Ceritasilat Novel Online

Sepasang Naga Penakluk Iblis 7

Eps 7 Sepasang Naga Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo

Baca online Sepasang Naga Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo

Cersil Sepasang Naga Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo.

Dengan duduk bersila, dia dapat melepaskan lelah, akan tetapi juga sekaligus dapat berjaga-jaga karena biarpun dia beristirahat, namun pendengarannya menjadi peka dan kalau ada suara yang tidak wajar sedikit saja pasti akan terdengar olehnya dan membuat dia sadar.

Menjelang tengah malam, dia membuka kedua matanya.

Telinganya mendengar suara langkah kaki di luar kamarnya.

Cepat dia turun dari pembaringan dan mendekati jendela.

Daun jendela itu hanya dia tutup begitu saja, tidak dipalang agar memudahkan dia keluar kalau perlu.

Kini dia mendorong sedikit kedua daun pintu sehingga terdapat kerenggangan di antara dua buah daun pintu itu.

Kamarnya gelap, maka dia dapat mengintai ke luar di mana terdapat lampu gantung.

Pek-liong menggigit giginya dengan gemas ketika dia mengenal empat orang laki-laki tinggi besar berada di luar kamar Cian Li!

Mereka adalah empat orang penjahat yang tadi telah menyerbu rumah gadis itu.

Betapa beraninya mereka itu!

Betapa keras kepala dan dia harus memberi hajaran yang keras sekarang, menangkap mereka atau seorang di antara mereka untuk dipaksa mengaku di mana dia dapat bertemu dengan Po-yang Sam-liong.

Jelas bahwa mereka itu datang untuk mengganggu Cian Li.

Kasihan gadis itu.

Tidak perlu dibikin kaget lagi, Biarkan ia tidur nyenyak, demikian pikir Pek-liong dan sekali dorong, daun jendela terbuka dan di lain saat dia sudah meloncat keluar dari dalam kamarnya.

"Jahanam, kalian agaknya sudah bosan hidup!"

Bentaknya lirih agar jangan membuat gaduh.

Empat orang itu menengok dan melihat pemuda berpakaian putih itu, mereka lalu melompat dan melarikan diri!

Pek-liong tersenyum dan melakukan pengejaran.

Memang dia ingin menggertak mereka agar pergi dari situ dan dia akan menghajar mereka di tempat sunyi, bukan di rumah penginapan itu yang akan mengejutkan semua orang, termasuk Cian Li.

Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian orang.

Seperti yang diharapkannya, empat orang tinggi besar itu melarikan diri keluar kota.

Untung pada malam itu udara bersih, bulan bersinar terang sehingga dia dapat terus membayangi empat orang itu.

Dia sudah cukup berhati-hati.

Karena maklum bahwa dia bermain dengan api yang besar, dan setiap saat ada bahaya mengancam, maka sejak meninggalkan rumah Cian Li, dia selalu meninggalkan tanda rahasia sebagai jejaknya.

Siapa tahu, Hek-liong-li mungkin akan membutuhkan tanda-tanda itu!

Empat orang itu membelok memasuki pekarangan sebuah kuil tua yang tidak dipergunakan lagi.

Kuil itu besar dan kuno, namun kotor karena memang sudah tidak terawat dan tidak dipergunakan, merupakan bangunan kuno peninggalan sejarah.

Ketika Pek-liong tiba di pekarangan kuil kuno itu, empat orang yang dibayanginya telah memasuki kuil.

Selagi dia mengamati ke arah kuil dengan hati-hati, tiba-tiba dari kanan kiri bermunculan tujuh orang dan mereka itu bukan lain adalah empat orang penjahat tadi, kini ditambah dengan tiga orang yang tubuhnya lebih besar dari pada mereka berempat.

Tiga orang ini dapat disebut sebagai raksasa-raksasa yang menyeramkan!

Mereka bertiga berdiri di depan pintu kuil dan seorang di antara mereka, yang mukanya penuh cambang bauk dan berewok, berseru kepada empat orang penjahat untuk menyerang.

Empat orang itu dengan penuh semangat sudah menggerakkan senjata di tangan mereka, ada yang memegang pedang, ada yang memegang golok dan ada pula yang membawa ruyung besi.

Dari empat jurusan, mereka membacok dan menusuk ke arah Pek-liong.

Namun, Pek-liong-eng sudah waspada.

Gerakan mereka itu tidak ada artinya baginya, mereka hanya mengandalkan tenaga otot saja.

Dengan amat mudahnya, dia mengelak dari sambaran senjata itu, kemudian dengan gerakan amat cepat, dia sudah berkelebatan ke empat penjuru dan empat orang pengeroyok itu terpelanting roboh terkena tamparan dan tendangannya.

Sekali ini, mereka roboh pingsan, ada yang menderita tulang patah dan luka dalam yang cukup membuat mereka selama beberapa hari tidak akan dapat berkelahi lagi!

Melihat ini, tiga orang raksasa itu menjadi marah.

"Bagus, kiranya engkau memiliki kepandaian lumayan juga, orang muda! Pantas saja engkau berani menentang kami!"

Kata si berewok.

Mereka kini maju menghadapi Pek-liong dan pemuda ini memandang kepada mereka penuh perhatian.

Sinar bulan cukup terang untuk dapat mengamati wajah mereka.

Seorang di antara mereka yang hrewok itu memegang sebatang golok gergaji yang besar dan mengerikan.

Orang kedua berkepala botak dan memegang sebatang pedang pendek.

Adapun orang ketiga yang menyeringai dan memperlihatkan mulut ompong, memegang sebatang rantai baja.

Ketiganya tinggi besar dan usia mereka kurang lebih empatpuluh tahun.

"Hemm, apakah kalian ini yang berjuluk Po-yang Sam-liong?"

Tanya Pek-liong dengan sikap tenang.

"Benar sekali. Kamilah Po-yang Sam-liong. Namaku Poa Seng, ini adikku Poa Leng dan itu adikku Poa Teng. Engkau siapa, orang muda dan mengapa engkau membela kakak beradik penyelam itu dan berani menentang kami di wilayah kami sendiri?"

"Namaku Tan Cin Hay. Tentu saja aku menentang setiap perbuatan busuk dan jahat. Kakak beradik Kam itu tidak berdosa, mengapa kalian hendak membunuh mereka? Dan mengapa pula Tiong Tosu dan Yong Hwesio itu dibunuh? Bukankah kalian juga ikut campur dalam pembunuhan itu? Bukankah kalian disuruh oleh majikan kalian, yaitu Beng-cu yang berjuluk Siauw-bin Ciu-kwi? Hayo katakan terus terang, atau aku akan memaksa kalian mengaku!"

Tiga orang raksasa itu terbelalak, saling pandang lalu si berewok tertawa bergelak, diikuti oleh dua orang adiknya.

"Ah, kiranya engkau sudah tahu terlampau banyak, karena itu engkau harus mampus! Engkau hendak memaksa kami mengaku? Ha-ha-ha, alangkah lucunya! Seekor cacing hendak menggertak tiga ekor naga!"

Tiga orang raksasa itu kini mengepung dalam bentuk segi tiga, senjata mereka siap di tangan.

Pek-liong-eng maklum bahwa kini para pengepungnya tidak boleh disamakan dengan empat orang tadi.

Mereka ini telah membuat nama besar di Po-yang dan tentu mereka telah memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi.

Dari gerakan mereka saja sudah dapat diduga bahwa mereka setidaknya memiliki tenaga yang amat kuat, karena itu, tiga macam senjata mereka itu cukup berbahaya.

Sekarang belum waktunya untuk membunuh mereka, pikirnya.

Masih banyak yang harus dikorek dari mereka untuk mengetahui rahasia itu.

Rahasia beng-cu mereka dan rahasia peta Patung Emas.

Dia menduga bahwa tentu ada hubungannya dengan semua pembunuhan yang diceritakan oleh Yong Hwesio mengenai perebutan peta Patung Emas dengan beng-cu mereka itu.

Maka, dia hendak menggunakan siasat.

Kalau mereka maju bertiga, baginya terlalu berbahaya kalau tidak merobohkan mereka dengan keras, kalau perlu membunuh mereka.

Sukar menaklukkan tiga orang kuat ini kalau hanya menundukkan saja.

"Hemm, kiranya yang bernama besar Po-yang Sam-liong bukanlah naga-naga sejati, melainkan ular-ular belang yang licik dan curang, beraninya hanya main keroyok seperti pencoleng-pencoleng pasar saja!"

Katanya dengan nada mengejek. Mendengar ini, tiga orang tokoh sesat itu menjadi marah sekali. Marah dan malu. Muka mereka berubah merah dan si berewok menghardik.

"Siapa hendak mengeroyok? Sam-te, kautangkap bocah sombong lancang mulut ini!"

Si berewok memerintah adiknya, yaitu Poa Teng yang bermulut ompong dan bersenjata rantai baja.

Si ompong ini segera melangkah maju menghadapi Pek-liong.

Rantai baja itu diputar-putar dan mengeluarkan suara angin bersiutan.

Makin lama, putaran rantai itu semakin kuat dan cepat, dan rantai itupun diulur semakin panjang.

"Bocah sombong, mampuslah!"

Tiba-tiba si ompong membentak dan ujung rantai bajanya menyambar ke arah muka Pek-liong.

Pemuda ini cepat mengelak dengan langkah ke belakang.

Akan tetapi, rantai itu membalik dan kini menyambar ke arah pinggangnya.

Pek-liong kembali mengelak dengan loncatan ke samping, ujung rantai yang lain kini menyambar, dari bawah ke atas mengarah perut!

Memang hebat sekali gerakan Poa Teng itu.

Rantai bajanya dapat bergerak cepat, menyerang secara bertubi dari arah yang berlawanan dan tidak terduga-duga.

Bukan hanya satu ujung rantai saja yang bergerak, melainkan juga ujung yang lain.

Namun, Pek-liong cukup waspada.

Dengan langkah-langkah yang amat cepat, loncatan"loncatan ringan, dia selalu dapat mengelak.

Sampai belasan jurus dia terus mengelak karena rantai itu kini menyerang bergantian dengan kedua ujungnya.

Tiba-tiba, ketika Pek-liong melompat agak jauh ke belakang, rantai itu menyerang dan terulur panjang!

Saat inilah yang dinanti-nanti oleh Pek-liong.

Dengan terulur panjang, berarti rantai itu hanya dapat dipergunakan satu ujungnya saja, sedangkan ujung yang lain menjadi gagang atau tempat berpegang pemiliknya.

Begitu melihat ujung rantai panjang itu menyambar, Pek-liong kini tidak mengelak lagi melainkan menangkis dengan lengannya!

"Plak!"

Rantai itu melibat dan memang ini dikehendaki oleh Pek-liong.

Tangannya cepat ditekuk dan dia sudah berhasil menangkap ujung rantai, lalu dia mengerahkan tenaga menarik!

Betapapun kuatnya Poa Teng, dia tidak mampu bertahan dan tubuhnya ikut tertarik ke depan!

Namun, dia mengerahkan tenaga dan bertahan.

Terjadilah tarik menarik dan tubuh Poa Teng yang berat itu bergantung ke belakang agar tarikannya lebih kuat lagi.

Tiba-tiba Pek-liong melepaskan ujung rantai yang dipegangnya, bahkan melontarkannya ke arah pemiliknya.

Tak dapat ditahan lagi, tubuh Poa Teng terjengkang keras dan begitu dia terbanting, ujung rantai yang dilontarkan Pek-liong datang menimpa dadanya.

"Bukkk!!"

Poa Teng mengaduh dan sejenak dia tidak mampu bangkit karena dadanya terasa nyeri bukan main dan berdarah.

"Keparat, berani engkau menghina adikku!"

Bentak Poa Leng.

Si botak ini sudah menyerang dengan tombak pendeknya, tombak itu menusuk ke arah pelipis Pek-liong dan ketika pemuda itu mengelak dengan menarik kepala ke belakang, tombak itu sudah menyambar lagi ke arah tenggorokannya.

Pek-liong terkejut, Si botak ini lihai juga, pikirnya sambil merendahkan tubuhnya ke belakang lagi, kakinya bergeser dan sekali melangkah, dia telah berada di sebelah kanan lawan.

Namun, tombak itu sudah menyambar lagi dan kini diikuti oleh gerakan tangan kiri yang mencengkeram ke arah lambung!

Pek-liong meloncat ke kiri dan tiba-tiba ada angin keras menyambar.

Kiranya golok gergaji di tangan Poa Seng si berewok telah menyambar.

Dia cepat mengelak dan rantai baja Poa Teng kini juga ikut mengeroyoknya.

Dia dikeroyok tiga!

Dengan kelincahan tubuhnya, Pek-liong berloncatan ke sana-sini dan mencari kesempatan untuk merobohkan lawannya satu demi satu.

Kalau dia menghendaki, tentu saja dia dapat mempergunakan pukulan yang ampuh untuk membunuh mereka, atau kalau dia mengeluarkan pedang pusaka Naga Putih yang disembunyikan di balik bajunya, dengan sekali serang saja dia akan mampu membuat patah semua senjata di tangan mereka.

Akan tetapi dia tidak ingin membunuh karena dia masih membutuhkan mereka, dan diapun merasa mampu menandingi mereka tanpa senjata.

Mendadak terdengar bentakan nyaring.

"Tahan semua senjata! Sam-liong, mundurlah! Pek-liong-eng, menyerahlah! Lihat siapa yang berada di tanganku!"

Tiga orang raksasa itu menahan senjata lalu mundur dengan patuh.

Pek-liong menoleh dan dia terkejut melihat Kam Cian Li sudah ditelikung kedua tangannya ke belakang oleh seorang pemuda tampan, dan pemuda itu menempelkan pedangnya di leher gadis itu!

Maklumlah dia bahwa dia telah tertipu.

Dia hendak memancing, malah terpancing!

Kiranya empat orang tinggi besar tadi sengaja datang ke rumah penginapan untuk memancingnya keluar dari rumah penginapan, meninggalkan Kam Cian Li seorang diri dan pemuda tampan itu telah menawannya!

Diapun menjadi lemas, merasa tertipu dan tidak berdaya!

Akan tetapi, dia teringat kepada Hek-liong-li dan tiba-tiba saja Pek-liong membuat lompatan jauh dan diapun menghilang di samping kuil.

Para musuhnya menjadi terkejut dan sejenak tidak tahu harus berbuat apa.

Akan tetapi tak lama kemudian, pemuda berpakaian putih tu telah muncul pula di atas wuwungan genteng kuil tua itu, berdiri tegak sambil bertolak pinggang, suaranya terdengar penuh wibawa ketika dia berseru.

"Kalian orang-orang rendah dan pengecut! Lepaskan gadis tak berdosa itu dan mari kita bertanding sampai seribu jurus!"

Po-yang Sam-liong diam saja, juga empat orang pembantunya yang tadi dipukul roboh oleh Pek-liong dan kini sudah bangkit kembali, hanya berdiri dan tidak banyak cakap.

Pemuda yang menawan Cian Li itulah yang menjawab setelah tertawa mengejek.

"Pek-liong-eng Tan Cin Hay, tidak perlu bersikap gagah-gagahan. Turunlah dan mari kita bicara. Kalau engkau menyerah dengan damai, baik sekali. Kalau tidak, apakah engkau ingin melihat aku menyembelih gadis ini di depan matamu?"

Pek-liong mengukur dengan matanya.

Kalau dia menggunakan jurus dari Pek-liong Sin-kun dan menyambar dari bawah menyerang pemuda yang menawan Cian Li itu, terlalu berbahaya bagi Cian Li.

Dia belum tahu sampai di mana kelihaian pemuda itu, dan dia tidak boleh mempertaruhkan keselamatan nyawa Cian Li.

"Hay-koko, jangan mau menyerah! Biar mereka membunuhku, jangan kau menyerah!"

Gadis itu berteriak dan mendengar teriakan ini, si pemuda itu lalu menggunakan tangan kirinya menotok.

Sekali totok, tubuh gadis itu menjadi lemas dan ia tidak dapat meronta atau mengeluarkan suara lagi.

Gerakan totokan ini saja sudah cukup bagi Pek-liong untuk mengetahui bahwa pemuda itu lihai bukan main!

Akan celakalah keselamatan nyawa Cian Li kalau dia mencoba-coba untuk menyerang.

Diapun menarik napas panjang.

"Hemm, sobat. Engkau lihai akan tetapi licik dan curang bukan main. Baiklah, aku akan turun dan bicara denganmu!"

Diapun melayang turun ke depan pemuda itu dan keduanya kini saling berhadapan dan saling pandang dengan penuh perhatian.

Pek-liong tidak mengenal pemuda itu.

Seorang pemuda yang tidak begitu muda lagi, sedikitnya tentu ada tigapuluh lima tahun usianya.

Wajahnya tampan, matanya tajam dan senyumnya genit.

Pakaiannya, sungguh aneh sekali, juga serba putih seperti pakaiannya sendiri.

Hanya bedanya, kalau pakaiannya yang putih itu terbuat dari kain yang kuat dan kasar, berpotongan sederhana saja, sebaliknya pakaian putih pemuda itu terbuat dari sutera halus dan disulam.

"Sobat, engkau sudah mengenalku, akan tetapi aku belum pernah bertemu denganmu dan belum mengetahui siapakah engkau ini, dan mengapa pula engkau mempergunakan akal busuk ini untuk memaksa aku menyerah?"

Tanya Pek-liong dengan senyum mengejek. Orang itu mengamatinya dan ada sinar kagum membayang di matanya.

"Sungguh mengagumkan sekali. Kukira yang berjuluk Pek-liong-eng adalah seorang yang sudah matang dan sudah cukup umur. Kiranya seorang pemuda yang belum dewasa benar! Pek-liong-eng, aku bernama Ciong Koan dan orang menyebut aku Pek I Kongcu (Tuan Muda Pakaian Putih)."

"Ah, kiranya murid Kun-lun-pai yang murtad itu?"

Pek-liong berseru karena dia sudah pernah mendengar nama ini.

"Seorang kongcu, yang curang dan tidak pantas disebut kongcu, juga wataknya amat hitam walaupun pakaiannya dari sutera putih!"

Sepasang alis yang tebal hitam itu berkerut dan mata itu kini memancarkan kemarahan.

"Cukup, Pek-liong-eng! Engkau menyerah dengan damai atau harus ku bunuh dulu gadis ini?"

Tahu bahwa orang itu marah dan menjadi berbahaya sekali bagi keselamatan Cian Li, Pek-liong lalu menarik napas panjang kembali.

"Baiklah, aku menyerah. Akan tetapi, apa artinya semua ini? Aku berkenalan dengan Tiong Tosu dan Yong Hwesio, dan kalian membunuh mereka tanpa sebab! Kemudian, aku berkenalan dengan gadis penyelam itu dan kalian juga berusaha membunuhnya. Ada apakah di balik semua permainan kotor ini?"

Pertanyaan ini diajukan dengan suara penasaran seolah-olah dia memang merasa penasaran sekali. Kini Pek I Kongcu Ciong Koan tersenyum mengejek.

"Tidak perlu banyak cakap. Engkau menyerah saja, membiarkan kedua tanganmu dibelenggu dan engkau bersama gadis ini akan kami hadapkan kepada Beng-cu! Di sana baru engkau boleh bicara. Tugas kami hanya menawan kalian berdua!"

Cian Li memandang pemuda yang dikaguminya itu.

Wajahnya pucat sekali, matanya terbelalak seperti mata kelinci yang dicengkeram harimau.

Mata itu indah sekali, Pek-liong masih sempat kagum.

Dan gadis itu menggeleng-geleng kepalanya kepada Pek-liong, seolah-olah hendak memintanya agar dia tidak mau menyerah.

Akan tetapi, kalau dia tidak menyerah, belum tentu dia akan mampu menyelamatkan Cian Li, pikir Pek-liong.

Pula, kiranya hanya dengan jalan menyerahkan diri saja dia akan dapat menyelidiki dengan baik untuk membongkar rahasia mereka.

"Baiklah, aku menyerah...... tapi......"

Dia nampak meragu karena tiba-tiba dia teringat bahwa Pedang Naga Putih berada di balik jubahnya.

Kalau dia menyerahkan diri, sudah pasti sekali orang-orang sesat itu akan merampasnya dan hal ini amatlah berbahaya.

"Nanti dulu, aku khawatir, jangan-jangan kalian ini bertindak curang. Biar aku memberitahu dulu kawanku sehingga kalau kalian curang dan membunuh aku dan nona Kam Cian Li, kawanku itu yang akan membalas dendam dan menumpas kalian!"

Setelah berkata demikian, tiba-tiba saja dia meloncat jauh dan dalam beberapa detik saja bayangannya lenyap dari situ.

Tentu saja Pek I Kongcu Ciong Koan menjadi terkejut, akan tetapi diapun menjadi ragu-ragu karena tidak dapat menduga apa yang sesungguhnya dikehendaki oleh Pek-liong-eng yang dia tahu amat lihai itu.

Untuk melakukan pengejaran dia tidak berani.

Maka dia hanya dapat mengerutkan alisnya dan memandang kepada Kam Cian Li yang masih bersikap tabah dan tenang itu.

"Nona, kebohongan dan akal busuk apakah yang sedang dilakukan oleh Pek-liong-eng itu?"

Gadis itu tersenyum mengejek.

"Pek-liong-eng tidak pernah berbohong dan tidak pernah menggunakan akal busuk! Kalau dia mengatakan mempunyai kawan baik, hal itu memang benar. Kawan-kawannya adalah bangsa malaikat dan dewa yang tentu kelak akan menumpas kalian kalau kalian bertindak curang!"

Tentu saja Pek I Kongcu bukan seorang bodoh dan tahyul yang mudah saja digertak dan dibohongi. Akan tetapi sebelum dia bicara lagi, tiba-tiba terdengar suara Pek-liong-eng.

"Ucapan nona Kam Cian Li memang benar!"

Dan muncullah Pek-liong-eng yang tersenyum-senyum.

Pek I Kongcu memandang penuh perhatian, akan tetapi tidak melihat perubahan apapun pada diri pendekar itu yang dapat dicurigai.

Tentu saja dia tidak tahu bahwa sebatang pedang pusaka ampuh yang tadinya tersembunyi di balik jubah, kini telah tidak ada lagi.

"Nah, aku menyerah dan cepat bawa kami menghadap pemimpin kalian!"

Kata Pek-liong-eng Tan Cin Hay sambil menjulurkan kedua lengannya ke depan. Pek I Kongcu memberi isyarat kepada Po-yang Sam-liong yang menjadi pembantunya.

"Belenggu kedua lengannya, satukan dengan gadis ini!"

Katanya.

Karena memang sudah diatur terlebih dahulu, mereka sudah mempersiapkan pula sebuah rantai panjang yang kuat dan di ujung rantai itu terdapat belenggu-belenggu yang kuat pula.

Tanpa melawan, Tan Cin Hay membiarkan kedua pergelangannya yang disatukan itu dibelenggu, kemudian belenggu di ujung rantai yang lain dipergunakan membelenggu kedua tangan Cian Li.

Gadis itu sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan ia tersenyum girang ketika ia berdiri berdampingan dengan Pek-liong-eng.

Rantai itu menyatukan mereka, membuat mereka tak dapat saling berpisah jauh dan selalu berdampingan, seperti sepasang pengantin!

Pek-liong-eng sendiri sampai merasa heran sekali melihat gadis manis itu tersenyum-senyum demikian gembiranya!

Setelah melihat Pek-liong-eng dibelenggu, Ciong Koan sendiri lalu menggeledah dan memeriksa tubuh Pek-liong-eng untuk mencari senjata yang disembunyikan.

Akan tetapi dia tidak menemukan apa-apa dan diam-diam Pek-liong-eng merasa bersyukur bahwa pada saat terakhir dia teringat kepada pedang pusakanya dan masih sempat mengelabuhi mereka dan menyimpan senjata itu di tempat persembunyian yang hanya dia sendiri mengetahuinya.

"Ha-ha, orang she Ciong. Kalau engkau mencari uang dan emas, engkau tidak akan mendapatkannya padaku!"

Pek-liong berkata sambil tersenyum mengejek.

Wajah Pek I Kongcu Ciong Koan menjadi kemerahan.

Ucapan itu sama dengan mengatakan bahwa dia adalah seorang yang suka mencopet atau merampas barang orang!

Dia dianggap sebagai seorang penjahat pasar yang kecil saja.

Akan tetapi, dia tidak mampu membalas karena bagaimanapun juga "kemenangannya"

Sekali ini adalah kemenangan yang tidak boleh dibanggakan.

Dia memaksa Pek-liong menyerah bukan dengan mengalahkannya dalam perkelahian, melainkan memaksanya dengan menyandera gadis itu.

Sebetulnya, diapun ingin sekali menguji kepandaian pendekar itu sampai tuntas dan dia harapkan sekali waktu akan mampu membuat pendekar itu menyerah di bawah todongan pedangnya yang ampuh.

"Mari kita pergi!"

Hanya demikian dia mendengus untuk melampiaskan kedongkolan hatinya, memberi isyarat kepada Po-yang Sam-liong.

Dua orang tawanan itu digiring oleh Po-yang Sam-liong, diikuti pula oleh Pek I Kongcu, dan empat orang anak buah mereka yang telah luka-luka itu menyusul di belakang sambil terpincang dan terhuyung.

Kam Cian Li menengok ke kanan kiri, ke belakang, dan ia tersenyum-senyum, nampak gembira sekali.

(Lanjut ke

Jilid 20) Sepasang Naga Penakluk Iblis (Seri ke 01-Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo

Jilid 20 Melihat ini, tentu saja Pek-liong menjadi heran dan khawatir. Jangan-jangan saking takutnya dan gelisahnya, gadis manis ini menjadi sinting, pikirnya.

"Cian Li. kenapa engkau senyum-senyum begini gembira?"

Tak dapat dia menahan keinginan tahunya dan dia bertanya dengan suara berbisik.

Dengan wajah berseri dan mulut tersenyum sehingga nampak semakin manis, gadis itu menoleh kepada Pek-liong yang berjalan di samping kirinya.

"Hay-ko, apakah engkau tidak merasa seperti yang kurasakan?"

Berbalik ditanya, Pek-liong mengerutkan alisnya dan menjawab.

"Yang kurasakan sama sekali bukan kegembiraan. Kita menjadi tawanan, tidak ada alasannya untuk bergembira. Apa sih yang membuatmu begini gembira?"

"Koko, kita berjalan bersanding seperti ini, di belakang kita ada para pengikut kita. Aku merasa seperti menjadi sepasang pengantin! Bukankah menggembirakan sekali?"

Sejenak Pek-liong terbelalak, akan tetapi dia lalu tersenyum, diam-diam dia memuji ketabahan hati gadis manis ini dan ada keharuan karena dia dapat melihat bahwa gadis manis ini agaknya telah jatuh cinta kepadanya.

Hanya seorang gadis yang jatuh cinta saja yang menjadi begitu gembira membayangkan dirinya menjadi pengantin dengan pria yang dicintanya, tentu saja!

"Aih, engkau ini ada-ada saja, Li-moi!"

Katanya sambil tertawa, akan tetapi dia berbisik lirih sekali, menggunakan khi-kang sehingga suaranya hanya dapat didengar oleh telinga gadis itu sendiri.

"Engkau harus pandai mengulur waktu dan bersikap sabar sampai munculnya kakakmu dan Liong-li......"

"Apakah...... ia akan benar-benar muncul?"

Balas Cian Li berbisik lirih.

"Sudah pasti, jangan engkau gelisah."

"Siapa gelisah? Aku gembira malah, koko!"

Pek-liong mengatupkan mulutnya agar tidak bicara lagi.

Gadis ini amat pemberani, dan saking beraninya, jangan-jangan malah akan merusak siasat dan rencananya.

Dia membiarkan diri ditawan bukan semata untuk menyelamatkan Cian Li, melainkan terutama sekali agar dia dapat mengetahui dengan jelas keadaan gerombolan yang dipimpin seorang di antara Kiu Lo-mo itu.

Dia tahu bahwa dia telah melakukan permainan berbahaya, mempertaruhkan nyawanya.

Andaikata dia tidak mengatur rencana siasat, tidak merasa yakin bahwa tentu Hek-liong-li akan muncul, tentu dia tidak akan melakukan permainan gila ini.

Menyerah kepada seorang datuk sesat seperti Siauw-bin Ciu-kwi yang baru dikenal namanya saja, seorang di antara datuk-datuk besar Kiu Lo-mo, sungguh merupakan suatu kenekatan dan nyawanya berada dalam ancaman bahaya.

Setelah mereka tiba di kaki Bukit Merak, tidak jauh dari Telaga Po-yang, Pek I Kongcu Ciong Koan menyuruh Po-yang Sam-liong untuk mengikatkan kain hitam di depan mata kedua orang tawanan itu.

Selanjutnya, Poa Teng, orang ketiga dari Po-yang Sam-liong memegang rantai diantara dua orang tawanan dan dengan demikian menarik dan menuntun mereka yang tidak dapat melihat itu untuk mendaki Bukit Merak.

Biarpun kedua matanya ditutupi kain hitam dan dia sama sekali tidak dapat melihat, namun diam-diam Pek-liong memperhatikan jalan yang dilaluinya, tanjakan-tanjakannya, macam tanah yang diinjaknya, baru tumbuh-tumbuhan di kanan kirinya dan mencatat semua itu dalam ingatannya.

Dia tahu bahwa mereka melalui tebing jurang sebanyak lima kali, memasuki hutan cemara dua kali, hutan pohon-pohon liar dua kali dan menyeberang sungai kecil dua kali.

Juga dia dapat mengetahui dari pendengarannya yang tajam bahwa ada lima lapis penjagaan sebelum mereka akhirnya tiba di depan rumah besar yang menjadi tempat tinggal Siauw-bin Ciu-kwi.

Penutup mata hitam itu baru dibuka setelah mereka memasuki sebuah ruangan.

Biarpun mereka berada di dalam ruangan, ketika tutup mata itu dibuka, Pek-liong dan Cian Li mengejap-ngejapkan kedua mata beberapa kali sebelum mampu membukanya karena ruangan itu masih terlalu terang bagi mata mereka yang untuk beberapa lamanya tadi ditutup kain hitam.

Mereka merasa silau melihat cahaya matahari masuk ruangan itu melalui jendela-jendela ruangan yang dibuka lebar.

Pek-liong mengamati ruangan itu.

Mereka berada di sebuah ruangan yang luas sekali, dan tidak banyak perabot terdapat di situ.

Tentu sebuah lian-bu-thia (ruangan bermain silat), pikir Pek-liong, melihat adanya sebuah rak besar terisi bermacam senjata di sudut ruangan.

Dia dan Cian Li berdiri berdekatan, dan mereka menghadapi beberapa orang yang duduk di atas kursi-kursi berjajar, dengan meja di depan mereka.

Banyak cawan dan beberapa guci arak berada di atas meja.

Sepasang mata Pek-liong mengamati orang-orang itu satu demi satu.

Mula-mula pandang matanya bertemu dengan pandang mata kekanak-kanakan dari seorang laki-laki berusia kurang lebih limapuluh tahun.

Tubuhnya gendut sekali, dan bentuknya pendek sehingga nampaknya bulat seperti bola.

Kepalanya yang botak gundul itu juga bulat seperti bola.

Mukanya lucu, seperti muka kanak-kanak yang lugu dan murni, selalu tersenyum.

Kalau tidak melihat sinar matanya yang kadang-kadang mencorong kejam itu, tentu orang akan merasa heran melihat orang yang kelihatan begitu "baik budi"

Berada di sarang gerombolan penjahat itu.

Pek-liong tidak pernah mengenal orang ini dan sama sekali tidak tahu bahwa justeru orang berwajah kekanak-kanakan itulah dia Siauw-bin Ciu-kwi, seorang di antara Kiu Lo-mo.

Orang keduanya yang duduk di sebelah kanan si gendut itu adalah seorang wanita cantik manis yang tubuhnya menggiurkan, matanya genit penuh daya pikat, mulutnya dengan bibir yang merah basah dan rongga mulut merah, deretan gigi putih dan ujung lidah merah jambu yang kadang-kadang menjilat bibir itu penuh gairah.

Pakaiannya juga pesolek indah, tangan kiri mengebut-ngebutkan sebuah kipas bulu yang indah.

Wanita berusia kurang lebih tigapuluh tahun ini memandang kepada Pek-liong dengan sinar mata penuh gairah dan bibir tersenyum manis.

Ialah Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si dan Pek-liong diam-diam dapat menduga siapa adanya wanita cantik ini.

Ia pernah mendengar tentang iblis betina ini, apa lagi melihat kipas bola itu, iapun menduga bahwa mungkin wanita yang belum pernah dijumpainya inilah yang berjuluk Tok-sim Nio-cu itu.

Ketika dia bertemu pandang dengan Lim-kwi Sai-kong, diapun segera dapat menduga siapa adanya kakek berusia enampuluh tahun yang bertubuh tinggi besar dengan muka persegi seperti muka singa, penuh cambang bauk, matanya lebar, pakaian serba hitam ini.

Maka diam-diam dia mencatat dalam hatinya.

Dia sudah mendengar akan kelihaian Tok-sim Nio-cu, juga Lim-kwi Sai-kong dan di samping kedua orang ini, di situ masih ada Pek I Kongcu yang tentu amat lihai pula, yang dibantu oleh Po-yang Sam-liong yang biarpun tidaklah selihai tokoh-tokoh sesat ini namun harus diperhitungkan pula karena tiga orang raksasa itu amat kejam dan bertenaga besar.

Dan di samping Pek I Kongcu Ciong Koan, masih ada pula seorang pria tinggi kurus yang kulit mukanya hitam, mukanya yang buruk bengis itu dingin seperti topeng dan usianya empatpuluh lima tahun.

Dia tidak tahu siapa orang ini, namun dapat menduga tentu lihai pula mengingat dia duduk pula di situ, sejajar dengan yang lain.

Biarpun belum pernah mengenalnya, dengan mudah Pek-liong-eng dapat menduga siapa adanya Siauw-bin Ciu-kwi.

Siapa lagi kalau bukan si gendut bundar itu, pikirnya.

Dia sudah pernah mendengar tentang keadaan diri datuk besar ini, namun setelah kini berhadapan, dia diam-diam merasa terkejut dan heran.

Tak disangkanya bahwa seorang di antara Kiu Lo-mo belum tua benar dan wajahnya seperti seorang kanak-kanak yang berhati wajar dan bersih.

Namun dia sudah mendengar bahwa seperti para datuk lain yang disebut Kiu Lo-mo, si gendut ini amat lihai, memiliki kesaktian dan merupakan lawan yang amat tangguh.

Apa lagi di sampingnya terdapat demikian banyaknya pembantu yang lihai.

Yang nampak saja di situ empat orang tokoh sesat, belum lagi Po-yang Sam-liong dan tentu saja banyak anak buah mereka.

Sungguh merupakan lawan yang amat tangguh.

Akan tetapi apakah yang sedang mereka cari?

Rahasia Patung Emas?

Tiba-tiba terdengar suara ketawa terpingkal-pingkal.

Yang tertawa adalah si gendut Siauw-bin Ciu-kwi.

Dia tertawa seperti melihat sesuatu yang lucu.

Para pembantunya hanya ikut tersenyum karena tidak tahu apa yang ditertawakan oleh Beng-cu mereka.

Si gendut mengakhiri ketawanya, lalu menuding ke arah Pek-liong-eng dan tertawa lagi walaupun tidak separah tadi.

"Ha-ha-ha-ha, heh-heh, inikah yang disebut Pek-liong-eng? Ha-ha-ha, seorang pemuda yang masih hijau! Lihat, masih ada ingusnya di bawah hidungnya! Dan bocah ini yang membasmi Hek-sim Lo-mo dan kawan-kawannya? Ha-ha-heh-heh-heh, sungguh sukar dipercaya. Tentu Hek-sim Lo-mo kini sudah menjadi terlalu tua bangka dan sudah pikun dan lemah sehingga mudah saja dikalahkan seorang bocah ingusan. Heh, Pek liong-eng Tan Cin Hay! Benarkah engkau memiliki kemampuan untuk mengalahkan mendiang Hek-sim Lo-mo?"

Sepasang mata dari wajah kekanak-kanakan itu kini mencorong bengis ketika memandang kepada Pek-liong.

Pek-liong maklum bahwa namanya telah menggemparkan dunia kaum sesat dan agaknya mereka itupun menjadi gentar pula kepadanya.

Maka, dia lalu mengambil sikap angkuh, membusungkan dadanya dan dia memandang kepada si gendut itu dengan pandang mata tajam penuh tantangan.

"Engkau agaknya Siauw-bin Ciu-kwi yang disebut Beng-cu. Ciu-kwi, tidak perlu banyak bertanya, kalau engkau ingin mencoba kepandaianku, silakan, aku sudah siap sedia!"

Mendengar ucapan yang nadanya menantang ini, semua orang terbelalak, dan para pembantu Siauw-bin Ciu-kwi memandang marah.

Akan tetapi si gendut itu sendiri tertawa geli walaupun sinar matanya semakin mencorong berbahaya.

Cian Li kagum bukan main kepada Pek-liong.

Ia tentu saja merasa gelisah dan takut, akan tetapi karena di dekatnya ada Pek-liong, semua rasa takut lenyap dan dara ini bahkan merasa berbahagia sekali bahwa ia dapat menghadapi pengalaman berbahaya itu berdua dengan Pek-liong.

"Hay-koko, engkau sungguh hebat!"

Katanya tanpa mengecilkan suaranya, tidak perduli bahwa semua orang mendengarnya.

"Aku berani bertaruh seekor babi muda bahwa engkau yang akan keluar sebagai pemenang!"

Melihat sikap yang luar biasa tabahnya dari gadis itu, Pek-liong juga kagum.

Gadis ini tidak berapa hebat kepandaiannya, namun memiliki keberanian yang mengagumkan.

Pada hal, ketika pertama kali bertemu dia melihat gadis ini tidaklah begitu tabah.

"Li-moi, apakah engkau mempunyai babi?"

Tanyanya, berkelakar, untuk mempertahankan wibawanya sebagai seorang tawanan yang lain, yang sama sekali tidak takut bahkan menantang pimpinan gerombolan!

"Tentu saja aku mempunyai peliharaan seekor babi muda, dan belasan ekor ayam dan.....

aihh, celaka, siapa yang akan memberi makan mereka?

Babiku dan ayam-ayamku tentu mati kelaparan!

Uh, mereka ini sungguh jahat, menyebabkan babi dan semua ayamku kelaparan!"

Sikap kedua orang tawanan yang sama sekali tidak menghormati Beng-cu mereka, bahkan pemuda itu berani secara terbuka menantang Beng-cu mereka!

"Beng-cu, biarkan aku mematahkan tulang punggung bocah sombong ini,"

Lim-kwi Sai-kong berteriak marah.

"Hemm, akupun ingin menghancurkan kepala manusia sombong ini, Beng-cu. Serahkan saja kepadaku!"

Hek-giam-ong Lok Hun juga berseru garang.

"Aku yang lebih dulu menemukannya dan membawanya ke sini. Beng-cu tentu akan membiarkan aku mewakilinya untuk menghajar bocah lancang ini!"

Kata Pek I Kongcu.

Mendengar kesanggupan para pembantunya, Siauw-bin Ciu-kwi tertawa gembira, lalu tiba-tiba dia menoleh kepada Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si yang duduk di sebelahnya.

Dia melihat betapa wanita cantik itu sedang mengamati Pek-liong dengan penuh selidik, dan dia merasa seolah-olah pembantu utamanya itu sedang menaksir seekor kuda jantan untuk dibelinya.

"Dan engkau bagaimana, Nio-cu? Sanggupkah engkau menandingi Pek-liong-eng?"

Tanpa menoleh kepada Beng-cu itu, Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si masih mengamati Pek-liong dari kepala sampai ke kaki, menjawab.

"Hemm sebelum membunuhnya, aku ingin melihat kejantanannya lebih dulu. Nampaknya dia jantan......"

Siauw-bin Ciu-kwi tertawa bergelak.

Biarpun pembantu utamanya ini juga menjadi kekasihnya, namun dia mengenal benar watak pembantunya ini yang cabul, genit dan gila pria, maka dia tidak pernah merasa cemburu kalau melihat pembantunya ini mengeram laki-laki muda di dalam kamarnya.

Dan wanita itupun tak pernah menyembunyikan "hobby"

Itu dari siapa saja.

Bahkan dengan Pek I Kongcu Ciong Koan iapun sudah melakukan hubungan mesra tanpa memperdulikan Beng-cu yang juga hanya menyeringai saja.

Kalau melihat seorang pria muda yang tampan dan gagah, wanita ini seketika bangkit gairahnya, maka jawabannya itupun tidak mengejutkan semua rekannya.

"Ha-ha-ha, kalau tiba saatnya kita akan membunuh dia, tentu lebih dulu kau akan kuberi kesempatan untuk menghisap darahnya sampai habis, Nio-cu. Ha-ha-ha!"

Kata Siauw-bin Ciu-kwi.

"Akan tetapi sekarang belum boleh, aku ingin bicara dengan dia. Hei, Pek-liong-eng, aku minta engkau bicara terus terang atau terpaksa kami akan membunuh engkau dan gadis itu setelah menyiksa kalian!"

Pek-liong membusungkan dadanya.

"Siauw-bin Ciu-kwi, engkau adalah seorang datuk besar yang amat terkenal sebagai seorang di antara Kiu Lo-mo, dan engkau di sini dibantu pula oleh banyak tokoh yang lihai, banyak pula memiliki anak buah. Akan tetapi sungguh tidak kusangka bahwa engkau demikian penakut sehingga tidak berani menerima aku tanpa membelenggu tanganku. Apakah engkau khawatir kalau aku memberontak dan membunuh kalian semua?"

Kembali ucapan Pek-liong ini membuat semua anak buah Beng-cu menjadi marah, kecuali Tok-sim Nio-cu yang mengangguk-angguk kagum.

Seorang pria segagah Pek-liong belum pernah terjatuh ke dalam pelukannya dan kini ia memandang penuh kagum.

Diam-diam Cian Li sejak tadi memperhatikan wanita itu, apa lagi setelah mendengar ucapannya tadi.

Ia cemberut dan marah bukan main, diam-diam membenci wanita cantik genit itu.

Perasaan cemburu meledak-ledak di hatinya dan kalau saja ia diberi kesempatan, mau rasanya ia menyerang dan mencakar muka cantik yang genit itu!

"Beng-cu, dia terlalu menghina Beng-cu.

Biar kuhajar mampus dia!"

Kata Hek-giam-ong Lok Hun sambil mengamangkan ruyungnya.

"Ha-ha, belum waktunya, Hek-giam-ong. Pek I Kongcu, kau lepaskan belenggu tangan mereka berdua agar Pek-liong-eng melihat bahwa aku sama sekali tidak takut kepadanya!"

Pek I Kongcu tentu saja juga tidak takut.

Kalau tadi dia mempergunakan Cian Li untuk memaksa Pek-liong menyerah adalah karena dia tidak ingin repot-repot, pula dia tidak mempunyai teman yang boleh diandalkan kecuali Po-yang Sam-liong.

Sekarang, rekan-rekannya lengkap, ada pula Beng-cu, tentu saja dia tidak takut kalau tawanan itu akan dapat lolos.

Dia lalu memberi isyarat kepada Po-yang Sam-liong.

Poa Seng, orang tertua dari tiga raksasa Po-yang itu, segera melangkah maju dan menggunakan kunci membuka belenggu tangan yang disambung rantai mempersatukan Cian Li dan Pek-liong itu.

Pek-liong tersenyum, juga Cian Li menjadi lega, menggosok-gosok pergelangan tangan bekas belenggu.

"Terima kasih, Siauw-bin Ciu-kwi. Sikapmu ini saja membuat engkau semakin pantas menjadi Beng-cu, tidak berjiwa penakut,"

Kata Pek-liong. Senyum ketua itu makin melebar, agaknya senang juga dia kini dipuji oleh pendekar yang pernah membasmi kelompok yang dipimpin seorang rekannya yang lebih tua, yaitu Hek-sim Lo-mo.

"Ha-ha-ha, duduklah, Pek-liong, dan kau juga, nona penyelam! Kami dapat menjadi tuan rumah bagi seorang tamu dan sahabat yang baik, Pek-liong, akan tetapi juga dapat menjadi seorang musuh yang amat bengis. Terserah kepadamu engkau ingin menjadi tamu dan sahabat, ataukah menjadi seorang musuh. Tergantung dari jawaban-jawabanmu."

Dengan sikap tenang sekali Pek-liong mengambil tempat duduk di atas kursi, dan Cian Li, walaupun hatinya terasa kecut dan tidak senang, ikut pula duduk di samping kiri pemuda itu.

"Siauw-bin Ciu-kwi...... atau lebih baik kusebut Beng-cu karena engkau telah diterima sebagai Beng-cu di sini. Nah, Beng-cu, kau ajukanlah pertanyaan-pertanyaan itu, tentu akan kujawab sebagaimana mestinya."

"Ha-ha-ha, bagus, bagus! Lebih dulu terimalah ucapan selamat datang dari kami dengan secawan arak, Pek-liong!"

Akan tetapi sebelum Beng-cu itu menuangkan secawan arak, lebih dahulu Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si bangkit dan menghampiri Pek-liong, dengan gaya yang lembut dan menawan ia menuangkan arak dari guci ke sebuah cawan.

Kemudian dengan senyum manis sekali ia menyerahkan cawan arak itu kepada Pek-liong sambil berkata dengan suara merdu seperti orang bernyanyi.

"Pek-liong-eng, sudah lama sekali aku mengagumi kegagahanmu. Terimalah secawan arak dari Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si!"

Pek-liong tak dapat menolak dan ketika dia menerima cawan arak itu, tangannya bertemu dengan tangan wanita itu yang sengaja memegang tangannya, dan terciumlah keharuman keluar dari dada wanita itu ketika tangan Pek-liong bersentuhan dengan tangan yang berkulit lembut dan hangat.

Cian Li bangkit dengan muka merah dan gerakannya itu membuat kursi yang didudukinya terpelanting jatuh.

"Li-moi, engkau kenapakah?"

Pek-liong bertanya heran. Gadis itu bersungut-sungut lalu membuang muka dan mendengus marah.

"Huh, muak aku......!"

Melihat ini, Beng-cu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, kiranya nona penyelam ini adalah pacarmu, Pek-liong? Ha-ha-ha, bagus sekali......"

Pek-liong mengerutkan alisnya.

Diapun kini tahu bahwa Cian Li marah-marah karena sikap Tok-sim Nio-cu tadi, kemarahan yang timbul dari cemburu.

Dia tahu bahwa gadis itu agaknya telah jatuh hati kepadanya.

Akan tetapi andaikata hal ini henar, merupakan kenyataan yang amat berbahaya kalau diketahui oleh Beng-cu, karena ikatan batin itu dapat dipergunakan Beng-cu untuk memaksakan kehendaknya dengan mengancam seorang di antara mereka.

"Beng-cu, harap jangan bicara sembarangan! Aku baru saja mengenal nona Kam Cian Li ini, kami sama sekali bukan pacaran!"

"Ha-ha, setidaknya ia mencintamu, Pek-liong. Sudahlah, terimalah ucapan selamat datang dengan minum cawan arak kita. Mari!"

Tuan rumah itu minum araknya dan sebagai penerimaan penghormatan itu, mau tidak mau Pek-liong juga minum habis arak yang disuguhkan Tok-sim Nio-cu. Cian Li sudah duduk kembali dengan mulut cemberut.

"Pek-liong, kami tahu bahwa engkau tinggal di daerah Telaga See-ouw. Akan tetapi kini engkau berada di Po-yang? Nah, katakan kepadaku, apa keperluanmu berkeliaran di daerah Po-yang? Engkau bersama-sama dengan Tiong Tosu dan Yong Hwesio, kemudian engkaupun bersama-sama dengan kakak beradik Kam ahli penyelam. Nah, apa maksudmu berada di sini!"

"Aku hanya melancong ke Po-yang,"

Jawab Pek-liong dengan cepat dan jawabannya itu memang bukan bohong.

"Hanya secara kebetulan saja aku bertemu dengan tosu dan hwesio itu, juga kebetulan saja aku bertemu dengan kakak beradik Kam. Sekarang, aku yang ingin berbalik bertanya, Beng-cu. Kenapa engkau menyuruh bunuh Tosu dan Hwesio itu, dan kenapa pula orang-orangmu mengganggu kakak beradik Kam? Aku tadi sudah menjawab sejujurnya, maka kuharap engkaupun suka menjawab sejujurnya."

Beng-cu itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, sikapmu memang angkuh sekali, Pek-liong. Engkau memancing keinginan tahuku sampai di mana sesungguhnya kehebatan ilmu silatmu maka engkau berani mengambil sikap seperti ini. Sekarang, jawablah, karena pertanyaanku belum habis. Engkau sebagai tawanan tidak berhak mengajukan pertanyaan. Nah, pertanyaan selanjutnya. Engkau selama ini bekerja sama dengan Hek-liong-li, kenapa sekarang ia tidak ikut datang? Di mana Hek-liong-li?"

Pek-liong tersenyum.

"Ha, jangan khawatir, Beng-cu. Kalau aku terancam bahaya di sini, sudah pasti ia akan muncul dan membasmimu."

Beng-cu itu mengerutkan alisnya.

"Hemm, aku tahu. Kakak nona ini tidak nampak bersama kalian. Tentu dia kausuruh memanggil Hek-liong-li, bukan?"

Diam-diam Pek-liong terkejut juga dan memuji kecerdikan si gendut itu. Seorang lawan yang bukan saja tangguh, akan tetapi juga amat cerdik, pikirnya.

"Kalau engkau sudah menduganya, tentu engkau tidak akan berani sembarangan mengganggu kami, Beng-cu. Dengar baik-baik. Engkau tentu tahu bahwa aku menyerah kepada pembantumu yang tampan itu bukan karena aku telah dikalahkan, melainkan karena dengan curang dia telah menawan nona Kam Cian Li. Akan tetapi, kalau aku menghendaki, aku dapat saja melarikan diri dari sini. Paling-paling kalian akan membunuh nona Kam. Akan tetapi kalian akan menerima pembalasan kami, yaitu aku dan Liong-li! Sebaiknya, kau bebaskan kami karena sesungguhnya kami tidak mempunyai urusan dengan kalian."

"Hemm, Pek-liong. Engkaupun dengar baik-baik. Saat ini engkau adalah tawanan kami. Tak perlu engkau mengancam. Kalau aku menghendaki, sekarangpun kami akan dapat mengeroyok dan membunuhmu. Akan tetapi tidak, aku membutuhkan bantuanmu, membutuhkan bantuan kalian. Pek-liong, katakan saja, bukankah engkau sudah mendapatkan sepotong dari peta rahasia Patung Emas itu?"

Pek-liong mengerutkan alisnya dan dia melihat betapa Cian Li memandang kepadanya dengan sinar mata penuh pertanyaan. Dia menggeleng kepala.

"Peta rahasia Patung Emas? Aku sama sekali tidak tahu tentang itu, Beng-cu. Bagaimana engkau menduga bahwa aku sudah mendapatkan sepotong dari peta itu?"

Kini mulut Beng-cu tidak tersenyum, melainkan cemberut.

"Semua orang memperebutkannya. Kalau engkau berkeliaran di sini, apa lagi yang kaulakukan kalau tidak ikut memperebutkan? Pek-liong, demi keselamatanmu dan keselamatan gadis ini, lebih baik engkau bekerja sama dengan kami. Terus terang saja, yang sepotong lagi berada di tanganku. Sudah lama aku mencari potongan yang lain dari peta itu.

"Mula-mula berada di tangan Loan Khi Hwesio, hwesio tolol itu telah menyerahkan peta itu kepada Thio Kee San. Akan tetapi, orang she Thio itupun menyerahkan lagi peta itu kepada pelacur Bi Hwa. Sampai mampus, Bi Hwa tidak mengaku di mana adanya peta itu. Kami mencurigai Tiong Tosu dan Yong Hwesio yang mengadakan penyelidikan terhadap kami, dan kami mencurigai kakak beradik Kam yang pekerjaannya menyelam dan mengumpulkan batu-batuan.

"Nah, karena engkau berada bersama mereka, maka sudah pasti engkau telah menemukan peta itu. Mengakulah saja, Pek-liong dan mari kita bekerja sama, kalau berhasil mendapatkan harta karun itu, kita bagi rata......"

"Beng-cu, sungguh mati aku tidak pernah menemukan peta itu, melihatnyapun belum pernah. Bagaimana aku dapat menyerahkannya kepadamu?"

"Beng-cu, dia bohong! Kalau dia muncul di sini, pantas saja peta itu lenyap. Tentu dia yang telah mengambilnya dari tangan pelacur itu. Biarkan aku menyiksa dan memaksanya agar dia mengaku!"

Hek-giam-ong Lok Hun sudah meloncat ke depan dengan ruyung di tangan. Si gendut itu bangkit berdiri dan tertawa pula, lalu melangkah mendekati Pek-liong.

"Engkau keras kepala, Pek-liong. Akan tetapi, kalau memang engkau memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, engkau boleh menjadi pembantuku. Pasti engkau akan memperoleh bagian kalau usahaku berhasil, seperti para pembantu lain. Maka, aku ingin sekali mengujimu!"

Tiba-tiba saja, luar biasa cepat gerakannya sehingga sama sekali tidak sepadan dengan tubuhnya yang gendut bundar, dia sudah menerjang dan mengirim pukulan bertubi ke arah tubuh Pek-liong.

Pukulan berantai itu memang hebat, selain cepat sekali, juga mengandung tenaga dahsyat.

Pek-liong mengenal serangan berbahaya, maka diapun cepat menggeser kakinya dan menghindarkan diri dengan mundur untuk memasang kuda-kuda dan siap balas menyerang.

Akan tetapi, tiba-tiba saja si gendut tertawa dan di lain saat, dia telah menangkap lengan Cian Li.

Gadis ini menjerit, meronta, namun sama sekali tidak mampu berkutik.

"Ha-ha-ha, Pek-liong. Sudah kukatakan bahwa aku hanya ingin mengujimu, menguji kepandaianmu, oleh karena itu engkau tidak boleh membunuh seorang di antara para pembantuku. Hek-giam-ong, kini engkau boleh mencoba dia!"

Berkata demikian, Beng-cu itu duduk kembali dan mendorong Cian Li kearah Pek I Kongcu yang menyambutnya, menotok tengkuknya dan mendudukkan gadis yang sudah lemas tak mampu meronta itu ke atas sebuah kursi.

"Beng-cu, engkau selalu curang!"

Bentak Pek-liong marah.

"Hem, tenanglah. Aku hanya ingin menguji kepandaianmu. Kalau kuanggap pantas menjadi pembantuku, kau akan kuangkat menjadi pembantu. Kalau tidak, engkau akan mati sekarang juga. Kalau engkau membunuh orangku, gadis ini akan kami bunuh dulu sebelum kami keroyok dan bunuh engkau!"

Hek-giam-ong Lok Hun sudah mengeluarkan suara menggereng seperti seekor biruang.

Dia tidak khawatir, karena kalau dia menang, dia boleh menyiksa dan membunuh pemuda berpakaian putih itu.

Sebaliknya, andaikata dia kalah, pemuda itu tentu tidak akan berani membunuhnya.

Hatinya menjadi besar, apa lagi memang dia memandang remeh kepada pemuda itu.

Ruyung di tangannya diputar sehingga membentuk lingkaran seperti payung, dan terdengar suara angin bersiutan saking cepatnya senjata yang berat itu terputar.

Namun, Pek-liong menghadapinya dengan sikap tenang saja.

Sementara itu otaknya berputar keras.

Melihat gerakan lawan, dia merasa yakin bahwa tidak sukar baginya untuk membunuh si tinggi kurus yang kulitnya hitam kasar ini.

Bahkan dia dapat mengamuk dan membunuh banyak orang di tempat itu.

Akan tetapi dia maklum bahwa orang-orang jahat itu tentu akan membunuh Cian Li dan dia tidak akan mampu mencegahnya.

Tidak, gadis itu tidak boleh dibunuh.

Dia terpaksa harus menyerah, sambil menanti munculnya Hek-liong-li.

Dia merasa tidak berdaya dan baru dia merasa betapa dia amat membutuhkan Hek-liong-li.

Wanita itu amat cerdik dan memiliki banyak akal dan muslihat.

Kalau ada Hek-liong-li tentu wanita itu akan mampu mencari akal yang baik menghadapi penekanan Siauw-bin Ciu-kwi dan para pembantunya.

Kini, yang terpenting, menjaga agar Cian Li tidak dibunuh.

Dia harus dapat mengalahkan mereka semua tanpa membunuh!

Dan tentu saja hal ini membuat dia menghadapi tugas yang amat sukar.

Mereka itu menyerangnya dengan niat membunuh, sebaliknya dia tidak boleh membunuh.

Tentu akan amat sukar, namun dia tidak menjadi gentar dan merasa yakin akan mampu menaklukkan lawan tanpa membunuh.

"Wirrrr......!"

Ruyung itu menyambar dari atas ke bawah.

Kalau terkena sambaran ruyung yang amat berat dan kuat itu, tentu akan pecah kepalanya.

Diapun mengelak dengan mudahnya.

Ruyung menyambar lagi setelah menghantam lantai dan menimbulkan muncratnya bunga api, kini memantul ke atas dan menyambar ke arah kakinya!

Pek-liong melompat ke samping dan ruyung itu lewat dengan cepat.

"Wuuuttt......!"

Kembali ruyung itu sudah menyambar lagi dengan dahsyatnya dan ketika Pek-liong mengelak, tiba-tiba kaki Hek-giam-ong menendang dari samping.

"Siuuuuttt......!"

Hampir saja lambung Pek-liong terkena tendangan.

Namun, pemuda ini memang sengaja memperlambat gerakannya, namun dia sudah memperhitungkan sehingga tendangan itupun luput.

Sampai belasan kali dia tetap mengelak.

Ketika ruyung itu menyambar lagi, dia miringkan tubuh dan begitu ruyung lewat, dia menangkap lengan kanan lawan yang memegang ruyung, memutarnya dan tangan kanannya menampar pundak.

"Plakkk......!"

Tubuh yang tinggi kurus itu terpelanting dan terbanting ke atas lantai.

Akan tetapi, Hek-giam-ong yang tidak terluka parah itu menjadi marah lalu meloncat lagi dan menyerang membabi-buta!

Pek-liong mendongkol sekali.

Kalau dia menghendaki, tamparan itu menjadi lebih keras bahkan dapat naik mengenai tengkuk atau kepala dan lawan itu akan mampus, akan tetapi dia hanya menggunakan sedikit tenaga, hanya untuk menunjukkan bahwa Hek-giam-ong sudah kalah.

Siapa kira, orang itu nekat, bahkan kini menyerang dengan dahsyat, sedangkan Beng-cu juga diam saja.

Pada hal, sudah jelas bahwa dia tadi memperlihatkan keunggulannya!

"Lim-kwi Sai-kong, majulah!"

Terdengar suara Beng-cu itu dan kini raksasa bermuka singa itu mengeluarkan suara seperti harimau mengaum dan dia sudah meloncat ke dalam medan pertandingan, tangan kanannya memegang sebatang golok besar yang gagangnya diikat dengan sebatang rantai baja yang panjang.

Memang raksasa muka singa ini memiliki senjata yang amat lihai dan ampuh.

Golok itu dapat dimainkan dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri memutar rantai baja.

Atau, golok itu dapat menjangkau jauh, seperti terbang kalau rantai itu dimainkan dan golok menjadi ujung rantai.

Dan raksasa ini lihai sekali dalam permainan senjata itu.

Pek-liong mengerutkan alisnya.

Beng-cu itu memang licik sekali.

Dia yang bertangan kosong harus menghadapi dua orang lawan yang bersenjata berat, dua orang yang seperti binatang haus darah, yang menyerangnya untuk membunuh.

Dan dia harus membela diri dengan syarat tidak boleh membunuh lawan, dengan ancaman kalau dia membunuh, maka Cian Li akan dibunuh lebih dulu sebelum dia dikeroyok!

Setelah Lim-kwi Sai-kong menerjangnya dengan dahsyat, membantu Hek-giam-ong yang juga marah sekali karena tadi dirobohkan, Pek-liong terpaksa harus memperlihatkan kepandaian yang sesungguhnya!

Tubuhnya berkelebatan, lenyap bentuk tubuhnya berubah menjadi bayangan yang amat gesitnya, bagaikan seekor burung walet beterbangan di antara gulungan sinar senjata kedua orang pengeroyoknya!

Melihat ini, Siauw-bin Ciu-kwi mengangguk-angguk kagum dan berbisik.

"Pantas saja Hek-sim Lo-mo kalah olehnya......"

Dan diapun maklum betapa berbahayanya mempunyai seorang musuh seperti Pek-liong-eng.

Orang ini harus ditarik sebagai sekutu atau......

dihancurkan sekarang juga!

Terlalu berbahaya kalau menjadi lawan, pikir Beng-cu yang cerdik itu.

"Pek I Kongcu, majulah engkau!"

Katanya dan diapun berpindah ke kursi dekat Cian Li.

Gadis itu masih duduk tak mampu berperak.

Sekali si gendut menggerakkan jari tangan menyentuh tengkuk, gadis itu dapat bergerak kembali, akan tetapi karena si gendut itu berada di dekatnya, iapun tidak berani bergerak.

Ia hanya memandang ke arah perkelahian itu dan matanya terbelalak penuh kekhawatiran.

Apa lagi setelah kini Pek I Kongcu maju mengeroyok dengan pedangnya.

Pek-liong memang mulai repot menghadapi pengeroyokan tiga orang itu.

Pedang di tangan Pek I Kongcu Ciong Koan amat berbahaya, bersama dua orang pengeroyok pertama, pedang itu sungguh merupakan ancaman maut!

Ilmu pedang Kun-lun-kiam-sut memang hebat dan Pek I Kongcu sudah menguasai ilmu pedang itu dengan baiknya.

Pedang itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung, mengeluarkan suara berdesing.

"Singgg......!"

Sebagian ujung rambut kepala Pek-liong berhamburan terkena sambaran sinar pedang.

Pek-liong terkejut.

Kalau dia memegang pedang pusakanya, walaupun dia tidak boleh membunuh, kiranya dia akan dapat melindungi dirinya dengan baik dan membuat para pengeroyoknya tidak berdaya dengan mematahkan senjata mereka.

Akan tetapi, jangankan Pek-liong-kiam yang sudah disembunyikannya itu, bahkan senjata biasapun dia tidak punya.

Dia harus menghadapi pengeroyokan tiga orang yang lihai ini dengan tangan kosong!

Dan diapun dapat melihat betapa Cian Li duduk dekat dengan Siauw-bin Ciu-kwi, maka dia tidak berdaya, tidak mungkin dapat membawa lari gadis itu.

Sekali dia melakukan gerakan mencurigakan, betapa mudahnya si gendut itu membunuh Cian Li!

Menghadapi pengeroyokan tiga orang tokoh sesat yang ilmunya sudah tinggi itu, dengan tangan kosong menghadapi senjata-senjata mereka, dan tidak boleh membunuh, sungguh merupakan hal yang amat sukar.

Pek-liong sudah mengerahkan seluruh gin-kangnya, mempergunakan kecepatan gerakan tubuhnya untuk menyelinap di antara sinar senjata yang menyambar-nyambar, namun dia tidak memperoleh kesempatan untuk merobohkan mereka tanpa melukai parah atau membunuh.

"Crattt......!"

Tiba-tiba ujung pedang Pek I Kongcu menyerempet pangkal lengan kirinya dan bajunya terobek berikut kulit dan sedikit daging bahunya.

Darah mulai mengucur membasahi bajunya.

Melihat darah, agaknya tiga orang pengeroyoknya menjadi semakin buas.

Sambil bergerak cepat dan kuat, mereka menghujankan serangan sambil kadang-kadang mengeluarkan gerengan atau teriakan dahsyat!

"Bukkk!"

Ruyung itu menghantam punggung Pek-liong.

Pemuda ini sempat melindungi diri dengan sin-kang, akan tetapi hantaman yang amat kuat itu tetap saja membuat dia terpelanting.

Selagi dia roboh, golok berantai itu menyambar ke arah lehernya.

Pek-liong masih dapat menggulingkan tubuhnya sehingga terlepas dari cengkeranan maut, namun kaki Pek I Kongcu menendang dan mengenai pahanya sehingga tubuhnya bergulingan semakin cepat.

Melihat betapa pria yang dikaguminya itu dikeroyok dan kini menjadi bulan-bulan serangan tiga orang pengeroyoknya, lebih lagi melihat darah membasahi baju Pek-liong-eng, tiba-tiba Cian Li menutupi mukanya dengan kedua telapak tangan dan dengan suara merintih iapun berseru.

"Cukup......! Hentikan itu....! Aku tahu di mana peta itu......!"

Mendengar ini, Beng-cu itu bangkit berdiri dan mengangkat tangan ke atas, suaranya mengguntur ketika memerintahkan para pembantunya.

"Berhenti! Jangan menyerang lagi!"

Lim-kwi Sai-kong, Hek-giam-ong dan Pek I Kongcu tentu saja merasa kecewa sekali.

Lawan mereka sudah mulai terdesak hebat dan dalam waktu dekat tentu mereka bertiga akan dapat menyiksa dan membunuhnya.

Akan tetapi mereka tidak berani membangkang terhadap perintah Beng-cu, apa lagi merekapun mendengar seruan gadis itu dan merasa tertarik sekali.

Mereka semua lalu mendekati Beng-cu, akan akan tetapi Beng-cu berkata kepada mereka bertiga.

"Pek-liong harus dibelenggu dulu kaki tangannya dengan belenggu rantai yang paling berat. Pek-liong, aku sudah melihat kepandaianmu dan aku suka menerimamu sebagai pembantu. Akan tetapi, karena kami belum percaya benar, terpaksa engkau kami belenggu dan gadis ini menjadi jaminan bahwa engkau tidak akan melarikan diri dan memberontak!"

Pek-liong hanya mengangguk dan membiarkan kaki dan tangannya dibelenggu dengan belenggu rantai yang memungkinkan dia berjalan dengan melangkah perlahan-lahan, juga kedua lengannya dapat bergerak karena rantainya cukup panjang, akan tetapi tentu saja tidak mungkin dia memberontak karena gerakan kaki tangannya akan terhalang oteh belenggu-belenggu rantai.

Dia lalu melangkah perlahan menghampiri sebuah kursi dan duduk, matanya tiada hentinya menatap ke arah wajah Cian Li.

Diam-diam dia merasa menyesal sekali mengapa gadis itu tidak dapat menahan diri dan mengaku.

Kiranya, gadis itu malah yang tahu akan rahasia peta itu!

Sungguh sama sekali tidak disangkanya!

"Nah, nona manis, sekarang ceritakan yang betul tentang peta itu.

Kami memang sudah menaruh kecurigaan kepada engkau dan kakakmu, dan ternyata benar.

Di mana peta itu?

Serahkan kepada kami!

Ah, tidak, lebih dulu ceritakan tentang peta itu, dari mana engkau mendapatkan peta itu?"

Wajah kekanak-kanakan itu nampak kegirangan bukan main dan agaknya dia ingin menikmati kegirangan ini sedikit demi sedikit, tidak langsung menerima peta itu dari Cian Li.

Dia persis seperti seorang kanak-kanak yang mendapatkan sebuah kembang gula, lalu makan kembang gula itu sedikit demi sedikit, menjilat-jilati dan tidak langsung memakannya.

Cian Li mengangkat muka, memandang kepada Pek-liong.

Ketika melihat pandang mata pemuda itu penuh penyesalan, ia menarik napas panjang.

Apa lagi hanya mengorbankan peta itu, biar harus mengorbankan apapun ia tentu akan berikan untuk menyelamatkan pendekar itu!

Aih, tidak tahukah engkau betapa aku mau mengorbankan apapun untukmu, betapa aku mencintaimu?

Demikian hatinya berbisik.

Akan tetapi sinar mata pendekar itu tetap penuh penyesalan dan iapun menundukkan mukanya.

"Aku mendapatkan peta itu dari seorang wanita cantik,"

Demikian ia berkata dengan muka menunduk.

"Pada suatu siang ketika aku dan kakakku mencari batu-batu telaga, ketika kakakku menyelam dan aku berjaga di perahu, lewat sebuah perahu lain. Seorang wanita cantik menyuruh tukang perahunya mendekati perahuku, kemudian ia menyerahkan sebuah guci yang tertutup rapat. Ia menyerahkan guci itu kepadaku dan berkata bahwa ia titip barang itu kepadaku karena dikejar orang jahat hendak dirampas. Tentu saja aku bertanya apa adanya benda itu. Ia berterus terang mengatakan bahwa barang yang berada di dalam guci itu adalah sebuah peta rahasia Patung Emas......"

"Ah, tentu si pelacur Bi Hwa!"

Seru Siauw-bin Ciu-kwi dengan girang sekali dan Pek-liong-eng yang ikut mendengarkan menjadi semakin menyesal.

Tak disangkanya bahwa datuk sesat itu akan mendapatkan peta itu semudah itu!

Dan semua itu karena seorang gadis sederhana menaruh hati cinta kepadanya, suka menyerahkan benda berharga itu demi untuk menyelamatkannya!

"Di mana sekarang guci itu?

Nona manis, di mana benda itu kausimpan?"

Siauw-bin Ciu-kwi bertanya dengan penuh nafsu, suaranya terdengar ramah dan manis.

"Kusimpan di dasar telaga......"

Katanya lirih.

Mendengar ini, di dalam hatinya Pek-liong bersorak.

Bagus, Cian Li, teriaknya dalam hati.

Keteranganmu itu tentu akan memaksa mereka membawamu keluar dari tempat ini, dan kalau nasib baik, diapun akan terbawa.

Kalau mereka berada di luar sarang ini, tentu akan lebih mudah untuk meloloskan diri, dan lebih mudah lagi untuk dapat herhubungan dengan Hek-liong-li.

Menurut perhitungannya, paling lambat besok siang Hek-liong-li tentu sudah tiba di Telaga Po-yang!

Mendengar keterangan itu, Siauw-bin Ciu-kwi mengerutkan alisnya, dan senyumnya menghilang.

Agaknya dia seperti dapat membaca isi hati Pek-liong.

Dia memegang kedua pundak gadis itu dan membentak.

"Engkau berani membohongi aku?"

Gadis itu terkejut karena merasa betapa pundaknya seperti ditindih benda yang luar biasa beratnya. Ia terbelalak, wajahnya pucat dan ia menggeleng kepala.

"Aku tidak berbohong!"

Siauw-bin Ciu-kwi melepaskan kedua tangannya.

"Bagus, dan engkau tentu memberitahukan kakakmu?"

"Tidak! Wanita itu memesan agar aku tidak memberitahukan siapapun dan aku sudah berjanji padanya. Aku selalu memegang teguh janjiku."

"Jadi jelas bahwa hanya engkau sendiri yang tahu di mana tempat kausembunyikan guci itu?"

Cian Li mengangguk.

"Di mana tempatnya?"

"Di tengah telaga, di mana kami suka mencari kerang hijau."

"Bagus! Sekarang juga kita pergi ke sana! Dan awas engkau, nona manis, kalau engkau berbohong kepada kami, kalau engkau tidak berhasil mendapatkan guci itu, engkau akan menyesal bahwa engkau pernah hidup! Kami akan menyiksamu dan membikin engkau mati perlahan-lahan dalam keadaan tersiksa lahir batin! Mari kita berangkat!"

Dia mengangkat muka memandang kepada para pembantunya.

"Siapkan kereta dan perahu, kita berangkat sekarang juga ke telaga!"

"Tidak mungkin diambil sekarang!"

Tiba Pek-liong berkata, suaranya seperti sambil lalu dan acuh tak acuh.

"Apa maksudmu?"

Siauw-bin Ciu-kwi yang gendut itu sekali menggerakkan tubuh sudah tiba di depan Pek-liong yang terbelenggu dan duduk di kursi. Tangan kirinya bergerak menyambar.

"Plakkk!"

Tamparan itu keras sekali, membuat pipi kanan Pek-liong menjadi kebiruan dan ada sedikit darah di ujung bibirnya. Cian Li mengeluarkan jeritan lirih melihat betapa pria yang dikasihinya itu ditampar.

"Hati-hati kau dengan mulutmu, Pek-liong, atau mungkin tangan ini menyeleweng ke arah kepalamu dan engkau akan tewas seketika!"

Bentak Siauw-bin Ciu-kwi. Biarpun hatinya mendongkol bukan main, namun Pek-liong, masih dapat tersenyum ketika dia mengangkat mukanya memandang kepada orang yang menamparnya.

"Tentu saja aku sudah berhati-hati, Beng-cu. Sayang engkau yang bodoh. Kalau memang ingin mengadu ilmu, lepaskan belenggu ini dan kita sama lihat siapa yang lebih lihai di antara kita, jangan main tampar selagi aku tidak dapat melawan.

"Kalau engkau mendengarkan omonganku, maka engkau juga yang akan mendapat untung. Kau tahu, orang menyelam mencari sesuatu di dasar telaga haruslah di waktu siang hari, karena membutuhkan sinar matahari yang cukup kuat sehingga sinar itu dapat menerangi permukaan telaga.

"Sekarang sudah hampir sore, bagaimana mungkin adik Kam Cian Li dapat menemukan benda itu di dasar telaga? Pula, perlu apa tergesa-gesa. Besok siang baru bisa dilakukan penyelaman itu. Pula, kakaknya baru pada hari lusa akan pulang, tidak perlu kau takut akan kedatangan Hek-liong-li!"

Ucapan itu sekaligus mengandung kebenaran akan tetapi juga ejekan bahwa Beng-cu itu takut kalau kalau Hek-liong-li muncul sebelum dia memperoleh peta itu.

Cian Li mendengar ucapan itu berpikir.

Pendekar itu pernah memberitahu kepadanya bahwa menurut perhitungannya, kakaknya dan Hek-liong-li akan dapat tiba di telaga besok siang!

Kenapa pendekar itu mengatakan bahwa Hek-liong-li baru akan dapat muncul lusa?

Ia seorang gadis cerdik, dan tahu bahwa ucapan itu merupakan isyarat baginya.

Ia harus dapat mengulur waktu mendapatkan peta itu sampai Hek-liong-li dan kakaknya muncul.

"Dia berkata benar, Beng-cu,"

Kata gadis itu.

"Memang penyelaman baru dapat dilakukan setelah matahari naik tinggi, bahkan setelah lewat tengah hari karena tempat penyimpanan itu menghadap ke barat dan tempatnya sukar, merupakan daerah yang berlubang-lubang. Tanpa penerangan matahari yang kuat, sukar untuk menemukan tempat itu kembali."

"Hemm, begitukah?"

Sepasang mata dari wajah kekanak-kanakan itu kini mengamati wajah Pek-liong dan Cian Li dengan tajam penuh selidik.

Akan tetapi karena Cian Li tidak berbobong, maka iapun berani menentang pandang mata itu dengan tabah sehingga akhirnya Beng-cu itu merasa puas.

"Baiklah, kalian malam ini menjadi tamu kami dan besok baru kita lihat apakah keterangan nona ini benar,"

Katanya lalu berkata kepada Tok-sim Nio-cu.

"Kau persiapkan kamar untuk mereka. Dan jangan engkau main gila dengan Pek-liong, Nio-cu. Sebelum urusan ini selesai, aku tidak ingin melihat siapapun mempermainkan Pek-liong dan nona Kam ini. Mereka harus dijamu dengan baik, dijaga ketat dan tidak boleh diganggu!"

Berkata demikian, sepasang mata Beng-cu itu ditujukan dengan penuh ancaman kepada Tok-sim Nio-cu dan Hek-giam-ong.

Dia tahu benar bahwa wanita itu adalah seorang yang haus laki-laki, sedangkan Hek-giam-ong memiliki suatu kekejaman istimewa terhadap wanita.

Tentu kedua orang tawanan itu bagi mereka merupakan daging-daging segar yang menimbulkan gairah dan membangkitkan selera aneh mereka.

"Tidak perlu khawatir, Beng-cu. Aku cukup sabar menanti. Akhirnya dia akan kuuji kejantanannya!"

Kata Tok-sim Nio-cu sambil melirik ke arah Pek-liong dengan matanya yang genit. Sedangkan Hek-giam-ong memandang ke arah Cian Li dengan senyum dingin menyeramkan.

"Marilah, Pek-liong dan kau juga, nona penyelam. Mari kalian ikut dengan kami ke kamar kalian. Tapi tidak boleh sekamar, ya? Berbahaya kalau sekamar!"

Kata Tok-sim Nio-cu sambil tertawa genit.

Bukan hanya wanita ini yang sudah bangkit dengan pedang terhunus di tangan untuk mengawal dua orang tawanan itu, melainkan atas isyarat Beng-cu, Lim-kwi Sai-kong, Pek I Kongcu, Hek-giam-ong dan tiga orang Po-yang Sam-liong juga ikut mengawal dengan senjata siap di tangan.

Pek I Kongcu cepat berjalan di antara Pek-liong dan Cian Li, memisahkan kedua orang itu sehingga agak berjauhan.

Hal ini saja menunjukkan betapa cerdiknya pembantu Beng-cu itu.

Juga kamar mereka terpisah, walaupun berdampingan dan biarpun kaki dan tangan Pek-liong sudah dibelenggu kuat, namun para pembantu Beng-cu itu masih bergilir menjaga di depan kamarnya bersama belasan orang anak buah.

Yang berjaga di luar kamar Cian Li hanya ketiga Po-yang Sam-liong, namun mereka itu sudah jauh melebihi cukup untuk membuat gadis itu tidak berani keluar kamar walaupun ia tidak dibelenggu lagi.

Setelah mereka mendapatkan hidangan makan dan minum yang cukup dan enak, keduanya merebahkan diri mengaso.

Pek-liong sengaja mengaso untuk memulihkan tenaga, karena dia tahu bahwa dia membutuhkan tenaga yang segar untuk sewaktu-waktu menghadapi gerombolan penjahat yang amat lihai itu.

"Kita berhenti di sini, malam terlalu gelap untuk melanjutkan perjalanan,"

Kata Hek-liong-li sambil menahan kudanya.

Kam Sun Ting juga menahan kudanya dan dia memandang ke sekeliling.

Mereka tiba di tepi hutan yang amat sunyi.

Memang malam gelap sekali.

Langit merupakan dasar hitam yang ditaburi bintang-bintang, seperti beledu hitam yang dihias jutaan buah permata.

Indah sekali.

Tempat itu sunyi.

Tak nampak seorangpun manusia kecuali mereka berdua.

Tidak sebuahpun rumah di sekitarnya.

Hawa udara teramat dinginnya, sehingga dia sendiri sejak tadi sedang menggigil.

Namun dia tahu, perjalanan masih amat jauh, mungkin besok pagi atau siang baru tiba di Telaga Po-yang.

"Akan tetapi, li-hiap. Bagaimana mungkin kita melewatkan malam di tempat seperti ini?"

Tanyanya ragu sambil menoleh ke arah gadis itu.

Biarpun cuaca hanya remang-remang, namun dari garis-garis wajah dan tubuh gadis itu, dia dapat melihat jelas wajah yang amat jelita, tubuh yang amat menggairahkan, yang sudah amat dikenalnya karena telah tergores ke dalam kalbunya itu!

Gadis itu tersenyum.

Keremangan tidak mampu menyembunyikan kilatan gigi yang putih rapi itu.

"Engkau takut?"

Dengan tegas Sun Ting menggeleng kepalanya.

"Tidak, aku tidak takut, lihiap. Apa lagi, dengan adanya lihiap di sini, apa yang harus kutakutkan? Akan tetapi...... tempat ini..... tidak ada rumah, tidak ada tempat tidur, di tempat terbuka yang gelap, dan hawa udara begini dinginnya, bagaimana lihiap dapat melewatkan malam di sini? Bagiku sih tidak mengapa, aku laki-laki dan sudah biasa hidup menghadapi kesukaran. Akan tetapi bagimu, seorang wanita muda belia yang......!"

Sun Ting tidak melanjutkan kata-katanya karena Liong-li kini tertawa sambil melompat turun dari atas punggung kudanya.

"Hi-hi-hik, engkau lucu sekali, saudara Kam Sun Ting! Kaukira aku ini orang macam apa? Seorang puteri istana yang tidak biasa menghadapi kesukaran? Turunlah, kita mencari tempat yang enak untuk melewatkan malam!"

Sun Ting terpaksa meloncat turun dari atas kudanya.

Tak lama kemudian mereka telah mendapatkan sebuah tempat yang enak, di bawah sebatang pohon besar, bertilamkan rumput hijau yang tebal.

Mereka menambatkan tali dua ekor kuda mereka pada akar pohon dan membiarkan kedua binatang itu makan rumput.

"Sekarang kita membagi tugas,"

Kata Liong-li sambil tersenyum.

"Engkau mengumpulkan kayu bakar untuk membuat perapian, dan aku mengumpulkan daun kering untuk alas duduk dan tidur."

"Sudahlah, lihiap. Engkau duduk saja beristirahat, biar aku yang akan mengumpulkan semua itu. Ini pekerjaan laki-laki!"

Kata Sun Ting gagah.

Tanpa menanti jawaban diapun segera pergi mencari barang yang mereka butuhkan.

Sebentar saja dia sudah mengumpulkan kayu kering yang cukup banyak.

Akan tetapi ketika dia tiba kembali ke tempat itu, ternyata rumput yang tebal, lunak dan basah itu telah tertutup daun-daun kering sehingga mereka dapat duduk di situ dengan enak.

Seperti orang duduk di atas kasur saja.

Kiranya wanita jelita itu telah mengumpulkan daun kering dan menutupi rumput hijau yang basah dengan daun-daun kering.

"Bagus, sebegini sudah cukup,"

Kata Liong-li.

Dengan cekatan ia lalu membuat api unggun, dibantu oleh Sun Ting dan melihat kecekatan wanita itu, percayalah Sun Ting bahwa memang pendekar wanita itu agaknya tidak asing dengan kehidupan di tempat terbuka seperti ini.

Sebentar saja, mereka duduk di atas rumput yang ditilami daun kering, menghadapi api unggun yang hangat, nyaman sekali rasanya sehabis melakukan perjalanan jauh yang melelahkan.

Mereka duduk saling berhadapan, terhalang api unggun, dapat saling pandang dengan jelas karena wajah mereka diterangi cahaya api unggun yang kemerahan.

Beberapa kali Sun Ting terpesona.

Cahaya api yang hidup itu, bermain pada wajah yang jelita, membuat wanita itu nampak seperti bukan manusia, seperti seorang bidadari!

Rambut yang agak kusut itu, mata yang bersinar-sinar, bibir yang merah basah, bagian kedua pipi di bawah mata, nampak kemerahan.

Betapa indahnya!

Betapa cantik jelitanya!

Pada saat Liong-li mengangkat muka, pandang matanya bertemu dengan pandang mata Sun Ting yang kebetulan menatap padanya dengan pandang mata terpesona.

"Hemm, kenapa engkau memandang kepadaku seperti itu? Apa yang aneh pada mukaku?"

Tanya Liong-li sambil meraba pipi dengan tangan kirinya, takut kalau-kalau mukanya terkena kotoran.

"Lihiap......, maafkan aku....."

Sun Ting menundukkan lagi mukanya yang berubah kemerahan.

Dia tidak tahu betapa wanita itu memandang kepadanya dengan senyum aneh, dan betapa sepasang mata itu memandang kepadanya dengan kagum.

Seorang pemuda yang hebat, pikir Liong-li.

Begitu penuh perhatian, begitu romantis, begitu sopan!

Dan kekaguman yang terpancar dari sepasang mata itu, kekaguman bercampur rasa sayang, begitu jelas membayang, membuat hatinya berdebar kencang dan girang.

"Saudara Sun Ting, berapakah usiamu sekarang, dan berapa pula usia adikmu itu? Bagaimana keadaan keluarga kalian?"

Ia bertanya dan diam-diam Sun Ting bersyukur karena pertanyaan itu membuka jalan untuk percakapan, dan mengusir pergi perasaan tidak enak dan salah tingkahnya tadi karena dia tertangkap basah ketika memandang penuh pesona.

"Usiaku duapuluh dua......"

"Aih, kalau begitu, aku lebih tua dua tahun darimu!"

Liong-li memotong. Kini Sun Ting memandang tajam, lalu menggeleng kepalanya.

"Aku tidak percaya, lihiap!"

Liong-li mengerutkan alisnya.

"Tidak percaya? Engkau tidak percaya padaku?"

"Eh, maksudku...... aku tidak percaya bahwa usiamu sudah duapuluh empat tahun!"

Lenyap kerutan itu dan kini Liong-li tersenyum semakin lebar, sehingga wajahnya menjadi cantik manis sekali, gemilang di bawah timpaan cahaya api unggun yang bermain di wajahnya.

"Hemm, lalu kaukira berapa semestinya usiaku?"

"Menurut penglihatanku, engkau tidak akan lebih dari sembilanbelas tahun, lihiap!"

Dan wanita itu tertawa. Tertawa lepas bebas, tidak seperti wanita lain yang kalau tertawa menjadi (Lanjut ke

Jilid 21) Sepasang Naga Penakluk Iblis (Seri ke 01-Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo

Jilid 21 tersipu, menutupi mulut dan tertawa dengan sembunyi-sembunyi.

Wanita ini tertawa lepas, wajahnya agak tengadah, mulutnya terbuka sehingga nampak rongga mulut yang kemerahan, gigi yang berderet putih, lidah yang ujungnya runcing dan merah jambu, dan ketawanya mengeluarkan suara merdu seperti nyanyian.

Kembali Sun Ting terpesona.

Akan tetapi hanya sebentar Liong-li tertawa, lalu mulut itu tertutup kembali akan tetapi masih tersenyum manis, dan mata itu semakin bercahaya dan berseri penuh kegembiraan.

"Saudara Kam Sun Ting, apakah engkau tidak tahu bahwa setiap orang wanita dewasa selalu menyembunyikan jumlah usianya, dan kalau terpaksa mengaku selalu mengurangi jumlahnya? Tidak ada wanita yang menambah jumlah usianya dalam pengakuannya, demikian pula aku. Tidak mungkin aku menambah tua usiaku, walaupun aku tidak suka pula menguranginya. Aku memang sudah berusia duapuluh empat tahun!"

"Sungguh sukar dipercaya, lihiap!"

"Percaya atau tidak, itulah kenyataannya. Dan sudah tiba saatnya engkau tidak menyebut lihiap kepadaku. Ketahuilah bahwa aku dan Pek-liong-eng bukan hanya sahabat, melainkan lebih erat dari pada saudara sekandung. Engkau sudah dipercaya olehnya, berarti kini menjadi sahabat baik, maka sudah sepatutnya engkau menyebut enci (kakak perempuan) padaku, dan aku menyebut engkau...... namamu saja karena engkau pantas menjadi saudara mudaku!"

Akan tetapi Sun Ting mengerutkan alisnya. Setelah saling pandang beberapa lamanya, diapun menarik napas panjang dan tersenyum.

"Baiklah...... enci, walaupun aku akan lebih suka kalau boleh menyebutmu...... adik!"

Liong-li tersenyum lebar. Pernyataan ini semakin menyenangkan hatinya.

"Tidak boleh! Kalau engkau menyebut aku moi-moi (adik perempuan), dalam pandanganku engkau menjadi agak kurang ajar. Nah, apakah engkau ingin aku memandangmu sebagai seorang yang tidak tahu aturan?"

Sun Ting terkejut, lalu cepat bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Liong-li dengan merangkap kedua tangan depan dada lalu membungkuk.

"Maafkan, maafkan aku, enci yang baik."

Melihat ini, Liong-li tertawa lagi.

Sun Ting juga tertawa dan mereka merasa semakin akrab.

Ketika Sun Ting duduk kembali, tiba-tiba Liong-li tertawa lagi, sekali ini tertawa geli sambil menudingkan telunjuknya ke arah Sun Ting.

"Ih, engkau sungguh tidak tahu malu, Sun Ting!"

"Ehh?"

Pemuda itu mulai terkejut.

"Aku? Tidak tahu malu? Kenapa, li.... eh, enci?"

"Bukan engkau yang tidak tahu malu, kumaksudkan perutmu!"

"Perutku? Mengapa perutku......?"

Sun Ting memandang ke arah perutnya.

"Perutmu berkeruyuk tadi, sungguh tak tahu malu!"

Sun Ting terbelalak dan mukanya lalu berubah merah.

Memang perutnya tadi berkeruyuk akan tetapi bagaimana wanita ini mampu mendengarnya?

Melihat pemuda itu menjadi salah tingkah karena malu, Liong-li tertawa lagi "Bukan hanya perutmu yang berkeruyuk Sun Ting.

Perutku juga!

Apakah engkau tidak mendengarnya?

Hi-hik, perut kita memang tak tahu malu!"

Tentu saja ucapan ini mengusir rasa malu yang diderita Sun Ting, dan teringatlah dia bahwa sejak sebelum tengah hari tadi sampai sekarang mereka belum makan apa-apa.

Pantas saja perutnya lapar, dan perut Liong-li juga!

Kasihan sekali!

"Ah, aku tadi lupa membeli bekal makanan.

Bagaimana ini?

Kalau saja kita berada di dekat telaga atau sungai, tentu aku akan mampu menangkap beberapa ekor ikan untukmu, enci.

Aku lupa bahwa engkau belum makan malam.

Bagaimana ini?

Biar aku akan pergi mencari makanan untukmu."

Dia bangkit berdiri, siap untuk pergi ke mana saja untuk mencari makanan.

"Sstt...... jangan bergerak, jangan berisik, Sun Ting! Duduklah lagi dan jangan bergerak......!"

Tentu saja pemuda itu terkejut sekali dan diapun duduk kembali, memandang kepada pendekar wanita itu penuh pertanyaan. Liong-li menunjuk ke atas pohon.

"Di sana ada makanan!"

Sun Ting terbelalak dan memandang kepada gadis itu dengan sinar mata heran dan khawatir. Sintingkah wanita ini, pikirnya.

"Di mana? Di atas pohon?"

Bisiknya. Liong-li mengangguk.

"Ada daging burung panggang di sana.... ssstt, diam saja kau....."

Sepasang mata pemuda itu menjadi semakin lebar, dan kekhawatirannya bahwa gadis ini menjadi sinting semakin membesar.

Mana mungkin ada daging burung panggang di atas pohon?

Akan tetapi tiba-tiba Liong-li memandang ke atas, kedua tangannya bergerak dan nampak sinar-sinar hitam kecil berkelebat ke atas.

Kiranya ia sudah menyambitkan beberapa potong kayu ke arah pohon besar itu.

Sun Ting memandang heran dan......

berbareng dengan suara ketawa Liong-li, dari atas pohon meluncur jatuh dua ekor burung, sejenis burung kepodang yang besarnya seperti ayam muda, dan dua ekor burung itu telah tewas dengan tubuh tertusuk kayu meruncing!

Kini mengertilah Sun Ting dan dia kagum bukan main.

Kiranya bukan daging burung panggang yang dimaksudkan pendekar wanita itu, melainkan burung yang setelah tertangkap, tentu saja nanti akan menjadi daging burung panggang!

Dia bersorak dan cepat menyambar dua ekor burung itu, mengamatinya dengan penuh kagum.

"Aih, lihiap...... eh, enci yang baik! Bagaimana engkau bisa tahu di sana ada burung dan bagaimana pula dapat menyambit jatuh mereka ini, pada hal burung-burung itu tidak nampak dari sini?"

Dia menengadah. Pohon itu nampak gelap karena semua sinar bintang tertangkis oleh daun-daun lebat sebagai perisai, juga sinar api unggun tidak mencapai ketinggian pohon. Liong-li tersenyum.

"Pengalaman hidup di alam bebas yang mengajarkan aku, Sun Ting. Sudahlah, mari kita cepat membuat daging burung panggang, perut kita sudah lapar, bukan?"

Mereka bekerja dengan gembira, mencabuti semua bulu burung, kemudian mengeluarkan isi perutnya dan memanggang dagingnya setelah Liong-li menyulap keluar bumbu-bumbu yang dibawanya dalam buntalan pakaiannya.

Segera tercium bau sedap yang membuat perut mereka kini berkeruyuk tanpa malu-malu lagi?

Dan tak lama kemudian, perut mereka itupun menjadi tenang dan lega setelah semua daging burung yang lunak, segar dan sedap itu masuk ke dalamnya, didorong oleh anggur manis yang kembali disulap keluar dari dalam buntalan pakaian pendekar wanita itu.

"Nah, sekarang engkau beristirahatlah, Sun Ting. Biar aku yang berjaga di sini agar api unggun tidak padam. Nyamuk dan mungkin binatang hutan akan datang mengganggu kalau api unggunnya padam. Engkau beristirahat dan tidurlah."

Pemuda itu mengerutkan alisnya."

Aih, enci, sungguh engkau terlalu memanjakan aku, membuat aku malu saja.

Aku bukan seorang anak kecil yang perlu dilayani dan dijaga.

Aku seorang laki-laki, enci!

Dan engkau biarpun engkau lebih tua sedikit dariku, dan biarpun engkau seorang wanita perkasa yang berkepandaian tinggi, engkau tetap saja seorang wanita, sehingga sudah sepatutnya kalau engkau yang beristirahat dan tidur, sedangkan aku sebagai laki-laki yang berjaga!"

Melihat sikap tegas dan jantan itu, mau tidak mau Liong-li memandang kagum lagi.

Sun Ting ini memang seorang laki-laki pilihan, pikirnya dengan hati senang.

Iapun tersenyum manis sekali, lalu mengangguk.

"Baiklah, Sun Ting. Aku akan beristirahat sebentar dan nanti kugantikan engkau berjaga. Kita perlu mengaso dan menyimpan tenaga karena siapa tahu, besok kita akan menghadapi pekerjaan sukar dan lawan tangguh."

Wanita itu lalu merebahkan diri miring membelakangi api unggun dan Sun Ting, pemuda itu duduk menghadap api unggun dan mengamati tubuh itu dengan hati penuh kekaguman.

Sungguh seorang wanita yang hebat!

Belum pernah selama hidupnya dia merasa kagum terhadap seorang wanita seperti perasaan hatinya terhadap Liong-li ini.

Dia tahu bahwa dia telah jatuh cinta kepada pendekar wanita ini.

Dan dia tahu pula bahwa dirinya sungguh tidak berharga, sungguh tidak sepadan dengan Liong-li, bagaikan burung gagak merindukan burung Hong!

Betapa mungkin seorang laki-laki seperti dia, miskin dan yatim piatu, tidak memiliki apa-apa dan bahkan hanya seorang laki-laki lemah kalau dibandingkan Liong-li, dapat mengharapkan balasan cinta dari seorang pendekar wanita sehebat ini?

Kenyataan ini membuat dia berulang kali menarik napas panjang, sedih.

Hidup tak mungkin bebas dari pada nafsu.

Nafsu adalah pelengkap hidup.

Nafsu adalah pemberian dan anugerah Tuhan yang terbawa lahir oleh kita.

Merupakan pelengkap karena hidup ini takkan dapat berlangsung tanpa adanya nafsu.

Nafsu yang memelihara badan ini sehingga dapat menjadi sehat dan hidup.

Nafsu pula yang membuat kita manusia mampu menemukan banyak rahasia alam, membuat barang-barang yang berguna bagi kehidupan lahiriah.

Nafsu yang kita dapat menikmati hidup melalui panca indra kita.

Bahkan nafsu pula yang mendorong manusia memungkinkan berkembang biakan.

Nafsu merupakan seorang pembantu yang amat baik, merupakan kebutuhan hidup yang mutlak dan penting sekali.

Akan tetapi, nafsu juga dapat menjadi majikan yang amat jahat, kejam dan menyeret kita ke dalam lumpur kesengsaraan!

Oleh karena itu, kita membutuhkan berkah dan bimbingan Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta dan Sang Maha Kasih, agar kita tidak sampai diperalat oleh nafsu, sebaliknya kitalah yang memperalat nafsu demi kesejahteraan hidup, demi memenuhi semua kebutuhan hidup, yaitu kepentingan lahiriah!

Kalau sampai kita yang diperalat nafsu, maka mulailah kita menjadi permainannya, dan timbullah segala macam kesengsaraan yang menenggelamkan kita ke dalam duka!

Hati dan akal pikiran kita sudah bergelimang nafsu yang timbul dari daya-daya rendah.

Apapun yang menjadi hasil pikiran, sudah pasti mengandung nafsu.

Satu-satunya jalan untuk membebaskan jiwa dari cengkeraman nafsu daya rendah hanyalah penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa!

Pikiran, dengan sejuta akalnya, tidak mungkin dapat membebaskan jiwa dari belenggu, karena pikiran hanya alat, sama dengan nafsu.

Hanya kekuasaan Tuhan jualah yang dapat membebaskan jiwa dari belenggu.

Hanya kekuasaan Tuhan yang akan mampu membersihkan jiwa sehingga tidak lagi menjadi abdi nafsu, melainkan menjadi bebas, sedangkan nafsu yang tadinya menjadi penguasa, lalu hanya sekadar menjadi alat pelengkap saja.

Kembali Sun Ting menghela napas panjang.

Gairah berahinya bangkit ketika dia melihat lekuk lengkung tubuh yang rebah miring itu.

Betapa akan bahagianya dia kalau dapat mencurahkan cinta kasihnya kepada wanita luar biasa itu!

Tiba-tiba dia terkejut sendiri.

Celaka, ada hasrat yang demikian kuat mendorong agar dia mendekat, agar dia meraba, membelai dan mendekap tubuh itu.

Dan kesadarannya memperingatkannya bahwa kalau hal itu dia lakukan, maka dia akan menghadapi seorang pendekar wanita yang tentu akan marah sekali.

Mungkin dia akan dihajarnya, bahkan mungkin dibunuhnya!

Maka, dengan cepat dia membuang pandang matanya, menunduk dan melupakan Liong-li dengan memikirkan keadaan adiknya yang dia tinggalkan bersama Pek-liong.

Dia tidak tahu bahwa ucapan terakhir dari Liong-li tadi, bahwa mungkin besok mereka akan menghadapi pekerjaan sukar dan lawan tangguh, ternyata menjadi ramalan yang benar-benar akan terjadi!

Perahu besar itu meluncur ke Telaga Po-yang.

Tidak ada perahu lain berani mendekat perahu besar itu, bahkan perahu-perahu nelayan dan pelancong yang tadinya berada di tengah telaga, segera menyingkir cepat-cepat, ketika perahu besar itu meluncur datang.

Yang membuat semua orang menyingkir ketakutan adalah ketika mereka melihat tiga orang laki-laki bertubuh raksasa berdiri di kepala perahu.

Mereka itu bukan lain adalah Po-yang Sam-liong, tiga orang tokoh sesat yang menguasai seluruh telaga itu.

Tidak ada orang yang tidak gentar melihat mereka, maka perahu-perahu lain menyingkir karena mereka merasa lebih baik menjauhi tiga orang tokoh besar itu.

Karena ketakutan dan cepat menyingkir ini, maka tidak ada orang lain melihat siapa yang berada di dalam perahu besar, yang terlindung oleh atap perahu.

Pada hal, yang berada di dalam perahu besar itu adalah tokoh-tokoh yang lebih menyeramkan dari pada Po-yang Sam-liong.

Mereka adalah Siauw-bin Ciu-kwi sendiri bersama para pembantunya lengkap, yaitu Tok-sim Nio-cu, Lim-kwi Sai-kong, Pek I Kongcu dan Hek-giam-ong.

Mereka berlima ini mengepung Pek-liong dan Cian Li.

Pek-liong masih dalam keadaan dibelenggu kaki tangannya, sedangkan Cian Li duduk dengan bebas.

Gadis itu sejak tadi cemberut, mukanya sebentar pucat sebentar merah dan matanya tiada hentinya melirik ke arah Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si dengan penuh kebencian.

Wanita cantik genit ini memang sejak tadi duduk di dekat Pek-liong.

Tanpa menghirau-kan orang lain, wanita ini duduk mepet dan lengannya merangkul pinggang atau kadang juga naik ke pundak Pek-liong.

Sikapnya merayu dan memikat, beberapa kali jari-jari tangannya meraba leher dan dagu pendekar itu yang diam saja.

Sikap wanita ini tidak dihiraukan oleh Siauw-bin Ciu-kwi dan para pembantu yang lain.

Juga Pek-liong, biarpun hatinya merasa mendongkol sekali atas sikap tak sopan dan tak tahu malu wanita iblis itu, mendiamkannya saja karena dia tidak mau mencari keributan hanya soal kecil seperti itu.

Akan tetapi yang paling menderita karenanya adalah Cian Li.

Ia marah sekali, muak dan benci, akan tetapi iapun merasa tidak berdaya dan hanya dapat bersikap cemberut saja.

"Kam Cian Li, sekali ini engkau harus bekerja dengan benar-benar dan sama sekali tidak boleh membohongi kami. Ingat, kalau engkau menyelam nanti, Pek-liong berada di sini bersama kami. Engkau tidak ingin melihat dia disiksa sampai mati, bukan?"

Demikian Tok-sim Nio-cu berkata sambil meraba ke arah leher terus turun ke dada Pek-liong dengan sikap merayu dan membelai.

"Huhh!"

Cian Li membuang muka, mendengus marah. Akhirnya perahu tiba di tempat yang dimaksudkan oleh Cian Li dan perahu dihentikan, jangkar dilempar.

"Nona Kam, bersiaplah untuk menyelam, dan sekali lagi kuperingatkan, jangan engkau membuat ulah yang bukan-bukan, jangan mencoba untuk melarikan diri atau menipu kami, karena selain akhirnya engkau akan dapat kami tangkap, juga Pek-liong akan tersiksa sampai mati kalau engkau melarikan diri!"

Kata Siauw-bin Ciu-kwi. Gadis itu mengangguk dan sudah bangkit berdiri.

"Nanti dulu, Li-moi!"

Tiba-tiba Pek-liong berkata.

Gadis itu cepat menoleh kepadanya, dan semua orang juga memandang pendekar itu, dan mereka sudah siap dengan senjata mereka untuk menjaga kalau-kalau pendekar itu akan memberontak walaupun kaki dan tangannya sudah terbelenggu dengan rantai yang kuat.

"Peraturan ini sungguh tidak adil!"

Kata Pek-liong sambil memandang kepada Siauw-bin Ciu-kwi.

"Li-moi, jangan engkau mau menyelam sebelum Beng-cu berjanji bahwa engkau akan segera dibebaskan begitu menemukan peta rahasia itu! Itu hakmu dan jangan takut. Mereka ini membutuhkanmu, Li-moi. Mereka tidak akan mengganggumu sebelum engkau memperoleh peta itu!"

Siauw-bin Ciu-kwi marah sekali, akan tetapi tepat seperti yang dikatakan Pek-liong, dia tidak berani bermain kasar, takut kalau-kalau gadis itu menjadi nekat dan tidak mau mengambilkan petanya.

"Hemm, Pek-liong, engkau tidak percaya kepada kami? Apa maksudmu mencegah nona Kam bekerja?"

"Tidak! Lebih dulu engkau harus berjanji bahwa kalau nona Kam sudah mengambil peta itu dan menyerahkan kepadamu, engkau akan membebaskannya! Beng-cu, hanya dengan janji itulah nona Kan, mau menyelam!"

Pek-liong kini memandang kepada Cian Li dan gadis itupun mengangkat muka dan berkata dengan sikap angkuh dan tegas.

"Benar sekali! Biar kalian menyiksa atau membunuh aku, aku tidak akan sudi mengambilkan peta itu sebelum kalian berjanji bahwa setelah peta itu kuserahkan, kalian akan membebaskan aku dan Pek-liong!"

Siauw-bin Ciu-kwi mengerutkan alisnya.

"Dengan Pek-liong? Tidak bisa! Engkau akan kubebaskan setelah tugasmu selesai, nona, akan tetapi Pek-liong harus menebus kebebasannya dengan lebih dulu mengalahkan kami!"

"Bagus! Tantangan itulah yang kunanti-nanti, Beng-cu. Kalau memang engkau seorang laki-laki sejati, Beng-cu, aku menantangmu sekarang juga!"

Kata Pek-liong.

"Setidaknya, engkau harus berani memberikan janjimu kepada nona Kam dan tidak akan melanggarnya, demi nama baikmu!"

Wajah yang biasanya ramah kekanak-kanakan itu kini nampat muram.

"Hem, engkau sombong, Pek-liong. Sekali waktu, pasti kita akan berhadapan sebagai lawan. Sekarang ada pekerjaan yang lebih penting. Aku telah memberikan janjiku bahwa aku akan membebaskan nona Kam tanpa mengganggunya setelah tugasnya selesai! Nah, nona Kam, engkau lakukanlah tugasmu!"

Karena tidak ada janji bahwa Pek-liong akan dibebaskan pula, Cian Li memandang kepada Pek-liong.

Pendekar ini mengangguk karena tidak mungkin dia dibebaskan begitu saja mengingat bahwa dia pernah membasmi seorang di antara Kiu Lo-mo dan tentu saja hal ini mendatangkan dendam di hati Siauw-bin Ciu-kwi.

Biarpun di situ banyak orang, Cian Li tidak perduli dan ia lalu menanggalkan pakaiannya.

Di sebelah dalam, ia telah mengenakan pakaian yang pernah membuat Pek-liong mengira ia telanjang bulat.

Pakaian yang tipis ketat dan kini kembali Pek-liong memandang dengan sinar mata penuh kagum.

Lekuk lengkung tubuh gadis itu demikian sempurna, demikian indahnya sehingga dia memandang terpesona.

Dari kaki yang panjang itu sampai kepala yang tegak dan anggun, sungguh merupakan pemandangan yang amat indah dan menarik hati.

"Aih, Pek-liong, kenapa engkau memandangnya seperti itu? Percayalah, tubuhku tidak kalah indah oleh tubuhnya. Engkau tidak percaya? Biar sekarang juga aku berdiri telanjang bulat di depanmu......"

Tok-sim Nio-cu bangkit dan mulai menanggalkan kancing bajunya sehingga mulai nampak kulit dada yang putih mulus.

"Sudahlah, Niocu. Mari kita bekerja, nona Kam!"

Kata Siauw-bin Ciu-kwi tak sabar melihat tingkah Tok-sim Nio-cu yang dianggapnya mengganggu pekerjaan penting itu.

Mereka semua bangkit dan berdiri di kepala perahu.

Tok-sim Nio-cu masih merangkul Pek-liong, bahkan kini lengan kirinya melingkari pinggang Pek-liong dan jari-jari tangannya dengan mesra meraba perut pemuda itu.

Melihat ini, wajah Cian Li menjadi marah bukan main.

"Nah, engkau menyelamlah, nona Kam!"

Kata Beng-cu itu dengan hati tegang karena dia sudah membayangkan akan dapat menemukan potongan peta yang akan membuat petanya lengkap, yaitu peta tentang Patung Emas yang selain akan membuatnya kaya raya, juga akan memberi obat panjang usia yang akan membuat dia dapat berusia sampai beratus ratus tahun!

"Baik, aku akan menyelam!"

Kata Cian Li dan gadis ini lari ke pinggir perahu, akan tetapi tanpa disangka oleh siapapun juga, ia telah menabrak tubuh Tok-sim Nio-cu yang berdiri di tepi perahu pula.

"Ihhh......!"

Tok-sim Nio-cu tidak sempat mengelak sehingga tubuhnya terjungkal bersama Cian Li keluar dari perahu.

Pada saat itu, Lim-kwi Sai-kong mengulur lengannya yang panjang, mungkin untuk menyambar tubuh Tok-sim Nio-cu atau untuk menghantam ke arah tubuh Cian Li.

Melihat ini, Pek-liong menyambut dengan dorongan tangannya.

"Dukkk......!"

Dua tangan bertemu dan akibatnya, Pek-liong merasa tubuhnya tergetar dan sebaliknya, Lim-kwi Sai-kong terdorong muodur dua langkah! "Byuurrrr......!"

Air telaga muncrat ketika tertimpa tubuh dua orang wanita itu.

Tok-sim Nio-cu boleh jadi lihai sekali di atas daratan, akan tetapi begitu tubuhnya menimpa air, ia gelagapan karena ia tidak pandai renang!

"Uuuppp......

tolong.....

aeppp...

tolong......!!"

Ia menjerit-jerit, akan tetapi tiba-tiba matanya terbelalak karena kakinya ada yang menangkap dari bawah dan tubuhnya ditarik ke bawah permukaan air!

Tentu saja yang melakukan penyerangan ini bukan lain adalah Cian Li!

Sejak tadi gadis ini menahan-nahan perasaan cemburu, marah dan bencinya terhadap Tok-sim Nio-cu.

Ia maklum bahwa ia tidak berdaya di atas perahu atau di darat, akan tetapi begitu tiba di air, ia memperoleh kesempatan untuk membalas dan melampiaskan semua kemarahan dan kebenciannya kepada wanita genit itu!

Dipegangnya pergelangan kaki Tok-sim Nio-cu dan dibawanya wanita itu menyelam!

Ketika Tok-sim Nio-cu meronta-ronta, ia lalu menangkap rambut yang riap-riapan itu dan menjambak rambutnya, terus menarik ke bawah!

"Keparat!"

Lim-kwi Sai-kong marah dan sudah mencabut golok besarnya.

"Sudah, jangan berkelahi!"

Beng-cu itu membentak, lalu meneriaki Po-yang Sam-liong.

"Kalian selamatkan Nio-cu! Dan biarkan nona Kam bekerja, jangan ganggu dan bawa Nio-cu kembali ke perahu!"

Tiga orang raksasa itu lalu meloncat ke luar perahu.

Mereka adalah tiga orang tokoh Telaga Po-yang, tentu saja mereka pandai renang dan pandai menyelam, walaupun tidak sehebat Kam Cian Li atau kakaknya.

Mereka menyelam dan mereka melihat betapa Tok-sim Nio-cu meronta-ronta, akan tetapi rambutnya yang panjang sudah dijambak oleh Cian Li yang bergerak seperti ikan saja, dan tubuh Tok-sim Nio-cu terus ditarik ke bawah!

Tiga orang ini cepat mengejar dan dengan pengerahan tenaga tiga orang, barulah mereka dapat memaksa Cian Li melepaskan rambut Tok-sim Nio-cu, Po-yang Sam-liong lalu menyeret Tok-sim Nio-cu yang sudah mulai lemas itu naik ke permukaan air telaga.

Setibanya di permukaan air, Tok-sim Nio-cu terengah-engah dalam keadaan setengah pingsan dan perutnya yang ramping itu kini menggembung karena terlalu banyak minum air telaga!

Ia lalu ditolong, diangkat ke perahu dan ditelungkupkan, punggungnya ditekan-tekan sehingga air dari perut keluar melalui mulutnya.

Melihat keadaan Tok-sim Nio-cu, diam-diam Pek-liong tertawa geli.

Sungguh Cian Li merupakan seorang gadis yang hebat dan tabah sekali, pikirnya.

Akan tetapi diapun khawatir karena seorang wanita iblis macam Tok-sim Nio-cu tentu tidak akan membiarkan saja dirinya dihina seperti itu, bahkan nyaris tewas konyol di dalam air!

Sementara itu, tak jauh dari situ, dua pasang mata sejak tadi mengintai sejak perahu besar itu membuang jangkar di tempat itu.

Mereka adalah Kam Sun Ting dan Hek-liong-li!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Sun Ting dan Liong-li melakukan perjalanan cepat dan setelah terpaksa melewatkan malam di tepi hutan, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali telah melanjutkan perjalanan membalapkan kuda mereka.

Pada tengah hari, mereka tiba di Telaga Po-yang.

"Kita berhenti di sini dan titipkan kuda kita kepada seorang penduduk di sini yang kaukenal,"

Kata Hek-liong-li.

Ia sendiri tidak ikut menitipkan kuda karena ia tidak ingin kehadirannya di Po-yang diketahui orang.

Setelah kuda dititipkan, ia mengajak Sun Ting untuk mendekati telaga.

Sun Ting menjadi petunjuk jalan dan lebih dahulu mereka pergi ke rumah Sun Ting.

Ketika tiba di rumah, Sun Ting terkejut sekali melihat rumah itu dalam keadaan kacau, bahkan ada sebagian yang bekas terbakar.

Barang-barang dijungkir balikkan, dan yang membuat dia terkejut dan khawatir adalah lenyapnya adiknya yang tidak meninggalkan bekas!

Melihat kebingungan dan kegelisahan pemuda itu, Liong-li yang sejak tadi bersikap tenang saja lalu berkata, suaranya tidak lagi ramah seperti biasa, melainkan tegas dan berwibawa sehingga Sun Ting merasa terkejut.

"Sun Ting, bukankah ketika engkau pergi, adikmu yang bernama Cian Li itu bersama dengan Pek-liong-eng?"

Walaupun terkejut melihat perubahan sikap ini, Sun Ting menjawab dan merasa seolah-olah kini dia berhadapan dengan seorang pemimpin.

"Benar sekali......, enci Cu!"

Biasanya, sudah begitu enak menyebut wanita itu enci Kim Cu atau enci Cu begitu saja, akan tetapi melihat sikap wanita itu sekarang, dia merasa akan lebih enak kalau menyebutnya lihiap.

Mendengar jawaban itu, Liong-li lalu melakukan penyelidikan, meneliti seluruh keadaan rumah itu, kemudian ia keluar dan termenung di luar rumah.

Ia melihat tanda-tanda perkelahian di rumah itu, bahkan dia melihat bekas banyak sekali darah di kamar.

Ada yang luka parah atau terbunuh agaknya.

Dan Cian Li lenyap.

Bahkan Pek-liong juga lenyap.

Kalau Pek-liong ada dan masih bebas, tentu sekarang sudah menyambut kedatangannya.

Tidak adanya Pek-liong menyambut, berarti bahwa Pek-liong tidak mampu melakukannya, terhalang oleh hal yang amat penting atau......

tertawan musuh!

"Mari kita selidiki di rumah-rumah penginapan!

Siapa tahu Pek-liong berada di sana atau setidaknya pernah bermalam di sana,"

Katanya dengan sikap memerintah.

"Baik, ......lihiap."

Mendengar sebutan ini, Liong-li menatap wajah pemuda itu, akan tetapi tidak menegurnya.

Agaknya ia berpikir bahwa dalam keadaan serius seperti itu, sebaiknya kalau pemuda ini menganggapnya sebagai seorang atasan atau pemimpin agar ada keseriusan di antara mereka.

Tidak sukar bagi Sun Ting untuk menyelidik dan menemukan rumah penginapan di mana adiknya dan Pek-liong bermalam, malam kemarin.

"Mereka berdua pergi meninggalkan kamar tanpa pamit,"

Kata pengurus rumah penginapan.

"Entah ke mana. Akan tetapi buntalan pakaian mereka masih ada."

Mendengar ini, Sun Ting yang sudah mengenal pemilik rumah penginapan, lalu mendekatinya dan bertanya dengan suara lirih.

"Toako, katakanlah terus terang, apakah pada hari-hari kemarin engkau tidak melihat mereka?"

Pemilik rumah penginapan itu mengamati wajah penanyanya, lalu balas berbisik.

"Siapa yang kau maksudkan dengan mereka?"

"Maksudku Po-yang Sam-liong...... toako, jangan takut, engkau mengenal aku, bukan? Katakan apa engkau atau orang-orangmu pernah melihat mereka......"

"Ada hubungannya dengan adikmu yang kaucari-cari ini?"

Tanyanya, juga berbisik.

"Jangan kau khawatir, adikmu di sini bersama seorang pemuda tampan. Hemm, pacarnyakah itu? Kapan menikahnya?"

Suara pemilik rumah penginapan itu terdengar pahit. Kiranya dia pernah tergila-gila kepada Kam Cian Li, mengajukan pinangan namun ditolak oleh gadis itu.

"Tidak, hanya teman. Toako, katakanlah tentang mereka itu......"

Kam Sun Ting mendesak.

"Hemm, siapa memperdulikan mereka? Akan tetapi pernah kemarin dulu aku melihat mereka di kuil tua di luar kota itu."

"Kuil tua tak terpakai di luar kota sebelah utara?"

Tanya Sun Ting kepada si pemilik rumah penginapan. Yang ditanya mengangguk dan kini Liong-li segera berkata.

"Sun Ting, mari kita pergi!"

Dan ia mendahului pemuda itu pergi meninggalkan rumah penginapan. Sebelum Sun Ting menyusul pergi, pemilik rumah penginapan itu memegang lengannya.

"Hei, Sun Ting, siapakah itu? Pacarmukah? Begitu cantik jelita!"

Katanya kagum sambil memandang bayangan gadis cantik berpakaian serba hitam itu.

"Hssss, hanya teman,"

Jawab Sun Ting dan diapun berlari meninggalkan temannya yang masih bengong, mengejar Liong-li.

Setelah tiba di luar kota, payahlah Sun Ting yang harus mengerahkan seluruh tenaganya mengejar Liong-li yang berjalan dengan cepat sekali.

Sambil berjalan cepat, Liong-li memperhatikan sekitar tempat itu, bahkan memperhatikan jalan yang dilaluinya.

Setibanya di luar kuil, Liong-li tiba-tiba berhenti dan matanya memandang ke arah tembok kuil.

"Lihiap, bagaimana dengan penyelidikanmu! Kaupikir apa yang telah terjadi dengan adikku! Ia tidak berada dalam bahaya, bukan?"

Pendekar wanita itu mengerutkan alisnya, tidak menjawab, bahkan ia lalu menghampiri kuil dan mengamati bagian yang agak tersembunyi dari dinding kuil.

Ada semak-semak di dekat dinding, akan tetapi agaknya ia melihat sesuatu lalu menyingkap semak-semak itu.

Sun Ting ikut pula melihat apa yang terdapat di balik semak-semak itu.

Hanya coretan dengan bata, coretan kasar menggambarkan sebuah bukit yang ditumbuhi sebatang pohon dan di bawah pohon ada garis menurun.

Bagi orang lain, gambar itu tidak ada artinya, juga bagi Sun Ting yang menganggap coretan itu hanya coretan yang dilakukan anak-anak iseng, mungkin anak penggembala kerbau yang iseng.

Akan tetapi pendekar wanita berpakaian serba hitam itu mengamatinya dengan penuh perhatian.

"Ada apakah, lihiap?"

Sun Ting bertanya lirih.

Akan tetapi seperti juga tadi, wanita itu tidak menjawab dan sungguh aneh, alisnya berkerut dan dahinya penuh peluh!

Dia sama sekali tidak tahu bahwa memang terdapat hubungan yang amat aneh antara Pek-liong-eng dan Hek-liong-li.

Seolah-olah jalan pikiran kedua orang sakti ini memiliki jalur atau gelombang yang sama sehingga apa yang dimaksudkan oleh seorang, mudah dimengerti yang lain.

"Sun Ting, adakah bukit terdekat di sini?"

"Kita ini berada di lereng sebuah bukit, lihiap."

"Katakan cepat, apakah ada sebatang pohon besar di sini, pohon besar yang berdiri sendiri, pohon tua dan rindang daunnya?"

Biarpun merasa terheran-heran, Sun Ting mengingat-ingat. Dia sudah hafal akan keadaan bukit itu, maka cepat dia dapat menjawab.

"Memang ada, lihiap. Pohon tua dan besar, tak jauh dari sini, letaknya di belakang kuil, dari sini tidak nampak, terhalang rumpun bambu."

"Mari cepat antar aku ke sana!"

Biarpun merasa heran dan tidak mengerti, Sun Ting yang maklum bahwa semua itu tentu amat penting dan agaknya ada hubungannya, dengan lenyapnya Cian Li, dia mengangguk dan cepat menjadi penunjuk jalan.

Tak lama kemudian tibalah mereka di bawah pohon besar itu.

Makin heran hati Sun Ting ketika melihat bahwa gadis itu sama sekali tidak memperhatikan pohon, bahkan melongok ke bawah, ke sebuah jurang yang berada di dekat pohon.

Pohon raksasa itu tumbuh di tebing jurang yang amat curam.

"Sun Ting, engkau menungguku di sini dulu. Kalau ada orang melihatmu dan bertanya, kau cari alasan, akan tetapi jangan katakan bahwa aku menuruni jurang ini."

Sun Ting terbelalak.

"Menuruni jurang? Lihiap, betapa bahayanya itu! Mau apa menuruni jurang?"

"PENTING! Belum saatnya bicara sekarang. Kau tunggu di sini!"

Dan tiba-tiba saja tubuh yang ramping itu sudah bergantung pada akar pohon dan sebentar saja lenyap ke bawah tebing yang amat curam!

Wajah Sun Ting menjadi pucat, jantungnya berdebar penuh kekhawatiran.

Akan tetapi dia tidak berani menjenguk ke tepi tebing jurang, karena selain dia merasa terlalu ngeri, juga dia takut kalau ada orang melihat dia menjenguk ke bawah.

Maka, diapun pura-pura kepanasan dan membuka baju, duduk seperti orang berteduh di bawah pohon itu.

Akan tetapi matanya hampir tak pernah berkedip memandang ke tepi jurang ke mana pendekar wanita itu tadi lenyap.

Ternyata tidak lebih dari dua menit Liong-li menuruni jurang.

Dua menit yang bagi Sun Ting sama dengan dua jam!

Dan wajah pendekar wanita itu berseri, mulutnya terhias senyuman yang membuat wajahnya menjadi semakin manis.

Tanpa setahu Sun Ting, kini di pinggangnya terselip dua batang pedang.

Kalau tadinya ketika menuruni jurang ia hanya membawa pedangnya sendiri, yaitu Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam) yang agak pendek, kini setelah muncul dari jurang ia membawa pula Pek-liong-kiam (Pedang Naga Putih) yang lebih panjang di pinggangnya.

Selain itu, juga ia mengantongi sehelai kertas yang memuat tulisan singkat.

Bunyi surat tulisan Pek-liong itu seperti berikut.

"Terpaksa menyerah karena gadis itu mereka tawan. Entah akan dibawa ke mana. Cari Po-yang Sam-liong."

Hanya itulah isi tulisan, tanpa disehut namanya atau nama pengirim.

Akan tetapi baginya sudah jelas sekali.

Sahabatnya itu dipaksa menyerah kepada pihak musuh karena mereka telah menawan gadis she Kam adik Sun Ting itu!

Dan ia harus mencari Po-yang Sam-liong.

Hal ini berarti bahwa di antara para musuh itu terdapat Po-yang Sam-liong yang tentu akan dapat membawa ia ke sarang gerombolan musuh.

Gawat!

"Bagaimana, lihiap?"

Melihat kekhawatiran dan ketegangan membayang pada pandang mata pemuda itu, Liong-li berpendapat bahwa sebaiknya pemuda itu diberitahu akan keadaan yang sebenarnya.

Dia perlu ketenangan agar dapat merupakan pembantu yang berguna.

"Mari kita berjalan menuju ke telaga, Sun Ting. Benarkah dugaanku bahwa untuk mencari Po-yang Sam-liong, sebaiknya kita pergi melakukan penyelidikan ke Telaga Po-yang?"

Pemuda itu mengangguk, hatinya penuh ketegangan dan mereka lalu meninggalkan tempat itu, menuruni bukit menuju ke telaga yang nampak dari lereng itu.

"Sun Ting, tenangkan hatimu. Mereka, Pek-liong-eng dan adikmu itu, telah menjadi tawanan musuh."

"Ah! Tentu Po-yang Sam-liong dan kawan-kawannya!"

Sun Ting mengepal tinju.

"Akan tetapi Pek-liong-eng demikian lihainya, bagaimana mungkin dia dapat tertawan?"

"Mereka lebih dulu menawan adikmu dan memaksa Pek-liong-eng untuk menyerah. Kita tidak tahu mereka dibawa ke mana, dan hanya Po-yang Sam-liong yang mengetahuinya. Maka, kita harus mencari mereka secepat mungkin. Mari kita menyewa perahu."

"Nanti dulu, lihiap. Untuk melawan Po-yang Sam-liong dan kawan-kawannya amatlah berbahaya. Akan tetapi kalau berada di air, biar dikeroyok mereka bertiga, aku sanggup mengalahkan mereka. Lihiap sebaiknya membawa bekal perlengkapan renang dan menyelam, untuk persiapan kalau-kalau semua itu lihiap perlukan."

Karena ia sendiri bukan seorang ahli renang yang hebat, hanya sekedar dapat mencegah tenggelam saja, Liong-li menurut.

Yang dibawa oleh Sun Ting adalah sepasang sepatu yang lebar seperti cakar bebek, dan sebuah pipit lemas kecil yang panjang.

Pipa lemas ini dapat dipergunakan untuk bernapas di dalam air selagi menyelam, karena ujungnya diberi pengapung sehingga pipa itu ujungnya akan selalu berada di atas permukaan air dan dapat menyalurkan udara baru kepada si penyelam.

Setelah membawa perlengkapan dan mengajarkan kepada Liong-li, bagaimana mempergunakan benda-benda itu, mereka lalu naik sebuah perahu kecil, tidak menyewa, melainkan perahu milik Sun Ting sendiri.

Untuk menyembunyikan diri, mereka berdua mempergunakan caping yang lebar sekali, yang biasa dipergunakan para nelayan untuk melindungi muka mereka dari terik matahari kalau mereka mencari ikan di telaga.

Caping lebar itu diberi tali yang dikalungkan di bawah dagu sehingga tidak terbang terbawa angin.

Mereka mendayung perahu sambil menyembunyikan muka di balik caping, berputar-putaran dan akhirnya dari jauh mereka melihat perahu besar yang ditumpangi Po-yang Sam-liong!

Melihat mereka, Sun Ting cepat mendayung perahunya menjauh.

"Itulah mereka......!"

Bisiknya kepada Liong-li.

Wanita perkasa ini melihat ke arah Sun Ting menunjuk dan melihat perahu besar itu.

Yang nampak dari situ hanyalah tiga orang laki-laki raksasa yang berdiri di kepala perahu.

Dengan otaknya yang cerdik dan cekatan sekali, Liong-li bertanya.

"Mereka yang disebut Po-yang Sam-liong?"

"Benar."

"Hemm, tentu ada banyak orang lain di sana. Mari kita mendekat, Sun Ting."

Sun Ting menggelengkan kepalanya.

"Tidak mungkin mendekat. Mereka akan curiga dan kita akan ketahuan."

"Ah, bukankah telaga ini tempat umum dan kita sudah menyamar dalam pakaian nelayan? Caping ini dapat menyembunyikan muka kita."

"Engkau tidak mengerti, enci."

Dia berhenti sebentar, tergagap dan Liong-li tersenyum dan dapat mengerti apa yang menyebabkan pemuda itu tergagap.

"Sun Ting, engkau boleh saja menyebut lihiap atau enci, seenak mu sajalah, bagiku sama saja. Nah, teruskan keteranganmu."

Sun Ting bernapas lega.

Memang, dalam keadaan tegang, dia merasa sukar menyebut enci, lebih suka menyebut lihiap karena sebutan ini selalu mengingatkan dia bahwa wanita ini memiliki kesaktian, lihai sekali dan boleh dipercaya, boleh diandalkan.

Namun, dalam keadaan tenang, dia memang lebih sering menyebut enci, sebutan yang lebih akrab.

"Begini, enci. Coba kaulihat di sana itu. Semua perahu, besar atau kecil, yang bertemu dengan perahu besar itu, pasti menyimpang dan menyingkir jauh-jauh. Kalau perahu kita mendekat, hal itu akan nampak luar biasa sekali dan pasti menarik perhatian Po-yang Sam-liong. Kita sama sekali tidak boleh mendekatkan perahu, hal itu akan menggagalkan penyelidikan kita."

Liong-li mengangguk girang. Pemuda inipun pandai mempergunakan otaknya! "Habis, kalau tidak mendekatkan perahu, bagaimana kita akan dapat melakukan penyelidikan?"

Pemuda itu tersenyum, senyum kemenangan karena baru sekarang dia merasa "lebih"

Dibandingkan Liong-li.

Dan wanita perkasa itu, memandang dengan sinar mata kagum.

Bukan main gantengnya pemuda ini kalau sudah tersenyum seperti itu, pikirnya, akan tetapi segera ditekannya gairah hatinya.

"Enci, sebaiknya kita membayangi mereka dari jauh saja, pura-pura kita mencari ikan dengan demikian mereka tidak mencurigai kita dan kita akan tahu ke mana perahu mereka pergi. Kalau mereka sudah menghentikan perahu, barulah kita mendekat, akan tetapi tanpa menggunakan perahu lagi. Kita dapat berenang mendekati mereka."

Liong-li merasa kurang jelas.

"Kita sudah membawa perlengkapan sehingga dapat mengintai dengan berenang, akan tetapi tentu mereka akan melihat kita?"

"Tidak, enci. Kita dapat bersembunyi di situ."

Pemuda itu menunjuk ke kiri dan Liong-li melihat daun dan bunga teratai yang lebat terapung di permukaan air. Ia tersenyum dan memandang wajah pemuda itu dengan kagum.

"Engkau hebat, Sun Ting!"

Sun Ting menjadi gembira sekali dan diapun cepat mengambil tumbuh-tumbuhan yang terapung di permukaan air itu, memasukannya ke dalam perahunya.

Kemudian, perlahan-lahan mereka mendayung perahu, mengikuti perahu besar Po-yang Sam-liong itu dari kejauhan.

Setelah perahu besar itu berhenti dan melempar jangkar di tengah telaga, Sun Ting bergumam lirih, dan menghentikan perahunya.

"Aneh, mereka berhenti di tempat yang biasa kami pergunakan untuk mencari batu dari dasar telaga!"

"Hemm, agaknya ada hubungannya dengan pekerjaanmu itu, Sun Ting. Kita harus menyelidiki ke sana."

"Memang sebaiknya kita mendekat dengan berenang dan kita meninggalkan perahu di sini."

Karena merasa bahwa di air dialah yang dapat memimpin, Sun Ting dengan cekatan lalu melemparkan jangkar untuk menahan perahu, dan dia membuka pakaian luarnya.

Dengan hati bangga dia melihat betapa pandang mata wanita jelita itu ditujukan kepada tubuhnya dengan kekaguman yang tidak disembunyikan.

Memang, Liong-li memandang tubuh pemuda itu dengan kagum.

Tubuh yang biasa bermain dalam air itu memang tegap, dengan otot-otot sempurna menggembung di balik kulit yang halus.

Dadanya bidang, dengan tonjolan-tonjolan sempurna, pinggang ramping dan perut kempis, paha dan betisnya seperti kaki katak.

Ia sendiripun menanggalkan pakaian luarnya dan ia tersenyum ketika kini tiba giliran Sun Ting untuk mengamati tubuh yang padat dengan lekuk lengkung tubuh seorang wanita yang masak itu.

Liong-li mengenakan tambahan kaki katak untuk memudahkan ia bergerak dalam air, dan membawa pipa kecil untuk dipakai mengambil napas ke permukaan air di waktu menyelam.

Kemudian, keduanya berenang sambil bersembunyi di bawah atau di antara daun-daun dari bunga teratai, mendekati perahu besar.

Demikianlah.

dengan bersembunyi di balik bunga teratai mereka mengintai dan alangkah kaget hati mereka ketika melihat Pek-liong dan Cian Li telah menjadi tawanan di perahu itu.

Dari tempat persembunyiannya, Liong-li mengamati orang-orang yang berada di dalam perahu, maklum bahwa mereka itu tentulah orang-orang pandai dan tokoh-tokoh dunia hitam.

Ia melihat pula Pek-liong yang berdiri dengan sikapnya yang tenang.

Melihat sahabat dan rekannya ini, berdebar rasa jantung dalam dada Liong-li.

Betapa sudah amat rindunya kepada Pek-liong!

Dan Pek-liong kelihatan sehat, bahkan lebih tegap dan lebih gagah dari pada dahulu.

Sikapnya yang tenang itu, walaupun kaki dan tangannya dibelenggu rantai, membuat hati Liong-li merasa terharu bercampur bangga.

Tidak ada orang kedua segagah dan setabah Pek-liong, juga amat cerdik dan berani menghadapi ancaman maut tanpa berkedip mata!

Iapun melihat seorang gadis cantik manis yang kelihatan cemberut dan khawatir, kemudian melihat gadis itu membuka pakaian luarnya.

Liong-li memandang kagum.

Seorang gadis yang memiliki bentuk tubuh indah.

Ia teringat akan keindahan bentuk tubuh Sun Ting.

"Apakah gadis itu adikmu yang bernama Kam Cian Li itu?"

"Benar, cici, dan aku merasa heran sekali apa yang ia akan lakukan di sana itu. Ia menanggalkan pakaian, mengenakan pakaian selam, itu berarti ia akan menyelam."

Sun Ting termenung lalu melanjutkan dengan ragu dan khawatir.

"Akan tetapi, kenapa......?"

Liong-li mengerutkan alisnya yang berbentuk indah.

"Mari kita renungkan sebentar,"

Bisiknya.

"Pek-liong menyerah karena Cian Li ditawan, dan kini mereka berdua dibawa ke sini oleh para penjahat itu. Pek-liong dibelenggu dan kelihatan tidak melawan sedangkan adikmu itu kini hendak menyelam. Hemm, agaknya ini ada hubungannya dengan rahasia peta Patung Emas!"

"Peta Patung emas?"

Sun Ting bertanya heran.

"Itulah yang diperebutkan oleh kawanan penjahat itu, demikian menurut isi surat Pek-liong. Agaknya kini adikmu dipaksa untuk menyelam dan mencari sesuatu, dan Pek-liong tidak berdaya selama adikmu menjadi tawanan mereka."

"Kalau begitu, biar aku menyelam dan menghubungi adikku di dalam air......"

"Jangan dulu. Lihat......!"

Pada saat itulah Cian Li mendorong Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si dan kedua orang wanita itu terjatuh ke dalam air.

Mereka melihat betapa Tok-sim Nio-cu kelabakan di dalam air kemudian tenggelam seperti diseret ke bawah.

"Ha-ha, bagus adikku! Seret mereka satu demi satu ke bawah air sampai mereka mati lemas!"

Sun Ting berkata girang.

"Biar aku membantunya!"

Akan tetapi Liong-li menangkap lengannya.

"Jangan, kita lihat bagaimana perkembangannya. Kaulihat, biarpun terbelenggu, Pek-liong mampu melindungi adikmu. Ketika raksasa pakaian hitam itu tadi memukul ke arah adikmu yang menerjang wanita cantik itu, Pek-liong menangkisnya. Dan raksasa itu bertenaga besar. Benar Pek-liong, mereka mempunyai banyak kaki tangan yang pandai. Kita harus berhati-hati dan melihat dulu perkembangannya sebelum turun tangan."

Sementara itu, Pek-liong tersenyum gembira melihat betapa Cian Li telah mampu melampiaskan amarahnya kepada Tok-sim Nio-cu, wanita lihai itu tanpa si wanita sesat mampu membela diri!

Sungguh Cian Li amat hebat, penuh keberanian, pikirnya.

Melihat betapa Tok-sim Nio-cu masih terengah-engah biarpun perutnya sudah kempis kembali, wajahnya pucat dan matanya liar, dia tidak dapat menahan ketawanya.

Apa lagi melihat rambut itu basah awut-awutan, pupurnya luntur dan pakaiannya juga basah kuyup.

Seperti seekor kucing yang tadinya angkuh memamerkan kecantikannya, kini basah kuyup dan jelek!

Akan tetapi, dia melihat sinar maut berkilat di mata Tok-sim Nio-cu setiap kali wanita itu memandang ke arah air.

Berbahaya, pikirnya.

Wanita ini bisa berbahaya sekali dan mungkin saja dalam kemarahannya ia akan membunuh Cian Li begitu gadis itu muncul kembali ke atas.

"Beng-cu, kalau aku menjadi engkau, aku akan berhati-hati agar jangan sampai namaku menjadi rusak sebagai orang yang suka melanggar janjinya terhadap nona Kam Cian Li!"

Kata Pek-liong sambil tersenyum mengejek. Siauw-bin Ciu-kwi mengerutkan alisnya.

"Hemm, aku bukan seorang yang suka melanggar janjiku. Aku seorang beng-cu, mengerti? Seorang beng-cu, seperti seorang raja, tidak akan melanggar janji!"

"Akan tetapi ada orang lain yang akan membuat engkau terpaksa melanggar janjimu, beng-cu. Aku khawatir begitu nona Kam muncul, ia akan dibunuh oleh Tok-sim Nio-cu!"

Siauw-bin Ciu-kwi menoleh kepada Tok-sim Nio-cu dan matanya berkilat.

"Ia tidak akan berani!"

Ucapan ini sudah cukup bagi Pek-liong, karena itu merupakan jaminan keselamatan bagi Cian Li.

Tok-sim Nio-cu jelas tidak akan berani turun tangan mengganggu Cian Li.

Tok-sim Nio-cu menyeringai dan memandang kepada Pek-liong.

Kemarahannya terhadap Cian Li lebih besar dari pada gairahnya terhadap Pek-liong.

"Pek-liong. kaukira aka tidak akan dapat membalasnya kelak setelah ia dibebaskan oleh beng-cu? Hemmm, kelak akan kubikin hancur seluruh tubuhnya, kulit mukanya akan kusayat-sayat!"

Di dalam batinnya, Pek-liong berjanji.

"Sebelum kaulakukan itu, engkau akan lebih dulu kubunuh!"

Akan tetapi pada saat itu, semua orang memperhatikan munculnya sebuah kepala di permukaan air.

Kepala Cian Li!

Gadis itu mengguncang kepala sehingga rambut yang basah kuyup dan menutupi mukanya itu tersibak dan nampaklah mukanya yang cantik dan kemerahan.

Ia mengambil pernapasan panjang di atas permukaan air, lalu nampak tangan kanannya yang memegang sebuah guci.

Dari jauh, Sun Ting berbisik heran.

"Aih, benda apakah yang berada di tangan Cian Li itu? Aku tidak pernah melihatnya."

"Sttt......, kulihat itu sebuah guci. Dan adikmu menyerahkannya kepada si gendut kepala botak. Hemm, agaknya dia itulah yang berjuluk Siauw-bin Ciu-kwi, seorang di antara Kiu Lo-mo! Dan lihat, semua orang kini mengepung dan mengancam Pek-liong!"

Dua orang pengintai itu memandang dengan khawatir.

Memang kini setelah Cian Li naik ke atas perahu, ia menyerahkan guci itu kepada Siauw-bin Ciu-kwi dan memang sudah diatur sebelumnya, Siauw-bin Ciu-kwi yang menerima guci itu kini berdiri di belakang Pek-liong sambil mendekatkan tangan, siap menyerang, sedangkan para pembantunya juga semua telah menodongkan senjata kepada pendekar yang sudah dibelenggu kaki tangannya itu.

"Heil! Apa artinya lelucon ini, Siauw-bin Ciu-kwi?"

Bentak Pek-liong.

"Kalian memang tak tahu malu!"

Tiba-tiba Cian Li membentak dengan suara nyaring.

"Kalian sudah berjanji akan membebaskan aku kalau aku menyerahkan peta itu, dan sekarang kalian malah mengancam Hay-koko?"

Mendengar gadis itu menyebut Hay-koko kepada Pek-liong, dan melihat sikapnya yang demikian beraninya untuk membela Pek-liong, Liong-li tersenyum.

Sikap dan kata-kata itu saja sudah jelas baginya untuk menduga bahwa seperti banyak wanita lain, gadis penyelam yang bertubuh indah dan berwajah manis itu telah jatuh cinta kepada Pek-liong-eng Tan Cin Hay!

"Ha-ha-ha, aku memang sudah berjanji untuk membebaskanmu, nona Kam dan aku Siauw-bin Ciu-kwi tidak akan menarik kembali janjiku kepadamu!

Akan tetapi aku tidak pernah berjanji untuk membebaskan Pek-liong!

Khawatir kalau-kalau dia akan membuat banyak ulah, maka dia harus dijaga sebelum aku melihat apakah peta yang kauberikan kepadaku ini tulen ataukah palsu!"

Setelah berkata demikian, Siauw-bin Ciu-kwi yang membiarkan para pembantunya menodongkan senjata mereka kepada Pek-liong, dia sendiri lalu membuka tutup guci dan mengeluarkan isinya.

Segulung peta yang sama benar dengan peta yang berada di tangannya, yaitu bagian yang hilang.

Dia cepat membuka gulungan peta itu, mencocokkan dengan bagian yang berada padanya dan ternyata memang peta yang diserahkan Cian Li itu merupakan sambungan peta yang dia dapatkan!

Dan setelah disambung, baru mudah dimengerti bahwa peta itu menunjukkan di mana adanya Patung Emas!

Dengan sepasang matanya yang mencorong kejam itu, Siauw-bin Ciu-kwi mempelajari peta dan wajahnya berseri.

Dia sudah memperoleh petunjuk di mana adanya Patung Emas!

Menurut petunjuk peta yang sudah digabungkan itu, Patung Emas ternyata disembunyikan di dasar telaga itu, di bagian barat dengan ukuran lima tombak dari pulau kecil yang menonjol keluar selebar beberapa meter persegi.

Tempat itu mudah dicari!

Akan tetapi diapun menyadari bahwa untuk mengambil patung itu, dibutuhkan tenaga seorang penyelam yang pandai!

Maka, dia masih membutuhkan tenaga nona Kam Cian Li!

Pada hal, dia telah berjanji membebaskannya.

Tiba-tiba saja Siauw-bin Ciu-kwi meloncat dan tangan kanannya membuat gerakan seperti hendak mencengkeram ke arah kepala Pek-liong.

Melihat ini, Pek-liong terkejut.

"Siauw-bin Ciu-kwi, engkau hendak membunuhku secara pengecut?"

Dia sudah siap untuk melawan mati-matian. Akan tetapi beng-cu itu tidak melanjutkan serangannya, melainkan berkata kepada Cian Li.

"Nona Kam Cian Li, aku sudah berjanji bahwa engkau akan kubebaskan kalau sudah menyerahkan peta. Peta ini memang tulen dan engkau boleh bebas. Akan tetapi, kalau engkau pergi sekarang dan tidak mau membantu kami sekali lagi, terpaksa aku akan membunuh Pek-liong di depanmu sebelum engkau pergi!"

Tentu saja Cian Li terkejut bukan main dan matanya terbelalak memandang kepada Pek-liong. Ia (Lanjut ke

Jilid 22) Sepasang Naga Penakluk Iblis (Seri ke 01-Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo

Jilid 22 tidak perduli betapa ada beberapa pasang mata dari para pembantu beng-cu itu melotot penuh gairah memandang kepadanya, terutama kepada tubuhnya yang seperti telanjang bulat saja karena pakaian selam yang menempel di tubuhnya ketat seperti kulit kedua karena basah.

"Apa...... apa maksudmu? Aku akan membantu kalian, asal kalian sekali ini berjanji tidak akan membunuh Hay-koko!"

"Bagus! Kuterima syaratmu itu, nona Kam. Menurut peta ini, tempat penyimpanan Patung emas berada di dasar telaga pula, di bagian lain dekat pulau kecil di sebelah barat. Nah, engkau harus menyelam sekali lagi untuk mengambilkan patung emas itu untuk kami, dan kami berjanji bahwa kami tidak akan membunuh Pek-liong!"

"Cian Li, jangan percaya mereka......!"

Pek-liong berseru akan tetapi tiba-tiba saja tangan kiri Siauw-bin Ciu-kwi bergerak menotok punggungnya dan Pek-liong roboh dengan tubuh lemas.

"Apa yang kaulakukan ini?"

Cian Li berteriak dan matanya terbelalak memandang kepada Pek-liong yang sudah tidak berdaya dan terkulai itu.

"Aku hanya menotoknya agar dia tidak dapat sembarangan memberontak dan membikin kacau. Sekali lagi kujanjikan, nona Kam, bahwa kalau engkau suka membantu kami, sekali lagi menyelam untuk mengambil patung emas dari dasar telaga, maka aku tidak akan membunuh Pek-liong!"

"Engkau mau bersumpah bahwa engkau tidak akan membunuh Hay-koko?"

Cian Li mendesak.

Siauw-bin Ciu-kwi tersenyum menyeringai.

Kalau saja dia tidak membutuhkan bantuan gadis itu, tentu pertanyaan itu saja sulah menjadi alasan cukup baginya untuk membunuh Cian Li!

"Aku bersumpah tidak akan membunuh Pek-liong kalau engkau berhasil mengambil patung emas dari dasar telaga!"

"Baik, mari bawa aku ke tempat itu dan aku akan membantumu mengambil patung emas,"

Kata Cian Li dengan hati lega.

Sementara itu, Pek-liong maklum bahwa dia tentu saja tidak mungkin dapat mempercaya orang sejahat Siauw-bin Ciu-kwi.

Dia harus bertindak cerdik karena dia harus menyelamatkan diri sendiri, juga menyelamatkan Cian Li.

Kalau saja gadis itu sudah bebas, dia tidak begitu khawatir lagi.

Betapapun juga, dia harus berhati-hati karena dia maklum bahwa selain lihai, juga Siauw-bin Ciu-kwi amat cerdik.

Ketika melihat perahu besar itu mengangkat jangkar dan bergerak menuju ke barat, Liong-li dan Sun Ting juga sudah berada di perahu kecil mereka dan mendayung perlahan-lahan membayangi perahu besar itu dari jauh.

Baru setelah perahu besar berhenti melempar jangkar keluar mereka berdua juga menghentikan perahu mereka dan seperti tadi, mereka mendekati perahu, bersembunyi di balik tumbuhan bunga teratai sampai mereka berada dekat dan bukan hanya dapat melihat, akan tetapi juga dapat mendengar percakapan di atas perahu besar.

Melihat daerah di mana perahu besar berhenti, Cian Li terkejut dan ia segera berkata kepada Siauw-bin Ciu-kwi.

"Aih, daerah ini merupakan bagian paling dalam dari telaga! Tidak mudah mencari barang di dasar yang amat dalam ini. Aku tidak akan dapat bertahan lama di bawah sana. Terlalu dalam!"

Dengan mata terbelalak ngeri Cian Li yang berdiri di kepala perahu melihat ke air yang nampak agak kehitaman tanda bahwa bagian itu memang dalam sekali. Tiba-tiba terdengar teriakan.

"Li-moi, jangan mau menyelam di situ. Berbahaya sekali......!"

Semua orang menengok dan melihat seorang laki-laki berenang dengan gerakan kuat dan cepat sekali menuju ke perahu besar. Melihat orang itu, Siauw-bin Ciu-kwi menyeringai.

"Nona Kam, bukankah dia itu kakakmu?"

Sementara itu, melihat munculnya Sun Ting yang sama sekali tidak disangka-sangkanya, Cian Li terkejut.

"Koko, kenapa kau ke sini? Pergilah cepat......!"

"Tidak, aku harus membantumu!"

Kata Sun Ting dan dia sudah merayap naik ke perahu melalui rantai jangkar, dengan gerakan yang cekatan.

Di lain saat dia telah berada di atas perahu besar.

Sedetik dia bertemu pandang dengan Pek-liong, akan tetapi Sun Ting seperti tidak perduli kepada pendekar itu, Dia memandang kepada Cian Li penuh kekhawatiran.

Akan tetapi tiba-tiba, beberapa batang senjata telah menodong tubuh Sun Ting.

Pemuda ini membalik, memandang kepada Siauw-bin Ciu-kwi dan berkata dengan suara lantang mengandung kemarahan.

"Kalian sungguh kejam! Kalian hendak memaksa adikku menyelam di tempat yang amat dalam ini?"

Siauw-bin Ciu-kwi tersenyum lebar, hatinya girang sekali melihat munculnya kakak gadis itu.

"Ha-ha-ha, ia sudah berjanji akan membantu kami mengambil patung emas di dasar telaga ini."

"Koko, dia memaksaku, kalau aku tidak mau, dia akan membunuh Hay-ko? Untuk keselamatan Hay-ko aku terpaksa menyanggupi."

"Benar ucapannya itu, orang muda. Ia sudah berjanji dan akupun sudah berjanji tidak akan membunuh Pek-liong kalau ia bisa mengambilkan patung emas yang berada di dasar telaga ini. Kalau engkau melihat bahwa tempat ini dalam dan berbabaya, tentu saja engkau boleh membantu adikmu, ha-ha!"

"Memang aku mau membantu adikku dalam pekerjaan berbahaya ini. Akan tetapi aku minta agar aku mendengar pula janji itu. Kalau kami berdua berhasil menemukan benda yang kalian cari, maka kami berdua akan kalian bebaskan, dan juga Tan-taihiap akan kalian bebaskan? Berjanjilah, atau, kalau tidak, kami tidak akan menyelam, biar kalian bunuh sekalipun!"

Siauw-bin Ciu-kwi mengerutkan alisnya.

"Anak muda, jangan membuat kami marah! Aku sudah saling berjanji dengan adikmu, kalau ia dapat mengambilkan patung emas itu, kami akan membebaskan ia dan kami sudah berjanji tidak akan membunuh Pek-liong."

"Tapi......"

Sun Ting hendak membantah karena dia tetap hendak menuntut agar Pek-liong dibebaskan. Melihat ini, Pek-liong segera berkata.

"Saudara Kam Sun Ting, sudahlah jangan engkau pikirkan lagi aku! Kalian penuhi permintaan Beng-cu, ambil patung emas itu dari dasar telaga. Aku sudah pasti tidak akan mereka bunuh, karena selain Beng-cu sudah berjanji kepada adikmu, juga aku kini yakin bahwa tiada gunanya menentang Beng-cu. Aku ingin membantunya agar aku mendapatkan bagian harta karun itu!"

Mendengar ucapan yang lantang ini, Sun Ting terbelalak memandang kepada pendekar itu.

"Apa? Engkau...... engkau akan membantu mereka ini, taihiap......?"

Tanyanya hampir tidak percaya.

Juga Cian Li memandang heran kepada pendekar itu.

Kalau ia membantu para penjahat itu mengambil peta dan kini mengambil patung emas adalah karena terpaksa, karena ia ingin menyelamatkan Pek-liong.

Akan tetapi sekarang pendekar itu tiba-tiba berbalik pikiran dan hendak membantu para penjahat dengan pamrih memperoleh bagian harta karun!

"Hay-ko......!"

Iapun berseru heran.

Pek-liong melambaikan tangannya dengan sikap tak sabar, akan tetapi ternyata tangannya itu lemas tak bertenaga dan baru dia teringat bahwa dia masih belum pulih dari totokan Siauw-bin Ciu-kwi yang lihai.

"Sudahlah, kalian jangan mencampuri urusan pribadiku. Penuhi saja permintaan beng-cu dan kalian segera pergi dengan bebas dari sini dan selanjutnya jangan lagi mencampuri urusan kami."

Mendengar ini, kakak beradik itu memandang marah, dan Siauw-bin Ciu-kwi tertawa bergelak.

"Bagus, Pek-liong. Aku akan senang sekali bekerja sama denganmu. Akan tetapi maksud baikmu itu harus diuji dulu kebenarannya!"

Sun Ting dan Cian Li tidak banyak cakap lagi.

Biarpun di dalam hati mereka marah kepada Pek-liong, dan merasa bahwa pendekar itu tidak pantas lagi dibela, akan tetapi Cian Li tetap ingin menyelamatkannya.

Bukan hanya karena ia telah berhutang budi kepada Pek-liong, akan tetapi karena memang ia telah jatuh cinta.

Kalau ia tidak memenuhi permintaan beng-cu mengambilkan patung emas yang telah ia pelajari dari peta dan ketahui di mana letaknya, tentu Pek-liong akan dibunuh!

"Mari, Ting-ko, bantu aku!"

Katanya dan ia menggandeng tangan kakaknya, lalu diajak terjun ke air.

Mengagumkan sekali melibat betapa dua orang kakak beradik itu menimpa air seperti dua batang tombak saja, tidak menimbulkan suara berisik dan tubuh mereka segera lenyap di telan air.

Kalau saja tidak ada kakaknya, biarpun terpaksa tentu akan sukar bagi Cian Li untuk menemukan patung emas itu karena bagian ini memang dalam dan agak gelap.

Hanya dengan meraba-raba, akhirnya ia menemukan guha seperti yang dimaksudkan dalam petunjuk peta yang sudah lengkap itu.

Bersama Sun Ting ia memasuki guha dan benar saja, di sudut guha kecil itu ia menemukan sebuah patung yang tingginya kurang lebih satu kaki.

Patung itu cukup berat dan Sun Ting lalu membawanya, dan mereka berdua segera naik ke permukaan air.

Mereka yang berada di dalam perahu besar, semua menjenguk ke air dengan penuh ketegangan hati, penuh harapan dan kecemasan.

Begitu nampak dua buah kepala itu muncul dan kakak beradik itu terengah-engah memenuhi paru-paru dengan udara baru, Siauw-bin Ciu-kwi segera berteriak dari atas.

"Sudah kalian temukan patung emas itu?"

Sun Ting mengangkat tangan kanannya dan nampaklah sebuah patung yang berkilauan karena terbuat dari emas murni! Semua orang berseru kagum dan Siauw-bin Ciu-kwi segera berkata.

"Cepat naik ke perahu dan serahkan kepada kami!"

"Akan kulemparkan ke atas dan kami berdua akan segera pergi dari sini!"

Kata Sun Ting.

"Baik, lemparkanlah!"

Teriak Siauw-bin Ciu-kwi.

"Tapi jangan langgar sumpahmu! Kalian tidak akan membunuh Tan-taihiap!"

Cian Li berseru dan suaranya mengandung isak karena hatinya kecewa sekali melihat betapa pendekar yang dipuja dan dicintanya itu akhirnya merendahkan diri menjadi kaki tangan penjahat.

"Ha-ha, jangan khawatir, nona. Kami tidak akan membunuhnya, apa lagi dia kini menjadi sekutu kami. Nah, lemparkan patung emas itu!"

Sun Ting melemparkan benda itu ke atas perahu, disambar oleh tangan Siauw-bin Ciu-kwi.

Semua orang mengagumi patung emas itu yang tentu merupakan benda berharga, bukan saja berharga amat mahal karena terbuat dari emas murni, akan tetapi juga berharga karena merupakan benda kuno yang antik.

Biarpun tubuhnya masih belum bebas dari pengaruh totokan dan dia belum dapat bergerak leluasa, namun Pek-liong sudah dapat memutar tubuhnya yang rebah dan ia memandang ke arah Siauw-bin Ciu-kwi yang sedang mengamati patung emas itu bersama para pembantunya.

Dia melihat bahwa patung emas itu memang indah, sebuah patung emas Dewi Kwan Im Po-sat yang ukirannya amat indah.

Tentu patung itu amat mahal, akan tetapi belum cukup mahal untuk diributkan dan dijadikan perebutan, dan dia tahu bahwa orang seperti Siauw-bin Ciu-kwi tentu tidak akan sudi bersusah payah kalau hanya untuk mendapatkan sebuah patung emas semacam itu.

Dia juga melihat betapa wajah Siauw-bin Ciu-kwi sudah mengandung kekecewaan, walaupun para pembantunya berseri-seri mengamati patung emas itu.

Dugaannya benar.

Dan dari jauhpun dia tahu bahwa patung emas itu bukan sembarang patung.

Dia sudah banyak mempelajari tentang patung kuno dan diam-diam dia menduga bahwa tentu patung itu menyimpan rahasia yang amat penting.

Kalau tidak demikian, kiranya tidak mungkin orang jaman dahulu menyembunyikan patung itu dengan menyertai petanya pula!

Patung emas seperti itu bukan merupakan harta karun yang luar biasa, dan orang seperti Siauw-bin Ciu-kwi tentu akan bisa mendapatkan dengan mencuri simpanan hartawan besar atau bangsawan tinggi.

Sementara itu, kakak beradik she Kam sudah menyelam kembali dan berenang dengan cepat bagaikan dua ekor ikan saja, meninggalkan perahu besar, akan tetapi mereka tidak diperdulikan lagi oleh para penjahat yang mengagumi patung emas.

Ada satu hal lain yang diyakini oleh hati Pek-liong, yaitu kehadiran Liong-li.

Dia tahu bahwa sudah pasti Liong-li datang bersama Sun Ting dan sekarang entah berada di mana rekannya itu.

Dari sikap Sun Ting yang demikian tabahnya saja diapun sudah menduga bahwa keberanian Sun Ting itu tentu ada penyebabnya, dan penyebab itu kiranya bukan lain karena ada Liong-li di belakangnya!

Akan tetapi di mana adanya Liong-li?

Dia tahu bahwa biarpun Liong-li pandai berenang, namun tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kakak beradik Kam dan tentu wanita perkasa itu tidak akan begitu sembrono untuk mengandalkan kepandaian renangnya menghadapi kawanan penjahat itu.

Baru Po-yang Sam-liong saja sudah memiliki ilmu renang yang jauh lebih pandai dari Liong-li.

Namun, hatinya tetap yakin bahwa Liong-li tidak berada jauh dari situ, maka diapun tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, Beng-cu! Apa artinya kalau yang kaucari dengan susah payah itu ternyata hanya sebuah patung emas seperti itu? Ha-ha, dalam semalam saja aku akan mampu mendapatkan beberapa buah patung emas seperti itu untukmu! Itulah kalau engkau mempunyai pembantu-pembantu yang tidak becus! Kalau kita berdua bekerja sama, tentu hasilnya akan seratus kali lebih besar dari pada itu!"

Pek-liong berkata dengan suara lantang, sengaja dikuatkan agar terdengar oleh Liong-li yang berada entah di mana, akan tetapi diharapkannya tidak terlalu jauh sehingga dapat mendengar ucapannya.

Kerut merut di antara alis Siauw-bin Ciu-kwi makin mendalam.

Memang dia merasa kecewa sekali melihat hasil jerih payah selama ini.

Hanya sebuah patung emas seperti itu!

Memang mahal, akan tetapi dia mengharapkan harta karun yang lebih berharga lagi.

Dia dapat membayangkan bahwa kalau dia mempunyai seorang pembantu seperti Pek-liong, tentu hasil usaha mereka akan lebih hebat.

Akan tetapi tentu saja dia masih belum percaya akan kebenaran kata-kata pendekar itu.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring halus.

"Pek-liong, engkau sungguh seorang manusia tidak tahu malu!"

Semua orang terkejut.

Siauw-bin Ciu-kwi sekali meloncat sudah mendekati Pek-liong, patung emas masuk ke dalam jubahnya.

Dia cerdik sekali dan siap menyerang Pek-liong yang dijadikan sandera.

Dari bawah perahu, nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depan Siauw-bin Ciu-kwi dan para pembantunya telah berdiri seorang wanita cantik dengan pakaian serba hitam, pakaian yang ringkas dan basah, ketat menempel pada tubuhnya yang padat ramping dan matang itu.

Begitu melihat wanita berpakaian hitam ini, Siauw-bin Ciu-kwi dan para pembantunya dapat menduga siapa yang datang.

Siauw-bin Ciu-kwi sudah membentak garang.

"Apakah yang datang ini Hek-liong-li (Pendekar Wanita Naga Hitam)?"

Sementara itu, para pembantunya dengan senjatanya di tangan sudah siap untuk mengeroyok.

Liong-li tersenyum dan muncullah sepasang lesung pipit yang membuat wajah itu menjadi semakin manis.

Pek I Kongcu Ciong Koan memandang dengan bengong.

Dia terpesona oleh kecantikan Liong-li, akan tetapi juga diam-diam merasa kagum dan gentar karena dia sudah mendengar berita bahwa gadis jelita berjuluk Si Naga Hitam ini luar biasa lihainya, juga bertangan baja, tidak segan membunuh lawannya.

"Siauw-bin Ciu-kwi, aku datang bukan untuk kamu, melainkan untuk Pek-liong, manusia pengecut yang rendah ini! Jangan kalian ikut campur, kelak kalau ada alasannya yang kuat, aku akan mencari kamu! Hei, Pek-liong manusia tak tahu malu! Kiranya harga dirimu demikian rendah dan murah. Engkau telah bermain gila dengan gadis penyelam itu, dan untuk gadis itu engkau rela menjadi tawanan dan hinaan orang. Sungguh aku kecewa sekali dan merasa menyesal pernah menjadi temanmu!"

Semua orang menoleh kepada Pek-liong dan melihat betapa pemuda itu, walaupun masih setengah lumpuh oleh totokan, memandang kepada Liong-li dengan mata melotot dan muka merah.

"Hek-liong-li, tutup mulutmu yang kotor! Engkau sendiri bukan perempuan baik-baik, engkau melakukan perjinaan dengan Kam Sun Ting, siapa yang tidak tahu? Engkau melihat kesalahan orang sekecil-kecilnya tanpa melihat tengkukmu sendiri yang kotor! Memang aku ingin bekerja sama dengan Siauw-bin Ciu-kwi yang menjadi beng-cu, habis engkau mau apa? Aku sudah muak bekerja sama dengan kamu yang penuh cemburu, yang selalu menghinaku dan tidak memandang sebelah mata! Engkau tidak pernah sadar bahwa sebenarnya, tanpa aku, engkau tidak ada artinya!"

"Jahanam busuk! Kurobek mulutmu!"

Bentak Liong-li marah.

"Coba saja kalau kau bisa! Kalau aku tidak dalam pengaruh totokan, akulah yang akan merobek mulutmu!"

Siauw-bin Ciu-kwi yang sejak tadi mengamati dua orang muda yang sedang bertengkar itu, tiba-tiba tertawa.

"Ha-ha, sungguh lucu. Pek-liong dan Hek-liong-li bertengkar dan saling cemburu! Permainan apa pula ini? Pek-liong, biarlah kubebaskan totokanmu. Hendak kulihat kejujuranmu, apakah benar engkau hendak bersekutu dengan kami atau tidak. Engkau harus membunuh Liong-li untuk meyakinkan kami!"

Akan tetapi ketika Siauw-bin Ciu-kwi hendak menggerakkan tangan, Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si berseru.

"Beng-cu, sabar dulu! Harap Beng-cu tidak sampai terkecoh oleh mereka Bagaimana kalau setelah Beng-cu membebaskan touokannya, Pek-liong lalu bergabung dengan Liong-li dan mereka menyerang kita? Setidaknya, mereka berdua tentu berusaha untuk membebaskan diri!"

Tentu saja wanita yang haus laki-laki ini akan merasa kecewa sekali kalau Pek-liong sampai lolos karena pemuda perkasa itu telah membangkitkan gairahnya.

"Ha-ha, aku bukanlah sebodoh engkau, Tok-sim Nio-cu! Biarkan kalau mereka berdua hendak menipuku. Biar mereka mengamuk, kita keroyok bersama. Biarkan mereka mencoba untuk meloloskan diri. Apa yang kita takutkan? Kita berada di atas perahu, di tengah telaga. Kemana mereka dapat melarikan diri? Betapapun lihainya mereka, di dalam air mereka tidak dapat banyak bergerak. Dan kita mempunyai Po-yang Sam-liong dan anak buahnya yang akan mudah menangkap mereka!"

Mendengar ini, Tok-sim Nio-cu diam saja dan memang benar apa yang dikatakan Beng-cu itu. Juga diam-diam Pek-liong dan Hek-liong-li harus mengakui kecerdikan si pendek gendut kepala botak itu.

"Siauw-bin Ciu-kwi, tidak perlu kalian khawatir. Aku datang untuk menghajar Pek-liong, bukan kalian!"

Kata pula Liong-li.

Siauw-bin Ciu-kwi lalu menggerakkan tangannya dan dua kali dia menotok punggung Pek-liong yang seketika merasa tubuhnya bebas dari pengaruh totokan.

Beng-cu itu memang sudah memperhitungkannya dengan matang.

Selain mereka berada di tengah telaga, juga dia yakin bahwa Liong-li muncul tanpa membawa senjata.

Demikian pula Pek-liong, tidak bersenjata, maka tentu saja dia dibantu para tokoh sesat tidak perlu takut menghadapi mereka, andaikata mereka benar-benar hendak menyerang mereka atau hendak meloloskan diri.

Pek-liong bangkit berdiri, lalu menghampiri Liong-li.

Kedua orang ini berdiri berhadapan dengan sikap marah.

Liong-li mencibir.

"Huh, pendekar yang berjuluk Pek-liong-eng ternyata hanyalah seorang laki-laki mata keranjang dan seorang pengecut!"

"Liong-li, mulutmu sungguh busuk sekali! Engkaulah perempuan rendah, gila laki-laki, akan kurobek mulutmu itu!"

Berkata demikian, Pek-liong sudah menyerang dengan cengkeraman ke arah Liong-li.

Akan tetapi, gadis perkasa ini mengelak ke kiri dan dari kiri ia membalas dengan pukulan maut ke arah lambung Pek-liong.

Dia menangkis dengan pengerahan tenaganya.

"Dukk!"

Dua lengan bertemu dan keduanya terhuyung ke belakang.

Liong-li mengeluarkan suara lengkingan nyaring dan iapun kini menerjang dan menyerang dengan gerakan yang amat cepat.

Pukulan dan tendangan menyambar bertubi-tubi, akan tetapi Pek-liong yang agaknya sudah menjadi marah sekali, mengelak, menangkis dap membalas tak kalah sengitnya.

Para pembantu Siauw-bin Ciu-kwi sudah siap dengan senjata di tangan, mengepung dua orang yang sedang bertanding itu.

Siauw-bin Ciu-kwi sendiri berdiri menonton dengan penuh perhatian.

Kalau dua orang itu hanya bersandiwara, tentu matanya yang tajam itu akan dapat menangkapnya, Dia seorang ahli silat kelas tinggi, tentu akan dapat membedakan mana yang perkelahian benar-benar dan mana yang pura-pura!

Dan apa yang disaksikannya itu, tak dapat diragukan lagi merupakan suatu perkelahian sungguh-sungguh, bahkan setiap pukulan mengandung ancaman maut bagi lawan!

Tentu saja Siauw-bin Ciu-kwi tidak pernah melihat kalau dua orang ini sedang melakukan latihan pertandingan silat!

Dua orang muda ini sudah mencapai tingkat yang sedemikian tingginya sehingga mereka telah menguasai tenaga mereka sepenuhnya sehingga andaikata kepalan tangan atau ujung pedang mereka sudah menyentuh kulit lawan, mereka masih mampu menghentikan serangan mereka sampai di situ saja!

Kini Pek-liong nampak terdesak hebat oleh Liong-li yang mempergunakan ilmu silat Bi-jin-kun yang selain amat indah, juga mengandung banyak gerak tipu yang berbahaya.

Pek-liong juga sudah memainkan Pek-liong Sin-kun, namun agaknya dia masih kalah cepat sehingga kecepatan gerakan Liong-li membuat dia sibuk juga.

Karena kalah cepat, maka perkelahian itu dikendalikan oleh Liong-li dan Pek-liong terseret, hanya mampu mengelak dan menangkis saja untuk melindungi dirinya.

Melihat ini, Siauw-bin Ciu-kwi lalu mengeluarkan sebatang pisau yang panjangnya dua jengkal, melemparkannya kepada Pek-liong sambil berseru.

"Pek-liong, kau pergunakan ini!"

Pek-liong menerima pisau yang dilemparkan kepadanya itu dan kini dia menyerang dengan pisau itu.

Gerakannya mantap, cepat dan kuat.

Setelah dia mempergunakan pisau itu, mulailah Liong-li terdesak!

Wanita perkasa ini maklum akan lihainya lawan kalau mempergunakan senjata tajam, maka ia hanya menghindarkan diri dari desakan itu dengan ilmunya yang hebat, yaitu langkah ajaib Liu-seng-pouw yang membuat tubuhnya selalu dapat mengelak secara otomatis setiap kali pisau itu menyambar.

Akan tetapi ia terdesak mundur sampai ke tepi perahu dan anak buah Siauw-bin Ciu-kwi yang mengepung terpaksa menyingkir.

"Pek-liong, engkau pengecut mengandalkan komplotanmu! Lain kali aku akan mencarimu lagi!"

Berkata demikian, Liong-li membalikkan tubuh dan meloncat ke air. Akan tetapi, Pek-liong membentak.

"Liong-li, hendak lari ke mana kau?"

Dan pisau di tangannya itupun meluncur lepas dari tangannya, dan semua orang melihat betapa dengan tepat sekali pisau itu menancap pada pinggul kanan Liong-li.

Wanita itu terbanting ke permukaan air.

Air muncrat tinggi dan semua orang lari ke tepi perahu, melihat betapa tubuh itu tenggelam dan permukaan air nampak kemerahan, merah karena darah!

Agaknya, Liong-li yang terkena sambitan pisau itu tenggelam dan tewas!

Sampai lama mereka memandang ke air.

Jelas, tidak ada muncul lagi wanita perkasa itu, dan di sekitar perahu besar itu tidak nampak adanya perahu lain.

Perahu-perahu kecil para nelayan berada jauh dari perahu itu, dan tidak nampak gerakan mencurigakan di sekeliling tempat itu.

Sampai lama keadaan sunyi dan hati mereka semua merasa tegang.

Kesunyian itu dipecahkan suara ketawa Siauw-bin Ciu-kwi.

"Ha-ha-ha, bagus sekali! Kiranya engkau sungguh-sungguh ingin bergabung dengan kami, Pek-liong. Akan tetapi, mengapa engkau sampai membunuhnya? Mengapa engkau yang terkenal sebagai rekannya, kini tiba-tiba saja demikian membencinya? Hal ini agak aneh dan mencurigakan!"

Beng-cu itu memandang kepada Pek-liong dengan pandang mata penuh selidik.

"Pertanyaan yang tepat sekali! Mempunyai seorang rekan dan kawan yang sehebat itu, selain ilmu kepandaiannya tinggi, juga amat cantik jelita dan menarik hati, kenapa tiba-tiba saja dimusuhi bahkan dibunuh? Hal ini amat mencurigakan, Beng-cu!"

Kata Pek I Kongcu.

"Hi-hik, aku tahu. Jawabannya mudah sekali. Semua laki laki memang tidak ada bedanya, Kongcu, seperti engkau juga. Semua laki-laki mempunyai penyakit yang sama, yaitu pembosan, apa lagi setelah bertemu dengan wanita lain yang masih baru, Pek-liong juga bosan kepada Hek-liong-li apa lagi setelah berjumpa dengan gadis penyelam itu, kemudian bertemu pula dengan aku di sini! Hi-hik, bukankah begitu, Pek-liong yang tampan?"

Pek I Kongcu cemberut, dan Pek-liong tersenyum.

"Dugaan kalian semua keliru,"

Jawabnya.

"Memang aku benci sekali kepadanya, dan iapun benci kepadaku, akan tetapi bukan karena bosan, melainkan karena Hek-liong-li telah mencuri pedang pusakaku!"

"Hemm......!"

Siauw-bin Ciu-kwi mengerutkan alisnya.

Tentu saja dia sudah mendengar bahwa Pek-liong-eng memiliki pedang pusaka ampuh yang disebut Pek-liong-po-kiam, dan diapun mendengar bahwa Hek-liong-li juga memiliki pedang pusaka Hek-liong-po-kiam.

"Akan tetapi, aku melihat ia datang tanpa pedang sama sekali, bahkan pedangnya sendiripun tidak ada dibawanya!"

Pek-liong cemberut dan menarik napas panjang karena hatinya merasa kesal sekali.

"Itulah pandainya ia berpura-pura! Tentu ia tidak mengira bahwa aku berada di antara beng-cu dan kawan-kawan di sini. Terjadi beberapa bulan yang lalu. Pedang itu bersamaku, dan aku tidur di rumahnya. Tapi pada keesokan harinya, pedangku telah lenyap dan dengan muka tebal ia tidak mengakuinya, itulah permulaan kami saling membenci!"

"Tapi ketika engkau mula-mula kami tangkap, engkau membanggakan Hek-liong-li yang katanya akan muncul menolongmu!"

Pek I Kongcu mendesak untuk meyakinkan hatinya yang belum mau percaya. Pek-liong tersenyum mengejek.

"Lalu apa yang harus kulakukan dalam keadaan tidak berdaya itu? Aku hanya menakut-nakuti kalian. Buktinya, wanita itu begitu datang memaki-maki dan ingin membunuhku, dan akupun membalas sehingga kini ia tenggelam dan tewas. Sudahlah, tidak perlu lagi kita membicarakan orang yang sudah mati. Beng-cu, tadi kukatakan bahwa hasil usahamu itu sia-sia saja kalau hanya mendapatkan sebuah patung seperti itu. Memang berharga, akan tetapi apakah sepadan dengan jerih payahmu? Aku yakin patung itu merupakan rahasia pula."

"Maksudmu? Rahasia apa pula yang terdapat pada patung emas ini?"

Siauw-bin Ciu-kwi mengamati patung itu dengan alis berkerut.

"Hal itulah yang harus kita selidiki, Beng-cu. Coba berikan patung emas itu, biar kuperiksa."

Berkata demikian, Pek-liong menjulurkan tangannya.

Dia tersenyum melihat betapa Pek I Kongcu dan yang lain-lain, kecuali Tok-sim Nio-cu, siap dengan senjata mereka untuk menyerang kepadanya.

Siauw-bin Ciu-kwi juga memandang kepada para pembantunya, lalu dia tertawa dan menyerahkan patung emas itu kepada Pek-liong.

"Ha-ha-ha, kalian memang terlalu curiga. Seorang diri saja di sini, Pek-liong tidak akan dapat berbuat sesuatu yang bodoh. Aku mulai percaya kepadamu, Pek-liong. Nah, coba kau periksa patung itu, siapa tahu apa yang kau katakan itu benar."

Pek-liong menerima patung emas itu, memandang ke sekeliling dan tersenyum menyaksikan sikap mereka, juga tersenyum manis kepada Tok-sim Nio-cu yang tidak mencurigainya.

Wanita ini membalas senyumnya, mendekat dan menyentuh pundaknya dengan sikap manja.

"Pek-liong, aku percaya kepadamu. Rahasia apa sih yang terdapat pada patung emas ini?"

Dengan lembut Pek-liong melepaskan diri dari sentuhan lembut mesra itu, lalu dia menghadap Siauw-bin Ciu-kwi, menjawab kepada wanita itu sambil lalu saja.

"Untuk itu aku harus menyelidikinya dulu."

Dan diapun melakukan penyelidikan.

Diamati patung emas itu, ditimang-timang dan semua gerakannya diikuti oleh Siauw-bin Ciu-kwi, dan kaki tangannya dengan penuh perhatian.

Sekali ini Pek-liong tidak bersandiwara.

Dia memang benar-benar melakukan penyelidikan, mempergunakan segala kecerdikan akalnya.

Dia memang banyak tahu tentang barang-barang pusaka kuno dan sudah mempelajarinya, maka dari ciri-ciri ukirannya iapun dapat menduga bahwa patung emas ini sedikitnya berusia limaratus tahun.

Ada setengah jam dia meneliti patung emas itu sehingga semua orang mulai menjadi tidak sabar lagi.

"Bagaimana, Pek-liong?"

Siauw-bin Ciu-kwi bertanya.

"Beng-cu, pergunakanlah pedang dan memenggal leher patung emas ini!"

Kata Pek-liong.

Tentu saja semua orang terkejut.

Patung emas itu merupakan sebuah benda yang langka dan amat berharga, bukan hanya karena emasnya, melainkan karena merupakan benda pusaka kuno dengan ukirannya yang indah dan halus.

Kalau dipenggal leher patung itu, sama saja dengan merusak dan mengurangi nilainya!

Akan tetapi, Siauw-bin Ciu-kwi yang menginginkan harta yang lebih berharga lagi, segera berkata kepada Tok-sim Nio-cu.

"Nio-cu, pergunakan pedangmu memenggal leher patung itu seperti diminta oleh Pek-liong!"

Tok-sim Nio-cu mencabut pedangnya dan berkata kepada Pek-liong sambil tersenyum.

"Pek-liong, tidak sayangkah patung begini indah dipenggal lehernya?"

Pek-liong menjawab.

"Lakukan saja perintah Beng-cu. Buntungnya leher patung, dengan mudah dapat diutuhkan kembali oleh tukang emas!"

Mendengar ini barulah semua orang menyadari bahwa memang kerusakan itu dapat diperbaiki dan kalau sudah disambung kembali oleh tukang emas yang pandai tidak akan nampak bekasnya.

Pedang di tangan Tok-sim Nio-cu berkilat menyambar dan buntunglah leher patung itu dengan sayatan yang rapi.

Pek-liong melihat, seperti yang sudah diduga, bahwa tubuh patung itu berlubang dan dia melihat segulung kain di dalamnya.

"Berikan patung itu kepadaku!"

Siauw-bin Ciu-kwi yang juga melihat gulungan kain itu berseru.

Pek-liong tersenyum dan menyerahkan patung emas.

Dengan tangan yang jelas nampak gemetar saking tegang dan gembiranya, Siauw-bin Ciu-kwi mengambil gulungan kain itu dari dalam perut patung.

Segera diperiksanya gulungan kain itu, dengan sikap hati-hati agar orang lain tidak melihat tulisan yang terdapat dalam gulungan kain.

Wajahnya berubah, matanya terbelalak dan wajahnya berseri, lalu dia tertawa bergelak-gelak.

"Ha-ha-ha, ha-ha-ha-ha...... jasamu besar sekali, Pek-liong. Benar seperti dugaanmu, patung ini menyembunyikan rahasia besar. Ha-ha, kalau berhasil kita temukan harta karun ini, aku berjanji bahwa patung emas ini akan kuberikan sebagai hadiah kepadamu!"

"Terima kasih, Beng-cu. Sudah kuduga bahwa bekerja sama denganmu memang menguntungkan sekali!"

Siauw-bin Ciu-kwi menyimpan gulungan kain itu ke dalam jubahnya, lalu memandang kepada semua pembantunya dan berkata dengan suara berwibawa.

"Mulai saat ini, Pek-liong menjadi pembantuku yang utama. Kalian tidak boleh mengganggunya! Peta rahasia Patung Emas yang ditemukan di dalam patung ini amat penting. Kalian tidak usah tahu dan ikuti saja aku untuk mendapatkan harta karun yang tak ternilai besarnya. Jangan khawatir, setelah harta karun itu berada di tanganku, kalian tentu akan memperoleh bagian masing-masing."

Setelah berkata demikian, tiba-tiba beng-cu itu memandang kepada Pek-liong dan berkata dengan suara lantang.

"Pek-liong, jasamu besar sekali. Akan tetapi aku masih merasa heran, bagaimana engkau dapat menduga bahwa di dalam patung terdapat rahasianya. Hayo ceritakan agar menambah pengertian rekan-rekanmu yang berada di sini, agar lain kali mereka mencoba menggunakan otak, jangan hanya pandai menggunakan hati dan tangan kaki saja!"

Pek-liong tersenyum dan memandang kepada para tokoh pembantu lainnya, sengaja berlagak tinggi hati untuk membuat hati mereka merasa tidak senang.

"Ah, Beng-cu, sesungguhnya tidak sukar untuk menduga hal itu kalau saja kita mau mempergunakan akal pikiran kita. Melihat betapa penuh rahasia peta yang menunjukkan di mana adanya patung emas itu, dan betapa patung itu disimpan di dasar telaga, maka tidak mungkin kiranya kalau yang disembunyikan itu hanya sebuah patung emas sekecil itu. Tentu ada barang lain yang jauh lebih berharga, yang rahasianya berada di patung itu.

"Ketika aku menerima patung itu, maka dugaanku semakin kuat. Patung itu ringan saja, berarti di dalamnya berlubang, tidak seperti patung emas lainnya. Kalau pembuat patung emas membuat dalamnya berlubang, hal ini hanya dengan satu maksud, yaitu untuk menyimpan suatu benda yang teramat penting, yang jauh lebih berharga dari pada nilai patung itu sendiri.

"Pula, setelah mengamati secara teliti aku melihat ada guratan aneh pada leher patung, jelas itu merupakan tanda bahwa leher itu sambungan dan dikerjakan kurang cermat. Maka, sudah bulatlah dugaanku bahwa di dalam perut patung yang berlubang itu tentu disembunyikan benda yang amat berharga."

"Ha-ha-ha, hebat sekali! Bagus sekali, kiranya engkau tidak hanya lihai ilmu silatmu, akan tetapi juga amat cerdik pikiranmu. Aku girang sekali dapat bekerja sama denganmu, Pek-liong."

"Dan aku juga gembira sekali dapat membantumu, Beng-cu."

"Dan akupun gembira kalau dapat menjadi pacarmu yang baru, Pek-liong!"

Kata Tok-sim Nio-cu genit.

"Nah, kalian lihat! Baru saja membantuku, jasa Pek-liong sudah jauh lebih besar dari pada jasa kalian selama ini! Maka dalam mengambil harta karun ini, kalian harap bekerja keras sehingga kalian pantas memperoleh bagian!"

Perahu besar lalu digerakkan menuju ke pantai, dan kini Pek-liong ikut mendaki Bu-kit Merak, menuju ke sarang yang dipergunakan oleh Siauw-bin Ciu-kwi.

Sekali ini bukan lagi sebagai tawanan, melainkan sebagai pembantu Siauw-bin Ciu-kwi.

Namun, Pek-liong yang cerdik itu maklum bahwa sikap dan semua ucapan Siauw-bin Ciu-kwi kepadanya itu masih palsu, dan dia tahu bahwa diam-diam Siauw-bin Ciu-kwi dan para pembantunya mengamati semua gerak geriknya.

Dia harus berhati-hati sekali!

"Keparat!

Tan Cin Hay itu sungguh jahat dan kejam bukan main!"

Berulang kali Kam Sun Ting mengomel panjang pendek mencaci maki Pek-liong ketika dia bersama adiknya menyeret tubuh Liong-li yang lemas di balik tumbuh-tumbuhan teratai menuju ke perahu kecil mereka di tempat yang agak jauh.

"Ih, sudahlah, koko. Sudahi saja caci makimu yang tidak baik itu dan lebih baik kita memperhatikan keadaan li-hiap ini. Mari cepat bawa ia ke perahu!"

Cian Li mencela kakaknya, hatinya merasa tidak enak mendengar kakaknya mencaci-maki Pek-liong.

Biarpun ia sendiri merasa kecewa melihat ulah Pek-liong, namun hatinya masih tidak rela membiarkan kakaknya mencaci maki seperti itu di depannya.

Mereka lalu berenang dengan cepat setelah jauh dari perahu besar sehingga tidak kelihatan lagi dan tak lama kemudian, mereka sudah mengangkat tubuh Liong-li ke atas perahu.

"Li-moi, cepat dayung perahu ini ke daratan yang sunyi, aku akan mencoba merawat dan menyadarkan Liong-lihiap!"

Kata Sun Ting, khawatir melihat wajah pendekar wanita itu pucat dan matanya terpejam, akan tetapi perutnya tidak menggembung.

Dia memang sudah siap siaga.

Sebelumnya telah diatur oleh pendekar wanita itu, yaitu dia disuruh membantu adiknya agar Cian Li dapat berhasil dan selamat.

Dan dia dipesan agar bersama Cian Li siap di bawah permukaan air, bernapas melalui batang alang-alang yang berlubang, dan menanti di situ, siap menolong kalau ia sampai terpaksa meloncat ke air.

Maka, dia dan adiknya dapat melihat perkelahian antara Pek-liong dan Liong-li tadi, melihat pula betapa Liong-li meloncat ke air dan terkena samba-an pisau.

Sun Ting mengajak adiknya menyelam dan tepat seperti yang sudah direncanakan oleh Liong-li, mereka berdua menyeret tubuh Liong-li ke bawah air sehingga tidak nampak oleh orang-orang di dalam perahu pendekar wanita itu timbul kembali.

Mereka menyelam dan berenang di dalam air, lalu bersembunyi di balik tumbuhan teratai yang lebat, dan sambil bersembunyi, perlahan-lahan mereka berenang di balik tumbuhan itu menuju ke perahu yang cukup jauh dari situ.

Yang membuat Sun Ting khawatir adalah karena Liong-li sejak tadi pingsan dan ada pisau menancap di pinggulnya sebelah kanan.

Sun Ting tidak berani mencabut pisau itu, dan melihat betapa Liong-li pingsan dan pucat, bahkan napasnya hampir tidak ada, dalam kepanikannya, dia lalu membuka mulut pendekar wanita itu dan menutup mulut itu dengan mulutnya sendiri lalu meniup sekuatnya untuk membantu paru-paru gadis perkasa itu.

Pada saat dia melakukan perawatan itu, sedikitpun tidak ada perasaan apapun di hatinya kecuali ingin menyelamatkan Liong-li, tidak timbul kemesraan atau nafsu walaupun diam-diam dia sudah jatuh cinta kepada pendekar wanita itu.

Akhirnya, setelah melakukan perawatan itu beberapa kali, Liong-li gelagapan, membuka matanya dan melihat betapa pemuda penyelam itu meniup melalui mulutnya, dengan lembut ia mendorong dada pemuda itu, lalu berbatuk-batuk.

"Cukup...... aduhh......! Ketika ia miringkan tubuhnya, baru terasa olehnya bahwa ada pisau menancap di pinggul kanannya. Dirabanya pinggul itu.

"Sun Ting, cepat ambilkan buntalan obat, dalam buntalan pakaianku itu buntalan kuning......"

Sun Ting membuka buntalan pakaian Liong-li yang memang ditinggalkan di perahu itu, dan mengambilkan sebuah buntalan kuning kecil.

Ketika buntalan ini dibukanya, maka terisi bubukan kuning yang amat halus.

"Sun Ting, akan kucabut pisau ini, lalu kau robek kain yang menutupi pinggul yang luka, taburkan obat itu di atas luka, pergunakan jarimu untuk menekan-nekan agar obat itu masuk ke dalam lukanya,"

Liong-li lalu mencabut pisau itu yang ternyata masuk sedalam satu jari panjang.

Darah keluar dari luka di pinggul itu dan Sun Ting merobek celana yang menutupi pinggul.

Dengan tekanan-tekanan jarinya pada jalan darah tertentu, pendarahan itu berhenti dan Liong-li menyuruh pemuda itu menaburkan obat bubuk kuning halus.

Sun Ting menaburkan obat dan menekan-nekan obat ke dalam luka.

Juga dia tidak merasakan apa-apa melihat pinggul yang putih mulus dan halus di depan matanya itu, karena yang teringat olehnya hanyalah bahwa gadis perkasa itu terluka parah.

"Biarkan dulu sampai obat yang berada di luar luka mengering, jangan ditutupi bagian yang terluka itu,"

Kata Liong-li, kemudian kepada Cian Li ia berkata.

"Adik manis, tolong kauambilkan dua batang pedang yang kuikat di bawah perahu ini."

Tadi sebelum ia dan Sun Ting meninggalkan perahu, Liong-li yang selalu berhati-hati itu menyembunyikan sepasang pedang pusaka, yaitu Pek-liong-kiam dan Hek-liong-kiam di bawah perahu.

Cian Li mengangguk dan tanpa banyak cakap lagi ia sudah menghentikan perahu dan menyelam.

Tak lama kemudian ia sudah muncul kembali membawa dua batang pedang yang amat ampuh itu.

"Sekarang, dayunglah perahu ke pantai yang sunyi, aku harus memikirkan apa yang akan kulakukan selanjutnya. Pek-liong masih berada dengan mereka dan aku tahu bahwa keselamatannya masih terancam hebat."

Sun Ting mengepal tinjunya dengan gemas.

"Ah, lihiap, mengapa masih memikirkan orang jahat itu? Dia telah berubah menjadi seorang penjahat keji! Sungguh tidak tahu malu, dia telah melukaimu dengan curang......"

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 6

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert