Ceritasilat Novel Online

Pendekar Patung Emas 6

Eps 6 Pendekar Patung Emas - Qing Hong

Baca online Pendekar Patung Emas - Qing Hong

Cersil Pendekar Patung Emas - Qing Hong.

Kiranya Huang Puh Kian Pek sudah menebus dosa di hadapan suhengnya Wi Ci To serta seluruh pendekar pedang Benteng Pek Kiam Po dengan jalan membunuh diri Kelihatannya dia sudah lama putus napas tapi tubuhnya yang berlutut di atas tanah masih tetap menyaga keadaannya semula, sepasang matanya melotot bulat-bulat sedang air mukanya memperlihatkan tujuh bagian perasaan relanya dan tiga bagian perasaan sedih.

Jika dilihat keadaannya saat ini, boleh dikata Wi Ci To sudah membereskan semua dosanya di hadapan para pendekar pedang, bagaimana dia menyamar sebagai si setan pengecut dan bersekomgkol dengan Hong Mong Ling untuk menculik pergi Wi Lian In kemudian mendesak dia untuk ambil keputusan atas perbuatannya ini.

Ti Then sama sekali tidak menyangka Wi Ci To bisa berbuat demikian terburu-buru dan gegabahnya, sebelum dirinya sera Wi Lian In kembali ke dalam Benteng ternyata dia sudah menghukum Huang Puh Kian Pek membuat hatinya merasa sangat tidak enak.

untuk beberapa waktu lamanya dia tidak sanggup untuk mengucapkan sepatah kata pun.

Ketika Wi Ci To melihat dia serta putrinya sudab kembali segera berjalan mendekati mereka, tanyanya.

"Kalian sudah berhasil tawan bangsat cilik itu?"

Dengan kesadaran yang masih samar-samar Ti Then mengangguk.

"Sudah"

Sahutnya singkat. Air muka Wi Ci To segera berubah amat seram, sambil memandang kearah pintu benteng tanyanya lagi.

"Mana orangnya?"

Ti Then tidak langsung menyawab, sebaliknya sambil menuding kearah Huang Puh Kian Pek gumannya seorang diri.

"Dia..Hu Pocu bagaimana bisa bunuh diri?"

"Dia merasa bersalah dan malu kepada lohu karena itu di hadapan umum dia sudah bunuh diri untuk menebus dosa itu, inilah satu-satunya jalan bagi dirinya"

Dia berhenti sebentar kemudian tanyanya.

"Kau bilang sudah berhasil menawan bangsat cilik itu, sekarang dimana orangnya?"

Ti Then tidak menyawab lagi pertanyaan itu.

"Pocu kenapa menyuruh dia bunuh diri begitu terburu-buru ?"

Wi Ci To mengerutkan alisnya rapat-rapat, bukannya menyawab sebaliknya menyawab lagi.

"Dimana bangsat cilik itu?"

"Ditangan Siauw lim Cap Pwe Lo Han."

Air muka Wi Ci To segera berubah hebat, dengan perlahan ujarnya.

"Hwesio dari Siauw lim sudah pada datang?"

"Benar ketika boanpwe mengejar Hong Mong Ling dari dalam rumah pelacuran Touw Hoa Yuan hingga diluar pintu kota sebelah timur, baru saja berhasil menangkap dirinya pada saat itu juga ciangbunyin dari Siauw limpay Yuan Kuang Thaysu beserta ke delapan belas Lo Hannya sedang lewat di sana"

Segera dia menceritakan kejadian yang sudah terjadi itu dengan sejelas-jelasnya.

Wi Ci To yang mendengar Ciangbunyin dari Siauw limpay Yuan Kuang Thaysu serta si hwesio berwajah riang sudah menanti di depan pintu Benteng dia menjadi terkejut, dengan cepat serunya.

"Cepat sambut kedatangannya"

Sambil berkata dengan langkah cepat dia berjalan menuju kepintu Benteng sebelah timur.

Loteng di atas pintu Benteng segeralah berkumandang suara genta yang dibunyikan bertalu-talu sebanyak sembilan kali.

Inilah tanda dari Benteng Pek Kiam Po umtuk menyambut suatu kedatangan ketua partai dari aliran besar di dalam Bu lim.

Menanti suara genta itu sudah mencapai kesembilan kalinya Wi Ci To sudah berada diluar pintu Benteng, sambil merangkap tangannya memberi hormat ujarnya kepada Yuan Kuang Thaysu.

"Tidak tahu Ciangbunyin Thaysu sudah datang berkunjung, maaf tidak menyambut dari jauh, silahkan masuk. silahkan masuk"

"Tidak berani"

Balas Yuan Kuang Thaysu cepat-cepat.

"Lolap sudah berkunjung secara tiba-tiba sehingga mengganggu ketenangan Benteng saudara, masih mengharapkan Wi Lo sicu jangan marah"

"Aaah..mana..mana Ciangbun thaysu serta It sim Thaysu silahkan masuk"

Demikianlah di bawah pimpinan Wi Ci To Yuan Kuang Thaysu serta si hwesio berwajah riang atau It sim Thaysu dengan langkah perlahan berjalan masuk ke dalam benteng.

Para pendekar pedang hitam mau pun putih yang semula berdiri berkerumun ditengah lapangan kini dengan rapinya sudah berbaris dikedua samping lapangan, karena itu begitu Yuan Kuang Thaysu serta si hwesio berwajah riang memasuki lapangan latihan silat segera bisa melihat keadaan dari Hu Pocu, Huang Puh Kian Pek yang bunuh diri di depan mimbar tanpa terasa Yuan Kuang Thaysu sudah menghentikan langkahnya serunya dengan nada kaget.

"Iiih..bukankah itu Huang Puh Lo sicu"

"Memang benar dia"

Sahut Wi Ci To sambil tersenyum sedih.

"Kenapa dia?"

"Dia sudah berbuat macam-macam urusan yang memalukan, baru saja dia bunuh diri untuk menebus dosa-dosanya itu"

"Dia..."

Seru Yuan Kuang Thaysu dengan perasaan amat terperanyat.

"Huang Puh lo sicu sudah melakukan urusan apa yang begitu memalukan?"

"Hei.. urusan ini panjang sekali ceritanya, silahkan ciangbun thaysu masuk ke dalam ruangan untuk minum the, nanti biarlah aku orang she Wi menceritakan lebih jelas lagi"

"Hei..Lolap tidak tahu kalau di dalam Benteng Lo sicu sudah terjadi urusan, maka saat seperti ini datang mengganggu diri Wi Lo sicu, sebetulnya tidak pantas biarlah Lolap lain kali datang lagi."

Ujar Yuan Kuang Thaysu tiba-tiba dengan serius.

"Tidak, urusan ini mem punyai hubungan dengan kitab pusaka Ie Cin Keng yang hendak Ciangbun thaysu minta dari tangan Ti Kiauw tauw, aku orang she Wi memangnya hendak menjelaskan urusan ini kepada Ciangbun thaysu"

Selesai berkata dia memberi hormat dan mempersilahkan Yuan Kuang Thaysu serta si hwesio berwajah riang masuk ke dalam ruangan.

Ketika Yuan Kuang Thaysu mendengar kalau bunuh dirinya Huang Puh Kian pek mem punyai hubungan yang amat erat dengan kitab pusaka Ie Cin Keng yang hendak dimintanya itu hatinya semakin merasa terperanyat, tapi dia tidak bertanya lebih lanjut segera mulai berjalan masuk ke dalam ruangan.

Tua muda lima orang bersama-sama masuk kedalan ruangan tamu, sesudah semuanya duduk dan pelayan menyuguhkan teh barulah Wi Ci To buka mulutnya berkata.

"Kedatangan ciangbun thaysu ini hari apakah disebabkan oleh kitab pusaka Ie Cin Keng itu?"

"Benar"

Sahut Yuan Kuang Thaysu mengangguk "

Kitab pusaka Ie Cin Keng merupakan barang peninggalan dari Tat Mo Couwsu dari kuil kami, karena lenyapnya kitab itu pada sepuluh tahun yang lalu Lolap pernah melakukan pencarian disemua tempat tapi tidak memperoleh hasil sama sekali, pada waktu baru-baru ini lolap dengar katanya Ti Siauw sicu sudah diangkat Wi Losicu sebagai Kiauw tauw dari Benteng Pek Kiam Po karena itulah terpaksa Lolap datang mengganggu, harap Wi Losicu mau menasehati Ti Siauw sicu untuk mengembalikan kitab pusaka Ie cin Keng itu kepada kuil kami, untuk itu Lolap betul-betul merasa sangat berterima kasih sekali."

Wi Ci To mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Ciangbun thaysu mendengar kalau Ti Kiauw tauw sudah memperoleh kitab pusaka Ie Cin Keng ini dari siapa?"

Tanyanya.

"It sim yang dengar berita ini dari dunia kangouw."

"Ha ha ha.."

Secara tiba-tiba Wi Ci To tertawa terbahak-bahak dengan amat keras.

"Berita yang tersebar di dalam dunia Kangouw apa bisa dipercaya begitu saja."

"Tanpa angin ombak tak akan menggulung "Jawab Yuan Kuang Thaysu.

"Betul..betul angin itu memang berasal dari suteku serta murid penghianat Hong Mong Ling, karena mereka berdua punya niat untuk membunuh mati Ti Kiauw tauw maka diluaran sudah menyiarkaan berita bohong ini, dia bilang Ti Kiauw tauw sudah mendapatkan kitab pusaka Ie Cin Keng, sebetulnya memang sengaja hendak memancing jago-jago di dalam Bu lim agar semuanya cari dia.."

"Wipocu tolong tanya kenapa Hu Pocu punya niat untuk membunuh Ti Siauw sicu???"

Mendadak si hwesio berwajah riang ikut berkata. Air muka Wi Ci To segera berubah menjadi amat dingin sekali.

"Dia melihat lolap sudah hapuskan ikatan perkawinan antara putriku dengan Hong Mong Ling dan mengusir Hong Mong Ling dari Benteng, di dalam hatinya merasa sangat tidak puas sekali, karena itu dia bersekongkol dengan Hong Mong Ling untuk mencelakai diri Ti Kiauw tauw"

"Urusan ini sungguh lucu sekali"

Seru si hwesio berwajah riang sembari tersenyum.

"Wi Pocu membatalkan ikatan jodoh ini disebabkan sikap serta tindak tanduk yang tidak genah dari Hong Mong Ling, sedangkan Huang Puh Hu Pocu adalah sute dari Wi Pocu, bagaimana dia tidak memihak kebenaran bahkan sebaliknya menaruh simpatik kepada Hong Siauw sicu?"

"Selamanya dia paling menyayangi Hong Mong Ling"

"Tapi agaknya hal ini bukanlah suatu alasan bukan?"

Seru si hwesio berwajah riang sambil memperlihatkan senyuman yang mengejek.

"Jadi maksud Thaysu Lohu sedang berbicara bohong?"

Tanya Wi Ci To kurang puas.

"Tidak berani, pinceng hanya merasa bersekongkolnya Huang Puh Hu pocu dengan Hong Siauw sicu mungkin disebabkan alasan lain, sedang Wi Peocu sendiri juga tidak tahu"

"Lohu sudah menanyai dirinya amat jelas, hal ini tidak ada sebab-sebab lainnya lagi"

Jawab Wi Ci To keren.

"Pada waktu yang lalu pinceng punya jodoh untuk bertemu beberapa kali dengan Hu Pocu, terhadap sikapnya sedikit banyak mengenal juga, tidak kusangka dia ternyata membantu seorang sutitnya yang berwatak buruk. Hei sungguh sayang. sungguh sayang. ."

Pada mulutnya dia menghela napas tak henti-hentinya pada hal di dalam hatinya dia bermaksud tidak percaya.

"Tadi sewaktu berada diluar kota Go bi Hong Siauw sicu sudah mengatakan suatu alasan lain lagi"

Sambung Yuan Kuang Thaysu.

"Dia bilang sesudah Ti Siauw sicu memperoleh kitab pusaka Ie Cin Keng itu lalu mau dipersembahkan kepada Wi Losicu dengan syarat putri dari Wi Lo sicu harus dikawinkan dengan dia, menurut omongannya tadi agaknya Wi Losicu sudah setuju, karena itu ikatan perkawinannya dengan Hong Siauw sicu baru dibatalkan, sayangnya karena Wi Lo sicu takut Hong Siauw sicu sudah bocorkan rahasia ini maka sudah perintahkan kepada Ti Siauw sicu untuk bunuh dia."

Air muka Wi Ci To segera berubah amat hebat, dengan menganduug perasaan ujarnya dengan berat.

"Lalu Ciangbun thaysu mempercayai perkataannya???"

"Sudah tentu lolap tidak berani percaya begitu saja atas semua omongannya, tapi perkataan dari Hong siau sicu memang beralasan karena itu sedikit banyak Lolap percaya juga"

"Jadi maksud Ciangbun thaysu, Lohu selalu pandang tinggi sebuah kitab pusaka semacam Ie Cin Keng itu???"

Seru Wi Ci To tertawa dingin. Yuan Kuang Thaysu hanya berdiam diri tidak menyawab.

"Terus terang saja lohu katakan, Kitab pusaka Ie Cin Keng itu dipandangan orang lain mungkin dianggap sebagai suatu pusaka yang amat berharga, tapi di dalam pandangan Lohu sama sekali tidak menarik"

Yuan Kuang Thaysu hanya tersenyum saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sikapnya yang tenang ini menunjukkan kalau dia sangat tidak ingin terjadi bentrokan dengan Wi Ci To. Ujar Wi ci To lagi.

"Lohu bisa hapuskan ikatan jodoh antara putriku dengan murid terkutuk itu semuanya dikarenakan mengetahui dia sudah main perempuan ditempat luaran, bahkan sudah terpincut seorang perempuan pelacur. Pelacur itu adalah Liuw Su Cen dari rumah pelacuran Touw Hoa Yuan di dalam kota, tentang urusan ini si ibu germo Ku Ie sempat tanya Hartawan cang, Cang Bun Piauw boleh ditanyai sebagai saksi. jika ciangbun thaysu tidak percaya kau boleh pergi tanyai mereka-mereka itu"

Yuan Kuang Thaysu dengan perlahan menghela napas panjang.

"Wi Lo sicu jadi orang jujur bahkan utamanya sangat dihormati di Bu lim, seharusnya perkataan yang diucapkan Lolap tidak boleh menaruh curiga tapi Lolap masih ada urusan yang belum jelas."

Berbicara sampai di sini dia melirik sekejap ke arah Ti Then.

"Urusan apa yang ciangun thaysu belum jelas?"

Tanya Wi Ci To segera.

"Menurut omongannya It sim"

Ujar Yuan Kuang Thaysu sambil menuding kearah si hwesio berwajah riang itu.

"Kepandaian silat dari Ti Siauw sicu amat lihay sekali, jika dibicarakan dari kepandaian silatnya yang dimiliki sekarang ini sangat tidak sesuai dengan usianya yang masih begitu muda, bila dikatakan Ti Siauw sicu tidak memperoleh kitab pusaka Ie Cin Keng bagaimana dia bisa demikian lihaynya?"

Mendengar omongan itu Wi Ci To segera angkat kepalanya tertawa terbahak-bahak.

"Yang Ciangbun thaysu maksudkan apakah di hadapan It sim thaysu Ti Kiauw tauw sudah pukul rubuh sebuah pohon raksasa hanya di dalam satu kali pukulan itu?"

"Benar"

"Kepadaian Ti Kiauw tauw bukan hanya di dalam ilmu telapak saja yang lihay, bahkan di dalam ilmu meringankan tubuh serta ilmu pedang jauh lebih lihay lagi."

"Maka itulah jika bukannya dia sudah memperoleh kitab pusaka Ie Cin Keng bagaimana dia bisa mencapai tingkat seperti itu? "

Senyum yang menghiasi wajah Wi Ci To mendadak lenyap tanpa bekas, dengan nada serius ujarnya.

"Sekarang Lohu mau bertanya di dalam kitab pusaka Ie Cin Keng dari kuil kalian itu apa juga membuat jurus ilmu pukulan"

"Di dalam kitab pusaka Ie Cin Keng itu hanya khusus memuat cara-cara untuk melatih badan, sekali pun tidak memuat adanya jurus-jurus ilmu pukulan mau pun ilmu pedang tapi jika sudah berhasil melatih sim hoat yang termuat di dalam, untuk mempelajari ilmu-ilmu dari partai lain boleh dikata amat mudah sekali"

Wi Ci To tertawa terbahak-bahak lagi.

"Apakah di dalam hal jurus-jurus serangan pun bisa dipahami tanpa ada yang membimbing?"

Tanyanya.

"Boleh dikata memang demikian-"

"Dengan usia Ti Then sekarang ini jika dia sudah berhasil melatih sim Hoat tersebut apakah bisa digunakan untuk pukul rubuh diri Ciangbun thaysu?"

Tanya Wi Ci To lagi. Agaknya Yuan Huang Thaysu sama sekali tak menduga dia bisa mengajukan pertanyaan semacam ini, untuk berapa saat lamanya barulah jawabnya.

"Sekali pun belum bisa memukul rubuh diri lolap tapi kemungkinan bisa berada dalam kedudukan seimbang."

Senyuman mulai menghiasi kembali wajah Wi Ci To.

"Jadi maksud Ciangbun thaysu sekali pun Ti Kiauw tauw sudah berhasil memperoleh sim Hoat dari kitab pusaka Ie cin Keng, paling tinggi juga hanya bisa mencapai kedudukan seimbang saja dengan kepandaian Ciangbun thaysu?"

Sekali lagi Yuan Kuang Thaysu merasa ragu-ragu, kemudian barulah dia mengangguk.

"Mungkin memang begitu."

"Kalau begitu"

Ujar Wi Ci To lagi dengan sinar matanya yang berkedip-kedip "Jika Ti Kiauw tauw bisa mengalahkan diri ciangbun thaysu, apakah hal itu cukup untuk membuktikan kalau kepandaian silat yang dimilikinya sekarang ini bukan berasal dari kitab pusaka le Cin Keng??"

Yuan Kuang thaysu tak tahu apa maksudnya untuk mendesak dirinya dengan pertanyaan yang membuat dirinya sukar untuk memberikan jawaban itu, segera dia balik bertanya.

"Apakah menurut pandangan Wi Lo sicu dengan kepandaian Ti siuw sicu sekarang ini bisa mengalahkan Lolap?"

"Harap ciangbun thaysu jawab pertanyaan dari aku orang she Wi memberi jawab pun atas perkataan Ciangbun thaysu tadi."

Tanpa terasa lagi Yuan Kuang thaysu sudah melirik sekejap kearah diri Ti Then, diam-diam dalam hatinya berpikir terus.

Walau pun dirinya belum pernah melihat kitab pusaka Ie Cin Keng itu tetapi dari ciangbunyin yang terdahulu sudah pernah mempelajari ilmu tersebut ditambah lagi dengan latihan sendiri selama puluhan tahun, sudah tentu tidak mungkin bisa di kalahkan oleh seorang pemuda yang baru saja mempelajari kitab pusaka Ie Cin Keng, karenanya segera dia menganguk.

"Baiklah."

Sahutnya "Jika Ti Siauw sicu bisa mengalahkan Lolap maka hal ini bisa dibuktikan kalau kepandaian silatnya bukan berasal dari kitab pusaka Ie Cin Keng."

Wi Ci To tersenyum kegirangan-"Kalau begitu ciangbun thaysu sudah menyanggupi untuk bertanding dengan diri Ti Kiauw tauw?"

Desaknya. Keadaan Yuan Kuang Thaysu waktu ini sudah menyerupai duduk di punggung harimau, untuk maju salah untuk mundur pun salah, terpaksa dia mengangguk kembali.

"Benar."

Perlahan-lahan Wi Ci to menoleh kearah Ti Then, ujarnya sembari tersenyum.

"Ti Kiauw tauw inilah kesempatan yang paling bagus buatmu untuk membersihkan diri dari fitnah itu, maukah kau minta sedikit pelajaran dari ciangbun thaysu?"

Di dalam anggapan Ti Then untuk memukul rubuh seorang ciangbunyin mungkin bisa merusak nama baik orang lain, ketika mendengar perkataan itu dengan gugup sahutnya.

"Jika ada cara yang lain kita digunakan untuk membersihkan fitnah ini lebih baik jangan main kekerasan saja"

"Hal ini haruslah minta petunjuk dari ciangbun thaysu."

Sambung Wi Ci To cepat-cepat sembari tertawa. Ti Then segera merangkap tangannya memberi hormat kepada Yuan Kuang Thaysu, ujarnya dengan hormat.

"Selain diselesaikan dengan kekerasan harus menggunakan cara apa lagi Ciangbun thaysu baru mau percaya kalau cayhe tidak pernah memperoleh kitab pusaka Ie Cin Keng?"

Air muka Yuan Kuang Thaysu berubah keren, lama sekali dia berpikir tapi akhirnya jawabnya.

"Lolap tidak punya cara yang lebih baik lagi.."

"Kalau memang betul-betul ingin menggunakan kekerasan cayhe punya satu permintaan harap Ciangbun thaysu mau penuhi"

"Siauw sicu silahkan bicara"

"Kita jangan bergebrak di sini, bahkan tidak diperkenankan orang ketiga hadir di dalam kalangan pertempuran, Ciangbun thaysu bersama-sama cayhe lebih baik cari satu tempat yang sunyi untuk bertanding, siapa menang siapa kalah tidak usah diberitakan keluar, Bagaimana??"

Waktu itu Yuan Kuang Tbaysu sedang merasa kuatir kalau dirinya menemui kekalahan di tangan pemuda itu, mendengar perkataan ini hatinya menjadi amat girang dengan senyuman manis sahutnya.

"Bagus sekali, tetapi lolap juga ada permintaan, kalau di dalam pertandingan ini beruntung Lolap yang menang masih mengharapkan Siauw sicu mau serahkan kitab pusaka Ie Cin Keng itu secara rela hati sehingga dapat lolap bawa kembali kekuil Siauw lim si"

Ti Then terpaksa tertawa pahit.

"Di dalam dunia ini tidak ada barang yang lebih berharga dari nyawa sendiri, jikalau cayhe sudah kalah dan tidak sanggup mengembalikan kitab pusaka Ie Cin Keng itu, Ciangbun Thaysu masih bisa membawa batok kepala cayhe untuk dibawa pulang."

Yuan Kuang Thaysu segera merangkap tangannya di depan dada.

"Omintohud..omitohud ."

Pujinya kepada sang Budha.

"Lolap adalah pendeta Budha, tidak berani melakukan pembunuhan kepada sesama manusia"

"Kalau begitu, cayhe rela bunuh diri di hadapan ciangbun thaysu"

Yuan Kuang Thaysu sekali lagi menghela napas panjang.

"Loalap hanya menginginkan kitab pusaka Ie Cin Keng dapat dikembalikan kepada kuil kami, yang lain sama sekali tidak mengharapkan"

"Bagaimana kalau kita berangkat sekarang juga?"

Ujar Ti Then sambil bangkit berdiri. Yuan Kuang Thaysu segera mengangguk dan bangkit berdiri, kepada si hwesio berwajah riang ujarnya.

"It sim, kau temanilah Wi Lo sicu di sini. Lolap dengan Ti Siauw sicu tidak lama akan kembali."

Di dalam hati sihwesio berwajah riang tahu apa maksud perkataan dari Ciangbunyin ini karenanya dengan sangat hormat dia menyahut.

"Tecu terima perintah."

Kepada Wi Ci To itu Pocu dari Benteng seratus pedang Yuan Kuang Thaysu juga memberi hormat setelah itu barulah ujarnya kepada Ti Then yang sudah bangkit berdiri.

"Siauw sicu, mari kita berangkat"

Demikianlah Ti Then serta Yuan Kuang Thaysu masing-masing segera berjalan ke luar dari Benteng menuju ke arah tanah pegunungan yang sunyi, tanya Yuan Kuang Thaysu kemudian ditengah perjalanan.

"Ti Siauw sicu punya maksud mau bertanding ditempat mana?"

"Lebih baik Ciangbun thaysu saja yang menentukan."

Yuan Kuang Thaysu menundukkan kepalanya berpikir sebentar, akhirnya dia baru menyawab.

"Di atas puncak selaksa Buddha jarang terdapat jejak manusia, bagaimana kalau kita selesaikan di sana saja?"

"Baiklah."

Sahut Ti Then singkat.

Tongkat ditangan Yuan Kuang Thaysu itu segera ditutulkan ke atas permukaan tanah, tubuhnya dengan cepat melayang ke tengah udara kemudian mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya melayang menuju ke tengah gunung.

Perkataan dari Ti Then ini memang beralasan sekali.

toya yang dibawa Yuan Kuang Thaysu itu dibuat dari baja murni, mungkin beratnya berada di atas tiga puluh kati, jika dikatakan kalah sedikit memang beralasan, karenanya setelah Yuan Kuang thaysu mendengar perkataan ini perasaan malunya juga sudah lenyap separuh, dia menarik napas panjang-panjang ujarnya kemudian sesudah memandang pemandangan disekelilingnya.

"Lolap sudah ada dua puluh tahunan lamanya tidak berkunjung ke sini, pemandangan ditempat ini sama sekali tidak berubah"

"Walau pun selaksa tahun pemandangan akan tetap utuh, tetapi manusia tidak akan luput dari tua, sakit dan binasa"

Wajah Yuan Kuang tbaysu kelihatan sedikit bergerak, dengan pandangan mata terpesona dia pandang diri Ti Then.

Waktu inilah dia baru merasa sifat dari Ti Then jauh berlainan dengan sifat pemuda-pemuda lainnya, dia memiliki suatu semangat yang lain, pemuda semacam ini apa mungkin punya hati rakus terhadap sebuah kitab Ie Cin Keng.

Ketika Ti Then melihat dia memandang dirinya dengan terpesona, segera angkat bahunya, ujarnya kemudian "Mari kita mulai saja." -ooo0dw0ooo-

Jilid 16.1. Hong Mong Ling melarikan diri "EHMM ... ."

Sesudah termenung beberapa waktu tanyanya lagi "Siauw sicu punya rencana mau bertanding dengan menggunakan cara apa?"

"Cayhe mengikuti petunjuk Ciangbun thaysu saja"

Agaknya Yuan Kuang Thaysu sudah mengubah kembali pendiriannya.

"Bagaimana kalau begini saja?"

Ujarnya sambil tertawa dengan lucunya.

"Kita saling bergebrak dengan tidak usah bertanding secara langsung, kini Lolap perlihatkan beberapa kepandaian terlebih dulu jikalau siauw sicu bisa melakukan seperti apa yang lolap lakukan maka lolap akan percaya kalau Siauw sicu belum pernah memperoleh kitab pusaka Ie Cin Keng itu"

Ti Then mengangguk tanda setuju.

"Baiklah, silahkan ciangbun thaysu memberi petunjuk."

Sepasang mata Yuan Kuang Thaysu mulai berputar memandang sekeliling tempat itu setelah dilihatnya ada beberapa batu cadas raksasa yang amat besar lalu dia berjalan ke sana, ujarnya.

"Silahkan siauw sicu juga ikut kemari"

Dia berjalan mendekati batu cadas raksasa itu kemudian meletakkan toyanya ke atas tanah. sesudah meraba beberapa kali ke atas batu cadas itu ujarnya sembari tertawa..

"Batu cadas ini sungguh atos sekali."

Siapa tahu belum habis dia berkata batu cadas raksasa itu bagaikan sebatang kayu yang amat lapuk hanya sedikit dikebas dengan menggunakan telapak tangannya batu itu selapis demi selapis terkupas dan remuk menjadi bubuk.

"Kekuatan telapak dari Ciangbun thaysu sungguh amat lihay."

Puji Ti Then sesudah melihat demontrasi ini. Air muka Yuan Kuang Thaysu sedikit berubah dan memperlihatkan kegirangan hatinya, dia mundur satu langkah ke belakang kemudian ujarnya sembari tertawa.

"Hanya suatu permainan yang tidak ternilai, harap siauw sicu-jangan dibuat bahan tertawaan"

"Kekuatan pukulan dari Ciangbun thaysu ini apakah menggunakan ilmu yang termuat di dalam kitab pusaka Ie cin Keng?"

"Tadi sewaktu Lolap masih berada di dalam Benteng sudah pernah berkata di dalam kitab pusaka Ie Cin Keng itu hanya melulu ilmu untuk melatih badan saja, tetapi bilamana sim Hoat yang termuat di dalamnya sudah berhasil dipelajari maka dimana kau mau maka segala ilmu dan kekuatan bisa dilaksanakan"

Ti Then dengan perlahan mengangkat tangannya dan sedikit ditekan ke atas batu cadas raksasa yang lainnya, ujarnya.

"Jika ditinyau dari keadaan barusan ini maka kekuatan pukulan yang termuat di dalam kitab cusaka Ie Cin Keng termasuk golongan keras atau golongan Yang, bukan begitu??"

Ketika Yuan Kuang Thaysu melihat telapak tangannya yang menekan di atas batu cadas sama sekali tidak membuat batu cadas itu mengalami suatu perubahan yang aneh, di dalam anggapannya mengira tentu dia sedang mengukur keatosan dari batu cadas itu, diam-diam di dalam hatinya merasa geli, Tetapi dia mengangguk juga.

"Boleh dikata memang demikian"

"Untung saja ilmu yang cayhe pelajari bukan termasuk golongan Yang melainkan banyak kelunakannya"

Seru Ti Then dengan perasaan amat senang.

"Mungkin dengan berdasarkan golongan im ini cayhe bisa membuktikan kalau ilmu yang cayhe pelajari bukan berasal dari kitab pusaka Ie Cin Keng"..

"Sekarang silahkan siauw sicu memperlihatkan sedikit ilmumu agar lolap bisa membuka sedikit mata lolap"

Ti Then segera berjongkok di samping batu cadas tadi, mulutnya dengan perlahan didekatkan dengan batu cadas yang baru saja ditekan dengan tangannya itu, laksana sedang meniup semangkok kuah yang amat panas dia meniup batu cadas itu perlahan sekali.

Seketika itu juga batu cadas raksasa yang amat atos itu berterbangan keempat penjuru dalam bentuk hancur lebur seperti bubuk.

Kiranya sewaktu tadi dia menekan batu cadas tersebut saat itulah dia sudah membusukkan seluruh batu cadas itu, karena kekuatan pukulannya termasuk golongan im inilah maka keadaan di luar dari batu itu masih kelihatan utuh.

Air muka Yuan Kuang Thaysu segera berubah amat hebat, kemudian berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus karena waktu ini dia sudah melihat kalau tenaga pukulan Ti Then ini memang termasuk golongan lunak atau golongan im, Tetapi yang membuat dia benar-benar merasa terperanyat adalah tenaga pukulan dari Ti Then ternyata jauh lebih tinggi satu tingkat dari kekuatannya sendiri, seorang pemuda yang baru dua puluh tahunan sudah berhasil melatih ilmunya hingga mencapai taraf yang demikian hebatnya sungguh merupakan suatu peristiwa yang mimpi pun dia tidak pernah menduga.

Dia menarik napas panjang-panjang, sesudah berhasil memenangkan hatinya dengan memperhatikan senyumannya yang amat pahit ujarnya.

"Sunggguh lihay sekali, dengan usia siauw sicu yang masih drmikian mudanya ternyata sudah berhasil melatih ilmumu hingga mencapai taraf yang demikian tinggi sungguh sukar sekali sungguh sukar sekali"

Ti Then segera membungkukan badannya memberi hormat.

"Apakah sekarang ciangbun Thaysu sudah percaya kalau ilmu silat yang cayhe pelajari bukan berasal dari kitab pusaka Ie Cin Keng itu??"

Di dalam hati sudah tentu Yuang Kuang Thaysu sudah percaya seratus persen tetapi untuk melindungi sedikit wajahnya dia tidak mau langsung memberikan jawabannya, dia tersenyum.

"Lolap masih ingin menyajal kepandaian silat dari siauw sicu sicu sekali lagi harap siauw sicu mau meminyamkan pedang tersebut kepada Lolap untuk digunakan sebentar"

Ti Then segera melepaskan pedangnya kemudian diangsurkannya ujarnya sambil tertawa.

"Sudah lama cayhe dengar ilmu pedang dari Ciangbun Thaysu amat lihay, ini hari ada keberuntungan sungguh membuat cayhe merasa sangat girang sekali."

Yuan Kuang thaysu hanya berdiam diri saja tidak menyawab, setelah menerima pedang tersebut dia berjalan menuju ke puncak yang teratas dan membabat putus sebuah pohon siong sebesar rangkulan tangan sesudah membuang akar pohon itu, pohon yang sepanjang lima depa dipotong potongnya menjadi tiga bagian kemudian diangsurkan kepada Ti Then ujarnya.

"Harap siauw sicu melemparkan ketiga potongan pohon itu ketengah udara"

"Baiklah..silahkan ciangbun thaysu bersiap-siap"

Sahut Ti Then sambil mengangguk, kemudian menerima ketiga buah potong pohon tersebut.

"Sekarang silahkan lemparkan potongan itu ketengah udara.."

Ti Then segera melemparkan potongan-potongan pohon ketengah udara setinggi kurang lebih lima depa dia sudah tahu Yuan Kuang Thaysu mau mendemontrasikan apa kerenanya dengan gaya yang amat bagus dia melemparkan ketiga buah potongan pohon itu ketengah udara dengan berpisah sehingga antara ketiga potongan itu ada jarak sejauh tiga depa.

Yuan Kuang Thaysu berdiam diri hingga ke tiga buah gotongan itu berada kurang lebih tiga depa dari permukaan tanah mendadak dia bersuit panjang, tubuhnya meloncat ke atas sedang pedangnya bagaikan kilat cepatnya dikebaskan beberapa kali di tengah udara kemudian tubuhnya melayang kembali ke atas tanah.

Potongan pohon yang semula hanya tiga bagian itu kini sudah berhasil dibabat putus menjadi enam bagian bahkan setiap bagian sama panjangnya dan bekas potongannya rata semua.

Melancarkan serangan ditengah udara bahkan bisa memotong tiga bagian batang pohon menjadi enam bagian yang sama besarnya hanya di dalam sekejap mata hal ini boleh dikata sudah mencapai pada taraf yang tertinggi tiada tara.

Bilamana pada setahun yang lalu Ti Then melihat demontrasi ilmu pedang dari Yuan Kuang Thaysu ini pasti dia akan dibuat terperanyat, tetapi ini hari sekali pun kepandaian ilmu pedang dari Yuan Kuang Thaysu amat tinggi tetapi di dalam pandangannya hal itu bukanlah suatu pekerjaan yang amat sukar hanya saja pada air mukanya sengaja dia perlihatkan perasaan kagumnya, dengan keras dia berteriak memuji.

Kali ini Yuan Kuang Thaysu tidak berani memperlihatkan senyuman bangganya lagi, dia hanya tersenyum saja lalu mengembalikan pedang itu ketangan Ti Then, ujarnya.

"Lolap tahu permainan barusan ini sangat jelek sekali, tetapi bilamana tidak berbuat begini pasti tidak bisa melihat kelihayan ilmu pedang dari siauw sicu."

Ti Then segera menerima kembali gedangnya dengan menggunakan sepasang tangannya.

"Kepandaian dari cayhe mungkin tidak bisa memadahi kepandaian dari ciangbun thaysu"

"Bilamana siauw sicu berbicara demikian lagi berarti juga sedang menyindir diri lolap"

Ti Then tidak mau banyak bicara lagi segera dia mengambil potongan kayu yang lainnya kemudian diangsurkan ke tangannya.

"Cayhe juga akan ikut seperti apa yang ciangbun thaysu sudah kerjakan-"

Yuan Kuang Thaysu segera mundur tiga langkah ke belakang.

"Silahkan bersiap sedia"

Serunya, kemudian batang pohon itu dilemparkan ke tengah udara.

Di dalam hati dia agak sedikit lega karena dalam hati dia menganggap bilamana Ti Then mau membabat putus satu batang kayu tidak perduli bagaimana lihaynya paling banyak juga hanya bisa membabat menjadi tiga bagian saja seperti dirinya.

Tetapi perasaan girang yang bermunculan di dalam hatinya di dalam sekejap saja sudah lenyap tanpa bekas.

Terlihatlah tubuh Ti Then laksana seekor burung bangau yang membumbung tinggi ke angkasa melompat setinggi tiga kaki lebih kemudian gedang ditangannya laksana kilat cepatnya dikibaskan tiga kali setelah itu baru melayang turun kembali ke atas permukaan.

Potongan kayu yang melayang ditengah udara dengan tetap menyaga keadaannya semula melayang terus ke bawah, tetapi begitu mencapai permukaan tanah segera berpisah menjadi enam bagian.

Yang berbeda dengan demonstrasi Yuan Kuang Thaysu tadi, dia bukannya membabat putus kayu itu dengan berbentuk silang melainkan lurus-lurus enam bagian yang sama bagian babatan amat licin sekali.

Melihat kejadian itu Yuang Kuang Thaysu hanya bisa melelerkan lidahnya di dalam hati dia merasa terkejut bercampur syukur, yang membuat dia terkejut tak usah dikata lagi sedang yang membuat dia bersyukur adalah dirinya masih bisa melihat gelagat dan cepat-cepat mengubah keadaannya sendiri sehingga tak sampai bergebrak dengan dirinya, jika sampai bertempur bukankah nama besar dirinya selama ini akan ikut hancur hanya di dalam sekejap mata.

Ti Then yang melihat air mukanya penuh diliputi perasaan terperanyat di dalam hati diam-diam merasa geli, segera dia masukkan kembali pedangnya ke dalam sarung, ujarnya sembari merangkap tangannya memberi hormat.

"Apa Ciangbun thaysu masih ingin mencoba lagi??"

"Tidak perlu..tidak perlu"

Sahutnya cepat sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

"Kalau begitu Ciangbun thaysu masih menganggap ilmu yang cayhe dapatkan ini berasal dari kitab cusaka Ie Cin Keng?"

"Tidak"

Sekali lagi Yuan Kuang Thaysu gelengkan kepalanya "Sekarang Lolap sudah tahu kalau kepandaian silat yang siauw sicu saat ini bukanlah berasal dari kitab pusaka Ie Cin Keng, karena kemahiran dan kelihayan dari kepandaian silat siauw sicu sekarang sudah jauh melebihi ilmu yang termuat di dalam kitab pusaka Ie Cin Keng tersebut."

Ti Then menjadi amat girang.

"Kalau begitu bagus sekali."

"Ti siauw sicu masih muda tapi sudah berhasil memiliki kepandaian silat yang demikian dahsyat sungguh membuat orang lain sukar untuk mempercayainya."

Puji Yuan Kuang Thaysu.

"Terima kasih atas pujian dari Ciangbun thaysu, tapi di dalam hal kepandaian silat kita harus mengutamakan juga akan pengalaman, kini pengalaman yang cayhe dapatkan masih sangat cetek. bilamana harus sungguh-sungguh bertempur mungkin belum merupakan tandingan dari Ciangbun Thaysu"

Sudah tentu Yuang Kuang Thaysu tahu kalau perkataannya ini hanya suatu hiburan buat dirinya di dalam hati dia merasa semakin kagum lagi terhadap sikapnya ini.."Ha ha ha ha . ."

Dia tertawa tergelak dengan amat keras.

"Siauw sicu, jangan kira Lolap adalah seorang ciangbunyin dari suatu partai besar lalu tidak bisa mengalami kekalahan, kita dari partai Siau lim si tujuan yang terutama di dalam melatih ilmu silat adalah untuk kesehatan badan kita dan bukan bertujuan untuk merebut nama kosong, karena itu sekali pun dikalahkan orang lain tidak sampai memasukkan hal ini ke dalam hati"

"Tetapi ini hari ciangbun thaysu belum kalah."

Bantah Ti Then cepat.

"Siapakah suhumu apakah dapat siauw sicu beritahukan?"

"Suhu cayhe adalah seorang BuBeng Lojin"

"Bu Beng Lojin??"

Tanya Yuan Kuang Thaysu keheranan-"Benar"

Sahut Ti Then mengangguk.

"selamanya suhu hidup di tanah pegunungan yang sunyi dan selama ini tidak pernah memberitahukan namanya kepada cayhe."

Diam-diam Yuang Kuang Thaysu merasa amat heran tapi tidak terlalu mendesak untuk menanyai lebih lanjut, ujarnya kemudian.

"Di dalam Bu lim saat ini semua orang bilang kepandaian silat dari Si kakek pemalas Kay Kong Beng merupakan jagoan nomor wahid, terapi jika dilihat dari Siauw sicu sekarang ini lolap berani bertaruh kalau kepandaian silat dari suhumu pasti jauh berada di atas kepandaian silatnya si kakek pemalas Kay Lo sicu."

Ti Then hanya tersenyum saja tidak menyawab. Yuan Kuang Thaysu segera merangkapkan tangannya di depan dada untuk memberi hormat.

"Kesalah pahaman yang lalu membuat Siauw sicu menemui berbagai kesulitan, di sini Lolap minta maaf terlebih dulu atas kekhilafan tersebut."

"Tidak mengapa... tidak mengapa, kesalahan ini bukan terletak pada diri ciangbun taysu sekalian "

Seru Ti Then dengan cepat. Yuan Kuang Taysu menghela napas panjang.

"Hong siauw sicu itu-jadi orarg sungguh amat bahaya sekali, tidak nyana dengan wajahnya yang begitu tampan dan gerak geriknya yang begitu sopan selain mem punyai sifat serta hati yang begitu licik, kejam dan banyak akal busuk"

"Heeii.. karena mau mencelakakan diri cayhe dia sudah menyiarkan berita bohong ini akhirnya dari perbuatannya ini sudah mencelakai dua puluh orang yang menemui ajalnya."

"Dua puluh orang?"

Tanya Yuan Kuang Thaysu dengan nada amat terperanyat.

"Banyak orang Bu lim yang mendengar berita yang mengatakan cayhe sudah mendapatkan kitab pusaka Ie Cin Keng itu lalu masing-masing pada berdatangan untuk merebut kitab tersebut dari tangan cayhe yang pertama-tama adalah si Menteri pintu serta Pembesar Jendela dua orang anak buah dari si anying langit rase bumi mereka berhasil cayhe lukai dan melarikan diri, setelah itu Kwan si Ngo Koay yang akhirnya empat orang saudaranya mati di bawah pedangku, lalu si majikan ular serta Kakek kura-kura, masing-masing kehilangan sebuah lengannya, dan terakhir si anying langit rase bumi berserta kedelapan belas orang malaikat iblisnya, hal ini bahkan merupakan peristiwa yang terjadi kemarin hari, akhirnya si anying langit Kong sun Yau beserta ke tujuh belas orang malaikat iblisnya sudah pada binasa."

Yuan Kuang Thaysu begitu mendengar hal semacam ini begitu selesai mendengar perkataan itu dia menjerit kaget.

"Omitohud ..omitohud..tidak kusangka Hong Siauw sicu sudah mencelakai orang begitu banyaknya. ."

"Nanti setelah sampai di dalam Benteng biarlah cayhe perintahkan orang untuk memanggil Cang Bun Piauw. Ku Ie serta Liuw Su cen untuk dimintai keterangan"

Ujar Ti Then dengan perlahan.

"Dengan demikian ciangbun thaysu akan menjadi jauh lebih jelas kalau urusan ini semuanya ditimbulkan oleh Hong Mong Ling seorang."

Yuan Kuang Thaysu segera memungut kembali toyanya.

"Tidak perlu..tidak perlu. Kesalah pahaman ini kita sudahi sampai di sini saja, mari sekarang kita kembali ke dalam Benteng."

Demikianlah kedua orang itu segara berjalan menuruni puncak selaksa Buddha kembali ke dalam Benteng.

Sesampainya di dalam Benteng Pek Kiam Po, Wi ci To mau pun si hwesio berwajah riang yang melihat wajah mereka berdua penuh diliputi oleh perasaan girang di dalam hati merasa sangat berada diluar dugaan.

Tetapi sesudah mendapatkan penjelasan dari Yuan Kuang Thaysu apa yang sudah terjadi di atas puncak Selaksa Buddha barulah mereka paham kembali akan kesalah pahaman ini.

Yuan Kuang Thaysu duduk lagi beberapa waktu di dalam Benteng setelah itu barulah dia bangkit berdiri dan berkata.

"Karena ada perubahan yang terjadi di dalam benteng Pek Kiam Po lolap tidak berani mengganggu terlalu lama. Haai, sekarang silahkan Ti siauw sicu mengikuti lolap kembali ke dalam kota untuk membawa kembali Hong siauw sicu."

Wi Ci To juga tidak menahan lebih lama lagi, segera dia pun ikut berdiri.

"Baiklah"

Sahutnya kemudian "Besok pada pertemuan di atas gunung Hoa san kita berbicara lebih banyak lagi."

Dia berhenti sebentar, kemudian secara tiba-tiba tambahnya.

"Sudah tentu kalau aku orang she Wi bisa hidup lebih lama lagi, sampai waktunya pertemuan di atas gunung Hoa san"

Mendengar perkataan itu Yuan Kuang Thaysu menjadi melengak.

"Apa maksud dari perkataan Lo sicu ini?"

Wi ci To tersenyum.

"Tidak ada arti yang istimewa, manusia bukanlah malaikat, siapa yang kuat hidup lebih lama lagi di dalam dunia ini, Bukan begitu?"

"Dengan kepandaian dari Lo sicu yang sudah berhasil melatih seluruh tubuhnya sudah tentu akan diberi panjang umur, untuk hidup sampai usia seratus tahun belumlah menjadi suatu persoalan yang sulit."

Wi Cio To hanya tersenyum tidak memberikan jawabannya lagi.

Demikianlah tua muda lima orang lalu berjalan meninggalkan ruangan, Wi Ci To mengiringi tamu-tamunya sampai di depan pintu Benteng barulah berhenti.

Wi Lian In yang berdiri disisinya Ti Then tiba-tiba angkat bicara.

"Kau mau pergi dengan menunggang kuda?"

"Tidak perlu"

Jawab Ti Then segera.

"Kuda Ang san Khek masih berada dirumah penginapan Hok An, nanti sekalian aku naiki untuk bawa kembali ke dalam Benteng". Yuan Kuang Thaysu beserta si hwesio berwajah riang segera berpamitan dengan Wi Ci TO, lalu bersama-sama dengan Ti Then melanjutkan perjalanan menuju ke dalam kota Go bi. Ditengah parjalanan, ujar si hwesio berwajah riang itu.

"Ti siauw sicu, waktu lalu pinceng sudah menaruh perasaan curiga terhadap siauw sicu harap kau mau memaafkannya, hanya sampai kini pinceng masih ada sesuatu hal yang tidak jelas, entah siauw sicu memberikan penjelasannya"

"Baiklah. silahkan taysu berbicara."

"Urusan yang pinceng tidak paham adalah itu Hu Pocu Huang Puh Kian Pek yang hidup berdampingan selama puluhan tahun lamanya sebagai suheng te dengan Wi Pocu, bahkan jadi orarg jujur dan mengutamakan keadilan, bagaimana kini bisa melupakan hubungan suheng-te dengan diri Wi Ci To sebaliknya malah menaruh simpatik dan membantu diri Hong Mong Ling?"

Mendengar pertanyaan ini Ti Then agak melengak.

"Bukankah soal ini sejak tadi Wi Pocu sudah memberi penjelasan sejelas-jelasnya"

Si hwesio berwajah riang tersenyum.

"Wi Pocu bilang Ho Pocu Huang Puh Kian Pek terlalu sayang terhadap diri Hong Mong Ling, tetapi penjelasan semacam itu sukar membuat orang lain merasa puas"

Di dalam hati Ti Then tahu tujuan Huang Puh Kian Pek bersekongkol dengan Hong Mong Ling adalah untuk membasmi dirinya dari dalam Benteng Pek Kiam Po kemudian meneruskan rencananya untuk mencari suatu barang pusaka yang tersimpan di dalam Loteng Penyimpan Kitab tersebut, tetapi terhadap persoalan ini bagaimana dia bisa menjelaskan kepada pihak lain ??

segera dia tersenyum sahut dengan perlahan.

"Sungguh maaf sekali, tentang hal ini cayhe tidak punya hak untuk memberikan penjelasannya "

"Kenapa?? "

Desak si hwesio berwajah riang itu lagi. Ti Then merasa pertanyaan ini menggelikan, terpaksa dengan serius dijawabnya.

"Karena cayhe sendiri juga tidak paham kenapa Hu Pocu Huang Puh Kian Pek mau berbuat demikian"

"Apakah di dalam waktu waktu ini diantara mereka suheng te sering ada percekcokan??"

"Tidak tahu, Cayhe baru memasuki Benteng Pek Kiam Po selama dua bulan saja di dalam dua bulan ini ada ada setengah bulan lamanya tidak berada dalam Benteng, karenanya apakah diantara Wi Pocu dengan Hu pocu Huang Puh Kian pek sering ada percekcokan cayhe sendiri sama sekali tidak tahu"

"Wi Ci To jadi orang jujur dan mengutamakan keadilan sehingga dihormati oleh semua orang di dalam Bu lim"

Tambah si hwesio berwajah riang itu lagi.

"Bilamana di dalam peristiwa Wi Pocu tidak memberikan keterangan yang masuk akal mungkin akan menimbulkan dugaan yang simpang siur di dalam Bu lim."

"It sim hati-hati kalau berbicara"

Tiba-tiba Yuan Kuang thaysu membentak keras, memotong pembicaraannya.

Air muka si hwesio berwajah riang segera berubah memerah, dia tidak berani melanjutkan kembali kata-katanya.

Ti Then yang melihat air mukanya sangat tidak enak segera mengubah bahan pembicaraan.

"Oooh yaah benar, tadi sewaktu masih berada di dalam Benteng Wi Pocu pernah membicarakan soal pertemuan yang diadakan di atas gunung Hoa san setiap pembukaan tahun, sebetulnya dikarenakan urusan apa??"

"Itu hanya suatu pertemuan persahabatan saja"

Jawab Yuan Kuang Thaysu mengangguk.

"Pertemuan ini timbul dari pikiran Wi Lo sicu pada dua belas tahun yang lalu, dia mengajak si kakek pemalas Kay Kong Beng, ciangbunyin dari Bu tong Pay Ling Cing cinyien beserta lolap untuk setiap tiga tahun mengadakan satu kali pertemuan di atas gunung Hoa san untuk saling tukar pikiran dan minum arak. hal ini hanya terbatas pada pembicaraan persoalan Bu lim serta hubungan persahabatan diantara kita berempat saja."

"Apa juga membicarakan kepandaian silat?"

Tanya Ti Then-"Tidak.

walau pun kita membicarakan persoalan Bu lim tetapi sama sekali tidak pernah menyinggung soal ilmu silat karena semua orang tidak ingin terjadi perselisihan karena persoalan tersebut."

"Kalau memangnya hanya untuk mengikat persahabatan saja, buat apa harus diadakan setiap tiga tahun sekali bahkan memilih tempat gunung Hoa san yang begitu jauh letaknya?"

Tanya Ti Then lagi.

"Siauw sicu kau tidak tahu, pertemuan semacam ini sangat menyenangkan sekali, apalagi anak murid dari Wi Lo sicu, Butong mau pun siauw limpay amat banyak dan bersama-sama melakukan perjalanan di dalam Bu lim, bagaimana pun juga tidak terhindar dari bentrokan-bentrokan, bilamana diantara kita bertiga mem punyai suatu ikatan persahabatan yang erat dengan sendirinya urusan bisa dibereskan dengan amat mudah sekali."

Ti Then yang mendengar akan hal ini tanpa terasa sudah anggukkan kepalanya berulang kali.

"Ehmm, jika dipikir secara begini pertemuan itu sungguh menarik sekali"

"Kita berempat sudah mengadakan pertemuan sebanyak tiga kali di atas gunung Hoa san"

Sambung Yuan Kuang Thaysu lagi "Dikarenakan banyaknya orang Bu lim yang tahu akan pertemuan di atas gunung Hoa san inilah membuat pertemuan kita ini bertambah lagi dengan suatu urusan"

"Urusan apa?"

Potong Ti Then cepat.

"Ada berapa orang kebanyakan ilmu silat mereka biasa saja, dengan meminyam kesempatan sewaktu kami berempat mengadakan pertemuan di atas gunung Hoa san untuk membereskan persoalan mereka dan memintakan keadilan bagi mereka sehingga banyak urusan yang sudah kami bereskan. Tapi lama kelamaan orang yang naik ke atas gunung semakin lama bahkan semakin banyak. Demikianlah sejak itu orang-orang bulim telah menganggap pertemuan kita berempat di atas gunung Hoa san merupakan suatu pertemuan bu lim untuk menegakkan keadilan."

Yuan Kuang thaysu mengangguk "Hanya saja orang-orang yang minta bantuan semakin lama semakin banyak membuat kami merasa sedikit kewalahan juga."

Demikianlah mereka bertiga sama-sama melakukan perjalanan sembari berbicara, tidak terasa setengah jam sudah dilewatkan dengan amat cepat sedang mereka pun sudah tiba di dalam kota Go bi.

Ti Then mampir ke penginapan Hok An terlebih dulu untuk membereskan rekeningnya, sesudah menuntun kuda Ang shan Kheknya barulah bersama-sama Yuan Kuang thaysu bertiga berjalan menuju ke kuil Kuang Hoa si.

sesampainya di depan kuil Kuang Hoa si terlihatlah seorang hwesio kecil dengan tergesa-gesa lari masuk untuk memberikan laporan, tidak lama kemudian majikan dari kuil Kuang Hoa si beserta seorang lohan berjalan keluar menyambut kedatangan ciangbunyin dari partai siauw lim ini, sehabis bercakap-cakap sebentar dengan majikan kuil barulah Yuan Kuang Thaysu berkata kepada seorang lohan yang berada disisinya itu.

"Bu In, kau pergi bawa Hong siauw sicu kemari"

Lo han yang bernama Bu In itu segera memperlihatkan air muka yang serba susah.

"Apakah ciangbun thaysu mau serahkan Hong siauw sicu kepada pihak Benteng Pek Kiam Po??"

"Benar"

Sahut Yuan Kuang Thaysu sembari tersenyum.

"urusan sudah dibikin beres, Ti siauw sicu ini memang betul-betul tidak pernah mendapatkan kitab pusaka Ie Cin Keng"

"Tetapi, tetapi..."

Seru Lo Han itu gugup. Air muka Yuan Kuang Thaysu segera berubah hebat, ujarnya dengan nada serius.

"Apanya tetapi..tetapi, cepat bawa Hong siauw sicu kemari"

Air muka Lo Han itu segera berubah jadi merah padam seperti kepiting rebus, serunya dengan semakin gugup.

"Tecu sedang bersiap-siap melaporkan hal ini kepada Ciangbunyien, itu Hong siauw sicu itu sudah melarikan diri"

Mendadak Yuan Kuang Thaysu bangkit berdiri dengan perasaan gusar bercampur terkejut bentaknya.

"Apa?? dia sudah melarikan diri?? Kalian yang lepaskan dia pergi jauh??"

"Bukan..bukan..bukan. ."

Seru Lo han yang disebut "Bu In"

Itu "Tecu sakalian sudah menerima perintah dari Ciangbunyin bagaimana berani melepaskan pergi?? dia melarikan diri dengan menggunakan akal licik"

"Kurang ajar."

Teriak Yuan Kang Thaysu dengan amat gusar.

"Kalian delapan belas orang ternyata seorang pun tidak ada gunanya, hanya seorang saja tidak bisa menyaga."

"Urusan adalah demikian, tecu sekalian sesudah membawa dia datang kemari, lalu membantu mencegah darah yang mengalir keluar, setelah itu dia minta dihantarkan kekamar belakang, Bu sim suheng lalu membantu dia melepaskan jalan darahnya yang tertotok tapi dia bilang luka pada kakinya sangat sakit tidak bisa berjalan sendiri, dia minta Bu tim suheng membimbing dia ke belakang, Tecu sekalian yang melihat dia sukar untuk berjalan sendiri lalu memperhatikan gerak geriknya sehingga hanya Bu sin seorang saja membimbing dia ke belakang. setelah lewat lama Tecu sekalian tidak melihat dia kembali juga lalu menyusul ke belakang, terlihatlah Bu sim suheng seorang diri berdiri di depan Hei ketika tecu sekaLian masuk ke dalam saat itu baru tahu kalau dia sudah melarikan diri dari tempat tersebut."

"Goblok..goblok. Kalian semua goblok."

Teriak Yuan Kuang Thaysu dengan perasaan amat gemas.."Bu sim suheng sekalian segera melakukan pengejaran ke empat penjuru, tetapi sampai sekarang belum kembali juga.

Tetapi luka dari Hong siauw sicu amat parah, dia tidak mungkin bisa lari terlalu jauh dari sini, kemungkinan sekali masih bisa mengejar dia kembali."

"Mereka sudah mengejar beberapa lama?"

"Kurang lebih ada dua jam lamanya"

"Hmmmm."

Dengus Yuan Kuang Thaysu dengan dingin.

"Tentu dia berhasil meloloskan dirinya dari kejaran mereka, kalau tidak mengapa sedemikian lamanya masih belum kembali."

Pada wajah Lo han itu kelihatan muncul perasaan menyesal dan malunya, dia menundukkan kepalanya rendah-rendah tanpa mengucapkan sepatah kata pun juga.

Dengan perlahan Yuan Kuang Thaysu menoleh kearah Ti Then, ujarnya.

"Ti siauw sicu harap berlega hati, orang itu kita yang loloskan maka Lolap bertanggung jawab untuk menawan dia kembali"

"Tidak mengapa..tidak mengapa"

Jawab Ti Then cepat.

"Bangsat cilik itu jadi orang memang sangat licik dan banyak akal, sukar untuk dihadapi, ini hari bilamana ciangbun taysu tidak bisa berhasil mebawan dia kembali sudahlah tidak mengapa"

"Tidak"

Potong Yuan Kuang Thaysu dengan tegas.

"Lolap pasti akan tawan dia kembali untuk diserahkan ke dalam Benteng kalian"

Ti Then tidak mau berdiam lebih lama lagi ditempat itu segera dia berpamitan.

"Kemungkinan sekali bangsat cilik itu masih bertembunyi di dalam kota, biarlah cayhe ikut mencari dirinya"

Sehabis berkata dia merangkap tangannya memberi hormat kepada Yuan Kuang Thaysu, majikan dari kuil Kuang Hoa si serta salah satu Lo Han dari kedelapan belas Lo han itu, kemudian baru putar tubuhnnya berialu dari sana.

Setelah keluar dari kuil Kuang Hoa Si dengan menunggang kuda Ang Shan Khek dia berlari dengan cepatnya menuju ke rumah pelacuran Touw Hoa Yuan-Di dalam hatinya dia tidak bermaksud untuk menawan Hong Mong Ling dan dibawa kembali ke dalam Benteng Pek Kiam Po untuk dijatuhi hukuman mati oleh Wi Ci To, dia hanya ingin menawan dia kembali untuk ditanyai sesuatu hal, menanyai kenapa dia bersama-sama dengan Huang Puh Kian pek mem punyai rencana untuk bunuh dia, apa sebenarnya rencana yang terkandung dalam hati Huang Puh Kian Pek.

Wi Ci To pasti tahu apa rencana yang terkandung dalam hati Huang Puh Kian Pek, tapi untuk menyaga agar rahasia ini tidak sampai bocor, dia mau tak mau terpaksa harus mendesak Huang Puh Kian Pek untuk bunuh diri.

Sekarang saat ini hanya Hong Mong Ling seorang saja yang mungkin tahu rencana yang terkandung di dalam hati Huang puh Kian Pek, sedang rencana yang terkandung dalam hati Majikan patung emas kemungkinan sekali mirip dengan apa yang direncanakan oleh Huang puh Kian pek.

maka bilamana dia berhasil menawan Hong Mong Ling kemungkinan sekali akan segera tahu rencana rencana apa saja yang akan diberikan Majikan Patung emas kepadanya untuk dilaksanakan di dalam Benteng Pek Kiam Po.

Karena itulah dia sangat berharap bisa menawan kembali Hong Mong Ling.

Di dalam sekejap mata dia sudah tiba di depan pintu rumah pelacuran Touw Hoa Yan.

Ti Then cepat-cepat meloncat turun dari atas kuda dan berjalan masuk ke dalam halaman rumah.

setelah berhadap-hadapan dengan Ku ie dengan air muka adem ujarnya.

"Kalian sudah sembunyikan dia di tempat mana?"

Sejak semula Ku Ie sudah tahu apa yang sudah terjadi, kini melihat Ti Then berjalan masuk dengan air muka penuh diliputi Nafsu untuk membunuh, saking takutnya seluruh badannya sudah pada gemetar dengan amat keras.

"Ti ...tidak. tidak... kami tidak menyem... menyembunyikan Hong siangkong..."

"Omong kosong"

Bentak Ti Then dengan gusar. Hampir-hampir Ku Ie jatuh berlutut di hadapannya saking takutnya, dengan nada setengah merengek serunya.

"Sungguh, sungguh berani mati. sejak Hong siangkong dikejar Ti siangkong tadi pagi, sampai kini..belum pernah kembali lagi, kalau tidak percaya silahkan..silahkan periksa. ." -0000000-SEJAK TADI Ti Then sudah menduda kalau Hong Mong Ling tidak mungkin berani kembali kerumah pelacuran Touw Hoa Yuan ini lagi, tujuannya datang kemari hanya ingin mengetahui sedikit jejak dari Hong Mong Ling saja, segera dengan berat dia mendengus.

"Kalau begitu"

Ujarnya dengan keren "

Cepat beri jawaban dengan berterus terang, di dalam kota ini selain Cang Bunpiauw seorang dia masih punya berapa sahabat lagi?"

"Ti... tidak ada...tidak...ada. ."

Berulang kali Ku Ie menggelengkan kepalanya "Hong siangkong hanya berkenalan dengan Cang kongcu seorang, dia tidak punya kawan yang kedua"

"Dimana rumahnya Cang Bunpiauw itu?"

Bentak Ti Then lagi.

"Dekat dengan pintu kota sebelab utara, sesampainya di sana asalkan Ti siangkong bertanya pasti akan tahu."

Ti Then tertawa dingin tak henti-hentinya.

"Aku lihat lebih baik kalian ikut mendoakan agar aku dengan lancar berhasil menawan dia kembali, kalau tidak...Hmm Hmm"

Ku Ie semakin dibuat ketakutan, giginya berkeretuk sedang wajahnya berubah pucat.

"Baik ..baik. ."

Teriaknya dengan gemetar "Kepandaian dari Ti siangkong amat lihai, pasti bisa menawan dia kembali"

"Hmmm, sama sekali aku tidak menduga kalau nyali kalian begitu besar ternyata berani mencari gara-gara dengan pihak benteng Pek Kiam Po"

"Tidak..tidak ..."

Seru Ku Ie cemas sembari gelengkan kepalanya berulang kali "sekali pun kita memiliki nyali yang lebih besar pun tak berani bermusuhan dengan pihak Benteng Pek Kiam Po, Ti siangkong kau tahu Hong siangkorg itu ada orang amat galak dan kejam, waktu itu kami berdua berani mengunjungi Benteng Pek Kiam Po sebetulnya karena dipaksa bilamana kami tidak mau mendengarkan omongannya dia mau membakar habis rumah pelacuran Touw Hoa Yuan kami, maka kami berdua terpaksa ikut perintahnya."

"Hm ..lain kali jikalau dia datang kerumah pelacuran Touw Hoa Yuan kalian lagi kau harus kirim orang beritahukan kepada orang-orang orang benteng Pek Kiaw lo, tahu tidak"

Gertak Ti Then "Baik ..baik .... tahu..tahu"

Sahut Ku Ie sambil anggukkan kepalanya berulang kali.

Setelah itu barulah Ti Then putar tubuhnya berjalan keluar dari rumah pelacuran itu dan menuju ke pintu kota sebelah Utara.

sesampainya di dekat pintu kota sebelah utara dengan mudahnya dia berhasil menemukan rumahnya Cang Bun Piauw.

Terlihatlah di depan piutu rumah yang amat megah itu berdiri seorang pelayan dengan angkernya, cepat dia berjalan ke depan sambil tanyanya.

"Hei kongcu kalian ada dirumah tidak"

Mendapat tegoran yang kasar itu pelayan tersebut segera melototkan matanya bulat-bulat.

"Kau berbicara sama siapa?"

Bentaknya dengan gusar.

"Dengan kau."

Seru Ti Then tidak mau kalah sedang tangannya dengan keras menepuk pedang yang tergantung pada pinggangnya.

Agaknya pelayan itu tidak berani bersikap kasar lagi, setelah melihat gerak gerik dari Ti Then yang angker ini cepat-cepat dia tertawa paksa.

"oh betul..betul, siangkong tentunya teman baik kongcu kami, entah siapa namanya?"

"Aku orang she Ti"

"Ooh, oh ... kiranya Ti Kongcu adanya"

Jawab pelayan itu sambil memperlihatkan tertawanya yang dipaksakan.

"sungguh tidak beruntung kongcu kami sedang minum arak dengan seorang teman di atas loteng Go bi lo ..silahkan Ti Kongcu tunggu sebentar di dalam biarlah hamba pergi panggil dia kemari."

"Tidak usah, biar aku pergi cari sendiri"

Tidak menanti jawabannya lagi dia meloncat naik ke atas kudanya dan melarikan tunggangannya itu dengan cepat menuju ke loteng Go bi.

Loteng Go bi merupakan rumah makan dimana untuk pertama kalinya dia bertemu dengan Hong Mong Ling, sesampainya di depan pintu rumah makan itu segera terlihat ada seorang pelayan yang maju menyambut kedatangannya.

sembari meloncat turun dari kudanya tanya Ti Then cepat.

"Apakah Cang kongcu ada di atas loteng?"

"Ada, ada"

Jawab pelayan itu.

"Silahkan kongcu serahkan itu kuda kepada hamba"

"Aku hanya mau cari Cang kongcu untuk berbioara beberapa patah kata saja, setelah itu segera mau berangkat."

Sambil berkata dia serahkan tali les kudanya kepada pelayan itu lalu berjalan masuk ke dalam rumah makan tersebut.

setelah berada ditingkat kedua dalam sekali pandangan saja dia sudah melihat si tikus rakus dari Go bi Cang Bun Piau sedang minum arak dengan dua orang komplotannya, Waktu itu Cang Bun Piauw duduk membelakangi tangga loteng sehingga dia tidak melihat Ti Then sudah berada di loteng.

Tampak tangannya sedang erat-erat di atas meja memperlihatkan gaya sedang berkelahi, ujarnya kepada kedua orang komplotannya itu.

"Demikianiah dia tangkap tangannya kemudian hanya terdengar suara Bluuuum, dia sudah jatuh terlentang di atas tanah"

"Sungguh lihay sekali, lalu bagaimana?"

Tanya seoragg pemuda yang kurus kering.

"Kemudian Heey..hey.Jangan kata nangkap lagi, bangsat anying kecil yang kurang ajar itu ternyata berani berlaku dengan aku Cang Bun Piauw, dia menyambar secawan arak dan disambitkan ke atas kepalaku, lalu.. lalu sesudah dia tahu siapakah aku orang cepat-cepat jatuhkan diri berlutut untuk minta maaf bahkan masih suruh Pek Kiam Pocu yang punya nama terkenal itu datang kerumahku untuk minta maaf"

"Hi hi hi..kau sedang berbohong bukan?"

Ujar seorang pemuda yang gemuk seperti babi sedang tertawa cekikikan "Semua orang mungkin takut dengan ayahmu tetapi aku kira Pek Kiam Pocu tidak akan takut, orang lain merupakan manusia yang bisa pergi datang tanpa meninggalkan bayangan, dia mau bunuh orang cukup angkat jarinya saja kenapa harus takut dengan kalian ayah beranak??"

Cang Bun Piauw menjadi kurang senang ketika mendengar kawannya tidak mau percaya.

"Bilamana kau tidak percaya lain kali jikalau bertemu dengan bangsat cilik itu aku akan memaksanya di hadapan kalian, coba tanya padanya apa dia pernah merengek-rengek kepada Pek Kiam Pocu untuk wakili dia minta maaf kepada ayahku."

Mendengar ocehan yang tidak karuan itu, diam-diam Ti Then merasa geli bercampur gemas, segera dia berjalan mendekati Cang Bun Piauw itu sembari ujarnya.

"Bangsat cilik itu sudah datang"

Mendengar suara itu Cang Bun piauw segera menoleh, tetapi ketika dilihatnya Ti Then yang datang air mukanya segera berubah hebat.

Sesudah termangu-mangu beberapa waktu lamanya barulah dengan gugup dia bangkit berdiri, ujarnya.

"Ooh. oooh ..kiranya Ti heng, silahkan duduk silahkan duduk"

Ti Then tidak mau menggubris dirinya, kepada kedua orang pemuda itu tanyanya.

"Yang tadi dia ceritakan sebagai bangsat cilik apakah bernama Ti Then?"

Kedua orang pemuda itu tidak tahu kalau dia adalah Ti Then, segera bersama-sama mengangguk.

"Benar, siapakah kamu orang?"

"Cayhe adalah Ti Then"

Sahutnya sembari tersenyum.

Jilid 16.2. Isi Loteng penyimpan kitab Pemuda yang sangat gemuk seperti babi itu segera tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk punggungnya Cang Bun Piauw ujarnya.

"Bagus sekali, sekarang orangnya sudah datang coba kau tanyakan biar kami dengar"

Air muka Cang Bun Piauw seketika itu juga berobah menjadi pucat kehijau-hijauan, giginya bentrokan sendiri seperti sedang berkelahi.

"Ti..Ti heng"

Serunya ketakutan.

"Siau-te hanya..hanya bicara guyon saja, kau..kau jangan marah kepadaku..mari mari biar siauw te hormati Ti heng dengan secawan arak."

Sambil berkata dia mengangkat sebuah bangku ke hadapan Ti Then lalu menyuguhkan secawan arak kepadanya. Ti Then tidak mau gubris kepadanya.

"Ayoh berlutut"

Tiba-tiba bentaknya dengan keras. Seluruh tubuh Cang Bun Piauw tergetar dengan amat kerasnya, kemudian dengan wajah setengah merengek ujarnya.

"Ti Then orang budiman tidak akan menyalahkan kesilafan orang kecil, buat apa harus berbuat begitu?"

"Berlutut"

Bentak Ti Then semakin keras sedang wajahnya berubah menjadi amat seram.

Ketika Cang Bun Piauw melihat wajahnya sudah diliputi oleh napsu untuk membunuh, dia tidak berani membangkang lagi, sepasang kakinya menjadi lemas dengan serta merta berlutut di hadapan Ti Then.

"Anggukkan kepalamu tiga kali"

Perintah Ti Then lagi. Cang Bun Piauw tidak berani membantah, dengan benturkan kepalanya keras-keras ke atas tanah dia menganggukkan kepalanya tiga kali. setelah itu barulah Ti Then tertawa dingin.

"Sewaktu berada dirumah pelacuran Touw Hoa Yuan aku tidak pernah minta maaf dengan kamu orang bukan?"

Ujarnya. Dengan nada yang hampir menangis jawab Cang Bun Piauw.

"Ti..tidak."

"Pernah tidak memohon kepada Wi Pocu untuk minta maaf dengan ayahmu?"

"juga tidak"

Sahut Cang Bun Piauw sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Baiklah sekarang beritahukan kepadaku, kau sembunyikan dirinya ditempat mana?"

Cang Bun Piauw menjadi melengak dia angkat kepalanya kembali.

"Kau menuduh aku...aku menyembunyikan siapa?"

"Jika kau berpura-pura lagi, akan sekali tebas potong kepala anyingmu ini"

Bentak Ti Then sambil melototkan matanya. saking terkejutnya seluruh tubuh Cang Bun Piauw gemetar dengan amat keras dengan suara terputus-putus jawabnya.

"Ti. .Ti heng, ada..ada perkataan ki.. kita bica.. bicarakan baik-baik...ada. .perkataan kita bicarakan baik-baik. .a ku.. siaaute.. siauw te belum .... belum per.. pernah menyembunyikan..menyembunyikan siapa pun."

"Kau bangsat cilik, kau kira aku aku tidak berani bunuh kau?"

Bentak Ti Then dengan gusar. Cang Bun Piauw benar-benar mau menangis dibuatnya, dengan suara yang serat parau ujarnya.

"Siauw te sungguh-sungguh tidak tahu Ti Then sedang membicarakan soal apa, jikalau yang kau maksudkan adalah Nona Liuw itu sampai saat ini dia masih berada di dalam rumah pelacuran Touw Hoa Yuan dengan baik-baik"

"Yang aku tanyakan adalah Hong Mong Ling. Aku dengar katanya dia bersembunyi di rumahmu"

Pada wajah Cang Bun Piauw segera perlihatkan perasaan jengkel, teriaknya.

"siapa yang bilang? Waktu itu setelah siauw te kembali dari Benteng Pek Kiam Po selama ini belum pernah bertemu dengan dia, siapa bilang dia bersembunyi di rumahku?"

"Kalau ada lebih baik kau mengaku terus terang, kalau tidak jika aku tahu kalau kau sedang berbohong aku akan mencabut setiap ototmu"

"Sungguh tidak ada, bilamana Ti heng tidak percaya biarlah siauwte sekarang juga menghantar Ti heng kerumahku"

Ti Then yang melihat dia betul-betul tak tahu urusan ini barulah tersenyum.

"Baiklah, sekarang kau boleh berdiri"

Perlahan-lahan Cang Bun Piauw bangkit berdiri, kepada kedua orang pemuda itu dengan wajah serba susah ujarnya.

"Kalian berdua tunggulah sebentar di sini, biar siauwte hantar saudara ini ."

"Aku tidak jadi cari dia, sekarang kau boleh duduk kembali"

Potong Ti Then sembari tersenyum. Cang Bun Piauw menjadi melengak.

"Ti heng tidak jadi pergi?"

"Aku percaya kau tak berani menyembunyikan dirinya."

Saat itulah Cang Bun Piauw baru menghembuskan napas dan berani duduk. Ti Then menepuk-nepuk pundaknya, ujarnya sambil tertawa.

"Ayoh duduk dan lanjutkan dongenganmu, tetapi tidak boleh menggunakan namaku serta namanya Wi Pocu"

Seperti juga baru saja mendapatkan rejeki nomplok, dengan bungkukkan badannya seratus delapan puluh derajat dia memberi hormat berulang kali.

"Baik baik, siauwte tak berani .... tak berani. Tadi siauwte hanya mengajak guyon dengan kedua orang kawanku ini. Heei..heei. Apakah Ti heng tidak duduk-duduk dulu untuk minum secawan arak?"

Ti Then tak menyawab, segera dia putar tubuhnya turun dari loteng itu, sesudah naik ke atas kudanya cepat-cepat dia kaburkan tunggangannya itu kearah luar kota.

Tidak berhasilnya menawan Hong Mong Ling kembali membuat di dalam hatinya diam-diam merasa sedikit kecewa tetapi dia sudah ambil keputusan dia akan pergi mencari sendiri setelah memberi laporan terlebih dahulu kepada Wi Ci To.

Sekembalinya ke dalam benteng Pek Kiam Po cuaca sudah mendekat magrib, Wi Ci To serta Wi Lian In yang melihat dia pulang kembali dengan tangan kosong merasa amat heran, bersama-sama tanyanya.

"Dimana bangsat cilik itu?"

"Dia berhasil melarikan diri"

Jawab Ti Then tertawa pahit.

"Aku tahu"

Tiba-tiba ujar Wi Lian In sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah "Tentu kau sengaja membiarkan dia melarikan diri"

"Bukan-..bukan"

Bantah Ti Then-"Dia berhasil melarikan diri dari pengawasan siauw-lim Cap Pwe Lo han"

Segera dia menceritakan keadaan dengan cara bagaimana Hong Mong Ling menggunakan akalnya melarikan diri daripengawasan siauw-lim Cap Pwe Lo Han di kuil Kuang Hoa si.

Air muka Wi Ci To segera berubah menjadi amat keren.

"Tidak perduli ia melarikan diri sampai ujung langit pun aku harus menawan dia kembali"

"Yuan Kuang Thaysu sudah menyamin kalau dia akan menawan dirinya kembali"

"Bagaimana dengan janyi kita kepada si rase bumi Bun Jin Cu pada bulan depan"

Tanya Ti Then tiba-tiba.

"Lohu akan langsung menuju ke sana"

"Tetapi sirase bumi Bun Jin Cu juga berjanyi dengan boanpwe."

"Sampai waktunya Ti Kiauw tauw boleh berangkat langsung dari sini, kita bertemu di atas gunung Kim Ting san"

"Ehmm. kita tunggu beberapa hari lagi, jikalau Siauw lim Cap Pwe Lo Han tidak berhasil menawan dia kembali Lohu mau pergi sendiri untuk menawan dia kembali"

"Tia, putrimu juga mau ikut"

Ujar Wi Lian In yang berdiri disisinya. Wi Ci To termenung berpikir sebentar baru ujarnya.

"Di dalam beberapa hari ini bila mana para pendekar pedang merah bisa kembali di dalam benteng semua kau sampai pada waktunya boleh ikut Ti Kiauw tauw pergi, kalau tidak kau harus tinggal di dalam benteng untuk jaga rumah."

Berbicara sampai di sini segera dia bangkit berdiri "Mari kita pergi makan"

Tua muda tiga orang segera menuju ke ruang makan-Wi Ci To dengan air muka serius berdiam diri tak mengucapkan sepatah kata pun, hal ini entah dikarenakan kesedihan atas kematian sutenya Huang puh Kian Pek atau karena tidak berhasil ditawannya kembali Hong Mong Ling dan menjadi marah.

Melihat keadaan diliputi oleh kesunyian, Ti Then coba memecahkan kesunyian tersebut.

"Pocu apakah jenasah dari Hu pocu sudah dikebumikan?"

"Ehmm sudah selesai"

Sahut Wi Ci To perlahan-"Heei..boanpwe betul-betul merasa bingung, kenapa dia bisa melakukan pekerjaan seperti ini?"

Wi Ci To mendengus dengan amat dinginnya.

"Hanya ada dua kata. Kemungkinan sekali bersekongkolnya dia dengan Hong Mong Ling masih ada tujuan lain-dan bukan terbatas pada soal karena sayangnya serta simpatiknya". Agaknya Wi Ci To tidak ingin membicarakan itu lagi, dengan tawar jawabnya.

"Jikalau ada lohu sendiri juga tidak ada tujuan yang sebenarnya"

Mendengar kata-kata ini sengaja Ti Ten berkata lagi.

"Hong Mong Ling pasti tahu, bilamana siauw lim Cap Pwe Lo han berhasil tawan dia kembali, kita bisa mengorek keterangan yang lebih banyak lagi dari mulutnya"

Air muka Wi Ci To segera berubah amat hebat, mendadak dia meletakkan kembali mangkok serta sumpitnya ke atas meja kemudian meninggalkan perjamuan.

"Kalian teruskanlah untuk makan, lohu mau masuk ke dalam kamar buku untuk beristirahat."

Selesai berkata dengan menggendong tangannya dia berlalu dari sana.

Setelah dilihatnya bayangan Wi Ci To lenyap dari pandangan, barulah Wi Lian In memperlihatkan senyuman pahitnya, ujarnya kepada Ti Then dengan suara yang amat lirih.

"Kau pikir apa tujuan dari Hu Pocu Huang puh Kiam pek bersekongkol dengan Hong Mong Ling?"

Ti Then gelengkan kepalanya.

"Aku sendiri juga tidak tahu, seharusnya kau yang tahu karena Hu pocu sudah bersama-sama dengan kalian selama puluhan tahun lamanya, sedang aku baru kenal dengan dia selama dua bulan saja"

"Mari kita selidiki bersama-sama, langkah pertama yang dilakukan mereka sesudah bersekongkol dengan Hong Mong Ling adalah menculik aku pergi kemudian mengajak kau untuk bertemu dengan mereka di atas gunung Fan Cin Gan, dia minta kau beritahukan nama suhumu, mencatat semua kepandaian silat yang kau miliki kemudian membuntungkan tangannya sendiri setelah itu minta kau hantarkan semacam barang kepada suhumu, seharusnya jika dipandang dari kejadian itu arah yang dituju mereka seharusnya kau bukan aku, benar tidak??"

"Aku kira bukan demikian"

Bantah Ti Then sembari gelengkan kepalanya "Dia mengajukan empat syarat kepadaku diantara itu hanya syarat yang meminta aku catat semua kepandaian silatku serta meminta aku membawa semacam barang kepada suhu agak mirip dikatakan sebuah syarat tetapi tentang soal kepandaian silat hal ini sedikit tidak cocok"

"Karena aku sudah sanggupi untuk memberi pelajaran kepandaian silat di dalam benteng Pek Kiam Po, walau pun dia adalah Hu pocu tetapi dia pun boleh ikut berlatih dengan diriku. Karena itulah aku kira syarat yang minta kucatatkan semua ilmu silatku hanya merupakan suatu kedok saja untuk menutupi rencananya sedangkan syarat yang menyuruh aku menghantar sebuah barang untuk suhuku kemungkinan sekali dia bermaksud untuk membunuh suhuku . ."

"Dengan alasan apa dia mau bunuh suhumu?"

Potong Wi Lian In mendadak.

"Untuk menjelaskan hal ini terlebih dulu, kita harus membicarakan syarat yang ketiga terlebih dulu, dia minta aku buntungi salah satu lenganku, hal ini kemungkinan sekali dikarenakan kepandaian silat yang aku alami amat lihay sehingga merupakan seorang yang paling menakutkan bagi dirinya, dia mengharapkan sesudah tanganku buntung sebelah maka hal tersebut merupakan satu pukulan yang berat buat diriku sehingga dengan begitu dia pun tak usah terlalu takut kepadaku, sedangkan soal dia minta bawakan semacam barang untuk suhuku kemungkinan sekali punya arti yang sama yaitu barang itu pastilah semacam barang yang membinasakan, ketika suhuku menerima barang-barang tersebut maka beliau segera akan binasa, hal ini boleh dikata merupakan siasat sekali panah mendapat dua hasil. Karena kepandaian silat dari seorang suhu pasti jauh lebih lihay dari kepandaian silat muridnya, jikalau muridnya sudah di basmi tapi suhunya tidak dibasmi sekalian, ini boleh dikata meninggalkan bibit bencana buat dirinya sendiri"

"Heey, omong pulang pergi tujuannya itu sama saja yaitu hendak membasmi dirimu bukan?"

Ujar Wi Lian In sambil menghela napas panjang.

"Tidak salah"

Jawab Ti Then mengangguk.

"Tetapi hal ini bukanlah tujuan yang terakhir, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sekongkolnya dia dengan Hong Mong Ling sama sekali bukan dikarenakan perasaan simpatiknya terhadap Hong Mong Ling, sekali pun hal ini timbul dikarenakan rasa simpatiknya maka dalam soal ini dia semakin tidak punya alasan lagi untuk membinasakan diriku. Maka itulah sebab-sebab dia mau membinasakan diriku pastilah di karenakan aku."

"Aku merupakan penghalang besar bagi usahanya atau dengan perkataan lain dia sudah merencanakan suatu rencana busuk terhadap kalian ayah beranak. tetapi dengan munculnya aku secara tiba-tiba di dalam benteng Pek Kiam po membuat dia merasa takut aku mengganggu usaha mereka itu karena itulah dia mau menyingkirkan nyawaku"

Wi Lian In yang mendengar penjelasan ini tidak henti-hentinya mengangguk.

"Penjelasanmu sungguh sangat tepat sekali, tetapi dia sudah merencanakan rencana busuk apa terhadap kami ayah beranak?..."

"Tentang ini aku tidak tahu tadi aku sudah berkata kalian ayah beranak yang hidup dengan dia puluhan tahun lamanya sudah tentu jauh lebih jelas daripada aku yg baru berkumpul dua bulan saja."

"Menurut apa yang kuketahui"

Ujar Wi Lian In lagi sambil menggigit bibirnya kencang.

"Dia sangat baik memperlakukan Tia, walau Tia adalah pocu sedang dia adalah Hu pocunya tetapi selama ini Tia selalu menganggap dia sebagai saudara sendiri, selama ini tidak pernah cekcok atau segala apa pun omong yang jelas lagi setiap rambut dan pohon yang ada di dalam benteng ini adalah milik ayahku juga miliknya, aaai apa lagi yang membuat dia merasa tidak puas?"

"Kemungkinan heei, perkataan ini sebetulnya aku tidak patut mengatakan."

"Apa yang kau pikirkan cepat katakan saja, sekali pun apa yang mau kau katakan memalukan kami ayah beranak aku juga tidak akan menyalahkan dirimu karena kita saat sedang menyelidiki persoalan ini"

Ti Then berbatuk-batuk kering terlebih dulu kemudian barulah jawabnya.

"Ehmm..aku sedang berpikir kau bilang setiap jengkal rumput serta setiap batang pohon yang terdapat di dalam benteng Pek Kiam po adalah miliknya ayahmu sama juga seperti miliknya, perkataan ini kemungkinan sekali sedikit tidak benar, karena dalam benteng agaknya masih ada barang yang dia sendiri dilarang untuk mendekati"

Air muka Wi Lian In segera berubah.

"Yang kau maksudkan loteng penyimpan kitab itu?"

Ti Then hanya mengangguk tanpa memberikan jawabannya. Wi Lien In menarik napas panjang.

"Kalau begitu tujuan yang utama dari Hu Pocu kemungkinan sekali terletak di dalam loteng penyimpan kitab itu."

"Kemungkinan sekali memang benar"

Sahut Ti Then sambil sekali lagi mengangguk.

"Karena dengan kedudukannya sebagai Hu Pocu ternyata tidak boleh mengetahui juga rahasianya ayahmu bagaimana pun juga karena perasaan heran dan ingin tahunya bisa berubah menjadi perasaan kurang puas."

"Perkataan dari Ti Kiauw tauw sedikit pun tak salah, tetapi di dalam Loteng Penyimpan Kitab itu Lohu tidak mem punyai rahasia apa-apa yang istimewa?"

Suara dari Wi Ci To secara tiba-tiba muncul dari depan pintu ruangan tersebut.

Ti Then sama sekali menyangka kalau Wi ci To setelah pergi bisa kembali lagi, mendengar perkataan itu dia menjadi amat terperanyat, cepat-cepat dia bangun berdiri dan menghadap kearah pintu ruangan.

"Harap Pocu suka memaafkan kelancangan dari boanpwe"

Ujarnya terburu-buru minta maaf.

"Tidak mengapa"

Sahutnya tersenyum kemudian dengan langkah perlahan dia berjalan masuk ke dalam.

"Perkataan yang baru saja kau ucapkan memang sangat benar."

Ti Then hanya menundukkan kepalanya tanpa memberikan jawaban,jelas sekali pada air mukanya memperlihatkan perasaan menyesal.

Dengan menggendong tangannya Wi Ci To berjalan pulang pergi di dalam ruangan tersebut, lama sekali barulah ujarnya.

"Padahal jika dikatakan di dalam loteng penyimpan kitab itu tidak terdapat semacam rahasia hal ini memang tidak benar, tetapi rahasia yang terdapat di sana sebetulnya tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain, juga bukan merupakan barang mustika yang berharga satu kota... sekarang mari kalian ikuti lohu."

Selesai berkata dia berjalan keluar dari dalam ruangan-.

Ti Then serta Wi Lian In yang mendengar dia akan memimpin diri mereka berdua untuk masuk dan melihat-lihat Loteng Penyimpan kitab itu di dalam hati tanpa terasa tergetar juga dengan amat keras, bersamaan itu perasaan yang amat girang pun meluncur dari lubuk hati mereka.

Terhadap diri Wi Lian In serta Ti Then, hal ini merupakan harapan yang diidamkan setiap hari, apalagi terhadap diri Ti Then sejak di ketahui olehnya kalau Wi Ci To memiliki sebuah Loteng penyimpan Kitab yang melarang putrinya sendiri mau pun sutenya untuk masuk ke dalam, di dalam hatinya sudah ambil kesimpulan kalau tujuan dari majikan patung emas yang perintahkan dirinya masuk ke dalam Benteng Pek Kiam Po ini terletak di dalam loteng Penyimpan kitab itu, karenanya dia sangat mengharap bisa mengetahui macam apakah barang yang dikehendaki itu, dia sangat mengharapkan bisa mengetahui terlebih dulu gerakan selanjutnya dari dirinya akan menimbulkan aktbat yang baik atau buruk terhadap Benteng Pek Kiam Po.

Kini Wi Ci To secara tiba-tiba sudah melanggar aturannya yang di pegang teguh selama puluhan tahun lamanya, dia ingin membuka rahasia yang terdapat di dalam loteng penyimpan kitab ini, hal ini membuat orang lain sama sekali tidak menduga.

Wi Lian In dengan air muka yang bersinar dan penuh perasaan girang meletakkan kembali mang kok sumpitnya kemudian mengikuti dari belakang.

Tua muda tiga orang hanya tidak lama kemudian sudah berada diluar pintu loteng Penyimpan Kitab itu, dari dalam sakunya Wi ci To mengambil keluar sebuah kunci yang amat aneh sekali bentuknya kemudian dengan perlahan-lahan membuka gembokan di depan pintu Loteng Penyimpan Kitab itu.

Beberapa orang pendekar pedang hitam yang menyaga di luar Loteng Penyimpan Kitab itu ketika melihat pocu mereka hendak membawa Ti Then serta Wi Lian In masuk ke dalam loteng tersebut tanpa terasa pada wajah mereka sudah muncul perasaan terkejut bercampur heran, karena mereka sudah menyaga diluar Loteng Penyimpan Kitab ini selama puluhan tahun lamanya dan mereka selama ini Pocu mereka sudah menuliskan larangan bagi setiap orang untuk memasuki Loteng Penyimpan Kitab ini, sebaliknya malam ini secara mendadak Pocu mereka sudah membawa Ti Then serta putrinya masuk ke dalam Loteng itu, bukankah hal ini merupakan suatu kejadian yang sangat mengherankan dan sangat mengejutkan??

Sesudah membuka pintu loteng Penyimpan Kitab itu, barulah Wi Ci To menoleh ke belakang dan berkata pada Ti Then serta Wi Lian In.

"Kalian berdirilah yang jauh biar Lohu masuk terlebih dulu untuk menutup semua alat rahasia yang terdapat di dalamnya, sesudah itu kalian baru ikut masuk." . selesai berkata dia mendorong pintu depan dan berjalan masuk. Ruangan di bawah loteng penyimpanan kitab itu keadaannya biasa saja, tanpa ada tempat-tempat yang terlalu istimewa, ruangan itu tidak lebih hanya merupakan sebuah ruang tamu yang kecil. Sesudah Wi ci To mendorong pintu berjalan masuk ke dalam segera bisa kelihatan keadaan di dalamnya amat teratur sekali bahkan diatur dengan gaya artistik yang merah tetapi dikarenakan selama puluhan tahun lamanya tidak pernah dibersihkan maka semua alat-alat yang ada di dalamnya kelihatan sudah menjadi kuno bahkan setiap ujung tembok sarang laba-laba memenuhi semua tempat, keadaannya sangat menyeramkan sekali mirip dengan sebuah rumah setan saja. Wi Ci To sesudah masuk ke dalam ruang tamu yang kecil, itu hanya di dalam sekejap mata saja sudah lenyap tanpa bekas, di dalam sekejap saja mendadak keadaan di dalam ruangan itu terang benderang bagaikan siang hari saja, Wi Ci To dengan ditangannya membawa lampu muncul di hadapan Ti Then serta Wi Lian In-ujarnya.

"Sekarang kalian boleh masuk"

Air mukanya di bawah sorotan sinar lampu yang dibawa kelihatan amat cerah dan bersinar.

Ti Then mau pun Wi Lian In dengan membawa perasaan hati yang tidak tenang mengikuti dengan kencang di belakangnya, selama ini mereka membungkam di dalam seribu bahasa.

Setelah mereka memasuki ruangan tamu yang kecil itu seperti juga baru saja memasuki suatu dunia yang diliputi oleh keseraman dan kemisteriusan, seluruh tubuh mereka merasa amat dingin sedang wajahnya sedikit mulai memucat.

Di samping sebelah kanan dari ruang tamu itu terdapat sebuah tangga yang menghubungkan tempat itu dengan loteng lantai ke dua, dengan membawa lampu Wi Ci To mulai berjalan menaiki tangga itu ujarnya tiba-tiba.

"Mari kalian ikut naik"

Ti Then merupakan orang kedua yang menaiki tangga tersebut, setiap kali kakinya menginyak tangga tersebut di dalam hati terasa suatu perasaan yang saugat aneh karena waktu inilah dia baru mau percaya kalau disetiap sudut di dalam ruangan loteng penyimpan kitab itu dimuat alat rahasia yang menyeramkan bahkan dia pun tahu kalan alat rahasia itu tidak diatur dan dipasang sekitar tangga-tangga itu saja bahkan disetiap jengkal tanah di dalam ruangan tamu itu pun terdapat.

Luas ruangan itu jika dipandang dari luar kurang lebih ada tujuh kaki sebaliknya ruangan kecil di dalamnya hanya ada tiga kaki saja, artinya disekeliling tembok di dalam ruangan itu sudah dipasang alat rahasia yang mendirikan bulu roma.

Tangga yang menghubungkan lantai-lantai pertama ke lantai kedua ada delapan belas trap banyaknya, setelah melewati tangga terakhir sampailah disebuah ruangan kamar baca yang begitu luas.

Di sekeliling ruang kamar baca ini terdapat rak tinggi besar, di dalam rak itu berjajarlah beribu-ribu buah kitab, bahkan boleh dikata selain kitab sama sekali tidak terdapat barang lainnya lagi.

Inilah keadaan dari ruangan loteng penyimpanan kitab yang membawa kemisteriusan bagi setiap orang.

Tanpa terasa lagi Wi Lian In sudah mengeluarkan suara tertahan yang penuh diliputi oleh perasaan terkejut bercampur kecewa, gumamnya seorang diri.

"Ternyata tidak ada apa-apanya"

Dengan perlahan Wi Ci To meletakkan lampu yang dibawanya ke atas meja, ujarnya sembari tersenyum.

"Tidak ada apa-apanya, Ehmm loteng penyimpanan kitab dari lohu ini sudah menyimpan berbagai macam kitab serta lukisan dari pujangga-pujangga terkenal pada masa yang silam, banyak diantaranya jarang bisa didapatkan ditempat luar, jika dibilang dengan uang, mungkin berada di atas ratusan juta tahil perak."

"Tetapi."

Bantah Wi Lian In cemberut "Lukisan lukisan serta tulisan-tulisan ini di dalam pandangan kami orang-orang Bu lim sama sekali tidak berharga."

"Benar. tetapi lohu memangnya punya kegemarannya begitu, sejak kecil lohu paling suka membaca buku dan gemar menyimpan berbagai lukisan dari pujangga-pujangga terkenal, di dalam hati lohu barang-barang ini sangat berharga sekali"

"Untuk menyimpan lukisan lukisan serta tulisan-tulisan ini, Tia sudah memasang alat-alat rahasia disekeliling loteng ini, apa untuk mencegah orang lain memasuk tempat ini??"

Sahut Wi Lian In kurang puas.

"Tidak"

Sahut Wi Ci To geleng kepalanya.

"Lohu pasang alat-alat rahasia ini sebetulnya untuk mencegah ada orang yang masuk ke sini mencuri kitab-kitab serta lukisan tersebut di samping itu juga untuk menyaga suatu rahasia lainnya"

"Rahasia apa??"

Tanya Ti Then serta Wi Lian In hampir bersamaan-Wi Ci To tidak segera memberikan jawabannya, sinar matanya dengan tajam memandang beberapa saat lamanya ke atas wajah Ti Then mau pun Wi Lien In kemudian dengan air muka serius ujarnya.

"Sebelum Lohu membuka rahasia ini aku mau tanya padamu terlebih dulu...In ji apakah kau mau percaya terhadap setiap perkataan yang aku katakan???"

"Putrimu mau percaya"

Sahut Wi Lian In sambil mengaagguk.

"Bagaimana dengan Ti Kiauw tauw??"

Tanya Wi Ci To kemudian sambil menoleh kearah Ti Then.

"Selama ini Pocu jadi orang sangat jujur, setiap perkataan mau pun perbuatan semua pakai aturan, bagaimana boanpwe berani tidak percaya?."

"Kalau begitu sangat bagus sekali, sekarang juga lohu mau membuka suatu rahasia di hadapan kalian, setiap perkataan yang aku katakan adalah hal yang sungguh-sungguh terjadi, sama sekali tidak ada perkataan bohong barang sepatah pun."

Selesai berkata dia berjalan menuju ke depan rak buku sebelah selatan dan menyingkirkan se

Jilid kitab kemudian kelihatan tangannya dimasukkan ke dalam rak buku itu, entah diapakan mendadak dia mundur kembali ke belakang.

Dari belakang rak kitab itu segera terdengar suara gesekan terbukanya pintu rahasia, sebuah pintu dengan perlahan-lahan membuka kearah kanan.

Di belakang rak buku itu terdapat sebuah dinding kayu yang menutupi tempat itu sedang di depan dinding tersebut tergantung sebuah kain yang di sampingnya terdapat sebuah tali, agaknya kain itu bisa ditarik untuk menyingkirkannya.

Agaknya Wi Ci To merasa sedikit keberatan untuk membuka rahasia tersebut, dari mukanya jelas memperlihatkan dia merasa sangat sedih bercampur bingung.

"Tia, barang apa di belakang kain tersebut? "

Tanya Wi Lian In cepat, agaknya dia sudah tidak merasa sabar lagi. Wi Ci To termenung berpikir beberapa saat lamanya, setelah itu barulah ujarnya.

"Coba kau tebak".

"sebuah pintu menuju keruang rahasia??"

"Bukan.."

Jawab Wi Ci To sambil menggelengkan kepalanya.

"Sebuah lemari rahasia??"

"Juga bukan..."

"Mungkin sebuah lukisan?"

Tiba-tiba Ti Then nyeletuk.

"Benar, memang sebuah lukisan". Selesai berkata dia maju ke depan menarik tali di sampingnya untuk membuka kain penutup tersebut. Begitu kain penutup itu terbuka, tidak salah lagi tampak sebuah lukisan muncul di hadapan mereka, sebuah lukisan dari seorang perempuan yang sangat cantik. Tanpa terasa Ti Then sudah menarik napas panjang, pikirnya.

"Oooh Thian, ternyata di dalam dunia ada seorang perempuan yang demikian cantiknya"

Memang benar perempuan yang terdapat di dalam lukisan itu memang mem punyai paras amat cantik, tapi cantiknya bukan merupakan cantik yang mendebarkan hati, menimbulkan hawa nafsu sebaliknya kecantikan parasnya adalah bersih, suci dan sedikit pun tidak ada pengaruh aneh lainnya.

Wi Lian In melototkan matanya lebar-lebar dengan perasaan terperanyat teriaknya.

"Sungguh cantik sekali Tia, siapakah perempuan ini ???"

"Dia she shu bernama Sim Mey". Agaknya Wi Lian In belum pernah mendengar nama "Shu Sim Mey"

Itu setelah mendengar kata-kata itu dia menjadi berdiri tertegun.

"Siapa dia?"

Tanyanya lagi.

"Rumahnya ada didesa He Liong cong di daerah Kauw shu."

Sekali lagi Wi Lian In dibuat tertegun.

"Ah, dia satu kam pung dengan Tia?"

Dengan perlahan Wi Ci To mengangguk. dengan air muka sangat sedih jawabnya.

"Benar. sewaktu aku masih kecil kita adalah bertetangga...."

"Kalian.. kalian punya ikatan perjodohan sejak kecil??"

Tanya Wi Lian In gemetar, sedang air mukanya berubah hebat. sekali lagi Wi ci To mengangguk.

"Hubunganku dengan dia boleh di gambarkan dengan syair Tiang Han Hiong, dari penyair terkenal Lie Pak.."

Segera dia mulai bersyair dengan nada penuh golakan hati, air mukanya berubah amat keren sedang mulutnya tak henti-hentinya membaca isi dari syair tersebut.

Begitu dia selesai membaca syair tersebut tanpa disadari lagi air matanya sudah menetes keluar membasahi wajahnya .

Melihat Wi Ci To mengeluarkan air matanya, Wi Lian In menjadi teramat heran bercampur terperanyat, ujarnya.

"Jadi Tia maksudku dengan Shu Sim Mey sudah menjadi suami istri?"

"Tidak salah"

Jawab Wi Ci To dengan perasaan amat sedih "sebelum aku kawin dengan ibumu terlebih dulu sudah menjadi suami istri dengan shu sim Mey"

Wi Lian In merasakan hal ini merupakan suatu pukulan yang berat bagi dirinya, tanpa dapat dicegah lagi dia melelehkan air mata dengan perasaan sedih ujarnya.

"Tia, kau sudah menipu ibu. ."

"Benar, aku sudah menipu ibumu"

Sahut Wi Ci To sambit mengangguk.

"Sekali pun aku sudah menjadi suami istri selama tiga puluh tahun lamanya dengan dia, tetapi selama ini belum pernah betul-betul mencintai dirinya, karena .... karena aku tidak bisa melupakan Shu Sim Mey ini"

Dari sepasang mata Wi Lian In segera memancarkan perasaan tidak puasnya, sambil melototi lukisan dari shu sim Mey itu ujarnya.

"Perempuan itu sekarang berada dimana?"

"Di dalam sebuah kuburan didekat kali Han san si."

Wi Lian In menjadi melengak.

"ooh.. dia. .dia sudah meninggal?"

"Benar, dia meninggal dunia pada usia tujuh belas tahun, berarti juga pada tahun ketiga setelah aku menikah dengan dia, shu sim Mey telah meninggal dunia."

Perlahan-lahan Wi Lian In menghapus bekas air matanya.

"Bagaimana dia bisa meninggal?"

"Saking rindunya kepadaku dia menjadi sakit kemudian meninggal?"

"Hal ini berarti juga setelah Tia menikah dengan dia karena suatu urusan sudah meninggalkan dirinya?"

Tanya Wi Lian In dengan perasaan amat terperanyat.

"Benar, sesudah dia menikah dengan aku pada tahun kedua karena aku sangat gemar belajar ilmu silat, maka aku lantas meninggalkan rumah untuk mencari guru, sebetulnya hanya rencana paling lama setengah tahun saja kemudian hidup kembali bersama-sama dengan dia, tetapi pada bulan ketiga sesudah aku meninggalkan rumah mendadak di atas gunung Tong-san sudah bertemu dengan seorang jagoan aneh dari Bu lim dan dialah sucowmu si Thiat Kiam ong atau kakek pedang baja suma song, ketika dia melihat bakatku maka sesudah menerima diriku sebagai ahli warisnya dan memberi pelajaran ilmu pedang, karena perhatiannya yang tertuju pada ilmu pedang inilah sudah lupa untuk kembali kerumah menengok dia, hanya di dalam sekejap saja satu tahun sudah berlalu."

Perlahan-lahan dia menghela napas panjang, kemudian sambungnya lagi.

"Setahun kemudian aku baru teringat untuk kembali ke rumah menengok dia, siapa tahu pada saat itulah sucowmu sudah jatuh sakit dengan usianya sembilan puluh delapan pada waktu itu ditambahkan secara tiba-tiba jatuh sakit membuat aku harus merawat dia orang tua, karena itulah rencana untuk pulang kerumah menengok dia menjadi terbengkalai. setengah tahun lewat dengan cepat akhirnya sucouwmu wafat, setelah habis aku membereskan layannya barulah dengan tergesa-gesa kembali ke su Kho siapa tahu baru saja sampai dirumah aku baru tahu pada setengah tahun yang lalu dia sudah binasa, die meninggal dunia karena terlalu rindu kepadaku."

Berbicara sampai di sini dia menarik napas panjang-panjang, agaknya luka di dalam hatinya kambuh kembali.

Wi Lian In berdiam diri tidak berbicara.

Ti Then sendiri pun terpaksa bungkam, diam seribu bahasa, tetapi di dalam hatinya dia merasa ikut sedih dan tergerak oleh cerita yang amat menyedihkan ini, dia masih mem punyai suatu perasaan yang lain daripada yang lain, dia sama sekali tidak menyangka di dalam Loteng Penyimpan kitab yang diduga menyimpan berbagai rahasia ini ternyata hanya menyimpan suatu kisah yang menyedihkan saja bahkan rahasia itu hanya menyangkut pada "Urusan pribadi"

Orang lain. Lama sekali Wi Ci To memandang wajah putrinya, setelah itu baru tanyanya.

"Inyie, kau benci terhadap dia?"

"Tidak. ."

"Kalau begitu kau benci terhadap aku??"

"Juga tidak..."

Tanpa terasa Wi Ci To sudah menghela napas panjang.

"Kematiannya dikarenakan rindu padaku, sebetulnya kami berdua saling cinta mencintai, dikarenakan kegoblokanku sendiri sudah menghantarkan nyawanya, bilamana aku teringat kembali akan persoalan ini di dalam hati seperti diiris-iris oleh berjuta-juta batang pisau, sungguh menderita sekali."

Dia berhenti sebentar, kemudian sambungnya lagi.

"sewaktu di dalam hati, hatiku marasa sedih sehingga sukar dihilangkan beberapa kali aku sangat mengharapkan bisa melakukan berbagai urusan yang bisa meringankan beban orang-orang Bu lim tetapi hal ini semua sama sekali tidak berguna, asalkan bayangan tubuhnya muncul kembali di dalam benakku maka sama sekali tidak bisa hilang bilang, akhirnya.. Ehmmm, setelah delapan tahun dari kematiannya aku baru bertemu dengan ibumu, tentang bagaimana aku lalu kawin dengan ibumu tentunya kau sedikit mengetahui bukan ??"

Wi Lian In dengan perlahan mengangguk.

"Tahu. ibu sekeluarga sewaktu kakekku lepas dari jabatan pulang kam pung, ditengah jalan sudah bertemu dengan kaum perampok. kakek dan nenek pada binasa sedang kawanan perampok itu mau menodai ibu waktu itulah Tia sedang lewat di sana dan turun tangan membunuh perampok-perampok itu tersebut dan menolong ibu, dengan demikian ibu dengan ayah lalu kawin bukan begitu???"

"Benar. sebetulnya aku tidak punya niat untuk mengawani ibumu tetapi saat itu ibumu sudah luntang lantung seorang diri tanpa sanak famili bahkan secara diam-diam dia bertekad untuk membalas budi ini dengan menggunakan tubuhnya, bilamana aku tidak mau terima dia sebagai istrinya maka dia mau mati saja makanya aku baru menerimanya. Tetapi walau pun aku berusaha keras untuk mencintai ibumu bayangan dari su sim May tidak bisa hilang-hilangnya dari benakku, adakalanya terang-terangan ibumu yang berdiri di hadapanku, aku sudah salah melihat dia sebagai sub Sim Mey, ada satu hari aku tidak betah untuk tidur diam-diam mencuri lihat lukisan wajahnya, karena takut ibumu tahu maka aku baru bangun Loteng Penyimpan Kitab ini dan menggantungkan lukisannya di sini. setiap kali kalau aku rindu padanya lalu masuk ke sini untuk memandang wajahnya selama setengah harian."

"Heeeey... Tak tak tertahan lagi Wi Lian In menghela napas panjang.

"Bilamana sejak dahulu kala Tia mau menceritakan urusan ini mungkin sekali luka di dalam hati kau orang tua akan sedikit menjadi sembuh."

"Tidak.. Aku tidak bisa melukai hati ibumu, ibumu adalah seorang perempuan yang pendiam, selamanya selalu menurut omonganku dan dengan sepenuh hati mencintai aku, jika dia tahu hatiku sudah direbut orang lain dia pasti akan merasa sangat berduka hati." -ooo0dw0ooo-

Jilid 17.1. Mengejar Hong Mong Ling Dia berhenti sebentar sesudah menghela napas panjang barulah tambahnya.

"Karena itulah selama puluhan tahun ini aku tidak membiarkan setiap orang masuk ke dalam loteng penyimpan kitab itu termasuk juga kau dan Huang puh siok karena aku takut sesudah kalian tahu rahasia ini lalu menceritakan kepada ibumu"

Berbicara sampai di sini dengan perlahan dia menoleh kearah Ti Then.

"Tadi sewaktn masih berada di ruang makan Ti Kiauw tauw menduga kemungkinan bersekongkolnya Hu pocu serta murid murtad itu dikarenakan hendak mencuri sesuatu barang dari Loteng penyimpan kitab ini kemungkinan memang benar, karena ketika mereka melihat lohu dengan tegas melarang setiap orang masuk ke dalam Loteng penyimpan kitab itu lalu di dalam alam pikiran mereka mem punyai suatu dugaan kalau di dalam tempat ini pasti disimpan barang-barang berharga yang sukar didapatkan. Heei..Ini memang kesalahan Lohu seharusnya setelah istriku meninggal Lohu harus mengumumkan rahasia ini tetapi untuk itu Lohu masih takut kalau urusan ini sampai melukai hati putriku karena itu sampai kini tidak aku ceritakan terus, karena hal ini sudah mencelakakan seorang sute yang sudah hidup bersama-sama dengan Lohu selama puluhan tahun lamanya."

Dengan perlahan Wi Lian In menuding ke arah lukisan dari Shu Sim Mey itu. tanyanya.

"Dia . apakah sudah meninggalkan empat puluh tahun lamanya? Waktu sudah lewat begitu lama kenapa Tia masih selalu saja menyiksa diri??"

Dengan amat sedihnya Wle Ci TO menghela napas panjang.

"Walau pun dia sudah meninggalkan empat puluh dua tahun lamanya, tetapi di dalam ingatannya ayahmu seperti juga peristiwa yang baru terjadi kemarin hari"

"Sejak hari ini apakah Tia ingin terus memikirkan dirinya?"

Tanya Wi Lian In lagi sembari bernapas panjang.

"Ulat sutera binasa karena seratnya dan musnah, lilin habis apinya baru padam"

"Tia, kau terlalu menyiksa diri"

Seru Wi Lian In. Wi Ci To tertawa pahit.

"Kau bukanlah aku sudah tentu tidak paham keadaan pikiran ayahmu sekarang ini, kita sejak kecil main bersama, tumbuh menjadi dewasa pun bersama-sama, dia sering berkata padaku secara diam-diam. Dilangit dia rela menjadi sepasang burung merpati, di tanah dia rela menjadi pohon seranting, tetapi saat itu ternyata aku begitu rela meninggalkannya seorang diri, coba kau bilang ayahmu harus merasa menyesal tidak.?"

"Tapi..."

Bantah Wi Lian In lagi.

"Orang yang sudah meninggalkan tidak akan hidup kembali, buat apa Tia begitu menyiksa diri untuk memikirkan dirinya terus menerus?"

Wi Ci To berdiam diri tidak menyawab, dia hanya menghela napas panjang saja.

"Tia, maukah kau orang tua sejak hari ini tidak pikirkan dia kembali?"

Wi Ci To gelengkan kepalanya, dia tertawa pahit.

"Aku sering berusaha tidak memikirkan dirinya, tapi selamanya tidak berhasil"

"Putrimu ada satu cara, hanya saja Tia mau melakukannya?"

"cara apa?"

"Bakar saja lukisan itu"

Ujar Wi Lian In sembari memandang tajam lukisan dari Shu Sim may itu. Air muka Wi Ci To segera berubah amat hebat, dengan suara berat bentaknya.

"In-ji, jangan omong sembarangan"

"Pendapat dari putrimu itu sama sekali tidak punya maksud mendendam padanya, sebaliknya .."

"Tidak usah kau teruskan"

Potong Wi Ci To cepat.

"Kalau begitu sejak kini putrimu boleh memasuki Loteng Penyimpan kitab ini bukan"

Tanya Wi Lian In lagi.

"Kau kemari mau berbuat apa??"

"Baca buku, bukankah di dalam Loteng ini disimpan berbagai macam buku yang berharga? Kalau tidak dilihat terlalu sayang."

Dengan perlahan Wi Ci To menggelengkan kepalanya.

"Selamanya kau paling tidak suka membaca buku, jikalau kau betul-betul mau membaca di dalam kamar bukuku masih tersedia buku dalam jumlah cukup banyak."

"Jadi maksud Tia putrimu tidak diperkenankan masuk ke dalam Loteng penyimpanan kitab ini lagi??"

"Benar"

Sahutnya mengangguk.

"Lohu tak ingin ada orang yang datang kemari untuk menganggu dia."

"Tetapi itu hanya sebuah lukisan saja, bukan manusia betul-betul."

"Tetapi selama puluhan tahun ini Lohu selalu merasa bahwa dia masih hidup di dalam Loteng Penyimpan kitab ini, setiap saat lohu masih merasa kalau sukmanya masih tetap ada dan karenanya lohu tidak ingin ada orang yang datang mengganggu dirinya, membuat sukmanya terkejut dan meninggalkan tempat ini.."

Dengan pandangan yang tajam dan mengandung arti mendalam Wi Lian In memandang wajah ayahnya, kemudian dengan air muka penuh perasaan sedih ujarnya.

"Tia,jika kau orang tua terus menerus begitu, kemungkinan sekali pada suatu hari bisa.... bisa. ."

Akhirnya perkataan "Gila"

Berhasil ditahan juga dan tidak bisa sampai diucapkan-Wi Ci To segera menurunkan kembali kain penutupnya kemudian menggerakkan alat rahasianya, menarik kembali rak buku itu ke tempat semula setelah itu sambil mengangkat kembali lampu yang ada di atas meja ujarnya.

"Mari kita keluar"

Tua muda tiga orang segera turun dari loteng itu, sambil mengunci kembali pintu Loteng dengan perlahan Wi Ci To angkat kepalanya memandang cuaca yang sudah menggelap itu.

"Malam sudah larut, kalian pun harus kembali ke kamar untuk istirahat"

Selesai berkata dengan menggendong tangan ia berlalu dari sana, Ti Then serta Wi Lian In saling pandang, memandang tanpa seorang pun yang mengucapkan kata-kata kemudian tanpa terasa lagi suatu senyuman pahit menghiasi bibir mereka, setelah lewat beberapa saat kemudian mereka berdua berpisah untuk kembali ke kamarnya masing-masing.

Ti Then yang sekembalinya dari kamar segera dia duduk di atas pembaringan dan berpikir dengan keras, dia sedang memikirkan suatu persoalan yang amat penting, semula di dalam anggapannya Majikan Patung Emas memperalat dia tujuannya tentu terletak pada suatu barang pusaka yang disimpan dalam Loteng Penyimpan Kitab pusaka itu, tetapi menurut apa yang dilihatnya sekararg ini barang yang disimpan di dalam Loteng Penyimpan kitab itu bukan lain hanyalah suatu rahasia pribadi Wi Ci To sendiri..

kalau memangnya begitu lalu kenapa Majikan Patung Emas memerintahkan dia untuk bergabung dengan pihak Benteng Pek Kiam Po kemudian memperistri Wi Lian In, apa sebetulnya yang di arah ???

Apa mungkin Majikan Patung Emas pun sudah menganggap Wi Ci To menyembunyikan suatu barang pusaka di dalam Loteng penyimpan Kitabnya itu sehingga mau menggunakan kedudukannya sebagai menantu untuk masuk ke dalam Loteng Penyimpan kitab itu untuk mengadakan penyelidikan???

Tidak.

Majikan Patung Emas menghendaki dirinya berlaku sebagai Patung Emasnya tentu di dalam hatinya tersimpan suatu rencana yang amat rapi Jikalau dia tidak tahu betul-betul barang pusaka apa yang sudah disimpan di dalam Loteng Penyimpan kitab pusaka itu, tidak mungkin mau menggunakan tenaga yang begitu besarnya.

Tapi jika dilihat cara bercerita serta perubahan mimik dari Wi Ci To, jelas sekali dia bukan sedang berbohong.

Apa mungkin tujuan dari Majikan Patung Emas tidak terletak di dalam Loteng penyimpan Kitab itu.

Sekali lagi dia terjerumus di dalam alam pikiran yang ruwet, alam pikiran yang sangat kacau.

"Ti Kiauw tauw, ini air tehmu."

Si Locia itu pelayan tua dengan membawa cawan teh panas bertindak masuk ke dalam kamar kemudian dengan amat hormatnya menyodorkan cawan itu ke hadapan Ti Then..

Ti Then segera menerima cawan itu dan mulai meneguknya, sedang pikirannya tetap diperas dengan segala tenaganya.

"Ti Kiauw tauw..."

Panggil si Lo-cia itu lagi sambil tertawa. Dengan perlahan Ti Then angkat kepalanya.

"Ada urusan apa?"

Si Locia tersenyum-senyum malu, lama sekali baru mendengar dia berkata.

"Budakmu tadi dengar katanya Pocu sudah membawa siocia serta Ti Kiauw tauw masuk ke dalam Loteng Penyimpan Kitab itu"

"Tidak salah"

Sahut Ti Then mengangguk.

"Sungguh heran, bagaimana Pocu bisa membiarkan orang lain mememasuki Loteng penyimpan Kitabnya?"

"Agar semua orang tahu kalau di dalam Loteng penyimpan Kitabnya itu tidak terdapat barang pusaka satu pun"

"Kalau memangnya tidak ada barang pusaka, kenapa selama ini tidak membiarkan orang lain untuk masuk?"

"Aku hanya bisa memberitahukan padamu kalau di dalam Loteng penyimpan kitab itu tidak terdapat barang apa-apa, sebaliknya hanya tersimpan suatu kisah pribadi dari pocu"

"Hanya tersimpan suatu kisah pribadi dari pocu?"

Tanya si Locia setengah tidak percaya.

"Benar"

"Kisahnya bagaimana? "

Desak si Locia kembali.

"Aku hanya bisa memberitahukan padamu sekian saja, bilamana kau mau mengetahui hal yang lebih jelas seharusnya pergi tanya siocia sendiri"

Mendengar omongan itu Locia garuk-garuk kepalanya.

"Siocia tidak mungkin mau beritahu pada budakmu, dia sering memaki budakmu terlalu banyak omong"

Ti Then tersenyum.

"Kau memang terlalu cerewet"

"Tetapi budakmu berbuat demikian hanya terlalu memperhatikan perkembangan pocu kita, kau harus tahu budakmu sudah mengikuti pocu selama puluhan tahun lamanya, segala sesuatunya ..."

"Sudah ..sudah..pocu kalian tidak ada urusan yang harus kau sedihi, kau tidak per1u merasa kuatir hatinya, pergi tidur sana"

Lo cia segera menyahut berulang kali dan mengundurkan diri dari sana.

Ti Then segera mengunci pintu kamarnya dan mengambil lampu mendekati jendela untuk kirim tanda, tetapi sesudah dipikir beberapa kali dia membatalkan kembali maksudnya itu, dia pikir tentu Majikan patung Emas sudah mengetahui kalau dia telah kembali ke dalam Benteng Pek Kiam Po sedang sebelum dirinya menjadi suami istri dengan wi Lian In dia pun tidak akan memberitahukan rencananya, karena itu dia merasa malas untuk mengadakan hubungan, segera dia buka pakaiannya dan naik ke atas pembaringan untuk beristirahat.

Dia sudah ada dua hari lamanya tidak tidur karena itu semangatnya saat ini sudah luntur, tidak selang lama dia berbaring ia sudah tertidur dengan amat pulasnya.

Entah sudah tertidur beberapa lamanya mendadak dia sadar kembali dengan perasaan amat terperanyat.

Ketika dia buka matanya terlihatlah itu patung emas sudah berdiri dengan angkernya di depan pembaringannya.

Tanpa terasa dia sudah menghela napas panjang, dengan perasaan tidak puas bercampur mangkel gumamnya.

"Aku sudah ada beberapa hari lamanya tidak tidur, kenapa kau tidak membiarkan aku tidur dengan nyenyaknya barang satu hari saja?"

Suara dari Majikan Patung Emas segera berkumandang datang dari atas atap. sahutnya dengan suara yang amat dingin.

"Aku ada perkataan yang harus diucapkan kepadamu"

Dengan lambat-lambat Ti Then bangkit berdiri.

"Bukankah besok malam masih bisa?"

Serunya kembali "Bangsat cilik"

Teriak Majikan Patung Emas itu setengah gusar.

"Kau jangan berberbuat begitu, kau adalah patung emasku, bilamana aku tidak membiarkan kau tidur kau pun terpaksa harus sadar terus."

"Bilamana patung emasmu binasa karena kelelahan?"

Majikan patung emas segera tertawa dingin.

"Dengan usiamu seperti sekarang kau tidak akan binasa karena kelelahan, sekali pun sepuluh hari tidak tidur pun tidak mengapa"

"Di dalam keadaan gusar aku bisa mengambil keputusan pendek."

Ancam Ti Then tak mau kalah.

"Aku tahu kau tidak akan melakukan bunuh diri, karena di dalam benakmu masih ada urusan yang belum diselesaikan."

Ti Then segera mendengus dingin.

"Sudah, sudahlah, ada perkataan cepat disampaikan."

Nada dari majikan patug emas segera berubah menjadi lunak kembali.

"Pertama-tama aku mau ucapkan selamat padamu terlebih dulu, karena akhirnya kau berhasil memenuhi harapanku dan kembali ke benteng Pek Kiam Po"

"Aku sudah tahu tentu kau amat girang"

Sahut Ti Then tawar.

"Tetapi. ."

Ujar Majikan patung emas kembali sembari tertawa.

"Semua ini bukanlah atas pahala kau seorang, jikalau bukannya Anying langit rase bumi datang mencari setori Wi Ci To juga tidak akan mengubah pikirannya sedemikian cepat dan menahan dirimu untuk meneruskan jabatanmu sebagai Kiauw tauw"

"Lalu bagaimana pendapatmu tentang peristiwa di atas tebing Sian Ciang itu"

"Tidak jelek. kau menduga terlebih dulu gerakan dari musuh sehingga berhasil menghilangkan suatu bencana, tetapi dengan perbuatanmu itu berarti juga sudah mendatangkan suatu bencana buat dirimu sendiri, jadi ini bukanlah suatu keuntungan buatku mau pun buat dirimu sendiri bukan begitu?"

"Kau mau bicara apa pun boleh"

"Kemarin malam sewaktu aku siap memasuki kamar Huang puh Kian Pek aku lihat dia sudah melakukan suatu gerakan, karena itu aku tak jadi turun tangan sendiri. Walau pun budak itu sudah menaruh kesalah pahaman dengan kau ternyata masih juga mau melaksanakan pendapatnya, hal ini membuktikan kalau dia sudah menaruh cinta kepadamu."

Ti Then hanya berdiam diri tidak menyawab.

"Sesampainya di dalam Istana Thian Teh Kong kau harus lebih hati-hati lagi,"

Ujar majikan patung emas itu kembali serius.

"Si Rase Bumi Bun Jin Cu tentu akan mengundang orang untuk membantu bertempur, untuk berkelahi secara terang-terangan kau bersama-sama Wi Ci To tak akan kalah, tetapi keadaan dalam Istana Thian Teh Kong sama saja dengan keadaan di dalam Loteng Penyimpan kitab itu, setiap tempat dipasang alat rahasia, kau mungkin bisa masuk dengan selamat tetapi untuk lolos tentu sukar. Karenanya kau lebih baik jangan masuk ke dalam, kalau tidak begitu nyawamu hilang untuk menemukan kembali nyawamu itu aku akan menemui kesulitan yang amat besar"

"Aku pun mau beritahukan suatu urusan kepadamu, jikalau tujuanmu terletak pada suatu macam barang yang di simpan dalam loteng Penyimpan Kitab itu maka sebaliknya sejak kini kau hilangkan saja pikiran tersebut, karena semalam Wi Ci To telah membawa putrinya serta aku memasuki Loteng Penyimpan Kitab itu, di dalam sana kecuali hanya terdapat berbagai macam kitab serta lukisan sama sekali tidak ada barang pusaka apa pun."

Agaknya Majikan Patung Emas dibuat terperanyat oleh berita yang mendadak ini.

"Haa. Wi Ci To membawa kalian jalan-jalan ke dalam Loteng Penyimpan kitabnya?"

"Tidak salah, urusan ini seharusnya kau tahu bukan ?? "

"Aku yang bersembunyi di dalam Benteng Pek Kiam Po ini setiap kali harus menanti setelah tengah malam tiba baru bergerak. maka tidak semua urusan bisa aku ketahui .. kau bilang di dalam Loteng Penyimpan Kitab itu selain kitab serta lukisan tidak terdapat barang lainnya?"

"Benar."

"Kalau memang begitu"

Ujar Majikan Patung emas kembali.

"Kenapa dia melarang semua orang masuk ke sana?? Dan kenapa disetiap tempat di atas loteng itu dipasang alat-alat rahasia ?"

"Karena di dalam sana dia sudah menyembunyikan suatu rahasia pribadinya."

"Rahasia apa ?"

"Termasuk rahasia percintaannya."

Agaknya majikan patung emas itu tidak merasa sabaran lagi, bentaknya.

"Cepat katakan-"

"Sebab-sebab dia tidak memperkenankan orang lain memasuki Loteng Penyimpan Kitabnya dikarenakan di sana dia sudah menyimpan lukisan dari istri pertamanya Shu Sim Mey. kiranya sebelum dia mengawini ibunda Wi Lian In terlebih dulu dia sudah mem punyai seorang istri.."

Segera dengan amat jelas dia menceritakan apa yang sudah didengarnya itu kepada majikan Patung Emas.

Dia mau menceritakan rahasia dari Wi Ci To ini kepadanya sudah tentu mengharapkan pihak lawannya, sudah tentu bilamana barang yang diincar pihak lawannya itu berada di dalam Loteng Penyimpan Kitab itu menjadi paham kalau di sana sama sekali tidak terdapat barang pusaka apa pun, dan mengharapkan pihak lawannya bisa menghapuskan maksud hatinya ini bahkan membatalkan kedudukannya sebagai patung emas yang diperbudak.

Siapa tahu selesai Majikan Patung Emas itu mendengar kisahnya segera tertawa terbahak-bahak.

"Kau mau percaya atas semua perkataannya itu???"

"Sudah tentu percaya"

Seru Ti Then cepat.

"Karena sewaktu dia menceritakan kisahnya ini perubaban mimiknya persis dengan dia yang diceritakan, sudah tentu aku percaya penuh"

"Sebaliknya aku sama sekali tidak percaya.."

Seru Majikan Patung Emas tertawa dingin.

"Bilamana waktu itu kau hadir di sana, kau akan percaya terhadap semua perkataannya."

"Tidak, aku tidak akan percaya pada perkataannya."

Bantah majikan Patung emas dengan tegas.

"Kau punya alasan apa untuk tidak mempercayai atas perkataan itu ?"

"Di dalam Bu lim saat ini kecuali aku seorang, tidak ada orang lain yang tahu lebih jelas riwayat hidupnya, dia sama sekali tidak mem punyai seorang istri yang bernama Shu Sim Mey, semua itu dia sengaja karang untuk membohongi kalian-"

Diam-diam Ti Then merasa amat terperanyat.

"Benarkah?"

"Sedikit pun tidak salah, jikalau kau punya waktu pergilah satu kali ke daerah Su kho dan coba cari berita tentang riwayatnya, maka kau segera akan tahu kalau apa yang dikatakan kemarin malam semuanya merupakan suatu omongan kosong yang amat besar"

Dalam hati Ti Then betul-betul merasa hatinya bergolak dengan amat keras.

"Kalau begitu dia sengaja karang cerita ini dengan tujuan untuk mengelabui putrinya sehingga dia tidak menaruh perasaan curiga lagi."

"Sedikit pun tidak salah"

"Kalau begitu rahasianya yang betul-betul sebenarnya apa?"

Desak Ti Then lagi.

"Untuk sementara waktu aku tidak bisa beritahukan kepadamu"

"Dia tentu sudah menyembunyikan semacam barang pusaka, kau ingin menggunakan aku pergi mencuri barang pusaka tersebut bukan begitu?"

Seru Ti Then sembari tertawa mengejek.

"Salah besar".

"Hmm, kau sedang berbohong."

Majikan Patung Emas segera memperdengarkan senyumannya yang amat misterius.

"Manusia seperti aku ini sekali pun diperlihatkan barang-barang pusaka yang bagaimana berharga dan bagaimana hebatnya sama sekali tidak akan menggerakkan hatiku, maka kau berlegalah hatimu, aku sama sekali tidak akan mencuri barang pusaka dari Wi Ci To barang sebuah pun juga."

Dia berhenti sebentar kemudian tambahnya sembari tertawa.

"Jika lalu tujuanku terletak pada barang pusaka, di dalam istana Thian Teh kong jauh lebih banyak lagi."

Ti Then segera putar otaknya, dia merasa perkataannya sedikit pun tidak salah, jikalau dia menghendaki barang pusaka di dalam istana Thian Teh kong memang jauh lebih banyak.

tetapi dia sama sekali tidak ingin mencuri barang pusaka juga tidak ingin mencelakai diri Wi Ci To bahkan dia pernah bilang kalau dia menyamin tidak akan mengganggu orang-orang benteng Pek Kiam Po barang seujung rambut pun.

Kalau begitu, apa sebetulnya tujuan yang sedang direncanakan sehingga mengharuskan dirinya menyelundup masuk ke dalam benteng Pek Kiam Po kemudian mengawini Wi Lian In?

Agaknya Majikan Patung emas tahu apa yang sedang dipikirkan Ti Then di dalam hatinya, segera dia tertawa "Aku tahu di dalam hatimu tentu mengandung bermacam perasaan curiga dan ragu-ragu, jikalau kau ingin cepat-cepat mengetahui apa tujuanku yang sebetulnya maka kau haruslah lebih mempergiat usahamu sehingga Wi Lian In budak itu bisa kau peristri secepat mungkin"

"Tapi Wi Ci To sudah tahu kalau aku adalah Lu Kongcu itu"

Bantah Ti Then-"Karena itu dia pun sudah tahu kalau aku masuk ke dalam benteng Pek Kiam Po membawa suatu maksud tertentu, aku kira dia tidak akan menjodohkan putrinya kepadaku"

"Tidak. kau sudah dua kali menolong nyawa putrinya bahkan kemarin malam sudah membantu mereka melenyapkan suatu bencana yang sebetulnya mengancam seluruh isi benteng, maka aku percaya di dalam hatinya dia pasti sangat berterima kasih kepadamu, sejak ini hari bilamana rahasiamu tidak sampai bocor maka dengan cepat dia akan menjodohkan putrinya Wi Lian In kepadamu."

"Ehmm... kau punya petunjuk lain?"

Tanya Ti Then dengan nada kemalas-malasan-"Kalau tidak ada aku mau pergi tidur."

"Masih ada satu urusan, kau masih ingat dengan pendekar pedang merah si pendekar pedang pemetik bintang Hong Kun? "Oooh pendekar pedang merah yang waktu itu mengikuti Wi Ci To pergi mengejar Hong Mong Ling?"

"Benar, waktu itu Wi Ci To mengajak Hong Kun dengan alasan pergi mengejar Hong Mong Ling padahal secara diam-diam malam itu juga dia kembali ke dalam benteng dan bersembunyi di dalam Loteng Penyimpan kitabnya menanti kau terpancing ke dalam-jebakannya, sedangkan Hong Kun itu menerima perintah berangkat ke kota Tiangan untuk menyelidiki wajah yang sebenarnya dari Lu Kongcu, di dalam waktu dekat ini dia akan kembali ke dalam benteng"

"Lalu bagaimana baiknya?"

"Waktu itu untuk menutupi penyamaranmu aku sudah perintahkan orang lain untuk menyamar sebagai Lu Kongcu dan sengaja muncul di hadapan Hong Kun agar Hong Kun sudah salah menganggap kalau "

Lu Kongcu memang benar-benar pernah pergi ke rumah pelacuran Tou Hoa Yuan, kini Wi Ci To sudah memastikan adalah Lu Kongcu itu sedang kau pun sudah mengakui kalau Lu Kongcu itu adalah hasil penyamaranmu, lewat dua hari lagi jikalau Hong Kun sudah kembali ke dalam benteng untuk melaporkan pertemuannya dengan Lu Kongcu dan membuktikan kalau Lu Kongcu memiliki kepandaian silat yang tinggi serta pernah memukul roboh Hong Mong Ling di rumah pelacur Tou Hoa Yuan, Wi Ci To tentu akan menjadi sadar kembali."

"Bukanlah dengan begitu perasaan curiga terhadap diriku bisa dilenyapkan?"

Tanya Ti Then kegirangan.

"Tapi kau pernah mengaku kalau kau adalah Lu Kongcu itu dan yang memukul roboh Hong Mong Ling sewaktu berada di rumah pelacuran Touw Hoa Yuan juga kau. ."

"Haaa.. haaa... soal itu tidak usah kuatir, jikalau Wi Ci To menaruh curiga lalu atas ketidak cocokan ini aku punya cara untuk memberikan jawabannya."

"Kau mau Jawab bagaimana ?"

"Aku bisa bilang aku Ti Then seharusnya tidak patut dicurigai orang, makanya ketika ada orang yang mencurigai aku adalah Lu Kongcu itu dalam hatiku merasa amat mangkel, karena itu sengaja aku mengaku, karena aku punya anggapan pada suatu hari urusan pasti akan menjadi terang .. coba kau bilang tepat tidak jawaban ini?"

Majikan patung emas menjadi amat girang sekali.

"Cocok sekali cocok sekali"

Pujinya.

"Jawaban ini cocok sekali dengan sifatmu yang keras dan angkuh, sungguh bagus sekali"

"Sekarang kau mengijinkan aku untuk tidur sebentar bukan?"

"Sudah tentu.. sudah tentu, kau tidurlah."

Seru majikan patung emas dengan amat girang.

Pendekar pedang merah dari benteng Pek Kiam po seorang demi seorang mulai kembali ke dalam benteng.

Pada tiga hari sesudah Ti Then masuk ke dalam Loteng Penyimpan kitab suatu siang hari benar juga itu si pendekar pedang pemetik bintang Hong Kun yang mendapat tugas menyelidiki keadaan Lu Kongcu kembali ke dalam Benteng.

Wi Ci To segera panggil dia untuk bertemu di dalam kamar bukunya.

"Kau sudah bertemu dengan Lu Kongcu?"

Tanyanya dengan perasaan ingin tahu.

"Sudah."

Sahut si pendekar pedang pemetik bintang Hong Kun mengangguk.

"Pada hari pertama setelah tecu tiba di kota Tiang An di atas sebuah loteng rumah makan sudah bertemu dengan dia"

"Bagaimana dengan wajahnya ??"

"Mirip sekali dengan Ti Kiauw tauw"

Air muka Wi Ci To segera berubah.

"Bagaimana kau bisa memastikan kalau dia adalah putranya Lu Ko sian ???"

"Semula tecu tidak tahu, kemudian telah mendengar kawan-kawan yang doyan pelesiran dimana mereka minum arak bersama-sama dengan dia memanggil orang itu dengan sebutan Lu heng bahkan kelakuannya amat menghormat sekali, lalu tecu juga tanya pelayan, waktu itulah tecu baru tahu kalau dia adalan Lu Kongcu itu"

Wi Ci To segera tersenyum.

"Kemudian kau pura-pura mabok dan sengaja mencari setori dengan dia, bukan begitu"

Seketika itu juga sipendekar pedang pemetik bintang itu menjadi tertegun-"Oh, kiranya suhu juga sudah berada di sana..."

Serunya keheranan.

"Tidak. aku tidak ada di sana"

Jawab Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.

"Kalau tidak bagaimana suhu tahu kalau tecu pura-pura mabok dan mencari setori dengan dia orang ??"

Tanya Hong Kun keheranan.

"Hanya dugaanku saja, di dalam tempat seperti itu untuk menyajal kepandaian silat orang lain terpaksa harus pura-pura menjadi mabok"

Dia berhenti sebentar, sesudah menghembuskan napas panjang-panjang tambahnya.

"Bahkan aku pun tahu atas hasil penyelidikanmu itu...bukankah dia tidak bisa bersilat"

"Tidak benar"

Bantah si pendekar pemetik bintang itu cepat "

Kepandaian ilmu silatnya tidak termasuk ilmu silat pesaran, tecu terpaksa harus menghamburkan tenaga yang amat besar dan lama baru berhasil menawan dirinya"

Ketika itu juga Wi Ci To menjadi melengak.

"Haa, sungguh ???"

Dengan perlahan si pendekar pemetik bintang itu mengangguk.

"Benar, kepandaian silatnya agak sedikit berada di bawah kepandaian silat pendekar pedang merah kita tapi jauh lebih tinggi dari para pendekar pedang putih"

Sekali lagi Wi Ci To dibuat terperanyat.

"Kiranya ada kejadian semacam ini, lalu bagaimana?"

"Sesudah tecu berhasil menawan dirinya, lalu tecu tanyai apakah pada satu bulan yang lalu pernah datang ke kota Go bi??, memukul rubuh seorang pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po di dalam rumah pelacuran Touw Hoa Yuan?"

Sebelumnya dia tidak mau mengaku, tapi sesudah tecu desak terus menerus akhirnya dia mengaku juga, dia masih bilang yang rubuh olehnya adalah si naga mega Hong Mong Ling."

Mendadak Wi Ci To bangkit berdiri, sepasang matanya memancarkan sinar yang amat tajam dan memandang wajah si pendekar pedang pemetik bintang tanpa berkedip. serunya dengan suara berat.

"Kau sedang bohong bukan?"

"Urusan yang demikian besar tecu mana berani mengarang cerita bohong "

Jawab si pendekar pedang pemetik bintang dengan wajah serius.

Agaknya Wi Ci To menemui kesukaran, alisnya dikerutkan rapat-rapat berulang kali dia berjalan bulak balik di dalam kamar bukunya, akhirnya baru dia berkata.

"Baiklah, sekarang persilahkan Ti Kiauw tauw serta siocia datang kemari."

Dengan sangat hormat sekali si pendekar pedang pemetik bintang itu menyahut, setelah memberi hormat dia mengundurkan diri dari sana menuju ketengah lapangan latihan silat.

Ujarnya kemudian setelah bertemu dengan Ti Then yang sedang memberi pelajaran silat kepada Wi Lian In "Ti Kiauw tauw, siocia kalian diundang pocu untuk berbicara di dalam kamar buku"

Ti Then sudah tahu peristiwa apa yang sudah terjadi, karenanya dengan sangat tegang dia mengajak Wi Lian In berjalam menuju kamar buku dimana Wi Ci To sudah menanti, setelah memberi hormat ujarnya.

"Pocu mengundang boanpwe datang kemari entah mem punyai petunjuk apa?"

"Silahkan Ti Kiauw tauw ambil tempat duduk."

Ti Then segera menarik sebuah bangku dan duduk. Lama sekali Wi Ci To memandangi dirinya sambil tersenyum, kemudian baru ujarnya .

"Sifat dari Ti Kiauw tauw lain kali harus sedikit diubah."

"Urusan apa?"

Tanya Ti Then tertegun.

"Waktu itu kenapa kau mengakui kalau kau adalah Lu Kongcu itu?"

Ti Then tertawa serak.

"Kiranya Pocu bermaksud demikian, apakah sekarang pocu sudah tahu kalau boanpwe bukanlah Lu Kongcu?"

"Tidak salah"

Jawab Wi Ci To sambil mengangguk.

"Hari ini lohu baru tahu kalau Ti Kiauw tauw benar-benar bukanlah Lu Kongcu itu, tetapi kalau memangnya kau bukan dia kenapa waktu itu sudah mengaku"

Ti Then tak langsung memberikan jawabannya sebaliknya balas tanya.

"Bagaimana Pocu berani memastikan kalau boanpwe bukanlah Lu Kongcu itu?"

"Urusan sudah begini untuk mengelabui pun tidak ada gunanya, Lohu sudah mengirim seorang pendekar pedang merah untuk pergi kekota Tiang An untuk melakukan penyelidikan, pendekar pedang merah itu sudah berhasil memperoleh keterangan kalau Lu Kongcu yang waktu itu memukul rubuh Hong Mong Ling di dalam rumah pelacuran Touw Hoa Yuan memangnya Lu Kongcu sendiri dan bukanlah Ti Kiauw tauw yang sengaja menyamar."

"Bagus sekali"

Teriak Ti Then tertawa.

"Boanpwe sudah menduga bahwa pasti ada satu hari urusan ini bisa dibikin terang"

"Waktu itu ketika lohu menanyai dirimu kenapa kau sudah mengakuinya?"

Tanya Wi Ci To lagi.

"Ku Ie mau pun Liuw Su Cen terus menerus mengatakan kalau boanpwe adalah Lu Kongcu, itu sedangkan Pocu sendiri pun agaknya sudah mempercayai perkataan mereka, di dalam keadaan seperti itu kalau boanpwe tidak mengaku apa mungkin Pocu mau mempercayainya??"

Air muka Wi Ci To segera berubah dan memperlihatkan perasaan menyesal.

"Waktu itu Lohu memang betul-betul sudah mempercayai perkataan mereka, tetapi kau tidak seharusnya mengakui semuanya itu, seharusnya kau bisa membedakan urusan ini dengan dirimu sendiri"

"Omong terus terus terang saja, boanpwe sama sekali tidak punya alasan untuk tetap tinggal ditempat ini oleh karena itu malas untuk mendebat urusan ini."

"Karena itu"

Ujar Wi Ci To lagi "Lohu anjurkan agar sifatmu itu sedikit diubah, sifat yang keras dan ketus kadang kala bisa mendatangkan kesukaran bagi dirinya sendiri"

"Benar, terima kasih atas petunjuk dari pocu"

Dengan perlahan Wi Ci To menoleh ke arah Wi Lian In, ujarnya kemudian sambil tertawa.

"Inyie, Ti Kiauw tauw memang benar-benar seorang pemuda yang bersih dan jujur, waktu itu kita betul-betul berbuat sesuatu yang salah terhadapnya, kau bilang benar tidak ??"

Semula di dalam anggapan wi Lian In 'Lu Kongcu' itu adalah hasil penyamaran Ti Then, tetapi dikarenakan dua kali Ti Then menolong dia lolos dari "mulut macan"

Bahkan lenyapkan pula bencana yang akan menimpa benteng Pek Kiam Po karena itulah perasaan curiga terhadap Ti Then menjadi lenyap dan di dalam anggapannya sekarang Ti Then sengaja menyamar sebagai Lu Kongcu semuanya dikarenakan dia mencintai dirinya.

Sekarang sesudah dia tahu kalau Ti Then bukanlah Lu Kongcu itu di dalam hatinya sekali pun merasa girang juga atas kebersihan diri Ti Then tidak urung merasa kecewa juga, setelah mendengar perkataan dari ayahnya dengan perasaan malu dia menundukkan kepalanya..

Dengan perlahan Wi Ci To berbatuk-batuk kering, ujarnya kemudian sambil tertawa.

"Para pendekar pedang merah telah ada sebagian yang telah kembali ke dalam Benteng makanya Lohu ambil keputusan untuk berangkat ini hari juga"

"Pergi mencari Hong Mong Ling?"

Tanya Ti Then Air muka Wi Ci To segera berubah menjadi amat keren.

"Benar"

Sahutnya perlahan-"Peraturan perguruan lohu selamanya keras terhadap murid-murid yang murtad dan berbuat jahat selamanya tidak meninggalkan kehidupan"

"Tia. ."

Wi Lian In mendadak nyeletuk.

"Kau orang tua tidak tahu dia sudah bersembunyi dimana, kau orang tua mau cari dimana?"

"Biarlah lohu cari disegala tempat, kemudian bila sampai waktunya langsung menuju ke istana Thian Teh Kong untuk memenuhi janyi."

"Kalau memangnya begitu, biarlah Ti Kiauw tauw serta putrimu ikut bersama-sama Tia?"

Dengan perlahan Wi Ci To gelengkan kepalanya.

"Jangan, bilamana kita bertiga harus melakukan perjalanan bersama-sama, hal ini terlalu menyolok dan mudah di ketahui oleh bangsat kecil itu."

"Tetapi Ti Kiauw tauw serta putrimu juga mau pergi ke istana Thian Teh Kong "

Bantah Wi Lian In ngotot.

"Begini saja, dua hari lagi kalian berdua baru berangkat dengan mengambil jalan lain, dengan demikian kesempatan untuk bertemu dengan bangsat cilik itu pun menjadi lebih besar."

Dia berhenti sebentar, kemudian dengan wajah yang amat dingin tambahnya.

"Bilamana kalian sudah berhasil bertemu dengan dia, tidak usah buang tenaga membawa dia kembali ke dalam Benteng, juga tidak perlu bertanya lebih banyak. ditempat itu juga turun tangan bunuh mati dirinya"

Diam-diam Wi Lian In melirik ke arah Ti Then, kemudian baru ujarnya sambil tertawa.

"Kau sudah dengar belum??"

Ti Then terpaksa angkat bahunya, dia hanya tersenyum saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun, padahal di dalam hati diam-diam pikirnya.

"Aku tidak akan berbuat demikian, bilamana berhasil menawan dirinya, aku harus menanyai lebih jelas lagi.."

Tampaklah Wi Ci To sudah bangkit berdiri ujarnya.

"Inyie, coba kau bantu ayahmu bereskan sedikit perbekalan, lohu mau kumpulkan semua pendekar pedang merah untuk diberi tugas, setelah itu aku harus segera berangkat."

Sambil berkata dia berjalan keluar dari kamar bukunya.

Ti Then pun segera ikut bangkit berdiri dan berjalan keluar, tinggal Wi Lian In seorang yang berada dalam kamar buku itu membantu ayahnya membereskan buntalannya.

Satu jam kemudian Wi Ci To di bawah hantaran Ti Then, wi Lian In serta berpuluh-puluh pendekar pedang merah meninggalkan Benteng Pak Kiam Po untuk melakukan perjalanannya.

Wi Lian In yang melihat ayahnya sudah berangkat meninggalkan benteng segera merasakan hatinya jauh lebih ringan, kepada Ti Then sambil tersenyum mesra ujarnya.

"Kita mau berangkat hari apa??"

"Ayahmu minta kita baru berangkat dua hari kemudian, kita pastikan saja baru berangkat."

"Entah Tia sedang bermain sandiwara apa, padahal bilamana kita bisa berangkat bersama-sama bukankah jauh lebih bagus lagi?"

Ti Then hanya tersenyum saja dan tidak memberikan jawabannya, dia tahu kenapa Wi Ci To menghendaki melakukan perjalanan seorang diri, sebab-sebab Wi Ci To menghendaki demikian tentunya bukan dikarenakan dia mau memberikan kesempatan kepada Wi Lian In untuk lebih erat bergaul dengan dia.

melainkan dia tidak menghendaki ada orang ketiga yang hadir sewaktu dia menawan diri Hong Mong Ling kemudian menghukum mati dia orang, dengan demikian rahasianya itu pun tidak akan sampai tersiar diluaran.

Tetapi urusan ini dia tidak enak untuk menjelaskan kepada diri Wi Lian In-Wi Lian In yang melihat dia hanya tertawa saja tanpa memberikan jawabannya, wajahnya segera berubah semu merah, ujarnya.

"Ayo kau bilang."

"Kau minta aku bicara apa ??"

"Coba kau bilang kenapa Tia tidak mengijinkan kita melakukan perjalanan bersama-sama dengan dia orang tua."

"Bukankah ayahmu sudah menjelaskan?, kita melakukan perjalanan dengan berpisah begitu kesempatan untuk bertemu dengan Hong Mong Ling pun menjadi jauh lebih besar."

Wi Lian In segera mencibirkan bibirnya.

"Kau kira hanya alasan ini saja ??"

"Mungkin memang begitu"

Sahut Ti Then tertawa. Dengan manyanya Wi Lian In melototkan matanya ke arahnya.

"Hmmm, kau orang sungguh pandai berpura-pura."

Di dalam hati Ti Then tahu dia sangat menginginkan dia berkata demikian, lalu ujarnya.

"Mungkinkah masih ada satu alasan, tetapi bilamana aku katakan tentu akan dipukul. ."

"Siapa yang mau pukul kau??"

"Orang yang ada di sampingku"

Ujar Ti Then tersenyum. Wi Lian In segera tertawa senang.

"Buat apa aku pukul dirimu?? cepat kau katakan tentu aku tidak pukul dirimu"

Jilid 17.2.

Siapa pembunuh Hong Mong Ling?

"Baiklah aku katakan, ayahmu tidak membiarkan diri kita melakukan perjalanan bersama-sama dia orang tua memang masih ada satu alasan, dan alasan itu adalah tidak ingin mengganggu kita berdua."

Wajah Wi Lian In segera berubah menjadi merah dadu, dengan nada manya ujarnya.

"Aku tidak paham perkataanmu ini"

"Baiklah aku bicara lebih jelas lagi, ayahmu mau memberikan kesempatan pada kita berdua untuk melakukan perjalanan bersama-sama dengan begitu kesempatan buat kita berdua untuk bermesra-mesraan pun menjadi lebih banyak."

Wi Lian In merasa malu juga girang, dengan perlahan dia mendorong badannya kemudian dengan cepat lari keluar dari dalam kamar.

Keesokan harinya, baru saja fajar menyingsing dia sudah datang kekamar Ti Then, ujarnya.

"Hey. kita berangkat ini hari saja bagaimanaa??" .."Bukankah ayahmu minta kita berangkat dua hari lagi, sekarang baru satu hari"

Ujar Ti Then sambil menguap berulang kali.

"Pokoknya kan kita menganggur, berangkat ini hari atau berangkat besok juga sama saja"

"Kalau tidak ada bedanya kita berangkat besok saja"

Jawab Ti Then cepat.

"Tidak, kita berangkat ini hari saja"

Melihat kelakuan ini Ti Then tersenyum.

"Buat apa begitu cemasnya???"

Wi Lian In segera medepakkan kakinya ke atas tanah.

"Kau tidak mau berangkat, aku mau berangkat seorang diri."

Selesai berkata dia segera putar badannya siap mau pergi. Dengan cepat Ti Then menarik pergelangan tangannya lalu ujarnya sambil tertawa.

"Jangan merasa bingung dulu, mau berangkat kita pun harus bersiap-siap dengan buntalan-"

"Baiklah. kau cepat bersiap-siap. biar aku beritahukan para pendekar pedang merah."

Tidak lama kemudian mereka berdua masing-masing dengan mempergunakan seekor kuda berlari meninggalkan Benteng Pek Kiam Po. Wi Lian In kelihatan girang sekali mendengar dia berkata sambil tertawa.

"Jarak dari sini ke gunung Kim Hud san masih ribuan lie lagi jauhnya, jika di dalam satu hari kita melakukan perjalanan sejauh dua ratus lie berarti lima hari kemudian haru sampai"

"Kau punya rencana jadi tamunya istana Thian Teh Kong??".

"Bagaimana bisa dikatakan jadi tamu"

Tanya Wi Lian In tertegun-Ti Then tersenyum.

"Janyinya si rase bumi Bun Jin Cu masih ada dua puluh hari lamanya, jikalau kita sampai di sana setengah bulan lebih cepat, bukankah sama saja jadi tamu istana Thian Teh Kong ???"

Wajah Wi Lien In segera berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus.

"Tidak salah, aku sudah lupa kalau perjanyian kita masih ada dua puluh hari lamanya..."

"Karena itu kita tidak perlu cepat-cepat, berjalan perlahan pun tidak mengapa."

"Tidak sampai lima puluh li satu hari??"

Tanya Wi Lian In sambil memandangi wajah Ti Then-"Jikalau kita melakukan perjalanan selambat itu, kiranya kuda kita tidak akan sabaran"

"Cepat tidak baik lambat juga tidak baik, lalu kita harus berjalan secara bagaimana?"

"Lebih baik kita cari tempat untuk bermain-main". Mendengar perkataan itu Wi Lien In menjadi amat girang.

"Bagus sekali, coba kau bilang kita baiknya bermain ke tempat mana ?"

"Bagaimana kalau gunung Kim Tong sam"

Senyuman yang menghiasi bibir wi Lian In segera berubah menjadi senyuman pahit, dengan perasaan amat terkejut dia teriak tertahan.

"Gunung Kim Tong san ?"

"Kenapa??"

Tanya Ti Then tersenyum. Wi Lian In dengan perlahan menarik napas panjang-panjang, lama sekali baru ujarnya.

"Gunung Kim Teng sen bukanlah tempat kediaman dari si kakek pemalas Kay Kong Beng".

"Kenapa .?"

"Kau mau kegunung Kim Teng san apa mem punyai maksud lain?"

Tanya Wi Lian In sambil pandang tajam wajahnya.

"Tidak ada"

Jawab Ti Then sambil menggelengkan kepalanya.

"Aku merasa kalau pemandangan di atas gunung Kim Tong san sangat bagus sekali, aku pingin main-main ke sana."

"Kau kenal tidak dengan si kakek pemalas Kay Kong Beng ?"

"Kenal.. kenal. hanya saja aku tidak punya rencana untuk mencari dia orang, sesampainya di atas gunung Kim Teng san asalkan kita tidak mendekati tempat kediamannya perduli apa sikakek pemalas atau si kakek rajin" . Agaknya Wi Lian In bisa dibuat paham maksudnya.

"Kalau begitu baiklah, aku mendengar sifatnya si kakek pemalas Kay Kong Beng sangat aneh, lebih baik kita jangan terlalu mencari gara-gara dengan dia."

"Kau pernah dengar dari siapa kalau sifatnya si kakek pemalas Kay Kong Beng sangat aneh??"

Tanya Ti Then keheranan-"Dari Tia, Tia pernah katakan walau pun si kakek pemalas Kay Kong Beng itu dari aliran lurus tetapi suka menyendiri dan jadi orang sangat sombong, dia bukanlah seorang manusia yang bisa diajak bergaul."

"Perkataan dari ayahmu itu sedikit pun tidak salah, makanya aku sendiri pun tidak suka padanya."

"Aku dengar katanya dia berdiam diri di atas puncak paling atas dari gunung Kim teng san, satu hari satu malam terus menerus duduk tidak bergerak. apa betul begitu?"

"Tidak salah"

Jawab Ti Then sambil mengangguk "Karenanya semua orang memberikan julukan si kakek pemalas kepadanya."

"Kenapa dia berbuat begitu?"

Tanya Wi Lian In lagi dengan perasaan heran-"Siapa yang tahu, mungkin seperti apa yang ayahmu katakan karena sifatnya yang angkuh, sombong dan suka menyendiri itulah"

"Ada orang bilang kepandaian silatnya jauh lebih tinggi dari kepandaian silat ayahku, kau lihat bagaimana??"

"Aku pun dengar orang-orang lain berkata demikian, padahal keadaan yang sebenarnya siapa pun tidak tahu"

"Sekali pun boleh di hitung kepandaian silatnya sangat jauh lebih dari kepandaian silat ayahku, tetapi ayahku adalah seorang cianpwe yang paling dihormati di dalam Bu lim."

"Perkataanmu sedikit pun tidak salah"

Sahut Ti Then sambil mengangguk.

"Kepandaian silat nomor satu bukanlah suatu yang aneh tetapi sifat paling baik dan nomor satu bukanlah suatu yang luar biasa."

Wi Lian In segera tertawa.

"Kau lihat bagaimana dengan sifat dan tindak tanduk Tia??"

"Soal itu sukar untuk dikatakan-"

Sekali lagi Wi Lian In tertawa cekikikan-"Tia adalah seorang pendekar sejati, juga seorang malaikat dalam kasih sayang, perkataan ini kau setuju tidak??"

"Sangat setuju sekali"

Jawab Ti Then sambil mengangguk.

"Waktu itu, ketika aku mendengar kalau Tia pernah menikah sebelum kawin dengan ibuku di dalam hati aku benar-benar merasa sangat sedih, kemudian sesudah tahu kalau shu sim Mey telah mati empat puluh tahun yang lalu, kesedihanku menjadi hilang.."

"Benar, Ayahmu mengawini ibumu sebagai istri yang syah dan bukannya dijadikan gundik, seharusnya kau tidak punya alasan untuk bersedih hati"

"Tetapi ternyata Tia merindukan seorang yang sudah mati empat puluh tahun yang lalu, belasan tahun ini terlalu keterlaluan?"

"Kurasa tidak."

Sahut Ti Then tersenyum.

"orang yang bisa seperti ayahmu sungguh sedikit sekali."

"Karena itulah sesudah aku pikir bolak balik bukan saja aku tidak menyalahkan Tia, bahkan semakin menghormati dirinya, karena di dalam dunia ini orang lelaki biasanya suka yang baru dan bosan dengan yang lama, orang seperti Tia yang tidak melupakan cintanya yang pertama sungguh sukar ditemui"

"Benar benar"

Barulah kali ini Ti Then menganggukkan kepalanya. Mendadak Wi Lian In tertawa merdu.

"Sedang kau kemungkinan sekali termasuk salah satu dari sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang."

TI Then menjadi tertawa geli.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku jadi orang tidak suka yang baru dan bosan yang lama?"

"Aku bisa melihatnya"

"Mungkin orang semacam aku ini tidak seperti ayahmu"

Jawab Ti Then sambil angkat bahunya.

"Tetapi aku percaya aku jadi orang suka yang baru dan bosan dengan yang lama"

Wi Lian In dengan perlahan menundukkan kepalanya, sambil tertawa malu ujarnya.

"Aku mau buktikan dengan menggunakan waktu"

"Sedikit pun tidak salah"

Sambung Ti Then dengan cepat.

"Waktu adalah sebuah cermin, siapa pun tidak bisa menghindarinya"

Dengan periahan Wi Lian In menoleh ke arah lain, tanyanya tiba-tiba.

"Beritahukan padaku, bilamana Tia mendadak.. mendadak menghendaki dari... kau punya rencana mau berbuat apa?"

Sengaja Ti Then pura-pura tidak paham atas perkataannya itu.

"Mendadak menghendaki apa. ."

Wi Lian In dengan gemas menoleh kembali, sambil tersenyum malu-malu dia melotot kearah Ti Then.

"Kau jangan pura-pura tolol, aku tak mau bicara lagi."

Sehabis berkata cambuknya segera diayunkan dan dia lantas melarikan kudanya ke arah depan.

Mereka berdua segera melanjutkan perjalanannya menuju ke arah Timur laut sambil melakukan perjalanan mereka tak henti-hentinya mencari jejaknya Hong Mong Ling, akan tetapi sama sekali tidak memperoleh hasil.

Di dalam sekejap mata saja sembilan hari sudah berlalu dengan cepat, mereka sudah tiba dipegunungan Kim Teng san.

Jarak antara gunung Kim Teng san menuju ke gunung Kim Hud san dimana istana Thian Teh Kong terletak masih ada tiga ratus li jauhnya, walau pun gunung Kim Hud san jauh lebih tinggi dari gunung Kim Teng san ini, tetapi pemandangannya jauh lebih indah, sedang kaum pelancong yang mengunjungi gunung ini pun amat banyak sekali.

Mereka berdua segera menitipkan kuda mereka disebuah rumah petani di bawah gunung, dengan alasan mau melancong ke atas gunung mereka melanjutkan perjalanannya naik ke gunung dengan berjalan kaki.

Wi Lian In yang sudah pernah mengunjungi berbagai tempat kenamaan tanpa terasa kini mengerutkan alisnya.

"Gunung Kim Teng san ini jauh berbeda dengan gunung Go bi kita."

Ti Then tertawa.

"Apanya yang tidak sama??"

Tanyanya "Yang berbeda adalah digunung Go bi jarang ada orang yang melancong."

"Ha ha ha. .jadi maksudmu kau suka tempat yang tenang?"

Tanya Ti Then sambil tertawa terbahak-bahak.

"Benar. tidak seperti digunung ini dimana-mana ada orang yang berpesiar"

"Di sana ada sebuah pohon yang usianya sudah ribuan tahun."

Ujar Ti Then kemudian sambil menuding ke depan.

"Di bawah pohon ada goanya, mari aku bawa kau ke sana. ."

Mereka berdua sesudah melihat pohon tua itu segera duduk beristirahat di bawah pohon itu juga, agaknya Wi Lian In bukanlah orang yang suka akan ketenangan, baru saja duduk sebentar mendadak dia sudah bertanya kembali.

"Si kakek pemalas Kay Kong Beng berdiam dimana, jaraknya masih jauh?"

"Tidak terlalu jauh.. jaraknya dari sini mungkin masih ada puluhan li, kau buat apa bertanya hal ini?"

"Tidak mengapa, aku sedang berpikir satu hari penuh dia duduk terus di dalam guanya, apa tidak merasa kesepian dan jemu?"

"Di sampingnya masih ada seorang kacung buku yang bisa menghilangkan perasaan jemunya"

Jawab Ti Then perlahan.

"Bilamana dia melihat ada orang asing yang ke sana,dia bisa marah tidak??"

"Hal Ini sih tidak. bilamana kau tidak pergi mengganggu dia dan kau hanya lewat saja di depannya dia tidak akan memperdulikan dirimu"

"Kalau memangnya demikian, bagaimana kalau kita pergi lihat-lihat??"

"Bukankah kau tidak ingin mencari gara-gara?"

Tanya Ti Then sambil tertawa.

"Kita tidak usah mengganggu dia, asalkan lewat saja di depan guanya sudah cukup, aku belum pernah melihat sendiri bagiamana wajahnya jagoan nomor satu dari dunia ini."

"Ha ha ha. ."

Tt Then tertawa terbahah-bahak.

"Dia seperti juga manusia biasa punya dua mata ,satu hidung dan satu mulut."

Mendengar perkataan dari Ti Then ini wi Lian In menjadi agak gemas..

"Siapa yang bilang dia tidak punya mata hidung dan mulut? aku hanya pingin melihat wajahnya saja."

"Baiklah, mari ikut aku."

Ujar Ti Then kemudian sambil bangkit berdiri.

Demikianlah ..mereka berdua segera melanjutkan perjalanannya menuju ke tengah gunung.

setelah melewati tebing-tebing dan jalan pegunungan sejauh sepuluh li, di hadapan mereka munculah sebuah puncak gunung yang amat megah sekali, sambil menuding ke atas puncak tersebut ujar Ti Then perlahan.

"Di atas puncak itulah tempat kediaman si kakek pemalas itu, mau naik ke atas?"

"Hmm..."

Walau pun puncak gunung itu kelihatannya amat megah dan aneh sekali tetapi tidak sukar untuk mendakinya, kedua orang itu dengan cepat mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya masing-masing untuk mendaki ke atas, tidak sampai sepertanakan nasi kemudian mereka sudah tiba di atas puncak tersebut.

Di atas puncak gunung sangat jarang terdapat tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di sana, pemandangannya bebas dan meluas, baru saja mereka berdua tiba di atas puncak dari kejauhan sudah melihat goa tempat tinggal si kakek pemalas Kay Kong Beng itu, bahkan di depan goa masih kelihatan sesosok bayangan manusia.

orang itu..adalah seorang pemuda, saat ini dia sedang berlutut menghadap ke dalam gua.

Karena jaraknya yang masih jauh mereka berdua tidak bisa melihat apakah si kakek pemalas Kay Kong Beng ada di dalam goa, juga tidak bisa melihat dengan jelas siapakah pemuda yang sedang berlutut di depan goa itu, Wi Lian In begitu melihat di depan goa tempat tinggal si kakek pemalas Kay Kong Beng terdapat seorang pemuda yang sedang berlutut tidak bergerak.

tanpa terasa sudah merasa terkejut, ujarnya dengan suara yang sangat lirih.

"Aneh sekali, bukankah orang itu kacung bukunya?"

"Bukan-"

Jawab Ti Then dengan wajah amat serius.

"Kacung bukunya aku pernah bertemu muka dengannya, wajahnya bukan demikian??"

"Kalau tidak siapa orang itu?"

Tanya Wi Lian In kurang puas "Kenapa dia berlutut di hadapan goa tempat tinggal sikakek pemalas Kay Kong Beng itu?"

Ti Then segera terbayang kembali keadaannya setahun yang lalu dimana dia berlutut di hadapan kakek pemalas Kay Kong Beng ini mohon diterima sebagai murid, hatinya segera terasa bergolak, dengan perlahan dia mendengus.

"Aku kira orang itu tentu sedang mohon si kakek pemalas Kay Kong Beng menerimanya sebagai murid Hmm. sungguh goblok..."

"Bagaimana kau bisa tahu kalau orang itu ingin mengangkat si kakek pemalas Kay Kong Beng sebagai gurunya?"

Tanya Wi Van in dengan perasaan amat terkejut.

"Hanya orang yang mohon diangkat sebagai muridnya saja yang mau berlutut dengan sangat hormat tanpa bergerak di depan goa tempat kediamannya itu"

"Bagaimana kau bisa tahu kalau orang itu sudah berlutut sangat lama sekali di sana?"

Tanya Wi Lian In kembali.

"Coba kau lihat di atas punggung orang itu sudah terdapat dedaunan kering yang amat banyak sedang saat ini di atas puncak sama sekali tidak ada angin, ranting-ranting pohon pun tidak bergoyang maka aku menduga orang itu tentu sudah berlutut sangat lama sekali"

Dengan perlahan Wi Lian In menganggukkan kepalanya.

"Jikalau orang itu memang datang untuk mengangkat dia sebagai guru, maka si Kay Kong Beng ini memang sedikit pun tidak punya perasaan-"

Mendengar perkataan dari Wi Lian In ini sekali lagi Ti Then tertawa dingini "Kecuali dia disebut sebagai si kakek pemalas yang kerjanya hanya duduk melulu, dia pun memiliki sebuah hati yang amat keras bagaika baja"

"Bilamana dia tidak ingin menerima orang itu sebagai muridnya, kenapa tidak mau terus terang saja beritahu kepadanya, sebaliknya menyuruh orang itu berlutut dalam waktu yang amat panjang?"

"Dahulu aku juga pernah datang ke sini mohon dia menerima diriku sebagai muridnya, dia sepatah kata-kata pun tidak bilang, hanya pejamkan matanya terus sambil duduk tidak bergerak, Hmm. ."

"Ooh. ."

Seru Wi Lian In sambil pentangkan matanya lebar-lebar.

"Kau..kau juga pernah mohon mengangkat dia sebagai gurumu??"

"Benar"

Sahutnya Tt Then mengangguk.

"Hal ini benar terjadi kapan??"

"Dahulu. ."

"Sebelum belajar ilmu dari Bu Beng Lojin?"

"Ehmm"

Ti Then tidak membuka mulutnya kembali, dia tidak ingin membicarakan peristiwa yang sudah terjadi waktu yang lampau, karena bilamana harus menceriterakan urusan yang sudah lalu maka dia akan menemui kesulitan di dalam menceriterakan asal usulnya itu.

Wi Lian In yang melihat dia tidak mau memberi penjelasan sejelas-jelasnya segera mengira dia tidak ingin mengingat kembali peristiwa yang menyedihkan hatinya, karena itu dia pun tidak terlalu mendesak.

sambil menarik ujung bajunya dia berkata.

"Bagaimana kalau kita lihat-lihat di sana?"

"Baik, jika orang itu benar-benar ingin menganggap Kay Kong Beng sebagai guru, lebih baik cepat-cepat kita nasehatkan padanya untuk menghilangkan pikiran ini."

Sambil berkata dia segera mulai berjalan menuju ke gua tersebut.

Kurang lebih setelah mereka berjalan delapan sembilan kaki dari dimana pemuda itu berlutut, dari sana sudah dapat melihat si kakek pemalas Kay Kong Beng yang ada dalam gua.

selang pada saat ini mendadak si kakek pemalas Kay Kong Beng mementangkan matanya lebar-lebar, ujarnya dengan dingin..

"Kau belum pergi?"

Usianya kurang lebih sudah mendekati sembilan puluh tahunan, rambut serta jenggotnya sudah memutih bagaikan perak.

Wajahnya kaku dan sangat berwibawa disertai sifatnya yang dingin kaku.

Pada badannya dia memakai jubah tipis berwarna hijau, mungkin karena sudah terlalu lama duduk di sana seluruh tubuhnya penuh dengan debu sehingga keadaannya mirip sekali dengan seorang pengemis.

Pemuda yang berlutut di depan gua ketika mendengar si kakek pemalas Kay Kong Beng membuka mulutnya terlihatlah seluruh tubuhnya tergetar dengan amat keras.

segera dengan nada merengek ujarnya.

"Hamba mohon kau orang tua mau terima aku sebagai murid, sejak ini hari walau pun di suruh menjadi anying atau kuda sebagai pembalasan jasa hamba juga mau"

Ternyata tidak salah, dia memang datang untuk mohon diterima sebagai murid.

Tanpa terasa Ti Then mau pun wi Lian In bersama-sama menghentikan langkah kakinya, ketika mereka mendengar kalau si kakek pemalas Kay Kong Beng membuka mulut, hal ini berarti juga pemuda itu mem punyai harapan, karenanya tidak ingin maju untuk mengganggu.

Tampak si kakek pemalas Kay Kong Beng mengerutkan alisnya yang sudah memutih, ujarnya dengan suara amat berat.

"Sekali pun kau berlutut seratus tahun lagi juga tidak berguna, Lohu sejak dulu sudah ambil sumpah tidak akan menerima murid lagi."

Pemuda itu menganggukkan kepalanya berulang kali, dengan nada memohon ujarnya lagi.

"Hamba mem punyai dendam berdarah yang harus dibalas, bilamana kau orang tua tidak mau menerima hamba sebagai murid berarti hamba tidak mem punyai kesempatan lagi untuk membalas dendam sakit hati ini. ."

"Soal ini tidak ada hubungannya dengan lohu"

Jawab si kakek pemalas itu dengan suara amat dingin. Hampir-hampir pemuda itu dibuat menangis karena cemasnya, dengan nada isak tangis yang ditahan-tahan mohonnya lagi.

"Hamba mohon kau orang tua mau berbuat baik, asalkan kau orang tua tidak mau terima aku sebagai murid. lebih ..lebih baik hamba mati..mati..di sini saja."

"Hmmm, setiap orang yang mohon Lohu terima dia sebagai murid tentu bilang punya dendam sakit hati yang harus dibalas, Lohu telah bosan terhadap omongan itu"

Pemuda itu tidak bisa menahan isak tangisnya lagi, dengan melelehkan air matanya, rengeknya lagi.

"Setiap perkataan yang hamba katakan adalah nyata,jlkalau kau orang tua tidak percaya boleh..boleh pergi menyelidiki sendiri"

"Tidak perlu periksa lagi"

Potong si kakek pemalas cepat "Lohu sama sekali tidak akan percaya kalau Wi Ci To bisa melakukan pekerjaan yang merugikan orang banyak ini"

Ketika Wi Lian In mendengar bahwa persoalan ini menyangkut ayahnya tanpa terasa tubuhnya tergetar keras, segera dia siap maju ke depan untuk menanyai lebih jelas lagi.

Ti Then yang melihat tindak tanduknya ini dengan cepat-cepat mencegah dirinya, ujarnya setengah berbisik.

"Jangan keburu napsu, kita dengar lagi apa yang akan dikatakan-"

Agaknya pemuda itu masih tidak merasakan Ti Then serta Wi Lian In sudah ada di sampingnya, dengan perasaan yang bergolak dia angkat tangannya bersumpah.

"Bilamana perkataan dari hamba ada sepatah yang bohong, biarlah Thian memberikan kematian yang mengerikan kepadaku, Wi Ci To bajingan tua itu memang benar-benar sudah membunuh mati ayah ibuku bahkan sudah merampas pusaka keturunanku pedang pusaka Khang Lu Po Kiam." -0000000-Ada saat berbicara dia angkat kepalanya, dengan demikian Ti Then serta Wi Lian In bisa melihat bagian dari wajahnya, begitu mereka bisa melihat wajahnya tanpa terasa lagi mereka berdua menjerit kaget. Dialah sinaga mega Hong Mong Ling adanya. Ternyata dia sudah lari ke atas gunung Kim Teng san untuk omong sembarangan di hadapan sikakek pemalas Kay Kong Beng. Wi Lian In merasa terkejut, gusar juga girang dia mana bisa bersabar lebih lama lagi, sambil membentak nyaring dengan cepat tangannya mencabut keluar pedangnya dan menubruk kearahnya. Hong Mong Ling yang mendengar secara tiba-tiba dari belakang badannya muncul suara bentakan nyaring dengan cepat dia menoleh ke belakang, tetapi begitu dilihatnya mereka adalah Wi Lian In serta Ti Then saking terkejutnya dia menjerit keras, hampir-hampir sukmanya ikut melayang saking takutnya, sambil menjerit ngeri dia melayang dan melarikan diri menuju ke samping kanan dari gua tersebut.

"Bangsat kau mau lari kemana". Bentak Wi Lian In dengan amat gusar. Tubuhnya dengan cepat menubruk melakukan pengejaran dengan amat cepatnya. Ti Then pun ikut menyusul dari belakang, tubuhnya bagaikan seekor kuda terbang, di dalam sekejap mata saja sudah melampaui diri Wi Lian In dan berada kurang lebih empat kaki di belakang Hong Mong Ling. Tetapi pada saat itulah Hong Mong Ling sudah berada di pinggiran puncak. dengan gugupnya dia tanpa memilih jalan lagi sudah meloncat turun dari atas puncak tersebut. Ti Then yang tidak tahu keadaan dari puncak itu ketika dilihatnya dia meloncat turun dia pun ikut meloncat juga. Tetapi begitu dia sudah meloncat turun segera terlihatlah keadaan dari puncak itu tanpa terasa dia sudah menarik napas dingin, diam-diam pikirnya dtngan perasaan terkejut.

"Bangsat cilik kau sungguh-sungguh tidak ingin nyawamu lagi"

Kiranya di bawah puncak itu adalah sebuah tebing yang amat curam.

jaraknya dengan punggung puncak itu ada dua puluh kaki lebih, sedang ditengahnya sama sekali tidak terdapat pohon yang bisa menghambat daya luncur tersebut, karenanya bila meloncat turun dari sana berarti juga melakukan bunuh diri.

Sedang keadaan dari Hong Mong Ling saat ini seperti juga sebuah bintang yang rontok dengan cepatnya meluncur terus kearah bawah.

Ti Then yang berada di dalam keadaan terkejut itu tiba-tiba melihat tubuh Hong Mong Ling yang meluncur dengan cepatnya ke bawah itu mendadak mencabut keluar pedangnya.

pada saat dia berhasil mencabut keluar pedangnya itulah tubuhnya sudah berada kurang lebih satu kaki dari permukaan tanah.

"Triing.."

Terdengar suara ujung pedang yang mengenai tanah kemudian disusul dengan suara benturan yang amat keras, seluruh tubuh Hong Mong Ling dengan amat beratnya terlempar jatuh ke atas permukaan tanah.

Mungkin karena dia menggunakan pedangnya terlebih dulu untuk menyentuh tanah sehingga bisa membuang sebagian besar dari daya tekanan itu, karena itulah dia tidak sampai menjadi terluka parah setelah jatuh terlentang beberapa saat lamanya dia segera berguling dan bangun kembali untuk kembali melarikan diri ke bawah puncak.

Ti Then pun segera ikut menggunakan caranya itu, pedangnya dengan cepat dicabut keluar kemudian dengan gaya menusuk menutul permukaan tanah dan membuang sebagian dari tenaga dan dengan gesitnya dia berguling ke samping.

Ketika memandang kembali terlihatlah saat itu Hong Mong Ling sudah berada kurang lebih beberapa kaki jauhnya dari tempat dimana kini dia berada dikarenakan tempat selanjutnya tumbuh dengan rapatnya pohon-pohon maka dengan enaknya dia bisa mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk melarikan diri.

Wi Lian In yang berdiri diujung puncak tidak berani langsung meloncat turun dengan cepat teriaknya.

"Cepat kejar.. cepat kejar jangan sampai dia lolos kembali."

Dengan cepat Ti Then melayangkan tubuhnya ke tengah udara, kemudian dengan kecepatan bagaikan kilat mengejar kearah depan.

Agaknya Hong Mong Ling sudah ambil keputusan biar pun dirinya mati juga tidak ingin sampai ditawan kembali oleh Ti Then tampak dengan nekatnya dia terus terjun ke bawah puncak.

Ti Then dengan kencangnya mengejar terus dari belakang, satu rintangan demi satu rintangan bisa dilaluinya dengan selamat.

Di dalam sekejap mata mereka berdua sudah tiba di kaki gunung, Hong Mong Ling yang pertama-tama mencapai permukaan tanah tubuhnya dengan cepat berkelebat menuju kearah hutan rimba yang agak lebat di samping tempat itu.

Begitu tiba di atas tanah datar kecepatan larinya Ti Then pun semakin lipat ganda, tampak di dalam satu dua kali loncatan saja dia sudah berada kurang lebih beberapa kaki di belakangnya.

Agaknya Hong Mong Ling sudah tahu kalau dia tidak mungkin berhasil lolos dari kejarannya, mendadak tubuhnya berputar sedang pedangnya dengan amat dahsyat melancarkan satu serangan mematikan kearah belakang.

Ti Then dengan cepat angkat pedangnya menangkis kemudian disusul dengan tiga serangan berantai melanda tubuhnya, di dalam sekejap saja sudah membuat Hong Mong Ling menjadi kalang kabut dibuatnya.

Dengan paksakan diri Hong Mong Ling berhasil juga meloloskan diri dari beberapa serangan itu, agaknya dia tahu dirinya sudah terjepit mendadak tertawa sedih.

"Ti Then, kau sudah rebut calon istriku kini mau bunuh aku lagi, dimana letaknya hati nalurimu?? "Sebetulnya aku tidak punya maksud untuk membunuh kau, tetapi hatimu terlalu jahat,."

"Aku hanya ingin mengangkat si kakek pemalas sebagai suhuku, sama sekali tidak mengandung maksud lain"

"Kalau begitu kenapa tadi kau bilang Wi Ci To sudah bunuh mati ayah ibumu bahkan sudah merebut barang pusaka turun temurunmu?"

Hong Mong Ling menjadi kelabakan dibuatnya.

"Itu...itu salahku bicara terlalu cepat, jikalau kali ini kau mau melepaskan aku, aku bersumpah akan mengubah sifatku yang jelek ini."

Dengan meminyam kesempatan sewaktu mereka sedang berbicara itulah Ti Then dengan cepat menempelkan ujung pedangnya ke depan ulu hatinya kemudian memaksa dia mepet dengan pohon, bentaknya.

"Lepaskan padangmu."

Hong Mong Ling menurut perintahnya dan melepaskan pedangnya ke atas tanah, ujarnya sambil tertawa pahit .

"Bilamana kau bunuh mati aku mungkin selama hidupmu akan merasa menyesal."

Ti Then tertawa dingin tak henti-hentinya.

"Sekarang aku mau tanya satu urnsan kepadamu, jika kau bisa memberikan jawaban yang memuaskan hati aku segera melepaskan satu jalan kehidupan buat dirimu."

Hong Mong Ling menjadi amat girang.

"Baik, silahkan bertanya."

"Apa tujuan dari Hu Pocu bersekongkol dengan kau untuk menculik pergi nona Wi?"

"Dia menaruh simpatik kepadaku"

Alis dari Ti Then segera dikerutkan rapat-rapat, ujarnya sambil tertawa dingin.

"Nona Wi dengan cepat akan sampai di sini, jikalau dia sudah sampai di sini aku tidak bisa membantu kau lagi, makanya cepat kau katakan terus terang."

Hong Mong Ling dibuat ragu-ragu beberapa saat lamanya, akhirnya jawabnya juga.

"Baiklah, urusan yang sebetulnya adalah begini, ada orang yang melakukan jual beli dengan Hu Pocu dan sanggup memberi dia selaksa tahil perak sebagai balas jasanya, syaratnya adalah mintakan sebuah barang dari dalam Loteng penyimpan kitabnya.."

"Siapa orang itu?"

Desak Ti Then lebih lanjut.

"Dia adalah ....."

"Plaak..."

Mendadak keningnya terpukul oleh semacam senyata rahasia sehingga darah segar memancar keluar membasahi empat penjuru.

Sebuah batu cadas dengan amat tepatnya bersarang dikeningnya, dikarenakan tenaga sambitan yang amat keras dan kuat membuat batu itu seketika itu juga bersarang amat dalam di dalam kepalanya itu, darah segar memancar keluar dengan amat derasnya.

Ti Then menjadi amat terperanyat dengan cepat dia putar pedangnya melindungi badan bentaknya dengan keras.

"Kawanan tikus dari mana yang sudah datang, cepat menggelinding keluar."

Batu itu berkelebat dari belakang tubuhnya karena itu segera dia memutar tubuhnya ke belakang, dengan kepandaiannya sekarang serta kecepatan geraknya boleh di kata waktu antara dia putar badannya serta Hong Mong Ling terkena sambaran batu itu hanya terpaut tidak lebih sekejap mata saja, tetapi walau pun dia sudah putar matanya memandang keempat penjuru jangan dikata orangnya sekali pun bayangannya juga tidak tampak.

Ti Then merasa terkejut bercampur gusar baru saja dia siap hendak melakukan pengejaran mendadak dari kaki puncak sebelah depannya muncul dua sosok bayangan manusia..si kakek pemalas Kay Kong Beng serta Wi Lian In, segera tanyanya.

"Nona Wi, kau melihat tidak seorang melarikan diri dari tempat ini?"

Sambil lari mendekat sahutnya Wi Lian In cepat.

"Tidak, apa dia berhasil melarikan diri ?"

"Yang aku maksudkan bukan Hong Mong Ling"

Jawab Ti Then semakin bingung.

"Dia adalah orang yang lain dan baru saja menyambit senyata rahasia membunuh mati Hong Mong Ling."

Air muka Wi Lian In segera berubah amat hebat.

"Ada urusan apa? . , . siapa orang itu ?"

Tanyanya dengan amat terperanyatat.

"Karena aku tidak melihat dia baru bertanya dengan dirimu, ketika aku putar tubuhku orang itu sudah melarikan diri tanpa bekas.."

Agaknya Wi Lian In benar-benar dibuat terperanyat, tanyanya kepada si kakek pemalas Kay Kong Beng yang berdiri disisinya.

"Kay Lodianpwe, kau melihat tidak?"

"Tidak."

Jawab sikakek pemalas Kay Kong Beng sambil gelengkan kepalanya.

"Lohu selama ini ikut kau turun kemari, kau tidak melihat sudah tentu Lohu juga tidak melihatnya."

Waktu berbicara air mukanya masih tetap dingin kaku dan sangat tawar, agaknya semua urusan tidak ada hubungannya dengan dia.

"Bajingan. Aku harus cari orang sampai dapat..."

Seru Ti Then dengan amat gusarnya.

Sambil berkata tubuhnya dengan cepat berkelebat mengejar kearah depan.

Dia memastikan orang itu tentu orang yang mengadakan jual beli dengan Hu Pocu, pihak lawan sengaja turun tangan membunuh mati Hong Mong Ling tentu bertujuan untuk menutup mulutnya, karena itulah dia sudah bulatkan tekad untuk mencari hingga dapat orang yang melakukan pemibunuhan itu.

Wi Lian In ketika melihat Ti Then melakukan pengejaran segera ujarnya kepada sikakek pemalas Kay Kong Beng.

"Kay Lo-cianpwe, kau bisa bantu kami untuk carikan orang itu ?"

Si Kakek pemalas Kay Kong Beng tetap berdiri ditempat semula.

"Lohu tidak ingin terlibat di dalam urusan yang tidak berguna, kalian pergilah cari sendiri"

Ujarnya dengan amat tawar.

Wi Lian In tidak bisa berbuat apa-apa terpaksa dia mendepakkan kakinya keras-keras ke atas tanah kemudian mengejar dengan mengambil arah yang berlainan.

Menanti setelah mereka berdua lenyap dari pandangan barulah sikakek pemalas itu berjalan mendekati mayat Hong Mong Ling yang sudah putus napas itu, lama sekali dia memandang wajahnya kemudian baru menghela napas panjang.

"Hati bangsat cilik ini amat jahat, dia seharusnya binasa.."

Ujarnya sambil gelengkan kepalanya.

Ti Then yang kerahkan tenaga dalamnya sepenuh tenaga membuat larinya pun semakin cepat, bagaikan kilat cepatnya dia melakukan pemeriksaan disekeliling hutan itu.

sesudah dicarinya ubek-ubekan selama setengah hari lamanya tetap tidak memperoleh hasil, dia pun dengan uring-uringan terpaksa kembali ketempat semula.

Sesampainya di sana tampaklah olehnya si kakek pemalas masih berdiri di hadapan.

mayat Hong Mong Ling, dia tidak berani berlaku ayal dengan cepat maju ke depan memberi hormat, ujarnya.

"Kay Lo-cianpwe apa masih ingat dengan cayhe ? Dengan perlahan kulit mata si kakek pemalas bergerak melirik sekejapkearahnya.

"Bukankah kau sipendekar baju hitam Ti Then yang pada tahun lalu memohon Lohu menerima dirimu sebagai murid?"

Ujarnya dengan nada amat tawar.

"Benar, urusan tahun yang lalu tidak usah kita ungkap lagi."

Terlihat sikakek pemalas sedikit tersenjum.

"Jika dilihat dari gerakan tubuhmu tadi kelihatan sekali jauh tebih hebat berpuluh-puluh kali lipat dari tahun yang lalu jagoan dari mana yang sudah menggembleng dirimu ?"

"Maaf tidak bisa cayhe sebut"

Pada wajah sikakek pemalas Kay Kong Beng sedikit pun tidak kelihatan perasaan tidak puasnya, dia tertawa terbahak-bahak.

"Kau bocah cilik apa masih menaruh perasaan marah kepada diri Lohu?"

"Tidak."

"Kalau begitu bagus sekali, bukannya Lohu tidak pandang dirimu sebaliknya dikarenakan sejak dulu Lohu sudah angkat sumpah untuk tidak menerima murid lagi."

"Boanpwe sudah tahu kalau kau orang tua pada waktu yang lampau pernah menerima satu murid kemudian dikarenakan muridmu itu berbuat jahat dan durhaka maka di dalam keadaan gusar kau orang bunuh mati muridmu itu kemudian bersumpah untuk tidak menerima murid kembali, kau orang tua tidak mau menarima murid kembali memang sangat beralasan sekali."

"Benar."

Jawab Sikakek pemalas Kay Kong Beng mengangguk.

"Makanya Lohu tidak ingin menerima murid kembali dan tidak ingin membunuh mati muridku yang kedua ini."

Ti Then dengan perlahan-lahan menoleh memandang keempat penjuru.

"Nona Wi kemana?"

"Mengejar orang itu."

Dengan perlahan Ti Then berjongkok di depan mayat dari Hong Mong Ling dan memeriksanya dengan teliti luka pada bagian kepalanya, ketika dilihatnya batu yang menyambar tersebut bersarang sedalam satu cun tanpa terasa hatinya merasa berdesir juga, ujarnya.

"Sungguh hebat tenaga dalam orang itu."

Si kakek pemalas Kay Kong Bang hanya mengangguk saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Locianpwe sudah tahu orang itu?"

Tanya Ti Then lagi sambil menuding kearah mayat Hong Mong Ling.

"Tadi sudah dengar dari nona Wi."

"Locianpwe bisa percaya terhadap semua omongannya?"

"Jikalau dia mengatakan orang lain, Lohu mungkin masih mau percaya, tetapi dia bilang Wi Ci To yang sudah membunuh mati ayah ibunya hal ini Lohu tidak akan mempercayai,"

Ti Then menjadi amat girang.

"Itulah sangat bagus, padahal orang tuanya..." , Baru saja berbicara sampai di sini ranting-ranting di atas kepalanya mendadak bergoyang, tampak dengan ringannya Wi Lian In meloncat turun dari atas pohon itu.

"Kau menemukan sesuatu?... tanya Ti Then dengan cepat. -ooo0dw0ooo-

Jilid 18.1. Pembesar kota Cuo It Sian "Tidak, setan pun tak kelihatan."

"Hmm"

Dengus Ti Then dengan amat gemasnya.

"aku harus berusaha cari dia sampai dapat, dia tak akan lolos dari tanganku"

"Sebetulnya tadi sudah terjadi urusan apa?"

Tanya Wi Lian In perlahan. Ti Then segera menceritakan pengalamannya terakhir tambahnya.

"Di dalam pada saat ini orang yang bisa membayar uang sebanyak satu laksa tahil perak tidak banyak jumlahnya, dengan menurut titik terang itu pasti bisa kita dapatkan."

"Si anying langit rase bumi punya banyak uang, mereka juga bisa melakukan"

Tiba-tiba si kakek pemalas menimbrung. Dengan perlahan Ti Then gelengkan kepalanya.

"Pasti bukan perbuatan dari si anying rase bumi"

"Ooh ..."

Seru si kakek pemalas.

"Dengan berdasarkan hal apa kau berani bicara begini."

"Karena sianying langit Kong sun Yau sudah binasa diujung pedang boanpwe."

Tanpa terasa air muka si kakek pemalas sedikit berubah.

"Kiranya begitu"

Sahutnya perlahan.

"Kau sanggup membinasakan si anying langit Kong sun You berarti juga kepandaian silatmu sudah mencapai tarap amat tinggi."

Ti Then tidak mau menyawab perkataannya itu, kepala Wi Lian In ujarnya.

"Bagaimana kalau kita kubur saja mayatnya."

Dengan pandangan gemas dan penuh diliputi kebencian Wi Lian In melirik sekejap ke atas jenazah Hong Mong Ling.

"Bajingan ini sudah melupakan budinya Tia yang sudah membesarkan dirinya, bahkan masih memfitnah dia orang tua menghina dan mengatakan Tia sudah membinasakan ayah ibunya, manusia yang berhati binatang semacam ini buat apa kita kuburkan mayatnya??"

"Pokoknya dia sudah binasa, buat apa pikirkan persoalan itu lagi??"

Wi Lian In segera mencibirkan bibirnya.

"Kau mau kuburkan mayatnya, kuburlah sendiri aku tidak mau". Terpaksa Ti Then mencabut pedangnya dan seorang diri menggalikan sebuah liang untuk mengubur mayat Hong Mong Ling.

"Nona Wi, apakah ayahmu baik-baik saja ??"

Tanya sikakek pemalas kemudian kepads Wi Lian In. Wi Lian In tidak berani kurang hormat, segera dia bungkukkan badannya memberi hormat.

"Terima kasih atas perhatian cianpwe, Tia baik-baik saja""

"Ehmm. Lohu sudah ada dua tahun lamanya tidak bertemu dengan ayahmu, bilamana kau bertemu dengan dia sampaikan salam dari Lohu."

"Baiklah terima kasih atas perhatian cianpwe"

Sekali lagi Wi Lian In memberi hormat.

"Lohu mau kembali ke dalam goa, apa kalian mau duduk-duduk sebentar di dalam goa?"

"Tidak perlu, tidak berani mengganggu ketenangan dari cianpwe"

Jawab Wi Lian In dengan gugup.

Si kakek pemalas segera tersenyum, dengan cepat bagaikan kilat dia putar tubuhnya dan berlalu dari sana.

Saat ini Ti Then sudah selesai mengubur mayatnya Hong Mong Ling, sambil melemaskan otot-ototnya dia memandang bayangan si kakek pemalas yang mulai melayang dengan cepatnya menuju ke atas puncak, gumamnya seorang diri.

"Orang tua ini boleh dikatakan baik juga, boleh dikatakan jahat, sungguh membuat orang menjadi bingung."

"Perduli bagaimana pun, asalkan dia tidak berbuat kejahatan sudahlah cukup"

Sambung Wi Lian In segera. Dengan perlahan Ti Then membersihkan pedangnya kemudian memasukkan kembali ke dalam sarungnya.

"Tadi bagaimana dia mau ikut kau datang kemari?"

Tanyanya kemudian.

"Ketika dia mendengar aku adalah putrinya dari Pek Kiam Pocu sikapnya segera berubah, dia bilang dia tidak akan percaya terhadap semua perkataan dari Hong Mong Ling bahkan mengutarakan kepadaku mau membantu menawan kembali si bangsat cilik Hong Mong Ling itu."

Ti Then segera tersenyum.

"Kelihatannya di dalam dunia ini dia hanya menghormati ayahmu seorang saja"

Wi Lian In pun segera ikut tertawa.

"Hal ini berarti juga dia bukanlah seorang yang benar-benar suka menyendiri"

"Mari kita pergi dari sini"

Wi Lian In segera mengangguk, dengan berdampingan mereka berjalan menuruni gunung itu dengan langkah yang amat perlahan.

sembari berjalan tak henti hentinya Ti Then berpikir terus.."Aku tidak bisa menerka di dalam Bulim waktu ini selain si anying langit rase bumi yang memiliki banyak uang siapa lagi yang bisa begitu kayanya kau tahu tidak?"

"Kau jangan terlalu percaya atas perkataannya, mungkin sekali dia sedang berbohong"

"Tidak."

Bantah Ti Then segera.

"Aku percaya dia bukan sedang berbohong, coba kau pikirlah jikalau dia sedang berbohong kenapa orang lain bisa bunuh mati dia secara tiba-tiba sewaktu dia hendak memberi tahu nama orang yang mengadakan jual beli?"

"Tapi waktu itu bukankah Tia sudah membawa kita masuk ke dalam Loteng Penyimpanan kitab untuk melihat-lihat?"

Bantah Wi Lian In tidak mau kalah.

"Bukankah di dalam loteng itu kecuali terdapat kitab-kitab serta lukisan yang bertumpuk tumpuk hanya ada rahasia pribadi Tia sendiri?"

Ti Then hanya tertawa tidak menyawab. Dengan cepat Wi Lian In putar kepalanya memandang dirinya.

"Apa kau kira Tia masih menyimpan rahasia yang tidak mau diceritakan pada kita"

"Bukan suatu rahasia, tapi semacam barang"

"Selamanya Tia menganggap uang perak. mau pun emas seperti kotoran manusia, dia tidak akan menyimpan barang-barang berharga yang bernilai satu kota"

Ti Then tidak ingin membuat dia tidak gembira segera ujarnya lagi.

"Ehm, kemungkinan sekali orang yang melakukan jual beli itu tahu kalau ayahmu memiliki sebuah Loteng Penyimpanan kitab yang amat misterius, lalu sudah mengangap di dalamnya pasti tersimpan barang-barang berharga, dengan demikian timbulah hati serakahnya dan menggunakan uang sebesar selaksa tahil perak untuk menyuruh Hu Pocu masuk ke dalam Loteng Penyimpan kitab itu melakukan pencurian"

Wi Lian In segera mengangguk tanda menyetujui pendapatnya ini.

"Yang aneh kenapa Hu Pocu mau menyanggupi permintaan orang lain dan melakukan pekerjaan yang begitu memalukan terhadap Tia."

"Uang sejumlah satu laksa tahil perak. jumlah itu bukanlah suatu jumlah yang kecil sudah tentu setiap orang terpancing itu"Jawab Ti Then tertawa.

"Sedangkan orang yang melakukan jual beli itu ternyata tak tahu barang apa yang sudah disimpan di dalam Loteng Penyimpan kitab itu sehingga berani mengeluarkan uang satu laksa tahil perak ..Hm siapa dia?"

Berkata sampai di situ mendadak dia menghentikan langkah kakinya, sedang air mukanya penuh diliputi oleh perasaan terkejut bercampur ragu-ragu.

Ti Then yang melihat perubahan wajahnya segera tahu tentu dia sudah teringat siapa orang yang bisa melakukan jual beli itu, hatinya menjadi amat girang, tanyanya dengan cepat.

"Siapa?"

"Tidak mungkin, tidak mungkin."

Seru Wi Lian In kembali sambil gelengkan kepalanya "Dia tak mungkin mau melakukan pekerjaan semacam ini."

"Siapa yang kau maksudkan?"

Desak Ti Then lagi.

"Pembesar kota atau sian Thay ya, Cuo It Siang"

Pikiran Ti Then menjadi terang kembali. Tak salah dalam Bu lim selain si Anying langit Rase Bumi, boleh dihitung sian Thay ya Cuo It Sian saja yang paling kaya.

"Tapi aku berani pastikan dia pasti bukanlah orang yang melakukan jual beli itu"

Ti Then berpikir sebentar kemudian mengangguk.

"Ehmm, si pembesar kota Cuo It Sian merupakan seorang pendekar tua yang sudah mem punyai nama sangat terkenal di dalam dunia kang ouw, dengan sifat dan tindak tanduknya setiap hari dia tak mungkin mau melakukan pekerjaan semacam ini ..."

Kiranya yang dikatakan sebagai pembesar kota Cuo It Sian dalam Bu lim mem punyai nama yang sangat terkenal sekali, dia bukan saja pandai di dalam ilmu silat dalam hal ilmu surat menyurat pun sangat jempolan, pada waktu yang lampau sesudah dia lulus dalam ujian negara dia diangkat sebagai pembesar kota tapi baru saja menyabat kedudukan itu satu tahun lamanya dia sudah meletakkan jabatannya, sebabnya karena di dalam melakukan penyelidikan dan pemeriksaan soal pembunuhan, para pembunuhnya ternyata adalah para enghiong hohan yang sedang membela keadilan.

Dia tahu kedudukannya sebagai pembesar sangat terikat karenanya segera letakkan jabatannya pulang kam pung.

sejak waktu itu dia sering berkelana di dalam Bu lim sebagai seorang pendekar yang menegakkan keadilan.

Dengan harta peninggalan leluhurnya yang begitu banyak.

bukan saja hidupnya cukup dan senang bahkan suka membantu kepada yang lemah dan karena itulah semua orang di dalam Bu lim menyebut dirinya sebagai Sian Thay ya.

Dengan perkataan lain, dia merupakan seorang pendekar yang membenci akan kejahatan, manusia semacam ini sudah tentu tidak mungkin mau melakukan jual beli dengan Huang puh Kiam Pek untuk mencuri barang dari Wi Ci To.

"Tetapi..."

Ujar Ti Then lagi sesudah berpikir beberapa waktu lamanya.

"Selain dia, siapa lagi yang bisa mengeluarkan uang sebanyak selaksa tahil perak???"

"Mungkin orang yang melakukan jual beli itu bukanlah orang dari kalangan Bu lim."

Ti Then segera tertawa.

"Kalau begitu kau tidak setuju dengan pendapatku tadi?"

"Apa pendapatmu?"

Tanya Wi Lian In melengak.

"Aku tadi berpendapat kalau orang yang membunuh mati Hong Mong Ling adalah orang yang melakukan jual beli dengan Hu Pocu."

"Tetapi dengan kepandaian silatnya yang tidak lemah, jikalau dia ingin mencuri semacam barangnya Tia bukankah bisa turun tangan sendiri?"

Bantah Wi Lian In cepat.

"Sebabnya bisa sangat banyak sekali, sekarang aku baru tahu satu sebabnya saja, tentu dia sudah menyelidiki keloteng Penyimpan kitab itu dan mengetahui di sana sudah terpasang alat-alat rahasia yang amat lihay, karena tahu tidak bisa turun tangan sendiri lalu melakukan jual beli dengan diri Hu Pocu"

Tanpa terasa Wi Lian In menganggukkan kepalanya.

"Ehmm, masih ada satu sebab lagi, tentu orang yang melakukan jual beli itu mem punyai hubungan persahabatan yang amat erat dengan diri Hu pocu, makanya Hu pocu baru menyanggupi ... ."

Berbicara sampai di sini mendadak air mukanya berubah kembali dengan amat hebatnya.

"Jika demikian adanya, itu sian Thay ya Cuo It Sian merupakan orang yang patut dicurigai."

Dengan tajam Ti Then memandangi wajahnya.

"Apakah Cuo It Sian sangat baik dengan Hu Pocu?"

"Benar, mereka merupakan sepasang sahabat yang paling erat"

"Kalau begitu, kita bisa pergi mencari Cuo It Sian untuk diajak berbicara"

"Rumahnya ada dikota Tiong khin Hu, darisini masih ada tiga hari perjalanan"

"Ehmm perjanyian dengan si rase bumi Bun Jin cu masih ada dua belas hari lamanya, masih ada waktu."

Ujar Ti Then segera.

"Kalau begitu mari kita berangkat."

Mereka berdua segera turun dari gunung Kim Teng san, setelah mengambil kudanya kembali di rumah petani mereka segera berangkat memasuki daerah siok Khin.

Tiga hari kemudian sampailah mereka di kota Tiong khin Hi Hari itu siang hari sudah menjelang, sinar matahari dengan amat teriknya memancarkan sinarnya ke seluruh jagad.

Mereka berdua sesudah menangsal perutnya disebuah kedai rumah makan dan bertanya alamat dari Cuc It sian barulah menunggang kuda masing-masing menuju ke sana.

Ujar Wi Lian In kemudian ketika berada ditengah jalan.

"Sesudah bertemu muka nanti kita harus menggunakan cara apa untuk membuktikan dia benar atau bukan orang yang melaksakan jual beli tersebut??"

"Pertama-tama kita beritahukan kepadanya terlebih dulu kalau kita baru saja pulang dari gunung Kim Teng san, jikalau dia memang benar orang yang melakukan jual beli itu setelah mendengar perkataan kita air mukanya pasti berubah, dengan berdasarkan hal ini sedikit-dikitnya kita bisa buktikan kalau dia adalah si pembunuh Hong Mong Ling. Jika air mukanya sama sekali tidak berubah?"

Tanya Wi Lian In kemudian.

"Kalau memang begitu kita beritahukan kepadanya kalau Hu Pocu karena gagal melakukan pekerjaan kini sudah bunuh diri dan ayahmu perintahkan kita berdua untuk sengaja menyambangi dirinya untuk dimintai beberapa petunjuk. jika kita bicara begini bilamana dia adalah orang yang melakukan jual beli itu air mukanya tidak bisa tenang-tenang saja, sedikit berubah saja kita bisa pastikan dia itu orangnya"

"Pendapatmu sungguh bagus sekali, baiklah kita lakukan demikian saja."

Pada saat mereka berbicara itulah tanpa terasa sudah tiba di depan rumah Cuo It Sian.

Bangunan ini amat besar dan megah sekali, pintu depan dicat merah darah sedang tembok yang mengelilingi bangunannya amat tinggi sekali, sedang tangga batu yang menghubungkan jalan dengan pintu dibuat dari ubin yang mengkilap.

satu kali pandang saja sudah tahu kalau dia merupakan seorang hartawan yang sangat kaya, baru saja mereka berdua tiba di depan pintunya terlihatlah seorang pelayan tua sudah menyambut kedatangan mereka, ujarnya sambil merangkap tangannya memberi hormat.

"Kalian berdua mau cari siapa ?"

Sengaja Ti Then perlihatkan sikapnya yang amat dingin dan angkuh.

"Mau cari Lo ya kalian"

"Oooh .. tolong tanya siapa nama dari kongcu?"

Tanya pelayan tua itu lagi sambil tertawa.

"Cayhe Ti Then sedang dia adalah nona Wi, putri kesayangan dari Pek Kiam Pocu, kami sengaja datang menyambangi lo ya kalian"

Ketika pelayan itu disebutkannya nama ini, sikapnya semakin ramah lagi, berkali-kali dia rangkap tangannya memberi hormat.

"Kiranya kalian datang dari Pek Kiam Po, silahkan masuk ke dalam untuk minum teh."

Selesai berkata dia bergegas ke samping mempersilahkan tamu-tamunya untuk masuk.

"Apa Lo ya kalian ada dirumah?"

Tanya Ti Then mendadak.

"Lo ya baru saja keluar rumah, tapi orangnya ada di dalam kota saja..Silahkan kalian berdua tunggu sebentar di dalam blar Lo han segera kirim orang cari dia kembali"

Ti Then segera mengangguk.

Ia dan Wi Lian In segera masuk ke dalam ruangan dalam.

Pelayan tua dengan memimpin mereka berjalan masuk melalui ruangan tengah, ruangan minum teh dan akhirnya berbelok ke suatu serambi yang amat panjang, setelah itu barulah sampai disuatu ruangan tamu yang amat kecil tapi indah sekali.

Pelayan tua itu segera mempersilahkan mereka berdua untuk duduk ujarnya.

"Lo ya kami selamanya paling suka menerima tamu-tamu terhormat di dalam ruangan tamu yang kecil ini, kalian berdua jangan sampai marah"

Sambil berkata dia meletakkan dua cawan teh wangi ke depan Ti Then serta Wi Lian In sambungnya.

"Kalian berdua tunggulah sebentar di sini, biariah Lo han kirim orang untuk panggil Lo ya kami kembali"

Selesai berkata dia segera memberi hormat dan mengundurkan diri dari dalam ruangan.

Wi Lian In setelah melihat pelayan tua itu pergi baru bergeser ke samping tubuh Ti Then, ujarnya dengan suara rendah.

"Aku rasa.. mungkin kita sudah salah anggap orang lain".

"Kenapa ??"

Tanya Ti Then sambii tersenyum.

"Coba kau lihat orang lain begitu kaya tapi tidak menjadi sombong karenanya, bahkan terhadap orang lain begitu ramah, bagaimana bisa jadi orang yang bermaksud jahat ??"

"Tahu orangnya tahu wajahnya belum tentu tahu hatinya, di dalam dunia ini banyak orang yang menggunakan kedok orang baik padahal hatinya amat busuk dan tersimpan niat-niat jahat yang berada diluar batas."

Wi Lian In segera mengerutkan alisnya.

"Tapi aku rasa Cuo It Sian bukanlah manusia semacam ini. ."

"Aku juga tidak berani pastikan dialah orang yang melakukan jual beli tersebut tetapi kita harus mengadakan penyelidikan juga terhadap dirinya."

"Ehmmm .... nanti sesudah bertemu dengan dia apa yang kita ucapkan lebih baik sedikit sopan dan halus sehingga tidak sampai mencelakai orang lain."

"Aku sudah tahu, kau berlegalah hati". sahut Ti Then sembari tertawa. Dengan perlahan Wi Lian In angkat cawannya dan mereguk sedikit teh itu, ujarnya kemudian.

"Teh ini sungguh wangi sekali, entah menggunakan daun teh apa namanya??"

Ti Then pun ikut meneguk satu tegukan, kemudian sahutnya.

"Inilah yang dinamakan Yu Cian, aku pernah minum teh ini dahulu."

"Apa itu Yu Cian??"

"Itulah Teh yang dipetik sebelum musim pemghujan, teh semacam ini sesudah direndam dengan air panas yang mendidih kemudian diletakkan di bawah sorotan sinar matahari segera akan timbul suatu warna yang menyilaukan mata, bukan saja rasanya gurih dan harum bahkan sangat mahal harganya"

Tidak tertahan lagi Wi Lian In meneguk lagi satu tegukan ujarnya kemudian sambil tertawa.

"Pengalaman dan pengetahuanmu sungguh amat luas." . Ti Then pun ikut tertawa.

"Itu bukanlah terhitung apa-apa."

"Cuo It Sian sudah begitu tidak aneh kalau dia tidak ingin menyabat sebagai pembesar lagi, coba kau lihat tempat tinggalnya ini saja mungkin hampir meliputi seratus dua ratus kamar banyaknya."

"Tidak salah, disekitar kota Cong cin -Hu mi semua bangunan kebanyakan tidak sebesar rumah ini"

Baru saja mereka berbicara sampai di situ tampaklah pelayan tua tadi sudah berjalan masuk bersama-sama seorang tua yang memakai pakaian amat perlente sekali"

Ti Then segera mengira kakek tua berbaju perlente itu adalah si sian Thay ya, dengan cepat dia bangkit berdiri. Pelayan tua itu dsngan cepat berkata sambil tertawa.

"Ini adalah kuasa kami, Lo ya kami sebentar lagi baru kembali"

"ooh... Ti Then tidak berani berlaku ayal, segera dia rangkap tangannya memberi hormat kepada orang itu.

"selamat bertemu, selamat bertemu."

Orang tua itu cepat-cepat balas memberi hormat, ujarnya ssmbari tertawa.

"Ti Siauw hiap silahkan duduk, majikan kami baru saja keluar harap tunggu sebentar lagi."

Ti Then segera mengucapkan kata-kata merendah dan duduk kembali ke tempat semula. Kuasa she Go itu pun duduk di hadapan mereka, kepada Wi Lian In tanyanya.

"Nona ini apakah putri kesayangan dari Wi Pocu??"

Wi Lian In dengan tersenyum malu-malu menundukkan kepalanya, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kuasa she Go itu pun segera menoleh kepada Ti Then kembali.

"Aku dengar katanya Ti siauw hiap sudah diangkat sebagai Kiauw tauw dari Benteng Pek Kiam Po??"

"Benar. ."

"Sungguh soorang pemuda enghiong"

Puji kuasa she Go itu.

"Para pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po semuanya merupakan jago-jago nomor wahid di dalam Bu lim, dengan usia dari Ti Siauw hiap yang masih demikian muda ternyata dapat menduduki di atas para pendekar pedang sungguh merupakan suatu hal yang aneh dan sukar untuk dipercaya."

"Terima kasih atas pujian diri Penguasa Go, cayhe tidak berani untuk menerimanya"

"Ini hari Ti Siauw hiap serta nona Wi datang kemari entah mem punyai urusan apa? "

Tanyanya lagi dengan sopan.

"Kami sengaja datang untuk menyambangi majikan kalian-"

"Oooooh... terima kasih, terima kasih..Ehm, aku dengar katanya di dalam Benteng Pek Kiam Po pada waktu-waktu mendekat ini sudah berturut-turut terjadi beberapa urusan entah berita ini benar tidak..."

"Penguasa Go sudah mendengar berita apa?"

Tanya Ti Then dengan amat cepat. Penguasa Go melirik sekejap kearah Wi Lian In kemudian sambil tertawa jawabnya.

"Urusan mengenai Hong siauw hiap dan nona Wi..."

"Sedikit pun tidak salah, samuanya memang peristiwa yang nyata"jawab Wi Lian In dengan mantap.

"Heeeii .. sungguh tidak nyana Hong siauw hiap dia orang ternyata sudah terjurumus ke dalam lembah yang demikian hinanya, sungguh sayang sekali."

"Hong Mon Ling sudah mati."

Seketika itu juga penguasa Go menjadi sangat terperanyat.

"oooh, ayahmu..ayahmu yang hukum mati dia?"

"Bukan"

"Lalu. , lalu bagaimana dia bisa mati?"

Tanya penguasa Go itu semakin terperanyat. saat itulah Ti Then secara tiba-tiba memotong.

"Majikanmu kapan baru kembali?"

Agaknya penguasa Go menjadi melengak atas dipotongnya perkataan ini, tapi dengan cepat dia sudah sadar kembali kalau Ti Then tidak senang dia mencampuri urusannya, dengan wajah penuh senyuman paksa ujarnya kemudian.

"Sudah hampir datang, tadi majikan kami sedang pergi cari teman untuk diajak ngobrol, mungkin sebentar lagi sudah kembali, apakah Ti siauw hiap ada urusan yang penting?"

"Ooh..tidak begitu penting, hanya ada satu urusan yang hendak minta keterangan darinya"

"Entah urusan apakah itu?"

Tanya penguasa Go cepat.

"Urusan ini lebih baik dibicarakan sesudah bertemu muka sendiri dengan majikan kalian-"

"Baik..baik. ."

Seru penguasa Go berulang kali sambil tertawa malu.

"Silahkan kalian menunggu sebentar..ooh iya, apa kalian berdua sudah bersantap"

"Sudah."

"Jikalau belum bersantap, kalian berdua tidak usah terlalu sungkan-. oooh.. majikan sudah datang."

Ti Then mau pun Wi Lian In segera menoleh ke arah luar ruangan, ternyata tidak salah seorang tua beejubah hijau dengan langkah tergesa-gesa berjalan menuju ke dalam ruangan tamu yang amat kecil itu.

Kakek tua itu berusia kurang lebih delapan puluh tahunan, rambutnya sudah memutih semua, sedang alisnya amat panjang sampai di bawah mata, hidungnya yang mancung serta wajahnya yang merah bersinar menunjukkan suatu semangat yang tinggi serta keangkeran yang tak terbantahkan.

Wi Lian In pernah bertemu dengan Sian Thay ya Cuo It Sian ini, karenanya begitu dilihatnya si pembesar kota itu datang segera dia bangkit berdiri untuk menyambut.

Ti Then yang berada di sampingnya pun segera ikut bangkit berdiri.

Dengan langkah yang amat cepat si pembesar kota Cuo It san berjalan masuk ke dalam ruangan tamu itu, begitu dilihatnya Wi Lian In berdiri di sana segera dia tertawa terbahak bahak.

"Haa..hee..hey budak. angin apa yemg meniup kau datang ke sini?"

Wi Lian In tidak berani berlaku ayal di hadapan seorang cianpwe segera dia menjura uutuk memberi hormat.

"Wi Lian In datang menghunjuk hormat kepada Cue locianpwe."

"Haa..hee..hee. ."

Sipembesar kota Cuo It Sian tertawa lagi.

"Benerapa tahun tidak bertemu, kau sudah bertambah tinggi"

Sambil tertawa malu Wi Lian In menundukkan kepalanya rendah-rendah, tanpa memberikan jawaban. Dengan perlahan Cuo It Sian menoleh kearah Ti Then, tanyanya sambil tertawa.

"Apakah saudara ini adalah Ti Kiauw tauw dari Benteng Pek Kiam Po, si pendekar baju hitam Ti Then?"

Ti Then pun segera merangkap tangannya memberi hormat.

"Boanpwe memberi hormat, harap cianpwe suka memaafkan-"

"Tidak perlu begitu sungkan, cepat duduk untuk berbicara"

Seru Cuo It san tertawa.

Penguasa Go pun dengan cepat mengundurkan diri dari sana, demikianlah tua muda tiga orang segera mengambil tempat duduknya masing-masing.

Pertama-tama Cuo It Sian yang buka mulut.

"Apakah ayahmu tidak datang??"

Tanyanya.

"Tidak"

"Sudah ada beberapa tahun lamanya lohu tidak mengunjungi Benteng Pek Kiam po, apakah ayahmu serta Hu Pocu baik-baik saja??"

Wi Lian In tidak menyawab, dia hanya melirik sekejap kearah Ti Then. Cuo It Sian yang melihat air muka mereka sedikit aneh segera menjadi tertegun.

"Ada urusan apa??"

Tanyanya keheranan. Sepasang mata Ti Then dengan amat tajamnya memandang ke atas wajahnya, kemudian baru jawabnya dengan perlahan.

"Urusan ini sangat panjang untuk diceritakan, kali ini boanpwe serta nona Wi sengaja dari gunung Kim Teng san datang ke mari untuk menyambangi diri Locianpwe"

Ketika Cuo It Sian mendengar jawaban ini dia sepertinya merasa keheranan, sambil mengedip-ngedipkan matanya dia balas pandang sekejab Ti Then-"

Kalian datang dari gunung Kim Teng san, apa arti perkataan ini??"

Air mukanya hanya diliputi oleh perasaan terkejut dan heran, sama sekali tidak terdapat perasaan ragu-ragu serta takutnya. Ti Then dengan amat tajamnya memandang wajahnya terus, tambahnya.

"Benar kami datang dari gunung Kim Teng san, sengaja datang menyambangi diri locianpwe."

Tanpa terasa Cuo It Sian menggerutkan alisnya rapat-rapat, dengan perasaan bingung ujarnya.

"Jadi maksud kalian-kalian baru saja naik kegunung Kim Teng san untuk untuk menyambangi si kakek pemalas Kay Kong Beng kemudian datang ke rumah Lohu?? Ini..ini berarti ada urusan apa?"

Ti Then sedikit pun tidak melihat adanya perubahan yang aneh pada wajahnya, tanpa terasa dia dibuat gugup juga, ujarnya.

"Apakah Locianpwe tidak tahu kalau Hu pocu kami sudah bunuh diri??"

Air muka Cuo It Sian seketika itu juga berobah amat hebat, mendadak dia bangkit berdiri teriaknya dengan terperanyat.

"Apakah Huang Puh Kiam Pek bunuh diri? dia kenapa mau bunuh diri??"

Kali ini walau pun air mukanya berubah amat hebat tetapi perubahan ini jelas sungguh berubah, dan bukannya berubah seperti apa yang dibayangkan oleh Ti Then semula.

Ti Then segera mem punyai dugaan kalau dia bukanlah orang yang melakukan jual beli serta membunuh mati Hong Mong Ling, karena jika dia betul-betul orangnya tidaklab mungkin perubahan wajahnya begitu sungguh-sungguh, karenanya perasaan curiga yang semula ditujukan kepada diri pembesar kota Cuo It Sian ini pun menjadi goyah juga.

Dia menarik napas panjang-panjang, lama kemudian barulah ujarnya.

"Inilah hal yang Wi Pocu sangat ketahui, karenanya Wi pocu memerintahkan boanpwe untuk datang kemari minta petunjuk dari Locianpwe, karena Lo cianpwe sudah bersahabat sangat lama sekali dengan diri Hu Pocu, kemungkinan sekali Locianpwe tahu mengapa Hu Pocu bunuh diri"

Dengan perasaan terkejut bercampur heran Cuo It Sian memandang wajah Ti Then tak berkedip.

"Lohu sudah ada dua tiga tahun lamanya tidak bertemu dengan Hu Pocu, dia Heey..coba bagaimana kalau kalian Ceritakan dulu dengan teliti keadaan yang sudah terjadi??"

Ti Then menundukkan kepalanya berpiklt sebentar, kemudian barulah mengangguk.

"Baiklah, urusan ini harus diceritakan sedari Wi pocu membatalkan ikatan jodoh antara Hong Mong Ling dengan nona Wi, tentang urusan ini tentunya Locianpwe sudah dengar berita dari orang lain bukan?"

"Benar, pernah mendengar tentang berita ini"

"Ada satu malam boanpwe sedang bermain Catur dengan Hu Pocu sehingga jauh malam mendadak budak kami datang melapor kalau nona Wi sudah lenyap tanpa bekas, Hu Pocu serta boanpwe segera berangkat menuju ke kamar untuk mengadakan pemeriksaan, menurut keadaan pada waktu itu kami mengambil kesimpulan kalau nona Wi sudah diculik, oleh Hu Pocu memerintahkan seluruh pendekar pedang yang ada di dalam Benteng untuk mengadakan pemeriksaan di empat penjuru.."

"Waktu itu apakah Wi Pocu tidak berada di dalam Benteng??"

Potong cuo It Sian mendadak.

"Benar, Wi Pocu serta seorang pendekar pedang merah karena ada urusan sudah keluar Benteng, tetapi pada keesokan harinya Wi Pocu sudah kembali lagi ke dalam Benteng dan sekali lagi menggerakkan semua pendekar pedang yang ada di dalam Benteng untuk melakukan pengejaran. Hu Pocu serta boanpwe pada pagi hari-hari ketiga bersama-sama meninggalkan Benteng Pek Kiam Po ,,"

Segera dia menceritakan kembali bagaimana dia menerima undangan dari si setan pengecut, bagaimana melukai kulit kepala si Setan pengecut itu di atas gunung Kim Teng San menolong kembali Wi Lian In lalu bagaimana mengetahui bahwa Huang Puh Kian Pek adalah si setan pengecut itu.

Ketika selesai mendengar cerita itu Cuo It Sian saking.terperanyatnya sudah menjerit tertahan, tanyanya.

"Apakah sesudah kalian berhasil membuka rahasianya lalu dia melakukan bunuh diri?"

"Benar."

Sahut Ti then mengangguk. Sebelum dia melakukan bunuh diri apakah tidak mengatakan kenapa dia sampai bersekongkol dengan Hong Mong Ling untuk menculik diri Nona Wi?"

Terpaksa Ti Then berbohong sahutnya.

"Benar, dia bilang sudah menerima pesanan jual beli dari seseorang, orang itu sanggup membayar selaksa tahil perak Kepadanya dengan syarat mencurikan semacam barang Wi Pocu dari dalam Loteng Penyimpan Kitabnya"

Air muka Cuo It Sian sedikit pun tidak berubah, tanyanya dengan cemas.

"Siapakah orang yang sudah melakukan jual beli dengan Hu Pocu itu?"

Ti Then tidak segera memberikan jawabannya, hanya ia terus menerus memperhatikan perubahan air muka pihak lawan, sebentar kemudian setelah merasa yakin kalau dia bukanlah orang yang melakukan jual beli itu, jawabnya.

"Hu Pocu hanya mengatakan ada orang yang melakukan jual beli dengan dia dengan upah selaksa tahil perak, karena untuk sesaat dia menjadi rakus akan harta makanya baru menerima permintaan tersebut sedangkan siapa yang sudah melakukan pekerjaan ini dia sama sekali tidak mau mengatakannya"

Dia berhenti sejenak, kemudian sambungnya.

"Kiranya Wi Pocu tahu kalau Locianpwe mem punyai hubungan persahabatan yang sangat erat dengan Hu Pocu selama puluhan tahun lamanya, sengaja mengirim boanpwe kemari untuk minta keterangan barangkali locianpwe mengetahui sedikit urusan ini"

Cuo It Sian mengerutkan alisnya rapat-rapat, lama sekali dia tidak menyawab, kurang lebih seperminum teh kemudian baru terdengar dia membuka mulutnya member jawaban.

"Selama ini Hu Pocu jadi orang amat jujur dan berhati lurus bagaimana bisa melakukan pekerjaan semacam ini? Hei, sungguh membuat orang merasa diluar dugaan...TiSiauwhiap tadi bilang baru saja pulang dari gunung Kim Teng San, sebetulnya apa arti dari perkataan ini?"

"Setelah Boanpwe serta nona Wi menerima perintah untuk meninggalkan Benteng ditengah jalan sudah mendengar perkataan dari seorang kawan Bulim yang mengatakan pernah bertemu muka dengan Hong Mong Ling di atas gunung Kim Teng San, karenanya segera boanpwe berdua berangkat menuju ke atas gunung Kim Teng San dengan harapan bisa menawan dia"

"Tidak salah."Sahut Cuo It Sian mengangguk.

"Jikalau bisa berhasil menawan Hong Mong Ling maka kita bisa tahu juga siapa orangnya yang sudah melakukan pekerjaan jual beli itu akhirnya apa kalian berhasil menawan dia kembali?"

"Setelah boanpwe berdua tiba di atas gunung Kim Teng San, pada waktu itulah sudah menemukan kalau Hong Mong Ling sedang berlutut di depan gua tempat kediaman Si kakek pemalas Kay Kong Beng, dia sedang memohon si kakek pemalas Kay Kong Beng mau menerimanya sebagai murid dengan harapan bisa memperoleh sebuah sandaran."

"Lohu dengar si kakek pemalas sudah bersumpah untuk tidak menerima murid kembali, mungkin dia tidak akan diterima sebagai muridnya bukan?"

"Benar"

Jawab Ti Then mengangguk.

"Ketika dia melihat boanpwe berdua muncul di sana dengan gugup segera melarikan diri, tetapi ketika sampai di bawah puncak dia sudah berhasil boanpwe tawan dan pada saat boanpwe sedang paksa dia untuk memberitahukan nama orang yang melakukan jual beli itu, baru dia mau menyawab saat itulah sebuah batu cadas sudah menyambar datang dan tepat menghajar batok kepalanya sehingga binasa"

"Haaaa....siapa orang itu?"

Tanya Cuo It Sian kaget.

"Sudah tentu orang yang sudah melakukan jual beli dengan Hu Pocu, dia sengaja turun tangan membunuh Hong Mong Ling untuk melenyapkan kesaksian."

"Siapakah orang itu ?"

Tanya Cuo It Sian lagi sambil memandang tajam wajahnya.

Ketika Ti Then melihat dia betul-betul tidak memperlihatkan sedikit perubahan pun segera memastikan kalau dia bukanlah orang yang sudah melakukan jual beli itu, karenanya dengan terus terang jawabnya.

"Sungguh sayang sekali boanpwe sama sekali tidak melihat dirinya, begitu batunya menyambar segera dia melarikan diri dari sana, karena itu boanpwe tidak berhasil menawan dia kembali."

"Heey... sungguh sayang sekali"

"Kenapa tidak, tetapi boanpwe percaya cepat atau lambat akhirnya aku berhasil juga menawan dia, karena di dalam Bu-lim orang yang bisa membayar uang sebesar satu laksa tahil perak tidak banyak jumlahnya."

Mendengar perkataan itu air muka Cuo It Sian segera berubah amat hebat, sepasang matanya mernancarkan sinar yang amat tajam, sesudah memandang beberapa saat lamanya ke atas wajah Ti Then pada air mukanya segera timbullah senyumannya yang amat dingin.

"Lohu sekarang paham, kalian sudah mencurigai Lohu kalau adalah orang yang melakukan jual beli dengan Hu Pocu"

"Tidak berani, tidak berani..locianpwe sudah salah paham"

Cuo It San tertawa dingin.

"Lohu merupakan salah satu orang yang sanggup membayar uang sebesar selaksa tahil Perak, ditambah lagi merupakan kawan baik dari Hu Pocu, bukan begitu?"

"Nama besar dari locianpwe sudah tersebar diseluruh Bu-lim, mana boanpwe berdua berani menaruh perasaan curiga terhadap diri locianpwe, kedatangan boanpwe ini hari hanya mengharapkan locianpwe mau member sedikit gambaran dan sedikit keterangan kepada kami, selain itu tidak punya maksud lainnya"

Sekali lagi Cuo It Sian memandang tajam wajahnya, dengan diiringi suatu senyuman yang amat tidak gembira ujarnya.

"Jikalau perkataanmu ini tidak bohong, Lohu di sini minta maaf terlebih dulu karena tidak bisa membantu kalian sebab lohu sendiri juga tidak tahu siapa orangnya yang patut dicurigai"

"Di dalam dunia kangouw saat ini kecuali locianpwe serta si anying langit rase bumi siapa lagi yang amat kaya?"

"Lohu tidak tahu"

Sahut Cuo It Sian sambil gelengkan kepalanya, Bilamana kalian menganggap siapa yang kaya dialah manusia yang patut dicurigai boleh dikata pikiran kalian terlalu kekanak-kanakan"

"Tetapi hal ini sangat beralasan sekali"

Timbrung Wi Lian In yang selama ini bungkam terus.

"Kalau begitu"

Ujar Cuo It Sian lagi sambil tertawa dingin tak henti-hentinya.

"Lohu juga termasuk salah seorang yang patut dicurigai bukan? Coba kalian ke kota dan tanyakan kepada penduduk di sini selama dua bulan yang baru lalu pernahkah Lohu meninggalkan kota Tiong Khin Hu ini barang setapak pun, orang-orang di dalam kota setiap hari melihat lohu ada di sini"

"Locianpwe kau jangan marah"

Wi Lian In coba meredakan hawa amarah Cuo It Sian yang mulai berkobar.

"Kami memang benar-benar tidak menaruh perasaan curiga terhadap diri Locianpwe, kami hanya sengaja datang kemari untuk minta keterangan dari kau orang tua dan mengharapkan dari sini bisa memperoleh sedikit keterangan"

Jilid 18.2.

Tertawan di gudang bawah tanah "Jikalau kalian tidak pernah menaruh perasaan curiga terhadap lohu kenapa pertama yang kalian ucapkan adalah kalian baru saja datang dari gunung Kim Teng san?

hal ini membuktikan kalau kalian sudah menaruh curiga lohulah orang yang sudah membinasakan Hong Mong Ling sewaktu berada digunung Kim Teng san.

kalian kini sengaja berbicara tentu sengaja sedang memeriksa perubahan wajah dari lohu apakah mencurigakan atau tidak"

Wajah Lian In segera berubah menjadi merah padam.

"Sudahlah tetapi sekarang kami sudah percaya kalau kau orang tua bukanlah orang yang melakukan jual beli itu"

Dengan wajah penuh perasaan tidak senang Cuo It Sian bertanya kembali.

"Sekarang ayahmu berada dimana?"

"Beberapa hari kemudian dia akan pergi ke istana Thian Teh Kong untuk menemui janyinya."

"Kalian juga mau pergi ke istana Thian Teh Kong?"

Tanya Cuo It sian lagi.

"Benar."

"Kalau lohu mau membicarakan persoalan ini langsung berhadapan dengan ayahmu"

Wi Lian In menjadi gugup dibuatnya.

"Tidak... tidak perlu begitu"

"Kenapa? apakah Lohu tidak seharusnya pergi mencari ayahmu untuk membicarakan persoalan ini hingga menjadi jelas..."

"Bukan begitu"

Seru Wi Lian In agak gugup "Kami pergi ke istana Thian Teh Kong sebetulnya mau bertempur dengan si rase bumi Bun Jin Cu, jikalau orang tua berangkat bersama-sama kami si rase bumi Bun Jin Cu bisa salah paham menganggap kau orang tua merupakan bala bantuan kami, lebih baik kau orang tua tidak usah berbuat begini."

"Sampai waktunya biarlah Lohu berdiri di samping untuk menonton saja."

"Tetapi"

Mendadak Cuo It sian tertawa terbahak-bahak.

"Ha..haa . haaa.. haaa.. Lohu sekarang sudah paham, ini hari kalian datang mencari lohu pasti bukan atas perintah dari ayahmu, bukan begitu?"

"Benar"

Sahut Wi Lian In, sekali lagi wajahnya sudah berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus.

"Jika Tia tahu kami datang ke sini mencari kau orang tua, dia pasti akan marah kepadaku"

"Baik, baik"

Seru Cuo It Sian tertawa terbahak-bahak.

"Kalian datang mencari Lohu sekali pun bukan atas perintah dari ayahmu, tapi Lohu mengingat usia kalian yang masih kecil tidak akan cari perkara lagi dengan diri kalian"

Wi Lian In menjadi amat girang.

"Dengan begitu kau orang tua tidak jadi ikut kami pergi ke istana Then Teh Kong bukan ???"

"Benar"

Sahut Cuo It sian mengangguk. Saat itulah Wi Lian In baru merasa hatinya menjadi lega, dengan tersenyum malu dia menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Keponakan perempuanmu tidak tahu apa-apa sehingga membuat salah terhadap kau orang tua, sungguh maaf sekali"

"Tidak mengapa, tidak mengapa padahal urusan ini tidak bisa salahkan kalian kalau sampai menaruh curiga kepadaku, Lohu memang tidak salah memiliki banyak uang bahkan Hu pocu pun mem punyai hubungan persahabatan yang amat erat selama puluhan tahun lamanya, jikalau Lohu misalnya mohon padanya untuk mencarikan semacam barang milik ayahmu, dia memang pasti sukar untuk menampiknya."

Dia berhenti sebentar untuk berganti napas, kemudian tambahnya lagi sambil tertawa.

"Tetapi kalian pun harus berpikir walau pun harta kekayaan dari lohu ini boleh di kata belum menangkan sebuah negara tapi untuk dipakai seumur hidupku masih terlalu berlebihan, Lohu mau apa, ada apa, buat apa pergi menyuruh orang lain untuk mencuri sebuah barang ke punyaan ayahmu??"

Ti Then segera bangkit berdiri, sambil merangkap tangannya memberi hormat ujarnya.

"Perkataan dari Locianpwe sedikit pun tak salah, maaf tadi boanpwe sekalian sudah menaruh curiga kepada diri Locianpwe, mohon locianpwe suka memaafkan, kini ijinkan boanpwe sekalian memohon diri"

"Buat apa begitu tergesa-gesa?"

Tanya Cuo It sian melengak.

"Perjanyian dengan pihak istana Thian Teh Kong tinggal beberapa hari saja, kami harus segera berangkat untuk mengejar waktu."

"Kalau memang begitu lohu juga tidak akan menahan kalian lebih lama lagi"

Seru Cuo It sian kemudian sambil bangkit berdiri "Lain kali jika lewat dikota ini jangan lupa untuk tinggal beberapa hari di rumah Lohu ini, walau pun usia dari lohu sudah amat tua tetapi sangat suka untuk bergaul dan berkawan dengan orang-orang muda"

Ti Then segera menyanggupi hal itu, bersama-sama dengan Wi Lian In mereka berpamit dan keluar dari ruangan itu.

Cuo It Sian menghantar mereka berdua sampai diluar pintu besar, masing-masing barulah berpisah, Ti Then bersama-sama Wi Lian In dengan menunggang kudanya masing-masing dengan cepat berjalan ke tengah jalanan dalam kota.

Terdengar Wi Lian In menghela napas panjang, ujarnya kemudian ketika sudah berada ditengah jalan.

"Coba kau lihat, sejak semula aku sudah bilang dia tak mungkin orang yang sudah melakukan jual beli itu"

"Tetapi jika tidak datang sendiri untuk membuktikan siapa yang tahu kalau dia bukan orangnya?"

Bantah Ti Then cepat.

"Untung sekali dia tidak kukuh untuk ikut kami pergi menemui Tia, kalau tidak Tia tentu akan memaki aku setengah mati."

"Kita mencurigai dialah orang yang sudah melakukan jual beli itu semuanya sangat beralasan sekali, aku kira ayahmu tidak akan memaki kita semua."

"Sekali pun perasaan curiga kita pada dirinya sangat beralasan tetapi perkataannya lebih beralasan lagi, dia sangat kaya sekali, mau apa ada apa buat apa pergi mencuri barang miliknya Tia?"

Mendengar perkataan ini Ti Then terpaksa tertawa pahit.

"Kemungkinan sekali barang milik ayahmu itu untuk dibeli dengan uang."

"Kau berbicara demikian berarti juga masih menaruh sedikit curiga terhadap dirinya"

"Tidak"

Bantah Ti Then dengan cepat.

"Maksudku, sekali pun orang kaya masih ada alasan juga untuk pergi mencuri barang miliknya orang lain-"

Dengan sedihnya Wi Lian In menghela napas panjang.

"Hanya entah barang apa yang sudah Tia simpan di dalam Loteng Penyimpan kitabnya itu?"

"Sesudah bertemu dengan ayahmu lebih baik kita jangan tanyakan soal ini"

"Kenapa?"

"Sebelum Hu Pocu bunuh diri dia pasti sudah menguraikan persoalan ini di hadapan ayahmu, sedang ayahmu kalau memangnya tidak ingin kita ikut mengetahui persoalan iui di dalamnya pasti ada persoalan yang harus dirahasiakan, kita tak seharusnya membuat ayahmu serba susah"

"Tidak. persoalan ini harus di tanyakan sampai jelas"

"Sekali pun kau ingin tahu, ayahmu belum tentu mau beri tahu padamu"

Wi Lian In segera mencibirkan bibirnya.

"Aku tidak percaya kalau Tia masih ada rahasia yang tidak boleh diberitakan pada putrinya sendiri"

"Mungkin ada satu hari ayahmu akan memberitahukan persoalan ini dengan sendirinya tetapi sekarang aku kira belumlah saatnya buat kita untuk ikut mengetahui soal ini"

"Apa kau menganggap barang yang disimpan Tia itu ada hubungannya dengan rahasia pribadinya?"

"Aku kira bukan"

Jawab Ti Then gelengkan kepalanya.

Jika ada sangkut paut dengan rahasia pribadi ayahmu maka orang yang bermaksud mengadakan pencurian itu pasti seorang dari kalangan lurus, tetapi orang yang memerintahkan Hu pocu melakukan pencurian itu bukanlah orang dari kalangan lurus"

"Kalau memangnya tidak ada sangkut pautnya dengan rahasia pribadi Tia, kenapa kita tidak boleh ikut menyelidikinya??"

"Persoalan ini aku sendiri juga tidak mengerti, pokoknya kalau memang ayahmu tidak mengijinkan kita ikut tahu di dalamnya pasti ada alasan-alasan yang kuat"

Dengan perlahan Wi Lian In menghela napas panjang.

"Huy, sudahlah untuk sementara aku akan berpura-pura tidak tahu akan urusan ini, kini apa kita langsung menuju ke istana Then Teh Kong??"

"Untuk menginap satu hari di dalam kota juga boleh, hanya saja bila Cuo It sian tahu akan hal ini dia pasti tidak akan senang hati."

"Kalau begitu kita keluar dari kota saja"

Mereka berdua segera menyalankan kudanya keluar dari kota Tiong khin cu dan berangkat menuju kearah selatan, ketika sudah berjalan sejauh dua puluh li sampailah mereka di sebuah dusun kecil sedang hari pun mulai larut malam.

"Sudahlah"

Seru Wi Lian In tiba-tiba sambil tertawa.

"Seperti juga perkataan dulu menjelang tengah malam beristirahatlah, ayam mulai berkokok baru melihat langit kembali"

"Aku kira di dalam dusun ini tidak ada rumah penginapan"

Ujar Ti then ikut tertawa juga.

"Kalau begitu kita cari kuil saja untuk menginap satu malam."

Ternyata dugaan mereka sedikir pun tidak salah, sekali pun sudah berputar ke seluruh dusun, ternyata sebuah rumah perginapan pun tidak kelih atan, tetapi diluar dusun di temuinya sebuah kuil dari kaum Toosu.

Kuil Toosu itu bernama kuil sam Cing Kong, walau pun bangunannya tidak begitu besar tetapi keadaannya amat tenang sekali karena itu mereka berdua segera mengambil keputusan untuk menginap di sana.

Segera terlihat seorang tosu tua dengan amat ramahnya berjalan keluar menyambut kedatangan mereka, setelah mengetahui maksud kunjungan Ti Then berdua dengan perasaan amat girang ujar Toosu tua itu.

"Baiklah, kalian berdua kalau tidak merasa muak dengan kotoran kuil kami, silahkan untuk bermalam di sini"

Ti Then menjadi amat girang sekali.

"Entah siapa sebutan dari Tootiang??"

Tanyanya.

"Pinto It Cing dan merupakan penerima tamu dari kuil ini"

Ti Then pun segera memperkenalkan dirinya.

"Cayhe bernama Ti Then sedang nona ini adalah putri dari Pek Kiam Pocu"

Ketika itu It Cing sanyien mendengar kalau mereka merupakan orang-orang dari kalangan Bu lim, air mukanya segera berubah amat hebat, dengan tertawa paksa ujarnya.

"oooh .. silahkan masuk. silahkan masuk. ."

Selesai minum teh It Cing Toojin segera bangkit memimpin mereka berdua menuju kedua buah kamar yang bersih dan tenang sekali, akhirnya tanyanya juga.

"Kalian berdua tentu belum bersantap malam bukan?"

"Benar, tetapi cayhe membawa bekal makanan kering, Tootiang tidak usah. ."

"Bekal kering untuk dimakan ditengah jalan"

Potong it Cing Toojin dengan cepat.

"Kini sicu sudah ada dikuil kami, buat apa berlaku begitu sungkan-sungkan-tunggulah sebentar biar Pinto perintah orang untuk kirim nasi kemari."

Selesai berkata dia memberi hormat dan mengundurkan diri dari kamar.

Tidak lama kemudian seorang Toosu berusia pertengahan dengan membawa senampan nasi dan sayur berjalan masuk ke dalam kamar kemudian meletakkan nasi serta sayur itu ke atas meja dengan amat rapinya, ujarnya kepada Ti Then sambil memberi hormat.

"sicu silahkan bersantap.jikalau membutuhkan apa-apa silahkan perintah saja."

"Terima kasih atas perlakuan kalian yang baik, cayhe tidak memerlukan apa-apa lagi"

Sahut Ti Then cepat sambil gelengkan kepalanya.

Sesudah Toosu berusia pertengahan itu meninggalkan kamar, barulah Ti Then bersama-sama Wi Lian In duduk saling berhadapan dan mulai bersantap.

sambil bersantap ujar Wi Lian In dengan perlahan.

"Toosu-toosu dari kuil ini sangat baik sekali memperlakukan orang lain, besok sebelum berangkat kita harus beri beberapa tahil perak kepada mereka"

"Baiklah, aku juga merasa Toosu-toosu itu sangat ramah dan sopan sekali, seharusnya kita kasih persen lebih banyak kepada mereka"

"Adakalanya, bisa hidup beberapa hari lamanya ditempat yang demikian sunyinya ini terhadap badan mau pun pikirannya sangat baik sekali."

"Betul"

Sahut Ti Then setuju.

"Bila cuma beberapa hari saja masih tidak mengapa. kalau kelamaan mungkin akan merasa kesal juga. ."

Sedang mereka berdua bercerita sambil bersantap masuklah Toosu berusia pertengahan tadi membawa sepoci teh panas, sehabis membereskan meja dia pun mengundurkan diri kembali.

Ujar Ti Then kemudian-"Jarak hari ini sampai waktu perjanyian kita dengan si rase bumi Bun Jin Cu masih ada delapan hari lamanya, sedang kita baru hari sudah bisa tiba di istana Thian Teh Kong, coba kaupikir enaknya selama beberapa hari ini kita pergi kemana?"

"Bagaimana kalau kita menginap beberapa hari di dalam kuil ini saja ??"

"Tidak baik, lebih cepat cari tempat untuk bermain saja"

"Hanya tidak tahu disekitar tempat ini ada pemandangan yang indah tidak ??"

"Besok pagi kita pergi tanya pada toosu itu bukankah sudah beres?"

"Baiklah sekarang kau kembalilah kekamar untuk beristirahat"

Dengan perlahan Wi Lian In berjalan ke dekat meja dan menuang teh ke dalam dua cawan, sambil mengangsurkan cawan yang satu ke depan Ti Then ujarnya dengan manya.

"Aku masih tidak ingin tidur, kita ngomong-ngomong lagi saja."

Ti Then segera menerima cawan itu dan meneguknya satu tegukkan-"Waktu buat kita untuk ngomong-ngomong masih sangat banyak sekali"

Serunya sambil tertawa.

Baca Juga: Jaka Lola Kho Ping Hoo

Baca Juga: Wanita Iblis Pencabut Nyawa Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert