Ceritasilat Novel Online

Sepasang Naga Penakluk Iblis 8

Eps 8 Sepasang Naga Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo

Baca online Sepasang Naga Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo

Cersil Sepasang Naga Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo.

"Tepat seperti yang kukehendaki, Sun Ting. Memang Pek-liong seorang yang cerdik luar biasa dan dia dapat membaca setiap isi hati dan pikiranku. Untung dia berlaku cepat dan dapat melukai pinggulku, kalau tidak tentu mereka akan semakin mencurigainya. Mudah-mudahan saja pengorbanan pinggulku ini tidak sia-sia!"

Tentu saja kakak beradik itu terbelalak memandang kepada pendekar wanita itu.

"Lihiap......! Apa maksudmu? Benarkah bahwa Tan-taihiap tidak berkhianat, tidak bersekutu dengan penjahat dan dengan kejam sekali telah melukaimu?"

Pendekar wanita itu masih menelungkup. Pinggulnya terbuka dan bukit pinggul itu menjulang ke atas, indah bentuknya dan putih mulus kemerahan. Ia menggeleng kepalanya sambil tersenyum.

"Sama sekali tidak! Sampai dunia kiamat, Pek liong tidak akan mengkhianati aku, dan tidak akan sudi menjadi kaki tangan penjahat."

"Akan tetapi, lihiap! Bukankah tadi dia memaki-makimu dengan kata-kata kotor, bahkan lalu menyerangmu? Dia sudah mengaku dengan lantang bahwa dia ingin bekerja sama dengan Siauw-bin Ciu-kwi untuk mendapatkan bagian harta karun. Bahkan dia telah memakimu dengan kata-kata kotor, menuduhmu secara keji dan......"

Liong-li mengangkat tangannya unluk menutupi mulut Sun Ting yang agaknya hendak memaki itu, dan ia tersenyum.

"Kalian adalah dua orang muda yang berjiwa bersih dan polos, tentu saja tidak mengerti akan sepak terjang kami berdua. Menghadapi para penjahat keji dan lihai seperti mereka, kita harus mempergunakan siasat pula."

"Akan tetapi, lihiap. Kalau taihiap tidak ingin bekerja sama dengan mereka, tadi dia dapat bersama lihiap meloncat ke air dan kami berdua yang akan mampu melarikan kalian dengan selamat. Kenapa dia tinggal di perahu itu?"

Cian Li juga membantah, merasa penasaran dan khawatir karena pendekar yang dikaguminya itu kini masih berada bersama para penjahat keji itu.

"Tadinya aku memang bermaksud untuk membebaskan engkau dan dia, adik manis. Akan tetapi ketika aku mendengar ucapan Pek-liong kepadamu, ucapan keras yang sengaja dia keluarkan agar aku dapat mendengarnya, bahwa dia ingin bekerja sama dengan Beng-cu untuk mendapat bagian harta karun, aku tahu akan rencananya. Maka, aku harus bersandiwara sesuai dengan rencananya agar dia berhasil.

"Aku harus berusaha agar dia dapat diterima oleh gerombolan penjahat itu dan dipercaya. Ketika dia melukai aku dengan pisau dan aku jatuh ke air terus kelihatan tenggelam dan tewas, tentu dia diterima dengan gembira oleh Beng-cu, bahkan mungkin menjadi orang kepercayaannya!"

"Ah, kalau begitu...... Tan-taihiap tadi.... dan lihiap, hanya bermain sandiwara saja? Semua itu merupakan siasat ji-wi (kalian) agar Tan-taihiap dapat dipercaya dan diterima sebagai sekutu gerombolan penjahat itu?"

Tanya Sun Ting dengan muka merah, teringat betapa tadi dia telah memaki-maki Pek-liong.

"Sudah jelas begitu masih bertanya lagi!"

Cian Li berkata dengan mulut cemberut.

"Dasar engkau yang tidak mengenal budi orang, koko, belum apa-apa sudah mencela dan memaki-maki!"

"Ah, ah...... aku menyesal sekali..... akan tetapi siapa tahu bahwa mereka itu bersandiwara? Melihat betapa lihiap benar-benar terluka oleh pisau, siapa mengira bahwa hal itu disengaja?"

Sun Ting membela diri. Liong-li tersenyum.

"Sudahlah, bukan salah Sun Ting. Memang bagi orang lain, kami berdua sukar dimengerti. Serahkan saja kepada kami berdua untuk menghadapi gerombolan penjahat yang amat lihai itu."

"Tapi...... tapi, lihiap. Mengapa taihiap harus menyerahkan diri, harus menjadi sekutu mereka walaupun hanya berpura-pura? Mengapa pula lihiap harus mengorbankan diri seperti ini? Apa perlunya bekerja sama dengan para penjahat itu?"

"Tentu ada alasannya bagi Pek-liong untuk berbuat demikian. Hanya dia yang mengetahui dan aku hanya melengkapi peranannya saja. Tentu ada hal yang amat penting, teramat penting bagi kami berdua maka dia memainkan sandiwara itu. Karena itu, kita harus waspada dan di darat, kalian tidak mungkin dapat membantu kami. Kepandaian kalian jauh dari pada cukup untuk melawan mereka.

"Kalau kalian membantu, bahkan kalian akan melemahkan kami, karena kami harus melindungi kalian. Belum lagi kalau kalian ditawan dan dijadikan sandera, memaksa kami untuk menyerah. Kalian tunggu saja di tepi telaga. Kalau kalian melihat perahu mereka berlayar baru kalian boleh membayangi dari jauh, apa lagi kalau melihat ada Pek-liong di perahu itu. Kalian siap sedia untuk menolong kalau kami sampai membutuhkan pertolongan di air, seperti keadaanku tadi. Mengerti?"

"Baik, enci,"

Kata Sun Ting dan kembali dia menyebut enci, hal ini menandakan bahwa ketegangan telah lewat dan dia kembali bersikap mesra.

"Akan tetapi, engkau masih terluka......"

"Aku akan beristirahat di perahu ini. Dalam waktu beberapa jam saja luka ini akan mengering dan aku akan dapat melakukan penyelidikan di Bukit Merak. Kuyakin bahwa tentu Pek-liong diajak ke sana oleh mereka."

Tiba-tiba Cian Li mengepal tinju dan mukanya berubah marah.

"Sayang aku tidak berhasil membuat perempuan laknat itu mati tenggelam!"

Ia teringat kepada Tok-sim Nio-cu dan merasa cemburu, apa lagi mengingat bahwa kini Pek-liong menjadi sekutu mereka.

Tentu hal ini akan dipergunakan sebagai kesempatan baik oleh perempuan genit itu untuk memikat hati Pek-liong.

Liong-li tersenyum.

Ia dapat membaca jalan pikiran gadis penyelam yang manis itu, dan sambil mengamati wajah dan tubuh orang ia berkata.

"Jangan khawatir, adik manis. Aku mengenal benar siapa Pek-liong. Dia tidak akan mudah jatuh oleh rayuan segala macam wanita macam si genit itu. Aku tahu selera Pek-liong. Gadis seperti engkau inilah kiranya akan memenuhi seleranya!"

Mendengar ucapan pendekar wanita ini, seketika wajah Cian Li tersipu malu dan ketika perahu tiba di tepi yang sunyi, ia lalu meloncat ke darat dan menalikan tali perahu pada sebatang pohon.

"Aku akan mencari kayu kering pembuat api unggun,"

Katanya dan iapun pergi.

Sun Ting masih duduk menjaga di dekat Liong-li yang masih menelungkup.

Dengan penuh rasa iba dan sayang, dia memandang bukit pinggul yang terluka itu.

Obat bubuk kuning itu nampak telah membuat luka itu mengering, akan tetapi di sekeliling luka itu masih nampak betapa kulit yang halus mulus itu kemerahan.

"Enci, sakit benarkah rasanya pinggulmu......?"

Tanya Sun Ting lirih dan seperti otomatis, jari-jari tangannya mengelus-elus sekeliling luka, seolah-olah dengan jari jari tangannya dia ingin mengusir perasaan nyeri yang ada.

Mendengar pertanyaan itu dan merasa betapa jari-jari tangan itu mengelus lembut, Liong-li merasa bulu tengkuknya meremang.

"Ah, tidak berapa nyeri, Sun Ting. Sebentar lagi tentu sembuh. Setelah cuaca gelap nanti, aku akan pergi menyelidik ke Bukit Merak."

Sun Ting tidak menjawab, tangannya masih mengelus bukit pinggul itu di sekeliling luka.

"Enci, bukit pinggulmu indah sekali bentuknya, dan putih mulus......"

Katanya lirih. Liong-li merasa betapa jantungnya berdebar, maka ia lalu berkata cepat.

"Lepaskan tanganmu, Sun Ting. Aku akan duduk, tutupkan selimut itu pada pinggulku, lukanya sudah mengering."

Biarpun dengan lambat, seolah merasa tidak rela pinggul itu ditutupi Sun Ting melakukan perintah itu dan sambil tersenyum Liong-li berkata kepadanya.

"Engkau perayu nakal! Tugas masih bertumpuk untuk kita, belum waktunya bersenang-senang. Nah, bantulah adikmu mengumpulkan kayu kering, dan coba cari makanan karena sebelum pergi, aku ingin makan dulu. Cepat pergi, jangan bengong saja, aku hendak berganti pakaian!"

Sun Ting meloncat ke darat dan setelah melangkah belasan kaki dia menengok.

Dia melihat betapa pendekar wanita itu telah menanggalkan pakaiannya!

Kalau menurut dorongan nafsunya, ingin dia membalikkan tubuh dan menikmati penglihatan itu, akan tetapi kesopanan memaksanya cepat membuang muka dan melanjutkan langkahnya.

Liong-li melihat semua ini dan iapun tersenyum.

Seorang pemuda yang amat baik, dan amat menyenangkan, pikirnya dan kedua pipinya berubah merah, lesung pipitnya bermain di kanan kiri bibirnya.

Iapun cepat berganti pakaian kering, pakaian serba hitam yang ringkas dan menyelipkan sepasang pedang pusaka di punggung.

Dengan cepat dibereskannya rambutnya yang tadi basah dan awut-awutan.

Disisirnya rapi dan digelung ke atas, diikat saputangan sutera merah dam ditusuk dengan tusuk konde perak berbentuk seekor naga kecil.

Ia mengenakan sepatunya yang tadi dilepas di dalam perahu kecil, dan lengkaplah sudah ia, siap untuk melakukan penyelidikan, siap untuk bertempur!

Kakak beradik itu datang membawa kayu kering yang cukup, dan Sun Ting membawa pula tiga ekor ikan yang tadi didapatnya dengan menjala di tepi telaga.

Mereka lalu duduk memghadapi api unggun dan ketika matahari mulai tenggelam di barat, mereka makan panggang ikan.

Setelah cuaca mulai gelap, pergilah Liong-li meninggalkan kakak beradik itu di tepi telaga.

Dengan tenang Liong-li melakukan perjalanan menuju ke Bukit Merak setelah mendapat petunjuk dari Sun Ting tentang letak Bukit Merak.

Malam itu kebetulan bulan purnama, maka setelah bulan muncul, pendekar wanita ini dapat melakukan perjalanan tanpa banyak kesukaran.

Sun Ting dan adiknya lalu kembali ke dusun mereka di luar kota Nan-cang.

Mereka mengumpulkan pakaian dan perbekalan di rumah mereka yang sudah diaduk-aduk oleh para penjahat ketika mereka mencari peta dahulu itu.

Malam itu mereka bermalam di rumah sendiri, baru pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka kembali ke telaga, mendayung perahu mereka dan mulai dengan pengamatan mereka kalau-kalau ada perahu penjahat berlayar.

Akan tetapi, sehari itu mereka tidak melihat ada perahu penjahat, tidak melihat pula bayangan Pek-liong maupan Liong-li sehingga diam-diam hati kedua orang kakak beradik ini diliputi penuh kekhawatiran.

Di bawah sinar bulan purnama, Liong-li mendaki Bukit Merak.

Ia menduga bahwa sarang penjahat itu tentu tidak semudah itu didaki orang.

Tentu di sana terkandung banyak perangkap dan juga terdapat para penjaga.

Dugaannya memang benar.

Beberapa kali dia berhadapan dengan perangkap-perangkap, seperti lubang jebakan yang ditutup rumput, tali-tali yang kalau tersangkut kaki menurunkan jala atau membuat tombak dan anak panah datang berhamburan dari kanan kiri.

Namun, Liong-li adalah seorang wanita perkasa yang amat cerdik dan sudah banyak pengalamannya, maka ia selalu berhati-hati dan setiap kali melihat ketidakwajaran di depan, ia selalu menguji keamanan tempat itu dengan lemparan kayu atau batu.

Maka, tak pernah ia terperosok ke dalam jebakan atau terserang senjata rahasia yang dipasang di jalan menuju ke sarang penjahat di lereng Bukit Merak.

Ketika ia melalui daerah yang penuh pohon sehingga di bawah pohon terlalu gelap dan terlalu berbahaya untuk dilalui, Liong-li lalu mempergunakan kepandaiannya dan iapun meloncat ke atas pohon, kemudian bagaikan seekor tupai saja, ia berloncatan dari pohon ke pohon, menuju ke lereng di mana sudah nampak sinar-sinar lampu dari perkampungan penjahat.

Dan perhitungannya memang tepat.

Setelah ia melalui jalan atas di antara pohon-pohon, ia tidak pernah berhadapan dengan perangkap lagi.

Akan tetapi, ia tidak tahu bahwa Siauw-bin Ciu-kwi jauh lebih cerdik dari pada yang disangkanya.

Biarpun tidak dipasangi perangkap, namun di luar kesadarannya, ketika ia berloncatan dari pohon ke pohon, kakinya menyangkut dan membikin putus tali halus yang berhubungan dengan tanda bahaya yang dipasang di rumah tinggal Siauw-bin Ciu-kwi!

Beng-cu kaum penjahat ini tahu bahwa ada tamu tak diundang datang berkunjung malam itu.

Dia dapat menduga bahwa tamu yang datang melalui pohon-pohon sudah pasti bukan kawan, maka cepat dia memanggil para pembantunya.

"Ada musuh datang, entah berapa orang banyaknya. Mereka lihai, datang berkunjung melalui pohon-pohon. Cepat kalian hadang dan robohkan mereka, hidup atau mati!"

Siauw-bin Ciu-kwi merasa khawatir sekali setelah peta rahasia dari Patung Emas berada di tangannya.

Dia merahasiakan isi peta itu dari para pembantunya, bahkan Tok-sim Nio-cu yang merupakan pembantu utamanya, juga pacarnya pun tidak diberitahu.

Hanya siang tadi dia memerintahkan Po-yang Sam-liong untuk mengumpulkan bantuan tenaga kasar sebanyak limapuluh orang.

Tak seorangpun di antara para pembatunya dapat menduga untuk apa beng-cu mereka membutuhkan tenaga kasar sebanyak limapuluh orang itu.

Po-yang Sam-liong diberi tugas itu karena mereka adalah tokoh-tokoh di sekitar daerah Telaga Po-yang sehingga tentu akan lebih mudah mengumpulkan orang-orang yang dapat dipercaya.

Mereka akan diberi gaji besar, demikian beng-cu berjanji.

Untuk mengumpulkan limapuluh orang, Po-yang Sam-liong minta waktu selama tiga hari.

Demikianlah, sambil menanti orang-orang yang dikumpulkan Po-yang Sam-liong, Siauw-bin Ciu-kwi selalu berhati-hati dan memesan para pembantunya untuk berjaga-jaga.

Diam-diam diapun membisiki para pembantu lama untuk mengamati sepak terjang dan gerak-gerik Pek-liong walaupun pada lahirnya Pek-liong seolah-olah sudah dianggap sebagai seorang pembantu yang dipercaya pula.

(Lanjut ke

Jilid 23) Sepasang Naga Penakluk Iblis (Seri ke 01-Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo

Jilid 23 Malam itu, ketika Beng-cu memanggil mereka dan memberitahu adanya musuh yang datang berkunjung, Pek-liong juga mendapat tugas untuk menyambut musuh.

Para pembantu itu lalu berpencar, memimpin anak buah Beng-cu yang berjumlah belasan orang.

Tok-sim Nio-cu pergi bersama Lim-kwi Sai-kong karena Beng-cu tidak memperbolehkan ia bersama Pek-liong.

Pek-liong ditemani Hek-giam-ong Lok Hun, sedangkan Pek I Kongcu memimpin beberapa orang anak buah.

Mereka berpencar dan masing-masing membawa sebuah sempritan terbuat dari bambu untuk memberi tanda kepada kawan-kawan kalau mereka bertemu bahaya atau bertemu musuh.

"Kita menghadang musuh dari sini!"

Kata Pek-liong kepada Hek-giam-ong Lok Hun. Mendengar ajakan ini, Hek-giam-ong mengerutkan alisnya dan matanya berkilat.

"Hemm, tidak akan ada musuh berani datang melalui padang rumput yang diterangi sinar bulan seperti itu. Dia pasti muncul dari semak belukar atau hutan!"

"Hek-giam-ong, bukankah tadi Beng-cu menyuruh engkau membantu aku? Itu berarti bahwa aku yang menjadi pimpinan dan aku yang bertanggung jawab. Engkau tinggal mematuhi saja. Mari!"

Pek-liong lalu melompat ke depan, menuju ke padang rumput yang berada di sebelah kiri.

Si tinggi kurus muka hitam itu mengeluarkan suara mengomel, akan tetapi dia tidak berani membantah karena tadi memang dia yang harus membantu Pek-liong, dan Beng-cu tentu akan marah kalau dia tidak mentaati Pek-liong.

Biarlah, pikirnya, yang akan bertanggung jawab adalah Pek-liong!

Sambil bersungut-sungut dan memanggul ruyungnya yang berat, diapun mengejar di belakang Pek-liong yang membawa sebatang pedang yang dipinjamnya dari ruangan belajar silat.

Tentu saja hanya Pek-liong yang sudah hafal akan kebiasaan Liong-li.

Demikian pula Liong-li tahu bahwa Pek-liong akan dapat menduga cara yang dipergunakannya.

Pek-liong tahu bahwa Liong-li cerdik sekali.

Tamu malam biasa, tentu akan melakukan seperti yang dikatakan atau diduga oleh Hek-giam-ong tadi, yaitu datang berkunjung melalui tempat-tempat gelap yang terlindung semak-semak atau pohon-pohon.

Akan tetapi justeru kebiasaan tamu malam ini dijauhi oleh Liong-li.

Wanita perkasa itu tentu akan memilih keadaan sebaliknya sehingga tidak akan mudah diduga lawan.

Ia tentu akan mengambil jalan yang melalui padang rumput itu.

Ketika mereka tiba di padang rumput yang rumputnya tebal dan subur itu, mereka berdua memandang dan tidak melihat ada bayangan orang di sana.

Sinar bulan sepenuhnya menyinari padang rumput yang tidak ada pohonnya itu dan suasana sunyi, namun pemandangan amatlah indahnya.

Padang rumput itu nampak hijau kekuningan, segar dan angin semilir membuat ujung-ujung rumput bergoyang-goyang seperti sekelompok penari.

Namun tidak kelihatan ada orang di situ.

Tiba-tiba Pek-liong berteriak dengan lantang.

"Musuh yang bersembunyi di sana! Cepat keluar memperlihatkan diri sebelum kami terpaksa menyerang dengan senjata rahasia kami!"

Hek-giam-ong sudah hampir tertawa, mentertawakan Pek-liong yang dianggap tolol itu ketika tiba-tiba dari tengah padang rumput itu berkelebat bayangan hitam yang tadinya bertiarap sehingga tidak nampak di antara rumput yang tebal dan tinggi.

Begitu melompat, bayangam hitam itu sudah langsung saja menerjang ke arah Hek-giam-ong yang bersenjata ruyung karena si tinggi kurus muka hitam ini yang.

terdekat dengannya.

Hek-giam-ong terkejut bukan main.

Di bawah sinar bulan purnama, dia tidak dapat melihat dengan jelas keadaan musuh yang bergerak amat cepatnya itu, akan tetapi yang diketahuinya adalah bahwa lawan ini berpakaian serba hitam dari kepala sampai mukanya dikerodongi kain hitam pula, hanya memperlihatkan sepasang mata yang mencorong mengerikan!

Dia cepat menggerakkan ruyungnya menangkis.

"Trangggg......!"

Pedang di tangan orang itu terpental dan hampir terlepas. Orang itu terkejut sekali dan meloncat untuk melarikan diri. Pada saat itu, Pek-liong sudah menyambitkan pedangnya sambil berseru nyaring.

"Engkau hendak lari ke mana?"

Pedang di tangannya meluncur ke arah tubuh hitam yang melarikan diri itu.

"Aduhhhh......!"

Orang berkedok itu berteriak dengan suara parau dan tubuhnya terus berloncatan jauh ke depan sambil membawa pedang yang dilemparkan Pek-liong tadi, yang agaknya menancap di tubuhnya!

Pek-liong dan Hek-giam-ong mengejar, akan tetapi orang itu sudah menghilang ke dalam hutan terdekat yang gelap.

Hek-giam-ong menjadi bingung karena tidak tahu harus mengejar ke mana.

Pada saat itu, terdengar suara sempritan nyaring sehingga mengejutkan Hek-giam-ong.

Kiranya sempritan itu dibunyikan oleh Pek-liong yang terus mengejar ke depan.

Baru Hek-giam-ong teringat dan diapun meniup sempritan yang berada di kantungnya.

Sebentar saja, mereka semua telah ikut mengejar ke situ.

Tok-sim Nio-cu bersama Lim-kwi Sai-kong, dan Pek I Kongcu bersama belasan orang anak buah.

"Kami bertemu dengan seorang musuh!"

Kata Hek-giam-ong sambil mengamang-amangkan ruyungnya.

"Dia lari ke depan! Kejar!"

Kata Pek-liong mendahului dan mereka semua melakukan pengejaran. Akan tetapi, sampai jauh mereka mengejar dan memeriksa, ternyata si kedok hitam itu lenyap tanpa meninggalkan bekas.

"Dia sudah terluka terkena sambitan pedangku!"

Kata Pek-liong penasaran.

"Dia tidak berapa lihai. Sekali tangkis dengan ruyungku, pedangnya hampir terlepas dari tangannya, dia lari dan disambit pedang oleh Pek-liong. Jelas sambitan itu mengenai sasaran karena dia mengaduh, akan tetapi masih mampu melarikan diri!"

Kata Hek-giam-ong membanggakan kemenangannya.

Karena mereka tidak berhasil menemukan Musuh itu, mereka lalu kembali ke markas untuk melaporkan hal itu kepada Siauw-bin Ciu-kwi.

Beng-cu ini mengerutkan alisnya.

"Jaga yang ketat. Ingatlah bahwa kita memiliki benda yang amat berharga, yang perlu dijaga siang malam dengan ketat. Jangan khawatir, bagian kalian kelak akan dapat kalian pergunakan untuk selama hidup!"

Ucapan itu tentu saja menggembirakan hati para pembantunya, dan Pek-liong berkata.

"Harap Beng-cu jangan khawatir. Selama ada aku di sini tidak ada seorangpun musuh yang akan dapat mengganggu!"

Biasanya, yang membenci Pek-liong adalah Hek-giam-ong dan Pek I Kongcu.

Kini, Hek-giaam-ong diam saja karena tadi dia sudah membuktikan kebenaran pendapat Pek-liong.

Hanya Pek I Kongcu yang berkara lirih.

"Hemm, jangan menyombongkan diri dulu, Pek-liong. Kesanggupanmu itu haruslah kita lihat dulu buktinya."

Pek-liong tersenyum.

"Mari kita berlumba, Pek I Kongcu, berlumba untuk membuat jasa. Yang jelas saja, aku sudah berhasil membunuh Hek-liong-li dan baru saja melukai seorang mata-mata musuh."

"Hemm, hal itupun harus dibuktikan dulu, Pek-liong. Tidak ada bukti bahwa Hek-liong-li telah tewas, dan siapa tahu tamu tak diundang yang muncul tadi adalah Hek-liong-li!"

Pek-liong menyembunyikan perasaan kagetnya.

Diam-diam dia memuji kecerdikan tokoh sesat yang tampan ini dan dia harus berhati-hati karena orang ini ternyata lihai dan cerdik.

Akan tetapi, dia mendapatkan bantuan dari Hek-giam-ong yang tidak secerdik Pek I Kongcu.

"Ah, tidak mungkin kalau orang tadi Hek-liong-li. Bukankah ia telah terluka oleh sambitan pisau dan jelas nampak ia tenggelam dan air telaga mengandung darah? Dan kalau orang tadi Hek-liong-li, masa sekali tangkis saja aku dapat membuat ia melarikan diri?"

"Sudahlah, jangan kalian ribut-ribut. Yang penting adalah bekerja sama untuk menjaga agar jangan sampai ada musuh menyelundup masuk. Kita berjaga dan menanti sampai Po-yang Sam-liong kembali membawa tenaga yang kubutuhkan,"

Kata Siauw-bin Ciu-kwi dan para pembantunya tidak berani ribut-ribut lagi.

Pek-liong maklum bahwa biarpun nampaknya dia diberi kebebasan oleh Siauw-bin Ciu-kwi, namun beng-cu itu masih belum percaya sepenuhnya kepadanya dan para pembantu yang lihai dari beng-cu itu selalu mengamati gerak-geriknya.

Maka diapun tidak mau melakukan sesuatu yang mencurigakan dan kalau tidak sedang bertugas jaga, dia berdiam saja di dalam kamarnya.

Malam itu, ketika dia sedang beristirahat di kamarnya, pintu kamarnya diketuk perlahan dari luar.

Pek-liong membuka daun pintu kamarnya dan Tok-sim Nio-cu menyelinap masuk tanpa permisi lagi.

Bagi wanita ini, ia tidak perduli kamar pria mana yang akan dimasukinya, dan iapun tidak perduli apakah ada orang lain melihat ia memasuki kamar Pek-liong!

Pek-liong mengerutkan alisnya, akan tetapi wanita itu telah duduk di tepi pembaringannya.

Diapun duduk di atas kursi dan bertanya dengan suara tenang.

"Tok-sim Nio-cu, ada keperluan apakah engkau datang mengunjungi aku!?"

Dengan ha-lus dia lalu mengusirnya.

"Aku ingin beristirahat, kalau ada perlu, cepat katakan dan tinggalkan aku."

Tok-sim Nio-cu tersenyum manis. Ia tidak bangkit, bahkan lalu merebahkan diri telentang dengan gaya yang memikat sekali.

"Aih, Pek-liong. Apa salahnya kalau aku menemanimu beristirahat di sini? Aku kesepian dan hawa malam ini dingin sekali. Mari, naiklah ke sini, Pek-liong, dan aku akan membuat engkau senang!"

Pek-liong bangkit berdiri.

Tentu saja dia sudah mengenal wanita macam apa adanya Tok-sim Nio-cu ini.

Seorang wanita cabul, gila lelaki, hamba nafsu berahinya sendiri dan selalu menggoda pria yang menarik hatinya.

"Tok-sim Nio-cu, dengar baik-baik! Aku juga bukan seorang perjaka yang bersih dan alim, akan tetapi ketahuilah bahwa aku datang ke sini bukan untuk bermain gila denganmu! Aku datang ke sini untuk mencari keuntungan, untuk mendapatkan bagian dari harta karun!"

Lalu ditambahkannya dengan tekanan mantap.

"Dan terus terang saja, sebagai wanita engkau tidak menarik hatiku dan minatku!"

Tok-sim Nio-cu mengerutkan alisnya dan pandang matanya jelas membayangkan kemarahan dan kekecewaan, akan tetapi segera ia menutupi semua itu dengan senyum.

"Pek-liong, engkau datang untuk mencari harta karun, bukan? Mengapa harus menerima bagian sedikit saja dari Beng-cu? Alangkah senangnya kalau kita berdua bisa mendapatkan seluruhnya, dibagi dua saja antara kita!"

Pek-liong terkejut, akan tetapi kecerdikannya bekerja.

Dia melihat perbedaan, bahkan sikap yang sebaliknya dari tadi Tok-sim Nio-cu berusaha merayunya, itu adalah Tok-sim Nio-cu yang sebenarnya, yang sudah menjadi gila oleh nafsunya sendiri.

Akan tetapi yang kedua ini, sikap yang amat berbeda ini tentu bukan sikap yang wajar, melainkan pura-pura, sandiwara!

Diapun mengerti bahwa tentu Tok-sim Nio-cu yang gagal memikat hatinya, kini menggunakan siasat yang agaknya sudah diatur oleh Siauw-bin Ciu-kwi untuk menguji dan menjebaknya!

Dia menduga bahwa tentu Siauw-bin Ciu-kwi hendak mengujinya melalui wanita palsu ini.

Maka, diapun memandang marah.

"Tok-sim Nio-cu, engkau perempuan rendah tak tahu malu! Engkau pengkhianat yang layak dipukul!"

Berkata demikian, Pek-liong sudah maju dan tangan kirinya menampar ke arah pipi wanita itu. Tentu saja Tok-sim Nio-cu mengelak dan iapun menjadi marah.

"Keparat yang tak tahu diri!"

Bagi wanita ini, setiap orang pria yang tidak menguntungkan dirinya, tidak mau melayaninya, berubah menjadi orang dibencinya.

Maka sambil mengelak ia sudah mengeluarkan kipasnya, satu di antara senjatanya yang ampuh.

Ia tidak membawa pedangnya, karena niatnya juga bukan untuk berkelahi, melainkan untuk bermain mata dengan pria yang ganteng dan gagah ini.

Kini, dengan kipas di tangan, Tok-sim Nio-cu sudah menyerang dengan ganas, gagang kipasnya menjadi senjata penotok yang ampuh.

Namun, Pek-liong juga mengelak dan terjadilah perkelahian di dalam kamar itu.

Pek-liong sengaja melayani wanita itu karena diapun ingin menguji dan mengukur sampai di mana kepandaian seorang di antara calon-calon lawannya ini.

Kalau sudah tiba saatnya, tentu ita akan bertanding sungguh-sungguh melawan Tok-sim Nio-cu.

Dan dia mendapat kenyataan bahwa ilmu permainan kipas wanita itu cukup hebat, walaupun belum merupakan bahaya besar bagi dia maupun Liong-li.

Dia mengelak atau menangkis dan membalas dengan tangan kosong.

Tiba-tiba daun pintu kamar itu terbuka dan muncullah Siauw-bin Ciu-kwi.

"Hei, mengapa kalian ini? Hentikan!"

Bentak Beng-cu itu dan dua orang yang sedang saling serang mati-matian itupun menghentikan gerakan mereka. Dengan wajah muram Pek-liong segera melaporkan.

"Beng-cu, harap tangkap wanita ini! Ia telah membujuk dan mengajak aku untuk berkhianat, untuk mendapatkan harta karun berdua saja dengannya!"

Beng-cu itu tertawa.

"Ha-ha-ha, sudahlah, Pek-liong. Ia memang sengaja untuk mengujimu, dan aku menyuruhnya."

Jawaban ini tentu saja sama sekali tidak mengejutkan hati Pek-liong yang memang sudah menduganya, akan tetapi dia berpura-pura terkejut dan memandang heran, juga penasaran.

"Akan tetapi, Beng-cu! Apa artinya ini? Mengapa ia berbuat demikian kepadaku dan mengapa pula Beng-cu yang menyuruh ia berbuat demikian?"

"Untuk menguji kesetiaanmu, Pek-liong."

Dan hatinya puas sudah.

"Sekarang, jangan lagi kalian saling mendendam karena kalian berdua adalah pembantu-pembantuku yang paling utama dan kalau harta karun itu sudah kita peroleh, kalian akan mendapatkan bagian yang paling besar di antara semua pembantuku."

"Terima kasih, Beng-cu, terima kasih!"

Kata Pek-liong dengan sinar mata gembira dan wajah berseri.

Akan tetapi, Tok-sim Nio-cu masih agak cemberut karena bagaimanapun juga, wanita ini merasa kecewa dan merasa dipandang rendah oleh Pek-liong yang menolak cintanya!

Dan Pek-liong juga maklum bahwa seorang wanita yang terhina karena ditolak cintanya akan merupakan musuh yang amat berbahaya dan amat membencinya.

Pada keesokan harinya, mulailah Po-yang Sam-liong membawa tenaga-tenaga bantuan yang terdiri dari pemuda-pemuda dari dusun yang bertubuh kekar.

Mereka itu mau diajak oleh Po-yang Sam-liong, bukan saja karena takut kepada tiga orang tokoh Telaga Po-yang itu, akan tetapi juga tertarik oleh janji upah yang besar.

Dan mulailah Tok-sim Nio-cu yang dikecewakan Pek-liong itu berpesta pora.

Sambil menanti berkumpulnya limapuluh orang, jumlah yang dibutuhkan, wanita ini seenaknya memilih beberapa orang pemuda dan mengajak mereka ke kamarnya.

Tentu saja para pemuda dusun itu tidak menolak ajakan seorang wanita yang demikian cantiknya, apa lagi dibujuk dengan hadiah berharga.

Mereka bahkan berlumba untuk memuaskan nafsu Tok-sim Nio-cu yang tak pernah mengenal puas itu!

Melihat ini, Pek I Kongcu juga menjadi iseng dan dia mengajak para pelayan wanita muda yang manis-manis dari Beng-cu.

Bergantian para pelayan itu dengan senang hati melayani Pek I Kongcu.

Pek-liong melihat ini semua dan dia hanya tersenyum.

Selama masih memiliki kelemahan itu, diperhamba nafsu berahi, dua orang itu berkurang bahayanya.

Diapun bersembunyi saja dalam kamarnya, kadang-kadang melihat kalau ada rombongan tenaga baru datang dan menduga-duga apakah ada Liong-li menyelinap di antara mereka.

Dia merasa yakin bahwa Liong-li takkan tinggal diam, tentu wanita perkasa itu telah membuat persiapan.

Entah bagaimana caranya, dia sendiri belum dapat menduga.

Liong-li terlalu cerdik dan banyak akal, lebih cerdik dari dia sendiri, dan dia tahu betapa pandainya Liong-li melakukan penyamaran.

Untuk ilmu penyamaran ini, Liong-li berguru kepada tokoh pemain wayang di kota raja.

Dia sendiri pernah mempelajarinya, namun dibandingkan dengan Liong-li, dia masih hijau.

Di antara segala nafsu yang berada dalam diri manusia, yang paling berbahaya dan amat kuatnya dalam usahanya menguasai hati dan akal pikiran manusia adalah nafsu yang timbul dari daya rendah benda!

Hal ini adalah karena benda-benda mendatangkan banyak kesenangan bagi manusia.

Dan benda terjadi karena bekerjanya akal pikiran manusia yang selalu berusaha untuk menjadikan kehidupan di dunia ini terasa nikmat.

Maka, tiada habis dan tiada hentinya pikiran menciptakan benda-benda yang dapat membuat kita menikmati kehidupan.

Semua ini merupakan anugerah dari Tuhan Maha Kasih, dan kita wajib bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas anugerah ini.

Namun, benda-benda buatan kita ini ternyata merupakan pula musuh dalam selimut yang amat berbahaya.

Daya kekuatannya amat besar dan daya rendah benda selalu berusaha untuk mencengkeram dan menguasai diri kita sehingga kita dapat diperbudak olehnya.

Kalau kita manusia sudah menjadi hamba dari daya rendah kebendaan ini, maka nampaklah sikap dan perbuatan yang amat rendah, seperti keinginan menumpuk harta kekayaan dengan cara apapun juga, tidak perduli dengan cara yang halal maupun yang haram.

Terjadi pencurian, penipuan, perampokan, korupsi dan tindak pidana lain.

Nampak pula watak iri hati, murka, kikir.

Membuat orang menjadi budak nafsu amarah, karena dirinya telah lenyap, artinya yang penting adalah benda-benda itu sendiri!

Manusianya terlupa, yang teringat hanya benda-benda berharga.

Segala macam benda yang ada, memang diperuntukkan manusia.

Demikian besarnya kemurahan dan kasih sayang Tuhan kepada kita.

Namun, diperuntukkan kepentingan manusia hidup, apa yang diperlukan saja!

Bukan untuk dijadikan makanan nafsu yang takkan pernah merasa cukup.

Manusia boleh saja mencari harta benda, boleh saja mencari uang, karena hal itu amat perlu bagi kehidupannya.

Akan tetapi, harta yang kita cari itu tetap menjadi alat keperluan hidup, menjadi hamba yang melayani kita manusia, bukan lalu didewa-dewakan, lalu disembah dan diangkat menjadi majikan, dan kita menjadi hambanya!

Kita pergunakan harta yang kita dapatkan untuk kepentingan hidup kita, keluarga kita, handai taulan dan manusia lain yang memerlukannya.

Kalau kita tidak diperbudak oleh harta, maka tentu kita tidak akan menjadi kikir, kita tidak merasa sayang untuk mempergunakan harta demi prikemanusiaan, menuruti dorongan hati, yaitu kasih sayang antara manusia yang digerakkan oleh kasih sayang Tuhan Kalau kita tidak diperbudak oleh benda, tentu kita tidak suka melakukan hal-hal yang tidak baik, hal-hal yang haram, untuk memperolehnya.

Kalau kita mendapatkan benda atau harta dengan cara yang halal, yang diridhoi Tuhan, maka harta itu akan mendatangkan nikmat hidup yang luar biasa bagi kita.

Namun, sungguh kita harus berhati-hati, harus selalu mohon petunjuk dari Tuhan Maha Kasih, untuk dapat menjadi manusia yang utuh, yang tidak diperhamba oleh nafsu-nafsu kita, terutama nafsu yang timbul dari daya rendah kebendaan.

Daya rendah kebendaan ini amatlah kuatnya, dan tanpa bantuan kekuasaan Tuhan Yang Maha Kasih, kita manusia kiranya akan teramat sukarnya menanggulanginya.

Karena kita amat membutuhkan benda, kita sudah begini tergantung kepada benda dalam kehidupan ini.

Makin maju dunia ini, majunya adalah majunya kebendaan dan kita semakin terpengaruhi.

Kita tidak mungkin dapat membebaskan diri dari bantuan kebendaan.

Asal kita selalu ingat bahwa kita harus memperalat benda, bukan malah diperalat.

Kalau kita mau membuka mata mengamati penuh kewaspadaan, akan nampak betapa kita ini tak berdaya tanpa bantuan kebendaan, dan betapa nampak bahwa manusia ini sudah dijadikan hamba-hamba yang menuruti segala kehendak setan itu, daya rendah kebendaan itu.

Lihat saja betapa di mana-mana terjadi perang, permusuhan, tipu menipu, segala bentuk kejahatan hanya untuk saling memperebutkan kebendaan!

Daya rendah kebendaan yang sudah mencengkeram manusia, membuat manusia menjadi penjahat, setidak-tidaknya menjadikan manusia kikir, tamak dan tidak mengenal prikemanusiaan.

Agaknya Siauw-bin Ciu-kwi lupa bahwa harta benda yang amat besar akan membuat mata para pembantunya menjadi hijau!

Dia terlalu percaya kepada para pembantunya, tentu saja mengandalkan kepandaiannya.

Seujung rambutpun dia tidak pernah menduga bahwa orang-orang macam Po-yang Sam-liong berani untuk mengkhianatinya, menjadi nekat karena terpengaruh oleh nafsu ingin menguasai atau memiliki harta karun yang peta rahasianya telah berada di tangannya!

Ketika Po-yang Sam-liong mendapat tugas untuk mengumpulkan limapuluh orang tenaga kasar, kesempatan ini dipergunakan oleh Po-yang Sam-liong untuk mengatur siasat!

Tiga orang raksasa she Poa itu, tiga bersaudara yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sudah terkenal sebagai penguasa daerah Telaga Po-yang, hanya karena terpaksa saja mereka mau menjadi anak buah Siauw-bin Ciu-kwi yang menjadi beng-cu (pemimpin) mereka.

Mereka telah dikalahkan oleh Tok-sim Nio-cu dan mereka maklum bahwa ilmu kepandaian Siauw-bin Ciu-kwi dan para pembantunya terlalu tinggi bagi mereka untuk menentang maka terpaksa mereka menakluk dan menjadi anak buah.

Namun, tentu saja di dalam hati, mereka merasa penasaran.

Mereka bukan orang-orang yang biasa menjadi anak buah, melainkan biasanya menjadi pemimpin.

Ketika mereka melihat betapa Siauw-bin Ciu-kwi mendapatkan patung emas, kemudian dari dalam patung emas itu ditemukan peta yang mengandung rahasia penyimpanan harta karun, tentu saja hati mereka terguncang oleh keinginan keras untuk dapat memiliki harta karun itu, bukan sekedar menerima upah kelak dari beng-cu mereka.

Dan melihat betapa Siauw-bin Ciu-kwi membutuhkan limapuluh orang pekerja, mereka dapat menduga bahwa tentu harta karun itu amat besar jumlahnya dan berada di tempat yang sukar untuk dibongkar sehingga membutuhkan demikian banyaknya orang.

Ketika mereka bertiga diberi kesempatan selama tiga hari untuk mengumpulkan limapuluh orang pekerja kasar, Po-yang Sam-liong lalu menghubungi Yang-ce Ngo-kwi (Lima Iblis Sangai Yang-ce).

Yang-ce Ngo-kwi adalah lima orang kakak beradik seperguruan yang menjadi pimpinan gerombolan bajak Sungai Yang-ce-kiang.

Mereka itu merupakan sahabat baik dari Po-yang Sam-liong, dan semenjak bertahun-tahun mereka itu saling bantu.

Po-yang Sam-liong tidak pernah mengganggu daerah Sungai Yang-ce yang dikuasai Yang-ce Ngo-kwi, yaitu di sepanjang sungai itu di daerah yang panjangnya kurang lebih seratus lie.

Tentu saja bagian lain dari sungai yang teramat panjang itu dikuasai oleh tokoh-tokoh sesat yang lain.

Sebaliknya, Yang-ce Ngo-kwi dan anak buah mereka tidak pernah mau mengganggu daerah Telaga Po-yang.

Mendengar cerita Po-yang Sam-liong tentang patung emas, lima orang kepala bajak sungai itu merasa tertarik sekali.

Orang pertama bernama Coa Kun, berusia empatpuluh lima tahun dan bertubuh tinggi kurus.

Orang kedua dan ketiga kakak beradik, hanya dikenal dengan nama A Kwan berusia empatpuluh tiga tahun yang berperawakan sedang dan A Ban berusia empatpuluh satu tahun bertubuh pendek kecil.

Orang keempat dan kelima juga kakak beradik, yang pertama bernama Ji Hok berusia empatpuluh tahun dengan tubuh tinggi besar dan adiknya Ji Lok berusia tigapuluh delapan tahun bertubuh pendek gendut.

Mereka itu adalah kakak beradik seperguruan dan mereka terkenal amat lihai dengan permainan golok mereka.

"Rahasia Patung Emas? Pernah kami mendengar cerita tentang itu, akan tetapi karena cerita itu mengenai Telaga Po-yang, kamipun tidak memperhatikan lagi. Kami tidak ingin mengganggu Telaga Po-yang karena kami selalu bersahabat dengan kalian,"

Kata Coa Kun orang tertua kepada tiga orang tamunya itu. Poa Seng, orang pertama dari Po-yang Sam-liong, mengangguk-angguk.

"Kami percaya sepenuhnya akan kesetiakawanan Yang-ce Ngo-kwi. Kami sendiri tadinya hanya menganggap bahwa cerita itu merupakan dongeng rakyat. Akan tetapi, kemudian kami mendengar akan adanya peta rahasia tentang patung emas yang terjatuh ke dalam tangan Thio Kee San, maka kami menangkapnya dan menghajarnya sampai mati. Dalam peristiwa itulah kami bertemu dengan para pembantu Siauw-bin Ciu-kwi dan kami ditundukkan, dipaksa menakluk dan menjadi pembantu Siauw-bin Ciu-kwi yang mengangkat diri menjadi beng-cu."

Dia lalu menceritakan semua keadaan, menceritakan pula tentang hasil yang dicapai Beng-cu sehingga bukan saja patung emas dikuasainya, akan tetapi juga peta yang tersembunyi di dalam patung itu, peta yang amat berharga!

"Peta itulah yang penuh rahasia dan amat berharga!"

Poa Seng melanjutkan ceritanya yang amat menarik perhatian lima orang pemimpin bajak sungai itu.

"Biarpun Beng-cu menyembunyikan dan merahasiakan dari para pembantunya, namun kami dapat mengira-ngira bahwa tentu harta karun itu amat besar. Buktinya, dia menyuruh kami untuk mengumpulkan limapuluh orang tenaga kasar. Hal ini saja menunjukkan bahwa selain tempat itu sulit ditemukan, melalui pembongkaran dan kerja keras, juga sudah pasti harta karun itu banyak sekali!"

Yang-ce Ngo-kwi semakin tertarik, akan tetapi mereka saling pandang dan bersikap hati-hati.

"Hemm, memang menarik sekali, Akan tetapi, saudara Poa, sedangkan kalian bertiga saja takluk kepada mereka, apa lagi kami. Apakah kalian menyuruh kami menyerang mereka dan mengalami kehancuran kami?"

"Wah, Yang-ce Ngo-kwi terlalu merendahkan diri!"

Kata Poa Seng.

"Terus terang saja, kalau mengenai ilmu silat, memang mereka itu merupakan sekumpulan orang yang berkepandaian tinggi dan lihai sekali. Apa lagi, seperti kuceritakan tadi, Pek-liong-eng juga menjadi pembantu Beng-cu, bahkan orang seperti Hek-liong-li tewas di tangan Pek-liong. Kalau kita hanya mempergunakan tenaga kekerasan menyerbu, memang hal itu amat sukar. Ilmu kepandaian kalian berlima, biarpun lebih tinggi dari pada kami, kiranya belum cukup untuk dapat mengalahkan mereka. Ingat, Siauw-bin Ciu-kwi adalah seorang di antara Kiu Lo-mo, dia seorang datuk sesat yang sakti. Akan tetapi, kalian mempunyai anak buah yang amat banyak!"

Coa Kun mengerutkan alisnya.

"Hemm, jadi maksudmu kita menyerbu mengandalkan anak buah kami? Memang, kami dapat mengerahkan anak buah kami sampai duaratus orang banyaknya."

"Tidak, bukan begitu maksudku. Sebaiknya diatur begini. Kalian memilih sekitar duapuluh lima orang anak buah pilihan. Mereka ini akan berbaur dengan para pemuda dusun yang kupilih untuk melakukan pekerjaan membongkar tempat harta karun. Kita jadikan mereka sebagai mata-mata.

"Sementara itu, kalian bersama anak buah kalian bersembunyi tak jauh dari tempat dibongkarnya harta karun itu, dan kalau harta itu sudah berhasil ditemukan, kalian menyerbu, kami dan duapuluh lima orang anak buah, yang lebih dulu menyelundup itu membantu dari dalam. Dengan demikian, tentu mereka yang tidak mempunyai anak buah akan menjadi panik, dan kita berkesempatan untuk melarikan harta karun itu!"

Yang-ce Ngo-kwi mengangguk-angguk, saling pandang, kemudian mereka tertawa.

"Haha-ha, suatu gagasan yang amat baik!"

Kata Coa Kun.

"Kita biarkan mereka mencari harta karun itu, membiarkan mereka membongkarnya sampai dapat, setelah dapat kita turun tangan merampasnya! Alangkah mudah kelihatannya. Akan tetapi engkau sendiri yang mengatakan bahwa Siauw-bin Ciu-kwi adalah seorang di antara Kiu Lo-mo yang sakti, belum lagi para pembantunya Pek-liong-eng, Tok-sim Nio-cu, Lim-kwi Sai-kong, Pek I Kongcu dan Hek-giam-ong. Mereka semua adalah orang-orang yang memiliki kepandaian amat tinggi! Apakah tidak akan merupakan bunuh diri dan kita akan mati konyol sebelum bisa mendapatkan harta karun itu, Po-yang Sam-liong?"

"Yang-ce Ngo-kwi harap jangan khawatir. Bukankah pepatah mengatakan bahwa yang kalah otot harus menang otak? Kalau harta karun itu telah ditemukan, ada dua jalan yang dapat kita tempuh. Pertama, kita mengandalkan banyak anak buah untuk menyerbu dan di dalam kekacauan itu, kita tidak perlu ikut menyerbu, melainkan kita menggunakan saat kacau balau itu untuk melarikan harta karun."

"Hemm, berarti kita akan mengorbankan nyawa banyak anak buah kita!"

"Apa artinya anak buah dibandingkan harta karun? Biar kehabisan anak buah, kalau kita memiliki harta karun, apa sukarnya menghimpun lagi anak buah yang lebih banyak dan lebih kuat? Sebaliknya, memiliki banyak anak buah tanpa harta, malah merepotkan."

"Hemm, akan kami pikirkan itu. Akan tetapi apakah jalan yang kedua? Siapa tahu lebih baik."

"Jalan kedua adalah membujuk Siauw-bin Ciu-kwi untuk menyelamatkan harta karun ke atas perahu. Nah, kalau sudah berada di perahu dan perahu berada di atas telaga, apa sukarnya bagi kita? Ha-ha, betapapun lihainya Beng-cu itu bersama anak buahnya, kalau perahunya tenggelam dan mereka berada di air, sama sekali bukan lawan kita yang merupakan setan-setan air!"

"Bagus!"

Seru lima orang Yang-ce Ngo-kwi.

"Cara kedua ini jauh lebih baik!"

Mereka tentu saja menyetujui karena memang di samping pandai ilmu silat golok dan tenaga besar, mereka sebagai pimpinan bajak sungai juga memiliki ilmu di dalam air yang melebihi orang biasa.

Dan mereka tahu bahwa para ahli silat kenamaan menjadi mati kutu setelah mereka terjatuh ke dalam air yang dalam karena mereka tidak begitu pandai renang.

"Kita melihat perkembangannya sajalah nanti,"

Kata Po-yang Sam-liong.

"Yang penting sekali, apakah kalian menyetujui dan mau bekerja sama dengan kami?"

"Kami setuju!"

Seru Coa Kun gembira.

"Dan pembagian hasilnya?"

"Kita bagi masing-masing pihak setengahnya!"

"Setuju sekali!"

Demikianlah, selama tiga hari, Po-yang Sam-liong berhasil mengumpulkan limapuluh orang pria dari usia duapuluh sampai empatpuluh tahun.

Duapuluh lima orang yang menyamar sebagai orang-orang biasa adalah anak buah Yang-ce Ngo-kwi, sedangkan yang duapuluh lima orang lainnya adalah penduduk dusun di sekitar Po-yang.

Mereka mau menerima ajakan Po-yang Sam-liong karena janji upah yang cukup besar, jauh lebih besar dibandingkan hasil tani atau hasil mencari ikan mereka.

Bahkan banyak orang yang datang untuk ikut bekerja terpaksa ditolak karena jumlahnya telah mencukupi.

Di antara duapuluh lima orang dusun itu terdapat seorang pemuda bertubuh sedang ramping yang gerakannya gesit walaupun tubuhnya agak kecil.

Pemuda ini memiliki wajah yang bentuknya tampan, akan tetapi karena kulit mukanya penuh bopeng, atau tanda totol-totol hitam dan kotor, juga kulit muka, leher, kaki dan tangannya nampak hitam kotor, maka dia menjadi tidak menarik.

Po-yang Sam-liong menerima pemuda ini yang dibawa oleh pemuda-pemuda lainnya karena dia nampak gesit dan sehat.

Biar Pek-liong sekalipun kalau berhadapan dengan pemuda ini tentu sama sekali tidak akan dapat menduga bahwa pemuda ini bukan lain adalah Liong-li!

Seperti kita ketahui, Liong-li pada malam pertama itu berhasil memasuki daerah markas gerombolan penjahat dan kedatangannya telah diketahui oleh Pek-liong dan Hek-giam-ong.

Andaikata tidak ada Pek-liong di situ, Hek-giam-ong tentu tidak akan menduga bahwa tamu malam yang tidak diundang itu telah bertiarap di antara rumput.

Ketika Liong-li yang mendekam itu mendengar suara Pek-liong, ia merasa gembira sekali.

Suara Pek-liong itu jelas menandakan bahwa ia harus keluar dan dalam kesempatan itu tentu Pek-liong dapat memberitahukan sesuatu yang penting.

Maka iapun meloncat keluar dan langsung menggunakan Hek-liong-kiam menyerang Hek-giam-ong Lok Hun.

Pada saat Hek-giam-ong Lok Hun menangkis dengan ruyungnya, ia melihat Pek-liong menggerakkan tangan mencegah, maka cepat ia miringkan pedangnya sehingga mata pedangnya yang tajam tidak menyambut ruyung yang tentu akan membuat ruyung itu patah.

Bahkan ia sengaja mengendurkan tenaganya sehingga ia terpental dan meloncat jauh ke belakang, membuat gerakan melarikan diri.

Pada saat itulah, Pek-liong menyambitkan sebatang pedang.

Liong-li menyambut pedang, menangkap pedang dengan lagak terkena sambaran pedang, mengeluarkan teriakan mengaduh lalu menghilang ke dalam kegelapan hutan.

Setelah ia tiba jauh di kaki bukit, ia membaca surat yang tadi menempel di pedang yang disambitkan Pek-liong.

Surat itu singkat saja namun cukup jelas baginya.

"Peta rahasia dalam patung emas dikuasai beng-cu. Po-yang Sam-liong diutus mencari limapuluh orang tenaga untuk membongkar tempat penyimpanan harta karun. Menanti saat baik untuk turun tangan. Harap siap, kalau mungkin menyelundup di antara para pekerja."

Hanya itulah tulisan Pek-liong, namun ia sudah dapat menggambarkan apa yang terjadi.

Tentu harta pusaka itu bukan berupa sebuah patung emas yang biarpun berharga namun tidak sepadan dengan segala macam rahasia pada petanya.

Tentu patung emas itu menyimpan rahasia lain dan kini ternyata ada peta di dalam patung.

Peta harta karun!

Peta itu dikuasai Siauw-bin Ciu-kwi seorang, dan melihat betapa Ciu-kwi mencari limapuluh orang pekerja, tentu harta karun itu disimpan di tempat yang yang sukar didapat, mungkin membutuhkan banyak tenaga untuk membongkarnya.

Cepat Liong-li melakukan persiapan.

Ia menyamar sebagai seorang pria yang bermuka bopeng totol-totol hitam, dengan kulit badan hitam kotor pula.

Kemudian, ketika Po-yang Sam-liong mencari tenaga dari dusun, iapun menyelinap masuk setelah menyogok beberapa orang pemuda agar membawa ia ikut bekerja.

Tentu saja para pemuda dusun itupun tidak tahu bahwa pemuda buruk rupa itu adalah seorang gadis yang cantik jelita!

Ketika mencatatkan nama sebagai pekerja, Liong-li mempergunakan nama Cu Kim, yaitu kebalikan dari namanya sendiri.

She Cu bernama Kim, dan orang-orang segera menyebut si buruk rupa yang lincah ini A-kim!

Ia mendengar bahwa dari dusun, Po-yang Sam-liong hanya menggunakan duapuluh lima orang, sedangkan duapuluh lima orang lainnya sudah ada dan tak seorangpun tahu dari mana mereka datang, juga tidak ada yang mengenal mereka.

Dengan pengamatan matanya yang tajam, Liong-li melihat betapa duapuluh lima orang yang lain itu rata-rata memiliki sinar mata yang bengis dan kejam, juga mereka pendiam dan iapun menarik kesimpulan bahwa mereka tentulah anak buah Po-yang Sam-liong sendiri.

Diam-diam ia menjadi tertarik dan menduga-duga, mengapa Po-yang Sam-liong yang diutus mencari tenaga kerja sebanyak limapuluh orang itu agaknya menyelundupkan duapuluh lima orang anak buahnya!

Dengan cerdik sekali, Liong-li dapat menyelundupkan pedang Pek-liong-kiam dan Hek.

liong-kiam di antara perabot yang harus mereka bawa, yaitu linggis, cangkul dan sekop.

Juga buntalan pakaian karena menurut Po-yang Sam-liong, sebelum pekerjaan itu selesai, mereka semua tidak boleh meninggalkan tempat pekerjaan, diharuskan tidur di sana dan akan diberi makan.

Pada hari keempat, pagi-pagi sekali mereka semua disuruh berjalan dalam barisan, menuruni lereng Bukit Merak dan pergi ke sebuah bukit kecil di tepi Telaga Po-yang.

Tempat ini sunyi sekali karena bukit kecil itu merupakan bukit yang gersang, berbatu-batu dan tidak ada tumbuh-tumbuhan kecuali rumput liar.

Bukit ini penuh dengan ba-tu-batu besar dan guha-guha batu.

Siauw-bin Ciu-kwi yang memimpin perjalanan itu, dan berjalan di depan bersama Pek-liong dan Tok-sim Nio-cu, sedangkan Lim-kwi Sai-kong, Pek I Kongcu, Hek-giam-ong dan tiga orang Po-yang Sam-liong diharuskan berjalan di belakang pasukan pekerja.

Juga anak buah yang belasan orang banyaknya disuruh berjalan di belakang dan mereka ini yang diharuskan mengusir setiap orang yang berani mendekati tempat mereka bekerja.

Setelah tiba di lereng bukit berbatu itu, Siauw-bin Ciu-kwi berhenti, memberi isyarat kepada semua orang untuk duduk dan tidak boleh berkeliaran ke mana-mana.

Dia sendiri mengeluarkan peta dan memeriksa dengan seksama, keningnya berkerut dan telunjuknya menunjuk ke sana-sini.

"Nio-cu, dan engkau Pek-liong, coba periksa mana di antara guha-guha itu yang dalamnya tertutup oleh batu-batu sebesar kepala orang,"

Katanya.

Tok-sim Nio-cu dan Pek-liong yang sejak tadi, seperti yang lain, memandang dengan penuh perhatian dan hati tegang, segera bangkit dan melakukan pemeriksaan.

Para pekerja yang sudah siap itu, sebagian tidak mengerti pekerjaan apa yang harus mereka lakukan, dan mereka menanti dengan sabar.

Yang penting bagi mereka bekerja dan mendapatkan upah besar.

Sebaliknya, mereka yang menjadi anak buah Yang-ce Ngo-kwi diam-diam merasa tegang.

Mereka sudah diberitahu bahwa mereka menyamar sebagai tenaga pekerja dari dusun yang akan membongkar tempat harta karun, dan mereka harus mentaati isyarat yang diberikan oleh Po-yang Sam-liong.

Sebuah perahu kecil meluncur di tengah telaga.

Yang berada di atas perahu itu adalah Kam Sun Ting dan Kam Cian Li.

Kemarin dulu mereka berada di dalam perahu, di tepi telaga sambil meneliti kalau-kalau ada perahu penjahat berlayar.

Pada saat mereka mulai gelisah karena tidak pernah mendengar berita dari Liong-li maupun Pek-liong, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki muka buruk lewat dan laki-laki itu melemparkan sesuatu ke dalam perahu mereka.

Ketika Sun Ting memungut benda itu, ternyata sebuah batu yang dibungkus surat.

"Lusa kalau ada rombongan limapuluh orang mengikuti Beng-cu dan kawan-kawannya, kalian bayangi dari jauh. Kemudian persiapkan perahu di tempat terdekat. Jangan sekali-sekali mendekati mereka. Berbahaya."

Surat itu tanpa tanda tangan dan mereka berdua merasa heran sekali, tidak tahu siapa pemuda muka buruk totol-totol hitam yang mengirim surat itu, dan tidak tahu pula siapa penulis surat.

Namun melihat nadanya, tentu penulis surat itu Liong-li.

Ataukah Pek-liong?

Siapapun juga penulis surat itu, jelas bukan pihak lawan.

Bukankah mereka diperingatkan agar jangan mendekati Beng-cu dan rombongannya karena berbahaya?

"Kita ikuti saja petunjuk dalam surat ini,"

Kata Sun Ting kepada adiknya dan demikianlah, pada hari itu, pagi-pagi sekali mereka sudah siap siaga dengan perahu mereka.

Mereka bersembunyi di balik pohon-pohon, di kaki Bukit Merak.

Tak lama kemudian mereka melihat rombongan itu menuruni Bukit Merak.

Kakak beradik ini merasa heran.

Banyak sekali rombongan itu.

Dan merekapun melihat Pek-liong berjalan di depan bersama Siauw-bin Ciu-kwi dan melihat Tok-sim Nio-cu berjalan di samping Pek-liong, Cian Li mengepal tangannya.

"Perempuan hina itu lagi......!"

"Sssttt...... bukan waktunya untuk ribut dan cemburu, Li-moi. Mari kita bayangi dari jauh."

Dengan hati-hati sekali mereka membayangi dari jauh dan tidak sukar membayangi rombongan orang sebanyak itu.

Akhirnya, rombongan itu berhenti di bukit kecil dekat pantai dan kakak beradik inipun cepat mengambil perahu mereka dan kini mereka mendayung perahu hilir mudik sambil tetap melihat ke arah orang-orang yang berada di bukit kecil berbatu itu.

Mereka merasa heran sekali.

Mau apa para penjahat itu membawa banyak orang ke bukit berbatu-batu yang jarang dikunjungi orang itu?

Sementara itu, Tok-sim Nio-cu sudah menemukan guha yang penuh dengan batu-batu sebesar kepala orang, Dengan girang ia lalu melapor kepada Beng-cu yang segera mendekati guha itu, diikuti oleh para pembantunya.

Juga Pek-liong yang mendengar seruan Tok-sim Nio-cu, cepat mendekat.

"Inilah tempatnya. Tidak salah lagi, ini tempatnya!"

Kata Siauw-bin Ciu-kwi berulang kali dengan mata berkilat-kilat dan wajah berseri. Dia memeriksa kembali peta di tangannya, mulutnya berkemak-kemik, dan dia memandang ke empat penjuru.

"Dari depan guha dapat dilihat puncak Bukit Merak di belakang guha, telaga di depan guha, padang rumput di kiri guha dan dinding batu di kanan guha. Tepat, inilah! Po-yang Sam-liong, kerahkan orang-orang itu untuk membongkar batu-batu dan mengeluarkannya dari dalam guha. Akan tetapi hati-hati, tidak perlu tergesa-gesa. Kalau sudah nampak sebuah batu panjang seukuran manusia berdiri menyangga langit-langit guha, berhenti dan lapor kepadaku!"

Po-yang Sam-liong lalu memberi aba-aba dan limapuluh orang itu mulai bekerja.

Tentu saja tidak semua orang dapat memasuki guha yang lebarnya hanya kurang lebih tiga tombak itu.

Mereka bekerja dengan berbaris keluar, dan batu-batu sebesar kepala orang itu diangkut keluar dari tangan ke tangan.

Ternyata batu-batu itu banyak sekali dan setelah bekerja setengah hari lamanya, barulah batu-batu di mulut guha itu bersih dan mereka terus membongkar batu-batu yang berada di dalam guha.

Makin ke dalam, guha itu makin melebar dan agaknya dalam sekali, hanya tertutup oleh banyak sekali batu besar kecil.

Menjelang sore, barulah nampak batu seperti yang dimaksudkan Beng-cu tadi, yaitu batu yang berukuran manusia berdiri dan batu itu seperti menyangga langit-langit guha karena mengganjal dan tidak dapat diambil.

Segera Siauw-bin Ciu-kwi diberi laporan dan bersama para pembantunya, dia memasuki guha yang lebar itu.

"Bagus, tidak salah lagi. Akan tetapi ingat jangan ada yang mendorong batu ini. Biarkan saja batu ini berdiri di sini dan mulai besok pagi, kalian terus mengeluarkan batu-batu yang berada di dalam itu. Kalau bertemu batu yang tertanam dan melekat, harus dibongkar!"

Seperti juga siang tadi, para pekerja mendapat ransum makanan yang dipersiapkan oleh para pelayan wanita dan belasan orang anak buah Beng-cu.

Setelah makan malam, mereka semua diperbolehkan mengaso dan malam itu mereka tidur di dalam tenda-tenda yang dipasang di sekitar guha yang dibongkar.

Penjagaan dilakukan dengan ketat.

Siang tadi, ada orang yang tertarik melihat demikian banyaknya orang membongkar batu di situ, akan tetapi setelah melihat bahwa di situ ada Po-yang Sam-liong yang menghardik, orang-orang yang hendak menonton lari ketakutan dan tidak ada lagi orang berani mendekati bukit kecil itu.

Malam itu, biarpun mereka semua harus tidur di tempat yang demikian sederhana dan seadanya, tetap saja tidak dilewatkan dengan sia-sia oleh Tok-sim Nio-cu.

Ia memilih seorang pekerja yang cukup tampan dan berkulit bersih, dan dibawanya pemuda itu ke balik sebuah batu besar di mana ia mendirikan sebuah tenda kecil, bertilamkan rumput kering yang dikumpulkannya.

Pemuda dusun itu ternyata tidak kelihatan bodoh seperti yang lain, dan dengan gembira dia melayani wanita cantik yang penuh gairah itu.

Akan tetapi, menghadapi seorang wanita selihai Tok-sim Nio-cu, sebentar saja pemuda itu jatuh ke dalam rayuannya dan menjadi lunak seperti lilin, menurut apa saja yang dikehendaki Tok-sim Nio-cu dan menjadi permainannya.

Pemuda yang kurang pengalaman itu merasa yakin bahwa wanita itu benar-benar mencintanya, maka diapun tidak lagi dapat menyimpan rahasia!

Apa lagi ketika dengan suara manja, Tok-sim Nio-cu menyatakan cintanya, bahwa ia tidak lagi dapat berpisah dari pemuda itu, bahwa ia akan suka men jadi isterinya, pemuda itu mabok kepayang!

"Nio-cu, kekasihku, dengar baik-baik.

Kalau engkau benar mencintaiku seperti aku cinta padamu, kita dapat menjadi suami isteri, bahkan kita dapat hidup bersama dalam keadaan yang kaya raya.

Akan tetapi, engkau harus bersiap-siap dan begitu selesai pekerjaan ini, engkau harus lebih dulu melarikan diri dan bersembunyi......"

"Eh, apa maksudmu?"

Tanya Tok-sim Nio-cu sambil memperkuat rangkulannya.

"Kami akan merampas harta karun itu. Tentu akan terjadi pertempuran besar maka sebaiknya engkau menyingkir. Setelah nanti selesai dan aku mendapatkan bagianku, kita dapat menikah dan hidup senang!"

"Ih, apa sih yang kaumaksudkan? Ceritakan dulu yang jelas agar aku dapat mentaati pesanmu. Aku harus tahu keadaannya agar tidak kebingungan......"

Dengan pandainya Tok-sim Nio-cu mempergunakan kepandaiannya untuk membelai dan merayu sehingga pemuda itu makin menjadi lupa daratan!

Maka, diceritakanlah semua rencana yang diatur oleh Po-yang Sam-liong dan Yang-ce Ngo-kwi.

Dia mengaku bahwa dia bersama duapuluh empat orang anggauta atau anak buah Yang-ce Ngo-kwi menyelundup bersama para pekerja dari dusun, dan betapa Yang-ce Ngo-kwi dengan banyak anak buahnya juga sudah siap dan mengepung tempat itu.

Kalau sudah tiba saatnya, mereka semua akan bangkit dan menyerang rombongan Siauw-bin Ciu-kwi, dan merampas harta karun.

Mendengar cerita ini, tentu saja Tok-sim Nio-cu terkejut setengah mati.

Akan tetapi, ia tidak memperlihatkan kekagetannya.

Menurutkan hatinya, ingin sekali pukul ia membunuh pemuda pengkhianat ini.

Akan tetapi ia terlampau cerdik untuk melakukan hal itu.

Bahkan ia memperhebat permainan cintanya yang membuat pemuda itu semakin mabok dan keluarlah semua rahasia dari mulutnya, betapa Po-yang Sam-liong yang hendak berkhianat itu yang menghubungi Yang-ce Ngo-kwi.

Dengan cerdiknya Tok-sim Nio-cu bersumpah bahwa ia mencinta pemuda itu, dan memesan agar jangan sampai "rahasia"

Mereka yang akan menikah itu diketahui orang lain.

"Aku akan menanti sampai tiba saat itu. Kalau sekutumu sudah berhasil merampas harta karun dan terjadi pertempuran, aku akan lari menyembunyikan diri, menanti sampai engkau keluar sebagai pemenang, lalu kita kawin dan hidup berbahagia,"

Katanya pada keesokan harinya ketika pagi-pagi ia melepas pemuda itu meninggalkan tendanya.

Tentu saja Tok-sim Nio-cu cepat pergi menemui Siauw-bin Ciu-kwi di dalam tendanya.

Sepagi itu Siauw-bin Ciu-kwi sudah minum arak sampai mukanya menjadi merah sekali.

Hal ini menunjukkan bahwa hatinya gembira bukan main.

Dia telah membayangkan hasil pembongkaran guha itu, membayangkan harta karun yang dijanjikan oleh peta itu.

Harta karun yang menjadi simpanan Raja Cin-si Huang Ti, raja dari Dinasti Cin, delapanratus tahun lebih yang lalu!

Dia membayangkan bahwa dia akan menjadi seorang yang memiliki kekayaan berlimpah dan dengan kekayaan itu dia akan mampu membeli kedudukan raja muda sekalipun!

Ketika Tok-sim Nio-cu menceritakan rahasia yang dibocorkan oleh pemuda yang dijadikan teman tidurnya semalam, Siauw-bin Ciu-kwi terbelalak.

"Brakkk!"

Guci arak itu dicengkeram dan hancur lebur! "Jahanam busuk Po-yang Sam-liong!"

Bentaknya marah.

"Kuhancurkan kepala mereka seperti guci ini......!"

"Beng-cu, sabarlah. Jangan menuruti hati yang marah. Kalau kaulakukan itu, tentu timbul pemberontakan sekarang. Hal itu memang tidak mengapa karena kita akan mampu membasmi mereka. Akan tetapi pekerjaanmu menjadi terbengkalai dan tertunda. Sebaiknya kita pura-pura tidak tahu dan membiarkan mereka bekerja sampai harta karun itu didapatkan, baru kita mendahului mereka turun tangan."

Siauw-bin Cu-kwi memandang kepada wanita itu dengan sinar mata mencorong, lalu tiba-tiba dia tertawa.

Lengannya dijulurkan dan biarpun Tok-sim Nio-cu duduk agak jauh, namun lengan kanannya itu dapat mulur dan tahu-tahu tangan itu telah memegang lengan Tok-sim Nio-cu dan sekali tarik, tubuh wanita itu telah terjatuh ke atas pangkuannya.

Diam-diam Tok-sim Nio-cu terkejut dan kagum.

Bukan main beng-cu ini, memiliki ilmu yang amat tinggi.

"Engkau memang manis dan pantas menjadi pembantu utamaku, engkau pandai dan cerdik!"

Kata Siauw-bin Ciu-kwi sambil mencium pipi Tok-sim Nio-cu yang tertawa genit.

"Ih, Beng-cu. Apakah engkau telah minum terlalu banyak?"

Katanya dengan manja. Akan tetapi kedua lengan beng-cu itu memeluknya dengan sikap menyayang.

"Engkau memang manis, dan kegilaanmu terhadap laki-laki sekali ini ada gunanya. Untung engkau dapat membongkar rahasia itu, Nio-cu. Dan usulmu tadi memang baik sekali. Kita pergunakan mereka, pura-pura tidak tahu, dan pada saat terakhir, aku akan membasmi mereka! Ya, aku tahu bagaimana aku akan membasmi mereka, mengubur mereka hidup-hidup!"

Dia tertawa bergelak dan kembali menciumi Tok-sim Nio-cu untuk memperlihatkan kegirangan dan terima kasihnya.

Pekerjaan menggali batu-batu itu dilanjutkan dan ternyata guha itu dalam sekali, merupakan terowongan yang makin ke dalam menjadi semakin lebar!

Sehari itu mereka bekerja keras, namun masih tetap saja belum sampai di bagian terakhir, dan masih ada saja sisa batu-batu besar yang harus dikeluarkan dari dalam guha itu.

Baru pada hari ketiga, batu-batu habis dikeluarkan dan Siauw-bin Ciu-kwi sendiri memasuki guha itu, diikuti semua pembantunya termasuk Po-yang Sam-liong.

Sesuai dengan petunjuk dalam peta, beng-cu itu memeriksa keadaan bagian guha yang paling dalam.

Dia lalu memerintahkan agar semua pekerja menanti di luar guha dan dia hanya bersama para pembantunya.

Diam-diam Pek-liong memperhatikan para pekerja selama tiga hari itu dan diapun akhirnya atas bantuan Liong-li yang memberi isyarat, tahu bahwa pemuda muka totol-totol hitam hitam buruk itulah Liong-li!

Hatinya menjadi besar, apa lagi ketika Liong-li, dengan isyarat, memberitahu bahwa pedang mereka disembunyikan di bawah tumpukan batu di dasar guha, sebelah kiri, dia merasa tenang.

Siauw-bin Ciu-kwi yang berdiri di tengah ruangan terakhir itu, lalu melangkah ke kiri dan menghitung langkahnya.

Kemudian, dia berhenti dan berjongkok, meraba-raba dengan jari tangannya.

"Po-yang Sam-liong, kalian ambil linggis itu dan coba kalian bertiga gali lantai ini!"

Tiba-tiba dia berkata kepada tiga orang pembantunya itu.

Seperti para pembantu yang lain, pada saat itu hati tiga orang ini merasa tegang dan mendengar perintah itu, dengan senang hati mereka segera mengambil linggis dan mulai menggali lantai yang berbatu-batu.

Begitu linggis menggempur batu, semua orang sudah memandang dengan hati tegang karena jelas terdengar bahwa lantai itu bawahnya ada ruangannya.

Batu yang terpukul linggis itu berbunyi nyaring.

Penggalian dilanjutkan dan tak lama kemudian, setelah beberapa buah batu dibongkar, nanpaklah sebuah peti hitam!

Semua orang mengeluarkan seruan girang, dan kini semua orang membantu pembongkaran batu.

Ternyata di bawah batu terdapat lubang yang cukup lebar dan di situ terdapat sebuah peti hitam yang besarnya ada satu meter persegi.

Peti hitam segera diangkat naik, dan Siauw-bin Ciu-kwi menggunakan linggis untuk mencokel penutup peti yang berkarat.

Terdengar bunyi berkeratak dan tutup itupun terbuka.

Kembali semua orang mengeluarkan seruan kagum.

Begitu tutup dibuka, semua mata seperti menjadi silau oleh barang-barang yang berada di dalam peti itu.

Emas permata yang amat indah, berkilauan dan batu-batu permata itu seperti hidup berkedip-kedip.

Akan tetapi Siauw-bin Ciu-kwi segera menutupkan peti itu.

"Harap kalian tenang. Peti ini baru yang kecil. Ada sebuah lagi yang lebih besar dan isinya lebih banyak menurut petunjuk peta. Tempatnya di balik dinding sebelah kanan. Dinding itu harus dibongkar. Menurut petunjuk peta, batu-batu dinding yang harus dibongkar setebal dua meter. Harus mengerahkan tenaga mereka yang di luar. Po-yang Sam-liong, kalian kuserahi tugas untuk memimpin para pekerja membongkar dinding itu sampat peti besar itu terdapat. Aku menanti di luar."

Berkata demikian, Siauw-bin Ciu-kwi memberi isyarat kepada para pembantu lainnya untuk mengangkat peti hitam itu keluar.

Lim-kwi Sai-kong yang bertenaga besar lalu mengangkat peti hitam itu, dinaikkan ke atas pundaknya dan diapun melangkah keluar diikuti oleh Siauw-bin Ciu-kwi dan para pembantunya.

Juga Po-yang Sam-liong melangkah keluar paling akhir dan mereka sempat saling berbisik bahwa sebaiknya mereka menanti sampai "peti besar"

Itu dapat dikeluarkan, baru mereka akan turun tangan dan memberi isyarat kepada Yang-ce Ngo-kwi yang bersembunyi di luar bersama anak buah mereka.

Setelah Lim-kwi Sai-kong tiba di luar guha, para pekerja yang sejak tadi menanti dengan hati tegang, bersorak sorai penuh kegembiraan melihat peti hitam yang dipanggul keluar itu.

Tentu saja mereka bersorak gembira karena pekerjaan mereka berhasil baik dan mereka tinggal menanti upah dan hadiah.

Akan tetapi, Po-yang Sam-liong melangkah maju dan mereka mengangkat tangan menyuruh para pekerja tenang, kemudian terdengar suara Poa Seng.

Dia sengaja berteriak lantang karena dia bermaksud agar suaranya dapat pula didengar oleh Yang-ce Ngo-kwi.

"Saudara sekalian, dengar baik-baik! Pekerjaan kita belum selesai! Memang sudah ditemukan sebuah peti, akan tetapi itu hanya peti kecil, dan masih harus ditemukan lagi sebuah peti yang jauh lebih besar. Untuk itu, kita harus membongkar dinding guha yang dua meter tebalnya. Oleh karena itu, marilah kita masuk kembali ke dalam guha dan kita kerahkan tenaga untuk membongkar dinding itu agar pada hari ini juga kita akan dapat menemukan peti besar itu. Setelah ditemukan peti besar (Lanjut ke

Jilid 24) Sepasang Naga Penakluk Iblis (Seri ke 01-Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo

Jilid 24 itu, barulah pekerjaan selesai dan saudara sekalian akan diberi upah dan hadiah secukupnya!"

Mendengar teriakan ini, semua pekerja bersorak gembira dan merekapun berbondong-bondong mengikuti Po-yang Sam-liong memasuki guha.

Diam-diam Pek-liong memperhatikan dan dia tidak melihat pemuda bermuka totol-totol hitam.

Hemm, Liong-li tidak ikut masuk, pikirnya.

Tentu ada alasannya yang kuat dan dia semakin waspada.

"Jaga peti ini baik-baik,"

Kata Siauw-bin Ciu-kwi kepada lima orang pembantunya.

Lima orang itu merasa heran karena seolah-olah beng-cu itu mengkhawatirkan peti harta karun itu, akan tetapi mereka tidak bertanya dan dengan senjata siap di tangan, mereka berlima mendekati peti hitam.

Pek-liong juga berdiri dekat peti sambil memegang sebatang pedang yang dia dapat dari beng-cu.

Pedang yang cukup baik walaupun bukan senjata pusaka ampuh seperti Pek-liong-kiam.

Setelah melihat lima orang pembantunya itu berdiri mengelilingi peti harta karun, Siauw-bin Ciu-kwi lalu memasuki mulut guha.

Di depan guha, dia mengangkat sebuah batu yang besar sekali, sebesar perut kerbau.

Batu itu tentu berat bukan main, namun dengan tenaganya yang hebat datuk sesat itu mengangkat batu itu ke atas kepalanya, kemudian melemparkan batu ke arah batu seukuran orang yang berdiri menyangga langit-langit guha di mulut guha sebelah dalam.

"Darrrr......!"

Batu seukuran manusia itu pecah berantakan ketika dihantam batu besar yang dilontarkan Siauw-bin Ciu-kwi dan ledakan nyaring itu diikuti suara gemuruh.

Kiranya langit-langit yang tadi disangga oleh batu seukuran manusia itu runtuh dan batu-batu besar jatuh dari atas, kemudian menggelinding masuk ke terowongan guha karena memang terowongan itu menurun.

Ratusan batu besar menggelundung masuk dan segera suara gemuruh itu diikuti suara teriakan-teriakan mengerikan dari mereka yang berada di sebelah dalam terowongan guha karena mereka itu tiba-tiba diserang oleh ratusan batu-batu besar yang menggelinding dari luar!

Tok-sim Nio-cu tersenyum dan diam-diam ia kagum bukan main.

Kiranya itu yang dimaksudkan beng-cu untuk membasmi Po-yang Sam-liong dan anak buahnya yang hendak berkhianat!

Mereka itu dikubur hidup-hidup dalam himpitan batu-batu besar!

Dan iapun tahu bahwa pemberitahuan tentang peti besar tadi hanya suatu siasat belaka agar memancing Po-yang Sam-liong dan semua pekerja ke dalam terowongan untuk dikubur hidup-hidup!

Pek-liong terkejut sekali melihat peristiwa itu.

Dia belum dapat menduga akan adanya pengkhianatan yang dilakukan Po-yang Sam-liong, maka tentu saja dia merasa heran.

Mengapa beng-cu melakukan itu?

Tidak mungkin karena merasa sayang atau karena kikir membayar limapuluh orang itu.

Apa lagi di dalam terdapat pula Po-yang Sam-liong, tiga orang pembantunya.

Apakah beng-cu sengaja membunuh mereka dan akan membunuh semua pembantunya untuk dapat memiliki sendiri harta karun dalam peti itu?

Harta karun itu amat besar jumlahnya, tak mungkin dapat dinilai berapa besarnya.

Apakah harta karun itu membuat beng-cu menjadi tamak?

Para pembantu lainnya juga merasa terheran-heran, kecuali Tok-sim Nio-cu, Siauw-bin Ciu-kwi tertawa bergelak lalu berkata.

"Ha-ha-ha, kalian ketahuilah bahwa Po-yang Sam-liong berkhianat dan bersama anak buah yang diselundupkan di antara para pekerja, mereka hendak merampas harta karun ini, Ha-ha-ha, mereka terbasmi habis di dalam guha yang sudah kosong ini!"

Pada saat itu, terdengar sorak-sorai dan puluhan orang dari berbagai penjuru datang berlari-lari ke tempat itu dengan sikap mengancam, dan dengan senjata di tangan.

Mereka itu adalah Yang-ce Ngo-kwi dan kurang lebih limapuluh orang anak buah pilihan mereka.

Mereka tadi masih menanti tanda dari Po-yang Sam-liong.

Ketika mendengar suara gemuruh dan tahu bahwa Po-yang Sam-liong dan anak buah mereka itu terjebak di dalam terowongan guha, Yang-ce Ngo-kwi yang sejak tadi sudah berliur melihat peti hitam itu, segera mengajak anak buah mereka menyerbu!

"Nah, itu sekutu Po-yang Sam-liong datang menyerbu.

Mereka adalah Yang-ce Ngo-kwi dan anak buah mereka!"

Kata Tok-sim Nio-cu.

"Hemm, kalian semua basmi mereka. Aku akan menjaga peti ini. Habiskan anjing-anjing itu!"

Bentak Siauw-bin Ciu-kwi dan dia sendiri duduk di atas peti dengan sikap tenang.

Pek-liong, Tok-sim Nio-cu, Lim-kwi Sai-kong, Pek I Kongcu, dan Hek-giam-ong dengan senjata di tangan lalu menyambut para penyerbu.

Lima orang Yang-ce Ngo-kwi memecah pasukan menjadi lima bagian dan masing-masing memimpin sepuluh orang mengeroyok seorang pembantu Siauw-bin Ciu-kwi.

Terjadilah pertempuran yang mati-matian.

Pek-liong diserang oleh Coa Kun, orang pertama dari Yang-ce Ngo-kwi yang dibantu sepuluh orang anak buahnya.

Coa Kun yang tinggi kurus itu memegang sebatang golok yang lebar dan tipis, gerakan goloknya cepat bukan main sehingga yang nampak hanya sinar putih bergulung-gulung ketika Pek-liong menggunakan kegesitan tubuhnya untuk mengelak dengan berloncatan.

Namun, gulungan sinar golok itu mengejar terus dan terdengar suara berdesing-desing.

Dan pada saat itu, sepuluh orang anak buah Coa Kun juga sudah mengeroyok bagaikan serombongan semut, mempergunakan senjata mereka yang bermacam-macam dan ternyata mereka itupun semua memiliki ilmu silat yang lumayan.

Pek-liong menjadi agak ragu karena dia tidak mengenal siapa mereka dan apa sebenarnya maksud mereka menyerang Siauw-bin Ciu-kwi dan para pembantunya.

Dia sendiri hanya merupakan pembantu pura-pura saja dari beng-cu itu, bukan seorang yang benar-benar membelanya, bahkan dia siap menentang Siauw-bin Ciu-kwi, seorang datuk besar kaum sesat, seorang di antara Kiu Lo-mo yang terkenal amat jahat.

Maka, menghadapi pengeroyokan sebelas orang itu, dia lebih banyak mengelak dan menangkis, dan belum pernah membalas.

Oleh karena itu, maka dia nampak terdesak oleh pengeroyokan mereka.

Pada saat itu, nampak bayangan orang berkelebat dan pemuda yang mukanya totol-totol telah menerjang memasuki medan pertempuran, dan begitu ia melompat masuk, dua kali tubuhnya bergerak dan dua orang pengeroyok Pek-liong roboh terpelanting.

Orang itu bukan lain adalah Hek-liong-li dan ia segera melemparkan sebatang pedang kepada Pek-liong sambil berkata cepat.

"Mereka ini Yang-ce Ngo-kwi dan anak buah mereka yang membantu pengkhianatan Po-yang Sam-liong. Kita basmi mereka dulu, baru nanti menghadapi beng-cu dan kaki tangannya!"

Ucapan ini cukup bagi Pek-liong untuk mengusir keraguan hatinya.

Kini dia tahu bahwa apa yang dikatakan Beng-cu tadi memang benar.

Po-yang Sam-liong rupanya mempergunakan kesempatan ketika mengumpulkan pekerja itu, untuk mengadakan persekutuan dengan Yang-ce Ngo-kwi untuk melakukan pengkhianatan dan mencoba untuk merampas harta karun!

Kalau Liong-li sampai dapat mengetahui rahasia mereka, sudah tentu Beng-cu, dengan satu dan lain cara, dapat pula mengetahui rahasia itu maka Beng-cu telah menghadapi pemberontakan itu dengan caranya yang amat kejam, yaitu membasmi anak buah itu bersama Po-yang Sam-liong di dalam guha!

Setelah kini merasa yakin bahwa yang dihadapinya adalah para penjahat yang mencoba untuk merampas harta karun, Pek-liong yang kini sudah memegang pedangnya sendiri, lalu memutar pedangnya dengan cepat.

Nampak di situ kini dua sinar yang bergulung-gulung dahsyat, sinar putih dan sinar hitam dari pedang pusaka Pek-liong-kiam di tangan Pek-liong dan pedang pusaka Hek-liong-kiam di tangan Liong-li!

Dan dalam waktu beberapa menit saja, Coa Kun yang sedang menyerang Pek-liong dengan sabetan goloknya, telah roboh ketika Pek-liong menangkis dengan Pek-liong-kiam.

Golok itu patah menjadi dua dan sinar Pek-liong-kiam masih terus menyambar ke depan setelah menangkis.

Coa Kun yang terkejut melihat goloknya patah, tidak sempat lagi mengelak dan pedang Pek-liong-kiam hampir saja membabat lehernya menjadi buntung.

Dia roboh dengan luka hebat di lehernya, dan tewas tak lama kemudian.

Sepuluh orang anak buahnya juga roboh malang melintang diamuk oleh pemuda yang mukanya totol-totol hitam dan Pek-liong.

Setelah semua pengeroyoknya roboh, Pek-liong dan Liong-li lalu mengamuk, membantu para pembantu Siauw-bin Ciu-kwi yang lain.

Para pembantu itu sebetulnya tanpa dibantu oleh Pek-liong dan Liong-li sekalipun tidak akan kalah menghadapi pengeroyokan seorang di antara Yang-ce Ngo-kwi dan sepuluh orang anak buahnya.

Para pembantu itu rata-rata memiliki kepandaian yang tinggi, lebih tinggi dari pada kepandaian Yang-ce Ngo-kwi.

Maka, begitu Pek-liong dan Liong-li membantu, sebentar saja kelima orang Yang-ce Ngo-kwi roboh tewas dan limapuluh orang anak buah mereka itu, sebagian besar roboh tewas atau terluka sedangkan sisanya melarikan diri cerai berai ketakutan!

Melihat betapa semua musuh sudah roboh atau melarikan diri, Siauw-bin Ciu-kwi tertawa bergelak dengan gembira.

Diapun melihat sepak terjang pemuda muka totol-totol itu yang membantu anak buahnya, maka diapun berkata kepada mereka.

"Bagus sekali! Mari kita cepat menyingkir dari sini karena tentu akan menarik perhatian banyak orang. Kita pergi dengan perahu agar lebih cepat dan engkaupun ikutlah, orang muda. Engkau telah membantu kami dan aku akan memberimu hadiah secukupnya!"

Akan tetapi, sebelum ada yang menjawab, tiba-tiba pemuda yang mukanya totol-totol dan yang di punggungnya tergantung sebatang pedang itu telah meloncat ke depan Siauw-bin Ciu-kwi dan terdengar bentakannya nyaring.

"Siauw-bin Ciu-kwi, sudah terlalu lama aku menanti saat ini. Serahkan harta karun itu kepadaku!"

Tentu saja semua orang menjadi kaget dan memandang pemuda itu dengan penuh perhatian.

Demikian hebat penyamaran Liong-li sehingga tidak ada petunjuk sedikitpun bahwa pemuda itu adalah Liong-li.

Bahkan suaranya pun berbeda!

Kalau para pembantu Beng-cu, kecuali Pek-liong, memandang heran.

Siauw-bin Ciu-kwi sendiri mengerutkan alisnya dan dia membentak marah.

"Eh, bocah buruk, sudah gilakah engkau? Siapakah engkau berani berkata demikian kepadaku?"

Pemuda itu menggunakan tangan kiri untuk mengusap mukanya.

Semacam kulit tipis sekali terkelupas dan begitu tangannya turun, maka kini nampaklah wajah yang amat elok, dengan kulit muka halus, putih kemerahan, dan ketika ia tersenyum, nampak dua lekuk lesung pipit di kanan kiri mulutnya.

"Hek-liong-li......!"

Siauw-bin Ciu-kwi berseru kaget bukan main, juga para pembantunya terkejut karena mereka semua telah melihat betapa Liong-li terkena sambitan pedang dan terjatuh ke dalam air telaga, tidak nampak muncul kembali.

Tiba-tiba Pek-liong bergerak meloncat ke dekat Liong-li dan diapun tersenyum.

"Siauw-bin Ciu-kwi, sudah terlalu lama kami menanti dan terlalu banyak kami berkorban. Serahkan harta karun itu kepada kami, baru kami akan mempertimbangkan apakah engkau dapat diperbolehkan hidup atau tidak!"

Kemarahan Siauw-bin Ciu-kwi memuncak.

Baru sekarang dia tahu bahwa semua sikap Pek-liong selama ini adalah suatu permainan sandiwara saja!

Dan kedua orang musuh besar ini, yang sudah membunuh seorang rekannya yaitu Hek-sim Lo-mo, ternyata menunggu sampai dia mendapatkan harta karun, baru turun tangan hendak membunuhnya dan merampas harta karun!

"Keparat!"

Dia memaki.

"Kaukira kami tidak berani melawan kalian? Tok-sim Nio-cu, Lim-kwi Sai-kong, Pek I Kongcu, dan Hek-giam-ong, sekaranglah saatnya untuk melihat apakah kalian ini benar-benar setia kepadaku atau tidak, apakah kalian pantas menerima masing-masing sepersepuluh bagian harta karun ini atau tidak, dan untuk melihat apakah kalian berempat memiliki kegagahan untuk membunuh dua orang muda yang sombong ini. Kepung dan bunuh mereka!"

Empat orang pembantu utama Siauw-bin Ciu-kwi itu mengepung Pek-liong dan Liong-li yang sambil tersenyum tenang berdiri saling membelakangi.

Mereka berdua nampak tenang sekali, namun seluruh urat syaraf dan otot dalam tubuh mereka tegang dan siap siaga karena mereka maklum bahwa mereka menghadapi orang-orang yang lihai.

Pedang pusaka masing-masing masih tergantung di punggung, belum mereka cabut.

Empat orang pembantu utama itupun merasa tegang.

Mereka sudah merasakan kelihaian Pek-liong, dan mereka sudah mendengar bahwa ilmu kepandaian Hek-liong-li juga amat tinggi, tidak kalah oleh Pek-liong.

Namun, mereka tidak merasa gentar karena mereka akan maju berempat, bahkan di situ masih ada Siauw-bin Ciu-kwi yang mereka percaya akan mampu menandingi dua orang muda yang perkasa itu.

"Singgg...... Wuuuttt.....!"

Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si sudah mencabut pedang dan kipasnya yang tadi sudah disimpannya.

Wanita cantik berusia tigapuluh tahun lebih yang tubuhnya masih padat dan dengan lekuk lengkung menggairahkan ini memasang kuda-kuda, tangan kanan yang memegang pedang diangkat di atas kepala, pedangnya melintang ke kiri, tangan kiri yang memegang kipas berada di depan dada dengan kipasnya berkembang, kedua kaki ditekuk lututnya dan pinggulnya yang besar bulat itu menonjol ke belakang.

Matanya yang jeli dan penuh daya pikat itu kini nampak berkilat penuh kemarahan dan mulutnya yang biasanya membayangkan nafsu penuh kegenitan yang menantang itu kini merapat dan mengeras.

Dalam keadaan seperti itu, Tok-sim Nio-cu berbahaya sekali.

Ia marah dan sakit hati, bukan saja karena melihat Pek-liong berkhianat dan hendak merampas harta karun, akan tetapi iapun teringat bahwa cintanya ditolak Pek-liong, hal yang amat menyakitkan hati karena belum pernah ada pria menolak rayuan mautnya.

Rasa suka dan cintanya kepada Pek-liong kini berubah menjadi kebencian besar dan hanya kematian Pek-liong di ujung pedang dan kipasnya sajalah yang akan memuaskan hatinya pada saat itu!

Lim-kwi Sai-kong juga merasa penasaran.

Kakek tinggi besar seperti raksasa yang bermuka singa ini memandang dengan mata melotot lebar dan wajahnya yang ditumbuhi cambang bauk sehingga mirip muka singa itu membayangkan kemarahan yang buas.

Tadipun dia mengamuk seperti seekor singa buas dan sepasang senjatanya masih berada di kedua tangannya.

Sebatang golok besar yang masih berlepotan darah di tangan kanan dan sebatang rantai baja di tangan kiri.

Baju yang berlengan pendek berwarna hitam itu memperlihatkan dua buah lengan yang memiliki otot yang besar dan melingkar-lingkar, menunjukkan bahwa kakek ini memiliki tenaga yang amat kuat.

Dan memang demikianlah, Lim-kwi Sai-kong terkenal sebagai seorang yang memiliki tenaga otot yang amat besar, dan juga memiliki ilmu mengaum seperti singa yang mengandung getaran dahsyat dapat melumpuhkan lawan, ilmu yang disebut Sai-cu Ho-kang (Tenaga Auman Singa), di samping pandai memainkan golok dan rantai yang merupakan kombinasi senjata yang amat berbahaya bagi lawan.

Pembantu ketiga adalah Pek I Kongcu Ciong Koan, pria berusia tigapuluh lima tahun yang tampan dan pesolek itu.

Pakaiannya serba putih namun terbuat dari sutera halus dan mahal, dengan hiasan renda berkembang di tepinya.

Sebatang pedang telah berada di tangan kanannya.

Sikapnya tenang dan dia bahkan tersenyum-senyum, namun pandang matanya berkilat, tanda bahwa dia juga marah.

Bekas murid Kun-lun-pai yang menyeleweng ini dan yang terkenal sebagai seorang penjahat cabul, sudah siap pula untuk merobohkan dan membunuh Pek-liong dan Hek-liong-li dan dia percaya bahwa dengan bekerja sama, mereka berempat akan mampu mengalahkan dua orang muda yang hendak merampas harta karun itu.

Apa lagi di situ terdapat Beng-cu yang dia tahu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.

Orang keempat yang menjadi pembantu Siauw-bin Ciu-kwi juga telah siap siaga.

Dia adalah Hek-giam-ong Lok Hun.

Pria berusia empatpuluh lima yang bertubuh tinggi kurus dengan kulit muka dan lengan tangan menghitam ini memiliki wajah yang mengerikan.

Wajah yang seperti topeng.

Bukan hanya karena kulitnya hitam, akan tetapi wajah itu seperti wajah mati, dingin dan membayangkan kekejaman luar biasa.

Memang Hek-giam-ong ini sesuai dengan julukannya, adalah seorang algojo yang selalu menerima tugas untuk menyiksa atau membunuh orang sesuai dengan perintah Siauw-bin Ciu-kwi.

Hek-giam-ong Lok Hun sudah mengamang-amangkan senjatanya yang dahsyat, yaitu sebatang ruyung besar yang berat.

Melihat betapa empat orang itu telah mengepung mereka, Pek-liong dan Liong-li juga bersiap.

Mereka berdiri saling membelakangi, posisi yang terbaik untuk menghadapi pengeroyokan sehingga tidak akan ada lawan yang dapat membokong dari belakang.

Dengan kedudukan seperti itu, mereka dapat saling melindungi.

Apa lagi di antara kedua orang jagoan ini memang sudah terdapat saling pengertian yang luar biasa, seolah-olah ada kontak batin yang demikian kuatnya sehingga mereka seperti dapat membaca pikiran masing-masing dan dapat saling menduga dengan tepat segala gerakan mereka.

Memang terdapat hubungan yang amat erat di antara kedua orang ini, maka, begitu mereka berdiri saling membelakangi, mereka demikian tenang dan saling percaya, seolah-olah mereka merupakan dua badan satu hati dan satu pikiran.

Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si bersama Pek I Kongcu Ciong Koan menghadapi Pek-liong, sedangkan Lim-kwi Sai-kong dan Hek-giam-ong Lok Hun menghadapi Hek-liong-li.

Dua orang pendekar itu telah siap siaga dan mereka sudah mencabut pedang mereka.

Pek-liong-eng Tan Cin Hay nampak tenang sekali, dengan wajahnya yang tampan, tubuh sedang, pakaian serba putih.

Wajahnya nampak jantan dengan dagunya yang berlekuk di tengah-tengah dan di tangan kanannya nampak sebatang pedang yang bersinar putih seperti perak.

Adapun Hek-liong-li Lie Kim Cu, dengan wajahnya yang bulat telur, dagu meruncing manis, mulutnya yang kecil itu berbibir merah basah dengan lesung pipi yang menambah kejelitaannya, tahi lalat kecil di bawah mata kiri juga menjadi pemanis.

Ia tenang dan tersenyum manis.

Rambutnya digelung ke atas dan dihias tusuk konde perak berbentuk naga kecil di atas setangkai bunga teratai.

Seperti Pek-liong, ia juga sudah siap dengan pedang pusaka Hek-liong-kiam di tangan kanan.

Tok-sim Nio-cu yang memimpin pengeroyokan itu mengeluarkan teriakan melengking nyaring sebagai tanda dimulainya penyerangan, dan suara yang melengking ini segera disusul suara mengaum yang menggetarkan jantung keluar dari mulut Lim-kwi Sai-kong!

Kalau, orang lain yang menghadapi lengkingan suara Tok-sim Nio-cu dan auman suara Lim-kwi Sai-kong, tentu akan merasakan jantung mereka terguncang hebat yang dapat membuat semangat melayang atau mendatangkan perasaan takut dan gentar.

Lengkingan dan auman itu sudah merupakan serangan yang mempergunakan tenaga khi-kang amat kuat.

Namun, Pek-liong dan Liong-li menghadapi suara itu sambil tersenyum saja.

Diam-diam mereka telah mengerahkan tenaga sakti untuk melindungi diri mereka sehingga suara itu lewat tanpa bekas dan tidak mempengaruhi mereka sama sekali.

"Haiiittt......!!"

Tiba-tiba Tok-sim Nio-cu sudah menggerakkan pedang dan kipasnya, pedangnya menusuk ke arah dada sedangkan kipasnya dikebutkan ke arah muka Pek-liong.

Pemuda ini dengan tenangnya mengelak ke kanan dan dia disambut bacokan pedang di tangan Pek I Kongcu.

Bacokan pedang amat cepat datangnya, menyambar bagaikan kilat saja!

Pek-liong menggerakkan Pek-liong-kiam menyambut.

Akan tetapi, agaknya Pek I Kongcu sudah pernah mendengar akan keampuhan Pek-liong-kiam, maka sebelum pedangnya tertangkis, dia sudah menahan bacokannya, dan mengubah pedangnya yang kini menusuk perut!

Sungguh cepat dan tidak terduga sama sekali gerakan pemuda bekas murid Kun-lun-pai ini, maka Pek-liong cepat meloncat kembali ke kiri.

Mulailah pertandingan yang amat seru antara Pek-liong yang dikeroyok dua orang lawan tangguh itu.

SEMENTARA ITU, setelah tadi mengeluarkan suara auman dahsyat yang tidak mempengaruhi lawannya, Lim-kwi Sai-kong juga sudah menyerang Liong-li dengan golok besar dan rantai bajanya.

Dua senjata yang besar dan berat itu menyambar dan mengeluarkan angin saking cepat dan kuatnya.

Namun, hanya dengan beberapa langkah kaki saja Liong-li telah dapat menghindarkan dirinya.

Wanita cantik ini mempergunakan langkah ajaib Liu-seng-pouw untuk menghindarkan serangan golok yang dikombinasikan dengan rantai itu.

Akan tetapi, ruyung di tangan Hek-giam-ong sudah menyambar pula dengan amat dahsyat dan ganasnya.

Kembali Liong-li mengelak dengan langkah ajaibnya.

Ketika gook besar di tangan Lim-kwi Sai-kong menyambar lagi ke arah lehernya, ia memapaki dengan Hek-liong-kiam sambil mengerahkan.

Lim-kwi Sai-kong tidak seperti Pek I Kongcu yang cerdik.

Biarpun raksasa ini sudah pula mendengar bahwa Liong-li amat lihai dengan pedang pusakanya yang ampuh, namun dia terlalu percaya kepada diri sendiri, dan dengan pengerahan tenaga sekuatnya, dia membiarkan goloknya ditangkis, yakin bahwa kalau senjata itu bertemu, tentu pedang gadis itu akan terlepas dari pegangannya.

Tak mungkin seorang gadis muda sanggup menahan kekuatan dahsyat yang mendorong goloknya.

"Trakkk......!!"

Lim-kwi Sai-kong mengeluarkan gerengan keras ketika melihat, bahwa pedang wanita itu sama sekali tidak terpental, bahkan yang terpental adalah ujung goloknya yang menjadi patah begitu bertemu dengan pedang hitam itu!

Masih untung bahwa yang bertemu pedang adalah bagian golok agak di ujung sehingga sisa goloknya masih cukup panjang untuk dapat dia pergunakan sebagai senjata dan dengan kemarahan meluap, akan tetapi juga agak gentar, dia menyerang lagi.

Hek-giam-ong Lok Hun membantunya dengan serangan ruyungnya yang besar dan hebat!

Namun, Liong-li menghadapi mereka dengan sikap tenang.

Langkah ajaib Liu-seng-pouw cukup tangguh untuk melindunginya.

Dengan langkah-langkah itu, tubuhnya tak pernah tersentuh senjata lawan, dan sebaliknya, pedang hitamnya kini mulai mendesak lawan.

Sinar pedang hitam yang bergulung-gulung mulai membuat kedua orang lawannya kewalahan karena mereka berdua kini gentar terhadap pedang pusaka yang luar biasa itu.

Sejak tadi Siauw-bin Ciu-kwi nonton perkelahian itu.

Tadinya diapun merasa yakin bahwa empat orang pembantunya yang lihai akan mampu merobohkan Pek-liong dan Hek-liong-li.

Akan tetapi segera dia melihat betapa empat orang pembantunya itu mulai terdesak dan mereka berempat jelas merasa gentar menghadapi pedang pusaka di tangan kedua orang muda itu.

Diapun mulai khawatir.

Kalau dia terjun ke dalam pertempuran, peti harta karun yang tak ternilai harganya itu tidak ada yang menjaganya.

Dia khawatir kehilangan harta karun itu, lebih mengkhawatirkan hilangnya harta karun itu dari pada hilangnya empat orang pembantunya.

Maka, dia mengambil keputusan untuk lebih dahulu menyingkirkan peti berisi harta karun itu.

"Kalian berempat tahan dulu dua orang muda sombong ini!"

Katanya lantang.

"Setelah menyingkirkan peti ini, aku akan kembali dan aku sendiri yang akan membunuh mereka!"

Setelah berkata demikian, dengan cepat bagaikan terbang saja, Siauw-bin Ciu-kwi sudah lari meninggalkan bukit itu sambil memanggul peti harta karun.

Melihat betapa pemimpin mereka itu pergi membawa harta karun, empat orang tokoh sesat itu terkejut.

Akan tetapi, karena mereka sedang didesak oleh Pek-liong dan Liong-li, empat orang itu tidak dapat mencegah beng-cu mereka meninggalkan mereka dan membawa pergi harta karun.

Mereka percaya kepada Siauw-bin Ciu-kwi, akan tetapi mereka bingung karena selagi mereka terdesak, ketua itu bahkan pergi hendak menyingkirkan dulu harta karun.

Terpaksa mereka menggerakkan senjata dan melakukan perlawanan nekat, mengambil keputusan untuk bertahan terus sampai beng-cu itu kembali dan membantu mereka.

Sementara itu, Pek-liong dan Liong-li terkejut melihat kakek itu lari membawa peti harta karun.

Peti itu terlalu berharga buat mereka, sudah banyak mereka berkorban dan menderita hanya untuk mendapatkan peti harta karun itu.

Terutama sekali yang dirasakan berat bagi Pek-liong adalah mengingat bahwa Liong-li sudah mengorbankan pinggulnya terluka pedang untuk membiarkan Pek-liong dapat menyelundup sebagai pembantu Siauw-bin Ciu-kwi dan dapat ikut menemukan harta karun itu.

Tentu saja mereka berdua tidak mau kehilangan peti harta karun itu, maka keduanya segera mengeluarkan seluruh kepandaian dan tenaga.

Terdengar Liong-li mengeluarkan suara melengking nyaring dibarengi bentakan Pek-liong yang dahsyat.

Nampak dari gulungan sinar pedang putih dan hitam itu mencuat sinar berkilauan dan pedang Hek-liong-kiam sudah menerjang dahsyat ke arah Hek-giam-ong Lok Hun.

Hek-giam-ong terkejut dan menangkis dengan ruyungnya.

"Tranggg......!"

Ruyung itu patah dan sinar hitam masih meluncur terus ke arah leher iblis muka hitam itu.

Lok Hun mencoba untuk melempar tubuh ke belakang, namun terlambat.

Lehernya disambar ujung Hek-liong-kiam dan diapun mengeluarkan suara aneh, seperti seekor babi disembelih dan tubuhnya roboh terjengkang, lehernya hampir putus dan diapun tewas setelah berkelojotan.

Sementara itu, dalam waktu yang hampir bersamaan, sinar pedang Pek-liong-kiam menyambar dengan dahsyatnya ke arah Pek I Kongcu yang tentu saja merasa terkejut sekali.

Tidak ada kesempatan lagi baginya untuk mengelak, maka dia menangkis dengan pedangnya sambil membuang diri ke belakang.

"Trakkk......!"

Pedangnya patah bertemu dengan Pek-liong-kiam, akan tetapi tubuhnya terhindar dari sambaran Pek-liong-kiam.

Pada saat itu, Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si melihat kesempatan baik.

Ia sudah menubruk maju dengan pedang menusuk lambung Pek-liong, dan kipasnya yang tertutup menotok ke arah jalan darah di pundak Pek-liong dengan gagangnya.

Melihat serangan maut ini, Pek-liong tidak dapat menyusulkan serangan mematikan kepada Pek I Kongcu yang sudah membuang diri ke belakang, terpaksa dia membalik sambil memutar Pek-liong-kiam dengan kecepatan kilat.

"Trang...... trakkkk......!"

Tok-sim Nio-cu mengeluarkan seruan kaget.

Tadi, melihat Pek-liong mendesak Pek I Kongcu, ia melihat kesempatan untuk menyerang dengan sepenuh tenaganya, maka ketika tiba-tiba Pek-liong membalik dan memutar pedang bersinar putih itu untuk menangkis, ia tidak sempat lagi mencegah bertemunya pedang dan kipasnya dengan pedang di tangan Pek-liong.

Dan akibatnya, kedua buah senjatanya itu patah!

Ia marah sekali dan nekat menubruk maju dengan kedua tangan membentuk cengkeraman, sedangkan dari belakang, Pek I Kongcu juga siap menyerang dengan tangan kosong.

Pek-liong dapat mendengar gerakan Pek I Kongcu, maka dia memutar pedang ke belakang untuk menghalangi penjahat tampan cabul itu menyerangnya dan ketika Tok-sim Nio-cu menubruk, dia menggeser kakinya ke samping kanan, membalik dan tangan kirinya menampar dengan pengerahan tenaga sin-kang.

"Plakkk!"

Tamparan itu tepat mengenai kepala Tok-sim Nio-cu bagian samping, di pelipisnya, dan wanita itu mengeluarkan suara keluhan lirih lalu tubuhnya terkulai roboh dan tidak bangkit kembali.

Tamparan itu cukup hebat membuat isi kepalanya terguncang hebat dan iapun tewas seketika.

Robohnya Tok-sim Nio-cu ini hampir bersamaan waktunya dengan robohnya Hek-giam-ong.

Ketika Pek-liong siap mengbadapi Pek I Kongcu, ternyata penjahat tampan berpakaian putih itu telah melarikan diri bersama Lim-kwi Sai-kong yang juga lari cepat.

Mereka lari menuju ke arah larinya Siauw-bin Ciu-kwi.

Pek-liong dan Liong-li saling pandang, kemudian mereka memandang ke bawah bukit.

Nampak kedua orang lawan itu melarikan diri dan jauh di kaki bukit nampak bayangan Siauw-bin Ciu-kwi yang memanggul peti, menuju ke telaga.

"Hayo kejar mereka!"

Kata Liong-li sambil meloncat dengan kecepatan seperti terbang.

"Terutama Siauw-bin Ciu-kwi jangan sampai lolos!"

Kata pula Pek-liong dan diapun meloncat ke depan.

Keduanya mempergunakan ilmu berlari cepat melakukan pengejaran.

Sementara itu, Siauw-bin Ciu-kwi berlari cepat menuruni bukit.

Baginya yang terpenting adalah menyelamatkan harta karun itu lebih dahulu.

Dia bukan takut kepada dua orang muda itu, melainkan khawatir kalau-kalau peti harta karun itu sampai terampas orang dari tangannya.

Dia lari ke pantai telaga dan menuju ke sebuah tepi yang sunyi di mana terdapat sebuah perahu yang memang sudah dipersiapkannya sebelumnya.

Dibawanya peti harta karun itu ke perahu dan diturunkannya ke dalam perahu.

"Beng-cu, tunggu kami......!"

Tiba-tiba terdengar teriakan dan dia cepat membalik dan memandang.

Dia melihat Lim-kwi Sai-kong dan Pek I Kongcu berlari cepat menuju ke tempat itu dan tak jauh di belakang mereka dia melihat Pek-liong dan Hek-liong-li!

Setelah kedua orang pembantu itu tiba di depannya, dia mengerutkan alisnya.

"Di mana Tok-sim Nio-cu dan Hek-giam-ong?"

"Mereka...... mereka telah tewas......! Beng-cu, bantulah kami......"

Kata Lim-kwi Sai-kong.

"Hemm, kalian berempat tidak mampu membunuh dua orang muda sombong itu? Kalian hadapi Liong-li, aku yang akan membunuh Pek-liong lebih dahulu!"

Katanya dan dia sudah melepaskan sabuk sutera dari pinggangnya. Sabuk yang lemas itulah senjatanya! "Beng-cu, pedangku rusak, aku tidak mempunyai senjata lagi,"

Kata Pek I Kongcu, agak gugup.

"Huh, engkau sungguh tak ada gunanya!"

Bentak Siauw-bin Ciu-kwi.

"Pakailah pedang ini!"

Dia melemparkan sebatang pedang yang berada di dalam perahu kepada pembantu itu dan Pek I Kongcu segera menangkap dan mencabut pedang itu dari sarungnya.

Sebatang pedang yang berkilauan dan dia girang sekali.

Biarpun belum tentu pedang ini mampu menandingi pedang lawan, namun jelas yang dipegangnya adalah sebatang pedang yang baik, maka diapun berdiri di samping Lim-kwi Sai-kong, siap untuk mengeroyok Hek-liong-li.

Sedangkan Siauw-bin Ciu-kwi juga melompat turun dari perahu, lalu berlari ke depan menyambut datangnya dua orang muda yang melakukan pengejaran itu.

Hal ini dia lakukan agar pertandingan tidak dilakukan terlalu dekat dengan perahu di mana dia menyimpan peti harta karun itu.

Dua orang pembantunya yang kini berbesar hati karena di situ terdapat Siauw-bin Ciu-kwi, juga berlari ke depan mengikuti pimpinan mereka.

Ketika Pek-liong dan Hek-liong-li tiba di depan mereka bertiga, jarak antara tempat itu dengan perahu yang berada di tepi telaga ada duaratus meter sehingga kedua orang muda itu tidak tahu di mana peti harta karun ita disembunyikan oleh Siauw-bin Ciu-kwi.

"Siauw-bin Ciu-kwi, percuma saja engkau melarikan diri. Sebelum kauberikan harta karun itu kepada kami, sampai ke manapun engkau lari, kami akan menemukanmu!"

Kata Liong-li sambil tersenyum mengejek, sedangkan Pek-liong memandang ke sana-sini untuk menyelidiki di mana kiranya peti harta karun itu disembunyikan oleh kakek pendek gendut yang kepalanya botak gundul itu.

Siauw-bin Ciu-kwi yang mukanya kekanak-kanakan itu tersenyum mengejek, bahkan senyumnya makin lama berubah menjadi suara ketawa dan perutnya yang gendut itu terguncang-guncang, kepalanya yang botak gundul itu tergeleng-geleng.

"Ha-ha-ha, Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, kalian ini bocah-bocah sombong telah datang mengantarkan nyawa. Bersiaplah kalian untuk mampus di tanganku!"

Setelah berkata demikian, tangannya bergerak dan nampak sinar merah mencuat dan meluncur ke arah Pek-liong.

Pemuda ini cepat meloncat ke samping untuk mengelak.

Kiranya sinar merah itu adalah sehelai sabuk sutera merah yang tadinya tergulung di dalam tangan Siauw-bin Ciu-kwi dan begitu digerakkan tangan itu, sabuk itu meluncur bagaikan ular hidup menyambar-nyambar.

Pek-liong maklum akan kelihaian lawan, maka diapun sudah mencabut Pek-liong-kiam dari punggungnya.

Lim-kwi Sai-kong dan Pek I Kongcu yang sudah dipesan oleh Siauw-bin Ciu-kwi, tanpa banyak cakap lagi lalu mengeroyok Hek-liong-li.

Si raksasa muka singa itu sudah menggerakkan golok besar dan rantai bajanya, sedangkan Pek I Kongcu menggerakkan pedang pemberian Siauw-bin Ciu-kwi.

Mereka menyerang dengan hati-hati, akan tetapi juga dengan jurus-jurus maut.

Mereka tidak mau mengadu senjata mereka dengan pedang Hek-liong-kiam, dan mereka mempergunakan kecepatan dan keuntungan karena mereka mengeroyok untuk mendesak Liong-li sambil berputar-putar mengitari gadis berpakaian hitam itu.

Pek-liong harus mengakui kelihaian lawan.

Begitu serangan pertama sabuk sutera merah tadi dapat dia hindarkan dengan loncatan ke samping, sabuk itu bagaikan bermata saja sudah menyeleweng dan mengejar, kini tiba-tiba benda lemas itu berubah menjadi kaku seperti tongkat dan melakukan totokan bertubi-tubi ke arah tujuh jalan darah utama di bagian depan tubuhnya!

Pek-liong mengelak sampai lima kali, dan dua kali totokan terakhir disambutnya dengan sabetan pedangnya sebagai tangkisan dan untuk mematahkan senjata yang sudah berubah kaku seperti tongkat itu.

Akan tetapi begitu pedangnya bertemu senjata merah itu, tongkat itu telah berubah lemas lagi seperti sutera kembali dan tentu saja pedang pusakanya tidak dapat merusak sabuk sutera itu.

Bahkan yang terakhir kalinya, ujung sabuk sutera itu dengan lemasnya membelit pedangnya, seperti ekor ular.

Belitan yang amat kuat dan sabuk itu ditarik oleh Siauw-bin Ciu-kwi mempergunakan tenaga sin-kang yang kuat sekali!

Pek-liong tentu saja tidak membiarkan pedangnya dirampas.

Dia mempertahankan pedangnya sehingga terjadilah adu tenaga tarik menarik.

Dan ternyata, dalam adu tenaga ini keduanya sama kuat!

Hal ini mengejutkan hati Siauw-bin Ciu-kwi.

Di antara Kiu Lo-mo (Sembilan lblis Tua), dia termasuk seorang yang memiliki tenaga yang amat kuat.

Akan tetapi bocah ini mampu menandinginya!

Sungguh hal ini mengejutkan hatinya dan dia tahu bahwa dia harus berhati-hati sekali.

Lawannya ini sungguh tak boleh dipandang ringan.

"Hohhhh......!"

Tiba-tiba saja dia melangkah dekat tanpa mengurangi tarikan terhadap sabuk sutera yang membelit pedang, dan tangan kirinya sudah menghantam ke arah kepala Pek-liong.

Pemuda ini maklum bahwa selama pedangnya masih dibelit sabuk, dia tidak berdaya dan kakek itu lihai bukan main.

Maka, melihat kakek itu menggunakan tangan kiri untuk menghantam kepalanya, dia mendapatkan kesempatan baik untuk melepaskan pedangnya dari belitan.

Bagaimanapun juga, kakek itu tentu memecah tenaga sin-kangnya untuk melakukan penyerangan itu.

Maka, dia berpura-pura menangkis dengan tangan kirinya.

Gerakan ini hanya pura-pura saja dan sama sekali dia tidak mengerahkan sin-kang pada tangan kirinya.

Sebaliknya, Siauw-bin Ciu-kwi yang melihat pemuda itu menangkis, tentu saja mengerahkan tenaga pada tangan kiri yang memukul.

Pada saat itu, Pek-liong mengerahkan semua tenaganya pada tangan kanan dan menarik pedangnya sambil melempar tubuh ke kiri untuk menghindarkan pukulan tangan kiri lawan.

Pedang itu terlepas dari libatan dan Siauw-bin Ciu-kwi mengeluarkan suara gerengan marah karena dia baru tahu bahwa dia telah diakali setelah pedang itu terlepas dari libatan sabuk sutera, dan pukulannya sama sekali tidak ditangkis, melainkan dielakkan dengan melempar tubuh ke kiri.

Pemuda itu bergulingan beberapa kali lalu meloncat berdiri lagi dengan pedang Pek-liong-kiam siap di depan dada!

Siauw-bin Ciu-kwi kini marah bukan main.

Dia adalah seorang datuk besar yang terkenal sebagai seorang di antara Kiu Lo-mo, ditakuti oleh semua orang kang-ouw, dipuja oleh semua tokoh sesat di dunia hitam.

Kini ada seorang pemuda berani menentangnya, bahkan menandinginya satu lawan satu.

Kalau dia tidak mampu membunuh pemuda ini, sungguh nama besarnya akan runtuh!

"Haiiiihh......!"

Dia berteriak dan tangan kanan yang memegang sabuk sutera itu bergerak lagi.

Sinar merah menyambar, mengeluarkan suara mencicit nyaring.

Sabuk merah itu panjangnya hanya dua meter, ditambah lengannya yang pendek, ketika menyerang itu jangkauannya paling jauh hanya tiga meter.

Pek-liong berdiri dalam jarak empat meter lebih dari kakek itu, maka ketika melihat sabuk merah menyambar, Pek-liong tenang-tenang saja, tahu bahwa sabuk itu hanya menggertak dan tidak akan dapat mencapainya karena terlalu jauh.

Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia melihat sabuk merah itu terus maju dan meluncur ke arah lehernya!

Sabuk itu bukan saja mampu mencapainya, bahkan ujungnya masih lebih dan akan dapat melibatnya seperti ketika melibat pedangnya tadi!

Dia cepat melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan dan luput dari serangan berbahaya itu.

Dia meloncat berdiri lagi dan tahulah dia kini bahwa Siauw-bin Ciu-kwi memiliki ilmu yang dapat membuat lengannya memanjang!

Lengan yang pendek itu dapat menjangkau sampai panjang, dapat mulur seperti karet!

Pek-liong tidak merasa gentar, bahkan gembira bahwa dia tahu akan hal ini dan dapat berjaga diri menghadapi ilmu yang aneh itu.

Kini dia meloncat ke depan dan memutar pedang Pek-liong-kiam untuk menyerang sebagai balasan.

Serangannya dapat dielakkan oleh kakek pendek gendut itu yang ternyata dapat bergerak dengan gesit sekali.

Bahkan kakek itu menahan desakan pedang Pek-liong-kiam dengan totokan-totokan sabuknya yang berbahaya.

Terjadilah perkelahian yang amat hebat antara Siauw-bin Ciu-kwi dan Pek-liong.

Tenaga mereka seimbang.

Pek-liong menang gesit dan menang ulet karena dia lebih muda, akan tetapi dia kalah pengalaman, dan lawannya itu memiliki banyak sekali siasat yang aneh-aneh dan curang dalam caranya bersilat dan berkelahi.

Sampai tigapuluh jurus mereka saling serang dan tiba-tiba kakek itu memutar sabuknya.

Sabuk sutera yang lemas itu kini berputar seperti kitiran sehingga nampak lingkaran merah seperti payung yang melindungi tubuh gendut pendek itu sebagai perisai.

Ketika Pek-liong mencoba untuk memecahkan "payung"

Itu, yang terbuat dari lingkaran sinar merah, pedangnya membalik!

Pedang pusaka Pek-liong-kiam memang ampuh dan tajam untuk mematahkan senjata dari baja dan besi yang bagaimanapun, akan tetapi menghadapi senjata sutera yang lemas itu, senjata pedang ini seperti kehilangan keampuhannya.

Dan tiba-tiba dari balik "payung"

Itu, tangan kiri Siauw-bin Ciu-kwi mencuat dan dada Pek-liong kena dihantam oleh telapak tangannya.

"Bukk!!"

Tubuh Pek-liong terjengkang dan dia bergulingan sampai beberapa meter jauhnya untuk menghindarkan diri dari serangan susulan.

Dan untung saja dia melakukan hal itu karena sabuk sutera itu, berubah menjadi sinar merah, telah menyerangnya berkali-kali dan mengejarnya ketika dia bergulingan.

Ketika ujung sinar merah itu mengenai tanah karena luput mengenai tubuh Pek-liong, tanah itu berlubang-lubang seperti ditusuk tombak!

Pek-liong dapat menghindar dan meloncat berdiri.

Mukanya berubah agak pucat.

Dadanya kena dihantam telapak tangan kiri lawan.

Untung dia sudah melindungi dadanya dengan kekuatan sin-kang yang tadi sempat dia kerahkan sehingga kini hanya terasa nyeri sedikit, tidak sampai dia menderita luka dalam yang parah.

Bagaimanapun juga, dadanya nyeri dan napasnya menjadi agak sesak!

Bukan main hebatnya Siauw-bin Ciu-kwi.

Belum pernah selama hidupnya, sejak melawan Hek-sim Lo-mo dan berhasil menewaskan datuk besar itu bersama Liong-li, dia bertemu dengan lawan setangguh Siauw-bin Ciu-kwi ini!

Ketika dia mendesak dengan pedangnya, dalam suatu kesempatan dia dapat melakukan tendangan dengan kaki kirinya ke arah kaki kanan lawan, menyambar ke arah lutut.

Kakinya menyentuh kaki lawan dan kakek itupun terguling jatuh!

Akan tetapi, pada saat dia terguling itu, saat yang amat menyenangkan hati Pek-liong dan membuat hatinya berdebar dan kewaspadaannya agak melemah, tiba-tiba saja kaki kakek itu mencuat, melakukan tendangan sambil menjatuhkan diri.

Gerakannya ini selain cepat, juga aneh dan sama sekali tidak terduga.

"Desss!!"

Tak dapat dihindarkan lagi, paha Pek-liong tercium ujung sepatu dan untuk kedua kalinya, Pek-liong menjadi korban serangan dan dia sampai terpental dan terbanting roboh!

Akan tetapi, tubuh pemuda ini memang kuat dan kebal.

Pahanya hanya membiru dan terasa nyeri, namun dia masih mampu meloncat dengan cepat dan memutar pedangnya untuk melindungi diri ketika lawannya menyusulkan serangan bertubi dengan sabuk sutera merahnya.

Kini Pek-liong berkelahi dengan hati-hati sekali.

Dua kali dia menjadi korban serangan dengan siasat yang licik.

Lawannya licik dan curang, memiliki berbagai gaya serangan yang aneh, maka diapun tidak terlalu mendesak dan lebih memperhatikan pertahanannya agar tidak mudah kecurian seperti tadi.

Sementara itu, perkelahian antara Liong-li yang dikeroyok oleh dua orang lawan juga berlangsung dengan seru dan mati-matian.

Kedua orang lawannya juga bukan orang-orang sembarangan, melainkan tokoh-tokoh kang-ouw yang sudah terkenal sekali karena mereka memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Lim-kwi Sai-kong dengan golok besar dan rantai bajanya memang buas dan liar bagaikan seekor singa, sedangkan Pek I Kongcu, bekas murid Kun-lun-pai itu, selain telah mewarisi ilmu pedang dari Kun-lun-pai yang indah dan juga dahsyat, juga dia memiliki banyak ilmu-ilmu dari dunia sesat, ilmu silat yang penuh dengan daya tipu dan muslihat berbahaya.

Namun, sekali ini kedua orang itu menemukan lawan yang amat tangguh.

Biarpun usianya masih muda sekali, baru duapuluh empat tahun, namun Hek-liong-li Lie Kim Cu adalah seorang wanita gemblengan.

Bukan saja tergembleng oleh gurunya yang sakti, yaitu Huang-ho Kui-bo seorang datuk sesat pula yang memiliki ilmu-ilmu hebat, akan tetapi juga tergembleng oleh pengalaman-pengalaman pahit getir sehingga ia menjadi seorang wanita yang gemblengan, tabah, penuh keberanian, cerdik luar biasa dan juga ia mampu mengembangkan ilmu-ilmu silat yang dipelajarinya dari Huang-ho Kui-bo sehingga ia menjadi lihai sekali, mungkin tidak kalah lihai dibandingkan nenek yang menjadi gurunya!

Dengan pedang Hek-liong-kiam di tangan, Liong-li menjadi semakin tangguh.

Dua orang lawannya selalu menghindarkan pertemuan senjata mereka dengan pedang di tangan wanita cantik itu, dan hal ini membuat Liong-li memperoleh banyak kesempatan untuk mendesak.

Namun, pertahanan kedua orang itu memang amat kuat.

Mereka berdua dapat bekerja sama dengan baik dan selalu melindungi.

Kalau Liong-li mendesak yang satu, yang lain tentu menyerangnya dengan gencar sehingga terpaksa Liong-li harus membagi perhatiannya dan karenanya, serangannya menjadi kurang terpusat dan kurang kuat.

Setelah lewat limapuluh jurus dan hanya mampu mendesak kedua orang pengeroyoknya, tiba-tiba tubuhnya meloncat jauh ke atas, ke sebuah pohon besar yang tumbuh tak jauh dari situ.

Ketika tubuhnya turun, tangan kirinya sudah memegang sebatang ranting pohon yang tadi dibabatnya dengan pedang.

Dan begitu tangan kirinya memegang ranting sebagai senjata tongkat maka Liong-li bagaikan seekor harimau yang tumbuh sayap.

Memang keahliannya adalah bermain pedang dan bermain tongkat.

Kini, Hek-liong-kiam dibantu dengan gerakan tongkat yang menotok-notok ke arah jalan darah lawan.

Diserang oleh dua senjata yang ampuh itu, Lim-kwi Sai-kong dan Pet I Kongcu terkejut bukan main dan merekapun menjadi gugup dan permainan mereka menjadi kacau.

"Tranggg......!"

Pedang di tangan Pek I Kongcu terlepas ketika pedang itu bertemu ranting yang digetarkan dan sebelum Pek I Kongcu sempat menghindarkan diri, pedang Hek-liong-kiam telah menyambar dan pemuda berpakaian putih itupun roboh mandi darah dengan dada ditembusi pedang!

Lim-kwi Sai-kong terkejut dan marah sekali.

Dia mengeluarkan auman singa yang dahsyat, lalu menubruk maju dengan kedua senjatanya diputar.

Melihat lawan yang marah dan nekat itu, Liong-li tersenyum.

Ia tadi melihat dengan sudut matanya betapa rekannya, Pek-liong terdesak hebat oleh lawan.

Bahkan ia tahu pula ketika sampai dua kali Pek-liong terkena pukulan dan tendangan, maka ia ingin cepat-cepat menyelesaikan perkelahiannya dengan kedua orang pengeroyoknya agar ia dapat membantu Pek-liong.

Kini, melihat Lim-kwi Sai-kong nekat dan menyerangnya dengan ganas, memutar kedua senjatanya, ia menjadi girang dan cepat ia menyambut dengan putaran pedang di tangan kanannya.

Nampak gulungan sinar hitam yang menyeramkan, mengeluarkan angin berdesingan dan begitu gulungan sinar ini bertemu dengan golok besar dan rantai baja, kedua senjata itupun patah-patah dan beterbangan!

Barulah Lim-kwi Sai-kong terkejut dan teringat.

Dalam kemarahannya tadi, dengan penuh nafsu dia hendak menyerang dan merobohkan wanita berpakaian hitam itu, menyerang dengan penuh nafsu sambil mengerahkan seluruh tenaganya, dia terlupa akan keampuhan Hek-liong-kiam.

Kini setelah kedua senjatanya patah-patah, baru dia teringat dan hatinya menjadi gentar.

Ingin dia meloncat dan melarikan diri, akan tetapi tidak sempat lagi.

Pedang bersinar hitam menyambar ke arah lehernya.

Lim-kwi Sai-kong masih mampu mengelak dengan merendahkan dirinya, akan tetapi pada detik berikutnya, dia terjungkal roboh karena totokan ranting di tangan kiri Hek-liong-li.

Begitu dia roboh, sinar hitam pedang Hek-liong-kiam menyambar dan Lim-kwi Sai-kong tewas tanpa sempat mengeluarkan suara lagi karena lehernya putus disambar sinar hitam tadi!

Tanpa membuang waktu lagi, Liong-li melompat dan membantu Pek-liong yang terdesak.

Tentu saja Pek-liong merasa gembira, sebaliknya Siauw-bin Ciu-kwi menjadi gelisah.

Dia memaki diri sendiri mengapa selama itu belum juga dia mampu merobohkan Pek-liong.

Kalau dia sudah mampu merobohkan Pek-liong, tentu kini dia tidak gentar menghadapi Liong-li.

Akan tetapi dikeroyok dua?

Mengalahkan Pek-liong seorang saja sudah amat sukar, apa lagi ditambah Liong-li yang dia dengar tidak kalah lihainya dibandingkan Pek-liong!

Dan segera dia melihat dan merasakan buktinya ketika Liong-li terjun ke dalam perkelahian itu dan sinar hitam menyambar-nyambar dahsyat ke arah tubuhnya!

Dia mengira bahwa Hek-liong-li belum tahu akan kelihaian sabuk sutera merahnya, maka diapun menyambut pedang hitam itu dengan sabuk sutera merah, berniat untuk melibat pedang itu seperti yang dilakukannya tadi terhadap pedang di tangan Pek-liong.

Begitu pedang hitam itu bertemu sabuk sutera, pedang segera dilibat dengan amat kuatnya.

Akan tetapi justeru ini yang dikehendaki oleh Liong-li.

Ia sudah memperhitungkan betapa lihainya sabuk sutera yang lemas itu yang dapat dipergunakan menghadapi pedang pusaka tanpa takut menjadi putus karena lemasnya.

Sabuk sutera itu baru dapat dibikin putus kalau ia mengeras, maka iapun sengaja membiarkan pedangnya dilibat.

Kalau ia terlambat bergerak dan sabuk itu sudah melibat pedangnya, akan sukarlah untuk melepaskan pedang dari libatan.

Akan tetapi, ia telah memperhitungkan, pada detik sabuk bertemu pedang dan mulai melibat, ia secepat kilat menggetarkan pedangnya dan menariknya dengan gerakan menyayat.

"Bretttt......!"

Tak dapat dicegah lagi, ujung sabuk yang melibat itupun terobek pedang!

Hal ini sungguh tidak disangka-sangka oleh Siauw-bin Ciu-kwi.

Dia menjadi terkejut, akan tetapi juga marah sekali.

Sambil mengeluarkan seruan seperti binatang buas marah, dia memutar sisa sabuk suteranya, juga tangan kirinya menyerang dengan pukulan tangan kosong yang mengeluarkan uap kemerahan!

Bukan main berbahayanya pukulan tangan merah ini, karena selain mengandung tenaga sin-kang yang kuat, juga mengandung hawa beracun.

Lebih lagi, lengan kiri itu dapat memanjang, mulur seperti karet sehingga gerakannya sukar diduga.

Amukan tangan kiri dan sabuk sutera merah yang sudah putus ujungnya ini masih dibantu kedua kakinya yang menyeling serangan itu dengan tendangan-tendangan kilat.

Demikian bebatnya serangan kakek datuk sesat ini sehingga betapapun lihainya Pek-liong dan Liong-li, tetap saja mereka harus berhati-hati karena hampir saja perut Pek-liong kena tendangan, sedangkan Liong-li sempat dibuat terhuyung oleh serangkaian serangan ilmu tangan merah itu.

Diam-diam Liong-li harus mengakui bahwa kakek ini lihai bukan main dan andaikata ia seorang diri yang harus maju menandinginya, akan sukarlah untuk dapat mengalahkan datuk sesat ini.

Akan tetapi, kini mereka berdua saja mengeroyok!

Bukan saja Liong-li dan Pek-liong masing-masing sudah memiliki ilmu silat yang tinggi, akan tetapi juga mereka dapat bekerja sama dengan baik sekali.

Di antara mereka terdapat kontak batin yang jarang terdapat di antara manusia.

Hubungan yang amat akrab dam erat.

Mereka selalu saling membantu, saling melindungi, bahkan untuk saling menolong, mereka setiap saat bersedia mengorbankan nyawa sendiri!

Ada hubungan yang bahkan melebihi cinta kasih antara dua orang kekasih.

Mereka seolah-olah dapat saling menjenguk isi hati dan pikiran masing-masing.

Dalam pengeroyokan menghadapi Siauw-bin Ciu-kwi inipun, gerakan pedang mereka saling menolong, saling melindungi seolah-olah gerakan mereka berdua itu dikendalikan oleh satu kecerdasan saja!

Menghadapi kerja sama yang demikian hebatnya, Siauw-bin Ciu-kwi mulai menjadi bingung dan terdesak, walaupun dia sudah mengeluarkan semua ilmunya dan mengerahkan seluruh tenaganya.

Biarpun demikian, baru setelah hampir satu jam lamanya, tenaga dan kecepatan Siauw-bin Ciu-kwi menurun banyak sekali dan biarpun dia berusaha mati-matian, tetap saja ujung pedang di tangan Pek-liong menyentuh pundaknya dan nyaris mengakibatkan luka hebat.

Untung dia masih membuat gerakan miringkan tubuhnya sehingga hanya baju dan kulitnya yang terobek.

Akan tetapi pada saat berikutnya, pedang Liong-li juga menggores paha kirinya.

Tidak hebat kedua luka itu, namun mendatangkan keyakinan dalam hati Siauw-bin Ciu-kwi bahwa kalau perkelahian dilanjutkan, akhirnya dia akan roboh dan tewas di ujung pedang kedua orang muda yang amat lihai itu.

"Singgg......!"

Pedang Naga Hitam di tangan Liong-li menyambar ke arah lehernya.

"Singgg......!"

Pedang Naga Putih di tangan Pek-liong juga menyambar ke arah perutnya.

Kalau pedang Hek-liong-kiam menyambar dari kanan ke kiri, maka pedang Pek-liong-kiam menyambar dari kiri ke kanan sehingga tubuh Siauw-bin Ciu-kwi seperti digunting.

Siauw-bin Ciu-kwi mengelebatkan sabuknya yang sudah buntung dan berbareng dia melempar tubuhnya ke belakang, Dua batang pedang tidak mengenai sasaran, bahkan muka kedua orang itu disambar ujung sabuk.

Keduanya mengelak dan melihat lawan kini bergulingan, merekapun mengejar dan mengirim tusukan-tusukan.

Akan tetapi, ternyata cara bergulingan seperti merupakan suatu ilmu yang aneh, akan tetapi juga berbahaya bagi lawan.

Dengan bergulingan, Siauw-bin Ciu-kwi dapat menghindarkan setiap tusukan, dan kedua orang lawannya pun kini hanya dapat menyerang dari atas saja, dengan tusukan atau bacokan.

Sebaliknya, sambil bergulingan mengelak, Siauw-bin Ciu-kwi membalas dengan luncuran sabuk merahnya dari bawah, atau kadang-kadang dia mengirim tendangan kilat yang amat berbahaya.

Tangan kirinya juga mengirim pukulan jarak jauh dan kadang-kadang, secara tiba-tiba, tangan kirinya juga sudah menyambar batu atau tanah, dilontarkan ke arah muka lawan!

Kakek ini memang hebat.

Biarpun dia melawan dua orang lawan lihai dengan bergulingan saja, dia masih berhasil melemparkan batu mengenai pundak Liong-li dan membuat wanita itu terhuyung, dan hampir saja kedua mata Pek-liong kena disambar sambitan tanah dan pasir.

Pemuda ini masih sempat miringkan mukanya sehingga yang terkena sambaran tanah dan pasir hanya pipinya, akan tetapi juga cukup menimbulkan nyeri dan membuat pipinya kemerahan seperti menerima tamparan keras!

Liong-li dan Pek-liong menjadi penasaran.

Sejak tadi, mereka hanya mampu mendesak Siauw-bin Ciu-kwi, bahkan mereka telah menerima akibat serangannya yang walaupun tidak mendatangkan luka parah atau bahaya, namun cukup mengejutkan dan menyakitkan hati.

"Pek-liong, kita serang dari kanan kiri!"

Tiba-tiba Liong-li berseru dan Pek-liong yang maklum akan maksud rekannya, sudah melompat ke sebelah sana tubuh yang bergulingan itu dan mulailah mereka menyerang dari kanan kiri!

Sekarang, repotlah Siauw-bin Ciu-kwi!

Kalau tadi, dia bergulingan dan kedua orang lawannya mengejar dan melakukan serangan dari satu jurusan.

Akan tetapi, kini mereka menyerang dari dua jurusan, membuat dia tidak mampu lagi bergulingan.

Maka, dia lalu meloncat berdiri dan kembali pangkal lengannya tergores ujung pedang Liong-li.

"Lihat senjata rahasiaku!"

Bentaknya dan tangan kirinya melemparkan sebuah benda yang diambilnya dari pinggang.

Liong-li dan Pek-liong tentu saja menjadi waspada oleh bentakan itu dan mereka menahan pedang, siap menghadapi serangan senjata rahasia dalam bentuk apapun juga.

Mereka tadi sudah merasakan betapa hebatnya lontaran kakek itu.

Baru menggunakan kerikil, pasir dan tanah yang berada di bawah saja, dia sudah amat berbahaya, apa lagi kalau menggunakan senjata rahasia.

Jarak antara mereka dan Siauw-bin Ciu-kwi harus agak jauh sehingga mengurangi kecepatan serangan senjata rahasia.

Akan tetapi, Siauw-bin Ciu-kwi tidak melontarkan senjata rahasianya itu kepada mereka, melainkan membantingnya ke atas tanah.

Terdengar ledakan keras dan asap hitam mengepul tebal sekali.

Karena khawatir kalau-kalau asap itu beracun, Liong-li dan Pek-liong berlompatan menjauh.

Ketika asap membuyar, Siauw-bin Ciu-kwi sudah lenyap.

"Celaka, kita ditipunya!"

Teriak Liong-li dan mereka lalu cepat berloncatan mencari.

"Itu dia......!"

Pek-liong menuding. Kiranya Siauw-bin Ciu-kwi sudah mendayung perahu menuju ke tengah telaga! (Lanjut ke

Jilid 25 -Tamat) Sepasang Naga Penakluk Iblis (Seri ke 01-Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo

Jilid 25 (Tamat) "Ah, tentu peti itu sudah lebih dulu dia simpan di dalam perahu. Kita harus mengejarnya!"

Kata Liong-li.

Akan tetapi di situ sunyi sekali, tidak ada perahu.

Bagaimana mungkin dapat mengejar Siauw-bin Ciu-kwi yang melarikan diri menggunakan perahu ke tengah telaga?

Pada saat itu, sebuah perahu meluncur cepat ke arah mereka.

"Tai-hiap......!"

"Li-hiap......!"

Dua orang muda perkasa itu menengok dan mereka gembira bukan main.

"Sun Ting......! seru Liong-li.

"Cian Li......! Pek-liong juga berseru girang. Setelah perahu mendekat, mereka lalu meloncat ke atas perahu.

"Cepat, jangan bicara dulu. Mari kita kejar perahu di depan itu!"

Kata Liong-li dan mereka berempat lalu mendayung perahu itu sehingga meluncur cepat sekali mengejar perahu yang didayung oleh Siauw-bin Ciu-kwi.

Mereka telah berada jauh dari tempat ramai, tiba di bagian yang sepi dari telaga, di dekat pantai yang penuh hutan dan bukit.

Kalau Siauw-bin Ciu-kwi sudah mendarat di pantai itu, tentu akan sukar untuk menemukannya.

Akan tetapi, perahu mereka jauh lebih cepat dan sebelum tiba di pantai, mereka sudah mengejar dekat.

"Siauw-bin Ciu-kwi, engkau hendak lari ke mana?"

Bentak Pek-liong.

"Kakek iblis, harta karun itu berikan saja kepada kami!"

Kata pula Liong-li sambil tersenyum.

Melihat bahwa tidak mungkin melarikan diri lagi dan bahwa dia harus melawan mati-matian kalau ingin menyelamatkan harta karun dan nyawanya, Siauw-bin Ciu-kwi menjadi marah bukan main.

Dia lalu mengangkat peti hitam itu ke atas kepalanya.

"Kalau aku tidak bisa mendapatkan harta karun ini, maka orang lainpun tidak!"

Berkata demikian, dia melemparkan peti itu ke atas dan ketika peti meluncur turun, dia menyambutnya dengan hantaman kedua tangannya.

"Brakkkk!!"

Peti itu hancur berantakan dan isinyapun berhamburan jatuh ke dalam telaga dan sebentar saja semua isinya tenggelam dan lenyap.

"Engkau iblis keparat!"

Liong-li membentak.

"Siauw-bin Ciu-kwi, engkau tidak akan terlepas dari tangan kami!"

Pek-liong juga membentak. Siauw-bin Ciu-kwi tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha ha, kalian juga tidak kebagian apa-apa!"

Dua orang muda itu sudah berloncatan ke atas perahu di mana Siauw-bin Ciu-kwi berdiri dan datuk sesat inipun menyambut mereka dengan sabuk sutera merahnya.

Liong-li dan Pek-liong menggerakkan pedang, dan karena perahu itu tidak besar, maka tentu saja Siauw-bin Ciu-kwi tidak dapat bergerak dengan leluasa.

Perahupun terguncang dan ketika Siauw-bin Ciu-kwi menangkis pedang Pek-liong yang menyerang dari depan, dia tidak mampu menghindarkan diri lagi ketika dari belakangnya, Liong-li menusukkan pedang Hek-liong-kiam!

"Cappp......!"

Pedang itu menembus punggung.

Akan tetapi kakek yang amat kuat itu sudah membalik sehingga pedang itu terlepas dari pegangan tangan Liong-li dan masih tertinggal di punggung Siauw-bin Ciu-kwi!

Kini tangan kiri kakek itu mulur dan hendak mencekik Liong-li.

Gadis perkasa ini mengelak dengan loncatan ke kiri, akan tetapi karena perahu itu kecil, loncatannya membuat ia jatuh ke dalam air.

Pada saat itu, pedang Pek-liong-kiam juga sudah meluncur dan menusuk lambung kakek itu, amblas sampai tembus.

Kembali kakek itu membalik dengan kekuatan yang luar biasa sehingga pedang Pek-liong-kiam juga terlepas dari tangan Pek-liong dan tertinggal di lambung kakek itu.

Kakek itu menggerakkan sabuk suteranya, akan tetapi agaknya kini tenaganya sudah habis karena diapun terkulai dan roboh ke dalam perahunya, tak berkutik lagi karena ternyata nyawanya telah meninggalkan tubuhnya!

Liong-li naik lagi ke perahu dengan pakaian basah kuyup.

Ia saling pandang dengan Pek-liong dan wanita itu menarik napas panjang.

"Bukan main! Dia ini adalah seorang lawan yang amat tangguh!"

"Benar,"

Kata Pek-liong.

"Sayang sekali kepandaian yang demikian tinggi itu dia pergunakan untuk kejahatan."

Mereka mencabut pedang masing-masing dari tubuh yang sudah tak mampu bergerak itu.

"Tai-hiap......!"

"Li-hiap......!"

Dua orang muda sakti itu menoleh dan mereka melihat kakak beradik itu sudah mengenakan pakaian menyelam, pakaian yang ketat mencetak tubuh mereka sehingga membuat Liong-li dan Pek-liong memandang dengan kagum.

"Kami akan menyelam dan mengumpulkan harta karun itu!"

Kata Sun Ting.

"Baiklah, dan kami akan mengubur dulu jenazah ini,"

Kata Liong-li.

Pek-liong kagum, akan tetapi tidak mengatakan sesuatu.

Dia tahu bahwa di dasar hati wanita yang dipujanya ini terdapat suatu kelembutan yang kadang-kadang tidak sesuai dengan kehidupannya yang keras dan penuh bahaya.

Mereka lalu mendayung perahu Siauw-bin Ciu-kwi itu ke pantai, kemudian menggali lubang dan mengubur jenazah bekas lawan itu dengan sederhana.

Kemudian mereka kembali ke tempat tadi.

Ternyata kakak beradik itu telah beberapa kali menyelam dan berhasil mengumpulkan banyak barang berharga yang tadi berhamburan dari dalam peti harta karun.

Seperti tidak disengaja saja, kalau dia timbul dari menyelam dan membawa barang emas intan, Sun Ting tentu berenang ke perahu di mana Liong-li berada.

Adapun Cian Li, setelah muncul, berenang ke perahu yang sebuah lagi, di mana Pek-liong menantinya dengan senyum dan pandang mata kagum.

Pek-liong pergi membeli makanan dan minuman karena penyelaman kakak beradik yang mengumpulkan harta karun yang berhamburan itu akan makan waktu sedikitnya tiga hari!

Pada hari pertama itu, sudah terkumpul cukup banyak di dalam dua perahu.

Setelah matahari condong ke barat, ketika Cian Li muncul sambil membawa kantung kain terisi beberapa buah benda emas dan naik ke perahu di mana Pek-liong sudah menanti, Pek-liong menerima kantung itu dan mengeluarkan isinya, ditumpuk di dalam perahu bersama barang lain yang sudah terkumpul selama sehari itu.

Ketika Cian Li hendak meloncat lagi, dia memegang lengan gadis itu.

"Sudah cukup, Cian Li. Besok masih ada hari. Engkau sudah bekerja sejak tadi dan hari sudah menjelang senja. Kakakmu juga sudah mengaso,"

Kata Pek-liong tanpa melepaskan lengan yang dipegangnya.

Betapa lembut dan hangat lengan itu, dan betapa di bawah kulit yang putih mulus itu tersembunyi kekuatan yang mengagumkan, kekuatan yang terhimpun melalui gerakan renang.

Ketika merasa betapa jari-jari tangan pendekar pujaannya itu tidak melepaskan lengannya, bahkan perlahan-lahan membelai dan naik ke siku, Cian Li marasa betapa seluruh bulu di tubuhnya meremang dan bangkit berdiri.

"Di mana dia? Mana kakakku?"

Ia mengalihkan perhatian sambil memandang ke arah perahu yang sebuah lagi, beberapa puluh meter dari situ. Tidak nampak seorangpun di perahu itu! "Eh, di mana kakakku dan di mana pula li-hiap?"

Pek-liong tertawa.

"Mereka? Mereka di perahu!"

"Tapi tidak kelihatan dari sini!"

"Tentu saja, kalau kita berada di bilik perahu inipun tentu tidak akan kelihatan dari perahu mereka."

Cian Li memandang lagi.

Perahu yang di sana itu bergoyang-goyang, tanda bahwa me-mang ada orangnya, akan tetapi orangnya berada di dalam bilik perahu yang sempit, maka tidak nampak.

Tiba-tiba wajahnya berubah merah sekali, mulutnya menahan senyum dan ia tersipu.

Pek-liong menariknya dan ia tidak menolak, bahkan menyambut mesra ketika Pek-liong mendekap tubuhnya yang masih basah itu dan membawanya ke dalam bilik perahu.

Sementara itu, di perahu yang lain, tadi Liong-li juga mencegah ketika Sun Ting menyelam lagi.

"Besok saja lagi, Sun Ting. Jangan engkau terlalu lelah karena barang yang harus diambil dari dasar telaga masih banyak."

Liong-li lalu masuk ke bilik perahu dan merebahkan dirinya.

Ia menghela napas panjang, kagum memandang kepada Sun Ting.

Bentuk tubuh pemuda itu membayang di balik pakaian renangnya yang ketat dan basah.

Darah mudanya sudah sejak tadi bergolak melihat betapa otot-otot tubuh Sun Ting bergerak-gerak di bawah pakaian yang ketat itu, ketika pemuda itu naik turun perahu.

Betapa indah dan jantannya!

"Aih, enak istirahat di sini, Sun Ting, terlindung dari panasnya matahari dan tidak kelihatan orang lain."

Melihat wanita yang dipujanya itu, Sun Ting yang memang sudah jatuh cinta, menelan ludah. Dia merangkak menghampiri, dan suaranya gemetar ketika dia bertanya.

"......enci bagaimana... bagaimana dengan luka di pinggulmu......?"

Melihat betapa pemuda itu sukar bicara, dan kedua tangan itu gemetar, Liong-li tersenyum manis.

"Sudah agak sembuh, Sun Ting. Coba kaulihat sendiri."

Berkata demikian, Liong-li membalikkan tubuhnya, miring hampir menelungkup. Dengan tangan gemetar Sun Ting mendekat, lalu meraba.

"......boleh... boleh aku melihatnya?"

"Tentu saja, bukankah engkau yang dulu mengobatinya?"

Dengan kedua tangan gemetar Sun Ting menarik celana itu agak turun sehingga nampak pinggul yang berkulit putih mulus itu, pinggul yang membukit besar.

Luka itu memang sudah sembuh dan kering, hanya tinggal bekasnya saja.

Akan tetapi Sun Ting sudah tidak kuat menahan dirinya dan diapun menciumi pinggul itu, luka di pinggul itu.

"Enci...... ah, enci... betapa indah pinggulmu......"

"Ih, anak nakal!"

Liong-li membalik, lalu merangkul dan menarik tubuh Sun Ting sehingga mereka berdekapan.

Ketika Pek-liong dan Cian Li sudah saling dekap dan saling berciuman, Pek-liong merasa heran karena gadis dalam pelukannya itu menangis!

"Cian Li, engkau kenapa?

Mengapa engkau menangis?"

Cian Li mempererat rangkulannya dan menjawab lirih sambil menyembunyikan muka di leher pemuda itu.

"Tidak apa-apa...... aku.... aku menangis karena bahagia, Hay-ko. Aku..... aku sejak bertemu denganmu... aku telah jatuh cinta dan betapa aku mengharapkan dapat berada dalam pelukanmu seperti ini......"

Pek-liong menghela napas dan mengelus rambut kepala Cian Li.

"Cian Li, sebelum kita melangkah lebih jauh, aku harus lebih dulu memperingatkanmu bahwa aku...... aku tidak seperti yang kauharapkan, aku tidak seperti pria lain......"

Sekali ini Cian Li terkejut dan bangkit duduk, memandang wajah pemuda yang rebah telentang itu.

"Apa...... apa maksudmu, Hay-koko?"

"Engkau seorang gadis yang baik, Cian Li maka aku harus berterus terang kepadamu. Aku memang suka kepadamu, aku kagum kepadamu, akan tetapi hanya sampai di situ saja. Aku tidak mungkin menjadi suamimu. Nah, aku harus memberitahukan hal ini lebih dulu padamu. Aku tidak mau menghancurkan kebahagiaanmu. Nah, engkau sudah tahu sekarang. Sepasang mata itu terbelalak.

"Tapi...... tapi mengapa, koko? Kalau kita saling mencinta, kenapa kita tidak dapat menjadi suami isteri?"

Pek-liong menggeleng kepala.

"Tidak mungkin! Aku tidak mau menikah, sekarang ini tidak dan belum! Hidupku masih penuh bahaya, aku tidak mau membawa seorang isteri dalam bahaya maut."

"Tapi aku...... aku mau, koko. Aku tidak takut menghadapi bahaya maut, asal berada di sampingmu!"

"Tidak, Cian Li. Sudah kujelaskan tidak dan harap jangan mendesakku. Aku sudah berterus terang, aku tidak ingin melihat engkau nanti kecewa dan kehilangan kebahagiaanmu. Nah, kita sudahi saja kemesraan ini dan kita menjadi saudara saja. Bagaimana?"

Pek-liong juga bangkit duduk.

Mereka duduk berhadapan, saling pandang dan mata gadis itu masih basah air mata.

Akan tetapi, tiba-tiba Cian Li menubruk dan merangkul Pek-liong sehingga pemuda ini jatuh dan rebah telentang lagi, Cian Li di atasnya.

Gadis itu mencium mulut Pek-liong dan ia berbisik.

"Aku tidak perduli... biar engkau tidak menjadi suamiku, aku tidak perduli...... engkaulah satu-satunya pria yang kukagumi dan kucinta, aku...... aku ingin.... menjadi milikmu..... saat ini......"

Pek-liong balas merangkul.

"Engkau sungguh tidak akan menyesal?"

Cian Li memegang kepala pemuda itu dengan kedua tangannya, agak dijauhkan agar mereka dapat saling berpandangan.

"Mengapa menyesal? Tidak! Aku ingin engkau yang menjadi pria pertama yang memiliki diriku......"

Mereka tidak bicara lagi.

Demikianlah, selama tiga hari mereka berempat berada di perahu, masing-masing pasangan dalam sebuah perahu.

Makanan dan minuman yang dibeli Pek-liong cukup untuk mereka, dan sudah dibagi menjadi dua.

Pada sore hari ketiga, Pek-liong dan Liong-li menyuruh kakak beradik itu menghentikan penyelaman mereka.

Biarpun tidak mungkin mengumpulkan seluruh isi peti harta karun itu dan mungkin masih ada yang tertinggal di dasar telaga, namun yang dapat dikumpulkan selama tiga hari itu sudah lebih dari pada cukup.

Tak ternilai harganya dan mereka menjadi kaya raya!

Pada keesokan harinya, ketika terbangun dari tidurnya karena merasa kedinginan, Cian Li membuka mata dan berbisik lirih.

"......Hay-koko......"

Tangannya merangkul akan tetapi tidak merasakan apa-apa. Ia membuka matanya.

"Hay-ko......!"

Kosong dalam bilik perahu yang sempit itu, yang setiap malam selama tiga hari ini menjadi tempat ia bersama Pek-liong.

Tidak ada jawaban.

Bagaikan disengat laba-laba, karena menduga sesuatu, Cian Li bangkit duduk.

"Hay-koko......??"

Kini suaranya terdengar mengandung kekhawatiran.

Ia bangkit berdiri dan keluar dari dalam bilik perahu.

Tidak nampak ada Pek-liong.

Ia melihat sekeliling.

Sunyi.

Perahu yang sebuah lagi nampak tak jauh dari situ, dan kedua perahu mereka itu kini telah berada di pantai, tidak seperti kemarin, masih terapung di tengah telaga.

"Hay-koko.....! Di mana engkau......??"

Ia berteriak dan meloncat ke daratan.

"Li-moi......!"

Ia membalik, penuh harapan. Akan tetapi, yang memanggilnya adalah kakaknya sendiri, Kam Sun Ting yang berada di atas perahunya.

"Li-moi, kau ke sinilah!"

Kata pemuda itu sambil menggapai dengan tangan kiri, tangan kanannya memegang sebuah surat yang agaknya sedang dibacanya, Cian Li berlari menuju ke perahu kakaknya yang juga sudah menepi, lalu ia naik ke perahu.

"Bacalah surat ini, dan engkau akan mengerti,"

Katanya dan Cian Li melihat betapa wajah kakaknya pucat sekali, matanya mengandung kecewa dan duka, bahkan ia melihat kakaknya seperti orang yang akan menangis!

Ia merampas surat itu dan dibacanya.

Sun Ting dan Cian Li yang tercinta.

Karena waktunya sudah tiba, kami terpaksa meninggalkan kalian, untuk kembali ke tempat kami musing-masing dan kami meninggalkan sebagian harta karun dalam kantung-kantung di perahu.

Pakailah untuk modal kalian hidup.

Maafkan kami, kami bukan jodoh kalian.

Carilah jodoh yang baik dan hiduplah berbahagia.

jangan ingat kepada kami lagi.

Kami akan selalu mengingat kalian sebagai pemuda dan gadis yang manis dan baik budi.

Selamat tinggal!

Hek-liong-li dan Pek-liong-eng "Aiihh......!"

Cian Li mengeluh panjang dan iapun menubruk kakaknya.

"Koko...... ah, koko..... jadi dia benar meninggalkan aku.....!"

Ia menangis tersedu-sedu di pundak kakaknya.

Sun Ting hanya mengelus rambut kepala adiknya dan diapun menangis, tidak terisak, melainkan air mata menetes-netes keluar dari kedua matanya.

Dia teringat akan kata-kata Liong-li semalam, ketika mereka berdua sebagai jawaban ketika dia menyatakan ingin menikah dengan wanita itu.

"Sun Ting, jangan merusak suasana. Ingatlah selalu hubungan kita selama tiga hari ini sampai kita mati, dan akan selalu menjadi kenangan indah. Kalau kita menikah, kenangan itu akan buyar dan lenyap. Aku tidak ingin terikat, tidak ingin menjadi isteri siapapun. Aku sayang padamu, titik. Hanya sekian saja, tidak ingin terikat denganmu. Kalau engkau ingin menikah, pilihlah seorang gadis yang baik. Aku tidak akan menjadi isteri yang baik, aku seorang petualang, hidupku penuh bahaya maut."

Sun Ting menepuk-nepuk pundak adiknya.

"Sudahlah, Li-moi. Mereka itu memang bukan orang-orang biasa. Sudah beruntung bagi kita bahwa mereka menyayang kita dan kita akan mengingat dan mengenang mereka sebagai sahabat-sahabat dan kekasih-kekasih yang amat kita kagumi dan sayang."

Karena memang ia tahu bahwa Pek-liong pasti akan meninggalkannya, maka Cian Li dapat dihibur juga.

Mereka menemukan dua kantung harta karun itu, di dalam perahu.

Biarpun bagian itu hanya sepersepuluhnya, namun pada saat itu mereka telah menjadi orang-orang yang kaya raya!

Dengan harta itu mereka akan mampu membeli rumah besar, membuka toko yang besar.

Atau kalau mereka menghendaki, mereka dapat membeli tanah seluas dusun mereka!

Dan di samping harta karun itu, merekapun memiliki kenangan yang teramat manis, kenangan selama tiga hari tiga malam bersama orang yang pernah mereka cinta, dan yang takkan mungkin dapat mereka lupakan selama hidup mereka, biarpun kelak mereka akan bertemu jodoh dan sampai mereka menjadi ayah, ibu, kakek dan nenek!

Sementara itu, jauh dari situ, Pek-liong dan Liong-li menunggang kuda masing-masing yang mereka beli di dekat telaga.

Harta karun itu telah mereka bagi dan mereka simpan dalam kantung yang kini mereka gendong di punggung.

Tadinya Pek-liong menolak.

"Untuk apa kauberikan sebagian harta karun itu padaku, Liong-li? Aku tidak membutuhkan harta karun! Kalau aku membutuhkan sesuatu, tidak sukar bagiku untuk mendapatkannya!"

Liong-li tersenyum.

"Mencuri milik hartawan atau bangsawan? Hemm, memang baik saja akan tetapi kalau sampai ketahuan, tentu akan tersiar ke mana-mana bahwa Pek-liong-eng, pendekar yang terkenal menjadi pemberantas kejahatan itu ternyata hanyalah seorang pencuri atau perampok. Ihh, aku akan ikut merasa malu, Pek-liong! Sebaiknya engkau terima bagianmu dalam harta karun ini dan hidup berkecukupan. Dan ingat, kita bersama sudah bersumpah untuk menentang kejahatan dan pekerjaan itu kadang-kadang membutuhkan biaya yang cukup besar! Bawalah, belilah rumah yang cukup besar agar aku menjadi betah di rumahmu kalau datang berkunjung."

Akhirnya Pek-liong menerimanya juga dan mereka membalapkan kuda meninggalkan Telaga Po-yang, telaga besar di mana mereka mengalami petualangan yang amat berbahaya, akan tetapi juga amat menguntungkan itu.

Bukan hanya untung karena memperoleh harta karun yang tak terhitung besarnya, akan tetapi bertemu pula dengan seorang pemuda dan seorang gadis yang mereka sayang dan yang amat menyayang mereka pula.

Setelah tiba di jalan simpang, mereka berhenti.

Hari masih pagi sekali dan jalan itu masih sunyi.

Keduanya turun dari atas kuda, lalu saling berhadapan.

"Pek-liong, kita berpisah di sini!"

Pek-liong mengerutkan alisnya.

"Liong-li, baru saja kita saling bertemu, haruskah sudah berpisahan lagi. Apakah engkau tidak ingin berkunjung ke rumahku!"

"Hi-hik, nanti saja, kalau engkau sudah membangun rumah yang besar! Dan belum waktunya engkau berkunjung ke tempatku. Kita baru saja mengalami petualangan besar yang melelahkan dan kita perlu beristirahat. Mudah-mudahan segera muncul suatu pekerjaan baru yang akan dapat membawa kita bekerja sama pula menghadapinya. Nah, selamat berpisah, Pek-liong!"

Kata Liong-li sambil mengangkat kedua tangan ke depan dada.

"Selamat berpisah, Liong-li,"

Jawab Pek-liong sambil memberi hormat pula.

Keduanya saling berpandangan dan seperti ditarik besi semberani, keduanya melangkah maju dan di lain saat mereka telah saling berpelukan.

Tanpa berahi.

Berpelukan seperti dua orang sahabat yang enggan berpisah.

Pada saat mereka saling rangkul itu, dalam lubuk hati masing-masing timbul perasaan bahwa sebetulnya, pada perasaan yang paling mendalam, mereka itu saling memiliki!

Betapa mudahnya bagi mereka berdua untuk membiarkan diri terseret oleh perasaan sehingga timbul nafsu yang akan menggelora, akan membakar segalanya.

Namun keduanya juga merasa bahwa kalau hal ini mereka biarkan, maka perasaan kasih sayang yang amat mendalam itu, saling memiliki itu, akan ikut pula terbakar.

Oleh karena itu, Liong-li yang lebih dulu melepaskan rangkulannya dan iapun sekali meloncat sudah berada di atas punggung kudanya.

Pek-liong juga naik ke atas punggung kudanya dan merekapun membalapkan kuda masing-masing, hanya menoleh satu kali pada saat yang bersamaan!

Kembali mereka heran dan juga gembira bahwa dalam saat seperti itupun, kontak antara mereka itu masih demikian kuatnya sehingga ketika menolehpun pada saat yang sama!

Mereka mengangkat tangan sebagai selamat berpisah, lalu membalapkan kuda masing-masing dengan menuju pulang ke tempat tinggal masing-masing.

Pek-liong menuju dusun kecil di dekat kota Hang-kauw, tak jauh dari Telaga See-ouw.

Sedangkan Liong-li pulang ke kota Lok-yang.

T A M A T andu0396, 4 Oktober jam 9.58am

http.//indozone.net

/literatures/literature/1648

Baca Juga: Si Tangan Sakti 1

Baca Juga: Jodoh Rajawali 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert