Ceritasilat Novel Online

Si Bayangan Iblis 1

Eps 1 Si Bayangan Iblis - Kho Ping Hoo

Baca online Si Bayangan Iblis - Kho Ping Hoo

Cersil Si Bayangan Iblis - Kho Ping Hoo.

Si Bayangan Iblis (Seri ke 02 -Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 01 Derap kaki kuda yang berlari congklang memecah kesunyian pagi itu di luar kota Lok-yang.

Hari masih terlalu pagi dan hawa udara dinginnya bukan main, membuat para petani yang biasa bangun pagi, merasa malas untuk meninggalkan rumahnya, terutama sekali meninggalkan api unggun atau perapian di dalam rumah yang dapat menghangatkan dan menyamankan badan.

Musim semi menjelang tiba dan hawa dingin musim lalu masih tertinggal.

Demikian dinginnya hawa udara pagi itu sehingga para ibu rumah tangga yang hendak memasak sesuatu dengan minyak, harus lebih dahulu mendekatkan tempat minyak ke api karena minyaknya telah membeku.

Hawa dingin menyusup tulang, maka banyak orang dusun di dalam rumah mereka merasa heran dan kagum mendengar derap kaki kuda tunggal itu.

Begini dingin menunggang, kuda, pikir mereka.

Alangkah akan dinginnya bagi si penunggang.

Memang penunggang kuda itu patut dikagumi.

Dia seorang pria berusia kurang lebih empatpuluh tahun.

Orangnya sungguh patut menunggang kuda yang tinggi besar dan gagah itu.

Pria itu berperawakan agak tinggi, tubuhnya tegap dengan dada yang bidang.

Dia menunggang kuda dengan tubuh tegak lurus, pinggangnya bergerak lemas sesuai dengan larinya kuda yang congklang.

Dari cara dia duduk itu saja mudah diketahui bahwa dia seorang ahli menunggang kuda.

Pakaiannya seperti pakaian orang kota, tidak pesolek, namun pakaian itu terbuat dari kain yang kuat dan nampak bersih, bajunya berwarna biru muda dan celananya kehijauan.

Ikat pinggangnya kuning cerah seperti kain pengikat rambut kepalanya.

Wajah pria ini sungguh mengesankan sebagai seorang pria yang jantan dan gagah perkasa.

Wajah itu bentuknya hampir persegi karena dagunya yang siku dengan lekuk yang dalam dan membuat dagu itu nampak keras dan kuat, ditumbuhi jenggot yang terpelihara, hanya sedikit saja di ujung dagu sedangkan lainnya dicukur licin.

Mulutnya selalu membayangkan senyum penuh pengertian, dan kadang giginya nampak berkilat putih dan berjajar rapi.

Di antara hidung dan mulutnya tumbuh kumis, juga lebat akan tetapi terawat rapi, dicukur sebagian dan yang dibiarkan tumbuh hanya sepanjang bibir atas, dengan kedua ujungnya meruncing agak ke atas.

Hidungnya besar dengan bukit hidung yang tinggi dan ujungnya mancung.

Sepasang matanya lebar dan hampir bulat dengan sinar yang tajam dan cerdik.

Sepasang mata ini dilindungi sepasang alis yang menarik perhatian karena amat tebal dan hitam sekali.

Rambutnya juga hitam dan lebat, digelung ke atas dan diikat dengan kain berwarna kuning.

Wajah pria ini lebih tepat disebut jantan dan gagah dari pada tampan.

Wajah yang membuat hati setiap orang wanita yang mengagumi kegagahan dan kejantanan akan menjadi terguncang dan tertarik.

Kini dia dan kudanya sudah meninggalkan dusun dan kota Lok-yang yang berada di balik bukit kecil di depan yang nampak dipenuhi pohon itu.

Agaknya bukit itu subur dan berhutan.

Dia lalu menyentuh perut kudanya dengan tumit, menyuruh kuda itu uutuk berlari cepat mendaki bukit.

Ketika dimasuki hutan yang lebat itu, kembali dia membiarkan kudanya berjalan seenaknya.

Masih terlalu pagi, pikirnya, tidak perlu tergesa-gesa.

Tiba-tiba, di bagian yang agak terbuka dari hutan itu, dia melihat dua orang berloncatan keluar dari balik batang pohon.

Dua orang laki-laki yang memegang golok dan dari sikap mereka, dia dapat menduga bahwa mereka itu bukanlah orang baik-baik.

Benar saja dugaannya.

Dua orang yang kelihatan kasar dan berwajah bengis itu, berusia antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun, sudah menghadangnya dan seorang di antara mereka membentak nyaring.

"Berhenti!!"

Pria itu menahan kudanya dan memandang kepada kedua orang yang menghadangnya dengan senyum mengejek akan tetapi sinar matanya penuh teguran.

"Hemm, siapakah kalian dan mengapa pula menahan perjalananku?"

"Tak perlu banyak cakap!"

Bentak orang kedua yang matanya sipit sekali.

"Turun dari kudamu dan berikan kuda itu kepada kami, barulah kau boleh melanjutkan perjalananmu!"

"Ehh? Kuda ini adalah kudaku sendiri, kenapa harus diberikan kepada kalian?"

"Cerewet benar kau! Turun, atau kami harus memaksamu? Engkau lebih suka mampus di bawah golok kami dari pada menyerahkan kuda?"

Bentak orang pertama yang bermuka hitam. Kini sepasang mata yang lebar itu mengeluarkan sinar keras dan sepasang alis yang hitam tebal itu berkerut.

"Hemm, kiranya kalian ini adalah dua orang perampok, ya? Tidak tahukah kalian bahwa sejahat-jahatnya pencuri, mencuri kuda merupakan dosa yang paling berat, dan sejahat-jahatnya perampok, merampok kuda juga dapat dihukum berat, dihukum mati?"

Dua orang perampok itu menjadi marah.

Mereka saling pandang dan mengangguk, sebagai isyarat bahwa mereka tidak akan bicara lagi, melainkan turun tangan saja terhadap calon korban yang banyak cakap itu.

Dengan golok terangkat tinggi, kedua orang perampok itu menyerbu ke depan.

Akan tetapi pria yang gagah itu nampak tenang saja, lalu berseru sambil menepuk leher kudanya.

"Hek-ma (Kuda Hitam), hajar dua ekor anjing ini!"

Kuda tinggi hesar yang disebut Hek-ma itu tiba-tiba mengeluarkan suara meringkik nyaring dan mengangkat kedua kaki depan ke atas, dan dengan garangnya ia menubruk ke arah dua orang itu!

Tentu saja dua orang perampok itu terkejut bukan main.

Mereka berlompatan ke sisi untuk menghindar, akan tetapi sebelum mereka sempat menyerang lagi, laki-laki perkasa itu sudah memajukan kudanya dan kakinya menyambar dua kali berturut-turut dengan kedua kakinya, dan dua orang perampok itu terlempar dan golok mereka terpental.

Mereka terlempar dan terbanting keras, lalu bangkit kembali dan lari pontang panting sambil terpincang-pincang!

Pria itu tertawa bergelak, suara ketawanya bebas lepas dan nyaring.

Anehnya, kuda hitam itupun mengeluarkan suara meringkik seperti ikut tertawa bersama penunggangya.

Jelas bahwa kuda itu merupakan seekor binatang tunggangan yang terdidik baik dan agaknya sudah biasa menghadapi pertempuran.

Memang demikianlah, pria itu adalah seorang panglima yang amat terkenal di kota raja Dia bernama Cian Hui, akan tetapi lebih dikenal dengan sebutan Cian Ciang-kun (Perwira Cian).

Baru setahun lebih lamanya dia bertugas sebagai seorang panglima muda dari pasukan keamanan di kota raja yang bertugas menjaga keamanan kota raja dan sekitarnya, memberantas kejahatan yang terjadi di daerah kota raja.

Bahkan dia sering dikirim oleh pemerintah pusat untuk melakukan penyelidikan ke daerah-daerah, membikin terang perkara yang gelap dan dia lebih banyak dikenal sebagai seorang penyelidik yang ulung dari pada seorang panglima muda pasukan keamanan di kota raja.

Sebelum menduduki jabatannya yang sekarang, Cian Ciang-kun adalah seorang perwira dalam pasukan perang yang terkenal gagah perkasa dan berani.

Akan tetapi, setahun lebih yang lalu, ketika dia sedang melaksanakan tugasnya sebagai perwira, bersama pasukannya membasmi pemberontakan di daerah utara, terjadilah malapetaka menimpa keluarganya.

Isteri dan anak tunggalnya yang baru berusia duabelas tahun, ketika melakukan perjalanan ke dusun untuk menengok keluarga, dihadang perampok dan biarpun duabelas orang pengawal melakukan perlawanan sengit, akhirnya mereka semua tewas.

Isteri dan anak Cian Ciang-kun juga tewas!

Setelah mendengar akan malapetaka ini, Cian Hui segera menghadap atasannya dan dia mohon agar diperbolehkan bekerja sebagai pemberantas para penjahat dan tidak lagi menjadi perwira pasukan perang.

Kalau tidak diperkenankan, dia akan keluar dari pekerjaannya untuk memberantas kejahatan seorang diri saja.

Permintaannya dikabulkan dan mulailah Cian Ciang-kun dikenal sebagai seorang penyelidik dan pembasmi kejahatan yang gigih.

Setahun setelah dia menjadi seorang panglima pasukan keamanan, dia telah melakukan pembersihan terhadap para penjahat dengan tegas dan keras sehingga kota raja dan sekitarnya menjadi aman.

Tidak ada lagi penjahat berani beraksi karena setiap kali terjadi kejahatan, Cian Ciang-kun tidak akan berhenti menyelidik dan berusaha untuk menangkap penjahatnya dan menghukum berat, kalau perlu dibunuhnya seketika!

Tanpa ampun darinya bagi para penjahat!

Demikianlah keadaan Cian Hui atau Cian Ciang-kun.

Sampai sekarang, setahun lebih setelah dia kehilangan isteri dan anak tunggalnya, dia tidak mau menikah lagi, tinggal menduda.

Bahkan dia tidak mau mengambil selir.

Dan kawannya yang paling setia dalam menunai tugasnya adalah Si Hitam itu, kuda hitam yang tinggi besar dan kuat.

Para penjahat mengenal nama besar Cian Ciang-kun dan mereka semua tahu bahwa selain gigih menentang kejahatan, memiliki pasukan keamanan yang besar jumlahnya dan yang mentaatinya, juga panglima ini memiliki kecerdikan dan memiliki ilmu silat yang tinggi.

Kalau sedang berpakaian seragam atau sedang dinas, dia selalu membawa pedang sebagai tanda pangkat dan juga sebagai senjata.

Akan tetapi, kalau dia berpakaian preman, dia tidak pernah membawa pedang dan sebagai gantinya, untuk menjadi bekal senjatanya adalah sebatang suling baja yang terselip di pinggang dan tersembunyi dibalik bajunya.

Cian Ciang-kun mentertawakan dua orang perampok yang lari tunggang langgang itu.

Dua orang penjahat kecil yang tidak memiliki kemampuan apapun seperti mereka itu sudah berani mencoba untuk merampok kuda orang!

Sungguh tak tahu diri, pikirnya.

Ketika dia hendak menjalankan lagi kudanya, tiba-tiba dia melihat serombongan orang berlari ke arahnya dari depan.

Belasan orang yang kesemuanya memegang golok.

Orang-orang yang berwajah bengis dan jahat!

Dan dia melihat pula dua orang yang tadi telah dibuatnya lari tunggang langgang.

Mengertilah dia kini mengapa dua orang itu tadi berani merampok, kiranya mereka itu mempunyai banyak kawan!

Melihat ada tigabelas orang yang tentu akan mengeroyoknya, Cian Ciang-kun khawatir kalau-kalau kudanya terluka.

Maka dia pun dengan sikap tenang namun cepat meloncat turun dari kudanya dan membiarkan kudanya di tempat itu, sedangkan dia sudah berlari ke depan menyambut mereka yang mengacung-acungkan golok dengan sikap beringas itu.

Melihat betapa orang tinggi tegap itu kini meloncat turun dari kuda dan menyambut mereka dengan sikap tenang dan di tangannya tidak nampak adanya senjata, para perampok itu menjadi lebih berani.

Sambil berteriak-teriak, mereka datang menyerbu.

"Tahan......!"

Bentakan menggeledek dari Cian Ciang-kun mengejutkan mereka dan tigabelas orang itu, biarpun dengan sikap masih beringas dan bengis mengancam, berhenti di depannya dan memandang kepadanya.

Bentakan tadi memang berwibawa sekali dan mempengaruhi mereka.

"Aku adalah seorang yang kebetulan lewat di sini dan sedang menuju ke Lok-yang, siapakah kalian ini dan mengapa kalian mengganggu aku?"

Seorang yang bermuka berewok dan bertubuh tinggi besar, agaknya pemimpin mereka, berkata dengan suara parau.

"Engkau telah berani memukul dua orang kawan kami!"

"Ah, begitukah? Akan tetapi, mereka itu hendak merampas kudaku!"

Cian Ciang-kun, pura-pura tidak tahu bahwa dia berhadapan dengan segerombolan perampok.

"Sekarang, bukan hanya kudamu yang harus diserahkan kepada kami, akan tetapi juga nyawamu!"

Bentak si berewok, lalu dia memberi komando kepada teman-temannya.

"Keroyok dan bunuh dia!!"

Hujan senjata golok dan pedang menyambar dari segala jurusan.

Akan tetapi, begitu tangan kanan Cian Ciang-kun bergerak, dia telah mencabut suling bajanya dan begitu dia menggerakkan senjata aneh ini, terdengar bunyi melengking seolah-olah suling itu ditiup dan terdengar suara nyaring, Tiga batang golok terpental dan tiga orang pengeroyok terhuyung.

Cian Ciang-kun tidak mau dikepung di tengah.

Dia membobol ke kiri dan menangkis tiga batang golok dengan sulingnya, membuat golok-golok itu terpental dan tiga orang pemegang golok terhuyung, saking kerasnya tangkisannya tadi.

Sebelum mereka sempat mengepung lagi, Cian Ciang-kun sudah menerjang bagaikan seekor garuda, dan yang diserangnya adalah si muka berewok!

Kepalanya harus ditundukkan dulu, pikirnya.

Si berewok memegang sebatang golok besar yang kelihatan berat.

Melihat betapa Cian Ciang-kun menyerangnya dengan totokan suling, si berewok sudah menggerakkan goloknya menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

"Trangg.....!"

Golok itu terpental dan hampir terlepas dari pegangan tangan perampok berewok itu.

Dia terkejut setengah mati, tubuhnya terdorong ke belakang.

Akan tetapi pada saat itu, empat orang pengeroyok telah mengayun senjata mereka menyerang Cian Ciang-kun.

Terpaksa perwira yang gagah perkasa ini memutar sulingnya menangkis dan kembali empat batang golok dan pedang terpental.

Kakinya menendang beruntun dan robohlah tiga orang lagi.

Pada saat itu, golok besar di tangan si berewok sudah menyambarnya dari belakang.

Cian Hui miringkan tubuhnya dan golok besar lewat di sampingnya.

Tangan kirinya menampar dengan kerasnya.

"Bukkk!!"

Punggung si berewok terkena tamparan tangan kiri Cian Hui dan diapun roboh dan tidak mampu bangkit kembali.

Pingsan!

Melihat kehebatan calon korban itu, para perampok menjadi gentar sekali dan mereka lalu menyelamatkan si berewok, menepang mereka yang tadi terpelanting, dan merekapun lari cerai berai ke hutan lebat.

Cian Hui tidak mengejar, hanya berdiri tegak sambil tertawa.

Dia menyimpan kembali sulingnya, lalu duduk di atas batu, di dekat kudanya yang sejak tadi nampak tenang-tenang saja.

Memang Kuda Hitam atau Si Hitam itu sudah biasa menghadapi pertempuran, bahkan sering dibawa berperang ketika Cian Ciang-kun masih memegang kedudukannya yang dahulu, maka menghadapi perkelahian tadi, dia sama sekali tidak menjadi panik.

Kuda itu tenang-tenang saja, akan tetapi jangan coba mendekatinya.

Kalau dalam keadaan seperti itu ada orang asing mendekatinya, tentu dia akan menggigit atau mempergunakan kakinya untuk menyepak.

Cian Ciang-kun menarik napas panjang.

Di mana-mana terdapat orang-orang jahat, pikirnya.

Dia tadi sengaja bersikap lunak, tidak membunuh karena merasa bahwa dia berada di luar daerah pertanggungan jawabnya.

Kalau peristiwa perampokan tadi terjadi di daerah kota raja, tentu dia akan bersikap lebih keras, mungkin dibunuhnya mereka atau setidaknya akan dilumpuhkan, ditangkap dan dijebloskan penjara.

Dia merasa heran sekali.

Bagaimana di luar kota Lok-yang terdapat gerombolan perampok seperti itu?

Bagaimana kewibawaan para pejabat Lok-yang?

Dia mencatat hal ini, dan dia akan menegur para pejabat keamanan di Lok-yang.

Biarpun dia tidak bertanggung jawab, namun dia berhak menegur mereka, karena dia adalah seorang petugas keamanan dari kota raja yang mengenal dan dikenal semua pejabat pusat.

"Hemm, salahkah pendengaranku tentang Hek-liong-li?"

Katanya kepada dirinya sendiri.

Dia mendengar bahwa Hek-liong-li adalah seorang pendekar wanita, atau setidaknya seorang wanita yang menentang kejahatan dan yang tinggal di Lok-yang.

Kabarnya, wanita itu ditakuti seluruh penjahat bahkan namanya terkenal luas di dunia kang-ouw.

Akan tetapi mengapa gerombolan yang hanya merupakan penjahat-penjahat kecil tadi, yang tidak memiliki kemampuan untuk menjadi penjahat besar, masih berani beraksi di luar kota Lok-yang?

Andaikata mereka itu berani menghadapi para petugas keamanan, apakah mereka tidak takut kepada Hek-liong-li yang kabarnya amat keras dan tidak mengenal ampun terhadap penjahat?

"Jangan-jangan Hek-liong-li hanya namanya saja yang besar, akan tetapi sesungguhnya hanya seorang pendekar wanita biasa saja.

Kalau begitu sungguh sia-sia aku membuang waktu dan tenaga datang ke sini......."

Berbagai dugaan timbul di dalam hati Cian Ciang-kun yang sudah bangkit lagi untuk melanjutkan perjalanan.

Akan tetapi, kembali dia tertegun karena mendengar suara ribut-ribut di sebelah depan dan seperti tadi, kembali dia melihat belasan orang berlarian menuju ke tempat itu.

Dia mengenal beberapa orang di antara belasan orang penyerangnya yang tadi.

Timbul kemarahan di hatinya.

Orang-orang keparat itu tidak tahu diri, pikirnya.

Sekali ini dia tidak akan bersikap lunak lagi.

Dia akan memberi hajaran keras, kalau perlu membunuh pemimpin mereka!

Maka, diapun sudah siap berdiri dengan suling di tangan!

Yang datang memang orang-orang tadi, akan tetapi di antara mereka nampak dua orang yang berpakaian serba hitam dan memakai kedok hitam pula!

Kedok itu hanya merupakan kain hitam yang menutupi kepala dan hanya ada dua buah lubang untuk melihat, dan lubang hidung untuk bernapas.

Tubuh dua orang ini tinggi besar dan keduanya memegang sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya.

Begitu tiba di depan Cian Ciang-kun, para perampok itu mengepungnya, akan tetapi tidak menyerang seperti tadi hanya mengepung dalam lingkaran lebar sehingga kudanya juga ikut dikepung.

Yang meloncat maju adalah seorang di antara dua orang berpakaian serba hitam berkedok hitam itu, yang tubuhnya lebih kurus.

Begitu meloncat ke depan, orang sudah menggerakkan pedangnya.

"Singgg......!"

Nampak sinar berkelebat dan bunyi berdesing nyaring.

Cian Ciang-kun maklum bahwa orang ini lihai, terbukti dari gerakan pedangnya yang demikian cepat dan kuat.

Diapun menggerakkan suling bajanya dan menangkis sambil mengerahkan tenaganya untuk membuat pedang itu terpental.

"Trangggg......!!!"

Bunga api berpijar menyilaukan mata dan sekali ini Cian Hui terkejut bukan main.

Ketika sulingnya bertemu dengan pedang dia merasa betapa tangan kanannya tergetar hebat dan sulingnya terpental walaupun orang berkedok itupun berseru kaget dan pedangnya terpental pula.

Kiranya mereka memiliki tenaga yang seimbang!

Cian Hui memeriksa sulingnya.

Tidak rusak dan dia mengangkat muka memandang.

Orang itu sudah melintangkan pedang di depan dada.

Sebatang pedang yang bentuknya agak melengkung dan hanya tajam sebelah, gagangnya panjang, tiba-tiba orang itu mengeluarkan teriakan melengking panjang dan dia sudah menerjang secepat kilat dengan cara penyerangan pedang yang aneh karena dia memegang gagang pedang itu dengan kedua tangannya!

Bukan main cepatnya pedang itu menyambar dan amat kuat karena menggunakan kedua tangan.

Ketika Cian Hui cepat meloncat ke samping untuk mengelak, pedang itu membuat gerakan melengkung dan sudah datang lagi menyambar dari arah yang berlawanan dibarengi teriakan lain yang mengguntur!

"Hemmm......!"

Cian Ciang-kun kembali mengelak sambil menggerakkan sulingnya menangkis dari samping.

Kembali terdengar suara nyaring dan bunga api berpijar.

Karena tidak ingin diserang terus menerus, ketika orang itu untuk ketiga kalinya membuat gerakan melengkung dengan pedangnya sehingga pedang itu kembali menyambar, Cian Hui melompat ke kanan dan tiba-tiba membalikkan, tubuhnya, membalas dengan serangan sulingnya yang menusuk ke arah mata orang itu.

Sepasang mata yang tajam mengintai dari balik ke dua lubang.

Akan tetapi ternyata orang itupun dapat bergerak lincah sekali.

Dia sudah merendahkan tubuhnya.

Namun, suling di tangan Cian Hui sudah melanjutkan serangan dengan memukul ke bawah, ke arah ubun-ubun kepala!

Orang itu meloncat ke belakang, lalu membalas dengan serangan pedangnya yang kadang-kadang dipegang dengan satu tangan, kadang-kadang dengan dua tangan itu.

Terjadilah perkelahian yang bukan main seru dan dahsyatnya.

Orang itu memiliki ilmu silat yang aneh, namun harus diakui oleh Cian Hui bahwa lawannya itu pandai sekali.

Diapun segera mengerahkan seluruh tenaganya dan memainkan ilmu silatnya, juga silat pedang yang dimainkan dengan suling.

Ilmu silat yang dimainkan Cian Hui adalah ilmu silat keluarga Cian yang turun temurun, dari aliran utara bercampur dengan aliran pantai timur karena nenek moyangnya berasal dari Shan-tung.

Ilmu silat keluarga Cian ini mengandalkan kekuatan dan keuletan, memiliki daya pertahanan yang amat kuat walaupun kurang lincah dalam daya penyerangan.

Pertandingan itu sungguh amat seru dan setelah lewat limapuluh jurus, tahulah Cian Hui bahwa dirinya berada dalam bahaya.

Baru menandingi seorang lawan saja, dia hanya mampu mengimbanginya.

Pada hal, lawannya ini masih mempunyai seorang kawan yang juga berkedok, dan anak buah mereka ada belasan orang!

Akan tetapi, Cian Hui adalah seorang laki-laki sejati yang gagah perkasa dan sama sekali tidak gentar menghadapi bahaya maut.

Hanya satu yang ditakuti di dunia ini, yalah melakukan perbuatan sesat!

Selama dia berada di pihak yang benar, dia akan membela diri sampai titik darah terakhir!

Maka, diapun tidak mau memikirkan apa-apa lagi kecuali mencurahkan seluruh perhatiannya untuk mengalahkan lawannya yang amat lihai itu.

Agaknya, lawannya juga penasaran sekali dan dari gerakannya yang amat ganas, mudah diduga bahwa orang berkedok itu marah bukan main.

Serangannya semakin ganas dan semua ditujukan untuk membunuhnya.

Tiba-tiba orang berkedok ke dua berkata.

"Jangan bunuh dia! Kita membutuhkan dia hidup-hidup!"

Setelah berkata demikian, orang berkedok ke dua yang lebih besar tubuhnya itu sudah terjun ke dalam pertempuran dan diam-diam Cian Hui mengeluh.

Orang itu memiliki gerakan yang lebih gesit daripada lawan pertama!

Menghadapi desakan kedua pedang yang digerakkan secara aneh itu, Cian Hui hanya mampu melindungi dirinya dengan ilmu silatnya yang amat kuat di segi pertahanan.

Sulingnya diputar seperti perisai yang melindungi seluruh tubuhnya.

"Tempel sulingnya!"

Tiba-tiba orang ke dua itu berseru.

Orang pertama menggerakkan pedangnya dengan kuat, ditangkis oleh suling Cian Hui.

Perwira ini terkejut karena tiba-tiba, ketika sulingnya bertemu pedang, kedua senjata itu saling melekat!

Dia mengerahkan tenaga untuk melepaskan suling dari pedang lawan, akan tetapi pada saat itu, tangan kiri orang ke dua sudah menyambar tengkuknya.

"Plakk!"

Cian Hui roboh pingsan!

Cian Hui merasa bahwa dia menunggang kuda, akan tetapi tidak duduk seperti biasa, melainkan rebah menelungkup dan melintang di atas seekor kuda!

Bukan Si Hitam!

Kuda biasa.

Dia mencoba menggerakkan kaki tangannya, akan tetapi tidak berhasil dan tahulah dia bahwa kaki tangannya terbelenggu dan bahwa tubuhnya menelungkup dan melintang di atas kuda, diikat dengan perut kuda!

Dia membuka matanya perlahan, melirik ke kanan kiri dan diapun teringat.

Dia telah menjadi seorang tawanan!

Mereka itu kini menunggang kuda semua, melalui hutan dan dia berada di tengah-tengah.

Nampak pula olehnya dua orang berpakaian hitam dan berkedok, juga menunggang kuda berada di depan.

Seorang di antara mereka menuntun Si Hitam.

Diam-diam Cian Hui merasa lega.

Tentu tidak ada yang dapat menunggangi Si Hitam dan mungkin sudah ada tadi yang terbanting jatuh ketika mencoba untuk menunggang Si Hitam.

Dan Si hitam kini mau dituntun karena melihat dia berada pula di situ.

Dan dia merasa semakin lega.

Dia tidak, dibunuh!

Berarti ada harapan.

Selagi masih hidup, dia tidak akan pernah putus asa.

Kalau mereka menawannya, berarti mereka menghendaki dia hidup dan teringatlah dia tadi akan ucapan mereka.

Kata-kata mereka terdengar asing walaupun mereka mempergunakan bahasa daerah Lok-yang.

Seorang di antara mereka, yang lebih besar tubuhnya, melarang kawannya membunuhnya karena mereka membutuhkan dia hidup-hidup!

Untuk apa?

Sukar menduganya karena dia tidak mengenal siapa mereka.

Bersabarlah engkau, katanya kepada dirinya sendiri.

Nanti engkau tentu akan tahu.

Dia mencoba tali-tali yang membelenggu kaki tangannya.

Amat kuat!

Tidak ada harapan untuk meloloskan diri sekarang.

Lebih baik mengaso, menghimpun tenaga baru karena dia merasa lelah sekali.

Dia lalu membiarkan dirinya lemas dan memejamkan kembali matanya.

Dia teringat akan tugasnya menuju ke Lok-yang.

Mencari Hek-liong-li!

Dia belum pernah mengenal pendekar wanita itu, akan tetapi dia sudah mencatat tentang Hek-liong-li.

Menurut keterangan yang diperolehnya, Hek-liong-li seorang wanita yang cantik dan masih muda.

Usianya sekitar duapuluh lima tahun.

Menurut keterangan yang diperolehnya, Hek-liong-li bersama seorang rekannya yang juga amat terkenal bernama atau berjuluk Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih), sudah membuat nama besar dengan membasmi banyak sekali penjahat terkenal.

Di antara para penjahat itu terdapat datuk-datuk sesat yang sakti, yaitu Hek-sim Lo-mo (Iblis Tua Berhati Hitam) dan Siauw-bin Ciu-kwi (Setan Arak Muka Tertawa), dua orang di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua)!

Sungguh sukar dipercaya bahwa seorang wanita muda berusia duapuluh lima tahun seperti Hek-liong-li (Nona Naga Hitam) bersama Pek-liong-eng yang usianya hanya beberapa tahun lebih tua, telah berhasil membasmi dan membunuh dua orang di antara Kiu Lo-mo yang kabarnya memiliki kesaktian yang luar biasa!

Untuk menenangkan hati dan melewatkan waktu, Cian Hui melanjutkan lamunannya mengingat-ingat tentang Hek-liong-li seperti yang didengarnya dari keterangan mereka yang pernah mendengar tentang wanita perkasa itu.

Keterangan itu tidak menggambarkan wajah Hek-liong-li secara terperinci, hanya mengatakan bahwa wanita itu cantik.

Tinggalnya di dalam kota Lok-yang di sebelah barat.

Rumahnya besar dan indah, dan pekarangannya luas.

Ada kolam ikan di depan rumah itu, dengan teratai dan di tengah kolam terdapat sebuah arca seorang puteri cantik menunggang seekor angsa.

Hanya itulah yang dia ketahui tentang Hek-liong-li yang kabarnya bernama Lie Kim Cu.

Ada lagi berita yang dia dapat mengenai wanita perkasa itu.

Bahwa Hek-liong-li Lie Kim Cu dahulunya adalah puteri seorang bangsawan tinggi di Lok-yang, seorang bangsawan yang kabarnya melakukan korupsi karena gila judi sehingga masuk penjara dan tewas di dalam penjara.

Betapa Lie Kim Cu, ketika itu masih seorang gadis berusia enambelas tahun, menjadi selir Pangeran Coan Siu Ong, seorang pangeran keluarga kaisar yang berkedudukan di Lok-yang.

Kemudian, tidak jelas bagaimana beritanya karena tidak ada yang tahu, tiba-tiba saja gadis itu sudah tidak menjadi selir Pangeran Coan Siu Ong lagi dan tahu-tahu telah muncul sebagai seorang wanita sakti pembasmi kejahatan!

Cian Ciang-kun, menghentikan lamunannya karena mereka telah berhenti.

Ketika dia membuka mata, dia melihat bahwa rombongan itu berhenti di depan sebuah bangunan kuno, bekas kuil yang sudah tidak dipergunakan lagi, yang berada di dalam hutan.

"Turunkan dia dan bawa ke kamar ruangan belakang!"

Kata si kedok hitam yang kurus.

Dua orang anggauta perampok segera menyeret tubuh Cian Hui turun dari atas punggung kuda.

Begitu dia diturunkan dan berdiri dengan kaki tangan terbelenggu, terdengar ringkik kuda dan Si Hitam sudah melepaskan diri dan lari menghampiri Cian Hui, mencium-cium majikannya itu sambil meringkik-ringkik.

Dua orang anggauta perampok cepat menghampiri dan mereka mencoba untuk memegang kendali kuda, akan tetapi sambil meringkik marah, Si Hitam membalik dan menyepak mereka sampai tubuh kedua orang itu terlempar beberapa meter jauhnya, terbanting ke atas tanah dan mengaduh-aduh karena tulang iga mereka ada yang patah!

Cian Hui tersenyum senang, akan tetapi lebih banyak perampok datang dan mereka mencabut senjata.

"Tenangkan kuda itu, kalau tidak akan kami bunuh!"

Tiba-tiba si kedok hitam yang besar berkata kepada Cian Hui.

Cian Ciang-kun khawatir kalau sampai kudanya dibunuh, maka diapun mengeluarkan suara bersiul panjang yang tadinya tinggi lalu menurun.

Itulah isyarat bagi Si Hitam untuk menjadi tenang, dan kuda itupun tidak meringkik lagi, mengibas-ngibaskan ekornya dan tidak membantah atau meronta ketika seorang anggauta perampok memegang kendali dan menuntunnya.

Pada saat itu, nampak berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di situ telah berdiri dua orang wanita yang usianya sekitar tigapuluh tahun, yang seorang berpakaian serba hijau dan orang kedua berpakaian warna kuning.

Mereka itu cantik manis dan keduanya membawa keranjang kecil yang berisi beberapa macam daun obat.

Di punggung mereka tergantung sebatang pedang.

"Heii, apa yang telah terjadi di sini?"

Tanya si baju hijau yang mempunyai tahi lalat kecil di dahinya.

"Kenapa orang ini dibelenggu? Kalian ini siapa?"

Tanya yang berpakaian kuning, yang hidungnya mancung. Melihat munculnya dua orang wanita yang cantik itu, para anggauta perampok saling pandang dan mereka menyeringai.

"Ha-ha, dua ekor kelinci datang menyerahkan diri kepada kita yang memang sedang kelaparan!"

"Tangkap mereka dan malam ini kita berpesta!"

"Aduh manisnya! Siapa yang lebih dulu menangkapnya, dia yang berhak mendapat bagian pertama!"

Bermacam-macam ucapan mereka yang nadanya menggoda, kurang ajar dan bahkan cabul.

Adapun dua orang berkedok hitam itu hanya diam saja, memandang dari samping.

Dua orang wanita itu mengerutkan alisnya, dan mata mereka yang jeli mengeluarkan sinar marah.

"Enci, mereka ini tentu penjahat-penjahat yang pantas dibasmi. Mari kita hajar mereka!"

Bentak si baju kuning.

Akan tetapi, belasan perampok kasar itu, yang sudah terbiasa melakukan perbuatan maksiat dan jahat, memandang kepada kepala mereka, yaitu perampok yang berewok.

Ketika kepala perampok inipun hanya menyeringai saja, mereka menjadi berani dan beramai-ramai belasan orang itu mengepung dua orang wanita itu, seperti segerombolan srigala mengepung dua ekor domba muda yang lunak dagingnya.

Akan tetapi, dua orang wanita itu sama sekali bukan dua ekor domba muda yang lunak dagingnya, melainkan dua ekor harimau muda yang ganas.

Begitu keduanya bergerak, nampak bayangan hijau dan kuning berkelebatan dan pada saat itu, belasan pasang tangan dengan rakus hendak menerkam.

Begitu dua orang wanita itu menampar dan menendang, para perampok itu mengaduh-aduh dan tubuh mereka berpelantingan!

Terkejutlah si berewok melihat betapa belasan orang anak buahnya jatuh bangun dijadikan bulan-bulan tamparan dan tendangan kedua orang wanita itu.

Dia menggereng dan dengan golok besarnya diapun maju menerjang.

Akan tetapi, dia disambut oleh wanita baju hijau yang sudah mencabut pedang dari punggungnya, Terjadilah perkelahian yang seru antara si berewok dan si baju hijau, sedangkan si baju kuning masih mengamuk dikeroyok oleh para perampok.

Diam-diam Cian Hui menjadi kagum.

Dua orang wanita yang manis-manis dan kelihatan halus itu, yang tadinya membawa keranjang memetik daun obat, ternyata dapat bergerak tangkas dan ilmu silat mereka lihai juga!

"Nona-nona, hati-hati, si kedok hitam itu lihai sekali!"

Teriaknya ketika melihat betapa dua orang berkedok itu melangkah maju.

"Kalian mundur semua!"

Bentak si Kedok Hitam yang bertubuh kurus.

Para perampok, juga kepala perampok berewok, berloncatan mundur dan kini dua orang bertopeng hitam itu menerjang maju dengan tangan kosong.

Si baju kuning menangkis pukulan si kedok hitam dan ia mengeluh sambil terhuyung ke belakang.

Dengan marah ia mencabut pedangnya pula dan kini dua orang wanita itu dengan pedang mereka menyerang dua orang berkedok hitam itu dengan ganas.

Dua orang berkedok itupun sudah mengeluarkan senjata mereka, pedang yang agak melengkung dan bergagang panjang dan lewat belasan jurus saja, tahulah Chin Ciang-kun bahwa dua orang gadis itu akan kalah.

Mereka sudah repot dan main mundur, hanya mampu mengelak dan menangkis saja.

Melihat ini, Cian Hui merasa khawatir bukan main.

Dua orang wanita itu jelas hendak menolong dirinya, maka kalau sampai mereka itu roboh tewas atau terluka, apa lagi kalau sampai terjatuh ke tangan srigala-srigala buas itu yang akan menerkam dan merobek-robek daging mereka yang lunak, dia akan selalu merasa menyesal karena dialah yang menjadi penyebabnya.

"Heii, dua orang sobat berkedok!"

Teriaknya lantang.

"Tidak malukah kalian menyerang dua orang gadis yang sama sekali tidak bersalah? Mereka tidak ada hubungan sedikitpun dengan aku. Kalau memang kalian gagah, jangan serang mereka dan hayo lepaskan aku, biar kita bertanding sampai seribu jurus lagi!"

Biarpun kedua tangan dan kakinya dibelenggu, namun Cian Ciang-kun masih dapat menggenjotkan tubuhnya ke atas dan tubuh itupun melompat tinggi ke arah dua orang berkedok dan dari atas, tubuhnya menubruk ke arah mereka dengan kedua kaki yang terbelenggu lebih dahulu.

Diapun berseru.

"Nona-nona, larilah kalian!"

Dua orang berkedok itu terkejut bukan main.

Tak disangkanya bahwa Cian Hui yang sudah terbelenggu itu masih mampu melakukan penyerangan kepada mereka.

Namun, tentu saja serangan itu tidak ada artinya dan mereka cepat melompat ke samping dan begitu tubuh Cian Ciang-kun turun, mereka menendang dan Cian Hui roboh terjungkal, lalu ditangkap oleh beberapa orang anak buah perampok yang menyeretnya ke dalam bangunan bekas kuil itu.

Akan tetapi, kesempatan itu dipergunakan oleh dua wanita tadi untuk berloncatan dun melarikan dini.

Dua orang berkedok hitam mencoba untuk melakukan pengejaran, akan tetapi mereka merasa heran sekali melihat betapa lincahnya dua orang gadis itu bergerak di dalam hutan itu, seolah-olah mereka sudah hafal benar akan keadaan pohon-pohon dan semak-semak di situ.

Sebentar saja kedua nona itu sudah lenyap.

Dua orang berkedok hitam, tidak berani mengejar terus.

Mereka kurang begitu hafal akan keadaan di hutan itu dan mereka maklum bahwa menncari musuh di tempat yang demikian penuh semak belukar, amat berbahaya.

Maka, merekapun kembali ke kuil tua dan membiarkan dua orang gadis itu lolos.

Rumah di sudut barat kota Lok-yang itu masih baru.

Mungil dan indah bentuknya, memiliki pekarangan yang luas di bagian depan dan juga taman indah di sebelah kiri dan belakang.

Kolam ikan penuh bunga teratai di pekarangan depan itupun indah sekali.

Arca puteri cantik menunggang angsa amat halus pahatannya, dengan sikap manja puteri itu merangkul leher angsa yang panjang seperti membelai seorang kekasih.

Di sekeliling kolam tumbuh bunga-bunga mawar beraneka warna, sehingga keharuman semerbak, menyegarkan hawa di pekarangan itu.

Beberapa buah bangku bercat merah hijau dan biru yang mungil berada di bawah pohon-pohon yang rindang.

Sungguh pekarangan itu membuat orang akan merasa betah berada di tempat itu.

Rumah itu agaknya baru dipugar dan diperbaiki, catnya masih baru.

Temboknya berwarna putih bersih.

Jendela dan pintunya dicat berwarna hijau muda dengan garis-garis merah.

Manis sekali, akan tetapi juga menimbulkan kesan anggun.

Dan melihat bentuk atapnya yang nampak dari luar, rumah itu tentu amat luas di sebelah dalamnya.

Batas pekarangan rumah itu dengan para tetangga dikelilingi pagar tembok yang tingginya tidak kurang dari dua meter dan di atas temboknya dipasangi ujung tombak-tombak meruncing yang dicat merah.

Semua penghuni kota Lok-yang, tua muda, laki perampuan, tahu belaka bahwa rumah yang indah ini adalah tempat tinggal Liong-li (Nona Naga) atau yang mereka semua sebut dengan Li-hiap (Pendekar Wanita) saja.

Semua orang menghormatinya dan mengaguminya, juga para pejahat karena wanita perkasa itu dikenal sebagai seorang pembasmi kejahatan yang gigih.

Pengaruh Liong-li terhadap para penjahat lebih besar dari pada pengaruh pasukan keamanan.

Tidak ada penjahat yang berani mencoba-coba untuk mendatangkan kekacauan di Lok-yang hanya takut kalau sampai bentrok dengan Liong-li!

Dan wanita itu tinggal di situ bersama sembilan orang wanita lain yang menjadi anak buahnya, pelayannya, juga pembantunya.

Sembilan orang wanita itu rata-rata memiliki ilmu silat yang lihai karena mereka digembleng sendiri oleh Liong-li.

Merekapun semuanya manis-manis, berusia antara tigapuluh tahunan dan mereka ini mudah dikenal karena mereka selalu mengenakan baju cerah berkembang dengan warna-warna menyolok.

Ada yang merah, hijau, kuning, biru dan sebagainya, tidak ada yang sama sehingga kalau gadis-gadis itu berada di pekarangan depan rumah melaksanakan pekerjaan membersihkan arca, kolam atau menyapu pekarangan, mereka itu seperti kembang-kembang besar beraneka warna menambah semarak pekarangan itu.

Akan tetapi pada siang hari itu, setelah dari luar nampak masuk dua orang di antara.

mereka yang berpakaian hijau dan kuning, terdengar bunyi kelinting nyaring dari dalam dan semua pembantu yang sedang bekerja, baik yang sibuk di dapur, di taman belakang atau di pekarangan, segera memasuki rumah.

Suara keleningan nyaring merdu itu adalah tanda bahwa mereka dipanggil menghadap nona mereka karena ada urusan yang amat penting.

Mereka berada di sebelah dalam rumah, di ruangan belakang yang luas.

Ruangan ini luas sekali dan tidak terdapat banyak perabot rumah, kecuali belasan buah bangku kecil di sudut di mana mereka kini berkumpul.

Dan di dekat bangku-bangku itu terdapat pula sebuah rak berisi segala macam senjata.

Lantainya bersih, temboknya bersih dan hawanya cukup karena ruangan ini mempunyai banyak jendela yang dibiarkan terbuka, jendela yang menembus pada taman di belakang rumah.

Bahkan bau semerbak harum bunga memasuki ruangan.

Sebuah lian-bu-thia (ruangan latihan silat) yang amat baik.

Bukan hanya merupakan ruangan latihan silat, juga tempat ini dipergunakan oleh nona majikan mereka untuk mengadakan rapat dengan mereka apa bila terjadi perkara penting.

Sebelum mereka berkumpul di situ, tidak lupa mereka tadi menutup semua pintu luar dan samping dan belakang sehingga tidak akan ada orang luar yang dapat masuk mencuri dengar apa yang mereka percakapkan di dalam ruangan berlatih silat itu.

Pada hal, mereka tidak pernah merasa khawatir akan ada orang luar berani masuk tanpa ijin karena rumah itu dipasangi banyak perangkap dan tanda-tanda yang akan memberitahu kepada mereka apa bila ada orang asing masuk.

Banyak alat rahasia dipasang nona mereka.

Salah injak lantai saja akan menimbulkan bunyi kelenengan.

Menyangkut sehelai benang halus dengan kaki saja akan menimbulkan bunyi bel dan sebagainya.

Belum lagi perangkap yang akan membuat orang asing terjeblos ke dalam lubang di bawah tanah dan banyak macam lagi.

Hek-liong-li Lie Kim Cu memang baru saja memugar dan memperbaiki rumah tempat tinggalnya.

Ia kini menjadi seorang kaya raya.

Setahun yang lalu, bersama Pek-liong-eng Tan Cin Hay, rekannya, ia telah berhasil mendapatkan harta karun yang tak dapat dinilai berapa besarnya, dan setelah membagi harta karun itu dengan Pek-liong-eng, ia menjadi seorang yang kaya raya.

Mungkin kekayaannya tidak kalah dibandingkan dengan hartawan atau bangsawan terkaya di Lok-yang!

Ia lalu memperbaiki rumahnya, dan kini di dalam rumah itu bagaikan istana saja, dengan perabot rumah yang serba indah dan mahal.

Ketika para gadis pembantunya yang oleh penduduk Lok-yang disebut sebagai Hwa I Kiu-nio (Sembilan Nona Baju kembang) berlarian datang memasuki ruangan latihan silat itu, Hek-liong-li Lie Kim Cu atau disingkat Liong-li (Nona Naga) sudah berada di situ, duduk di atas sebuah kursi gading yang indah sedangkan dua orang di antara para pembantunya, yaitu yang berpakaian kuning dan hijau sudah duduk di atas bangku, di depannya.

Wajah mereka nampak serius, membuat mereka yang berdatangan merasa tegang.

Setelah sembilan orang pembantunya berkumpul dan duduk di depannya dengan jajaran rapi, tenang dan penuh perhatian, Liong-li berkata dengan lirih namun jelas.

"Aku memanggil kalian untuk mendengarkan pengalaman enci Kuning dan enci Hijau."

Ia menoleh kepada dua orang pembantu itu.

"Kalian ceritakan kembali apa yang telah kaualami tadi."

Liong-li selalu menyebut enci (kakak perempuan) kepada sembilan orang pembantunya, dengan menyebutkan warna pakaian mereka, dan sebaliknya, para pembantu itu menyebutnya Li-hiap (Pendekar Wanita).

Dua orang pembantu itu lalu menceritakan pengalaman mereka ketika mereka bertugas mencari daun-daun obat yang dibutuhkan nona mereka ke Bukit Kuil.

Bukit itu disebut Bukit Kuil karena ada kuilnya yang kuno dan sudah tidak dipergunakan lagi itu.

Di bukit itu memang terdapat banyak tumbuh-tumbuhan obat dan kedua orang wanita ini sudah hafal akan keadaan di dalam hutan di bukit itu karena seringnya mereka ditugaskan mencari daun dan akar obat.

Semua pembantu mendengarkan dengan asyik, dan Liong-li sendiri, walaupun tadi telah menerima laporan, kini mendengarkan lagi penuh perhatian dan ia duduk di atas kursi gading itu sambil termenung.

Bukan main cantiknya ketika ia duduk seperti itu.

Pakaiannya, yang terbuat dari sutera hitam itu membuat kulit muka, leher dan tangannya nampak putih dan halus mulus, lebih putih dari pada warna gading kursi yang didudukinya.

Wajahnya yang bulat telur dengan dagu meruncing itu nampak cerah.

Mulut yang kecil dangan bibir merah yang selalu basah itu tak pernah ditinggalkan bayangan senyum.

Lesung pipinya mudah muncul, dan tahi lalat kecil di bawah mata kiri menjadi pemanis.

Seorang wanita berusia duapuluh lima tahun yang mungil, cantik jelita dan manis.

Apa lagi melihat tubuh yang padat berisi itu, dengan lekuk lengkung yang sempurna, menggairahkan dan penuh kewanitaan yang hangat.

Sukar membayangkan betapa di bawah kulit halus, di dalam tubuh yang menggairahkan itu tersembunyi kekuatan dahsyat dan ilmu silat yang maut!

Rambutnya digelung tinggi, dihias tusuk konde perak berbentuk seekor naga kecil di atas bunga teratai.

Walaupun ia kaya raya, namun Liong-li tidak suka mengenakan perhiasan emas permata yang serba mahal.

Bahkan hiasan rambutnya itu dari perak dan satu-satunya perhiasan yang terhitung mahal hanya sebuah gelang batu kemala hijau yang dipakai di lengan kirinya.

Setelah si baju hijau dan baju kuning selesai menceritakan pengalaman mereka, tujuh orang pembantu lain mengerutkan alis.

Mereka kelihatan penasaran mendengar betapa dua orang kawan mereka dikalahkan orang.

Wanita baju ungu yang merupakan pembantu tertua, segera berkata kepada Liong-li dengan penuh semangat.

"Li-hiap, biarkan kami beramai pergi ke Bukit Kuil dan menghajar kawanan perampok itu!"

Kawan-kawannya mengangguk membenarkan. Ingin mereka menebus kekalahan dua orang kawan mereka! Akan tetapi Liong-li menggeleng kepalanya.

"Aku memanggil kalian agar kalian tahu duduknya perkara. Akan tetapi, bukan kewajiban kalian untuk menghadapi perkara ini, melainkan akan kuhadapi sendiri. Ada dua hal amat menarik hatiku, yaitu adanya dua orang berkedok hitam itu, dan pria yang menjadi tawanan itu.

"Kalau dua orang itu berkedok hitam, itu berarti bahwa mereka hendak menyembunyikan keadaan diri mereka, dan jelas bahwa mereka bukanlah perampok-perampok biasa. Tentu ada hal lain tersembunyi, ada rahasia di balik semua.

"Apa lagi kalau diingat betapa mereka itu dalam belasan jurus sudah mampu mendesak Huang-ci (Enci Kuning) dan Ching-ci (enci Hijau ). Ingin aku membuka kedok mereka dan mengetahui siapa mereka dan apa maksudnya mereka bersikap penuh rahasia itu. Dan kedua adalah tawanan itu. Agaknya dia seorang pendekar yang baik budi dan gagah perkasa!"

"Bagaimana Li-hiap dapat menduga demikian?"

Tanya si baju ungu, juga yang lain ingin tahu karena mereka semua sudah mengenal nona mereka yang selain lihai sekali ilmu silatnya, juga amat cerdik.

"Hemm, mudah saja. Dia sudah menjadi tawanan dan dibelenggu kaki tangannya, namun dia masih berani melawan, itu tandanya dia gagah perkasa. Dia mencoba untuk menyelamatkan enci Hijau dan enci Kuning dan menganjurkan mereka cepat melarikan diri, ini menunjukkan bahwa dia seorang pendekar yang baik hati. Tentu dia merasa bahwa kalau sampai kedua enci tertawan musuh atau tewas, maka hal itu disebabkan karena kedua enci berusaha menolongnya. Tentu hal itu akan mendatangkan perasaan tidak enak di hati seorang pendekar. Karena itu, selain ingin tahu, siapa adanya dua orang berkedok hitam itu, akupun ingin tahu siapa adanya pria gagah perkasa itu. Nah, kalian jagalah rumah baik-baik. Kalau ada tamu mencariku, katakan bahwa sore nanti atau malam nanti aku tentu sudah pulang. Nah, persiapkan air untuk mandi, beri wangi-wangian. Aku ingin badanku sejuk dan segar dalam menghadapi kemungkinan bahaya!"

Kurang lebih satu jam kemudian, Liong-li sudah keluar dari rumahnya, mengenakan pakaian serba hitam dari sutera halus.

Kulit muka, leher dan tangannya nampak segar kemerahan karena baru saja digosok dengan kuat ketika ia mandi.

Wanita ini hampir tidak pernah mempergunakan bedak atau pemerah pipi dan bibir.

Memang tidak perlu, kecuali kalau dalam suatu peristiwa penting, misalnya kalau ia diundang ke dalam pesta keluarga bangsawan di Lok-yang dan sebagainya.

Dalam keadaan biasa, ia tidak pernah menggunakan bedak dan gincu.

Kulit mukanya sudah cukup putih mulus dan segar kemerahan.

Kedua pipinya yang baru digosoknya ketika mandi tadi nampak kemerahan seperti buah delima masak, sepasang bibirnya juga sudah merah basah tanpa gincu.

Ia mengenakan baju yang agak longgar dan panjang sehingga pedang Hek-liong-kiam yang tergantung tinggi di pinggangnya itu tidak terlalu menyolok.

Sepatunya juga berwarna hitam karena pakaian yang serba hitam ditambah rambutnya yang juga amat hitam itu, maka perhiasan rambut terbuat dari perak itu kelihatan amat menyolok, juga kulitnya nampak putih mulus.

Begitu keluar dari rumahnya, tiada hentinya Liong-li harus mengangguk dan tersenyum untuk membalas tegur sapa dan penghormatan orang kepadanya yang mereka lakukan dengan pandang mata hormat dan kagum.

Ia lalu mengambil jalan kecil yang sunyi agar jangan banyak terganggu, dan setelah berada di luar kota Lok-yang, ia lalu cepat menuju ke Bukit Kuil yang nampak dari situ.

Tak lama kemudian ia sudah mendaki bukit itu dan ketika tiba di tepi hutan, ia meraih ranting pohon dan mengambil sebatang ranting sebesar lengannya dan panjangnya kurang lebih satu meter, lalu mempergunakan ranting kayu basah ini sebagai tongkat.

Ia sudah mengenal baik bukit ini dan tahu di mana adanya kuil tua itu.

Bahkan ia melalui jalan setapak yang hanya dikenal oleh orang yang sudah biasa melaluinya, jalan yang sukar akan tetapi jauh lebih dekat dari pada kalau melalui jalan biasa yang lebar.

Sementara itu, Cian Hui atau Cian Ciang-kun dimasukkan ke dalam sebuah ruangan di belakang kuil tua.

Ruangan itu kotor penuh debu dan sarang laba-laba.

Dia duduk di atas lantai.

Kedua lengannya dibelenggu ke belakang pinggulnya, dan kedua kakinya dibelenggu pula dengan rantai sehingga kedua kaki itu hanya dapat direnggangkan selebar satu meter saja.

Dia dapat berjalan, akan tetapi gerakannya amat terbatas karena kedua tangan diikat ke belakang.

Dia tidak tahu apa yang akan menimpa dirinya.

Ketika dia melihat bahwa dua orang wanita manis ini dapat lolos dari ancaman bahaya, Cian Hui merasa girang bukan main.

Dia hanya dibiarkan duduk di dalam ruangan itu, tidak diganggu dan para perampok itu hanya berjaga di luar ruangan, siap dengan senjata mereka.

Dua orang berkedok itu setelah melihat dia berada di ruangan itu, lalu berkata kepada para perampok agar dia dijaga baik-baik jangan sampai lari.

"Kalau dia mengamuk lagi, kalian bunuh saja dia!"

Kata si kedok hitam yang kurus, kemudian keduanya pergi dan sampai tiga jam lamanya tidak pernah muncul.

Pernah dia bertanya kepada para perampok yang berjaga di luar dan pertanyaan itu dia tujukan kepada si kepala perampok yang bermuka berewok.

"Hai, Berewok! Kalian sudah mengambil kudaku, kenapa aku masih ditahan di sini? Apa yang hendak kalian lakukan dengan aku?"

Dengan wajah geram Si berewok itu menjawab.

"Jangan banyak mulut kau! Atau kau ingin kami menggebukimu seperti anjing sehingga engkau tidak mampu mengeluarkan suara lagi?"

Cian Hui tertawa bergelak, suara ketawanya menembus keluar dari kuil itu.

"Ha-ha-ha-ha! Kalian ini perampok-perampok busuk, penjahat-penjahat kecil yang berlagak besar. Aku tahu bahwa kalian ini adalah antek-antek saja dari dua orang berkedok hitam tadi. Engkau tidak akan berani menggangguku tanpa si kedok hitam, Berewok! Karena itu katakan saja, siapa mereka dan apa yang mereka kehendaki dariku. Kalau engkau mengaku, kelak kalau aku dapat menundukkan mereka, tentu akan kupertimbangkan dosamu!"

"Manusia sombong! Engkau sudah seperti anjing dirantai, tinggal kita angkat tangan bunuh saja, dan engkau masih banyak lagak? Hayo kalau memang engkau berani, berontaklah. Cobalah engkau mengamuk, hemm...... aku akan senang sekali mencabik-cabik perutmu agar ususmu berantakan!"

Si Berewok marah sekali. Akan tetapi yang ditantangnya hanya tertawa bergelak. Pada saat itu terdengar derap kaki kuda di luar.

"Toa-ko, kenapa harus melayani orang sombong ini? Lebih baik lagi kalau toa-ko mencoba lagi menunggangi kuda setan hitam itu sampai berhasil. Lihat, ia sudah mulai kelaparan dan lari memutari pohon dengan tidak sabar."

Cian Hui diam-diam merasa sedih.

Kudanya akan dipaksa untuk menjadi kuda tunggangan si berewok ini, dan untuk menjinakkan kuda itu, mereka menggunakan cara membuat kuda itu kelaparan.

Hem, aku harus membuat perhitungan untuk itu, pikirnya.

Si berewok lalu keluar dari tempat penjagaan di depan ruangan itu.

Dan Cian Hui bersiul.

Siulnya seperti siul iseng saja, akan tetapi diam-diam dia memberi isyarat kepada kudanya yang berada di luar kuil.

Kuda itu peka sekali terhadap suara siulnya dan kalau mendengar siulnya itu, kuda itu tentu akan menjadi tenang.

Dan memang perhitungannya itu tepat.

Kuda hitam itu tadinya dicancang pada sebatang pohon dan ia selalu gelisah.

Bahkan karena merasa lapar, kuda itu berlarian mengelilingi pohon dan mencoba untuk membikin putus kendali yang mengikatnya.

Akan tetapi, begitu Si Berewok muncul dan ia mendengar suara siulan itu.

Kuda Hitam berhenti berlari dan ia menjadi tenang dan jinak.

Bahkan ketika kepala perampok itu mendekatinya dan mengelus lehernya, ia diam saja.

"Nah, kuda yang baik, engkau jinaklah dan menjadi kuda tungganganku. Nanti kuberi rumput yang paling enak!"

Kata si berewok, perlahan-lahan melepaskan ikatan kuda itu dari pohon.

Melihat betapa kuda itu tetap jinak, Si Berewok mengira bahwa kuda itu memang betul sudah dapat ditundukkan dan dijinakkan dengan membiarkan ia kelaparan.

Maka dengan girang diapun melompat ke atas punggung kuda.

Disuruhnya kuda itu berjalan, dan semua ini diturut dengan taat oleh kuda hitam.

Si Berewok menjadi semakin girang dan bangga.

"Ha-ha-ha, aku sudah berhasil menjinakkannya! Ha-ha-ha!"

Dia tertawa-tawa dan berteriak-teriak, lalu dia menarik kendali kudanya dan Si kuda Hitam pun lari ke depan.

Akan tetapi tiba-tiba saja, telinga kuda itu bergerak-gerak dan pendengarannya yang peka telah menerima isyarat melalui siulan majikannya!

Dia lalu tiba-tiba membalik sehingga mengejutkan Si Berewok.

"Eh? Kenapa kembali?"

Dia mencoba untuk menarik kendali akan tetapi tetap saja kuda itu tidak menurut dan berlari seperti kemasukan setan menuju ke kuil.

Akhirnya Si berewok membiarkan saja, hanya memegang kendali dengan kuat dan menjepit perut kuda dengan kedua pahanya agar jangan sampai dia terpental jatuh.

Kuda Hitam itu berlari terus dan setelah tiba di depan kuil, kepala perampok mencoba untuk menarik kendali agar kuda itu berhenti berlari.

Akan tetapi, kuda itu tidak berhenti, bahkan memasuki pekarangan kuil, terus melompat dan masuk ke dalam pintu kuil yang lebar dan tidak berdaun pintu lagi itu.

Tentu saja Si Berewok menjadi heran dan juga mulai takut, akan tetapi kuda itu berlari terus menuju ke arah suara siulan yang memanggilnya!

Dia berlari melalui lorong, menerjang sebuah meja tua, melompati segala penghalang dan memasuki ruangan belakang!

Setelah tiba di depan kamar di mana Cian Hui ditawan, barulah dia berhenti, mendengus-dengus.

Cian Hui terus bersiul dan kuda itu tiba-tiba meringkik-ringkik, mengangkat kedua kaki depan, menggoyang-goyang tubuhnya.

Tentu saja Si Berewok yang berada di punggungnya terguncang-guncang, akan tetapi kepala perampok ini juga seorang ahli menunggang kuda.

Dia masih dapat duduk terus di punggung kuda, mencengkeram bulu tengkuk kuda itu dan menempel terus seperti seekor lintah!

Anak buahnya yang melihat kuda itu mengamuk, pergi menjauh akan tetapi mereka memberi semangat kepada kepala rampok itu untuk terus bertahan dan agar jangan sampai terlempar dan terbanting!

Kuda itu terus meloncat-loncat seperti kemasukan setan, punggungnya dilengkungkan dan akhirnya diapun merebahkan diri ke samping!

Melihat ini, Si Berewok terkejut sekali.

Kalau kuda itu bergulingan, tentu dia akan terhimpit dan mampus!

Maka, ketika kuda itu merebahkan diri, diapun meloncat turun.

Begitu meloncat turun, kuda hitam itu menyepak dengan kaki belakangnya.

"Bukkkk!!"

Pinggul dan paha Si berewok kena disepak.

Tubuhnya terlempar dan terbanting pada dinding dan diapun roboh dan mengaduh-aduh, kepalanya pening, pinggulnya seperti remuk rasanya, seluruh tubuh, seperti memar dan semua tulang seperti patah-patah.

"Kuda setan! Kuda terkutuk......!"

Dia memaki-maki dan Cian Hui tertawa bergelak.

Setelah Cian Hui berhenti bersiul, kuda itupun menjadi tenang dan jinak kembali!

Pada saat itu, di luar terdengar bunyi roda kereta.

Si Berewok yang agaknya baru tahu bahwa dia dipermainkan oleh tawanannya dan hendak marah, menunda kemarahannya dan diapun bangkit menyambut.

Munculah dua orang berkedok hitam itu.

"Keretanya sudah siap. Bawalah dia dan lakukan seperti yang telah kami perintahkan!"

Kata yang (Lanjut ke

Jilid 02) Si Bayangan Iblis (Seri ke 02 -Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 02 bertubuh besar kepada kepala perampok yang mengangguk.

"Bagaimana dengan kuda iblis itu?"

Tanya si berewok kepada dua orang berkedok hitam.

"Tinggalkan di sini, biar kami yang urus. Nah, berangkatlah dan hati-hati jangan sampai dia lolos!"

Si Berewok lalu masuk ke dalam kamar, memegang lengan Cian Hui dan menariknya bangkit berdiri. Cian Hui bersikap tenang, akan tetapi dia memandang kepada dua orang berkedok hitam itu.

"Sobat, sungguh aku tidak mengerti apa yang kaukehendaki ini! Mengapa kalian bersikap pengecut, tidak memperkenalkan diri? Dan kalau memang aku ini musuhmu, mengapa tidak kaubunuh saja aku? Bukalah kedok kalian dan perkenalkan dirimu kepadaku!"

Akan tetapi, dua orang berkedok hitam itu hanya memberi isyarat kepada kepala perampok itu.

"Hayo berangkat, jangan banyak cerewet kau!"

Bentak kepala perampok dan bersama belasan orang anak buahnya, dia menyeret Cian Hui yang tidak berdaya itu keluar dari dalam kuil.

Ketika tiba di luar kuil, Cian Hui melihat sebuah kereta dengan dua ekor kuda siap di situ, sebuah kereta yang tidak besar dan yang tertutup.

Matahari telah naik tinggi dan udara cerah sekali.

Cian Hui bersikap tenang.

Kalau dia dibawa pergi dari tempat ini, dengan kereta, berarti masih banyak kesempatan baginya untuk mencoba meloloskan diri dari cengkeraman mereka.

Kalau berada di tempat sepi seperti ini, tentu saja tidak mungkin dia lolos, walaupun dia dapat memerintahkan kuda hitam untuk membantunya.

Terdapat bahaya kuda yang disayanginya itu akan terbunuh dan diapun tidak akan mampu meloloskan diri dengan kaki dan tangan terbelenggu seperti itu.

Akan tetapi kalau kereta ini melewati tempat ramai, dan kemungkinan ini besar sekali, dia tentu akan dapat melompat keluar dan memberontak.

Tentu hal ini akan menarik perhatian orang-orang dan dia mendapat kesempatan untuk diselamatkan.

Si berewok melangkah lebar ke arah kereta sambil menarik lengan Cian Hui, kemudian membentak.

"Nah, masuklah, atau engkau lebih suka diseret masuk seperti seekor babi?"

Dia menyingkap tirai kereta dan membuka pintunya dan......

tiba-tiba dia terbelalak, karena di dalam kereta itu nampak duduk seorang wanita yang cantik sekali, seorang wanita yang berpakaian serba hitam dan yang tersenyum.

"...... eh, dewi...... eh, babi...... ah, cantiknya, manisnya........ ah, siapakah engkau dan bagaimana.......?"

Kepala rampok berewok itu menjadi gagap dan salah tingkah karena dia sudah terpesona melihat wanita berpakaian serba hitam itu.

Memang seorang yang mempesonakan!

Bukan hanya cantik jelita dan manis sekali, wajahnya nampak putih kemerahan dan mulus karena pakaiannya yang terbuat dari sutera hitam itu, akan tetapi juga wajah itu demikian segar dan cerah, senyumnya memikat dan seluruh ruangan kereta berbau harum seolah wanita itu setangkai bunga mawar yang sedang mekar dengan indahnya.

Bibir yang merah basah itu merekah dalam senyum yang manis sekali, dan sebatang ranting yang dipegangnya, ditodongkannya ke arah hidung si berewok.

"Engkaulah babinya! Babi berewok!"

"Apa......, apa kaubilang.....?"

Si berewok tergagap karena dia masih terpesona, juga terkejut karena tidak menduga akan melihat seorang wanita secantik bidadari di dalam kereta itu.

Suara wanita itu demikian merdunya, akan tetapi kata-katanya sungguh tidak enak didengar!

"Aku bilang engkau babi berewok yang sekarat!"

Wanita itu berkata dan tiba-tiba tubuhnya bergerak, ranting di tangannya itu meluncur ke arah leher si berewok.

Kepala rampok itu makin terbelalak, mengeluarkan pekik kesakitan dan diapun roboh terjengkang dan tubuhnya berkelonjotan dalam sekarat!

Melihat pimpinan mereka roboh dan berkelonjotan, belasan orang anak buah perampok.

itu menjadi terkejut dan marah.

Mereka semua mencabut senjata dan mengepung kereta itu.

Kusir kereta, seorang laki-laki tinggi kurus juga sudah meloncat turun dan mengayun cambuknya sambil membentak.

"Haiiii! Bagaimana engkau bisa berada di dalam keretaku?"

Akan tetapi wanita itu berseru dengan suaranya yang merdu.

"Kalian ini tikus-tikus kecil minggir, biar aku bertemu dengan dua ekor tikus besar berkedok itu!"

Tubuhnya meloncat dari kereta dan bagaikan seekor burung garuda saja, tubuh itu sudah meluncur keluar dan melayang ke arah dua orang berkedok yang tadi memandang dengan mata terbelalak kaget.

Dua pasang mata yang tajam dan yang mengintai dari lubang kain penutup muka itu.

Begitu melihat wanita cantik berpakaian serba hitam itu meloncat bagaikan terbang ke arah mereka, dua orang berkedok itu sudah menyambut dengan pedang mereka.

Seorang menusukkan pedangnya ke arah perut dan seorang lagi membacokkan pedang ke arah leher wanita cantik itu!

Betapa cepat, kuat dan juga kejamnya serangan mereka itu.

Agaknya mereka tidak ingin banyak bicara lagi dan langsung menyambut wanita itu dengan serangan mereka.

Cian Hui memandang dengan muka agak pucat dan mata penuh kekhawatiran.

Dia tahu akan kelihaian dua orang berkedok itu dan mengkhawatirkan keselamatan wanita cantik, sedangkan dia sendiri dalam keadaan tidak berdaya sama sekali!

Diapun merasa terheran-heran mengapa wanita-wanita belaka yang datang bermunculan dan mencoba untuk menolongnya.

Yang pertama adalah dua orang gadis cantik berbaju hijau dan kuning.

Dan sekarang muncul seorang gadis lain berpakaian serba hitam yang jauh lebih cantik lagi dari pada dua gadis cantik pertama itu!

Dia sendiri dalam keadaan terbelenggu berhasil membantu dua orang gadis pertama dan mereka berhasil meloloskan diri dari pedang dua orang berkedok itu, akan tetapi bagaimana dia akan dapat menyelamatkan gadis berpakaian serba hitam ini?

"Wuuuuttt!"

Pedang pertama menyambut dengan tusukan kilat ke arah perut.

"Singgg......!"

Pedang kedua berdesing membacok ke arah leher.

Dan Cian Ciang-kun terbelalak!

Tubuh nona berpakaian hitam itu sedang melayang dan disambut dua serangan maut itu, akan tetapi dengan gerakan yang lemas dan indah, tubuh itu dapat berjungkir balik, membuat pok-sai (salto) sampai empat kali ke atas dan dua serangan itupun luput!

Ketika tubuh meluncur ke bawah, tubuh itu didahului gulungan sinar kehijauan, yaitu sinar yang ditimbulkan oleh ranting di tangannya yang diputar cepat.

Wanita cantik itu kini meluncur turun dengan kepala di bawah, dan didahului ranting yang diputar, menyerang ke arah dua orang berkedok bagaikan seekor naga menyambar turun dari angkasa!

Dua orang berkedok itupun terkejut bukan main.

Tak mereka sangka bahwa gadis.

berpakaian hitam itu memiliki kecepatan gerakan yang demikian luar biasa, tanda bahwa ia telah memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang sudah mencapai tingkat tinggi.

Mereka cepat memutar pedang mereka untuk menangkis.

"Takk! Takk!"

Ranting itu bertemu dengan dua batang pedang, namun ranting itu tidak patah, sebaliknya, dua orang berkedok itu berloncatan ke belakang karena ranting yang membentur pedang mereka itu terpental menyerong dan menotok ke arah pergelangan tangan mereka.

Nyaris totokan itu mengenai sasaran.

Tentu saja mereka terkejut bukan main dan maklum bahwa gadis berpakaian hitam itu memang lihai bukan main.

"Hek.... Liong... Li...?"

Seru seorang di antara mereka yang bertubuh lebih besar.

Wanita cantik itu memang Lie Kim Cu yang berjuluk Hek-liong-li (Wanita Naga Hitam).

Namanya bukan saja terkenal di daerah Lok-yang di mana ia tinggal, akan tetapi juga terkenal di dunia kang-ouw sebagai seorang wanita sakti yang pernah merobohkan dua orang di antara Kiu Lo-mo!

Liong-li tersenyum manis dan menudingkan rantingnya kepada dua orang berkedok hitam itu.

"Kalian dua ekor anjing pengecut! Hayo buka kedok kalian dan perkenalkan diri kepadaku, ataukah aku yang harus membuka kedok kalian itu dengan ranting di tanganku ini?"

Dua orang berkedok itu kini yakin bahwa mereka berhadapan dengan Hek-liong-li dan biarpun mereka berkedok, namun jelas mereka itu nampak jerih, nampak dari gerakan tangan mereka yang gelisah.

"Kepung dan keroyok!"

Tiba-tiba mereka berteriak kepada belasan orang perampok itu.

Mendengar perintah ini, belasan orang itu lalu menggerakkan senjata mereka menyerang Liong-li.

Akan tetapi, wanita cantik ini menggunakan langkah ajaib Liu-seng-pouw, menghindarkan diri dan menyusup di antara hujan senjata, mengejar dua orang berkedok itu.

Dua orang berkedok itu segera menyambutnya dengan serangan pedang, dibantu oleh para perampok.

Melihat betapa wanita cantik jelita itu ternyata adalah Hek-liong-li seperti yang tadi juga sudah diduganya, Cian Hui kagum dan gembira bukan main.

Akan tetapi juga dia merasa khawatir.

Dua orang berkedok itu lihai sekali dan mereka berdua mempergunakan senjata pedang, sedangkan Liong-li hanya bersenjata sebatang ranting!

Di samping itu masih ada lagi belasan orang perampok yang mengeroyok wanita itu.

Timbul kekhawatiran di dalam hati Cian Hui.

Bagaimanapun juga, kehebatan ilmu kepandaian wanita yang dijuluki Hek-liong-li itu baru didengarnya saja dan biarpun tadi dia kagum melihat betapa wanita itu membuat dua orang berkedok nampak gentar, namun ia masih meragukan apakah dengan hanya senjata ranting di tangan itu Hek-liong-li akan mampu mengalahkan dua orang berkedok yang dibantu belasan orang anak buah perampok.

"Suiiiittt......suiitt...... suiiiitttt!"

Tiba-tiba Cian Ciang-kun mengeluarkan suara siulan nyaring melengking.

Itu merupakan siulan perintah dari kuda hitamnya.

Kuda hitam itu masih dicancang di belakang kuil, akan tetapi begitu mendengar suara siulan ini, dia meronta dan tali pengikatnya putus, lalu dia lari congklang mengitari kuil menuju ke depan di mana terjadi perkelahian.

Cian Hui sendiri telah meloncat ke depan, kedua lengannya dibelenggu di belakang tubuh sehingga dia tidak dapat mempergunakan kedua tangan.

Akan tetapi, kedua kakinya diikat dengan rantai yang panjangnya sekira satu meter antara kedua kakinya.

Biarpun hal ini tidak memungkinkan dia untuk melakukan tendangan dengan sebelah kaki, namun dia dapat bergerak leluasa dengan kedua kakinya dan diapun kini meloncat dan kedua kakinya mendarat di dada seorang anggauta perampok.

"Desss......!"

Anggauta perampok itu terjengkang dan tak mampu bangkit kembali karena selain dadanya dihantam dua buah kaki itu, juga ketika dia terjengkang, tubuh Cian Hui yang tegap tinggi itupun menimpa perutnya!

Cian Hui bangkit lagi dan dengan cara yang sama, yaitu menendang dengan kedua kaki sambil meloncat ke depan, dia mengamuk!

Di dekatnya, Hek-ma (Kuda Hitam) juga meringkik-ringkik, mengangkat kedua kaki depan ke atas dan menyerang perampok terdekat!

Atau kalau kedua kaki depannya turun, kedua kaki belakang menyepak ke belakang dengan kekuatan yang dapat membuat orang yang disepak terlempar sampai beberapa meter jauhnya!

Sejenak Liong-li melirik ke arah pria tinggi tegap yang mengamuk bersama kudanya itu dan sinar kagum memancar dari sepasang mata yang indah dan jeli itu.

Akan tetapi segera Liong-li mencurahkan perhatiannya kepada dua orang lawannya.

Ia harus dapat membuka kedok mereka dan membuka rahasia mereka.

Siapa mereka itu dan apa maksudnya menangkap dan menawan pria yang gagah itu, dan iapun ingin tahu siapa pria gagah perkasa itu.

Melihat betapa Hek-liong-li hanya memegang sebatang ranting, tidak mempergunakan pedangnya yang amat terkenal sebagai pusaka ampuh, yaitu yang disebut Hek-liong-kiam.

(Pedang Naga Hitam), hati kedua orang berkedok itu menjadi besar.

Mereka baru dapat merobohkan Liong-li selagi wanita itu mempergunakan rantingnya, dan belum sempat mempergunakan pedang pusakanya.

Oleh karena itu, mereka berdua segera menubruk ke depan dan menyerang dengan pedang mereka secara dahsyat sekali.

Akan tetapi, dengan menggunakan ilmu langkah ajaib Liu-seng-pouw, Liong-li seperti menari-nari saja dan selalu lolos dari sambaran sinar pedang.

Bahkan beberapa kali ujung rantingnya yang menghadang, nyaris berhasil menotok pergelangan atau siku lengan lawan sehingga dua orang berkedok itu menjadi terkejut bukan main dan semakin lama mereka menjadi semakin jerih.

Liong-li mempergunakan kesempatan selagi dua orang menjadi gentar itu untuk mendesak.

Ranting di tangannya berubah menjadi gulungan sinar kehijauan dan dari gulungan itu kadang-kadang menyambar sinar ujung ranting.

"Lepaskan kedok itu!"

Tiba-tiba Liong-li membentak dan ujung rantingnya menusuk ke arah muka orang itu dengan getaran yang membuat ujung ranting seperti berubah menjadi dua dan menyambar ke arah sepasang mata orang yang lebih besar tubuhnya.

Orang itu terkejut sekali.

Matanya terancam dan kalau sampai terkena tusukan ujung ranting, tentu kedua mata atau satu diantaranya akan menjadi buta!

Dia menarik kepala ke belakang untuk mengelak, akan tetapi ujung ranting itu menusuk dan mengait kedok hitam sehingga terlepas dan nampak wajah orang itu.

Saat itu, tangan kiri Liong-li bergerak menyambar ke depan dan robohlah orang itu dengan tubuh terkulai lemas!

Melihat ini, orang kedua yang tubuhnya juga tinggi besar, akan tetapi tidak sebesar orang pertama, menjadi terkejut dan ketakutan.

Dia lalu melompat hendak melarikan diri.

"Hemm, hendak lari ke mana engkau?"

I.iong-li membentak dengan suara halus, tangan kanannya bergerak dan ranting itupun meluncur bagaikan anak panah.

"Cappp!"

Punggung belakang pundak kanan si tinggi besar berkedok itu tertusuk ranting dan diapun roboh.

Melihat dua orang lawannya sudah roboh., Liong-li lalu memperhatikan pria gagah yang dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya masih mampu mengamuk itu.

Dan iapun disuguh pemandangan yang amat menarik, mengagumkan hatinya.

Pria itu mengamuk, meloncat dan menendang dengan kedua kakinya, tentu saja setiap kali menendang, kena atau tidak, tubuhnya terbanting ke atas tanah.

Juga kuda hitam itu mengamuk membantu majikannya, menyepak, menubruk, menggigit!

Belasan orang perampok itu benar-benar menghadapi kuda dan pemilik kuda yang nekat.

Namun, pria itu juga menderita luka dan tubuhnya berdarah bekas bacokan golok.

Melihat hal itu, Liong-li lalu meloncat dan dua kali tangannya menampar, dua orang perampok terpelanting roboh.

Beberapa kali kakinya terayun dan beberapa orang roboh pula dan akhirnya, semua perampok yang berjumlah belasan orang itupun roboh semua!

Cian Hui sudah bersiul panjang menenangkan kuda hitamnya yang kini mendekatinya dan mendengus-dengus, dan setelah perampok terakhir roboh oleh Liong-li.

Kini dia dan wanita itu berhadapan dan, saling pandang.

Sejenak keduanya seperti terpesona, saling pandang penuh kagum, kemudian Cian Hui berkata dengan senyum cerah.

"Hek-liong-li, alangkah senangnya mendapat kesempatan menjadi saksi akan kehebatanmu! Aku memang sedang mencarimu menuju ke Lok-yang, dan siapa sangka, engkau pula malah yang telah menyelamatkan aku dari ancaman maut!"

"Siapakah engkau dan ada kepentingan apakah mencariku?"

Tanya Hek-liong-li dan segala penyelidikan pandang matanya terhadap diri pria itu mendatangkan kepuasan. Seorang pria yang jantan dan perkasa, bisiknya dalam hati.

"Namaku Cian Hui dan aku datang dari kota raja. Ada urusan penting sekali yang mendorongku ke Lok-yang untuk mencarimu, li-hiap (pendekar wanita). Akan tetapi sampai di sini, aku dihadang dan ditawan oleh dua orang berkedok itu."

"Siapakan mereka itu?"

"Aku sendiripun ingin sekali mengetahui..... heiiii...! Tahan dia......!"

Tiba-tiba Cian Hui berseru sambil memandang ke depan karena kaki tangannya masih terbelenggu.

Mendengar ini, Liong-li cepat membalikkan tubuhnya dan ia melihat bayangan berkelebat meninggalkan tempat di mana dua orang berkedok tadi roboh.

Liong-li adalah seorang wanita yang teramat cerdas.

Sekilas saja ia sudah menduga bahwa tentu Cian Hui tadi terkejut melihat bayangan itu melakukan sesuatu, entah apa.

Akan tetapi hal itu cukup membuat ia meloncat seperti terbang cepatnya melakukan pengejaran.

Akan tetapi, bayangan itu sudah lenyap di balik pohon-pohon dan biarpun Liong-li mengerahkan gin-kang sehingga tubuhnya berlari bagaikan terbang, tetap saja ia tidak dapat menemukan lagi bayangan itu yang menghilang seperti iblis saja!

Terpaksa ia kembali ke tempat tadi dan ketika ia membungkuk untuk memeriksa tubuh dua orang berkedok itu, ternyata mereka telah tewas dan muka mereka hancur dan tidak dapat dikenal lagi!

"Keparat!"

Liong-li memaki sambil mengepal tinju dan menoleh ke arah lenyapnya bayangan tadi.

Cian Hui meloncat-loncat seperti katak menghampiri dan melihat keadaan pria jantan itu, Liong-li lalu memungut sebatang golok milik perampok dan membabat putus belenggu kaki tangan Cian Hui.

Cian Hui tidak memperdulikan luka yang dideritanya di pinggul dan pundak, dan dia cepat berlutut memeriksa mayat dua orang berkedok itu.

"Aih, sayang."

Dia menarik napas panjang.

"Sungguh iblis itu lihai sekali. Tentu ada rahasia yang amat gawat sehingga dia datang dan selain membunuh dua orang berkedok ini, juga merusak mukanya sehingga tidak akan dapat dikenal lagi! Ini saja menunjukkan bahwa tentu ada hubungannya dengan rahasia yang meliputi pembunuhan di kota raja!"

"Pembunuhan di kota raja? Apa maksudmu?"

Liong-li bertanya dan menatap wajah pria itu dengan tajam penuh selidik. Cian Hui mengangguk dan kembali menghela napas panjang.

"Untuk itulah sebenarnya aku pergi ke Lok-yang untuk mencarimu, Li-hiap. Kami amat mengharapkan bantuanmu untuk membongkar rahasia banyak pembunuhan yang terjadi secara aneh di kota raja. Ketahuilah bahwa aku adalah seorang perwira pasukan keamanan yang bertugas membasmi kejahatan yang terjadi di kota raja."

"Cian Ciang-kun, tidakkah lebih baik kalau kita bicara di rumahku saja? Sekarang, yang terpenting adalah menyelidiki siapa sesungguhnya dua orang berkedok ini."

"8ayang mereka sudah tewas dan muka mereka tak dapat dikenal......"

"Kita bisa bertanya kepada anggauta penjahat yang masih hidup,"

Kata Liong-li dan iapun bangkit dan meneliti para penjahat yang rebah malang melintang itu.

Ada beberapa orang di antara mereka yang belum tewas dan seorang yang perutya gendut hanya terluka pada kakinya sehingga tidak membahayakan keselamatan nyawanya.

Akan tetapi, si gendut itu mengaduh-aduh dan terbelalak ketakutan ketika Liong-li dan Cian Hui menghampirinya.

"Ampun...... ampun..... jangan........!"

Dia meratap.

"Hemm, dia inilah yang agaknya amat berguna bagi kita, Li-hiap,"

Kata Cian Hui dan Liong-li mengangguk. Dengan cekatan Cian Ciang-kun mencengkeram rambut kepala si gendut itu dan menariknya bangun. Penjahat itu terduduk dan semakin ketakutan.

"Apa engkau tidak ingin mampus?"

"Ampunkan saya...... ampun....."

"Kami takkan membunuhmu, akan tetapi katakan siapa adanya dua orang berkedok itu!"

Bentak Cian Hui dan kini jari-jari tangannya mencengkeram ke arah pelipis kepala orang itu.

Orang itu merasakan kenyerian luar biasa, lebih nyeri dari pada luka di kakinya.

Dia menjerit-jerit seperti babi disembelih.

"Ampun...... aduh, ampun...... saya tidak tahu... mereka itu...... mereka muncul dan menaklukkan pemimpin kami, dan mereka menjanjikan hadiah besar. Kami belum pernah melihat mereka tanpa kedok......"

Cian Hui agaknya mempercaya keterangan ini.

"Hayo katakan, ke mana kalian tadi diperintahkan membawaku dalam kereta itu! Awas sekali kau berbohong, kepalamu ini akan kubikin remuk!"

Kembali dia mencengkeram agak kuat sehingga si gendut itu kembali menjerit kesakitan.

"Aduh, ampun...., kami.... kami diharuskan membawa....... Ciang-kun ke kota raja dan......"

Tiba-tiba terdengar bunyi desing yang kuat.

Cian Hui dan Liong-li meloncat ke samping dan dua batang benda kecil panjang meluncur lewat.

Dan terdengarlah teriakan, teriakan mengerikan.

Liong-li dan Cian Hui terkejut bukan main melihat si gendut yang tadi diperiksa dan juga para penjahat yang tadi masih belum tewas, setelah mengeluarkan teriakan mengerikan lalu diam tak bergerak dan tewas.

Tubuh mereka tertembus anak-anak panah, seperti yang tadi meluncur dan menyerang mereka.

"Keparat!"

Liong-li membentak dan iapun meloncat ke arah dari mana datangnya anak"anak panah tadi.

Akan tetapi ia hanya melihat semak-semak bergoyang, orangnya yang tadi bersembunyi di situ tidak nampak lagi bayangannya.

Terpaksa ia kembali ke tempat tadi di mana ia melihat Cian Hui termenung.

"Sungguh penuh rahasia,"

Kata perwira itu.

"Aku hendak dibawa ke kota raja? Dan mereka semua tewas! Orang atau orang-orang yang berdiri di belakang semua ini sungguh amat berbahaya, dan juga lihai sekali!"

Liong-li tidak menjawab mrelainkan diam-diam ia menghampiri mereka yang tadi terluka lalu terbunuh oleh anak panah.

Melihat macam anak panah, ia berkesimpulan, bahwa setidaknya tentu ada dua orang yang tadi menjadi penyerang gelap.

Ada enam orang anak buah penjahat yang tadinya terluka, kini tewas.

Jelas bahwa mereka yang berada di belakang layar hendak menyimpan rahasia, maka dibunuhnya dua orang yang berkedok yang ternyata juga hanya anak buah, dan dibunuhnya pula semua anak buah perampok agar mereka tidak dapat memberi keterangan apapun.

Juga mereka tadi berusaha menyerang Liong-li dan dia!

"Mari kita ke Lok-yang, Li-hiap.

Akan kulaporkan kepada mereka yang berwajib di sana, kemudian kita bicara di rumahmu,"

Kata Cian Hui.

Liong-li yang mulai tertarik sekali dengan peristiwa itu, mengangguk dan mereka mempergunakan kereta yang tadi didatangkan oleh dua orang berkedok, meninggalkan tempat itu menuju ke Lok-yang.

Cian Hui memandang kagum ketika dia tiba di depan rumah yang mungil itu.

Liong-li dan dia baru saja pergi ke markas pasukan keamanan di Lok-yang menemui komandannya.

Dan tentu saja komandan ini terkejut sekali mengenal Cian Ciang-kun dari kota raja yang amat terkenal itu datang berkunjung bersama Hek-liong-li.

Apa lagi ketika dia mendengar betapa Cian Ciang-kun hampir saja celaka di tangan segerombolan penjahat di Bukit Kuil.

Mendengar bahwa di sana ada belasan orang penjahat yang telah menjadi mayat, komandan itu segera mengirim pasukan untuk mengurus mayat-mayat itu dan memerintahkan pasukannya untuk mengadakan pembersihan kalau-kalau masih ada sisa anak buah perampok di sekitar tempat itu.

Cian Ciang-kun menitipkan kuda hitam yang tadi mengikuti kereta dari hutan kepada komandan itu, memesan agar kuda itu diberi makan dan dirawat baik-baik.

Kemudian, dengan naik kereta yang tadinya dibawa para penjahat itu mereka berdua pergi ke rumah Hek-liong-li.

Rumah itu mungil, tidak terlalu besar namun indah sekali.

Pekarangannya luas, penuh dengan tanaman bunga beraneka warna.

Di tengah pekarangan yang penuh bunga itu terdapat sebuah kolam ikan, penuh dengan ikan-ikan emas dan di tengah kolam yang juga dihias bunga teratai merah putih itu terdapat sebuah arca yang ukirannya amat halus.

Arca serang puteri yang cantik, menunggang seekor angsa.

Baru melihat keadaan rumah mungil itu saja mudah diduga bahwa Hek-liong-li, wanita perkasa yang amat terkenal itu, tentu kaya raya!

Dan dugaannya itu memang benar.

Hek-liong-li menjadi kaya raya tanpa diketahui orang ketika setahun yang lalu ia bersama Pek-liong-eng Tan Cin Hay mendapatkan harta karun yang tak dapat dinilai harganya saking banyaknya.

Ketika Cian Hui masih mengagumi keadaan rumah dan pekarangannya itu, dari dalam bermunculan sembilan orang wanita yang memakai pakaian beraneka warna dan cerah, dengan wajah mereka manis itu tersenyum gembira dan mereka menyongsong Hek-liong-li dengan gembira dan juga penuh hormat.

"Li-hiap sudah pulang......!"

Terdengar mereka berseru gembira dan Cian Hui terbelalak ketika dia mengenal dua orang di antara mereka, yaitu nona baju hijau dan nona baju kuning yang pernah mencoba untuk menolongnya ketika dia menjadi tawanan dua orang berkedok.

Kini mengertilah dia mengapa Hek-liong-li dapat muncul secara tiba-tiba dan membebaskannya dari tangan para penjahat itu.

Tentu nona baju hijau dan nona baju kuning itu yang melapor kepadanya dan wanita perkasa itu lalu turun tangan sendiri menolongnya!

"Aih, kiranya dua orang nona yang gagah perkasa berada pula di sini......"

Katanya sambil memberi hormat kepada dua orang gadis berpakaian hijau dan kuning itu. Dua orang wanita itu dengan tergopoh membalas penghormatan Cian Hui dan si baju hijau menjawab dengan tersipu.

"Harap jangan membikin malu kepada kami. Kami telah gagal membantumu dan masih baik bahwa nona kami tidak marah kepada kami!"

Liong-li tersenyum memandang kepada tamunya.

"Cian Ciang-kun, maafkan para pembantuku yang tidak mampu membebaskanmu. Marilah kita bicara di dalam. Kalian kenalilah baik-baik. Tamu kita ini adalah Cian Ciang-kun, seorang perwira tinggi komandan pasukan keamanan dari kotaraja yang berkedudukan tinggi!"

"Cian Ciang-kun.......!"

Sembilan orang wanita cantik itu memberi hormat dan suara mereka seperti sekumpulan burung yang berkicau merdu.

"Ah, nona-nona yang cantik dan gagah, harap jangan sungkan,"

Perwira itu membalas penghormatan mereka.

Ketika dibawa memasuki rumah itu, diam-diam Cian Hui menjadi semakin kagum dan juga semakin yakin bahwa nona rumah tentu kaya raya.

Perabot rumah yang terdapat di situ semuanya indah dan mahal.

Dindingnya dihias lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan indah yang dibuat oleh para seniman yang terkenal, tentu amat mahal.

Lantainya ditilami permadani yang tebal.

Sutera-sutera halus beraneka warna bergantungan menambah cerah dan indahnya keadaan dalam ruangan-ruangan di situ.

Liong-li mempersilakan tamunya memasuki ruangan yang luas, yang letaknya di bagian belakang.

Ruangan ini luas dan kosong dan di sudut ruangan terdapat sebuah rak senjata yang penuh dengan segala macam senjata yang kelihatan bermutu tinggi, beberapa buah kursi dan sebuah meja panjang berada di sudut pula sehingga ruangan itu nampak luas dan mudah diketahui bahwa ruangan ini tentulah semacam lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) yang indah.

Banyak terdapat jendela di situ sehingga hawanya sejuk dan nyaman karena jendela-jendela itu menembus ke sebuah taman bunga di belakang.

Ternyata bahwa rumah mungil itu dikelilingi taman bunga!

Pekarangan di depan sudah merupakan taman, di belakang, kanan dan kiri juga merupakan taman yang penuh bunga beraneka warna!

Bahkan di taman belakang yang luas itu terdapat pula pondok-pondok kecil mungil tempat peristirahatan.

Tempat yang indah ini dikelilingi dinding yang tinggi dan di atas dinding dipasangi tombak-tombak runcing sehingga sukar bagi orang luar untuk masuk melalui dinding pagar itu.

"Silakan duduk, Cian Ciang-kun. Di sini kita dapat bicara dengan leluasa dan tidak akan terdengar orang lain,"

Kata Liong-li setelah memerintahkan anak buahnya untuk melakukan tugas mereka.

Tanpa dijelaskan, sembilan orang gadis cantik itu sudah tahu apa yang harus mereka lakukan.

Ada yang berjaga di sekitar luar ruangan itu, ada yang sibuk di dapur untuk mempersiapkan hidangan untuk nona majikan mereka dan tamunya.

Cian Hui menarik napas panjang.

"Sudah lama aku mendengar nama besar Hek-liong-li, dan sekarang aku merasa kagum bukan main. Keadaan Li-hiap sungguh jauh melebihi apa yang pernah kudengar."

"Hemm, jangan terlalu memuji, ciang-kun. Melebihi dalam hal apa?"

"Segala-galanya. Kelihaian, kecantikan, kekayaan Li-hiap!"

Liong-li tersenyum dan kedua pipinya menjadi kemerahan, tanda bahwa pujian itu mengena di hatinya.

Diam-diam ia juga kagum dan girang sekali mendapat pujian seorang pria seperti yang duduk di depannya itu.

Ia tahu benar bahwa pujian itu bukan sekedar rayuan, melainkan keluar dari hati yang jujur dan tulus.

"Sudahlah, Ciang-kun. Yang terpenting sekarang sebelum kita bicara, aku harus mengobati luka-lukamu lebih dulu."

"Ah, luka-luka ini tidak seberapa, Li-hiap. Aku dahulu pernah menjadi seorang perwira perang sehingga luka-luka bagiku sudah biasa......"

"Akan tetapi luka-lukamu itu harus cepat diobati, kalau tidak, berbahaya dan dapat menjadi semakin parah. Apa lagi diingat bahwa yang melukaimu adalah penjahat-penjahat yang mungkin mempergunakan senjata kotor atau beracun. Mari, kau rebahlah di atas lantai, akan kuperiksa, ciangkun!"

Kata Liong-li dan di dalam suaranya terkandung perintah yang berwibawa.

Diam-diam Cian Hui merasa heran sekali mengapa dia merasa seperti mendengar perintah atasannya yang tidak mungkin dapat dibantah lagi!

Dia lalu bangkit dan melangkah ke sudut ruangan, merebahkan diri di atas lantai seperti yang diperintahkan Liong-li.

Liong-li bertepuk tangan dua kali.

Seorang gadis berpakaian merah muncul.

"Ang-cici (enci Merah), cepat ambilkan perabot dan obat untuk mengobati luka di tubuh Cian Ciang-kun!"

Gadis berpakaian merah itu mengangguk dan pergi.

Liong-li lalu berlutut dekat Cian Hui dan dengan jari-jari tangan yang cekatan dan tidak ragu-ragu, ia merobek baju di bagian pundak, memeriksa luka di pundak perwira itu.

Kemudian iapun merobek celana di bagian pinggul dan memeriksa luka di situ.

Sementara itu, Enci Merah datang membawa sebuah panci terisi air panas dan perabot yang berupa gunting, pisau kecil, juga kain putih bersih dan obat bubuk beberapa macam dalam bungkusan.

"Sekarang pergi dan suruh enci Biru mengambilkan satu stel pakaian luar dalam yang cocok untuk Cian Ciangkun!"

Kata Liong-li dan kembali gadis berpakaian merah itu mengangguk lalu keluar dari situ tanpa bicara.

Nampaknya ia amat patuh dan menghormati Liong-li.

Kini Liong-li bekerja.

Kedua tangannya amat cekatan, lembut namun juga tidak ragu-ragu, mencuci luka-luka itu dengan air panas, kemudian menaruhkan obat bubuk putih lalu menutupi luka itu dengan semacam obat tempel yang sudah dipanaskan.

Selama pengobatan ini, Cian Hui tidak pernah mengeluarkan keluhan sedikitpun, padahal ketika dicuci terasa panas dan ketika dibersihkan terasa perih.

Setelah diberi obat dan ditutup koyo, baru terasa nyaman.

Ketika merawat luka-luka itu, sepasang mata Liong-li hanya ditujukan dan dipusatkan kepada luka itu.

Akan tetapi setelah ia selesai memberi pengobatan, barulah nampak olehnya betapa pundak dan dada perwira itu bidang dan kokoh kuat, sedangkan pinggulnya juga penuh otot melingkar dan menunjukkan kejantanan yang mengagumkan hatinya.

"Nah, bahayanya sudah lewat, Ciang-kun. Untung engkau memiliki tubuh yang sehat kuat dan darah yang bersih sehingga luka-luka itu akan cepat sembuh dan kering."

Pada saat itu, seorang gadis berpakaian serba biru memasuki ruangan dan menyerahkan setumpuk pakaian kepada Liong-li, kemudian ia keluar lagi.

"Ini pakaian bersih, harap engkau suka berganti pakaian dulu, baru kita bicara, ciang-kun,"

Kata pula Liong-li dan wanita ini lalu bangkit dan berjalan menuju ke sebuah jendela yang terbuka, lalu berdiri di situ dan memandang keluar.

Cian Hui memandang kagum.

Bukan main wanita ini, pikirnya dan di dalam hatinya timbul suatu kemesraan yang belum pernah dialaminya selama hidupnya.

Rasa kagum dan haru menyelubungi hatinya.

Seorang wanita yang matang, memiliki kecantikan yang hampir sempurna, ilmu kepandaian tinggi, sikap yang anggun dan berwibawa, kaya raya, cerdik jujur terbuka, tidak berpura-pura atau bersembunyi di balik kesopanan seperti para wanita pada umumnya.

Wanita hebat!

Diapun mengusir semua perasaan sungkan, membuka pakaiannya dan berganti pakaian dalam dan luar.

Pakaiannya yang kotor dan robek-robek itu dia gulung dan letakkan di sudut ruangan.

Pakaian yang dipakainya itu bersih dan baru, terbuat dari sutera berwarna biru, cocok sekali dengan bentuk tubuhnya sehingga dia merasa heran.

Bahkan dia menjadi semakin heran ketika merasakan betapa ada sesuatu yang tidak nyaman terasa di hatinya ketika dia membayangkan bahwa mungkin ada seorang pria kawan dekat wanita hebat ini, pemilik pakaian yang kini dipakainya itu.

Tanpa menengokpun Liong-li maklum bahwa Cian Ciang-kun telah selesai berpakaian.

Ia memiliki pendengaran yang amat tajam sehingga ia dapat menangkap gerakan pria itu ketika berpakaian dan selesai.

Maka iapun membalikkan tubuhnya memandang dan ada pancaran kagum dalam sinar matanya memandang kepada Cian Hui yang memang nampak ganteng dan gagah dalam pakaian barunya itu.

"Engkau pantas sekali memakai pakaian itu, Ciang-kun!"

Ia memuji jujur sambil tersenyum. Cian Hui mengangkat kedua tangan depan dada, memberi hormat.

"Li-hiap, terima kasih atas segala kebaikanmu. Sungguh membuat aku merasa sungkan, telah mengganggumu, menganggu pemilik pakaian ini. Aku harus menghaturkan terima kasih kepada pemilik pakaian yang kupinjam ini."

"Itu pakaianku!"

"Tapi, ini pakaian pria dan ukurannya besar."

Liong-li tersenyum manis sekali.

"Ciang-kun, di sini aku memiliki segala macam pakaian. Memang kusediakan kalau-kalau aku membutuhkannya. Ada pakaian kanak-kanak segala umur, laki dan perempuan, ada pakaian pria dan wanita segala umur dan segala ukuran. Enci biru yang mengurus tentang pakaian itu. Maka, jangan khawatir, dan pakaian itu bukan kupinjamkan, biar kaupakai saja, Ciang-kun. Nah, mari kita bicara. Aku ingin mendengar tentang keributan dan pembunuhan di kota raja itu."

Cian Hui menghela napas dan semakin kagum. Wanita yang hebat! Diapun mulai bercerita tentang peristiwa yang terjadi di kota raja, khususnya di antara para pejabat tinggi dan di istana.

"Aku menerima tugas istimewa dari Sri baginda Kaisar sendiri untuk menyelidiki dan membongkar rahasia pembunuhan ini, Li-hiap. Akan tetapi aku menemui jalan buntu dan tidak berhasil, maka aku teringat kepadamu yang sudah kudengar sebagai seorang pendekar wanita yang sakti. Aku mohon bantuanmu, karena kiranya hanya engkaulah yang akan mampu menandingi mereka yang berdiri di belakang layar dan yang mengatur pembunuhan-pembunuhan itu."

Cian Hui lalu menceritakan betapa selama dua bulan ini, di kota raja terjadi geger karena terjadinya pembunuhan-pembunuhan yang penuh rahasia.

Yang menjadi korban pembunuhan adalah para pejabat tinggi yang mempunyai kedudukan tinggi dan penting dalam pemerintahan.

Juga beberapa orang pangeran yang dekat dengan kaisar telah menjadi korban pembunuhan pula.

Cara pembunuhan itu dilakukan penuh rahasia, para korban adalah pejabat tinggi yang selalu dikawal pasukan pengawal.

Rumah mereka siang malam dijaga pasukan pengawal.

Akan tetapi tetap saja pada suatu pagi mereka ditemukan sudah tewas dengan leher putus dalam kamar mereka, bersama siapa saja yang kebetulan sekamar dengan mereka malam itu.

"Yang paling hebat terjadi dua minggu yang lalu, li-hiap. Seorang panglima telah terbunuh dalam kamarnya, pada hal kamar itu berada di dalam benteng! Bayangkan saja, pembunuh itu dapat memasuki benteng dan dapat membunuh Panglima Cu di kamarnya, pada hal panglima itu adalah seorang yang memiliki ilmu silat tinggi! Dan dua orang selirnya yang tidur bersamanya juga wanita-wanita yang lihai, akan tetapi mereka bertiga tewas dengan leher putus dalam kamar itu!"

Perwira itu kembali menarik napas panjang.

"Sungguh merupakan tugas berat bagiku, maka aku berusaha untuk mohon bantuanmu."

Liong-li mendengarkan dengan tekun dan sabar, tak pernah mengganggu dan setelah perwira itu berhenti bercerita, baru ia membuat gerakan, tangan kirinya diangkat ke arah kepalanya dan iapun memegangi dahinya dengan alis berkerut.

Ini menandakan bahwa wanita cantik itu sedang memutar otaknya!

Kedua matanya terpejam dan Cian Hui hanya memandang, tidak berani mengganggu dan dia hanya memandang dengan hati tertarik.

Dia seolah-olah dapat melihat betapa isi dari kepala yang bagus bentuknya, yang dihias rambut hitam lebat itu, sedang bekerja dengan ajaib.

Tiba-tiba sepasang mata itu terbuka dan menatap kepadanya, membuat Cian Hui seperti silau karena sepasang mata itu kini mencorong!

"Cian Ciang-kun, apa yang kauperoleh dari hasil penyelidikanmu?

Apakah semua pembunuhan itu terjadi tanpa adanya seorang pun saksi yang melihat sesuatu yang mencurigakan?"

"Setiap terjadi pembunuhan, aku segera menyelidiki sendiri dan sudah kucari keterangan. Akan tetapi tidak pernah ada orang lain melihat pembunuh itu, hanya ada dua orang, di tempat yang berlainan melihat bayangan iblis......,"

Perwira itu berhenti dan kelihatan ragu-ragu.

"Bayangan Iblis? Apa maksudmu, Ciang-kun?"

"Ketika Pangeran Cun dibunuh sebulan yang lalu, dan seorang pejabat tinggi, Menteri Pajak dibunuh seminggu kemudian, ada orang yang melihat bayangan iblis. Bayangan itu bentuknya seperti tubuh orang yang memiliki sepasang tanduk di kepalanya. Akan tetapi hanya bayangannya saja yang nampak di atas dinding putih, itupun hanya sebentar karena bayangan itu segera lenyap. Mungkin hanya khayal orang yang ketakutan dan tahyul, Li-hiap. Betapapun juga, berita itu membuat orang ramai menyebut pembunuh itu Si Bayangan Iblis! Akan tetapi, belum pernah ada yang melihatnya, dan semua penyelidikanku menemui kegagalan dan jalan buntu. Aku tidak pernah dapat menemukan jejak, bahkan aku tidak tahu apa yang menjadi sebab dari semua pembunuhan itu."

"Dan engkau lalu mencariku dari kota raja ke sini, dan di tengah perjalanan engkau di-hadang perampok? Coba ceritakan tentang peristiwa perampokan terhadap dirimu, ciang-kun. Mungkin kita dapat menemukan jejak dari situ."

"Aku juga merasa yakin bahwa ada hubungan yang erat antara semua peristiwa di kota raja itu dengan usaha penculikan yang dilakukan terhadap diriku. Namun sayang, jejak itu terhapus dengan kematian semua penjahat itu."

Cian Hui lalu menceritakan semua yang telah dialaminya, betapa tadinya belasan orang penjahat itu hendak merampok kudanya, kemudian muncul dua orang berkedok yang lihai itu sehingga dia tertawan.

Betapa kemudian muncul nona baju hijau dan nona baju kuning yang berusaha menolongnya, namun mereka berduapun kewalahan menandingi dua orang berkedok hitam sehingga mereka melarikan diri.

"Kemudian, ketika aku hendak diculik dan dibawa pergi dengan kereta, engkau muncul, Li-hiap."

"Itulah yang kusayangkan!"

Seru Liong-li.

"Kalau saja aku tahu bahwa engkau seorang penyelidik, bahwa semua itu ada hubungannya dengan pembunuhan-pembunuhan di kota raja, tentu aku tidak tergesa-gesa turun tangan dan membiarkan engkau mereka bawa pergi. Dengan demikian, setidaknya ada harapan untuk dapat menemukan jejak mereka."

Cian Hui mengangguk-angguk.

"Engkau benar. Akupun berpikiran demikian, akan tetapi bukan berarti bahwa aku tidak berterima kasih telah kautolong dan kaubebaskan."

"Semua sudah terlanjur. Kita harus mulai dari pertama, yaitu tanpa adanya jejak."

"Kita? Apakah ini berarti bahwa engkau sudi untuk membantuku dan hendak menyelidiki peristiwa ini? Ah, kalau begitu terima kasih banyak Li-hiap, sungguh aku merasa gembira sekali dan bersyukur!"

Perwira itu lalu memberi hormat untuk menyatakan terima kasihnya.

"Tidak perlu berterima kasih, ciang-kun. Aku sudah terlibat di dalamnya, tanpa kauminta sekalipun aku harus membongkar rahasia ini. Nah, sekarang aku ingin tahu, apakah ada persamaan antara mereka yang telah menjadi korban pembunuhan-pembunuhan di kota raja itu?"

"Persamaan bagaimana maksudmu, Li-hiap?"

"Persamaan di antara para kurban itu, ciri khas atau sikap yang sama atau mungkin ada pertalian atau hubungan di antara mereka......."

"Ah, benar juga......! Kenapa aku tidak ingat akan hal itu sebelumnya? Para korban itu kesemuanya dekat dengan Sribaginda Kaisar! Pangeran-pangeran yang terbunuh adalah kesayangan kaisar, dan para menteri yang menjadi kurban juga merupakan menteri-menteri yang setia. Itulah persamaan antara mereka."

"Hemm, itu yang kucari, Ciang-kun. Kalau begitu, tentu ada komplotan yang diam-diam memusuhi kaisar, atau setidaknya ingin melihat kaisar menjadi lemah, maka mereka yang dekat dengan kaisar dan dianggap penghalang, disingkirkan satu demi satu. Dan jelas ada hubungannya antara semua pembunuhan itu dengan usaha penculikan terhadap dirimu. Karena engkau merupakan petugas dari kaisar untuk menyelidiki rahasia ini, maka engkau akan diculik."

"Akan tetapi mengapa tidak mereka bunuh saja? Mengapa mereka harus menculikku? Dan dibawa ke kota raja pula?"

Liong-li menatap wajah perwira itu dengan tajam dan mulutnya tersenyum manis.

"Ciang-kun, harap engkau jangan berlagak bodoh. Aku yakin bahwa engkau yang sudah dipercaya oleh Sribaginda untuk melakukan penyelidikan dan membongkar rahasia ini, tentu memiliki kecerdikan tinggi. Mustahil engkau tidak dapat menduga apa sebabnya mereka tidak membunuhmu."

Cian Ciang-kun juga tersenyum.

Memang dia tadi berpura-pura, untuk menguji kecerdikan wanita cantik jelita itu, akan tetapi, ternyata permainan sandiwaranya ketahuan!

"Baiklah, memang aku sudah mempunyai dugaan.

Akan tetapi aku ingin sekali mendengar pendapatmu, li-hiap.

Bagaimana menurut pendapatmu?"

"Alasannya mudah diduga, hanya yang sukar adalah menemukan siapa sesungguhnya yang berdiri di belakang semua ini. Mereka tidak membunuhmu, melainkan hendak menculikmu, tentu mereka itu, pemimpin mereka, ingin lebih dahulu mengorek pengakuanmu sampai sejauh mana hasil penyelidikanmu, Ciang-kun. Mereka khawatir kalau-kalau penyelidikanmu sudah sedemikian jauhnya sehingga rahasia mereka terancam. Dan mereka hendak membawamu kota raja seperti pengakuan anggauta perampok itu. Hal ini menunjukkan bahwa pimpinan komplotan itu tentu berada di kota raja!"

Cian Ciang-kun mengangguk-angguk kagum.

"Engkau hebat, Li-hiap! Memang tepat sekali, demikianlah pula pendapatku. Dan tentu di kota raja itu telah menanti Si Bayangan Iblis!"

Liong-li mengangguk.

"Besar kemungkinannya demikian. Yang disebut Si Bayangan Iblis itu tak mungkin seorang di antara dua orang berkedok itu. Tentu lebih lihai. Akan tetapi, aku mempunyai perhitungan bahwa Si Bayangan Iblis itupun hanya alat saja, masih ada yang berdiri di belakang layar, yang mengemudikan semua ini."

Perwira itu nampak termangu-mangu, dan dia meraba-raba dagunya yang halus karena dia mencukur rambut pada dagu dan mukanya, tidak berkumis atau berjenggot.

"Hal itulah yang aneh, Li-hiap. Aku memiliki jaringan penyelidik yang banyak, kuat dan terampil. Aku mengenal dan mengetahui benar keadaan di kota raja, mengenal hampir semua pejabat dan mengetahui keadaan mereka, bahkan rahasia dan keadaan rumah tangga mereka. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan di antara mereka, tentu aku mengetahuinya! Agaknya mustahil kalau yang mengemudikan semua komplotan itu tinggal di kota raja dan lolos dari pengamatan orang-orangku."

"Bagaimana kalau mereka bersembunyi di dalam istana? Apakah pengamatanmu juga sampai menembus dinding istana, Cian Ciang-kun?"

Pertanyaan ini membuat perwira itu terbelalak, terkejut dan heran. Dia menggeleng kepala.

"Memang tidak sampai ke sana, akan tetapi...... ah, bagaimana mungkin..... musuh berbahaya itu bersembunyi di dalam istana? Wah, kalau begitu, keselamatan Sribaginda dalam bahaya!"

Liong-li menggeleng kepala.

"Belum tentu demikian, Ciang-kun. Menurut pendapatku, komplotan itu mempunyai sasaran yang lebih luas dari pada sekedar membunuh Sribaginda Kaisar. Kalau memang itu sasarannya, tentu telah terjadi serangan atas diri beliau. Melihat betapa yang dibunuh adalah pejabat-pejabat dan bangsawan-bangsawan yang dekat dengan Sribaginda, aku lebih condong menduga bahwa pelakunya atau pimpinannya menghendaki kelemahan kedudukan Sribaginda Kaisar dan melenyapkan mereka yang memiliki kekuasaan. Ini membuat aku menduga bahwa tentu dia bermaksud menonjolkan diri atau memperbesar kekuasaannya sendiri."

Cian Ciang-kun mengerutkan alisnya dan dia mengangguk-angguk. Dia dapat melihat kemungkinan-kemungkinan terjadinya semua yang dikemukakan wanita itu dan hatinya merasa gelisah sekali.

"Ah, kalau benar demikian, Li-hiap, maka itu adalah permainan tingkat tinggi dan aku sama sekali tidak berdaya dan tidak memiliki kekuasaan untuk dapat mencampuri urusan yang menyangkut pribadi atau kekuasaan Sribaginda Kaisar."

"Apakah kau hendak mengatakan bahwa engkau tidak mungkin dapat melakukan penyelidikan ke dalam istana?"

"Benar, Li-hiap. Aku adalah seorang panglima pasukan keamanan yang bertugas menumpas para penjahat di luar istana, mencegah terjadinya kejahatan, akan tetapi kekuasaanku terbatas dan aku tidak mungkin dapat memasuki istana tanpa ijin dari Sribaginda Kaisar.

"Di istana terdapat pasukan pengawal yang terbagi pula sebagai pasukan luar istana, pasukan pengawal Sribaginda, dan pasukan pengawal Thai-kam yang bertugas menjaga keamanan di bagian paling dalam di istana, sampai ke bagian puteri. Aku hanya bertugas memimpin pasukan keamanan yang bertugas mengamankan kota raja dan sekitarnya. Tugasku yang kuterima dari Sribaginda adalah mencegah terjadinya pembunuhan-pembunuhan terhadap para pejabat tinggi itu, yang terjadi di luar istana.

"Dan selama ini memang tidak pernah terjadi pembunuhan terhadap seorang penghuni istana maka tidak ada alasan bagiku untuk minta ijin Sribaginda memasuki istana! Tentu saja ada kecualinya, yaitu kalau memang sudah terdapat bukti bahwa komplotan pembunuh itu berada, di dalam istana."

Liong-li masih mengerutkan alisnya dan sampai lama mereka berdua berdiam diri.

Wanita itu memejamkan mata dan melihat keadaannya, Cian Ciang-kun tidak berani mengganggu.

Dia sendiri memikirkan kemungkinan terjadinya hal seperti yang dikemukakan wanita perkasa ini dan diapun merasa ngeri.

Kalau benar ada komplotan yang bersembunyi di dalam istana, sungguh berbahaya sekali!

Tentu saja dia dapat bicara dengan para panglima pasukan yang bertugas di luar dan dalam istana, namun paling banyak dia hanya minta agar mereka itu berhati-hati dan melakukan penyelidikan akan kemungkinan itu.

Kepala pengawal Thai-kam tak mungkin dapat bicara karena kepala pengawal Thai-kam itu menganggap kedudukannya terlalu tinggi untuk dapat dihubungi oleh seorang panglima pasukan keamanan seperti dia!

Tiba-tiba Liong-li menepuk pahanya sendiri dan terkejutlah Cian Ciang-kun yang sedang melamun.

Dia mengangkat muka memandang dan melihat betapa wajah yang cantik itu kemerahan dan matanya bersinar-sinar.

"Dapat, Ciang-kun!"

Seru wanita itu dan ia tersenyum lebar sehingga deretan gigi yang putih seperti mutiara nampak berkilau.

"Eh, apa maksudmu, Li-hiap?"

"Kita harus bekerja sama. Engkau dari luar dan aku dari dalam!"

"Maksudmu, engkau akan menyelundup ke dalam istana?"

Tanya panglima yang cerdik itu. Liong-li mengangguk.

"Hanya itulah jalannya. Engkau menyelidiki dari luar, mengamati gerak-gerik semua pejabat tinggi termasuk mereka yang memimpin keamanan di lingkungan istana. Aku sendiri harus dapat menyusup ke dalam istana, dan hal ini tentu saja baru mungkin terjadi kalau engkau membantuku. Dapat saja aku diselundupkan ke istana, atau akan lebih mudah bagiku untuk menyelidik kalau aku dapat menjadi penghuni istana sebagai dayang atau pelayan......"

"Ah, tidak mungkin seorang seperti engkau ini menjadi pelayan di sana, Li-hiap!"

Kata Cian Ciang-kun. Kedua pipi itu menjadi semakin merah.

"Kauanggap aku...... terlalu tua dan buruk rupa......?"

"Siapa berkata begitu, Li-hiap? Sama sekali sebaliknya malah! Engkau terlalu cantik jelita dan......"

"Kalau terlalu baik untuk menjadi pelayan, dapat dimasukkan sebagai dayang...... tentu saja kalau aku tidak dianggap terlalu tua untuk itu."

"Terlalu tua sih tidak, terlalu dewasa mungkin karena para dayang itu memang biasanya masih remaja, akan tetapi yang jelas terlalu...... cantik jelita......"

"Ihh, kita bicara serius, jangan engkau merayu, Ciang-kun!"

Kata Liong-li dan wajah perwira itu menjadi merah.

"Maaf, bukan maksudku untuk memuji kosong, Li-hiap, melainkan akupun bicara sesungguhnya. Kalau engkau berada di dalam istana bagian puteri, engkau sepantasnya menjadi puteri atau selir Sribaginda. Maaf, bukan maksudku menghina......"

"Sudahlah, terserah kepadamu, asal aku dapat diselundupkan ke dalam istana, untuk beberapa hari saja sehingga aku mendapatkan peluang untuk melakukan penyelidikan dan pengamatan, apa lagi di waktu malam. Kalau memang komplotan itu bergerak dari dalam istana, tentu aku akan dapat memergoki mereka. Kalau engkau tidak merayu dan berkata sebenarnya, aku dapat melakukan sedikit penyamaran agar pantas menjadi seorang dayang. Coba kautunggu sebentar, Ciang-kun!"

Ia bertepuk tangan dan muncullah seorang gadis berpakaian coklat. Ia muncul cepat dan berdiri di depan Liong-li dengan sikap hormat dan siap melakukan segala perintah.

"Ambil perlengkapan penyamaran ke sini. Cepat!"

Tak lama kemudian, gadis baju coklat itu kembali membawa peti hitam yang terukir indah.

Baru petinya itu saja sudah merupakan sebuah benda antik yang mahal harganya, pikir Cian Ciang-kun yang sudah duduk sambil mengamati dengan hati tertarik.

Liong-li, tanpa bicara membuka tutup peti setelah si baju coklat meninggalkan ruangan itu dan iapun mengambil botol-botol dan alat-alat seperti alat kecantikan.

Hanya sebentar ia bercermin sambil menata wajahnya dan sepuluh menit kemudian, Cian Ciang-kun sudah berhadapan dengan seorang wanita yang sama sekali berbeda dengan wajah Liong-li!

Memang masih manis, akan tetapi tidak secantik dan seanggun tadi!

Wajah seorang gadis dusun yang manis dan tidak terlalu menyolok.

"Bagaimana, Ciang-kun? Bukankah sudah pantas kalau aku mengaku sebagai seorang gadis dusun dan cocok untuk menjadi seorang pelayan atau seorang dayang di istana?"

Cian Ciang-kun bengong.

Bahkan suara wanita ini berubah sama sekali!

Tidak halus merdu lembut seperti tadi, melainkan suara sederhana yang hanya pantas menjadi suara seorang gadis pedusunan yang kurang pendidikan dan biasa hidup sederhana.

Akhirnya dia tertawa bergelak saking kagum dan girangnya.

"Ha-ha-ha, engkau seorang wanita hebat, Li-hiap! Tadi aku masih ragu-ragu dan khawatir kalau-kalau engkau akan dikenal sebagai Hek-liong-li setelah berada di dalam istana dan keselamatanmu terancam. Akan tetapi dengan penyamaran yang sempurna, kuyakin takkan ada seorangpun yang (Lanjut ke

Jilid 03) Si Bayangan Iblis (Seri ke 02 -Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03 tahu bahwa engkau adalah Hek-liong-li.

"Baiklah, mari kita ke kota raja dan di sana aku akan menghubungi rekan-rekanku dan mendengar kalau-kalau istana membutuhkan pembantu puteri baru sehingga engkau dapat diselundupkan ke dalam. Engkau tahu, biasanya, kalau istana membutuhkan dayang atau pembantu baru, kesempatan itu dipergunakan oleh para Thai-kam untuk menerima uang sogokan. Siapa yang paling berani mengeluarkan uang sogokan, maka dialah yang akan diterima."

"Bagus! Tentang uang sogokan, jangan khawatir. Berapa saja mereka minta akan kubayar!"

Kata Liong-li gembira.

Merekapun berangkat pada hari itu juga, tentu saja tidak mengendarai kereta rampasan tadi karena hal itu tentu akan diketahui pihak lawan.

Mereka menggunakan kereta lain dan dengan menyamar, tak seorangpun menyangka bahwa wanita nenek tua yang bersama Cian Ciang-kun memasuki kota raja itu adalah Hek-liong-li yang amat terkenal!

Sebelum kita mengikuti perjalanan Liong-li dan cara bagaimana ia akan menyelundup masuk ke dalam istana, sebaiknya kita mengenali lebih dahulu keadaan Kaisar Kao Cung dengan istananya yang megah.

Pada waktu itu (sekitar tahun 669), Kaisar Kao Cung adalah seorang pria berusia kurang lebih empatpuluh sembilan tahun.

Seorang pria yang sebetulnya bertubuh tinggi tegap dan kuat.

Akan tetapi sungguh sayang, karena dia terlalu mengumbar nafsu berahinya, terlalu membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan dan rayuan para wanita cantik yang memenuhi haremnya, maka dalam usia empatpuluh sembilan tahun saja dia sudah nampak tua dan loyo.

Kaisar Kao Cung sesungguhnya baik budi dan ramah, memiliki kebijaksanaan.

Namun sayang, karena terlalu membiarkan diri tenggelam dalam kesenangan, dia menjadi lemah dan malas.

Dia tidak bersemangat lagi untuk mengurus tugas-tugasnya sebagai seorang pemimpin negara.

Siang malam dia hanya bersenang-senang bersama para selirnya dan para dayang, dan dia dapat dibilang menyerahkan segala kekuasaannya dan membiarkan permaisurinya yang mengurus semua tugasnya!

Dan memang harus diakui bahwa permaisurinya adalah seorang wanita yang bukan main cerdasnya, seorang wanita yang selain memiliki kecantikan luar biasa, juga memiliki otak yang tajam dan hati yang keras, ambisius dan penuh semangat!

Bahkan dapat dibilang permaisuri inilah yang pada delapan tahun yang lalu, membakar semangat suaminya yang menjadi kaisar itu untuk mengerahkan bala tentara sekuatnya dan menyerang Korea.

Sejak puluhan tahun yang lain, ketika Kerajaan Tang belum berdiri, yaitu Kerajaan Sui masih berkuasa di China, kaisar-kaisar telah berusaha menundukkan Korea.

Bahkan ayah dari Kaisar Kao Cung sendiri, yaitu Kaisar Thai Cung yang amat terkenal sebagai pendekar bangsa dan pendiri Kerajaan Tang, selalu gagal dalam usahanya menalukkan Korea.

Akan tetapi, berkat siasat dan semangat permaisuri Kao Cung, maka Kaisar Kao Cung akhirnya berhasil menundukkan dan menalukkan Korea yang telah dibantu oleh Bangsa Jepang.

Semenjak itulah, Kaisar Kao Cung yakin akan kemampuan permaisurinya dan dia pun menyerahkan hampir segala urusan pemerintahan ke tangan permaisurinya itu.

Permaisuri yang sekarang telah berusia empatpuluh tahun lebih itu makin lama semakin berkuasa dan berpengaruh sehingga hampir semua pejabat tinggi tunduk di bawah kekuasaannya.

Baik mereka yang setuju atau yang tidak setuju harus mengakui bahwa banyak kemajuan dicapai setelah permaisuri ini memegang kendali pemerintahan.

Tentu saja sebagai pelaku di belakang layar karena segala hal masih harus disetujui dan ditandatangani oleh Kaisar Kao Cung.

Semua orang di istana tahu belaka bahwa kaisar itu menandatangani apa saja yang disodorkan permaisurinya kepadanya!

Memang, permaisuri dari Kaisar Kao Cung ini adalah seorang wanita yang hebat luar biasa.

Sepak terjangnya amat menonjol dan tidak mengherankan kalau kemudian namanya diabadikan dalam sejarah, walaupun di dalam sejarah, keburukannya lebih banyak ditonjolkan dari pada kebaikannya.

Hal inipun mudah dimaklumi kalau diingat bahwa penyusun sejarah adalah mereka yang tidak suka kepadanya!

Seorang penyusun sejarah haruslah seorang seniman sejati!

Seorang seniman sejati takkan sudi diperalat oleh golongan manapun, karena seorang seniman sejati adalah seorang manusia utuh lahir batin yang hanya mengabdi kepada kebenaran, kepada kekuasaan Tuhan, tidak dipengaruhi penilaian karena menganggap bahwa apa yang ada selalu indah, tidak baik ataupun buruk, tidak ada perhitungan rugi untung bagi dirinya yang bebas!

Riwayat permaisuri ini memang menarik sekali sejak pemunculannya yang pertama di istana kaisar.

Agar mengenal latar belakangnya, sebaiknya kalau kita mengikuti pengalamannya.

Ketika masih seorang gadis remaja, permaisuri itu bernama Bu Houw yang kemudian disebut juga Bu Cek Thian.

Panggilan akrabnya adalah Bi Houw (Houw yang cantik).

Ketika usianya masih remaja, kurang lebih tigabelas tahun, ia diangkut dari dusun dan dipilih menjadi seorang dayang di istana.

Ketika itu, yang menjadi kaisar adalah ayah dari Kaisar Kao Cung yang sekarang, yaitu Kaisar Thai Cung yang amat terkenal, yang dulu bernama Li Si Bin!

Karena hidup di dalam istana yang megah, serba bersih, dan setiap hari tubuhnya terpelihara baik-baik, juga karena ia diharuskan mempelajari segala seni yang patut dimiliki semua wanita cantik dalam istana, Bi Houw tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik jelita dan pandai membawa diri.

Ketika usianya mencapai, enambelas tahun, tidak ada seorang pun dayang di istana yang mampu menyaingi kecantikannya.

Bagaikan setangkai bunga, ia mulai mekar dengan indahnya, semerbak mengharum dan membuat setiap yang disentuhnya menjadi cerah dan hidup.

Bahkan para puteri dan selir kaisar merasa kagum dan iri melihat kesegaran gadis remaja dari dusun yang kini pandai membawa diri ini.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Bi Houw sudah melakukan tugasnya, membersihkan sebuah kamar mandi yang biasa dipergunakan oleh permaisuri.

Tentu saja sepagi itu ia bekerja membersihkan kamar mandi pribadi permaisuri bukanlah suatu hal yang kebetulan saja.

Ia telah memperhitungkan dan memperhatikan kebiasaan Kaisar Thai Cung.

Setiap kaisar ini tidur di kamar permaisuri, sudah pasti pada pagi hari seperti itu, Sang Kaisar akan masuk kamar mandi.

Kebiasaan ini sudah diperhatikan benar-benar oleh Bi Houw, dan pada pagi hari itu, ketika seperti tidak ditengaja ia telah berada di kamar mandi, ia nampak bersih, segar dan cerah, cantik jelita dan putih kemerahan bagaikan setangkai kuncup mawar yang sedang mekar!

Gadis berusia enambelas tahun!

Ketika kaisar memasuki kamar mandi, Bi Houw cepat berlutut dan tidak berani mengangkat muka.

Setelah kaisar selesai dengan keperluannya di kamar mandi untuk membuang air kecil dan hendak keluar, dengan terampil sekali Bi Houw berlutut di depannya, dengan muka menunduk sehingga tidak nampak, memegangi dengan kedua tangannya yang mungil sebuah tempayan air yang terisi air hangat yang harum karena dicampur air mawar, menjulurkan kedua tangannya agar Sang Kaisar dengan mudah dapat mencuci tangannya.

Kaisar menunduk dan mencuci tangan.

Ketika dia melihat sepasang tangan yang berkulit putih kemerahan, jari-jari tangan yang meruncing dengan kuku yang bersih mengkilap terawat baik, kemudian menunduk pula melihat rambut yang panjang hitam dan halus, yang mengeluarkan keharuman semerbak, melihat kulit leher yang nampak semakin putih mulus kemerahan di antara juntaian rambut, kaisar tertarik dan berkata lembut.

"Dayang, coba kau angkat mukamu, kami hendak melihatnya."

Bi Houw yang sudah memperhitungkan ini, dan sudah berulang kali ia bergaya di depan cermin, dengan tenang dan lembut mengangkat mukanya, muka yang amat cantik manis bagaikan setangkai bunga baru mekar, dahinya yang halus bagaikan lilin diraut itu dihiasi anak rambut yang lembut sekali melingkar-lingkar, sepasang mata yang redup itu setengah terpejam penuh rasa takut dan malu, dihias bulu mata yang panjang lentik, dilindungi sepasang alis yang hitam kecil panjang seperti dilukis.

Hidung itu mancung kecil dan lucu, dan mulut amat menggairahkan, dengan sepasang bibir tipis merah membasah tanpa gincu, dihias lekuk pipi di kanan kiri yang timbul tenggelam, dagu kecil runcing berlekuk, dan lekuk lengkung dada yang sedang meranum itu membayang di balik baju tipis.

Semua ini merupakan bintik-bintik api yang menggetarkan kehangatan dan di pagi hari yang dingin itu, gairah berahi mulai membara di dalam hati Kaisar Thai Cung.

Gairah berahi yang datang tiba-tiba, mendatangkan kekuatan besar yang mendorongnya untuk segera menjulurkan kedua lengannya, memondong gadis remaja itu, mendekap menciuminya, membelai dan membawanya ke atas bangku marmer di dalam kamar mandi itu.

Tanpa banyak cakap lagi, tidak seperti biasanya kalau sang kaisar memerawani seorang dayang yang beruntung menerima anugerah dipilih oleh kaisar, Bi Houw digauli oleh Kaisar Thai Cung di dalam kamar mandi, tanpa upacara lagi!

Bi Houw menyambut pria tua itu dengan menggunakan sepenuh kecerdikan dan kepandaiannya yang sudah dipelajarinya terlebih dahulu.

Demikian pandainya gadis ini sehingga semua usahanya itu tidak nampak, dan Kaisar Thai Cung pada pagi hari itu memetik kesenangan dan kenikmatan yang jarang dia temukan.

Setelah kaisar meninggalkannya, Bi Houw melamun dengan hati penuh bahagia.

Semua rencananya berjalan dengan baik!

Kaisar telah menjatuhkan pilihannya kepadanya bahkan telah menganugerahinya dengan hubungan badan itu!

Pada waktu atau jaman itu, kedudukan seorang kaisar amatlah tingginya.

Kaisar dianggap sebagai dewa atau bahkan Putera Tuhan yang dijelmakan di dunia untuk memimpin manusia.

Oleh karena itu, seorang gadis yang dipilih kaisar seolah-olah mendapatkan keyakinan bahwa bintangnya akan menjadi terang.

Bi Houw membayangkan betapa ia tentu akan diangkat menjadi seorang di antara selir-selir utama yang jumlahnya tujuhpuluh dua orang, menggantikan seorang selir yang sudah dianggap membosankan dan akan diturunkan pangkatnya oleh kaisar.

Dari selir, ia akan berusaha agar ia dapat terus menanjak naik sehingga akhirnya akan dapat menduduki pangkat permaisuri Pertama atau Kedua.

Ada dua orang permaisuri, yaitu permaisusi Istana Timur dan permaisuri Istana Barat.

Ia harus berusaha mengangkat dirinya sampai menjadi seorang di antara yang dua ini!

Akan tetapi malang bagi gadis remaja itu, harapannya hampa dan penantiannya sia-sia belaka.

Kaisar Thai Cung, pendiri Kerajaan Tang itu, terlalu sibuk dengan urusan pemerintahan, sibuk dengan perkembangan dan kemajuan kerajaannya.

Peristiwa yang terjadi di kamar mandi pada pagi hari itu baginya lewat begitu saja dan segera hal itu terlupa olehnya setelah terjadi.

Lewat bagaikan angin lalu, karena bagi kaisar yaag mempunyai banyak urusan, yang dianggapnya lebih besar dan lebih penting, maka peristiwa dengan Bi Houw itu kecil dan tidak ada artinya sama sekali.

Apakah artinya seorang gadis remaja kecil, seorang dayang bagi seorang kaisar?

Kekecewaan adalah bagian orang yang mengharapkan.

Harapan mempunyai buah ganda, yaitu kepuasan dan kekecewaan.

Kalau terpenuhi apa yang diharapkan, datanglah kepuasan.

Sebaliknya, kalau tidak terpenuhi, datanglah kekecewaan.

Bi Houw yang ambisius dan penuh harapan muluk itu, tentu saja tenggelam ke dalam lautan kekecewaan karena ia sama sekali tidak diperdulikan oleh Kaisar Thai Cung.

Bahkan kaisar itu agaknya sudah lupa akan peristiwa yang terjadi di pagi hari dalam kamar mandi permaisuri itu.

Betapapun ia memancing dengan kerling dan senyum kalau kebetulan ia bertemu dengan kaisar, Kaisar Thai Cung sama sekali tidak nampak bahwa dia teringat atau mengenalnya!

Di dalam kamarnya, Bi Houw hanya dapat menangis karena sesal dan kecewa.

Apa lagi ia sudah terlanjur pamer kepada para dayang lain bahwa ia telah mendapat "anugerah"

Dari kaisar di pagi hari itu!

Ia telah membisikkan kepada para dayang lainnya bahwa sebentar lagi ia akan naik derajatnya dan menjadi seorang di antara Selir Terhormat!

Dan kenyataannya sungguh amat pahit, tidak semanis yang dibayangkan dan diharapkannya.

Akan tetapi, gadis remaja ini tidak menjadi putus asa.

Maklum bahwa ia tidak dapat mengharapkan kenaikan derajat dari kaisar, iapun segera membuang harapan hampa itu dan matanya mulai mengerling ke arah yang lain lagi.

Pangeran Mahkota!

Pangeran itu masih seorang pemuda, tampan, gagah dan tentu saja jauh lebih menarik sebagai pria dibandingkan ayahnya, Sang Kaisar.

Pangeran Mahkota itulah merupakan orang kedua sesudah kaisar yang paling tinggi kedudukannya di seluruh negeri.

Mulailah Bi Houw mengatur diri, mengatur lagak dan melaburi diri dengan daya pikat yang menarik, dan iapun menggunakan segala daya kecerdikannya untuk menyelidiki dan mempelajari kebiasaan Pangeran Mahkota.

Pangeran Mahkota yang kemudian menjadi Kaisar Kao Cung itu adalah seorang pemuda yang tampan dan suka pelesir.

Sejak kecil dia memang dimanja dan berkecimpung di dalam kesenangan dan kemewahan.

Apa saja yang dikehendakinya tentu terpenuhi!

Sungguh amat merugikan perkembangan jiwa seseorang kalau di waktu kecil dia dimanjakan oleh keadaan.

Justeru kepahitan keadaan hidup, seperti jamu merupakan gemblengan yang mematangkan batin.

Sebaliknya, kesenangan yang berlimpahan bahkan membius batin dan menumpulkan akal karena jarang dipergunakan untuk mengatasi kesulitan hidup.

Tempat tinggal Pangeran Mahkota merupakan bagian kompleks istana keluarga Kaisar di bagian kiri, bersambung dengan istana induk melalui sebuah jembatan dan taman indah.

Di jembatan inipun, seperti juga di jalan masuk ke istana induk dari manapun juga, siang malam dijaga oleh pengawal thai-kam (laki-laki kebiri) demi keselamatan kaisar.

Dengan mempergunakan suapan berupa barang-barang berharga, Bi Houw berhasil menarik kepercayaan seorang pengawal Thai-kam sehingga ia dapat dengan leluasa menggunakan jembatan itu dan diperbolehkan keluar masuk taman yang merupakan perbatasan antara istana induk dan istana Pangeran Mahkota.

Pada hal, sebagai dayang atau pelayan keluarga kaisar yang bertugas di istana induk, ia tidak dibenarkan untuk melewati jembatan ini dan masuk ke daerah tempat tinggal Pangeran Mahkota.

Bi Houw juga menyelidiki kebiasaan Pangeran Mahkota dan mendengar bahwa satu di antara kebiasaan Pangeran Mahkota adalah duduk termenung di dalam taman mawar yang berdekatan dengan jembatan dan taman penghubung itu.

Pangeran Mahkota itu, setelah bosan dan lelah bersenang-senang dengan gadis-gadis cantik bahkan bermain-main dengan wanita-wanita pelacur di luar istana, kadang-kadang suka menyendiri di dalam taman mawar, termenung dan menikmati hawa segar sejuk dan suasana hening.

Dalam keadaan seperti itu, dia selalu menyendiri, tidak mau ditemani pengawal atau dayang.

Setelah dayang membawakan minuman dan makanan, biasanya anggur manis dan makanan kecil, dayang lalu diperintahkannya untuk pergi meninggalkannya seorang diri.

Dalam keadaan menyendiri itu, Pangeran Mahkota merasa aman tenteram dan kadang-kadang keadaan menyendiri itu dia pergunakan untuk membaca kitab, baik kitab kesusasteraan, catatan sejarah maupun kitab tentang ketatanegaraan yang amat penting baginya.

Pada suatu senja yang indah.

Angin semilir lembut mendatangkan hawa yang sejuk segar.

Matahari menjelang terbenam, cahayanya sudah lembut lunak dan di langit bagian timur nampak awan terbakar dengan sinar merah dengan latar belakang kebiruan dan di sana-sini nampak awan berpita perak berkilauan.

Pangeran Mahkota memasuki taman mawar sambil membawa kitab yang sudah dibukanya dan dibacanya sambil melangkah perlahan-lahan, menuju ke tengah taman di mana terdapat kolam ikan emas dan bangku yang menjadi tempat yang amat disukainya untuk duduk menyendiri.

Memang nyaman sekali duduk di bangku yang halus itu, di dekat kolam di mana ikan-ikan emas merah, kuning dan putih berenang, dengan gaya indah, dikelilingi bunga-bunga mawar yang sedang mekar semerbak mengharum, dengan kupu-kupu yang beterbangan di sekitarnya, pohon-pohon di sana-sini yang mulai disibuki oleh suara burung yang pulang sarang.

Putera Mahkota yang berusia tigapuluhan tahun itu memang tampan dan pada senja itu dia mengenakan pakaian sutera kuning yang longgar dan indah.

Ketika dia melangkah lambat menuju ke tengah taman, tiba-tiba dia menurunkan kitabnya dan berhenti melangkah.

Dia mendengar suara yang lain dari pada biasanya.

Biasanya, suara yang terdengar di taman itu kalau dia memasukinya hanyalah suara teriakan burung-burung yang beterbangan pulang sarang, sesampainya di pohon mereka ini membuat gaduh dengan suara cecowetan sibuk sekali.

Akan tetapi sekali ini, di antara suara burung-burung, dia mendengar suara manusia.

Suara wanita yang sedang membaca sajak dengan nyanyian sederhana namun merdu bukan main, agaknya terdengar aneh dan merdu sekali di taman yang sunyi itu.

"......amboi burung murai nan malang, warna bulumu memang indah cemerlang, suaramu memang merdu gemilang, namun sayang...... percuma engkau merindukan burung Hong, Raja di antara segala burung, bagimu dia terlampau agung......."

Di taman yang indah itu, dalam suasana yang sunyi dari senja yang mengambang, suara itu terdengar aneh dan merdu sekali.

Hati Pangeran Mahkota itu sudah tertarik sekali, dan jantungnya berdebar penuh keinginan tahu siapa gerangan wanita yang dapat bernyanyi semerdu itu di dalam taman mawar pribadinya.

Suara itu datang dari arah kiri, maka diapun tidak jadi menuju ke kolam ikan, melainkan ke pondok ungu yang berada di sebelah kiri taman.

Pondok ungu ini adalah pondok kecil di mana dia suka menghibur diri di waktu musim panas, ditemani beberapa orang dayang atau selirnya.

Biarpun dia belum memiliki isteri, namun Pangeran Mahkota ini sudah memiliki beberapa orang selir.

Akhirnya Pangeran Mahkota menemukan wanita yang tadi membaca sajak dengan suara nyanyian sederhana namun merdu itu.

Ia seorang gadis berpakaian dayang.

Seorang di antara para dayang ayahnya!

Akan tetapi, sungguh seorang gadis remaja yang bukan main!

Hati pangeran itu memang sudah tertarik oleh suara tadi.

Kini melihat orangnya, dia terpesona!

Dan memang Bi Houw sudah memperhitungkannya dengan masak-masak, berdasarkan penyelidikannya.

Ia mendengar betapa sang pangeran itu seringkali menyatakan rasa muak terhadap para wanita yang mengelilinginya, yang berlomba untuk menarik perhatiannya dengan dandanan yang mewah, dengan riasan muka yang seperti boneka digambar!

Karena itu, dalam kesempatan yang sudah termasuk rencana siasatnya ini, Bi Houw mengenakan pakaian yang sederhana, pakaian dayang yang tidak mewah namun bersih dan rapi.

Nampak jelas betapa ia segar dan cerah, karena baru saja ia mandi air dingin yang dicampur air mawar dan seluruh tubuhnya digosoknya keras-keras sehingga baik muka dan tangannya nampak masih kemerahan seperti kulit seorang bayi yang montok dan mungil.

Ketika pangeran menghampiri tempat itu, ia pura-pura tidak tahu dan sedang mengejar kupu-kupu dengan gerakan yang lincah, jenaka dan penuh kelembutan wanita, berjalan berjingkat dengan lenggang lenggok lemah gemulai ia menghampiri seekor kupu-kupu yang hinggap di setangkai bunga.

Melihat ini, Pangeran Mahkota berhenti melangkah, memandang sambil menggagumi gerak pinggul gadis remaja itu ketika berindap menghampiri kupu-kupu itu.

Ditangkapnya kupu-kupu itu dengan ibu jari dan telunjuknya, lalu gadis itu duduk di atas bangku, membelakangi Pangeran Mahkota dan terdengar suaranya lirih manja, namun terdengar jelas oleh sang Pangeran.

"Kupu-kupu yang tampan, engkau memang seksi sekali, bersenang-senang dari bunga ke bunga lain, tanpa memperdulikan aku bunga yang kesepian menanggung rindu, haus akan jamahan dan belaianmu. Aih, kupu-kupu, sakit hatiku, ingin rasanya aku merobek sayapmu agar engkau tidak mampu terbang lagi hinggap di bunga-bunga yang lain. Akan tetapi aku tidak tega, kupu-kupu, aku tidak tega, karena aku terlalu mencintaimu! Aih, kupu-kupu, engkau pangeran yang agung sedangkan aku...... aku hanya dayang......"

Gadis itu bangkit, melepaskan kupu-kupu itu terbang kegirangan, lalu ia membalik dan...... pada saat itu ia melihat Pangeran Mahkota berdiri di depannya.

"Oohhhhh.......!"

Ia mengeluh ketakutan dan cepat ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki sang pangeran, memberi hormat sampai dahinya menyentuh tanah.

"Ampun, pangeran...... ampunkan hamba, karena hamba tidak tahu bahwa paduka berada di sini........"

Kata Bi Houw dengan suara gemetar namun terdengar amat merdu.

"Murai yang mungil. jangan takut, aku tidak marah kepadamu. Bangkitlah!"

"Hamba...... hamba tidak berani......"

Bi Houw berkata dengan gemetar.

Pangeran Mahkota tersenyum, lalu menjulurkan tangan kanannya, memegang lengan Bi Houw dan menariknya bangkit berdiri.

Gadis itu berdiri, tinggi badannya hanya sampai ke pundak pangeran itu dan ia menundukkan mukanya sampai dagunya menekan leher.

Dengan lembut sang pangeran menggunakan ibu jari dan telunjuk kanannya, memegang ujung dagu gadis itu dan menarik dagu itu ke atas agar dia dapat menatap wajah itu.

Dan jantungnya berdenyut keras saking girangnya.

Sebuah wajah yang amat cantik manis, jelita dan segar!

Sejenak dia mengamati wajah yang amat menggairahkan itu biarpun Bi Houw memejamkan kedua matanya.

"Manis, bukalah matamu, aku ingin melihatnya,"

Bisik sang pangeran dan ketika Bi Houw membuka kedua matanya, pangeran itu seperti melihat sepasang bintang yang mempesonakan!

Dari sepasang mata itu memancar cahaya yang demikian lembut, demikian dalam dan demikian menantang, mengandung janji sejuta kemesraan dan kehangatan dan Pangeran Mahkota itupun jatuhlah!

"Engkau cantik jelita......

siapakah namamu?"

"Hamba...... hamba Bi Houw......"

"Bagaimana engkau bisa berada di sini, pada hal engkau seorang dayang dari induk istana, bukan?"

"Ampunkan hamba, hamba...... amat terpesona oleh keindahan mawar di sini, ketika penjaga lengah, hamba menyelinap masuk...... Hamba lupa diri ketika berada di sini, Mohon ampun, Pangeran......"

"Bi Houw, engkau tadi mengumpamakan kupu-kupu, pangeran. Siapakah yang kau maksudkan? Dan engkau mengumpamakan dirimu murai kecil, dan siapa pula burung Hong itu? Hayo jawab sejujurnya, baru aku mau mempertimbangkan apakah kelancanganmu ini patut diampuni atau tidak,"

Kata Pangeran Mahkota sambil tersenyum menggoda. Bi Houw pura-pura ketakutan.

"Ampunkan hamba...... ampunkan kelancangan hamba...... burung Hong itu...... dia adalah pangeran...... dan pangeran itu...... ah, pangeran itu......"

"Hayo katakan, siapa pangeran itu?! Kalau tidak berterus terang, akan kupanggil pengawal agar engkau dihukum cambuk!"

Pangeran Mahkota mengancam sambil tersenyum. Bi Houw tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut dan mencium kaki pangeran itu.

"Ampunkan hamba, pangeran. Pangeran...... pangeran itu...... ah, beliau adalah...... paduka......! Ampunkan hamba......"

Pangeran Mahkota tertawa bergelak, senang sekali hatinya.

"Aku? Jadi akukah yang membuat engkau rindu? Ha-ha-ha, nah, aku sudah berada di sini, hendak kulihat sampai di mana kebenaran pengakuanmu bahwa engkau rindu dan cinta kepadaku!"

Dia membungkuk, mengangkat tubuh yang mungil itu, memondongnya dan membawa Bi Houw memasuki pondok ungu!

Bi Houw dengan amat cerdiknya dapat berlagak seperti seorang gadis remaja yang masih hijau, canggung, namun penuh dengan cinta kasih, penuh kemesraan, kehangatan dan kepasrahan.

Namun, di balik itu, biarpun secara halus, ia menyambut pernyataan cinta pangeran itu dengan gairah yang panas menggebu, yang membuat Pangeran Mahkota itu merasa bahwa selama hidupnya baru sekali itulah dia bertemu dengan seorang gadis perawan yang membuat dia merasa seorang jantan sejati!

Dan pada senja hari itupun hati Pangeran Mahkota telah jatuh cinta!

Dia bukan sekedar iseng, melainkan benar-benar terpikat dan melekat, jatuh cinta secara mendalam kepada Bi Houw atau Bu Houw.

Dan semenjak pertemuan yang pertama kali itu, mereka berdua dengan hati-hati seringkali mengadakan pertemuan di taman itu dan menumpahkan perasaan cinta kasih masing-masing dengan penuh kemesraan!

Demikian pandainya Bi Houw membawa diri sehingga Sang Pangeran Mahkota merasa yakin bahwa gadis remaja jelita itu benar-benar mencintanya dengan segenap jiwa raganya, bukan seperti wanita lain yang hanya mengharapkan agar terangkat derajatnya kalau dapat berhubungan dengan dia.

Dianggapnya bahwa Bi Houw sebagai seorang wanita, mencinta dia sebagai seorang pria!

Dan diapun jatuh benar-benar, dan mengambil keputusan untuk menjadikan Bi Houw sebagai isterinya, bahkan permaisurinya kelak!

Ketika Kaisar Tang Thai Cung meninggal dunia dalam tahun 649, maka diangkatlah Pangeran Mahkota sebagai kaisar baru, dan berjuluk Kaisar Tang Kao Cung.

Dan kini terjadilah hal yang amat berbahaya bagi Bi Houw atau Bu Houw.

Memang benar bahwa Kaisar Tang Kao Cung yang baru memenuhi janjinya, yaitu dia hendak mengangkat Bu Houw menjadi Permaisuri.

Akan tetapi, para pejabat tinggi di istana memperingatkan Kaisar Tang Kao Cung bahwa menurut catatan dalam istana, Bu Houw adalah seorang dayang yang pernah digauli oleh mendiang Kaisar Tang Thai Cung!

Tentu saja catatan istana ini ada karena kesalahan Bu Houw sendiri yang memamerkan "kehormatan"

Atau anugerah yang diterimanya dari Kaisar Tang Thai Cung dahulu ketika ia digauli di dalam kamar mandi Permaisuri di suatu pagi.

Menurut peraturan istana, dayang yang sudah digauli kaisar itu, setelah kaisar meninggal dunia, haruslah melanjutkan kehidupannya sebagai seorang nikouw (pendeta wanita) dalam wihara Buddha selama hidupnya!

Pada waktu itu, Agama Buddha sedang berkembang dengan pesat dan diakui oleh pemerintah sehingga memiliki pengaruh yang besar.

Sebagai seorang isteri, walaupun hanya berkedudukan dayang namun sudah digauli kaisar, maka Bu Houw harus pula berkabung dengan cara hidup dalam biara itu sebagai seorang pendeta yang setiap hari hanya berdoa dan tidak boleh berhubungan dengan orang lain apa lagi dengan pria!

Akan tetapi, Kaisar Tang Kao Cung sudah terlalu mencinta Bu Houw sehingga diam-diam kaisar ini memerintahkan agar Bu Houw dilindungi dan diperlakukan dengan hormat dan baik.

Bahkan ia dibebaskan dari keharusan menggunduli kepalanya.

Setelah tiga tahun lewat, yaitu waktu yang dianggap sebagai masa berkabung telah habis, secara diam-diam Bu Houw dipindahkan dari dalam wihara ke dalam istana induk dan bertentangan dengan nasihat para menteri, Kaisar Tang Kao Cung memaksakan kehendaknyan untuk menikah dengan Bu Houw dan mengangkatnya sebagai Permaisuri!

Nafsu yang menguasai diri manusia ibarat api.

Makin diberi umpan, makin diberi jalan, bukan menjadi kenyang dan puas bahkan menjadi semakin murka!

Makin diberi semakin kelaparan dan kehausan!

Ketika masih menjadi seorang dayang, Bu Houw bercita-cita untuk diangkat menjadi selir, kemudian cita-citanya meningkat untuk menjadi permaisuri.

Biarpun harapannya terhadap mendiang Kaisar Tang Thai Cung gagal, namun ia berhasil baik dalam memikat Pangeran Mahkota sehingga ia berhasil menundukkan pangeran itu dan setelah pangeran itu menjadi Kaisar Tang Kao Cung, iapun terpenuhi cita-citanya dan diangkat menjadi Permaisuri.

Apakah ini merupakan tujuan terakhir dari ambisinya?

Sudah puaskah nafsu keinginannya?

Jauh dari pada puas!

Nafsu takkan pernah mengenal puas, tak pernah mengenal titik tujuan terakhir selama si manusianya masih hidup!

Bagaikan api, takkan padam selama bahan yang dibakarnya masih ada.

Setelah diangkat menjadi Permaisuri, Bu Houw hanya merasa puas sementara saja, untuk kemudian nafsunya kembali berkobar untuk mencapai kekuasaan yang tertinggi!

Dan agaknya ambisinya inipun mendatangkan harapan karena Kaisar Tang Kao Cung agaknya benar-benar tak berdaya menghadapi permaisurinya ini.

Kaisar Tang Kao Cung menjadi jinak dan lunak, tunduk dan taat kepada permaisurinya!

Kaisar ini tanpa merasa dijadikan semacam boneka hidup oleh permaisurinya.

Mulailah Bu Houw mencampuri urusan kenegaraan, bahkan ia kini dikenal sebagai Bu Cek Thian, Permaisuri Agung yang berkuasa penuh sesudah Kaisar!

Para menteri merasa khawatir sekali, namun tak seorangpun mampu mengingatkan kaisar, dan kekuasaan Bu Cek Thian menjadi semakin besar.

Setelah memperoleh kekuasaan besar dan Kaisar selalu menuruti semua kehendaknya, bahkan mulai mematuhi nasihat-nasihatnya mengenai bidang pemerintahan, Bu Cek Thian tetap saja tidak merasa puas.

Ada satu hal yang membuat ia merasa hidupnya tidak lengkap, bahkan merana!

Suaminya, Sang Kaisar yang terlampau memanjakan nafsu berahi ketika masih muda, kini menjadi seorang suami yang lemah dan sama sekali tidak dapat menandingi dan memuaskan gairah berahinya yang menggebu dan berkobar.

Hal ini membuat Bu Cek Thian yang sudah tercapai apa yang diharapkannya itu merasa sengsara!

Mulailah ia membentuk pasukan pengawal yang terdiri dari para pria kebiri dan juga wanita-wanita perkasa dari orang-orang yang dapat dipercayanya, dan yang sudah bersumpah setia kepadanya.

Dengan demikian, maka selain keamanannya selalu terjamin karena selalu ada sekelompok pengawal yang menjaganya, juga melalui para pengawal yang dipercaya ini, ia dapat apa saja secara rahasia karena kelompok pengawal ini menjaga agar rahasianya tidak sampai diketahui orang lain.

Setelah ia melihat kesetiaan dan kecerdikan seorang di antara para dayangnya yang bernama Siangkoan Wang-ji, ia menarik wanita ini sebagai dayang pribadi.

Kepada Siangkoan Wang-ji inilah ia menumpahkan semua perasaan dan kekecewaannya, dan atas nasehat dayang setia ini pula Bu Cek Thian mulai melakukan penyelewengan untuk memuaskan gairah berahinya yang bernyala-nyala.

yang tak terpuaskan oleh Kaisar Tang Kao Cung, suaminya yang dianggapnya kurang jantan dan loyo.

Melalui Siangkoan Wang-ji sebagai perantara, secara bergiliran, dengan perlindungan kelompok pengawal pribadi, mulailah diselundupkan dua orang perwira istana, kakak beradik yang bernama Thio Jiang Tiong dan Thio I Ci.

Mereka adalah dua orang perwira muda yang tampan dan gagah.

Tentu saja dua orang kakak beradik ini merasa seperti kejatuhan rembulan.

Mereka tidak berani membuka rahasia dan diam-diam menikmati "anugerah"

Dari Sang permaisuri itu.

Mereka mendapatkan seorang wanita yang matang dan cantik jelita, yang menyambut mereka secara bergiliran dengan gairah yang panas, mereka mendapatkan pula hadiah-hadiah yang berharga dan tentu saja mereka merasa terhormat.

Di samping itu, mereka juga tentu takut sekali kalau sampai rahasia itu ketahuan oleh Kaisar.

Maka, tanpa diperintah lagi, untuk mempertahankan kenikmatan dan keuntungsan itu, juga untuk menyelamatkan diri, mereka itu menutup mulut dan tidak pernah membocorkan rahasia itu.

Demikianlah riwayat singkat dari Permaisuri Bu Cek Thian yang pada waktu, biarpun tidak secara terbuka dan sah, merupakan orang yang sesungguhnya memegang kendali pemerintahan.

Bukan hanya untuk urusan pemerintahan, juga di dalam istana, ialah yang memegang kuasa penuh.

Hanya kadang-kadang saja Kaisar Tang Kao Cung memperlihatkan sikap yang sesungguhnya, sikap seorang kaisar dan seorang suami, namun pada akhirnya, dialah yang kalah pengaruh dan tunduk kepada kemauan Sang Permaisuri.

Diri permaisuri itu diliputi penuh rahasia.

Para pejabat tinggi yang setia kepada kaisar, mencemaskan keadaan itu, apa lagi setelah akhir-akhir ini timbul pembunuhan-pembunuhan rahasia terhadap beberapa orang pejabat tinggi dan pengeran, para menteri yang setia menjadi semakin gelisah.

Akan tetapi, para pejabat tinggi yang "terpakai"

Oleh Bu Cek Thian, yang dipilih menjadi orang-orang yang dipercaya oleh Sang Permaisuri, tentu saja tidak merasa cemas, bahkan diam-diam mereka merasa girang sekali karena kepercayaan Sang Permaisuri kepada mereka membuat derajat dan kekuasaan mereka terangkat naik.

Demikian besar kekuasaan Bu Cek Thian atas diri kaisar sehingga namanya terkenal di dalam sejarah.

Apa lagi setelah ia melahirkan seorang putera, kekuasaannya menjadi semakin besar dan Kaisar semakin tunduk kepadanya.

Hanya Bu Cek Thian atau Bu Houw atau dahulu disebut Bi Houw yang tahu, siapakah sebenarnya ayah kandung Pangeran Tiong Cung itu!

Tentu saja bagi kaisar sendiri dan umum, menganggap hahwa pangeran itu adalah putera kandung Kaisar Tang Kao Cung!

Akan tetapi, sebelum melahirkan pangeran itu, diam-diam Bu Cek Thian yang sudah merasa tidak puas dengan suaminya, telah mengadakan hubungan dengan beberapa orang pria yang diselundupkan secara rahasia dari luar istana bagian puteri.

Bahkan seorang di antara mereka itu, termasuk seorang tukang taman muda she Ma yang kemudian tewas secara aneh karena suatu penyakit perut yang mendadak.

Baca Juga: Suling Emas 7

Baca Juga: Suling Emas 15

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert