Eps 5 Nurseta Satria Karangtirta - Kho Ping Hoo
Baca online Nurseta Satria Karangtirta - Kho Ping Hoo
Cersil Nurseta Satria Karangtirta - Kho Ping Hoo.
"Cukup! Jangan bicara tentang dia, jangan sebut namanya!"
Nini Bumigarbo memotong dengan ketus dan wajahnya berubah kemerahan.
"Lhadalah! Hubungan mesra itu gagal dan terputus, ya? Ha-ha-ha-ha! Kebahagiaan tidak selamanya singgah pada wajah-wajah yang cantik! Baiklah, aku tidak akan bicara tentang dia."
"Mana sahabatku Woro Sumarni? Panggil ia keluar menemuiku. Aku sudah kangen (rindu) padanya."
Kata Nini Bumigarbo.
"Gayatri, kita tidak bicara tentang Adi Ekadenta maka kita tidak bicara pula tentang Woro Sumarni. Akan tetapi ia akan menemani kita makan-makan nanti. Engkau pasti akan bertemu dengannya. Sekarang yang penting, katakan, apa yang membawamu datang berkunjung? Aku tidak percaya kalau hanya karena kangen kepada Woro Sumarni. Apa yang kau inginkan dariku?"
"Aku sedang membutuhkan pertolongan dan mengingat akan kemampuanmu dan bahwa engkau adalah seorang sahabatku, maka aku datang berkunjung ini untuk minta bantuanmu, Dibya!"
"Heh-heh-heh, Nini Bumigarbo yang tersohor itu masih membutuhkan bantuan orang lain? Aneh sekali! Coba katakan, bantuan apa yang dapat kuberikan padamu?"
"Aku minta bantuan agar engkau suka mencuri Cupu Manik Maya dari gedung pusaka milik Sang Prabu Erlangga di Istana Kahuripan."
Sepasang mata yang lebar itu terbelalak heran.
"Hemm, aneh sekali! Bukankah Cupu Manik Maya itu merupakan sebuah di antara pusaka wahyu kraton yang menjadi ciri kekuasaan raja? Untuk apa engkau menginginkan benda pusaka itu, Gayatri? Apakah engkau bercita-cita menjadi ratu?"
"Tidak, Dibya. Kalau engkau berhasil mengambil benda pusaka itu, engkau boleh memilikinya karena engkaulah yang kini bahkan menjadi raja kecil di Nusa Barung. Aku tidak membutuhkan pusaka itu."
"Hemm, kalau engkau tidak membutuhkan pusaka itu, lalu mengapa engkau menyuruh aku mencurinya?"
"Aku hanya ingin agar Sang Prabu Erlangga gelisah dan susah karena kehilangan benda pusaka yang penting itu. Aku ingin agar kekuasaan Sang Prabu Erlangga menjadi lemah dan akhirnya hancur. Aku benci kepadanya dan ingin melihat dia sengsara dan jatuh dari kedudukannya sebagai raja besar!"
"Lho! Mengapa begitu?"
"Aku benci padanya! Aku benci kepada Sang Prabu Erlangga dan Patih Naro-tama. Aku ingin keduanya hancur, Kerajaan Kahuripan jatuh. Aku benci!!"
"Wah, kalau engkau membenci mereka dan ingin agar benda pusaka itu dicuri, mengapa tidak kau lakukan saja sendiri, Gayatri? Aku yakin kalau engkau mau, akan mudah bagimu untuk mencuri benda pusaka itu!"
Nini Bumigarbo cemberut.
"Kalau aku bisa melakukannya, apa kau kira aku akan datang ke sini dan minta tolong kepadamu?"
"Lho! Mengapa tidak bisa, Gayatri? Apa engkau takut terhadap raja yang masih muda itu? Menggelikan!"
"Siapa yang takut?"
Nini Bumigarbo menghardik.
"Aku tidak takut, akan tetapi aku tidak bisa melakukannya sendiri karena aku sudah berjanji untuk tidak mengganggu mereka dengan tanganku sendiri!"
"Eh? Kepada siapa engkau berjanji itu, Gayatri?"
"Hemm, sudahlah, tak perlu engkau banyak bertanya. Sekarang jawab saja, maukah engkau membantuku melakukan pencurian benda pusaka Cupu Manik Maya?"
"Hemm.... entahlah.... akan kupikirkan dulu, Gayatri. Nanti kujawab sehabis kita makan."
Pada saat itu, pelayan datang memberitahu bahwa hidangan telah dipersiapkan di ruang makan.
"Ha-ha-ha, bagus! mari, Gayatri dan engkau juga, Niken Harni, mari kita makan bersama dalam ruang makan."
Ki Dibya Krendasakti tampak gembira sekali.
Nini Bumigarbo dan Niken Harni mengikutinya meninggalkan ruang tamu menuju ke ruang makan yang ternyata juga cukup luas dan prabotannya mewah.
Sebuah meja makan persegi yang besar berada di tengah ruangan.
Lima buah kursi berada di seputar meja.
Belasan macam masakan berada di atas meja, dan masih mengepulkan uap.
Tiga orang pelayan wanita berdiri di dekat dinding, dengan sikap hormat dan siap melayani.
"Ha-ha, duduklah, Gayatri dan Niken. Kalian berdua duduk di sini."
Dia menunjuk dua buah kursi yang berjajar.
Di seberang meja, berhadapan dengan mereka, terdapat dua buah kursi yang berjajar pula, sedangkan Ki Dibya Krendasakti sendiri duduk di kepala meja.
Diam-diam Nini Bumigarbo merasa heran mengapa ada dua buah kursi kosong di depannya.
Siapa yang akan duduk disitu?
Akan tetapi ia tidak menyinggung hal itu ketika bertanya.
"Dibya, di mana sahabatku Woro Sumarni? Aku ingin bertemu dengannya dan kau bilang tadi ia akan hadir dalam perjamuan ini."
"Sabar, Gayatri, sebentar juga ia akan datang."
Ki Dibya lalu berkata kepada seorang pelayan.
"Cepat kamu mohon Bendoro Puteri untuk hadir sekarang!"
Pelayan itu membungkuk lalu pergi.
Tak lama kemudian, muncullah orang yang dinanti-nanti Nini Bumigarbo.
Niken Harni ikut memandang dan ia merasa kagum.
Seorang wanita, usianya sekitar empat puluh delapan tahun, masih cantik dan tubuhnya ramping padat, kulitnya kuning, namun wajahnya pucat dan matanya suram tanpa gairah, mulutnya yang manis bentuknya itupun menunjukkan hati yang penuh duka.
Pakaiannya mewah, bersih dan rapi, dari sutera mahal.
Rambutnya masih hitam, panjang dan digelung rapi, dihias tusuk sanggul dari emas permata.
Sungguh seorang wanita yang anggun dan cantik.
Namun ia pucat dan tak bersemangat, bahkan seperti mayat hidup.
Ki Dibya Krendasakti cepat bangkit dari duduknya dan menarik dua buah kursi yang berjajar di depan Niken dan Nini Bumigarbo.
"Diajeng, duduklah."
Wanita itu duduk dengan lesu.
Yang membuat Niken Harni terbelalak adalah ketika ia melihat seorang pelayan wanita yang tadi berjalan di belakang wanita cantik itu, membawa sebuah baki kecil hitam yang tertutup sehelai kain kuning.
Pelayan itu kini meletakkan baki di atas meja, di depan kursi kosong yang berada di sebelah kiri wanita cantik Itu.
Kemudian dengan perlahan dan hati-hati la membuka kain kuning yang menutup baki.
Niken Harni terbelalak dan menahan seruan kagetnya ketika melihat bahwa di atas baki itu terdapat sebuah tengkorak.
Tulang itu putih bersih dengan lubang-lubang ternganga pada kedua mata, hidung dan mulutnya.
Yang mengerikan adalah mulut tengkorak itu.
Masih tampak deretan gigi berbaris rapi pada mulut yang setengah terbuka itu sehingga tengkorak itu seolah menyeringai mentertawakan!
"Diajeng Woro Sumarni, lihat siapa yang dating mengunjungi kita ini!"
Kata pula Dibya Krendasakti kepada isterinya yang sejak tadi hanya menundukkan muka dan sama sekali tidak melihat ke arah Nini Bumigarbo dan Niken Harni.
"Woro! Engkau kenapa? Ini aku, Gayatri!"
Kata Nini Bumigarbo sambil bangkit dari kursinya dan menghampiri wanita itu. Woro Sumarni mengangkat mukanya memandang, sikapnya dingin saja ketika la berkata.
"Ah, engkaukah yang datang, Mbakayu Gayatri?"
Setelah berkata demikian, ia menunduk kembali. Nini Bumigarbo merangkul Woro Sumarni yang dulu ketika masih sama-sama muda menjadi sahabat baiknya.
"Marni..., engkau kenapakah....?"
Akan tetapi Woro Sumarni bersikap dingin saja, menggeleng kepalanya dan berkata.
"Tidak apa-apa, Mbakayu Gayatri."
"Ha-ha-ha, Gayatri, ternyata isteriku tercinta ini lebih tenang daripada kamu. Duduklah dan mari kita mulai dengan perjamuan makan yang kami adakan untuk menyambut kalian berdua sebagai tamu kehormatan."
Kemudian Dibya Krendasakti memberi isarat kepada para pelayan wanita yang kini berjumlah empat orang itu.
"Hayo isi cangkir kami dengan minuman!"
Empat orang pelayan itu dengan cekatan lalu menuangkan minuman berwarna kuning dan dari baunya dapat diketahui bahwa minuman itu terbuat dari perasan jeruk ke dalam cangkir-cangkir kosong yang berada di atas meja di depan Ki Dibya Krendasakti, Nini Bumigarbo, dan Niken Harni.
Di depan wanita cantik itu tidak terdapat gelas kosong dan anehnya, pelayan yang tadi membawa baki terisi tengkorak itu lalu menuangkan minuman ke dalam...
tengkorak melalui lubang yang berada di bagian ubun-ubun kepala tengkorak itu!
Agaknya lubang-lubang di bagian bawah telah ditambal sehingga minuman itu berada di dalam tengkorak, tidak mengalir keluar.
"Mari kita minum untuk menyambut pertemuan yang menggembirakan ini!"
Kata Dibya Krendasakti sambil mengangkat cangkirnya.
Minuman yang terbuat dari perasan jeruk itu tampak segar dan baunya juga sedap menimbulkan selera.
Niken Harni dan Nini Bumigarbo juga sudah mengangkat cangkir masing-masing akan tetapi Woro Sumarni diam saja, dan melihat ini, dua orang tamu itu memandang penuh rasa heran.
Di depan Nyonya rumah itu tidak terdapat cangkir ain jeruk.
"Mari, Diajeng, isteriku yang tercinta, Isterlku yang ayu manis merak ati, mari kita minum!"
Suara Dibya Krendasakti tampak lembut membujuk dan mesra, namun ada tekanan pada akhir kalimat yang mengandung kekerasan.
Niken Harni memandang Woro Sumarni dengan penuh perhatian, la tidak mengerti apa maksud Ki Dibya dengan ucapannya kepada isterinya itu.
Sejak wanita itu datang dan melihat tengkorak itu ditaruh di atas meja, berhadapan dengannya, Niken Harni sudah merasa tidak suka dan muak.
Woro Sumarni, tanpa memandang siapa pun, menggunakan kedua tangannya mengambil tengkorak itu, dihadapkan kepadanya, lalu mendekatkan tengkorak itu dan....
mulutnya dirapatkan pada mulut tengkorak yang ditundukkan.
Ia minum minuman itu yang keluar dari mulut tengkorak dan tampak tentu saja seperti orang berciuman!
"Gayatri dan Niken, mari kita minum, ha-ha-ha!"
Dibya Krendasakti berkata lalu minun dari cangkirnya.
Nini Bumigarbo agaknya sama sekali tidak peduli akan perbuatan Woro Sumarni.
Ia Juga minum sampai minuman itu habis.
Akan tetapi Niken Harni merasa muak dan tidak mau minum, bahkan lalu menaruh kembali cangkir minuman itu di atas meja.
Seperti juga Nini Bumigarbo, Ki Dibya menghabiskan minumannya.
Bahkan Woro Sumarni juga menghabiskan minumannya, minum melalui mulut tengkorak, lalu seperti menaruh cangkir kosong, ia meletakkan kembali tengkorak itu ke atas meja.
Melihat Niken Harni tidak mau minum, Ki Dibya berkata.
"Niken Harni, minumlah air jeruk yang segar itu, dan rnari kita makan bersama dengan gembira."
Niken Harni marah sekali, la sudah muak dan rasanya mau muntah, la bangkit berdiri dengan kasar dan sebelum membentak nyaring ia menggebrak meja sehingga mangkuk piring di atas meja berloncatan.
"Brakkl! Aku tidak suka makan minum bersama manusia iblis macam kamu! Bibi Gayatri, mengapa Bibi diam saja melihat laki-laki iblis jahanam ini menghina dan menyiksa isterinya, yang sahabat Bibi sendiri, seperti ini? Iblis ini sudah sepatutnya dibasmi dari permukaan bumi!"
Nini Bumigarbo adalah seorang datuk aneh yang sama sekali tidak tersentuh perasaannya oleh peristiwa apa pun juga.
Juga Ki Dibya Krendasakti juga seorang datuk yang luar biasa, biar dimaki seperti Itu, malah tertawa terkekeh-kekeh.
"Aku menghina dan menyiksa isteriku yang amat kucinta ini? Heh-heh-heh, Diajeng Woro Sumarni, isteriku sayang, pujaan hatiku, tolong ceritakan kepada perawan cantik yang kewat (genit) ini, siapakah yang kejam? Ceritakan semuanya agar sahabatmu Gayatri ini juga mendengar dan mengerti."
Ucapan itu lembut dan manis, namun terasa ada kekerasan yang mengancam oleh Niken Harni.
Woro Sumarni menghela napas panjang, mengangkat muka memandang suaminya, kemudian menoleh dan memandang ke arah tengkorak itu, dan akhirnya ia menghadapkan mukanya kepada Niken Harni dan Nini Bumigarbo yang duduk berhadapan dengannya, di seberang meja.
Setelah menghela napas panjang sekali lagi, ia lalu bicara, suaranya lembut halus, mengandung penyesalan dan kedukaan.
"Sesungguhnyalah, Kakangmas Dibya Krendasakti tidak bersalah, tidak kejam dan tidak menyiksaku, melainkan dia amat mencintaku. Akulah yang bersalah kepadanya, akulah yang kejam dan telah menyiksa batinnya."
Niken Harni terheran-heran mendengar ucapan wanita itu. Nini Bumigarbo sambil minum lagi minuman yang sudah diisi ke dalam cangkirnya oleh pelayan, memandang sahabatnya itu dan berkata.
"Marni, tadi aku mendengar suamimu mengatakan bahwa engkau boleh menceritakan semuanya agar aku dan muridku dapat mendengar dan mengerti keadaanmu. Nah, sekarang ceritakan kepada kami apa kesalahanmu kepada Dibya Krendasakti. Kekejaman dan penyiksaan batin apakah Yang telah kaulakukan kepadanya."
Wanita itu mengarahkan pandang matanya kepada suaminya dan Dibya Krendasakti tersenyum dan mengangguk, kemudian dia menoleh ke belakang dan berseru galak kepada empat orang pelayan wanita itu.
"Kalian berempat keluar dari ruangan ini dan tutupkan daun pintunya. Awas, kalau ada yang mengintai dan mendengarkan pasti akan kulemparkan ke sarang ikan hiu!"
Ancaman itu agaknya bukan gertak sambal karena empat orang pelayan itu menjadi pucat dan segera keluar dari ruangan makan itu.
Agaknya sudah pernah atau bahkan sering ada anak buah yang melakukan kesalahan dan benar-benar dilempar ke laut dan menjadi makanan gerombolan ikan hiu yang ganas dan buas.
Setelah menghela napas lagi, Woro Sumarni mulai bercerita dengan suara lirih, lembut dan datar.
"Terjadinya sekitar dua puluh lima tahun yang lalu, Mbakayu Gayatri. Setahun setelah aku menjadi lsteri Kakangmas Dibya Krendasakti, kami pindah ke Pulau Nusa Barung ini dan kami hidup berbahagia. Kami saling mencinta, terutama suamiku amat mencintaku. Lalu.... Kakangmas Kunarpo datang berkunjung ke sini...."
"Hemm, Kunarpo adik seperguruan Dibya?"
"Benar, Mbakayu. Mungkin engkau masih ingat, dia seorang pemuda tampan, ketika itu berusia sekitar dua puluh lima tahun dan aku berusia dua puluh tiga tahun..."
"Dan aku sudah tiga puluh lima tahun, jauh lebih tua, ha-haha!"
Potong Dibya Krendasakti.
"Semula tidak terjadi sesuatu, Mbakayu Gayatri. Akan tetapi, Kakangmas Kunarpo dan aku masih muda dan dia memang memiliki pribadi yang menarik dan tentu saja, dia jatuh cinta kepada aku, Kakak iparnya sendiri. Lebih lagi Kakangmas Dibya Krendasakti terlalu memanjakan aku dan mempercaya kami berdua sehingga kami berdua seringkali ditinggalkan karena dia sibuk membangun pulau ini. Terkadang sampai dua tiga hari dia tidak pulang dan kami tinggal berdua saja dalam rumah. Kami tidak mampu menahan godaan nafsu maka terjadilah.... hubungan cinta di antara kami."
Gayatri atau Nini Bumigarbo mengerutkan alisnya.
Hatinya tidak senang mendengar betapa lemahnya sahabatnya itu.
Padahal, menurut pendapatnya, yang lemah dalam kesetiaan cinta adalah kaum pria, sedangkan wanita, seperti ia sendiri, tetap setia kepada cintanya sehingga ia sendiri begitu berpisah dari Ekadenta tidak mau berdekatan lagi dengan pria!
"Huh, memalukan sekali, Mami!"
Kata Nini Bumigarbo dan kembali ia menenggak minuman dari cangkirnya yang ia isi sendiri karena semua pelayan telah pergi.
"Bibi Gayatri biarkan Bibi Woro Sumarni melanjutkan ceritanya!"
Kata Niken Harni yang merasa iba kepada wanita yang lemah lembut tutur bahasanya itu.
"Lanjutkanlah, Bibi Woro Sumarni."
"Akhirnya hubungan kami diketahui Kakangmas Dibya Krendasakti. Tentu saja dia marah sekali kepada Kakangmas Kunarpo dan menantangnya untuk bertanding sampai mati memperebutkan diriku...."
"Huh, kau dengar itu, Niken? Laki-laki memang biadab, memperebutkan wanita yang dianggap sebagai permainan belaka!"
Kata Nini Bumigarbo.
"Teruskanlah ceritamu, Bibi Woro Sumarni."
Kata Niken.
"Mereka bertanding dan Kakangmas Kunarpo tewas dalam pertandingan itu."
"Heh-heh-heh, dia mengalah. Adi Kunarpo sengaja mengalah dan rela mati untuk Diajeng Woro Sumarni. Hemm, dia amat mencinta Diajeng Woro Sumarni, akan tetapi aku lebih mencintanya!"
"Lanjutkanlah, Bibi Woro Sumarni!"
Desak Niken Harni sambil mengerling kepada Dibya Krendasakti dengan mata mencorong karena tak senang.
"Setelah Kakangmas Kunarpo tewas.... Kakangmas Dibya Krendasakti mengatakan bahwa Kakangmas Kunarpo berhak untuk terus merasakan cintaku dan harus terus berdampingan dengan aku. Maka, Kakangmas Dibya Krendasakti membiarkan Kakangmas Kunarpo selalu bersanding denganku, katanya agar aku tidak rindu setelah ditinggal mati kekasihku..."
"Ahh! Jadi.... tengkorak ini adalah tengkoraknya?"
Niken Harni berseru nyaring dan memandang tengkorak itu dengan mata terbelalak.
"Benar. Ini adalah tengkorak Kakangmas Kunarpo yang sengaja dipenggal dan dikeringkan. Aku diharuskan minum dari mulut tengkorak untuk menyatakan cintaku kepada Kakangmas Kunarpo, dan tidak pernah berpisah. Bahkan kalau malam, tengkorak ini ditaruh di pembaringanku dan Kakangmas Dibya Krendasakti membiarkan tengkorak ini menjadi saksi ketika dia membelaiku, bercinta dan menggauli aku...."
"Wah, keparat jahanam!!"
Niken Harni kini bangkit berdiri dan memandang kepada tuan rumah dengan muka merah dan mata mencorong penuh kemarahan.
"Heh-heh, Diajeng Woro Sumarni, katakanlah, apakah selama dua puluh lima tahun ini aku tidak memperlihatkan cintaku kepadamu yang berlimpahan? Pernahkah aku menyiksamu, atau memakimu, atau memukul dan menghinamu?"
"Tidak, Kakangmas Dibya Krendasakti bersikap amat mencintaku, bahkan berlebihan, seolah hendak pamer kepada tengkorak Kakangmas Kunarpo bahwa dia memang benar-benar amat menyayangku, amat mencintaku dan tetap mencintaku biarpun aku telah mengkhianatinya dan menyeleweng. Dia tidak mau mempunyai selir seorang pun, dia hanya mencinta aku seorang dan aku.... aku memang layak menerima hukuman derita batin ini...."
"Bohong! Dia masih gila karena dendam dan cemburu! Dia pada lahirnya bilang cinta, akan tetapi sesungguhnya pada batinnya penuh dendam kebencian dan cemburu! Dia menyiksamu dengan kejam sekali, Bibi Woro Sumarni! Dan Bibi menderita hebat! Siapa yang tidak tahu akan hal ini? Bibi menjadi seperti mayat hidup, semangat dan kebahagiaan Bibi telah mati, yang ada hanya kepedihan hati dan derita!"
Niken Harni berteriak lantang.
Tiba-tiba Woro Sumarni menutup mukanya dengan kedua tangannya.
Tidak mengeluarkan suara, akan tetapi jelas ia menangis sedih.
Air matanya menetes keluar dari celah-celah jari tangannya, pundaknya terguncang-guncang.
"Ah, Diajeng Woro Sumarni, isteriku sayang. Mengapa engkau menangis? Bukankah aku selalu mencintamu dan engkau tidak kekurangan sesuatu di sini, hidup berbahagia sebagai isteriku?"
Dibya Krendasakti membujuk dengan lembut dan mengelus pundak isterinya.
"Dibya Krendasakti, engkau manusia berwatak iblis! Engkau menyiksa hati Bibi Woro Sumarni dengan kejam! Lebih kejam dari pembunuhan. Selama dua puluh lima tahun engkau menyiksanya seperti ini, menghinanya dan menghancurkan semua harapan dan kebahagiaannya! Engkau jahat! Bibi Gayatri, buat apa kita menjadi tamu manusia iblis seperti dia ini?"
Niken Harni membentak-bentak saking marahnya.
"Ha-ha-ha, Niken Harnii Engkau memang pantas menjadi murid Gayatri. Engkau kewat dan galak seperti Gayatri di waktu muda Nah, Cah ayu ( Anak cantik), sekarang katakan, apa yang kau ingin aku lakukan? Apakah aku harus mengubah cintaku terhadap isteriku?"
"Dibya Krendasakti! Engkau harus membebaskan Bibi Woro Sumarni dari siksaan ini. Tengkorak itu harus dikubur dan engkau harus memberi kebebasan kepada isterimu!"
"Kalau aku menolak?"
"Terpaksa aku akan menghajarmu!"
Niken Harni berseru galak.
"Ha-ha-ha-heh-heh!"
Dibya Krendasakti tertawa bergelak dan terkekeh-kekeh, tidak marah, melainkan geli bahkan gembira.
"Bocah ayu, engkau akan menghajarku? Begini saja, kita bertanding. Kalau aku kalah, aku akan menaati perintahmu, akan tetapi kalau engkau kalah, engkau menjadi isteriku yang ke dua. Baru sekali ini aku tertarik kepada seorang gadis lain!"
"Keparat! Siapa sudi menjadi Isterimu? Kalau aku kalah, lebih baik aku mati daripada menjadi isteri seorang laki-laki yang kejam seperti iblis macam kamu!"
"Wah, Dibya, engkau tua bangka menantang muridku? Tak tahu malu! Kalau sudah gatal tanganmu dan ingin bertanding, akulah musuhmu. Kita tua sama tua dan mari kita bertaruh. Kalau dalam pertandingan kita engkau kalah, engkau harus memenuhi permintaanku tadi dan permintaan Niken, yaitu engkau harus mencuri Cupu Manik Maya dari Istana Kahuripan dan engkau harus membebaskan Woro Sumarni dari penyiksaanmu untuk melampiaskan dendam dan cemburumu."
"Dan kalau aku yang menang, aku boleh bersikap sesuka hatiku terhadap isteriku, dan Niken Harni harus menjadi isteriku. Bagaimana, Gayatri, pertaruhan ini telah adil, bukan?"
"Baik! Kalau engkau kalah, engkau harus memenuhi permintaan kami tadi. Sebaliknya kalau aku yang kalah, aku tidak akan menghalangi apa yang hendak kau lakukan terhadap Woro Sumarni dan terhadap Niken Harni.".
"Bagus! Mari kita lakukan pertandingan itu sekarang juga! Aku ingin cepat-cepat dapat menikmati pengantinan dengan Niken Harni. Gayatri, terus terang saja, aku belum pernah tertarik wanita lain, kecuali isteriku dan dulu aku pernah tergila-gila kepadamu. Sekarang, muridmu Ini menjadi penggantimu. Ha-ha-ha-hal"
"Ruangan Ini pun cukup luas untuk kita bertanding, Dibya. Mari kita mulai agar cepat selesai!"
Nini Bumigarbo meninggalkan kursinya.
Niken Harni dan Woro Sumarni juga bangkit berdiri dan Niken cepat mendorong meja penuh hidangan Itu ke pinggir sehingga ruangan itu menjadi semakin luas.
Nini Bumigarbo sudah berdiri di tengah ruangan itu.
Sambil menyeringai dan bersikap memandang rendah, Ki Dibya Krendasakti juga melangkah dan menghampiri Nini Bumigarbo.
Tidak aneh kalau kakek itu memandang ringan calon lawannya.
Bukan karena dia berwatak sombong, akan tetapi karena memang dulu, ketika mereka masih muda dan sudah saling mengenal, tingkat kepandaian Dibya Krendasakti memang lebih tinggi dibandingkan tingkat kepandaian Nini Bumigarbo.
Pada waktu itu, kepandaian Dibya Krendasakti sudah tinggi dan setingkat dengan Ekadenta.
Dan sejak (Lanjut ke
Jilid 15) Nurseta Satria Karang Tirta (seri ke 02 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15 itu, Dibya Krendasakti terus memperdalam Imu-ilmunya sehingga kini dia menganggap ringan kepandaian Gayatri yang telah menjadi Nini Bumigarbo.
Tentu saja dia tidak tahu betapa karena ditolak cintanya oleh Ekadenta dan dalam usahanya yang tiada hentinya ingin mengungguli kepandaian kakak seperguruannya itu, Nini Bumigarbo terus meningkatkan kepandaiannya, biarpun ia sudah semakin tua.
Niken Harni yang merasa iba kepada Woro Sumarni, menarik dua buah kursi ke dekat dinding, menjauhi meja dimana terdapat tengkorak itu.
Lalu dengan halus ia menggandeng tangan wanita itu dan mengajaknya duduk di atas kursi Itu, menonton pertandingan.
Akan tetapi setelah mereka duduk berdampingan, Woro Sumarni berkata lirih, suaranya penuh teguran.
"Niken, mengapa engkau lakukan ini? Engkau membuat aku susah saja."
"Eh? Bibi, aku melakukan ini untuk membelamu!"
"Tidak, Niken. Pertandingan itu akibatnya akan membuat aku susah. Kalau Mbakayu Gayatri menang, kemudian suamiku membiarkan aku pergi dan berpisah darinya, hidupku tidak ada artinya lagi. Kalau suamiku yang menang dan mengambilmu sebagai isteri, hal itu pun akan menghancurkan hatiku. Lebih baik aku mati daripada harus berpisah dari dia atau melihat dia mencinta wanita lain."
Niken terbelalak. Hati gadis muda ini terkejut dan heran, juga tidak mengerti.
"Bibi.... engkau.... engkau begitu amat mencintainya?"
"Tentu saja aku mencintainya, Anak bodoh."
Niken Harni tertegun dan bingung sehingga ia tidak mampu berkata-kata lagi.
Apakah suami isteri itu keduanya sudah gila?
Demikian pikirnya kebingungan.
Woro Sumarni begitu mencinta suaminya sehingga biarpun sudah dua puluh lima tahun disiksa batinnya seperti itu, masih tetap mencintanya.
Akan tetapi mengapa dulu ia menyeleweng dengan laki-laki lain?
Sebaliknya Dibya Krendasakti sampai sekarang masih amat mencintai isterinya sehingga tidak mau membagi cintanya dengan wanita lain.
Akan tetapi mengapa dia tidak mau memaafkan kesalahan isterinya itu dan menyiksa batinnya sedemikian kejamnya?
Beginikah cinta?
Ataukah mereka gila?
Renungannya terhenti karena pada saat itu, Nini Bumigarbo sudah mulai mengadu kesaktian melawan Dibya Krendasakti.
Dua orang datuk yang sakti mandraguna itu berdiri saling berhadapan dalam jarak sekitar sepuluh langkah.
Nini Bumigarbo tersenyum mengejek dan berkata dengan suara tenang.
"Dibya Krendasakti, mulailah dan keluarkan semua aji kesaktianmu. Hendak kulihat sampai di mana sekarang kemajuanmu!"
Dibya Krendasakti menggerakkan kedua tangannya seperti menyembah di depan dada, kemudian matanya memandang dengan sinar mencorong dan mulutnya berkemak-kemik.
Setelah beberapa lamanya, dia lalu membuka kedua lengannya, diangkat ke atas seperti orang berdoa dan dia lalu memukulkan kedua telapak tangannya ke depan dan berteriak lantang.
"Gayatri, sambutlah Aji Bajra Langking!"
Tiba-tiba terdengar suara seperti angin menderu dan banyak sinar hitam meluncur seperti puluhan batang anak panah menuju ke tubuh Nini Bumigarbo.
Melihat serangan aji pukulan yang mengandung ilmu sihir ini, Nini Bumigarbo lalu menyambut dengan dorongan kedua telapak tangan ke depan sambil mengerahkan tenaga saktinya, juga diperkuat dengan daya sihirnya.
Dari kedua telapak tangannya menyambar angin yang berpusing.
"Wuuuttt.... byarrr....!!"
Dua tenaga sakti yang diperkuat ilmu sihir Itu bertemu di udara, menggetarkan seluruh ruangan itu, bahkan Niken Harni merasa tubuhnya terguncang oleh getaran yang amat kuat sehingga ia harus menahan napas mengerahkan tenaga sakti untuk melindungi tubuhnya, terutama jantungnya.
Ia melihat betapa Woro Sumarni tampak duduk tenang saja.
Hal ini membuatnya kagum karena ia dapat menduga bahwa wanita cantik itu juga memiliki kesaktian sehingga mampu menahan getaran yang amat kuat Itu.
Ketika dua tenaga sakti Itu bertemu di udara, sinar kecil-kecil seperti puluhan batang anak panah itu terdorong dan membalik, lenyap kembali ke dalam kedua tangan Dibya Krendasakti.
Nini Bumigarbo juga menarik kembali tenaganya dan tersenyum.
"Apakah masih ada lainnya, Dibya Krendasakti? Keluarkan semua ilmumu!"
Dibya Krendasakti terkejut bukan main.
Dia tadi telah mengerahkan Aji Pukulan Bajra Langking, akan tetapi ternyata lawannya dapat menyambut dan membuyarkan serangannya.
Tak disangkanya Gayatri kini memiliki tenaga sakti yang sedemikian kuatnya.
Dia merasa penasaran sekali, maklum bahwa menggunakan aji pukulan yang mengandung sihir Itu tidak ada gunanya dan tidak akan dapat mengalahkan lawan.
Maka dia lalu mengerahkan serangan yang menggempur lawan melalui suara.
Dia menekuk kedua lututnya, membuka mulutnya dan keluarlah gerengan yang amat dahsyat, menggetar dan menggelora.
Tidak lantang benar, namun suara pekik itu seperti gelombang lautan yang dating menerjang, mula-mula perlahan, namun semakin lama menjadi semakin kuat dan getarannya membuat prabot ruangan itu bergoyang.
Kembali Niken Harni harus mengerahkan seluruh tenaga saktinya untuk melindungi dirinya.
Bahkan ia terpaksa memejamkan kedua matanya dan menulikan pendengarannya, memusatkan tenaga untuk melindungi otak dan jantungnya.
MENGHADAPI serangan pekik yang dahsyat Itu, Nini Bumigarbo tiba-tiba tertawa cekikikan.
Akan tetapi suara tawa ini juga mengandung getaran hebat yang menyambut dan menolak pengaruh pekik yang dikeluarkan lawannya.
Dua suara yang berlainan itu seolah saling mendorong dan saling menyerang.
Akhirnya perlahan-lahan pekik itu melemah dan suara tawa Nini Bumigarbo Juga ikut melemah dan keduanya berhenti.
Suasana menjadi lengang setelah dua suara itu berhenti.
Namun dalam telinga Niken Harni yang menghentikan pengerahan tenaganya, masih terngiang-ngiang.
"Bagaimana, Dibya? Masih ada lagi?"
Tanya Nun Bumigarbo dengan senyum mengejek.
Ki Dibya Krendasakti semakin terkejut dan penasaran.
Tahulah dia bahwa dalam hal daya sihir dan tenaga sakii, dia tidak akan mampu mengalahkan lawannya.
Maka dia akan mengajak nenek itu bertanding lewat ketangkasan dan keahlian dalam gerakan silat.
Dia lalu menyambar gendewa besar yang tadi dia letakkan di atas meja.
"Gayatri, kalau memang engkau sakti, mari kita menguji tebalnya kulit kerasnya tulang dan ketangkasan ilmu silat kita! Keluarkan senjatamu untuk menandingi senjata pusaka gendewaku Ini!"
Nini Bumigarbo adalah seorang datuk yang sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali dalam aji kanuragan, maka ia hampir tidak pernah menggunakan senjata untuk memperkuat dirinya.
Seluruh tubuhnya, kaki tangan, balikan rambutnya, dapat menjadi senjata yang amat ampuh.
Juga ia memiliki senjata rahasia berupa segenggam pasir yang amat ampuh karena setiap butir pasir sakti Ini sudah cukup untuk meracuni tubuh lawan dan membinasakannya.
Akan tetapi kini ia menghadapi Dibya Krendasaktl dan ia tahu bahwa gendewa di tangan lawan ini amat ampuh.
Gendewa itu adalah sebuah senjata yang termasuk keras.
Maka ia lalu melolos sehelai sabuk hitam yang panjangnya hanya sekitar lima kaki, sabuk dari kain tebal yang kuat.
Sebetulnya ini hanyalah sabuk biasa, bukan senjata.
Akan tetapi bagi nenek yang sakti ini, setiap benda apa saja dapat ia pergunakan sebagai senjata, la memilih sabuk yang lemas untuk menandingi gendewa lawan yang keras.Sambil merentangkan sabuk hitam itu dengan kedua tangannya, Nini Bumigarbo berkata.
"Dibya, majulah. Ingin aku membuktikan betapa ampuhnya gendewa di tanganmu itu!"
Ki Dibya Krendasakti mengeluarkan bentakan nyaring dan menerjang maju dengan serangan yang dahsyat.
Karena dia maklum betul betapa saktinya Nini Bumigarbo, maka begitu menyerang dia langsung mengeluarkan jurus-jurus terampuhnya.
Namun, dengan gerakan lincah dan tenang saja Nini Bumigarbo menyambut serangan itu dengan sabuk hitamnya.
Mereka saling serang dengan dahsyatnya, menggerakkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua jurus terampuh dan aji pamungkas mereka.
Namun, keduanya memiliki pertahanan yang kokoh kuat, tidak mudah didesak lawan.
Niken Hami sampai merasa pening menyaksikan pertandingan yang amat hebat itu.
Seluruh ruangan itu seolah terguncang.
Seakan-akan ada dua ekor gajah yang sedang berkelahi mati-matian di ruangan itu, bukan seorang kakek dan seorang nenek!
Dua orang itu lenyap tidak tampak bentuknya lagi.
Yang tampak hanya bayangan dua orang berkelebatan telah menjadi banyak, diselubungi sinar hitam sabuk di tangan Nini Bumigarbo dan sinar keabuan dari gendewa Dibya Krendasakti.
Suara yang terdengar hanya desiran angin, terkadang bersuitan dan berdesingan seperti suara senjata tajam meluncur.
Terkadang terdengar bunyi nyaring ketika sabuk bertemu gendewa dan tampak bunga api perpijar-pijar!
Tidak disangka oleh Niken Harni bahwa pertandingan itu akan sedemikian hebatnya, la sendiri sampai mengeluarkan keringat dingin saking tegangnya.
Kalau ia menoleh dan memandang kepada Woro Surnarni, ia melihat wanita cantik itu menonton tanpa berkedip.
Sepasang alisnya berkerut dan wajahnya tampak tegang dan gelisah.
Diam-diam ia merasa semakin iba dan juga terheran-heran.
Wanita ini sungguh amat mencinta suaminya.
Inikah yang disebut cinta yang sesungguhnya, ataukah ia mencinta seperti itu karena merasa menyesal akan penyelewengannya dahulu?
Ia tidak tahu dan tidak akan pernah mengerti.
Kini mulai terdengar pernapasan Dibya Krendasakti yang terengah-engah.
Sebaliknya, Nini Bumigarbo masih tenang dan teguh seperti sebelum bertanding.
Dari kenyataan ini saja dapat dimengerti bahwa tingkat kepandaian Nini Bumigarbo masih lebih unggul.
Sebetulnya kalau dibuat perbandingan, tingkat ilmu yang mereka peiajari dan kuasai tidak banyak selisihnya.
Akan tetapi yang berbeda adalah daya tahan tubuh mereka.
Hal Ini dapat dimengerti.
Dibya Krendasokti telah berlsterl selama hampir tiga puluh tahun dan dia pun selama dua puluh lima tahun sebetulnya mengalami tekanan batin yang amat hebat, namun ditahan dan disembunyikan di balik cintanya terhadap isterinya.
Juga dia jarang berlatih setelah hidup sebagai raja kecil di Nusa Ban ng.
Sebaliknya, Nini Bumigarbo adalah seorang wanita yang tidak pernah menikah, seorang yang masih perawan, dan selain itu, sampai dua tahun yang ialu pun ia masih tekun berlatih untuk menambah ilmu dan memperkuat diri dalam usahanya mengalahkan Bhagawan Ekadenta.
Maka dalam pertandingan ini, Nini Bumigarbo memiliki kelebihan dalam kekuatan dan daya tahan tubuh.
"Sambut ini, Dibya!"
Terdengar bentakan nyaring.
"Syuuuuttt.... krakk...!"
Tubuh Dibya Krendasakti terdorong ke belakang dan terhuyung-huyung.
Gendewanya patah dan wajahnya pucat, napasnya terengah-engah dan dia menggunakan tangan kiri untuk menekan dadanya yang terasa sesak terkena pukulan tangan kiri Nini Bumigarbo.
"Kakangmas....!!"
Woro Sumarnl melompat dari tempat duduknya dan begitu dekat dengan suaminya, ia merangkul dengan penuh kasih sayang dan kekhawatiran.
"Engkau tidak apa-apa, Kakangmas... ...?"
Tanyanya sambil meraba dada suaminya. Dibya Krendasakti merangkul pundak isterinya.
"Tidak apa-apa, Diajeng. Gayatri agaknya masih teringat akan persahabatan masa lalu maka ia tidak menurunkan tangan maut kepadaku. Dan agaknya sudah tiba saatnya bahwa aku harus membebaskanmu, Diajeng. Ah, biarlah aku menderita dan mati kalau engkau tega meninggalkan aku, Diajeng Woro Surnarni..."
Kakek yang gagah perkasa itu kini tampak berduka dan memandang Wajah isterinya penuh permohonan.
"Tidak, Kakangmas. Aku tidak pernah meninggalkanmu, sampai aku mati...!"
"Diajeng.... aduh, baru sekarang aku menyadari betapa kejamnya aku kepadamu. Diajeng, maukah engkau mengampuni aku...? Aku tidak ingin kehilangan engkau, Diajeng, kalau engkau pergi meninggalkan aku, aku tidak akan menghalangi, akan tetapi berarti engkau membunuh aku...."
"Tidak, Kakangmas, tidak....!"
Suami isteri itu berangkulan dan bertangisan. Niken Harni bengong teriongong menyaksikan ini.
"He-he-hi-hi-hik! Bertangis-tangisan! Alangkah mesranya, alangkah mengharukan! Dibya, engkau mengaku kalah?"
Nini Bumigarbo bertanya. Sambil merangkul pinggang isterinya dengan tangan kiri dan membawa isterinya duduk kembali ke kursinya, Dibya Krendasakti menjawab.
"Aku mengaku kalah, Gayatri. Engkau memang hebat sekali. Bahkan aku tahu, kalau engkau menghendaki, agaknya sudah sejak tadi aku roboh dan tewas di tanganmu."
"Ihh, tidak begitu mudah, Dibya. Engkaulah lawanku yang paling tangguh selama ini, tentu saja di bawah kesaktian Bhagawan Ekadenta. Nah, sekarang engkau mau memenuhi permintaan kami berdua, bukan?"
"Tentu saja, Gayatri!"
Dibya Krendasakti lalu bertepuk tangan tiga kali.
Lima orang anak buah laki-laki bermunculan dari pintu.
Mereka tadi tidak berani menonton atau mendengarkan, namun tepuk tangan yang nyaring tiga kali ini merupakan perintah panggilan yang harus mereka taati.
"Hayo kalian cepat bawa pergi tengkorak itu dan kuburkan di dalam makam Kunarpo di bukit kecil itu. Kalian sudah tahu dimana makam itu. Kubur baik-baik dan dengan penuh penghormatan!"
Lima orang murid itu menyanggupi dan mereka lalu membawa tengkorak bersama bakinya keluar dari ruangan itu.
Niken Harni melihat betapa kini wajah Woro Surnarni berseri-seri dan tampak semakin cantik.
Agaknya kehidupan baru yang gemilang dan bahagia menanti di depannya.
Juga wajah Dibya Krendasaktl tampak berseri, sepasang matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan.
"Gayatri, Niken Harni, sekarang marilah kita makan minum dulu, baru nanti kita bicara! Diajeng Woro Sumarni, sekarang tidak periu lagi memanggil pelayan. Mereka hanya mengganggu saja. Biar tanganmu sendiri yang melayani aku dan tamu-tamu kita ini."
Woro Sumarni tersenyum dan menyentuh pundak Nini Bumigarbo.
"Mbakayu Gayatri, aku sungguh merasa girang sekali bahwa engkau masih ingat kepada kami dan suka dating berkunjung. Terima kasih, Mbakayu, terima kasih. Ternyata kunjunganrnu mendatangkan berkah dan kami berdua merasa mendapatkan hidup baru yang cerah."
"Benar kata isteriku, Gayatri. Kini tidak ada lagi penghalang di antara cinta kami berdua. Semua halangan itu merupakan masa lalu yang sudah kami lupakan semua."
Gayatri tersenyum, akan tetapi senyumnya masam.
"Aku tetap saja tidak percaya kepada laki-laki. Semua omongan laki-laki terhadap wanita itu gombal belaka, merayu dan mengambil hati, akan tetapi sebetulnya palsu!"
"Akan tetapi suamiku tidak, Mbakayu....."
"Ah, sudahlah. Aku tidak mau bicara lagi tentang kepalsuan laki-laki. Hayo kita makan setelah itu baru kita bicara tentang kesanggupan Dibya Krendasaktil"
Mereka lalu makan minum dan Niken Harni melihat betapa Woro Surnarni benar-benar tampak gembira dan bahagia, melayani suaminya dengan sikap lembut dan mesra.
Juga wajah Dibya Krendasakti tampak bahagia, terlihat dari sinar matanya yang terang, tidak seperti tadi yang suram mengandung kekerasan.
Sehabis makan, Nini Bumigarbo segera mengajak Dibya Krendasakti bicara.
"Aku akan memegang teguh janjiku, Gayatri. Aku sudah kalah dan aku telah pula memenuhi permintaan Niken Harni, yaitu memberi kebebasan kepada isteriku. Sekarang, kita bicara tentang permintaanmu agar aku mencuri pusaka Kahuripan, yaitu Cupu Manik Maya."
"Memang seharusnya begitu, Dibya. Lebih dulu perlu engkau ketahui tentang bangunan istana dan di mana pusaka yang kumaksudkan itu di simpan. Nah, dengarkan baik-baik, akan kugambarkan keadaan istana Kahnripan."
Nini Bumigarbo lalu memberi penjelasan tentang keadaan Istana Kahnripan, dari mana Dibya Krendasakti dapat masuk tanpa banyak halangan dan di mana pula letaknya Gedung Pusaka.
Setelah Nini Bumigarbo selesai memberi keterangan, Ki Dibya Krendasakti mengangguk-angguk.
"Aku sudah paham, Gayatri dan percayalah, aku pasti akan berhasil mencuri pusaka Cupu Manik Maya itu dari Gedung Pusaka Istana Kahuripan. Akan tetapi sebelum aku pergi memenuhi permintaanmu, aku masih merasa penasaran, Gayatri. Engkau memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi daripada aku. Kalau engkau turun tangan sendiri mengambil pusaka itu, tentu akan dapat kau lakukan dengan mudah. Akan tetapi mengapa engkau malah minta bantuan kepadaku?"
"Seperti telah kukatakan tadi, aku tidak bisa turun tangan sendiri karena aku sudah berjanji untuk tidak mengganggu Erlangga dan Narotama dengan tanganku sendiri. Aku sudah berjanji kepada.... Bhagawan Ekadenta yang melindungi raja dan patihnya itu. Nah, sudah jangan banyak bertanya lagi. Kapan engkau akan berangkat melaksanakan pengambilan pusaka seperti yang sudah kau janjikan itu?"
"Hari ini juga aku berangkat, Gayatri!"
"Kakangmas Dibya, aku ikut. Aku akan membantumu!"
Kata Woro Surnarni.
"Aku dapat membelamu kalau engkau terancam bahaya, Kakangmas. Aku mendengar bahwa Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama adalah orang yang sakti mandraguna. Aku khawatir engkau akan mengalami bencana."
"Hiah ha ha, Waduh, sikapmu ini membuat aku merasa bahagia sekali, Diajeng! Ternyata engkau memang amat mencintaku, siap membelaku. Terima kasih, Diajeng Woro Surnarni, aku berjanji, mulai saat ini, aku akan lebih mencintamu dengan seluruh jiwa ragaku! Akan tetapi, jangan khawatir. Mencuri pusaka dari Gedung Pusaka Istana Kahuripan hanya merupakan permainan kanak-kanak bagiku!"
"Dibya Krendasakti, seperti yang telah kukatakan kepadamu, setelah engkau berhasil mencuri Cupu Manik Maya, benda pusaka itu boleh kau miliki. Aku tidak membutuhkannya. Tentu saja engkau harus menjaganya sendiri dan menghadapi segala akibatnya."
"Ha-ha-ha, tentu saja, Gayatri."
"Nah, sekarang aku dan Niken akan meninggalkan Nusa Barung, tolong kau sediakan perahu penyeberangan ke daratan."
Dibya Krendasakti memberi perintah kepada anak buahnya.
Nini Bumigarbo dan Niken Harni lalu berpamit kepada suami isteri itu, dan tak lama kemudian mereka berdua sudah duduk dalam sebuah perahu yang didayung oleh dua orang anak buah Nusa Barung dengan cepat.
Dengan ilmunya berlari cepat yang membuat Puspa Dewi dapat berlari seperti terbang, gadis itu yang mencari adik tirinya, Niken Harni, memasuki daerah Kerajaan Wengker.
Ia tahu bahwa daerah itu berbahaya.
Di situ terdapat banyak orang sakti.
Apalagi kini yang menjadi adipati adalah Linggajaya, seorang pria yang jahat namun sakti dan yang menjadi satu di antara musuh-musuhnya.
Setelah dulu daiam gerakan persekutuan antara tiga kerajaan kecil yang membantu pemberontakan di Kahurlpan, ia telah berbalik membela Kahuripan sehingga dianggap pengkhianat oleh persekutuan, ia dianggap musuh oleh empat kerajaan itu.
Kerajaan Wengker dengan adipatinya Linggawijaya, Kerajaan Wura-wuri dengan adipatinya Bhismaprabhawa di mana gurunya, Nyi Dewi Durgakumala, kini menjadi permaisuri Wura-wuri.
Yang ke tiga adalah Kerajaan Parang Siluman dengan adipatinya Ratu Wanita Durgamala yang memiliki banyak pembantu sakti, di antaranya puteri-puterinya sendiri, Ni Lasmini dan Ni Mandari, dan yang ke empat adalah Kerajaan Siluman Laut Kidul dengan penguasanya Ratu Mayang Gupita, raksasa wanita yang sakti itu.
Kini ia memasuki wilayah Kerajaan Wengker, sebuah diantara empat kerajaan itu dan Wengker dapat dikatakan sebagai yang terbesar dan terkuat di samping Kerajaan Parang Siluman.
Akan tetapi ia tidak merasa gentar.
Ia harus dapat menemukan Niken Harni dan kalau perlu ia akan menemui Adipati Linggawijaya sendiri untuk minta agar adiknya itu dibebaskan, seandainya Niken Harni memang tertawan di Wengker.
Kerajaan Wengker adalah sebuah kerajaan yang cukup luas dan di daerah itu memiliki ciri yang khas, yaitu bahwa para penduduknya sebagian besar terdiri dari orang-orang yang pembawaannya kasar dan jarang terdapat wanita cantik.
Para prianya kebanyakan tinggi besar dan bertubuh kokoh kuat, pembawaannya gagah dan keras.
Jarang terdapat wanita cantik di antara penduduk Wengker aseli.
Karena itu, ketika Puspa Dewi melakukan perjalanan memasuki daerah Wengker, orang-orang yang bertemu dengannya memandang penuh perhatian dan mereka merasa kagum sekali.
Tentu saja Puspa Dewi tidak mempedulikan mereka dan langsung saja ia melakukan perjalanan cepat menuju ke kota Kadipaten Wengker.
Pada suatu sore ia tiba di sebuah dusun di tepi sebuah sungai yaitu Kali Ngebel.
Dusun Nguter itu merupakan sebuah dusun yang cukup besar karena penduduknya dapat hidup cukup makmur dengan hasil sawah ladang mereka yang subur karena mendapatkan air yang cukup dari Kali Ngebel.
Seperti juga di setiap tempat yang ia lalui, ketika ia memasuki dusun itu pun, orang-orang yang melihatnya, terutama orang-orang lelaki, memandangnya dengan tertarik dan penuh kagum.
Mereka jarang melihat wanita secantik Puspa Dewi dan mereka tahu bahwa gadis ini adalah seorang asing karena di antara mereka tidak ada yang mengenalnya.
Puspa Dewi terpaksa menunda perjalanannya.
Senja telah mendatang.
Ia harus melewatkan malam di tempat ini.
Ia tidak ingin ada orang di dusun itu yang mencurigainya sehingga perjalanannya ke kota kadipaten akan mengalami banyak gangguan.
Karena itu, ia memilih tempat yang terpencil dan jauh dari perumahan, di tepi sungai.
Akan tetapi perutnya terasa lapar sekali.
Ketika ia berjalan perlahan di tepi sungai, ia melihat berkilatnya kulit ikan yang meluncur di dalam air sungai yang bening itu.
Sepasang matanya berkilat, wajahnya berseri.
Ada makanan tersedia di dalam air sungai, pikirnya.
Puspa Dewi lalu mencari sebatang ranting pohon dan meruncingi ujungnya.
Setelah itu ia lalu berjalan perlahan menyusuri tepi Kali Ngebet sambil memperhatikan ke arah air dengan ranting runcing siap di tangan kanan.
Tiba-tiba ia melihat bayangan beberapa ekor ikan berenang di depannya.
Cepat sekali ranting runcing itu meluncur dan ujungnya yang kecil runcing sudah menembus kepala seekor ikan!
Dengan girang Puspa Dewi mengambil ikan itu dari tongkat runcingnya.
Kemudian ia mengintai lagi.
Sedikitnya ia harus mendapatkan tiga ekor ikan untuk dapat mengenyangkan perutnya yang lapar karena ikan itu pun tidak terlalu besar, hanya sebesar pergeiangan tangannya.
Akan tetapi agaknya gerakan di air ketika ia menangkap seekor ikan tadi membuat ikan-ikan di dekat situ ketakutan.
Terpaksa ia harus berjalan terus, mencari ke bagian lain.
Akhirnya ia berhasil memperoleh tiga ekor ikan.
Gadis yang sudah biasa melakukan perantauan ini dengan girang lalu membuang isi perut ikan dan memanggang ikan-ikan itu di tepi sungai.
Biarpun ikan-ikan itu tidak diberi bumbu, dipanggang begitu saja, namun terasa cukup lezat dan sebentar saja tiga ekor ikan itu tinggal kepala dan tulang saja yang ia lemparkan ke dalam sungai.
Puspa Dewi membersihkan tangan, lalu mencuci muka dan kaki lengannya.
Lalu ia mulai mencari tempat yang enak untuk melewatkan malam.
Ketika ia sedang mencari-cari tempat untuk mengaso melewatkan malam, tiba-tiba ia mendengar jeritan suara wanita yang datangnya dari dalam hutan kecil di tepi sungai.
Cepat ia melompat dan berlari memasuki hutan kecil itu.
Tak jauh ia berlari, ia melihat seorang laki laki bertubuh tinggi besar bermuka hitam, berusia sekitar tiga puluh lima tahun, menarik-narik lengan seorang wanita muda dan menyeretnya menuju ke sebuah guha yang berada di situ.
"Jangan....! Lepaskan aku, lepaskan...! Tolooongggg....!!"
Wanita muda itu menjerit-jerit.
"Ha-ha, tidak ada yang akan mendengarmu. Andaikata ada pun siapa berani mencampuri urusan Drohawisa? Diamlah dan aku tidak akan bertindak kasar terhadap dirimu!"
Tiba-tiba laki-laki tinggi besar itu menggerakkan kedua tangan dan tahu-tahu dia telah memondong tubuh wanita yang meronta-ronta dan menjerit-jerit itu.
"Lepaskan aku....! Aku mau menolong suamiku.... lepaskan aku, kasihanilah aku.... suamiku.... ah, engkau telah membunuhnya...!"
Wanita itu menangis.
"Ha-ha, Wiyanti, engkau menurut saja padaku dan engkau akan hidup senang. Suamimu berani menentangku, maka kubunuh dia dan kalau engkau selalu menolakku, akan kukirim kau menyusul suamimu!"
"Bunuh saja aku! Bunuh....!"
"Ha-ha-ha, sayang kalau dibunuh!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Jahanam busuk!"
Dan Puspa Dewi telah berdiri menghadang di depan laki-laki yang memondong tubuh wanita itu dan hendak memasuki guha.
Laki-laki yang tadi mengaku bernama Drohawisa itu terkejut dan marah sekali melihat ada orang berani menentangnya.
Akan tetapi ketika dia melihat bahwa yang menghadang dan memakinya itu adalah seorang gadis yang cantik jelita, dia terbelalak kagum dan segera melepaskan tubuh wanita yang dipondongnya dengan kasar, seperti membuang sebuah benda yang tidak berharga.
Wanita itu terbanting jatuh dan mengeluh kesakitan menangis lalu merangkak menjauhi laki-laki itu, duduk bersandar batang pohon dan menangis.
"Wah! Bidadari dari mana datang menemuiku? Cantik sekali engkau. Aduh .... beruntung sekali aku hari Ini, mendapatkan seorang bidadari!"
Dahulu, Puspa Dewi adalah seorang gadis yang berwatak keras dan ganas.
Hal ini adalah karena selama lima tahun ia digembleng dalam pendidikan Nyi Dewi Durgakumala yang sesat.
Dulu, kalau bertemu orang yang dianggapnya musuh, tentu ia akan menurunkan tangan besi dan menghajar orang itu tanpa banyak bertanya lagi.
Akan tetapi semenjak ia mendapat pendidikan Sang Maha Resi Satyadharma selama tiga bulan, wataknya berubah banyak.
Biarpun kini ia marah sekail melihat Drohawisa menculik dan hendak memperkosa Wiyanti, namun la menahan diri sebelum mengetahui duduknya perkara.
Maka, ia tidak mempedulikan ucapan Drohawisa tadi dan menghampiri Wiyanti yang duduk menangis sambil bersandar pada batang pohon Itu.
Wanita itu berusia sekitar dua puluh lima tahun.
Seperti kebanyakan wanita daerah Wengker, wanita ini pun memiliki bentuk tubuh yang tegap dan besar.
Wajahnya termasuk sedang saja bagi wanita pada umumnya, namun bagi orang-orang Wengker, ia sudah dapat disebut manis dan menarik.
"Mbakayu, ceritakanlah apa yang telah terjadi? Jangan takut, aku akan melindungimu."
Dengan terisak-isak Wiyanti menceritakan betapa Drohawisa selalu menggoda dan membujuk-rayunya.
Wiyanti yang sudah bersuami tentu saja menolak dan siang tadi, ketika Drohawisa menggodanya lagi, suami Wiyanti yang bernama Garino pulang dan menegur Drohawisa dengan marah melihat laki-laki itu menggoda isterinya.
Terjadi perkelahian dan Garino dihajar oleh Drohawisa yang tentu saja jauh lebih kuat karena dia adalah seorang jagoan, murid seorang warok muda terkenal bernama Wirobento.
Drohawisa menangkap dan melarikan Wiyanti, meninggalkan Garino yang roboh pingsan dengan tubuh menderita luka-luka akibat pukulan dan tendangan Drohawisa.
"Demikianlah, Mas Roro.... dia membawa aku sampai ke tempat ini.... dan aku tidak tahu bagaimana dengan nasib suamiku...."
Wiyanti mengakhiri ceritanya sambil menangis.
Mendengar ini, sepasang mata Puspa Dewi mencorong ketika ia membalik dan menghadapi Drohawisa.
Ia melihat betapa laki-laki berusia sekitar tiga puluh lima tahun yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam itu menyeringai dengan pandang mata seolah hendak menelan bulat-bulat gadis cantik jelita yang berdiri di depannya itu.
"Ha-ha-ha, sekarang juga akan membebaskanmu, Wiyanti. Aku tidak membutuhkan engkau lagi. Sepuluh orang seperti engkau pun akan kutukarkan dengan gadis bidadari ini, hehheh-heh!"
"Jahanam busuk! Orang macam engkau ini tidak pantas hidup di dunia ini!"
"Ha-ha, aku mau hidup di neraka asalkan bersama engkau, perawan denok montrok, ayu manis merak ati! Mari kupondong engkau, dewiku!"
Drohawisa adalah seorang hamba nafsu yang selalu melakukan perbuatan apa pun untuk melampiaskan nafsu nafsunya.
Tidak ada perbuatan yang dipantangnya dan sudah terbiasa memaksakan kehendaknya.
Orang seperti dia itu berwatak sombong dan mengagulkan kekuatan sendiri, memandang rendah kepada semua orang.
Kalau bertemu orang yang lebih kuat dia tidak segan untuk merangkak dan menjilat-jilat seperti anjing mencari perhatian, sebaliknya terhadap yang lemah dia selalu menindas dan memandang rendah.
Tentu saja dia memandang rendah seorang gadis muda seperti Puspa Dewil Setelah berkata demikian, sambil menyeringai dia sudah menubruk maju dengan cepat untuk menangkap gadis yang kecantikannya membuat dia tergila-gila itu.
Sudah gatal-gatal tangannya untuk mendekap dan membelai gadis itu.
Kedua lengannya yang panjang dikembangkan, jari-jari tangannya terbuka dan kedua tangan itu dari kanan kiri menyambar ke arah tubuh Puspa Dewi untuk menangkapnya.
Puspa Dewi yang sudah marah tidak mau memberi hati lagi.
Cepat seperti kilat menyambar, kaki kirinya mencuat ke depan dan sebelum kedua tangan Drohawisa sempat menyentuhnya, kakinya telah lebih dulu menghantam perut laki-laki tinggi besar bermuka hitam itu.
"Syuuutt.... desss....!"
"Hekk....l"
Tubuh tinggi besar itu terjengkang dan roboh.
Drohawisa menggunakan dua tangan untuk menekan-nekan perutnya yang terasa nyeri dan mulas sekali.
Mungkin usus buntunya terkena tendangan kaki Puspa Dewi.
Akan tetapi dasar orang sombong, hajaran itu masih belum menyadarkannya bahwa dia berhadapan dengan orang yang jauh lebih tangguh daripada dia.
Sambil menahan rasa, nyeri dengan kemarahan luar biasa dia bangkit, meringis dan sudah menerjang ke arah Puspa Dewi.
Kini terjangannya bukan didorong nafsu berahi untuk merangkul dan mendekap, melainkan didorong nafsu amarah.
Tangan kanannya yang dikepal sebesar kepala Puspa Dewi itu menyambar, agaknya hendak memukul pecah kepala gadis yang tadi membuat dia tergila-gila itu.
Dengan tenang Puspa Dewi menangkis pukulan itu dengan tangan kirinya yang bergerak dari dalam keluar dan berbareng tangan kanannya dengan jari-jari terbuka memukul ke arah dada lawan.
"Piakk....l Desss....!!"
Drohawisa mengeluarkan suara aneh, tubuhnya sekali lagi terjengkang dan dia roboh, terduduk.
Dia terengah-engah, sukar bernapas karena dadanya terasa seolah disambar palu godam, membuat napasnya sesak.
Juga pergeiangan tangan kanannya seolah tadi ditangkis sepotong baja yang membuat lengannya terasa ngilu sampai ke tulangnya.
Hajaran keras ini tetap saja belum menembus kekebalan otak Drohawisa, bukan membuat dia sadar bahkan membuat dia semakin marah dan penasaran, juga malu karena dia telah dirobohkan dua kali oleh seorang gadis mudai Biarpun perutnya masih terasa mulas dan dadanya sesak, dia memaksa diri bangkit dan mencabut sebatang golok yang terselip di pinggangnya.
Golok besar itu berkilauan saking tajamnya.
"Perempuan setan, engkau sudah bosan hidup Mampuslah!"
Bentaknya dan dia sudah melompat ke depan dan menyerang dengan bacokan buas ke arah kepala Puspa Dewi.
Gadis ini maklum bahwa lawannya menyerang untuk membunuhnya.
Seorang yang jahat dan kejam, pikirnya dan orang macam ini tidak akan pernah kapok (bertaubat) kalau tidak diberi hajaran yang amat keras.
Maka, begitu golok itu menyambar ke arah kepalanya, ia menggeser kaki dan miringkan tubuhnya.
Golok menyambar dari atas, lewat samping tubuhnya dan secepat kilat kedua tangan Puspa Dewi bergerak, yang kiri mengetuk siku kanan lawan dan begitu siku terketuk dan lumpuh sehingga golok terlepas, tangan kanannya sudah merampas golok itu!
Demikian cepat peristiwa Itu terjadi sehingga Drohawisa tidak dapat mengerti mengapa goloknya dapat terampas.
Tiba-tiba tampak sinar golok berkelebat dua kali.
"Crak-crak...., aduhhh....!!"
Drohawisa terpelanting roboh dan bangkit duduk, merintih-rintih dan tangan kirinya sibuk menekan lengan kanan yang buntung sebatas pergelangan lalu berpindah ke kaki kiri yang terbabat buntung separuh, sehingga semua jari kaki kiri itu buntung!
Darah bercucuran dan laki-laki tinggi besar bermuka hitam itu merintih dan menangis saking nyeri dan takutnya.
"Manusia jahat dan kejami"
Puspa Dewi berkata.
"Lain kali kalau engkau tidak mengubah watakmu yang jahat, aku akan membuntungi lehermu!"
Setelah berkata demikian, Puspa Dewi menggunakan kedua tangan menekuk dan terdengar suara nyaring ketika golok itu patah menjadi dua potong lalu dilemparkan ke atas tanah oleh Puspa Dewi.
Drohawisa terbelalak.
Demikian kaget dia sehingga sejenak rasa nyerinya hampir tidak terasa lagi.
Baru sekarang matanya terbuka dan dia sadar bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita yang sakti mandragunal Akan tetapi dasar jahat.
Yang timbul dalam hatinya bukan penyesalan dan kesadaran untuk bertaubat, melainkan dendam sakit hati dan dia harus membalas dendam dengan mengerahkan bantuan kawankawannya!
Dengan susah payah dia bangkit berdiri, memandang gadis itu dengan mata yang masih basah oleh tangis kesakitan tadi.
"Katakan, siapa engkau dan tunggu pembalasanku!"
Bentaknya. Puspa Dewi tersenyum.
"Setiap saat akan kutunggu pembalasanmu. Namaku Puspa Dewi."
Wajah Drohawisa berubah pucat dan matanya terbelalak semakin lebar mendengar nama ini dan bagaikan dikejar setan dia lalu melarikan diri, terpincang pincang, terjatuh, merangkak lalu berlari lagi berloncatan dengan sebelah kaki karena kaki kirinya terasa nyeri bukan main kalau dipakai menginjak tanah.
Puspa Dewi tidak mempedulikan lagi laki-laki itu dan menghampiri Wiyanti.
Wanita itu kini bangkit dan lari menghampiri Puspa Dewi lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah.
"Aduh, terima kasih atas pertolonganmu, Den Roro...."
"Bangkitlah, Mbakayu Wiyanti dan mari kita lihat keadaan suamimu."
Wiyanti lalu berjalan cepat setengah berlari menuju ke sebuah rumah terpencil yang berada di luar hutan itu.
Daerah Itu memang masih belum padat penduduknya dan setiap keluarga memiliki tanah pekarangan yang amat luas sehingga jauh dari tetangga.
Ketika mereka tiba di rumah Wiyanti, cuaca sudah mulai remang senja.
Mereka melihat seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun duduk di atas lantai pendapa bersandar dinding bambu dan mukanya matang biru membengkak bekas pukulan.
Melihat Wiyanti datang, Garino, laki-laki itu dengan susah payah memaksa diri bangkit berdiri.
"Wiyanti.... engkau.... engkau pulang dengan selamat....?"
"Kakang Garino....!"
Suami isteri itu berangkulan dan Wiyanti menangis.
"Mbakayu Wiyanti, kukira suamimu perlu beristirahat."
Kata Puspa Dewi.
Baru wanita itu menyadari dan ia pun memapah suaminya memasuki .ruangan dalam dan membantu suaminya rebah di atas sebuah amben (pembaringan sederhana dari bambu).
Garino rebah telentang dan Wiyanti segera menyalakan lampu, laiu mempersilakan Puspa Dewi duduk di atas bangku kayu sederhana yang berada di ruangan itu.
Setelah cuaca mulai terang oleh sinar lampu, Puspa Dewi melihat bahwa Garino adalah seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun, tubuhnya kokoh dan tinggi kurus, wajahnya sederhana namun tidak membayangkan watak yang kasar seperti kebanyakan orang laki-laki di Kerajaan Wengker.
Ia juga dapat melihat bahwa Garino hanya menderita luka-luka karena pukulan dan tendangan, hanya bengkak-bengkak dan matang biru, akan tetapi agaknya tidak terdapat luka yang membahayakan nyawanya.
Sebaliknya, ketika Garino memandang dan melihat bahwa wanita yang datang bersama isterinya adalah seorang gadis muda yang cantik jelita, dia merasa heran sekali.
"Wiyanti, siapakah gadis ini?"
"Kakang Garino, gadis inilah yang telah menyelematkan aku dari Drohawisa yang jahat dan kejam. Ia amat sakti mandraguna, Kakang, Drohawisa dihajar sampai sebuah tangan dan sebuah kakinya buntung!"
Wiyanti menceritakan dengan wajah gembira.
"Inilah penoIongku, namanya Raden Roro Puspa Dewi!"
Nama Puspa Dewi amat tersohor bagi para senopati dan perajurit Wengker.
Akan tetapi Garino adalah seorang petani yang hidup di Lembah Kali Ngebel dan nama gadis itu asing baginya.
Maka dia pun tidak terkejut seperti halnya Drohawisa mendengar nama Puspa Dewi, hanya memandang kagum dan dia segera bangkit duduk, dibantu isterinya.
"Den Roro, saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan Andika kepada isteri saya."
"Sudahlah, tidak perlu berterima kasih. Penjahat macam Drohawisa itu memang sudah sepatutnya menerima hukuman. Sebaliknya, aku yang mengharapkan bantuan Andika berdua."
Suami isteri itu memandang heran.
"Bantuan dari kami? Bantuan apakah yang dapat diberikan suami isteri miskin dan lemah seperti kami?"
Tanya Wiyanti.
"Benar kata isteri saya, Den Roro. Bahkan setelah terjadinya peristiwa tadi, kami tidak berani lagi tinggal di sini. Besok pagi kami harus sudah pergi dari sini, pindah ke tempat yang tersembunyi dari mereka."
"Kalau kalian merasa lebih aman pergi dari sini, tentu saja hal itu yang terbaik. Akan tetapi aku hanya ingin minta bantuan dua hal kepada kalian. Pertama, aku ingin menumpang di sini untuk melewatkan malam ini...."
"Wah, tentu saja boleh, Den Roro!"
Suami isteri itu berseru hampir berbareng.
"Terima kasih Dan bantuan ke dua, aku minta keterangan dari kalian, barangkali saja kalian mendengar tentang adanya seorang gadis bernama Niken Harni memasuki daerah Wengker baru-baru ini."
"Niken Harni? Saya tidak pernah mendengarnya, Den Roro."
Kata Wiyanti.
"Kakang, apakah engkau pernah mendengar nama itu?"
Suaminya menggeleng kepalanya.
"Saya juga belum pernah mendengar nama itu, Den Roro. Maaf, kami, tidak dapat membantu Andika dalam hai ini."
"Tidak mengapa kalau kalian tidak mengetahuinya. Biarlah malam ini aku menumpang di sini semalam dan besok pagi-pagi aku akan melanjutkan perjalanan mencari Niken Harni."
"Kalau boleh saya mengetahui, siapakah Niken Harni itu, Den Roro?"
Tanya Wiyanti. Puspa Dewi menghela napas panjang.
"la Adikku."
Karena Puspa Dewi tidak bicara lebih lanjut mengenai Niken Harni, suami isteri Itu pun tidak berani banyak bertanya.
"Den Roro, setelah Drohawisa Andika beri hajaran keras, dia pasti akan mengerahkan kawan-kawannya dan saya khawatir malam ini juga mereka akan datang ke sini untuk melakukan pembalasan. Apakah tidak sebaiknya kalau kita pergi saja malam ini juga meninggalkan tempat ini?"
Mendengar ucapan suaminya yang mengandung ketakutan itu, Wiyanti malah menangis lagi.
"Ahh.... bagaimana baiknya, Kakang? Den Roro, tolonglah kami, Den Roro Puspa Dewi...."
"Jangan kalian khawatir. Malam ini, kalau benar ada yang berani datang mengganggumu, aku yang akan menghadapi mereka!"
"Akan tetapi, Den Roro.... Drohawisa itu berbahaya sekali. Dia mempunyai kawan-kawan jagoan yang juga menjadi gurunya, yaitu Wirobento dan Wirobandrek, dua orang warok muda yang tersohor kedigdayaannya. Bahkan dua orang warok muda itu merupakan pembantu-pembantu atau anak buah dari Ki Surogeni, warok terkenal di Wengker karena dia adalah Ayah dari Sang Ratu Mayangsari. Saya tidak ingin menyusahkah Andika, Den Roro. Saya sendiri tidak takut mati, akan tetapi saya tidak dapat membayangkan isteri saya ini terjatuh ke tangan mereka...."
Suara Garino penuh kegelisahan.
"Hemm, jangan khawatir. Biar Ratu Mayangsari sendiri yang datang, kalau ia membela keparat macam Drohawisa tadi, akan kuhadapi dan kulawan!"
Kata Puspa Dewi. Sikapnya yang gagah dan suaranya yang mantap itu melegakan hati suami isteri itu.
"Wiyanti, mengapa engkau tidak cepat menyiapkan makan malam untuk Den Roro Puspa Dewi?"
"Wah, aku sampai lupa! Biar sekarang juga aku menyiapkan makan malaml"
Kata Wiyanti sambil bangkit dari amben di mana ia duduk sambil memijiti kaki suaminya.
"Biar aku membantumu, Mbakayu. Tutup dan palangi saja pintu depan agar aku mendengar kalau ada orang datang ke rumah ini."
Kata Puspa Dewi.
Wiyanti lalu menutupkan daun pintu dan memasang palangnya.
Setelah itu, dua orang wanita itu sibuk di dapur, Wiyanti menyembelih seekor ayam peliharaannya dan mereka lalu menanak nasi dan memasak lauk.
Ternyata tidak terjadi sesuatu seperti yang dikhawatirkan suami isteri itu pada malam itu.
Pada keesokan harinya, Garino yang sudah agak pulih kesehatannya bersama Wiyanti sudah berkemas, membawa pakaian dan barang-barang yang dianggap berharga dan tidak berat, siap meninggalkan rumah mereka.
Setelah mandi Puspa Dewi melihat dua orang suami isteri itu berdiri di depan pondok mereka dengan wajah muram, bahkan tampak keduanya habis menangis.
Puspa Dewi dapat memaklumi kesedihan hati mereka.
Mereka harus meninggalkan segala yang mereka miliki, rumah dan sawah ladang, dan pergi dari situ untuk tidak kembali lagi.
Menurut pembicaraan mereka semalam, mereka bahkan belum tahu kemana mereka akan pergi dan bagaimana nasib mereka kemudian.
"Apakah kalian hendak pergi sekarang? Sepagi Ini?"
Tanyanya.
"Kami harus pergi sekarang, Den Roro. Kami khawatir kalau mereka datang sebelum kami pergi."
Jawab Garino.
"Kalian sudah memutuskan hendak ke mana?"
"Sudah, Den Roro."
Jawab Wiyanti dengan suara serak karena semalam ia menangis terus.
"Saya teringat mempunyai seorang paman jauh yang tinggal di pantai selatan. Kami akan pergi ke sana."
Suami Isteri itu agaknya membawa barang-barang mereka yang mereka anggap berharga dan dapat mereka bawa.
Wiyanti menggendong buntalan besar, agaknya terisi pakaian mereka.
Garino membawa sepikul barang-barang perabot dapur dan alat pertanian.
Betapa sederhana kehidupan mereka, pikir Puspa Dewi.
Betapa sedikit kebutuhan mereka.
Ia merasa terharu karena mereka terpaksa berpisah dengan milik mereka yang paling berharga, yaitu rumah tempat mereka tinggal dan sawah ladang yang menjadi sumber nafkah mereka.
Puspa Dewi mengeluarkan bungkusan kain dari ikat pinggangnya, membuka bungkusan terisi perhiasan itu lalu menyerahkan sepasang subang emas terhias permata indah kepada Wiyanti.
"Mbakayu Wiyanti, terimalah pemberianku ini. Kalau kalian tiba di tempat baru, juallah ini untuk membeli sawah lading dan rumah."
Suami isteri itu terbelalak.
Perhiasan itu amat Indah dan tentu mahal sekali harganya, lebih mahal dari harga rumah dan sawah ladang yang mereka tinggalkan.
Sebagai orang-orang dusun yang polos dan lugu, mereka merasa bingung dan sungkan sekali.
"Akan tetapi, Den Roro...."
Kata Wiyanti sambil menatap sepasang subang itu dengan mata terbelalak.
"Terima sajalah, Mbakayu, tidak usah ragu. Benda ini adalah milikku sendiri. Kalian tentu memerlukannya untuk membeli tanah dan rumah baru."
"Aduh, terima kasih, Den Roro. Andika bukan hanya telah menyelamatkan nyawa kami, bahkan juga menyerahkan benda berharga kepada kami. Bagaimana kami dapat membalas kebaikan budi Den Roro?"
"Aku tidak minta dan tidak berhak menerima balasan, Mbakayu Wiyanti. Yang kalian terima merupakan berkah dari Sang Hyang Widhi, oleh karena itu kalian berkewajiban membalas berkah-Nya dengan cara melaksanakan hidup yang baik dan benar sebagai bakti kalian kepada-Nya. Nah, selamat berpisah dan selamat jalan."
Suami isteri itu memberi hormat dengan sembah kepada gadis yang telah melimpahkan kebaikan kepada mereka, lalu mereka pergi ke arah selatan.
Halimun pagi segera menyelimuti dan menyembunyikan mereka dari pandangan Puspa Dewi yang masih berdiri di depan pondok, la memang sengaja menanti di situ, menjaga kalau-kalau benar terjadi apa yang dikhawatirkan suami isteri itu.
Setelah matahari pagi mengusir bersih halimun yang menyelimuti bumi sehingga cuaca menjadi terang dan sinar matahari menghidupi semua yang berada di permukaan bumi, Puspa Dewi juga bersiap-siap untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Ia sudah meringkas pakaiannya dalam buntalan kain hendak meninggalkan pondok kosong itu ketika ia mendengar derap kaki kuda makin lama semakin nyaring, menandakan bahwa ada beberapa orang penunggang kuda menuju ke pondok itu.
Puspa Dewi meletakkan buntalan pakaiannya ke atas bangku bambu di depan pintu pondok, dan berdiri menanti dengan sikap tenang.
Tak iama kemudian tampaklah empat orang penunggang kuda datang memasuki pekarangan pondok itu.
Puspa Dewi melihat Drohawisa berada bersama tiga orang lain.
Agaknya ada yang merawat Drohawisa sehingga kini dia mampu menunggang kuda, walaupun kendali hanya dia pegang dengan tangan kiri saja.
Tangan kanan dan kaki kiri yang buntung itu telah dibalut.
Diam-diam Puspa Dewi merasa gemas.
Ternyata hajaran yang diberikannya kepada Drohawisa tidak membuat orang itu kapok!
Sekarang dia bahkan datang bersama tiga orang yang tampaknya menyeramkan dan buas.
Ia tidak mengenal siapa tiga orang itu.
Ketika tiga orang itu berlompatan turun dari atas kuda mereka, ia mengamati penuh perhatian.
Drohawisa sendiri tidak turun dari atas punggung kudanya.
Agaknya, dalam keadaan buntung tangan kanan dan kaki kirinya itu, untuk naik turun kuda dia harus dibantu orang lain.
Orang pertama adalah seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan ternyata laki-laki ini berwajah cukup tampan kalau dibandingkan dengan para pria pada umumnya di Wengker.
Pakaiannya indah seperti pakaian bangsawan dan wajahnya yang tampan itu menunjukkan keangkuhan.
Sepasang matanya membayangkan kegenitan seorang laki-laki mata keranjang ketika dia memandang kepada Puspa Dewi dengan kagum.
Laki-laki ini bukan lain adalah Ki Warok Surogeni, ayah dari Ratu Mayangsari!
Warok Surogeni adalah seorang warok yang terkenal di Wengker dan ditakuti orang, apalagi setelah puterinya, Mayangsari, menjadi permaisuri, isteri Sang Adipati Wengker, mendiang Adipati Adhamapanuda dan kemudian diperisteri Adipati Wengker yang baru, yaitu Adipati Linggawijaya.
Orang ke dua adalah seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun, bertubuh tinggi besar, wajahnya serba tebal dan kasar.
Pinggangnya terbelit sebatang pecut yang ujungnya dipasangi potongan besi kecil-kecil dan runcing tajam.
Inilah Ki Wirobento, seorang warok muda yang menjadi anak buah Warok Surogeni.
Orang ke tiga juga seorang warok muda berusia sekitar dua puluh delapan tahun, juga bertubuh tinggi besar dan dia menggunakan sabuk kolor merah yang besar dan kuat karena kolor itu merupakan senjata ampuhnya.
Dia ini bernama Ki Wirobandrek, adik dari Wirobento.
Ketika Drohawisa yang terluka memberitahu sahabat dan juga gurunya, Ki Wirobento, warok ini menjadi marah akan tetapi juga terkejut bukan main mendengar bahwa yang melukai Drohawisa adalah Puspa Dewi!
Wirobento dan Wirobandrek merasa jerih menghadapi Puspa Dewi sendiri, maka mereka lalu melapor dan minta bantuan Warok Surogeni.
Ki Warok Surogeni tentu saja sudah mendengar nama Puspa Dewi sebagai seorang yang dimusuhi Kadipaten Wengker.
Akan tetapi dia belum pernah bertemu dan belum tahu akan kesaktian gadis itu.
Biarpun dia mendengar bahwa Puspa Dewi seorang gadis yang sakti mandraguna, namun dia memandang remeh.
Sampai di mana sih kehebatan seorang gadis muda?
Juga dia mendengar bahwa Puspa Dewi cantik jelita seperti bidadari kahyangan!
Maka dia lalu cepat mengajak Wirobento dan Wirobandrek untuk mengikuti Drohawisa sebagai penunjuk jalan, pergi mencari Puspa Dewi di rumah Garino.
Demikianlah, pagi itu mereka bertiga yang mengikuti Drohawisa sebagai penunjuk jalan telah memasuki pekarangan dan tiga orang itu sudah berlompatan turun dari atas kuda dan Drohawisa segera berseru.
"Itulah ia Puspa Dewi!"
Puspa Dewi menghadapi tiga orang itu dengan sikap tenang.
Kalau mungkin, ia tidak ingin membuat keributan dan bertanding dengan orang-orang Wengker karena kedatangannya adalah untuk mencari Niken Harni.
Ia tidak mempunyai urusan dengan tiga orang ini.
"Benar, aku adalah Puspa Dewi. Andika siapakah dan ada keperluan apa mencari aku di sini?"
Ki Surogeni memandang kagum dan tangan kirinya meraba kumisnya yang tebal.
"Heh, Puspa Dewi. Tentu Andika ini Sekar Kedaton Wura-wuri yang dikabarkan berkhianat itu! Ketahuilah, aku adalah Ki Surogeni, Ayah kandung Dewi Mayangsari, permaisuri Wengker. Dua orang ini pembantuku Wirobento dan Wirobandrek. Kami mendengar bahwa Andika telah melukai anak buah kami Drohawisa, karena itu kami datang menemuimu!"
"Ah, kiranya Andika adalah Ki Surogeni, Ayah dari Dewi Mayangsari! Aku memang memberi hajaran kepada Drohawisa karena dia mengganggu seorang wanita. Aku tidak percaya bahwa sebagai Ayah permaisuri Wengker Andika akan membela seorang penjahat yang menjadi perusak pagar ayu, Ki Surogeni!"
Ki Surogeni menggulung ujung kumisnya dengan ibu jari dan telunjuk kirinya sambil mengerling ke arah Drohawisa yang masih duduk di atas kudanya dengan wajah pucat mendengar ucapan Puspa Dewi tadi.
"Hemrn, kami akan melakukan tlndakan kepada anak buah kami kalau dia bersalah, Puspa Dewi. Akan tetapi, engkau telah melanggar wilayah kami, memasuki daerah Wengker tanpa ijin." (Lanjut ke
Jilid 16) Nurseta Satria Karang Tirta (seri ke 02 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16
"Ki Surogeni, aku memasuki daerah Wengker bukan dengan niat bermusuhan. Aku ke sini untuk mencari Adikku yang bernama Niken Harni. Kebetulan sekali Andika datang. Andika tentu mengetahui di mana adanya Adikku Niken Harni, maka katakanlah kepadaku, di mana ia?"
Tentu saja Ki Surogeni telah mendengar bahwa Niken Harni menjadi tamu di Istana Kadipaten Wengker, walaupun dia tidak tahu bahwa gadis itu kini telah dibawa pergi Nini Bumigarbo.
"Hemm, kiranya Andika mencari Niken Harni? Gadis itu kini menjadi tamu Istana Kadipaten. Akan tetapi karena Andika memasuki wilayah kami tanpa ijin, bahkan begitu dating membuat ribut dalam perkara orang Wengker yang sebenarnya Andika tidak mempunyai hak untuk mencampuri, maka menyerahlah Andika untuk kami tangkap dan kami hadapkan kepada Sang Adipati Wengkerl"
"Hemm, aku telah sejak kecil mengenal Linggajaya yang kini menjadi Adipati Wengker. Aku mau kalian antar menghadap dia, akan tetapi sebagai tamu yang hendak mencari Adikku, bukan sebagai tawanan!"
"Puspa Dewi! Andika memandang rendah kepadaku! Aku tidak ingin mempergunakan kekerasan, maka menyerahlah untuk menjadi tangkapanku dan kuhadapkan Sang Adipati."
"Ki Surogeni, sekali lagi kutegaskan. Aku tidak mencari permusuhan, akan tetapi aku juga tidak mau diperhina dan dijadikan tawanan. Baik secara halus maupun kasar, aku tidak mau dijadikan tawanan. Aku akan menghadap Sang Adipati sebagai seorang tamu! Terserah kalau Andika hendak menggunakan cara halus maupun kasar!"
"Andika menantang? Wirobento dan Wirobandrek, kalian tangkap gadis sombong ini!"
Andaikata mereka berdua tidak disertai Warok Surogeni, Wirobento dan Wirobandrek tidak akan berani menyerang Puspa Dewi karena mereka sudah mendengar akan kesaktian gadis itu yang kabarnya memiliki ketangguhan yang setingkat dengan Adipati Linggawijaya sendiri.
Akan tetapi karena ada Warok Surogeni di situ, mereka menjadi berani dan mendengar atasan mereka mengeluarkan perintah itu, mereka berdua dengan sikap gagah lalu menerjang maju, menyerang Puspa Dewi dari kanan kiri.
Puspa Dewi tidak ingin memberi hati.
begitu dua orang itu menyerangnya dari kanan kiri, ia sudah mendahului gerakan mereka.
Tubuhnya melesat ke depan menyambut kedua orang itu dengan tendangan beruntun ke kanan kiri dengan kedua kakinya.
"Wuut... suuuttt... desss! Desss!"
Dua orang jagoan Wengker itu terlempar dan jatuh berguling-guling terkena sambaran kedua kaki Puspa Dewi yang cepat dan mengandung kekuatan dahsyat itu.
Mereka terbanting dan merasa pening, juga dada mereka sesak karena tendangan tadi mengenai dada mereka.
Puspa Dewi menendang sambil melompat tinggi, kedua kakinya menendang ke kanan kiri dan gerakan ini cepat bukan main sehingga tidak dapat diikuti dengan pandang mata.
Melihat ini, Ki Surogeni menjadi terkejut juga.
Dia tahu bahwa memang tingkat kepandaian dua orang anak buahnya itu belum berapa tinggi, akan tetapi kalau dibandingkan dengan para perajurit biasa, mereka berdua itu sudah termasuk jagoan yang cukup digdaya dan tangguh.
Masa, dalam segebrakan saja mereka berdua sudah dapat dirobohkan oleh gadis itu, hal ini membuktikan bahwa gadis itu memang memiliki kesaktian yang luar biasa.
Bagaimanapun juga, dia masih memandang rendah.
Gadis itu tampak sakti sekali karena dua orang anak buahnya itu yang lemah dan bodoh.
Maka dia lalu melangkah maju menghampiri Puspa Dewi dan tersenyum, masih memandang rendah.
"Puspa Dewi, jangan mengira bahwa karena sudah mampu mengalahkan Wirobento dan Wirobandrek, engkau akan dapat merajalela di Kadipaten Wengker. Hanya karena merasa malu melawan seorang gadis muda, maka aku tadi menyuruh dua orang anak buahku itu maju melawanmu. Nah, sekarang aku sendiri maju dan Ingin aku melihat sampai di mana tingginya kesaktianmu."
"Ki Surogeni, sekali lagi aku tegaskan bahwa sungguh aku tidak bermaksud mencari permusuhan di Wengker. Aku hanya ingin mencari Adikku Niken Harni. Marilah, kalau Andika hendak mengajak aku pergi menghadap Adipati Linggawijaya, karena memang aku Ingin bertemu dengan dia untuk mencari Adikku. Akan tetapi aku hanya mau pergi sebagai seorang tamu, bukan sebagai seorang tawanan."
"Hemm, Puspa Dewi. Sudah lama aku mendengar bahwa Andika seorang gadis yang digdaya dan angkuh. Keangkuhanmu sudah kulihat sekarang, akan tetapi kesaktianmu belum. Sekarang mari kita bertanding mengukur keampuhan aji masing-masing. Kalau Andika mampu mengalahkan aku, barulah aku akan mengiringimu sebagai seorang tamu Kadipaten Wengker. Sebaliknya kalau Andika kalah, Andika akan menjadi tawananku."
Puspa Dewi mengerutkan alisnya.
Bagaimanapun juga, seandainya Niken Harni benar-benar berada di Kadipaten Wengker, tentu ia harus siap menghadapi tantangan kekerasan dari Adipati Linggawijaya.
Mereka tentu tidak akan mudah begitu saja melepaskan Niken Harni.
Maka, tantangan ayah dari Permaisuri Wengker ini harus diterimanya untuk memperlihatkan mereka bahwa ia bersungguh-sungguh ingin membebaskan adik kandungnya itu, dan bahwa ia siap menentang dengan kekerasan kalau Kadipaten Wengker menolak untuk menyerahkan Niken Harni kepadanya.
Keterangan Ki Surogeni bahwa adiknya itu menjadi tamu di Wengker, membuat ia curiga dan khawatir.
Niken Harni memasuki Wengker untuk menyelamatkan Nyi Lasmi yang diculik anak buah Ki Suramenggala yang kini kabarnya telah diangkat menjadi seorang Tumenggung di Wengker.
Maka, kiranya tidak mungkin kalau Niken Harni diterima sebagal tamu dan diperlakukan dengan baik.
Apalagi mengingat bahwa watak Niken Harni amat berani dan galak.
Besar kemungkinan adiknya itu menjadi tawanan.
Maka ia harus siap melawan dan kalau memang benar kekhawatirannya bahwa Niken Harni tertawan, ia akan menggunakan kekerasan untuk membebaskannya.
Ia tahu bahwa ia berada di guha harimau, berada di Kerajaan Wengker di mana terdapat banyak orang sakti mandraguna dan terdapat banyak sekali Pasukan.
Tak mungkin ia seorang diri akan mampu melawan mereka semua.
Namun, demi keselamatan Niken Harni, ia siap menghadapi bahaya bagi dirinya sendiri.
"Baik, tantanganmu kuterima, Ki Surogeni! Aku percaya bahwa ayah seorang permaisuri tidak akan bertindak curang dan melanggar janji. Kalau aku dapat mengalahkan Andika, aku akan berkunjung ke istana Kerajaan Wengker sebagai seorang tamu dan Andika mengantarku."
Diam-diam warok besar itu merasa kagum juga.
Gadis ini sungguh memiliki keberanian luar biasa.
Seorang diri berani memasuki daerah yang mungkin memusuhinya!
Jarang ada orang, bahkan seorang senopati sekalipun mungkin tidak ada, yang berani begitu nekat memasuki daerah lawan seorarig diri saja, menghadapi kemungkinan dikeroyok puluhan ribu orang pasukan Sudah lama dia yang berusia lima puluh tahun hidup menduda.
Kalau saja dia dapat memiliki gadis seperti Ini menjadi isterinya, wah, alangkah senangnya!
Harta dan kedudukan dia sudah tidak butuh lagi karena dia tidak kekurangan harta benda, dan dia adalah ayah mertua Sang Adipati Wengker, berarti kedudukannya sudah tinggi dan dihormati seluruh orang Wengker.
Akan tetapi sisihan atau teman hidup yang akan memuaskan hatinya dia belum punya.
Dia dapat setiap saat bersenang-senang dengan wanita yang dipilihnya, namun belum pernah ada seorang wanita secantik Puspa Dewi.
Isterinya dulu, ibu kandung Dewi Mayangsari, juga seorang wanita cantik, akan tetapi isterinya itu telah meninggal dunia karena sakit.
Tentu saja dia tidak sungguh-sungguh ketika berjanji bahwa dia akan menghadapkan gadis ini sebagai tawanan ke Kadipaten Wengker.
Baru saja dia mendengar bahwa Niken Harni menjadi tamu kadipaten itu dan pada saat ini, baik Sang Adipati Linggawijaya maupun Dewi Mayangsari, tidak berada di istana mereka.
Adipati LinggaVijaya pergi ke Parang Siluman dan Kerajaan Siluman Laut Kidul untuk mengajak kedua kadipaten itu untuk bekerja sama meruntuhkan Kahuripan.
Adapun Dewi Mayangsari juga pergi ke Kerajaan Wura-wuri dengan maksud yang sama.
Empat kerajaan kecil itu hendak mengadakan persekutuan lagi untuk mengulang usaha mereka yang dulu gagal, yaitu membunuh Sang Prabu Erlangga dan Kl Patih Narotama, menghancurkan Kerajaan Kahuripan yang menjadi musuh bebuyutan mereka.
"Puspa Dewi, sebaliknya Andika tentu tidak akan mengingkari janji bahwa kalau Andika kalah, Andika menjadi tawanan dan akan kubawa ke kadipaten."
"Baik, aku telah siap, Ki Surogeni!"
Kata Puspa Dewi dan gadis ini berdiri tenang dan santai di depan calon lawannya, dalam jarak sekitar tiga tombak.
"Puspa Dewi, sambut ini !"
Warok Ki Surogeni mengangkat kedua tangannya yang membentuk cakar harimau, seluruh tubuhnya tergetar dan bergoyang-goyang, mulutnya meringis dan bibir atasnya bergerak-gerak, lalu terdengar gerengan yang amat dahsyat dan menggetarkan.
Tiga ekor kuda tunggangan mereka meringkik ketakutan, mengangkat kaki depan ke atas lalu melarikan diri keluar dari pekarangan.
Bahkan kuda yang ditunggangi Drohawisa juga meringkik ketakutan.
Sia-sia saja tangan kiri Drohawisa berusaha menenangkan kuda dengan menarik kendali.
Bahkan kuda itu ikut melompat-lompat melarikan diri sehingga tubuh Drohawisa yang masih lemah itu terlempar dari punggung kuda dan terbanting jatuh ke atas tanah!
Itulah Aji Sanghara Macan, yaitu serangan melalui suara yang amat kuat dan mengandung getaran bergelombang yang dapat melumpuhkan lawan, seperti auman harimau yang dapat melumpuhkan korban yang menjadi calon mangsanya.
Akan tetapi getaran suara yang dahsyat Itu seolah tidak terasa oleh Puspa Dewi, padahal la yang dlserang secara langsung.
Serangan Itu bagaikan gelombang samudera yang menghantam batu karang, setelah gelombang itu lewat, batu karang masih berdiri tegak.
Atau seperti angin badai menerjang bukit karang.
Angin lewat, bukit karang tetap tak terpengaruh.
Melihat serangannya dengan Aji Sanghara Macan itu sama sekali tidak mempengaruhi lawan, Ki Surogeni merasa penasaran.
Kini dia melompat ke depan dan berseru nyaring.
"Sambut seranganku!"
Dia sudah menerjang dengan tamparan telapak tangan kirinya, disusul pukulan ke arah perut.
Tamparan tangan kiri itu menyambar ke arah kepala Puspa Dewi.
Gadis ini dengan tenang namun lincah sekali mengelak sehingga dua pukulan lawan itu luput.
Puspa Dewi membalas dengan dua kali tendangan, namun Ki Surogeni juga dapat menangkis dua tendangan ini lalu menyerang lagi semakin ganas.
Terjadilah pertandingan yang seru.
Akan tetapi.
Puspa Dewi yang pernah menerima gemblengan Sang Bhagawan Satyadharma, kini memiliki tingkat kepandaian yang tinggi.
Kalau ia menghendaki, ia akan mampu mengalahkan KI Surogeni dalam waktu yang tidak terlalu lama, yaitu dengan menggunakan aji yang paling ampuh.
Namun, ia tidak ingin membunuh orang, apalagi lawannya ini adalah ayah Dewi Mayangsari permaisuri Wengker.
Maka, Puspa Dewi membatasi tenaganya sehingga pertandingan itu berlangsung seru.
Akan tetapi diam-diam Ki Surogeni terkejut bukan main dan mulai merasa gentar.
Semua serangannya tidak mampu menyentuh ujung baju gadis itu dan setiap serangan gadis itu tak dapat dia elakkan dan terpaksa dia tangkis.
Akan tetapi setiap kali lengannya beradu dengan tangan gadis itu ketika dia menangkis, dia merasa lengannya tergetar hebat yang menjalar ke seluruh tubuhnya!
Sebenarnya, Ki Surogeni kini maklum bahwa nama besar Puspa Dewi sebagai seorang gadis yang sakti mandraguna, bukan nama kosong belaka.
Akan tetapi untuk mengaku bahwa dia kalah atau takut, dia merasa malu.
Dia adalah seorang jagoan warok yang terkenal di Wengker.
Masa dia harus mengaku kalah terhadap seorang gadis muda belia ini?
Karena merasa bahwa dalam adu ilmu silat dia akhirnya tentu kalah karena selain kalah kuat tenaga saktinya, juga gerakannya kalah cepat dan lincah, maka tiba-tiba Ki Surogeni melompat ke belakang dan menggunakan aji pukulan mautnya.
"Aji Bala Latul!"
Ketika kedua tangannya yang terbuka itu mendorong ke arah Puspa Dewi, ada uap panas sekali menyambar ke arah Puspa Dewi.
Melihat aji pukulan yang ampuh ini, Puspa Dewi menyambut dengan dorongan kedua tangannya pula, akan tetapi ia membatasi tenaganya karena maklum bahwa kalau terlalu kuat ia menyambut pukulan maut Ki Surogeni itu dapat membalik dan mungkin membunuhnya.
"Wuuuuttt.... byarrr....!!"
Tubuh Kl Surogeni terdorong ke belakang sampai dia terhuyung-huyung.
Pukulannya memballk dan dia merasa dadanya panas dan sesak, wajahnya pucat dan setelah dapat berdiri tegak dia memejamkan mata dan menarik napas panjang-panjang untuk melindungi dadanya.
Kemudian dia membuka matanya memandang kepada Puspa Dewi yang masih berdiri santai dan tersenyum kepadanya.
"Bagaimana, Ki Surogeni? Apakah Andika sekarang mau mengantar aku sebagai tamu yang berkunjung ke Kadipaten Wengker?"
TENTU saja Ki Surogeni tidak dapat menolak dan mengingkari janji.
Pula, ini merupakan kesempatan baik baginya untuk membalas kekalahannya.
Puterinya, Dewi Mayangsari, sedang tidak berada di istana.
Demikian pula Adipati Linggawijaya, mantunya.
Akan tetapi di sana terdapat para senopati yang memiliki kepandaian tinggi, terutama sekali Resi Bajrasakti, guru dari Adipati Linggawijaya.
Kalau sudah berada di kadipaten dan berhadapan dengan Resi Bajrasakti, maka Sang Resi tentu akan dapat bertindak dan membereskan gadis yang berbahaya ini!
"Andika memang sakti mandraguna dan pantas menjadi tamu Istana Wengker, Puspa Dewi.
Mari, kuantar Andika ke sana."
Ki Surogeni memberikan kuda yang tadi ditunggangi Drohawisa kepada Puspa Dewi, lalu bersama Wirobento dan Wirobandrek dia mengantar Puspa Dewi menuju ke Kadipaten Wengker.
Drohawisa yang ditinggalkan menyumpah-nyumpah, akan tetapi setelah tiga orang atasan itu pergi jauh.
Terpaksa dia terpincang-pincang berjalan kaki sambil menahan rasa nyeri pada tangan kanan dan kaki kirinya yang buntung.
Dengan sikap tenang dan angkuh, Puspa Dewi tampak gagah ketika ia memasuki istana Kadipaten Wengker bersama Kl Surogeni.
Tentu saja sebelum Puspa Dewi diajak memasuki istana Wengker, lebih dulu Wirobento dan Wirobandrek cepat melaporkan tentang kedatangan Puspa Dewi itu kepada Resi Bajrasakti dan Ki Tumenggung Suramenggala.
Para perajurit pengawal yang berjaga di Istana itu berdiri tegak dalam keadaan siap.
Akan tetapi mata mereka memandang penuh kagum dan gentar terhadap gadis cantik jelita yang melangkah tenang di samping Ki Surogeni, memasuki ruangan tamu di sebelah pendapa istana Kadipaten Wengker.
Banyaknya perajurlt pengawal yang berada di sekitar istana, memenuhi halaman istana yang luas dan berjaga di sepanjang lorong sampai ke pendapa, sama sekali tidak membuat Puspa Dewi merasa gentar.
Sebagai seorang yang pernah menjadi Sekar Kedaton Kerajaan Wura-wuri, Puspa Dewi tentu saja tidak merasa asing dengan kemewahan yang terdapat di istana Wengker itu.
Akan tetapi ia pun tahu bahwa banyaknya perajurit pengawal di luar dan dalam istana itu tidaklah wajar.
Ia menduga bahwa pihak istana berada dalam keadaan siap siaga dan bahwa istana itu setidaknya bagian pendapa dan ruang tamunya, telah dikepung pasukan!
Pasti Wiro-bento dan Wirobandrek yang telah memberi laporan dan Linggawijaya yang sekarang menjadi Adipati Linggawijaya itu lelah membuat persiapan!
Namun hal ini tidak mambuat hati Puspa Dewi menjadi jerih.
Ketika Puspa Dewi dan Ki Surogeni memasuki ruangan tamu yang luas dan mewah itu, di situ telah menunggu Resi Bajrasakti dan Ki Tumenggung Suramenggala.
Tentu saja Puspa Dewi mengenal baik dua orang laki-laki tua ini.
Ki Suramenggala adalah bekas Lurah Dusun Karang Tirta, bahkan pernah menjadi ayah tirinya karena ibunya menjadi selir bekas lurah ini.
Mengingat bahwa ibu kandungnya baru-baru ini diculik oleh orang-orang Ki Suramenggala, sepasang mata gadis itu memandang kepada Ki Suramenggala dengan kilatan marah.
Ki Suramenggala diam-diam bergidik ngeri dan tak dapat bertahan lama beradu pandang, segera ia menundukkan pandang matanya.
Kemudian Puspa Dewi menatap wajah Resi Bajarasakti.
Tentu saja ia pun mengenal baik pertapa sesat ini.
Kurang lebih tujuh tahun yang lalu, ia pernah diculik dan dilarikan Resi Bajrasakti ini.
Akan tetapi kemudian ia terjatuh ke tangan Nyi Dewi Durgakumala, dan sebaliknya Linggawijaya yang diculik Nyi Dewi Durgakumala terjatuh ke tangan Sang Resi Bajrasakti.
Kemudian ia menjadi murid Nyi Dewi Durgakumala sedangkan Linggajaya menjadi murid Resi Bajrasakti.
Maka ia pun memandang kepada resi itu dengan mata mencorong.
Dulu ia masih gadis remaja ketika diculik Resi Bajrasakti dan nyaris menjadi korban kekejian pendeta sesat ini.
Akan tetapi Resi Bajrasakti tersenyum dan berkata.
"Selamat datang di Istana Wengker, Ni Puspa Dewi. Silakan duduk!"
Akan tetapi Puspa Dewi tetap berdiri dan ia berkata dengan sikap angkuh dan tegas.
"Aku datang berkunjung untuk bertemu dan bicara dengan Adipati Wengker, bukan dengan sembarang orang!"
Tumenggung Suramenggala bangkit berdiri dan berkata dengan wajah tersenyum cerah.
"Wahai, Anakku Puspa Dewi yang manis dan gagah perkasa. Apakah engkau tidak mengenal lagi aku, Tumenggung Suramenggala, Ayah tirimu yang menyayangmu?"
Puspa Dewi memandang ke arah bekas ayah tirinya itu dengan pandang mata tajam menusuk.
"Ki Suramenggala, tidak perlu Andika banyak cakap lagi! Kalau saja aku belum menemukan kembali Ibuku dalam keadaan selamat, sekarang juga aku pasti sudah turun tangan menghajar Andika!"
Mendengar ucapan Ini, Suramenggala menjadi pucat dan tidak mengeluarkan kata-kata lagi. Kini Resi Bajrasakti tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha! Puspa Dewi, kalau Andika hendak bertemu dengan Kanjeng Adipati Llnggawljaya, keinginanmu itu sia-sia karena beliau sedang tidak berada di Istana."
Mendengar ucapan Resi Bajrasakti yang nadanya sungguh-sungguh itu, Puspa Dewi menduga bahwa kakek itu tidak berbohong.
"Kalau begitu, biarkan aku bertemu dan bicara dengan isterinya, Dewi Mayangsaril"
"Sayang sekali, juga .beliau sedang bepergian, tidak berada di istana."
Jawab Resi Bajrasakti.
"Akan tetapi, ketahuilah, Puspa Dewi, kalau Andika memang ada kepentingan, Andika dapat membicarakan dengan kami bertiga. Aku adalah wakil Kanjeng Adipati dalam urusan pemerintahan Wengker. Ki Tumenggung Sura-menggala ini adalah Ayahanda Kanjeng Adipati sehingga beliau dapat mewakili puteranya. Adapun Ki Surogeni ini adaiah Ayahanda Permaisuri Dewi Mayangsari sehingga beliau dapat mewakili puterinya. Nah, kalau kedatanganmu ini membawa urusan penting, kami bertiga dapat mewakili Kanjeng Adipati Llnggawijaya yang Andika tahu juga adalah muridku. Katakanlah, apa yang Andika kehendaki, Puspa Dewi?"
"Hemm, aku tidak mempunyai kepentingan pribadi dengan Andika, Resi Bajrasakti, atau dengan Ki Suramenggaia ataupun Ki Surogeni. Aku hanya Ingin mencari Adikku Niken Harni karena aku tahu bahwa ia memasuki Wengker dan menurut keterangan Ki Surogeni, ia berada di Istana Wengker. Sekarang, kalian katakan di mana Adikku itu. Aku datang tidak dengan niat bermusuhan. Akan tetapi kalau kalian tidak menyerahkan Adikku, atau kalau kalian mengganggu Adikku, aku tidak akan berhenti sebelum membuat Wengker menjadi karang abang (lautan api)l"
Ucapan Puspa Dewi dikeluarkan dengan suara lembut, namun terdengar kering dan mengerikan.
Tiga orang tua itu merasakan betapa dalam suara itu terkandung ancaman-ancaman yang sungguh-sungguh, bukan sekadar gertakan.
"Heh, tenanglah, Puspa Dewi. Sebenarnya, mengingat bahwa Andika adalah murid Nyi Dewi Durgakumala yang kini menjadi Permaisuri Wura-wuri dan Andika dianggap sebagai puterinya dan menjadi Sekar Kedaton Wura-wuri, Andika bukanlah orang luar dan di antara kita ada hubungan. Wurawuri selalu bersahabat dengan Wengker. Karena itu, marilah kita bicara seperti sahabat dan duduklah, Puspa Dewi."
"Hemm, aku tidak ada urusan dengan Wengker maupun Wura-wuri, Resi Bajrasakti. Katakan saja di mana adanya Niken Harni."
"Hemm, kalau Andika tidak mau menganggap kami sebagai kawan, lalu apa artinya Andika bertanya kepada kami? Kalaupun kami menjawabnya, kalau Andika menganggap kami sebagai musuh, Andika bagaimana dapat percaya keterangan kami? Ingat, terhadap musuh orang dapat saja berbohong, sebaliknya terhadap teman tentu orang tidak akan berbohong."
"Sesukamu akan menganggap aku kawan atau lawan, Resi Bajrasakti. Akan tetapi, mengingat bahwa Andika menjadi seorang yang berkedudukan tinggi dan berkuasa di Wengker, dan Andika berada di sarang sendiri sehingga tidak mendapat tekanan dariku, maka mustahil kalau Andika mau merendahkan diri menjadi seorang pengecut yang berbohong. Aku percaya Andika akan bicara sejujurnya tentang adikku Niken Harni."
Wajah Resi Bajrasakti berubah merah, matanya melotot dan dia marah sekali.
Memang tidak ada alasan baginya untuk berbohong karena dia tidak takut kepada Puspa Dewi, bahkan dapat dibilang bahwa saat itu dia yang menguasai keadaan dan dapat menangkap bahkan membunuh gadis itu kalau dia kehendaki.
Dia marah mendengar Puspa Dewi bersikap demikian berani dan penuh tantangan.
"Huh, aku pun tidak sudi berbohong kepadamu karena aku tidak takut untuk bicara terus terang. Nah, dengarlah, Puspa Dewi. Niken Harni memang pernah menjadi tamu di Istana Wengker, akan tetapi beberapa hari yang lalu ia dibawa pergi oleh Nini Bumigarbo! Nah, percaya atau tidak, terserah!"
Sepasang mata Puspa Dewi mencorong dan seolah hendak menembus mata Resi Bajrasakti untuk menjenguk isi hatinya. Ia berkata.
"Aku percaya kepada Andika, Resi Bajrasakti. Mengapa Nini Bumigarbo membawa pergi Niken Harni, dan ke mana Adikku dibawa pergi?"
"Hoa-ha-ha-ha!"
Resi Bajrasakti tertawa bergelak.
"Apakah Andika belum mendengar tentang watak aneh luar biasa dari Nini Bumigarbo, Puspa Dewi? Siapa yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya dan mengapa ia melakukan sesuatu? Ia datang dan membawa pergi Niken Harni, siapa yang dapat melarang dan siapa pula yang dapat bertanya? La datang dan pergi begitu saja. Yang kami ketahui hanyalah bahwa Niken Harni dibawa pergi Nini Bumigarbo. Kalau Andika ingin mengetahui sebabnya, carilah Nini Bumigarbo dan tanyalah sendiri kepadanya!"
Puspa Dewi mengerutkan alisnya.
Tentu saja ia sudah mendengar akan nama besar Nini Bumigarbo, seorang datuk wanita yang dikabarkan orang sebagai manusia setengah dewa atau setengah iblis yang memiliki kesaktian yang luar biasa.
Bahkan ketika ia digembleng Sang Maha Resi Satyadharma, pertapa itu pernah berkata kepadanya bahwa di antara para tokoh sakti pada waktu itu, kiranya yang dapat dianggap paling tinggi ilmu kepandaiannya adalah Sang Bhagawan Ekadenta dan Nini Bumigarbo!
Akan tetapi sungguh aneh sekali, mengapa Nini Bumigarbo membawa pergi Niken Harni?
Resi Bajrasakti benar ketika berkata bahwa tidak ada yang tahu apa yang dilakukan nenek aneh itu dan mengapa ia melakukannya.
"Hemm, baiklah. Aku percaya keterangan Andika bahwa Adikku itu telah dibawa pergi Nini Bumigarbo, Resi Bajrasakti. Aku akan mencarinya. Akan tetapi, aku teringat bahwa kabarnya Dewi Mayangsari adalah murid Nini Bumigarbo. Tentu ia tahu mengapa dan ke mana Niken Harni dibawa pergi Nini Bumigarbo."
"Agaknya Andika belum tahu benar siapa Nini Bumigarbo. Bahkan kepada muridnya sendiri pun ia tidak pernah memberitahu. Sepengetahuanku, Kanjeng Puteri Dewi Mayangsari juga tidak tahu ke mana Niken Harni dibawa Nini Bumigarbo."
"Sudahlah, aku tidak ingin merepotkanmu lebih jauh. Aku pamit pergi dan terima kasih atas keteranganmu, Resi Bajrasakti!"
Setelah berkata demikian, Puspa Dewi memutar tubuh dan melangkah keluar dari ruangan tamu.
"Puspa Dewi, engkau sudah berani memasuki Wengker, tidak boleh pergi begitu saja! Engkau harus tunggu pulangnya Adipati Linggawijaya dan isteri nya"
Kata Ki Suramenggala.
Akan tetapi Puspa Dewi tidak mempedulikan ucapan bekas ayah tirinya itu dan melangkah keluar.
Akan tetapi setibanya di pendapa istana, ia melihat ratusan orang perajurit sudah siap siaga dengan senjata tombak, golok, atau pedang di tangan, menutup semua jalan keluar.
Bahkan di sana, di halaman yang merupakan alun-alun, masih terdapat sedikitnya seribu orang perjurit.
"Ha-ha-ha-ha!"
Resi Bajrasakti tertawa-tawa dan muncul dari dalam ruangan tamu bersama Ki Surogeni dan Tumenggung Suramenggala. Mereka bertiga tertawa-tawa.
"Puspa Dewi, Andika tidak boleh pergi sebelum Sang Adipati dan istennya pulang! Andaikata Andika bersayap sekalipun, tidak mungkin Andika dapat terbang lolos dari Wengker, haha-ha!"
"Untuk keluar dari Wengker, aku tidak perlu terbang, Resi Bajrasakti! Haiiitttt....!"
Tiba-tiba Puspa Dewi mengeluarkan pekik melengking.
Itulah Aji Jerit Guruh Bairawa dan ia sudah mencabut pedangnya Kyai Candrasa Langking dan memutarnya dengan cepat sambil menerjang ke arah Resi Bajrasakti dan Ki Surogeni.
Pedangnya lenyap berubah menjadi sinar hitam bergulung-gulung dibarengi angin dahsyat menyambar-nyambar dan didorong pula oleh getaran pekik yang amat hebat itu.
Resi Bajrasakti cepat melompat ke belakang dan melindungi dirinya dengan pengerahan tenaga sakti sambil mencabut dan memutar cambuknya yang bergagang gading.
Juga Ki Surageni yang sudah merasakan kehebatan gadis itu, cepat melompat ke belakang sambil mencabut kerisnya.
Akan tetapi ternyata serangan dahsyat dari Puspa Dewi itu hanya gertakan belaka karena tahu-tahu ia sudah menggunakan tangan kirinya untuk menghantam tengkuk Ki Suramenggala yang sama sekali tidak menduganya karena tadi dia tidak diserang.
"Plakk!"
Tubuh Ki Suramenggala seketika menjadi lemas setengah lumpuh dan dia sama sekail tidak berdaya ketika tangan kiri Puspa Dewi mencengkeram baju tumenggung yang mewah dan tebal itu pada punggungnya.
Sambil menempelkan pedang di leher bekas ayah tlrlnya itu Puspa Dewi menghardik.
"Resi Bajrasakti! Kalau Andika tidak memerintahkan semua perajurit agar mundur dan tidak boleh mengganggu kepergianku, aku akan memenggal leher Ki Suramenggala ini lebih dulu sebelum aku mengamuk dan menjadikan tempat ini sebagai banjir darah!"
Tentu saja Ki Suramenggala menjadi terkejut dan ketakutan.
Sedikit saja pedang yang menempel di kulit lehernya itu digoreskan, nyawanya tidak akan tertolong lagi dan dia akan mati seperti ayam disembelih.
Saking takutnya, tubuhnya yang setengah lumpuh itu menggigil.
"Puspa Dewi... ingat... aku adalah ayahmu... ampunilah aku, jangan bunuh aku, Puspa Dewi...."
Puspa Dewi tidak menjawab, akan tetapi tangan kirinya semakin kuat mencengkeram punggung baju Itu sehingga kini leher baju itu mencekik leher Ki Suramenggala sehingga dia menjadi semakin ketakutan.
Resi Bajrasakti dan Ki Surogeni terkejut dan saling pandang.
Mereka berdua maklum sepenuhnya bahwa tidak mungkin mereka membiarkan gadis itu membunuh Ki Suramenggala.
Kalau tumenggung itu tewas, tentu Adipati Linggawijaya akan marah sekali dan menyalahkan mereka.
Gadis itu bukan hanya menggertak kosong.
Sekali pedangnya bergerak, Ki Suramenggala tentu tewas dan kalaupun akhirnya mereka mampu membunuh gadis itu dengan keroyokan ribuan pasukan, yang sudah pasti gadis itu tidak akan roboh sebelum ia membunuh banyak sekali orang.
Gertakannya merupakan ancaman yang mengerikan.
Akan benar-benar terjadi banjir darah di Wengker kalau mereka tidak menuruti kehendaknya.
"Resi Bajrasakti, bagaimana tanggapanmu? Jangan membuat aku kehilangan kesabaran!"
Bentak Puspa Dewi sambil mendorong Ki Suramenggala keluar dari pendapa.
Para perajurit yang berada paling depan di pendapa itu hanya mengacung-acungkan senjata mereka, akan tetapi tentu saja mereka tidak berani menyerang, pertama karena meiihat Ki Tumenggung Suramenggala dijadikan sandera, kedua karena mereka tidak mendapat perintah dari Resi Bajrasakti.
Resi Bajrasakti merasa ngeri sendiri membayangkan ada perajurit yang menyerang Puspa Dewi dan menyebabkan gadis itu membunuh Tumenggung Suramenggala dan mengamuk.
Dia lalu berseru nyaring sehingga terdengar oleh semua perajurit, juga oleh mereka yang berkumpul di alun-alun halaman istana.
"Haiiii Para perajurit dan para perwira! Dengar perintah kami! Jangan halangi Puspa Dewi keluar dari kota raja!"
Setelah berteriak demikian Resi Bajrasakti berkata kepada Puspa Dewi.
"Nah, Puspa Dewi, Andika boleh pergi, akan tetapi Andika harus memegang janji dan membebaskan Ki Tumenggung Suramenggala."
"Resi Bajrasakti, aku bukan orang yang suka melanggar janji. Biarpun Ki Suramenggala pantas dihukum atas kejahatannya terhadap Ibuku, namun aku akan membebaskannya kalau aku sudah terlepas dari kepungan pasukanmu."
Setelah berkata demikian, dengan sikap tenang namun waspada, Puspa Dewi mendorong Ki Suramenggala dan melangkah keluar dari pendapa istana, kemudian terus menyeberangi alun-alun di antara deretan perajurit yang berkumpul di kanan kiri.
Para perajurit itu hanya dapat memandang dengan kagum akan tetapi tidak ada yang berani bergerak.
Juga ketika Puspa Dewi yang menodong Ki Suramenggala itu keluar dari pintu gerbang kota kadipaten, tidak ada seorang pun berani menghalanginya.
Sebetulnya banyak para perwira dan senopati merasa penasaran karena mereka merasa yakin bahwa apabila mereka diperbolehkan dan maju menyerbu, mustahil gadis itu mampu lolos dari pengeroyokan ratusan, bahkan ribuan orang perajurit!
Akan tetapi, tentu saja mereka tidak berani melanggar perintah Resi Bajrasakti tadi.
Juga mereka semua merasa ngeri, kalau sampai Ki Suramenggala tewas dan mereka dipersalahkan sebagai penyebabnya, tentu Sang Adipati akan marah sekali dan menghukum mereka.
Maka, biarpun di situ berkumpul banyak sekail perajurit, tak seorang pun berani bergerak menghalangi gadis yang keluar dari kota Kadipaten Wengker itu.
Setelah tiba di luar kota dan tidak ada lagi perajurit berjaga, Puspa Dewi melepaskan Ki Suramenggala dan berkata.
"Ki Suramenggala, kalau Andika berani lagi mengganggu Ibuku, aku tidak akan mengampunimu!"
Setelah berkata demikian, Puspa Dewi melompat jauh dan berlari cepat meninggalkan Ki Suramenggala yang kini dapat bernapas lega.
Dia terbebas dari ancaman maut, akan tetapi juga dia merasa kehilangan muka karena tadinya Ki Tumenggung Suramenggala dikenal selain sebagai ayah kandung Sang Adipati Wengker, juga sebagai seorang yang sakti!
Maka, dia tidak kembali ke istana, melainkan diam-diam pulang ke rumahnya sendiri.
Pada awal kisah ini, Empu Bharada dalam samadhinya menerima wangsit (penglihatan batin) betapa hawa angkara murka dan nafsu-nafsu daya rendah menimbulkan kegelapan menyelimuti Kahuripan.
Penglihatan batin ini dia artikan sebagai malapetaka yang mengancam Kahuripan, membuat hati sang pertapa yang arif bijaksana ini khawatir sungguhpun dia menyerahkan segalanya kepada Kekuasaan Sang Hyang Widhi dan merasa yakin bahwa Yang Maha Kuasa pasti akan menolong dan membebaskan Kahuripan dari kehancuran akibat serangan bencana itu.
Apa yang dikhawatirkan Sang Empu Bharada akhirnya terjadi juga.
Adipati Wengker, Linggawijaya dan isterinya, Dewi Mayangsari, pergi untuk membujuk kerajaan-kerajaan kecil lainnya untuk sekali lagi berusaha menghancurkan Kahuripan, musuh bebuyutan mereka.
Adipati Linggawijaya pergi berkunjung ke Kerajaan Parang Siluman dan diterima dengan gembira Ratu Parang-Siluman, yaitu Nyi Durgamala yang biarpun usianya sudah lebih dari empat puluh tahun, namun masih tampak cantik seperti kedua orang anak perempuannya, yaitu Lasmini, bekas selir Ki Patih Narotama yang berusia dua puluh empat tahun dan Mandari, bekas selir Sang Prabu Erlangga yang berusia dua puluh dua tahun.
Tentu saja uluran tangan Adipati Wengker untuk bekerja sama menghancurkan Kahuripan itu diterima baik oleh tiga orang wanita cantik yang menjadi penguasa di Kerajaan Parang Siluman itu.
Kahuripan atau lebih tepat lagi, Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama merupakan musuh-musuh besar mereka.
Dalam kisah Sang Megatantra diceritakan betapa Lasmini dan Mandari yang ketika itu masih gadis menjadi selir Ki Patih Narotama dan Sang Prabu Erlangga.
Kalau Raja dan Patih Kahuripan itu mengambil mereka sebagai selir karena kecantik-jelitaan yang luar biasa dari kakak-beradik ini dan juga karena Sang Prabu Erlangga berniat mengakhiri permusuhan itu dengan jalan pernikahan, sebaliknya dua orang kakak-beradik itu mau menjadi selir mereka dengan maksud untuk menghancurkan Raja dan Patih itu dari dalam!
Memang kedua orang gadis itu kemudian jatuh cinta kepada suami mereka, namun mereka tetap melaksanakan cita-cita mereka menghancurkan Kahuripan.
Namun usaha yang didukung kerajaan-kerajaan lain itu ternyata gagal dan mereka berdua bahkan diusir dari Kahuripan.
Tentu saja Lasmini dan Mandari yang memiliki kesaktian itu menjadi sakit hati, dan mendendam kepada Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama.
Hanya saja, mereka tidak mampu berbuat sesuatu karena Raja dan Patih Kahuripan itu sakti mandraguna, memiliki banyak senopati yang sakti, didukung pula oleh para satria yang setia kepada Kahuripan, serta memiliki pasukan yang kuat.
Maka, ketika Linggawijaya, Adipati Wengker datang berkunjung dan menawarkan kerjasama, mereka menyambutnya dengan gembira.
Timbul pula harapan baru dalam hati mereka untuk dapat membalas dendam dan menghancurkan Kahuripan, apalagi kini mereka menganggap Kerajaan Wengker menjadi kuat setelah adipatinya baru, yaitu Linggawijaya yang dulu pernah pula mengadakan hubungan gelap dengan Lasminil Hal ini diceritakan dalam kisah Sang Megatantra.
Baik Lasmini maupun Mandari sudah tahu akan kesaktian Linggawijaya yang dulu bernama Linggajaya, murid Resi Bajrasakti itu.
Sejak diusir dari Kahuripan, Lasmini dan Mandari kembali ke Parang Siluman dan membantu Ratu Durgamala, ibu mereka yang janda, mengurus Kerajaan Parang Siluman.
Dua orang puteri itu setelan diusir dari Kahuripan, menuruti watak mereka yang cabul seperti ibu mereka.
Mereka adalah hamba-hamba dari nafsu mereka sendiri, dan setelah berpisah dari Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang menjadi suami mereka, kakak beradik ini tidak tahan untuk hidup sendiri tanpa pria.
Mulailah mereka mengumbar nafsu, mencari dan berganti-ganti kekasih karena mereka memang pembosan.
Ibu mereka, Ratu Durgamala, membiarkan saja kelakuan dua orang pulennya karena ia sendiripun berwatak seperti itu.
Berpisah dari suaminyat yang kini menjadi Bhagawan Kundolomuko, Ratu Durgamala juga berganti-ganti kekasih, pemuda-pemuda tampan.
Bahkan ibu dan dua orang puterinya itu kini menjadi penyembah-penyembah Bathari Durga, agama yang dipimpin oleh bekas suami ratu itu sendiri, yaitu Bhagawan Kundolomuko.
Mereka juga menambah ilmu mereka dengan Ilmu sihir yang menjadi keistimewaan Bhagawan Kundolomuko sebagai penyembah Bathari Durga.
Pada waktu itu, Kerajaan Parang Siluman yang sebetulnya wilayahnya lebih kecil dibandingkan Wengker atau Wura-wuri, merupakan kerajaan kecil atau kadipaten yang kuat karena memiliki banyak orang yang sakti mandraguna.
Ratu Durgamala sendiri adalah seorang janda cantik yang sakti.
Kedua orang puterinya, Lasmini dan Mandari, juga memiliki tingkat kepandaian yang bahkan lebih tinggi dibandingkan tingkat ibu mereka.
Masih ada lagi bekas suami Sang Ratu, yaitu Bhagawan Kundolomuko yang kini menjadi Ketua Agama Durgadharma di kerajaan itu.
Juga masih diperkuat oleh Ki Nagakumala, yaitu kakak kandung Ratu Durgamala yang juga memberi gemblengan kesaktian kepada Lasmini dan Mandari, dua orang keponakannya.
Ki Nagakumala ini adalah bekas suami Ratu Mayang Gupita dari Kerajaan Siluman Laut Kidul.
Maka, biarpun Kerajaan Parang Siluman tidak berapa besar, pasukannya yang tidak besar jumlahnya itu amat kuat karena para perajuritnya membentuk pasukan-pasukan siluman yang pandai menyerang dengan ilmu sihir dan tenung.
Demikianlah sepintas keadaan Kerajaan Parang Siluman dengan para tokohnya yang sejak turun-temurun menjadi musuh keturunan Mataram yang sekarang menjadi Kerajaan Kahuripan.
Maka, kunjungan Adipati Linggawijaya dari Kerajaan Wengker tentu saja disambut gembira oleh para pimpinan Parang Siluman, terutama sekali Ratu Durgamala dan kedua orang puterinya, Lasmini dan Mandari.
Mereka menyambut adipati muda yang tampan itu dengan pesta.
Kebetulan sekali pada malamnya adalah malam bulan purnama dan seperti biasa, pada bulan purnama diadakan upacara pemujaan Bathari Durga.
Sambil berpesta, Adipati Linggawijaya disuguhi tari-tarian yang menggairahkan, bahkan dalam kesempatan itu, Puteri Lasmini dan Mandari yang cantik molek itu memamerkan kepandaian mereka menari.
Dengan pakaian indah namun menggairahkan karena pakaian tembus pandang itu membuat tubuh mereka yang menggairahkan, dengan lekuk-lengkung sempurna itu tampak jelas.
Apalagi tariari yang dilakukan dengan tubuh yang lentur dan indah itu menggeliat-geliat bagaikan ular kepanasan, membuat Linggawijaya yang menonton menjadi terangsang.
Ditambah lagi dengan minuman keras yang memabokkan.
Akan tetapi, dia tidak mempunyai pilihan lain karena sejak dia datang, Ratu Durgamala sudah mengambil keputusan untuk tidak menyia-nyiakan kehadiran adipati yang gagah dan tampan ini untuk diajak bersenang-senang setelah ada persetujuan bekerjasama menghancurkan Kahuripan.
Sehabis pesta malam itu, Ratu Durgamala menyekap Linggawijaya dalam kamarnya.
Lasmini dan Mandari tentu saja harus mengalah terhadap ibunya dan mereka mencari pasangan lain terdiri dari para pemuda yang selalu siap untuk melayani mereka.
Sampai tiga hari tiga maiam Adipati Linggawijaya tinggal di Istana Parang Siluman.
Selain setiap hari bersenang-senang dengan Ratu Durgamala dan kedua orang puterinya, Linggawijaya juga mengadakan perundingan untuk mengadakan pertemuan besar antara semua kadipaten atau kerajaan kecil yang menentang Kahuripan.
Setelah itu, dia lalu melanjutkan perjalanannya ke Kadipaten Siluman Laut Kidul.
Dibandingkan tiga buah kerajaan lain, yaitu Kerajaan Wengker, Kerajaan Wura wuri, dan Kerajaan Parang Siluman, maka kerajaan di tepi laut yang disebut Kerajaan Siluman Laut Kidul dapat dibilang kecil.
Daerahnya tidak luas, hanya sepanjang pantai sampai ke pegunungan, memanjang dari barat ke timur, di sebelah timur Kerajaan Parang Siluman.
Namun, kerajaan ini dipimpin keluarga seperguruan yang sakti mandraguna.
Ratu Mayang Gupita yang menjadi penguasa di Kerajaan Siluman Laut Kidul terkenal sekali dan disegani para pimpinan kerajaan lain.
Ia seorang wanita berusia sekitar lima puluh dua tahun, dapat disebut seorang raseksi (raksasa wanita) karena tubuhnya tinggi besar dengan perut gendut.
Wajahnya menyeramkan, berbentuk serba bulat dan besar, baik itu matanya, hidungnya, telinganya atau mulutnya.
Bahkan di kedua sudut bibirnya tampak taring menonjol.
Wanita tua dan jelek rupanya ini mewah sekali.
Tubuhnya mengenakan pakaian yang serba indah dan perhiasan emas permata memenuhi kaki tangan dan lehernya.
Juga lagaknya genit seperti seorang perawan manja.
Akan tetapi ia sakti mandraguna, juga terkenal kejam terhadap musuh-musuhnya.
Ratu Mayang Gupita telah janda, bercerai dari suaminya yang bukan lain adalah Ki Nagakumala, kakak Ratu Durgamala dari Parang Siluman yang juga menjadi guru Puteri Lasmini dan Mandari.
Biarpun kini Ki Nagakumala berada di Parang Siluman dan membantu adiknya, namun hubungannya dengan bekas isterinya, masih tetap baik karena keduanya mempunyai musuh yang sama, yaitu Kerajaan Kahuripan.
Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul ini tidak mempunyai anak, dan sesungguhnya sejak muda ia tidak begitu suka kepada pria, karena tidak pernah ada pria mengaguminya.
Pernikahannya dahulu dengan Ki Nagakumala juga hanya untuk menyatukan kedua kerajaan agar kedudukan mereka kuat.
Akan tetapi karena ratu raseksi yang biarpun pesolek dan genit ini tidak suka kepada pria, maka pemihakan itu akhirnya gagal dan ia bercerai dari suaminya yang lebih suka bermesraan dengan wanita lain daripada dengan isterinya yang berwajah menyeramkan itu.
Ratu Mayang Gupita memerintahkan Kerajaan Siluman Laut Kidul dengan tangan besi.
Ia dibantu tiga orang yang juga sakti mandraguna dan bersama Sang Ratu, mereka merupakan keluarga seperguruan yang kesemuanya selain ahli ilmu kanuragan, juga pandai ilmu sihir.
Yang pertama adalah paman guru dari Sang Ratu bernama Bhagawan Kalamisani.
Kakek ini berusia enam puluh lima tahun dan menjadi guru sihir Ratu Mayang Gupita.
Tubuhnya kurus kecil dan bongkok, mirip Sang Bhagawan Durna dari kisah wayang Maha Bharata.
Akan tetapi kakek ini merupakan lawan yang amat berbahaya karena memiliki bermacam-macam ilmu sihir yang dahsyat.
Orang ke dua adalah Ki Naga jaya yang berusia empat puluh lima tahun, bertubuh kecil kurus.
Dia adalah adik seperguruan Ratu Mayang Gupita, ahli bersilat dengan senjata ruyung dan juga pandai bermain sihir.
Orang ke tiga adalah Ki Nagarodra, adik dari Nagajaya, berusia empat puluh tahun dan tubuhnya tinggi besar.
Senjatanya sebuah klewang (golok) dan seperti kakaknya, dia pun ahli sihir dan menjadi adik seperguruan Sang Ratu.
Demikianlah, empat orang anggauta keluarga seperguruan ini yang menjadi pemimpin di Kerajaan Siluman Laut Kidul.
Tentu saja masih banyak terdapat para senopati dan perwira yang memimpin pasukan kerajaan itu.
Biarpun jumlah pasukan Kerajaan Siluman Laut Kidul tidak besar, hanya kurang lebih lima ribu orang saja, namun pasukan ini dapat membentuk barisan yang mengandung daya sihir sehingga dapat melawan musuh yang jumlahnya lebih besar daripada jumlah mereka.
Di dalam Kisah Sang Megatantra, Kerajaan Siluman Laut Kidul juga ikut bersekutu dengan tiga kerajaan lain.
Namun gerakan mereka yang sekongkol dengan pemberontak di Kahuripan telah mengalami kegagalan.
Hal ini menambah perasaan dendam dan benci dalam hati para pimpinan Kerajaan Siluman Laut Kidul kepada Kahuripan.
Karena itu, ketika Adipati Linggawijaya dari Wengker datang berkunjung, tentu saja Ratu Mayang Gupita dan tiga orang pembantunya menyambut dengan gembira.
Mereka lalu mengadakan pesta penyambutan yang meriah untuk menghormati Adipati Linggawijaya.
Setelah berpesta pora, disuguhi tarian menggairahkan dari penari-penari wanita muda belia yang cantik-cantik, mereka lalu mengadakan perundingan di dalam ruangan tertutup.
Di sini, Adipati Linggawijaya dan empat orang penguasa Kerajaan Siluman Laut Kidul itu membuat rencana untuk bersama-sama menghancurkan Kerajaan Kahuripan.
Seperti yang telah dia rundingkan dan setujui dengan Kerajaan Parang Siluman, Adipati Linggawijaya menyampaikan undangan agar Ratu Mayang Gupita menghadiri rapat besar yang akan diadakan di Kerajaan Wengker pada malam bulan purnama siddhi.
Rapat itu akan dihadiri oleh Kerajaan Wengker sebagai tuan rumah, Kerajaan Wura-wuri, Parang Siluman, dan Siluman Laut Kidul.
Juga akan hadir penguasa daerah-daerah kecil yang secara terang-terangan atau diam-diam menentang kekuasaan Kerajaan Kahuripan.
Setelah mengadakan perundingan yang memuaskan kedua pihak, Adipati Linggawijaya bermalam di Kerajaan Siluman Laut Kidul dan pada keesokan harinya dia kembali ke Kerajaan Wengker, dikawal dua losin perajurit yang selalu mengawalnya dalam perjalanannya mengunjungi Parang Siluman dan Siluman Laut Kidul.
Pada waktu yang bersamaan, Dewi Mayangsari yang juga dikawal dua losin perajurit pilihan, melakukan kunjungan ke Kerajaan Wura-wuri di daerah timur.
Perjalanan yang dilakukan Dewi Mayangsari ini lebih jauh daripada perjalanan yang dilakukan suaminya, Adipati Linggawijaya yang mengunjungi dua kerajaan lain.
Bahkan perjalanan Dewi Mayangsari ini cukup berbahaya karena ia harus melewati daerah kekuasaan Kerajaan Kahuripan.
Kedatangan Dewi Mayangsari sebagai Permaisuri Kerajaan Wengker diterima dengan senang oleh Adipati Bhismaprabhawa dan permaisurinya, yaitu Nyi Dewi Durgakumala.
Karena Kerajaan Wengker dianggap sebagai kawan lama dan sekutu Wura-wuri dalam perjuangan mereka menentang Kerajaan Kahuripan, maka kunjungan Dewi Mayangsari disambut dengan hormat dan dengan pesta besar.
Adipati Bhismaprabhawa, didampingi isterinya, Nyi Dewi Durgakumala, dan empat orang senopatinya, yaitu Kala Muka, Kala Manik, Kala Teja yang dikenal sebagai Tri Kala (Tiga Kala), dan Ki Gandarwo, senopati muda tampan gagah yang menjadi kekasih gelap Nyi Dewi Durgakumala, mengelu-elukan tamu mereka yang dihormati itu.
Ketika Dewi Mayangsari menyampaikan niat ia dan suaminya untuk mengadakan rapat pertemuan dengan semua kadipaten yang menentang Kahuripan dan memperbarui persekutuan dan usaha mereka, Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala menyambut gembira.
Mereka lalu mengambil keputusan untuk mengadakan rapat besar itu pada malam bulan purnama siddhi di Wengker.
Setelah perundingan itu diterima dan disetujui kedua belah pihak, mereka lalu bicara tentang Nyi Lasmi yang gagal dibawa ke Wura-wuri.
"Sungguh sayang sekali pengiriman kami, yaitu Nyi Lasmi, ke Wura-wuri digagalkan Ki Patih Narotama! Kami tahu bahwa Nyi Lasmi merupakan orang penting bagi Wura-wuri, karena dengan wanita itu sebagai sandera, tentu akan mudah menundukkan Puspa Dewi."
Kata Dewi Mayangsari.
"Hemm, memang menggemaskan sekali Puspa Dewi itu. Bocah yang tidak mengenal budi! Sejak kecil kudidik dan kusayang sebagai anakku sendiri, kuangkat ia menjadi Sekar Kedaton di kerajaan ini, ternyata ia malah berkhianat sehingga usaha kita merobohkan Kahuripan gagal Memang, kalau Nyi Lasmi berada di tangan kami, kami akan dapat memaksa anak kurang ajar itu untuk kembali ke sini."
"Kembali Ki Patih Narotama yang menggagalkan usaha kita. Karena itu, sekali ini kita harus benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan Kahuripan."
Kata Dewi Mayangsari.
"Ki Patih Narotama itu memang jahat sekali, akan tetapi harus diakui bahwa dia sakti mandraguna. Maka, dalam rapat besar nanti kita harus dapat mencari siasat yang paling baik dan ampuh untuk menghancurkan Narotama dan Erlanggal"
Kata Nyi Dewi Durgakumala dengan gemas.
"Kalau kita hanya mengandalkan kekuatan melawan mereka berdua, tentu kita akar gagal. Kita menyusun dan menyatukan semua kekuatan kita, lalu membuat rencana siasat yang baik, baru kita dapat berhasil dengan gebrakan-gebrakan yang mengejutkan."
Setelah mengadakan perundingan yang kesemuanya ditujukan untuk menghancurkan Kahuripan, Dewi Mayangsari lalu mengajak pasukan pengawalnya pulang ke Kerajaan Wengker.
Setibanya di Wengker, ia melihat suaminya, Adipati Linggawijaya sudah pulang.
Mereka lalu membuat persiapan untuk mengadakan pertemuan dan rapat besar di antara para pemerintah daerah yang sehaluan.
Malapetaka itu datang bagaikan mendung hitam tebal di musim kemarau.
Datang pada malam terang bulan.
Tadinya, bulan bersinar penuh dan tiba-tiba saja, menjelang tengah malam, muncul awan mendung yang demikian tebalnya sehingga cuaca di kota raja Kahuripan menjadi hitam pekat dan gelap gulita.
Sesuatu yang luar biasa terjadi.
Ketika mendung mulai menyembunyikan bulan dan bintang di baliknya, malam hitam mulai merayap, angin semilir dan semua orang yang belum tidur tiba-tiba merasa gelisah.
Bulu tengkuk mereka meremang dan ada perasaan ngeri menyerang perasaan hati mereka.
Angin lembut yang meniup atap rumah-rumah dan pohon-pohonan menimbulkan suara berkelisik dan berbisikbisik seperti para lelembut keluar berkeliaran dan saling bicara dalam bahasa yang seperti mendesis-desis.
Dan, tanpa mereka rasakan, orang-orang yang belum tidur itu tahu-tahu telah tertidur pulas.
Tidur yang tidak wajar karena mereka yang sedang duduk, tertidur begitu saja sambil duduk.
Bahkan para perajurit yang melakukan tugas jaga, semua tertidur pulas.
Yang berjaga sambil duduk, bahkan yang berdiri pun kini tertidur sambil bersandar kepada dinding gardu penjagaan.
Tidak terkecuali, di dalam Istana Kerajaan Kahuripan, suasana menjadi sunyi sekali karena semua orang tertidur pulas.
Bukan hanya para dayang dan abdi, bahkan para perajurit pengawal, semuanya tertidur.
Ada beberapa orang perwira pasukan pengawal yang memiliki aji kanuragan, tiba-tiba menyadari bahwa mereka terserang semacam hawa yang amat kuat pengaruhnya, yang membuat tubuh mereka menjadi lemas dan mata mereka tiba-tiba mengantuk sekali.
Mereka segera menyadari bahwa ada kekuatan sihir Aji Panyirepan tengah menyerang mereka.
Cepat mereka mengerahkan tenaga batin mereka untuk menolak serangan ini.
Akan tetapi, kekuatan serangan Aji Panyirepan itu kuat bukan main dan datangnya bergelombang sehingga usaha mereka untuk bertahan gagal.
Semua pertahanan mereka bobol dan mereka pun jatuh tertidur pulas seperti yang lain.
Dua orang yang sakti di kota raja Kahuripan itu, yaitu Sang Prabu Erlangga sendiri dan Ki Patih Narotama, juga tidur pulas.
Andaikata penyerangan Aji Panyirepan itu datang pada saat mereka berdua belum tidur, tentu mereka akan mampu menolaknya.
Akan tetapi karena tidak menduga akan datangnya serangan Ini, mereka telah tidur pulas ketika gelombang Aji Panyirepan itu datang menyerang seluruh kota raja Kahuripan sehingga raja dan patihnya yang sakti ini pun tidak mengetahui apa yang terjadi.
Mereka tidur pulas seperti biasa.
Gedung pusaka kerajaan berada di sebelah kiri Istana Kahuripan.
Gedung pusaka ini menyimpan pusaka-pusaka yang dikeramatkan, pusaka-pusaka peninggalan Kerajaan Syailendra dan Kerajaan Mataram yang kemudian menurunkan Kerajaan Kahuripan.
Karena gedung pusaka ini merupakan tempat yang amat penting, maka selalu dijaga oleh pasukan pilihan terdiri dari tiga losin perajurit dipimpin oleh dua orang perwira tinggi yang memiliki kesaktian.
Para perajurit itu selalu berjaga secara bergantian di sekeliling gedung pusaka itu sehingga tidak memungkinkan pencuri dapat memasuki gedung.
Pada malam yang penuh rahasia itu, malam bulan purnama tanpa bulan, tiga losin perajurit itu pun tidak dapat terhindar dari gelombang pengaruh Aji Panyirepan itu.
Karena mereka merupakan perajurit pilihan, maka mereka pun merasakan adanya pengaruh kuat yang menyerang mereka.
Mereka mencoba untuk bertahan akan tetapi tidak lama mereka dapat melawan pengaruh itu.
Mereka segera tidur dan biarpun perlawanan membuat mereka gelisah dan bergerak dalam tidur, namun akhirnya mereka pulas juga.
Dua orang perwira tinggi yang bertugas memimpin penjagaan malam itu, juga memiliki aji kesaktian.
Mereka juga terserang gelombang itu dan bersikeras menahan diri dan melawan.
Mereka bangkit berdiri, terhuyung dan mengerahkan seluruh kekuatan batin mereka untuk melawan rasa kantuk yang amat menekan mereka.
"Ha-ha-hal"
Tiba-tiba di depan mereka tampak seorang raksasa berusia sekitar enam puluh tahun, gagah perkasa bermuka merah berpakaian indah, tangan kiri memegang sebatang gendewa (busur) besar dan di punggungnya tergantung belasan batang anak panah dalam sebuah bumbung.
Kakek ini bukan lain adalah Dibya Krendasakti, penguasa Pulau Nusa Barung.
Dia sedang melaksanakan tugas yang dia janjikan kepada Nini Bumigarbo untuk mencuri Cupu Manik Maya, sebuah di antara pusaka-pusaka Kerajaan Kahuripan.
Dengan pengerahan Aji Panyirepan yang kuat, dia telah membuat semua perajurit sebanyak tiga losin yang berjaga di gedung pusaka tertidur, kecuali dua orang perwira tinggi pemimpin mereka yang masih dapat bertahan terhadap pengaruh Aji Panyirepan.
Dibya Krendasakti sempat terheran-heran karena dia juga merasakan adanya hawa yang amat kuat dari Aji Panyirepan yang menguasai seluruh kota raja Kahuripan!
Padahal dia hanya mengerahkan ajiannya itu kepada mereka yang berada di gedung pusaka dan sekitarnya.
Melihat dua orang perwira tinggi Itu belum juga terpengaruh, dia muncul di depan mereka.
Dua orang perwira tinggi itu memang udah curiga dan menduga bahwa ada orang yang berniat jahat sedang melepas Aji Panyirepan, maka begitu melihat kakek pembawa gendewa itu berdiri di depan mereka, tanpa banyak cakap lagi mereka berdua mencabut pedang dan menyerang Dibya Krendasakti.
Kakek ini tertawa, gendewa di tangan kirinya bergerak.
"Trang...! Trang....!"
Dua batang pedang itu terlepas dari tangan dua orang perwira itu saking kuatnya tangkisan gendewa dan membuat telapak tangan yang tadi memegang pedang menjadi lecet terkelupas kulitnya.
Selagi kedua orang perwira itu terkejut dan melangkah ke belakang, Dibya Krendasakti sudah mendorongkan tangan kanannya ke depan.
"Wuuuuusssshhhh...!"
Angin yang kuat sekali bertiup dan tubuh dua orang perwira itu terlempar, terjengkang dan terbanting roboh.
Mereka tak mampu bangkit kembali karena seketika pingsan!
Dibya Krendasakti lalu memasuki pendapa gedung pusaka, menghampiri pintu depan.
Dengan mudah dia membuka daun pintu yang terbuat dari kayu tebal dan berat itu, lalu memasuki tempat yang biasanya merupakan daerah terlarang dan terjaga ketat itu dengan santai.
Terdapat banyak benda pusaka di dalam gedung itu.
Tombak, perisai, pedang, keris, penggada, busur dan anak panah, dan banyak senjata lain.
Juga ada benda-benda bekas milik para raja jaman dahulu yang dikeramatkan dan menjadi benda pusaka.
Akan tetapi, pusaka-pusaka yang paling penting dan dekat dengan Sang Prabu Erlangga, tentu saja berada di kamar raja di istana.
Adapun benda-benda pusaka yang paling dipuja dalam gedung itu, berada di tempat khusus terbuat dari almari kayu terukir indah.
Di antara pusaka yang dianggap penting dan diistimewakan itu terdapat Cupu Manik Maya, sebuah cembul atau semacam cawan terbuat dari emas yang bertaburkan intan amat indahnya.
Benda pusaka itu mengeluarkan sinar gemilang dan tampak seperti ratu dari semua benda yang terpajang dalam almari itu.
Dibya Krendasakti yang sudah mendapat gambaran dari Nini Bumigarbo tentang cupu itu, terkekeh girang dan dia segera menjulurkan tangan untuk mengambil benda pusaka itu.
Akan tetapi dia terkejut dan menarik kembali tangannya karena ketika tangan itu tiba dekat dengan Cupu Manik Maya, dia merasa betapa tangannya tergetar hebat.
Dia memandang kagum dan segera dia mengerahkan perhatiannya, merangkap kedua tangan seperti sembah ke depan hidungnya, lalu mengerahkan tenaga saktinya dan menjulurkan kembali tangannya.
Kini dia menggunakan kedua tangan setelah mengalungkan gendewanya di lehernya, Dia dapat menangkap Cupu Manik Maya dengan kedua tangannya, cepat memasukkannya ke dalam kain kuning yang diikatkan ke depan dada, lalu keluar dengan cepat dari gedung pusaka.
(Lanjut ke
Jilid 17) Nurseta Satria Karang Tirta (seri ke 02 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17 Betapa pun sakti mandraguna juragan dari Pulau Nusa Barung ini, dia dapat merasakan bahwa dia memasuki tempat yang amat berbahaya dan sama sekali tidak boleh dipandang rendah.
Setelah tiba di luar gedung pusaka, kembali dia dapat merasakan bahwa ada getaran pengaruh yang kuat sedang melanda hawa udara di Kahuripan.
Dia tidak mau mencampuri dan segera menggunakan kepandaiannya, berlari cepat menghilang di dalam kegelapan dan tak lama kemudian dia sudah keluar dari kota raja Kahuripan.
Ketika dia melihat betapa sunyinya kota raja itu, dan mendengar lolong anjing saling bersahutan, mendengar kelepak sayap banyak kelelawar dan bercicitnya burung malam dan burung hantu, tahulah dia bahwa malam itu banyak orang yang memiliki ilmu sihir yang amat kuat sedang merajalela di situ.
Dia cepatcepat pergi menuju pulang ke Pulau Nusa Barung.
Memang, firasat yang dirasakan Sang Empu Bharada beberapa waktu yang lalu benar-benar terjadi pada malam bulan purnama yang gelap ini.
Malapetaka datang beriringan.
Sungguhpun tidak ada janji atau kerja sama, namun secara kebetulan sekali malam itu Dibya Krendasakti melaksanakan janjinya mencuri pusaka Cupu Manik Maya justru pada malam yang ditentukan oleh persekutuan empat kerajaan Wengker, Wura-wuri, Parang Siluman, dan Siluman Laut Kidul bersama beberapa buah kadipaten kecil lainnya!
Maka, Dibya Krendasakti merasakan adanya hawa yang aneh menggetarkan dan menguasai seluruh kota raja Kahuripan.
Inilah pula sebabnya mengapa Aji Panyirepan Dibya Krendasakti demikian ampuh sehingga seolah ajiannya itu mempengaruhi seluruh penduduk kota raja itu!
Padahal sesungguhnya, bukan hanya Krendasakti yang mengerahkan Aji Panyirepan pada malam hari itu, melainkan banyak sekali tokoh sakti dari persekutuan itu juga mengerahkan Aji Panyirepan mereka sehingga seluruh penghuni kota raja itu terpengaruh, kecuali mereka yang memang memiliki kekuatan batin yang kuat sehingga tidak terpengaruh.
Akan tetapi karena pada malam hari itu, selain cuaca gelap pekat, juga hawanya dingin, maka semua orang, baik yang terpengaruh sihir maupun yang tidak, telah jatuh pulas.
Di sebuah rumah yang terletak di sebelah belakang kompleks istana, tiba-tiba terdengar tangis bayi.
Anak yang baru berusia satu tahun itu menangis.
Dia tidak terpengaruh kekuatan sihir dan anak-anak yang jiwanya belum tertutup nafsu daya rendah menjadi peka.
Ada sesuatu yang membuat bayi itu menangis, bukan tangis karena ulah hati pikiran, melainkan tangis yang tidak dapat dicari penyebabnya oleh akal pikiran.
Tangis yang nyaring ini memiliki getaran yang melemahkan pengaruh Aji Panyirepan sehingga penghuni rumah itu yang mendengar tangis ini, yaitu ayah, ibu, dan dua orang kakaknya, terbangun dari tidur.
Akan tetapi pada saat itu, banyak bayangan orang menyelinap dari rumah ke rumah dan mereka menyebarkan kembang dan rempa-rempa ke atas atap setiap rumah.
Terdapat sedikit pasir di antara bunga-bunga itu.
Rumah di mana penghuninya terbangun dari tidur oleh tangis anak berusia setahun Itu Juga tidak luput dari lemparan kembang pasir dan rempa-rempa Itu.
Tlba-tiba ibu yang kini memondong anak yang berhenti menangis, mengeluh dan terhuyung.
Suaminya terkejut dan merangkulnya, akan tetapi dia pun mengeluh dan merasa kepalanya pening seperti dipukul.
Juga dua orang anak mereka, berusia dua belas dan tujuh tahun, yang tadinya masih tidur, mengeluh dan menjadi gelisah, mengatakan bahwa kepala mereka pening dan perut mereka mulas.
Ayah dan dua orang anaknya yang sudah agak besar itu terserang penyakit dengan tiba-tiba dan hanya anak berusia setahun itu saja yang tidak jatuh sakit.
Dan hal aneh seperti ini terjadi hampir di setiap rumah yang dilempari bunga-bunga sebagai sarana penyerangan melalui sihir seperti santet atau tenung Yang bertugas melakukan penyebaran santet yang mendatangkan wabah penyakit ini adalah orang-orang Kerajaan Siluman Laut Kidul yang dipimpin Bhagawan Kalamisani yang ahli sihir itu.
Juga pada saat yang bersamaan, dan hal ini memang sudah diatur dan direncanakan sebelumnya, terjadi hal yang gawat di Istana Sang Prabu Erlangga dan Gedung Kepatihan tempat tinggal Ki Patih Narotama.
Dua bayangan orang yang gerakannya tiada ubahnya dua mahluk golongan iblis karena hanya tampak bayangan-bayangan itu berkelebat memasuki istana yang sudah tidak ada penghuninya yang tidak tidur.
Setelah tiba di ruangan dalam di mana terdapat lampu-lampu penerangan dan dua bayangan berhenti dan berdiri diam, tampak bahwa mereka itu adalah Puteri Mandari dari Parang Siluman yang cantik jelita, bersama Resi Bajrasakti, datuk Wengker yang seperti raksasa brewok hitam itu.
Puteri Parang Siluman dan Datuk Wengker ini adalah dua orang yang memiliki kesaktian tinggi dan Mandari yang pernah menjadi selir Sang Prabu Erlangga dan tinggal di dalam istana, bertugas untuk membunuh Sang Prabu Erlangga, dibantu oleh Sang Resi Bajrasakti.
Mereka baru berani bergerak setelah para tokoh sakti dari Wengker, Wura-wuri, Parang Siluman, dan Siluman Laut Kidul menghimpun kekuatan sihir mereka dan menyebarkan Aji Panyirepan sehingga pengaruh kekuatan sihir itu kuat bukan main dan akibatnya, seluruh penghuni kota raja Kahuripan jatuh pulas Di dalam rapat besar persekutuan yang menentang Kahuripan itu, telah dibagi-bagi tugas kepada para tokoh yang sakti.
Puteri Mandari malam itu bertugas memasuki istana Kahuripan dan melakukan pembasmian terhadap penghuni istana, termasuk Sang Prabu Erlangga.
Akan tetapi karena semua tokoh itu yakin akan ketinggian ilmu-ilmu Sang Prabu Erlangga yang sakti mandraguna dan sukar dikalahkan, maka Puteri Mandari diperingatkan agar jangan sekali-kali mencoba membunuh Sang Prabu Erlangga secara langsung.
Begitu memasuki istana dan melihat keadaan istana yang mewah, di mana ia pernah tinggal sebagai selir terkasih, timbul iri hati dan penyesalan di hati puteri itu karena ia terpaksa meninggalkan istana itu.
Melihat empat orang perajurit pengawal duduk bersandar dinding dalam keadaan tidur, Mandari menghampiri mereka dan empat kali tangan kirinya menyambar, mengenai kepala empat orang perajurit itu dan mereka berempat tidak akan dapat bangun kembali karena tamparan yang tampaknya tidak keras itu telah menghancurkan isi kepala dan mereka tewas seketika!
"Puteri Mandari, mari kita cepat melaksanakan tugas kita, membakar istana seperti telah direncanakan."
Bisik Resi Bajrasakti. Memang menurut rencana mereka harus membakar istana agar semua penghuni yang tertidur di dalam akan mati terbakar semua, berikut Sang Prabu Erlangga kalau mungkin.
"Nanti dulu, Paman Resi, aku belum puas kalau tidak membunuh mereka dengan tanganku sendiri!"
Bisik kembali Puteri Mandari. Resi Bajrasakti mengerutkan alisnya, dan menggeleng kepalanya.
"Itu berbahaya sekali! Sudah diputuskan dalam rapat bahwa kita tidak boleh sembrono (gegabah) terhadap Sang Prabu Erlangga!"
"Jangan khawatir. Aku tidak akan mencoba untuk membunuh dia, melainkan permaisuri dan putera-puteranya! Baru akan puas hatiku!"
Melihat kenekatan Mandari,.
Resi Bajrasakti menghela napas dan terpaksa mengikuti puteri itu yang menuju ke kamar di mana ia tahu para pangeran yang masih kecil-kecil itu tidur.
Ketika menuju ke kamar itu, setiap kali melihat perajurit pengawal atau pelayan yang tertidur, Puteri Mandari tidak melewatkan mereka sebelum turun tangan membunuh mereka.
Dalam waktu sebentar saja, tidak kurang dari lima belas orang perajurit pengawal dan pelayan telah tewas di tangan Mandari!
Akhirnya mereka tiba di depan kamar di mana dua orang pangeran, yaitu Pangeran Samara Wijaya yang berusia hampir lima tahun dan Pangeran Budidharma yang berusia sekitar empat tahun biasa tidur ditemani dua orang emban (inang pengasuh).
Dengan mudah Puteri Mandari mendorong daun pintu terbuka.
Ia hati-hati sekali karena maklum bahwa kamar di mana Sang Prabu Erlangga tidur, berada di samping kamar para pangeran itu.
Ia melihat dua orang emban telah tertidur di lantai kamar bertilamkan permadani, dan dua orang pangeran yang masih kecil itu tidur di atas sebuah pembaringan besar.
Mereka tidur berjajar dalam keadaan pulas.
Resi Bajrasakti mendongkol sekali melihat betapa Puteri Mandari melanggar tugas mereka dan membuat keadaan menjadi berbahaya.
Dia berbisik lirih sekali.
"Paduka lakukan sendiri, saya hendak melaksanakan pembakaran seperti direncanakan. Kalau selesai, harap Paduka cepat keluar."
Mandari mengangguk dan Resi Bajrasakti lalu keluar dari kamar dengan cepat.
Alat-alat untuk melakukan pembakaran memang sudah tersedia dan mulailah dia melakukan pembakaran pada bagian belakang istana, dekat kandang kuda di mana terdapat banyak jerami kering.
Sementara itu, Puteri Mandari cepat membunuh dua orang emban yang sedang pulas itu.
Mereka mati sebagai kelanjutan dari tidur mereka, tidak sempat terbangun.
Kemudian ia melangkah menghampiri pembaringan di mana kedua orang pangeran itu tidur pulas.
Akan tetapi kedua orang pangeran itu agaknya sudah dikehendaki oleh Sang Hyang Widhi Wasa untuk kelak menjadi raja melanjutkan kedudukan ayah mereka dan mungkin belum tiba waktunya mereka itu mati.
Atau mungkin juga jiwa kedua orang anak kecil itu masih bersih sehingga peka sekali.
Tiba-tiba saja kedua orang pangeran itu tersentak kaget dan terbangung dari tidur mereka.
Mereka terbelalak memandang kepada Puteri Mandari dan anehnya, melihat wajah Puteri Mandari yang cantik jelita itu agaknya mereka melihat wajah yang amat menyeramkan.
Mereka terbelalak dan menjerit-jerit sambil menangis.
"Kanjeng Rama... Kanjeng Ibu..."
Dua orang pangeran itu menjerit-jerit memanggii ayah ibunya. Puteri Mandari terkejut sekali.
"Keparat...!"
Ia memaki, akan tetapi ia juga ketakutan dan cepat melompat keluar dari kamar itu dan lari secepatnya menuju ke belakang istana di mana Resi Bajrasakti mulai melakukan pembakaran.
Sementara itu, di gedung kepatihan juga datang dua orang yang ditugaskan oleh persekutuan untuk mencelakai Ki Patih Narotama.
Dan siapa lagi yang mendapatkan tugas ini selain Puteri Lasmini yang cantik jelita, yang pernah menjadi selir tersayang Ki Patih Narotama dan tinggal di gedung kepatihan itu.
Ia tentu saja sudah tahu benar akan keadaan di gedung kepatihan dan selain itu, juga ia amat mendendam kepada Ki Patih Narotama sekeluarganya.
Karena itu maka Puteri Lasmini yang mendapatkan tugas itu dan untuk melaksanakan tugas berbahaya ini ia ditemani oleh Nyi Dewi Durgakumala sendiri, Permaisuri Wura-wuri.
Dengan demikian, para tokoh puncak dari Wengker, Wura-wuri, Parang Siluman, dan Siluman Laut Kidul pada saat yang sama malam Itu melakukan penyerangan secara serentak!
Seperti juga Mandari, Lasmini tahu benar bahwa tidak mungkin ia dapat membunuh Ki Patih Narotama begitu saja.
Ki Patih Narotama terlampau sakti baginya dan ia pun dapat menduga bahwa Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna itu tentu tidak akan dapat terpengaruh kekuatan sihir Aji Panyirepan.
Maka, tugasnya bersama Nyi Dewi Dur kumala adalah membinasakan Listyarini, isteri Narotama yang dulu menjadi madunya dan amat dibencinya, bersama putera mereka yang baru berusia setahun lebih beberapa bulan.
Putera tunggal itu diberi nama Joko Pekik Satyabudhi dan biasa disebut Joko Pekik.
Selain membunuh Listyarini dan Joko Pekik, juga Lasmini dan Nyi Dewi Durgakumala bertugas untuk melakukan pembakaran gedung kepatihan.
Dengan mudah Lasmini dan Nyi Durgakumala memasuki gedung kepatihan karena para perajurit yang berada di situ sudah tertidur dipengaruhi Aji Panyirepan mereka.
Dengan kejamnya Lasmini membunuh para perajurit pengawal yang sedang pulas sehingga mereka tewas tanpa dapat atau sempat mengeluarkan suara sedikit pun.
Juga Nyi Durgakumaia yang membenci Narotama ikut berpesta ria membantai puluhan orang perajurit pengawal itu.
Banjir darah terjadi malam itu di gedung kepatihan.
Akan tetapi, biarpun pembunuhan ini mereka lakukan dengan mudah karena sama sekali tidak mendapatkan perlawanan, tetap saja dua orang wanita cantik namun kejam seperti iblis itu bergerak dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara.
Bagaimanapun juga, keduanya tetap khawatir kalau-kalau Ki Patih Narotama akan terbangun sewaktu-waktu dan memergoki mereka.
Betapapun saktinya kedua orang wanita ini, mereka masih merasa gentar kalau harus berhadapan dengan Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna.
Mereka pun dapat menduga bahwa Ki Patih pasti tidak terpengaruh oleh Aji Panyirepan mereka dan berada dalam keadaan tidur yang wajar.
Lasmini yang sudah hafal akan keadaan di istana kepatihan itu, tahu benar di mana adanya kamar Listyarini, Isteri Ki Patih Narotama.
Maka ia langsung saja memasuki kamar itu.
Setelah membuka daun pintu kamar itu, ia hanya mendapatkan Joko Pekik Satyabudhi yang berusia kurang lebih satu setengah tahun tidur di atas pembaringan besar, pembaringan ibunya.
Yang menemaninya hanya dua orang pelayan wanita, yaitu Biyung Emban (Inang Pengasuh) dan seorang pelayan lain.
Dua orang pelayan ini pun tidur pulas terpengaruh Aji Panyirepan.
Akan tetapi tidak tampak Listyarini di dalam kamar itu.
Tempat tidurnya tidak ada bekas ditiduri.
Jelas bahwa Joko Pekik tidur seorang diri di pembaringan itu, dijaga Biyung Emban dan seorang pelayan yang tertidur di atas permadani.
Wajah Lasmini berubah merah dan matanya mencorong, hatinya panas, karena ia tahu benar apa artinya ini.
Ia sudah tahu akan kebiasaan Ki Patih Narotama yang selalu tidur seorang diri dalam kamarnya.
Kalau Listyarini tidak berada di kamarnya sendiri bersama anaknya, hal itu hanya berarti bahwa Listyarini tentu "mengungsi"
Ke kamar Patih Narotama, bertugas untuk menemani dan melayani suami tercinta!
Hati Lasmini yang sebenarnya masih mengandung perasaan cinta kepada bekas suaminya itu kini penuh dengan cemburu iri hati, yang membuat ia marah sekail.
Ia sudah melolos senjatanya yang ampuh, yaitu Cambuk Sarpokenoko dan mendekati tempat tidur, bermaksud membunuh Joko Pekik.
Akan tetapi Nyi Dewi Durgakumala menyentuh lengannya dan menggelengkan kepalanya.
"TERLALU enak kalau dibunuh,"
Bisiknya.
"Lebih baik kita culik, kelak dapat kita jadikan sandera untuk memaksa Narotama menyerah!"
Lasmini tersenyum dan mengangguk, la menyimpan kembali sabuknya dililitkan di pinggang.
Kemudian ia menggerakkan tangannya ke arah dua orang wanita pelayan itu yang tewas seketika tanpa sempat berteriak.
Kemudian, ia membungkuk dan menepuk ke arah punggung Joko Pekik, membuat anak yang sedang tidur itu pingsan lalu memondongnya.
Keduanya melangkah keluar dari gedung kepatihan tanpa menimbulkan suara.
Hati Lasmini kecewa karena tidak menemukah Listyarini di kamarnya sehingga ia tidak mampu membunuh bekas madu yang dibencinya itu.
Kalau Listyarini tidur bersama Ki Patih Narotama, tidak mungkin ia dapat atau berani mengganggunya.
Setelah tiba di luar gedung yang penuh mayat para perajurit itu, Lasmini dan Nyi Dewi Durgakumala lalu mulai melakukan pembakaran-pembakaran di sudut-sudut gedung.
Kota raja Kahuripan geger ketika terdengar bentakan-bentakan mengguntur.
Itulah lengkingan-lengkingan yang dilakukan oleh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama!
Dua orang sakti itu terkejut dan terbangun ketika terjadi kebakaran.
Mereka berdua segera merasakan adanya getaran asing yang amat kuat dan tahulah mereka bahwa ada kekuatan sihir menyerbu istana kediaman mereka.
Keduanya keluar dari kamar dan melihat para pelayan dan perajurit pengawal berserakan, tewas dalam keadaan mengerikan.
Tentu saja mereka terkejut dan cepat berkelebat keluar.
Setelah berada di luar dan mendapatkan seluruh kota raja dalam keadaan sepi, semua tersirep oleh hawa panyirepan yang kuat, dan melihat api mulai membakar sebagian tempat kediaman mereka, raja dan patih yang sakti mandraguna ini lalu mengerahkan kekuatan batin mereka mengeluarkan bentakan-bentakan melengking.
Suara mereka yang amat berpengaruh mengandung tenaga sakti itu membobolkan dan membuyarkan semua pengaruh Aji Panyirepan yang dikerahkan para penyerang dari musuh yang menyerbu.
Seketika pengaruh sihir itu hilang bagaikan awan tertiup angin.
Bahkan bentakan-bentakan membuat semua orang, termasuk para perajurit, yang tadinya tertidur karena sihir, kini tersentak bangun.
Tentu saja mereka segera berlarian keluar.
Para perwira segera mengerahkan para perajurit untuk menanggulangi kekacauan yang terjadi karena kebakaran-kebakaran pada istana raja dan gedung kepatihan.
Juga sebagian lagi dengan keadaan masih kacau menyambut penyerbuan ratusan orang perajurit yang berpakaian serba putih itu.
Inilah para perajurit yang membentuk Pasukan Siluman yang dipimpin oleh Bhagawan Kundolomuka.
Pasukan ini diperkuat ilmu hitam yang bersumber pada kekuasaan gelap atau iblis sehingga sepak terjangnya menggiriskan.
Bersama mereka muncul binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, kelabang, kelelawar dan sebagainya.
Para perajurit Kahuripan tentu saja ngeri melihat ini dan banyak di antara mereka roboh oleh serbuan beberapa ratus perajurit Pasukan Siluman itu.
Akan tetapi, Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama turun tangan.
Selain menyadarkan mereka yang terbius Aji Panyirepan, dua orang priya agung yang sakti ini memunahkan semua daya sihir yang menyerang pnra perajurit.
Daya sihir Aji Panyirepan itu memang luar biasa kuatnya karena dikerahkan banyak tokoh sesat, bahkan diperkuat pula oleh Aji Panyirepan yang dilepas Dibya Krendasakti secara kebetulan berbareng dengan penyerangan persekutuan yang memusuhi Kahuripan.
Bukan hanya para perajurit dan perwira saja yang tidak tahan dan terbius, bahkan para senopati yang cukup sakti dari Kerajaan Kahuripan tidak dapat menolaknya dan ikut pula jatuh pulas.
Di antara mereka itu termasuk Senopati Wiradana, Senopati Sindukerta, Tumenggung Jayatanu, Senopati Muda Yudajaya dan lain-lain.
Mereka semua ikut jatuh pulas dan baru mereka terbangun ketika Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama berhasil membuyarkan semua daya panyirepan yang ampuh itu.
Setelah terbangun dan berlari keluar, para senopati itu segera memimpin pasukan untuk menyambut serangan ratusan orang perajurit musuh yang berpakaian serba putih itu.
Karena maksud penyergapan malam itu hanya untuk mengadakan kekacauan dan usaha mereka berhasil baik, maka pimpinan Pasukan Siluman lalu memberi aba-aba kepada pasukannya untuk meninggalkan kota raja.
Bhagawan Kundolomuka dan para tokoh sakti lain tahu benar bahwa setelah kini Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama bersama para senopati keluar, keadaan mereka sebaliknya terancam bahaya.
Maka mereka cepat kabur meninggalkan kota raja yang masih berada dalam keadaan panik dan bingung karena jatuhnya banyak korban.
Apalagi karena musuh meninggalkan santet dan tenung yang menimbulkan wabah penyakit yang menular menggerayangi banyak korban, munculnya penyakit yang aneh dan berbahaya.
Setelah musuh melarikan diri, para senopati mengadakan pemeriksaan dan perhitungan.
Mereka terkejut sekali dan segera melaporkan keadaan yang mereka temukan kepada Sang Prabu Erlangga.
Juga Ki Patih Narotama merasa batinnya tertusuk ketika melihat semua penderitaan dan kerugian yang menimpa Kahuripan, terutama sekali hilangnya puteranya yang terculik.
Dia melaporkannya kepada Sang Prabu Erlangga yang juga merasa terpukul.
Setelah, dilakukan penelitian, maka kerugian mereka cukup hebat.
Pertama, Joko Pekik Satyabudhi, putera Ki Patih Narotama hilang diculik orang.
Ke dua, pusaka istana Cupu Manik Maya hilang pula dicuri orang.
Ke tiga, biarpun hanya sedikit, namun ada bagian Istana Sang Prabu Erlangga dan Gedung Kepatihan terbakar.
Ke empat, tidak kurang dari seratus orang perajurit dan belasan orang pelayan di kedua istana itu terbunuh.
Dan ke lima, Kahuripan mulai diserang wabah penyakit yang menewaskan banyak rakyat.
Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama pada pagi hari itu juga, mengadakan persidangan dan memanggil semua senopati dan perwira tinggi.
Wajah raja dan patih itu tampak agak muram, tanda bahwa mereka merasa prihatin sekali.
Setelah Sang Prabu menerima laporan lengkap tentang kerugian yang diderita akibat serangan semalam, dia lalu memerintahkan para senopati untuk melakukan penjagaan yang ketat karena agaknya kerajaan-kerajaan kecil yang memusuhi Kahuripan kini sudah mulai melakukan kegiatan mereka memusuhi Kahuripan lagi.
"Mereka sungguh tidak tahu diri,"
Kata Sang Prabu Erlangga.
"Selama ini kami bersikap lunak, memaafkan semua kejahatan mereka yang lalu, bahkan menjulurkan tangan mengajak hidup damai untuk menyejahterakan rakyat masing-masing. Ternyata mereka kembali mengacau dan mungkin mereka yang telah bersekutu Itu akan mengadakan serangan. Akan tetapi, melihat kekuatan sihir Aji Panyirepan mereka, harus diakui bahwa mereka agaknya memiliki banyak tokoh ahli sihir yang sakti sehingga bahkan para senopati tidak kuasa menolak kekuatan sihir mereka. Kami jadi teringat kepada dua orang muda sakti yang dapat diharapkan bantuan mereka, yaitu Nurseta dan Puspa Dewi. Paman Senopati Sindukerta, mengapa Nurseta tidak muncul ketika terjadi keributan semalam? Di mana dia?"
Senopati Sindukerta saling bertukar pandang dengan Tumenggung Jayatanu, lalu dia menyembah dan menjawab.
"Gusti Sinuwun, cucu hamba Nurseta beberapa hari yang lalu meninggalkan kota raja untuk mencari Niken Harni."
Sang Prabu Erlangga berpaling memandang kepada Senopati Yudajaya.
"Kakang Senopati Yudajaya, ke mana perginya puterimu Niken Harni? Dan di mana pula adanya Puspa Dewi yang juga tidak muncul malam tadi?"
"Mohon ompun, Gusti SInuwun. Belum lama Ini terjadi penculikan atas diri isterl hamba Nyi Lasmi, Ibu kandung Puspa Dewi, dilakukan oleh orang-orang Wengker. Puspa Dewi melakukan pengejaran, kemudian Nlken Harni juga melakukan pengejaran. Ternyata, atas pertolongan Gusti Patih, Nyi Lasmi dapat dibebaskan dari orang-orang Wengker dan diantar pulang oleh Puspa Dewi. Akan tetapi melihat adiknya, Ken Harni, belum pulang dan mendengar la melakukan pengejaran ke Wengker, Puspa Dewi merasa khawatir lalu melakukan pencarian ke sana. Demikianlah, Gusti SInuwun, maka malam tadi Puspa Dewi tidak muncul karena dia tidak berada di sini."
Sang Prabu Erlangga mengangguk-angguk.
"Dan Nurseta Juga pergi mencari Nlken Harni, Paman Senopati Sindukerta?"
"Benar, Gusti. Karena merasa khawatir akan keselamatan Niken Harni dan Puspa Dewi yang memasuki daerah Wengker yang berbahaya, maka cucu hamba Nurseta beberapa hari yang lalu pergi mencari mereka ke Kerajaan Wengker."
Sang Prabu Erlangga menghela napas panjang.
"Jagad Dewa Bathara! Agaknya memang sudah digariskan bahwa Kahuripan harus mengalami musibah ini sehingga ketika serangan ilmu hitam Itu datang, Nurseta dan Puspa Dewi yang dapat diandalkan tidak berada di sini."
"Hamba mohon ampun, Gusti Sinuwun, bahwa hamba semalam tertidur dan tidak dapat melakukan kewajiban hamba menjaga ketenteraman kota raja."
Kata Ki Patih Narotama dengan nada suara penuh penyesalan.
"Hemm, tidak ada yang bersalah melalaikan kewajiban dalam peristiwa semalam, Kakang Patih. Aku sendiri juga tertidur. Hal ini membuktikan bahwa musuh-musuh kita mempunyai ilmu kepandaian yang tinggi. Aku tidak menyalahkan Andika, Kakang, apalagi Andika sendiri telah kehilangan putera. Aku ikut prihatin bahwa Joko Pekik terculik. Tahukan Andika siapa kiranya yang menculik puteramu itu?"
"Kalau hamba tidak salah, bukan mustahil kalau Lasmini yang berada di belakang penculikan ini, Gusti."
"Kami kira tepat dugaanmu itu, Kakang. Aku sendiri mempunyai dugaan bahwa yang memasuki Istana tentulah Si Mandari. Kalau bukan ia, siapa lagi yang mampu memasuki istana dengan cara yang begitu diperhitungkan dan hati-hati sehingga aku sampai tidak terbangun karena tidak mendengar suara apa pun? Pasti Mandari dan Lasmini berada. di antara mereka yang semalam mengacau di kota raja."
Pada saat ini, seorang perajurit pengawal datang melapor bahwa di luar datang Puspa Dewi mohon diperkenankan menghadap.
Semua orang, termasuk Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama menjadi girang dan wajah mereka berseri mendengar laporan ini.
"Pengawal, cepat persilakan Puspa Dewi masuk menghadap!"
Kata Sang Prabu Erlangga.
Pengawal memberi hormat dan keluar.
Tak lama kemudian Puspa Dewi mematuki ruangan dan cepat menghaturkan hormat dengan sembah.
Tumenggung Jayatanu dan Senopati Yudajaya memandang dengan girang kepada cucu dan puterl mereka, akan tetapi karena mereka sedang menghadap Sang Prabu Erlangga, mereka pun diam laja dan hanya memperlihatkan kegembiraan hati mereka melalui seyum dan pandang mata.
"Ni Puspa Dewi, dari mana saja Andika? Ceritakan kepada kami bagaimana Andika pergi mencari Niken Harni."
Tanya Sang Prabu Erlangga. Puspa Dewi memandang kepada ayahnya dan kakeknya, maklum bahwa tentu Sang Prabu Erlangga telah mendengar dari mereka akan Kepergiannya mencari Niken Harni.
"Hamba telah berhasil memasuki Kerajaan Wengker dan mendengar keterangan dari Resi Bajrasakti bahwa adik hamba Niken Harni telah dibawa oleh Nini Bumigarbo."
"Ahh..."
Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama berseru kaget.
Mereka tahu siapa Ninl Bumlgarbo, seorang datuk wanita sakti mandraguna yang membenci guru mereka dan membenci mereka akan tetapi tidak berani turun tangan mengganggu mereka karena dilarang oleh Sang Bhagawan Ekadenta.
"Mengapa Niken Harni dibawa datuk wanita itu?"
Tanya Sang Prabu Erlangga..
"Hamba tidak tahu, Gusti. Juga para pimpinan Wengker tidak ada yang mengetahuinya."
"Ni Puspa Dewi, Wengker memiliki banyak orang sakti, juga adipatinya yang baru adalah Linggawijaya, permaisurinya Dewi Mayangsari yang kabarnya pernah digembleng oleh Nini Bumigarbo. Bagai mana Andika seorang diri dapat masuk kesana dengan leluasa dan selamat?"
"Sesungguhnya hamba mendapat perlindungan Sang Hyang Widhi, Gusti. Ketika hamba tiba di sana, Adipati Linggawijaya dan Dewi Mayangsari sedang tidak berada di Wengker. Hamba dikeroyok dan tentu akan terancam malapetaka kalau hamba tidak bertindak cepat. Hamba menangkap dan menyandera Tumenggung Suramenggala dan dengan cara itu hamba dapat keluar dari Wengker dengan selamat. Setelah mendengar bahwa Niken Harni dibawa Nini Bumigarbo, hamba masih berusaha mencarinya ke mana-mana. Namun hamba tidak berhasil menemukan jejak Niken Harni maupun Nini Bumigarbo."
"Hemm, tidak aneh. Nini Bumigarbo memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi."
"Karena tidak berhasil menemukan Niken Harni, hamba mengambil keputusan untuk pulang lebih dulu agar keluarga hamba tidak merasa khawatir. Begitu memasuki kota raja, hamba terkejut mendengar akan musibah yang menimpa kota raja. Hamba pulang dan mendengar dari kedua Ibu hamba dan Nenek bahwa Kanjeng Rama dan Kanjeng Eyang berada di sini menghadap Paduka, maka hamba lalu cepat menyusul ke sini. Hamba mohon maaf bahwa hamba tidak dapat membantu melawan musuh ketika serangan malam tadi datang, Gusti."
Ki Patih Narotama merasa kagum dan girang sekali melihat sikap dan ucapan gadis itu yang kini lembut dan penuh hormat, walaupun di dalam kelembutannya masih terkandung kekerasan hati.
Kiranya penggemblengan Maha Resi Satyadharma telah mengubah watak keras liar gadis itu dan menanamkan kebijaksanaan.
"Bukan kesalahan Andika atau kesalahan siapa pun, Ni Puspa Dewi. Semua telah terjadi dan kami yakin bahwa yang terjadi sudah dikehendaki Sang Hyang Widhi dan pasti mengandung hikmah yang dapat dipetik dan dimanfaatkan."
Ucapan Sang Prabu Erlangga ini mengandung maksud yang hanya dimengerti oleh dia dan Ki Patih Narotama.
Mereka berdua menyadari bahwa semua peristiwa ini merupakan akibat kesalahan tindakan mereka ketika mengambil Ni Lasmini dan Ni Mandari menjadi selir.
Walau niat itu baik untuk memperbaiki hubungan kedua kerajaan, namun caranya yang salah.
Caranya merupakan hasil dorongan nafsu.
Kedatangan Puspa Dewi yang memperkuat barisan pertahanan mereka membuat para senopati berbesar hati.
Ki Patih Narotama diserahi tugas mengatur penjagaan dan membagi-bagi tugas penjagaan Kepada para senopatinya.
Untuk menghadapi bahaya penyerangan musuh, Sang Prabu Erlangga sendiri juga siap untuk turun tangan, mengingat bahwa pihak musuh mempunyai banyak orang sakti mandraguna.
Bahkan Sang Prabu Erlangga mengutus Ki Patih Narotama sendiri untuk mengundang Empu Bharada di Tanah Perdikan Lemah Citra, dan Empu Kanwa yang tinggal di dusun Margarejo di luar kota raja, di lereng daerah perbukitan yang sunyi.
Pada hari itu juga, Empu Bharada dan Empu Kanwa datang menghadap Sang Prabu Erlangga bersama Ki Patih Narotama.
Mereka berempat duduk bercakap-cakap di ruangan pustaka.
Ki Patih Narotama sudah menceritakan kepada dua orang Empu itu akan peristiwa semalam yang menimpa kota raja Kahuripan, maka ketika menghadap Sang Prabu Erlangga, Empu Bharada lalu berkata setelah dipersilakan duduk dan menerima penghormatan raja yang menganggapnya sebagai sesepuh itu.
"Puteranda Kanjeng Sinuwun, saya telah mendengar akan malapetaka yang menimpa kerajaan Paduka semalam, juga tentang tercurinya Pusaka Cupu Manik Maya dan tercullknya Cucunda Raden Joko Pekik Satyabudhi dari Gedung Kepatihan. Saya ikut merasa prihatin, akan tetapi tentu Paduka sudah dapat menerimanya dengan sabar karena semua ini sudah dikehendaki Sang Hyang Widhi."
"Saya juga ikut merasa prihatin, Kanjeng Sinuwun, dan Kakang-Empu Bharada benar. Kalau kita dapat menerima segala kejadian ini dengan sabar dan ikhlas dan memperkuat iman dan penyerahan diri kita kepada Dia Yang Maha Kuasa, saya kira kita akan diberi pengampunan dan jalan keluar dari semua musibah."
"Terima kasih, Paman Empu Bharada dan Paman Empu Kanwa. Kami menyadari akan hal itu dan semoga kami semua dapat menerima semua musibah ini dengan penuh kesabaran, keikhlasan dan penyerahan seperti yang Paman berdua maksudkan. Sekarang saya hendak mohon bantuan Paman berdua. Karena musuh menyebar racun yang menjadi wabah penyakit dan menimbulkan banyak korban pada rakyat, maka kami mohon kepada Paman Empu Kanwa yang ahli dalam soal pengobatan, untuk menanggulangi wabah ini dan membebaskan rakyat dari ancaman dan gangguan wabah penyakit itu. Dan permohonan kami kepada Paman Empu Bharada, mengingat bahwa besar kemungkinan sewaktu-waktu musuh yang sudah menghimpun kekuatan itu akan menyerang dan mereka memiliki banyak tokoh sakti ahli Ilmu sihir, maka mohon Paman Empu Bharada suka memperkuat pertahanan kami untuk menghadapi serangan ilmu hitam."
Dua orang pertapa itu menyanggupi dan menyatakan kesediaan mereka untuk memenuhi permintaan Sang Prabu Erlangga. Empu Bharada lalu berkata dengan nada serius.
"Puteranda Kanjeng Sinuwun, kalau saya tidak salah ingat, disini terdapat senopati-senopati yang cukup digdaya untuk melawan musuh yang berbahaya, pula, selain Paduka sendiri dan Ananda Patih Narotama ini, masih terdapat beberapa orang muda yang sakti mandraguna. Di antaranya adalah Ni Puspa Dewi dan terutama sekali Nurseta. Saya kira mereka itu dapat dimintai bantuan untuk menghadapi lawan yang menggunakan ilmu hitam dan sihir."
Empu Bharada teringat akan pertanda yang dilihatnya dahulu bahwa Kahuripan akan tertimpa malapetaka dan diselimuti awan gelap, ada pun yang akan dapat menghalau pengaruh jahat itu adalah Sinar Putih atau Nurseta.
Tentu saja ?
bukan pemuda itu seorang diri yang diberi tugas melawan semua musuh, akan tetapi bantuannya tentu akan dapat diandalkan dan berguna sekali bagi keselamatan Kahuripan.
"Semua sudah mempersiapkan diri, Paman Empu Bharada. Juga Puspa Dewi baru saja pulang setelah terjadi penyerangan gelap malam itu. Sekarang ia juga sudah mempersiapkan diri memperkuat pertahanan Kahuripan. Akan tetapi sungguh sayang, Nurseta masih belum kembali ke kota raja karena dia sedang mencari puteri Senopati Yudajaya yang pergi ke Wengker dan menurut keterangan Puspa Dewi, adiknya Nlken Harni itu telah dibawa pergi Nini Bumigarbo. Nurseta tidak mengetahui akan hal Itu dan sampai sekarang dia belum kembali."
Empu Bharada menghela napas panjang.
Segala sesuatu yang menimpa diri manusia tidak terlepas dari ikatan karma, semua bersumber dari diri pribadi.
Berdasarkan hukum sebab akibat ini, maka segala sesuatu terjadi.
Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.
Manusia hanya wajib berikhtiar sekuat tenaga sebesar kemampuannya, namun akhirnya dia harus dan hanya dapat menerima segala sesuatu yang terjadi kepadanya, suka atau tidak!
Dia mengerti bahwa semua yang menimpa Kerajaan Kahuripan ini menjadi akibat dari masuknya Ni Lasmini dan Ni Mandari, dua orang puteri Kerajaan Parang Siluman itu sebagai selir Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama.
Apa yang dikhawatirkan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama terjadi tiga hari kemudian.
Pagi-pagi sekali, baru saja fajar menyingsing membangunkan ayam-ayam jantan yang berkeruyuk saling bersahutan dengan nyaring sehingga menggugah burung-burung di pepohonan, membuat mereka ramai saling memberi salam pagi yang ribut namun merdu, pasukan gabungan empat kerajaan yang dibantu beberapa raja muda daerah yang kecil, mengadakan serangan besar-besaran.
Jumlah perajurit dalam pasukan gabungan itu tidak kurang dari tiga laksa orang!
Mereka menyerbu dari empat jurusan dan selain mengerahkan seluruh pasukan, mereka pun mengerahkan semua tokoh yang memiliki aji kesaktian untuk memimpin pasukan yang dibagi empat itu.
Empat kerajaan yang amat membenci Kahuripan yang menjadi musuh bebuyutan mereka itu tidak mau kepalang tanggung dan tidak mau gagal lagi.
Mereka mengerahkan semua tenaga.
Pasukan pertama terdiri dari sepuluh ribu orang perajurit Wengker bergerak dari depan dan pasukan terbesar ini dipimpin sendiri oleh para pimpinan Wengker lengkap, yaitu Adipati Linggawijaya, Dewi Mayangsari, Resi Bajrasakti, Warok Surogeni, Wirobento, dan Wirobandrek!
Pasukan ke dua yang bergerak menyerang dari sayap kiri terdiri dari sepuluh ribu orang perajurit Wura-wuri, dipimpin sendiri oleh Adipati Bhismaprabhawa, Permaisuri Dewi Durgakumala, Kala Muka, Kala Manik, Kala Teja, dan Ki Gandarwo.
Pasukan ke tiga bergerak menyerang dari sayap kanan, terdiri dari sekitar lima ribu orang perajurit Parang Siluman, dipimpin oleh Ratu Durgamala, Bhagawan Kundolomuko, Ni Lasmini, Ni Mandar , dan Ki Nagakumala.
Pasukan ke empat bergerak dari belakang, terdiri sekitar lima ribu orang perajurit Siluman Laut Kidul, dipimpin oieh Ratu Mayang Gupita sendiri, dibantu oleh Bhagawan Kalamisani, Nagarodra, dan Nagajaya.
Semua itu masih diperkuat oleh para perwira kerajaan masing-masing yang memimpin pasukan di bawah komando para pimpinan tertinggi itu.
Dan juga ada Pasukan Siluman yang dibentuk oleh Bagawan Kundolomuko dari Parang Siuman, penyembah Bathari Durga dan ahli sihir yang berilmu tinggi itu.
Pasukan Siluman yang berpakaian serba putih ini terdiri dari tiga ratus orang, akan tetapi karena mereka itu digerakkan oleh iImu hitam yang dahsyat, maka kekuatannya juga mengglriskanl Namun pihak Kerajaan Kahuripan sudah siap siaga sehingga ketika musuh datang dari empat penjuru, dengan tenang pasukan yang sudah siap dibagi menjadi empat itu menyambut mereka.
Kekuatan pasukan Kerajaan Kahuripan berjumlah sekitar empat laksa orang.
Selaksa orang dipimpin sendiri oleh Sang Prabu Erlangga yang berdampingan dengan Empu Bharada dan beberapa orang perwira tinggi, menjaga bagian depan yang merupakan gapura terbesar.
Selaksa orang perajurit dipimpin oleh Ki Patih Narotama yang juga dibantu beberapa orang perwira, menjaga sebelah kanan.
Baca Juga: Si Tangan Sakti 4
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 16