasukan Hsi-hsia untuk memberi tanda bahaya.

"Agaknya di puncak terjadi hal yang tidak baik. Marilah, Kim Bwe, kita lihat ke atas. Urusan Siauw-bin Lo-mo kita tunda sampai besok, kita lihat apa kehendaknya besok."

Ketika dua orang sakti itu dengan gerakan cepat laksana terbang berkelebat ke arah puncak, wajah Po Leng In menjadi pucat.

Ia dapat menduga apa maknanya tanda bahaya yang ditiup orang di puncak itu.

Tentu Kiang Liong sudah turun tangan dan agaknya ketahuan penjaga.

Dengan jantung berdebar tak enak ia lalu berlari cepat pula menyusul gurunya dan Bouw Lek Couwsu, mendahului para pendeta jubah merah yang juga berlari-lari naik.

Dugaan Po Leng In memang tepat.

Kiang Liong yang ditinggalkan wanita ini di lereng gunung itu, menanti sampai cuaca menjadi gelap dan tepat seperti yang dipesankan Po Leng In.

Ia lalu mendaki ke puncak melalui lereng berbatu.

Gerakannya cepat sekali akan tetapi ia berlari naik dengan amat hati-hati dan waspada.

Begitu tiba di puncak, hatinya girang melihat keributan dan melihat para pendeta baju merah berlari-larian keluar masuk pintu gerbang yang terjaga kuat oleh orang-orang Hsi-hsia.

Kemudian dari tempat persembunyiannya di luar tembok, ia melihat pula pendeta baju merah yang buntung kaki kirinya berkelebat cepat keluar tembok bersama seorang wanita cantik berambut panjang.

Ia dapat menduga bahwa tentu mereka inilah Bouw Lek Couwsu dan Siang-mou Sin-ni.

Biarpun hanya mendengar keterangan dari Po Leng In, namun kini melihat gerakan mereka berdua demikian cepat, ia tahu bahwa dua orang itu amat sakti.

Maka legalah hatinya ketika malihat dua orang ini berlari turun diikuti beberapa orang pendeta baju merah dan sepasukan orang-orang Hsi-hsia.

Ia segera meloncat ke atas tembok pada saat peronda dan penjaga sedang lengah karena keributan yang terjadi di bawah puncak.

Makin terasa olehnya jasa Po Leng In, karena ia maklum bahwa andaikata tidak terjadi keributan di bawah puncak, andaikata Po Leng In tidak sengaja memancing keributan dan memancing keluar dua orang sakti itu serta menimbulkan kesibukan di puncak, akan sukarlah baginya untuk dapat melompati tembok yang selalu terjaga rapat itu.

Gerakan Kiang Liong memang amat cepat sehingga tubuhnya sukar diikuti pandangan mata orang biasa.

Ketika ia meloncat ke dalam dan bergerak menyelinap di antara bangunan-bangunan di situ, yang tampak hanya berkelebatnya bayangan putih saja.

Betapapun juga, ketika ia tiba di bangunan terbesar di tengah-tengah kelompok bangunan itu, seperti yang ditunjuk oleh Po Leng In, ia menghadapi kesulitan.

Bangunan ini terjaga, baik di bagian depan, kanan kiri, belakang maupun atas.

Dengan hati-hati sekali Kiang Liong mengintai dan mengatur siasat.

Agaknya bangunan besar-besar yang menjadi tempat tinggal Bouw Lek Couwsu dan para selirnya, juga termasuk tempat kediaman Siang-mou Sin-ni, mempunyai penjaga-penjaga tetap.

Di depan terjaga empat orang, di belakang, kanan dan kiri masing-masing tiga orang dan di atas genting tampak menjaga dua orang.

Dari semua penjaga itu, agaknya penjaga di atas genteng merupakan penjaga berkepandaian tinggi karena mereka adalah dua orang pendeta jubah merah.

Adapun penjaga lain adalah orang-orang Hsi-hsia tinggi besar.

Kiang Liong lalu mengumpulkan beberapa buah batu kecil, kemudian menyelinap ke sebelah kiri bangunan itu.

Beberapa detik kemudian, tiga orang penjaga di sebelah kiri rumah besar itu roboh dan tak sempat mengeluarkan sedikit pun suara karena tengkuk mereka disambar batu-batu kecil yang membuat mereka roboh pingsan tanpa mengetahui sebabnya.

Cepat bagaikan bayangan setan, Kiang Liong melompat keluar dan sekaligus mengempit tiga tubuh penjaga itu dibawa ke tempat gelap, ditotok lumpuh dan disembunyikan di bawah gerombolan pohon kembang.

Berturut-turut ia lakukan hal seperti pada penjaga di kanan, depan dan belakang sehingga dalam waktu beberapa menit saja tiga belas orang Hsi-hsia yang menjaga rumah itu sudah rebah tumpang-tindih dalam keadaan pingsan di bawah pohon.

Tepat seperti dugaan Kiang Liong, dua orang penjaga di atas rumah, yaitu dua orang pendeta jubah merah, ternyata adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian, tidak seperti tiga belas orang Hsi-hsia yang hanya kuat saja.

Buktinya, sambitan kerikil, dari tangan Kiang Liong itu tidak merobohkan dua orang hwesio jubah merah ini, hanya membuat mereka terhuyung-huyung saja di atas genteng.

Kiang Liong tidak mau memberi kesempatan.

Tubuhnya berkelebat cepat melayang naik ke atas genteng.

Dua orang pendeta jubah merah yang masih belum pulih kagetnya, menyambutnya dengan usaha perlawanan.

Namun sia-sia, tingkat kepandaian mereka masih terlalu rendah untuk menandingi pemuda sakti ini.

Dua kali tangan Kiang Liong bergerak dan mereka sudah tertotok lumpuh dan di saat lain tubuh mereka sudah dilempar di tumpukan tubuh para penjaga lain dalam keadaan pingsan dan lumpuh.

Akan tetapi, Kiang Liong tertegun dan mau tidak mau harus mengagumi kesetiaan dan kegagahan para penjaga dan dua orang pendeta itu karena betapapun dipaksa dan diancamnya, ketika ia mencari keterangan tentang dua orang gadis tawanan, mereka itu tetap membungkam.

Terpaksa Kiang Liong lalu mencari sendiri, menyelinap ke dalam bangunan besar itu.

Ketika empat orang pelayan wanita menyambut munculnya dengan mata terbelalak ketakutan, Kiang Liong cepat mengangkat tangan dan berkata.

"Aku tidak akan menyusahkan kalian, aku datang untuk menolong dua orang tawanan, dua orang gadis yang ditawan oleh Bouw Lek Couwsu. Beritahu di mana mereka dan aku akan membawa pergi mereka dari sini dengan segera."

Dengan tubuh gemetar empat orang pelayan itu berlutut dan saking takutnya tak seorang pun dari mereka dapat menjawab.

Dan pada saat itu kembali bermunculan wanita-wanita pelayan yang muda-muda dan cantik-cantik, diam-diam Kiang Liong mengeluh dalam hatinya.

Tidak dirobohkan berbahaya, untuk menyerang mereka ia tidak tega karena mereka itu adalah wanita-wanita lemah.

"Hayo lekas beritahukan di mana adanya dua orang gadis tawanan itu. Kalau tidak, terpaksa aku bunuh kalian"

Ia sengaja mengancam.

"Ampun.. mereka.. mereka di sana.. di kamar belakang.."

Seorang pelayan akhirnya dapat menjawab.

"Lekas bawa aku ke sana"

Pelayan itu terhuyung-huyung ketakutan, akan tetapi dapat berjalan menuju ke ruang belakang, diikuti oleh Kiang Liong dari belakang.

Akhirnya mereka tiba di depan sebuah kamar yang pintunya bercat merah, daun pintunya tertutup.

Dengan pengerahan tenaganya, sekali dorong saja daun pintu itu terbuka dan..

Kiang Liong mengeluarkan suara mengutuk ketika ia melihat Siang Kui dan Siang Hui, dua orang gadis cucu Ketua Beng-kauw yang cantik itu, terbelenggu di atas pembaringan dalam keadaan telanjang.

Melihat tumpukan pakaian mereka di atas pembaringan, Kiang Liong cepat meloncat dekat dan sebentar saja semua belenggu yang mengikat dua orang gadis itu sudah dipatahkan.

"Lekas pakai pakaian kalian"

Bisiknya sambil membalikkan tubuh, tidak mau melihat kakak beradik yang telanjang itu.

Siang Kui dan Siang Hui dengan muka merah sekali cepat-cepat mengenakan pakaian mereka.

"Untung kau datang tepat pada waktunya, Liong-twako."

Kata Siang Kui dengan suara terharu.

"Terima kasih, Twako. Mari sekarang kita hajar sampai mampus monyet-monyet gundul itu"

Seru Siang Hui penuh kemarahan.

Kiang Liong menoleh menghadapi mereka.

Mendengar ucapan mereka, melihat sikap dan keadaan mereka, hatinya lega.

Ia maklum bahwa kedatangannya belum terlambat.

"Siauw-moi, jangan bicara tentang menghajar mereka. Jumlah mereka banyak sekali, yang paling penting sekarang, di mana adanya Han Ki adik kalian?"

Barulah enci adik itu teringat dan mereka menjadi bingung.

"Kami berdua begitu terculik, selalu dikeram ke dalam kamar ini dan tak seorang pun di antara pelayan ada yang mau membuka mulut memberi tahu di mana adanya Han Ki. Mari kita cari."

Kata Siang Kui penuh semangat.

Kiang Liong menggeleng kepala, lalu menarik tangan mereka keluar dari dalam kamar itu, terus ke ruang depan.

Di ruangan ini terdapat rak senjata dan ia menyuruh kakak beradik itu memilih senjata.

Siang Kui dan Siang Hui memilih sebatang pedang dan begitu tangan mereka memegang senjata, dua orang nona ini kelihatan bersemangat sekali.

Mereka sudah gatal tangan untuk mengamuk dan mengadu nyawa dengan orang yang telah membasmi keluarga mereka dan bahkan telah menculik mereka, nyaris membunuh mereka.

Melihat sikap ini, Kiang Liong berbisik.

"Lekas kalian lari dari sini, ambil jalan dari kiri bangunan ini. Di sana ada sebatang pohon, kalian loncati pagar tembok melalui pohon itu dan melarikan diri keluar. Aku akan mencari Han Ki baru menyusul kemudian.."

"Mana bisa begini?"

Siang Hui mencela.

"Aku tidak mau lari, aku akan mengadu nyawa dengan monyet-monyet gundul itu"

"Biarkan kami berdua membantumu, Twako."

Siang Kui juga berkata nadanya mendesak.

"Ji-wi Siauw-moi harap jangan salah mengerti. Keadaan di sini berbahaya sekali dan amat kuat. Kalau tidak kebetulan ada musuh menyerbu sehingga semua tokoh di sini terpancing keluar, aku sendiri agaknya belum tentu dapat menolong kalian dengan mudah. Kalau Han Ki sudah dapat kutolong tentu aku ikut melarikan diri bersama kalian. Akan tetapi sekarang aku harus mencari Han Ki lebih dulu."

"Justeru untuk adik kami itu kami harus bantu, kalau perlu dengan taruhan nyawa"

Kata Siang Hui. Kiang Liong habis sabar.

"Kalian harus mengerti, kepandaian mereka hebat, aku sendiri belum tentu dapat menang menandingi mereka, masih harus melindungi kalian, berarti kita semua berempat akan binasa semua."

"Kami tidak takut mati"

Siang Kui dan Siang Hui berseru saling mendahului. Kiang Liong melotot.

"Kalau aku bekerja sendirian, lebih besar harapan dapat menolong adikmu. Kalian hendak menggangguku? Ingin semua ditangkap dan semua mati sehingga tidak akan ada orang yang membalas kematian Ayah Bunda kalian? Masih tidak cepat-cepat pergi?"

Dua orang gadis itu seketika menjadi pucat wajahnya, saling pandang kemudian bagaikan dua ekor ayam digebah, mereka meloncat keluar dan menghilang di dalam gelap.

Hanya terdengar mereka meninggalkan isak tertahan.

Kiang Liong tersenyum geli.

"Dasar puteri-puteri Paman Bu Sin gagah perkasa dan berani mati."

Ia memuji, hatinya perih teringat akan kematian Kam Bu Sin dan Isterinya yang begitu menyedihkan.

Segera ia teringat akan Kam Han Ki, maka cepat ia menyelinap keluar dari bangunan besar itu dan mendatangi para pelayan wanita yang berkumpul di sebuah ruangan dengan tubuh menggigil dan muka pucat.

"Aku tidak akan ganggu kalian. Akan tetapi kalian harap memberi tahu, di mana adanya Kam Han Ki, anak laki-laki kecil yang diculik dan dibawa ke sini sebagai tawanan"

Setelah ribut bicara sendiri akhirnya seorang pelayan berkata.

"Kami tidak tahu orang gagah. Yang menahannya adalah Siang-mou Sin-ni.."

"Di mana kamar Siang-mou Sin-ni?"

Pelayan itu hanya dapat menudingkan telunjuknya pada bangunan sebelah kanan bangunan besar itu.

Tampak bayangan putih berkelebat dan pemuda baju putih itu sudah lenyap dari depan mata mereka.

Para pelayan itu cepat berlutut dan saling peluk penuh rasa takut.

Akan tetapi dua orang di antara mereka lalu berlari keluar, biarpun kaki mereka menggigil namun akhirnya mereka sampai juga ke tempat penjaga.

Di sini dengan suara terputus-putus mereka lalu menceritakan tentang serbuan pemuda pakaian putih.

Ributlah para penjaga, dan para pendeta jubah merah lalu membunyikan tanda tiupan tanduk untuk memberi tahu para tokoh yang sedang turun puncak menghadapi lawan.

Sebagian pula dengan senjata di tangan lalu menyerbu, lari ke arah bangunan yang menjadi tempat tinggal Siang-mou Sin-ni.

Kiang Liong yang berhasil memasuki tempat tinggal Siang-mou Sin-ni, kaget mendengar suara tiupan tanduk itu.

Ia maklum bahwa bahaya mengancamnya, bahwa suara itu merupakan tanda bahaya dan persiapan pihak lawan.

Ia harus segera menemukan Han Ki.

Rumah itu kosong, agaknya para pelayan sudah lari keluar.

Ia cepat menuju ke belakang.

Biasanya, tempat tawanan adalah di bagian belakang.

Kamar-kamar di belakang dimasukinya, yang pintunya tertutup didobraknya, namun ia tidak dapat menemukan anak itu.

"Han Ki.., Kam Han Ki.."

Teriakan panggilan berkali-kali ini menggema di sekitar puncak karena suara Kiang Liong didorong oleh khi-kang yang amat kuat.

Namun tidak ada jawaban.

Tentu saja Han Ki tak dapat menjawab karena pada saat itu Han Ki menggeletak di dalam kamar Siang-mou Sin-ni dalam keadaan pingsan.

Suara tapak kaki banyak orang menyatakan bahwa rumah itu telah terkurung.

Ia lalu melayang keluar dari dalam rumah melalui jendela.

Dalam sekejap mata, belasan buah senjata tajam menyambutnya seperti hujan.

"Trang-trang-trang.."

Suara pertemuan senjata nyaring ini disusul robohnya lima orang pengeroyok sekaligus.

Ketika meloncat keluar tadi ia telah mencabut, keluar sepasang senjatanya yang aneh, yaitu sepasang pensil.

Dengan tubuh masih melayang dapat menangkis dan sekaligus merobohkan lima orang pengeroyok, dapat dibayangkan betapa lihainya pemuda ini.

Akan tetapi jumlah pengeroyok makin bertambah.

Orang-orang Hsi-hsia sungguh pun tidak memiliki ilmu silat yang tinggi, namun mereka adalah orang-orang peperangan yang ulet dan berani, lagi pula amat kuat sehingga robohnya banyak kawan tidak mengecilkan hati mereka yang terus mengamuk dan mengeroyok.

Jumlah mereka yang puluhan orang banyaknya ini diperkuat oleh belasan orang hwesio jubah merah yang memiliki ilmu silat cukup lihai karena mereka ini adalah kaki tangan, juga murid Bouw Lek Couwsu.

Hebat sekali amukan Kiang Liong.

Dalam waktu setengah jam lebih, tidak kurang dari dua puluh orang Hsi-hsia roboh tak dapat bangun lagi ditambah tujuh orang pendeta jubah merah roboh terluka.

Ia tidak akan melarikan diri sebelum dapat menolong Han Ki.

Sepasang siang-pit (pensil) di tangannya menjadi dua gulungan sinar memanjang seperti dua ekor ular sakti saling belit dan melayang-layang di angkasa.

"Tahan senjata, mundur semua.."

Tiba-tiba terdengar suara yang amat nyaring berpengaruh, Kiang Liong tidak mengenal suara ini, akan tetapi semua pengeroyok seketika meloncat mundur sambil menarik senjata masing-masing, bahkan lalu mundur dan berdiri menjadi dua barisan dengan sikap menghormat.

Karena menduga bahwa kini yang muncul tentulah Bouw Lek Couwsu yang terkenal sakti bersama Siang-mou Sin-ni yang kesaktiannya pernah ia dengar dari suhunya, maka Kiang Liong memegang sepasang senjatanya erat-erat, pandang mata ditujukan ke depan, seluruh urat syarafnya siap menghadapi lawan tangguh.

Di bawah sinar obor yang dipegang kedua barisan berjajar di kanan kiri, tampaklah kini seorang pendeta gundul berkaki satu yang berjubah merah.

Biarpun kaki kirinya buntung, namun dengan bantuan tongkat, ia dapat berjalan dengan tegak dan cepat sekali.

Di samping hwesio ini berjalan seorang wanita cantik yang berambut panjang.

"Bagus. Engkau tentulah Bouw Lek Couwsu dan Siang-mou Sin-ni, iblis tua jantan betina yang amat keji"

Kiang Liong membentak marah sekali.

Bouw Lek Couwsu membelalakkan matanya.

Kalau seorang tokoh benar seperti Siauw-bin Lo-mo yang terkenal sakti masih jerih terhadap dirinya, bagaimana ada seorang pemuda seperti ini berani memaki dia dan Siang-mou Sin-ni?

Dan menyaksikan pengeroyokan tadi, Melihat banyaknya murid-murid dan orang-orang Hsi-hsia roboh, benar-benar pemuda ini luar blasa sekali.

Keheranannya melampaui kemarahannya ketika ia bertanya.

"Orang muda yang tak takut mati, engkau siapakah?"

Dengan sikap tenang pemuda itu menjawab.

"Aku she Kiang bernama Liong. Karena engkau melakukan kebiadaban di kalangan Beng-kauw dan menculik wanita dan kanak-kanak, maka aku datang untuk menghadapimu. Bouw Lek Couwsu, hayo kau bebaskan Kam Han Ki, anak kecil itu tidak tahu apa-apa"

Bouw Lek Couwsu mengangguk-anggukkan kepala sambil meraba kepalanya yang gundul.

"Aih-aih.. pantas kau seberani ini. Kiranya engkau inikah yang bernama Kiang-kongcu, putera Pangeran Sung yang terkenal sebagai murid Suling Emas?"

Tiba-tiba Siang-mou Sin-ni melompat ke depan dan tertawa, suara ketawanya melengking tinggi menyeramkan, sungguhpun wajahnya menjadi menarik sekali ketika tertawa, karena tampak giginya berderet rapi dan putih berkilauan di balik bibir merah, cuping hidungnya berkembang kempis dan matanya menyinarkan api.

"Hi-hi-hik"

Inikah murid Suling Emas? Bagus, kau wakili Gurumu mampus di tanganku"

Berkata demikian, kepala wanita ini bergerak dan dari kanan kiri pundaknya menyambar bayangan hitam.

"Siuuuuttt"

Dahsyat sekali gulungan dua, sinar hitam ini menyambar ke arah leher dan pusar Kiang Liong.

Pemuda ini sudah menyaksikan kelihaian Po Leng In menggunakan rambut sebagai senjata, namun dibandingkan dengan gerakan ini, Po Leng In bukan apa-apa.

Dua gumpal rambut panjang ini menyambar seperti dua ekor naga, mengeluarkan bunyi mengerikan dan mendatangkan bau harum yang mencekik leher.

Pemuda ini maklum bahwa terkena hantaman ujung rambut ini akibatnya hebat, apalagi kalau sampai terbelit.

Karena itu, cepat ia sudah menggerakkan sepasang pensilnya, menggetarkan sepasang senjata itu dengan tenaga sin-kang.

"Plak-plak.. aiihhh.."

Siang-mou Sin-ni terkejut bukan main sampai mengeluarkan suara kaget ketika sepasang gumpalan rambutnya itu terpukul membalik.

Getaran pensil itu tidak memungkinkan rambutnya untuk melibat.

Rasa kaget ini berbalik menjadi kemarahan.

Kembali kepalanya bergerak dan kini dua gumpalan rambut bergabung menjadi satu dan menyambar ke depan, gerakannya seperti sebatang toya baja menghantam kepala Kiang Liong.

Karena bergabung menjadi satu, maka tenaganya menjadi lipat dua kali.

Menyusul serangan rambut ini, kedua tangan Siang-mou Sin-ni juga bergerak melakukan pukulan dengan jari-jari tangan terbuka.

Hebatnya, dari kedua telapak tangan itu keluarlah bau yang amis sekali, amis busuk dan tampak telapak tangannya merah seperti mengeluarkan darah.

Kiang Liong yang tahu bahwa ia berhadapan dengan orang sakti, bekas musuh besar gurunya, tidak mau bersikap sembrono.

Ia sudah siap dan kini ia menggerakkan kedua pensilnya seperti orang mencorat-coret di udara, menuliskan huruf-huruf indah dengan gerakan indah pula.

Dalam sekejap mata, sepasang pensilnya sudah membuat gerakan menyilang dan seperti menggunting rambut, Siang-mou Sin-ni terkejut dan menarik kembali rambutnya melanjutkan pukulan telapak tangan merah ke arah dada dan lambung pemuda itu.

Namun gerakan corat-coret selanjutnya itu secara otomatis membuat sepasang pensil sudah maju menyambut pergelangan kedua tangan Siang-mou Sin-(Lanjut ke

Jilid 20) Mutiara Hitam (Seri ke 04

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 20 ni dengan totokan-totokan pada jalan darah.

Kalau pukulan dilanjutkan, sebelum telapak tangan menyentuh baju Kiang Liong, tentu saja ujung pena akan lebih dulu bertemu dengan pergelangan tangan menotok jalan darah.

Gerakan ini dilakukan seperti orang menulis huruf sehingga tak tersangka dan membingungkan lawan.

Kembali Siang-mou Sin-ni berseru keras dan menarik kedua tangannya sambil menggeser kaki mundur selangkah sehingga ia pun berhasil membebaskan diri daripada totokan kedua pensil.

"Kiang Liong, kau masih tidak mau menyerah? Lihat siapa mereka ini"

Tiba-tiba Bouw Lek Couwsu yang tadi memberi tanda kepada anak buahnya, menudingkan telunjuknya kepada dua orang gadis di sampingnya.

Kiang Liong memandang dan matanya terbelalak, wajahnya pucat karena dua orang gadis itu adalah Siang Kui dan Siang Hui, tampak lemas dan kakinya tangannya terbelenggu, memandang kepadanya dengan mata duka namun sedikit pun tidak takut.

"Liong-twako, maaf, kami tertangkap kembali."

Kata Siang Kui, sedih melihat kekagetan dan kekecewaan yang membayang di mata Kiang Liong.

"Liong-twako, jangan hiraukan kami"

Kata Siang Hui dengan suara lantang.

"Ha-ha-ha-ha, Kiang-kongcu. Dua orang cucu Ketua Beng-kauw ini sungguh gagah dan manis. Sayang kalau mereka mati. Menyerahlah, dan mereka akan kubebaskan"

"Liong-twako, kami tidak takut mati teriak Siang Hui.

"Benar Twako, jangan hiraukan kami. Jangan menyerah, lawanlah dan kalau dapat larilah"

Teriak pula Siang Kui.

Kiang Liong berdiri tegak ragu-ragu, wajahnya pucat.

Melihat Bouw Lek Couwsu memalangkan tongkatnya, mengancam di atas kepala dua orang gadis itu, maklumlah ia bahwa sekali ia bergerak, dua orang gadis itu tentu akan tewas.

Dan dia seorang diri belum tentu akan dapat mengalahkan Bouw Lek Couwsu dan Siang-mou Sin-ni, apalagi dibantu banyak sekali pendeta jubah merah dan orang-orang Hsi-hsia.

Baru Siang-mou Sin-ni seorang saja tadi ia sudah merasakan kelihaiannya.

Kiang Liong seorang pemuda yang cerdik dan tenang, maka sebentar saja ia sudah dapat mengambil keputusan.

"Bouw Lek Couwsu, jangan seperti anak kecil. Bebaskan gadis-gadis itu dan adik mereka, kemudian kalau kau dan Siang-mou Sin-ni ada kepandaian, cobalah untuk mengalahkan dan membunuhku"

Sikapnya tenang, suaranya berpengaruh sehingga kembali Siang-mou Sin-ni mengeluarkan suara kagum.

"Seperti Suling Emas benar.., Beginilah Suling Emas di waktu mudanya"

Akan tetapi Bouw Lek Couwsu tertawa bergelak.

"Orang muda sombong. Gurumu sendiri Si Suling Emas belum tentu dapat menandingi pinceng, apalagi engkau muridnya. Kau lepaskan senjatamu dan menyerahlah, pinceng ingin bicara denganmu dan pinceng memerlukan bantuanmu. Pinceng berjanji akan membebaskan dua orang gadis ini. Tentang anak laki-laki itu, dia adalah hak Siang-mou Sin-ni."

"Bagaimana aku dapat percaya omonganmu, Bouw Lek Couwsu?"

Pendeta jubah merah itu marah sekali.

"Kiang Liong, kau benar-benar memandang rendah kepada pinceng. Tak tahukah engkau dengan siapa kau bicara? Pinceng adalah ketua yang terhormat dari para pendeta jubah merah. Sebagai pendeta kepala, sekali pinceng mengeluarkan kata-kata, pasti tak ditarik kembali"

Kiang Liong tersenyum mengejek.

Ia sengaja hendak memanaskan hati pendeta ini.

Makin panas hatinya, kelak ia akan makin malu untuk menarik kembali kata-katanya.

"Hemm, siapa tidak tahu bahwa engkau menjadikan jubah merah dan kepala gundul sebagai kedok belaka, Bouw Lek Couwsu? Engkau berpakaian pendeta akan tetapi tidak hidup sebagai pendeta, bagaimana aku bisa percaya omongan seorang pendeta palsu? Akan tetapi aku akan lebih percaya kalau engkau bicara sebagai pimpinan barisan Hsi-hsia yang terkenal jujur dan perkasa"

Suara Kiang Liong diucapkan nyaring dan lantang sekali sehingga terdengar oleh semua orang yang hadir di situ, termasuk orang-orang Hsi-hsia.

Diam-diam Bouw Lek Couwsu mengutuk di dalam hatinya.

Ia merasa benar-benar dilucuti oleh pemuda ini.

Sebagai seorang pimpinan suku bangsa Hsi-hsia yang mengharapkan kedudukan besar, tentu saja ia tidak akan berani menarik kembali kata-kata dan merendahkan diri dan martabat dalam pandangan bangsa Hsi-hsia.

Akan tetapi di samping ini, ia pun amat membutuhkan bantuan Kiang Liong.

Pemuda ini adalah putera pangeran di Kerajaan Sung yang sudah terkenal.

Kalau ia dapat menarik pemuda ini menjadi sekutu.

Alangkah akan baiknya, akan memudahkan rencananya menyerbu Sung.

"Baiklah, aku berjanji sebagai pimpinan Hsi-hsia untuk membebaskan dua orang gadis ini setelah kau melepaskan senjata dan menyerah."

Kiang Liong tersenyum lalu memandang sepasang pensilnya.

"Twako, jangan menyerah"

"Twako, mari kita berontak, lawan dan adu nyawa dengan mereka"

Namun Kiang Liong menggelengkan kepala dan memandang dua orang gadis itu sambil berkata.

"Kalian harus menurut kepadaku. Setelah dibebaskan, lekas turun gunung dan jangan hiraukan aku lagi"

Di dalam suara ini terkandung wibawa besar, dan sepasang mata itu menatap dengan begitu pasti sehingga dua orang gadis itu menunduk sambil terisak menangis.

Kiang Liong mendongak ke atas, melihat tiang bendera yang amat tinggi berdiri di situ.

Bendera pasukan Hsi-hsia berkibar di puncak tiang.

Ia lalu berkata.

"Biarlah sepasang pensilku kusimpan di atas sana"

Kedua tangannya bergerak, terdengar suara berdesing nyaring sekali dan dua sinar menyambar ke atas.

Ketika semua orang memandang, ternyata dua buah pensil itu telah manancap berjajar di puncak tiang bendera.

Semua orang terbelalak memandang penuh keheranan dan kekaguman.

Bahkan Bouw Lek Couwsu dan Siang-mou Sin-ni sendiri menjadi kagum.

"Ha-ha-ha, engkau benar seorang muda gagah perkasa."

Kata Bouw Lek Couwsu yang kemudian menoleh dan memberi perintah kepada anak buahnya.

"Bebaskan dua orang nona ini dan jangan halangi mereka turun gunung"

Belenggu kedua orang nona ini dilepaskan.

Mereka sejenak meragu, memandang ke arah Kiang Liong dengan sepasang mata basah, akan tetapi Kiang Liong menggerakkan mukanya dan berkata.

"Pergilah, Ji-wi Siauw-moi dan berhati-hatilah."

Dua orang nona itu sedih sekali.

Tadi pun ketika mereka dipaksa oleh Kiang Liong setelah mereka ditolong, dipaksa pergi dan tidak diperbolehkan ikut pemuda itu mencari Han Ki, mereka menangis kecewa.

Sekarang tahulah mereka bahwa pemuda itu ternyata benar ketika menyuruh mereka melarikan diri.

Musuh terlampau banyak dan sakti.

Baru saja mereka tiba di lereng bukit, mereka itu bertemu dengan Bouw Lek Couwsu dan Siang-mou Sin-ni yang berlari cepat naik ke puncak sehingga tanpa dapat melakukan perlawanan berarti mereka telah ditangkap kembali.

Dan sekarang karena mereka berdua, Kiang Liong menjadi tawanan tanpa dapat melawan.

Tentu saja mereka berduka sekali.

Kali ini mereka tidak berani membantah dan sambil menangis mereka pergi meninggalkan tempat itu, di dalam hati berjanji akan cepat-cepat mencari adik mendiang kakek mereka yang bertapa di puncak Tai-liang-san, minta pertolongannya kemudian kembali ke tempat ini untuk menolong Kiang Liong dan Han Ki.

Kalau terlambat dan dua orang itu sudah terbunuh, mereka akan mengamuk dan mengadu nyawa.

Setelah dua orang gadis itu pergi, Bouw Lek Couwsu berkata.

"Orang muda, pinceng sudah berjanji membebaskan mereka dan sekarang mereka sudah bebas. Engkau menjadi tawananku, dan pinceng juga tidak bermaksud membunuhmu, kalau saja engkau tidak menolak tawaranku. Sebagai seorang tawanan, kau harus dibelenggu dan harap saja kau tidak melawan agar kami tidak perlu membunuhmu sebelum berunding"

Kiang Liong bukan seorang bodoh.

Kalau sepasang pensilnya masih berada di kedua tangannya sekalipun, belum tentu akan dapat membebaskan diri dari dua orang sakti ini bersama seratus orang lebih anak buah mereka yang sudah mengurung tempat itu.

Kini sepasang senjata sudah ia simpan di atas tiang bendera, dan ia sudah berjanji pula untuk menyerah.

Seorang pendekar harus memegang janjinya dan ia menyerah, kecuali tentu saja kalau ia akan dibunuh, ia akan melawan sedapat mungkin.

Maka mendengar ucapan ini ia tersenyum dan menjawab.

"Silakan Bouw Lek Ciouwsu."

Ia memasang kedua tangan dengan merangkap pergelangan tangannya.

Seorang pendeta jubah merah murid Bouw Lek Couwsu tanpa diminta segera melompat maju.

Ia sudah membawa sebuah rantai besi dan untuk menyenangkan hati gurunya ia segera mengikat kedua pergelangan tangan itu erat-erat kemudian mengaitkan ujungnya kepada mata rantai.

Demikian kuatnya belenggu itu sehingga kedua tangan Kiang Liong sedikit pun tak dapat bergerak.

Dengan hati puas dan muka bangga pendeta jubah merah itu melangkah mundur dan memandang ke arah gurunya mengharapkan pujian.

"Goblok kau, Goblok dan tolol"

Pendeta jubah merah itu kaget setengah mati, takut mendongkol dan heran terbayang di mukanya.

"Tapi.. Suhu.."

"Kau kira belenggu itu dapat menahan kedua tangannya?"

Bentak Bouw Lek Ciouwsu.

Kiang Liong kagum akan kecerdikan dan ketajaman mata pendeta kepala itu.

Ia tersenyum dan tak perlu berpura-pura lagi.

Sekali ia mengerahkan tenaga Kim-kong-kiat, terdengar suara keras dan rantai besi yang membelenggunya itu patah-patah.

Kemudian ia menyodorkan kedua tangannya lagi kepada Bouw Lek Couwsu.

Semua anak buah yang berada di situ mengeluarkan seruan kaget dan melongo.

Seekor harimau sekalipun tak mungkin dapat mematahkan belenggu seperti itu, dan pemuda ini mematahkannya sedemikian mudah.

"Biar kubelenggu dia untukmu"

Terdengar Siang-mou Sin-ni berkata, sebagian jengkel menyaksikan kegagahan Kiang Liong dan juga sebagian benci karena mengingat bahwa pemuda ini adalah murid Suling Emas, Musuh besar yang amat dibencinya karena Suling Emaslah yang mengenyahkan dia dari dunia kang-ouw (baca cerita CINTA BERNODA DARAH).

Sambil berkata demikian, kepalanya bergerak dan segumpal rambutnya telah menyambar ke arah kedua tangan Kiang Liong, seperti seekor ular hidup rambut itu membelit-belit pergelangan tangan.

Kiang Liong dapat merasa betapa rambut yang membelit kedua lengannya itu mengandung tenaga yang luar biasa, terasa panas dan maklumlah ia bahwa wanita sakti yang terkenal karena rambutnya ini sama sekali tak boleh dipandang ringan dan sekiranya ia berusaha melepaskan ikatan rambut, ia masih sangsi apakah dia akan berhasil.

Maka ia diam saja dan bahkan memuji.

"Rambutmu memang amat hebat, Siang-mou Sin-ni"

Untuk kedua kalinya anak buah yang berada di situ melongo.

Mereka sudah dapat menduga bahwa tamu kehormatan pemimpin mereka itu tentulah seorang wanita sakti dan pandai mempergunakan rambut sebagai senjata.

Akan tetapi kalau rambut itu bisa lebih kuat daripada rantai besi, benar-benar hal ini membuat mereka menjulurkan lidah saking heran.

Setelah kedua tangan Kiang Liong terbelenggu, tiba-tiba sekali Siang-mou Sin-ni mengeluarkan suara melengking tinggi, tangan kanannya bergerak menghantam ke depan.

Kiang Liong terkejut, karena ia sama sekali tidak menyangka akan diserang.

Ia tak dapat menangkis maupun mengelak, hanya dapat mengerahkan tenaga, dan menerima pukulan itu.

"Bukkk.."

Lambungnya terkena pukulan.

Tidak sakit rasanya akan tetapi hawa panas menjalar di seluruh tubuhnya dan terkumpul di lambung kembali, mendatangkan rasa gatal-gatal dan hidungnya mencium bau amis.

Diam-diam ia kaget sekali karena ia maklum bahwa pukulan Siang-mou Sin-ni yang dilakukan secara curang itu adalah pukulan yang amat hebat, pukulan beracun yang ia sendiri tidak tahu akan bagaimana akibatnya.

Tentu saja Kiang Liong sebagai tokoh muda tidak mengenal pukulan ini.

Selain ilmu menggunakan rambut yang amat hebat di waktu mudanya Siang-mou Sin-ni menciptakan ilmu dahsyat mengerikan yang bernama Tok-hiat-hoat-lek.

Dahulu ketika ia sering menghadapi Suling Emas (dalam cerita CINTA BERNODA DARAH), dia menggunakan Tok-hiat-hoat-lek pula, yaitu dengan cara menyemburkan darah dari dalam perutnya, langsung keluar dari mulut.

Darah yang beracun ini amat berbahaya dan jlka mengenai kulit lawan, dapat membuat kulit dan daging lawan membusuk dan tidak ada obatnya"

Akan tetapi makin tua, Siang-mou Sin-ni makin matang ilmunya dan kini ia dapat menggunakan Tok-hiat-hoat-lek menjadi pukulan tangan terbuka.

Darah beracun yang, dikumpulkannya itu dapat ia robah menjadi hawa beracun yang jika mengenal lawan akan meracuni darah lawan itu.

Tanpa diketahuinya, Kiang Liong telah terkena pukulan Tok-hiat-hoat-lek ini dan perlahan-lahan darah di tubuhnya mulai keracunan.

"Kim Bwe, jangan bunuh dia"

Bentak Bouw Lek Couwsu sambil melompat maju menghadang. Keduanya saling pandang dan akhirnya Siang-mou Sin-ni tertawa.

"Hi-hi-hik, tidak bunuh juga tidak apa. Hatiku sudah puas dapat memukulnya"

Bouw Lek Couwsu menghampiri Kiang Liong yang kini kedua tangannya sudah terlepas dari ikatan rambut Siang-mou Sin-ni.

"Kiang Liong Kongcu, maafkan sikap sahabatku ini yang dulu disakitkan hatinya oleh Gurumu, Percayalah, kami berniat baik dan ingin bersahabat dengan kau yang muda dan perkasa. Kalau kau berjanji takkan melawan dan manyerah baik-baik, pinceng tidak berani membelenggumu. Marilah, engkau kini menjadi tamuku yang terhormat."

Kiang Liong hanya tersenyum dingin dan tanpa bicara ia mengikuti, pendeta ini naik ke puncak.

Siang-mou Sin-ni tertawa ha-ha-hi-hi di belakang mereka dan para anak buah ikut pula naik kembali ke markas sambil membawa mereka yang terluka.

Dapat dibayangkan betapa berdebar tegang dan penuh haru rasa hati Suling Emas ketika ia berlutut bersama panglima-panglima lain menghadap Sang Ratu Yalina, ratu bangsa Khitan yang pada waktu itu amat kuat.

Begitu datang menghadap tadi dibawa oleh Loan Ti Ciangkun dan Hoa Ti Ciangkun, dalam keadaan menyamar sebagai seorang kakek yang berjenggot panjang, Suling Emas memandang Yalina atau Lin Lin dengan jantung seakan-akan ditusuk.

Bekas kekasihnya, juga adik angkatnya itu dalam pandangannya masih seperti dulu, dua puluh tahun yang lalu.

Masih cantik jelita, masih kelihatan muda, hanya bedanya, kalau sepasang mata itu dahulu bersinar-sinar penuh kegembiraan, kelincahan dan kenakalan orang muda, kini pandang matanya suram.

Kalau bibir yang masih merah mungil ini dahulu tersenyum-senyum dan menghadapi dunia dengan seri gembira, Kini tertarik seperti orang menderita tekanan batin hebat.

Hanya sikapnya kini membayangkan keagungan dan kematangan.

Begitu pandang mata sayu itu ditujukan ke arah mukanya dan sepasang alis yang kecil panjang menghitam itu bergerak membayangkan keheranan dan perhatian, Suling Emas cepat-cepat menundukkan mukanya dengan sikap amat menghormat.

Dengan jantung berdebar dan pikiran melamun jauh sehingga suara Loan Ti Ciangkun yang memberi laporan kepada ratunya hanya terdengar sebagian saja olehnya, Suling Emas berlutut sambil menundukkan kepala.

Akhirnya ia mendengar suara Lin Lin atau Ratu Yalina, suara yang selama puluhan tahun tak pernah ia lupakan, yang selalu terngiang di telinganya dalam mimpi.

"Kami amat berterima kasih kepada Cianpwe dan kami setuju akan usul kedua panglima kami untuk mengangkat Cianpwe sebagai pengawal dalam istana. Betapapun juga, hati kami takkan puas kalau belum menguji kepandalan Cianpwe."

Di dalam hatinya Suling Emas merasa geli dan kagum.

Biarpun sudah menjadi ratu selama puluhan tahun, ratu besar yang disanjung dan disembah orang-orang Khitan, namun Lin Lin masih belum kehilangan hormatnya terhadap tokoh kang-ouw sehingga dia yang dianggap seorang tokoh besar di dunia kang-ouw disebut cianpwe.

Ia hanya menunduk dan menjawab, merobah suaranya dibesarkan.

"Silakan apa yang akan Paduka lakukan, hamba hanya menurut."

"Lihat serangan"

Tiba-tiba ratu itu berseru keras dan tangan kanannya menyambar ke arah dada Suling Emas.

Suling Emas kaget bukan main.

Ia mengenal pukulan ini karena pukulan ini memiliki dasar ilmu silat Beng-kauw.

Teringatlah ia betapa Yalina ini mewarisi ilmu ciptaan mendiang Pat-jiu Sian-ong Liu Gan, pendiri Beng-kauw, yaitu Ilmu Cap-sa Sin-kun (Tiga Belas Pukulan Sakti) yang dirahasiakan, namun secara kebetulan terjatuh ke tangan Lin Lin (baca CINTA BERNODA DARAH).

Tentu saja dengan Hong-In Bun-hoat ia akan dapat memunahkan pukulan dahsyat ini, akan tetapi kalau ia pergunakan Hong-in Bun-hoat, sudah pasti Lin Lin akan mengenalnya.

Karena inilah maka ia sengaja mengerahkan sin-kang di pundaknya, lalu mengelak setelah pukulan itu menyentuh dadanya.

Dengan gerakan ini, pukulan ke dada itu menyeleweng dan menghantam pundaknya sehingga tubuhnya mencelat sampai empat meter akan tetapi ia jatuh dalam keadaan masih berlutut seperti tadi.

"Aiihhh.., Hampir aku kesalahan tangan membunuhmu"

Teriak Yalina dan memberi isyarat supaya Suling Emas maju lagi.

Dari tempat ia berlutut, Suling Emas mengerahkan gin-kang dan..

dalam keadaan masih berlutut itu tubuhnya melayang dan kembali di tempat tadi, sama sekali tidak merobah kedudukan tubuhnya.

Semua orang yang hadir melongo dan mengeluarkan seruan kaget.

Itulah ilmu sihir, pikirnya.

Bahkan Yalina sendiri terkejut.

Hebat Ilmu orang ini, pikirnya.

Dengan gin-kang seperti itu, dia sendiri takkan mungkin menandinginya.

Juga pukulannya tadi hebat sekali, biar pun hanya mengenai pundak namun kalau seorang di antara panglima tingginya terkena hantaman itu sedikitnya tentu akan pingsan.

Akan tetapi kakek itu tidak apa-apa, hanya mencelat dan tidak terluka.

"Ah, maafkan percobaan kami, Cianpwe. Ternyata Cianpwe sakti seperti diceritakan kedua panglimaku. Siapakah nama julukan Cianpwe?"

"Hamba tidak ingat lagi nama hamba, orang hanya menyebut hamba Bu Beng Lojin (Kakek Tak Bernama)."

Ratu Yalina mengangguk-angguk.

"Bu Beng Lojin, apakah engkau tidak mempunyai saudara muda atau keponakan atau putera?"

Hati Suling Emas berdebar. Ternyata pandang mata tajam dari Yalina dapat mengenal persamaan muka penyamarannya. Cepat ia menggelengkan kepala.

"Hamba hidup sebatang kara di dunia ini. Apakah maksud pertanyaan Paduka?"

Ratu Yalina menarik napas panjang.

"Tidak apa-apa, hanya kau mengingatkan aku akan seseorang.."

Ia berhenti termenung sejenak, wajahnya terliputi kedukaan, kemudian menyambung.

"Mulai sekarang kau kuangkat menjadi pengawal dalam Istana. Keselamatan kami sekeluarga kuserahkan ke dalam penjagaanmu."

Suling Emas menunduk, hatinya terharu.

"Terima kasih atas segala kebaikan dan kurnia Paduka"

Demikianlah, mulai saat itu Suling Emas menjadi kepala pengawal dan tinggal pula di lingkungan istana.

Dia diberi pakaian yang sesuai dengan pangkatnya.

Seperangkat pakaian yang indah dan gagah, dengan hiasan sulaman-sulaman benang emas dan di dadanya tersulam gambar sebagai tanda bahwa pangkatnya adalah panglima pengawal.

Kepalanya memakai topi bundar berhias bulu kuning, hiasan bulu bagi panglima yang tinggi.

Dalam beberapa hari setelah bertugas sebagai panglima pengawal, Suling Emas mendapatkan hal-hal yang mengharukan hatinya.

Ia diperkenalkan dengan Pangeran Mahkota Talibu yang masih muda belia dan amat tampan, bersikap halus sabar dan tidak sombong, pandai bergaul dengan rakyatnya sehingga timbul rasa suka di hati Suling Emas, apalagi mengingat bahwa putera angkat Ratu Yalina ini adalah putera Panglima Kayabu, bekas sahabatnya yang gagah perkasa.

Ia bertemu pula dengan Panglima Kayabu yang tidak mengenalnya dan ternyata bahwa Panglima Tinggi Kayabu ini masih tampak muda dan gagah seperti dulu, juga sikapnya amat ramah terhadap bawahannya, namun penuh disiplin keras.

Pantas saja bangsa Khitan menjadi makin kuat berkat sikap Panglima Kayabu ini.

Terutama sekali keadaan Ratu Yalina, seringkali membuat Suling Emas hampir tidak kuat menahan hatinya.

Hanya di waktu bersidang saja ratu ini nampak agung dan berwibawa.

Akan tetapi kerap kali Suling Emas melihat ratu ini duduk termenung seorang diri di dalam ruangan dalam istana dan tidak jarang tampak matanya merah bekas menangis.

Kalau sudah melihat keadaan ratu itu demikian, jantung Suling Emas serasa ditusuk-tusuk dan kalbunya menjerit-jerit menyebut nama Lin Lin kekasihnya.

Akan tetapi, ia merasa heran mengapa ratu ini bertekad memanggilnya?

Setelah beberapa hari berada di situ, ia tidak melihat sesuatu yang mengancam keadaan di Khitan.

Pemerintahannya berjalan baik, keadaan ratu itu dicinta dan dihormati bangsanya, dan para panglima juga setia.

Rahasia apakah yang diderita Lin Lin?

Rahasia apakah yang membuat Lin Lin berduka seperti itu?

Beberapa hari kemudian, di dalam persidangan terbuka, datanglah seorang Perwira Khitan yang membawa laporan hebat, yaitu tentang diserbunya Nan-cao oleh bangsa Hsi-hsia dan tentang kematian Ketua Beng-kauw dan banyak tokoh-tokohnya termasuk Kam Bu Sin dan isterinya.

Mendengar ini, Ratu Yalina mengeluarkan teriakan aneh, wajahnya menjadi pucat sekali, tubuhnya menggigil dan hanya karena ingat bahwa ia seorang ratu saja yang mencegah dia roboh pingsan di atas kursinya.

Cepat-cepat ia memberi isyarat membubarkan persidangan lalu memasuki ruangan dalam istana.

Begitu berada seorang diri, Ratu Yalina menjatuhkan diri di atas kursi dan menangis tersedu-sedu.

Sibuklah para dayang dan pelayan, sibuk menghibur namun mereka dibentak oleh Ratu itu yang terus menangis tanpa mau pindah dari atas kursinya.

Ia menolak pelayanan para dayang, tidak mau makan, bahkan sampai malam tiba, Sang Ratu masih menangis di atas kursinya.

Berkali-kali ia mengeluh dan membisikkan nama Kam Bu Sin, kakak angkatnya yang baginya seperti kakak kandungnya sendiri.

Tentu saja berita tentang malapetaka yang menimpa para pimpinan Beng-kauw ini juga membuat Suling Emas terkejut marah, dan berduka sekali.

Kedukaannya tidak kalah besar dengan kedukaan Ratu Yalina karena Kam Bu Sin adalah adik tirinya, seayah lain ibu dan Suling Emas adalah sahabat baik semua pimpinan Beng-kauw.

Akan tetapi dasar dia seorang pendekar sakti yang sudah matang jiwanya dan kuat batinnya oleh gemblengan pahit getir hidup, ia menerima berita ini dengan sikap tenang.

Sekarang ia harus pergi dari Khitan, pikirnya.

Ia harus pergi ke Nan-cao menyelidiki keadaan Beng-kauw yang tertimpa malapetaka.

Tiada gunanya ia berlama di Khitan karena ternyata bahwa Khitan tidak terancam bahaya apa-apa, keadaan Yalina juga sehat.

Akan tetapi tak mungkin ia pergi begitu saja.

Malam ini ia harus bertemu dengan Yalina, memperkenalkan diri dan berpamit.

Ia harus bertemu secara rahasia agar jangan ada yang tahu akan hubungan mereka.

Sebagai seorang pengawal kepala, tentu saja mudah bagi Suling Emas untuk memasuki semua ruangan istana dengan dalih memeriksa keamanan.

Akhirnya ia sampai di luar pekarangan di mana Yalina menangis.

Ruangan itu amat indah, juga diterangi lampu penerangan seperti di siang hari saja.

Ia mengintai dari balik tirai tebal.

Tampak oleh Suling Emas betapa Ratu Yalina masih menangis, duduk di atas kursi dan menyandarkan kepala di atas lengan yang diletakkan di atas meja.

Mukanya pucat sekali dan air mata bercucuran tiada hentinya di sepanjang pipinya.

Seorang pelayan muda yang membawa tempat hidangan berdiri di belakangnya dengan bingung.

Baru saja hidangan yang sengaja ia bawa datang dan membawanya kepada Sang Ratu, ditolak dengan bentakan marah.

Dari belakang datang seorang dayanglain membawa teng (lampu), mereka berdua saling memberi tanda dengan mata dan gerakan tangan, kemudian Si Pembawa hidangan mundur.

Dengan menggerakkan pundak dan menghela napas panjang, kedua orang dayang itu lalu meninggalkan ruangan.

Sunyi di ruangan itu, yang terdengar hanya isak tangis Sang Ratu Yalina.

Suling, Emas belum berani memperlihatkan diri karena ia khawatir kalau-kalau para dayang akan melihatnya dan hal ini akan membikin malu Sang Ratu.

Maka sambil menahan gelora keharuan hatinya, ia meninggalkan ruangan itu dan mengambil keputusan untuk menemui Yalina malam nanti di kamarnya untuk memperkenalkan diri dan berpamitan.

Sambil menanti saat yang baik, Suling Emas lalu menemui perwira yang melaporkan tentang malapetaka yang menimpa Beng-kauw itu.

Perwira itu adalah seorang di antara petugas-petugas Khitan yang bekerja sebagai mata-mata atau penyelidik keadaan di luar Khitan.

Memang Panglima Kayabu amat cerdik.

Biarpun pada waktu itu Khitan tidak punya musuh, namun ia selalu menyebar mata-mata baik ke Negara Sung, ke Nan-cao dan lain-lain tempat untuk mengetahui keadaan dan perubahan negara-negara lain itu.

Perwira ini menceritakan kepada Suling Emas dengan jelas akan penyerbuan bangsa Hsi-hsia ke Nan-cao.

"Bangsa Hsi-hsia secara tiba-tiba menyerbu ke selatan, akan tetapi berhasil dihalau pergi oleh tentara Nan-cao yang kuat. Akan tetapi, pimpinan Hsi-hsia yang terdiri dari pendeta-pendeta Tibet berjubah merah, dikepalai oleh pendeta kaki satu yang amat sakti dan kabarnya juga seorang wanita rambut panjang, menyerang Beng-kauw. Menurut keterangan yang hamba peroleh, Ketua Beng-kauw berikut pembantu-pembantunya terbunuh oleh pendeta kaki satu dan wanita rambut panjang itu."

"Dan bagaimana dengan anak, mantu dan cucu-cucu Ketua Beng-kauw? Aku pernah singgah di sana dan mereka itu bersikap baik sekali kepadaku."

Tanya Suling Emas.

"Menurut kabar, juga puteri dan menantu Ketua Beng-kauw tewas, dan anak-anak mereka terculik.."

"Aihhh."

Suling Emas menjadi marah sekali.

Kalau mungkin, saat itu juga ia ingin terbang ke Nan-cao.

Sementara itu, Ratu Yalina sudah memasuki kamarnya.

Ia masih menangis, duduk di atas kursi dalam kamarnya ketika sebuah tangan dengan halus menyentuh pundaknya.

"Ibu, jangan terlalu berduka.."

Suara Pangeran Talibu yang menghibur ibunya ini membuat tangis Ratu Yalina menjadi-jadi.

Karena Ratu ini teringat akan masa dahulu, ketika ia masih menjadi Kam Lin Lin, semenjak kecil bermain-main dengan Kam Bu Sin kakak angkatnya.

Teringat pula ia akan pengalamannya melakukan perantauan dengan Kam Bu Sin dan Kam Sian Eng kedua orang saudara angkatnya, sampai bertemu dengan Suling Emas.

Makin jauh pula ia melamun, teringat akan Suling Emas kekasihnya, ayah dari Pangeran Talibu ini yang sekarang menjadi anak angkatnya.

Padahal dialah sendiri yang melahirkan anak ini.

"Ah, anakku.."

Ia membalik dan merangkul Talibu sambil menangis.

Pangeran Talibu sungguhpun tahu bahwa Ratu ini hanya ibu angkatnya karena ia diangkat anak ketika berusia lima tahun, namun rasa kasih sayangnya kepada ibu angkat ini amat besar.

"Ibu, perbuatan orang-orang Hsi-hsia itu memang biadab. Biarpun aku belum pernah bertemu dengan Paman Kam Bu Sin yang menjadi kakak angkat ibu, namun aku sudah dapat membayangkan kebaikannya dan betapa besar ibu menyayangnya. Memang kematiannya menyedihkan, Ibu. Akan tetapi hal ini kiranya tidak cukup untuk disedihkan. Biarlah aku bersama Hoan Ti Ciangkun dan Loan Ti Ciangkun pergi menyelidik ke Nan-cao dan mencari pembunuh Paman Bu Sin, menangkapnya dan menyeretnya ke depan kaki Ibu"

Mau tak mau di antara air matanya Ratu Yalina tersenyum.

"Ah, Puteraku, engkau belum tahu tingginya langit dalamnya lautan"

Di dunia kang-ouw banyak terdapat orang-orang sakti, Puteraku.

Dalam ukuranmu, mungkin kedua orang Ciangkun kita itu sudah memiliki ilmu kepandaian amat tinggi, akan tetapi di dunia kang-ouw masih banyak sekali yang jauh melampaui mereka.

Baru Bu Beng Lojin pengawal baru kita itu saja sudah jauh lebih lihai daripada mereka.

Kau tahu Anakku, ilmu kepandaian Ketua Beng-kauw amat hebat, juga kepandaian pamanmu Bu Sin cukup tinggi terutama sekali Bibi Liu Hwee puteri Ketua Beng-kauw.

Mereka adalah orang-orang yang lihai dan sukar dicari tandingnya, namun mereka tewas di tangan pendeta Tibet kaki satu dan teman-temannya.

Kalau mereka saja terbunuh, apakah yang akan dapat kau lakukan, biarpun kau dibantu oleh Hoan Ti Ciangkun dan Loan Ti Ciangkun?"

"Biarpun begitu, aku tidak takut, Ibu. Ah, betul juga. Pengawal tua itu amat lihai, biarlah dia bersamaku pergi ke Nan-cao"

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert