Eps 5 Pendekar Patung Emas - Qing Hong
Baca online Pendekar Patung Emas - Qing Hong
Cersil Pendekar Patung Emas - Qing Hong.
"Tapi lohu bisa melihatnya kalau sewaktu permainan kedua Ti Kiauwtauw sengaja mengalah"
"Tidak..tidak.."
Bantah Ti Then cepat.
"Selamanya jika boanpwe bermain dengan orang lain jika makan terus makan, selamanya belum pernah mengalah dengan siapa pun"
"Wi Ci To tersenyum.
"Tinggi atau rendah nanti lohu sekali pandang segera akan tahu"
Ujarnya.
"Nanti biarlah lohu mengalah tiga biji catur terlebih dulu kepada Ti Kiauw tauw"
"Baiklah"
Sahut Ti Then menyanggupi.
"Boanpwe dengar permainan catur dari Pocu amat tinggi dan merupakan jago tak terkalahkan dalam dunia saat ini, harap pocu banyak memberi petunjuk kepada boanpwe"
"Tidak bisa!"
Mendadak teriak Wi Lian In.
"Kenapa tidak bisa?"
Tanya Wi Ci To melengak.
"Tadi Ti Kiauw tauw sudah berjanyi kepadaku untuk mengajak aku berpesiar ke atas tebing Sian Ciang sehabis bersantap"
Wi Ci To memandang sekejap kearah putrinya kemudian memandang pula kearah Ti Then, dalam hati dia tahu, yang mau adalah siapa, segera dia tersenyum.
"Kalau memangnya begitu"
Ujarnya kemudian.
"Biarlah sesudah kembali dari tebing Sian Ciang baru kita main catur"
Demikianlah, sesudah habis bersantap siang Wi Lian In dengan perasaan amat girang membawa Ti Then keluar benteng untuk kemudian mendaki ke atas tebing Sian Ciang.
Tebing Sian Ciang merupakan sebuah bukit tebing dengan tinggi mencapai puluhan kaki tingginya, dari atas puncak tebing itu dapat melihat seluruh pemandangan dari Benteng Pek Kiam Po dengan teramat jelasnya.
Kedua orang itu setelah mencapai puncak tebing segera duduk berjajar di sebelah tebing yang berlatarkan Benteng Pek Kiam Po, ujar Ti Then kemudian sesudah memandang sekejap sekeliling tempat itu.
"Benteng kalian bisa berdiri di samping gunung merupakan suatu keangkeran yang luar biasa, hanya saja ada satu kekurangannya"
"Kekurangan apa?"
Tanya Wi Lian In dengan cepat.
"Jika ada orang yang mau menyerang Benteng bisa naik dari atas tebing ini"
"Hal ini tidak mungkin bisa terjadi"
Potong Wi Lian In dengan cepat sembari tertawa.
"Sekali pun kepandaian silat orang itu lebih tinggi pun tidak mungkin bisa meloncat turun dari sini"
Ti Then tersenyum.
"Yang aku maksud bukanlah manusia, tetapi batu besar serta panah berapi"
"Ooh..benar!"
Teriak Wi Lian In kaget, sedang air mukanya sudah berubah sangat hebat.
"Jika musuh melontarkan batu-batu besar dari sini maka seluruh Benteng Pek Kiam Po akan hancur, jika memanahkan panah-panah berapi maka seluruh Benteng Pek Kiam Po akan terbakar hangus"
Tambah Ti Then lagi. Wi Lian In menarik napas panjang.
"Selamanya kita belum pernah memikirkan akan hal ini, kau kira mereka berani tidak melakukan hal ini?"
Tanyanya.
"Semoga saja tidak"
"Dugaanmu ini sangat tepat sekali, nanti aku mau laporkan urusan ini kepada Tia, biar dia kirim beberapa orang pendekar pedang untuk menyaga di atas tebing ini"
"Ehmm..seharusnya memang begitu"
Sahut Ti Then mengangguk.
"Coba kau lihat"
Seru Wi Lian In tertawa sambil menuding kearah Benteng Pek Kiam Po.
"Di situlah letaknya kamarmu, nomor tiga dari sebelah kiri deretan ketiga..sudah terlihat belum?"
"Ehmm..sudah"
Dia masih melihat juga atap kamarnya, karena di dalam otaknya tanpa terasa sudah memikirkan dengan cara bagaimana Majikan patung emas itu bisa muncul di atas atap kamarnya tanpa mengeluarkan sedikit suara pun, sedangkan para pendekar pedang yang menerima perintah untuk mengawasi dirinya secara diam-diam pun tidak aka nada yang melihat.
Wi Lian In yang melihat dia dengan termangu-mangu sedang memandangi keadaan Benteng segera menyenggol tangannya.
"Hey, kau sedang pikirkan apa?"
Tanyanya sambil tertawa. Ti Then menarik kembali pandangannya.
"Aku tidak sedang berpikir"
Sahutnya sambil tertawa.
"Sebaliknya sedang melihat.."
"Melihat kamarmu itu?"
Tanya Wi Lian In sembari tertawa manis.
"Tidak, melihat ruangan lainnya, ruangan di hadapan kamar buku ayahmu"
"Loteng penyimpan kitab?"
"Benar"
Jawab Ti Then sambil mengangguk.
"Si Lo-cia pernah beritahu padaku untuk jangan mendekati loteng penyimpan kitab itu, dia bilang ayahmu melarang siapa pun juga untuk memasuki loteng penyimpan kitab itu termasuk kau serta Hu-pocu"
"Benar.."
Ujarnya dengan serius. Dengan pandangan tajam Ti Then memandangi wajahnya, kemudian tanyanya.
"Kenapa?"
"Aku sendiri juga tidak jelas, Tia hanya bilang di dalam loteng itu disimpan berbagai kitab yang sangat berharga sekali"
"Kau percaya?"
"Aku...aku tidak percaya, tapi aku tidak berani Tanya"
Sahut Wi Lian In dengan terputus-putus.
"Bukankah ayahmu sangat sayang padamu?"
"Benar"
Jawab Wi Lian In.
"Urusan apa pun dia mau menyanggupi diriku, tapi dia melarang aku memasuki loteng penyimpan kitab itu, dengan serius dia pernah memberi peringatan kepadaku untuk jangan mendekati loteng tersebut. Pernah dua kali secara diam-diam menyelundup masuk ke sana akhirnya diketahui oleh Tia. Untuk pertama kalinya dengan sangat gusar dia hanya memaki dan memarahi aku tapi ketika kedua kalinya bukan saja memaki dan memarahi aku, bahkan memukul diriku"
"Kau dipukul?"
Tanya Ti Then dengan amat terkejut.
"Benar"
Sahutnya sambil tertawa.
"Untuk pertama kalinya dia pukul aku bahkan memukul dengan keras sekali membuat aku hampir-hampir setengah mati"
"Itulah sangat aneh sekali, bagaimana ayahmu bisa pandang harta kekayaan itu jauh lebih tinggi daripada dirimu?"
Dengan sedihnya Wi Lian In menghela napas panjang.
"Aku pikir di dalam sana tentunya tidak disimpan barang-barang berharga saja"
Serunya dengan sedih.
"Di sana tentu disimpan suatu rahasia yang punya hubungan sangat erat dengan Tia"
"Apa bisa suatu barang pusaka yang amat berharga?"
"Seharusnya bukan"
Sahut Wi Lian In sambil gelengkan kepalanya, Tia tidak begitu gemar menyimpan harta, jika memiliki suatu pusaka yang amat berharga dia tentu akan beritahukan kepadaku"
Dia berhenti sejenak, kemudian sambungnya lagi.
"Waktu itu sesudah memukul aku dengan amat keras agaknya dia merasa sangat menyesal, dia lari kekamarku untuk menghibur diriku bahkan dengan melelhkan air mata minta aku jangan sampai memasuki loteng penyimpan kitab itu lagi, waktu itu aku secara tiba-tiba merasa Tia begitu kasihan lalu menyanggupinya, bahkan sudah angkat sumpah untuk selamanya tidak memasuki loteng penyimpan kitab itu lagi, demikianlah sejak hari itu aku tidak berani mendekati sana lagi"
"Bagaimana dengan Hu pocu?"
Tanya Ti Then kemudian.
"Selamanya dia pun tidak pernah menanyakan loteng penyimpan kitab itu, terhadap hal itu agaknya dia tidak mau ambil perduli"
"Para pendekar pedang di dalam Benteng juga tidak ada seorang pun yang berani untuk menyelidiki?"
"Dulu memang pernah ada seorang pendekar pedang merah secara diam-diam sudah menyelundup masuk ke dalam loteng, tapi baru saja satu langkah memasuki pintu segera terjirat mati oleh alat-alat rahasiai yang dipasang di sana"
"Benar"
Jawab Ti Then dengan bergidik.
"Aku dengar si Lo-cia juga pernah berkata kalau di dalam loteng penyimpan kitab itu memang dipasang alat-alat rahasia yang teramat lihay"
Dengan perlahan Wi Lian In mengulurkan tangannya yang putih mulus untuk mencekal pergelangan tangannya.
Dengan mesrahnya Wi Lian In menyandarkan badannya ke atas dada Ti Then, dengan suara yang penuh perasaan cinta ujarnya.
"Aku tahu kau sangat baik sekali.."
"Tidak!"
Teriak Ti Then dengan perasaan menyesal.
"Aku tidak baik, mungkin pada suatu hari kau bisa merasa aku jauh lebih jahat dari Hong Mong Ling"
"Aku tidak percaya"
Sahut Wi Lian In sembari tertawa.
"Lebih baik kau jangan terlalu percaya kepada diriku"
Pada wajah Wi Lian In terlintaslah suatu sinar kebahagiaan, ujarnya dengan perlahan.
"Jika kau bukan seorang yang patut dipercayai, maka di dalam dunia ini tidak aka nada orang yang bisa dipercayai lagi"
"Bukankah dahulu kau sangat percaya terhadap Hong Mong Ling?"
Ujarnya sambil tertawa pahit. Wi Lian In mengerutkan keningnya rapat-rapat ketika mendengar perkataan itu.
"Itulah karena aku sudah dibuat buta, tapi aku hanya bisa buta untuk satu kali saja"
Ujarnya. Ti Then tersenyum kembali.
"Mungkin aku masuk ke dalam Benteng Pek Kiam Po memang mem punyai suatu rencana tertentu seperti yang dikatakan oleh Hong Mong Ling dahulu"
"Jangan sebut dia lagi!"
Teriak Wi Lian In dengan gemas.
"Aku tidak mau dengar namanya lagi"
Dengan perlahan Ti Then hanya bisa menghela napas panjang saja, kemudian bungkam di dalam seribu bahasa.
"Kenapa kau menghela napas panjang?"
Tanya Wi Lian In dengan heran ketika mendengar Ti Then menghela napas.
"Tidak mengapa"
Sahutnya sembari gelengkan kepala. Dengan pandangan yang tajam Wi Lian In memandang wajahnya tanpa berkedip.
"Apakah kau menganggap karena aku punya ikatan jodoh dengan dia lalu aku adalah.."
"Bukan..bukan.."
Bantah Ti Then dengan amat gugup.
"Aku tidak punya pikiran begini, aku tahu kau masih suci bersih"
"Semua orang menganggap jika seorang nona sudah dijodohkan dengan orang lain maka mati hidupnya termasuk orang keluarga itu, apa kau punya pandangan begini?"
"Tidak"
"Kalau begitu..."
Tetapi ketika dilihatnya wajah Ti Then amat murung maka tanyanya dengan cepat.
"Lalu kenapa kau tidak genmbira?"
"Siapa bilang aku tidak gembira?"
Tanya Ti Then sembari tertawa paksa.
"Kau jangan menipu aku, aku bisa melihatnya kalau di dalam hatimu ada urusan"
"Aku sedang berpikir, loteng penyimpan kitab ayahmu bisa mendatangkan banyak bencana bagi dirinya"
"Kau boleh legakan hati"
Ujar Wi Lian In tersenyum.
"Sejak adanya Benteng Pek Kiam Po Loteng penyimpan kitab itu sudah ada, tapi selama puluhan tahun ini belum pernah terjadi orang luar ada yang datang menyelidiki tempat itu"
"Musuh luar bisa dicegat tapi musuh dalam selimut sukar ditahan"
"Tidak ada musuh dalam selimut"
Seru Wi Lian In dengan keras.
"Semoga saja begitu."
Dengan pandangan yang tajam Wi Lian In mengawasi wajahnya kembali.
"Kau kira ada tidak?"
Tanyanya.
"Jika aku sudah mengemukakan dugaanku, harap kau jangan marah dan jangan ada orang ketiga yang mendengar."
Ujar Ti Then dengan serius.
"Baiklah."
Sahutnya sambil mengangguk.
"Mau bicara..bicaralah"
"Kemarin sewaktu aku berbaring di atas pembaringan sudah berpikir sangat lama sekali, aku merasa Hu Pocu memang patut kita curigai."
Wi Lian In menjadi terkejut bercampur heran.
"Bukankah sewaktu makan malam kemarin dia sudah buka kain pengikat kepala untuk kita lihat?"
Ujarnya "Tidak salah, tapi hanya sepintas lalu saja tidak bisa dilihat lebih jelas."
"Tapi aku bisa melihatnya teramat jelas"
Jawab Wi Lian In dengan pasti.
"Di atas kepalanya memang tidak terlihat sedikit bekas lukamu."
Ti Then tersenyum tawar.
"Dia bisa memotong kulit kepala orang lain sesudah kering kemudian ditempelkan pada bekas lukanya sendiri, hal itu hanya bisa dilihat dengan jelas jika kita memeriksa dengan lebih teliti."
Ujarnya. -ooo0dw0ooo-
Jilid 13.1. Ku Ie dan Liuw Su Cen berkunjung Wi Lian In merasa terkejut bercamput heran, dengan mementangkan mata lebar-lebar tanyanya.
"Kau kira dia bisa berbuat begitu?"
"Ehmm, hanya itu dugaanku saja, benar atau tidak harus kita buktikan sendiri"
Dengan mengerutkan alisnya rapat-rapat lama sekali Wi Lian In termenung untuk berpikir keras, kemudian barulah dia mengangguk.
"Tidak salah"
Sahutnya dengan nada serius "Jika bilang dia bukanlah si setan pengecut itu, secara tiba-tiba dia bisa memakai kain pengikat kepala pada waktu yang bersamaan, hal ini memang sedikit mencurigakan, tapi kita hendak menggunakan siasat apa pergi memeriksa keadaan kepalanya itu"
"Kita harus melaksanakan tugas ini dengan pinyam kesempatan sewaktu dia tidak merasa."
"Jadi maksudmu menanti dia tertidur dengan amat nyenyak?"
Tanya Wi Lian In.
"Tidak bisa, tidak bisa"
Seru Ti Then dengan cepat sembari gelengkan kepalanya.
"Dia merupakan manusia macam apa? Asal satu langkah kau memasuki kamarnya dia pasti akan segera terbangun."
"Kalau tidak begitu"
Seru Wi Lian in dengan cemberut.
"Kita mau gunakan cara apa lagi?"
Melihat sikapnya yang cemberut itu Ti Then tersenyum.
"satu-satunya cara kita harus gunakan obat pemabok"
Sahutnya "Sebelum dia masuk kamar untuk tidur secara diam-diam kita harus masukkan obat pemabok itu ke dalam teko air tehnya"
"Caramu itu walau pun bagus, tapi sewaktu dia sadar kembali, segera akan diketahui olehnya kalau dia sudah mendapat bokongan pihak musuh."
Ti Then tersenyum lagi "Asalkan sesudah minum teh lalu dia naik ke atas pembaringan untuk istirahat maka hal itu tidak akan dirasakan olehnya"
Dia berhenti sebentar untuk berganti napas, lalu sambungnya lagi.
"Sekali pun omong kosong kita bilang dia merasa kalau dirinya sudah dibokong orang lain, hal itu tidaklah penting jika terbukti pada kepalanya tidak terdapat bekas luka, cukup asaikan dia tidak tahu kalau orang yang memberi obat pemabok itu adalah kita berdua hal ini tidaklah mengapa"
Wi Lian in berdiam diri untuk berpikir beberapa waktu lamanya, kemudian barulah mengangguk sambil sahutnya.
"Baiklah, kalau begitu kita putuskan pakai obat pemabok saja. Biarlah aku yang secara diam-diam memasukkan benda tersebut ke dalam teko air tehnya, tapi ... kau punya obat pemabok itu?"
"Tidak ada"
"Di dalam benteng kita juga tidak terdapat benda semacam itu, lalu bagaimana sekarang baiknya?"
Tanya Wi Lian in sedikit cemas.
"Kita bisa pergi ke dalam kota untuk membelinya di warung obat, asal kita mau kasih uang lebih banyak sudah tentu mereka pasti juga menjualnya kepada kita."
"Ehm ..."
Sahutnya Wi Lian in kemudian sembari mengangguk.
"Tetapi siapa yang pergi beli"
"Sebaiknya kau saja yang pergi lebih baik aku jangan tinggalkan tempat ini"
"Baiklah, sekarang berangkat saja bagaimana?"
Ti Then termenung berpikir sebentar, kemudian barulah kasih jawaban-"Bila sebelum hari gelap kau bisa barangkat kembali ke sini, sekarang pergi pun tidak ada halangannya, kalau tidak berangkat besok pun belum terlambat."
"Kalau begitu aku berangkat sekarang saja"
Seru Wi Lian in dengan cepatnya "Tunggu saja setelah aku berhasil beli barang itu barulah kita pulang ke Benteng bersama-sama, setelah itu malam ini kau harus tantang Tia adu main catur, dengan begitu pasti dia akan menonton di samping.
saat itulah aku mau gunakan kesempatan tersebut memasuki kamarnya"
Selesai berkata dia segera bangkit berdiri. Ti Then pun segera ikut bangkit.
"Lebih baik aku ikut kau saja"
Ujarnya. Wi Lian in menjadi tertegun.
"Bukankah tadi kau bilang tidak leluasa untuk tinggalkan tempat ini"
Tanyanya dengan penuh keheranan.
"Tadi aku bilang jika kita berangkat besok pagi, sekarang kita semua sudah berada diluar benteng, kita boleh berangkat ke dalam kota secara diam-diam, tentunya gerak gerik kita ini tak akan diketahui oleh orang lain."
Wi Lian In yang mendapat kawan berjalan seorang seperti Ti Then ini sudah tentu dalam hati merasa sangat girang sekali.
"Betul"
Serunya dengan penuh kegirangan "Mari kita berangkat bersama-sama."
Demikianlah mereka berdua itu dengan mengikuti jalan semula menuruni tebing tersebut, sesudah mengitari bawah gunung dengan cepat mereka berdua berangkat menuju kekota keresidenan Go bi.
Jarak antara benteng pedang menuju ke kota Go bi kurang lebih ada empat puluh li jauhnya, sepanjang jalan antara kedua tempat itu jarang terdapat dusun yang di tinggali orang karena itu orang-orang yang melakukan perjalanan pun tidaklah begitu banyak.
Mereka berdua dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh masing-masing dengan cepat melakukan perjalanannya, tak sampai satu jam kemudian mereka berdua sudah tiba di dalam kota kerisidenan Go bi tersebut.
Kali ini merupakan pertama kali Ti Then memasuki kota kembali sesudah terjadinya peristiwa di dalam sarang pelacur Touw Hoa Yuan, karena takut sampai dikenali kembali orang-orang dari sarang pelacur Touw Hoa Yuan itu, karenanya begitu tiba di dalam kota dia berusaha keras untuk menghindari tempat sarang pelacur tersebut.
Sesudah berjalan belak belok dan melaluijalan-jalan kecil yang sepi tidak lama kemudian terlihatlah oleh mereka diseberang jalan terdapat sebuah kedai penjual obat.
Ujarnya kemudian kepada Wi Lian in dengan suara yang amat rendah.
"Kau tunggulah sebentar di sini, biar aku yang pergi beli."
Selesai berkata dengan langkah lebar dia berjalan menuju ke dalam kedai penjual obat itu.
Begitu masuk ke dalam warung penjual obat tersebut segera terlihatlah seorang tua yang berdiri di balik lemari dengan sangat hormat sekali menggape ke arahnya.
"Silahkan duduk, silahkan duduk."
Ujarnya sembari tersenyum.
"Kongcu..kau mau cari apa?"
Dengan cepat Ti Then berjalan mendekati sisi tubuh kakek tua itu, kemudian barulah ujarnya dengan suara rendah.
"Cayhe mau cari sedikit obat pemabok."
"Mao beli apa?"
Tanya kakek tua itu dengan air muka tertegun.
"Obat pemabok."
"Maaf ... maaf."
Seru kakek tua itu sambil gelengkan kepalanya.
"Di dalam warung kami tidak dijual obat semacam itu"
Dari dalam sakunya Ti then mengambil keluar dua tahil perak yang kemudian diletakkan di atas meja.
"Cayhe hanya mencari satu bungkusan kecil saja."
Desaknya dengan nada serius.
"Tidak ada..tidak ada"
Dari dari dalam sakunya Ti Then mengeluarkan satu tahil perak kembali dan diletakkan di samping dua tahil perak semula, sambil tersenyum tanyanya.
"Kalian sungguh-sungguh tidak menjual barang tersebut"
Sinar mata kakek tua itu dengan tajamnya memperhatikan uang yang terletak di atas meja itu, napasnya menjadi memburu, kemudian berubah menjadi ngos-ngosan sedikit gugup.
"Benar .... benar dulu memang masih ada sedikit, kemudian .... kemudian ..sudah terjual habis."
Dari dalam sakunya sekali lagi Ti Then mengambil keluar satu tahil perak. kemudian ujarnya sembari tersenyum.
"Mungkin masih ada sisa sedikit, tolong kau carikan sedikit buat aku ..."
Air muka kakek tua itu ma kin lama berubah menjadi memutih, kemudian sahutnya lagi dengan gugup.
"Baik ... baik ..baik ... biar lohan pergi cari-cari"
Selesai berkata dengan tergesa-gesa dia berlari masuk ke dalam bilik kamarnya. Beberapa saat kemudian terlihatlah dengan wajah penuh kegirangan dia berjalan keluar.
"Kongcu"
Serunya sembari tertawa.
"Keuntunganmu sungguh bagus sekali, ternyata memang tersisa sedikit"
Sambil berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah bungkusan kecil yang sangat tipis yang kemudian diangsurkan ke arah Ti Then, sedang tangannya yang sebelah sudah mulai mencomot uang perak yang terletak di atas meja.
Ti Then sesudah bungkusan yang berisikan obat pemabok itu mendadak dia ulur tangannya menekan tangan kakek tua itu yang sedang mengambil uang di atas meja tersebut.
"Tunggu dulu"
Serunya sembari tertawa. Air muka kakek tua itu seketika itu juga berubah sangat hebat, dengan ketakutan, tanyanya.
"Ada urusan apa?"
Ti Then tersenyum.
"Jual belikan obat pemabok merupakan suatu pelanggaran undang-undang negara, mungkin tentang hal ini kau pun tahu bukan"
Ujarnya dengan nada menggertak. Saking terkejutnya seluruh tubuh kakek tua itu sudah mulai gemetar, ujarnya dengan Suara yang tersedu-sedu.
"Kau ... kau petugas dari pengadilan ??"
"Ha ha ha ... bukan..bukan."Jawab Ti Then dengan tertawa tak henti-hentinya.
"Tapi aku bisa membawa bungkusan obat pemabok ini sebagai bukti untuk dilaporkan pada pengadilan, waktu itu...."
Kakek tua itu menjadi sangat terperanyat.
"Kongcu bagaima kau bisa mencelakai orang seperti begitu?"
Ujarnya dengan perasaan tidak puas? "Tadi Lohan sudah bilang kalau tidak ada, adalah kongcu sendiri yang terus memohon ..."
"Kamu orang tidak perlu begitu tegang"
Potong Ti Then sembari tersenyum "Aku tidak akan melaporkan urusan ini kepada pengadilan"
Saat ini kakek tua itu baru bisa menghembuskan napas lega sambil menyeka keringat yang mengucur keluar ujarnya.
"Kongcu kau betul-betul pandai menggoda..."
"Ehmmm ... .aku merasa obat ini sedikit kemahalan, hanya satu bungkus begini sudah minta empat tahil perak..sungguh mahal sekali"
"Omongan apa itu ???"
Teriak kakek tua itu sedikir gusar.
"Lohan selama ini belum pernah membicarakan soal harga, bukankah kongcu sendiri yang rela memberi uang sebegitu banyak"
"Oh begitu? Kalau begitu cayhe mohon diri dulu."
Ujar Ti Then dengan serius.
Sesudah memasukkan bungkusan obat itu ke dalam sakunya dengan cepat dia putar tubuhnya berjalan pergi.
Agaknya kakek tua itu merasa urusan tak beres, dengan cemas teriaknya.
"Tunggu sebentar."
"Ada petunjuk apa lagi?"
Tanya Ti Then sembari menoleh ke belakang sedang di dalam hati dia merasa sangat geli sekali.
Dari dalam sakunya kakek tua itu mengeluarkan dua tahil perak kemudian disusulkan ketangan Ti Then, ujarnya sambil menghela napas panjang.
"Begitu sudahlah, heei...."
Tanpa sungkan-sungkan Ti Then menerima kembali uang perak itu dan dimasukkan ke dalam sakunya, sambil tersenyum dia berjalan meninggalkan warung itu untuk kembali kesisi Wi Lian In.
"Ayoh jalan"
Ujarnya tersenyum.
"Sudah dapatkan barang itu??"
Tanya Wi Lian In ditengah jalan, agaknya dia merasa tak tenang.
"Sudah"
"Apa dia juga menanyakan digunakan buat apa barang itu?"
Tanya Wi Lian In lagi.
"Tidak"
Sahutnya sambil gelengkan kepalanya.
"Hanya aku sudah berbuat guyon dengannya, urusan selanjutnya biarlah sesudah meninggalkan kota kita bicarakan lagi."
Mereka berdua tidak berani berhenti terlalu lama di dalam kota, karenanya dengan cepat kedua orang itu bergerak keluar kota.
Sesampainya di pinggiran kota barulah Ti Then mulai menceritakan kisahnya mempermainkan si kakek tua penjual obat itu membuat Wit Lian in tertawa terpingkal-pingkal saking gelinya.
"Kau jadi orang sungguh curang"
Ujarnya sembari tertawa.
"Sudah memperoleh barangnya orang lain merasa sayang untuk keluar uang buat membayar"
Bukannya aku merasa sayang"
Bantah Ti Then sambil tertawa juga.
"Kebanyakan orang-orang yang memperjual belikan obat-obatan semacam itu bukanlah manusia baik-baik, biarlah kali ini mereka sedikit merasakan kelihayanku"
Sambil berkata dia mengambil keluar bungkusen kecil yang berisikan obat pemabok itu lalu dibukanya untuk Wi Lian in lihat.
"Nah kau terimalah barang ini"
Ujarna kemudian. Wi Lian in menyambut bungkusan kecil berisikan obat pemabok tersebut.
"Aku harus masukkan seberapa banyak obat ini ke dalam teko air tehnya?"
Tanyanya kemudian.
"Aku kira separuh sudah cukup"
"Baiklah"
Seru Wi Lian in kemudian sambil anggukkan kepala.
"Baiknya kita kerjakan malam ini juga."
"Jikalau kita berhasii mengetahui dia adalah si Setan pengecut itu, kau pikir baiknya bertindak bagaimana?"
"Akan kuberitahukan kepada Tia, biarlah Tia yang mengambil tindakkan selanjutnya"
Jawab Wi Lian in-Ti Then menganggukkan kepalanya menyetujui, kemudian sambil menghela napas panjang, ujarnya lagi.
"Aku sangat mengharapkan dia bukanlah si Setan pengecut itu."
Mereka berdua sembari melanjutkan perjalanan sembari bercakap-cakap.
sesampainya di depan benteng Pek Kiam Po, cuaca sudah menunjukkan hampir malam.
Baru saja mereka menginyakkan kakinya ke dalam Benteng, segera terlihattah seorang pendekar pedang putih sudah menyambut kedatangan mereka, ujarnya sambil bungkukkan badannya memberi hormat.
"Ti Kiauw tauw kau sudah kembali"
"Ehmm ..."
Sahut Ti Then sernbari anggukkan kepalanya.
"Ada urusan apa?"
"Tadi Pocu sudah beri pesan, katanya jika Ti Kiauw tauw serta nona sudah balik ke dalam benteng dipersilahkan segera menuju keruangan tamu"
Ujar pendekar pedang putih itu dengan amat sopan. Dalam hati Ti Then hanya merasakan jantungnya berdebar-debar amat keras, tanyanya dengan amat cemas.
"Sudah terjadi peristiwa apa?"
"Ada orang yang datang menyambang diri Ti Kiauw tauw."
"Apakah mereka adalah Anying langit Rase bumi atau mungkin hwesio-hwesio dari Siauw Limpay?"
Tanya Ti Then lagi dengan perasaan lebih cemas.
"Semua bukan ..."jawab pendekar pedang putih itu sambil gelengkan kepalanya.
"Kalau begitu siapa mereka Cayhe tidak kenal."
Dalam hati diam-diam Ti Then merasa sangat heran, tidak mungkin ada temannya yang datang menyambangi dia, karena itu pikirannya menjadi kacau, sambil memandang sekejap kearah Wi Lian in, ujarnya kemudian-"Cepat kita pergi melihat."
Selesai berkata dengan langkah tergesa-gesa dia berjalan menuju keruang tamu.
Mereka berdua dengan tergesa-gesa menuju ke dalam ruang tamu, begitu masuk ke dalam ruangan segera terlihatlah di dalam ruangan sudah hadir dua orang lelaki dan dua orang wanita, yang lelaki adalah Wi Ci To serta Huang puh Kian Pek.
yang wanita adalah germo dari Sarang pelacur Touw Hua Yuan, Ku Ie serta pelacur terkenal Liuw Su Cen.
Begitu Ti Then tampak Ku Ie serta Liuw Su Cen, secara tiba tiba di dalam Benteng Pek Kiam Po ini membuat hatinya seketika itu juga terasa tergetar dibuatnya, dengan cepat dia menahan langkah selanjutnya untuk beberapa saat lamanya tidak sanggup mengucapkan Sepatah kata pun-Munculnya Ku Ie serta Liauw su Cen secara tiba-tiba di dalam Benteng Pek Kiam Po ini jika dibicarakan terhadap dirinya boleh dikata merupakan suatu pukulan yang fatal.
Bagaimana mereka bisa sampai di sini?
Hmmm, Tentu hasil permainan dari Hong Mong Ling, sesudah berdiri tertegun beberapa waktu lamanya, segera dia melanjutkan perjalanannya menuju ke depan, kepada Wi Ci To sembari memberi hormat ujarnya.
"Pocu, tadi boanpwe dengar dari seorang pendekar pedang putih katanya ada tamu yang datang mencari boanpwe?"
"Benar"
Sahut Wi Ci To dengan wajah amat serius, sambil menuding kearah Ku Ie serta Liauw Su Cen sambungnya.
"Kedua orang perempuan inilah yang sedang mencari kau"
Waktu itu Ku Ie serta Liauw Su Cen sudah berdiri dari tempat duduknya, terlihatlah Ku Ie dengan wajah penuh senyuman ramah sudah membuka mulutnya dan berkata.
"Lu Toakongcu, tentu kau sudah lupa pada kami ibu beranak bukan?"
Liauw su Cen dengan cepat bungkukkan badannya memberi hormat, sambungnya dengan suara yang merdu genit.
"Kami datarg menyambangi secara tiba-tiba, harap Lu kongcu jangan marah"
Mendengar omongan mereka berdua yang tidak karuan itu tanpa terasa Ti Then sudah kerutkan alisnya rapat-rapat, dengan tertegun lama sekali dia pandang mereka berdua, kemudian barulah dia balikkan badannya bertanya kepada Wi Ci To.
"Kedua orang perempuan ini apakah Ku Ie serta Liuw Su Cen dari sarang pelacur Touw Hoa Yuan?"
Wi Ci To hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ti Then tertawa dingin, kepada Ku Ie yang berdiri di sampingnya dia berkata.
"Toa nio ini mungkin sudah salah menangkap orang, cayhe bukanlah Lu kongcu yang kalian maksudkan"
"Benar"
Jawab Ku Ie itu.
"Baru saja aku baru tahu kalau nama kongcu yang sebetulnya adalah Ti Then"
Sembari menghela napas panjang sambungnya lagi.
"Sebetulnya kami ibu beranak tidak berani datang mengganggu Ti kongcu, tapi Su Cen budak ini sudah betul-betul mencintai diri kongcu, sejak waktu itu dia bisa berkenalan dengan diri kongcu, selama ini makan tidak enak tidur pun tidak enak. setiap hari hanya pikirkan kongcu seorang kapan bisa datang mengunjungi dia kembali"
Pikiran Ti Then menjadi semakin ruwet dan kacau.
"Kalian sudah salah anggap"
Potongnya dengan keras "Cayhe memangnya bernama Ti Then, tapi bukanlah Lu kongcu yang pada waktu itu pernah mengunjungi sarang pelacur Touw Hoa Yuan kalian-"
"Bagaimana bisa bukan"
Bantah Ku Ie lagi sambil tertawa serak.
"Dengan jelas kau adalah Lu kongcu yang waktu itu turun tangan melukai diri Hong kongcu, sesudah aku tahu nama yang sebetulnya dari kongcu dan tahu pula kalau kongcu sudah menyabat sebagai Kiauw tauw dari benteng Pek Kiam po ini, saat ini biar aku menceritakan urusan ini kepada Su Cen budak ini, sejak waktu itu Su Cen budak ini setiap hari sudah ribut ribut mau datang ke sini untuk kongcu, aku sudah bilang sama dia kini kongcu sudah menyabat sebagai Kiauw tauw dari Benteng Pek Kiam po, jika kita datang ke sana mungkin kongcu akan kehilangan muka, tapi Su Cen budak ini tetap ngotot saja, dia bilang kongcu dengan senang hati mau menerima kedatangan kita ibu beranak sedang aku pun mem punyai pikiran Ti kongcu tentunya jadi orang berperasaan halus, tidak mungkin bisa melupakan kekasihnya yang terdahulu maka dari itu..."
"Sudah cukup,"
Potong Ti Then dengan keren, sedang wajahnya berubah membesi.
"Siapa yang perintahkan kalian kemari?"
Ku Ie berdiam diri beb erapa saat, kemudian sembari tertawa sambungnya lagi.
"Ti kongcu, kau sunguh pandai berguyon, kami ibu beranak dengan bersungguh hati datang menyambang dirimu, bagaimana kau bisa memfitnah kami mengatakan kami datang atas perintah orang lain?"
"Cayhe hari ini belum pernah pergi ke sarang pelacur Tuw Hoa Yuan kalian, kini kau terus menerus mengatakan aku Lu kongcu itu, terang-terangan kalian sudah perintah orang lain untuk mencelakai diriku"
Teriak Ti Then dengan keras. Mendengar omongan ini Ku Ie hanya tertawa pahit saja, kepada Liuw Su Cen yang berada di sampingnya ujarnya dengan sedih.
"Hei budak, aku bilang bagaimana? Kini orang lain sudah menyabat sebagai Kiauw tauw dari Benteng Pek Kiam Po, dia tidak mungkin akan mau berkawan dengan kau sebagai seorang pelacur murahan yang rendah derajatnya."
Dengan rasa sedih Liuw Su Cen angkat kepalanya melirik sekejap kearah Ti Then kemudian tundukan kepalanya kembali rendah-rendah, sesudah menghela napas panjang barulah sahutnya lirih.
"Ku Ie mari kita pulang saja."
"lbumu paling takut kalau kau tidak puas"
Ujar Ku Ie kemudian sembari menghela napas panjang.
"Kini malah menjadi lebih baik, sejak kini kau boleh menerima tamu kembali menurut perintah ku"
Berbicara sampai di sini kepada Wi Ci To serta Huang puh Kian pek dia sedikit bungkukkan dirinya memberi hormat.
"Kami sudah mengganggu Pocu berdua, dalam hati sungguh merasa tidak tenang"
Ujarnya dengan perlahan-"Lain kali jika Pocu berdua datang kekota harap mau duduk sebentar di dalam sarang pelacur Touw Hoa Yuan kami"
"Pergi..Pergilah."
Seru Wi Ci To dengan kasar sedang tangannya diulapkan berulang kali.
Demikianlah dengan berjalan berlenggak lenggok Ku Ie serta Liuw Su Cen berjalan meninggalkan ruangan itu.
Tiba-tiba Ti Then maju satu langkah menghalangi perjalanan mereka.
"Jangan pergi"
Bentaknya dengan kasar.
"Ada apa?"
Tanya Ku Te sembari tertawa melengking sehingga serasa menusuk kuping.
"Katakan siapa yang sudah perintah kalian kemari"
Bentaknya dengan dingin. Alis Ku Ie segera dikerutkan rapat-rapat sambil tertawa terkekeh-kekeh serunya.
"Aduh Ti Kongcu kau sungguh pandai main sandiwara, kau sudah punya kekasih yang baru kini tidak mau mengingat kembali kekasih yang lama, tentang hal ini tidak mengapa, bagaimana?? kamu tidak mengijinkan kami ibu beranak pergi dari sini?"
Ti Then tidak mau ambil perduli padanya dengan wajah yang amat keren tetap bentaknya.
"Siapa yang perintah kalian kemari? sudah beri uang berapa??"
"Hmm. ."
Dengus Ku Ie dengan amat dingin "Walau pun Su Cen kami hanya seorang pelacur tapi tidak seperti kau Ti Kongcu yang sudah lupa keadaan sendiri, kau jangan salah memandang."
"Aku bisa kasih uang yang lebih banyak lagi kepada kalian asalkan kalian mau beri tahu dengan sejujurnya siapa yang sudah perintah kalian kemari"
Ujar Ti Then coba membujuk mereka berdua. Ku Ie tidak mau gubris dirinya lagi, kepada Wi ci To sembari tertawa dingin ujarnya.
"Wi Pocu, tolong tanya kami apa sudah boleh pergi? "
"Ti Kiauw tiauw"
Seru Wi Ci To dengan nada kurang senang.
"Biarkan mereka pergi"
Mendengar omongan ini seketika itu juga Ti Then sudah tahu kalau dia telah percaya akan omongan Ku Ie ini, sedang dalam hati dia pun tahu perintah dari majikan patung emas yang diserahkan kepadanya juga boleh dikata hanya sampai di sini saja, karena itu segera dia menyingkir ke samping membiarkan Ku Ie serta Liauw su Cen berlalu dari dalam ruangan.
Sesudah melihat bayangan mereka berdua lenyap dari pandangan barulah dia merangkap tangannya memberi hormat kepada Wi Ci To.
"Pocu"
Ujarnya perlahan-.
"Boanpwe ada satu urusan yang hendak dititipkan kepada Pocu."
"Urusan apa?"
Tanya Wi Ci To sembari menghela napas panjang.
"Hwesio-hwesio dari partai Siauw lim serta Anying langit Rase bumi mungkin di dalam beberapa hari ini bisa muncul di sini, jika mereka sudah tiba tolong katakan kepada mereka boanpwe akan menanti kedatangan mereka dipenginapan Hokan di dalam kota. Selesai berkata dia beri hormat juga kepada Huang puh Kian Pek. setelah itu dengan langkah lebar dia berjalan meninggalkan ruangan tamu tersebut. Wi Ci To, Huang puh Kian Pek mau pun Wi Lian In tidak ada yang buka mulut memanggil dia kembali. Sekembalinya ke dalam kamarnya dengan tergesa-gesa dia membereskan barang-barangnya dan dipanggulnya ke atas pundaknya, pedang panjang hadiah dari Wi Ci To diletakkannya ke atas pembaringan lalu dia berjalan keluar dari kamar. Melihat sikapnya yang sangat aneh itu si Lo-cia itu pelayan tua segera menyambut kedatangannya .
"Ti Kian-Kauw tauw, kau mau kemana ?"
Tanyanya penuh keheranan-"Lo-cia"
Jawab Ti Then sambil tertawa pahit "Sejak ini hari kau tidak perlu melayani aku lagi".
"Sudah terjadi urusan apa?"
Tanya Lo-cia dengan perasaan terperanyat sesudah mendengar perkataan dari Ti Then itu.
"Aku mau pergi."
"Kemana??"
Tanya si Lo-cia lagi dengan cemas.
"Heei... belum kutentukan-.."
Setelah itu dengan langkah tergesa-gesa dia meninggalkan kamar tersebut.
"Sebetulnya sudah terjadi urusan apa?"
Tanyanya si Lo-cia sembari mengejar hingga samping tubuhnya.
"Aku sudah bukan Kiauw tauw dari benteng"
Si Lo-cia menjadi melengak.
"Kau sudah ribut dengan nona kami?"
Tanyanya.
"Bukan-. jika kau mau tahu jelas persoalannya, kau boleh tanya langsung kepada Pocu"
Dia tidak pergi pamit dengan Wi Ci To serta Wi Lian In lagi, sesudah keluar dari pintu benteng segera menuju kelapangan latihan silat.
Di sana sudah terlihatlah pendekar pedang putih yang ditemuinya tadi sedang menuntun kuda Ang san Khek yang dihadiahkan Wi Lian In kepadanya itu.
Melihat Ti Then berjalan ke sana pendekar pedang putih itu segera menuntun kuda tersebut ke hadapannya.
"Ti Kiauw tauw"
Ujarnya.
"Ini adalah tungganganmu"
"Tidak."Jawab Ti Then cepat sembari menggelengkan kepalanya "Kuda ini miliknya nona Wi."
"Nona Wi tadi sudah bilang, kuda ini adalah milik Ti Kiauw tauw, jika Ti Kiauw tauw tidak mau dia bilang terpaksa kuda ini harus dijagal saja."
Ti Then menjadi ragu-ragu sebentar, akhirnya sahutnya sembari anggukkan kepalanya.
"Baiklah, kau tolong sampaikan dia ucapan terima kasihku."
Sesudah menerima tali les kuda tersebut dari tangan perdekar pedang putih itu dengan cepat tubuhnya melayang ke atas kuda itu kemudian melarikan tunggangannya dengan cepat menuju keluar Benteng.
Di dalam sekejap mata Benteng Pek Kiam Po sudah ditinggal sangat jauh sekali.
Dengan berdiam diri dia terus melarikan kudanya turun gunung, di dalam hatinya waktu itu entah harus dibilang girang atau sedih, dia merasakan hatinya kosong melompong, dalam hati dia tahu Wi Lian In adalah seorang nona yang patut dicintai oleh setiap lelaki, tapi bisa meninggalkan dirinya di dalam keadaan seperti ini juga mungkin merupakan suatu urusan yang sangat bagus.
Dia sadar urusan ini terjadi bukanlah karena kesengajaan dari dia sendiri, sehingga dia mem punyai alasan untuk mempertanggung jawabkan urusan itu di hadapan majikan patung emas tersebut.
Tidak salah, majikan patung emas pasti sudah tahu urusan yang terjadi baru saja ini, dia pasti tidak akan menyalahkan persoalan ini kepada dirinya.
Haa..ha..ha..orang yang sudah menyuap Ku Ie serta Liaw Su Cen untuk membongkar kedokku itu tentu bermaksud hendak merusak hubunganku dengan Wi Lian In-tapi pastilah dia tidak akan menduga kalau dengan tindakannya ini justru sudah membantu aku meloloskan diri dari kurungan serta perintah majikan patung emas yang tidak tahu diri itu.
Hal inilah yang sudah membuat dia merasa sangat girang, tapi di samping itu dia pun merasa sedikit kecewa.
Hanya karena sedikit urusan yang tidak berarti ini dia harus putus hubungan lama sekali dengan Wi Lian In, Seorang nona yang memiliki wajah yang amat cantik apalagi bentuk tubuhnya yang begitu menggiurkan, Sungguh merupakan Suatu urusan yang patut disesalkan-Sampai waktu inilah dia baru merasa kalau perjuangan dirinya beberapa waktu ini tidaklah sia-sia belaka, secara diam-diam dirinya sudah betul-betul jatuh cinta terhadap Wi Lian In.
Ditengah jalanan gunung yang amat sunyi itu dia berhasil melewati kereta kuda yang ditunggangi oleh Ku Ie serta Liuw Su Cen, dengan mempercepat larinya kuda dia melanjutkan perjalanannya menuju ke kota Go bi.
Sebelum cuaca benar-benar gelap sekali lagi dia sudah tiba di dalam kota Go bi.
Sesampainya di depan penginapan Hokan dia minta satu kamar, selesai makan malam segera tutup pintu untuk beristirahat.
Dia tidak ingin menuju ke dalam sarang pelacur Touw Hua Yuan untuk memaki Ku Ie, karena dia tahu orang yang sudah perintah mereka berdua melakukan urusan ini tidak luput dari Hong Mong Ling serta si setan pengecut dua orang, apalagi untuk menanyai seorang pelacur sehingga tahu betul-betul siapa yang sudah perintah mereka melakukan hal itu tak terhindar harus buang uang banyak.
Sat ini dia hanya punya satu-satunya harapan, yaitu mengharapkan munculnya majikan patung emas pada malam ini kemudian membicarakan persoalan ini hingga jelas.
Malam .....
semakin lama semakin kelam.
Kurang lebih kentongan kedua malam itu, tiba-tiba ..dari dinding kamar sebelah secara mendadak muncul suatu suara ketukan yang amat aneh sekali.
Ada orang yang sedang mengetuk dinding tembok dari kamar sebelah.
Dengan cepat Ti Then meloncat bangun kemudian mengetuk juga tiga kali di atas dinding tersebut.
"Siapa ?"tanyanya dengan suara perlahan.
"Aku"
Ternyata majikan patung emas sudah munculkan dirinya. Ti Then segera tersenyum.
"Haa ha ha... kali ini kenapa tidak turun dari atas atap rumah??"
Ejeknya.
"Jangan banyak omong kosong."
Bentak majikan patung emas dengan amat gusar.
"Jangan marah dulu, peristiwa ini bukanlah aku yang cari-cari"
Dengan dinginnya majikan patung emas mendengus beberapa kali.
"Hmm, ya atau bukan aku bisa pergi selidiki sendiri"
Ujarnya dingin-"Haa?? apa arti dari perkataanmu ini ??"
Tanya Ti Then dengan penuh perasaan heran-"Aku merasa curiga orang yang mendalangi urusan ini adalah kau sendiri"
Teriak majikan patung emas dengan gusar.
"Karena kau ingin melarikan diri dari tugas untuk memperistri Wi Lian In maka kau perintah mereka berdua pergi ke Benteng Pek Kiam Po. ."
"Omong kosong."
Potong Ti Then tak kalah gusarnya "Kau pandang aku Ti Then seperti orang macam apa??
Tidak salah.
Aku tidak rela pergi memperistri diri Wi Lian In tapi aku sudah bicara sangat jelas sekali, aku sudah menyanggupi dirimu untuk menjadi patung emasmu selama satu tahun, saat itu aku tidak pernah merasa menyesal dan tidak akan mungkir melakukan rencana yang begitu memalukan ini"
Lama sekali majikan patung emas berdiri tiba-tiba ujarnya lagi.
"Kalau begitu aku mau tanya padamu lagi, siang tadi kau bersama-sama Wi Lian In semula bilang mau berpesiar ke atas Sian Ciang, akhirnya kau tidak pergi ke tebing Sian Ciang. Kalian sebetulnya sudah pergi kemana?"
"Beli obat"
"Obat apa?"
Desak majikan patung emas lagi "Obat pemabok"
"Ooh soal kemungkinan Huang puh Kiam Pek adalah penyamaran dari si setan pengecut itu kau sudah ceritakan kepada Wi Lian In?"
"Tidak salah"
Jawab Ti Then sembari mengangguk "Sebetulnya dia rencananya mau turun tangan malam ini juga untuk membuktikan apakah Huang puh Kiam Pek betul-betul si setan pengecut itu atau bukan, tapi sesudah mengalami perubahan seperti ini mungkin dia sudah hapuskan rencana semula"
"Kalau begitu"
Ujar majikan patung emas lagi sesudah termenung beberapa waktu lamanya.
"Kau pikir siapa yang sudah perintah Ku Ie serta Liauw Su Cen pergi kebenteng Pek kiam Po?"
"Hmm.... kalau bukan Hong Mong Ling siapa lagi?"
Majikan patung emas termenung sebentar untuk berpikir keras, lalu baru sahutnya.
"Ehmmm,jika saat ini diperintahkan oleh Hong Mong Ling maka si setan pengecut itu pun juga tahu."
"Sudah tentu."
Majikan patung emas melanjutkan lamunannya, kemudian tambahnya.
"Jika umpama Huang puh Kian Pek adalah si setan pengecut itu maka sesudah berhasil menangkap Huang puh Kian Pek tidaklah akan sukar untuk mengetahui tempat persembunyian Hong Mong Ling.."
"Tidak salah, tapi Wi Lian In pasti sudah tidak mau melaksanakan tugas seperti apa yang aku susun-"
"Kalau begitu biar aku saja yang pergi untuk mengurus"
"Ehmmmm, tentang ini bagusnya memang bagus."
Jawab Ti Then sembari tersenyum.
"Tapi Walaua pun Huang puh Kian Pek betul-betul adalah si setan pengecut itu, belum tentu Wi Ci To mau mengubah pandangannya terhadap diriku, karena dia sudah percaya bahwa akulah Lu Kongcu yang sudah cukul rubuh Hong Mong Ling sewaktu masih berada di dalam sarang pelacur Touw Hua Yuan"
Dia berhenti sebentar kemudian sambungnya lagi.
"Hong Mong Ling pergi main perempuan memang persoalan yang nyata, sedang aku punya maksud untuk merusak hubungan mereka juga merupakan soal yang nyata."
Sekali pun perkataan dari Ti Then ini masuk akal, tapi agaknya majikan patung emas mem punyai pandangan yang lain.
"Asalkan kita bisa buktikan Huang puh Kian Pek adalah si setan pengecut dan bisa menawan Hong Mong Ling kembali, maka persoalan segera akan berubah kembali,"
Ujarnya dengan tenang.
"Kau bisa tawan Hong Mong Ling dan di hadapan Wi Ci To kau bisa paksa dia untuk mengaku kalau Ku Ie sera Liuw Su Cen sudah disuap oleh dia untuk berbuat begitu, jika perlu kau boleh beli omongan dari Ku Ie serta Liauw Su Cen, dengan demikian pandangan Wi Ci To beserta putrinya akan berubah kembali"
"Terlalu repot..terlalu repot"
Seru Ti Then sambil menghela napas panjang.
"Apa selain aku harus kawin dengan Wi Lian In sudah tidak ada jalan lainnya"
Mendengar helaan napas dari Ti Then itu, agaknya majikan patung emas dibuat menjadi kurang senang, tidak henti-hentinya dia tertawa dingin-"Tidak ada"
Sahutnya singkat.
"Ada kalanya"
Geremeng Ti Then dengan perlahan.
"Aku benar-benar ingin sekali kau bisa bunuh aku sampai mati, aku merasa. ."
"Tidak usah banyak omong lagi"
Potong majikan patung emas dengan cepat ketika di dengarnya dia mulai melamun.
"Untuk sementara kau boleh tinggal dirumah penginapan ini saja, aku mau pulang ke Benteng untuk mulai bekerja, setelah aku buktikan kalau Huang Puh Kiam Pek betul-betul si setan pengecut dan bisa paksa dia mengakui tempat persembunyian dari Hong Mong Ling aku bisa ke sini beri kabar padamu, aku pergi dulu"
Keesokan harinya Ti Then sesudah bangun dari tidurnya segera buka pintu kamar memanggil seorang pelayan untuk membersihkan kamarnya, dengan pinyam kesempatan itu tanyanya.
"Hei pelayan, kamar sebelah ini kemarin ditinggali tamu dari mana?"
Agaknya pelayan itu dibuat melengak oleh pertanyaan ini.
"Kongcu"
Tanyanya dengan heran "Yang kongcu maksudkan kamar di sebelah kiri atau kamar di sebelah kanan?"
"Yang sebelah kiri ini"
Jawab Ti Then sembari menuding ke sebelah kiri.
"Kamar sebelah kiri ini sama sekali tidak dihuni oleh tamu dari mana pun."
Sahut pelayan itu tertawa.
"Kemarin malam juga tidak ditinggali orang lain?"
"Tidak. kamar sebelah kiri ini sudah kosong tiga empat hari lamanya."
"Ehmm..kiranya begitu. ."
Jawab Ti Then sembari mengangguk.
"Ada apanya yang tidak beres"
"Mungkin ada tikus yang lari-lari di dalam kamar sehingga mengeluarkan suara ribut-ribut, kemarin malam beberapa kali aku di bangunkan oleh suara ribut-ribut itu"
"Tikus memang binatang yang paling menjengkelkan, ada satu kali secara tiba-tiba seorang nona berteriak minta tolong dari dalam kamar, aku cepat-cepat lari masuk ke dalam kamar, Hu..Hu..kau tebak sudah terjadi apa? Kiranya seekor tikus sudah kecebur dalam tong berisikan kotoran, nona itu tanpa dilihat dulu sudah berjongkok, akhirnya ha ha ha. ."
Mendengar cerita yang begitu menarik tak terasa lagi Ti Then sudah ikut tertawa terbahak-bahak.
Siang harinya ketika Ti Then sedang makan siang di dalam kamar mendadak dari pintu kamarnya terdengar suara ketukan yang amat gencar sekali.
"Siapa??"
Tanya Ti Then dengan cepat sedang dalam hati diam-diam merasa sedikit terperanyat. Seorang yang masih muda segera memberikan jawabannya.
"Ti Kiauw tauw aku"
Segera Ti Then bisa mengenali kalau suara itu adalah suara berasal diri Ki Hong, pendekar pedang hitam dari benteng Pek Kiam Po, dengan cepat dia bangkit membuka pintu kamarnya, terlihatlah Khie Hong dengan air muka gugup sudah berdiri tegak di depan kamarnya, dalam hati segera dia tahu sudah terjadi suatu urusan karena itu dengan cemas tanyanya.
"Apakah Anying langit Rase bumi sudah datang??".
"Selain Anying langit Rase bumi masih ada ada delapan belas orang jago berkepandaian tinggi dari istana Thian Teh kong mereka, agaknya mirip jago-jago Cap Pwe Sah Sin yang tersiar di dalam Bu lim"
"Tidak salah"
Jawab Ti Then mengangguk.
"Aku memang dengar Anying langit Rase bumi punya anak buah yang dijuluki Cap Pwe sah sin atau delapan belas malaikat iblis, kepandaian silat mereka katanya tidak cetek."
Melihat Ti Then tidak berangkat-berangkat, Ki Hong menjadi semakin cemas.
"Ti Kiauw tauw"
Ujarnya cepat.
"mari kita lekas-lekas kembali ke benteng."
"Apa Wi Poccu tidak beritahu pada Anying langit Rase bumi kalau aku tidak berada di sana?"
"Benar, tapi mereka tidak mau percaya, mereka bilang Tiauw Kiauw tauw pasti berada di dalam Benteng."
"Kalau begitu baiklah, ayo berangkat."
Dia membuat sedikit persiapan kemudian panggil pelayan penginapan itu untuk diberi sedikit uang, katanya karena ada urusan yang mau diselesaikan diluaran minta dia cepat-cepat sediakan kuda.
Sesudah mengunci kamarnya barulah dengan Ki Hong bersama-sama berjalan keluar.
Sekeluarnya dari dalam rumah penginapan pelayan itu sudah siapkan kuda Ang San Kheknya di depan pintu, demikianlah masing-masing dengan menggunakan tunggangannya sendiri-sendiri lari keluar dari kota.
satu jam kemudian sampailah mereka di dalam Benteng Pek Kiam po.
Mereka berdua dengan cepat turun dari kuda ditengah lapangan latihan silat, saat itu barulah Ti Then bertanya.
"Mereka dimana??"
"Di dalam ruangan tamu"
Sahut Ki Hong dengan cepat. Tanpa banyak cakap lagi Ti Then cepat berlari ke dalam ruangan tamu.
Jilid 13.2.
Anying langit Rase Bumi Di dalam sekejap saja dia sudah sampai di dalam ruangan tamu, terlihatlah Wi Ci To beserta Huang Puh Kian Pek duduk di tengah ruangan sedangkan Anying langit Rase bumi beserta ke delapan belas malaikat iblisnya duduk di kedua belah sisi, masing-masing tidak ada yang berbicara, hanya darl sinar mata masing-masing jelas memancarkan nafsu membunuh yang meluap-luap Usia dari ke delapan belas malaikat iblis ini kurang lebih berada di atas lima puluh tahunan, wajah masing-masing memperlihatkan kebengisan serta keganasan mereka, pada tubuh masing-masing membawa senyata yang berbeda-beda, yang duduk mereka pun urut sesuai dengan senyata yang dibawa mulai dari Golok, pedang, toya besi, kampak, cambuk, rantai, gada, tongkat serta pisau belati.
Sedang pada deretan yang lain adalah Tombak, trisula, kampak raksasa, siang kiam, golok melengkung, gelang, golok panjang serta senyata berbentuk bulan sabit.
Senyata mereka merupakan delapan belas macam senyata yang aneh dan sakti, sungguh menyeramkan sekali.
Sebelum bertemu dengan Anying langit Rase bumi secara pribadi di dalam benak Ti Then pernah membayangkan wajah yang meringis menyeramkan siapa tahu kini sesudah bertemu sendiri kelihatanlah wajah Anying langit Rase bumi itu sedikit kalem.
Si anying langit Kong Sun Yau mem punyai wajah yang tampan dengan perawakan sedang usianya mungkin berada diantara empat puluh tahunan hanya saja air mukanya sedikit pucat.
Kini dia berdandan sebagai seorang sastrawan dengan bahan pakaian yaug sangat mewah, pada tangannya mencekal sebuah kipas yang terbuat dari tulang, sungguh kelihatan gagah sekali.
Sedangkan si Rase bumi Bun Jin Cui berusia diantara tiga puluh tujuh delapan tahunan, alisnya tipis matanya bulat tebal, bibirnya merah bagaikan delima dandanannya sangat berlebihan sehingga kelihatannya sangat genit sekali.
sepasang tangannya dengan tak henti-hentinya mempermainkan sebuah sapu tangan berwarna merah, gerak geriknya sangat genit dan pemalu, lagaknya tidak mirip sebagai jagoan yang ditakuti dalam Bu lim.
Mereka suami istri begitu melihat Ti Then berjalan memasuki dalam ruangan segera tersungginglah suatu senyuman yang sangat ramah.
Ti Then berlagak tidak melihat, sesudah memberi hormat dengan Wi Ci To ujarnya.
"Boanpwe Ti Then hunjuk hormat kepada Pocu"
Dengan perkataan serta gerak geriknya ini sudah jelas memperlihatkan kalau dia sudah bukan satu keluarga lagi dengan orang-orang Benteng Pek Kiam Po.
Wi Ci To tidak perlihatkan reaksi apa-apa, hanya sambil menuding ke arah Anying langit Rase bumi ujarnya.
"Mereka berdua adalah Raja langit Kong sun Yau serta Ratu bumi Bun Jin Cui"
Ti Then sedikit putar tubuhnya kemudian memandang ke arah Anying lagit rase bumi sembari tertawa tawar.
"Lama sudah cayhe dengar nama besar kalian berdua, selamat bertemu, selamat bertemu"
Anying langit serta Rase bumi tetap duduk tidak bergerak di tempatnya masing-masing dengan lagak hendak memilih menantu sambil tersenyum-senyum mereka berdua pandangi seluruh tubuh Ti Then dari atas kepala sampai ujung kakinya.
Pertama tama Anying langit Kong sun Yau yang buka mulutnya angkat bicara, hanya dia tidak bicara kepada Ti Then melainkan kepada istrinya Rase bumi Bun Jin Cui yang berada disisinya.
"Kau lihat bagaimana ?"
Tanyanya sembari tertawa.
"Tidak jelek. tidak jelek."
Sahut si Rase bumi Bun Jin Cui sembari memperdengarkan suara tertawanya yang amat genit.
"Semangatnya tinggi wajahnya tampan, tubuh kokoh kuaat ..Heemmm tidak rugi menteri pintu pembesar jendela kita dikalahkan ditangannya"
Sesudah itu barulah si Anying langit Kong sun Yau menoleh kearah Ti Then dengan memperlihatkan sebaris giginya yang putih mengkilap ujarnya tersenyum.
"Lo te apakah pendekar berbaju hitam Ti Then yang sudah menyabat sebagai Kiauw tauw pada benteng Pek Kiam Po?"
"Kemarin hari, dulu memang betul, tapi sekarang sudah bukan"
Jawab Ti Then dengan gelengkan kepalanya.
"Haa?? kenapa??"
Tanya Anying langit Kong sun Yau itu tertawa "Apa Lote punya maksud memikul beban ini seorang diri?"
Ti Then tidak langsung beri jawabannya, kepada Wi Ci To ujarnya tiba-tiba "Tolong tanya Pocu, apakah boanpwe diperkenankan berbicara sambil duduk??"
"Ooh maaf Lohu sudah lupa, silahkan duduk. silahkan duduk"
Jawab Wi Ci To cepat.
Segera Ti Then menarik sebuah bangku dan duduk di hadapan Wi Ci To serta Hung puh Kian Pek.
dengan sikap yang amat angkuh sahutnya terhadap diri Anying langit Rase bumi "Cayhe memang sudah ambil keputusan mau melawan kalian dengan kekuatan seorang diri, tapi hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan mengapa cayhe meninggaikan Benteng Pek Kiam Po ini..kalian mau tanya apa lagi??"
"Hi h i. Hi ."
Mendadak si rase bumi Bun Jin Cui memperdengarkan suara tertawanya yang amat genit, sembari menepuk pundak suaminya si anying langit Kong sun Yau ujarnya dengan suara manya.
"Lang cun, sifat bocah Cilik ini persis seperti sifatku, aku sangat suka padanya"
"Ooob, apa yaah?"
Seru si anying langit Kong sun Yau dengan diiringi tertawanya yang tidak sedap didengar.
"Baiknya kita bicara secara baik-baik saja dengan dia, jika dia mau gabungkan diri secara suka rela kepihak istana Thian Teh Kong kita, baiknya kita kasi suatu jabatan yang bagus kepadanya."
Agaknya si anying langit Kong sun Yau sangat penurut terhadap perkataan istrinya, mendengar perkataan tersebut segera ujarnya kepada Ti Then sembari tertawa.
"Lo-te kau sudah dengar belum? Istriku bersikap sangat baik kepadamu, ini merupakan kejadian pertama selama hidupnya, jika lote bermaksud. ."
Ti Then tidak mau dengar obrolan mereka selanjutnya, dengan cepat bentaknya dengan kurang senang.
"Bilamana saudara-saudara sekalian tidak punya nyali untuk melawan cayhe, lebih baik cepat-cepat menggelinding dari sini, jangan duduk terus menerus sembari mengeluarkan kentutan yang busuk."
Air muka si Anying langit Kong sun Yau segera berubah amat hebat, tak henti-hentinya dia tertawa seram.
"Hmm..hmmm, . Ti Then"
Serunya dengan gusar.
"Kau tidak bisa melihat kebaikan orang lain-"
"Benar"
Sambung si Rase bumi Bun Jin Cui sembari tertawa "Kita punya maksud baik-baik, kalau kau tidak mau yaah sudahlah, buat apa mengusir kita suruh menggelinding dari sini, kami Kaisar langit Rase bumi jika suka tinggal di sini sekali pun ada delapan tandu yang menggotong kami belum tentu sanggup menggotong kami pergi."
Ti Then tetap tidak mau gubris omongan mereka, bentaknya lagi dengan dingin.
"Ini hari kalian kemari sebetulnya sedang mencari aku Ti Then seorang atau bukan?"
"Benar"
Jawab si Rase bumi Bun Jin Cui dengan disertai suara tertawanya yang amat merdu "Kita dengar laporan dari Menteri pintu pembesar jendela yang katanya kepandaian silat Lote sangat lihay sekali, karenanya sengaja kami kemari untuk berkenalan"
"Kalau begitu cepat kita bereskan dengan kekuatan masing-masing..."
"Hihihii... hihihi. .jangan keburu baiknya kita bicara dulu secara baik-baik"
Ujar si Rase bumi Bun Jin Cui lagi.
"Aku dengar katanya sewaktu kau berada di atas gunung Fan Cin san pernah secara kebetulan memperoleh sebuah kitab pusaka "Ie Cin Kang""
"Hmm hmm...bila kalian suami istri punya minat terhadap itu kitab pusaka Ie Cin Keng seharusnya pukul rubuh aku dulu baru dibicarakan lagi"
Seru Ti Then tetap ketus.
"Hi hi hi perkataanmu ini sungguh lucu sekali, dengan usiamu yang masih begitu muda masa depan masih punya harapan, buat apa kehilangan nyawa karena se
Jilid kitab pusaka Ie Cin Keng saja?"
"Pandanganku persis dengan pandanganmu"
Sambung Ti Then dengan cepat.
"Kalian suami istri sudah enak-enak hidup secara sembunyi dan bermewah-mewahan di dalam istana Thian Teh Kong, penghidupan kalian tentunya sangat menyenangkan sekali, buat apa jauh-jauh kemari untuk mengantar nyawa hanya disebabkan se
Jilid kitab pusaka Ie Cin Keng saja?"
Suara tertawa dari si rase bumi Bun Jin Cui makin lama semakin berubah amat dingin, kepada suaminya si anying langit Kong sun Yau ujarnya.
"Budak ini susah diajak berunding, kelihatannya terpaksa kita harus pinyam lapangan latihan silat milik Wi Pocu itu."
"Baik..baik..."
Seru si anying langit Kong sun Yau sambil manggut-manggutkan kepalanya berkali-kali.
"Tapi tentang ini kita harus minta persetujuan dari Wi pocu dulu..."
"Tidak usah kalian pinyam lagi"
Potong Wi Ci To cepat.
"Persoalan ini memangnya harus diselesaikan di dalam Benteng ini juga"
"Tidak"
Bantah Ti Then tegas sesudah mendengar keputusan dari Wi Ci To itu pocu dari benteng Pek Kiam Po.
"Urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan Benteng saudara "
Bicara sampai di sini segera dia menoleh Kong sun Yau.
"Cayhe usulkan lebih baik kita bereskan urusan ini diluar benteng saja"
Ujarnya.
"Bagaimana pendapat kalian berdua?"
Dengan menggunakan kipasnya Kong sun Yau menutupi mulutnya, kemudian barulah jawabnya sembari tertawa.
"Hal ini malah membuat aku serba salah, kau merasa urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan Wi Pocu, sebaliknya Wi Pocu merasa urusan ini disebabkan karena kau menolong nyawa nona Wi, dalam hal ini dia tidak akan mau menonton saja, Aduh..bagaimana baiknya yaaahh?"
"Hmm... hmmmm...kitab pusaka Ie Cin Keng berada di dalam tubuhku, bukan berada pada pihak Wi Pocu"
Ujar Ti Then cepat coba-coba memanCing perhatiannya.
"Ha...haa ..haa.. tapi bilamama kita ikut kau keluar benteng maka jika kawan-kawan Bu lim tahu, mereka tentu akan mentertawakan kami bahwa pihak istana Thian Teh Kong takut dengan benteng Pek Kiam Po" -ooooooo-"SEORANG lelaki bersenyata pasti akan bedakan mana yang baik mana yang buruk, kali ini kalian datang kemari bertujuan pada kitab pusaka Ie Cin Keng yang berada dalam sakuku, apalagi kini aku sudah tinggalkan Benteng Pek Kiam po, kalian sama sekali tidak punya alasan untuk bentrok secara langsung dengan orang-orang benteng Pek Kiam po"
Teriak Ti Then coba membantah. Tiba tiba Wi Ci To bangkit dari tempat duduknya.
"Ti Kiauw tauw."
Serunya dengan suara berat.
"Siapa yang bilang kau sudah keluar dari keanggotaan Benteng Kiam Po kami?"
Ti Then agak tertegun dibuatnya, Tapi sebentar saja sudah tenang kembali.
"Boanpwe merasa tidak punya muka lagi untuk tetap tinggal di sini karena itu boanpwe sudah ambil keputusan hendak meninggalkan Benteng Pek Kiam Po"
Ujarnya.
"Heee heee tapi lohu harus menyetujui terlebih dahulu."
Bantah Wi Ci To sembari tertawa dingin.
"Boanpwe hanya menerima tawaran untuk menyabat sebagai Kiauw tauw di dalam Benteng Pek Kiam Po ini tapi bukanlah anak murid sini, karenanya jika boanpwe punya maksud meninggalkan tempat ini tidaklah perlu minta persetujuan dari Pocu terlebih dulu."
"Tidak salah."
Jawab Wi Ci To tidak mau kalah "Tapi Kiauw tauw apa sudah lupa perjanyian kita sebelumnya?"
Ti Then tidak tahu apa yang sedang dimaksud dengan perkataan dari Wi Ci To ini, seketika itu juga dia dibuat melengak.
"Perjanyian apa?"
Tanyanya penuh keheranan-"Sesaat kau sebelum menyabat sebagai Kiauw tauw di dalam benteng kami kita sudah mengikat janyi bahwa setiap bulan Lohu memberi gaji sebesar tiga ratus tahil perak kepadamu sedang kau pun diharuskan setiap hari memberi pelajaran ilmu silat kepada seluruh pendekar pedang di dalam benteng ini.
Tapi hingga hari ini kau baru melaksanakan tugasmu selama enam tujuh hari saja.
"Oooh..soal itu ?"
Agaknya Ti Then menjadi sadar kembali atas perkataan Wi Ci To itu.
"Sindiran Pocu memang sangat tepat sekali, walau pun sejak boanpwe berdiam dalam benteng sudah ada satu bulan lebih padahal hanya melaksanakan selama enam tujuh hari saja. Tapi tentang hal ini bisa kita selesaikan dengan sangat mudah sekali, pada kemudian hari pasti boanpwe akan kirim uang sebagai gantinya."
"Heee heee mau bayar harus bayar sekarang juga."
Ujar Wi Ci To cepat. Mendengar perkataan ini air muka Ti Then berubah menjadi merah padam.
"Tapi boanpwe tidak bawa uang."
Ujarnya dengan perasaan malu.
"Ha ha ha ha kalau begitu sebelum kau selesai mengembalikan uang itu berarti kau tetap merupakan Kiauw tauw dari Benteng kami."
Dalam hati Ti Then tahu dengan jelas Wi Ci To berbuat demikian "ngototnya"
Bukankah dikarenakan tiga ratus uang perak itu sebaliknya berusaha mencari alasan untuk tetap menahan dirinya, karena itu segera dia bangkit berdiri dan berkata.
"Bencana rejeki datang tidak melalui pintu, satu-satunya jalan hanyalah dikarenakan manusia, jika Pocu pasti mau ikut campur di dalam urusan ini, boanpwe sendiri juga tidak punya alasan untuk menampik. Baiklah, mari kita bersama-sama menuju kelapangan latihan silat.."
Wi Ci To segera menggape ke arah mereka dan ujarnya kepada Anying langit Rase bumi itu.
"Silahkan saudara sekalian ikuti lohu menuju ke lapangan latihan silat."
Kali ini Anying langit Ruse bumi serta ke delapan belas malaikat iblisnya datang kemari jauh sebelumnya sudah mengadakan persiapan yang matang karena itu nyali mereka pun sangat besar.
Mendengar perkataan itu masing-masing segera meninggalkan tempat duduknya masing-masing dengan mengikuti diri Wi Ci To.
Huang Puh Kian Pek serta Ti Then berjalan menuju ke luar.
Ti Then yang berjalan di belakang Wi Ci To ketika berjalan keluar dari ruang tamu diam-diam matanya mulai melirik ke arah kiri kanannya, sampai saat itu dia tidak melihat munculnya Wi Lian In di sana sehingga membuat hatinya diam-diam merasa tidak enak.
Pikirnya.
"Tentu dia sudah benci aku setengah mati karena itu tidak mau keluar menemui aku ....Heeei begitu pun malah baikan..."
Rombongan orang orang itu jalan sampai ditengah lapangan latihan silat, terlihatlah para pendekar pedang hitam serta putih dari Benteng Pek Kiam Po dengan rajin dan teraturnya sudah berbaris di samping lapangan membuat suasana bertambah angker.
Baru saja masing-masing pihak berdiri pada arah yang saling berhadapan tiba-tiba terlihatlan itu pelayan tua si Lo-Cia dengan membawa sebilah Pedang sedang lari menuju ketengah lapangan dengan tergesa-gesa, ujarnya kepada Ti Then sambil mengangsurkan pedang tersebut ke arahnya.
"Ti Kiauw tauw ini pedangmu"
Ketika Ti Then melihat pedang tersebut adalah pedang yang ditinggalkan di dalam kamarnya sewaktu meninggalkan Benteng Pek Kiam Po ini sebera menyambutnya sambil mengangguk.
"Lo Cia"
Ujarnya sambil tersenyum.
"Terima kasih"
Si LoCia hanya tersenyum-senyum saja kemudian mengundurkan diri dari tengah lapangan. Dengan cepat Ti Then memindahkan pedangnya ketangan kiri kemudian kepada si Anying langit Kong sun Yau ujarnya.
"sudahlah, kini saudara boleh katakan kalian punya maksud mau berbuat apa?"
"Heeeh...heeeh, ini hari kami datang dengan jumlah dua puluh orang banyaknya"
Ujar si Anying langit Kong sun You sembari tertawa keras "Kami tidak ingin memperoleh kemenangan dengan andalkan jumlah yang banyak, baiknya kalian pilih juga tujuh belas orang untuk mengimbangi kami"
Dalam hati Ti Then tahu bahwa para pendekar pedang hitam mau pun putih dari Benteng Pek Kiampo bukanlah tandingan ke delapan belas malaikat iblis itu, karenanya segera memberikan jawabannya .
"Para pendekar pedang merah dari Benteng kami sedang ada urusan keluar Benteng semuanya, sedang para pendekar pedang hitam mau pun putih masih belum menamatkan pelajarannya, Wi pocu sudah tuliskan larangan bagi mereka untuk bergebrak lawan orang lain, karena itu kini biarlah kami bertiga melawan kalian saja"
"Wi Pocu, apa betul-betul?"
Tanya si Anying langit Kong sun Yau sambil menoleh kearah Wi Ci To.
"Ehmm... tidak salah"
Sahutnya sembad mengangguk.
"Oooh sungguh tidak beruntung sekali ke delapan belas malaikat iblis kami tak ada satu pun yang mau menganggur saja."
Ujar si Kong sun Yau tertawa "Hmm . tidak usah begitu sungkannya". teriak Wi Ci To sambil tertawa dingin tak henti-hentinya.
"Tidak bisa..tidak bisa...."
Bantah Kong sun Yau lagi dengan goyang-goyangkan kepalanya.
"Jika kami dua pulub orang harus melawan kalian tiga orang hal ini terlalu tidak adil."
"Kong sun Yau"
Tiba Huang puh Kian Pek berteriak sembari tertawa dingin.
"Kau tak perlu berpura-pura lagi jika bukannya kalian tahu kalau para pendekar pedang merah dari benteng kami sedang punya urusan untuk keluar benteng semua sekali pun kau sudah makan nyali beruang atau hati macan belum tentu berani datang kemari untuk mengacau."
Mendengar makian itu alis Kong sun Yau segera dikerutkan rapat-rapat sedang mulutnya tak henti-hentinya memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang amat mengerikan.
"Hu pocu"
Ujarnya dengan dingin.
"Perkataanmu jangan sungkan-sungkan? Bagaimana kami bisa tahu kalau para pendekar pedang merah benteng kalian sedang tidak berada di dalam benteng?"
"Hmm di dalam Bu lim sekarang ini ada siapa yang menandingi ketelitian serta kecepatan berita dari Anying langit Rase bumi"
"Hi hi hi . ."
Teriak si rase bumi Bun Jin Cui tiba-tiba.
"Hei Huang puh Kian Pek. bagaimana kau malah memaki kami?"
"Hehehe , apa nama kalian bukan si Anying langit Rase bumi?"
Dari sepasang mata si Rase bumi Bun Jin Cui secara samar sudah mulai diliputi dengan napsu untuk membunuhnya.
"Hi hi hi hi kau berani main-main dulu dengan kami sebagai si Anying langit Rase bumi??"
Ujarnya sembari tertawa nyengir.
"Memang aku sudah siap minta petunjuk"
Selesai berkata segera dia berjalan menuju ketengah lapangan.
Si Anying langit Rase bumi segera saling bertukar pandangan sembari tertawa, mereka berdua siap-siap berjalan menuju ke tengah lapangan.
Melihat hal itu dengan cepat Ti Then meloncat ke tengah diantara mereka bertiga, kepada Huang Puh Kian Pek sambil merangkap tangannya memberi hormat ujarnya "Hu Pocu silahkan mengundurkan diri terlebih dulu, biarlah boanpwe coba-coba menemui mereka.."
Huang puh Kian Pek hanya tersenyum saja dan tidak terlalu memaksakan diri, segera ia pun mengundurkan dirinya kembali.
Agaknya si Rase bumi Bun Jin Cui punya perasaan pandang rendah terhadap diri Ti Then, begitu melihat Ti Then maju ke depan seorang diri hendak melawan mereka suami istri berdua, tanpa terasa lagi dia malah tertawa, ejeknya.
"Ti Kauw tauw, aku tahu kedudukanmu di dalam benteng kalian berada di atas para pendekar pedang hitam, tapi apa kau betul-betul punya keberanian untuk melawan kami suami istri?"
Ti Then yang melihat sikapnya yang tak begitu pandang terhadap dirinya di dalam hati diam-diam merasa sangat girang, dengan wajah yang serius sahutnya.
"Untuk menghadapi kalian Anying langit Rase bumi buat apa butuhkan keberanian segala. ."
"Hehehe orang muda biasanya memang sangat sombong"
Ujar si Rase bumi Bun Jin cu lagi sambil menghela napas panjang.
"Tapi peraturan sudah kita ucapkan sebelumya jika kau kalah maka kitab pusaka le Cin keng harus kau serahkan kepadaku"
"Bila aku tak sanggup menyerahkan itu kitab pusaka Ie Cin Keng, masih ada batok kepalaku sebagai gantinya"
"Tidak salah tidak salah"
Si Rase bumi sembari anggukkan kepalanya.
"jika kau tak sanggup menyerahkan itu kitab pusaka Ie Cin Keng maka kami akan minta batok kepalamu."
Berbicara sampai di sini lalu dia menoleh kearah suaminya.
"Hey, Lang cun, ayoh mulai"
Ujarnya dengan manya.
Tapi sebelum si Anying langit Kong sun Yau melakukan suatu gerakan kedelapan belas malaikat iblis yang berada di belakangnya sudah terlihat adanya gerakan dua orang diantara mereka sudah meloncat keluar sembari berteriak dengan keras.
"Thian cun, untuk jagal ayam buat apa menggunakan pisau kerbau biarlah hamba-hamba berdua yang membereskan bangsat cilik ini."
Kedua orang malaikat iblis ini yang satu punya bentuk tubuh gemuk.
sedang yang lain mem punyai bentuk tubuh kurus kering, yang gemuk menggunakan kapak sebagai senyatanya sedang yang kurus kering menggunakan sebuah tombak panjang sebagai senyatanya.
sikap serta wajah mereka sangat bengis dan seram.
Agaknya si Anying langit Kong sun Yau memang punya maksud untuk melihat kepandaian silat yang dimiliki Ti Then terlebih dahulu, karenanya dia hanya mengangguk sambil sahutnya.
"Baiklah, kalian selalu berteriak-teriak mau balaskan dendam bagi si menteri pintu serta pembesar jendela, jika kini tidak membiarkan kalian berkelahi peras-peras sedikit tenaga, tentu kalian tidak akan merasa puas."
Sembari berkata dia menarik isterinya untuk menyingkir ke samping.
Ti Then yang melihat majunya dua orang malaikat iblis dalam hatinya segera punya pikiran untuk memperlihatkan kelihayannya pada kedua orang tersebut, karenanya dengan perlahan dia cabut keluar pedangnya sambil berkata.
"Jika kalian mau cari mati, cepat sebut dulu nama kalian"
Si malaikat iblis yang menggunakan kapak sebagai senyatanya dengan suara yang amat keras bagaikan guntur sudah menyahut.
"Lohu si malaikat iblis gemuk Lu Ho"
Sedangkan si malaikat iblis yang menggunakan tombak panjang sebagai senyatanya dengan suara yang amat halus tapi mengerikan melapor namanya.
"Lohu si malaikat iblis kurus Ling ie An"
Ti Then segera maju dua langkah ke depan, teriaknya.
"Ayoh serang"
Si malaikat iblis kurus mau pun gemuk yang semula berdiri berdampingan sesudah mendengar perkataan itu dengan cepat masing-masing melayang beberapa kaki ke samping kanan serta samping kiri, pinggang pun ditekan ke bawah memperkuat kuda-kudanya kemudian dengan perlahan-lahan mulai mendesak dan mendekati tubuh Ti Then.
Wi Ci To, Huang puh Kiam Pek serta kaki tangan dari Anying langit Rase bumi segera rada mundur ke belakang sehingga terbentanglah sebuah lapangan sangat luas.
Dengan cepat Ti Then memperlihatkan gayanya seperti sedang menghadapi musuh tangguh, pedangnya diangkat sebatas pinggang tubuhnya sedikit merendah siap menanti serangan pihak musuh.
Wi Ci To yang melihat gaya serangannya pada air mukanya tanpa terasa sudah perlihatkan perasaan heran serta ragu-ragunya, karena dia tahu kepandaian dari Ti Then, dia tahu jika Ti Then ingin mengalahkan si malaikat iblis kurus mau pun gemuk adalah sangat gampang sekali seperti mau ambil barang disakunya sendiri tapi kini dia malah perlihatkan gaya seperti sedang menanti serangan dari seorang musuh tangguh, bukankah hal ini seperti juga persoalan kecil yang dibesar-besarkan ?
Huang puh Kiam Pek sendiri agaknya juga dibuat bingung oleh gayanya ini, tak terasa alisnya sudah dikerutkan rapat-rapat.
Si malaikat iklis kurus serta si malaikat iblis gemuk ketika melihat pada air muka Ti Then sudah perlihatkan ketegangannya, semangat tempur mereka malah semakin berkobar, masing-masing dari sebelah kiri serta dari sebelah kanan melanjutkan desakannya ke arah Ti Then.
Jarak masing-masing kini semakin dekat lagi pertama-tama si malaikat iblis kurus Ling ie An lah yang mulai melancarkan serangannya, dengan disertai suara bentakannya yang amat keras tubuhnya melayang ke depan.
tombak panjangnya dengan disertai tenaga yang amat besar ditusuk kearah depan mengancam ulu hati dari Ti Then.
Tubuh Ti Then dengan cepat menyingkir ke samping dia balik maju satu langkah ke depan, pedang panjang ditangannya dengan memutar satu lingkaran di depan dada dengan arah yang tepat menutul ke arah dada pihak lawannya.
Tetapi baru saja tubuhnya bergerak.
si malaikat iblis gemuk Loa Ho yang berada di samping sudah mendesak maju ke depan, kampak raksasanya dengan cepat disambar ke depan membacok pundak kanannya.
Jurus serangan yang digunakan amat gencar, serangannya ini mirip dengan sambaran kilat bergelegarnya guruh.
Serangan pedang yang dilancarkan Ti Then ke arah si malaikat iblis kurus itu sebetulnya hanya suatu serangan kosong belaka, dia tahu si malaikat iblis gemuk tentu akan menggunakan kesempatan itu untuk maju melancarkan serangannya, karena itu pedangnya baru saja disambar sampai ditengah jalan tubuhnya mendadak berputar kemudian sedikit berjongkok.
arahnya seketika itu juga berubah, dengan jurus Ban Liong Ci hauw atau sambar naga menusuk harimau balik membabat sepasang kaki si malaikat iblis gemuk itu.
Dengan cepat si malaikat iblis gemuk itu meloncat ke atas untuk menghindarkan diri dari babatan tersebut, bersamaan pula kampak raksasa yaug berada ditangannya dari gerakan membabat menjadi gerakan membacok, mengarah kepala diri Ti Then.
Si malaikat iblis kurus pun bersamaan waktunya melancarkan satu tusukan dengan menggunakan tombak panjangnya mengarah pinggang kiri dari Ti Then.
Masing masing pihak semakin bertempur semakin seru dan semakin cepat sebentar gerakan mereka seperti terkaman harimau, sebentar lagi berubah menjadi loncatan kera, gerakannya dilakukan bagaikan sambaran angin yang sedang berlalu, hanya di dalam sekejap saja tiga puluh jurus sudah dilalui dengan cepat sedang masing-masing pihak belum ada yang menang mau pun yang kalah.
Si anying langit Rase bumi yang menonton jalannya pertempuran dari samping kalangan di dalam hati diam-diam merasa sangat girang sekali, ketika mereka melihat dua orang anak buahnya saja sudah cukup menahan serangan dari Ti Then dalam hati mereka sudah tahu bahwa gerakannya kali ini sudah pasti memperoleh kemenangan, karena itu tanpa terasa pada wajah mereka sudah tersungging senyuman kemenangan, agaknya mereka sangat gembira sekali.
sebaliknya air muka Wi Ci To serta Huang puh Kian pek mulai kelihatan risau, mereka sama sekali tidak paham kenapa kepandaian silat dari Ti Then secara tiba-tiba bisa berubah demikian rendahnya, tak tertahan lagi Huang puh Kiam pek mulai menggeserkan badannya mendekati diri Wi Ci To lalu ujarnya dengan perlahan.
"Suheng, kau lihat sebetulnya sudah terjadi urusan apa dengan dirinya?"
"Siapa tahu"
Sahut Wi Ci To dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suaranya.
"Dia seperti sudah berubah dengan seorang yang lain"
"Benar"
Sambung Huang puh Kian pek dengan cepat.
"Kepandaian silat dari si malaikat iblis gemuk ini hanya sedikit berada di atas para pendekar pedang merah dari benteng kita, jika menurut kemampuan dari Ti Then yang biasanya, tidak perlu sepuluh jurus sudah cukup untuk memperoleh kemenangan kenapa ini hari dia perlihatkan kekurangannya yang begitu menyolok??"
"Mungkin dia terlalu tegang ..."
"Tidak mungkin."
Bantah Huang Puh Kian Pek dengan cepat.
"Sewaktu dia melawan si pendekar tangan kiri Cian Pit Yuan tempo hari sama sekali tidak kelihatan perasaan tegangnya, bagaimana ini hari dia bisa takut dengan orang-orang itu ??"
"Atau mungkin dia sengaja menyembunyikan kekuatan yang sesungguhnya ..."
Timbrung Wi Ci To mendadak.
"Aku kira bukan, coba kau lihat semakin bertempur dia semakin ngotot . , . Hmm, sudah lima puluh jurus."
Pada saat Ti Then sudah bergerak sebanyak lima puluh jurus banyaknya melawan si malaikat iblis gemuk serta si malaikat iblis kurus mendadak ....
menang kalah segera kelihatan jelas.
Bacokan kampak dari si malaikat iblis gemuk yang mengarah punggung Ti Then dengan jelas kelihatan hampir mencapai sasarannya mendadak "Bruk."
Kampak raksasa yang berada ditangannya terjatuh ke atas tanah sedang tubuhnya pun ikut rubuh terlentang di atas tanah.
Begitu tubuhnya rubuh mengenai tanah, bentuk tubuhnya yang gemuk bundar itu secara mendadak terpotong menjadi dua bagian yang terpisah, isi perutnya seketika itu juga tersebar mengotori semua permukaan tanah sedang darah segar pun mulai mengucur keluar dengan derasnya.
Hal ini memperlihatkan sewaktu tubuhnya rubuh tadi adalah disebabkan oleh babatan pedang Ti Then yang memisahkan badannya dikarenakan kecepatan gerak sambaran pedang Ti Then lah menyebabkan tubuhnya baru berpisah sesudah mencapai di atas permukaan tanah.
Agaknya si malaikat iblis kurus itu di buat terkejut dan ketakutan sepasang matanya melotot keluar dengan besarnya, sedang badannya berdiri mematung di hadapan Ti Then.
Pada saat itu dia sedang melancarkan satu tusukan ke arah Ti Then, sehingga sewaktu dia dikejutkan oleh gerakan Ti Then membinasakan kawannya dia masih pertahankan gayanya yang semula, keadaan ini amat lucu dan menggelikan.
Senyuman yang menghiasi wajah Anying langit Rase bumi seketika itu juga lenyap tanpa bekas berganti dengan suatu perubahan yang sangat hebat, sama sekali mereka melototi mayat si malaikat iblis gemuk yang menggeletak di atas tanah.
Beberapa saat kemudian barulah terdengar si Anying langit Kong Sun Yau them bentak dengan suara berat .
"Kembali "
Si malaikat iblis kurus tetap tidak menggubris teriakan itu, tetap berdiri termangu-mangu di tempatnya semula.
Air muka si Anying langit Kong Sun Yau berubah semakin hebat lagi, dengan gusarnya sekali lagi dia membentak.
"Ling Ie An kau cepat kembali."
Si malaikat iblis kurus tetap tak bergerak sedikit pun dari tempatnya semula, agaknya dia sudah dibuat terkejut dan ketakutan sehingga nyawa keluar dari badannya.
Waktu itulah Ti Then baru menggunakan pedangnya sedikit mendorong dada malaikat iblis kurus itu, ujarnya sembari tersenyum.
"Hei, majikanmu sedang panggil kau untuk kembali, kau sudah dengar belum?"
Dengan dorongan dari Ti Then yang perlahan itu tubuhnya dengan perlahan barulah roboh ke depan untuk kemudian roboh terlentang di atas tanah dengan badan atas yang terpisah dari bagian bawahnya, Isi perutnya dengan cepat tersebar keluar, darah segar bagaikan sumber air kerasnya mengalir keluar membasahi seluruh tanah.
Kiranya dia pun sudah terbinasa sejak tadi.
Ke enam belas malaikat ibis yang berada di belakang Anying langit Rase bumi sesudah melihat pemandangan itu tanpa terasa lagi sudah pada berteriak kaget.
Air muka si Anying langit Rase bumi sebentar berubah menjadi merah padam sebentar lagi berubah menjadi pucat pasi, lama sekali memandangi Ti Then dengan tutup mulutnya rapat-rapat.
Lama sekali barulah terdengar si Rase bumi Bun Jin Cui buka suara.
"Khin Ie, Hsing it, sak Yan song. Ing Hay Ping kalian berempat cepat keluar minta petunjuk lagi dari Ti Kiauw tauw ini"
Ujarnya dengan dingin-Dia sudah dapat melihat kalau kepandaian silat yang dimiliki Ti Then amat tinggi sekali, tapi dia pun merasa bahwa ke empat orang itu masih sanggup untuk memperoleh kemenangan-karena itu hingga kini dia masih tidak ingin turun tangan sendiri Sampai saat ini dia masih tetap merasa kalau Wi Ci To serta Huang puh Kian Pek lah yang betul-betul baru musuh mereka suami istri berdua yang paling tangguh.
Terlihatlah ke empat malaikat iblis itu menyahut, kemudian dengan langkah lebar berjalan keluar.
senyata yang digunakan keempat malaikat iblis itu adalah golok pendek.
pedang, tongkat serta trisula.
Dua pendek dua panjang.
Dengan wajah penuh nafsu membunuh mereka berempat berhenti di samping kiri kanan di hadapan Ti Then, malaikat iblis dengan bersenyatakan prdang yang berdiri paling tengah agaknya merupakan Lotoa dari keempat orang itu, dia dengan cepat memberi tanda kedipan kepada ketiga orang lainnya, kemudian dengan cepat melancarkan satu serangan ke depan.
Suatu serangan dengan jurus Hek Hauw sim atau macan hitam mencuri hati melanda datang mengancam jantung Ti Then.
Tubuh Ti Then cepat-cepat berputar kemudian mengangkat kaki kirinya menendang gagang pedang tersebut diikuti ujung pedangnya diputar menusuk ke belakang dengan cepatnya.
Malaikat iblis yang menerjang Ti Then dari sebelah belakang adalah malaikat iblis yang menggunakan golok penyapu angin sebagai senyata Agaknya sama sekali dia tidak menduga kalau Ti Then bisa menggunakan serangan tersebut di dalam pembukaan serangannya.
di dalam keadaan yang sangat terkejut dengan cepat kakinya melangkah ke samping menghindarkan diri kurang lebih tiga depa dari tempat semula bersamaan pula golok penyapu anginnya dengan kekuatan yang luar biasa menyambar lutut kanan Ti Then.
Malaikat iblis yang bersenyatakan toya serta trisula itu dengan menggunakan arah sebelah kanan serta sebelah kiri bersama-sama melancarkan serangan secara berbareng.
Pertempuran kali ini masing-masing melancarkan serangan dengan secara diam-diam sehingga semakin bergebrak semakin seru dan semakin ganas, keempat malaikat iblis itu sampai kini hanya menitik beratkan gerakan menyerang saja tanpa menghiraukan pertahanan sendiri, sehingga mereka berempat bagaikan menyambarnya angin taupan serta curahnya hujan deras tak henti-hentinya melancarkan serangan dahsyat mengancam seluruh tubuh Ti Then-Agaknya Ti Then betul-betul didesak oleh pihak musuhnya sehingga keadaannya sangat bahaya sekali dan tidak ada kesempatan untuk melancarkan serangan balasan, tetapi setiap kali dia menemui serangan yang membahayakan setiap kali pula bisa di punahkan dengan sangat mudahnya.
Di dalam sekejap saja lima puluh jurus sudah berlalu dengan cepat, walau pun kelihatannya keempat malaikat iblis itu berada di atas angin tapi ujung senyata mereka jangan dikata mengenai tubuh Ti Then sekali pun menowel pun tidak sanggup.
Sambil menonton jalannya pertempuran ini Wi Ci To semakin senang segera dia menoleh ke arah Huang puh Kian Pek dan ujarnya dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara.
"Perkataanku tadi sedikit pun tidak salah, dia memang sengaja menyembunyikan kekuatan sesungguhnya"
"Entah apa tujuannya yang sebenarnya"
Ujar Huang puh Kian Pek dengan air muka penuh tanda tanya.
"Hee ..hee ....mungkin dia takut memukul rumput mengejutkan ular"
Sekali lagi Huang puh Kian Pek mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Buat apa harus berbuat begitu"
Sahut Wi Ci To sembari tertawa.
"Coba kau pikir jika kita bertiga harus sekaligus melawan mereka dua puluh orang, apa mungkin bisa peroleh kemenangan?"
Agaknya Huang puh Kian Pek dapat dibikin paham, segera dia mengangguk.
"Benar"
Sahutnya sambil tertawa.
"Jika mereka dua puluh orang bersama-sama turun tangan, maka kita bertiga pasti akan dikalahkan"
"Karena itulah dia harus bunuh beberapa orang terlebih dahulu, tapi jika dia tidak sedikit menyembunyikan kekuatan sesungguhnya si anying langit Rase bumi pasti tidak akan kirim para malaikat iblisnya lagi untuk bergebrak melawan dia."
Pada air muka Huang puh Kian Pek tanpa terasa sudah mulai menampilkan suatu senyuman.
"Orang ini sangat pandai sekali, memang merupakan orang aneh yang sukar ditemui di dalam Bu lim"
Ujarnya.
"Hanya sayang pikirannya tidak genah, kalau tidak suheng pasti akan terima dia sebagai menantu tercinta"
"Kenapa tidak. ."
Seru Wi Ci To sembari menghela nafas panjang.
"Apa suheng betul-betul mau menahan dia untuk meneruskan jabatannya sebagai Kiauw tauw dari benteng kita??"
Tanya Hung Puh Kian Pek lagi.
"Tidak, tadi aku terus menahan dia untuk tetap sebagai Kiauw tauw Benteng kita maksudnya adalah. ." -ooo0dw0ooo-
Jilid 14.1. Kemana musuh setelah kalah? Baru saja dia berbicara sampai di situ mendadak Anying langit Kong sun Yau berdiri jauh di hadapannya membuka mulut.
"Wi Pocu"
Ujarnya sembari tertawa "Kita pun lebih baik main-main sebentar".
Sembari berkata mereka suami istri berdua sudah menggeserkan langkah kakinya berjalan menuju kearah Wi Ci To serta Hung Puh Kian Pek.
Kiranya mereka suami istri berdua sudah melihat kalau keempat malaikat iblis mereka lama kelamaan akan tidak sanggup melawan Ti Then lagi, ditambah lagi ketika memandang kearah wajah Wi Ci To serta Huang puh Kian pek secara samar-samar sudah perlihatkan senyuman gembiranya, mereka segera tahu kalau urusan sedikit tidak beres, karenanya mereka berdua tidak ingin bertanding secara satu persatu lagi, sebaliknya menghendaki Wi Ci To serta Huang puh Kian Pek pun ikut bergebrak secara bersama-sama.
Semua gerak-gerik mereka berdua ini bukan lain adalah pendapat dari si Rase bumi Bun Jin Cui, di dalam anggapannya jika mereka suami istri berdua sudah bergebrak melawan Wi Ci To serta Huang puh Kian Pek maka kedua belas orang malaikat iblis lainnya pun bisa menggunakan kesempatan ini untuk turun tangan bersama-sama mengerubuti diri Ti Then.
Dengan gerakan serempak ini sekali pun Ti Then memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi pun akan binasa juga, jikalau Ti Then sudah mati maka mereka delapan belas orang bisa bersama-sama mengerubuti Wi Ci To serta Huang puh Kian Pek sehingga dengan demikian mereka berdua bisa dibinasakan dengan lebih mudah.
Begitu Wi Ci To dengar si anying langit Kong sun Yau menantang untuk bergebrak, dengan disertai tertawanya yang amat nyaring, sahutnya.
"Bagus sekali, seharusnya kita pun tidak boleh menganggur."
Selesai berkata bersama-sama dengan HHuang puh Kian Pek mereka berdua bersama-sama maju ke depan menyambut kedatangan musuh-musuhnya.
Ti Then yang melihat dari pihak Wi Ci To pun sudah siap-siap untuk turun tangan, cepat-cepat dia memperkencang serangannya, dia tidak ingin main petak-petakan dengan keempat orang malaikat iblis itu lagi karenanya dengan mengerahkan ilmu yang sebenarnya dia mulai melancarkan serangan gencar ke arah musuh-musuhnya, terlihat pedang ditangannya secara mendadak berkelebat menyambar tubuh keempat orang itu.
Serangan ini dilancarkan dengan kecepatan yang luar biasa, segera terdengarlah suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang dan menggema diseluruh penjuru.
Pertama-tama si malaikat iblis yang bersenyatakan Trisula menerima bagiannya terlebih dulu, sebuah lengan kanannya sudah putus tersambar pedang dari Ti Then.
Belum selesai jeritan ngeri yang pertama berhenti, si malaikat iblis yang menggunakan toya sebagai senyatanya sudah menjerit ngeri, akibat yang diterimanya jauh lebih menyeramkan lagi, sepasang kakinya sudah tertabas putus sedang tubuhnya dengan kalapnya sedang bergulung-gulung di atas tanah sembari menjerit-jerit.
Kedua orang malaikat iblis yang bersenyatakan pedang serta golok begitu melihat kedahsyatan dari Ti Then bahkan hanya di dalam satu gebrakan sudah berhasil melukai kedua orang kawannya tanpa terasa sudah menjerit kaget nyali mereka menjadi pecah dengan tergesa-gesa mereka melarikan diri mundur ke belakang.
Tetapi....baru saja sepasang kaki mereka meninggalkan permukaan tanah terlihatlah serentetan sinar pedang berkelebat ke empat buah kaki mereka sudah terpisah dari badannya masing-masing dan terjatuh ke atas tanah dari tengah udara.
Untuk beberapa saat lamanya itu si malaikat iblis yang bersenyatakan pedang mau pun golok siapa pun tidak merasa kalau sepasang kaki mereka sudah terbabat putus, tubuhnya dengan cepatnya melayang sejauh enam tujuh kaki jauhnya kemudian baru melayang turun ke atas permukaan tanah.
Pada saat itulah mereka baru merasakan kesakitan yang luar biasa, ketika mereka sadar kalau sepasang kakinya sudah putus barulah mulai menjerit-jerit kesakitan.
Si anying langit rase bumi yang melihat anak buah mereka menerima bagian yang begitu mengerikan tanpa terasa air muka mereka sudah berubah menjadi pucat pasi, mereka merasa terkejut bercampur gusar sehingga untuk beberapa waktu lamanya sudah melupakan Wi Ci To serta Huang puh Kian Pek yang sudah berjalan mendekat, agaknya mereka sudah dibuat tertegun oleh pemandangan yang mengerikan itu.
Yang membuat mereka sangat terkejut adalah sewaktu Ti Then melawan keempat orang malaikat iblisnya terang-terangan sudah terdesak di bawah angin bahkan sewattu bertempur semakin payah, bagaimana di dalam sekejap mata saja sudah berhasil memperoleh kemenangan, bahkan kemenangan diperoleh dengan begitu mudahnya??
Perlahan-lahan si anying langit Kong sun Yau menghirup nafas panjang kemudian baru memutar kepalanya memandang ke arah dua belas orang malaikat iblis lainnya yang sedang memandang Ti Then dengan perasaan amat terperanyat.
"Cepat kalian berempat turun membantu mereka menghentikan mengalirnya darah"
Teriaknya dengan keras.
Dari antara kedua belas orang malaikat iblis itu segera terlihat empat orang berjalan maju ke depan membantu menotokkan jalan darah dari malaikat iblis yang bersenyatakan pedang serta golok itu, salah satu dari antara mereka sesudah memeriksa keadaan luka dari kawanmya segera memberi laporan kepada si anying langit Kong sun Yau.
"Lapor pada Thian Cun, keempat orang ini harus segera ditolong."
"Kalau begitu cepat bawa mereka ke luar."
Demikianlah keempat orang malaikat iblis itu dengan seorang menggendong seorang kawannya bagaikan kilat cepatnya berlari keluar dari Benteng.
Ketika Ti Then melihat di dalam kalangan kini hanya tinggal delapan orang malaikat iblis saja di dalam hati diam-diam merasa sangat girang.
"Hey Anying langit Rase bumi."
Teriaknia lantang sembari tertawa nyaring .
"Malaikat-malaikat iblismu terlalu goblok seperti gentong nasi semua, lebih baik kalian berdua saja yang maju sendiri."
Perkataannya baru saja diucapkan selesai mendadak kedelapan orang Malaikat iblis itu dengan disertai suara bentakan yang amat keras bersama-sama menubruk ke depan.
Tetapi bersamaan waktunya pula sesosok bayangan kecil yang amat langsing berkelebat masuk ke dalam kalangan dari arah yang berlawanan menyambut datangnya salah satu malaikat iblis dari kedelapan orang lainnya.
Dia bukan lain adalah Wi Lian In.
Ti Then yang melihat munculnya pujaan hatinya seketika itu juga semangatnya berkobar kembali, dengan disertai suara bentakan yang amat nyaring pedang pusakanya melancarkan serangan dahsyat menggulung ketujuh orang malaikat iblis lainnya.
Di dalam sekejap saja suatu pertempuran yang amat sengit berkobar kembali.
Sejak kecil Wi Lian In sudah mendapat didikan yang amat keras di dalam kepandaian silat apalagi di dalam ilmu pedangnya, kini sesudah mengumbar hawa amarahnya temyata menyerupai seekor harimau betina dengan ganasnya mencecer terus pihak musuhnya, hanya di dalam sekejap mata saja dia sudah berhasil memaksa malaikat iblis yang bersenyatakan siangkiam ini terus mundur ke belakang.
Wi Ci To yang melihat putrinya sudah turun tangan dalam hati segera tahu bahwa dia tidak akan dapat dikalahkan oleh seorang malaikat iblis saja karena itu dengan cepat dia cabut keluar pedangnya sendiri kemudian kepada si Anying langit Rase bumi ujarnya sembari rangkap tangannya memberi hormat .
"Silahkan saudara-sandara memberi petunjuk"
Dalam hati si Anying langit Rase bumi diam diam merasa berlega hati karena mereka mem punyai dugaan bahwa ketujuh orang malaikat iblis yang menge pung Ti Then seorang diri tidak akan terkalahkan karena itu dengan mengipas-ngipaskan kipas yang berada ditangannya dia menyawab.
"Tidak usah terlalu sungkan, silahkan Wi Pocu memberi petunjuk"
Dari dalam sakunya si Rase bumi Bun Jin Cu pun mengambil keluar sebuah angkin berwama kuning yang dalam satu kali sentakan sudah berubah bentuk seperti sekuntum bunga.
"Hu Pocu.."
Ujarya kepada Huang Puh Kian Pek sembari tertawa merdu, kita pun harus main-main sebentar.
Huang Puh Kian Pek hanya sedikit mengangguk saja sesudah mencabut keluar pedangnya dia bergeser ke samping lima langkah kemudian baru ujarnya.
"Silahkan.."
Demikianlah mereka berempat segera memperkuat kuda-kudanya masing-masing, bagaikan empat ekor jago yang siap bertempur masing-masing saling melotot kearah pihak musuhnya tanpa berkedip.
Perlahan lahan...
langkah kaki masing masing pihak mulai bergerak dan bergeser, dengan lambat tapi mantap berkali kali sitengubah gaya serangan yang berbeda-beda, suasana pertempuran yang amat sengit mencekam keadaan diseluruh kalangan membuat sebuah lapangan latihan silat yang cukup luas itu terasa begitu sumpek dan panas Hal ini membuat setiap pendekar pedang putih mau pun hitam yang berjumlah dua ratusan orang itu merasa amat tegang sekali bahkan terasa sukar untuk bernapas dibuatnya.
Pertempuran ini mem punyai sangkut paut yang amat besar terhadap masa depan, masing-masing pihak mem punyai sangkut paut atas mati hidupnya mereka berempat juga mem punyai sangkut paut atas jaya atau runtuhnya Benteng Pek Kiam Po mau pun istana Thian Teh Kong.
Wi Ci To tidak malu disebut sebagai jagoan pedang yang termashur dalam sepuluh tahun ini, waktu ini walau pun harus menghadapi musuh yang amat tangguh tapi.
air mukanya masih tetap tenang-tenang saja, seluruh perhatiannya sudah dipusatkan pada ujung pedangnya sedang tenaga murni sudah mulai disalurkan keluar dari pusarnya, kelihatannya perasaan hatinya sudah dilebur menjadi satu dengan pedang yang berada ditangannya itu.
Air muka si Anying langit Kong Sun Yau pun kelihatannya tenang-tenang saja hanya perbedaannya walau pun pada wajahnya tersungging senyuman tapi dari sinar matanya jelas mengandung napsunya untuk membunuh.
Saat ini Huang Puh Kian Pek beserta si Rase bumi Bun Jin Cu pun sedang memusatkan seluruh perhatiannya kearah pihak musuh, mata mereka berdua saling melotot tidak ada yang mau kalah sedang kakinya bergerak ke samping sedikit demi sedikit, agaknya mereka tidak ada yang mau melancarkan serangan terlebih dahulu, masing-masing menantikan kesempatan yang baik untuk kirim satu serangan dahsyat yang mencabut nyawa pihak musuhnya.
Setiap sedetik waktu berlalu suasana terasa semakin menegang sedangkan suasana pembunuhan pun terasa semakin menebal.
Mendadak ..
serentetan sinar pedang yang amat menyilaukan mata dengan disertai desiran angin serangan yang amat tajam berkelebat dan menyambar kearah tubuh si Rase bumi Bun Jin Cu.
Serangan itu bukan lain dilakukan oleh Huang Puh Kian Pek sendiri, tubuhnya dengan cepat meloncat ketengah udara kemudian bagaikan seekor naga yang keluar dari gua dengan cepat menyambar kearah diri si Rase bumi Bun Jin Cu.
Si Rase bumi Bun Jin Cu segera membentak nyaring, tubuhnya yang langsing kecil berputar putar ditengah udara, kaki kirinya dengan kecepatan yang luar biasa disambar ke depan kemudian dengan gaya menubruk meluncur kembali ke bawah,angkin kuning ditangannya dengan disertai sambaran angin yang amat tajam melilit kearah leher Huang Puh Kian Pek.
Angkin yang terbuat dari kain itu semula merupakan barang yang amat lemas tapi sesudah disentakkan olehnya seketika itu juga berubah menyerupai sebuah cambuk panjang sehingga mengeluarkan suara peletakan yang amat nyaring.
Huang Puh Kian Pek yang meiihat serangannya gagal tubuhnya cepat-cepat berguling ditengah udara, setelah berhasil menghindarkan diri dari lilitan angkin kuning itu pedang panjangnya cepat-cepat membabat ke samping mengancam angkin kuning yang sedang menyambar kearahnya itu.
Tapi angkin kuning dari si Rase bumi Bun Jin Cu ini jauh lebih gesit dan lincah daripada sebuah cambuk panjang, terlihat tangan kanannya menekan ke bawah menarik kembali angkin kuningnya dan tepat berhasil menghindari serangan pedang dari Hung Puh Kian Pek itu, bersamaan pula angkinnya dikebaskan ke samping mengancam sepasang kaki dari Huang Puh Kian Pek, serangan ini dilakukan amat cepat dan merupakan suatu jurus serangan yang amat indah.
Dengan cepat Huang Puh Kian Pek bersuit panjang, pedangnya bagaikan kilat cepatnya diputar disekeliling tubuhnya, tubuhnya berguling ke samping kemudian secara tiba tiba melancarkan satu tusukan kearah depan.
Seketika itu juga antara mereka berdus terjadilah suatu pertempuran yang amat sengit.
Sebaliknya pada saat itu Wi Ci To beserta si Anying langit Kong Sun Yau tetap dengan tenang tapi mantap bergeser sedikit demi sedikit ke samping mengelilingi kalangan, setiap langkah geseran mereka berdua terasa seperti diganduli oleh barang seberat ribuan kati.
Keadaannya amat tegang dan menyeramkan.
Lewat lagi beberapa saat lamanya agaknya si Anying langit Kong Sun Yau sudah merasa tidak sabaran lagi mendadak tubuh menubruk ke depan dengan sangat dahsyat sekali, kakinya berdiri melengkung bagaikan busur sedang kipas ditangannya menotok kearah musuh dengan sambaran mendatar.
Tenang bagaikan Perawan bergerak bagaikan tupai meloncat, hanya di dalam sekejap saja dia sadah menyerang ke hadapan Wi Ci To.
Ujung kaki Wi Ci To cepat-cepat menutul permukaan tanah, tubuhnya dengan cepat menyingkir ke samping kiri menghindarkan diri dari serangan kipas tersebut tetapi dia tetap tidak melancarkan serangan balasan.
Si Anying langit Kong Sun Yau tertawa dingin, jurus serangannya mendadak berubah kipasnya ditekan ke bawah sedang tubuhnya berputar menerobos dari sebelah kanan dengan dahsyatnya mengancam jalan darah "Cang Bun Hiat"
Pada pinggang kiri Wi Ci To.
Kecepatan perubahan jurus serargannya ini dilakukan begitu cepat laksana sambaran petir.
Tubuh Wi Ci To sekali lagi bergeser ke samping menghindarkan diri dari serangan musuh, ujung pedangnya sedikit diangkat bagaikan naga yang muncul dari dalam air secara tiba"tiba menusuk kearah leher pihak lawannya.
Tusukan ini dilakukan jauh lebih cepat dari serangan pihak musuh.
"Serangan yang bagus"
Bentak si Anying langit Kong Sun Yau dengan keras kakinya tetap tidak bergerak hanya tubuhnya mendadak berputar dengan mengunakan kipasnya dia menangkis datangnya tusukan tersebut.
"PlaaaK"
Pedang dan kipas terbentur menjadi satu sehingga mengeluarkan suara aduan yang amat nyaring, seketika itu juga mereka berdua masing-masing di paksa mundur dua langkah ke belakang.
Dengan mundurnya ini mereka berdua sama-sama tidak mau melepaskan kesempatan yang bagus ini, tidak menanti kakinya berhasil berdiri tegak mendadak si Anying langit Kong Sun Yau sudah menubruk ke depan kembali, kipasnya di balik secara hebat menotok kearah lambung Wi Ci To.
Jurus serangannya amat aneh tetapi indah sekali.
Wi Ci To dengan dingin mendengus dengan tergesa-gesa tubuhnya menyingkir setengah tindak ke samping, pedangnya ditekan ke bawah dengan menggunakan jurus-Hay Teh Ci Sah atau menusuk ikan hiu didasar laut dia balas menggencet kipas pihak musuhnya.
Sianying langit Kong Sun Yau yang melihat serangan pertamanya tidak memperoleh hasil serangan kedua segera menyusul datang, kipasnya diputar setengah lingkaran kemudian dibabat ke depan, terlihatlah serentetan sinar putih berkelebat menyapu wajah Wi Ci To.
Kedua orang itu berusaha menggunakan kesempatan baik yang ada untuk merebut kemenangan tapi sesudah bergebrak sebanyak dua tiga puluh jurus keadaan masih tetap seperti semula, siapa pun tidak ada yang berhasil merebut di atas angin.
Waktu itu Ti Then berhasil memancing pihak lawannya, sengaja dia perlihatkan sedikit tempat kelemahannya membuat seorang malaikat iblis dengan bersenyatakan golok panjang menyerang dari beIakang tubuhnya, pada saat yang bersamaan pula dia putar tubuhnya sedang pedangnya dengan kecepatan yang luar biasa menyambar dan menghajar pihak musuhnya.
"Aduh.."
Dengan disertai suara teriakan yang amat keras dan mengerikan simalaikat iblis bersenyatakan golok panjang itu rubuh ke atas tanah dan binasa seketika itu juga.
Tempat yang menyebabkan kematiannya tidak bukan tepat di atas alisnya, Ti Then yang membunuh seorang musuhnya segera membentak keras lagi, jurus pedangnya berubah dengan dikelilingi oleh sinar pedang kebiru-biruan pedangnya menyapu dua orang malaikat iblis yang berada di sebelah kanannya.
Belum sempat kedua orang, malaikat iblis itu melihat bagaimana datangnya serangan itu kedua buah batok kepalanya sudah melayang meninggalkan lehernya, dengan disertai semburan darah segar yang amat deras kedua benda itu bergelinding di atas tanah.
Dengan demikian malaikat iblis yang menge pung diri Ti Then kini hanya tinggal empat orang saja.
Ketika mereka melihat kawannya satu per satu berhasil dibunuh pihak musuh tanpa terasa pikirannya menjadi kacau juga, ternyata mereka tidak berani menge pung kembali, masing-masing berusaha untuk mundur ke belakang mengundurkan diri dari ancaman maut.
Si Rase bumi Bun Jin Cu yang melihat Ti Then berhasil mambunuh mati tiga orang anak buahnya kembali mendadak dia meloncat keluar dari kalangan.
"Semua berhenti, dengar perkataanku dulu"
Teriaknya dengan keras.
Mendengar suara teriakan itu si Anying Langit Kong Sun Yau segera menghentikan serangannya dan meloncat mundur ke belakang, sedang si malaikat iblis bersenyatakan siang kiam yang sedang bertempur dengan serunya melawan Wi Lian In saat ini juga sudah meloncat mundur.
Hanya di dalam sekejap mata pertempuran yang amat seru sudah berhenti semua.
"Kong Sun Hujin ada perkataan apa? "
Tanya Wi Ci To sembari tersenyum. Dari wajah si Rase bumi Bun Jin Cu pun kelihatan mulai tersungging senyuman, kepada Wi Ci To sembari tertawa ujarya.
"Wi Pocu, bilamana ini hari kami suami istri mengakui kekalahan kepada kalian, apa kamu mengijinkan kami keluar dari sini ?"
"Ha ha ha .selamanya Lohu belum pernah melakukan pembersihan sampai seakar-akarnya, tetapi maksud tujuan saudara sekalian belum tercapai bagaimana mau pergi begitu saja ?"
Si Rase bumi Bun Jin Cu segera mencibirkan bibimya, dengan lagak manya ujarnya.
"Kita tidak kuat melawan kalian kalau tidak pergi dan tetap tinggal di sini mau berbuat apa lagi?"
"Hmmm..."
Dengus Ti Then secara mendadak.
"Kalian sudah tidak maui itu kitab pusaka le Cin Keng ?"
Si Rase bumi Bun Jin Cu segera menghela napas panjang.
"Kau terlalu lihay, sudahlah."
Ujarnya dengan perlahan.
"Jika kalian timbul niat kembali untuk minta kitab itu kalian boleh pergi cari aku secara pribadi"
Ujar Ti Then lagi sembari tertawa dingin.
"Tapi aku larang kalian mengacau orang-orang Benteng Pek Kiam Po karena beberapa hari lagi aku sudah bukan orang Benteng Pek Kiam Po lagi."
"Kami bisa cari kau lagi"
Seru Si Rase bumi Bun Jin Cu.
"Ini hari kau sudah bunuh sembilan orang kami, hutang ini bagaimana pun harus akutagih. Gunung nan hijau tetap berdiri selamanya, air tenang mengalir sepanjang masa kita bertemu kembali lain waktu."
Berbicara sampai di sini kepada si Anying langit Kong Sun Yau tanyanya.
"Hey lelaki bangsat, bagaimana?"
Si Anying langit Kong Sun Yau segera mengangguk, kepada kelima orang Malaikat iblis yang masih hidup ujarnya.
"Angkat mayat-mayat itu, ayoh kita pergi"
Kelima orang malaikat ibis itu segera menyahut, cepat-cepat mereka menggotong mayat yang membujur di atas tanah beserta kedua buah batok kepalanya, dengan mengikuti Si Anying langit Rase bumi mereka cepat-cepat berlalu dari sana.
Di atas permukaan tanah kini hanya tertinggal titik-titik darah segar yang tetap membasahi dan mengotori tempat itu.
Sesudah melihat rombongan si Anying langit Rase bumi lenyap di balik pintu Benteng barulah terdengar Wi Ci To menghela napas panjang.
"Heei. tidak kusangka bisa berakhir begitu"
"Suheng kau seharusnya jangan melepaskan mereka pergi"
Ujar Huang Puh Kian Pek yang berdiri disisinya.
"Selamanya si Anying langit Rase bumi belum pernah menderita kerugian sedemikian besarnya, ini hari kita melepaskan harimau pulang gunung tidak sampai satu bulan kemudian mereka pasti akan datang kembali, sewaktu lain kali mereka datang kembali tentu bukan dua puluh orang saja yang dibawa bahkan mungkin bisa sampai dua ratus orang atau dua ribu orang banyaknya."
"Soal ini kau tidak perlu kuatir"
Hibur Wi Ci To dengan suara perlahan.
"Nanti biarlah aku kirim perintah seratus pedang kembali untuk panggil semua pendekar pedang merah pulang."
Berbicara sampai di sini barulah dia menoleh kearah Ti Then.
"Ti Kiauw-tauw bagaimana kalau kita berbicara di dalam saja ?"
Ujarnya. Ti Then melirik sekejap kearah Wi Lian In yang berdiri menyauhi dirinya itu ketika melihat wajahnya sangat adem ujarnya kemudian.
"Jika Pocu ada perkataan silahkan dibicarakan di sini saja"
Air muka Wi Ci To berubah menjadi amat keren, sesudah termenung berpikir beberapa saat lamanya barulah ujarya.
"Tadi karena keadaan yang sangat mendesak Lohu sudah berbicara sedikit kurang sopan tentunya Ti Kiauw-tauw tidak menganggap sungguhan bukan ?"
"Itu adalah urusan yang nyata seharusnya Pocu berbicara begitu"
Sambung Ti Then dengan cepat.
"Tetapi maksud Lohu yang sebenarnya..."
"Boanpwe paham"
Potong Ti Then dengan cepat.
"Pocu serta Hu Pocu mau membuang waktu memberi bantuan boanpwe merasa sangat berterima kasih sekali. budi kebaikan ini pada kemudian hari tentu boanpwe balas"
Wi Ci To tertawa pahit.
"Ti Kiauw-tauw sudah salah artikan perkataan Lohu"
Ujarnya dengan serius.
"Bilamana bukannya Ti Kiauw tauw beri bantuan pada ini hari tentu Benteng kami sudah mengalami malapetaka yang amat hebat, karena itu seharusnya lohu yang megucapkan terima kasih kepadamu"
"Tidak, urusan ini ditimbulkan karena boanpwe pribadi"
"Jika bukannya Ti Kiauw tauw keluar Benteng untuk menolong putriku tidak mungkin bisa timbul peristiwa ini"
Ti Then tidak mau tarik panjang persoalan ini lagi, ujarya kemudian.
"Pocu masih ada perkataan apa lagi yang hendak disampaikan, jika tidak ada boanpwe mau mohon diri terlebih dulu"
Selesai berkata dia merangkap tangannya memberi salam perpisahan.
"Tunggu sebentar"
Ujar Wi Ci To dengan cemas ketika dilihatnya Ti Then mau pergi.
"Lohu ada urusan yang hendak minta petunjuk darimu"
Sambil menggendong tangannya dia berjalan bolak balik ditempat itu, kemudian dengan menghela napas panjang ujarnya.
"Hingga sekarang Lohu masih tidak paham ..sejak Ti Kiauw-tauw masuk ke dalam Benteng kami segala perbuatan dan tindak tandukmu sama sekali tidak mem punyai maksud jahat, tapi... dapatkah Ti Kiauw tauw menjelaskan kepada Lohu secara terus terang kenapa kau pergi menyamar sebagai Lu Kongcu?"
"Tentang urusan ini maaf boanpwe tidak bisa memberitahu"
Potong Ti Then dengan cepat. Kening yang dikerutkan semakin mengencang kembali, dengan mata yang amat tajam Wi Ci To memandang terpesona kearahnya.
"Kalau begitu jawablah perkataan lohu ini .."
Ujarnya kemudian.
"Kau mengaku tidak kalau Lu Kongcu itu adalah hasil penyamaranmu?"
"Mengakui"
"Apa tujuanmu?"
Desak Wi Ci To lagi.
"Tetap seperti perkataan tadi, maaf tidak bisa kukatakan."
Wajah Wi Ci To kelihatan berkerut-kerut agaknya di dalam hati dia merasa amat gusar sekali, hanya saja tidak sampai diumbar keluar, sekali lagi dia berjalan bolak balik disekeliling tempat itu.
"Dua hari lagi boanpwe akan memgembalikan ketiga ratus uang perak itu kepada Pocu"
Ujar Ti Then lagi.
"Selain itu boanpwe akan menginap dirumah penginapan Hok An di dalam kota hingga menanti hwesio-hwesio dari Siauw lim pay datang dan membereskan kesalah pahaman ini, dalam hal ini jika Pocu mau minta petunjuk,-silahkan kirim orang ke rumah penginapan Hok An untuk panggil boanpwe"
Selesai berkata dia merangkap tangannya memberi hormat lalu kepada Huang Puh Kian Pek serta Wi Lian In, setelah itu cepat-cepat dia putar tubuh berjalan keluar meninggalkan Benteng.
Saking jengkelnya seluruh tubuh Wi Ci To gemetar dengan amat kerasnya, sambil mengibaskan ujung bajunya dengan langkah lebar dia berjalan masuk ke dalam ruangan.
Ki Hong itu pendekar pedang hitam ketika melihat Ti Then mau pergi dengan cepat berlari sambil menuntun kuda Ang Shan Khek itu.
"Ti Kiauw tauw, ini tungganganmu"
Ujarnya.
Ti Then tidak banyak bicara, segera dia meloncat naik ke atas tunggangannya kemudian melarikan kudanya menuju kekota Go bi dengan cepatnya.
Sesampainya di rumah penginapan Hok An siang hari sudah lewat, sesudah makan kenyang segera dia meninggalkan rumah penginapan kembali untuk mencari tahu berita tentang rombongan si Anying langit Rase bumi itu.
Dia bisa melakukan hal ini disebabkan karena jejak orang-orang si Anying langit Rase bumi itu sangat mencurigakan sekali, setelah mereka kehilangan sembilan orang malaikat iblisnya pastilah tidak akan berdiam begitu saja, bahkan sewaktu dia melihat si Rase bumi Bun Jin Cu mengaku kalah padanya mukanya memperlihatkan suatu rencana yang tersembunyi, kemungkinan sekali mereka sudah merencanakan suatu penyerbuan secara diam-diam ke dalam Benteng Pek Kiam Po sehingga bisa menutupi kembali perasaan malu atas kekalahannya pada siang hari, oleh sebab itulah dia mau mengetahui jejak mereka untuk kemudian mengawasi segala gerak geriknya secara teliti.
Tetapi walau pun dia sudah berlari dan mencarinya diseluruh penjuru kota tetap tidak tampak jejak mereka, bahkan tak seorang pun yang melihat orang-orang dengan dandanan semacam itu memasuki kota.
Karenanya terpaksa dia pulang kerumah penginapan untuk beristirahat.
Tidak lama malam hari pun menjelang.
Semakin berpikir dia merasa semakin tidak tenang, akhimya cepat-cepat dia turun dari pemharingan dan keluar kamar, kepada seorang pelayan ujarnya.
"Hey Pelajan, aku mau keluar kota untuk menyambangi seorang kawanku ini malam tidak akan tidur di sini harap kau menyagakan kamarku ini, pada kemudian hari tentu aku beri upah kepadamu"
"Baik, balk.."
Sahut pelayan ini dengan gembira.
"Sekarang juga hamba sediakan kuda buatmu"
Selesai berkata dia putar tubuh dan berlalu dari ssna. Dengan gugup Ti Then segera berteriak.
"Tidak usah, tidak usah ...aku tidak naik kuda."
"Kongcu mau heluar kota bagaimana tidak naik kuda?"
"Temanku itu berdiam tidak jauh dari kota, lebih baik aku berjalan kaki saja."
Sekeluarnya dari rumah penginapan dengan cepat dia berjalan keluar dari pintu kota sebelah Barat, dilihatnya disekitar tempat itu sudah tidak ada orang barulah dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya berlari menuju ke atas gunung Go-bi.
Tidak sampai setengah jam kemudian sampailah dia ditengab gunung Go-hie di atas tebing Sian Ciang tepat di belakang Benteng Pek Kiam Po.
Dengan diam-diam dia mengitari sekeliling tebing Sian Ciang itu untuk periksa satu kali, ketika dilihatnya para pendekar pedang dari Benteng Pek Kiam Po hanya berjaga-jaga di bawah tebing saja hatinya segera merasa tidak tenang, pikirnya.
"Mungkin Wi Lian In tidak menyampaikan usulku itu kepada Wi Ci To, Tebing Sian Ciang ini merupakan tempat yang paling baik bagi musuh untuk menyerang Benteng Pek Kiam Po, bagaimana dia tidak kirim orang untuk menyaga?"
Jika dilihat pada tengah malam Tebing Sian Ciang ini rnirip sekali dengan sebuah tangan raksasa yang sedang merangkul sungai perak dan sedang memetik bintang serta rembulan bentuknya amat megah dan angker sekali, Dia memilih tempat-tempat yang baik mudah untuk digunakan mendaki diantara dinding tebing yang amat curam bagaikan seekor kera dengan merambat dan memanyat terus ke atas.
Jilid 14.2.
Tewasnya si Anying langit Tidak selang lama dia sudah berhasil mencapai puncak tebing, perlahan-lahan dia mulai duduk di samping tebing yang berhadapan dengan Benteng Pek Kiam Po.
Ketika melihat ratusan lampu yang sedang menyinari seluruh Benteng tanpa terasa hatinya merasa kecewa, teringat olehnya sewaktu kemaren hari dia duduk berdampingan dengan Wi Lian En, waktu itu merasa mesranya Wi Lian In bersandar pada tubuhnya berkata dengan merdunia, Jika kau tidak bisa dipercaya maka di dalam dunia ini tidak ada orang yang bisa dipercaya lagi, tapi sewaktu dirinya seIesai beli obat di dalam kota Ku le serta Liauw Su Cen dari sarang pelacur Touw Hoa Yuan sudah datang, hal ini tentu sangat melukat hati Wi Lian In.
Heeei, omong pulang pergi semuanya ini adalah karena ketololan sendiri, jika waktu itu dia tidak mau belajar kepandaian silat dari majikan patung emas tentu tidak akan sampai terjadi peristiwa semacam ini, dosa yang dibuat dirinya sungguh amat berat.
"Braaak"
Mendadak suara runtuhnya pasir serta batu-batuan berkumandang datang dari tebing di sebelah belakangnya.
Ti Then merasakan hatinya tergetar, cepat-cepat tubuhnya melayang dan bersembunyi di balik sebuah tempat yang tidak terlihat oleh manusia, dia berdiam diri tak berani bergerak, dengan tajamnya memperhatikan semua gerak gerik di sebelah sana.
Ada orang datang.
Sedikit pun tidak salah baru saja dia menyembunyikan diri terdengarlah suara seseorang sedang berkata.
"He .. he .tebing Sian Ciang ini, sungguh sukar didaki "
Segera terdengar suara jawaban dari orang lainnya -Jika mudah untuk didaki bagaimana Wi Ci To berani berlaku begitu gegabahnya sehingga tidak kirim orang untuk berjaga?"
Kemudian terdengar suara dari si Rase bumi Bun Jin Cu sedang berkata.
"Kalau jalan sedikit hati hati, jangan sampai ada batu yang tertendang jatuh ke bawah tebing,"
"Benteng Pek Kiam Po berada ditepian tebing sebelah sana, ayo kita lihat-lihat sebelah sana"
Suara Si Anying langit Kong Sun Yau menyambung perkataan dari istrinya.
Bersamaan berhentinya suara pembicaraan muncullah bayangan manusia satu persatu sebanyak sepuluh orang , .
mereka bukan lain adalah Si Anying langit Rase bumi beserta kedelapan orang malaikatnya, Pada punggung masing-masing pada membawa anak panah serta busurnya sedang ditangan membawa gentong-gentong berisikan minyak tanah yang mudah terbakar dengan tenangnya mereka melanjutkan perjalanan menuju kepingiran sebelah Benteng Pek Kiam Po.
Ternyata dugaan Ti Then sedikit pun tidak meleset, Si Anying langit Rase bumi benar-benar hendak menyerang Benteng seratus pedang dengan jalan membongkong secara diam.
Ti Then tahu bahwa bokongan mereka ini jika sampai berhasil maka dari pihak Benteng Pek Kiam Po menderita kerugian yang amat besar, karenanya dia tidak berani berlaku ayal lagi, dari samping badannya dia mengambil sebuah batu kerikil yang tidak begitu besar kemudian secara diam-diam disambitkan kearah Benteng Pek Kiam Po.
Dia sangat mengharapkan sambitan batunya ini berhasil mengenai atap rumah di dalam Benteng itu, sehingga mengejutkan semua orang yang berada di dalam Benteng agar mereka semua tahu kalan di atas tebing Sian Ciang sudah kedatangan musuh.
Pada saat dia sedang menyambitkan batu kearaha Benteng itulah rombongan Si Anying langit Rase bumi itu sudah tiba di pinggiran tebing yang mengarah Benteng Pek Kiam Po.
Terdengar Si Rase bumi Bun Jin Cu berkata sembari tertawa ringan.
"Hey lelaki bangsat, bagus bukan akalku ini?"
"Hey ....jika kau bisa dapatkan akal itu sejak semula dari pihak kita tak akan kehilangan sembilan orang"
Seru si Anying langit Kong Sun Yau sembari menghela, napas panjang.
"Semula aku mana tahu kalau bangsat cilik She Ti itu memiliki kepandaian silat begitu mengerikan, aku mengira dengan menggunakan kesempatan sewaktu pendekar pedang merah mereka tidak berada di dalam Benteng dengan kekuatan kita dua puluh orang, sudah cukup, siapa tahu..."
"Hei.. tidak usah banyak omong kosong lagi, ayoh kita cepat-cepat turun tangan"
Demikianlah mereka bersepuluh segera melepaskan anak panah serta busur dari tubuhnya untuk mulai mengangkat batu-batu besar.
Yang mereka ambil kebanyakan merupakan batu-batu cadas yang amat besar bahkan setiap batu itu mem punyai berat tiga sampai lima ratus kati ke atas, dengan batu yang begitu besar ditambah dengan daya lemparan dari atas tebing setinggi ratusan kaki, jangan dikata manusia sekali pun banguna Benteng yang kokoh juga akan hancur oleh serangan ini.
Salah seorang malaikat iblis yang sedang mengambil batu-batu cadas tiba-tiba bertanya.
"Baiknya dilempari batu dulu atau dengan panah berapi?"
"Kita lempari batu dulu"
Jawah si Rase bumi Bun Jin Cu singkat.
"Betul"
Teriak Si Anying langit Kong Sun Yau membenarkan usul isterinya itu.
"Jika kita menggunakan panah api terlebih dulu sebelum sampai di dalam Benteng pasti sudah diketahui."
"Hanya tidak tahu Wi Ci To tidur di sebelah mana, jika tahu cukup mengarah kamarnya kita lempari sebuah batu cadas pasti dia akan kegencet menjadi jadah, seru salah seorang malaikat iblis.
"Masih ada sibangsat cilik she Ti itu, di dalam Benteng Pek Kiam Po hanya dua orang ini saja yang paling menakutkan, jika salah satu diantara mereka terkena hingga yang lainnya tidak perlu kita takut lagi"
Si rase bumi Bun Jin Cu mengangguk membenarkan perkataannya itu.
"Agaknya antara bangsat cilik itu dengan Wi Ci To sudah terjadi suatu urusan yang tidak menyenangkan, kau dapat meiihat tidak?"
Tanyanya.
"Tidak salah"
Jawab Si Anying langit Kong Sun Yau.
"Agaknya bangsat cilik itu mau meletakkan jabatannya sebagai Kiauw tauw sedang Wi Ci To tidak setuju, ternyata dia meminta bangsat cilik itu pada saat itu juga mengembalikan uang tiga ratus tahilnya baru memperbolehkan dia pergi. Ha ha ha orang bilang Wi Ci To jauh lebih menghargai sikap manusia dari pada harta kekayaan, kelihatannya tidak begitu . ."
Pada saat mereka sedang berbicara itulah dua buah batu cadas yang amat besar sudah disiapkan.
Ti Then segera merasa bahwa dia tidak seharusnya berdiam diri terus melihat mereka melanjutkan pekerjaannya untuk mengumpulkan batu-batu cadas yang besar, diam-diam diambilnya beberapa butir batu kerikil kemudian membentuk keras dia meloncat keluar dari tempat persembunyiannya sedang kerikil ditangannya dengan tenaga besar disambit kearah musuhnya.
Si Anying langit rase bumi sekalian sama sekali tidak pernah menduga kalau di atas tebing masih ada orang lain, karenanya begitu Ti Then membentak keras bagaikan sambaran geledek disiang hari bolong seketika itu juga membuat mereka saking terkejutnya sudah meloncat ke atas.
Dikarenakan loncatannya inilah ketiga orang malaikat iblis yang berdiri di belakangnya tepat menerima hajaran dari sambitan batu Ti Then itu yang mengenai lambung mereka, seketika itu juga darah berceceran sedang tubuh mereka bertiga bergulung-gulung ditatas sambil menjerit-jerit kesakitan.
Sambitan batu dapat mencelakai hingga dalam tubuh sebetulnya merupakan kejadian yang tidak masuk akal, tetapi hal yang sebenarnya sedikit pun tidak ada anehnya karena dengan tenaga dalam yang berhasil di !atih Ti Then hingga saat ini sudah boleh dikata mencapai pada taraf menyambit dengan daun melukai tubuh orang, apalagi kini yang dibuat sambitan adalah batu kerikil yang tajam sudah tentu tanpa bisa ditahan lagi sudah menembus lambung mereka bertiga.
Si Anying langit Rase bumi yang melihat munculnya Ti Then secara tiba-tiba itu sudah berhasil melukai ketiga orang anak buahnya tanpa terasa air muka mereka sudah berubah amat hebat, sembari berteriak aneh mereka bersama sama menubruk ke depan mengancam tubuh Ti Then.
Sejak semula Ti Then sudah bikin persiapan untuk menghadapi pertempuran yang amat sengit ini, karenanya setelah dia menyambit batu-batu itu cepat cepat pedangnya dicabut keluar dan dilintangkan di depan dadanya.
Ketika dilihatnya Si Anying langit rase bumi bersama sama menubruk kearahnya dengan cepat bukannya mundur malah sebaliknya memapaki datangnya serangan mereka berdua, tubuhnya maju dua langkah ke depan sedang pedangnya dengan amat dahysat dibabat kearah mereka.
Serentetan sinar kemerah-merahan yang amat menyilaukan berkelebat memenuhi seluruh angkasa, ujung pedangnya dengan tajam menusuk ketubuh Si Anying langit kemudian melanjutkan serangannya kearah Si Rase bumi yang berada disisinya, di dalam satu jurus mem punyai dua gerakan serangan yang berbeda sungguh hebat sekali.
Si Anying langit bukanlah manusia bodoh, sewaktu tubuhnya menubruk ke depan senyata kipasnya sudah dipersiapkan terlebih dulu.
Tubuhnya bergerak miring sedikit ke samping dengan menggunakan jurus "Sun Hong Si Cwan"
Atau mengikuti angin melajukan perahu dia memunahkan tusukan pedang yang datang dari Ti Then ini kemudian sewaktu sepasang ujung kakinya mencapai tanah senyata kipasnya sekali lagi dengan menggunakan jurus "Giok Li Cuan Suo atau gadis cantik memakai baju mengancam jalan darah Thai yang Hiat sebelah kiri dari Ti Then.
Si Rase bumi yang berada ditengah udara pun menggerakkan angkin kuningnya.
"Sreet.."
Laksana seekor ular emas dengan gesitnya menyambar dan menggulung ujung pedang Ti Then.
Cepat-cepat Ti Then membungkukkan badannya sambil mengibaskan pedangnya ke samping, tubuhnya sekali lagi berputar ke samping pedangnya bagaikan segulung sinar api yang amat dahsyat balas menggulung kearah musuh-musuhnya.
Bersamaan waktunya Si Anying langit rase bumi meloncat ke samping untuk menghindarkan diri dari serangan itu, kipas beserta angkin kuning itu sekali lagi menyerang secara berbareng membabat kearah batok kepala serta melilit pinggang Ti Then.
Mereka bertiga masing-masing dengan mengerahkan ilmu silat andalan masing-masing berusaha untuk berebut melancarkan serangan, seketika itu juga terjadilah suatu pertempuran yang amat sengit sekali.
Sembari melancarkan serangan-serangan yang dahsyat Si Rase bumi Bun Jin Cu tak henti-hentinya melirik keseluruh penjuru, ketika dilihatnia dari dalam Benteng Pek Kiam Po tidak tampak bayangan manusia pun yang muncul hatinya baru merasa agak lega.
"Hey bangsat cilik"
Teriaknya sembari tertawa."Ini malam kau pasti binasa,"
"Ha ha ha ha ha..."
Suara tertawa dari Ti Then semakin lama semakin bertambah nyaring.
"Yang binasa pada malam ini haruslah menunggu sebentar lagi baru bisa dipastikan."
Si Rase bumi Bun Jin Cu sudah merasa pasti kalau mereka suami istri berdua pasti bisa membereskan dirinya, hanya dia, kuatir terhadap manusia-manusia dari Benteng Pek Kiam Po, karena itu dengan nada memancing, ujarnya.
"He..hee ... menurut pengetahuanku, orang-orang dari benteng Pek Kiam Po sudah pada tidur semua.?"
"Tidak salah, tidak salah. Orang-orang dari Benteng Pek Kiam Po sudah pada tidur semua, hanya kalian orang-orang dari istana Thian Teh Kong saja yang belum tidur,"
Ketika si Rase bumi Bun Jin Cu mendengar dia tidak mau mengaku secara terus terang hatinya malah dibuat menjadi tidak tenang, ketika dilihatnya kelima orang malaikat iblis lainnya sedang berdiri dengan termangu-mangu tanpa terasa sudah membentak keras.
"Kalian berlima hanya berdiri termangu-mangu di sana mau tunggu apa lagi? Cepat dorong batu-batu itu ke bawah kemudian melepaskan panah-panah berapi "
Sesudah mendengar perintah itu dari antara kelima orang malaikat iblis itu segera terlihatlah dua orang sudah mengangkat dua buah batu besar kemudian dilemparkan kearah bawah.
Sedang sisanya tiga orang menumpahkan minyak dan digosokkan pada ujung anak panah, sesudah disudut dengan api panah-panah itu mulai dipanahkan kearah Benteng.
"Sret ..sret .."Sebuah demi sebuah anak-anak panah berapi itu bagaikan sambaran kiiat cepatnya meluncur ke bawah bersarang di atas atap-atap Benteng Pek Kiam Po. Dua buah batu cadas yang didorong ke bawah agaknya sudah mencapai sasaran pada atas atap rumah, dari kejauhan hanya terdengar suara benturan yang amat keras bergema memenuhi seluruh tempat. Ti Then yang dike pung rapat-rapat oleh si Anying langit rase bumi tidak sanggup untuk menahan gerak gerik mereka, terpaksa dengan sekuat tenaga dia melancarkan serangan-serangan dahsyat mencecer diri Anying langit rase bumi berdua, tapi bagaimana pun juga Si Anying langit Rase bumi merupakan jago-jago berkepandaian tinggi dari Bu-lim yang sudah amat terkenal apalagi kini mereka suami isteri turun tangan bersama sama, baik di dalam menyerang mau pun dalam bertahan mereka bisa bekerja sama begitu rapatnya membuat Ti Then yang sudah menyerang dua tiga puluh jurus dengan gencar masih tetap tidak berhasil menduduki di atas angin. Ketika dilihatnya kelima orang malaikat iblis itu dengan tak henti-hentinya memanahkan panah-panah berapi kearah genteng dia menjadi cemas, mendadak pedangnya dengan disertai sambaran angin yang amat tajam menyapu sepasang kaki Si Anying langit, bersamaan pula tangan kirinya diayunkan ke depan dengan gaya hendak menyambitkan senyata-senyata rahasia. Bentaknya.
"Lihat serangan"
Dengan meminyam kagempatan sewaktu si Anying langit merangkap kipasnya untuk melindungi dada dan si rase bumi dibuat tertegun cepat-cepat dia.
meloncat keluar dari ke pungan kemudian bagaikan sambaran angin cepatnya menubruk kearah kelima orang malaikat iblis itu.
"Hati-hati!"
Teriak Si Anying langit Kong Sun Yau dengan perasaan amat cemas.
Pada waktu itu kelima orang malaikat iblis itu sedang berdiri menghadap kearah luar tebing sedang seluruh perhatiannya pun sedang dipusatkan pada panah-panah berapi itu, begitu rnendengar suara bentakan itu dengan gugup mereka putar tubuh sembari mengangkat busur masing-masing untuk menangkis datangnya serangan, kemudian dengan berbareng mereka melancarkan serangan dahsyat kearah Ti Then.
Pedang ditangan Ti Then dengan disertai angin sambaran yang amat tajam menyapu kearah mereka." ...triing-...triing..
triing "
Suara yang amat nyaring bergema ditengah malam itu, tiga buah busur diantara kelima orang itu sudah berhasil dibabat putus oleh pedangnya itu.
Pada saat yang bersamaan itu pula mendadak dia merasakan kaki kanannya seperti dililiti oleh ular kemudian disusul dengan segulung tenaga yang amat besar menarik seluruh tubuhnya ke belakang.
Kiranya angkin kuning dari Si Rase bumi Bun Jin Cu secara diam-diam sudah berhasil meliliti kakinya kemudian dengan seluruh tenaga menarik tubuhnya ke atas membuat tubuh Ti Then dengan menimbulkan suara yang amat keras rubuh terjengkang di atas tanah.
Jatuhnya kali ini adalah kepalanya terlebih dulu mengenai tanah membuat otaknya terasa amat sakit dan pening, pandangannya menjadi kabur dan berkunang-kunang hampir-hampir membuat dirinya jatuh tidak sadarkan diri.
Walau pun dia tidak sampai jatuh pingsan tapi keadaannya semakin jelek lagi, Si Anying langit Kong Sun Yau yang berdiri di samping ketika melihat dia terjatuh ke atas tanah senyata kipasnya cepat-cepat ditutul ke depan mengancam jalan darah Ling Thay Hiat pada punggungnya.
Di dalam keadaan yang amat kritis ini Ti Then sama sekali tidak melihat adanya serangan kipas dari Si Anying langit Kong Sun Yau bahkan kepalanya yang pening dan pandangannya yang kabur membuat pendengarannya menjadi hilang dayanya.
Tapi dia dapat menduga Si Anying langit Kong Sun Yau pasti menggunakan kesempatan yang sangat baik itu untuk melancarkan satu serangan yang mematikan kearahnya, karena itu begitu tubuhnya terjatuh ke atas tanah cepat-cepat dia berguling kearah samping bersamaan pula dengan membabi buta dia melancarkan satu serangan dahsyat.
Disaat-saat yang amat bahaya itulah dia berhasil meloloskan diri dari serangan si anying langit Kong Sun Yau yang mematikan itu....serangan senyata kipas dari Si Anying langit pun mengenai tempat yang kosong.
Tetapi Ti Then belum sama sekali lolos dari mara bahaya, angkin kuning dari si Rase Bumi Bun Jin Cu dengan eratnya masih mengait pada kaki sebelah kanannya.
Kiranya angkin kuning dari si Rase bumi Bun Jin Cu ini sangat jahat sekali, pada sebuah bagian dari angkin itu dipasang beribu"ribu kail-kail kecil yang amat tajam sekali, bentuknya mirip dengan mata kail untuk memancing ikan tapi semuanya terbuat dari emas.
Begitu mengenai tubuh musuh maka semua kail-kail emas itu akan menusuk masuk ke dalam tubuh sehingga sukar sekali meloloskan dirinya.
Kini kaki kanan dari Ti Then pun sudah terkena pancingan=pancingan emas itu sehingga sukar buat dirinya untuk bergerak walau pun tidak terasa sakit olehnya di dalam pertempuran ini tapi untuk meloloskan diri janganlah harap.
Dia tahu bilamana dirinya mau meloloskan diri dari angkin itu satu-satunya jaIan hanya membabat putus angkin tersebut.
Tapi baru saja dia bermaksud membabat angkin tersebut Si Rase bumi dengan gesitnya sudah menyentak tubuhnya meninggalkan permukaan tanah, bagaikan seutas Iayang-layang tubuh Ti Then dengan kerasnya ditarik berlari keempat penjuru.
Sedang itu Si Anying langit Kong Sun Yau bagaikan bayangan saja dengan eratnya mengikuti terus disisi tubuhnya, senyata kipas yang berada ditangannya dengan tak henti-hentinya melancarkan serangan gencar mengancam seluruh tempat bahaya dari Ti Then.
Dengan perkataan lain .
Ti Then yang sudah dipermainkan dan diombang ambingkan Si Rase bumi Bun Jin Cu dia pun harus melancarkan serangan dan mangobat abitkan pedangnya untuk memusnahkan semua serangan-serangan dahsyat serta serangan maut yang mengancam seluruh tempat penting pada tubuhnya, keadaannya pada saat ini betul-betul amat bahaya sekali.
Situasi dan keadaan yang seperti ini di dalam jarang sekali terjadi karena itu sampai kelima orang malaikat iblis itu pun dibuat terpesona oleh keadaan semacam ini.
Sembari menarik tubuh Ti Then dan berlari-lari tak henti-hentinya Si Rase bumi Bun Jin Cu sempat berkata sembari tertawa merdu.
"Hey lelaki bangsat. Kenapa tidak cepat-cepat turun tangan."
"Ha ha ha ... .sudah hampir..sudah hampir"
Teriak Si Anying langit Kong Sun Yau sembari tak henti-hentinya melancarkan serangan mautnya."Aku tidak percaya bangsat cilik ini bertahan lebih lama Iagi ..."
Baru saja perkataannya selesai diucapkan mendadak.... suatu parubahan timbul secara mendadak. Serentetan sinar terang yang amat tajam dan menyilaukan mata dengan menerjang angin berkelebat datang.
"Plaaak-, angkin kuning menjadi dua bagian. Apakah terputus oleh babatan pedang Ti Then?"
Yang memutuskan angkin kuning itu hanyalah sebilah pisau terbang yang amat tipis.
Kemunculan pisau terbang itu sangat mendadak sekaii, Si Rase bumi Bun Jin Cu yang sedang menarik dengan sekuat tenaga seketika itu juga menjadi terhuyung-huyung kehilangan keseimbangannya, hampir-hampir dia terjatuh ke dalam jurang.
Tetapi kejadian yang muncul diluar dugaan ini memberi suatu akibat yang jauh lebih parah, jauh lebih mengerikan lagi bagi Si Anying langit Kong Sun Yau.
Semula dia memangnya sedang melancarkan serangan gencar mengancam diri Ti Then, tetapi begitu angkin kuning itu terputus maka tubuh Ti Then pun menjadi berhenti, sebaliknya Si Anying langit Kong Sun Yau yang dengan napsunya sedang melancarkan serangan tidak sanggup untuk berhenti di dalam waktu seketika itu juga karenanya jarak antara dirinya dengan Ti Then pun menjadi amat dekat, dengan meminyam kesempatan itulah Ti Then sudah melancarkan satu serangan yang tepat menembus lambungnya.
Untuk beberapa saat lamanya dia menjadi tertegun, tetapi ketika dilihatnya pada lambungnya sudah tertembus oleh pedang Ti Then saat itulah tanpa bisa ditahan lagi dia menjerit ngeri dengan amat kerasnya.
PerIahan-lahan tubuhnya rubuh ke tanah dan saat itu juga putuslah napasnya.
Melihat kejadian itu Si Rase bumi Bun Jin Cu menjadi amat terperanyat dengan suara amat kaget teriaknya.
"Hey Ielaki bangsat, kau kenapa?"
Waktu itu Ti Then dengan kecepatan yang luar biasa sudah meloncat dari atas tanah, sesudah mencabut keluar pedangnya dari lambung Si Anying langit Kong Sun Yau barulah dia berdiri di samping.
Bagaikan seorang yang kalap dengan cepat si Rase bumi menubruk ke atas mayat suaminya, matanya dipentangkan lebar-lebar sedang bibirnya dengan gemetar berkemak-kemik.
"Lelaki bangsat, kau...kau sudah mati?"
Agaknya dia tidak percaya kalau suaminya bisa mati, tapi kini dengan mata kepala sendiri dia melihat suaminya memang betul-betul sudah binasa, tak tertahan lagi butir-butir air mata mengalir keluar dengan amat derasnya.
Semula suara tangisannya tidak terdengar lama kelamaan isak tangisnya semakin menjadi, dan akhirnya bagaikan guntur yang membelah bumi dia menangis dengan kerasnya sembari gembar gembor tidak karuan.
Pada saat itulah terlihat tiga orang berlari dengan amat cepatnya mendekati tempat itu.
Ketiga orang itu bukan lain adalah Po cu dari Benteng Pek Kiam Po, Wi Ci To, Hu Pocu Huang Puh Kian Pek beserta Wi Lian In.
Wajah mereka semua sudah berubah amat dingin dan angker, dengan tajamnya memperhatikan Si Rase bumi yang sedang menangis dengan sedihnya di atas mayat si Anying langit.
Tanpa berkata-kata lagi mereka bersama-sama mencabut keluar pedangnya masing-masing kemudian secara serempak menyerang kelima orang malaikat iblis itu.
Jika dilihat dari perubahan wajah mereka, jelas kelihatan kalau mereka bertiga amat gusar sekali bahkan sudah ambil keputusan untuk membasmi orang-orang dari istana Thian Teh Kong.
Baru saja mulai kelima orang malaikat iblis itu sudah dipaksa berada di bawah Angin.
Kiranya kedelapan orang malaikat iblis yang dibawa anying langit rase bumi malam ini selaln setiap orang membawa seperangkat anak panah beserta busurnya sama sekali tidak membawa senyata tajam lainnya, saat ini kelima orang malaikat iblis itu terpaksa harus menggunakan busur untuk mengdakanperlawanan, sedang busur itu bukanlah senyata yang sesuai untuk bergebrak karena itu baru saja mulai mereka sudah dipaksa berada di bawah angin dan terdesak mundur terus.
Wi Ci To serta Huang Puh Kian Pek masing-masing melawan dua orang malaikat iblis, terlihatlah sinar pedang berkelebat tak henti-hentinya, diantara sambaran angin yang amat tajam suara jeritan ngeri saling susul menyusul.
Empat orang malaikat iblis sudah terbinasa di bawah pedang mereka.
Sedang malaikat iblis yang melawan diri Wi Lian In saking terdesaknya terus mengundurkan diri ketepi tebing, akhirnya dia pun terjatuh ke dalam jurang dan binasa seketika itu juga.
Setelah semuanya beres mereka bertiga baru putar tubuhnya dan berjalan mendekati rase bumi yang saat ini sedang menangis dengan amat sedihnya di samping mayat suaminya.
"He..he..Bun Jin Cu, kau berdiri"
Teriak Wi Ci To sepatah demi sepatah dengan tegasnya.
Bagaikan sama sekali tidak menclengar suara bentakan itu Si Rase bumi Bun Jin Cu masih tetap menangis dengan amat sedihnya.
Sepasang mata Wi Ci To segera berubah menjadi amat seram, dengan keras bentaknya tagi.
"Bangun!"
Si Rase bumi Bun Jin Cu tetap duduk di atas tanah sembari menangis tersedu-sedu kelihatannya dia memang betul-betul sangat berduka sehingga terhadap peristiwa yang terjadi disekeliling tempat itu sama sekali tidak punya minat untuk mengurusnya, Wi Ci To adalah seorang jagoan yang punya nama terhormat di dalam Bu-lim pada saat ini, sudah tentu dia tidak mau melancarkan serangan bokongan kepada Si Rase bumi, ketika dilihatnya dia tetap tidak ambil perduli alisnya kelihatan dikerutkan rapat-rapat, agaknya dia sudah dibuat jengkel oleh kelakuannya itu.
"Hmm..hm..Bun Jin Cu"
Teriak Wi Lian sembari tertawa dingin.
"Yang binasa ini hari bukan hanya suamimu, kedelepan belas malaikat iblis yang kau bawa pun sudah ada tujuh belas orang yang binasa, kenapa kau tidak menangisi juga bagi mereka?"
Setelah mendengar ejekan itu mendasak Si Rase bumi Bun Jin Cu menghentikan suara tangisannya, sesudah menggendong mayat suaminya segera dia berjalan meninggalkan tempat itu.
Melihat mereka sama sekali tidak digubris sekali lagi Wi Ci To mendengus dengan amat dingin..
"Bagaimana ? begitu saja mau pergi "ujarnya dengan dingin. Dengan perlahan Si Rase bumi Bun Jin Cu menghentikan langkahnya, dengan menahan isak tangisnya dia bertanya.
"Kau mau berbuat apa ?"
Dari nadanya ini ternyata mengandung sedikit "
Genit.
"Dua buah batu cadas tadi sudah membunuh mati empat orang pendekar pedang kami."
Bentak Wi Ci To dengan suara berat.
"Itu masih terhitung tidak berat"
Bantah Si Rase bumi Bun Jin Cu sembari menangis.
"Aku sudah ditinggal suamiku bahkan ketujuh belas orang anak buahku pun sudah binasa semua."
Wi CiTo menjadi amat gusar.
"Tapi semua urusan ini ditimbulkan oleh kalian!"
Bentaknya.
"Aku tidak mau mengurus, aku tidak mau bergebrak dengan kalian"
Teriak si rase bumi sembari menangis tersedu sedu.
"Kalian, mau membunuhku cepatlah turun tangan. Aku tidak percaya kau berani turun tangan dengan seorang perempuan yang sama sekali tidak mengadakan perlawanan "
Saking jengkel dan marahnya air muka Wi Ci To sudah berubah pucat kehijau hijauan. Bentaknya dengan keras.
"Bun Jin Cu, kau janganlah sengaja perlihatkan mimik wajah yang patut dikasihani, kau adalah perempuan macam apa Lohu sudah tahu amat jelas sekali "
"Aku kehilangan suami apa tidak patut untuk menangis sedih?,"
Bantah Si Rase bumi itu sambil menahan isak tangisnya.
"Tia"
Teriak Wi Li an In tiba-tiba sembari berjalan maju.
"Tida usah banyak omong dengan dia, biar putrimu yang bereskan"
Selesai berkata dia angkat pedangnya siap ditusuk ketubuh Si Rase bumi itu.
Wi Ci To tahu putrinya masih bukan tandingannya, dia takut putrinya akan terluka ditangannya karena itu segera menarik tangannya mencegah.
"Kau cepat mundur"
Ujarnya, Dengan cepat dia menarik Wi Lian In ke belakang kemudian sambil melototkan sepasang matanya dia membentak kembali.
"Sebenarnia kau mau turun tangan tidak?"
"Aku sedang bersedih hati, tidak punya tenaga untuk bergebrak dengan kalian, jika betul-betul mau turun tangan baiknya kita tentukan waktu saja."
Ujar Si Rase bumi kemudian.
"Bagus sekali, kapan?"
"Akhir bulan depan. Aku mau menyambut kedatangan kalian di istana Thian Teh Kong. Bagaimana?"
Wi Ci To termenung berpikir sebentar kemudian baru mengangguk, menyetujui.
"Pasti dating"
Serunya. Dengan perlahan Si Rase bumi Bun Jin Cu putar kepalanya menghadap kearah Ti Then, sambil menahan isak tangis ujarnya.
"Bangsat cilik, sampai waktunya kau pun ikut datang. Kau sudah bunuh suamiku selama hidupku ini aku mau balaskan dendam"
Selesai berkata dia membopong mayat suaminya, sembari menangis tersedu-sedu perlahan-lahan dia menuruni tebing tersebut.
Sesudah bayangan tubuh Si Rase bumi lenyap dari pandangan barulah Huang Puh Kian Pek berjalan ke samping tebing, sambil menengok ke bawah ujarnya.
"Masih untung apinya bisa dipadamkan dengan cepat"
"Ehmm..."
Sahut Wi Ci To perlahan kemudian dia menoleh kearah Ti Then."Ti Kiauw-tauw, seharusnya Lohu kini mengucapkan terima kasih kepadamu."
"Wi Pocu tidak usah sungkan-sungkan, hal ini adalah tugas dari boanpwe "
"Bagaimana kau bisa tahu akan hal ini?"
Tanya Wi Ci To.
"Hanya dugaan saja."
Perlahan-lahan pada air muka Wi Ci To mulai memperlihatkan perasaan menyesal sembari menghela napas panjang ujarnya lagi.
"Lohu sama sekali tidak menduga mereka bisa melakukan tindakan semacam ini.."
Ti Then berdiam diri tidak mengucapkan sepatah kata pun, perlahan-lahan dia berjalan ke samping sesosok mayat dari sana disobeknya sekerat kain kemudian dibungkuskan pada luka dikakinya.
Wi Lian In yang melihat kakinya kuyup oleh darah segar agaknya dia merasa sedikit tidak tega, fetapi untuk maju menegur dia merasa malu juga sehingga akhirnya dia paksakan diri untuk tetap berdiam.
"Bungkus dahulu untuk sementara, nnti sesudah kembali ke dalam Benteng baru diberi obat"
Ujar Wi Ci To tiba-tiba.
"Tidak perlu"
Jawab Ti Then cepat.
"Boanpwe tidak punya rencana untuk mengganggu kembali Benteng kalian. Pocu serta Hu Pocu sekalian silahkan kembali ke dalam Benteng untuk beristirahat"
Wi Ci To tertawa pahit, cepat-cepat dia potong perkataan dari Ti Then yang belum selesai itu.
"Bagaimana? Apa Ti Kiauw-tauw sekarang sudah tidak sudi menginyakkan kakinya ke dalam Benteng Lohu ini kembali ?"
"Bukan begitu"
Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Boanpwe hanya merasa sangat menyesal, maka ... maka.."
"Sesudah urusan dibikin terang untuk menyesal pun masih belum terlambat"
Potong Wi Ci To kembali.
"Marilah ikut lohu kembali ke dalam Benteng"
"Nanti dulu"
Teriak Ti Then mendadak "Yang Pocu maksudkan sebagai menanti sesudah urusan dibikin terang sebetulnya mengandung maksud apa ?"
Wi Ci To tersenjum.
"Pokoknya hingga saat ini Lohu masih belum seratus persen menganggap kau adalah jelmaan dari Lu Kongcu itu, bukan begitu ?"
Ujarnya.
"Tetapi boanpwe sudah mengaku di di depan Pocu sendiri"
"Itulah kesalahan Lohu sendiri, seharusnya Lohu tidak boleh menaruh perasaan curiga terhatiap diri Ti Kiauw-tauw"
"Ti Kiauw-tauw "
Sambung Huang Puh Kian Pek dengan cepat.
"Sekali pun kau punya maksud untuk meninggalkan benteng kami, sekarang seharusnya kau mau ikut kami untuk duduk-duduk sebentar di dalam Benteng, untuk berangkat besok pagi pun belum terlambat"
Mendengar perkataan itu segera Ti Then mengangguk dan bangkit berdiri, sambil menuding kearah tujuh sosok mayat yang menggeletak di atas tanah ujarnya kemudian.
"Bagaimana dengan mayat-mayat ini ?"
"Sesudah terang tanah biar Lohu kirim orang untuk memberesinya, mari sekarang kita pulang ke Benteng dulu."
Selesai berkata dia segera berjalan terlebih dulu memimpin yang lainnya.
Tua muda empat orang sesudahnya turun dari atas tebing Sian Ciang dan kembali ke dalam Benteng terlihatlah banyak sekali pendekar pedang hitam mau pun putih sedang berkumpul di depan dua buah bangunan.
Kiranya dua buah bangunan rumah yang terkena serangan batu besar tadi sehingga tiang penyanggahnya menjadi putus dan ambruk ke bawah, saat ini terlihat berpuluh-puluh pendekar pedang hitam sedang membereskan runtuhan itu, sedang tidak jauh dari tempat itu terlentang empat sosok mayat yang sudah hancur keadaannya.
Wi Ci To berjalan mendekati keempat sosok mayat itu, sesudah termenung dengan sedihnya barulah tanyanya kepada Ti Then.
"Sebelum kedua buah batu raksasa ini jatuh ke bawah pernah ada sebuah batu kecil yang jatuh tepat di atas atap loteng penyimpan kitab ini, apakah itu batu sengaja Ti Kiauw-tauw lemparkan kemari"
"Benar"
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Boanpwe punya dugaan si anying langit rase bumi bisa membawa anak buahnya naik ke atas tebing Sian Ciang ini untuk menyerang Benteng Pek Kiam Po tetapi boanpwe tidak berani pastikan mereka pasti ke sana, menanti sesudah melihat mereka tiba di atas puncak gunung barulah menggunakan batu untuk kirim peringatan, boanpwe mengharapkan batu ini bisa membangunkan Wi Pocu sekalian"
"Heeei .. untung saja ada batu dari Ti Kiauw-tauw yang memberi peringatan, kalau tidak mungkin malam ini banyak orang dari Benteng kita yang akan menemui kematiannya."
Berbicara sampai di sini dia menoleh kearah Huang Puh Kian Pek dan lanjutnya kembali.
"Sute, kau tetap berada di sini beri perintah kepada mereka untuk bersihkan tempat ini, aku punya urusan hendak dibicarakan dengan Ti Kiauw tauw"
"Baiklah suheng silahkan"
Maka dengan memberi tanda kepada Ti Then untuk mengikuti dirinya dengan perlahan Wi Ci To berjalan menuju dalam ruangan.
Dari belakang Ti Then beserta Wi Lian In dengan berdiam diri mengikuti diri Wi Ci To berjalan masuk ke dalam kamar bukunya, sesampainya di depan pintu tiba-tiba ia membalikkan badannya dan berkata kepada Wi Lian In.
"In ji, kau kembalilah kekamar untuk beristirahat"
Wi Lian In merasa ragu-ragu sebentar,agaknya dia tidak punya muka untuk berdiam lebih lama lagi, terpaksa dia menyahut dengan perlahan dan kembali kekamarnya.
Sesudah itu barulah Wi Ci To membuka piatu kamar mengajak Ti Then duduk di dalam kamar, ujarnya dengan tersenyum.
"Malam ini Ti Kiauw-tanw berhasil membasmi si Anying langit Kong Son Yau berarti juga sudah membantu orang-orang Bu-lim membasmi saorang penyahat besar, membuat orang merasa sangat girang"
"Jika bukannya Pocu tiba pada saat yang bertepatan dan menyambitkan pisau terbang sehingga memutuskan angkin kuning dan si Rase bumi mungkin boanpwe pun ikut menemui bencana, karena itu kematian dari si Anying langit seharusnya merupakan jasa dari Pocu sendiri."
Ujar Ti Then tetap merendah.
"Mana mungkin, mana mungkin..."
Ti Then segera berganti bahan pembicaraan, ujarnya kemudian.
"Pocu memerintahkan boanpwe datang kemari entah punya petunjuk apa?"
Senjuman yang menghiasi bibir Wi Ci To segera lenyap tanpa bekas, dengan mimik yang amat sedih tapi serius ujarnya sesudah menghela napas panjang.
"Lohu sangat mengharapkan bisa berbicara secara blak-blakan dan terus terang dengan diri Ti Kiauw tauw tentang urusan yang terjadi baru-baru ini.."
Dia berhenti sebentar kemudian lanjutnya lagi.
"Hingga sampai saat ini Lohu tetap dibuat bingung ... sejak Ti Kiauw-tauw memasuki Benteng hingga hari ini tidak kurang tidak lebih selama satu bulan, tapi di dalam satu bulan ini pertama-tama Ti Kiauw-tauw sudah bantu Lohu memukul mundur Cian Pit Yuan, kemudian menolong putriku dari perkosaan Hong Mong Ling, lalu menolong nyawa dari putriku dari tangan si setan pengecut, ditambah lagi malam ini Ti Kiauw-tauw sudah membantu Benteng kami terhindar dari mara bahaya. Semua perbuatan dari Ti Kiauw-tauw ini membuat Lo hu merasa sangat berterima kasih sekali, budi kebaikan dari Ti Kiauw-tauw semacam ini kami orang-orang pihak Benteng Pek Kiam Po harus berbuat bagaimana pun tetap akan membalas budi ini, atau dengan perkataan lain jika Ti Kiauw-tauw punya permintaan kepada Lohu atau menghendaki nyawa Lohu maka semuanya akan Lohu penuhi. tetapi ...Hey, sekarang Lohu mau menanyai suatu urusan kepada diri Ti Kiauw-tauw, sebetulnya kau punya permintaan apa terhadap Benteng kita ini ?"
Ti Then yang melihat perkataan itu diucapkan begitu jujur dan tulus hati dalam hati merasa sangat tidak enak sekali tetapi untuk tetap menyaga rahasia dari Majikan patung emas dia tidak mungkin bisa menceritakan rahasia dari Majikan patung emas itu, karenanya terpaksa dia gelengkan kepalanya.
"Tidak ada"
Sahutnya.
"Boanpwe sama sekali tidak ada permintaan"
Agaknya Wi Ci To tetap merasa ragu-ragu.
"Apa Ti Kiauw-tauw tidak percaya terhadap kejujuran Lohu ini?"
Tanyanya.
"Bukan begitu, boanpwe tahu maksud Pocu adalah sungguh-sungguh dan sejujurnya."
"Kalau begitu silahkan Ti Kiauw-tauw katakan, asalkan Lohu bisa malakukan sekali pun terhadap Benteng kita tidak ada keuntungannya Lohu tetap akan meluluskan permintaan dari Ti Kiauw-tauw itu."
Ti Then menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Boanpwe benar-benar tidak punya permintaan apa-apa"
Ujarnya tegas.
"Hey.. tetapi "
Dia menghela napas panjang.
"Jika Ti Kiauw-tauw betul betul tidak punya permintaan apa-apa terhadap Lohu, lalu kenapa .. ini bukannya Lohu menaruh curiga, karena ada berbagai macam bukti yangmembuktikan Ti Kiauw tauw adalah jelmaan dari Lu kongcu, jika Ti Kiauw tauw tidak punya permintaan apa-apa kenapa harus berbuat begini ?"
Agaknya dia takut Ti Then dibuat marah oleh perkataannya ini, karena itu sambungnya kembali.
"Ti Kiauw tauw harap jangan marah, sekarang Lohu tidak mau menyembunyikan kembali perasaan hati Lohu karena budi yang diberikan Ti Kiauw tauw kepada kami sudah cukup untuk memaafkan suatu kesalahan"
Ti Then betul-betul dibuat terharu dan menyesal oleh perkataan ini, tanpa dia rasa butir-butir air mata setetes demi setetes mengucur keluar.
Titik air mata ini merupakan yang pertama kali dikeluarkan dari matanya sejak dia mengerti akan urusan, karena dia teringat kembali akan penderitaan dirinya sebetulnya merupakan seorang yang mengutamakan kejujuran dan kebenaran tetapi dia dipaksa dan diharusnkan untuk berbuat sesuatu pekerjaan yang melanggar nalurinya.
Ketika Wi Ci To melihat dia menangis secara tiba-tiba, jadi melengak dibuatnya.
"Ti Kiauw tauw kau kenapa ?"
Tanyanya. Ti Then menundukkan kepalanya tidak menyawab. Dengun termangu-mangu lama sekali Wi Ci To memandang kearahnya, kemudian tanya lagi dengan perlahan.
"Beritahu kepada lohu, apakah kau punya rahasia yang susah dikatakan secara terus terang?"
Ti Then tetap berdiam diri tidak menyawab. Dengan perlahan Wi Ci To menghela napas panjang,ujarnya.
"Dengan usia Lohu sekarang ini boleh dikata cukup untuk menjadi ajahmu tetapi kau boleh menganggap Lohu sebagai pamanmu, kau boleh menceritakan rahasia hatimu kepada Lohu kecuali memang betul-betul tidak dilaksanakan, kalau tidak lohu mau berkorban untuk menyelesaikan urusanmu itu. Bagaimana?"
Ti Then mengusap kering air matanya dengan menggigit kencang bibirnya berkata.
"Hanya ada satu cara untuk menyelesaikan urusan ini, tetapi sesudah boonpwe katakan Pocu tentu tidak akan mengabulkan bahkan sekali pun pocu menyetujuinya belum tentu bisa berhasil"
"Jika Ti Kiauw tauw menghendaki rembulan yang berada di atas langit tentu Lohu tidak mungkin bisa melakukannya selain itu Lohu berani berkorban untuk menyelesaikan dan membantu persoalan Ti Kiauw tauw itu"
Ti Then tetap menggelengkan kepalanya.
"Urusan ini pasti pocu tidak akan menyanggupinya"
Ujarnya.
"Wi Ci To tersenyum.
"Kenapa tidak Kiauw tauw katakan?"
Serunya perlahan. Ti Then angkat kepalanya memandang tajam ke atas wajahnya, kemudian sepatah demi sepatah barulah ujarnya.
"Jika Pocu betul-betul mau bantu boan-pwe menyelesaikan urusan yang amat sukar ini hanya ada satu cara ...gunakan kepandaianmu untuk mengalahkan.diri boanpwe"
"Kau bilang apa?"
Tanya Wi Ci To.
"Untuk sementara Pocu boleh menganggap boanpwe sebagai musuh yang tak bisa diam puni lagi kemudian berkelahi dengan diri boanpwe. Jika Pocu berhasil mengalahkan diri boanpwe hal itu berarti juga sudah mernbantu menyelesaikan suatu persoalan yang sulit"
Sebetulnya Wi Ci To merupakan seorang yang memiliki kecerdasan tinggi tetapi sesudah mendengar perkataan dari Ti Then ini betul-betul dibuat bingung, tanpa terasa dengan mata dan mulut melongo dia pandang wajah Ti Then, lama sekali baru gumamnya.
"Lohu tidak paham kau sedang membicarakan apa?"
"Alasannya boanpwe tidak bisa terangkan, tetapi jika pocu sanggupi permintaan boanpwe ini dan sesudah berhasil mengalahkan diri boanpwe maka alasan dan sebab-sebabnya tentu akan boanpwe ceritakan"
Agaknya Wi Ci To tidak berani percaya terhadap telinganya sendiri, sekali lagi tanyanya dengan teliti.
"Coba kau ulangi sekali ini, kau bilang meminta lohu menganggap kau sebagai musuh besarku kemudian berkelahi dengan kau, jika bisa kalahkan dirimu berarti sudah membantu kau melepaskan diri dari suatu persoalan rumit, apa betul begitu?"
"Benar"
Sahut Ti Then sembari mengangguk.
"Hanya satu-satunya jalan ini saja yang bisa membantu boanpwe menyelesaikan urusan ini."
"Lohu tetap tidak paham"
Ujar Wi Ci To lagi sambil gelengkan kepalanya. Dengan nada yang hampir mendekati merengek ujar Ti Then lagi.
"Besok pagi, di atas gunung yang sunyi baiknya kita pergi bertanding bagaimana?"
"Tidak, urusan ini Lohu tidak bisa mengabulkan"
Sahut Wi Ci To kembali sambil gelengkan kepalanya. Lama sekali Ti Then termenung berpikir keras, mendadak dengan air muka mengandung perasaan bermusuhan ujarnya.
"Jika boanpwae yang menantang Pocu mau untuk bergebrak melawan boanpwe ?"
Seketika itu juga Wi Ci To dibuat melengak, kemudian sembari tertawa pahit ujarnya.
"Ti Kiauw-tauw, kau betul-betul membuat Lohu bingung."
"Pocu, lebih baik lakukanlah satu kali ini"
Berkali-kali Wi Ci To gelengkan kepalanya.
"Lohu tidak bisa menganggap Ti Kiauw tauw sebagai musuh besarku, juga tidak bisa bertanding denganmu,"
Ujarnya tegas.
"Apa Pocu takut dikalahkan oleh boanpwe?"
Seru Ti Then sembari tertawa dingin.
"Ha..ha gelombang belakang mendorong gelombang di depan, orang-orang baru menggantikan orang-orang lama, jika Lohu terkalahkan ditangan Ti Kiauw tauw sudah pasti tidak akan menaruh sakit hati kepadamu, persoalannya yang utama kita bukanlah musuh yang benar-benar, Lohu tidak tega untuk berbuat demikian terhadap dirimu"
Tanpa terasa Ti Then sudah betpikir di dalam hatinya.
"Perkataannya ini memang betul, dengan kepandaiannya memang besar kemungkinan sukar untuk mengalahkan aku, jika kini ditambah dengan perasaan ragu-ragu lagi sudah tentu jangan harap bisa kalahkan diriku?"
Tanpa terasa dia sudah menghela napas perlahan, ujarnya kemudian sambil bangkit berdiri.
"Kalau begitu biarkan boanpwe pergi"
"Kemana?"
"Kembali kerumah panginapan"
"Tidak"
Seru Wi Ci To dengan serius.
"Sejak ini hari kau masih tetap Kiauw tauw dari Benteng kami, kau harus tinggal di sini"
"Lebih baik Pocu jangan terlalu percaya kepada diri boanpwe, mungkin pada suatu hari boanpwe bisa melakukan banyak kejahatan di dalam Behteng."
"Tidak mengapa"
Seru Wi Ci To sembari tertawa riang.
"Tadi Lohu sudah bilang budi yang kau berikan kepada Benteng kami sudah terlalu banyak, sekali pun boleh dianggap penerimaan dirimu pada ini hari sebagai Kiauw tauw sama saja seperti memelihara harimau meninggalkan bencana dikemudian hari juga tidak mengapa"
Dia berhenti sebentar, kemudian dengan air muka serius ujarnya.
"Tapi sekali pun mungkin Ti Kiauw tauw akan melakukan banyak kejahatan di dalam Benteng kami, lohu hanya punya satu permintaan"
Ti Then berdiam diri menanti perkataan selanjutnya.
"Maksud perkataan lohu ini, tidak perduli kau melakukan pekerjaan jahat macam apa pun lohu tidak akan menegur dirimu, hanya loteng penyimpan kitab dari lohu itu jangan sekali-kali kau selidiki. Bagaimana? setuju bukan?"
Tak tertahan lagi tanya Ti Then."Sebetulnya loteng penyimpan kitab itu menyimpan rahasia apa?"
"Maaf lohu tidak bisa beri keterangan"
Ujar Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Pokoknya sekali pun kau menginginkan nyawa lohu pun boleh asalkan jangan mengintip loteng penyimpan kitab itu"
"Omong sejujurnya, boanpwe sendiri juga tidak tahu lain kali bisa melakukan pekerjaan jahat apa saja terhadap Benteng Pek Kiam Po ini"
Ujar Ti Then sambil tertawa pahit.
"Bagus sekali, sekarang Ti Kiauw tauw boleh kembali ke dalam kamar untuk beristirahat. Ti Then segera memberi hormat kembali ke dalam kamarnya dengan mambawa perasaan hati yang amat berat. Dikarenakan perubahan yang terjadi tadi maka si Lo-cia itu pelayan tua yang melayani dirinya pun belum tidur, melihat Ti Then kembali kekamarnya dia menjadi amat girang sekali, sambil ikut masuk ke dalam kamar ujarnya sembari tertawa .
"Ti Kiauw-tauw, akhirnya kau kembali juga. Heeei, kemarin hari secara tiba-tiba Ti Kiauw-tauw meninggalkan Benteng untuk beberapa waktu Iamanya membuat budakmu betul-betul merasa sangat bingung, sedang pocu serta siocia pun tidak mau beritahu kepada budak tuamu, membuat budakmu selama beberapa hari ini betul-betul merasa bingung"
"Lebih baik kau tidur saja"
Ujar Ti Then tertawa tawar. Bukannya pergi si locia malah maju mendekati dirinya, ujarnya dengan suara rendah.
"Apa bukan Ti Kiauw tauw meninggalkan Benteng karena sudah berkelahi dengan siocia kita ?"
"Ehmmm, benar "
"Sekarang sudah baik kembali bukan?"
Tanya si Lo-cia dengan perasaan ingin tahu.
"Benar"
"Itu baru bagus sekali, Hi hi hi . Budakmu selalu merasa kalian sebetulnya merupakan pasangan yang setimpal, jika bisa mengikat diri sebagai suami istri sebetulnya sangat.."
"Lo cia kau sedang bicara apa ?"
Mendadak dari belakang tubuhnya muncul suara yang amat dingin sekali.
Lo cia menjadi amat terperanyat, ketika dia putar tubuhnya terlihatlah Wi Lian In dengan air muka adem sudah berdiri di depan pintu tanpa terasa sambil tertawa paksa ujarnya.
"Hi..hi hi ..siocia budakmu tidak bicara apa-apa, hi hi hi . ."
"Cepat pergi tidur"
Bentaknya lagi.
Si Lo cia tidak berani membangkang segera dia menyahut dan berjalan keluar dari kamar sambil tersenyum senyum.
Dengan tajam Wi Lian In pandang beberapa waktu ke atas wajah Ti Then, kemudian dengan dingin tanyanya.
"Aku boleh masuk ?"
Ti Then tertawa pahit.
"Nona Wi sudah tidak satu kali saja masuk ke dalam kamar, kenapa sekarang harus sungkan-sungkan? ujarnya. Dengan perlahan Wi Lian In berjalan masuk ke dalam kamar kemudian duduk di atas kursi, sebentar seperti mau bicara tetapi akhirnya menundukkan kepalanya rendah-rendah. Air muka yang adem kini sudah berubah menjadi wajah yang diliputi oleh perasaan malu.
"Nona Wi apa juga mau tanya kepadaku kenapa aku menyamar sebagai Lu Kongcu?"
Tanya Ti Then cepat.
"Aku sudah tahu kenapa kau berbuat begitu"
Diam-diam Ti Then menjadi amat terperanyat, ujarnya.
"Ooh, kau..kau sudah tahu?"
"Benar"
Sahut Wi Lian In sambil tersenyum malu.
"Kemarin malam sudah aku dapatkan jawaban ini "
Ti Then menjadi tertegun.
"Bagaimana .. bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku terus menerus berpikir jelas sekali kau bukan seorang jahat, tapi kenapa berbuat begitu? Jika bilang kau mau masuk ke dalam Benteng dengan membawa suatu rencana busuk tetapi kau sudah bantu Tia memukul mundur sipendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan kemudian dua kali menolong aku, karena itu sesudah pikir bolak balik akhirnya aku paham apa sebabnya kau berbuat begitu."
Diam-diam dalam hati Ti Then merasa semakin ragu-ragu, tanyanya.
"Kau sudah paham bagaimana?"
Sambil tersenyum Wi Lian In melirik sekejap kearahnya, kemudian dengan suara perlahan menyahut.
"Hm. Kau masih berlaga pilon."
"Dapatkah kau jelaskan kau sudah paham tentang apanya ?"
Tanya Ti Then lagi dengan perasaan ragu-ragu. Perlahan-lahan Wi Lian In menoleh ke depan pintu kemudian baru ujarnya dengan perlahan.
"Beritahu padaku, pada waktu yang lampau kau pernah bertemu aku dimana?"
Ti Then semakin bingung oleh perkataan ini.
"Dulu... aku bertemu denganmu di tempat mana..."
Wi Lian In segera melotot kearahnya, kemudian dengan malu-malu dia tundukkan kepaIanya.
"Kalau memangnya kau menginginkan aku kenapa tidak berani bicara secara terus terang saja"
Ujarnya lirih.
"Kau.. kau..sedikit pun tidak punya sifat jantan."
Secara mendadak Ti Then paham kembali apa yang dimaksudkan olehnya, diam-diam dalam hati merasa amat geli sekali, pikirnya.
"Kiranya dia sudah paham akan hal ini ternyata dia sudah anggap aku pernah betemu dengan dia pada waktu yang lalu kemudian menaruh rasa cinta kepadanya, karena itu baru menyamar sebagai Lu Kongcu untuk merusak ikatan perkawinannya dengan Hong Mong Ling"
Wi Lian In melihat dia berdiam tidak menyawab di dalam anggapannya dia sudah mengaku karenanya dengan tertawa malu ujarnya.
"Sebetulnya hal ini tidak bisa menyalahkan kau menggunakan cara yang tidak jujur ini, sewaktu kau bertemu dengan ku mungkin waktu itu aku sudah mengikat janyi dengan Hong Mong Ling, karena kau punya maksud ..untuk mendapatkan aku maka sudah gunakan cara ini, aku. aku tidak akan menyalahkan kau"
Ti Then hanya tersenyum tidak menyawab.
"Tadi sewaktu berada di dalam kamar buku kau sudah bicarakan soal apa saja dengan Tia ?"
Tanyanya lagi.
"Ayahmu mengharapkan aku mau beritahu secara terus terang kanapa aku menyamar sebagai Lu kongcu. aku ..."
"Kau sudah beritahukan urusan ini kepada Tia?"
Tanya Wi Lian In cepat.
"Belum"
Sahutnya sambil gelengkan kepalanya "Aku tidak tahu harus berbicara bagaimana baru baik , ."
"Urusan ini sudah tentu kau merasa tidak enak untuk bicara, tapi aku percaya Tia tentu bisa menduga sampai di sana."
"Ayahmu mengharapkan aku mau tinggal di sini"
"Benar"
Ujar Wi Lian In cepat, tadi pagi aku yang beritahukan kepadanya aku bilang kau pasti bukan seorang yang jahat."
"Aku harap kau jangan terlalu percaya kepadaku"
Wi Lian In tidak memberi komentar lagi, matanya perlahan dialihkan pada kaki kanan dari Ti Then yang terluka, tanyanya.
"Kakimu sudah kau beri obat ?"
"Belum, aku kira tidak begitu penting, lukanya hanya diluaran saja, tanpa obat pun bisa sembuh dengan sendirinya"
Wi Lian In segera bangkit betdiri.
"Biar aku pergi ambil obat"
Selesai berkata dia segera putar tubuh dan berlari dengan cepatnya meninggalkan kamar untuk pergi ambil obat. -ooo0dw0ooo-
Jilid 15.1. Hu pocu ternyata adalah... Ti Then hanya bisa angkat bahu saja kemudian mengundurkan diri kembali ke atas pembaringannya, terhadap "Perubahan yang mendadak"
Ini dia merasa sangat berada di luar dugaannya, dia tidak bisa berkata saat ini harus merasa girang atau berduka, dia hanya merasa dirinya sukar untuk meloloskan diri kembali, dia merasa dosa yang di buat semakin lama semakin bertambah berat.
Beberapa saat kemudian terlihatlah Wi Lian In dengan membawa kotak obat-obatan berlari masuk.
ujarnya sembari tertawa.
"Mari aku tolong kau beri obat"
Dia membuka kotak obat itu kemudian berlari ke depan Ti Then dan berjongkok untuk membalut kakinya yang terluka itu dengan kain.
"Tidak"
Tiba-tiba Ti Then menarik kembali kakinya.
"Biar aku yang melakukan sendiri."
Cepat-cepat Wi Lian In menarik kembali kakinya, ujarnya.
"Kau jangan banyak bergerak, ayoh duduk yang baik"
Diam-diam dalam hati Ti Then menghela napas panjang, terpaksa dia pejamkan matanya membiarkan dia untuk mengobati.
Perlahan-lahan Wi Lian In melepaskan kain yang membalut kakinya kemudian mencuCi luka itu dengan air bersih, ujarnya.
"sakit tidak??"
"Sedikit."
"Bagaimana kau bisa terjerat angkinnya si Rase bumi?"
"Pada waktu aku bergebrak dengan mereka suami istri berdua, para malaikat iblis itu mulai memanahkan panah-panah apinya ke arah benteng, cepat-cepat aku menerjang ke hadapan mereka untuk memutuskan busur-busurnya, di dalam sekejap mata itulah angkin si Rase bumi sudah menyerang datang dari arah belakang dan menjerat kakiku."
"Heeei..untung saja Tia cepat datang, kalau terlambat sedikit saja mungkin akibat yang kau terima akan jauh lebih hebat"
Ujar Wi Lian In sembari menghela napas panjang.
"Benar"
"Kau sungguh lihay."
Puji Wi Lian In kembali.
"Baru saja pisau terbangnya Tia memutuskan angkin tersebut pedangmu sudah berhasil menusuk mati si Anying langit"
"Haa ha ha ha..mana... hanya waktu itu si Anying langit sama sekali tidak menduga kalau angkinnya bisa terputus oleh sambaran pisau terbang sehingga dia dibuat kalang kabut"
"Si Rase bumi itu sungguh menggelikan sekali, dia adalah jagoan yang kenamaan di dalam kalangan Hek to, ketika melihat suaminya binasa ternyata sudah menangis begitu sedihnya, jika dilihat keadaannya pada waktu itu sedikit pun tidak mirip dengan iblis wanita yang disegani di dalam Bu lim"
Ti Then menghela napas.
"Dia terlalu cinta pada suaminya, karena itu tidak bisa menahan perasaan sedih yang bergolak di dalam dadanya, aku merasa sedikit simpatik kepadanya."
Ujarnya perlahan "Dia sudah mengadakan perjanyian dengan kau dan Tia untuk pada akhir bulan depan bertemu di istana Thian Teh Kong nya, kau pergi tidak?"
Tanya Wi Lian In sambil memandang wajah Ti Then dengan pandangan tajam.
"Sudah tentu harus pergi."
"Aku juga mau ikut."
"Tentang hal ini aku tidak berani ambil keputusan-"
Ujar Ti Then ketika mendengar perkataannya itu.
"Lebih baik kau minta ijin dulu dengan ayahmu."
"Jika Tia tidak mengijinkan aku pergi, aku mau pergi secara diam-diam."
"Ha ha ha .."
Ti Then tertawa terbahak-bahak.
"Karena itu aku percaya ayahmu bisa mengijinkan dirimu untuk pergi."
"Kali ini Bun Jin Cu sudah kehilangan suaminya, bagusnya untuk bertarung dengan mengandalkan kepandaian silat pasti tidak akan sanggup untuk mengalahkan kita, aku kira pada saatnya dia pasti menggunakan siasaat keji untuk membokong kita. sampai waktunya kita harus menghadapi mereka dengan berhati-hati."
"Ehmm ... perkataanmu sedikit pun tidak salah."
Di dalam percakapan itulah Wi Lian In sudah selesai memberi obat dan membalutkan luka dari Ti Then itu sembari menyimpan kembali obat-obatan itu ke dalam kotak. ujar Wi Lian In dengan suara rendah.
"Aku masih mau beritahukan suatu urusan kepadamu, obat pemabok itu sudah aku masukkan ke dalam teko air tehnya Hu Pocu"
"Ooh .."
Dengan pandangan tajam Ti Then memperhatikan dirinya.
"Kapan kau masukkan?"
"Malam ini juga, sebelum dua batu besar itu merusak benteng dengan pinyam kesempatan sewaktu dia tidak berada di dalam kamar secara diam-diam aku sudah masukkan obat itu ke dalam tekonya, tetapi dia belum sempat meneguk air teh itu, karena baru saja aku keluar dari kamarnya batu-batu besar itu sudah berjatuhan sehingga aku serta dia dan Tia cepat-cepat lari ke atas tebing Sian Ciang sedang kini dia pun sedang perintahkan saudara-saudara untuk membersihkan kekotoran reruntuhan, nanti sesudah dia kembali kekamar entah bisa minum air teh itu atau tidak?"
"Coba kau keluar lihat-lihat sebentar, nanti sesudah dia memadamkan lampu kau boleh ambil sebuah batu dan disambitkan ke dalam kamarnya.Jika dari kamar tidak terdapat gerak gerik maka artinya dia sudah mabok oleh obat pemabok tersebut."
"Betul"
Seru Wi Lian In membenarkan-"Biar aku pergi lihat."
Selesai berkata sambil membawa kotak obat dia berjalan keluar dari dalam kamar.
Ti Then pun merapatkan pintu kamarnya dan naik ke atas pembaringan untuk beristirahat.
Dia tidak punya rencana untuk membunyikan tanda mengajak bertemu dengan majikan patung emas, karena dia merasa malas untuk melaporkan berita yang sangat bagus ini kepadanya.
Dia merasa sedikit menyesal sudah melakukan tindakan di atas tebing Sian Ciang sehingga merusak rencana si Anying langit rase bumi, jika dirinya tidak menahan serangan bokongan dari si Anying langit Rase bumi terhadap Benteng Pek Kiam Po, maka Wi Ci To dengan putrinya tidak mungkin bisa menerima dia kembali dengan begitu mudahnya, ada hal ini berarti rencana dari majikan patung emas pun bisa berjalan dengan lancar.
Tetapi penyerangan dari Anying langit rase bumi ini disebabkan oleh dirinya, jika dirinya tidak pergi menahan serangan mereka, bukankah dari pihak benteng Pek Kiam Po akan menemui bencana hebat?
Hei jika dirinya bisa mati jauh lebih baik mati saja sehingga semuanya bisa beres.
Dia berbaring di atas pembaringannya tetapi matanya dengan melotot lebar-lebar memandangi langit-langit, pikirnya berputar terus memikirkan persoalan yang semakin rumit ini, pada waktu saat menunjukkan hampir mendekati kentongan keempat.
"Tok tok tok . ."
Ada orang yang mengetuk pintunya dengan periahan. Cepat-cepat Ti Then meloncat bangun dari atas pembaringan dan membuka pintu, teriihat Wi Lian In sudah berdiri di depan pintu sembari tersenyum.
"Bagaimana??"
Tanyanya dengan perlahan.
"Sudah beres"
Sahut Wi Lian In lirih.
"Dia sudah jatuh pulas oleh obat pemabok itu"
"Kau sudah merasa pasti kalau dia sudah mabok??"
"Aku lihat memang begitu"
Sahut Wi Lian In kembali sambil angguk-anggukkan kepalanya.
"Sesudah dia padamkan lampu segera tertidur, sesudah menunggu kira-kira dua menit baru aku jemput batu dan disambitkan ke arah jendelanya, waktu itu aku tidak berani memeriksa ke dalam kamar mana karena merasa tidak tenteram maka aku sambit satu kali lagi, saat itu tetap saja tidak melihat dia keluar, kalau dia sudah minum teh itu dan sudah mabok."
"Bagus sekali", seru Ti Then kegirangan "Mari kita periksa apakah pada kepalanya ada lukanya atau tidak, jika ada dialah si setan pengecut itu"
O SESUDAH keluar dari kamar dan merapatkan pintunya kembali dengan perlahan-lahan, bersama-sama dengan Wi Lian In berjalan menuju kekamar Huang Puh Kian Pek.
Ujar Ti Then kembali dengan setengah berbisik sesampainya di belakang kamar Huang Puh Kian Pek.
"Kau ketuklah jendelanya terlebih dulu dan panggil dia, coba lihat dia terbangun tidak."
"Jika dia menyahut?"
Tanya Wit Lian In perlahan-...
"Kalau memang begitu kau boleh karang suatu cerita bohong, bilang saja kau melihat sesosok bayangan hitam berkelebat di atas kamarnya."
Wi Lian In sembari tersenyum mengangguk, segera dia bungkukkan badannya berjalan ke bawah jendela, kemudian mengetuk jendela tersebut teriaknya dengan perlahan-lahan.
"Huang Puh siok. Huang Puh siok"
Huang Puh Kian Pek yang berada dalam kamar tidak memberikan jawabannya, agaknya memang betul-betul terbius oleh obat pemabok itu.
Wi Lian In mengetuk kembali jendela itu sembari memanggil, sesudah di dengarnya dari dalam kamar tidak terdapat gerak gerik barulah dia menggapai kearah Ti Then memanggil dia ke sana.
Ti Then tahu tenaga dalam dari Huang Puh Kiam Pek amat tinggi dengan sendirinya pendengarannya pun amat tajam, kini melihat tak terjadi perubahan apa-apa dari dalam kamar segera mengetahui kalau dia betul-betul sudah terbius oleh obat pemabok.
karenanya dengan ringan dia meloncat ke depan jendela sengaja dengan suara agak keras ujarnya.
"Hu pocu belum bangun??"
"Belum"
Sahut Wi Lian In cepat.
"Entah bisa terjadi peristiwa diluar dugaan atau tidak?"
"Lebih baik kita masuk saja.."
Sambil berkata dia membuka jendela tersebut dan meloncat masuk ke dalam.
Wi Lian In segera mengikuti dari belakang sesudah mengambil keluar korek api buru-buru disulutnya lampu di dalam kamar itu.
Begitu sinar lampu menyoroti seluruh kamar maka keadaan diseluruh kamar bisa dilihat dengan jelas sekali.
Huang Puh Kian pek berbaring di atas pembaringan dengan tenangnya, pada tubuhnya ditutupi dengan selapis selimut, jika dilihat dari pernapasan hidungnya jelas dia sudah tertidur dengan amat nyenyak.
Tetapi di dalam satu kali pandangan saja Ti Then sudah melihat kalau dia memang betul-betul terbius oleh obat pemabok itu, karena cawan teh yang berada d iatas meja kelihatan masih ada sisa dari teh yang belum dihabiskan, hal ini berarti juga dia sudah minum teh yang berisikan obat pemabok itu sedang tidurnya bisa begitu tenang hal ini sudah tentu dikarenakan setelah minum teh segera dia naik ke atas pembaringan untuk tidur.
Atau dengan perkataan lain sewaktu dia siap tidur itulah obat pemabok itu mulai bekerja.
Melihat hal itu Ti Then tersenyum kemudian mendorong badannya.
"Hu Pocu.. Hu pocu.. cepat bangun..cepat bangun"
Serunya. Huang Puh Kian pek tetap tidak bergerak..
"Sudah cukup. .sudah cukup,"
Teriak Wi Lian In kegirangan.
"Coba kau lihat rambutnya dulu."
"Jika d iatas kepalanya sama sekali tidak luka kau jangan salahkan aku lho, karena ini hanya dugaanku saja."
"Aku sudah tahu, kau cepatlah turun tangan"
Ti Then segera mencengkeram rambut di atas kepala Huang Puh Kiam Pek dan di tariknya dengan keras.
"Kalian sedang berbuat apa?"
Mendadak suara yang amat rendah tapi berat berkumandang datang dari belakang jendela.
Wi Lian In serta Ti Then bersama-sama menjadi amat terperanyat, cepat-cepat mereka menoleh ke belakang, terlihatlah secara tiba-tiba Wi Ci To sudah muncul di depan jendela.
Air muka Wi Ci To kelihatan amat dingin sekali dengan sinar air mata penuh kemarahan ujarnya lagi.
"Cepat bilang, kalian sedang berbuat apa??"
Mendengar bentakan itu Wi Lian In menjadi gugup.
"Tia..kami sedang... sedang. ."
"Hmm..h mm..mau membunuh Hu pocu bukan begitu?"
Ujar Wi Ci To sembari tertawa dingin. Wi Lian In menjadi semakin gugup.
"Tidak..tidak ... putrimu tidak berani membunuh Huang Puh siok. kami sedang ..."
"Kalau tidak"
Potong Wi Ci To dengan dingin.
"Kenapa kalian menarik rambut Hu Pocu?"
Sedikit pun tidak salah ditangan Ti Then pada saat ini sedang mencekal sebagian rambut beserta kulit kepalanya. Melihat hal itu Wi Lian In menjadi amat girang sekali, dengan cepat ujarnya.
"Tia cepat masuk coba lihatlah"
"Lihat apa?"
Bentak Wi ci To dengan amat gusar.
"Coba kau lihat"
Teriak Wi Liau In semakin girang. Wi Ci To mendengus dengan amat dinginnya, segera dia melompat masuk ke dalam kamar, ujarnya.
"Kalian berdua sedang bermain apa?"
Dengan mengangkut kepalanya Huang Puh Kian Pek, ujarnya Wi Lian In kembali.
"Tia, coba lihat kepalanya paman Huang Puh"
Di atas batok kepala Huang Puh Kian Pek jelas terlihat sebuah bekas luka sebesar kepalan bayi.
Begitu melihat akan hal itu, air muka Wi ci To segera berubah amat hebat, dari perasaan gusar kini sudah berubah menjadi perasaan terperanyat dengan hati yang bergolak tanyanya.
"Bagaimana kalian bisa tahu?"
"Tia tentu masih ingat bukan sewaktu Huang Puh siok kembali ke dalam Benteng putrimu pernah sengaja menarik kain pengikat kepalanya?"
Ujar Wi Lian In sembari pandang wajah ayahnya. Wi ci To sedikit mengangguk sedang air mukanya semakin lama berubah semakin jelek, ujar Wi Lian In kembali.
"Ti Kiauw tauw mau pun putrimu sendiri merasa suara dari si setan pengecut itu sangat dikenal, sejak sebelum putrimu ditawan oleh mereka, belum pernah keluar dari benteng karena itu Ti Kiauw tauw kemudian menduga kalau si setan pengecut itu kemungkinan besar adalah orang dari benteng kita sendiri. Akhirnya setelah Huang Puh siok pulang ke dalam benteng dia yang selamanya tidak pernah memakai ikat kepala tapi kali ini memakainya, karena itulah putrimu lalu mencurigai dialah si setan pengecut itu, diam-diam aku lalu berunding dengan Ti Kiauw tauw sedang menurut pendapat Ti Kiauw tauw sendiri pun urusan ini harus di selidiki maka dari itu putrimu lalu pergi kekota beli obat pemabok dan secara diam-diam sudah masukkan obat itu ke dalam air tehnya"
Wi Ci To kembali menganggukkan kepalanya, sepasang matanya yang memancarkan sinar amat tajam dengan terpesona memandang ke atas bekas luka sebesar kepalan bayi itu, jika dilihat selama ini dia tidak membuka suara jelas sekali kalau hatinya betul-betul merasa amat gusar.
Lama sekali baru terdengar dia berkata dengan periahan-"Ambilkan seember air dingin-.
"Baik"
Sahut Wi Lian In dengan cepat, segera dia berjalan keluar dari kamar untuk mengambil sebaskom air dingin.
Tidak lama dia sudah berjalan masuk kembali dengan membawa sebaskom air.
Wi Ci To segera menerima air itu dan disiramkan ke atas wajah Huang Puh Kian Pek.
Tidak lama kemudian terlihatlah kulit kelopak mata Huang Puh Kian pek mulai bergerak dan sadar kembali dari maboknya.
"Kalian berdua boleh keluar dari kamar"
Ujar Wi Ci To kepada Ti Then serta putrinya sesudah melihat dia sadar kembali. Agaknya Wi Lian In tidak mau, sambil menggerutu ujarnya.
"Tidak, putrimu mau mendengarkan penjelasannya."
Air muka Wi Ci To segera berubah amat keren, dengan nada gusar bentaknya.
"Suruh kamu keluar yaah keluar, ayoh cepat. ."
Selama ini Wi Lian In sangat jarang menerima makian ayahnya, karena itu setiap kali dia melihat ayahnya menjadi gusar maka hatinya menjadi takut, dia tidak berani membangkang lagi dengan berdiam diri bersama-sama dengan Ti Then berjalan keluar dari kamar.
Tidak jauh dari kamar itu mereka berdua berhenti dengan air muka tidak senang ujar Wi Lian In.
"Hei ..... sungguh membingungkan. ."
"Jangan marah dulu"
Hibur Ti Then ketika melihat dia murung.
"Ayahmu tidak mengijinkan kita ikut mendengarkan sudah tentu ada alasannya"
"Hmmm alasan apa??"
Ti Then hanya tersenyum saja tidak menyawab, walau pun dia tidak tahu apakah alasannya tetapi dia bisa menduga sedikit, dia tahu Huang Puh Kian Pek bisa menyamar sebagai si setan pengecut kemudian bersekongkol dengan Hong Mong Ling untuk menculik pergi Wi Lian In bukanlah dikarenakan dia merasa simpatik terhadap Hong Mong Ling, juga bukanlah untuk menghadapi dirinya, sebaliknya dia punya suatu tujuan tertentu..
kemungkinan sekali tujuannya terletak pada loteng penyimpan kitab dari Wi Ci To itu, dia pasti sudah merencanakan untuk mencuri suatu barang dari dalam loteng Penyimpan Kitab itu, beberapa waktu yang lalu dan mungkin dikarenakan kemunculan dirinya secara tiba-tiba di dalam Benteng Pek Kiam Po membuat dia punya anggapan dirinyalah merupakan suatu penghalang yang paling besar bagi usahanya itu karena itu dia punya maksud untuk menyingkirkan dirinya secepat mungkin dari dalam Benteng.
Sudah tentu dikarenakan persoalan ini menyangkut kerahasiaan dari Loteng Penyimpan kitab tersebut sudah tentu Wi Ci To tidak akan mengijinkan dirinya beserta Wi Lian In hadir di sana.
Sebaliknya sampai waktu ini Wi Lian In masih tetap saja menggerutu.
"Coba kau bilang, Tia punya alasan apa tidak mengijinkan kita untuk mendengarkan pengakuannya?? "
"Aku sendiri juga tidak tahu"
Jawab Ti Then gelengkan kepalanya "Hanya aku tahu bahwa tindakan ayahmu kali ini pasti ada alasannya."Semakin lama Wi Lian In semakin menjadi gemas.
"Sungguh tidak kusangka dia benar-benar si setan pengecut itu, dia adalah sutenya Tia, selama puluhan tahun ini Tia terus menerus memandang dia sebagai saudara sendiri, tapi dia ternyata sudah bersekongkol dengan Hong Mong Ling bangsat cabul itu berani menculik aku"
Waktu itu Ti Then juga tidak tahu harus mengajukan perkataan apa baiknya, karena itu terpaksa dia hanya termenung saja.
"Coba kaupikir apa yang dituju olehnya?"
Tanya Wi Lian In lagi dengan gemas.
"Mungkin dia menaruh simpatik terhadap Hong Mong Ling"
Jawab Ti Then tertawa pahit.
"Dia punya alasan apa untuk menaruh simpatik kepada Hong Mong Ling"
Ujar Wi Lian In dengan amat gusar.
"apakah Hing Mong Ling anaknya??? atau mungkin muridnya ??"
Ti Then hanya bisa angkat bahunya saja.
"Aku pikir tentu dia bisa jelaskan sendiri kepada ayahmu .... oooh ayahmu sudah keluar"
Tampak dengan langkah perlahan berjalan keluar dari dalam kamar, air mukanya berubah hijau membesi,jelas sekali kalau kemarahannya sudah mencapai pada puncaknya.
Dengan cepat Wi Lian In maju menyongsong kedatangan ayahnya.
"Tia dia bilang apa?"
Tanyanya cepat. Wi Ci To tidak menyawab sebaliknya kepada Ti Then ujarnya.
"Hong Mong Ling bangsat cilik itu bersembunyi di dalam sarang pelacur Touw Hoa Yuan, cepat kau ke sana tawan dia kembali"
"Boanpwe terima perintah."
Sesudah merangkap tangannya memberi hormat segera dia putar tubuh berlalu dari sana.
Wi Lian In yang berdiri di samping ketika mendengar Hong Mong Ling berada di dalam sarang pelacur Touw Hoa Yuan hatinya menjadi girang, ujarnya cepat-cepat.
"Putrimu boleh ikut bukan?"
Wi Ci To termenung berpikir sebentar, agaknya baru menyawab.
"Baiklah, kau boleh ikut Ti Kauw tauw ke sana tapi kau dilarang masuk ke dalam sarang pelacur mereka"
Wi Lian In amat girang sekali, sesudah menyauhi segera dia lari mengejar diri Ti Then, mereka berdua masing-masing menunggang seekor kuda melarikan tunggangannya dengan cepat keluar benteng.
Mereka berdua dengan berdampingan dengan cepatnya lari turun gunung menuju ke dalam kota Go bi.
"Semoga saja kita bisa tiba di dalam kota sebelum menjadi terang"
Ujar Ti Then kemudian sesudah memandang keadaan cuaca "Jika hari sudah terang tanah, untuk menawan dia mungkin agak lebih sulit lagi"
"Tidak mungkin"
Bantah Wi Lian In "sebelum terang tanah kita pasti bisa tiba di dalam kota, waktu dia pasti masih tidur"
Dia berhenti sebentar, kemudian sambungnya lagi.
"Dia tentu tidur di dalam kamarnya Liuw Su Cen"
"Tidak salah"
"Nanti kau masuklah dari pintu depan, sedang aku menyaga di halaman belakang, kali ini jangan sampai membiarkan dia bisa meloloskan diri lagi."
"Ehmm ... aku kira tidak mungkin bisa lolos."
Wi Lian In angkat kepalanya memandang ke arah Ti Then-"
Kau pikir Tia bisa ambil tindakan apa untuk menghukum mereka berdua?"
Tanyanya.
"Entahlah"
Jawab Ti Then sambil angkat bahunya.
"Hmmm, mereka harus dihukum mati."
"Soal itu juga baru bisa dilaksanakan sesudah menanti hwesio-hwesio dari Siauw lim pay datang mereka harus mengakui sendiri semua kabar bohong yang mereka katakan itu di hadapan hwesio-hwesio itu sehingga mereka bisa dibikin percaya"
"Hmmm, aku ingin sekali cepat-cepat membunuh mati bangsat cilik itu"
"Tidak usah terlalu cemas"
Hibur Ti Then sembari tersenyum.
"Biarlah ayahmu yang menyatuhi hukuman kepada mereka."
Pada hari menjelang terang tanah, kedua orang itu sudah tiba diluar kota Go bi, sambil menarik tali les kudanya, ujar Ti Then lagi.
"Baiknya kita tinggalkan kuda tunggangan diluar kota saja, kemudian kita masuk kota dengan melalui tembok kota"
Wi Lian In putar kepalanya memandang keadaan disekeliling tempat itu, ketika tampak tidak jauh dari sana ditepi sungai terdapat beberapa batang pohon siong segera ujarnya.
"Baik kita tambatkan kuda-kuda ini pada pohon itu."
Sesampainya di bawah pohon mereka menambatkan kuda masing-masing pada pohon tersebut kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, masing-masing berkelebat melewati tembok kota.
Cuaca belum terang, ditengah jalan dalam kota masih jarang terlihat orang-orang yang berlalu lalang, Ti Then dengan membawa Wi Lian In dengan cepatnya menuju ke depan pintu rumah pelacuran Touw Hoa Yuan itu, ujarnya sambil menuding pintu depan.
"Inilah yang disebut sebagai Rumah pelacuran Touw Hoa Yuan, sekarang kau pergilah melalui gang kecil ini menuju ke belakang, jika melihat dia melarikan diri cepat-cepatlah berteriak."
Wi Lian In sedikit mengangguk.
kemudian meuyusup kejalan kecil tersebut, setelah dilihatnya disekitar tempat itu tidak ada orang barulah Ti Then dengan ringannya meloncat masuk ke dalam ruangan dalam, terlihat suasana masih amat sunyi, sesosok bayangan manusia pun tidak kelihatan berkeliaran, jelas seluruh penghuni rumah pelacuran itu masih tertidur dengan amat pulasnya.
Pintu diruangan depan kelihatan sedikit terbuka, melihat hal itu Ti Then tersenyum pikirnya.
"Loteng dan ruangan semalam suntuk tidak tertutup,"
Segera dia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam.
Dia pernah satu kali datang kerumah pelacuran ini, karena itu tahu juga letak kamarnya Liuw Su Cen, cepat-cepat dia berjalan melalui sebuah lorong panjang menuju kekamar yang di tuju, mendadak ...
seorang pelayan muncul di hadapannya.
Pelayan ini agaknya baru saja bangun dari tidurnya, dengan wajah yang mengantuk dia membungkukkan badannya memberi hormat, ujarnya.
"Siangkong, selamat pagi."
Agaknya dia sudah menganggap Ti Then adalah tamu yang menginap di rumah pelacur mereka.
Ti Then hanya sedikit mengangguk saja, tanpa mengucapkan kata-kata sengaja dia perlihatkan gerak geriknya yang kemalas-malasan.
"Siangkong apa kau punya perintah yang lain?"
Tanya pelayan itu lagi.
"Tidak ada ..kau boleh pergi.."
Sahut Ti Then sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
Si pelayan itu segera mengambil sapu dan berjalan meninggalkan tempat itu Menanti sesudah bayangan dari pelayan itu lenyap dari pandangan barulah Ti Then berjalan mendekati kamarnya Liuw Su Cen, kemudian mulai mengetuk pintu sengaja dengan suara yang diperkecil sehingga mirip dengan suara perempuan teriaknya.
"Nona Liuw cepat buka pintu"
Dari dalam kamar segera mulai terdengar ada suara keresekan.
"Siapa?"
Suara Liuw Su Cen yang genit segera berkumandang keras dengan nada yang kurang senang.
"Aku"
Sahut Ti Then sengaja mempertinggi suaranya.
"Cepat kau buka pintu, Ku Ie perintahkan aku untuk memberitahukan suatu urusan kepadamu"
"Kau siapa?"
Tanya Liuw su Cen lagi. Sengaja dengan nada yang mengandung nada genit jawab Ti Then cepat.
"Aku ."
"Baiklah..kau tunggu sebentar biar aku pakai baju dulu"
Suara keresekan yang ramai segera berkumandang keluar kemudian disusul dengan langkah Liuw su Cen berjalan kepintu kamar, sebentar kemudian terlihat pintu kamar dibuka dengan perlahan.
Kiranya yang yang dimaksud memakai baju olehnya tidak lebih hanya pakaian dalam yang amat tipis sekali, karena itu Liuw Su Cen yang kini muncul di hadapan Ti Then keadaannya amat menggairahkan sekali, dadanya terbuka separuh yang anggota badan lainnya kelihatan secara samar-samar di balik pakaian dalamnya yang terbuat dari kain tipis.
Begitu dia melihat orang yang berdiri di depan pintu bukan lain adalah Ti Then, air mukanya sagera berubah amat hebat, serunya.
"Kau??"
Dengan satu kali dorongan Ti Then mendorong badannya ke samping kemudian dengan kecepatan yang luar biasa meloncat masuk ke dalam kamar.
Ternyata Hong Mong Ling memang benar berada di dalam kamar.
Dia sedang duduk di atas pembaringan dengan alas kain merah.
Begitu melihat Ti Then meloncat masuk ke dalam kamar dengan gugup dan tergesa-gesa dia menyambar pedang panjang di samping badannya kemudian meloncat bangun-bagaikan seekor burung walet dengan gesitnya melayang keluar melalui jendela.
Ti Then tertawa dingin tak henti-hentinya cepat dia mengikuti dari belakangnya mengejar dengan kencang, ketika dilihatnya dia melarikan diri dengan amat gugup kehalaman belakang hatinya diam-diam merasa amat girang, cepat dia mengikuti terus dari belakangnya.
Mereka berdua yang satu melarikan diri yang lain mengejar bagaikan sambaran kilat cepatnya berkelebat ke arah belakang halaman, hanya di dalam sekejap mata saja sudah melewati tembok yang mengelilingi rumah pelacuran itu.
Wi Lian In yang menanti diluar tembok begitu melihat Hong Mong Ling melarikan diri dengan meloncat tembok segera membentak nyaring, pedangnya dengan dahsyat ditusuk kearah perutnya.
Hong Mong Ling sama sekali tidak menduga kalau diluar tembok masih ada orang yang hendak mencabut nyawanya, di dalam keadaan yang amat terperanyat dia tidak sempat mencabut keluar pedangnya, terpaksa bersama-sama dengan sarungnya digunakan untuk menangkis datangnya serangan tersebut.
Tetapi tangkisannya ini tidak berhasil menutup seluruh serangan pedang dari Wi Lian In, kaki kanannya sudah terkena babatan ujung pedang Wi Lian In sehingga darah segar mulai mengucur keluar dengan amat derasnya.
Tapi dia masih berusaha juga untuk melarikan diri, sekali lagi badannya meluncur beberapa kaki kemudian meloncet naik ke atas atap sebuah bangunan.
Ti Then yang mengejar dari belakang segera berteriak ketika melihat keadaannya itu.
"Hong Mong Ling, aku lihat lebih baik kau tidak usah membuang-buang tenaga dengan percuma, lebih baik dengan mandah ikut kami kembali ke dalam Benteng"
Hong Mong Ling pura-pura tidak mendengar, dengan tergesa-gesa dia melarikan diri ke depan bahkan larinya semakin cepat lagi, hal ini mungkin disebabkan di dalam anggapannya dia sudah merasa kalau dirinya kembali ke dalam Benteng pasti akan menerima kematian.
Karena itu keinginan untuk hidup membuat tenaganya berlipat ganda.
Oleh sebab itulah walau pun Ti Then serta Wi Lian In dengan kencang terus menerus mengejar dirinya, untuk beberapa saat lamanya masih belum sanggup juga untuk menawan dia kembali.
Mereka bertiga dengan jarak kurang lebih tiga kaki dengan kecepatan yang luar biasa saling kejar mengejar di atas bangunan rumah kota Go bi, laksana loncatan kucing cepatnya hanya dalam sekejap mata mereka sudah tiba di samping pintu kota sebelah timur kemudian meloncat keluar kota dan berlari menuju ke daerah luar kota.
Ti Then yang melakukan pengejaran dengan mengerahkan seluruh tenaganya semakin lama dapat juga mendekati diri Hong Mong Ling.
"Hai bangsat cilik"
Teriaknya sambil tertawa dingin tak henti-hentinya.
"Kalau kau punya kekuatan untuk lari satu li lagi, aku akan lepaskan satu kehidupan buatmu."
Keinginan hidup segera meliputi hati Hong Mong Ling, serunya kemudian-"Perkataanmu itu betul tidak?"
"Ha ha ha ha..."
Ti Then tertawa amat nyaring.
"selamanya aku bilang satu yaah satu, bilang dua yaah dua, kau legakan hatimu"
Hong Mong Ling segera mengerahkan seluruh tenaganya untuk melarikan diri ke depan, dia mengharapkan dirinya bisa lari satu lie lagi sehingga bisa lolos dari cengkeramannya.
siapa tahu baru saja berlari beberapa waktu luka dikakinya semakin lama terasa semakin sakit sehingga tanpa dia sadari semakin lama larinya pun semakin lambat.
Sebaliknya saat ini semakin mengejar Ti Then melayang semakin cepat lagi, belum sampai mencapai setengah li Ti Then sudah berhasil berada kurang lebih lima depa di belakang badannya.
Agaknya Hong Mong Ling tahu bahwa dia tidak akan sanggup lari lagi, mendadak dia menghentikan larinya tubuhnya membungkuk ke bawah sedang ujung kaki kirinya bagaikan kilat cepatnya dengan dahsyat mejalankan satu tendangan dahsyat ketubuh Ti Then.
Sejak semula Ti Then sudah mengadakan persiapan, begitu dilihatnya serangan tersebut hampir mencapai tubuhnya mendadak tubuhnya miring ke samping kemudian melayang dari samping tubuhnya.
Tangan kanannya tidak mau berdiam diri secara tiba-tiba melancarkan serangan cengkeraman mengancam jalan darah Cian Khing hiatnya.
Hong Mong Ling yang melihat serangan tendangannya mencapai sasaran kosong tubuhnya mendadak membalik dengan gaya "Keledai malas menggelinding"
Dia putar tubuhnya ke belakang sedang pedangnya dengan disertai sinar yang menyilaukan mata membacok sepasang kaki Ti Then, gerakan ini dilakukan amat cepat sekali.
Sampai waktu Ti Then tetap tidak mau menyambut pedangnya untuk mengadakan perlawanan badannya meloncat ke atas setinggi tiga depa sedang sepasang kakinya melancarkan serangan Lian huan tui atau tendangan berantai mengarah wajahnya.
Cepat-cepat Hong Mong Ling melayang ke samping, pedangnya dengan mengikuti gerakan tersebut berkelebat kembali dengan jurus "si Gouw Huang Gwat"
Atau badak memandang bulan dengan mendatar membabat pinggang Ti Then.
Segera terjadi suatu pertempuran sengit antara mereka berdua, kurang lebih sepuluh jurus kemudian satu serangan telapak Ti Then dengan tepat menghajar lengan kirinya.
"Praakk..."
Seketika itu juga tulang lengannya terputus oleh pukulan itu.
Hong Mong Ling mendengus berat, pedang panjangnya lepas dari tangannya tadi dengan cepat tangan kirinya memungut kembali pedangnya dan dibabat kearah lehernya sendiri, bagaikan kilat cepatnya Ti Then melancarkan cengkeraman merebut pedangnya, ujarnya sembari tertawa dingin.
"Hmm..hmnnm, kau jangan begitu jangan cepat-cepat mati"
Hong Mong Ling sembari tertawa seram.
"Tidak. aku dapat perintah untuk tawan kau kembali ke dalam Benteng"
"Aku tidak mau pulang"
"Hmm.. sekali pun begitu aku masih bisa paksa kau untuk kembali"
Seru Ti Then mengejek.
Diantara pembicaraan itu dua jarinya dengan cepat menotok jalan darah kakunya.
Waktu itulah Wi Lian In baru berhasil menyusul mereka, ketika dilihatnya Ti Then sudah berhasil mengusai diri Hong Mong Ling dia menjadi amat girang.
"Hey bangsat cabul"
Makinya sambil menuding diri Hong Mong Ling dengan jarinya.
"Tidak kau duga bukan bisa ada hari ini?"
Hong Mong Ling yang tertotok jalan darah kakunya kini hanya bisa terlentang dengan kakunya di atas tanah tapi mulutnya masih bisa bicara, mendengar perkataan itu dia segera tertawa dingin.
"Hmm..hmm..seperti ini hari terhadap seorang perempuan yang suka akan baru dan bosan pada yang lama memang patut dirayakan"
"Siapa yang suka yang baru bosan yang lama? "
Tanya Wi Lian In dengan amat gusar.
"Perempuan itu tidak lain adalah putri Wi Pocu itu majikan dari Benteng Pek Kiam Po yang amat terkenal di dalam dunia Kangouw "
Ejek Hong Mong Ling. Saking gemasnya Wi Lian In membentak keras, pedang panjangnya digerakkan secepat kilat mengancam ulu hatinya. Tiba-tiba...
"Traang. ."
Pedangnya yang hampir mengenai ulu hati Hong Mong Ling secara mendadak terkena sambitan senyata rahasia sehingga miring ke samping.
Senyata rahasia yang mengenai pedangnya itu bukan lain hanya sebuah bunga teratai dari besi.
Kekuatan sambitan senyata rahasia teratai besi itu amat besar sekali, bukan saja membuat pedangnya miring ke samping bahkan menggetarkan badannya sehingga terjatuh dua langkah ke samping.
Wi Lian In menjadi tertegun, kepada Ti Then dengan perasaan tidak puas ujarnya.
"Di dalam benteng masih ada seorang saksi kau takut apa lagi?"
Dia mengira Ti Then yang sudah turun tangan mencegah perbuatannya untuk membunuh Hong Mong Ling, karena itu dia mengucapkan kata-kata tersebut. Ti Then tertawa pahit.
"Bukan aku, ada orang sudah datang"
Ujarnya.
Air muka Wi Lian In berubah sangat hebat, segera dia menoleh memandang keadaan disekeliling tempat itu, waktu itulah dia baru melihat kurang lebih tujuh delapan kaki dari tempat mereka berdiri berjajar-jajar dua puluh orang hwesio, tanpa terasa lagi saking terkejutnya dia sudah menjerit tertahan, kemudian dengan termangu-mangu berdiri tertegun di sana.
Hanya di dalam satu kali pandangan saja dia sudah tahu kalau kedua puluh orang hwesio itu berasal dari kuil Siauw lim si di atas gunung song san-Karena salah satu dari hwesio-hwesio itu bukan lain adalah si Hwesio berwajah riang dari kuil Siauw lim si yang pernah mencegat Ti Then untuk minta kitab pusaka Ie Cin Keng darinya.
Jilid 15.2.
Rombongan Siauw Lim pay berkunjung Sisanya sembilan belas orang masing-masing memakai pakaian kasa yang berwarna kuning emas salah satu diantara mereka dengan mencekal tongkat wajahnya amat ramah Jika dipandang dari usianya sudah sangat lanjut, keadaannya amat agung dan berwibawa sekali.
Wi Lian In menarik napas panjang, teriaknya tanpa dia sadari.
"Hwesio-hwesio dari Siauw lim pay sudah datang."
Hwesio tua yang mencekal tongkat itu sambil tersenyum berjalan mendekati mereka bertiga, kepada Ti Then sambil merangkap tangannya memberi hormat, ujarrya.
"omitohud, Siauw sicu ini apa bukan yang bernama pendekar baju hitam Ti Then?".
"Tidah berani, tidak berani..memang cayhe adanya"
Sahut Ti Then cepat sambil merangkap tangannya membalas hormat.
"Lolap adalah Yuan Kuang dari Siauw lim"
Sekali lagi Ti Then bungkukkan badannya memberi hormat.
"Oh kiranya adalah Ciangbun thaysu yang sudah berkunjung, selamat datang. selamat datang"
Serunya.
"Sebetuinya lolap sedang berada ditengah perjalanan menuju ke Benteng Pek Kiam Po untuk menyambangi Wi Losicu beserta Ti Siauw sicu, baru sampai sini tidak sangka sudah bertemu dengan Siauw sicu, sungguh kebetulan sekali"
"Taysu jauh-jauh dari gunung Songsan datang kemari, apakah disebabkan oleh kitab pusaka Ie Cin Keng itu?"
"Benar"
Sahut Yuan Kuang Taysu mengangguk.
"Kitab pusaka Ie Cin Keng semestinya memang barang kuil kami, sesudah lenyap selama puluhan tahun lamanya lolap dengar kitab tersebut sudah ditemukan kembali oleh Siauw sicu, bilamana sekarang Siauw sicu mau mengembalikan kitab tersebut kepada kuil kami Lolap betul-betul merasa sangat berterima kasih sekali."
"Taysu sudah salah paham"
Bantah Ti Then setelah mendengar perkataan dari Yuan Kuang Thaysu Ciangbunyin dari Siauw limpay.
"Cayhe selama ini belum pernah memperoleh kitab pusaka Ie Cin Keng, berita bohong ini sengaja dikarang oleh Hong Mong Ling dengan tujuan hendak mencelakai diri cayhe"
Sembari berkata dia menuding kearah Hong Mong Ling. Mendadak dengan amat gusar Hong Mong Ling membantah.
"Omong kosong, terang-terangan kau sudah menemukan kitab cusaka Ie Cin Keng bahkan itu hari dengan mata telingaku sendiri aku melihat dan mendengar kau memperoleh kitab pusaka Ie Cin Keng itu dan hendak kau persembahkan kepada Wi Ci To, buat apa kau sekarang membantah juga."
Ti Then mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Hmm...hmmm... bangsat cilik"
Teriaknya sembari tertawa dingin tak henti-hentinya.
"Kalau memangnya kau sudah melihat itu kitab pusaka Ie Cin King sekarang aku mau tanya padamu, macam apakah kitab pusaka Ie Cin keng itu."
"Waktu itu aku berdiri agak jauh dari tempat kalian sehingga tidak dapat melihat jelas"
Jawab Hong Mong Ling tida mau kalah.
"Hanya saja perkataanmu kepada Wi Ci To aku masih bisa mendengar sangat jelas sekali, kau bilang kitab pusaka Ie Cin Keng akan kau serahkan kepada Wi Ci To tetapi syaratnya haruslah menjodohkan putrinya kepada mu"
Saking gemas dan gusarnya Wi Lian In merasa dadanya hampir meledak dibuatnya.
"Bangsat cabul, kau berani memfitnah aku seenak hatimu, aku bunuh kau"
Pedang panjang ditangannya dengan disertai angin sambaran yang amat tajam dengan amat keras ditusuk ke arah perutnya.
Yuan Kuang Taysu cepat-cepat melintangkan toyanya menangkis datangnya serangan pedang itu, sedang telapak kirinya dengan meminyam kesempatan itu mencengkeram belakang leher Hong Mong Ling dan di tariknya ke belakang.
"Sambut ini"
Bentaknya keras.
Si Hwesio berwajah riang dengan cepat maju satu langkah ke depan menyambut diri Hong Mong Ling kemudian diserahkan lagi kepada seorang hwesio berusia partengahan yang berada di sampingnya.
"Kau bantu dia hentikan mengalirnya darah terlebih dulu"
Ujarnya dengan perlahan.
Ti Then sama sekali tidak menyangka pihak lawan berani merampas Hong Mong Ling dari tangannya, untuk merebut kembali sudah tidak sempat lagi terpaksa di dalam hatinya dia merasa amat cemas bercampur serba salah, ujarnya dengan keras.
"Taysu, dia adalah anak murid dari Wi Ci To Pocu, Kalian tidak seharusnya menawan mereka."
Yuan Kuang Taysu tersenyum.
"Lolap bukannya menawan dia, sebaliknya sedang melindungi nyawanya"
Ujarnya kalem.
"Taysu sudah berbuat salah"
Seru Ti Then kembali.
"Dialah manusia licik yang sudah menimbulkan keonaran ini bahkan pernah dua kali menculik pergi nona Wi dan hendak berbuat tidak senonoh kepada nona Wi, karena Wi pocu sudah perintahkan cayhe untuk tawan dia kembali ke Benteng untuk dijatuhi hukuman"
Agaknya Yuan Kung Thaysu tidak mau percaya atas perkataan itu, sambil tersenyum balik bertanya.
"Siauw sicu, apa dia benar-benar murid dari Wi Lo sicu??"
"Tidak salah"
Sahut Ti Then mangangguk.
"Lalu siapa namanya??"
"Hong Mong Ling."
Pada air muka Yuan Kuang Thaysu jelas memperlihatkan perasaannya yang amat terkejut.
"oooh..diakah si naga mega Hong Mong Ling?? Bukankah dia adalah bakal menantu dari Wi Lo sicu"
"Sebetuinya memang benar, hanya saja pada waktu-waktu mendekat ini Wi Pocu serta nona Wi sudah mengetahui kalau dia main perempuan diluaran bahkan sudah jatuh cinta kepada seorang pelacur, karena itu perjodohan ini sudah dibatalkan."
"Bangsat cilik ini dari rasa malu menjadi perasaan gusar ternyata dia berani menculik nona Wi.."
Dia tidak menceriterakan juga tentang diri Hu Pocu Huang puh Kian Pek di sebabkan dia merasa kejelekan keluarga sendiri tidak baik untuk disiarkan diluaran.
Sekali lagi dengan amat gusar Hong Mong Ling berteriak keras.
"Kentutmu, kapan aku Hong Mong Ling sudah jatuh cinta dengan seorang pelacur? ke semuanya ini dikarenakan Wi Ci To sudah timbul kerakusannya untuk memiliki kitab pusaka Ie Cin Keng sehingga membatalkan perjodohanku dengan nona Wi, dia mau menjodohkan nona Wi kepadanya karena kitab pusaka itu dihadiahkan kepada Wi Ci To, dan karena takut aku menyiarkan berita ini diluaran maka dia mau bunuh aku sehingga dengan begitu aku akan menutup mulut untuk selama-lamanya."
Sesudah mendengar perkataan ini berkali-kali Yuan Kuang Taysu mengangguk.
agaknya dia merasa perkataan dari Hong Mong Ling inilah yang masuk diakal.
Saking gusarnya air muka Wi Lian In dari pucat berubah menjadi kehijau-hijauan, baru saja dia angkat pedangnya hendak melancarkan serangan kembali keburu sudah dicegah oleh Ti Then, ujarnya.
"Jangan keburu napsu,pada suatu hari persoalan pasti akan menjadi jelas kembali, kau tahanlah sendiri kemarahanmu."
Setelah itu barulah dengan perlahan dia menoleh ke arah Yuan Kuang Taysu, sambungnya kembali.
"Jikalau Taysu tidak percaya atas perkataan cayhe ini, sekarang juga cayhe bisa membawa Taysu untuk bertemu dengan dua orang saksi"
"Siapa kedua orang saksi itu??"
"Germo dari rumah pelacuran Touw Hoa Yuan, si Ku Ie serta pelacur Liuw Su Cen, mereka bisa memberi keterangan kepada Taysu apakah Hong Mong Ling sering pergi ke rumah pelacuran mereka atau tidak, bahkan barusan saja cayhe menangkap dirinya dari dalam rumah pelacuran tersebut"
"Ha ha ha... siancay... siancay...bagai mana Siauw sicu bisa mengajak pinceng?"
Yuan Kuang Taysu sembari tertawa terbahak-bahak.
"Agar urusan menjadi lebih jelas mau tak mau kita harus pergi ke sana juga."
Senyuman yang menghiasi wajah Yuan Kuang Taysu mendadak lenyap tanpa bekas, dengan nada yang keren tapi halus ujarnya.
"Perkataan Siauw sicu walau pun benar tetapi cara pemikiran orang lain tidak mungkin begitu."
"Kalau memangnya Taysu tidak ingin pergi ke rumah pelacuran Touw Hoa Yoan itu baiklah Taysu mengikuti diri cayhe untuk menemui Wi Pocu di dalam Benteng Pek Kiam Po, pada waktu itu Wi Pocu bisa menjelaskan semua liku-likunya persoalan kepada diri Taysu."
Yuan Kuang Taysu mengangguk tanpa menyetujui usul tersebut.
"Lolap memangnya mau pergi menyambangi diri Wi Lo sicu, demikian pun baik juga."
Berbicara sampai di sini segera dia menoleh kepada si hweosio berwajah riang, ujarnya.
"Ti sim kau ikuti lolap menuju ke Benteng Pek Kiam Po, sedang cap Pwe Lo Han bawa Siauw sicu itu menanti di Kuang Hoa Hong san Yuan di dalam kota."
Ketika Ti Then mendengar ke delapan belas orang hwesio berusia pertengahan itu ternyata adalah Cap pwe Lo Hannya Siauw limpay diam-diam hatinya merasa berdesir, kini mendengar mereka hendak menawan Hong Mong Ling hatinya semakin cemas, dengan gugup ujarnya.
"Tidak bisa jadi, tidak bisa jadi..kalian tidak bisa bawa Hong Mong Ling pergi."
Air muka Yuan Kuang Taysu terlihat sedikit berubah, dengan nada dingin tanyanya.
"Apa Siauw sicu takut kami lepaskan dia pergi."
"Bukannya begitu, hanya takut dia melarikan diri"
"Soal ini kau tidak perlu kuatir"
Ujar Yuan Kuang Taysu kemudian "Cap Pwe Lo Han bisa menyaga dia sebaik-baiknya, dia merupakan satu-satunya saksi yang menguntungkan kuil kami, bagaimana Lolap bisa membiarkan dia melarikan diri??"
"Kenapa tidak Taysu bawa sekalian ke dalan Benteng Pek Kiam Po, agar kita bisa saling berhadap-hadapan dengan terus terang."
Pada air muka Yuan Kuang Taysu kelihatan berkelebat suatu senyuman aneh.
"Sebelum Lolap betul-betul mengetahui sikap serta tindak tanduk dari Wi Losicu, lolap tidak berani menyalankan cara ini."
"Jadi maksud Taysu takut kami bunuh mati dia orang??"
Seru Ti Then sambil pandang tajam wajahnya.
"Benar"
Sahut Yuan Kuang Thaysu tersenyum.
"Bukankah tadi Wi Li sicu berkali-kali hendak turun tangan mencabut nyawanya Hong Siauw sicu??"
"Jikalau Taysu merasa tidak lega hati, tidak urung bawa sekalian cap Pwe Lo Han kalian"
"Tidak bisa..tidak bisa"
Bantah Yuan Kuang Thaysu cepat.
"Dengan tindakan seperti itu sama saja memperlihatkan kalau Lolap hendak membereskan urusan ini dengan kekerasan, sebelum kita bicarakan dengan baik-baik, hal ini lolap rasa kurang sopan."
Sudah sejak lama Ti Then mendengar kalau barisan Lo Han Tin dari Siauw lim Cap Pwe Lo Han sangat lihay sekali, jika dirinya hendak merebut diri Hong Mong Ling dari tangan Cap Pwe Lo Han itu di tambah lagi di bawah pengawasan Yuan Kuang Taysu serta si hwesio berwajah riang, hal ini secara tidak sengaja sudah membuktikan kalau dirinya sudah memperoleh kitab pusaka Ie Cin Keng tersebut dan kini mau bunuh Hong Mong Ling untuk melenyapkan saksi, karena itu dia mengangguk sanbil menghela napas panjang.
"Baiklah"
Ujarnya kemudian.
"Kalau memangnya Thaysu bermaksud begini cayhe juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi, tapi thaysu harus jaga dia sebaik-baiknya jika sampai dia meloloskan diri thaysu harus bertanggung jawab"
"Baik, kita tentukan begitu"
"Kalau begitu..mati kita jalan"
Demikianlah ke delapan belas hwesio yang disebut sebagai Cap Pwe Lo Han dengan membawa Hong Mong Ling masuk ke dalam kota sedangkan Yuan Kuang Thaysu bersama-sama si hwesio berwajah riang, Ti Then serta Wi Lian In menuju kearah Benteng Pek Kiam Po.
Ti Then menuju keluar pintu kota sebelah barat teriebih dulu, sesudah menemukan kembali kedua ekor kuda tunggangannya barulah dengan memimpin Yuan Kuang Thaysu serta si hwesto berwadah riang menuju ke gunung Go bi.
Selama dalam perjalanan ini Ti Then terus menerus mengerutkan keningnya bahkan sikap serta tindak tanduk memperlihatkan perasaan yang amat murung karena di dalam anggapannya semula asalkan dia bisa menawan Hong Mong Ling maka kesalah pahamannya dengan pihak kuil Siauw lim si bisa dibereskan dengan mudah siapa tahu Hong Mong Ling jadi orang amat licik sekali bahkan pintar berbohong sehingga urusan malah terbalik menjadi semakin menegangkan.
Kini, satu-satunya harapan adalah Huang Puh Kian Pek mau berlaku terus terang dan mengakui semua kejadian itu sejujurnya, dengan demikian mungkin kesalah pahamannya dengan Yuan Kuang Thaysu bisa beres-Tapi..
maukah Huang Puh Kian Pek mengaku terus terang ??
Mungkin mau, tapi untuk membuat Yuan Kuang Thaysu bisa percaya hal ini mungkin akan lebih sukar lagi.
Heeeey,jlka dirimu betul-betul memperoleh sebuah kitab pusaka Ie cin Keng urusan ini akan cepat beresnya, asalkan kitab itu diserahkan kepada hwesio-hwesio gundul ini maka urusan pun selesai.
Agaknya Wi Lian In merasa sedikit tidak puas terhadap Yuan Kuang Taysu serta si hwesio berwajah riang, selama di dalam perjalanan ini dia terus menerus melarikan kudanya secepat-cepatnya, sudah tentu Ti Then tidak akan membiarkan dia berjalan seorang diri di depan, terpaksa dia pun melarikan kudanya cepat-cepat untuk mengikuti di sampingnya walau pun begitu Yuan Kuag Thaysu mau pun si hwesio berwajah riang yang mengikuti dari belakang tetap tidak sampai tertinggal jauh, kedua orang hwesio itu dengan ujung baju yang berkibar tertiup angin, tetap berlari dengan mantap.
tidak perduli sepasang kuda itu berlari bagaimana pun cepatnya mereka tetap berada tidak kurang dari satu kaki di belakang mereka.
sesudah melakukan perjalanan selama setengah jam lamanya, akhirnya sampai juga mereka di depan pintu Benteng Pek Kiam Po.
Yuan Kuang Thaysu serta si hwesio berwajah riang itu segera menghentikan langkahnya di depan pintu Benteng, sebagai seorang ciangbunyin dari partai besar sudah tentu dia harus menyaga kewibawaan serta kedudukannya sebagai pimpinan suatu aliran besar, dia akan menanti sampai Wi Ci To sendiri yang menyambut kedatangan mereka baru mau masuk ke dalam Benteng.
Ti Then serta Wi Lian In melarikan kudanya terus hingga sampai ditengah lapangan latihan silat, terlihatlah Wi Ci To serta seluruh pendekar pedang hitam mau pun putih sedang berkumpul di bawah mimbar, cepat mereka meloncat turun dari kuda dan berjalan menghampiri mereka dengan berjalan kaki.
Ketika mereka berdua tiba ditempat itulah apa yang sudah terjadi ditengah mimbar diantara Wi Ci To serta para pendekar pedang hitam dan putih itu, dapat mereka lihat dengan jelas tanpa terasa lagi saking terkejutnya mereka sudah melongo dibuatnya.
Kiranya di hadapan mereka sudah terbentang suatu pemandangan yang sangat mengerikan.
Hu Pocu Huang Puh Kian Pek berlutut ditengah lapangan, pada sepasang tangannya sedang mencekal gagang pedang yang ujung pedangnya sudah ada tiga bagian menembus ulu hatinya, darah segar membanyiri seluruh tanah lapangan.
Baca Juga: Pedang Penakluk Iblis 11
Baca Juga: Darah Pendekar 6