Eps 4 Pendekar Patung Emas - Qing Hong
Baca online Pendekar Patung Emas - Qing Hong
Cersil Pendekar Patung Emas - Qing Hong.
Di dalam kamar tidak disulut lampu, karenanya untuk sesaat dia tidak tahu di atas pembaringan itu ada orangnya atau tidak.
Dia menanti sebentar tapi tidak terdengar suara Wi Lian In juga, segera tahulah dia kalau urusan sudah terjadi, dengan cepat dicarinya korek dan menyulut lampu dalam kamar itu.
Begitu lampu disulut keadaan di dalam kamar menjadi terang benderang.
Wi Lian In ternyata tidak berada di dalam kamar.
Selimut di atas pembaringan sudah dike sampingkan tapi tidak terlihat tanda-tanda melawan, agaknya Wi Lian In diculik pergi dalam kedaan tidur sangat nyenyak.
Ti Then merasa sangat terkejut bercampur gusar, sambil mend epakkan kakinya ke atas tanah makinya.
"Bangsat cecunguk. Heeem... tidak melihat darah berceceran agaknya mereka tidak puas.."
Dengan cepat dia putar tubuh siap meninggalkan tempat itu, medadak dia menjadi tertegun dibuatnya, sambil berjalan kearah pintu kamar dirobeknya secarik kertas.
Kiranya kertas itu sejak semula sudah ditempelkan orang di balik pintu kamar itu.
Pada kertas itu kira-kira tertuliskan demikian.
"Harap bawa kitab pusaka Ie Cin Keng untuk ditukar dengan orangmu di luar kota dalam tanah pekuburan". Oooh ..kiranya orang yang menculik nona Wi Lian In bukan setan Pengecut itu, sebaliknya orang lain ? siapa dia ??? Mentri Pintu serta Pembesar Jendela.?? Tidak mungkin, mereka tidak punya nyali sebegitu besar. Apa mungkin Hwesio berwajah riang dari siauw lim Pay ?? Tapi ..dia merupakan seorang hwesio dari partai kenamaan, bagaimana mungkin melakukan pekerjaan semacam ini ?? Hemmm tentu seorang manusia dari golongan Hek to yang belum mau munculkan diri Berpikir sampai di sini Ti Then tidak ragu-ragu lagi, dengan cepat dia putar tubuh kembali ke dalam kamarnya, memakai pakaian luar membawa buntaiannya, setelah meninggalkan uang perak dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah penginapan itu. Pada siang harinya sewaktu bersama sama Wi Lian In masuk ke dalam kota melalui pintu sebelah timur.
"ditengah jalan memang pernah menemui sebidang tanah pekuburan. Dalam hati dia tahu orang yang meninggalkan surat itu tentu menunjuk tanah pekuburan itu sebagai tempat pertemuan karenanya dengan cepat dia berlari menuju kepintu kota sebelah timur. Di dalam sekejap mata dia sudah berada di bawah tembok kota, karena pintu kota yang sudah ditutup dengan cepat dia meloncat naik tembok dan berlari keluar kota. Tidak lama dia sudah tiba di tanah pekuburan itu Teriaknya dengan keras sesampainya di sana.
"Cayhe Ti Then sudah tiba menurut suratmu, hei kawan harap munculkan dirimu."
Ditengah malam buta berada ditengah tanah pekuburan yang sangat menyeramkan keadaannya, jika bukannya seorang yang bernyali besar tidak mungkin berani melakukan hal ini Lewat sesaat kemudian dari empat penjuru tanah pekuburan itu muncul empat sosok bayangan manusia yang berkelebat mendatang dengan gerakan yang sangat ringan, lincah dan cepat.
Begitu Ti Then melihat munculnya empat orang sekaligus bahkan jika ditinyau ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai pada taraf kesempurnaan dalam hati terasa berdesir juga, pikirnya.
"Bagaimana bisa muncul sebegitu banyak orang..Ehmmm..agak sukar untuk menghadapi mereka sekaligus... ."
Baru saja dia berpikir sampai di situ, keempat orang itu sudah melayang datang.
Ternyata mereka berempat juga merupakan orang-orang yang berkerudung.
Dalam hati Ti Then tahu sebab-sebab mereka mengerudungi wajah mereka, tak terasa sambil tertawa dingin ujarnya.
"Hemmm... manusia-manusia pengecut juga tidak berani perlihatkan wajah aslinya, sungguh banyak terdapat di dalam dunia kangouw saat ini"
Keempat orang berkerudung itu tidak mau perduli ejekannya itu, seseorang yang berdiri ditengah membuka mulut secara mendadak, ujarnya dengan dingin.
"Barang itu sudah kau bawa?"
"Sudah aku bawa."
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Kalau begitu cepat serahkan"
"Aku mau menemui nona Wi dulu."
"Dia sangat baik,"
Ujar manusia berkerudung itu.
"sesudah kau serahkan barang itu, kami segera lepaskan dia pulang."
"Tidak."
Ujar Ti Then tetap pada pendiriannya.
"Aku harus melihat dulu nona Wi terluka atau tidak. sesudah itu baru serahkan itu barang kepadamu. ."
"Kamu boleh berlega hati, kami belum punya alasan untuk melukai dia."
"Tidak bisa"
Sahut Ti Then kukuh pada pendiriannya "sebelum aku bertemu dengan dia, barang itu tidak akan kuserahkan kepada kalian."
Agaknya orang berkerudung itu merasa sedikit keberatan, sesudah termenung berpikir beberapa saat lamanya barulah ujarnya.
"Dia tidak berada disekitar tempat ini, kami punya rencana sesudah memperoleh barang itu baru lepaskan dia pulang... ."
Ketika Ti Then mendengar wi Lian In tidak berada disekitar tempat ini segera dia mengambil suatu keputusan di dalam hatinya, tanyanya kemudian.
"Kalian masih punya teman?"
"Tidak salah."
Sahutnya sambil mengangguk.
"Kalian seharusnya membawa nona Wi kemari ..."
"He he he ..."
Potong orang berkerudung itu sambil tertawa dingin.
"Tapi kami kira jauh lebih aman jika menyembunyikan dia ditempat yang lain."
"Ha ha ha ha....Kalian sudah melakukan suatu kesalaban yang besar"
Ujar Ti Then sambil tertawa terbahak bahak "Jika kalian membawa dia kemari mungkin karena takut kalian sakiti dia terpaksa aku serahkan kitab pusaka Ie cin Keng itu kepada kalian..Tapi sekarang ..dia tdak berada disekitar tempat ini, jadi aku pun tidak usah takut apa-apa lagi"
Perkataan itu begitu selesai diucapkan mendadak tubuhnya bergerak ke depan dengan kecepatan luar biasa menyerang musuhnya.
Agaknya orang berkerudung itu sama sekali tidak menduda kalau Ti Then berani turun tangan menyerang dia, hatinya betul-betul merasa sangat terkejut, dengan cepat dia mundur ke belakang bersamaan waktunya pula pergelangan tangan kanannya membalik siap cabut gedang menyambut datangnya serangan musuh.
Tapi baru saja pedangnya dicabut sampai tengah jalan, tubuhnya baru saja mundur ke belakang itulah terasa suatu sinar pedang yang sangat menyilaukan mata menyambar kearah pinggangnya.
Sinar pedang itu dengan cepat berkelebat sedang tubuh orang berkerudung itu pun seperti tidak terkena serangan, tubuhnya melanjutkan gerakannya mundur hingga sejauh lima enam tindak baru berhenti.
saat tubuhnya berhenti itulah mendadak tubuhnya bagian atas dan bagian bawah rubuh dengan arah berlainan, darah segar segera menyembur keluar bagaikan pancuran membuat seluruh permukaan tanah basah oleh ceceran darah itu, kiranya pinggang orang itu sudah tergotong hingga menjadi dua bagian.
Ketiga orang berkerudung lainnya juga menyoren pedang panjang pada punggungnya, tetapi sejak munculkan diri ke dalam dunia kangouw hingga saat ini belum pernah melihat serangan pedang yang bisa dilakukan demikian cepatnya, begitu melihat temannya sudah dibabat putus pinggangnya hanya di dalam sekejap mata, tidak tertahan lagi saking terkejutnya mereka pada berdiri melongo.
Pada saat tubuh orang berkerudung itu rubuh ke atas tanah itulah tubuh Ti Then sudah berkelebat berdiri di hadapan seorang berkerudung yang berdiri di sebelah kiri.
Orang berkerudung itu merasa sangat terperanyat, belum sempat dia cabut pedang kaki kanannya dengan seluruh tenaga melancarkan satu tendangan dahsyat ke arah perut Ti Then.
Sekali pun serangan tendangan ini dilancarkan di dalam keadaan gugup tapi kekuatau dan kedahsyatannya luar biasa.
Bagaimana pun juga serangan pedang Ti Thenyauh lebih cepat satu tindak dari serangannya itu, dengan satu jurus Hong sauw Lok Jap atau angin bertiup menggugurkan daun suatu jeritan ngeri segera berkumandang keluar dari mulutnya.
Wajahnya sudab berhasil terpapas separuh oleh serangan silat pedang Ti Then itu.
Sisanya dua orang berkerudung itu melihat kehebatan Ti Then sukar ditahan bahkan hanya sedikit mengangkat tangan sudah berhasil membunuh dua orang kawannya, tak terasa hatinya merasa sangat jeri, kini mana berani maju untuk bergebrak lagi, masing-masing segera putar tubuh melarikan diri dengan cepat-cepat.
Ti Then sejak semula sudah menduga kalau mereka akan melarikan diri, karenanya begitu serangannya berhasil membunuh orang berkerudung yang kedua tubuhnya sudah berputar ditengah udara, bentaknya dengan keras.
"Lihat pedang. ."
Pedang ditangan kanannya segera disambit ke depan dengan cepat.
Kecepatan dari serangan ini sukar dibayangkan dengan menggunakan kata-kata.
Kiranya orang berkerudung ketiga yang berdiri di sebelah kanannya pada saat tubuhnya meloncat pergi itulah sudah tertusuk oleh sambitan pedang Ti Then itu, pedangnya menembus dari punggung hingga ulu hatinya dan muncul kembali pada dadanya, terdengar dia menjerit ngeri dengan sangat keras, sesudah berlari sempoyongan beberapa tindak tubuhnya segera rubuh di atas sebuab kuburan yang besar, seketika itu juga menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Ti Then sesudah menyambitkan pedangnya itu tubuhnya tidak berhenti begitu saja, sekali lagi dia meloncat ke depan tangannya dipentangkan lebar-lebar, dengan jangat cepat mengejar kearah orang berkerudung yang keempat.
Hanya cukup dua kali lompatan saja tubuhnya sudah berada beberapa kaki di belakang tubuhnya.
Dengan dingin ujarnya.
"Hemmm . .jika ingin hidup lebih baik berhentilah dengan cepat."
Ketika orang berkerudung keempat yang sedang melarikan diri itu menoleh ke belakang melihat Ti Then sudah berada di belakang tububnya tidak terasa kakinya terasa menjadi lemas, dengan cepat dia menghentikan larinya dan jatuhkan diri berlutut di hadapan Ti Then, ujarnya dengan sedikit merengek.
"Ti ... Ti siauhiap harap ..harap jangan turun tangan jahat ..turun tangan jahat kepadaku ..."
"Cepat lepaskan kerudungmu terlebih dulu"
Bentak Ti Then dengan keras.
Dengan gugup orang ber kerudung itu melepaskan kain kerudungnya sehingga terlihatlah selembar wajah yang sangat jelek yang saat itu sudah berubah menjadi pucat pasi saking terkejutnya, dengan tak henti-hentinya dia mengangguk anggukkan kepalanya.
Dengan pandangan tajam Ti Then memperhatikan terus wajahnya, sesaat kemudian baru tanyanya.
"Ehmm ... sepertinya aku pernah bertemu dengan kamu orang"
"Benar benar ? pada bulan Tiong ciu tahun yang lalu dijalanan menuju ke Kwan Lok."
"Oooh benar."
Ujar Ti Then secara mendadak.
"Kau adalah Lo Nao dari Kwan si Ngo Koay yang disebut apa Hek . ."
"Benar, aku bernama Hek Pauw atau simacan kumbang hitam Khie Hoat."
"Ketiga orang itu apa saudaramu semua?"
"Benar, mereka adalah Jiko, samko, serta su ko . ."
"Dimana Toako kalian oh Lui si atau malaikat halilintar Khie Ciauw ??"
"Dia ... dia membawa nona Wi menunggu kami di dalam kelenteng tanah ditengah kota."
"Ehmm..."
Sahut Ti Then kemudian tanyanya lagi.
"Kalian dengar dari siapa kalau aku mendapatkan se
Jilid kitab pusaka Ie Cin Keng"
"Aku dengar dari sinaga mega Hong Mong Ling yang bilang."
Sahut si macan kumbang hitam Khie Hoat sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Dia bilang kamu sudah dapatkan se
Jilid kitab pusaka Ie Cin Keng yang mau dipersembahkan untuk Pocu dari Benteng Pek Kiam Po"
"Kalian bertemu dengan si naga mega Hong Mong Ling dimana??"
"Disebuah kota keresidenan Tong Jlen sian, ratusan li di sebelah selatan gunung Fan Cin san"
"Kapan ???"
"Sudah lima enam hari lalu"
"Hemmm..hemmm"
Ujar Ti Then sambil tertawa dingin "Hanya dikarenakan se
Jilid kitab pusaka Ie cin Keng,saja kalian berani turun tangan menculik pergi none Wi, nyali kalian sungguh tidak kecil."
Sembari terus menerus mengangguk anggukkan kepalanya ujar Khie Hoat lagi dengan gemetar.
"Sebetulnya kami tidak berani melakukan hal itu, karena melihat kepandaian silat dari Ti siau hiap sangat lihai terpaksa melaksanakan pekerjaan dengan diam-diam sehingga ... sehingga... ."
"Ehmmm..sekarang kamu orang merasa kitab pusaka Ie Cin Keng lebih berharga atau nyawa saudara-saudara kalian yang lebih berharga???"
"Sudah tentu nyawa lebih berharga. .."
Sahut simacan kumbang hitam Khie hoat sambil melelehkan air mata.
"Heemm... Baiklah."
Ujar Ti Then lagi "Kau rebahlah dulu beberapa saat di tanah pekuburan ini, aku mau pergi ke kelenteng tanah di dalam kota lihat-lihat dulu,jika nona Wi berada di sana maka aku lepaskan satu jalan hidup bagimu, kalau tidak ...
Hmm heemmm ..." -oo000oo-
Jilid .
Wi Lian In diculik lagi Sehabis berkata dengan satu kali cengkeraman dia menyambak rambutnya dan angkat seluruh tubuhnya ke atas, jari tangannya dengan lincah tapi cepat bagaikan kilat menotok jalan darah kakunya.
Itu Macan kumbang hitam Khie Hoat hanya bisa mendengus dengan sangat berat, badannya seketika itu juga menjadi kaku.
Tangannya yang lain dari Ti Then tidak berhenti sampai di situ saja, tubuhnya dengan segera didorong ke depan sehingga rubuh terlentang di atas tanah, kemudian baru putar tubuh mencabut kembali pedang panjangnya membersihkan bekas-bekas darah dan masukkan kembali ke dalam sarungnya Setelah semuanya selesai barulah dia berlari menuju ke dalam kota Ho Kiang san.
Tidak sampai sepertanak nasi dia sudah berada kembali di dalam kota itu.
Saat ini waktu menunjukkan kurang lebih kentongan keempat, sinar rembulan yang memancarkan sinar menerangi jagat pun sudah lenyap dari pandangan, suasana di dalam kota gelap gulita tidak terlihat sesosok bayangan manusia pun yang berlalu lalang ditengah jalan, sampai penjual makanan dimalam hari pun sudah tidak kelihatan batang hidungnya kembali.
Dia tidak tahu kelenteng tanah itu terletak dikota sebelah mana, terpaksa dengan mengadu untung secara sembarangan mencari diseluruh pelosok kota, akhirnya ditemui juga sebuah kelenteng tanah di sebelah tengah kota tersebut.
Kelenteng tanah itu terletak dipusat kota, karena waktu yang telah sangat lama keadaan diluaran dari kelenteng itu sudah tidak karuan bentuknya, walau begitu lampu yang terdapat di dalam ruangan dalam masih belum terpadamkan, di dalam kelenteng itu masih terang benderang oleh sorotan sinar lampu.
Ti Then tidak berani secara langsung menerjang masuk ke dalam kelenteng itu, karenanya secara diam-diam sesudah memeriksa keadaan disekeiling tempat itu terlebih dulu, sejenak kemudian dia merasa disekeliling kelenteng itu hanya di bawah meja sembahyangan saja yang bisa digunakan untuk menyembunyikan diri, atau dengan perkataan lain itu oh Lui sin atau Malaikat halilintar Khie Ciawpasti membawa Wi Lian In bersembunyi di bawah kolong meja sembahyangan tersebut.
segera dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dengan tanpa mengeluarkan sedikit suara pun berjalan maju ke depan.
Selangkah demi selangkah dia berjalan ke depan meja sembahyangan itu, dengan perlahan-lahan diangkatnya meja sembahyangan tersebut kemudian secara mendadak dengan seluruh tenaga di baliknya meja itu ke samping.
"Braak ..braaak ."
Suara yang nyaring memecahkan kesunyian yang mencekam dipagi hari buta itu, di bawah meja itu ternyata tidak salah lagi muncul sesosok bayangan manusia yang rebah terlentang di atas tanah.
Orang itu tidak lain adalah Lo-toa dari Kwan si Ngo Koay atau lima manusia aneh dari daerah Kwan si, Malaikat halilintar Khie Ciauw adanya.
Tetapi si Malaikat halilintar Khie Ciauw yang ditemuinya sekarang ini terlentang di tanah tanpa bergerak sedikit pun juga, memang dari mulutnya tidak henti-hentinya malah terlihat darah segar mengalir keluar dengan derasnya.
Dia sudah binasa ?
Sebetulnya Ti Then mau melancarkan serangan dahsyat berusaha mencengkeram tubuhnya, tapi begitu dilihatnya keadaan yang mengerikan dari mata malaikat halilintar Khi Ciauw itu tidak terasa rasa terperanyatnya menjerit keras.
Ternyata si Malaikat halilintar Khie Ciauw sudah sudah menemui kematiannya dengan rasa ngeri dan misterius sekali?
Hal ini memperlihatkan kalau ada orang yang mendahului dirinya mengejar datang ke kelenteng tanah ini untuk membunuhnya kemudian merebut pergi We Lian In.
Hal ini begitu berkelebat di dalam pikiran Ti Then segera mengulurkan tangan memeriksa mayat dari Khie Ciauw.
Dirabanya mayat itu masih ada hawa hangat, dalam hati dia tahu pembunuhnya meninggalkan tempat ini belum begitu lama, dengan cepat dia putar tubuh dan meloncat naik ke atas atap kelenteng.
Dari atas memeriksa keadaan disekelilingnya.
Tapi ...
dengan ketajaman pandangannya tetap tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Sekali lagi dia meloncat masuk ke dalam kelenteng tanah dan memeriksa dengan sangat teliti keadaan disekeliling tempat itu apakah pembunuhnya meninggalkan surat atau tidak, tapi sekali pun sudah dicari ubek-ubekan selama setengah harian jejaknya pun tidak tampak, hatinya tidak tertahan lagi menjadi sangat cemas.
Terpikir olehnya kalau orang yang membunuh mati Khie Ciauw dan merebut pergi Wi Lian In bertujuan atas kitab pusaka Ie Cin Kengnya maka orang itu pasti akan meninggalkan surat baginya untuk berjanyi bertemu di suatu tempat, tapi sampai sekarang tanda-tanda ditinggalkannya surat sama sekali tidak tampak, hal ini memperlihatkan kalau tujuan orang itu tidak terletak pada kitab Ie Cin Keng tersebut melainkan pada Wi Lian In sendiri Dengan perkataan lain orang itu kalau bukannya si setan pengecut tentu perbuatan dari Hong Mong Ling.
Jika dugaannya ini tidak meleset maka akibat yang diderita Wi Liau In akan jauh berada diluar dugaannya karena Hong Mong Ling pernah berkata.
"Barang yang tidak bisa aku dapati tidak akan membiarkan barang itu didapatkan orang lain."
Kali ini napsu binatangnya tentu akan diumbarkan ke tubuh Wi Lian In.
memperkosa dirinya kemudian membunuh mati.
Semakin berpikir dia semakin takut, dengan cepat tubuhnya berkelebat menuju kearah utara.
Dia memilih lari ke arah utara karena punya alasan yang kuat, ketiga arah lainnya tidak mungkin di tempuh oleh orang itu untuk melarikan dirinya.
Arah Timur pasti melewati gunung Fan cin san, orang itu pasti melihat sendiri dan menduga banyak jago-jago Bulim yang sedang berangkat menuju kegunung Fan cin san untuk memperebutkan kitab pusaka Ie Cin Keng itu, karenanya tidak mungkin dia mau ambil arah tersebut..
Arah selatan merupakan jalan yang dilalui Ti Then untuk memasuki ke dalam kota, orang itu tidak mungkin berani menempuh bahaya bertemu dengan dirinya.
Sedang arah barat merupakan jalan menuju ke benteng Pek Kiam Po, di daerah gunung Go bi, sudah tentu orang itu tidak akan mau masuk ke dalam perangkap, karena itulah dia berani pastikan orang yang menculik Wi Lian In itu tentu melarikan diri menggunakan arah utara.
Dengan mengerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya bagaikan kilat cepatnya dia mengejar ke arah utara, di dalam sekejap saja kota Ho Kiang sian sudah di lalui, dengan mengikutijalan raya dia terus mengejar ke depan.
Tidak terasa lagi tiga puluh li sudah dilalui dengan cepat tetapi sampai waktu itu tetap tidak didapatkanjejak apa pun, sedang cuaca pun mulai terang kembali.
Langkah kakinya semakin lama semakin perlahan, akhirnya dia menyatuhkan tubuhnya beristirahat di bawah sebuah pohon besar, tak henti-hentinya dia menghela napas panjang.
Bagaimana?
Jika tidak berhasil menolong Wi Lian In kembali, dirinya mana punya muka untuk kembali ke dalam Benteng Pek Kiam Po lagi?
Jika tidak untung Wi Lian In menemui kematiannya ditangan Hong Mong Ling, dirinya sudah tentu berhasil meloloskan diri dari kesukaran tapi ...
soal ini sebetulnya mendatangkan keuntungan atau bencana bagi dirinya sendiri?
Majikan patung emas perintahkan dirinya kawin dengan dia sudah tentu dia punya suatu maksud tertentu, jika misalnya dia binasa apakah Majikan patung emas mau berhenti dengan begitu saja?
Tidak mungkin, dia pasti berubah membuat rencana baru lagi, kemudian perintahkan dirinya pergi melakukan suatu pekerjaan yang baru, sedang pekerjaan baru itu kemungkinan sekali merupakan pekerjaan yang jauh lebih sulit dari pekerjaan untuk mengawini Wi Lian In.
oooo0oooo "Su heng, aku menanti kamu orang di sini saja, ditengah jalan kamu harus berhati-hati."
"Ha ha ha ha ..Jangan kuatir, sekali pun sudah bertemu dengan dia Lohu mau lihat dia bisa berbuat apa terhadap diri Lohu."
Sedang dia berpikir keras mendadak suara bercakapnya manusia memecahkan kesunyian yang mencekam dipagi hari itu, suara itu berkumandang datang dari gundukan tanah di belakang pohonnya itu.
Dengan cepat dia menoleh ke belakang, terlihatlah di atas bukit kecil berpuluh-puluh kaki dari tempatnya sedang ada sesosok bayangan manusia yang berlari menuruni bukit itu.
Orang itu usianya diantara enampuluh tahunan, pada badannya memakai baju berwarna hijau pada tangannya mencekal sebuah tongkat berkepala ular, gerakannya sangat gesit dan lincah dengan kecepatan yang luar biasa dia melayang turun dari bukit kecil itu kemudian berlari menuju kearah kota Hoa Kiang sian.
Begitu Ti Then melihat wajah dari kakek tua berbaju hijau itu tidak tertahan lagi hatinya berdebar sangat keras, pikirnya terkejut.
"Aaah ... bukankah dia majikan ular Yu Toa Hay adanya??"
Majikan ular Yu Toa Hay merupakan jagoan berkepandaian tinggi yang sangat terkenal dari kalangan Hek to, kepandaian silat yang dimiliki bukan saja sangat tinggi sukar diukur bahkan gemar memelihara bermacam macam ular yang berbisa, dimana saja dia pergi kawanan ularnya tentu dibawa serta sehingga begitu bertemu dengan musuh tangguh segera dia akan perintahkan ular-ular beracunnya menyerang pihak musuhnya itu, karena itulah di dalam kalangan Bu lim dia terkenal sebagai seorang iblis yang paling ditakuti oleh setiap orang.
Dia ...secara mendadak kenapa bisa munculkan dirinya di sini ??
siapa orang yang berjalan sama sama dengan dia itu ??
Dengan sendirian dia pergi kekota Hoa Koa san.
Beberapa pertanyaan ini bagaikan kilat cepatnya berkelebat di dalam benak Ti Then, dengan tanpa disadari lagi pikirannya teringat kembali orang yang membunuh mati si Malaikat halilintar Khie Ciauw kemudian menculik pergi Wi Lian In, apakah orang itu kemungkinan sekali perbuatan dari ini majikan ular Yu Toa Hay?
semangatnya menjadi bangkit kembali, sesudah dilihatnya bayangan tubuh majikan ular Yu Toa Hay hilang dari pandangan barulah dengan perlahan lahan dia bangkit, setelah melingkari beberapa lingkaran bukit itu barulah dia berjalan menaiki bukit kecil tersebut.
Di atas bukit itu muncul suatu hutan bambu yang sangat lebat sekali.
Dia dengan tenangnya menaiki bukit itu kemudian berjalan masuk ke dalam hutan bambu, selangkah demi selangkah maju ke depan dengan perlahan sekali.
Baru saja berjalan beberapa kaki mendadak dari empat penjuru terdengarlah suara desisan ular yang sangat ramai sekali, dengan cepat dia tundukan kepalanya memandang terlihatlah ada berpuluh puluh ular beracun sedang menyusup kearahnya dengan sangat cepat sekali.
Ular itu adalah ular berekor hijau yang sangat beracun sekali.
Ti Then menjadi sangat terkejut sekali, dia tahu dugaannya kalau orang itu tidak lain adalah majikan ular Yu Toa Hay sedikit pun tidak salah, segera tubuhnya melayang ke atas ujung bambu menghindarkan diri dari serangan kawanan ular beracun itu, kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya melanjutkan berjalan kearah depan.
Agaknya Majikan ular Yu Toa Hay itu sudah membentuk barisan ular disekeliling bukit itu, semakin berjalan ke depan ular-ular beracun yang terlihat pun semakin banyak.
Ular-ular itu dengan bebasnya bergerak dan menyusup diantara hutan bambu itu cukup sekali pandang saja bisa menduga jumlahnya di atas ratusan ekor.
Diantara ular-ular beracun itu ada beberapa ekor merupakan ular Pek tok coa yang agaknya pernah mendapatkan latihan khusus, begitu melihat Ti Then berjalan diantara ujung-ujung bambu ternyata dengan cepat mengejar di belakangnya, lidahnya dijilat-jilat keluar agaknya hendak menerkam mangsanya.
Dengan tergesa-gesa Ti Then mencabut keluar pedangnya untuk melindungi badannya, berjalan puluhan kaki lagi mendadak dari tengah hutan bambu itu berkumandang keluar suara jeritan keras dari seorang gadis sambil ujarnya.
"Bangsat tua, aku harus bicara bagaimana hingga kamu orang mau percaya?"
Mendengar suara itu Ti Then menjadi terkejut, karena suara itu tidak lain berasal dari suara Wi Lian In. Dalam keadaan yang sangat girang diam-diam pikir Ti Then dalam hati.
"Oooh Thian terima kasih atas bantuanmu, akhirnya aku dapatkan dia kembali. Tapi entah siapakah bangsat tua itu ..."
Ketika dia berpikir sampai di situ terdengar suatu suara yang sangat tua dan serak menyahut dengan gusar.
"Jangan berteriak lagi, tidak perduli kamu orang mau bicara apa pun Lohu tidak akan percaya."
"Hmmm..."
Terdengar suara dengusan yang sangat dingin dari Wi Lian In.
"Aku beritahu padamu, kepandaian silat dia tidak di bawah kepandaian ayahku, jika nanti dia datang kalian tidak lebih hanya ada satu jalan kematian saja yang bakal kalian terima."
"He he he he kepandaian silatnya memang sangat tinggi sekali, tapi.. .jika dia tidak mau serahkan itu kitab pusaka Ie cia Keng kepada kami. Hm hmm.. yang menemui kematian ini hari bukan kita tapi dia."
Wi Lian In tertawa dingin tak henti-hentinya.
"Kamu kira kalau bisa bekerja sama dengan bangsat tua she Yu itu lalu bisa berhasil bunuh mati dia?Hmmm jangan mimpi disiang hari bolong."
"Sekali pun tidak bisa."
Sahut kakek tua itu sambil tertawa terbahak bahak "tapi kita masih punya satu senyata ampuh, heee heee ..."
"Senyata ampuh macam apa?"
"Barisan selaksa ular..."
"Aaaah..."
"Majikan ular sudah atur barisan selaksa ularnya disekeliling bukit ini, nanti jika bangsat cilik Ti Then masuk ke dalam barisan asalkan dia tidak mau serahkan itu kitab pusaka Ie cin Keng kepada kami.... Hmmm, cukup majikan ular meniup serulingnya maka walau pun kepandaian silat yang dimilikinya sangat tinggi tetap akan berubah menjadi tulang-tulang putih yang bertumpuk di sini."
Agaknya Wi Lian In dibuat ketakutan oleh perkataannya ini sehingga tidak mengucapkan kata-kata lagi.
Ti Then yang bersembunyi diujung bambu begitu mendengar Barisan selaksa Ular....
tiga kata tidak tertahan lagi hatinya terasa bergidik, diam-diam pikirnya.
"Untung itu majikan ular sudah pergi kekota cari aku, kalau tidak asaikan dia menggerakkan barisan selaksa ularnya ini. Haai.... entah bagaimana jadinya"
Ti Then tidak berani berlaku ayal lagi, pedang panjang ditangannya segera digerakkan..
"Sreeet...."
Dengan satu kali tebasan dia memutuskan beberapa batang bambu yang lembut kemudian dengan sangat ringan melayang beberapa kaki dari tempat semula.
Ditengah suara bentakan yang sangat keras sesosok bayangan manusia dengan kecepatan yang luar biasa menerjang datang dari tengah sebuah hutan bambu kira-kira tujuh kaki dari tempatnya berdiri sekarang ini.
Orang ini merupakan seorang kakek tua yang usianya juga berada di atas enam puluh tahunan, pada tubuhnya memakai pakaian berwarna abu-abu, pada tangannya mencekal sebuah tongkat besi yang berat, satu satunya ciri yang berbeda dengan majikan ular adalah dia merupakan seorang kakek jelek yang bongkok badannya bahkan kepalanya kecil mulutnya pun kecil.
Bentuknya mirip sekali dengan seekor kura-kura yang sedang berdiri Dengan kecepatan yang luar biasa dia meloncat naik ke atas ujung bambu, tongkat besinya disilangkan di depan dadanya melindungi tubuh matanya dengan tajam memeriksa keadaan disekeliling tempat itu tapi begitu dilihatnya ditempat itu tidak terdapat sesosok bayangan manusia pun tidak terasa air mukanya berubah tertegun, gumamnya seorang diri "Urusan aneh, urusan aneh, apa mungkin ular-ular beracun dari Yu beng sedang berkelahi???"
Kiranya sewaktu dia meloncat naik ke ujung bambu, Ti Then dengan meminyam kesempatan ini sudah meloncat turun ke permukaan tanah, karenanya dia hanya melihat beberapa batang bambu sedang bergoyang dengan tidak henti-hentinya.
Begitu Ti Then mencapai pada permukaan tanah dengan menggunakan kecepatan yang paling luar biasa berkelebat kearah di mana Wi Lian In berada.
Di bawah hutan bambu itu sebetulnya terdapat banyak sekali ular-ular beracun yang bergerak, tapi dikarenakan gerakannya yang terlalu cepat maka tidak ada seekor ular pun yang berhasil menggigit badannya, bahkan diantara ular-ular itu ada beberapa yang berhasil diinyak sampai mati.
Sebaliknya dikarenakan gerakannya yang terlalu cepat, suara yang dikeluarkan dari sambaran angin yang mengenai bajunya pun semakin keras, kakek tua bongkok yang berdiri di atas ujung bambu segera merasakan akan hal ini, sambil membentak keras tubuhnya dengan cepat menubruk kearahnya-Pedang panjang Ti Then sekali lagi membabat putus bambu-bambu kecil di depannya sehingga bambu itu rubuh kearah kakek tua itu, di dalam sekejap saja tubuhnya sudah menubruk hingga depan wi Lian In.
Saat ini sepasang tangan Wi Lian In diikat ke belakang dan duduk bersandar di bawah batang bambu yang besar, begitu dilihatnya Ti Then muncul di sana saking girangnya dia berteriak.
"Ti Toako cepat tolong aku"
Baru saja Ti Then mengangkat tubuhnya bangun mendadak segulung angin serangan yang sangat santar menyerang punggungnya dengan amat dahsyat, terpaksa dia melepaskan kembali tubuh Wi Lian In, tubuhnya diputar pedang panjangnya dengan hebat menusuk ke depan.
"Triiing.."
Pedang panjangnya sekali lagi terbentur dengan tongkat besi kakek bongkok itu sehingga percikan bunga api berkelebat memenuhi angkasa.
Tubuh kakek bongkok itu seperti terkena serangan berat, tubuhnya yang semula menubruk ke depan seketika itu juga rubuh terjengkang ke belakang.
Tapi tubuhnya memang sangat lincah dan gesit sekali, dengan cepat dia bersalto beberapa kali ditengah udara kemudian dengan sangat ringan melayang turun ke permukaan tanah.
Ti Then tidak ambil kesempatan itu menyerang kembali, dengan melintangkan pedangnya di depan dada dia berdiri di depan wi Lian In, tanyanya dengan perlahan.
"Nona Wi, siapa kura-kura tua ini ??"
Saat itu Wi Lian In merasa sangat girang bercampur tegang, sahutnya dengan tergesa segera.
"Omonganmu tidak salah, dia memang seorang kura-kura tua ... bernama Kui su atau Kakek kura-kura Phu Tong seng."
Diam-diam Ti Then menarik napas panjang, sambil memandang tajam kearah kakek Kura-Kura itu ujarnya dengan dingin.
"Kiranya kamu adalah itu kakek Kura-Kura Phu Tong seng, selamat bertemu, selamat bertemu. ."
Kedudukan kakek kura-kura Phu Tong seng ini di dalam kalangan hek to tidak di bawah Majikan ular Yu Toa Hay, dia pun merupakan seorang manusia bahaya yang punya sifat ganas dan sangat kejam, di dalam dunia kangouw dia bersama dengan Majikan ular Yu Toa Hay disebut sebagai Bulim Ji Koay atau dua manusia aneh dalam Bu lim.
Di dalam Bu lim masih ada satu perkataan lagi yang sangat terkenal sekali yaitu.
"Lebih baik bertemu Majikan ular daripada bertemu Kakek kura kura.... karena begitu Kura-Kura menggigit manusia tidak akan melepaskannya kembali begitu juga dengan sifatnya, kecuali orang yang bertemu dengan dia memiliki kepandaian silat yang lebih tinggi dari dirinya, kalau tidak orang yang berani mengusik dirinya jangan harap nyawanya bisa selamat. Sejak lama Ti Then sudah mendengar nama besarnya ini, dalam hati diam-diam merasa sangat girang dan untung sekali karena jika bukannya Majikan patung emas sudah menurunkan ilmu silatnya yang sangat lihay jika sampai bertemu dengan manusia jahanam yang demikian ganasnya sekali pun pingin mengundurkan diri belum tentu bisa terlaksana dengan sangat mudah. Tetapi sekarang pihak yang merasa takut adalah kakek Kura-Kura Phu Tong seng. Sewaktu tongkat besinya tadi bentrok dengan pedang panjang Ti Then, secara diam-diam dia sudah mengerahkan tenaganya sebesar tujuh bagian tapi malah tergeser mundur sejauh satu kaki oleh tenaga pantulan yang dilancarkan Ti Then, peristiwa ini merupakan satu peristiwa hebat yang untuk pertama kalinya dirasakan sejak dia menerjunkan dirinya ke dalam dunia kangouw. Dengan air muka yang penuh perasaan kaget bercampur ragu, dia memandang melotot kearah Ti Then, beberapa saat kemudian barulah ujarnya dengan perlahan.
"Hei bangsat cilik. Kamu orang sudah bunuh mati Majikan ular Yu Toa Hay ???"
"Belum"
Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
Agaknya kakek Kura-Kura Phu Tong seng sama sekali tidak bisa terpikirkan bagaimana Ti Then bisa tiba ditempat itu sedemikian cepatnya, karenanya tanyanya lagi.
"Kalau begitu dia berada dimana?"
Ti Then tersenyum.
"Bukankah dia pergi kekota Ho Kiang sian cari aku?"
"Ooh .... kiranya kau menemukan tempat ini dengan sendirinya, bagaimana kamu bisa tahu kalau kami berada di sini?"
"Itu Malaikat halilintar Khie Ciauw yang beritahu padaku."
"Apa?"
Ujar kakek Kura-Kura setengah melengak.
"Dia belum mati?"
"Sudah mati sangat lama."
Kakek kura-kura itu melengak lagi.
"Tadi kamu bilang . ."
"Tidak salah. ."
Sambung Ti Then dengan cepat.
"Sewaktu aku mencari dia di dalam kelenteng tanah itu dia sudah binasa."
Semakin mendengar perkataan Ti Then ini si kakek kura-kura semakin menjadi bingung, ujarnya.
"Kalau memangnya begitu, bagaimana dia bisa beritahu padamu kalau kami berada di sini??"
"Sukmanya belum buyar, karena merasa benci kepada kalian, dia sudah munculkan dirinya kembali untuk beritahukan tempat persembunyian kalian kepadaku."
"Omong kosong"
Bentak kakek kura-kura itu, sedang air mukanya berubah sangat hebat.
"Selama hidup lohu bunuh orang sampai tidak bisa dihitung jumlahnya, tapi sekali pun belum pernah melihat sukma orang mati bisa muncul lagi. ."
"He he he he... kali ini dia munculkan diri untuk beritahu padaku tempat persembunyian kalian, hal ini membuktikan kalau kejahatan yang kalian kerjakan sudah terlalu banyak, sehingga saat kematian kalian sudah hampir tiba."
Sehabis berkata dia angkat pedangnya mendesak kearahnya. Kakek kura-kura itu segera merendahkan tubuhnya memperkuat kuda-kudanya, sambil tertawa terkekeh kekeh ujarnya.
"Hee heee ...-jangan keburu senang dulu, belum tentu siapa yang akan binasa hari ini, coba kamu lihat ular-ular beracun yang berada di atas tanah itu, Heee heee... mereka bisa menghabiskan badan seorang manusia hidup-hidup."
Tak henti-hentinya Ti Then terus mendesak ke arahnya, sambil tersenyum-senyum sahutnya.
"Tentang hal ini aku bisa percaya, tapi itu majikannya ular-ular tidak berada di sini, tanpa ada seruling iblisnya ular-ular beracun ini tidak akan menyerang orang."
Mendadak kakek kura-kura itu melayang sejauh beberapa kaki dari tempat semula dan berdiri di atas ujung bambu, dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah seruling bambu, ujarnya sambil tertawa lebar.
"Coba kamu lihat, barang apa ini"
Ti Then menjadi tertegun begitu melihat seruling itu, tanyanya cepat.
"Barang itukah seruling iblis dari majikan ular?"
"Tidak salah."
"Bagaimana Majikan Ular bisa serahkan seruling iblisnya kepadamu?"
"Dia takut ada orang orang Bu lim lainnya yang datang merebut budak itu sehingga dia atur barisan selaksa ular ini kemudian serahkan seruling iblisnya kepada lohu."
Berbicara sampai di sini dia melintangkan serulingnya di bawah bibirnya siap ditiupnya.
"Kamu orang sungguh teramat bodoh"
Ujar Ti Then sambil tersenyum senyum.
"Hanya ular-ular berbisa seperti itu mana bisa lukai aku orang ??"
"Hmmm.. hmmm.. mungkin tidak bisa lukai kamu orang, tapi budak itu tak mungkin bisa lolos dari bencana ini"
"Tahukah kamu dia adalah putri dari Pek Kiam Pocu ???"
"Tahu.."
"Kamu orang mengandalkan apa sehingga tidak takut padu Wi Pocu?"
"Hee heeee....."sahut kakek kura-kura itu sambil tertawa dingin.
"Asalkan lohu dengan Majikan ular berhasil memperoleh kitab pusaka Ie Cin Keng itu tidak sampai butuhkan waktu satu tahun tentu sudah berhasil melatih suatu ilmu silat yang sangat dahsyat sekali, saat itu jangan dikata Wi Ci To sekali pun si kakek Pemalas Kay Kong Beng kami juga tidak akan takut."
"Jangan mimpi yang muluk muluk, pikir dulu urusan yang berada di depan matamu sekarang. Kamu orang tidak mungkin bisa loloskan diri dari pedang naga emasnya Wi Pocu ... coba kamu toleh ke belakang lihat siapa yang sudah datang itu?"
Kakek kura-kura itu berubah sangat hebat sekali wajahnya, dia mengira Wi Ci To sungguh-sungguh sudah menyusup hingga belakang tubuhnya, dengan cepat kepalanya ditoleh ke belakang untuk melihat sedang tongkat besinya bersamaan waktunya menyambar kearah belakang.
Tetapi dengan cepat dia sudah merasa kalau dia terkena pancingan pihak musuhnya, ketika dia sadar kembali saat itu Ti Then dengan mengacungkan pedang panjangnya sudah menubruk datang ke depan tubuhnya.
Kakek kura-kura sebagai seorang jago di dalam kalangan Hek to yang memiliki kepandaian sangat tinggi, saat ini tidak menjadi gugup dengan cepat dia merasa kalau di belakangnya ada orang yang sedang menyerang kearahnya dengan cepat tubuhnya berputar, tongkat besi ditangannya dengan tidak mengubah jurus serangannya.
"sreeet ..."
Dengan santarnya menyapu tubuh Ti Then. Ti Then dengan cepat mengerahkan tenaga murni ketangannya, pedangnya dengan cepat menyambut datangnya serangan itu.
"Criiing .. ."
Pedang serta tongkat besi sekali lagi terbentur satu sama lainnya, kedua orang itu agaknya sudah mendapatkan getaran yang sangat keras sekali, tubuh kakek kura-kura melayang kearah sebelah kanan sedang tubuh Ti Then terpental kearah sebelah kiri, begitu mencapai permukaan tanah masing-masing mundur lagi beberapa langkah ke belakang.
Ular-ular beracun yang berada disekeliling tempat itu menjadi sangat terkejut, untuk beberapa saat lamanya mereka tidak bisa membedakan yang mana musuhnya yang mana kawannya, bersamaan waktunya mematuk kearah dua orang itu.
Kakek kura-kura dengan gusarnya memaki, tongkat besinya dengan cepat menyapu menyingkirkan ular-ular beracun itu, kemudian tubuhnya meloncat ke atas melayang ketempat kejauhan.
Dia punya niat untuk lari ketempat agak kejauhan dari sana kemudian meniup seruling iblisnya untuk memerintahkan ular-ular beracun itu menyerang kearah Ti Then beserta Wi Lian in, karena hanya menghindarkan diri dari Ti Then sejauh mungkin dia baru punya kesempatan untuk membunyikan seruling iblis tersebut.
Ti Then mana mau membiarkan dia meniup seruling iblis itu, sambil membentak keras, ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah mengejar kearahnya.
Gerakannya kali ini seperti anak panah yang terlepas dari busurnya, di dalam sekejap saja sudah mengejar dekat tubuh kakek kura kura itu, pedang panjangnya segera digetarkan mengancam punggung kakek kura kura tersebut.
Kakek kura kura begitu melihat kesempatan untuk melarikan diri digagalkan kembali oleh Ti Then hatinya menjadi teramat gusar, dengan cepat dia putar tubuhnya menyambut datangnya serangan tersebut.
Demikianlah satu muda yang lain tua dengan dahsyatnya bertempur ditengah hutan bambu itu.
Karena ular beracun yang berada di dalam hutan bambu itu semakin lama semakin banyak-maka kedua orang itu sambil bertempur sembari berjaga jaga terhadap serangan ular ular beracun itu, situasinya dengan sendirnya semakin bahaya lagi.
Setelah lewat kurang lebih tiga puluh jurus lebih makin lama kakek kura kura itu terdesak hingga berada di bawah angin, tapi bagaimana pun juga dia mem punyai pengalaman yang sangat luas di dalam dunia kangouw begitu melihat dirinya sukar untuk merebut kemenangan, dia tidak mau meneruskan pertempuran itu, tubuhnya mendadak meloncat ketengah udara kemudian berjumpalitan dan melayang ke atas ujung bambu, dari sana dengan kecepatan yang luar biasa melarikan diri Dengan cepat Ti Then meloncat ke atas mengejar, bentaknya dengan keras-"Hey kura-kura tua tinggalkan seruling iblis itu, kalau tidak hmm....
hmmm...
.jangan coba coba melarikan diri"
Kakek kura kura itu pura pura tidak mendengar, tubuhnya bagaikan terbang cepatnya meloncat dan melayang kearah depan. Ti Then menjadi teramat gusar, bentaknya lagi.
"Baiklah. aku harus bunuh kamu kura-kura tua agaknya."
Baru saja dia siap dari mengejar ke arahnya mendadak dari dalam hutan terdengar suara jeritan kaget dari Wi Lian In.
"Aduh .... Ti Toako cepat kemari, ada seekor ular berbisa merambat kemari. ."
Mendengar perkataan itu Ti Then menjadi sangat terkejut sekali, tanpa perduli kakek kura kura itu lagi dengan cepat putar tubuh berkelebat kearah dimana Wi Lian In berada, terlihatlah seekor ular beracun yang sangat besar sedang merambat mendekati tubuh Wi Lian In, lidahnya dijulur-julurkan ke depan siap menggigit mangsanya, dengan cepat tubuhnya melayang ke depan sedang pedang panjangnya disambar dengan hebatnya.
"Sreeett"
Kepala ular itu segera tertabas hingga lepas dari tubuhnya, sedang tubuh ular itu segera melingkar dan rubuh tidak berkutik lagi.
Setelah itu barulah Ti Then memutuskan tali-tali pengikat tubuhnya, dengan cemas tanyanya.
"Mereka menotok jalan darahmu tidak ??"
"Benar"
Sahutnya perlahan.
"Kura-kura tua itu menotok jalan darah .., Aduh, awas belakangmu."
Pedang panjang Ti Then dengan cepat membabat ke belakang, seekor ular beracun segera menggeletak tidak bernyawa lagi tanyanya kemudian.
"Jalan darah apa yang sudah tertotok??"
"Jalan darah kaku"
Telapak tangan Ti Then dengan cepat menepuk kearah pinggangnya, kemudian menarik dia berdiri "Cepat jalan, kura-kura tua itu mau meniup seruling iblisnya."
Perkataannya baru saja diucapkan, dari tempat kejauhan terdengarlah suara irama seruling yang ditiup secara samar samar berkumandang kemari.
Semula irama dari seruling itu halus dan enak didengar, tapi lama kelamaan bertambah cepat sehingga akhirnya cepat sekali bagaikan sedang mengirim perintah untuk melancarkan serangan.
Suara irama seruling itu kini berubah menjadi tinggi melengking memekikkan telinga, ular-ular beracun yang berada di tengah hutan bambu itu kelihatan mulai mengangkat kepalanya masing-masing, bagaikan bergeraknya berjuta juta ekor kuda mereka bersama-sama bergerak maju ke depan.
Ular ular beracun yang semula rebah di sekeliling tubuh Wi Lian In pun seketika itu juga bagaikan kilat cepatnya menyusup dan menerjang ke depan dengan dahsyatnya.
Pedang panjang Ti Then segera diputar sedemikian rupa membunuh mati ular ular beracun yang mendekati kearahnya, teriaknya dengan keras.
"Cepat lari... cepat lari..."
Wi Lian In yang diteriaki seperti itu saking cemasnya hampir hampir menangis dibuatnya.
"Tidak bisa."
Teriaknya keras.
"Darah di dalam badanku belum lancar kembali, aku tidak bisa lari."
Ti Then tidak bisa berbuat apa apa lagi, terpaksa dia ulur tangannya memeluk pinggangnya yang langsing kecil menggiurkan itu, tubuhnya dengan cepat menyejak tanah dan melayang ke atas ujung bambu.
Walau pun ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sangat tinggi tetapi untuk bergerak dan melayang terus di atas ujung bambu sambil menggendong sesosok tubuh manusia tidak mungkin bisa bertahan lama, dengan paksakan diri sesudah melayang sejauh tiga empat kaki jauhnya tubuhnya sekali lagi tertekan ke bawah.
Tubuhnya belum saja melayang mencapai permukaan tanah ada berpuluh puluh ekor ular beracun segera menerjang datang dengan cepatnya.
Saking terkejutnya Wi Lian In menjerit keras dan menutup matanya tidak berani melihat lagi, dia mengira kali ini kematiannya sudah menjelang datang, pada saat dia memejamkan matanya itulah pada telinganya terdengar suara samberan angin pedang yang sangat keras, tubuhnya sekali lagi dibawa melayang ke atas-Kiranya sesudah Ti Then membunuh mati berpuluh-puluh ekor ular beracun itu sekali lagi dia menggendong badan Wi Lian In ke atas ujung bambu.
Tapi sesudah menerjang kurang lebih tiga empat kaki lagi, tenaga murninya buyar kembali sehingga tubuhnya tanpa bisa ditahan melayang ke bawah lagi.
Kali ini ular-ular beracun yang menyerang kearahnya semakin banyak, dari jumlahnya yang tadi bagaikan kilat cepatnya ular-ular itu menyusup datang dari empat penjuru.
Pedang Ti Then diputar bagaikan naga sakti melindungi seluruh tubuhnya, satu demi satu dia bunuh habis berpuluh puluh ekor ular beracun itu, siapa tahu baru saja tubuhnya mau meloncat naik untuk ketiga kalinya mendadak kaki sebelah kirinya terasa sangat sakit, hatinya menjadi sangat terkejut, ujarnya dengan perlahan.
"Nona Wi, kamu bisa lari sendiri belum saat ini ???"
"Mungkin sudah bisa."
Ti Then segera meletakkan dirinya ke atas tanah, kemudian menyerahkan pedang panjang itu ketangannya, sambil menunjuk kearah sebelah barat ujarnya.
"Lari ke sebelah sana, sesudah lari kurang lebih dua puluh kaki jauhnya kamu sudah lolos dari bahaya ini."
"Kamu?? "
Tanya Wi Lian In melengak.
"Sudah tentu aku juga akan lari."
"Oooh..."
Dengan cepat dia meloncat ke depan melewati kurang lebih tiga kaki tingginya setelah tubuhnya melayang turun kepermukaan tanah pedang panjangnya tak henti-hentinya digerakkan membunuh ular-ular beracun itu, sekali lagi badannya melayang setindak demi setindak, sedepa demi sedepa dilaluinya dengan cepat.
Ti Then yang kini sudah bebas dari beban yang berat segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dengan sangat ringan melayang pada ujung bambu itu, dengan kencangnya dia mengikuti di belakangnya tubuh Wi Liau In.
Tapi sesudah melewati kurang lebih puluhan kaki jauhnya mendadak terasa olehnya kaki kirinya semakin lama semakin kaku, semakin lama semakin tidak mau ikuti perintahnya lagi.
Dia tahu jika dia tidak cepat-cepat melarikan diri dari tempat itu kemudian menutup jalan darah kakinya sehinggi racun tersebut tidak sampai menyerang jantungnya, maka dirinya tentu akan terbinasa tubuhnya segera meloncat ke depan lagi semakin cepat, dengan sekuat tenaga dia lari ke depan dan melewati badan Wi Lian In yang jauh berada di depan badannya itu.
Di dalam sekejap mata dia sudah berhasil menerjang keluar dari hutan bambu itu dan menuruni bukit tersebut, saat ini seluruh kaki kirinya sudah kehilangan rasa baru saja dia melayang turun dari ujung bambu tubuhna tidak sanggup berdiri lagi, tidak am pun lagi tubuhnya terjengkang ke belakang dan rubuh berguling di atas tanah.
Wi Lian In yang baru saja melayang keluar dari hutan bambu begitu melihat Ti Then terguling jatuh dari atas bukit itu menjadi sangat terkejut, teriaknya.
"Ti kauw tauw, kau kenapa ??"
Bukit kecil itu tidak terlalu curam sehingga kecepatan bergulingnya tubuh Ti Then pun tidak begitu cepat, sambil berteriak Wi Lian In sembari mengejar ke bawah, pada jarak kurang lebih satu kaki dari permukaan tanah di bawah bukit Wi Lian In berhasil mengejar sampai dan menarik tubuhnya ke atas-Seluruh wajah Ti Then kotor oleh pasir dan debu akibat gelindingan tadi, tapi kesadarannya masih tetap normal ujarnya segera dengan cepat.
"Kaki kiriku digigit ular beracun itu, cepat kau totok seluruh jalan darah pada kakiku itu"
Cepat-."
Wi Lian In tidak berani berlaku ayal lagi, jari tangannya dengan cepat bergerak menotok seluruh jalan darah pada kakinya, kemudian dengan cemas tanyanya.
"Bagaimana baiknya ?"
"Tidak mengapa, meminyam kesempatan kura-kura tua itu tidak mengetahui, cepat kau bimbing aku meninggalkan tempat ini."
Wi Lian In segera memasukkan pedang panjang itu ke dalam sarungnya, ujarnya.
"Biar aku bopong kamu lari dari sini...."
Jilid 10.2 .
Majikan Ular & Kakek Kura-kura Dengan tidak banyak omong lagi, dia sebera mengangkat dan menggendong tubuh Ti Then lari dari tempat itu "Cepat lari ke belakang gundukan tanah diseberang sana."
Wi Lian In dengan menggendong tubuh Ti Then dengan cepatnya lari ke depan, sesudah melewati jalan raya dan lari lagi beberapa ratus tindak sanpailah disebuah bukit dengan hutan bambu yang sangat rapat-Dengan cepat-cepat dia menerobos ke dalam hutan bambu itu.
"Sudah cukup,"
Ujar Ti Then lagi.
"Sekarang coba lihat apakah kura-kura tua itu mengejar kemari atau tidak."
Terpaksa Wi Lian in meletakkan tubuh Ti Then ke atas tanah dan balik keluar dari hutan bambu itu, dari tempat kejauhan terlihatlah sesosok bayangan manusia dengan cepatnya sedang melayang keluar dari bukit sebelah sana, dia tahu tentunya si kakek kura-kura Phu Tong seng sedang lari mendatang.
Tanpa banyak pikir lagi dia putar tubuh lari kembali ke dalam hutan bambu itu sekali lagi mengendong tubuh Ti Then dan lari meninggalkan hutan tersebut.
"Dia mengejar kemari?"
Tanya Ti Then dengan cemas.
"Benar."
"Kau bisa menangkan dia ??""
"Tidak tahu"
Sahut Wi Lian In sambil gelengkan kepalanya.
"Kau mau suruh aku turun tangan melawan dia?"-"Tentang hal ini harus melihat kau punya pegangan untuk menangkan dia atau tidak? Kalau kau merasa punya pagangan yang kuat bisa nenangkan dia boleh juga kita berhenti untuk bertempur lawan dirinya..."
"Tidak."
Potong wi Lian In dengan cepat.
"Kita harus berusaha punahkan racun yang bersarang dikakimu dulu."
"Untuk sementara kaki pun tidak mengapa."
"Sekali pun begitu tapi hatiku tidak tenang."
Dengan kencangnya dia menggendong tubuh Ti Then berlari keluar dari hutan bambu itu, sesudah melewati satu bukit ke kecil lagi dia meneruskan larinya ke depan, kurang lebih sudah berlari sepuluh lijauhnya sampaiah mereka disebuah kaki gunung yang tidak mereka ketahui namanya.
"Kau sudah lelah.. ."
Ujar Ti Then lembut.
"Mari kita berhenti dan beristirahat dulu..."
Wi Lian In tidak menyawab, matanya dengan sangat tajam memandang keadaan disekeliling tempat itu, kemudian lari lagi menuju ke atas gunung, sesudah lari lagi sejauh satu dua li barulah dia berhenti disebuah lekukan gunung dilereng gunung tersebut.
Dia meletakkan tubuh Ti Then ke atas tanah, sambil menggunakan ujung bajunya menyeka keringat ujarnya sambil tertawa.
"Mungkin mereka tidak akan menemukan tempat ini bukan?"
"Asalkan mereka bukan datang bersama-sama, aku tidak akan takut kepada mereka, aku percaya masih punya cukup tenaga untuk bunuh mati kura-kura tua itu."
Dengan perlahan Wi Lian In berjongkok di depannya, sambil menggulung celananya dengan perlahan tanyanya.
"Lukamu berada di sebelah mana?"
"Agaknya di atas lutut."
Dengan teliti Wi Lian In memeriksa kearah lututnya, terlihatlah dikakinya itu terdapat dua titik luka yang sangat kecil, sambil menggunakan tangannya menekan tanyanya lagi.
"Sakit tidak?-"
"Sedikit pun tidak terasa"
"Lalu bagaimana baiknya?"
Tanya Wi Lian In sangat cemas-"Aku sudah kerahkan tenaga murni untuk mendesak racun itu tidak sampai menyerang ke dalam tubuh, tapi jika di dalam enam jam ini tidak berusaha mendesak racun itu keluar dari kakiku, maka kaki sebelah kiri ini akan membusuk dan hancur."
Wi Lian In begitu mendengar perkataan itu tidak terasa menggigit kencang bibirnya.
"Ditubuh majikan ular Yu Toa Hay tentu membawa obat pemunah..."
"Benar-"
Sahut Ti Then sambil mengangguk-"
Hanya mungkin sukar untuk merebutnya"
"Aku bisa pergi ke dalam kota untuk adu jiwa dengan dia, tapi "
Sewaktu aku tidak berada di sini jika kakek Kura-kura itu datang cari kamu lalu..."
"Ha ha ha ... soal itu tidak mengapa, walau pun aku tidak bisa bergerak tapi jika dia berani mendekati aku... Hmm aku masih punya tenaga untuk bereskan dia, hanya yang aku kuatirkan adalah kau, mungkin kamu bukan tandingannya...."
Wi Lian In mengerutkan alisnya rapat-rapat-"Dulu aku pernah dengar ayahku bilang katanya kepandaian silat dari majikan ular serta kakek kura-kura hanya satu tingkat lebih tinggi dari pendekar prdang merah dari Benteng Pek Kiam Po kita, perkataan ini entah betul tidak ??..."
"Ehmm.. ."
Sahut Ti Then kemudian sesudah berpikir sebentar "Tadi sewaktu aku bertempur dengan kakek kura-kura itu, di atas ujung bambu dia bisa bertahan tiga puluh jurus banyaknya, dengan kepandaian seperti itu mungkin tidak lebih tinggi satu tingkat saja."
"Kalau begitu aku sungguh-sungguh bukan lawan dari Majikan ular itu, tapi tidak cari dia tidak mungkin bisa dapatkan obat pemunah."
"Aku sendiri bisa menyembuhkan luka ini."
Sahut Ti Then sambit tertawa pahit. sehabis berkata dia mencabut kembali pedang panjangnya. Air muka Wi Lian In segera berubah hebat, samhil menahan pedangnya ujarnya dengan cemas.
"Jangan., Ini bukan cara yang baik."
"Kau sudah salah menduga"
Ujar Ti Then sambil tertawa.
"Aku bukan bermaksud memotong kaki kiriku ini"
Wi Lian In menjadi melengak.
"Kalau tidak kenapa kau cabut pedangku"
"Aku mau robek bekas luka itu dan memaksa darah beracun itu keluar."
"Oooh ---"
Agaknya Wi Lian In menjadi sadar, dengan cepat dia menarik kembali tangannya.
"Benar, aku pernah dengar jika seseorang tergigit ular berbisa harus cepat-cepat paksa darah yang mengandung racun itu mengalir keluar dari badan, kalau tidak maka orang itu akan semakin payah. Tapi kau sudah tergigit sangat lama sekali entah cara ini masih bisa digunakan tidak?"
"Kita coba saja."
Sehabis berkata dia memberikan pedang panjangnya, dengan menggunakan ujung pedang menggurat beberapa kali kearah bekas luka kecil pada lututnya itu, segera terlihatlah darah hitam mengalir keluar dengan derasnya.
Melihat hal itu Wi Lian In menjadi gugup.
"Mari aku bantu kau keluarkan darah beracun itu"
Sehabis berkata dia sebera menggerakkan sepasang tangannya mencekal lutut Ti Then itu dan mulai memijit mijit tempat itu sehingga darah hitam yang keluar semakin banyak.
Beberapa saat kemudian darah hitam yang mengalir keluar dari bekas luka itu semakin lama semakin berkurang, tapi seluruh kaki sebelah kiri itu masih tetap merah membengkak.
Mendadak Wi Lian In berlutut di hadapannya, dengan menggunakan mulutnya yang kecil mungil mulai menyedot sisa-sisa dari darah hitam yang tertinggal di dalam lutut itu.
Tidak terasa lagi air muka Ti Then berubah merah padam, dengan cemas ujarnya.
"Nona Wi, jangan begitu"
Wi Lian In tetap tidak gubris omongannya, dengan sekuat kuatnya dia menyedot sisa-sisa darah hitam itu. Terpaksa Ti Then memejamkan matanya, sambil menghela napas diam-diam pikirnya.
"Heei.... kelihatannya kehendak Thian memang begitu sehingga menyuruh aku tergigit ular beracun itu....."
Wi Lian In sembari menyedot sembari muntahkan keluar, sesudah berturut turut menyedot dan muntahkan kembali keluar berpuluh puluh kali banyaknya barulah ujarnya.
"Sudah cukup, sekarang aku mau bebaskan jalan darah yang tertotok pada lututmu ini, kau tetap lanjutkan kerahkan tenaga murni berusaha memaksa sisa-sisa sari racunnya keluar tubuh, jangan sampai racun tersebut masuk ke dalam tubuh lagi."
Tangannya dengan cepat bergerak menotok dan menepuk membebaskan jalan darah yang tertotok itu.
Begitu jalan darahnya terbebas dari totokan, darah segera mengucur keluar lagi dari bekas luka itu.
Darah yang mengalir keluar tetap masih darah berwarna hitam, setelah lewat sesaat kemudian barulah makin lama berubah menjadi darah segar, wi Lian In menggunakan jarinya menekan lagi lututnya sambil bertanya .
"Coba bagaimana sekarang rasanya"
"Sudah sedikit berasa."
Mendengar hal itu Wi Lian In menjadi sangat girang.
"Tidak perlu obat pemunah dari Majikan ular lagi bukan?"
"Benar."
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"sekarang hanya cukup obat dari Tabib biasa sudah akan sembuh kembali."
"Coba kamu berdiri dan jalan."
"Pasti bisa jalan.. ."
Sahut Ti Then sambil tertawa.
"Hanya saja tidak sanggup untuk berlari."
Sambil berkata sembari bangkit berdiri dia berjalan bolak balik beberapa kali di sana, hanya saja jalannya kali ini sedikit pincang seperti orang buntung.
Wi Lian In sangat girang sekali, dia berjalan kearah suatu selokan kecil didekat tempat itu untuk mencuci mulutnya kemudian berjalan kembali ke hadapan Ti Then, ujarnya sambil tertawa.
"Bagaimana kamu bisa temukan aku dibukit itu??"
"Sebelum itu aku harus tanya dulu kepadamu, bagaimana kamu bisa sampai terjatuh ketangan Kwan si Ngo Koay itu?"
Balik tanya Ti Then sambil tertawa pahit.
"Sekali pun Kwan si Ngo Koay punya sedikit nama besar di dalam dunia kangouw, tapi dengan kepandaian yang kau miliki sekarang ini tidak mungkin bisa tertawan dengan begitu mudahnya."
Air muka Wi Lian In segera berubah menjadi merah padam.
"Aku ditawan mereka selagi tertidur sangat nyenyak."
"Sungguh kamu orang tidak punya sedikit perasaan waspadamu."
"Tidak punya cara lain, begitu aku tertidur sekali pun dunia kiamat juga tidak akan merasa-"
"Ehmmm.... malam itu begitu aku dengar ada orang yang berjalan malam di atas atap segera keluar kamar untuk melihat, waktu itu tidak terlihat seorang pun di atas genteng makanya aku segera lari kekamarmu, tapi kamu sudah lenyap diculik orang."
"Mungkin mereka sudah totok jalan darah pulasku."
Ujar wi Lian In sedikit membela diri "Sehingga aku sama sekali tidak merasa ... ."
"Di dalam kamarmu aku temukan secarik kertas yang mereka tinggalkan, mereka perintah aku untuk membawa kitab pusaka Ie Cin Keng untuk ditukar dengan kau diluar kota, begitu aku sampai di tanah pekuburan itu segera muncullah empat orang berkerudung ..."
Segera dia menceritakan kisahnya itu dengan jelas, akhirnya tambahnya lagi.
"Sedang di tanah bukit itu aku bisa menemukan kamu semuanya bergantung pada untung atau tidak saja, aku punya dugaan orang yang menculik kau pergi itu tentu melarikan diri kearah sebelah sini maka karenanya sengaja mengejar kemari, ketika mengejar sampai bawah bukit itu tetap saja tidak mendapatkan tanda-tanda apa pun, hatiku betul-betul merasa gemas dan jengkel sehingga duduk beristirahat di bawah pohon. Tiba-tiba itulah mendadak terdengar suara bercakap cakap dua orang dari atas bukit itu, kemudian melihat pula Majikan ular berlari menuruni bukit tersebut menuju ke dalam kota, hatiku menjadi curiga secara diam-diam memasuki hutan bambu itu dan akhirnya mendengar suaramu"
"Hmmm... hmmm.. ."
Dengan gemasnya Wi Lian In mendepakkan kakinya ke atas tanah.
"Semuanya ini hadiah dari setan pengecut serta bangsat Hong Mong Ling itu, lain kali jika bertemu dengan mereka lagi.. ."
Mendadak Ti Then menggoyangkan tangannya mencegah dia berbicara lebih lanjut, ujarnya dengan rendah.
"Jangan bicara, ada orang datang."
Wi Lian In mendiadi sangat terkejut sambii memandang sekeliling tempat itu tanyanya dengan perlahan.
"Dimana?"
"Di sana."
Sahut Ti Then sambil menuding kearah hutan didekat tempat itu "Agaknya ada dua orang . ."
Wi Lian In semakin menjadi tegang.
"Tentu Majikan ular serta kakek kura-kura itu, cepat kita bersembunyi."
Luka kaki Ti Then belum sembuh seluruhnya sehingga gerakannya pun tidak begitu lincah lagi, mereka karena takut terjerumus kembali ke dalam barisan Selaksa ular segera bersama sama meloncat bersembunyi disebuah liang kecil dekat tempat tersebut.
Di samping liang itu penuh ditumbuhi rumput liar yang sangat tinggi dan lebat, orang yang bersembunyi di bawah rumput-rumput liar itu tidak mudah untuk ditemui kembali.
Baru saja mereka berdua menyembunyikan diri di bawah rumput liar itu terlihatlah dua orang kakek tua munculkan dirinya dari hutan beberapa kaki dari tempat itu dan berjalan kearahnya.
Orang itu tidak lain adalah Majikan ular Yu Toa Hay serta kakek kura kura Phu Tong seng adanya.
Mereka sambil berjalan keluar dari hutan matanya dengan tajam memandang sekeliling tempat itu, terdengar Majikan ular Yu Toa Hay sembari memeriksa sekeliling tempat itu tanyanya.
"Apakah Phu heng betul betul melihat jelas kalau bangsat cilik itu sudah tergigit oleh ular beracun milik lohu itu?"
"Tidak akan salah."
Sahut kakek kura kura Phu Tong seng itu sambil manggut-manggut.
"Sewaktu Lohu mengejar keluar dari hutan bambu itu bertepatan melihat budak itu menggendong dia lari kemari-"
"Kalau begitu tentu mereka melarikan diri ke dalam gunung ini, jika ini hari kita tidak berhasil mendapatkan mereka kembali, penghidupan selanjutnya akan tidak tenang kembali-"
"Ehmmm... siapa bilang tidak. Wi Ci To tentu tidak akan melepaskan kita."
"Makanya-"
Ujar Majikan ular dengan suara yang berat.
"Kita harus menangkap mereka kembali kemudian sekalian kita bunuh mati.. ."
"Bangsat cilik itu sudah terluka oleh gigitan ular beracun, mungkin tidak akan melarikan diri terlalu jauh. Mari kita cari secara berpisah saja."
"Baik,"
Sahut Majikan ular sambil mengangguk-"Phu heng memeriksa sebelah sana, biar Lohu yang memeriksa sebelah sini, Ayoh jalan."
Kedua orang itu bersama sama meloncat ketengah udara dan melewati liang itu, satu kiri yang lain kekanan bagaikan terbang cepatnya lari ke depan.
Kakek kura-kura itu melayang tepat di atas Ti Then serta Wi Lian In yang bersembunyi di bawah liang tengah rerumput tebal itu.
Wi Lian In sesudah melihat bayangan tubuh mereka lenyap dari pandangan barulah menghembuskan napas lega, ujarnya.
"Sungguh amat bahaya, asalkan kura-kura tua itu menengok ke bawah segera jejak kita akan diketahui."
"Ehmmm... masih untung Majikan ular itu tidak bawa serta ular-ular beracunnya, jika dia bawa serta ular-ular berbisanya kita tidak mungkin bisa bersembunyi lagi..."
"Ti Toako, menggunakan kesempatan mereka mencari kita ke atas gunung lebih baik cepat-cepat kita kembali ke dalam kota saja"
Sambil berkata dia mengulur tangannya membimbing Ti Then bangun. Tetapi begitu dilihatnya kaki kiri Ti Then tetap tidak bisa bergerak bebas segera ujarnya lagi.
"Bagaimana kalau aku gendong saja?"
"Aaah jelek sekali."
Ujar Ti Then sambil tertawa.
"Jika sampai dilihat orang lain bukankah sedikit kurang sopan dan tidak sedap dipandang."
"Hemmm....."
Dengus wi Lian In sambil cemberut.
"Sekarang keselamatan yang paling penting, aku saja tidak takut kau takut apa lagi."
Tubuhnya yang kecil langsing dan mungil itu sebera sedikit menjongkok menggendong tubuh Ti Then pada pangkuannya, kemudian dengan cepat lari menuruni gunung itu.
Di dalam sekejap mata mereka sudah berada ditepi jalan raya yang banyak orang sedang melakukan perjalanan, Ti Then begitu melihat di sana banyak orang tidak terasa merasa malu juga, ujarnya dengan cemas.
"Cepat turunkan aku, ada orang yang melihat kita."
Wi Lian In tetap tidak gubris, dengan cepat berlari menuju kearah kota Ho Kiang sian.
"Nona Wi..."
Ujar Ti Then dengan cemas.
"Jarak dari sini ke kota Ho Kiang sian masih ada tiga puluh li jauhnya, apa kau mau gendong aku sampai di dalam kota ??"
"Biarlah lari sampai tidak bisa lari baru kita bicarakan lagi."
Dia tidak mau ambil perduli lagi terhadap orang-orang dijalan yang memandang ke arahnya dengan sinar mata terkejut bercampur keheranan, dengan menundukkan kepalanya dia berlari terus ke depan sehingga sejauh puluhan li, waktu itu keringat sudah mengucur dengan derasnya membasahi seluruh bajunya sedang napasnya pun kempas kempis tidak teratur.
Waktu itu untung saja lewat sebuah tandu besar dengan delapan orang yang menggotong, begitu dia melihat kedelapan orang kuli menggotong tandu tersebut sangat lincah langkahnya segera berhenti, tanyanya.
"Hei, di dalam tandu ada orang tidak?"
Ke delapan orang kuli tandu itu melihat seorang nona muda menggendong seorang pemuda melakukan perjalanan ditengah siang hari bolong pada memandangnya dengan sinar mata penuh perasaan heran bercampur terkejut, bersama-sama mereka berhenti.
Salah satu diantaranya menyahut dengan sopan.
"Tidak ada, kenapa orang itu?"
"Dia tergigit ular beracun, nyawanya di dalam keadaan sangat bahaya. Harap paman sekalian beriaku baik hati membawa kami ke dalam kota untuk berobat."
Kuli tandu itu begitu mendengar perkataan tersebut segera memerintahkan kawan-kawannya untuk menurunkan tandu tersebut dan membuka pintu tandunya, ujarnya kemudian.
"Urusan tidak boleh terlambat lagi, cepat nona bawa dia masuk. ."
Wi Lian in menjadi sangat girang, dengan tergesa gesa dia membimbing tubuh Ti Then duduk ke dalam tandu itu, tanyanya lagi.
"Aku boleh masuk sekalian???"
"Nona apanya dia ???".
"Aku adalah adiknya"
"Kalau memangnya saudara sekandung tidak usah mengikuti adat lagi, silahkan nona duduk sekalian di dalam tandu"
Wi Lian In segera membungkukkan tubuhnya masuk ke dalam tandu, tanyanya lagi.
"Paman-paman sekalian apakah orang-orang dari kota Ho Kiang sian ???".
"Benar"
Sahut kuli itu sambil menutup kembali pintu tandunya.
"Kemarin hari kami hantar nyonya hartawan Shie kedesanya, karena perjalanan yang amat jauh baru ini pagi kita berangkat pulang?"
"Kalau begitu bagus sekali, nanti sesudah masuk kota harap hantar kami kerumah tabib sekalian, aku bisa kasih kamu orang uang sebagai imbalannya, Hanya ada satu hal yang kalian ingat jika ditengah jalan ada orang yang menanyakan jejak kami bersaudara jangan sekali kali kalian beritahu pada mereka."
Kuli-kuli tandu itu begitu mendengar ada persenan uang hatinya menjadi sangat girang sekali, segera menyahut dengan sangat sopan.
Demikianlah kedelapan orang itu segera mengangkat tandu besar itu melanjutkan perjalanan ke dalam kota Ho Kiang sian.
Di dalam tandu hanya terdapat satu tempat duduk saja, karenanya Wi Lian In terpaksa berjongkok di depan tubuh Ti Then.
Ti Then yang teringat dua kali dia menggendong dirinya melarikan diri bahkan dengan tidak perduli kotor sudah hisapkan keluar darah berbisa pada kaki kirinya tanpa terasa perasaan berterima kasih yang meluap luap memenuhi benaknya, tanpa terasa lagi dia menarik tubuhnya ke dalam pangkuannya sendiri Air muka Wi Lian in segera berubah menjadi merah padam, tapi dia tidak memberi perlawanan sedikit pun dengan manyanya dia duduk di atas kaki kanannya dan bersandar pada dadanya, sepasang matanya dipejamkan rapat-rapat...
Kedua orang itu siapa pun tidak ada yang buka bicara, masing-masing berdiam diri sambil saling berpeluk pelukan.
Saat ini adalah saat yang paling menggembirakan di dalam lembaran hidup mereka, sebaliknya waktu yang paling menggembirakan juga lewat paling cepat, mendadak mereka mendengar suara pembicaraan orang yang sangat ramai sekali, kiranya mereka sudah masuk dalam kota.
Wi Lian In tidak berani duduk di atas Ti Then lagi, dengan diam diam dia melorot ke bawah dan berjongkok kembali ke depannya.
sambil membereskan rambutnya ujarnya dengan perlahan.
"Kuda-kita apa masih berada di dalam rumah penginapan?"
"Benar."
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Mereka tidak menemukan kita di atas gunung, mungkin segera akan kembali ke dalam kota menanti kita di dalam rumah penginapan."
"Benar, tentu mereka tahu kalau kuda tunggangan kita masih berada di dalam rumah penginapan."
"Heii ..."
Ujar wi Lian in lagi sambil menghela napas panjang.
"Hanya kuda Ang San Khek itu merupakan seekor kuda jempolan, kalau sampai hilang sungguh sayang sekali."
"Sudah tentu tidak bisa kita buang begitu saja."
"Tapi jika kita kembali kerumah penginapan untuk mengambil kuda itu mungkin segera akan diketahui mereka, mereka tidak mendapatkan kitab pusaka le Cin Keng dan ditambah lagi takut dengan ayahku datang mencari balas, sudah tentu akan bunuh kita untuk menutup mulut."
"Jangan kuatir."
Ujar Ti Then tetap tenang.
"Mereka tidak mungkin berani melakukan pekerjaan itu di dalam kota"
Sedang mereka bercakap cakap mendadak terdengar kuli tandu itu buka suara ujarnya.
"Nona, dijalanan ini ada sebuah kedai obat Hwe Cun di dalamnya ada seorang tabib yang sangat lihay ilmu pengobatannya, bagaimana kalau kita cari tabib itu saja?."
"Baiklah. ."
Tidak lama kemudian tandu itu pun berhenti.
Kuli tandu itu segera membuka pintu tandu mempersilahkan wi Lian In sekalian turun, terlihatlah saat ini mereka sudah berada di depan pintu kedai obat bermerek Hwe Cun itu, segera Wi Lian in membimbing Ti Then turun, sesudah memberi upah beberapa tahil perak kepada kuli-kuli tandu itu barulah bersama sama berjalan masuk ke dalam kedai obat tersebut.
Orang-orang dalam kedai obat itu begitu melihat seorang nona membimbing seorang pemuda berjalan masuk pada memandang kearahnya dengan perasaan heran, tanyanya dengan cepat.
"Ada urusan apa ??"
"Cayhe digigit seekor ular berbisa kini datang untuk berobat, apakah Tabib ada di dalam?."
"Ada ... ada."
Sahut pelayan itu dengan cepat.."silahkan kongcu masuk ke dalam"
Wi Lian In dengan membimblug Ti Then berjalan masuk ke dalam kamar yang ditunjuk pelayan itu, saat itu terlihatlah seorang kakek tua sedang memeriksa penyakit seseorang karenanya mereka menanti sebentar baru mendapatkan giliran-Kiranya kakek tua itulah merupakan tabibnya, dia mempersilahkan Ti Then duduk terlebih dahulu kemudian baru tanyanya.
"Badan sebelah mana yang terasa tidak enak?"
"Kaki kiri cayhe digigit ular berbisa."
"Oooh ... ."
Sahut Tabib itu sambil mengangguk.
"Biarlah Lohu periksa sebentar ....Ehmm ... digigit ular, berbisa macam apa??"
"Ular berekor merah darah."
Tabib itu sembari memeriksa sambil tanyanya lagi.
"Kapan digigitnya ?."
"Pagi tadi, kurang lebih dua jam yang lalu. ."
Tabib itu menggunakan jarinya menekan beberapa kali disekitar bekas luka tersebut, ujarnya.
"Kau sudah keluarkan darah-darah yang mengandung bisa itu sehingga kini tidak berbahaya lagi, sesudah diobati dua kali ditambah minum obat penawar segera akan sembuh seperti sedia kala."
Sehabis berkata dia mengambil pitnya dan menulis resep kemudian berikan kepada Ti Then dan memesankan cara-cara penggunaannya.
Sesudah membajar rekening dan mengundurkan diri dari sana lalu menyerahkan itu resep kepada pelayan yang dengan cepat sudah menyediakan obat-obat yang dibutuhkan itu, ujarnya.
"Obat ini digunakan sebagai obat luar sedang obat berupa bubuk ini untuk dimakan, setiap lewat dua jam harus menggunakan satu kali."
Ti Then bayar kembali uang obat itu dan digunakan sekalian obat tersebut di sana, setelah itu baru tanyanya.
"Kapan bengkaknya akan hilang ??"
"Besok sudah sembuh sama sekali"
Mendengar itu Ti Then menjadi lega hatinya, kepada Wi Lian In ujarnya sambil tertawa.
"Ayo pergi, kita pergi kerumah penginapan itu."
Kedua orang itu kembalilah kerumah penginapan dimana mereka tinggal, pelayan-pelayan dengan air muka penuh perasaan terkejut masing-masing pada merubung menanyakan sesuatu, Ti Then hanya menyawab adanya pencuri yang mencuri barangnya sehingga dia pergi kejar dan tergigit ular beracun, dengan demikian mereka pun menjadi tenang kembali.
Tanya Wi Lian In kemudian.
"Kuda kuda kami apa masih ada ??"
"Masih ... masih ..."
Sahut pelayjan itu sambil mengangguk.
"Kalian berdua apa mau segera berangkat?"
"Tidak"
Ujar Ti Then perlahan. Kami mau menginap satu malam lagi, besok pagi baru berangkat, Kau pergilah siapkan makanan untuk kami"
Pelayan itu segera menyahut dan mengundurkan diri, Mendadak Ti Then teringat kembali akan si macan kumbang hitam Khie Hoat itu manusia yang menduduki sebagai Lo-ji dari Kwan si Ngo Keay masih tertotok jalan darahnya ditengah tanah pekuburan diluar kota, ujarnya kemudian kepada Wi Lian in"Bagaimana kalau kamu orang kerjakan suatu pekerjaan?"
"Kerjaan apa?"
"Kemarin malam Loji dari Kwan si Ngo Koay si macan kumbang hitam Khie hoat tertotok jalan darahnya hingga kini mungkin masih berada di sana, coba kau pergi ke sana lepaskan dia pergi."
"Hmmm ... kejahatan yang dikerjakan Kwan si Ngo Koay sudah sangat banyak sekali, sekali pun mati juga tidak sayang, buat apa kita pergi urus dia lagi"
"Tidak. ."
Bantah Ti Then dengan cepat.
"Aku sudah bilang sama dia asalkan di dalam kelenteng tanah ditengah kota aku bisa temukan kamu maka setelah pulang aku bebaskan dia pergi, walau pun di dalam kelenteng tanah ditengah kota aku tidak temukan kau tapi hal ini bukan kesalahannya."
"Walau pun begitu ... hari ini kau lepaskan dia pergi, dikemudian hari dia bisa cari kau untuk membalas dendam."
"Hal itu termasuk persoalan lain lagi..."
Wi Lian In ketika melihat dia sudah ambil ketetapan di dalam hatinya terpaksa mengangguk.
"Baiklah, hanya saja dia berada di tanah pekuburan sebelah mana?"
"Di sebelah barat kota, kau pergilah dengan menunggang kuda Ang san Khek. cepat pergi cepat kembali dan hati-hati jangan sampai diculik orang lagi..."
"Cis..."
Seru Wi Lian in dengan perasaan malu dan manya.
"Disiang hari bolong begitu ada siapa yang berani mengganggu aku Wi Lian In? Hmmm, kalau berani ganggu aku jangan harap bisa hidup lagi."
Sehabis berkata dia berjalan keluar dari kamar.
Ti Then menanti sesudah dia keluar baru menutup pintu kamar dan rebahkan dirinya ke atas pembaringan untuk beristirahat.
Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu kamar.
"Siapa?"
Tanyanya sambil bangkit berdiri "Aku."
Suara dari pelayan rumah penginapan itu berkumandang masuk ke dalam kamar.
"Tuan bukankah kamu suruh aku siapkan makanan ?"
"Ehmm ... masuklah. Pintu itu tidak terkunci."
"Baik,"
Pintu kamar dibuka, pelayan rumah penginapan itu dengan membawa makanan berjalan masuk kemudian mengaturnya di atas meja, sedang pada mulutnya gumamnya seorang diri "Sungguh membingungkan sekali, aneh...
aneh..."
"Ada urusan apa ??"
"Itu ... seorang lelaki berusia pertengahan secara tiba-tiba menghadang hamba untuk menanyakan segala hal bahkan masih mengajak hamba guyon, sehingga kuah telur ini menjadi sedikit bercecer."
Mendengar perkataan itu hati Ti Then menjadi sedikit bergerak. sambil memandang wajahnya, tanyanya dengan serius.
"Lelaki itu tanya apa saja??"
"Dia adalah tamu yang baru datang pagi ini, tadi sewaktu hamba membawa makanan kemari mendadak dia menghadang hamba dan menanyakan apa ada nona yang mau temani dia tidur nanti malam, lalu tanya juga letak rumah pelacuran-Hamba terpaksa satu demi satu memberikan jawabannya, tapi mendadak dia menuding ke belakang hamba sambil katanya.
"Coba lihat, nona itu sungguh cantik."
Hamba cepat-cepat menoleh ke belakang.
"HHuuu ... sungguh matanya sedikit buta, di belakang hamba mana ada bayangan nona cantik."
Ti Then tersenyum.
"Sewaktu kamu menoleh lalu kuah itu secara tiba-tiba tercecer?"
"Benar, hanya saja tidak terlalu banyak yang tercecer ..."
"Orang itu tinggal dikamar sebelah mana?"
Pelayan itu menuding ke kamar sabelah kanan. sahutnya.
"Dia menginap dikamar ke empat dari kamar sini."
"Membawa teman tidak?"
"Tidak."
Sahut pelayan itu sambil gelengkan kepalanya.."Dia hanya satu orang saja."
"Ehmmm ... kini masih berada di dalam rumah penginapan?"
"Benar, sesudah mengajak hamba guyon-guyon sebentar lalu kembali ke dalam kamarnya.."
"Baiklah, kau boleh pergi"
Ujar Ti Then kemudian sambil mengangguk.
Pelayan itu segera membawa nampannya mengundurkan diri dari kamar.
Dengan perlahan Ti Then berjalan mendekati kuah telur yang dimaksud tadi kemudian dibaunya beberapa kali, setelah itu sambil tersenyum memanggil pelayan itu lagi.
"Pelayan...."
Waktu itu pelayan tersebut belum jauh meninggalkan kamarnya Ti Then, begitu mendengar suara panggilan segera putar tubuh sambil bertanya.
"Kongcu minta barang apa lagi.."
"Oooh tidak. ."
Ujar Ti Then dengan suara yang keras.
"Adikku ada urusan hendak keluar sebentar tapi dengan cepat dia akan kembali, jika kamu melihat dia pulang beritahu padanya aku sedang menunggu dia di dalam kamar untuk makan bersama sama."
"Baik ... baik..Tentu aku beritahukan padanya. ."
Ti Then menoleh memandang sekejap kearah kamar di sebelah kanannya itu kemudian menutup pintu kamarnya kembali dan duduk di depan mejanya.
Sambil menyendoki kuah tetur itu dicobanya seteguk, tapi tidak sampai ditelan sesudah dicoba lalu dimuntahkan kembali kepojokan kamar, pada air mukanya terlintaslah suatu senyuman yang amat dingin, pikirnya.
"Hmmm ... kiranya obat pemabok."
Dia berjalan mendekati pembaringan dan merebahkan dirinya, pikirannya dengan cepat berputar memikirkan orang lelaki berusia pertengahan yang hendak menjebak dirinya dengan menaruh obat pemabok pada kuah telur tersebut.
Tetapi dengan ditemuinya beberapa orang yang munculkan diri untuk merebut kitab pusaka Ie Cin Keng dia tahu saat ini disekelilingnya terdapat sangat banyak orang yang sedang mengincar kitab pusaka Ie Cin Keng itu dari tangannya, karenanya dia sangat menyesal sudah suruh wi Lian In keluar kota untuk membebaskan diri simacan kumbang hitam Khie Hoat.
Walau pun jarak tanah pekuburan itu tidak jauh dari dalam kota, sekali pun ilmu pedang dari Wi Lian in tidak lemah tapi kemungkinan sekali pun beberapa orang jago berkepandaian tinggi bergabung menjadi satu untuk turun tangan bersama-sama seperti buktinya kakek kura-kura serta Majikan ular itu bekerja sama menculik dia untuk memaksa dirinya menyerahkan kitab pusaka Ie cin Keng kepada mereka.
Semakin berpikir dia merasa semakin cemas, dengan cepat dia bangun kembali sambil gumamnya seorang diri "
Lebih baik aku keluar kota sebentar untuk melihat-lihat."
Baru saja dia berjalan mendekati pintu kamar, mendadak pintu itu didorong oleh orang, terlihatlah Wi Lian In sambil tersenyum berjalan masuk ke dalam.
Melihat munculnya Wi Lian in tanpa menemui cedera apa pun hati Ti Then seketika itu juga menjadi lega.
dengan girang serunya.
"Oooh .. .. kamu sudah kembali."
"Pelayan tadi bilang kau sedang tunggu aku makan."
Ujar Wi Lian In sambil tertawa.
"Benar kau sudah temui dia???."
"Sudah, aku potong telinganya terlebih dulu baru lepaskan dia pergi."
"Ha ha ha..."
Ujar Ti Then sambil tertawa serak.
"sifatmu persis seperti ayahmu,sedikit dikit suka gotong telinga orang lain .... Ha ha ha. ."
"Aku potong telinganya untuk peringatkan padanya lain kali jangan suka cepat percaya kabar bohong."
Ti Then segera menutup pintu kamar kembali, sambil gape padanya, katanya lagi.
"Ayoh cepat makan, kuahnya hampir dingin."
Dua orang itu segera duduk saling berhadapan untuk mulai dahar.
Sesudah menelan nasinya terlihatlah Wi Lian In mengambil kuah telur itu untuk diminum, melihat hal itu dengan cepat Ti Then gelengkan kepalanya, sambil tersenyum dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara ujarnya.
"Kuah itu jangan diminum"
"Kenapa ??"
Tanya Wi Lian In melengak. Ti Then segera beri tanda kepadanya untuk memperendah suaranya, kemudian dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara ujarnya lagi.
"Di dalam kuah itu ada obat pemaboknya."
"Ehmm."
Dengus Wi Lian In tidak percaya.
"Kau sedang menakut-nakuti aku."
"Aku tidak menipu kau."
Sahut Ti Then dengan serius.
"Ada orang secara diam-diam memasukkan obat pemabok ke dalam kuah itu untuk memaboklan kita orang."
Melihat sikapnya yang sungguh-sungguh dan serius Wi Liau In menjadi amat terkejut sekali.
"Bagaimana kau bisa tahu??"
Segera Ti Then menceritakan apa yang didengarnya dari pelayan tentang lelaki berusia pertengahan itu, akhirnya tambahnya lagi.
"Tadi aku sudah mencobanya dan merasa kalau di dalam kuah itu betul terdapat obat pemaboknya, asalkan kau meneguk satu tegukan saja tanggung secara kontan akan jatuh tidak sadarkan diri"
"Siapa lelaki berusia pertengahan itu??"
Tanya Wi Lian In dengan air muka berubah sangat hebat.
"Masih tidak tahu"
Sahutnya sambil gelengkan kepalanya.
"Menurut pelayan itu katanya dia berada dikamar ke empat dari sebelah kanan kita."
Mendadak Wi Lian In bangkit berdiri dan berjalan keluar kamar. Dengan cepat Ti Then menarik dia kembali, ujarnya sambil tersenyum.
"Kau mau berbuat apa?"
"Cari dia."
Ti Then segera tarik dia duduk kembali ke tempat semula, dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara ujarnya sambil tertawa. -ooo0dw0ooo-
Jilid 11 . Jay hoa cat yang nahas "Buat apa, bukankah lebih bagus kalau kita tunggu dia masuk sendiri kemudian baru turun tangan????"
"Tunggu dia masuk sendiri ???"
Tanya Wi Lian In melengak.
"Tidak salah, tunggu dia masuk sendiri"
"Benar."
Sahut Wi Lian In kemudian sambil mengangguk. agaknya dia sudah paham arti perkataan itu tanpa terasa senyuman segera menghiasi bibirnya.
"Sst ...jangan bicara lagi"
Tiba-tiba Ti Then memperingatkan diri Wi Lian In.
"Mungkin dia sudah berada di depan kamar kita"
Dengan suara yang diperkeras sengaja Wi Lian In angkat bicara lagi.
"Malam ini kita harus lebih berhati-hati, kemungkinan orang itu akan datang lagi"
"Yang harus hati-hati adalah kau, lebih baik malam ini kamu orang jangan tidur"
"Kitab pusaka Ie cin Keng itu sudah kau bawa?"
Ti Then mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Benar"
Sahutnya terpaksa.
"Dibawa dalam badan jauh lebih aman rasanya"
"Heei ..sungguh menjengkelkan, entah siapa yang sudah menyiarkan berita kalau kau telah mendapatkan kitab pusaka Ie cin Keng itu, semula menteri pintu serta pembesar Jendela dari Anying langit Rase bumi, kemudian disusul Hwesio berwajah riang dari Siauw limpay, Kwan si Ngo Koay, Majikan ular serta terakhir kakek kura-kura."
"Sejak kini entah masih ada seberapa banyak anying-anying bajingan yang datang merebut"
"Ie Cin Keng kan kitab ilmu silat yang berisikan kepandaian tertinggi di dalam Bu lim waktu ini, barang itu merupakan impian dari setiap jago dalam dunia kangouw tidak bisa, disalahkan mereka kalau pada datang merebut..."
Wi Lian In mengambil sendok kemudian diaduk adukkan pada mangkok yang berisikan kuah telur itu sehingga mengeluarkan suara yang nyaring.
"Kuah telur ini sudah dingin, bagaimana kalau suruh pelayan memanasi terdebih dulu??"
"Tidak perlu."
Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Aku suka makan yang dingin, kau tidak mau biar aku yang makan."
Sambil berkata dengan menggunakan sendok dia mengetuk beberapa kali pada pinggiran mangkok.
"Ting ... ting ..."
Disusul suara sedang menghitup kuah tanda rasanya yang sedap.
"Coba lihat"
Seru Wi Lian In sambil tertawa .....
"Seperti sudah lama tidak makan"
"Selamanya aku memang paling suka kuah telur."
"Coba aku teguk sesendok."
Sambil berkata dia pun menggunakan sendoknya mengetuk pinggiran mangkok kemudian suara sedang menghabiskan kuah itu.
"Rasanya enak bukan??? "
Tanya Ti Then sambil tertawa.
"Ehmmm ....tidak seberapa".
"Ini yang dikatakan kesukaan setiap orang tidak sama, sejak kecil aku sudah suka makan kuah telur..."
"Aaaaah kenapa??"
Berbicara sampai di sini, badan bersama-sama dengan kursinya terjengkang kearah belakang. Wi Lian In dengan cepat meloncat-loncat bangun sambil menjerit keras.
"Aduh, kau ...... kau kenapa ???"
Ditengah suara jeritan kaget itu mendadak pintu kamar dengan mengeluarkan suara yang keras sudah didorong oleh seseorang, seorang lelaki berusia pertengahan dengan potongan seorang siucay sambil tersenyum berjalan masuk.
Tanyanya.
"Nona, sudah terjadi urusan apa??"
Wi Lian In sama sekali tidak menduga pihak lawannya berani masuk sebelum dirinya ikut jatuh tidak sadarkan diri, untuk beberapa saat lamanya dia menjadi tertegun.
"Kau ... kau siapa ???"
Dengan perlahan lelaki berusia pertengahan itu menutup kembali pintu kamar kemudian membungkukkan badannya memberi hormat.
"Cayhe orang-orang kangouw menyebutku sebagai pemuda berwajah tampan Cu Hoay Lo menemui nona"
Begitu Wi Lian In mendengar kalau pihak lawannya adalah Giok Bin Longkun itu manusia cabul yang gemar pipi licin tidak terasa air mukanya berubah sangat hebat, serunya.
"Kiranya kau adalah Giok Bin Longkun ..kau ... kau datang kemari .... punya tujuan apa?"
Selesai berkata tubuhnya mulai bergoyang kemudian dengan perlahan lahan rubuh ke atas tanah jatuh tidak sadarkanr diri Bibir Giok Bin Longkun itu manusia cabul kelihatan sedikit bergerak sehingga kelihatan sebaris giginya yang putih bersih sambil tertawa ringan ujarnya.
"Apa tujuanku? Nona Wi ini sungguh terlalu tolol .... kalau memangnya sudah tahu sebutanku Giok Bin Longkun bagaimana tidak tahu maksud tujuanku? He he he ..."
Die berhenti sebentar, senyuman yang menghiasi bibirnya pun berubah semakin menyeramkan, ujarnya lagi sambil tertawa.
"Tapi aku harus mendapatkan kitab pusaka Ie Cin Keng itu terlebih dulu kemudian baru beri kesenangan kepadamu."
Dengan perlahan dia berjalan ke samping tubuh Ti Then kemudian berjongkok di sisinya.
Tangannya mulai diulur ke dalam saku Ti Then untuk memeriksa ...
mendadak dia menjerit, sangat keras badannya tidak kuasa lagi terbanting dengan amat kerasnya ke atas tanah.
Kiranya urat nadi tangan kanannya sudah dicengkeram Ti Then dengan kerasnya.
Ti Then yang berhasil mencengkeram tangan kanannya segera membanting tubuhnya ke atas tanah, dirinya dengan mengikuti gerakan tersebut bangkit berdiri dan memutar lengan kanannya itu ke belakang punggung.
Perasaan terkejut dalam hati Giok Bin Longcun tidak kecil, di dalam keadaan yang sangat lemas tubuhnya memutar ke kiri, sedang dua jari tangan kirinya dengan kecepatan bagaikan kilat menusuk kearah sepasang mata Ti Then-Ti Then tertawa dingin, dengan tangan kirinya dia menangkis serangan pihak lawan sedang tangannya yang lain dengan sekuat tenaga mengangkat lengan kanannya ke atas.
"Pleetak ..."
Lengan kanannya itu segera terputus dari ruasnya.
Giok Bin Langcun menjerit kesakitan, saat itu dia tak bertenaga lagi untuk memberikan perlawanan, kepalanya dengan lemas ditundukkan ke bawah.
Wi Lian In pun dengan cepat meloncat bangun, tangannya dengan cepat menyambak rambutnya dan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, kemudian dengan menggunakan telapak tangannya dia menghadiahi wajah Giok Bin Langkun keras-keras, terlihatlah bekas-bekas telapak yang merah menghiasi pipinya.
Seluruh wajah Giok Bin Longkun sudah berubah menjadi merah membiru dan mulutnya pun darah segar mengucur keluar dengan derasnya, sampai waktu itulah Wi Lian In baru melepaskan tangannya, ujarnya sambil tertawa dingin "
Giok Bin Langcun, coba sekali lagi katakan perkataanmu tadi."
Giok Bin Langcun mana berani buka mulutnya, terpaksa dia membungkam seribu bahasa.
"Bangsat cabul ini sudah merusak perempuan banyak sekali sehingga pembesar berbagai tempat punya niat untuk menangkap dia, tidak disangka ini hari bisa terjatuh ketangan kita."
"Kau punya rencana serahkan bangsat cabul ini kepada pembesar??."
Dia menggelengkan kepalanya.
"Manusia seperti ini sesudah ditangkap harus dibunuh mati, jika diserahkan pada pembesar mungkin dia masih bisa melarikan diri"
"Benar, cepat kita turun tangan."
Dengan cepat Ti Then menggerakkan tangannya mendorong badan Giok Bin Langcun ke atas tanah, dengan kakinya menginyak perutnya, ujarnya dengan amat dingin.
"Hei Cu Hoay Lo, kau orang masih ada pesan terakhir tidak ??"
Air muka Giok Bin Langcun berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat, keringat dingin mengucur keluar dengan amat derasnya.
"Aku ... aku di Tiang an masih punya simpanan uang ... sebesar ... sebesar lima belas laksa tahil ..."
"Hmm..."
Dengus Ti Then dengan amat dingin-"Orang bilang Giok Bin Langcun seorang yang sangat kaya dan gemar akan harta, ternyata berita ini sedikit pun tidak salah ... lalu apa yang kau maui ???"
"Aku rela menyerahkan uang itu kepadamu asalkan kau orang mau mengam puni jiwaku satu kali ini ..."
"Lalu dengan cara bagaimana aku pergi menerima uang sebesar lima belas laksa tahil dari gudang uang itu ??."
Ketika Giok Bin Langcun melihat Ti Then punya maksud untuk menerima, air mukanya sedikit berubah.
"Di dalam badanku ada secarik kertas tanda bukti untuk menerima uang tersebut"
Ti Then segera bungkukkan badannya memeriksa sakunya dan mengambil keluar secarik kertas tanda bukti penerima uang yang dimaksud itu, sesudah dibolak balik melihat sekejap barulah ujarnya sambil tertawa.
"Uang-uang ini apakah hasil tabunganmu dari perampoaan serta pembegalan yang kau lakukan selama beberapa tahun ini?"
"Buat apa Ti Lo te menanyakan hal ini?"
Sahut Giok Bin Langcun sambil tertawa pahit.
"Harus aku tanya sampai jelas, sebetulnya benar atau tidak?"
"Benar."
"Kalau uang itu hasil membegal dan merampok dus berarti bukan uangmu sendiri, maka itu kau tidak bisa menebus nyawamu dengan uang-uang ini."
Air muka Giok Bin Langkun segera berubah amat hebat.
"Kalau begitu kembalikan kertas uang itu. ."
Ti Then menyimpan kertas uang itu ke dalam sakunya, ujarnya sambil tertawa.
"Aku bisa mengambil uang-uang itu pada waktu yang tepat kemudian disebar dan di bagi-bagikan kepada orang-orang miskin dengan demikian aku pun sudah membantu kau untuk meringankan dosa-dosamu."
Sehabis berkata begitu, kakinya dengan sekuat tenaga menginyak jalan darah Tan Thian Hiat pada tubuhnya.
Seluruh tubuh Giok Bin Longcun hanya terlihat tergetar dengan amat kerasnya, air muka yang semula pucat pasi kini berubah semakin putih lagi, ujarnya dengan gemetar.
"Bangsat ..kau sungguh kejam."
Ti Then menarik kembali kakinya, sahutnya dengan amat dingin.
"Kau masih ada kesempatan hidup selama setengah jam, diluar kota ada sebidang tanah pekuburan, kau cepatlah pergi ke sana mencari satu tempat yang baik"
Dengan perlahan Giok Bin Langcun bangkit berdiri, dari mulutnya menyembur keluar darah segar dengan amat derasnya, kemudian dengan jalan sempoyongan dia membuka pintu kamar dan menerjang ke luar dengan cepat, lenyap dari pandangan Wi Lian In baru tersenyum, ujarnya.
"Inyakanmu tadi apa sungguh-sungguh bisa membinasakan dirinya?"
"Tidak salah. ."
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"sekali pun dewa turun dari kahyangan pun tidak mungkin bisa menolong dia. ."
"Membasmi seorang bajingan cabul memang merupakan suatu pekerjaan yang paling mulia."
"Ehm . ...mari kita lanjutkan dahar kita."
Ujar Ti Then kemudian sambil membetulkan bangkunya yang rubuh ke tanah.
Keesokan harinya bengkak pada kaki Ti Then pun sudah kempis kembali, kedua orang itu sesudah membayar rekening kamar bersama sama berjalan meninggalkan kota itu.
Ujar wi Lian In ditengah perjalanan.
"Perjalanan kita masih ada tiga hari lamanya baru sampai dirumah, semoga saja jangan terjadi urusan lagi."
"Aku kira tidak bisa terhindar lagi."
"Kau mengira masih ada orang yang akan menghalangi perjalanan kita selanjutnya?"
"Tidak salah"
Sahut Ti Then sambil mengangguk. Sepasang alis Wi Lian in dikerutkan kencang-kencang, sedang senyuman yang menghiasi bibirnya pun bilang lenyap.
"Akibat yang diterima Kwan si Ngo Koay serta Giok Bin Langcun apa belum cukup memberi peringatan kepada mereka"
"Mungkin ada sebagian yang merasa takut lalu mengundurkan diri, tapi Majikan ular serta kakek kura-kura itu tidak akan berpangku tangan"
Tidak terasa perasaan sedih dan cemas menghiasi seluruh wajah Wi Lian In.
"Dengan kepandaian silatmu saat ini sudah tentu tidak akan takuti mereka berdua, tapi ular-ular berbisa dari Majikan ular itu sukar untuk dihadapi, jika dia atur barisan selaksa ular ditengah jalan lalu bagaimana dengan kita?"
"Begitu melihat mereka munculkan dirinya jangan segera turun tangan melawan mereka, terjang dulu dua tiga li kemudian baru berhenti dan lawan mereka, dengan demikian kita tidak mungkin bisa terjerumus ke dalam barisan selaksa ular mereka lagi"
Wi Lian In mengangguk sesudah dirasanya cara ini sangat beralasan sekali.
"Kalau begitu baiknya kita berbuat seperti itu saja ..."
Kedua ekor kuda tunggangan mereka berdua dengan cepatnya melanjutkan perjalanan ke depan, pada siang harinya sampailah mereka disebuah kota kecil untuk beristirahat dan dahar, setengah jam kemudian sekali lagi mereka menaiki kuda tunggangannya melanjutkan perjalanan ke depan.
Sesudah keluar dari kota kecil itu bayangan asap rumah serta manusia semakin lama semakin jarang dan akhirnya tidak terlihat lagi sama sekali, pemandangan yang sunyi senyap disekeliling tempat itu menambahkan suasana yang menyeramkan.
Agaknya di dalam hati Ti Then sudah merasakan sesuatu, ujarnya kepada Wi Lian In dengan perlahan-"Mulai sekarang kita harus bertindak lebih berhati hati lagi"
"Ehmmm ..."
Sahut Wi Lian In sambil mengangguk.
"Mungkin sudah hampir tiba."
Setelah lewat setengah li kemudian di hadapan mereka berdua ternyata tidak salah lagi muncul seseorang yang berdiri dengan tegaknya ditengah jalan..
-0000000-Muncul pengemis yang sudah amat tua dengan rambut yang sudah memutih semua.
Pada tangannya mencekal sebuah tongkat kayu pada tubuhnya memakai baju dari bahan yang amat kasar dan kuat, panca inderanya tidak begitu jelek sekali hanya saja pada wajahnya terlihat beberapa bekas kulit yang memutih sehingga wajahnya kelihatan seperti peri yang baru muncul dari kuburan.
Begitu Ti Then melihat orang munculkan diri ternyata seorang pengemis tua dalam hati sedikit merasa diluar dugaan, dia sama sekali tidak bisa mengingat kembali apakah di dalam Bu lim ada manusia semacam ini, karenanya dengan suara yang perlahan tanyanya pada Wi Lian In.
"Tahukah kau siapa orang itu?"
"Tidak tahu"
Sahutnya sambil gelengkan kepalanya.
"Aku belum pernah dengar di dalam Bu lim ada seorang nenek yang jadi pengemis"
"Dia menghalangi perjalanan kita agaknya mengandung niat jahat"
"Seorang nenek pengemis yang tidak diketahui asal usulnya buat apa kita takuti dirinya, nanti biar aku yang hadapi dia"
Ketika mereka berdua berbicara sampai di situ tunggangan mereka sudah tiba di hadapan nenek pengemis itu. Ti Thenlah yang pertama-tama menahan tali les kudanya, sambil memberi hormat ujarnya.
"Entah bagaimana sebutan Toa nio ini? Kenapa menghalangi perjalanan kita?"
"Aku disebut orang sebagai Tang Lo Kui so atau nenek iblis penghalang jalan"
Sahut nenek pengemis itu dengan air muka tidak berubah sedikit pun juga.
"selamanya pekerjaanku adalah minta sedekah pada orang-orang yang melakukan perjalanan"
"Ha ha ha ha . ."
Tidak tertahan Ti Then tertawa terbahak-bahak.
"Dengan menghalangi orang yang melakukan perjalanan hanya untuk minta sedekah bukankah terlalu tidak pakai aturan?"
"Perkataan dari siauw Ke heng ini sedikit pun tidak salah"
Sahut Nenek iblis penghalang jalan itu sambil tertawa juga.
"Hanya saja dengan cara ini minta sedekah selamanya aku belum pernah meleset"
"Lalu Toa nio inginkah apa?"
"Biarlah siauw ko sembarang beri apa saja"
Mendengar jawaban itu diam-diam Ti Then menggerutu, dengan nada mencoba tanyanya lagi.
"Toa nio inginkan uang atau barang yang lain?"
"Mau uang."
Sahut Nenek iblis penghalang jalan itu "Tapi bila di dalam tubuh siauw ko ada barang yang jauh lebih berharga dari uang perak sedang siauw ko rela diserahkan padaku maka aku akan menerimanya dengan penuh perasaan gembira."
"Cayhe hanya punya uang perak saja, barang yang lain tidak ada lagi."
"Kalau begitu beri aku uang perak itu saja."
"Ehmmm ... kenalkah Toa nlo kepada cayhe?"
"Tidak."
Sahut nenek iblis penghalang jalan itu.
"selamanya aku tidak pernah punya pikiran untuk kenal dengan siapa pun juga."
Ti Then termenung berpikir sebentar.
"Jika cayhe tidak beri uang kepada mu, kau punya niat berbuat apa?"
"He he he ... ."
Tertawa nenek iblis penghalang jalan itu dengan amat seramnya.
"sesudah bertemu nenek iblis penghalang jalan jika tidak mau bongkar harta sendiri untuk menderma, hal itu merupakan pekerjaan seorang yang amat tolol."
"Ha ha ha ... bukannya cayhe sayang terhadap beberapa tahil uang perak tersebut, aku takut Toa nio tidak pandang sebelah mata pun terhadap uangku itu."
"Hal ini harus tergantung pada siauwko mau beri berapa, kalau beberapa tahil perak saja sudah tentu aku tidak akan mau."
Dari dalam sakunya Ti Then mengambil keluar uang perak seberat sepuluh tahil kemudian dilemparkan kearahnya.
"Sepuluh tahil perak ini coba Toa aio lihat cukup tidak ??"
Nenek iblis penghalang jalan itu segera menyambut uang yang dilempar kearahnya itu, sesudah ditimang timang beberapa saat ditangannya segera dilempar kembali kearah Ti Then, ujarnya.
"Aku kembalikan padamu, terlalu ringan."
"Sebetuinya Toa nio minta berapa baru merasa puas"
Tanya Ti Then sambil menerima kembali uang peraknya itu.
"Paling sedikit seratus tahil perak."
Mendengar perkataan itu Wi Lian in yang berada disisi Ti Then menjadi amat gusar, bentaknya dengan nyaring.
"Nenek jelek, aku lihat matamu sudah buta agaknya, baiklah, aku beri barang ini saja kepadamu."
Tubuhnya yang kecil ramping dengan cepat melayang turun dari atas tunggangannya, serentetan sinar putih berkelebat dari pinggangnya, dengan kecepatan yang luar biasa menotok ke hadapan tubuh nenek iblis penghalang jalan itu.
Nenek iblis penghalang jalan hanya tertawa terkekeh kekeh dengan seramnya, tubuhnya dengan cepat meloncat mundur beberapa kaki ke belakang sedang mulutnya teriaknya dengan keras.
"Tunggu sebentar, kau sudah tidak maui nyawa kekasihmu itu ???"
Wi Lian In yang mendengar perkataannya sedikit mengherankan menjadi melengak, sambil menghentikan serangannya dengan gusar tanyanya.
"Kau bilang apa ???"
"Jika dia tidak aku beri obat penawar nyawanya tidak akan kuat bertahan satu jam lagi" . sahut nenek iblis penghalang jalan itu sambil menuding kearah Ti Then-"Omongan nenekmu"
Pedang panjangnya digetarkan, sekali lagi dia menubruk kearahnya. Dengan cepat seru Ti Then begitu melihat gerakannya itu.
"Jangan bergerak, perkataan dari Toa nio ini sedikit pun tidak salah."
Begitu Wi Lian In mendengar Ti Then mengakui perkataannya itu dalam hati menjadi sangat terkejut, dengan gugup dia menahan serangannya kemudian menoleh kearah Ti Then-"Sudah terjadi urusan apa??"
"Aku terkena racun yang berbahaya.."
"Kau terkena racun ?? "
Tanya Wi Lian In melengak.
"Benar."
Sahut Ti Then sambii mengangguk.
Toa nio ini sesudah menerima uang perak itu secara diam-diam sudah melapisi uang itu dengan semacam racun yang sangat berbahaya kemudian baru dikembalikan kepadaku, kini tangan kananku sudah kaku tidak sanggup diangkat kembali"
Lengan kanannya dengan lemas melurus ke bawah tanpa bergerak, agaknya memang benar sudah terkena racun.
Seketika itu juga Wi Lian in menjadi amat gusar sekali, sambil menuding ke arah nenek iblis penghalang jalan itu makinya.
"Nenek jelek terkutuk, kau berani menggunakan cara yang kotor melukai orang lain ..... aku adu jiwa dengan kau"
Tubuhnya sekali lagi menerjang ke depan, pedangnya dengan kecepatan bagaikan kilat menusuk dadanya."
Jangan bergerak"
Seru Ti Then cepat.
Terpaksa Wi Lian In menghentikan gerakannya kembali, dengan uring-uringan serunya "Kau takut apa?
sesudah ahu bunuh nenek busuk ini segera aku rebut obat penawar itu untuk mengobati kau"
"Tidak mungkin . .."
Seru Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
".. Terlambat..Racun Toa nio ini sangat lihay sekali, kini racun itu sudah meresap ke dalam badanku"
"Lalu bagaimana baiknya?"
Tanya Wi Lian In dengan perasaan terkejut bercampur cemas... Dengan perlahan Ti Then angkat kepalanya memandang nenek iblis penghalang jalan itu, sambil tertawa sedih ujarnya.
"Toa-nio racunmu ini apa namanya..ternyata begini lihay kerjanya"
"He he he ..."
Tertawa lagi nenek iblis penghalang jalan itu dengan amat menyeramkan.
"obat itu adalah suc Hun si Kok bun atau racun pencabut sukma penghancur tulang, cukup terkena sedikit saja sudah lebih dari cukup untuk membunuh seseorang."
Tubuh Ti Then bergoyang dengan kerasnya, tanyanya lagi.
"Toa nio, kenapa kau mau bunuh aku dengan menggunakan racun itu?"
"He he he ... aku belum tentu pasti membunuh kau, asalkan kau bisa mengabulkan permintaanku segera akan memperoleh obat penawar tersebut."
"Seratus tahil uang perak itu?"
"Itu hanya omongan guyon saja."
Sahut nenek iblis penghalang-jalan itu sambil gelengkan kepalanya.
"Sekali pun kau beri selaksa tahil uang perak kepadaku belum tentu aku mau menerimanya. ."
"Kalau begitu apa yang dimaui Toa nio?"
"Kitab pusaka Ie cin Keng. ."
"Heeei .... sayang ... sayang. ."
Seru Ti Then sambil menghela napas panjang.
"Kitab pusaka Ie cin Keng itu sudah tidak berada ditanganku lagi"
"Hmmm ... hmmm ..jangan menipu aku, kitab pusaka Ie cin Keng saat ini masih berada tanganmu"
"Sungguh."
Seru Ti Then dengan air muka serius.
"Kemarin ketika masih berada di dalam kota Ho Kiang Sian secara diam-diam cayhe sudah suruh seseorang mengirim kitab pusaka Ie cin Keng itu bawa pulang ke dalam Benteng Pek Kiam Po."
Dengan sangat dingin nenek iblis penghalang jalan itu mendengus.
"Kau perbolehkan aku memeriksa badanmu?"
"Boleh ..boleh. ."
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Jika kau temukan maka aku akan sembahkan kitab itu kepadamu tanpa syarat."
Ketika nenek iblis penghalang jalan itu mendengar dia menyawab dengan begitu ringannya dalam hati dia sedikit percaya juga, ujarnya kemudian.
"Baiklah, aku mau percaya omonganmu itu. sekalang aku mau beri waktu pada kalian berdua. Kau harus mengusahakan di dalam dua hari ini mengejar kembali kitab pusaka Ie Cin Keng itu."
"Tapi orang itu sudah berangkat satu hari satu malam, bagaimana aku bisa mengejarnya?"
"Hemmm ... mudah sekali."
Sahut ttenek iblis penghalang jalan itu sambil menunjuk kearah Wi Lian in-"Kuda tunggangan budak itu merupakan seekor kuda jempolan, seharusnya dia bisa mengejar orang itu."
"Tapi kau sudah bilang aku hanya bisa bertahan satu jam saja ... ."
"Kau suruh dia pergi kejar."
Potong nenek iblis penghalang jalan itu dengan cepat.
"sedang kau tinggal bersamaku, aku bisa memberi sedikit obat penawar untukmu sehingga racun itu tidak sampai bekerja lebih cepat"
"Ehmm ... suatu ide yang sangat bagus"
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Jika kau sudah setuju cepat suruh dia berangkat."
Dengan perlahan Ti Then menoleh kearah Wi Lian In, ujarnya.
"Nona Wi, kau pergilah mengejar orang itu kembali."
"Tapi setelah aku berhasil mengejar orang itu, kita harus bertemu dimana?"
Deggan menggunakan tongkatnya nenek iblis penghalang jalan itu menuding ke arah utara, ujarnya.
"Di sebelah sana ada sebuah hutan cemara yang sangat rapat, kau sudah dapat melihat belum?"
Segera Wi Lian in menoleh kearah yang ditunjuk. terlihatlah kurang lebih satu li dari tempat itu terdapat sebidang tanah yang ditumbuhi pohon cemara dengan rapatnya, segera dia mengangguk.
"Ehmm ... sudah tahu"
"Kita akan menanti kau di dalam sebuah kuil bobrok ditengah pohon cemara itu, Pada hari lusa saat seperti ini jika aku tidak melihat kau kembali dengan membawa kitab pusaka Ie Cin Keng itu maka aku segera akan bunuh mati dia"
Wi Lian in tidak mengucapkan kata-kata lagi, segera dia meloncat naik ke atas kuda Ang san Kheknya dan dilarikan dengan cepat ke depan.
Nenek iblis penghalang jalan itu sesudah melihat bayangan wi Lian in lenyap dari pandangan barulah ujarnya kepada Ti Then-"Ayoh jalan, kita tunggu di dalam kuil bobrok itu"
"Cayhe kini merasa setengah badan sudah menjadi kaku, jika naik kuda mungkin bergerak sedikit saja segera akan terjatuh"
"Tangan kirimu masih bebas, gunakan tangan kirimu untuk mencekal tali les kuda"
"Bukankah kau bisa beri aku sedikit obat pemunah?"
"Tunggu sesudah tiba di dalam kuil bobrok itu kita bicarakan lagi"
Ti Then tidak bisa berbuat apa-apa lagi, terpaksa mengikuti perkataannya dengan menggunakan tangan kiri mencekal tali les kuda, sesudah duduk tenang barulah dengan perlahan dia jalankan kudanya menuju kearah hutan cemara itu.
Nenek iblis penghalang jalan pun segera mengikuti dari belakang tubuhnya, ujarnya dengan geram...
"Hey cepat sedikit larinya, jangan perlahan lahan seperti itu."
Ti Then tetap tidak ambil perduli dengan perlahannya dia maju ke depan, ujarnya kemudian-"sungguh aneh sekali, dahulu bagai mana cayhe belum pernah dengar sebutan Toa nio ini ??"
"Dulu aku tidak disebut Nenek iblis penghalang jalan"
"Lalu siapa nama Toa nio yang sebetuinya ??"
"Aku sudah ada dua puluh tahun lamanya tidak pernah berkelana di dalam dunia kangouw, Pada dua puluh tahun yang lalu aku disebut sebagai "Tok Mey Jin"
Atau perempuan cantik berbisa."
"Oooh . ."
Seru Ti Then kaget.
"Kiranya Toa nio adalah Tok Mey Jin yang pernah menggetarkan dunia kangouw Pada masa yang silam, tapi ... cayhe dengar sewaktu muda Toa nio sangat cantik sekali bagaimana kini bisa berubah menjadi begini rupa ???."
"Kau tanya belang-belang putih Pada wajah ku ini??."
"Benar, kenapa bisa begitu??."
"Sesudah kau ketahui sebutanku, sudah tentu tahu juga ilmu andalanku yang paling utama bukan ??"
"Tahu"
Sahut Ti Then sambil mengangguk.."Katanya Toa nio paling gemar menyelidiki berbagai macam racun, kau adalah jago ahli di dalam penggunaan racun".
"Belang-belang putih pada wajahku ini akibat dari penyelidikan racun-racun itu."
"Ooooh kiranya begitu"
Seru Ti Then sambil memandang kearah wajahnya.
"Hanya dikarenakan gemar bermain racun mengakibatkan wajah yang cantik menjadi jelek, bukankah hal itu terlalu sayang???"
"Sudah tentu sedikit tidak berharga, hanya saja akhirnya aku berhasil membuat suatu racun yang tanpa bandingan di dalam Bu lim pada saat ini."
"Tapi apa gunanya???"
"Hmm...hmm... jika tidak berguna ini hari kau tidak akan mengikuti aku dengan demikian penurutnya ."
"Aduh... celaka. ."
Teriak Ti Then tiba-tiba.
"Kaki kiriku sudah tidak bisa bergerak lagi."
"Jangan berteriak lagi, nanti sesudah sampai dikuil aku beri kau sedikit obat penawarnya"
Sesaat mereka bercakap cakap itulah mereka berdua sudah memasuki hutan cemara itu.
Kuil bobrok yang dimaksud merupakan kuil gunung yang terletak ditengah tengah hutan cemara itu, walau pun dari luaran kelihatannya sudah rusak dan hampir roboh tapi masih cukup aman untuk digunakan sebagai tempat meneduh dari hujan-Sesampainya di depan kuil itu Ti Then hanya merasakan sepasang kakinya sudah menjadi kaku tidak bisa bergerak lagi, ujarnya kemudian sambil memegang kencang kudanya.
"Aku tidak bisa bergerak lagi."
Nenek iblis penghalang jalan itu segera mencengkeram baju punggungnya kemudian menyeret dia ke dalam kuil tersebut.
Tapi baru saja berjalan hingga ruangan dalam mendadak matanya terbentur dengan sesuatu.
secara mendadak air mukanya berubah sangat hebat teriaknya.
"Bagus sekali, siapa yang tidak tahu diri ..."
Berbicara sampai ditengah jalan mendadak tubuhnya tergetar amat hebat kemudian rubuh terjengkang dengan perlahan kearah depan-Kiranya dia sudah melihat di atas dinding di dalam ruangan kuil itu tertuliskan delapan hurup yang amat besar .
"Nenek iblis penghalang jalan, saat kematianmu sudah tiba."
Hanya saja untuk sesaat lamanya dia sama sekali tidak menduga kalau di dalam kuil itu sudah bersembunyi seorang musuh pada saat dia memaki dengan perasaan gusar bercampur terkejut itulah terlihatlah sesosok bayangan tubuh manusia secara mendadak berkelebat dari belakang pintu kuil, satu kali totokan dengan tepat menghajar jalan darah Yu Ming Hiat pada punggungnya .
Karenanya sebelum dia selesai berbicara tubuhnya sudah rubuh ke atas tanah.
Orang yang bersembunyi di balik pintu kuil kemuuian membokong melancarkan serangan kearah Nenek iblis penghalang jalan itu bukan orang lain melainkan Wi Lian in adanya.
Tubuh Ti Then ikut dengan Nenek iblis penghalang jalan itu rubuh ke atas tanah ujarnya sambil tertawa.
"Sejak tadi sulah kuduga kau bisa berbuat begini."
Sambil tersenyum Wi Lian in membimbing dia bangkit berdiri.
"Bagaimana rasanya sekarang????"
"Seluruh badanku tidak bisa bergerak lagi". Wi Lian In segera membimbing tubuhnya bersandar Pada dinding kuil kemudian membalikan badan nenek iblis penghalang jalan itu, tangannya dimasukan ke dalam sakunya mengambil keluar tiga buah botol kecil yang terbuat dari batu pualam. Terlihatlah di dalam ketiga botol itu berisikan obat-obat bubuk dengan warna kuning, putih serta hitam, Melihat hal itu tanpa terasa lagi dia mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Heeei ..yang mana merupakan obat penawar?"
Tanyanya.
"Lebih baik sadarkan dia terlebih dulu kemudian baru bertanya lebih jelas"
Wi Lian In terpaksa meletakan kembali ketiga buah botol porselen itu, sesudah menotok jalan darah kaku pada tubuh Nenek iblis penghalang jalan itu barulah dia membebaskan jalan darah Yi Ming Hiat nya.
"Hei ..kali ini kau yang sudah menolong jiwaku"
Ujar Ti Then sambil menghela napas panjang.
"seharusnya kali ini aku mengucapkan terima kasih kepadamu"
"Hemm, kenapa sungkan-sungkan begini"
Ti Then tersenyum, dengan cepat dia berganti bahan pokok pembicaraan.
"Nenek iblis penghalang jalan ini sebetulnya merupakan Tok May Jin Han Giok Bwe yang pernah menggetarkan dunia kangouw pada masa yang silam, tentu kau pernah dengar sebutan itu bukan?"
"Oooh"
Jerit Wi Lian in dengan amat terkejut.
"Tapi aku dengar Tok May Jin Han Giok Bwe merupakan seorang yang paling cantik dalam dunia kangouw sedangkan dia kini merupakan seorang nenek yang amat jelek?"
"Dia bilang belang-belang putih pada wajahnya itu merupakan akibat dari percobaannya terhadap obat beracun-"
"Tidak aneh kalau dia sangat lama tidak munculkan dirinya di dalam Bu lim, kiranya dia malu untuk bertemu dengan orang ... Hmm, kau sudah sadar kembali"
"Tidak salah,"
Nenek iblis penghalang jalan itu memang sudah sadar kembali.
Agaknya dia sedang berusaha menggerakkan tubuhnya, terlihatlah pada belang-belang putih pada wajahnya itu memancar keluar sinar merah yang samar-samar.
Makinya dengan amat gusar.
"Budak jelek, kiranya kau"
Wi Lian In segera maju ke depan menggampar pipinya dengan amat keras.
"Ayoh maki lagi, aku segera akan cabut mulutmu" . Terpaksa Nenek iblis penghalang jalan itu mendengus saja tanpa berani memaki lagi.
"Hey aku tanya kau, kau mau mati atau mau hidup???"
Tanya Wi Lian In dengan keren.
"Aku pilih mati, cepat kau turun tangan-"
Wi Lian in menjadi melengak "Kau cari mati??"
"Ehmm... ."
Wi Lian In mengambil kembali ketiga buah botol dari atas tanah, tanyanya.
"Ketiga macam obat bubuk ini yang mana merupakan obat penawar ??"
"Tidak tahu"
Wi Lian In menjadi amat gusar, bentaknya setengah menjerit.
"Kamu tidak mau bilang nanti aku bunuh kau. ."
"Ehmm ..... hemmm tunggu apa lagi ???"
Melihat sifatnya yang ketus seperti batu cadas itu untuk beberapa saat Wi Lian In dibuat serba salah, sambil menggigit kencang bibirnya kemudian baru ujarnya lagi.
"Asal kau mau beritahu botol yang mana berisikan obat penawar, bagaimana kalau aku lepaskan kau?"
"Hemmm ..hemmm ... jangan harap"
Sahut nenek iblis penghalang jalan itu tetap dengan nada yang amat dingin-Wi Lian in dibuat tidak bisa berkutik lagi, terpaksa dia menoleh kearah Ti Then minta pendapatnya.
"Dia tidak mau mengaku botol yang mana berisi obat penawar, lalu bagaimana baiknya?"
"Kau dengar saja perintahku kemudian melaksanakannya . .. sekarang cabut pedangmu."
Wi Lian In menurut dan mencabut keluar pedangnya dari dalam sarung.
"Kemudian ?"
"Kerek keluar biji matanya"
Wi Lian In segera menempelkan ujung pedangnya ke pinggiran kulit mata sebelah kanan Nenek iblis penghalang jalan itu, lagaknya seperti sungguh-sungguh hendak mengorek keluar biji matanya.
Air muka nenek iblis penghalang jalan itu segera berubah pucat pasi bagaikan mayat, teriaknya ngeri.
"Jangan ..aku nanti beri tahu"
"Hmm ..cepat katakan-"
"Bubuk yang kuning adalah obat penawar itu"
"Lalu bagaimana cara menelannya?"
Tanya Wi Lian In lagi sambil menarik kembali pedangnya.
"Hmm . ."
Dengus nenek iblis penghalang jalan itu dengan gemasnya.
"Minumkan satu tetes sudah cukup"
Dengan cepat Wi Lian in mengeluarkan bubuk obat berwarna kuning itu pada telapak tangannya kemudian disodorkan ke hadapan Ti Then-"Kau bukalah mututmu, biar aku yang bantu kau."
"Tidak, berikan dia terlebih dulu"
Wi Lian In berpikir cara ini pun memang benar, maka dengan langkah perlahan dia berjalan kembali ke samping tubuh nenek iblis penghalang jalan itu, bentaknya.
"Buka mulutmu, cepat kau makan dulu obatmu ini"
"Heeei ..sudahlah, tidak kusangka kegagahanku pada masa yang silam harus habis dihari ini..Hoi..bubuk putih itu baru obat penawar yang sebenarnya"
"Nenek busuk."
Maki Wi Lian in dengan gusar.
"Jika bukannya Ti Toako selalu waspada kurang sedikit kau tipu mentah-mentah lagi"
Sehabis berkata dia membuang botol obat berwarna kuning itu ke atas tanah dan mengambil bubuk yang berwarna putih, sesudah mengeluarkan sedikit diangsurkan kedekat mulutnya.
"Ayooh... kau makan dulu obat ini"
Nenek iblis penghalang jalan itu tidak melawan, dengan buka mulutnya lebar-lebar dia menelan habis obat bubuk itu.
Setelah ditunggu beb erapa saat Wi Lian in tetap tidak melihat perubahan apa pun pada dirinya, barulah dia mengeluarkan lagi bubuk itu dan diberikan pada Ti Then-Begitu obat itu masuk ke dalam mulutnya Ti Then segera merasakan suatu hawa dingin merembes masuk ke dalam perutnya kemudian hawa dingin itu berubah menjadi suatu aliran yang amat pangs mengaliri seluruh badannya, dalam hati dla tahu obat itu memang betul-betul obat penawar, tanyanya kemudian-"Hoy nenek iblis penghalang jalan, bubuk kuning itu sebetuinya obat apa?"
"Mie Hun Yok atau obat pembingung sukma, siapa saja yang menelan obat itu segera akan menjadi gila."
"Ehmm ... lalu bubuk hitam itu adalah bubuk sun Hun si Kok hun tersebut?"
Baru saja nenek iblis penghalang jalan itu hendak memberikan jawabannya mendadak seperti sudah mendengar sesuatu air mukanya terlihat berubah sangat hebat sekali, dengan perasaan terkejut bercampur cemas ujarnya.
"Aduh celaka. Hey budak cepat bebaskan jalan darahku, kalian segera akan berubah menjadi setumpukan tulang-tulang putih."
Melihat sikapnya yang sungguh-sungguh dan amat serius tidak urung wi Lian in dibuat merasa terkejut juga, bentaknya.
"Kau jangan omong kosong"
"Benar"
Seru Ti Then juga.
"Hoy nenek iblis penghalang jalan apa arti perkataanmu itu ? Kenapa kalau kita tidak bebaskan jalan darahmu maka kita akan berubah menjadi tulang-tulang putih?"
"Yu Toa Hay sudah bawa kawanan ular berbisanya kemari"
"Sungguh??"
Tanya Ti Then dengan amat terperanyat sehingga hampir-hampir meloncat bangun-"Kenapa aku sama sekali tidak dengar suaranya?"
"Dia masih berada kurang lebih ratusan kaki jauhnya dari kuil ini, sudah tentu kau tidak mungkin bisa dengar."
"Lalu bagaimana kau bisa mendengar suaranya? "
Tanya Ti Then dengan penuh keheranan-"Aku sendiri juga tidak dengar, tapi ketika tadi ada angin yang bertiup datang ditengah tiupan angin itu secara samar-samar membawa bau yang amat amis sekali.
Ular-ular berbisa dari Majikan ular Yu Toa Hay itu aku paling jelas mengetahuinya, hawa itu memang tidak salah lagi bau dari ular-ular berbisanya."
Berbicara sampai di sini dia berhenti sebentar, kemudian sambungnya lagi.
"Cepat bebaskan aku kalau tidak mungkin akan terlambat."
Dengan perlahan Ti Then bangkit dan berjalan keluar dari kuil untuk melihat ujarnya kemudian sambil kembali ke dalam ruangan.
"Tentu dia atur barisan selaksa ularnya terlebih dahulu disekeliling kuil ini dengan perlahan-lahan, jika kau tidak percaya omonganku nanti jangan menyesal"
"Aku bisa percaya omonganmu itu, tapi menunggu sesudah dia munculkan diri baru bebaskan dirimu kiranya juga belum terlambat."
"Tapi sesudah kau melihat munculnya dia saat itu sudah sangat terlambat"
Ujar nenek iblis penghalang jalan itu dengan amat gusar.
"Yaaah ... terserah."
Seru Ti Then sambil angkat bahunya.
"Kemarin pagi aku sudah pernah menyajal ular-ular beracunnya, walau pun aku tergigit oleh ularnya itu tapi tidak selihay apa yang aku duga sebelumnya, aku percaya masih punya kekuatan untuk melawan mereka."
Sebaliknya ketika Wi Lian In mendengar mereka sedang membicarakan soal ular air mukanya tidak terasa berubah menjadi amat murung. ujarnya dengan cemas.
"Kini kau sudah bisa turun tangan belum?"
"Sudah". sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Seluruh badanku sudah bisa bergerak semua. ."
"Hemmm ..hemmm .., kau jangan terlalu tidak pandang barisan selaksa ularnya majikan ular itu."
Timbrung nenek iblis penghalang jalan itu sambil mendengus.."Keadaan pada kemarin pagi aku sudah melihat semuanya, saat itu majikan ular tidak berada di atas bukit itu sedang di atas bukit pun banyak tumbuh bambu dengan lebatnya sehingga kau masih bisa menggunakan ilmu meringankan tubuhmu untuk melarikan diri, tapi situasi pada tempat ini sangat lain-"
Ti Then tersenyum.
"Sekali pun tidak sama aku juga ingin menyajal, melarikan diri bagaimana pun juga bukan suatu cara yang tepat."
"Hemm ... di dalam dunia kangouw saat ini hanya aku seorang yang bisa memecahkan barisan selaksa ularnya Majikan ular itu,jika kau pingin bertempur melawan mereka tentu akan menemui binasa"
Mendengar perkataan itu dalam hati diam-diam Ti Then merasa sedikit bergerak. sambil memandang tajam wajahnya dia bertanya lagi.
"Kau punya cara apa untuk menolak dan memecahkan barisan selaksa ularnya"
"Kau bebaskan jalan darahku dulu, aku segera akan melaksanakannya untuk kalian lihat."
"Tidak."
Sahut Ti Then ketus.
"Kau bicara lebih dulu."
"Kalau aku beritahukan kepadamu kau mau melepaskan aku tidak???"
"Asalkan kau tidak cari gara-gara lagi kepadaku untuk minta kitab pusaka Ie cin Keng yang kau maksud itu sudah tentu aku mau melepaskan kau pergi"
Nenek iblis penghalang jalan menundukkan kepalanya termenung berpikir sebentar kemudian barulah sabutnya.
"Baiklah, bubuk obat berwarna kuning itu bisa melawan barisan selaksa ularnya Majikan ular, cepat kau ambil bubuk itu dan sebarkan disekeliling kuil, dengan demikian kita tidak akan takut lagi terhadap serangan ular-ular berbisa itu." 000000 BAGIAN 19 TI THEN segera memungut botol yang berisikan bubuk bewarna kuning itu, sambil memperhatikan botol tersebut ujarnya.
"Tadi kau bilang isi bubuk kuning ini adalah obat Mie Hun Yok. apa bubuk ini juga bisa digunakan untuk memabokkah ular-ular berbisa?"
"Tidak salah. .."
Sahut nenek iblis penghalang jalan itu sambil mengangguk.
"Bubuk Mie Hun Yok ku itu bisa membuat kesadaran orang menjadi kacau, juga bisa digunakan pula untuk menggilakan binatang-binatang buas."
"Tapi jika ular-ular berbisa itu menjadi gila, bukankah malah semakin sukar untuk menghadapinya? "
"Di dalam bubuk kuning itu sudah aku campur dengan belerang, jika ular-ular berbisa itu mencium baunya belerang mereka tidak akan berani menyerbu ke dalam kuil lagi ... sudahlah, jika kau tidak mau membebaskan jalan darahku, cepatlah sebarkan bubuk kuning itu disekeliling kuil, jangan banyak omong lagi."
Ti Then tersenyum, segera dia meloncat ketengah kuil dan membuang penutup botolnya, sesudah itu barulah menyebarkan bubuk kuning tersebut kesekeliling kuil bobrok itu, di dalam sekejap saja sudah terlihatlah bubuk kuning itu dengan berbentuk lingkaran melingkari kuil itu.
Ujarnya kemudian-.
"Hei nenek iblis penghalang jalan, aku mau beritahu sesuatu urusan kepadamu"
"Hemm ..kau mau ingkari omonganmu"
Dengus nenek iblis penghalang jalan itu dengan amat dingin..
"Bukan, nanti sesudah menghancurkan barisan selaksa ularnya Majikan ular aku segera akan melepaskan kau pergi, aku mau bilang sebetuinya aku tidak memperoleh itu kitab pusaka Ie Cin Keng seperti yang sudah disiarkan di dalam Bu lim, berita itu sengaja disebarkan oleh setan pengecut serta si naga mega Hong Mong Ling dari benteng Pek Kiam Po untuk bertujuan mencelakaiku"
"Hemm ..siapa itu setan pengecut?"
Tanya nenek iblis penghalang jalan itu lagi sambil mendengus.
"Tidak tahu, dia memakai sebuah kerudung dari kain hitam pada wajahnya sehingga tidak kelihatan air muka yang sebetuinya, karena itu aku memanggil dia sebagai si setan pengecut, dia menyelusup masuk ke dalam Benteng Pek Kiam Po menculik pergi nona Wi, akhirnya aku temui mereka dan melukai sedikit kulit kulit kepalanya dan menolong nona Wi kembali, mungkin karena dia tidak bisa mengalahkan aku sengaja sekongkol dengan Hong Mong Ling menyebarkan berita kosong itu, mengatakan aku sudah memperoleh kitab pusaka Ie Cin Keng yang sudah lama hilang itu"
"Aku pernah dengar katanya Hong Mong Ling itu hendak dikawinkan dengan nona Wi ini, bagaimana secara mendadak bisa bentrok dengan pihak Benteng Pek Kiam Po?"
"Soal ini .."
Sahut Ti Then tersenyum.
"Sebenarnya soal ini dikarenakan sifatnya yang jelek dan suka pelesir, sering sekali secara diam-diam dia keluar dari Benteng cari perempuan, berita ini akhirnya diketahui nona Wi sehingga begitulah Wi Pocu di dalam keadaan gusar sudah putuskan hubungan ini, dia mengira akulah yang sudah merusak hubungannya itu karenanya di dalam keadaan gusar sudah melakukan pekerjaan ini"
"Walau pun aku tidak tahu jelas persoalannya, tapi kau memang mungkin sengaja hendak merusak perkawinan mereka"
"Benar atau bukan aku wegah debat dengan kau, asalkan kau mau percaya kalau aku tidak mendapatkan kitab pusaka Ie Cin Keng itu sebentar lagi pasti aku lepaskan kau pergi, setelah itu aku harap kau jangan datang mencari gara-gara lagi kalau tidak jangan salahkan pedangku tidak kenal am pun. Aku sudah bunuh mati tiga orang kini tidak mungkin akan memperlakukan istimewa terhadap dirimu..."
Baru saja dia selesai berbicara mendadak terdengar suara mendesis yang sangat perlahan tapi ramai berkumandang datang dari delapan penjuru angin-Air muka Wi Lian In berubah amat hebat, teriaknya.
"Majikan ular sudah datang"
Dengan perlahan Ti Then mencabut ke luar pedangnya, ujarnya sambil tertawa dingin-"Lebih balk kakek kura-kura Phu Tong song itu pun ikut datang kemari"
Baru saja dia bicara terdengarlah si majikan ular Yu Toa Hay sudah berteriak dengan amat keras dari luar kuil.
"Hey nenek tua yang berada di dalam kuil, cepat keluar untuk bicara"
"Hmmm ... hmmm ... kalau mau buang kentut cepat dilepaskan-balas nenek iblis penghalang jalan itu dengan amat dingin. Majikan ular Yu Toa Hay berdiam sebentar tidak bicara, kemudian ujarnya lagi.
"Kenapa kau tidak keluar"
"Homm ...jika mau temul aku cepat bergelinding masuk. ."
"Ha ha ha ha ... baiklah. ."
Sahut majikan ular Yu Toa Hay sambil tertawa terbahak bahak.
"Kita bicara secara begitu pun boleh juga, sekarang beritahu dulu pada lohu kau menyebut dirimu sebagai Nenek iblis penghalang jalan tapi selamanya Lohu belum pernah mendengar sebutan ini di dalam Bu lim, siapa sebetulnya kau ??"
"Hei manusia jelek jangan berkentut di sana, orang lain mungkin takuti kau sebagai Majikan ular tapi aku tidak akan takut."
"Ha ha ha ... kalau tidak takut kenapa tidak berani keluar untuk bertemu ?"
Dengan perlahan Nenek iblis penghalang jalan itu menoleh kearah Ti Then sambil ujarnya dengan perlahan "
Cepat bebaskan totokan jalan darahku, biar aku keluar menemui bangsat jelek itu"
"Tidak bisa"
Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Jika kau berbalik muka dan berdiri satu garis dengan mereka bukankah menambah kerepotan bagiku."
Nenek iblis penghalang jalan itu menjadi teramat gusar.
"Kau sudah sebarkan bubuk Mie Hun Yok itu disekeliling kuil, masih takut apa lagi?"
Ti Then dengan perlahan menyandarkan tubuhnya ke samping jendela dekat pintu kuil itu untuk melongok ke depan, terlihatlah majikan ular Yu Toa Hay sedang berdiri kurang lebih sepuluh kaki dari kuil bobrok dimana mereka berada, sedang ular-ular beracunnya persis berdiri di depannya menanti perintah penyerbuan, segera dia mengundurkan kembali kesisi nenek iblis penghalang jalan itu sambil sahutnya dengan perlahan-"Ular-ular beracunnya kini berada kurang lebih lima kaki dari bubuk Mie Hun Yok yang kita sebar pada sekeliling kuil ini sedang dia pun masih berdiam diri menanti.
Aku harus menunggu dulu kehebatan dari obat Mie Hun Yok mu itu, jika sudah membuktikan kalau bubuk itu cukup untuk menahan serangan ular-ular itu, barulah aku mau bebaskan dirimu."
"Hmmm . .."
Dengus nenek iblis penghalang jalan itu sedikit mangkel "Kau bangsat cilik sungguh banyak curiga, apa kau kira aku sudah menipu kalian-"
"Hm jika kau tidak pandai menipu orang, aku pun tidak akan terkena racun sue hun si Kok bun mu yang lihay itu"
Baru dia selesai bicara terdengar majikan ular Yu Toa Hay yang berada diluar kuil sudah menggember dengan keras.
"Hoi Nenek jelek, kenapa kau tidak bicara?"
"Mataku sudah mulai mengantuk. malas kalau suruh bicara dengan kau tua bangkotan"
"Kau apakan bangsat cilik itu?"
"Dia belum mati"
"Hei nenek jelek"
Seru majikan ular lagi dengan keras.
"Kau percaya budak itu sungguh-sungguh pergi mengejar kitab pusaka Ie Cin Keng itu untukmu?"
"Sudah tentu"
"Lohu beritahu padamu, kau sudah tertipu"
"Ooh begitu??"
Sahut Nenek iblis pengbalang jalan itu dengan perasaan wegah.
"Pagi ini Kakek kura-kura pernah mengikuti jejak mereka sejak meninggalkan kota Ho Kiang sian makanya ketika kau menghalangi perjalanan mereka kemudian menawan bangsat cilik itu dia sudah melihatnya semua dengan amat jelas, kau kira budak itu sungguh-sungguh pergi mengejar kitab pusaka Ie Cin Keng itu? Ha ha ha....sesudah ampai ditengah jalan budak itu suduh putar jalan menuju kemari, lohu sekali pandang aja sudab tahu kalau budak itu punya maksud untuk menolong orang, karenanya tidak lanjutkan menguntit dirinya. Kemungkinan sekali budak itu kini sudah bersembunyi di dalam kuil itu."
"Kalau betul lalu bagaimana?"
Seru Nenek iblis penghalang jalan itu setengah jengkel.
"Budak itu bukan tandinganku, dia tidak sanggup memukul rubuh aku dia jangan harap bisa memperoleh obat penawar itu."
"Hoy nenek jelek, dari pada kita saling bentrok satu sama lainnya lebih baik kita rundingkan secara bersama-sama saja, sesudah kau memperoleh kitab pusaka Ie Cin keng itu bagaimana kalau kita bertiga sama sama mempelajarinya ??"
"Huei bangsat tidak tahu diri, kau boleh pergi mimpikan impianmu yang lucu itu."
"He he ...jika kau tidak mau menyanggupi terpaksa hanya satujalan kematian yang akan kau terima."
"Kentutmu."
"Cukup lohu meniup seruling ini, maka di dalam sekejap saja badanmu hanya tinggal tulang-tulang putih yang bertumpuk."
"Kentutmu kali ini semakin bau lagi."
Agaknya majikan ular Yu Toa Hay sudah dibuat gusar oleh omongannya yang ketus itu, teriaknya tiba tiba.
"Phu heng, baik-baik jaga belakang kuil, jangan sampai membiarkan nenek jelek ini melarikan diri."
Segera terdengarlah suara sahutan dari kakek kura-kura Phu Tong seng yang agaknya berasal dari belakang kuil.
"Yu heng harap legakan hati, sekali pun nenek jelek itu punya sayap juga jangan harap bisa meloloskan diri"
"Hoy nenek jelek"
Seru Majikan ular lagi dengan keras. ..
"sekali lagi lohu beri waktu bagimu untuk pikir-pikir, jika. ."
"Telur busuk mulut makmu"
Potong nenek iblis penghalang jalan itu sambil memaki..."kau masih punya kepandaian selihay apa silahkan gunakan semua, tidak perlu menggonggong lagi seperti anying busuk ditempat ini. ."
"Baiklah"
Teriak majikan ular dengan amat gusar.
"Kau boleh coba coba rasakan kelihaianku"
Tidak lama kemudian terdengarlah mengalunnya suara irama seruling yang amat merdu berkumandang memenuhi seluruh penjuru tempat.
Ti Then serta Wi Liau Iri dengan tergesa-gesa meloncat ke depan jendela untuk melongok ke depan, terlihatlah kawanan ular-ular beraCun itu setelah mendengar suara irama seruling tersebut segera menjulurkan lidahnya dan mulai bergerak seekor demi seekor mendekati kuil bobrok tersebut.
Sebaris demi sebaris, seekor demi seekor bagaikan adanya berlaksa tentera yang sedang menyerbu terlihat sinar yang sangat menyilaukan mata memancar keluar dari sekitar tanah kuil itu, kurang lebih lima ratus ekor ular berbisa sudah mulai menyerbu datang.
Melihat hal itu tanca terasa lagi bulu kuduk Wi Lian In pada berdiri, ujarnya dengan perlahan.
"Jika bubuk Mie Hun Yok di atas tanah itu tidak mempan, ini hari kita akan alami nasib yang lebih mengenaskan lagi"
"Kau pergilah menyaga pintu belakang"
Ujar Ti Then kemudian-"
Untuk sementara jangan sampai membiarkan kakek kura-kura itu menemui dirimu, tidak perduli bubuk Mie Hun Yok itu mempan atau tidak.
nanti kita serbu mereka secara mendadak supaya mereka menjadi kelabakan setengah mati"
"Ehm . ."
Sahut Wi Lian In sambil mengangguk kemudian dengan sekali lompatan berdiri bersiap-siap di samping jendela dipintu belakang kuil itu, Beratusan ekor ular berbisa bagaikan riak ombak di tengah sungai dengan dahsyatnya mulai mendekati kuil itu lagi.
Suara irama seruling yang bergema semakin lama semakin cepat, sedang gerakan ular itu pun semakin lama semakin cepat bagaikan kilat, di dalam sekejap mata saja ular-ular beracun yang paling depan sudah mendekati lingkaran bubuk Mie Hun Yok yang tersebar disekeliling kuil itu.
Begitu ular-ular beracun itu mencium bau dari bubuk Mie Hun Yok bagaikan baru saja terkena percikan api seketika itu juga putar tubuh dan berputar balik ke belakang.
Jika dipandang dari tempat kejauhan pemandangan tersebut persis seperti ombak yang memukul pantai kemudian membalik lagi.
Tapi walau pun begitu tidak seekor pun dari ular-ular beracun itu yang berhasil melewati garis tersebut.
Melihat hal itu majikan ular Yu Toa Hay menjadi amat terperanyat, dengan cepat dia menghentikan tiupan serulingnya.
"Phu heng, bagaimana keadaan di belakang?"
"Keadaannya tidak menguntungkan-.."
Seru Kakek kura-kura yang berada di belakang kuil dengan amat terkejut.
"Ular-ularmu itu pada bentrok dan saling membunuh sendiri"
"Neneknya."
Teriak majikan ular dengan amat gusar.
"Tentu nenek jelek itu sudah sebarkan suatu barang disekeliling kuil itu .... anying kentut maknya"
Dengan cepat dia melintangkan serulingnya kembali membunyikan irama yang lain, agaknya dia mau menarik tenteranya itu Tapi ular-ular beracun itu sudah kehilangan kendalinya oleh sebab pengaruh obat Mie Hun Yok tersebut, begitu mendengar suara seruling itu selain diantara sebagian kecil yang berhasil meloloskan diri dari bencana, sebagian besar ular-ular beracun itu sudah pada bentrok dan saling membunuh diantara sesamanya, suasana menjadi sangat ramai sekali.
Melihat ular-ular berbisanya tidak mau mendengar perintah, Majikan ular Yu Toa Hay semakin gusar bercampur terkejut, sambil meloncat-loncat menahan hawa amarahnya dia berteriak dengan keras.
"Hoy, nenek bangsat. Kau menggunakan barang apa mengganggu ular-ular lohu itu?"
"Hahahaha menggunakan bekas air pencuci kaki makmu"
Majikan ular Yu Toa Hay tidak bisa menahan kegusarannya lagi, sambil mengaum keras sekali lompat menerjang kearah kuil itu.
Ti Then begitu melihat dia menerjang ke dalam kuil dengan cepat jari tangannya melancarkan totokan membebaskan jalan darah kaku pada badan nenek iblis penghalang jalan itu, kemudian sekali lagi meloncat ke balik pintu untuk bersembunyi.
"Braaaakl ."
Dengan menimbulkan suara yang amat keras pintu kuil itu terlempar jauh terkena tendangan dahsyatnya.
Waktu itu darah yang mengalir di seluruh badan nenek iblis penghalang jalan itu belum lancar kembali, karena dia belum punya tenaga untuk merangkak bangun, terlihatlah sengaja dia rebah terlentang di dalam kuil dan pura-pura pejamkan matanya.
Begitu majikan ular Yu Toa Hay berhasil menendang rubuh pintu kuil sekali pandang saja dia sudah melihat nenek iblis penghalang jalan yang rebah di atas tanah itu, dia tidak tahu kalau sebelumnya nenek iblis panghalang jalan itu tertotok jalan darahnya, melihat sikapnya yang tidak pandang musuh dalam hati dia menganggap dia sengaja berbuat begitu, sehingga mau tak mau dia dibuat tertegun-juga, teriaknya dengan keras.
"Nenek bangsat. Cepat bangun, lebih baik kita tentukan siapa yang kuat siapa yang lemah saat ini juga."
"Eh ... eh ... ."
Seru nenek iblis penghalang jalan itu dengan setengah jengkel "Dari tadi aku sudah bilang kalau bicara sedikit perlahan, aku sudah mau tidur kau ganggu lalu ..hei bangsat tua kau mau berbuat apa"
Majikan ular Yu Toa Hay begitu melihat dia tidak pandang sebelah mata pun kepada dirinya saking gusarnya air mukanya tanpa terasa sudah berubah merah padam dengan melototkan sepasang matanya bentaknya dengan keras.
"Ayoh bangun, kalau tidak jangan salahkan lohu turun tangan terlebih dulu."
Nenek iblis penghalang jalan yang melihat Ti Then bersembunyi di balik pintu kuil segera dalam hati tahu kalau keadaannya tidak berbahaya.
Segera dia balikkan tubuhnya dengan wajah menghadap ke belakang ujarnya dengan perlahan.
"Oooh bagus sekali, coba punggungku ini gatal cepat garukkan yang keras."
Bagaimana pun juga pengalaman majikan ular itu amat luas, melihat dia berbuat begitu segera tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres, karenanya dia tidak berani langsung masuk ke dalam kuil, melainkan dengan berdiam diri di depan kuil sepasang matanya menyapu sekejap ke sekeliling ruangan itu, tanyanya dengan suara berat.
"Dimana bangsat cilik itu"
"Sudah aku telan hidup,hidup,"
Sahut nenek iblis penghalang jalan itu seenaknya.
"Nenek bangsat bagus sekali perbuatanmu, lohu mau lihat seberapa tinggi kelihayanmu"
Ditengah suara bentakan tangan kanannya diayunkan dengan menggunakan seruling iblis ditangannya sebagai senyata rahasia, dengan dahsyatnya dia menyambit mengarah punggung nenek iblis penghalang jalan itu.
"Sreeeet"
Suara yang amat memekikkan telinga bergema di dalam ruangan kuil itu.
Sepasang tangan nenek iblis penghalang jalan itu segera menekan tanah, tubuhnya dengan cepat melayang kurang lebih tiga depa ke atas menghindarkan diri dari sambitan seruling iblis itu kemudian dengan sedikit mengubah gerakan dengan ringannya dia melayang ke bawah kembali dengan sikap bersila, dengan air muka penuh senyuman mengejek ujarnya.
"Hey Yu Toa Hay. Kau sungguh begitu tidak mampu"
"Hmm . ."
Dengus Yu Toa Hay dengan amat dingin.
"Lohu masih mengira kau tidak berani ambil keputusan-"
"Ayoh kalau berani masuk ke sini"
"Kau yang keluar."
Bentak majikan ular Yu Toa Hay sambil mengetukkan tongkat berkepalakan ular itu ke atas tanah.
"Lapangan diluar sangat lebar kalau kau berani, ayoh keluar kita bertanding di luar."
Mendadak ....
suara teriak aneh dari kakek kura-kura Phu Tong Seng berkumandang keluar dari belakang kuil,jika didengar dari suara jeritan itu jelas dia sudah menemui serangan yang diluar dugaannya.
Air muka majikan ular segera berubah sangat hebat, dengan cemas teriaknya.
"Phu heng kau kenapa?"
Terdengar suara bentrokkan senyata tajam yang sangat ramai diiringi dengan bentakan nyaring berkumandang datang, kemudian terdengar suara teriakan dari kakek kura-kura Phu Tong Seng itu.
"Yu heng, budak itu berada di sini . ."
Ti Then yang mendengar Wi Lian In sudah turun tangan melawan kakek kura-kura dalam hati segera merasa kuatir, dia tahu dengan kepandaian silat Wi Lian In sekarang masih bukan tandingar dari kakek kura-kura itu, jika bertempur lama kelamaan dia pasti akan kalah, karenanya dia tidak berani berlaku ayal lagi, dengan perlahan dia putar tubuh keluar dari balik pintu itu.
Majikan ular yang melihat munculnya Ti Then secara mendadak dari balik pintu dalam hati betu1-betul merasa sangat terkejut sekali, dengan tergesa gesa dia meloncat mundur ke belakang.
Tapi ....
hampir bersamaan waktu sepasang kakinya meninggalkan permukaan tanah untuk mengundurkan diri ke belakang, serentetan sinar pedang dengan amat cepatnya sudah berkelebat di depan tubuhnya.
"Aduh..."
Suatu jeritan yang amat mengerikat segera berkumandang keluar dari mulutnya.
Tubuhnya melanjutkan gerakannya meloncat mundur ke belakang, sedang sebuah lengan kirinya beserta tongkat berkepala ular yang sudah terputus menjadi dua menggeletak jatuh tepat di depan pintu kuil.
Kakek kura-kura yang sedang bertempur amat seru dengan Wi Lian In di belakang kuil ketika mendengar suara jeritan ngeri dari majikan ular dengan cepat segera tanyanya.
"Yu heng, kenapa kau?"
Majikan ular tetap tidak menyawab, dengan menahan memancarnya darah segar dari lengan sebelah kirinya dengan cepat dia balik tubuh dan melarikan diri dari sana.
Bersamaan waktu itu juga Ti Then pun meloncat setinggi tiga kaki melewati kuil bobrok itu dan meloncat turun ke belakang lapangan kuil itu.
Terlihatlah Wi Lian In sedang bertempur amat seru melawan kakek kura-kura Phu Tong seng, lengan kiri kakek kura-kura itu terlihatlah basah oleh darah yang mengalir keluar, kelihatannya luka itu berasal dari tusukan Wi Lian In yang menyerang secara tiba-tiba.
Tapi dikarenakan luka itu bukan tempat yang penting maka tidak sampai membahayakan jiwanya.
Saat ini tongkat kayunya diputar dan dimainkan dengan amat dahsyat sekali, angin sambaran yang menderu membuat pasir pada beterbangan memenuhi angkasa ternyata dia berhasil merebut kedudukan di atas angin.
Tapi ..ketika dilihatnya Ti Then munculkan diri dari balik kuil itu semangat bertempurnya seketika itu hilang lenyap tersapu dari dalam badannya.
Dia tahu kelihayan dari Ti Then dan bisa menduga tentu majikan ular sudah terluka ditangan Ti Then, karena itulah begitu melihat munculnya Ti then di sana dia tidak berani bertempur lebih lama lagi, tongkatnya dibabat ke depan kemudian meloncat keluar dari lingkaran kalangan siap untuk melarikan diri.
Melihat hal itu Ti Then tertawa keras, teriaknya .
"Hey kura-kura tua, mau melarikan diri mudah saja, tapi lengan kirimu itu harus kau tinggal"
Berkatanya belum selesai tubuhnya sudah meloncat ketengah udara, kemudian menubruk kearahnya.
Walau pun kakek kura-kura itu melarikan diri terlebih dahulu tapi bagaimana pun juga ilmu meringankan tubuhnya bukan tandingan Ti Then, belum beberapa jauh dia sudah tersusul oleh Ti Then, terpaksa dia balikkan tubuhnya untuk memberi perlawanan.
Dengan seenaknya Ti Then melancarkan serangannya sejurus demi sejurus tak putus-putusnya memaksa kakek kura-kura itu setiap kali mundur satu langkah ke belakang, ketika sampai pada jurus yang ketiga puluh mendadak terdengar Ti Then membentak keras.
"Kena !"
Lengan kiri kakek kura-kura itu dengan diiringi suara bentakannya itu terlepas dari tempat semula.
Dia menjadi melengak untuk beberapa saat lamanya kemudian baru menjerit ngeri, tubuhnya dengan sempoyongan mundur beberapa langkah kemudia tak tahan lagi terjatuh ke atas tanah dengan amat keras.
Ti Then tidak melanjutkan serangannya lagi, sambil mengibas-ibaskan pedang ujarnya.
"Cepat pergi, kalau tidak nyawamu pun segera kucabut sekalian!"
Dengan menahan perasaan sakit kakek kura-kura itu menggunakan tangan kanannya menutupi bekas luka itu kemudian dengan menundukkan kepala melarikan diri dengan cepatnya dari sana.
Dengan demikian pertempuran pun sudah berakhir, di atas tanah hanya tertinggal ular-ular beracunnya majikan ular Yu Toa Hay yang sedang saling gigit menggigit dengan amat serunya, membuat orang yang melihat pemandangan itu tidak terasa bergidik juga.
Dengan perlahan Wi Lian In menggunakan tangannya membereskan rambutnya yang terurai tidak karuan, ujarnya dengan perlahan.
"Majikan ular itu juga kau kutungi lengan kirinya?"
"Benar, manusia semacam mereka ini walau pun binasa juga tidak ada harganya, tapi Thian maha agung dengan terputusnya satu lengan mereka kemungkinan sekali sejak kini tidak berbuat jahat lagi"
Wi Lian In memandang lagi kearah bangkai-bangkai ular beracun yang saling bunuh membunuh itu, ujarnya sambil tertawa.
"Bubuk Mie Hun Yok-nya nenek iblis penghalang jalan itu amat lihay sekali, dimana dia sekarang?"
"Masih berada di dalam kuil"
"Kau punya maksud berbuat apa terhadap dia?"
"Lepaskan saja !"
"Itu pun baik juga"
Sahut Wi Lian In sambil berjalan menuju ke dalam kuil.
"Tidak perduli bagaimana pun juga jika tidak ada bubuk Mie Hun Yok-nya itu barisan selaksa ularnya majikan ular juga tidak bisa kita pecahkan dengan demikian mudahnya"
Kedua orang itu dengan perlahan berjalan ke depan kuil kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan, tapi seketika itu juga mereka dibuat tertegun.
Kiranya nenek iblis penghalang jalan itu sudah tidak berada lagi di dalam kuil itu.
"Hemm..larinya sungguh amat cepat"
Seru Wi Lian In sambil tertawa.
"Mungkin dia takut kita ingkar omongan kita karenanya secara diam-diam sudah melarikan diri"
"Ayoh..kita pun harus pergi juga"
Ujarnya kemudian sambil putar tubuh berjalan keluar dari dalam kuil.
"Kuda Ang San Khek-mu itu?"
"Aku tambat di pohon cemara di belakang kuil"
Kuda tunggangan Ti Then berada tepat di bawah tangga depan kuil itu, dengan menggunakan pedangnya dia menyingkirkan bangkai-bangkai ular berbisa disekitarnya kemudian dengan menuntun kuda tunggangnya meninggalkan tempat itu.
Kedua orang itu sesudah menemukan kembali kuda Ang San Khek yang ditambat di belakang kuil barulah bersama-sama meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanan ke depan.
"Heei..."
Ujar Wi Lian In di tengah perjalanan.
"Majikan ular, kakek kura-kura serta nenek iblis penghalang jalan sudah bisa kita lalui, entah selanjutnya masih ada siapa lagi yang datang mencari gara-gara?"
"Siapa tahu? Aku sangat mengharapkan bisa memperoleh keterangan kitab pusaka Ie Cin Keng itu"
"Ilmu silat yang termuat di dalam kitab pusaka Ie Cin Keng itu belum tentu lebih tinggi dari kepandaian silatmu sekarang ini, kau mendapatkannya buat apa?"
"Berikan orang lain"
Wi Lian In menjadi melengak.
"Apa arti perkataanmu?"
"Jika kitab pusaka Ie Cin Keng itu aku berikan kepada orang pertama yang datang merebut, maka orang-orang dari Bu-lim lainnya segera akan tahu kalau aku tidak ada kitab pusaka Ie Cin Keng lagi, dengan begitu mereka pun tidak akan datang mencari gara-gara lagi"
Mendengar penjelasannya itu Wi Lian In baru paham, tanpa terasa dia tertawa geli ujarnya.
"Cara ini bagus sekali, bagaimana kalau kita buat se
Jilid kitab pusaka Ie Cin Keng yang palsu kemudian diberikan kepada orang lain?"
"Tidak bisa..."
Sahut Ti Then cepat sambil gelengkan kepalanya.
"Hal ini semakin merepotkan kita"
"Untung saja tiga hari lagi kita akan tiba di rumah, asalkan sudah berada di dalam benteng Pek Kiam Po kita tidak akan takut urusan lagi.
"Aku kira belum tentu, masih ada orang-orang dari Anying Langit Rase Bumi serta hwesio-hwesio dari Siuw lim pay harus kita hadapi"
"Soal itu gampang sekali kita selesaikan"
Ujar Wi Lian In sambil tertawa.
"Orang-orang dari Anying Langit Rase Bumi bisa kita selesaikan dengan mengandalkan kepandaian silat, sedangkan hwesio-hwesio dari Siauw lim aku kira dengan kedudukan ayahku di dalam Bu-lim perkataannya bisa dipercaya oleh mereka"
"Heeeei...semoga saja memang demikian"
Kuda tunggangan mereka berdua dengan cepatnya melanjutkan perjalanan ke depan, tidak lama kemudian sampailah mereka di depan sebuah kota yang cukup besar, Tanya Ti Then kemudian.
"Ini kota Kiong An bukan?"
"Ehmm..benar"
"Malam ini kita istirahat dulu di dalam kota,besok pagi kita lanjutkan perjalanan kembali"
Wi Lian In angkat kepalanya memandang sekejap keadaan cuaca, ujarnya kemudian.
"Jarak hingga hari gelap masih ada setengah jam, kita masih bisa melanjutkan perjalanan sejauh sepuluh lie"
Ti Then tersenyum.
"Sebelum hari gelap carilah penginapan, kokokan ayam jago tanda pagi hari tiba, pernahkah kau dengar perkataan ini?"
"Kepandaian silatmu sangat lihay, kita takut apa lagi?"
Ti Then tersenyum lagi.
"Aku teringat akan petunjuk dari ayahku, menemui jembatan turunlah dari kuda, menemui tebing janganlah berebut, menginap waktu hujan turun hati-hati orang yang berjalan malam, kokokan ayam jago menandakan pagi hari, jika bisa mengikuti perkataan ini maka selama mengadakan perjalanan tidak akan menemui bencana."
"Baik..baik..mari kita menginap dulu di dalam kota malam ini"
Hari lewat dengan amat cepatnya, tidak terasa tiga hari sudah dilewati tanpa terjadi suatu urusan apa pun.
Malam hari itu kedua orang akhirnya sampai juga ke dalam Benteng Pek Kiam Po dengan selamat.
Wi Ci To itu pocu dari Benteng Pek Kiam Po begitu mendengar putrinya kembali dengan selamat menjadi amat gembira sekali, dengan cepat dia menyambut sendiri kedatangan mereka, ujarnya dengan girang sambil mencekal kencang tangan putrinya.
"In-ji, kau tidak terluka bukan?"
Saking girangnya Wi Lian In tidak bisa menahan menetesnya titik-titik air mata, sahutnya dengan girang.
"Tidak Tia, kau lihat putrimu baik baik bukan?"
Wi Ci To mencekal kencang juga tangan Ti Then, dengan menahan penuh berterima kasih ujarnya."Ti Kauw tauw, lohu entah harus berbuat bagaimana untuk mengucapkan terima kasih ini ..."
"Hal ini adalah kewajiban boanpwe, harap Pocu jangan pikirkan di dalam hati. ."
Dengan menggandeng tangan Ti Then serta putrinya Wi Ci To segera balik tubuh berjalan kembali ke dalam Benteng.
"Ayoh jalan, kita bicara di dalam saja"
Tua muda tiga orang segera berjalan masuk keruangan dalam dan duduk saling berhadap-hadapan.
Ti Then tahu tentunya dia ingin sekali mengetahui kejadian yang sudah terjadi, segera dia menceritakan dengan amat jelas seluruh kejadian serta peristiwa yang terjadi ditengah jalan.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 12.1 . Si Setan Pengecut orang dalam Benteng? Mendengar kisah itu Wi Ci To menjadi terperanyat.
"Jika begitu"
Ujarnya sembari menghela napas panjang.
"Sekarang semua orang sudah anggap kau orang yang mendapatkan kitab pusaka Ie cin Keng itu ??"
"Benar"
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Hemmm"
Dengus Wi Ci To dengan teramat gusar, sepasang kepalannya diremas remas dengan keras.
"Tidak kusangka Hong Mong Ling bangsat cilik itu berani cari gara-gara, sungguh manusia terkutuk."
"Tia."
Seru Wi Lian In menambahkan "Apakah pendekar pedang merah yang kau kirim keluar apa sudah ada berita??"
"Tidak ada . ."
Sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Paman Huang Puh??"
"Dia pun tidak ada beritanya."
"Tia"
Seru Wi Lian In kemudian dengan perlahan-"Kau keluarkan perintah seratus pedang lagi panggil mereka semua pulang."
"Baiklah"
Ujar wi Ci To sambil mengangguk.
"Tidak sampai lima hari lagi dari pihak Anying langit Rase bumi tentu akan datang mengacau. ."
"Boanpwe sudah bilang dengan jelas kepada Menteri pintu pembesar jendela itu"
Ujar Ti Then tiba tiba.."Orang-orang Anying langit Rase bumi boleh datang ke Benteng Pek Kiam Po cari boanpwe tapi tidak diperkenankan mengganggu orang-orang Benteng Pek Kiam Po, karena itu jika tiba waktunya biarlah boanpwe seorang diri yang menghadapi mereka."
"Jika Ti Kiauw tauw bicara begitu malah menganggap kami sabagai orang luar saja, sekarang urusanmu merupakan urusanku juga, siapa yang tidak puas kepadamu sama saja seperti tidak merasa puas kepada Lohu."
Berbicara sampai di sini pada air mukanya tampil suatu senyuman yang teramat dingin, tambahnya.
"Padahal orang-orang dari golongan Anying langit rase bumi seharusnya dibasmi secepat mungkin, dahulu Lohu ragu-ragu untuk turun tangan karena anak buah mereka terlalu banyak. kini ada Ti Kiauw tauw yang membantu boleh dikata sudah waktunya untuk membasmi kejahatan demi keamanan Bu lim."
"Boanpwe rasa pihak Anying langit Rase bumi masih mudah untuk dibereskan"
Ujar Ti Then perlahan "Sebaliknya hwesio-hwesio dari Siauw lim malah merupakan persoalan yang paling sukar, Boanpwe tidak bisa mengakui kalau sudah dapatkan itu kitab pusaka Ie cin Keng, merasa tidak enak juga untuk melawan mereka ..."
"Ti Kiauw tauw tidak usah kuatir"
Ujar Wi Ci To sambil tersenyum.
"Ciangbunyin dari partai Siauw lim, Yuan Kuang Thaysu jadi orang berpikiran luas dan turut aturan bahkan sangat cocok dengan lohu, sampai waktunya biarlah lohu mewakili Ti Kiauw tauw jelaskan duduknya persoalan"
"Aku hanya takut dia tidak mau percaya"
Ujar Ti Then sambil tertawa pahit.
"Jika dia tidak mau percaya"
Ujar Wi Ci Tao dengan air muka serius..
"Sama saja tidak pandang diri lohu"
"Setiap urusan yang menyangkut harta benda selamanya sukar untuk dijelaskan, jika Yuan Kong Thaysu sampai tidak percaya omongan pocu hal ini tidak bisa salahkan dia. Menurut pendapat boanpwe terpaksa kita harus perlihatkan sedikit bukti."
Dengan pandangan yang amat tajam Wi Ci To memperhatikan wajahnya.
"Bukti dari mana??"
Tanyanya.
"Tawan si setan pengecut atau Hong Mong Ling"
"Ehmm ...jika berhasil menawan mereka berdua hal itu sangat tepat sekali"
Sahut Wi Ci To sambil mengangguk.
"Tapi kini mereka bersembunyi dimana?"
"Menurut omongan Nona Wi kepandaian silat dari setan pengecut itu amat tinggi sekali"
Ujar Ti Then dengan wajah serius.
"Untuk menawan dia bukanlah suatu urusan yang gampang. Tapi seluruh pendekar pedang merah dari Benteng kita kini masih berkeliaran diluaran, jika mereka bisa bertemu dengan Hong Mong Ling mungkin bisa berhasil tawan dia pulang"
"Jadi maksud Ti Kiauw tauw tidak menyetujui lohu untuk panggil semua pendekar pedang merah pulang?.."
"Benar"
Sahut Ti Then-"Kita bisa mengganti dengan satu perintah seratus pedang yang lain, perintahkan mereka untuk menyelidiki jejak dari Hong Mong Ling"
"Tapi dengan begitu jika orang-orang Anying Langit Rase Bumi datang menyerbu secara besar-besaran, dengan kekuatan kita beberapa orang mungkin tidak sanggup untuk menahan serangan mereka"
Bantah Wi Ci To.
"Tujuan dari orang-orang Anying Langit Rase Bumi hanya kitab pusaka Ie Cin Keng serta diri boanpwe, sampai waktunya asalkan Pocu tidak ikut campur aku kira mereka tidak akan berani menyalahi orang-orang Benteng Pak Kiam Po"
"Tapi. ."
Bantah Wi Ci To lagi.
"dengan kekuatan kau seorang mana mungkin melawan mereka suami istri???"
"Boanpwe percaya masih sanggup untuk melawan mereka"
Seru Ti Then tegas.
"Kalau begitu baiklah"
Sahut Wi Ci To kemudian sesudah berpikir beberapa saat lamanya.
"Nanti Lohu keluarkan perintah seratus pedang lagi suruh mereka menawan Hong Mong Ling ....kau sudah makan belum???"
"Belum"
Sahut Wi Lian In yang berdiri di samping dengan cepat.
"Cepat-cepat ingin pulang sampai makan siang pun belum oooh ... sungguh lapar sekali"
Melihat tingkah laku putrinya, Wi Ci To tersenyum.
"Kalau begitu cepat pergi dahar"
Ujarnya. -0000000-"Ayoh jalan-"
Ujar Wi Lian In sambil menoleh kearah Ti Then.
"Kita pergi dahar."
Dengan jalan berdampingan Ti Then serta Wi Lian In berjalan keluar dari ruangan-Wi Ci To yang melihat kerapatan hubungan mereka mendadak terbayang suatu perasaan yang teramat aneh, air mukanya segera terlintas suatu senyuman yang amat girang sekali.
"Apa ini yang dinamakan jodoh?"
Pikirnya di dalam hati.
"Kalau tidak bagaimana bisa muncul urusan seperti ini? Dengan perlahan lahan, urusan ini tidak bisa cepat-cepat . ."
Dengan perlahan dia berjalan keluar ruangan dan kumpulkan beberapa orang pendekar pedang merah yang masih tersisa di dalam Benteng, perintah seratus pedang segera dikeluarkan dan diumumkan setelah itu memberi peringatan yang tegas kepada pendekar pendekar pedang hitam serta putih untuk siap berjaga-jaga kemungkinan pengacauan orang-orang Anying langit Rase bumi, setelah itu barulah dia kembali ke dalam kamar bukunya.
Ti Then serta Wi Lian In sehabis dahar masing-masing kembali ke dalam kamarnya masing-masing untuk beristirahat.
Itu pelayan tua si Locia ketika melihat dia pulang menjadi amat girang sekali.
"Ti Kiauw tauw"
Serunya sambil maju memberi hormat.
"Kau sudah pulang?"
Ti Then tersenyum.
"Ehmmm ..."
Sahutnya sambil mengangguk.
"Kau baik-baik saja bukan Lo-cia."
"Aku dengar Ti Kiauw-tauw berhasil tolong sio-cia pulang??"
Tanya si Locia sambil tertawa-tawa.
"Tidak salah"
Sahut Ti Then tersenyum, dengan perlahan dia duduk ke atas pembaringan-"Yang menculik nona adalah seorang yang berkerudung, tujuan orang itu ternyata berada pada diriku karenanya belum sampai beberapa hari aku keluar dari Benteng sudah berhasil menemukan mereka"
Lalu diceritakannya kisah yang sudah terjadi itu sekali lagi.
"Heeei ... Untung saja sio-cia kita belum sampai dijodohkan dengan dia..."
Ujar si Lo-cia sambil menghela napas panjang.."Tidak kusangka Hong Mong Ling adalah seorang manusia berhati binatang."
Ti Then hanya tersenyum tidak ambil komentar. sekali lagi Lo-cia menghela napas panjang, beberapa saat kemudian dengan wajah penuh senyuman dia mendekati diri Ti Then-"Ti Kiauw-tauw"
Ujarnya dengan perlahan-.
"Kali ini kau berhasil tolong nyawa sio-cia kita, pocu kami tentu akan mengucapkan terima kasihnya kepadamu"
"Jika bukannya setan pengecut itu hendak memaksa aku, sio-cia belum tentu diculik pergi"
Ujarnya perlahan-"Bencana berasal dari aku sendiri maka itu penghargaan dari Pocu tidak bisa aku terima"
"Maksudku bukan begitu . ."
Bantah si Lo-cia ketika mendengar Ti Then sudah salah tangkap arti perkataannya.
"Menurut dugaan budak tuamu, Pocu kami bisa jodohkan sio cia kepadamu"
Terhadap perkataan dari Lo-cia Ti Then sama sekali tidak merasa diluar dugaan, tapi tidak urung hatinya terasa tergetar juga.
"Jangan omong sembarangan"
Bentaknya segera dengan serius.
"Hal ini sungguh-sungguh"
Ujar Lo-cia lagi sambil tertawa terkekeh-kekeh dengan keras.
"Ti Kiauw tauw masih muda lagi berwajah tampan, kepandaian silatnya pun amat tinggi, jika pocu kami mau cari menantu lagi maka pilihannya tentu jatuh pada diri Ti Kiauw tauw"
"Sudah, sudahlah"
Seru Ti Then sambil tertawa pahit.
"Kau tidak usah bilang lagi"
Perkataannya belum selesai mendadak Wi Lian In sudah muncul di depan pintu kamar.
"Urusan apa yang tidak usah bilang lagi?"
Sambungnya sambil tertawa.
"Tidak apa-apa ..tidak ada apa-apa . ."
Seru Ti Then dengan gugup, cepat-cepat dia bangkit berdiri untuk menyambut kedatangan nona itu.
Melihat air muka Ti Then yang amat rikuh serta malu Wi Lian In jadi semakin heran, dia menoleh kearah Lo cia sambil tanyanya.
"Lo cia kalian sedang bicarakan soal apa??"
"Ti ... tidak apa apa hi hi hi . ."
Ujar Lo cia sambil goyangkan tangannya berulang kali.
"Cepat bilang. ."
Bentak Wi Lian In sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah matanya melotot keluar menunjukkan perasaan marahnya.
"Jika tidak mau bilang awas aku kasih hukuman mengambil air seratus pikul"
"Aduh"
Seru Lo-cia sambil leletkan lidahnya.
"Ambil air seratus pikul??? am pun . ."
"Seharusnya kau tahu sifatku ini"
Teriak Wia Lian In sambil bertolak pinggang "Aku bilang satu yah satu."
"Sio cia"
Seru Lo cia sesudah menelan ludah.
"Kau paksa budakmu harus bilang, budakmu tidak berani membantah hanya saja sesudah aku bilang sio cia janganlah marah"
Wi Lian In tersenyum.
"Tentu aku tidak marah, cepat katakan"
Ujarnya. si Lo cia melirik sekejap kearah Ti Then, sesudah berbatuk batuk barulah ujarnya sambil tertawa.
"Tadi budakmu sedang bergurau dengan Ti Kiauw tauw, budakmu bilang sesudah dia berhasil menolong nyawa sio-cia, tentu pocu bisa membalas budi ini sebaik-baiknya . ."
"Seharusnya memang begitu"
Seru Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.
"Memang tidak salah"
"Lalu bilang apa lagi?"
Tanya Wi Lian In kurang sabaran.
"Kemudian-. Eh mm ..kemudian-."
Jawab Lo-cia dengan terputus-putus.
"Budakmu bilang pocu .... mungkin bisa ..bisa menjodohkan ... menjodohkan sio cia ..kepada ..kepadanya. ."
Air muka Wi Lian In segera berubah menjadi merah padam saking malunya.
"Bagus"
Bentaknya sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah.
"Kau berani omong sembarangan, aku ..aku . ."
Sambil berkata dia meloncat masuk ke dalam kamar dan memperlihatkan gaya mau memukul. Dengan cepat Lo-cia bungkukkan badannya dan lari keluar dengan cepat.
"Aduh ... am pun ..am pun-."
Teriaknya dengan keras.
"Aku sudah bilang sungguh-sungguh, kenapa kini mau dipukul?"
"Cepat pergi menyapu bersih halaman luar, kalau tidak aku tidak akan am puni kau"
Bentak Wi Lian In lagi dengan merdunya.
si Lo cia segera menyahut dan mengundurkan diri dari kamar.
Sesudah itu barulah Wi Lian In menoleh kearah Ti Then, dengan wajah yang sudah berubah merah dadu ujarnya sambil tersenyum malu.
"Budak tua itu sungguh ... sungguh keterlaluan-kau bilang betul tidak?"
"Benar, sedikit pun tidak salah"
Sahut Ti Then sambii mengangguk.
"Kalau begitu biar aku laporkan urusan ini kepada Tia biar dia dimaki habis-habisan-"
Ujar Wi Lian In dengan manyanya.
"Baik. ."
Wi Lian In menjadi melengak.
"Tapi. ."
Ujarnya sambil tertawa paksa.
"Mengingat usianya yang sudah lanjut dan selamanya belum pernah melakukan pekerjaan yang salah biar kita am puni satu kali ini, kau bilang bagaimana?"
"Bagus sekali. ."
Melihat sikapnya yang seperti kehilangan semangat tak tertahan lagi Wi Lian In tertawa geli.
"Kau kenapa?"
Tanyanya.
"Tidak apa-apa"
Seru Ti Then sambil tertawa paksa. Wi Lian In menoleh untuk melihat sekejap keadaan sekelilingnya setelah itu baru menggape sambil ujarnya dengan suara yang lirih.
"Kau kemarilah, aku ada perkataan yang mau kutanyakan-.."
"Urusan apa??"
Tanya Ti Then sambil maju dua langkah ke depan-"Kau majulah lagi."
Ti Then maju lagi satu langkah, tanyanya sambil tertawa.
"Urusan apa ?"
"Kau kemari lebih dekat lagi"
Seru Wi Lian In sambil tersenyum malu.
Terpaksa Ti Then maju lagi satu langkah ke depan, kini dia sudah berdiri saling berhadapan dengan dia dalam jarak tidak lebih dari satu depan, terasa napasnya yang berbau harum menusuk hidung membuat kepalanya terasa pening.
"Sebetulnya urusan apa?"
Tanyanya sambil tertawa malu.
sebelum bicara wajah Wi Lian In sudah berubah menjadi merah padam, mulutnya komat-kamit mau mengucapkan sesuatu tapi tidak jadi matanya melirik ke wajah Ti Then kemudian ujarnya sambil tertawa malu.
"Aku tidak mau bilang"
Selesai berkata dia putar tubuh dan lari keluar.
Ti Then hanya bisa tertawa pahit ketika melihat sikapnya itu, segera dia mengundurkan diri ke atas pembaringan dan merebahkan diri untuk beristirahat.
Kini dia berpikir.
"Akhirnya aku berhasil menolong Wi Lian In kembali ke dalam Benteng Pek Kiam Po, tapi sekarang juga harus melaksanakan tugas yang diberikan oleh majikan patung emas. Heei,jika ...jika aku tidak berhasil menolong Wi Lian In kembali, saat itu ..sungguh bagus sekali"
"Tidak. tidak boleh punya pikiran begitu, jika aku tidak menolong Wi Lian In dia tentu akan diperkosa kemudian dibunuh mati oleh Hong Mong Ling. Lebih baik dia diperkosa kemudian dibunuh mati oleh Hong Mong Ling atau dijodohkan kepadaku saja?"
"Sewaktu dia sudah jadi istriku, apa itu perintah kedua dari majikan patung emas??"
Mungkinkah perintah kedua dari majikan patung emas ini jauh lebih hebat dan jauh lebih kejam bagi Wi Lian In dari pada diperkosa kemudian dibunuh oleh Hong Mong Ling? .
"Hei, kau sudah tidur belum?"
Mendadak Wi Lian In mendorong pintu kamar dan berjalan masuk. Ti Then segera bangkit berdiri.
"Belum."
Sahutnya gugup.
"Aku sedang berpikir ..."
"Pikir apa??"
Tanya Wi Lian sambil tertawa.
"Aku sedang pikir perkataan apa yang akan kau katakan tadi kemudian tidak jadi kau ucapkan itu"
Wajah Wi Lian In segera berubah menjadi merah padam.
"Kau tidak tahu?"
Tanyanya sambil tertawa malu.
"Belum. ."
"Kalau begitu yah sudahlah"
Sahutnya sambil mencibirkan bibirnya yang kecil mungil itu.
"Apa kau pasti mau bertanya?"
"Tidak"
Xx Bagian 20 Ti Then menjadi bingung dibuatnya, sahutnya kemudian sambil garuk-garukan kepalanya.
"Kalau begitu kau mengharapkan aku bisa menebaknya???"
"Kepalamu adalah kepala dari batu"
Ujar Wi Lian In sambil tertawa.
"Aku tahu selamanya kau tidak akan bisa mengetahui."
"Maaf, otakku kadang kala memang agak tidak normal ... ."
"Persis seperti seekor itik goblok"
Sambung Wi Lian In cepat.
"Benar..benar . ."
"Sudahlah, aku tidak mau guyon terus sama kau"
Ujar Wi Lian In tiba-tiba.
"Aku mau beritahukan suatu urusan kepadamu, Hu pocu baru saja kembali."
Dalam hati Ti Then menjadi tergerak.
"Ooooh ..... serunya cepat.
"Begitu tepatnya. ."
"Aku juga merasa kali ini dia pulangnya begitu bertepatan waktunya"
Seru Wi Lian In sambil memperendah suaranya.
"Karena itu aku kemari untuk mengajak kau pikirkan urusan ini."
"Pikirkan apanya?"
Tanya Ti Then sambil pandang wajahnya.
"Waktu itu ketika masih berada di atas gunung Fan cin san kau pernah bilang si setan pengecut itu kemungkinan sekali adalah orang dari Benteng Pek Kiam Po kita. ."
"Benar"
Sahut Ti Then dengan wajah serius.
"Hanya hal itu merupakan dugaanku saja, tapi jika bilang yang sesungguhnya orang itu tidak mungkin adalah Hu Pocu kita, karena ketika kau diculik pergi waktu itu dia masih bermain catur dengan aku di dalam ruangan."
"Tapi ketika aku diculik aku berada di dalam keadaan tidak sadar"
Bantah Wi Lian In dengan cepat.
"Kemungkinan sekali orang yang menculik pergi aku malam itu adalah Hong Mong Ling bukan si setan pengecut itu."
Ti Then mengerutkan keningnya rapat-rapat.
"Kau tidak seharusnya mencurigai Hu Pocu"
Ujar Ti Then dengan nada memberi nasehat.
"Dia adalah sute dari ayahmu, dia tidak punya alasan untuk bersekongkol dengan Hong Mong Ling"
"Sebetulnya aku juga tidak berani menaruh curiga kepadanya"
Bantah Wi Lian In dengan perlahan-"Tapi ketika dia pulang di atas kepalanya memakai sebuah kain pengikat kepala, selamanya dia tidak pernah memakai kain pengikat kepala kenapa kali ini bisa begitu kebetulan dan memakai kain itu?"
Teringat ketika malam itu kepala dari setan Pengecut memang berhasil ditabas sebagian olehnya membuat pendirian Ti Then saat ini menjadi goyah.
"Tapi ..."
Ujarnya kemudian sesudah termenung sebentar.
"Kau pun tidak bisa mendasarkan hal ini saja lalu menuduh dialah setan pengecut itu."
"Lalu jika di atas kepalanya ada bekas luka?"
Tanya Wi Lian In sedang sinar matanya dengan tajam memandang wajah Ti Then. Ti Then menganggukan kepalanya perlahan.
"Jika di atas kepalanya ada bekas luka, sudah tentu bisa membuktikan kalau dialah setan pengecut itu"
Sahutnya.
"Kini dia sedang berbicara dengan ayah di dalam kamar buku, bagaimana kalau kita pergi membuktikan?"
"Baik, tapi harus menggunakan sedikit kepandaian.Janganlah sekali-kali berbuat gegabah"
Demikianlah akhirnya kedua orang itu berjalan keluar dari kamar dan berjalan menuju kekamar bukunya Wi Ci To.
sesampainya diluar kamar terlihatlah Wi Ci To serta Hu Pocu Huang Puh Kian Pek sedang berjalan keluar dari dalam kamar.
Dengan cepat Ti Then bertindak maju untuk memberi hormat.
"Ooh ... Hu Pocu sudah kembali"
"Benar"
Sahutnya sambil tertawa, dari air mukanya jelas memperlihatkan perasaan girangnya.
"Lohu sudah cari selama puluhan hari lamanya sedikit pun tidak memperoleh berita sebetulnya mau pulang untuk cari-cari berita, tidak tahunya Ti Kiauw tauw sudah berhasil menolong Wi Lian In kembali, sungguh menggembirakan-sungguh menggembirakan"
Ternyata tidak salah di atas kepalanya di ikat dengan sekerat kain persegi empat. Ujar Ti Then kemudian.
"Mengenai boanpwe berhasil menolong nona Wi kembali tentunya Hu Pocu sudah mendapat tahu dari Pocu sendiri bukan?"
"Benar"
Sahut Huang Puh Kian Pek sambil mengangguk.
"Pocu serta lohu sedang siap mencari kau."
"Ha ha ha ha ..."
Seru Wi Ci To mendadak sambil tertawa.
"kita bicara di dalam ruangan saja."
Tua muda empat orang masuk ke dalam ruangan dalam dan duduk.
sekali lagi Huang Puh Kian pek menanyakan peristiwa yang sudah terjadi.
setelah mendengar kisah dari Ti Then ini dengan perasaan amat serius ujarnya.
"Heei .... satu gelombang belum reda gelombang yang lain sudah mendatangi, kini hwesio dari Siauw lim si serta Anying Langit Rase Bumi mungkin sudah mulai bergerak . ."
"Mungkin juga berpuluh puluh jago dari kalangan hitam akan ikut datang juga"
Tambah Ti Then .
"Kalau begitu"
Ujar Huang Puh Kian Pek dengan nada yang amat serius.
"Kita harus cepat-cepat persiapkan diri, hwesio-hwesio dari siauw lim pay mungkin masih mau mendengarkan nasehat dari pocu tetapi dari pihak Anying Langit Rase Bumi bukanlah manusia yang bisa diajak berunding."
"Heei ..."
Ujar Ti Then kemudian sambil menghela napas panjang.
"Boanpwe merasa sangat menyesal sekali sudah memancing berbagai macam urusan ke dalam Benteng ini.
"Ti Kiauw-tauw jangan bicara begitu"
Ujar Huang puh Kian Pek sambil tertawa..
"Ini bukanlah kesalahanmu, yang patut dibunuh seharusnya Hong Mong Ling, bangsat cilik itu tidak berbudi seorang laknat yang harus dibunuh, seharusnya kita pergi tangkap dia, kemudian dijatuhi hukuman mati."
"Paman Huang puh"
Timbrung wi Lian In secara tiba-tiba.
"selamanya kau orang tua tidak pernah pakai ikat kepala, kenapa ini hari secara tiba-tiba memakainya??"
Huang puh Kian Pek mengusap usap kain pengikat kepalanya dengan perlahan.
"Orang bila melakukan perjalanan jauh lebih baik menggunakan kain pengikat kepala untuk menahan serangan angin dan pasir"
Ujarnya sambil tertawa paksa.
"Beli ditempat mana ???"
"Kota Hoa Yang."
"Sungguh indah sekali"
Seru Wi Lian In sembari berjalan mendekati samping tubuhnya, dia tersenyum "
Bolehkah keponakanmu melihat sebentar ?"
"Bukan dengan begitu sudah jelas??"
Ujarnya sambil tertawa.
"Tidak"
Sahut Wi Lian In sembari mengulur tangannya untuk melepas kain pengikat kepalanya itu.
"Keponakanmu mau melihat lebih teliti lagi, pada kemudian hari aku pun akan buatkan Tia sebuah."
Dengan perlahan Huang puh Kian pek mendorong tubuhnya ke samping.
"Jangan bergurau ...."
Ujarnya sambil tertawa terbahak bahak "Tiamu tidak akan mau menggunakan kain pengikat kepala ini."
"Jika keponakanmu sendiri yang menyahit, Tia tentu suka untuk menggunakannya, paman yang baik biar aku pinyam sebentar."
Melihat kelakuan putrinya ini Wi Ci To segera melerai, ujarnya sambil tertawa.
"In-ji sejak kapan kau belajar menyahit?..." -0000000-"Tia kau jangan memandang rendah putrimu"
Seru Wi Lian In dengan manyany a.
"Hanya membuat sebuah kain pengikat kepala saja apanya yang sukar?"
"Lohu selamanya tidak pernah lihat kau menggerakkan jarum, heee ... heee ... sudah, sudahlah, Cepat kau duduk yang tenang, jangan bergurau lagi. Kita harus merundingkan urusan yang lebih penting"
Wi Lian In tidak bisa berbuat apa-apa lagi, terpaksa dia balik ketempat duduknya semula, secara diam-diam dia kirim suatu tanda apa boleh buat kepada diri Ti Then.
Ti Then pura-pura tidak melihatnya, tanyanya kepada Wi Ci To.
"Sebelum peristiwa ini apakah Pocu berdua pernah menaruh ganyalan dengan orang-orang dari Anying langit Rase bumi?"
"Belum pernah"
Seru Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Tapi menurut data-data yang pernah kita terima, kepandaian silat dari Anying langit Rase bumi memang sangat lihay sekali"
"Bagaimana jika dibandingkan kepandaian dari Majikan ular Kakek kura-kura?"
Tanya Ti Then lagi.
"Jika majikan ular serta Kakek kura-kura harus bertempur melawan Anying langit rase bumi paling banyak hanya bisa menerima seratus jurus saja."
"Tidak perduli melawan berapa banyak orang apa mereka suami istri selamanya turun tangan bersama-sama??"
"Benar"
Sahut Wi ci To sambil mengangguk. Pada wajah Ti Then segera terlintaslah suatu perasaan yang amat girang.
"Jika begitu"
Ujarnya "Dengan kekuatan boanpwe seorang mungkin belum sanggup untuk memperoleh kemenangan-"
Wi Ci To yang melihat pada wajah Ti Then malah muncul perasaan girang, dalam hati menjadi sangat bingung, ujarnya sambil tertawa.
"Dengan kekuatan Ti Kiauw tauw seorang sudah tentu belum bisa melawan Anying langit rase bumi, tapi Lohu tidak akan membiarkan Ti Kiauw tauw seorang diri pergi melawan mereka suami istri berdua"
"Tidak"
Bantah Ti Then dengan cepat "Boanpwe akan melawan mereka suami istri sendirian"
"Apa Ti Kiauw tauw tidak pandang diri Lohu dan menganggap Lohu tidak berani berbuat dosa kepada mereka?"
Tanya Wi Ci To dengan perasaan kurang senang.
"Bukan begitu, pocu jangan salah paham"
"Kalau tidak, kenapa Ti Kiau tauw begitu ngotot hendak melawan mereka suami istri berdua secara pribadi? Bukankah Ti kiauw tauw tahu dengan seorang diri sukar untuk melawan dua musuh?"
Ti Then dibuat melengak untuk beberapa saat lamanya, dia berdiam diri untuk berpikir.
"Walau pun boanpwe tidak berhasil mendapatkan kemenangan"
Ujarnya kemudian-"Tapi boanpwe percaya masih sanggup bertahan untuk beberapa waktu lamanya"
"Itukah alasan Ti Kiauw tauw kenapa mau melawan mereka suami istri secara pribadi"
Ti Then terdesak. terpaksa sahutnya dengan sembarangan.
"Mereka Anying langit Rase bumi merupakan jago jago berkepandaian tinggi yang sudah menggetarkan dunia persilatan, sedang boanpwe hanya seorang yang masih keroco, masih cetek pengalamannya tentang Bu lim, jika mereka tak bisa kalahkan boanpwe secepatmya sama saja sudah mengorek selapis kulit muka mereka.".
"Tidakperduli bagaimana pun juga"
Potong Wi Ci To dengan tegas "Lohu tidak akan membiarkan kau pergi melawan mereka berdua secara sendirian kau tidak usah bicara lagi."
Ti Then tersenyum.
"Inilah kesempatan boanpwe untuk mencari nama."
Ujarnya "Harap pocu mau meluluskan."
Wi Ci To menjadi melengak.
"Kau ... kau ingin menggunakan kesempatan ini untuk mencari nama?"
"Benar"
Sahut Ti Then sembari mengangguk "Boanpwe tidak berani bilang pasti bisa mengalahkan Anying langit Rase bumi, juga tidak berani mengharapkan bisa bertanding seimbang dengan mereka tapi bisa bertahan ratusan jurus tanpa bisa dikalahkan mungkin sudah cukup mengangkat nama boanpwe."
Wi Ci To menggelengkan kepalanya.
"Untuk melawan mereka suami isteri berdua lohu sendiri pun juga bisa bertahan delapan sembilan puluh jurus saja."
Ujarnya sambil menghela napas.
Agaknya dia masih belum tahu kalau kepandaian silat dari Ti Then sudah mencapai pada taraf nomor tiga di dalam dunia, dia mengira kepandaian silat dari Ti Then walau pun lebih tinggi tak mungkin bisa melampauinya karena ambil kata-kata ini sebagai peringatan dia ingin membuat Ti Then sadar kalau dia seorang diri tidak mungkin bisa bertahan seratus jurus saja di dalam melawan Anying langit Rase bumi.
"Sekali pun tidak sanggup"
Ujar Ti Then sambil tertawa.
"Pocu bolehlah turun tangan sewaktu melihat boanpwe sudah tidak tahan"
Wi Ci To masih ingin membantah lagi, tapi keburu dicegah oleh Huang puh Kian Pek ujarnya.
"Suheng, kalau memangnya Ti Kiauw tauw punya semangat demikian, biarkanlah dia pergi coba-coba, perkataannya sedikit pun tidak salah, menanti dia sudah tidak tahan kita masih punya kesempatan untuk menolong dia dari bahaya."
"Baiklah"
Sahut Wi Ci To kemudian sambil mengangguk sesudah termenung berpikir sebentar.
"sampai waktunya baru kita bicarakan lagi."
Segera dia bangkit berdiri, sambungnya sambil tertawa.
"Tadi lohu sudah perintahkan orang untuk mempersiapkan perjamuan guna menyambut kedatangan Hu Pocu serta Ti Kiauw tauw, kini mungkin sudah disiapkan marilah .... kita pergi dahar dulu."
Tua muda empat orang segera bangkit berdiri dan menuju ke ruang dalam, terlihatlah di sana sudah disiapkan meja perjamuan beserta hidangan yang lezat, karenanya mereka segera cari tempat dan mulai bersantap.
Wi Lian In yang duduk di samping Huang puh Kian Pek selama ini terus menerus mengincar kain pengikat kepalanya, ujarnya kemudian sambil bersantap.
"Tia, kepandaian dari majikan ular Kakek kura-kura itu apakah jauh lebih tinggi dari kepandaian pendekar pedang merah kita?"
"Tidak salah."
Sahut Wi Ci To sambil mengangguk.
"Mungkin satu tingkat lebih tinggi."
"Tapi sewaktu hari itu putrimu melawan kakek kura-kura, rasanya dia tidak punya kesabaran yang luar biasa"
Wi Ci To tersenyum simpul mendengar omongan putrinya ini.
"Kau berhasil menangkan dia?"
Tanyanya.
"Tidak"
Sahutnya sambil menggerakkan sumpit yang berada ditangannya "Hanya saja sewaktu putrimu menggunakan jurus "Coan Lin sih In"
Atau memutar badan memanah elang ..sembari berkata sumpit ditangan kanan secara mendadak menyambar kearah sebelah kanan menarik kain penutup kepala dari Huang puh Kian Pek itu.
Siapa tahu ketajaman perasaan Huang puh Kian Pek pun amat tinggi, tangan kirinya dengan cepat diangkat menangkis pergelangan tangannya.
"Awas"
Serunya sambil tertawa. Melihat serangannya tidak mencapai sasaran dengan gugup Wi Liam In berkata.
"ooh ... maaf, paman Huang puh keponakanmu tidak sengaja"
"Haa ... ha ... ha ..tidak mengapa tidak mengapa"
Sahut Huang puh Kian Pek sambil tertawa terbahak-bahak "Paman Huang puh masih belum tua, hanya menghadapi segala perubahan secara mendadak masih sanggup"
"Lian In"
Seru Wi Ci To dengan nada memaki sedang keningnya dikerutkan rapat-rapat "Kau sudah jadi seorang nona dewasa segala gerak geriknya harus sedikit genah, jika waktu bicara jangan gerakan tangan kaki seperti itu"
"Baiklah Tia"
Sahut Wi Lian In sambil menggerutu.
"Ehmm..teruskan-."
"Aku tidak mau membicarakan lagi"
"Hmm"
Dengus Wi Ci To sambil tertawa "Kau budak ini sungguh pandai bergurau."
"Tidak usah bicara tentang majikan ular kakek kura-kura lagi, lebih baik kita bicarakan soal setan pengecut itu saja"
Sambung Huang puh Kian Pek dengan cepat.
"Kau serta Ti Kiauw tauw pernah berdekatan dengan setan pengecut, dapatkah kau menduga siapakah orang itu?"
Wi Lian In memandang sekejap kearah Ti Then, kemudian barulah sahutnya sambil tersenyum.
"Kepandaian setan pengecut itu sangat tinggi, mungkin berada diantara kepandaian paman Huang Puh siok"
"Oooh, begitu?"
Ujar Huang Puh Kianpek sambil tertawa.
"Kemungkinan sekali orang itu adalah salah satu orang diantara kita orang-orang dari Benteng Pek Kiam po."
Semula Wi Ci To dibuat melengak oleh perkataan ini tapi dengan cepat sudah berubah menjadi amat keren.
"Inyie"
Ujarnya.
"Kau jangan omong sembarangan."
"Perkataan dari putrimu semuanya beralasan, jika setan pengecut itu bukan orang yang sudah putrimu kenal baik dia tidak mungkin akan berkerudung, lagipula nada ucapannya walau pun sengaja diganti dengan logat yang lucu tapi suara itu sepertinya sangat dikenal"
"Siapa?"
Potong Huang Puh Kian Pek dengan cepat. Wi Lian In ragu-ragu sejenak, kemudian barulah sahutnya.
"Keponakanmu tidak bisa menduga siapa dia sebetulnya, hanya saja suara itu agaknya sangat dikenal"
"Hmm"
Dengus Wi Ci To dengan keren.
"Hanya berdasarkan alas an itu saja kau sudah menuduh dia adalah salah seorang diantara kita?"
"Benar, tapi selama setengah tahun ini putrimu tidak pernah meninggalkan benteng barang selangkah pun, jika setan pengecut itu adalah orang luar sesudah terpaut waktu yang lama mana mungkin putrimu masih sangat mengenal suara itu"
Mendengar omongan putrinya yang sangat beralasan itu Wi Ci To hanya bisa gelengkan kepalanya saja.
"Putrimu tidak berani memastikan orang itu adalah orang di dalam benteng kami,"
Ujar Wi Lian In lagi.
"Tapi untuk kebaikan kita semua harus mengadakan pemeriksaan"
"Ehmmm...mau diperiksa dengan cara bagaimana?"
Tanya Wi Ci To.
"Ti Kiauw tauw sudah melukai kulit kepalanya, asalkan Tia melihat diantara pendekar pedang di dalam Benteng kita ada bekas luka di atas kepalanya dialah Si Setan Pengecut itu"
Mendengar sampai di sini mendadak Huang Puh Kian Pek tertawa terbahak-bahak.
"Paman Huang Puh, kau tertawakan apa?"
Tanya Wi Lian In dengan perasaan teramat heran. Huang Puh Kian Pek tidak menyawab, dia menoleh kearah Wi Ci To lalu ujarnya sambil tertawa.
"Suheng, sekarang aku tahu kenapa Wi Lian In mau melihat kain pengikat kepalaku ini?"
Pikiran Wi Ci To amat tajam dan cerdik, sekali dengar tahulah sudah maksud perkataan sute-nya itu, tanpa terasa air mukanya berubah, dengan gusarnya dia melotot kearah Wi Lian In sembari ujarnya dengan suara berat.
"In-ji, bagaimana kau berani mencurigai paman Huang Puh-mu?"
"Am pun"
Seru Wi Lian In tidak mau mengaku.
"Kapan aku mencurigai paman Huang Puh? Sekali pun putrimu lebih bodoh juga tidak akan berani mencurigai Huang Puh-siok"
"Kalau tidak kenapa kau rebut kain pengikat kepalanya?"
Tanya Wi Ci To dengan nada gusar.
"Suheng kau jangan marah dulu"
Timbrung Huang Puh Kian Pek sambil tertawa.
"Selamanya siauwte tidak pernah memakai kain pengikat kepala, ini hari pulang ke dalam Benteng dengan kepala diikat, kain pengikat kepala ini sudah tentu tidak bisa menyalahkan Lian In menaruh curiga kepadaku...Nah, sekarang kalian lihatlah"
Sembari berkata dengan perlahan dia melepaskan kain pengikat kepalanya.
Di atas batok kepalanya tidak tampak sedikit bekas luka pun.
Sesudah melihat hal itu dengan perlahan Wi Ci To baru menoleh kearah putrinya.
"Sudah lihat jelas belum?"
Ujarnya dengan mata mendelik. Wajah Wi Lian In segera berubah menjadi merah padam, dengan menggerakkan bibirnya dia berkata.
"Sejak semula putrimu sudah bilang tidak menaruh perasaan curiga kepada Huang Puh siok, jika Huang Puh-siok betul-betul adalah si Setan Pengecut, hal..hal itu bukankah suatu omong kosong?"
"Sekali pun kau menaruh curiga kepada pamanmu, aku tidak akan marah"
Ujar Huang Puh Kian Pek sambil mengenakan kait pengikat kepalanya kembali.
"Siapa suruh pamanmu memakai kain pengikat kepala ini"
Dengan perlahan Wi Ci To mengalihkan pandangannya kearah Ti Then.
"Ti Kiauw tauw, kau kira siapa sebetulnya si Setan Pengecut itu?"
Tanyanya.
"Boanpwe tidak tahu"
Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Apa bisa si pendekar tangan kiri Cian Pit Yuan?"
"Mungkin bukan!"
Jawab Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Hari itu boanpwe masuk ke dalam goa melalui pintu goa di belakangnya setelah dia sadar pernah melancarkan satu serangan secara tergesa-gesa, tangan yang melancarkan serangan adalah tangan kanan bukan tangan kirinya, tangan kiri di dalam keadaan tergesa-gesa tidak mungkin bisa berganti menggunakan tangan kanan"
"Tidak salah"
Seru Wi Ci To sambil anggukkan kepalanya.
"Kita tidak usah urus soal itu lagi, ayoh minum arak saja"
Sehabis berkata dia mengangkat cawan araknya dan dengan sekali teguk menghabiskan isinya.
Selesai bersantap tua muda empat orang bercakap-cakap lagi beberapa saat lamanya, akhirnya Ti Then pamit terlebih dahulu untuk kembali ke dalam kamarnya beristirahat.
Sesampainya di dalam kamar dia perintahkan si Lo-cia menyiapkan sepikul air panas untuk mandi.
Sesudah semuanya selesai barulah dia menyulut lampu dn mengetuk jendela tiga kali...saat itulah mendadak pintu kamar diketuk orang.
"Siapa?"
"Aku..!"
Mendengar suara itu adalah suara Wi Lian In, Ti Then segera berjalan membuka pintu kamar.
"Kau belum pulang untuk beristirahat?"
Tanyanya sambil tertawa.
"Belum waktunya untuk tidur"
Sahutnya sambil tertawa.
"Kau berbuat apa membawa lampu berjalan bolak-balik di depan jendela ?"
"Coba kau lihat seekor laba-laba yang sangat besar"
Ujarnya sambil menunjuk kedinding samping jendela.
"Aku pingin pukul dia jatuh akhirnya dia berhasil melarikan diri"
"Oooh..aku boleh masuk?"
Ti Then menyingkir ke samping.
"Silahkan..silakan!"
Serunya. Dengan langkah lemah gemulai Wi Lian In berjalan masuk ke dalam kamar, ujarnya dengan nada kemalu-maluan.
"Kau jangan rapatkan pintu kamar, sekarang sudah malam"
Ti Then segera meletakkan kembali lampu itu ke atas meja, sesudah mengangkat sebuah bangku ujarnya sambil tertawa.
"Silakan duduk, dengan berbuat begini jika ada orang yang lewat di depan pintu bisa melihat keadaan di dalam kamar dengan amat jelas"
"Ehmm..Lo-cia dimana?"
Tanyanya dengan suara rendah.
"Ooh..pergi bersantap"
Segera Wi Lian In duduk di atas bangku yang sudah disediakan.
"Heeei..dugaan kita ternyata meleset sama sekali"
Ujarnya sambil menghela napas panjang.
"Agaknya paman Huang Puh memang bukan si Setan Pengecut itu"
"Sejak semula bukan aku sudah bilang tentu bukan dia"
Seru Ti Then sembari tertawa.
"Tapi aku merasa Si Setan Pengecut itu pasti salah seorang anggota Benteng kita"
"Belum tentu perasaan itu pasti benar"
Wi Lian In tidak berbicara lagi, dengan berdiam diri dia duduk di sana.
Ti Then pun merasa tidak ada perkataan lain lagi yang hendak disampaikan, karena itu terpaksa dia hanya berjalan mondar-mandir di dalam kamar.
Semakin lama Wi Lian In merasakan suasana tidak begitu enak.
"Aku mau kembali ke dalam kamar"
Ujarnya kemudian sambil bangkit berdiri.
"Eh eh..tidak duduk lagi?"
Tanya Ti Then sambil menghentikan langkah kakinya.
"Tidak usah, aku mau pulang kamar beristirahat, perjalanan beberapa hari ini membuat aku sangat lelah"
"Benar"
Dengan pandangan penuh perasaan cinta ujar Wi Lian In lagi.
"Kau tentu lelah bukan?"
"Aaah..masih lumayan"
"Kepandaianmu sangat tinggi sekali, sudah tentu tidak begitu merasa lelah"
Ti Then hanya tersenyum saja tanpa berbicara apa-apa lagi. Wi Lian In dengan perlahan putar tubuhnya siap pergi, mendadak seperti teringat akan sesuatu ujarnya kemudian sembari menoleh kearah Ti Then.
"Ooh benar, kau lihat Anying langit Rase bumi bisa datang tidak?"
"Mungkin mereka tidak berani secara terang-terangan bentrok dengan orang-orang Pek Kiam Po, tapi mereka bisa datang mencari aku"
"Lalu kau kira kapan mereka bisa datang? Tanya Wi Lian In sambil memandang wajahnya.
"Sukar untuk ditentukan"
"Mungkin mereka akan mengajak kau bertempur diluaran"
"Ooh itu lebih bagus lagi"
Seru Ti Then sambil menganggukkan kepalanya.
"Tidak"
Seru Wi Lian In dengan keras.
"Jika mereka manantang kau bertempur ditempat luaran kau tidak boleh menyanggupi, Rase bumi jadi orang banyak akal dan licik, paling gemar membokong orang dengan serangan kejam. Kau tidak boleh pergi"
Ti Then tersenyum saja tanpa mengucapkan kata-kata. Melihat dia berdiam diri Wi Lian In segera maju mendekati tubuhnya sambil menarik ujung bajunya.
"Maukah kau menyanggupi untuk tidak ikut mereka keluar?"
Mohonnya dengan suara perlahan.
"Baiklah!"
Wi Lian In menjadi amat girang.
"Aku sudah tahu tentu kau bisa menyanggupi permintaanku ini"
Ujarnya tertawa.
"Padahal jika aku berjanyi dengan Anying langit Rase Bumi untuk bertanding disatu tempat tertentu, ayahmu pasti akan ikut campur juga, urusan ini ayahmu sudah bilang mau ikut serta"
"Jika kau bekerja sama dengan Tia untuk melawan Anying langit Rase bumi sudah tentu jauh lebih punya pegangan lagi tapi bila kau mau bertempur mereka suami istri seorang diri mungkin...yah mungkin sukar mengharapkan menang"
Jilid 12.2. Rahasia Loteng Penyimpan kitab Ti Then segera tersenyum mendengar omongannya itu.
"Aku punya keinginan untuk tempur mereka suami istri seorang diri terlebih dulu"
Ujarnya.
"Aku mau lihat kelihayan mereka suami istri bagaimana hebatnya"
"Hemm...keinginanmu untuk peroleh kemenangan sungguh amat hebat"
"Benar"
Jawab Ti Then sembari tersenyum.
Dengan pandangan yang amat mesrah dan penuh perasaan cinta Wi Lian In memandang wajah Ti Then beberapa saat lamanya, mendadak air mukanya berubah menjadi merah dadu serunya sambil putar balik badannya.
"Aku mau kembali ke kamar!"
Perlahan-lahan dia berjalan keluar, sesaat hendak merapatkan pintu kamar kembali lagi sambil putar tubuhnya.
"Kau mau pergi tidur?"
"Tidak ada urusan bukan?"
"Kenapa tidak pergi cari Tia bermain catur?"
Ujar Wi Lian In dengan suara perlahan.
"Besok saja, kini aku terasa amat lelah"
"Kepandaian ayahku di dalam permainan catur amat lihay sekali, waktu dia orang tua sudah mengalah Sembilan biji kepadaku aku masih tidak sanggup untuk mengalahkan dirinya"
"Oh..."
"Coba kau terka, Tia bisa mengalah berapa biji catur kepadamu?"
Tanya Wi Lian In lagi.
"Entahlah"
"Aku kira Tia bisa mengalahkan biji kepadamu, ketika bermain dengan Huang Puh-siok dia juga sering mengalah tiga biji kepadanya"
"Oh.."
"Tetapi.."
Ujarnya Wi Lian In sembari tersenyum.
"Jika kau bisa pegang kelemahan permainan Tia, untuk menangkan dia tidaklah sukar.."
"Apa kelemahan dari permainan catur ayahmu?"
"Permainannya sih tidak ada kelemahannya. Tia paling tidak sabaran. Jika kau main dengan dia orang tua jangan sekali-kali bermain cepat, semangkin lambat semangkin baik.."
Ketika dia berpamit kembali untuk kembali kekamarnya akhirnya sudah membuang waktu setengah jam lagi, setelah dilihatnya si Lo-cia itu pelayan tua datang baru dia sungguh-sungguh kembali ke kamarnya.
Setelah melihat bayangannya lenyap dari pandangan barulah ujar Ti Then kepada diri Lo-cia.
"Hey lo-cia, sediakan the untukku kemudian kau boleh pergi tidur"
Si Lo-cia segera menyahut kemudian meninggalkan kamar untuk mengambil the dari dalam dapur, sesudah diletakkan kembali ke atas meja, ujarnya sembari tertawa.
"Ti Kiauw tauw, rejekimu sungguh bagus sekali!"
"Jangan omong kosong lagi"
"Budakmu tahu, sio-cia kita punya perhatian khusus terhadapmu"
Sehabis berkata dia putar tubuh berjalan keluar dari dalam kamar.
Ti Then segera menutup kembali kamarnya, buka pakaian dan naik ke atas pembaringan untuk tidur.
Dia tahu Majikan patung emas baru akan muncul setelah tengah malam, karenanya dia ingin tidur terlebih dulu, sesudah mendekati kentongan kedua baru bangun untuk menanti munculnya-Dia"
Tapi keadaan mala mini pun seperti juga pada malam-malam yang lalu, dia tertidur dengan amat pulasnya sampai terasa, ada orang yang menepuk-nepuk badannya bru sadar kembali dari pulasnya dengan amat terkejut.
Dengan cepat dia buka matanya lebar-lebar, Patung emas itu sudah muncul tepat di samping pembaringannya.
Terhadap beberapa kali dirinya tertidur dengan amat pulas Ti Then merasa sangat heran sekali, segera dia bangkit berdiri, ujarnya sambil membelai patung emas yang sedang berdiri di hadapannya.
"Hey patung emas, kau jangan kurang ajar!"
Majukan Patung emas yang bersembunyi di atas atap rumah segera menggerak-gerakkan patung emasnya.
"Akhirnya kau berhasil menolong Wi Lian In kembali ke dalam Benteng, aku merasa sangat girang sekali.."
Ujarnya dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara.
"Hem.."
Dengus Ti Then sembari tertawa tawar, kepalanya diangkat ke atas memandang sepasang tangan yang sangat buram.
"Sudah tentu kau amat girang"
"Lalu kau sendiri apa tidak merasa girang?"
"Bisa menolong dia kembali dalam keadaan selamat sudah tentu sangat gembira sekali"
Ujar Ti Then sambil tertawa pahit.
"Tapi mendatangkan kesukaran juga bagi diri kita sendiri"
"Otak kau bocah cilik sungguh sedikit aneh, nona yang begitu cantik seperti Wi Lian In di dalam sejuta sukar untuk mendapatkan seorang, sebaiknya kau malah tidak gembira, sungguh mengherankan sekali, sungguh mengherankan sekali"
"Jika hal ini bukan dikarenakan tugas yang dipaksakan sudah tentu aku merasa sangat girang dan sangat puas sekali"
"Hemmm..sudahlah"
Seru Majikan Patung emas sambil mendengus dengan amat dingin.
"Tidak usah banyak omong kosong lagi, cepat kau ceritakan pengalamanmu sewaktu menolong Wi Lian In"
T i Then segera menceritakan pengalamannya dengan cara bagaimana menolong Wi Lian In lolos dari tangan Setan Pengecut itu kemudian bagaimana ditengah jalan menemui halangan, dengan jelasnya diceritakan semua.
Selesai mendengarkan kisah itu dengan dinginnya Majikan patung emas mendengus lagi.
"Hemmm..kau mendatangkan kerepotan saja"
"Apa itu disebabkan aku?"
Tanya Ti Then dengan nada kurang senang.
"Jika bukannya kau turun tangan terlalu ringan sewaktu berada di atas gunung Fan Cin San kau tidak akan mendapatkan kesukaran seperti begini, sedang setan pengecut itu pun tidak akan lolos"
"Ha.ha..kau terlalu pandang tinggi kemampuanku"
"Pernahkah kau punya pikiran siapa itu Setan Pengecut yang sebetulnya?"
"Siang malam aku pikirkan tapi tetap tidak kuketahui juga"
Majikan Patung emas mendengus lagi dengan amat dingin.
"Pernah teringat akan Huang Puh Kian Pek?"
Tanyanya.
"Pernah, tapi dia tidak mungkin Setan Pengecut itu"
"He..hee..dengan andalkan apa kau berani bilang dia bukanlah Setan Pengecut itu?"
Tanya Majikan Patung Emas lagi sembari tertawa dingin.
"Batok kepala Setan Pengecut itu berhasil kutabas segumpal kulitnya, sebaliknya di atas kepala Huang Puh Kian Pek sama sekali tidak kelihatan adanya bekas luka"
"Bekas luka bisa ditutupi"
"Sekali pun begitu bisa"
Ujar Ti Then dengan tenang.
"Tapi kulit kepala Setan Pengecut itu berhasil kutabas sebesar telapak bocah cilik, setelah luka itu sembuh tidak mungkin akan tumbuh kulit kembali untuk menutupi bekas luka itu"
"Tapi dia bisa memapas kulit beserta rambut orang lain, sesudah kering kemudian ditempelkan pada kepalanya sendiri"
Mendengar perkataan itu dalam hati Ti Then merasa sedikit bergerak, tanpa merasa lagi dia sudah menganggukan kepalanya.
"Kau sudah menemukan kalau Huang Puh Kian Pek itulah Setan Pengecut itu?"
Tanyanya kemudian.
"Belum"
Seru Majikan patung emas dengan perlahan.
"Tapi menurut pandanganku mungkin dialah si Setan Pengecut itu"
"Asalkan melihat bagian kepalanya dengan teliti aku baru berani pastikan"
"Kau boleh pikir satu cara toh?"
Ujar Majikan Patung emas.
"Sewaktu di dalam perjamuan malam tadi dia pernah buka kain pengikat kepalanya di hadapan kita, aku tidak punya cara lagi untuk melihat bagian kepalanya"
"Kau boleh tantang dia bertanding ilmu silat, pada kesempatan itu kau bisa cengkeram bagian kepalanya"
"Hal ini tidak bagus"
Teriak Ti Then tidak mau menyetujui usulnya ini.
"Atau secara diam-diam memasuki kamarnya kemudian memasukkan obat pemabok pada secawan tehnya"
"Tapi aku tidak punya obat pemabok itu"
"Kau bisa pergi ke kota untuk membelinya"
"Ti Then tidak bisa berbuat apa-apa lagi terpaksa mengangkat bahunya sambil mengalihkan pokok pembicaraan.
"Jika dia betul-betul adalah Setan Pengecut, maka apa tujuan yang sebetulnya? Kenapa dia sampai bersekongkol dengan Hong Mong Ling untuk menculik Wi Lian In?"
"Kau!"
"Aku?"
"Tidak salah!"
Jawab Majikan Patung Emas dengan tegas.
"Bukankah sewaktu berada di atas gunung Fan Cin San dia pernah memaksa kau untuk menulis seluruh kepandaian silatmu kemudian minta kau potong sebuah lenganmu"
"Tidak salah"
Ujar Ti Then sembari mengangguk.
"Bahkan katanya dia punya suatu barang yang hendak disampaikan kepada suhuku, dia anggap kaulah suhuku"
"Ha ha ha..semua itu hanya omong kosong belaka, tujuan mereka yang sebetulnya ingin membasmi dirimu"
"Hong Mong Ling ingin bunuh aku memang dia punya alasan itu"
Ujar Ti Then selanjutnya.
"Tapi dia tidak punya alas an untuk bersekongkol dengan Hong Mong Ling"
"Ooh..kau sudah salah tanggap"
Seru Majikan Patung emas.
"Dia bisa bersekongkol dengan Hong Mong Ling bukannya dikarenakan dia merasa simpatik terhadapnya, yang penting dia ingin menyingkirkan dirimu"
"Dia mau bunuh mati aku seharusnya punya alasan bukan?"
"Mungkin dia punya suatu rencana terhadap suhengnya Wi Ci To, sebaliknya karena kau masuk Benteng Pek Kiam Po maka dia merasa kau bisa menghalangi rencananya, karena itu dia punya minat untuk menyingkirkan dirimu"
"Dia punya rencana apa terhadap diri Wi Ci To?"
Tanya Ti Then lagi.
"Entahlah"
"Apakah sama dengan rencanamu?"
Tanya Ti Then dengan nada memancing.
"Urusan ini kau tidak perlu tahu"
"Jika dia betul-betul adalah Setan Pengecut itu, kau punya rencana mau berbuat apa terhadap dirinya?"
"Kau boleh laporkan urusan ini dengan Wi Ci To"
Jawab Majikan patung emas itu.
"Sudah tentu Wi Ci To tidak akan melepaskan dirinya"
"Baiklah"
Sahut Ti Then kemudian sembari mengangguk.
"Untuk sementara kita ke sampingkan urusan ini terlebih dahulu, kini biar kita bicarakan soal anying langit rase bumi itu, tentunya kau kenal Anying langit Rase bumi sepasang suami istri ini bukan?"
"Benar"
Jawab Majikan Patung emas itu singkat.
"Aku dengar kepandaian mereka suami istri berdua amat tinggi"
"Tidak salah"
Sahut Majikan Patung emas itu lagi.
"Tapi jika satu lawan satu masih kalah satu tingkat dengan kepandaian Wi Ci To"
"Kita tidak bisa mengatakan satu lawan satu"
Bantah Ti Then cepat.
"Karena mereka suami istri berdua selamanya melawan musuhnya dengan berbareng, musuhnya seorang mereka juga melawan bersama-sama, musuhnya seratus mereka pun turun tangan bersama-sama, makanya sejak kini kita harus menganggap mereka berdua sebagai "satu orang"
Saja"
"Hmmm"
Dengus Majikan Patung emas itu dengan dingin.
"Buat apa kau bicarakan urusan itu dengan aku?"
"Sebelum aku menyanggupi kau untuk menjadi patung emasmu, kau pernah bilang akan membuat aku menjadi orang nomor tiga di dalam dunia ini, selain kau serta Kay Kong Beng asalkan bisa bertemu dengan orang yang bisa mengalahkan diriku segera aku bisa batalkan perjanyian ini, sejak saat itu tidak perlu jadi patung emasmu lagi, bukan begitu?"
"Benar"
Sahut Majikan patung emas itu singkat.
"Bagus sekali, mungkin aku masih punya kesempatan untuk meloloskan diri dari belenggumu"
"Hmmm...hmmm..siapa yang bisa kalahkan dirimu?"
Tanya Majikan patung emas itu sambil tertawa dingin tak henti-hentinya.
"Anying langit Rase bumi"
Jawab Ti Then sambil tersenyum simpul, di dalam anggapannya Majikan patung emas tentu tidak akan bisa berkata lagi.
Siapa tahu begitu Majikan Patung emas itu selesai mendengar jawabannya ini dia tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.
"Haa..ha..haa...satu lawan satu mereka tidak mungkin bisa mengalahkan dirimu"
Serunya. Bagian 21
"Sejak tadi aku sudah bicara jelas"
Ujar Ti Then dengan tidak kalah kerasnya.
"Kita harus memandang mereka suami istri berdua sebagai satu orang, sedang jika misalnya aku dikalahkan mereka berdua maka sama saja kita harus pandang aku sudah dikalahkan satu orang saja"
"Kentutmu!"
Teriak Majikan patung emas dengan amat gusar.
"Dengan jelas mereka adalah dua orang, mana mungkin bisa dikatakan satu orang saja?"
"Tapi mereka.."
"Aku mau tanya padamu,"
Potong Majikan patung emas itu dengan cepatnya.
"Jika diantara mereka suami istri ada yang sakit kemudian mati, apakah yang lainnya juga bersamaan waktu ikut mati?"
"Ini..."
"Makanya..,"
Sambung Majikan patung emas itu lagi dengan cepat.
"Mereka adalah dua orang bukan satu orang"
"Tapi mereka selamanya turun tangan secara bersama-sama"
"Itulah karena mereka dari aliran sesat, seluruh gerak-gerik serta perbuatannya bertentangan dengan pihak lurus, kau anggap mereka turun tangan bersama-sama merupakan pekerjaan yang benar?"
"Sekali pun tidak benar"
Sahut Ti Then tidak mau kalah, tapi mereka tidak mau melawan aku satu lawan satu, sedang dengan berduaan melawan aku seorang sukar bagiku untuk memperoleh kemenangan"
"Wi Ci To bisa membantumu"
Seru Majikan patung emas itu singkat.
"Begitu dia turun tangan maka sejak itu juga antara pihak Benteng Pek Kiam Po serta Istana Thian the Kong akan mengikat suatu permusuhan yang tidak ada habisnya"
"Hmm..hmm.."
Dengus Majikan Patung emas itu dengan dinginnya.
"Kau bisa bekerja sama dengan Wi Ci To untuk membunuh mati mereka suami istri berdua, dengan begitu bukannya menjadi beres?"
"Aku bisa bekerja sama dengan Wi Ci To untuk mengalahkan mereka suami istri berdua, tapi untuk membereskan nyawanya aku kira merupakan suatu urusan yang agak sukar"
"Kalau bisa merebut kemenangan kenapa tidak bisa bunuh mereka?"
Bantah Majikan patung emas itu dengan amat dingin.
"Misalkan saja setan pengecut itu, sewaktu berada di selat sempit malam itu jika dia mau melawan aku terus sudah tentu aku bisa bereskan dirinya, tapi dia sudah melarikan dirinya"
"Hmmm...walau pun tidak bisa membereskan nyawa Anying langit Rase bumi seketika itu juga, hal ini bukanlah suatu urusan yang patut dirisaukan"
Seru Majikan Patung emas.
"Walau pun jumlah anak buah dari Benteng Pek Kiam Po tidak bisa memadahi banyaknya anggota dari pihak Thian The Kong tapi istana Thian The Kong hanya merupakan sarang burung saja, untuk membasmi mereka bukanlah suatu urusan yang amat sulit"
"Omonganmu terlalu ringan"
Ujar Ti Then sesudah mendengar perkataannya itu.
"Hmmm"
Majikan Patung emas itu mendengus lagi dengan amat dinginnya.
"Urusan ini belum terjadi karena itu tidak perlu dirisaukan lagi. Sejak kau memasuki Benteng Pek Kiam Po hingga saat ini sudah ada satu bulan lamanya, sedang waktu yang sudah aku tentukan buatmu untuk menikah dengan Wi Lian In adalah tiga bulan, kini hanya tinggal satu setengah bulan lagi kau harus melaksanakan tugas ini sebaik-baiknya"
"Hey Majikan patung emas"
Seru Ti Then dengan agak gusar.
"Kau mau aku suruh aku lari ke hadapannya lalu bilang, Nona Wi, cepat kau kawin dengan aku!"
"Kenapa tidak?"
"Sungguh suatu omong kosong"
"Aku lihat Wi Ci To sama sekali tidak menaruh perasaan curiga terhadap dirimu"
Ujar Majikan patung emas lagi.
"Sedang Wi Lian In sendiri agaknya juga punya perhatian terhadap dirimu, kau boleh memperlihatkan permainanmu yang berbeda di hadapan mereka ayah beranak, tidak perduli bagaimana pun juga di dalam satu setengah bulan mendatang kau harus selesai dengan tugasmu ini"
"Usaha yang tergesa-gesa tidak akan mencapai pada tujuan, kau pernah mendengar perkataan ini belum?"
Seru Ti Then sembari tertawa.
"Jika kau tidak berhasil menjadi suami Wi Lian In di dalam jangka waktu saru setengah bulan ini, hal ini merupakan suatu kerugian yang amat besar bagiku"
"Urusan perkawinan merupakan suatu urusan yang besar"
Bantah Ti Then lagi.
"Urusan ini harus ditentukan oleh ayah ibu kita, sedang ibu dari Wi Lian In sudah lama tidak berada di dalam dunia ini lagi, dia harus mendengarkan perkataan dan keputusan dari ayahnya tapi Wi Ci To merupakan seorang yang sangat teliti dan tidak terlalu percaya terhadap orang lain, hanya dalam jangka waktu satu setengah bulan saja tidak mungkin dia bisa mengawinkan putrinya kepadaku"
"Hemm.."
"Kau bilang betul tidak?"
Desak Ti Then itu lagi.
Majikan patung emas itu membungkamkan diri tidak bicara lagi.
Majikan patung emas itu segera menarik kembali patung emasnya, lalu menutup kembali atap rumah dan meninggalkan tempat itu secara diam-diam.
Ti Then tersenyum, segera dia susupkan diri ke dalam selimut dan tidur dengan nyenyaknya.
Kokokan ayam jago membising telinga dipagi hari, sinar matahari dengan tajamnya memancarkan sinar keseluruh ruangan, suatu pagi yang cerah menjelang kembali.
Agaknya keadaan Wi Lian In terhadap Ti Then saat ini sudah tidak bisa ditinggal barang sekejap pun, baru saja Ti then selesai mencuci muka dia sudah datang untuk mengundang Ti Then sarapan pagi.
Selesai sarapan pagi, dia pun minta Ti Then bertindak sebagai Kiauw tauw untuk menurunkan kepandaian selat kepadanya.
Dengan perasaan amat girang Ti Then memenuhi semua ajakannya, bersama dirinya berjalan menuju ke lapangan latihan silat.
Ujar Wi Lian In kepada diri Ti Then.
"Kita kaum wanita jika disuruh latihan ilmu telapak atau ilmu pukulan kiranya tidak sesuai, lebih baik Ti Kiauw tauw ajari aku main ilmu pedang saja"
"Baiklah"
Sahut Ti Then sembari mengangguk.
"Biar aku mainkan satu kali buatmu"
Selesai berkata dia mencabut keluar pedangnya dan mainkan satu gerakan dengan amat perlahan.
Pada siang harinya mereka menyelesaikan latihan untuk hari itu, ujar Wi Lian In kemudian dengan suara perlahan.
"Selesai makan siang, bagaimana kalau kita pesiar ke atas gunung?"
"Tidak"
Jawab Ti Then menolak ajakannya itu.
"Dalam beberapa hari ini aku harus tetap tinggal di dalam Benteng untuk menanti kedatangan hwesio-hwesio dari Siauw lim Pay serta Anying langit Rase bumi"
Mendengar ajakannnya ditolak Wi Lian In mencibirkan bibirnya.
"Mereka tidak akan datang begitu cepat!"
Serunya.
"Hal ini sukar untuk kita bicarakan sekarang"
"Aku tidak mau bicara sama kau lagi"
Seru Wi Lian In mengambek, kakinya dijejakkan ke atas tanah dengan keras.
"Aku mengundang kau berpesiar ke atas gunung kau menolak, lain kali jika kau mengundang aku saat itu aku juga tidak mau"
"Bagaimana kalau begini saja, kita jangan pergi terlalu jauh, hanya cukup duduk-duduk di atas tebing Sian Ciang saja"
Ujar Ti Then kemudian sembari tertawa.
"Di atas tebing Sian Ciang kita bisa mengawasi pemandangan seluruh Benteng, jika terlihat sedikit situasi yang tidak baik kita masih punya waktu untuk lari turun"
Wi Lian In hanya ingin pergi berduaan dengan dia, karena itu terhadap usulnya ini tidaklah terlalu rebut.
"Bagus"
Teriaknya kegirangan sesudah mendengar perkataan itu, cepat kita pergi bersantap"
Tapi sewaktu mereka bersantap siang itulah mendadak Wi Ci To tersenyum sambil ujarnya.
"Ti Kiauw tauw, lohu dengar dari hu-pocu katanya permainan caturmu amat tinggi?"
"Mana, mana.."
Seru Ti Then tetap merendah.
"Sewaktu boanpwe bermain catur dengan Hu-pocu kedua-duanya boanpwe memegang biji hitam sedang hasilnya pun satu kali menang satu kali seri"
"Tidak salah"
Sambung Huang Puh Kian Pek sembari tertawa.
Baca Juga: Pendekar Tanpa Bayangan 5
Baca Juga: Maling Budiman Berpedang Perak 2