Ceritasilat Novel Online

Nurseta Satria Karangtirta 6

Eps 6 Nurseta Satria Karangtirta - Kho Ping Hoo

Baca online Nurseta Satria Karangtirta - Kho Ping Hoo

Cersil Nurseta Satria Karangtirta - Kho Ping Hoo.

Selaksa orang perajurit yang lain dipimpin oleh Puspa Dewi, dibantu ayahnya, Senopati Yudajaya dan beberapa orang perwira, menjaga sebelah kiri.

Adapun sisanya, kurang lebih selaksa orang perajurit, dipimpin oleh Senopati Sepuh Wiradana, Senopati Sindukerta, dan Tumenggung Jayatanu dibantu beberapa orang perwira.

Maka begitu musuh datang menyerbu!

dari empat penjuru, pasukan-pasukan Kahuripan keluar dari pintu gerbang dan menyambut dengan gegap-gempita hingga terjadilah pertempuran hebat di luar kota raja, di empat penjuru.

Perang campuh terjadi, hiruk-pikuk dan gegap-gempita suara puluhan ribu mulut berteriak marah, saling maki, juga teriakan kesakitan, bercampur suara beradunya senjata pedang, golok, tombak, keris dan sebagainya, berdentingan nyaring, hentakan puluhan ribu kaki berdebukan, debu mengepul tebal dan membubung tinggi, dengan napas terengah-engah, darah mulai muncrat dan berceceran, tubuh tanpa nyawa atau terluka mulai berpelantingan, terkapar dan berserakan, malang melintang terinjak kaki kawan maupun lawan!

Perang!

Peristiwa terkutuk.

Puncak kebuasan mahluk yang dinamai manusia.

Nafsu amarah, dendam, kebencian, menggetarkan udara.

Buas seperti binatang liar, haus darah, yang ada dalam benak pikiran hanya membunuh atau dibunuh.

Hanya satu keinginan semua pihak.

Menang!

Mencari-kemenangan dengan cara apapun juga.

Terhapuslah sudah semua peradaban, kebudayaan, dan sifat luhur manusia.

Tawa bergelak setiap kali merobohkan lawan, memenggal leher, merobek perut, menusuk, dada.

Jerit rintih kematian lawan seolah gamelan paling merdu bagi telinganya.

Bahkan matahari pun agaknya ngeri menyaksikan kekejaman ini dan matahari bersembunyi di balik awan-awan yang berarak di angkasa.

Sang Prabu Erlangga yang memimpin pasukannya bertemu dengan pasukan Wengker.

Adipati Linggawijaya, Permaisuri Dewi Mayangsari dan Resi Bajrasakti segera maju mengeroyok Raja Kahuripan ini.

Raja yang mereka anggap sebagai musuh besar.

Mereka bertiga maju dengan harapan akan mampu mengalahkan menawan atau membunuh Sang Prabu Erlangga, karena kalau raja ini tewas atau tertawan, tentu pasukan Kahuripan akan menyerah.

Akan tetapi, mereka bertiga terkejut bukan main.

Sang Prabu Erlangga benar-benar sakti mandraguna Semua serangan mereka bertiga, bahkan ketika mereka menyatukan tenaga sakti menghantam ke arah Sang Prabu Erlangga, Raja Kahuripan ini menyambut dengan dorongan tangan kirinya dan hawa sakti yang menyambut serangan tiga orang itu sedemikian kuatnya sehingga tiga orang itu hamper terjengkang dan terhuyung ke belakang!

Juga semua aji kesaktian mereka kerahkan, namun semua dapat ditangkis Sang Prabu Erlangga.

Sang Empu Bharada yang membantu Sang Prabu Erlangga dikeroyok oleh Warok Surogeni, Wirobento, dan Wirobandrek.

Pertapa ini sebetulnya hampir tidak pernah berkelahi, namun dia adalah seoran yang sakti.

Dengan Aji Bayu Sakti tubuhnya yang berpakaian serba hitam itu dapat menghindarkan diri dari sambaran keris di tangan Warok Surogeni, pecut berujung besi di tangan Warok Wirobento dan sepasang kolor merah yang menjadi senjata Warok Wirobandrek.

Dia pun membalas dengan tamparan-tamparan yang mengandung Aji Gelap Musti sehingga tiga orang lawan itu sukar untuk dapat merobohkan Empu Bharada.

Tiba-tiba tampak awan gelap seolah turun dari angkasa dan menggelapkan cuaca di tempat pertempuran bagian depan kota raja itu.

Dan dari dalam kegelapan ini muncul suara-suara yang menyeramkan, tawa dan tangis yang bukan suara manusia, lalu muncul bentuk-bentuk mengerikan seolah ada ratusan iblis jadi-jadian muncul dari kegelapan dan mengancam para perajurit Kahuripan.

Tentu saja para perajurit terkejut dan menjadi panik.

Empu Bharada menggunakan Aji Bayu Sakti berkelebatan lenyap meninggalkan tiga orang lawannya dan dia sudah menuju ke pusat dari mana muncul awan gelap dan bayangan iblis itu.

Kiranya tiga ratus perajurit dalam Pasukan Siluman itu mulai menyerbu, dipimpin oleh Bhagawan Kundolomuko yang melepas ilmu hitamnya.

Melihat ini, Empu Bharada memberi isarat kepada lima ratus orang perajurit yang sudah dipilih untuk menghadapi pasukan ilmu hitam itu yang memang sudah diperhitungkan oleh pihak Kahuripan.

Lima ratus orang perajurit ini mengenakan sehelai kain putih yang diikatkan di kepala dan kain itu sudah dirajah (diisi kekuatan gaib) oleh Empu Bharada.

Lima ratus orang perajurit inilah yang menyambut serbuan tiga ratus perajurit Pasukan Siluman.

Empu Bharada sendiri berdiri dan bersedakap (melipat kedua lengan di depan dada), mengerahkan aji kesaktiannya menyambut ilmu hitam yang dilepaskan Bhagawan Kundolomuko, Dahsyat bukan main pertandingan adu sihir dan pertempuran antara dua pasukan yang sama-sama telah diisi "rajah"

Oleh Bhagawan Kundolomuko dan Empu Bharada.

Akan tetapi karena jumlah pasukan Kahuripan lebih banyak maka tentu saja Pasukan Siluman Itu agak kewalahan, apalagi karena kekuatan gaib dari Bhagawan Kundolomuko yang tadinya mendukung mereka itu kini terpaksa dialihkan untuk bertanding melawan Empu Bharada.

Sementara itu, Warok Surogeni, Wiro-bento, dan Wirobandrek yang telah ditinggalkan Empu Bharada, kini membantu tiga orang pimpinan Wengker yang masih mengeroyok Sang Prabu Erlangga.

Raja itu kini dikeroyok enam orang lawan yang tangguh!

Pasukan sayap kanan dari Kahuripan yang dipimpin Ki Patih Narotama bertemu di luar gapura dengan pasukan Wura-wurl yang dipimpin Adipati Bhismaprabhawa, Permaisuri Dewi Durgakumala, Kala Muka, Kala Manik, Kala Teja, dan Gandarwo.

Ki Patih Narotama yang telah memberi petunjuk kepada para perwira pembantunya untuk memimpin pasukan menyambut pasukan Wura-wuri yang menyerbu, mengamuk.

Dia marah dan khawatir sekali karena puteranya diculik musuh.

"Hl-hi-hik! Narotama, sekarang tiba saatnya engkau mati di tangan kami!"

Dewi Durgakumala tertawa mengejek.

"Hemm, kalau engkau berani mengganggu puteraku Joko Pekik Satyabudhi dan tidak mengembalikannya kepadaku, aku tidak peduli lagi akan pelanggaran dan akan kubunuh kalian semua, akan kumusnahkan dan kubikin karang abang (lautan api) kerajaan kalian, kubikin rata dengan tanah!"

Suara Ki Patih Narotama menggetarkan semua yang mendengarnya karena dia sudah dikuasai amarah yang hebat.

Narotama adalah seorang yang tidak mau sembarangan membunuh dan baginya merupakan pantangan membunuh.

Biasanya, lawan yang dihadapinya hanya dikalahkan dan dirobohkan tanpa membunuh.

Akan tetapi bagaimanapun juga, dia hanya seorang manusia biasa, seorang ayah yang menjadi marah dan mata gelap melihat puteranya diculik orang.

Karena maklum betapa saktinya Ki Patih Narotama, maka Adipati Bhismaprabhawa dan Dewi Durgakumala tidak banyak cakap lagi.

Teriakan dahsyat tadi membuat hati mereka menjadi gentar juga.

Mereka memberi Isyarat kepada empat orang pembantu mereka dan segera enam orang sakti ini menerjang dan mengeroyok Ki Patih Narotama.

Terjadilah pertempuran yang hebat.

Dengan keris pusaka Megantoro di tangan, Ki Patih Narotama menghadapi pengeroyokan enam orang sakti itu.

Adipati Bhismaprabhawa bersenjatakan sebatang klewang bergagang emas, Dewi Durgakumala menggunakan sebatang pedang, Kala Muka memegang sebatang keris, Kala Manik sebatang klewang, Kala Tejo sebatang ruyung dan Ki Candarwo bersenjatakan pedang.

Enam orang itu bagaikan enam ekor srigala mengeroyok dan menyerang seekor harimau.

Terjadilah perkelahian mati-matian dan Ki Patih Narotama harus mengeluarkan semua ilmu dan mengerahkan semua tenaga untuk melawan enam orang pengeroyok yang tangguh itu.

Akan tetapi pasukannya yang berjumlah selaksa orang sudah bertempur melawan selaksa orang perajurit Wura-wuri.

Perang campuh yang hebat terjadi, sama seru dan ramainya seperti pasukan yang bertempur di bagian depan kota raja.

Lima ribu orang perajurit dalam Pasukan Parang Siluman yang dipimpin Ratu Durgakumala, disambut pasukan Kahuripan yang dipimpin Puspa Dewi!

Karena Bhagawan Kundolomuka yang memimpin Pasukan Siluman membantu penyerangan dari depan, maka kini yang membantu Ratu Durgamala adalah Lasmini, Mandari, dan Ki Nagakumala.

Sungguh merupakan pimpinan yang amat kuat.

Akan tetapi Puspa Dewi yang didampingi ayahnya, Senopati Yudajaya, tidak gentar dan dengan tenang saja la menyambut lawan-lawan yang amat tangguh itu.

Mereka berhadapan dan saling pandang dengan sinar mata mencorong.

Terutama sekali Mandari dan Lasmini.

Mereka memandang wajah Puspa Dewi dengan penuh kebencian karena gadis itu merupakan satu di antara penyebab penting gagalnya usaha mereka dahulu untuk menjatuhkan Kahuripan.

"Perempuan rendah Pengkhianat, tidak malu engkau memperlihatkan mukamu kepada kami?"

Bentak Mandarl sambil menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Puspa Dewi.

"Puspa Dewi bocah desa melarat Engkau sudah dimuliakan, diangkat derajatmu menjadi Sekar Kedaton di Wura-wuri, akan tetapi malah mengkhianati kami! Sekarang sudah saatnya engkau menerima hukuman, kupenggal batang lehermu, kurobek dadamu dan kucabut keluar jantungmu!"

Lasmini juga memaki-maki marah.

Setelah menerima penggemblengan selama tiga bulan dari Maha Resi Satyadharma, Puspa Dewi telah mampu menjinakkan hatinya dan mampu mengendalikan perasaannya sehingga dihina seperti itu, ia tersenyum saja dan tidak menjadi marah.

"Lasmini dan Mandari, bukan aku yang berkhianat karena aku memang kawula Kahuripan yang sudah sepatutnya membela, apalagi karena Gusti SInuwun Erlangga dan Gusti Patih Narotama memang merupakan manusi-manusla arif bijaksana yang sudah semestinya kubela. Sebaliknya kamu berdua yang berkhianat dan tidak tahu malu. Sudah mau menyerahkan diri menjadi selir Sang Prabu dan Ki Patih, ternyata Itu hanya siasat untuk melakukan pemberontakan."

"Keparat, mampuslah!"

Lasmini sudah menerjang dengan marah sekali, menghujamkan kerisnya ke arah dada Puspa Dewi.

Akan tetapi dengan tenang Puspa Dewi menggeser kaki mengelak ke belakang sambil mencabut pedangnya.

Sinar hitam tampak ketika Pedang Gandrasa Langking tercabut.

Mandari, Ratu Durgamala, dan Ki Nagakumala juga berlompatan ke depan untuk mengeroyok.

Akan tetapi Ki Yudajaya sudah memberi aba-aba kepada para perwira pembantu untuk maju membantu Puspa Dewi.

Terjadilah pertempuran hebat.

Puspa Dewi dikeroyok tiga oleh Lasmini, Mandari, dan Ki Nagakumala.

Ia harus mengeluarkan semua ilmunya dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menandingi tiga orang lawan yang teramat tangguh itu.

Ratu Durgamala sendiri dihadapi oleh Senopati Yudajaya yang dibantu oleh tiga orang perwira.

Akan tetapi, biarpun para pimpinan pasukan ini agak kewalahan menghadapi lawan-lawan yang sakti, sebaliknya pasukan Parang Siluman yang hanya lima ribu orang jumlahnya itu, menjadi kewalahan melawan sepuluh ribu orang perajurit Kahuripan.

Dengan sendirinya tiga orang yang mengeroyok Puspa Dewi terkadang harus memecah perhatiannya dan terpaksa serlngkali meninggalkan Puspa Dewi untuk membantu anak buah yang terdesak oleh pasukan Kahuripan yang jumlahnya dua kali lipat itu.

Hal ini tentu saja meringankan Puspa Dewi yang kewalahan juga dikeroyok tiga orang sakti itu.

Terutama Ki Nagakumala merupakan lawan yang amat tangguh.

Kalau kakek ini maju seorang diri, tentu saja tidak sukar bagi Puspa Dewi untuk mengalahkannya.

Namun dua orang kakak beradik Lasmini dan Mandarl itu pun memiliki tingkat kepandaian yang sudah hampir mencapai tingkat guru atau paman mereka, yaitu Ki Nagakumala.

Pasukan Kerajaan Siluman Laut Kidul yang dipimpin sendiri oleh Ratu Mayang Guplta, raseksl yang menyeramkan dan sakti, dibantu Bhagawan Kalamisani paman gurunya, dan dua orang adik seperguruannya yaitu Nagarodra dan Nagajaya, menyerang dari belakang dengan lima ribu orang perajuritnya.

Mereka disambut sepuluh ribu orang perajurit Kahuripan yang dipimpin oleh Senopati Wiradana, Senopati Sindukerta, dan Tumenggung Jayatanu, dibantu pula oleh beberapa orang perwira tinggi.

Biarpun pasukan ini yang jumlahnya dua kali lipat jumlah pasukan penyerbu dapat menekan pasukan musuh, namun para pimpinan mereka kewalahan menghadapi empat orang yang sakti mandraguna dari Siluman Laut Kidul itu.

Sampai tengah hari pertempuran masih berjalan seru.

Kedua pihak sudah kehilangan banyak perajurit yang tewas atau terluka.

Namun pihak penyerang tidak mau menghentikan serbuan mereka, tidak mau mundur karena mereka tahu bahwa kalau sekali ini penyerbuan mereka gagal, akan sulitlah untuk melakukan penyerangan lagi.

Maka mereka terus mendesak dan para pimpinan memberi aba-aba agar pasukan mereka maju terus!

Sang Prabu Erlangga prihatin melihat banyaknya perajurit yang tewas, baik perajurit Kahuripan maupun para perajurit pihak musuh.

Sedih hatinya melihat Kahuripan banjir darah dan menjadi tempat pembantaian antar manusia.

Hal ini membuat dia marah kepada para pimpinan empat kerajaan itu.

Kemarahan ini membangkitkan Aji Triwikrama yang dikuasainya.

Aji Triwikrama adalah aji kesaktian dari Sang Hyang Whisnu.

Sang Prabu Erlangga melangkah tiga kail menjejakkan kaki dan tiba-tiba terdengar suara gerengan yang menggetarkan bumi Kahuripan!

Enam orang pengeroyoknya, Adipati Linggawijaya, Dewi Mayangsari, Resi Bajrasakti, Warok Surogeni, Wirobento dan Wirobandrek terkejut setengah mati dan mata mereka terbelalak melihat betapa lawan mereka itu tiba-tiba tampak membesar seperti sebatang pohon Waringin!

Enam orang yang sakti ini terkejut, namun mereka masih nekat.

"Ini hanya Ilmu slhirl Serang!"

Bentak Warok Surogeni kepada dua orang warok lain, yaitu Wirobento dan Wlrobandrek. Tiga orang warokini lalu menerjang maju, menggerakkan senjata mereka menyerang "raksasa"

Itu.

"Wuut-wuut-wuut... blaarrrr...!"

Sang Prabu Erlangga mengibaskan tangannya dan tiga orang itu terlempar jauh dan terbanting keras tanpa dapat bangun kembali karena mereka telah tewas.

Serangan mereka tadi dihantam kekuatan yang luar biasa sehingga membalik dan mengenai tubuh mereka sendiri sehingga mereka tewas seketika!

"Bapa...!!"

Dewi Mayangsari berlari menubruk tubuh ayahnya, akan tetapi Warok Surogeni sudah tewas.

Permaisuri itu sambil menangis memondong jenazah ayahnya dan menghilang di antara para perajuritnya.

Adipati Linggawijaya juga cepat menyelinap ketakutan bersembunyi di antara para perajuritnya yang sudah terdesak hebat oleh pasukan lawan yang kini mendapat hati dan semakin bersemangat Itu.

Otomatis para perwira pembantunya juga jerih dan memberi aba-aba kepada pasukan Wengker untuk mundur meninggalkan kawan-kawan yang tewas; dan yang terluka.

Ketika mendapat laporan bahwa pasukan bagian belakang yang dipimpin tiga orang senopati kewalahan menghadapi sepak terjang para pimpinan pasukan Siluman Laut Kidul, Sang Prabu Erlangga menyerahkan pimpinan kepada para perwira pembantu dan dia sendiri berlari menuju ke pertempuran di bagian belakang.

Dilihatnya betapa pasukan Kahuripan yang dua kali lipat lebih banyak jumlahnya itu dapat menekan dan mendesak pasukan Siluman Laut Kidul, akan tetapi Senopati Wiradana, Senopati Sindukerta, dan Tumenggung Jayatanu terdesak hebat sekali.

Bahkan ketika Sang Prabu Erlangga tiba di tengah pertempuran itu, dia melihat tubuh Senopati Sindukerta dan tubuh Tumenggung Jayatanu sudah menderita luka-luka dan berlepotan darah.

Akan tetapi dengan gagah perkasa, dua orang senopati yang sudah tua ini terus melakukan perlawanan!

Melihat Ini, Sang Prabu Erlangga terkejut dan marah.

Tubuhnya melompat ke depan dan begitu kedua tangannya bergerak-gerak menyerang, hawa pukulan yang dahsyat sekali seperti badai menerjang pihak musuh.

"Wuuuutttt... wessss... plak-plak....!"

Tubuh Ratu Mayang Gupita yang tinggi besar itu terlempar ke belakang.

Juga tubuh Bhagawan Kalamisani terlempar.

Akan tetapi mereka berdua yang terbanting jatuh itu lalu bergulingan dan dapat berlompatan bangun, wajah mereka pucat dan mata mereka terbelalak.

Mereka gentar sekali dan cepat menyelinap di antara para perajurit dan memberi aba-aba untuk mundur.

Adapun tubuh Nagarodra dan Nagajaya terpelanting roboh dan tewas karena tenaga serangan mereka membalik dan memukul diri sendiri.

Akan tetapi, walaupun pertempuran di bagian belakang ini juga dimenangkan pasukan Kahuripan dan pihak musuh melarikan diri, namun Kahuripan kehilangan dua orang senopatinya yang sudah tua dan setia, yaitu Senopati Sindukerta dan Tumenggung Jayatanu!

Sementara itu, Narotama yang dibantu beberapa orang perwira juga mendesak lawan.

Biarpun dia dikeroyok enam orang pimpinan pasukan Wura-wuri yang rata-rata sakti, namun Ki Patih Narotama yang mengamuk seperti banteng terluka karena teringat akan puteranya yang diculik musuh, akhirnya dapat merobohkan Tri Kala, yaitu Kala Muka, Kala Manik, dan Kala Teja.

Melihat sepak terjang Ki Patih Narotama yang dahsyat itu, Dewi Durgakumala memberi tanda kepada suaminya, yaitu Adipati Bhismaprabhawa, untuk mundur.

Sang Adipati, Dewi Durgakumala, dan Kl Gandarwo lalu melarikan diri, menyusup di antara para perajurit dan mereka juga bergerak mundur bersama sisa pasukan mereka.

Ki Patih Narotama juga kehilangan enam orang perwira pembantunya karena mereka tadi mencoba untuk membantunya dan semua tewas di tangan Ratu Mayang Gupita dan Bhagawan Kalamisani.

Sementara itu, Puspa Dewi yang dikeroyok oleh Ki Nagakumala, Lasmini, dan Mandarl, terdesak hebat.

Tiga orang pengeroyoknya ini memang sakti mandraguna.

Seandainya Puspa Dewi belum digembleng Maha Resi Satyadharma selama tiga bulan, kiranya tidak mungkin ia akan dapat menyelamatkan diri dari tekanan tiga orang pengeroyok itu.

Gadis ini sungguh mengagumkan sekali.

Selain kepandaiannya mencapai tingkat tinggi, juga ia memiliki semangat dan keberanian yang pantang mundur, la tetap bertahan dan pertahanannya seolah benteng baja yang sulit ditembus tiga orang pengeroyoknya.

Akan tetapi, ayah kandungnya, Senopati Yudajaya, biarpun dibantu oleh beberapa orang perwira, tetap saja terdesak hebat oleh Ratu Durgamata.

Tiga orang perwira yang membantunya telah roboh (Lanjut ke

Jilid 18) Nurseta Satria Karang Tirta (seri ke 02 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 18 dan tewas, sedangkan dia sendiri sudah terluka pundak kirinya sehingga baju dan kulit pundak terobek dan berdarah.

Akan tetapi, perwira-perwira lain berdatangan membantunya sehingga biarpun dihimpit terus oleh Ratu Durgamala, Senopati Yudajaya masih dapat melakukan perlawanan.

Apalagi pasukannya yang dua kali lebih besar dari pasukan Parang Siluman, dapat mendesak terus pihak musuh.

Pada saat yang gawat itu, datang Ki Patih Narotama yang sudah memperoleh kemenangan dlsayap kanan dan dating membantu Senopati Yudajaya.

Melihat datangnya Ki Patih Narotama, Ratu Durgamala menjadi terkejut dan gentar.

Ia lalu melompat ke belakang memberi isarat kepada Ki Nagakumala, Lasmini, dan Mandari untuk mundur.

Tiga orang ini yang belum juga mampu mengalahkan Puspa Dewi, juga merasa jerih melihat munculnya Ki Patih Narotama, apalagi melihat pasukan mereka mendapat tekanan pihak musuh.

Mereka lalu melarikan diri ke dalam pasukan dan memerintahkan Pasukan Parang Siluman untuk mundur dan meninggalkan pertempuran.

Demikianlah, semua pasukan Empat Kerajaan yang dibantu para penguasa daerah yang kecil-kecil, terpukul mundur dan sisa pasukan mereka melarikan diri kembali ke wilayah masing-masing, meninggalkan banyak korban yang tewas, terluka atau tertawan.

Kerajaan Wengker kehilangan ayah kandung Dewi Mayangsari, yaitu Warok Surogeni, dan dua orang saudara seperguruannya, Warok Wirobento dan Warok Wirobandrek.

Tiga orang ini tewas dan masih ada belasan orang perwira dan sedikitnya tiga ribu orang perajurit tewas atau tertawan.

Kerajaan Wura-wuri juga kehilangan Tri Kala yang tewas, dan hampir empat ribu orang perajurit dan perwira tewas atau tertawan.

Kerajaan Parang Siluman kehilangan Bhagawan Kundolomuko, bekas suami Ratu Durgamala dan ayah kandung Lasmini dan Mandari.

Bhagawan Kundolomuko tidak diketahui ke mana perginya, mungkin merasa malu atas kekalahannya dan melarikan diri.

Selain itu, juga ada tiga ribu orang perajurit tewas atau tertawan.

Sedangkan Kerajaan Siluman Laut Kidul, kematian Nagarodra dan Nagajaya, juga beberapa orang perwira dan tiga ribu perajurit yang tewas atau tertawan.

Akan tetapi, dalam pertempuran mati-matian, perang campuh itu, Kerajaan Kahuripan juga menderita kerugian yang cukup banyak.

Tidak kurang dari delapan ribu perajurit tewas dan terluka, juga ada dua puluhan orang lebih perwira tewas.

Selain itu, yang membuat para pemimpin berkabung dan berduka adalah tewasnya Senopati Sindukerta dan Tumenggung Jayatanu.

Selain itu, wabah penyakit masih merajalela dan sedang ditanggulangi oleh Empu Kanwa.

Kini ditambah lagi mengurus mayat-mayat yang bergelimpangan dan yang ribuan orang banyaknya, mengurus mereka yang terluka dan membutuhkan perawatan.

Pendeknya, biarpun memperoleh kemenangan dalam perang dan berhasil mengusir musuh, namun Kerajaan Kahuripan tetap saja sedang dilanda musibah besar-besaran.

Lebih-lebih lagi karena putera Ki Patih Narotama hilang diculik orang dan Pusaka Cupu Manik Maya sebagai lambang kebesaran kerajaan juga hilang dicuri orang.

Para perajurit Kahuripan kini sibuk mengurus para jenazah korban perang, baik kawan maupun lawan.

Juga merawat yang terluka.

Memang sikap pengampun ini yang ditekankan Sang Prabu Erlangga kepada mereka yang memusuhinya.

Yang tewas dikuburkan sebagaimana mestinya, yang luka dirawat dan yang tertawan dibebaskan kembali sehingga selanjutnya mereka yang diperlakukan dengan baik dan dibebaskan itu tidak mau lagi menjadi anggauta pasukan yang dipergunakan untuk memusuhi Kerajaan Kahuripan.

Di rumah keluarga Senopati Sindukerta semua anggauta keluarga berkabung.

Ki Dharmaguna dan Endang Sawitri, ayah ibu Nurseta merasa sedih sekali karena Senopati Sindukerta gugur dalam perang tanpa mendapat bantuan putera mereka.

Mereka tidak tahu di mana adanya Nurseta sekarang dan merasa menyesal bahwa Nureta tidak membantu ketika Kahuripan diserang musuh sehingga Senopati Sindukerta gugur.

Juga keluarga Tumenggung Jayatanu berkabung.

Untung luka di pundak yang diderita Senopati Yudajaya tidaklah parah.

Senopati Yudajaya dan dua orang isterinya, Nyi Lasmi dan Dyah Mularsih bersama Nyi Tumenggung dan semua keluarga, berduka atas gugurnya Tumenggung Jayatanu.

Akan tetapi yang paling merasa menyesal adalah Puspa Dewi.

Ia merasa menyesal bahwa ia tidak berhasil menemukan adiknya, Niken Harni, dan tidak berhasil pula melindungi kakeknya dalam perang karena mereka berpisah dengan pasukan masing-masing.

Kalau mendiang Tumenggung Jayatanu memimpin pasukan bagian belakang bersama mendiang Senopati Sindukerta dan Senopati Wiradana, Puspa Dewi memimpin pasukan di sayap kiri.

Keluarga Senopati Sindukerta dan keluarga Tumenggung Jayatanu saling mengunjungi, saling menyatakan ikut berbelasungkawa, saling menghibur.

Biarpun ia merupakan anggauta keluarga yang paling muda, tetapi justru Puspa Dewi yang menghibur para anggauta kedua keluarga itu!

Mereka sedang berkumpul karena keluarga Sindukerta sedang dating berkunjung ke rumah keluarga Jayatanu.

"Saya harap Andika sekalian dapat menerima kenyataan ini dan tidak larut dalam kedukaan. Bagaimanapun juga, kita patut berbangga dan bersukur bahwa Eyang Senopati Sindukerta dan Eyang Tumenggung yatanu gugur sebagai satria-satria utama, gugur dalam membela negara, tewas secara gagah perkasa. Kita sepatutnya Ingat bahwa bukan eyang berdua saja yang berkorban nyawa dalam membela negara, melainkan ada ribuan orang perwira dan perajurit yang juga gugur sebagai pahlawan bunga bangsa."

Ucapan dara perkasa yang penuh semangat itu banyak menolong dan menghibur hati para keluarga yang merasa kehilangan dan berduka.

Dalam kesempatan selagi anggauta kedua keluarga itu berkumpul, Puspa Dewi yang teringat akan wejangan Maha Resi Satyadharma tentang kedukaan, lalu berkata dengan hati-hati kepada para orang tua yang hadir.

"Apa yang akan saya katakan ini sama sekali bukan gagasan saya sendiri. Saya hanya mengulang apa yang diwejangkan Eyang Resi Satyadharma kepada saya. Bahwa perasaan yang kita alami saat ini, yaitu duka hanyalah menjadi saudara kembar atau keimbalbalikan dari suka. Suka dan duka tak terpisahkan seperti telapak dan punggung sebuah tangan. Tak pernah muncul bersama di permukaan, namun tak pernah terpisah dan bermunculan secara bergantian dalami kehidupan kita. Seperti tawa dan tangisi tidak pernah muncul berbarengan, namun tak terpisahkan, muncul dari mulut dan sama-sama mengeluarkan air mata. Tidak akan ada duka kalau tidak ada suka, dan sebaliknya. Baik suka maupun duka terbentuk oleh pikiran yang mengaku-aku sebagai sang aku. Kalau sang aku dirugikan timbullah duka, kalau diuntungkan timbullah suka. Maka, suka duka bukan timbuj karena peristiwa yang terjadi, melainkan bagaimana pikiran menerimanya. Tanggapan pikiran terhadap peristiwa yang terjadi dan menimpa kita itulah yang menimbulkan suka atau duka. Begitu pikiran tidak bekerja, dalam tidur misalnya, maka rasa suka ataupun duka itu pun lenyap."

"Jagad Dewa Bathara...!"

Ki Dharmaguna berkata dan memandang kagum kepada Puspa Dewi.

"Wejangan Paman Maha Resi Satyadharma itu sungguh tak dapat disangkal kebenarannya. Apakah itu berarti bahwa kita tidak boleh berduka kalau tertimpa musibah, misalnya kematian orang yang kita kasihi seperti sekarang ini, Puspa Dewi?"

Puspa Dewi tersenyum.

"Untung sekali, Paman Dharmaguna, dahulu saya pun bertanya seperti itu kepada Eyang Resi Satyadharma sehingga sekarang saya dapat menjawab pertanyaan Paman itu, sesuai dengan jawaban Eyang Resi waktu itu. Begini, Paman, menurut Eyang Resi, segala macam masalah, segala macam emosi, timbul dari nafsu-nafsu daya rendah yang menguasai pikiran, membentuk sang aku. Kita manusia tidak mungkin dapat membebaskan diri sendiri dari pengaruh nafsu. Adalah manusiawi kalau kita masih terkadang merasa bersuka atau berduka. Kita tidak mungkin mematikan nafsu. Akan tetapi kalau kita sudah mengerti bahwa suka dan duka hanya permainan sang aku dalam pikiran, maka kita tidak terlalu tenggelam dalam suka maupun duka. Kita tidak menjadi budak permainan segala nafsu daya rendah yang berada dalam diri kita sendiri."

"Wah, Puspa Dewi, kata-katamu mengingatkan aku akan ucapan anakku Nurseta. Pernah dia bicara senada dengan apa yang kau katakan tadi dan dia menekankan bahwa dalam segala keadaan, baik keadaan itu menguntungkan atau merugikan, menyenangkan atau menyusahkan, kita sepatutnya bersukur kepada Sang Hyang Widhi dan senantiasa mendasari semua perbuatan kita dengan penyerahan diri kepada Nya. Karena, menurut dia, hanya Sang Hyang Widhi yang mampu menundukkan nafsu-nafsu kita sehingga menjadi alat dan hamba kita, bukan memperalat dan memperhamba kita."

Puspa Dewi tersenyum dan mengangguk.

"Saya mengenal... Kakangmas Nurseta, Bibi Endang Sawitri, dan saya tahu bahwa dia memang seorang sakti mandraguna yang bijaksana."

Dengan adanya percakapan seperti itu, dua keluarga itu merasa terhibur dan tidak membiarkan diri terlalu disiksa perasaan sendiri karena kematian Senopati Sindukerta dan Tumenggung Jayatanu.

Sang Prabu Erlangga merasa prihatin sekali.

Hatinya sedih melihat demikian banyaknya manusia terbantai, tewas dalam perang campuh itu.

Dia bukan hanya menyedihi kematian banyak perajuritnya, melainkan juga kematian para perajurit kerajaan-kerajaan yang memusuhi Kahuripan dan melakukan penyerangan.

Empu Kanwa yang dibantu Empu Bharada dapat mengurangi jumlah korban wabah penyakit dan berhasil menyingkirkan wabah itu.

Akan tetapi wajah Sang Prabu Erlangga masih murung ketika dia mengadakan persidangan dengan para pembantunya.

Yang hadir dalam persidangan itu adalah Ki Patih Narotama yang juga berwajah muram, Empu Bharada, Empu Kanwa, Senopati Wiradana, beberapa orang perwira tinggi dan tidak ketinggalan Bancak dan Doyok, dua orang abdi kinaslh (hamba tersayang) Sang Prabu Erlangga.

Setelah mendengar laporan lengkap tentang keadaan kota raja sehabis perang, Sang Prabu Erlangga lalu minta nasihat Empu Bharada yang dianggap sebagai pinisepuh (tua-tua) dan penasihat, apa yang sebaiknya harus dilakukan pemerintahannya.

"Paman Empu, kami sungguh merasa ragu apa yang harus kita lakukan terhadap empat kerajaan yang selalu memusuhi kita, bahkan telah memusuhi nenek moyang kita sejak jaman Mataram dahulu."

"Puteranda Kanjeng Sinuwun, sebetulnya sudah berulang-ulang Paduka melakukan pendekatan dalam usaha untuk mengajak mereka hidup damai, bahkan Paduka sudah bertindak demikian jauh bersama Ki Patih Narotama mengawini puteri-puteri Wura-wuri. Akan tetapi semua itu gagal karena memang pada dasarnya mereka itu menaruh dendam kebencian kepada Paduka dan Kerajaan Kahuripan. Sudah beberapa kali mereka menggunakan kekerasan untuk menyerang dan membasmi Kahuripan, baik sendiri-sendiri maupun bergabung dengan pemberontak seperti yang dilakukan mereka beberapa tahun yang lalu. Berkali-kali mereka dipukul mundur, akan tetapi mereka bahkan semakin nekat dan yang terakhir ini mereka bergabung dan menyerang sehingga biarpun mereka berhasil dipukul mundur, namun perang itu menewaskan ribuan orang manusia. Kalau dibiarkan lebih lanjut, saya kita mereka tidak akan pernah merasa jera dan kalau mereka sudah dapat menyusun kembali kekuatan mereka, tentu mereka akan melakukan kekacauan dan penyerangan lagi. Oleh karena itu, sekaranglah saatnya Paduka bertindak, Sinuwun. Selagi mereka masih rapuh karena kekalahan mereka, sebelum mereka dapat bersatu kembali, Paduka kirim bala tentara untuk menyerang dan menundukan mereka satu demi satu. Mereka sedang dalam keadaan lemah, tentu tidak dapat melawan dengan gigih sehingga Paduka dapat menaklukkan mereka satu demi satu tanpa harus banyak menjatuhkan korban. Kalau mereka sudah ditundukkan dan ditaklukkan, tentu keadaan menjadi aman dan tidak akan terjadi bentrokan lagi. Demikianlah, Sinuwun, yang dapat saya usulkan."

"Terima kasih, Paman Empu Bharada. Bagaimana pendapat Andika sekalian, para senopati dan perwira?"

Para senopati dan perwira mengangguk-angguk menyatakan persetujuan mereka dan Senopati Wiradana yang tertua di antara para panglima, mewakili mereka dan berkata.

"Usul itu sungguh tepat dan baik sekali, Gusti Sinuwun. Hamba kira kami semua menyetujui karena hal itu merupakan jalan terbaik."

Melihat Ki Patih Narotama hanya menundukkan muka dan diam saja, Sang Prabu Erlangga bertanya.

"Bagaimana menurut pendapatmu, Kakang Patih Narotama?"

Narotama mengangkat mukanya yang agak pucat dan muram karena selama beberapa malam ini dia tidak dapat tidur.

"Gusti Sinuwun, apa yang diusulkan Paman Empu Bharada sungguh baik dan tepat sekali, akan tetapi kalau sekiranya Paduka mengijinkan, hamba mohon agar penyerangan ditunda beberapa hari lamanya untuk memberi kesempatan kepada hamba mencari dan menyelamatkan anak hamba Joko Pekik Satiabudhi. Kalau sekarang Paduka mengerahkan pasukan menyerang, hamba khawatir mereka akan membunuh Joko Pekik."

Sang Prabu Erlangga menghela napas panjang dan mengerutkan alisnya "Aduh, maafkan kami, Kakang Patih!

Kami terlalu prihatin melihat keadaan negara sehingga sampai lupa akan penderitaan kehilangan puteramu Joko Pekik Satyabudhi.

Tentu saja, Kakang Patih, tentu saja kami akan menunda penyerangan itu dan memberi kesempatan kepada Andika untuk menemukan kembali Joko Pekik!"

"Beribu terima kasih hamba haturkan kepada Paduka, Gusti, dan mohon beribu ampun bahwa hamba seolah lebih mementingkan urusan pribadi daripada urusan negara."

"Ah, tidak, Kakang. Andika tidak salah. Memang seharusnya Joko Pekik diselamatkan lebih dulu, baru kita mengadakan serangan dan gerakan pembersihan agar mereka tidak mengganggu kita lagi."

"Terima kasih, Gusti Hamba akan mencari Joko Pekik dan juga akan menyelidiki siapa yang telah mencuri Pusaka Cupu Manik Maya. Hamba mohon ijin berangkat hari ini juga, Gusti."

"Baiklah, Kakang Patih. Berangkatlah dan doaku mengikutimu. Yang penting selamatkan dulu Joko Pekik. Soal Cupu Manik Maya dapat dicari kemudian."

Ki Patih Narotama memberi hormat dan pamit pula pada para senopati yang hadir di situ, mohon doa restu dari Empu Bharada dan Empu Kanwa.

Kemudian dia meninggalkan istana.

Diantar tangis Listyarini yang merasa amat gelisah memikirkan puteranya yang hilang diculik orang, Ki Patih Narotama berangkat meninggalkan Kahuripan.

Seperti biasa, kalau sedang melakukan perjalanan, apalagi untuk urusan pribadi, Narotama lebih suka berpakaian seperti seorang penduduk biasa.

Dia menunggang seekor kuda lalu membalapkan kudanya, langsung saja dia menuju ke Kerajaan Parang Siluman karena dia menduga bahwa puteranya pasti diculik oleh Lasmini, atau setidaknya Lasmini berada di belakang peristiwa penculikan itu.

Yang masih membesarkan hatinya adalah bahwa puteranya itu hilang diculik.

Itu berarti bahwa Joko Pekik tidak dibunuh dan masih hidup.

Kalau Si Penculik ingin membunuhnya, tentu sudah dilakukannya malam itu.

Untuk apa susah-susah menculiknya kalau hanya untuk dibunuh?

Dugaan ini membesarkan hatinya dan menimbukan keyakinan bahwa puteranya itu tentu masih hidup!

Dengan melakukan perjalanan cepat siang malam, hanya berhenti kalau kudanya sudah terlalu lelah, pada suatu hari Ki Patih Narotama telah tiba ditapal batas Kerajaan Parang Siluman.

Sudah beberapa kali dia berkunjung ke tempat tinggal Lasmini, bekas selirnya tercinta itu, maka dia sudah hafal dan mengenal jalan.

Setelah tiba di tapai batas, dia langsung saja menuju ke kota Kadipaten.

Penduduk Parang Siluman yang bertemu dengan Narotama di tengah jalan sama sekali tidak mempedulikannya karena mereka tidak mengenalnya dan menganggap dia seorang penduduk biasa.

Rakyat Parang Siluman hanya mengenal nama Ki Patih Narotama, jarang ada yang pernah melihat orangnya.

Akan tetapi, begitu ada perajurit melihat dan mengenalnya, berita tentang munculnya Ki Patih Narotama di Parang Siluman tersiar luas dan tentu saja menimbulkan kegemparan.

Tidak ada perajurit berani menghadang atau mengganggunya.

Ketika berita itu memasuki istana Parang Siluman, Ratu Durgamala segera mengadakan perundingan dengan kedua orang puterinya, Lasmini dan Mandari, dihadiri pula oleh Ki Nagakumala dan beberapa orang senopati Parang Siluman.

Sang Ratu Durgamala yang masih merasa berduka dan marah karena kegagalan usaha gabungan empat kerajaan untuk menjatuhkan Kahuripan, bahkan Parang Siluman kehilangan Bhagawan Kundolomuko, bekas suaminya yang merupakan orang andalan di Parang Siluman, dan kehilangan ribuan orang perajurit, ketika mendengar berita bahwa Ki Patih Narotama datang seorang diri di Parang Siluman, lalu berkata dengan muka merah dan kedua tangan terkepal.

"Kita kerahkan seluruh tenaga dan bunuh Si Keparat Narotama itu! Kita kepung dia, jangan sampai lolos! Mustahil dia akan mampu mengalahkan pengeroyokan ribuan orang perajurit!"

"Nanti dulu, Kanjeng Ibu!"

Kata Lasmini.

"Saya mempunyai gagasan yang lebih baik. Ki Patih Narotama adalah seorang yang sakti mandraguna. Kalau kita menggunakan kekerasan, mungkin dia akan dapat dibunuh, akan tetapi tentu akan banyak sekali orang kita yang terbunuh oleh amukannya. Pula, kalau dia mati, apa gunanya bagi kita? Kahuripan akan tetap berdiri kokoh."

"Wah, Mbakayu Lasmini agaknya masih cinta dan saying kepada Ki Patih Narotama maka hendak menghalangi kalau dia dibunuh!"

Kata Mandari.

"Hemm, dia memang seorang pria yang patut digandrungi setiap orang wanita. Akan tetapi bukan Itu maksudku. Daripada mengeroyok dan membunuhnya dengan mengorbankan banyak orang kita, lebih baik kita manfaatkan Ki Patih Narotama untuk menjamin keselamatan Parang Siluman."

"MENJAMIN keselamatan kita? Apa maksudmu, Lasmini?"

Tanya Ratu Durgakumala.

"Begini, Kanjeng Ibu. Seperti sudah saya ceritakan, saya dan bibi Dewi Durgakumala berhasil menculik putera Ki patih Narotarna, yaitu Joko Pekik Satyabudhi yang kini dibawa ke Wura-wuri oleh Kanjeng Bibi Durgakumala. Tadinya saya hendak membunuh anak itu, akan tetapi Kanjeng Bibi Dewi Durgakumala melarang dan mengatakan bahwa lebih baik anak itu dijadikan sandera, dan anak itu lalu dibawanya ke Wura-wuri. Sekarang, siasatnya itu benar dan dapat kita pergunakan untuk menundukkan Ki Patih Narotarna.

"Bagaimana siasat itu?"

Ratu Durgamala bertanya tertarik.

"Ki Patih Narotarna datang seorang diri ke sini tentu ada hubungannya dengar kehilangan puteranya. Mungkin dia dapat menduga bahwa saya yang menculik Joko Pekik Satyabudhi, maka dia datang kesini untuk minta kembali puteranya. Nah kalau dia datang, saya akan mengancam untuk membunuh Joko Pekik kalau dia membuat ulah. Saya akan memaksa dia berjanji untuk melindungi Parang Siluman dari serangan Kahuripan dengan imbalan puteranya tidak akan kita bunuh dan kelak kita kembalikan kepadanya. Nah bukankah gagasan ini jauh lebih menguntungkan daripada membunuhnya dan kita kehilangan banyak sekali perajurit, bahkan ada bahayanya dia akan dapat meloloskan diri? Ingat, Kanjeng Ibu, Ki Patih Narotarna itu sakti mandraguna dan memiliki Aji Panglimunan yang membuat dia mudah meloloskan diri."

Semua orang tertegun mendengar gagasan yang dikemukakan Lasmini itu.

Mereka tahu bahwa Aji Panglimunan membuat orang dapat menghilang dan mudah untuk melarikan diri.

Kalau Bhagawan Kundolomuko masih ada, mungkin pendeta itu dapat membuyarkan Aji Panglimunan itu.

Akan tetapi dia sudah tidak ada dan kalau benar Ki Patih Narotarna mempergunakan ajian itu, akan sulitlah bagi mereka untuk dapat menangkapnya atau membunuhnya.

"Apa yang dikemukakan Ni Lasmini itu benar sekali."

Kata Ki Nagakumala, kakak dari Ratu Durgamala.

"Kukira, setelah usaha serangan kita bersama tiga kerajaan lain terhadap Kahuripan gagal, Sang Prabu Erlangga pasti tidak akan tinggal diam dan akan mengirim pasukannya untuk menyerang balik dan menundukkan kita. Dengan bergabung saja kita tidak mampu mengalahkan Kahuripan, apalagi kalau pasukan Kahuripan menyerbu ke sini, bagaimana mungkin kita akan dapat mempertahankan diri? Maka, gagasan Ni Lasmini tadi tepat sekali. Kita ancam Ki Patih Narotarna bahwa kalau dia mengamuk dan tidak mau menjamin agar Kahuripan tidak menyerang dan menaklukkan Parang Siluman, kita akan bunuh puteranya itu!"

Ratu Durgamala mengangguk-angguk.

"Agaknya memang itu merupakan siasat terbaik, Kakang Nagakumala. Akan tetapi siapa yang akan menghadapi Ki Patih Narotama dan bicara dengan dia? Dia berbahaya sekali, tangan dan kakinya dapat menyebar maut yang mengerikan!"

"Jangan khawatir, Kanjeng Ibu. Saya yang akan menghadapi dan bicara dengannya. Saya yakin bahwa Ki Patih Narotama tidak akan tega membunuh saya. Saya yakin dia masih mempunyai perasaan sayang kepada saya."

Demikianlah, rapat kilat itu memutuskan agar Lasmini yang akan menghadapi Ki Patih Narotama, sementara itu yang lain akan mempersiapkan diri, menyiapkan pula pasukan, untuk mengepung dan mengeroyok kalau Ki Patih Narotama yang ditakuti itu akan mengamuk.

Sementara itu, Lasmini minta bantuan uwanya, juga gurunya, Ki Nagakumala untuk mengambil dan "meminjam"

Joko Pekik Satyabudhi.

Menurut persetujuan antara Lasmini dan Permaisuri Wura-wuri, Dewi Durgakumala, putera Ki Patih Narotama itu disembunyikan disebuah tempat, yaitu di dalam Dusun Ketanggungan yang terletak di perbatasan utara Kerajaan Parang Siluman dan Kerajaan Wura-wuri, dalam asuhan seorang biyung emban (inang pengasuh) yang setia dan dipercaya dari Kerajaan Wura-wuri, dan dijaga oleh dua orang perwira dan diawasi oleh Senopati Gandarwo sendiri yang kadang-kadang datang ke Dusun Ketanggungan untuk melihat keadaan anak itu.

Ki Nagakumala lalu cepat berangkat ke Dusun Ketanggungan untuk "meminjam"

Anak itu agar dapat dipergunakan untuk mengancam dan memaksa Ki Patih Narotama menurut keinginan Lasmini.

Saat yang ditunggu-tunggu dengan jantung berdebar penuh ketegangan oleh para pimpinan Parang Siluman itu akhirnya tiba.

Pagi hari itu udara amat cerah, matahari bersinar lembut dan terang.

Derap kaki seekor kuda memecah kesunyian di halaman istana Parang Siluman yang berupa sebuah alun-alun yang luas itu.

Narotama menjalankan kudanya dengan congklang, melintasi alun-alun menuju ke istana.

Di depan istana, Narotama melompat turun dari atas pelana kudanya dan menambatkan kendali kuda pada sebatang pohon sawo kecik yang tumbuh di situ.

Dia tidak heran melihat suasana lengang di depan Istana.

Dia dapat menduga bahwa tentu Lasmini dan para pimpinan Parang Siluman sudah tahu akan kedatangannya dan sudah siap menyambutnya, entah dengan cara bagaimana.

Kesepian alun-alun dan halaman kraton (istana) itu tentu merupakan siasat mereka, pikirnya.

Kalau belum diatur sebelumnya, tidak mungkin istana tidak dijaga seorang pun perajurit!

Perasaannya yang peka, pendengaran dan penglihatannya yang tajam membuat dia tahu bahwa sekeliling tempat itu sudah terkepung banyak sekali orang yang masih bersembunyi!

Maka setelah menambatkan kudanya, Narotama melangkah ke depan pendapa istana Parang Siluman, lalu mengerahkan tenaga saktinya berseru sehingga suaranya melengking nyaring sekail sampai dapat terdengar dari seluruh bagian dalam istana itu!

"Haiii!

Para penguasa di Parang Siluman!

Keluarlah, tidak perlu sembunyi.

Aku, Narotarma, ingin bicara dengan Andika sekalian!"

Dari dalam istana muncullah Ni Lasmini yang cantik jelita.

Wanita ini mengenakan pakaian baru dengan perhiasan yang serba indah, wajahnya segar dan rambutnya disisir dan digelung rapi, wajahnya dirias sehingga tampak cantik berseri seperti seorang mempelai wanita hendak menyambut suaminya, sang mempelai pria!

Langkahnya seperti harimau kelaparan, dengan lenggang lenggok lemah gemulai dan lentur seperti menari.

Sedetik muncul perasaan rikuh juga dalam hati Narotama karena dia sendiri berpakaian seperti seorang dusun.

Harus diakui bahwa wanita yang berwajah amat jelita dengan tubuh yang indah menggairahkan itu memiliki daya tarik yang luar biasa dan begitu dia mengenangkan kehidupan antara mereka dahulu, bangkit gairah berahinya.

Akan tetapi segera dia dapat menekannya dan menatap wanita yang melangkah maju dengan senyum manis itu dengan tenang.

Setelah tiba di depan Narotama, dalam jarak sekitar tiga tombak, di luar pendapa istana, masih di halaman, Lasmini mengangkat tangan kirinya ke atas dan Narotama mendengar gerakan orang-orang di sekitarnya.

Ketika dia menoleh tampaklah banyak sekali perajurit telah mengepung tempat itu, siap dengan senjata lengkap.

Mungkin tidak kurang dari seribu orang yang berlapis-lapis mengepung alun-alun kraton Parang Siluman itu!

Narotama tersenyum.

"Hemm, Lasmini, apa maumu dengan penyambutan seperti ini? Apa kau kira aku akan gentar menghadapi pengepungan semacam ini?"

Lasmini tersenyum manis.

"Kakangmas Narotama, ingatlah bahwa sekarang kita berhadapan sebagai pemilik rumah dan tamunya. Aku pemilik rumah dan engkau tamunya. Sebaiknya pertanyaanmu itu dikembalikan kepadamu. Apa maumu datang berkunjung ke sini?"

"Lasmini, sebenarnya, tanpa bertanyapun engkau pasti sudah tahu apa mauku datang berkunjung ke sini. Akan tetapi karena engkau bertanya, baiklah aku akan menjawab. Engkau telah menculik puteraku, Joko Pekik Satyabudhi. Anak kecil berusia satu setengah tahun itu tidak tahu apa-apa, tidak bersalah apapun terhadap dirimu, dan tidak ada sangkut pautnya dengan urusan permusuhan antara kerajaan! Aku datang untuk minta kepadamu dan para penguasa di Parang Siluman. Kembalikanlah puteraku Joko Pekik Satyabudhi kepadaku!"

Lasmini yang cerdik merasa tidak perlu lagi menyangkal.

"Kakangmas Narotama, bagaimana kalau tidak kami kembalikan?"

Sepasang alis itu berkerut, sepasang mata mencorong mengeluarkan cahaya berkilat. Suaranya terdengar menggetar ketika Narotarna berkata.

"Kalau sampai puteraku dibunuh...!"

Dia lalu mengeluarkan suara gerengan yang demikian dahsyatnya sehingga mengguncang seluruh istana Parang Siluman, bahkan banyak perajurlt yang berdiri paling depan terpelanting.

Lasmini sendiri melangkah mundur beberapa kali karena tidak tahan menghadapi getaran teriakan itu.

Narotama menghentikan gerengannya dan berkata.

"Kalau Joko Pekik Satyabudhi dibunuh, aku bersumpah akan melumatkan seluruh Parang Siluman, tidak ada yang kubiarkan hidup!!"

Wajah Lasmini agak pucat. Belum pernah ia, selama menjadi selir terkasih patih itu, melihat Narotama marah sehebat itu. Akan tetapi ia tersenyum manis.

"Kakangmas Narotama, siapa yang tega membunuh puteramu yang mungil itu? Jangan khawatir, Kakangmas, Joko Pekik Satyabudhi berada dalam keadaan sehat dan terawat baik-baik."

Kemudian suara Lasmini berubah, ketus dan penuh ancaman.

"Akan tetapi, kalau engkau membuat ulah dan tidak mau memenuhi syarat yang kami ajukan, kami pasti akan membunuhnya sebelum engkau sempat melakukan sesuatu!"

Narotama mengenal benar siapa Lasmini.

Wanita cantik jelita dengan daya tarik yang dapat meluluhkan hati setiap orang pria ini amat cerdik dan dia tahu bahwa dalam keadaan seperti itu, Lasmini pasti tidak akan berani mengeluarkan gertakan kosong belaka.

"Buktikan dulu bahwa dia berada dalam keadaan baik-baik dan sehat, baru kita bicara."

Katanya tegas.

Lasmini mengangguk dan tersenyum, lalu menoleh ke belakang, ke arah menara di atas pintu gerbang pendapa dan memberi isyarat dengan lambaian tangan.

Karena memang sudah diatur sebelumnya, ketika Narotama memandang kearah menara, tampak muncul seorang biyung emban memondong seorang anak laki-laki berusia satu setengah tahun, didampingi oleh seorang kakek berusia lima puluhan tahun, berkumis lebat melintang dan bersikap gagah.

Narotama mengenal anak itu yang bukan lain adalah puteranya, Joko Pekik Satyabudhi, dan mengenal pula kakek itu yang terkenal sakti, yaitu Ki Nagakumala, uwa dan juga guru Lasmini dan Mandari.

Ki Nagakumala berbisik kepada biyung emban yang mengangkat anak itu ke atas dan menuding ke bawah.

Joko Pekik Satyabudhi baru berusia satu setengah tahun, melihat banyak orang di bawah menara dia jadi gembira, tertawa-tawa dan melambaikan tangan.

Melihat ini, jantung Narotarna seperti ditusuk, akan tetapi dia menenangkan diri.

Sudah terbukti bahwa puteranya memang berada dalam keadaan sehat, bahkan dari sikap anak yang tertawa-tawa itu dia tahu bahwa puteranya diperlakukan dengan baik.

Dia pun tahu bahva tidak ada gunanya kalau dia mencoba untuk merampas anak itu.

Sebelum ia melakukan sesuatu, Ki Nagakumala yang sakti itu tentu akan dengan mudah lebih dulu membunuh Joko Pekik!

Setelah memberi kesempatan ayah itu melihat keadaan anaknya, Lasmini memberi isyarat dengan tangannya ke atas dan Ki Nagakumala mengiringkan biyung emban yang memondong Joko Pekik itu menghilang lagi ke dalam menara.

"Nah, Kakangmas Narotarna, engkau lihat sendiri bahwa aku tidak berbohong. Puteramu berada dalam keadaan baik-baik dan sehat. Kami akan merawatnya dengan baik selama engkau memenuhi persyaratan kami."

"Katakan apa syaratmu!"

Kata Ki Patih Narotama singkat.

"Akan tetapi awas jangan minta aku berkhianat dan memusuhi Sang Prabu Erlangga! Aku rela mengorbankan anakku dan diriku untuk membelanya, dan anakku akan mati bersama kalian semua. Tidak ada seorang pun dari kalian akan terlepas dari pembalasan kalau kalian membunuh anakku!"

"Tenang dan sabarlah, Kakangmas Narotama yang ganteng! Kami hanya minta agar engkau menjamin bahwa Kahuripan tidak akan menyerang dan menaklukkan Parang Siluman. Kalau sampai kami diserang Kahuripan, terpaksa anakmu akan kami bunuh dan menghadapi segala akibatnya."

"Hemm, bagaimana kalau aku dapat mengusahakan agar Parang Siluman tidak sampai diserang oleh Kahuripan?"

"Kami akan merawat Joko Pekik secara baik-baik dan menjamin keselamatannyal"

"Lasmini, aku sudah mengenal kelicikanmu! Janjimu tidak dapat kupercaya. Sampai kapan engkau akan menahan anakku?"

"Begini, Kakangmas Narotarna! Engkau boleh tidak percaya padaku, akan tetapi aku percaya padamu. Karena itu, untuk sementara kami akan merawat puteramu Joko Pekik dan selama Kahuripan tidak menyerang Parang Siluman, puteramu dijamin keselamatannya. Setelah lewat lima tahun dan Kahuripan sama kali tidak mengganggu kami, Joko Pekik Satyabudhi akan kami kembalikan kepadamu dalam keadaan sehat dan selamat. Sekarang terserah kepadamu keputusan apa yang kau pilih. Puteramu selamat dan kami pun selamat, atau kita sama-sama hancur binasa berikut puteramu!"

Narotarna menghela napas panjang.

Terbayang olehnya betapa akan hancur hati Listyarini kalau sampai putera mereka itu terbunuh!

Dan bagaimanapun juga, dia masih sangsi apakah dia benar-benar akan tega mengamuk dan membunuhi semua orang di Parang Siluman.

Dia merasa kaki tangannya diikat oleh Lasmini yang cerdik itu.

Bagaimanapun juga Lasmini ternyata dapat menyelami hatinya dan tidak minta agar dia memusuhi Sang Prabu Erlangga, hal yang tidak mungkin dia lakukan, biarpun harus berkorban segalanya.

"Baiklah, Lasmini, kita lihat saja siapa di antara kita yang melanggar janji. Akan tetapi tentu saja Parang Siluman juga tidak boleh mengacau dan mengganggu daerah Kahuripan lagi."

"Tentu saja, Kakangmas."

"Awas orang-orang Parang Siluman pegang janjimu dan jangan ganggu puteraku Joko Pekik Satyabudhi!"

Narotama berteriak lantang, dan tiba-tiba tubuhnya lenyap, menjadi kabut karena dia telah mengerahkan Aji Pangllmunan!

Tentu saja Lasmini cepat memberi isyarat kepada semua orang untuk waspada dan terutama sekali Ki Nagakumala menjaga Joko Pekik dengan ketat dan berlapis agar jangan sampai kecolongan oleh Narotama.

Akan tetapi, Narotama adalah seorang satria yang teguh memegang janjinya.

Bagi dia, melanggar janji berarti menghancurkan kehormatan diri dan merupakan pantangan yang hina baginya.

Dia pulang dan menceritakan semua pengalamannya kepada Llstyarlnl, lalu menghibur isterinya tercinta itu.

"Tenang dan bersabarlah, Diajeng. Percayalah bahwa Sang Hyang Widhi akan selalu Melindungi anak kita dan nanti pasti ada jalan untuk mengembalikan Joko Pekik ke pangkuanmu tanpa harus melanggar janjiku kepada Parang Siluman."

Setelah menghibur isterinya, Ki Patih Narotama lalu menghadap Sang Prabu Erlangga.

"Bagaimana hasil pencarianmu, Kakang Patih Narotama? Sudahkah Andika berhasil menemukan puteramu?"

Narotama mengangguk dan menyembah.

"Mendapat pangestu (restu) Paduka, hamba telah melihat Joko Pekik dan dia berada dalam keadaan sehat dan selamat di Parang Siluman, Sinuwun."

"Tapi, mengapa tidak Andika bawa pulang?"

"Belum bisa, Sinuwun, Anak itu dijaga ketat sehingga belum mungkin dapat hamba rebut kembali. Akan tetapi setidaknya, dia berada dalam keadaan selamat."

Kata Narotarna.

Dia merasa malu untuk menceritakan tentang ikatan janjinya dengan Lasmini.

Inilah kesalahan besar yang sama sekali tidak disadari Narotarna.

Perasaan malunya untuk mengaku kepada Sang Prahu Erlangga tentang perjanjiannya dengan Lasmin menempatkan dia dalam keadaan yang akan menyulitkan.

"Kalau begitu, bagaimana dengan rencana penyerbuan kita, Kakang Patih?"

"Sebaiknya dilaksanakan sekarang sebelum mereka sempat memperkuat diri, Sinuwun."

Kata Narotarna dan para senopati yang hadir di situ menyatakan setuju.

"Baiklah, kalau begitu, kami menyerahkan kekuasaan kepada Andika, Kakang Patih, untuk memimpin para senopati, perwira, dan pasukan untuk menyerang dan menaklukkan mereka agar lain kali mereka tidak akan berani mengganggu kita lagi. Nah, buatlah persiapan secukupnya dan segera berangkat!"

Lega juga hati Narotarna ketika dia diserahi kekuasaan untuk memimpin penyerangan karena dengan demikian, tentu saja dia dapat melewati Parang Siluman atau setidaknya menunda niat penyerangan Kahuripan ke Parang Siluman.

Setelah mempersiapkan pasukan yang cukup besar, Ki Patih Narotarna mengundang para senopati dan perwira bawahannya dan memberitahu bahwa yang pertama kali mereka serang adalah Kerajaan Wura-wuri.

"Wura-wuri merupakan lawan yang cukup kuat dan kerajaan ini yang terdekat, maka akan kita serbu lebih dulu. Puspa Dewi, karena engkau lebih mengenal daerah Wurawuri, maka engkau kami angkat menjadi pemimpin pasukan pelopor yang terdiri dari seribu orang perajurit. Tugasmu adalah melakukan pendobrakan pertama, menyelidiki keadaan musuh dan membuka jalan bagi pasukan besar. Ingat, dan juga para senopati dan perwira harus ingat betul bahwa tugas kita semua seperti yang ditekankan Gusti Sinuwun bukanlah untuk merusak atau membunuh, melainkan hanya menaklukkan. Maka, dilarang keras untuk sembarangan membunuh, kecuali kalau membela diri, dilarang keras mengambil barang berharga penduduk Wura-wuri, dan dilarang keras menyiksa dan mengganggu wanita. Siapa yang melanggar akan mendapat hukuman keras, sebaliknya yang menaati perintah dan melaksanakan dengan baik, tentu akan memperoleh ganjaran dari Gusti Sinuwun."

Demikianlah, setelah membagi-bagi tugas, tiga hari kemudian Ki Patih Narotama memimpin pasukan Kahuripan menuju ke Wura-wuri.

Seperti juga keadaan di Parang Siluman dan dua kerajaan yang lain, para pimpinan Kerajaan Wura-wuri juga mengalami kedukaan dan kekecewaan karena dalam perang melawan Kahuripan itu mereka menderita kekalahan besar.

Tiga orang senopati andalan mereka, yaitu Tri Kala yang terdiri dari Kala Muka, Kala Manik, dan Kala Teja, telah tewas dalam pertempuran.

Juga mereka kehilangan ribuan orang perajurit.

Pimpinan tertinggi di Wura-wuri adalah Adipati Bhismaprabhawa, permaisurinya yaitu Nyi Dewi Durgakumala, dan Senopati Muda Ki Gandarwo.

Setelah menderita kekalahan, kehilangan Tri Kala, Adipati Bhismaprabhawa lalu mengutus Ki Gandarwo untuk mengundang orang pandai agar dapat menggantikan tiga orang Tri Kala yang tewas, dan memperkuat Wura-wuri.

Ki Gandarwo segera mengundang lagi kakak seperguruannya, yaitu Cekel Aksomolo.

Dahulu, Cekel Aksomolo juga pernah membantu Wura-wuri melalui Ki Gandarwo, akan tetapi dia lalu kembali ke tempat pertapaannya, yaitu di Hutan Werdo, lereng Gunung Wilis.

Ketika didatangi Ki Gandarwo, Cekel Aksomolo yang berusia sekitar tiga puluh satu tahun itu menerima undangan Adipati Wura-wuri dan dia pun ikut bersama Ki Gandarwo menghadap Adipati Wura-wuri.

Cekel Aksomolo yang sakti dan cerdik Itu diterima dengan gembira dan hormat oleh Adipati Bhismaprabhawa dan karena Sang Adipati sudah mengetahui kesenangan Cekel Aksomolo, maka pertapa muda ini lalu diberi sebuah rumah mungil Indah dan mewah.

Dan tidak lupa, Adipati Bhismaprabhawa menyediakan beberapa orang pemuda perjaka remaja yang tampan wajahnya untuk melayaninya.

Pertapa muda yang tinggi kurus bongkok, mukanya seperti Pendeta Durna, dan suaranya tinggi kecil seperti suara wanita ini mempunyai watak yang aneh.

Dia sama sekali tidak suka kepada wanita, akan tetapi dia suka sekali kepada pemuda-pemuda remaja yang ganteng yang dia jadikan kekasihnya!

Pada suatu pagi, Adipati Bhismaprabhawa mengadakan persidangan dengan Isterinya, Nyi Dewi Durgakumala dan para pembantunya, yaitu Ki Gandarwo, Cekel Aksomolo, dan beberapa orang perwira pembantu.

Dalam rapat ini, Adipati Bhismaprabhawa menyatakan kekhawatirannya bahwa Kahuripan tentu akan melakukan serangan balasan ke Wura-wuri, padahal Wura-wuri baru saja mengalami kekalahan, banyak perajurit tewas dan sisa para perajurlt menurun semangatnya karena kekalahan itu.

"Kalau Kahuripan menyerang selagi kita berada dalam keadaan lemah seperti sekarang ini, tentu akan berbahaya sekail."

Sang Adipati menyatakan kekhawatirannya.

"Hi-hik-he-he-he!"

Cekel Aksomolo terkekeh genit lalu berkata dengan suaranya yang seperti wanita.

"Gusti Adipati mengapa mengkhawatirkan hal itu? Harap Paduka tenang! Kalau Kahuripan berani menyerang ke sini... ah, hal itu kecil saja! Ada saya, Cekel Aksomolo di sini, dan tangan kakiku, kalau perlu tasbeh dan ganitri (biji tasbeh) saya ini tentu akan membinasakan dan mengusir mereka! Heh-he-he-he!"

Mendengar ucapan yang sombong ini, hati Adipati Bhismaprabhawa bukan menjadi tenang, bahkan dia semakin gelisah.

Dia tahu bahwa Cekel Aksomolo memang sakti, akan tetapi kalau sikapnya demikian takaburnya, Sang Adipati meragukah kemampuannya.

Melihat suaminya tampak gelisah, Nyi Dewi Durgakumala berkata dengan nada suara menghibur.

"Kakangmas Adipati. Paduka tenanglah. Saya telah memiliki senjata yang ampuh untuk menghadapi Kahuripan. Kalau pasukan Kahuripan menyerang, biasanya yang menjadi Manggala (Pemimpin) Agung tentu Ki Patih Narotama. Paduka tahu bahwa saya dan Ni Lasmini telah berhasil menculik putera Ki Patih Narotama. Dengan adanya puteranya di tangan kita, maka Ki patih Narotama tentu tidak berani menyerang kita. Kita pergunakan anak itu sebagai sandera untuk memaksa Ki Patih Narotama menarik mundur pasukannya dan selanjutnya tidak akan mengganggu kita lagi."

Adipati Bhismaprabhawa mengangguki -angguk, lalu mengerutkan alisnya.

"Pendapatmu itu benar, Diajeng. Akan tetapi bagaimana kalau yang menjadi Manggala Perang bukan Ki Patih Narotama, melainan Sang Prabu Erlangga sendiri?"

Nyi Dewi Durgakumala menggeleng kepalanya.

"Rasanya tidak mungkin Sang Prabu Erlangga memimpin sendiri pasukannya. Biasanya dia tentu mewakilkannya kepada Ki Patih Narotarna. Akan tetapi, andaikata Sang Prabu Erlangga sendiri yang memimpin, tetap saja kita dapat menggunakan Joko Pekik Satyabudhi itu sebagal sandera. Sang Prabu Erlangga amat menyayang dan menghormati Ki Patih Narotarna. Mereka berdua itu tunggal guru dan seperti saudara saja. Tentu dia tidak akan tega mengorbankan putera Ki Patih Narotarna."

"Akan tetapi anak itu sekarang tidak berada di sini. Bukankah tempo hari andika melaporkan bahwa anak itu dipinjam oleh Kerajaan Parang Siluman?"

Tanya Sang Adipati.

"Benar, Kakangmas. Saya dan Ni Lasmini bersepakat untuk menyembunyikan anak itu di suatu tempat yang tersembunyi dan aman, di perbatasan. Tempo hari Lasmini utusan Ki Nagakumala untuk meminjam dan mengambil Joko Pekik Satyabudhi."

"Kalau begitu sebaiknya kita mengutus orang untuk mengambilnya kembali dan agar untuk semenara anak itu berada di sini sehingga kalau sewaktu-waktu pasukan Kahuripan menyerang, kita dapat mempergunakan anak itu sebagai perisai!"

Nyi Dewi Durgakumala mengangguk dan tersenyum, lalu memandang kepada Ki Gandarwo.

"Senopati Gandarwo, Andika berangkatlah ke Kerajaan Parang Siluman, bawalah pesanku kepada Sang Ratu Durgamala dan kedua Puteri Lasmini dan Mandari, juga Ki Nagakumala, bahwa kami di sini membutuhkan kehadiran Joko Pekik Setyabudhi putera Ki Patih Narotama. Bawalah anak itu ke sini dan bawa perajurit secukupnya agar dapat mengawal anak itu sehingga dapat selamat sampai di sini."

Ki Gandarwo, senopati muda tampan yang juga menjadi kekasih gelap Nyi Dewi Durgakumala, matur sendlka (menaati) dan segera berangkat bersama seregu pasukan ke Parang Siluman.

Akan tetapi, beberapa hari kemudian, Ki Gandarwo kembali melaporkan bahwa Parang Siluman tidak dapat menyerahkan Joko Pekik Satyabudhi karena mereka membutuhkan anak itu sendiri.

Tentu saja Nyi Dewi Durgakumala menjadi marah sekali.

"Keparat Si Lasmini. Dulu ia hendak membunuh anak itu. Aku yang mempunyai gagasan agar anak itu dijadikan sandera untuk kepentingan Wura-wuri dan Parang Siluman! Akan tetapi sekarang ia hendak menguasainya sendiri untuk kepentingan Parang Siluman! Apa mereka mengira Wura-wuri takut melawan Parang Siluman yang kecil? Kita gempur saja dan minta anak itu dengan kekerasan!"

Nyi Dewi Durgakumala berseru marah.

Dengan wajah merah Nyi Dewi Durgakumala sudah bangkit dan hendak mengerahkan pasukan untuk menyerang Parang Siluman, untuk merampas Joko Pekik yang ditahan di Parang Siluman.

Akan tetapi suaminya cepat bangkit, memegang pundaknya dan mengajaknya duduk kembali, berkata dengan halus.

"Bersabarlah, Diajeng. Kalau kita menuruti nafsu amarah dan menyerang Parang Siluman, berarti di antara kita terjadi bentrokan sendiri yang akhirnya hanya melemahkan kita. Padahal kita sama-sama terancam oleh Kahuripan."

Para senopati mendukung ucapan Adipati Bhismaprabhawa ini sehingga akhirnya Nyi Dewi Durgakumala mengalah.

"Baiklah, Kakangmas Adipati, saya tidak akan menuruti amarah dan menyerang sekutu sendiri, akan tetapi Parang Siluman sungguh mau enaknya sendiri saja. Saya akan mencoba untuk mengancam Narotarna agar dia tidak menyerang kita atau akan membunuh puteranya! Kalau dia tidak percaya dan tetap menyerang, kita harus mempertahankan diri. Untuk itu kita harus memperkuat diri dan saya akan mengundang dua orang kakak seperguruan saya, dua orang saudara kembar yang menjadi datuk-datuk Blambangan, yaitu Menak Gambir Anom dan Menak Gambir Sawit. Sudah puluhan tahun kami tidak saling jumpa, akan tetapi kalau saya mengirim utusan kesana memanggil mereka, pasti mereka akan datang dan membantu kita. Kedua kakak seperguruan saya itu memiliki kesaktian yang boleh diandalkan."

Adipati Bhismaprabhawa menjadi girang sekali dan Nyi Dewi Durgakumala segera mengirim utusan mengundang dua orang datuk Blambangan itu.

Telah lama kita berpisah dari Nurseta dan sekarang kita ikuti perjalanan pemuda perkasa yang pergi mencari Niken Harni dan Puspa Dewi itu.

Pada suatu pagi, Nurseta berjalan memasuki kota Kadipaten Wengker yang sunyi.

Pada waktu itu, kota kadipaten itu memang sepi karena ditinggalkan para pimpinan Kadipaten Wengker berikut para perwira pembantu mereka dan memimpin pasukan sebanyak selaksa orang perajurit lebih, bergabung dengan para kadipaten lain melakukan penyerbuan terhadap Kerajaan Kahuripan!

Para perajurit pasukan yang ditinggalkan untuk menjaga kadipaten tidak ada yang mengenal Nurseta, maka pemuda itu dapat memasuki kadipaten dengan aman tanpa ada yang mengganggu, karena Nurseta memakai pakaian sederhana, dan biasa seperti para pemuda lainnya.

Karena semua senopati dan perwira dikerahkan untuk ikut dalam pasukan yang menyerang ke Kahuripan, maka yang bertugas menjaga kota kadipaten adalah Tumenggung Suramenggala.

Ki Suramenggala ini diangkat menjadi tumenggung bukan karena kepandaiannya, bukan karena kedigdayaannya yang tidak seberapa, melainkan karena dia adalah ayah kandung Adipati Linggawijaya.

Maka dia tidak diikutkan dalam perang.

Dasar watak Ki Suramenggala ini memang buruk.

Dia sudah sejak mudanya selalu mengagulkan diri sendiri, penuh dikusaai daya rendah nafsu-nafsunya sehingga dirinya sepenuhnya menjadi budak nafsu yang selalu haus akan kesenangan dan mengejar-ngejar kesenangan, tidak pantang bersikap sewenang-wenang.

Maka, kini mendapat kesempatan menjadi penguasa sementara di Wengker, tidak ada orang lain yang lebih tinggi kedudukannya daripada dia, maka dia merasa seolah menjadi raja besar di Kerajaan Wengker.

Sama sekali dia tidak ikut prihatin, tidak mendoakan agar penyerangan Wengker ke Kahuripan berhasil.

Bahkan setiap hari dia berpesta pora dengan dua orang gadis dayang yang diambilnya dari istana Adipati Linggawijaya dan dijadikan selirnya, penambah kumpulan selirnya yang sudah banyak itu, tanpa menanti kembalinya Adipati Linggawijaya untuk minta persetujuannya.

Pada siang hari itu, selagi dia berpesta pora sambil menonton tarian menggairahkan para penari, minum arak sampai mabok dilayani dua orang selirnya yang baru, tiba-tiba terdengar suara gaduh di depan gedungnya yang mewah menyaingi kemewahan istana kadipaten sendiri.

Tumenggung Suramenggala mengerutkan alisnya dan kemarahannya bangkit karena dia merasa terganggu dalam kesenangannya.

Menuruti wataknya yang keras dan siap memberi hukuman berat kepada pengganggunya, dia lalu bangkit berdiri meninggalkan dua orang selir barunya itu dan melangkah lebar berjalan keluar.

Seorang perajurit pengawal hampir menabraknya.

"Heh, mengapa kamu menabrak-nabrak! Matamu buta, ya?"

Bentak Tumenggung Suramenggala.

"Ampunkan hamba, Gusti Tumenggung. Di luar ada seorang laki-laki hendak memasuki gedung. Hamba dan kawan kawan sudah melarangnya, akan tetapi dia hendak nekat sehingga terjadi keributan."

Perajurit itu melapor.

"Jahanam! Minta mampus dia!"

Tumenggung Suramenggala setengah berlari keluar agar dapat cepat menghukum pengacau itu.

Setibanya di pendapa, dia melihat belasan orang perajurit pengawalnya sudah rebah malang melintang dan mengaduh-aduh, ada yang bengkak pipinya, ada yang salah urat, ada yang mulas perutnya, ada pula yang pening kepalanya.

Mereka semua baru saja menerima hajaran, tamparan atau tendangan.

Tumenggung Suramenggala terkejut dan matanya terbelalak mencari-cari karena dia tidak melihat orang yang membikin kacau di gedungnya.

"Ki Suramenggala, Andika mencariku?"

Tiba-tiba ada suara di belakangnya. Ki Suramenggala cepat membalikkan tubuhnya dan matanya terbelalak kaget ketika dia melihat dan mengenal pemuda yang berdiri tersenyum memandangnya.

"Nurseta...! Engkau..., mau apa kau membikin kacau disini?"

Tumenggung Suramenggala sudah menoleh hendak berteriak memanggil bala bantuan, akan tetapi Nurseta cepat berseru.

"Tidak perlu, Ki Suramenggala. Sebelum pasukanmu tiba disini, Andika tentu akan kurobohkan lebih dulu. Aku datang bukan untuk membuat ribut! Aku hanya menuntut agar Andika menjawab sejujurnya. Di mana Niken Harni dan Puspa Dewi yang beberapa waktu yang lalu berkunjung ke sini? Jawab sejujurnya dan aku tidak akan menggunakan kekerasan!"

Agak lega hati Ki Suramenggala yang tadinya sudah amat ketakutan itu.

"Ah, itukah yang engkau tanyakan, Nurseta? Belum lama ini, Puspa Dewi juga datang ke sini menanyakan tentang adiknya yang bernama Niken Harni itu dan aku sudah mernberitahu kepadanya di mana adanya Niken Harni."

"Hemm, katakan kepadaku, Ki Suramenggala, di mana adanya Niken Harni?"

"Seperti sudah kuberitahukan Puspa Dewi, ketika itu Niken Harni memang menjadi tamu di sini. Akan tetapi pada suatu malam datang Nini Bumigarbo dan nenek sakti itu membawa pergi Niken Harni. Tidak ada seorang pun yang berani menentangnya!"

"Hemm, benarkah keteranganmu itu?"

"Aku bersumpah!"

"Siapa percaya kepada sumpahmu, Ki Suramenggala? Kalau engkau memberi keterangan seperti itu kepada Puspa Dewi, lalu ke mana perginya Puspa Dewi sekarang?"

"Aku tidak tahu, Nurseta. Ia tidak mengatakannya. Setelah mendapat keterangan itu, ia lalu pergi lagi. Aku bersumpah memang begitulah keadaannya, aku tidak berbohong!"

"Sekarang katakan, kemana Niken Harni dibawa pergi oleh Nini Bumigarbo? Aku mendengar bahwa permaisuri Wengker, Dewi Mayangsari, adalah murid Nini Bumigarbo. Nah, tentu kalian tahu di mana tempat tinggal Nini Bumigarbo. Katakan dimana tempat tinggalnya!"

Suara Nurseta mengandung ancaman dan Ki Suramenggala yang sudah maklum akan kedigdayaan pemuda itu bergidik.

"Ah, Nurseta. Siapa yang dapat melacak di mana adanya wanita sakti mandraguna seperti Nini Bumigarbo? Hanya aku pernah mendengar Dewi Mayangsari berkata bahwa gurunya itu mempunyai pesanggrahan di puncak Gunung Kelud."

"Biarlah kali ini aku percaya kepadamu, Ki Suramenggala. Akan tetapi kalau ternyata kau bohong, aku akan kembali dan minta pertanggungan jawabmu! Selamat tinggal!"

Setelah berkata demikian, Nurseta keluar dari situ, dan dia pun melakukan perjalanan cepat menuju ke Gunung Kelud.

Keadaan Wengker yang sunyi tadinya membuat dia merasa heran.

Akan tetapi dari seorang perajurit yang dia paksa mengaku dia mendengar bahwa para pimpinan Wengker membawa pasukan besar menyerang Kahuripan.

Dia merasa kecewa bahwa dia terlambat untuk ikut mempertahankan Kahuripan dari penyerangan itu, akan tetapi dia merasa bahwa mencari dan menolong Niken Harni dan mungkin juga Puspa Dewi pada saat itu lebih penting.

Mendengar bahwa Niken Harni dibawa pergi Nini Bumigarbo, dia merasa khawatir sekali.

Nenek itu seorang yang luar biasa sekali, sakti mandraguna dan berwatak aneh.

Membayangkan Niken Harni berada dalam kekuasaan nenek yang aneh itu, sungguh membuat hatinya khawatir.

Apalagi besar kemungkinan Puspa Dewi juga menyusul ke sana.

Biarpun dia tahu bahwa Puspa Dewi sakti dan tangguh, namun menghadapi Nini Bumigarbo sulitlah bagi gadis itu untuk mampu menandinginya.

Inilah sebabnya maka Nurseta tetap melakukan pencarian ke Gunung Kelud, walaupun hatinya juga merasa tidak enak dan kecewa bahwa pada saat Kahuripan terancam bahaya penyerangan Wengker, dia tidak dapat membantu dan membela.

Sinar matahari yang mulai menghangat pada pagi hari itu perlahan-lahan mengusir halimun yang enggan meninggalkan bumi.

Namun kehangatan sinar matahari mengusik mereka dan dibantu oleh angin pagi pegunungan yang semilir lembut, halimun mulai mengudara dan cuaca mulai menjadi terang.

Kokok ayam jantan sudah lama berhenti, juga burung-burung sudah meninggalkan sarang.

Dari puncak Gunung Kelud, pedusunan yang berada di lereng bawah, hanya tampak samar-samar atap rumah itu, akan tetapi pagi ini seperti biasa, asap yang membubung dari atap dapur rumah-rumah itu tampak jelas, menandakan bahwa di sana penghuni dusun mulai sibuk dengan pekerjaan mereka.

Sejak fajar tadi Niken Harni sudah duduk di atas batu yang biasa ia pergunakan untuk duduk bersamadhi.

Nini Bumigarbo duduk bersila di atas batu lain tak jauh darinya.

Mereka berdua duduk berjajar, menghadapi lereng-lereng di bawah puncak di mana tampak jalan kecil buatan para penduduk pegunungan itu.

Jalan itu berliku-liku seperti seekor ular besar yang membelit gunung.

Tiba-tiba Niken Harni menuding ke bawah puncak dan berseru kepada Nira Bumigarbo.

"Di sana ada orang mendaki puncak, larinya cepat sekalil" (Lanjut ke

Jilid 19) Nurseta Satria Karang Tirta (seri ke 02 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 19 Suaranya penuh ketegangan karena selama ia digembleng oleh Nini Bumigarbo, tidak pernah ada orang mampu mendaki puncak yang dikelilingi jurang-jurang amat dalam itu.

Dan orang yang berpakaian serba putih itu mendaki dengan cepat sekali, bahkan jurang yang tidak berapa lebar, namun amat lebar bagi orang biasa, dia lompati begitu saja.

Gerakannya bagaikan seekor burung garuda, jubah putihnya berkibar membenti sayap.

Nini Bumigarbo mengangkat muka memandang dan ia terkekeh.

"Heh-heh-heh, hi-hik! Tentu saja dia dapat berlari cepat!"

"Bibi Bumigarbo, apakah Andika mengenal orang itu? Siapa dia?"

"Seperti Dibya Krendasakti, dia juga seorang sahabatku dua puluh tahun yang lalu. Namanya Wiku Ktut Bumisetra, seorang datuk dari Bali Dwipa."

Nini Bumigarbo memandang penuh perhatian, lalu terkekeh lagi dan berkata.

"Tidak salah, pasti dia! Ajiannya berlari cepat itu tentu Aji Garuda Anglayang, tidak salah lagil"

Niken Harni mengamati gerakan orang yang mendaki puncak itu dengan pandang mata kagum.

Ia sendiri setelah beberapa lamanya digembleng Nini Bumigarbo, masih belum berani naik turun puncak sambil berlari dan berloncatan seperti Itu.

Tingkat kepandaian orang itu agaknya tidak berada di bawah tingkat Nini Bumigarbo!

Dan setelah orang itu mencapai lereng di bawah puncak, Niken Harni mulai dapat melihat wajahnya dengan jelas.

Orang itu mendaki dari barat sehingga sinar matahari sepenuhnya meneranginya.

Kini ia dapat melihat bahwa orang itu adalah seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh lima tahun, tubuhnya tinggi kurus dengan kulit coklat kehitaman, rambutnya panjang diikat ke belakang dengan kain putih, tergantung sampai ke bawah punggung.

Wajahnya yang kurus itu pentil bekas cacar sehingga tampak aneh, matanya berkilauan dan mengeluarkan sinar berkilat.

Pakaiannya serba putih dengan jubah lebar.

Kakinya mengenakan alas kaki dari kulit tebal, tangan kanannya memegang sebatang tongkat berbentuk ular dan pergelangan kedua tangannya terhias akar bahar besar dan hitam.

Dengan sebuah lompatan jauh seperti terbang, tubuh kakek itu melayang dan tiba di depan Nini Bumigarbo dan Niken Harni.

Begitu berada di depan Nini Bumigarbo dan melihat nenek itu, dia terbelalak, memandang penuh perhatian lalu tertawa terbahak-bahak, dan telunjuk kirinya menuding ke arah Nini Bumigarbo "Ha..ha..

ha ..Tidak salah lagi.

Engkau pasti Ni Gayatri, kembang Puncak Semeru itu!

Lihat, tahi lalat di dagumu itu, pakaian serba hitam itu, dan wajahmu masih tetap ayu!

Ha-haha, Dibya Krendasakti tidak salah!

Nini Bumigarbo adalah Ni Gayatri yang cantik manis dulu itu.

Heh, Ni Gayatri, pangling (lupa) ya kepada seorang di antara para pengagummu ini?"

"Huh, siapa yang lupa kepada orang sepertimu, Ktut Bumi Setra? Jadi engkau bertemu dengan Dibya Krendasakti di Nusa Barung dan dia yang menceritakan kepadamu tentang diriku?"

Kakek itu tanpa dipersilakan duduk di atas batu yang berada di depan Nini Bumigarbo dan Niken Harni.

Dia tidak menjawab pertanyaan Nini Bumigarbo karena dia seperti terpesona memandang wajah Niken Harni sampai beberapa lamanya lalu berkata perlahan.

"Wadu-du-duuhh... ini muridmu, Gayatri? Benar Si Dibya Krendasakti. Muridmu ini sungguh ayu manis merak ati, juga berbakat baik sekali! Wah, aku akan senang sekali kalau mempunyai murid seperti ini! Heh-heh-eh-heh!"

"Huh, mata keranjangmu itu tidak juga berkurang! Hayo jawab pertanyaanku tadi, Ktut! Engkau berkunjung ke Nusa Barung?"

"Benar, Gayatri dan wah... dasar perutku sedang beruntung, Si Dibya itu agaknya sedang berbahagia sekali. Sepanjang malam dia mengajak aku berpesta pora didampingi isterinya yang semakin cantik saja, dia tertawa-tawa dan bertingkah seperti anak kecil saking senangnya, ha..ha..ha!"

"Paman Ktut Bumi Setra, mengapa Paman Dibya Krendasakti bersenang-senang?"

Tanya Niken Harni yang ingin tahu sekali.

"Heh? Oh? Lho, engkau sudah mengenal namaku, bocah ayu?"

"Huh, makin tua engkau makin bodoh saja, Ktut! Tadi sudah kusebut namamu tentu saja Niken Harni mengetahui namamu!"

"Waduh! Namanya Niken Harni? Sungguh tepat, namanya sama manisnya dengan orangnya."

"Sudahlah, Paman. Tidak ada gunanya Paman memuji-mujiku. Pertanyaanku tadi belum dijawab!"

Kata Niken Harni ketus.

"Walah-waiah! Sama galaknya dengan gurunya, ha-ha-ha! Baiklah, cah ayu, Si Dibya Krendasakti itu agaknya menjadi muda kembali. Dia begitu mesra dengan isterinya, tampak sekali mereka bermesraan seperti sepasang kekasih remaja, ha-ha. Dan selain itu, dia juga memamerkan hasilnya mengambil Cupu Manik Maya dari kedaton (istana) Kahuripan! Hebat tidak Si Tua Bangka itu?"

"He-he! jadi Si Dibya itu sudah berhasil mengambil Cupu Manik Maya? Bagus, bagus sekali! Ah, Si Erlangga tentu kebingungan seperti kebakaran jenggot, he-he-he!"

"Sang Prabu Erlangga tidak berjenggot Wajahnya bersih halus!"

Tiba-tiba Niken Harni berseru membelanya.

"Lho! Bagaimana ini? Mengapa guru dan murid berbeda pendapat?"

Tegur Wiku Ktut Bumi Setra heran.

"Huh, aku benci Erlangga dan Narotama!"

Kata Nini Bumigarbo sambil cemberut.

"Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama adalah pepundenku (junjunganku)! Sebagai kawula Kahuripan tentu aku membela mereka!"

Kata pula Niken Harni.

"Ha-ha-ha, kalian lucu. Berbeda pendapat seperti bumi dan langit akan tetapi sama kerasnya seperti batu gunungl"

Wiku Ktut Bumi Setra tertawa.

"Dibya Krendasakti bercerita banyak. Malam itu dia menyaksikan betapa Kadipaten Kahuripan diserbu banyak tokoh empat kadipaten."

"Ahhh...!"

Niken Harni berseru kaget.

"Ha ha, bagus sekali! Lalu bagaiman ceritanya, Ktut?"

Tanya Nini Bumigarbo dengan wajah berseri.

"Akhirnya muncul Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang berhasil mengusir para penyerbu, akan tetapi para penyerbu itu telah membunuh banyak perajurit, dan bahkan Dibya Krendasakti sempat melihat putera Patih Narotama dibawa lari oleh para penyerbu."

"Wah, bagus! Bagus sekali!"

Nini Bumigarbo berteriak kegirangan.

"Huh, para penyerbu pengecut! Kalah menghadapi orang tuanya, mengapa menculik anak kecil yang tidak tahu apaapa?"

Seru Niken Harni penasaran sekali.

Ia pernah melihat Joko Pekik Satyabudhi, putera tunggal Ki Patih Narotarna.

Anak berusia setahun lebih itu amat lucu dan mungil dan sekarang diculik oleh orang-orang jahat!

Agaknya hati Wiku Ktut Bumi Setra senang melihat betapa ceritanya mendatangkan perasaan yang berlawanan pada guru dan murid itu.

"Dalam perjalananku ke sini, aku lewat Kahuripan dan mendengar bahwa baru saja, Kahuripan diserang secara besar-besaran oleh laksaan perajurit dari Wengker, Wurawuri, Parang Siluman, dan Siluman Laut Kidul. Mereka berempat itu menyerang dari empat jurusan, mengepung Kahuripan!"

"Wah, bagus sekali! Mampus kalian sekarang, murid-murid Resi Satyadharma! He-he-hl-hik!"

Nini Bumigarbo tertawa senang.

"Kabarnya terjadi perang besar yang amat hebat, mendatangkan korban beribu-ribu orang di kedua pihak."

"Dan Kahuripan dapat diduduki dan dltaklukkan, Erlangga dan Narotama ditawan atau dibunuh?"

Tanya Nini Bumigarbo. penuh harapan. Wlku Ktut Bumi Setra menggeleng kepalanya.

"Tidak mudah menundukkan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Setelah perang besar yang menjatuhkan banyak korban kedua pihak, kabarnya pasukan Kahuripan dapat memukul mundur semua pasukan keempat kerajaan yang mengepung dan menyerangnya."

"Huh, menyebalkan. Mereka semua tolol, tidak becus!"

Nini Bumigarbo mengomel dengan kecewa.

"Hore"

Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama memang hebat! Kahuripan amat kuat, siapa yang mampu mengalahkannya?"

Teriak Niken Harni kegirangan mendengar bahwa Kahuripan menang perang.

Biarpun mereka berdua sudah saling berjanji bahwa Niken Harni tidak akan dibawa dalam permusuhan Nini Bumigarbo terhadap raja dan patih Kahuripan itu, tetap saja Nini Bumigarbo panas hatinya melihat gadis itu kegirangan sedangkan ia sebaliknya merasa kecewa dan marah sekail.

"Huh, kalau saja aku tidak terikat janji dengan Ekadenta, kepala Erlangga dan Narotama tentu sudah kupenggal dari tubuh mereka!"

"Hei, Gayatri! Mengapa engkau begitu membenci Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotarna?"

Tanya Wiku Ktut Bumi Setra.

Nini Bumigarbo yang sedang jengkel mendengar kegagalan empat kerajaan menundukkan Kahuripan, menjawab ketus.

'Bukan urusanmu!

Hemm, Ktut, sebetulnya engkau dating ke sini ada keperluan apakah?

Hayo katakan karena aku tidak suka kalau engkau datang tanpa keperluan apa-apa.

Aku tidak suka diganggu!"

"Ho-ho, mengapa engkau bersikap galak terhadap aku, Gayatri? Bukankah sejak dahulu kita bersahabat dan saling bertukar ilmu? Terus terang saja, selama perantauanku ke Nusa Jawa ini, aku belum pernah menemui tandingan yang dapat mengalahkan aku. Maka aku teringat kepadamu dan aku menduga-duga apakah sekarang ilmu kepandaianmu sudah meningkat hebat? Aku ingin sekali menguji kesaktianmu, Gayatri. Itulah keperluanku datang berkunjung ini!"

Tiba-tiba terdengar seruan dari bawah puncak, suaranya nyaring terdengar dari tempat itu.

"Bibi Nini Bumigarbo, maafkan kelancangan saya yang datang berkunjung tanpa diundang!"

Tiga orang itu memandang ke arah suara di bawah puncak dan mereka rnelihat seorang pemuda mendaki puncak dengan cepat dan mudah, seperti yang dilakukan Wiku Ktut Bumi Setra tadi, ini menandakan bahwa pemuda yang sedang mendaki puncak itu bukan orang sembarangan.

Nini Bumigarbo memandang dengan alis berkerut, tanda bahwa hatinya tidak senang menerima kunjungi orang yang tidak diundangnya.

Akan tetapi Wiku Ktut Bumi Setra memandang dengan wajah berseri.

"Wah, pemuda itu pantas untuk kuajak menguji kesaktian!"

Tak lama kemudian Nurseta telah berdiri, berhadapan dengan tiga orang yang masih duduk di atas batu itu.

Dia sudah pernah melihat Nini Bumigarbo ketika nenek itu bertanding melawan Bhagawan Ekadenta.

Akan tetapi dia tidak mengenal kakek yang tinggi kurus bermuka burik (bopeng) berpakaian serba putih, kedua pergelangan tangan dilingkari akar bahar hitam besar dan tangannya memegang sebatang tongkat ular itu.

Wajah kakek itu menyeramkan karena matanya mencorong aneh.

Ketika dia melihat gadis jelita yang duduk di atas batu memandang kepadanya, Nurseta juga tidak mengenalnya, akan tetapi dia menduga mungkin gadis ini adik Puspa Dewi yang bernama Niken Harni.

"Apakah Andika Nimas Niken Harni, adik Puspa Dewi?"

Tanyanya dengan lembut sambil memandang gadis itu.

Karena tidak mengenal Nurseta, Niken Harni tidak segera menjawab, melainkan memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Nini Bumigarbo berkata dengan ketus.

"Bocah lancang, kalau ia benar Niken Harni, lalu engkau mau apa? Berani engkau datang ke tempatku ini tanpa diundang? Apa engkau sudah bosan hidup?"

Nurseta merangkap kedua tangan di depan dada, memberi sembah dengar hormat ke arah Nini Bumigarbo yang dia tahu merupakan wanita yang disayang oleh Bhagawan Ekadenta, maka patut dihormatinya.

"Bibi yang mulia, saya ulangi lagi permohonan maaf saya bahwa saya telah berani bertindak lancang datang berkunjung tanpa dipanggil. Kedatangan saya menghadap Bibi adalah untuk mohon agar Bibi sudi membebaskan Niken Harni."

"Huh berani engkau mencampuri urusanku? Sudah terlalu tinggi kesaktianmu maka engkau berani menentangku?"

"Maaf, Bibi. Saya sama sekali tidak berani menentang Bibi, saya sebagai orang yang pernah mendapat kebahagiaan menerima pendidikan Bapa Guru Bhagawan Ekadenta, tidak berani kurang ajar terhadap Bibi."

"Hemm, murid Ekadenta?"

Nini Bumigarbo meragu. Tentu saja ia merasa tidak enak kalau harus membunuh murid Ekadenta, apalagi membunuh, melukai berat saja ia merasa sungkan.

"Heh, Wiku Ktut, engkau tadi menantang aku. Nah, lawanlah murid Bhagawan Ekadenta ini, kalau engkau dapat menang, baru engkau ada harganya melawan aku!"

Dengan cara ini, Nini Bumigarbo hendak menghukum Nurseta akan tetapi ia lepas tangan.

Kalau Nurseta terbunuh atau terluka, Ktut Bumi Setra yang disalahkan, bukan ia!

Mendengar ini, Wiku Ktut Bumi Setra bangkit berdiri, turun dari batu yang didudukinya, lalu menghampiri Nurseta dan berdiri di depan pemuda itu.

Dia mengamati wajah pemuda itu dan menyeringai dengan sikap mengejek.

"Orang muda, engkau murid Bhagawan Ekadenta?"

"Saya tidak berani mengaku murid penuh, namun saya pernah menerima petunjuk beliau, Paman."

"Siapa namamu, orang muda?"

Tanya Wiku Ktut Bumi Setra, agak senang hatinya karena pemuda itu bersikap sopan dan halus.

"Nama saya Nurseta."

Mendengar ini, Niken Harni memandang penuh perhatian.

Ia belum pernah bertemu Nurseta, akan tetapi tentu saja ia pernah mendengar namanya.

Nama Nurseta ini menjadi buah percakapan para pamong praja di kota raja, bahkan ayah dan kakeknya memuji-muji nama ini.

Sekarang pemuda yang terkenal setia dan berjasa terhadap Kahuripan itu dating menempuh bahaya untuk membebaskannya!

"Nurseta.

agaknya kita memang berjodoh untuk saling menguji kesaktian.

Aku Wiku Ktut Bumi Setra dari Bali-dwip berkunjung ke sini untuk menantang Nin Bumigarbo saling menguji ilmu kepandaian.

Dan engkau datang juga menantang Nini Bumigarbo untuk membebaskan Niken Harni.

Sekarang Nini Bumigarbo mewakilkan padaku untuk melawanmu.

Nah, mari Nurseta, kita main-main sebentar.

Ingin aku menguji kesaktian murid Bhagawan Ekadenta!"

Nurseta maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang tua yang sakti mandraguna.

Seorang yang sudah berani menantang Nini Bumigarbo sudah pasti memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Dia bersikap hormat, menyembah dan berkata tanpa bermaksud menghindar karena takut.

"Paman Wjku Ktut Bumi Setra, saya datang ke sini bukan untuk menentang atau menantang Bibi Nini Bumigarbo, juga tidak hendak menantang Andika. Saya tidak ingin bermusuhan dengan Andika, Paman."

"Ha-ha-ho-ho-ho! Tidak suka bermusuhan dan merendahkan hati, ciri khas Bhagawan Ekadenta! Akan tetapi, Nurseta, kalau engkau tidak menantangku, sebaliknya akulah yang menantangmu. Hayo!"

Tantang Wiku Ktut Bumi Setra.

"Saya tidak ingin berkelahi dengan Andika, Paman Wiku."

"Ini bukan berkelahi, melainkan saling menguji ilmu kepandaian"

Bantah kakek dari Bali itu.

"Huhuh Mengapa Bhagawan Ekadenta mempunyai murid seperti ini? Pengecut dan penakut! Dia tentu akan merasa malu sekali kalau melihat sendiri betapa muridnya ketakutan dan tidak berani menerima tantangan Wiku Ktut Bumi Setra!"

Kata Nini Bumigarbo dengan suara mengejek. Tiba-tiba Niken Harni bicara dengan suara nyaring dan mengandung penasaran.

"Wih! Namanya dikenal dan dipuji seluruh orang Kahuripan, akan tetapi nyatanya ditantang seorang kakek kurus saja tidak berani. Sungguh memalukan!"

Mendengar celaan-celaan itu, wajah Nurseta menjadi kemerahan.

"Nurseta, mau atau tidak mau engkau harus melawan aku mengadu kesaktian. Nah, sambutlah seranganku ini!"

Setelah berkata demikian, Wiku Ktut Bumi Setra sudah bergerak memutar tongkat ularnya lalu dengan Aji Garuda Anglayang, tubuhnya seolah melayang dan meluncur ke arah Nurseta dan tongkat ularnya itu seolah menjadi ular hidup dan ujungnya menusuk ke arah leher Nurseta!

Gerakannya itu selain cepat juga mengandung tenaga dalam yang amat kuat sehingga terdengar bunyi angin bersiutan.

Akan tetapi dengan pengerahan Aji Bayu Sakti, gerakan Nurseta tidak kalah cepatnya dan dia sudah mengelak sehingga tusukan tongkat ular hitam itu meluncur lewat di samping tubuhnya.

Namun Nurseta masih belum mau membalas.

Bagaimanapun juga, melawan seorang datuk yang sudah mengenal baik Nini Bumigarbo dan Bhagawan Ekadenta ini, dia merasa agak sungkan.

Akan tetapi agaknya Wiku Ktut Bumi Setra tidak ragu-ragu atau sungkan lagi.

Begitu tusukannya luput, kini tangan kirinya menyambar ke arah kepala Nurseta dengan tamparan yang amat dahsyat.

Gerakan tangan kiri yang dihias gelang akar bahar hitam itu sedemikian cepatnya sehingga berubah menjadi bayangan hitam menyambar kepala seperti geledek mengancam kepala Nurseta.

Sekali ini Nurseta menggerakkan tangan kanan menangkis tamparan tangan kiri Sang Wiku sambil mengerahkan tenaga sakti karena dia maklum betapa dahsyat tamparan itu, walaupun tampaknya perlahan saja.

"Syuuuttt... plakk!"

Dua tangan bertemu dan keduanya terpental.

Kakek itu terkejut dan dia baru maklum bahwa pemuda ini tidak percuma pernah mendapat pendidikan Bhagawan Ekadenta karena ternyata memiliki tenaga sakti yang mampu menandinginya!

Tongkatnya kini sudah menyambar lagi setelah dia mundur dua langkah.

Ujung tongkatnya menusuk ke arah ulu hati pemuda itu.

Kembali tangan Nurseta bergerak, yang kiri menangkis dari dalam, membuat tongkat itu terpental dan tusukan ke arah ulu hati itu gagal.

Nurseta kini merasa sudah tiba saatnya untuk membalas karena kalau mengalah terus dan membiarkan dirinya dihujani serangan hal itu akan merugikan diri sendiri.

Dari samping, kakinya mencuat dan menendang ke arah lutut lawan.

Dia masih rikuh (sungkan) untuk menendang perut atau dada, maka yang ditendangnya lutut kanan lawan.

Akan tetapi kalau tendangan itu mengenai sasaran, mungkin sambungan tulang pada lutut akan terlepas!

Akan tetapi dengan sigapnya Wiku Ktut Bumi Setra melompat ke belakang menghindarkan lututnya dari ancaman tendangan.

Kemudian dia menerjang lagi dan mengerahkan tongkat lebih cepat sehingga tongkat itu berubah menjadi gulungan sinar hitam.

Nurseta adalah seorang pemuda yang mendapat gemblengan dari gurunya, mendiang Empu Dewamurti, kemudian selama tiga bulan dia menerima petunjuk-petunjuk dari Bhagawan Ekadenta.

Selama ini, Nurseta tidak pernah mempergunakan senjata, melainkan hanya mengandalkan kecepatan gerak tubuhnya dan keampuhan dua pasang kaki tangannya.

Maka, keris pusaka Kyai Kolomisani pemberian Ki Patih Narotarna hanya terselip di pinggangnya dan hamper tidak pernah dia menggunakannya.

Sekarangpun, biar menghadapi serangan bertubi dari Sang Wiku yang bersenjatakan sebatang tongkat ular hitam, dia pun hanya mengandalkan kaki tangannya untuk mengelak, menangkis, dan membalas serangan lawan.

Akan tetapi karena lawannya itu memang seorang datuk dari Bali-dwipa yang amat tangguh, maka Nurseta harus mengerahkan seluruh tenaga dan tak pernah melepaskan gerakan dari Aji Bayu Sakti yang membuat tubuhnya dapat bergerak seperti angin, dan menggerakkan kaki tangannya dengan ilmu silat Baka Denta (Bangau Putih).

Kedua lengannya seperti sayap bangau menangkis atau menampar, kedua kakinya seperti kaki bangau yang menendang-nendang, dan terkadang jari tangannya seperti paruh bangau yang menotok dan menusuk.

Pertandingan berjalan seru.

Mereka saling bertukar serangan, saling tendang dan tangkis.

Tubuh mereka seolah menjadi dua bayangan yang bergerak cepat diselimuti gulungan sinar hitam dan tongkat yang dimainkan Wiku Ktut Bum Setra.

Kini Niken Harni memandang dengan sepasang mata yang tak pernah berkedip dan kagum.

Ia menyaksikan pertandingan adu kesaktian tingkat tinggi yang menegangkan.

Ia sendiri agak sukar mengikuti gerakan dua orang itu dan ia melihat Nini Bumigarbo juga menonton pertandingan dan beberapa kali gurunya itu mengangguk-angguk seperti orang memuji.

Semakin kuat dorongan hasrat hati Niken Harni untuk mempelajari dan menguasai ilmu-ilmu tinggi dari Nini Bumigarbo.

Ia tidak dapat menilai siapa yang lebih unggul dan tidak tahu siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

Setelah kurang lebih setengah jam mereka bertanding, saling serang dan mengeluarkan semua jurus yang mereka kuasai, namun belum juga dapat mengalahkan lawan, Wiku Ktut Bumi Setra menjadi penasaran juga.

Segala gerak tipu ilmu silat telah dia pergunakan, semua tenaga sakti telah dia kerahkan, namun dia tidak mampu mengalahkan lawannya.

Jangankan mengalahkan, mendesak pun tidak dapat.

Biarpun sudah tiga kali sebuah tamparan tangan kirinya dan dua kali hantaman tongkat ularnya menyerempet tubuh pemuda itu, namun hal itu seolah tidak dirasakan oleh Nurseta yang melindungi dirinya dengan kekebalan.

Dia sendiri juga menerima dua kali tamparan Nurseta yang mengenai pundak dan pangkal lengannya, namun juga tidak membuatnya goyah karena dia melindungi bagian yang terpukul dengan kekebalan.

"Tahan dulu...!"

Seru Wiku Ktut Bumi Setra.

Ketika Nurseta menghentikan gerakannya, Sang Wiku melompat ke belakang.

Dia menahan diri agar tidak tampak betapa napasnya mulai terengah-engah.

Biarpun dia tidak terdesak atau kalah, usia tuanya membuat daya tahan tubuhnya kurang kuat.

"Terima kasih, Paman Wiku. Memang sebaiknya kalau kita sudahi saja pertandingan yang tidak ada gunanya ini."

Kata Nurseta agak lega. Dia tidak ingin melukai Sang Wiku, akan tetapi tentu saja dia pun tidak ingin dirinya dilukai.

"Nurseta, dalam pertandingan tadi, ternyata engkau tidak mengecewakan menjadi murid Bhagawan Ekadenta..."

"Paman Wiku, guru saya adalah mendiang Empu Dewamurti, adapun Paman Bhagawan Ekadenta hanya memberi petunjuk selama beberapa waktu saja."

"Bagus, Empu Dewamurti juga seorang pertapa yang sakti mandraguna. Aku pernah mendengar nama besarnya. Bukankah dia dahulu bertapa di Gunung Arjuna? Akan tetapi, Nurseta, dalam pertandingan tadi aku belum kalah. Sekarang, cobalah engkau sambut serangan ilmu sihirku!"

NURSETA tidak dapat membujuknya lagi dan pemuda ini pun tahu bahwa dia harus waspada karena lawannya bukanlah orang sembarangan.

Biarpun dia percaya bahwa Wiku Ktut Bumi Setra tidak berniat untuk mencelakainya melainkan hanya hendak menguji ilmu, namun serangannya dapat mencelakakan kalau dia tidak waspada dan benar-benar mencurahkan perhatian dan kekuatannya untuk membela diri.

Kini Wiku Ktut Bumi Setra berdiri tegak, kepalanya ditundukkan, mulutnya berkemak-kemik membaca mantra, kemudian tubuhnya menggetar dan dia mengangkat mukanya memandang kepada Nurseta, matanya mencorong berkilat, tangan kanan yang memegang tongkat diangkat ke atas.

Lalu terdengar suaranya, lirih namun mengandung gema yang menggetarkan jantung "Nurseta, lawanlah Si Naga Langking ini!"

Tiba-tiba saja muncul kabut atau semacam asap tebal berwarna kelabu bergerak perlahan dari datuk Bali itu kearah Nurseta, dibarengi datangnya angin seperti badai dan muncul pula kilat geledek bergemuruh menyambar-nyambar ke arah Nurseta!

Kemudian, tongkat di tangan Sang Wiku seolah hidup dan terbang dari tangan yang memegangnya, kini menjadi besar, merupakan seekor ular atau naga sebesar paha manusia dewasa, mulutnya menyemburkan api, mendengus-dengus dengan dahsyatnya, terbang meluncur ke arah Nurseta!

Nurseta melipat kedua lengan depan dada, dan perlahan-lahan tubuhnya semakin kabur seolah perlahan-lahan lenyap dan hanya tampak bayangannya saja, itu pun samar-samar.

"Hemm, bocah itu telah menguasai Aji Sirna Sarira!"

Seru Nini Bumigarbo lirih namun suaranya mengandung kekaguman.

Sepengetahuannya, hanya ada beberapa orang saja yang menguasai aji kesaktian ini dan di antara mereka, termasuk ia dan Bhagawan Ekadenta!

"Ho-ha!

Ajimu itu tidak dapat menghindar dari serangan maut Naga Langking!"

Teriak Wiku Ktut ia mengerahkan seluruh tenaga batinnya intuk memperkuat ciptaan sihirnya itu.

Naga hitam itu menyambar dan api yang dihembuskan dari mulutnya itu berkobar menyerang bayangan Nurseta!

Nurseta terkejut juga melihat betapa naga hitam jadi-jadian itu demikian kuatnya sehingga masih mampir menyerangnya walaupun dia telah bersembunyi dengan Aji Sirna Sarira.

Maka, dia pun menyambut serangan naga hitam yang menyemburkan api itu dengan mengerahkan tenaga sakti dan mendorongkan kedua tangan ke depan.

"Wuuuttt.... blarrrr...!"

Hawa pukulan yang amat dahsyat keluar dari sepasang tangan Nurseta, bertemu dengan naga hitam itu.

Naga hitam terpental dan bunga api yang amat besar berpijar-pijar, akan tetapi naga hitam itu segera membalik dan menyerang lagi lebih dahsyat.

Terjadilah pertandingan yang amat dahsyat.

Berkali-kali naga hitam itu bertemu dengan pukulan jarak jauh sehingga terdengar ledakan-ledakan, namun hantaman pukulan sakti Nurseta belum juga dapat mengalahkan naga hitam Itu.

Ternyata dalam adu tenaga sakti kekuatan mereka juga selmbang.

Mungkin Wiku Ktut Bumi Setra lebih kuat sedikit, akan tetapi kembali unsur usia memegang peran penting dalam kekuatan tubuh manusia, terutama dalam daya tahan.

Setelah berkali-kali mengadu tenaga sakti, mulailah Wiku Ktut Bumi Setra terengah-engah dan wajahnya agak pucat, dari ubun-ubun kepalanya mengepul uap putih!

Sementara itu, biarpun Nurseta juga sudah bermandi keringat, namun dia masih tegar dan napasnya masih biasa.

Akhirnya Sang Wiku menyadari bahwa dia harus tunduk terhadap ketuaannya sendiri dan dia maklum bahwa kalau adu tenaga sakti itu dilanjutkan, akhirnya dia akan celaka.

Mengadu tenaga sakti jarak jauh seperti ini jauh lebih menguras tenaga daripada adu tenaga melalui kaki tangan.

Padahal Nurseta hanya menangkis saja, tidak pernah balas menyerang.

Hal ini sudah menunjukkan bahwa pemuda Itu tidak mempunyai niat untuk bermusuhan.

Akan tetapi walaupun hanya menangkis, tetap saja mereka berdua menggunakan tenaga yang sama besarnya dan sama melelahkan.

Tiba-tiba Wiku Ktut Bumi Setra menghentikan Ilmu sihirnya dan naga hitam itu melayang ke tangannya dan berubah menjadi tongkat ular hitam lagi.

Kabut hitam dan angin pun berhenti dan cuaca terang kembali.

Wiku Ktut Bumi Setra menggunakan kain jubahnya untuk menghapus keringat dari muka dan lehernya, mengatur pernapasannya, lalu berkata.

"Nurseta, engkau memang hebat. Akan tetapi aku belum kalah dan kalau sekali ini engkau mampu menandingi aji pamungkasku, barulah aku mengaku kalah!"

Nurseta diam saja karena dia maklum bahwa mencegah atau membujuk kakek yang keras hati dan suka bertanding ini akan percuma saja.

Dia hanya siap untuk melayani lawan yang amat tangguh ini, menunggu dan waspada memperhatikan apa yang hendak dilakukan lawan yang belum mau mengaku kalah itu.

Dengan tenang, Wiku Ktut Bumi Setra mengeluarkan tiga batang dupa lidi, lalu dia mengambil sehelai daun kering dan memukulkan ujung tongkatnya pada batu.

Bunga api berpijar menyambar daun kering yang dia dekatkan sehingga daun itu terbakar dan dia pun membakar ujung tiga batang dupa lidi itu sehingga membara.

Tiga batang dupa lidi membara itu lalu dia selipkan di atas kain putih pengikat kepalanya.

Setelah itu,Wiku Ktut Bumi Setra lalu bersedakap (melipat kedua lengan depan dada), memejamkan mata dan mulutnya membaca mantra berkepanjangan.

"Huh, dia akan mengeluarkan aji pamungkasnya yang mengerikan, yaitu Aji Malih Leyak."

Kata Nini Bumigarbo kepada Niken Harni.

Gadis ini pernah mendengar bahwa di Bali-dwipa terkenal dengan aji yang ada hubungannya dengan pemujaan Sang Batari Durga, atau pemujaan Setan ini, yang kabarnya amat dahsyat dan jahat.

Maka ia memandang dengan penuh perhatian dan merasa ngeri melihat betapa kepala Wiku Ktut Bumi Setra mulai bergerak-gerak sehingga tiga batang dupa lilin itu bergoyang-goyang dan asapnya membuat bentuk yang aneh.

Juga bau asap dupa lidi itu makin lama semakin memuakkan.

Kalau tadinya berbau wangi yang aneh, kini makin lama berubah menjadi bau busuk, seperti bau bangkai.

Tiba-tiba seluruh tubuh Wiku Ktut Bumi Setra menggigil dan dari tubuhnya mengepul uap kehitaman tipis yang mengeluarkan bau apak dan busuk.

Tubuh yang menggigil itu menjadi semakin besar, hampir dua kali lipat besarnya dan tampaklah wujud yang mengerikan sekali.

Mahluk yang tinggi besarnya dua kali manusia dewasa itu bukan manusia lagi, melainkan iblis yang menyeramkan.

Rambutnya gimbal dan mencuat ke sana-sini, matanya lebar dan melotot seperti akan melompat keluar biji matanya yang besar-besar, alisnya tebal dan kaku seperti juga rambutnya, mirip kawat.

Lengannya berbulu dan panjang, dan tangannya berkuku panjang.

Hidungnya besar merekah dan mulutnya yang paling menakutkan.

Mulut itu ternganga, dengan gigi besar-besar dan ada taring di kanan kiri, lidahnya terjulur keluar, panjang dan merah dan dari dalam mulutnya tampak api keluar masuk, seolah dia bernapaskan api!

Mahluk itulah yang dikenal sebagai Leyak atau Iblis yang dipuja mereka yang meninggalkan jalan kebenaran.

Leyak itu terselimuti uap kehitaman yang tipis dan terdengarlah suara gemuruh seperti suara ratusan mulut setan berteriak-teriak di belakang Leyak ini.

Wujud yang mengerikan itu kini melangkah maju menghampiri Nurseta sambil mengeluarkan suara gerengan dahsyat.

Niken Harni yang amat pemberani itu pun kini mengkirik (menggeliang-geliut) saking ngerinya melihat mahluk yang menyeramkan itu.

Apalagi tercium bau yang hampir tak tertahankan saking busuknya.

Mahluk itu sudah merupakan wujud lain dari Wiku Ktut Bumi Setra.

Sukar untuk percaya melihat Sang Wiku dapat berubah seperti mahluk itu, akan tetapi bukti bahwa di atas pengikat rambut mahluk itu terdapat tiga batang dupa lidi yang masih membara dan mengeluarkan asap putih, dan kedua pergelangan tangan mahluk itu juga memakai gelang akar bahar hitam seperti yang dipakai Wiku Ktut Bumi Setra, maka orang baru akan percaya bahwa Leyak itu memang malihan (pergantian rupa) Sang Wiku.

Nurseta juga terkejut dan sesaat jantungnya berdebar tegang menghadapi mahluk yang selain menyeramkan, juga mengeluarkan wibawa yang teramat kuat.

Dia pernah mendengar tentang Aji Malih Leyak ini, akan tetapi baru sekarang dia berhadapan dengan mahluk itu.

Akan tetapi dia segera dapat memulihkan ketenangannya dan karena dia tahu betapa kuatnya mahluk ini, dia lalu mencabut Keris Pusaka Kolomisani pemberian Ki Patih Narotama.

Dengan keris pusaka di tangan kanan, dia menanti dengan tenang namun waspada.

Dengan mengeluarkan gerengan yang dahsyat, Leyak itu mulai menyerang ke depan, kedua tangannya yang berkuku panjang itu menyambar yang kanan ke arah kepala Nurseta, yang kiri ke arah lehernya.

Tangan-tangan besar berkuku panjang itu pasti akan meremukkan kepala dan mematahkan batang leher.

Namun Nurseta yang sudah siap siaga itu dengan cepat sekali sudah mengelak ke belakang, lalu dengan loncatan memutar kaki kirinya mencuat dan menendang ke arah dada mahluk itu.

"Dess...!"

Kaki itu tepat menendang perut, dan Leyak itu hanya mundur dua langkah. Nurseta menyusul dengan tusukan kerisnya, juga ke arah perut yang besar itu.

"Tukk!"

Tusukan itu tepat mengenai perut Leyak yang gerakannya kaku dan lamban itu, akan tetapi tusukan itu yang mengenai perut seolah menusuk air saja, sama sekali tidak dirasakan Leyak itu!

Bahkan tangan kiri Leyak itu menyambar dari samping.

Nurseta tidak sempat mengelak hanya miringkan tubuh sehingga bukan dadanya yang terpukul melainkan pundaknya.

Dia terhuyung, merasa seperti dipukul palu godam yang amat kuat!

Terjadilah perkelahian yang seru.

Leyak itu lamban dan kaku, namun tubuhnya kebal.

Terkadang keris dan tamparan tangan kiri Nurseta seperti mengenai air dan tembus tanpa melukai, akan tetapi terkadang seperti bertemu baja yang keras sehingga tangan atau kerisnya terpental!

Nurseta memang jauh lebih cepat gerakannya, akan tetapi karena semua serangannya gagal, dan sebaliknya kalau sampai pukulan tangan Leyak itu mengenainya, dapat mencelakakannya, maka dia berhati-hati sekali.

Leyak itu memiliki tenaga yang luar biasa sekali.

Juga api yang menyambar-nyambar dari mulutnya itu bukan api biasa, dan lebih panas daripada api biasa.

Nurseta mulai terdesak dan Leyak itu yang juga selalu gagal dengan serangannya karena gerakan Nurseta terlalu cepat baginya, kini berusaha untuk menangkap tubuh lawan yang hanya setengah besar dan tinggi tubuhnya itu.

Nurseta mulai maklum bahwa kalau dia terus melawan dengan mengandalkan kecepatannya, tanpa mampu membalas karena semua serangannya tidak terasa oleh Leyak itu, dia akan terancam bahaya.

Sekali saja tubuhnya dapat diringkus tangan-tangan berkuku panjang dan kokoh kuat itu, berarti dia kalah, bahkan mungkin saja dia akan mengalami cedera berat, atau bahkan tewas.

Setelah mempertahankan diri beberapa lamanya, akhirnya Nurseta mengambil keputusan untuk mempergunakan aji pamungkas yang sebetulnya tidak boleh sembarangan dia pergunakan.

Sekali ini karena terpaksa, maka dia mengambil keputusan untuk mempergunakannya.

Dia melompat cepat ke belakang, bersedakap, mencurahkan segala perhatian dan kekuatan batinnya, membanting kaki tiga kali ke atas tanah dan tiba-tiba mengepul uap putih dan tubuhnya berubah menjadi besar sekali, sebesar Pohon Beringin, jauh lebih besar beberapa kali lipat dibandingkan besar tubuh Leyakl "Hemm, bocah ini bahkan menguasai Aji Triwikrama!

Bukan main!"

Kata Nini Bumigarbo kagum.

Perwujudan raksasa itu berdiri tegak, kedua kakinya terpentang lebar, kedua tangan bertolak pinggang, dari mulutnya terdengar gerengan yang menggetar seluruh permukaan gunung, bahkan terasa oleh para penduduk didusun-dusun yang berada di lereng bawah.

Leyak itu kalah wibawa.

Dia gemetar dan terhuyung ke belakang sampai belasan langkah.

Tubuhnya menyusut, semakin kecil dan akhirnya berubah kembali menjadi Wiku Ktut Bumi Setra.

Hal ini tidaklah mengherankan.

Aji Malih Leyak ini merupakan aji yang berasal dari Bathari Durga yang menjadi Ratu Iblis, adapun Aji Triwikrama berasal dari Sang Hyang Wisnu!

Begitu Leyak kembali menjadi Wiku Ktut Bumi Setra.

"raksasa"

Itu pun menyusut dan berubah kembali menjadi Nurseta. Wiku Ktut Bumi Setra berdiri dengan wajah agak pucat, lalu tiba-tiba wajahnya berubah kemerahan.

"Gayatri, aku pamit!"

Dan tubuhnya sudah berkelebat pergi dari situ.

"Paman Wiku, maafkan saya!"

Nurseta berkata, menyesal bahwa dia telah mengalahkan datuk itu sehingga membuat hatinya tersinggung.

"Nurseta, sampaikan salamku kepada Bhagawan Ekadenta!"

Terdengar jawaban dari bayangan Wiku Ktut Bumi Setra yang sudah menuruni puncak dengan cepatnya.

Setelah sisa ketegangan pertandingan tadi menghilang dan suasana menjadi tenang dan sunyi kembali, Nurseta menghampiri Nini Bumigarbo dan memberi hormat dengan sembah.

"Mohon maaf apabila pertandingan tadi mengganggu ketenteraman tempat tinggal Bibi di sini, akan tetapi saya dipaksa membela diri oleh Paman Wiku Ktut Bumi Setra tadi."

"Hemm, Nurseta. Kalau tidak ingat bahwa engkau pernah menjadi murid Bhagawan Ekadanta, aku akan senang sekali mengadu kesaktian denganmu! Sekarang katakan, apa kehendakmu?"

"Maaf, Bibi. Saya mohon sukalah kiranya Andika membebaskan Niken Harni yang Andika tahan di sini agar saya dapat mengantarkannya pulang ke rumah orang tuanya."

"Huh, ucapanmu lancang, Nurseta! Siapa yang menahan Niken Harni di sini? Tanyakan saja sendiri padanya!"

Setelah berkata demikian, Nini Bumigarbo bersila menegakkan tubuh dan memejamkan kedua matanya.

Nurseta menghampiri Niken Harni yang masih duduk diatas batu.

Gadis itu masih terkagum-kagum menonton pertandingan yang hebat tadi.

Ia kagum kepada Nurseta yang mampu mengalahkan Wiku Ktut Bumi Setra yang demikian sakti mandraguna.

Kini keinginannya untuk menimba ilmu dari Nini Bumigarbo semakin kuat.

Ketika Nurseta menghampirinya, ia menatap dengan sinar mata tajam.

"Nimas Ken Harni, Andika ditunggu-tunggu orang tua dan seluruh keluarga Andika yang merasa cemas memikirkan keselamatan Andika. Marilah Andika kuantar pulang, Nimas."

"Apakah Andika diutus orang tuaku untuk mengajak aku pulang?"

Tanya Niken Harni.

"Tidak, Nimas. Aku hanya membantu Puspa Dewi untuk mencarimu di Wengker dan di sana aku mendengar bahwa Andika dibawa pergi Bibi Nini Bumigarbo, maka aku menyusul ke sini dan mengajak Andika pulang."

"Hemm, kalau begitu, Andika tidak perlu mencampuri urusanku. Aku memang ingin ikut Bibi Nini Bumigarbo dan menjadi muridnya. Andika atau siapa saja tidak boleh menghalangi kehendakku ini. Pergilah dan jangan ganggu kami di sini! Kalau bertemu keluargaku, katakan bahwa kalau sudah selesai belajar, aku akan pulang dan tidak perlu mencari aku!"

Nurseta tertegun.

Sama sekali.

tidak disangkanya bahwa gadis ini memang ikut Nini Bumigarbo dengan suka rela karena ingin menjadi murid nenek berpakaian serba hitam itu!

Dia merasa kecelik.

Kalau mengetahui bahwa Niken Harni memang ingin mengikuti nenek itu, tentu dia tidak akan bersusah payah mencarinya.

Dan dia pun tahu bahwa gadis ini benar-benar ingin menjadi murid nenek itu.

Sekiranya gadis itu dipegaruhi sihir atau ada daya yang tidak wajar, pasti dia dapat merasakannya sekarang.

Dia merasa malu sendiri.

"Kalau begitu, terserah Andika."

Kata Nurseta yang segera menghampiri Nini Bumigarbo, memberi hormat dan berkata.

"Bibi Nini Bumigarbo, saya mohon maaf atas persangkaan saya tadi bahwa Bibi yang membawa pergi dan menawan Niken Harni. Sekarang saya mohon pamit meninggalkan tempat ini."

Akan tetapi Nini Bumigarbo tidak menjawab, tetap duduk bersila dalam keadaan samadhi.

Setelah menanti beberapa lamanya nenek berpakaian serba hitam itu tetap tidak bergerak dan tidak menjawab, Nurseta lalu bangkit berdiri dan pergi meninggalkan puncak itu dengan cepat.

Bayangannya diikuti pandang mata Niken Harni.

Pagi itu Kerajaan Wura-wuri gempar.

Pasukan besar Kahuripan ketika memasuki tapal batas daerah Wura-wuri, tidak menemui hambatan.

Rakyat Wura-wuri ketakutan karena biasanya, apabila terjadi perang, para perajurit musuh selalu menimbulkan kekacauan dengan perbuatan-perbuatan yang kejam dan biadab.

Merampok, membunuh, memperkosa.

Semua nafsu setan mereka diumbar, sebagian memang karena didorong nafsu hendak memuaskan diri, sebagian lagi dilakukan sebagai siasat mengacaukan pertahanan musuh.

Akan tetapi sekali ini, pasukan Kahuripan sama sekali tidak mengganggu rakyat daerah Wura-wuri.

Tidak ada penganiayaan, tidak ada pembunuhan, pembakaran rumah, pencurian maupun gangguan wanita.

Pasukan besar itu lewat saja melalui dusun-dusun tanpa mengganggu sehingga berita ini segera tersiar dan akibatnya, di sepanjang perjalanan, pasukan Kahuripan bahkan disambut rakyat dengan suguhan dawegan (kelapa muda), pisang, dan buah-buahan lain.

Ibu kota Wura-wuri gempar ketika para pamong praja mendengar bahwa pasukan besar Kahuripan sudah mulai memasuki daerah mereka dan sedang menuju ke kota raja, dipelopori seribu orang perajurit yang dipimpin oleh Puspa Dewi.

Pada waktu itu, dua orang kakak seperguruan Nyi Dewi Durgakumala yang diundang oleh permaisuri itu telah tiba di kota raja Wura-wuri.

Mereka adalah dua orang saudara kembar berusia sekitar lima puluh lima tahun.

Orang akan merasa heran dan bingung kalau berhadapan dengan mereka berdua.

Menak Gambir Anom dan Menak Gambir Sawit yang kembar ini serupa benar, baik wajah mereka yang kurus tubuh mereka yang tinggi kurus sampai bentuk rambut dan pakaian mereka.

Sebagai kakak-kakak seperguruan Nyi Dewi Durgakumala, dapat dibayangkan betapa saktinya dua orang saudara kembar ini.

Mereka merupakan dua di antara para datuk yang terkenal di daerah Blambangan.

Senjata ruyung (penggada) merupakan senjata andalan mereka, dinamakan Kyai Rujak Polo!

Di samping ilmu silat mereka yang tangguh, kedua orang saudara kembar ini pun memiliki ilmu sihir yang ampuh.

Mendengar berita bahwa pasukan Kahuripan sudah dating menuju kota Kadipaten Wura-wuri, Adipati Bhismaprabhawa bersama permaisurinya, Nyi Dewi Durgakumala, lalu membuat persiapan mengatur barisan untuk menyambut pasukan musuh.

Kedua orang saudara kembar, Menak Gambir Anom dan Menak Gambir Sawit, diangkat menjadi senopati yang akan menghadapi para pimpinan pasukan Kahuripan yang sakti, dan mereka berdua itu dibantu oleh Ki Gandarwo dan Cekel Aksomolo yang juga sudah berada di Wura-wuri, diundang oleh adik seperguruannya, Ki Gandarwo, untuk membantu Wura-wuri.

Sisa pasukan Wura-wuri yang dapat lolos ketika mereka menyerbu Kahuripan, dikerahkan.

Namun diam-diam semangat para perajurit Ini sudah menguncup, jerih menghadapi pasukan Kahuripan yang tangguh dan dipimpin orang-orang sakti mandraguna.

Ketika menyerbu ke Kahuripan, mereka bergabung dengan tiga kerajaan lain, namun masih kalah.

Apalagi sekarang mereka harus menghadapi pasukan Kahuripan sendirian saja!

Para perwiranya"

Saja sudah patah semangat.

Akan tetapi, Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala mengadakan peraturan keras.

Kalau ada perajurit melarikan diri dan tidak menyambut serbuan musuh, mereka akan dibunuh sendiri oleh pasukan khusus yang berada di belakang!

Karena pasukan Wura-wuri sudah kehilangan banyak perajurit ketika menyerbu Kahuripan, maka Adipati Bhismaprabhawa tidak berani melakukan penghadangan jauh dari kota raja, melainkan mengerahkan seluruh pasukan untuk mempertahankan kota raja Kadipaten Wura-wuri.

Beberapa hari kemudian, pada suatu pagi setelah matahari naik cukup tinggi, tibalah saat yang dinanti-nantikan dengan penuh ketegangan itu.

Pasukan Kahuripan tiba di luar tembok benteng kota raja Wura-wuri, dipelopori seribu orang perajurit.

Pasukan pelopor itu dipimpin oleh Puspa Dewi yang menunggang seekor kuda pancal panggung (keempat ujung kakinya berwarna putih), dan tampak gagah sekali.

Kedua pihak telah siap dan masing-masing pasukan sudah saling berhadapan, menanti perintah untuk mulai menyerbu.

Pasukan Wura-wuri berbaris di luar pintu gerbang.

Tiba-tiba dari barisan Wura-wuri muncul Nyi Dewi Durgakumala.

Wanita setengah tua masih cantik ini mengenakan pakaian gemerlapan.

Permaisuri itu kini mengenakan pakaian perang sebagai seorang senopati wanita yang cantik dan gagah.

Ia mengangkat tangan tanda bahwa ia ingin bicara.

Kemudian terdengar suaranya yang lantang.

"Hai, orang-orang Kahuripan, dengarlah! Aku, Permaisuri Dewi Durgakumala, sebagai senopati perang mewakili Sang Adipati Bhismaprabhawa, minta agar Ki Patih Narotama maju kesini karena kami ingin bicara!"

Ki Patih Narotama yang berada di belakang Pasukan Pelopor pimpinan Puspa Dewi, menggeprak kudanya dan maju sehingga berada di depan pasukan itu.

"Dewi Durgakumala, apalagi yang hendak dibicarakan? Kami minta agar Wura-wuri menyerah agar kami tidak perlu memukul dengan kekerasan yang mengakibatkan tewasnya banyak perajurit Wura-wuri!"

Kata Narotama, suaranya menggelegar terdengar oleh seluruh pasukan Wura-wuri.

"Heh, Ki Patih Narotama, kalian tidak dapat menggertak kami! Ketahuilah bahwa puteramu Joko Pekik Satyabudhi telah berada di tangan kami! Kalau Andika tetap hendak menyerbu kami, sebelum ada seorang pun perajurit kami tewas, lebih dulu puteramu akan kami bunuh! Maka, kalau Andika sayang kepada puteramu, tariklah mundur pasukan kalian dan jangan memaksa kami untuk membunuh anak kecil itu!"

Mendengar ini, Puspa Dewi mengerutkan alisnya.

"Orang Wura-wuri pengecut! Curang dan licik menculik anak kecil yang tidak tahu apa-apa dijadikan sandera!"

Ia membentak marah. Akan tetapi Ki Patih Narotama memajukan kudanya.

"Nyi Dewi Durgakumala! Perlihatkan dulu puteraku Joko Pekik Satyabudhi, baru kami percaya omonganmu dan akan mempertimbangkan permintaanmu!"

"Tidak perlu kami perlihatkan! Pendeknya, Joko Pekik Satyabudhi berada di tangan kami dan kalau pasukanmu maju, kami akan lebih dulu membunuh anak itu!"

Teriak Nyi Dewi Durgakumala.

Ki Patih Narotama masih ragu.

Dia melihat bahwa putranya itu berada di tangan Lasmini di Parang Siluman.

Bagaimana mungkin berada di Wura-wuri?

Selagi dia meragu, tiba-tiba terdengar teriakan lantang.

"Gusti Patih, jangan percaya omongannyal Ia bohong, putera Paduka tidak berada di Istana Wura-wuri!"

Tiba-tiba dari atas tembok benteng Wura-wuri tampak bayangan orang berkelebat dan Nurseta telah melayang turun dan kini berada di dekat Ki Patih Narotama.

"Nurseta...!!"

Seruan ini keluar dari mulut Ki Patih Narotama dan Puspa Dewi.

"Hamba sudah melakukan penyelidikan ke dalam istana dan memaksa para dayang istana dan memang putera Paduka tidak berada di sana. Nyi Dewi Durgakumala berbohong!"

Ki Patih Narotama melompat turun dari atas punggung kudanya.

"Nyi Dewi Durgakumala, atas nama Sang Prabu Erlangga, Raja Kahuripan, kami perintahkan kalian para pemimpin Wura-wuri untuk menyerah agar kami tidak perlu menggunakan kekerasan mengorbankan nyawa banyak perajurit!". Tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak dan muncullah dua orang yang serupa segala-galanya, wajahnya, bentuk tubuhnya, pakaiannya! Mereka adalah datuk kembar dari Blambangan itu.

"Ha-ha-ha, inikah yang bernama Ki Patih Narotama yang kabarnya sombong sekali, dari orang gunung nang-nung, orang desa klutuk di Bali-dwipa, sekarang mendapat kedudukan patih menjadi besar kepala?"

Kata Menak Gambir Anom.

"Heh-eh! Ingin tahu aku sampai di mana kemampuannya. Apakah kesaktiannya sebesar nama dan kesombongannya? Hei, Narotama, sebelum pasukan kita saling bertempur, beranikah kau melawan kami, Menak Gambir Anom dan Menak Gambir Sawit, datuk kembar dari Blambangan?"

Kata Menak Gambir Sawit.

Ki Patih Narotama pernah mendengar nama besar Datuk Kembar Blambangan ini dan maklum bahwa dia berhadapan dengan dua orang yang sakti mandraguna.

Akan tetapi tentu saja dia tidak gentar sedikit pun.

Apalagi ketika itu, dia menjadi pemimpin barisan Kahuripan.

Pantang untuk takut atau mundur.

"Majulah Pantang bagi Narotama menghindari tantangan musuh dalam perang!"

Katanya dengan tegas namun tetap tenang dan waspada.

Dua datuk kembar itu lalu menggerak-gerakkan kedua lengan bersilang dan kedua lengannya itu menggetar dan perlahan-lahan kedua lengan mereka berubah menghitam!

Mereka mulai mengerahkan Aji Hasta Langking (Tangan Hitam) dan setelah kedua lengan tangan itu menghitam, maka pukulan atau tamparan tangan itu mengandung bisa yang amat ampuh dan jahat.

Kalau pukulan tangan itu mengenai badan lawan, maka bagian badan yang terpukul itu dapat menjadi hitam dan membusuk!

Setelah kedua lengan mereka menjadi hitam legam, keduanya lalu menyerang sambil berteriak nyaring.

"Hooooohhh!"

"Haaaaahhh!"

Tangan-tangan hitam itu menyambar-nyambar secara bertubi-tubi ke arah tubuh Narotama.

Akan tetapi Narotama menggunakan kecepatan gerakan tubuhnya, menghindarkan diri dengan elakan-elakan.

Terkadang dia menangkis dengan lengannya yang kebal terhadap segala hawa beracun, dan membalas serangan kedua orang pengeroyoknya.

Terjadilah pertempuran yang amat seru.

Kalau dua orang itu maju satu demi satu, mereka bukanlah lawan Ki Patih Narotama.

Akan tetapi kini mereka maju berdua dan tentu saja mereka menjadi kuat sekali sehingga dapat mengimbangi kesaktian Ki Patih Narotama.

Melihat dua orang datuk kembar itu sudah bertanding melawan Ki Patih Narotama, dan patih itu dikeroyokdua, Nurseta tidak merasa senang.

Sungguh curang orang-orang Wura-wuri, bertanding dengan cara mengeroyok.

Seperti telah diketahui, Nurseta meninggalkan Puncak Gunung Kelud setelah mendengar pengakuan Niken Harni bahwa gadis itu memang ingin menjadi murid Nini Bumigarbo dan bukannya menjadi tawanan nenek itu.

Di tengah perjalanan dia mendengar akan perang yang terjadi ketika Empat Kerajaan menyerbu Kahuripan dan dipukul mundur oleh Pasukan Kahuripan.

Dia mendengar pula bahwa sebuah pusaka Keraton Kahuripan dicuri musuh, bahkan putera Ki Patih Narotama juga diculik pihak musuh.

Mendengar ini Nurseta menjadi marah sekali.

Alangkah curangnya mereka yang memusuhi Kahuripan.

Karena di antara Empat Kerajaan musuh itu yang terdekat adalah Wura-wuri, maka dia langsung pergi ke Wura-wuri.

Di sini dia melakukan penyelidikan sampai berhasil menyusup ke dalam istana untuk mencari putera Ki Patih Narotama.

Akan tetapi dia tidak dapat menemukan anak itu dan menurut keterangan para dayang keraton anak itu memang tidak berada di istana Wura-wuri.

Kebetulan sekali pada saat itu, pasukan Kahuripan datang.

Nurseta menyaksikan kesibukan dan kegemparan dalam kota raja, dan ketika dia menyelinap dan membaur dengan para perajurit, dia mendengar percakapan antara Ki Patih Narotama dengan Nyi Dewi Durgakumala, maka dia langsung melompat keluar dan menggabungkan diri dengan Pasukan Kahuripan.

Kini melihat Ki Patih Narotama dikeroyok dua orang yang memiliki kepandaian tinggi, Nurseta sudah maju dengan niat membantu Ki Patih.

Akan tetapi tiba-tiba dari pihak musuh muncul dua orang menghadangnya.

Mereka ini bukan lain adalah Ki Gandarwo dan kakak seperguruannya, Cekel Aksomolo yang bentuk tubuh dan mukanya seperti Bhagawan Durna!

"Rrrik-tik-tik-tikkk....!"

Cekel Aksomolo menggerakkan tasbehnya sehingga terdengar bunyi nyaring berkeritikan yang dapat menggetarkan jantung lawan.

Ki Gandarwo juga sudah mencabut senjata andalannya, yaitu sebatang pedang.

Mereka berdua, tanpa banyak cakap sudah menerjang dan menyerang Nurseta.

Seperti biasa, pemuda ini hanya mengandalkan kaki tangannya saja untuk membela diri.

Dengan gerak silat Baka Denta, didasari Aji Bayu Sakti, dia dapat dengan mudah menghindarkan hujan serangan dua orang itu dengan elakan atau terkadang dia menangkis dengan tangannya yang kebal dan berani menangkis senjata baja yang tajam sekalipun.

Dia pun membalas dengan tamparan dan tendangan yang tidak kalah dahsyatnya dibandingkan serangan kedua orang pengeroyoknya.

Sejak tadi Puspa Dewi hanya menonton saja.

Ia tidak merasa khawatir melihat Ki Patih Narotama dan Nurseta masing-masing dikeroyok dua orang lawan yang tangguh.

Ia yakin akan kemampuan dua orang itu.

Kini ia melihat Nyi Dewi Durgakumala, wanita yang pernah menjadi gurunya merangkap ibu angkatnya itu.

Juga permaisuri Wura-wuri itu memandang kepadanya dan bibir wanita yang masih cantik itu tersenyum mengejek.

Puspa Dewi sudah mengenal bekas gurunya ini.

Senyum seperti itu menandakan bahwa wanita itu marah sekali.

Ia pernah melihat Nyi Durgakumala membunuh orang sambil mengembangkan senyum seperti itu!

Ia melihat Nyi Dewi Durgakumala memberi isyarat kepada Adipati Bhismaprabhawa.

Adipati yang bertubuh tinggi kurus itu mengangguk dan mencabut klewang (golok) bergagang emas, lalu bersama Nyi Dewi Durgakumala menghampiri Puspa Dewi.

"Anak durhaka, murid tak mengenal budi!"

Nyi Dewi Durgakumala memaki.

"Tidak malu engkau membawa pedangku? Kembalikan pedang Candrasa Langking itu kepadaku!"

Wajah Puspa Dewi menjadi merah mendengar ucapan bekas gurunya itu. Dia cepat mengambil pedang hitam berikut sarungnya dan menyerahkannya kepada Nyi Dewi Durgakumala. (Lanjut ke

Jilid 20) Nurseta Satria Karang Tirta (seri ke 02 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 20

"Dulu aku tidak minta, engkau sendiri yang memberikannya kepadaku. Sekarang engkau memintanya kembali. Mari, terimalah!"

Dengan gerakan cepat Nyi Dewi Durgakumala merenggut pedang itu dari tangan Puspa Dewi, lalu sambil mencabut pedang itu ia berseru dengan suara mengandung kemarahan.

"Puspa Dewi, bersiaplah untuk mampus, engkau bocah tak mengenal budi!"

Pedang di tangannya berubah menjadi sinar hitam yang menyambar bagaikan kilat ke arah leher Puspa Dewi ketika Permaisuri Wura-wuri itu menyerang dengan ganas.

Puspa Dewi yang sudah siap cepat menghindar.

Pada saat itu, Adipati Bhisniaprabhawa juga menerjang dan membacokkan klewangnya ke arah pinggang dara itu.

Kembali Puspa Dewi menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak.

Bagaimanapun juga, Puspa Dewi tidak lupa bahwa dua orang ini pernah memperlakukannya dengan baik sekali, terutama Nyi Dewi Durgakumala.

Mereka bahkan pernah mengangkatnya menjadi Sekar kedaton, diakui sebagai puteri mereka yang dihormati dan dimuliakan rakyat Kadipaten Wura-wuri.

Maka sampai belasan jurus ia hanya menghindar saja.

kemudian ia teringat bahwa ia merupakan seorang yang dipercaya oleh Ki Patih Narotama memimpin Pasukan Pelopor, maka ia pun paham bahwa kalau ia kini bertanding melawan Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala, pertandingan itu bukan untuk urusan pribadi, melainkan masing-masing membela kerajaannya.

Mulailah ia membalas, menggunakan Sang Cundrik Arum, yaitu sebatang keris mungil pemberian Sang Prabu Erlangga.

Biarpun hanya kecil, namun Cundrik Arum merupakan sebuah pusaka Kahuripan yang ampuh.

"Tranggg...!"

Klewang besar yang menyambar itu ditangkis Puspa Dewi dengan cundriknya.

Bunga api berpijar dan Adipati Bhismaprabhawa terkejut melihat betapa ujung klewang yang beradu dengan cundrik kecil tadi telah somplak!

Saking kagetnya, Sang Adipati melangkah mundur dengan mata terbelalak.

Melihat ini, Nyi Dewi Durgakumala kembali menyerang dengan hebatnya.

Sinar pedang hitam menyambar ke arah kepala Puspa Dewi.

"Cringggg...!"

Pedang terpental ketika bertemu dengan cundrik yang menangkis dengan tenaga yang amat kuat.

Setelah rnenerima gemblengan Sang Maha Resi Satyadharma selama satu tahun, kini kekuatan dan kepandaian Puspa Dewi sudah jauh melampaui kesaktian bekas gurunya itu.

Suami isteri penguasa Kerajaan Wura-wuri itu mengeroyok Puspa Dewi.

Mereka berdua amat membenci Puspa Dewi karena mereka yang telah mengangkat gadis itu menjadi Sekar Kedaton kini malah bertanding sebagai musuh dengan gadis itu.

Terutama sekali Nyi Dewi Durgakumala.

Ia amat benci kepada Puspa Dewi yang dulu sungguh disayangnya seperti anaknya sendiri.

Wanita ini tidak pernah mempunyai anak dan ketika ia mengambil Puspa Dewi sebagai murid, ia merasa sayang sekali kepada murid yang wataknya keras seperti dirinya sendiri itu.

Saking sayangnya, ia bukan saja menurunkan semua aji kesaktiannya kepada Puspa Dewi, bahkan mengangkatnya sebagai anak sendiri.

Lebih dari itu, ia seringkali mengurungkan keinginannya yang ditentang oleh Puspa Dewi.

Seperti ketika ia memberi syarat kepada Adipati Bhismaprabhawa untuk membunuh Dewi Gendari, isteri Adipati Bhismaprabhawa, sebelum ia menerima lamaran Sang Adipati itu.

Akan tetapi Puspa Dewi melarangnya sehingga akhirnya Dewi Gendari tidak dibunuh, melainkan dipulangkan ke kampung halamannya dengan diberi bekal harta yang cukup banyak.

Juga ketika beberapa kali Nyi Dewi Durgakumala menculik pemuda untuk dijadikan kekasihnya dan kemudian dibunuh, Puspa Dewi melarangnya dan ia pun kemudian membebaskan pemuda-pemuda itu, sungguhpun diam-diam ia melukai mereka dengan Aji Wisakenaka sehingga mereka akan tewas pula.

Biarpun merasa agak ragu harus bertanding melawan dua orang yang pernah bersikap baik kepadanya itu, namun mengingat bahwa ia kini bertanding sebagai seorang komandan pasukan Kahuripan melawan musuh Kerajaan itu, pula melihat betapa dua orang itu menyerangnya dengan sungguh-sungguh penuh kebencian dan semua serangan mereka merupakan serangan maut, akhirnya Puspa Dewi mulai membalas serangan mereka.

Terjadilah pertandingan yang tidak kalah serunya dibandingkan petandingan yang dilakukan Nurseta dan Ki Patih Narotama.

Pasukan kedua pihak hanya menjadi penonton.

Pasukan Wura-wuri yang memang sudah gentar, tidak berani bergerak karena semua pemimpin mereka sedang bertanding mati-matian.

Sementara itu, para perwira Kahuripan yang tidak ikut bertanding juga tidak berani sembarangan menggerakkan pasukan mereka tanpa aba-aba dari para pemimpin, terutama Ki Patih Narotama.

Jadi, pasukan kedua pihak hanya menonton pertandingan yang amat dahsyat itu.

Kesaktian Ki Patih Narotama untuk kesekian kalinya teruji ketika dia menghadapi pengeroyokan dua saudara kembar dari Blambangan itu.

Dua orang saudara kembar ini masing-masing menguasai ilmu-ilmu tingkat tinggi dan mungkin karena mereka kembar, ketika mereka berdua mengeroyok Ki Patih Narotama, terdapat kerja sama yang amat baik.

Mereka itu seolah-olah dua tubuh yang dikendalikan satu hati dan satu pikiran.

Masing-masing seolah dapat merasakan dan dapat mengetahui perkembangan gerakan yang dilakukan saudara kembarnya sehingga pengeroyokan terhadap Ki Patih Narotama dapat dilakukan secara kompak sekali.

Mereka berdua seolah saling melindungi secara otomatis.

Kalau serangan balasan Ki Patih Narotama membahayakan Menak Gambir Anom, maka Menak Gambir Sawit sudah siap menolong saudaranya dan demikian sebaliknya.

Dengan adanya kerja sama yang amat kompak ini, kekuatan mereka seolah dipersatukan sehingga selain pertahanan mereka kokoh, juga penyerangan mereka yang saling dorong itu amat berbahaya, Ki Patih Narotama harus waspada sekali menghadapi lawan-lawan seperti ini.

Untuk mengimbangi kecepatan dan kekompakan gerakan dua orang Datuk Kembar Blambangan itu, Ki Patih Narotama bersilat dengan Ilmu Silat Kukilo Sakti.

Akan tetapi dengan ilmu silat ini, dia masih terdesak sehingga dia lalu mengubah gerakannya.

Kini tubuhnya berkelebatan seperti beterbangan di antara dua orang pengeroyoknya, menjadi bayangan putih yang cepat sekali.

Inilah Ilmu Silat Bramoro Seto (Lebah Putih) dan dengan ilmu silat ini, baru dia dapat mengimbangi pengeroyokan Datuk Kembar Blambangan itu.

Pertandingan di antara mereka terjadi dengan dahsyatnya, masing-masing mengeluarkan jurus-jurus simpanan terampuh.

Sepasang Datuk Kembar itu merasa penasaran bukan main.

Baru maju sendiri saja sudah jarang ada orang yang mampu menandingi masing-masing.

Kini mereka maju bersama berarti kekuatan mereka menjadi berlipat ganda.

Namun sebegitu lamanya mereka masih belum mampu melukai tubuh Ki Patih Narotama, apalagi merobohkannya!

Bahkan beberapa kali mereka terkejut dan nyaris celaka terkena sambaran pukulan Ki Patih Narotama yang menggunakan Aji Bojrodahono (Api Halilintar) sehingga mereka merasa panas sekali dan terkejut sekali.

Setelah pertandingan berlangsung cukup lama dan Sepasang Datuk Kembar itu merasa bahwa dengan mengandalkan ilmu silat dan pertandingan kekuatan tubuh, tebalnya kulit dan kerasnya tulang, mereka tidak akan menang.

Maka setelah saling memberi isyarat, mereka berdua berloncatan ke belakang, lalu menyimpan ruyung masing-masing digantungkan di pinggang.

Tangan kanan Menak Gambir Sawit memegang tangan kiri Menak Gambir Anom, lalu Menak Gambir Anom menghantamkan telapak tangan kanannya ke arah Narotama.

Dengan cara itu, mereka berdua menggabungkan tenaga-sakti mereka lewat tangan yang saling berpegangan kemudian tenaga sakti yang tergabung itu dikeluarkan melalui tangan kanan Menak Gambir Anom untuk menyerang Narotama.

"Wuuuuuttt...!"

Telapak tangan kana Menak Gambir Anom itu mengeluarkan uap putih yang dingin sekali.

Bahkan keadaan sekelilingnya terasa ada angin yang amat dingin menyambar.

Itulah Aji Ampak-ampak Petak, pukulan jarak jauh yang mengandung hawa dingin seperti salju.

Sambaran angin berhawa dingin itu menyambar ke arah Ki Patih Narotama yang segera dapat mengetahui bahwa dia diserang secara hebat oleh tenaga sakti gabungan Dua Datuk Kembar dari Blambangan itu.

Serangan ini merupakan serangan maut yang amat berbahaya, terlalu besar resikonya kalau dihadapi dengan elakan atau tangkisan karena serangan itu mengandung daya kekuatan yang luas.

Satu-satunya jalan adalah menyambutnya dengan kekerasan dan mengadu tenaga sakti.

Maka Ki Patih Narotama berkemak-kemik membaca doa, mohon ampun dan bimbingan Sang Hyang Widhi, lalu dia mengerahkan tenaga Bojrodahono yang panas untuk melawan serangan hawa dingin itu.

Lalu dia menekuk lutut depan, menjulurkan kaki belakang dan mendorong dengan tangan kirinya menyambut pukulan tangan kanan Menak Gambir Anom yang mengandung tenaga gabungan Sepasang Datuk Kembar itu.

"Syuuuuuttt.... blaarrrr...!"

Hebat bukan main pertemuan dua tenaga sakti yang berlawanan, satu amat dingin dan yang lain amat panas itu.

Tanah di sekitarnya terasa guncang oleh pertemuan dua tenaga raksasa itu.

Tubuh Ki Patih Narotama terhuyung beberapa langkah ke belakang, akan tetapi tubuh dua orang datuk itu terlempar dan roboh.

Dari mulut, hidung, dan telinga Menak Gambir Sawit keluar darah dan dia tewas seketika, sedangkan Menak Gambir Anom hanya merasa dadanya sesak.

Ternyata akibat benturan tenaga itu, yang paling parah menanggung akibatnya adalah Menak Gambir Sawit yang berada di belakang atau di ujung penggabungan tenaga sakti itu, sedangkan Menak Gambir Anom hanya menjadi penyambung dan dilewati getaran hebat dari tenaga sakti yang membalik.

Tenaga sakti itu langsung dan sepenuhnya menghantam balik tubuh Menak Gambir Sawit sehingga dia tewas seketika.

Melihat saudara kembarnya tewas, Menak Gambir Anom terkejut dan tanpa mempedulikan dadanya yang sesak dia memondong jenazah saudaranya lalu membawanya lari memasuki barisannya dan terdengar dia meraung dalam tangisnya!

Ki Patih Narotama berdiri dan menghirup napas dalam-dalam untuk menenangkan isi dadanya yang sempat terguncang.

Lalu dia menghela napas beberapa kali, timbul penyesalannya bahwa orang sesakti Menak Gambir Sawit harus berkorban nyawa membela Wura-wuri yang dipimpin orang-orang yang berwatak angkara murka.

Dia lalu menoleh dan memandang ke arah Nurseta dan Puspa Dewi yang masing-masing masih menghadapi pengeroyokan dua orang lawan.

Ki Patih Narotama tidak membantu mereka karena dia dapat melihat bahwa dua orang muda itu tidak membutuhkan bantuan dan tidak akan kalah.

Perhitungan Ki Patih Narotama memang benar.

Biarpun sampai saat itu Nurseta belum dapat merobohkan Ki Gandarwo dan Cekel Aksomolo yang mengeroyoknya, namun dia mulai mendesak kedua orang kakak beradik seperguruan itu, Yang membuat Nurseta agak repot dan belum dapat mengalahkan mereka adalah serangan-serangan yang amat hebat dan berbahaya dari Cekel Aksomo-lo.

Orang yang tinggi kurus bongkok dan tampaknya lemah Ini ternyata amat berbahaya dengan senjatanya yang Istimewa, yaitu seuntai tasbeh hitam.

Biji-biji tasbeh hitam itu mengeluarkan bau aneh yang memuakkan dan mengandung racun jahat.

Juga ketika digerakkan sebagai senjata, tasbeh itu mengeluarkan suara berkero-tokan memekakkan telinga dan mengguncang jantung menimbulkan rasa nyeri dalam dada.

Nurseta merasa seolah-olah dikeroyok banyak lebah dan merasa terganggu sekali sehingga tidak dapat memusatkan perhatian yang selalu tergoda dan terkecoh oleh suara berkerotoknya biji-biji tasbeh.

Maka, biarpun dia dapat menghindarkan semua serangan tasbeh yang dibantu serangan pedang Ki Gandarwo yang ganas, serangan baliknya kurang terpusat dan tidak begitu kuat .sehingga dia belum juga mampu mengalahkan dua orang pengeroyoknya itu.

Kakak beradik seperguruan itu pun merasa penasaran bukan main.

Terutama sekali Cekel Aksomolo yang wataknya tinggi hati dan memandang rendah lawan, mengagulkan diri sendiri.

Ketika Nurseta membalas dengan tusukan keris pusaka Kolomisani, Cekel Aksomolo miringkan tubuhnya dan secepat kilat tasbehnya menyambar dan tasbeh itu berhasil dikalungkan pada keris di tangan Nurseta dan membelit keris itu!

Nurseta berusaha menarik lepas kerisnya, namun Cekel Aksomolo mempertahankan.

Selagi kedua orang ini bersitegang, Ki Gandarwo membacokkan pedangnya ke arah kepala Nurseta!

Melihat dirinya terancam bahaya maut, Nurseta mengeluarkan teriakan mengguntur dan tangan kirinya menyambut pedang itu dengan pukulan telapak tangannya.

"Wuuttt... plakk!!"

Pedang itu mental dan membalik, membacok kepala Ki Gandarwo sendiri.

Senopati muda Wurawuri yang menjadi kekasih gelap Nyi Dewi Durgakumala ini hanya sempat menjerit satu kali lalu roboh dan tewas karena kepalanya terbacok pedangnya sendiri sampai dalam!

"Rrrrttt...!"

Nurseta merenggut kerisnya dan tasbeh itu putus, biji tasbehnya sebagian masih digenggam Cekel Aksomolo, sebagian lagi tercecer di atas tanah.

Cekel Aksomolo terkejut sekali, terutama melihat tewasnya Ki Gandarwo.

Dia menjerit seperti seorang wanita, melompat ke dalam barisannya dan tiba-tiba dia menggerakkan tangan dan beberapa buah ganatri (biji tasbeh) meluncur ke arah Nurseta, mengeluarkan bunyi berdengung seperti tawon.

Nurseta mengelak dan menampar jatuh beberapa buah ganatri, akan tetapi dua buah yang luput dan lewat di dekat tubuhnya, tiba-tiba membalik seperti mahluk hidup dan menyambar lagi ke arah kepalanya!

Nurseta memukul runtuh dua buah ganatri ini dan ketika dia memandang ke depan, Cekel Aksomolo telah menghilang dalam barisan Wura-wuri.

Pada saat yang hampir bersamaan, Puspa Dewi juga berhasil menendang roboh Adipati Bhismaprabhawa.

Pada kesempatan selagi Puspa Dewi melakukan tendangan, Nyi Dewi Durgakumala mengelebatkan pedang hitamnya ke arah leher Puspa Dewi.

Gadis itu cepat menggunakan Cundrik Arum untuk menangkis.

"Cringgg...!"

Pedang terpental dan hampir saja terlepas dari tangan Nyi Dewi Durgakumala yang menjadi marah melihat suaminya tertendang roboh.

Ia mengeluarkan pekik melengking dan tangan kirinya menyerang dengan Aji Wisakenaka dari jarak dekat.

Kuku jari-jari tangan permaisuri Wura-wuri itu mencengkeram dan kalau sampai kulit Puspa Dewi tercakar dan terluka, maka racun dari kuku-kuku itu akan dapat mencelakakannya.

Akan tetapi tentu saja Puspa Dewi sudah hafal akan aji ini yang juga sudah dikuasainya dengan baik, maka ia menangkis dari samping sambil mengerahkan tenaga saktinya yang sudah diperkuat oleh Sang Maha Resi Satyadharma.

"Plakk...!"

Tangkisan itu membuat tubuh Nyi Dewi Durgakumala terpelanting roboh.

Puspa Dewi mengejar dan menangkap pundak bekas gurunya yang roboh miring, tangan kanan mengangkat cundrik (keris kecil atau belati) untuk ditusukkan.

Nyi Dewi Durgakumala tak mampu menghindar lagi karena ketika roboh, tangannya yang memegang pedang tertindih tubuhnya.

Ia hanya menanti kematian dengan mata terbelalak.

Pada saat itu, Adipati Bhismaprabhawa yang tadi tertendang jatuh, kini bangkit dan dengan pedangnya dia melompat dan menyerang Puspa Dewi dari belakang!

"Singgg...

cappp!!"

Adipati Bhismaprabhawa mengaduh dan jatuh terpelanting, sebatang tombak menembus punggungnya.

Dia tewas seketika, tanpa mengetahui bahwa yang menewaskannya adalah sebatang tombak yang dilontarkan Ki Patih Narotama yang melihat kecurangan Sang Adipati Wurawuri itu.

Dia cepat mengambil sebatang tombak di atas tanah dan meluncurlah tombak itu ke arah punggung Sang Adipati Bhismaprabhawa untuk menyelamatkan Puspa Dewi dari serangan gelap itu.

Sementara itu, melihat Adipati Bhismaprabhawa telah tewas dan semua pemimpin Wura-wuri kalah, Nyi Dewi Durgakumala yang masih ditodong Puspa Dewi berkata.

"Murid tak kenal budi, cepat bunuh aku agar kemurtadanmu lengkap!"

Akan tetapi Puspa Dewi melangkah mundur.

"Nyi Dewi Durgakumala, biarlah sekali ini aku membalas budimu dan kalau ada yang hendak membunuhmu, aku yang akan mencegahnya dan melindungimu. Pergilah!"

Nyi Dewi Durgakumala bangkit berdiri dan tersenyum mengejek.

"He-heh, ternyata engkau masih belum dapat menandingiku. Engkau masih lemah hati. Engkau melepaskan aku, tidak membunuhku, merupakan penghinaan yang tidak akan kulupakan. Lain waktu kita akan bertemu kembali dan aku akan menebus semua ini!"

Setelah berkata demikian, Nyi Dewi Durgakumala melompat dan menghilang di balik barisannya.

Setelah semua pimpinan mereka kalah, ada yang tewas dan ada yang melarikan diri, hati para perajurit Wura-wuri menjadi semakin gentar.

Akan tetapi Ki Patih Narotama menaati pesan Sang Prabu Erlangga.

Dia mengangkat tangan memberi isyarat agar pasukan Kahuripan diam di tempat dan tidak bergerak.

Kemudian dia menancapkan dua batang tombak panjang yang banyak berserakan di tanah, dan bagaikan seekor burung dia melompat lalu berdiri di atas kedua batang tombak itu.

Dia berdiri tegak seperti di atas tanah saja dan hal ini menunjukkan betapa ilmu meringankan tubuh Ki Patih Narotama sudah mencapai tingkat tinggi.

Setelah berdiri tegak di atas dua batang tombak itu sehingga dia berada di tempat agak tinggi dan dapat dilihat para perajurit musuh, Ki Patih Narotama berseru dengan lantang.

Suaranya mengandung getaran amat kuat sehingga terdengar sampai ke ujung kota raja.

"Haiii! Para perwira, perajurit, dan rakyat Wura-wuri, dengarlah baik-baik! Kami, Ki Patih Narotama dan segenap Senopati Kahuripan diutus yang mulia Gusti Sinuwuh Sang Prabu Erlangga untuk memberitahu kepada Andika sekalian bahwa kami datang untuk memberi hukuman kepada para penguasa Wura-wuri yang beberapa kali telah merongrong kewibawaan Kerajaan Kahuripan, membuat kekacauan dan melakukan penyerangan sehingga mengakibatkan tewasnya ribuan orang perajurit semua pihak yang berperang. Kami tidak ingin mengganggu rakyat jelata, dan kami datang tidak akan membunuh para perajurit Wura-wuri, bahkan memberi kebebasan kepada Andika sekalian. Hanya mereka yang membuat onar dan kekacauan yang akan kami tindak dan kami hukum! Pasukan kami akan memasuki Kadipaten Wurawuri dengan damai!"

Setelah berkata demikian, Ki Patih Narotama lalu memberi isyarat kepada para pembantunya untuk menggerakkan pasukan memasuki kota raja atau kadipaten dengan tertib.

Pasukan Wura-wuri yang tadinya mengatur barisan di depan pintu gerbang benteng, begitu mendengar ucapan Ki Patih Narotama, sebagian besar lalu mundur, memasuki kadipaten dan tidak membuat perlawanan.

Pasukan memasuki kota raja Wura-wuri dengan aman dan hanya terjadi sedikit perlawanan di sana sini dari mereka yang setia kepada Wura-wuri.

Akan tetapi perlawanan mereka itu segera dapat ditindas dan diamankan.

Ki Patih Narotama, diikuti Puspa Dewi dan para perwira pembantu, memasuki istana Kadipaten Wura-wuri.

Para dayang dan pelayan yang tidak melarikan diri berlutut dengan hormat namun tidak ketakutan karena mereka sudah mendengar dari para perajurit bahwa pasukan Kahuripan yang dipimpin Ki Patih Narotama telah menduduki Wura-wuri namun tidak akan mengganggu siapa saja di Wura-wuri asalkan mereka tidak membuat kekacauan dan tidak melawan.

Ketika memasuki ruangan istana, Ki Patih Narotama baru menyadari bahwa Nurseta tidak ikut rombongannya masuk, bahkan .ketika dia menoleh dan mencari, dia tidak melihat pemuda itu bersama mereka.

"Eh, Puspa Dewi, aku tidak melihat Nurseta. Di mana dia?"

"Dia berada di luar, Gusti Patih. Baru saja saya menceritakan tentang Eyang Senopati Sindukerta yang gugur."

Ki Patih Narotama mengerutkan alisnya dan menghela napas panjang.

"Ya, perang memang kejam, merupakan titik terendah dari kejatuhan manusia ke dalam jurang dosa. Perang membuat orang menjadi buas, nyawa manusia tidak lebih dihargai daripada nyawa seekor lalat. Perang membuat manusia mampu menari-nari di atas mayat musuh-musuhnya. Perang menimbulkan kekejaman, kepuasan nafsu binatang, dendam kebencian, sorak-sorai mereka yang mabok kemenangan di antara ratap tangis mereka yang kematian keluarganya."

Ki Patih Narotama melanjutkan langkahnya memasuki istana Wura-wuri, diikuti para pembantunya.

Mengadakan pemeriksaan ke seluruh istana.

Ternyata Nyi Dewi Durgakumala sudah pergi meninggalkan istana, menurut keterangan para dayang, membawa harta bendanya berupa perhiasan.

Juga Cekel Aksomolo yang terhindar dari kematian sudah pergi meninggalkan Wura-wuri.

Ki Patih Narotama bersikap lembut terhadap semua pekerja di istana Wura-wuri.

Dia lalu menunjuk beberapa orang perwira Kahuripan untuk menjadi pejabat-pejabat sementara agar roda pemerintahan Kadipaten Wura-wuri dapat berjalan seperti biasa.

Tentu saja banyak kebijaksanaan pemerintah lama yang diubah dan diganti sehingga peraturan-peraturan tidak ada lagi yang menekan rakyat, disesuaikan dengan peraturan pemerintahan Kerajaan Kahuripan.

Bahkan para perajurit yang tidak melarikan diri dan dengan suka rela mengakui kedaulatan Kahuripan, masih diterima menjadi anggauta pasukan baru yang dibentuk dan dipimpin oleh seorang senopati Kahuripan yang diangkat sebagai komandan sementara oleh Ki Patih Narotama.

Tadinya, Ki Patih Narotama minta kepada Puspa Dewi yang pernah menjadi Sekar Kedaton Wura-wuri dan sudah banyak dikenal oleh para perwira dan perajurit Wurawuri untuk menjabat komandan pasukan sementara, akan tetapi dengan hormat Puspa Dewi menolak.

"Gusti Patih, bukan semata-mata saya menentang dan menolak kehendak Paduka, akan tetapi saya tidak dapat menerima tugas itu karena pertama . Akan timbul anggapan para perajurit Wura-wuri bahwa saya ikut memusuhi pimpinan Wura-wuri karena ingin menjadi penguasa di sini. Kedua kalinya, memang sejak dulu saya tidak ingin terikat dengan sebuah jabatan. Saya lebih suka bebas dari ikatan, Gusti Patih, walaupun saya selalu siap apabila sewaktu-waktu tenaga saya dibutuhkan untuk membela Kahuripan, sebagai kawula Kahuripan."

Mendengar alasan yang kuat itu, Ki Patih Narotama tidak memaksanya dan menunjuk seorang senopati Kahuripan untuk jabatan itu.

Semua orang yang dia angkat sebagai pejabat sementara diperingatkan agar bertugas dengan baik, menaati perintah atasan dan jujur.

Juga mereka diberitahu bahwa jabatan mereka hanya sementara, sambil menanti keputusan dari Sang Prabu Erlangga sendiri yang akan menunjuk para pejabat baru untuk mengatur roda pemerintahan Kahuripan.

Juga untuk menunjuk seorang adipati baru, harus menaati keputusan dari Sang Prabu Erlangga sendiri.

Karena sikap bijaksana Ki Patih Narotama ini, maka penalukan Wura-wuri berlangsung cepat dan tenang, tanpa mengakibatkan banyak korban.

Juga suasana segera menjadi tenteram kembali karena peristiwa penalukan itu tidak mendatangkan perubahan besar kepada kehidupan rakyat jelata, bahkan kalaupun diadakan beberapa perubahan peraturan, perubahan itu membela kepentingan dan menguntungkan rakyat.

Setelah menalukkan Wura-wuri tanpa mengorbankan banyak perajuritnya, Ki Patih Narotama mempersiapkan pasukannya untuk melanjutkan tugasnya melakukan pembersihan atau hukuman terhadap kerajaan-kerajaan kecil lainnya yang selalu memusuhi Kahuripan dan seringkali melakukan pengacauan.

Tiga kerajaan yang harus ditundukkan agar mereka tidak lagi mengganggu Kahuripan itu adalah, Kerajaan Wengker, Parang Siluman, dan Kerajaan Siluman Laut Kidul.

Tanpa diketahui orang lain, bahkan dia tidak melaporkan hal itu kepada Sang Prabu Erlangga, Ki Patih Narotama sudah terikat janji dengan Kerajaan Parang Siluman bahwa dia tidak akan menyerbu Parang Siluman karena putera-nya, Joko Pekik Satyabudhi yang baru berusia satu setengah tahun, ditawan dan dijadikan sandera di Parang Siluman.

Oleh karena itu, sasaran berikutnya yang akan dia tundukkan adalah Kerajaan Siluman Laut Kidul.

Dibandingkan yang lain, kerajaan atau kadipaten ini yang paling kecil, pasukannya juga tidak banyak jumlahnya walaupun harus diakui bahwa Siluman Laut Kidul dipimpin oleh ratunya yang sakti mandraguna, yaitu Ratu Mayang Gupita yang rupanya saja sudah menyeramkan sebagai seorang raseksi.

Juga ia dibantu oleh paman gurunya sendiri yang sakti dan ahli sihir, yaitu Bhagawan Kalamisani.

Akan tetapi Ki Patih Narotama merasa yakin bahwa dia dan Puspa Dewi berdua akan mampu menandingi dan mengalahkan dua orang sakti itu, dan pasukannya juga jauh lebih besar daripada pasukan Kadipaten Siluman Laut Kidul.

Dia lalu memanggil Nurseta dan diajaknya pemuda itu untuk bicara berdua saja dengannya.

"Nurseta, aku ikut merasa prihatin atas gugurnya Kakekmu, yaitu Paman Senopati Sindukerta. Mudah-mudahaan engkau tidak terlalu berduka mendengar berita itu."

Nurseta menghela napas panjang dan menyembah dengan hormat.

"Gusti Patih, bagaimana mungkin seorang manusia biasa seperti saya tidak akan merasa kehilangan dan bersedih mendengar kematian Eyang Sindukerta? Akan tetapi saya dapat menghibur hati dengan adanya kenyataan bahwa Eyang Sindukerta meninggal dunia sebagai seorang pahlawan pembela negara. Saya sudah dapat menguasai hati dan tidak lagi tertekan kedukaan, Gusti Patih."

"Sukurlah kalau begitu, Nurseta. Sekarang aku ingin minta tolong padamu, Nurseta. Aku sedang terhimpit suatu masalah dan kiranya hanya engkau yang akan dapat menolongku."

Nurseta terkejut.

Bagaimana mungkin Ki Patih Narotama yang demikian sakti mandraguna dan arif bijaksana itu membutuhkan pertolongannya?

"GUSTI PATIH, saya selalu siap untuk melaksanakan perintah Paduka yang mewakili Gusti Sinuwun.

Apa yang harus saya lakukan?"

Ki Patih menghela napas panjang.

"Inilah soalnya, Nurseta. Kalau mengenai urusan perjuangan membela Kahuripan, engkau tidak akan kuajak bicara berdua saja, melainkan di depan semua pembantuku. Akan tetapi urusan ini adalah urusan pribadiku, Nurseta. Urusan pribadi yang kurahasiakan terhadap siapa pun, bahkan tidak kulaporkan kepada Gusti Sinuwun. AKan tetapi akan kuceritakan padamu karena aku ingin minta pertolonganmu. Urusan ini mengenai puteraku, Joko Pekik Satyabudhi yang diculik musuh."

"Akan tetapi hal itu bukan rahasia lagi, Gusti Patih. Semua orang sudah mengetahui dan saya sendiri sudah mendengar semua yang terjadi di Kahuripan dari Puspa Dewi."

"Benar, Nurseta, akan tetapi tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Ketahuilah bahwa setelah perang usai dan puteraku dilarikan musuh, aku lalu melakukan pencarian dan aku yakin bahwa puteraku tentu diculik oleh bekas selirku, Lasmini, puteri Parang Siluman itu. Setelah aku tiba di Parang Siluman, benar saja. Puteraku berada di sana dan aku terpaksa mengadakan perjanjian dengan Lasmini bahwa aku tidak akan membawa pasukan menyerang Parang Siluman. Kalau aku melanggar, maka mereka akan lebih dulu membunuh Joko Pekik!"

"Hemm, licik sekali! Jadi, putera Paduka yang masih kecil itu dijadikan sandera untuk memaksa Paduka agar tidak memusuhi atau menyerang Parang Siluman?"

"Begitulah, dan aku merahasiakan hal ini. Aku merasa malu kalau diketahui Sang Prabu Erlangga. Karena itu, sekarang aku lebih dulu menyerang dan menaklukkan kadipaten yang lain. Setelah menaklukkan Wura-wuri, aku akan memimpin pasukan menaklukkan Kadipaten Siluman Laut Kidul, kemudian Kadipaten Wengker. Aku tidak dapat menyerang Kadipaten Parang Siluman sebelum puteraku dapat terlepas dari tahanan mereka."

"Lalu apakah yang dapat saya lakukan?"

"Nurseta, bantulah aku, bebaskan anakku dari Parang Siluman. Hanya engkau yang dapat menolongnya."

Nurseta mengangguk.

"Baiklah, Gusti Patih. Saya akan berusaha semampu saya untuk memasuki Parang Siluman dan membebaskan putera Paduka. Akan tetapi saya tidak berani menjamin keberhasilan saya karena tentu Paduka juga mengetahui bahwa di sana terdapat banyak orang yang sakti mandraguna dan tentu putera Paduka dijaga amat ketat."

"Aku mengerti, Nurseta. Kewajiban manusia hanyalah berusaha sekuat tenaga mengenai keberhasilannya hanya berada dalam kekuasaan Sang Hyang Widhi. Ada satu hal lagi yang kuminta darlmu."

"Apakah itu, Gusti Patih? Saya siap melaksanakan perintah Paduka."

"Nurseta, berikan kembali kepadaku Kyai Kolomisani, keris yang dulu kuhadiahkan kepadamu itu. Saat ini aku amat membutuhkannya. Ketahuilah, Nurseta, di Kadipaten Siluman Laut Kidul yang dipimpin ratunya, Ratu Mayang Gupita, terdapat Paman guru ratu itu, yang amat sakti. Orang itu memakai nama Bhagawan Kalamisani dan sudah menjadi sumpahnya sendiri bahwa dia hanya dapat tewas oleh Keris Pusaka Kolomisani yang dulu kuberikan kepadamu itu. Ceritanya begini. Dulu, puluhan tahun lalu ketika masih muda, Bhagawan Kalamisani pernah tinggal di Bali-dwlpa dengan nama Kartika Jenar. Dia banyak mempelajari banyak aji kanuragan dari para pendeta dan pertapa. Di antara para pendeta yang menggemblengnya terdapat pula guruku, yaitu Sang Maha Resi Satyadharma. Pada suatu hari, Kartika Jenar baru belajar selama beberapa bulan saja, Maha Resi Satyadharma kehilangan sebuah pusakanya, yaitu Kyai Kolomisani itu. Maha Resi Satyadharma mengetahui bahwa Kartika Jenar mencuri pusaka itu, akan tetapi ketika ditanya, Kartika Jenar menyangkal, bahkan dia bersumpah bahwa kalau dia yang mencuri Kyai Kolomisani, biar dia kelak mati oleh keris pusaka itu! Kemudian, belasan tahun lewat dan ketika aku dan Gusti Sinuwun Sang Prabu Erlangga menjadi murid Maha Resi Satyadharma, kami berdua yang ketika itu baru berusia sekitar delapan belas tahun, diberi tugas oleh guru kami untuk merampas kembali keris pusaka Kyai Kolomisani dari tangan Kartika Jenar yang ketika itu sudah menjadi seorang pertapa dengan nama Bhagawan Kalamisani. Agaknya dia sengaja menggunakan nama keris pusaka Itu sebagai nama tua atau nama pendetanya. Nah, kami berdua berhasil merampas kembali keris itu dan guru kami menghadiahkan keris pusaka Kyai Kolomisani kepadaku dan Sang Prabu Erlangga mendapat hadlah keris pusaka Kyai Brojol Luwuk. Nah, demikianlah, Nurseta. Sekarang aku hendak memimpin pasukan menundukkan Kadipaten Siluman Laut Kidul dan Bhagawan Kalamisani memperkuat kadipaten itu. Maka aku teringat akan pusaka Kyai Kolomisani yang kuberikan kepadamu, maka sekarang aku minta agar engkau kembalikan pusaka itu untuk kupergunakan menghadapi Bhagawan Kalamisani."

Nurseta mengangguk.

"Baiklah, Gusti Patih. Silakan menerima kembali Kyai Kolomisani!"

Kata Nurseta sambil menyerahkan keris pusaka itu. Ki Patih Narotama tersenyum dan memandang kagum.

"Bagus! Engkau adalah seorang satriya sejati, Nurseta. Nah, terimalah pusaka ini sebagai gantinya. Ini adalah Tongkat Pusaka Tunggul Manik. Tongkat ini bukan hanya dapat menjadi sebuah senjata yang ampuh dan dapat menandingi senjata pusaka mana pun, akan tetapi juga ampuh sekali untuk mengobati segala luka keracunan. Racun yang betapa jahat pun akan menjadi tawar kalau bertemu Kyai Tunggul Manik ini. Rendaman airnya diminumkan, dan bagian yang keracunan digosok tongkat ini, maka semua racun akan sirna."

Nurseta menerima tongkat hitam yang tidak berapa besar itu.

Hanya sepanjang lengan dan besarnya tidak lebih dari ibu jari kaki orang dewasa.

Akan tetapi tongkat sederhana berwarna hitam itu mengeluarkan cahaya berkilau dan menyiarkan keharuman yang aneh.

Demikianlah, pada hari itu juga, Nurseta meninggalkan pasukan Kahuripan yang sudah membuat persiapan di dalam Kadipaten Wura-wuri dan kepada Puspa Dewi yang bertanya, dia hanya mengatakan bahwa dia mendapat tugas dari Ki Patih Narotama untuk melakukan penyelidikan ke Kadipaten Parang Siluman yang dinilai kuat.

Pasukan Kahuripan pada hari Itu juga bergerak meninggalkan Wura-wuri menuju ke Kadipaten Siluman Laut Kidul.

Seperti juga para pimpinan kadipaten lain, di Kadipaten Siluman Laut Kidul, para pemimpinnya juga merasa gelisah.

Kadipaten yang tidak berapa besar dan kuat ini, dalam penyerbuan gabungan ke Kahuripan, kehilangan hamper setengah jumlah perajuritnya.

Bahkan dua orang senopatinya, Nagarodra dan Nagajaya yang merupakan adik-adik seperguruan Ratu Mayang Gupita, telah tewas dalam perang itu.

Ratu Mayang Gupita merasa sedih dan juga marah.

Kebenciannnya terhadap Kerajaan Kahuripan semakin mendalam.

Akan tetapi di balik kemarahan dan kesedihannya, terdapat pula perasaan gentar.

Kini yang menjadi andalannya hanyalah paman gurunya, Bhagawan Kalamisani.

Memang ada belasan orang perwira, namun kesaktian mereka belum dapat diandalkan.

Mereka ini hanya bertugas memimpin sisa pasukan yang terhindar dari kematian dalam perang besar di Kahuripan itu.

Pada suatu malam, Ratu Mayang Gupita, raseksi berusia lima puluh tahun yang sakti mandraguna dan menyeramkan itu, mengundang Bhagawan Kalamisani dan belasan orang perwira pembantunya untuk berunding dalam istananya.

"Paman Bhagawan, kami merasa khawatir kalau-kalau pasukan Kahuripan akan menyerang ke sini. Kami sudah mendengar kabar bahwa Wura-wuri sudab diserang dan diduduki. Kita hanya mempunyai dua pilihan, Paman. Melarikan diri meninggalkan kadipaten, atau melawan mati-matian. Bagaimana pendapat Andika Paman Bhagawan?"

Bhagawan Kalamisani yang bertubuh bongkok itu menjawab sambil mengangguk-angguk.

"Kanjeng Ratu, sebelum saya mengatakan pendapat saya, saya ingin lebih dulu bertanya kepada para perwira ini! Heh, kalian para senopati yang setia kepada Kerajaan Siluman Laut Kidul, bagaimana pendapat kalian dan para perajurit yang kalian pimpin? Beranikah kalian melawan kalau pasukan Kahuripan menyerang kita?"

Para senopati itu diwakili seorang senopati tua menjawab dengan tegas.

"Kami dan para perajurit siap melaksanakan semua perintah Gusti Ratu!"

"Kanjeng Ratu, setelah mendengar kesanggupan para senopati, menurut pendapat saya, kita tidak perlu takut kepada pasukan Kahuripan. Saya akan memimpin pasukan melawan mereka!"

"Harap Paman berhati-hati, karena saya mendengar bahwa yang memimpin pasukan Kahuripan adalah Ki Patih Narotama yang amat sakti sehingga Wura-wuri juga sudah dikalahkan dan ditaklukkan."

"Heh-heh-heh, ada apanya sih Si Narotama itu? Bocah kemarin sore yang masih bau pupuk brambang! Saya tidak takut, Kanjeng Ratu. Asal jangan Sang Prabu Erlangga saja yang maju memimpin pasukan, karena memang berat untuk menandingi Sang Prabu Erlangga. Akan tetapi Narotama? Huh, saya tidak takut!"

Seluruh pasukan di Kerajaan Siluman Laut Kidul dikerahkan untuk menyambut pasukan Kahuripan yang menurut para penyelidik sudah mulai bergerak menuju Siluman Laut Kidul.

Ki Patih Narotama menaati pesan Sang Prabu Erlangga, yaitu sedapat mungkin agar menalukkan penguasa-penguasa daerah itu tanpa harus mengorbankan banyak nyawa di kedua pihak.

Oleh karena itu, ketertiban dan kepatuhan para perajurit ditekankan sehingga di sepanjang perjalanan menuju Siluman Laut Kidul, pasukan itu sama sekali tidak pernah mengganggu rakyat di pedusunan yang dilalui mereka karena siapa berani melanggar larangan itu diancam hukuman berat.

Namun yang membuat para perajurit dapat bersikap tertib dan taat adalah karena sejak mereka menjadi perajurit, Ki Patih Narotama melalui para senopati dan perwira telah menanamkan jiwa satria dalam batin mereka.

Akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu oleh Kerajaan Siluman Laut Kidul dengan hati tegang, tiba.

Pasukan Kahuripan telah berada di depan benteng Kota Raja Siluman Laut Kidul.

Pasukan Kahuripan tiga kali lebih besar jumlahnya dari jumlah pasukan Siluman Laut Kidul, maka melihat jumlah yang demikian besar saja, para perajurit pasukan Siluman Laut Kidul sudah menjadi gentar.

Akan tetapi para perwiranya, dipimpin oleh Ratu Mayang Gupita sendiri dan didampingi Bhagawan Kalamisani, tidak merasa gentar dan mereka memimpin pasukan untuk menyambut di luar pintu gerbang.

Dua pasukan sudah berhadapan, namun Ki Patih Narotama mengangkat tangan ke atas memberi isyarat kepada para perwira pembantunya agar jangan menggerakkan pasukan.

Ki Patih Narotama kini berhadapan dengan Ratu Mayang Gupita dan Bhagawan Kalamisani yang diikuti beberapa belas orang perwira mereka.

Yang mendampingi Ki Patih Narotama adalah Puspa Dewi dan beberapa orang senopati dan perwira pembantu.

Untuk menaklukkan Kerajaan Siluman Laut Kidul, Ki Patih Narotama memang tidak mengerahkan banyak senopati.

Bahkan Senopati Wiradana yang merupakan senopati tua ditinggalkan di Wura-wuri untuk mengatur daerah yang baru saja ditalukkan itu.

Kini Ratu Mayang Gupita dan Bhagawan Kalamisani berhadapan dengan Ki Patih Narotama dan Puspa Dewi.

Dengan suara yang lembut dan tenang namun mengandung wibawa kuat, Ki Patih Narotama berkata.

"Kanjeng Ratu Mayang Gupita, atas nama Sang Prabu Erlangga Raja Kahuripan, kami minta Andika menyerah saja dan menaluk mengakui kekuasaan Sang Prabu Erlangga agar kami tidak perlu menggunakan kekerasan menimbulkan banyak korban."

"Babo-babo, Si Keparat Narotama! Kamu bocah kemarin sore berani bersikap sombong di depan kami! Apa kau kira kami takut menandingimu dan pasukan Kahuripan? Kalau engkau hendak mena-lukkan dan memasuki Gapura Siluman Laut Kidul, langkahi dulu mayatku!"

Ki Patih Narotama tersenyum.

Dia maklum bahwa Bhagawan Kalamisani yang terkenal sombong ini tidak mudah dibujuk.

Dulupun ketika dia mengikuti Pangeran Erlangga untuk minta kembali keris pusaka yang dicuri orang ini dari Maha Resi Satyadharma, orang ini yang dulu bernama Kartika Jenar memandang rendah mereka.

Akhirnya Pangeran Erlangga dapat mengalahkan dia dan merampas kembali Keris Pusaka Kolomisani dari tangan Kartika Jenar yang memakai nama Sang Bhagawan Kalamisani.

Dia sendiri ketika itu tidak sempat bertanding melawan Si Bongkok yang sakti mandraguna ini.

Ki Patih Narotama maklum bahwa tanpa menundukkan orang ini, mustahil Kerajaan Siluman Laut Kidul mau taluk.

"Bhagawan Kalamisani, tantanganmu kuterima. Memang lebih baik begini saja. Kita para pimpinan yang mengadu kesaktian di sini, tidak perlu mengerahkan pasukan agar tidak banyak menimbulkan korban di kedua pihak. Engkau majukan para jagoan Siluman Laut Kidul, akan kami tandingi."

Bhagawan Kalamisani memberi isyarat kepada Ratu Mayang Gupita dan lima belas orang senopatinya.

Mereka semua, tujuh belas orang, maju dan siap dengan senjata di tangan.

Ki Patih Narotama dan Puspa Dewi maju, diikuti sepuluh orang perwira pembantu.

"Kami sudah siap. Kanjeng Ratu Mayang Guplta!"

Kata Ki Patih Narotama.

Bhagawan Kalamisani mengeluarkan bentakan dahsyat dan dia sudah menyerang Ki Patih Narotama.

Kedua tangannya dikembangkan, lalu menubruk dan bagaikan seekor biruang dia mencengkeram dengan kedua tangan yang menyambar dari kanan kiri.

Ki Patih Narotama dengan tenang mengelak dan balas menyerang.

Dua orang sakti mandraguna itu sudah saling menyerang dengan hebat.

Melihat paman gurunya sudah bertanding melawan Ki Patih Narotama, Ratu Mayang Gupita juga mengeluarkan pekik melengking dan rasaksa wanita yang bertubuh gendut tinggi besar itu menerjang ke arah Puspa Dewi yang ia tahu merupakan gadis yang sakti.

Puspa Dewi menyambut serangannya dan dua orang wanita ini pun sudah bertanding dengan dahsyat.

Lima belas orang senopati Kerajaan Siluman Laut Kidul bergerak maju disambut sepuluh orang perwira Kahuripan.

Terjadilah pertempuran antara tujuh belas orang Siluman Laut Kidul dan dua belas orang Kahuripan itu.

Para perajurlt kedua pihak tidak ada yang berani maju memulai pertempuran.

Pasukan Kahuripan tidak berani bergerak karena tadi Ki Patih Narotama sudah memberi isyarat agar mereka tidak menyerbu sebelum ada tanda darinya.

Sedangkan Pasukan Siluman Laut Kidul selain belum mendapat perintah menyerang, juga mereka gentar untuk mulai penyerangan, melihat betapa pasukan musuh jauh lebih besar jumlahnya daripada mereka.

Mereka hanya menanti hasil pertempuran antara para pemimpin pasukan kedua pihak.

Pertempuran itu berlangsung seru.

Biarpun Bhagawan Kalamisani dan Ratu Mayang Gupita merupakan dua orang yang memiliki ilmu hitam sesat, namun keduanya maklum bahwa penggunaan sihir tidak ada gunanya terhadap Ki Patih Narotama dan Puspa Dewi.

Maka mereka mengandalkan tenaga sakti dan gerakan serangan mereka yang dahsyat, yang didukung tenaga ilmu hitam mereka.

Yang paling hebat adalah pertandingan antara Ki Patih Narotama melawan Bhagawan Kalamisani.

Pendeta itu memang memiliki kesaktian yang sudah amat tinggi, hasil dari mempelajari banyak aji kesaktian dari orang-orang pandai.

Bahkan dia pernah pula menerima gemblengan dari Sang Maha Resi Satyadharma sendiri karena ketika mudanya, Bhagawan Kalamisani yang bernama Kartika Jenar adalah seorang yang berwatak satria.

Akan tetapi setelah menerima banyak ilmu, di antaranya dari datuk-datuk sesat, dia mulai berubah.

Daya-daya rendah yang sesat dalam ilmu-ilmu itu mulai menguasai dirinya sehingga dia mulai melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kebenaran.

Bahkan dia berani mencuri pusaka milik Sang Maha Resi Satyadharma.

Kini, menghadapi Ki Patih Narotama, Bhagawan Kalamisani mengeluarkan semua ilmunya dan mengerahkan seluruh tenaga saktinya.

Mula-mula mereka bertanding dengan tangan kosong, namun semua pukulan mereka mengandung tenaga sakti luar biasa sehingga sekitar tempat mereka bertanding dapat merasakan getaran pukulan mereka.

Baca Juga: Suling Naga 1

Baca Juga: Bu Kek Siansu 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert