Eps 13 Pendekar Patung Emas - Qing Hong
Baca online Pendekar Patung Emas - Qing Hong
Cersil Pendekar Patung Emas - Qing Hong.
"Malam sudah larut, kau pun kembalilah ke kamar untuk beristirahat, ada perkataan kita bicarakan lagi besok pagi". katanya kemudian. Ti Then ssgera menyahut dan mengundurkan diri dari ruangan tersebut. Pada saat dia mengundurkan diri kedalam kamarnya itulah langkahnya amat perlahan sekali, beberapa kali dia kepingin berhenti dan berbicara sepuasya dengan Yuan Siauw Ko. Dia ingin memberitahukan rahasia dirinya kepadanya, dia akan menceritakan bagaimana dia diperalat oleh majikan patung emas. Rasa hormatnya terhadap si Kiam Kong So Yuan Sauw Ko ini tidak berada dibawah Wie Ci To, karena Yuan Siauw Ko adalah merupakan seorang jagoan Bu lim yang paling disayang olehnya, dia pernah mengangkat dirinya, memberi petunjuk kepadanya bahkan menyayangi dirinya. Sesuatu kehilangan barang kawalan tempo hari pun bukan saja dia tidak memaki dirinya bahkan terus menerus menghibur dirinya. Karena itu di dalam hatinya Yuan Siauw Ko adalah seorang ayah yang pstut dihctmati dan disayangi, sekarang dirinya menemui urusan yang menyulitkan dia ingin mengutarakan seluruh kesulitan itu kepadanya. Tetapi berbagai ingatan kembali berkelebat memenuhi seluruh benaknya, akhirnya dengan paksakan diri dia membatalkan maksud hatinya itu dan berjalan kembali ke kamarnya. Karena dia sudah memikirkan akan satu hal dia merasa kuatir bilamana hal ini sampai diketahui oleh majikan patung emas atau mata2 yang dikirim olehnya untuk mengawasi dan memperdengarkan apa yang dikatakaa olehnya Yuan Siauw Ko bakal menemui kematian yang mengerikan sekali, Hal ini boleh dikata ada kemungkinan bisa terjadi, majikan patung emas tidak akan membiarkan orang ketiga untuk ikut mengetahui rencana busuknya ini, sewaktu dia mengetahui kalau Yuan Siauw Ko pun mengetahui akan rahasianya ini maka dia bisa turun tangan membinasakan dirinya. Maka itu setelah berpikir pulang pergi akhirnya dia paksakan diri untuk bersabar. Sekembalinya kedalam kamar dia lantas mencuci muka, membuka pakaian dan tidur. Malam itu kembali Majikan patung emas munculkan dirinya. Dengan diam2 dia menurunkan patung emasnya kebawah lalu menggerakkan patung tersebut untuk membangunkan Ti Then.
"Ti Then, kau bangunlah!"
Tegurnya. Dengan cepat Ti Then membuka matanya kembali.
"Ada urusan apa?"
"Aku man membicarakan soal Kiam Kong Su Yuan Siauw Ko dengan dirimu".
"Kenapa ?"
Tanya Ti Then tawar.
"Aku ingin mengetahui hubunganmu dengan si tangan baja Yuan Siauw Ko itu?"
"Tidak perduli aku mempunyai sangkut paut apa dengan dirinya hal ini tiada hubungannya dengan dirimu".
"Sekarang kau masih merupakan patung emasku "
Bentak majikan patung emas dengan gusar.
"Sekalipun aku suruh kau mengorek keluar hatimu kaupun harus melaksanakannya."
"Baik, aku akan mengorek hatiku baru kau lihat2". Sehabis berkata dari dalam sakunya dia mencabut keluar sebilah pisau belati. Agaknya majikan patung emas merasa amat terkejut sekali melihat kejadian itu.
"Tidak, aku tidak akan taruhan dengan dirimu"
Serunya dengan terburu-buru.
"Aku tidak menyuruh kau untuk mengorek keluar hatimu".
"Hmmm! aku sih mengharapkan sekali kau benar2 memerintahkan aku untuk mengorek keluar hatiku, dengan demikian semua kesulitanku bisa musnah"
Seru Ti Then sambil tertawa pahit. Nada suara dari majikan patung emas seketika itu juga berubah jauh lebih lunak lagi.
"Aku cuma ingin mengetahui hubungan diantara kalian, apakah soal inipun tidak boleh dikatakan?"
"Sewaktu ada di gua Hu Lu Tong di gunung Ccen san kau pernah berjanji tak akan mendesak aku untuk membuka rahasia". Majikan patung emas termenung sebentar, akhirnya dia menyahut.
"Baiklah, kau tidak usah mengatakan pun tidak mengapa, padahal aku cuma ingin membantu kau.."
"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku mempunyai kesulitan yang membutuhkan bantuan dari orang lain ?"
Desak Ti Then dengan sedikit tergerak.
"Aku bisa melihatnya."
"Kemunculanmu malam ini apakah sengaja hendak menyampaikan maksud baikmu itu?"
"Di samping itu aku mau mengatakan satu hal kepadamu aku merasa bahkan hubunganmu dengam Yuan Siauw Ko agaknya amat rapat sekali, tetapi bagaimanapan hubungan diantara kalian berdua aku melarang kau untuk menceritakan urusan di antara kita ini kepadanya.
"Bilamana aku memberitahukan rahasia ini kepadanya kau punya maksud untuk berbuat apa?"
"Aku bermaksud untuk berbuat apa tentunya kau bisa menebaknya sendiri bukan?"
Seru majikan patung emas dengan dingin.
"Bilamana secara diam2 aku memberitahu kepadanya ?"
Tanya Ti Then dengan nada mencoba.
"Soal itu tidak akan mengelabuhi diriku "
Jawab majikan patung emas sambil tertawa dingin.
"Benar "
Kata Ti Then sambil mengangguk.
"Ada seseorang yang bersembunyi di dalam benteng dan setiap waktu setiap saat mengawasi setiap gerak gerikku secara diam2 ..."
"Hmm! kalau kau sudah tahu itulah sangat bagus sekali"
"Kau ingin menakut nakuti diriku ?"
"Bukannya menakuti dirimu "
Sahut majikan patung emas sepatah demi sepatah.
"Aku benar2 bisa berbuat demikian, setiap kali aku melihat kau hendak membocorkan rahasiaku maka aku bisa perintah dia untuk membunuh mati orang itu".
"Kau berlegalah hati. bilamana aku bermaksud hendak memberitahukan urusan ini kepadanya maka sewaktu tadi aku membawa dia kedalam kamar aku bisa memberitahukan hal ini kepadanya, aku tidak akan menanti sampai sekarang".
"Aku sangat tidak ingin membunuh mati sahabatmu yang paling intim maka itu aku memberi peringatan kepadamu, lebih baik kau sedikit berhati-hati".
"Terima kasih atas peringatanmu, aku bisa meng-ingat? urusan dihati". Nada suara dari majikan patung emas kembali berubah jadi amat halus.
"Apakah kau sudah mengambil keputusan untuk tidak memberitahukan kepadaku apakah hubungannya antara dirimu dengan dia orang?".
"Hubunganku dengan dirinya Wie Ci To ayah beranak pun sudah tahu, maka aku bermaksud hendak menceritakan rahasia ini kepadamu". Segera dia menceritakan kisahnya pada dua tahun yang lalu sewaktu dia menjadi Piauw-su diperusahaan Yong An Piauw-kiok lalu bagaimana sewaktu melindungi suatu barang sudah kena dicegat oleh si "Hong Liuw Kiam Khek"
Ih Ping Siauw lalu bagaimana ia dikalahkan dan seterusnya. Selesai mendengar kisahnya itu majikan patung emas lantas tertawa.
"Tidak aneh kalau kau ingin mencari si kakek pemalas Kay Kong Beng untuk mengangkatnya sebagai guru, haaa . , haaa ..kiranya kau ingin belajar ilmu silat kemudian mencari Ih Ping Siauw untuk membalas dendam".
"Sekarang kau sudah tahu rahasia hatiku, tolong tanya bagaimana kau ingin membantu aku untuk menyelesaikan urusan ini?"
Majikan patung emas termenung sebentar, akhirnya dia menjawab.
"Walaupun didalam urusan ini aku bermaksud untuk membantu dirimu tetapi tidak akan aku lakukan secepat mungkin, unsan itu bisa aku kerjakan setelah tujuanku tercapai sukses"
"Menanti setelah tujuanmu tercapai aku bisa pergi mencarinya sendiri, buat apa membutuhkan bantuanmu lagi?"
"Kau seorang diri mau pergi mencari kemana ? bila ada aku yang memberi bantuan ..."
"Semoga saja kau tidak tertarik oleh karena intan permata tersebut "
Potong Ti Then dengan cepat.
"Itulah pikiran dari seorang manusia rendah "
Seru majikan patung emas dengan nada tidak senang.
"Walaupun intan permata itu nilainya ada diatas ratusan laksa tahii tetapi aku tidak akan memandangnya barang sebelah matapun"
Ti Then termenung tidak menjawab. Majikan patung emas segrra menarik kembali patung emasnya keatas.
"Ingat !"
Ujarnya lagi.
"Bilamana kau tidak ingin melihat Yuan Siauw Ko mati dengan sangat mengerikan maka urusanku janganlah kau bocorkan kepadanya."
XXX Hanya didalam sekejap saja enam hari sudah berlalu.
Jarak dengan hari perkawinanpun tinggal sepuluh hari saja !
Hari itu mcndekati lohor sipendekar pedang penembas ulu hati Shia Pek Tha sudah kembali kedalam Benteng.
Setelah menemui Poocu Wie Ci To, sewaktu didengarnya Ti Then lagi main catur dengan Kiem Cong Loojien di kebun dia lantas berjalan menuju kesana.
XxxdwxxX TI THEN yang lagi bermain catur di dalam gardu kebun, sewaktu dilihatnya Shia Pek Tha berjalan mendekat, semangatnya mendadak berkobar.
"Shia heng kau sudah kembali?"
Tanyanya.
"Benar, baru saja pulang "
Ti Then yang melihat adanya Kiem Cong Loojien disana merasa tidak leluasa untuk menanyakan jejak dari Phoa Loo Tek di hadapannya, segera sambil manuding kearah bangku batu dia berseru.
"Shia-heng, silahkan duduk disini."
Shia Pek Tha segera memberi normat kepada Kiem Cong Loojien setelah itu baru duduk disampingnya.
"Bagaimana kesudahan dari permainan semula?"
Tanyanya sembari memperhatikan permainan catur itu.
"Seri ... sudah main dua kali, satu menang satu kalah, sekarang adalah permainan yang ketiga".
"Agaknya didalam permainan kali ini ciangbunjien sudah ada diatas angin". Kiem Cong Loojien segera terlawa ter-bahak2.
"Has .... haa kentutnya yang ada di atas angin! pada permainan yang semula pun loolap selalu memimpin didepan tetapi setelah sampai pada akhirnya selalu saja menemui kegagalan, permainan catur dari Ti Kiauw-tauw ini sangat aneh sekali !". Mendadak Ti Then menggerakkan biji caturnya.
"Biji catur ini harus dihidupkan"
Serunya keras. Dengan rasa tegang Kiem Cong Loojien segera memperhatikan biji catur dari Ti Then tersebut setelah itu berpikir sebentar akhirnya dengan wajah yang amat girang tanyanya.
"Kau sudah pasti ?".
"Pasti!"
Jawab Ti Then mengangguk.
"Kau tidak boleh mengulangi kembali biji caturmu lho!"
"Ciangbunjin kapan melihat aku ber main curang?"
"Bagus sekali, permainan caturmu kali ini sudah mati !"
Sahutnya. Sambii berkata dia menjalankan sebuah biji caturnya. Melihat akan hal itu Ti Then segera menjerit keras.
"Aduh ... celaka ! celaka! kiranya mataku sudah buta."
"Haa ,..sekarang kau sudah kalah aku lihat .."
Ti Then segera membubarkan biji2 catur tersebut.
"Boanpwee mengaku kalah!"
Serunya sambil tertawa pahit. Agaknya Kiem Cong Loojien merasa amat bangga sekali.
"Bagaimana?"
Ujarnya sambii tertawa "Permainan catur dari Loolap tidak jelek bukan?"
"Benar, tidak disangka permainan catur dari ciangbunjien sangat lihay sekali sungguh mengagumkan!"
Berbicara sampai disini dia lantas bangkit berdiri.
"Tetapi boanpwee masih tidak mau mengaku kalah, besok pagi kita teruskan lagi dengan dua kali permainan !".
"Selalu menanti petunjuk darimu"
Jawab Kiem Cong Loojien sambil tertawa.
Dia lantas membereskan catur itu lalu bertiga berjalan keluar dari kebun.
Ti Then serta Shia Pek Tha mengawani Kiem Cong Loojien kembali kedalam kamarnya terlebih dulu setelah itu baru kembaii lagi kedalam kebun, Ti Then yang melihat ditempat itu tidak kelihatan ada orang lain segera tanyanya dengan suara perlahan.
"Bagaimaaa ?"
"Dugaan dari Ti Kiauw-tauw sedikitpun tidak salah, Phoa Loo Tek benar-benar sangat mencurigakan sekali"
Sahut Shia Pek Tha dengan air muka yang berubah amat keren. Mendengar perkataan tersebut Ti Then hanya merasakan hatinya berdebar amat keras, tanyanya dengan cemas.
"Apa yang dikatakan oleh orang tuanya?"
"Dia sama sekali tidak pulang kerumah, orang tuanya bilang Loo Tek sudah ada setahun lamanya tidak pernah puiang!".
"Jika demikian adanya, didalam hal ini tentu ada suatu persoalan yang mencurigakan".
"Dia keluar benteng dengan alasan hendak pulang menemui orang tuanya tetapi dia tidak kembali hal ini jelas sekali menunjukkan kalau ditempat luaran dia sudah melakukan suatu pekerjaan yang tidak genah, urusan ini harus cepat2 dilaporkan kepada Poocu"
Ujar Shia Pek Tha dengan wajah ssrius.
"Tidak bisa jadi!"
Bantah Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Apa yang sudah dilakukan oleh Phoa-heng selama ditempat luaran kita sama sekali tidak tahu, apalagi hari perkawinan dari siauw-te pun sudah dekat, lebih baik didalam waktu seperti ini jangan mengganggu diri Poocu", Agaknya Shia Pek Tha merasa kalau perkataannya ini sedikitpun tidak salah, dia lantas mengangguk.
"Kalau begitu, Ti Kiauw-tauw rasa kita harus berbuat bagaimana baiknya?"
"Besok pagi Siauw-te akan meminjam kesempatan ini untuk keluar dari Benteng; setelah itu Shia-heng pura2 teringat kalau masih ada dua orang kawan yang belum kebagian undangan, maka kirimlah dia serta Yuan Cia untuk membawa undangan itu, sudah tentu kedua buah undangan itu harus mempunyai tujuan yang berbeda, hingga dengan demikian Siauw-te bisa mencegatnya ditengah jalan dan menanyainya dengan se-jelas2nya."
"Ehm ... ini memang suatu cara yang amat bagus sekali ..."
"Coba Shia-heng pikirkan apakah masih ada sahabat yang belum kebagian undangan?"
Shia Pek Tha termenung berpikir sebentar setelah itu baru jawabnya .
"Diatas gunung Cing Shia masih ada seorang To Pit Toojien yang ada perkenalan satu kali jumpa, karena sifatnya yang suka menyendiri dan tidak akur untuk berkumpul dengan orang maka undangan itu tidak dikirim buatnya, tetapi bilamana membagikan undangan ini kepadanya pun boleh juga ..."
"Kalau begitu kirimlah dia pergi!"
"Di kota Tiong Lam didaerah Siok Tiong ada seorang hartawan Cau yang boleh juga dibcri undangkn tetapi kenapa kau ingin menggunakan cara ini"
"Bilamana di dalam waktu yang bersamaan Shia-heng mengirim mereka berdua untuk kirim undangan maka dia orang baru tidak menaruh rasa curiga."
"Baiklah Besok pagi Cayhe akan kirim dia menuju ke gunuug Cing Shia, sedang mengirim Yuan Cia ke kota Ticng Lam.. Bilamana Ti Kiauw tauw ingin menanyakan dirinya maka kau boleh mencegatnya ditengah jalan, biiamana alasan yang dikatakan amat masuk diakal maka lepaskan dia pergi tetapi jikalau alasannya terlalu dibuat-buat maka segeralah membawa dia pulang untuk dihadapkan kepada Poo-cu!"
Setelah mengadakan perundingan beberapa saat lamanya mereka berdua baru berjalan keluar dari kebun itu dan kembali ke dalam kamarnya masing2.
Sekembalinya didalam kamar Ti Tthen segera naik keatas pembaringannya untuk beristirahat, dengan amat tenang dia mulai memikirkan satu peristiwa yang sulit dan berada diluar dugannya.
Hal itu adalah.
Sewaktu besok pagi dia mencegat diri Phoa Loo Tek ditengah perjalanan dan akhirnya membuktikan kalau dia benar2 anak buah dari majikan patung emas, setelah itu dia harus mengambil tindakan apa untuk memberi hukuman kepadanya ?
Sudab tentu dirinya harus memaksa dia untuk mengakui siapakah nama serta asal usul dari majikan patung emas, setelah itu memaksa dirinya pula untuk mengaku siasat apa yang sudah disusun olehnya, tetapi tidak perduli dia mengatakan apa pun akhirnya dia harus mengambil suatu tindakan terhadap dirinya.
Bunuh matia dia orang?
Tentu Tidak!
Bilamana membisakan dirinya dia bisa mengelabuhi diri majikan patung emas, tetapi bagaimana dia harus bertanggung-jawab terhadap Wie Cito serta Shia Pek Tha?
Lepaskan dia pergi?
Hal ini semakin tidak mungkin lagi.
Bilamana majikan patung emas mengetahui kalau dia berhasil menawan "Anak buahnya"nya, mana mungkin dia mau berpeluk tangan.
Persoalan ini terus menerus berkelebat di hatinya, akhirnya saking tidak kuatnya Ti Then mengambil keputusan untuk menentukan sikapnya setelah situasi berada dihadapan mata.
xxxx Hari kedua, dia minta ijin kepada Wie Ci To dengan alasan hendak mencari angin di luar benteng, dengan menunggang kudanya dia lantas meninggalkan benteng Pek Kiam Poo.
Didalam perjalanannya menuju ke kota Go-bie, dia sama sekali tidak berhenti, setelah melewati kota sebelah utara dia melanjutkan kembali perjalanannya sejauh beberapa li dan sampailah di suatu tempat pegunungan yang amat sunyi dengan disampingnya tumbuh lebat pepohonan yang besar.
Setelah turun dari kudanya dan mengikat tunggangannya baik2, dengan amat tenangnya Ti Then duduk disamping hutan untuk menunggu.
Jalan raya ini adalah satu jalan yang harus dilalui bilamana hendak menuju ke gunung Ching Shia, di dalam hati dia memastikan kaiau Phoa Loo Tek pasti akan melewati tempat ini.
Kurang lebih setelah menunggu satu jam lamanya, akhirnya terdengarlah olehnya suara derapan kuda yang amat ramai bergema mendatang.
Dengan gesitnya Ti Then meloncat bangun dan berdiri di samping hutan, ketika menengok kearah sebelah depan terlihatlah dari arah kota Go-bie berlarilah mendatang seekor kuda dengan amat cepatnya.
Dalam hati dia lantas menduga kalau orang itu pastilah Phoa Loo Tek adanya, karena itu sengaja dia duduk disamping jalan pura2 lagi beristirahat Hanya didalam sekejap saja kuda itu sudah berada dekat dengan dirinya.
Tetapi ketika dia dapat melihat si penunggang kuda itu, seketika itu juga dia orang dibuat tertegun.
Kiranya orang yang ada di atas kuda itu bukan Phoa Loo Tek, melainkan seorang pendekar pedang merah yang lain dari benteng Pek Kiam Poo.
Pendekar pedang merah itu bernama Tong Ceng Boe dan merupakan salah seorang pendekar pedang merah yang pernah menerima petunjuk ilmu silat dari diri Ti Then.
Bukankah terang2an orang yang di kirim untuk membagi undangan itu adalah Phoa Loo Tek, bagaimana secara tiba2 orang bisa berganti dengan Tong Ceng Boe?
Untuk beberapa saat lamanya Ti Then dibuat kebingungan.
Tong Ceng Boe yang melihat Ti Then ada di samping jalan, air mukanya pun kelihatan sedikit berubah, dengan gugup dia lantas menahan tali les kudanya dan meloncat turun ke atas tanah.
-oo0dw0oo-
Jilid 37 . Pengakuan Ti Then kepada Yuan Siauw Ko "Ti Kiauwtauw, kau ada urusan apa datang kemari ?"
Tanyanya sambil merangkap tangannya memberi hormat.
"Aku keluar lagi cari angin"
Sahut Ti Then sambil bangkit berdiri.
"Baru saja beristirahat ditempat ini, Tong-heng hendak pergi kemana ?".
"Cayhe mendapat perintah dari Shia Toako untuk kirim satu undangan ke gunung Cing Shia" 'Bukankah undangan sudah habis dibagi?" 'Benar ! cuma secara tiba2 Shia Toa-ko sudah teringat dua orang yang belum mendapat undangan, karenanya lantas perintah cayhe serta Yuan Cia untuk mengirimnya."
"Mau diberikan buat siapa undangan itu?"
Tanya Ti Then lagi.
"To Pit Toojien !"
"Lalu bagaimana bisa kirim kau orang?"
"Sebetulnya Shia Toa-ko memerintahkan Phoa Loo Tek yang kirim surat undangan ini, siapa tahu mendadak Phoa Loo Tek sakit perut sehingga terpaksa harus diganti cayhe !"
Saat itulah Ti Then baru paham kembali sebab2nya, tidak terasa lagi diam2 lantas berpikir.
"Hmm! bajingan itu sungguh licik sekali, apakah dia sudah mengetahui siasatku ini sehingga sengaja ber-pura2 sakit perut?"
Setelah berpikir sampai disitu tidak terasa lagi dia lantas bertanya.
"Bagaimana mendadak perutnya bisa sakit?"
"Siapa yang tahu"
Ujar Tong Ceng Boe sambil tertawa.
"Ada kemuagkinan sudah salah makan "
Dengan perlahan Ti Then mengangguk.
"Baiklah kau boleh pergi !"
Ujarnya kemudian.
Tong Ceng Boe lantas merangkap tangannya memberi hormat, naik keatas kuda tunggangannya dan berlalu dari situ.
Ti Then sendiripun sambil menuntun keluar kuda Ang Shan Khek-nya bsrangkat kembali kedalam Benteng.
Perubahan yang terjadi secara tiba2 ini benar2 berada diluar dugaannya, tetapi dia memahami mengapa Shia Pek Tha ganti mengirim Tong Ceng Boe untuk kirim surat undangan itu, bilamana dia sendiri yang menghadapi peristiwa ini diapun akan berbuat demikian, yang penting jangan sampai karena sakitnya perut Phoa Loo Tek surat undangan itu tidak jadi dikirim sehingga menimbulkan kecurigaan dari Phoa Loo Tek.
Pcrsoalannya sekarang, kenapa Phoa Loo Tek pura2 sakit perut?
apa dia sudah menduga kalau dirinya bisa menunggu dia ditengah jalan dan hendak membongkar rahasianya sehingga tidak berani kwluar?
atau mungkin sebabnya dia sakit perut karena hanya ingin menghindari tugas yang diberikan?
Bilamana soal ini termasuk hal yang di belakang hal itu masih tidak mengapa, tetapi bilamana termasuk yang ada didepan maka urusan ini rada tidak beres.
Bilamana dia tidak membongkar urusan ini sampai terang, dia pasti akan laporkan urusan ini kepada majikan patung emas, dengan demikian , ..Berpikir sampai disini Ti Then segera merasakan hatinya gelisah dia mempercepat larinya kuda untuk cepat2 tiba di-dalam Benteng Pek Kiam Poo.
Satu jam kemudian dia sudah tiba kembali di Benteng Pek Kiam Poo.
Sewaktu dilihatnya didepan Benteng masih kelihatan adanya pendekar pedang hitam yang lagi ber-jaga2, hatinya merasa rada lega, dia tahu didalam Benteng tidak terjadi urusan, Dengan psrlahan dia orang mengambil keluar sapu tangaanya dan mulai menyeka kering keringat yang mengucur keluar setelah itu baru menjalankan kudanya masuk ke dalam Benteng, dia tidak ingin semua orang melihat kalau dia kedalam Benteng dalam keadaan terburu-buru.
Kuda Ang Shan Khek-nya dimasukkan dulu kedalam istal setelah itu dia baru pargi menjenguk Wie Ci To dalam kamarnya.
Waktu itulah dia melihat Shia Pek Tha berjalan menuju kearahnya, dia lantas berdiri tidak bergerak.
"Shia-heng !"
Ujarnya sambil tertawa.
"Sudah lama kuda Ang Shan Khek itu melakukan perjalan jauh, ini hari Siauw-te membawanya jalan2 larinya sungguh bersemangat sekali!"
Shia Pek Tha tertawa dan maju lebih dekat lagi dengan Ti Then, setelah dirasanya disekeliling tempat itu tidak ada orang dia baru berbisik .
"Ti Kiauw-tauw kau sudah bertemu muka dengan Tong Ceng Boe ?". Dengan perlahan Ti Then mengangguk.
"Hmmm! Bangsat cilik itu sungguh licik sekali"
Dengus Shia Pek Tha dengan sengit.
"Sewaktu aku kirim dia ber-sama2 Yuan Cia untuk kirim undangan dia menyahut dengan senang hati, tetapi sewaktu kembali ke dalam kamar untuk mangadakan persiapan mendadak dia berjongkok diatas tanah dan teriak2 katanya sakit perut, oleh karena pada waktu itu banyak saudara-saudara yang ada disana aku tidak punya akal lain kecuali memerintahkan Tong Ceng Boe untuk menggantikannya. Hmm... ! Aku lihat sakitnya perut tentu pura-pura belaka".
"Tidak salah, memang pura2 belaka!"
"Tetapi dia sama sekali tidak tahu Ti Kiauw-ta"w lagi menanti dirinya ditengah jalan, kenapa dia harus pura2 sakit perut ?".
"Soal ini Siauw-te sendiripun tidak paham"
Seru Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Apa mungkin dia mempunyai berbagai macam alasan yang mengharuskan dia untuk tetap tinggal didalam Benteng ?". Sekali lagi Ti Then gelengkan kepalanya.
"Dia sekarang ada diraana ?"
Tanyanya kemudian.
"Sekarang dia lagi berbaring didalam kamarnya."
"Apakah Shia-heng melaporkan urusan ini kepada Poocu ?".
"Benar!"
Sahut Shia Pek Tha mengangguk.
"Cuma aku tidak melaporkan kecurigaan dari Ti Kiauw-tauw ini, aku cuma bilang secara mendadak sudah teringat kalau To Pit Toojien serta hartawan Cau belum mendapat undangan maka sengaja kirim Phoa serta Yuan dua orang untuk menyampaikannya, siapa tahu tiba2 Phoa Loo Tek sakit perut lalu ganti mengirim Tong Ceng Boe untuk melaksanakan tugas ini!". Diam2 Ti Then menghembuskan napas lega.
"Bagus ..bagus sekali !"
Serunya dengan girang.
"Untuk sementara waktu kita jangan laporkan dulu urusan ini kepada Poocu".
"Tetapi kita harus memikirkan yang buruk2 bilamana secara diam2 bangsat cilik itu mengadakan hubungannya dengan orang luar dan bersiap-siap hendak berbuat suatu urusan yang tidak menguntungkan benteng kami bukankah urusan akan jadi semakin berat? Karena menurut cayhe lebih baik kita laporkan saja kepada Wie Poocu."
"Tidak!"
Potong Ti Then dengan cepat.
"Urusan ini jangan sekali-kali dilaporkan dulu kepada Poocu!"
"Kenapa?"
Tanya Shia Pek Tha tidak paham.
"Seperti perkataan yang terdahulu, hari perkawinan siauw-te sudah hampir tiba sehingga kita menimbulkan banyak urusan sehingga membuat poocu jadi tidak senang hati apalagi bilamana kejelekan rumah tangga sendiri sampai tersiar di tempat luarpun tidak ada baiknya kini Ciangbunjin dari Kun-lun pay serta Tiang-pek pay juga Yuan Loocianpwee masih ada di dalam Benteng, bilamana sampai terjadi sesuatu bukankah hanya mendatangkan tertawaan dari orang2 Bu-lim saja? Maka itu menurut pendapat siauw-te lebih baik untuk sementara waktu kita jangan bergerak dulu tapi secara diam2 memperhatikan terus seluruh gerak-geriknya, menanti setelah perkawinan siauw-te lewat dan semua tetamu pada bubaran kita baru periksa dirinya lagi."
Shia Pek Tha berpikir sebentar dan akhirnya mengangguk.
"Demikianpun baik juga ...,"
Sahutnya.
"Sekarang siauw-te mau pergi menemui Poocu serta Yuan locianpwee sekalian, kita berbicara kembali dikemudian hari."
Dia lantas berjalan masuk kekamar baca Wie Ci To.
Waktu itu Wie Ci To serta Kiem Cong Loojien lagi main catur, sedang si tangan sakti Yuan Siauw Ko lagi duduk disamping menonton jalannya pertempuran tersebut, dia lantas maju kedepan dan memberi hormat kepada mereka semua.
Kiem Cong Loojien memandang sekejap kearahnya, lalu tanyanya sambil tertawa.
"Ti Kiauw-tauw, pagi ini kau sudah pergi kemana ?"
"Achh ... naik kuda putar2 sebentar digunung, boanpwee mempunyai seekor kuda jempolan yang suka bergerak sedang pada waktu mendekat ini jarang sekali menungganginya, sewaktu boanpwee melihat kuda itu me-ringkik2 tiada hentinya maka sengaja membawa dia untuk lari berputar2 sebentar."
"Ooooh..."
Seru Kiem Cong Loojien setelah itu dia menundukkan kepalanya berpikir kembali.
Biji catur yang dipegang olehnya adalah hitam dan saat ini ada dua buah yang digencet mati oleh Wie Ci To tetapi dia tidak mau mengaku kalah juga, dia masih dengan susah payah meronta.
"Apakah Wie Poocu juga mengalah buat dirimu"
"Mengalah tiga biji, sejak permulaan Loolap sudah menang diatas angin, siapa tahu sedikit kurang hati2 sudah kena digencet mati dua biji...coba kau lihat payah tidak?"
"Omong terus terang saja, dengan kekuatan permainan dari ciangbunjien seharusnya aku orang she Wie mengalah empat biji catur"
Ujar Wie Ci To tertawa.
"Lalu kau mengalah berapa biji kalau main dengan menantumu?"
"Tiga biji!"
"Bagaimana kesudahannya?"
Tanya Kiem Cong Loojien lagi.
"Lumayan."' "Kalau bagitu bagus sekali, kemarin sewaktu loolap main catur tiga kali dengan dia loolap berhasil menangkan dua kali kalah sekali, dengan mengikuti patokan ini maka bilamana Wie Poocu kalah empat biji catur buat loolap ada kemungkinan biji-biji caturmu baka1 habis aku makan."
"Haa ...haa, tetapi dalam permainan kali ini ciangbunjien sudah kalah amat banyak sekali!"
Ujar Wie Ci To sambil tertawa ter-bahak2.
"Soal itu kan disebabkan Loolap terlalu berlaku gegabah, kalau kau tidak percaya mari kita main satu kali lagi!"
Sehabis berkata dia lantas mengacaukan biji2 catur dan siap untuk sekali lagi main catur dari depan. Wie Ci To lantas tersenyum.
"Sudah hampir makan, mari kita bersantap dulu baru main lagi."
Ajaknya. Selesai bersantap siang Kiem Cong Loojien kembali mengajak Wie Ci To untuk main catur lagi, Wie Ci To merasa tidak enak untuk menolak lalu kepada Yuan Siauw Ko ujarnya sambil tertawa.
"Yuan-heng, bilamana merasa menganggur bagaimana kalau main satu dua babak dengan Ti Then?"
"Tidak! Loohu sudah lama mendengar keindahan alam dari gunung Go bie, sore ini aku punya rencana untuk bsrpesiar kesana!"
"Kalau begitu suruh Ti Then mengawani!"
Seru Wie Ci To. Setelah itu dia menoleh kearah Ti Then dan ujarnya lagi "Ti Kiauw-tauw, kau temanilah Looianpwee untuk berpesiar!"
"Baik!"
Sahut Ti Then dengan hormat.
Sekembalinya kedalam kamar dia lantas berganti pakaian.
Loo Cia itu pelayan tua yang membawa air teh tampak berjalan masuk kedalam kamar sewaktu dilihatnya pemuda itu ada dikamar dia lantas bsrkata.
"Ti Kiauw-tauw, pagi ini nona memerintahkan Cun Lan untuk mengundang kau pergi kesana, lalu budak tuamu jawab kau tidak ada ..."
"Ada urusan apa ?"
Potong Ti Then dengan cepat.
"Budakmu tidak tahu, ada kemungkinan dia merasa rindu mungkin !"
"Omong kosong !"
"Ti Kiauw-tauw, kau pergi kemana toch tadi pagi ?"
Tanya Loo-cia lagi sambil meletakkan air teh keatas meja.
"Mencari angin diatas gunung". Si Loo-cia lantas garuk2 kepalanya.
"Aku belum pernah mendengar orang bilang kalau seorang calon pengantin mendadak mencari angin keatas gunung, apa mungkin Kiauw-tauw ada urusan dihatimu ?"
"Justru karena hendak jadi pengantin pikiranku jadi kacau!".
"Lhoo sungguh lucu, mau jadi penganten hatinya kok jadi kacau?"
"Kau sudah pernah jadi penganten?"
"Belum!"
Jawab Loo-cia sambil gelengkan kepalanya.
"Kalau begitu lain kali bilamana kau punya kesempatan untuk jadi penganten hatimu akan paham bagaimana kacaunya pikiran pada waktu itu".
"Ach . , . Ti Kiauw-tauw lagi guyon nih!"
Ujar Loo-cia sambil tertawa malu-malu.
"Dengan usia budakmu yang lanjut mana mungkin bisa memperoleh kesempatan untuk jadi penganten".
"Siapa yang bilang tidak boleh? sekali pun sudah berusia delapan puluh tahun pun masih boleh jadi penganten, apalagi tahun ini kau baru berusia tujuh puluh tahunan."
Berbicara sampai disini pakaian yang dipakai sudah beres sehingga dia lantas berjalan menuju keluar kamar.
"Ti Kiauw-tauw kau hendak pergi kemana lagi?"
Tanya Loo-cia dengan cepat.
"Yuan Loocianpwee ingin berpesiar ke gunung Go-bie, lalu Poocu perintah aku untuk mengawaninya".
"Nona sana, apakah Ti Kiauw-tauw tidak pergi ?"
"Nanti saja sekembalinya dari gunung". Sewaktu dia tiba di kamar Yuan Siauw Ko saat itu si orang tua sudah menanti disana. Demikianlah mereka berdua lantas bersama-sama berjalan keluar dari Benteng dan menuju ke gunung Go-bie. Baru saja berjalan beberapa ratus langkah mendadak Ti Then berhenti bergerak, sambil menoleh memandang jalan yang semula dia bertanya.
"Yuan Loocianpwee, kau bermaksud untuk berpesiar kemana dulu ?"
Maksudnya berhenti dia menoleh ke belakang sudah tentu sedang memeriksa apakah ada crang yang menguntit atau tidak.
"Sembarang saja!"
Jawab Yuan Siauw Ko sambil tersenyum.
"Tempat mana yang indah kita pergi saja kesana untuk melihat-lihat ".
"Pemandangan indah digunung Ga-bie amat banyak sekali, kalau cuma saharian saja tidak mungkin bisa melihat hingga selesai.."
"Kalau begitu kita berpesiar saja ke tempat-tempat yang dekat, ada kesempatan di kemudian hari kita jalan2 lagi ke tempat lain.."
"Pemandangan indah yang ada di dekat tempat ini ada Wang Siang Thay serta Kiu Loo Tong."
Mendadak Yuan Siauw Ko menemukan pemuda itu sedang memperhatikan jalan raya semula. Tidak terasa hatinya rada menaruh curiga.
"Kau lagi melihat apa?"
Tanyanya.
"Ach..tidak mengapa!"
Jawab Ti Then sambil menoleh dan melanjutkan kembali perjalanannya ke depan.
Tetapi baru saja berjalan beberapa langkah mendadak dia menghentikan langkahnya kembali.
Karena didalam sekejap mata itulah secara mendadak dia sudah teringat akan satu persoalan, terpikir olehnya bilamana dia menggunakan kesempatan ini untuk memberitahukan rahasia tentang dirinya yang diperintahkan majikan patung emas kepada Yuan Siauw Ko, sekali pun misalnya majikan patung emas mengetahuinya agaknya dia orang tidak bakal berani turun tangan membunuh Yuan Siauw Ko.
Alasannya .
bilamana dia turun tangan membunuh Yuan Siauw Ko maka Wie Ci To akan mengadakan penyelidikan dengan jelas, dengan demikian ada kemungkinan bisa mengakibatkan perkawinan dirinya dengan Wie Lian In mendapat gangguan, hal ini pasti bukan satu persoalan yang diingini oleh majikan patung emas.
Atau dengan perkataan lain, hari perkawinan antara dirinya dengan Wie Lian In sudah dekat sedang siasat yang disusun olehnya pun sudah hampir jadi kenyataan, di saat seperti ini dia tidak akan berani membunuh orang untuk mencari kerepotan buat dirinya sendiri.
Ti Then yang teringat akan hal ini hatinya mulai terasa tergetar amat keras, sehingga tanpa terasa lagi dia sudah menghentikan tindakannya.
Yuan Siauw Ko yang melihat sikapnya amat aneh tidak terasa dalam hati merasa semangkin tercengang.
"Eeei kau kenapa ?"
Tanyanya. Ti Then menoleh kembali sekejap ke belakang, setelah dirasanya tidak ada orang yang menguntit dia baru kirim suara dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara;
"Tadi Yuan Loocianpwee menanyai boanpwee lagi melihat apa, sekarang akan boanpwae jawab yang sebenarnya ... boanpwee lagi memeriksa apakah ada orang yang menguntit atau tidak."
Mendengar perkataan tersebut Yuan Siauw Ko jadi melengak.
Tetapi dia yang selama hidupnya bekerja sebagai seorang Piauwsu otaknya amat tajam sekali, dia tahu Ti Then yang menjawab pertanyaannya dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara sudah tentu sedang menjaga jangan sampai terjadi satu peristiwa yang tidak terduga.
Karena itu setelah melengak beberapa saat lamanya dia melanjutkan kembali perjalanannya kedepan, sembari pura2* menikmati keindahan alam dia menggerakkan bibirnya juga untuk mengirim suara.
"Sebenarnya sudah terjadi urusan apa ?"
Ti Then yang mengikuti dari samping badannya sambil bergendong tangan lantas menjawab.
"Dengan meminjam kesempatan ini hari boanpwee akan membuka satu rahasia yang amat mengerikan sekali, setelah Loocianpwee mendengar kisah ini lebih baik jangan sekali-kali memperlihatkan rasa kaget atau tercengang, sikapnya harus seperti biasa saja. Bersama pula sewaktu bercakap-cakap dengan boanpwee diluarnya pun harus bercerita yang lain2 sehingga tidak sampai menaruh rasa curiga dari orang yang mengawasi aku secara diam-diam"
"Baiklah, kau boleh mulai bercerita."
Selesai menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara dia lantas berkata lagi dengan suara yang nyaring.
"Heeei ... pemandangan di gunung Go-bie sungguh indah sekali, setiap gunung setiap batu setiap tempat dan setiap kayu mempunyai keindahan yang tersendiri."
"Benar"
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Pemandangan yang indah digunung ini boanpwee sudah berkali-kali melihatnya, tetapi dalam hati aku merasa tiada bosan-bosannya, setiap kali melihat pemandangan itu hatiku serasa jadi amat tentram."
Berbicara sampai disini dia segera berganti dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara .
"Urusan akan boanpwee ceritakan sejak boanpwee meninggalkan perusahaan Yong An Piauw-kiok, tentunya loocianpwee masih ingat bukan apa yang boanpwee ucapkan sebelum meninggalkan Piauw-kiok ?"
Sembari memandang keindahan alam Yuan Siauw Ko lantas menyahut.
"Ingat, kau pernah bersumpah hendak mencari kembali barang2 yang dirampas itu dengan sekuat tenaga, sebelum berhasii tidak akan kembali"
"Benar, sehingga boanpwee secara tiba2 saja teringat akan sesuatu urusan, teringat akan kepandaian ilmu pedang dari Hong Liuw Kiam Khek yang jauh lebih tinggi dari boanpwee mengharuskan aku untuk lebih giat berlatih ilmu silat sehingga setelah bertemu kembali dengan Ih Peng Siauw dapat mengalahkan juga dirinya dan rebut kembali barang pusaka yang sudah dirampas itu."
Yuan Siauw Ko tidak segera menyahut mendadak dia menuding kearah sebuah kuil yang ada di punggung gunung.
"Eeei itu kuil apa ?"
Tanyanya.
"Oooh ,, . kuil Ci Im Tan Yuan, didalamnya tiada yang bisa dilihat, lebih baik kita menuju ke Wang Siang Thay saja,"
Ujar Ti Then. Sehabis berkata dia melanjutkan kembali parjalanannya kedepan, disamping itu dia mengirim suara terus dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara.
"Demikianlah akhirnya boanpwee pergi mencari seorang guru kenamaaan untuk belajar silat, pertama-tama boanpwee pergi ke gunung Kiem Teng san untuk mencari si kakek pemalas Kay Kong Beng, dia adalah satu-satuna jagoan terlihay di kolong langit pada saat ini, bilamana aku bisa diterima sebagai muridnya maka untuk mengalahkan Ih Peng Siauw bukanlah satu persoalan yang sukar lagi.."
Dengan amat jelasnya dia lantas menceritakan bagaimana dia ditolak oleh si kakek pemalas Kay Kong Beng dan lain-lainnya, akhirnya dia menambah lagi.
"Boanpwee yang melibat dia duduk tidak bergerak sama sekali terpaksa terpaksa turun gunung, pada saat itulah mendadak dibawah gunung diatas sebuah batu besar sudah menemui sepucuk surat, sewaktu boanpwee mendekatinya terlihatlah diatas sampul itu ditulikan kata2. Baca didaiamnya, agaknya surat itu sengaja diberikan kepada Boanpwee, karenanya boanpwee lantas mengambil dan membaca isi suratnya tetapi pada saat itu pula dibalik batu yang menutupi sampul surat tadi tampak ssbuah tanda telapak tangan yang membekas ssngat dalam sekali di atas batu yang amat keras itu, dalamnya kurang lebih ada tiga coen."
"Hmmm.. sungguh dahsyat tenaga pukulannya"
Puji Yuan Siauw Ko dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara.
"Apa dia sengaja meninggalkan bekas pukulan itu untuk kau lihat ?"
"Benar, dia 1agi mempamerkan ilmu saktinya yang mengejutkan, waktu itu boannpeee benar2 dibuat tercengang dan kaget oleh kedahsyatannya itu karena boanpwae selamanya belum pernah mendengar ada orang yang berhasil mempelajari ilmunya sehingga mencapai taraf yang begitu tingginya."
"Lalu yang ditulis didalam surat itu ?"
"Cuma ada dua puluh kata saja. Bilamana ingin belajar ilmu silat yang mengejutkan pergilah ke puncak gunung Gouw Ong Hoog digunung Pek Gouw San kurang lebih tiga ratus li sebelah Barat dari tempat ini"
"Ada tanda tangannya?"
"Tidak ada."
"Bagus, teruskan."
Mendadak Ti Then menuding kearah depan.
"Coba lihat,"
Serunya.
"Itulah yang dinamakan Wang Siang Thay!"
Yuan Siauw Ko ter-buru2 angkat kepalanya.
"Ehhmm ....tempat itu kenapa yaa disebut sebagai Waan Siang Thay..?"
"Boaapwee tidak tahu, tetapi menurut orang2 yang sering berpesiar disini setiap kali mereka sampai di Wang Siang Thay lantas teringat kembali oleh mereka akan desanya"
"Benar"
Ti Then melanjutkan kembali kata-katanya dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara.
"Walaupun boanpwee tidak tahu maksud hati dari orang yang mengirim surat itu tetapi dalam hati lantas mengambil keputusan untuk melihatnya sehingga jelas, pada hari ketiga siang boanpwee sampai juga di atas puncak Gouw Ong Hong di gunung Pek Gouw san, tetapi disana tidak kelihatan ada seorang manusia pun, setelah mencari setengah harian lamanya akhirnya diatas batu gunung kembali menemui secarik kertas putih yang diatasnya tertulis kata-kata.
"Berjalanlah kearah Barat daya dua ratus li dibawah pohon siong tua diatas gunung Mao Gouw san"
Beberapa kata , ."
"Ehmm ...sebenarnya orang itu lagi main apa toh ?"
"Sedang mengetes apakah boanpwee punya guru atau tidak."
"Oooh , , , kiranya begitu."
Demikianlah dengan mengikuti petunjuknya boanpwee berangkat menuju ke gunung Mao Gouw san dan mendapatkan pohon siong tersebut, tetapi disanapun tidak kelihatan ada seorang manusiapun kecuali secarik kertas yang bertuliskan, Berjalan dua ratus li ke sebelab Selatan, didalam gua Sak Touw Tong digunung Sak Touw San, beberapa kata."
"Kelihatannya dia benar-benar sedang mencoba keteguhan hati serta semangatmu untuk berguru"
"Benar, tetapi tidak sampai disitu saja, sesampainya didalam gua Sak Tauw Tong digunung Sak Tauw san boanpwee mendapatkan secarik kertas kembali agar boanpwee suka pergi ke puncak Cian Hong digunung Koan Mau san dua ratus li dari tempat itu, setelah tiba di puncak Cian Hong dia kembali memerintahkan boanpwee untuk pergi kegua Ho Lu Tong di gunung Loo Coen san dua ratus li jauhnya dari temoat puncak Cian Hong itu, akhirnya seluruh perjalanan sewaktu boanpwee jumlah ada seribu li lebih."
"Apakah dia orang ada didalam gua cupu-cupu digunung Loo Coen san itu?"
"Loocianpwe, coba kau lihat bagaimana pemandangan dari Wang Siang Thay ini?"
"Sungguh luar biasa dari tempat kejauhan cuma kelihatan tebing-tebing gunung yang terjal, kelihatannya sungguh luar biasa sekali, agaknya tadi kita naik dari sana bukan ?"
"Benar, itulah tebing Sian Ciang dan bawahnya adalah benteng Pek Kiam Poo."
"Ehmm..."
"Benar, orang itu ada didalam cupu2 di gunung Loo Coen san, tetapi boanpwee sama sekali tidak pernah menemui orangnya kecua1i suaranya saja hal ini dikarenakan dia bersembunyi di balik sebuah batu diatas dinding gua dan tidak ingin bertemu muka dengan boanpwee"
"Sebabnya ?"
"Dia tidak ingin terima boanpwee sebagai muridnya, dia cuma ingin memberi pelajaran ilmu silat kepadaku dan syaratnya adalah menjadi patung emasnya selama satu tahun untuk mengerjakan seluruh pekerjaan yang diperintahkan olehnya.."
"Aahh.."
"Setelah lewat tempat ini maka kita akan tiba dikuil Thian Hong Tan Yan. Kuil Sian Hong si yang bernama pula Kiu Lo Tong, didalam kuil itu amat indah sekali, mari kita pergi kesana"
"Baik"
Tua muda dua orang lantas berangkat menuju ke Wan siang Thay dengan melalui sebuah jalan usus kambing yang kecil.
Yuan Siauw Ko yang sedang mendengar kisah dari Ti Then dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara sikapnya selalu tenang-tenang saja, tetapi setelah mendengar kalau pihak lawan meminta Ti hen untuk menjadi patung emasnya selama setahun pada air mukanya tidak kuasa lagi sudah menunjukkan rasa kagetnya yang tak terhingga.
"Orang itu laki atau perempuan ?"
Tanyanya.
"Jika didengar dari suaranya jelas dia adalah seorang lelaki, usianya ada diatas enam puluh tahunan"
"Apa tujuaannya memaksa kau untuk menjadi patung emasnya ?"
"Dia tidak menjawab, dia cuma minta boanpwee belajar ilmu silat yang sakti lalu menyerahkan satu tugas buat boanpwee"
"Kau menyanggupinya?"
"Semula boanpwee menolak karena menurut maksud hatinya lain kali bilamana dia perintahkan boanpwee untuk berbuat apa maka aku harus melaksanakannya" , .."Benar, bilamana dia suruh kau bunuh orang maka kau harus membunuhnya, urusan ini tidak boleh jadi."
"Tetapi akhirnya boanpwee mengabulkan juga"
"Aaach .."
"Loocianpwee coba kau lihat itulah puncak Ban Hud Cing, jaraknya dari sini kelihatannya jelas padahal bila berjalan kaki harus membutuhkan satu jam perjalanan."
Agakanya saat ini Yuan Siauw Ko sudah tidak bermaksud untuk melihat pemandangan lagi,setelab menyahut dia lantas kirim suara lagi dengan menggunakan ilmua untuk menyampaikan suara.
"Kau sungguh amat tolol, bilamana dia perintahkan kau untuk membunuh orang apa kaupun harus pergi membunuh orang ?"
Dengan pandangan yang sayu Ti Then memandang ke tempat kejauhan.
"Aku berani menjamin aku tidak akan pergi membunuh orang, sekalipun misalnya dia paksa boanpwee juga tidak akan melakukannya."
"Sekalipun tidak bunuh orang, diapun sama saja bisa memerintahkan dirimu untuk melakukan pekerjaan yang merugikan banyak orang."
"Benar, tetapi dia pernah bilang misalnya boanpwee merasa pekerjaan itu tidak benar maka aku boleh menggunakan cara yang benar untuk menyelesaikan pekejaan itu misalnya saja bilamana dia ingin seekor ayam maka boanpwee harus memberi seekor ayam kepadanya, sedang mengenai ayam itu didapatkan dari mencuri atau membeli dia tidak akan ikut campur."
"Sungguh aneh sekali, akhirnya bagaimana?"
Tua muda dua orang itu sembari menggunakan ilmu menyampaikan suara untuk bercakap-cakap merekapun bercerita tentang keindahan alam sehingga sewaktu tiba digua Kiu Loo Tong, Ti Then baru selesai menceritakan seluruh kisahnya.
Air muka Yuan Siauw Ko berubah jadi amat terharu, makinya berulang kali.
"Sungguh bodoh! Sungguh bodoh! Wie Poocu adalah seorang jagoan yang punya hati jujur dan adil, bagaimana kau boleh melakukan pekerjaan yang sama sekali menyalahi mereka ayah beranak?"
Ti Then bungkam tidak menjawab, dia berjalan masuk terlebih dulu ke dalam gua Kiu Loo Tong itu.
Gua Kiu Loo Tong ini dibagi menjadi gua sebelah dalam dan gua sebelah luar sedang luar gua itu amat lebar laksana pintu kota.
Gua sebelah luar sudah ditumbuhi rotan dengan amat rapatnya, disebelah kiri kanannya terdapat dua buah pintu yang masing-masing jaraknya ada beberapa kaki jauhnya, jika dipandang dari luar gua kelihatannya amat dalam sekali sehingga tak kelihatan dasarnya, di belakang dinding gua sebelah luar terdapat kembali sebuah gua kecil, keadaan di sana pun gelap gulita, berpuluh-puluh ekor burung walet terbang kian kemari dengan tiada hentinya.
Setelah menuruni tangga batu sampailah di sebuah ruang yang tanahnya datar dan dipenuhi dengan batu-batu cadas, di paling belakang terdapat sebuah ruangan yang diatas meja sembahyang masih kelihatan sinar lilin berkedip-kedip, tempat itu biasanya digunakan untuk sembahyang oleh pengunjung-pengunjung yang datang berpesiar kesana.
Saat ini didalam gua itu tidak tampak adanya kaum pelancong yang datang.
Ti Then dengan bungkam diri berlutut di dalam meja sembahyangan itu, sambil melelehkan air mata diam-diam dia bersembahyang.
Setiap manusia sesudah berada di dalam keadaan kepepet saat itu teringat olehnya untuk minta bantuan dengan Dewa, demikian juga dengan diri Ti Then.
Lama sekali Yuan Siauw Ko berdiam diri tidak berkata, kemudian...
"Sekarang kau bermaksud untuk berbuat apa?"
Tanyanya kemudian.
"Boanpwee sendiri juga tidak tahu bagaimana harus berbuat sesuatu"
"Bilamana kau suka percaya atas perkataan loohu maka segera pergilah temui Wie Poocu dan ceritakan seluruh kejadian ini kepadanya."
"Tidak bisa jadi!"
Seru Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Dia sudah peringatkan kepada boanpwee untuk jangan membocorkan rahasia ini kepada orang lain, kalau tidak maka dia akan turun tangan membunuh mati Wie Ci To ayah beranak"
"Loohu tidak percaya kalau dia bisa membunuh mati Wie Poocu"
"Tidak, dia pasti bisa melakukannya, boanpwee yang cuma belajar ilmu silat selama setengah tahun saja sudah berhasil memperoleh kepandaian melebihi kepandaian Wie Ci To, bilamana dia ingin turun tangan membinasakan diri Wie Ci To hal itu adalah satu pekerjaan yang amat gampang sekali baginya."
"Dia sudah bersembunyi selama tujuh delapan bulan lamany di dalam Benteng Pek Kiam Poo, adakah kau secara diam-diam tidak berhasil mencari tahu dirinya?" 000O000
"BENAR, boanpwce secara diam-diam sudah memeriksa seluruh orang yang ada didalam Benteng, tetapi selama ini tidak berhasil juga untuk menemukan dirinya"
"Setiap kali dia bercakap cakap dengan dirimu apakah selalu saja menurunkan patung emasnya dari atas genting ?"
"Tidak salah."
"Lalu di samping kiri kananmu adakah orang yang mendiaminya."
"Cuma seorang pelayan tua si Loo Cia, Cia Tiang San seorang."
"Apa mungkin Cia Tiang San itulah si majikan patung emas?"
"Seharusnya tidak mungkin, Loocia sudah ikuti Wie Ci To selama empat puluh tahun lamanya bahkan secara diam-diam boanpwee sudah ada dua kali menjajal dirinya dan aku temukan walaupun badannya amat sehat tapi tidak mengerti ilmu silat."
"Kalau begitu cuma ada satu cara saja yang bisa digunakan untuk mencarinya."
"Cara apa?"
"Malam ini kau kirim tanda untuk ajak bertamu, loohu akan secara diam-diam-diam menanti di dekat kamarmu, dengan begitu bilamana dia muncul diatas kamarmu loohu akan segera mengenali siapakah dia sebenarnya"
"Tapi cara ini kurang baik"
"Apa maksudmu?"
"Saat ini dia gelap aku terang, kitapun tidak tahu siapakah dia orang, karena itu bilamana loocianpwee naik keatas atap ada kemungkinan bisa ditemui olehnya, waktu itu keadaan buat loocianpwee bisa sangat berbahaya , . ."
"Loohu bisa berjaga2 dengan sangat ber-hati2, bilamana menemukan hal-hal yang tidak beres ssgera akan menyingkir, aku percaya dia tidak akan bisa mengapa-apakan diri loohu".
"Dia pernah berulang kali memberi tahu padaku, bilamana dia merasa ada orang yang ikut mengetahui rahasianya itu maka dia akan turun tangan membunuh orang itu dengan gerakan cepat, maka itu cuma mengetahui siapakah dia orang percuma saja, kita harus sekalian tangkap dirinya."
"Kalau begitu diam2 biar aku laporkan urusan ini kepada Wie Poocu agar dia suka mengadakan persiapan, sampai waktunya kita bisa bersama-sama turun tangan mengerubut, waktu itu sekalipun dia memiliki tiga kepala enam tangan jangan harap bisa meloloskan diri"
"Locianpwee karena tidak mengenal ilmu silat yang dimiliki sebenarnya ada ada seberapa tinggi sehingga bisa berpikir demikian, padahal dia sudah berada ditingkat yang paling sempurna, dia dapat menghancurkan kerubutan dari seluruh anggota benteng, menurut boanpwee bilamana kita ingin menawan dirinya hal ini tidak mungkin bisa terjadi".
"Demikian tidak baik, begitupun tidak baik, apa kau benar2 ingin mendengarkan perintahnya untuk kawin dengan nona Wie?"
"Inilah satu2nya jalan yang bisa melindungi Wie Ci To ayah beranak dari gangguannya".
"Tidak, bilamana kau kawin dengan Nona Wie maka sama saja dengan mau mencelakai mereka ayah beranak".
"Majikan patung emas pernah berkata, bilamana boanpwee sudah kawin dengan nona Wie maka dia akan memberi perintah yang kedua, maka itu boanpwee kira ... setelah habis kawin aku mau tahu dulu apakah perintah dari majikan patung emas yang kedua itu, bilamana perintahnya itu sama sekali kurang ajar maka boanpwee bermaksud hendak adu jiwa dengan dirinya".
"Walaupun kau berbuat demikian tetapi setelah kawin dengan dirinya bukankah nama sucinya akan ternoda ?".
"Tetapi sekarang sama saja sudah terlambat karena undangan sudah disebarkan".
"Seharusnya sebelum undangan itu dibagi kau harus pergi mengaku kepada Wie Poocu"
"Boanpwee pun punya maksud untuK berbuat demikian tetapi baru saja tiba di depan kamar baca dari Wie Ci To maksud hatiku sudah diketahui oleh majikan patung emas, dia mengirim suara mengancam boanpwee bilamana berani membocorkan rahasia ini maka dia akan segera turun tangan membinasakan Wie Ci To ayah beranak, mendengar nada suaranya yang amat tegas aku rasa dia bukan lagi main gertak"
"Apa kau sungguh2 senang dengan nona Wie?"
"Benar"
"Kalau memangnya begitu, seharusnya kau tidak menipu dirinya".
"Persoalannya sekarang justru kalau aku tidak mengerjakan perintah dari majikan patung emas maka mereka ayah beranak akan mati di tangan majikan patung emas".
"Bilamana loohu adalah Wie Cji To maka loohu rela mati di tangan majikan patung emas daripada melihat putrinya sendiri kena kau tipu ". Mendengar perkataan tersebut Ti Then segera merasakan hatinya tergetar amat keras, karena dia merasa psrkataan yang diucapkan oleh Yuan Siauw Ko ini sedikit pun tidak salah, dia tahu Wie Ci To adalah termasuk orang yang bersifat demikian dia adalah seorang yang membenci kejahatan seperti musuh buyutan, selamanya tidak pernah kompromi dengan orang2 jahat karena ini bilamana dia meceritakan rahasia ini kepada Wie Ci To maka ada kemungkinan dia rela mati ditangan majikan patung emas daripada putrinya ditipu, dan sudah tentu waktu itu dia tidak akan menyalahkan dirinya. Sebaliknya bilamana dia terus bungkam sehingga pada suatu hari dia menemukan kalau dirinya sedang menipu mereka maka waktu itu dia akan membenci dirinya hingga akhir jaman. Maka itu dia merasa perkataan yang diucapkan oleh Yuan Siauw Ko ini sedikitpun tidak salah, seharusnya dia menceritakan rahasia ini kepada Wie Ci To. Dengan perlhan dia lantas mengangguk.
"Baiklah, boanpwee pasti akan mengikuti petunjuk dari Yuan loocianpwee dan menceritakan seluruh kejadian ini kepada Wie Ci To,"
Katanya dengan teguh. Mendengar perkataan itu Yuan Siauw Ko jadi teramat girang sekali.
"Tetapi sebelum memberitahukan urusan ini kepadanya lebih baik kau mengetahui lebih dulu siapakah majikan patung emas itu."
"Jadi maksud Loocianpwe ..."
"Sebelum mengetahui siapa majikan patung emas itu, kau hendak secara bagaimana melaporkan hal ini kepada Wie Poocu? Bilamana dia tidak sabaran dan segera perintahkan seluruh isi benteng untuk menangkap majikan patung emas, ada kemungkinan saat ini majikan patung emas segera melarikan diri. Tetapi bilamana kau sudah tahu siapakah majikan patung emas maka semua orang bisa melakukan tugasnya secara diam-diam setelah itu memberi satu penyerangan serentak yang membuat majikan patung emas jadi kelabakan, dengan begitu kita bisa berhasil tangkap dia dengan amat mudah."
"Loocianpwee tetap menginginkan agar boanpwee suka kirim tanda untuk ajak dia berbicara lalu loocianpwee intip dari samping?"
"Benar!"
Sahut Yuan Siauw Ko mengangguk.
"Tetapi....bilamana jejak dari loocianpwee diketahui, waktu itu...."
"Kau tidak usah merasa kuatir buat loolap."
Potong Yuan Siauw Ko dengan cepat.
"Bilamana dia membinasakan loolap maka Wie Ci To tentu akan menguntungkan gerakannya, Loolap percaya dia tidak akan berani bertindak sembarangan"
Dia berhenti sebentar untuk kemudian sambungnya lagi.
"Apalagi dia tidak tentu bisa menemukan jejak dari loolap, kamar loolap cuma berada pada jarak dua belas, tiga belas kaki saja bilamana dari atas atap aku mengintip keluar dia tidak bakal bisa mengetahui kalau loolap lagi mengawasi gerak-geriknya."
Ti Then termenung berpikir sebentar, akhirnya dia mengangguk.
"Baiklah, tetapi lebih baik besok malam saja kita baru melakukan pekerjaan, karena ini hariboanpwee datang berpesiar dia pasti akan menaruh rasa curiga, bilamana boanpwee ajak dia untuk bertemu malam ini tentu dia sudah tertipu."
"Baiklah! kalau begitu kita putuskan besok malam baru mulai bekerja..."
"Didalam hal ini Loocianpwee janganlah sekali-kali memperlihatkan tanda-tanda yang mencurigakan! Sikapnya harus seperti biasa dan pura-pura tidak pernah terjadi sesuatu urusan, kalau tidak..."
"Kau legakanlah hatimu, di dalam hati loolap sudah punya pegangan!"
Ujar Yuan Siauw Ko tertawa. Ti Then segera merasa mereka telah lama sekali berhenti di gua Kiu Loo Tong, karenanya dia lantas berkata;
"Di dekat tempat ini ada beberapa kuil yang bagus, mari kita pergi keluar". Tua muda dua orang segera berjalan keluar dari gua Kiu Loo Tong itu dan Melihat-lihat di kuil yang ada di sekeliling tempat itu, sesudah Sang surya condong kearah barat mereka baru balik ke dalam Benteng. Sekembalinya didalan Benteng malam haripun telah tiba. Sehabis bersantap malam Ti Then duduk-duduk sebentar di kamarnya Wie Lian In setelah itu baru kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Semalam tidak terjadi satu peristiwa apa pun. Keesokan harinya selesai cuci muka Ti Then seperti biasanya pergi ke kamar Yuan Siauw Ko untuk memberi hormat, sesampainya di depan pintu kamarnya waktu itu keadaan masih sunyi. Ti Then lantas mulai mengetuk.
"Yuan loocianpwee, kau orang tua sudah bangun belum?"
Teriaknya.
Dari dalam kamar suasana tetap sunji senyap.
Sedang pintu kamar itu setelah diketuk beberapa kali pun lantas membuka sedikit, kiranya pintu itu sama sekali tidak terkunci.
Ti Then segera mendorong pintu dan berjalan masuk, tampaklah seprei dan selimut sudah diatur amat rajin sedangkan Yuan Siauw Ko sendiri tidak tampak di kamar.
"Ach ... tentunya dia lagi berjalan-jalan di tempat luaran!"
Pikirnya di hati.
Karena itu dia lantas mengundurkan diri dan menuju ke kamar dari Kiem Cong Loojien yang ada disebelahnya untuk memberi hormat, dan terakhir dia baru menuju kekamar baca dari Wie Ci To.
Setiap pagi dia tentu pergi ke kamar baca Wie Ci To untuk memberi hormat.
Sesampainya dipintu sebelah luar dari kamar baca itu kebetulan Wie Ci To pun lagi mau keluar, dia lantas tanya.
"Gak-hu, apakah kau sudah bertemu dengan Yuan Loocianpwee?"
"Tidak! Apa dia tidak ada di kamar?"
"Benar, aku rasa dia tentu lagi berjalan-jalan di dalam Benteng, biarlah siauw-say pergi mencarinya."
Dia lantas berputar ke halaman sebelah dalam, tetapi walaupun sudah dicari kalang kabut tidak ditemukan juga bayangan itu Yuan Siauw Ko, ketika dia menanyai para pendekar pedang hitam yang berjaga-jaga di pintu benteng sebelah depan, mereka pun tidak melihat Yuan Siauw Ko keluar dari sana.
Hatinya mulai merasa berdebar amat keras sekali.
"Celaka! Apa mungkin dia sudah dicelakai oleh majikan patung emas?"
Tidak! Ada kemungkinan dia sudah pergi ke kebun. Dengan tergesa-gesa dia lari menuju ke kebun di belakang benteng, sembari mencari teriaknya berulang kali.
"Yuan loocianpwee!!! Yuan Loocianpwee...."
Akhirnya walau pun sudah dicari di seluruh kebun tetapi bayangan dari Yuan Siauw Ko tidak kelihatan juga.
Kali ini hatinya benar-benar amat kalut.
Setelah dia menceritakan seluruh rahasianya kepada Yuan Siauw Ko kemarin hari sewaktu ada di gunung selama ini isi hatinya merasa terus menerus kuatir bilamana urusan ini bisa diketahui oleh majikan patung emas, dia merasa kuatir Yuan Siauw Ko dicelakai oleh majikan patung emas sedang kini....peristiwa yang sangat tidak diinginkan ini sudah terjadi di depan mata.
Dengan termangu-mangu dia berdiri di dalam kebun, hatinya benar-benar terasa amat kacau.
"Heeiii..semoga saja bukan begitu"
Gumamnya seorang diri.
"Benteng ini amat luas, ada kemungkinan dia lagi berbicara di kamar seorang pendekar pedang merah, biarlah aku pergia cari dia lagi."
Akhirnya dia berjalan kembali ke halaman depan, setiap kali bertemu dengan orang dia tentu menanyakan jejak dari Yuan Siauw Ko.
Tetapi sekali pun satu deretan kamar para pendekar pedang merah itu sudah diperiksanya dan kali ini tidak kedengaran juga suara dari Yuan Siauw Ko.
Hatinya mulai merasa semakin cemas lagi.
"Ehm..apa mungkin dia sudah pergi ke kamar kecil?"
Kembali dia berjalan menuju ke benteng sebelah kiri dimana berdiri gubuk-gubuk kecil yang digunakan untuk membuang hajat, akhirnya hasil yang diperoleh hanya nihil saja.
Ehmm , ..!!
ada kemungkinan dia sudah mendatangi kamar kecil dan sekarang sudah kembali kekamarnya lagi.
Karenanya dia lantas kembali lagi ke kamar Yuan Siauw Ko, tetapi sekalipun sudah masuk kedalam kamar keadaannya sama saja, sama sekali tidak kelihatan ada sesosok manusiapun.
Tetapi didalam kamar diatas meja dia menemukan secarik surat.
Isi surat itu berbunyi demikian.
Ditujukan kepada Wie Toa poocu serta Ti Kiauw-tauw.
Sewaktu sadar dart impian tiba2 aku teringat masih ada perjanjian dengan seorang kawan digunung Cing Shia dua hari kemudian.
Karena waktu mendesak dan takut terlambat dalam perjanjian maka aku pergi tanpa pamit, harap kalian suka memaafkan dan semoga ssja aku bisa datang kembali untuk ikut merayakaa hari perkawinanmu.
Loolap Yuan Siauw Ko-Beberapa perkataan itu ditulis dengan tergesa-gesa sekali sehingga tidak begitu genah tulisannya.
Surat ini didalam pandangan Wie Ci To serta orang2 lainnya kecuali merasa diluar dugaan dan sayang terhadap Yuan Siauw Ko yang pergi tanpa pamit tidak akan menimbulkan kecurigaan yang lain, tetapi dimata Ti Then hal ini segera menimbulkan rasa curiga yang luar biasa.
Karena dia tahu Yuan Siauw Ko bukanlah manusia yang bernyali kecil, dia tidak akan pergi menemui perjanjian dengan kawannya secara tiba2 setelah mengadakan perundingan untuk membuka rahasia dari majikan patung emas, didalam keadaan yang sesungguhnya hal ini tidak mungkin bisa terjadi.
Tetapi, sekarang Yuan Siauw Ko benar2 sudah pergi tanpa pamit, apa sebabnya dia berbuat demikian ???
Tidak ragu2 lagi kepergian Yuan Siauw Ko secara tiba2 ini tentu ada sangkut pautnya dengan Majikan patung emas!.
Majikan pstung emas pastilah sudah menggunakan satu tindakan yang amat lihay untuk memaksa Yuan Siauw Ko mau tidak mau harus meninggalkan Benteng Pek Kiam Poo.
Atau ada kemungkinan surat ini sama sekali bukanlah ditulis oleh Yuan Siauw Ko sendiri sebaliknya hasil karya dari Majikan Patung emas.
Setelah dia membunuh Yuan Siauw Ko lantas menulis surat ini untuk pasang jebakan agar perbuatan dosanya ini tidak sampai diketahui oleh orang lain.
Berpikir sampai disini Ti Ihen merasakan kepalanya pusing matanya berkunang-kunang, hampir-hampir dia jatuh tidak sadarkan diri.
Seluruh badannya terasa panas dingin, tangan yang memegang surat itu pun gemetar tiada hentinya.
"Ti Kiauw-tauw, kau kenapa?"
Tiba-tiba berkumandang dayang pertanyaan dari seseorang.
Dan orang itu bukan lain adalah Kiem Cong Loojien.
Sewaktu melewati dari depan kamar Yuan Siauw Ko dia bisa melihat air muka Ti Then rada aneh, karenanya dia lantas berhenti untuk bertanya.
"Yuan loocianpwee sudah pergi,"
Sahutnya sambil tertawa sedih. Kiem Cong Loojien jadi melengak.
"Kau bilang apa?"
Dengan tangan masih gemetar Ti Then lantas serahkan surat itu kepadanya.
"Inilah surat yang ditinggalkan Yuan Loocianpwee. Ciangbunjien, kau boleh lihat.."
Kiem Cong Loojien segera menerimanya dan membaca hingga habis. I "Aaach ..sungguh aeeh , ..sungguh aneh , . ."
Teriaknya tercengang.
"Sekali pun ada urusan yang bagaimana pentingnya seharusnya dia bilang dulu dengan Wie Poocu kalau mau pergi."
"Ada kemungkinan Yuan Loocianpwee merasa membangunkan Wie Poocu di tengah malam buta adalah satu pekerjaan yang kurang sopan sehingga..."
"Tetapi kepergiannya yang tanpa pamit bukankah kurang sopan juga?"
Potong Kiem Cong Loojien dengan cepat.
"Ciangbunjien tidur di kamar sebelahnya, apakah kau tidak mendengar sedikit suara pun?"
Kiem Cong Loojien dongakkan kepalanya termenung sebentar, dia gelengkan kepalanya.
"Tidak, loohu yang menjadi tetamu di dalam Benteng sudah tentu tidak usah bersiap sedia, karenanya begitu naik ke atas pembaringan kontan tidur dengan nyenyaknya, mungkin sekalipun ada suara Loohu juga tidak akan mendengarnya."
"Kalau begitu ayoh cepat kita laporkan urusan ini kepada Poocu."
Karena waktu itu adalah waktu bersantap pagi maka kedua orang itu langsung menuju ke ruangan bersantap.
Sedikitpun tidak salah, Wie Ci To sudah menanti diruang bersantap, bagitu melihat munculnya Kiem Cong Loojien dia lantas bangun menyapa.
"Kemarin malam ciangbunijien bisa tidur dengan nyenyak bukan ?"
"Sungguh nyenyak sekali sehingga kamar sebelah sudah kehilangan orangpun tidak merasa"
Jawab Kiem Cong Loojien sambil menyengir.
"Apa ? Sudah kehilangan orang?"
Wie Ci To tertegun. Ti Then segera maju ke depan dan menyeraahkan surat dari Yuan Siauw Ko kepadanya.
"Yuan Loocianpwee kemarin malam sudah meninggalkan benteng !"
Lapornya. Air muka Wie Ci To berubah hebat, dia lantas terima surat itu dan diperiksanya satu kali, jeias wajahnya memperlihatkan rasa terkejut yang luar biasa.
"Aach ... ! Sebenarnya sudah terjadi urusan apa?"
Serunya tak terasa.
"Ada kemungkinan Yuan Loocianpwe tidak suka mengganggu Gak-hu sehingga dia pergi tanpa pamit ..."
Wie Ci To termenung berpikir sebentar mendadak dari sepasaag matanya memancarkaa sinar yang amat tajam dan memandang diri Ti Then tak berkedip.
"Apakah diantara kalian berdua sudah terjadi satu urusan yang tidak menyenangkan hati ?"
"Tidak !"
Sahut Ti Then dengan serius.
"Kemarin sore siauw-say temani dia orang berpesiar keatas gunung dan kami ber-cakap2 dengan hati yang amat girang, di antara kami berdua sama sekali tidak terjadi satu peristiwa yang tidak menyenangkan hati".
"Kalau begitu urusan ini sungguh aneh sekali."
Seru Wie Ci To dengan suara yang berat, sinar matanya berkedip-kedip.
"Loohu tidak percaya kalau dikarenakan sungkan mengganggu Loohu ditengah malam buta Yuan Piauw tauw sudah pergi tanpa pamit, didalam soal ini pasti ada sebab2nya!"
"Loolap merasa kepergian Yuan Piauw-tauw meninggalkan benteng adalah satu hal yang mengherankan .."
Tukas Kiem Cong Loojien.
Ti Then termenung tidak berbicara, sebelum dia mengadakan pembicaraan dengan Majikan patung emas, dan sebelum membuktikan kalau kepergian Yuan Siauw Ko ada hubungannya dengan Majikan patung emas dia tidak ingin memberi pendapatnya, dia pun tidak bisa membongkar rahasia dari majikan patung emas karena bilamana kepergian tanpa pamit dari Yuan Siauw Ko ini adalah hasil karya dari Majikan Patung emas maka hal ini membuktikan kalau peringatan yang diucapkan Majikan Patung Emas bukanlah satu gertakan sambal belaka, dia benar2 berani turun tangan membunuh orang, apa yang diucapkan tidak akan dipungkiri kembali.
Atau dengan perkataan lain, Ti Then benar2 merasa bilamana dirinya tanpa memikirkan akibatnya lantas menyiarkan patung emas maka Majikan Patung emas pun segera turun tangan membereskan Wie Ci To serta Wie Lian In, hal ini Ti Then tidak akan merasa tega untuk melihatnya.
"Bilamana Loohu adalah Wie Ci To maka Loohu rela mati di tangan majikan patung emas daripada melihat putriku ditipu mentah-mentah oleh dirimu."
Walau pun perkataan dari Yuan Siauw Ko ini benar tetapi bagaimana pun juga dirinya belum betul-betul mencelakai Wie Lian In, bilamana sampai saat ini dia harus membinasakan nyawa dari mereka ayah beranak ini benar-benar tidak berharga.
Karena itu pikiran Ti Then pun kini berubah kembali, semangat serta keberanian yang diperlihatkan kemarin hari kini meruntuh...dia mulai merasa ragu-ragu.
Wie Ci To sendiri agaknya merasa tidak paham juga, alisnya dikerutkan rapat-rapat, sambil bergendong tangan dia berjalan mondar-mandir.
"Apa mungkin pelayanan dari Benteng kita tidak baik sehingga dia jadi jemu dan pergi?"
Terdengar dia kembali bergumam.
"Bilamana membicarakan soal itu seharusnya Loolaplah yang paling memperhatikan"
Sela Kiem Cong Loojien sambil tertawa.
"Tetapi setelah menjadi tamu selama beberapa hari didalam Benteng Loolap merasa pelayanan disini amat bagus sekali"
"Benar"
Sambung Ti Then.
"Terhadap sifat dari Yuan Loocianpwee siauw-say lah yang paling paham, dia orang tua bersifat lapang dada dan bukanlah seorang manusia yang berhati sempit"
"Tetapi kepergiannya yang tanpa pamit sama sekali tidak benar. Dia bilang secara tiba-tiba sudah teringat kembali ada janji dengan seorang sahabat karib, bilamana partemuan ini harus pergi kenapa dia bisa melupakannya?"
"Ada kemungkinan pertemuan ini sudah dijanjikan pada tempo hari karena tidak pernah diingat-ingat maka sewaktu kemarin malam teringat kembali dia jadi ribut sendiri"
"Kau lihat partemuan apakah yang sudah dijanjikan dengan temannya itu ?"
Tanya Wie Ci To sambil memandang tajam wajahnya.
"Soal ini sulit untuk diketahui, kalau memangnya dia orang tua menyebut sebgai sahabat karib maka seharusnya pertemuan ini tidak sampai membahayakan jiwanya"
Sahut Ti Then.
"Kalau begitu lebih baik kita kirim dia orang untuk lihat-lihat di gunung Cing Shia, kau lihat bagaimana?"
"Begitu pun bagus sekali."
"Coba kau panggil Shia Pek Tha dan suruh dia kirim seorang pendekar pedang merah untuk pergi ke gunung Cing Shia"
Ti Then segera menyahut dan mengundurkan diri dari ruangan bersantap, setelah menemukan Shia Pek Tha dia lantas menceritakan kepergian dari Yuan Siauw Ko yang tanpa pamit pada kemarin malam serta perintah dari Poocu untuk kirim seseorang untuk mengadakan pemeriksaan di gunung Cing Shia, setelah itu dia baru kembali lagi ke ruang bersantap.
Dia menemani Kiem Cong Loojien serta Wie Ci To untuk bersantap, tapi hatinya yang lagi murung mana ada napsu untuk makan?
Dia cuma mengharapkan hari cepat malam.
Malam hari pun mulai menjadi kelam.
Dari dalam kamar Wie Lian In dia langsung kembali ke kamarnya, setelah mengundurkan si Loo Cia pelayan tua itu dia lantas mengambil lampu dan diketuknya tiga kali di dekat jendela, setelah itu baru naik ke atas pembaringan.
Saat ini napsu untuk tidur pun berkurang, sepasang matanya dengan melotot lebar-lebar memandang tajam atas genting....
Kentongan pertama....kentongan kedua.....dengan cepatnya berlalu, kini kentongan ketiga pun menjelang.
Tidak lama melewati kentongan ketiga dari atas atap terasa adanya suara tindakan seorang diikuti sepasang tangan yang samar-samar membuka atap kesamping lalu menurunkan patung emas itu ke bawah.
Majikan patung emas sudah tiba.
Dia turunkan patung emasnya itu ke samping pembaringan Ti Then lalu dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suaranya dia lantas kirim perkataan.
"Ti Then, aku terka malam ini kau tidak dapat tidur bukan? Bukankah kau lagi menunggu aku?"
"Tidak salah"
Sahut Ti Then dengan suara yang amat dingin sekali.
"Kau sudah bunuh Yuan Piauw-tauw?"
Majikan patung emas tidak menjawab, sebaliknya malah balas bertanya.
"Kenapa kau orang tidak suka mendengarkan perkataanku dan menceritakan seluruh rahasia ini kepada Yuan Siauw Ko?"
Mendengar perkataan tersebut Ti Then segera merasakan hatinya tergetar amat keras.
"Siapa yang bilang aku sudah menceritakan seluruh rahasia ini kepadanya? Apa kau mendengar dengan telinga sendiri?"
Bantahnya dengan keras.
"Heee ..heee ... kemarin sore kalian bersama-sama berpesiar keatas gunung, dengan mengambil kesempatan itu kau ceritakan seluruh rahasia ini kepadanya. Hmmm urusan sudah nyata, kau masih ingin mungkir ?"
Seru Majikan patung emas sambil tertawa dingin tiada hentinya.
"Hmm, sewaktu Wie Ci To menunjuk aku untuk mengawani dia berpesiar keatas gunung dalam hati aku sudah tahu kalau kau pasti akan menaruh curiga. Hmmm, ternyata dugaanku sedikitpun tidak salah."
"Kau tidak mengaku ?"
Seru Majikan patung emas sambil mendengus.
"Tidak."
"Tetapi Yuan Siauw Ko sudah mengaku."
"Heee ... heee , ..hee , , jangan coba tipu aku. Yuan Piauw-tauw sama sekali tidak tahu urusan ini, dia bisa mengaku tentang soal apa dengan dirimu?"
Ejek Ti Then tertawa dingin. Majikan patung emas tidak langsung memberi jawaban, dia termenung berpikir sebentar kemudian baru sahutnya.
"Dia mengaku kalau kau sudah menceritakan seluruh rahasia ini kepadanya bahkan sudah menyusun rencana siap-siap hendak menawan diriku."
Ti Then tahu Yuan Sianw Ko bukanlah seorang manusia yang takut mati, dia tidak akan mau mengakui keseluruhan ini.
"Kau yangan omong kosong!"
Teriaknya kemudian dengan gusar.
"Kau sendiri yang omong kosong"
"Kau sudah bubuh dirinya?"
"Tidak"
"Lalu kau membawa dirinya kemana?"
Desak Ti Then lebih lanjut.
"Suatu tempat yang sangat rahasia."
"Kalau kau sudah mengambil kesimpulan kalau aku sudah membocorkan rahasia ini kepadanya, kenapa tidak sekalian bereskan nyawanya?"
Majikan patung emas segera tertawa seram.
"Aku tahu bilamana aku bunuh dirinya maka kau tidak akan mendengarkan petunjukku lagi, maka itu untuk sementara waktu aku kurung dia di suatu tempat tertentu, setelah tujuanku tercapai maka waktu itulah aku baru lepaskan dirinya kembali."
"Lalu surat yang ditinggalkan di kamarnya apa kau yang tulis?"
"Bukan"
"Lalu dia yang menulis?"
"Juga bukan"
"Kalau begitu surat itu ditulis oleh pemuda yang kau kirim untuk menyelundup ke dalam Benteng Pek Kiam Poo itu?"
"yangan lupa kau adalah patung emasku, kau dilarang untuk menyelidiki urusanku."
"Walau pun aku adalah patung emasmu tetapi sama sekali berbeda dengan patung emas yang ada di depanmu ini, bilamana aku mengambil keputusan untuk tidak mendengarkan perintahmu lagi maka kau sedikitpun tidak bisa berbuat apa-apa."
"Benar"
Sahut majikan patung emas membenarkan.
"Tetapi kau yangan lupa aku masih ada satu cara untuk menghadapi dirimu, aku bisa pergi membinasakan Wie Ci To ayah beranak, menghancurkan seluruh pendekar pedang yang ada di dalam Benteng Pek Kiam Poo, soal ini tentunya bukan satu persoalan yang menyenangkan bukan?"
Mendengar ancaman itu Ti Then segera merasakan hatinya kurang puas, dia merasa sangat jengkel.
"Bilamana kau ingin aku menyelesaikan rencanamu ini dengan baik, maka kau harus beritahu padaku apakah Yuan Piauw-tauw sudah mati atau belum..."
"Soal itu sangat mudah sekali, lewat dua hari kemudian aku bisa membawa tulisannya untuk kau lihat, bilamana kau bisa melihat surat yang ditulis dia sendiri maka segera akan kau ketahui kalau dia masih ada di dalam dunia."
"Cuma sayang aku tidak kenal dengan tulisannya, dulu aku sama sekali tidak pernah melihat tulisannya"
"Bagaimana kalau aku suruh dia menulis satu urusan yang diketahui oleh kalian berdua saja?"
"Bagus, kau suruhlah dia menulis nama-nama dari seluruh nama serta gelar dari Piauwsu yang ada di Yong An Piauwkiok, bilamana ada satu kata saja yang salah maka aku tidak akan percaya kalau dia masih hidup."
"Baik,"
Sahut majikan patung emas.
"Aku pun memberi peringatan kepadamu, Yuan Siauw Ko adalah satu contoh yang baik buat dirimu, sejak ini hari bilamana kau berani bocorkan kembali rahasiaku maka bukan saja aku mau bunuh orang yang mengetahui rahasiaku itu bahkan Yuan Siauw Ko pun akan aku bunuh"
"Aku tidak mau bicara lagi dengan dirimu, cepat kau pergi!"
Teriak Ti Then dengan kasar.
Dengan perlahan majikan patung emas menarik kembali patung emasnya dan berlalu dari sana.
Dua hari kemudian....
Jarak dengan hari perkawinan pun tinggal lima hari.
Para sahabat serta handai taulan yang menerima undangan pun mulai berdatangan sehingga suasana di dalam Benteng Pek Kiam Poo semakin lama semakin menjadi ramai.
Pagi hari itu sewaktu Ti Then bangun dari tidurnya dia menemukan di samping badannya sudah menggeletak secarik kertas yang di dalamnya tertuliskan kata2 dengan amat rapat sekali.
Majikan patung emas sama sekali tidak mengingkari janji, dia benar2 sudah membawa tulisan asli dari Yuan Siauw Ko.
Semangat Ti Then jadi berkobar kembali, dia segera mengambil kertas putih itu dan dibacanya dengan teliti.
Di atas kertas putih itu tertuliskan nama2 orang serta gelarnya, dan mereka bukan lain adalah nama2 Piauw-su yang dulu pernah bekerja di perusahaan ekspedisi Yong An Piauwkiok.
Menurut pemikiran Ti Then dahulu Piauwsu yang bekerja di perusahaan Yong An Paiuwkiok semuanya ada seratus dua puluh orang banyaknya, sekali pun majikan patung emas memiliki pengetahuan yang amat luas juga sukar baginya untuk mengetahui seluruh nama-nama dari piauwsu itu, dan bilamana didalam nama-nama itu dia tidak menemukan tulisan yang salah maka hal ini membuktikan kalau tulisan itu benar-benar ditulis oleh Yuan Siauw Ko dan hal ini membuktikan juga kalau dia masih hidup, kalau tidak mana jelas Yuan Siauw Ko menemui bencana.
Dengan telitinya dia memeriksa nama-nama serta gelar dari Piauwsu, tetapi sewaktu melihat nama dari Piauwsu keempat mendadak hatinya terasa tergetar dengan keras.
Karena dia menemukan nama dari piauwsu keempat itu telah salah ditulis!
Nama yang sebenarnya adalah "Cian Se Jien"
Tetapi yang ditulis adalah "Cian Su Wo"
Hm! Bagaimana mungkin Yuan Siauw Ko bisa salah menulis dengan kata-kata "Jien"
Jadi "Wo"
Atau "saya"?
jelas nama-nama ini bukan ditulis sendiri oleh Yuan Siauw Ko, Yuan Siauw Ko pasti menemui bencana.
Berpikir akan hal ini Ti Then segera merasakan darah panas didalam dadanya bergolak dengan amat kerasnya, hawa amarah bergolak dihati.
"Iblis bajingan, kiranya kau betul2 sudah membinasakan Yuan Loocianpwee!"
Makinya dengan gusar.
Tetapi walau pun hatinya merasa sedih bercampur gusar dia tetap melanjutkan membaca nama2 itu karena dia masih menaruh harapan kalau nama2 selanjutnya tidak ditwmui kesalahan lagi.
Bilamana diantara nama2 itu Cuma satu tulisan saja yang salah, hal ini bisa dijelaskan ada kemungkinan Yuan Siauw Ko tidak sengaja menulis salah.
Tetapi sewaktu membaca sampai nama piauwsu yang ketujuh kembali dia menemukan kesalahan!
Di atas kertas itu tertuliskan nama "Huo Cay Ciang"
Padahal seharusnya nama itu salah, kata-kata "Cay"
Dituliskan jadi "Cay"
Yang berarti "berada"!.
"Ehm...! "Cay"
Dan "Cay"
Artinya sama, apa mungkin ini pun kesalahan dari Yuan Siauw Ko?"
Karenanya dia melanjutkan kembali untuk membaca nama-nama itu.
Akhirnya didalam kertas itu samuanya dia sudah menemukan tujuh tulisan yang salah.
Ong Beng ditulis jadi Lui Beng, Cau It Jan ditulis jadi Cau It Tong, Kang Kuang Peng ditulis jadi Kang Kuang Ping.....
Dengan amat gusarnya dia merobek2 kertas itu hingga hancur, tetapi sewaktu dia hendak menghancur lumurkan kertas itu, tiba2 satu ingatan berkelebat didalam ingatannya.
Berpikir sampai disitu dengan terburu2 dia menyambung kembali sobekan kertas itu dan dilihatnja lagi dengan lebih teliti lagi tulisan2 yang salah itu, Dengan cepatnya dia menemukan disetiap tulisan yang ditulis salah tentu ada satu titik hitam.
Ehmm!!
Titik2 hitam ini apa sengaja ditulis oleh Yuan Siauw Ko?
apakah tujuannya agar dia bisa memperhatikan beberapa tulisan yang ditulis salah itu?
Benar!
bagaimana kalau tulisan2 yang salah itu disambung menjadi satu??
"Aku ada didalam gua karang dibawah gua Lui Tong Ping".
Seketika itu juga Ti Then jadi amat girang sekali sehingga hampir2 terjingkrak-jingkrak.
Satu harapan kembali muncul dihatinya ...
dia mengharapkan malam hari cepat menjelang.
XXXXXX Akhirnya, malam haripun menjelang datang, seluruh jagat sudab menjadi gelap gulita bintangpun tidak tampak.
Keramaian yang mencekam di dalam Benteng Pek Kiam Poo pun dengan perlahan menjadi sunyi kembali.
Ti Then segera kembali ke kamarnya dan ganti pakaian untuk tidur.
Malam itu dia tidak kirim tanda untuk mengajak Majikan patung emss untuk bertemu muka, bahkan secara diam2 berdoa agar majikan patung emas tidak munculkan dirinya tanpa diundang, karena malam ini dia bersiap sedia untuk pergi ke dalam gua karang dibawah gua Lui Tong Ping untuk menjenguk Yuan Siauw Ko.
Dengan tenangnya dia berbaring diatas pembaringan untuk menanti saat kentongan ketiga lewat, dia harus menanti setelah lewat kentongan ketiga baru pergi karena dia harus menanti pula apakah majikan patung emas akan munculkan dirinya atau tidak.
"Tok . tok ..tok!"
Akhirnya kentongan ketiga pun tiba.
Dia tetap berbaring diatas pembaringannya tidak bergerak, dia menanti kembali seperempat jam lamanya setelah benar-benar mengetahui kalau Majikan patung emas tidak datang dia baru turun dari pembaringannya dengan perlahan-lahan lalu membuka jendela dan meloncat ke atas atap.
Setelah itu dengan menggunakan bayangan rumah sebagai tempat persembunyian dia mengitari satu lingkaran benteng itu kemudian panjat tembok benteng dan berjalan keluar.
Dia Yang bertindak sebagai kiauw-tauw dari Benteng Pek Kiam Poo sudah tentu mengetahui dengan amat jelas sekali seluruh tempat2 penjagaan yang terbesar didalam Bsnteng itu, karenanya dengan amat mudah sekali dia berhasil menghindarkan diri dari penjagaan para pendekar pedang.
Hanya didalam sekejap saja dia sudah berhasil mencapai dibawah tembok benteng.
Setelah dilihatnya disekeliling tempat itu tak ada orang dia lantas mengeluarkan ilmu cecak merayap untuk melewati tembok itu dan meloncat keluar kemudian dengan gerakan tubuh yang amat cepat sekali berkelebat menuju ke gunung Go-bie.
Dia sudah ber-kali2 berpesiar keatss gunung ber-sama2 dengan Wie Lian In, terhadap keadaan pemandangan disekitar tempat itu pun dia sudah hapal benar.
Dia tahu goa Lui Tong Ping itu letaknya diatas puncak gunung tidak jauh dari kuil Pek Im Si.
Setelah melewati kuil Toa Jan Si, Auw Ceng Ti, Pek Im Si, dan jalan gunung yang kecil dan sempit akhirnja dia berhasil tiba diatas gua Lui Tong Ping.
Dibawah gua Lui Tong Ping itu merupakan satu tebing yang curam dengan jurang yang dalamnya tak terhingga, dan merupakan satu tempat yang jarang sekali dikunjungi oleh kaum pesiar, karena tempat itu sangat berbahaya dan sukar sekali untuk dilalui.
Saat ini waktu sudah menunjukkan kentongan ketiga lebih, suasana didalam gua Lui Tong amat gelap gulita dan secara samar2 membawa rasa seram yang mendirikan bulu roma.
Ti Then dengan sedikitpun tidak ragu2 berjalan menuruni tebing itu, dengan menggunakan batu2 cadas yang pada tersebar di seluruh tempat setapak demi setapak dia meloncat turun.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian dia tiba dibawah gua Lui Tong Ping itu.
Walaupun cuaca dimalam hari amat gelap tetapi ia masih bisa melihat pemandangan disekitar tempat itu dengan jelas.
Dia melihat dibawah gua Lui Tong Ping itu merupakan satu lembah yang amat terjal itu, empat penjuru dikelilingi tebing yang hampir tegak lurus dengan pohon siong yang tumbuh miring menjulang kearah jurang.
Diatas permukaan tanah penuh tersebar batu2 cadas yang besar dan tajam dengan ditumbubi lumut yang amat banyak, agaknya sejak pertama kali hingga kini tiada seorangpun yang pernah mendatangi tempat itu.
Setelah berjalan dan memeriksa disekeliling tempat itu beberapa saat lamanya akhirnya diantara dua buah batu cadas yang amat besar dia menemukan sebuah gua alam yang tidak begitu besar.
Sambil berjongkok dia memeriksa permukaan tanah itu, ternyata sedikitpun tidak salah di depan gua itu tampak telapak kaki yang samar2, didalam hati dia tahu dugaannya tidak salah karenanya sembari mencabut keluar pedangnya dia menerobos masuk kedalam gua.
Suasana didalam gua itu amat gelap tak tampak lima jarinya sendiri.
Dengan menggunakan pedang Ti Then meraba-raba beberapa saat lamanya, dia menemukan pedangnya sudah terbentur dengan sebuah dinding gua yang amat keras, karena dia tidak tahu arah gua itu berbelok ke arah mana terpaksa dari dalam sakunya mengambil keluar obor sebagai penerangan.
Dengan menggunakan cahaya sinar obor itulah dia mulai memeriksa keadaan di sekeliling tempat itu, saat itulah dia baru melihat walaupun gua itu Cuma satu tapi berbelok-belok, sebentar melebar sebentar lagi menyempit dan dinding yang saat ini menghalangi perjalanannya adalah sebuah batu cadas yang menonjol keluar sedang lorong itu berbelok kearah sebelah kanan.
Dengan mengikuti lorong itu dia berbelok kekanan, setiap kali bsrjalan beberapa langkab dia menyulut kembali obornya.
Setelah berjalan beberapa saat lamanya akhirnya dia tiba juga disuatu ruangan yang amat besar sekali.
Gua itu dibatasi dengan dinding batu yang terjal dan tajam, disekelilingnya tak tampak barang apa pun kecuali batu sehingga keadaannya amat menyakitkan.
Baru saja Ti Then hendak melakukan pemeriksaan lebih teliti lagi, mendadak obor yang ada ditangannya padam kembali.
Hatinja rada mendongkol, dia lantas mengambil keluar sebuah obor kembali siap2 disulut.
Mendadak ...
"Ti Then, kau?"
Suara seseorang secara tiba2 saja berkumandang keluar dari sisi kirinya, jelas dari nada suara itu menunjukkan hatinya merasa amat kegirangan.
Dan suara itu .
, .
, bukan lain adalah suara dari si tangan sakti Yuan Siauw Ko.
Mendengar teguran itu Ti Then jadi amat girang sekali, dengan ter-buru2 dia menyulut obornya untuk memeriksa tempat disekeliling tempat itu.
"Yuan Loocianpwee, kau ada dimana?"
Tetapi sebentar kemudiam dia sudah lihat dimana Yuan Siauw Ko berada.
oooOOOOooo Dari balik sebuah batu cadas yang tingginya ada tiga depa dengan panjang empat depa tampak si tangan sakti Yuan Siauw Ko merangkak keluar, kaki kanannya diborgol sedang rantainya diikat kebawah batu cadas tersebut, cuma tangan tiga hari saja tidak melihat sinar sang surya keadaannya sudah benar-benar berubah, wajahnya tidak mirip manusia lagi.
Dengan sekali lompat Ti Then meloncat ke hadapannya dan berjongkok.
"Yuan Loocianpwee, dia...dia mengurung kau di tempat ini?"
Tanyanya dengan terperanjat.
Dia bisa mengajukan pertanyaan ini dikarenakan dia melihat batu cadas yang mengikat rantai itu cuma seribu kati saja beratnya, sedang dengan tenaga dalam yang dimiliki si tangan sakti Yuan Siauw Ko untuk mendorong batu cadas itu bukanlah satu pekerjaan yang sulit, tetapi kelihatannya dia terkurung rapat dan tak dapat meloloskan diri.
Sambil bersandar pada batu cadas itu Yuan Siauw Ko tertawa sedih.
"Tentunya kau merasa heran bukan, kenapa cuma batu seberat seribu kati saja bisa mengurung loohu ?"
Tanyanya. Sepasang mata dari Ti Then dengan amat tajamnya memperhatikan rantai yang memborgol kakinya itu lalu memandang ke arah ujung rantai yang ditindih batu cadas itu.
"Benar !"
Sahutnya keheranan.
"Apakah batu cadas ini ada permainan lainnya ?".
"Tidak ada!"
Sahut Yuan Siauw Ko sambil gelengkan kepalanja.
"Dia cuma mendorong batu cadas ini untuk ditindihkan keatas rantai besar itu . ."
"Kalau memangnya demikian, kenapa kau orang tua tidak mendorongnya ?"
Dengan sedihnya Yuan Siauw Ko menghela napas panjang.
"Dia sudah musnahkan seluruh kepandaian silat dari loohu !"
"Apa? dia sudah musnahkan seluruh kepandaian silat kau orang tua?"
Teriak Ti Then terperanjat.
"Kini Loohu seperti juga orang tua biasa, seorang kakek biasa bilamana ingin mendorong batu cadas bukankah hal ini sama saja dengan satu impian disiang hari bolong ?"
"Apakah dia memberi makanan serta minuman buat kau orang tua?"
Tanya sang pemuda lagi dengan gusarnya.
"Ada, dia membawa sekantong ransum kering serta sekantongan air bersih, hanya cukup buat Loohu gunakan selama setengah bulanan."
"Mari aku bantu tarikan rantai besi itu"
Dia meletakkan kembali pedangnja lalu dengan menggunakan sepasang tangannya menarik rantai itu kebelakang.
"Sreeett ... ! "
Dengan satu kali sentakan dia berhasil memutuskan rantai itu menjadi dua bagian. Tetapi Yuan Siauw Ko masih tetap duduk tidak bergerak sedikitpun.
"Apa kau bisa mencari tempat ini setelah mengertikan kesembilan nama yang sengaja aku tulis salah itu ?"
Tanyanya.
"Benar !"
Sahut Ti Then mengangguk.
"Dia bilang kau orang tua masih hidup, boanpwee tidak percaya dan paksa dia untuk meminta nama2 dari seluruh Piauw-su yang pernah bekerja di perusahaan 'Yong An Piauw-kiok"
Kemarin dia meletakkan nama2 itu di samping pembaringan boanpwce, sewaktu boanpwee melihat diatas daftar nama itu banyak terdapat tulisan yang salah dalam anggapanku pasti bukan tulisan yang sebenarnya dari kau orang tua, akhirnya setelah boanpwee baca seluruh kesalahan itu menjadi satu, akhirnya aku baru tahu kalau kau orang tua sengaja hendak memberi tahu tempat dimana Loocianpwee dikurung"
"Malam ini kau datang kemari, apakah dia orang tahu ?"
Tanya Yuan Siauw Ko dengan cemas.
"Mungkin dia tidak tahu".
"Apa yang dia katakan kepadamu ?"
Tanya Yuan Siauw Ko lagi sambil tertawa pahit.
"Dia bilang kau orang tua sudah mengakui pernah mendengar rahasianya"
"Kau percaya ?"
"Tidak percaja !".
"Bagus sekali !"
Seru Yuan Siauw Ko dengan amat girang.
"Dia sudah mengetahui bagaimanakah sifat dari loohu, loohu sama sekali tidak mengakui soal apa pun kepadanya"
"Bagaimana dia bisa membawa kau orang tua meninggalkan Benteng Pek Kiam Poo?"
Tanya Ti Then ingin tahu.
"Ditengah malam buta dia mengetuk pintu kamar loohu, katanya kau lagi menunggu diluar benteng dan ada urusan penting yang hendak dirundingkan dengan loohu, pada waktu itu Loohu tidak tahu kalau dia lagi main siasat.."
"Kalau begitu kau sudah melihat dia orang?"
Tanya Ti Then dengan hati berdebar-debar.
Dia dengan Majikan patung emas sudah mengadakan hubungan selama tujuh, delapan bulan lamanya tetapi hingga hari ini tidak tahu sebenarnya Majikan patung emas itu lelaki atau perempuan dan bagaimana wajahnya.
Kini mendengar Majikan patung emas sudah munculkan dirinya untuk memancing Yuan Siauw Ko keluar benteng hatinya jadi berdebar ingin cepat-cepat tahu.
"Benar! Bahkan loohu melihatnya dengan amat jelas sekali"
Sahut Yuan Siauw Ko sambil tertawa. Ti Then segera merasa hatinya semakin berdebar keras lagi.
"Siapakah dia orang?"
Tanyanya cemas.
"Seorang kenalan yang setiap hari dapat kau temui."
Agaknya dia merasa didalam urusan ini amat menarik sekali sehingga sengaja jual mahal untuk menyebutkan nama orang itu.
"Apakah dia adalah salah seorang pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Poo?"
Tanya Ti Then ingin tahu.
"Bukan!"
Jawab Yuan Siauw Ko tertawa, dengan perlahan dia gelengkan kepalanya.
"Apa...apa Wie Ci To?"
Sekali lagi Yuan Siauw Ko gelengkan kepalanya.
"Bukan!"
"Lalu siapakah dia orang?"
"Coba kau terka...!"
Ti Then termenung berpikir sebentar tetapi sekali pun sudah lewat beberapa saat lamanya dia tidak dapat mengetahui juga siapakah orang itu.
"Yuan Loocianpwee, kau jangan jual mahal, sebenarnya siapakah orang yang sudah menyamar sebagai Majikan patung emas itu?"
"Haa ... haaa .... buankah tadi aku sudah berkata orang iiu dapat kau temui setiap hari ...!"
"Pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Poo bukan, Wie Ci To bukan lalu . .. lalu siapakah dia orang?"
Dengan pandangan tajam Ti Then memperhatikan Yuan Siauw Ko tanpa berkedip, dalam hati dia merasa gemas atas ke-jual-mahalan dari si orang tua she Yuan itu.
Yuan Siauw Ko yang melihat pemuda itu dibuat gemas dia cuma tersenyum saja.
"Loocianpwee, aku mohon siapakah orang yang sudah menyamar sebagai Majikan Patung Emas itu?"
"Dia ... dia ... adalah......."
"Siapa ? siapa dia ??"
Desak Ti Then dengan gemas. Sekali lagi Yuan Siauw Ko tertawa ter-bahak2.
"Kalau aku beritahu siapakah majikan patung emas itu, kau ingin beri apa kepadaku?"
"Apa yang Loocianpwee inginkan pasti aku kabulkan !"
Sahut Ti Then dengan bernapsu. -oo0dw0oo-
Jilid 38 . Loo-cia ternyata Majikan Patung Emas... Mendadak Ti Then membelalakkan matanya lebar-lebar.
"Apa mungkin Loo-cia si pelayan tua itu?"
Tanyanya gemetar. Dengan perlahan Yuan Siauw Ko mengangguk.
"Tidak salah, memang dialah orangnya."
Air muka Ti Then seketika itu juga berubah menjadi pucat psi bagaikan mayat, seluruh tubuhnya terasa jadi dingin dan kaku, mulutnya melongo-longo sedangkan matanya terbelalak lebar-lebar, untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun diucapkan keluar.
Kiranya Majikan patung emas adalah penyamaran dari Loo-cia itu pelayan tua!
Cia Tiang Sian!!
Seorang pelayan tua yang sudah mengikuti Wie Ci To selama empat puluh tahun lamanya ternyata bukan lain adalah majikan patung emas yang sangat misterius itu.
Lama sekali Ti Then berdiri termangu-mangu, setelah itu baru serunya tertahan.
"Ooh...Thian!"
"Orang yang menjalankan tidak bakal tahu sedang yang menonton dari samping amat jelas, hari itu setelah kau menceritakan seluruh persoalan kepada Loohu, Loohu segera teringat kalau si Loo-cia pelayan tua itu adalah seorang manusia yang patut dicurigai, tapi kau tidak suka mempercayainya."
Ti Then tetap berada didalam keadaan yang amat terkejut, terdengar dia bergumam seorang diri.
"Bagaimana mungkin dia adalah Majikan Patung Emas? Bagaimana mungkin dia adalah Majikan Patung Emas ? Dia sudah ada empat puluh tahun lamanya mengikuti Wie Ci To, sedang kepandaian silatnya..."
Baru saja berbicara sampai disitu mendadak di dalam ruangan gua itu terasa adanya kelebatan cahaya terang sebentar kemudian suasana di tempat itu sudah terang benderang oleh cahaya obor.
Seorang tua dengan membawa lampu lentera berjalan masuk ke dalam.
Dia.....bukan lain adalah Loo-Cia itu pelayan tua!
Sewaktu melayani Ti Then di dalam benteng wajahnya selalu tersungging satu senyuman ramah, sedang sekarang.....bukan saja wajahnya tidak diliputi oleh senyuman bahkan kelihatan begitu dingin kaku, dan menyeramkan sekali, bahkan boleh dikata sudah nerubah jadi seorang...seorang berdarah dingin!
Terhadap Loo-Cia yang melayani dirinya terus dan dirinya tidak mengetahui kalau dia adalah Majikan Patung Emas, Ti Then merasa hatinya amat tergetar keras sehingga wajahnya berubah pucat pasi.
Walau pun dengan memegang pedang erat-erat dia berdiri di hadapan Majikan patung emas tetapi tak sepatah kata pun bisa dia ucapkan keluar!
Loo-cia meletakkan dahulu lampu lentera itu keatas sebuah batu, sikapnya amat dingin bagaikan es, setelah memandang sekejap kearah Ti Then serta Yuan Siauw Ko dia baru berkata.
"Hmm! Selama ini kau tidak suka menerima perintahku dengan hati rela dan selama ini pula tidak suka menerima peringatan dari diriku, kelihatannya kau merasa tidak percaya kalau aku berani turun tangan membunuh orang."
Nada suaranya amat dingin, seperti perkataan yang diucapkan oleh Raja Akhirat!
Membuat setiap orang yang mendengar segera merasakan bulu kuduknya pada berdiri.
Ti Then yang untuk pertama kalinya mencium bau kematian tubuhnya terasa tergetar amat keras, dengan cepat kuda-kudanya diperkuat, siap-siap menghadapi sesuatu pertempuran yang menentukan mati hidupnya.
"Loo-cia!"
Teriaknya dengan keras.
"Rupanya kaulah Majikan Patung Emas!"
"Hee...heee..cuma sayang keadaan sudah terlambat, sekali pun kau tahu juga tiada gunanya."
Ti Then yang melihat dari sinar matanya memancarkan napsu membunuhnya yang luar biasa, tak kuasa lagi dia menghembuskan napas dingin.
"Bilamana kau sungguh-sungguh mau membinasakan kami, aku ada satu permintaan."
"Coba kau katakan."
"Aku tidak suka menerima kematian dengan demikian saja, aku mau mengadu jiwa dengan dirimu!"
"Hee..hee..itu memang menjadi hakmu!"
Seru Majikan patung emas sambil tertawa dingin.
"Tetapi aku tahu dengan kepandaian silatku masih bukan merupakan tandinganmu maka itu aku sangat mengharapkan sebelum kau membinasakan diriku suka menjelaskan apakah sebenarnya tujuan yang engkau tuju!"
"Baik!"
Jawab Loo-cia dengan seram.
"Menanti napasmu hampir putus, aku bisa beritahukan kepadamu! Sekarang kau boleh mulai turun tangan!"
Ti Then segera menoleh kearah Yuan Siauw Ko dan ujarnya dengan hati menyesal.
"Boanpwee sudah menyeret cianpwee ikut terancam jiwanya, dalam hati aku benar-benar merasa menyesal. Semoga saja pada penjelmaan di kemudian hari bisa menjadi anjing atau kuda untuk membalas jasa dari Loocianpwee ini!"
Terhadap soal kematian agaknya Yuan Siauw Ko merasa sangat tawar, mendengar perkataan dari Ti Then itu dia tertawa.
"Tidak! Soal ini bukanlah kesalahanmu, kau tidak hutang apa-apa dengan loohu!"
Dengan sedihnya Ti Then segera menghela napas panjang, dengan perlahan dia menoleh ke arah Loo-cia.
"Yuan loocianpwee ini tidak tahu urusan, bilamana kau tidak suka melepaskan dirinya maka harap kau suka kasih satu pemberesan yang cepat,"
Katanya.
"Baik!"
Nada suaranya amat tegas sedikitpun tidak ragu-ragu, jelas terhadap diri Ti Then serta Yuan Siauw Ko dia sudah punya maksud untuk membereskannya.
"Hee...hee..kepandaian silatku aku berhasil pelajari dari dirimu, entah kali ini bisa tidak menerima dua puluh jurus seranganmu?"
Kata Ti Then sambil tertawa. Sehabis berkata tubuhnya maju ke depan, pedangnya diayun menotok tubuh Loo-cia. Jurus serangan ini bernama "Sian Jien Ci Lo"
Atau dewa sakti menunjuk jalan, yang merupakan satu jurus serangan yang bukan dipelajari dari pihak lawannya karena dia tahu bagaimana harus menggunakan ilmu pedang yang dipelajari darinya untuk menyerang dia orang maka hal ini sama sekali tidak ada gunanya.
Loo-cia tertawa dingin, dia tetap berdiri tidak bergerak.
Menanti ujung pedang dari Ti Then sudah hampir mendekati badannya, mendadak telapak kanannya baru membalik, dengan menggunakan tangan kosong dia mencengkeram pedang dari Ti Then.
Melihat serangan tersebut Ti Then jadi terkejut, dengan gugup dia menarik kembali serangannya, sambil menyingkir kekanan dengan menggunakan jurus "Jie Lang Tan San"
Atau Jie Lang memanggul gunung, membabat pinggang musuhnya.
"Ilmu pedang bagus!"
Puji Loo-cia dengan keras.
Tubuhnya menyingkir ke samping, dengan amat gesit dan lincahnya kembali dia berhasil menghindarkan diri dari tusukan Ti Then, mendadak tubuhnya menyerang ke sebelah kiri, telapaknya dengan mengubah jadi cengkeraman elang, menghajar jalan darah "Ciang Bun"
Pada pinggang Ti Then.
Dengan gugup Ti Then menyingkir kebelakang, pedangnya dengan memutar satu lingkaran bagaikan burung merak lagi mementangkan sayap dia menghajar dadanya Loo-cia.
Masing-masing pihak bergebrak dengan kecepatan yang luar biasa, setiap jurus dipecahkan dengan jurus, didalam berjaga membawa daya menyerang hanya didalam sekejap saja sudah puluhan jurus sudah berlalu dengan amat cepatnya.
Tetapi pada saat masing-masing pihak bertempur dengan amat seru itulah tiba-tiba........
"Rubuh!"
Bentak Loo-cia dengan keras.
Hanya didalam sekejap saja sinar pedang berkelebat memenuhi angkasa, bayangan telapak mengacaukan pandangan, masing-masing pihak sudah berhenti bergerak sedang tubuh Ti Then pun dengan perlahan-lahan rubuh ke atas tanah.
Semuanya ini membuat Yuan Siauw Ko yang menonton di samping dibuat melongo-longo, dia yang melihat Ti Then dapat dengan amat sengitnya melawan Majikan Patung emas menurut anggapannya, walau pun Ti Then tidak dapat memperoleh kemenangan paling sedikit untuk menerima seratus jurus pun masih bisa.
Siapa sangka cuma sepuluh jurus saja dia sudah menemui kekalahan secara mendadak, hal ini benar-benar amat mencengangkan hatinya.
Sedang Ti Then sendiri pun merasa kebingungan, dia tidak mengerti pihak lawan sudah menggunakan cara apa untuk menotok jalan darahnya, bahkan dia pun merasa jari tangan pihak lawan pun tidak sampai mengenai tubuhnya tetapi sudah cukup membuat badannya jadi kaku sehingga tak dapat berdiri lebih lama.
Tetapi pikiran serta kesadarannya masih penuh, keadaannya mirip dengan orang yang tertotok jalan darah kakunya.
Dengan menggunakan kakinya Loo-cia lantas membalik badannya sehingga terlentang, air mukanya masih tetap dingin dan buas kejam.
"Kau lihat!"
Ujarnya.
"Walau pun aku sudah menciptakan dirimu sebagai jago nomor tiga di seluruh Bu-lim, tetapi bilamana ingin membereskan dirimu aku masih bisa lakukan dengan amat mudah."
"Sekarang tentunya kau sudah boleh menceritakan tujuanmu bukan?"
"Sebentar lagi pasti aku beritahukan kepadamu!"
Dengan perlahan dia bergeser kesamping tubuh Yuan Siauw Ko dan memasukkan sepasang tangannya kebawah batu cadas, entah dengan menggunakan cara yang bagaimana tahu-tahu batu cadas itu sudah terangkat setinggi satu depa kemudian kakinya menendang rantai besi itu kebawah batu dan menurunkan kembali batu cadas itu.
"Buat apa kau berbuat demikian?"
Ujar Yuan Siauw Ko sambil tertawa dingin.
"Karena kau cuma tinggal satu jam saja hidup di dunia."
"Seluruh kepandaian silat loohu sudah kau punahkan, apa kau takut loohu melarikan diri?"
"Benar, untuk sementara waktu aku akan meninggalkan gua ini satu jam kemudian akan kembali lagi kesini untuk membereskan kalian berdua!"
Sehabis berkata dia lantas berjalan keluar dari gua tersebut. Melihat tindakan dari Majikan Patung Emas itu Ti Then segera merasakan hatinya tergetar amat keras.
"Tunggu dulu!"
Teriaknya dengan cemas. Majikan Patung Emas segera menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Permintaanmu itu bisa aku penuhi satu jam kemudin, sekarang lebih baik kau berbaring dulu disini!"
Katanya dingin.
"Kau mau kemana?"
"Pulang ke dalam Benteng."
"Mau apa?"
"Urusi pekerjaan!"
Sahut Majikan Patung Emas singkat.
Sehabis berkata dia melanjutkan kembali langkahnya menuju ke depan.
Ti Then sudah dapat menebak apa yang hendak dikerjakan olehnya sekembalinya ke dalam Benteng, hatinya merasa semakin cemas lagi.
"Tunggu dulu, apa yang hendak kau lakukan sekembalinya ke dalam Benteng?"
"Teriaknya dengan cemas.
"Sejak semula aku sudah bilang"
Ujarnya sambil menghentikan langkahnya kembali.
"Bilamana dengan menggunakan cara yang lunak tidak dapat mencapai tujuan terpaksa aku harus menggunakan cara kekerasan!"
Mendengar kata-kata itu Ti Then merasakan matanya berkunang-kunang.
"Tidak! Kau tidak boleh membunuh mereka ayah beranak!"
Teriaknya dengan keras.
"Satu jam kemudian kau pun bakal mati, buat apa sekarang kau merasa kuatir buat orang lain?"
Sehabis berkata dia melangkah kembali keluar.
Dalam hati Ti Then tahu didalam keadaan tak siap sedia Wie Ci To ayah beranak pasti sukar untuk meloloskan diri dari kematian, tidak terasa lagi dia sudah menghela napas panjang.
"Sudahlah, aku menyerah kepadamu!"
Katanya lemas. Majikan Patung Emas pura-pura tidak mendengar, dia melanjutkan kembali langkahnya menuju ke depan.
"Kau kembalilah, aku suka menurut petunjukmu lagi!"
Teriak Ti Then semakin keras. Dengan perlahan Majikan Patung Emas baru menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Kau bangsat cilik tidak bisa dipercaya, bagaimana aku dapat mempercayai kembali kata-katamu?"
Ujarnya dingin.
"Yuan loocianpwee masih ada di tanganmu, kau takut apa?"
Majikan Patung Emas termenung berpikir sebentar, setelah itu baru putar badannya berjalan balik.
"Kau sungguh-sungguh tidak akan mengkhianati aku lagi?"
"Tidak!"
"Sekarang kau sudah tahu akulah Majikan Patung Emas, bilamana kau berani memecahkan rahasiaku, maka yang pertama-tama aku bunuh adalah Yuang Cong-piauwtauw ini!"
"Kau boleh berbuat demikian."
"Baik, untuk terakhir kalinya aku suka mempercayai dirimu!"
Sehabis berkata dia lantas berjongkok untuk membebaskan jalan darah kaku dari Ti Then yang tertotok.
Ti Then yang merasa cara menotok jalan darahnya ini sangat istimewa sekali, tidak tertahan lantas tanyanya.
"Agaknya tadi kau orang tidak membentur badanku bukan?"
"Sudah tentu, karena yang aku gunakan adalah totokan angin!"
Jawab Loo-cia sambil tertawa seram. Jari tangan kanannya segera ditekuk dan disentilkan ke depan.
"Plaaak!"
Dengan disertai suara angin yang amat nyaring batu kecil yang ada beberapa depa jauhnya segera tersentil jatuh ke tengah kejauhan.
Waktu itu Ti Then baru bangkit berdiri, melihat kedahsyatan dari ilmu tersebut dalam hati merasa amat terperanjat.
"Agaknya ilmu silat semacam ini kau orang belum pernah mengajarinya kepadaku!"
"Seharusnya aku tinggalkan beberapa ilmu untuk aku simpan, kalau tidak bagaimana aku bisa menguasai dirimu?"
Ti Then segera bangkit berdiri dan menoleh ke arah Yuan Siauw Ko sambil tertawa pahit.
"Loocianpwee! Sebenarnya boanpwee tidak ingin takluk dengan perbuatan jahat, tetapi saat ini aku mau tidak mau harus tunduk satu kali!"
Sudah tentu Yuan Siauw Ko mengerti akan maksud hatinya, kesemuanya ini dia lakukan dikarenakan Wie Ci To ayah beranak, karenanya terhadap keputusan inipun dia mengetahui jelas.
"Loohu tahu, kau pergilah dengan lega hati!"
Ujarnya sambil tertawa.
"Kau punya rencana hendak mengurung Yuan loocianpwee sampai kapan baru dilepaskan kembali?"
Tanya Ti Then kemudian sambil menoleh kearah Loo-cia.
"Sesudah tujuanku tercapai!"
"Kau orang tidak seharusnya memusnahkan ilmu silatnya"
Omel Ti Then.
"Caraku untuk memusnahkan ilmu silat orang lain sama sekali berbeda dengan cara biasanya, sampai waktunya aku lepaskan dia pergi tentu kepandaian silatnya aku pulihkan kembali."
"Apa sungguh-sungguh perkataanmu itu?"
Tanya Ti Then dengan hati girang.
"Tidak salah"
"Di dalam waktu-waktu ini aku mengharapkan kau jangan merugikan dirinya"
"Asalkan dia tidak melarikan diri, aku pasti tidak akan merugikan dirinya."
"Keadaan dari loohu sekarang ini seperti anjing pun lebih baik, kau masih bilang tidak merugikan?"
Cela Yuan Siauw Ko dari samping.
"Aku merasa senang untuk memberi lebih enak sedikit kepadamu, tetapi dengan keadaan pada saat ini terpaksa aku cuma bilang bersikap demikian kepadamu."
Berbicara sampai disini dia lantas menoleh kearah Ti Then.
"Sekarang cepat kau kembali ke dalam Benteng!"
Perintahnya.
"Kau tidak kembali bersama-sama aku?"
"Kau pulanglah terlebih dahulu."
Dengan wajah ragu-ragu Ti Then menoleh sekejap kearah Yuan Siauw Ko, lama sekali baru ujarnya.
"Kau masih ada disini untuk berbuat apa?"
"Kau boleh lega hati, bilamana aku ingin mencelakai dirinya saat ini pun aku bisa turun tangan."
Ti Then yang merasa perkataannya ini sedikit pun tidak salah lantas merangkap tangannya menjura kearah Yuan Siauw Ko, setelah itu memungut kembali pedangnya dimasukkan kedalam sarung.
Baru saja Ti Then berjalan beberapa langkah mendadak terdengarlah Loo-cia si majikan patung emas berkata kembali.
"Ooh benar, bilamana jejakmu malam ini diketahui oleh para pendekar pedang yang berjaga-jaga di benteng, kau hendak menggunakan cara apa untuk memberi penjelasan?"
Sembari melanjutkan perjalanannya keluar dari gua itu jawab Ti Then tawar.
"Aku bilang baru saja menemukan orang yang melakukan perjalanan malam melewati benteng, aku lantas melakukan pengejaran hingga di luar benteng."
"Betul, memang seharusnya kau memberi penjelasan secara demikian"
Sahut Loo-cia tertawa.
Dia pun lantas ikut di belakang Ti Then berjalan keluar dari gua, menanti bayangan tubuh Ti Then sudah lenyap dari pandangan dia baru kembali lagi kedalam gua dan menarik lepas rantai besi yang ditindih dibawah batu cadas tersebut.
Kemudian sambil membawa kantongan ransum serta air, ujarnya kepada Yuan Siauw Ko.
"Ayoh, kita pun harus berangkat!"
"Kemana?"
"Tempat ini sudah diketahui oleh Ti Then, maka aku harus membawa dirimu menuju kedalam gua yang lain"
Dengan berdiam diri Yuan Siauw Ko bangkit berdiri dan mengikuti dari belakang tubuhnya berjalan keluar dari gua tersebut.
Sesampainya diluar gua, dikarenakan kepandaian silat dari Yuan Siauw Ko sudah musnah sehingga tidak bisa mengerahkan ilmu meringankan tubuh maka dengan dibimbing oelh Loo-cia mereka melayang dan menaiki keatas tebing gua Lui Tong Ping tersebut.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanannya menuju kedalam gunung yang lebih jauh lagi.
Sewaktu bayangan tubuhnya sudah ada beberapa kaki jauhnya dari sana, mendadak dari bawah gua Lui Tong Ping itu berkelebat kembali sesosok bayangan hitam yang secara diam-diam tanpa mengeluarkan sedikit suara pun menguntit dari belakang Loo-cia hingga ke tempat tujuannya.
Adakah bayangan hitam itu adalah Ti Then?
Bukan, saat ini Ti Then sudah kembali ke benteng Pek Kiam Poo.
XXXdwXXX Para tetamu yang sengaja datang membawa selamat sudah berdatangan, suasana di dalam benteng Pek Kiam Poo mulai jadi ramai.
Saat itu sewaktu Ti Then lagi duduk melamun di dalam kamar mendadak tampak Loo-cia masuk ke dalam kamar.
"Ti Kiauw-tauw, Poocu mengundang kau ke kamar baca untuk bercakap-cakap"
Katanya sambil tertawa.
"Urusan apa?"
Tanya Ti Then melengak.
"Entahlah!"
Dia menoleh dulu memandang sekeliling tempat itu kemudian sambil memperendah suaranya dia berkata kembali.
"Jarak sekarang dengan hari perkawinanmu tinggal empat hari saja. Di dalam empat hari ini apa yang dikatakan oleh Wie Ci To kepadamu harus kau laporkan semua kepadaku, tahu tidak?"
Ti Then segera mengangguk dan putar badan berlalu dari sana.
Setibanya didalam kamar baca Wie Ci To tampaklah Wie Lian In pun pada sat itu ada didalam kamar baca, karenanya dia lantas maju memberi hormat kepada Wie Ci To.
"Loo-cia bilang katanya Gak-hu thayjien lagi mencari menantumu?"
"Benar"
Sahut Wie Ci To tersenyum.
"Loohu punya satu urusan yang hendak dirundingkan dengan dirimu, kau duduklah"
Ti Then segera duduk di samping. Wie Ci To mendehem beberapa kali, lalu sambil menuding kearah Wie Lian In ujarnya sambil tertawa.
"Lian In budak ini secara mendadak kemarin hari minta kepada Loohu untuk mendirikan satu kamar baru..."
Ti Then jadi melengak.
"Apa sempat untuk membangun sebuah kamar baru lagi?"
Tanyanya.
"Maksud dari Lian In bukannya minta dibangunkan satu kamar yang baru, dia cuma bilang tidak suka menganggap kamarnya sekarang sebagai kamar yang baru, dia pikir ingin mencari tempat lain untuk mendirikan kamar baru buatnya."
Dengan tidak paham Ti Then memandang sekejap ke arah Wie Lian In.
"Bukankah kamarmu sekarang ini sangat bagus sekali?"
Tanyanya.
"Hmm, kamar itu syudah aku diami selama puluhan tahun lamanya, sejak semula aku sudah merasa bosan"
Seru Wie Lian In sambil mencibirkan bibirnya.
"Sudah..sudahlah, kau tidak usah seperti bocah cilik saja!"
"Perkatraannya memang amat betul"
Timbrung ie Ci To sambil tersenyum.
"Setelah kalian menikah ada seharusnya dimulai dengan barus segala-galanya"
"lalu kau sudah setuju dengan kamar yang mana di dalam Benteng ini?"
Tanya Ti Then sambil tertawa, dengan perlahan dia menoleh kearah Wie Lian In.
"Aku sudah setuju dengan kamar didalam loteng penyimpan kitab tersebut."
Semula Ti Then agak melengak, tetapi sebentar kemudian dia sudah tertawa geli.
"Lian In, kau jangan berguyon"
Serunya.
"Tetapi tia sudah setuju"
Sekali lagi Ti Then dibuat kebingungan, dia merasa urusan ini ada diluar dugaannya.
"Sungguh?"
Tanyanya sambil menoleh kearah Wie Ci To.
"Sungguh..."
Sahut Wie Ci To mengangguk.
"Tetapi..."
"Loteng penyimpan kitab itu tidak mengandung rahasia apa pun"
Potong Wie Ci To dengan cepatnya, apalagi setelah Loohu ceritakan soal lukisan Shu Sia Mey kepada kalian hatiku pun rada baikan, maka itu Loohu sudah mengabulkan permintaan dari Lian In untuk serahkan itu loteng penyimpan kitab sebagai kamar baru kalian."
Untuk beberapa saat lamanya Ti Then dibuat kebingungan, dia tahu didalam loteng penyimpan kitab pasti sudah tersimpan satu rahasia, sedang barang yang diinginkan oleh Majikan patung emas itu pun pasti tersimpan di dalam Loteng penyimpan kitab tersebut.
Sekarang mereka ayah beranak menyerahkan loteng tersebut kepada dirinya untuk dijadikan sebagai kamar baru, bukankah hal ini sama saja dengan mengundang pencuri ke dalam kamar?
Dan memberi kesempatan buat Majikan Patung emas atau boleh dikata dirinya sendiri untuk melakukan niatnya?
"Kau tidak suka dengan tempat itu ?"
Tanya Wie Lian In tiba-tiba.
"Bilamana kau menyuruh aku mengambil keputusan maka aku rasa kamarmu yang sekarang itu jauh lebih baik."
"Kenapa ?"
Tanya Wie Lian In kurang senang.
"Loteng penyimpan kitab itu tentu merupakan tempat yang paling tenang dari ayahmu, kita tidak seharusnya merebut tempat kesenangan dari ayahmu itu."
"Soal ini kau tidak usah kuatir,"
Sambung Wie Ci To dengan cepat.
"Pada beberapa waktu ini Loohu sudah jarang membaca buku lagi bahkan loohu rela memberikan loteng penyimpan kitab itu buat kalian gunakan sebagai kamar baru."
"Apa maksud dari Gak hu ?"
"Loohu masih teringat dengan kata-katamu tempo hari, dikarenakan Loohu sudah melarang setiap orang memasuki loteng penyimpan kitab itu maka mudah menimbulkan rasa curiga dari orang lain kalau di dalam loteng itu benar-benar sudah tersimpan barang pusaka, demi jelasnya persoalan ini maka Loohu rasa serahkan ruangan itu buat kalian adalah merupakan satu penyelesaian yang paling baik."
"Asalkan kau tidak menolak maka aku segera akan suruh orang untuk membersihkan tempat itu dan memasukkan semua alat2 rumah tangga kedalam ruangan"
Sambung Wie Lian In dengan cepat.
"Lalu buku-buku itu hendak pindah kemana ?"
"Kamar kosong didalam Benteng masih banyak, buku-buku itu mudah saja dipindahkan ke tempat lain"
"Sedang alat rahasianya ?"
"Alat rahasia sukar untuk dibongkar, tetapi Loohu bisa jelaskan semua alat rahasia itu kepada kalian agar kalian pun mengerti cara menggunakannya."
"Sebetulnya menantumu merasa kurang setuju,"
Ujar Ti Then sambil tertawa.
"Tetapi kalau memangnya Gak hu serta Lian In sudah setuju maka siauw say pun tidak akan menolak lagi"
Mendengar perkataan tersebut Wie Ci To segera bangkit berdiri.
"Loohu akan pergi menutup alat rahasianya, kemudian suruh orang untuk memindahkan kitab serta lukisan-lukisan itu. Dan mengadakan pembersihan seperlunya". Sehabis berkata dia lantas berlalu dari sana. Menanti bayangan tubuh dnri Wie Ci To sudah lenyap dari pandangan Ti Then baru menoleh kearah Wie Lian In dan mengomel.
"Kau tidaklah patut untuk mengajukan permintaan ini kepada ayahmu !".
"Kenapa ?"
Tanya Wie Lian In sambil mencibirkan bibirnya.
"Membaca buku dan memandang lukisan adalah satu-satunya kesenangan dari ayahmu, tidak seharusnya kau mengganggu kesenangan beliau itu !".
"Tetapi membaca buku atau melihat lukisan tidak seharusnya diatas loteng penyimpan kiiab !".
"Tetapi belum tentu juga ruangan loteng penyimpan kitab itu harus dijadikan kamar baru kita".
"Aku rasa loteng penyimpan kitab itu sangat indah sekali, dibawah loteng ada ruangan tamunya, diatas loteng adalah kamar tidur dan bisa digunakan untuk memandang ketempat kejauhan apalagi bila mana musim panas menjelang tidak merasa terlalu panas, bukan begitu ?". Sambil mengerutkan alisnya rapat2 Ti Then tidak mengucapkan sepatah katapun.
"Disamping itu"
Ujar Wie Lian In lagi tertawa.
"Kita bisa pula melenyapkan pikiran yang bukan2 dari ayahku terhadap Shu Siu Mey, bukankah itu sangat bagus sekali ?"
Ti Then tertawa tawar dan tidak mengucapkan kata-kata lagi.
"Ayoh jalan, kila pergi melihat-lihat."
Mereka berdua segera berjalan keluar dari kamar baca itu menuju kebawah loteng penyimpan kitab. Waktu itu kebetulan Wie Ci To sedang berjalan mendatang, terdengar sambil tertawa ujarnya .
"Loohu sudah mematikan alat2 rahasianya, sekarang aku mau suruh pelayan singkirkan buku-buku serta lukisan2 itu."
Tidak lama kemudian dangan diawasi oleh Wie Ci To sendiri tampak tiga orang pelayan tua mulai menurunkan peti-peti buku yang ada didalam loteng penyimpan kiiab itu.
Agaknya Wie Ci To merasa kekurangan tenaga, kepada Ti Then lantas ujarnya;
"Coba kau panggil Loo-cia kemari untuk membantu."
"Kenapa tidak suruh pendekar pedang hitam saja ?"
"Tidak, beberapa orang tua itu sudah ada sangat lama mengikuti loohu, cuma mereka saja yang tahu bagaimana caranya membereskan barang-barang tersebut."
"Ooow . ."
Seru Ti Then, setelah itu dia berjalan ke ruangan tengah untuk mencari datang Loo cia.
"Loo-cia, poocu perintah kau membantu mengangkati barang,"
Serunya.
"Mengangkati barang apa ?"
Tanya Loo-cia dengan sinar mata ragu-ragu.
"Membongkar kitab-kitab serta lukisan2 yang ada didalam loteng penyimpan kitab, Poocu mau berikan tempat itu untuk dijadikan kamar pengantenku"
"Apa maksudmu ?"
Tanya Loo-cia dengan air muka berubah sangat hebat.
"Ini adalah atas perintah dari Wie Lian In, dia bilang mau pindah kamar dan Wie Ci To setuju, maksudnya yang lain adalah agar semua orang paham kalau didalam loteng penyimpan kitab itu sebetulnya tidak ada barang pusaka apapun."
"Lalu alat-alat rahasia didalam loteng itu apakah sudah dibuang?"
"Tidak,"
Jawab Ti Then perlahan.
"Wie Ci To bilang alat-alat rahasia itu tidak bisa dibongkar, tetapi dia hendak memberi penjelasan kepada kami bagaimana caranya menggunakan alat-alat rahasia tersebut."
"Kalau begitu sangat bagus sekali !!"
Teriak Loo-cia dengan hati girang.
"Aku tahu setelah mendengar berita ini kau pasti akan merasa girang, tapi bilamana kau bermaksud untuk mendapatkan semacam barang dari Wie Ci To saat ini merupakan satu kesempatan yang baik, kau boleh menggunakan kesempatan sewaktu menggotongi buku2 serta lukisan2 itu untuk mencari dapat barang itu".
"Soal itu tidak mungkin bisa terjadi !"
Ujar Loo-cia sambil gelengkan kepalanya.
"Kenapa ?"
Loo-cia tersenyum, dengan suara yang amat lirih ujarnya;
"Barang yang aku maui itu sudah disimpan oleh Wie Ci To dengan amat rahasia, barang itu baru bisa diperoleh bilamana kau benar2 sudah memahami seluk beluk dari alat2 rahasia yang menyelubungi loteng penyimpan kitab itu".
"Jadi maksudmu, barang yang kau inginkan itu tidak mungkin dipindahkan oleh Wie Ci To keluar dari loteng penyimpan kitab tersebut ?".
"Benar".
"Besarkah barang itu?".
"Tidak besar yaa tidak kecil!"
Sahut Loo-cia sambil tcrtawa misterius.
"Kau rasa setelah aku bisa menggunakan alat2 rahasia itu lalu bisa bantu dirimu untuk mendapatkan barang tersebut?"
"Tidak salah"
"Kalau begitu ada kemungkinan sebelum tiba saatnya aku kawin dengan Wie Lian In barang itu sudah dapat aku dapatkan?".
"Ada kemungkinan memang begitu".
"Bilamana aku bisa memperoleh barang itu sebelum hari perkawinanku, apakah kau hendak memaksa aku tetap kawin dengan Wie Lian Ini?"
"Tidak!"
Seru Loo-cia.
"Waktu itu kau boleh ambil keputusan sendiri, bilamana suka kawin dengan dirinya kau boleh tetap tinggal disini. bilamana tidak suka yaa boleh meninggalkan benteng Pek Kiam Poo"
Mendengar perkataan itu Ti Then jadi amat girang.
"Kalau begitu sekarang juga kau boleh beritahukan kepadaku barang macam apakah yang kau kehendaki itu, akupun bisa segera melaksanakan tugas tersebut, karena ada kemungkinan sebentar lagi Wie Ci To bakal memberitahukan kepadaku cara2 kegunaan dari alat2 rahasia tersebut". Loo-cia termenung berpikir sebentar, akhirnya dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, sekarang masih belum bisa, menanti setelah kau benar2 mengerti jelas cara-cara dari alat rahasia itu ..hmm. hmmm"
Benar, apakah Wie Ci To ayah beranak pernah mengajukan permintaan untuk tunjuk aku lagi untuk melayani dirimu?"
"Tidak."
"Ada kesempatan kau boleh katakan soal ini dengan Wie Ci To, katakan saja kau suka padaku dan mengharapkan aku bisa melanjutkan pekerjaannya melayani dirimun di loteng penyimpan kitab tersebut"
Dalam hati Ti Then tahu pihak lawan berkata demikian dengan tujuan ingin mencari barang, memang cara itulah yang terbaik, karenanya dia lantas mengangguk.
"Baiklah, bilamana Wie Ci To tidak setuju, aku tidak punya cara lhoo,"
Katanya.
"Asalkan kau tidak membocorkan rahasiaku maka dia tidak akan menaruh curiga terhadap diriku, bilamana dia tidak menaruh curiga terhadap diriku maka permintaanmu itu pasti akan dikabulkan."
"Semoga saja demikian, sekarang kau boleh pergi bekerja."
Loo-cia segera mengangguk dan berjalan menuju ke Loteng Penyimpan kitab itu.
Ti Then pun mengikuti dari belakangnya berjalan menuju kearah Loteng penyimpan kitab.
Wie Ci To yang melihat munculnya Loo-cia dia lantas berseru.
"Loo-cia, dahulu kau pernah membantu loohu aturkan buku2 dan lukisan2 coba kau masuklah kedalam dan membantu"
Dengan hormatnya Loo-cia menyahut dan dengan langkah cepat masuk kedalam loteng penyimpan kitab untuk membantu membongkari buku2 serta lukisan tersebut.
XxxdwxxX WIE CI TO segera menoleh kearah Ti Then dan tertawa.
"Loo-Cia orang ini tidak jelek, dia sudah mengikuti puluhan tahun lamanya dengan Loohu, selamanya belum pernah ribut maupun mengomel, dia adalah seorang yang rajin ...."
"Benar !"
Sahut Ti Then mengangguk.
"Sebelum dia mengikuti Gak-hu apa kerjanya?"
"Seorang kuli di dusun, ada satu kali karena miuum arak dan mabok dia sudah membuat gara2 sehingga diusir oleh majikannya. Loohu yang melihat dia orang amat jujur lantas menerimanya sebagai pembantu, kaiau di-hitung2 boleh dikata dia sudah ada empat puluh tahun lamanya mengikuti Loohu."
"Apakah dia pernah belajar ilmu silat?".
"Pernah belajar beberapa waktu lamanya, karena bakatnya tidak ada kemudian dia tidak berlatih lagi". Sewaktu mereka ber-cakap2 terlihatlah Loo-cia dengan menggotong sebuah peti buku berjalan keluar dari Loteng penyimpan kitab itu dan berhenti dihadapan mereka, kepada Wio Ci To sambil tertawa tanyanya .
"Peti ini berisikan tulisan tangan dari para sejarah Wan, Poocu punya maksud untuk menyimpannya dikamar yang mana?"
"Taruh saja disebelah kiri dari kamar baca". Loo-cia segera menyahut dan sambil menggotong peti tersebut berjalan menuju ke kamar baca.
"Loo-cia"
Tiba2 terdengar Wie Lian In menegur sambil tertawa perlahan.
"Tenagamu sungguh tidak kecil !", Sembari berjalan Loo-cia menjawab .
"Peti buku ini tidak lebih cuma enam tujuh puluh kati beratnya, bilamana budakmu tidak kuat untuk mengangkat bukankah hanya memalukan orang2 benteng Pek Kiam Poo saja".
"Loo-cia bekerja amat gesit, p"rkataannya pun amat lincah, siauw-say berharap lain kali dia bisa meneruskan untuk melayani aku "
Ujar Ti Then sengaja mengambil kesempatan ini.
"Tapi aku tidak suka padanya, dia sering menggoda aku!"
Sela Wie Lian In amat kesal.
"Kan tidak mengapa bukan kalau cuma berguyon ??"
"Lain kali ada Cun Lan seorang sudah cukup buat apa ditambahi dengan dirinya?"
"Tetapi apakah Cun Lan bisa mengerjakan pekerjaan besar?"
"Tidak salah"
Sela Wie Ci To sambil tertawa.
"Walaupun usia dari Loo-cia sudah tidak kecil tetapi untuk melakukan pekerjaan kasar aku lihat masih bisa, lebih baik biar dia ikut dengan kalian lagi."
Wie Lian In tersenyum dan tidak membantsh lagi.
Empat orang pelayan tua itu setelah repot setengah harian akhirnya buku2 serta lukisan2 yang ada didalam loteng penyimpan kilab itupun sudah berhasil dibereskan Wie Ci To lantas perintah mereka untuk membersihkannya, kepada Ti Then serta putrinya dia memberi pesan.
"Kemungkinan sekali besok pagi barang2 rumah tangga sudah bisa dibawa masuk, sekarang kalian ikutlah loohu menuju ke kamar baca, Loohu hendak menjelaskan dulu keadaan dari alat rahasia itu."
Xxxdwxxx Magrib itu juga Loo-cia berempat sudah menyelesaikan pekerjaannya untuk membereskan Loteng Penyimpan kitab itu, Wie Ci To pun dengan mengambil kesempatan sebelum alat2 rumah tangganya diatur didalam ruangan tersebut dengan mengajak Ti Then serta putrinya memasuki loteng penyimpan kitab dan menjelaskan cara2 menutup serta membuka alat2 rahasia itu beserta perubahannya.
Dengan telitinya Ti Then mengingat semua keterangan itu di hati, diam2 dia merasa terperanjat juga karena ini harilah dia baru benar2 mengetahui kalau Loteng penyimpan kitab itu benar2 merupakan satu tempat yang sukar ditembusi oleh orang asing.
Alat rahasia yang dipasang didalam ruangan itu ada delapan belas macam jumlahnya bahkan cara untuk menggerakkan alat rahasia itupun bisa diubah sesukanya sehingga memaksa pihak musuh tidak dapat memecahkannya untuk selamanya.
Diam2 pikirnya dihati.
"Tidak aneh kalau Loo-cia hendak menggunakan aku untuk mencuri barang tersebut, bilamana tidak mendengarkan penjelasan dari Wie Ci To ini hari siapapun tidak bakal bisa keluar lagi dari sini dalam keadaan hidup2 setelah tiba disini!". Setelah Wie Ci To selesai menjelaskau rahasia itu mendadak dia menggerakkan suatu alat rahasia sehingga membuat dinding tembok itu memutar dengan sendirinya, ujarnya sambil tertawa.
"Tempo hari Loohu pun pernah membuka dinding rahasia ini untuk melihat lukisan dari Shu Sin Mey ....". Sedang sekarang lukisan dari Shu Sin Mey yang ada disana sudah tidak kelihatan lagi! "Dimanakah lukisan itu sekarang berada? tanya Wie Lian In keheranan.
"Loohu sudah simpan lukisan kedalam ruaogan rahasia tersebut, sebetulnya Loohu bermaksud untuk membawanya keluar dari loteng penyimpanan kitab ini tetapi dikarenakan semasa hidupnya dia paling suka ketenangan maka loohu rasa lebih baik biarkan dirinya tinggal didalam loteng saja".
"Apakah disebelah sana masih ada sebuah kamar rahasia?"
Tanya Wie Lian In lagi.
"Ada! disebelah dalam!"
Sahut Wie Ci To sambil mengangguk.
Dari samping dinding kembali dia menekan sebuah tombol.
Kraak ...
kraak ..dengan menimbulkan suara yang nyaring dari balik dinding rahasia itu kembali terbuka sebuah ruangan rahasia yang amat gelap dan cuma kelihatan anak tangganya saja.
Anak tangga yang terbuat dari batu itu menghubungkan ke tempat yang lebih dalam lagi, kemana tujuannya?
tiada yang tahu.
Wie Ci To segera menuju kedalam ruangan tersebut.
"Dari sini menuju kebawah akan tiba disuatu tempat yang amat rahasia, ruangan itu letaknya ada tiga kaki dalamnya dari atas permukaan tanah"
Ujarnya.
"Bagaimana kalau aku masuk untuk melihat?".
"Tidak!"
Cegah Wie Ci To denpan wajah keren.
"Ada yang penting?"
Tanya Wie Lian In kaget.
"Loohu tidak ingin ada orang yang mengganggu dirinya, sejak ini hari ssluruh ruangan Loteng Penyimpan kitab ini loohu serahkan kepada kalian suami istri, cuma satu2nya ruangan rahasia ini saja loohu harap kalian suka tinggalkan buat dirinya."
"Jadi maksud Tia apa mungkin sukmanya masih ada didalam loteng penyimpan kitab ini?"
Tanya Wie Lian In tiba2 sambil tertawa.
"Benar, walaupun dia sudah meninggal amat lama tapi loohu selalu merasa bahwa sukmanya tidak bakal pergi dari tempat ini!"
Dia berhenti sebentar, kemudian dengan menggunakan sepasang matanya yang amat tajam memperhatikan diri Ti Then serta Wie Lian In sekejap, dan ujarnya dengan suara keren.
"Loohu tidak akan menggunakan kekerasan untuk memaksa kalian pergi menghormat dirinya, tapi bilamana kalian suka menghormati loohu maka harap janganlah kalian pergi mengganggu dirinya!"
"Baik!"
Sahut Wie Lian In dengan amat hormatnya.
"Putrimu pasti tidak akan menginjak ruangan rahasia ini barang selangkah pun!"
"Gak-hu harap berlega hati!"
Ujar Ti Then dengan muka yang serius.
"Siauw-say akan menganggap di dalam loteng penyimpan kitab ini sama sekali tidak ada lorong rahasia ini dan tidak pula ruangan bawah sekali."
"Kalau begitu sangat bagus sekali!"
Sahut Wie Lian In dengan hati girang.
"Apakah didalam ruangan itu tidak dipasangi alat rahasia ?".
"Tidak ada, maka itu loohu mengajukan permintaan ini kepada kalian. karena loohu takut secara sembunyi2 kalian hendak mengintip masuk".
"Tidak mungkin terjadi"
Seru Wie Lian In sungguh2.
"Bilamana Tia tidak berkata ada kemungkinan putrimu akan masuk ke dalam, sekarang Tia sudah memberi pesan demikian sudah tentu putrimu tidak akan berani masuk lagi". Wie Ci To yang mendengar perkataan dari putrinya itu amat tegas diapun lantas menekan kembali tombol rahasianya sehingga dinding rahasia itu menutup kembali.
"Mari kita turun kebawah!"
Ujarnya. Malam itu setelah Ti Then menemui para tetamu untuk bersantap malam dia kembali kekamarnya sendiri.
"Loo-cia ambil teh!"
Teriaknya dengan keras.
"Sebentar!"
Seru Loo-cia dari kamar samping kemudian tampak dia berjalan datang dengan membawa secawan teh. Setelah dilihatnya dia meletakkan air itu keatas meja sekali lagi dengan kasar Ti Then memberi perintah.
"Loo-cia, pergi masak segentong air panas, aku mau mandi !"
"Baik ... baik ... sebentar lagi datang! "
Sahut Loo-cia sambil bungkuk2 badannya.
Selesai berkata dia lantas mengundurkan dirinya.
Ti Then yang melihat dia orang sama sekali tidak dibuat mendongkol oleh sikapnya yang kasar itu dalam hati merasa amat kagum sekali atas kesabaran hatinya.
Setelah membersihkan badan Loo-cia membantu dia orang membuang air kotor itu, membereskan pakaian kotor lalu ujarnya sambil tertawa.
"Bangsat cilik, selama beberapa bulan ini walaupun kau menerima perintahku tetapt aku pun sudah membantu kau untuk melakukan berbagai macam pekerjaan, maka itu seharusnya kau sudah merasa puas."
"Tidak salah! "
Sahut Ti Then tersenyum lalu meneguk air teh itu satu tegukan.
"Di dalam melayani majikan kau memang sangat pandai sekali". Setelah menutup pintu kamar Loo-cia segera duduk disamping badannya, dan ujarnya dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara.
"Tetapi hari inipun tidak bisa terlalu lama !".
"Wie Ci To sudah menjelaskan seluruh rahasia dari alat rahasia didalam loteng penyimpan kitab dengan jelas, aku pikir sekarang kau sudah boleh memberitahukan barang apa yang sebetulnya kau inginkan"
"Apa kau sudah memeriksa seluruh rahasia didalam Loteng penyimpan kitab itu ?"
"Kecuali sebuah ruangan rahasia aku tidak memeriksanya ..."
Air muka Loo-cia segera memperlihatkan kegirangan, tanyanya dengan cemas.
"Ruangan rahasia yang ada didalam Loteng penyimpan kitab itu terletak di sebelah mana?"
"Mulut pintu ada di loteng tingkat dua, sedang ruangan rahasia itu terletak pada tiga kaki dibawah tanah.
"Kalian dilarang untuk mssuk memeriksa apakah hal ini disebabkan oleh larangan dari Wie Ci To ?"
Tanya Loo-cia lagi dengan cemas.
"Benar,"
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Dia bilang lukisan dari Shu Sin Mey ada didalam ruangan rahasia itu, dia minta kami jangan mengganggunya."
"Bagus sekali"
Seru Loo-cia lagi sambil tertawa dingin.
"Aku rasa barang yang kau inginkan tentunya terletak didalam ruangan rahasia itu bukan ?"
"Tidak salah"
Sahut Loo-cia mengangguk.
"Wie Ci To bilang dalam ruangan rahasia itu tidak dipasang alat rahasia, bilamana hendak mengambil barang itu bukankah sangat mudah sekali ?"
"Hmm aku tidak percaya kalau didalam ruangan rahasia itu tidak dipasangi alat rahasia"
Ujar Loo-cia sambil gelengkan kepalanya.
"Tetapi perkataan ini dia katakan kepada putrinya sendiri, bilamana dia berbohong dan ada kemungkinan Wie Lian In karena rasa ingin tahu secara diam-diam memasuki ruangan tersebut bukankah hal ini sama saja dengan mencelakai putrinya sendiri?"
Agaknya Loo-cia merasa perkataannya ini sedikitpun tidak salah, alisnya segera dikerutkan rapat-rapat.
"Ehmm ... tidak salah, bilamana didalam ruangan rahasia itu benar-benar ada alat rahasianya dia seharusnya bisa memikirkannya sampai disini tetapi ... aku benar-benar merasa tidak percaya kalau didalam ruangan rahasia itu tidak dipasangi alat rahasia .."
"Apa aku pergi masuk kedalam untuk mengadakan pemeriksaan?"
Dengan amat tajamnya Loo-cia memperhatikan lalu tertawa mengejek.
"Hmm, bagaimana sekarang kau begitu bersemangat ?"
Tanyanya.
"Aku sangat mengharapkan perintah dan tugasmu itu bisa aku selesaikan sebelum hari pernikahanku dengan Wie Lian In, karena aku tidak ingin menipu dirinya."
"Kau punya rencana untuk meninggalkan benteng Pek Kiam Poo setelah menyelesaikan tugas ini ?"
"Benar,"
Sahut Ti Then mengangguk, Dengan cepat Loo-cia lantas gelengkan kepalanya.
"Aku rasa hal ini tidak mungkin."
"Apa maksudmu ?"
"Kau tidak mungkin bisa menyelesaikan tugasmu sebelum kawin dengan Wie Lian In ... ."
"Karena sukar ?"
"Tidak, soal ini sangat mudah tetapi kau pasti tidak akan bantu aku untuk menyelesaikannya."
"Bilamana barang yang hendak kau curi itu adalah sebuah barang tidak berharga dan tidak mendatangkan bencana buat keselamatan dari Wie Ci To ayah beranak, demi keselamatan dari Wie Ci To ayah beranak serta Yuan Loocianpwee aku suka pergi menyelesaikan pekerjaan ini."
"Tetapi keadaan pada saat ini sudah berubah kembali, aku sudah ambil keputusan untuk mengerjakannya sendiri"
Kata Loo-cia sambil tertawa seram. Dengan pandangan melongo dan kebingungan Ti Then memperhatikan dirinya, tak sepatah katapun diucapkan kembali.
"Semula aku memang benar2 ingin menggunakan dirimu untuk mencuri suatu benda, tetapi sekarang barang itu sudah aku dapatkan"
Ujar Loo-cia lagi. Ti Then jadi melengak-"Aku sudah bantu dirimu untuk mencurinya ?".
"Benar"
Sahut Loo-cia mengangguk.
"Barang yang aku inginkan adalah keterangan dari alat2 rahasia yang dipasang di Loteng Penyimpan Kitab tersebut, sekarang aku sudah bisa bebas memasuki loteng itu maka itu tidak membutuhkan buku keterangan lagi."
"Apa gunanya kau menginginkan buku keterangan mengenai alat-alat rahasia di loteng penyimpan kitab itu ?"
"Tujuannya hanyalah ingin memasuki loteng penyimpan kitab tersebut."
"Apa tujuanmu untuk memasuki loteng penyimpan kitab itu ?"
"Membunuh seseorang."
Mendengar jawaban itu Ti Then jadi amat terperanjat, dengan terburu-buru dia meloncat bangun.
"Apa ? kau mau membunuh orang? siapa yang hendak kau bunuh ?"
Tanyanya. Loo-cia segera mengulapkan tangaanya agar dia jangan terlalu terburu napsu, setelah itu dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara jawabnya;
"Aku mau membunuh mati seorang musuh besarku."
"Musuh besarmu .... dia bersembunyi dida1am loteng penyimpan kitab tersebut?"
Tanya Ti Then dengan terperanjat. Dengan dinginnya Loo-cia mengangguk dan katanya.
"Benar, dia bersembunyi didalam loteng penyimpan kitab itu sudah ada puluhan tahun lamanya."
Ti Then segera merasakan hatinya berdebar-debar dengan amat kerasnya.
"Siapakah orangnya?"
Tanyanya kaget.
"Seorang manusia yang tidak termasuk anggota benteng Pek Kiam Poo, selama beberapa tahun ini dia selalu menerima lindungan dari Wie Ci To "
Sahut Loo-cia sepatah demi sepatah. Air muka Ti Then masih tetap dipenuhi oleh rasa terkejut, desaknya lebih lanjut.
"Siapakah namanya? Lelaki atau perempuan?"
"Sekarang aku tidak bisa memberitahukan dulu soal ini kepadamu."
"Apa mungkin Shu Sin Mey?"
"Sejak dulu aku sudah bilang perempuan yang disebut sebagai Shu Sin Mey sebetulnya tidak ada, kesemuanya ini cuma omong kosong dari Wie Ci To saja."
"Lalu kenapa Wie Ci To suka melindungi dirinya?"
"Karena dia sudah memberi banyak kebaikan untuk Wie Ci To."
"Apa kau betul-betul yakin kalau dia bersembunyi didalam loteng penyimpan kitab?"
"Tidak salah!"
"Kalau begitu tentu bersembunyi didalam ruangan rahasia tersebut?"
"Ada kemungkinan memang begitu."
"Tetapi kalau memangnya didalam loteng penyimpan kitab itu sudah bersembunyi seseorang kenapa Wie Ci To suka menyerahkan ruangan dari loteng penyimpan kitab itu kepada kami untuk dijadikan kamar pengantin?"
"Alasannya ada dua, pertama. Sengaja dia berbuat demikian untuk menjebak aku didalam loteng penyimpan kitab tersebut, kedua. dia sudah menaruh kepercayaan terhadap dirimu dan ingin menggunakan kepandaian silatmu untuk menakut-nakuti aku yang hendak menerjang masuk."
"Jikalau demikian adanya hal ini membuktikan kalau Wie Ci To sudah mengetahui kalau kau hendak membunuhh orang itu."
"Benar."
"Kalau memang demikian adanya, bagaimana dia suka membiarkan kau tetap tinggal di dalam Benteng ?"
"Karena dia tidak tahu kalau aku sudah menyelinap ke dalam bentengnya."
"Aaah ... kiranya kau bukanlah Loo-cia yang sungguh-sungguh?"
"Benar, Loo-cia yang sebenarnya sudah mati."
"Kau yang membunuh dirinya ?"
"Ehmm, aku bunuh mati dirinya lalu menyayat seluruh kulit wajahnya serta rambutnya dengan melalui sesuatu pembuatan yang amat teliti akhirnya kulit tersebut berhasil aku buat menjadi sebuah topeng."
"Hmm, cukup ditinjau dari hal ini saja sudah membuktikan kalau hatimu kejam tanganmu telengas"
"Kesemuanya ini untuk lancarkan memberi petunjuk dan mengawasi dirimu, aku mau tidak mau harus berbuat demikian"
Kata Loo-cia.
"Sebenarnya orang itu sudah mengikat permusuhan apakah sehingga kau hendak membinasakan dirinya ?"
"Dendam sedalam lautan, karena dia . , tuuggu dulu, ada orang datang"
Baru saja Loo-cia selesai berbicara terdengarlah suara ketukan pintu bergema datang.
"Ti Kiauw-tauw, kau sudah tidur belum?"
Tanya Shia Pek Tha dari luar.
"Belum. Shia-heng silahkan masuk."
Loo-cia pun segera bangun berdiri dan memperlihatkan sikapnya lagi melayani. Sambil mendorong pintu masuk kedalam ujar Shia Pek Tha ;
"Saudara yang dikirim Poocu tempo hari untuk pergi ke gunuog Cing Shia sudah kembali."
Terang2an Ti Then mengetahui kalau saudara itu pasti tidak akan menemukan Yuan Siauw Ko tetapi dengan nada amat kuatir tanyanya;
"Apa sudah ketemu ?"
"Belum"
"Hal itu sungguh aneh sekali,"
Seru TI Then sambil mengerutkan alisnya rapat2.
"Apa mungkin dia meninggalkan surat yang mengatakan dia orang hendak pergi ke gunung Cing Shia adalah bohong belaka ?"
"Ada kemungkinan memang begitu"
Jawab Shia Pek Tha tersenyum.
"Hal ini sungguh membuat orang lain jadi kebingungan".
"Tetapi Ti Kiauw-tauw tidak usah kuatir, bukankah dia sudah meninggalkan pesan bahwa pada waktu perkawinanmu dia bakal ikut merayakannya?"
"Dia bilang semoga bisa datang, kata2 semoga inilah membuktikan kalau belum tentu dia bisa datang".
"Tetapi dengan kepandaian silat yang dimiliki Yuan Cong Piauw-tauw, aku rasa sukar baginya untuk memperoleh musuh tangguh, seharusnya dia tidak menemui kesulitan".
"Benar, semoga saja begitu".
"Aku mau pergi laporkan urusan ini kepada Poocu, maaf sudah mengganggu diri Kiauw-tauw". Selesai berkata dia lantas menjura dan berlalu dari sana. Loo-cia menghantar dirinya sampai keluar dari kamar, setelah dilihatnya bayangan tubuh Shia Pek Tha lenyap dari pandangan dia baru balik lagi ke dalam kamar.
"Dia sudah pergi"
Ujarnya dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara.
"Mari kita melanjutkan kembali dengan percakapan kita tadi, kau bilang orang itu mempunyai dendam sedalam lautan dengan orang itu, sebetulnya bagaimana toh kejadiannya?"
"Dia sudah bunuh mati istriku."
Jawab Loo-cia sambil berjalan kembali ke kursinya semula.
"Kenapa dia harus membunuh mati istrimu?"
"Hmmm, hendak memperkosa tapi gagal, dia lantas bunuh mati dirinya"
Seru Loo-cia dengan benci.
"Kepandaian silatmu amat tinggi tak terhingga, ada siapa yang berani mengganggu istrimu ?"
"Waktu itu kepandaian silatku tidak setinggi seperti sekarang ini."
"Omong terus terang saja, aku tidak terlalu percaya dengan omonganmu, karena aku tidak percaya Wie Ci To suka melindungi orang semacam itu"
Mendengar perkataan itu Loo-cia segera tertawa dingin.
"Bilamana orang itu mempunyai hubungan persaudaraan yang amat erat sekali?"
Tanyanya.
"Sekali pun saudara kandung sendiri, bilamana dia salah Wie Ci To tidak bakal mau melindungi dirinya."
"Hmmm, kau terlalu memandang agung diri Wie Ci To."
"Benar, aku merasa dialah seorang pendekar pedang yang berhati baja dan selalu berada di keadilan."
"Malam ini aku tidak punya maksud untuk beribut soal pribadi dari Wie Ci To ini."
"Kau bilang orang itu sudah bersembunyi selama sepuluh tahun lamanya didalam loteng penyimpan kitab itu, aku merasa rada kurang percaya."
"Hmm, urusan yang tidak akan kau percaya masih sangat banyak sekaii"
"Sering kali aku melihat Wie Ci To masuk kedalam loteng penyimpan kitab itu dengan tangan kosong, bilamana didalam sana ada seorang manusia hidup maka ada seharusnya dia masuk kedalam dengan membawa bahan makanan."
"Dari kamar bacanya ada sebuah jalan rahasia yang langsung menembus loteng penyimpan kitab itu, dia bisa menghantarkan bahan makanan serta minuman dengan melalui lorong rahasia itu."
"Apakah kau benar2 merasa yakin kalau dari dalam kamar bacanya ada sebuah lorong rahasia yang menghubungkan tempat itu dengan loteng penyimpan kitabnya ?"
Tanya Ti Then ragu2.
"Tidak salah! dengan meminjam kesempatan sewaktu Wie Ci To tak ada didalam benteng beberapa kali aku memasuki lorong rahasia itu untuk menuju kedalam loteng penyimpanan kitab tersebut, tetapi akhirnya hasil yang aku dapat adalah nihil karena pada ujung lorong rahasia itu sudah dipasangi dengan alat rahasia"
"Sekarang kau punya rencana kapan hendak masuk kedalam ruangan rahasia itu?"
"Setelah lewat tiga hari komudian"
Sahut Loo-cia setelah berpikir sejenak.
"Pokoknya sehari atau dua hari sebelum hari perkawinanmu, yang jelas kau harus turun tangan?"
Ti Then jadi terperanjat. Dengan liciknya Loo-cia lantas tertawa menyengir.
"Wie Ci To bilang didalam ruangan dibawah tanah itu tidak dipasangi alat rahasia aku merasa rada tidak percaya!".
"Hmmm! Hee...hee..kiranya kau kepingin aku jadi setan gentayangan yang mewakili dirimu?"
Seru Ti Then sambil tertawa dingin. Loo-cia cuma angkat pundaknya saja.
"Perkataanmu jangan kau ucapkun begitu tidak enak didengar, aku rasa bilamana didalam ruangan itu benar2 ada alat rahasianya maka tidak tentu harus mencabut nyawamu !"
Katanya.
"Kau kira nyawaku jauh lebih panjang daripada nyawa orang lain ?"
"Tidak !"
Bantah Loo-cia sambil tertawa.
"Caraku melihat. bilamana didalam ruangan rahasia itu dipasang alat rahasia maka kiranya tidak akan sampai menimbulkan kematian seperti alat2 rahasia yang di pasang disekeliling loteng penyimpan kitab tersebut, maka itu aku rasa bilamana sampai kau menggerakkan alat rahasia maka paling2 juga cuma terluka ringan atau tertangkap basah".
"Kalau memangnya begitu, kenapa kau tidak pergi sendiri?"
"Aku tidak bisa kalau sampai tertawan, bilamana aku sampai tertawan oleh alat rahasia yang dipasang didalam ruangan tersebut ada kemungkinan Wie Ci To segera turun tangun menghukum mati diriku !"
"Bilamana aku yang tertangkap, apakah Wie Ci To akan melepaskan diriku dari hukuman mati?"
Teriak Ti Then jengkel. Dengan kalemnya Loo-cia mengangguk.
"Sedikitpun tidak salah, karena dia adalah mertuamu dan lusa bakal kawin dengan putrinya, bilamana dia menghukum mati dirimu maka bagaimanakah dia orang hendak bertanggung jawab kepada putrinya serta para undangan yang sudah pada berdatangan?". Dia berhenti sebentar, kemudian sambungnya lagi.
"Pokoknya, inilah tugas yang terakhir bagimu, bilamana kau bisa melakukan tugas itu dengan lancar maka aku menyanggupi pula untuk bebaskan janji kita sebelum waktunya agar kaupun bisa cepat bebas dari ikatan."
"Bilamana hasil dari latihan itu membuktikan kalau didalam ruangan rahasia itu tidak dipasangi alat rahasia, apakah kau segera akan turun tangan membinasakan orang itu ?"
"Benar,"
Sahut Loo-cia mengangguk. Kembali Ti Then termenung beberapa saat lamanya, setelah itu sambil mengangguk ujarnya.
"Baiklah, aku menyanggupi untuk pergi mengadakan pemeriksaan, tetapi perkataan harus kita ucapkan dari semula, bilamana aku tidak sengaja menyenggol alat rahasia sehingga mati atau tertangkap maka kau tidak diperkenankan turun tangan membinasakau Wie Ci To ayah beranak."
"Baik, aku menyanggupi."
"Besok Wie Lian In akan kirim orang untuk memindahkan alat2 rumah tangga kedalam loteng penyimpan kitab itu, sampai waktunya aku bisa berkata kepadanya mengijinkan aku untuk tinggali tempat itu terlebih dahulu. bilamana dia menyanggupinya maka ditengah malam buta , . ."
"Tidak."
Potong Loo-cia dengan cepat.
"Lebih baik dilakukan siang hari saja karena sering-sering di tengah malam buta Wie Ci To memasuki kamar rahasia itu untuk menjenguk orang tersebut."
"Bilamana memilih siang hari maka besok pagi aku rasa tidak mungkin bisa kita lakukan karena Wie Ci To sudah pesankan amat banyak alat-alat rumah tangga, besok siang belum tentu bisa diatur semuanya didalam ruangan loteng penyimpan kitab itu"
"Kalau begitu lusa siang saja"
Seru Loo-cia kemudian.
"Sewaktu bersantap siang maka kau boleh berkata pura-pura mau tidur siang sebentar lalu masuk kedalam loteng penyimpan kitab itu, aku bisa mengikuti dari belakang dan secara diam2 jagalah keselamatanmu dari luar"
"Baiklah, kalau begitu kita kerjakan demikian saja"
Mereka berdua setelah berunding beberapa waktu lamanya Loo-cia baru kembali ke kamarnya sedang Ti Then naik keatas pembaringan untuk beristirahat.
Sudah tentu dia tidak dapat langsung tertidur, karena pernyataan yang diutarakan oleh Majikan patung emas secara tiba2 ini membuat hatinya amat kaget, dia sama sekali tidak menyangka kalau dia orang bermaksud untuk membunuh seseorang yang bersembunyi didalam loteng penyimpan kitab tersebut.
Hal ini benar2 amat merangsang pikirannya, dia mimpipun tidak pernah berpikir kalau didalam Loteng penyimpan kitab bisa bersembunyi seseorang, sedang apa yang dicari oleh Majikan patung emas pun benar2 merupakan sebuah barang yang sama sekali tidak berharga buat orang2 Benteng Pek Kiam Poo.
Tetapi hal yang membuat hatinya rada terhibur adalah Majikan patung emas hendak turun tangan sendiri untuk bunuh mati orang itu dan bukannya memerintahkan dirinya untuk melakukan!
Tetapi siapakah orang itu?
Kenapa dengan susah payah Wie Ci To berusaha untuk melindungi dirinya?
dan apakah tujuannya dengan membangun loteng penyimpan kilab yang demikian angkernya hanya bermaksud uatuk melindungi seseorang yang sama sekali tidak punya sangkut paut dengan dirinya?.
XXXdwXXX Keesokan harinya dengan dipimpin sendiri oleh Wie Lian In dia mengatur perabot rumah tangga kedalam ruangan.
Perabotnya sungguh luar biasa sekali banyaknya termasuk barang2 buat ruangan tamu serta kamar pengantin, para pelayan harus bekerja setengah harian penuh baru dikata selesai.
Setelah semuanya selesai Wie Lian In baru mengontrolnya satu kali, kemudian kepada Ti Then tanyanya sambil tertawa;
"Diatur dan disusun secara begini apa kau merasa senang ?"
"Sungguh bagus sekali"
Puji Ti Then sambil tertawa.
"Aku sama sekali tidak pernah menyangka bakal bisa mendiami sebuah kamar yang demikian mewah dan menterengnya."
"Kalau begitu malam ini kau boleh pindah kemari saja "
Seru Wie Lian In dengan pandangan mesra. Ti Then yang mendengar dia begitu dalam hati benar2 merasa kebetulan, dia rada melengak dibuatnya.
"Aaaach . , . aku boleh pindah dulu kemari ?"
"Bukannya boleh saja tapi harus!"
Sahut Wie Lian In sambil mengangguk. Untuk kedua kalinya Ti Then dibuat melengak lagi.
"Bagamiana bisa dimaksudkan pasti ?"
Tanyanya keheranan.
"Ooooh ... itu cuma adat saja. kamar pengantin yang baru saja diatur malam harinya tidak boleh kosong tetapi harus tetap diisi dengan orang".
"Oooh ... kiranya begitu !"
Seru Ti Then tertawa.
"Sekarang coba kau perintah Loo-cia si pelayan tua itu untuk mengangkuti barang2 itu kemari!!". xxxdwxxx Satu hari kembali menjelang . , . ! Suasana didalam Benteng Pek Kiam Poo-pun semakin ramai lagi, para tamu yang pada berdatangan dari tempat kejauhan sudah pada berkumpul sehingga membawa rasa yang amat ramai didalam Benteng Pek Kiam Poo. Semua orang pada menantikan munculnya keesokan harinya, besok pagi adalah saat Ti Then serta Wie Lian In bersembahyang didepan arwah para leluhur. Sebaliknya Ti Then yang bakal jadi pengantin malah merasa kesepian, depannya kesepian, sebaliknya hatinya berdebar2 dengan amat kerasnya. Apalagi saat ini hatinya terasa berdebar semakin keras, karena dia siap2 pergi ke loteng penyimpan kitab untuk "tidur siang". Hidup selanjutnya serta kematian yang bakal diterima kesemuanya ditentukan pada saat ini juga! Tadi setelah dia menemani para tetamu bersantap siang dengan alasan kepalanya rada sakit dia kembali kekamar untuk berbaring sebentar. Wie Ci To yang menganggap dia terlalu tegang sehingga jadi pusing lantas tertawa dan suruh dia mengundurkan diri dari ruangan perjamuan dan kembali ke loteng penyimpan kitabnya untuk beristirahat. Scwaktu tiba di bawah loteng penyimpan kitab itu dia menemukan Kiem Cong Loojien itu ciangbunjien dari Kun-lun pay sedang menghalangi perjalanannya.
"Ti Kiauw-tauw, bagaimana kalau loolap mengalah tiga biji dan kita main stu babak?"
"Mengalah tiga biji?"
Seru Ti Then sambil tertawa serak.
"Tidak salah, ini hari loolap akan mengalah tiga biji kopadamu, aku punya pegangan untuk sikat kau sampai habis"
"Sungguh maaf boanpwee tidak dapat melayani karena kepalaku terasa rada pusing"
Seru Ti Then menolak.
"Haaa.... haa..sejak ladi loolap sudah menduga kalau kau orang tak bakal berani menyambut datangnya tantanganku ini ..ha ..ha.."
Dengan bangganya dia tertawa dan meninggalkan tempat tersebut.
Demikianlah Ti Then lantas masuk ke dalam loteng penyimpan kilab dan naik ke atas tingkat kedua untuk kemudian duduk disamping pembaringan yang bersulamkan bunga merah.
Matanya dengan perlahan menyapu sekejap memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu kemudian dengan sedihnya menghela napas panjang.
Semuanya itu bakal jadi miliknya ....
tetapi sedikit dia salah bertindak maka...
"Tok . , . tok ..tok ... !."
Dari luar terdengar suara tiga kali ketokan pintu.
"Siapa ?"
Tanya Ti Then dengan kaget.
"Hamba !". Tidak salah lagi, d.a adalah majikan patung emas! "Masuk!"
Seru Ti Then lawar.
Loo-cia mendorong pintu kamar dan berjalan masuk sambil membawa air teh.
Dia meletakkan terlebih dahulu cawan teh itu ke atas meja sedang matanya dengan sangat tajam memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu kemudian dengan mengerahkan ilmu untuk menyampaikan suara tanyanya.
"Dimana letaknya mulut lorong rahasia tersebut?"
Ti Then segera menuding kearah kamar dinding di hadapannya.
"Itu dibalik tembok tersebut"
Loo-cia segera menoleh dan memperhatikan sekejap keadaan dari ruangan tamu yang ada disana.
"Baiklah, kau boleh masuk kedalam.", perintahnya kemudian.
"Aku akan berjaga-jaga didepan pintu!"
Sehabis berkata dia mengundurkan diri ke samping pintu. Ti Then dengan perlahan bangkit berdiri, air mukanya sudah berubah jadi amat tegang sekali.
"Aku mau bicara sekali lagi. Aku suka melakukan pekerjaan ini dengan hati sungguh2 asalkan bilamana misalnya aku tertangkap atau mati oleh alat rahasia didalam ruangan tersebut kau tidak lagi pergi mencelakai Wie Ci To ayah beranak serta Yuan Piauw-tauw!"
"Hati manusia dibuat dari daging, bukankah dahulu aku sudah pernah berkata kepadamu, asalkan kau suka melakukan pekerjaan bagiku dengan seluruh perhatian dan seluruh tenaga sekalipun gagal misalnya aku tidak akan menyalahkan dirimu, semakin tidak akan mencari gara2 dengan orang lain, soal ini kau boleh berlega hati"
"Aku masih ada satu permintaan lagi"
Ujar Ti Then kemudian.
"Tapi kau pun bisa menolak permintaanku ini, bilamana kau sudah menyanggupi maka pekerjaan ini harus dilaksanakan dengan sungguh hati".
"Apa itu permintaanmu ?"
Tanya Loo-cia dengan sinar mata yang amat tajam.
"Aku pernah bersumpah hendak menemukan kembali si Hong Liuw Kiam Khek Ih Peng Siuw dan merebut kembali harta kekayaan dari Yuan Cong Piauw-tauw, nanti semisalnya aku mati karena terkena alat rahasia sudah tentu niatku ini pun tidak bisa aku penuhi, entah maukah kau orang membantu aku untuk mencari dapat si Ih Peng Siuw itu dan rebut kembali harta kekayaan itu untuk diserahkan kembali kepada Yuan Cong Piauw-tauw ?"
"Aku kabulkan pcrmintaanmu !". Mendengar dia orang sudah menyanggupi Ti Then merasakan hatinya rada terhibur, dia tersenyum.
"Kalau begitu aku ucapkan banyak terima kasih terlebih dahulu kepadamu".
"Kau tidak usah sungkan2 lagi"
Jawab Loo-cia tcrtawa pula.
Demikianlah dengan per-lahan2 Ti Then berjalan mendekati dinding tembok dihadapannya dan menekan tombol.
Dinding itu mulai bergerak dan memutar kedepan sehingga muncul kembali sebuah tombol rahasia yang lain.
Ti Then tanpa ragu2 lagi segera menekan tombol yang ada disebelah dalam itu.
"Kraak ... Kraak ...
" . dengan menimbulkan suara yang nyaring dinding rahasia itu membuka menjadi dua bagian dan muncullah sebuah lorong rahasia yang amat gelap sekali. Loo-cia yang berdiri di samping pintu menjaga gerak-gerik diluar loteng Penyimpan kitab matanya dengan amat teliti sekali memperhatikan cara Ti Then membuka dinding rahasia tersebut, sewaktu dilihatnya dinding itu membuka ke samping hatinya benar2 merasa amat kegirangan.
"Apakah itu pintu masuk ke dalam ruangan rahasia?"
Tanyanya dengan mengerahkan ilmu untuk menyampaikan suara.
"Sedikitpun tidak salah, dibawah pintu mulut rahasia ini adalah tangga2 batu yang panjang, suasana didalamnya amat gelap sekali."
"Apa kau menemukan sesuatu ?"
Tanya Loo-cia lagi.
"Aku cuma bisa melihat tangga2 batu yang lurus kebawah, keadaan disekitar tiga kaki amat gelap sekali dan tidak dapat melihat suatu apapun !"
"Kalau begitu kau lekas turun kebawah!"
Desak Loo-cia kemudian dengan hati ber-debar2.
Ti Then ragu2 sebentar, akhirnya dia melangkah juga mwmasuki lorong rahasia tersebut.
Inilah merupakan satu tugas yang maha berat dan sudah dipikirkan sejak dahulu kala, dia tahu ada satu hari dia bakal mendapatkan perintah paksaan yang bisa mengakibatkan kematiannya karena itu dia tidak begitu merasa tegang, dia cuma merasa menyesal dan sedih.
Menyesal terhadap diri Wie Ci To serta Wie Lian In.
Dan sedih atas nasibnya yang buruk !!
Kesemuanya ini hanya dikarenakan dia kepingin mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi sehingga bisa mengalahkan Ih Peng Siuw mengakibatkan dirinya terseret kedalam keadaan yang salah besar ....
Dia menjadi patung emas dari orang lain, menerima perintah orang lain, dan melakukan berbagai pekerjaan yang menyalahi hati nalurinya ....
Untung saja Majikan Patung Emas sudah menyanggupi untuk tidak melukai Wie Ci To ayah beranak serta Yuan Siauw Ko maka itu dirinya boleh menemui ajalnya dengan hati yang tenang ...
Sembari berpikir dia berjalan menuruni tangga2 batu yang gelap itu, mendadak dia merasa hatinyo sangat mengharapkan bisa menggerakkan alat rahasia sehingga didalam sekejap saja dirinya sudah mati, bilamana dirinya mati maka semua kekesalan serta kemurungan yang mencenkam di hatinya bakal musnah dan lenyap dengan begitu saja.
Tetapi walaupun dia sudah menuruni kurang lebih lima puluhan tangga batu tersebut keadaan masih tetap tenang2 saja tak terjadi sedikit urusan pun.
Sedang kini dihadapannya sudah muncul sebuah lorong rahasia yang sangat datar.
Luas lorong itu sama besarnya dengan luas tangga2 batu tadi cuma bisa dilalui oleh dua orang yang berjalan bersama-sama.
Dikarenakan tempat itu jauh memasuki tanah maka sinar yang menerangi tempat itupun tak ada sehingga keadaannya amat gelap gulita, benda yang ada pada jarak lima depa tak dapat dilihat lebih terang.
Dia rada menghentikan langkahnya, dalam hati diam2 pikirnya.
"Jika dilihat keadaan disini maka ruangan rahasia itu pasti ada di ujung dari lorong ini, tetapi apakah di dalam ruangan rahasia itu benar2 sudah bersembunyi musuh besar dari majikan patung emas? Bilamana sungguh2 maka orang itu yang bersembunji selama puluhan tahun lamanya dibawah ruangan rahasia yang tak terkena sinar matahari ini sungguh merupakan satu siksaan yang luar biasa sekali!. Bahkan ... bilamana didalam ruangan rahasia itu benar2 sudah bersembunyi seseorang maka dia percaya orang itu pastilah sanak famili dari Wie Ci To dan dia pun akan percaya kalau orang itulah musuh besar pembunuh istri dari majikan Patung emas, kalau tidak Majikan patung emas tidak bakal menyusun seluruh rencana dengan peras keringat untuk mencabut nyawanya sedangkan Wie Ci To pun tidak bakal bersusah payah mendirikan Loteng penyimpan kitab yang demikian kuatnya untuk melindungi dirinya. Orang yang berhali jujur dan adil seperti Wie Ci To tidak disangka diapun mempunyai pikiran yang tidak genah. Diam2 Ti Then menghela napas panjang dan melanjutkan kembali langkahnya memasuki lorong tersebut. -oooOdwOooo SETIAP KALI dia berjalan maju setindak maka dalam hati dia sudah ber-siap2 menerima datangnya elmaut .... dia bersiap sedia menerima datangnya sambaran anak panah yang menembusi ulu hatinya .... dia bersiap sedia menerima jatuhan batu besar yang akan menggencet dirinya jadi rata .... Tetapi akhirnya semua itu bisa dilewati dengan selamat tanpa kekurangan sasuatu apa pun. Kini dihadapannya sudah terhalang kembali dengan sebuah pintu kayu yang besar. Pintu kayu itu cuma sedikit dirapatkan saja, dari dalam ruangan memancarkan keluar sinar yang redup2 ..Jelas dibalik pintu kayu itu adalah ruangan yang dikatakan "Kamar rahasia!"
Sekali pandang saja Ti Then dapat tahu kalau didalam ruangan rahasia itu ada orangnya, karena itu dengan memperingan langkahnya dengan perlahan dia mendekati pintu pasang telinga dan memperhatikan dengan taliti.
Sedikitpun tidak salah dari dalam ruangan itu berkumandang keluar suara dengkuran dari seseorang yang keras.
Jelas orang yang ada didalam ruangan rahasia itu sedang tidur siang!
Ti Then ingin sekali membuka pintu kayu itu untuk melihat siapakah orang yang ada didalam ruangan itu.
Tetapi akhirnya dia membatalkan kembali rasa ingin tahu yang mencekam dihatinya iiu, dia merasa tugas bagi dirinya sudah selesai dan tidak usah pergi menempuh bahaya lagi.
Urusan selanjutnya adalah tugas dari Majikan Patung emas sendiri!
Maka itu dia cuma memperhatikan sebentar dari samping pintu kemudisn dengan perlahan-lahan mengundurkan diri dari sana dan dengan langkah lebar berjalan kembali keatas ruangan loteng penyimpan kitab.
Hanya didalam sekejap saja dia sudah tiba didalam lorong rahasia dan berjalan keluar dari tempat tersebut.
Loo-cia masih tetap berdiri di samping pintu berjaga-jaga, sewaktu dilihatnya Ti Then meloncat keluar dari lorong rahasia itu air mukanya segera berubah amat girang bercampur tegang.
"Bagaimana?"
Tanya Loo-cia dengan hati rada berdebar-debar.
"Perkataan dari Wie Ci To sedikitpun tidak salah, didalam ruangan itu benar-benar tidak dipasangi alat rahasia."
"Coca kau katakan lebih jelas lagi!"
"Dari sini masuk kedalam semuanya ada lima puluh buah tangga batu,"
Ujar Ti Then sambil menuding kearah mulut pintu rahasia tersebut.
"Setelah itu melalui sebuah lorong rahasia yang panjangnya ada tiga puluh langkah, di ujung lorong muncullah sebuah pintu kayu dan dibalik pintu kayu itu adalah ruangan rahasia, saat itu pintu itu cuma dirapatkan saja sedang orang yang ada didalam ruangan itu pun lagi tidur nyenyak, cepat kau turun ke bawah."
Loo-cia dengan tergesa-gesa menutup rapat pintu itu dan berjalan ke sisi Ti Then.
"Kau sudah melihat orang itu?"
Tanyanya sambil melongok kedalam lorong rahasia tersebut.
"Tidak!"
Jawab Ti Then sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalau tidak melihat orangnya bagaimana kau bisa tahu kalau orang itu lagi tidur?"
"Aku bisa mendengar suaranya."
"Kau bilang pintu kamar rahasia itu cuma dirapatkan saja?"
"Benar!"
"Kenapa tidak dikunci sekalian?" -ooo0dw0ooo-
Jilid 39
"AKU TIDAK tahu"
Sahut Ti Then.
"Mungkin biar hawa segar bisa lancar masuk kedalam ruangan !".
"Kalau memangnya kamar itu tidak dikunci, kenapa kau tidak secara diam2 mencuri masuk untuk melihat keadaan yang sebenarnya ??".
"Aku takut sudah mengganggu orang itu sehingga sudah merusak pekerjaanmu". Dengan amat tenangnya Loo-cia memperhatikan dirinya, agaknya dia mau melihat apakah didalam perkataannya itu ada siasat atau tidak. Setelah termenung beberapa saat lamanya terakhir dia baru berkata.
"Baiklah, aku mau pergi kebawah untuk melihat-lihat, kau berbaringlah untuk sementara diatas pembaringan". Ditengah suara percakapannya dengan cepat bagaikan kilat jari tangannya melancarkan satu totokan menghajar jalan darah kaku dari Ti Then, setelah itu dia baru membopoog tubuhnya keatas pembaringan.
"Bilamana ada orang datang aku harus berbuat bagaimana ?"
Tanya Ti Then dengan suara perlahan.
"Kau boleh berkata kapadanya lagi sakit dan tidak ingin keluar kembali"
Mendengar perkataan itu Ti Then tertawa pahit.
"Terhadap para pendekar pedang dari Benteng Pek Kiam Poo aku bisa menolak untuk membuka pintu tetapi terhadap Wie Ci To serta beberapa orang ciangbunjien, apakah aku bisa menolak ?"
Katanya.
"Urusan tidak bakal begitu kebetulan, bahkan aku pun dengan cepatnya akan keluar kembali!". Sehabis berkata dengan cepatnya dia menerobos masuk kedalam lorong rahasia tersebut. Diam2 Ti Then menghela napas panjang, dia sendiripun pernah berpikir hendak menggunakan kesempatan sewaktu dia orang masuk kedalam lorong rahasia itu dia hendak menggerakkan tombol untuk menutup kembali jalan rahasia tersebut sehingga pihak lawan terkurung didalam bawah tanah. Setelah itu dia akan melaporkan hal ini kepada Wie Ci To untuk menawan dirinya. Siapa tahu baru saja pikiran tersebut berkelebat didalam benaknya pihak lawan sudah turun tangan menotok jalan darah kakunya.
"Sungguh licik sekali rase tua itu!"
Sejak dia dipaksa menjadi patung emasnya Ti Then selalu mencari kesempatan untuk memberikan perlawanan, dia sangat mengharapkan bisa mendapatkan satu kesempatan untuk balas menguasai majikan patung emas tetapi kssempatan itu tiada kunjung datang.
Sedang kini tujuan dari Majikan patung emas sudah hampir tercapai tetapi dirinya sudah dibuat tak berdaya oleh akal liciknya.
Kalau memangnya dirinya sudah menemui kekalahan dan dirinya tidak bakal bisa mendapatkan kebahagiaan dengan Wie Lian In didalam pcrkawinan ini maka saat ini dia cuma mengharapkan Majikan patung emas bisa cepat2 memperoleh hasil agar dia cepat2 meninggalkan benteng Pek Kiam Poo dan memberi kesempatan buat dirinya untuk menghindarkan diri dari perkawinan ini...
"Sreeet ..,!"
Sewaktu dia lagi memejamkan mata dan berpikir tidak karuan itulah mendadak terasa adanya ujung baju yang tersampok angin berkumandang dari luar jendela loteng sebelah kanan dari pembaringannya.
Mendengar suara tersebut dia lantas tahu kalau ada orang yang melayang datang dari loteng sebelah depan.
Gerak gerik dari orang itu yang diluar kebiasaan seketika itu juga membuat hatinya merasa kaget dan tergetar amat keras.
Ketika dia membuka matanya ..air mukanya segera berubah sangat hebat!!
Coba terka siapa yang sudah datang??
Dia bukan lain adalah Wie Ci To.
Air muka Ti Then berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, matanya terbelalak lebar2 sedang mulutnya melongo ..dia benar2 dibuat tertegun !!!
Dengan air muka amat keren tetapi tersungging satu senyuman ramah ujar Wie Ci To dengan suara perlahan.
"Bilamana dugaan Loohu tidak salah maka ada kemungkinan kau sudah tertotok jalan darahnya oleh Majikan patung emas bukan??". Sepasang mata Ti Then melotot semakin lebar lagi, dia benar2 merasa amat terperanjat.
"Gak-hu, kau , . semuanya kau ..kau sudah tahu ???". Sambil tersenyum Wie Ci To mengangguk dengan perlahan.
"Cepat tutup ruangan rahasia tersebut!"
Seru Ti Then kemudian dengan cemas.
"Tidak perlu lagi, dia tidak bakal bisa lolos !"
"Didalam ruangan rahasia itu sudah dipasangi alat2 rahasia ??"
Tanya Ti Then terkejut bercampur girang.
"Tidak salah !". Ti Then segera teringat kembali dengan Phoa Loo Tek si pendekar pedang merah.
"Kalau begitu masih harus menangkap seorang lagi! dia adalah ."
"Bukankah Phoa Loo Tek??"
Sambung Wie Ci To cepat. Mendengar disebutnya nama itu Ti Then jadi semakin melengak.
"Pek Tha-heng yang melaporkan urusan ini kepada Gak-hu?"
Tanyanya.
"Tidak ...
". Dia berjalan maju kedepan menekan tombol rahasia itu untuk menutup kembali dinding tersebut setelah itu menekan tombol yang lain untuk menutup kembali dinding paling luar setelah itu dia baru mendekati pembaringan dan membebaskan jalan darah dari Ti Then yang tertotok itu. Dengan cepat Ti Then meloncat bangun dari atas pembaringan.
"Gak-hu bagaimana kau bisa mengetahui seluruh urusan ini?"
Tanyanya dengan terharu.
"Selama ini kau selalu menutup-nutupi urusan Majikan patung emas ini dengan Loohu, sekarang loohu pun mau jual mahal terhadap dirimu ..mari ikutlah loohu turun loteng!"
Ujar Wie Ci To sambil tersenyum.
Sehabis berkata dia berjalan keluar dari pintu itu dan menuruni ruangan loteng penyimpan kitab.
Ti Then pun mangikuti dari belakangnya, mimpipun dia tidak pernah menyangka kalau urusan ini bisa berakhir dengan begini mudah.
Berakhirnya urusan ini benar2 membuat hatinya jadi kaget bercampur heran, tetapi membuat hatinya merasa girang juga!!
dia kepingin sekali mencak2 dan berteriak2 kegirangan sehingga semua kemurungan di hatinya bisa terlempar keluar dari dalam dadanya.
Dia boleh dikata tidak bisa mempercayai akan kenyataan ini ....dia sama sekali tidak menyangka kalau Wie Ci To bisa menyusun jebakan secara diam2 dan memancing Majikan patung emas untuk masuk kedalam pancingannya.
Bagaimana Wie Ci To bisa mengetahui rencana busuk dari Majikan patung emas ini ???
Masih ada lagi, mengapa dia sama sekali tidak menyalahkan dirinya ?
Sewaktu beberapa persoalan yang mencurigakan hatinya itu berkelebat didalam benaknya itulah dia bersama-sama dengan Wie Ci To sudah keluar dari loteng penyimpan kitab tersebut.
Sekeluarnya dari loteng penyimpan kitab itu Ti Then segera merasakan suasana ditempat itu rada berubah.
Benteng Pek Kiam Poo yang semula diliputi oleh rasa kegirangan saat ini sudah berubah jadi tenang dan serius sekali.
Ciangbunjin dari Siauw-Lim Pay, Bu Tong Pay, Kun-lun Pay serta Tiang Pek Pay berdiri berdiri berjajar didepan loteng, air mukanya mereka amat tegang jelas merekapun mengetahui urusan yang sebenarnya.
Air muka Ti Then berubah jadi merah padam hingga menjalar sampai ditelinganya, kepalanya ditundukkan rendah2 karena dalam hati benar2 dia merasa menyesal.
Ti Then benar2 merasa takut kalau Wie Lian In pun hadir disana ....
tetapi untung tak tampak dia orang muncul dikalangan.
Wie Ci To segera kirim satu senyuman kearah keempat orang ciangbunjien itu dan ajaknya .
"Mari kita pergi melihat Phoa Loo Tek dahulu !". Demikianlah beberapa orang itu segera berjalan ber-sama2 kehalaman depan. Sesampainya dikamar istirahat dari para pendekar pedang merah terlihatlah olehnya didepan kamar tidur dari Phoa Loo Tek sudah berkerumun beberapa puluh orang pendekar pedang merah. Agaknya mereka belum mengerti urusan apa yang sudah terjadi, saat ini masing2 lagi berbisik-bisik dan membicarakan persoalan tersebut. Ketika dilihatnya Poocu mereka berjalan mendatang, semua orang pada menyingkir kesamping memberi jalan lewat buat Wie Ci To sekalian untuk masuk kedalam. Ti Then pun mengikuti dari belakang Wie Ci To berjalan masuk kedalam ruangan beristirahat tersebut, terlihat olehnya Phoa Loo Tek dengan diikat kencang2 lagi berbaring dibawah kaki Shia Pek Tha, Kie Tiong Hong beberapa orang pendekar pedang merah. Menanti setelah keempat orang ciangbunjien itu sudah masuk semua kedalam ruangan Wie Ci To baru menoleh kearah Ti Then dan tertawa.
"Yang inipun baru saja berhasil ditawan, dikarenakan dia orang tidak mengetahui terlebih dahulu bakal terjadi urusan ini maka tak ada kesempatan buat dirinya untuk melawan. Ti Then berdiam diri tidak menjawab, karena dia sendiripun tidak tahu harus menjawab secara bagaimana. Sekali lagi Wie Ci To tertawa.
"Bilamana kau dapat menebak tahu siapakah dia orang maka didalam hati kau tentu akan merasa terkejut"
Katanya.
"Apakah dia bukan Phoa Loo Tek yang sungguh2 ?"
Tanya Ti Then tertegun. Senyuman yang semula menghiasi bibir Wie Ci To pun segera lenyap tak berbekas diganti dengan rasa sedih.
"Sudah tentu bukan !"
Sahutnya.
"Phoa Loo Tek yang sesungguhnya sudah menemui bencana .. dia cuma memakai kulit wajah dari Phoa Loo Tek saja !.
"Lalu siapakah dia orang?"
Tanya Ti Then dengan terperanjat.
"Temanmu !".
"Temanku ??".
"Bilamana kau tidak percaya boleh sobek kulit mukanya !". Ti Then menurut dan maju satu langkah kedepan untuk kemudian berjongkok disamping badan Phoa Loo Tek, dengan kerasnya dia tarik rambutnya sehingga seluruh kulit wajahnya terobek lepas, Sewaktu dia dapat melihat wajah yang sesungguhnya dari orang itu tidak kuasa lagi saking kagetnya dia menjerit keras.
"Aaaach .... Thian ! Kiranya kau adalah si "Hong Liuw Kiam Khek"
Ih Peng Siauw"
Sedikitpun tidak salah, orang itu adalah si "Hong Liuw Kiam Khek"
Ih Peng Siauw yang setiap hari dipikirkan dan berharap bisa merebut kcmbali harta pusaka yang direbut olehnya, Soal ini dia sama sekali tidak pernah menduga, dia tidak pernah berpikir kalau anak buah dari Majikan Patung emas sebenarnya adalah Hong Liuw Kiam Khek Ih Peng Siauw.
Jika ditinjau dari hal ini maka jelas rencana Majikan patung emas hendak menurunkan ilmu silat kepadanya dan minta dia menjadi patung emasnya selama setahun sudah disusun sejak dua tahun sebelumnya.
Dalam hati Ti Then benar2 merasa amat gusar, saking marahnya seluruh tubuhnya sudah gemetar amat keras.
"Tadi dia sudah mengakui kalau dia bersama-sama dengan Majikan patung emas sengaja kerja sama uniuk memancing dirimu terjerumus pula kedalam lingkungan ini, kelihatannya dia sengaja merampok barang kawalanmu dengan tujuan agar kau pergi mencari seorang guru dan tujuannya yang di-cita2kan bisa tercapai."
Dengan cepatnya Ti Then mencengkeram baju dibagian dada Ih Peng Siauw dan menariknya duduk.
"Sebetulnya terjadi urusan apa?"
Bentaknya dengan keras. Si "Hong Liuw Kiam Khek"
Ih Peng Siauw yang jalan darah kakunya tertotok seluruh tubuhnya tak dapat bergerak, tetapi dia masih bisa berkata. Dari wajahnya yang tampan segera tersungginglah satu senyuman mengejek.
"Tidak salah !"
Sahutnya.
"Selama beberapa tahun ini kami sudah menipu dirimu mentah2 sungguh maaf sekali!"
Ti Then betul2 merasa amat gusar, tangannya dengan cepat diayun kirim satu tamparan keras menggaplok wajahnya.
"Kalian sengaja mengatur siasat untuk memancing aku apakah tujuannya hendak mengunakan diriku sebagai patung emasmu?"
Bentaknya kembali. Si "Hong Liuw Kiam Khek"
Ih Peng Siauw yang wajahnya kena digaplok air mukanya segera berubah sangat hebat.
"Urusan sudah menjadi begini, aku suka menceritakan seluruh kejadian ini kepadamu, tetapi bilamana kau main kasar lagi maka sekalipun mati aku tidak akan menjawab pertanyaanmu!".
"Cepat katakan!".
"Terhadap barang2 kawalan yang kami rampas itu aku orang tidak menaruh rasa tertarik, saat ini kesemuanya kami titipkan disebuah gudang uang, kami punya maksud setelah urusan ini dibikin beres maka uang itu akan kami ambil kembali untuk diserahkan kepadamu".
"Dititipkan di gudang uang yang mana?"
Desak Ti Then.
"Kiem San Cian Cung dikota Go-bie"
Mendengar perkataan itu dalam hati Ti Then merasa amat girang.
"Lalu apa hubunganmu dengan majikan patung emas?".
"Dahulu aku adalah kacung bukunya, achirnya dia menerima aku sebagai murid!"
"Dia sudah mempunyai murid seperti kau, lalu buat apa mencari diriku untuk dijadikan patung emasnya?".
"Soalnya bakatku tidak baik sehingga tidak dapat mempelajari seluruh kepandaiannya, bilamana aku yang datang kemari belum tentu Wie Poocu suka menghargai diriku".
"Hmmm! kau tahu tidak aku benar2 benci diri kalian guru bermurid hingga merasuk ketulang sumsum!"
Teriak Ti Then sambil menggigit kencang bibirnya.
"Sudah tentu tahu, ini urusan sudah mengalami kegagalan, aku pun tidak berani minta diampuni dari kematian, Bilamana kau orang merasa aku adalah seorang lelaki sejati maka janganlah memberi siksaan kepadaku melainkan berilah satu kematian yang cepat buat diriku."
"Heee ... heec ... bilamana kau ingin mati dengan sempurna lebih baik jawab lagi satu pertanyaanku ini !"
"Silahkan bertanya, mulai sekarang asalkan ada pertanyaan pasti akan kujawab, kecuali urusan yang aku sama sekali tidak tahu menahu ..."
"Aku rasa suhumu sudah menguruog Yuan Cong Piauw-tauw disuatu tempat, sekarang Yong Cong Piauw-tauw ada dimana ?"
"Maaf, soal ini suhu tidak pernah memberitahukan kepadaku, sehingga aku sendiripun tidak tahu."
"Omong kosong!"
Teriak Ti Then gusar.
"Yuan Cong Piauw-tauw dikurung disebuah gua diatas puncak Hud Ting, loohu sudah kirim orang uutuk pergi menolongnya, ada kemungkinan aebentar lagi bakal kembaii"
Timbruug Wie Ci To.
"Gak-hu bagaimana bisa tahu?"
Tanya Ti Then melengak. Wie Ci To tersenyum.
"Urusan sebcnarnya adalah begini.. sewaktu malam itu kau pergi menjenguk Yuan Cong Piauw-tauw didalam gua Loei Tong Peng tengah malam itu Loohu terjaga dari tidur dan entah bagaimana tak bisa tidur ksmbali, karenanya lantas masuk kedalam Loteng Pcnyimpan kitab untuk melihat buku, tetapi tidak lama kemudian hatiku merasa murung sehingga berdiri didekat jendela loteng. Pada saat itulah mendadak Loohu menemukan dari dalam kamarmu ada sesosok bayangan manusia berkelebat dengan cepatnya..."
Berbicara sampai disitu mendadak dia berhenti sebentar, setelah tukar napas, sambungnya lagi sambil tersenyum.
"Bayangan manusia itu adalah Loo-cia, waktu itu Loohu tidak bisa melihat jelas kalau dia orang adalah Loo-cia, didalam anggapanku ada orang asing yang menyelinap masuk kedalam benteng, karenanya aku lantas meloncat keluar dari Loteng Penyimpan kitab dan mengadakan pengejaran. Sesampainya dibawah tembok banteng Loohu baru bisa melihat jelas kalau orang itu adalah Loocia, melihat tangannya membawa lampu lentera sedang gerak=geriknya amat mencurigakan bahkan amat gesit dan lihay sekali dalam hati Loohu segera menaruh rasa curiga, demikianlah diam2 lantas aku menguntil dari belakanggnya. Demikianlah Loohu menguntil terus sampai di gua Loei Tong Ping, melihat dia meloncat pula cuma saja aku tidak ikut masuk kedalam gua, karena waktu itu Loo-cia sudah pasang lampu bilamana aku ikut masuk bukankah jejakku segera akan di ketahui ? karena itu Loohu cuma bersembunyi ditenpat luaran saja mendengarkan seluruh pembicaraaan kalian, waktu itulah Loohu baru tahu kalau dia bukanlah Loo-cia yang sebenarnya sedang kaupun adalah patung emasnya yang sengaja menerima perintah untuk menyelinap masuk kedalam Benteng."
Dengan muka menyesal Ti Then menundukkan kepalanya tidak berkata.
"Tetapi "
Ujar Wie Ci To lagi sambil tertawa.
"Dari pembicaraan diantara kalian berdua Loohu bisa tahu walaupun kau jadi patung emas yang menerima perintah darinya tetapi tidak ber-sunggguh2 ada di pihaknya, bahkan rasa sayangmu terhadap Loohu ayah beranak membuat hatiku merasa amat terharu."
Saat itulah Ti Then baru tahu kenapa dia orang sama sekali tidak menyalahkan dirinya, dalam hati dia lantas merasa amat girang.
"Akhirnya"
Sambung Wie Ci To lebih lanjut.
"Loohu melihat kau berjalan keluar dari gua itu dan meloncat naik dari Loei Tong Ping. Tidak lama kemudian Majikan patung emas dengan membawa Yuan Cong Piauw-tauw berjalan keluar pula dari dalam gua tersebut, karena itu dari tempat kejauhan Loohu lantas menguntitnya terus, akhirnya sewaktu tiba didekat puncak Ban Hud Ting dia membawa Yuan Cong Piauw-tauw masuk kedalam sebuah gua, Loohu menanti beberapa saat lamanya diluar gua ... kurang lebih sepertanak nasi kemudian baru melihat dia berjalan keluar dari gua tersebut dan meninggalkan tempat itu. Menanti dia sudah pergi jauh Loohu baru masuk ke dalam gua untuk menemui Yuan Cong Piauw-tauw, waktu itu dia sudah ditindihi dengan b"berapa buah batu cadas ..."
"Aaakh ... Yuan Loocianpwee tidak terluka?"
Tanya Ti Then dengan terperanjat setelah mendengar sampai disitu.
"Tidak, Yuan Cong Piauw-tauw terkurung diantara sela2 batu2 cadas itu, dia cuma tak dapat keluar sedang badannya tidak sampai tertindih . ."
Waktu itulah Ti Then baru bisa menghembuskan napas lega tetapi disusul pula dengan helaan napas sedih.
"Dikarenkan Yuan Loo-cianpwee mengetahui seluruh rahasia ini maka dia sudah ditawan dan dipunahkan seluruh kepandaian silatnya."
"Sewaktu dia melihat Loohu muncul di sana benar2 merasa amat giraog sekali, dia lantas menceritakan aeluruh hubunganmu dengan majikan patung emas, Sebetulnya Loohu ingin menolongnya keluar tetapi dia bilang menawan majikan patung emas dan menolong orang lebih penting; Loohu merasa perkataannya tidak salah maka itu lantas berangkat pulang kedalam benteng dan mengadakan perundingan rahasia dengan Pek Tha serta Lian In, akhirnya kami ambil keputusan untuk mengubah loteng penyimpanan kitab itu sebagai kamar pengantin dan pancing majikan patung emas untuk masuk kedalam jebakan!".
"Bilamana bukannnya Gak-hu menemukan jejaknya aecara mondadak, siauw-say entah harus berbuat bagaimana baiknya?"
Ujar Ti Then dengan terharu. Sehabis berkata dia melelehkan air mata kegirangan.
"Lalu sekarang dia sudah terkena alat rahasia apa?"
Tanya Yuan Kuang Thaysu dari Siauw-Lim pay secara tiba2.
"Terkurung didalam kurungan besi".
"Sebenarnya siapakah dia orang??"
Tanya Leng Cing Ceng-jien pula.
"Apa tujuannya menggunakan Ti siauw-sicu unluk menyelinap kedalam Benteng ??"', Wie Ci To segera tertawa dingin.
"Dia memerintahkan Ti Then untuk menyelinap masuk kedalam Benteng sebetulnya hendak mencuri buku keterangan mengenai alat rahasia loteng penyimpan kitab itu setelah itu masuk kedalam loteng penyimpan itu untuk membunuh seseorang yang menerima lindungan dari aku orang she-Wie".
"Aaakh .. siapakah orang itu?"
Tanya Leng Cing Ceng-jien dengan kaget.
"Aku orang she Wie sudah atur dia orang untuk bersembunyi didalam kamar gudang kayu, mari silahkan saudara2 sekalian mengikuti aku orang she-Wie untuk menemui dirinya !!". Sehabis berkata dia lantas berjalan keluar dari kamar. Ti Then, Yuan Kuang Thaysu, Leng Cing Ceng-jien, Kiem Cong Loojien, Mong Yong Sian Kauw serta ber-puluh2 orang pendekar pedang merah lantas ber-sama2 mengikuti dari belakangnya. Saat ini para tetamu yang datang untuk memberi selamat pun sudah pada mengetahui sudah terjadi urusan, oleh karena itu sewaktu tiba di depan gudang kayu tersebut orang yang mengikuti datang ada tiga ratus banyaknya. Wie Ci To mempersilahkan para tetamu untuk menunggu didepan pintu sedang dia sendiri berjalan kedalam, sebentar saja dia sudah berjalan keluar kembali dengan membawa seorang manusia "Aneh"! Sewaktu semua hadirin melihat munculnya orang aneh itu tidak terasa pada bergidik semuanya, bulu kuduk pada berdiri. Sedikitpun tidak salah, wajah dan bentuk orang aneh itu amat menakutkan. Jikalau ditinjau dari rambutnya yang sudah memutih kira2 usianya ada enam puluh tahunan, wajahnya amat jelek sehingga sukar untuk dilukiskan. Kulitnya kering dan hangus seperti bekas terbakar tempo dahulu seluruh wajahnya berwarna darah dengan mata, hidung serta mulut yang bengkok tidak keruan, sungguh menyeramkan. Disamping itu sepasang tangannya sudah lenyap hingga pundaknya, ternyata diapun merupakan seorang cacad. Melihat kejadian itu Ti Then segera merasakan hidungnya jadi kecut, hatinya benar2 terharu.
"Orang yang sudah cacad seperti begini pun majikan patung emas masih mau membunuh dirinya, orang itu sungguh amat kejam!". Dengan dibawah bimbingan Wie Ci To orang aneh itu berdiri didepan pintu gudang kayu.
"Saudara2 sekalian coba lihatlah"
Ujarnya dengan keras.
"Inilah orang yang hendak dibunuh oleh majikan patung emas!"
Semua orang dengan hati terperanjat berdiri ter-mangu2, tak sepatah katapun bisa diucapkan keluar. Wie Ci To kembali menuding keatas wajah orang aneh itu, teriaknya lagi dengan keras.
"Pada sepuluh tahun yang lalu dia dibakar oleh majikan patung emas, bahkan memotong lidahnya dan sepasang tangannya, Sang Kwan-heng coba kau bukalah mulutmu agar bisa dilihat orang!". Untung telinga orang aneh itu masih baik, mendengar perkataan tersebut dia lantas membuka mulutnya lebar2. Sedikitpun tidak salah didalam mulutnya memang benar2 tidak terdapat lidah lagi! Yuan Kuang Thaysu yang tidak tega melihat kekejaman itu lantas memejamkan mata memuji keagungan Buddha. Sedangkan Kiem Cong Loojien dengan suara yang berat dan hati khe-ki berteriak.
"Sebenarnya ada dendam sakit hati apakah antara dirinya dengan majikan patung emas sehingga dia turun tangan begitu kejam terhadap dirinya ?"
"Hee ... heee ... sedikitpun tidak ada dendam apa-apa, bahkan mereka berdua adalah suheng-te. Majikan patung emas adalah suheng sedang dia adalah sute-nya!"
"Kalau memangnya tak ada dendam sakit hati bahkan saudara seperguruan pula, kenapa majikan patung emas hendak menyiksa dirinya?"
Tanya Kiem Cong Loojien keheranan.
"Semuanya hanya dikarenakan se
Jilid kitab pusaka ilmu silat!"
Jawab Wie Ci To dengan wajah adem.
"Orang ini she Sang-kwan, bernama Jien. Pada tiga puluh tahun yang lalu dengan majikan patung emas bersama-sama belajar ilmu silat dengan seorang jagoan Bu-lim, akhirnya setelah tamat belajar dan turun gunung, dengan amat cepatnya Majikan patung emas berhasil memperoleh nama didalam Bu-lim, sebaliknya Sang-kwan Jien karena berhati tawar dan tidak suka mencari nama maka tidak lama setelah turun gunung lantas berpesiar ke daerah Si Ih.
"Berturut2 dia berdiam selama delapan belas tahun lamanya didaerah Si Ih, pada saat dia hendak kembali kedaerah Tionggoan itulah dari seorang hweesio Si Ih dia memperoleb sejiiid kiiab pusaka ilmu silat. Sekembalinya kedaerah Tionggoan dia lantas membawa kitab puiaka itu pergi mencari suhengnya Majikan patung emas, untuk diajak belajar bersama-sama.
"Siapa tahu Majikan patung emas sudah timbul hati serakah, diam2 dia memasukkan racun kedalam arak yang diminum oleh Sang Kwan Jien, memotong pula lidah serta sepasang tangannya membuat dia jadi seorang cacad yang tak dapat menulis mau pun berkata.
"Akhirnya dia mengurung dirinya dalam sebuah gua, tetapi tak lama kemudian dia berhasil melarikan diri dan datang ketempat aku orang she Wie. Dengan menggunakan kakinya dia menulis seluruh kejadiannya dan minta bantuan aku orang she Wie untuk membalas dendam ini. aku orang she Wie yang merasa bukanlah tandingan dari suhengnya terpaksa melindungi dirinya didalam loteng penyimpan kitab dan berharap dengan menggunakan alat rahasia yang ada disana untuk menangkap suheng-nya, karena cuma dengan loteng penyimpan kitab ini saja bisa menawan dirinya, setelah menanti selama puluhan tahun lamanya akhirnya aku orang she Wie berhasil pula mendapatkan kesempatan ini."
Air muka Sang-kwan Jien sedikit pun tidak berubah, dia tetap berdiri tak bergerak di tempat semula cuma saja dari sepasang matanya menetes keluar titik-titik air mata.
Terdengar Leng Cing Cengjien menghela napas panjang.
"Heee...Sang-kwan sicu ini sudah mau berlatih bersama-sama dengan dirinya kenapa dia masih merasa tidak puas?"
Ujarnya.
"Karena pada waktu itu dia sudah merasa dirinya adalah seorang jagoan yang tak terkalahkan, dia sudah menerima penghormatan dari para jago Bu-lim, dia tidak ingin membagikan kecemerlangan ini kepada orang lain...karena itu dia melakukan pekerjaan ini!"
Dia berhenti sebentar untuk kemudian sambungnya lagi.
"Bilamana diantara saudara=saudara sekalian ada yang merasa ragu-raagu terhadap perkataan dari aku orang she Wie maka nanti bilamana bertemu dengan Majikan Patung emas boleh menanyakannya sendiri, asalkan saudara-saudara sekalian dapat melihat wajahnya yang sesungguhnya maka waktu itulah kalian bakal mengetahui kalau perkataan dari aku orang she Wie sedikitpun tidak salah"
"Siapakah dia orang?"
"Bilamana Sian-kauw melihat orang itu maka waktu itulah bakal mengetahui siapakah dia orang, sekaraog mari saudara2 ikuti aku menuju ke lapangan latihan silat, aku orang she Wie akan suruh orang membawa dirinya datang untuk bertemu muka dengan saudara2 sekalian!"
Demikianlah semua orang lantas bergerak menuju ke lapangan latihan silat dengan bersama-sama.
Sedangkan Wie Ci To dengan membawa Shia Pek Tha serta Kie Tong Hong berjalan masuk kedalam Loteng Penyimpan kitab itu, Ti Then yang melihat di sekeliling tempat itu tidak kelihatan munculnya Wie Lian In dalam hati merasa amat tidak tenang.
Diam2 dia menghela napas panjang dan serunya .
"Heei ...dia tentu sedang menangis didalam kamarnya, dia merasa gemas karena aku sudah menipu dirinya ... Dia kepingin sekali pergi menemui dirinya dan minta maaf kepadanya, tetapi teringat kalau sebentar lagi dia bakal menemui majikan patung emas terpaksa pikiran ini untuk sementara waktu dihapuskan dari hatinya, dengan mengikuii orang lain ber-sama2 berjalan menuju lapangan latihan silat. Sesampainya di tengah lapangan latihan silat, tiba-tiba..
"Aaach ..Yuan Cong Piauw-tauw sudah kembali, Yuan Cong Piauw-tauw sudah kembali !!"
Terdengar suara teriakan dengan riuh rendah.
Dengan cepat Ti Then menoleh kearah sana, sedikitpun tidak salah, terlihatlah si tangan sakti Yuan Siauw Ko dengan dibimbing oleh dua orang pendekar pedang merah berjalan masuk kedalam benteng, hatinya hadi amat girang.
Dengan cepat dia berlari mendekat sambil teriaknya dengan amat gembira.
"Yuan Loocianpwee, kau sudah kembali!"
Yuan Siauw Ko mengangguk, tetapi sewaktu dilihatnya ditengah lapangan latihan silat sudah berkumpul beratus-ratus orang dia jadi rada terkejut.
"Orang2 itu lagi berbuat apa ?? apakah majikan patung emas sudah kena ditawan?"
Tanyanya.
"Sudah .... sudah berhasil ditawan !"
Sahut Ti Then sambi! Tersenyum.
"Dia sudah menggerakkan alat rahasia yang dipasang didalam lorong rahasia dibawah loteng penyimpan kitab, saat ini Wie Poocu sedang masuk kedalam loteng penyimpan kitab untuk membawanya keluar, orang2 ini lagi menanti untuk melihat wajahnya".
"Apa sudah tahu siapakah dia orang?"
Tanya Yuan Siamv Ko dengan girang pula.
"Masih belum tahu, Wie Poocu jual mahal, katanya setelah melihat wajah aslinya tentu bakal ada orang yang tahu dengan sendirinya."
Saat ini para tamu yang kenal dengan Yuan Siauw Ko sudah pada berdatangan untuk menyapa. Yuan Siauw Ko pun lantas menjura membalas hormatnya. Kepada Ti Then ujarnya lagi.
"Wie Poocu apakah sudah menjelaskan kisahnya kisahnya malam itu menguntit Loo-cia?"
"Benar!"
Sahut Ti Then mengangguk.
"Boanpwee sama sekali tidak menyangka bisa berakhir dengan demikian ..."
"Bukankah berakhir secara begini mendapatkan kebaikan buat dirimu ?".
"Sudah tentu!!".
"Masih ada Phoa Loo Tek apakah sudah ditangkap sekalian ?".
"Benar! Loocianpwee tentu tidak menyangka siapakah dia orang !!".
"Siapa?"
"Hong Liuw Kiam Khek, Ih Peng Siauw!"
"Aaah, bagaimana bisa dia orang?"
Tanya Yuan Siauw Ko melengak.
"Kiranya dia merampok barang kawalanku tempo hari karena mendapat petunjuk dari Majikan patung emas, sedang tujuan mereka guru bermurid merampok kawalan itu pun hanya bertujuan untuk memancing keinginan boanpwee untuk mencari guru belajar silat, sstelah dengan menggunakan cara itu pula memaksa boanpwee untuk menjadi patung emasnya dan mengerjakan rencananya yang sudah disusun."
"Kalau begitu kesemuanya ini hanya merupakan satu siasat yang licik saja?"
Tanya Yuan Siauw Ko terperanjat.
"Sedikit pun tidak salah!"
"Apakah Ih Peng Siauw mengakui dimana barang2 pusaka itu disimpan olehnya?"
"Benar! dia bilang barang itu tetap seperti sedia kala dan disimpan didalam sebuah gudang uang didalam kota Go bie, lain kali biarlah aku pargi kekota untuk megambilnya kembali."
Baru saja perkataan itu selesai diucapkan terdengarlah suara yang hiruk pikuk bergema datang.
"Ach .., sudah datang, sudah datang!"
Teriaknya, Tidak salah, Shia Pek Tha serta Kie Tong Hong dengan menggotong sebuah kurungan besi berjalan masuk kedalam lapangan latihan silat.
Kurungan baja itu tidak besar cuma ada enam depa tingginya dengan tiga depa tebalnya, saat ini di-sekeliling kurungan itu tertutup dengan secarik kain sehingga tidak dapat melihat jelas wajah majikan patung emas yang ada didalam kurungan, Semua hadirin pada berkerumun maju untuk saling rebut melihat wajahnya.
Dibawah perintah Wie Ci To, Shia Pek Tha serta Kie Tong Hong segera meletakkan kurungan itu ketengah kalangan.
Semua orang yang melihat kurungan itu tertutup oleh secarik kain sedang dari dalam kurungan tak terlihat adanya gerakan apapun dari majikan patung emas pada merasa terkejut bercampur ke-heran2an.
Kiem Cong Loojien dari Kun-lun Pay tidak dapat menahan ssbar lagi, tak tertahan segera tanyanya.
"Apakah dia sudah mambunuh diri?".
"Belum!"
Jawab Wie Ci To tertawa.
"Kalau belum, kenapa tidak meronta?"
"Kurungan besi itu amat kuat sekali, dia tahu sekalipun meronta juga tak berguna maka terpaksa dia harus berbaring didalam kurungan dengan tenang !". Berbicara sampai disini dia lantas menoleh ke arah Shia Pek Tha dan perintahnya.
"Pek Tha, coba buka kain penutup itu!"
Dengan amat hormatnya Shia Pek Tha menyahut dan menarik kain penutup tersebut.
Dengan begitu maka Loo-cia (majikan patung emas) itu dapat dilihat keseluruhan tubuhnya oleh semua orang.
Keadaannya amat mengenaskan sekali sehingga mirip dengan seekor tikus, tetapi buas pula seperti seekor binatang, wajahnya menyengir kejam sedang dari sepasang matanya memancarkan senar kejam yang membuat orang bergidik.
Ti Then adalah orang yang paling mengetahui jelas kedahsyatan ilmu silatnya, melihat seluruh wajahnya sudah diliputi oleh napsu membunuh dan siap2 menerjang keluar dari kurungan hatinya merasa bergidik.
Dengan cepat dia menggeserkan badannya mendekati Wie Ci To, lalu tanyanya dengan suara yang amat lirih.
"Apakah kurungan itu benar2 sangat kuat?".
"Sedikitpun tidak ada parsoalan!"
Sahut Wic Ci To mengangguk.
"Ada kemungkinan dia bisa membobol kurungan itu untuk keluar?"
"Aaakh ... tidak mungkin bisa terjadi". Waktu itu Leng Cing Ceng-jien yang berdir di dekat mereka sudah membuka mulut.
"Wie Poocu tadi bilang pada wajahnya memakai topeng, sekarang apakah kau bisa melepaskan topeng tersebut agar pinto bisa melihat jelas wajahnya?"
"Sudah tentu boleh saja"
Sahut Wie Ci To sambil mengangguk.
"tetapi kepandaian silat orang iui amat lihay sekali, bilamana kepandaian silatnya tidak dimusahkan terlebih dahulu siapapun jangan harap bisa mendekati dirinya, biarlah sekarang aku orang she-Wie mausnahkan dulu tenaga dalamnya"
Sambil berkata dia mengambil sebilah psdang dari seorang jagoan pedang merah dan berjalan maju kedepan.
Mendadak Ti Than teringat kembali dengan kata2 dari majikan patung emas yang mengatakan dia punya cara untuk memulihkan kembali tenaga murni dari Yuan Siauw Ko, melihat Wie Ci To berjaIan maju kedepan diapun lantas menyusul.
"Gak-hu tunggu sebentar!"
Serunya.
"Ada urusan aps ?"
Tanya Wie Ci To sambil menoleh. Ti Then lantas menuding kearah Yuan Siauw Ko yang berdiri diantra para jagoan lainnya.
"Yuan Loocianpwee sudah kembali, sedang kepandaian silainya sudah dipunahkan oieh majikan patung etnas, tetapi dia bilang dia orang punya cara untuk memulihkan kembali ilmu silatnya ...
"Ehmm ..Loohu paham !". Dia maju tiga langkah kedepan dan berdiri didepan kurungan besi tersebut, kepada majikan patung emas yang ada didalam kurungan itu lantas teriaknya.
"Loo-heng!! perbuatanmu jauh lebih kejam dari perbuatan Cuo It Sian, maka itu kau tidak bisa diampuni lagi, tetapi bilamana kau suka menjelaskan cara untuk memulihkan kembali ilmu silat dari Yuan Cong Piauw-tauw, Loohu bisa pergi memintakan keringanan dari sute-mu agar kau bisa mati lebih tenang, bagaimana ?".
"Hee ... heee ... kau bersiap sedia hendak menghukum loohu dengan cara bagaimana ?"
Tanya majikan patung emas sambil tcrtawa dingin.
"Menggunakan api membakar wajahmu lalu memotong lidah dan sepasang tanganmu.' Mendengar perkataan tersebut majikan patung amas segera tertawa ter-bahak2.
"Haaa , ... haaa . , . bagus ... bagus sekali, inilah yang dinamakan adil ..dahulu aku menyiksa dia dengan cara begitu dan sekarang diapun hendak menggunakan cara yang sama untuk menyiksa aku ..haaa ... bagus, bagus sekali !"
"Bilamana mengikuti keputusan dari sute-mu maka walaupun kau bisa hidup didunia tetapi jauh lebih tersiksa dari pada mati, maka itu menurut pendapat loohu lebih baik kau memilih mati sempurna saja bagaimana ?".
"Tidak ! haaa --haaa ..."
Teriak majikan patung emas sambil tertawa ter-bahak2
"Loohu bilamana hidup malah tersiksa lebih baik aku terima saja keputusanmu itu!".
"Kalau begitu kau tidak ingin memulihkan kembali ilmu silat dari Yuan Siauw Ko ?".
"Tidak !".
"Seorang lelaki sejati bisa membedakan dendam dan budi, dia tidak ada sakit hati apa pun dengan dirimu buat apa kau menyiksa dirinya?".
"Heee ... hee ... Loohu tidak akan punya hati welas kasih, terus terang aku beritahu padamu, loohu masih ingin membunuh beberapa orang untuk main-main!".
"Sudah besar sekali omonganmu, apakah kau punya tenaga untuk membunuh orang?"
Ejek Wie Ci To sambil tertawa dingin.
"Sedikitpun tidak salah, kalau kau tidak percaya lihatlah sendiri!". Berbicara sampai disini mendadak dia dongakkan kepalanya dan memandang ke arah Ti Then dengan buas.
"Bangsat cilik, kau kemarilah!"
Bentaknya. Ti Then segera merasakan seluruh bulu kuduknya pada berdiri, dengan paksakan diri dia berjalan maju juga.
"Kau ada perkataan apa lagi?".
"Aku mau tanya padamu, sewaktu kau menyanggupi untuk menjadi patung emas ku apa yang pernah kau katakan?"
Tanya majikan patung emas dengan amat gusar.
"Aku bilang setelah menyanggupi perknataanmu tidak akau menyesal kembali ".
"Dan akhirnya ?"
Tanya Majikan patung emas sambil tertawa dingin.
"Akhirnya aku selalu merasa menyesal, tetapi masih untung perbuatanku tidak sampai melanggar janji kita". Sepasang mata Majikan patung emas melotot semakin bulat lagi.
"Kau tidak melanggar janji ?"
Tanyanya sepatah demi sepatah.
"Bonar, tidak !". Agaknya saking bencinya majikan patung emas kepingin menelan diri Ti Then didalam satu kali terkaman.
"Lalu siapa yang sudah mengkhianati diriku ?"
Bentaknya dengan keras.
"Aku sama sekali tidak mengkhianati dirimu, tertawannya dirimu adalah siasat yang diatur oleh Wie Poocu sendiri, aku sama sekali tidak tahu menahu".
"Omong kosong !"
Bentak majikan patung emas dengan gusar. Wie Ci To tertawa dingin.
"Saat ini walaupun saudara mempunyai sayap juga jangan harap bisa meloloskan diri dari sini, buat apa kami berbohong?? dia benar2 tidak mengkhianati dirimu, rahasiamu berhasil loohu bongkar sendiri!."
Sudah tentu majikan patung emas tak mau percaya akan perkataannya itu. Dia segera mendengus dengan amat dinginnya.
"Ooooh begitu?"
"Tidak salah, ditengah malam buta tempo hari karena Loohu tidak bisa tidur maka sudah naik keatas loteng penyimpan kitab, waktu itu secara tidak sengaja aku sudah menemukan jejakmu lalu menguntit sampai diluar gua Loei Tong Peng, karenanya rahasiamu bisa aku ketahui semuanya."
"Apa benar2 begitu?"
Tanya majikan patung emas sambil memandanng tajam wajahnya.
"Sedikitpun tidak salah"
Dari air muka majikan patung emas segera tersungginglah senyuman dingin yang mengerikan.
"Wie Ci To! kau paling auka ikut campur didalam urusan orang lain,"
Ujarnju perlahan.
"Kau ikut campur didalam urusan Cuo It Sian masih boleh2 saja tetapi kau berani juga menyinggung kepala loohu ..Hmm! Sungguh tidak tahu kekuatan sendiri!"
"Loohu memang rada tidak mengetahui kekuatan sendiri, tapi loohu punya kesabaran untuk memancing ikan kakap, selama sepuluh tahun tiada sedikitpun loohu lelah menanti kedatanganmu, dan akhirnya cita-cita loohu itu terjadi pula.
"Hmm! apa kau kira bisa membereskan loohu ?"
"Benar! kecuali kau punya tenaga untuk menghancurkan kurungan baja ini!"
Seru Wie Ci To sambil mengangguk.
"Baik, Loohu akan mendemontrasikan kepandaian silatku!"
Begitu perkataan terakhir diucapkan keluar mendadak terdengarlah suara yang amat keras berkumandaug memenuhi seluruh angkasa ....
"Braak ... !"
Kurungan baja itu sudah terpental hancur sebagian besar oleh tenaga pukulannya sehingga terbang sejauh lima depa.
Dia benar2 berhasil menghancurkan kurungan besi tersebut.
Dengan menggunakan sepasang telapak tangannya dia menghancurkan tutup kurungan besi yang amat kuat, dari hal ini saja sudah jelas menunjukkan kalau tenaga pukulannya benar2 sangat dahsyat sekali.
Tak ada seorangpun yang pernah menyangka kalau dia bisa menghancurkan tutup kurungan besi yang begitu kuat, untuk beberapa saat lamanya mereka dibuat termangu.
Tampaklah olehnya setelah sepasang telapak tangannya berhasil menghancurkan penutup kurungan tersebut tubuhnya pun mengikuti gerakan tersebut melayang keluar dan mololoskan diri dari kurungan itu.
Melihat kejadian itu Wie Ci To jadi merasa sangat terperanjat.
"Saudara2 sekalian cepat mundur!"
Serunya.
Ditengah suara bentakannya yang amat keras tubuhnya pun bagaikan kilat cepatnya menerjang ketergah udara dan kirim satu tusukan dahsyat kwtubuh Majikan patung emas, Majikan patung emas segera tertawa ter-bahak2, telapak kirinya menekan kebawah balas menghantam tubuh pedang dari Wie Ci To sehingga tusukan tarsebut berubah arah, bersamaan pula dua jari tangannya dengan gaya "Jie Liong Ciang Cu"
Aiau dua naga berebui mutiara menotok ke arah sepasang mata Wie Ci To.
Gerakannya amat cepat dan dahsyat laksana malaikat yang turun dari kahyangan.
Wie Ci To yang tubuhnya masih ada di tengah udara tidak sempat untuk berubah jurus, dia dipaksa untuk berjungkir balik dan melayang turun kembali keatas tanah.
Bagaikan kilat cepatnya majikan patung emas segera menerjang kearah gerombolan para hadirin, sepasang telapak tangannya bagaikau kilat cepatnya sudah melancarkan cangkeraman menghajar seorang pendekar pedang putih.
"Braaak ! Braaak ! Braaak !"
Dengan menimbulkan tiga kali suara yang amat nyaring, tiga orang pandekar pedang putih sudah kena dihajar sehingga otaknya berceceran memenuhi seluruh permukaan tanah, Melihat kejadian itu Wie Ci To jadi amat gusar, sepasang matanya melotot lebar-lebar dengan disertai suara bentakan yang amat keras dia manubruk kedepan melancarkan satu tusukan kilat.
Ti Then yang melihat Majikan patung emas berhasil meloloskan diri dari kurungan tersebut dalam hati sudah mengerti kalau urusan bakal celaka.
dengan cepat dia merebut sebilah pedang dari seoraug peadekar pedang merah dan siap2 menghadapi musuh, Saat ini melihat dia orang didalam sekali kelebatan berhasil membinasakan tiga orang pendekar pedang putih, dia semakin tidak berani berayal lagi.
Tubuhnya dengan cepat menubruk kearah depan melancangi tubuh Wie Ci To yang lagi menubruk kedepan pula, pedangnya dengan cepat membabat pinggangnya.
Hanya didalam sekejap saja diantara mereka bertiga sudah terjadi suatu pertempuran yang amat sengit.
Beberapa orang ciangbunjien serta be-ratus2 tetamu yang melihat pertempuran diantara mereka bertiga sudah mencapai pada ketegangannya pada dibuat merasa bergidik.
Kiranya Majikan patung emas yang baru menghadapi dua orang musuh ternyata sudah menggunakan tangan kosong untuk melawan serangan2 pedang dari Wie Ci To serta Ti Then, semakin bertempur semakin bersemangat dan semakin lihay bahkan berhasil menduduki diatas angin.
Semua orang tahu bahwa kepandaian silat dari Wie Ci To ada sedikit dibawah kepandaian silat dari si kakek pemalas Kay Kong Beng, dengan kedahsyatan ilmu silatnya ditambah lagi dengan si pendekar baju hitam Ti Then ternyata tidak berhasil pula untuk menahan serangan2 dari Majikan patung emas, hal ini benar2 merupakan satu peristiwa yang tak pernah diduga sebelumnya.
Kiem Cong Loo-jien yang melihat pertempuran itu dalam hati benar2 merasakan hatinya bee-debar2, gumamnya.
"Loohu berlatih ilmu silat selama hidupku, ini hari boleh dikata terbuka sepasang mataku ..."
Yuan Kuang Thaysu yang melihat kejadian itupun lantas mengerutkan alisnya rapat2 dan mulai bergeser mendekati diri Leng Cing Ceng-jien.
"Jika ditinjau situasi saat ini agaknya Wie Poocu serta Ti kiauw sicu tidak bakal kuat bertahan lebih lama lagi,"
Ujarnya dengan suara perlahan.
"Apakah ciangbunjien sekalian punya maksud untuk maju memberi bantuan ?"
"Kepandaian silat majikan patung emas memang benar amat dahsyat sekali dan seharusnya kita maju membantu"
Ujar Leng Cing Cengjien agak ragu2.
"Tetapi ... walaupun kepandaian silat majikan patung emas amat tinggi tatapi kita masing2 adalah seorang ketua dari suatu partay besar bilamana kita pun harus harus bekeja sama untuk mengerubuti seseorang bukankah hal ini mendapatkan tertawaan dari orang lain ..."
"Walau pun perkataan dari Ciang kauw sedikit tidak salah"
Sahut Yuan Kuang Thaysu perlahan.
"Tetapi jikalau kiia tidat maju membantu sehingga Wie Poo cu serta Ti siauw-sicu menemui kekalahan bukankah keadaan malah semakin bertambah runyam ?"
Leng Cing Cengjien termenung beberapa saat lamanya, akhirnya dia mengangguk.
"Baiklah.,mari kita maju"
Tetapi pada saat mereka hendak maju kedepan itulah mendadak menang kalah sudah bisa ditentukan.
"Plak."
Dengan disertai suara yang amat nyaring Wie Ci To sudah terkena pukulan dengan amat tepat sehingga tubuhnya terjengkang kebelakang.
Majikan patung emas segera tertawa terbahak-bahak, dengan meminjam kesempatan ini dia mengejar lebih jauh sedang serangannya pun semakin gencar menghajar perut Wie Ci To.
Ti Then membentak keras tidak perduli keselamatan dirinya sendiri dia lantas maju dua langkah kedepan pedangnya dengan disertai sambaran angin tajam membabat telapak kanan dari majikan patung emas, Serangannya kali ini sudah menggunakan seluruh tenaga yang dimiiikinya sehingga gerakannya amat tajam dan ganas.
Majikan patung emas terdesak dan terpaksa dia menarik kembali tangan kanannya, kakinya dengan cepat kirim satu tendangan kilat menghajar pergelangan tangan kanan dari Ti Then.
"Bangsat cilik, Loohu jagal dirimu dulu!"
Makinya dengan gusar.
Sepasang tangan Ti Then kembali berputar dari gerakan membabat berubah jadi gerakan menghadang menancam pinggangnya.
Tetapi baru saja bergerak sebanyak tiga jurus dia sudah terpukul pundaknya oleh serangan yang umat aneh dari majikan patung emas sehingga terjungkir balik dan jatuh terlentang diatas tanah.
Wie Ci To yang melihat akan hal ini segera meloncat bangun dari atas tanah, pedangnya dengan gaya "Coan Sin Si Ing"
Atau putar badan memanah elang menusuk jalan darah "Thay Yang Hiat"
Pada pelipis kiri majikan patung emas, Waktu itu majikan patung emas sedang mengangkat telapak tangannya untuk membereskan nyawa Ti Then, kini melihat datangnya serangan pedang yang amat ganas terpaksa dia bubarkan serangan semula untuk meuolong diri, kakinya bergeser badannya berputar menghindarkan diri dari tusukan tersebut, bersamaan pula kaki kanannya menyapu kedepan menghajar sepasang kaki dari Wie Ci To.
Dengan mengambil kesempatan itulah Ti Then cepat2 meloncat bangun lalu kirim satu tusukan.
Tua muda dua orang dengan bekerja sama amat erat ber-sama2 menerjang diri majikan patung emas.
Semula mereka masih bisa bertahan tetapi lama kelamaan keadaan mulai barubah setelah dengan susah payah mereka menerima sepuluh jurus akhirnya mereka berdua cuma bisa menangkis saja tanpa dapat menyerang barang sejuruspun.
Yuan Kuang Thaysu serta Leng Cing Ceng-jien tidak berani berayal lagi mereka segera kirim kerdipan mata lalu ber-sama2 menubruk kedepan.
Yang satu dengan menggunakan senjata toya sedang yang lain menggunakan senjata Hud-tim dari kiri serta kanan menggencet pihak musuh.
Wajah majikan patung emas segera berubali amat dahsyat, dia dongakkan kepalanya tertawa ter-habak2.
"Bagus . , bagus sekali!"
Teriaknya.
"haaa ... haa ... ayoh maju beberapa orang lagi, dari pada banyak buang waktu ayoh berbareng saja pada maju semua!"
Sekali lagi suatu pertempuran yang amat sengit kembali berlangsung!
Dengan terjunnya Yuan Kuang Thaysu serta Leng Cing Cin-jien maka situasi pertempuranpun lantas berubah seimbang, untuk beberapa saat lamanya mereka bertempur semakin sengit.
Tampaklah tubuh mereka berlima bagaikan kilat cepatnya saling menyambar.
angin pukulan menyambar tiada hentinya diselingi babatan hawa pedang yang menggigilkan serta sambaran toya serta hud-tim yang setiap saat mengancam jiwa ...
Enam puluh jurus berlalu dengan amat cepatnya tetapi keadaan masih seimbang, Kiem Cong Loojien yang melihat kejadian itu segera garuk2 kepalanya, mendadak dia bergeser kesisi Mong Yong Sian Kauw itu Ciangbunjien dari Tiang Pek Pay dan ujarnya sambil tertawa.
"Mong Yong ciangbunjien, aku lihat kita pun harus segera maju!"
"Aku rasa tunggu sebentar lagi"
Jawab Mong Yong Sian Kauw tawar.
"Apa kau kira mereka berempat bisa mempcroleh kemenangan?"
"Sedikit-dikitnya tidak sampai dikalahkan"
"Aku lihat tidak bisa jadi...."
Seru Kiem Cong Loojien sambil gelengkan kepalanya.
"Lebih baik kita maju sekalian untuk membantu mereka."
Agaknya Mong Yong Sian Kauw merasa keberatan atas usul tersebut.
"Bilamana kitapun ikut maju"
Ujarnya.
"Hal ini berarti bahwa dari Benteng Pek Kiam Poo sudah bekerja sama dengan Siauw Lim, Bu-tong, Kun-lun serta Tiang-Pek lima partay besar untuk mengerubuti seseorang bilamana berita ini sampai tersiar dalam Bu-lim bukankah rada tidak enak?"
"Haa..haa..Siauw-Lim serta Bu-tong merupakan gunung Thay-san dari Bu-lim, mereka berdua pun tidak takut ditertawakan bagaimana kita harus takut?"
Mong Yong Sian Kauw termenung tidak menjawab.
"Eeeii aku mau tanya kepadamu, besok pagi kau kepingin minum arak kegirangan tidak?"
Desak Kiem Cong Loojien lagi.
"Sudah ... sudahlah, mari kita pun maju"
Seru Mong Yong Sian Kauw kemudian sambil tertawa.
Demikianlah mereka berdua pun segera menerjang pula kedepan untuk mengerubut diri majikan patung emas.
Dengan demikian keadaan dari majikan patun& emas semakin teedessk lagi, dia dibuat agak repot oleh kerubutan ini.
Walaupun dia crang memiliki kepandaian silat yang amat tinggi tetapi seorang manusia tidak bakal berhasil menangkan kerubutan enam pasang tangan, apalagi keenam orang itu pun merupakan jago2 nomor wahid didalam Bu-lim pada saat ini dan memiliki kepandaian silat yang amat tinggi sudah tentu dia rada kedesak.
Wie Ci To yang melihat keempat orang ciangbunjien itu turun tangao dengan tanpa belas kasihan dan setiap serangannya tentu mengancam tempat yang berbahaya, dengan gugup lantas serunya .
"Harap saudara2 sekalian suka turun tangan lebih ringan, jangan sampai membinasakan dirinya,"
Keempat orang ciangbunjien sendiri pun tahu kalau ilmu silat dari Yuan Siauw Ko belum pulih dan tak dapat membinasakan dirinya karena itu serangannya mulai mengendor, Mendadak Majikan Patung Emas melayang setinggi empat kaki jauhnya dan meloloskan diri dari kurungan enam orang untuk kemudian menerjang kearah sebelah luar.
Tujuannya bukan lain adalah gerombolan dimana para tamu lagi berdiri.
Wie Ci To yang melihat dia bermaksud hendak bunuh orang secara sembarangan hatinya jadi merasa amat terkejut, dengan diiringi suara bentakan yang keras tubuhnya segera menubruk kedepan.
Ti Then pun bersamaan waktunya mengejar dari bslakang, per-tama2 dialah yang tiba terlebih dahulu dibelakang tubuh majikan patung emas.
Tetapi pada saat yang bersamaan pula majikan patung emas berhasil menangkap sepasang kaki dari seorang tetamu, dia lantas mengangkat tubuh tetamu itu dan diputar keatas kepala untuk kemudian dihajarkan kearah Ti Then.
Baca Juga: Si Rajawali Sakti Kho Ping Hoo
Baca Juga: Si Bayangan Iblis Kho Ping Hoo