Eps 3 Pendekar Patung Emas - Qing Hong
Baca online Pendekar Patung Emas - Qing Hong
Cersil Pendekar Patung Emas - Qing Hong.
"Boanpwe tidak berani memastikan, tetapi jika dilihat sikapnya yang periang ketika datang berlatih silat dilapangan silat tadi pagi tidak mungkin dia bisa mengambil keputusan pendek"
"Baru saja kemarin dia bentrok dengan Hong eng, bagaimana ini hari bisa gembira? Tidak mungkin bisa demikian cepatnya"
"Dia masih bilang kalau hatinya merasa sangat gembira karena belum sampai dijodohkan dengan Mong Ling-heng"
Sinar mata Huang Puh Kian Pek berkelebat tak henti-hentinya, ujarnya dengan berat.
"Aku lihat lebih baik kita melihat ke bawah, mari kita turun"
Sehabis bicara tanpa menanti jawaban lagi dia mencari jalan untuk menuruni tebing tersebut.
Tebing di belakang kuil ini merupakan sebuah tebing yang sangat curam sekali, kedua orang itu dengan mengikuti jalan kecil di sampingnya berjalan turun ke bawah, kurang lebih sesudah memakan waktu sepertanak nasi lamanya barulah sampai didasar tebing tersebut.
Batu-batu cadas yang besar dan runcing berserakan didasar tebing tersebut bahkan saking banyaknya hingga seperti sebuah hutan, untuk mencari sesosok mayat didasar tebing tersebut agakknya harus membutuhkan waktu yang sangat lama sekali.
Ujar Huang Puh Kian Pek mendadak memecahkan kesunyian.
"Kamu cari ke sebelah sana, biar lohu cari di sebelah sini, cepat!"
Dengan demikian mereka berdua berpisah untuk masing-masing mencari diarah yang berlawanan, tetapi walau pun sudah mengelilingi sekitar tempat itu hingga ketempat semula tetap saja mereka tidak menemukan mayat dari Wi Lian In.
Akhirnya Huang Puh Kian Pek hanya bisa menghembuskan napas panjang, ujarnya.
"Heeeii..membuat lohu benar-benar kuatir, budak itu mungkin sudah pergi ke puncak selaksa Buddha"
"Apa, nona pergi ke puncak selaksa Buddha?"
Tanya Ti Then mendadak.
"Jika hatinya tidak senang baru pergi ke sana, ada satu kali hanya karena urusan yang sangat kecil dia bentrok dengan Hong Mong Ling, akhirnya seorang diri dia lari ke atas puncak selaksa Buddha, duduk hingga pagi membuat orang-orang yang mencari cape setengah mati"
"Kalau memang begitu mari kita pergi ke puncak selaksa Buddha untuk melihat-lihat"
"Baik"
Sahut Huang Puh Kian Pek sambil mengangguk.
"Untuk menuju ke puncak selaksa Buddha ada dua jalan, kau menggunakan jalan sebelah selatan biarlah lohu menggunakan jalan sebelah timur, kita bertemu di atas"
Kedua orang itu sekali lagi menaiki tebing tersebut dan berpisah untuk masing-masing dari arah selatan dan timur menuju ke puncak selaksa Buddha.
Ti Then yang tidak paham akan jalan di sana terpaksa melakukan perjalanan sangat perlahan sekali, baru saja dia tiba dilereng puncak mendadak dari sebelah kiri berkumandang datang suara bentrokan senyata yang sangat ramai sekali.
Ehmmm...ditengah malam buta pada pegunungan yang demikian sunyi siapa yang sedang bertempur?
Dalam ingatannya segera terpikirkan kalau salah satu diantara mereka tentu adalah Wi Lian In, dia tidak berani berlaku ayal lagi dengan cepat tubuhnya berkelebat menuju ke sana.
Sesudah melewati hutan itu dan berjalan setengah li jauhnya sampailah disebuah tebing curam, hanya saja suara bentrokan senyata itu berasal dari bawah tebing tersebut.
Dengan diam-diam dia mendekati jalanan di samping tebing itu dan menengok ke bawah, terlihatlah kurang lebih lima kaki di bawah tebing tersebut terdapat sebuah batu cadas yang sangat lebar dengan lebar kurang lebih tiga kaki dan panjangnya tujuh kaki, sedang dua orang yang sedang bertempur itu tidak lain adalah Wi Lian In serta Hong Mong Ling adanya.
Kiranya Hong Mong Ling belum meninggalkan daerah gunung Go-bi ini.
Hal ini sama sekali diluar dugaan Ti Then, pikirnya.
"Urusan ini sungguh aneh sekali, bangsat cilik tersebut ternyata masih berani berdiam didaerah sekitar gunung Go-bi ini, apa mungkin dia masih tidak mau menyerah begitu saja dan mengajak Wi Lian In untuk bertemu di tempat ini?"
Kelihatannya pertempuran antara Wi Lian In serta Hong Mong Ling itu sudah berjalan sangat lama sekali, sedang diantara mereka berdua pun kelihatan sudah mulai merasa lelah hanya saja keadaan dari Wi Lian In jauh lebih celaka, jurus-jurus serangannya hanya dilancarkan untuk melindungi dirinya sendiri saja sedang tenaganya kelihatan dengan jelas sudah dikuras habis, sebaliknya Hong Mong Ling setindak demi setindak mulai mendesak mendekati tubuhnya.
Diluar tebing tersebut gelap gulita tidak terlihat apa pun juga.
Tidak terasa Ti Then menghembuskan napas dingin, pikirnya.
"Hemm..apa mungkin dia ingin membunuh Wi Lian In?"
Baru saja dia berpikir sampai di sana, mendadak terlihatlah pedang dari Wi Lian In berhasil dipukul terpental ketengah udara dan melayang jatuh kedasar jurang.
Tidak terasa lagi air muka Wi Lian In berubah dengan sangat hebatnya, tanpa terasa lagi dia mundur satu langkah ke belakang.
Asalkan dia mundur lagi satu langkah maka tubuhnya akan terjatuh ke dalam jurang dan tubuhnya akan hancur lebur terkena batu-batu cadas yang tajam dan menongol ke atas.
Dengan meminyam kesempatan ini Hong Mong Ling menempelkan ujung pedangnya ke depan dadanya, ujarnya dengan keras.
"Jangan bergerak!"
"Ayoh tusuk..ayoh cepat tusuk"
Ujar Wi Lian In sambil tertawa sedih. Sekali pun saat itu Hong Mong Ling mendapatkan kemenangan tetapi kelihatan sekali hatinya merasa tidak puas, dengan sedih ujarnya.
"In moay, kau..kau sungguh-sungguh tak mengingat kecintaan kita pada masa yang lalu? Kamu tahu aku masih sangat cinta padamu, asalkan kamu.."
"Tutup mulut!"
Bentak Wi Lian In sambil melototkan matanya lebar-lebar.
"Sekarang masih ada perkataan apa lagi yang hendak kau ucapkan?"
Air muka Hong Mong Ling kelihatan sedikit bergerak, kemudian barulah ujarnya lagi.
"Aku sudah bilang berpuluh-puluh kali padamu aku sama sekali tidak cinta itu pelacur Liuw Su Cen, kejadian yang sudah terjadi itu hanya suatu permainan belaka. Asalkan kamu mau memaafkan diriku maka aku sanggup membawa batok kepala Liuw Su Cen untuk kau lihat.."
Wi Lian In menjadi semakin gusar, bentaknya dengan keras.
"Tutup bacotmu. Liuw Su Cen sudah berbuat salah apa terhadap dirimu? Buat apa aku butuhkan batok kepalanya?"
"Kalau begitu kamu minta aku berbuat apa?"
Tanya Hong Mong Ling sambil menghela napas panjang.
"Aku minta kau menggelinding dari sini, aku minta kau menggelinding jauh-jauh dari hadapanku..cepat pergi!"
Mendengar bentakan itu air muka Hong Mong Ling berubah semakin hebat, sambil tertawa dingin ujarnya.
"Aku tahu kenapa kamu demikian bencinya terhadap aku. Hemmm..hemm..jika bukannya datang seorang yang bernama Ti Then kamu juga tidak mungkin bisa bersikap demikian terhadap diriku"
Wi Lian In menjadi melengak, tidak disangka olehnya dia bisa berbicara begini, tetapi sebentar kemudian sudah menjadi gusar lagi, bentaknya.
"Kamu bilang apa?"
Pada air muka Hong Mong Ling terlihatlah perasaan dengki dan bencinya, ujarnya dengan gemas.
"Kamu melihat kepandaian silat dari Ti Then jauh lebih tinggi dari kepandaianku maka hatimu segera berubah dan ingin dijodohkan dengan dia bukan begitu? Hemmmm.."
Saking jengkelnya air muka Wi Lian In segera berubah menjadi pucat pasi, teriaknya berkali-kali.
"Tidak salah, tidak salah ! tidak salah, Ti Then memang berwajah jauh lebih tampan dari kamu, kepandaian silatnya pun jauh lebih tinggi dari dirimu maka aku ingin dikawinkan dengan dirinya, kamu mau berbuat apa?"
"Hemm..hemmm..bagus sekali, bagus sekali"
Ujar Hong Mong Ling sambil tertawa dingin tak henti-hentinya.
"Bagus sekali. Manusia budiman harus dijodohkan dengan perempuan cantik, aku bisa mengabulkan keinginanmu ini hanya saja..hemm..hemmm..."
Berbicara sampai di sini pedang yang ditempelkan pada jantungnya ditekan lebih dalam lagi sedang wajahnya sambil meringis seram memandangi tajam wajahnya.
Dalam hati Wi Lian In mengira kalau dia sudah bangkit napsu untuk bunuh dirinya tidak terasa dia menjerit kaget sedang tubuhnya membungkuk ke belakang.
Hong Mong Ling memangnya menginginkan dia berbuat demikian, tubuhnya dengan cepat maju ke depan sedang dua jari tangan kirinya dengan cepat menotok jalan darah kaku ditubuhnya.
Wi Lian In tidak sempat menghindarkan diri lagi, dengan mengeluarkan suara dengusan perlahan tubuhnya rubuh ke atas tanah.
Tangan kiri Hong Mong Ling sesudah menotok jalan darah kakunya segera tangannya meraba kearah dadanya, dengan air muka penuh napsu birahi ujarnya.
"Hemmm..he he he...sesudah aku rusak perawanmu kamu orang boleh kawin dengan Ti Then"
Air muka Wi Lian In berubah sangat hebat sekali, makinya.
"Binatang. Kamu manusia gila..binatang!"
"Ayoh teriak...ayoh teriak yang keras!"
Seru Hong Mong Ling sambil tertawa dingin.
"Ditempat seperti ini sekali pun kamu berteriak hingga tenggorokanmu pecah juga tidak aka nada orang yang dengar teriakanmu ini"
OooOOOooo Bab 11 Sehabis berkata dia menarik tubuhnya ke bawah tebing tersebut.
Kiranya di bawah tebing itu terdapatlah sebuah gua yang cukup lebar.
Ti Then yang takut dia melukai tubuh Wi Lian In sampai saat itu masih tetap berdiam diri tidak bergerak sedikit pun juga, tetapi begitu melihat dia membawa tubuh Wi Lian In ke dalam gua untuk diperkosa tidak tertahan lagi dia meloncat turun dengan cepatnya kearah depan gua tersebut.
Dengan cepat tubuhnya berhasil melayang turun di depan gua itu tanpa mengeluarkan suara sedikit pun juga.
Saat itu Hong Mong Ling baru saja meletakkan tubuh Wi Lian In ke atas tanah, mendadak terdengar diluar gua berkumandang suara berkelebatnya pakaian yang tersambar angin, tidak terasa hatinya tergetar sangat keras sekali, sambil melintangkan pedangnya di depan dadanya teriaknya.
"Siapa?"
Ti Then yang berada diluar gua dengan cepat menutup seluruh pernapasannya dan berdiri tanpa bergerak sedikit pun juga.
Hong Mong Ling sesudah memusatkan seluruh perhatiannya mendengar beberapa saat lamanya tetapi tetap tidak mendengar gerakan apa pun, hatinya malah diam-diam curiga, dia merasa mungkin dirinya sudah salah mendengar tetapi juga tak berani berlaku gegabah, terpaksa dengan menempelkan tubuhnya pada dinding gua, setindak demi setindak dia berjalan keluar dari gua untuk memeriksa.
Baru saja dia berjalan tiga langkah dari depan gua, mendadak dengan cepat dia menghentikan langkahnya, sesudah berpikir sebentar dengan perlahan-lahan buntalannya dilepas dan dilempar keluar gua.
Inilah yang disebut sebagai "melempar batu menanya jalan."
Tetapi sejak semula Ti Then sudah mendengar suara dilepaskannya buntalan, karena itulah begitu buntalannya dilempar ke depan dia tetap berdiam diri tidak bergerak sedikit pun juga.
Hong Mong Ling yang melihat dari luar gua tidak mendapatkan sambutan apa pun hatinya menjadi semakin lega, dengan cepat tubuhnya berkelebat keluar dari dalam goa.
Begitu tubuhnya berkelebat dengan cepat Ti Then mengulur tangannya mencekal urat nadi dari tangan kanannya.
Hong Mong Ling menjadi sangat terkejut, baru saja siap melepaskan dirinya dari cengkeraman itu mendadak terasa olehnya tubuhnya sudah kaku tanpa bertenaga, tidak terasa ujarnya dengan gemetar.
"Kau? Kamu...kamu...."
Ti Then tersenyum manis, ujarnya .
"Tidak salah, memang aku yang sudah datang. Mong Ling heng, kenapa kamu berbuat demikian tidak sopannya terhadap nona Wi?"
Wi Lian In yang menggeletak di dalam goa begitu mendengar suara Ti Then tidak tertahan lagi menjadi sangat girang, teriaknya.
"Ti Kiauwtauw, bunuh saja dia, bunuh binatang terkutuk itu!"
Air muka Hong Mong Ling yang sudah pucat pasi semakin memutih lagi, ujarnya sambil tertawa sedih.
"Tidak salah, Ti Kiauwtauw cepat bunuh aku saja daripada meninggalkan bencana di kemudian hari"
Ti Then hanya tertawa dingin saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sedang dalam hati pikirnya.
"Walau pun bangsat cilik ini bukan manusia baik tetapi bagaimana pun juga aku sudah merusak perjodohan mereka, bagaimana aku bisa bunuh dia lagi?"
Pikiran ini dengan cepat berkelebat di dalam benaknya dengan cepat dia memukul jatuh pedang panjang ditangannya, kemudian mendorong tubuhnya keluar, ujarnya sambil tertawa.
"Pergilah! Asalkan sejak hari ini bisa menyesali dosa-dosa yang sudah diperbuat mungkin suhumu masih mau mengam puni dosa-dosamu itu"
Hong Mong Ling yang di dalam anggapannya tentu akan binasa merasa jauh berada diluar dugaannya Ti Then mau melepaskan dirinya, sesudah melengak beberapa waktu lamanya barulah dia mundur beberapa langkah ke belakang, dengan pandangan melongo dia memandang wajah Ti Then dengan sangat tajam kemudian memungut kembali buntalannya dan meloncat pergi dari tempat itu.
Sesudah itulah Ti Then baru masuk ke dalam gua, tanyanya .
"Nona Wi, kamu tidak terluka bukan?"
Air mata Wi Lian In dengan derasnya mengucur keluar membasahi pipinya, ujarnya dengan nada setengah penasaran.
"Kenapa kamu tidak bunuh dia?"
"Cayhe tidak punya alas an untuk bunuh dirinya"
"Tetapi kamu juga tidak seharusnya melepaskan dia pergi"
"Heii.."
Ujar Ti Then sambil menghela napas panjang.
"Dari cinta memang bisa timbul perasaan benci, orang macam ini sering terdapat di dalam dunia, cayhe rasa orang itu harus dikasihani"
"Tetapi dia menotok jalan darahku dan mau memperkosa diriku"
Ujar Wi Lian In sambil melelehkan air matanya.
"Biarlah cayhe yang membebaskan jalan darah nona"
"Kamu tidak membebaskan totokan jalan darahku lalu menyuruh siapa yang membebaskan diriku?"
Ti Then hanya tersenyum saja, tangannya dengan cepat bergerak membebaskan totokan jalan darah kaku dari tubuh Wil Lian In.
Begitu jalan darahnya terbebas dengan cepat Wi Lian In meloncat bangun, tanyanya dengan cepat.
"Dia lari kearah mana?"
"Tidak perduli dia lari kearah mana pun kamu tidak akan sanggup untuk mengejarnya lagi"
Dengan melototkan matanya Wi Lian In memandang wajah Ti Then, kemudian sambil mencibirkan bibirnya ujarnya lagi.
"Agaknya kamu merasa simpatik terhadap dirinya, apa artinya ini?"
"Dalam hati cayhe merasa kesemuanya ini dikarenakan kesalahan cayhe kepada menolong dia pulang ke dalam Benteng, kalau tidak, tidak akan terjadi keretakan seperti ini"
Wi Lian In menjadi gemas, sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah, ujarnya lagi.
"Perkataan apa ini? Apa dia pergi mencintai seorang pelacur juga karena kesalahanmu?"
Ti Then hanya bisa mengangkat bahunya sahutnya sambil tertawa tawar.
"Pokoknya kalau nona merasa dia seharusnya dihukum mati, nanti kamu boleh lapor pada hu Pocu, aku percaya dengan kekuatan orang-orang dari seluruh Benteng tidak sukar untuk menawan dia kembali untuk dijatuhi hukuman mati"
Sesudah membetulkan pakaiannya barulah dengan langkah perlahan Wi Lian In berjalan keluar dari dalam gua, ujarnya dengan gemas.
"Sudah tentu aku harus laporkan peristiwa ini kepada Hu Pocu, Hemm.hemm sungguh tidak kusangka dia berani punya niat untuk memperkosa aku sesudah dia ditawan kembali aku akan turun tangan sendiri memberi hukuman mati kepadanya"
Ti Then pun mengikuti berjalan keluar dari gua, tanyanya mendadak.
"Dia sudah meninggalkan Benteng kemarin pagi, kenapa bisa muncul ditempat ini secara mendadak?"
"Siapa tahu?"
Ujar Wi Lian In tetap gemas.
"Ketika aku melihat terbenamnya matahari di atas batu cadas tadi mendadak dia muncul di sana, semula dia minta aku maafkan kesalahannya aku tidak mau saking malunya dia menjadi gusar dan turun tangan terhadap diriku"
"Heeii..ayahmu tidak tahu kalau dia masih berada di sekitar tempat ini, dia orang tua sudah bawa orang pergi cari dia"
"Biarlah besok pagi aku minta Hu Pocu untuk kirim orang memanggil kembali ayahku dan beritahu sekalian peristiwa ini biar dia orang tua semakin berniat keras untuk tawan dia pulang"
Berbicara sampai di sini tubuhnya yang kecil langsing dengan cepat meloncat melayang naik ke pinggiran tebing. Ti Then pun ikut meloncat naik, ujarnya lagi.
"Tadi dia bilang mau membawa batok kepala dari Liuw Su Cen untuk kau lihat, bisakah dia turun tangan untuk melaksanakannya?"
"Kini dia tidak akan melakukan hal itu, bilamana dia mencari Liuw Su Cen lagi tentu dia bermaksud membawa dia kabur"
Mendadak dia menoleh kearah Ti Then sambil tertawa pahit, ujarnya.
"Semua perkataan tadi kamu sudah mendengar?"
Ti Then sedikit mengangguk. Dengan perasaan malu Wi Lian In menundukkan kepalanya rendah-rendah, ujarnya.
"Dia bilang aku sudah berubah hati dan ingin...ingin..., sungguh perkataan kotor dari seekor anying!"
"Tidak ada perkataan yang baik dalam cekcok, nona harap berlega hati"
Ujar Ti Then sambil tersenyum. -ooo0dw0ooo-
Jilid 7.1. Wi Lian In diculik Mendadak Wi Lian In angkat kepalanya, sambil tersenyum manis ujarnya.
"Semula kamu bilang tidak mau keluar, kenapa sekarang datang ke sini juga??"
"Sewaktu cuaca mendekati gelap cayhe sedang dahar dengan Hu Pocu di ruangan dalam, ketika itulah Cun Lan datang melapor kalau nona belum pulang juga, Hu pocu merasa tidak tenteram hatinya, maka mengajak aku naik ke atas gunung untuk mencari nona". Ketika Wi Lian In mendengar dia keluar bersama-sama dengan Hu Pocu seperti juga baru saja meneguk secawan arak yang tidak punya rasa, senyuman dibibirnya segera lenyap tanpa bekas, ujarnya dengan nada sedikit tidak senang.
"Ooh kiranya begitu, dimana Hu Pocu?"
"Dia berpisah dengan cayhe untuk masing-masing menggunakan arah yang berlainan menuju ke puncak selaksa Buddha, saat ini mungkin dia sedang mencari nona di atas puncak"
"Heemm..buat apa aku pergi ke puncak selaksa Buddha?"
Mendengar perkataan itu Ti Then tersenyum sahutnya.
"Ketika kami tidak menemukan nona di dasar tebing di belakang kuil puncak emas maka dalam anggapan kita tentunya nona pergi ke puncak selaksa Buddha"
"Hmm..."
Ujar Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.
"Bilamana aku mau cari jalan pendek tebing di belakang kuil itu sudah cukup bagiku, buat apa menaiki puncak selaksa Buddha ini. ."
"Tapi aku lihat nona tidak akan mengambil jalan pendek lantaran dia bukan??"
"Lantaran dia? Hemm aku tidak akan sebodoh itu, pagi tadi aku sudah bilang sedikit pun hatiku tidak sedih"
"Ayoh jalan, kita harus cari Hu Pocu untuk bersama-sama pulang ke dalam benteng."
Wi Lien In segera mengelitkan tubuhnya ke samping, ujarnya.
"Aku masih tidak ingin pulang, aku mau duduk di sini melihat bulan."
Sambil berkata tubuhnya mendekati ke samping sebuah batu cadas yang besar kemudian duduk di sana tidak bergerak lagi. Ti Then menjadi melengak, tanyanya.
"Apanya yang bagus melihat bulan?"
"Aku memangnya senang melihat"
"Kalau begitu aku pergi cari Hupocu dulu, kemudian baru menjemput nona untuk pulang bersama-sama " .
"Kalian tidak usah cari aku lagi, sewaktu hatiku gembira aku bisa pulang sendiri". Ti Then menjadi geli, ujarnya sambil tertawa.
"Hei Nona selalu bilang hatinya tidak sedih, tetapi jika ditinyau dari sikap nona sekarang ini ."
"Aku betul-betul tidak sedih"
Potong Wi Lian In dengan cepat.
"Aku hanya mau duduk di sini melihat bulan, kamu jangan bicara sembarangan."
"Jika pikiran nona menjadi buntu"
Ujar Ti Then lagi sambil tertawa "Lalu terjun ke bawah, bagaimana aku harus beri tanggung jawabnya di depan Hu Pocu, lebih baik ikut aku pulang saja."
Agaknya Wi Lian In sudah ambil keputusan bulat, dengan sikap seorang nona besar tangannya dikempitkan satu sama lainnya dan tidak berbicara lagi.
Agaknya Ti Then sendiri juga takut kalau dia terjunkan diri ke dalam jurang.
Karena itu dia tetap berada di sana, dengan perlahan tubuhnya mulai bergeser dan duduk di samping tubuhnya ujarnya kemudian.
"Baiklah, cayhe akan menemani nona melihat bulan"
"Kau ikut duduk di sini melihat bulan jika sampai diketahui orang lain, apa kamu tidak takut kata-kata cemoohan?"
Ujar Wi Lian In dengan nada menyindir.
"Tidak takut"
Ujar Ti Then terus terang "Kali ini aku keluar bersama-sama dengan Hu pocu untuk mencari nona."
"Tapi aku mau duduk di sini sampai hari terang kembali."
"Tidak ada halangan, sekali pun mau duduk beberapa hari lagi aku juga tetap akan menemanimu, hanya saja dengan demikian. .."
"Kenapa ?"
Ti Then tersenyum, sahutnya dengan keras.
"Dengan demikian semua pendekar di dalam benteng akan tahu kalau nona masih rindu padanya"
Sebetulnya Wi Lian In merupakan seorang nona yang mem punyai sifat keras hati tetapi mendengar perkataan ini segera meloncat bangun ujarnya.
"Baiklah, mari kita pulang"
Ti Then tersenyum, dengan cepat tubuhnya bangkit kembali dan mengikuti dari belakang tubuhnya.
Kedua orang itu dengan cepatnya berlari menuju ke puncak selaksa Buddha, baru saja memusatkan seluruh perhatian mencari jejak Huang puh Kian Pek, terlihatlah dari sebuah jalanan kecil Huang puh Kian Pek dengan cepatnya berlari mendatangi.
Begitu dia melihat Ti Then berhasil menemukan Wi Lian In, hatinya menjadi sangat girang, ujarnya sambil tertawa.
"Hei budak kamu lari kemana?"
"Nona Wi sedang menikmati keindahan bulan dibatu cadas sebelab sana"
Ujar Ti Then sambil menunjuk ke arah cadas tersebut. Huang Puh Kian Pek menjadi tercengang, tanyanya.
"Bagaimana Ti Kiau tauw bisa tahu dia berada di sana?"
"Karena mendengar suara pertempuran yang seru membuat boanpwe tertarik dan lari ke sana?"
Air muka Huang puh Kian Pek menjadi berubah sangat hebat, sambil melotot ke arah Wi Lian In tanyanya.
"Kamu bertempur dengan siapa?"
"Hong Mong Ling."
"Apa? Dia belum meninggalkan tempat ini?"
Tanya Huang puh Kian Pek dengan sangat terkejut.
"Bagaimana kamu bisa bentrok dengan dia?"
Segera Wi Lian In menceritakan pengalamannya itu, ketika bercerita sampai tubuhnya diserat Hong Mong Ling ke dalam gua tak tertahan lagi dia menangis tersedu-sedu.
Huang puh Kian Pek menjadi sangat gusar, ujarnya kepada Ti Then.
"Ti Kiauwtauw kenapa melepaskan dia pergi?"
"Mong Ling heng sudah salah paham terhadap diri boanpwe, jika kini boanpwe tidak melepaskan dia pergi maka kesalah pahaman ini akan semakin mendalam."
"Manusia rendah seperti itu seharusnya Ti kauw tauw tidak usah memikirkan kesalahan pahaman itu lagi."
Ti Then hanya tersenyum saja tanpa memberikan jawaban.
"Jalan, mari kita pulang ke dalam benteng Lohu akan kirim orang untuk menawan dia kembali."
Ketika mereka bertiga sampai di dalam benteng Pek Kiam Po hari sudah menunjukkan tengah malam, Huang puh Kian Pek segera mengirimkan lima orang pendekar pedang merah untuk mengejar dan menawan Hong Mong Ling kembali kemudian memerintahkan pula untuk menyediakan arak dan sayur yang masih hangat, sesudah dahar bersama-sama dengan Ti Then dan Wi Lian In masing-masing baru kembali kekamar sendiri-sendiri untuk beristirahat.
Ti Then sekembalinya di dalam kamar tidak langsung buka pakaian untuk istirahat, karena dalam hatinya dia sudah ambil keputusan untuk menyelidiki loteng penyimpan kitab itu.
Sesudah memadamkan lampu mulailah dia duduk bersemedi, dalam hati dia punya rencananya menanti sesudah kentongan ketiga baru keluar kamar untuk mulai dengan gerakannya.
Tetapi baru saja bersemedi beberapa saat lamanya mendadak dalam benaknya berkelebat suatu ingatan yang sangat menarik sekali?
Teringat olehnya Wi Ci To atau dalam anggapan Ti Then merupakan Majikan patung emas itu sudah tidak berada di dalam benteng, sebaliknya majikan patung emas itu pernah bilang selamanya akan bersembunyi di dalam benteng Pek Kiam Po ini, dia pun bilang kalau punya urusan penting harus menyalakan lampu dan mengetuk tiga kali di depan jendela, kini Wi Ci To sudah tidak berada di dalam benteng Pek Kiam Po, kenapa dirinya tidak mengadakan hubungan dengan dia?
Ha ha ha ....Tentu dia tidak akan tahu kalau aku sedang mengadakan hubungan dengan dia, dengan demikian dirinya bisa membuktikan kalau dia adalah majikan "patung emas", lain kali ketika bertemu dengan dia lagi membikin malu dirinya.
-0000000-Sesudah mengambil keputusan, segera dia meloncat turun dari atas pembaringan.
Dia mencari korek api dan menyulut lampu yang sudah tersedia di dalam kamar itu, dengan perlahan lampu tersebut dibawa ke samping jendala dan mulai mengetuk sebanyak tiga kali.
setelah semuanya selesai barulah dia memadamkan kembali lampu tersebut dan meloncat naik ke pembaringan untuk mulai bersemedhi kembali, dia merasa perbuatannya ini sangat menggelikan sekali, dalam hati diam-diam tersenyum, pikirnya.
Jika kamu bisa melihat tandaku ini berarti kau bukan manusia tapi setan."
Ternyata benar juga satu jam sesudah tanda itu dibunyikan majikan patung emas belum juga dia memunculkan diri untuk bertemu.
saat itu cuaca mendekati kentongan ketiga.
Dengan perlahan dia membuka matanya dan siap turun dari atas pembaringan.
Tetapi baru saja matanya dibuka tubuhnya segera tergetar dengan sangat kerasnya, bahkan hampir-hampir saking kagetnya dia menjerit.
Kiranya di depan pembaringan berdirilah sebuah patung emas dengan agungnya.
Patung emas itu tetap seperti patung emas yang ditemukannya ketika berada dalam gua cupu-cupu di atas gunung Lo Cin san.
Dengan angkernya dia berdiri di depan pembaringannya tanpa mengeluarkan sedikit suara pun, keadaannya begitu menyeramkan membuat seluruh bulu roma Ti Then pada berdiri.
Karena dalam hati Ti Then sudah punya "Perhitungan"
Karenanya tidak sampai jatuh pingsan saking kagetnya tapi wajahnya tetap sudah berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat, hatinya berdebar dengan sangat keras, sama sekali tidak terduga olehnya kalau majikan patung emas Wi Ci To bisa muncul dengan demikian misterius?
Apa mungkin Wi Ci To bukan majikan patung emas itu.
Baru saja dia pikirkan persoalan ini mendadak dalam telinganya berkumandang masuk suara yang dikirim dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara, ujarnya.
"Ti Then kamu cari aku ada urusan apa?"
Tangan kanan dari patung emas yang berdiri di hadapannya diangkat sedikit ke atas seperti yang membuka mulut berbicara itu adalah "Dirinya"
Ti Then angkat kepalanya memandang ke atas, dia sudah dapat melihat kalau patung emas itu diturunkan dari atas atap.
atap di atasnya kini sudah terbuka lebar tetapi selain sepuluh utas tali bewarna hitam yang terjulur dari atas atap tak dapat terlihat sedikit bayangan tubuh dari majikan patung emas itu.
Ketika majikan patung emas yang bersembunyi di atas atap rumah itu tidak mendengar suara jawaban dari Ti Then di anggapnya Ti Then masih tertidur, dengan menggunakan patung emasnya yang dimajukan satu langkah ke depan kaki Ti Then di tepuknya beberapa kali, ujarnya lagi dengan lembut.
"Ti Then, cepat bangun."
Tidak tertahan lagi Ti Then menjadi tertawa geli, ujarnya sambil menengok ke atas.
"Aku tidak tertidur."
Patung emas itu segera ditarik kembali ketempat semula kemudian terdengar suara dari majikan patung emas itu berkumandang kembali.
"Kalau begitu cepat katakan maksudmu."
Sebetulnya Ti Then memang tidak punya persoalan yang hendak ditanyakan, mendengar perkataan itu sambil menggaruk-garuk kepala ujanya.
"Aku kira kau sudah keluar benteng."
"Hemm..kenapa aku harus keluar benteng??"
Tanya majikan patung emas itu dengan dingin.
"Aku kira kau pergi mencari Hong Mong Ling."
Majikan patung emas yang berada di atas atap rumah itu berdiam diri beberapa saat lamanya kemudian barulah ujarnya dengan perlahan.
"Sungguh lucu ..... sungguh lucu, kau tetap mencurigai aku adalah Wi Ci To itu"
Ti Then tidak mau mengakui kebenaran kata-kata itu, sahutnya dengan perlahan.
"Tidak. aku mengira kau juga ikut mengejar Hong Mong Ling kemudian membasminya"
"Kamu sudah berhasil merusak perkawinan antara dia dengan Wi Lian In, buat apa aku harus cari dia?"
"Kamu lihat bagaimana dengan kemajuanku ini?"
Tanya Ti Then sambil tertawa.
"Tidak perlahan, tetapi agaknya kamu tidak terlalu senang untuk bergaul kembali dengan Hong Mong Ling, apa maksudmu ini?"
"Hanya dengan berbuat begini nona Wi baru tidak merasa curiga kalau aku sedang merusak perhubungan cintanya dengan Hong Mong Ling, dengan begitu barulah dia menaruh simpatik kepadaku, dia baru tertarik padaku."
"Ehmmm ..baiklah"
Ujar majikan patung emas sesudah berpikir sebentar.
"Semakin cepat semakin baik, lain kali kalau dia beri tanda menaruh cinta padamu kamu orang, tidak boleh berpura-pura lagi."
"Aku mau ajak kamu rundingkan sesuatu hal."
"Rundingkan urusan apa?"
"Kamu menyuruh aku memperistri nona Wi sudah tentu punya tujuan tertentu, tetapi apakah mengharuskan sesudah aku berhasil memperistri dirinya terlebih dahulu baru bisa mencapai tujuanmu?"
"Tidak salah"
"Tujuanmu apa tersimpan didalan loteng penyimpanan kitab dari Wi Ci To itu"
Tanya Ti Then lagi.
"Bukan"
"Sungguh bukan ?"
"Hmmm ... harap kamu orang perhatikan, kamu hanya merupakan sebuah patung emas yang sedang melaksanakan pekerjaanku, benar atau bukan kamu tidak punya hak untuk mengetahuinya "
"Kamu salah tangkap"
Ujar Ti Then sambil tersenyum.
"Maksudku jika benda yang kamu inginkan terdapat ditengah loteng penyimpanan kitab itu, aku bersedia carikan benda itu keluar sehingga tidak perlu merusak dan merugikan nama baik dari seorang nona"
"Tidak mungkin tidak mungkin .... kamu jangan sekali-kali masuk loteng penyimpan kitab itu"
"Kenapa?"
Tanya Ti Then tercengang.
"Karena begitu kamu masuk ke dalam jangan harap bisa keluar dalam keadaan hidup"
"Kenapa?"
Tanya Ti Then dengan penuh keheranan "Apa di dalam loteng penyimpan kitab itu tersembunyi alat rahasia yang sangat lihay?"
"Benar"
"Asalkan sedikit berhati-hati."
"Sekali pun kamu berhati-hati bagaimana macam pun tidak berguna"
Potong majikan patung emas itu dengan cepat.
"Loteng penyimpan kitab itu sampai aku sendiri pun tak berani masuk apalagi kamu, kecuali kamu sudah bosan hidup,"
"Ooh tidak kusangka sama sekali kalau alat-alat rahasia di dalam loteng penyimpan kitab itu sangat sukar untuk dilalui sehingga kamu sendiri pun tak berani masuk .."
"Aku beritahu padamu lagi, Wi Ci To sekarang sedang bersembunyi di dalam loteng penyimpan kitab itu, begitu kamu masuk maka semua urusan akan menjadi berantakan"
"Hai? Bukankah Wi Ci To sudah ke luar Benteng??"
Tanya Ti Then dengan sangat terkejut.
"Dia pura-pura meninggalkan benteng kemudian secara diam-diam kembali ke dalam benteng kembali dan bersembunyi di dalam loteng penyimpan kitab itu."
Dalam hati tidak tertahan lagi Ti Then merasa bergetar dengan sangat keras, sambil menjerit kaget ujarnya.
"Oooh Thian... apa tujuannya dengan berbuat begitu?"
"Menanti kamu masuk ke dalam jebakan"
"Oooh . ..."
"Dia sudah menaruh perasaan curiga kalau Lu Kongou itu adalah hasil samaranmu, semakin mencurigai kalau tujuanmu berada dalam loteng penyimpanan kitabnya maka dengan pura-pura beralasan hendak mengejar Hong Mong Ling dan mengatakan pula kepada Hu Pocu untuk membuktikan Lu Kongeu apa benar hasil penyamaranmu, bersama-sama si pedang pemetik bintang Hung Kun meninggalkan benteng, padahal yang betul-betul ke kota Tiang An hanya Hung Kun seorang, sedang dia sendiri secara diam-diam kembali lagi ke dalam benteng dan bersembunyi di dalam loteng penyimpan kitab itu, karena itulah, jika kamu memasuki loteng penyimpan kitabnya maka dengan begitu keadaanmu akan segera tertangkap basah."
"Sungguh berbahaya sekali kalau begitu, barang apa yang disembunyikan di dalam loteng penyimpan kitabnya itu sehingga Hu pocu serta putrinya sendiri juga tidak boleh masuk?"
"Aku juga tidak tahu"
"Tidak mau beritahu padaku atau tidak tahu?"
"Tidak tahu"
"Baiklah"
Ujar Ti Then kemudian "Baiklah kita bicara persoalan semula, kalau memangnya dia sudah merasa curiga kalau Lu kongcu itu adalah hasil penyamaranku, bagaimana mau menjodohkan putrinya kepadaku?"
"Dia hanya merasa curiga saja, sampai saat ini juga masih belum berani memastikan kalau Lu kongcu itu adalah hasil penyamaranmu. Begitu si pendekar pemetik bintang Hung Kun itu sampai dikota Tiang An, segera akan diketahui olehnya kalau Lu kongcu adalah aku"
"Urusan ini aku akan uruskan, kamu orang tidak usah merisaukan"
Sahut majikan patung emas cepat.
"Kamu mau bunuh itu pendekar pemetik bintang Hung Kun"
"Tidak"
Sahutnya perlahan.
"Bunuh dirinya bukan merupakan penyelesaian yang tepat, terus terang saja aku beritahu padamu aku sudah kirim orang yang menyamar persis seperti kamu untuk menyamar sebagai Lu kongcu dan muncul di hadapan Hung Kun, dengan demikian Hung Kun akan balik ke dalam Benteng untuk melaparkan pada Wi Ci To kalau Lu Kongcu itu memang persis seperti kau, dengan demikian Wi Ci To tidak akan mencurigai dirimu lagi."
"Pendapat yang sangat bagus"
"Sekali lagi aku beri tahu pada mu"
Ujar majikan patung emas itu dengan keren.
"Kecuali Wi Ci To dengan rela hati mengajak kamu memasuki loteng penyimpanan kitabnya, jangan sekali-kali kamu berani mencuri masuk."
"Baiklah"
"Masih ada lagi, jangan bertindak diluar garis yang sudah ditentukan, hari kedua sesudah kamu memasuki benteng, Wi Ci To sudah mengirim empat pendekar pedang merah yang siang malam terus menerus mengawasi gerak gerikmu. sekarang mereka berada di belakang kamarmu."
"Oooh .... aku tidak sangka dia bisa berlaku demikian . ."
"Pokoknya. ."
Potong majikan patung emas itu lagi "sejak ini hari asalkan dengan setulus hati dan sejujurnya kamu bergaul dengan Wi Lian In sudah cukup, jika tidak mendapat petunjukku jangan bertindak secara gegabah."
"Baiklah"
"Ada persoalan lain yang mau ditanyakan lagi ?"
"Ada dua persoalan, Pertama kalau memang Wi Ci To sudah mengirim empat orang pendekar pedang merah untuk mengawasi gerak gerikku dari luar kamar bagaimana mereka tidak bisa menemukan dirimu berada di atas atap kamarku ini ?"
"Hemm ... kamu berani tanya gerak gerikku."
"Hanya ingin tahu saja"
"Sudah tentu aku punya cara untuk membuat mereka tidak tahu, apa pertanyaanmu yang kedua?"
"Ehmm ..."
Sahut Ti Then perlahan.
"Kamu bilang Wi Ci To bersembunyi di dalam loteng penyimpan kitab, tahukah kamu dia akan bersembunyi di dalam loteng penyimpan kitab itn seberapa lama"
"Dia membawa air serta rangsum kering dalam jumlah yang banyak. kemungkinan selama satu bulan lamanya.
"Tujuannya apa sedang menunggu aku masuk ke sana atau tidak??"
"Benar"
Sahutnya sambil tersenyum tawa, begitu dia membuktikan kalau kamu tidak punya maksud jahat, maka dia akan menaruh penghargaan tinggi terhadap dirimu, kemungkinan sekali tanpa membuang banyak waktu akan menjodohkan putrinya kepadamu."
"Begitu kamu teringat sesuatu siasat untuk mencapai tujuanmu tanpa membutuhkan aku kawin dengan nona Wi, harap cepat-cepat beritahu padaku."
"Sama sekali tidak ada, kamu harus kawin dengan Wi Lian In."
Berbicara sampai di sini dengan cepat majikan patung emas menarik kembali patung emasnya, siap meninggalkan tempat itu.
Dengan amat teliti sekali Ti Then memperhatikan patung emas itu ditarik ke atas hingga sampai melihat majikan patung emas itu menariknya ke atap kemudian terlihat pula dua buah tangan yang sangat samar menutup kembali atap itu seperti sedia kala.
Kedua tangan itu sudah tentu tangan dari majikan patung emas itu.
Dengan sekuat tenaga Ti Then memandang tajam ke atas, tetapi tetap tidak berhasil memandang jelas kedua buah tangannya bahkan dia sama sekali tidak bisa melihat tangan itu milik seorang pria atau atau milik seorang wanita.
sungguh hingga kini dia lama sekali tidak tahu majikan patung emas itu seorang lelaki atau perempuan karena nada suara dari majikan patung emas itu jika didengar boleh dikata mirip seorang lelaki tetapi boleh dikata mirip seorang perempuan.
Dengan termangu-mangu dia memandang ke atap rumah hingga majikan patung emas serta patung emasnya hilang lenyap.
tapi dalam otaknya berputar terus, semakin berpikir, semakin bingung ...
Yang membuat dia paling terkejut adalah Wi Ci To itu ternyata bukan majikan patung emas itu, selama itu dia selalu menganggap Wi Ci To adalah majikan patung emas itu, tetapi sekarang mau tak mau harus mengakui kalau dugaannya itu sama sekali salah besar, karena jika majikan patung emas itu adalah Wi Ci To maka dia tidak akan memberitahukan jejaknya kepada dirinya.
Sekali pun hal ini bisa diartikan Wi Ci To takut dirinya menerjang masuk ke dalam loteng penyimpan kitabnya maka sengaja berkata untuk menakuti dirinya tetapi jika dirinya benar-benar nekad menerjang masuk ke dalam loteng penyimpanan kitab itu, walau pun kemungkinan bisa keluar dalam keadaan hidup, hidup tetapi dirinya tentu akan diusir keluar, dengan begitu bukankah tujuannya akan menjodohkan dirinya dengan putrinya itu akan berantakan, Maka Wi Ci To terbukti bukanlah majikan patung emas itu.
Kalau Wi Ci To bukan majikan patung emas itu, lalu siapakah majikan patung emas yang sebenarnya?
Apa Hu pocu Huang puh Kian Pek?
Tidak.
Tadi majikan patung emas sudah bilang kalau Wi Ci To secara diam-diam kembali ke dalam benteng dan bersembunyi di dalam loteng penyimpanan kitab pada malam tadi, sebaliknya malam tadi Huang Puh Kian Pek sedang keluar benteng mencari Wi Lian In, dia tidak akan tahu kalau Wi Ci To sudah kembali ke dalam benteng sehingga tidak mungkin pula kalau dia adalah majikan patung emas.
Lalu siapa yang mirip sebagai majikan patung emas itu??
Jika dia bukan salah satu anggota benteng Pek Kiam Po ini bagaimana bisa bersembunyi di dalam benteng begitu lama tanpa ditemui orang lain?
Berpikir sampai di situ Ti Then hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, dia merasa sekali pun dipikir lebih lama juga tidak ada gunanya, dia segera melepaskan sepatu danpakaiannya untuk beristirahat.
Dia mengambil keputusan untuk mendengar perkataan majikan patung emas, tidak pergi ke loteng penyimpanan kitab itu.
Suatu pagi hari yang cerah muncul kembali, sinar matahari yang cerah menyinari kembali seluruh jagat raya.
Ti Then tepat waktunya sudah tiba ditengah iapangan latihan silat untuk memberi pelajaran silat kepada Wi Lian In serta Yuan Ci Liong sekalian delapan orang pendekar pedang merah.
Setiap hari dia memberi pelajaran hingga siang hari, sore harinya para pendekar pedang merah itu melakukan latihannya sendiri-sendiri, keadaan ini hari pun sama halnya sesudah memberi latihan hingga siang barulah dia pergi dahar, bersama sama dengan Huang Puh Kian pek.
"Ti kauw tauw"
Kamu paham main catur?"
"Ahh-sedikit-sedikit saja, cayhe dengar pocu sangat lihay di dalam permainan catur?"
"Benar"
Sahut Huang puh Kian Pek sambil mengangguk.
"suhengku memang sangat gemar main catur, permainannya boleh dikata sangat lihay sehingga sukar untuk dicarikan tandingannya "
"Kalau begitu, permainan catur Hu Pocu juga tidak jelek"
Ujar Ti Then sambil tertawa.
"Tidak bisa..tidak bisa"
Ujar Huang puh Kianpek sambil gelengkan kepalanya kembali "Walau suhengku sudah mengalah tiga biji catur kepadaku, lohu masih tidak sanggup untuk bertahan."
"Jika ini hari Hu Pocu tidak punya kerjaan, bagaimana kalau memberi petunjuk satu permainan kepada diri boanpwe?"
"Petunjuk dua kata lohu tidak berani terima, mari kita main satu kali untuk menentukan kelihaian masing-masing saja."
Demikianlah Huang puh Kian Pek segera memerintahkan bawahannya menyediakan alat-alat catur, dengan Ti Then memegang biji hitam mereka berdua mulailah bermain catur sambil bercakap-cakap.
Sesudah berjalan puluhan kali, masing-masing saling bertukar pandangan satu kali dan masing-masing memperlihatkan senyuman gembiranya.
Kiranya permainan catur dari kedua orang itu seimbang, bahkan masing-masing gemar memainkan catur dengan bany k penyerangan sehingga dengan demikian semakin bermain semakin menarik dan semakin menggembirakan.
Dikarenakan permainan catur yang seimbang inilah membuat mereka berdua tidak ada yang mau mengalah satu tindak pun., setiap bertemu dengan keadaan kritis mereka tidak ada yang mau membuang begitu saja karena itulah begitu satu permainan selesai harus membuang waktu selama dua jam lamanya.
Akhirnya biji hitam yang memenangkan permainan itu.
Dengan air muka yang sudah berubah merah padam ujar Huang puh Kianpek.
"Ti kauw tauw sungguh pandai baik dalam Bun mau pun dalam Bu, tidak kusangka permainan catur pun sangat lihai sekali"
"Mana mana . ."
Ujar Ti Then sambil tersenyum.
"sekali pun boanpwe menang satu tindak tetapi jika ditinyau permainannya Hu Pocu jauh lebih tinggi satu tingkat karena boanpwe bermain terlebih dulu"
Agaknya Huang puh Kian Pek sendiri merasa kalau dirinya seharusnya memang menang, sambil tersenyum lalu sahutnya.
"Bagaimana kalau bermain satu kali lagi?"
"Baiklah."
Huang puh Kian Pek segera memindahkan biji putihnya kepada Ti Then, ujarnya lagi .
"Mari kita bicarakan siapa dahulu siapa terakhir, kali ini seharusnya kamu memegang biji putih"
Ti Then dengan mendorong kembali biji itu kepadanya, ujarnya sambil tertawa.
"Tidak berani, lebih baik kita main sekali lagi, lihat-lihat bilamana beruntung boanpwe menang lagi barulah kita tentukan"
Huang puh Kian Pek tidak menampik lagi sehingga mereka berdua sekali lagi bermain catur.
Kali ini Huang puh Kian Pek punya niat untuk memperoleh kemenangan karenanya permainannya bersungguh-sungguh, selamanya harus membuang waktu yang lama untuk majukan sebiji caturnya pun karenanya permainan ini sangat lambat.
Wi Lian In yang mendengar mereka berdua sedang bermain catur, dengan amat seru datang juga untuk melihat pertempuran itu, bahkan berkali-kali dia memberi pendapatnya kepada Ti Then, hanya sayang karena permainannya yang rendah sehingga seluruh pendapatnya hanya merupakan catur-catur busuk saja.
Baru permainan hingga pertengahan, cuaca sudah mendekati gelap kembali.
Ujar Huang puh Kan Pek mendadak.
"Permainan ini mungkin baru selesai tengah malam, lebih baik kita dahar dahulu baru melanjutkan permainan ini."
Sudah tentu Ti Then tidak menampik, ke tiga orang itu bersama-sama pergi dahar di ruangan dalam baru mereka berdahar datanglah lima orang pendekar pedang merah menghadap Huang puh Kian Pek.
Mereka adalah kelima orang yang menerima perintah untuk menangkap Hong Mong Ling kemarin malam.
Tanya Huang Puh Kian Pek begitu melihat mereka menghadap di depannya.
"Bagaimana? Sudah menangkap dia kembali?"
"Belum"
Sahut seorang pendekar pedang merah diantara kelima orang itu.
"Tecu sekalian berpencar mencari di sekeliling ratusan li tetapi tidak menemui jejaknya sama sekali"
"Baiklah, kalian boleh beristirahat"
Ujar Huang Puh Kian Pek sambil mendengus dingin. Kelima orang pendekar pedang merah itu sesudah memberi hormat bersama-sama mengundurkan diri dari ruangan itu. Dengan gemas ujar Wi Lian In.
"Aku tidak percaya kalau dia bisa lari begitu jauh, lewat beberapa hari kemudian aku mau mencarinya sendiri"
"Lebih baik tunggu ayahmu kembali saja"
Ujar Huang Puh Kian pek sambil menghela napas panjang "Asalkan ayahmu punya niat untuk menawan dia, cukup mengeluarkan perintah "seratus pedang"
Maka seluruh pendekar pedang merah yang berkeliaran diluaran akan segera mengadakan penge pungan, tidak takut dia bisa terbang meloloskan diri."
"Heii . ."
Ujar Ti Then pula sambil menghela napas panjang.
"Mong Ling heng berkelana diluaran, cayhe kira bukan merupakan suatu dosa yang besar, hanya saja niatnya untuk memperkosa nona Wi kemarin malam merupakan suatu kejadian yang tidak seharusnya"
"Lohu juga tidak menyangka sama sekali kalau dia berani berbuat demikian kurang ajarnya, sungguh terkutuk manusia itu."
Sambil berdahar sambil bercakap-cakap sesudah selesai barulah bersama-sama kembali lagi ke ruangan tamu Wi Lian In yang menonton jalannya pertempuran yang seru itu dikarenakan permainan Huang Puh Kian pek yang sangat lama, hatinya tidak sabar lagi maka dia mengundurkan diri terlebih dulu ke dalam kamar.
Kini ditengah ruangan tamu hanya tinggal Huang Puh Kian pek serta Ti Then dua orang yang bermain catur dengan tenangnya, seluruh perhatian mereka berdua di pusatkan pada permainan itu sehingga tanpa terasa hari semakin larut malam.
Tidak salah lagi permainan catur itu berakhirpada tengah malam dan hasilnya sama-sama kuat.
Huang Puh Kian pek tersenyum ujarnya.
"Walau pun lohu sudah putar seluruh otak ternyata hasilnya sama kuat saja, kelihatannya untuk memenangkan dirimu buat lohu masih merupakan suatu perjalanan yang sangat rumit."
Ti Then hanya tersenyum saja, ujarnya merendah.
"Permainan yang ketiga ini boanpwe tentu akan menemui kekalahan."
"Heeei, sudah larut malam, lebib baik besok pagi saja, kita bertarung lagi untuk menentukan siapa menang siapa kalah."
Kedua orang itu dengan cepat membereskan biji-biji caturnya dan bertindak kembali kekamarnya masing-masing, mendadak dengan air muka terkejut Cun Lan itu budak dari Wi Lian In dengan tergesa-gesa lari masuk ke dalam ruangan, teriaknya.
"Jiya Celaka, siocia hilang, nona sudah lenyap dari kamarnya"
Huang Puh Kian Pek menjadi melengak sambil mengerutkan alis ujarnya.
"Bagaimana bisa hilang lagi?"
Dengan napas terburu-buru ujar Cun Lan lagi.
"sewaktu budakmu mau tidur mendadak dari kamar nona terdengar suara teriakan keras dengan cepat budakmu mengetuk pintunya tetapi tetap tidak dibuka, maka budakmu berputar ke belakang, dari sana melihat pintu jendela terbuka lebar-lebar sedang siocia sudah tidak ada di atas pembaringannya, agaknya ... agaknya dia diculik orang."
Mendengar perkataan itu air muka Huanpuh Kiam Pek segera berubah hebat, tubuhnya dengan cepat berkelebat menuju ke halaman dalam, Ti Then pun mengikuti dari belakang menuju ke dalam, di dalam sekejap mata mereka berdua sudah tiba diluar kamar Wi Lian In, Huang Puh Kian Pek dengan cepat mendorong pintu kamar, ketika melihat pintu tersebut tidak bisa dibuka dengan cepat melancarkan satu serangan dahsyat membuat pintu tersebut hancur berantakan terkena angin pukulan yang sangat dahsyat itu.
Di dalam kamar hanya terlihat lampu masih bersinar dengan terangnya.
Wi Lian In sudah tidak berada di dalam kamar bahkan selimut serta kain di atas pembaringan kacau balau tidak karuan, bantalnya terjatuh di atas tanah sedang jendela belakang terbuka lebar-lebar, jika ditinyau keadaannya memang benar dia sudah diculik orang.
Air muka Huang Puh KianPek berubah menjadi pucat pasi, teriaknya dengan keras.
"Tentu dia .... tentu dia . ."
"Apa Mong Ling heng ????"
Tanya Ti Then terkejut.
"Bukan dia siapa lagi ??"
Ujar Huang Puh Kian Pek dengan sangat gusar.
"Bangsat cilik, ternyata dia berani melakukan pekerjaan ini ..."
"Mari kita lihat ke halaman belakang."
Ujar Tri Then keras kemudian tubuhnya dengan cepat berkelebat keluar melalui jendela yang terbuka itu. Diluar jendela itu adalah sebidang kebun bunga yang sangat luas.
Jilid 7.2 SIAPA DALANG PENCULIKAN NONA WI?
Huang Puh Kian Pek dengan cepat mengikuti dari belakangnya sesudah memeriksa dengan teliti setengah harian lamanya tetap tidak mendapatkan hasil sedikit punjua.
Ujar Huang Puh Kian Pek lagi.
"Bukit sian Ciang Yen tidak mungkin bisa didaki olehnya, tentu dia melarikan diri melalui sebelah kiri atau kanan."
"Apa diluaran tidak ada saudara-saudara kita dari benteng yang menyaga?"
"Ada, di sebelah sana semuanya ada beberapa orang pendekar pedang hitam yang menyaga malam, hanya saja bangsat cilik itu memahami keadaan benteng kita dengan sangat jelas sekali, pendekar-pendekar pedang hitam itu tak akan bisa menemukan dia"
"Urusan tidak bisa berlarut-larut lagi, mari kita mencari dengan berpisah."
Sehabis berkata tubuhnya dengan cepat berkelebat menuju kearah sebelah kanan dari kebun bunga itu.
HUANG PUH KIAN PEK juga tidak berani berlaku ayal lagi, dengan Cepat tubuhnya berkelebat menuju kearah sebelah kiri dari kebun bunga itu, dua orang yang satu dari sebelah kiri dan yang lain dari sebelah kanan dengan kecepatan yang luar biasa dalam sekejap saja sudah keluar dari Benteng untuk melakukan pengejaran ke depan.
Begitu Ti Then keluar dari tembok benteng sebara diketahui oleh penjaga malam ditempat itu yaitu seorang pendekar pedang hitam, di karenakan cuaca yang begitu gelap membuat pendekar pedang hitam itu tidak sanggup melihat jelas kalau dia adalah Ti Kauw tauw, mereka sambil mengacungkan pedang panjang bentaknya dengan keras.
"Kawan dari mana harap berhenti."
Dengan cepat Ti Then menghentikan langkah kakinya, sahutnya dengan perlahan.
"saudara aku adanya."
Pendekar pedang hitam itu dengan cepat menubruk datang tetapi begitu dilihatnya orang itu adalah Ti Kauw tauw mereka dengan gugup memberi hormat ujarnya.
"Ooh kiranya Ti Kauw tauw adanya maaf ... maaf."
"Kamu melihat seseorang yang melarikan diri dari sini."
Mendengar pertanyaan itu pendekar pedang tersebut menjadi sangat terperanyat, sahutnya.
"Tidak ada? Apa ada musuh yang menyerang benteng?"
"Benar"
Sahut Ti Then sambil mengangguk "Nona Wi diculik orang."
"Haaa ? siapa yang menculik nona Wi?"
Tanya pendekar pedang hitam itu semakin terkejut.
"Tidak tahu, tetapi banyak kemungkinan hasil perbuatan dari Hong Mong Ling, cepat kumpulkan seluruh saudara yang berjaga disekitar tempat ini"
Dengan cepat pendekar pedang hitam memasukan jari tangannya ke dalam mulut membunyikan kedua kali suara suitan yang tinggi melengking, hanya cukup memakan walau sedikit sekali terlihatlah tiga orang pendekar pedang hitam dengan kecepatan yang luar biasa mendatang, melihat ketiga orang itu sudah tiba baru Ti Then bertanya lagi.
"semua sudah kumpul?"
"Masih kurang Fan seng sam seorang"
Sahut pendekar pedang hitam itu dengan sikap tidak tenang. Sinar mata Ti Then dengan eepat berkelebat dengan sangat tajamnya "Dia berjaga di sebelah mana?"
"Di bukit sebelah sana."
Sahut pendekar pedang hitam itu sambil menunjuk ke sebuah bukit ditempat kejauhan "
Sungguh heran, kenapa sampai sekarang belum datang juga?"
"Benar, mari kita pergi lihat."
Sehabis berkata tubuhnya dengan sangat cepat sekali berkelebat menuju kearah bukit tersebut.
Ketiga orang pendekar pedang hitam yang datang kemudian sama sekali tidak tahu kejadian apa yang sudah terjadi, sesudah mendengar cerita dari kawannya ini tidak terlahan lagi pada menjerit kaget, dengan cepat mereka mengikuti dari belakang tubuh Ti Then menuju kearah bukit itu.
Lima orang itu hanya di dalam sekejap saja sudah tiba ditengah hutan di atas bukit itu, terlihatlah d iba wah sebuah pohon besar pendekar pedang hitam yang disebut Fan seng sam itu duduk bersandar, agaknya dia sedang tertidur saking ngantuknya.
seorang pendekar pedang hitam dengan cepat maju ke depan menempak tubuhnya bentaknya dengan keras.
"Hey Fan seng Sam. Kamu orang cari mati yaah??"
Begitu tubuh Fan seng sam itu terkena tendangan, dengan cepat rubuh ke sebelah samping, saat itulah kelima orang itu baru menemukan kalau di depan dadanya sudah berubah merah karena menetesnya darah segar sangat deras, sedang dialas permukaan tanah pun kelihatan bekas darah yang bercucuran disekeliling tempat itu.
"ooh Thian, dia sudah dibunuh."
Keempat orang pendekar pedang hitam itu tidak terasa lagi pada menjerit kaget secara berbareng.
Ti Then dengan perlahan berjongkok di samping mayat Fan seng sam itu dan mendorong tubuhnya hingga rubuh terlentang, terlihatlah darah segar didadanya masih tetap mengucur keluar dengan derasnya, melihat hal itu dia menggigit kencang bibirnya, ujarnya kemudian sesudah berpikir sebentar.
Jantungnya terkena tusukan yang sangat dahsyat bahkan pedang yang tergantung dipinggangnya belum sempat dicabut keluar, hal ini membuktikan kalau gerakan pedang orang itu sangat cepat sekali."
Berbicara sampai di sini dia angkat kepalanya memandang keempat pendekar pedang hitam itu tanyanya.
"Diantara kalian empat orang siapa yang jaraknya paling dekat dengan dia?"
Seorang pendekar pedang hitam diantara mereka segera maju ke depan, sahutnya.
"Cayhe jaraknya paling dekat dengan tempat ini"
"Tadi kamu mendengar suara yang mencurigakan tidak?"
"sama sekali tidak dengar"
Sahut pendekar pedang hitam itu sambil gelengkan kepalanya. Dengan cepat Ti Then bangkit berdiri, ujarnya.
"Baru saja Hu Pocu mengejar dari sebelah kiri kebun bunga itu, salah satu dari kalian cepat kejar dia kembali, sedang yang lain pergi melapor pada pendekar pedang merah yang ada di dalam Benteng, katakan kepada mereka kalau musuh melarikan diri dari sebelah sini."
Sehabis berkata tubuhnya dengan cepat melayang ke atas dan berkelebat bagaikan kilat cepatnya diantara pohon-pohon yang tumbuh rapat disekitar tempat itu untuk mengejar ke depan.
Hatinya kali ini benar-benar merasa sangat cemas sekali karena kemarin malam Hong Mong Ling memangnya suduh punya rencana untuk memperkosa diri Wi Lian In, dia tahu jika dia tidak berusaha menolong secepat mungkin Wi Lian In dari cengkeraman Hong Mong Ling, maka suatu kejadian yang diluar dugaan akan segera terjadi.
Hong Mong Ling kini sudah berada di suatu sudut yang sangat terdesak.
bukan saja dia bisa merusak perawan dari Wi Lian In, kemungkinan sekali sesudah memperkosa dirinya akan membunuh sekalian Wi Lian In untuk melenyapkan jejaknya.
Dengan kejadian ini jika dibicarakan dari sudut Ti Then boleh dikata dia tidak perlu melaksanakan perintah dari majikan patung emas lagi atau dengan perkataan lain dia tidak perlu merasa kesal karena harus memperistri Wi Lian In, tetapi pikiran Ti Then sokarang tidak mungkin akan berpikir demikian, dia tidak akan membiarkan seorang gadis yang sangat cantik sekali terjatuh ketangan seorang manusia seperti srigala ini.
Dengan sekuat tenaga dia mengejar kearah jalan-jalan yang kemungkinan digunakan Hong Mong Ling untuk melarikan diri, sehingga gerakannya mirip dengan anak panah yang terlepas dari busurnya, sambil mengejar ke depan tak henti-hentinya dia memperhatikan gerak-gerik disekeliling tempat itu tetapi di dalam perjalanan tersebut sama sekali tidak ditemukan tempat-tempat yang mencurigakan.
Tidak lama kemudian dia sudah mengejar hingga ke bawah kaki gunuug Go bi san.
Di hadapannya terbantanglah sebuab tanah gersang yang sangat luas tak terlihat ujung pangkalnya.
Dengan cepat dia menghentikan larinya sambil memandang sekeliling tempat pikirnya.
"Hmmm..dia lari kearah mana?"
Sesudah ragu-ragu sebentar dengan cepat dia memutuskan suatu arah yarg kemungkinan dilalui oleh Hong Mong Ling, dengan tanpa pikir panjang lagi dia melanjutkan pengejaran kearah sana.
Pengejaran ini tanpa terasa sudah melalui jarak sejauh ratusan lie hingga sampai diluar kota Hong Yu Sian sedang waktu itu hari sudah mulai terang.
Dia tahu Hong Mong Ling tidak akan berani masuk kota karena itulah sesudah berputar disekitar luar kota, dia mengambil suatu jalan kecil mencari kembali hingga atas gunung Go Bi san.
Akhirnya hasilnya sia-sia belaka.
Sekembalinya di dalam benteng Pek Kiam Po waktu menunjuktan siang hari, agaknya seluruh pendekar pedang dari benteng itu sudah dikerahkan keluar untuk mengadakan pencarian besar-besaran, hanya saja mereka mencarinya tidak sejauh Ti Then, karena itulah mereka jauh lebih pagi tiba di dalam benteng.
Huang Puh Kian Pek juga sudah tiba di dalam Benteng, Kini melihat Ti Then kembali, segera menyambut ke depan, tanyanya.
"Bagaimana?"
"Tidak ketemu."
Sahutnya sambil gelengkan kepalanya. Huang Puh Kian Pak menjadi gemas bercampur mangkel, sambil menggosok tangan ujarnya.
"Lalu bagaimana baiknya? Lalu bagaimana baiknya??, kalau kita tidak bisa menolong dia kembali. ."
"Hu Pocu"
Potong Ti Then dengan cepat "Lebih baik kita rundingkan di dalam rumah saja"
Kedua orang itu segera masuk dalam benteng dan duduk ditengah ruangan tamu, sedang kedua puluh orang pendekar pedang merah pun berjalan masuk.
air muka pendekar-pendekar itu kelihatan sekali sangat murung, seperti semut-semut diwajan panas, Tanya Ti Then kemudian.
"Hu Pocu kamu sudah mengejar sampai dimana?"
"Lohu mengejar sampai tepi sungai baru kembali, Ti Kaauw tauw bagaimana?"
"Boanpwe mengadakan pengejaran sampai luar kota Hong Yusian."
Huang puh Kian Pak menunjuk kearah ke dua puluh orang pendekar pedang merah itu, ujarnya lagi.
"Mereka pun mengadakan pengejaran dengan berpencar tetapi hasilnya kosong belaka"
"Hee..dia membawa nona Wi melarikan diri, tentu gerakannya tidak akan sangat cepat, kita sekalian tidak bisa menemukan dirinya semuanya dikarenakan jalan yang dilalui untuk melarikan diri kita semua tidak tahu"
"Benar"
Sahut Huang puh Kian Pek sambil menghela napas panjang.
"Hei bagaimana sekarang?"
"Mari kita merundingkan bersama-sama, menurut Ho Pocu sesudah dia menculik Nona Wi, bisakah menyembunyikan diri untuk sementara di sekeliling tempat ini atau mungkin melarikan diri sejauh-jauhnya? "
Air muka Huang puh Kian Pek sedikit bergerak, sahutnya kemudian.
"Ehmmm, sudah tentu dia melarikan diri sejauh mungkin, tetapi dia pun harus tahu kalau kita bisa menggerakkan seluruh kekuatan kita di dalam benteng untuk melakukan pengejaran, maka itulah untuk sementara waktu dia bisa bersembunyi disekeliling tempat ini"
"Seluruh gunung apa sudah dicari semua?"
"Tidak dicari secara teliti, kemarin malam semua orang mengejar ke bawah gunung".
"Ehmmm..."
Ujar Ti Then sesudah berpikir sebentar.
"Kalau begitu sekarang juga kita periksa seluruh gunung, semua pendekar pedang hitam, putih serta merah harus bergerak semua. Kita bicarakan lagi sesudah memeriksa dengan teliti semua tempat."
"Benar"
Sahut Huang Puh Kian Pek segera bangkit berdiri.
"Ki Kiam su cepat kamu bunyikan lonceng mengumpulkan seluruh anggota pendekar pedang yang ada di dalam benteng di tengah lapangan latihan silat."
Si pendekar pedang pencabut sukma KiTong Hong segera menyahut dan meninggalkan ruangan itu dengan tergesa gesa.
Tidak lama kemudian serentetan suara lonceng yang mengalun dengan keras berkumandang di seluruh penjuru benteng.
T i Then serta Huang puh Kian pek sekalian dengan cepat bangkit menuju ketengah lapangan latihan silat, Dengan tak henti-hentinya menghela napas panjang ujar Huang puh Kian pek.
"Hei, sungguh menjengkelkan sekali, tak kusangka di dalam Benteng kita bisa muncul seorang manusia rendah semacam ini.."
"Entah Pocu kita kapan baru kembali ??"
Nyeletuk seorang pendekar pedang merah yang berada di sampingnya.
"Heei .. paling cepat juga satu bulan lamanya."
Mendadak Ti Then tersenyum ujarnya.
"Bagaimana Hu Pocu berani memastikan kalau Pocu baru kembali satu bulan kemudian?"
Saat itu Huang Puh Kian Pek baru teringat kalau sesaat Wi Ci To hendak meninggalkan Ti Then hendak mengejar Hong Mong Liong, kalau memangnya untuk mengejar Hong Mong Ling sudah tentu sangat sukar untuk ditemukan, kapan baru bisa kembali ke dalam Benteng, karena itulah sahutnya dengan sembarangan.
"Itu hanya merupakan dugaan Lohu saja, sekali pun suhengku tidak berhasil mengejar Hong Mong Ling, tetapi mungkin dia mengunjungi beberapa sahabat-sahabatnya"
Ti The hanya mengangguk saja tidak mengucapkan kata-kata lagi, sedang dalam hati pikirnya.
"Kelihatannya sampai Hu Pocu ini sendiri juga tidak tahu kalau saat ini Wi Ci To sedang bersembunyi di dalam loteng penyimpan kitabnya. Hemmm sekarang tentunya Wi Ci To sudah tahu kalau putrinya diculik tapi dia tetap saja tidak mau keluar dari tempat persembunyiannya, ..hatinya sungguh kejam. Pada saat pikirannya sedang berputar itulah semua orang sudah tiba ditengah lapangan latihan silat. saat itu dua ratus orang pendekar pedang hitam serta pendekar pedang putih dengan sangat teratur berdiri di hadapan mimbar. Huang puh Kian Pek segera menaiki mimbar, ujarnya dengan berat.
"saudara-saudara sekalian, sesudah Hong Mong Ling menculik pergi nona Wi, kemungkinan sekali dia belum meninggalkan daerah gunung Go bi ini, sekarang marilah kita sekali lagi memeriksa setiap jengkal dari tanah gunung Go bi ini, setiap tiga orang membentuk satu kelompik, sesudah mendengar pembagian segera berangkat mengerjakan perintah ini."
Dia berhenti sebentar kemudian sambungnya lagi.
"Dari pendekar pedang merah Ciauw It Hak. dari pendekar pedang putih Sha In seng serta dari pendekar pedang hitam The Ci Ho kalian tiga orang bertanggung jawab atas pencarian sekitar daerah goa pintu naga kuil selaksa tahun serta sekitar hutan puncak bangunan cepat pergi"
Cauw It Hak, Sha In seng serta The Ci Ho segera membungkukkan diri memberi hormat serunya.
"Menurut perintah"
Dengan cepat dipimpinnya barisan masing-masing untuk mulai melaksanakan tugas tersebut.
"Tong Khie Peng, Jan Liang, Tau it Cin seag kalian bertiga bertanggung jawab atas pemeriksaan sekitar daerah kuil harimau tunduk. loteng Cin Eng Ki, batu cadas Hong Cun Peng, goa Kiu Lo Tong serta sekitar daerah bukit telaga Ki siang Tie."
"Cao Kim Jan, Ie Wan Hiong, Pouw Cing kalian bertiga bertanggung jawab atas pemeriksaan daerah sekitar Hu sian Cian, bukit Tiang so Po, kuil In sian si serta sekitar puncak selaksa Buddha. Tidak seberapa lama seluruh pendekar pedang merah, putih serta hitam yang ada sudah dibagi untuk melaksanakan tugasnya masing-masing. Akhirnya ujar Huang puh Kiau Pek kepada Ti Then.
"Lohu juga akan ikut di dalam gerakan pemeriksaan gunung ini, sedang Ti kauw tauw lohu minta menyagakan benteng ini"
"Tidak. boanpwe seharusnya ikut juga di dalam pemeriksaan gunung ini."
"Ti Kauw tauw tidak paham terhadap jalanan sekitar pegunungan ini, lebih baik tinggal di dalam Benteng saja menanti sesudah para pendekar yang memeriksa gunung mendapatkan jejak barulah pulang beri laporan, saat itu Ti kauw tauw mau pergi masih belum terlambat"
Ti Then yang berpikir alasan ini memang sangat tepat sebera mengangguk sahutnya.
"Baiklah, boanpwe akan menunggu kabar di dalam Benteng, harap Hupocu pergi dengan berlega hati."
Demikianlah Huang puh Kian Pek cun meninggalkan benteng dengan tergesa-gesa.
seluruh benteng kini hanya tinggal puluhan pelayan saja, membuat suasana di dalam benteng ini menjadi begitu sunyi serta tenangnya, dia balik ke dalam ruangan dan duduk kembali, sedang pikirannya dengan cepat berputar..teringat kembali akan Wi Ci To yang menyembunyikan diri dalam loteng Penyimpan kitab..Putrinya sudah terjadi suatu peristiwa ternyata dia masih bisa menahan diri .
heei..bukankah hal ini keterlaluan??
Hmm?
hanya untuk mengawasi gerak-gerikku ternyata tidak mauperduli lagi nasib keselamatan dari putrinya sendiri, kelihatan Wi Ci To pocu yang mem punyai nama sangat terkenal di dalam dunia kangouw ini pun bukankah seorang manusia baik-baik.
Baru saja dia berpikir dengan gusarnya mendadak terlihatlah pelayan tua yang melayani dirinya si Locia dengan air muka yang sangat girang berlari masuk ke dalam ruangan, serunya dengan keras.
"Sudah pulang..sudah pulang."
"Siapa yang sudah pulang??"
Tanya Ti Then sambil bangkit berdiri berdiri dengan cepat.
"Pocu kami..Pocu kami sudah pulang."
Baru dia berkata sampai di situ, terlihatlah Wi Ci To dengan lagak seperti baru saja melakukan perjalanan jauh dengan langkah lebar berjalan masuk ke dalam ruangan.
Dengan cepat Ti Then maju ke depan menyambut kedatangannya, ujarnya sambil memberi hormat.
"Pocu sudah pulang."
"Ti kauw tauw."
Ujar Wi Ci To dengan air muka penuh perasaan terkejut.
"Dimana semua pendekar pedang yang ada di dalam benteng?"
"Kedatangan Pocu sangat cepat sekali, kemarin malam Hong Mong Ling menyelundup masuk ke dalam benteng dan menculik pergi nona Wi."
"Apa?"
Teriak Wi Ci To dengan keras.
"Binatang itu. dia berani menculik In ji?? sekarang sudah ketemu belum?"
"Belum Kemarin malam boanpwe sudah melakukan pengejaran hingga jauh diluar benteng, tetapi hasilnya hampa belaka, karena itu Hu pocu baru saja perintahkan seluruh pendekar pedang yang ada di dalam Benteng untuk melakukan pemeriksaan yang lebih teliti diseluruh daerah pegunungan, jika tidak memperoleh hasil barulah mencarijalan lain"
Kegusaran dari Wi Ci To tidak bisa ditahan lagi, dengan sinar mata berapi-api teriaknya dengan keras.
"Bangsat cilik, Kamu berani berbuat demikian kurang ajar..hmm. .jangan harap bisa lolos dari tanganku"
Sehabis berkata dia putar tubuh dan menerjang keluar dengan sangat cepat.
Ti Then tahu kalau dia pun akan mencari disekitar gunung, karena itulah tidak sampai mengikuti dari belakang, sesudah melihat bayangan tubuhnya lenyap dari pandangan, dari air mukanya segera terlihat terlintas suatu senyuman, pikirnya.
"Ehmm, pandai juga dia berpura-pura, tetapi perasaan cemas yang terlihatpada wajahnya bukan sengaja diperlihatkan."
Tetapi..dengan munculnya Wi Ci To kembali ke dalam Benteng, ini membuat perasaan tidak puasnya terhadap Wi Ci To tersapu lenyap dari benaknya.
Dengan perlahan dia mengalihkan pandangannya kearah Locia si pelayan tua itu, ujarnya sambil tersenyum.
"Lo cia, kembalinya Pocu kali ini sungguh cepat sekali."
"Benar, untung sekali dia tepat waktunya kembali, kalau tidak entah apa yang akan terjadi."
Ti Then hanya tersenyum saja, tidak berbicara lagi, sedang dalam hati pikirnya.
"Pelayan tua ini kemungkinan sekali merupakan salah seorang yang menyelidiki dan mengawasi seluruh gerak gerikku, sejak hari ini aku harus lebih berhati-hati lagi terhadap dirinya"
"Ti Kauw tauw"
Ujar si Locia lagi "dengan wajah yang sangat murung, kau lihat bisakah Hong Mong Ling berbuat sesuatu terhadap siocia kita?"
"Kemarin malam ditengah gunung dia pernah berusaha memperkosa siocia, karena itulah kali ini dia menculik pergi siocia, kemungkinan sekali juga mengandung maksud tidak lurus. ."
"Hei, memang benar papatah yang mengatakan, tahu mukanya tahu orangnya tetapi tidak akan tahu hatinya, siapa sangka seorang pemuda begitu baik kelihatannya hanya di dalam dua tiga hari saja sudah berubah menjadi demikian ganas serta kejamnya, boleh dikata mirip dengan hati srigala heeeei... Tidak lebih seperti seekor binatang"
"Tapi persoalan yang pokok karena Pocu membatalkan perjodohannya deagan siocia."
"Sekali pun begitu"
Ujar si Locia itu lagi.
"Dengan membohongi siocia dia bermain perempuan diluaran sudah tentu pocu kami tidak setuju kalau putrinya dijodohkan dengan manusia rendah seperti itu."
"Ehmmm, kamu mengikuti pocu sudah sangat lama sekali, tentunya tahu juga asal usulnya bukan???"
"Tentu tahu.."
Sahut si Locia sambil mengangguk "Dia berasal dari kota Majan di daerah Oh Tong atau Kini daerah Hu Pak.
ayahnya adalah sam Huan sin su atau si tangan sakti bergelang tiga Hong Tiong Yang, pada waktu itu membuka sebuah piauw kiok di kota Han Yang yang bernama Liong Hong piauw kiok.
akhirnya karena mengawal barang kiriman mendapat luka dan bersembunyi ditengah pegunungan yang sunyi sedang putra tunggalnya dikirim kemari mohon pocu mau menerimanya"
"Ooooh kalau begitu pocu dengan ayahnya si sam Huan sin su merupakan kawan karib"
Potong Ti Then cepat.
"Tidak bisa dikatakan merupakan kawan karib, mereka hanya pernah berkenalan saja. karena pocu melihat bakatnya sangat bagus dan orangnya tumbuh sangat tampan maka baru sanggup untuk menerimanya sabagai seorang murid."
"Pada tiga tahun yang lalu ayahnya sudah meninggal."
"Ooh"
Sahut Ti Then perlahan.
"Lalu Ibunya ???"
"Ibunya shen si meninggalkan dunia pada tahun kedua sesudah melahirkan dirinya, dia mati dibunuh orang"
"Dibunuh orang??"
Tanya Ti Then sambil memandang tajam wajahnya.
"Benar, jikalau di bicarakan soal ibunya shen si merupakan seorang yang punya asal usul terkenal. Dia merupakan putri dari Thiat Ciang Cang sam Kun atau pukulan besi menggetarkan tiga daerah shen Cing Hong yang pernah menggetarkan dunia kangouwpada waktu itu, karena itulah sewaktu dia masih nona sudah mendapatkan seluruh kepandaian dari ayahnya, kemudian sesudah kawin dengan Hong Tiong Wan membantu suaminya menyalankan Piauw kiok."
"Pada tahun kedua sesudah melahirkan Hong Mong Ling ada satu kali suaminya mengawal barang menuju ke daerah Lo kho sedang dirinya mengawal barang ke Kota Han Yang, tidak disangka ditengah jalan terjadi suatu peristiwa yang mengakibatkan dirinya terbunuh hingga binasa, akhirnya Hang Tiong Yan berhasil membunuh penyahat itu membalaskan dendam bagi istrinya."
"Kalau begitu Hong Mong Ling sekarang hanya seorang diri saja?"
"Aku Kira demikian, tapi aku pernah dengar ayahnya meninggalkan sejumlah harta benda dikota Han Yang yang sekarang dijaga oleh pamannya."
"Harta kekayaan apa? pamannya bernama siapa?.."
"Agaknya sebuah rumah penginapan sedang pamannya bernama apa hamba sendiri juga tak tahu".
"Ehmmm..."
Ujar Ti Then sambil mengangguk.
"Aku kira pocu tentu tahu, nanti sesudah dia pulang aku mau tanya dia.."
"Buat apa Ti kauw tauw menanyai hal ini?"
"Jika di atas gunung tidak menemui dia, aku pikir harus pergi ke kota Han Yang satu kali, paling sedikit juga harus cari pamannya yang berdiam di sana."
"Tidak salah, tetapi waktu itu kemungkinan siocia sudah menemui bencana di tangannya"
"He hee hee... tetapi masih bisa juga menangkap dia kembali untuk dijatuhi hukuman, bukan begitu???"
"Heei, semoga saja Thian melindungi kesehatan dan keselamatan siocia sehingga dia bisa kembali dengan selamat"
"Ehm, sekarang sudah siang?"
"Benar"
"Kemarin malam aku sudah melakukan perjalanan sejauh dua ratus lie lebih, kini perutku merasa lapar, cepat pergi sediakan makanan"
Si Lo cia pelayan tua itu segera menyahut dan berlalu dari sana.
Awan gelap mulai menutupi seluruh jagat, malam hari pun tiba dengan cepat, para pendekar pedang yang dikirim keluar satu persatu pada pada kembali ke dalam benteng.
Tetapi tidak seorang pun diantara mereka yang membawa kabar baik.
Tidak lama kemudian Wi Ci To serta Huang puh Kian Pek pun kembali.
Seluruh tubnh mereka basah kuyup oleh keringat yang mengucur mengotori seluruh bajunya hal ini memperlihatkan kalau mereka sudah memeriksa setiap jengkal tanah seluruh gunung GoBisan itu.
Tetapi..yang mereka bawa pulang tidak lebih hanya tubuh yang lelah serta air muka yang murung sedih, gusar serta gemas yang bercampur menjadi satu.
Dengan wajah yang loyo Wi Ci To menyatuhkan diri di atas kursi dalam ruangan itu, matanya dipejamkan rapat-rapat sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Dua puluh tiga orang pendekar pedang merah yang berdiri di dalam ruangan itu pun pada menundukkan kepalanya rendah-rendah, air muka mereka kelihatan sekali sangat sedih dan murung.
Seluruh ruangan saat itu diliputi oleh perasaan duka yang amat sangat, tidak terdengar suara manusia yang bercakap-cakup, hanya helaan napas panjang sering memecahkan kesunyian yang mencekam itu, sesudah hening lama sekali barulah terlihat Wi CiTo membuka kembali matanya, ujarnya dengan perlahan.
"Shia Pek Tha, Ki Tong Hong, Cian su Ci serta ouwyang Huan kalian berempat bertanggung jawab di dalam pengiriman "Perintah seratus Pedang"
Segera kirim perintah itu"
Shia Pek Tha, Cian su Ci, Ki Tong Hong serta ouwyang Huan segera menyahut dan mengambil empat buah panyi kecil yang bertuliskan kata-kata.
"Perintah seratus pedang"
Dari sebuah tabung ditengah meja sembahyangan di dalam ruangan itu, kemudian mengundurkan diri dengan tergesa-gesa.
-0000000-TIDAK LAMA KEMUDIAN terdengar suara derapan kuda yang sangat ramai berkumandang masuk dari luar ruangan yang makin lama makin menyauh.
Wi Ci To termenung berpikir lagi beberapa saat lamanya, kemudian barulah ujarnya kepada kesembilan belas pendekar pedang merah lainnya.
"Kalian mengundurkan diri untuk makan sesudah dahar segera berangkat, setiap dua orang dibagi menjadi satu kelompok masing-masing mengejar secara berpisah sebelum mendapatkan perintah lohu yang mencabut kembali perintah ini kalian jangan pulang"
Kesembilan belas pendekar pedang merah itu segera menyahut dengan hormat dan mengundurkan diri dari dalam ruangan. sesudah itulah Wi Ci To baru menoleh kearah Ti Then, ujarnya sambil tertawa.
"Tadi di tengah jalan Hupocu beritahu pada lohu, katanya kemarin malam bangsat cilik itu sudah menawan putriku ke dalam gua untuk melakukan pekerjaan tidak sopan, untung sekali waktu itu Ti Kiauw tauw datang menolongnya saat itu kenapa Ti kauw tauw melepaskan dia pergi?"
"Kesemua ini merupakan kesalahan boanpwe"
Sahut Ti Then dengan perlahan.
"Jika tahu dia akan berbuat demikian tentu boanpwe tak akan melepaskan dia pergi."
Air mata mulai jatuh berlinang membasahi wajah Wi Ci To, ujarnya dengan sedih.
"Selamanya Lohu mendidik murid dengan sangat keras, tidak disangka masih muncul juga seorang manusia rendah seperti dia.. Hei.. jika tidak secepat mungkin menolong putriku dari tangannya ... namaku selama ini akan ikut hancur berantakan"
"Orang budiman akan mendapatkan bantuan dariThian, boanpwe percaya putrimu akan kembali dengan selamat"
"Heei.."
Ujar Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Kemarin malam bangsat itu sudah punya maksud jelek terhadap putriku, kali ini dia berhasil menculiknya tentu tidak akan melepaskannya dengan begitu saja?"
"Tapi. ."
Ujar Ti Then setengah menghibur.
"sesudah dia menculik putrimu kita sudah mengerahkan seluruh kekuatan yang ada di dalam benteng untuk mencari dia, aku kira di dalam beberapa hari ini dia tak akan berani berbuat sesuatu terhadap nona Wi."
"Benar . ."
Sambung Hung puh Kian Pek dengan cepat "Perkataan Ti kauw tauw sedikit pun tidak salah, asalkan di dalam beberapa hari ini kita bisa menemui dia, maka In ji tidak akan mendapatkan bencana."
Dengan pandangan kosong Wi Ci To memandang keluar ruangan, lama sekali dia berdiri termangu-mangu tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"Becana yang diderita nona Wi kali ini seharusnya boanpwe juga ikut bertanggung jawab, karena itulah boanpwe sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan benteng ikut mencari, sekali pun tidak bisa menolong Nona Wi sedikit-dikitnya bisa menawan dia kembali ke dalam Benteng"
Wi Ci To hanya menganggakan kepalanya saja.
"Sore tadi"
Ujar Ti Then lagi "Boanpwe pernah dengar perkataan dari Locia, katanya dikota Han Yang ayahnya pernah meninggalkan sebuah rumah penginapan yang sekarang dijaga oleh pamannya, Pocu tahukah kamu apa nama dari rumah penginapan itu?"
"Rumah penginapan Hok An."
"Lalu siapa nama dari pamannya ?"
"Hong Tiong Peng "
"Selain dia apakah masih ada keluarga lain atau kawan-kawannya?"
"Heei ..."
Ujar Wi Ci To sambil menghela napas panjang.
"pada usia tiga belas dia masuk benteng ini, agaknya diluaran tidak punya kawan-kawan lain, sedang dari keluarganya yang paling sering mengadakan hubungan hanya dari pihak kakeknya-kakeknya adalah sipukulan besi menggetarkan tiga daerah shen Cin Hong sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, kini hanya tinggal neneknya saja yang masih ada, dan tahun yang lalu dia masih datang kemari nengok dia"
"Sebuah dusun kecil didekat Heng sak Than di atas gunung Kiu kongsan"
Ti Then termenung berpikir sebentar, kemudian barulah ujarnya.
"Jika tidak berhasil mendapatkan dirinya, terakhir kita harus pergi juga kerumah neneknya serta rumah penginapan Hok An untuk mencari berita, karena kedua tempat ini cepat atau lambat, dia akan ke sana juga"
"Kapan Ti Kauw tau mau berangkat ?"
Ti Then yang punya maksud hendak berunding dulu dengan majikan patung emas, segera sahutnya.
"Bagaimana kalau boanpwe berangkat besok pagi?"
Padahal di dalam hati Wi Ci To sangat mengharapkan dia bisa berangkat malam itu juga, hanya saja tidak enak untuk diucapkan keluar, segera dia mengangguk. sahutnya.
"Baiklah, kemarin malam Ti Kauw tauw sudah melakukan perjalanan satu malaman, seharusnya kini beristirahat lebih dulu"
Dengan segera Ti Then bangkit untuk memohon diri dan kembali kekamarnya sendiri.
Dia memerintahkan pelayan tua si Locia itu menyediakan segentong air panas untuk mandi, kemudian dahar malam dikamar sesudah semuanya selesai barulah dia menyulut lampu dan mengetuk jendela sebanyak tiga kali.
Dia tahu majikan patung emas baru akan muncul pada tengah malam buta, karena itulah dia tidur terlebih dulu untuk menanti kedatangan majikan patung emas di tengah malam nanti.
siapa tahu sekali tidur dia telah jatuh pulas dengan nyenyaknya sampai dia merasa bahunya ditepuk orang barulah sadar kembali dengan sangat terkejutnya.
Yang menepuk bahunya itu tidak lain adalah patung emas yang pernah di temuinya itu.
Dengan cepat Ti Then bangun dari tidurnya sambil duduk ujarnya.
"Hei kawan, sungguh cepat kedatanganmu kali ini."
Dengan suara yang lembut dan dihantar dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara, sahut majikan patung emas itu dari atas atap rumah.
"Heehehe kentongan ketiga sudah berlalu, kamu kira masih pagi?."
Mendengar perkataan itu Ti Then segera angkat kepalanya memandang ke atas atap rumah, sahutnya sambil tersenyum.
"sebetuinya aku mau tunggu dengan cara bagaimana kamu datang, ha ha ha tidak disangka sudah tertidur demikian pulasnya"
"Hemm aku beberapa kali sudah peringatkan dirimu, jangan coba-coba selidiki jejakku"
"Aku hanya ingin tahu dengan cara bagaimana kamu bisa menghindarkan diri dari pengawasan orang-orang benteng ini"
Sahut Ti Then sambil angkat bahunya.
"Kamu anggap aku punya ilmu untuk melenyapkan diri?"
"Ha ha ha ha tidak sampai begitu jauh"
Sahut Ti Then sambit tertawa terbahak-bahak "Tentang nona Wi yang diculik tentu kamu tahu bukan?"
"Ehmmm. .tahu"
"Kamu pikir harus bagaimana baiknya sekarang ini?"
"Tolong dia pulang"
"Besok pagi-pagi aku mau berangkat, hanya tidak tahu none Wi sudah diculik kemana, kamu tahu tidak?"
"Aku tidak tahu"
Sahut majikan patung emas lagi "Bagaimana pun juga kau harus berusaha keras mendapatkan Hong Mong Ling dan menolong kembali Wi Lian In."
"Kalau tidak berhasil?"
"Asalkan Hong Mong Ling belum bunuh dia pada suatu hari tentu berhasil juga menolong dia kembali"
"Jika Hong Mong Ling sudah membunuh mati dia?"
"Sekarang tidak usah terlalu banyak pikiran urusan ini."
"Masih ada satu hal lagi yang harus dijelaskan, jika dia sudah diperkosa oleh Hong Mong Ling lalu aku.."
"Kamu tetap harus memperistri dirinya"
Potong majikan patung emas itu dengan cepat.
"Hemm"
"Kamu adalah patung emasku"
Sambung majikan patuug emas itu lagi.
"sekali aku katakan padamu, aku mau kamu berbuat apa saja, kamu harus lakukan"
"Aku mau kamu berbuat apa saja kamu harus melakukan pekerjaan itu, sekali pun aku mau kamu memperistri seorang kuntilanak yang bagaimana jelek pun kamu harus memperistri kuntilanak itu dengan tanpa membantah"
"Hmm"
"Masih ada persoalan apalagi yang hendak kamu tanyakan?"
"Kamu ikut aku keluar benteng tidak"
"Ehmm..kali ini aku punya pikiran untuk tinggal di dalam benteng saja."
"Tapi"
Ujar Ti Then lagi.
"jika ditengah perjalanan aku membutuhkan petunjuk darimu aku harus berbuat bagaimana? "Kamu boleh putuskan urusan itu sesuka hatimu"
"Kenapa kamu tidak ikut aku keluar benteng?"
"Jika aku berdiam di dalam benteng, setiap saat bisa mendapatkan berita mengenai Wi Lian In, asalkan ada orang yang berhasil menolong dia pulang maka dengan cepat aku akan beritahukan kepadamu"
"Kamu bisa mencari aku?"
"Bisa."
"Bagaimana kamu bisa tahu aku berada dimana?"
"Sudah tentu aku punya cara untuk mengetahuinya"
"Baiklah"
Ujar Ti Then kemudian.
"Sekarang silahkan kamu sediakan uang untuk aku gunakan, seratus tahil perak yang waktu itu kamu berikan padaku sudah aku gunakan hingga habis"
"Hmm kamu jadi orang terlalu royal, kali ini tidak bisa."
"Tidak ada uang sukar berjalan, kalau tidak beri aku uang, suruh aku pakai apa pergi cari nona Wi"
"Besok sebelum kamu meninggaikan Benteng Wi Ci To tentu akan kasih kamu uang"
"Tapi..."
Timbrung Ti Then lagi.
"aku melakukan pekerjaanmu sudah seharusnya menggunakan uangmu."
"Peristiwa tertawannya Wi Lian In kali ini tidak termasuk di dalam dugaanku maka kali ini seharusnya dikatakan kamu membantu Wi Ci TO menolong pulang putrinya, sudah seharusnya dia yang keluar uang."
"Hmm... sungguh cermat perhitunganmu"
Majikan patung emas itu tidak memberi jawaban lagi, dengan cepat patung emasnya ditarik ke atas atap.
kemudian menutup kembali tempat itu dan berlalu dengan tidak menimbulkan sedikit suara pun.
Ti Then juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi, sambil menghela napas panjang dia membaringkan tubuhnya kembali ke atas pembaringan, tetapi hingga pagi menjelang kembali dia tidak bisa tertidur kembali.
sampai dari kamar sebelah dia dengar suara batuk-batuk dari itu pelayan tua si Lo cia barulah dia bangkit dari pembaringannya dan membuka pintu.
Diruang makan sesudah habis bersantap pagi bersama-sama dengan Wi Ci To serta Huang Puh Kian pek.
terlihatlah dengan membawa sebungkus uang perak serta sebilah pedang Wi Ci TO berjalan kearahnya, ujarnya kemudian.
"Pedang ini disebut sebagai "seng shia"
Yang berarti menang dari segala iblis yang merupakan salah satu pedang wasiat kesayangan lohu pada masa yang silam, kini lohu hadiahkan pada Ti Kauw tauw sebagai bekal perjalanan, di samping itu lima ratus tahil uang perak ini harap Ti kiauw tauw terima sekalian"
TI THEN dengan mengucapkan terima kasih menerima hadiah itu, tanyanya kemudian.
"Apakah Pocu juga mau ikut mencari nona Wi?"
"Lohu pikir akan menunggu beberapa hari terlebih dulu di dalam Benteng, jika tidak ada berita barulah pergi sendiri"
Dengan perlahan Ti Then menoleh pula kearah Huang Puh Kian Pek tanyanya lagi.
"Bagaimana dengan Hu pocu?"
"Lohu juga akan berangkat, nanti kita keluar bersama-sama"
Sahut Huang Puh Kian Pek perlahan.
"Kalau begitu"
Ujar Ti Then sambil bangkit berdiri "biarlah boanpwe balik kekamar untuk mengambil sebentar barang-barang, kemudian kita berangkat bersama-sama"
Sesudah memberi hormat dia mengundurkan diri ke dalam kamar, sesudah membungkus uang serta pakaiannya menjadi satu dan menggantungkan pedang pemberian Wi Ci To itu pada pinggangnya segera dia berjalan ketengah lapangan latihan silat.
Waktu itu Huang Puh Kian Pek sudah menuntun dua ekor kuda jempolan menanti kedatangannya ditengah lapangan, begitu melihat dia datang segera memberikan tali les dari seekor kuda jempolan berwarna merah darah kearahnya, ujarnya sambil tertawa.
"Kuda ini disebut Ang san Khek yang merupakan kuda kesayangan dari In ji, kini Ti Kauw tauw boleh menggunakanmya kemungkinan sekali dengan kepandaian kuda tersebut bisa menemukan kembali jejak dari In ji"
Sambil tersenyum Ti Then menerima tali les itu sesudah naik ke atas punggung kuda tersebut ujarnya.
"Ayoh jalan" -ooo0dw0ooo-
Jilid 8.1.
Setan Pengecut Berkerudung Penculik Nona Wi Tali les kudanya ditarik, terdengarlah suara ringkikan kuda yang panjang, empat buah kakinya mulai bergerak dengan sangat cepatnya menerjang keluar pintu Benteng.
Huang Puh Kian pek dengan cepat menyalankan kudanya pula untuk mengejar, tua muda dua orang itu yang satu berada di depan sedang yang lain berada di belakang dengan mengikuti jalanan gunung berlari dengan cepatnya ke bawah.
Tanya Ti Then kemudian.
"Hu Pocu, kamu orang punya maksud mengambil jalan yang mana?"
"Daerah Siok Pak banyak terdapat gunung, Lohu punya maksud mencari dari sebelah utara, bagaimana dengan Ti kiauw tauw? "
"Ehm. ."
Sahut Ti Then sesudah berpikir sejenak.
"Boanpwe punya maksud mencari kearah timur dulu kemudian baru memasuki daerah Oh Tong (kini daerah Hu Pak) kekota Han Yang mencari pamannya dirumah penginapan Hok An,jika di sana tidak peroleh hasil baru menuju kedaerah telaga Heng sak Than rumah neneknya"
"Kalau begitu baiklah."
Ujar Huang Puh Kianpek sambil mengangguk "Nanti kita berpisah dijalanan bawah gunung."
Di dalam sekejap mata saja mereka sudah berada disuatu persimpangan jalan di bawah gunung itu, kedua orang itu segera berpisah yang satu menuju kearah utara sedang yang lain menuju kearah timur untuk melakukan pencarian sendiri.
Ti Then yang melakukan perjalanan ke arah timur ditengah jalan terus menerus mencari berita tentang Wi Lian In, sesudah berjalan dua hari lamanya ia tetap belum memperoleh sedikit berita pun tetapi arah tujuannya tetap tidak dirubah karena dia tahu sebelum memperoleh gambaran dari situasi yang sebetulnya sekali pun mengubah arah tujuan tetap tidak berguna karena itulah terpaksa dia melanjutkan perjalanan ke depan.
Di tengah perjalanan ini walau pun tidak berhasil didapatkan sedikit kabar pun hal ini belum bisa membuktikan kalau Hong Mong Ling tidak melewati jalanan ini karena sesudah berhasil dia culik Wi Lian In meninggalkan daerah gunung Go bi kemungkinan sekali melarikan diri menggunakan kereta kuda yang tertutup sehingga hal ini membuat dia tidak memperoleh sedikit berita pun.
Pada pertengahan hari kedua dia sudah tiba ditempat daerah garam yang sangat terkenal yaitu daerah Ci Liuw Cing, segera dicarinya sebuah rumah makan untuk menangsal perutnya, ketika sedang enaknya dia dahar datanglah seorang pelayan ke samping tubuhnya sambil memberi hormat tanyanya.
"Tolong tanya apakah kongcu she Ti?"
Mendengar pertanyaan itu hati Ti Then serasa tergetar sangat keras, sambil memandang sekejap sekeliling tempat itu ujarnya.
"Ehmm tidak salah bagaimana kamu bisa tahu ??"
Dari dalam sakunya pelayan itu mengambil keluar sebuah sampul surat yang kemudian diangsurkan ke hadapannya, ujarnya.
"Baru saja ada seorang anak kecil yang mengirim surat ini, katanya surat ini akan dikirim kepada seorang kongcu berbaju hitam yang mem punyai hati, hamba melihat di atas loteng ini hanya kongcu seorang yang memakai pakaian hitam..."
"Mana itu bocah?"
Potong Ti Then sambil menyambut sampul surat itu.
"Sudah pergi"
"Kamu kenal dia?"
Tanya Ti Then lagi dengan cemas.
"Hamba tidak kenal"
Sahut pelayan itu sambil gelengkan kepalanya .
"dia menyerahkan sampul surat itu kepada hamba sesudah memberi tahu kalau surat ini harus di serahkan kepada kongcu dengan cepat dia lari pergi."
"Ehmmm..kamu lihat berapa usia bocah itu ??"
"sepertinya baru berusia sebelas ..dua belas . ."
Segera Ti Then tahu kalau bocah cilik itu pun hanya dititipi oleh seorang lain saja, segera sahutnya sambil anggukan kepalanya.
"Baiklah ..terima kasih"
Pelayan itu segera mengundurkan dirinya dari hadapan Ti Then.
Sesudah dilihatnya pelayan itu pergi jauh, barulah Ti Then membuka isi sampul surat itu, di dalamnya terlipat secarik kertas putih yang berisikan beberapa puluh kata.
"Untuk menolong Wi Lian In datanglah ke gunung Yan siong san, tetapi dilarang beritahukan urusan ini kepada orang-orang dari benteng Pek Kiam Po. Melanggar permintaan ini tidak akan ditemui kembali."
Tulisan itu ditulis dengan batu arang, setiap gaya serta lengkukannya sangat mantap.
agaknya dia punya maksud untuk menutupi gaya tulisan yang sebenarnya.
Ti Then hanya tersenyum saja, sesudah menyimpan sampul surat itu dia melanjutkan kembali untuk berdahar.
Jika dilihat luarnya kelihatan sekali sikapnya yang tenang tanpa sedikit emosi.
Padahal di dalam hati dia merasa sangat terkejut bercampur girang, otaknya terus berputar memikirkan kedatangan surat misterius yang sangat mendadak itu.
Jika ditinyau dari gaya tulisan yang sengaja dipertegas, di dalam hati dia bisa menduga kalau pihak lawannya merupakan orang yang sudah dikenal olehnya.
Tetapi walau sudah dipikirkan sangat lama, tetap saja tidak diperoleh gambaran dari orang yang menulis surat kepadanya itu.
Hanya dari hal ini dia bisa diambil suatu kesimpulan, bahwa orang yang menulis surat itu tidak mungkin adalah Hong Mong Ling.
Karena sesudah Hong Mong Ling menculik pergi Wi Lian In, tentunya dia tahu kalau dirinya sampai tertangkap kembali ke dalam Benteng hanya jalan kematian yang di perolehnya, untuk melarikan diri saja masih merupakan suatu persoalan yang rumit, sudah tentu tidak akan berani bermain macam-macam dengan dirinya.
Kalau demikian apakah orang yang menculik pergi Wi Lian In bukan Hong Mong Ling atau mungkin orang yang menulis surat ini yang melakukan ?
Jika betul maka tujuannya di dalam menculik pergi Wi Lian In harusnya adalah Wi Ci To sendiri, tetapi kenapa dia melarang dirinya memberitahukan hal ini kepada orang-orang dari benteng Pek Kiam Po?
Jika bukan maka pemberitahuannya kepada dia untuk pergi kegunung Yau Liong san untuk menolong Wi Lian In bermaksud baik, kalau memangnya begitu kenapa tidak mau menampakkan diri?
Hemm, tidak perduli bagaimana pun aku harus melakukan hal ini sesuai dengan permintaannya, aku mau lihat di atas gunung Yau Liong san sudan tersedia mainan macam apa.
Berpikir sampai di sini segera Ti Then membereskan rekeningnya dan turun dari atas loteng, sesaat meninggalkan pintu rumah makan itu ditariknya seorang pelayan, sambil bertanya.
"Hey tolong tanya berapa jauh jarak dari sini sampai gunung Yau Liong san?"
"Yau Liang san??"
Tanya pelayan itu melengakl "Benar Gunung Yau Liong san"
"Ooh .... sangat jauh sekali"
"Ehmm ..tentang hal ini biarlah hamba berpikir sebentar.."
Dia berhenti dan ber pikir sebentar.
"hamba sudah mengingat kembali seharusnya berada di daerah tenggara, kongcu harus menuju ke propinsi Ci Kiang dulu (terletak di daerah Su khuan) dari sana bertanya lagi mungkin baru jelas"
"Terima kasih"
Dengan cepat dia meloncat naik ke atas kudanya dan menepuk pantatnya hingga lari dengan kencangnya ke depan.
Dia percaya orang yang menulis surat itu tentu menguntit dirinya secara diam-diam tetapi dia tidak punya maksud untuk mencari tahu siapa pihak lawannya itu, karena menolong orang adalah terpenting dari urusan itu, tak perduli pihak lawannya itu orang yang menculik pergi Wi Lian In atau bukan, tidak perduli juga pihak lawannya punya maksud baik atau jelek.
pokoknya menolong Wi Lian In paling penting dari semua urusan sedang penculiknya merupakan urusan kedua saja.
Kudanya merupakan seekor kuda jempolan, sehingga larinya pun bagaikan meluncurkan anak panah terlepas dari busurnya, hari itu menjelang matahari lenyap di balik gunung dia sudah melakukan perjalanan mendekati seratus li.
Dua hari kemudian dia sudah berada di bawah kaki gunung Yao Liong san yang megah itu.
Setibanya ditempat itu Ti Then menjadi sangat bingung, karena pihak lawannya sama sekali tidak beritahu tempat serta tanggal pertemuannya, sesudah berpikir sebentar barulah dia menyalankan kudanya mengitari sekeliling daerah gunung itu, begitu dilihatnya diantara tempat itu muncul sebuah jalanan kecil dengan cepat kudanya di larikan ke arah sana.
Sesudah berjalan beberapa saat lamanya melaluijalan itu dari depannya terlihatlah seorang penebang kayu berjalan mendatang dengan perlahan sambil tersenyum dia memberi hormat kepada Ti Then, ujarnya.
"Laote ini apa betul bernama si pendekar baju hitam Ti Then"
Ti Then segera menarik tali les sehingga kudanya itu berhenti, sambil merangkap tangan membalas hormat sahutnya.
"Memang cayhe adanya saudara..."
Penebang kayu berusia pertengahan itu tidak memberi jawaban, dari dalam sakunya dia mengambil keluar sepucuk surat dan di angsurkan ke hadapan Ti Then, ujarnya.
"Tadi ada orang yang mentitipkan ini kepadaku untuk di sampaikan kepada saudara, harap kamu mau terima"
Begitu Ti Then melihat dia diangsurkan sepucuk surat lagi, tidak terasa alisnya dikerutkan rapat-rapat, sambil menerima surat tersebut tanya.
"Siapa orang itu?"
"Tidak tahu"
Sahutnya sambil gelengkan kepalanya.
"Dia seorang lelaki atau seorang perempuan? Berapa besar usianya?"
"Tidak tahu"
Sahut penebang kayu itu sambil gelengkan kepalanya kembali.
"Haa? Apa Loheng tidak melihatnya?"
Tanya Ti Then sambil tertawa meringis.
"Sudah melihatnya dengan jelas."
"Kalau memangnya sudah melihat dengan jelas bagaimana tidak tahu dia seorang lelaki atau pun seorang perempuan sudah tua atau masih muda"
"Karena dia sudah beri aku satu tahil perak."
"Oooh ..."
Matanya diputar keempat penjuru angin, kemudian sambungnya dengan suara rendah.
"Bagaimana jika aku beri dua tahil perak lagi?"
"Tidak bisa"
Sahutpenebang itu sambil gelengkan kepalanya.
"walau kamu beri aku dua ratus tahil aku juga tidak berani menerima."
Ti Then jadi menjadi melengak. tanyanya penuh keheranan.
"Kenapa?"
"Dia sudah peringatkan aku jika aku berani mengkhianati dia maka kepalaku ini akan dipotong, sekali pun batok kepalaku ini tidak laku tapi juga tidak seharga dua tahil perak bukan?"
"Haaa.. haaa .. betul. betul silahkan Loheng lanjutkan perjalanan"
Penebang kayu berusia pertengahan itu segera memikul kayunya kembali untuk melanjutkan perjalanannya . Segera Ti Then membuka sampul surat itu dan membaca isi suratnya, di dalam surat itu tertuliskan.
"Hemm.. sudah aku bilang jangan sembarangan beritahukan urusan ini kepada orang-orang dari Benteng Pek Kiam Po, kamu tidak mau dengar juga, kini masih menyuruh orang menguntit secara diam-diam. Sekali ini aku beri kesempatan terakhir kalinya untukmu, segera perintahkan orang itu kembali, kemudian menanti pemberitahuanku selanjutnya"
Sehabis membaca isi surat itu Ti Then mendadak tertegun dibuatnya.
Sama sekali tidak disangka olehnya kalau Wi Ci To masih mengirim orang menguntit dirinya, hari itu ketika masih berada di dalam benteng Pek Kiam Po sesudah mengetahui dari mulut majikan patung emas kalau dirinya diawasi oleh empat orang pendekar pedang merah siang malam hatinya tidak begitu terkejut dan heran karena dia merasa perbuatan Wi Ci To itu memang seharusnya tetapi sesudah terjadi berbagai peristiwa Wi Ci To ternyata masih mencurigai dirinya, bahkan mengirim orang untuk mengawasi seluruh tindak tanduknya, hal ini berada jauh diluar dugaannya.
Sekarang orang yang menulis surat itu salah menganggap kalau dia yang mengatur orang untuk menguntit dari belakang, bukankah urusan ini keterlaluan sekali?
Kini dia memberi perintah kepadanya untuk mengusir orang yang menguntit dia itu, tetapi dengan cara bagaimana dia bisa memancing orang-orang itu munculkan dirinya.
"Ehmmm..sudah ada ?"
Di dalam benak Ti Then berkelebat suatu akal yang sangat bagus sekali, segera dia menyimpan kembali surat itu ke dalam sakunya dan melanjutkan perjalanan menuju ke arah tengah gunung.
Sesudah berjalan beberapa jauh mendadak seperti tubuhnya terkena racun, mendadak badannya sempoyongan dan rubuh dari atas pelana kudanya, tubuhnya dengan tepat terjatuh di samping jalan dalam keadaan tidak sadarkan diri Agaknya kuda itu tahu kalau majikannya menemui peristiwa diluar dugaan, segera terlihatlah sikapnya yang tidak tenang, dengan tak henti-hentinya dia meringkik panjang.
Permintaan tolongnya ternyata mendatangkan hasil, sekonyong-konyong dari samping jalan ditengah tumbuhan pepohonan yang rapat melompat keluar seseorang yang kemudian secara langsung menuju ke samping tubuh Ti Then yang rubuh tidak sadarkan diri itu.
Seluruh tubuh orang itu memakai baju berwarna hitam, kepalanya memakai topi lebar yang terbuat dari rumput yang direndahkan sehingga menutupi seluruh wajahnya, tetapi jika ditinyau dari bentuk tubuhnya boleh dikata usianya kurang lebih enam puluh tahunan.
Dia berjalan hingga ke samping tubuh Ti Then kemudian berjongkok membimbing tubuhnya bangun.
Saat itulah Ti Then sudah sadar kembali dari pingsannya.
Dia membuka sepasang matanya lebar-lebar dan memandang orang tua itu sambil tersenyum, ujarnya kemudian.
"Aku kira siapa yang sudah datang. Eh..eh, tidak tahunya pocu sendiri"
Orang tua itu tidak lain memang si pedang naga emas Wi Ci To adanya.
Wi Ci To tahu kalau dia tertipu oleh siasatnya, tangan kirinya yang merangkul pinggang Ti Then dengan cepat ditarik kembali dan diubah menjadi cengkeraman menguasai jalan darah Ciang Hia Hiat pada lehernya, ujarnya sambil tertawa.
"Ti kauw tauw kini sudah tahu kalau lohu menguntit dirinya."
Ti Then sama sekali tidak memberikan perlawanannya, hanya dengan tertawa tawar sahutnya.
"Tidak. aku baru tahu ada orang yang menguntit diriku setelah menerima surat tadi, tidak tahunya orang itu adalah pocu sendiri"
Air muka Wi Ci To yang penuh dihiasi senyuman segera hilang lenyap berganti dengan wajah yang keren, sepatah demi sepatah tanyanya dengan berat.
"Siapa orang itu??"
"Tidak tahu."
"Hmmm, dia beri kamu orang dua pucuk surat yang kesemuanya lohu lihat dengan mata kepala sendiri, kenapa tidak bicara terus terang saja."
"Pocu kamu salah paham"
Ujar Ti Then sambil tertawa pahit.
"Boanpwe bukan satu jalan dengan orang itu."
"Hmmm... hmmm.. kamu mengadakan hubungan secara diam-diam masih bilang bukan satu jalan?"
"Heeei, waktu itu pocu bilang tidak merasa curiga terhadap boanpwe, semuanya itu hanya pura-pura saja."
Sinar mata dari Wi Ci To yang melotot ke arahnya semakin berapi-api, sahutnya dengan tegas.
"Bagaimana lohu tidak merasa curiga terhadap dirimu, sebelum kau muncul di dalam Benteng Pek Kiam Po, benteng kami selamanya aman tetapi sesudah munculnya dirimu Benteng Pek Kiam Po kami selalu saja terjadi urusan..."
"Kalau begitu Pocu sudah pastikan itu ?"
Sambung Ti Then dengan cepat.
"Tidak salah"
"Tapi boanpwe tidak undang Hong Mong Ling pergi ke sarang pelacur Touw Hoa Yuan untuk main perempuan."
"Hmm, dia pergi main perempuan di dalam sarang pelacur Touw Hoa Yuan memang urusan yang nyata, tetapi kamu jangan campurkan urusan ini menjadi satu."
"Jadi maksud Pocu boanpwae menggunakan kekacauan yang terjadi di sarang pelacur Touw Hoa Yan untuk memasuki Benteng kalian?"
"Kelihatannya memang begitu"
"Apa tujuannya?"
Tanyanya Ti Then.
"Bekerja sama dengan orang menculik putriku, kemudian menggunakan putriku sebagai tanggungan memaksa Lohu untuk menyetujui suatu permintaan kalian"
"Tidak aneh kalau Pocu selalu menguntit dari boanpwe"
Ujar Ti Then sambil tertawa pahit. Air muka Wi Ci To berubah semakin memberat, dengan dingin ujarnya lagi.
"Sekarang beritahu pada Lohu siapa orang yang mengadakan kerja sama dengan kamu orang? dimana putriku saat ini?"
"Di dalam tubuh boanpwe"
Wi Ci To menjadi gusar, ujarnya keras.
"Lohu tidak punya banyak kesabaran Hem. .jangan bargurau di hadapan Lohu"
"Kawan boanpwe itu sudah beri pada boanpwe dua pucuk surat, jika pocu melihatnya sendiri bukankah akan menjadi jelas dengan sendirinya?"
Wi Ci TO sesudah mendengar perkataannya ini sangat beralasan segera merogoh tangannya ke dalam saku Ti Then mengambil keluar dua pucuk surat itu.
Dengan cepat jarinya menotok jalan darah kaku pada tubuh Ti Then kemudian membuka kedua pucuk surat itu untuk dibaca.
Sehabis membaca kedua surat itu dia menjadi tertegun dibuatnya, sama sekali tidak terduga olehnya kalau isi surat tersebut hanya begitu saja.
Dengan air muka yang sudah berubah merah padam pandangannya dengan perlahan dialihkan ke atas wajah Ti Then, ujarnya dengan penuh penyesalan.
".. Kiranya..kiranya Lohu . .Hai..heei, sudah salah duga"
Ti Then tersenyum, sahutnya dengan halus.
"Manusia tidak akan luput dari kesalahan, pocu tidak usah terlalu menyesal"
"Lalu..lalu siapa orang itu?"
"Sebetulnya boanpwe dengan cepat akan tahu siapa dia sebetulnya, tetapi karena dia tahu Kalau pocu sedang menguntit, maka sengaja bersembunyi tidak mau bertemu."
Dengan cepat Wi Ci To membebaskan jalan darah kakunya, sambil berulang kali minta maaf ujarnya.
"Sungguh minta maaf, kesemuanya ini karena ketololan lohu..Heei..hanya minta Ti kauw taw jangan sampai marah karena kelancangan ini."
"Ha . ha.. ha..sejak dulu boanpwe sudah bilang, Kalau pocu seharusnya menaruh perasaan curiga kepadaku maka boanpwe tidak akan menjadi marah."
"Kalau begitu sangat bagus sekali"
Ujar wi Ci To sambil menghembuskan napas lega "Heeeei..
seharusnya lohu tidak boleh menaruh curiga terhadap Ti kauw taw, tetapi dikarenakan banyaknya urusan yang terjadi sangat bertepatan maka..tetapi kini jauh lebih baik ada dua pucuk surat itu sebagai bukti sudah cukup membuktikan ketulusan serta kejujuran dari Ti kauw tauw."
Dia berhenti sebentar kemudian dengan suara rendah ujarnya.
"Menurut pandangan Ti kauw tauw, siapa yang bisa menulis kedua pucuk surat itu?"
"Boanpwe hanya tahu kalau orang itu jelas merupakan seorang yang sudah kita kenal, sedang siapa sebetulnya orang itu masih belum memperoleh jawaban"
"Jika dilihat dari nada ucapan kedua pucuk surat ini agaknya dia mirip orang yang menculik putriku tetapi sepertinya tidak."
"Apa Pocu mengenal gaya tulisan dari surat itu?"
"Tidak kenal"
Sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya Jika ditinyau dari gaya tulisannya tidak mirip tulisan bangsat cilik itu"
"Orang ini punya maksud sengaja menutupi gaya tulisannya tetapi boleh dipastikan bukan Hong Mong Ling yang menulis surat itu"
"Hmm..benar"
Sahut Wi Ci To sambil mengangguk.
"Lohu juga tidak percaya dia punya nyali begitu besarnya"
"Hingga saat ini yang membuat boanpwe merasa tidak paham adalah orang itu kalau memangnya menculik putrimu, bertujuan memaksa Pocu menyerahkan sesuatu barang kenapa harus memberi larangan untuk beritahukan urusan ini kepada orang-orang dari Benteng Pek Kiam Po?"
"Benar, hal ini membuat orang merasa bingung. ."
"Saat ini maukah Pocu mempercayai diri boanpwe ini?"
"Sudah tentu percaya..sudah tentu percaya"
Sahut Wi Ci To cepat.
"Jika lohu tetap mencurigai Ti kauw tauw bukanlah jadi manusia lagi"
"Kalau begitu harap pocu cepat-cepat pulang agar boanpwe bisa menemui orang itu secepat mungkin"
"Baiklah"
Sahut Wi Ci To sambil mengangguk.
"Tetapi Ti kauw tauw harus berhati-hati, kemungkinan sekali pihak lawan memang punya satu rencana busuk"
"Sudah tentu boanpwe bisa berhati-hati, harap Pocu berlega hati"
"Ehmm. .jika pihak lawan mengajukan syarat dalam hal uang emas harap Ti kauw tauw menyanggupi saja, Lohu hanya punya satu putri ini saja, sudah tentu tidak akan membiarkan dia sampai menderita luka"
"Baiklah"
"Kalau begitu semuanya lohu titipkan pada Ti kiauw tauw, kini lohu mau kembali ke dalam Benteng "
Ti Then segera merangkap tangannya menghantar sambil tersenyum tambahnya.
"Pocu harus betul-betul kembali ke dalam Benteng, kalau tidak mungkin pihak lawan tidak mau bertemu kembali dengan boanpwe"
"Tentu pulang..tentu pulang"
Sehabis berkata dia merangkap tangannya membalas hormat dan memutar tubuh pergi dari sana dengan langkah lebar.
Ti Then sesudah melihat bayangan tubuhnya lenyap dari pandangan barulah teriaknya dengan suara nyaring.
"Hei kawan Wi Pocu sudah pulang, kini silahkan bertemu bagaimana?"
Dia tahu pihak lawannya tentu bersembunyi disekitar tempat ini karena itulah dia berteriak.
Tetapi walau sudah ditunggu sangat lama tetap saja tidak melihat pihak lawan munculkan diriya.
Diam-diam pikir Ti Then dalam hati.
"Mungkin dia mau menunggu hingga Wi Ci To jauh meninggalkan gunung ini baru muncul, lebih baik aku jalan-jalan dulu ke semua tempat."
Sehabis berpikir begitu dia menaiki punggung kudanya kembali dan melanjutkan perjalanannya melalui jalan gunung yang tersedia, sesudah berjalan satu dua li jalanan gunung itu sudah sampai pada ujung, dia menanti beberapa saat lamanya di atas kudanya, tetapi ketika dilihatnya tidak terdapat gerak gerik sedikit pun segera dia putar kudanya turun gunung.
Di dalam anggapannya, jika dia tidak munculkan diri di atas gunung ini sudah tentu ditengah jalanan akan meninggalkan surat kembali untuk menentukan tempat serta waktu pertemuan, siapa tahu ditengah jalanan ini keadaan tetap tenang-tenang saja hingga dia melewati daerah pegunungan Yan Liong san tetap saja tidak tampak pihak lawan mengirim surat kembali.
Saat itu cuacanya semakin gelap.
sedang malam hari pun menjelang datang.
Diam-diam pikirnya lagi di dalam hati.
Jika ditinyau dari keadaan sekarang, tidak mungkin dia mau munculkan dirinya ini hari, lebih baik aku berusaha mencari tempat pemondokan terlebih dulu..Tali les kudanya dengan cepat disentak sehingga kudanya berlari mengikutijalan kecil yang terdapat di situ.
Tidak lama kemudian sampailah Ti Then disebuah dusun yang bernama Siong Kan, sesudah dahar dia melanjutkan perjalanan mengelilingi dusun itu tetapi walau pun sudah kemana pun tetap tidak didapatkan sebuah rumah penginapan pun, terpaksa dia menginap disebuah rumah petani diluar dusun.
Hari kedua sesudah mengucapkan terima kasih pada petani itu, dia berjalan mengambil kudanya dikandang di samping rumah tersebut.
saat itulah dilihatnya di atas pelana kudanya terselip secarik kertas.
Ehmm..akhirnya ada surat juga yang datang.
Dengan cepat dia mengambil surat itu dan dibacanya.
"Pergilah ke gunung Fan Cing san."
"Hemm seperti majikan patung emas saja lagaknya, mau menyusahkan aku"
Dia menyimpan kembali surat itu ke dalam sakunya kemudian kepada petani tua yang mengantar tanyanya.
"Tolong tanya jarak dari sini ke gunung Fan Cing san seberapa jauh?"
"Kongcu mau ke gunung Fan Cing san?"
Tanya petani tua itu sambil memandang wajah Ti Then.
"Jaraknya kurang lebih empat lima ratus li dari sini."
Begitu Ti Tnen mendengar kalau jarak nya ada empat lima ratus li tidak terasa menghembuskan napas dingin, makinya..
"Anying busuk..turunan kere. .jauh lebih hebat dari majikan patung emas"
Segera dia mengangguk kepada petani tua itu, sahutnya sambil tersenyum.
"Benar ada seorang kawan sedang menanti cayhe di atas gunung Fan Cing san."
"Lalu kongcu sudah tahu cara jalannya."
"Sedang menunggu petunjuk dari Lotiang."
Petani tua itu menuding kearah timur laut, ujarnya.
"Arahnya sana, kongcu harus pergi ke Cong An dulu kemudian tanya jalan menuju ke Wu Cun kini didaerah Kwe Kho. setelah itu baru ke Eng Kiang, dari sana sudah bisa lihat gunung Fan Cing san tersebut"
"Terima kasih atas petunjuk Lotiang, cayhe mau permisi."
Dengan cepat dia menyalankan kudanya meninggalkan rumah petani itu menuju ke arah timur laut.
Ditengah jalanan tidak ada peristiwa yang terjadi, pada siang hari kelima dia sudah tiba didaerah gunung Fan Cing san itu Gunung Fan Cing san merupakan salah satu gunung yang sangat terkenal didaerah Cian ceng ini, keadaan gunungnya sangat indah bahkan ke atas gunung banyak terdapat kuil-kuil kuno.
Pada musim semi banyak orang yang naik gunung pasang hio, mereka segera naik dari selat Kim To Shia kemudian disambung dengan jembatan udara membuat pemandangan jauh lebih indah.
Waktu itu bukan musim semi, apa lagipada siang hari yang terik.
karenanya orang yang datang berpesiar di atas gunung sangat sedikit sekali.
Sampai saat ini Ti Then tetap belum tahu pihak lawannya mau mengadakan pertemuan dengannya di tempat mana, dia hanya tahu pada suatu tempat yang menyolok tentu ada tanda yang ditinggalkan.
Ketika baru saja dia membelok suatu tikungan, tidak salah lagi di atas tanah tertuliskan sebuah gambar panah, Ti Then tersenyum dia menyalankan kudanya menurut arah panah itu.
Jalanan berbelok-belok, sesudah berjalan kurang lebih satu li sampailah dia disebuah persimpangan jalan yang bercabang tiga.
Ketiga buah jalan itu yang satu merupakan jalanan gunung kecil yang menghubungkan tempat itu dengan tengah gunung, yang satu lagi menghubungkan sebuah kuil gunung dan yang terakhir menghubungkan jalan itu dengan sebuah jembatan gantung.
Panah yang tergambar di sana meminta Ti Then melewati jembatan gantung itu.
Segera Ti Then meloncat turun dari kudanya dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Sesudah melewati jembatan gantung, dia harus melalui sebuah jalan pegunungan lagi yang amat panjang.
Di dalam perjalanan ini sering tampak tanda-tanda panah penunjuk jalan, dengan mengikuti tanda itu Ti Then melanjutkan perjalanan ke depan, setelah melewati beberapa jembatan gantung lagi sampailah dia di puncak gunung Fan Cing san itu Akhirnya sampailah Ti Then pada sebuah selat yang sangat sempit dan tersembunyi.
Dalam hati Ti Then tahu tempat yang dituju sudah hampir sampai karena itu gerak-geriknya bertambah waspada, matanya dengan tajam memperhatikan keadaan sekelilingnya sedang telinganya memperhatikan suara-suara yang mencurigakan, dia takut sampai terjerumus ke dalam jebakan pihak musuh.
Dia tahu jika pihak lawannya merupakan orang yang menculik Wi Lian In maka dia pasti mengandung maksud tertentu dan mem punyai seorang pembantu, karena sejak dari kota Lauw Ciang hingga sini dengan tidak henti-hentinya dia memberi petunjuk kepada dirinya, sudah tentu tidak mungkin membawa serta Wi Lian In.
dia pasti menyerahkan Wi Lian In kepada seseorang untuk dibawa ke sini terlebih dulu, kalau memangnya sudah ada orang ke sini terlebih dulu kemungkinan sekali tempat ini sudah dipasangi jebakan.
Batu-batu cadas banyak berserakan di dalam selat itu, rumput liar tumbuh dengan lebatnya sehingga menutupi pemandangan luas, setindak demi setindak Ti Then melanjutkan perjalanannya ke depan, sesudah berjalan kurang lebih setengah li mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara tertawa dingin yang sangat aneh sekali.
"He he he..."
Suaranya parau, rendah dan sangat berat, sedikit pun tidak berbau hawa manusia.
Tubuh Ti Then terasa tergetar dengan keras, dengan kecepatan yang luar biasa dia memutar tubuhnya, terlihatlah pada jarak lima kaki dari dirinya, berdiri seorang manusia aneh dengan angkernya.
Seluruh tubuh orang itu memakai jubah berwarna hitam, kepalanya ditutupi dengan sebuah karung hitam hingga dadanya, pada depan matanya hanya terlihat dua buah lubang kecil saja, secara samar-samar terlihatlah dari matanya memancarkan keluar sinar yang sangat tajam sekali.
Selain itu berapa besar usianya, bagaimana wajahnya bahkan lelaki atau perempuan tidak sanggup diketahuinya.
Tidak tertahan Ti Then menghembuskan napas dingin, tanyanya.
"Apa saudara yang meminta cayhe kemari?"
"Tidak salah"
Sahut manusia aneh itu sambil mengangguk. Dengan perlahan sinar mata Ti Then berkelebat menyapu keadaan sekeliling tempat itu. samhil tersenyum ujarnya lagi.
"Jika cayhe mau tahu siapa namamu tidak mengapa bukan?"
"Kamu boleh panggil aku sebadai manusia berkerudung."
"Ha ha ha..nama ini kurang misterius lebih baik cayhe carikan sebuah sebutan bagimu, kamu kira bagaimana?"
"Bagus sekali"
"Tapi kau jangan marah"
"Kalau begitu baiklah"
Ujar Ti Then sambil tersenyum.
"Aku panggil kamu sebagai si setan pengecut saja"
Manusia aneh itu sama sekali tidak menjadi marah oleh hinaannya ini, sambil tertawa keras ujarnya.
"Bagus sekali makianmu, bagus sekali makianmu ini, dengan dandananku seperti ini memang patut mendapatkan ejekan sebagai si setan pengecut. ."
"Jika kamu tidak menolak. sejak hari ini aku mau panggil kamu sebagai setan pengecut"
Manusia aneh itu menganggukkan kepalanya berulangkali, sahutnya sambil tertawa.
"Bagus. ..baik panggil setan pengecut... boleh ..mau panggil setan pangecut juga boleh. ."
"Dimana nona Wi??"
"Di dalam selat ini"
Sahut setan pengecut itu singkat.
"Kamu setan pengecut yang menculik dia kemari??"
"Benar"
"Lalu apa keinginanmu?"
"Ha ha ha. ."
Sahut setan pengecut itu sambil tertawa terbahak-bahak.
"Aku hanya beritahu padamu sebaliknya tidak memberi tahu pada Wi Ci To, di dalam hal ini sudah tentu kamu tahu tujuanku adalah pada dirimu."
"Aku tahu."
Mendadak nada suara diri setan pengecut itu berubah menjadi sangat dingin, ujarnya dengan seram.
"Permintaanku kepadamu sangat banyak sekali, mungkin kamu tidak akan sanggup untuk menerimanya "
"Kamu orang mau nyawaku ini?"
Tanya Ti Then tenang tenang saja.
"Tidak, tidak berguna aku minta nyawamu"
"Kalau begitu, kamu mau apa?"
"Pada waktu-waktu dekat ini aku pernah dengar dari seorang yang bisa dipercaya katanya kamu pendekar baju hitam Ti Then pernah pukul rubuh si pendekar pedang tangan kiri Cian pit Yuan di dalam Benteng Pek Kiam Po, apa betul ada urusan ini"
"Ha ha ha..tidak salah"
"Usiamu baru dua puluh tahunan ternyata bisa mengalahkan Cian pit Yuan boleh dikata kamu pernah memperoleh ilmu silat yang sangat tinggi dari seorang pendekar aneh"
"Sedikit pun tidak salah"
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Sedang menurut apa yang aku ketahui orang itu tidak mungkin si kakek pemalas Kay Kong Beng."
"Memang bukan dia"
"Kalau begitu"
Ujar setan pengecut itu lagi.
"Kemungkinan sekali orang itu adalah musuh bebuyutanku"
Hati Ti Ten menjadi tergerak sambil memandang tajam kearahnya tanyanya lagi.."Siapa musuhmu itu?"
"Aku tidak bisa mengatakan."
Ti Then menjadi melengak. tanyanya.
"Kenapa tidak bisa dikatakan?"
"Karena bagitu aku sebutkan maka dia juga bisa tahu siapa aku sebenarnya, sedangkan kepandaian silat yang aku berhasil latih hingga kini masih kalah satu tingkat dengannya. Aku bicara begini kamu orang tentu paham bukan?"
"Paham sekali"
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Sudahlah, sekarang aku mau bicarakan soal syarat yang aku ajukan untuk kamu orang, permintaanku ada empat. Kesatu, Beritahu padaku siapa dia. Kedua, Perlihatkan semua kepandaian silatnya di hadapanku. Ketiga, Kamu orang harus turun tangin sendiri memotong lengan sebelahmu. Keempat, bawakan sebuah sebuah barang untuk dirinya."
Dia berhenti sebentar kemudian sambil tertawa dingin sambungnya lagi.
"Tiga syarat pertama dari antara keempat syarat ini jika kamu bisa lakukan dengan baik maka nona Wi boleh kamu bawa pulang."
Ti Then yang mendengar diantara keempat syarat itu ada satu yang minta dia potong lengannya sendiri dalam hati merasa berdesir, sambil tertawa pahit sahutnya kemudian.
"Syarat pertama dari ke empat syarat yang kamu ajukan aku sudah tidak bisa lakukan."
"Tapi"
Potong setan pengecut itu sambil tertawa dingin "Aku rasa syarat pertama itu justru syarat yang paling mudah asalkan kamu mau katakan urusan sudah beres"
"Justru aku tidak bisa bicarakan karena aku sendiri juga tidak tahu siapa sebetulnya dia."
Sinar mata setan pengecut itu berkelebat dengan tajamnya tanyanya dengan tercengang.
"Bagaimana kamu tidak tahu siapa sebetulnya dia??"
"Bertemu dengan mukanya saja belum pernah, bagaimana bisa tahu siapa dia?"
Setan pengecut itu menjadi melengak ujarnya lagi.
"Kalau begitu dengan cara bagaimana menurunkan kepandaian silatnya??"
"Ehmm. ."
Sahut Ti Then sesudah berpikir sebentar.
"Tentang soal ini aku harus berpikir dulu baru bisa ambil keputusan memberikan jawaban kepadamu atau tidak?"
"Jika betul-betul kamu orang tidak tahu siapa sebetulnya dia, hal ini masih tidak mengapa, cukup kamu perlihatkan seluruh kepandaian silat yang pernah dia ajarkan, dengan cepat aku segera akan tahu betul tidak dia merupakan musuh besarku"
Ti Then termenung berpikir sebentar, kemudian baru ujarnya.
"Aku mau bertemu dulu dengan nona Wi?"
"Kamu boleh lega hati, dia sama sekali tidak menemui cidera"
"Tapi sekarang juga aku mau temui"
Ujar Ti Then tetap ketus.
"Aku mau bicara dengan dia, jika kamu tidak setuju semua urusan tidak perlu bicarakan lagi"
"Hmm hmm. Bangsat cilik, tempat dan saat ini bukan waktumu untuk bersombong"
"Kalau begitu kamu pergi cari Wi pocu saja, nona Wi adalah putri dari Wi Pocu, Wi Pocu dengan aku tidak punya hubungan apa-apa."
"Tapi kamu sudah jatuh cinta padanya bukan begitu?"
Sehabis berkata dia menuntun kuda tunggangannya siap meninggalkan tempat itu.
Jilid 8.2. Si Setan Pengecut meminta ilmu silat Ti Then "Baik... baiklah"
Ujar setan pengecut itu dengan cepat "Aku akan beri perintah untuk bawa dia bertemu muka dengan kamu."
Sehabis berkata dia bertepuk tangan tiga kali sebagai tanda.
Ti Then segera angkat kepalanya memandang sekeliling tempat itu tetapi tidak terlihat sesosok bayangan manusia pun yang membawa Wi Lian In keluar, tidak terasa dia mendengus dengan sangat dingin, ujarnya.
"Mana orangnya??"
"Sewaktu bertemu dengan dia lebih baik kamu jangan bergerak sembarangan, kalau tidak hmm, hmm .. aku mau beri perintah segera binasakan dirinya."
Tidak tertahan alis yang dikerutkan pada wajah Ti Then semakin mengencang, ujarnya dengan keras.
"Aku tanya dimana dia?"
"Di atas lekukan tebing di sebelah kiri belakang tubuhnya."
Ti Then dengan cepat putar tubuhnya memandang ke arah sana, begitu melihat tidak tertahan lagi hawa amarahnya memuncak, makinya.
"Bangsat cilik, ternyata kamu lagi."
Kiranya orang yang membawa keluar Wi Lian In di atas lekukan tanah itu tidak lain adalah si naga mega Hong Mong Ling adanya.
Sejak semula Ti Then sudah menduga kalau setan pengecut itu punya kawan di dalam melaksanakan rencananya ini, tetapi sama sekali tidak disangka olehnya kalau orang itu adalah Hong Mong Ling, yang paling dikuatirkan Ti Then adalah Wi Lian In sampai terjatuh ditangan Hong Mong Ling ini karena begitu Wi Lian In terjatuh ketangannya walau pun tidak tentu bisa binasa secepatnya.
Hong Mong Ling tentu akan memperkosa dirinya terlebih dulu baru membunuhnya.
Hal ini terhadap dia, terhadap ayahnya bahkan terhadap Ti Tian sendiri juga merupakan suatu peristiwa yang paling menyiksa.
Dalam hati dia merasa sangat terkejut bercampur gusar, tetapi tidak berani menerjang ke depan untuk memberi pertolongan, karena jarak dari permukaan tanah sampai lekukan tebing itu walau pun hanya setinggi tujuh delapan kaki saja tetapi jaraknya dari tempat dia berdiri ada lima belas, enam belas kaki jauhnya, tidak mungkin baginya sekali terjang berhasil mencapai tempat itu.
Dia tahu begitu dirinya turun tangan membunuh Wi Lian In.
Tangan kiri Hong Hong Mong Ling merangkul kencang pinggang Wi Lian In, memaksa tubuhnya berdiri tegak sedang tangan kanannya mencekal sebilah pisau belati tajam yang ditempelkan di depan jantungnya.
Agaknya jalan darah dari Wi Lian In sudah tertotok sehingga tubuhnya tidak bisa bergerak sedikit pun, dengan demikian sama sekali tidak punya tenaga baginya untuk melakukan perlawanan, hanya saja air mukanya yang murung serta sedih dengan tidak henti-hentinya melelehkan air mata memandang kearah Ti Then.
setan Pengecut itu segera tertawa, ujarnya.
"Di belakang lekukan tebing dimana mereka sekarang berdiri terdapat sebuah gua alam yang sangat indah sekali, di dalam beberapa hari ini nona Wi berdiam dengan tenangnya di dalam gua itu."
Ti Then segera menggerakkan kakinya berjalan kearah tebing dimana Hong Mong Ling berdiri. Melihat hal itu si saten pengecut segera membentak keras.
"Berhenti, jangan kamu ke sana"
"Aku mau bicara dengan dia"
Ujar Ti Then sambil berhenti.
"Kamu bicara dari sana, dia masih bisa dengar"
Ti Then segera angkat kepalanya berteriak.
"Nona Wi, kamu menderita luka atau tidak?"
Air mata yang mengucur keluar dari kelopak mata Wi Lian In semakin deras, sahutnya dengan sedih.
"Tidak terluka, hanya kemangkelan di dalam hatiku tidak bisa ditahan lagi, Ti kauw tauw kamu tidak usah perduli aku lagi, cepat turun tangan binasakan bangsat terkutuk ini"
"Nona Wi, kamu bersabarlah beberapa hari lagi, cayhe percaya masih punya cara untuk menolong kamu"
"Ti kiauw tauw"
Ujar Wi Lian In lagi sambil menangis "Aku rela berkorban dan binasa bersama-sama bangsat terkutuk ini, cepat kamu turun tangan."
"Apa mungkin nona Wi masih menaruh rasa terhadap dia?"
"Omong kosong"
"Kalau tidak kenapa rela binasa bersama-sama dengan dia."
"Aku benci dia..aku benci sekali melihat tampangnya? aku tidak mau dikuasainya terus menerus."
"Nona benci dia tapi belum melihat dengan mata kepala sendiri kebinasaannya maka itu bersabarlah beberapa hari lagi. Kamu adalah seorang nona baik tentu tidak mau berkorban untuk binasa bersama-sama dia bukan?"
"Ti Kauw tauw"
Ujar wi Lian In dengan sedih.
"Apa kamu setuju terhadap ke empat buah syarat yang diajukan setan pengecut itu?"
"Benar". -0000000-"Ini tidak ada hubungannya dengan kamu orang, jika kamu tidak berani turun tangan menolong aku.. lebih baik pulang saja panggil ayahku kemari."
"Ayahmu datang juga tidak berguna"
Ujar Ti Then sambil tertawa pahit. ..
"Setan pengecut ini hanya maui aku seorang dan bukan ayahmu yang dicari."
"Kamu terlalu bodoh.. jika kamu menurut perkataan mereka untuk potong salah satu lenganmu, saat itu mungkin mereka akan turun tangan bunuh dirimu."
"Tentang hal ini nona boleh berlega hati, sampai saatnya jika mereka tidak menurut perjanyian aku masih punya kemampuan untuk bereskan nyawa kedua orang itu."
Berbicara sampai di sini dia menoleh kepada Hong Mong Ling, tanyanya.."Hei bangsat cilik, kamu sudah bulatkan tekad untuk mengikuti setan pengecut ini untuk selamanya??"
"Tidak salah"
Sahut Hong Mong Ling sambil tertawa dingin.
"Kalau begitu sangat bagus sekali, kamu boleh bawa nona Wi ke dalam goa"
Hong Mong Ling tetap berdiri tegak menanti perintah dari setan pengecut itu sejenak kemudian barulah terdengar setan pengecut itu terttawa, ujarnya.
"Muridku yang baik, kamu bawalah dia masuk ke dalam goa"
Dengan sangat hormat Hong Mong Ling menyahut, setelah itu barulah dia membawa Wi Lian In mundurkan diri ke dalam goa.
Goa itu terletak di belakang tubuhnya, karena itu baru saja mundur dua langkah tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Sesudah itu barulah Ti Then putar tubuhnya, kepada setan pengecut itu sambil tertawa ujarnya.
"Kamu telah mengangkat dia sebagai murid?"
"Benar"
"Kamu harus peringatkan dia, jika dia berani mengganggu seujung rambut dari Wi Lian in, diantara kita kedua belah pihak tidak akan ada pembicaraan lagi."
"Asal kamu mau menerima keempat syarat yang aku ajukan aku tanggung semuanya akan beres"
"Tapi.."ujar Ti Then lagi...
"Syarat yang pertama aku betul-betul tidak bisa laksanakan. ."
"Soal itu tidak mengapa, asalkan kamu mainkan semua kepandaianmu, sudah cukup buat aku untuk mengetahui apa betul kamu murid dari musuh besarku atau bukan."
"Harus dikeluarkan semua?"
"Benar"
Sahut setan pengecut itu "Harus dikeluarkan semua bahkan setiap gerakan dan setiap jurus harus dimainkan dengan perlahan. ."
Mendengar perkataan itu Ti Then tertawa dingin, ujarnya.
"Tujuanmu yang sebetulnya sedang mencari tahu siapa sebetulnya suhuku atau mau merebut kepandaian silat dari suhuku?"
"Kedua duanya, karena semakin tahu semakin lihay, semakin lihat selamanya akan menang"
Setan pengecut itu menjadi sangat gusar, ujarnya.
"Aku sedang bicara yang sesungguhnya"
"Jika terpaut hanya satu tingkat saja, maka berarti juga kepandaian silatmu saat ini jauh lebih tinggi dari kepandaianku, bagaimana jika kita coba-coba"
"Tidak bisa..tidak bisa.."
Ujar setan pengecut itu sambil gelengkan kepalanya.
"Yang menang akan sombong dan yang kalah akan malu..tidak..tidak. ."
"Ha..ha..ha..perkataan saudara sungguh amat jujur, sungguh heran..sungguh heran. ."
"Cukup, sekarang bukan waktunya untuk bicara omong kosong, kapan kamu mulai menulis semua kepandaian silat suhumu?"
"Kini cuaca sudah semakin gelap"
Ujar Ti Then sambil memandang ke angkasa.
"Sedang baru saja aku melakukan perjalanan jauh, tidak perduli bagaimana pun malam ini aku mau tidur yang nyenyak terlebih dahulu"
"Baiklah, besok pagi mulai menulis juga tidak mengapa, sekarang aku mau beri larangan tempat-tempat yang boleh kamu bergerak. coba dengarkan dengan teliti. ."
"Kamu boleh tidur di tebing sana"
Dengan mengikuti tangannya yang menunjuk ke arah tebing, Ti Then menengok ke sana, terlihatlah di bawah tebing curam itu memang terdapat sebuah gua yang cukup dimasuki seorang saja, segera dia mengangguk sahutnya.
"Sudah kelihatan, kamu mau aku tidur di dalam gua itu"
"Tidak salah, sedang kami guru dan murid akan mengawasi seluruh gerak-gerikmu dari atas tebing sebelah sana, mau tidur atau tidak terserah kepadamu, dilarang meninggalkan depan tebing walau satu kaki"
Ti Then melihat di depan tebing itu merupakan tanah lapang sejauh tiga kaki lebih bahkan tidak sebutir batu pun yang bisa dibuat menyembunyikan diri, dalam hati dia memaki atas kelicikannya, dengan dingin ujarnya.
"Bagaimana kalau aku keluar dari satu kaki??"
"Tidak ada perkataan lain"
Ujar setan pengecut itu dengan dingin.
"Maka nona Wi akan merasakan suatu penderitaan dan siksaan yang nyaman"
Ti Then tertawa terbahak-bahak, ujarnya.
"Ada satu akibat yang hebat, apa kalian sudah pikirkan??"
"Akibat apa?"
Tanyanya sambil memandang tajam ke arah Ti Then.
"Asalkan aku tidak menyetujui syarat-syaratmu dan terjadi suatu pertempuran, aku percaya masih punya kesanggupan untuk membunuh mati kau"
Pada air muka setan pengecut itu sedikit pun tidak menampilkan perasaan jerihnya, sambil tertawa seram ujarnya.
"Kau mengira sesudah tahu dia tidak akan lolos juga dari tanganmu?"
"Sudah pasti"
"He ..he..he..aku beritahu padamu, gua itu masih punya jalan untuk mengundurkan diri"
Ti Then girang dalam hatinya tapi sengaja memperlihatkan perasaannya yang sangat terkejut, ujarnya.
"Ha..kiranya begitu, sungguh teliti kamu dalam mencari tempat yang begitu baiknya"
Setan pengecut itu hanya tertawa aneh saja, ujarnya kemudian dengan nada setengah mengejek.
"Bagaimana?? Masih mau turun tangan"
"Tidak"
Sahut Ti Then sambil angkat bahunya.
"Sekarang aku mau pergi tidur. ."
Dengan cepat dia menuntun kudanya berjalan menuju ke arah tebing tersebut. ujar si setan pengecut lagi dengan keras.
"Ingat perkataanku, jika kamu orang tidak ingin melihat nona Wi tersiksa malam ini, harus tidur dengan sebaik-baiknya di dalam gua itu"
Ti Then pura-pura tidak dengar perkataan itu, sambil menuntun kudanya dia tepat melanyutkan perjalanan menuju ke tebing tersebut.
sesudah melepaskan pelana kudanya dia menepuk punggung kuda tersebut, ujarnya.
"Ang san khek pergilah makan rumput di sana. .sesudah kenyang kembalilah ke sini, malam ini kita harus bekerja sama untuk melanjutkan hidup, Kuda itu agaknya mengerti akan perkataan dari Ti Then, sambil meringkik panjang dengan perlahan berjalan pergi mencari makanannya... Ti Then meletakkan pelana kuda serta bungkusannya, ke atas tanah kemudian putar tubuhnya memandang kearah tebing sebelah sana, saat itu si setan pengecut sudah menaiki tebing seberang dan sedang duduk bersemedi di depan pintu goa..Jarak dari sebelah sini ke sebelah sana kurang lebih ada dua puluh kaki jauhnya tetapi dikarenakan cuaca yang belum begitu gelap membuat setiap gerak gerik dari masing-masing pihak bisa dilihatnya dengan sangat jelas sekali. Dengan perlahan Ti Then memutarkan kepalanya memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu, kemudian memandang ke langit, pikirnya dalam hati.
"Ini hari sudah bulan tujuh tanggal enam belas, besok tepat merupakan saat bulan purnama, hanya tidak tahu sewaktu bulan muncul memancarkan sinarnya ke arah sebelah mana ?? Ke sebelah sana atau ke sebelah sini?"
Dia sangat mengharapkan tempatnya sebelah sini merupakan tempat yang gelap.
dengan demikian dia punya kesempatan untuk melancarkan gerakannya.
Mengambil sebuah cupu arak serta sebungkus rangsum kering, sambil memegang cupu cupu arak itu ujarnya dengan keras.
"Hei ..setan pengecut, kamu jangan begitu tegang, mari ke sini minum arak sama aku."
"Tidak usah. ."
Sahutnya dari tebing seberangan.
"Aku tidak mau minum arak, kamu minum saja sendiri"
Ti Then yang mendengar setiap patah kata yang dikirim begitu jelasnya masuk dalam telinga, tidak terasa hatinya menjadi terkejut, pikirnya.
"Dengan jarak dua puluh kaki lebih dia masih bisa kirim suaranya begitu jelas ke dalam telingaku, kelihatannya dia memang merupakan seorang jago berkepandaian tinggi dari Bu lim. Hanya tidak tahu apakah kepandaiannya bisa mengalahkan kepandaianku ??"
Dia sangat mengharapkan ada orang yang bisa mengalahkan kepandaian silatnya, karena asalkan ada orang yang bisa mengalahkan dia maka dia akan bebas dari tugas sebagai patung emas sesuai dengan perjanyiannya dengan majikan patung emas, dengan sendirinya hatinya tidak perlu risaukan lagi untuk memperistri putri orang lain"
Tetapi dia pun merasa kalau tenaga dalam pihak lawannya masih berada di antara Wi Ci To dengan tenaga dalam seperti ini, masih boleh digunakan untuk menjagoi dunia kangouw tetapi untuk mengalahkan dirinya masih belum sanggup, karena itu dia juga tidak menaruh harapan di atas tubuh setan pengecut itu.
segera dia duduk di atas tanah mulai dahar rangsumnya.
Sambil dahar terus menerus dia memikirkan cara-cara untuk meloloskan diri dari pengawasan setan pengecut itu, tetapi sesudah berpikir setengah harian lamanya masih tetap saja merasa kalau pekerjaan ini harus menggunakan bantuan sinar rembulan.
.jika sinar rembulan tidak menyinari tebingnya maka dengan diam-diam dia bisa meninggalkan goa untuk berusaha menolong wi Lian In.
Setan pengecut itu pernah bilang kalau gua tersebut terdapat jalan mundur, perkataan itu jika betul maka dirinya bisa pergi mencari pintu gua yang sebelah, dari sana diam-diam masuk ke dalam dan turun tangan menguasai Hong Mong Ling terlebih dulu.
Tidak lama kemudian malam hari pun semakin kelam.
Kuda Ang san Khek itu dengan perlahan kembali ke hadapan Ti Then dan tepat menutupi pintu gua, melihat hal ini pikiran Ti Then dengan cepat bergerak.
Dia mengambil kembali selimut yang ada di atas tanah sambil ujarnya dengan perlahan.
"Ang San Khek harap berdiri jangan bergerak, jangan sampai si Setan Pengecut diseberang sana bisa melihat semua gerak gerikku."
Sehabis berkata dia membungkukkan tubuhnya masuk ke dalam gua itu.
Dalamnya gua itu tidak lebih hanya lima depa saja, sesudah berjalan sampai di ujung gua dengan punggung menghadap pintu gua dia membuka selimutnya dan di buka di atas tanah, setelah itu dengan cepat mengumpulkan batu-batu yang ada di sana ke dalam selimut itu sehingga sebesar tubuh manusia dan dibaringkan ke atas tanah, dengan demikian bentuknya mirip sekali dengan seorang manusia yang sedang tidur terlentang dengan nyenyaknya di atas tanah.
Sesudah semua persiapan selesai barulah dia berjalan keluar dari gua dan duduk di sana memandangi Hong Mong Ling yang sedang mengawasi dirinya dari tebing seberang, ujarnya dengan keras.
"Hong Mong Ling malam belum begitu kelam, bagaimana kalau kita bercerita?"
"Cerita apa? "
Ujar Hong Mong Ling dengan dingin.
"Bagaimana kalau kita bercerita tentang pengalamanmu sampai mengangkat Setan pengecut ini menjadi guru?"
"Hemm..soal ini tidak ada yang bisa diceritakan"
"Kamu bangsat cilik jadi orang sungguh aneh, sekali pun Wi Pocu tidak jadi menjodohkan putrinya kepadamu, tapi belum sampai mengusir kamu dari perguruan, buat apa sekarang melaksanakan perkerjaan seperti ini?"
"Dia sudah membatalkan perjodohan itu, sudah tentu aku tidak punya muka lagi untuk tetap hidup di dalam benteng Pek Kiam Po"
"Sekali pun tidak punya muka untuk menetap di dalam benteng Pek Kiam Po juga tidak punya alasan untuk menculik nona Wi"
"Barang yang tidak bisa didapatkan oleh aku Hong Mong Ling, tidak akan dibiarkan di pungut oleh orang lain"
"Hemm..jika begitu kau memangnya seorang bajingan yang paling busuk"
"Heeei... orang she Ti"
Ujar Hong Mong Ling dengan sangat gusar.
"Jika kamu orang tidak mau melihat Wi Lian In menderita lebih baik bicara sedikit sopan"
"Kamu mau duduk semalaman di sana untuk menyaga dia"
"Tidak salah"
"Aku takut kamu orang bisa melamur"
"Kalau begitu boleh coba-coba saja, kamu berani berjalan satu kaki dari guamu..h mm..pertunjukan bagus segera dimulai.."
"Aku bisa muncul di sampingmu secara diam-diam, kemudian memenggal batok kepalamu"
Agaknya Hong Mong Ling tidak menjadi jeri atas gertakan itu, sambil tertawa dingin ujarnya.
"Bagus sekali, aku mau tunggu kemunculanmu itu"
Ti Then tidak berani banyak cakap lagi, segera dia pejamkan mata mulai mempersiapkan diri satu jam kemudian bulan yang berbentuk bulat muncul di tengah udara malam yang bearna biru tua, sinar rembulan dengan terangnya menyinari semua penyuru di selat itu, menyinari tebing dimana Hong Mong Ling tinggal, juga menyinari tebing di sebelah sini.
Dengan perlahan Ti Then menarik selimutnya yang berisi penuh batu itu ke samping tubuhnya dan membentuk sesosok tubuh yang sedang duduk tidak bergerak.
Tidak lama kemudian si Setan pengecut itu pun berjalan keluar dari dalam gua.
Kepada Hong Mong Ling yang sedang berjaga ujarnya.
"Kau pergilah tidur sebentar, tapi jangan mengganggu budak itu"
Hong Mong Ling segera menyahut dan bangkit kembali ke dalam gua.
Si setan pengecut itu segera duduk di depan pintu gua, dia melihat pintu gua dimana Ti Then tidur tertutup sama kali oleh tubuh kudanya tidak tertahan, teriaknya.
"Hei Ti Then kamu sudah tidur ?"
"Sudah hampir tidur, ada urusan apa?"
"Cepat singkirkan kuda itu ke samping, kalau tidak bagaimana aku bisa mengawasi kamu"
"Pokoknya asal aku keluar gua tidak akan lolos dari sepasang matamu, buat apa kau kuatir??"
Setan pengecut menjadi sangat gusar, bentaknya.
"Aku suruh singkirkan yaah singkirkan, jangan banyak bantah lagi.."
"Aku hanya bisa suruh dia rebah saja karena aku mau gunakan dia sebagai penahan angin"
Berbicara sampai di sini dia menepuk-nepuk paha kudanya, ujarnya.
"Ang san khek ...kau rebahlah. Setan pengecut itu tidak bisa lihat aku hatinya tidak tenang."
Kuda yang bernama Ang San Khek itu ternyata menurut, dengan perlahan-lahan merebahkan dirinya.
Begitu kuda itu merebahkan diri dengan cepat Ti Then meminyam kesempatan itu berguling ke samping kudanya, dan bersembunyi di bawah perutnya, ujarnya dengan keras.
"Demikian bisa melihat tidak?"
Di dalam beberapa saat ini hatinya betul-betul merasa sangat tegang, dia takut pihak lawannya mengetahui kalau orang yang tidur terlentang di depan goa adalah manusia palsu, jika hal ini sampai diketahui maka tidak akan ada cara lagi untuk meninggalkan gua itu secara diam-diam.
Tetapi setan pengecut itu agaknya tidak kelihatan, sambil mendengus dingin ujarnya.
"Yang ini masih boleh juga"
Diam-diam Ti Then menghembuskan napas lega, ujarnya lagi dengan keras.
"Aku mau tidur, kau jangan banyak berbicara lagi."
"Kau tidurlah"
Ti Then segera bersembunyi di bawah perut kudanya tanpa berani berkutik lagi, kurang lebih setengah jam kemudian barulah dia menepuk tubuh kudanya dengan perlahan, ujarnya dengan nada yang sangat rendah.
"Ang san Khek. ayoh berdiri dan bawa aku ke sana..di belakang batu-batu cadas itu."
Kuda Ang san Khek ini memang merupakan seekor kuda jempolan yang tahu maksud manusia, mendengar perkataan itu ia segera bangkit berdiri.
Dengan cepat tangan kiri Ti Then memegang leher kudanya, sedang tangan kanannya mencekal kaki depan sebelah kanan dari kuda itu, seluruh tubuhnya di angkat terlentang di samping kanan kuda itu dengan demikian dari pihak si Setan pengecut itu sama sekali tidak bisa melihat gerakannya ini.
ujarnya kemudian dengan perlahan.
"Ayoh jalan. ."
Sambil menggoyang-goyangkan ekornya kuda itu dengan perlahan berjalan menuju belakang tumpukan batu-batu cadas yang tersebar di sana.
Saat itu si Setan pengecut yang berada di tebing sebelah sana mendadak buka mulut, teriaknya.
"Hei Ti Then, kudamu lari."
Ti Then menjadi sangat terperanyat, tetapi tidak sampai mengucapkan sepatah kata pun. Teriak setan Pengecut itu lagi dengan keras.
"Hei Ti Then, kamu dengar tidak?"
Untuk tidak menyawab tidak mungkin, terpaksa Ti Then bergumam seorang diri "Mungkin dia mau pergi buang hajat, hei hanya seekor binatang saja kamu juga mau larang gerak-geriknya"
"Mungkin dikarenakan kudanya belum terlalu jauh meninggalkan goa sehingga si setan pengecut itu tidak sampai mendengar kalau suara Ti Then berasal dari tubuh kuda itu, Terdengar dia mendengus dengan sangat dingin ujarnya.
"Aku tidak tega melihat kamu kehilangan seekor kuda jempolan... kudamu itu memang seekor kuda yang sukar dicari"
Diam-diam Ti Then merasa geli, pikirnya.
"Tidak salah, pandanganmu ternyata sangat tajam, kuda ini memang seekor kuda jempolan yang tahu perkataan manusia, dia sedang membantu aku meloloskan diri dari pengawasanmu"
Segera gumamnya.
"Kamu sudah mengganggu aku dua kali, jika kamu masih mengharapkan besok pagi aku tuliskan kepandaian silatku, jangan coba sadarkan aku lagi.."
Setan pengecut itu tidak berani bicara lagi, segera dia tutup mulutnya rapat-rapat dan duduk tidak bergerak lagi..
Sebaliknya waktu itu kuda tersebut sudah berjalan duluan menuju ke belakang tumpukan batu-batu cadas itu Ti Then segera melepaskan tangannya dan menyatuhkan diri diantara batu-batu tersebut, ujarnya dengan perlahan.
"Ang san Khek apa kamu mau buang hajat?"
Agaknya kuda itu tidak mengerti arti perkataan itu, dia tetap berdiri tidak bergerak dari tempat semula. Ti Then segera mengulapkan tangannya, ujarnya.
"Kalau begitu, pulanglah ke depan gua"
Kuda itu mengerti, dengan perlahan dia putar tubuhnya dan berjalan ke depan gua kemudian merebahkan dirinya pula seperti tadi.
Ti Then menjadi sangat girang, sesudah berdiam diri beberapa saat lamanya dan didengarnya tidak ada suara dari setan pengecut lagi barulah dengan perlahan menggerakkan tubuhnya menuju ke luar selat itu.
Batu-batu cadas yang tersebut disekitar tempat itu sukar dihitung banyaknya, dengan cepat dia berkelebat diantara batu-batu cadas dan akhirnya berhasil juga meloloskan diri dari pandangan tajam sepasang mata setan pengecut itu.
Sesudah berlari kurang lebih sepuluh kaki jauhnya dengan perlahan lahan dia menongolkan kepalanya memandang, tampak dari tempat kejauhan setan pengecut itu masih tetap duduk di atas batu cadas yang menongol keluar itu, hal ini membuktikan kalau dia tidak tahu kalau dirinya sudah meloloskan diri, dalam hati tidak terasa menjadi sangat girang sekali, dengan cepat dia berlari menuju keluar selat sempit itu.
Dia mengambil ke keputusan untuk mendaki tebing lembah itu terlebih dulu, kemudian berputar ke punggung gunung, dari sana barulah mencari mulut gua di belakang gua dimana Wi Lian In dikurung.
Dia memilih sebuah tebing yang penuh ditunbuhi oleh rumput-rumput panjang sehingga bisa digunakan untuk badannya, tidak sampai seperminum teh lamanya dia sudah mencapai puncak dari tebing tersebut.
Dengan segera dia menengok ke bawah, terlihatlah pohon-pohon yang rindang dan lebat tumbuh dengan suburnya pada punggung bukit tersebut saking banyaknya sukar sekali untuk dilihat apakah ditempat itu terdapat sebuah pintu gua yang merupakan belakang dari gua dimana Wi Lian In tertawan atau tidak.
Tetapi dalam hatinya dia punya dugaan yang sangat kuat kalau pintu gua tersebut tentu terletak pada punggung bukit itu karenanya dengan perasaan hati yang mantap dia berjalan menuju ke sana.
Sesampainya dikaki bukit, dia mulai berjalan dan memeriksa dengan sangat teliti, kurang lebih sesudah berjalan ratusan tindak tidak salah lagi, sebuah gua muncul di hadapannya.
Keadaan dari gua itu begitu tertutupnya bahkan diluar pintu gua penuh tumbuh rotan dengan lebatnya, jika bukan orang yang punya maksud mencari agaknya akan sukar untuk menemukannya .
Dengan sangat berhati hati sekali Ti Then menyingkirkan tumbuhan rotan di depan gua itu, terlihatlah keadaan dalam gua itu sangat gelap sekali bahkan boleh dikata tidak terlihat sesuatu apa pun, sesudah di dengarnya dengan penuh perhatian beberapa saat lamanya tetap saja tidak terdengar suara sedikit pun, barulah dengan melintangkan pedangnya di depan dada dia mulai menerobos masuk ke dalam gua tersebut, dalam hati pikirnya.
Jarak selat sebelah sana sampai di sini kurang lebih ada lima puluh kaki jauhnya,bilamana Hong Mong Ling serta Wi Lian In berada di sebelah sana sudah tentu gerakan-gerakan di sini tidak akan sampai didengar oleh mereka.."
Dengan menggunakan pedangnya sebagai pencari jalan, dengan entengnya dia berjalan masuk ke dalam gua itu, tubuhnya ditempelkan pada dinding gua sedang langkahnya pun setindak demi setindak maju ke depan, agaknya dia takut sampai kedengaran suaranya.
Keadaan gua itu berliku-liku, sesudah berjalan masuk kurang lebih dua puluh kaki jauhnya, masih belum juga terdengar suara sedikit pun.
"Ehmm..benar..mungkin Hong Mong Ling serta Wi Lian In sudah tertidur sehingga tidak kedengaran sedikit pun suara mereka..Eh eh... kenapa tidak ada jalan lagil?. Baru saja dag berpikir demikian, pedang panjangnya secara mendadak terbentur pada sebuah dinding gua, dengan cepat dia maju ke depan untuk melihat, saat itulah dia baru mengetahui kalau jalanan gua itu sudah tertutup oleh beberapa buah batu cadas yang besar, dalam hati tidak terasa menjadi sangat heran, pikirnya. Aneh. .jika gua ini merupakan gua tempat persembunyian mereka, kenapa ditutup dengan batu cadas ? apa mungkin aku sudah salah mencari?. Pada saat .pikirannya sedang berputar itu dengan cepat diambilnya korek api dari menyulutnya, terlihatlah batu yang menyumbat gua itu kurang lebih terdapat empat buah yang masing-masing seberat lima ratus kati. Tiga buah berada di bawah dan satu berada ditengahnya, dengan demikian persis menyumbat seluruh jalan gua itu. Ketika dilihatnya lebih teliti lagi, dengan jelas segera terlihat perbedaannya, warna empat buah batu cadas itu sama sekali berbeda dengan batu-batu pada dinding gua itu, hal ini memperlihatkan kalau benda itu dipindah ke sana belum lama. Dengan cepat Ti Then mematikan obornya, karena dia tahu gua yang dicari sama sekali tidak salah, pihak lawan memindahkan empat buah batu itu untuk menyumbat gua, mungkin digunakan sebagai persiapan menghadang penyerbuan musuh. Dengan perlahan-lahan, dia meletakkan pedang panjangnya ke samping, kemudian dengan menggunakan sepasang tangannya dia mengangkat sebuah batu dan dan diletakkan ke samping. Ketika menengok ke arah sana terlihatlah gua itu pun dalam keadaan gelap gulita. Dia mengambil kembali pedang panjangnya dan merubuhkan ketiga buah batu lainnya kemudian baru berjalan menuju ke arah gua itu, langkahnya sangat hati hati, sedikit pun tidak menimbulkan suara, karena dia tahu jarak aja dengan selat sebelah sana sudah tidak jauh lagi. Sesudah berjalan lagi lima belas kaki jauhnya, dari lorong gua sebelah depan muncullah sinar lampu yang remang-remang. Dia menduga jaraknya dengan tempat dimana Hong Mong Ling serta Wi Lian In berada sudah tidak jauh lagi karenanya langkah kakinya semakin hati-hati lagi, setindak demi setindak dia berjalalan ke depan. Sesudah berjalan delapan sembilan kaki lagi, di depan matanya terbentanglah sebuah ruangan goa yang sangat luas. Ditengah ruangan goa itu tersulut sebuah lamcu minyak yang menerangi seluruh ruangan tersebut. sinaga mega Hong Mong Ling duduk bersandar pada sebuah batu cadas. saat itu matanya dipejamkan rapat-rapat, agaknya sedang tertidur, di hadapannya terlentanglah tubuh Wi Lian In. sepasang tangannya diikat kencang-kencang, tubuhnya berbaring menghadap kearah dinding, agaknya dia pun sudah tertidur. Baru saja Ti Then mau melakukan suatu gerakan, mendadak terdengar si setan pengecut sudah berteriak dari luar goa..
"Mong Ling. ."
Dengan cepat Hong Mong Ling meloncat bangun, sahutnya.
"Sudah datang. ."
Dengan cepat dia berlari keluar goa.
"Coba kamu lihat. ."
"Lihat apa ?? tanya Hong Mong Ling melengak.
"Kamu lihat, bangsat cilik itu berbaring di dalam goa tanpa bergerak sejak tadi."
"Mungkin dia sudah tertidur."
"Tidak mungkin."
Ujar setan pengecut itu...
"Di dalam situasi seperti ini dia tidak mungkin bisa tidur, tetapi dia sedikit pun tidak bergerak sejak tadi, aku lihat keadaannya sedikit mencurigakan, coba kamu pergi lihat."
"Baiklah. ."
"Jika betul betul dia tertidur kamu tidak usah bangunkan dia, sifat bangsat cilik itu sangat keras jika sampai membuat dia jengkel tidak ada kebaikannya bagi kita."
"Baiklah. ."
Kedua orang itu sesudah berbicara sampai di sini segera berhenti, keadaannya pun menjadi tenang kembali mungkin Hong Mong Ling sudah meloncat turun dari tebing itu.
Ti Then yang melihat ada kesempatan bagus tidak mau menyia-nyiakan begitu saja, dengan cepat dia meloncat ke samping tubuh Wi Lian In karena dia tidak tahu kalau jalan darah gagu dari Wi Lian In sudah tertotok maka begitu sampai di samping tubuhnya dengan cepat menutupi mulutnya.
Wi Lian In yang mulutnya ditutupi menjadi sangat terkejut dan sadar kembali dari pulasnya, tetapi begitu dilihatnya Ti Then sudah berdiri di hadapannya tidak tertahan pada air mukanya muncul perasaan terkejut bercampur girang.
Sesudah memberi tanda kepadanya untuk tidak bicara, barulah Ti Then melepaskan tangannya kemudian menggendong tubuhnya mengundurkan diri dari gua itu.
Sesudah melepaskan tali pengikat tubuhnya barulah ujarnya dengan menggunakan ilmu hanya menyampaikan suara.
"Nona Wi kamu sudah bisa bergerak"
Wi Lian In mengangguk. Setelah itu barulah Ti Then meletakkan tubuhnya ke atas tanah, ujarnya lagi.
"Kau boleh cepat mengundurkan diri ke dalam goa, biar aku yang menghadapi setan pengecut itu."
Sehabis berkata dia putar tubuhnya siap meninggalkan tempat itu. Dengan cepat Wi Lian In menarik tangannya, ujarnya dengan perlahan.
"sedikit berhati hati, kepandaian dari setan pengecut itu sangat tinggi."
Ti Then hanya mengangguk dan melanjutkan perjalanannya ke depan.
Sesudah melewati ruangan goa itu sampailah dia di depan pintu goa, saat itu si setan pengecut itu sedang duduk bersila di depan sana dengan tenangnya.
Jarak dari Ti Then serta si setan pengecut itu tidak lebih hanya tinggal dua kaki saja.
Agaknya seluruh perhatian dari setan pengecut itu sedang dipusatkan pada seluruh gerak-gerik Hong Mong Ling, karenanya sama sekali dia tidak merasa kalau Ti Then sudah muncul dibela kang tubuhnya.
Sesampainya jarak kurang lebih lima depa dari belakang tubuhnya barulah Ti Then menghentikan langkahnya, dia berdiri tegak tidak bergerak sediki pun juga.
saat ini asalkan dia melancarkan satu serangan saja dengan telak akan mencabut nyawa setan pengecut itu, tetapi dia tidak mau berbuat demikian dia tidak mau membokong orang lain dari belakangnya.
Baru saja dia mau buka mulut memanggil kemudian turun tangan, mendadak terdengar Hong Mong Ling yang berada di bawah tebing sedang berteriak dengan keras.
"Suhu... celaka. ."
Tubuh setan pengecut itu menjadi tergetar dengan sangat keras, tetapi tubuhnya masih tetap duduk tidak bergerak di atas tanah, tanyanya dengan berat.
"Ada apa?"
"Dia sudah melarikan diri. ..."
Teriak Hong Mong Ling sambil menjerit kaget.
"Apa?"
Teriak setan pengecut itu sambil meloncat bangun.
"Siapa yang berbaring di dalam gua itu? Apa bukan dia yang berada di sana?"
"Bukan. ."
Teriak Hong Mong Ling lagi dengan keras.
"Di sana hanya terdapat sebuah selimut yang membungkus beberapa barang sehingga bentuknya seperti orang"
"Kalau begitu orangnya tidak berada di dalam gua?"
Ujar setan pengecut itu dengan perasaan sangat terperanyat.
"Tidak ada."
"Kalau ... kalau begitu dia sudah lari?"
"Tidak salah ..aku memang sudah berada di sini."
Ujar Ti Then dengan dinginnya.
Begitu setan pengecut itu mendengar suara Ti Then muncul secara mendadak dari belakang tubuhnya tidak tertahan lagi seluruh tububnya tergetar dengan sangat keras, mendadak dia putar tubuh bertekuk lutut siap mencabut pedangnya yang tergantung pada pinggangnya...
Tetapi baru saja tangannya berada beberapa cun dari sarungnya sebuah sinar pedang dengan kecepatan yang luar biasa sudah berkelebat melalui atas kepalanya.
"Aduh"
Setan pensecut itu menjerit aneh, tubuhnya dengan cepat jumpalitan ditengah udara kemudian dengan cepatnya melayang ke dalam lembah.
Sekerat kain hitam serta seutas rambut kepala beserta kulitnya sudah terpapas dan melayang jatuh dari tengah udara.
Kulit kepala itu tidak lebih sebesar telapak tangan anak kecil.
Dengan cepat Ti Then mengikuti dari belakangnya, sambil tertawa keras ujarnya.
"Jangan lari. Hey setan pengecut aku mau coba-coba minta pelajaran ilmu silatmu"
Bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya tubuh setan pengecat itu dengan cepat berlari menuju ketengah batu-batu cadas yang berserakan itu, dari sana kemudian meloncat dan melayang lagi ke luar lembah dengan sangat cepatnya.
Ketika Ti Then sampai di dalam lembah dengan cepat sinar matanya berkelebat memandang sekeliling tempat itu, saat itu bayangan tubuh dari Hong Mong Ling sudah lenyap.
dengan cepat tubuhnya melayang mengejar kearah setan pengecut itu, teriaknya lagi.
"Hei setan pengecut, jangan lari..mari kita coba-coba kepandaian masing-masing..."
Setan pengecut itu tetap tidak ambil perduli, dengan sipat kuping dia melarikan diri dengan terbirit birit, hanya di dalam sekejap mata saja sudah melenyapkan diri di balik pepohonan yang tumbuh sangat lebat itu.
Begitu Ti Then melihat rimba yang sangat lebat itu segera tahu untuk mengejar setan pengecut itu bukan merupakan urusan yang mudah, karenanya dia tidak melanjutkan pengejarannya melainkan balikkan tubuh mencari jejak Hong Mong Ling.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 9.1.
Menteri Pintu dan Pembesar Jendela Dia percaya Hong Mong Ling masih bersembunyi diantara batu-batu cadas yang terbesar itu.
segera dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dengan cepat melayang ketengah batu batu cadas yang terbesar itu untuk menawannya.
Siapa tahu walau sudah dicari ke semua tempat, tidak tampak pula bayangan dari Hong Mong Ling.
Eeh ...
eh.
Bangsat cilik itu sungguh teramat licik.
Apa mungkin dia melarikan diri keluar lembah terlebih dulu dari pada si setan pengecut itu?
Atau mungkin dengan pinyam kesempatan ini masuk ke dalam goa kembali untuk menyerang Wi Lian In ??
Pikiran ini begitu berkelebat di dalam benaknya, dia tidak berani berayal lagi, dengan cepat memutar tubuh lari ke dalam gua tadi.
Dengan satu kali loncatan dia naik ke atas tebing yang menonjol keluar kemudian masuk ke dalam gua, teriaknya dengan keras.
"Nona Wi, nona Wi. ."
Dalam gua suasana tetap sunyi senyap. tidak terdengar suara jawaban dari Wi Lian In. Hatinya bertambah tegang, makinya dengan gemas.
"Kurang ajar. ."
Tanpa menanti lebih lama lagi dia putar tubuh menerjang keluar gua tersebut.
"Aku di sini. ."
Terdengar suara Wi Lian In muncul ketika mendadak dari balik sebuah cadas di samping gua itu.
Ti Then menjadi melengak.
dengan cepat dia putar tubuhnya memandang ke arah dimana berasalnya suara itu, saat itu tampak Wi Lian In baru saja munculkan diri dari balik batu cadas di samping gua itu, tak terasa dengan perasaan heran tanyanya.
"Nona Wi, kamu sedang berbuat apa di balik batu itu?"
Air muka Wi Lian In segera berubah menjadi merah padam, dengan nada kemalu maluan sahutnya dengan manya.
"Buat apa kamu urus aku . ."
Agaknya Ti Then sadar apa yang baru saja terjadi, wajahnya pun kelihatan berubah memerah, sahutnya sambil tertawa malu.
"Ooh ..aku kira ..aku kira. ."
"Kamu kira aku diculik pergi?"
Ujar wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.
"Benar.."
Sahut Ti Then sambil mengangguk "Aku pergi kejar itu setan pengecut tapi tidak berhasil kemudian balik mencari Hong Mong Ling, dia juga tidak ada makanya aku kira dia lari masuk ke dalam gua."
"Hemm ... memangnya kamu tidak punya minat bunuh kedua orang itu, kalau tidak bagaimana mereka bisa lolos?"
"Bukan ..bukan begitu"
Bantah Ti Then dengan cemas "Kepandaian silat dari setan pengecut itu memang sangat tinggi, ketika aku kejar dia, tubuhnya sudah berada sangat jauh sekali."
"Tadi kamu bisa bunuh mati dia dengan satu kali tusukan, tapi kamu hanya lukai kulit kepalanya saja."
"Bukannya begitu"
Ujar Ti Then sambil tersenyum "Aku tidak beri am pun kepadanya, hanya saja dia bisa menghindar dengan cepat."
"Tahukah kamu siapa sebetulnya orang itu??"
"Tidak..."
Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Malam itu sewaktu dia memasuki dalam benteng, kepalanya juga ditutupi dengan kain hitam, hanya saja suaranya seperti pernah kudengar. Aku merasa suara itu sering aku dengar"
Pada setengah tahun yang baru saja lewat apa nona Wi pernah meninggalkan benteng?"
Wi Lian In kelihatan sedikit tertegun, sahutnya.
"Tidak pernah, buat apa kamu tanyakan hal ini??"
Ti Then dengan perlahan berjalan bulak balik di sana, sambil tersenyum kemudian ujarnya lagi.
"Nona tadi bilang suara dari setan pengecut itu sering sekali didengar tapi selama setengah tahun belakang ini tidak pernah keluar dari Benteng, makanya kemungkinan sekali setan pengecut itu adalah..."
"Orang Benteng Pek Kiam Po kita?"
Tanya Wi Lian In dengan air muka yang sudah berubah hebat.
"Kecuali begitu tidak ada penjelasan lainnya."
Sepasang mata Wi Lian In dipentangkan lebar-lebar, dengan perasaan terkejut bercampur ketakutan ujarnya.
"Tidak mungkin, di dalam benteng Pek Kiam Po kita kecuali ayahku berserta Hu Pocu tidak ada seorang pendekar pedang merah pun yang memiliki kepandaian silat setinggi setan pengecut itu ..."
"Nona selalu bilang kepandaian silat dari setan pengecut itu sangat tinggi, dengan dasar apa nona bisa bicara begitu?"
"Hari kedua sesudah dia menculik aku didekat keresidenan Lok san sian dia bertemu dengan Hong Mong Ling, agaknya dia tahu urusanku dengan Hong Mong Ling dan minta Mong Ling angkat dia sebagai suhu."
Hong Mong Ling melihat orang yang dikempit dia adalah diriku maka mengajukan satu syarat jika di dalam dua puluh jurus dia bisa mengalahkan dirinya dia baru mau angkat dia sebagai guru, akhirnya setan pengecut itu berhasil mengalahkan dia tidak sampai dua puluh jurus, kepandaian silat setinggi itu hanya kau serta ayahku sekalian saja yang bisa melakukan."
Ti Then tersenyum.
"Yang kamu maksudkan aku serta ayah mu sekalian."
"Sekalian"
Dua kata ini menunjuk siapa?"
"Sudah tentu Hu Pocu."
Hati Ti Then segera bergerak, teringat kembali malam ketika dia diculik orang.
Pada saat itu Huang Puh Kian Pek sedang bermain catur dengan dirinya diruang tamu dia tidak mungkin bisa setan pengecut itu, tanpa terasa lagi dia gelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu gelengkan kepala?"
Tanya Wi Lian In heran.
"Tidak mengapa. ."
Agaknya Wi Lian In juga sudah mencurigai Huang Puh Kian Pek, sambil mengerutkan alis gumamnya seorang diri.
"Apa mungkin perbuatan Hu Pocu?"
"Apa kamu merasa suara dari si setan pengecut itu agak mirip suara dari Hu Pocu?"
Wi Lian In termenung berpikir beberapa saat lamanya.
"Bukannya mirip sekali, hanya sedikit mirip ..."
"Hu Pocu adalah sute dari ayahmu, bagaimana dia bisa melakukan pekerjaan seperti ini?"
"Benar."
Ujar Wi Lian In dengan air muka sedikit bingung dan curiga.
"Hubungannya dengan ayabku sangat erat sekali, sudah sepatutnya tidak melakukan pekerjaan seperti ini, tapi... kamu bilang setan pengecut itu adalah orang benteng Pek Kiam Po kita, kalau begitu kecuali dia masih ada siapa lagi?"
"Malam itu apakah si setan pengecut yang masuk ke dalam kamar nona dan menculik pergi?.."
"Agaknya memang betul"
"Bagaimana kamu bisa bilang agaknya memang betul?"
"Sebelum aku diculik agaknya sudah terkena semacam obat mabuk terlebih dulu sehingga apa pun yang sudah terjadi aku tidak tahu, kemudian sesudah kesadaranku pulih kembali barulah aku merasa kalau tubuhku dibawa lari setan pengecut itu keluar Benteng"
"Saat itu aku masih bermain catur dengan Hu Pocu di dalam ruangan tamu"
Wi Lian In menjadi melengak.
"Oooh...saat itu kalian masih bermain catur di dalam ruangan tamu?"
"Benar."
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"makanya Hu Pocu tidak mungkin adalah si setan pengecut itu."
Wi Lian In mengerutkan alisnya lagi dengan rapat.
"Kalau tidak, siapa sebetulnya setan pengecut itu ??"
"Kemungkinan sekali setan pengecut itu memang bukan orang Benteng Pek Kiam Po kita, walau pun aku sendiri juga merasa suara itu sepertinya pernah di kenal . ."
Mendadak dari sepasang mata Wi Lian In memancarkan sinar yang sangat tajam, ujarnya dengan cepat.
"Apa mungkin si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan ??"
"Tidak mungkin... tidak mungkin."
Ujar Ti Then sambil gelengkan kepalanya "Pedang si setan pengecut itu digantungkan pada pinggang sebelah kirinya dan bukan digantungkan pada pinggang sebelah kanan bahkan sewaktu mencabut pedangnya tadi menggunakan tangan kanan."
"Jika dia betul-betul adalah Cian pit Yuan sudah tentu sengaja akan menggunakan tangan kanannya untuk menutupi wajah yang sebetulnya."
"Omonganmu memang sedikit pun tidak salah, tapi seorang yang sudah terbiasa menggunakan tangan kiri di dalam suatu keadaan yang sangat kritis dan membahayakan jiwanya, dia tidak mungkin bisa mengingat ingat harus menggunakan tangan kanannya."
Agaknya semakin berpikir Wi Lian In merasa semakin bingung, sambil mendepak kakinya ke atas tanah ujarnya.
"Huuu ..sudahlah, mari kita pulang saja."
"Jangan"
Ujar Ti Then dengan cepat.
"Nanti sesudah terang tanah baru kita pulang"
"Kenapa ?"
Ti Then duduk kembali ke atas tanah dengan tenangnya.
"Serangan terang bisa ditahan serangan menggelap sukar diduga, kemungkinan sekali mereka sudah pasang jebakan diantara selat yang sempit itu. ."
"Kamu masih takuti mereka?"
Ujar Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya yang kecil mungil itu. Ti Then yang mendengar perkataannya sangat lucu itu tidak terasa tertawa keras.
"Aku tidak takut pada mereka, hanya saja kamu bukan tandingan Hong Mong Ling"
"Hemm.."
Dengus Wi Lian In dengan dingin "siapa yang bilang ??"
"Hari itu ketika berada di atas gunung Go bi karena hatiku sedang mangkel dan jengkel sehingga sukar untuk menenangkan hati, karenanya baru berhasil dikalahkan olehnya. Padahal jika betul-betul bertempur hemm ..hemm . ."
Tubuhnya yang langsing genit itu dengan gemasnya dibanting ke atas tanah dan duduk tidak bergerak lagi. Ti Then tersenyum, tanyanya dengan halus.
"Perutmu sudah lapar belum?"
"Belum. ."
"Ayahmu sudah kirim perintah seratus pedang untuk menawan kembali Hong Mong Ling, cepat atau lambat akhirnya akan mati juga kamu tidak usah begitu jengkelnya"
"Ayahku apa pernah keluar cari aku. ."
"Pernah. ."
Sahut Ti Then sambil mengangguk "Dia pernah keluar Benteng untuk menguntit aku, tapi yang lalu sudah pulang ke dalam Benteng kembali."
Wi Lian In menjadi terkejut, dengan penuh keheranan tanyanya.
"Kenapa ayahku menguntit kamu?.."
"Ayahmu anggap aku sebagai seorang manusia yang patut dicurigai bahkan menuduh aku orang yang menculik kamu pergi, karenanya secara diam-diam menguntit aku dan mengawasi semua gerak-gerikku"
Segera dia menceritakan kisahnya sewaktu sesaat memasuki lembah. Dengan perasaan yang tidak tenang ujar Wi Liau In dengan perlahan.
"Ayahku mencurigai dirimu juga bukan tidak beralasan"
"Benar, makanya aku sama sekali tidak marah, hanya saja sesudah aku hantar kamu pulang ke dalam Benteng segera akan meninggalkan kalian."
Air muka Wi Lian In berubah hebat.
"Kamu mau tinggalkan kami sekalian?"
Tanyanya.
"Benar. ."
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Jadi kamu masih merasa marah terhadap ayahku?"
"Tidak."
Sahutnya sambil gelengkan kepalanya lagi.
"Lalu kenapa mau tinggalkan kami?"
"Aku takut, kawan-kawan di dalam Benteng ada yang tidak tahu urusan yang sebetulnya dan menganggap aku yang merusak perkawinanmu dengan Hong Mong Ling ..."
"Sekali pun kamu punya niat merusak hubungan kita tapi aku tetap merasa sangat berterima kasih terhadap dirimu karena dia pergi main perempuan disarang pelacur adalah urusan yang sungguh-sungguh sudah terjadi.."
"Sekali pun omonganmu sedikit pun tidak salah."
Ujar Ti Then sambil tersenyum.
"Tapi aku merasa jauh lebih baik . ."
"Tidak usah banyak omong lagi"
Potong Wi Lian In dengan cepat.
"Asalkan kamu tanya dalam hatimu sendiri pernah berbuat atau tidak, tidak usah perduli lagi omongan orang lain"
Ketika Ti Then mendengar kata-kata..Tanya hati sendiri pernah berbuat atau tidak, tidak terasa lagi air mukanya berubah menjadi merah padam.
"Jika kamu sudah ambil keputusan mau meninggalkan benteng Pek Kiam Po sekarang juga silahkan pergi."
"Nona Wi... kamu jangan marah.."
"Aku tidak marah, kamu boleh pergi ..."
"Tapi aku mau hantar nona pulang ke dalam benteng terlebih dulu."
"Tidak usah"
Ujar Wi Lian In dengan sengit.
"Aku bisa pulang sendiri, aku tidak mau kamu hantar aku pulang ke dalam Benteng."
"Si setan pengecut serta Hong Mong Ling kemungkinan sekali masih bersembunyi disekitar tempat ini, bagaimana aku bisa tinggalkan kamu seorang diri?"
"Urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kamu, jika aku terjatuh ketangan mereka lagi biarlah anggap memang itu nasibku."
Berbicara sampai di sini tidak tertahan lagi dia mengucurkan air mata dan menangis tersedu-sedu.
"Nona Wi."
Ujar Ti Then dengan cemas.
"Kamu jangan menangis. .jangan menangis...baiklah aku tidak akan meninggalkan kau lagi"
Wi Lian In dengan cepat memutar tubuh membelakangi dirinya, ujarnya lagi sambil menahan isak tangisnya.
"Aku tidak mau dikasihani orang lain, kau pergilah."
Ti Then termenung sangat lama sekali, kemudian sambil menghela napas baru sahutnya.
"Jika kamu menginginkan aku tinggal di dalam benteng Pek Kiam Po untuk selamanya aku juga bisa menyangupinya. Tapi aku jadi orang punya nasib yang sangat jelek sekali, mungkin bisa membawa kesialan juga kepada orang lain, jika pada suatu hari terjadi suatu urusan kamu janganlah menyesal."
"Apa itu nasib jelek membawa kesialan bagi orang lain? omongan yang tidak karuan itu sepatah pun aku tidak percaya."
"Heeei..."
Ujar Ti Then dengan nada yang berat.
"Aku bilang kemungkinan sekali aku membahayakan ayah ibumu"
Mendadak Wi Lian In putar kepalanya memandang tajam kearahnya.
"Apa arti dari perkataanmu itu???"
"Tidak punya arti yang istimewa, aku hanya merasa aku jadi orang sangat sialan, bersandar pada pagar..pagar ambruk. bersandar pada tembok..tembok jebol."
Mendadak Wi Lian In tertawa cekikikan dengan merdunya, ujarnya.
"Bagaimana kamu bisa punya perasaan begitu"
Ti Then angkat bahunya,"
Kenyataannya memang begitu, umpama saja sesudah aku masuk ke dalam Benteng Pek Kiam Po tidak selang lama sudah ada beberapa peristiwa yang terjadi saling susul menyusul, permulaan Cian pit Yuan yang datang mengacau kemudian muncul si setan pengecut itu ..."
"Tapi. ."
Potong wi Lian In dengan cepat.
"Kamu berhasil pukul mundur cianpit Yuan dan menolong aku dari cengkeraman si setan pengecut itu."
"Tapi jauh lebih baik tidak sampai terjadi urusan itu"
Ujar Ti Then dengan perlahan.
"Sejak kamu masuk benteng Pek Kiam Po kami, secara diam-diam aku terus menerus mengawasi gerak gerikmu, aku merasa agaknya kamu punya pikiran di dalam hati, selamanya uring-uringan dan tidak gembira dapat kamu ceritakan karena apa ?"
"Aku tidak punya pikiran dalam hatiku"
Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Apa kamu pernah mengalami suatu peristiwa yang sangat mendukakan hatimu"
Tanya Wi Lian In sambil memperhatikan wajahnya tajam-tajam.
"Tidak pernah. ."
"Jika betul-betul tidak ada seharusnya kamu jadi seorang yang sangat gembira, dengan usiamu yang masih demikian mudanya sudah berhasil memiliki kepandaian silat demikian tinggi, dikemudian hari jago nomor wahid di dalam dunia akan kau miliki, seharusnya kamu gembira tapi kelihatannya kamu sangat tidak gembira bahkan murung terus."
Berbicara sampai di sini mendadak seperti teringat akan sesuatu, pada wajahnya timbul suatu senyuman manis sambil mengangguk ujarnya.
"Ooh... sekarang aku sudah tahu."
Ti Then menjadi melengak.
"Kamu tahu apa??"
Wi Lian In menundukkan kepalanya rendah-rendah, sambil tersenyum malu ujarnya.
"Kamu pernah mencintai seorang nona tetapi kemudian hati nona itu berubah, tidak mau perduli kamu lagi bukan begitu?"
"Ha ha ha..tidak..tidak pernah terjadi urusan ini."
"Kau jangan menipu aku"
Ujar wi Lian In sambil tersenyum malu-malu.
"Tidak. aku tidak menipu kamu. ."
"Kalau tidak, kenapa kau tidak gembira"
"Jika kau anggap aku jadi orang tidak gembira mungkin dikarenakan aku dilahirkan menjadi seorang yang tidak gembira."
"Omong kosong"
Ujar wi Lian In sambil mendelik kearahnya.
"Mana ada orang yang dilahirkan dalam keadaan tidak gembira."
"Ada. ."
Sahut Ti Then perlahan.
"Misalnya seorang bayi yang baru saja lahir di dalam dunia, ayah ibunya saling susul menyusul meninggal dunia sehingga membiarkan anak itu hidup di dalam kemiskinan, hidup tanpa mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, hidup dalam kekurangan. coba kamu pikir sesudah dia menginyak dewasa bisa jadi orang yang lincah dan selalu gembira tidak?"
Wi Lian In teringat kembali riwayatnya yang pernah diceritakan kepada dirinya, kini mendengar perkataan itu segera tahu kalau dia sedang mengatakan dirinya karena itu perasaan simpatik dan kasihan timbul kembali di dalam hatinya, sambil melelehkan air mata ujarnya.
"Sewaktu masih kecil kamu memang sangat susah, tapi sekarang sudah lain keadaannya, seharusnya kamu cari kesenangan, jangan pikirkan urusan yang sudah lalu."
Ti Then hanya tersenyum saja, kepalanya ditolehkan memandang keluar gua, ujarnya lagi.
"Hari hampir terang tanah, kenapa kamu tidak istirahat sebentar??."
"Tidak..aku tidak bisa tidur..mari kita omong lagi saja... kau... kau... kau sudah punya idaman hati?"
"Belum ada."
Dengan tersenyum malu-malu dan kepala yang ditundukkan rendah-rendah ujar Wi Lian In lagi.
"Kamu ... kamu tidak ingin menikah?"
"Setiap lelaki yang sudah menginyak dewasa tentu kawin, siapa yang tidak pikirkan? Hanya saja dengan wajah seperti aku ini, mana ada nona mana yang mau jadi istriku?"
"Kamu bolak balikkan kenyataan..
"ujar Wi Lian In sambil tersenyum.
"Mungkin kamu yang terlalu pandang tinggi diri sendiri sehingga tidak pandang orang lain"
"... Bukan ... bukan . ."
"Biarlah sesudah pulang ke dalam benteng aku mau suruh ayahku carikan seorang nona untukmu."
Ujar Wi Lian in lagi sambil tertawa.
"Jangan. ."
Ujar Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Urusan perkawinan lebih baik jangan dipaksa, biarlah nanti datang dengan sendirinya."
Wi Lian in menundukkan kepala berpikir sebentar, kemudian barulah ujarnya sambil tersenyum.
"Beritahu padaku, isteri yang kau inginkan merupakan nona macam bagaimana?"
"Aku belum pernah pikirkan"
"Kalau begitu kamu pikirlah sekarang juga."
"Aku tidak tahu. ."
"Coba pikirkan dengan perasaan. ."
Ti Then menghembuskan napas panjang kepalanya diangkat dan memandang tajam wajahnya kemudian sambil tersenyum sahutnya.
"Bila pada satu hari aku bisa memperoleh seorang istri seperti nona Wi, hatiku sudah merasa sangat puas.."
Air muka Wi Lian In segera berubah menjadi merah dadu, ujarnya sambil tersenyum malu-malu.
"Ehm...ayahku sering bilang aku jadi orang terlalu manya, sifatnya pun berangasan sedikit-dikit suka marah, aku bukan seorang nona yang baik"
"Nona yang suka marah itulah nona yang paling menyenangkan, begitu marah pot-pot bunga pada melayang... sungguh menyenangkan sekali."
Dikatai begitu Wi Lian In melototkan mata kearahnya, ujarnya sambil mencibirkan bibirnya.
"Bagus sekali, jika dilihat potonganmu memang jujur tidak kusangka mulutnya licin juga, suka menggoda orang."
Ti Then tertawa terbahak bahak dengan kerasnya.
Tetapi sebaliknya dalam hati dia merasa sangat pahit, karena dia merasa hubungannya dengan Wi Lian In semakin lama semakin erat dan semakin intim..Tujuan yang diharapkan majikan patung emas juga hampir tercapai.
Tidak lama kemudian cuaca sudah terang, Ti Then segera bangkit berdiri ujarnya.
"Jalan, kita keluar dari lembah ini."
Kedua orang itu dengan cepat meloncat turub dari atas tebing, Ti Then berjalan menuju kearah tebing seberang membereskan selimut serta barang barangnya kemudian menyerahkan tunggangannya kepada Wi Lian In, ujarnya sambil tertawa.
"Kuda ini sungguh cerdik sekali, jika bukannya kemarin malam dibantu dia kemungkinan sekali aku tidak punya cara untuk menolong kamu keluar."
Wi Lian In tersenyum manis.
"Mulai sekarang kuda itu adalah milikmu"
"Tidak. ."
Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Aku tidak punya kesempatan banyak untuk menunggang kuda, lebih baik tinggalkan untuk kamu gunakan"
"Kau sungguh-sungguh tidak mau?"
"Benar, aku tidak memerlukan. ."
"Kalau begitu biarlah dia pergi hidup sendiri, mari kita pergi"
Sehabis berkata dia melepaskan tali lesnya dan meninggalkan tempat itu dengan cepat. Melihat tindakannya yang aneh itu Ti Then melengak. dengan cepat dia pungut kembali tali les itu serunya.
"Tunggu sebentar, kamu sungguh-sungguh tidak inginkan kuda ini lagi?"
"Aku sudah bilang, kuda itu aku hadiahkan kepadamu, dengan begitu dia sudah menjadi milikmu jika kau tidak suka maka kuda itu tidak ada majikannya lagi."
Ti Then yang dikatai begitu menjadi serba susah, mau tertawa tidak bisa mau menangis pun tidak sanggup dengan tergesa gesa sahutnya.
"Baik, baik, Baiklah, aku mau .., aku mau, hanya saja ada satu syarat."
Wi Lian In menghentikan langkahnya, sambil menoleh ujarnya tersenyum.
"Tentu kau sudah ketularan penyakit setan pengecut itu. syarat apa?"
"Kau yang tunggangi dia kembali ke dalam Benteng kemudian kuda itu baru menjadi milikku."
"Aku menunggang kuda, kau jalan kaki ??"
"Dijalan aku bisa beli seekor kuda lagi."
Wi Lian In baru mengangguk menyetujui, dia putar tubuh dan meloncat naik ke atas kudanya kemudian dengan perlahan berjalan keluar dari lembah sempit itu.
Ti Then yang takut si setan pengecut serta Hong Mong Ling masih belum mematikan niatnya maka sengaja dia berjalan di depan membukakan jalan bagi Wi Lian In, dengan menghindari batu batu cadas yang tersebar meluas dengan sangat hati-hati dia bergerak ke depan.
Sesudah mengitari tanah yang penuh dengan batu batu cadas, meadadak Wi Lian In menuding ke atas sebuah batu bulat di atas tanah, ujarnya.
"Coba lihat, apa itu ??"
Ti Then tolehkan kepalanya memandang ke sana, terlihatlah di atas batu bulat itu terdapat beberapa tetes darah segar, ujarnya kemudian.
"Darah itu mungkin darah yang menetes keluar dari luka setan pengecut itu, kemarin malam kulit kepalanya berhasil kutabas sedikit mungkin, darah yang mengucur keluar tidak sedikit jumlahnya .
"Kita ikuti saja bekas bekas darah itu, mungkin masih bisa temukan kembali mereka berdua."
"Tidak mungkin"
Ujar Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Luka Setan pengecut itu tidak mungkin masih mengucur darah hingga sekarang, jika kita mau ikuti jejak darahnya mencari mereka mungkin sudah terlalu terlambat."..
"Dia bilang punya dendam sakit hati dengan suhumu entah hal itu benar atau tidak?"
"Dia ada sakit hati dengan orang lain kemungkinan tidak pura-pura, tetapi tidak mungkin hasil perbuatan suhuku karena mereka sama sekali tidak tahu siapa sebetulnya suhuku."
Wi Lian In tersenyum, sambil pandang wajahnya ujarnya lagi.
"Kau juga tidak tahu nama suhumu, jika mereka katakan belum tentu kau bisa tentukan apa nama itu nama suhumu atau bukan. Bukan begitu?"
"Tidak salah. ."
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Tapi dia boleh katakan beberapa ciri-ciri yang menonjol, jika ciri-ciri yang dia katakan kebanyakan mirip dengan ciri-ciri suhuku maka hal ini sudah cukup membuktikan suhuku adalah musuh besarnya."
"Yang paling lucu lagi. Dia ingin tahu nama suhumu tapi tidak berani mengatakan nama serta sebutan sendiri"
"Makanya, kemungkinan sekali tidak punya musuh besar, tujuannya ingin memperoleh dan mengetahui ilmu silat suhuku."
Kedua orang itu sambil berjalan sembari bercerita, tidak lama kemudian sudah keluar dari selat sempit itu kemudian dengan mengikuti jalanan gunung menuruni gununk tersebut.
Pada siang harinya sampailah mereka di kota In Kiang sian, di dalam kota Ti Then membeli seekor kuda kemudian dahar hingga kenyang, setelah itu barulah jalan bersama sama keluar kota menuju kekota Go bi.
Ditengah jalan tidak ada peristiwa yang terjadi, pada siang hari, hari keempat sampailah mereka didaerah keresidenan siok lam.
Baru saja melewati suatu tanah tandus yang gundul dan kering ternyata sudah bertemu dengan sebuah peristiwa yang sangat membingungkan.
secara mendadak mereka dicegat orang-orang yang menghalangi perjalanan mereka adalah dua orang jago Bu lim yang punya bentuk tubuh kurus dan gemuk, usia dari kedua orang itu kurang lebih lima puluh tahunan.
Yang gemuk punya tubuh yang kekar bagaikan sapi, alisnya lebat matanya bulat besar sedang wajahnya penuh berewok.
Pada sepasang tangannya mencekal dua buah senyata kapak yang besar.
Yang kurus mem punyai bentuk tubuh kecil kering seperti mayat, matanya sipit seperti mata tikus, pada janggutnya memelihara janggut kambing yang panjang sedang pada pinggangnya terselip sepasang golok berbentuk sabit.
Dengan perlahan lahan mereka berjalan keluar dari balik batu kemudian berdiri tegak ditengah jalanan, jika dilihat sikap mereka agaknya sudah sangat lama mereka menanti di sana.
Ti Then serta Wi Lian In begitu melihat munculnya dua orang yang sangat aneh itu dengan cepat menahan tali les kudanya, mereka berdua mengira sudah bertemu dengan perampok perampok biasa sehingga tanpa terasa saling bertukar pandangan dan tersenyum ringan.
Air muka kakek yang punya tubuh kurus kelihatan dikerutkan, ujarnya dengan nada menyeramkan.
"Hei orang muda, kaukah yang disebut pendekar baju hitam Ti Then?"
Ti Then yang mendengar pihak lawannya tahu akan nama serta sebutan sendiri segera tahu kalau dia bukan perampok biasa, tak tertahan dia menjadi tertegun dibuatnya, sambil rangkap tangannya memberi hormat, sahutnya.
"Cayhe memang benar adanya, bagaimana sebutan cianpwe berdua? Ada keperluan apa ??"
"Hemm ..hemm . ."
Dengus kakek kurus itu dengan dinginnya.
"Lohu berdua tidak punya she tidak punya nama, hanya ada satu sebutan, Lohu disebut sebagai Mentri pintu dan yang satu ini disebut sebagai Pembesar jendela"
"Mentri pintu? Pembesar jendela ?"
Ujar Ti Then melengak.
"Tidak salah. ."
Ti Then tidak bisa menahan gelinya lagi, dia tertawa terbahak bahak dengan kerasnya.
"Kalian malaikat-malaikat dari kelenteng mana?"
Tanyanya.
"Kelentengnya disebut istana Tian Teh Kong, tempatnya digunung Kim Hud san"
Ti Then menjadi sangat terperanyat, tapi dia mengangguk juga sahutnya.
"Kiranya orang-orang dari Thian Kauw Teh Hu atau Anying langit rase bumi"
Si pembesar jendela melototkan matanya dengan gusar bentaknya.
"Apa anying langit rase bumi? Yang betul Kaisar langit Ratu Bumi"
Kiranya jika menyebut Anying langit Rase bumi, empat kata ini tidak ada seorang pun yang tidak tahu nama ini di dalam Bu lim, mereka merupakan sepasang suami istri pencipta huru hara dibumi, yang laki disebut sebagai Anying langit Kong sun Yau sedang yang perempuan disebut Rase bumi Bun Jin Cu.
Bukan saja kepandaian silat yang dimiliki sepasang suami istri ini sangat lihay bahkan jadi orang sangat kejam dan licik.
hampir boleh dikata tidak ada tandingannya di dalam golongan Hek to, karenannya ke dua orang itu menduduki kedudukan yang paling tinggi di dalam kaum Hek-to.
Dikarenakan selama hidupnya selalu menduduki tempat yang teratas, harta kekayaannya tidak terhitung banyaknya, mereka mendirikan sebuah istana Thian Teh Kong di atas gunung Kim Hud san dengan mengambil sebutan Kaisar langit ratu bumi.
Suami istri ini bukan saja menguasahi seluruh Liok lim bahkan anak buahnya pun mencapai selaksa lebih, maka itulah kaum pendekar dari golongan Pek to termasuk Pocu dari Benteng Pek Kiam Po, Wi ci to sendiri tidak berani secara terang-terangan bentrok dengan mereka, sebab itulah siapa pun dari kalangan Bu lim jauh lebih jeri setelah mendengar nama Kaisar langit Ratu bumi daripada nama besar Benteng Pek Kiam Po.
Sedang kini setelah Ti Then mendengar istana Thian Teh Kong lalu mengubah sebutan Kaisar langit ratu bumi menjadi Anying langit rase bumi, sudah tentu membuat Pembesar jendela itu menjadi amat gusar.
Jika bukannya dari majikan patung emas dia berhasil memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, dia tidak akan berani mengubah sebutan Kaisar langit Ratu Bumi...
itu menjadi Anying langit Rase Bumi, tapi kini dia tidak akan takut untuk meloloskan diri dari belenggu majikan patung emas dan sangat mengharapkan bisa bertemu dengan jago-jago Bu lim yang memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, dia sangat mengharapkan ada orang yang berhasil pukul rubuh dia makanya semakin manusia yang berbahaya semakin manusia yang lihay dia semakin ingin coba-coba mengusik mereka.
Kini melihat Pembesar jendela itu begitu gusar air mukanya sedikit pun ujarnya sembil tersenyum.
"sebutan majikan kalian memangnya Anying langit Rase Bumi, apanya yang tidak betul?"
Pembesar jendela semakin gusar lagi, sambil maju satu langkah ke depan bentaknya dengan wajah meringis menyeramkan.
"Bangsat cilik, kamu orang sudah bosan hidup yaah". si Mentri pintu yang berada di sampingnya dengan cepat menarik dia ke belakang, ujarnya.
"Jite, jangan terburu napsu, biar kita bicarakan lebih jelas dulu baru turun tangan"
"Benar"
Ujar Ti Then sambil tertawa.
"Malaikat penjaga pintu dengan anying penjaga pintu memang sangat berbeda, buat apa kalian begitu galak galak. Ha ha ha ha ..."
Si menteri pintu dengan cepat angkat kepalanya, dengan pandangan yang sangat tajam dia melirik sekejap kearah Ti Then kemudian dengan wajah dingin kaku ujarnya.
"Hemm ..kalian apa baru saja turun dari gunung Fan cing san?"
"Tidak salah"
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Bagus sekali, lohu berdua mendapatkan perintah dari Thian cunTeh Ho untuk mintakan sebuah barang dari Lo te"
"Hemm ... hemm ... selama berpuluh-puluh tahun Thian Kauw Teh Hu menduduki tempat yang tertinggi di dalam Liok lim, harta yang dikumpulkan pun kurang lebih ratusan buah kereta banyaknya, buat apa kalian cari aku seorang yang miskin."
"Hem ... Thian cun Teh Ho mau cari kau sudah merupakan satu penghormatan yang besar bagimu"
Ujar menteri pintu itu dengan dingin. -ooo0ooo-"Memang benar..Memang benar."
Sahut Ti Then sambil berulang kali mengangguk.
"Hanya tidak tahu kalian inginkan aku orang serahkan barang macam apa?"
Si Menteri Pintu itu segera tertawa dingin tak henti-hentinya.
"Buat apa Lo te berpura pura tanya lagi."
Ti Then miringkan kepalanya berpikir sejenak. kemudian sambil tertawa ujarnya.
"ooh ... mungkin kalian menginginkan batok kepala cayhe ini?"
"Maksud Thian cun Teh Ho kami, minta Lo te mau serahkan itu barang tanpa melakukan perlawanan, mereka orang tua mau beri kalian ribuan tahil perak sebagai tanda terima kasih. Kalau tidak terpaksa aku harus penggal kepala kalian untuk dilaporkan."
Nada suaranya sangat dingin kaku tapi tenang, agaknya dalam hati sudah punya pegangan yang kuat tentu berhasil memenggal batok kepala Ti Then itu.
Ti Then yang ditanyai begitu menjadi bingung, sambil mengucak ucak matanya tanyanya lagi.
"Apa kalian menginginkan nona di sampingku ini?"
"Urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan orang-orang benteng Pek Kiam Po, Thian Cun kami tidak punya minat terhadap nona Wi ini."
"Kalau tidak."
Ujar Ti Then sambil mengerutkan alisnya.
"Sebetulnya kalian inginkan barang apa?"
Agaknya si pendekar jendela tidak bisa menahan sabar lagi, bentaknya dengan keras.
"Bangsat cilik, kamu orang jangan berpura-pura lagi, lohu nanti tebas kepalamu dengan satu kali bacokan"
Air muka Ti Then berubah menjadi sangat dingin, perlahan-lahan dia meloncat turun dari tunggangannya kemudian berjalan maju tiga langkah ke depan, ujarnya.
"Coba kamu tabaskan kepalaku ini."
Mata pembesar jendela itu melotot ke luar, dengan air muka penuh kemarahan dia menoleh kearah si menteri pintu, ujarnya.
"Toako, barang itu pasti berada di dalam badannya. Bangsat cilik ini tidak tahu kebaikan orang lebih baik kita bunuh saja kemudian baru ambil barang itu dari dalam tubuhnya."
"Ehm ..."
Sahut menteri pintu itu dengan perlahan kemudian dia putar kepalanya memandang Ti Then dengan jangat dingin. ujarnya lagi.
"Lohu beri satu kesempatan yang terakhir bagimu, cepat serahkan barang itu."
"Tidak"
Bagaikan seekor harimau kelaparan dengan mengaum keras pembesar jendela itu dengan cepat meloncat maju ke depan, kampak raksasa ditangan kirinya dengan dahsyat diayun memenggal kearah teng gorokan Ti Then.
Jurus serangannya sangat kuat dan dahsyat sehingga menimbulkan suara desiran yang sangat kuat ditengah udara, datangnya serangan ini begitu dahsyatnya sehingga orang yang berdiri satu kaki dari sana pun merasakan desiran angin sambarannya itu.
Ti Then tetap berdiri tidak bergerak, menanti kampak pihak musuhnya hampir mendekati tubuhnya barulah badannya sedikit miring ke samping, tangan kirinya secepat kilat mencengkeram menguasahi urat nadi pergelangan tangannya, sedang tangan kanannya bersamaan waktu pula melancarkan satu serangan dahsyat yang dengan tepat menghajar perutnya.
"Bluuk ....."
Kemudian disusul dengan suara dengusan berat, pembesar jendela itu sama sekali tidak pernah menduga gerakan dari Ti Then bisa demikian aneh dan cepatnya, di dalam keadaan yang sangat terkejut kapak ditangan kanannya dengan cepat diangkat dan ditabas ke atas batok kepala Ti Then, tetapi baru saja kapaknya itu diangkat sampai tengah jalan seluruh tubuhnya sudah berhasil diangkat oleh Ti Then ke tengah udara.
Dengan mengerahkan tenaga yang besar Ti Then segera melemparkan tubuh pembesar jendela itu ketengah udara, bagaikan sebuah layang-layang yang putus benangnya tubuhnya melayang hingga sejauh dua tiga kaki.
"Bluuuk..."
Punggungnya dengan keras menghajar pohon di belakangnya, seketika juga tubuhnya menjadi lemas bagaikan kapas, sama sekali tidak punya tenaga untuk merangkak bangun.
Sejak semula hingga sekarang tidak lebih hanya makan waktu sekejap mata saja.
Si Menteri pintu yang melihat kejadian ini tidak terasa lagi matanya melotot keluar dengan bulatnya, mulutnya melongo, sedang air mukanya sebentar berubah pucat pasi sebentar lagi berubah menjadi kehijau-hijauan, Perasaan terkejut yang dirasakan saat ini jauh lebih hebat dari perasaan terkejut pada diri Pembesar jendela itu Sejak lama dia sudah mendengar nama Pendekar pakaian hitam Ti Then ini, dia pun pernah dengar tingkatan kepandaian silat yang dimiliki Ti Then sehingga mereka sudah punya pegangan yang kuat untuk mengalahkan Ti Then tidak perduli siapa pun yang maju dari mereka berdua tapi sekarang, pembesar jendela rubuh ditangan Ti Then tidak sampai satu jurus pun bahkan dipukul hingga tidak kuat bangkit berdiri bukankah hal ini sangat mengejutkan hatinya?
Jilid 9.2.
Satu kesulitan hilang dua kesusahan datang Sebetulnya dia berpegangan bahwa gerakannya kali ini pasti mendatangkan hasil, siapa tahu saking terkejutnya tidak tertahan lagi tubuhnya gemetar dengan kerasnya.
Ti Then tersenyum, ujarnya setengah mengejek.
"Pembesar jendela itu sungguh sebuah gentong nasi, masa satu gerakan saja tidak bisa bertahan, baiklah seharusnya kini kamu orang sebagai Menteri pintu yang turun tangan menggantikan dia."
Saking takutnya tubuh menteri pintu itu sudah serasa menjadi kaku, dengan wajah penuh ketakutan melotot ke arah Ti Then ujarnya dengan gemetar.
"Ke..kepandaian ..kepandaianmu ini apa berasal ..berasal dari ..dari kitab pusaka Ie Cin Keng ?"
Ti Then yang mendengar perkataan itu menjadi melengak.
"Kitab pusaka Ie cin Keng ?"
"Apa memangnya bukan ?"
"Ha ha ha ha ..yang kamu maksudkan adalah kitab pusaka Ie Cin Keng yang berisikan pelajaran silat Tat Mo Couwsu itu?"
"Benar"
Sahut menteri pintu sambil menganguk.
"Kitab itu sudah hilang sejak ratusan tahun yang lalu, kali ini kamu menemukannya kembali di atas gunung Fan cin san bukan begitu??"
"Ooh ...jadi barang yang harus aku serahkan adalah kitab pusaka Ie Cin Keng itu??"
Dengan ragu-ragu menteri pintu itu mengangguk. tapi ke lihatan jelas dari air mukanya kalau perasaan takut dan jeri sudah meliputi tubuhnya. Ti Then tersenyum lagi.
"Kalian dengar dari siapa kalau aku menemukan kitab pusaka Ie Cin Keng itu di atas gunung Fan cin san??"
"Seseorang yang dapat dipercayai sudah melaporkan hal itu kepada Thian cun Teh Ho kami."
"Siapa orang yang dapat dipercayai itu??"
"Lohu belum pernah bertemu, tidak tahu."
Dengan perlahan Ti Then menoleh kearah Wi Lien in, ujarnya sambil tertawa ringan.
"Tentu si setan pengecut itu."
"Ehmm, sebuah siasat pinyam golok untuk membunuh orang yang sangat bagus sekali"
Ti Then menoleh kembali kearah menteri pintu itu, sambil menepuk-nepuk tubuhnya sendiri ujarnya sambil tertawa.
"Tidak salah, kitab pusaka Ie Cin Keng itu memang berada di sini, ayooh maju rebut"
Agaknya menteri pintu itu tidak punya keberanian untuk melakukan hal tersebut makanya tubuhnya masih tetap berdiri tak bergerak.
"Bagaimana?? sudah tidak mau??"
"Ehmm... ehmm...jika didengar perkataan nona Wi agaknya Lote sama sekali tidak pernah mendapatkan kitab pusaka Ie Cin Keng itu??"
"Tidak. .kamu salah, aku memang mendapati kitab pusaka Ie Cin Keng itu."
Dengan perlahan menteri pintu itu menggeserkan tubuhnya kearah Pembesar jendela, ujarnya.
"Kepandaian silat Lo te sangat hebat sekali, Lohu mengaku kalah biarlah kami kembali ke dalam istana Thian Teh Kong dan melaporkan peristiwa hari ini kepada Thian cun Teh Ho, biar Thian cun Teh Ho sendiri yang mengurus."
"Ha ha ha..."
Ujar Ti Then secara mendadak sambil tersenyum...
"Tadi sudah galak-galak sekarang mau pergi dengan begitu saja??"
Menteri pintu itu tetap berdiam diri, tubuhnya dibungkuk membantu Pembesar jendela itu bangkit berjalan. Agaknya dia punya minat meninggaikan tempat itu dengan tebaikan muka.
"Tunggu sebentar."
Bentak Ti Then secara mendadak dengan sangat dingin, air mukanya berubah membesi.
Tubuh menteri pintu itu kelihatan tergetar sangat keras, sambil meletakkan tubuh pembesar jendela ke tanah kembali, ujarnya.
"Walau pun kepandaian silat Lo te sangat tinggi tapi kami orang-orang dari istana Th an Teh Kong bukanlah manusia-manusia yang bisa kau permainkan sesuka hati... kau ingin berbuat apa?..."
Ti Then yang melihat keadaannya begitu kasihan dalam hati diam-diam merasa geli, segera ujarnya lagi dengan sangat dingin.
"Tirukan tiga kali menyalaknya anying, kemudian barulah kalian boleh pergi."
Air muka menteri pintu itu segera berubah hebat.
dia tahu urusan tidak mungkin bisa selesai dengan mudah.
Karenanya tangannya dengan cepat mencabut keluar sepasang goloknya yang berbentuk sabit, teriaknya.
"Siapa yang harus meniru menyalaknya anying masih ditentukan dulu dengan kepandaian masing-masing ."
"Benar....beralasan. Beralasan. Mari..Mari ... ayoh serang"
Ujar Ti Then sambil maju satu langkah ke depan.
"Kenapa kamu orang tidak cabut ke luar pedangmu?"
Bentak mentri pintu dengan gusar.
"Hemmm... hemmm... untuk menghadapi anying-anying penjaga pintu semacam kalian masih belum berhak memaksa aku untuk menggunakan pedang"
Walau pun dalam hati menteri pintu itu sudah merasa jeri tapi keadaan sangat memaksa, karenanya sambil membentak keras tubuhnya menubruk ke depan sedang goloknya dengan hebat membacok tubuh Ti Then.
"Sreeet... sreeet..."
Goloknya dari sebelah kanan kearah kiri dengan kecepatan luar biasa membacok bahu kiri Ti Then sedang golok lainnya dari sebelah kiri menuju kearah kanan menyambar pinggang Ti Then.
Melihat datangnya serangan dahsyat dengan cepat Ti Then mundur satu langkah ke belakang menghindarkan diri dari bacokan sepasang goloknya, pada saat sepasang goloknya baru saja berkelebat lewat itulah tubuhnya dengan cepat berkelebat ke depan, dengan meminyam kesempatan ini dia melancarkan satu serangan menghajar dadanya.
Jurus serangan ini tidak ada keanehan atau keistimewaannya, mentri pintu itu sendiri juga melihat dengan jelas datangnya serangan itu tapi sekali pun dia mencoba menghindar tetap kalah cepat.
"Bluuk . ."
Dadanya dengan keras kena hajaran itu.
Tubuh menteri pintu segera rubuh ke atas tanah dengan kerasnya.
Meminyam kesempatan itu Ti Then segera meloncat ke depan, kakinya dengan kuat-kuat menginyak perutnya, ujarnya sambil tertawa dingin.
"Ayoh bilang kamu mau tirukan gonggongan anying tidak?"
Air muka Menteri pintu itu berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat dan rubuh terlentang di atas tanah tidak berani bergerak sedikit pun juga.
ujar Ti Then lagi dengan dingin "Ayoh bilang kamu mau menyalak tidak ??
Hemm hemm, jika tidak maujangan salahkan aku mau inyak tubuhmu hingga hancur."
Sambil berkata kakinya mengerahkan tenaga menginyak lebih kuat lagi ke atas tubuh menteri pintu itu.
Dari keningnya kelihatan sekali keringat sebesar butir-butir kedelai mulai mengucur ke luar dengan derasnya, seperti babi yang mau dipotong teriak menteri pintu itu dengan keras.
"Baik. .. baiklah, aku teriakan aku teriak.."
Mendengar perkataan itu barulah Ti Then menarik kembali tenaganya, ujarnya.
"Ehmm ... kalau begitu ayoh cepat menggonggong"
Menteri pintu itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, terpaksa dia buka mulutnya menggonggong.
"Au . au ..au..Baru berteriak tiga kali air mukanya sudah berubah menjadi merah padam. Ti Then segera berputar kearah Pembesar jendela yang bersandar di samping pohon, ujarnya.
"Kau mau menggonggong tidak ??"
Pembesar jendela itu tidak berani membangkang, terpaksa dia pun menyalak tiga kali.
Setelah itulah Ti Then baru menarik kembali kakinya yang menginyak perut menteri pintu itu, sambil mundur dua langkah ke belakang ujarnya.
"Cepat pulang dan beritahu sama Anying langit rase bumi, katakan kitab pusaka Ie cin Keng memang berada di dalam sakuku tapi jika mereka inginkan harus datang minta sendiri."
Menteri pintu itu tidak berani membangkang, dengan cepat dia merangkak bangun dan menyelipkan kembali sepasang goloknya ke belakang punggung.
Sesudah membimbing pembesar jendela bangun bagaikan dua orang yang sedang mabok mereka berjalan kearah timur dengan sempoyongan.
Teriak Ti Then lagi dengan keras.
"Masih ada, katakan pada Anying langit Rase Bumi aku berada di dalam Benteng Pek Kiam Po sebagai tamu, jika mencari aku di sana, jangan sampai mengganggu orang-orang benteng seujung rambut pun."
Menteri pintu Pembesar jendela tidak berani banyak cakap, dengan keadaan yang sangat mengenaskan mereka meninggaikan tempat itu dengan cepat. Wi Lian In tersenyum ujarnya.
"Kedua orang tua bangkotan itu sedikit pun tidak bersemangat."
Ti Then pun segera meloncat naik ke atas kuda, sahutnya.."Orang yang menyaga pintu delapan sembilan bagian tidak punya semangat semua"
Sambil berkata dia menepuk kudanya melanjutkan perjalanan ke depan.
"Kedua orang itu"
Ujar Wi Lian In lagi "aku juga pernah dengar, menurut apa yang aku ketahui para cay cu yang mau menyambangi Thian Kauw Te Hu di atas gunung Kim hud san harus memberi sogokan terlebih dulu kepada mereka, jika tidak kasih .
.jangan harap bisa bertemu dengan Anying langit rase bumi itu."
"Jago-jago di bawah pimpinan Anying langit Rase bumi itu sangat banyak jumlahnya, entah kerapa kali ini mereka mengirim dua orang gentong nasi seperti itu."
"Terhadap kamu kedua orang itu memang mirip gentong nasi"
Ujar Wi Lian In sambil pandang wajahnya.
"tapi bagi orang lain cukup mereka berdua sudah membuat setiap orang merasa pusing kepala"
"Mungkin juga karena setan pengecut itu tidak memberi penjelasan yang lebih teliti kepada orang-orang Anying langit Rase bumi itu sehingga mereka hanya kirim dua orang gentong nasi tersebut."
"Ti toako"
Ujar Wi Lian In lagi.
"Kenapa kamu bilang kitab pusaka Ie Cin Keng itu berada ditanganmu??"
"Sekali pun aku bilang tidak ada belum tentu mereka mau percaya."
"Tapi dengan demikian orang-orang Anying langit Rase bumi tidak akan melepaskan kamu begitu saja.."
"Nona Wi kamu salah"
Sahut Ti Then sambil tersenyum "seharusnya bilang aku yang tidak akan melepaskan mereka,"
"Si Anying langit Kong sun Yau jadi orang ganas kejam, tak berperikemanusiaan, si Rase bumi Bun Jin Cu jadi orang banyak akal dan licik, jika mereka suami istri bergabung menjadi satu, sekali pun ayahku juga belum tentu bisa menangkan mereka, kamu jangan terlalu pandang rendah musuh.."
"Ha ha ha ... untuk menghadapi aku mereka tidak akan terpikirkan untuk bergabung dan kerubuti aku seorang"
"Sekali pun seorang lawan seorang"
Ujar wi Lian In lagi "Kau juga jangan terlalu gegabah, menurut apa yang aku dengar kepandaian silat mereka berdua suami istri tidak terpaut banyak dengan kepandaian ayahku."
"Aku tahu."
"Tapi jika kamu punya kekuatan untuk bunuh mereka janganlah ragu-ragu turun tangan, hati mereka berdua suami istri sangat kejam dan ganas, tidak perduli kejahatan apa pun pernah mereka lakukan, sudah seharusnya mereka dibunuh cepat cepat"
"Kau boleh tunggu saja...."
"Heei ..."
Ujar wi Lian In lagi sambil menghela napas panjang "setan pengecut itu tentu tidak menyebarkan berita bohong ini kepada Anying langit Rase bumi itu saja, sejak kini kita harus lebih berhati hati lagi."
"Kitab pusaka Ie Cin Keng itu merupakan barang peninggalan Siauw limpay, aku hanya takut hwesio-hwesio dari kuil siauw lim si percaya penuh akan berita bohong ini kemudian datang cari aku, orangnya aku sih aku tidak takut semakin banyak orang yang datang semakin aku merasa gembira."
"Hei ... hwesio-hwesio Siauw limpay sangat menghormati ayahku, jika sampai mereka datang biarlah ayahku yang beri penjelasan mungkin . ."
Kiranya pada saat itu juga di hadapan mereka berkelebat lagi bayangan manusia dengan sangat cepatnya, di hadapan mereka sudah muncul seorang hwesio dari Siauw limpay.
Hwesio itu baru berusia kurang lebih empat puluh tahunan, wajahnya persegi dengan telinga yang sangat besar, tubuhnya gemuk besar pakaian pada dadanya terbuka sedikit sehingga kelihatan perutnya yang buncit besar itu, air mukanya selalu menampilkan senyuman sedang pada dadanya tergantung sebuah tasbeh berwarna hitam, jika dilihat dandanannya mirip sekali dengan Ji lay hud.
Tidak salah lagi, hwesio itu memang berasal dari partai Siauw limpay dan merupakan seorang hwesio pendekar yang sudah terkenal di dalam Bulim ..siauw Mi Leh atau Hwesio berwajah riang.
Air muka Ti Then berubah sangat hebat, dengan cepat dia meloncat turun dari kudanya dan memberi hormat, ujarnya.
"Kiranya Mi Leh Thaysu sudah datang, masih ingatkah taysu kepada tecu?"
"He he he ..."
Sahut Hwesio berwajah riang itu sambil tertawa terkekeh.
"Bagaimana tidak kenal. Pinceng ini hari memangnya datang untuk cari kamu orang."
"Semoga saja jangan karena kitab pusaka Ie Cin Keng itu."
"Memang betul, pinceng datang ke sini karena kitab pusaka Ie cin Keng itu."
"Haaa?"
Seru Ti Then dengan terkejut.
"Apa Taysu sendiri juga mempercayai berita bohong itu?"
"Urusan ini timbul sudah tentu ada sebabnya"
"Benar."
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"sebab-sebabnya ada seorang berkerudung yang menculik nona Wi ini dan membawa dia ke atas gunung Fan cin san, tecu berhasil menolong nona Wi ini dari cengkeramannya bahkan berhasil melukai kulit kepala orang berkerudung itu mungkin karena dendam dan sakit hati karena lukanya itu sehingga dia menyebarkan berita bohong tersebut kemana mana, bahwa aku Ti Then sudah dapatkan kitab pusaka Ie cin Keng itu. ."
Agaknya Hwesio berwajah riang tidak mendengarkan perkataan Ti Then tersebut, sambil tetap tertawa-tawa ujarnya.
"Ti sicu. Waktu itu ketika kita bersama-sama minum arak di atas gunung Ngo Thay san jaraknya hingga sekarang seberapa lama?"
Ti Then yang tidak tahu maksud pihak lawannya begitu mendengar pertanyaan ini, menjadi melengak.
"... Agaknya hampir dua tahunan. ."
"Tidak salah."
Sahut siauw Mi Leh sambil mengangguk.
"Biarlah kita hitung dua tahun saja, pada dua tahun yang lalu sekali pun kamu sudah punya nama terkenal di dalam Bu lim tapi kepandaian silatmu saat itu paling tinggi juga memadahi seorang Pendekar pedang putih dari Benteng Pek Kiam Po, sebaliknya sesudah dua tahun, ini hari hanya cukup menggunakan satu jurus berhasil mengalahkan kedua orang malaikat penjaga pintu dari Anying langit Rase bumi. Coba tahukah kau berapa kali lipat kemajuan kepandaian silatmu?"
"Satu tempat paham yang lain akan ikut sukses, asalkan aku berhasil mengetahui rahasianya sudah tentu akan mendapatkan kemajuan yang sangat pesat."
"Tapi."
Ujar Hwesio berwajah riang itu lagi.
"Walau pun memperoleh kemajuan yang bagaimana pesatnya pun tidak mungkin bisa secepat ini, kecuali kamu sudah dapatkan kitab pusaka Ie Cin Keng tersebut."
"Thaysu."
Seru Ti Then dengan serius.
"Tecu betul-betul tidak mendapatkan kitab pusaka It cin Keng tersebut, harap thaysu jangan dengarkan berita bohong itu."
"Kamu sudah mendapatkan banyak kebaikan dari kitab pusaka Ie cin Keng itu, untuk bekal dikemudian hari pinceng kira juga sudah jauh lebih cukup. Kenapa kamu orang tidak menggunakan perasaan hatimu berpikir kalau barang itu harus dikembalikan kepada pemiliknya?"
Ti Then yang melihat hwesio itu tetap menuduh dia sudah mendapatkan kitab pusaka Ie Cin Keng itu, dalam hati benar-benar merasa tidak senang ujarnya kemudian.
"Sewaktu tecu mengalahkan menteri pintu pembesar jendela tadi, apa Thaysu sudah melihatnya semua ?"
"Benar pinceng melihatnya dengan sangat jelas"
Sahut Hwesio berwajah riang itu sambil mengangguk.
"Kalau begitu, perkataan selanjutnya antara tecu dengan nona Wi Thaysu juga sudah dengar semua bukan?"
"Tidak salahh"
Sahut hwesio itu sambil mengangguk lagi "sepatah kata pun tidak ada yang ketinggalan."
"Kalau memangnya begitu seharusnya thaysu tahu keadaan yang sesungguhnya."
"Kalian sejak tadi sudah tahu di samping jalan masih ada orang yang menonton sehingga yang satu menyanyi yang lain menambahi untuk mengelabuhi orang lain, Cara seperti itu hwesio sudah sangat jelas sekali."
"Heei ..omong pulang pergi agaknya Thaysu tidak akan percaya omongan tecu lagi?"
"Ti sicu"
Ujar Hwesio itu dengan serius.
"Demi masa depanmu yang cemerlang lebih baik kembalikan saja kitab itu pada pihak siauw limpay kami"
"Kalau tecu tidak sanggup mengeluarkan kitab pusaka Ie Cin Keng itu, thaysu siap berbuat apa?"
Perlahan-lahan si hwesio berwajah riang itu melepaskan tasbehnya yang tergantung pada dadanya, kemudian ditempatkan ke atas udara ujarnya sambil tertawa.
"Ti sicu bisa memandang se
Jilid kitab pusaka Ie Cin Keng setinggi nyawa sendiri sungguh membuat pinceng tidak menduga."
Tasbeh yang dilemparkan ke atas udara itu ketika jatuh ke atas tanah segera timbul suara gemuruh yang sangat keras.
"Bluuuk... ."
Tasbeh itu tidak dapat dihalangi lagi menancap di tanah sedalam beberapa cun, sungguh suatu kepandaian yang sangat dahsyat sekali.
"Thaysu tecu tidak ingin sampai turun tangan melawan thaysu"
Ujar Ti Then sesudah melihat demonstrasi kepandaian itu.
"Boleh ..boleh ..asalkan kitab pusaka Ie cin Keng itu kau serahkan kepada pinceng"
"Tecu berani bersumpah, jika tecu pernah mendapatkan kitab pusaka Ie Cin keng itu maka tubuhku akan mengalami keadaan seperti pohon ini"
Sambil berkata tubuhnya, dengan cepat melayang setinggi beberapa kaki kemudian dengan hebatnya dia kirim satu serangan dahsyat kearah pohon tersebut.
Pohon itu mem punyai lebar beberapa depa, tetapi begitu kena serangannya segera patah menjadi dua dan rubuh ke atas tanah dengan menimbulkan suara yang sangat berisik.
Hwesio berwajah riang itu juga merupakan seorang jago yang mengutamakan tenaga pukulan, karenanya begitu dia melihat Ti Then berhasil pukul rubuh sebuah pohon sebesar itu dalam hati segera sadar kalau kepandaiannya masih kalah jauh, tidak terasa lagi air mukanya berubah sangat hebat, ujarnya sambil tertawa kering.
"Suatu pukulan yang sangat bagus, tidak aneh kalau Ti sicu tidak memandang sebelah mata pun kepada diri pinceng."
"Thaysu, kamu masih tidak percayai omonganku?"
Hwesio berwajah riang itu tertawa dingin.
"Hemm... hemm..pinceng hanya percaya kepandaian silat sicu jauh berada di atas kepandaianku"
Sehabis berkata dia mengambil kembali tasbehnya yang kemudian digantungkan pada dadanya kembali, sesudah itu putar tubuh dan berlalu dari sana dengan langkah lebar.
Ti Then hanya bisa menghela napas perlahan dan berjalan menaiki kuda tunggangannya kembali, dengan berdiam diri dia menyalankan kudanya melanjutkan perjalanan.
Wi Lian In segera menarik tali les kudanya membiarkan tunggangannya itu berjalan disisi Ti Then, ujarnya kemudian.
"Ti Toako Agaknya dia masih tidak percaya. Heei ... kali ini mungkin semakin repot lagi."
"Tidak mengapa, pada suatu hari tentu aku berhasil menangkap setan pengecut itu, asalkan berhasil menawan dia maka berita bohong yang disiarkan pun tidak usah aku pergi jelaskan sendiri"
"Heei ..."
Ujar Wi Lian In lagi sambil menghela napas panjang.
"Entah dia sekarang berada dimana"
"Mungkin dia bisa datang dengan sendirinya"
"Ciangbunyien dari siauw lim pay tidak sebodoh Hwesio berwajah riang itu, mungkin dia mau percayai omonganmu"
Ti Then hanya tersenyum tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Hari itu menjelang malam mereka berdua sudah tiba di dalam kota Ho Kiang sia untuk beristirahat, sesudah dahar malam di penginapan masing-masing berpisah untuk beristirahat di dalam kamarnya sendiri Dikarenakan urusan yang terjadi pada siang harinya dalam hati Ti Then sudah waspada, sebab itulah sesudah tidur hingga tengah malam dia tidak berani tidur lagi, segera duduk bersemedi di atas pembaringan.
Baru saja lewat kurang lebih setengah jam, urusan ternyata terjadi juga.
"Plaaak. ."
Suara itu sangat perlahan sekali muncul dari atas atap rumah, jika didengar suara itu agaknya ada orang yang sedang berjalan di atas genteng memecahkan atap.
Dengan perlahan lahan Ti Then turun dari atas pembaringannya kemudian membuka pintu kamar, sekali berkelebat tubuhnya dengan sangat cepat berjumpalitan naik ke atas atap rumah.
Tapi ..di bawah sorotan sinar bintang yang remang-remang di atas atap tidak terlihat sesosok bayangan manusia pun, tempat itu kosong melompong dan sangat sunyi.
Tak terasa dia menarik napas panjang pikirannya.
"Hemm aku tidak akan salah dengar, gerakan orang itu sungguh amat cepat."
Sesudah memeriksa beberapa saat lamanya tetap tidak menemukan hal yang mencurigakan terpaksa dia meloncat turun lagi dan berjalan ke depan kamar Wi Lian In, dengan perlahan diketuknya tiga kali.
Dia takut Wi Lian In tidur terlalu nyenyak sehingga memberi kesempatan kepada pihak musuh sehingga dia pikir mau bangunkan dia memberi peringatan supaya waspada.
siapa tahu ..dari balik pintu tidak terdengar suara sahutan dari Wi Lian In.
"Nona Wi ini tentu tertidur sangat nyenyak, kalau tidak waktu itu juga tidak akan terjatuh ketangan setan pengecut itu."
Berpikir sampai di situ dia mengetuk lagi sambil teriaknya keras.
"Nona Wi, bangun."
Dari dalam kamar tetap tidak terdengar suara sahutan dari Wi Lian In.
Orang yang berlatih ilmu silat tidak mungkin bisa berbuat begitu Mendadak dia merasa keadaan tidak beres, dengan seluruh tenaga didorongnya pintu itu, tidak sangka pintu itu tidak dikunci sama sekali, begitu didorong pintu itu segera terpentang lebar.
Hal ini semakin membuat dia bertambah terkejut, sambil meloncat masuk teriaknya.
"Nona Wi ..Nona Wi. ."
Baca Juga: Mestika Golok Naga 1
Baca Juga: Bajak Laut Kertapati 2