Eps 4 Nurseta Satria Karangtirta - Kho Ping Hoo
Baca online Nurseta Satria Karangtirta - Kho Ping Hoo
Cersil Nurseta Satria Karangtirta - Kho Ping Hoo.
"Kami berempat lalu melakukan perjalanan ke Karang Tirta. Malam tadi kami menginap di rumah Ki Lurah Magel. Kemudian datang orang-orang hendak menyerang dan membunuh Ki Patih Narotama. Kim Lan segera naik ke atas atap untuk menyambut orang-orang jahat itu biarpun Ki Patih Narotama sudah melarangnya karena musuh-musuh itu amat sakti. Aku segera mengikutinya dan ketika tiba di atas genteng, kami melihat dua orang dan kami segera bertanding melawan dua orang yang ternyata tangguh sekali itu. Dan dalam perkelahian ini... Adikku... Kim Lan.... terkena tikaman keris terbang di punggungnya sehingga ia tewas...."
Ki Tejoranu berhenti bercerita karena kesedihan telah menekannya kembali.
"Ahh...!"
Puspa Dewi ikut merasa terharu.
"Akan tetapi, apakah Ki Patih Narotama tidak membantu kalian? Bukankah dia sakti mandraguna?"
"Ki Patih Narotama sendiri sibuk menghadapi serangan ilmu sihir yang berbahaya. Dia memang kemudian muncul, namun telah terlambat. Dia mengusir penjahat-penjahat itu, akan tetapi Kim Lan sudah roboh terluka parah dan akhirnya ia meninggal...."
Sunyi mengikuti akhir cerita Ki Tejoranu.
Ki Tejoranu diam tenggelam ke dalam lautan duka, sedangkan Puspa Dewi terdiam karena terharu dan kasihan.
Dari penuturan itu tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang pendekar yang telah menolong ibunya dan penolong itu sekarang sedang menderita duka yang amat mendalam karena kematian adiknya.
"Ki Tejoranu."
Akhirnya Puspa Dewi berkata lirih dan lembut.
"Apakah engkau akan membawa abu jenazah Kim Lan itu kepada keluargamu?"
"Keluargaku? Ah, Adikku inilah satu-satunya keluargaku di dunia ini. Aku hanya hidup berdua dengan adikku, merantau di sini, jauh dari negeri Cina dari mana kami berasal, ia satu-satunya yang kumiliki di dunia ini dan sekarang... sekarang...."
Ki Tejoranu terisak, lalu dia bangkit berdiri lari meninggalkan Puspa Dewi.
"Ki Tejoranu....!"
Puspa Dewi memanggil namun laki-laki itu terus berlari dengan cepat.
Kalau ia mau, tentu Puspa Dewi akan dapat menyusulnya.
Ia ingin minta keterangan lebih jelas di mana ibunya kini berada.
Akan tetapi ia merasa kasihan sekali kepada Ki Tejoranu dan tidak mau mengganggunya.
Apa lagi tadi Ki Tejoranu telah menceritakan bahwa peristiwa semalam itu terjadi di rumah kelurahan Magel.
Maka Puspa Dewi juga segera meninggalkan tempat itu dan akhirnya ia memperoleh keterangan di mana adanya kelurahan Magel.
Setelah ia tiba di dusun Magel dan mencari ke kelurahan, ia mendapat kabar bahwa ibunya bersama Ki Patih Narotama baru saja telah meninggalkan Magel menuju ke Karang Tirta.
Puspa Dewi segera melakukan pengejaran dan tak lama kemudian ia dapat menyusul Ki Patih Narotama yang menunggang kuda dan menuntun seekor kuda lain yang ditunggangi Nyi Lasmi.
Karena Ibunya tidak pandai menunggang kuda, tentu saja perjalanan itu dilakukan lambat-lambat saja.
"Ibu....!"
Puspa Dewi berseru. Ki Patih Narotama sudah menghentikan kudanya dan Nyi Lasmi yang mendengar suara itu, walaupun ia belum melihat orangnya, sudah berseru girang.
"Puspa Dewi....!!"
"Bagus sekali Andika datang, Puspa Dewi."
Kata Ki Patih Narotama sambil melompat turun dari atas kudanya. Puspa Dewi menurunkan ibunya dan berangkulan. Ia lalu memberi sembah hormat kepada Ki Patih Narotama.
"Banyak terima kasih hamba haturkan atas pertolongan Paduka kepada ibu hamba."
Kata Puspa Dewi dengan hormat.
"Bagaimana engkau bisa mendapatkan kami di sini?"
Tanya Ki Patih Narotama.
"Tadi pagi hamba bertemu dengan Ki Tejoranu, Gusti Patih."
Mendengar ini, Ki Patih Narotama tertarik, dan bertanya dengan suara ingin tahu sekali.
"Ah, benarkah? Lalu bagaimana dengan dia?"
"Engkau melihat KI Tejoranu, Puspa Dewi? Lalu apakah engkau melihat.... jenazah Kim Lan....?"
Nyi Lasmi Ikut bertanya karena ia merasa amat Iba kepada kakak beradik yang sudah akrab sekali dengannya itu.
"Hamba melihat Ki Tejoranu sedang memperabukan jenazah adiknya di atas sebuah bukit. Ketika hamba mendekati dia mengamuk dengan sepasang goloknya, merontokkan daun-daun dan ranting-ranting pohon. Ketika melihat hamba, dia malah menyerang hamba dengan goloknya mengira bahwa hamba orang Wengker atau orang Wura-wuri. Setelah hamba jelaskan, dia lalu menceritakan tentang kematian adiknya oleh penjahat Wengker dan Wurawuri dan dialah yang menceritakan di mana adanya Ibu dan Paduka. Maka hamba lalu menyusul ke dusun Magei dan akhirnya dapat menyusul ke sini."
Ki Patih Narotama memejamkan kedua matanya.
Dia membayangkan betapa sedihnya hati Ki Tejoranu sehingga dia mengamuk dengan sepasang goloknya!
"Kebetulan sekali Andika datang, Puspa Dewi.
Sekarang engkau dapat mengantarkan ibumu ke Karang Tirta dan berboncengan kuda sehingga perjalanan dapat dilakukan lebih cepat.
Aku masih mempunyai urusan lain.
Nah, kita berpisah di sini."
Ki Patih Narotama lalu melompat ke atas punggung kudanya dan melarikan kuda itu.
"Aduh, kasihan sekali orang-orang muda itu. Betapa sering kali cinta menjerumuskan orang-orang muda ke dalam lembah kekecewaan dan kedukaan."
"Apa maksud Ibu?"
Tanya Puspa Dewi yang mengira bahwa ibunya menyinggung keadaan ibunya dengan ucapan itu.
"Puspa Dewi, mari kita lanjutkan perjalanan ke Karang Tirta. Kasihan keluarga Ki Lurah Pujosaputro. Nanti dalam perjalanan akan kuceritakan semua pengalamanku dan engkau juga menceritakan pengalamanmu selama kita berpisah."
Puspa Dewi lalu mengangkat ibunya ke atas punggung kuda dan ia sendiri meloncat dan duduk di belakangnya. Agar mereka dapat bicara dengan leluasa, ia hanya menjalankan kudanya lambat-lambat.
"Ibu, aku telah mendengar di Karang Tirta bahwa Ibu dibawa lari orang-orang Wengker, lalu aku melakukan pengejaran ke Wengker dan mendengar bahwa Ibu dibawa ke Wura-wuri. Dari Ki Tejoranu aku mendengar bahwa Ibu telah ditolong oleh dia dan Adiknya, lalu ditolong pula oleh Gusti Patih Narotama. Nah, apa yang sesungguhnya terjadi, Ibu?"
"Semua itu ulah Suramenggala yang sekarang menjadi tumenggung di Wengker. Dia hendak memaksa aku kembali menjadi keluarganya. Aku teguh menolak dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengirim aku dan menyerahkannya ke Wura-wuri dengan maksud untuk memaksa engkau menyerahkan diri kepada Adipati Wurawuri."
"Hemm, aku sudah menduga begitu, Ibu. Sekarang aku sudah jelas mengetahui apa yang Ibu alami ketika diculik. Akan tetapi apa maksud kata-kata Ibu tadi yang mengatakan bahwa seringkali cinta menjerumuskan orang-orang muda ke alam lembah kedukaan?"
Nyi Lasmi menghela napas panjang.
"Yang kumaksudkan adalah mengenai diri The Kim Lan."
"Mengapa dengan Kim Lan, Ibu?"
"Sesungguhnya, gadis yang malang itu, yang amat akrab denganku, seperti -anak sendiri, ia sengaja menyambut musuh yang sakti untuk membela Gusti Patih Narotama, sama dengan membunuh diri."
"Eh? Apa maksud Ibu?"
"Begini, Anakku. Kim Lan malam itu berterus terang kepadaku bahwa ia jatuh cinta kepada Gusti Patih Narotama dan Ia ingin agar diterima suwita, menjadi selir Gusti Patih. Akan tetapi, Gusti Patih Narotama agaknya menolaknya sehingga gadis itu putus asa. Ia sendiri bilang kepadaku bahwa kalau tidak dapat menjadi isteri Ki Patih Narotama, hidup tiada artinya lagi dan ia lebih suka mati. Ketika ada musuh sakti menyerang, ia nekat menyambut sehingga ia teriuka dan tewas."
"Ahhh.... menyedihkan sekali, Ibu. Dan bagaimana dengan Kakaknya?"
"Tejoranu? Tentu saja hatinya hancur lebur dan dia lari membawa jenazah Adiknya. Mungkin dia juga menyesal bahwa cinta dan penyerahan diri adiknya kepada Gusti Patih Narotama ditolak. Nah, sekarang ceritakan pengalamanmu Puspa Dewi."
"Cerita dari pengalamanku berbeda jauh dengan apa yang kaualami, Ibu. Pengalamanku sungguh menggembirakan dan membahagiakan kita semua."
"Hemm, bagaimana ceritanya? Apakah engkau sudah bertemu dengan Kakang Prasetyo?"
"Bukan hanya Ayah, aku telah bertemu dengan mereka semua! Ayah, Ibu Dyah Mularsih, Niken Harni puteri mereka, juga Kakek Tumenggung Jayatanu dan isterl-nya. Dan tahukah Ibu, mereka menyambut kedatanganku dengan gembira dan ramah sekali! Agaknya Ibu salah paham terhadap mereka. Kakek Tumenggung Jayatanu baik sekali dan merasa menyesal bahwa dia telah menyebabkan Ibu berpisah dari Ayah. Nenek Jayatanu juga amat baik. Dan Ibu Dyah Mularsih dan puterinya, Niken Harni, mereka baik sekali, Ibu. Ibu Dyah Mularsih menganggap aku sebagai anaknya sendiri dan Niken Harni sangat sayang kepadaku. Ibu, mereka semua itu merasa menyesal bahwa Ibu telah meninggalkan Ayah. Mereka selalu berusaha untuk mencari Ibu, namun tidak berhasil. Dan sekarang mereka telah menanti di Karang Tirta!"
"Apa?"
Nyi Lasmi terkejut.
"Mereka di Karang Tirta?"
"Semua keluarga itu tidak mau ketinggalan, ikut bersama Ayah yang datang ke Karang Tirta untuk menyambut dan memboyong kita ke kota raja!"
"Ah, tidak....!"
"Ibu, percayalah. Mereka semua itu dengan hati tulus menginginkan Ibu dan aku tinggal bersama mereka, menjadi satu keluarga dan Ibu akan dianggap tetap sebagai isteri pertama ayah. Ayah sekarang telah menjadi seorang Senopati Kahuripan, Ibu."
"Tidak, anakku.... tidak....!"
Nyi Lasmi lalu menangis. Puspa Dewi menahan kudanya dan ia merangkul Ibunya dari belikang.
"Mengapa, Ibu? Mengapa Ibu menolak, diboyong Ayah ke kota raja? Bukankah Ibu amat mencinta Ayah?"
Di antara tangisnya, Nyi Lasmi berkata.
"Justeru karena aku amat mencintai dan menghormatinya, aku tidak bisa dan tidak boleh menerima ajakannya itu. Bahkan aku tidak boleh bertemu muka dengan Kakang Prasetyo....!"
Tangisnya semakin mengguguk. Puspa Dewi melompat turun dari atas kuda dan menurunkan Ibunya. Nyi Lasmi mendeprok di atas rumput sambil menangis sedih. Puspa Dewi merangkulnya.
"Ibu, katakan, mengapa Ibu berpendapat begitu? Apakah Ibu tidak percaya omonganku bahwa mereka semua amat baik dan ramah, semua mengharapkan Ibu tinggal serumah dengan mereka sebagai anggauta keluarga? Sesungguhnya, Ibu. Aku sama sekali tidak berbohong!"' "Ohh.... aku tidak berharga lagi, Puspa Dewi. Aku tidak pantas bertemu muka dengan Ayahmu! Aku sudah kotor dan hina Bagaimana mungkin aku sanggup bertemu muka dengan Kakang Prasetyo? Kalau dia tahu bahwa aku pernah menjadi selir Ki Suramenggala yang jahatl Ah, kalau keluarga Tumenggung Hayatanu, kalau Isteri Kakang Prasetyo tahu, betapa maluku! Mereka tentu akan mencemooh dan menghinaku habis-habisan! Tidak, Puspa Dewi, lebih baik aku mati daripada menghadapi semua penghinaan itu. Aku tidak sanggup menghadapinya....!"
Puspa Dewi mengusap air mata yang membasahi muka ibunya.
"Mereka tidak akan memandang rendah kepadamu, Ibu. Apa Ibu mengira aku berdiam diri saja kalau ada orang menghina dan memandang rendah kepada Ibu? Mereka sama sekali tidak menyalahkan Ibu, mereka bahkan merasa kasihan sekali kepada Ibu yang hidup menderita. Ayah dan semua keluarga sudah tahu, Ibu. Aku sudah memberitahu kepada mereka, menceritakan semua pengalaman Ibu. Ayah tidak menyalahkan Ibu, bahkan semakin menyesali sikapnya sendiri dulu. Semua akan menerima Ibu dan menghormati Ibu. Aku yakin akan hal Ini. Mereka sekarang sedang menanti di Karang Tirta."
"Apa....? Mereka..Ayahmu.... sudah tahu bahwa aku pernah menjadi selir Suramenggala?"
"Benar, Ibu. Aku sudah menceritakan semuanya dan mereka sama sekali tidak menyalahkan Ibu. Semua keluarga mengikuti aku datang ke Karang Tirta dan ketika kami mendengar bahwa Ibu diculik dan keluarga Paman Lurah Pujosaputro dibunuh penjahat, mereka semua marah sekali dan aku tidak tahu apa yang sekarang mereka lakukan karena aku meninggalkan mereka di sana untuk mengejar dan mencari Ibu. Marilah, Ibu. Aku yang menanggung bahwa tidak akan ada seorang pun di antara mereka yang akan menghina Ibu."
Tiba-tiba terdengar bunyi derap kaki banyak kuda dating ke arah mereka. Puspa Dewi siap siaga.
"Ibu, duduklah di bawah pohon itu dan jangan takut. Aku akan menghajar mereka yang berani mengganggumu!"
Gadis itu dengan gagah berdiri di tengah jalan, menanti munculnya rombongan berkuda Itu.
Senopati Yudajaya atau Prasetyo yang memimpin selosin orang perajurit pengawal itu menahan kudanya dan mengangkat tangan memberi isarat kepada pasukannya untuk berhenti ketika dia melihat Puspa Dewi berdiri tegak di tengah jalan.
"Puspa Dewi....!"
Serunya dan dia melompat turun dari atas kudanya dan lari menghampiri gadis itu.
"Ayah....!"
Puspa Dewi berseru, lega melihat bahwa rombongan berkuda itu adalah perajurit pengawal yang dipimpin Senopati Yudajaya.
"Puspa Dewi, bagaimana hasil pengejaranmu?"
Puspa Dewi hanya menjawab dengan gerakan ibu jarinya menuding ke arah ibunya.
"Diajeng Lasmi.....!"
Senopati Yudajaya berseru ketika dia melihat Lasmi duduk di bawah pohon dan wanita itu menangis. Dia lalu berlari menghampiri dan sudah berlutut dekat Nyi Lasmi.
"Diajeng Lasmi, bertahun-tahun aku mencarimu...."
Kata Yudajaya dengan suara terharu dan dia memegang kedua tangan bekas isterinya itu.
"Jangan....!"
Nyi Lasmi melepaskan kedua tangannya dan bangkit berdiri.
"Kakang Prasetyo...., jangan sentuh aku... aku.... aku tidak pantas..."
"Hushh, Diajeng. Jangan bicara begitu, tak baik didengar para perajurit. Mari, mari kita ke Karang Tirta, semua keluarga menantimu. Di sana nanti kita bicara, Diajeng."
Puspa Dewi menghampiri mereka.
"Ayah benar, ibu. Mari kita berangkat sekarang ke Karang Tirta."
Nyi Lasmi hanya mengangguk dan ketika beradu pandang dengan bekas suaminya, Nyi Lasmi merasa jantungnya berdebar.
Betapa ia amat mencinta suaminya.
Bahkan sampai sekarangpun!
Memandang wajah suaminya yang kini Nampak kurus dan tua itu, ia merasa kasihan dan terharu sekali.
Akan tetapi ia juga melihat dengan jelas betapa sinar mata Prasetyo masih seperti dulu kalau memandangnya, masih mengandung penuh kasih sayang.
Puspa Dewi tetap memboncengkan Ibunya dan rombongan itu lalu melakukan perjalanan ke Karang Tirta dengan cepat.
Senopati Yudajaya yang menunggang kuda di samping Puspa Dewi bertanya kepada gadis itu.
"Puspa Dewi, apakah engkau tidak melihat Nlken Harnl?"
"Niken? Aku tidak melihatnya. Ia ke manakah, Ayah?"
"Hemm, itulah yang merisaukan hati. Ketika mendengar engkau pergi melakukan pengejaran terhadap para penculik dari Wengker itu, Niken Harni pergi tanpa pamit. Kami semua menduga bahwa ia tentu melakukan pengejaran pula untuk membantumu menghadapi orang-orang Wengker."
"Ah, mengapa ia begitu sembrono?"
Puspa Dewi berseru kaget.
"Di Wengker terdapat banyak sekali orang yang sakti mandraguna! Sungguh amat berbahaya kalau ia melakukan pengejaran memasuki Kadipaten Wengker!"
"Hemm, Niken Harni memang anak yang keras hati dan tidak mengenal takut. Aku khawatir sekali akan keselamatannya. Puspa Dewi, lalu bagaimana baiknya sekarang? Apakah aku bersama seregu pengawal ini akan melanjutkan saja ke Wengker mencari Niken Harni?"
Senopati Yudajaya memberi isarat untuk berhenti. Semua kuda berhenti. Mendengar ini, Nyi Lasmi berkata kepada puterinya.
"Puspa Dewi, sebaiknya engkau yang memiliki kesaktian dan dapat menjaga diri, segera pergi mencari Adikmu Niken Harni."
"Dan bagaimana dengan Ibu?"
Tanya Puspa Dewi.
"Ibumu akan kembali ke Karang Tirta bersama kami. Atau, kau pikir aku membawa seregu perajurit ini membantumu? Kalau begitu, biar dua orang perajurit mengantar Diajeng Lasmini pulang ke Karang Tirta dan aku bersama para perajurit pengawal ikut denganmu mencari Niken Harni."
"Ah, tidak, Ayah. Aku lebih leluasa kalau pergi sendiri. Aku akan mencari Adik Niken sampai dapat kutemukan dan kami akan segera pulang. Sebaiknya sekarang Ayah dan Ibu kembali ke Karang Tirta dan langsung saja pulang ke kota raja. Aku hanya titip Ibuku, agar ia dapat berbahagia bersama Ayah dan semua keluarga di kota raja. Nah, aku pergi, Ayah. Ibu, aku pergi mencari Niken Harni."
Nyi Lasmi merangkul puterinya.
"Hati-hatilah, Puspa Dewi, dan cari Adikmu sampai dapat ditemukan dengan selamat."
Puspa Dewi meloncat ke atas kudanya dan membalapkan kuda menuju ke arah yang berlawanan. Setelah bayangan gadis dan kudanya lenyap di tikungan, Senopati Yudajaya menghampiri Nyi Lasmi.
"Aku kira anak kita Puspa Dewi sudah menceritakan semua kepadamu tentang kami sekeluarga."
Nyi Lasmi mengangguk.
"Kalau begitu, Diajeng. Mari kita segera kembali ke Karang Tirta, di sana keluarga kita telah menanti dengan hati gelisah."
Melihat para perajurit berada ditempat yang agak jauh dari situ, Nyi Lasmi berbisik.
"Akan tetapi, Kakang Prasetyo, aku sudah tidak berharga, aku pernah menjadi selir Suramenggala...."
"Kami semua sudah mengetahui akan hal itu, Diajeng. Dan kami sama sekali tidak menganggap engkau tidak berharga. Engkau melakukan hal itu dalam keadaan terpaksa ketika Puspa Dewi hilang diculik orang. Sudahlah, Diajeng, bagi kami, terutama bagi aku, engkau tetap Diajeng Lasmi yang dulu. Aku berjanji untuk menebus semua kesalahanku dahulu dengan membahagiakanmu, Diajeng. Tenangkan hatimu dan percayalah. Dyah Mularsih dan orang tuanya juga amat menantikanmu, mereka akan berbahagia sekali menerimamu karena hal itu akan membuat mereka merasa bebas dari kesalahan terhadap dirimu."
Lega rasa hati Lasmi mendengar ucapan suaminya yang dikeluarkan dengan nada sungguh-sungguh dan bukan hanya sekedar bermanis bibir untuk menghiburnya itu.
Timbul keberaniannya untuk bertemu dengan madunya, Dyah Mularsih dan keluarga madunya Itu.
Ia pun tidak merasa canggung atau malu-malu lagi ketika ia diboncengkan suaminya duduk di atas punggung kuda dan berangkatlah suami isteri Ini, dikawal dua belas orang perajurit menuju ke Karang Tirta.
Mula-mula, karena dilihat selosin orang perajurit, ada juga rasa sungkan dan malu diboncengkan Prasetyo duduk berhimpitan di atas punggung kuda, akan tetapi setelah ia menyadari bahwa yang memboncengkannya itu adalah Prasetyo, suaminya yang sah, rasa sungkannya perlahan-lahan menghilang dan perasaan bahagia yang amat mendalam membuat ia tidak dapat menahan mengalirnya berbutir-butir air mata ke atas pipinya.
Senopati Yudajaya atau Prasetyo menyentuh pundak Lasmi dengan tangan kirinya.
Sentuhan lembut lalu terdengar pertanyaannya dengan suara lembut pula.
"Diajeng Lasmi, mengapa engkau menangis?"
Dia tidak mendengar tangisan yang bersuara, akan tetapi dari guncangan pundak Nyi Lasmi membuat dia menjenguk dan melihat betapa kedua pipi isterlnya basah oleh air mata yang menetes-netes dari kedua mata wanita itu.
Nyi Lasmi meletakkan tangan kirinya di atas tangan suaminya yang menyentuh pundaknya dan menggunakan tangan kanannya untuk mengusap air mata dari kedua pipinya, dan ia tersenyum.
"Kakang.... aku.... aku merasa berbahagia sekali...."
Tangan Prasetyo meremas lembut pundaknya, kemudian melepaskannya untuk memegang kendali kuda dan dia membalapkan kudanya.
Dua belas orang perajurit yang mengiringkan di belakangnya juga membedal kuda mereka.
Akan tetapi setelah memasuki Dusun Karang Tirta dan kuda mereka menuju ke rumah Ki Lurah Pujosaputro yang bersama keluarganya telah dibantai gerombolan penjahat, kembali Nyi Lasmi merasa sungkan dan malu sehingga jantungnya berdebar penuh ketegangan.
Rasanya ia sungkan dan khawatir sekali harus berhadapan muka dengan Tumenggung Jayatanu, Nyi Tumenggung, dan Dyah Mularsih.
Ia merasa begitu rendah, seorang dusun bertemu dengan keluarga bangsawan, seorang miskin bertemu dengan keluarga kaya, dan ia bahkan pernah menjadi selir laki-laki lain pula!
la merasa rendah dan tak berharga.
Prasetyo merasa betapa tubuh yang duduk di depannya itu gemetar.
"Engkau mengapa, Diajeng?"
"Kakang..... aku.... aku malu, aku takut...."
"He-heh, mengapa malu dan takut, Diajeng? Engkau isteriku dan mereka semua akan menyambutmu dengan gembirai Engkau akan diterima dengan hormat. Percayalah, kalau mereka tidak akan bersikap demikian, tentu aku tidak berani mengajakmu pulang ke sini."
UCAPAN suaminya ini agak membangkitkan keberanian Nyi Lasmi dan ketika kuda mereka memasuki halaman rumah mendiang Ki Lurah Pujosaputro, ia pun turun dan dengan tabah ia melangkah di samping suaminya menuju ke pendopo rumah kelurahan itu.
Agaknya mereka yang berada dalam rumah mendengar derap kaki kuda di halaman depan karena ketika Nyi Lasmi dan Senopati Yudajaya memasuki pendopo, berbondong-bondong keluar dari dalam rumah itu Dyah Mularsih, Tumenggung Jayatanu, dan Nyi Tumenggung.
Nyi Lasmi tertegun memandang tiga orang yang dari pakaiannya saja sudah mudah diketahui bahwa mereka adalah keluarga bangsawan.
Dyah Mularsih maju ke depan menyambut suaminya.
"Diajeng Lasmi, inilah Diajeng Dyah Mularsih, ibu Niken Harni. Dyah Mularsih, ini Diajeng Lasmi, ibu Puspa Dewi."
Nyi Lasmi tertegun dan merasa canggung dan rendah melihat wanita cantik bersikap lembut yang berdiri di depannya dan yang memandang kepadanya dengan sepasang mata yang mengandung perasaan iba dan menyesal itu.
Inilah isteri Prasetyo dan tidak aneh kalau Prasetyo jatuh cinta kepada wanita seperti ini.
Ia pun isteri Prasetyo, akan tetapi sekarang ia sudah kotor dan hina, sudah menjadi selir Suramenggala selama beberapa tahun la merasa tidak pantas berada di antara keluarga inil Dyah Mularsih juga memandang penuh perhatian.
Ia melihat seorang wanita yang cantik manis, akan tetapi sinar mata Nyi Lasmi begitu penuh penderitaan, sayu dan kehilangan cahayanya, wajahnya agak pucat dan kurus, mulutnya seperti hendak menangis.
Tiba-tiba ia merasa bersalah besar sekali terhadap wanita ini.
Ialah yang menjadi penyebab wanita Ini menderita, berpisah dari suaminya dan hidup sengsara bersama anak nya, terlunta-lunta sampai jatuh ke tangan seorang laki-laki yang jahat.
"Mbakayu Lasmi....!"
Ia mengeluh lalu menubruk dan merangkul Nyi Lasmi sambil menangis.
Nyi Lasmi terkejut dan heran, tak mengira madunya akan merangkulnya seperti itu.
la hanya balas merangkul tanpa dapat mengeluarkan separah kata pun dan ia bingung harus berbuat dan berkata apa.
"Mbakayu Lasmi.... aku telah menyebabkan Andika.... menderita sengsara bertahun-tahun.... Mbakayu, maukah Andika mengampuni aku....?"
Mendengar ucapan yang tersendat-sendat bercampur isak dari Dyah Mularsih yang merangkulnya itu, Nyi Lasmi merasa terharu bukan main dan tak dapat ditahan lagi ia pun menangis.
Ia sama sekali tidak pernah mengira bahwa madunya akan bersikap seperti inil Saking terharunya, ia sampai tidak dapat mengeluarkan kata-kata dan hanya dapat sesenggukan.
Nyi Tumenggung juga memegang tangan Nyi Lasmi dan mengguncang-guncangnya.
"Aduh Anakku Lasmi...., kami orang-orang tua yang telah bersalah terhadapmu. Kami yang dulu merampas suamimu untuk kami jodohkan dengan anak kami. Kami merasa menyesal sekali telah menyebabkanmu hidup merana, Angger...! Maafkan kami, Lasmi...."
Tangis Nyi Lasmi semakin mengguguk mendengar ucapan Nyi Tumenggung itu.
Dua orang wanita yang merangkulnya itu sungguh merupakan orang-orang yang amat baik budi.
Benar kata puterinya, Puspa Dewi.
Mereka adalah orang-orang yang bijaksana, sedangkan ia sendiri....
ah, ia merasa semakin rendah.
"Kanjeng Bibi.... jeng Dyah.... mohon jangan berkata begitu.... sesungguhnya sayalah yang harus minta maaf.... kedatangan saya hanya akan mengganggu kebahagiaan keluarga yang terhormat ini.... saya.... saya.... tidak berharga untuk menjadi anggauta keluarga ini.... saya.... orang hina dina.... biarkan saya pergi....I"
Nyi Lasmi meronta lepas dan hendak berlari keluar.
"Mbakayu Lasmi....!"
Dyah Mularsih menjerit dan mengejar lalu merangkul madunya.
juga Nyi Tumenggung kini merangkul Nyi Lasmi.
Tiga orang wanita Itu bertangis-tangisan.
Kini Tumenggung Jayatanu melangkah menghampiri.
Suaranya yang besar berkata dengan lembut dan tenang.
"Wah, kalian bertiga ini bagaimana sih? Sepantasnya pertemuan ini mendatangkan tawa bahagia, akan tetapi sebaliknya kalian malah bertangis-tangisan dengan sedih? Sudahlah, tidak perlu dan tidak ada sajah menyalahkan di antara kita semua. Ketahuilah, Lasmi, sejak Andika pergi, kami sekeluarga tiada hentinya berusaha mencari dan menemukan Andika untuk kami ajak hidup bersama kami sekeluarga. Namun kami tidak berhasil menemukan Andika, baru setelah cucuku Puspa Dewi datang ke sini, kami mencarimu di Karang Tirta ini. Sekarang kita sudah bertemu dan berkumpul, kita sepatutnya berbahagia. Puspa Dewi sudah menceritakan seluruhnya tentang penderitaanmu dan kami sama sekali tidak menyalahkanmu, sama sekali tidak memandang rendah padamu. Bahkan kami merasa kasihan kepadamu dan kami ingin melihat Andika hidup berbahagia bersama suamimu dan kami di dalam keluarga kami. Mari kita semua masuk dan bicara di dalam."
Dengan digandeng Dyah Mularsih, Nyi Lasmi ikut masuk dan hatinya merasa terharu, akan tetapi juga berbahagia sekali.
Tadinya ia masih ragu walaupun Puspa Dewi sudah memberitahu akan kebaikan sikap keluarga Dyah Mularsih, bahkan pertemuannya dengan Prasetyo semakin memberi keyakinan dalam hatinya bahwa ia akan diterima dengan baik.
Namun setelah kini ia mengalami sendiri dan merasakan kebaikan dan ketulusan hati Dyah Mularsih dan ayah ibu madunya itu, barulah ia merasa lega dan berbahagia sekali.
Bahkan setelah mereka berdua malam Itu berada sekamar dan melihat Dyah Mularsih tampak gelisah memikirkan Nlken Harni, Nyi Lasmi menghiburnya.
"Tenangkan hatimu, Adik Dyah Mularsih. Kalian sekeluarga adalah orang-orang yang baik budi. Aku yakin bahwa Niken Harni tentu akan mendapatkan perlindungan dari Sang Hyang Widhi. Mari kita mendoakan saja semoga Sang Hyang Widhi selalu melindungi Niken Harni, kita berserah diri dan menerima dengan tulus Ikhlas apa yang telah ditentukan oleh Dia Yang Maha Kuasa. Juga, aku percaya bahwa anak kita Puspa Dewi akan mampu menemukan dan menyelamatkannya."
"Terima kasih, Mbakayu Lasmi. Aku pun mengharap demikian. Baru akan lega dan berbahagia sepenuhnya rasa hatiku kalau Niken Harni dan Puspa Dewi sudah berada bersama kita sehingga keluarga kita utuh seluruhnya dan berkumpul dalam ketumenggungan di Kahurlpan."
Pada keesokan harinya, keluarga Itu naik kereta kembali ke Kahuripan, dikawal oleh sepasukan perajurit.
Nurseta berjalan santai menuruni bukit.
Sudah berhari-hari dia melakukan perjalanan di sepanjang Bukit Seribu, deretan bukit di selatan.
Matahari pagi amat cerahnya.
Sinarnya yang penuh daya hidup itu menghangatkan kulit.
Pagi itu cerah, namun rupanya tidak cukup cerah bagi hati dan pikiran Nurseta yang melangkah seenaknya.
Pemuda ini sedang termenung, mengenang perjalanan hidupnya yang telah lalu.
Dia ingat bahwa sejak kecil dia tinggal di Karang Tirta bersama Ayah dan Ibunya.
Ayahnya bernama Dharmaguna dan ibunya bernama Endang Sawitrl.
Sejak dia berusia sepuluh tahun dia telah ditinggal ayah ibunya yang pergi begitu saja tanpa dia ketahui ke mana.
Dia telah melakukan penyelidikan dan ketika dia dapat bertemu dengan kakeknya, yaitu ayah dari ibunya, Senopati Sindukerta, baru dia ketahui mengapa ayah dan ibunya melarikan diri dan meninggalkannya.
Senopati Sindukerta menceritakan segala hal mengenal ayah ibunya.
Ibunya, Endang Sawitri, menolak dijodohkan pria lain karena ibunya Itu ketika gadis telah saling mencinta dengan Dharmaguna.
Akan tetapi karena Dharmaguna hanya putera seorang pendeta miskin yang bernama Ki Jatimurti, maka Senopati Sindukerta menentangnya.
Sebagai seorang bangsawan tinggi, Senopati Sindukerta tidak setuju puterinya menikah dengan seorang pemuda putera pendeta miskin.
Lalu ayah ibunya melarikan diri, dikejar-kejar anak buah Senopati Sindukerta yang menghendaki puterinya kembali.
Akan tetapi ayah ibunya dapat meloloskan diri dan kemudian dia dilahirkan dan sejak bayi ikut terbawa lari-lari bersembunyi menjadi buruan Senopati Sindukerta yang kehilangan puterinya dan yang selalu mencari puterinya yang merupakan anak tunggal yang amat dikasihi.
Akhirnya, ayah ibunya menetap di Karang Tirta.
Ketika dia berusia sepuluh tahun, ayah ibunya meninggalkannya dan lari karena ada yang melapor kepada Senopati Sindukerta bahwa suami isteri itu berada di Karang Tirta.
Dan semenjak mereka jadi pelarian ketika dia berusia sepuluh tabun, sampai sekarang dia berusia hampir dua puluh tiga tahun, selama belasan tahun Itu orang tuanya menghilang dan dia tidak pernah berhasil menemukan mereka.
Dia hanya berhasil bertemu dengan kakek dan neneknya, yaitu Senopati Sindukerta dan isterinya yang menjadi orang tua ibunya.
Akan tetapi dia tidak pernah dapat menemukan jejak orang tuanya.
Inilah yang mengganjal hatinya.
Dia akan selalu merasa penasaran sebelum dapat bertemu dengan orang tuanya.
Bahkan ketika dia bertemu Sang Bhagawan Ekadenta dan menerima gemblengan selama tiga bulan, dia pun bertanya kepada kakek sakti mandraguna itu setelah menceritakan tentang orang tuanya.
Sang Bhagawan Ekadenta tersenyum dan hanya berkata.
"Segala sesuatu hanya dapat terjadi apabila dikehendaki oleh Sang Hyang Widhi, Angger. Namun sudah menjadi kewajiban manusia untuk berikhtiar, berusaha sekuat tenaga untuk mencapai apa yang diinginkan."
Hanya itulah nasihat Sang Bhagawan Ekadenta ketika dia menceritakan keinginannya untuk dapat bertemu dengan orang tuanya yang telah meninggalkannya tiga belas tahun yang lalu.
Nurseta merasa prihatin sekali.
Kalau ayah ibunya masin hidup, di mana tempat tinggal mereka dan mengapa pula mereka itu masih saja menyembunyikan diri setelah hampir dua puluh empat tahun melarikan diri dari Kahuripan?
Dan seandainya mereka sudah meninggal pun, dia harus mengetahui di mana kuburnya.
Dia harus dapat menemukan orang tuanya.
Akan tetapi kemana dia harus mencari mereka?
Hatinya mulai merasa penasaran.
Nurseta adalah seorang pemuda gemblengan yang mendapatkan bimbingan mendiang Empu Dewamurti yang bijaksana, kemudian malah mendapat gemblengan pula dari Bhagawan Ekadenta yang sakti mandraguna.
Dia telah memiliki batin yang amat kokoh dan dapat menguasai semua nafsu dan perasaannya.
Akan tetapi bagaimanapun juga, dia seorang manusia biasa dan rasanya tidak mungkin bagi seorang manusia untuk dapat sepenuhnya bebas dari perasaan suka duka, puas kecewa, dan sebagainya.
Memang lebih kuat dari orang biasa, lebih tenang, namun di lubuk hati Nurseta tetap saja terdapat perasaan silih berganti itu.
Kini Nurseta mempercepat langkahnya.
Melihat betapa di situ sunyi, tidak tampak orang lain, dia lalu mengerahkan tenaganya dan tubuhnya berkelebat cepat mendaki bukit lain yang sudah menanti di depannya setelah dia menuruni bukit tadi.
Dengan Aji Bayu Sakti, tubuhnya ringan dan dapat berlari cepat seperti terbang sehingga sebentar saja dia tiba di puncak bukit itu.
Setelah tiba di puncak, Nurseta merasa betapa lelah dan lemas tubuhnya.
Baru dia teringat bahwa dia semalam melakukan perjalanan tanpa berhenti mengaso sebentar pun.
Malam tadi terang bulan dan dia melakukan perjalanan sambil menikmati malam yang indah itu.
Sekarang, setelah matahari mulai naik tinggi, dia merasa betapa tubuhnya lelah dan perutnya lapar.
Maka, melihat sebatang pohon randu alas di puncak Itu, dia lalu berhenti mengaso dan duduk bersila di bawah pohon yang cukup dapat melindunginya dari sengatan sinar matahari.
Kalau tadi dia tenggelam dalam kenangan masa lalu, kini pikirannya melayang memikirkan kembali pencarian yang sedang dia lakukan terhadap orang tuanya.
Hatinya mulai tertekan kepedihan karena dia merasa tidak berdaya.
Dia tidak tahu harus mencari ke mana.
Tidak ada petunjuk sama sekali ke mana kiranya ayah ibunya berada.
Selama ini, sejak berpisah dari Sang Bhagawan Ekadenta yang telah menggemblengnya selama tiga bulan, dia hanya ngawur saja menurutkan hati dan kakinya dalam pencariannya.
Mengingat akan keadaan ini, hatinya tertekan dan dalam keadaan prihatin itu, dia lalu duduk bersila dan batinnya mengeluh sedih, memohon petunjuk dari Sang Hyang Widhi.
Entah berapa lama dia duduk tepekur dalam samadhinya itu.
Matahari naik semakin tinggi.
Hawa mulai panas, namun terdapat angin semilir yang mengurangi hawa panas.
Tiba-tiba pendengarannya menangkap suara orang bicara.
Suara itu terbawa angin mencapai telinganya, terdengar cukup jelas, suara seorang laki-laki.
"Eyang, mengapa hidup ini penuh penderitaan? Hanya sedikit kesenangan dan lebih banyak kesusahan?"
Jawaban pertanyaan ini agaknya keluar dari mulut seorang yang sudah amat tua, karena gemetar dan agak parau, dalam.
"Angger, putuku bocah bagus! Apakah engkau melihat Eyangmu ini menderita?"
"Saya seringkali merasa heran mengapa Eyang tidak pernah kelihatan susah, ayem-ayem saja biarpun terkadang makan terkadang tidak, hidup miskin dan papa."
Nurseta merasa tertarik sekali dan tak lama kemudian dia sudah duduk bersembunyi di balik batu besar, tak jauh dari dua orang yang suaranya terbawa angin dan terdengar olehnya tadi.
Mereka adalah seorang laki-laki muda berusia sekitar dua puluh lima tahun dan seorang kakek tua renta yang sukar ditaksir usianya, akan tetapi tentu sudah lebih dari delapan puluh tahun Mereka itu duduk di atas bangku bambu reyot di depan sebuah gubuk reyot pula yang berdiri di lereng bukit itu.
Melihat keadaan pakaian dan sikap mereka yang lugu, mudah diketahui bahwa mereka adalah orang-orang dusun yang hidupnya sederhana.
Nurseta semakin tertarik.
Orang-orang dari dusun biasanya kalau bicara ceplas-ceplos terbuka, apa yang keluar dari mulut langsung keluar dari hati mereka, tidak munafik seperti orang kota terutama para bangsawan yang berusaha mati-matian untuk menyembunyikan keburukan mereka dan menonjolkan kebaikan.
Selalu mementingkan kulit daripada Isi, sehingga orang-orang itu seolah-olah memakai topeng yang elok untuk menyembunyikan semua keburukan dan cacat mereka.
Dia mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Heh-heh!"
Kakek itu terkekeh dan tampak mulutnya yang sudah ompong, tak bergigi lagu "Kita hidup berdua di sini.
Engkau dan aku berkeadaan sama, tidak ada yang lebih baik dan enak, tidak ada yang lebih buruk dan tidak enak.
Akan tetapi engkau merasa dirimu banyak menderita, sedangkan aku tidak.
Jelas bahwa bukan keadaan yang membuat seseorang menderita, melainkan cara dia menerima dan menghadapi keadaan itu.
Aku ikhlas menerima kenyataan ini, maka aku tidak merasa menderita.
Engkau sebaliknya menerima kenyataan hidup ini sebagai penderitaan, maka tentu saja engkau merasa menderita!"
"Akan tetapi, Eyang. Saya melihat bahwa semua orang miskin hidupnya susah dan semua orang kaya hidupnya senang! Bukankah kenyataannya begitu?"
"Itu pun hanya merupakan persangkaan saja, Angger. Kita saling memandang dan saling menilai tanpa mengetahui keadaan masing-masing yang sebenarnya. Aku sudah lama hidup, Cucuku, sudah mengenal banyak orang dan mengalami banyak kenyataan hidup. Aku sudah melihat banyak orang kaya yang hidupnya dipenuhi penderitaan seperti yang engkau rasakan. Mereka selalu khawatir kalau hartanya habis, mereka bosan dengan segala kemewahan yang mereka miliki. Hidup mereka tidak tenang, merasa terancam karena mereka kaya. Biarpun harta mereka bertumpuk, dapatkah mereka senang kalau tubuh mereka sakit? Atau isteri, atau anak atau keluarga mereka ada yang sakit berat? Aku melihat banyak orang yang menderita batinnya karena harta mereka menjadi rebutan anak-anak mereka. Jadi jelasnya, bukan kaya dan bukan miskin yang membuat orang menderita susah atau senang, melainkan bagaimana dia menerima kenyataan dirinya."
"Akan tetapi, Eyang. Kalau orang karena miskinnya hanya makan singkong setiap hari, itu pun tidak kenyang, apakah itu bukan susah namanya?"
"Diterima dengan susah, tentu saja susah. Akan tetapi kalau diterima sebagai suatu kenyataan yang tidak dapat diubah lagi, mungkin dapat mendatangkan rasa bersukur karena masih ada yang dapat dimakan. Menerima suatu keadaan dengan perbandingan yang menimbulkan penilaian sehingga mendatangkan rasa susah adalah suatu kebodohan. Kesusahan tidak akan dapat mengubah keadaan. Kewajlban kita manusia hidup hanya untuk berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki keadaan."
"Eyang, kalau orang hidup kaya raya, setiap hari makan sekenyangnya dengan makanan yang mewah, pakaiannya indah-indah bertumpuk, rumahnya gedung besar dan indah. Apakah itu namanya bukan hidup serba enak, menyenangkan dan bahagia?"
"Memang, alangkah baiknya hidup dalam keadaan serba kecukupan. Akan tetapi, aku masih sangsi apakah mereka yang memiliki segalanya itu pun menikmati segalanya Itu, apakah benar semua kemewahan itu mendatangkan kesenangan. Sudah lama aku hidup, mengalami banyak keadaan, pernah serba lebih dan pernah pula serba kurang. Akan tetapi aku mendapat kenyataan bahwa yang dapat menikmati sesuatu adalah orang yang tidak memiliki sesuatu itu, Cucuku. Sebaliknya yang telah memiliki sesuatu itu, sudah tidak lagi dapat menikmatinya, bahkan menjadi bosan."
"Ah, aku tidak percaya, Eyang! Bagalmana mungkin orang tidak dapat menikmati segala kemewahan yang serba enak dan serba nikmat itu dan menjadi bosan!"
"Aku tidak berbohong, Cucuku. Begini contohnya. Siapa yang berkata bahwa makan daging ayam itu lezat? Tentu yang berkata itu mereka yang tidak pernah atau jarang sekali makan daging ayam. Akan tetapi kalau engkau bertanya kepada orang yang setiap hari makan nasi dengan daging ayam, dia akan berkata bahwa dia tidak merasakan lezatnya daging ayam, bahkan telah bosan dan dia mungkin saja ingin makan nasi dengan sayur asem dan tempe! Demikian pula, dengan segala macam kelebihan atau kemewahan yang lain. Yang dapat membayangkan nikmat dan senangnya hanya mereka yang belum memilikinya. Akan tetapi yang telah memilikinya, hanya menikmati untuk sementara waktu saja, kemudian menjadi bosan dan tidak dapat merasakan kenikmatannya lagi. Merasa kurang merupakan penyakit yang sukar disembuhkan. Sekali merasa kurang, walaupun kemudian keadaannya sudah berlebihan dan berlimpah, tetap saja dia akan merasa kurang dan tidak mengenal kepuasan. Sebaliknya, orang yang merasa cukup, bagaimanapun keadaannya akan merasa cukup dan dapat menikmati apa adanya dengan puji sukur kepada Sang Hyang Widhi Yang Maha Kasih."
"Wah, Eyang! Kalau begitu, apakah kita harus menerima saja keadaan miskin seperti sekarang ini? Kalau begitu, sejak lahir sampai mati nanti keadaanku tetap tidak akan berubah, tetap miskin kekurangan sandang pangan papan dan hidup sengsara!"
Orang muda itu memprotes. Kakek itu tertawa memperlihatkan gusi yang tak bergigi lagi.
"Ha-ha-ha-ha, bukan begitu, Cucuku! Jangan mencampuradukkan antara kebutuhan jiwa dan raga. Kita ini terdiri dari jiwa dan raga. Raga membutuhkan dicukupinya keperluannya sehingga dapat menjadi senang. Jiwa membutuhkan ketenteraman agar menjadi bahagia. Untuk mencukupi kebutuhan raga, kita harus berupaya sekuatnya, mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan papan bagi raga kita. Adapun jiwa kita haruslah selalu berdekatan dengan Sang Hyang Widhi, dengan penyerahan, dengan ikhlas menerima apa saja yang diberikan oleh Sang Hyang Widhi kepada kita, menerima apa adanya sebagai hasil usaha kita dengan puji sukur kepada-Nya. Berserah diri berarti dekat dengan Sang Hyang Widhi dan inilah satu-satunya kenyataan yang dapat mendatangkan ketenteraman dan membuahkan kebahagiaan. Jadi, kita berusaha ya lahir ya batin. Tanpa membanding-bandingkan keadaan dengan siapa pun, tanpa menilai keadaan yang bagaimanapun, selalu bersyukur akan apa yang kita dapatkan, selalu merasa KECUKUPAN. Rasa cukup Ini bukan terletak pada banyaknya harta benda, melainkan terletak dalam hati yang sudah berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Orang seperti inilah yang dalam keadaan bagaimanapun juga, tidak pernah merasa kekurangan dan selalu memuji syukur kepada Sang Hyang Widhi, maka dia akan merasakan kebahagiaan karena jiwanya tenteram."
"Walah, sulit sekali itu, Eyaig! Bagaimana kalau kita sudah bekerja mati-matian, hasilnya tetap saja sedikit sekali dan tidak mencukupi kebutuhan hidup?"
"Hemm, kalau engkau sudah merasa sulit sebelum engkau mulai melakukan, berarti engkau telah gagal sama sekail! Kalau usahamu tidak berhasil, pasti ada yang salah dalam usahamu itu! Jangan hanya mengeluh kepada Hyang Widhi, dan jangan menyalahkan setan! Sudah pasti ada yang salah dalam usahamu itu, carilah kesalahan sendiri itu dan perbaiki. Jangan pula mengendurkan penyerahan dirimu kepada kekuasaan-Nya, agar semua langkahmu diberi bimbingan oieh-Nya. Dua hal ini, yaitu berusaha sekuat tenaga, dan berserah diri agar mendapatkan bimbingan Sang Hyang Widhi, tidak boleh dipisahkan, kalau engkau ingin mendapatkan hasil baik lahir dan batinmu."
"Bagaimana itu maksudnya, Eyang?"
"Begini, Angger. Kalau engkau berusaha sekuat tenaga mencari uang untuk kebutuhan hidupmu tanpa bimbingan Sang Hyang Widhi, tanpa penyerahan kepada-Nya, maka besar kemungkinan nafsu daya rendah yang akan membimbingmu dan nafsu setan Itu akan menyeretmu melakukan usaha secara sesat. Bimbingan setan dalam usaha mencari uang itu menyeret orang melakukan kejahatan menipu, mencuri, merampok dan sebagai-nya untuk mendapatkan uang sebanyaknya! Sebaliknya kalau engkau hanya berserah diri kepada Sang Hyang Widhl tanpa berusaha sekuat tenaga, juga tidak akan berhasil. Berkah Sang Hyang Wldhi kepada kita sudah berlimpah, namun semua berkah itu harus dipadukan dengan usaha kita yang tekun dan rajin."
"Misalnya bagaimana, Eyang?"
"Lihat, Sang Hyang Wldhl telah melimpahkan berkahnya kepada kita di antara yang teramat banyak itu adalah sinar matahari, hawa Udara, air, tanah, bibit padi dan sebagalnya. Kesemuanya Itu tidak dapat kita bikin. Semua Itu sudah tersedia untuk kita, namun semua berkah Itu tidak akan ada gunanya kalau tidak dipadukan dengan pengolahan usaha tenaga kita. Kita yang harus mencangkul tanah, mengairi, menanam dan merawat. .Baru menghasilkan bahan makanan. Jelas bahwa berkah yang berlimpah dari Sang Hyang Widhi harus dipadukan dengan usaha manusia. Keduanya merupakan dwl-tunggal yang tidak boleh dipisahkan."
"Terima kasih, Eyang. Biarpun semua keterangan Eyang tadi sungguh amat sukar dimengerti dan lebih sukar pula dilakukan, aku akan mencoba untuk menghayati. Sekarang ada satu lagi pertanyaan, harap Eyang suka menjelaskan."
"Apa itu, Angger?"
"Sebetulnya, apa sih tujuan hidup ini?"
Kakek itu tertawa terkekeh-kekeh.
Nurseta yang sejak tadi mendengarkan, semakin tertarik.
Semua yang dikatakan kakek itu bukan hal asing baginya karena dia dengar dari mendiang Empu Dewa-murti gurunya yang pertama.
Hanya kakek ini bicara dengan bahasa yang amat sederhana seperti yang biasa dipergunakan penduduk dusun di pegunungan.
Kini dia ingin sekali mendengar apa jawaban kakek dusun itu tentang tujuan hidup seperti yang ditanyakan tadi.
Setelah terkekeh-kekeh, kakek itu berkata.
"Aeh, Cucuku, pertanyaanmu ini lucu dan aneh. Seluruh yang ada dan yang hidup di dunia ini, manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, kita semua ini hidup dan ada di dunia bukan atas kehendak kita sendiri! Kita ini ada karena ada yang mengadakan, kita hidup karena ada yang menghidupkan. Karena sejak semula hidup kita ini bukan atas kemauan kita, melainkan ada yang menghidupkan, maka tentu saja yang mempunyai rencana dan tujuan adalah DIA YANG MENGHIDUPKAN itu! Kalau kita mempunyai tujuan atau cita-cita, maka sudah pasti tujuan kita itu muncul dari keinginan badan kita yang selalu haus akan kesenangan dan kenikmatan. Dan tujuan kita itu pasti bukan tujuan SANG MAHA PENCIPTA itu!"
"Lalu apa tujuan Sang Hyang Widhi dengan menciptakan kita hidup di dunia ini, Eyang?"
"Wah, kita manusia mana mungkin mengetahui apa yang menjadi rencana Sang Hyang Wldhl? Terlalu Jauh, terlalu tinggi terlalu dalam Akan tetapi kita dapat melihat di sekeiiilng kita. Semua mahluk, yang hidup maupun yang mati, semua itu berguna bagi pihak lain. Bahkan rambut saja berguna menghidupi hewan-hewan yang memakannya. Sampah pun dapat menyuburkan tanah. Semua itu ada gunanya, semua itu mempunyai sifat untuk mamayu hayunlng bawono (mengusahakan kesejahteraan hidup di dunia). Nah, sekarang kita sendiri sebagai salah satu mahluk hidup. Apakah kita ini berguna bagi orang lain? Apakah hidup kita ini sudah ikut mamayu hayuning bawono? Kurasa itulah kewajiban hidup kita, bukan tujuan hidup, melainkan kewajiban, yaitu mamayu hayuning (Lanjut ke
Jilid 12) Nurseta Satria Karang Tirta (seri ke 02 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 12 bawono, berguna bagi orang lain dan bagi lingkungan, melakukan segala kebalkan untuk ikut menyejahterakan kehidupan di muka bumi Ini."
Percakapan itu terhenti dan Nurseta lalu meninggalkan tempat persembunyiannya, pergi dari situ dan merasa pikirannya melayang-layang seperti seekor burung garuda di angkasa.
Semua pembicaraan tadi masih terngiang di telinganya, indah dan merdu seperti suara gamelan dari Lokananta (sorga tanpa akhir).
Entah bagaimana, percakapan dua orang dusun sederhana tadi menghilangkan semua kesedihan hatinya yang tadi timbui karena dia memikirkan usahanya mencari orang tuanya yang belum juga dapat dia temukan jejaknya.
Tiba-tiba, pikirannya yang kosong, terisi bayangan kampung halamannya, yaitu Dusun Karang Tirta dimana dahulu ayah ibunya meninggalkannya ketika dia berusia sepuluh tahun.
Dia pun menujukan langkahnya ke arah Karang Tirta!
Nurseta berdiri termenung di depan rumah tua itu.
Semua kenangan masa lalu, ketika dia masih kecil, terbayang dalam ingatannya.
Rumah itu masih seperti dulu, walaupun ada perbaikan di sana-sini karena lapuk, diganti anyaman bamboo baru, namun bentuknya masih sama dengan belasan tahun yang lalu.
Rumah bekas milik orang tuanya itu dahulu diambil oleh Ki Lurah Suramenggala, katanya untuk membiayai kebutuhan hidup Nurseta selama mondok di rumah Ki Lurah Suramenggala selama enam tahun.
Dia bertanya-tanya dalam hatinya apakah rumah itu kini masih dikuasai Ki Suramenggala?
Tiba-tiba pintu depan rumah itu terbuka dan Nurseta cepat menyelinap di balik batang pohon johar yang tumbuh di tepi jalan, di luar rumah itu.
Dari dalam rumah itu muncul seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh satu tahun.
Dia mengenal baik orang itu dan tanpa ragu dia muncul dari balik batang pohon johar dan berjalan cepat memasuki halaman rumah yang tak berapa luas itu.
"Paman Tejomoyo!"
Tegurnya. Orang tua itu mengangkat muka dan memandang pemuda yang kini telah berdiri di depannya.
"Ohh,.... Anakmas Nurseta....!"
Dia berseru sambil tersenyum gembira ketika mengenal pemuda itu.
Dengan kagum dia mengamati pemuda yang sudah amat dikenalnya Itu.
Dia mengenal Nurseta sejak dia masih kanak-kanak, mengenal orang tua Nurseta, bahkan menjadi tetangga mereka.
Kemudian dia mengikuti perkembangan Nurseta ketika tumbuh dewasa, sejak berusia sepuluh tahun ditinggal orang tua dan hidup sebatang kara, menjadi bujang di rumah Ki Lurah Sura-menggala.
Kemudian dia mendengar tentang Nurseta yang telah menjadi seorang yang sakti mandraguna, bahkan telah berjasa besar terhadap Kahuripan.
Dia mengamati pemuda Itu.
Tubuhnya sedang dan tegap, kulitnya agak gelap namun bersih dan halus.
Wajahnya tidak terlalu tampan namun juga tidak jelek.
Sepasang mata yang tajam lembut dan senyumnya yang ramah penuh pengertian itu membuat wajah pemuda itu menarik dan menimbulkan rasa suka di hati yang memandangnya.
"Paman Tejomoyo, siapakah penghuni rumah Ini sekarang?"
"Aku sendiri yang diserahi menjaga rumah ini, Nurseta. Mari, masuklah, kita bicara di dalami"
Dengan ramah Ki Tejomoyo mempersilakan pemuda Itu masuk.
Setelah memasuki ruangan depan, Nurseta melihat betapa prabot dalam ruangan Itu telah bertambah.
Tentu Ki Lurah Suramenggala yang menambahnya.
Akan tetapi sebuah meja jati yang tebal, dengan dua buah kursi yang dulu menjadi tempat duduk Ayah Ibunya, masih berdiri di pojok ruangan itu.
Dia lalu menghampiri dan duduk di atas sebuah dari dua kursi Itu, yaitu di kursi yang kiri, yang dahulu biasa diduduki ibunya.
Hatinya terharu.
Serasa masih hangat kursi itu bekas diduduki Ibunya!
Ki Tejomoyo lalu duduk di kursi kedua, berhadapan dengan Nurseta, terhalang meja jati yang tebal.
"Paman, bagaimana Paman kini dapat tinggal di sini? Apa saja yang telah terjadi di Karang Tirta ini?"
Tanya Nurseta.
"Wah, banyak sekali yang telah terjadi, Anakmasl Sejak engkau datang ke sini dan menghajar Ki Lurah Suramenggala Itu, telah terjadi banyak hal yang mendatangkan perubahan besar di Karang Tirta."
"Ceritakanlah, Paman. Aku ingin sekali mendengarnya."
"Engkau tentu telah mengetahui bahwa Nyi Lasmi, ibu Puspa Dewi, telah menjadi selir Ki Suramenggala. Puspa Dewi telah pulang ke sini dan dia telah menjadi seorang gadis yang digdaya. Juga putera Ki Suramenggala yang bernama Linggajaya itu telah pulang dan dia pun menjadi seorang pemuda yang sakti. Akan tetapi dua orang muda yang sakti itu tidak lama berada di sini. Mereka pergi lagi dan sampai lama sekali tidak terdengar beritanya tentang mereka. Kemudian, semenjak puteranya pulang dan menjadi seorang pemuda digdaya, Ki Lurah Suramenggala menjadi semakin galak, kejam dan merajalela di dusun ini. Lalu pada suatu hari dating Gusti Patih Narotama."
"Gusti Patih Narotama? Datang ke Karang Tirta?"
"Benar, Anakmas. Dan terjadilah perubahan hebat yang membuat semua penghuni Karang Tirta bergembira. Karena sikap dan ulahnya yang jahat, Gusti Patih Narotama marah dan mencopot Ki Suramenggala dari kedudukannya sebagai lurah. Bahkan Ki Suramenggala yang sudah mati kutu dan takut kepada Gusti Patih Narotama, diusir keluar dari Karang Tirta oleh penduduk. Dia pergi meninggalkan dusun ini bersama keluarganya. Hanya Nyi Lasmi yang tidak mau ikut dan tetap tinggal di sini. Sebagai penggantinya, oleh Gusti Patih Narotama diangkat lurah baru, yaitu Ki Lurah Pujosaputro yang kemudian bersama keluarganya tinggal di rumah kelurahan, menggantikan Ki Suramenggala. Keluarga ini juga menampung Nyi Lasmi yang tinggal mondok di sana."
"Wah, perubahan yang baik sekali itu, Paman! Gusti Patih Narotama telah melakukan kebijaksanaan yang menggembirakan sekali!"
"Memang sesungguhnya begitu, Nurseta. Kami semua hidup tenteram. Semua kekayaan Ki Suramenggala disita dan tanah-tanah yang dulu dirampasnya dari penduduk, dikembalikan kepada pemiliknya dahulu. Rumah orang tuamu ini juga disita dan aku ditugaskan untuk menjaganya sampai engkau datang untuk diserahkan kembali kepadamu."
"Hemm, terima kasih, Paman. Untuk sementara biarlah Paman yang menempati rumah ini. Sekarang aku hendak menghadap Ki Lurah Pujosaputro yang kukenal dengan baik."
"Ah, Anakmas. Telah terjadi malapetaka besar menimpa keluarga Ki Lurah Pujosaputrol"
"Eh, apa yang terjadi?"
"Sebaiknya kulanjutkan ceritaku tadi. Setelah Ki Lurah Pujosaputro memimpin dusun ini, kehidupan rakyatnya menjadi tenteram dan sejahtera. Akan tetapi pada suatu hari muncul Linggawijaya Dia mengamuk dan hendak membunuh Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga, akan tetapi muncul Puspa Dewi yang menandinginya. Penduduk juga menyerbu hendak mengeroyok Linggajaya sehingga dia melarikan diri."
"Baik sekali kalau begltul"
Kata Nurseta, ikut merasa lega.
"Akan tetapi lalu terjadilah malapetaka itu. Puspa Dewi pergi ke kota raja, untuk mencari Ayah kandungnya dan muncullah orang-orang jahat suruhan Ki Suramenggala. Mereka itu ganas dan jahat sekali. Ki Lurah Pujosaputro sekeluarganya berikut para pelayan di rumah kelurahan itu mereka bunuh, hanya seorang pelayan saja yang lolos dari maut, sedangkan Nyi Lasmi dilarikan!"
"Ahh....! Gerombolan itu suruhan Ki Suramenggala?"
"Benar, Anakmas. Agaknya Ki Suramenggala membalas dendam, menyuruh bunuh lurah baru sekeluarganya dan menculik Nyi Lasmi. Kebetulan pada waktu Itu, Puspa Dewi bersama rombongan Ayah kandungnya beserta Ibu tirinya sekeluarga datang ke Karang Tirta."
"Ayah kandung Puspa Dewi?"
"Benar. Ayahnya adalah Senopati Yudajaya yang dating bersama istennya yang ke dua dan puterinya, juga Ayah dan Ibu mertuanya. Ayah mertua Senopati Yudajaya itu adalah Tumenggung Jayatanu. Mendengar malapetaka yang menimpa keluarga Lurah Pujosaputro dan tercullknya Nyi Lasmi, Puspa Dewi melakukan pengejaran. Kemudian Adik tiri Puspa Dewi yang bernama Niken Harni juga melakukan pengejaran, disusul pula oleh Senopati Yudajaya yang membawa selosin perajurlt pengawal."
"Bagaimana hasilnya? Apakah mereka dapat menyelamatkan Nyi Lasmi?"
"Nyi Lasmi berhasil ditemukan dan diselamatkan. Ia pulang kesini bersama suaminya, yaitu Senopati Yudajaya dan menurut berita yang aku dengar, ternyata Nyi Lasmi diselamatkan oleh Gusti Patih Narotama sendiri. Kemudian, rombongan keluarga Senopati Yudajaya itu, termasuk pula Nyi Lasmi, meninggalkan Karang Tirta dan kembali ke Kahuripan."
"Sukurlah kalau begitu, keluarga Puspa Dewi dapat bersatu kembali dalam keadaan selamat."
"Tapi masih ada sebuah hal yang membuat keluarga itu khawatir, Anak mas Nurseta, yaitu Puteri Senopati Yudajaya yang merupakan Adik tiri Puspa Dewi itu."
"Yang bernama Niken Harni?"
"Ya, mendengar Adik tirinya mengejar gerombolan yang menculik Nyi Lasmi dan belum tampak kembali, Puspa Dewi lalu pergi mencarinya sedangkan semua keluarga bangsawan itu kembali ke Kahuripan."
"Hemm, dan sekarang, siapa pengganti lurah yang tewas itu?"
"Urusan ini akan dilaporkan Tumenggung Jayatanu ke Kahuripan, dan untuk sementara beliau menyarankan agar penduduk mengadakan pilihan sendiri dan mengangkat seorang lurah baru. Kami telah memilih Anakmas Prawiro, keponakan mendiang Ki Pujosaputro yang tadinya membantu pamannya sebagal carik, untuk menjadi lurah sementara sebelum ada keputusan dari Kahuripan."
"Terima kasih atas semua keterangan-mu itu, Paman. Sekarang, aku hendak menyampaikan keperluanku sendiri. Aku datang berkunjung kepadamu untuk minta tolong, Paman. Dulu Paman pernah menceritakan kepadaku tentang orang tuaku dan dari keterangan Paman itu aku sudah berhasil bertemu dengan Kakekku, yaitu Ayah dari Ibuku. Beliau adalah Eyang Senopati Sidukerta di Kahuripan. Akan tetapi Eyang juga sedang mencari-cari Ayah Ibuku itu dan sampai sekarang aku belum berhasil menemukan mereka...."
"Wah. sejak tadi aku sudah ingin menyampaikan hal ini. akan tetapi didahului bicara tentang malapetaka yang terjadi di Karang Tirta sehingga aku hampir lupa menceritakan padamu. Anakmas Nurseta. Kurang lebih sebulan yang lalu sebelum terjadi malapetaka itu, pada suatu senja aku kedatangan seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun. Dia mengaku bernama Pakem dan datang dari Dusun Singojajar yang berada di kaki Gunung Semeru. Dusun ini termasuk daerah Kadipaten Wura-wuri. Si Pakem ini dating untuk bertanya tentang dirimu, Anakmas Nurseta. Dan dia ternyata diutus oleh.... Dharmaguna, Ayahmu...."
"Wah, Paman Tejomoyo! Mengapa tidak Andika ceritakan dari tadi?"
Nurseta berseru sambil memegang pergelangan tangan Ki Tejomoyo sehingga orang tua itu mengaduh.
"Aduh, sakit....!"
"Ah, maafkan aku, Paman!"
Kata Nurseta sambil melepaskan pegangannya.
"Saking kaget mendengar kejutan ini aku terlalu kuat memegang lenganmu. Lanjutkan ceritamu, Paman!"
"Tentu saja aku juga girang mendengar bahwa Si Pakem itu utusan Dharmaguna. Aku lalu menceritakan tentang dirimu, semua yang sudah kuketahui dan kudengar tentang dirimu. Aku juga mendengar dari Pakem itu, yang ternyata adalah seorang pembantu setia Ki Dharmaguna yang hidup sebagal petani, bahwa orang tuamu berada dalam keadaan sehat dan selamat."
"Aduh.... terima kasih kepada Sang Hyang Widhi...., ah Paman Tejomoyo, Andika tidak tahu betapa membahagiakan hati mendengar ceritamu ini!"
"Aku tahu, Anakmas! Aku sendiri pun gembira sekali mendengar pengakuan Pakem itu. Akan tetapi agaknya orang tuamu itu masih merasa khawatir dan Pakem itu tidak berani bercerita banyak. Ketika aku bertanya tentang Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri, dia mengatakan tidak tahu banyak tentang mereka, hanya mengatakan bahwa Ki Dharmaguna adalah seorang petani yang tinggal di dusun Singojajar di kaki Gunung Semeru. Bahkan dia lalu tergesa-gesa pergi setelah mendengar keterangan tentang dirimu, tidak mau menginap di sini walaupun kubujuk-bujuk."
"Wah, keterangan itu sudah lebih dari, cukup, Paman! Sekarang aku pamit, Paman!"
"Eh? Mengapa tergesa-gesa, Anakmas? Tinggalkan di sini, setidaknya menginaplah di sini. Ini sekarang telah dikembalikan kepadamu. Rumah ini milikmu."
"Lain kali saja, Paman. Terima kasih, aku harus pergi mencari orang tuaku di Singojajar sekarang juga!"
"Akan tetapi, tempat itu termasuk daerah Wura-wuri, Anakmas! Berbahaya sekali!"
Nurseta tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya.
"Ayah Ibuku berada di sana juga tidak apa-apa, Paman Tejomoyo. Sekali lagi, aku sungguh merasa amat berterima kasih kepadamu. Paman telah memberi kabar yang teramat penting bagiku dan amat membahagiakan hatiku. Nah, aku pergi, Paman!"
Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Nurseta sudah lenyap dari depan Ki Tejomoyo sehingga orang tua itu mengejar ke depan, akan tetapi sudah tidak melihat lagi bayangan Nurseta.
Dia hanya berdiri terlongong dan kagum.
Nurseta memasuki wilayah Kerajaan Wura-wuri setelah melakukan perjalanan cepat dari Karang Tirta.
Dia ingin sekali segera tiba di kaki Gunung Semeru, mencari ayah ibunya yang kabarnya tinggal di dusun Singojajar.
Dia sudah membayangkan betapa akan bahagianya bertemu dengan ayah dan ibunya.
Dia masih dapat membayangkan wajah ayah dan ibunya.
Walaupun dua belas tahun lebih telah lewat sejak mereka meninggalkan dia, dia pasti akan mengenal mereka.
Mungkin mereka akan tampak lebih tua, akan tetapi dia masih Ingat benar.
Ayahnya, Dharmaguna, adalah seorang laki-laki yang berwajah tampan, berkulit bersih walau agak hitam, dan gerak-gerik serta tutur sapanya lembut halus.
Ibunya, Endang Sawitri, adalah seorang wanita cantik berkulit putih, seingatnya bertubuh ramping padat dan ibunya dahulu pandai menunggang kuda dan pandai pula menggunakan anak panah dan memiliki kegagahan.
Ibunya pernah menceritakan betapa di waktu muda ibunya juga pernah mempelajari aji kanuragan.
Tentu saja kini dia mengerti.
Sebagai puteri seorang senopati, tentu saja ibunya juga sedikit banyak memiliki kegagahan.
Nurseta juga maklum akan bahayanya memasuki wilayah Wura-wuri.
Wura-wuri adalah musuh bebuyutan Kahuripan dan beberapa tahun yang lalu pernah mencoba menyerang Kahuripan bersama para sekutunya.
Namun penyerangan itu gagal.
Karena dia sendiri terlibat dalam pertempuran itu, maka dia tentu dikenal oleh para tokoh Kerajaan atau Kadipaten Wurawuri.
Kalau hal lni terjadi, tentu dia akan mengalami kesulitan untuk dapat bertemu dengan ayah ibunya, bahkan bukan itu saja bahayanya, melainkan lebih buruk lagi orang tuanya dapat terseret dan diganggu orang-orang Wura-wuri.
Dengan hati-hati Nurseta melakukan perjalanan menuju Gunung Semeru yang merupakan perbatasan antara Kadipaten Wurawuri dan Kerajaan Kahuripan.
Dia memasuki daerah Wurawuri dari selatan maka perjalanan menuju Gunung Semeru masih cukup jauh.
Dia selalu waspada.
Kalau hanya bertemu penduduk biasa, dia tidak khawatir dikenal orang.
Akan tetapi kalau bertemu dengan pasukan atau orang-orang berpakaian bangsawan atau perwira, dia selalu menyelinap agar tidak terlihat.
Pada suatu hari Nurseta keluar dari sebuah dusun dan berjalan di atas jalan umum di samping hutan.
Dia merasa kagum juga melihat keadaan Kadipaten Wura-wuri.
Keadaan rakyatnya tidaklah sengsara benar, dan orang-orang Wurawuri tampak tampan dan cantik.
Dia memang pernah mendengar bahwa penduduk Wura-wuri memiliki wajah yang elok, sebaliknya orang-orang Wengker sebagian besar buruk rupa.
Selagi dia berjalan dengan santai dan waspada, tiba-tiba dia mendengar langkah kaki banyak kuda dari arah belakangnya.
Cepat Nurseta menyelinap di balik pohon-pohon besar di tepi jalan dan mengintai untuk melihat siapa mereka yang berkuda itu.
Tak iama kemudian dia melihat banyak orang berkuda menjalankan kuda mereka dengan santai.
Agaknya mereka sengaja menjalankan kuda mereka perlahan-lahan karena kuda-kuda itu telah mandi keringat, agaknya telah melakukan perjalanan jauh yang melelahkan dan sekarang dijalankan perlahan untuk memberi kesempatan istirahat kepada kuda-kuda itu.
Ketika rombongan tiba dekat, Nurseta terkejut.
Yang menunggang kuda di depan adalah seorang wanita dan seorang pria.
Wanitanya berpakaian gemerlapan mewah sekali, usianya sekitar dua puluh delapan tahun, tubuhnya ramping padat, wajahnya cantik jelita akan tetapi mata dan mulutnya membayangkan kegenitan, kulitnya agak hitam manis.
Dia tidak mengenal wanita itu.
Akan tetapi tentu saja dia mengenal laki-laki yang menunggang kuda di dekat wanita itu.
Resi Bajrasakti, dia tak salah lagi.
Biarpun sudah sekitar enam tahun dia tidak melihat kakek tinggi besar dan mukanya penuh brewok, kulitnya hitam dan wajahnya kasar dan bengis itu, dia tidak dapat melupakannya.
Resi Bajrasakti ini yang dulu bersama Nyi Dewi Durgakumala hendak merampas keris pusaka Megatantra dan mereka berdua dikalahkan gurunya, mendiang Empu Dewamurti.
Begitu mengenal Resi Bajrasakti, Nurseta teringat akan pesan Sang Bhagawan Ekadenta, agar dia berhati-hati terhadap Wengker karena permaisuri Wengker yang bernama Dewi Mayangsari diambil murid Nini Bumigarbo.
Resi Bajrasakti adalah tokoh Wengker, maka wanita cantik yang pakaiannya amat mewah ini mungkin sekali Dewi Mayangsari permaisuri Wengker yang diambil murid Nini Bumigarbo itu!
Di belakang kedua orang ini terdapat pasukan yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat, sebanyak dua losin orang perajurit.
Tidak salah lagi, mereka itu tentu para perajurit Wengker yang mengawal permaisuri Wengker dan Resi Bajrasaktl itu.
Akan tetapi mengapa orang-orang penting Kadipaten Wengker memasuki daerah Wura-wuri?
Tidak aneh, pikirnya.
Memang dua kadipaten besar itu bersama kadipaten-kadlpaten kecil seperti Kerajaan Parang Siluman dan Kerajaan Siluman Laut Kidul mempunyai hubungan dan mereka pernah bekerja sama untuk memusuhi Kerajaan Kahuripan.
Dia tetap bersembunyi sampai rombongan itu lewat.
Dia dapat menduga bahwa mereka itu pasti hendak berkunjung kepada Raja Wura-wuri, entah dengan maksud apa.
Diam-diam dia memikirkan apa yang terjadi dengan adik perempuan tiri Puspa Dewi yang bernama Niken Harni yang melakukan pengejaran terhadap mereka yang menculik Nyi Lasmi.
Mungkin sekali Niken Harni mengejar ke daerah Wengker karena bukankah para penculik itu orang-orang dari Wengker?
Dan tentu saja Puspa Dewi yang mencari adiknya itu pun besar kemungkinan pergi ke Wengker.
Apakah kepergian para tokoh Wengker ke Wura-wuri ini ada hubungannya dengan Puspa Dewi dan Niken Harni?
Nurseta melanjutkan perjalanan menuju Gunung.
Semeru.
Karena yang dia datangi merupakan daerah yang asing baginya, maka perjalanannya tidak dapat cepat.
Dia harus bertanya-tanya dalam perjalanan dan untuk bertanya pun dia harus memandang orangnya, karena kalau bertanya kepada orang yang keliru, dapat menimbulkan kecurigaan yang hanya akan mengganggu pencariannya.
Kita tinggalkan dulu Nurseta yang sedang melakukan perjalanan mencari orang tuanya dan kita tengok keadaan di dusun Singojajar yang berada di kaki Pegunungan Semeru.
Singojajar merupakan sebuah dusun yang tanahnya subur sekali sehingga kehidupan penduduk dusun sebagai petani cukup sejahtera, walaupun sederhana namun bagi mereka cukup adil dan makmur.
Adil karena di antara mereka tidak ada yang kekurangan dan setiap kali ada yang didesak kebutuhan mendadak, mereka yang kelebihan selalu siap mengulurkan tangan membantu.
Dan makmur bagi orang-orang bersahaja itu karena mereka telah dicukupi tiga kebutuhan pokok mereka, yaitu sandang pangan dan papan.
Di ujung dusun itu terdapat sebuah rumah yang sedang namun terawat baik dan tampak mungil dan kokoh, mempunyai halaman depan yang ditanami bunga-bunga dan pohon-pohon buah.
Di belakang rumah terdapat kebun sayur yang cukupi luas.
Ini adalah rumah tempat tinggal Ki Dharmaguna bersama isterinya, Endang Sawitri.
Ki Dharmaguna adalah seorang pria tampan yang lemah lembut, sikapnya sederhana, ramah dan sabar.
Usianya sekitar empat puluh lima tahun, namun rambutnya sudah bercampur uban karena selama setengah dari usianya dia mengalami banyak penderitaan batin.
Isterinya Nyi Endang Sawitri, adalah seorang wanita cantik dan lembut pula, anggun dan gerak-geriknya gesit.
Wanita ini berusia sekitar empat puluh tahun.
Ia pun mengalami banyak penderitaan batin seperti suaminya sehingga walaupun ia tergolong cantik, namun sinar matanya sayu.
Riwayat suami isteri ini memang menyedihkan.
Endang Sawitri adalah puteri tunggal dari Senopati Sindukerta, seorang di antara senopati terkenal dari Kahuripan, dan ia amat disayang orang tuanya.
Ketika ia berusia tujuh belas tahun, gadis bangsawan ini saling jatuh cinta dengan Dharmaguna, seorang pemuda putera mendiang Ki Jatimurti, seorang pendeta yang miskin.
Senopati Sindukerta dan isterinya tidak setuju mempunyai mantu seorang pemuda putera pendeta miskin.
Mereka mendambakan mantu seorang priyagung (bangsawan tinggi) yang akan membuat puteri mereka hidup terhormat.
Akan tetapi, hubungan cinta antara Endang Sawitri dan Dharmaguna sudah sedemikian kuatnya sehingga mereka berdua nekat minggat meninggalkan Kahuripan.
Senopati Sindukerta marah sekali kepada Dharmaguna yang dianggap menculik dan melarikan anak tunggalnya.
Dia mengerahkan pasukan melakukan pengejaran dan pencarian, namun semua usahanya itu sia-sia belaka.
Endang Sawitri dan Dharmaguna yang sudah menjadi suami isteri itu melarikan diri dan bersembunyi dengan cara berpindah-pindah tempat.
Setahun kemudian, Endang Sawitri melahirkan seorang anak yang mereka beri nama Nurseta.
Bahkan setelah mempunyai seorang anak, mereka tetap berpindah-pindah untuk menghilangkan jejak.
Ketika Nurseta berusia tiga tahun, suami isteri ini tinggal di dusun Karang Tirta.
Selama tiga tahun, sampai Nurseta berusia enam tahun, mereka hidup tenteram di Karang Tirta, tidak pindah-pindah lagi karena tidak terdapat tanda-tanda bahwa para utusan Senopati Sindukerta mencari mereka sampai ke dusun itu.
Akan tetapi pada suatu hari, mereka mendengar bahwa Ki Lurah Suramenggala, lurah dusun Karang Tirta mengirim utusan ke Kahuripan untuk melaporkan kehadiran mereka kepada Senopati Sindukerta.
Tentu saja suami isteri ini terkejut dan ketakutan.
Mereka takut akan hukuman, dibunuh pun mereka tidak takut.
Yang mereka takuti hanya kalau mereka sampai dipaksa untuk saling berpisah!
Maka, mendengar akan laporan Ki Lurah Suramenggala kepada Senopati Sindukerta, Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri menjadi ketakutan dan mereka berdua segera melarikan diri dari Karang Tirta.
Setelah suami isteri ini merundingkan masak-masak, mereka sengaja meninggalkan anak mereka Nurseta yang telah berusia sepuluh tahun karena mereka tidak ingin anak mereka yang tercinta itu ikut menjadi buronan yang dikejar-kejar.
Mereka meninggalkan Nurseta di Karang Tirta, lalu lari pindah ke lain dusun yang jauh.
Karena ketakutan, mereka kembali berpindah-pindah dari dusun ke dusun, dari gunung ke gunung.
Akhirnya, lima tahun yang lalu mereka sengaja melarikan diri ke kaki Gunung Semeru yang termasuk tapal batas antara Kahuripan dan Wura-wuri, bahkan masih termasuk wilayah Wura-wuri.
Mereka yakin bahwa para utusan Senopati Sindukerta pasti tidak akan mencari mereka ke dalam wilayah Wura-wuri!
Mereka berdua merasa tenteram hidup di dusun Singojajar di kaki Pegunungan Semeru yang menjulang tinggi menembus awan itu.
Hanya satu hal yang membuat mereka merasa berduka dan mereka berdua kerap kali menangis kalau teringat akan hal itu.
Mereka dapat saling menghibur dan dalam kedukaan yang dipikul bersama itu, cinta kasih antara suami isteri ini menjadi semakin kokoh.
Yang membuat mereka berduka adalah kalau mereka teringat akan Nurseta, putera mereka.
Setelah merasa keadaan mereka kini aman, pada suatu hari, kurang lebih dua bulan yang lalu, Ki Dharmaguna mengutus pembantunya, Pakem, yang biasa membantunya bertani, untuk pergi melakukan perjalanan ke Karang Tirta.
Suami Isteri itu menyuruh Pakem untuk menemui Ki Tejomoyo di Karang Tirta dan minta keterangan kepada Ki Tejomoyo tentang anak mereka Nurseta.
Pada sore hari itu, Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri duduk santai di pendopo rumah mereka, berhadapan terhalang meja di mana terdapat minuman air teh dan nyamikan (makanan kecii) keripik pisang yang tadi dihidangkan Nyi Endang Sawitri.
Sambil makan nyamikan dan minum air teh, mereka bercakap-cakap.
Memang sudah menjadi kebiasaan suami isteri ini, setiap sore setelah berhenti bekerja di sawah ladang, mereka minum teh dengan makanan kecil sambil bercakap-cakap.
Akan tetapi sekali ini, wajah mereka tidak tampak tenang seperti biasanya kalau mereka duduk berdua seperti itu.
Wajah mereka bahkan tampak tegang dan alis mereka berkerut.
"Kakangmas, mengapa Pakem belum juga pulang?"
"Itulah Diajeng, yang membuat aku tidak bisa tidur nyenyak selama beberapa hari ini. Aku sungguh merasa heran mengapa sampai dua bulan Pakem belum juga pulang. Padahal menurut perhitunganku, jarak antara Singojajar ini dan Karang Tirta dapat ditempuh dengan berkuda selama setengah bulan, jadi pulang pergi hanya membutuhkan waktu satu bulan saja. Akan tetapi sampai hari ini, sudah hampir dua bulan dan dia belum juga datang. Aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk...."
"Kakangmas, bersabarlah jangan membayangkan yang buruk-buruk. Siapa tahu, Pakem mendengar bahwa anak kita itu telah pindah ke tempat lain sehingga pakem pergi mencarinya. Alangkah akan gembira dan bahagianya hati kita kalau Pakem pulang bersama anak kita!"
"Wah, kalau begitu memang bagus sekali, Diajeng. Mudah-mudahan saja perkiraanmu itu benar."
"Wah, kalau aku membayangkan pertemuan kita dengan Nurseta, Kakangmas! Apakah kita akan dapat mengenalnya? Seperti apa dia sekarang? Jantungku berdebar penuh ketegangan kalau aku ingat dan membayangkan pertemuan itu!"
"Dia tentu sudah dewasa sekarang, Diajeng. Ketika kita meninggalkannya, dia berusia sepuluh tahun, dan kurang lebih dua belas tahun telah lewat sejak kita lari dari Karang Tirta."
"Ah, dia sekarang tentu telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun! Telah dewasa. Siapa tahu dia telah mempunyai isteri dan anak, Kakangmas!"
Suara wanita itu mengandung getaran keharuan.
"Hemm, kalau begitu engkau akan menjadi Eyang puteri (Nenek) dan aku menjadi Eyang kakung (Kakek)!"
Kata Ki Dharmaguna, sengaja berkelakar untuk menghibur hati isterinya.
Agak terhibur hati suami isteri itu membayangkan bahwa mereka akan bertemu dengan putera mereka tercinta.
Kalau dahulu mereka meninggalkan Nurseta yang berusia enam tahun di Karang Tirta, hal itu mereka lakukan justru karena mereka mencinta putera mereka.
Biarpun hati mereka hancur harus meninggalkan anak mereka, namun mereka terpaksa melakukannya karena mereka tidak ingin melihat anak mereka ikut menjadi buronan.
Kalau mereka tertangkap, biarlah mereka berdua saja yang menerima hukuman dari Senopati Sindukerta.
Anak mereka jangan sampai ikut tertangkap dan dihukum.
Selagi mereka termenung membayangkan peristiwa membahagiakan itu, tiba-tiba terdengar keluhan di halaman rumah.
Mereka memandang dan suami isteri itu cepat bangkit berdiri dan memandang dengan mata terbelalak.
Orang yang ditunggu-tunggu itu datang.
"Pakem....!"
Nyi Endang Sawltri berseru.
Mereka lalu menuruni pendopo untuk menyambut pembantu mereka itu.
Pakem melangkah menghampiri mereka.
Mukanya bengkak-bengkak dan matang biru, langkahnya terhuyung setengah merangkak dengan menyeret kakinya, kedua lengannya tergantung mati.
"Pakem! Engkau mengapa....?"
Ki Dharmaguna bertanya, terkejut bukan main. Setelah tiba di depan suami isteri itu, Pakem berkata dengan napas terengah-engah dan suara terputus-putus.
"....Nurseta.... hidup.... saya... saya ditangkap.... disiksa.... aduhhh....!"
Pakem terguling roboh dan ketika suami isteri itu memeriksanya, ternyata pembantu mereka itu tewas.
"Pakem...."
KI Dharmaguna berjongkok memeriksa keadaan tubuh pembantunya dan mendapatkan kenyataan bahwa tubuh itu penuh dengan luka bekas siksaan.
Bahkan kedua lengannya agaknya tidak dapat digerakkan karena patah-patah tulangnya!
Sementara itu, Nyi Endang Sawitri yang mencium adanya ancaman bahaya, sudah lari memasuki rumah lalu keluar lagi sambil membawa sebatang tombak.
Dahulu ia menerima latihan bersilat dengan tombak dari ayahnya yang senopati dan ahli bermain tombak.
Suami isteri ini cepat bangkit berdiri dan memandang ketika terdengar suara tawa menyeramkan dan dua orang memasuki halaman rumah mereka.
Suami isteri itu memandang penuh perhatian.
Tadinya mereka mengira bahwa tentu para pesuruh Senopati Sindukerta yang datang untuk menangkap mereka.
Akan tetapi Nyi Endang Sawitri tidak mengenal mereka, Yang seorang bertubuh tinggi besar, mukanya penuh .
brewok, rambutnya gimbal, wajahnya bengis dan kulitnya hitam.
Akan tetapi pakaiannya mewah sekali seperti seorang bangsawan.
Usianya sekitar lima puluh lima tahun dan tangannya memegang sebatang cambuk bergagang gading.
Orang kedua seorang laki-laki tampan gagah berusia sekitar dua puluh delapan tahun.
Tubuhnya tinggi tegap dan pakaiannya juga mewah sekali.
Di pinggangnya tergantung sebatang pedang.
Orang ini tersenyum menyeringai dan matanya liar memandang wajah Nyi Endang Sawitri yang masih cantik menarik dengan bentuk tubuh yang ramping padat.
"He-he-he! Apakah Andika yang bernama Dharmaguna dan Endang Sawitri,, Ayah dan Ibu dari Nurseta?"
Tanya kakek itu dengan suaranya yang besar. Mendengar kakek itu mengenal mereka dan putera mereka, Ki Dharmaguna menjawab.
"Benar sekali. Andika berdua siapakah, Kisanak dan ada keperluan apakah Andika dating berkunjung?"
"Hemm, Dharmaguna! Kalau engkau ingin bertemu dengan Nurseta, ikutlah dengan kami!"
Kata Kakek itu.
"Dan engkau, Endang Sawitri, juga harus ikut!"
Kata pula kawannya yang muda, tampan, dan tinggi tegap, sambil tersenyum dan matanya mengamati Endang Sawitri dari kepala sampai ke kaki.
"Katakan dulu siapa kalian dan di mana anak kami Nurseta!"
Kata Endang Sawitri dengan sikap gagah sambil melintangkan tombaknya.
"Heh-heh-heh, kalian ikut sajalah kalau kalian tidak ingin anak kalian itu kami bunuh seperti pembantumu itu!"
Kakek itu menuding ke arah jenazah Pakem yang masih menggeletak diatas tanah. Wajah Dharmaguna menjadi gelisah mendengar ancaman kepada puteranya itu.
"Diajeng.... mari kita ikut mereka..!"
"Tidak!"
Endang Sawitri berkata tegas "Aku tidak percaya kepada kalian berdua! Katakan dulu siapa kalian dan dimana adanya Anak kami!"
"Ha-ha, mau atau tidak mau kalian harus ikut dengan kamil"
Kata laki-laki yang muda dan dia sudah melangkah maju menghampiri Endang Sawitri sambil berkata kepada temannya yang tinggi besar brewok.
"Paman, biarkan aku menangkap wanita Ini dan Andika menangkap yang pria!"
Setelah berkata demikian, laki-laki itu bergerak cepat hendak menubruk dan menelikung Nyi Endang Sawitri.
Wanita itu menggerakkan tombaknya, menyambut lawan dengan tusukan tombaknya.
Endang Sawitri pernah mempelajari ilmu tombak dari ayahnya, akan tetapi karena selama belasan tahun ia tidak pernah berlatih, maka gerakannya kurang kuat dan kurang cepat.
Padahal, lawannya adalah seorang yang memiliki tingkat kepandaian tinggi.
Maka, sambil terkekeh dia miringkan tubuh mengelak.
Ketika tombak lewat, dia menangkap tombak itu, menarik dengan sentakan sehingga tubuh Nyi Endang Sawitri terhuyung ke depan.
Tombak terampas dan lawan itu sudah merangkul dan memeluk tubuh Nyi Endang Sawitri sehingga wanita itu tidak mampu melepaskan dirinya lagi.
la meronta-ronta.
"Keparat Lepaskan aku...., lepaskan .....!"
Ia mencoba untuk melepaskan kedua lengannya yang ditelikung dan menyepak-nyepak dengan kakinya. Namun lawan terlampau kuat sehingga ia tidak berdaya sama sekali.
"Lepaskan isteriku!"
Ki Dharmaguna membentak dan maju.
Akan tetapi sebuah tendangan kaki laki-laki yang lebih tua membuat tubuhnya terpental jauh.
Sebelum dia bangkit lagi, dia pun sudah ditelikung oleh kakek tinggi besar brewok itu.
Suami isteri ini ditangkap dan ditarik keluar dari halaman rumah.
Sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda dating diiringkan dua losin perajurit Wura-wuri.
Melihat banyaknya orang yang menangkap mereka, Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri maklum bahwa akan percuma saja melakukan perlawanan.
Mereka hendak melihat apa yang selanjutnya yang akan terjadi.
Orang-orang itu tadi mengatakan bahwa kalau mereka ikut dengan orang-orang itu, mereka akan dapat bertemu dengan Nurseta.
Benarkah itu?
Ada rahasia apa di balik paksaan untuk ikut itu?
Dan Ikut ke mana?
Mereka tidak membantah ketika disuruh memasuki kereta.
Kereta lalu bergerak meninggalkan dusun Singojajar.
Para penduduk yang keluar menonton berdiri dengan hormat ketika mengenal bahwa pasukan Itu adalah pasukan Wura-wuri.
APAKAH yang telah terjadi dengan Pakem, pembantu Ki Dharmaguna yang diutus ke Karang Tirta itu?
Ternyata, setelah gagal menundukkan Nyi Lasmi, bahkan kemudian bekas selirnya itu dapat dibebaskan Ki Patih Narotama, Ki Suramenggala yang kini menjadi Tumenggung Wengker masih merasa penasaran sekali.
Kebenciannya terhadap Ki Patih Narotama semakin mendalam.
Dahulu, pengalamannya di Karang Tirta amat menyakitkan hatinya, karena dia merasa dipermalukan dan dihina, diusir dari dusun itu yang menjadi kampung halamannya.
Maka, setelah orang-orangnya hanya berhasil membantai Ki Lurah Pujosaputro sekeluarganya dan Nyi Lasmi yang telah berada di tangannya itu akhirnya terlepas, dia tetap menyuruh kaki tangannya mengawasi dan memata-matai Karang Tirta.
Maka, ketika Pakem yang menunggang kuda tiba di Karang Tirta, dua orang mata-mata dari Wengker itu mengetahuinya.
Mereka mengintai dan melihat betapa pendatang asing itu berkunjung ke rumah Ki Tejomoyo.
Mereka menjadi curiga karena Tumenggung Suramenggala sudah menceritakan segala tentang Karang Tirta kepada para anak buahnya Itu.
Mereka mengetahui bahwa rumah yang ditempati Ki Tejomoyo itu dahulunya merupakan rumah milik Tumenggung Suramenggala yang telah dirampas oleh penduduk Karang Tirta seperti rumah rumahnya yang lain.
Dua orang mata-mata ini menjadi curiga dan ketika Pakem meninggalkan dusun Karang Tirta, di tengah jalan dia disergap dan ditangkap oleh kedua orang Wengker itu.
Pakem yang penduduk dusun itu menjadi ketakutan, apalagi ketika dua orang yang menangkapnya itu membentak sambil mengancam dengan golok yang ditempelkan pada lehernya.
"Engkau orang jahat yang hendak mengacau di Karang Tirta! Hayo mengaku siapa engkau dan dari mana engkau datang!"
Pakem yang dibawa ke sebuah hutan di luar dusun Karang Tirta gemetar ketakutan.
"Ampun, Denmas.... saya bukan penjahat...., saya hanya utusan...."
"Kalau bukan penjahat, cepat katakan siapa engkau, datang dari mana, siapa yang mengutusmu dan urusan apa yang kaulakukan! Awas, kalau engkau berbohong, golok ini akan minum darahmu!"
"Ampun, Denmas.... saya bernama Pakem, tinggal di dusun Singojajar di kaki Gunung Semeru. Saya bekerja pada Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri, membantu mereka bertani. Saya diutus suami isteri itu untuk mengunjungi Ki Tejomoyo di dusun Karang Tirta..."
"Untuk urusan apa? Hayo katakan, cepatl"
Dua orang itu membentak.
"Saya.... saya disuruh bertanya kepada Ki Tejomoyo tentang anak mereka yang bernama Nurseta...."
Dua orang mata-mata itu terkejut.
Mereka pernah mendengar nama ini.
Nurseta yang kabarnya merupakan seorang pembela Kahuripan dan merupakan musuh besar Adipati Linggawijaya dan Sang Tumenggung Suramenggala.
"Hayo ikut dengan kami!"
"Ampun, Denmas.... saya mau dibawa ke mana? Saya harus pulang dengan cepat...."
"Plakk!"
Muka Pakem ditampar sehingga dia terpelanting.
"Jangan banyak cerewet! Ikut saja dengan kami kalau engkau tidak ingin kami sembelih di slnil"
Demikianlah, Pakem lalu dibawa pergi dua orang mata-mata itu dan dihadapkan Tumenggung Suramenggaia.
Ketika Tumenggung Suramenggala mendengar laporan anak buahnya, dia cepat melakukan perundingan dengan Adipati Linggawijaya, Dewi Mayangsari, dan Resi Bajrasakti.
Setelah Tumenggung Suramenggala selesai bercerita tentang ayah ibu Nurseta yang tinggal di dusun Singojajar, Adipati Linggawijaya menepuk pahanya.
"Ah, bagus sekali kalau begitu! Kita tangkap orang tua Nurseta dan menggunakan mereka sebagai sandera dan umpan untuk memancing datangnya Nurseta ke sini. Kalau dia berani datang untuk menolong Ayah Ibunya, kita habiskan dia disini Dia merupakan penghalang besar bagi usaha kita untuk menghancurkan Kahuripan!"
"Akan tetapi kita harus berhati-hati, Kakangmas Adipati."
Kata Dewi Mayangsarl.
"Dusun Slngojajar di kaki Gunung Semeru itu termasuk wilayah Kerajaan Wura-wuri. Kebetulan sekali kita sudah mengatur rencana kita. Aku dan Paman Resi Bajrasakti membawa pasukan pengawal berkunjung ke Wurawuri untuk berunding dengan Adipati Wura-wuri sedangkan Paduka pergi ke Kadipaten Parang Siluman dan Kadipaten Siluman Laut Kidul mengajak mereka bersekutu pula. Nah, aku akan menggunakan kesempatan kepergianku ke Wurawuri untuk bersama kadipaten itu menangkap Ayah Ibu Nurseta."
"Heh-heh, itu benar sekail!"
Kata Resi Bajrasakti.
"Dan kita bawa Si Pakem itu untuk menjadi penunjuk jalan di mana tempat tinggal Dharmaguna dan Endang Sawitri itu!"
"Dan aku akan menyebar penyelidik untuk menyelidiki dimana adanya Nyi Lasmi sekarang. Sedapat mungkin tangkap pula Nyi Lasmi untuk memancing datangnya Puspa Dewi."
Kata Tumenggung Suramenggala.
"Memang sebaiknya begitu dan jangan dilupakan mengirim mata-mata ke Kahuripan untuk melihat gerak-gerik dan keadaan kerajaan itu."
Kata Adipati Linggawijaya.
Demikianlah, perundingan telah membuahkan rencana pembagian tugas.
Adipati Linggawijaya akan mengunjungi Kadipaten Siluman Laut Kidul dan Parang Siluman.
Adapun Dewi Mayangsari dan Resi Bajrasakti membawa dua losin orang perajurit pengawal, melakukan perjalanan ke Wura-wuri.
Pakem yang bernasib sial itu mereka bawa, menunggang kuda di tengah-tengah pasukan pengawal sehingga sama sekali tidak ada kesempatan baginya untuk melarikan diri.
Kedatangan Dewi Mayangsari dan Resi Bajrasakti disambut dengan gembira dan penuh hormat oleh Adipati Bhismaprabhawa dan permaisurinya, Nyi Dewi Durgakumala.
Mereka berdua disambut dengan pesta makan minum dan yang ikut menyambut adalah Tri Kala, yaitu Kala Muka, Kala Manik, dan Kaia Teja yang merupakan senopati-senopati tua dan setia dari Wura-wuri, juga Ki Gan-darwo yang merupakan senopati muda yang baru, juga diam-diam menjadi kekasih gelap Nyi Dewi Durgakumala.
Ketika Dewi Mayangsari menyatakan keinginannya untuk mengajak Wura-wuri bersatu menghadapi Kahuripan, Nyi Dewi Durgakumala mendahului suaminya berkata dengan gembira.
"Wah, tentu saja kami sambut baik uluran tangan kerja sama itu. Memang kami sendiri juga ingin membalas dendam kepada Kahuripan dan kalau kita bersatu padu, tentu Kahuripan akan dapat kita hancurkan."
"Kami akan mempersiapkan semua barisan kami!"
Kata Adipati Bhismaprabha-wa yang memang menjadi musuh bebuyutan Kahuripan.
"Heh-heh-heh, bagus, bagus! Keadaan kita akan menjadi semakin kuat karena Anakmas Adipati Linggawijaya juga sedang mengadakan hubungan kerja sama dengan Kadipaten Siluman Laut Kidul dan Kadipaten Parang Siluman."
Kata Resi Bajrasakti.
"Selain itu, kami masih membawa sebuah urusan yang juga amat penting dalam usaha kita melumpuhkan Kahuripan."
Kata Dewi Mayangsari. Ia ialu menceritakan tentang Pakem yang mereka tawan, tentang Dharmaguna dan Endang Sawitri, ayah ibu Nurseta yang kini tinggal di daerah Wurawuri.
"Andika semua tentu telah mendengar nama Nurseta sebagai seorang sakti mandraguna yang setia membela Kahurip-an."
Kata Dewi Mayangsari.
"Karena itu, kita harus menangkap suami isteri itu, menyandera mereka untuk memaksa Nurseta datang, lalu kita bunuh dia!"
"Wah, kami setuju sekalil"
Kata Nyi Dewi Durgakumala.
"Penangkapan itu harus segera dilaksanakan sebelum membocor dan mereka melarikan diri!"
Demikianlah, karena tidak ingin perangkapan itu gagal, Resi Bajrasaktl sendiri, dibantu Ki Gandarwo yang mewakili Wura-wuri, memimpin dua losin perajurit Wura-wurl dan Wengker pergi ke dusun Singojajar di kaki Gunung Semeru.
Rombongan ini membawa Pakem yang sudah terluka parah karena disiksa sebagai penunjuk jalan.
Mula-mula Pakem yang melihat niat jahat itu, berkeras tidak mau menunjukkan jalan, akan tetapi dengan kejam Resi Bajrasaktl menyiksanya sehingga keadaannya payah sekali.
Kedua tulang lengannya dipatahkan dan dia disiksa sehingga terpaksa dia mau menjadi penunjuk jalan.
Setelah tiba di dusun Singojajar, Pakem dilepas dan disuruh jalan lebih dulu.
Pakem menguatkan dirinya, berjalan setengah merangkak memasuki halaman rumah Ki Dharmaguna dan seperti telah kita ketahui, seteiah bertemu dengan Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri, Pakem terkulai roboh dan tewas.
Kini Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri ditawan, dipaksa memasuki kereta dan kereta kini dijalankan keluar dari dusun Singojajar, dikawal dua losin orang perajurlt, yang terdiri dari selosin perajurlt Wengker yang mengawal Dewi Mayangsari berkunjung ke Wura-wuri, dan selosin perajurit Wurawuri sendiri.
Suami isteri itu duduk bersanding di dalam kereta.
Mereka tidak dibeienggu, akan tetapi Ki Gandarwo duduk di depan mereka.
Laki-laki muda tampan gagah yang menjadi kekasih gelap Nyi Dewi Durgakumala ini memang seorang yang berwatak mata keranjang dan sombong.
Sebagai adik seperguruan Cekel Aksomolo, dia memang memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.
Karena diangkat menjadi senopati di Wura-wuri, dia tinggal di sana dan lebih lagi, dia dipilih Nyi Dewi Durgakumala sebagai kekasih gelapnya.
Tentu saja Nyi Durgakumala yang sejak mudanya menjadi seorang wanita berwatak iblis cabul, tidak puas dengan suaminya, Adipati Bhismaprabhawa yang usianya sudah lima puluh tahun lebih.
Maka ia mengambil Ki Gandarwo sebagai kekasihnya dan hal ini pun diketahui oleh Adipati Bhismaprabhawa.
Karena sudah mengenal benar siapa permaisuri barunya itu dan bagaimana wataknya, maka Adipati Wura-wuri ini pun tidak mengacuhkannya.
Dia memang mengambil Nyi Dewi Durgakumala sebagai permaisurinya bukan hanya karena wanita itu amat cantik melainkan terutama sekali karena dia hendak memanfaatkan kesaktian wanita itu untuk memperkuat Kerajaan Wura-wuri.
Adapun Ki Gandarwo yang baru berusia dua puluh delapan tahun, mau dijadikan kekasih permaisuri yang usianya sudah lima puluhan tahun hanya karena dia menginginkan kedudukan di Wura-wuri.
Tentu saja dalam hatinya, Ki Gandarwo tidak merasa puas dan karena wataknya memang mata keranjang, diam-diam dia selalu mencari wanita lain yang muda dan memang para wanita Wura-wuri banyak yang cantik manis.
Kini, duduk berhadapan dengan Nyi Endang Sawitri, timbul gairah berahi Ki Gandarwo.
Biarpun Nyi Endang Sawitri juga tidak muda benar, sudah empat puluh tahun usianya, akan tetapi la masih cantik menarik, bahkan dalam pandang mata laki-laki mata keranjang Ini, wanita yang kini duduk dalam kereta berhadapan dengannya, tampak jauh lebih menarik daripada Nyi Dewi Durgakumala yang sudah membosankan hatinya.
Memang demikianlah segala macam kesenangan, apa saja yang didapatkan dengan dasar nafsu, cepat atau lambat berakhir dengan kebosanan.
Duduk berhadapan dengan Nyi Endang Sawitri, walaupun wanita itu duduk bersanding dengan suaminya, tidak membuat Ki Gandarwo merasa rikuh (sungkan).
Dia tersenyum-senyum dan terkadang, kalau wanita itu memandang kepadanya, dia sengaja mengedipkan sebelah mata sebagai isarat, tanpa memperduiikan bahwa Ki Dharmaguna juga melihatnya!
Nyi Endang Sawitri merasa muak, akan tetapi karena ia maklum bahwa laki-laki kurang ajar di depannya ini amat digdaya dan ia bersama suaminya yang lemah sama sekali tidak akan mampu mengalahkannya, menahan rasa dongkolnya, bahkan ia menutupi perasaannya dan mengalihkan perhatian dengan bertanya.
"Kisanak, apakah maksud kalian mengatakan bahwa kalau kami ikut kalian, kami akan dapat bertemu dengan putera kami Nurseta?"
Mendengar pertanyaan ini, Ki Gandarwo tersenyum.
"Kalian ikut saja dan menaati semua perintah kami dan Nurseta pasti akan datang untuk menemui kalian."
"Tapi.... mengapa pembantu kami, Pakem, kalian bunuh?"
Nyi Endang Sawitri bertanya.
"Hemm, dia tadinya keras kepala, tidak mau menunjukkan di mana kalian tinggal. Terpaksa kami siksa agar dia mengaku."
Jawab Ki Gandarwo, sama sekali tidak merasa malu, bahkan tersenyum bangga menceritakan hal itu. Sambil menahan kemarahannya, dan untuk tetap mengalihkan perhatiannya, Nyi Endang Sawitri bertanya lagi.
"Apakah... apakah kalian ini mengenal anak kami Nurseta?"
"Kenal...., kenal....!"
Kata Ki Gandarwo, tersenyum mengejek.
"Sahabat kalian?"
"Ya, sahabat baik, ha-ha, . sahabat baik sekali!"
"Tapi.... tapi di mana anak kami Nurseta? Apa dia baik-baik saja?"
"Ha-ha, dia baik-baik saja, nanti juga kalian akan bertemu dengan dia!"
"Tapi.... siapakah Andika? Siapakah kalian ini?"
Tanya Nyi Endang Sawitri sambil mengerutkan alisnya karena Ki Gandarwo membungkuk sehingga wajah laki-laki itu mendekatinya.
"Mau tahu aku siapa? Aku adalah Raden Gandarwo, Senopati Muda dari Kerajaan Wura-wuri! Kalau kaiian ingin selamat dan ingin bertemu Nurseta, kalian harus menaati semua perintahku. Nah, perintahku yang pertama, Nyi Endang Sawitri, engkau pindahlah duduk di sini, di sampingku."
Sambil berkata demikian, Gandarwo menjulurkan tangan menangkap pergelangan tangan Endang Sawitri dan menariknya dengan sentakan kuat.
Tubuh wanita itu tertarik dan ia terjatuh keatas pangkuan Gandarwo.
"Lepaskan aku"
Endang Sawitri merenggutkan dirinya, namun Gandarwo merangkulnya.
"Jangan kurang ajar! Lepaskan Isteriku "
Ki Dharmaguna berkata dan berusaha menarik isterinya lepas dari rangkulan Gandarwo. Akan tetapi kaki Gandarwo menendang ke arah laki-laki yang hendak membela isterinya itu.
"Bukk....l"
Ki Dharmaguna terkena tendangan pada dadanya sehingga tubuhnya terlempar keluar dari dalam kereta yang masih berjalan perlahan "Kakangmas....!"
Endang Sawitri menjerit dan meronta dengan sekuatnya sehingga terlepas dari rangkulan Gandarwo.
Ia segera melompat keluar dari dalam kereta, lalu membantu suaminya bangkit berdiri.
Dharmaguna tidak terluka parah, hanya lecet-lecet karena terjatuh keluar kereta dan mukanya menyeringai karena perutnya terasa nyeri oleh tendangan tadi.
Kereta dihentikan dan rombongan itu menahan kuda mereka ketika melihat dua orang suami isteri itu keluar dari kereta.
Ki Gandarwo marah sekali.
Dia yang bertugas menjaga suami isteri itu di daiam kereta, tentu saja merasa malu kepada para perajurit, terutama kepada Resi Bajrasakti, karena suami isteri itu keluar dari kereta seolah dia tidak mampu menahan mereka.
Dia pun melompat keluar menghampiri Ki Dharmaguna yang bangkit dibantu isterinya.
Melihat Gandarwo menghampiri mereka, Nyi Endang Sawitri yang mengira suaminya akan diganggu, menyambut dengan serangan nekat!
Akan tetapi, pukulan tangan wanita itu ditangkis dan pertemuan kedua tangan itu membuat Nyi Endang Sawitri yang jauh kalah kuat itu terpelanting.
Pada saat itu, Ki Dharmaguna cepat menghampiri isterinya untuk menolongnya, akan tetapi Gandarwo yang sudah marah sekali, maju dan menampar dengan tangannya ke arah kepala Dharmaguna.
"Plakk!"
Tangan Gandarwo yang menampar itu bertemu dengan tangan Resi Bajrasakti yang menangkisnya.
"Anakmas Gandarwo, apakah Andika hendak merusak rencana kita? Suami Isterl ini harus ditawan, bukan dibunuh!"
Resi Bajrasaktl menegur dan Gandarwo menyadari kesalahannya yang tadi terdorong oleh kemarahan. Gandarwo mengangguk dengan muka berubah merah.
"Saya mengerti, Paman. Saya tidak ingin membunuhnya, hanya memberi hajaran agar mereka jangan banyak tingkah!"
Tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan dan tahu-tahu seorang gadis cantik telah berdiri menghalang di depan Gandarwo yang agaknya hendak memberi "hajaran"
Kepada suami isteri itu.
"Gandarwo keparat busuk! Di mana-mana engkau menyebar kejahatan!"
Bentak gadis itu.
"Puspa Dewi....!"
Gandarwo terkejut dan wajahnya berubah pucat karena gentar. Akan tetapi hanya (Lanjut ke
Jilid 13) Nurseta Satria Karang Tirta (seri ke 02 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 13 sebentar karena dia ingat bahwa dia ditemani Resi Bajrasaktl dan dua losin orang perajurit pengawal sehingga keberanian dan kesombongannya muncul dengan cepat, membuat mukanya menjadi merah karena marah Tanpa banyak cakap lagi dia menerjang maju, tangan kanannya yang disaluri tenaga sakti sepenuhnya menampar ke arah kepala Puspa Dewil Puspa Dewi sudah tahu akan kekuatan Gandarwo.
Senopati Muda Wura-wuri ini pernah mengeroyoknya bersama Cekel Aksomolo dan tiga orang senopati Wura-wuri lain, yaitu Tri Kala.
Maka, melihat serangan tangan Gandarwo yang menamparnya, ia menangkis dan sekaligus mendorong.
' "Wuuuuttt....
desss....!"
Tubuh Gandarwo terlempar ke belakang sekitar dua tombak dan jatuh terjengkang, terbanting ke atas tanah sampai terdengar suara berdebuk dan debu mengebul.
Dia bangkit duduk sambil mengelus pantatnya dan meringis kesakitan, malu, dan marah.
Resi Bajrasakti melompat ke depan dan berhadapan dengan Puspa Dewi.
"Heh-heh-heh!"
Kakek tinggi besar itu terkekeh sambil menatap wajah Puspa Dewi.
"Kiranya Andikal Bukankah Andika ini Puspa Dewi, Sekar Kedaton Wura-wuri, murid dan anak angkat Nyi Dewi Durgakumala permaisuri Wura-wuri? Andika yang mengkhianati Wura-wuri dan berbalik membantu keturunan Mataram, Kerajaan Kahuripan yang dipimpin Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama?"
"Resi Bajrasakti, ternyata sejak dulu sampai sekarang Andika tetap menjadi seorang datuk sesat yang jahat. Dulu Andika pernah menculik aku, dan sekarang Andika menculik Paman dan Bibi ini. Dari dulu sampai sekarang Andika tukang menculik orang, betapa rendahnya perbuatanmu. Aku bukan Sekar Kedaton Wura-wuri, juga bukan anak Dewi Durgakumala yang pernah menjadi guruku. Karena melihat Wura-wuri dan sekutunya semua jahat dan angkara-murka, maka aku tidak sudi membantu. Aku lebih suka membela Kahuripan, karena aku kawula Kahuripan dan lebih suka membantu Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang bijaksanai"
Selagi Resi Bajrasakti dan Puspa Dewi bicara, diam-diam Gandarwo menyuruh seorang perajurit untuk cepat pergi mencari bala bantuan dan empat orang lain yang memiliki kedigdayaan cukup, dia suruh menyergap dan menangkap Dharmaguna dan Endang Sawitri.
Kemudian, sambil mencabut pedangnya dan memberi aba-aba kepada Sembilan belas perajurlt yang lain dia berseru nyaring.
"Bunuh pengkhianat Wura-wuri ini"
Akan tetapi Resi Bajrasakti mempunyai pendapat lain.
Kalau dia dapatmenangkap hidup-hidup gadis ini dan menyerahkannya kepada Nyi Dewi Durgakumala, tentu permaisuri Wura-wuri itu akan senang sekali dan berterima kasih sehingga hal ini akan mempererat hubungan antara Wura-wuri dan Wengker.
"Anakmas Gandarwo, jangan bunuh Puspa Dewi. Kita memerlukan ia hidup-hidup!"
Katanya dengan suara yang berpengaruh.
Mendengar bentakan Itu, Ki Gandarwo teringat bahwa Puspa Dewi adalah murid dan anak angkat Permaisuri Dewi Durgakumala yang teiah memberontak terhadap Wurawuri, maka kalau dapat menangkapnya hidup-hidup dan menyeretnya ke depan kaki permaisuri itu, tentu akan menyenangkan hatinya.
Biar permaisuri sendiri yang akan menghukum gadis pengkhianat ini.
Maka dia pun memberi aba-aba baru.
'Tangkap pengkhianat ini hidup-hidup!"
Resi Bajrasakti mulai dengan serangan yang mengandung kekuatan sihir.
Dia membentak dan bentakan ini menggelegar, mengandung getaran yang amat kuat, yang khusus ditujukan kepada Puspa Dewi.
Datuk Wengker yang sakti mandraguna ini agaknya memandang rendah kepada Puspa Dewi karena menganggap bahwa gadis itu hanya murid Nyi Dewi Durgakumala.
Kalau gurunya hanya setingkat dengan dia, maka muridnya tentulah merupakan lawan yang lunak, begitu pikirnya maka ia menyerang dengan kekuatan sihirnya untuk melumpuhkan lawan.
"Puspa Dewi, menyerah dan berlututlah engkau!"
Akan tetapi Resi Bajrasakti salah perhitungan.
Nyi Dewi Durgakumaja telah menurunkan seluruh ilmunya kepada Puspa Dewi yang amat disayangnya dan karena Puspa Dewi berbadan bersih tidak seperti Nyi Dewi Durgakumala yang menjadi hamba nafsunya sendiri, juga karena Puspa Dewi jauh lebih muda.
Karena itu, tidaklah mengherankan apabila setelah tamat belajar dari Nyi Dewi Durgakumala, tingkat gadis Itu sudah melebihi tingkat gurunya.
Apalagi la bertemu dengan Sang Maha Resi Satyadharma dan digembleng oleh guru Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama ini selama tiga bulan.
Tentu saja tingkat kepandaian gadis Itu sudah melonjak tinggi, jauh melampaui tingkat Nyi Dewi Durgakumala.
Sebelum digembleng Maha Resi Satyadharma la telah memiliki kekuatan sihir dari ajaran Nyi Dewi Durgakumala yang dapat menandingi kekuatan sihir Resi Bajrasakti.
Maha Resi Satyadharma sama sekali tidak mengajarkan jlmu sihir yang dianggap ilmu yang berbahaya dan condong menyeret pemiliknya ke arah perbuatan jahat.
Dia hanya memberi pelajaran menghimpun tenaga sakti yang datang sebagai anugerah Sang Hyang Widhi dan kekuatan ini mampu menghalau segala macam kekuatan sihir yang.
menyerangnya.
Karena itu, ketika Resi Bajrasakti menyerangnya dengan sihir, Puspa Dewi sama sekali tidak terpengaruh.
Gelombang kekuatan sihir yang menerpanya itu tidak lebih dari angin semilir lalu saja.
Melihat serangan dengan sihir itu tidak mempengaruhi Puspa Dewi, Resi Bajrasakti menjadi penasaran.
Dia lalu mengerahkan Aji Panglimutan.
Dengan pengerahan aji kesaktian ini, biasanya dia dapat menghilang, atau tidak tampak oleh lawan sehingga dia akan dapat dengan mudah meringkus gadis itu.
Setelah mengerahkan Aji Panglimutan, Resi Bajrasakti lalu menubruk dan hendak meringkus tubuh Puspa Dewi.
Akan tetapi Puspa Dewi menggerakkan tangannya, menampar kakek yang maju hendak meringkusnya itu.
Ternyata Aji Panglimutan itu pun tidak dapat mempengaruhinya dan ia tetap dapat melihat lawan yang hendak meringkusnya itu, maka ia menyambut dengan tamparan.
Resi Bajrasakti terkejut dan cepat dia menggerakkan tangan menangkis tamparan yang mendatangkan angin pukulan dahsyat itu.
"Wuuuttt.... dukkk!"
Tubuh Resi Bajrasakti terhuyung karena ketika lengan mereka beradu, dia merasa betapa kuatnya tenaga yang keluar dari tangan gadis itu!
Melihat betapa Resi Bajrasakti terhuyung, Ki Gandarwo berseru kepada sembilan belas orang perajurit.
"Kepung, tangkap gadis ini!"
Puspa Dewi dikeroyok.
Tangan-tangan yang besar berbulu itu seolah berlomba untuk menangkap dan meringkusnya.
Puspa Dewi menggerakkan kaki tangannya dengan cepat sekali.
Tubuhnya berkelebatan seolah berubah menjadi bayang-bayang dan ke manapun kaki atau tangannya mencuat, tentu seorang pengeroyok telah dapat ia robohkan.
Teriakan demi teriakan terdengar disusul tubuh para pengeroyok berpelantingan.
Biarpun Puspa Dewi tidak memberi pukulan maut kepada mereka, namun mereka menderita patah tulang dan juga kehilangan nyali, tidak berani lagi berdiri dan hanya mendekam dan merintih memegangi bagian tubuh yang terkena tamparan atau tendangan yang dahsyat, bagaikan petir menyambar.
Dalam waktu singkat delapan orang perajurit telah roboh dan sisanya yang sebelas orang menjadi jerih untuk mendekati gadis sakti mandraguna itu.
Pada saat itu perajurit yang diutus Gandarwo mencari balabantuan sudah pergi jauh dan empat orang perajurit yang diutus "mengamankan"
Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri sudah cepat turun tangan meringkus suami isteri itu.
Percuma saja Nyi Endang Sawitri melawan.
Ia tidak dapat menandingi empat orang perajurit yang rata-rata memiliki tenaga kuat itu dan sebentar saja suami isteri itu telah dapat diringkus, dinaikkan kereta yang segera dilarikan cepat meninggalkan tempat itu.
Puspa Dewi yang sedang dikepung dan dikeroyok banyak orang tidak melihat hal ni.
Pula, ia memang tidak mengenal suami isteri itu.
Kalau tadi ia turun tangan, adalah karena melihat suami isteri itu diperlakukan kasar.
Ketika Kl Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri tinggal di Karang Tirta, ia sendiri masih kecil.
Bahkan ketika suami lsterl itu diam-diam meninggalkan Karang Tirta, la baru berusia sekitar enam atau tujuh tahun, sehingga tentu saja ia tidak mengenal suami isteri itu.
Sementara itu, Resi Bajrasakti dan Ki Gandarwo terkejut bukan main melihat betapa sebagian anak buah mereka berpelantingan dihajar tendangan dan tamparan gadis perkasa itu.
Merasa bahwa sekarang malah pihak mereka yang terancam bahaya, Resi Bajrasakti lalu berseru.
"Pergunakan senjata! Bunuh gadis ini!"
Dia sendiri sudah mencabut senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang cambuk bergagang gading.
"Tar-tar-tarr....ll"
Resi Bajrasakti memutar-mutar cambuk itu di atas kepalanya dan terdengar bunyi ledakan-ledakan ketika ujung cambuk itu melecut-lecut dan mengeluarkan asap.
Melihat rekannya sudah mengeluarkan senjata, Ki Gandarwo juga mencabut pedangnya.
Demikian pula, sisa perajurit yang masih ada sebelas orang itu mencabut senjata golok mereka dan mengepung Puspa Dewi.
Puspa Dewi maklum bahwa kini la menghadapi lawan yang cukup berat.
Kalau berkelahi dengan mereka hanya menggunakan tangan kosong, ia masih, dapat mengandaikan kecepatan gerakan dan kekuatan tenaga saktinya.
Akan tetapi semua orang itu memegang senjata, apalagi Resi Bajrasakti amat berbahaya dengan cambuknya dan Ki Gandarwo juga bukan lawan ringan kalau sudah menggunakan pedangnya.
Untuk dapat menjaga dan membela diri dengan baik, Puspa Dewi lalu menggerakkan tangannya ke arah punggung dan begitu ia mencabut, tampak sinar hitam dari pedang pusakanya Cadrasa Langking, pemberian guru pertamanya yang juga merupakan ibu angkatnya, yaitu Nyi Dewi Durgakumala.
Kini terjadilah perkelahian hebat.
Setelah mereka semua memegang golok, sebelas orang perajurit pengawal itu menjadi berani dan mereka mengepung dan menyerang Puspa Dewi secara bertubi-tubi dengan cara menyerang lalu melompat menjauh.
Yang bertanding dengan seru melawan Puspa Dewi adalah Resi Bajrasakti dan Ki Gandarwo.
Resi Bajrasakti sekarang baru menyadari bahwa Puspa Dewi telah menjadi seorang wanita muda yang luar biasa, sakti mandraguna dan pemberani.
Karena sekarang dia melihat betapa gadis Ini harus dirobohkan kalau terpaksa dibunuh, maka selain menggunakan cambuknya untuk menyerang, dia juga mempergunakan berbagai aji kesaktiannya untuk merobohkan gadis yang amat tangguh itu.
Mula-mula dia menyelingi serangan cambuknya dengan menyambitkan senjata rahasia pasir sakti Bramara Sewu.
Pasir itu seolah berubah menjadi sekawanan lebah yang menyerang seluruh tubuh bagian depan Puspa Dewi.
Akan tetapi, pedang Candrasa Langlang yang membentuk perisai gulungan sinar hitam meruntuhkan semua pasir sakti itu.
Melihat serangan pasir saktinya gagal, berturut-turut Resi Bajrasakti mengerah-kan berbagal aji pukulannya yang ampuh.
Dengan tangan kirinya dia menyelingi sambaran cambuknya dengan A}1 Wlsa Langking.
Tangannya mengeluarkan hawa pukulan yang mengandung racun hitam, namun uap hitam yang menyambar ke arah Puspa Dewi Itu ambyar (pecah berantakan) ketika disambar hawa pukulan tangan kiri Puspa Dewi.
Berturut-turut Resi Bajrasakti menyerang dengan AJI Pukulan Gelap Sewu dan Sihung Naga, namun semua Itu tidak berhasil karena dapat dihadang oleh dorongan tangan kiri Puspa Dewi yang mengandung Aji Guntur Genl yang sudah dipoles gemblengan Maha Resi Satyadharma.
Akhirnya, Resi Bajrasakti mencurahkan semua perhatian dan mengerahkan.
seluruh tenaganya untuk menyerang dengan cambuknya yang memainkan Aji Pecut Tatit Geni.
Ki Gandarwo juga mengirim serangan-serangan maut dengan pedangnya, dibantu sebelas orang perajurit dengan golok mereka.
Delapan orang perajurit yang terluka dan tidak mampu mengeroyok lagi kini sudah menjauhi tempat perkelahian.
Dikeroyok demikian banyaknya orang, Puspa Dewi tidak merasa kerepotan.
Akan tetapi karena ia tidak ingin membunuh orang, maka pedangnya hanya ia pergunakan untuk melindungi tubuhnya dari hujan serangan senjata itu.
Ia bagaikan seekor harimau betina yang dikeroyok segerombolan srigala.
Sementara itu, ketika kereta yang membawa Dharmaguna dan Endang Sawitri belum jauh dilarikan empat orang perajurit Wura-wuri, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tampaklah seorang pemuda menghadang di depan kereta.
Dua ekor kuda penarik kereta terkejut dan meringkik sambil mengangkat kedua kaki depan ke atas, akan tetapi pemuda itu dengan sigap menangkap kendali dua ekor kuda dan menariknya ke bawah.
Dua ekor kuda itu berdiri, tidak mampu meronta lagi, tubuh mereka gemetaran seperti ketakutan.
Perajurit yang menjadi kusir terkejut dan segera membentak marah.
"Hei, siapa engkau berani menahan kuda kami? Lepaskan kuda kami, atau akan kuhancurkan kepalamu dengan cambuk ini!"
Pemuda itu bukan lain adalah Nurseta.
Seperti kita ketahui, Nurseta melakukan perjalanan menuju ke dusun Singojajar untuk mencari orang tuanya.
Setelah tiba di Singojajar, dia mendengar bahwa baru saja Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri diculik pasukan Wura-wuri, dan pembantu mereka bernama Pakem terbunuh.
Mendengar Ini, Nurseta cepat berlari melakukan pengejaran.
Dia melihat seorang gadis perkasa yang dikenalnya sebagai Puspa Dewi sedang dikeroyok banyak orang.
Ketika dia terjun ke dalam pertempuran hendak membantu, Puspa Dewi berseru.
"Jangan bantu aku, cepat tolong mereka yang dilarikan dengan kereta!"
Mendengar ini, Nurseta meninggalkan tempat itu dan melakukan pengejaran.
Dia tadi di Singojajar memang mendengar bahwa suami isteri itu diculik dan dilarikan dengan sebuah kereta.
Karena dia melakukan pengejaran dengan Aji Bayu Sakti, maka sebentar saja dia sudah dapat menyusul dan melompat ke depan kereta menahan dua ekor kuda penariknya.
Ketika kusir kereta itu membentak dan mengancamnya dengan cambuk, Nurseta berkata.
"Turunlah engkau dari kereta! Kalian menculik orang-orang yang tidak bersalah!"
Perajurit itu marah dan pada saat itu, tiga orang perajurit lain yang tadi berada dalam kereta sudah berlompatan keluar.
Perajurit yang menjadi kusir menggerakkan cambuknya, dipukulkan ke arah pemuda yang berada di depan kereta.
"Tarrr...!"
Ujung cambuk menyambar ke arah kepala Nurseta.
Pemuda itu dengan tenang menangkap ujung cambuk dan dengan sentakan kuat dia membuat kusir yang memegang cambuk tertarik dan terjungkal dari atas kereta, jatuh berdebuk di atas tanah.
Kusir itu menyeringai kesakitan karena tulang pinggulnya terasa nyeri sekali.
Dharmaguna dan Endang Sawitri menguak tirai kereta dan memandang keluar, heran, kagum dan juga khawatir melihat betapa tiga orang perajurit itu dengan golok di tangan kini menerjang dan menyerang pemuda itu dengan buas.
Akan tetapi tubuh pemuda itu berkelebatan dengan gesit bagaikan seekor burung garuda menyambar-nyambar dan berturut-turut tiga orang perajurit itu berpeiantingan dan mengaduh-aduh tanpa mampu bangkit kembali.
Nurseta menghampiri kereta, akan tetapi Endang Sawitri berkata.
"Anakmas, cepat Andika bantu gadis yang tadi menolong kami karena ia dikeroyok banyak orang jahat."
"Tapi...."
Nurseta menengok ke arah tiga orang yang telah dirobohkannya itu.
"Jangan khawatir, mereka bertiga tidak akan dapat mengganggu kami lagi!"
Kata Endang Sawitri dan dengan cekatan ia lalu mengambil sebatang golok milik perajurit yang tadi terlepas dari tangannya.
Dengan golok di tangan, wanita itu menghampiri tiga orang perajurit dan siap untuk menyerang kalau mereka berani bangkit berdiri.
Melihat gerakan wanita itu, maklumlah Nurseta bahwa ia boleh diandalkan.
Dia masih sangsi walaupun hatinya menduga bahwa mereka adalah ayah ibunya.
Dia teringat akan keadaan Puspa Dewi yang dikeroyok banyak orang tadi, maka dia lalu berlari cepat ke tempat pertempuran tadi.
Setelah dekat dia melihat kenyataan bahwa, gadis itu hanya mempertahankan dan melindungi diri saja.
Agaknya Puspa Dewi tidak ingin membunuh para pengeroyoknya.
Hal ini membuat Nurseta merasa heran.
Dahulu dia mengenal Puspa Dewi sebagai seorang gadis yang baik, akan tetapi berwatak keras.
Mengapa sekarang, gadis itu seolah tidak mau membunuh para pengeroyoknya?
Apakah karena para pengeroyoknya Itu orang Wura-wuri?
Akan tetapi Nurseta mengenal Resi Bajrasakti dan dia semakin heran.
Resi Bajrasakti adalah tokoh Wengker.
Melihat Puspa Dewi sibuk juga menghadapi serangan dua puluh satu orang itu, terutama serangan cambuk Resi Bajrasakti dan pedang di tangan Gandarwo, Nurseta tidak sabar lagi dan dia segera menerjang para pengeroyok yang berada di bagian luar pengepungan Itu.
Begitu kedua tangannya digerakkan menampar ke kanan kiri, empat orang pengeroyok terpelanting roboh.
Tentu saja pengeroyokan itu menjadi kacau dan Resi Bajrasakti dan Gandarwo terkejut.
Ki Gandarwo yang memang memiliki watak jumawa dan selalu memandang rendah orang lain, menjadi marah dan dia melompat ke arah Nurseta sambil menggerakkan pedangnya, menyerang dahsyat.
Pedangnya menyambar ke arah leher Nurseta yang tidak memegang senjata.
Melihat sambaran pedang, Nurseta dengan tenang menyambut dengan ayunan tangan kanannya menyambut.
Tangannya menyambar ke depan, dengan miring seperti dibacokkan.
"Wuuttt.... singgg.... krakkkl"
Pedang itu patah menjadi tiga potong dan Ki Gandarwo terhuyung ke belakang, mukanya pucat.
"Kita pergi....!"
Tiba-tiba Resi Bajrasakti berseru dan Ki Gandarwo cepat melompat dan lari mengejar kawannya yang telah melarikan diri lebih dulu itu.
Sisa anak buah mereka juga melarikan diri.
Mereka berlompatan di atas kuda dan melarikan diri secepatnya, meninggalkan belasan ekor kuda yang tadi ditunggangi para perajurit yang kini menderita patah tulang dan masih berada di situ.
"Nurseta! Bagaimana dengan suami isteri yang mereka tangkap tadi?"
Tanya Puspa Dewi.
"Mereka di sana!"
Kata Nurseta sambil lari menuju ke tempat di mana kereta dan suami isteri tadi ditinggalkan.
Puspa Dewi melompat dan mengejar.
Sebentar saja mereka berdua tiba di tempat Itu dan ternyata empat orang perajurit yang tadi dirobohkan Nurseta telah pergi.
Suami isteri itu masih berada di dekat kereta.
Tadi ketika Nurseta menolong mereka dan pemuda itu lalu berlari cepat untuk membantu Puspa Dewi, Dharmaguna dan Endang Sawitri yang menjaga empat orang perajurit yang terluka dengan golok di tangan saling pandang dan wajah mereka membayangkan ketegangan.
Empat orang perajurit itu ketakutan karena mereka telah dalam keadaan terluka dan Endang Sawitri kini memegang golok.
Selain itu mereka sudah merasa gentar terhadap pemuda yang sakti tadi.
Maka perlahan-lahan mereka merangkak menjauhi suami isteri itu, kemudian bangkit dan saling bantu meninggalkan tempat itu.
Endang Sawitri mendiamkan saja karena ia pun hanya berjaga-jaga kalau mereka itu hendak mengganggu la dan suaminya.
"Kakangmas, apakah engkau melihat apa yang kulihat tadi?"
Tanya Endang Sawitri kepada suaminya.
"Melihat apa?"
"Pemuda yang menolong kita tadi....!"
Mereka saling pandang dan pandang mata mereka yang mewakili suara hati mereka. Dharmaguna mengangguk.
"Rasanya aku mengenal pemuda itu, Diajeng, wajahnya tidak asing bagiku."
"Ah, Kakangmas! Biarpun dia seorang pemuda dewasa yang sakti mandaraguna, akan tetapi matanya itu....! Mata itu akan selalu kukenal, Kakangmas, mata.... Anak kita"
"Nurseta? Dia.... Nurseta....?"
Endang Sawitri mengangguk.
"Tapi...., mengapa dia diam saja dan meninggalkan kita?"
"Gadis penolong kita itu perlu dibantu, Kakangmas. Selain itu.... aku pun merasa bahwa sudah sepatutnya dia tidak mempedulikan kita.... ah, kalau kuingat betapa kita telah meninggalkan anak. kita di Karang Tirta...."
Melihat isterinya menangis, Dharmaguna menghiburnya.
"Akan tetapi, engkau tahu, Diajeng bahwa kita meninggalkan dia demi kebaikan dia sendiri. Kita tidak ingin anak kita ikut menjadi buruan dan terancam keselamatannya. Akan tetapi, kalau benar dugaanmu bahwa dia itu Nurseta, bagaimana mungkin dia menjadi seorang yang demikian digdaya?"
Endang Sawitri menghapus air matanya dan menghela napas panjang.
"Mungkin aku salah duga dan dia bukan Anak kita, Kakangmas.... ah, itu dia datang bersama gadis panolong kita tadi."
Dharmaguna menoleh dan benar saja.
Dia melihat pemuda dan gadis yang menolong mereka tadi datang dengan cepat sekali.
Seperti terbang saja mereka itu datang dan sebentar kemudian sudah berada di depan mereka.
Nurseta mengamati wajah suami isteri itu, jantungnya berdebar penuh ketegangan.
Tadi pun, sekali pandang saja dia tidak pangling (lupa).
Mereka inilah Ayah Ibunya!
Memang agak lebih tua, namun dia mengenal betul wajah mereka.
Terutama Ibunya!
Memang, wajah orang dewasa tidak banyak berubah dua belas tahun kemudian, akan tetapi dia yang ditinggalkan mereka dalam usia sepuluh tahun, masih seorang kanak-kanak, kini menjadi seorang pemuda dewasa tentu banyak berubah.
Kalau tadi setelah menolong suami isteri itu dari empat orang perajurit yang melarikan mereka lalu dia meninggalkan mereka adalah karena dia ingin membantu Puspa Dewi dan juga dia merasa terlalu tegang untuk segera memperkenalkan diri kepada orang tuanya.
Empat orang itu sejenak saling pandang seperti terpukau dan tidak mengeluarkan kata-kata.
Akhirnya Endang Sawitri mendahului berkata kepada dua orang muda itu.
"Kami berdua berterima kasih kepada Nakayu dan Nakmas yang telah menolong dan menyelamatkan kami. Budi Andika berdua sungguh besar dan selamanya tidak akan pernah kami lupakan."
"Ah, tidak perlu berterima kasih, Bibi. Sudah sewajarnya kalau saya menghajar orang-orang jahat yang bertindak sewenang-wenang itu. Akan tetapi siapakah Paman berdua dan mengapa pula menjadi tawanan orang-orang jahat tadi?"kata Puspa Dewi. Sejak tadi Nurseta semakin yakin bahwa suami isteri itu adalah Ayah Ibunya. Suara Ibunya masih seperti dulu, bahasanya halus dan suaranya lembut. Hatinya tergetar dan terharu sehingga dia merasa betapa kedua matanya panas dan berair. Suaranya terdengar agak gemetar ketika dia menyambung ucapan Puspa Dewi.
"Apakah Andika berdua yang tinggal di dusun Singojajar, bernama KI Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri?' "Benar.... benar sekali....! Anakmas.... siapakah....!"
Nyi Endang Sawitri bertanya dengan suara gemetar dan la menatap wajah Nurseta dengan penuh selidik. Sambil menahan getaran perasaannya, Nurseta menatap wajah wanita itu lalu berkata.
"Benar-benarkah Andika tidak mengenal saya?"
Endang Sawitri terbelalak, mengembangkan kedua lengannya dan melangkah maju mendekati Nurseta.
"Engkau.... engkau.... Nurseta....??"
Nurseta tidak tega membiarkan Ibunya meragu lebih lama lagi. Hatinya sendiri merasa sangat terharu dan dia pun menjatuhkan dirinya berlutut menyembah.
"Kanjeng Ibu....!"
"Duh Gusti.... Hyang Widhi.... engkau benar-benar Nurseta! Nurseta.... Anakku. ..."
Nyi Endang Sawitri menjerit dan menubruk pemuda Itu, merangkul dan terkulai dalam rangkulan Nurseta, menangis tersedu-sedu. KI Dharmaguna juga menghampiri, berlutut merangkul Nurseta.
"Nurseta.... aduh, Anakku.... maafkan Ayah Ibumu yang telah meninggalkanmu hidup seorang diri ketika engkau masih kecil...."
Dharmaguna juga menitikkan air mata karena merasa menyesal dan berdosa.
"Angger.... Nurseta... Ibumu minta maaf.... kami berdua telah bertindak kejam.... kami meninggalkanmu seorang diri di Karang Tirta.... ketika engkau.... baru berusia sepuluh tahun...."
"Ayah dan Ibu tidak bersalah. Kepergian itu justru menyelamatkan saya.... agar saya tidak terbawa-bawa menjadi buronan."
"Ah, engkau sudah tahu, Anakku....?"
"Saya sudah mendengar semua dari Eyang Senopati Sindukerta, Ibu."
"Aduh...., engkau sudah bertemu dengan Kanjeng Rama? Nurseta, bagaimana.... kabarnya dengan Kanjeng Ibu....?"
"Eyang Senopati berdua sehat-sehat saja, Ibu. Hanya Eyang Puteri selalu berduka dan sering menangis karena merindukan Ibu...."
"Aduh.... aku anak durhaka.... anak tidak berbakti...."
Nyi Endang Sawitri menangis sesenggukan. Akan tetapi ia menahan tangisnya ketika dihibur Nurseta.
"Bagaimana dengan Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu? Ceritakan tentang mereka, Nurseta....!"
Nyi Endang Sawitri mendesak puteranya. Akan tetapi Nurseta membimbing ayah ibunya untuk bangkit berdiri dan berkata.
"Nanti dulu, Ayah dan Ibu. Kita tidak boleh melupakan gadis ini yang tadi telah menyelamatkan Ayah dan Ibu."
Nurseta mengingatkan.
Suami isteri itu baru menyadari bahwa tadi mereka sama sekali melupakan gadis yang telah menyelamatkan nyawa mereka itu.
Nyi Endang Sawitri lalu menghampiri Puspa Dewi dan memegang tangan gadis itu.
"Ah, maafkan kami, Nakayu. Saking gembira kami bertemu dengan Anak kami yang selama belasan tahun berpisah, baru sekarang dapat saling berjumpa. Maafkan kami telah melupakan Andikal"
Sejak tadi Puspa Dewi menyaksikan pertemuan mengharukan itu dan ia teringat akan pertemuannya sendiri dengan ayah kandungya. Ia ikut merasa terharu.
"Tidak mengapa. Bibi. Aku ikut merasa gembira melihat Anak dan orang tuanya dapat bertemu kembali."
"Ayah dan Ibu tentu mengenal gadis ini. Ia adalah puteri Bibi Lasmi yang dulu juga tinggal di Karang Tirta."
Kata Nurseta memperkenalkan.
"Aehh.... Nyi Lasmi janda yang cantik itu? Kalau begitu Andika ini.... eh, kalau tidak salah namamu Puspa Dewi, bukan?"
Kata Nyi Endang Sawitri yang dulu kenal baik dengan Nyi Lasmi.
"Benar, Bibi."
Kata Puspa Dewi.
"Ahh, tentu saja kami lupa. Engkau kini telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Ya, engkau mirip sekali dengan Nyi Lasmi! Sekarang aku ingat. Engkau telah menjadi seorang gadis cantik jelita, sakti mandaraguna dan baik budi!"
Nyi Endang Sawitri memandang kagum.
"Paman Dharmaguna, Bibi Endang Sawitri, dan engkau Nurseta, aku tidak mau mengganggu kalian keluarga yang baru saja berjumpa dan berkumpul kembali. Aku ingin melanjutkan perjalananku. Tadi secara kebetulan saja aku melihat Paman dan Bibi dianiaya penjahat-penjahat itu maka aku turun tangan menolong."
"Puspa Dewi, engkau hendak pergi ke manakah? Engkau berada di daerah Wura-wuri, apakah engkau... kini telah kembali ke Wura-wuri sebagai Sekar Kedaton (Bunga Istana)?"
Tanya Nurseta sambil mengerutkan alisnya.
"Hemm, jangan menyangka dengan ngawur (sembarangan), Nurseta! Aku sudah tidak mempunyai hubungan apa pun dengan Wura-wuril Aku sedang mencari Adikku. Sudahlah, aku pergi. Paman dan Bibi, mohon pamit!"
Setelah berkata demikian, Puspa Dewi meloncat jauh pergi dengan cepat seperti terbang.
"Gadis yang hebat!"
Endang Sawitri memuji kagum.
"Engkau mengenalnya dengan baik, Nurseta?"
Nurseta mengangguk. Dia masih merasa heran mendengar Puspa Dewi mengatakan tidak mempunyai hubungan apa pun dengan Wura-wuri! Padahal Dewi Durgakumala amat saying padanya! "Ah, kalau saja...."
Endang Sawitri tidak melanjutkan.
"Mengapa, Ibu?"
Nurseta bertanya. Sebetulnya, Endang Sawitri hendak mengatakan "Kalau saja Puspa Dewi dapat menjadi isterimu!"
Akan tetapi ia menahan diri dan menjawab.
"Sekarang ceritakan tentang Eyang Kakung dan Eyang Puteri, Nurseta."
"Ya, ceritakanlah, Nurseta. Apakah beliau masih marah kepada kami?"
Tanya puia Dharmaguna.
"Sama sekali tidak, Ayah dan Ibu. Agaknya terjadi kesalah pahaman antara Ayah dan Ibu dan Eyang Senopati. Beliau memang selalu mengerahkan perajurit untuk mencari Ayah Ibu, akan tetapi sama sekali bukan untuk menghukum. Sudah lama beliau memaafkan Ayah Ibu dan merasa kehilangan, merasa rindu dan Ingin mengajak Ayah Ibu pulang dan tinggal di Kahurlpan. Bahkan Eyang Puterl selalu menangis kalau teringat kepada Ibu."
"Aduh, Kanjeng Ibu.... ampunkan saya ...."
Nyi Endang Sawitri menangis.
"Ah, siapa mengira bahwa kami dicari untuk diajak pulang dan dimaafkan?"
Kata Ki Dharmaguna.
"Kami selalu melarikan diri karena takut kalau dipaksa saling berpisah dan mendapatkan hukuman. Kalau saja kami tahu, tentu kami tidak akan selalu berpindah-pindah tempat dan melarikan diri, bahkan terpaksa melarikan diri dan tinggal di dusun Singojajar yang termasuk wilayah Wura-wuri untuk menghindarkan pengejaran."
"Sudahlah, Ayah dan Ibu, hal yang sudah lalu tidak perlu disesalkan lagi. Sekarang semua penderitaan itu telah berakhir, baik penderitaan bagi Ayah Ibu maupun bagi Eyang Kakung dan Eyang Puteri. Mari Ayah Ibu saya antarkan pulang ke Kahuripan di mana Eyang Senopati sudah menunggu dengan penuh kerinduan. Kita pergunakan kereta Ini."
Dengan wajah berseri penuh kebahagiaan dan harapan, suami isteri itu naik ke dalam kereta dan Nurseta mengusirinya.
Kereta dilarikan menuju Kahuripan.
Di sepanjang perjalanan, Ki Dharmaguna dan Nyi Endang Sawitri menghujani Nurseta dengan pertanyaan.
Terpaksa Nurseta menceritakan semua pengalamannya sejak dia ditinggalkan mereka di Karang Tirta kurang lebih dua belas tahun yang lalu.
Betapa dia menjadi kuli dan tukang kuda bekerja pada Ki Lurah Suramenggala sampai pada usia enam belas tahun dia diambil murid mendiang Empu Dewamur-ti, kemudian digembleng Bhagawan Eka-denta selama beberapa bulan.
Dia menceritakan pengalamannya ketika membela Kahuripan dari ancaman pemberontakan Pangeran Hendratama yang didukung oleh empat Kerajaan Wura-wuri, Wengker, Parang Siluman, dan Siluman Laut Kidul.
Tentang pertemuannya dengan Senopati Sindukerta dan akhirnya dia mencari keterangan ke Karang Tirta.
"Saya mencari keterangan kepada Ki Tejomoyo yang menceritakan bahwa belum lama ini Ayah Ibu menyuruh seorang pembantu untuk mencari keterangan tentang diri saya kepada KI Tejomoyo pula. Dialah yang memberi tahu kepada saya bahwa Ayah Ibu kini tinggal di dusun Singojajar, maka saya lalu pergi ke dusun itu. Di sana saya mendapat keterangan bahwa Ayah Ibu dilarikan pasukan Wura-wuri dan Ki Pakem, pembantu Ayah Ibu, terbunuh. Maka saya lalu cepat melakukan pengejaran dan kita beruntung bahwa Puspa Dewi sudah lebih dulu menolong Ayah Ibu sehingga memudahkan saya untuk menyelamatkan Ayah Ibu dari tangan mereka."
Suami isteri itu merasa kagum mendengar pengalaman anak tunggal mereka.
Mereka menghaturkan puji syukur kepada Sang Hyang Widhi yang telah mengakhiri semua penderitaan mereka dengan pertemuan yang membahagiakan ini, apalagi mendengar bahwa Senopati Sindukerta berdua telah lama memaafkan mereka dan bahkan merindukan mereka untuk dapat berkumpul kembali di Kahurlpan.
Kereta dijalankan cepat dan langsung menuju Kahuripan.
Ketika suami Isteri itu mengajak Nurseta singgah dulu di dusun Singojajar, pemuda ini tidak setuju, mengatakan bahwa mungkin kini pasukan Wura-wuri sudah menghadang di sana dan kalau mereka ke sana hanya akan menghadapi bahaya.
Pula, mereka akan kembali ke gedung Senopati Sindukerta di mana segala kebutuhan mereka telah tersedia, maka semua harta milik mereka di Singojajar yang tidak seberapa Itu tidak perlu dibawa.
Setelah memasuki kota raja Kahuripan, Nurseta menjalankan keretanya langsung menuju gedung tempat tinggal kakeknya.
Suami isteri yang berada di dalam kereta itu merasa betapa jantung mereka berdebar tegang.
Mulut terasa kering.
Ketegangan dan keharuan membuat tubuh mereka rasanya gemetar, apalagi ketika kereta memasuki halaman gedung yang luas itu.
Bahkan Endang Sawitri sudah tidak dapat menahan turunnya air matanya melihat halaman gedung yang amat dikenalnya itu, tempat di mana ia dilahirkan dan dibesarkan!
Ketika Nurseta menghentikan kereta di depan pendopo, beberapa orang perajurit penjaga dan pelayan segera menyambut.
Ada yang memegangi kendali kuda, dan ada pula yang segera masuk untuk melapor kepada Senopati Sepuh Sinduker-ta.
Nurseta menggandeng ibunya yang tampak lemas, bersama ayahnya mendaki anak tangga pendopo yang luas.
Lalu terdengar jerit tangis dari dalam gedung dan Senopati Sindukerta bersama isterinya tampak keluar dan berlari-lari menyambut.
"Endang.... ah, Endang anakku....!"
"Kanjeng Ibu....!"
Dua orang wanita itu sudah saling tubruk, saling rangkul sambil bertangisan.
"Kanjeng Ibu.... ah, Kanjeng Ibu....!"
Endang Sawitri menjerit ketika tiba-tiba ibunya terkulai lemas dalam rangkulannya.
Wanita tua itu jatuh pingsan saking hebatnya guncangan hati yang bahagia dan terharu itu.
Nurseta segera memondong tubuh neneknya dan mereka semua memasuki gedung.
Sebentar saja isteri Senopati Sindukerta siuman kembali dan ia menangis saking gembiranya, menciumi pu-terinya.
Endang Sawitri bersama Dharmaguna lalu berlutut merangkul kaki dan menyembah kepada Senopati Sindukerta dan isterinya.
"Kanjeng Rama, Kanjeng Ibu, hamba Dharmaguna mohon beribu ampun telah membuat Paduka berdua mengalami kedukaan."
Kata Dharmaguna. Ki Senopati dan Nyi Senopati mengangkat bangun suami Isteri itu.
"Sudahlah, sudah lama kami maafkan kalian. Kami sendiri juga merasa bersalah telah membuat kailan menderita. Untung Cucu kami Nurseta ini datang mencari kami. Kami sudah hampir putus asa untuk dapat berkumpul kembali dengan kalian."
Seluruh penghuni gedung senopaten itu, termasuk para perajurit pengawal dan para abdi, bergembira.
Senopati Sindukerta bahkan mengadakan pesta sekeluarga dan para pembantu untuk menyambut kembalinya puteri dan mantu mereka.
Sambil berpesta, Nurseta harus menceritakan pengalamannya ketika menemukan orang tuanya.
Kemudian Dharmaguna dan Endang Sawitri mendapat giliran menceritakan semua pengalaman mereka selama dua puluh tiga tahun menjadi orang-orang pelarian Itu.
Untuk melepaskan kerinduan, mulai hari itu, Senopati Sindu-kerta melarang puteri, mantu, dan cucunya pergi meninggalkan dia dan isterinya.
Setiap hari mereka berbincang-bincang dan tiada habisnya pengalaman yang dapat diceritakan.
Nurseta sendiri baru sekali ini merasakan kebahagiaan berkumpul dengan ayah, ibu, kakek, dan neneknya.
Ketika mendengar akan pertolongan yang diberikan Puspa Dewi kepada puteri dan mantunya, Senopati Sindukerta berkata.
"Ah, gadis itu memang hebat! Bahkan Gusti Sinuhun dan Gusti Patih sendiri berkenan menerimanya dan Sang Prabu Erlangga berkenan memberi hadiah patrem pusaka Sang Cundrik Arum kepada Puspa Dewi! Dan ternyata bahwa Puspa Dewi adalah puteri kandung Anakmas Senopati Muda Yudajaya, putera mantu Adi Tumenggung Jayatanu sahabat lamakul"
"Akan tetapi, Kanjeng Rama, bukankah Puspa Dewi itu puteri Nyi Lasmi, janda yang dulu tinggal di Karang Tirta?"
Tanya Endang Sawitri dengan heran.
"Benar!"
Senopati Sindukerta mengangguk-angguk.
"Nyi Lasmi itu adalah isteri pertama Anakmas Senopati Yudajaya yang dulu entah mengapa berpisah dari suaminya. Akan tetapi belum lama ini ia sudah diboyong kembali ke Tu-menggungan dimana Senopati Yudajaya tinggal bersama isterinya yang kedua, yaitu puteri Adi Tumenggung Oayatanu."
"Ah, kalau begitu-sekali waktu saya ingin mengunjungi Nyi Lasmi, karena dulu saya pernah tinggal sedusun dan mengenalnya dengan baik."
Kata Endang Sawitri.
Dua pekan kemudian, keinginan Endang Sawitri terkabul.
Bahkan Senopati Sindukerta sendiri yang mengantar Endang Sawitri bersama suaminya, berkunjung ke gedung tumenggungan.
Nurseta tidak ikut pergi karena pemuda ini selain tidak mempunyai urusan dengan keluarga Tumenggung Jayatanu, juga ingin berjalan-jalan di kota raja.
Kunjungan Senopati Sindukerta bersama anak dan mantunya menggunakan kereta itu disambut oleh sahabatnya, Tumenggung Jayatanu sekeluarga dengan gembira sekali.
Memang dua orang tua Ini merupakan panglima-panglima yang setia dan besar jasanya, dan di antara mereka terdapat tali persahabatan yang karib.
"Kakang Senopati Sindukerta, selamat datang! Kami merasa terhormat sekali menerima kunjungan Andika!"
Sambut Tumenggung Jayatanu sambil mempersilakan tiga orang tamunya masuk ke ruangan tamu yang luas.
"Adi Tumenggung Jayatanu, aku ingin menguji kekuatan ingatan dan ketajaman pandanganmu. Nah, coba lihat siapa wanita yang kuajak datang berkunjung ini!"
Kata Senopati Sindukerta sambil menunjuk kepada Endang Sawitri yang tersenyum-senyum dan duduk dengan anggunnya di samping suaminya.
Tumenggung Jayatanu mengamati wajah Endang Sawitri, tampak ragu.
Melihat ini, Endang Sawitri merasa kasihan dan membantu orang tua yang dulu sudah dikenalnya dengan baik sebagai sahabat karib ayahnya.
"Paman Tumenggung, benarkah Paman telah lupa kepada saya?"
Melihat senyum itu, Tumenggung Jayatanu melebarkan matanya dan menepuk dahinya.
"Ah, Endang Sawitri! Bukankah engkau Endang?"
"Benar, Paman."
"Ha-ha-ha, kiranya engkau sudah pulang! Wah, Ayah Ibumu setengah mati mengharapkan engkau pulang! Sukurlah, aku merasa ikut berbahagia dengan kepulanganmu!"
"Adi Tumenggung, ini adalah mantu kami, Dharmaguna."
Senopati Sindukerta memperkenalkan mantunya, Dharmaguna lalu merangkap kedua tangan ke depan hidung sebagal sembah penghormatan.
"wah, Anakmas Dharmaguna, senang dapat berkenalan dengan Andika. Andika berdua Endang adalah orang tua yang berbahagia, mempunyai putera seperti Nurseta yang sakti mandraguna dan berjasa besar terhadap Kahuripan! Kalau begitu, sebentar, aku harus mengundang keluargaku untuk bertemu dan berkenalan dengan kalian Kami sekeluarga juga mempunyai kejutan untukmu, Kakang Senopati I"
"Benarkah?"
Senopati tersenyum. Sebetulnya dia telah mendengar akan "kejutan"
Yang hendak dipamerkan sahabatnya itu, .ialah bahwa Puspa Dewi yang terkenal itu adalah cucunya, walaupun hanya cucu tiri dan bahwa Ibu kandung Puspa Dewi, Nyi Lasmi, kini telah tinggal bersama keluarganya di tumenggungan itu.
Akan tetapi dia pura-pura tidak tahu agar tidak mengurangi rasa bangga dan gembira sahabatnya.
Tumenggung Jayatanu masuk ke dalam dan tak lama kemudian dia keluar lagi diikuti Nyi Tumenggung, Senopati Yudajaya dan dua orang isterinya, yaitu Nyi Lasmi dan Dyah Mularsih.
Begitu saling pandang, Dyah Mularsih dan Endang saling menghampiri "Mbakayu Endang....!!"
"Kau.... Dyah Mularsih!"
Dua orang wanita itu saling berpelukan.
Dulu mereka memang menjadi sahabat baik, sungguhpun Endang Sawitri lebih tua sekitar empat tahun.
Setelah saling berpelukan dan berciuman, Endang Sawitri memandang ke arah Nyi Lasmi yang juga memandangnya dengan mata dilebarkan.
Mereka saling pandang, saling senyum, lalu keduanya saling menghampiri.
"Lasmi.... Andika Lasmi yang pernah tinggal di Karang Tirta?"
Nyi Lasmi tersenyum.
"Mbakayu Endang Sawitri! Tidak kusangka kita akan dapat saling bertemu di sini!"
Kedua orang wanita Ini saling berpegang tangan.
"Wah, kalian sudah saling mengenai?"
Tegur Tumenggung Jayatanu heran.
"Paman Tumenggung, Adik Lasmi ini dulu menjadi tetangga saya ketika kami sama-sama tinggal di Karang Tirta."
Ki Tumenggung Jayatanu lalu memperkenalkan mantunya, Prasetyo atau Senopati Yudajaya kepada Dharamaguna dan Endang Sawitri.
Kemudian dua keluarga itu bercakap-cakap diruangan dalam sambil menikmati hidangan yang disuguhkan Nyi Tumenggung.
SETELAH selesai makan, Endang Sawitri mengajak Nyi Lasmi dan Dyah Mularsih untuk bicara bertiga di ruangan terpisah.
Nyi Tumenggung juga ikut setelah berkata sambil tertawa.
"Ai, aku pun ikut dengan kalian bertiga. Biarlah kita para wanita bicara di dalam dan para pria bercakap-cakap di sini!"
Maka masuklah mereka berempat ke dalam, sedangkan Tumenggung Jayatanu dan mantunya, Senopati Yudajaya mengajak dua orang tamunya, Senopati Sindukerta dan mantunya, Dharmaguna, bercakap-cakap di ruang tamu.
Dalam percakapan yang santai dan akrab, Endang Sawitri secara ramah menyatakan pendapatnya, setelah mereka saling menceritakan tentang anak masing-masing.
Lasmi bercerita tentang puterinya, Puspa Dewi, sedangkan Endang Sawitri bercerita tentang Nurseta.
"Nurseta dan Puspa Dewi juga sudah saling mengenal dengan baik. Keduanya berjasa besar terhadap Kahuripan. Keduanya sama-sama murid orang-orang sakti mandraguna. Aku sendiri bersama suamiku telah diselamatkan oleh Puspa Dewi, dan kami berterima kasih sekali. Kami berdua juga melihat betapa serasinya dua orang Anak kita itu, Adik Lasmi. Alangkah baiknya dan alangkah akan berbahagia hati kami kalau saja Anak kami Nurseta dapat dijodohkan dengan puterimu Puspa Dewi! Bagaimana pendapatmu?"
Nyi Lasmi tersenyum dan wajahnya berseri, akan tetapi ia lalu menoleh dan memandang kepada ibu mertuanya.
"Wah, Mbakayu Endang Sawitri, aku pribadi merasa senang dan setuju saja. Akan tetapi hal ini tidak dapat kuputuskan sendiri. Harus lebih dulu mendapat persetujuan dari Puspa Dewi sendiri, lalu dari Ayahnya, juga tentu saja restu Kanjeng Ibu dan Kanjeng Rama Tumenggung!"
"Aku juga setuju!"
Tiba-tiba Dyah Mularsih berkata sambil tersenyum.
"Kalau Anakku Puspa Dewi menjadi mantu Mbakayu Endang, berarti kita berbesan dengan Mbakayu Endang, dan ini menyenangkan sekali, Mbakayu Lasmi!"
Nyi Tumenggung berkata tenang.
"Lasmi tadi berkata benar. Sebelum keputusan diambil, hal ini harus mendapat persetujuan Puspa Dewi sendiri, juga Ayahnya dan Eyangnya. Kalau aku sih menurut dan setuju saja atas pendapat suamiku."
"Terima kasih, Bibi Tumenggung! Hati saya sudah merasa bahagia sekali mendengar bahwa Paduka setuju dan kedua Adik yang menjadi Ibu Puspa Dewi ini juga setuju. Akan tetapi tentu saja harus mendapatkan persetujuan Ayah dan Eyang Puspa Dewi, terutama dari ia sendiri. Yang saya kemukakan ini pun bukan lamaran resmi, hanya menyatakan hasrat hati saya."
"Mbakayu Endang, apakah Andika sudah membicarakan hal ini kepada suami Andika dan kepada Paman Senopati Sindukerta?"
Endang Sawitri mengangguk.
"Mereka juga amat setuju dengan usulku ini."
"Juga sudah disetujui Nurseta?"
Tanya Nyi Lasmi.
"Wah, kalau ini beluml Aku belum mengajak Nurseta bicara tentang hal ini. Akan tetapi setelah pulang, aku akan mengajak dia bicara tentang perjodohannya."
"Sayang sekali, Puspa Dewi masih belum pulang sehingga tidak dapat kami ajak bicara tentang hal ini."
Kata Lasmi.
Setelah beramah-tamah, para tamu itu pulang dengan hati senang.
Setelah tiba di gedung tempat tinggalnya, malam itu juga Endang Sawitri dan suaminya, Ki Dharmaguna, mengajak Ki Senopati Sindukerta dan isterinya, membicarakan tentang usul perjodohan itu dengan Nurseta.
Sehabis makan malam bersama, keluarga itu lalu bercakap-cakap di ruangan dalam dan Endang Sawitri membuka percakapan tentang perjodohan itu.
"Anakku Nurseta, ingatkah engkau berapa usiamu sekarang?"
Mendengar pertanyaan Ibunya, Nurseta menatap wajah Ibunya dan tersenyum.
"Kalau tidak keliru, umur saya dua puluh dua tahun, Ibu. Mengapa Ibu bertanya tentang usia?"
"Nurseta, maksud Ibumu, seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun seperti engkau Ini sudah sepantasnya kalau menikah"
Kata Dharmaguna membantu isterlnya.
"Benar sekali itu!"
Sambung Nyi Sindukerta.
"Aku pun sudah ingin sekali menimang seorang cucu. Eyang Kakungmu juga begitu, Nurseta!"
"Ha-ha-ha!"
Senopati Sindukerta tertawa.
"Nurseta, sekarang engkau didesak Ayah Ibu dan Eyang puterimu. Nah, katakan, apakah engkau telah mempunyai pilihan hati, seorang gadis yang engkau ingin menjadi jodohmu?"
Nurseta tertegun.
Sama sekali tidak disangkanya bahwa orang-orang tua itu secara serentak mendesaknya mengenai urusan perjodohan!
"Akan tetapi....
sama sekali saya belum pernah memikirkan tentang perjodohan...!' katanya agak tergagap.
"Nah, kalau begitu sekarang engkau harus mulai memikirkan, Nurseta!"
Kata Endang Sawitri.
"Katakanlah, siapa gadis yang hendak kau pilih? Kami yang mengajukan pinangan!"
Nurseta menggeleng kepalanya.
"Tidak ada, Ibu. Saya belum pernah memilih, belum pernah memikirkan hal itu...."
Ketika mengatakan hal itu, dalam ingatan Nurseta terbayanglah wajah-wajah gadis yang pernah dia jumpai semenjak dia dewasa.
Yang pertama adalah Puspa Dewi, yang bukan saja telah dikenalnya sejak dia remaja dan tinggal di Karang Tirta, kemudian dia berjumpa lagi dengan Puspa Dewi setelah mereka sama sama dewasa, bahkan sama-sama menjadi orang muda yang digdaya dan sama-sama pula membela Kahuripan.
Kemudian dia bertemu dengan tiga orang selir Pangeran Hendratama dan terutama sekali selir termuda bernama Widarti yang tampaknya menaruh cinta kepadanya dan gadis itu kini telah tewas.
Kemudian, ketika menolong penduduk Karang Sari dan gangguan perampok, dia hendak diambil mantu Ki Lurah Warsita, Lurah Karang Sari untuk dijodohkan dengan anak gadisnya, yaitu Kartiyah yang hitam manis, namun ditolaknya.
Banyak pula dia bertemu gadis gadis cantik yang tidak mempunyai persoalan apa pun dengan dirinya, akan tetapi selama ini dia belum pernah tertarik kepada seorang di antara mereka.
Maka ketika kini ayah ibunya dan kakek neneknya mendesaknya, dia menjadi bingung.
"Nurseta, engkau mengenal Puspa Dewi, bukan?"
Nurseta menatap wajah Ibunya.
"Puspa Dewi? Tentu saja, Ibu. Saya mengenalnya sejak remaja di Karang Tirta dulu."
"Bagaimana pendapatmu tentang gadis itu?"
Desak Ibunya.
"Pendapat saya mengenai apanya, Ibu?"
Nurseta bertanya, belum dapat menangkap apa yang tersirat dalam pertanyaan ibunya itu.
"Segalanya tentang Puspa Dewi. Kecantikannya, kedigdayaannya, wataknya."
Endang Sawitri mengejar.
"Ahh.... itu? Hemm, ia seorang gadis yang cantik. Ia pun digdaya, berilmu tinggi walaupun agak (Lanjut ke
Jilid 14) Nurseta Satria Karang Tirta (seri ke 02 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14 ganas.... akan tetapi saya kira sekarang sudah tidak begitu ganas lagi. Dan ia gagah dan baik, berjasa besar membela Kahuripan, Ibu."
"Jadi engkau menganggap ia seorang gadis yang baik?"
"Benar, Ibu."
"Pendapatmu itu benar! Dan lebih dari itu, Puspa Dewi adalah cucu Paman Tumenggung Jayatanu yang terkenal gagah perkasa dan setia kepada Kahuripan, Ayahnya adalah Senopati Yudajaya dan Ibunya adalah Nyi Lasmi yang dulu menjadi sahabatku ketika kita tinggal di Karang Tirta. Nah, ia sungguh cocok untuk menjadi cucu mantu Eyangmu, tepat untuk menjadi mantu kami, dan serasi sekali untuk menjadi Isterimu!"
"Ah, Ibu....!"
Wajah Nurseta berubah kemerahan. Pernyataan ini sungguh terlalu tiba-tiba datangnya dan sama sekali tidak pernah diduganya, membuat dia merasa malu, sungkan, dan salah tingkah.
"Ibumu benar, Nurseta! Puspa Dewi akan merupakan seorang isterl yang cocok sekali bagimu."
Kata Senopati Sin-dukerta.
"Tidak usah malu-malu, Nurseta. Katakan bahwa engkau setuju dan kami akan segera mengajukan pinangan."
Kata KI Dharmaguna. Melihat puteranya masih menundukkan muka dan diam saja, Endang Sawitrl mendesak.
"Jawablah, Nurseta, agar kami dapat segera mengajukan pinangan. Aku khawatir kalau didahului orang karena Puspa Dewi juga sudah dewasa."
"Ibu, kalau sampai pinangan ditolak, saya akan merasa malu sekali...."
"jangan khawatir! Aku sudah membicarakan dengan Nyi Lasmi, Dyah Mularsih, dan Bibi Tumenggung dan mereka bertiga setuju sekali!"
"Akan tetapi bagaimana kalau Puspa Dewi menolak? Ia seorang gadis yang cantik, pandai, bangsawan dan angkuh, sedangkan aku...."
"Hushh, jangan merendahkan diri sendiri. Engkau memiliki banyak kelebihan, Nurseta. Jadi engkau setuju kalau kami meminang Puspa Dewi untuk menjadi jodohmu?"
Nurseta dapat menangkap harapan dan hasrat yang besar dan kuat sekali dalam ucapan ibunya, dan dia melihat pula sikap ayahnya, kakek dan neneknya semua mendukung niat itu dengan sangat, maka dia merasa tidak enak kalau menolak begitu saja.
Pula, dia harus mengakui bahwa mendapatkan jodoh seorang gadis seperti Puspa Dewi merupakan hal yang luar biasa sekali.
Tidak mudah mendapatkan gadis sehebat Puspa Dewi.
Cantik jelita, sakti mandraguna, berdarah bangsawan, baik budi yang dibuktikannya bahwa ia tidak membela gurunya yang juga ibu angkatnya, Nyi Dewi Durgakumala yang jahat, melainkan membalik dan membela Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama.
Dia memang tidak atau belum tahu apakah dia jatuh cinta kepada Puspa Dewi.
Yang terasa olehnya hanyalah kekaguman terhadap gadis itu.
Akan tetapi dia pun tidak tega membuat kecewa ayah ibunya dan kakek neneknya, maka dia mengangguk dan menghela napas panjang.
"Ibu, saya hanya menyerahkan keputusannya kepada Ayah Ibu dan kedua Eyang saja."
Tentu saja para orang tua itu tidak dapat menyelami perasaan Nurseta karena pemuda ini sudah mampu mengendapkan semua perasaan hatinya sehingga wajahnya tidak membayangkan perasaannya.
Mereka mengira bahwa pemuda itu setuju sepenuhnya namun merasa malu untuk mengakuinya.
Akan tetapi karena mendengar bahwa Puspa Dewi belum pulang, Ki Dharmagu-na dan Endang Sawitri masih menunggu.
Mereka tidak akan mengajukan pinangan resmi sebelum gadis itu pulang karena mereka tahu bahwa jawaban pihak keluarga Tumenggung Jayatanu terhadap pinangan itu tergantung dari keputusan Puspa Dewi.
Nenek berpakaian serba hitam itu berlari seperti terbang cepatnya ke arah selatan.
Gadis jelita Itu juga berlari cepat mengikuti di belakangnya.
Rambutnya yang hitam tebal dan panjang itu terurai lepas dari sanggulnya, berkibar di belakang kepalanya seperti sehelai bendera hitam.
Kalau wajah nenek berpakaian hitam itu masih tampak tenang dan biasa saja, sebaliknya wajah gadis itu berkilau basah oleh keringatnya sendiri dan pernapasannya agak terengah.
Namun dengan nekat ia berlari terus, tidak mau tertinggal oleh nenek yang berlari di depannya, dalam jarak sekitar tiga tombak saja!
Nenek itu berusia sekitar lima puluh satu tahun.
Wajahnya masih membayangkan bekas wajah wanita cantik, namun wajah itu dingin dan tampak bengis, terutama sinar matanya.
Pakaiannya yang serba hitam menambah seram penampilannya.
Sebaliknya, gadis berusia sekitar delapan belas tahun lebih itu cantik jelita dan lincah.
Mereka adalah Nini Bumigarbo, nenek yang amat sakti mandraguna itu bersama muridnya yang baru, yaitu Niken Harni.
Seperti kita ketahui, Niken Harni diselamatkan Nini Bumigarbo dan tertarik oleh watak Niken Harni yang lincah pemberani, nenek itu mengambilnya sebagai murid.
Sekali ini Nini Bumigarbo mengambil murid bukan dengan maksud agar muridnya ini memusuhi Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama.
Ia tahu bahwa Niken Harni adalah gadis bangsawan Kahuripan, maka tidak dapat diharapkan akan memusuhi Sang Prabu Erlangga.
Ia mempunyai maksud dan niat lain.
Gadis ini akan dijadikan murid untuk melampiaskan sakit hatinya terhadap Bhagawan Ekadenta.
Bukan langsung memusuhi Bhagawan Ekadenta yang kesaktiannya tak pernah dapat ditandihginya itu, melainkan kepada semua laki-laki!
Niken Harni yang cantik jelita pasti akan memikat hati banyak laki-laki dan la menghendaki agar murid barunya ini kelak menghancurkan kebahagiaan banyak laki-laki dengan mematahkan cinta dan harapan para laki-laki yang tergila-gila kepadanya!
"Bibi Gayatri, masih jauhkah perjalanan kita?"
Niken Harni berseru kepada Nini Bumigarbo sambil terengah-engah, akan tetapi ia tetap nekat berlari cepat agar tidak tertinggal jauh.
Nini Bumigarbo terkekeh dan menghentikan larinya.
Niken Harni tiba di dekatnya dan gadis ini baru menjatuhkan dirinya duduk di atas batu, mengatur pernapasan dan menyusut keringat yang membasahi leher dan mukanya.
"Heh-heh, engkau telah memperoleh kemajuan pesat sekali, Niken. Aku senang melihatnya. Ternyata benar dugaanku, engkau murid yang amat berbakat."
"Masih jauh perjalanan kita?"
"Lihat itu. Laut Kidul sudah tampak dari sini, sudah dekat!"
Kata nenek itu sambil menuding ke selatan. Niken Harni bangkit berdiri dan memandang. Benar saja, dari bukit kapur itu tampak laut membentang luas, tidak jauh lagi.
"Kita akan ke manakah, Bibi?"
"Lihat di sana itu, yang tampak menghitam di tengah laut! Kita akan ke sana!"
Niken Harni melihat sebuah pulau menghitam cukup jauh dari pantai.
"Ke pulau Itu?"
"Benar, Itulah Pulau Nusa barung yang akan kita kunjungi."
"Akan tetapi, siapa yang tinggal di sana dan mau apa kita ke sana, Bibi Gayatrl?"
"Kita mengunjungi seorang kawanku, kawan baik di waktu ia masih muda. Sahabatku Itu menikah dengan seorang datuk terkenal bernama Dibya Krendasakti, juragan yang berkuasa di pulau itu. Sejak Woro Sumarni menikah dengan Dibya Krendasakti, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya."
Mereka melanjutkan perjalanan dan karena Niken Harni sudah mengaso, perjalanan dapat dilakukan cepat dan akhirnya mereka tiba di pantai Laut Kidul.
Mereka menemukan bagian pantai yang landai dan di situ terdapat belasan buah perahu nelayan, sebagian sudah berada di lautan, akan tetapi ada dua buah perahu yang masih berada di pantai, sedang bersiap-siap untuk berangkat menyusul kawan-kawan mereka mencari ikan.
Nini Bumlgarbo menghampiri seorang nelayan.
Nelayan ini berusia sekitar empat puluh tahun, tubuhnya hanya mengenakan celana hitam sebetis, dadanya yang telanjang tampak kokoh dan kulitnya menghitam terbakar sinar matahari.
Melihat seorang nenek dan seorang gadis cantik menghampiri, dia memandang heran.
"Kisanak, antarkan kami ke tengah laut!"
Kata Nini Bumigarbo. Nelayan itu memandang heran.
"Ke tengah lautan? Andika berdua mau apa ke sana? Aku hendak mencari ikan, tidak sempat mengantar Andika...."
"Aku tidak peduli. Mau atau tidak engkau harus mengantar kami!"
Nini Bumigarbo menghardik. Nelayan itu marah, akan tetapi sebelum dia mengeluarkan kata-kata, Niken Harni sudah maju dan menyodorkan sebuah cincin emas kepadanya.
"Kisanak, Andika turuti saja keinginan Bibiku ini. Cincin ini kalau Andika jual, hasilnya lebih besar daripada hasil tangkapan ikan selama satu bulan. Terimalah, cincin ini untuk menyewa perahumu!"
Nelayan itu bengong, akan tetapi matanya bersinar gembira.
Tanpa bicara dia lalu menerima cincin itu dan dengan tangannya mempersilakan dua orang wanita itu naik ke perahunya dan duduk di atas papan yang melintang di tengah perahu.
Nelayan mendayung perahunya ke tengah.
Sebagai seorang ahli naik perahu, dengan cekatan dia mendayung perahu melewati gulungan ombak yang menepi sampai dia berhasil melewati susunan ombak dan berada di atas air yang tenang.
"Ke mana kita akan pergi, Nona?"
Tanya nelayan itu.
"Ke sana, ke pulau itu."
Kata Niken Harni sambil menunjuk ke arah pulau. Nelayan itu terbelalak.
"Pulau Nusa Barung....?"
Bisiknya.
"Benar."
"Ah, tidak.... tidak bisa, aku tidak berani...."
Katanya.
"Hemm, takut apa? Jangan takut! Teruskan ke sana!"
Nini Bumigarbo membentak. 'Tidak.... Tidak....! Apa artinya aku menerima upah besar kalau setibanya di sana aku mati?"
"Mengapa, Kisanak? Mengapa mati? Siapa yang akan membunuhmu?"
Tanya Niken Harni terheran.
"Siluman.... siluman akan membunuhku. Kami semua tidak ada yang berani mendekati pulau siluman itu..."
"Cukup! Jangan banyak bicara! Hayo cepat pasang layar dan kita menuju ke sana!"
Nini Bumigarbo menghardik.
"Tidak..., aku tidak mau mati...."
Nelayan itu lalu memutar perahunya dan hendak kembali ke pantai.
Akan tetapi ia berteriak mengaduh ketika tangan Nini Bumigarbo memegang pundaknya.
Rasanya pundak itu seperti dijepit baja yang keras dan panas.
"Masih hendak membantah? Apakah engkau ingin kuhancurkan pundakmu?"
Nelayan yang bertubuh kuat itu mengerahkan tenaga dan berusaha meronta untuk melepaskan tangan nenek yang mencengkeram pundaknya.
Akan tetapi makin kuat dia mengerahkan tenaga meronta, semakin nyeri rasa pundaknya sehingga akhirnya dia menjadi lemas dan menghentikan perlawanannya.
"Aduh.... ampun..., akan tetapi... aku akan mati di sana...."
"jangan khawatir. Andika hanya mengantar kami dan Bibiku ini yang akan menanggung bahwa Andika tidak akan diganggu siluman di sana."
Kata Niken Harni.
Terpaksa nelayan itu lalu memasang dan mengembangkan layarnya yang tidak berapa besarnya.
Perahunya meluncur cepat menuju ke-pulau yang tampak menghitam.
Jelas tampak nelayan itu ketakutan.
Wajahnya pucat, matanya jelalatan (liar) memandang ke arah pulau dan kedua tangannya yang mengendalikan perahu gemetar.
"Aduh celaka....!"
Tiba-tiba dia berkata dengan suara gemetar.
"Ada apa?"
Tanya Niken Harni.
"Itu.... di sana... ikan hiu besar dan ganas...!"
Nelayan itu menunjuk ke sebelah kanan perahu. Niken Harni melihat sirip-sirip besar meluncur tak jauh dari perahu. Sirip hitam runcing dan lebar. Ada dua buah meluncur ke arah perahu.
"Jangan takut!"
Tiba-tiba Nini Bumi-garbo membentak dan wanita Itu bangkit berdiri.
Kemudian terjadilah hal yang bukan saja membuat nelayan itu terbelalak, bahkan Niken Harni juga terbelalak, hampir tak percaya akan apa yang dilihatnya.
Ia tahu benar bahwa Nini Bumigarbo seorang yang sakti mandraguna, akan tetapi tidak pernah menduga akan sehebat itu kesaktiannya.
Nenek itu ternyata melompat keluar dari perahu, kakinya tiba di atas air dekat dua ekor ikan hiu yang tampak siripnya itu.
Dua kali tangannya membuat gerakan menghantam ke arah dua ekor sirip itu.
Air muncrat bergelombang dan ketika Nini Bumigarbo melompat kembali ke perahu, dua ekor ikan hiu yang lebih besar dari tubuh manusia itu terapung di atas air dengan perut mereka yang putih di atas, sudah mati!
Dapat dibayangkan betapa hebatnya aji pukulan yang digunakan Nini Bumigarbo itu dan betapa hebatnya ilmunya meringankan tubuh sehingga ia mampu berdiri di atas air ketika menyerang dua ekor Ikan hiu itu!
Memang, Nini Bumigarbo yang dulu bernama Ni Gayatri ini merupakan seorang di antara murid-murid Sang Maha Resi Dewakaton yang dulu bertapa di puncak Gunung Semeru.
Tingkat kepandaiannya hanya di bawah tingkat Sang Bhagawan Ekadenta atau Sang Bhagawan Jitendriya yang merupakan kakak seperguruannya.
"Melihat kesaktian nenek itu, Si Nelayan kini tidak berani banyak cakap lagi, tidak berani membantah dan dia melayarkan perahunya menuju Pulau Nusa Barung. Setelah tiba di pantai pulau itu, tampak ada lima orang laki-laki berdiri di pantai dan menyambut perahu itu dengan luncuran anak panah! Nini Bumigarbo mendengus dan sekali tangannya bergerak dikibaskan, empat batang anak panah yang meluncur ke arah tubuhnya dan tubuh nelayan, dapat dipukul runtuh oleh angin pukulannya. Sementara sebatang anak panah yang meluncur ke arah Niken Harni, dapat ditangkap oleh gadis itu! "Heii, apakah kalian ini orang-orang gila yang bermata buta? Laporkan kepada Dibya Krendasakti bahwa aku Nini Bumigarbo Gayatri datang berkunjung! Kalau kalian menyerang sekali lagi, kalian akan mampus oleh anak panah kalian sendiri!"
Lima orang itu agaknya meragu dan berunding, lalu tiga orang di antara mereka memutar tubuh lari meninggalkan pantai.
Akan tetapi yang dua orang lagi mementang busur mereka dan dua batang anak panah meluncur ke arah dada Nini Bumigarbo!
"Singggg! Singggg!!"
Nini Bumigarbo menggerakkan kedua tangan dan ia sudah menangkap dua batang anap panah itu, lalu kedua tangannya bergerak menyambitkan senjata itu kearah penyerangnya yang berdiri di tepi pantai.
Dua orang itu menjerit dan roboh terjengkang, dua batang anak panah itu dengan tepat menembus leher mereka sehingga mereka tewas seketika!
Perahu sudah menggulung layar dan nelayan mendayung perahunya mendarat.
Dia menggigil ketakutan melihat peristiwa penyerangan tadi.
Setelah perahu ditarik ke atas pasir dan dua orang penumpangnya turun, nelayan itu tak berani bergerak, akan tetapi dengan suara gemetar dia bertanya kepada Niken Harni.
"Den Roro.... bolehkah saya sekarang pergi?"
"Tunggu! Jangan pergi sebelum kuperintah. Kalau melanggar, kamu akan mampus!"
Bentak Nini Bumigarbo dan nelayan itu menjadi pucat, lalu duduk mendeprok di atas pasir, di dekat perahunya.
Tak lama kemudian, terdengar suara tawa yang menggelegar, datangnya dari tengah pulau, makin lama semakin kuat suara tawa itu dan akhirnya muncullah seorang laki-laki yang menyeramkan.
Laki-laki itu berusia sekitar enam puluh tahun, tubuhnya tinggi besar dan kokoh seperti raksasa, rambutnya masih hitam digelung ke atas dan diikat dengan kain sutera merah.
Pakaiannya mewah dan sebatang gendewa (busur) besar panjang tergantung di pundaknya.
Tempat anak panah dengan belasan batang anak panah tersembul di belakang punggungnya.
Setelah tiba di depan Nini Bumigarbo dan Niken Harni, laki-laki itu berhenti melangkah, berdiri memandang kedua orang wanita itu dan menghentikan suara tawanya yang membuat nelayan tadi menelungkup sambil menutupi kedua telinganya yang rasanya seperti ditusuk-tusuk mendengar suara tawa yang mengandung kekuatan sihir tadi.
Niken Harni sendiri harus mengerahkan tenaga sakti untuk melawan gelombang suara yang amat kuat itu.
Kini kakek itu memandang kepada Nini Bumigarbo dengan alis berkerut, lalu berkata, suaranya dalam dan parau.
"Gayatri? Andika Gayatri yang kini terkenal sebagai Nini Bumigarbo? Hemm, aku masih mengenal wajahmu Gayatri. Masih cantik, akan tetapi Andika tampak tua!"
Nini Bumigarbo mendengus.
"Huh, tengoklah mukamu sendiri, Dibya Krendasakti! Engkau juga sudah menjadi kakek tua bangka!"
Kembali terdengar suara tawa bergelak-gelak.
Kakek itu berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, mukanya menengadah, mulutnya terbuka lebar, dadanya membusung dan suara tawa itu semakin bergelombang, bergetar dan terkadang seperti halilintar menggeledek.
Niken Harni tak dapat bertahan lagi.
Terpaksa ia lalu duduk bersila dan memejamkan kedua matanya, melindungi dirinya dengan himpunan kekuatan batinnya, tenaga saktinya menjaga pendengarannya.
Akan tetapi nelayan itu kini jatuh bergulingan sambil menutupi telinganya dengan tangan, mengaduh-aduh, mukanya sepucat mayat.
Akan tetapi Nini Bumigarbo tetap berdiri tenang, kemudian berkata dengan suaranya yang tinggi melengking.
"Kamu Iblis Tua! Beginikah menyambut seorang sahabat yang bertamu?"
Teguran itu membuat kakek yang bernama Dibya Krendasakti itu menghentikan tawanya.
Niken Harni membuka matanya dan bangkit berdiri lagi.
Nelayan itu juga bangkit duduk dan dari kedua telinganya mengalir darah.
"Heh, sampah itu tidak layak berada di sini!"
Kata Kakek itu menuding kepada nelayan.
"Dia nelayan yang mengantar kami ke sini!"
Kata Nini Bumigarbo.
"Dan dia akan mengantar kami kembali ke darat sana."
"Hemm, Gayatri, engkau kira aku ini orang apa? Aku pun dapat menjadi seorang tuan rumah yang pantas. Aku punya banyak perahu dan orang-orangku dapat mengantar engkau pulang. Suruh dia pergi dari sini sekarang juga atau aku akan lempar dia ke laut menjadi makanan ikan!"
Nini Bumigarbo menoleh kepada nelayan itu dan berkata.
"Pergilah engkau dari sini!"
Nelayan itu tampak girang sekali.
Dia menyembah dan mendorong perahunya ke air, lalu mendayungnya sekuat tenaga, tidak memperduiikan kedua telinganya yang terasa nyeri.
Menyaksikan semua ini, timbul rasa penasaran dalam hati Niken Harni.
"Bibi Gayatri, mengapa Andika membiarkan saja orang tua Ini berbuat kejam dan sewenang-wenang memamerkan kesaktiannya mencelakai orang lain yang sama sekali tidak bersalah kepadanya?"
"Niken, pulau yang kita injak ini adalah Nusa Barung dan Dibya Krendasakti adalah pemilik dan penguasa di sini. Dia boleh berbuat sekehendak hatinya di pulaunya sendiri."
"Akan tetapi kalau kita disambut seburuk ini, untuk apa kita bertamu di sini?"
"Hoa-ha-ha! Perawan cilik kemethlk! Bicaramu penuh teguran kepadaku. Ha-ha-ha, baru ini aku ditegur bocah kemarin sore yang ubun-ubun kepalanya masih berbau brambang (bawang merah). Gayatri, siapa sih bocah lucu namun kemethak (layak dipukul) ini?"
"Ini muridku yang baru, Niken Harni."
"Aha, pantas menjadi muridmu. Sama kewat (genit) dan cerewetnya dengan kamu waktu muda dulu! Hemm, ia juga berbakat baik. Eh, Niken Harni, tadi aku sengaja hendak menguji kalian. Kalau engkau ingin melihat sambutanku sebagai tuan rumah yang baik, mari, kalian ikut aku!"
Nini Bumigarbo dan Niken Harni mengikuti Dibya Krendasakti menuju ke tengah pulau. Ketika melewati mayat dua orang anak buahnya, Dibya Krendasakti mengomel.
"Huh, orang-orang ini tolol sekali berani menyerangmu dengan panah, Gayatri."
Nini Bumigarbo tersenyum.
"Hemm, mereka sudah kuperingatkan namun nekat. Agaknya memang mereka sudah bosan hidup, Dibya. Akan tetapi aku tidak minta maaf kepadamu, lho!"
"Hoa-ha-ha, di antara kita apakah perlu bermaaf-maafan? Kita sudah saling mengenal watak masing-masing."
Raksasa yang gagah itu tertawa dan Niken yang memperhatikan sekeliling melihat orang-orang yang sedang mengerjakan sawah ladang.
Begitu melihat Dibya Krendasakti, mereka cepat memberi hormat dengan membungkuk dalam-dalam.
Kiranya mereka itu adalah anak buah penguasa Nusa Barung ini.
Dari percakapan dua orang tua itu dalam perjalanan menuju perkampungan tempat tinggal Dibya Krendasakti, Niken mengetahui bahwa raksasa itu mempunyai anak buah sebanyak seratus orang yang tinggal di pulau itu.
Sebagian dari mereka adalah murid-muridnya.
DI Nusa Barung, Dibya Krendasakti hidup bersama isterinya yang bernama Woro Sumarni yang ketika gadis dulu menjadi sahabat Gayatri yang kini menjadi Bumigarbo.
"Huh, setelah engkau menjadi raja kecil di pulau ini, tentu hidupmu seperti raja. Kaya-raya, dipuja dan ditaati banyak anak buah, dan terutama sekali, punya banyak isterl!"
Kata Nini Bumigarbo dengan nada mengejek.
"Engkau menuduh secara membuta, Gayatri. Aku sejak dulu hanya mempunyai seorang isteri, yaitu Woro Sumarni!"
"Huh, mulut laki-laki! Siapa percaya?"
"Aku tidak bohong, Gayatri. Aku terlalu mencinta Woro Sumarni!"
Kata Kakek itu, akan tetapi suaranya mengandung kesedihan. Hal ini terasa benar oleh Niken Harni, akan tetapi agaknya tidak terasa oleh Nini Bumigarbo.
"Aku tetap tidak percaya kalau tidak melihat buktinya dan mendengar pengakuan Woro Sumarni sendiri."
Kata Nenek itu.
"Kalau begitu, nanti akan kau saksikan dan kau dengar."
Kini mereka tiba di perkampungan di mana terdapat banyak rumah-rumah dari kayu yang kokoh dan cukup baik.
Akan tetapi yang paling besar dan indah terdapat di tengah perkampungan dan inilah rumah Dibya Krendasakti.
Begitu memasuki pekarangan, tiga orang murid yang bertubuh kekar menyambut dengan penghormatan mereka.
Tiga Orang murid Ini yang bertugas jaga di depan rumah pada saat itu.
Setelah memasuki pendapa rumah, lima orang wanita berpakaian pelayan menyambut dengan sembah penghormatan mereka.
"Perintahkan ke dapur untuk mempersiapkan pesta meriah menyambut tamu-tamu kehormatan ini. Cepat!"
Kata Dibya Krendasakti kepada para pelayan itu yang segera berlari kecil masuk ke dalam rumah.
"Mari, kita duduk di ruangan tamu."
Dibya Krendasakti mengajak kedua orang tamunya.
Setelah duduk berhadapan terhalang meja besar di ruangan tamu yang luas itu, dua orang tua sakti itu bercakap-cakap, sedangkan Niken Harni hanya duduk diam mendengarkan.
"Aku mendengar kabar angin bahwa gadis jelita Gayatri itu telah menjadi Nini Bumigarbo yang tersohor! Ha-ha-ha, siapa sangka hari ini Nini Bumigarbo datang berkunjung. Eh, Gayatri, bagaimana kabarnya dengan Adi Ekadenta, Kakak seperguruanmu yang juga pacarmu yang ganteng itu? Tentu kalian telah menjadi suami isteri!"
Baca Juga: Si Bangau Merah 9
Baca Juga: Suling Naga 7